Sabtu, 10 Mei 2008

Miyamoto Musashi, Buku 5-1


Cerita Novel Musashi buku 5, karangan Eiji Yoshikawa, terbitan gramedia.
[Lihat: Pengantar] [lihat: Cerita Sebelumnya]


Penculikan

DI seberang celah, salju Gunung Koma berkilauan berupa jalur-jalur seperti lembing, sedangkan lewat pucuk-pucuk pohon yang sedikit kemerahan, tampak salju di Gunung Ontake terhampar, berupa petak-petak berserakan. Warna hijau muda yang menandakan datangnya musim semi seolah ge­merlapan di sepanjang jalan raya dan di perladangan.

Otsu melamun. Jotaro seperti tanaman yang barn tumbuh, keras kepala dan tegar. Sukar sekali menundukkan dan tetap menguasainya dalam waktu lama. Akhir-akhir ini Jotaro tumbuh pesat. Kadang-kadang Otsu merasa seperti menangkap kilasan seorang pria dewasa.

Memang sifat Jotaro yang liar, ribut, dan penuh gairah hidup itu bisa dimaklumi, namun tetap saja Otsu cemas dengan tingkah lakunya, sekali­pun ia telah memperhitungkan latar belakang Jotaro yang tidak seperti anak lain. Tuntutannya tak kenal ujung, terutama dalam hal makanan. Tiap kali mereka tiba di warung makanan, ia berhenti seketika dan tak mau beranjak sebelum Otsu membelikan sesuatu.

Habis membeli kerupuk beras di Suhara, Otsu berjanji, “Ini yang terakhir.” Tapi belum sampai mereka menempuh jarak satu mil, kerupuk sudah habis dan katanya ia sudah setengah kelaparan. Krisis yang terjadi lagi sesudah itu hanya dapat dihindari dengan berhenti di sebuah warung teh di Nezame untuk makan siang. Tapi begitu selesai melewati celah berikut, ia sudah kelaparan lagi.

“Lihat, Otsu! Warung itu menjual kesemek kering. Bagaimana kalau kita beli, biar ada yang kita bawa?”

Otsu berjalan terus, pura-pura tak mendengar.

Ketika mereka sampai di Fukushima, Provinsi Shinano, tempat yang terkenal dengan keanekaan dan kelimpahan hasil makanannya, hari sudah sore, yaitu waktu untuk makan makanan kecil.

“Mari kita istirahat sebentar,” rengek Jotaro. “Ayolah.” Otsu tidak memperhatikan.

“Ayolah, Otsu! Mari kita makan kue beras berlapis tepung kedelai itu. Kue buatan tempat ini terkenal sekali. Kakak tak ingin?” tanyanya kesal.

Dan seakan-akan sudah ada persekutuan rahasia dengan Jotaro, lembu itu berhenti dan mulai mengunyah rumput di tepi jalan.

“Baik!” bentak Otsu. “Kalau begitu kelakuanmu, aku akan jalan dulu dan mengatakannya pada Musashi.” Otsu berbuat seolah-olah hendak turun dari lembu, tapi Jotaro pecah ketawanya, karena tahu benar Otsu takkan melaksanakan ancamannya.

Karena gertakannya tak mempan, Otsu menyerah dan turun dari lembu. Bersama-sama mereka masuk ke bangunan kecil yang menempel di depan warung. Jotaro dengan suara keras memesan dua porsi, kemudian keluar untuk mengikatkan lembu.

Ketika ia kembali, Otsu berkata, “Mestinya kau tak usah pesan untukku. Aku tidak lapar.”

“Kakak tak ingin makan apa-apa?”

“Tidak. Orang yang makan terlalu banyak akan berubah jadi babi bodoh.”

“Oh, kalau begitu, bagian Kakak saya makan juga nanti.”

“Tak kenal malu!”

Mulut Jotaro terlampau penuh, hingga telinganya tidak mendengar. Namun tak lama kemudian ia berhenti makan untuk menggeser pedangnya ke punggung, karena di situ pedang takkan mengganggu tulang rusuknya yang mengembang. Ia mulai makan lagi, tapi tiba-tiba ia menjejalkan kue betas terakhir ke dalam mulutnya dan meloncat ke pintu keluar.

“Sudah selesai?” seru Otsu. Ia meletakkan uang di meja dan mulai mengikuti Jotaro, tapi Jotaro kembali lagi dan dengan kasar mendorong punggung Otsu ke dalam.

“Tunggu!” katanya heboh. “Saya baru melihat Matahachi.”

“Tidak mungkin!” Otsu menjadi pucat. “Apa yang dia kerjakan di tempat ini?”

“Saya tidak tahu. Kakak tidak lihat? Dia pakai topi anyaman, dan tadi dia menatap kita langsung.”

“Aku tak percaya.”

“Kakak mau saya membawanya kemari buat bukti?”

“Tak mungkin kau berbuat begitu!”

“Jangan kuatir. Kalau ada apa-apa, akan saya panggil Musashi.”

Urat nadi Otsu berdentum hebat, tapi karena sadar bahwa makin lama mereka berdiri di sana makin jauh Musashi mendahului, ia kembali mendekat ke lembu.

Ketika mereka berangkat, Jotaro berkata, “Saya sungguh tak mengerti Sebelum sampai di air terjun di Magome, kita bertiga sangat bersahabar. Tapi sejak itu Musashi hampir tak pernah berkata-kata, dan Kakak justru tidak bicara dengan dia. Kenapa?”

Dan ketika Otsu tidak mengatakan apa-apa, ia pun melanjutkan, “Kenapa dia jalan duluan? Kenapa kita tidur di kamar yang berlainan sekarang? Kalian bertengkar atau bagaimana?”

Otsu tak dapat memaksa dirinya memberikan jawaban yang jujur, karena kepada diri sendiri pun ia tak dapat. Apakah semua lelaki memperlakukan perempuan seperti Musashi memperlakukannya? Yaitu terang-terangan mau memaksakan cinta kepadanya? Dan kenapa pula ia menolak Musashi demikian keras? Kedukaan dan kebingungannya sekarang lebih menyakitkan dibandingkan penyakit yang baru saja dideritanya. Pancaran cinta yang bertahun-tahun menghibur hatinya tiba-tiba berubah menjadi air terjun yang mengamuk.

Kenangan air terjun menggema di telinganya, bersamaan dengan teriakan dukanya sendiri dan protes marah Musashi.

Ia bertanya pada dirinya, apakah mereka akan terus seperti ini selamanya, tak pernah saling memahami. Tetapi yang lebih tidak logis adalah kenapa sekarang ia membuntuti Musashi dan berusaha untuk tidak kehilangan. Sekalipun rasa malu membuat mereka berjalan terpisah dan jarang berbicara, Musashi tidak memperlihatkan tanda-tanda melanggar janji untuk pergi bersama ke Edo.

Di Kozenji, mereka membelok ke jalan lain. Di puncak bukit pertama terdapat pintu rintangan. Otsu sudah mendengar bahwa semenjak Pertem­puran Sekigahara, di jalan ini pejabat pemerintah memeriksa para musafir, terutama perempuan, dengan sangat teliti. Tetapi surat pengantar dari Yang Dipertuan Karasumaru itu sangat membantu, dan mereka bisa melewati tempat pemeriksaan tanpa kesulitan.

Ketika mereka sampai di warung teh terakhir, di ujung pintu rintangan, Jotaro bertanya, “Kak, apa artinya ‘Fugen’?”

“Fugen?”

“Ya. Di sana tadi, di depan warung teh, seorang pendeta menuding Kakak dan bilang Kakak ‘tampak seperti Fugen naik lembu’. Apa itu artinya?”

“Kukira yang dimaksudnya sang Bodhisatwa Fugen.”

“Tapi itu Bodhisatwa yang naik gajah, kan? Kalau begitu, aku ini sang Bodhisatwa Monju. Mereka berdua selalu bersama-sama.”

“Monju yang sangat rakus!”

“Tapi cukup baik buat Fugen yang cengeng!”

“Oh, begitu kamu, ya?”

“Kenapa Fugen dan Monju itu selalu bersama-sama? Mereka bukan lelaki dan perempuan.”

Sengaja atau tidak, ucapan Jotaro mengena lagi. Karena sudah banyak mendengar tentang hal-hal itu selagi tinggal di Shippoji, sebetulnya Otsu dapat menjawab pertanyaan itu secara terperinci, tapi ia hanya menjawab, “Monju mewakili kebijaksanaan, sedangkan Fugen kesetiaan.”

“Berhenti!” Suara itu suara Matahachi, dan datangnya dari belakang mereka.

Karena sudah muak memberontak, Otsu hanya berpikir, “Si pengecut!” Ia menoleh dan menatap Matahachi tak acuh.

Matahachi menatap balik. Perasaannya lebih kacau-balau daripada kapan pun. Waktu di Nakatsugawa yang dirasakannya cuma cemburu, tapi kemu­dian ia terus memata-matai Musashi dan Otsu. Ketika melihat Musashi dan Otsu berpisah, ia tafsirkan itu sebagai usaha untuk menipu orang banyak, dan ia membayangkan segala macam skandal pada waktu mereka hanya berdua saja.

“Turun!” perintahnya.

Otsu menatap kepala lembu, tak dapat bicara. Perasaannya terhadap Matahachi sudah mantap berubah menjadi dendam dan benci.

“Ayo, turun, perempuan!”

Walaupun terbakar oleh perasaan berang, Otsu menjawab dingin, “Kenapa? Aku tak ada urusan denganmu.”

“Begitu, ya?” geram Matahachi mengancam, sambil memegang lengan kimono Otsu. “Boleh saja kau tak ada urusan denganku, tapi aku ada urusan denganmu. Turun!”

Jotaro melepaskan tali dan berteriak, “Biarkan dia! Kalau dia tak ingin turun, kenapa mesti turun?” Ditumbuknya dada Matahachi dengan tinjunya.

“Kaukira apa perbuatanmu itu, bajingan cilik?” Matahachi kehilangan keseimbangan. Ia memasukkan kembali kakinya ke sandal, dan angkat bahu dengan sikap mengancam. “Kalau tak salah, aku sudah pernah melihat mukamu yang jelek ini. Kau gelandangan dari warung sake di Kitano itu, kan?”

“Ya, dan sekarang aku tahu, kenapa kau menghabiskan hidupmu dengan minum. Kau tinggal bersama perempuan jalang tua, dan kau tak punya nyali menghadapinya. Benar begitu?”

Itulah titik paling lemah yang dapat diserang Jotaro.

“Orang kerdil ingusan!” Matahachi mencoba merenggut kerahnya, tapi Jotaro merunduk dan muncul di sisi lain lembu.

“Kalau aku orang kerdil ingusan, kau apa? Orang bebal ingusan! Takut sama perempuan!”

Matahachi mengejar menikungi lembu, tapi sekali lagi Jotaro menyelinap ke bawah perut binatang itu, dan muncul di sisi lain. Hal itu terjadi tiga atau empat kali, tapi akhirnya Matahachi berhasil mengunci kerah anak itu.

“Baik, ucapkan sekali lagi!”

“Orang bebal ingusan! Takut perempuan!”

Pedang kayu Jotaro baru setengah ditarik, Matahachi sudah berhasil menguasai Jotaro dan melemparkannya dari jalan, ke tengah rumpun bambu. Jotaro jatuh telentang di sebuah sungai kecil, kaget, dan hampir hilang kesadaran.

Dan ketika sudah cukup sadar untuk merayap seperti belut kembali ke jalan, ia terlambat. Lembu itu berlari berat menyusuri jalan. Otsu masih ada di punggungnya, dan Matahachi berlari di depan, memegang talinya.

“Bajingan!” rintih Jotaro, karena tak berdaya. Terlampau pusing untuk bangkit, ia berbaring saja, mengomel dan memaki.

Musashi sedang mengistirahatkan kakinya di sebuah bukit, sekitar satu mil di depan. Iseng-iseng ia bertanya pada diri sendiri, apakah awan-awan itu bergerak, ataukah hanya tergantung antara Gunung Koma dan bukit­bukit lebar di kaki gunung, seperti kelihatannya.

Seakan-akan ada komunikasi tanpa kata, ia mengguncangkan badan dan meluruskannya. Pikirannya memang tertuju pada Otsu. Semakin memikir­kannya, semakin ia marah. Baik perasaan malu maupun kesal telah sirna dalam lembah yang berputar-putar di bawah air terjun itu, tapi bersamaan dengan berlalunya waktu, keraguan itu berulang-ulang datang. Jahatkah kalau ia mengungkapkan dirinya pada Otsu? Kenapa Otsu menampiknya dan menjauhkan diri darinya, seolah-olah membencinya?

“Tinggalkan saja dia!” katanya keras. Namun ia tahu, dengan demikian ia hanya menipu diri sendiri. Ia sudah mengatakan pada Otsu bahwa apabila mereka sampai Edo, Otsu dapat belajar apa yang terbaik baginya, sedangkan ia akan menempuh jalannya sendiri. Tersirat dalam hal itu janji untuk masa depan yang lebih jauh. Ia meninggalkan Kyoto bersama Otsu. Ia punya tanggung jawab untuk tinggal bersamanya.

“Apa yang akan terjadi denganku? Apa yang akan terjadi dengan pedang­ku, kalau kami berdua?” Ia melayangkan matanya ke gunung dan menggigit lidahnya, malu akan kekerdilannya. Memandang puncak yang agung itu membuat ia merasa rendah diri. Ia heran, apa yang mungkin menghambat Otsu dan Jotaro. Ia berdiri. Hutan dapat dilihat sampai sejauh satu mil ke belakang, tapi tak ada orang di sana.

“Mungkinkah mereka terhambat di perbatasan?”

Matahari akan segera terbenam, mestinya sudah sejak tadi mereka menyusulnya.

Tiba-tiba ia merasa kuatir. Tentu ada yang telah terjadi. Dan sebelum ia sadar, ia sudah menerobos turun bukit demikian cepat, hingga binatang­binatang di ladang bertemperasan lari ke segala jurusan.

