Thursday, August 9, 2007

Temuan makam keluarga Yesus di Talpiot menuntut sebuah kacamata baru memahami teks injil sehubungan dengan fakta historis tentang Yesus.


Makam keluarga Yesus di Talpiot, sebelah selatan Kota Lama Jerusalem, digali dalam kurun 1–11 April 1980 oleh arkeolog Amos Kloner, Yosef Gath, Eliot Braun, dan Shimon Gibson di bawah pengawasan Otoritas Kepurbakalaan Israel (OKI). Di dalamnya ditemukan 10 osuarium (peti tulang terbuat dari batu gamping) berusia tua dari kurun waktu pra-tahun 70 Masehi, akhir Perang Yahudi I melawan Roma. Sejak penggalian itu tidak ada penyelidikan lebih lanjut atas makam ini. Di dalam sebuah film dokumenter BBC/CTVC yang berjudul The Body in Question dan ditayangkan di Inggris pada Minggu Paskah 1996, muncul laporan sangat singkat tentang makam ini. Karena terlalu singkat, laporan ini berlalu begitu saja.

James D Tabor melalui bukunya yang terbit 2006, The Jesus Dynasty,mengangkat kembali signifikansi makam Talpiot bagi studi tentangYesus. Discovery Channel pada 4 Maret 2007 di Amerika Serikat,Kanada, Inggris, Israel, dan Eropa menayangkan sebuah film documenter berjudul The Lost Tomb of Jesus dengan produser pelaksana James Cameron. Tesis yang diajukan film ini: makam Talpiot adalah betul makam keluarga Yesus dari Nazareth . Dalam waktu yang hampir bersamaan (Februari 2007) Simcha Jacobovici dan Charles Pellegrino menerbitkan buku The Jesus Family Tomb: The Discovery, the Investigation, and the Evidence That Could Change History. Tak pelak lagi kontroversi sedunia atas temuan makam Talpiot pun bermunculan. Reaksi sangat keras datang terutama dari kalangan Kristen konservatif evangelis. Sebaliknya, sejumlah pakar lain, seperti John Dominic Crossan dan James Charlesworth, mendukung penuh usaha-usaha penelitian terhadap makam Talpiot. Crossan menandaskan temuan makam Talpiot itu adalah "paku terakhir yang ditancapkan pada peti mati literalisme biblis".

Perkembangan sekarang
Pada penggalian 1980 ditemukan 10 osuarium dari makam Talpiot. Namun, sekarang ini, OKI hanya memiliki sembilan osuarium dari makam Talpiot, satu osuarium dinyatakan telah hilang. Dari sembilan osuarium ini, tiga osuarium di antaranya tidak memiliki inskripsi, sedangkan enam lainnya memuat inskripsi:

(1) "Yesus anak Yusuf" (bahasa Aram ),
(2) "Maria" ( Aram ),
(3) "Mariamene e Mara" ("Maria sang Master"=Maria Magdalena) (Yunani),
(4) "Yoses" ( Aram ),
(5) "Matius" ( Aram ),
(6) "Yudas anak Yesus" ( Aram ).

Keempat nama yang pertama sudah dikenal sebagai nama-nama yang muncul dalam Alkitab Perjanjian Baru, baik sebagai anggota-anggota keluarga Yesus (Markus 6:3) maupun sebagai seorang yang dekat dengannya (Maria Magdalena). Nama "Matius" muncul dalam "silsilah Yesus" (Matius 1 dan Lukas 3) dan juga dalam Markus 2:14 sebagai "anak dari Alfeus (Klofas)". Alfeus atau Klofas, menurut James Tabor, adalah saudara dari Yusuf, ayah legal Yesus. Jadi, "Matius" termasuk ke dalam kaum keluarga Yesus. Hanya nama "Yudas anak Yesus" yang tidak muncul dalam Perjanjian Baru.

Pada penggalian 1980 tulang-belulang dari dalam semua osuarium sudah diserahkan kepada otoritas Yahudi Ortodoks setempat untuk dikuburkan kembali. Pemeriksaan DNA tetap bisa dilakukan dengan memakai sisa-sisa endapan organik dari human residue yang menempel pada permukaan-permukaan dinding sebelah dalam atau mengendap di dasar osuarium. Pada tahun 2005 Dr Carney Matheson dan timnya dari Laboratorium Paleo-DNA Universitas Lakehead di Ontario telah memeriksa mitokondria DNA terhadap human residue dari "Yesus anak Yusuf" dan "Maria Magdalena".

Dari penelitian ini tidak ditemukan adanya hubungan persaudaraan maternal antara "Yesus" dan "Maria Magdalena". Artinya, Maria Magdalena dari makam Talpiot bukan ibu dari Yesus dan juga bukan saudara kandung perempuannya. Bisa jadi, karena ditemukan dalam satu makam keluarga, Maria Magdalena dalam makam Talpiot ini adalah orang luar yang menjadi istri sah Yesus, dan bisa jadi juga "Yudas anak Yesus" adalah anak Maria Magdalena juga.

Pada 21 Oktober 2002 di Washington DC, Hershel Shanks, editor kondang dari Biblical Archaelogy Review, dan Discovery Channel mengumumkan telah ditemukan sebuah osuarium yang berinskripsi Aramaik "Yakobus, anak Yusuf, saudara dari Yesus". Osuarium Yakobus ini, yang dimiliki Oded Golan (pedagang barang antik kelahiran Tel Aviv), segera terkenal ke seluruh dunia. Osuarium ini, ketika sudah kembali ke Israel sehabis dipamerkan antara lain di Royal Ontario Museum disita oleh OKI, dan Oded Golan ditangkap dengan tuduhan telah memalsukan inskripsi "saudara dari Yesus" pada osuarium itu berdasarkan hasil tes isotop yang telah dilakuan Prof Yuval Goren, pakar geologi dari Universitas Tel Aviv. Namun, pada Januari 2007, di ruang sidang pengadilan Israel atas Oded Golan, Prof Goren menyatakan bahwa pada sedikitnya dua huruf dari nama "Yeshua" (Yesus) pada inskripsi Aramaik di osuarium Yakobus ini terdapat lapisan mineral patina yang asli dan berusia tua. Dengan demikian, keseluruhan frase "saudara dari Yesus" pada osuarium Yakobus itu harus dinyatakan asli.
.
Sementara ini, Tabor dan Jacobovici berpendapat ada kemungkinan bahwa satu osuarium yang telah hilang dari makam Talpiot itu adalah osuarium Yakobus. Shimon Gibson sendiri berpendapat ada kemungkinan bahwa osuarium Yakobus adalah osuarium ke-11 dari makam Talpiot yang telah dicuri dari makam ini sebelum penggalian dilakukan pada 1980. Ketika diukur kembali, didapati ukuran osuarium Yakobus ini sama dengan ukuran osuarium yang telah hilang itu. Penelitian lapisan mineral patina pada osuarium Yakobus yang telah dilakukan, yang dibandingkan dengan patina-patina dari osuarium-osuarium lain dari makam Talpiot dan dari makam-makam lain di sekitarnya yang dipilih secara acak, menunjukkan kesamaan "sidik jari" mineral patina dari osuarium Yakobus dengan "sidik jari" mineral patina dari osuarium-osuarium lainnya dari makam Talpiot.

Ini memastikan bahwa osuarium Yakobus berasal dari makam Talpiot. Sisa-sisa tulang-belulang Yakobus masih tersedia. Jika pengujian DNA diizinkan oleh OKI untuk dilakukan pada human residue Yakobus (hingga kini OKI masih belum memberi izin), dan jika terbukti bahwa DNA Yakobus match dengan DNA Yesus (yang sudah diketahui), maka akan tidak terbantahkan lagi bahwa makam keluarga di Talpiot itu adalah makam keluarga Yesus dari Nazareth, Yesus yang punya saudara satu ayah, yang bernama Yakobus, sebagaimana dicatat baik oleh tradisi Kristen (Galatia 1:19; Markus 6:3) maupunoleh Flavius Yosefus, sejarawan Yahudi.

Beberapa sanggahan
Sejak ekskavasi 1980, nama-nama pada osuarium-osuarium makam Talpiot dipandang oleh sejumlah arkeolog Israel sebagai nama-nama yang umum dipakai di Jerusalem pra-tahun 70. Sifatnya sebagai nama-nama umum inilah yang telah lama dijadikan alasan oleh banyak pakar Kristen menyanggah pendapat bahwa makam Talpiot adalah makam keluarga Yesus dari Nazareth .

Sanggahan diatas dibantah dengan argumentasi:
Jacobovici, Pellegrino, dan James D Tabor berpendapat bahwa terkumpulnya nama-nama anggota keluarga Yesus dalam makam Talpiot sebagai satu cluster adalah suatu kejadian yang unik, yang belum pernah ditemukan sebelumnya di dalam suatu situs galian arkeologis yang terlokasi dan terkontrol. Pandangan mereka ini didukung oleh kajian statistik yang memanfaatkan teori probabilitas dan yang juga memperhitungkan baik demografi kota Jerusalem pra-tahun 70 (berpenduduk antara 25.000 dan 75.000) maupun data nama-nama yang telah dicatat yang berasal dari semua makam yang telah ditemukan di kawasan-kawasan perbukitan kota Jerusalem.

Menurut pakar statistic dari Universitas Toronto, Prof Andrey Feuerverger, kemunculan cluster atau kumpulan keempat nama saja yang berkaitan dengan Yesus ("Yesus anak Yusuf", "Maria", "Maria Magdalena", dan "Yoses") dalam satu makam, dalam konteks kota Jerusalem pada periode Bait Allah Kedua akhir, adalah suatu kejadian yang unik dengan peluang 1:600. Artinya, dari 600 kasus, hanya akan ada satu kemungkinan kasus seperti kasus makam Talpiot. Jika osuarium Yakobus dimasukkan ke dalam makam Talpiot, maka, menurut Feuerverger, peluangnya berubah menjadi 1:30.000. Artinya, dari 30.000 kasus, hanya akan ada satu peluang kasus yang seperti kasus makam Talpiot.

Sanggahan lainnya adalah
Tidak mungkin makam Talpiot makam keluarga Yesus sebab di dalam Perjanjian Baru tidak ada satu pun petunjuk yang menyatakan bahwa Yesus mempunyai anak.

Sanggahan diatas dibantah dengan argumentasi:

  1. Ini adalah sebuah argumentum e silentio yang keliru. Perjanjian Baru tidak menyebut, sebagai contoh, nama-nama Philo, Rabbi Hillel, Flavius Yosefus, Hanina ben Dosa, Apollonius dari Tyana. Namun, semua orang ini adalah orang-orang yang nyata hidup dalam dunia ketika kekristenan baru lahir.
  2. Selain itu, harus juga dipertimbangkan adanya rujukan-rujukan kepada "murid yang dikasihi" dalam Injil Yohanes yang digambarkan "bersandar pada Yesus di sebelah kanan-Nya" pada waktu perjamuan malam (Yohanes 13:23); dan juga rujukan dalam Injil Markus kepada "seorang muda" yang berlari "dengan telanjang" ketika Yesus ditangkap (Markus 14:51-52)—apakah tidak mungkin, bahwa rujukan-rujukan tersamar ini sebetulnya mengacu kepada anak Yesus, berusia belasan tahun, yang identitas sebenarnya harus dirahasiakan mengingat Roma baru saja menumpas sebuah gerakan messianik dengan menyalibkan sang pemimpinnya, Yesus dari Nazareth, yang mengklaim diri "Raja orang Yahudi"?

Sanggahan berikutnya adalah
Bahwa karena keluarga Yesus dari Nazareth adalah keluarga miskin yang tinggal di Galilea, maka mustahil mereka bisa memiliki sebuah makam keluarga di kota Jerusalem ; kalaupun keluarga Yesus mampu membeli sebuah makam keluarga, makam ini pastilah sederhana dan berlokasi di Nazareth , bukan di Jerusalem .

Sanggahan diatas juga dibantah dengan argumentasi:

  1. Dibandingkan dengan makam-makam lain di kawasan dekat Jerusalem , makam Talpiot itu bersahaja dan sempit, dengan ukuran 3 x 3 meter dan dengan tinggi kurang dari 2 meter. Makam semacam ini dapat disediakan oleh para pengikut perdana Yesus.
  2. Sepeninggal Yesus, mereka memusatkan pergerakan messianik mereka di Jerusalem dengan dipimpin oleh Yakobus (wafat tahun 62), saudara Yesus, yang semasa Yesus masih hidup telah menetap di Jerusalem . Di Betania, tidak jauh dari Jerusalem , berdiam para pengikut setia Yesus, seperti Maria, Marta, dan Lazarus yang dapat menyediakan sebuah makam keluarga.
  3. Pada situs-situs galian arkeologis di sekitar Bukit Zaitun (dilakukanoleh arkeolog-arkeolog Mancini, Bagatti dan Milik, serta Sukenik danAvigad) yang tidak jauh dari Kota Lama Jerusalem, khususnya padasitus suci Kristen Dominus Flevit ("Tuhan menangis"), telah ditemukanbanyak osuarium yang berinskripsi nama-nama Yahudi-Kristen (JackFinegan, Archaelogy of the New Testament, 359-374). Nama-nama iniadalah nama-nama para murid perdana Yesus yang tetap melanjutkangerakan messianik yang dipusatkan di Jerusalem sebelum kota inidihancurkan pada tahun 70 M oleh Roma.
  4. Dalam Markus 6:29 dikatakan bahwa ketika murid-murid YohanesPembaptis mendengar sang guru mereka sudah dibunuh oleh HerodesAntipas, mereka segera datang mengambil mayatnya lalu meletakkannya dalam sebuah kubur. Hal yang serupa terjadi juga pada mayat Yesus. Yusuf orang Arimatea, seorang "yang telah menjadi murid Yesus juga" (Matius 27:57) memberikan sebuah makam miliknya sendiri "yang digali di dalam bukit batu" untuk penguburan sementara mayat Yesus (karena hari Sabat sebentar lagi tiba!) (Markus 15:42-47). Dari kubur ini kaum keluarga Yesus kemudian memindahkan mayat Yesus ke makam yang permanen yang disediakan para pengikut pergerakan messianik Yesus yang kini berpusat di Jerusalem . Telah dipindahkannya mayat Yesus ke kubur lain inilah yang menyebabkan kubur pertama itu kosong. Ketika waktunya telah tiba (satu tahun kemudian), tulang-belulang Yesus dimasukkan ke dalam osuarium.

