Friday, August 31, 2007

Piano

Kisah ini terjadi di Rusia. Seorang ayah, yang memiliki putra yang berusia kurang lebih 5 tahun, memasukkan putranya tersebut ke sekolah musik untuk belajar piano. Ia rindu melihat anaknya kelak menjadi seorang pianis yang terkenal.


Selang beberapa waktu kemudian, di kota tersebut datang seorang pianis yang sangat terkenal. Karena ketenarannya, dalam waktu singkat tiket konser telah terjual habis. Sang ayah membeli 2 buah tiket pertunjukan, untuk dirinya dan anaknya.


Pada hari pertunjukan, satu jam sebelum konser dimulai, kursi telah terisi penuh, sang ayah duduk dan putranya tepat berada di sampingnya. Seperti layaknya seorang anak kecil, anak ini pun tidak betah duduk diam terlalu lama, tanpa sepengetahuan anaknya, ia menyelinap pergi.


Ketika lampu gedung mulai diredupkan, sang ayah terkejut menyadari bahwa putranya tidak ada di sampingnya. Ia lebih terkejut lagi ketika melihat anaknya berada dekat panggung pertunjukan, dan sedang berjalan menghampiri piano yang akan dimainkan pianis tersebut.


Didorong oleh rasa ingin tahu, tanpa takut anak tersebut duduk di depan piano dan mulai memainkan sebuah lagu, lagu yang sederhana, twinkle2 little star.


Operator lampu sorot, yang terkejut mendengar adanya suara piano mengira bahwa konser telah dimulai tanpa aba-aba terlebih dahulu, dan ia langsung menyorotkan lampunya ke tengah panggung. Seluruh penonton terkejut, melihat yang berada di panggung bukan sang pianis, tapi hanyalah seorang anak kecil. Sang pianis pun terkejut, dan bergegas naik ke atas panggung. Melihat anak tersebut, sang pianis tidak menjadi marah, ia tersenyum dan berkata,


"Teruslah bermain" dan sang anak yang mendapat ijin, meneruskan permainannya.


Sang pianis lalu duduk, di samping anak itu, dan mulai bermain mengimbangi permainan anak itu, ia mengisi semua kelemahan permainan anak itu, dan akhirnya tercipta suatu komposisi permainan yang sangat indah. Bahkan mereka seakan menyatu dalam permainan piano tersebut.


Ketika mereka berdua selesai, seluruh penonton menyambut dengan meriah, karangan bunga dilemparkan ke tengah panggung. Sang anak jadi besar kepala, pikirnya, "Gila, baru belajar piano sebulan saja sudah hebat!" Ia lupa bahwa yang disoraki oleh penonton adalah sang pianis yang duduk di sebelahnya, mengisi semua kekurangannya dan menjadikan permainannya sempurna.


Demikian juga di dalam kehidupan kita, kita sering merasa bahwa keberhasilan yang kita raih , semua itu hanya karena usaha dan kerja keras kita. Kita lupa bahwa semua itu terjadi karena Tuhan yang menolong kita dan tanpa Dia apapun yang kita kerjakan tidak akan berhasil. Tapi bila Tuhan ada disamping kita, kita akan mampu melakukan hal ? hal yang sederhana menjadi luar biasa.


http://groups.yahoo.com/group/BeCeKa/message/2705
Oleh: chen lina

22 comments:

  1. Sunday, September 2, 2007 2:20:25 AM:

    seperti menemukan oase di tengah "gurun ang membara "


    thx for that

    ReplyDelete
  2. Chen lina wrote dan Eka yang posting:
    Kita lupa bahwa semua itu terjadi karena Tuhan yang menolong kita dan tanpa Dia
    apapun yang kita kerjakan tidak akan berhasil. Tapi bila Tuhan ada disamping
    kita, kita akan mampu melakukan hal ? hal yang sederhana menjadi luar biasa.

    Rendy:
    Kalo agama lain seperti katholik islam dll. Sangat cocok sekali dengan statement
    itu. Kalo agama Buddha???? Tolong pencerahan dari bung eka, apakah artikel ini
    mungkin punya arti dan maksud lain???

    ReplyDelete
  3. Saya hanya melihat esensi dari cerita ini adalah jangan sombong akan
    keberhasilan yang di raih, sebab ada orang belakangnya yang setia
    mendukung.
    'lah wong cerita ini dalam katagori penyejuk batin/ motivasi/
    pengendalian diri dst. Jadi mau pakai kata apa, dari mana, menurut saya
    sah-sah saja bahkan itu akan memperkaya khasana kata (tidak kaku seperti
    angin yang dapat masuk & keluar di lubang yang sempit).

    Saran buat Bro. Wira....
    Kirim terus cerita indahnya sebagai santapan batin di pagi hari atau
    saat selesai istirahat siang.

    ^_^
    Bud I

    ReplyDelete
  4. Dari cerita itu
    " Kita lupa bahwa semua itu terjadi karena Tuhan yang menolong kita dan tanpa
    Dia apapun yang kita kerjakan tidak akan berhasil. "

    Kalau dari yang anda katakan saya setuju jika dilihat dari cara pandang anda.
    Nah mungkin saya perjelas lagi yah. Saya kurang setujunya karna ada kata-kata
    "Tanpa dia APAPUN yang kita kerjakan tidak akan berhasil". Nah ada kata apapun
    berarti bukan hanya kejadian itu (anak kecil berkaloborasi dengan tuhan yang
    main piano) tetapi semua kejadian diluar kejadian main piano. Jadi semua hal
    yang kita kerjakan mesti ada campur tangan tuhan donk biar berhasil. Gimana
    orang yang ga berhasil. Tuhan kaga bantu donk?? Pilih kasih ah kalo begitu.
    Tidak adil tuhan.

    Salam metta,
    Rendy

    ReplyDelete
  5. Seperti apa yg Sang Buddha katakan, semua adalah hasil dari buah karma kita baik
    kusala atau akusala karma, tidak ada hal lain yg mempengaruhi selain itu.
    Jadi cerita di bawah ini saya kurang sependapat atau kurang cocok dgn paham
    budhisme.
    Terima kasih,
    Darmawan

    ReplyDelete
  6. Sdr Darmawan yg baik...
    Kamma-vipaka hanya satu dari 24 Paccaya, yg sesungguhnya mempengaruhi
    keseluruhan hiduo & kehidupan tiap makhluk hidup... Artinya: kamma bukankah
    satu²nya penyebab tunggal (walopun memang dominan).
    Yang pasti juga, kosep ketuhanan causa-prima jg tdk termasuk salah satu di dlm
    faktor 24 Paccaya sih...