Prajurit Kiso

Belum lagi jauh Musashi berlari, seorang musafir sudah berseru kepadanya, “Apa tadi Anda tidak bersama seorang perempuan muda dan anak laki-1aki?”

Musashi berhenti seketika. “Ya,” katanya terenyak.

“Apa yang terjadi dengan mereka?”

Agaknya dialah satu-satunya orang yang belum mendengar cerita yang dengan cepat menjadi desas-desus umum sepanjang jalan raya itu. Seorang pemuda mendekati gadis itu dan… menculiknya! Pemuda itu terlihat mencambuki lembu dan membawanya masuk ke sebuah jalan samping di dekat perbatasan. Belum sempat musafir itu selesai mengulang ceritanya. Musashi sudah berangkat.

Dengan kecepatan setinggi-tingginya, ia masih membutuhkan waktu sejam untuk dapat sampai perbatasan yang ditutup pada pukul enam. Bersama tutupnya pintu itu, tutup juga warung-warung teh di kedua sisi jalan. Dengan wajah agak kalut, Musashi mendekati seorang lelaki tua yang sedang menumpuk bangku-bangku di depan warungnya.

“Ada apa, Pak? Ada yang terlupa?”

“Tidak. Saya mencari seorang perempuan muda dan anak lelaki yang beberapa waktu lalu lewat tempat ini.”

“Apa gadis yang kelihatan seperti Fugen naik lembu itu?”

“Itu dia!” jawab Musashi tanpa berpikir. “Ada yang bilang, seorang ronin membawanya pergi. Barangkali Anda tahu ke mana perginya?”

“Saya tidak melihat sendiri peristiwa itu, tapi saya dengar mereka meninggalkan jalan utama dekat bukit kuburan-kepala. Artinya menuju Empang Nobu.”

Musashi sungguh tak mengerti, siapa yang menculik Otsu, dan kenapa? Nama Matahachi tak pernah masuk dalam pikirannya. Menurut bayangannya, tentunya orang itu ronin gombal, seperti beberapa yang ia jumpai di Nara. Atau barangkali seorang dari bromocorah yang kata orang biasa berkeliaran di hutan sekitar tempat itu. Ia berharap penculik itu sekadar orang brengsek kecil-kecilan, bukan penjahat yang memang usahanya menculik dan menjual perempuan dan kadang-kadang dikenal kejam.

Ia berlari terus mencari Empang Nobu. Sesudah matahari terbenam, ia hampir tak dapat melihat jarak satu kaki ke depan, sekalipun bintang­-bintang terang di atas. Jalan mulai mendaki. Ia simpulkan sedang memasuki perbukitan bawah Gunung Koma.

Karena tak melihat apa pun yang menyerupai empang, dan karena takut salah jalan, ia berhenti dan menoleh ke sekitar. Di tengah lautan kegelapan yang luas itu, ia dapat melihat sebuah rumah pertanian yang berdiri sendirian, juga deretan pohon penahan angin, dan gunung yang membayang gelap di atasnya.

Ketika ia dekati, kelihatan rumah itu besar dan kokoh, walaupun rumput liar tumbuh di atas atap lalangnya, dan atap lalang itu sendiri mulai membusuk. Di luar terlihat cahaya entah obor atau api dan di dekat dapur terlihat lembu belang. Ia yakin itulah binatang yang tadi dinaiki Otsu.

Ia mendekat mengendap-endap, dan berusaha terus bersembunyi dalam bayangan. Ketika sudah cukup dekat untuk melihat ke dalam dapur, ia dengar suara keras lelaki yang berasal dari lumbung di sebelah sana timbunan jerami dan kayu bakar.

“Simpan pekerjaanmu itu, Bu,” kata orang itu. “Ibu selalu mengeluh penglihatan kurang baik, tapi Ibu terus bekerja dalam gelap.”

Di kamar perapian sebelah dapur ada api, dan Musashi mengira men­dengar desir roda pintal. Sesaat kemudian bunyi itu berhenti, dan ia dengar orang berjalan ke sana kemari.

Lelaki itu keluar dari lumbung dan menutup pintu di belakangnya. “Saya akan kembali sesudah mencuci kaki,” serunya. “Ibu bisa menyiapkan makan malam.”

Ia meletakkan sandalnya di atas batu, di tepi kali yang mengalir di belakang dapur. Sementara ia duduk memainkan kakinya di air, lembu itu mendekatkan kepala ke bahunya dan ia membelai hidung lembu itu.

“Ibu,” panggilnya, “coba ke sini sebentar. Hari ini aku menemukan barang bagus. Coba tebak? … Lembu! Lembu yang betul-betul bagus.”

Diam-diam Musashi melintasi pintu depan rumah. Sambil merunduk pada batu di bawah jendela samping, ia melihat ke dalam ruangan yang ternyata kamar perapian. Barang pertama yang dilihatnya adalah sebatang lembing yang tergantung pada rak yang menghitam dekat bagian atas dinding. Sebuah senjata bagus yang dipoles dan dirawat dengan penuh kecintaan. Keping-keping emas berkilau redup pada kulit sarungnya. Musashi tak tahu untuk apa barang itu. Lembing itu bukan barang yang biasa ada dalam rumah petani. Para petani dilarang memiliki senjata, sekalipun mereka bisa memilikinya.

Orang itu muncul sebentar dalam terang api luar. Sepintas kilas Musashi tahu ia bukan petani biasa. Matanya terlampau terang, terlampau waspada. Ia mengenakan kimono kerja setinggi lutut dan pembalut kaki yang terpercik lumpur. Wajahnya bulat dan rambutnya yang lebat diikat di belakang dengan dua-tiga potong jerami. Walaupun tubuhnya pendek, tak lebih dari 165 cm, dadanya tebal dan badannya pejal. Kalau ia berjalan, langkahnya pasti dan mantap.

Asap mulai keluar dari jendela. Musashi mengangkat lengan kimono untuk menutup mukanya, tapi terlambat. Ia hirup asap itu sepenuh paru­parunya, dan tak bisa lagi menghindari batuk.

“Siapa itu?” seru perempuan tua itu dari dapur. Ia masuk kamar perapian, dan katanya, “Gonnosuke, apa lumbung sudah kaututup? Ada pencuri jewawut di sini. Aku dengar batuknya.”

Musashi menyelinap meninggalkan jendela dan menyembunyikan diri di antara pohon-pohon pelindung.

“Di mana?” teriak Gonnosuke, bergegas dari belakang rumah.

Perempuan tua itu muncul di jendela kecil. “Kira-kira di sini. Aku dengar tadi batuknya.”

“Apa bukan karena telingamu?”

“Pendengaranku masih baik! Dan aku yakin melihat wajahnya di jendela. Asap api itu yang bikin dia batuk.”

Pelan-pelan dan penuh curiga, Gonnosuke maju lima belas atau dua puluh langkah, sambil melihat hati-hati ke kanan dan ke kiri, seakan-akan ia seorang penjaga yang mengawal sebuah benteng. “Barangkali Ibu benar,” katanya. “Aku seperti mencium bau manusia.”

Mengambil isyarat dari pandangan Gonnosuke, Musashi menunggu ke­sempatan yang baik. Ada yang tampak mencolok pada postur orang itu, hal yang menyatakan bahwa sebaiknya ia berhati-hati. Tubuh orang itu tampak agak mencondong ke depan, mulai dari pinggangnya. Musashi tak dapat memastikan senjata apa yang dibawanya, tapi ketika ia menoleh, Musashi melihat orang itu memegang tongkat semeter di belakang punggungnya. Senjata itu bukan galah biasa. Melihat kilaunya, senjata itu telah banyak dipakai, dan rupanya telah menjadi bagian tak terpisahkan dari tubuh orang itu. Tak ada keraguan dalam pikiran Musashi bahwa orang itu hidup dengan senjatanya hari demi hari, dan tahu dengan tepat bagaimana menggunakannya.

Musashi memperlihatkan diri, berteriak, “Hei, tak peduli siapa kau, tapi aku datang menjemput teman-temanku!”

Gonnosuke menatapnya tanpa mengatakan sesuatu.

“Kembalikan padaku perempuan dan anak lelaki yang kauculik di jalan raya itu! Kalau mereka tidak cedera, kita hentikan persoalan sampai di sini Tapi kalau cedera, kau yang bertanggung jawab.”

Salju yang mencair memenuhi kali-kali di daerah itu menyebabkan angin menusuk dingin, yang entah bagaimana menambah ketenangan waktu itu.

“Kembalikan mereka padaku. Sekarang!” Suara Musashi lebih tajam daripada tusukan angin.

Gonnosuke memegang tongkatnya dengan cara yang dinamakan pegangan terbalik. Rambutnya tegak seperti bulu landak. Ia pun menegakkan diri dan pekiknya, “Bedebah kau! Siapa yang kausebut penculik itu?”

“Kau! Kau tentu melihat anak lelaki dan perempuan itu tak ada pe­lindungnya, karena itu kau culik mereka dan kau bawa kemari. Keluarkan mereka!”

Tongkat itu menghilang dari sisi Gonnosuke dalam gerakan demikian cepat, hingga Musashi tak dapat melihat di mana akhir tangan orang itu, dan di mana awal senjatanya.

Musashi melompat ke samping. “Jangan lakukan perbuatan yang akan membuatmu menyesal!” katanya memperingatkan, kemudian mundur be­berapa langkah.

“Kaupikir siapa kau ini, bajingan gila?” Sambil meludahkan jawabannya, Gonnosuke cepat beraksi lagi, dengan tekad tidak memberikan istirahat sedikit pun pada Musashi. Ketika Musashi beranjak sepuluh langkah, ia serentak menutup jarak itu.

Dua kali Musashi mulai menggerakkan tangan kanannya ke gagang pedangnya, tapi dua kali juga ia berhenti di tengah jalan. Pada detik ia meraba pedangnya, sikunya pasti terbuka. Musashi telah melihat cepatnya gerak tongkat Gonnosuke, dan ia tahu ia takkan sempat menyelesaikan gerakan itu. Ia pun melihat, jika ia membiarkan dirinya menganggap enteng lawannya yang pejal itu, ia akan mengalami kesulitan. Dan kalau ia tidak tinggal tenang, mengambil napas saja pun dapat membahayakannya.

Musashi harus mengukur kekuatan musuhnya, yang waktu itu me­nunjukkan jurus indah dengan kaki dan tubuhnya, jurus jenis Sempurna ­Tak-Terpatahkan. Musashi sudah mulai merasa bahwa petani ini memiliki teknik lebih unggul daripada teknik pemain pedang ahli mana pun yang pernah dijumpainya, dan pandangan matanya menunjukkan bahwa ia me­nguasai pula Jalan yang selama itu terus dicari Musashi.

Tapi hanya sedikit waktu yang dipunyainya untuk menaksir. Pukulan demi pukulan dijatuhkan hanya dalam hitungan detik, sementara kata-kata kutukan mencurah dari mulut Gonnosuke. Kadang-kadang ia menggunakan kedua tangannya, kadang-kadang hanya satu, dalam melakukan pukulan atas kepala, pukulan samping, tusukan dan geseran, dan semua itu dilakukan dengan kecekatan luar biasa. Sebilah pedang jelas terbagi atas mata dan gagangnya, dan hanya punya satu ujung, tapi kedua ujung tongkat dapat dipergunakan secara sama-sama mematikan. Gonnosuke menggunakan tong­kat itu sama cekatannya dengan seorang pembuat gula-gula menangani gula-gula. Sekali panjang, sekali pendek, sekali tak tampak, sekali tinggi, dan sekali rendah. Ia kelihatan ada di mana-mana sekaligus.

Dari jendela, perempuan tua itu mendesak anaknya untuk berhati-hati.

“Gonnosuke! Kelihatannya dia bukan samurai biasa!” Tampak perempuan itu ikut terlibat dalam perkelahian anaknya.

“Jangan kuatir!” Karena tahu ibunya memperhatikan, semangat juang Gonnosuke naik setinggi-tingginya.

Saat itu juga Musashi menghindari hantaman ke arah bahunya, dan dengan gerakan yang sama, menyerobot ke arah Gonnosuke dan menangkap pergelangannya. Detik berikutnya petani itu sudah telentang, kakinya me­nendang-nendang ke udara.

“Tunggu!” pekik si ibu, heboh, sambil merusak kisi-kisi jendela. Rambut­nya tegak, ia seperti disambar petir melihat anaknya dijatuhkan.

Pandangan liar pada wajah ibu itu menyebabkan Musashi tidak mengambil langkah logis berikutnya, yaitu melecutkan pedangnya dan menghabisi Gonnosuke. “Baik, aku akan menunggu,” teriaknya mengangkangi dada Gonnosuke dan menjepitnya ke tanah.

Gonnosuke berjuang dengan gagah berani untuk membebaskan diri. Kakinya yang tidak dikuasai Musashi terbang ke udara, kemudian menubruk bumi ketika ia melengkungkan punggungnya. Hanya itu yang dapat di­lakukan Musashi, supaya Gonnosuke tetap di bawah.

Si ibu datang berlari dari pintu dapur sambil menjerit mencaci maki. “Lihat dirimu itu! Bagaimana mungkin kau jadi macam itu?” Tapi kemudian ia menambahkan, “Jangan menyerah. Aku di sini membantumu.”

Karena tadi ia minta Musashi menunggu, Musashi mengira perempuan itu akan berlutut dan mohon padanya agar tidak membunuh anaknya. Tapi sekali tatap, ia tahu bahwa ia salah besar. Perempuan itu memegang lembing yang sudah terhunus di belakang badannya. Musashi melihat kilaunya, dan ia merasa mata perempuan itu menyala menembus pung­gungnya. “Mau pakai lemparan tipuan, ya? Kaupikir kami cuma petani bodoh?”

Musashi tak dapat membalik untuk menangkis serangan dari belakang. karena Gonnosuke terus menggeliat dan mencoba memaksa Musashi berada pada kedudukan yang menguntungkan ibunya.

“Jangan kuatir, Bu!” katanya. “Akan kuusahakan. Dan jangan terlalu dekat.”