Sanggahan lainnya bercorak apologetis teologis, bukan historis, datang dari kalangan Kristen evangelis.
Bagi kalangan ini, di bumi ini tidak mungkin ada sisa-sisa jasad Yesus sebab Yesus sudah bangkit dengan raganya dan sudah naik ke surga juga dengan keseluruhan raganya (daging, tulang, organ-organ dalam, dan semua lainnya).

Sanggahan diatas juga dibantah dengan argumentasi:
Teologi mereka pakai untuk menghambat penyelidikan interdisipliner terhadap makam Talpiot dan osuarium-osuarium yang terdapat di dalamnya. Kalangan inilah, dengan literalisme biblis mereka, yang sama sekali tidak mau diperhatikan oleh para pakar peneliti makam Talpiot.

Penutup
Jika sisa-sisa jasad Yesus memang ada di bumi ini, maka kebangkitandan kenaikan Yesus ke surga tidak bisa lagi dipahami sebagai kejadian-kejadian sejarah obyektif, melainkan sebagai metafora. Para penulis Perjanjian Baru sendiri pasti memahami keduanya sebagai metafora; jika tidak demikian, mereka adalah orang-orang yang sudah tidak lagi memiliki kemampuan membedakan mana realitas dan mana fantasi dan delusi. Dalam metafora sebuah kejadian hanya ada di dalam pengalaman subyektif, bukan dalam realitas obyektif. Yesus bangkit, ya, tetapi bangkit di dalam memori dan pengalaman hidup dihadiri dan dibimbing oleh Rohnya. Yesus telah naik ke surga, ya; dalam arti: ia telah diangkat dalam roh untuk berada di sisi Allah di kawasan rohani surgawi. Kebangkitan dan kenaikan tidak harus membuat jasad Yesus lenyap dari makamnya. Untuk keduanya terjadi, yang dibutuhkan adalah "tubuh rohani", bukan tubuh jasmani protoplasmik

IOANES RAKHMAT Dosen Kajian Perjanjian Baru di Sekolah Tinggi Teologi (STT) Jakarta Sumber : Kompas, 5 April 2007


Note:
Diubah seperlunya sesuai selera saya dengan tidak mengubah pesan asli dari tulisan
KONTROVERSI TEMUAN MAKAM KELUARGA YESUS, Oleh IOANES RAKHMAT Kompas, 5 April 2007
http://www.kompascetak.com/kompas%2Dcetak/0704/05/bentara/3429797.htm


Beberapa Tulisan dibawah ini adalah Tanggapan Deshi Ramadhani, Tanggapan Ioanes Rakhmat dan kompilasi tanggapan pihak lainnya


Historisasi Makam Kosong Yesus

http://www.kompascetak.com/kompas%2Dcetak/0705/05/fokus/3492011.htm
DESHI RAMADHANI
Sabtu, 05 Mei 2007

Kesimpulan bahwa kebangkitan Yesus dari kematian seperti yang dikatakan Injil adalah sebuah metafora belaka, yang didasarkan pada temuan makam dengan tulang-belulang di Talpiot yang diduga adalah Yesus yang dipercaya umat Kristiani, terlalu dini. Sebuah metafora yang bergerak hanya dalam ranah subyektif, bukan obyektif. Pilihannya antara prinsip "yang ajaib pasti tidak historis" atau "yang ajaib bisa sungguh historis".

Kontroversi belakangan ini tentang makam keluarga Yesus dan kepastian kebangkitan-Nya dengan seluruh tubuh perlu ditempatkan dalam gambar besar penelitian kisah- kisah ajaib di dalam Alkitab. Usaha untuk menjelaskan secara ilmiah hal-hal ajaib yang dikisahkan dalam Alkitab bukanlah hal baru. Hal ini sudah banyak dilakukan, baik terhadap Perjanjian Lama (misalnya, sepuluh tulah atau kutuk yang menimpa bangsa Mesir sebelum orang Israel akhirnya pergi meninggalkan Mesir) maupun Perjanjian Baru (misalnya, Yesus yang berjalan di atas air atau Yesus yang meredakan badai ganas di danau). Usaha ini memperlihatkan sikap tertentu terhadap kisah ajaib dalam Alkitab dalam kaitan dengan dimensi historis kejadian-kejadian itu.

Kesejarahan mukjizat
Di balik usaha-usaha ini terdapat sebuah prinsip yang menempatkan hal-hal ajaib dan penjelasan ilmiah sebagai dua kubu yang saling bertentangan. Tujuan penelitian ilmiah ini adalah memperlihatkan bahwa apa yang diceritakan dalam Alkitab sebagai sebuah peristiwa ajaib karena campur tangan langsung dari Sang Ilahi pada dasarnya adalah peristiwa-peristiwa alam biasa yang bisa dibuktikan berdasarkan pendekatan-pendekatan ilmu alam. Maka, usaha ini membawa bendera yang mengatakan: "Untuk segala mukjizat, pasti bisa ditemukan penjelasan ilmiahnya."

Berjalan seiring dengan usaha ini, pertanyaan tentang historisitas peristiwa dalam Alkitab pun menjadi bagian dari penyelidikan para ahli. Pendekatan ilmiah membuktikan bahwa peristiwa yang dikisahkan dalam Alkitab sendiri secara historis bisa saja terjadi. Seiring dengan pembuktian historis ini, konsekuensinya, kemungkinan adanya intervensi langsung dari Sang Ilahi disingkirkan. Peran Sang Ilahi harus tunduk pada peran sains.

Pembuktian ilmiah mengatakan bahwa peran Sang Ilahi tidaklah sedemikian dahsyat seperti dikisahkan dalam Alkitab. Alam memiliki hukumnya sendiri. Mukjizat bukanlah intervensi dari Sang Ilahi, melainkan hasil yang sangat masuk akal dari proses alami. Film berjudul Reaping yang sedang diputar di bioskop-bioskop di Jakarta, misalnya, mencoba menceritakan pergulatan seorang ilmuwati bukan dalam menerima historisitas kisah-kisah Alkitab, melainkan dalam menerima intervensi langsung Sang Ilahi di dalamnya.

Pada kenyataannya dalam Alkitab banyak kisah ajaib yang tidak berhubungan dengan gejala alam. Dalam Perjanjian Baru dikisahkan banyak penyembuhan fisik yang dilakukan baik oleh Yesus maupun oleh para murid-Nya yang menerima dan menggunakan kuasa dalam Nama-Nya yang kudus. Penelitian ilmiah atas kisah-kisah ajaib dalam ranah penyembuhan fisik semacam ini tentu tidak bisa begitu saja membuktikan bahwa semua itu adalah proses biologis atau ragawi belaka.

Dalam konteks semacam ini pertanyaan tentang historisitas kisah-kisah ajaib menjadi semakin tajam. Apakah penyembuhan ajaib seperti yang dikisahkan dalam Alkitab itu benar terjadi secara historis? Dengan demikian, yang disingkirkan tidak hanya kemungkinan intervensi dari Sang Ilahi (sebagaimana halnya dalam penjelasan ilmiah atas keajaiban yang berkaitan dengan gejala alam), melainkan juga kejadian itu sendiri. Bila tidak bisa ditemukan penjelasan ilmiah bagi penyembuhan ajaib itu, haruskah disimpulkan bahwa kisah semacam itu tidak pernah sungguh terjadi secara historis?

Fakta yang sering terjadi secara kasat mata di hadapan orang modern justru mengatakan lain. Ada banyak orang yang menurut ilmu kedokteran menderita penyakit yang tidak tersembuhkan justru mengalami kesembuhan. Tidak sedikit dokter yang akhirnya harus mengatakan bahwa penyembuhan itu memang tak bisa dijelaskan secara logis berdasarkan pendekatan ilmiah. Pertanyaan lebih jauh harus dijawab.

Bila penyembuhan terjadi di luar jangkauan penjelasan medis, siapkah seseorang menerimanya sebagai sebuah keajaiban atau mukjizat? Di satu pihak, penyembuhan itu begitu kasat mata dan secara empiris bisa dibuktikan. Di lain pihak, tidak bisa dibuktikan secara jelas apa atau siapa yang menyembuhkan orang yang bersangkutan.

Di sinilah orang akhirnya harus berhadapan dengan kenyataan empiris bahwa keajaiban bisa sungguh bersifat historis. Artinya, "yang ajaib" bisa sungguh terjadi secara historis dalam ruang dan waktu di mana manusia ini hidup dan bergerak. Mukjizat yang berada di luar jangkauan akal budi manusia bisa benar-benar terjadi secara historis. Keajaiban adalah sebuah peristiwa sejarah juga. Craig A Evans, Fabricating Jesus (2005), bahkan mengatakan bahwa satu kesalahan serius dari banyak kesalahan lain adalah "kegagalan untuk memperhitungkan perbuatan ajaib Yesus". Sungguh disayangkan bahwa banyak ahli yang meneliti keajaiban yang berkaitan dengan tokoh Yesus dalam Alkitab justru berangkat dengan sebuah asumsi bahwa "yang ajaib pasti tidak historis".

Proses demirakulisasi
Akibat logis dari asumsi semacam ini adalah sebuah proses yang saya sebut sebagai demirakulisasi (Latin miraculum; Inggris miracle) Yesus. Perkataan miraculum, berkait dengan kata kerja mirare, yang berarti ’melihat’ atau ’memandang’. Secara bebas miraculum berarti sesuatu yang mau tidak mau dilihat atau dipandang dengan mata terbelalak. Dengan demikian, proses demirakulisasi tidak lain adalah sebuah proses pengingkaran terhadap apa yang sebenarnya begitu jelas terlihat meskipun tidak bisa dijelaskan dengan akal budi.

Cara kerja yang dipilih menjadi jelas: Yesus yang benar-benar ada secara historis harus dijelaskan dan direkonstruksi dengan menyingkirkan segala hal ajaib atau mukjizat seperti dikisahkan dalam Alkitab. Pembuktian Yesus Historis dalam proses demirakulisasi mengharuskan sang peneliti memilih data yang masuk akal saja. Dalam praktiknya, ini bisa membuat sang peneliti mengambil data yang diperlukan terlepas dari konteksnya begitu saja. James D Tabor, penulis buku The Jesus Dynasty, adalah salah satu peneliti yang mengikuti cara kerja seperti ini.

Dua contoh kecil bisa diperlihatkan di sini. Pertama, Tabor mencoba menjawab pertanyaan tentang profesi Yesus sebelum Ia tampil secara publik di Galilea. Perkataan Yunani dalam Injil adalah tektôn. Kamus besar yang disusun oleh Bauer, Arndt, Gingrich (1957) menjelaskan tektôn sebagai carpenter, wood-worker, builder. Tabor begitu saja memilih arti tektôn sebagai builder (tukang bangunan; tukang batu). Untuk mendukung argumennya ia merujuk pada tulisan yang sekarang dikenal sebagai Protoevangelium Yakobus 9:3 yang mengatakan bahwa pekerjaan Yusuf adalah sebagai tukang bangunan. Tabor hanya memilih satu rujukan kecil ini untuk mendukung hipotesisnya bahwa Yesus pun bekerja sebagai tukang bangunan.

Tulisan Protoevangelium Yakobus sudah beredar sekitar tahun 150 M. Argumen-argumen penting dalam tulisan ini justru bertujuan membuktikan kelahiran ajaib Yesus melalui Maria yang masih perawan dan tetap perawan sesudah kelahiran Yesus. Tabor siap menggunakan bahan di luar Alkitab untuk mendukung argumennya meskipun untuk itu ia harus mengambil rujukan kecil dari sebuah bahan yang justru berlawanan arah dengan cara kerja demirakulisasi yang dipilihnya. Dengan kata lain, untuk mendukung argumennya, Tabor siap mengambil sebuah teks dan melepaskannya dari konteks begitu saja. Menurut kacamata keahlian saya dalam bidang tafsir, pemisahan teks dari konteks adalah sebuah kesalahan metodologis yang sungguh fatal.