    +++++++++
    Darmawan wrote:
    baik kusala atau akusala karma, tidak ada hal lain yg mempengaruhi selain itu.
    °

    Sukhi Hotu,

    Gun@saro

    ReplyDelete
  7. Terima kasih Pak Gun...
    Darmawan

    ReplyDelete
  8. Mas rendy,
    Cerita piano tersebut mengisyaratkan bahwa keingin tahuanlah awal kita untuk
    melangkah, untuk kepercayaan diri dalam meneruskannya akan ada jalan untuk
    bertahan dan menyelesaikannya. Setelah berhasil menyelesaikannya, patutlah kita
    sadari bahwa kita tidak pernah sendirian menyelesaikannya..selalu ada bantuan
    disaat yang diperlukan..

    (untuk krislam...setiap mendapatkan pertolongan/bantuan dan jalan keluar maka
    yang mendapatkan kredit pujian apresiasi adalah tuhan)

    Jadi, Siapa bilang untuk agama non buddhis tidak cocok..
    Buddhis juga mengakui Tuhan, namun tidak seperti krislam.

    Menurut saya yang disampaikan Sang Buddha adalah panduan agar keluar dari
    lingkaran tumimballahir diawali dengan ketertarikannya dan melakukannya dengan
    gigih penuh kesadaran.

    Sehingga sangat tidak tepat dikatakan pencerahan dilakukan dengan usaha sendiri,
    yang lebih tepat adalah dilakukan dengan percaya diri dan berjuang dengan penuh
    kesadaran!

    Bukankah Sidarta Gautama dalam perjuangannya mencapai Buddha juga mendapatkan
    bantuan?

    Selama enam tahun di hutan uruwela bersemedi menyiksa diri tanpa hasil hingga
    kulit pembungkus tulang dan suatu ketika dalam pertapaannya mendengar seorang
    tua sedang menasehati anaknya di atas perahu yang melintasi sungai Nairanjana
    dengan mengatakan,

    " Bila senar kecapi ini dikencangkan, suaranya akan
    semakin tinggi. Kalau terlalu dikencangkan, putuslah senar kecapi ini, dan
    lenyaplah suara kecapi itu. Bila senar kecapi ini dikendorkan, suaranya akan
    semakin merendah. Kalau terlalu dikendorkan, maka lenyaplah suara kecapi itu."

    Nasehat tersebut
    sangat berarti bagi pertapa Gautama yang akhirnya memutuskan untuk menghentikan
    tapanya lalu pergi ke sungai untuk mandi. Badannya yang telah tinggal tulang
    hampir tidak sanggup untuk menopang tubuh pertapa Gautama. Seorang wanita
    bernama Sujata memberi pertapa Gautama semangkuk susu.

    Bantuan itu datang kapan saja kita butuhkan, masalahnya kita mengenali itu atau
    tidak? berikut contoh cerita yang menarik:

    Seorang lelaki berdoa: “Oh Tuhan ... ijinkanlah aku untuk mendengar-Mu”
    Tiba-tiba guntur mengggelegar namun ia tak mendengarnya dan terus khusuk berdoa.

    “Oh Tuhan ... ijinkanlah aku untuk melihat-Mu” demikian ia berdoa kembali.
    Sekuntum mawarpun mekar tepat di hadapannya, saking khusuknya ia berdoa sampai
    tertunduk dan iapun tidak melihatnya.

    “Oh Tuhan ... ijinkanlah aku untuk menyentuh-Mu”; doanya kian memelas sembari
    mengibas seekor kupu-kupu cantik yang hinggap di lengannya.

    Diterjemahkan oleh Gung Dé dari Spiritual Jokes (Buddhist and Theosophist)
    *********************************************
    Kalau Anda bisa mengerti, Anda bisa memaklumi.
    Kalau Anda bisa memaklumi, Anda bisa bersabar.
    ~anonymous 211106 -05.
    *********************************************
    http://groups.yahoo.com/group/BeCeKa/message/2899
    from: NGestOE RAHardjo
    Sunting: Wirajhana




    http://wirajhana-eka.blogspot.com/2007/08/tuhan-selalu-mengabulkan-permintaan.ht\
    ml

    ReplyDelete
  9. Sori jika menyela diskusi Sdr Wirajhana & Sdr Rendy...

    Alinea pertama di bawah bermuatan latar pemahaman non-Buddhisme yg kental.
    Buddhisme menitikberatkan secara optimum bhw segala essensi hidup ini: 4
    Kebenaran Hakiki: ttg adanya dukkha, asal dukkha, padamnya dukkha, serta jalan
    perealisasiannya... Ada pada & di dalam nama & rupa itu sendiri (perpaduan dr
    pancakkhandha). Segala fenomena yg ada & dr luar semata² persepsi utuh dari
    dalam...
    Pemahaman ttg dukkha, munculnya dukkha, padamnya dukkha, & perealisasian
    jalan... Kesemuanya ada di dalam perpaduan pancakkhanda itu sendiri... "Bantuan"
    dengan konteks apapun merupakan pengkondisian oleh pancakkhanda itu sendiri...
    Pihak non-Buddhisme, tidak melihat fenomena ini semua sebagaimana apa adanya,
    sehingga melibatkannya sebagai campur-tangan pihak luar...

    Pertapa Gotama memilih ekstrim menyiksa diri selama ± 6 thn, ada penyebab
    terdekat: karena mentok dgn ekstrim serta praktik yg diajarkan guru² sebelumnya
    (bantuan juga kah? Tdk berhasil, maka gak dibilang bantuna yah?). Apakah
    penyebab terjauh? Krn dahulu pernah menceloteh Sammasambuddha Kassapa, hal ini
    yg mengkondisikan bathin Beliau mengarah kepada praktik ekstrim siksa diri...
    It's no given... It's been conditioned...

    Sujata hari itu kembali & berapresiasi kepada (yg dia anggap sebagai dewa
    pohon), pun karena memiliki keturunan sesuai harapannya. Ada penyebab terdekat
    yg mendahului, bukan kebetulan semata²... Kondisinya pas dgn keputusan Pertapa
    Gotama utk tdk praktik ekstrim. Sekali lagi, karena sungguh "misterius", banyak
    pihak menilai itu 'kebetulan' atau sdh 'direncanakan'... Padahal semua berlaku
    secara mandiri & terkondisi dari akumulasi terangkai...