“Tenang,” kata ibunya mengingatkan. “Kau tak boleh kalah dengan orang macam dia! Ingat nenek moyangmu! Apa yang terjadi dengan darah yang kauwarisi dari Kakumyo Agung, yang berjuang berdampingan dengan Jenderal Kiso?”

“Aku takkan lupa!” pekik Gonnosuke. Baru saja kata-kata itu keluar dari mulutnya, ia berhasil mengangkat kepalanya dan membenamkan giginya ke paha Musashi, dan bersamaan dengan itu melepaskan tongkatnya dan memukul Musashi dengan kedua tangannya. Ibunya memilih saat itu untuk menujukan lembingnya ke punggung Musashi.

“Tunggu!” teriak Musashi.

Kini sampailah mereka pada tahap di mana pemecahan persoalan hanya mungkin dicapai dengan kematian salah seorang dari mereka. Sekiranya Musashi yakin benar bahwa dengan memperoleh kemenangan ia dapat membebaskan Otsu dan Jotaro, ia akan menekan terus. Sekaranglah saat terbaik baginya untuk menghentikan pertempuran dan membicarakan per­soalannya. Ia memutar bahu ke arah perempuan tua itu dan memintanya menurunkan lembing.

“Apa yang mesti kulakukan, Nak?”

Gonnosuke masih terpaku di tanah, tapi ia mulai berpikir kembali. Barangkali ronin ini punya alasan untuk menduga bahwa teman-temannya ada di sini. Tak ada gunanya membahayakan jiwa, kalau hanya karena salah paham.

Mereka saling melepaskan cengkeraman, dan dalam beberapa menit saja menjadi jelas, bahwa semua itu cuma kesalahan.

Ketiga orang itu mengundurkan diri ke rumah, ke depan api yang menyala-nyala. Sambil berlutut di dekat perapian, si ibu berkata, “Berbahaya sekali! Bayangkan, tak ada alasan sama sekali buat berkelahi!”

Ketika Gonnosuke bersiap duduk di samping ibunya, si ibu meng­gelengkan kepala. “Sebelum kau duduk,” kata ibunya, “bawa samurai ini melihat-lihat rumah, supaya dia membuktikan sendiri, teman-temannya tak ada di sini.” Kemudian kepada Musashi, “Lihatlah baik-baik, dan saksikan sendiri.”

“Gagasan bagus juga,” kata Gonnosuke setuju. “Mari ikut saya. Periksa rumah ini dari atas sampai bawah. Saya tak suka dicurigai menculik.”

Musashi sudah duduk, dan ia menolak tawaran itu.

“Tak perlu. Dari cerita Anda, saya sudah yakin Anda tak ada hubungan dengan penculikan itu. Maafkan saya telah menuduh Anda.”

“Sebagian juga kesalahan saya,” kata Gonnosuke meminta maaf. “Mestinya saya tanyakan dulu, apa yang Anda bicarakan itu, sebelum naik darah.”

Kemudian Musashi bertanya agak ragu-ragu tentang lembu itu. Ia juga menjelaskan bahwa ia yakin benar lembu itulah yang disewanya di Seta.

“Saya kebetulan sekali menemukan lembu itu,” jawab Gonnosuke. “Petang tadi, saya ada di Empang Nobu, menjaring ikan lumpur, dan dalam perjalanan pulang saya lihat lembu itu terbenam sebelah kakinya di lumpur. Tempat itu memang berawa-rawa. Makin dia meronta, makin dalam dia terbenam. Dia heboh bukan main, jadi saya tarik dia keluar. Ketika saya tanya-tanyakan ke sekitar, ternyata lembu itu bukan milik siapa-siapa, jadi saya pikir tentunya seorang pencuri sudah mencurinya dan kemudian menelantarkannya.

“Nilai lembu itu sekitar setengah manusia di pertanian, dan lembu ini lembu baik, susunya masih muda.” Gonnosuke tertawa. “Padahal saya sudah mengambil kesimpulan, tentunya langit mengirim lembu itu untuk saya, karena saya miskin dan tak dapat melakukan apa pun buat ibu saya tanpa sedikit bantuan tangan gaib. Saya tidak keberatan mengembalikan binatang itu kepada pemiliknya, tapi saya tak tahu siapa pemiliknya.”

Musashi melihat bahwa Gonnosuke menyampaikan ceritanya dengan ketulusan yang sederhana, seperti biasa ditunjukkan orang yang dilahirkan dan dibesarkan di desa.

Ibunya menunjukkan sikap simpatik. “Aku yakin ronin ini prihatin dengan nasib teman-temannya.” katanya. “Makan malamlah dulu, kemudian bawa dia mencarinya. Kuharap mereka masih di daerah empang itu. Bukit-­bukit itu bukan tempat yang tepat buat orang dari daerah lain. Penuh dengan bandit, pencuri segala macam barang, kuda, sayuran, apa saja! Soal ini kelihatannya kerja mereka juga!”

Angin berembus bagai bisikan, kemudian mengencang menjadi siulan keras, dan akhirnya meraung di antara pepohonan, mendatangkan kebinasaan pada tumbuh-tumbuhan kecil.

Ketika angin meneduh dan bintang-bintang di langit diam mengancam, Gonnosuke mengangkat obornya tinggi-tinggi, menanti Musashi menyusul­nya.

“Sayang,” katanya, “tapi rupanya tak ada yang tahu tentang mereka. Tinggal satu rumah lagi dari tempat ini sampai empang. Tempatnya di belakang hutan di sana itu. Penghuninya pada pokoknya bertani, dan selebihnya berburu. Kalau dia tak dapat menolong kita, tak ada lagi tempat yang dapat kita lihat.”

“Terima kasih atas kesediaan ikut bersusah-payah. Kita sudah menengok lebih dari sepuluh rumah, jadi saya kira tak banyak harapan bahwa mereka ada di sekitar daerah ini. Kalau di rumah berikut ini tidak kita temukan apa-apa, kita akhiri saja, dan kita pulang.”

Waktu itu lewat tengah malam. Musashi berharap setidaknya dapat menemukan jejak Jotaro, tapi ternyata tak seorang pun melihatnya. Sementara itu, gambaran yang diberikannya pada orang banyak tentang Otsu tidak mendatangkan apa-apa, kecuali pandangan kosong dan perhentian-perhentian lama di desa.

“Kalau jalan yang Anda pikirkan, tidak jadi soal buat saya. Saya dapat berjalan sepanjang malam. Apa perempuan dan anak lelaki itu pembantu Anda? Atau saudara lelaki? Atau saudara perempuan?”

“Mereka orang yang paling dekat dengan saya.”

Sebetulnya masing-masing pihak masih ingin bertanya lebih banyak: tentang yang lain, tapi Gonnosuke terdiam, kemudian maju selangkah-dua langkah mendahului dan memimpin Musashi menyusuri jalan setapak menuju Empang Nobu.

Musashi ingin sekali tahu tentang keterampilan Gonnsuke memainkan tongkat dan cara ia memperolehnya, tapi rasa kesopanan mencegahnya bertanya. Ia merasa pertemuannya dengan orang itu akibat kecelakaan dan kecerobohannya sendiri, namun ia merasa sangat bersyukur. Sungguh sayang kalau ia tidak menyaksikan teknik memikat petarung besar ini.

Gonnosuke berhenti, katanya, “Lebih baik Anda tunggu di sini. Orang-­orang itu barangkali tidur, dan kita tidak ingin mereka jadi takut. Saya pergi sendiri, melihat apa ada yang dapat saya ketahui.”

Ia menuding rumah yang atap lalangnya tampak seperti hampir terkubur di tengah pepohonan. Langkah-langkah larinya diiringi gemeresik pohon bambu. Tak lama kemudian, Musashi mendengarnya mengetuk keras pintu rumah itu.

Beberapa menit kemudian, ia kembali membawa cerita yang memberikan Musashi petunjuk nyata pertama. Ia butuh waktu beberapa lama untuk memberikan pengertian pada suami-istri di rumah itu tentang apa yang ditanyakannya, tapi akhirnya sang istri bercerita kepadanya tentang peristiwa yang terjadi sore itu.

Sesaat sebelum matahari tenggelam, dalam perjalanan pulang berbelanja, perempuan itu melihat seorang anak lelaki berlari menuju Yabuhara dengan tangan dan kaki kotor oleh lumpur. Anak itu membawa pedang kayu panjang dalam obi-nya. Ia hentikan anak itu dan bertanya apa yang terjadi, tapi anak itu balas bertanya kepadanya, di mana kantor wakil shogun. Selanjutnya anak itu mengatakan bahwa seorang jahat telah melarikan teman seperjalanannya. Kepada anak itu, perempuan tersebut menyatakan bahwa ia cuma membuang-buang waktu, karena perwira-perwira shogun takkan melakukan pencarian atas orang yang tidak penting. Jika yang dicari itu orang besar atau penting, atau ada perintah dari atasan, baru mereka akan meneliti setiap gumpal tahi kuda dan setiap butir pasir yang ada. Bagi mereka, rakyat biasa bukan apa-apa. Bagaimanapun, bukan hal luar biasa kalau seorang perempuan diculik atau seorang musafir dihadang oleh para penyamun. Hal-hal seperti itu terjadi pagi, siang, maupun malam.

Ia suruh anak itu pergi lewat Yabuhara, ke tempat bernama Narai. Di sebuah persimpangan jalan yang mudah terlihat di sana, ia akan menemukan rumah seorang pedagang ramuan bumbu masak. Pedagang itu bernama Daizo. Ia akan mau mendengarkan ceritanya, dan kemungkinan sekali akan mem­berikan bantuan kepadanya. Tidak seperti para pejabat, Daizo tidak hanya bersimpati kepada orang lemah, melainkan juga akan berusaha keras mem­bantu mereka, jika menurut pendapatnya persoalan mereka itu ada nilainya.

Gonnosuke mengakhiri ceritanya dengan mengatakan, “Rasanya anak yang dimaksudnya itu Jotaro. Bagaimana pendapat Anda?”

“Saya yakin,” kata Musashi. “Saya kira yang terbaik adalah pergi ke Narai secepat-cepatnya dan menjumpai orang yang namanya Daizo itu. Berkat bantuan Anda, setidaknya saya sudah mendapat gagasan, apa yang mesti saya perbuat.”

“Bagaimana kalau Anda menghabiskan sisa malam ini di rumah saya? Anda dapat berangkat pagi hari, sesudah sarapan.”

“Boleh?”

“Tentu. Kalau kita menyeberang Empang Nobu, kita dapat sampai di rumah lebih cepat dari separuh waktu yang kita butuhkan untuk kemari. Saya sudah minta pada orang tadi, dan dia bilang kita dapat menggunakan perahunya.”

Empang yang terletak di ujung jalan pendek yang menuruni bukit itu tampak seperti kulit genderang raksasa. Empang itu dilingkungi pohon­pohon liu lembayung, dan garis tengahnya kira-kira seribu dua ratus atau tiga ratus meter. Bayangan gelap Gunung Koma tercermin di airnya. termasuk langit penuh bintang.

Mereka meluncur tenang melintas tengah empang itu. Musashi memegang obor dan Gonnosuke memainkan galah. Pantulan obor di air yang lembut jauh lebih merah daripada obornya sendiri.

Taring Berbisa

DARI kejauhan, obor dan pantulannya itu menggambarkan sepasang burung api yang sedang berenang menyeberangi permukaan Empang Nobu yang tenteram.

“Ada orang datang!” bisik Matahachi. “Baik, kalau begitu kita jalan sini,” katanya sambil menarik tali yang dipakainya mengikat Otsu. “Ayo!”

“Aku takkan pergi ke mana-mana,” protes Otsu sambil membenamkan tumitnya.

“Bangun!”

Dengan ujung tali itu Matahachi mencambuk punggung Otsu, berkali­-kali. Tetapi setiap cambukan yang dijatuhkannya hanya meningkatkan perlawanan Otsu.

Matahachi jadi putus asa. “Ayolah!” mohonnya. “Ayolah jalan.”

Ketika Otsu masih juga menolak berdiri, kemarahan Matahachi menyala lagi, dan ditangkapnya kerah Otsu. “Kau harus jalan, mau atau tidak?”

Otsu mencoba menoleh ke empang dan menjerit, tapi Matahachi cepat menyumbat mulutnya dengan saputangan. Akhirnya ia berhasil menyeret Otsu ke sebuah kuil kecil yang tersembunyi di antara pohon-pohon liu.

Otsu ingin sekali tangannya lepas, agar dapat menyerang penculiknya. Terpikir olehnya, alangkah senang kalau ia dapat berubah menjadi ular, seperti yang dilihatnya terlukis pada sebuah piagam. Ular itu melilit pada sebuah batang pohon liu, mendesis pada seorang lelaki yang sedang me­ngutuknya.

“Untung sekali ini.” Sambil mendesah lega, Matahachi mendorong Otsu masuk kuil, dan ia sendiri menyandarkan badan ke bagian luar pintunya yang berjeruji. Diperhatikannya benar-benar perahu kecil yang meluncur masuk teluk kecil sekitar empat ratus meter dari situ.

Hari itu sungguh menghabiskan tenaganya. Ketika ia mencoba mengguna­kan kekasaran untuk menguasai Otsu, Otsu menyatakan lebih baik mati daripada menyerah. Gadis itu bahkan mengancam akan menggigit lidahnya sendiri sampai putus. Matahachi kenal betul Otsu, maka ia mengerti bahwa ancaman itu bukan ancaman kosong. Kekecewaan yang dialaminya hampir saja menyebabkan ia membunuh, tetapi pikiran untuk berbuat demikian akhirnya mengurangi kekuatannya dan mendinginkan nafsunya.

