Saturday, May 10, 2008

Miyamoto Musashi, Buku 7-1


Cerita Novel Musashi buku 7, karangan Eiji Yoshikawa, terbitan gramedia.
[Lihat: Pengantar] [lihat: Cerita Sebelumnya]


Sapi yang Lari

BAYANGAN cabang pohon prem yang jatuh ke dinding berplester putih akibat sorotan matahari pucat itu indah dan tenang, bagai lukisan tinta hitam-putih. Waktu itu awal musim semi di Koyagyu. Keadaan sunyi, dan cabang-cabang pohon prem seolah menunjuk ke arah selatan, pada burung­burung bulbul yang segera berkumpul ke dalam lembah.

Tidak seperti burung, para shugyosha yang datang ke pintu gerbang benteng itu tidak kenal musim. Mereka selalu datang berduyun-duyun kesana, untuk mencoba memperoleh pelajaran dari Sekishusai, atau untuk mengadu kekuatan dengannya. Kalimat yang mereka perdengarkan tidak jauh berbeda,

“Izinkanlah, satu pertarungan saja.”

“Izinkanlah saya bertemu dengannya,”

“Saya satu-satunya murid si ini atau si itu, yang mengajar di tempat ini atau itu”.

Selama sepuluh tahun yang lalu, para pengawal memberikan jawaban yang sama: karena majikan mereka sudah lanjut usia, beliau tidak dapat menerima siapa pun. Hanya sedikit pemain pedang atau calon pemain pedang yang mau menerima begitu saja. Ada yang melancarkan kecaman pedas mengenai makna Jalan sejati. Menurut mereka, tidak boleh ada perbedaan antara tua dan muda, antara kaya dan miskin, antara, pemula dan ahli. Yang lain sekadar memohon-mohon, ada pula yang men­coba menyogok. Banyak yang meninggalkan tempat itu sambil meng­hamburkan kutukan kemarahan.

Sekiranya orang banyak itu mengetahui keadaan sebenarnya, yaitu bahwa Sekishusai sudah meninggal di akhir tahun sebelumnya, persoalannya mung­kin akan jauh lebih sederhana. Namun telah diputuskan bahwa karena Munenori tidak dapat meninggalkan Edo sebelum bulan keempat, maka kematian itu mesti dirahasiakan sampai upacara pemakaman diselenggarakan. Salah seorang dari sejumlah kecil orang luar benteng yang mengetahui keadaan itu kini duduk dalam kamar tamu, dan mendesak minta bertemu dengan Hyogo.

Orang itu adalah Inshun, kepala biara Hozoin yang sudah cukup tua.

Selama In’ei pikun dan kemudian meninggal, ia berhasil mempertahankan nama baik kuil itu sebagai pusat seni bela diri. Banyak orang bahkan yakin ia telah meningkatkannya. Ia melakukan segalanya yang mungkin untuk mempertahankan hubungan erat antara kuil dan Koyagyu yang sudah ada semenjak zaman In’ei dan Sekishusai. Kini ia ingin bertemu dengan Hyogo, karena ingin berbicara tentang seni bela diri. Sukekuro tahu apa yang sebetulnya dikehendaki Inshun. Ia ingin bertarung dengan orang yang oleh kakeknya sendiri dianggap sebagai pemain pedang yang lebih baik daripada dirinya sendiri maupun Munenori. Hyogo tentu saja tidak mau melayani pertandingan macam itu, karena menurutnya takkan menguntungkan siapa pun, dan karena itu tak ada artinya.

Sukekuro meyakinkan Inshun bahwa pesan telah disampaikan. “Saya yakin Hyogo akan datang menyambut Anda, kalau dia merasa sehat.”

“Jadi, menurut Anda dia masih masuk angin?”

“Ya, rupanya dia belum juga sembuh.”

“Oh, saya tidak tahu bahwa kesehatannya begitu rapuh.”

“Ah, tidak benar juga kalau dikatakan demikian. Beberapa waktu lamanya dia tinggal di Edo, dan sampai sekarang belum dapat membiasakan diri dengan musim dingin di gunung.”

Ketika kedua orang itu masih mengobrol, seorang pemuda pembantu memanggil-manggil nama Otsu di halaman lingkaran dalam. Sebuah shoji terbuka, dan Otsu keluar dari salah sebuah rumah, diiringi alunan asap setanggi. Ia masih berkabung lebih dari seratus hari sejak meninggalnya Sekishusai, dan wajahnya tampak seputih kembang pit.

“Di mana Kakak tadi? Saya cari di mana-mana,” tanya anak lelaki itu.

“Di kuil Budha.”

“Hyogo menanyakan Kakak.”

Ketika Otsu masuk ruangan Hyogo, ia berkata, “Ah, Otsu, terima kasih kau sudi datang. Aku ingin kau menjumpai seorang tamu atas namaku.”

“Tentu.”

“Sudah lama dia datang. Sukekuro yang sekarang mengawaninya, tapi kurasa Sukekuro sudah capek sekarang, mendengarkan dia terus bicara tentang Seni Perang.”

“Kepala biara Hozoin?”

“Ya.”

Otsu tersenyum tipis, membungkuk, dan meninggalkan ruangan.

Tidak begitu halus cara Inshun mencoba mengetahui pendapat Sukekuro mengenai masa lalu dan watak Hyogo.

“Saya dengar, ketika Kato Kiyomasa menawarkan kedudukan kepadanya, Sekishusai menolak, kecuali kalau Kiyomasa menyetujui satu syarat khusus.”

“Apa betul? Saya tak ingat, apa pernah mendengar hal seperti itu.”

“Menurut In’ei, Sekishusai mengatakan pada Kiyomasa bahwa Hyogo itu sangat gampang naik darah, maka Yang Dipertuan mesti berjanji, kalau Hyogo melakukan pelanggaran-pelanggaran besar, beliau akan mengampuni tiga pelanggaran pertama. Sekishusai tidak pernah dikenal sebagai orang yang mau memaafkan sifat tak sabar. Tentunya beliau punya perasaan khusus terhadap Hyogo.”

Cerita itu begitu mengejutkan Sukekuro, hingga ia masih juga mencari-­cari jawaban ketika Otsu masuk. Otsu tersenyum pada kepala biara itu, dan katanya, “Senang sekali bertemu lagi dengan Bapak. Sayang sekali, Hyogo begitu sibuk menyiapkan laporan yang harus segera dikirim ke Edo. Tapi dia minta saya menyampaikan permintaan maafnya, karena tak dapat menemui Bapak kali ini.” Kemudian Otsu menyibukkan diri menyajikan teh dan kue-kue untuk Inshun dan kedua pendeta muda pembantunya.

Kepala biara tampak kecewa, sekalipun dengan sopan ia mengabaikan perbedaan antara alasan Sukekuro dengan alasan Otsu. “Sayang sekali. Saya sebetulnya punya kabar penting untuknya.”

“Dengan senang hati akan saya sampaikan kabar itu,” kata Sukekuro, “dan Anda boleh yakin bahwa hanya Hyogo yang akan mendengarnya.”

“Oh, saya yakin tentang hal itu,” kata pendeta tua itu. “Hanya saja saya ingin mengingatkan Hyogo sendiri.”

Kemudian Inshun mengulangi gunjingan yang telah didengarnya, tentang seorang samurai dari Benteng Ueno di Provinsi Iga. Garis batas antara Koyagyu dan benteng itu berupa daerah yang jarang penduduknya, sekitar tiga kilometer ke timur. Semenjak Ieyasu menyitanya dari daimyo Kristen, Tsutsui Sadatsugu, dan menyerahkannya kepada Todo Takatora, banyak perubahan telah terjadi. Semenjak Takatora menetap setahun sebelumnya, ia telah memperbaiki benteng, meninjau kembali sistem pajak, memperbaiki irigasi, dan mengambil langkah-langkah lain untuk mengokohkan investasinya. Semua itu sudah menjadi rahasia umum. Tapi, menurut pendengaran Inshun, Takatora saat ini sedang mencoba meluaskan wilayah tanahnya de­ngan mendesak garis perbatasan.

Menurut laporan, Takatora mengirimkan sejumlah samurai ke Tsukigase, dan di sana mereka membangun rumah-rumah, menebangi pohon prem, mencegat orang-orang jalan, dan terang-terangan melanggar hak milik Yang Dipertuan Yagyu.

“Kemungkinan,” kata Inshun, “Yang Dipertuan Takatora sedang meng­ambil keuntungan dari masa perkabungan Anda. Anda boleh saja menilai saya terlalu pencemas, tapi kelihatannya dia punya rencana menggeser perbatasan ke arah sini, dan membuat pagar baru. Kalau memang benar demikian, akan jauh lebih mudah menangani hal-hal ini sekarang, daripada sesudah dia selesai melakukannya nanti. Saya kuatir kalau Anda hanya santai saja dan tidak melakukan sesuatu, nanti Anda menyesal.”

Sebagai salah seorang abdi senior, Sukekuro mengucapkan terima kasih pada Inshun atas berita itu. “Akan saya suruh orang menyelidiki keadaan itu, dan kalau perlu nanti akan saya kirimkan keluhan.” Sebagai tanda terima kasih atas nama Hyogo, Sukekuro pun membungkuk ketika kepala biara itu pulang.

Sukekuro pergi menyampaikan informasi tentang gunjingan itu pada Hyogo, tapi Hyogo hanya tertawa. “Biar saja,” katanya. “Kalau nanti pamanku kembali, dia dapat mengurusnya.”

Sukekuro mengerti pentingnya mengawal setiap jengkal tanah, karena itu ia tidak puas benar dengan sikap Hyogo. Ia berunding dengan para samurai tinggi lainnya, dan bersama-sama mereka menyimpulkan bahwa sekalipun memang dibutuhkan kebijaksanaan, tetap harus diambil suatu tindakan. Todo Takatora adalah salah seorang daimyo paling kuat di negeri itu.

Pagi harinya, sesudah berlatih pedang, Sukekuro meninggalkan dojo di atas Shinkagedo dan bertemu dengan seorang anak lelaki umur tiga belas atau empat belas tahun.

Anak itu membungkuk kepadanya, dan Sukekuro berkata gembira, “Halo, Ushinosuke, melongok dojo lagi? Bawa hadiah buatku, ya? Coba lihat… oh, kentang liar?” Ia sebetulnya hanya setengah menggoda, karena kentang Ushinosuke selalu lebih bagus daripada kentang orang lain. Anak itu tinggal bersama ibunya di kampung terpencil Araki di gunung, dan sering datang ke benteng untuk menjual arang, daging babi hutan, dan barang­-barang lain.

“Tak ada kentang hari ini, tapi saya bawa ini buat Otsu.” Anak itu mengangkat kotak berselubung jerami yang dibawanya.

“Bawa apa sekarang-kelembak?”

“Bukan, ini barang hidup! Di Tsukigase kadang-kadang saya dengar burung bulbul menyanyi. Dan ini saya tangkap satu!”

“Hmm, jadi kau selalu lewat Tsukigase, ya?”

“Betul. Itu jalan satu-satunya.”

“Aku mau tanya sekarang. Apa kau melihat banyak samurai akhir-akhir ini?”

“Ada beberapa.”

“Apa kerja mereka di sana?”

“Membangun pondok-pondok.”

“Apa kau melihat mereka mendirikan pagar atau semacam itu?”

“Ya, di samping pondok, mereka memasang beberapa jembatan, jadi mereka menebang segala macam pohon. Untuk kayu bakar juga.”

“Apa mereka menghentikan orang-orang di jalan?”

“Saya kira tidak. Saya tidak melihatnya.”

Sukekuro menggelengkan kepala. “Kudengar samurai-samurai itu dari perdikan Yang Dipertuan Todo, tapi aku tidak tahu apa kerja mereka di Tsukigase. Apa kata orang-orang di kampungmu?”

“Orang bilang, mereka itu ronin yang terusir dari Nara dan Uji. Mereka tak punya tempat tinggal, karena itu mereka pergi ke pegunungan.”

Sekalipun sudah mendengar keterangan dari Inshun, Sukekuro merasa penjelasan ini bukan tak beralasan. Okubo Nagayasu, hakim dari Nara, tak henti-hentinya berusaha agar daerah hukumnya bebas dari ronin miskin.

“Di mana Otsu?” tanya Ushinosuke. “Saya ingin menyampaikan hadiah untuknya.” Ia memang selalu ingin bertemu Otsu, bukan hanya karena Otsu selalu memberikan gula-gula dan mengatakan yang baik-baik kepadanya, tapi karena dalam kecantikan Otsu ia merasa ada sesuatu yang bersifat gaib, yang bukan berasal dari dunia ini. Kadang-kadang ia tak mampu me­nentukan, apakah Otsu itu manusia atau dewi.

“Barangkali dia di benteng,” kata Sukekuro. Kemudian, sambil memandang ke kebun, katanya, “Oh, kau beruntung rupanya. Apa bukan dia yang di sana itu?”

“Otsu!” seru Ushinosuke keras.

Otsu menoleh dan tersenyum. Ushinosuke pun berlari terengah-engah ke sisi Otsu dan mengangkat kotaknya.

“Lihat! Saya tangkap burung bulbul. Buat Kakak.”

“Burung bulbul?” Otsu mengerutkan kening, tangannya tetap di samping.

Ushinosuke tampak kecewa. “Suaranya bagus!” katanya. “Tak ingin Kakak mendengar?”

“Aku mau, tapi hanya kalau dia bebas terbang ke mana dia suka. Baru dia akan menyanyikan lagu-lagu yang bagus buat kita.”

“Kakak benar,” kata Ushinosuke, sedikit cemberut. “Apa mesti saya lepaskan kembali?”

“Kuhargai maksudmu memberi hadiah, tapi… ya, aku lebih senang kalau burung itu dilepaskan daripada dikurung.”

Dengan diam Ushinosuke membuka kotak jerami itu, dan seperti anak panah, burung itu terbang ke atas dinding benteng. “Lihat, senang sekali dia bebas,” kata Otsu.

“Orang-orang bilang, burung bulbul itu pembawa pertanda musim semi, kan? Barangkali akan datang orang membawa kabar gembira buat Kakak.”

“Pembawa berita sama baiknya dengan datangnya musim semi? Memang benar, aku sedang mengharap mendengar suatu kabar.”

Otsu berjalan menuju hutan dan rumpun bambu di belakang benteng,

Ushinosuke menyertainya di sampingnya. “Kakak mau pergi ke mana?” tanyanya.

“Aku sudah terlalu lama tinggal di dalam benteng akhir-akhir ini. Untuk selingan, aku ingin naik bukit, melihat kembang prem.”

“Kembang prem? Di atas sana tak banyak yang bisa dilihat. Kakak mesti pergi ke Tsukigase.”

“Ke sana juga boleh. Jauhkah dari sini?”

“Sekitar tiga kilometer. Bagaimana kalau kita pergi ke sana? Aku meng­angkut kayu api hari ini, karena itu aku membawa sapi.”

Karena selama musim dingin itu Otsu hampir tak pernah tinggal di luar benteng, ia cepat mengambil keputusan. Tanpa mengatakan pada siapa pun, keduanya turun ke gerbang belakang yang biasa didatangi para pedagang dan orang-orang lain yang punya urusan dengan benteng. Gerbang itu dikawal seorang samurai bersenjata lembing. la mengangguk dan tersenyum pada Otsu. Ushinosuke pun orang yang sudah dikenal, karena itu si penjaga mengizinkan mereka keluar, tanpa memeriksa izin tertulis untuk berada di pekarangan benteng.

Orang-orang di ladang dan di jalan mengucapkan teguran bersahabat kepada Otsu, tak peduli mereka kenal Otsu atau tidak. Ketika rumah­rumah penduduk mulai jarang, ia menoleh kembali ke arah benteng putih yang bertengger di pinggir gunung itu, dan bertanya, “Apa bisa aku kem­bali sebelum gelap?”

“Tentu, nanti saya antar.”

“Kampung Araki di sebelah sana Tsukigase kan?” “Tidak apa-apa.”

Sambil mengobrol tentang berbagai hal, mereka melewati warung garam. Di sana ada seorang lelaki menukar daging babi hutan dengan sekarung garam. Selesai melakukan pertukaran, ia keluar dan berjalan di belakang mereka. Karena salju sedang mencair, jalanan makin lama makin buruk ke­adaannya. Tak banyak orang berjalan.

“Ushinosuke,” kata Otsu, “kau selalu datang ke Koyagyu, ya?”

“Ya.”

“Apa Benteng Ueno tidak lebih dekat dengan Kampung Araki?”

“Betul, tapi di Benteng Ueno tak ada pemain pedang besar macam Yang Dipertuan Yagyu.”

“Kau suka pedang, ya?”

“Ya.”

Ushinosuke menghentikan sapinya, melepaskan tali dari tangannya, lalu berlari turun ke tepi sungai. DI situ ada sebuah jembatan. Sebatang balok lepas dari jembatan itu. Ushinosuke mengembalikan balok itu ke tempatnya, dan menunggu sampai orang di belakang mereka menyeberang dahulu.

Orang itu tampak seperti ronin. Ketika melewati Otsu, ia memandang Otsu dengan sikap kurang ajar, kemudian beberapa kali menoleh dari jembatan, dan juga dari seberang jembatan, sebelum akhirnya menghilang dalam lipatan gunung.

“Siapa orang itu menurutmu?” tanya Otsu gugup. “Kakak takut?”

“Tidak, tapi…”

“Banyak ronin di sekitar pegunungan di sini.”

“Betul?” tanya Otsu tidak tenang.

Sambil menoleh, kata Ushinosuke, “Kak, apa Kakak dapat membantu saya? Kalau dapat, tolong minta pada Pak Kimura supaya mempekerjakan saya. Saya dapat menyapu halaman, menimba air… atau hal-hal semacam itu.”

Anak itu belum lama mendapat izin khusus dari Sukekuro untuk me­masuki dojo, melihat orang berlatih, tapi minatnya sudah tumbuh. Nenek moyangnya bernama Keluarga Kikumura. Sudah beberapa angkatan kepala keluarga menggunakan nama sebutan Mataemon. Ushinosuke sudah mantap keinginannya, kalau ia menjadi samurai nanti, ia akan menggunakan nama Mataemon. Tapi tak seorang pun dari Keluarga Kikumura pernah melakukan sesuatu yang istimewa. Maka ia akan mengubah nama keluarganya dengan nama kampungnya, dan kalau impiannya terlaksana, ia akan termasyhur di mana-mana sebagai Araki Mataemon.

Mendengar kata-kata Ushinosuke itu, Otsu teringat akan Jotaro, dan ia tercengkeram oleh rasa sepi. Umur Otsu sekarang dua puluh lima tahun, sedangkan Jotaro tentunya sembilan belas atau dua puluh tahun. Mem­perhatikan kembang prem yang belum sepenuhnya mekar itu, Otsu merasa bahwa musim seminya sendiri sudah lewat.

“Ayo kita pulang, Ushinosuke,” katanya tiba-tiba.

Ushinosuke melontarkan pandangan penuh pertanyaan, namun dengan patuh ia memutar sapinya.

“Berhenti!” bentak seorang lelaki.

Dua ronin lain bergabung dengan ronin yang datang dari warung garam tadi. Ketiganya mendekat, kemudian berdiri mengelilingi sapi, tangan mereka terlipat.

“Kalian mau apa?” tanya Ushinosuke.

Orang-orang itu menatap Otsu.

“Ya, sekarang aku mengerti kata-katamu,” kata salah seorang. “Cantik, kan?”

“Aku sudah pernah lihat dia,” kata yang ketiga. “Mungkin di Kyoto.”

“Tentunya dari Kyoto asalnya, dan pasti bukan dari kampung-kampung sekitar sini.”

“Aku tak ingat, di Perguruan Yoshioka atau di tempat lain, tapi aku yakin pernah lihat dia.”

“Apa kau pernah di Perguruan Yoshioka?”

“Tiga tahun aku di sana, sesudah Sekigahara.”

“Kalau kalian punya urusan dengan kami, katakan apa urusan kalian!” kata Ushinosuke marah.

“Kami mau sampai di rumah sebelum gelap.”

Seorang dari ketiga ronin menatap Ushinosuke, seolah baru pertama kali itu melihatnya. “Kau dari Araki, kan? Salah satu dari pembuat arang, ya?”

“Betul. Memang kenapa?”

“Kami tidak butuh kau. Sana pulang!”

“Justru itu yang mau kulakukan.”

Ditariknya sapi itu kencang-kencang, dan seorang dari mereka me­lemparkan pandangan dahsyat yang pasti akan membuat kebanyakan anak­anak gemetar ketakutan.

“Pergi kalian!” kata Ushinosuke.

“Wanita ini harus ikut kami.”

“Ikut ke mana?”

“Tak ada urusan denganmu. Berikan tail itu!”

“Tidak!’

“Oh, dia kira aku main-main.”

Kedua orang lainnya membidangkan dada dan menatap tajam, bergerak mendekati Ushinosuke.

Salah seorang mengacungkan tinjunya yang sekeras mata kayu cemara ke depan dagunya.

Otsu mencengkeram punggung sapi. Kerutan alis Ushinosuke jelas me­nandakan bahwa ada yang akan segera terjadi.

“Oh, tidak, berhenti!” pekik Otsu, dengan maksud menahan anak itu, agar tidak melakukan sesuatu tanpa pikir panjang.

Namun nada sedih dalam suara Otsu justru memacu Ushinosuke untuk beraksi. Ia menyepak cepat dengan satu kakinya, mengenai orang yang ada di depannya, hingga orang itu mundur terhuyung. Baru saja kakinya menyentuh tanah kembali, ia benturkan kepalanya ke perut orang di sebelah kirinya. Serentak dengan itu, ia mencekal pedang orang itu dan menariknya dari sarungnya. Lalu ia mengayun-ayunkan pedang itu.

Ia bergerak dengan kecepatan kilat, berpusing-pusing, dan seolah me­lakukan serangan ke segala penjuru, menyambar ketiga lawan itu sekaligus, dengan kekuatan yang sama. Apakah tindakannya yang cemerlang itu berdasarkan naluri semata-mata, ataukah akibat kesembronoan kanak-kanak­nya, yang jelas taktik-taktiknya yang tidak biasa telah mengejutkan ketiga ronin itu.

Ayunan balik pedang itu dengan keras menerjang dada salah seorang ronin. Otsu menjerit, tapi suaranya tenggelam dalam jerit orang yang terluka itu. Ia jatuh ke arah sapi, sementara darah menyembur ke muka binatang itu. Dengan ketakutan, sapi pun menguak tak tentu bunyinya. Tepat saat itu pedang Ushinosuke menoreh pantatnya. Sekali lagi sapi itu melenguh, lalu lari.

Kedua ronin lain menyerbu ke arah Ushinosuke, sedangkan Ushinosuke melompat-lompat dengan tangkasnya dari batu ke batu di bantaran sungai. “Aku tidak bersalah! Kalian yang bersalah!” teriaknya.

Ketika kedua ronin merasa bahwa Ushinosuke tak terkejar oleh mereka, mereka mulai mengejar sapi.

Ushinosuke kembali melompat ke jalan, dan mengejar mereka sambil berseru-seru, “Lari? Kalian lari?”

Satu orang berhenti dan setengah menoleh. “Bajingan kecil kau!”

“Tinggalkan dulu dia!” teriak yang lain.

Karena ketakutan, sapi itu meninggalkan jalan lembah dan lari mendaki bukit rendah, menempuh punggung bukit beberapa jauhnya, kemudian menerjang ke balik bukit itu. Dalam waktu sangat singkat ia berhasil menempuh jarak cukup jauh, dan sampai di tempat yang tak jauh letaknya dari perdikan Yagyu.

Walaupun dengan mata tertutup menyerah, Otsu dapat bertahan agar tidak terlempar dan punggung sapi, dengan bergayut pada pelana muatan. la dapat mendengar suara-suara orang yang berpapasan dengannya, tapi ia begitu bingung, hingga tak dapat berteriak minta tolong. Sekiranya ia berteriak pun tidak banyak faedahnya. Di antara orang-orang yang mem­bicarakan kejadian itu, tak ada yang punya keberanian menghentikan binatang yang sudah menggila itu.

Namun ketika mereka hampir sampai di Dataran Hannya, satu orang datang dari jalan kecil ke jalan utama. Jalan utama itu sangat sempit, walaupun namanya jalan raya Kasagi. Orang itu menyandang peti surat, dan kelihatan seperti seorang pembantu.

Orang-orang berteriak-teriak, “Awas! Minggir!” tapi ia berjalan terus, langsung menyongsong sapi itu.

Kemudian terdengar bunyi berderak mengerikan.

“Tertanduk dia!”

“Orang goblok!”

Padahal kenyataannya tidak seperti yang mula-mula diduga para penonton itu. Yang mereka dengar bukan bunyi sapi menanduk orang itu, tapi orang itu menjatuhkan pukulan yang memekakkan telinga ke pelipis binatang itu. Sapi pun mengangkat kepalanya yang berat ke samping, membalik setengah lingkaran, dan balik kanan jalan. Tapi belum lagi sepuluh kaki, mendadak ia berhenti. Air liur menderas keluar dari mulutnya, sementara sekujur tubuhnya menggeletar.

“Turun cepat!” kata orang itu pada Otsu.

Para penonton berkerumun dengan gembira, sambil memperhatikan satu kaki orang itu, yang dengan kokohnya menginjak tali binatang itu.

Begitu selamat turun di tanah, Otsu membungkuk kepada penyelamatnya, walaupun masih terlalu pening untuk mengetahui di mana ia berada dan apa yang hendak dilakukannya.

“Heran, binatang baik begini bisa menjadi gila!” kata orang itu ketika ia menuntun sapi ke pinggir jalan, dan mengikatnya ke sebatang pohon. Tapi, ketika terlihat olehnya darah di kaki binatang itu, katanya, “Oh, apa ini? Lho, luka dia… dan bekas pedang!”

Sementara ia memeriksa luka dan menggerutu, Kimura Sukekuro me­nerobos kerumunan orang banyak dan menyuruh mereka bubar.

“Apa kau bukan pembantu Kepala Biara Inshun?” tanyanya, sebelum sempat menarik napas.

“Beruntung sekali saya bertemu Bapak di sini. Saya membawa surat buat Bapak, dari kepala biara. Kalau Bapak tidak keberatan, saya persilakan membaca surat ini segera.” Orang itu mengeluarkan surat dari peti, dan menyerahkannya pada Sukekuro.

“Buat saya?” tanya Sukekuro terkejut. Dan sesudah yakin tak ada ke­salahan, ia buka surat itu dan ia baca, “Mengenai para samurai di Tsukigase itu, sejak percakapan kita kemarin, saya telah memeriksanya, dan saya temukan bahwa mereka bukan orang-orang dari Yang Dipertuan Todo. Mereka itu orang jembel, ronin yang sudah terusir dari kota-kota, dan terpaksa bersarang di sana selama berlangsungnya musim dingin. Dengan sengaja saya lekas-lekas mengabarkan kesalahan saya yang tidak meng­untungkan ini pada Anda.”

“Terima kasih,” kata Sukekuro. “Ini cocok dengan yang saya dengar dari sumber lain. Katakan pada kepala biara, saya sangat lega, dan saya percaya dia pun merasa demikian juga.”

“Maafkan saya, karena telah menyampaikan surat ini di tengah jalan. Pesan Bapak akan saya sampaikan pada kepala biara. Selamat tinggal.”

“Tunggu. Berapa lama kau tinggal di Hozoin?”

“Belum lama.”

“Siapa namamu?”

“Sebutan saya Torazo.”

“Heran,” gumam Sukekuro sambil memperhatikan wajah orang itu. “Apa kau bukan Hamada Toranosuke?”

“Bukan.”

“Saya memang belum pernah bertemu Hamada, tapi ada satu orang di benteng sana yang berkeras mengatakan, Hamada sekarang bekerja sebagai pembantu Inshun.”

“Begitu.”

“Apa dia salah sebut?”