    Yang pernah sy baca dr tulisan Bhante Narada Mahathera... Pertapa Gotama tdk
    terinspirasi oleh kejadian permainan sitar (ada versi bapak-anak, ada pula versi
    guru-murid)...
    Pertapa Gotama teringat kembali akan saat kecilnya ketika bermeditasi di bawah
    pohon kala upacara panen raya, saat itu Beliau mencapai ketenangan Jhana.
    Ayahanda Beliau bahkan terkagum² ber-namakara di hadapan-Nya... Saat itu Beliau
    terinspirasi bahwa rupa & nama merupakan komposisi yg perlu berimbang utk saling
    mendukung, bukan sebaliknya. Semua ini merupakan proses perpaduan, maka dari itu
    perlu dijaga proporsional... Kemudian barulah diujarkan perumpamaan tentang alat
    petik sitar itu... Menurut Bhante Narada banyak kutipan komentari yg menulis bhw
    kejadian sitar itu terjadi, padahal tdk demikian...

    Tapi menurut saya, itu tidak essensiil... Entar ada juga bisa bilang bhw, event
    "mengingat meditasi saat muda" itu juga merupakan "bantuan Illahi"... Kembali
    lagi kepada konsep causa-prima jadinya...

    Ada yg tahu grup musik cadas, Skid Row? Mereka dikomentari oleh kritikus musik
    saat itu bhw keberhasilan mereka di belantika musik rock krn digusung oleh nama
    besar Bon Jovi. Dave 'The Sanke' Sabo sang gitaris berkomentar: tidak sedikit
    grup amatir yg juga dibantu oleh tangan² besar, namun mereka gagal total. Kami
    merupakan sebagian kecil sekali dr grup yg berusaha diusung oleh pentolan
    seperti Bon Jovi...
    Apakah semata² Jon Bon Jovi? Meskipun dia sangat dikagumi krn sering bantu grup
    lain seperti Firehouse juga? Ini semua terjadi dgn pengkondisian 2 dua arah yg
    pas... Tidak ada dominasi satu arah...

    100 orang dgn masalah yg sama berjejer di depan altar Kwan-Im, mantra/do'a sama,
    dibaca dengan postur sama, seriusnya sama... Apakah hasilnya sama berlaku utk
    100 org tsb? Retreat jalan salib atau doa Novena bisa ribuan orang, coba
    seragamkan jadi ratusan org yg dgn problematik yg sama. Do'a Salam Maria &
    rosario yg sama, apa semua dapat hasil yg sama?
    Faktanya, yg justru jeblok pun banyak... Migrasi agama pun banyak...

    Org atheis yg sukses nan bahagia yg tidak pernah praktik do'a seperti di atas
    juga banyak... Mengapa? Karena semua akan berlaku sesuai dgn hukum/tertib
    keselaran kosmis yg berlaku universal, Panca Niyama...

    Cerita yg Sdr Wirajhan share ini ada filmnya, saya lupa judulnya... Bercerita
    latar di belahan dunia Eropa...

    ReplyDelete
  10. Plokk 8 x……



    Tepat sekaleee…..

    Meluruskan satu pandangan yang menyatakan “seolah-olah” ada bantuan.

    Banyak umat Buddha terjebak dalam ‘konsep’ sprt itu.

    Cukup memprihatinkan shg banyak umat yang jadi ‘pengemis’.



    Xie-xie



    Mira

    ReplyDelete
  11. Chen lina wrote dan Eka yang posting:
    Kita lupa bahwa semua itu terjadi karena Tuhan yang menolong kita dan
    tanpa Dia apapun yang kita kerjakan tidak akan berhasil. Tapi bila Tuhan
    ada
    disamping kita, kita akan mampu melakukan hal ? hal yang sederhana menjadi
    luar biasa.

    Abin:
    Sungguh pernyataan yang luar biasaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa......
    Luar biasa bego maksudku.
    Trus kalau udah pakai tuhan, tetap gagal.... maka
    bilangnya..........."cobaan", "ujian", "hukuman".
    Geblek koq ya gak habis-habis!
    Asal tahu aja nich.... tuhan bisa nolong itu juga minta ijin aku dulu!
    Kalau aku gak ngijinkan ya bisa apa tuhan?

    ReplyDelete
  12. Waduh Tuhan ada disamping kita ya?? wah berarti kita
    mesti hati2 kalo buang gas atau BAB.. malu dilihat
    Tuhan (^_^)

    Tuhan masih di personalisasi tapi jika di gali lebih
    dalam tidak pernah mengakui tuhan itu di
    personalisasi.. agak bingung.. sungguh bingung

    --- Abin_Abin@... wrote:

    > Chen lina wrote dan Eka yang posting:

    ReplyDelete
  13. Saudara Abin se-dharma,
    Saya agak kurang setuju dengan pernyataan ketidak sepahaman anda di bawah. Coba
    mulailah memilih kata kata yang bijaksana (seperti apa yg Sang Budha anjurkan)
    agar tidak ada orang lain yg tersinggung.
    maaf atas email saya ini, karena saya ingin orang lain yg baru bergabung
    (seperti saya) memiliki kesan baik atas milis ini.
    Sabbhe sattha bhavantu sukhitata,


    Darmawan

    ReplyDelete
  14. No problem,Bro.

    Itu ciri khas dari bung abin.( Gak ada Loe ... Gak Rame ... )
    Hahaha ...

    Milis ini tempat kita belajar juga,jadi kalau ada kata2 yang kurang
    berkenaan ,harap di maklumi.



    Semoga semua mahluk Berbahagia

    ReplyDelete
  15. memaklumi bro abin sih boleh saja, tetapi diharapkan bro abin ingat
    tujuan awal milis ini adalah Milis Samaggi Phala merupakan sarana
    menjalin persahabatan para umat dan simpatisan Buddhis di seluruh
    penjuru dunia. Persahabatan hendaknya juga diwarnai dengan diskusi
    Dhamma maupun hal-hal lainnya yang tidak harus terlalu serius.
    Hampir semua peserta milis dapat mengirimkan email tanpa di moderator-
    i. Oleh karena itu, gunakanlah milis ini dengan bijaksana sehingga
    banyak fihak dapat memetik manfaatnya.
    Perlu disadari bahwa semua email yang telah dikirimkan ke Milis
    Samaggi Phala akan dapat dibaca oleh berbagai fihak di berbagai
    penjuru dunia serta dapat bertahan untuk waktu yang lama. Jadi,
    marilah kita jaga bersama keluhuran Ajaran Sang Buddha dengan menjaga
    serta menghindari tulisan yang dapat menimbulkan kesan buruk untuk
    Agama Buddha maupun memancing permusuhan dengan agama dan kepercayaan
    lain.
    Semoga kebaikan dan kedamaian bersama dapat kita wujudkan.
    Semoga Anda berbahagia dalam Buddha Dhamma.
    Semoga semua mahluk berbahagia. ok mudah-mudahan dapat dimengerti dan
    dipahami oleh semua rekan-rekan istirahat (untuk bro abin jika masih
    belum bisa berubah istirahat saja dulu deh. ini hanya anjuran loh)