Kedua, Tabor mencoba membuat rekonstruksi kronologis tahap perjalanan Yesus dan para murid-Nya menuju Jerusalem dan hari-hari terakhir-Nya di sana. Dengan menggabungkan berbagai data dan loncatan-loncatan kreatif berdasarkan informasi dari Injil, sebuah kronologi diusulkan. Namun, satu hal segera menjadi jelas. Ada satu bahan yang dalam konteks Injil memiliki arti penting yang justru dihindari oleh Tabor. Dalam Injil Yohanes bab 11 dikisahkan bahwa di sebuah kampung yang bernama Betania, Yesus membangkitkan Lazarus dari kematiannya. Kisah Yesus yang menyembuhkan dan kisah Yesus yang membangkitkan orang mati tentu saja berada di luar ranah pembuktian mukjizat berdasarkan gejala-gejala alam.

Lebih dari itu, bila Tabor menggunakan kisah tentang kebangkitan Lazarus ini, ia tentu akan harus juga menerima kemungkinan adanya kebangkitan Yesus sendiri dari mati. Padahal, argumen penting yang justru sedang diperjuangkan adalah untuk membuktikan bahwa Yesus tidak bangkit. Tabor ingin membuktikan bahwa tubuh Yesus telah dipindahkan oleh para pengikut-Nya dari tempat semula Ia dimakamkan setelah penyaliban, ke tempat yang baru. Untuk maksud itu Tabor berani membuat pernyataan bahwa Ia telah menemukan makam Yesus dan keluarga-Nya.

Temuan arkeologis
Temuan arkeologis yang kembali hangat belakangan ini dan penggunaannya untuk sebuah pembuktian Yesus Historis perlu ditempatkan secara jelas dalam kerangka cara kerja demirakulisasi para peneliti yang terlibat di dalamnya. Hasil proses semacam inilah yang tersaji ke kalangan publik. Film dokumenter The Lost Tomb of Jesus dengan produser pelaksana James Cameron, buku karangan Simcha Jacobovici dan Charles Pellegrino The Jesus Family Tomb: The Discovery, the Investigation, and the Evidence that Could Change History, dan buku James D Tabor The Jesus Dynasty adalah bukti hasil kerja peneliti yang berprinsip "yang ajaib pasti tidak historis." Sikap terhadap publikasi semacam ini akan sangat ditentukan oleh penerimaan atau penolakan terhadap prinsip tersebut. Bila menerima prinsip tersebut, berarti orang harus menolak kebenaran empiris yang justru masih berlangsung sampai hari ini, yakni bahwa "yang ajaib bisa sungguh historis".

Hal yang sama berlaku dalam bersikap terhadap kebangkitan Yesus. Kebangkitan Yesus dengan seluruh tubuh-Nya adalah peristiwa ajaib. Maka, bagi para peneliti ini harus disimpulkan bahwa hal itu pasti tidak historis. Yang historis adalah bahwa Yesus tidak bangkit dengan seluruh tubuh-Nya. Untuk membuktikannya, temuan makam di Talpiot dijadikan sebagai argumen penting. Pertanyaan untuk sebuah temuan arkeologis senantiasa berkaitan dengan hubungan antara artefak arkeologis dan data dalam Alkitab.

Fakta pertama. Pada tahun 1980 ditemukan 10 osuarium (tempat tulang) di makam Talpiot, sebelah selatan kota lama Jerusalem. Satu di antaranya dinyatakan hilang. Pada sembilan osuarium itu ada enam yang memiliki inskripsi nama-nama: Yesus anak Yusuf, Maria, Mariamene e Mara (Maria Magdalena), Yoses, Matius, Yudas anak Yesus. Seluruh inskripsi tersebut tertulis dalam bahasa Aram, kecuali inskripsi Maria Magdalena yang tertulis dalam bahasa Yunani.

Fakta kedua. Nama-nama tersebut adalah nama-nama yang sangat umum dimiliki oleh orang pada zaman itu di wilayah tersebut. Meskipun demikian, bahwa nama-nama semacam itu ditemukan sebagai sebuah kesatuan di satu kompleks makam adalah sebuah kenyataan yang sangat unik. Peluang empat nama (Yesus anak Yusuf, Maria, Maria Magdalena, Yoses) dalam cluster semacam itu adalah 1:600. Demikian pendapat Prof Andrey Feuerverger, pakar statistik dari Universitas Toronto.

Fakta ketiga. Hasil uji DNA terhadap endapan organik pada osuarium "Yesus anak Yusuf" dan osuarium "Maria Magdalena" tak memperlihatkan adanya hubungan persaudaraan di antara keduanya menurut garis ibu.

Bila ingin setia pada data-data empiris semacam ini, kesimpulan yang harus diambil adalah: (1) Ada sebuah kompleks makam keluarga tempat ditemukan 10 osuarium; satu dari osuarium itu telah hilang; enam dari yang masih ada memiliki inskripsi nama-nama yang sangat umum; (2) Kesatuan nama-nama umum itu hanya terjadi satu kali dari antara 600 kasus; (3) Yesus anak Yusuf dan Maria Magdalena bukan saudara-saudara sekandung.

Kesimpulan yang lebih dari itu adalah hipotesis. Satu hipotesis yang belum berdasarkan fakta justru dijadikan sebagai kesimpulan oleh Tabor. Di sini Tabor sudah berkeyakinan bahwa osuarium lain dengan inskripsi "Yakobus, anak Yusuf, saudara dari Yesus" adalah satu osuarium yang hilang dari makam keluarga di Talpiot itu. Hipotesis lain adalah ikatan perkawinan antara "Yesus anak Yusuf" dan "Maria Magdalena". Hipotesis lanjutan dari ini adalah bahwa "Yudas anak Yesus" adalah anak dari perkawinan antara "Yesus anak Yusuf" dan "Maria Magdalena" itu. Masih perlu dilihat bagaimana uji DNA terhadap endapan organik dalam osuarium "Yudas anak Yesus" tersebut.

Hipotesis paling berani adalah dengan mengatakan kemungkinan bahwa "Yesus anak Yusuf" itu adalah Yesus yang dikisahkan dalam Injil. Ini sama saja dengan seorang peneliti asing di abad-abad kemudian yang bisa menyimpulkan bahwa sebuah makam dengan nama "Bambang anak Suharto" di sebuah tempat di bumi ini adalah makam Bambang anak dari seorang bernama Suharto yang selama bertahun-tahun menjadi penguasa tunggal di sebuah negeri di bumi ini. Tidak mustahil bahwa Bambang yang dimakamkan di sana adalah Bambang preman pasar di kampung sekitar makam itu yang bapaknya bernama Suharto yang punya toko kelontong dekat alun-alun.

Yesus yang mana?
Di sinilah letak persoalan paling serius dalam penelitian Yesus Historis berdasarkan temuan arkeologis saat ini. Ada sebuah makam dengan osuarium bernama "Yesus anak Yusuf". Sungguh tidak mustahil bahwa artefak yang tersedia ini adalah sebuah keunikan istimewa, satu dari 600 kemungkinan kasus, yang merupakan makam dari seorang yang sama sekali lain. Hipotesis berikut ini sama kuatnya dan harus bisa diterima.

Ada seorang pedagang yang cukup kaya di Jerusalem pada dekade pertama abad Masehi. Nama orang itu adalah Yusuf. Seorang anaknya yang bernama Yesus itu bekerja sebagai seorang ahli hukum yang mencapai puncak kariernya setelah berhasil menentang dan menghukum mati seorang guru eksentrik berasal dari Nazaret yang juga bernama Yesus. Suatu hari Yusuf dan Maria istrinya memutuskan mengadopsi seorang anak putri dari Magdala, dan mereka beri nama Maria Magdalena. Yesus sang ahli hukum itu pernah punya hubungan dekat dengan seorang perempuan sehingga ia punya anak, tetapi lalu ditinggal pergi oleh kekasihnya itu. Yesus ini akhirnya harus menitipkan anaknya yang bernama Yudas untuk diasuh oleh Yusuf dan Maria. Demikianlah pada akhirnya satu per satu mereka mati. Jasad-jasad Yusuf, Maria, Maria Magdalena, Yesus anak Yusuf, dan Yudas anak Yesus ini akhirnya dimakamkan di kompleks makam keluarga yang sudah mereka siapkan di Talpiot.

Berabad-abad kemudian sekelompok peneliti menemukan makam itu dan mulai menduga- duga bahwa Yesus dalam makam itu adalah Yesus yang diyakini oleh orang Kristiani sebagai Tuhan yang bangkit dengan seluruh tubuh-Nya. Maka, sungguh masih terlalu dini untuk membuat kesimpulan seperti itu. Terlalu dini juga untuk mulai yakin bahwa kebangkitan Yesus dari Nazaret itu adalah sebuah metafora belaka, bukan persitiwa historis; sebuah metafora yang bergerak hanya dalam ranah subyektif, bukan obyektif. Maka, pilihannya kembali antara prinsip "yang ajaib pasti tidak historis" atau "yang ajaib bisa sungguh historis".

DESHI RAMADHANI Dosen Tafsir Kitab Suci di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Jakarta


Penulisan Sejarah dan Penelitian Makam keluarga Yesus

http://www.kompascetak.com/kompas-cetak/0705/31/Bentara/3557107.htm
oleh Ioanes Rakhmat

Tulisan saya di lembaran Bentara Kompas, 5 April 2007, yang berjudul Kontroversi Temuan Makam Keluarga Yesus, telah menyulut berbagai kontroversi dan reaksi meluas. Sebuah tanggapan terbuka terhadap tulisan itu, berjudul Historisasi Makam Kosong Yesus, telah dimuat di lembaran yang sama dalam koran yang sama pada 5 Mei 2007, ditulis oleh Deshi Ramadhani, seorang dosen tafsir Perjanjian Lama dari STF Driyarkara, Jakarta. Berikut ini (sudah terbit di Bentara Kompas, 31 Mei 2007) adalah sebuah tanggapan terhadap tulisan Deshi Ramadhani ini.

Penulisan sejarah
Jika ilmu sejarah dipahami dalam pengertian modern, penulisan sejarah adalah penulisan tentang sebuah peristiwa di masa lampau yang asal-usul kejadiannya harus dicari hanya pada penyebab-penyebab empiris natural, sosiologis dan kultural. Penulisan sejarah bukanlah penulisan sebuah teologi. Di dalam teologi (khususnya di dalam agama-agama monoteistik), penyebab-penyebab sebuah kejadian dalam dunia dijelaskan tidak terlepas dari keterlibatan Allah di dalamnya, keterlibatan faktor non-empiris supernatural, non-sosiologis dan non-kultural. Adalah asumsi dasariah dalam teologi bahwa Allah bertindak dalam kehidupan dunia manusia; teologi hanya bisa dijalankan jika asumsi ini diterima. Sedangkan asumsi dasariah dalam penulisan sejarah adalah segala sesuatu dapat terjadi dalam dunia ini hanya karena sebab-sebab empiris natural, sosiologis dan kultural. Jikalau seorang sejarawan menulis sebuah uraian sejarah dengan ke dalamnya ia melibatkan intervensi Allah ke dalam dunia kodrati, maka ia berhenti menjadi seorang sejarawan, berubah menjadi seorang teolog, dan karya tulisnya berubah menjadi sebuah teologi. Beberapa ilustrasi dapat diajukan.

Ketika seorang pakar sejarah Indonesia sedang menulis misalnya tentang Perang Diponegoro, dan di dalam tulisannya itu ia menyatakan bahwa Pangeran Diponegoro mendapatkan keberanian dan mampu mengembangkan taktik dan strategi tempur melawan kolonial Belanda karena Allah dan bala tentara surgawi membantu sang Pangeran secara langsung, sang ahli sejarah ini bukan sedang menulis sejarah, melainkan sedang menulis sebuah teologi atau sebuah epos religius. Tentu saja dalam perjuangannya Pangeran Diponegoro bisa saja dipengaruhi sangat kuat oleh imannya kepada Gusti Allah, dan karenanya bisa saja ia mengklaim bahwa Allah telah membantunya dalam perang melawan Belanda. Tetapi, ketika seorang sejarawan modern menulis tentang Perang Diponegoro, maka ia akan menyatakan bukan bahwa Gusti Allah dengan kuasa-Nya telah membantu dan menopang Pangeran Diponegoro, melainkan bahwa sang Pangeran sangat dipengaruhi oleh ideologi keagamaannya. Seorang sejarawan tidak berurusan dengan Allah yang dipercaya Pangeran Diponegoro, tetapi dengan ideologi religius sang pangeran sebagai sebuah variabel sosio-kultural historis yang ikut berperan dalam kiprah-kiprah kejuangannya.

Kitab Kisah Para Rasul adalah sebuah dokumen dalam Perjanjian Baru yang mengisahkan kelahiran dan pertumbuhan gereja-gereja Kristen perdana berkat kerja keras para rasul, terutama rasul Paulus, berawal di Palestina lalu meluas ke kawasan dunia Laut Tengah kuno di luar Palestina, sampai ke kota Roma. Dilihat dari perspektif modern tentang penulisan sejarah, apa yang dituturkan penulis kitab Kisah Para Rasul ini bukanlah sebuah tulisan sejarah, tetapi sebuah teologi karena di dalamnya dilaporkan bahwa kelahiran dan perluasan gereja Kristen oleh para rasul itu terjadi karena Roh Kudus atau Roh Yesus Kristus menyertai mereka dan melalui mereka mengadakan banyak mukjizat. ”Mirakulisasi” atau pengajuan klaim bahwa suatu kejadian adalah mukjizat (Latin: miraculum) ilahi diperlukan hanya dalam teologi, bukan dalam penulisan sejarah. Tentu ada beberapa catatan sejarah faktual di dalam dokumen yang dinamakan Kisah Para Rasul ini; tetapi secara keseluruhan dokumen ini bukanlah dokumen sejarah dalam pengertian modern.