Tak dapat ia menduga, kenapa Otsu mencintai Musashi dan bukan dirinya padahal lama sebelumnya yang terjadi adalah sebaliknya. Tidakkah para wanita lebih menyukainya daripada teman lamanya itu? Tidakkah demikian yang dulu selalu terjadi? Tidakkah Oko segera saja tertarik kepadanya ketika untuk pertama kali mereka menjumpai perempuan itu? Ya, itulah yang terjadi. Hanya ada satu penjelasan yang mungkin: Musashi memfitnahnya di belakang pung­gungnya. Sambil membayang-bayangkan pengkhianatan Musashi itu, Matahachi membakar-bakar kemarahannya sendiri.

“Sungguh aku keledai bodoh yang mudah tertipu! Bagaimana mungkin kubiarkan dia memperolok-olok diriku? Padahal sampai bercucuran air mata aku mendengarkan dia bicara tentang persahabatan abadi, dan tentang bagaimana dia menjunjung tinggi persahabatan itu! Ha!”

Ia mencela dirinya karena mengabaikan peringatan Kojiro yang kini ter­ngiang-ngiang di telinganya. “Kalau kau percaya pada si bangsat Musashi itu, kau pasti menyesal.”

Sampai hari itu, ia masih terombang-ambing antara suka dan tidak suka kepada teman masa kecilnya itu, tapi sekarang ia sudah jijik pada Musashi. Sekalipun tak dapat memaksa diri untuk mengucapkannya, namun sumpah serapah berisi kutukan abadi untuk Musashi sudah terbentuk di dalam hatinya.

Yakinlah ia bahwa Musashi adalah musuhnya, yang dilahirkan untuk setiap kali menghalanginya, dan akhirnya menghancurkannya. “Si munafik brengsek!” pikirnya. “Dia temui aku sesudah demikian lama berpisah, dan mulai berkhotbah menyuruhku membangkitkan semangat, dan mengatakan sejak sekarang kita akan bergandengan tangan sebagai teman seumur hidup. Aku ingat setiap patah katanya, dan caranya mengatakan semua itu dengan sikap demikian tulus. Kalau dipikir, sungguh aku muak. Barangkali dia tertawa terus sendiri sepanjang waktu ini.

“Yang dinamakan orang baik di dunia ini sesungguhnya orang-orang lancung macam Musashi,” demikian ia meyakinkan dirinya kembali. “Se­karang aku dapat melihat mereka. Tak bisa lagi mereka menipuku. Mem­pelajari buku-buku konyol dan mencoba menahankan segala macam cobaan. hanya untuk menjadi munafik, itu sungguh omong kosong! Dari sekarang bolehlah mereka mengatakan apa saja padaku. Sekalipun terpaksa menjadi penjahat, entah dengan cara bagaimana aku harus menghentikan bajingan itu memasyhurkan namanya. Untuk selanjutnya, aku akan menghalangi jalannya!’

Ia membalikkan badan dan menendang pintu berjeruji itu, kemudian dilepasnya sumbatan Otsu, dan tanyanya, “Masih nangis, ya?”

Otsu tidak menjawab.

“Jawab! Jawab pertanyaanku.”

Marah karena Otsu diam saja, ditendangnya sosok tubuh gelap di lantai itu. Otsu menjauhkan diri, katanya, “Tak ada yang mau kukatakan padamu. Kalau kau mau membunuhku, lakukan seperti lelaki.”

“Jangan bicara macam orang tolol! Aku sudah mantap sekarang. Kau dan Musashi yang menghancurkan hidupku, dan aku bermaksud mengambil tindakan yang setimpal, tak peduli berapa lama waktunya.”

“Omong kosong. Tak ada yang membuatmu sesat, kecuali dirimu sendiri. Memang, mungkin saja kau mendapat sedikit pengaruh buruk dari perem­puan bernama Oko itu.”

“Jaga omonganmu!”

“Bayangkan dirimu dan ibumu itu! Apa sebenarnya yang terjadi dengan keluargamu? Kenapa kalian selalu berkeliling membenci orang lain?”

“Terlalu banyak bicaramu! Sekarang aku ingin tahu, kau mau kawin denganku atau tidak?”

“Pertanyaan itu dapat kujawab dengan mudah.”

“Nah, jawab kalau begitu.”

“Selama hidup ini dan hidup abadi nanti, hatiku hanya untuk seorang lelaki, Miyamoto Musashi. Bagaimana mungkin aku peduli dengan orang lain, apalagi orang lemah macam kau? Aku benci padamu!”

Seluruh tubuh Matahachi bergetar. Sambil tertawa kejam, katanya, “Oh, jadi kau benci padaku? Sayang sekali, karena suka tidak suka, sejak malam ini tubuhmu milikku!”

Otsu menggeleng murka.

“Kau masih mau rewel soal itu?”

“Aku dibesarkan di kuil. Tak pernah melihat ayah atau ibuku. Karena itu, maut sama sekali tak menggetarkan hatiku.”

“Kau berkelakar, ya?” geram Matahachi sambil menjatuhkan diri ke lantai di samping Otsu dan menekankan wajahnya ke wajah Otsu. “Siapa pula yang bicara soal mati? Membunuhmu takkan memberikan kepuasan padaku. Inilah yang akan kulakukan!” Ditangkapnya bahu dan pergelangan kiri Otsu, lalu dibenamkannya giginya ke lengan atas Otsu lewat lengan kimononya.

Otsu mencoba membebaskan diri sambil menjerit dan mengerang. Tindakan itu malah mengetatkan cengkeraman gigi Matahachi atas lengannya. Matahachi tak melepaskannya, sekalipun darah sudah turun ke pergelangan yang dipegangnya.

Otsu lemas karena sakit, dan wajahnya pucat pasi. Karena merasa tubuh Otsu lemas, Matahachi melepaskannya dan lekas-lekas membuka mulut Otsu dengan paksa, untuk meyakinkan dirinya bahwa Otsu tidak benar-­benar menggigit lidahnya sendiri. Wajah Otsu basah oleh keringat.

“Otsu!” lolongnya. “Maaf.” Ia mengguncangkan badan Otsu sampai Otsu sadar.

Begitu dapat bicara lagi, Otsu meregangkan sekujur tubuhnya dan merintih histeris. “Oh, sakit! Sakit sekali. Jotaro! Jotaro, Jotaro, tolong aku!”

Dengan muka pucat dan napas tersengal-sengal, Matahachi berkata, “Sakit, ya? Sayang sekali. Biarpun nanti sudah sembuh, tanda gigiku masih akan kelihatan untuk waktu lama. Apa kata orang kalau melihatnya nanti? Apa pikir Musashi? Kutaruh tanda itu di situ sebagai cap, supaya semua orang tahu bahwa hari-hari ini kau menjadi milikku. Kalau kau mau lari, larilah, tapi tak mungkin lagi kau tak ingat padaku sekarang.”

Di kuil gelap itu, yang sedikit berkabut akibat debu, keheningannya hanya terpecahkan oleh sedu-sedan Otsu.

“Sudah, jangan nangis lagi! Bikin aku senewen. Aku takkan menyentuhmu, karena itu tenang saja. Mau kuambilkan air?” Ia mengambil mangkuk tanah dari altar, dan pergi ke luar.

Ia heran melihat seorang lelaki berdiri di luar, sedang melihat ke dalam. Orang itu melarikan diri, tapi Matahachi segera meloncat lewat pintu dan mencengkeramnya.

Orang itu petani yang sedang dalam perjalanan ke pasar besar di Shiojiri, membawa beberapa karung padi-padian yang diangkut dengan kuda. Ia menjatuhkan diri ke kaki Matahachi dengan tubuh gemetar ketakutan. “Saya tak bermaksud apa-apa. Tadi saya dengar perempuan menangis, lalu saya menengok ke dalam, buat melihat apa yang terjadi.”

“Betul begitu? Kau yakin?” Sikap Matahachi keras, seperti sikap hakim setempat.

“Betul, saya berani sumpah.”

“Kalau begitu, kau boleh tetap hidup. Turunkan karung-karung itu dari punggung kuda, dan ikatkan perempuan itu ke atasnya. Kemudian kau akan ikut bersama kami sampai selesai urusanku denganmu.” Jari-jari Matahachi memainkan gagang pedang, penuh ancaman.

Karena takut melawan perintah, petani itu melakukan saja apa yanz diperintahkan kepadanya, kemudian mereka berangkat.

Matahachi mengambil bilah bambu untuk cambuk. “Kita pergi ke Edo, dan kita tidak membutuhkan teman, karena itu tinggalkan jalan besar.” ­perintahnya. “Ambil jalan di mana kita takkan ketemu siapa-siapa.”

“Oh, itu sukar sekali.”

“Aku tak peduli sukarnya! Ambil jalan lain. Kita mesti pergi ke Ina, dan dan sana ke Koshu, tanpa melewati jalan raya utama.”

“Artinya kita mesti mendaki jalan gunung yang jelek sekali dari Ubagami ke Celah Gombei.”

“Baik, ayo mulai mendaki! Dan jangan coba-coba menggunakan tipu daya, atau kubelah kepalamu. Sebetulnya aku tidak terlalu membutuhkanmu. Yang kubutuhkan kuda itu. Kau mesti berterima kasih masih kubawa serta.”

Jalan setapak yang gelap itu tampak makin lama makin terjal. Begitu mereka sampai Ubagami, yang berarti setengah jalan mendaki, baik kedua orang itu maupun sang kuda sudah hampir ambruk. Di bawah kaki mereka, awan berayun-ayun seperti ombak. Cahaya lemah meronai langit timur.

Sepanjang malam Otsu naik kuda tanpa mengucapkan sepatah kata pun, tapi ketika ia melihat cahaya matahari, katanya pelan, “Matahachi, biarkan orang itu pergi. Dan kembalikan kudanya. Aku berjanji takkan lari.”

Matahachi enggan memenuhi permintaan itu, tapi Otsu mengulang permohonannya tiga-empat kali, dan ia menyerah. Ketika petani itu pergi, kata Matahachi, “Sekarang kau jalan saja tenang-tenang, dan jangan mencoba meloloskan diri.”

Otsu meletakkan tangan ke lengannya yang terluka, dan sambil menggigit bibir, katanya, “Aku takkan lari. Apa pikirmu aku ingin orang melihat tanda taringmu yang berbisa ini?”

Peringatan Ibu

“Bu,” kata Gonnosuke, “Ibu ini sudah keterlaluan. Apa Ibu tak lihat aku sendiri juga jengkel?” Waktu itu ia menangis, dan kata-kata itu keluar tersendat-sendat.

“Ssst! Nanti dia bangun.” Suara ibunya pelan, tapi tegas. Nadanya seperti mengomeli anak umur tiga tahun. “Kalau kau memang merasa kecewa, satu-satunya yang mesti kaulakukan adalah kendalikan dirimu dan ikuti Jalan itu dengan segenap hatimu. Menangis tak banyak gunanya. Dan lagi tak pantas. Hapus mukamu itu.”

“Pertama-tama, Ibu berjanji memaafkan aku atas kegagalan kemarin.”

“Memang tak mungkin Ibu tidak mengomelimu, tapi Ibu kira bagaimanapun soal ini soal keterampilan. Orang bilang, makin lama orang tidak menghadapi tantangan, makin lemah dia. Sudah sewajarnya kalau kau kalah.”

“Mendengar pendapat Ibu, membuat soal ini lebih berat lagi. Ibu sudah memberikan dorongan padaku, tapi aku kalah. Aku tahu sekarang, tak ada bakat atau semangatku menjadi petarung sejati. Terpaksa aku meninggalkan seni perang, dan puas menjadi petani saja. Lebih banyak aku dapat berbuat untuk Ibu dengan cangkul daripada dengan tongkat.”

Musashi sudah terjaga. Ia duduk tegak, dan kagum mengetahui bahwa pemuda dan ibunya menanggapi perkelahian itu demikian sungguh-sungguh. ­Ia sendiri sudah melupakan-nya, menganggapnya sebagai kesalahan dirinva dan Gonnosuke. “Tinggi sekali rasa kehormatan mereka,” gumamnya. Diam-diam ia merangkak ke kamar sebelah. Ia pergi ke ujung kamar dan mengintip dari celah papan shoji.

Dalam cahaya samar matahari terbit, tampak ibu Gonnosuke duduk membelakangi altar Budha. Gonnosuke berlutut dengan patuh di depannya, matanya memandang ke bawah dan wajahnya basah oleh air mata.

Sambil mencengkeram bagian belakang kerah anaknya, kata ibu berapi-api, “Apa katamu tadi? Apa pula itu, mau hidup sebagai petani’ ” Sambil menarik anaknya ke dekatnya, hingga kepala Gonnosuke terletak di lututnya, ia melanjutkan dengan nada sakit hati, “Cuma satu pegangan Ibu menempuh tahun-tahun ini, yaitu agar dapat menjadikanmu seorang samu­rai untuk memulihkan nama baik keluarga kita. Karena itu kuminta kau membaca semua buku itu dan mempelajari seni perang. Dan itu sebabnya Ibu bisa hidup bertahun-tahun ini dalam serba kekurangan. Tapi sekarang… sekarang kaubilang akan membuang semua itu?”

Si ibu sendiri mulai menangis. “Semenjak kau membiarkan dia meng­unggulimu, di situ kau mesti sudah ada niat memperbaiki namamu. Dia masih di sini. Kalau nanti dia bangun, tantang dia mengadakan pertarungan lagi. Itulah satu-satunya jalan untuk mendapatkan kembali kepercayaan dirimu.”

Sambil mengangkat muka, kata Gonnosuke sedih, “Sekiranya aku dapat melakukannya, Bu, tak akan aku merasa seperti sekarang ini.”

“Apa yang terjadi denganmu? Tak wajar sikapmu ini. Di mana semangat­mu?”

“Tadi malam, ketika aku pergi dengannya ke empang, kubuka selalu mataku lebar-lebar, mencari kesempatan menyerangnya, tapi aku tak dapat melakukannya. Meskipun pada diri sendiri terus kubisikkan dia cuma seorang ronin tak bernama, tapi saat kuperhatikan dia baik-baik, tanganku menolak bergerak.”

“Itu karena kau berpikir seperti pengecut.”

“Terserah. Aku tahu dalam diriku mengalir darah samurai Kiso. Dan aku belum lupa bagaimana aku berdoa di depan Dewa Ontake dua puluh satu hari lamanya.”

