Thursday, August 23, 2007

Memperbaiki Kesalahan Raja Dengan Kelurusan, Tanpa Ego Melayani Rakyat

Oleh Zhi Zhen

(Erabaru.or.id) – Yan Zi adalah Perdana Menteri Negeri Qi semasa Periode Musim Semi dan Gugur dan peperangan antarnegara (tahun 476 – 221 Sebelum Masehi). Membantu raja dan para bangsawan Negeri Qi selama belasan tahun, Yan Zi tidak ragu untuk mengkritik raja secara jujur, serta menjalankan administrasi negara dengan kejujuran, kebenaran dan tidak mementingkan diri. Bebas dari korupsi, ia meninggalkan banyak kisah menyentuh dan penuh inspirasi bagi generasi berikut.

Suatu hari, Raja Jinggong dari Negeri Qi mengadakan jamuan makan dan mengundang banyak kawan dan pejabat-pejabatnya. Sambil minum dengan gembira, ia berkata, “Silakan minum sepuasnya. Jangan memandang tata krama sedemikian penting.”

Yan Zi dengan cepat menjawab, “Tata krama membedakan manusia dari hewan. Sekarang seorang bocah setinggi 5 kaki di Negeri Qi dapat saja lebih kuat dari anda dan saya, tetapi karena tata krama mereka tidak berani mengacau. Hewan menganggap yang terkuat sebagai pemimpin mereka dan yang kuat memangsa yang lemah. Sebagai akibatnya, hewan senantiasa menukar pemimpinnya. Jika para pejabat tidak menghargai tata krama, negara kita tentu akan kacau dan raja dapat diganti. Jika hal tersebut terjadi, bagaimana anda akan menanganinya? Karena itu, rakyat tidak dapat hidup tanpa tata krama dan aturan.”

Mendengar kritikan Yan Zi, Raja Jinggong sangat tidak gembira dan segera membalikkan badan tanpa memperhatikannya lagi. Segera Raja Jinggong harus pergi. Setiap orang kecuali Yan Zi berdiri dan melepas kepergian raja. Ketika Raja Jinggong balik, Yan Zi tidak berdiri maupun menyambutnya. Raja Jinggong meminta setiap orang agar bergembira, tetapi Yan Zi tidak mendengarnya, hanya duduk diam, minum sendirian.

Menyaksikan sikap Yan Zi yang buruk, Raja Jinggong menjadi marah. “Anda bilang betapa pentingnya tata krama dan aturan, tetapi sekarang anda sendiri mengabaikannya!”

Yan Zi segera bangun dari tempat duduk dan membungkuk, “Baginda. Mohon jangan marah. Hamba tidak berani bertindak sembrono. Semua yang saya baru saja lakukan adalah mendemonstrasikan apa akibatnya bila kekurangan tata krama. Jika baginda tidak menganggap penting tata krama, semuanya akan begini.”

Raja Jinggong segera tersadarkan, “Jelas ini kesalahan saya. Silakan duduk, saya akan mendengarkan nasehat anda.”

Sejak itu, Raja Jinggong menyempurnakan tata krama dan mengkonsolidasi aturan-aturan untuk menjalankan pemerintahan di Kerajaan Qi. Seluruh pejabat kerajaan mengikuti tata krama dan rakyat mematuhi peraturan.

Mengetahui Raja Jinggong suka hidup mewah, Yan Zi menggunakan kesederhanaannya sendiri untuk mempengaruhi Raja Jinggong. Sebagai perdana menteri, Yan Zi tinggal di dekat pusat kota di sebuah rumah tua yang ia peroleh dari leluhurnya. Ketika Raja Jinggong mencoba memindahkannya ke sebuah rumah yang lebih besar dan megah, Yan Zi menolak,

“Leluhur saya biasa hidup di sini. Ini saja sudah terlalu besar bagi saya, karena saya tidak memberi kontribusi kepada negara sebesar mereka, tidak pantas jika saya tinggal di sebuah rumah yang lebih megah. Seseorang tidak seharusnya mengejar kemewahan. Disamping itu, di sini cukup menyenangkan untuk berbelanja. Hal ini membuat saya juga memahami kehidupan rakyat sehari-hari.”

Belakangan, ketika Yan Zi sedang berkunjung ke Negeri Jin, Raja Jinggong mengambil kesempatan tersebut untuk memindahkan para tetangga Yan Zi dan mendirikan bangunan megah di tempat yang sama. Saat perjalanan pulang, Yan Zi telah mendengar tentang hal ini, sehingga ia memarkir kereta kudanya di luar kota dan mengirimkan bawahannya untuk memohon Raja Jinggong untuk merubuhkan rumah baru tersebut, membangun kembali rumah-rumah tetangganya, dan meminta mereka untuk pindah kembali. Setelah beberapa kali permohonan, Raja Jinggong akhirnya mengabulkan, kemudian Yan Zi baru kembali ke kota.