Torazo merendahkan suaranya, wajahnya merah. “Memang benar, saya ini Hamada. Saya datang di Hozoin atas alasan-alasan pribadi. Untuk menghindarkan aib yang lebih besar terhadap guru saya dan saya sendiri, saya bermaksud merahasiakan identitas saya. Kalau Bapak tidak keberatan…”

“Jangan kuatir. Aku tidak bermaksud ikut campur dalam urusanmu.”

“Saya yakin Bapak pernah mendengar tentang Tadaaki. Dia meninggalkan perguruan dan mengundurkan diri ke pegunungan itu karena kesalahan saya. Sekarang saya sudah meninggalkan status saya. Melakukan kerja kasar di kuil itu akan memberikan pada saya disiplin yang baik. Kepada para pendeta, saya tidak memberikan nama saya yang sebenarnya. Semua ini memang memalukan.”

“Kesudahan pertarungan antara Tadaaki dengan Kojiro itu bukan rahasia lagi. Kojiro sudah menceritakannya pada semua orang yang dijumpainya antara Edo dan Buzen. Jadi, kau bermaksud menjernihkan nama gurumu?”

“Ya, hari-hari ini…. Sampai lain kali, Pak?” Torazo cepat meninggalkan tempat itu, seakan-akan tak sanggup tinggal lebih lama lagi.

Biji Rami

HYOGO semakin cemas. Sesudah masuk ke kamarOtsu, dengan membawa surat dari Takuan, ia mencari gadis itu di seluruh pekarangan benteng, dan makin lama kekuatirannya semakin memuncak.

Surat dari bulan sepuluh tahun lalu, yang tak jelas sebab keterlambatannya itu, bercerita tentang akan diangkatnya Musashi sebagai instruktur shogun. Takuan minta Otsu secepat mungkin datang ke ibu kota, karena Musashi akan segera membutuhkan rumah dan “orang untuk mengurusnya”. Hyogo tak sabar lagi ingin melihat wajah Otsu menjadi cerah.

Karena tidak menemukan gadis itu, akhirnya ia bertanya pada penjaga pintu gerbang, dan mendapat jawaban bahwa orang-orang sedang pergi mencari Otsu. Hyogo menarik napas panjang. Pikirnya, sungguh bukan kebiasaan Otsu membuat orang lain kuatir, dan bukan kebiasaannya pula tidak meninggalkan pesan. Jarang ia bertindak menurutkan kata hati, sekalipun dalam hal sekecil-kecilnya.

Namun, sebelum ia sempat membayangkan hal yang terburuk, datang berita bahwa mereka sudah kembali, Otsu dengan Sukekuro; dan Ushinosuke dengan orang-orang yang dikirim ke Tsukigase. Anak itu minta maaf pada semua orang-entah untuk apa—tak seorang pun tahu, lalu ia tergesa-gesa pulang.

“Mau ke mana kau ini?” tanya salah seorang abdi.

“Saya mesti kembali ke Araki. Ibu saya pasti kuatir, kalau saya tidak pulang.”

“Kalau kau mencoba pulang sekarang,” kata Sukekuro, “ronin-ronin akan menangkapmu, dan kecil kemungkinannya mereka akan membiarkanmu hidup. Kau bisa tinggal di sini malam ini, dan pulang besok pagi.”

Ushinosuke menggumam tak jelas, menyatakan setuju, lalu ia disuruh ke gudang kayu di daerah lingkaran luar, tempat para magang samurai tidur.

Hyogo memanggil Otsu dengan isyarat, kemudian membawanya ke sisi, dan menyampaikan apa yang telah ditulis Takuan. Dan ia tidak kaget ketika Otsu mengatakan, “Saya akan pergi besok pagi.” Wajahnya yang merah padam mengungkapkan perasaannya.

Kemudian Hyogo mengingatkan Otsu tentang akan datangnya Munenori, dan menyarankan pada Otsu untuk kembali ke Edo bersamanya, sekalipun ia tahu benar jawaban apa yang akan didengarnya dari Otsu. Otsu tak punya selera untuk menunggu dua hari lagi, apalagi dua bulan. Hyogo berusaha sekali lagi, dengan mengatakan bahwa kalau Otsu mau menanti sampai sesudah upacara penguburan, Otsu akan dapat mengadakan perjalanan dengannya ke Nagoya, karena ia telah mendapat panggilan untuk menjadi pengikut Yang Dipertuan Tokugawa dari Owari. Dan ketika Otsu sekali lagi menyatakan keberatan, ia mengatakan pada Otsu bahwa ia kurang senang melihat Otsu akan mengadakan perjalanan jauh sendirian. Di setiap kota dan penginapan sepanjang jalan itu, Otsu akan menjumpai gangguan, bahkan bahaya.

Otsu tersenyum. “Anda rupanya lupa. Saya sudah terbiasa dengan per­jalanan. Tak ada yang perlu Anda kuatirkan.”

Malam itu, dalam pesta perpisahan sederhana, tiap orang memperlihatkan rasa sayangnya pada Otsu, dan pada pagi berikutnya yang terang dan jernih, seluruh keluarga dan para pembantu berkumpul di gerbang depan, melepas kepergian Otsu.

Sukekuro mengirim orang untuk memanggil Ushinosuke, karena menurut perkiraannya Otsu dapat menunggang sapinya sampai Uji. Dan ketika orang itu kembali dengan laporan bahwa anak itu sudah pulang malam sebelumnya, Sukekuro memerintahkan supaya diambilkan kuda.

Otsu merasa statusnya terlampau rendah untuk mendapatkan perlakuan seperti itu, dan ia menolak tawaran tersebut, namun Hyogo bersikeras. Kuda kelabu berbintik-bintik itu dituntun oleh seorang samurai magang, menuruni lereng landai yang menuju gerbang luar.

Hyogo berjalan sebentar, kemudian berhenti. Ia tak dapat menyangkal, kadang-kadang ia merasa iri pada Musashi, sebagaimana ia iri pada siapa pun yang dicintai Otsu. Walaupun hati Otsu menjadi milik orang lain, rasa sayangnya pada Otsu tidak berkurang. Otsu telah menjadi teman perjalanan yang menyenangkan dalam perjalanan dari Edo, dan berminggu-minggu dan berbulan-bulan sesudahnya ia mengagumi pengabdian yang diberikan gadis itu dalam merawat kakeknya. Walaupun cintanya lebih dalam daripada sebelumnya, cinta itu tidaklah mementingkan diri sendiri. Sekishusai meme­rintahkan ia membawa gadis itu dengan selamat kepada Musashi, dan Hyogo bermaksud melakukannya. Bukanlah sifatnya untuk mendambakan peruntungan orang lain, ataupun merampas peruntungan itu dari orang yang bersangkutan. Tak dapat ia membayangkan tindakan yang terpisah dari Jalan Samurai. Melaksanakan keinginan kakeknya itu sendiri merupakan pernyataan cintanya.

Ia sedang tenggelam dalam angan-angan itu, ketika Otsu menoleh dan membungkuk menyatakan terima kasih pada orang-orang yang telah me­nunjukkan jasa baik kepadanya. Ia berangkat, dan menyentuh beberapa kembang prem. Melihat secara tak sengaja daun bunga yang berguguran itu, hampir-hampir Hyogo dapat mencium semerbak baunya. Ia merasa itulah terakhir kali ia melihat Otsu, dan ia senang dapat berdoa diam-diam demi kebaikan masa depan Otsu. Ia tetap berdiri dan memandang, sementara Otsu menghilang dari pandangan.

“Pak.”

Hyogo menoleh dan senyuman tersungging pada wajahnya. “Ushinosuke. Ya, ya. Kudengar kau pulang juga semalam, biarpun kularang.”

“Ya, Pak, ibu saya…” Ushinosuke memang masih terlalu muda, hingga menyebut berpisah dengan ibunya saja bisa membuat ia menangis.

“Baiklah. Bagus kalau seorang anak lelaki memperhatikan ibunya. Tapi bagaimana kau bisa menyelamatkan diri dan ronin-ronin di Tsukigase itu?”

“Oh, mudah, Pak.”

“Betul mudah?”

Anak itu tersenyum. “Mereka tak ada di sana. Mereka mendengar Otsu datang dari benteng, karena itu mereka takut akan diserang. Saya kira mereka tentunya pindah ke seberang gunung itu.”

“Ha, ha. Kalau begitu, kita tak perlu lagi kuatir dengan mereka, kan? Kau sudah sarapan belum?”

“Belum,” jawab Ushinosuke sedikit malu. “Saya tadi bangun pagi, supaya dapat menggali kentang liar buat Pak Kimura. Kalau Bapak suka, nanti saya bawakan.”

“Terima kasih.”

“Apa Bapak tahu di mana Otsu sekarang?”

“Dia baru saja berangkat ke Edo.”

“Ke Edo?…” Dan dengan ragu-ragu, katanya, “Saya ingin tahu, apakah dia sudah menyampaikan pada Bapak atau Pak Kimura tentang keinginan saya.”

“Dan apa keinginanmu?”

“Selama mi, saya ingin Bapak menjadikan saya pembantu samurai.”

“Kau masih terlalu muda buat pekerjaan itu. Barangkali nanti, kalau kau sudah lebih besar.” ‘

“Tapi saya ingin belajar main pedang. Pak, bantulah saya. Saya mesti belajar selagi ibu saya masih hidup.”

“Apa kau belajar pada orang lain?”

“Tidak, tapi saya sudah latihan menggunakan pedang kayu, dengan po­hon dan binatang.”

“Oh, itu bagus juga buat permulaan. Kalau nanti kau sudah sedikit lebih besar, kau bisa ikut aku ke Nagoya. Sebentar lagi aku akan tinggal di sana.”

“Tempat itu di Owari, kan? Tak bisa saya pergi sejauh itu, selagi ibu saya masih hidup.”

Hyogo jadi tergerak hatinya, katanya, “Sini ikut aku!” Ushinosuke ikut tanpa berkata-kata. “Kita pergi ke dojo. Akan kulihat, apa kau punya bakat jadi pemain pedang.”

“Ke dojo?” Ushinosuke pun bertanya pada diri sendiri, apakah ia sedang bermimpi. Sejak kecil ia sudah menganggap dojo Yagyu yang kuno itu sebagai lambang segala yang paling diinginkannya di dunia ini. Sukekuro memang pernah mengatakan ia boleh masuk, hanya saja itu belum pernah dilakukannya. Tapi sekarang ia diundang masuk oleh salah seorang anggota keluarga!

“Cuci kakimu.”

“Baik, Pak.” Ushinosuke pergi ke kolam kecil di dekat pintu masuk, dan dengan hati-hati sekali mencuci kakinya. Dengan cermat dibersihkannya kotoran yang ada di sela-sela kukunya.

Begitu berada di dalam, ia merasa kecil dan tidak berarti. Kayu-kayu blandar dan kaso itu tua dan pejal, dan lantai dipoles sampai mengilap, hingga ia dapat berkaca di sana. Suara Hyogo terdengar lain ketika mengatakan, “Ambil pedang.”

Ushinosuke memilih sebilah pedang kayu ek hitam dari antara senjata­senjata yang tergantung di dinding. Hyogo mengambil juga sebilah, dan dengan ujung pedang diarahkan ke lantai, ia berjalan ke tengah ruangan.

“Siap?” tanyanya dingin.

“Ya,” jawab Ushinosuke sambil mengangkat senjatanya setinggi dada.

Hyogo membuka jurus, sedikit menyudut. Ushinosuke menggembungkan badan seperti landak. Alisnya terangkat, wajahnya mengerut ganas, dan darahnya menderas. Ketika Hyogo memberikan isyarat dengan mata bahwa ia akan menyerang, Ushinosuke menggeram keras. Sambil mengentakkan kaki ke lantai, Hyogo maju cepat ke depan, dan melancarkan serangan me­nyamping ke pinggang Ushinosuke.

“Belum!” teriak anak itu. Dengan sikap seakan menendang lantai dan dirinya, ia melompat tinggi-tinggi, sampai melewati bahu Hyogo. Hyogo menjulurkan tangan kirinya dan mendorong sedikit kaki anak itu ke atas. Ushinosuke berjungkir-balik dan mendarat di belakang Hyogo. Dalam sekejap ia tegak kembali dan berlari untuk memegang kembali pedangnya.

“Cukup,” kata Hyogo.

“Ah, sekali lagi!”

Ushinosuke mencekal pedangnya, mengangkatnya tinggi-tinggi di atas kepala dengan kedua belah tangan, dan menyerbu ke arah Hyogo seperti burung elang. Tapi senjata Hyogo yang diarahkan langsung kepadanya menghentikan gerakan itu. Ia melihat pandangan mata Hyogo, dan air matanya berlinang.

“Anak ini punya semangat,” pikir Hyogo, namun ia berpura-pura marah. “Kau curang!” teriaknya. “Kau lompat di atas bahuku.” Ushinosuke tak dapat menjawab.

“Kau tidak tahu kedudukanmu; dan lancang terhadap atasan! Duduk di sana!” Anak itu berlutut dengan tangan ke depan, dan membungkuk meminta maaf. Hyogo mendekatinya, menjatuhkan pedang kayu itu, dan menarik pedangnya sendiri. “Kubunuh kau sekarang! Jangan menjerit.”

“B-b-bunuh saya?”

“Julurkan lehermu! Buat seorang samurai, tak ada yang lebih penting daripada patuh kepada aturan sopan santun. Biarpun kau cuma anak tani, perbuatanmu itu tak dapat diampuni.”

“Bapak mau bunuh saya cuma karena perbuatan kasar?”

“Betul.”

Ushinosuke menengadah sebentar kepada samurai itu dengan mata pasrah, kemudian mengangkat kedua tangan ke arah kampungnya, katanya, “Ibu, aku akan jadi bagian dari tanah di benteng ini. Aku tahu, Ibu akan sedih. Maafkan aku karena tidak menjadi anak yang baik.” Kemudian dengan patuh ia menjulurkan lehernya.

Hyogo tertawa dan memasukkan kembali pedangnya ke dalam sarungnya. Sambil menepuk-nepuk punggung Ushinosuke, katanya, “Kau tidak betul­-betul berpikir aku akan membunuh anak macam kau, kan?”

“Jadi, Bapak tidak sungguh-sungguh?”

“Tidak.”

“Bapak bilang, sopan santun itu penting. Jadi, apa bisa dibenarkan kalau seorang samurai bercanda macam itu?”

“Ini bukan lelucon. Kalau kau mau berlatih jadi samurai, aku mesti tahu orang macam apa kau itu.”

“Tadi saya pikir Bapak sungguh-sungguh,” kata Ushinosuke. Napasnya kembali normal.

“Kaubilang belum pernah dapat pelajaran,” kata Hyogo. “Tapi waktu kudesak kau ke tepi ruangan, kau lompat ke atas bahuku. Tidak banyak murid dapat berbuat begitu, biarpun sudah dapat latihan tiga-empat tahun.”

“Tapi saya memang belum pernah belajar pada orang lain.”

“Tak perlu dirahasiakan. Kau pasti punya guru yang baik. Siapa dia?”

Anak itu berpikir sebentar, kemudian katanya, “Oh, ya, sekarang saya ingat, bagaimana saya belajar lompat.”

“Siapa yang mengajar?”

“Bukan manusia yang mengajar.”

“Peri air barangkali?”

“Bukan, biji rami.”

“Apa?”

“Biji rami.”

“Mana mungkin kau belajar dari biji rami?”

“Begini, di pegunungan itu ada beberapa petarung-orang-orang yang dapat menghilang dari depan mata kita. Saya melihat latihan mereka bebe­rapa kali.”

“Maksudmu ninja, ya? Tentunya kelompok Iga yang kaulihat itu. Tapi apa hubungannya dengan biji rami?”

“Begini. Sesudah rami itu ditanam pada musim semi, tak lama kemudian tumbuh kecambahnya.”

“Lalu?”

“Saya lompati pokok itu. Tiap hari saya latihan melompat ke sana ke­mari. Kalau udara lebih panas, kecambah itu tumbuh cepat—bukan main cepatnya—jadi, dari hari ke hari saya lompat lebih tinggi lagi.”

“Oh, begitu.”

“Saya lakukan itu tahun lalu dan tahun sebelumnya. Dari musim semi sampai musim gugur.”

Pada waktu itu Sukekuro masuk dojo, katanya, “Hyogo, ini ada surat lagi dari Edo.”

Hyogo membacanya, lalu katanya, “Otsu belum jauh, kan?”

“Tak lebih dari delapan kilometer, barangkali. Apa yang terjadi?”

“Ya. Takuan bilang, pengangkatan Musashi dibatalkan. Mereka rupanya sangsi akan wataknya. Kupikir, kita tak boleh membiarkan Otsu terus pergi ke Edo tanpa memberitahu dia.”

“Saya akan pergi!”

“Tidak, biar aku yang pergi.”

Sambil mengangguk pada Ushinosuke, Hyogo meninggalkan dojo dan langsung pergi ke kandang.

Setengah perjalanan menuju Uji, ia mulai berpikir. Biarpun Musashi tak jadi diangkat, buat Otsu akan sama saja; yang diminati Otsu orangnya, bukan statusnya. Sekalipun Hyogo misalnya berhasil meyakinkannya untuk tinggal sedikit lebih lama di Koyagyu, Otsu pasti akan pergi terus ke Edo. Jadi, buat apa menghalangi perjalanannya dengan menyampaikan berita buruk itu?

Hyogo kembali ke Koyagyu dan melambatkan jalan kudanya. Dilihat dari luar, ia tampak tenang, namun di hatinya berkecamuk perjuangan hebat. Oh, kalau sekiranya ia dapat melihat Otsu sekali lagi! Ia mesti mengakui pada diri sendiri, bahwa itulah alasan sebenarnya ia menyusul Otsu, namun ia tak akan mengakuinya pada orang lain.

Hyogo mencoba mengendalikan perasaannya. Seperti semua orang lain, prajurit terkadang mengalami saat-saat lemah, saat-saat gila. Namun ke­wajibannya sebagai seorang samurai sudah jelas: berkeras hati, sampai ia mencapai keseimbangan yang tenang. Sekali ia berhasil menyeberangi rintang­an khayal, jiwanya akan ringan dan bebas, dan matanya akan terbuka melihat pohon-pohon dedalu hijau di sekitarnya, dan setiap lembar rumput yang ada. Cinta bukanlah satu-satunya emosi yang dapat mengusik hati seorang samurai. Hatinya adalah dunia yang sama sekali berbeda. Pada masa ini, dunia sedang sangat membutuhkan orang-orang muda berbakat, jadi bukan waktunya tergiur oleh sekuntum bunga yang ada di tepi jalan.

Menurut Hyogo, yang penting adalah bagaimana berdiri di tempat yang benar, agar ia dapat menunggangi ombak zaman. “Ramai juga, ya?” ujar Hyogo dengan hati riang.

“Ya, Nara jarang begini baik keadaannya,” jawab Sukekuro. “Macam pesiar saja.”

Beberapa langkah di belakang mereka, ikut juga Ushinosuke. Hyogo mulai menyukai anak itu. Anak itu sekarang lebih sering datang ke benteng, dan dalam masa peralihan untuk menjadi abdi biasa. Waktu itu ia memanggul makan siang kedua orang itu. Ia membawa sepasang sandal cadangan untuk Hyogo, yang ia ikatkan ke obi-nya.

Mereka berada di sebuah lapangan terbuka di tengah kota. Di satu sisi menjulang pagoda Kofukuji yang bertingkat lima, di atas hutan yang mengitarinya. Di seberang lapangan tampak rumah-rumah para pendeta Budha dan Shinto. Walaupun hari itu tenang dan udara seperti pada musim semi, namun di daerah-daerah rendah tempat berdiamnya penduduk kota, mengambang kabut tipis. Kerumunan orang yang berjumlah antara empat sampai lima ratus itu tidak tampak terlalu besar, karena luasnya lapangan. Sebagian dari rusa yang memasyhurkan nama Nara itu berjalan­jalan di antara para penonton, di sana-sini mengendus-endus potongan­potongan makanan yang lezat.

“Mereka belum selesai juga, ya?” tanya Hyogo.

“Belum,” kata Sukekuro. “Rupanya sedang istirahat makan siang.”

“Jadi, pendeta pun mesti makan!”

Sukekuro tertawa.

Waktu itu berlangsung semacam pertunjukan. Kota-kota besar biasanya memiliki teater, tapi di Nara dan kota-kota yang lebih kecil, pertunjukan itu diadakan di udara terbuka. Para tukang sulap, penari, tukang boneka, demikian juga para pemanah dan pemain pedang, semuanya melakukan pertunjukan di luar. Tapi atraksi hari ini lebih dari sekadar hiburan. Tiap tahun para pendeta pemain lembing Hozoin mengadakan pertandingan. Dengan itu mereka menetapkan susunan kedudukan mereka di kuil. Karena pertunjukan dilaksanakan di depan umum, para pemain harus berjuang keras dan pertarungan sering berlangsung hebat dan menakjubkan. Di depan Kuil Kofukuji dipasang papan pengumuman yang dengan jelas menyatakan bahwa pertandingan itu terbuka untuk semua orang yang mengabdikan diri kepada seni bela diri, namun orang luar yang berani menghadapi pendeta pemain lembing itu sedikit sekali.

“Bagaimana kalau kita cari tempat duduk untuk makan siang?” tanya Hyogo. “Rasanya kita masih punya banyak waktu.”

“Di mana tempat yang baik?” tanya Sukekuro, memandang ke sekitar.

“Di sini,” seru Ushinosuke. “Bapak-bapak bisa duduk di atas sini.” Ia menunjuk selembar tikar buluh yang telah diambilnya entah dari mana, dan ditebarkannya di atas bukit kecil yang menyenangkan. Hyogo kagum akan kecekatan anak itu, dan secara keseluruhan ia pun senang kebutuhan-­kebutuhannya diperhatikan, walaupun menurut anggapannya sifat penuh perhatian itu bukan watak yang ideal untuk seorang calon samurai.

Sesudah mereka mengambil tempat duduk sebaik-baiknya, Ushinosuke menyuguhkan hidangan: gumpalan nasi kasar, acar prem asam, dan pasta buncis manis, semuanya terbungkus daun bambu kering untuk memudahkan membawanya.

“Ushinosuke,” kata Sukekuro, “lari sana kepada para pendeta itu, dan ambil sedikit teh. Tapi jangan katakan untuk siapa.”

“Akan mengganggu sekali, kalau sampai mereka ke sini menyatakan hormat,” tambah Hyogo, yang waktu itu menenggelamkan muka ke bawah topi anyamannya. Wajah Sukekuro pun lebih dari setengahnya tertutup bandana, seperti yang biasa dipakai para pendeta.

Ketika Ushinosuke berdiri, seorang anak lelaki lain yang jaraknya sekitar lima belas meter dari sana mengatakan, “Sungguh saya tak mengerti. Tadi tikar itu di sini.”

“Lupakan, Iori,” kata Gonnosuke. “Tikar itu tidak penting.”

“Tentunya ada yang mencuri. Siapa kira-kira yang melakukannya?”

“Tak usah repot-repot.” Gonnosuke duduk di rumput, mengeluarkan kuas dan tinta, dan mulai mencatat pengeluarannya dalam buku catatan kecil, suatu kebiasaan yang baru-baru ini didapatnya dari Ion.

Dalam beberapa hal, sikap Iori memang terlampau serius untuk anak semuda dirinya. Ia memperhatikan benar keuangan pribadinya, tidak pernah memboroskan sesuatu. Ia rapi bukan main, dan ia merasa berterima kasih atas setiap mangkuk nasi yang diterimanya dan setiap hari cerah yang dihadapinya. Singkat kata, ia orang yang ingin serbalurus, dan memandang rendah orang yang tidak bersifat seperti dirinya.

Terhadap orang yang mencuri milik orang lain, walaupun hanya selembar tikar murah, ia merasa muak.

“Oh, itu dia,” teriaknya. “Orang-orang di sana yang mengambilnya. Hei!” la berlari ke arah mereka, tapi sekitar sepuluh langkah sebelum sampai, tiba-tiba ia berhenti untuk menimbang-nimbang apa yang akan dikatakannya, dan tahu-tahu ia sudah berhadapan dengan Ushinosuke.

“Apa maumu?” geram Ushinosuke.

“Apa maksudmu, apa mauku?” bentak Ion.

Sambil memandangnya dengan sikap dingin, seperti sikap orang kampung terhadap orang luar, kata Ushinosuke, “Kau yang tadi meneriaki kami.”

“Siapa membawa pergi barang orang lain, dia itu pencuri!”

“Pencuri? Kau ini kurang ajar!”

“Tikar itu punya kami!”

“Tikar? Aku tadi menemukan tikar itu di tanah. Apa itu yang bikin kau gusar?”

“Tapi tikar itu penting buat orang yang sedang melakukan perjalanan,” kata Iori agak muluk. “Karena dapat melindungi dari hujan, menjadi alas tidur. Banyak lagi hal lain. Kembalikan tikar itu!”

“Boleh kau mengambilnya, tapi tarik dulu kata-katamu bahwa aku pen­curi!”

“Aku tak perlu minta maaf buat mengambil kembali milik kami sendiri. Kalau tidak kaukembalikan, akan kuambil kembali!”

“Boleh coba. Aku Ushinosuke dari Araki. Tak mau aku kalah dengan orang kerdil macam kau. Aku ini murid seorang samurai.”

“Aku berani bertaruh, memang kau murid samurai,” kata Iori sambil berdiri sedikit lebih lurus. “Kau berani omong besar karena ada orang banyak di sekitar sini, tapi kau takkan berani berkelahi, kalau kita cuma berdua.”

“Aku takkan lupa kata-kata itu.”

“Datang ke sana nanti.”

“Ke mana?”

“Dekat pagoda. Kau datang sendiri.”

Mereka berpisah. Ushinosuke pergi mengambil teh, dan ketika ia kembali membawa poci teh dari tembikar, pertandingan sudah mulai lagi. Ketika berdiri dalam lingkaran besar bersama para penonton lain, Ushinosuke me­nancapkan matanya pada Iori, menantangnya dengan mata itu. Iori mem­balas. Keduanya yakin menang.

Orang banyak yang ribut itu terdorong ke sana-sini, hingga debu kuning naik ke udara. Di tengah lingkaran, berdiri seorang pendeta, memegang lembing sepanjang tongkat unggas. Satu demi satu lawan-lawan maju ke depan, menantangnya. Satu demi satu pula mereka diruntuhkan ke bumi, atau diterbangkan ke udara.

“Ayo maju!” teriaknya, tapi akhirnya tak ada lagi orang yang datang. “Kalau tak ada lagi, saya pergi. Ada yang keberatan untuk menyatakan diri saya, Nankobo, sebagai pemenang?” Setelah belajar di bawah pimpinan In’ei, ia menciptakan gayanya sendiri, dan kini menjadi saingan utama Inshun. Inshun sendiri hari ini tidak hadir, dengan alasan sakit. Tak se­orang pun tahu, apakah ia takut pada Nankobo, atau lebih suka menghindari konflik.

Ketika tak seorang pun maju ke depan, pendeta bertubuh besar dan tegap itu menurunkan lembingnya, memegangnya mendatar, dan menyatakan, “Tak ada lagi penantang.”

“Tunggu!” seru seorang pendeta, sambil berlari ke depan Nankobo. “Saya Daun, murid Inshun. Saya menantang Anda.”

“Siapkan dirimu.”

Sesudah saling membungkuk, kedua orang itu melompat menjauh. Kedua lembing mereka begitu lama saling tatap, seperti makhluk hidup, hingga orang banyak menjadi bosan dan mulai berteriak-teriak menghendaki aksi.

Kemudian sekonyong-konyong teriakan mereda. Lembing Nankobo meng­hunjam ke kepala Daun, dan seperti pengejut burung yang digulingkan angin, tubuhnya pelan-pelan menyandar ke samping, kemudian tiba-tiba jatuh ke tanah. Tiga-empat pemain lembing berlari maju, bukan untuk membalas dendam, tapi hanya untuk menyeret tubuh itu ke luar.

Nankobo dengan sombong membidangkan dadanya dan mengamati orang banyak. “Rupanya tak banyak lagi orang yang berani. Kalau memang masih ada, silakan maju.”

