Wednesday, August 29, 2007

Mara adalah Sahabat Sang Buddha

Suatu hari, Buddha sedang tinggal di dalam sebuah gua, yang sejuk suasananya. Ananda, pelayan Buddha, sedang berlatih meditasi jalan di dekat gua, berusaha untuk menahan orang-orang banyak yang selalu datang untuk untuk mengunjungi Buddha supaya Buddha tidak perlu menerima tamu sepanjang hari. Hari itu, ketika Ananda sedang berlatih, ia melihat seseorang menghampiri. Ketika orang itu semakin dekat, Ananda mengenalinya sebagai Mara (Lihat tentang arti dan apa itu Mara).

Mara telah menggoda Buddha pada malam sebelum Buddha mencapai pencerahan. Mara telah berkata kepada Buddha bahwa ia bisa menjadi seseorang dengan kekuasaan yang hebat —seorang politikus, seorang raja, seorang presiden, seorang menteri luar negri, atau seorang pebisnis sukses dengan uang dan wanita-wanita cantik— jika ia melepaskan latihan perhatian murninya. Mara telah berusaha dengan sangat gigih untukmeyakinkan Buddha, tetapi hal itu tidak berhasil.

Meskipun Ananda merasa sangat tidak nyaman dalam jangkauan Mara, Mara telah melihatnya, jadi ia tidak dapat bersembunyi. Mereka menyapa satu sama lainnya.

Mara berkata, “Saya mau bertemu Buddha”

Ketika kepala dari perusahaan tidak ingin bertemu seseorang, ia meminta sekretarisnya untuk mengatakan, “Maaf, ia sedang ada pertemuan saat ini.” Meskipun Ananda ingin mengatakan seperti itu, ia mengetahui hal itu adalah berbohong. Jadi ia memutuskan untuk mengatakan apa yang ada di batinnya kepada Mara.
“Mara, kenapa Buddha harus bertemu dengan kamu? Apa tujuannya? Apa kamu tidak ingat bagaimana kamu dikalahkan oleh Buddha di bawah pohon Bodhi? Bagaimana kamu berani untuk bertemu lagi dengannya? Apa kamu tidak memiliki malu? Kenapa ia harus bertemu denganmu? Kamu adalah musuhnya.”

Mara tidak terpengaruh semangatnya oleh kata-kata Y.A. Ananda. Ia hanya tersenyum dan mendengarkan pemuda itu. Ketika Ananda telah selesai, Mara tertawa dan menanyakan,

“Apakah gurumu benar-benar mengatakan kalau ia punya musuh?”

Hal ini membuat Ananda menjadi sangat tidak nyaman. Baginya terlihat tidak benar untuk mengatakan bahwa Buddha memiliki musuh, tetapi ia telah mengatakannya! Buddha tidak pernah mengatakan bahwa ia punya musuh.

Apabila Anda tidak berkonsentrasi dengan sangat dalam atau dengan penuh kesadaran, Anda dapat mengatakan hal-hal yang berlawanan terhadap apa yang anda ketahui dan anda latih.
Ananda menjadi bingung.

Ia memasuki gua untuk memberitahukan tentang Mara, berharap bahwa gurunya akan mengatakan,

“Beritahu dia aku tidak ada di rumah!” atau, “Beritahu dia aku sedang ada pertemuan!”

Namun betapa terkejutnya Ananda, Buddha malah tersenyum dan berkata,

“Mara! Menakjubkan! Ajak ia masuk!”

Ananda menjadi bingung terhadap respon Buddha ini. Tetapi ia melaksanakan seperti yang Buddha katakan dan mengundang Mara masuk.

Dan tahukah Anda apa yang Buddha lakukan? Ia memeluk Mara!

Ananda tidak bisa mengerti hal ini. Kemudian Buddha mengundang Mara untuk duduk di tempat yang terbaik di dalam gua, dan, berbalik kepada pengikutnya terkasih seraya berkata,

“Ananda, bisakah engkau membuatkan teh untuk kami?”