    ReplyDelete
  16. sis mira yang baik, gak baik loh menulis seperti itu. secara tidak langsung anda
    sedang menjelek-jelekan agama lain (walaupun mungkin tanpa disengaja). pada
    intinya tuhan tidak pernah menampakkan wujudnya kepada siapapun. jadi manusia
    yang membuat tafsirannya menurut keyakinannya masing-masing. satu hal lagi tuhan
    tidak pernah minta dipuji,promosi,dsbnya. adapun maksud dari semua itu (seperti
    kristen ke gereja setiap minggu, islam sholat 5 waktu, dsb nya) adalah untuk
    melatih manusia agar tidak terlalu melekat kepada kehidupan keduniawian
    (uang,jabatan,dsb-nya). dan jika saya mau jujur (ini menurut saya loh) kita
    semua masih seperti seorang anak-anak yang jika melakukan sesuatu masih
    mengharapkan suatu hadiah. contohnya: ada sebagian umat kristiani mengikuti
    kebaktian setiap minggu hanya agar dosanya diampuni oleh tuhan, memuji tuhan
    melalui lagu-lagu supaya tuhan senang/ supaya disayang dan dicintai tuhan, dan
    berbagai alasan yang lain. contoh lain lagi ada aturan di
    ajaran islam (kalo gak salah yah) jika seorang muslim tidak menjalankan sholat
    5 waktu .maka segala sesuatu yang dia lakukan (kegiatan keagamaan) tidak sah.
    dan banyak juga umat buddha yang ke vihara/ klenteng mempunyai motivasi meminta
    rejeki (yang paling sering), minta jodoh, dan berbagai motivasi yang lain.. jadi
    intinya kita seperti seorang anak kecil/ seorang pedagang yang melakukan sesuatu
    jika ada hadiah atau jika ada untungnya (bagi pedagang) jika gak ada hadiah
    ataupun untungnya ogah amet (betul tidak? saatnya kita jujur pada diri kita
    sendiri) . padahal maksud yang terkandung di dalamnya sangat bagus untuk semua
    umat beragama yaitu jangan terlalu melekat dengan kehidupan keduniawian sebab
    dari situlah semua masalah/ bencana bermula. jika tidak percaya silakan
    rekan-rekan milis telusuri sendiri dan buktikan sendiri tulisan saya ini. semoga
    hasil buah pikir saya ini dapat menjadi bahan renungan bagi kita semua dan tak
    lupa saya mengucapkan semoga semua makhluk
    berbahagia. terima kasih jika ada tulisan saya yang salah/ kurang berkenan bagi
    rekan-rekan sekalian mohon dikoreksi

    ReplyDelete
  17. Sy sependapat dengan penjelasan Bung Rudy.
    Menjelek2kan agama lain dan juga Tuhan mereka sebenarnya sudah
    termaksud perbuatan buruk lho ...

    Hormatilah orang2 yang percaya pada Tuhan,dan doakan semoga mereka
    semua Berbahagia.

    Sy ada pertanyaan kepada Sis Mira, Mengapa anda begitu yakin bahwa
    Tuhan di agama lain adalah fiktif ? Apakah anda mempunyai indera ke
    6 atau 7 bahkan 8 .... ?

    Kita tidak tahu apakah Tuhan ada atau tidak, tapi sebaiknyalah kita
    sebagai umat Buddha yang baik menghormati Tuhan agama lain.
    Cukup menghormati saja,tak perlu sampai menyembahyangi Tuhan
    mereka.Itu sudah bisa di sebut Umat Buddha yang baik hati.:)

    Salam metta
    Felix

    ReplyDelete
  18. abin,abin masih tidak berubah saja gaya bahasamu. maksud anda baik tetapi jika
    cara penyampaiannya kurang simpatik, maka maksud dan tujuan yang ingin anda
    sampaikan kepada para pembaca/ rekan-rekan sekalian tidak akan tercapai. jadi
    tolong dirubah yah. semoaga semua makhluk berbahagia


    Abin:
    Sungguh pernyataan yang luar biasaaaaaaaaaaaaaaa aaaaaa... ...

    ReplyDelete
  19. Bung Rudy,Gaya bahasa bung Abin memang khas.
    Itulah yang menarik dari Bung Abin.

    Sy menanggapi sedikit pernyataan Bung Abin,
    Oh..ya Bung , mengapa anda begitu yakin bahwa Tuhan agama lain
    adalah fiktif ?
    Bayangkan 1 Milyard manusia di dunia menganut agama K,dan mereka
    percaya akan keberadaan Tuhan.
    Bisakah sy mewakili bung Abin mengatakan bahwa 1 Milyard manusia
    itu " Bego " ?
    Bagaimana pendapat anda ?


    Semoga semua mahluk Berbahagia


    Salam metta ,
    Felix

    ReplyDelete
  20. Felix:
    Oh..ya Bung , mengapa anda begitu yakin bahwa Tuhan agama lain
    adalah fiktif ?
    Bayangkan 1 Milyard manusia di dunia menganut agama K,dan mereka
    percaya akan keberadaan Tuhan.
    Bisakah sy mewakili bung Abin mengatakan bahwa 1 Milyard manusia
    itu " Bego " ?
    Bagaimana pendapat anda ?

    Abin:
    Bung Felix, coba anda baca artikel yang sangat bagus ini.

    Ini dulu saya ketik ulang dari buku
    Tak Kenal Maka Tak Sayang
    karya Handaka Vijjananda.

    *MENGAPA ORANG PINTAR MENGANUT KEPERCAYAAN YANG TAK MASUK AKAL?*

    Mengapa manusia mempercayai agama secara membabi-buta, meskipun pada
    kenyataannya mereka tidak mampu memberikan bukti atas apa yang mereka
    percayai? Ini adalah hal yang sangat menakjubkan. Apakah kepercayaan
    agama adalah sifat-sifat genetis yang diturunkan? Beberapa orang percaya
    akan adanya sentra bahasa dalam otak manusia yang memungkinkan seorang
    anak dengan mudah mempelajari sebuah bahasa, ada pula sentra agama dalam
    otak yang membuat manusia cenderung selalu menjadi seorang penganut
    agama. Pendapat ini sangat populer di antara para pakar neurobiologis
    seperti yang dimuat dalam artikel utama di halaman depan majalah
    Newsweek (Tuhan dan Otak, 7 Mei 2001).