“Kau sudah bersumpah di depan Dewa Ontake akan menggunakan tongkatmu untuk menciptakan perguruan sendiri, kan?”

“Ya, tapi kukira aku terlalu puas diri. Tak pernah aku memikirkan bahwa orang lain pun tahu cara bertarung. Kalau aku sementah seperti kutunjukkan kemarin, bagaimana mungkin aku mendirikan perguruan sendiri? Daripada aku hidup dalam kemiskinan dan menyaksikan Ibu kelaparan, lebih baik kupatahkan tongkatku dan kulupakan dia.”

“Belum pernah sebelum ini kau kalah, dan kau sudah mengalami sejumlah pertandingan. Barangkali Dewa Ontake bermaksud memberikan pelajaran kepadamu dengan kekalahan kemarin itu. Barangkali kau dihukum karena merasa terlalu yakin. Meninggalkan tongkat untuk lebih mencurahkan perhatian pada Ibu bukan cara untuk membuat Ibu bahagia. Kalau ronin itu bangun, tantang dia. Kalau kau kalah lagi, baru boleh kau mematahkan tongkat dan melupakan ambisimu.”

Musashi kembali ke kamarnya untuk memikirkan persoalan itu. Kalau Gonnosuke menantangnya, terpaksa ia berkelahi. Dan kalau ia berkelahi, ia pasti menang. Gonnosuke akan hancur, dan ibunya akan patah hati.

“Tak ada jalan lain kecuali menghindarinya,” simpulnya. Tanpa menimbulkan bunyi, dibukanya pintu ke beranda, dan ia keluar.

Matahari pagi menumpahkan cahaya keputihan lewat pepohonan. Di sudut pekarangan, di dekat gudang, lembu itu berdiri, bersyukur atas datangnya hari baru dan atas rumput yang tumbuh di kakinya. Setelah diam-diam mengucapkan selamat tinggal pada binatang itu, Musashi pergi melintasi pohon-pohon penahan angin dan menempuh jalan setapak yang berkelok­kelok melintasi perladangan.

Gunung Koma hari itu tampak dari puncak sampai ke kakinya. Gumpalar awan tak terhitung jumlahnya, kecil-kecil seperti kapas, masing-masing berlainan bentuknya, dan semua bermain dengan bebasnya di tengah angin.

“Jotaro masih muda, dan Otsu lemah,” kata Musashi pada diri sendiri.

“Tapi ada saja orang yang memiliki kebaikan hati untuk membela orang yang masih muda dan lemah. Kekuatan di alam semesta ini yang akan menentukan, apakah aku akan menemukan mereka atau tidak.” Semangatnya yang kacau semenjak pengalaman di air terjun itu rupanya sudah terancam bahaya kehilangan jalan. Namun sekarang semangat itu kembali menapaki jalan yang mesti ditempuhnya. Pada pagi seperti ini, berpikir semata-mata tentang Otsu dan Jotaro rasanya seperti katak di bawah tempurung. Biar­pun mereka itu penting baginya, ia mesti tetap mencurahkan perhatian ke Jalan yang menurut sumpahnya akan diikutinya sepanjang hidup ini dan hidup berikutnya.

Narai, yang dicapainya sebentar selepas tengah hari itu, adalah masyarakat yang sedang berkembang. Satu toko memperagakan aneka warna kulit bulu di depan pintunya. Yang lain khusus menjual sisir Kiso.

Dengan maksud menanyakan jalan, Musashi melongokkan kepala ke sebuah toko yang menjual obat dari empedu beruang. Ada papan nama yang bunyinya “Beruang Besar”, dan di dekat pintu masuk terdapat seekor beruang besar dalam kandang.

Sambil membalikkan badan, pemilik toji yang baru selesai menuangka,n teh ke cangkirnya mengatakan, “Cari apa, Pak?”

“Apa Anda tahu toko milik orang yang namanya Daizo?”

“Daizo? Turun sana, di persimpangan satu lagi.” Orang itu keluar toko sambil memegang cangkir tehnya, dan menuding jalan itu. Tapi ketika dilihatnya magangnya pulang dari melakukan suruhan, ia pun memanggilnnya “Sini kamu! Bapak ini mau ke tempat Daizo. Barangkali dia tidak mengenali toko itu, karena itu lebih baik kauantar ke sana.”

Magang itu gundul, tapi berkuncung di depan dan belakang. Ia jalan bergegas, diikuti Musashi. Musashi merasa bersyukur atas kebaikan itu. Ia membayangkan bahwa Daizo tentunya sangat dihormati orang-orang sekotanya.

“Di sana,” kata anak itu. Ia menuding bangunan di sebelah kiri, dan segera pergi.

Musashi heran, karena sebelumnya ia menyangka akan melihat cokel seperti yang biasa menjual barang-barang perbekalan musafir. Jendela eta­lasenya yang berjeruji panjangnya enam meter, dan di belakang toko itu terdapat dua gudang. Rumahnya besar dan tampak memanjang ke belakang. Tembok tinggi mengelilingi pekarangan, berpintu masuk mengesankan. Pintu itu tertutup.

Dengan sikap ragu-ragu, Musashi membuka pintu dan berseru, “Selamat siang!” Bagian dalam rumah yang luas dan remang-remang itu mengingat­kannya pada bagian dalam tempat pembuatan sake. Karena lantainya terbuat dari tanah, udaranya sejuk menyenangkan.

Seorang lelaki berdiri di depan meja pemegang buku di dalam kantor. Kantor itu berupa ruangan yang lantainya ditinggikan dan tertutup tatami.

Sesudah menutup pintu di belakangnya, Musashi menjelaskan maksudnya. Belum lagi ia selesai bicara, kerani itu sudah mengangguk, katanya, “Ya, ya, jadi Anda datang menjemput anak itu.” Ia membungkuk dan menawarkan bantalan pada Musashi. “Maaf kalau saya katakan Anda terlambat. Dia muncul di sini tengah malam, ketika kami sedang mempersiapkan kebe­rangkatan majikan kami. Rupanya perempuan teman jalannya diculik orang, dan dia ingin majikan kami membantu menemukannya. Majikan mengatakan dengan senang hati akan mencoba, tapi beliau tak dapat memberikan jaminan apa-apa. Kalau perempuan itu diambil bromocorah atau bandit dari sekitar tempat ini, takkan ada masalah. Tapi rupanya yang mengambil itu musafir lain, dan orang itu pasti menghindari jalan-jalan utama. Tadi pagi Majikan mengirim orang-orang untuk melihat, tapi mereka tidak menemukan petunjuk. Anak itu menangis mendengarnya, karena itu Majikan menasihatkan supaya dia ikut saja. Dengan begitu, mereka dapat mencari perempuan itu di jalan, atau bahkan berjumpa dengan Anda. Anak itu kelihatan ingin sekali pergi, dan tak lama sesudah itu, mereka berangkat. Saya kira sudah sekitar empat jam sampai sekarang. Sayang sekali Anda terlambat!”

Musashi merasa kecewa, walau ia tahu tak mungkin ia tiba pada waktunya, biarpun misalnya Ia berangkat lebih dini dan berjalan lebih cepat. Tinggallah ia menghibur diri, dengan pendapat bahwa masih ada hari esok.

“Ke mana Daizo pergi?” tanyanya.

“Sukar saya mengatakan. Kami tidak buka toko dalam arti biasa. Ramuan ini disiapkan di pegunungan dan dibawa kemari. Dua kali setahun, musim semi dan musim gugur, para pedagang menimbunnya di sini dan pergi meninggalkannya. Karena tak banyak yang mesti dilakukan, Majikan sering melakukan perjalanan, kadang-kadang ke kuil-kuil atau tempat-tempat suci, kadang-kadang juga ke tempat-tempat yang terkenal pemandangannya. Sekarang ini saya kira dia pergi ke Zenkoji, mengelilingi Echigo, kemudian ke Edo. Tapi itu cuma dugaan. Tak pernah dia menyebutkan ke mana akan pergi…. Apa Anda suka teh?”

Sementara teh segar diambil dari dapur, Musashi menanti dengan tak sabar dan gelisah di tengah lingkungan yang demikian rupa itu. Ketika teh datang, ia menanyakan penampilan Daizo.

“Oh, kalau melihatnya, Anda akan segera mengenalinya. Umurnya lima puluh dua tahun, sangat tegap juga tampak kuat, mukanya agak persegi, merah sehat, sedikit bopeng. Pelipis kanannya agak botak.”

“Berapa tingginya?”

“Rata-rata, saya kira.”

“Bagaimana pakaiannya?”

“Kebetulan Anda bertanya. Saya kira itulah jalan terbaik untuk me­ngenalinya. Dia memakai kimono katun Cina bergaris-garis yang dipesannya dari Sakai, khusus untuk perjalanan ini. Kain itu sangat tidak biasa. Saya sangsi ada orang lain yang memakainya.”

Musashi mendapat kesan tersendiri tentang watak dan penampilan orang itu. Karena alasan kesopanan, ia berlama-lama tinggal di situ, menghabiskan tehnya. Ia tidak dapat menyusul mereka sebelum matahari terbenam, tapi menurut perhitungannya, kalau ia berjalan malam, pada waktu fajar ia akan sampai di Celah Shiojiri dan dapat menanti mereka di sana.

Waktu ia sampai di kaki celah itu, matahari sudah menghilang dan kabut petang turun dengan lembutnya ke jalan raya. Waktu itu musim semi, lampu rumah-rumah sepanjang jalan menegaskan sepinya pegunungan. Tempat itu masih lima mil jauhnya dari puncak celah. Musashi mendaki terus tanpa berhenti, sampai tiba di Inojigahara, suatu tempat tinggi dan rata dekat celah. Di sini ia berbaring di antara bintang-bintang, membiarkan pikirannya mengelana. Tak lama kemudian, ia tertidur lelap.

Kuil kecil Sengen menandai puncak bukit karang yang berdiri menjulang seperti bisul di atas dataran tinggi. Itulah titik tertinggi wilayah Shiojiri.

Tidur Musashi terganggu suara-suara orang. “Naik sini,” teriak seseorang. “Dari sini kita dapat melihat Gunung Fuji.” Musashi duduk dan memandang ke sekitar, tapi tak melihat seorang pun.

Cahaya pagi itu memesona. Dan di sana kelihatan segi tiga merah Gunung Fuji yang mengapung di lautan awan, masih mengenakan mantel salju musim dinginnya. Pemandangan itu melantunkan pekik kegembiraan kekanak-kanakan dari bibir Musashi. Ia telah menyaksikan banyak lukisan tentang gunung yang terkenal ini dan memiliki gambaran tersendiri ten­tangnya, tapi baru pertama kali inilah ia benar-benar menyaksikannya. Gunung itu hampir seratus lima puluh kilometer jauhnya, tapi seperti terletak pada dataran yang sama dengan dataran tempatnya berdiri.

“Indah sekali!” desahnya, dan dibiarkannya air mata mengambang pada matanya yang tidak berkedip.

Ia tertegun oleh kekecilannya sendiri, dan sedih memikirkan betapa tak berarti dirinya di tengah keluasan alam semesta. Semenjak kemenangannya di pohon pinus lebar itu, diam-diam ia sudah berani berpikir bahwa hanya ada beberapa orang, itu pun kalau benar-benar ada, yang seperti dirinya, memenuhi syarat untuk disebut pemain pedang besar. Hidupnya di bumi ini pendek, terbatas, tetapi keindahan dan kemegahan Gunung Fuji itu abadi. Jengkel dan murung, ia bertanya pada diri sendiri, bagaimana ia dapat memberikan arti kepada prestasi-prestasi dengan pedangnya itu.

Ada hal yang tak terhindarkan dalam cara alam itu menjulang dengan anggun dan garang di atas dirinya. Wajarlah bahwa ia ditakdirkan tetap berada di bawahnya. Maka ia berlutut di hadapan gunung itu, berharap agar kecongkakannya diampuni, lalu ia menangkupkan tangan untuk berdoa demi ketenangan abadi ibunya dan demi keselamatan Otsu dan Jotaro. Ia menyatakan terima kasih kepada negerinya dan mohon diizinkan menjadi besar, sekalipun misalnya ia tidak dapat ambil bagian dalam kebesaran alam.

Tetapi selagi berlutut, berbagai pikiran datang berlomba dalam otaknya. Apakah yang menyebabkan ia berpikir bahwa manusia itu sendiri kecil? Tidakkah alam itu sendiri besar hanya apabila dicerminkan oleh mata manusia? Tidakkah dewa-dewa sendiri ada hanya apabila mereka mengadakan hubungan dengan hati makhluk hidup? Manusia adalah jiwa-jiwa hidup, bukannya batu karang mati yang melaksanakan perbuatan-perbuatan terbesar.

“Sebagai manusia,” katanya pada dirinya, “aku tidak begitu jauh dari dewa-dewa dan alam semesta. Aku dapat menyentuh mereka dengan pedang semeter yang kubawa ini. Tapi itu tak akan terjadi seandainya aku masih merasakan perbedaan yang begitu besar antara alam dan manusia. Dan seandainya aku tetap jauh dari dunia empu sejati, manusia yang berkembang penuh.”

Renungannya terganggu oleh ocehan beberapa saudagar yang sudah naik ke tempat yang tak jauh darinya, dan sedang memandang puncak gunung itu. “Mereka benar. Kita dapat melihatnya.”

“Tapi tak sering kita dapat membungkuk di hadapan gunung suci itu dari tempat ini.”

Para musafir masuk seperti barisan semut dari dua jurusan, sambil memikul beraneka warna muatan. Cepat atau lambat, Daizo dan Jotaro akan sampai di atas bukit ini. Sekiranya ia kebetulan gagal menemukan mereka di antara para musafir itu, pasti mereka melihat papan pernyataan yang ditinggalkannya di kaki batu karang: Kepada Daizo dari Narai. Saya ingin sekali bertemu dengan Anda apabila lewat tempat ini. Saya nantikan Anda di kuil atas. Musashi, guru Jotaro.