Ketika seorang dokter Kristen sedang menangani seorang pasien yang sedang sakit berat, dan ia diharapkan dapat menyembuhkan sang pasien, ia tidak bisa berdiam diri secara pasif saja menyerahkan sang pasien kepada Yesus untuk secara ajaib menyembuhkannya. Jika ia melakukan hal ini, ia bisa dituntut dan diajukan ke pengadilan dengan suatu tuduhan bahwa ia telah tidak menjalankan tugas profesionalnya sebagai seorang dokter yang wajib (karena ia berada di bawah sumpah!) melakukan serangkaian prosedur medik ilmiah untuk mengobati sang pasien. Seorang dokter bisa percaya bahwa mukjizat bisa terjadi dalam dunia ini; tetapi, ketika dia menjalankan profesinya sebagai seorang dokter, ia wajib mewujudkan kesembuhan untuk pasiennya dengan memakai segenap kemampuan profesionalnya dan mengikuti semua prosedur keilmuan yang dikuasainya. Sebagai seorang dokter, ia tidak boleh menyerah pada keganasan penyakit yang sedang diderita pasiennya, tetapi harus tetap tekun dan taat asas melaksanakan tugas-tugas profesionalnya sebagai seorang dokter.

Begitulah, seorang sejarawan yang melakukan kajian sejarah terhadap figur Yesus harus tetap konsisten berjalan pada jalur ilmiah dari ilmu sejarah, ilmu yang memperhitungkan hanya faktor-faktor empiris natural, sosiologis dan kultural. Taat asas dalam prosedur keilmuan bidangnya, adalah suatu syarat yang harus dipenuhi oleh setiap orang yang mengklaim diri ilmuwan. Pencampuradukan profesi seorang sejarawan dengan profesi seorang teolog akan menimbulkan ketidakdisiplinan ilmiah, perancuan kategoris dan penyesatan informasi. Meskipun jelas tidak ada uraian sejarah yang obyektif sepenuhnya, dan selalu akan ada faktor subyektif dari si sejarawan yang ikut berperan, namun si sejarawan harus pasti dalam satu hal, yakni bahwa ia akan memperhitungkan hanya faktor-faktor empiris natural, sosiologis dan kultural, dalam ia menyusun suatu historiografi.

Kisah-kisah tentang mukjizat
Yang ditemukan dalam Alkitab bukanlah mukjizat-mukjizat, tetapi kisah-kisah tentang mukjizat. Pembaca masa kini bukanlah penyaksi mukjizat-mukjizat yang dikisahkan di dalamnya, tetapi hanya sebagai para pembaca kisah-kisah itu. Kisah-kisah tentang mukjizat harus diterima apa adanya, yakni sebagai kisah-kisah. Memperlakukan kisah-kisah tentang mukjizat sebagai sama dengan fakta-fakta mukjizat empiris obyektif adalah suatu lompatan yang terlampau jauh, melampaui keterbatasan kisah-kisah yang ditulis sebagai karya-karya sastra. Lagi pula, dalam Perjanjian Baru, kisah-kisah tentang mukjizat Yesus ditulis bukan oleh para saksi mata. Selalu akan ada kesenjangan antara apa yang dikisahkan dan apa yang faktual telah terjadi.

Sebagai kisah-kisah, kisah-kisah tentang mukjizat dapat dianalisis secara rasional ilmiah, dengan mengajukan antara lain pertanyaan-pertanyaan berikut: dalam konteks sosial-kultural historis dan religius apa kisah-kisah itu ditulis; faktor-faktor apa yang berperan di dalam penulisan kisah-kisah itu; untuk kisah-kisah tentang mukjizat dalam Perjanjian Baru, adakah kisah-kisah paralel yang dapat ditemukan dalam dunia Greko-Romawi; apa tujuan penulisan kisah-kisah tentang mukjizat dalam konteks luas dunia Greko-Romawi; di tempatkan dalam konteks zamannya dan dalam konteks temuan-temuan arkeologis mutakhir dan kajian-kajian antropologis lintas-budaya, apakah ada hal-hal yang dikisahkan yang tidak mungkin terjadi dalam sejarah; termasuk ke dalam jenis sastra (literary genre) apakah kisah-kisah tentang mukjizat itu; dalam konteks seluruh dokumen sastra yang memuat kisah-kisah mukjizat itu, apa fungsi sastrawi dari kisah-kisah tentang mukjizat itu, dan mengapa kisah-kisah ini muncul dalam suatu konteks sastra tertentu dan bukan dalam konteks sastra lainnya.

Mengajukan serangkaian pertanyaan rasional semacam di atas, bukanlah melakukan demirakulisasi (= penghilangan mukjizat) atas kisah-kisah tentang mukjizat, tetapi suatu keharusan prosedural metodologis untuk merekonstruksi sejarah kehidupan dari orang-orang atau komunitas-komunitas yang membuat kisah-kisah tentang mukjizat tersebut.

Ambil sebuah contoh, yakni kisah tentang Yesus memberi makan lima ribu orang (laki-laki) dengan lima roti dan dua ekor ikan (Matius 14:13-21 dan paralelnya). Di sini kita berhadapan dengan kisah Injil tentang mukjizat Yesus, bukan dengan mukjizat Yesus itu sendiri. Hanya dalam Injil Yohanes dikatakan bahwa Yesus sendiri langsung membagi-bagikan makanan itu kepada lima ribu orang itu (Yohanes 6:11); sedangkan dalam Injil-injil lainnya para murid Yesuslah yang membagi-bagikan makanan yang sebelumnya mereka telah terima dari Yesus. Bukan tempatnya di sini untuk mengajukan semua pertanyaan di atas kepada kisah ini.

Terhimpunnya dalam satu hari orang laki-laki sampai lima ribu orang (belum termasuk perempuan dan anak-anak) bukanlah kejadian mudah; ini adalah sebuah tindakan yang tidak mungkin dilakukan Yesus dengan aman-aman saja, mengingat baik Herodes Antipas (penguasa Galilea dan Perea) maupun Roma akan segera bereaksi secara represif militeristik terhadap setiap usaha menghimpun massa dalam jumlah besar, seperti telah terjadi pada Yohanes Pembaptis yang dibunuh Herodes Antipas karena kekuatirannya atas massa pengikut Yohanes Pembaptis (baca tuturan tentang ini dalam Flavius Yosefus, Antiquities 18.116 dyb) dan pada kegiatan-kegiatan sejenis lainnya seperti telah dilaporkan juga oleh sejarawan Yahudi yang sama, Yosefus. Jadi, dilihat dari konteks sosio-politis zaman Yesus, sangat mustahil kalau Yesus bisa menghimpun lima ribu orang laki-laki dengan dirinya tetap aman-aman saja. Selain itu, harus diingat, total penduduk di kawasan-kawasan di sekitar tempat terjadinya pemberian makan lima ribu orang itu jelas tidak mencapai angka lima ribu.

Ada tiga golongan penafsir atas kisah tentang mukjizat pemberian makan lima ribu orang ini. Yang pertama adalah kalangan supernaturalis, yang menyatakan bahwa Yesus betul-betul faktual pernah melakukan mukjizat memberi makan lima ribu orang dengan lima roti dan dua ikan, dengan sisa dua belas bakul (dari mana bakul-bakul ini berasal?). Masalah dari tafsiran kalangan supernaturalis ini adalah kesulitan orang entah untuk membayangkan terhimpunnya bergunduk-gunduk roti dan ikan mendadak sehabis makanan-makanan ini didoakan Yesus atau pun untuk membayangkan bahwa di tangan para murid yang membagi-bagikan makanan itu akan langsung muncul roti-roti dan ikan-ikan baru tidak habis-habisnya sampai semua orang yang duduk berhimpun mendapat makanan.

Penafsir kedua adalah dari golongan rasionalis. Mereka menyatakan bahwa prakarsa Yesus dan para murid untuk membagi makanan itu kepada beberapa orang yang sedang duduk di barisan terdepan telah mendorong orang-orang lain di dalam perhimpunan besar itu untuk juga membagi-bagi makanan yang mereka telah bawa dari rumah masing-masing kepada orang-orang lainnya, sehingga akhirnya semua orang mendapatkan roti dan ikan yang cukup, tanpa perlu mukjizat terjadi. Kesulitan tafsiran rasionalis ini adalah teks Injil-injil jelas-jelas tidak berbicara tentang sharing of bread dan sharing of fish semacam itu. Sebaliknya, dalam Injil-injil dikatakan bahwa orang-orang yang berhimpun di situ sama sekali tidak membawa makanan apa pun, kecuali hanya lima roti dan dua ekor ikan (yang ada pada seorang anak).

Tafsiran ketiga yang paling mungkin diterapkan adalah dengan memperlakukan kisah ini sebagai sebuah kisah teologis mitis, bukan kisah sejarah. Tafsiran teologis sesuai dengan hakikat Kitab Suci sebagai kitab keagamaan, kitab teologis. Bagi teologi penulis Injil Matius, Yesus adalah ”Musa yang baru”, yang membawa hukum baru, dan yang mengulangi kembali bahkan melampaui kisah-kisah besar yang pernah dikisahkan tentang Nabi Musa. Kalau dulu untuk memelihara umat Israel yang sedang berada dalam perjalanan di padang gurun di bawah pimpinan Musa (dan Harun) Allah telah memberi mereka makan ”daging” dan ”roti” (yang disebut manna) (lihat Keluaran 16), kini, untuk umat Allah yang baru, yaitu Israel baru, Yesus sebagai Musa yang baru atau bahkan lebih besar dari Musa juga telah memberi himpunan besar para pengikutnya roti dan daging ikan sampai mereka kenyang, langsung dari tangannya sendiri. Di tangan penulis Injil Matius, Musa adalah tipologi Yesus, Yesus yang muncul kemudian dalam sejarah Israel. Pemberian makan ini hanya ada dalam teks, dalam kisah, bukan dalam sejarah.

Nah, memperlakukan kisah tentang mukjizat Yesus memberi makan lima ribu orang ini sebagai kisah teologis, bukan kisah sejarah, bukanlah melakukan demirakulisasi, tetapi diharuskan oleh sifat-sifat kisah tentang mukjizat ini sendiri.

Makam keluarga Yesus dan kajian sejarah
Ada pada kita bukti material obyektif arkeologis berupa sebuah makam keluarga di Talpiot yang berisi osuarium yang bertuliskan nama ”Yesus anak Yusuf” dan osuarium-osuarium lain yang bertuliskan lima nama lain yang berhubungan erat dengan Yesus sebagai satu keluarga, yang hampir semuanya adalah nama-nama yang ditemukan dalam Perjanjian Baru. Dan ada juga pada kita sebuah osuarium lain yang sudah dapat dipastikan berasal dari makam yang sama, yakni osuarium yang berinskripsi ”Yakobus anak Yusuf, saudara dari Yesus”. Ini adalah fakta obyektif material arkeologis, bukan rekayasa Yahudi untuk (seperti dituduhkan banyak orang Kristen belakangan ini) menjatuhkan agama Kristen. Juga ada data ilmiah dari ilmu statistik modern bahwa temuan arkeologis makam keluarga di Talpiot ini sangat unik, dengan peluang (menurut Feuerverger yang hanya memperhitungkan empat nama saja) hanya satu kali dari antara enam ratus kasus (1:600). Belakangan, John Koopmans juga melakukan perhitungan statistik serupa, tetapi kali ini dengan memperhitungkan tujuh nama yang ada, termasuk nama ”Yakobus anak Yusuf, saudara dari Yesus”, dan dengan melipatgandakan penduduk kota Yerusalem sampai tiga puluh kali dari angka rata-rata yang sebenarnya. Menurut Koopmans, peluangnya adalah 1:42.723.672. Artinya, hanya akan ada satu makam keluarga seperti makam Talpiot dari 42.723.672 keluarga di Yerusalem pra-tahun 70. Angka-angka statistik ini telak menunjukkan tidak akan ada lagi kasus semacam makam Talpiot.

Yang baru dicatat di atas adalah fakta-fakta dan data ilmiah, bukan kesimpulan sejarah. Kesimpulan sejarah hanya akan bisa dihasilkan, apakah makam Talpiot adalah makam keluarga Yesus dari Nazareth (Yesus yang dipercaya orang Kristen sebagai Tuhan dan Kristus), apabila dilakukan pengkajian-pengkajian prosopografis lebih lanjut untuk menemukan ”fit” atau ”kecocokan” antara data material arkeologis dan data dari teks-teks kuno, termasuk teks-teks Perjanjian Baru. Usaha-usaha membuktikan makam Talpiot adalah makam keluarga Yesus dari Nazareth sama sekali bukanlah usaha-usaha demirakulisasi, melainkan usaha-usaha bidang kajian prosopografis untuk menemukan (melalui kajian ilmiah) kecocokan sejarah antara bukti material arkeologis dan keterangan-keterangan di dalam teks-teks kuno. Biarkan mereka yang sedang melakukan pengkajian prosopografis ini bekerja dengan taat asas di alur disiplin ilmu pengkajian arkeologis dan ilmu sejarah; jangan mereka dikecam atas nama teologi atau doktrin Kristen apapun.