    Apakah agama itu? Jika didefinisikan agama sebagai suatu keimanan
    (dengan mengesampingkan aspek-aspek sosio-poiltis-nya) maka dapat kita
    katakan bahwa agama adalah suatu kepercayaan yang tidak dilandasi oleh
    bukti-bukti. Kita tidak pernah mempercayai atau meyakini sesuatu yang
    tidak dilandasi oleh bukti. Segala sesuatu yang dilandasi oleh
    bukti-bukti nyata adalah seusatu yang kita ketahui saat ini. Sebagai
    contoh, kita ambil bigfoot (yeti). Beberapa orang mempercayai bahwa ada
    suatu makhluk yang menyerupai manusia dalam hutan-hutan tertentu yang
    selama ini mampu menghindari persinggungan dengan peradaban manusia.
    Tiada yang mustahil akan kepercayaan ini. Neanderthal adalah suatu
    spesies unik yang berbeda dengan manusia, dan mereka dianggap telah
    punah 30.000 tahun yang lalu. Apakah mungkin beberapa diantaranya dapat
    bertahan hingga sekarang? Semuanya mungkin saja. Sebagai spesies yang
    mirip dengan manusia, jika makhluk-makhluk ini benar-benar ada, mereka
    mungkin memiliki otak yang cukup besar untuk memiliki kemampuan untuk
    mempertahankan hidup. Mereka mengetahui bahwa manusia memiliki peralatan
    dan (pada kenyataannya) sangat berbahaya. Sehingga sangat logis untuk
    diyakini jika mereka selalu menghindari persinggungan dengan manusia,
    dan hal inilah yang menerangkan mengapa hingga sekarang kita tidak
    pernah mampu menangkap mereka. Bagaimanapun juga, bukti-bukti keberadaan
    bigfoot itu ada, meskipun sangat terbatas. Anda bebas untuk mempercayai
    atau tidak mempercayai keberadaan makhluk ini, namun bagaimana jika
    suatu hari ada yang berhasil menangkap seekor bigfoot? Pada saat
    tersebut kita tidak lagi “percaya” tapi “tahu” bahwa bigfoot itu
    benar-benar ada. Inilah perbedaan antara “mengetahui” dan “mempercayai”.
    *Hal-hal yang dapat dibuktikan keberadaannya dengan dukungan fakta-fakta
    disebut pengetahuan. Hal yang tidak atau memiliki sedikit bukti
    didefinisikan sebagai kepercayaan.*

    Iman adalah kepercayaan yang mendalam, suatu keadaan di mana beberapa
    hal dipercayai meskipun tidak ada bukti-bukti yang mendukung. Apakah hal
    ini tertanam dalam benak kita? Apakah kita secara genetis terprogram
    untuk bisa mempercayai tanpa adanya bukti? Adalah hal yang sulit
    dipercaya bahwa iman atau pemikiran yang irasional telah terprogram
    dalam benak kita. *Kemudian pertanyaan yang timbul adalah: mengapa ada
    banyak orang yang mempercayai sesuatu meskipun tidak dilandasi olah
    bukti-bukti?*

    Jawabannya dapat kita amati dari proses seorang individu
    bertumbuh-kembang. Pada awal pertumbuhannya, seorang anak tidak memiliki
    cara berpikir yang rasional. Anak-anak bukanlah pemikir yang rasional,
    mereka adalah pengkhayal. Bagi seorang anak, logika tidaklah penting dan
    mereka tidak merasa memerlukannya. Anak-anak mempercayai bahwa orang tua
    mereka adalah “yang mahakuasa” dan mereka percaya bahwa mereka selalu
    dicintai dan diperhatikan. Kepercayaan akan kekuasaan absolut orang tua
    mereka sangatlah penting bagi seorang anak untuk mendapatkan rasa aman.
    Dengan kepercayaan tersebut seorang anak akan merasa terlindungi dan
    aman. Mereka dapat mengandalkan pelindungnya yang sangat bekuasa untuk
    menopang, mengawasi, melindungi, dan menyelamatkan mereka pada saat
    dibutuhkan. Pada tahap evolusi ini, pemikiran logis tidak diperlukan.
    Logika justru kadang bisa menjadi kontra-produktif bagi seorang anak.
    Kepercayaan lebih penting daripada logika bagi kelangsungan seorang
    anak. Seorang anak harus memiliki kepastian bahwa mereka tidak akan
    ditelantarkan dan tidak akan harus mempertahankan dirinya sendiri.
    *Hanya dengan kepercayaan membuta akan orang tuanya, seorang anak akan
    merasa aman.*

    Seorang anak juga butuh untuk mengembangkan khayalan dan impiannya.
    Anak-anak membutuhkan cerita-cerita dongeng, mitos dan legenda.
    Anak-anak adalah pengkhayal. Khayalan sangat penting bagi pertumbuhan
    emosional seorang anak. Seorang anak tidak mengalami kesulitan untuk
    mempersonifikasikan hewan-hewan dalam khayalannya dan bahkan
    menganimasikan benda-benda seperti mainannya sebagai makhluk hidup.
    Mereka bercakap-cakap dengan teman “khayalan” mereka dan mereka merasa
    takut terhadap monster-monster, perwujudan fantasi mereka sendiri, yang
    seoleh bersembunyi di bawah ranjang mereka. Pada saat mereka merasa
    lemah, tidak berdaya dan terkalahkan, pada saat mereka kesepian,
    ketakutan dan merasa dalam bahaya, mereka bisa mengkhayalkan diri mereka
    sebagai seorang manusia super dengan kekuatan yang tak terhingga. Dalam
    khayalan, mereka dapat mengalahkan musuh-musuhnya, membalasnya,
    menghajar mereka, dan selalu menang. Mereka dapat menjadi seorang
    pahlawan, terbang, dan melakukan keajaiban-keajaiban lain dalam
    khayalannya. Khayalan adalah kompensasi dari keterbatasan fisik mereka
    dan khayalan merupakan sumber kekuatan supranatural imaginer mereka.
    *Hal inilah yang menjelaskan mengapa khayalan sangat penting untuk
    kelangsungan seorang anak yang masih merasa lemah dan tak berdaya.*

    *Anak-anak sebetulnya sangat “jatah” terhadap sesamanya, sama seperti
    yang dilakukan oleh nenek moyang kita.* Seorang anak yang tertindas oleh
    anak-anak lain yang lebih besar akan membayangkan bahwa suatu hari
    seorang penolong yang sangat hebat akan datang untuk menghukum anak-anak
    yang menindasnya. Dalam khayalannya mereka membayangkan musuh-musuh
    mereka dihancurkan. Nenek moyang kita juga mempunyai cara berpikir yang
    sama. Ketika musuh menindas mereka dengan kejam dan ketika tiada seorang
    pun yang datang menolong mereka, ketika mereka mendapat perlakuan yang
    tidak adil dan tertekan, mereka akan memohon bantuan Tuhan. Mereka
    membayangkan seorang juru selamat akan datang untuk menolong mereka,
    membalas musuh-musuh mereka dan menegakkan keadilan. Sebagai contoh,
    kita dapat melihatnya dalam kitab Mazmur 35, yang merupakan doa untuk
    memohon bantuan dari Tuhan.