Sementara Yan Zi berhasil membangun kemakmuran bagi Negeri Qi, ia sendiri hidup secara sederhana. Suatu hari, sebelum Yan Zi duduk makan siang, seorang pejabat kerajaan datang untuk membicarakan tugas dengannya. Mendengar pejabat tersebut belum makan siang, Yan Zi menawarkan untuk berbagi semangkuk nasi dengannya. Pada akhirnya, pejabat tersebut batal makan, begitu pula Yan Zi. Ketika pejabat tersebut melaporkan hal ini kepada Raja Jinggong, raja merasa sangat heran,

“Saya tidak pernah tahu perdana menteri saya sedemikian miskin. Ini kesalahan saya.”

Segera Raja Jinggong mengirimkan utusan untuk membawakan seribu keping emas dan seribu bal beras ke rumah Yan Zi, yang ditolak Yan Zi. Utusan mencoba tiga kali, tetapi Yan Zi selalu menolaknya dengan sopan.

Akhirnya, Yan Zi pergi berterima kasih kepada Raja Jinggong. Raja menjawab, “Saya tidak tahu anda sedemikian miskin. Sementara kerajaan kita sedemikian makmur, tawaran dan hadiah kecil ini sungguh tidak berarti apa-apa.”

Yan Zi menjawab, “Baginda, terima kasih atas perhatian anda. Sesungguhnya saya tidak memiliki penderitaan apa pun. Dalam pemahaman saya, jika saya menghamburkan hadiah anda, ini adalah perbuatan mengelabui baginda untuk menyenangkan orang lain. Sebagai pejabat yang jujur, saya tidak dapat lakukan hal itu. Jika saya memperoleh begitu banyak hadiah mewah dan hanya menyimpannya untuk diri sendiri, saya bukanlah orang yang bermoral. Lagipula mengapa saya memerlukan sedemikian banyak uang dan benda? Seperti pepatah mengatakan, bawahan mengikuti apa yang atasan lakukan. Anda meminta saya mengawasi para pejabat sehingga saya sendiri harus bebas korupsi demi kerajaan. Dengan demikian saya dapat menjadi panutan bagi para pejabat lainnya. Di samping itu, jika saya mengejar kemewahan, semua pejabat akan mencontoh saya. Bagaimana saya dapat mengarahkan mereka?”

Raja Jinggong menganggukkan kepalanya. Setelah kejadian tersebut, raja hidup secara lebih sederhana.

Raja Jinggong suka hidup bersenang-senang. Suatu hari ia telah minum hingga larut malam di istana. Karena ia tidak ingin berhenti minum, dengan pelayannya ia pergi berkunjung ke rumah Yan Zi untuk minum bersama. Bergegas keluar menyambut raja, Yan Zi bertanya, “Baginda, apakah ada yang mendesak yang membuat anda mengunjungi saya selarut ini?”

“Anggur enak dan kemilau emas. Saya hanya ingin menikmati keindahan malam dengan perdana menteri saya,” jawab raja. Biasanya bila raja datang secara pribadi ke rumah seorang pejabat untuk minum bersama, itu merupakan satu kehormatan besar.

Tetapi Yan Zi malahan tidak bergembira. Ia menjawab dengan serius, “Begitu banyak orang di sekitar baginda yang dapat minum bersama anda. Ini bukanlah tugas saya untuk melakukannya. Saya tidak berani mengikuti perintah anda.”

Raja Jinggong kemudian mengunjungi seorang pejabat favorit lainnya, Tian Rangju. Ketika raja tiba, Tian segera mengenakan seragam perangnya lengkap dengan pedang, menyambut raja. Ia dengan penuh ingin tahu bertanya, “Apakah ada negeri yang menyerang kita? Apakah ada kerusuhan?”

Dengan tersenyum, raja menjawab, “Tidak ada apa-apa.”

Berpura-pura bingung, Jenderal Tian melanjutkan, “Lalu mengapa baginda harus datang sendiri malam begini?”

“Tidak apa-apa, saya hanya ingin minum dengan jenderal saya atas kerjanya yang tidak mengenal lelah,” jawab raja.

Seperti juga Yan Zi, Tian menjawab, “Ada begitu banyak orang di sekitar anda yang dapat menemani anda minum. Ini bukanlah tugas saya. Saya tidak berani mengikuti perintah baginda.”