Seorang pendeta gunung maju ke depan, dari belakang sebuah tenda. Ia menurunkan pen perjalanan dari punggungnya, dan tanyanya, “Apa per­tandingan ini hanya terbuka buat pemain lembing Hozoin?’

“Tidak,” jawab pendeta-pendeta Hozoin serentak.

Pendeta itu membungkuk. “Kalau begitu, saya ingin mencoba. Ada yang bisa meminjamkan pedang kayu pada saya?”

Hyogo memandang Sukekuro, katanya, “Oh, ini mulai menarik.”

“Barangkali juga.”

“Tak sangsi lagi bagaimana jadinya.”

“Bukan itu maksudku. Kupikir Nankobo takkan mau berkelahi. Kalau dia mau, dia akan kalah.”

Sukekuro tampak bertanya-tanya, tapi ia tidak minta penjelasan.

Satu orang menyerahkan pedang kayu kepada pendeta pengembara itu. Ia berjalan mendekati Nankobo, membungkuk, dan menyampaikan tan­tangannya. Umurnya sekitar empat puluh tahun, tapi tubuhnya yang se­perti baja pegas itu mengisyaratkan bahwa ia terlatih bukan dalam cara pendeta gunung, melainkan di medan laga. Ia tentunya orang yang sudah banyak kali berhadapan dengan maut, dan siap menghadapi maut dengan tenang. Gaya bicaranya lembut, dan matanya tenang.

Nankobo memang angkuh, tapi la bukan orang bodoh. “Anda orang luar?” tanyanya asal saja.

“Ya,” jawab si penantang, membungkuk sekali lagi.

“Tunggu sebentar.” Nankobo melihat dua hal dengan jelas: tekniknya kemungkinan memang lebih baik daripada teknik pendeta itu, tapi pada akhirnya ia takkan dapat menang. Sejumlah prajurit terkemuka yang kalah dalam Pertempuran Sekigahara diketahui masih menyamar sebagai pendeta pengembara. Hanya Tuhan yang tahu, siapa orang itu.

“Saya tak bisa menghadapi orang luar,” kata Nankobo sambil menggeleng.

“Saya sudah tanya peraturannya tadi, dan jawabannya bisa.”

“Dengan yang lain bisa-bisa saja, tapi saya memilih untuk tidak bertarung dengan orang luar. Saya berkelahi bukan dengan tujuan mengalahkan lawan. Ini kegiatan keagamaan. Di sini saya mendisiplinkan jiwa saya lewat lembing.”

“Oh, begitu,” kata si pendeta disertai tawa kecil. Ia agaknya masih hen­dak mengatakan sesuatu, tapi ragu-ragu. Ia menimbang-nimbang sebentar, kemudian mengundurkan diri dari medan, mengembalikan pedang kayu itu, dan menghilang.

Nankobo memakai kesempatan itu untuk keluar, tanpa memedulikan bisik-bisik orang bahwa mengundurkan diri itu baginya berarti pengecut. Diikuti dua-tiga muridnya, ia berjalan dengan megahnya, seperti jenderal penakluk.

“Nah, apa kataku?” kata Hyogo.

“Anda betul sekali.”

“Orang itu pasti salah satu dari orang-orang yang bersembunyi di Gunung Kudo. Gantikan jubah putih dan dandanannya itu dengan ketopong dan baju zirah, dan dia akan menjadi salah seorang pemain pedang besar beberapa tahun lalu.”

Orang-orang sudah menjarang, dan Sukekuro mulai mencari Ushinosuke, tapi anak itu tidak kelihatan olehnya. Mendapat isyarat dari Iori tadi, ia pergi ke pagoda, dan kini mereka berdua berdiri saling tatap dengan ganas­nya.

“Jangan salahkan aku, kalau kau terbunuh,” kata Iori.

“Omong besar kau!” kata Ushinosuke, mengambil tongkat untuk senjata.

Iori menyerbu dengan pedang diangkat tinggi-tinggi. Ushinosuke melompat mundur. Karena menurut pendapatnya Ushinosuke takut, Iori berlari langsung ke arahnya, tapi Ushinosuke melompat sambil menendang sisi kepalanya. Tangan Iori memegang kepalanya, dan ia rebah ke tanah. Tapi ia cepat pulih kembali, dan dalam sekejap sudah berdiri lagi. Kedua anak itu ber-hadapan-hadapan dengan senjata terangkat.

Lupa akan ajaran Musashi dan Gonnosuke, Iori menyerang dengan mata tertutup. Ushinosuke menyamping sedikit dan memukul dengan tongkat.

“Ha! Aku menang!” teriak Ushinosuke. Tapi ketika dilihatnya Iori tak bergerak sama sekali, ia jadi ketakutan dan lari.

“Siapa bilang!” bentak Gonnosuke. Tongkatnya yang empat kaki pan­jangnya itu menghantam pinggul Ushinosuke.

Ushinosuke jatuh sambil menjerit kesakitan, tapi sesudah melihat Gonnosuke sekilas, ia bangkit dan lari lagi seperti kelinci, hingga kepalanya membentur Sukekuro.

“Ushinosuke! Apa yang terjadi di sini?”

Ushinosuke cepat menyembunyikan diri di belakang Sukekuro, sehingga samurai itu berhadap-hadapan dengan Gonnosuke. Untuk sesaat seakan­akan benturan tak dapat dihindari lagi. Tangan Sukekuro menyambar pedang, sedangkan Gonnosuke mengetatkan pegangan tongkatnya.

“Boleh saya bertanya?” tanya Sukekuro. “Kenapa Anda mengejar anak ini, seperti mau membunuhnya?”

“Sebelum menjawab, saya ingin mengajukan satu pertanyaan. Apa Anda lihat tadi dia merobohkan anak itu?”

“Apa anak itu teman Anda?”

“Ya. Apa ini salah seorang pembantu Anda?”

“Secara resmi tidak.” Sambil menatap Ushinosuke, tanyanya garang, “Kenapa kaupukul anak itu, lalu lari? Katakan yang sebenarnya sekarang.”

Belum lagi Ushinosuke membuka mulut, Iori sudah mengangkat kepala dan berteriak, “Itu tadi pertarungan!” Sambil duduk kesakitan, katanya, “Kami berdua bertarung, dan saya kalah.”

“Apa kalian berdua sudah saling tantang sesuai aturan, dan sepakat bertempur?” tanya Gonnosuke. Ia memandang kedua anak itu bergantian, dan tampak nada kagum dalam matanya.

Dengan sikap sangat malu, Ushinosuke berkata, “Saya tidak tahu itu tadi tikarnya.”

Kedua pria itu saling menyeringai. Sadarlah mereka bahwa kalau tadi mereka tidak mengendalikan diri, kejadian sepele yang kekanak-kanakan itu dapat berakhir dengan pertumpahan darah.

“Saya menyesalkan kejadian ini,” kata Sukekuro. “Begitupun saya. Saya harap Anda memaafkan saya.”

“Tidak apa-apa. Guru saya menanti kami, karena itu lebih baik kami pergi sekarang.”

Mereka keluar pintu gerbang sambil tertawa, Gonnosuke dan Iori ke kiri, Sukekuro dan Ushinosuke ke kanan.

Kemudian Gonnosuke menoleh, katanya, “Boleh saya bertanya? Kalau kami terus mengikuti jalan ini, apa kami akan sampai Benteng Koyagyu?”

Sukekuro mendekati Gonnosuke, dan beberapa menit kemudian, ketika Hyogo bergabung dengan mereka, ia menyampaikan pada Hyogo siapa orang-orang itu, dan kenapa mereka ada di sana.

Hyogo menarik napas panjang dengan sikap simpatik. “Sayang sekali. Coba kalau Anda datang tiga minggu lalu, sebelum Otsu pergi meng­gabungkan diri dengan Musashi di Edo.”

“Tapi dia tak ada di Edo,” kata Gonnosuke. “Tak ada yang tahu di mana dia berada, termasuk teman-temannya.”

Iori berusaha menahan air matanya, namun sesungguhnya ia ingin sekali pergi sendiri ke suatu tempat, untuk melampiaskan perasaannya. Dalam perjalanan turun, tidak henti-hentinya ia bicara tentang pertemuan dengan Otsu, atau setidaknya demikianlah kesan Gonnosuke. Dan ketika percakapan orang-orang dewasa itu beralih pada peristiwa-peristiwa di Edo, ia pun lama-lama merasa asing. Kepada Gonnosuke, Hyogo minta lebih banyak informasi tentang Musashi, minta kabar tentang pamannya, dan minta perincian tentang hilangnya Ono Tadaaki. Kelihatannya pertanyaannya takkan ada habisnya, demikian juga jawaban yang diberikan Gonnosuke.

“Ke mana kau pergi?” tanya Ushinosuke pada Iori, sambil menyusulnya dari belakang dan meletakkan tangan dengan simpati ke bahu Iori. “Kau menangis, ya?”

“Tentu saja tidak!” Tapi ketika menggeleng, air matanya terlontar jatuh.

“Hmm… Kau bisa menggali kentang liar, tidak?”

“Tentu.”

“Ada kentang di sana. Mau tahu siapa yang bisa menggali paling cepat?”

Iori menerima tantangan itu, dan mereka mulai menggali.

Hari sudah menjelang senja, dan karena masih banyak yang dibicarakan, Hyogo mendesak Gonnosuke untuk tinggal beberapa hari di benteng. Namun Gonnosuke mengatakan lebih suka melanjutkan perjalanan.

Selagi mengucapkan kata-kata perpisahan, mereka menyadari bahwa kedua anak itu hilang lagi. Tapi sejenak kemudian Sukekuro menunjuk, dan katanya, “Itu mereka di sana. Rupanya mereka sedang menggali.”

Iori dan Ushinosuke sedang tenggelam dalam kegiatan masing-masing. Karena rapuhnya akar kentang, mereka mesti menggali dengan hati-hati sampai dalam. Ketiga lelaki itu senang melihat ketekunan mereka, dan diam-diam mendekati mereka dari belakang, serta memperhatikan mereka beberapa menit lamanya. Akhirnya Ushinosuke menengadah melihat mereka. la tergagap sedikit, sedangkan Iori menoleh sambil menyeringai. Lalu mereka kembali bekerja keras.

“Aku menang!” teriak Ushinosuke sambil mencabut kentang panjang dan meletakkannya di tanah.

Melihat lengan Iori masih terbenam sampai bahu dalam lubang, Gonnosuke berkata tak sabar, “Kalau kau tidak lekas menyelesaikannya, aku pergi sendiri!”

Sambil meletakkan satu tangan ke paha, seperti seorang petani tua, Iori memaksa dirinya berdiri, dan katanya, “Oh, tak sanggup aku. Sampai malam takkan selesai.” Dengan wajah menyerah, dikibaskannya tanah dari kimononya.

“Tak bisa kau mengeluarkan kentang itu, padahal sudah menggali begitu dalam?” tanya Ushinosuke. “Mari aku tarikkan.”

“Tidak,” kata Iori sambil mencegah tangan Ushinosuke. “Nanti patah.” Dengan hati-hati dikembalikannya tanah itu ke dalam lubang, dan di­padatkannya.

“Selamat tinggal,” kata Ushinosuke. Dengan bangga ia memanggul ken­tangnya, dan secara kebetulan kelihatan ujungnya yang patah.

Melihat itu, Hyogo berkata, “Kau kalah. Boleh saja kau menang dalam perkelahian, tapi kau tidak lulus dalam pertandingan menggali kentang.”

Tukang Sapu dan Pedagang

BUNGA-BUNGA sakura jadi berwarna pucat karena sudah lewat masa puncaknya, sedangkan kembang widuri sudah layu, mengingatkan orang pada masa berabad-abad lalu, ketikaNara masih menjadi ibu kota. Hari itu agak terlalu panas untuk berjalan, tapi baik Gonnosuke maupun Iori belum lelah berjalan.

Iori menarik lengan baju Gonnosuke, dan katanya kuatir. “Orang itu masih saja mengikuti kita!”

Gonnosuke terus memandang lurus ke depan, katanya, “Pura-pura kita tidak melihat dia.”

“Dia sudah di belakang kita sejak kita meninggalkan Kofukuji.”

“Ya.”

“Dan dia ada di penginapan itu, waktu kita tinggal di sana, kan?”

“Tak usah kau kuatir karena itu. Kita tak punya barang yang patut dirampas.”

“Tapi kita punya nyawa! Nyawa itu bukan barang sepele.”

“Ha, ha. Tap aku sudah mengunci nyawaku. Kau belum, ya?”

“Tapi saya dapat menjaga diri.” Dan Ion mengetatkan genggaman tangan kirinya atas sarung pedangnya.

Gonnosuke tahu, orang itu pendeta pengembara yang menantang Nankobo kemarin, tapi ia tak habis pikir, kenapa pendeta itu menguntit mereka.

Iori menoleh lagi, dan katanya, “Lho, dia tak ada!”

Gonnosuke menoleh juga ke belakang. “Barangkali dia capek.” Ia menarik napas panjang, dan tambahnya. “Tapi aku merasa lebih lega sekarang.” Mereka menginap di rumah seorang petani malam itu, dan pagi-pagi hari berikutnya, mereka tiba di Amano di Kawachi. Tempat itu adalah kampung kecil dengan rumah-rumah yang rendah tepian atapnya, dan di belakang rumah-rumah itu mengalir sungai dengan air gunung yang jernih.

Gonnosuke datang ke situ untuk meletakkan tanda peringatan bagi ibunya di Kuil Kongoji, yang dinamakan Gunung Koya Para Wanita. Tapi pertama­-tama ia ingin mengunjungi seorang wanita bernama Oan, yang dikenalnya sejak kecil, supaya nantinya selalu ada orang membakar dupa di hadapan tanda peringatan itu. Kalau wanita itu tak dapat ditemukannya, ia bermaksud pergi ke Gunung Koya, yaitu tempat pemakaman bagi orang-orang kaya dan perkasa. la berharap tidak perlu sampai pergi ke sana, sebab pasti ia akan merasa seperti pengemis kalau harus ke sana.

Ia bertanya pada istri seorang penjaga toko, dan mendapat keterangan bahwa Oan adalah istri seorang pembuat sake bernama Toroku; rumahnya adalah yang keempat di sebelah kanan, dalam pekarangan kuil.

Ketika melewati gerbang, Gonnosuke heran mengingat kata-kata wanita itu, karena di situ ada papan pengumuman yang menyatakan bahwa mem­bawa sake dan bawang perai ke pekarangan suci itu dilarang. Bagaimana mungkin ada penyulingan sake di sana?

Teka-teki kecil tersebut dipecahkan malam itu, oleh Toroku. Ia minta mereka menganggap tempat itu sebagai rumah sendiri, dan dengan senang hati menyatakan bersedia berbicara dengan kepala biara, tentang tanda peringatan bagi ibu Gonnosuke. Toroku menyatakan bahwa Toyotomi Hideyoshi pernah mencicipi dan menyatakan kekaguman atas sake yang dibuat untuk kuil itu. Para pendeta kemudian membangun penyulingan untuk membuat sake bagi Hideyoshi dan lain-lain drtimyo yang memberikan sumbangan kepada kuil itu. Produk pabrik agak jatuh sesudah meninggalnya Hideyoshi, tapi kuil masih menyediakan produksinya bagi sejumlah pelindung khusus.

Ketika Gonnosuke dan Iori terbangun pagi berikutnya, Toroku sudah pergi. Ia pulang sebentar sesudah tengah hari, dan mengatakan bahwa sudah dilakukan berbagai persiapan.

Kuil Kongoji terletak di lembah Sungai Amano, di tengah beberapa puncak gunung berwarna batu lumut. Gonnosuke, Ion, dan Toroku berhenti sebentar di jembatan yang menuju gerbang utama. Bunga sakura mengapung di air di bawah jembatan. Gonnosuke membidangkan dadanya, wajahnya memperlihatkan ketakziman. Iori membenahi kerahnya.

Ketika menghampiri ruangan utama, mereka disambut oleh kepala biara, seorang lelaki jangkung, agak kekar, dan mengenakan jubah pendeta biasa. Akan cocok seandainya ia memakai topi anyaman yang sudah sobek dan sebatang tongkat panjang.

“Apa ini orang yang ingin melakukan kebaktian untuk ibunya?” tanyanya dengan nada ramah.

“Ya, Pak,” jawab Toroku sambil bersujud.

Gonnosuke, yang semula menyangka akan bertemu dengan seorang pendeta berwajah garang dan mengenakan pakaian brokat emas, menjadi bingung bagaimana akan memberi salam kepadanya. Ia membungkuk dan memperhatikan ketika kepala biara itu turun dari serambi, memasukkan kakinya yang besar ke dalam sandal jerami yang kotor, dan berhenti di depannya. Dengan tasbih di tangan, kepala biara minta mereka mengikutinya, kemudian seorang pendeta muda mengikuti mereka dari belakang.

Mereka melewati Ruang Yakushi, kamar makan, pagoda harta bertingkat satu, dan tempat kediaman para pendeta. Sampai di Ruang Dainichi, pendeta muda itu maju ke depan dan bicara dengan kepala biara. Kepala biara mengangguk, dan si pendeta membuka pintu dengan kunci yang sangat besar.

Gonnosuke dan Iori memasuki ruang besar itu bersama-sama, dan berlutut di hadapan podium para pendeta. Sepuluh kaki di atas podium terdapat patung raksasa Dainichi dari emas, Budha alam semesta dari sekte­sekte rahasia. Beberapa waktu kemudian, kepala biara muncul dari batik altar, dalam jubah kebesarannya, dan mengambil tempat di atas podium. Mulailah terdengar alunan kitab sutra. Tanpa kentara, ia seolah berubah bentuk menjadi seorang pendeta tinggi yang bermartabat. Kekuasaannya jelas kelihatan dari posisi bahunya.

Gonnosuke menangkupkan tangan di depan badan. Segumpal awan kecil seolah melintas di depan matanya, dan dari gumpalan awan itu muncul bayangan Celah Shiojiri, di mana ia dan Musashi saling menguji kekuatan. Ibunya duduk di sisi lain, tegak seperti papan. Ia tampak kuatir, seperti ketika dulu ia menyerukan kata yang menyelamatkan Gonnosuke dalam perkelahian itu.

“Ibu,” pikir Gonnosuke, “Ibu tak perlu kuatir dengan masa depanku. Musashi sudah setuju menjadi guruku. Tak lama lagi aku akan dapat mendirikan perguruanku sendiri. Dunia boleh saja kacau, tapi aku takkan menyeleweng dari Jalan-ku. Dan aku pun takkan melalaikan kewajiban­kewajibanku sebagai anak….”

Ketika Gonnosuke lepas dari lamunan itu, alunan suara kepala biara sudah berhenti, dan ia sudah pergi. Di sampingnya Iori duduk terpaku, matanya lekat pada wajah Dainichi yang merupakan keajaiban dalam bidang seni patung, karya Unkei yang agung di abad ketiga betas.

“Kenapa kau menatap begitu, Iori?”

Tanpa mengalihkan pandangannya, kata anak itu, “Kakak saya! Budha ini kelihatan seperti kakak saya.”

Gonnosuke tertawa mendengarnya. “Apa yang kaubicarakan ini? Melihat dia saja kau belum pernah. Bagaimanapun, takkan pernah ada orang yang bisa tampak sewelas asih dan setenteram Dainichi.”

Iori menggelengkan kepala keras-keras. “Tapi saya sudah melihat dia! Dekat kediaman Yang Dipertuan Yagyu di Edo. Dan bicara dengan dia! Waktu itu saya tidak tahu dia kakak saya, tapi tadi, waktu kepala biara me­nyanyi, muka sang Budha berubah menjadi muka kakak saya. Dan kakak saya seolah mengatakan sesuatu pada saya.”

Mereka keluar dan duduk di beranda, enggan membuang pesona khayal yang telah mereka peroleh.

“Kebaktian tadi itu untuk ibuku,” kata Gonnosuke termenung. “Tapi hari ini hari baik juga untuk makhluk hidup. Duduk seperti ini di sini, rasanya sukar aku percaya bahwa perkelahian dan pertumpahan darah bisa berlangsung.”

Puncak pagoda harta yang terbuat dari logam itu berkilauan seperti pedang bertatahkan permata, dalam cahaya matahari yang sedang tenggelam. Semua bangunan lain berdiri dalam bayangan gelap. Lentera-lentera batu berderet di jalan gelap yang mendaki bukit terjal menuju warung teh gaya Muromachi dan sebuah mausoleum kecil.

Seorang biarawati tua, dengan kepala tertutup bandana sutra putih, dan seorang laki-laki gempal berumur sekitar lima puluh tahun, sedang menyapu daun-daunan dengan sapu jerami, dekat warung teh.

Biarawati itu mengeluh, kemudian katanya, “Kukira sekarang sudah lebih baik.” Hanya sedikit orang datang ke bagian kuil ini, meski sekadar untuk membersihkan dedaunan dan bangkai burung yang menumpuk selama musim dingin.

“Ibu tentunya lelah,” kata laki-laki itu. “Kenapa tidak duduk beristirahat? Biar kuselesaikan.” Ia mengenakan kimono katun sederhana dengan mantel tak berlengan, sandal jerami, dan kaus kulit berpola bunga sakura, berikut pedang pendek dengan gagang tanpa hiasan yang terbuat dari kulit ikan hiu.

“Aku tidak lelah,” jawab biarawati itu sambil tertawa kecil. “Tapi bagai­mana denganmu? Kau tidak biasa dengan kerja ini. Apa tanganmu tidak lecet?”

“Tidak lecet, tapi melepuh semua.”

Perempuan itu tertawa lagi, katanya, “Nah, apa itu bukan tanda mata yang bagus buat dibawa pulang?”

“Aku tak peduli. Aku merasa hatiku sudah disucikan. Aku berharap per­sembahan kerja kita yang tak berarti ini diterima dewa-dewa.”

“Oh, sudah gelap benar. Mari kita selesaikan besok pagi saja.”

Gonnosuke dan Iori sekarang berdiri di dekat serambi. Koetsu dan Myoshu pelan-pelan menyusuri jalan yang menurun, sambil berpegangan tangan. Ketika sampai di dekat Ruang Dainichi, keduanya terkejut dan berseru, “Siapa di situ?”

Kemudian kata Myoshu, “Hari bagus, ya? Apa kalian datang buat me­lihat-lihat?”

Gonnosuke membungkuk, katanya, “Tidak, saya mengirim bacaan sutra buat ibu saya.”

“Oh, saya senang sekali bertemu dengan orang muda yang tahu terima kasih kepada orangtuanya.”

Ia menepuk kepala Iori dengan sikap keibuan.

“Koetsu, apa kue gandum itu masih ada?”

Koetsu mengeluarkan bungkusan kecil dari lengan kimononya dan me­nawarkannya pada Iori. “Maafkan saya, menawarkan makanan sisa.”

“Gonnosuke, boleh saya menerimanya?” tanya Iori.

“Ya,” kata Gonnosuke, menyatakan terima kasih pada Koetsu atas nama Iori.

“Dari aksen bicaramu, rupanya kau datang dari timur,” kata Myoshu.

“Boleh saya bertanya, ke mana kalian hendak pergi?”

“Rasanya ini perjalanan tanpa akhir, di jalan tak ada ujung. Anak ini dan saya sama-sama murid Jalan Pedang.”

“Oh, jalan sulit yang kalian pilih itu. Siapa guru kalian?”

“Namanya Miyamoto Musashi.”

“Musashi? Yang benar!” Myoshu tertegun, seakan-akan sedang mengingat kembali kenangan manis.

“Di mana Musashi sekarang?” tanya Koetsu. “Lama kami tak jumpa dengannya.”

Gonnosuke menyampaikan pada mereka tentang nasib baik Musashi selama beberapa tahun terakhir itu. Sambil mendengarkan, Koetsu meng­angguk-angguk dan tersenyum, seakan-akan mengatakan. “Itu yang saya harapkan untuknya.”

Selesai bercerita, Gonnosuke bertanya, “Boleh saya tahu siapa Bapak?”

“O ya, maaf saya tidak mengatakannya tadi.”

Koetsu memperkenalkan dirinya dan ibunya. “Musashi tinggal dengan kami sebentar, beberapa tahun lalu. Kami suka sekali padanya, dan sampai sekarang pun masih sering kami bicara tentangnya.” Kemudian ia bercerita pada Gonnosuke tentang dua-tiga peristiwa yang terjadi ketika Musashi ada di Kyoto.

Gonnosuke sudah lama tahu nama baik Koetsu sebagai penggosok pedang, dan baru-baru ini ia mendengar tentang hubungan Musashi dengan orang itu. Tapi ia tak pernah menduga akan melihat orang kota yang kaya itu membersihkan pekarangan kuil yang terbengkalai.

“Apa di sini ada kuburan orang yang dekat dengan Bapak?” tanyanya. “Atau barangkali Bapak datang kemari untuk pesiar?”

“Tidak, tak ada yang lebih sembrono daripada pesiar,” seru Koetsu. “Se­tidaknya di tempat suci seperti ini…. Apa kalian sudah mendengar dari para pendeta, riwayat Kuil Kongoji ini.”

“Belum.”

“Kalau begitu, izinkan saya sebagai ganti para pendeta, bercerita sedikit tentangnya. Tapi harap dimengerti, saya hanya mengulang apa yang pernah saya dengar.” Koetsu berhenti dan menoleh ke sekitar pelan-pelan, kemudian katanya, “Tepat sekali bulan malam ini,” dan ia menunjuk beberapa pe­ninggalan penting: di atas mereka mausoleum, Mieido dan Kangetsutei, di bawah mereka Taishido, tempat suci Shinto, pagoda harta, ruang makan, dan gerbang bertingkat dua.

“Lihat baik-baik,” katanya, seolah-olah terpesona oleh suasana sepi itu. “Pohon pinus itu, batu-batu itu, setiap pohon, setiap lembar rumput di sini, adalah bagian dari keabadian yang tak kelihatan, yang merupakan tradisi molek negeri kita.”

Ia meneruskan dalam nada sama, dan dengan khidmat bercerita bahwa di abad keempat belas, selama berlangsungnya konflik antara istana selatan dan utara, gunung itu menjadi kubu istana selatan. Dikatakannya, Pangeran Morinaga, yang dikenal juga sebagai Daito no Miya, mengadakan pertemuan­pertemuan rahasia untuk menggulingkan para regent Hojo. Sementara itu, Kusunoki Masashige dan kaum loyalis yang lain bertempur melawan tentara istana utara. Kemudian Keluarga Ashikaga memegang kekuasaan, dan Kaisar Go-Murakami yang terusir dari Gunung Otoko terpaksa melarikan diri dari tempat satu ke tempat lain. Akhirnya ia berlindung di kuil itu, dan bertahun-tahun lamanya hidup sebagai pendeta gunung biasa, dengan me­nanggung berbagai kekurangan. Dengan menggunakan ruang makan itu sebagai pusat pemerintahannya, ia bekerja tanpa kenal lelah untuk mem­peroleh kembali hak istimewa kekaisaran yang direbut militer.

Sebelum itu, ketika para samurai dan orang-orang istana berkumpul di sekitar mantan Kaisar Kogon, yaitu Komyo dan Suko, biarawan Zen’e me­nulis dengan pedih, “Tempat tinggal para pendeta dan kuil-kuil gunung semuanya diruntuhkan. Kerugian tidak terlukiskan.”

Gonnosuke mendengarkan dengan sikap hati-hati dan penuh hormat. Iori, yang terpesona oleh kesungguhan suara Koetsu, tidak dapat melepaskan matanya dari wajah orang itu.

Koetsu menarik napas panjang, meneruskan, “Segala sesuatu di sini adalah peninggalan zaman itu. Mausoleum itu tempat peristirahatan terakhir Kaisar Kogon. Sejak surutnya Keluarga Ashikaga, tak ada yang terawat secara memadai. Itu sebabnya ibu saya dan saya memutuskan untuk membersihkannya sedikit, sebagai tanda takzim.”

Karena senang dengan ketekunan para pendengarnya, Koetsu berusaha keras mencari kata-kata yang cocok untuk mengungkapkan perasaannya.