    /1. Dari Daud. Berbantahlah, Tuhan, melawan orang berbantah dengan aku,
    berperanglah melawanorang yang berperang melawan aku! 2. Peganglah
    periasi dan utar-utar, bangunlah menolong aku. 3. Cabutlah tombak dan
    kapak menghadapi oragn-orang yang mengejar aku; katakanlah kepada
    jiwaku: “Akulah keselamatanmu!” 4. Biarlah mendapat malu dan kena noda,
    orang-orang yang ingin mencabut nyawaku; biarlah mundur dan tersipu-sipu
    orang-orang yang merancang kecelakaanku! 5. Biarlah mereka seperti sekam
    dibawa angin didorong Malaikat Tuhan; 6. Biarlah jalan mereka gelap dan
    licin, dan Malaikat Tuhan mengejar mereka! 7. Karena tanpa alasan mereka
    memasang jaring terhadap aku, tanpa alasan mereka menggali pelubang
    untuk nyawaku. 8. Biarlah kebinasaan mendatangi dia dengan tidak
    disangka-sangka, jerat yang dipasangnya, biarlah menangkap dia sendiri,
    biarlah dia jatuh dan musnah! 9. Tetapi aku bersorak-sorak karena Tuhan,
    aku girang karena keselamat dari pada-Nya; 10. Segala tulangku berkata:
    “Ya, Tuhan, siapakah yang seperti Engkau yang melepaskan orang sengsara
    dari tangan orang yang lebih kuat dari padanya, orang sengsara dan
    miskin dari tangan orang yang merampasi dia?”/

    Sebagai manusia, kita akan melewati beberapa tahap pertumbuhan. Dalam
    tahap awal evolusi kita, kita akan berpikir secara magis. Kita
    membutuhkan dongeng-dongeng. Kita meyakini adanya Tuhan yang sangat
    berkuasa yang akan melindungi, menyantuni, mencintai, dan kadang-kadang
    menghukum kita apabila kita tidak berkelakuan baik. Kita mempercayai
    kekuatan doa-doa. Pada saat kita kesepian, putus asa, dan menghadapi
    masalah, kita meyakinkan diri kita sendiri bahwa kita tidak sendiri; ada
    Bapa di surga yang mencintai dan melindungi kita. Kita meyakini bahwa
    Dia tidak akan meninggalkan kita. Apabila kita tidak dapat mandiri
    dengan kemampuan diri kita sendiri, kita masih bisa bergantung pada
    Tuhan. Apabila kita tertindas dan tidak dapat membalas, kita akan
    mempercayai bahwa pada suatu saat akan ada Hari Pembalasan, di mana yang
    tertindas akan mendapat pahala dan yang menindas akan dihukum. *Terlepas
    dari sebenarnya Tuhan itu ada atau tidak ada, efek yang diakibatkannya
    terhadap psikologi dan emosi manusia sangat nyata dan penting.*

    Ketika kita memakan buah pengetahuan yang terlarang, ketika kita dibuang
    dari surga di mana binatang-binatang lain hidup, ketika kita mulai sadar
    akan ketelanjangan, ketidakberdayaan, dan kesepian kita, kita mulai
    mencari Tuhan (ibu) yang mampu mencintai kita tanpa batas dan kemuidan
    Tuhan (Bapa) untuk melindungi kita, dan kepada-Nya kita memohon.

    Tidak seluruh kebudayaan yang ada mempercayai akan adanya Tuhan, namun
    mereka mempercayai akan adanya makhluk-makhluk lain yang mempunyai
    kemampuan super, roh-roh, atau dewa-dewa yang akan datang untuk
    menyelamatkan umatnya pada saat-saat yang dibutuhkan.

    Kepercayaan bersifat primitif, namun mereka sangat vital bagi
    pertumbuhan psikologis dan emosional manusia. Ketika manusia melewati
    masa kanak-kanaknya, kepercayaan akan membantu mereka untuk mengatasi
    kesulitan dan masalah yang dialaminya. Namun setelah kita melewati masa
    kanak-kanak, kebutuhan akan kepercayaan terhadap adanya
    kekuatan-kekuatan eksternal akan hilang, Kita tidak memerlukan konsep
    Tuhan lagi untuk menyantuni kita karena kita telah mampu untuk mandiri.
    Kita tidak merasa perlu lagi untuk berlindung kepada Tuhan untuk
    menyelamatkan kita dari penyakit dan bencana karena kita telah mampu
    untuk melindungi diri kita dengan segala pengetahuan yang telah kita
    miliki. Kita akan mengandalkan kemampuan kita sendiri, bukan pada
    doa-doa dan persembahan kepada Tuhan,

    Sejalan dengan kedewasaan kita, kepercayaan akan adanya
    kekuatan-kekuatan eksternal akan berkurang, namun kebutuhan kita akan
    kepercayaan terhadap sesuatu tidak akan hilang begitu saja.* Kita masih
    harus mempercayai potensi diri kita sendiri, mempercayai bahwa kita
    dapat melakukannya secara mendiri. Kepercayaan tersebut masih ada,
    meskipun objeknya telah berubah. *Pada suatu waktu kita mempercayai
    adanya Tuhan yang mahakuasa, yang akan datang untuk menyelamatkan kita
    jika kita memohonnya, namun kita kita meyakini bahwa ilmu pengetahuan
    dan logika mampu menjawab masalah-masalah kita.

    Proses pematangan ini belum berakhir. Kita masih harus terus berkembang
    dan mencapai kematanga. Sejumlah kecil manusia mampu mencapai kematangan
    ini. Mereka inilah yang menciptakan standar. Mereka adalah orang-orang
    yang mampu membuka jalan dan menentukan tujuan. Namun mayoritas dari
    kita masih belum mampu mencapai tahap ini. Mayoritas dari kita masih
    secara emosional dalam tahap kanak-kanak. Kita masih memerlukan iman.
    Hanya beberapa orang dari kita yang mampu membebaskan diri dari iman
    akan adanya sesuatu yang supranatural, dewa-dewa, malaikat-malaikat, dan
    dongeng lainnya, namun kebanyakan dari kita masih terikat pada belenggu
    kepercayaan.