Seperti yang Anda bisa tebak, Ananda tidak begitu senang terhadap hal ini. Membuat teh untuk Buddha adalah suatu hal —ia bisa melakukannya ribuan kali sehari— tetapi membuat teh untuk Mara bukanlah suatu hal yang ia ingin kerjakan. Akan tetapi karena Buddha telah meminta ia untuk melakukannya, ia tidak bisa menolaknya.

Buddha memandang Mara dengan penuh kasih; “Wahai sahabat,” sapanya,

“bagaimana kabarmu? Apakah semua baik-baik saja?”

Mara menjawab,

“Tidak, keadaannya tidak baik sama sekali, sangat buruk. Aku sangatlah lelah menjadi Mara. Aku ingin menjadi yang lain, seseorang seperti kamu. Kemanapun kamu pergi, kamu diterima, dan orang-orang membungkuk menghormatimu. Kamu punya banyak biksu dan biksuni dengan wajah menyenangkan yang mengikutimu, dan kamu diberikan persembahan pisang, jeruk, dan buah kiwi."

“Kemanapun aku pergi,” Mara melanjutkan,

“aku harus menggunakan kepribadian seorang Mara —Aku harus berbicara dengan sikap yang menghasut dan mempertahankan sebuah pasukan Mara-Mara kecilku yang kejam. Setiap saat aku bernafas keluar, aku harus menghembuskan asap dari hidungku! Tetapi aku tidak begitu sering memikirkan hal-hal itu; yang lebih menggangguku adalah bahwa, para pengikutku, Mara-Mara kecil, telah mulai berbicara mengenai transformasi dan penyembuhan. Ketika mereka berbicara tentang pembebasan dan Kebuddhaan, aku tak tahan dengan itu. Itulah mengapa aku datang untuk mengajukan kalau-kalau kita bisa bertukar peran. Kamu bisa menjadi seorang Mara, dan aku akan menjadi seorang Buddha.”

Ketika Y.A. Ananda mendengar ini, ia ketakutan
dan jantungnya serasa akan berhenti, ia berpikir:

"Bagaimana jika Buddha memutuskan untuk berganti peran? Maka aku akan menjadi pelayan Mara!"

Ananda berharap Buddha akan menolaknya.

Buddha dengan lembut memandang Mara dan tersenyum.

“Apakah menurut pikiranmu mudah untuk menjadi Buddha?” ia bertanya.

“Orang-orang selalu salah memahami aku dan memakai mulutku untuk perkataan mereka. Mereka membangun kuil-kuil dengan patung diriku yang terbuat dari tembaga, semen, emas, maupun jamrud. Sekelompok besar orang mempersembahkan aku pisang, jeruk, permen, dan benda-benda lainnya. Kadangkala aku dibawa dalam prosesi, duduk seperti seorang pemabuk di atas tumpukan bunga-bunga. Aku tidak suka jadi Buddha seperti ini. Terlalu banyak hal-hal buruk yang telah dilakukan atas-namaku. Jadi kamu bisa melihat bahwa menjadi seorang Buddha juga sangatlah sulit. Menjadi seorang guru dan membantu orang-orang berlatih bukanlah suatu pekerjaan yang mudah. Aku tidak berpikir kalau kamu akan sangat menikmati menjadi seorang Buddha. Merupakan suatu hal yang lebih baik jika kita berdua terus melaksanakan apa yang kita lakukan dan berusaha melakukan yang terbaik.”

Apabila Anda sedang berada di sana bersama Ananda, dan jika Anda sedang dalam keadaan penuh kesadaran, Anda akan merasakan bahwa Buddha dan Mara adalah sahabat. Mereka berjumpa satu sama lainnya seperti siang dan malam, seperti bunga dan sampah hadir bersama-sama. Ini adalah ajaran yang sangat dalam dari Buddha.

~ Thich Nhat Hanh.
__________________
Dari: “Di Bawah Pohon Jambu”, terjemahan Dayapala Steven, dan suntingan Bhante Dharmavimala.