Matahari sudah tinggi sekarang. Selama itu, Musashi terus mengawasi jalan, seperti seekor burung elang, tapi tak ada tanda-tanda Daizo. Di sisi lain celah itu, jalan terbagi menjadi tiga. Satu langsung menuju Edo, lewat Koshu. Jalan kedua, yang merupakan jalan utama, melewati Celah Usui dan memasuki Edo dari utara. Jalan ketiga membelok ke provinsi-provinsi utara. Apakah Daizo menuju utara ke Zenkoji atau menuju timur ke Edo, ia tetap mesti menggunakan celah ini. Namun, seperti disadari Musashi, orang tidak selamanya bepergian dengan cara yang diharapkan. Pedagang besar itu bisa saja pergi ke suatu tempat yang jauh dari jalan yang biasa ditempuh orang, atau dapat juga ia menginap satu malam lagi di kaki gunung. Musashi memutuskan tidak ada jeleknya kembali ke sana untuk bertanya tentang Daizo.

Baru saja ia menuruni pintasan yang menuju karang terjal, didengarnya suara serak yang dikenalnya, “Itu dia di atas!” Seketika itu juga teringat olehnya tongkat yang sudah menyerempet tubuhnya dua malam sebelum itu.

“Turun dari sana!” teriak Gonnosuke. Ia menatap Musashi dengan tongkat di tangan. “Kau lari! Kau sudah menduga aku akan menantangmu dan kau lari ke luar! Turun sini, dan ayo lawan aku sekali lagi!”

Musashi berhenti di antara dua batu, bersandar pada salah satu darinya dan menatap Gonnosuke tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Gonnosuke menyimpulkan bahwa Musashi takkan datang, karena itu katanya pada ibunya, “Ibu tunggu di sini. Aku akan naik dan melempar­kannya ke bawah. Lihat saja!”

“Tunggu!” cela ibunya yang waktu itu naik lembu. “Itulah kesalahanmu. Kau tidak sabaran. Kau mesti belajar membaca pikiran musuhmu sebelum masuk dalam pertempuran. Sekiranya dia melemparkan batu besar padamu. apa yang akan terjadi?”

Musashi mendengar suara mereka, tapi kata-katanya tak jelas. Tentang dirinya, ia merasa sudah menang. Ia sudah mengerti bagaimana Gonnosuke menggunakan tongkatnya. Yang terasa mengganggu adalah kebencian mereka dan keinginan mereka untuk membalas dendam. Kalau Gonnosuke kalah lagi, mereka akan jauh lebih dendam lagi. Dari pengalamannya dengan Keluarga Yoshioka, ia kenal jeleknya pertarungan yang mengakibatkan permusuhan lebih besar lagi. Lebih gawat dari itu adalah ibu orang itu yang menurut penglihatan Musashi adalah Osugi kedua, seorang perempuan yang mencintai anak lelakinya secara membuta dan akan menaruh dendam abadi pada siapa saja yang merugikan anaknya.

Ia membalikkan badan dan mulai mendaki.

“Tunggu!”

Tertahan oleh daya suara perempuan tua itu, Musashi berhenti dan membalikkan badan.

Perempuan itu turun dari lembu dan berjalan ke kaki batu. Ketika merasa yakin bahwa Musashi memperhatikan, ia berlutut meletakkan kedua tangannya ke tanah dan membungkuk rendah.

Musashi belum pernah melakukan apa pun yang menyebabkan perempuan itu menghinakan diri di hadapannya, namun ia balas membungkuk sebaik­-baiknya di jalan setapak berbatu itu. Tangannya dikedepankan, seakan hendak menolong perempuan itu berdiri.

“Samurai yang baik!” seru perempuan itu. “Saya malu muncul di hadapan Anda seperti ini. Saya yakin Anda tidak menyimpan perasaan lain terhadap saya, selain perasaan mencemoohkan karena sifat keras kepala saya. Tapi saya bertindak seperti ini bukan karena benci, dengki, atau niat jahat. Saya harap Anda menaruh kasihan pada anak saya. Sepuluh tahun lamanya dia berlatih sendirian tanpa guru, tanpa teman, tanpa lawan yang benar­-benar bernilai. Saya mohon Anda memberikan kepadanya pelajaran sekali lagi dalam seni pertarungan.”

Musashi mendengarkan tanpa berkata-kata.

“Saya gusar melihat Anda meninggalkan kami seperti ini,” sambung perempuan itu dengan penuh perasaan. “Prestasi anak saya dua hari lalu itu jelek sekali. Kalau dia tidak melakukan sesuatu untuk membuktikan ke­mampuannya, baik dia maupun saya takkan dapat menghadapi nenek moyang kami. Sekarang ini, dia tak lebih dari seorang petani yang kalah berkelahi. Karena dia sudah mendapat peruntungan baik berjumpa dengan petarung setaraf Anda, sungguh sayang kalau dia tidak mengambil keuntungan dari pengalaman itu. Itu sebabnya saya bawa dia kemari. Saya mohon Anda memperhatikan permintaan saya ini dan menerima tantangannya.”

Selesai berbicara, ia membungkuk lagi, hampir seperti sedang memuja di kaki Musashi.

Musashi turun bukit, memegang tangannya dan membantunya kembali naik lembu. “Gonnosuke,” katanya, “ambil tali ini. Mari kita bicara sambil jalan. Akan kupertimbangkan aku berkelahi denganmu atau tidak.”

Musashi berjalan agak di depan mereka. Tak sepatah kata pun diucap­kannya, sekalipun ia menyarankan bicara tentang soal itu. Gonnosuke terus memandang punggung Musashi dengan sikap curiga, sekali-sekali dengan iseng menjentikkan cambuk pada kaki lembu. Ibunya tampak gelisah dan kuatir.

Ketika mereka telah berjalan sekitar satu kilometer, Musashi menggerutu dan menoleh ke belakang. “Baik, aku akan berkelahi!” katanya.

Sambil melepaskan tali, Gonnosuke berkata, “Kau siap sekarang?” Ia menoleh ke sekitar untuk memeriksa posisinya, seakan-akan ia hendak me­nyelesaikan perkara itu seketika itu juga.

Musashi mengabaikan saja pemuda itu, dan sebaliknya menyapa ibunya, “Apa Ibu siap menghadapi yang terburuk? Pertarungan macam ini sama saja dengan perkelahian sampai mati, sekalipun senjatanya tidak sama.”

Untuk pertama kalinya perempuan tua itu tertawa. “Tak perlu berkata begitu. Kalau dia kalah dari orang yang lebih muda seperti Anda, dia dapat meninggalkan seni perang sama sekali. Dan kalau dia memang meninggal­kannya, tak ada lagi gunanya hidup. Kalau itu yang terjadi, saya takkan dendam pada Anda.”

“Kalau memang begitu pikir Ibu, baik.” Musashi mengambil tali yang tadi dijatuhkan Gonnosuke. “Kalau kita tetap di jalan, orang banyak akan datang. Mari kita ikatkan lembu ini, dan saya akan berkelahi sampai kapan pun.”

Sebatang pohon besar tumbuh di tengah tanah datar tempat mereka berdiri. Musashi menudingnya dan mengajak mereka ke sana.

“Siapkan dirimu, Gonnosuke,” katanya tenang.

Gonnosuke tidak memerlukan dorongan lagi. Seketika itu ia sudah berdiri di hadapan Musashi, dengan tongkat dihadapkan ke tanah.

Musashi berdiri dengan tangan kosong, lengan dan bahunya kendur. “Kau tidak bersiap?” tanya Gonnosuke.

“Buat apa?”

Kemarahan Gonnosuke menggejolak. “Ambil senjata untuk berkelahi. Apa saja.”

“Aku siap.”

“Tanpa senjata?”

“Senjataku di sini,” jawab Musashi, meletakkan tangan kirinya ke gagang pedang.

“Kau berkelahi dengan pedang?”

Jawaban Musashi hanya senyuman kecil miring pada sudut mulutnya. Mereka sampai pada tahap yang tak memungkinkan penghamburan per­cakapan kecil.

Ibu Gonnosuke duduk di bawah pohon, sambil memperhatikan seperti Budha dari batu. “Jangan berkelahi dulu. Tunggu!” katanya.

Tapi keduanya tidak mendengar kata-kata itu. Mereka saling menatap, tanpa membuat gerakan sekecil apa pun. Tongkat Gonnosuke ada di bawah lengannya, menanti kesempatan memukul. Tongkat itu seakan-akan telah menghirup seluruh udara dataran tinggi itu, dan siap mengembuskannya dalam suatu pukulan besar bercampur jeritan. Tangan Musashi menempel ke bagian bawah gagang pedangnya, matanya seakan menembus tubuh Gonnosuke. Secara mental pertempuran sudah dimulai, karena mata dapat mendatangkan kerusakan lebih hebat kepada manusia daripada pedang atau tongkat. Sesudah sayatan pembukaan dilakukan dengan mata, barulah pedang atau tongkat menyelinap masuk dengan mudah.

“Tunggu!” seru si ibu lagi.

“Ada apa?” tanya Musashi sambil melompat mundur dua-tiga meter ke tempat aman.

“Anda berkelahi dengan pedang sungguhan?”

“Cara saya tidak membedakan pedang kayu atau pedang sungguhan.”

“Saya bukannya mau menghentikan Anda.”

“Saya minta Ibu mengerti. Dari kayu atau baja, pedang itu mutlak. Dalam pertarungan yang betul-betul, tidak ada ukuran setengah jalan. Satu-satunya cara untuk menghindari bahaya adalah lari.”

“Anda benar sekali, tapi menurut saya dalam pertandingan sepenting ini Anda mesti menyatakan diri secara resmi. Masing-masing dari kalian meng­hadapi lawan yang jarang kalian temui. Pada waktu perkelahian selesai semuanya sudah terlambat.”

“Benar.”

“Gonnosuke, sebutkan dulu namamu.”

Gonnosuke membungkuk resmi kepada Musashi. “Moyang jauh kami kabarnya Kakumyo yang pernah berjuang di bawah panji-panji prajurit besar dari Kiso, Minamoto no Yoshinaka. Sesudah kematian Yoshinaka, Kakumyo menjadi pengikut Honen yang kudus. Ada kemungkinan, kami berasal dari keluarga yang sama dengan dia. Berabad-abad nenek moyang kami hidup di wilayah ini, tapi pada angkatan ayahku kami menderita bencana yang takkan kusebutkan di sini. Dalam kekecewaanku, aku pergi dengan ibuku ke Kuil Ontake dan bersumpah secara tertulis bahwa aku akan memulihkan nama baik kami dengan mengikuti Jalan Samurai. Di hadapan dewa Kuil Ontake, aku memperoleh teknik penggunaan tongkat. Aku sebut itu Gaya Muso, artinya Gaya Wahyu, karena aku memperolehnya di kuil itu. Orang menyebutku Muso Gonnosuke.”

Musashi balas membungkuk. “Keluargaku diturunkan oleh Hirata Shogen. Keluargaku cabang dari Keluarga Akamatsu dari Harima. Aku anak tunggal Shimmen Munisai yang tinggal di desa Miyamoto, di Mimasaka. Aku mendapat nama Miyamoto Musashi. Aku tak punya keluarga dekat, dan aku membaktikan hidupku pada Jalan Pedang. Kalau aku gugur oleh tongkat, tak perlu kau susah payah mengurus mayatku.”

Ia kembali pada jurus awalnya. Teriaknya, “Siap!”

“Siap!”

Perempuan tua itu kelihatan hampir tak bernapas. Bukannya membiarkan bahaya datang pada dirinya dan anaknya, ia justru pergi mencari-cari bahaya itu, dan dengan sengaja menempatkan anaknya di hadapan pedang Musashi yang berkilau. Jalan yang ditempuhnya itu sungguh tak terpikirkan untuk seorang ibu biasa, tapi ia percaya sepenuhnya bahwa yang diperbuatnya itu benar. Sekarang ia duduk dalam sikap resmi, bahunya sedikit dikedepan­kan dan tangannya disusun di pangkuan dengan santun. Tubuhnya seperti mengecil dan mengisut. Sukar dipercaya bahwa ia telah melahirkan beberapa anak. Semuanya meninggal kecuali seorang, tapi ia bertekad menempuh berapa pun kesulitan yang ada untuk menjadikan anaknya yang masih hidup itu seorang petarung.

Mata perempuan itu memperlihatkan kilas cahaya, seakan-akan semua dewa dan bodhisatwa di alam semesta berkumpul dalam dirinya untuk menyaksikan pertempuran itu.

Begitu Musashi mencabut pedangnya, bulu roma Gonnosuke meremang. Secara naluriah ia merasa bahwa berhadapan dengan pedang Musashi, nasibnya sudah ditentukan. Yang ia lihat di hadapannya ini adalah orang yang belum pernah ia saksikan. Dua hari sebelumnya, ia perhatikan Musashi dalam sikap santai dan luwes, bagaikan garis-garis lembut mengalir pada tulisan kaligrafi.

Ia tak siap menghadapi orang yang kini ia hadapi. Orang yang bisa menjadi contoh dalam soal kecermatan, seperti huruf yang ditulis persegi dan rapi sekali, di mana garis dan titik terletak pada tempat yang tepat.

Karena sadar telah salah menilai lawan, ia merasa tak dapat mengayunkan serangan hebat seperti yang ia lakukan sebelumnya. Tongkatnya tetap dalam kedudukan seimbang, tapi tidak berdaya di atas kepalanya.

Selagi kedua orang itu berhadapan dalam diam, kabut pagi terakhir telah menghilang. Seekor burung terbang malas di antara mereka dan pegunungan tampak kabur di kejauhan. Sekonyong-konyong sebuah jeritan membelah udara, seakan-akan burung itu terjungkal ke bumi. Sukar sekali dikatakan bunyi itu berasal dari pedang atau dari tongkat. Bunyi itu seperti tak nyata, seperti tepukan sebelah tangan, menurut istilah para pemeluk Zen.