Dari Epistemologi Historis, Kembali Ke Makam Keluarga Yesus

Oleh Ioanes Rakhmat

Catatan pengantar
Tulisan di bawah ini adalah sebuah tanggapan Ioanes Rakhmat terhadap tulisan Yonky Karman (YK), Menimbang Historiografi Keagamaan, dan tulisan Deshi Ramadhani (DR), Mendisiplinkan Faktualitas Makam Yesus. Tulisan-tulisan YK dan DR ini (yang dapat diminta langsung pada penulis masing-masing) merupakan tanggapan-tanggapan terhadap tulisan Ioanes Rakhmat sebelumnya, Penulisan Sejarah dan Penelitian Makam Keluarga Yesus, yang telah terbit dalam lembaran Bentara Kompas 31 Mei 2007. Karena pertimbangan-pertimbangan tertentu, pihak Kompas sampai kini (22 Januari 2008) belum bisa menerbitkan ketiga tulisan ini.

Tanggapan terhadap YK
Dalam tulisan tanggapannya, YK tampak jelas menyatakan bahwa saya memandang sejarah bisa ditulis obyektif seratus persen, yang menurutnya tidak mungkin bisa dilakukan karena dalam penulisan sejarah prasuposisi si sejarawan selalu berperan. Hemat saya, dalam hal ini YK telah tidak cermat membaca tulisan saya yang lalu (Kompas, 31 Mei 2007), yang di dalamnya dengan terang saya menyatakan, “[J]elas tidak ada uraian sejarah yang obyektif sepenuhnya, dan selalu akan ada faktor subyektif dari si sejarawan yang ikut berperan.” YK dengan tajam juga menyatakan, “Penganjur Yesus sejarah mengklaim berhasil merekonstruksi Yesus yang historis dan obyektif. Padahal, rekonstruksi itu didorong isu-isu kontroversial di masa modern, bukan kontroversi religius dan politis semasa Yesus hidup. Kontroversi modern dimasukkan ke dalam rekonstruksi itu. Yesus dikeluarkan dari lingkungan sosial-Nya dan masuk ke dalam perdebatan modern.” Hemat saya, pernyataan tajam YK ini menunjukkan dirinya tidak mengetahui betul apa yang telah dan sedang dilakukan oleh para peneliti Yesus sejarah dewasa ini.

Para peneliti Yesus sejarah dengan reputasi internasional pada masa kini sudah lama meninggalkan epistemologi obyektivis positivis (atau historisisme) dalam usaha-usaha merekonstruksi Yesus yang hidup di masa lalu. Dengan epistemologi obyektivis ini, si sejarawan akan mengklaim dapat dengan obyektif seratus persen merekonstruksi peristiwa-peristiwa sejarah di masa lalu, tanpa keterlibatan subyektif dirinya di dalamnya. Begitu juga, epistemologi subyektivis (atau fenomenalisme atau narcissisme atau solipsisme historis) sudah tidak diterima lagi. Dengan epistemologi subyektivis ini, semua rekonstruksi sejarah akan dipandang hanya sebagai proyeksi dari lokasi sosial dan kepentingan-kepentingan sosio-politis kultural dan religius si sejarawan sendiri. Inilah yang dituduhkan YK di dalam pernyataannya di atas.

Tuduhan ini, sekali lagi, sama sekali salah sasaran. Para peneliti Yesus sejarah masa kini dengan sadar memegang epistemologi pasca-modernis yang disebut realisme kritikal atau interaktivisme atau relasionisme atau dialektika historis. Dengan epistemologi interaktivis ini, sesuai dengan namanya, setiap rekonstruksi peristiwa di masa lampau dipandang dihasilkan dari interaksi berimbang antara fakta-fakta sejarah obyektif di masa lalu dan faktor-faktor subyektif dari si sejarawan sendiri (antara lain, lokasi sosialnya, prasuposisi teologis dan ideologisnya, metodologi penelitian yang dipakainya, serta kriteria otentisitas yang dipilihnya untuk memilah-milah bahan bukti literer tekstual maupun bahan bukti material). Dengan epistemologi interaktivis ini, obyektivitas dan subyektivitas berdialektika menghasilkan potret-potret sejarah. Si sejarawan perekonstruksi Yesus sejarah yang memakai epistemologi interaktivis ini akan bersungguh-sungguh berupaya memasuki dunia sosial dan sistem sosial yang di dalamnya Yesus dari Nazareth dulu hidup dan berkarya. Usaha sungguh-sungguh ini tampak antara lain di dalam pemakaian pendekatan lintasilmu yang melibatkan antara lain antropologi lintasbudaya dan lintaszaman, sosiologi, arkeologi, ilmu sejarah dan kajian-kajian literer tekstual. Usaha serius lintasilmu ini diikuti kesadaran penuh si sejarawan untuk menghindarkan diri dari bahaya anakronisme dan etnosentrisme yang bisa timbul dari subyektivitas si sejarawan yang terlalu besar.

YK menekankan bahwa semua kisah Injil tentang mukjizat harus dilihat sebagai kisah-kisah sejarah, bukan semata-mata sebagai kisah-kisah teologis dengan kerugma atau pesan teologis. YK ingin menjadikan teologi Kristen sebagai historiografi Kristen, dan karena itu ia bisa berkata-kata tentang “historiografi injil kanonis” (sementara, kebanyakan pakar biasa menulis “teologi Injil kanonis”). Memasukkan teologi ke dalam historiografi sudah tidak bisa dilakukan lagi dalam historiografi modern, seperti saya sudah tegaskan dalam tulisan yang lalu. Tetapi baiklah, kita turuti saja kemauan YK ini, lalu kita akan sama-sama lihat apa akibat-akibatnya. Sebagai contoh baiklah kita ambil Matius 27:52-53, yang teksnya berbunyi demikian, “… dan kuburan-kuburan terbuka dan banyak orang kudus yang telah meninggal bangkit. Dan sesudah kebangkitan Yesus, merekapun keluar dari kubur, lalu masuk ke kota kudus dan menampakkan diri kepada banyak orang.” Nah, kalau berita Matius ini dipandang sebagai sejarah faktual, bukan teologi, apakah kita siap secara intelektual untuk membayangkan peristiwa yang menyeramkan ini pernah terjadi? Sebaliknya, kalau catatan Matius ini kita dekati menurut literary genre-nya sebagai gambaran apokaliptik kebangkitan Yesus, pesan teologisnya akan dapat kita peroleh dengan baik.

Lalu, ada satu akibat lainnya. Kalau mukjizat-mukjizat dimasukkan ke dalam sejarah sebagai peristiwa-peristiwa sejarah, dan menjadi bagian dari sejarah empiris insani dan natural, semua mukjizat itu tidak bisa hanya sekadar diimani, tetapi harus tunduk pada penelitian-penelitian rasional obyektif empiris dan laboratoris, untuk dapat diketahui apakah memang dapat terjadi atau tidak dapat terjadi, seperti biasa dilakukan kepada segala bentuk peristiwa dalam sejarah! Jika mukjizat-mukjizat menjadi bagian dari sejarah, semua mukjizat ini juga harus tunduk kepada hukum-hukum logika naturalis historis dan harus dapat diulang di waktu-waktu lain dan di tempat-tempat yang berbeda. Apakah YK siap dengan ini?

Satu catatan terakhir untuk YK. Saya tidak tahu bagaimana mendamaikan dua pernyataan pertama YK berikut ini dengan sebuah pernyataan berikutnya lagi: “Memang Injil bersifat biografis dan sarat dengan propaganda, namun itu tidak berarti tanpa referensi historis.”; “Karena itu, narasi Injil tidak murni sejarah dan tidak boleh dibaca seperti membaca liputan di surat kabar.”; “Namun, genre sastra injil lebih tepat disebut narasi sejarah (narrated history).” Adalah kewajiban YK, untuk menunjukkan di dalam Injil-injil kanonis mana unsur-unsur “biografi”-nya, mana unsur-unsur “propaganda”-nya, mana unsur-unsur “tidak murni sejarah”-nya, dan mana yang narrated history-nya, sementara ia telah menegaskan bahwa dalam “historiografi injil kanonis” teologi adalah bagian dari sejarah. Apakah YK mampu menunjukkan unsur-unsur yang sudah disebutnya ini?

Tanggapan terhadap DR
Pertama, penyejajaran novel Dan Brown, The Da Vinci Code (DVC), dengan penemuan dan pengkajian prosopografis makam keluarga Yesus adalah sebuah kesalahan sangat serius dalam mengenal jenis masing-masing subyek. DVC jelas adalah sebuah novel fiksi; sedangkan penemuan dan penelitian makam keluarga Yesus adalah sebuah temuan obyektif arkeologis dan kajian saintifik lintasilmu yang masih sedang berlangsung.

Kedua, baik Simcha Jacobovici maupun James Cameron, bukanlah para sejarawan, bukanlah para pakar sains, melainkan para pembuat film. Sebagai para pembuat film tanpa training dalam penulisan sejarah, mereka tidak bisa dipaksa untuk menjadi sejarawan. Interpretasi yang sehat atas karya mereka yang berupa sebuah film dokumenter The Lost Tomb of Jesus harus bisa memperlihatkan di mana kekuatan film mereka dan di mana kelemahannya, di mana fakta dan di mana fiksinya.

Ketiga, ketika mengulas dokumen Kisah Filipus (Acts of Philip) minat Bovon bukanlah pada rekonstruksi historis kehidupan Mariamne yang, dalam Kisah Filipus, adalah sebutan untuk Maria Magdalena, melainkan pada sejarah tradisi yang memuat nama itu. Memang Kisah Filipus memuat bahan-bahan legendaris dan fabel; tetapi tidak berarti di dalamnya tidak ada rujukan-rujukan kepada sejarah. Misalnya, dalam Kisah Filipus dinyatakan bahwa Rasul Filipus mati dan dikuburkan di Hieropolis; ini adalah catatan sejarah yang sama dengan catatan sejarah Uskup Polykrates dari Efesus dalam suratnya kepada Santo Viktor yang ditulis kira-kira tahun 189-198. Kalaupun Kisah Filipus (abad 4) tidak dipakai, sebutan Mariamne untuk Maria Magdalena masih kita bisa temukan dalam dokumen-dokumen kuno lainnya: 1) Fragmen Yunani dari Injil Maria (akhir abad 2); 2) Tulisan Hippolytus, Refutatio Omnium Haeresium 5.1.7 (awal abad 3); 3) Origenes, Contra Celsum 5.62; dan 4) (dalam aksara Latin) tulisan Priscillian, Apologeticum 1.

Keempat, para arkeolog, paleografer, sejarawan, ahli Kitab Suci, ahli paleo-DNA, ahli statistik, ahli forensik, dan para pakar lain yang sedang meneliti makam keluarga Yesus tidak pernah memakai rujukan dalam Injil Filipus tentang Yesus yang mencium Maria Magdalena (mungkin pada mulutnya) dalam usaha-usaha mereka untuk membuktikan bahwa makam Talpiot itu adalah makam keluarga Yesus. Lagipula, dapat dipastikan Yesus dalam sejarah bukanlah seorang mistikus yang suka memberi “ciuman mistik” kepada para muridnya pada mulut mereka.

Kelima, pemeriksaan mitokondria DNA memang telah dilakukan hanya kepada human residue dari dalam osuarium “Yesus anak Yusuf” dan osuarium “Mariamene e Mara” (=Maria Magdalena); dan tidak dilakukan kepada human residue di dalam semua osuarium lainnya. Ini terjadi bukan karena para peneliti makam keluarga Yesus ini ingin membuktikan bahwa Yesus dan Maria Magdalena tidak bersaudara secara maternal, dan karena itu mereka adalah pasangan suami-istri. Masalahnya adalah karena di dalam semua osuarium lainnya sudah tidak bisa didapatkan human residue sedikitpun, karena bagian dalam dari semuanya telah dibersihkan dengan mesin penghisap debu ketika mau dipamerkan. Pemeriksaan DNA mungkin masih bisa dilakukan terhadap human residue dari osuarium “Yakobus anak Yusuf, saudara dari Yesus”; tetapi sementara ini, hal ini tidak bisa dilakukan karena osuarium ini dan tulang-belulang di dalamnya masih ditahan oleh pemerintah Israel.

Keenam, Prof. Andrey Feuerverger melakukan kajian statistik tidak dengan memperhitungkan enam nama, melainkan empat nama saja (“Yesus anak Yusuf”; “Maria”; “Maria Magdalena”; dan “Yoses”). Probabilitas 1:600 lahir dari kajian statistik atas empat nama ini. Jika osuarium “Yakobus” dimasukkan ke dalam perhitungan Feuerverger, probabilitasnya menjadi 1:30.000. Perhitungan statistik yang dilakukan John Koopmans atas ketujuh nama (termasuk nama “Yakobus”) menghasilkan peluang 1:42.723.672; namun harus dicatat, angka ini dihasilkan setelah melipatgandakan penduduk kota Yerusalem pra-tahun 70 sampai 30 kali angka rata-rata sebenarnya (50.000 orang). Data statistik ini menunjukkan betapa uniknya makam Talpiot itu sebagai makam keluarga Yesus.