*******************************************************
Hanya bila kita berhasil memaknai
suatu pengalaman atau kejadian dengan baik,
kita bisa memetik pembelajaran-diri daripadanya.
Dan hanya bila kita berhasil memetik pembelajaran-diri
dari setiap pengalaman dan kejadian,
kita senantiasa menjadi lebih baik setiap saat.

~anonymous 200306.
*******************************************************
http://groups.yahoo.com/group/BeCeKa/message/4643
NGestOE RAHardjo

11 comments:

  1. Wed Aug 29, 2007 10:24 am
    http://groups.yahoo.com/group/samaggiphala/message/34208
    Aku tidak suka jadi Buddha seperti ini ???????

    Haaah, Buddha bisa bilang tidak suka ???????

    Hmmm suatu "daya khayal" yang luar biasa dari penulis artikel ini ttg Buddha.

    Buddha dijabarkan sebagai sosok manusia yang bisa saja, bisa suka dan bisa tidak suka ( rupanya berkesan ada "AKU" di sosok Buddha ini)

    Mara seakan-akan harus terima "NASIB' dan kekal dg kewajibannya sebagai penggoda.

    Artikel Buddha Dhamma macam apa ini ???

    Hanya 'sedikit' makna yang tersirat yg bermanfaat dari apa yang tersurat dari artikel ini.

    Salam dalam 'kebingungan'

    ReplyDelete
  2. Wed Aug 29, 2007 11:35 am
    http://groups.yahoo.com/group/samaggiphala/message/34209
    Salam,
    Malah menyimpan mistery... dech.
    Menurut pandangan sang mara jadi buddha hal yang enak dan sangat
    enak karena hal itu saja yang dilihat dan sekaligus menggoda
    (namanya juga sang penggoda).

    Be Happy.

    ReplyDelete
  3. Wed Aug 29, 2007 11:41 am
    http://groups.yahoo.com/group/samaggiphala/message/34210
    Jika tidak sesuai jangan langsung diterima dengan mentah-mentah ataupun di tolak dengan mentah-mentah (^_^) .. ada point yg perlu digaris bawahi dari beberapa baris tulisan walapun tidak semua bisa digariskan yaitu :

    " Merupakan suatu hal yang lebih baik jika kita berdua terus melaksanakan apa yang kita lakukan dan berusaha melakukan yang terbaik."

    ada pula karakteristik yg tersirat yg saya tangkep sih kalo ga salah seperti : buddha yg rendah hati yg tidak suka di jadikan kemewahan atau di agungkan jika ternyata tidak ada upaya pelaksanaan untuk berusaha melakukan yg terbaik.

    selain itu terdapat contoh : sering orang-orang yg mengatas namakan perkatan buddha padahal pemahaman orang-orang tersebut salah

    Memang saya belum menemukan sutta yg berisi tentang ini tapi maksud yg tersirat cukup bermanfaat

    ReplyDelete
  4. Wed Aug 29, 2007 12:11 pm
    http://groups.yahoo.com/group/samaggiphala/message/34211
    Yup, mistery dari: "Di Bawah Pohon Jambu",

    Ooooh MARA, seadainya dikau 'ditakdirkan' sebagai pengoda yang tdk bisa berubah, godalah Aku di bawah "DI Bawah pohon jengkol".

    Lihat lah di sisi kiri ku ada sambel & lalapan, di sisi kanan ku ada sayur asem & teri jambrong.

    Ups, waktu nya ma mam, lapeer neeg.

    Selamat siang.

    Selamat makan siang, di hari siang-siang begini.

    Salam,
    Mira

    ReplyDelete
  5. Wed Aug 29, 2007 12:49 pm
    http://groups.yahoo.com/group/samaggiphala/message/34212
    Sedikit atau banyak itu relatif. Tergantung apa?...... Bisakah anda melihatnya?

    Sang Buddha sudah merealisasi kondisi anatta, tapi dalam mengajar beliau juga menggunakan kata-kata 'kamu' dan 'aku' untuk mengajar kita2 yang masih terjebak dalam dualisme.