    Kebanyakan manusia lebih bersifat emosional daripada intelektual. Oleh
    karena itu, kita masih dapat menemukan orang-orang terpelajar, para
    cendekiawan, dengan banyak gelar dan kualifikasi akademis, yang masih
    bersifat kekanak-kanakan dan emosional. Masih banyak akademisi, ilmuwan,
    baik pria maupun wanita, dengan tingkat kecerdasan yang tinggi tidak
    mampu melepaskan diri dari belenggu kepercayaan terhadap Tuhan dan
    agama. Sebagai cendekiawan, orang-orang ini tidak akan menerima segala
    sesuatu yang tidak didasari oleh adanya bukti-bukti nyata, namun mereka
    bersedia untuk mengesampingkan intelektualitas mereka dan menerima
    kepercayaan-kepercayaan religius dengan hanya didasarkan pada iman saja.
    Hal ini terlihat seperti bertolak belakang (paradoks), namun pada
    kenyataannya tidak.

    Kematangan intelektual dan kematangan emosional adalah dua hal yang
    berbeda. Seseorang mungkin mempunyai tingkat kecerdasan yang tinggi,
    namun masih belum matang secara emosional. Dan kebutuhan emosional
    selalu mendahului kebutuhan intelektual. Apabila terjadi konflik di
    antara keduanya, manusia akan selalu mendahulukan emosinya daripada
    integritas intelektualnya.

    Rasa aman kita akan timbul jika kita dapat memenuhi kebutuhan emosional
    kita. Iman akan Tuhan adalah suatu kepercayaan yang tidak masuk akal,
    namun kepercayaan ini tidaklah lebih mengenaskan daripada perasaan
    kesepian tanpa adanya sesuatu yang mahatahu, maha pengasih, dan maha
    penyayang tempat kita berlindung pada saat-saat dibutuhkan. Perasaan
    bahwa kita hidup sendiri tanpa ada siapa pun untuk dijadikan
    perlindungan adalah hal yang mengerikan. Kita mungkin adalah orang-orang
    yang telah dewasa atau mungkin berusia lanjut, namun secara emosional
    kita masih kekanak-kanakan, kita membutuhkan perlindungan dan kasih
    sayang dari orang tua kita, kita membutuhkan kepercayaan akan adanya
    tempat berlindung yang disebut sebagai Tuhan.

    Ada satu hal yang patut kita bahas di sini. Pada suatu saat kiat
    bertindak sebagai seorang penganut namun pada saat yang lain kita
    berperilaku sebagai seorang yang berpikiran bebas. Seperti yang telah
    saya katakan, ada para cendekiawan yang berpikir secara bebas untuk
    seluruh aspek kehidupan mereka kecuali agama, ada pula orang-orang yang
    tidak dapat memahami keberadaan Tuhan karena mereka tidak mendapatkan
    cukup bukti untuk meyakini keberadaannya, namun dengan mudahnya
    mempercayai astrologi (atau hal-hal aneh lainnya) sebagai suatu ilmu
    pengetahuan. Di lain pihak ada pula mereka yang sangat religius dan
    tidak pernah mempermasalahkan tentang keberadaan Tuhan sekalipun tidak
    ditunjang dengan adanya bukti-bukti nyata tentang keberadaannya, namun
    mampu menolak astrologi dan mencapnya sebagai sesuatu yang tidak masuk
    akal. Ada pula yang berpandangan bebas dalam segala aspek kehidupan,
    namun juga mampu mempercayai keberadaan Tuhan dan astrologi, dan ada
    pula orang yang menolak mempercayai semuanya. Kadagn-kadang kita
    bertindak secara tidak rasional karena pada suatu saat kita skeptis
    terhadap suatu hal, namun pada saat lain kita dapat mempercayai hal-hal
    lain yang tidak masuk akal dengan mudah.

    Materialisme juga merupakan suatu bentuk kepercayaan. Banyak orang telah
    mengalami fenomena-fenomena seperti mati suri, telepati, kemampuan
    penglihatan psikis, atau mukjizat lainnya. Pengalaman-pengalaman ini
    tidak dapat kita buktikan. Seorang yang rasional tidak akan dengan mudah
    memepercayai hal ini apabila tidak dilandasi oleh bukti-buktin yata.
    Namun ada pula yang menolak meyakini adanya fenomena-fenomena ini secara
    tegas dan berusaha untuk meniadakannya dengan argumentasi-argumentasi
    yang dilandasi oleh kepercayaan seseorang yang beragama. *Kepercayaan
    yang membuta bahwa segala fenomena yang ada harus dapat dijelaskan
    berdasarkan ilmu pengetahuan manusia yang masih terbatas adalah juga
    suatu bentuk kepercayaan dalam banyak komunitas yang dinamakan ilmuwan
    semu.*

    Hal yang menggembirakan adalah kenyataan bahwa iman yang membuta dapat
    pula diluruskan. *Selalu ada sesuatu hal dalam setiap kepercayaan
    sehingga bahwa mereka yang paling fanatik pun tidak akan dapat
    mempercayai dengan mudah.* Hal ini dapat kita definisikan sebagai “titik
    kritis kepercayaan” seorang penganut. Seluruh iman didasarkan atas
    kepercayaan kepada sesuatu meskipun tidak dilandasi oleh adanya
    bukti-bukti, namun setiap penganut selalu dapat menemukan sesuatu yang
    tidak masuk akal menurutnya. Titik kritis ini berbeda-beda pada setiap
    individu tergantung pada pemahaman dan kebijaksanaan masing-masing
    individu. Hal ini dapat bersifat sementara, namun ini adalah setitik
    nila yang dapat merusak sebelanga susu, dan hal ini akan mengaktifkan
    “efek domino” yang akan mengakibatkan runtuhnya iman mereka. Apabila
    seorang penganut mampu menemukan keanehan yang tidak akan pernah dapat
    mereka mengerti dalam doktrin kepercayaannya, maka mereka akan segera
    menemukan hal-hal lain yang menurut mereka juga tidak masuk akal. Mereka
    akan mulai meragukan segala sesuatu yang telah dapat dengan mudah mereka
    percayai sebelumnya dan istana pasir imannya akan runtuh. Namun tidak
    banyak orang yang dapat mencapai tahap pertama keadaan ini.