Ketujuh, yang berkepentingan terhadap semua osuarium makam Talpiot dan osuarium “Yakobus” bukanlah CIA, tetapi IAA (Israel Antiquities Authorities). IAA berhasil mendapatkan dari Oded Golan foto osuarium Yakobus yang bercap “Expiry 76”; angka 76 ini menunjukkan bukan tahun pengambilan foto itu, tetapi batas kedaluwarsa kertas foto yang dipakai. Kepastian kuat bahwa osuarium “Yakobus” berasal dari makam Talpiot diperoleh dari pemeriksaan (dengan mikroskop elektron) “sidik jari” lapisan mineral patina osuarium ini yang “match” dengan “sidik jari” lapisan mineral patina dari dinding-dinding makam Talpiot dan dari semua osuarium yang ditemukan di dalamnya. Dalam artikel Amos Kloner (‘Atiquot, 1996) memang ditulis bahwa osuarium Yakobus itu “tidak berinskripsi” (Plain); tetapi identifikasi ini dibuat tergesa-gesa di lapangan (“field description”) dan bisa keliru, tidak dihasilkan dari penelitian yang seksama. Joseph Gat (seorang penggali makam Talpiot), misalnya, sebulan setelah penemuan makam itu di tahun 1980, telah keliru menyatakan bahwa hanya ada empat osuarium dari makam Talpiot yang berinskripsi, padahal sebetulnya (sesudah diteliti kembali) ada enam osuarium berinskripsi.

Kedelapan, gagasan bahwa makam Talpiot berisi tulang-belulang dari 35 orang atau lebih, bukan didasarkan pada kajian antropologis apapun atas tulang-belulang yang ada di dalam makam Talpiot, melainkan suatu tafsiran demografis yang diajukan Amos Kloner yang merupakan jumlah rata-rata individu per kuburan dari seluruh kuburan di sekitar Yerusalem yang sudah ditemukan.

Penutup: sebuah catatan pastoral
Sebagai penutup, saya ingin menegaskan bahwa penemuan makam Talpiot dan penelitian-penelitian yang sedang dijalankan terhadap makam ini sama sekali tidak mengganggu iman Kristen pada kebangkitan Yesus, apabila kita mendasarkan diri pada berita Perjanjian Baru dalam 1 Korintus 15:35-58, bahwa Yesus yang bangkit, adalah Yesus yang bangkit dalam tubuh atau raga kemuliaan, raga surgawi, raga rohani, yang tidak akan bisa mati lagi. Hanya dengan raga kemuliaan yang tidak bisa mati lagi ini, dan bukan di dalam raganya yang lama yang dapat mati lagi, Yesus Kristus dapat menjadi Tuhan yang hidup, yang hadir di dalam doa dan kehidupan orang Kristen kapanpun dan di manapun.

Note:
3 (Tiga) Tulisan Ioanes Rakhmat dapat dilihat di Blognya:

http://ioanesrakhmat.blogspot.com/search/label/Makam%20Yesus


Perhatian:

2 (Dua ) Artikel Di bawah ini, tidak saya temukan padanannya di Jaringan Islam liberal dan Surat pembaca Kompas seperti yang sdr Yohanes dari GKJ Tanjung Priok website sampaikan dalam pengantarnya….

Mungkin, saya-lah yang kurang cermat mencarinya.


Kontroversi Temuan Makam Keluarga Yesus (2)

http://www.gkjtp.org/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=170
By yohanes
Rabu, 23-Mei-2007, 11:07:01

Menarik membaca 'Kontroversi Temuan Makam Keluarga Yesus' yang dimuat di harian Kompas, 5 April, yang ditulis sdr. Ioanes Rachmat, hanya perlu dikoreksi karena banyak informasinya tidak lengkap dan akurat.

Menarik juga untuk mencermati beberapa sanggahan yang ditulis oleh Pak Herlianto (www.yabina.org) yang juga termuat di Kompas bagian surat pembaca.

(Ini surat pembaca yang dikirimkan ke harian Kompas)

Menarik membaca 'Kontroversi Temuan Makam Keluarga Yesus' yang dimuat di harian Kompas, 5 April, yang ditulis sdr. Ioanes Rachmat, hanya perlu dikoreksi karena banyak informasinya tidak lengkap dan akurat.

Disebutkan bahwa Mariamene e Mara adalah Maria Magdalena, ini asumsi prematur, soalnya tidak ada buktinya. Memang dalam Kisah Filipus ada nama Mariamne, tapi disitu disebut bahwa ia saudara Filipus, ikut menginjil dan membaptis dan menganut sekte yang asketik, dan melakukan selibat, jadi beda. Ini menunjukkan bahwa tulisan ini langsung dibangun di atas landasan asumsi yang dipercaya penulisnya sebelum terbukti.

Mengenai Matius disebut antara lain ada dalam silsilah Yesus. dalam silsilah ada nama Matan/Matat, kalau ini yang dimaksud berarti kakek dari Yusuf. Ini artinya kuburan itu sudah ada sebelum Yesus, jadi kalau sudah punya kuburan keluarga mengapa dikuburkan ke kuburan Yusuf dari Arimatea? Kalau disebut Matius anak Alfeus dan menurut James Tabor (Jesus Dynasty) adalah Alfeus saudara Yusuf, apa buktinya? Kalau Matius dikuburkan disitu mengapa Alfeus tidak? James Tabor termasuk dalam konspirasi Cameron dan Jacobovici, yang pendapatnya tidak diterima umumnya masyarakat arkeologi Alkitab.

Menurut penelitian DNA, disebutkan tidak ditemukan adanya hubungan persaudaraan material antara Yesus dan Maria Magdalena. ... Bisa jadi Maria Magdalena adalah isteri sah Yesus, dan bisa jadi Yudas anak Yesus adalah anak Maria Magdalena juga. Disini jelas juga bahwa penulis membangun satu asumsi rekaan berdasarkan asumsi rekaan sebelumnya. Test DNA (kalau memang benar) tidak menunjukkan apa-apa kecuali bahwa tulang yang diperkirakan tulang Yesus dan Mariamene bukan bersaudara, ada banyak kemungkinan untuk menghasilkan kesimpulan. Bisa juga Mariamene isteri Matius, Yusuf, atau Yudas atau tidak dengan satupun (mengapa tidak dilakukan test DNA?), kesimpulan ini sudah digiring dari asumsi bahwa Yesus anak Yusuf itu Yesus dari Nazaret dan Mariamene itu Maria Magdalena yang jadi isteri dan beranak Yudas.

Ditulis bahwa Prof Goren menyatakan bahwa dua huruf dari nama Yeshua (Yesus) pada inskripsi Aramaik di osarium Yakobus itu terdapat lapisan Patina asli yang berusia tua. Dengan demikian, keseluruhan frase saudara dari Yesus pada osuarium Yakobus iu harus dinyatakan asli. Ini kesimpulan distortif. Yuval Goren mengakui ada dua huruf yang diduga asli namun kesimpulan keseluruhan asli adalah kesimpulan Hershel Shanks. Goren adalah orang terdepan yang menyatakan bahwa osuari itu tua, tetapi inskripsi itu pemalsuan modern. Di sisi lain osuari ada relief Rosetta yang kabur, tapi inskripsi tulisan Yesus anak Yusuf, saudara Yakobus masih tajam, bentuk syntax huruf meniru foto huruf pada artifak kuno dari buku-buku Arkaeologi. Oded Golan tidak ditangkap karena inskripsi 'saudara Yesus tetapi ia ditangkap dengan tuduhan selama belasan tahun melakukan pemalsuan barang antik termasuk 'Jehoash Insciption' (inskripsi palsu dikaitkan Bait Salomo untuk mendongkrak harga), ini skandal besar bisnis arkeologi. Ketika digeledah, di ruang kerja Golan ditemukan alat-alat dan berbagai tahap pemalsuan oleh otoritas Israel (IAA).

Disebutkan bahwa menurut Tabor dan Jacobovi ada kemungkinan satu osuari yang hilang dari Talpiot itu osuarium Yakobus. Kedua osuari itu berbeda ukuran (yang satu 60 yang lain 50 cm panjangnya), demikian juga Amos Kloner pemimpin ekspedisi penemu makam Talpiot menyebutkan bahwa osuari ke-10 sama sekali tidak memiliki inskripsi sebelum hilang. Osuari Yakobus diakui oleh Golan berasal dari Silwan dan sudah diperolehnya pada tengah tahun 1970-an sebelum tahun 1978 dimana keluar peraturan semua penemuan arkaeologis menjadi milik negara, bekas tanah dikedua osuari itu berbeda, demikian juga relief keduanya beda. Laboratorium FBI menyebutkan bahwa foto osuari yang diambil dari ruangan Golan berasal tahun 1970-an. Makam Talpiot ditemukan tahun 1980.

Mengenai patina Yakobus dan Tapiot yang dianggap sama jadi disimpulkan Yakobus berasal Tapiot, Ted Koppel dalam bukunya 'The Lost Tomb of Jesus - A critical Look' mendapat pernyataan tertulis dari direktur Suffolk Crime Laboratory, bahwa dalam laporan mereka tidak disebut ada kesamaan patina itu, Ahli forensik yang memeriksa DNA secara tertulis juga menyangkal menyimpulkan bahwa Mariamene isteri Yesus anak Yusuf. Ini kembali menunjukkan adanya manipulasi informasi seorang sutradara film fiksi.

Kombinasi nama Yusuf, Maria, Yesus, Mariamene (yang diasumsikan sebagai Magdalena) disebutkan oleh Feuerverger memiliki kemungkinan 1:600, dan kalau Yakobus dimasukkan, angkanya 1:30.000. Kembali ini didasarkan asumsi bahwa 4/5 nama itu sekeluarga. Kalau kita hilangkan asumsi Mariamene dan Yakobus, angkanya menjadi 1:puluhan saja, inipun kalau asumsi bahwa Yose itu Yusuf ayah Yesus dari Nazareth, Maria itu isteri Yusuf dan Yesus anak Yusuf adalah Yesus dari Nazareth. Nama di Israel biasa dikaitkan nama ayah atau asal, tidak lazim dikaitkan saudara. Feuerverger menyebut nama-nama itu umum di Israel dan nama 'Yesus anak Yusuf' perbandingannya 1:190, tapi kita tidak tahu apakah Yesus anak Yusuf itu Yesus orang Nazareth (dalam Injil nama terakhir ini yang biasa disebut). Dalam situsnya 'Dear Statistical Colleague' (4 Maret 2007), Feuerverger menulis: I now believe that I should not assert any conclusions connecting this tomb with any hypothetical one of the NT family. Di Israel banyak ditemukan osuari dengan inskripsi 'Yesus anak Yusuf' antara lain bisa dilihat fotonya dalam 'The Interpreter's Dictionary of the Bible, vol.3, 1962, hlm.611', yang ditemukan jauh sebelum dicetaknya buku itu.

Menyebut Yesus menikah dengan Maria Magdalena dan punya anak kembali menunjukkan asumsi yang imani yang tidak ada rujukannya dalam sejarah, dan menggunakan ayat 'murid yang dikasihi' yang digambarkan bersandar di dada Yesus disebelah kanannya pada waktu Perjamuan sebagai anak Yesus kembali merupakan asumsi imani (dalam the Da Vinci Code ditafsirkan sebagai Maria Magdalena).

Mengenai kritik bahwa tak mungkin Yusuf yang miskin dari Nazaret memiliki kuburan keluarga di Yerusalem, disebutkan dalam artikel bahwa Yohanes Pembaptis dibuatkan kuburan oleh pengikutnya dan Yesus juga, kembali ini merupakan asumsi yang mengada-ada, soalnya kalau benar itu kuburan keluarga Yesus mengapa saudara-saudara Yesus tidak dikubur disitu (Yose ditafisr panggilan Yusuf dan bukan saudara Yesus), padahal disitu ada nama lain yang tidak jelas memiliki hubungan keluarga dengan Yesus dari Nazaret. Kalau para murid bisa menyediakan makam untuk keluarga Yesus bukankah otoritas Yahudi/Romawi kala itu tinggal mengumumkan bahwa kuburan Yesus ada di Talpiot dan bukannya mengeluarkan isu 'mayat Yesus dicuri'?

Dari berbagai asumsi yang belum jelas secara ilmiah itu Ioanes Rachmat mau membangun kesimpulan bahwa asumsi-asumsi itu kejadian sejarah obyektif sedangkan kebangkitan adalah metafora. Ini kembali adalah asumsi yang perlu dibuktikan, maka sayang kalau bukti belum jelas sudah dikeluarkan hipotesa yang demikian.

Penulis adalah Dosen Kajian Perjanjian Baru di STT Jakarta. Sebenarnya dari seorang doktor yang pakar Perjanjian Baru diharapkan keluar produk ilmiah yang obyektip, tetapi kajian yang dikemukakan lebih bersifat perpanjangan stereotip imani yang subyektip dari sensasi dan fiksi sains yang dipromosikan Jesus Seminar, James Tabor, dan sutradara film fiksi James Cameron. Ini bisa mengecoh para mahasiswa dan menurunkan kredibilitas institusi kondang yang diwakilinya.