    Menurut saya, kata2 ada benarnya, tapi mungkin akan terdengar pedas bagi orang2 belum tercerahkan yang mengagumi Thich Nath Thanh. Beliau adalah seorang bikkhu yang cukup terkenal di dunia internasional.

    Apakah kepedasan itu perlu?
    Atau bukankah itu mewakili persepsi dan perasaan anda sendiri?

    Bukankah lebih baik kalau anda menyadari gejolak apa yg terjadi di dalam diri anda sendiri dan kemudian berupaya untuk mencegah nuansa emosi bermain dalam memberikan pendapat?

    Salam,
    Suchamda

    ReplyDelete
  6. Wed Aug 29, 2007 11:10 am
    http://groups.yahoo.com/group/samaggiphala/message/34213

    Buddha dalam artikel ini terlihat sedang berkeluh kesah mengenai kondisi yang ada.
    Sang Buddha yang telah mencapai pencerahan sangat tidak mungkin berkeluh kesah seperti artikel yang tertulis ini.

    Benar juga yang di katakan sis mira, hanya "sedikit" makna dalam artikel ini.

    ReplyDelete
  7. Wed Aug 29, 2007 12:06 pm
    http://groups.yahoo.com/group/samaggiphala/message/34216
    Mba Mira,
    Tanggapannya bagus...

    Coba bayangkan kalau ajaran buddha yang diajarkan oleh beliau ternyata hanya diimplentasikan oleh para pengikutnya hanya dengan penyembah patung buddha dengan duduk seperti seorang pemabuk di atas tumpukan bunga-bunga saja...menjalankan ritual dan sesaji menyembah, meminta dan berharap...setelah
    itu selesai....tanpa mau berusaha sendiri untuk mencapai pencerahan..apa gunanya ajaran beliau?

    ..itu lah yang dimaksud dengan kalimat aku tidak suka menjadi buddha seperti itu..

    Perlu juga diketahui, ritual itu sangat kental terjadi di thailand vietnam dan banyak suku-suku bangsa lainnya...

    Kemudian yang menarik dari artikel itu juga adalah:

    Bahkan mara yang senantiasa berusaha menipu pikiran dan biasa dikatakan sebagai PUBLIc ENEMY no.1-pun adalah sahabat!
    Luar biasa bukan!

    Ini-lah juga yang membedakan ajaran Buddha (dan juga hindu) dengan ajaran lainnya..

    musuh utama pemeluk ajaran asal india adalah diri sendiri...tidak cengeng dengan sedikit2 menyalahkan keadaan, pemeluk lain dan bahkan setan sekalipun!

    bayangkan seorang musuh menjadi sahabat...bukankah kehidupan sudah seketika menyerupai surga..

    gitu lo...

    ReplyDelete
  8. Wed Aug 29, 2007 1:20 pm
    http://groups.yahoo.com/group/samaggiphala/message/34218
    Sampai kapan juga tetap penggoda, kalo udah berubah maka bukan penggoda lagi dong...., sama halnya manusia (biasa) sampai kapanpun tetap manusia sampai saatnya berubah... menjadi sesuatu yang baru.

    saat demi saat berganti, maka tiada "sang aku" yang tetap. dan boleh jadi ada "tempat" yang ditinggalkan.

    saat ada keabadian yang baik, boleh jadi ada keabadian yang jahat.dan boleh jadi ada "tempat" diantaranya.

    semua penuh kemungkinan saat lapar berubah kenyang perubahan terus terjadi sampai kenyangpun berlalu.

    Salam Metta.

    ReplyDelete
  9. Wed Aug 29, 2007 1:35 pm
    http://groups.yahoo.com/group/samaggiphala/message/34219
    Suchamda :
    Sedikit atau banyak itu relatif. Tergantung apa?...... Bisakah anda melihatnya?

    Mira:
    Sedikit memang relatif, tergantung pendapat 'saya' dan pendapat 2x Anda2x sekalian yang berbeda..