“Waktu sedang menyapu, kami temukan sebuah batu berukir sajak, yang barangkali ditulis oleh seorang prajurit pendeta zaman itu. Bunyinya:

Biar perang berjalan terus, Sampai seratus tahun sekalipun, Musim semi kan datang kembali, Hiduplah dengan hati bernyanyi. Hai, kalian rakyat sang Kaisar.

“Coba bayangkan, betapa besar keberanian dan semangat yang diperlukan oleh seorang prajurit sederhana yang sudah bertempur bertahun-tahun, dan barangkali berpuluh-puluh tahun lamanya, dalam melindungi sang kaisar, untuk dapat bergembira dan menyanyi! Saya yakin, dasarnya adalah karena semangat. Masashige bersemayam di had prajurit itu. Walaupun seratus tahun pertempuran telah berlalu, tempat ini tetap menjadi tanda peringatan bagi martabat kekaisaran. Maka, tidakkah kita mesti menyatakan terima kasih yang sebesar-besarnya atas hal ini?”

“Saya tidak tahu bahwa ini dulu tempat berlangsungnya pertempuran suci,” kata Gonnosuke. “Saya harap Bapak memaafkan ketidaktahuan saya.”

“Saya senang mendapat kesempatan menyampaikan sebagian buah pikiran saya mengenai sejarah negeri kita ini.”

Keempat orang itu berjalan menuruni bukit bersama-sama. Di dalam terang bulan, bayangan mereka tampak kecil tak berarti.

Ketika mereka melewati ruang makan, Koetsu berkata, “Kami sudah tujuh hari tinggal di sini. Kami akan pulang besok. Kalau kalian bertemu dengan Musashi, sampaikan padanya supaya dia menengok kami lagi.”

Gonnosuke menegaskan bahwa ia akan menyampaikan pesan itu.

Di atas sungai dangkal yang mengalir cepat sepanjang dinding luar kuil itu, ada sebuah jembatan tanah.

Belum lagi Gonnosuke dan Iori menginjakkan kaki di jembatan itu, sesosok tubuh besar putih bersenjatakan tongkat muncul dari balik bayangan, dan melesat menyerang punggung Gonnosuke. Gonnosuke menghindar dari serangan itu dengan meluncur ke samping, tapi Iori terpental dari jembatan.

Orang itu menyeruduk lewat Gonnosuke, ke jalan di ujung sana jembatan. Tapi seketika itu juga ia berbalik dan mengambil jurus mantap, kedua kakinya mirip batang pohon kecil. Gonnosuke melihat bahwa orang itu pendeta yang telah mengikuti mereka kemarin.

“Siapa kau?” teriak Gonnosuke.

Pendeta itu tak menjawab.

Gonnosuke menggerakkan tongkatnya dalam posisi siap memukul, dan berteriak, “Siapa kau? Apa alasanmu menyerang Muso Gonnosuke?”

Pendeta itu pura-pura tak mendengar. Matanya memercikkan api, se­mentara jari-jari kakinya yang menyembul dari dalam sandal jerami yang berat itu merayap maju seperti lipan.

Gonnosuke menggeram dan mengutuk berbisik. la beringsut ke depan dengan kakinya yang pendek berat, yang kini menggelembung karena nafsu berkelahi.

Tongkat si pendeta patah berderak menjadi dua. Separuh melayang ke udara, separuh lagi dilontarkan sekuat-kuatnya ke wajah Gonnosuke. Lontaran itu tidak mengena, tapi sementara Gonnosuke memulihkan keseimbangan badannya, lawannya menarik pedang dan menyerbu ke jembatan.

“Bajingan!” pekik Iori.

Pendeta itu menggagap dan memegang wajahnya. Batu-batu kecil yang dilemparkan Ion mengenai sasarannya, satu di antaranya tepat mengenai mata. Si pendeta pun berpusing dan lari.

“Berhenti!” teriak Iori sambil merangkak naik ke tepi sungai, membawa sejumlah batu.

“Biarkan,” kata Gonnosuke sambil meletakkan tangan ke lengan Iori. “Biar dia tahu rasa!” ucap Iori puas, sambil melontarkan bebatuan itu ke bulan.

Segera sesudah mereka kembali ke rumah Toroku dan pergi tidur, badai bertiup. Angin meraung-raung di antara pepohonan, mengancam akan menerbangkan atap rumah, tapi itu bukan satu-satunya hal yang membuat mereka susah tidur.

Gonnosuke terbaring terjaga, teringat masa lalu dan masa sekarang. Terpikir olehnya, apakah dunia ini memang lebih baik sekarang daripada berabad-abad lampau. Nobunaga, Hideyoshi, dan Ieyasu telah memperoleh simpati rakyat, juga kekuasaan untuk memerintah, tapi terpikir oleh Gonnosuke, tidakkah penguasa yang sebenar-benarnya itu telah terlupakan, dan kini rakyat disuruh menyembah dewa-dewa palsu? Zaman Keluarga Hojo dan Ashikaga adalah zaman yang menimbulkan rasa benci, yang jelas-jelas berlawanan dengan prinsip yang menjadi dasar berdirinya negeri ini. Namun, di zaman itu pun, para prajurit besar seperti Masashige dan anaknya, juga loyalis dari banyak provinsi, tetap mengikuti tata krama prajurit sejati. Apa yang telah terjadi dengan Jalan Samurai? Ya, Gonnosuke kini bertanya pada diri sendiri. Seperti halnya Jalan Orang Kota dan Jalan Petani, agaknya Jalan Samurai sekarang ini hanyalah demi penguasa militer.

Pikiran-pikiran itu membuat sekujur tubuh Gonnosuke terasa panas. Puncak Pegunungan Kawachi, hutan di sekitar Kuil Kongoji, dan badai yang melolong-semuanya jadi seperti makhluk-makhluk hidup yang berseru­seru kepadanya dalam mimpi.

Sementara itu, Iori tak dapat mengusir pendeta tak dikenal itu dari pikirannya. Ia masih juga memikirkan sosok putih seperti hantu itu, lama kemudian. Ketika badai makin menghebat, ditutupkannya selimut ke atas matanya, dan barulah ia terlena dalam tidur lelap tanpa mimpi.

Ketika mereka berangkat lagi pagi berikutnya, awan-awan di atas pe­gunungan berwarna pelangi. Baru saja mereka keluar dari kampung, seorang pedagang keliling muncul dari balik kabut pagi, dan mengucapkan selamat pagi pada mereka dengan nada riang.

Gonnosuke menjawab acuh tak acuh. Iori masih terbenam dalam pikiran yang membuatnya tak bisa tidur malam sebelumnya, jadi ia pun tidak ter­lalu ramah.

Orang itu mencoba membuka percakapan. “Anda menginap di rumah Toroku tadi malam, ya? Saya sudah bertahun-tahun mengenalnya. Mereka orang-orang baik, dia dan istrinya.”

Kata-kata itu hanya dapat memancing sungutan pelan Gonnosuke.

“Saya juga sekali-sekali berkunjung ke Benteng Koyagyu,” kata pedagang itu. “Kimura Sukekuro banyak membantu saya.”

Kata-kata itu dijawab dengan sungutan lagi.

“Saya lihat Anda telah mengunjungi ‘Gunung Koya Para Wanita.’ Saya kira sekarang Anda akan pergi ke Gunung Koya itu sendiri. Sekaranglah waktu yang tepat. Salju mulai mencair, dan semua jalan sudah diperbaiki. Anda dapat melintasi celah Amami dan Kiimi dengan santai, dan menginap di Hashimoto atau Kamuro…”

Usaha orang itu untuk mencari tahu rencana perjalanan mereka membuat Gonnosuke curiga. “Apa kerja Anda?” tanyanya.

“Saya penjual tali kepang,” kata orang itu, sambil menunjuk bungkusan kecil di punggungnya. “Tali ini dibuat dari katun yang dianyam datar. Belum lama ditemukan, tapi sudah cepat disukai orang.”

“Begitu,” kata Gonnosuke.

“Toroku banyak membantu memasarkan tali saya ini kepada para pemuja di Kuil Kongoji. Sebetulnya saya punya rencana menginap di rumahnya tadi malam, tapi katanya sudah ada dua tamu. Agak kecewa juga. Kalau saya tinggal di rumahnya, dia selalu menyuguhi saya sake yang enak.” Ia tertawa.

Gonnosuke jadi agak luluh, dan mulai mengajukan pertanyaan tentang tempat-tempat di sepanjang jalan itu, karena pedagang itu kenal benar dengan pedesaan di situ. Begitu mereka sampai di dataran tinggi Amami, percakapan sudah menjadi cukup bersahabat.

“Hei, Sugizo!”

Seorang lelaki datang menderap di jalanan itu, menyusul mereka. “Kenapa kautinggalkan aku? Aku tunggu di Kampung Amano. Kaubilang akan singgah menjemputku.”

“Maaf, Gensuke,” kata Sugizo. “Aku jumpa dengan kedua teman ini dan asyik bercakap-cakap, sampai lupa sama sekali padamu.” Ia tertawa dan menggaruk kepalanya.

Gensuke, yang berpakaian seperti Sugizo itu, ternyata pedagang tali juga. Sementara berjalan, kedua pedagang itu mulai membicarakan soal per­dagangan.

Sampai di sebuah jurang yang dalamnya sekitar enam meter, tiba-tiba Sugizo berhenti bicara dan menunjuk.

“Itu berbahaya,” katanya.

Gonnosuke berhenti dan memandang jurang yang menyerupai celah sisa gempa bumi, yang barangkali terjadi di masa lalu. “Apa susahnya?” tanyanya.

“Balok-balok itu tidak aman buat menyeberang. Lihat itu, sebagian batu yang mendukungnya sudah terbawa hanyut. Lebih baik kita bereskan dulu balok-balok itu, supaya kokoh.” Kemudian tambahnya. “Kita mesti melaku­kannya, demi pejalan yang lain.”

Gonnosuke memperhatikan mereka ketika mereka berjongkok di ujung karang terjal, dan mulai memadatkan batu-batuan dan tanah di bawah balok-balok itu. Pikirnya, kedua pedagang itu banyak mengadakan perjalanan, dan karena itu kenal betul akan kesulitan-kesulitan perjalanan, seperti juga orang lain. Namun ia agak heran juga.

Sungguh tidak biasa, bahwa orang-orang seperti mereka begitu mencurah­kan perhatian pada kepentingan orang lain, hingga mau bersusah-susah membetulkan jembatan.

Iori sama sekali tidak memikirkan soal itu. la terkesan oleh keprihatinan mereka, dan ia membantu mengumpulkan batu untuk mereka.

“Saya kira ini cukup,” kata Gensuke. Ia melangkah ke atas jembatan. Ia putuskan jembatan itu aman, lalu katanya pada Gonnosuke, “Saya jalan dulu.” Sambil merentangkan tangan untuk keseimbangan, ia menyeberang cepat ke sebelah sana, kemudian mengajak yang lain-lain menyusul.

Atas desakan Sugizo, Gonnosuke menyusul, diikuti Iori. Tapi belum lagi sampai tengah jembatan, mereka sudah memekik kaget. Di hadapan mereka, Gensuke menghadangkan mata lembing ke arah mereka. Gonnosuke menoleh ke belakang, dan melihat Sugizo telah memegang lembing juga.

“Dari mana datangnya lembing-lembing itu?” pikir Gonnosuke. Ia me­nyumpah dan menggigit bibir dengan marah, sadar akan kedudukannya yang tidak menguntungkan.

“Gonnosuke, Gonnosuke…” Dengan sembrono Iori berpegang pada pinggang Gonnosuke. Gonnosuke sendiri memeluk anak itu dan memejam­kan mata sesaat, mempercayakan hidupnya pada kehendak Langit.

“Bajingan kalian!”

“Tutup mulut!” teriak pendeta yang berdiri lebih tinggi di jalan, di bela­kang Gensuke, dengan mata kiri bengkak hitam.

“Tenang saja,” kata Gonnosuke pada Iori, dengan suara menenangkan. Kemudian teriaknya, “Jadi, kaulah biang keladi semua ini! Nah, awaslah, bajingan pencuri! Kalian berkelahi melawan orang yang keliru kali ini!”

Si pendeta menatap dingin ke arah Gonnosuke. “Kau tidak layak dirampok. Kau tahu itu. Kalau kau tidak lebih pintar dari itu, kenapa pula kau mencoba jadi mata-mata?”

“Kausebut aku mata-mata?”

“Anjing Tokugawa! Buang tongkatmu. Kebelakangkan tanganmu. Dan jangan coba berbuat sesuatu yang konyol.”

“Ah!” keluh Gonnosuke, seakan-akan kehendak untuk berkelahi sudah tak ada lagi dalam dirinya. “Coba dengar! Kau keliru. Aku memang datang dari Edo, tapi aku bukan mata-mata. Namaku Muso Gonnosuke. Aku ini shugyosha.”

“Silakan saja kau berbohong.”

“Kenapa kaukira aku mata-mata?”

“Belum lama ini, teman-teman kami di timur, menyuruh kami hati-hati pada lelaki yang berjalan dengan seorang anak lelaki. Kau dikirim kemari oleh Yang Dipertuan Hojo dari Awa, kan?”

“Tidak.”

“Buang tongkat itu dan ayo ikut kami baik-baik.”

“Aku tidak akan ke mana-mana denganmu.”

“Kalau begitu, kau akan man di tempat ini juga.”

Gensuke dan Sugizo mulai mendesak dari depan dan belakang, dengan lembing siap beraksi.

Agar Iori lepas dari bahaya, Gonnosuke menepuk punggungnya. Sambil memekik keras, Iori jatuh ke dalam semak-semak yang menutupi dasar jurang.

Sementara itu, Gonnosuke menverbu Sugizo, disertai suara menggeledek, “Y a-a-h!”

Untuk dapat mencapai sasarannva, lembingnya membutuhkan ruang dan saat yang tepat. Sugizo menjulurkan tangan untuk menusukkan senjatanya ke depan, tapi tidak memperoleh saat yang tepat. Pekik parau keluar dari tenggorokannya, ketika ujung lembing menetak udara tipis. Gonnosuke mengempaskan diri ke tubuhnya, dan ia rebah ditimpa Gonnosuke. Ketika ia mencoba berdiri, Gonnosuke menghantamkan tinju kanan ke wajahnya. Sugizo meringis, tapi akibatnya menggelikan, karena wajah itu sudah ber­lumuran darah. Gonnosuke berdiri, menginjak kepala Sugizo sebagai papan loncatan, untuk mencapai ujung jembatan.

Dengan tongkat terpasang, pekiknya, “Aku tunggu di sini. Pengecut-­pengecut!”

Belum selesai ia memekik, tiga utas tali sudah melintas rumput. Yang satu diberati gagang pedang, yang lain pedang pendek bersarung. Satu tali melilit tangan Gonnosuke, yang lain kedua kakinya, dan yang ketiga lehernya. Sesaat kemudian, satu tali lagi melilit tongkatnya.

Gonnosuke menggeliat-geliat seperti serangga terjerat sarang labah-labah, tapi tidak lama. Setengah lusin orang berlarian keluar dari hutan di bela­kangnya. Begitu mereka selesai meringkusnya, Gonnosuke terbaring tak berdaya di tanah, terikat lebih erat daripada seikat jerami. Terkecuali pendeta bermuka masam itu, semua orang yang menangkapnya mengenakan pakaian pedagang tali.

“Tak ada kuda?” tanya si pendeta. “Aku tak ingin menyuruhnya jalan sampai Gunung Kudo.”

“Mungkin kita bisa menyewa kuda di Desa Amami.”

Kembang Pir

DI tengah hutan kriptomeria yang gelap dan khidmat itu, bunyi burung jagal rendahan bercampur bunyi burung bulbul surga terdengar seperti nada-nada indah burung mitos Kalavinka.

Dua lelaki turun dari puncak Gunung Koya. Mereka baru mengunjungi ruang-ruang dan pagoda-pagoda di Kuil Kongobuji. Mereka juga baru menyatakan hormat di tempat suci bagian dalam, dan berhenti di jembatan lengkung kecil antara pekarangan dalam dan luar kuil.

“Nuinosuke,” kata yang tua, sambil merenung, “dunia ini memang rapuh dan tidak abadi, ya?” Dari jubah buatan sendiri yang berat, dan hakama-nya yang sederhana, orang bisa menduga bahwa ia seorang samurai desa, kecuali kalau orang melihat pedang-pedangnya yang sangat bermutu tinggi, dan temannya yang terlalu sopan dan berpendidikan bagi seorang abdi samurai daerah.

“Kau sudah melihat sendiri semua itu,” katanya melanjutkan. “Makam Oda Nobunaga, Akechi Mitsuhide, Ishida Mitsunari, Kobayakawa Kingo­yang beberapa tahun lalu masih menjadi jenderal-jenderal cemerlang dan terkenal. Dan disana itu, batu-batuan yang tertutup lumut itu menandai tempat-tempat penguburan anggota agung klan Minamoto dan Taira.”

“Jadi, kawan dan lawan… semuanya ada di sini, ya?”

“Mereka semua kini tak lebih dari batu-batuan yang sunyi. Benarkah nama-nama seperti Uesugi dan Takeda itu besar, atau kita cuma bermimpi?”

“Saya juga merasa janggal. Rasanya dunia yang kita diami ini bukan dunia nyata.”

“Begitu, ya? Atau tempat ini yang tidak nyata?”

“Ya. Siapa tahu?”

“Menurutmu, siapa yang punya gagasan menamai jembatan ini Jembatan Khayal?”

“Pilihan nama yang bagus juga, ya?”

“Saya pikir khayal sama dengan kebenaran, tepat seperti pencerahan sama dengan kenyataan. Kalau khayal itu tak nyata, maka dunia ini tak mungkin ada. Seorang samurai yang membaktikan hidupnya kepada tuannya tidak dapat-sedikit pun tidak-membiarkan dirinya menjadi seorang nihilis. Karena itu, Zen yang kuhayati ini adalah Zen yang hidup. Zen dari dunia tercemar, Zen dari neraka. Seorang samurai yang ngeri memikirkan kefanaan, atau membenci dunia ini, tidak dapat melaksanakan kewajiban-kewajib­annya…. Nah, cukuplah kita di tempat MI. Marl kita kembali ke dunia lain.”

Terlihat olehnya pendeta-pendeta dari Kuil Seiganji, dan ia mengerutkan kening dan menggerutu, “Kenapa mereka lakukan hal itu?” Ia telah tinggal di kuil itu malam sebelumnva, dan sekarang sekitar dua puluh pendeta muda berbaris sepanjang jalan setapak, hendak melepas keberangkatannya, padahal la minta diri pagi itu dengan maksud menghindari pertunjukan macam itu.

Ia cepat bersalaman dengan mereka, sambil mengucapkan kata-kata perpisahan dengan sopan, kemudian segera menuruni jalan yang menghadap ke sejumlah lembah yang dikenal dengan nama Kujukutani. Baru sesudah ia mencapai kembali dunianya yang biasa, ia dapat merasa lega. Sebagai orang yang sadar akan sifat khilafnya sendiri, bau dunia yang ini terasa melegakan.

“Halo, siapa Anda ini?” Pertanyaan itu datang kepadanya seperti tembakan, ketika mereka membelok di tikungan jalan itu.

“Dan Anda siapa?” tanya Nuinosuke.

Samurai bertubuh tegap dan berkulit kuning yang berdiri di tengah jalan itu berkata sopan, “Maafkan saya, kalau saya keliru, tapi apa Anda bukan abdi senior Yang Dipertuan Hosokawa Tadatoshi, Nagaoka Sado?”

“Saya memang Nagaoka. Siapa Anda, dan bagaimana Anda bisa tahu saya ada di daerah ini?”

“Nama saya Daisuke. Saya anak tunggal Gesso, yang hidup memencilkan diri di Gunung Kudo.”

Melihat bahwa nama itu tidak menimbulkan reaksi apa-apa, Daisuke pun berkata, “Ayah saya sudah membuang namanya yang lama, tapi se­belum Pertempuran Sekigahara dia dikenal dengan nama Sanada Saemonnosuke.”

“Maksud Anda Sanada Yukimura?”

“Betul.” Dengan sikap malu yang berlawanan dengan tampangnya, kata Daisuke, “Seorang pendeta dari Kuil Seiganji singgah di rumah ayah saya tadi pagi. Dia bilang, Bapak datang berkunjung ke Gunung Koya. Kami men­dengar Bapak mengadakan perjalanan ini secara incognito, tapi ayah saya berpendapat, sayang sekali kalau tidak mengundang Bapak minum teh.”

“Oh, saya mengucapkan terima kasih atas kebaikan beliau,” jawab Sado. Ia menyipitkan mata sebentar, kemudian katanya pada Nuinosuke, “Kupikir kita mesti menerima undangannya. Betul?”

“Betul, Pak,” jawab Nuinosuke kurang bersemangat.

Daisuke berkata, “Hari masih cukup pagi, tapi ayah saya merasa mendapat kehormatan kalau Bapak sudi bermalam di tempat kami.”

Sado ragu-ragu sejenak, apakah cukup bijaksana kalau ia menerima keramahtamahan orang yang dianggap musuh Keluarga Tokugawa itu. Tapi kemudian ia mengangguk, katanya, “Soal itu dapat kita putuskan nanti, tapi dengan senang hati saya akan minum teh dengan ayah Anda. Setuju, Nuinosuke?”

“Setuju, Pak.”

Nuinosuke kelihatan agak gelisah, tapi ketika mereka mulai berjalan di belakang Daisuke, tuan dan abdi itu saling melontarkan pandangan maklum.

Dari kampung di Gunung Kudo itu, mereka mendaki gunung lagi ke tempat kediaman yang terpisah dari rumah-rumah lain. Tanah yang dikitari dinding batu rendah, yang disambung pagar rumput anyam itu, mirip dengan rumah yang setengah dibentengi, milik panglima perang kecil di daerah, tapi kalau diperhatikan segala sesuatunya, orang lebih terkesan oleh kehalusannya daripada kesiapan militernya.

“Ayah saya di sana itu, di dekat rumah beratap lalang,” kata Daisuke, ketika mereka sudah melewati pintu gerbang.

Ada sepetak kecil kebun sayur, cukup untuk menghasilkan bawang dan dedaunan bahan sup pagi dan malam hari. Rumah utama berdiri di depan batu terjal, di dekat beranda samping tumbuh rumpun bambu, dan di baliknya dua rumah lagi baru saja kelihatan.

Nuinosuke berlutut di beranda, sementara Sado dipersilakan masuk ruangan.

Sado duduk, dan katanya, “Tenang sekali di sini.”

Beberapa menit kemudian, seorang perempuan muda yang ternyata istri Daisuke diam-diam menghidangkan teh, kemudian pergi.

Sementara menanti kedatangan tuan rumah, Sado melayangkan pandang­annya ke arah kebun dan lembah. Di bawah ada desa, dan di kejauhan tampak kota penginapan Kamuro. Bunga-bunga kecil berkembang di lumut yang bergayut pada atap lalang yang menggelantung. Tercium pula bau semerbak setanggi yang jarang ditemui. la dapat mendengar sungai mengalir cepat, melintasi rumpun bambu, sekalipun tak dapat melihatnya.

Ruangan itu sendiri menimbulkan perasaan keelokan yang tenteram, yang secara halus mengingatkan orang bahwa pemilik kediaman yang tidak megah ini adalah anak kedua Sanada Masayuki, Yang Dipertuan Benteng Ueda yang berpenghasilan 190.000 gantang.

Tiang-tiang dan blandar-blandarnya tipis, langit-langitnya rendah. Dinding di belakang ceruk kamar yang kecil itu terbuat dari tanah liat merah yang kasar pengerjaannya. Karangan bunga di dalam ceruk kamar berupa setangkai kembang pir, dalam jambangan keramik ramping berwarna kuning dan hijau muda. Sado teringat akan “kembang pit tunggal yang bermandikan hujan muslin semi” karya Po Chu-i, dan cinta yang menyatukan Kaisar Cina dengan Yang Kuei-fei, seperti dilukiskan dalam Chang He Ke. Ia pun seolah mendengar sedu-sedan tanpa suara.

Matanya bergerak ke arah gulungan perkamen di atas karangan bunga. Huruf-huruf yang besar polos itu berbunyi, “Hokoku Daimyojin”, yaitu nama yang diberikan kepada Hideyoshi ketika ia mencapai tingkat dewa, sesudah meninggal. Di satu sisi, satu catatan dengan huruf-huruf yang jauh lebih kecil menyatakan bahwa itu adalah karya putra Hideyoshi, yaitu Hideyori, pada umur delapan tahun. Sado, yang membelakangi gulungan itu, merasa sikapnya terhadap Hideyoshi kurang sopan. Sado pun beringsut sedikit ke samping. Selagi ia berbuat demikian, tiba-tiba ia tersadar bahwa bau menyenangkan itu bukan dari setanggi yang terbakar pada waktu itu juga, melainkan dari dinding dan shoji, yang tentunya telah menyerap bau semerbak itu ketika setanggi ditempatkan di sana pagi dan malam untuk memurnikan ruangan, guna menghormati Hideyoshi. Dapat diperkirakan bahwa persembahan sake diberikan juga tiap hari, sebagaimana diperbuat terhadap dewa-dewa Shinto yang ada.

“Ya,” pikirnya, “Yukimura memang berbakti pada Hideyoshi, sebagaimana dikatakan orang.” Yang tidak dapat ia pahami adalah kenapa Yukimura tidak menyembunyikan gulungan itu. Ia memang punya reputasi sebagai orang yang tak dapat diramalkan, orang dalam bayangan, yang mengintai dan menanti saat yang tepat untuk kembali ke tengah kancah peristiwa negeri. Tidak sukar membayangkan bahwa para tamu kemudian dapat menyampaikan kesan-kesan mereka kepada pemerintah Tokugawa.

Terdengar langkah kaki mendekat di sepanjang gang di luar. Laki-laki kecil kurus yang memasuki ruangan itu mengenakan jubah tanpa lengan. la hanya mengenakan pedang pendek di depan obi-nya. Dalam dirinya terpancar kesan kesederhanaan.

Sambil berlutut dan membungkuk ke lantai, Yukimura berkata, “Maafkan saya, karena menyuruh anak saya mengundang Bapak kemari dan meng­ganggu perjalanan Bapak.”

Sikap merendahkan diri itu membuat Sado merasa tak enak. Dari sudut pandangan resmi, Yukimura sudah melepaskan statusnya. Ia sekarang hanyalah seorang ronin yang bernama Budha, Denshin Gesso. Namun demikian, ia adalah putra Sanada Masayuki, dan kakaknya, Nobuyuki, adalah daimyo yang mempunyai hubungan dekat dengan Keluarga Tokugawa. Sado, yang hanya seorang abdi, berkedudukan jauh lebih rendah.

“Anda tak pantas membungkuk demikian rupa pada saya,” kata Sado, menolak penghormatan itu. “Sungguh merupakan kehormatan dan ke­nikmatan tak terduga, bahwa saya bertemu lagi dengan Anda. Saya senang melihat Anda sehat walafiat.”

“Bapak demikian juga kelihatannya,” jawab Yukimura yang mulai santai, sementara Sado masih membungkuk. “Saya senang mendengar Yang Dipertuan Tadatoshi telah kembali ke Buzen dengan selamat.”

“Terima kasih. Ini tahun ketiga sejak meninggalnya Yang Dipertuan Yusai, karenanya menurut beliau sudah tepat waktunya.”

“Apa sudah selama itu?”

“Ya. Saya sudah pergi ke Buzen juga, walaupun saya tak mengerti untuk apa Yang Dipertuan Tadatoshi mempertahankan barang peninggalan macam saya ini. Seperti Tuan tahu, saya juga telah mengabdi kepada ayah dan kakeknya.”

Ketika hal-hal resmi sudah lewat, dan mereka mulai bicara tentang ini­-itu, Yukimura bertanya, “Apa Anda sudah bertemu dengan guru Zen kita belakangan ini?”

“Tidak, cukup lama juga saya tidak bertemu atau mendengar sesuatu tentang Gudo. Oh, ini jadi mengingatkan saya. Saya bertemu pertama kali dengan Anda di kamar semedinya. Waktu itu Anda masih kanak-kanak, dan Anda bersama ayah Anda.” Sado tersenyum senang mengenang masa ia dipercayai membangun Shumpoin, sebuah gedung yang disumbangkan Keluarga Hosokawa kepada Kuil Myoshinji.