Kiriman: Herlianto.
Sumber : Harian Kompas


Kontroversi Temuan Makam Keluarga Yesus (3)

http://www.gkjtp.org/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=171
By yohanes
Rabu, 23-Mei-2007, 11:26:32

Berikut merupakan Tanya-Jawab (Debat) antara Ioanes Rakhmat dengan Herlianto tentang Makam Yesus yang dihimpun oleh Jaringan Islam Liberal. IR = Ioanes Rakhmat, Her = Herlianto

IR: Baru permulaan saja nama saya sudah salah ditulis. Yang benar adalah: Ioanes Rakhmat. Jadi, saya pesimistik dari awal kalau tanggapan sdr. Herlianto ini akan berisi ketepatan dan kebenaran.

Her: Menyedihkan sekali kalau seorang doktor menggeneralisasikan sebuah kekeliruan tulis 'kh'dengan 'ch' dengan ketepatan dan kebenaran dalam menulis diskusi ilmiah (saya teringat obrolan di warteg: Suharto menggunakan kata 'daripada' saja nggak ngerti, gimana dia bisa jadi negarawan?). Generalisasi semacam inilah yang sering terlihat dalam tulisan-tulisan IR. Yang menarik lagi adalah keliru satu hurufh namanya 'kh' disebut 'ch' saja sudah alergi padahal bisa begitu saja mengidentikkan 'mariamene' dengan 'mariamne' (kurang satu huruf e dalam Acts of Philip), padahal itu asumsi yang belum dibuktikan!
-----------------------

IR: Akta Filipus memang dokumen abad kedua atau abad ketiga. Munculnya nama Mariamene e Mara pada salah satu ossuarium makam Talpiot menunjukkan bahwa nama ini sudah dipakai pada kurun waktu pra-tahun 70. Sekian pakar peneliti Maria Magdalena (Bovon, Schaberg, Karen King, dll.), yang tidak terlibat konspirasi apapun, sepakat bahwa Mariamene atau Mariamne adalah memang sebutan untuk Maria Magdalena. Tradisi lebih tua menyatakan sehabis Maria Magdalena pergi mengabarkan Injil ke Asia Kecil bersama Filipus, ia kembali ke Yerusalem. Di sana ia mati dan dikuburkan. Saya lebih mempercayai pakar paleografi yang membaca inskripsi Mariamene e Mara, tinimbang usul alternatif dari yang non-pakar yang menyatakan inskripsi itu harus dibaca Maria dan Marta.

Her: Francois Bovon, penemu dan penerjemah 'The Acts of Philip' memang semula mengira Mariamne yang disebut disitu sebagai Maria Magdalena, tetapi kemudian ia menolak kalau Mariamne diidentikkan dengan Maria Magdalena. Dalam 'Bovon on the 'Family Tomb of Jesus' (March 23nd, 2007) disebutkan bahwa: I do not believe that Mariamne is the real name of Mary Magdalene. The Mariamne of the Acts of Philip is part of the apostolic team with Philip and Bartholomew; she teaches and baptizes. Perlu disadari Mariamne dalam The Acts of Philip adalah saudaranya yang menganut ajaran asketik dan selibat. Di kisah itu Philip berbicara kepada Ireus: Do no wrong, and leave thy wife (50). Tidak konsisten kalau Philip menyuruh orang sudah kawin untuk cerai/selibat tapi adiknya sendiri lalu kawin. Karen L. King dalam buku yang ditulisnya 'The Gospel of Mary of Magdala' maupun dalam pengantarnya atas Injil Maria dalam 'The Nag Hammadi Library' (523-524) tidak menyebut Maria dari Magdala sebagai Mariamne, dan dalam Injil Maria juga tidak disebut Maria Magdalena sebagai Mariamne dan sebagai isteri Yesus. Kalau Karen L. King mendukung Talpiot dapat dimaklumi karena ia fellow dari Jesus Seminar seperti IR yang punya agenda khusus.
------------------------

IR: Makam Talpiot bukan kubur yang disediakan Yusuf orang Arimatea; tetapi kubur lain yang disediakan oleh para murid perdana (OK, bisa juga disediakan Yusuf orang Arimatea) yang setelah Yesus meninggal berkonsentrasi di Yerusalem. Ada limaratusan osuarium yang berasal dari kawasan Bukit Zaitun (tidak jauh dari Yerusalem) dan dari situs Dominus Flevit yang memuat inskripsi nama-nama orang Yahudi yang menjadi pengikut gerakan messianik Yesus (mereka adalah kalangan Yahudi-Kristen), antara lain nama-nama Maria, Marta, Lazarus, dan ... Simon bar Yonah ( Simon Petrus --- kuburnya ternyata tidak berada di Roma, tetapi di Yerusalem).

Her: Tidak pernah ada yang menyebut makam Talpiot disediakan Yusuf dari Arimatea, yang dipersoalkan kalau Yesus punya kubur keluarga yang sudah lama karena memuat kuburan kakek Yusuf dan Yusuf, mengapa perlu dikubur di kuburan Yusuf dari Arimatea. Argumentasi yang menyebutkan bahwa sesudah itu murid-murid memindahkannya ke kuburan yang baru dibelikan murid merupakan asumsi yang mengada-ada. Kubur Yusuf dari Arimatea dijaga ketat tentara Romawi dan mayat Yesus dibiarkan disitu, untuk apa dipindah lagi, kan sudah aman disitu kalau benar tidak bangkit. Skenario dipindahkan agar kuburnya kosong agar menjadi alasan untuk mengkultuskannya sebagai 'Yang Bangkit' kok ya mengada-ada juga.
---------------------

IR: Lihat kembali argumen Tabor di bukunya, The Jesus Dynasty. Sekali lagi, tidak ada konspirasi apapun dari para peneliti makam Talpiot. Teori konspirasi hanya datang dari kalangan paranoid.

Her: Dalam buku James Tabor tidak ada bukti jelas, hanya disebut sumber asumsi 'Klopas saudara Yusuf' dari tulisan Eusibius abad-4 yang mengutip penulis abad ke-2 Hegesippus. Ini belum membuktikan Klopas saudara Yusuf atau Klopas yang mana (ayah Matius?), soalnya James Tabor melontarkan banyak asumsi, Klopas juga dianggap suami kedua dari Maria setelah suami Maria, yaitu Yusuf, meninggal, dan anak-anak Yusuf dijadikan anak-anaknya. Ini malah membuat benang kusut, soalnya kalau Matius anak Klopas (Alfeus) dan dianggap keluarga dekat sehingga dikubur di Talpiot, mengapa dalam catatan Injil ketika Lewi anak Alfeus dipanggil, Yesus terlihat belum mengenalnya, dan orang Farisi mengkritik mengapa ia berhubungan dengan seorang pemungut cukai, padahal kalau saudara atau saudara sepupu kan tidak salah bertemu? Asumsi Klopas saudara Yusuf dan suami isteri Yusuf menambah benang lebih kusut, sebab kalau Klopas begitu dekat mengapa tidak dikubur di Talpiot? Dan kalau Klopas punya kuburan keluarga sendiri mengapa Matius yang dianggap anaknya (karena dianggap identik Lewi anak Alfeus) dikuburkan disitu?
-----------------

IR: Bukan persaudaraan material, tetapi persaudaraan maternal. Salah baca lagi! Dugaan terpelajar (learned guess) adalah bahwa Maria Magdalena dari makam Talpiot adalah isteri Yesus anak Yusuf dari makam Talpiot. Ada tradisi-tradisi cukup tua (misalnya Injil Filipus) yang menggambarkan hubungan yang sangat intim antara Yesus dan Maria Magdalena. Kalau sebuah dokumen gnostik seperti Injil Filipus (juga Injil Maria Magdalena dan Pistis Sophia) sampai bisa menggambarkan keintiman Yesus dengan Maria Magdalena, sementara mentalitas gnostik itu anti-perkawinan laki-laki dan perempuan, maka harus disimpulkan bahwa gambaran keintiman Yesus dengan Maria Magdalena adalah fakta sejarah yang tidak bisa disangkal oleh dokumen gnostik mana pun.

Her: Maaf salah ketik satu huruf (oya jangan lupa menambah huruf L kalau nulis nama Karen King ya?). Mungkin lebih tepat disebut 'speculative guess' kalau menyebut Maria Magdalena adalah isteri Yesus anak Yusuf karena itu dua asumsi yang belum dibuktikan, asumsi-1: Mariamene = Maria Magdalena, asumsi-2: Maria Magdalena = isteri Yesus. Soal Injil Filipus, sayang kalau ditafsirkan 'ciuman' gnostik seperti yang ditafsirkan buku Dan Brown. Dalam Injil Thomas Yesus menyebut He who will drink from my mouth will become like me (logion 108), dalam Injil Filipus juga disebut It is from being promised to the heavenly place that man (receives) nourishment (...) from the mouth. ... It would be nourished from the mouth and it would become perfect. For it is by a kiss that the perfect conceive and give birth. For this reason we also kiss one another (58-59). Dalam 'Second Apocalypse of James' ditulis: And he kissed my mouth. He took hold of me, saying, My Beloved! (56). Dalam Injil Maria Magdalena disebut: Then Mary stood up and greeted them, she tenderly kissed them all. (5:4). Lho kok bisa disimpulkan bahwa gambaran keintiman Yesus dan Maria Magdalena adalah fakta sejarah? Jangan-jangan Yakobus nanti disebut melakukan hubungan homo karena dicium dan dipeluk Yesus.
-------------------

IR: Tulang-tulang itu (sebetulnya human residue) bukan diperkirakan, tetapi memang diambil dari ossuarium-ossuarium yang bertuliskan nama-nama Yesus anak Yusuf dan Mariamene e Mara!! Pengujian DNA mitokondrial terhadap human residue dari ossuarium-ossuarium lain sudah mustahil dilakukan, karena ossurium-ossuarium itu sudah di vacuum cleaner sehingga bersih sempurna dari human residue. Tetapi tentu para ahli akan mencobanya berulang-ulang. Hanya ada satu kemungkinan besar, tulang-tulang Yakobus anak Yusuf akan masih bisa diperoleh dan diteliti DNA-nya, jika Otoritas Kepurbakalaan Israel (OKI) mengizinkannya! Ada masalah politik juga di dalamnya!! Saya tidak sedikit pun meragukan kepakaran dan profesionalisme Dr. Andrey Matheson dan timnya yang telah melakukan test-test DNA terhadap human residue Yesus dan Maria Magdalena!

Her: Membuka banyak pertanyaan mengapa osuari yang sudah dibersihkan dengan mudah bisa dicari bekas-bekas DNAnya, apalagi mengapa tidak sekaligus diambil DNA dikuburan Yusuf, Maria dan Yudas agar langsung ketahuan hubungan kekeluargaan nama-nama itu? Kita menghargai ahli forensic Dr. Andrey Matheson dan timnya, tapi harus diketahui bahwa mereka hanya menyebut bahwa: Tidak ditemukan hubungan maternal antara Yesus anak Yusuf dan Mariamene. Dalam buku Ted Koppel: 'The Lost Tomb of Jesus - A Critical Look' disebutkan bahwa ia menerima surat tertulis dari Matheson yang diantaranya dinyatakan: you cannot genetically test for marriage. Ini dilaporkan beda oleh Cameron seakan-akan ahli DNA itu menyimpulkan keduanya suami isteri!
-----------------

IR: Hanya para pakar yang bekerja di bawah pengaruh OKI, yang menyatakan frase saudara dari Yesus sebagai pemalsuan modern. Pakar-pakar lain, terutama para ahli paleografi, yang memiliki kebebasan akademik saja yang umumnya menyatakan frase tersebut asli. Kalau 2 huruf sudah dinyatakan asli oleh Prof. Goren, maka seluruhnya harus asli, sebab tidak mungkin jika seluruhnya dipalsukan ada dua di antaranya yang asli. Oded Golan sudah dengan konsisten menyatakan bahwa ia memakai deterjen untuk membersihkan seluruh permukaan osuarium Yakobus. Dia tidak memalsukan apapun. Pengakuan Oded Golan ini didukung oleh hasil uji sidik jari patina dari osuarium Yakobus. Hasil uji sidik jari ini akan membebaskan Oded Golan dari tuduhan pemalsuan!