    Saya melihatnya artikel ini hanya memberi manfaat beberapa point seperti yang Bung Wirajhana posting, selebihnya hanya akan membuat 'kebingungan' ..

    Suchamda :
    Sang Buddha sudah merealisasi kondisi anatta, tapi dalam mengajar beliau juga menggunakan kata-kata 'kamu' dan 'aku' untuk mengajar kita2 yang masih terjebak dalam dualisme.

    Mira:
    Yup, benar pendapat anda, saya setuju.

    Ucapan Buddha dg mengatakan "Aku", "Kamu" dalam Sutta 2x sudah jelas maksudnya apa, dan orang mengerti, tidak ada "kerancuan" disana krn ada penjelasan2x selanjutnya.

    Suchamda :
    Menurut saya, kata2 ada benarnya, tapi mungkin akan terdengar pedas bagi orang2 belum tercerahkan yang mengagumi Thich Nath Thanh. Beliau adalah seorang bikkhu yang cukup terkenal di dunia internasional.
    Apakah kepedasan itu perlu?

    Mira:
    Kata2x pedas kadang perlu, kadang tidak.

    Dalam artikel ini 'perlu' bagi saya, jika bagi anda rasa tidak perlu itu hak anda.

    Saya pun belum tercerahkan, kata2x itu biasa saja, tidak ada yang istimewa.

    Terkenal dan tidak terkenal bukan suatu jaminan.

    Saya pun 'sedikit' mengagumi Thich Nath Thanh, tulisan nya bagus, tapi "isinya' tar dulu, perlu lebih dalem lagi tuk mengambil makna tersiratnya.

    Suchamda :
    Atau bukankah itu mewakili persepsi dan perasaan anda sendiri?
    Bukankah lebih baik kalau anda menyadari gejolak apa yg terjadi di dalam diri anda sendiri dan kemudian berupaya untuk mencegah nuansa emosi bermain dalam memberikan pendapat?

    Mira:
    Perasaan, persepsi, aah hanya main-main dalam 'pemikiran', pusing juga kalo diuraikan, berat.

    Saya gak 'bermain' emosi, itu hanya kebebasan berkomentar/berpendapat, walau kadang kebablasan en bikin orang lain kebablasan juga.

    Sah-sah saja kan, seperti sahnya artikel dari YM Thich Nath Thanh yang Anda kagumi.

    Terimakasih atas sarannya

    Salam,

    ReplyDelete
  10. Wed Aug 29, 2007 3:09 pm
    http://groups.yahoo.com/group/samaggiphala/message/34221
    memang agak sulit utk dapat melihat tulisan ini sebagai yang benar ...

    namun bukankah salah satu dari berbagai pelatihan "Meditasi" dan sejenisnya agar tercapai suatu kesimpulan dan pengalaman langsung akan "Berada di atas hitam dan putih" ???

    ReplyDelete
  11. Makan Durian jangan sama kulit-kulitnyaaa!

    Mara adalah sahabat Buddha dalam tanda kutip.[!] Jika tidak ada mara, masalah, samsara, penderitaan, manusia akan sulit melihat atau menemukan keBuddhaan di dalam dirinya. Buddha mengatakan bahwa pada dasarnya setiap makhluk memiliki benih kebuddhaan, dapat dikatakan pada dasarnya setiap manusia adalah Buddha. Mara dalam hal ini adalah faktor pemicu dalam menemukan keBuddhaan tersebut, mirip seperti wanita feminim yang menjadi pemicu adrenalin dan sifat macho seorang pria.[!] Buddha mengajarkan daripada meratapi penderitaan atau permasalahan dunia lebih baik menjadikannya sarana latihan spiritual untuk mencapai pencerahan[!] banyak sudah contoh nyata tentang ini.
    Dalam hal lain, Ananda adalah siswa utama Buddha Gautama yang paling pintar sekaligus paling bodoh. Pintar dalam mengingat dan melafal sutta tetapi paling lama mencapai Arahat. Saya menilai Ananda bukan tebal 'Aku'nya tetapi kurang pintar!
    YG

    ReplyDelete