    Ketakutan atas sesuatu yang baru, ketakutan akan perpisahan, ketakutan
    akan kehilangan sosok imaginatif yang selalu dapat diandalkan, ketakutan
    akan kesendirian tanpa tempat berlindung adalah risiko yang terlalu
    besar untuk dihadapi. Setiap orang memiliki sesuatu yang dapat
    memberikan rasa nyaman. *Perubahan berarti meninggalkan zona kenyamanan
    (comfort zone). Hal ini tidak mudah untuk dilakukan.* Sama seperti kita
    meninggalkan rumah kita dan bertualang seorang diri tanpa seorang pun
    yang dapat mengayomi kita. Di rumah kita selalu akan diayomi. Di rumah
    semua kebutuhan emosional kita akan terpenuhi. Kita memiliki sebuah
    figur yang dapat kita andalkan, dalam hal keagamaan figur tersebut
    adalah imaginatif. Namun kepada siapa kita kan berlindung jika kita
    bertualang? Siapa yang akan menemani kita apabila kita merasa kesepian?
    Risiko perpisahan adalah sangat besar. Orang-orang yang dipenjara akan
    mengalami hal ini ketika mereka telah dibebaskan dari penjaria. Mereka
    akan mengalami hal ini ketika mereka telah dibebaskan dari penjara.
    Mereka akan mengalami depresi berat. Penjara adalah penjara, namun
    penjara telah jadi rumah mereka. Setelah mereka dibebaskan, apa yang
    dapat mereka lakukan? Bagaimana mereka menghadapi tantangan dunia luar
    sendiri?

    Perpisahan akan menyebabkan penderitaan yang sangat dalam sehingga
    mereka akan terjebak dalam nostalgia yang mengharukan. Mereka akan
    mengalami depresi. Penderitaan seperti inilah yang akan kita rasakan
    apabila kita memutuskan untuk memutuskan tali ikatan dengan sosok
    imaginatif kita. Kita meras jika kita meninggalkan naungannya kita tidak
    akan dapat kembali lagi. Kita telah termanjakan dalam lindungannya. Dia
    adalah teman terbaik kita dalam saat-saat susah.* Meskipun kita
    mengetahui bahwa tidak pernah sekali pun dia secara nyata-nyata membantu
    kita, namun setidaknya ida selalu ada untuk mendengarkan keluh-kesah
    kita, dia mendengarkan tangan kita, dan ini cukup untuk melegakan kita.*

    Keraguan yang memicu benask seorang penganut selalu berawal dari suatu
    kejadian kecil. Namun sekali keraguan ini tersemai, keraguan tersebut
    akan tumbuh, bahkan kadang-kadang tidak disadari oleh penganut tersebut.
    *Pencarian kebenaran ini, adalah suatu proses yang tidak mudah dan
    menyakitkan. Dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk mampu memahaminya,
    tergantung pada kematangan emosional dan spiritual kita serta keberanian
    kita untuk mengambil risiko.* Pada dasarnya kita bisa matang secara
    emosional; pada suatu titik kita akan menyadari hal ini dan mulai
    meninggalkan kepercayaan membuta kita, namun proses ini bisa berjalan
    sangat lama, atau bisa tidak terjadi sama sekali sampai akhir hayat.

    *Seperti benin pada umumnya, benih-benih pencerahan membutuhkan
    lingkungan yang memadai untuk dapat mulai tumbuh. *Apabila kebebasan
    berpikir dan kebebasan berbicara dikebiri, pemikiran rasional tidak akan
    berkembang, dan iman membuta akan menjadi bayang-bayang kegelapan batin
    bagi orang-orang yang mengandalkan rasa percaya. Secara global beberapa
    kondisi di bawah ini bisa menciptakan kondisi yang menunjang tumbuhnya
    semangat pencarian kebenaran, yang merupakan langkah awal menuju gerbang
    pencerahan.

    1) Kejayaan sistem demokrasi liberal atas sistem politik otokrat atau
    diktator. *Di bawah bendera demokrasi, seharusnya kita tidak hanya
    membicarakan demokrasi dalam hal politik, namun juga demokrasi kebebasan
    berpikir dan berpendapat.* Ini adalah gerbang keterbukaan pada jalan
    pikiran yang baru dan toleransi sejati terhadap perbedaan sudut pandang.
    Keterbukaan ini telah dicontohkan dengan perubahan sikap Gereja Katholik
    terhadap keyakinan agama lain, yang ditetapkan dalam Konsili Vatikan II
    (1963-1965). Hal ini menumbuhkan rasa hormat dan toleransi kepada
    agama-agama non-Kristiani.

    *2) *Membaiknya taraf ekonomi, yang di satu sisi bisa mengurangi
    kecematan akan kemelaratan dan mengkondisikan masyarakat untuk bisa
    lebih mencari-cari pandangan hidup baru. Ini pula yang terjadi di dunia
    barat. *Pada suatu titik kulminasi, meningkatnya konsumerisme “membantu”
    masyarakat Barat menyadari bahwa pengejaran materi sama sekali tidak
    menjamin kebahagiaan sejati.*

    *3) *Tingginya standar pendidikan. Hal ini meningkatkan kemampuan
    berpikir rasional dan memaparkan masyarakat terpelajar dengan
    kemajemukan sudut pandang yang berangkat dari berbagai pengetahuan
    manusia. *Pendidikan juga melatih masyarakat untuk berpikir kritis dan
    analisis mengenai gagasan-gagasan baru.*

    4) Kemajuan teknologi informasi, komunikasi, dan transportasi yang mempu
    menyatukan seluruh umat manusia di dunia. *Teknologi informasi akan
    menyulitkan kekuatan kegelapan yang telah selama ini menutupi kebenaran
    dan mengebiri kebebasan berpikir dan kebebasan berpendapat.* Sepanjang
    sejarah, manusia selalu mempertanyakan dogma-dogma yang mereka hormati
    dan hargai, ketika mereka tidak menemukan jawaban yang memuaskan maka
    benih keraguan mulai tersemai dan proses mencapai pencerahan telah di
    mulai

    ~ooOoo~

    ReplyDelete
  21. artikel bagus,
    itu mungkin sebabnya di eropa katanya gereja2 mulai kosong (tidak sepenuh
    waktu dulu).....
    karena tingkat pendidikan yang tinggi, sehingga mereka mulai mempertanyakan
    dogma2 yang dahulu dipercayai...

    Bro Abin, pernah baca buku SEJARAH TUHAN karya Karen Amstrong, katanya
    bagus.
    itu membahas sejarah Tuhan versi Islam,Kristen dari awal, dan diakhiri
    dengan kesimpulan bahwa ada kemungkinan bahwa manusia sedang bergerak dari
    Tuhan Personal menuju Tuhan Impersonal (nah Tuhan impersonal ini mirip
    dengan Tuhan versi Buddhist)... (katanya sih saya juga belum baca, kalau
    sudah baca mungkin bisa kasih review nya)

    ......................

    ReplyDelete
  22. Wah, saya belum baca tuh.
    Belum sempat cari-cari buku lagi.....
    Tapi thanks atas masukannya.

    ReplyDelete