Serentak dengan itu, dua tubuh yang bergerak seirama senjata masing-­masing, mengubah posisi. Perubahan itu terjadi lebih cepat daripada ber­alihnya gambaran dari mata ke otak. Pukulan Gonnosuke tidak mengenai sasaran. Secara defensif, Musashi memutar lengan bawahnya dan menyapu­kannya ke atas dari sisi Gonnosuke, ke suatu titik di atas kepalanya, hingga hampir saja mengenai bahu kanan dan pelipisnya. Sesudah itu Musashi melepaskan pukulan balik yang hebat, suatu pukulan yang sebelumnya telah menyebabkan semua lawannya kerepotan. Tetapi Gonnosuke menahan pedang itu di atas kepala dengan tongkat yang dipegang dekat kedua ujungnya.

Sekiranya pedang itu tidak miring saat mengenai kayu, senjata Gonnosuke pasti terbelah dua. Seraya beranjak, Gonnosuke menusukkan siku kiri ke depan dan mengangkat siku kanan, dengan maksud memukul jaringan saraf simpatis Musashi. Tetapi pada saat yang seharusnya mendatangkan dampak menentukan itu, ujung tongkat ternyata masih kurang satu inci dari tubuh Musashi.

Karena pedang dan tongkat bersilang di atas kepala Gonnosuke, maka mereka sama-sama tak dapat maju atau mundur. Keduanya tahu bahwa gerakan keliru berarti maut mendadak. Sekalipun posisi waktu itu serupa jalan buntu: perisai-pedang, lawan, perisai-pedang, namun Musashi sadar akan perbedaan penting antara pedang dan tongkat. Tongkat jelas tak punya perisai, tak punya lempengan, tak punya gagang, tak punya ujung, tetapi di tangan seorang ahli seperti Gonnosuke, bagian mana pun dari senjata sepanjang empat kaki itu dapat menjadi lempengan, ujung, atau gagang. Dengan demikian, tongkat itu jauh lebih serbaguna daripada pedang, dan bahkan dapat dipergunakan sebagai lembing pendek.

Karena tak dapat meramalkan reaksi Gonnosuke, Musashi tak dapat menarik senjatanya. Gonnosuke, sebaliknya, berada pada posisi lebih ber­bahaya: senjatanya hanya memainkan peranan pasif untuk menahan lem­pengan pedang Musashi. Jika ia membiarkan semangatnya guncang sesaat saja, pedang akan membelah kepalanya.

Wajah Gonnosuke pucat. Ia menggigit bibir bawahnya, dan keringat berkilau di sekitar sudut-sudut matanya yang menengadah. Kedua senjata yang bersilang itu mulai berguncang, dan napas Gonnosuke menjadi berat.

“Gonnosuke!” teriak ibunya. Wajahnya lebih pucat lagi. Ia mengangkat tubuhnya dan menampar pahanya sendiri. “Pahamu terlalu tinggi!” teriaknya. Kemudian ia menjatuhkan diri ke depan. Kesadaran seakan-akan meninggal­kan dirinya. Terdengar suara seolah ia muntah darah.

Tampak seolah pedang dan tongkat akan tetap berpaut sampai kedua petarung itu berubah menjadi batu. Mendengar teriakan perempuan tua itu, kedua petarung berpisah dengan kekuatan lebih mengerikan daripada ketika mereka berpaut.

Sambil mengentakkan tumit ke tanah, Musashi melompat mundur tiga meter jauhnya. Jarak itu dalam sekejap ditutup Gonnosuke beserta panjang tongkatnya. Hampir Musashi tak berhasil melompat ke samping.

Karena serangan maut mi, Gonnosuke terhuyung ke depan dan kehilangan keseimbangan, hingga punggungnya terbuka untuk serangan. Musashi ber­gerak dengan kecepatan elang pemburu, dan kilat cahaya kecil pun mengenai otot-otot punggung musuhnya; musuh terhuyung dan jatuh tengkurap, diiringi embik anak sapi ketakutan. Musashi duduk bergedebuk di rumput, sambil menangkupkan tangan di perut.

“Aku menyerah,” teriaknya.

Tidak terdengar suara apa pun dari pihak Gonnosuke. Ibunya hanya me­natap kosong ke sosok yang tak berdaya itu. Ia terlalu takjub, hingga tak dapat berbicara.

“Cuma punggung pedang yang saya pakai tadi,” kata Musashi kepadanya. Tapi karena kelihatannya ibu itu tidak memahaminya, katanya lagi, “Bawakan dia air. Lukanya tidak begitu parah.”

“Apa?” teriak perempuan itu tak percaya. Melihat bahwa pada tubuh anaknya tak ada darah, ia berjalan tertatih-tatih ke sisinya dan memeluknya. Ia sebut nama anaknya, ia bawakan air, dan kemudian ia guncang-guncangkan sampai Gonnosuke sadar kembali.

Gonnosuke memandang kosong pada Musashi beberapa menit lamanya, kemudian datang mendekat dan membungkukkan kepala sampai ke tanah. “Maaf,” katanya pendek. “Anda terlalu baik buat saya.”

Musashi, yang seperti baru tersadar dari keadaan kesurupan, meraih tangannya, katanya, “Kenapa begitu? Kau tidak kalah, akulah yang kalah.” Ia buka bagian depan kimononya. “Lihat ini!” Ia tuding noda merah bekas pukulan tongkat. “Sedikit saja lagi, aku terbunuh.” Dalam suaranya terasa getar guncangan, karena sesungguhnya ia belum dapat membayangkan kapan dan bagaimana ia mendapat luka itu.

Gonnosuke dan ibunya menatap tanda merah itu, tapi tidak mengatakan apa-apa.

Musashi menutup kembali kimononya, dan bertanya kepada perempuan tua itu, kenapa ia memperingatkan ada yang keliru atau berbahaya dalam jurus anaknya?

“Saya bukan ahli dalam soal-soal ini, tapi ketika saya perhatikan dia mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menahan pedang Anda, terasa oleh saya dia kehilangan kesempatan. Dia tak dapat maju, tak dapat mundur, padahal dia terlampau bergairah waktu itu. Tapi saya melihat sekiranya dia mau menurunkan pahanya saja, sedangkan letak tangan tetap dipertahankan, ujung tongkat dengan sendirinya dapat memukul dada Anda. Semua itu terjadi cuma sesaat. Waktu itu saya sendiri tak sadar akan apa yang saya katakan.”

Musashi mengangguk. Ia menganggap dirinya beruntung, menerima pelajaran bermanfaat tanpa mesti membayar dengan hidupnya. Gonnosuke pun mendengarkan dengan takzim. Ia juga memperoleh wawasan baru. Apa yang baru saja dialaminya itu bukannya wahyu, melainkan perjalanan ke perbatasan hidup dan mati. Ibunya, yang mengerti bahwa ia berada di ambang bencana, telah memberikan pelajaran bagaimana bertahan hidup.

Bertahun-tahun kemudian, sesudah Gonnosuke memantapkan gayanya sendiri dan menjadi terkenal di mana-mana, ia mencatat teknik yang ditemukan ibunya saat itu. Walaupun ia menulis cukup panjang tentang kesetiaan ibunya dan pertandingannya dengan Musashi, ia tetap menahan diri dan tidak mengatakan ia menang. Sebaliknya, untuk selanjutnya kepada orang banyak ia mengatakan kalah, walaupun kekalahan itu merupakan pelajaran yang tidak ternilai baginya.

Sesudah menyampaikan harapannya akan kesehatan yang baik bagi ibu dan anak, Musashi melanjutkan perjalanan dari Inojigahara ke Kamisuwa. Ia tidak tahu bahwa ia terus diikuti oleh samurai yang di sepanjang jalan itu terus menanyai tukang kuda di pos kuda dan semua musafir lain. apakah mereka melihat Musashi.

Cinta Semalam

LUKA Musashi terasa sakit sekali, karenanya ia tidak menggunakan waktunya di Kamisuwa untuk bertanya-tanya tentang Otsu dan Jotaro, melainkan pergi ke sumber air panas di Shimosuwa. Kota yang terletak di tepi Danau Suwa itu besar sekali. Jumlah rumah penduduk biasa saja lebih dari seribu buah.

Di penginapan yang diperuntukkan bagi para daimyo, permandiannya ditutup atap, tetapi kolam-kolam yang terletak di sepanjang jalan tidak beratap, dan dapat dipergunakan oleh siapa saja yang ingin menggunakannya.

Musashi menggantungkan pakaian dan pedangnya pada sebatang pohon, dan masuk ke air yang beruap. Sambil memijat-mijat bagian yang bengkak pada sisi kanan perutnya, ia mengistirahatkan kepalanya ke batu di ujung kolam, memejamkan mata, dan menikmati rasa nyaman yang menyenangkan, sekalipun sedikit pening. Matahari mulai terbenam, dan kabut kemerahan naik dari permukaan danau yang tampak di antara rumah-rumah nelayan sepanjang pantai.

Sejumlah petak sayuran kecil ada di antara kolam dan jalan, di mana orang dan kuda datang dan pergi, diiringi suara orang dan hiruk-pikuk biasa. Di sebuah warung yang menjual minyak lampu dan tetek-bengek lain, seorang samurai sedang membeli sandal jerami. Sesudah memilih se­pasang yang cocok baginya, ia duduk di sebuah bangku, melepaskan sandal lamanya, dan mengikatkan yang baru.

“Anda mestinya sudah mendengar tentang itu,” katanya kepada pemilik warung. “Peristiwanya terjadi di bawah pohon pinus lebar besar di Ichijoji, dekat Kyoto. Ronin itu sendirian menghadapi seluruh Keluarga Yoshioka, dan dia berkelahi dengan semangat yang sudah jarang kita dengar sekarang. Saya yakin dia melewati jalan ini. Anda yakin tidak melihatnya?”

Sekalipun keinginannya sangat besar, samurai itu rupanya sedikit sekali mengetahui tentang orang yang dicarinya, termasuk umur dan cara orang itu berpakaian. Mendengar jawaban tidak, dua-tiga kali ia mengulang de­ngan kecewa, “Biar bagaimana, saya mesti ketemu dia,” sambil menyelesaikan ikatan sandalnya.

Samurai yang umurnya sekitar empat puluh tahun itu berpakaian baik, kulitnya terbakar matahari akibat berjalan jauh. Rambut pada pelipisnya tegak di seputar tali anyaman yang dikenakannya, sedangkan kekuatan ekspresi wajahnya sesuai dengan sosok tubuhnya yang jantan. Musashi menduga bahwa pada tubuh orang itu terdapat tanda-tanda dan penebalan kulit akibat pemakaian ketopong. “Tak ingat aku, apa pernah melihatnya sebelumnya,” pikirnya. “Tapi kalau dia pergi ke sana kemari bicara tentang Perguruan Yoshioka, barangkali dia salah seorang murid di situ. Perguruan itu punya banyak sekali murid. Beberapa orang tentunya punya tulang punggung. Mungkin mereka merencanakan komplotan baru untuk membalas dendam.”

Ketika orang itu selesai dengan urusannya dan pergi, Musashi me­ngeringkan badan dan mengenakan pakaian. la mengira keadaan sudah aman. Tetapi ketika keluar menuju jalan raya, ia hampir bertumbukan dengan orang itu.

Samurai itu membungkuk sambil memperhatikan Musashi dengari sak­sama, katanya, “Anda kan Miyamoto Musashi?”

Musashi mengangguk. Samurai itu mengabaikan saja ekspresi curiga di wajah Musashi. Ia berkata, “Saya memang sudah tahu tadi.” Sebentar ia memuji-muji ketajaman penglihatannya sendiri, lalu melanjutkan dengan nada bersahabat, “Anda tak mungkin membayangkan, betapa bahagia sava dapat bertemu Anda akhirnya. Saya merasa akan bertemu Anda entah di mana di jalan ini.” Tanpa berhenti untuk memberikan kesempatan bicara kepada Musashi, ia mendesak Musashi menginap di penginapan yang sama dengannya. “Percayalah,” tambahnya, “Anda tak perlu kuatir dengan sava. Status saya, maafkan saya karena menyebutkan, adalah demikian rupa. hingga biasanya saya mengadakan perjalanan dengan selusin abdi dan hak penggantian kuda. Saya pembantu Date Masamune, Yang Dipertuan Benteng Aoba di Mutsu. Nama saya Ishimoda Geki.”

Ketika Musashi pasif saja menerima undangan itu, Geki mendesak agar mereka tinggal di penginapan para daimyo, dan ia mengantar Musashi ke tempat itu.

“Bagaimana kalau kita mandi?” tanyanya. “Tapi, ya, Anda baru saia mandi. Baiklah, saya persilakan Anda bersantai dulu sementara saya mandi. Saya akan segera kembali.” Ia melepaskan pakaian perjalanannya, mengambil handuk, dan meninggalkan ruangan.

Walaupun orang itu memiliki cara bergaul yang menawan, kepala Musashi penuh dijejali pertanyaan. Kenapa pula prajurit yang sudah baik keduduk­annya ini mencarinya? Kenapa sikapnya demikian bersahabat?

“Bapak tak ingin ganti pakaian yang lebih enak?” tanya gadis pelayan ­sambil mengulurkan kimono berlapis kapuk yang memang disediakan ­untuk para tamu.

“Tidak, terima kasih. Saya barangkali tidak tinggal di sini.”

Musashi melangkah ke beranda. Di belakangnya, ia dengar gadis itu tenang-tenang mengatur baki-baki makan malam. Ketika ia perhatikan riak air danau itu berubah dari warna nila tua menjadi hitam, bayangan mata Otsu yang sedih terbentuk dalam kepalanya. “Tempatku mencari mungkin salah,” pikirnya. “Penjahat yang tega menculik seorang perempuan pasti punya naluri menghindari kota-kota.” Ia seperti mendengar Otsu berseru­seru minta tolong. Benarkah bila kita menerima pandangan filsafat bahwa segala yang terjadi di dunia ini adalah akibat kemauan langit? ia merasa bersalah karena hanya berdiri di situ, tanpa melakukan sesuatu.