“Banyak setan telah datang pada Gudo untuk meringankan beban,” kata Yukimura. “Dia menerima mereka semua, tak peduli tua atau muda, daimyo atau ronin.”

“Sesungguhnya, menurut saya, beliau terutama menyukai ronin-ronin muda,” renung Sado. “Beliau selalu mengatakan bahwa seorang ronin sejati tidak mencari kemasyhuran atau keuntungan, tidak menjilat orang berkuasa, tidak mencoba menggunakan kekuatan politik untuk mencapai tujuan-­tujuan sendiri, tidak mengecualikan dirinya dari penilaian-penilaian moral. Sebaliknya, dia orang yang berpikiran luas, sebagaimana awan yang meng­apung, cepat bertindak sebagaimana hujan, dan cukup puas berada di tengah kemiskinan. Dia tidak pernah menetapkan sasaran bagi dirinya sendiri, dan tidak pernah menggerutu.”

“Anda ingat semua itu sesudah bertahun-tahun lm?” tanya Yukimura.

Sado mengangguk sedikit. “Beliau juga menyatakan bahwa seorang samurai sejati sukar ditemukan, bagaikan sebutir mutiara di tengah laut biru yang luas. Tulang-belulang ronin yang tak terhitung jumlahnya, dan terkubur karena mengorbankan nyawa demi kebaikan negeri mi, beliau perbandingkan dengan tiang-tiang pendukung bangsa ini.” Sado memandang langsung mata Yukimura ketika mengucapkan kata-kata itu, tapi Yukimura tidak melihat sindiran terhadap orang-orang yang memperoleh status baru, se­bagaimana dirinya itu.

“Semua itu membuat saya teringat,” katanya. “Salah seorang ronin yang duduk di kaki Gudo waktu itu adalah pemuda dari Mimasaka bernama Miyamoto…”

“Miyamoto Musashi?”

“Betul, Musashi. Dia tampaknya memiliki kedalaman, walaupun waktu itu umurnya baru sekitar dua puluh tahun, dan kimononya selalu kotor.”

“Ya, tentunya itulah orangnya.”

“Kalau begitu, Anda ingat dia?”

“Tidak, saya tak pernah mendengar apa-apa tentang dia, sampai baru-­baru ini saja, waktu saya ada di Edo.”

“Dia orang yang perlu diperhatikan. Gudo mengatakan bahwa pendekat­annya terhadap Zen memberi harapan; karena itu, saya memperhatikannya. Tapi kemudian tiba-tiba dia menghilang. Satu-dua tahun kemudian, saya dengar dia memperoleh kemenangan cemerlang melawan Perguruan Yoshioka. Saya ingat, waktu itulah saya berpikir bahwa Gudo tentunya pandai sekali menilai orang.”

“Saya bertemu dia kebetulan sekali. Dia berada di Shimosa waktu itu, memberikan pelajaran kepada sejumlah orang desa, tentang cara memper­tahankan diri dari bandit-bandit. Belakangan dia membantu mereka me­ngubah tanah gersang menjadi sawah.”

“Saya pikir, dia jenis ronin sejati yang dibayangkan Gudo—mutiara di tengah samudra luas.”

“Apa benar demikian pendapat Anda? Saya sudah merekomendasikan dia kepada Yang Dipertuan Tadatoshi, tapi saya kuatir menemukan dia sama sukarnya dengan menemukan mutiara. Satu hal Anda boleh yakin. Kalau seorang samurai seperti itu menerima kedudukan resmi, maka pasti bukan demi penghasilan. Yang dipentingkannya adalah apakah kerjanya sesuai dengan cita-citanya. Ada kemungkinan Musashi lebih menyukai Gunung Kudo daripada Keluarga Hosokawa.”

“Apa?”

Sado menghapus pernyataannya dengan tawa singkat, seakan-akan per­nyataannya itu hanya keseleo lidah saja.

“Anda tentunya berkelakar,” kata Yukimura. “Dalam keadaan saya sekarang mi, menggaji seorang pembantu pun saya hampir tak dapat, apalagi seorang ronin terkenal. Saya sangsi Musashi akan datang, sekalipun misalnya saya mengundangnya.”

“Tak ada guna menyangkalnya,” kata Sado. “Bukan rahasia lagi bahwa Keluarga Hosokawa berada di pihak Keluarga Tokugawa. Dan setiap orang tahu, Anda penopang andalan Hideyori. Melihat gulungan di ceruk kamar itu, saya terkesan akan kesetiaan Anda.”

Yukimura seakan-akan tersinggung, katanya, “Gulungan itu saya dapat dari seseorang di Benteng Osaka, sebagai ganti potter kenangan Hideyoshi. Saya memang berusaha menjaganya baik-baik. Tapi Hideyoshi sudah me­ninggal.” Ia menelan ludah, lalu lanjutnya, “Zaman sudah berubah, itu jelas. Orang yang bukan ahli pun bisa menilai bahwa Osaka telah mengalami hari-hari buruk, sementara kekuasaan Keluarga Tokugawa terus tumbuh. Tapi saya memang orang yang tak dapat mengubah kesetiaan dan mengabdi pada majikan lain.”

“Saya sangsi orang akan percaya bahwa soalnya demikian sederhana. Kalau saya boleh bicara terus terang, tiap orang mengatakan bahwa Hideyori dan ibunya memberikan uang dalam jumlah besar pada Anda tiap tahun, dan dengan satu lambaian tangan saja, Anda dapat menggerakkan lima atau enam ribu ronin.”

Yukimura tertawa mencela. “Itu sama sekali tidak benar. Begini, Pak Sado, tidak ada yang lebih buruk daripada anggapan orang yang menyatakan bahwa kita lebih daripada yang sebenarnya.”

“Anda tak bisa menyalahkan mereka. Anda menghadap Hideyoshi ketika Anda masih muda, dan di antara yang lain-lain, Anda yang paling disukainya. Saya mengerti, ayah Anda kami dengar pernah mengatakan bahwa Anda adalah Kusunoki Masashige, atau K’ung-ming zaman kita.”

“Anda ini bikin saya malu saja.”

“Apa itu keliru?”

“Saya ingin menghabiskan sisa hidup saya di sini dengan tenang, dalam bayangan gunung, di mana Hukum sang Budha masih terjaga. Itu saja. Saya bukan orang yang berbudaya tinggi. Cukuplah buat saya, kalau saya dapat meluaskan ladang sedikit, sempat melihat kelahiran cucu saya, makan mi soba yang baru selesai dibuat di musim gugur, dan makan sayuran segar di musim semi. Lebih dari itu, saya ingin berumur panjang, jauh dari perang atau selentingan tentang perang.”

“Apa betul-betul demikian?” tanya Sado halus.

“Tertawalah, kalau Anda suka, tapi saya menghabiskan waktu senggang saya dengan membaca Lao-tsu dan Chung-tsu. Kesimpulan yang saya per­oleh adalah bahwa hidup ini untuk dinikmati. Tanpa kenikmatan, apa gunanya hidup?”

“Nah, nah,” seru Sado, pura-pura terkejut.

Mereka bercakap-cakap sekitar satu jam lagi, sambil minum teh segar yang dihidangkan istri Daisuke.

Akhirnya kata Sado, “Saya kuatir saya terlalu lama tinggal di sini, meng­habiskan waktu Anda dengan obrolan saya. Nuinosuke, kita pergi sekarang?”

“Janganlah terburu-buru,” kata Yukimura. “Anak saya dan istrinya sudah membuat mi. Itu makanan desa yang tak bermutu, tapi saya harap Anda suka menyantapnya bersama kami. Kalau ada rencana singgah di Kamuro, Anda masih punya banyak waktu.”

Tepat waktu itu Daisuke muncul dan bertanya pada ayahnya, apakah sudah siap menyantap makanan yang dihidangkan. Yukimura berdiri dan memimpin tamunya menyusuri gang menuju bagian belakang rumah itu.

Sesudah mereka duduk, Daisuke menawarkan sumpit pada Sado, kata­nya, “Saya kuatir masakan ini tidak terlalu enak, tapi biar bagaimana saya persilakan mencoba.”

Istrinya, yang tidak terbiasa dengan orang lain di tempat itu, malu-malu menawarkan mangkuk sake, tapi dengan sopan ditolak Sado. Daisuke dan istrinya masih tinggal di tempat itu beberapa waktu lamanya, tapi kemudian mohon diri.

“Bunyi apa itu?” tanya Sado. Bunyi itu terdengar agak menyerupai alat tenun, tapi lebih keras dan nadanya agak lain.

“Ah, itu? Itu roda kayu untuk membuat tali. Maaf kalau saya katakan bahwa saya terpaksa mengerahkan keluarga dan para pembantu bekerja memintal tali, yang kemudian kami jual untuk mengatasi keuangan.” Ke­mudian tambahnya, “Kami semua sudah terbiasa dengan bunyi itu, tapi saya kira bisa juga mengganggu orang yang tidak terbiasa. Akan saya suruh menghentikan.”

“Ah, tak usah. Bunyi itu tidak mengganggu saya. Saya tak ingin meng­hambat pekerjaan Anda.”

Ketika mulai makan, Sado pun mengarahkan pikiran pada makanan tersebut, sebab kadang kala makanan dapat mencerminkan seseorang. Namun tak ada yang dapat ia ungkap dari situ. Yukimura sama sekali tidak mirip dengan samurai muda yang pernah dikenalnya bertahun-tahun lalu. Rupanya Yukimura telah menyelimuti keadaannya sekarang dengan kekaburan.

Kemudian terpikir oleh Sado bunyi-bunyi yang didengarnya-bunyi yang datang dari dapur, orang-orang yang mondar-mandir, dan beberapa kali denting uang yang sedang dihitung. Para daimyo yang telantar tidak terbiasa dengan kerja fisik, dan cepat atau lambat mereka akan kehabisan harta untuk dijual. Maka dapat dimengerti bahwa Benteng Osaka sudah tidak lagi menjadi sumber dana. Namun gagasan bahwa Yukimura berada dalam kesulitan keuangan yang sangat, anehnya membuat ia gelisah.

Ia sadar bahwa tuan rumah mungkin mencoba merangkaikan bagian-­bagian percakapan mereka, untuk membentuk gambaran tentang apa yang sedang terjadi di Keluarga Hosokawa, namun tidak ada petunjuk tuan rumah melakukan itu. Yang mencolok mengenai pertemuan mereka adalah bahwa Yukimura tidak bertanya tentang kunjungannya ke Gunung Koya. Sado akan memberikan jawaban dengan senang hati, karena memang tidak ada yang rahasia. Beberapa tahun lalu, Hosokawa Yusai dikirim oleh Hideyoshi ke Kuil Seiganji, dan tinggal di sana beberapa waktu lamanya. Ia telah meninggalkan buku-buku, sejumlah tulisan, dan surat-surat pribadi yang menjadi kenang-kenangan penting. Sado baru memeriksa semuanya itu, memilah-milahnya, dan mengatur agar kuil dapat mengembalikannya pada Tadatoshi.

Nuinosuke, yang tidak juga bergerak dari beranda, melontarkan pandangan ingin tahu ke arah belakang rumah. Hubungan antara Edo dan Osaka boleh dikatakan sedang tegang; Kenapa pula Sado mengambil risiko macam ini? Bukannya ia membayangkan Sado sudah dekat dengan bahaya, tapi ia mendengar bahwa Yang Dipertuan dari Provinsi Kii, Asano Nagaakira, sudah memberikan instruksi untuk mengawasi Gunung Kudo dengan ketat. Kalau ada di antara orang-orang Asano yang melaporkan bahwa Sado me­lakukan kunjungan rahasia pada Yukimura, ke-shogun-an akan curiga pada Keluarga Hosokawa.

“Sekarang ini kesempatanku,” pikirnya, ketika angin tiba-tiba bertiup melanda kembang forsitia dan keria di kebun. Awan hitam dengan cepat mengumpul, dan hujan rintik-rintik mulai turun.

Ia bergegas ke gang, dan katanya, “Mulai hujan, Pak. Kalau kita akan minta diri, sekarang ini waktunya.”

Merasa senang mendapat kesempatan melepaskan diri, Sado cepat berdiri. “Terima kasih, Nuinosuke,” katanya. “Betul, mari kita jalan.”

Yukimura menahan diri untuk mendesak Sado bermalam. Ia berseru pada Daisuke dan istrinya, katanya, “Berikan mantel hujan kepada para tamu kita ini. Dan kau, Daisuke, antar mereka ke Kamuro.”

Di pintu gerbang, sesudah menyatakan terima kasih atas keramahtamahan Yukimura, Sado berkata, “Saya yakin kita akan bertemu kembali, tak lama lagi. Barangkali pada hari hujan macam ini, atau barangkali pada waktu angin kencang bertiup. Sementara itu, saya harap Anda sehat-sehat saja.”

Yukimura menyeringai dan mengangguk. Ya, tak lama lagi…. Sesaat lamanya, kedua orang itu saling membayangkan melihat satu sama lain sedang menaiki kuda, memegang lembing. Namun yang ada saat ini hanyalah tuan rumah yang sedang membungkuk kepada tamunya, di tengah kelopak bunga aprikot yang berguguran, dan tamu yang hendak berangkat pulang, mengenakan mantel jerami yang basah oleh air hujan.

Sambil pelan-pelan menuruni jalan, kata Daisuke, “Hujan tak akan besar. Belakangan ini sering turun hujan gerimis macam ini. “

Namun demikian, awan di atas Lembah Senjo dan puncak Koya tampak mengancam, dan tanpa sadar mereka mempercepat langkah.

Memasuki Kamuro, mereka disambut oleh pemandangan berupa seorang laki-laki di atas kuda yang juga dimuati ikatan-ikatan kayu bakar. Orang itu terikat demikian erat, hingga tak dapat bergerak. Yang menuntun kuda adalah seorang pendeta berjubah putih. Ia memanggil Daisuke dan berlari mendekati, tapi Daisuke pura-pura tidak mendengar.

“Ada orang memanggil Anda,” kata Sado, lalu bertukar pandang dengan Nuinosuke.

Daisuke terpaksa memperhatikan pendeta itu, katanya, “Oh, Rinshobo. Maaf, aku tak melihat tadi.”

“Saya datang langsung dari Celah Kiimi,” kata si pendeta, dengan suara keras bersemangat. “Orang dari Edo yang mesti kita amat-amati itu saya temui di Nara. Dia memberikan perlawanan hebat, tapi kami tangkap dia hidup-hidup. Sekarang, kalau kita bawa dia ke Gesso dan kita paksa dia bicara, kita akan menemukan…”

“Apa yang kaubicarakan ini?” sergah Daisuke.

“Orang di atas kuda itu. Dia mata-mata dari Edo.”

“Apa tak bisa kau tutup mulut, tolol!” desis Daisuke. “Tak tahu kamu, siapa orang yang bersamaku itu? Nagaoka Sado dari Keluarga Hosokawa! Kita jarang mendapat hak istimewa melihat dia, dan aku tak ingin kau mengganggu kami dengan leluconmu yang konyol itu.”

Mata Rinshobo yang melayang pada kedua musafir itu tampak terkejut. Sebelum dapat menahan diri, sudah terluncur dari mulutnya, “Keluarga Hosokawa?”

Sado dan Nuinosuke mencoba bersikap tenang dan masa bodoh, tapi angin melecut mantel hujan mereka, hingga mantel itu mengepak-ngepak seperti sayap burung bangau, dan agak menggagalkan usaha mereka.

“Kenapa?” tanya Rinshobo dengan suara rendah.

Daisuke menariknya sedikit ke samping, dan bicara berbisik. Ketika ia kembali mendekati para tamunya, kata Sado, “Bagaimana kalau Anda kembali saja sekarang? Saya tak ingin merepotkan Anda lebih banyak lagi.”

Setelah memperhatikan mereka sampai mereka tidak kelihatan lagi, kata Daisuke pada pendeta itu, “Bagaimana mungkin kau begitu bodoh? Apa tak bisa kau membuka mata sebelum membuka mulut? Ayahku takkan senang mendengar ini.”

“Ya, Pak. Maaf. Saya tidak tahu tadi.”

Walau mengenakan jubah, orang itu bukanlah pendeta. Ia adalah Toriumi Benzo, salah seorang abdi terkemuka Yukimura.

Pelabuhan

“GONNOSUKE! … Gonnosuke! … Gonnosuke! …”

Iori rupanya tak dapat berhenti memanggil. Ia menyebut nama itu terus­menerus, tak henti-henti. Setelah menemukan sebagian barang milik Gonnosuke di tanah, ia yakin Gonnosuke sudah mati.

Sehari semalam telah berlalu. Selama itu ia hanya berjalan linglung, lupa akan kelelahannya. Kaki, tangan, dan kepalanya terpercik darah, dan kimono­nya compang-camping.

Setiap kali terserang kejang, ia menatap langit dan teriaknya, “Aku siap.” Atau ia memandang tanah dan mengutuk.

“Apa aku sudah gila?” pikirnya, tiba-tiba merasa dingin. Melihat ke dalam genangan air, ia mengenali wajahnya sendiri dan merasa lega. Tapi ia sendirian, tak ada orang yang akan ditegurnya. Dan ia hanya setengah percaya bahwa dirinya masih hidup. Ketika tadi terbangun di dasar jurang, ia tak dapat mengingat di mana ia berada beberapa hari terakhir ini. Tak terpikir olehnya untuk mencoba kembali ke Kuil Kongoji atau Koyagyu.

Sebuah benda berkilau, dengan warna-warna pelangi, menarik perhatian­nya—seekor ayam pegar. Kemudian ia tersadar akan semerbak bau wisteria liar, dan ia duduk. Ia coba memahami keadaannya, dan terpikir olehnya matahari itu ada di mana-mana—di balik awan, di antara puncak-puncak gunung, maupun di dalam lembah. Ia berlutut, menangkupkan tangan sambil memejamkan mata, dan mulai berdoa. Ketika ia membuka mata beberapa menit kemudian, yang mula-mula ia lihat adalah samudra yang biru berkabut, di antara dua gunung.

“Anakku,” terdengar suara keibuan. “Kau baik-baik saja?”

“Hah?” Dengan terkejut Iori menolehkan matanya yang cekung pada kedua perempuan yang menatapnya dengan rasa ingin tahu itu.

“Menurut Ibu, apa yang terjadi dengan dia?” tanya perempuan yang muda, sambil memandang Iori dengan sikap tak suka.

Sang ibu dengan heran berjalan mendekati Iori, dan ketika melihat darah pada pakaian Iori, ia mengerutkan kening. “Apa luka-luka itu tidak sakit?” tanyanya. Iori menggelengkan kepala. Perempuan itu menoleh pada anaknya, katanya, “Dia rupanya mengerti kata-kata Ibu.”

Mereka menanyakan nama Iori, dari mana ia datang, di mana ia dilahirkan, apa kerjanya di sini, dan pada siapa ia berdoa. Sedikit demi sedikit, sambil mencari-cari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu, ingatan Iori kembali.

Perempuan yang lebih muda kini lebih simpatik sikapnya. Namanya Otsuru. Katanya, “Mari kita bawa keSakai. Barangkali ada gunanya nanti di toko. Umurnya cocok.”

“Oh, gagasan baik juga,” kata ibunya, Osei. “Tapi apa dia mau?”

“Dia pasti mau… Betul, tidak?”

Iori mengangguk, katanya, “Yaa.”

“Kalau begitu, ayolah, tapi kau mesti mengangkat barang kami.”

“Uh.”

Iori membalas kata-kata mereka dengan gerutuan, namun ia tidak me­ngatakan apa-apa dalam perjalanan turun gunung, menempuh jalan pedesaan, dan kemudian masuk Kishiwada. Tapi, sesudah kembali berada di tengah orang lain, ia mau berbicara lagi.

“Di mana kalian tinggal?” tanyanya.

“Di Sakai.”

“Apa dekat sini?”

“Tidak, dekat Osaka.”

“Di mana itu Osaka?”

“Kita akan naik kapal nanti, dari sini ke Sakai. Nanti kau akan tahu.”

“Oh! Kapal?” Karena girang dengan kemungkinan mengadakan perjalanan, Iori berceloteh beberapa menit lamanya, dan bercerita pada mereka bahwa sudah beberapa kali ia naik kapal tambang, dalam perjalanan dari Edo ke Yamato, tapi biarpun samudra tidak jauh dari tempat kelahirannya di Shimosa, ia tidak pernah naik kapal di laut.

“Kalau begitu, kau senang, ya?” tanya Otsuru. “Tapi kau jangan menyebut ibuku ‘Bibi’. Katakan ‘Ibu’ kalau kau bicara dengan beliau.”

“Uh.”

“Dan jangan menjawab ‘Uh’. Katakan ‘Ya, Bu.”‘

“Ya, Bu.”

“Ha, itu lebih baik. Nah, kalau kau tinggal dengan kami dan kerja keras, akan kujadikan kau pembantu toko.”

“Apa kerja keluargamu?”

“Ayahku pialang kapal.”

“Apa itu?”

“Dia pedagang. Dia punya banyak kapal, dan kapal-kapal itu berlayar ke seluruh Jepang Barat.”

“Oh, cuma pedagang?” dengus Iori.

“Cuma pedagang? Lho…!” seru gadis itu. Sang ibu cenderung untuk mengabaikan saja kekasaran Iori, tapi anaknya naik darah. Tapi kemudian ia bimbang, dan katanya, “Saya rasa dia belum pernah melihat pedagang selain dari penjual gula-gula atau pedagang pakaian.” Maka kebanggaannya yang luar biasa sebagai salah seorang pedagang Kansai pun bangkit, dan gadis itu menerangkan pada Iori bahwa ayahnya memiliki tiga gudang besar-besar di Sakai , dan beberapa puluh kapal. Ia mencoba menerangkan pada Iori bahwa ada kantor-kantor cabang di Shimonoseki, Marukame, dan Shikama, dan bahkan pelayanan yang mereka berikan pada Keluarga Hosokawa di Kokura demikian penting, hingga kapal-kapal ayahnya memiliki status kapal negara.

“Dan,” lanjutnya, “beliau diizinkan memiliki nama keluarga dan mengena­kan dua bilah pedang, seperti seorang samurai. Semua orang di Honshu barat dan Kyushu kenal dengan nama Kobayashi Tarozaemon dari Shimonoseki. Di waktu perang, daimyo seperti Shimazu dan Hosokawa tidak pernah cukup kapal, hingga ayahku jadi sama pentingnya dengan jenderal.”

“Aku tadi tidak bermaksud membuatmu marah,” kata Iori.

Kedua wanita itu tertawa.

“Kami bukan marah,” kata Otsuru. “Tapi anak-anak macam kau ini, apa yang kauketahui tentang dunia?”

“Maaf.”

Di belokan, mereka disambut oleh bau tajam udara bergaram. Otsuru menunjuk kapal yang tertambat di Dermaga Kishiwada. Kapal itu dapat membawa muatan lima ratus gantang, dan sudah dimuati hasil bumi se­tempat.

“Itu kapal yang akan kita pakai pulang,” kata gadis itu bangga.

Kapten kapal dan beberapa agen Kobayashi keluar dari warung teh pelabuhan, untuk menyambut mereka.

“Bagaimana? Senang Ibu berjalan-jalan?” tanya sang kapten. “Saya minta maaf. Muatan begitu banyak, hingga tidak banyak ruang tersisa. Apa kita akan naik?”

Ia mengantar mereka ke buritan kapal, di mana telah disisihkan ruang bersekat tirai. Di bawah telah dihamparkan permadani merah, dan alat-alat pernis gaya Momoyama yang elok dipakai mewadahi sejumlah besar makanan dan sake. Iori merasa seperti sedang memasuki ruang kecil yang teratur baik di rumah seorang daimyo.

Kapal itu sampai di Sakai petang hari, sesudah menempuh perjalanan ke Teluk Osaka, tanpa halangan apa pun. Para musafir langsung menuju gedung Kobayashi yang menghadap dermaga, dan di sana mereka disambut oleh manajer bernama Sahei, dan sejumlah besar pembantu yang berkumpul di pintu masuk lebar.

Ketika Osei memasuki gedung, ia menoleh, katanya, “Sahei, saya minta anak itu diurus.”

“Maksud Ibu, anak kecil kotor yang turun dari kapal itu?”

“Ya. Kelihatannya dia cerdas, jadi kau tentunya dapat mempekerjakan dia… Dan tolong urus pakaiannya. Barangkali dia berkutu. Suruh dia mandi baik-baik, dan kasih dia kimono baru. Sudah itu suruh dia tidur.”

Iori tidak melihat nyonya rumah atau anak perempuannya lagi sampai beberapa hari sesudahnya. Ada tirai yang panjangnya hanya separuh, me­misahkan kantor dengan tempat tinggal di belakang. Tirai itu seperti dinding. Tanpa izin khusus, Sahei pun tidak berani melewatinya.

Iori mendapat sebuah sudut dalam “toko”, demikianlah kantor itu disebut. Di situ la dapat tidur. Ia bersyukur sekali telah diselamatkan, na­mun tak lama kemudian ia merasa tak puas dengan cara hidupnya yang baru itu.

Suasana kosmopolitan yang kini mengitarinya memberikan pesona tertentu kepadanya. Ia ternganga melihat hal-hal baru yang berasal dari luar negeri di jalan-jalan, melihat kapal-kapal di pelabuhan dan tanda-tanda kemakmuran yang tampak dari cara hidup orang-orang. Tapi yang selalu didengarnya adalah, “Hei, Cung! Kerjakan ini ! … Kerjakan itu!” Dari pembantu terendah sampai manajer, semua menyuruhnya berlari ke sana kemari seperti anjing, tapi sikap mereka sungguh berbeda saat berbicara dengan anggota keluarga atau langganan. Dengan mereka, orang-orang itu berubah menjilat. Dan dari pagi hingga malam, mereka hanya bicara tentang uang dan sekali lagi uang. Kalau tidak kerja, dan sekali lagi kerja.

“Dan mereka menganggap diri mereka manusia!” pikir Iori. Ia men­dambakan langit biru dan bau rumput hangat di bawah sinar matahari. Berkali-kali la memutuskan untuk melarikan diri. Hasrat itu paling kuat apabila ia ingat akan Musashi yang pernah berbicara tentang cara-cara menyegarkan semangat. Ia membayangkan pandangan mata Musashi, dan wajah Gonnosuke yang sudah meninggal. Dan Otsu.

Keadaan menjadi gawat pada suatu hari, ketika Sahei berseru, “Io! Io, di mana kau?” Karena tidak mendapat jawaban, Sahei berdiri, lalu mendekati ambang pintu kantor yang berupa tiang keyaki berpernis hitam. “Oh, kau di situ, anak baru!” serunya. “Kenapa kau tidak datang, padahal kau di­panggil?”

Iori waktu itu sedang menyapu jalan antara kantor dan gudang. Ia mengangkat wajah, tanyanya, “Memanggil saya?”

“Memanggil saya, Pak!”

“Oh, begitu.”

“Oh, begitu, Pak!”

“Ya, Pak.”

“Apa kau tidak punya telinga? Kenapa tidak menjawab panggilanku?”

“Saya dengar Bapak menyebut ‘Io’. Itu bukan saya. Nama saya Iori…, Pak.”

“Io itu sudah cukup. Dan ada soal lain lagi. Sudah kubilang beberapa hari lalu, jangan pakai pedang itu lagi.”

“Ya, Pak.”

“Berikan padaku.”

Sesaat Iori ragu-ragu, kemudian katanya, “Ini kenang-kenangan dari ayah saya! Saya tak dapat melepaskannya.”

“Anak kurang ajar! Berikan sini!”

“Bagaimanapun, saya kan tak ingin jadi pedagang.”

“Oh, kalau bukan karena pedagang, orang tak dapat hidup,” kata Sahei tegas. “Siapa yang mendatangkan barang-barang dari luar negeri? Nobunaga dan Hideyoshi memang orang-orang besar, tapi tak mungkin mereka mem­bangun benteng-benteng itu—Azuchi, Jurakudai, Fushimi—tanpa bantuan para pedagang. Coba perhatikan orang-orang di Sakai-Namban, Ruzon, Fukien, Amoi. Mereka semua melakukan perdagangan besar-besaran.”