Her: OKI adalah organisasi yang berwewenang memeriksa konspirasi pemalsuan barang antik yang khususnya melibatkan Golan, tapi banyak ahli lain berada dibelakangnya. Soal ada 2 huruf yang dikira asli bisa saja dua huruf kode peti lalu direkayasa dengan tambahan belasan huruf lainnya, banyak pemalsuan inskripsi dilakukan bukan dengan membuat yang baru tapi bekas-bekas lama yang direkayasa menjadi inskripsi lengkap. Membaca puluhan file dari internet mengenai ini, dapat dilihat lebih banyak yang menolak otentiknya kuburan keluarga itu, namun dimaklumi bahwa ada juga pendukung, setidaknya ada berbagai kepentingan besar dibalik kontroversi ini: (1) masyarakat pers, penerbit, dan film punya kepentingan memanfaatkan sensasi agama menjadi komoditi yang potensial menggaet untung besar (ingat sukses cerita fiktif 'The Da Vinci Code'); (2) para teolog skeptik yang menolak 'Yesus yang Bangkit' sangat terobsesi untuk 'mematikan' Yesus dan mencari-cari 'kubur'nya; (3) Ada kepentingan besar para pedagang antik yang ingin menjual benda antik semahal mungkin (lihat skandal harga naskah Injil Yudas). Hanya dengan merekayasa mengkaitkan suatu benda antik dengan peristiwa besar seperti 'Bait Allah Salomo' atau 'Kehidupan Yesus,' harga bisa didongkrak tinggi; (4) Masyarakat yang haus akan cerita sensasi dan gosip. Kondisi kepentingan besar inilah yang menyuburkan pemalsuan inskripsi.
---------------------

IR: Khusus untuk osuarium Yakobus, Oded Golan tidak melakukan pemalsuan apapun. Ini dibuktikan dengan hasil pengujian sidik jari lapisan mineral patina osuarium Yakobus secara teknologis modern!

Her: Sampai saat ini pengadilan belum memberi keputusan terakhir dan masing-masing pihak punya argumentasi sendiri mengenai jejak patina yang sama-sama menggunakan teknologi mutakhir, yang jelas Oded Golan dituduh memalsukan bukan saja inskripsi osuari Yakobus tapi juga Inskripsi Jehoash, Bejana Bait Allah, dan banyak lainnya. Golan masih dikenai tahanan rumah.
------------------

IR: Ini sebuah misrepresentasi yang dibuat kalangan yang anti pada penelitian makam Talpiot secara interdisipliner. Golan mendapatkannya sekitar tahun 1980-an, bukan sebelum itu. Kalau dia mengaku sudah memperolehnya sebelum 1978, itu karena ia ingin menghindar dari jerat hukum Israel.

Her: Penelitian di laboratorium FBI akan foto tentang osuari Yakobus yang dibuat di ruang kerja Golan menunjukkan dibuat tahun 1970-an, Golan bukan saja mengaku membelinya tengah tahun 1970-an tetapi juga berasald ari Silwan. Banyak perbedaan antara osuari Yakobus dan Tapiot, osuari Tapiot banyak diberi gambar seperti roda, dan osuari Yakobus hanya sedikit gambar rosseta yang sudah aus dan inskripsi. Panjang osuari Yakobus 50 cm dan yang hilang dari Tapiot tercatat 60 cm, dan diakui oleh Amos Kloner yang ikut mendata ditemukannya makam Tapiot bahwa osuari ke-10 yang hilang tidak memiliki gambar apa-apa alias polos, bekas tanah di osuari Yakobus cocok dengan tanah Silwan. Memaksakan osuari Yakobus berasal Tapiot di tahun 1980 didorong kepentingan memperbesar kemungkinan Tapiot kuburan menjadi keluarga Yesus kalau osuari Yakobus dimasukkan.
----------------

IR: Saya memiliki foto-foto sidik jari patina dari osuarium Yesus anak Yusuf, osuarium Maria Magdalena, osuarium Yakobus, dan satu dari osuarium yang berasal bukan dari makam Talpiot. Sidik jari mineral patina dari ketiga yang pertama match; dan ketiganya berbeda dari sidik jari patina osuarium yang berasal dari makam lain. Kesimpulannya tidak bisa dibantah: osuarium Yakobus berasal dari makam Talpiot. Ukurannya sama, meskipun berbeda sedikit karena osuraium Yakobus sudah mengalami keretakan parah pada waktu dibawa ke Ontario.

Her: Banyak foto dari internet bisa dilihat dan diteliti, seperti misalnya bentuk osuari 701,702,707,708,709 memiliki relief yang ramai sedangkan osuari Yakobus hanya inskripsi dan gambar rosseta yang sudah aus, soal inskripsi milik Talpiot seperti coretan tidak jelas (701B), sedangkan osuari Yakobus inskripsinya tajam terdiri dua bagian yang ditulis tangan berbeda, dengan huruf-huruf dengan syntak yang dilihat oleh ahli palaeography sebagai tiruan dari huruf-huruf antik yang ada dalam buku-buku arkeologi. Dalam tulisan 'Yuval Goren on the Krumblein Report' (March 21st, 2007), disebutkan mengenai laporan Krumblein, bahwa: Krumblein's evidence disproves Jacobovici's contention that the James Ossuary comes from Talpiot Tomb.
-----------------

IR: Bukan fiksi dan manipulasi, tetapi sebuah cabang ilmu yang diberi nama prosopografi. Para penguji DNA bukan ahli prosopografi; mereka hanya bisa menyatakan DNA human residue A tidak sama dengan DNA human residue B. Siapa A dan siapa B dalam sejarah adalah tugas para ahli prosopografi untuk menentukannya, bukan tugas para statistician atau para paleo-biolog.

Her: Yang menjadi masalah kan integritas bahwa seorang sutradara film fiksi Cameron mengatakan bahwa ahli ini dan itu memberi pernyataan mendukung bahwa Mariamene Isteri Yesus, padahal para ahli itu memberikan pernyataan tertulis bahwa mereka tidak memberikan pernyataan seperti itu.
------------------------

IR: Feuerverger tidak pernah meralat angka peluangnya, 1:600 atau 1:30.0000.- Yang dia tegaskan adalah bahwa dia bukan ahli prosopografi, melainkan seorang statistician saja. Sebagai ahli statistik, dia menyerahkan tugas prosopografi pada ahli-ahli lainnya: bagaimana angka-angka statistik itu bisa berbicara tentang keluarga yang diberitakan Perjanjian Baru. Ini adalah tugas para pakar prosopografi, khususnya sejarawan kekristenan perdana.

Her: Ini masalahnya, Feuerverger sendiri menghindar memberi kesimpulan tetapi dimanfaatkan seakan-akan angka statistiknya mendukung bahwa makam Talpiot adalah makam keluarga Yesus. James Tabor bahkan memberi kesimpulan statistik yang bombastis! 1:250.000 bahwa ada komposisi keluarga seperti keluarga Yesus.
---------------------

IR: Dalam tulisan di rubrik Bentara Kompas itu, saya bertanya, apakah tidak mungkin, ... Jadi, mengaitkan rujukan-rujukan tersamar itu dengan anak Yesus adalah sebuah perkiraan atau dugaan terpelajar (educated guess).

Her: Itu bukan 'educated guess' tetapi 'speculative sensation'. Kalau ini dimuat di forum Teologi atau Biblika masih bisa diimbangi dan dimatangkan dengan masukan pikiran pakar lainnya, tapi kalau asumsi demikian dilempar ke publik jelas menunjukkan motivasi tersembunyi.
----------------------

IR: Pada point ini, argumentansi yang saya ajukan bukan mengada-ada; sanggahan andalah yang mengada-ada. Argumentasi saya didukung oleh fakta arkeologis adanya ratusan osuarium yang berinskripsi Yahudi-Kristen, nama-nama para murid perdana Yesus yang telah memindahkan pusat gerakan mereka ke Yerusalem. Jangankan Roma, murid-murid saja tidak menduga kalau mayat Yesus telah dipindahkan ke makam lain. Tinimbang mereka berpikir, ke mana mayat Yesus dipindahkan, malah mereka memproklamirkan Yesus bangkit dari kematiannya karena kuburnya kosong. Mereka sangat dipengaruhi oleh apokaliptisisme Yahudi dan barangkali oleh ucapan Yesus sendiri (bahwa dirinya akan bangkit!), tinimbang berpikir faktual historis: telah ada yang memindahkan mayat Yesus ke kubur lain, sehingga kuburnya semula kosong!!

Her: IR terlalu membesarkan skeptisisme dan mendiskreditkan para murid Yesus pada abad pertama yang dianggap seakan-akan begitu naif memindahkan mayat Yesus lalu merekayasa cerita tentang kebangkitan dan kubur kosong. Bisakah para mirid itu menjadi saksi-saksi kebangkitan dan menggerakkan ledakan penginjilan kemana-mana dan rela mati sahid demi imannya akan kebangkitan Yesus, dan Paskah kebangkitan dirayakan sampai sekarang, sedangkan mereka tahu mayat Yesus meringkuk dalam kedinginan Talpiot? Konsep demikian tumbuh dari pemikiran rasionalisme sekuler Bultmann yang menganggap dunia hanya berdemensi tiga dan tidak mungkin ada gejala paranormal dan mujizat, namun dimasa Posmo ini kita melihat kejadian-kejadian supranatural dan mujizat banyak terjadi sehingga kita tidak lagi bisa mengikuti konsep 'demitologisasi Bultmann yang menganggap mitos itu tidak bisa terjadi di alam ini, tetapi sekarang kita harus membuka diri akan konsep baru 'debultmannisasi mitos' yang menempatkan mitos sebagai gejala perbatasan antara yang paranormal dan normal dan antara yang supranatural dan natural. Dalam buku 'The World of the Paranormal' ditulis: The barriers between the acceptable and unacceptable in science are changing all the time: moreover, what is dismissed as magic or superstition by one era may even become the science of the next (Battling Against Science, hlm.110). Dalam terang paranormal mujizat sekitar kebangkitan dan kenaikan ke sorga bukan hal aneh.
---------------------

IR: Kalau bukan metafora, apa anda berpikir Lukas itu sungguhan ketika menggambarkan Yesus yang bertubuh, terangkat ke awan-awan lalu awan-awan menutupinya? Apa Lukas tidak tahu bahwa tubuh manusia tidak bisa melayang terbang ke udara, lalu sampai ke awan-awan, lalu sesudah sampai ke awan-awan akan melayang-layang di ruang antar-galaksi? Kalau anda katakan, Lukas tidak tahu, maka kesehatan rasionalitas Lukas dan lain-lain dalam PB sudah harus diragukan! Apa anda pikir Lukas dan Yohanes sungguhan ketika mereka menyatakan Yesus tiba-tiba saja hadir di tengah mereka meskipun pintu tertutup atau tiba-tiba saja menghilang dari pandangan mata biasa? Kalau anda katakan mereka menyatakan kebenaran literalistik, maka kesehatan otak mereka juga harus diragukan. Tetapi kalau mereka maksudkan itu sebagai metafora, maka mereka sehat mental, rohani dan jasmani!

Her: Bisa saja orang yang dianggap tidak waras melaporkan kejadian yang benar terjadi di alam ini, ingat Yesus dalam hidupnya sudah menyatakan mujizat-mujizat yang menakjubkan, dalam buku-buku Paranormal kita dapat melihat ada orang-orang tertentu melayang diudara tanpa disanggah apa-apa, beberapa kejadian menunjukkan seseorang tiba-tiba menghilang lalu setelah puluhan tahun muncul kembali, suatu perpindahan dimensi. Sebaliknya bisa saja seorang melaporkan keadaan nyata secara bohong. Cobalah renungkan kutipan dalam jawaban sebelum ini dan banyak membaca buku-buku mengenai penelitian psychic atau paranormal pada dewasa ini, agar ada keterbukaan dari ketertutupan kita selama ini. Our reactions to accounts of events that at first seem highly improbable should not always be coloured by complete and utter disbelief. The aim should be always to keep an open mind (The Paranormal Files, hlm.136).
---------------------

IR: Anda sayangnya memberi tanggapan yang sangat tidak obyektif, berisi misrepresentasi dan penyesatan informasi. Para pakar peneliti makam Talpiot dan pakar-pakar lainnya tidak sedang membuat sensasi; tetapi mereka memang membuat kekristenan konservatif evangelikal terpojok karena literalisme biblis mereka. Makam Talpiot adalah paku terakhir yang sedang ditancapkan pada peti mati literalisme biblis. Saya bangga dengan almamater saya. Di mata anda, almamater saya itu bukan kondang, tetapi notorious. Jujur saja.

Salam manis,
Ioanes -- liberal Christian

Her: Apa yang membuktikan bahwa penelitian makam Talpiot itu dilakukan pakar-pakar dan bukan sekedar manipulasi fiksi sains? Kalau mau memberi bobot penelitian seharusnya disimposiumkan di kalangan para ahli baik liberal maupun konservatif dalam forum sinode atau teologi sebelum dilempar ke publik yang tidak mengerti apa-apa. Buku Jesus Dynasty banyak dikritik orang dan tidak dibahas dalam forum-forum ilmiah dan soal Talpiot juga sebelum benar-benar disepakati dalam forum dan symposium ilmiah, tetapi langsung dilempar oleh seorang sutradara film fiksi ke publik luas via Discovery Channel. Ini expose ilmiah atau menyebaran sensasi? Demikian juga saudara Ioanes Rakhmat, mestinya membahas setiap teori itu dalam forum sinode gereja atau forum teologia bukan sekedar diceramahkan (Tidak semua dosen STT Jakarta sepaham dengan radikalisme IR), baru kalau sudah memiliki kemungkinan benar dan absah, teori itu bisa disebarluaskan melalui jurnal ilmiah. Tetapi kalau asumsi-asumsi yang masih mentah dilempar kepublik melalui Kompas yang jaungkauannya masyarakat umum bukanlah lebih tepat menyebut IR sebagai penebar sensasi daripada seorang scholar?

Salam kasih dari Herlianto.