Terkejut dengan penolakan dari pejabat-pejabat andalannya, raja amat tidak gembira. Akhirnya ia pergi ke rumah Liang Qiuju, dimana Liang dengan gembira menyambutnya. Dengan gembira, Raja Jinggong memukul genderang dan memainkan musik sendiri. “Apakah orang-orang bermoral juga suka hal ini?” ia bertanya pada Liang. “Dengan mata dan telinga yang sama, mengapa tidak?” Mereka menikmati malam itu minum sepuasnya.

Belakangan Raja Jinggong hendak mempromosikan Liang sehingga raja sengaja memuji-mujinya di depan Yan Zi, “Sementara beberapa orang tidak siap dengan kesukaan saya, Liang senantiasa siap bagi saya. Karena kesetiaannya, kapan saja saya memerlukannya, ia langsung muncul. Sehingga saya tahu ia peduli terhadap saya.”

Yan Zi menjawab, “Jika seorang pejabat menyita seluruh waktu raja, ia tidaklah setia; jika seorang anak menyita seluruh waktu ayahnya, ia putra yang tidak berbakti. Sebagai menteri utama, kesetiaan adalah membimbing raja untuk memperlakukan para pejabatnya dengan hormat, mengasihi rakyatnya, dapat dipercaya bagi para gubernurnya sehingga setiap orang akan balik setia pada raja dan mencintai raja. Sekarang di antara semua menteri dan orang di kerajaan, hanya Liang yang ‘setia’ pada baginda. Apa yang terjadi? Adalah bijaksana menentukan kriteria hukuman dan penghargaan berdasarkan kebaikan atau keburukan yang ditimbulkan bagi kerajaan.” Raja Jinggong mengerti dan memutuskan untuk tidak mempromosikan Liang.

Suatu ketika Yan Zi sedang menemani Raja Jinggong mengunjungi Mai Qiu ketika seorang pria lansia menghampirinya. Dia berkata, “Panjang umur baginda. Saya harap anda tidak menyinggung rakyat anda.”

Raja Jinggong berkata dengan bingung, “Adalah mungkin jika rakyat dituntut karena menyinggung rajanya. Saya tidak pernah dengar ada raja yang menyinggung rakyatnya.” Yan Zi bertanya: “Apakah Jie (Kaisar terakhri Dinasti Xia) dan Zhou (Kaisar terakhir Dinasti Shang) menyinggung para raja atau rakyatnya? Apakah mereka dibunuh oleh para raja atau rakyat jelata?”

Tiba-tiba sadar, Raja Jinggong menghadiahkan pria lansia itu dengan sebidang tanah, berterima kasih kepadanya atas nasehat dan kebijaksanaannya.

Menghadapi kritikan jujur Yan Zi, Raja Jinggong kadangkala merasa dipermalukan sehingga ia terkadang mencoba menghukum Yan Zi dengan keras. Namun ia mengetahui apa yang Yan Zi katakan, adalah masuk akal tidak peduli bagaimana itu membuat merah telinganya. Karenanya, Raja Jinggong diam-diam sering menghormati Yan Zi atas keberaniannya dalam ‘menyinggung’ raja demi kepentingan kerajaan dan rakyatnya.

Akhirnya Yan Zi meninggal dunia. Raja Jinggong mendengar berita duka tersebut ketika sedang melancong. Ia mendesak pelayannya untuk bergegas pulang. Mengeluh kudanya berlari terlalu lamban, Raja Jinggong turun dari kereta dan berlari. Tentu saja ia tidak secepat kudanya sehingga ia kembali naik ke kereta kuda. Dengan cara ini ia mencoba empat kali untuk memaksa kudanya berlari lebih cepat.

Akhirnya ia sambil berlari dan menangis, berkata: “Tuan Yan Zi senantiasa menasehati saya siang dan malam, mendesak saya bahkan untuk detail kecil. Namun saya hanya larut bersenang-senang sepanjang waktu. Kemalangan malahan menimpanya. Kerajaan Qi dalam bahaya. Tanpa Yan Zi, kemana rakyat dapat mengadu?”

Senantiasa memandang penting rakyat, Yan Zi memfokuskan pada kepentingan rakyat biasa dalam berbagai kritikan jujurnya kepada raja, bagaimana memerintah negara dan dalam perbuatannya sendiri. Dengan kebaikan hatinya, kebijaksanaannya, perbuatan baiknya kepada rakyat, ia senantiasa dikenang oleh rakyat biasa sepanjang jaman.

Chinese: http://www.minghui.ca/mh/articles/2007/6/27/157439.html
English:
http://www.clearwisdom.net/emh/articles/2007/7/19/87830.html

0 KOMENTAR ANDA:

Post a Comment