“Saya tahu.”

“Bagaimana mungkin kau tahu?”

“Tiap orang bisa melihat rumah-rumah tenun besar di Ayamachi, Kinumachi, dan Nishikimachi; dan di atas bukit itu gedung Ruzon’ya kelihatan seperti benteng. Ada berderet-deret gudang dan rumah tinggal milik pedagang-pedagang kaya. Tempat ini, yah, saya tahu Ibu dan Otsuru bangga dengan ini, tapi kalau dibanding-bandingkan, semua ini tak ada artinya.”

“Oh, setan kecil kamu!”

Belum lagi Sahei keluar pintu, Iori sudah menjatuhkan sapu dan lari. Sahei memanggil beberapa pekerja pelabuhan, dan memerintahkan mereka menangkapnya.

Ketika Iori sudah diseret balik, Sahei mengomel. “Enaknya diapakan anak macam ini? Kerjanya membantah dan menertawakan kita semua. Hukum dia baik-baik hari ini.” Sambil kembali ke kantornya, katanya, “Ambil pedang itu!”

Mereka mengambil pedang Iori yang menjadi gara-gara itu, dan mengikat tangan Iori ke belakang. Lalu mereka ikatkan talinya ke sebuah peti barang besar, hingga Iori tampak seperti monyet yang dirantai.

“Tinggal di situ sebentar,” kata salah seorang dari mereka, sambil tertawa mengejek. “Biar orang-orang itu mempermainkanmu dulu.” Yang lain-lain tertawa terbahak-bahak, lalu kembali bekerja.

Tak ada yang lebih dibenci Iori daripada ini. Sering sekali Musashi dan Gonnosuke mengingatkannya untuk tidak melakukan hal-hal yang mem­permalukan dirinya sendiri.

Pertama-tama ia mencoba berdalih, kemudian berjanji akan memperbaiki tingkah lakunya. Dan ketika semua itu terbukti tidak membawa hasil, ia beralih pada caci maki.

“Manajer tolol-kentut tua gila! Lepaskan aku, dan kembalikan pedangku! Aku tak mau tinggal di rumah macam ini!”

Sahei keluar dan memekik, “Diam!” Kemudian ia mencoba menyumbat mulut Iori, tapi anak itu menggigit jarinya, karena itu ia langsung meng­hentikan usahanya dan menyuruh buruh-buruh pelabuhan melakukannya.

Iori menyentakkan ikatannya, menarik-nariknya ke sana kemari. Ia jadi tegang luar biasa dijadikan tontonan umum itu. Ia mulai menangis ketika seekor kuda kencing di dekatnya, dan cairan berbusa itu menetes-netes di kakinya.

Ketika akhirnya ia mulai tenang kembali, terlihat olehnya sesuatu yang hampir-hampir membuatnya pingsan. Di sebelah seekor kuda, berdiri seorang perempuan muda bertopi lak bertepi lebar, untuk melindunginya dari matahari yang menyengat. Kimononya yang terbuat dari kain rami sudah terikat untuk perjalanan. Ia memegang tongkat bambu kecil.

Sia-sia Iori mencoba meneriakkan nama Otsu. Hampir ia tercekik karena menjulurkan leher. Matanya kering, tapi bahunya bergetar karena sedu­sedan. Sungguh mengejutkan, bahwa Otsu begitu dekat dengannya. Ke mana Otsu pergi? Kenapa ia meninggalkan Edo?

Sore itu, ketika kapal ditambatkan di dermaga, tempat itu jadi bertambah ramai lagi.

“Sahei, apa kerja anak ini di sini? Macam beruang tontonan saja! Kejam itu, membiarkan dia begitu! Dan juga buruk buat usaha kita.” Orang yang masuk kantor itu adalah saudara sepupu Tarozaemon. Biasanya ia disebut Namban’ya, yaitu nama toko tempat ia bekerja. Noda-noda bekas cacar hitam semakin menambah kesan seram pada wajahnya yang tampak mudah marah itu. Tapi, walaupun ujud luarnya demikian, ia orang yang bersahabat dan sering memberikan gula-gula pada Iori. “Aku tidak keberatan kau menghukum dia,” lanjutnya, “tapi jangan dilakukan di jalan. Itu buruk buat nama Kobayashi. Lepaskan dia.”

“Baik, Pak.” Sahei segera mematuhi perintah itu, seraya menyampaikan pada Namban’ya keterangan terperinci tentang kenakalan Iori.

“Kalau kau tidak tahu akan kauapakan anak itu,” kata Namban’ya, “nanti kubawa dia pulang. Hari ini juga akan kubicarakan hal ini dengan Osei.”

Sahei takut akan akibat-akibatnya kalau nyonya rumah mendengar kejadian itu, karena itu ia berusaha meredakan kemarahan Iori. Sebaliknya, Iori sudah tak mau lagi berurusan dengan orang itu.

Dalam perjalanan keluar malam itu, Namban’ya berhenti di sudut toko tempat Iori berada. Sedikit mabuk, namun dengan semangat tinggi, katanya, “Kau memang tak akan ikut aku. Kedua perempuan itu tidak mau terima. Ha!”

Namun percakapannya dengan Osei dan Otsuru ternyata mendatangkan akibat bermanfaat. Hari berikutnya, Iori dapat masuk sekolah kuil, tidak jauh dari tempat itu. Ia diizinkan mengenakan pedang ke sekolah, dan Sahei maupun yang lain-lain tidak lagi mengganggunya.

Namun Iori tak dapat menenangkan diri. Saat berada di dalam rumah, sering matanya mengembara ke jalan. Setiap kali ada perempuan muda lewat, biarpun jauh dari gambaran Otsu, rona mukanya berubah. Kadang-­kadang ia berlari keluar, agar dapat melihat lebih jelas.

Pada suatu pagi, menjelang awal bulan sembilan, sejumlah besar muatan mulai datang dengan kapal sungai dari Kyoto. Tengah hari, peti-peti dan keranjang-keranjang sudah tertimbun tinggi di depan kantor. Label yang tertera di situ menunjukkan bahwa barang-barang itu milik samurai dari Keluarga Hosokawa. Mereka pergi ke Kyoto untuk urusan yang serupa dengan urusan yang telah menyebabkan Sado pergi ke Gunung Koya, me­nyelesaikan urusan Hosokawa Yusai sesudah ia meninggal. Sekarang mereka duduk sambil minum teh dan mengipas-ngipas diri, sebagian di dalam kantor, sebagian lagi di bawah tepian atap di luar.

Pulang dari sekolah, Iori pergi ke jalan. Di sana ia terhenti, wajahnya pucat.

Kojiro, yang duduk di atas sebuah keranjang besar, berkata pada Sahei, “Terlalu panas di tempat ini. Apa kapal kami belum merapat?”

Sahei menengadah dari surat muatan yang dipegangnya, dan menunjuk ke dermaga. “Kapal Bapak yang namanya Tatsumimaru, yang dl sana itu. Seperti Bapak lihat, orang belum selesai mengatur muatan, jadi tempat Anda sekalian di kapal belum siap. Maaf.”

“Saya lebih suka di kapal. Di sana lebih sejuk.”

“Baik, Pak. Akan saya lihat bagaimana keadaannya.” Sahei bergegas keluar, tanpa menghapus keringat di keningnya, karena terlampau terburu-­buru, dan di sana tampak olehnya Iori.

“Ngapain kau berdiri macam patung di situ? Sana ladeni penumpang. Ada teh, air dingin, air panas-beri mereka yang mereka minta.”

Iori pergi ke pondok di jalan dekat gudang, tempat ketel air dididihkan. Tapi di situ ia bukan melakukan pekerjaannya, melainkan berdiri saja menatap Kojiro.

Kojiro biasa dipanggil Ganryu sekarang, nama yang kedengaran bernada perguruan agaknya lebih tepat untuk umur dan statusnya sekarang. Tubuhnya lebih gemuk dan gempal. Wajahnya penuh. Matanya yang dulu tajam menusuk, sekarang tenang dan tenteram. Ia tak lagi sering menggunakan lidahnya yang setajam pedang, yang di masa lalu demikian banyak men­datangkan masalah. Tapi, bagaimanapun, martabat pedangnya telah menjadi bagian dari kepribadiannya.

Salah satu hasilnya adalah bahwa berangsur-angsur ia akhirnya diterima oleh para samurai yang sebaya dengannya. Mereka tidak hanya memujinya, tapi bahkan menghormatinya.

Sahei kembali dari kapal dengan keringat bercucuran. Sekali lagi minta maaf karena telah memaksa orang lama menanti, ia berkata, “Tempat duduk di tengah kapal belum siap, tapi yang di haluan sudah.” Ini berarti prajurit biasa dan para samurai muda dapat naik kapal. Mereka mulai mengumpulkan barang-barang dan meninggalkan tempat itu berombongan.

Tinggal Kojiro dan enam atau tujuh orang yang lebih tua, semuanya pejabat penting perdikan.

“Sado belum datang, ya?” tanya Kojiro.

“Belum, tapi mestinya tak lama lagi.”

“Sebentar lagi matahari condong ke barat,” kata Sahei pada Kojiro.

“Akan lebih sejuk kalau Bapak masuk.”

“Lalatnya bukan main,” keluh Kojiro. “Dan aku haus. Apa bisa minta teh lagi?”

“Tentu, Pak.” Tanpa berdiri lagi, Sahei berseru ke arah pondok air panas, “lo, apa kerjamu? Bawa teh buat tamu-tamu kita.” Dengan sibuknya ia kembali mengurus surat muatan itu, tapi ketika disadarinya Iori tidak menjawab, ia ulangi perintahnya. Sesudah itu, ia lihat anak itu berjalan pelan membawa beberapa cangkir teh dengan baki.

Iori menawarkan teh pada setiap samurai, sambil setiap kali membungkuk sopan. Di depan Kojiro, dengan dua cangkir terakhir, ia berkata, “Silakan minum teh.”

Dengan kepala kosong, Kojiro mengulurkan tangan, tapi tiba-tiba menarik tangan itu ketika matanya bertemu dengan mata Iori. Dengan terkejut, serunya, “Lho, ini kan…”

Sambil menyeringai, kata Iori, “Terakhir kali saya berjumpa dengan Bapak adalah di Musashino.”

“Apa?” ujar Kojiro keras, dengan nada yang hampir tidak sesuai dengan statusnya yang sekarang.

Baru ia hendak mengatakan hal lain lagi, Iori sudah berseru, “Oh, jadi Bapak ingat saya?” Lalu ia melemparkan baki itu ke wajah Kojiro.

“Oh!” teriak Kojiro sambil mencekal pergelangan Iori. Baki itu tidak mengenainya, tapi teh panas menciprati mata kirinya. Sisa teh tumpah ke dada dan pangkuannya, sedangkan baki menumbuk sebuah tiang di sudut.

“Kurang ajar!” teriak Kojiro. Ia lemparkan Iori ke lantai tanah, dan ia injakkan sebelah kakinya di tubuh anak itu. “Manajer!” panggilnya marah. “Anak nakal ini pegawaimu, kan? Coba sini, pegangi. Biar dia masih anak­-anak, dia tak akan kubiarkan.”

Sahei ketakutan setengah mati, dan bergegas melakukan apa yang di­perintahkan kepadanya. Tapi entah bagaimana, Iori berhasil menarik pedang­nya dan mengayunkannya ke lengan Kojiro. Kojiro menendangnya ke tengah ruangan, dan melompat mundur selangkah.

Sahei menoleh, dan cepat kembali sambil menjerit sekuat paru-parunya. Ia sampai ke tempat Iori tepat ketika anak itu sudah bangkit berdiri.

“Kau jangan ikut campur!” teriak Iori, kemudian sambil menatap wajah Kojiro, semburnya, “Hukuman setimpal untukmu!” lalu berlari ke luar.

Kojiro mengambil sebuah pikulan yang kebetulan ada di dekatnya, dan melemparkannya pada anak itu, tepat mengenai belakang lututnya. Iori jatuh tengkurap.

Atas perintah Sahei, beberapa orang menyerbu Iori dan menyeretnya kembali ke pondok air panas. Di situ seorang pembantu sedang menggosok kimono dan hakama Kojiro.

“Maafkan perbuatan keterlaluan ini,” motion Sahei.

“Tak tahu lagi kami, bagaimana mesti minta maaf,” kata salah seorang pembantu.

Tanpa memandang mereka, Kojiro mengambil handuk basah dari pem­bantu dan menghapus wajahnya.

Iori sudah dijatuhkan ke tanah, tangannya dilipat ke belakang. “Lepaskan saya,” pintanya dengan tubuh menggeliat kesakitan. “Saya takkan lari. Saya anak samurai. Saya lakukan ini tadi dengan sengaja, dan saya mau menerima hukuman seperti lelaki.”

Kojiro sudah selesai merapikan pakaian dan rambutnya. “Biarkan dia pergi,” katanya tenang.

Tak tahu bagaimana menanggapi tenangnya wajah samurai itu, Sahei berkata tergagap, “Betul… betul, Bapak tidak apa-apa?”

“Ya.” Tapi perkataan itu terdengar seperti paku dihunjamkan ke papan “biarpun aku tidak bermaksud terlibat dengan urusan anak kecil, kalau kalian merasa dia mesti dihukum, aku dapat menyarankan caranya. Tuangkan seciduk air mendidih ke atas kepalanya. Itu takkan membunuhnya.”

“Air mendidih!” Sahei mengerut mendengar saran itu.

“Ya. Tapi kalau kau mau melepaskannya, itu juga tidak apa-apa.”

Sahei dan orang-orangnya saling pandang dan ragu-ragu.

“Kita tak bisa membiarkan hal macam ini lewat tanpa hukuman.”

“Dia memang suka kurang ajar.”

“Untung dia tidak terbunuh.”

“Ambil tali.”

Ketika mereka mulai mengikatnya, Iori mencoba meronta dari tangan mereka. “Apa yang kalian lakukan?” jeritnya. Sambil duduk di tanah, kata­nya, “Sudah saya katakan, saya tidak akan lari, kan? Akan saya terima hukuman saya. Saya punya alasan, kenapa berbuat begitu. Seorang saudagar boleh minta maaf, tapi saya tidak. Anak samurai tidak bakal menangis karena sedikit air panas.”

“Baik,” kata Sahei. “Kau yang minta.”

Ia menggulung lengan bajunya, menciduk air mendidih, dan berjalan pelan-pelan mendekati Iori.

“Tutup matamu, Iori. Kalau tidak, kau bisa buta.” Suara itu datang dari seberang jalan.

Iori menutup matanya, tak berani melihat siapa yang mengucapkan kata­kata itu. Ia teringat cerita yang pernah didengarnya dari Musashi, dulu di Musashino. Cerita itu tentang Kaisen, seorang pendeta Zen yang sangat dipuja-puja oleh para prajurit Provinsi Kai. Ketika Nobunaga dan Ieyasu menyerang Kuil Kaisen dan membakarnya, pendeta itu duduk tenang di tingkat atas pintu gerbang. Dalam keadaan terbakar menjelang mati, ia mengucapkan kata-kata ini, “Kalau hatimu sudah mendapat pencerahan, api pun terasa sejuk.”

“Cuma seciduk air panas!” kata Iori pada diri sendiri. “Aku tak boleh berpikir macam itu.” Ia mencoba sekuat tenaga menjadikan dirinya ke­hampaan yang tanpa pribadi, bebas dari khayal, dan tanpa dukacita. Cara pendeta itu hanya mungkin kalau la lebih muda, atau jauh lebih tua… tapi pada umurnya sekarang, ia masih benar-benar menjadi bagian dunia ini.

Ah, kapan itu terjadi? Sekejap ia menyangka bahwa keringat yang menetes di dahinya adalah air mendidih. Waktu semenit terasa satu tahun.

“Oh, itu Sado!” kata Kojiro.

Sahei dan semua orang lain menoleh dan memandang samurai tua itu. “Ada apa disini?” tanya Sado sambil menyeberang jalan, didampingi Nuinosuke.

Kojiro tertawa, katanya riang, “Anda memergoki kami. Mereka sedang menghukum anak itu.”

Sado memandang Iori baik-baik. “Menghukum dia? Ya, kalau dia sudah melakukan sesuatu yang buruk, mesti dihukum. Teruskan saja. Saya me­nyaksikannya.”

Sahei memandang Kojiro dari sudut matanya. Kojiro segera menilai keadaan itu, dan tahu bahwa dialah yang akan dianggap bertanggung jawab atas kerasnya hukuman itu. “Cukup!” katanya.

Iori membuka mata. Agak sukar ia memusatkan tatapannya, tapi ketika akhirnya mengenali Sado, ia berkata gembira, “Saya kenal Bapak, samurai yang pernah datang di Kuil Tokuganji di Hotengahara.”

“Kau ingat aku?”

“Ya, Pak.”

“Apa yang terjadi dengan gurumu, Musashi?”

Iori tersedu-sedu, dan menutup mata dengan kedua tangannya.

Kojiro kaget melihat Sado mengenal anak itu. Sesaat ia memikirkannya, dan menyimpulkan bahwa tentunya hal itu ada hubungannya dengan usaha Sado mencari Musashi. Tapi tentu saja ia tak ingin nama Musashi muncul dalam percakapan antara dirinya dengan abdi senior itu. Ia tahu, tak lama lagi ia akan terpaksa berkelahi melawan Musashi, dan itu takkan lagi merupakan urusan pribadi semata-mata.

Sesungguhnya, telah terjadi perpecahan, baik di dalam garis utama Keluarga Hosokawa maupun di dalam percabangannya. Sebagian menghargai Musashi, sebagian lagi cenderung berpihak kepada bekas ronin yang sekarang menjadi instruktur pedang utama klan itu. Sebagian orang mengatakan bahwa yang menyebabkan tak terhindarkannya pertarungan adalah persaingan di belakang layar antara Sado dan Kakubei.

Kojiro merasa lega ketika pada waktu itu mandor kapal Tatsumimaru datang, menyatakan bahwa kapal sudah siap.

Sado, yang belum ikut naik, berkata, “Tapi kapal belum akan berangkat sampai matahari terbenam, kan?”

“Betul,” jawab Sahei, yang sementara itu berjalan mondar-mandir sekitar kantor, karena kuatir akan akibat-akibat peristiwa hari itu.

“Kalau begitu, aku punya waktu buat istirahat?”

“Banyak waktu buat istirahat. Silakan minum teh.”

Otsuru muncul di pintu dalam, dan memanggil manajer. Sahei men­dengarkan pembicaraan Otsuru beberapa menit lamanya, kemudian kembali mendekati Sado, dan katanya, “Kantor ini bukan tempat yang tepat buat menerima Bapak. Rumah dekat sekali, melintasi kebun itu. Saya persilakan Bapak masuk ke sana.”

“Oh, terima kasih,” jawab Sado. “Pada siapa saya berutang budi? Pada nyonya rumah?”

“Ya. Beliau ingin mengucapkan terima kasih pada Bapak.”

“Untuk apa?”

Sahei menggaruk kepalanya. “Saya pikir, karena Bapak sudah menolong Iori. Karena sekarang tuan rumah tidak ada…”

“Bicara soal Iori, aku ingin bicara dengannya. Coba panggil dia.”

Kebun itu tepat seperti harapan Sado mengenai kebun rumah seorang saudagar Sakai yang kaya. Walaupun satu sisinya dibatasi gudang, kebun itu merupakan suatu dunia yang lain sama sekali, dibanding kantor yang panas dan ribut itu. Batu-batuan dan tanam-tanaman baru disiram, dan di sana ada sungai yang airnya mengalir.

Osei dan Otsuru berlutut dalam ruangan kecil anggun yang menghadap kebun. Di atas tatami terhampar permadani wol, dengan baki-baki berisi kue dan tembakau. Sado mencium hall dupa yang dicampuri rempah­-rempah.

Sesudah duduk di ujung ruangan, katanya, “Saya takkan masuk. Kaki saya kotor.”

Osei menghidangkan teh kepadanya, meminta maaf atas sikap para pegawainya, serta mengucapkan terima kasih karena telah menyelamatkan Iori.

Kata Sado, “Kebetulan saya pernah berjumpa anak itu beberapa waktu yang lalu. Saya senang bertemu dia kembali. Bagaimana dia bisa tinggal di rumah Nyonya?”

Sesudah mendengarkan penjelasan nyonya rumah, Sado bercerita tentang usahanya yang sudah berjalan lama untuk mencari Musashi. Mereka me­ngobrol dengan akrab beberapa waktu lamanya, kemudian kata Sado, “Tadi saya memperhatikan Iori dari seberang jalan. Saya kagum akan kemampu­annya bersikap tenang. Sikap itu baik sekali. Terus terang, menurut saya merupakan suatu kesalahan membesarkan anak yang demikian besar se­mangatnya di lingkungan saudagar. Bagaimana kalau anak itu Nyonya serahkan pada saya? Di Kokura dia dapat dibesarkan sebagai samurai.”

Osei segera menyetujuinya, katanya, “Saya pikir itulah yang sebaik-­baiknya buat dia.”

Otsuru bangkit untuk mencari Iori, dan tepat pada waktu itu Iori muncul dari balik potion tempat ia mendengarkan seluruh percakapan tersebut.

“Apa kau keberatan pergi denganku?” tanya Sado.

Dengan sukacita Iori mohon diajak ke Kokura.

Sementara Sado minum teh, Otsuru menyiapkan perlengkapan perjalanan Iori: kimono, hakama, pembalut kaki, topi anyaman-semuanya baru. Itulah pertama kalinya Iori mengenakan hakama.

Petang itu, ketika Tatsumimaru mengembangkan sayap-sayap hitamnya dan berlayar di bawah gumpalan awan yang menjadi keemasan oleh matahari yang sedang terbenam, Iori menoleh ke belakang, ke arah lautan wajah—Otsuru dan ibunya, wajah Sahei, dan orang-orang yang mengantar, juga wajah kota Sakai.

Dengan senyum lebar ia melepas topi anyamannya dan melambaikannya pada mereka.

Guru Menulis

PAPAN nama di pintu masuk jalan sempit, di daerah pedagang ikan Okazaki itu, berbunyi, “Pencerahan Bagi Para Pemuda. Pelajaran Membaca dan Menulis”, dan tertulis di situ nama Muka. Melihat segala sesuatunya, Muka tentunya salah seorang dari banyak ronin yang telah jatuh miskin, namun tulus, dan mencari penghidupan dengan menularkan pendidikan kelas prajurit kepada anak-anak orang kebanyakan.

Kaligrafi yang kelihatan amatiran itu membuat tersenyum orang-orang yang lewat, tapi Muka mengatakan tidak malu karenanya. Kalau ada orang menyebutkan hal itu, ia selalu menjawab dengan kata-kata yang sama, “Dalam hati, saya masih kanak-kanak. Dan saya belajar bersama anak-anak.”

Jalan itu berakhir pada sebuah rumpun bambu, dan di sebelah rumpun bambu terbentang lapangan pacuan Keluarga Honda. Kalau cuaca terang, lapangan itu selalu diliputi awan debu, karena tentara berkuda sering berlatih dari fajar sampai senja. Garis keturunan yang mereka banggakan adalah garis keturunan prajurit-prajurit Mikawa yang terkenal, suatu tradisi yang telah menghasilkan Tokugawa.

Muka terbangun dari tidur siang, lalu pergi ke sumur dan menimba air. Kimono warna kelabu gelap yang tak berpinggir, dan topi kelabu yang dikenakannya, lebih cocok untuk orang umur empat puluhan, padahal ia sendiri belum lagi tiga puluh tahun. Habis mencuci muka, ia berjalan ke rumpun bambu, dan di situ ia menebang sebatang bambu besar dengan satu tebasan pedang.

Ia basuh bambu itu di sumur, lalu kembali masuk rumah. Kerai yang tergantung di satu sisi berfungsi menolak debu dari lapangan pacuan, tapi karena cahaya datang dari arah tersebut, ruangan itu jadi kelihatan lebih kecil dan lebih gelap dari yang sebenarnya. Sebilah papan terletak mendatar di sebuah sudut. Di atasnya tergantung potret tanpa nama dari seorang pendeta Zen. Muka menegakkan potongan bambunya di atas papan, dan melontarkan bunga jalar ke dalam lubangnya.

“Boleh juga,” pikirnya sambil mundur, memeriksa karyanya. Ia duduk di depan meja, mengambil kuas, dan mulai berlatih. Sebagai model, dipergunakannya pedoman huruf-huruf resmi berbentuk persegi dari Ch’u Sui-liang, dan sapuan kaligrafi dari pendeta Kobo Daishi. Jelas kelihatan, ia memperoleh kemajuan mantap selama setahun tinggal di situ, karena huruf-huruf yang ditulisnya sekarang jauh lebih unggul daripada huruf-huruf yang tertulis di papan nama.

“Boleh saya mengganggu?” tanya wanita dari sebelah rumah, istri orang yang biasa menjual kuas tulis.

“Silakan,” kata Muka.

“Saya hanya sebentar. Saya heran…. Beberapa menit yang lalu, saya mendengar bunyi keras. Kedengarannya seperti ada barang yang patah. Apa Anda mendengarnya?”

Muka tertawa. “Itu tadi saya memotong bambu.”

“Oh. Saya begitu kuatir. Saya pikir ada yang terjadi dengan Anda. Suami saya mengatakan samurai yang berkeliaran di sekitar sini mau membunuh Anda.”

“Sekiranya betul begitu, tidak apa. Toh harga saya tidak sampai tiga keping uang tembaga.”

“Lho, Anda tak boleh menyepelekan. Banyak orang terbunuh akibat hal­-hal yang menurut ingatan mereka tidak mereka lakukan. Coba Anda pikir­kan, alangkah sedih semua gadis itu kalau ada sesuatu menimpa Anda.”

Wanita itu mengundurkan diri, tanpa mengajukan pertanyaan yang sering diajukannya, “Kenapa tidak beristri? Bukan karena Anda tak suka perempuan, kan?” Muka tidak pernah memberikan jawaban yang jelas, sekalipun secara sembrono ucapannya sempat menyiratkan bahwa ia bisa dengan mudah mendapatkan jodoh yang baik. Para tetangga tahu bahwa ia ronin dari Mimasaka, yang suka belajar dan pernah tinggal di Kyoto, di Edo, dan sekitar Edo. Kata orang, ia ingin menetap di Okazaki dan mem­buka perguruan yang baik. Berhubung ia masih muda, rajin, dan jujur, tidak mengherankan bahwa sejumlah gadis berminat kawin dengannya, juga beberapa orang yang anak-anak gadisnya memenuhi syarat.

Lingkungan kecil itu memang memikat hati Muka. Penjual kuas dan istrinya memperlakukannya dengan baik. Sang istri mengajarinya memasak, dan kadang-kadang mencuci dan menjahit untuknya. Secara keseluruhan, Muka senang tinggal di lingkungan itu. Semua orang saling mengenal, dan semua orang berusaha membuat hidup mereka menarik. Selalu ada peristiwa yang terjadi, kalau bukan pesta tari-tarian di jalan atau perayaan keagamaan, tentu penguburan atau ada orang sakit yang mesti diurus.

Malam itu ia melewati rumah penjual kuas, ketika suami-istri itu sedang makan malam. Sambil mendecap, sang istri berkata, “Ke mana dia pergi? Pagi hari dia mengajar anak-anak, sore hari tidur atau belajar. Lalu malam hari pergi. Macam kelelawar saja.”

Di jalan-jalan Okazaki, bunyi seruling bambu bercampur dengan dengung serangga tangkapan yang dikurung dalam sangkar-sangkar kayu, dengan ratapan berirama dari para penyanyi di jalan buntu, dengan teriakan para penjual semangka dan sushi. Di sini tak ada hiruk-pikuk yang menjadi ciri di Edo. Lentera-lentera berkedap-kedip, dan orang-orang bercengkerama di sana-sini, dengan mengenakan kimono musim panas. Dalam udara musim panas itu, segala sesuatu kelihatan santai dan pada tempatnya.

Ketika Muka lewat, gadis-gadis berbisik.

“Nah, dia jalan lagi.”

“Huh, dan selalu tidak memperhatikan siapa pun.”

Sebagian gadis-gadis itu membungkuk kepadanya, kemudian menoleh pada sesama teman-teman mereka, dan menduga-duga ke mana arah pergi Muka.

Muka berjalan lurus, melewati jalan-jalan samping di mana ia bisa membeli jasa para pelacur Okazaki, yang oleh banyak orang dianggap sebagai salah satu daya tank utama di sepanjang jalan raya Tokaido itu. Di ujung barat kota ia berhenti dan meregangkan badan, hingga panas badan keluar dari lengan bajunya. Di hadapannya menderas air Sungai Yahagi dan membentang Jembatan Yahagi yang berelung 208, jembatan terpanjang di Tokaido. Ia berjalan mendekati sosok kurus yang menantinya di tiang pertama.

“Musashi?”

Musashi tersenyum pada Matahachi yang mengenakan jubah pendeta. “Apa Guru sudah kembali?” tanyanya.

“Belum.”

Mereka berjalan berdampingan, menyeberangi jembatan. Di atas bukit yang ditumbuhi pohon pinus, di seberangnya berdiri kuil Zen tua. Karena bukit itu dikenal sebagai Hachijo, kuil itu pun disebut Hachijoji. Mereka mendaki lereng yang gelap, di depan pintu gerbang.

“Apa kabar?” tanya Musashi. “Melaksanakan Zen mestinya sukar.”

“Betul,” jawab Matahachi kesal, sambil menundukkan kepalanya yang bercukur kebiruan. “Aku sudah sering ingin melarikan diri. Kalau mesti mengalami siksaan mental untuk menjadi manusia baik-baik, lebih baik aku menjerat leherku, habis perkara.”

“Oh, jangan mundur karena itu. Kau baru mulai. Pendidikanmu yang sebenarnya belum terjadi, sebelum kau dapat mengimbau Guru dan me­yakinkannya untuk menerimamu sebagai murid.”

“Itu memang tidak selamanya mustahil. Aku sudah belajar mendisiplinkan diriku sedikit. Dan tiap kali aku kendur, aku ingat kau. Kalau kau dapat mengatasi kesulitan-kesulitanmu, aku pun dapat.”

“Memang begitu mestinya. Apa pun yang dapat kulakukan, pasti kau juga bisa.”

“Aku teringat Takuan. Kalau bukan karena dia, aku sudah dihukum mati.”

“Kalau kau tahan menghadapi kesulitan, kau akan memperoleh kesenangan yang lebih besar daripada derita,” kata Musashi khidmat. “Siang dan malam, jam demi jam, orang dipermainkan oleh ombak derita dan kesenang­an berganti-ganti. Kalau mereka mencoba untuk hanya menikmati ke­senangan, berarti mereka tidak benar-benar hidup. Dan kesenangan akan lenyap.”

“Aku mulai mengerti.”

“Ingat saja cara orang menguap. Kuap orang yang habis kerja, lain de­ngan kuap orang malas. Banyak orang mati tanpa mengetahui nikmat yang diberikan oleh menguap.”

“Ya. Aku mendengar pembicaraan seperti itu di kuil.”

“Kuharap tak lama lagi aku bisa membawamu pada Guru. Aku sendiri ingin minta petunjuk darinya. Aku perlu tahu lebih banyak tentang Jalan itu.”

“Menurutmu, kapan dia datang?”

“Sukar dikatakan. Guru Zen kadang-kadang berkeliaran di seluruh negeri, seperti awan, selama dua atau tiga tahun sekali jalan. Mumpung sudah dating di sini, kau mesti mau menunggu dia, sampai empat-lima tahun, kalau perlu.”

“Kau juga?”

“Ya. Hidup di lorong belakang, di antara orang-orang miskin dan tulus itu, merupakan latihan baik bagiku. Itu bagian dari pendidikanku. Waktu tidak terbuang sia-sia.”

Musashi meninggalkan Edo, melewati Atsugi. Kemudian, dengan jiwa dilanda kesangsian akan masa depannya, ia menghilang ke tengah Pe­gunungan Tanzawa, dan dua bulan kemudian muncul kembali dalam keadaan lebih gelisah dan kuyu. Selesai memecahkan satu masalah, ia tercebur ke dalam masalah lain. Kadang-kadang ia demikian tersiksa, hingga seolah-olah pedangnya terarah kepada dirinya.

Di antara kemungkinan yang dipertimbangkannya adalah memilih jalan yang mudah. Sekiranya ia dapat memaksa dirinya menempuh hidup enak dan biasa saja dengan Otsu, hidupnya akan sederhana. Hampir setiap perdikan akan rela membayarnya dengan gaji cukup untuk hidup, barangkali lima ratus sampai seribu gantang. Tapi kalau ia ajukan hal itu pada dirinya dalam bentuk pertanyaan, jawabannya selamanya tidak. Hidup yang mudah itu penuh dengan batasan. Ia tak dapat tunduk kepada batasan-batasan itu.

Pada waktu lain, ia merasa seolah tersesat dalam khayal pengecut, khayal hina, seperti setan lapar dalam neraka; kemudian, untuk sesaat, pikirannya menjadi tenang, dan ia mengumbar diri dalam kenikmatan hidup menyendiri yang penuh kebanggaan itu. Di dalam hatinya terus berlangsung perjuangan antara terang dan gelap. Siang-malam ia terhuyung-huyung antara ke­gembiraan besar dan kesenduan. Ia memikirkan dirinya sebagai pemain pedang, dan ia merasa kecewa. Kalau dipikirkan betapa panjang jalan yang dipelajarinya, dan betapa jauh ia dari kematangan, hatinya pun pedih. Tapi, di lain waktu, hidup di pegunungan itu menggembirakan hatinya, dan pikirannya melayang pada Otsu.

Turun dari gunung, ia pergi ke Yugyoji di Fujisawa untuk beberapa hari, kemudian ke Kamakura. Di situlah ia berjumpa dengan Matahachi. Matahachi sudah memutuskan untuk tidak kembali menjalani hidup malas, dan ia berada di Kamakura karena banyak kuil Zen di tempat itu, namun ia menanggung rasa hancur yang lebih parah lagi daripada Musashi.

Musashi mencoba meyakinkannya, “Sekarang ini belum terlalu terlambat. Kalau kau belajar berdisiplin, kau bisa mulai dari awal lagi. Sungguh fatal kalau kau mengatakan pada dirimu bahwa semuanya sudah lewat, dan bahwa dirimu tak berguna.”

Kemudian ia merasa perlu menambahkan, “Terus terang, aku sendiri berhadapan dengan tembok. Ada masanya aku bertanya-tanya, apakah aku punya masa depan. Aku merasa sama sekali kosong. Rasanya seperti terkurung dalam rumah kerang. Aku benci pada diriku. Kukatakan pada diri sendiri, diriku ini sia-sia. Tapi dengan mendera diri sendiri, dan me­maksa diri untuk jalan terus, aku berhasil menerobos rumah kerang itu. Lalu jalan baru terbuka di hadapanku.

“Percayalah, kali ini sedang berlangsung perjuangan yang sesungguhnya dalam diriku. Aku menggelepar-gelepar di dalam rumah kerang, dan tak dapat melakukan sesuatu. Aku turun dari pegunungan karena teringat orang yang menurutku dapat menolongku.”

“Orang itu Pendeta Gudo. “

Kata Matahachi, “Dia yang menolongmu waktu engkau pertama kali mencari Jalan itu, kan? Apa kau tak bisa mengenalkan aku, dan minta dia menerimaku sebagai murid?”

Semula Musashi sangsi tentang ketulusan hati Matahachi, tapi sesudah mendengar tentang kesulitan di Edo, ia pun yakin bahwa Matahachi betul-­betul bermaksud demikian. Kedua orang itu kemudian mencari keterangan tentang Gudo di sejumlah kuil Zen, tapi hanya sedikit yang dapat mereka ketahui. Musashi tahu bahwa pendeta itu tidak lagi berada di Kuil Myoshinji, Kyoto. Beberapa tahun sebelumnya, ia pergi melakukan perjalanan selama beberapa waktu lamanya di timur dan timur laut. Ia juga tahu bahwa pendeta itu orang yang paling tak menentu tinggalnya. Satu hari ia bisa berada di Kyoto, memberikan kuliah tentang Zen pada Kaisar, dan hari berikutnya mengembara di pedesaan. Gudo diketahui beberapa kali berhenti di Kuil Hachijoji di Okazaki. Seorang pendeta mengatakan mungkin di kuil itulah tempat terbaik untuk menantikannya.

Musashi dan Matahachi duduk di dalam pondok kecil tempat Matahachi biasa tidur. Musashi sering mengunjunginya di sini, dan mereka bercakap­cakap sampai jauh malam. Matahachi tidak diizinkan tidur dalam asrama yang, seperti halnya bangunan-bangunan Kuil Hachijoji lainnya, berupa ba­ngunan kasar, beratap lalang, sebab ia belum resmi diterima sebagai pendeta.

“Oh, nyamuk-nyamuk ini!” kata Matahachi sambil menyebar-menyebarkan asap dari obat penghalau serangga, kemudian menggosok matanya yang pedih. “Mari kita keluar.” Mereka berjalan ke ruang utama dan duduk di serambi. Pekarangan sepi, dan angin sejuk bertiup.

“Ini mengingatkan aku pada Kuil Shippoji,” kata Matahachi dengan suara hampir tidak kedengaran.

“Ya, kukira begitu,” kata Musashi.

Mereka terdiam. Mereka selalu berbuat demikian pada saat-saat seperti itu. Pikiran tentang rumah selalu menimbulkan kenangan tentang Otsu dan Osugi, atau peristiwa-peristiwa yang tak hendak mereka bicarakan, karena takut mengganggu hubungan mereka sekarang.

Tapi, beberapa menit kemudian, Matahachi berkata, “Bukit tempat berdirinya Shippoji itu lebih tinggi, ya? Tapi di tempat ini tak ada pohon kriptomeria tua.” Di situ ia berhenti, memandang rant muka Musashi sejenak, kemudian katanya malu-malu. “Ada satu permintaan yang sudah lama ingin kuajukan, tapi…”

“Permintaan apa itu?”

“Otsu…,” Matahachi memulai, tapi seketika itu juga ia terharu, tak bisa berbicara lagi. Ketika merasa sudah dapat mengatasi perasaannya, ia berkata, “Rasanya aku ingin tahu, apa yang sedang dilakukan Otsu sekarang ini, dan apa yang terjadi dengannya. Aku sering memikirkannya hari-hari ini dan dalam hati aku minta maaf atas segala yang pernah kulakukan. Aku malu mesti mengakuinya, tapi di Edo aku memaksanya hidup denganku. Tapi tidak terjadi apa-apa. Dia menolak kusentuh. Kukira, sesudah aku pergi ke Sekigahara, Otsu tentunya seperti kembang yang jatuh. Sekarang dia menjadi bunga yang berkembang di pohon lain, di tanah yang lain juga.” Wajah Matahachi memperlihatkan kesungguhan, dan suaranya serius.

“Takezo… ah, bukan… Musashi. Aku minta, kawinilah Otsu. Kau satu-­satunya yang dapat menyelamatkannya. Aku tak pernah dapat memaksa diri mengatakan hal ini, tapi sekarang, sesudah aku mengambil keputusan menjadi murid Gudo, mesti kuakui kenyataan bahwa Otsu bukan milikku. Biarpun begitu, aku menguatirkan dirinya. Tak inginkah engkau mencari dia, dan memberinya kebahagiaan yang memang dia inginkan?”

Kira-kira pukul tiga pagi waktu itu, ketika Musashi mulai menuruni jalan glinting yang gelap. Tangannya terlipat, kepalanya tertunduk. Kata­kata Matahachi terngiang di telinganya. Kesedihan mendalam seakan menarik­-narik kakinya. Ia dapat membayangkan, betapa Matahachi tersiksa bermalam­-malam lamanya, hanya untuk membangkitkan keberanian berbicara seperti itu. Namun bagi Musashi, dilema yang dihadapinya sendiri lebih berat dan menyakitkan.

Menurut pendapatnya, Matahachi berharap dapat melarikan diri dari nyala panas masa lalu, dan mencari keselamatan yang sejuk dalam pen­cerahan. Seperti bayi yang baru dilahirkan, ia mencoba menemukan hidup bermakna dalam derita gaib kesedihan dan kebahagiaan.

Musashi tidak dapat mengatakan, “Tak dapat itu kulakukan.” Lebih tak dapat lagi ia mengatakan, “Tak ingin aku mengawini Otsu. Dia tunanganmu. Menyesallah, murnikan hatimu, dan rebut kembali hatinya.” Akhirnya ia tidak mengatakan apa pun, karena apa pun yang akan dikatakannya, akan merupakan kebohongan.

Dan Matahachi memohon dengan sangat, “Hanya kalau aku yakin bahwa Otsu akan terurus, ada gunanya bagiku menjadi murid. Kau yang mendesakku melatih dan mendisiplinkan diri. Kalau kau memang temanku, selamatkan Otsu. Itulah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diriku.”

Musashi terheran-heran melihat Matahachi menangis tersedu-sedu. Tak diduganya bahwa perasaan Matahachi bisa sedalam itu. Bahkan ketika ia sudah berdiri untuk berangkat, Matahachi mencengkeram lengan bajunya, minta diberi jawaban. “Biar kupikirkan dulu,” itulah satu-satunya yang dapat dikatakan Musashi. Sekarang ia mengutuk dirinya karena bersikap pengecut, dan ia sesali ketidakmampuannya.

Dengan sedih terpikir oleh Musashi, bahwa orang yang tidak menanggung penyakit ini tak mungkin mengenal nyerinya. Soalnya bukan semata-mata menyangkut sikap malas, tapi menyangkut keinginan besar untuk melakukan sesuatu, namun tak bisa. Pikiran dan mata Musashi kini seolah tumpul dan kosong. Sesudah menempuh jalan sejauh mungkin ke satu arah saja, ia merasa dirinya tak berdaya untuk mundur atau mulai menempuh jalan yang baru. Ia seperti terpenjara di suatu tempat yang tak ada jalan keluar­nya. Kekecewaan yang dialaminya menimbulkan rasa sangsi, menyalahkan diri, dan air mata.

Sia-sia ia marah pada diri sendiri, mengingat segala kesalahannya. Justru karena menemukan gejala-gejala awal penyakit itulah, ia berpisah dengan Iori dan Gonnosuke, serta memutuskan ikatan dengan teman-temannya di Edo. Tapi maksudnya untuk menerobos rumah kerang selagi kulit kerang belum terbentuk dengan baik ternyata gagal. Kulit kerang itu masih saja ada, membelenggu dirinya yang kosong, seperti selongsong kulit jangkrik.

Ia berjalan tanpa kemantapan. Keluasan Sungai Yahagi mulai tampak. dan angin yang bertiup dari sungai terasa sejuk di wajahnya.

Tiba-tiba ia meloncat ke samping, karena mendengar bunyi desing tajam. Tembakan itu melintas pada jarak dua meter dari dirinya, dan bunyi bedil berkumandang di seberang sungai. Jarak antara peluru dan bunyi itu sejauh dua tarikan napas, dan Musashi menyimpulkan bahwa senapan itu ditembakkan dari jarak jauh. Ia melompat ke bawah jembatan dan bergayut ke tiang, seperti kelelawar.

Beberapa menit berlalu, kemudian tiga lelaki berlarian menuruni Bukit Hachijo, seperti buah pohon pinus ditiup angin. Di dekat ujung jembatan, mereka berhenti dan mulai mencari mayat. Karena yakin tembakannya me­ngena, si penembak membuang sumbunya. Pakaiannya lebih gelap dibanding kedua orang yang lain, dan ia mengenakan topeng, hanya matanya yang tampak.

Langit menjadi cerah sedikit, dan hiasan kuningan pda gagang senapan memantulkan cahaya lembut.

Tak dapat Musashi membayangkan, siapa gerangan orang di Okazaki yang menghendaki kematiannya. Memang tidak kurang musuhnya. Dalam pertempuran-pertempuran yang pernah dialaminya, ia telah mengalahkan banyak orang, yang kemungkinan masih punya keinginan menggelegak untuk membalas dendam. Dan banyak lagi orang yang telah dibunuhnya, hingga keluarga atau kawan-kawan mereka barangkali berharap akan menuntut balas.

Siapa pun yang menempuh Jalan Pedang, selamanya berada dalam bahaya dibunuh. Kalau ia lolos dari satu bencana maut, akan menyusul kemungkinan-kemungkinan baru. Dengan perbuatan itu, ia menciptakan musuh-musuh baru atau bencana baru. Bahaya merupakan batu gerinda yang dipakai pemain pedang untuk mengasah semangatnya. Musuh adalah guru yang menyamar.

Belajar waspada terhadap bahaya, biarpun sedang tidur, belajar dari musuh sepanjang waktu, menggunakan pedang sebagai alat untuk mem­biarkan orang lain hidup, menguasai alam, mencapai pencerahan, berbagi kegembiraan hidup dengan orang lain-semua itu tak terpisahkan dari Jalan Pedang.

Sementara meringkuk di bawah jembatan itu, situasi nyata memacu Musashi, dan kelesuannya pun lenyap. Ia bernapas pendek-pendek sekali, tanpa bunyi, dan membiarkan para penyerangnya mendekat. Gagal me­nemukan mayat, orang-orang itu memeriksa jalan yang sunyi dan ruang di bawah ujung jembatan.

Mata Musashi terbuka lebar. Orang-orang itu mengenakan pakaian hitam seperti bandit, tapi mereka membawa pedang samurai, dan bersepatu rapi. Samurai di daerah itu hanyalah mereka yang mengabdi pada Keluarga Honda di Okazaki, dan Keluarga Tokugawa Owari di Nagoya. Ia tidak merasa mempunyai musuh di kedua perdikan itu.

Satu orang menembus kegelapan dan mengambil kembali sumbu, ke­mudian menyalakan dan melambaikannya. Musashi jadi menduga bahwa di seberang jembatan terdapat lebih banyak orang. Ia tidak dapat bergerak, setidak-tidaknya sekarang. Kalau ia memperlihatkan diri, kemungkinan akan mengundang lebih banyak tembakan. Sekalipun ia dapat mencapai tepi seberang, bahaya yang menanti di sana barangkali lebih besar lagi. Tapi ia pun tak dapat tinggal lebih lama di situ. Karena orang-orang itu tahu ia belum menyeberang jembatan, mereka akan mengepungnya, dan barangkali akan berhasil menemukan tempat persembunyiannya.

Mendadak ia mendapat akal. Akal itu tidak didasarkan pada teori-teori Seni Perang yang merupakan serabut intuisi seorang prajurit. Merancang cara menyerang merupakan proses yang lambat, yang sering mengakibatkan kekalahan dalam situasi yang menuntut kecepatan. Naluri seorang prajurit tidak boleh dikacaukan dengan naluri binatang. Seperti halnya reaksi anggota tubuh bagian dalam, naluri itu datang dari gabungan kebijaksanaan dan disiplin. Ia merupakan penalaran terakhir yang melebihi akal, ia adalah kemampuan untuk melakukan gerakan yang benar dalam sekejap mata, tanpa mesti melewati proses berpikir biasa.

“Sia-sia kalian coba sembunyi!” pekiknya. “Kalau kalian mencariku, aku di sini!” Angin agak kencang waktu itu; ia tak yakin suaranya terdengar atau tidak.

Pertanyaan itu dijawab oleh tembakan lain. Musashi tentu saja sudah tidak ada di sana lagi. Ketika peluru masih berada di udara, ia sudah me­lompat tiga meter ke arah ujung jembatan.

Ia menyerbu ke tengah mereka. Mereka pun menyebar sedikit, dan menghadapinya dari tiga jurusan, namun sama sekali tanpa koordinasi. Ia tebas orang yang ada di tengah dengan pedang panjang, dan serentak dengan itu ia menyayat ke samping, dengan pedang pendek, ke arah orang di sebelah kirinya. Orang ketiga melarikan diri ke seberang jembatan, ber­lari, terjatuh, dan terlontar ke luar jembatan.

Musashi mengikuti dengan langkah biasa di satu sisi saja, sekali-sekali berhenti untuk mendengarkan. Ketika tidak terjadi apa-apa lagi, ia pun pulang dan tidur.

Paginya dua samurai datang ke rumahnya. Melihat jalan masuk penuh dengan sandal anak-anak, mereka menikung ke samping.

“Anda Sensei Muka?” tanya salah seorang. “Kami dari Keluarga Honda.” Musashi menengadah dari tulisannya, katanya “Ya, saya Muka.”

“Apa nama Anda sebenarnya Miyamoto Musashi? Kalau benar demikian, jangan Anda menyembunyikannya.”

“Saya Musashi.”

“Saya percaya Anda kenal Watari Shima.”

“Saya tidak merasa mengenalnya.”

“Dia bilang pernah hadir dalan dua-tiga pesta haiku, di mana Anda hadir juga.”

“Ya, sesudah Anda sebutkan itu, saya ingat dia sekarang. Kami bertemu di rumah teman kami berdua.”

“Nah, dia bertanya apakah Anda mau datang dan bermalam di rumahnya.”

“Kalau dia mencari orang yang akan diajaknya mengarang haiku, bukan saya orangnya. Memang benar, beberapa kali saya diundang ke pesta seperti itu, tapi saya orang sederhana yang hanya punya sedikit pengalaman dalam hal itu.”

“Saya pikir dia ingin membicarakan seni bela diri dengan Anda.” Musashi membelalak gelisah ke arah kedua samurai itu. Beberapa waktu lamanya ia menatap mereka, kemudian katanya, “Kalau demikian, dengan senang hati saya akan datang ke rumahnya. Kapan?”

“Apa Anda bisa datang malam ini?”

“Baik.”

“Dia akan mengirimkan joli untuk Anda.”

“Bagus. Saya tunggu.”

Setelah mereka pergi, Musashi kembali menghadapi murid-muridnya. “Ayo,” katanya. “Kalian tak boleh membiarkan diri kalian terlengah. Ayo kerja lagi. Lihat aku. Aku berlatih juga. Kalian mesti belajar memusatkan perhatian sepenuhnya, sampai kalian tidak mendengar orang berbicara atau jangkrik mengerik. Kalau kalian malas selagi muda, kalian akan jadi orang macam aku, dart mesti berlatih sesudah kalian dewasa.” Ia tertawa dan menoleh ke sekeliling, ke arah wajah-wajah dan tangan-tangan yang ber­lepotan tinta itu.

Senja hari ia sudah mengenakan hakama dan siap pergi. Ketika ia sedang meyakinkan istri penjual kuas yang hampir menangis, bahwa ia akan selamat tak kurang suatu apa, joli pun tiba—bukan joli anyaman sederhana seperti yang biasa kelihatan di seluruh kota itu, melainkan joli berpernis yang dikawal dua samurai dan tiga orang abdi.

Para tetangga terpesona melihatnya, berkerumun dan berbisik-bisik. Anak-­anak memanggil teman-temannya dan berceloteh dengan riuhnya.

“Cuma orang besar naik joli macam itu.”

“Mestinya guru ini orang besar juga.”

“Ke mana dia pergi?”

“Dia kembali atau tidak?”

Kedua samurai menutup pintu joli, menyingkirkan orang banyak dari jalanan, dan berangkat.

Musashi tidak tahu apa yang akan terjadi, tapi ia menduga ada hubungan antara undangan itu dengan peristiwa di Jembatan Yahagi. Mungkin Shima akan menegurnya karena telah membunuh dua orang samurai Honda. Mungkin juga Shima orang yang berdiri di belakang usaha memata-matai dan melakukan serangan mendadak, dan sekarang siap menghadapi Musashi secara terbuka. Musashi tidak yakin pertemuan malam itu akan mendatang­kan kebaikan, dan ia bertekad untuk menghadapi keadaan sulit. Berspekulasi tidak akan membawanya ke mana-mana. Seni Perang menuntutnya untuk menetapkan di mana ia berdiri, dan bertindak sesuai dengan itu.

Joli berayun-ayun lembut, seperti perahu di laut. Mendengar angin yang mendesir di antara pohon pinus, ia menduga mereka berada di hutan dekat dinding benteng sebelah utara. Ia tidak kelihatan seperti orang yang sedang meneguhkan diri menghadapi serangan tak terduga. Dengan mata setengah tertutup, ia tampak seperti sedang tertidur.

Sesudah gerbang benteng berkeriut membuka, langkah para pemikul menjadi lambat, sedangkan suara para samurai lebih ditekan. Mereka melewati lentera-lentera yang mengedip-ngedip, dan sampai di bangunan benteng. Musashi turun, dan para pembantu mempersilakannya masuk ke sebuah paviliun terbuka dengan pelan, tapi sopan. Karena kerai tergulung di keempat sisi ruangan, angin bertiup dalam gelombang yang menyenang­kan. Lampu-lampu memudar dan menyala liar. Malam itu tidak mirip ma­lam musim panas yang terik.

“Saya Watari Shima,” kata tuan rumah. Ia seorang samurai Mikawa yang khas—tegap, kuat, waspada, tapi tidak berpura-pura, dan tidak memper­lihatkan tanda-tanda kelemahan.

“Saya Miyatomo Musashi.” Jawaban yang sama sederhananya itu diiringi bungkukan badan.

Shima membalas bungkukan itu, katanya, “Anggaplah ini rumah sendiri,” lalu langsung menuju persoalan, tanpa basa-basi lagi. “Saya mendapat laporan, Anda membunuh dua samurai kami tadi malam. Apa itu benar?”

“Ya, benar,” Musashi menatap mata Shima.

“Saya mesti minta maaf,” kata Shima murung. “Saya mendengar tentang peristiwa itu hari ini, ketika kematian dilaporkan. Tentu saja dilakukan penyelidikan. Sudah lama saya mengenal nama Anda, tapi baru sekarang saya tahu bahwa Anda tinggal di Okazaki.

“Tentang serangan itu, saya mendapat laporan bahwa Anda ditembak oleh sekelompok orang kami, seorang di antaranya murid Miyake Gumbei, ahli bela diri Gaya Togun.”

Karena tidak merasakan ada dalih, Musashi menerima kata-kata Shima itu begitu saja, dan cerita pun berkembang selangkah demi selangkah. Murid Gumbei adalah salah seorang samurai Honda yang belajar pada Perguruan Yoshioka. Beberapa penghasut yang ada di tengah mereka se­belumnya telah berkumpul, dan memutuskan untuk membunuh orang yang telah mengakhiri kebesaran Perguruan Yoshioka itu.

Musashi tahu, nama Yoshioka Kempo masih dipuja-puja di seluruh negeri. Di Jepang barat, terutama, sukar kiranya menemukan perdikan yang tidak menyimpan samurai yang pernah belajar di bawah pimpinannya. Musahi menyampaikan pada Shima bahwa ia dapat memahami dendam mereka terhadapnya, tapi ia menganggap hal itu sebagai dendam per­seorangan, dan bukan sebagai alasan sah untuk melakukan balas dendam sesuai Seni Perang.

Shima rupanya sependapat. “Saya sudah memanggil orang-orang yang selamat, dan memarahi mereka. Saya harap Anda memaafkan kami dan melupakan soal itu. Gumbei pun sangat tidak senang. Kalau Anda tidak keberatan, saya ingin memperkenalkannya pada Anda. Dia ingin me­nyampaikan permintaan maaf.”

“Ah, tak perlu. Apa yang telah terjadi itu adalah kejadian umum bagi siapa saja yang menempuh jalan seni bela diri.”

“Biar begitu…”

“Nah, baiklah kita buang kata-kata permintaan maaf itu. Tapi kalau dia ingin bicara tentang Jalan, dengan senang hati saya akan menjumpainya. Nama itu saya kenal betul.”

Satu orang dikirim untuk mengundang Gumbei, dan ketika kata-kata perkenalan sudah lewat, pembicaraan pun beralih kepada pedang dan permainan pedang.

Kata Musashi, “Saya ingin mendengar tentang Gaya Togun. Anda men­ciptakan gaya itu?”

“Tidak,” jawab Gumbei. “Saya mempelajarinya dari guru saya, Kawasaki Kaginosuke, dari Provinsi Echizen. Menurut kitab pegangan yang beliau berikan pada saya, beliau mengembangkannya semasa menjadi pertapa di Gunung Hakuun di Kozuke. Rupanya dia mengambil banyak teknik dari biarawan Tendai bernama Togumbo…. Tapi coba Anda ceritakan sedikit tentang diri Anda. Saya sudah mendengar nama Anda berkali-kali disebutkan orang. Tadinya saya mendapatkan kesan bahwa Anda lebih tua. Dan karena Anda ada di sini, saya ingin agar Anda sudi memberikan satu pelajaran pada saya.” Nada kata-kata itu bersahabat, namun itu adalah ajakan ber­tarung.

“Lain kali saja,” jawab Musashi ringan. “Saya mesti pergi sekarang. Saya pun belum tahu jalan pulang.”

“Kalau Anda pulang nanti,” kata Shima, “akan saya minta seseorang me­nemani Anda.”

“Waktu saya mendengar dua orang roboh,” Gumbei melanjutkan, “saya datang menjenguk. Ternyata saya tak bisa memahami posisi tubuh dengan lukanya, karena itu saya tanya orang yang berhasil lolos. Menurut kesannya, Anda menggunakan dua pedang sekaligus. Apa itu benar?”

Sambil tersenyum, Musashi mengatakan bahwa ia tidak pernah meng­gunakan cara itu secara sadar. Ia beranggapan, apa yang diperbuatnya hanyalah berkelahi dengan satu tubuh dan satu pedang.

“Anda tak usah merendahkan diri,” kata Gumbei. “Anda ceritakanlah tentang itu. Bagaimana Anda berlatih? Bagimana kita mesti meletakkan tekanan, agar kita dapat menggunakan dua pedang sekaligus dengan bebas?”

Karena melihat bahwa ia takkan dapat meninggalkan tempat itu sebelum memberikan penjelasan, Musashi melayangkan pandang ke sekitar ruangan. Pandangan itu berhenti pada dua pucuk bedil di dalam ceruk kamar, dan ia minta dipinjami. Shima setuju, lalu Musashi pergi ke tengah ruangan, memegang kedua pucuk senjata itu pada larasnya, masing-masing tangan memegang satu bedil.

Musashi mengangkat sebelah lututnya, dan katanya, “Dua pedang sama dengan satu pedang. Satu pedang seperti dua pedang. Kedua tangan kita ini terpisah satu dari yang lain, tapi keduanya milik tubuh yang sama. Dalam segala hal, penalaran terakhir bukan bersifat ganda, tapi bersifat tunggal. Demikian pula pada semua gaya dan percabangannya. Akan saya tunjukkan pada Anda.”

Kata-kata itu keluar dengan spontan, dan ketika selesai diucapkan, ia mengangkat satu tangan, katanya, “Maafkan.” Kemudian ia mulai memutar kedua bedil itu. Kedua bedil berpilin seperti gulungan, menimbulkan angin pusaran kecil. Orang-orang yang hadir menjadi pucat.

Musashi berhenti, dan menarik sikunya ke sisi. Ia berjalan ke ceruk kamar, dan mengembalikan kedua bedil. Sambil tertawa kecil, katanya, “Barangkali itu tadi dapat membantu Anda memahami.” Tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut, ia membungkuk pada tuan rumah dan pergi. Karena terheran-heran, Shima lupa sama sekali meminta seseorang untuk menemaninya.

Di luar gerbang, Musashi menoleh untuk terakhir kali, dan merasa lega telah lepas dart cengkeraman Watari Shima. Ia masih belum tahu maksud-­maksud sebenarnya orang itu, tapi satu hal sudah jelas. Tidak hanya iden­titasnya sudah diketahui orang, tapi ia sudah terlibat dalam satu kejadian. Maka yang paling bijaksana baginya adalah meninggalkan Okazaki malam ini juga.

Ia baru ingat akan janjinya kepada Matahachi untuk menantikan kem­balinya Gudo, ketika cahaya Okazaki mulai terlihat, dan satu suara terdengar memanggilnya dari tempat suci kecil di pinggir jalan.

“Musashi, ini aku, Matahachi. Kami kuatir dengan dirimu, karena itu kami pergi ke sini menanti.”

“Kuatir?” tanya Musashi.

“Kami tadi pergi ke rumahmu. Perempuan tetanggamu bilang orang me­mata-mataimu belum lama ini.”

“Kami, katamu?”

“Guru sudah kembali hari ini.”

Gudo duduk di beranda tempat suci itu. Ia orang yang berwajah luar biasa, kulitnya sehitam kulit jangkrik raksasa, dan matanya bersinar cemerlang di bawah alisnya yang tinggi. Ia tampak seperti orang yang berumur antara empat puluh dan lima puluh tahun, namun tak mungkin orang menebak orang seperti itu. Tubuhnya kurus kekar, dan suaranya mendentum.

Musashi mendekat, berlutut dan bersujud ke tanah. Gudo memandangnya tanpa berkata-kata semenit-dua menit. “Lama sudah waktu berlalu,” kata­nya.

Sambil mengangkat kepala, kata Musashi tenang, “Ya, lama sekali.” Gudo atau Takuan—Musashi sudah lama yakin bahwa hanya salah satu dari mereka dapat melepaskannya dari kebuntuan sekarang. Sesudah menanti setahun penuh, akhirnya kini Gudo ada di hadapannya. Ia pandang wajah pendeta itu, seolah memandang bulan di malam gelap.

Secara tiba-tiba dan dengan penuh tenaga, serunya “Sensei.”

“Ada apa?” Gudo tak perlu lagi bertanya. Ia sudah tahu apa yang dike­hendaki Musashi, dan ia sudah menduganya, seperti seorang ibu meramalkan kebutuhan anak-anaknya.

Sambil bersujud ke tanah lagi, Musashi berkata, “Sudah hampir sepuluh tahun sejak saya belajar pada Bapak.”

“Apa sudah selama itu?”

“Ya. Tapi biarpun sudah belajar selama itu, saya sangsi apakah kemajuan saya menempuh Jalan itu dapat diukur.”

“Bicaramu masih seperti kanak-kanak, ya? Kalau begitu, tak mungkin jauh jalanmu.”

“Banyak sekali yang saya sesali.”

“Betul?”

“Latihan dasar dan disiplin diri saya begitu sedikit terlaksana.”

“Kau selalu bicara tentang hal-hal semacam itu. Selama kau masih ber­buat begitu, itu sia-sia.”

“Apa yang akan terjadi, kalau saya tinggalkan ini?”

“Kau akan terjerat simpul lain lagi. Kau akan menjadi sampah manusia yang lebih buruk daripada sebelumnya, ketika kau masih bodoh, tidak tahu apa-apa,”

“Kalau saya tinggalkan Jalan ini, saya akan jatuh ke dalam jurang. Tapi, untuk mencoba mengejarnya sampai ke puncak, saya tak sanggup meng­hadapi tugas itu. Saya jadi berputar-putar dalam angin tanggung menuju ke atas. Saya tak ingin jadi pemain pedang atau manusia.”

“Ya, agaknya begitulah kesimpulannya.”

“Bapak tidak tahu, betapa putus asa saya selama ini. Apa yang mesti saya lakukan? Bapak, katakanlah! Bagaimana saya dapat membebaskan diri dari kemandekan dan kekacauan?”

“Kenapa tanya padaku? Kau hanya dapat mengandalkan dirimu.”

“Izinkan saya duduk di kaki Bapak. Saya dan Matahachi. Atau hantam saya dengan tongkat Bapak itu, untuk membangunkan saya dari kekosongan gelap ini. Saya mohon, Sensei, tolonglah saya.” Musashi tidak mengangkat kepalanya. Ia tidak meneteskan air mata, tapi suaranya tercekik.

Tanpa tergerak oleh kata-kata Musashi sedikit pun, kata Gudo, “Ayo, Matahachi!” Kemudian bersama-sama mereka pergi meninggalkan tempat suci itu.

Musashi berlari mengejar pendeta itu, mencengkeram lengan bajunya, meminta dan memohon.

Pendeta itu menggelengkan kepala, tidak mengatakan sesuatu. Ketika Musashi berkeras juga, katanya, “Sama sekali tak ada!” Kemudian dengan marah, “Apa yang mesti kukatakan? Apa lagi yang mesti kuberikan? Hanya tinggal menghantam kepala itu.” Ia mengayunkan tinjunya ke udara, tapi tidak memukul.

Musashi melepaskan lengan baju si pendeta, dan hendak mengatakan yang lain lagi, tapi pendeta itu berjalan cepat menjauh, tanpa berhenti lagi untuk menoleh.

Matahachi yang berada di sampingnya berkata, “Waktu kujumpai beliau di kuil, dan kusampaikan perasaan kita dan alasan kita ingin menjadi muridnya, beliau hampir tak mendengarkan. Dan waktu aku selesai bicara, beliau berkata, ‘Oh?’ dan mengatakan aku dapat mengikutinya dan me­layaninya. Barangkali kalau kau mengikuti kami terus, nanti kalau suasana hati beliau sedang baik, kau dapat minta apa yang kauinginkan.”

Gudo menoleh dan memanggil Matahachi.

“Baik, Pak!” kata Matahachi. “Lakukan anjuranku ini,” nasihatnya pada Musashi, sambil berlari mengejar si pendeta.

Karena menurut pendapatnya membiarkan Gudo lenyap lagi dari pan­dangan akan fatal baginya, Musashi memutuskan menuruti nasihat Matahachi. Di tengah aliran waktu alam semesta, hidup manusia yang enam atau tujuh puluh tahun itu hanya merupakan kilat. Kalau dalam jangka waktu singkat itu ia mendapat hak istimewa untuk menjumpai seorang Gudo, sungguh bodoh melepaskan kesempatan itu.

“Ini kesempatan yang suci,” pikir Musashi. Air mata panas mengambang di sudu’t-sudut matanya. Ia harus mengikuti Gudo, sampai ujung dunia kalau perlu, dan mengejarnya sampai ia mendengar kata yang ingin di­dengarnya.

Gudo pergi meninggalkan Bukit Hachijo. Agaknya ia tidak lagi tertarik akan kuil di sana. Hatinya sudah mulai mengalir bersama air dan awan. Sampai Tokaido, ia membelok ke barat, ke arah Kyoto.

Lingkaran

RENCANA perjalanan guru Zen itu eksentrik tak keruan. Suatu kali, di waktu hujan turun sepanjang hari, ia tinggal di penginapan dan minta Matahachi memberikan kepadanya pengobatan moxa. Di Provinsi Mino ia tinggal selama tujuh hari di Daisenji, kemudian singgah beberapa hari di kuil Zen di Hikone. Jadi, perjalanan keKyoto itu ditempuh lambat sekali.

Musashi tidur di tempat apa saja yang dapat ditemukannya. Kalau Gudo tinggal di penginapan, ia bermalam di luar, atau di penginapan lain. Kalau pendeta itu dan Matahachi menginap di kuil, ia berteduh di bawah gerbang. Kemelaratan bukan apa-apa baginya dibandingkan kebutuhannya akan perkataan Gudo.

Pada suatu malam, di luar sebuah kuil di tepi Danau Biwa, tiba-tiba ia tersadar akan datangnya musim gugur. Ia pandangi dirinya, dan dilihatnya dirinya sudah mirip peminta-minta. Rambutnya sudah seperti sarang tikus, karena ia memang sudah berketetapan untuk tidak bersisir sebelum pendeta itu melunak sikapnya. Berminggu-minggu ia tidak mandi dan bercukur. Pa­kaiannya dengan cepat berubah menjadi rombengan, dan terasa seperti kulit pohon pinus di kulitnya.

Bintang-bintang seperti akan jatuh dari langit. Ia pandangi tikar buluhnya, dan pikirnya, “Sungguh bodoh aku!” Seketika sadarlah ia, betapa sinting sikapnya selama itu. Ia tertawa pahit. Selama itu, dengan teguh dan diam ia berpegang pada tujuannya, tapi apa yang ia harapkan dari guru Zen itu? Apa tak mungkin ia menjalani hidup tanpa mesti menyiksa diri sedemikian rupa? Ia bahkan merasa kasihan pada kutu-kutu yang hidup di tubuhnya.

Gudo dengan tegas mengatakan bahwa ia tak punya “apa pun” untuk diberikan. Sungguh tidak beralasan mendesaknya memberikan sesuatu yang tak dimilikinya. Salahkah membencinya, sekalipun ia kurang menunjukkan perhatian dibanding perhatian yang diberikannya pada seekor anjing sesat di jalan?

Musashi memandang ke langit, lewat rambut yang meneduhi matanya. Tak sangsi lagi-itulah bulan musim gugur. Tapi nyamuk-nyamuk itu… Kulitnya yang sudah penuh bilur-bilur merah tidak lagi peka terhadap gigitannya.

Ia sudah siap untuk mengaku pada dirinya sendiri, bahwa ada hal yang tidak ia mengerti, tapi apakah itu? Kalau sekiranya ia dapat memahami apa gerangan hal itu, pedangnya akan terbebas dari ikatannya, dan segala yang lain pun akan terpecahkan dalam sesaat. Namun, begitu ia merasa akan dapat meraihnya, selalu saja hal itu lolos.

Kalau usahanya menempuh Jalan itu berakhir di sini, ia lebih suka mati, sebab untuk apa lagi hidup ini? Selagi berbaring di bawah atap gerbang, dan kantuk tidak juga datang, ia bertanya apa gerangan yang belum dipahaminya selama ini. Teknik pedangkah? Tidak, lebih dari itu. Pemecahan masalah Otsu? Tidak, tak seorang lelaki pun dapat begini sengsara hanya karena cinta kepada seorang perempuan. Jawaban yang dicarinya pasti meliputi segalanya, namun dengan segala kebesarannya, jawaban itu bisa saja hanya sesuatu yang kecil, yang tak lebih dari biji madat.

Ia terbungkus dalam tikar, seperti ulat. Terpikir olehnya, apakah Matahachi tidur enak. Membandingkan dirinya dengan temannya, ia merasa iri. Masalah-masalah Matahachi agaknya tidak melumpuhkan. Musashi kelihatan selalu mencari masalah-masalah baru, dan dengan itu la menyiksa dirinya.

Matanya kini tertumpu pada sebuah piagam yang tergantung di tiang gerbang. Ia bangkit dan mendekatinya, agar dapat melihat lebih dekat. Dalam cahaya bulan ia membaca:

Saya mohon, cobalah temukan sumber asasi.

Pai yun tergerak oleh jasa Pai-ch’ang,

Hu-ch’iu kecewa atas ajaran peninggalan Pai yun.

Seperti para pendahulu kita yang agung, janganlah hanya memetiki dedaunan,

Atau menyibukkan diri dengan rerantingan.

Agaknya tulisan itu cuplikan dari Wasiat Daito Kokushi, pendiri Daitokuji.

Musashi membaca kembali dua baris terakhir. Dedaunan dan reranting­an…. Berapa banyak orang terlontar dari jalur hidupnya oleh hal-hal yang tak ada kaitannya? Apakah ia sendiri bukan contoh hal itu? Pikiran itu serasa meringankan bebannya, namun keraguannya tak juga hilang. Kenapa pedangnya tidak tunduk kepadanya? Kenapa matanya berpaling dari tujuan­nya? Apakah yang mencegahnya mencapai ketenteraman?

Bagaimanapun, semua ini terasa demikian sia-sia. Ia tahu apabila orang telah menempuh Jalan itu sejauh-jauhnya, maka ia mulai terombang­ambing dan terserang keresahan-dedaunan dan rerantingan. Bagaimana mungkin orang membebaskan diri dari lingkaran itu? Bagaimana orang dapat sampai kepada intinya dan menghancurkannya?

Kutertawakan ziarahku yang sepuluh tahun ini­

Jubah yang lusuh, topi yang rombeng, ketukan di pintu Zen.

Sesungguhnya Hukum Budha itu sederhana:

Makan nasimu, minum tehmu, kenakan pakaianmu.

Musashi terkenang kembali akan sajak tulisan Gudo ini, yang dipakainya untuk mengejek diri sendiri. Gudo kira-kira sebaya Musashi ketika mengarang sajak itu.

Pada kunjungan Musashi yang pertama ke Kuil Myoshinji, pendeta itu hampir menendangnya dari pintu. “Jalan pikiran aneh apa pula yang men­dorongmu datang ke rumahku?” begitu teriaknya. Tapi Musashi bersikeras, dan kemudian, sesudah ia memperoleh izin masuk, Gudo menyuguhinya sajak ironis itu. Dan ia menertawakan Musashi, seraya mengucapkan kata­kata yang telah diucapkannya beberapa minggu lalu, “Kau selalu bicara… Itu sia-sia!”

Dalam keadaan benar-benar putus asa, Musashi membuang sama sekali keinginan untuk tidur, dan la berjalan mengitari pintu gerbang. Justru pada waktu itu ia melihat dua orang muncul dari kuil.

Gudo dan Matahachi berjalan dengan langkah cepat luar biasa. Barangkali panggilan mendesak telah datang dari Kuil Myoshinji, kuil kepala sekte Gudo. Apa pun halnya, ia melewati begitu saja para biarawan yang telah berkumpul untuk mengucapkan selamat jalan kepadanya, dan langsung menuju Jembatan Kara di Seta.

Musashi mengikutinya melewati kota Sakamoto yang tertidur, melintasi toko-toko cetak kayu, toko-toko sayur dan buah, bahkan juga penginapan­penginapan ramai yang semuanya sudah terkunci rapat. Satu-satunya yang hadir adalah bulan yang pucat.

Mereka meninggalkan kota itu, mendekati Gunung Hiei, melewati Miidera dan Sekiji yang terselimut tirai kabut. Mereka hampir tak menjumpai siapa pun. Ketika mereka sampai di celah, Gudo berhenti dan mengatakan se­suatu pada Matahachi. Di bawah mereka terletak Kyoto, di arah lain keluasan Danau Biwa yang tenang. DI luar bulan, segala sesuatu tampak seperti mika, lautan kabut lunak keperakan.

Ketika beberapa waktu kemudian mereka sampai di celah itu, terkejutlah Musashi bahwa dirinya hanya beberapa kaki jaraknya dan sang guru. Dalam beberapa minggu ini, itulah pertama kali mereka bertemu pandang. Gudo tak mengatakan apa pun. Musashi pun tak mengatakan sesuatu.

“Sekarang… inilah waktunya!” pikir Musashi. Kalau pendeta itu nanti sampai sejauh Myoshinji, ia terpaksa menanti beberapa minggu sebelum sempat bertemu lagi dengannya.

“Saya mohon, Pak,” katanya. Dadanya menggembung dan lehernya melipat. Suaranya seperti suara seorang anak yang dengan ketakutan mencoba menyampaikan sesuatu yang tak hendak dikatakannya. Ia beringsut maju dengan takut-takut.

Pendeta itu tidak berkenan menanyakan apa yang dikehendakinya. Wajah­nya mirip wajah patung berpernis kering. Hanya matanya yang menonjol putih, menatap marah pada Musashi.

“Saya mohon, Pak,” katanya. Tanpa menghiraukan apa pun, kecuali hasrat menyala-nyala yang mendesaknya maju, Musashi menjatuhkan diri berlutut dan menundukkan kepala. “Sepatah kata kebijaksanaan! Satu patah kata saja…!”

Ia merasa seperti sudah berjam-jam menanti. Ketika akhirnya ia tak dapat lagi mengendalikan diri, ia memperbarui permohonannya.

“Aku sudah dengar semuanya itu!” sela Gudo. “Matahachi bicara ten­tangmu tiap malam. Aku sudah tahu semua yang perlu kuketahui, bahkan juga tentang perempuan itu.”

Kata-kata itu seperti kerat es. Andaikata pun Musashi ingin mengangkat kepalanya, ia tak dapat berbuat demikian.

“Matahachi, tongkat!”

Musashi menutup mata, menguatkan diri menanti pukulan. Namun Gudo bukannya memukul, melainkan menggambar lingkaran di sekitar dirinya. Tanpa mengucapkan apa-apa lagi, ia lontarkan tongkat itu, dan katanya, “Ayo pergi, Matahachi!” Dan mereka pergi cepat-cepat.

Musashi jadi naik pitam. Sesudah berminggu-minggu menderita aib yang kejam, dalam usaha yang tulus untuk menerima ajaran, penolakan Gudo jauh lebih buruk daripada sekadar tiadanya rasa iba. Penolakan itu kejam, brutal! Pendeta itu mempermainkan manusia!

“Pendeta babi!”

Musashi menatap garang ke arah dua orang yang melangkah pergi itu. Bibirnya mengatup erat, membentuk berengut marah.

“Tak ada apa-apa.” Mengenang kata-kata Gudo itu, ia menyimpulkan bahwa kata-kata itu hanya dusta, seolah-olah hendak menyatakan bahwa orang itu punya sesuatu yang bisa ditawarkan, padahal kenyataannya “tak ada apa-apa” dalam kepalanya yang tolol itu.

“Awas!” pikir Musashi. “Aku tidak butuh kau!” la takkan mengandalkan diri pada siapa pun. Analisis terakhirnya menyatakan tak seorang pun dapat diandalkan, kecuali diri sendiri. Ia seorang lelaki, seperti halnya Gudo dan guru-guru sebelumnya.

Ia berdiri, setengahnya digerakkan oleh kemarahan sendiri. Beberapa menit lamanya ia menatap bulan, tapi ketika kemarahannya mendingin, terpandang olehnya lingkaran itu. la masih berdiri di dalamnya, dan ia menoleh ke sekitar. Baru berbuat demikian, teringat olehnya tongkat yang tidak jadi memukulnya.

“Lingkaran? Apa pula artinya?” Dan ia biarkan pikirannya berkembang. Satu garis penuh, tanpa awal, tanpa akhir, tanpa penyimpangan. Kalau lingkaran itu diluaskan tanpa batas, akan menjadi alam semesta. Kalau dikerutkan, akan sama dengan titik kecil tempat jiwanya bersemayam. Jiwa itu bulat. Alam semesta ini bulat. Bukan dua. Satu! Satu ujud-dirinya dan alam semesta.

Dengan bunyi berdetak ia cabut pedangnya, dan ia acungkan dengan arah diagonal. Bayangan dirinya menyerupai lambang huruf “o”. Lingkaran alam semesta ini tetap sama. Dengan tanda yang sama itu, ia sendiri tidak berubah. Hanya bayangannya yang berubah.

“Hanya bayangan,” pikirnya. “Bayangan itu bukan diriku yang sebenar­nya.” Dinding tempat ia membenturkan kepalanya selama ini hanyalah bayangan, bayangan pikiran yang kacau.

Ia mengangkat kepalanya, dan pekik ganas pun meledak dari bibirnya.

Dengan tangan kiri ia acungkan pedang pendeknya. Bayangan itu berubah lagi, tapi citra alam semesta secuil pun tidak. Kedua pedang itu hanyalah satu pedang. Dan keduanya adalah bagian dari lingkaran itu.

Ia mengeluh dalam, matanya terbuka. Ketika ia memandang bulan lagi, terlihat olehnya lingkaran besar yang dapat dianggap serupa dengan pedang, atau dengan jiwa orang yang menginjak bumi.

“Sensei!” pekiknya sambil berlari mengejar Gudo. Memang tak ada lagi yang diharapkannya dari pendeta itu, tapi ia harus minta maaf karena telah demikian hebat membencinya.

Selusin langkah kemudian, ia berhenti. “Cuma dedaunan dan rerantingan,” pikirnya.

Biru Shikama

“APA Otsu ada di sini?”

“Ya, saya di sini.”

Sebuah wajah muncul di atas pagar.

“Bapak ini Mambei,kan? Pedagang rami?” tanya Otsu.

“Betul. Maaf saya mengganggu Anda selagi sibuk, tapi saya mendengar kabar yang kemungkinan menarik minat Anda.”

“Silakan masuk,” Otsu mengisyaratkan untuk menuju pintu kayu di pagar itu.

Seperti kelihatan dari kain yang bergantungan pada cabang-cabang pohon dan tiang-tiang, rumah itu milik salah seorang tukang celup pembuat kain kuat, yang dikenal di seluruh negeri dengan nama “Biru Shikama”. Pekerjaan itu terdiri atas mencelup kain dalam celupan biru tua keunguan beberapa kali, dan menumbuknya dalam lumpang besar, setiap kali habis dicelup. Dengan demikian, benangnya jadi sangat usang oleh celupan, hingga lama sesudah benang usang, baru celupan itu luntur.

Otsu belum terbiasa menggunakan pemukul, tapi ia bekerja keras juga, dan jari-jarinya biru-biru. Di Edo, sesudah diketahuinya Musashi telah pergi, ia singgah di kediaman Hojo dan Yagyu, kemudian segera berangkat untuk mencari lagi. Musim panas lalu, dari Sakai ia naik salah satu kapal Kobayashi Tarozaemon dan pergi ke Shikama, sebuah kampung nelayan yang terletak di muara segi tiga, tempat terjunnya Sungai Shikama ke Laut Pedalaman.

Ingat bahwa pengasuhnya ketika bayi telah kawin dengan seorang pencelup dari Shikama, Otsu mencarinya, dan kemudian tinggal bersamanya. Karena keluarga itu miskin, Otsu merasa wajib membantu mencelup, dan memang itu pekerjaan gadis-gadis muda. Sering mereka bekerja sambil menyanyi. Orang-orang kampung berkata, dari suara seorang gadis mereka dapat menetapkan apakah ia sedang jatuh cinta pada salah seorang nelayan muda.

Otsu membasuh tangannya dan menghapus keringat dari dahinya, ke­mudian mempersilakan Mambei duduk dan beristirahat di beranda.

Orang itu menolak dengan kibasan tangan, katanya, “Anda datang dari Kampung Miyamoto, kan?”

“Ya.”

“Saya kadang datang ke kampung itu, membeli rami. Belum lama ini saya mendengar desas-desus…”

“Ya?”

“Tentang Anda.”

“Tentang saya?”

“Saya juga mendengar tentang orang yang namanya Musashi.”

“Musashi?” Hati Otsu serasa melompat kegirangan, dan pipinya memerah.

Mambei tertawa kecil. Waktu itu musim gugur, tapi matahari masih cukup panas. la melipat saputangan, mengusapkannya ke dahi, kemudian berjongkok. “Apa Anda kenal dengan wanita bernama Ogin?” tanyanya.

“Maksud Bapak, kakak perempuan Musashi?”

Mambei mengangguk kuat-kuat. “Saya jumpa dengan dia di Kampung Mikazuki di Sayo. Kebetulan saya menyebutkan nama Anda, dan dia kelihatan terkejut sekali.”

“Apa Bapak sebutkan padanya alamat saya?”

“Ya. Saya merasa tak ada jeleknya menyebutkan itu.”

“Di mana dia tinggal sekarang?”

“Dia tinggal dengan samurai bernama Hirata—saya pikir salah seorang keluarganya. Dia bilang ingin sekali ketemu Anda. Beberapa kali dia menyatakan merasa kehilangan Anda, dan banyak sekali yang hendak diceritakannya pada Anda. Sebagiannya rahasia, menurutnya. Saya rasa waktu itu dia sudah hampir menangis.”

Mata Otsu memerah.

“Di tengah jalan waktu itu tak ada tempat buat menulis surat, karena itu dia minta saya menyampaikan pada Anda supaya datang ke Mikazuki. Dia bilang ingin datang Iceman, tapi belum bisa sekarang.” Mambei berhenti. “Tak banyak yang dia katakan, tapi menurutnya dia sudah dengar kabar dari Musashi.” Ia menambahkan bahwa ia akan pergi ke Mikazuki hari berikutnya, dan menyarankan pada Otsu untuk pergi bersamanya.


Cerita Novel Musashi buku 7, karangan Eiji Yoshikawa, terbitan gramedia, di kutip dari Website:
http://topmdi.com/ceritawp/?cat=74
[Lihat: Lanjutan Cerita]


0 KOMENTAR ANDA:

Post a Comment