Kembali dari mandi, Ishimoda Geki minta maaf telah meninggalkan Musashi sendirian. Kemudian ia duduk menghadapi baki makan malam. Melihat Musashi masih mengenakan kimononya sendiri, ia bertanya, “Kenapa Anda tidak ganti pakaian?”

“Saya merasa senang dengan pakaian saya sendiri. Saya selalu mengenakan ini di jalan, di dalam rumah, dan ketika tidur di tanah, di bawah pohon.”

Geki merasa terkesan sekali. “Saya mengerti,” katanya. “Anda ingin selalu siap bertindak, tak peduli di mana pun. Yang Dipertuan Date akan kagum dengan sikap itu.” Ia menatap wajah Musashi. Perasaan kagum tak disembunyikannya. Wajah Musashi waktu itu diterangi lampu dari samping. Sebentar kemudian ia sadar kembali, katanya, “Nah, silakan duduk dan mari minum sake sedikit.” Ia membasuh mangkuk dalam cambung air dan menawarkannya pada Musashi.

Musashi duduk dan membungkuk. Ia meletakkan tangan di pangkuan, tanyanya, “Boleh saya bertanya, kenapa Anda memperlakukan saya demikian bersahabat? Dan kalau Anda tidak keberatan, kenapa Anda bertanya-tanya tentang saya di jalan-jalan?”

“Saya kira memang wajar kalau Anda heran, tapi sesungguhnya sedikit sekali keterangannya. Barangkali cara paling sederhana untuk menerangkannya adalah saya terobsesi pada Anda.” Ia berhenti sebentar, tertawa, dan lanjutnya, “Ya, soalnya cuma tergila-gila, seorang lelaki tertarik kepada lelaki lain.”

Geki kelihatannya merasa penjelasan itu sudah cukup, tapi Musashi justru jadi lebih bingung lagi. Memang agaknya bukan tidak mungkin seorang lelaki terpikat lelaki lain, tapi ia sendiri tak pernah punya pengalaman macam itu. Takuan orangnya terlalu keras, hingga tidak menimbulkan perasaan sayang yang kuat. Koetsu hidup di dunia yang sama sekali berbeda. Sekishusai menduduki taraf yang jauh di atas Musashi, hingga perasaan suka atau tak suka tidak terbayangkan olehnya. Kemungkinan, itulah cara Geki menjilat, tapi orang yang membuat pernyataan seperti itu berarti membuka diri terhadap tuduhan bahwa ia tidak jujur. Namun Musashi sangsi apakah samurai ini seorang penjilat. Orangnya terlalu pejal dan perawakannya terlalu jantan.

“Jelasnya, apa maksud Anda,” tanya Musashi dengan nada sabar, “waktu Anda mengatakan tertarik pada saya itu?”

“Barangkali saya terlalu lancang, tapi semenjak mendengar tentang prestasi Anda di Ichijoji itu, saya yakin Anda orang yang saya sukai dan akan sangat saya sukai.”

“Anda di Kyoto waktu itu?”

“Ya, saya datang pada bulan pertama, dan saya tinggal di kediaman Yang Dipertuan Date di Jalan Sanjo. Ketika kebetulan singgah di kediaman Yang Dipertuan Karasumaru Mitsuhiro, sehari sesudah pertempuran itu, sava mendengar sedikit tentang Anda. Beliau mengatakan pernah berjumpa dengan Anda, dan beliau bicara tentang masa muda Anda, dan tentang apa yang Anda lakukan di waktu lampau. Karena merasa tertarik sekali, saya putuskan saya harus berusaha menjumpai Anda. Dalam perjalanan dari Kyoto, saya lihat papan pengumuman yang Anda pasang di Celah Shiojiri.’

“Oh, Anda melihatnya?” Sungguh ironis, pikir Musashi, bahwa papan itu bukan mendatangkan Jotaro, melainkan orang lain yang kehadirannya tak pernah la mimpikan.

Tetapi makin lama ia timbang-timbang persoalan itu, makin ia merasa kurang pantas mendapat kehormatan seperti yang diberikan Geki itu.

Sadar akan kekeliruan dan kegalauannya sendiri, ia merasa pujian-pujian Geki itu hanya membuatnya malu.

Dengan penuh ketulusan ia berkata, “Saya pikir terlalu tinggi Anda me­nilai saya.”

“Ada banyak samurai terkemuka yang bekerja di bawah Yang Dipertuan Date. Tanah perdikannya saja menghasilkan lima juta gantang. Saya sudah bertemu dengan banyak pemain pedang yang cakap, tapi dari pendengaran saya, rasanya hanya sedikit yang dapat dibandingkan dengan Anda. Apalagi Anda masih sangat muda. Masa depan Anda masih panjang. Dan itulah saya kira yang menyebabkan saya terangsang. Bagaimanapun, sesudah kita bertemu sekarang, marilah kita bersahabat. Silakan minum dan bicara tentang apa saja yang menarik minat Anda.”

Musashi menerima mangkuk sake itu dengan senang hati, dan mulai mengimbangi pengundangnya dalam minum. Tak lama kemudian, wajahnya sudah merah padam.

Geki kuat sekali minum. Katanya, “Kami samurai dari utara dapat banyak minum. Kami melakukannya supaya badan hangat. Yang Dipertuan Date dapat mengalahkan kami semua dalam minum. Dengan seorang jenderal kuat yang memimpin di muka, pasukan tidak ketinggalan.”

Gadis pelayan terus juga mendatangkan sake tambahan. Bahkan sesudah beberapa kali ia merapikan sumbu lampu, Geki belum memperlihatkan kecenderungan berhenti. “Mari kita minum sepanjang malam,” sarannya “Dengan begitu, kita dapat bicara sepanjang malam.”

“Baik,” kata Musashi menyetujui. Kemudian sambil tersenyum, “Anda bilang Anda pernah bicara dengan Karasumaru. Apa Anda kenal baik dengannya?”

“Kami tak dapat disebut sahabat dekat, tapi selama beberapa tahun, berkali­-kali saya datang ke rumahnya, menyampaikan pesan. Sikapnya sangat ber­sahabat.”

“Betul, saya pernah bertemu dengannya, diperkenalkan oleh Hon’ami Koetsu. Untuk seorang bangsawan, dia tampak sekali penuh semangat hidup.”

Dengan wajah agak tak puas, Geki berkata, “Apa itu satu-satunya kesan Anda? Kalau Anda bicara dengannya agak lama, saya pikir Anda akan terkesan oleh kecerdasan dan ketulusannya.”

“Kami waktu itu bersama-sama pergi ke daerah lokalisasi.”

“Kalau demikian, saya kira dia menahan diri untuk tidak mengungkapkan dirinya yang sebenarnya waktu itu.”

“Bagaimana dia sebenarnya?”

Geki memperlihatkan gaya lebih resmi, dan dengan nada agak sungguh-­sungguh, katanya, “Dia orang yang gelisah. Kalau mau, dapat Anda katakan dia orang yang sedih. Cara-cara diktatorial yang dipakai shogun sangat meng­gelisahkan dirinya.”

Sejenak Musashi mendengar bunyi berirama gembira dari arah danau, dan melihat bayangan yang ditimbulkan oleh cahaya lampu putih.

Mendadak Geki bertanya, “Musashi sahabatku, demi siapa Anda berusaha menyempurnakan permainan pedang Anda?”

Karena tak pernah memikirkan pertanyaan itu, Musashi menjawab dengan penuh keterusterangan, “Demi diri saya sendiri.”

“Soal itu baik saja, tapi demi siapa Anda berusaha meningkatkan diri? Saya yakin tujuan Anda bukan sekadar kehormatan atau kemuliaan pribadi. Itu rasanya tak cukup untuk orang setaraf Anda.”

Secara kebetulan, atau memang menurut rencana, Geki sampai pada persoalan yang memang hendak dibicarakannya. “Sekarang, ketika seluruh negeri berada di bawah kekuasaan Ieyasu,” katanya, “kita punya semacam perdamaian dan kesejahteraan. Tapi apa keduanya itu nyata? Apa rakyat benar-benar hidup bahagia di bawah sistem yang sekarang?

“Berabad-abad lamanya kita diperintah Keluarga Hojo, Ashikaga, Oda Nobunaga, Hideyoshi-satu rangkaian panjang penguasa militer yang me­nindas tidak hanya rakyat, tetapi juga kaisar dan istana. Pemerintah kaisar dimanfaatkan, dan rakyat diperas tanpa kenal ampun. Segala keuntungan jatuh ke tangan kelas militer. Hal ini terjadi sejak Minamoto no Yoritomo, kan? Dan situasi sekarang tidak berubah.

“Nobunaga rupanya punya pengertian tentang ketidakadilan yang sedang berlaku. Setidaknya dia membangun istana baru untuk Kaisar. Hideyoshi tidak hanya menghormati Kaisar Go-Yozei dengan menyuruh semua daimyo menunjukkan sembah kepadanya, tapi bahkan mencoba memberikan ke­makmuran dan kebahagiaan kepada rakyat biasa. Tapi bagaimana dengan Ieyasu? Maksud dan tujuannya tidak pernah keluar dari keuntungan klan­nya sendiri. Sekali lagi, kebahagiaan rakyat dan kesejahteraan keluarga kaisar dikorbankan untuk menciptakan kekayaan dan kekuasaan diktator militer. Kita rupanya berada di ambang pintu abad tirani yang lain lagi. Tak seorang pun lebih prihatin dengan keadaan ini daripada Yang Dipertuan Date Masamune, juga Yang Dipertuan Karasumaru sebagai wakil kaum bangsawan.”

Geki berhenti bicara untuk menantikan tanggapan, tapi tak ada kata-­kata Musashi selain, “Oh, begitu,” yang hampir tanpa tekanan.

Seperti orang lain juga, Musashi sadar akan terjadinya perubahan-per­ubahan politik yang drastis semenjak Pertempuran Sekigahara. Namun ia tidak pernah mencurahkan perhatian pada kegiatan para daimyo daerah Osaka dan motif-motif tersembunyi Keluarga Tokugawa, juga sikap yang diambil oleh bangsawan-bangsawan kuat dari luar kalangan, seperti Date dan Shimazu. Yang ia ketahui tentang Date hanyalah bahwa tanah perdikannya secara resmi memiliki penghasilan tiga juta gantang setahun, tapi dalam kenyataan barangkali menghasilkan lima juta gantang, sebagaimana disebutkan Geki.

“Dua kali setahun,” sambung Geki, “Yang Dipertuan Date mengirimkan hasil tanah perdikan kami kepada Yang Dipertuan Konoe di Kyoto, untuk dipersembahkan pada Kaisar. Tak pernah dia tidak melakukan hal itu, bahkan juga di masa perang. Itu juga sebabnya saya berada di Kyoto.

“Benteng Aoba adalah satu-satunya di negeri ini yang memiliki ruangan khusus bagi Kaisar. Tampaknya ruangan itu tak pernah digunakan, tetapi Yang Dipertuan Date bagaimanapun menyisihkan ruangan yang dibangun dari kayu Istana Kaisar lama, ketika istana itu dibangun kembali. Ia bawa kayu itu dari Kyoto ke Sendai, dengan perahu.

“Dan sekarang baiklah saya ceritakan tentang perang di Korea. Selama berlangsungnya peperangan di sana itu, Kato, Konishi, dan jenderal-jenderal lain bersaing memperebutkan kemasyhuran dan kemenangan pribadi. Tidak demikian halnya dengan Yang Dipertuan Date. Dia tidak menggunakan lambang keluarga sendiri, melainkan lambang matahari terbit, dan dia menyatakan pada semua orang bahwa dia memimpin orang-orangnya ke Korea itu sama sekali bukan untuk kemuliaan sendiri, atau untuk kemuliaan Hideyoshi. Dia pergi ke sana karena cintanya kepada Jepang.”

Musashi mendengarkan dengan penuh perhatian, dan Geki jadi tenggelam dalam monolog yang melukiskan tuannya dengan istilah-istilah mentereng, dan meyakinkan Musashi bahwa tuannya tidak tertandingi dalam kesetiaan bulatnya kepada bangsa dan Kaisar.

Sejenak ia lupa akan minuman, tapi kemudian tiba-tiba ia memandang ke bawah, dan katanya, “Sake sudah dingin.” Ia menepukkan tangan me­manggil gadis pelayan, dan hendak memesan lagi.

Musashi buru-buru menyelanya. “Saya sudah lebih dari cukup. Kalau Anda tidak keberatan, saya lebih suka makan nasi dan minum teh sekarang.”

“Sudah?” gerutu Geki. la kelihatan kecewa, tetapi karena rasa hormat kepada temannya, ia menyuruh gadis pelayan membawakan nasi.

Geki terus bicara, sementara mereka makan. Kesan yang diperoleh Musashi tentang semangat yang dimiliki para samurai tanah perdikan Yang Dipertuan Date adalah bahwa sebagai perorangan maupun kelompok, mereka memang benar-benar meminati Jalan Samurai dan mendisiplinkan diri sesuai dengan jalan itu.

Jalan ini telah ada sejak zaman kuno, ketika kelas prajurit lahir, tapi nilai-nilai moral dan kewajiban-kewajiban sekarang ini tidak lebih dari kenangan samar-samar. Ketika terjadi kekalutan peperangan di dalam negeri pada abad lima belas dan enam belas, etika militer mulai menyimpang kalau tidak mau dikatakan terabaikan sama sekali. Sekarang hampir setiap orang yang dapat menggunakan pedang atau menembakkan anak panah dari busurnya sudah dianggap samurai, tak peduli ada tidaknya perhatian terhadap makna yang lebih dalam dari jalan itu.

Samurai gaya perorangan sering kali adalah orang yang rendah wataknya dan hina nalurinya dibandingkan petani atau orang kota biasa. Karena hanya memiliki tenaga dan teknik untuk merebut penghormatan dari orang-orang yang ada di bawah mereka, pada akhirnya mereka pasti hancur. Hanya sedikit daimyo yang mampu melihat hal ini dan hanya segelintir pengikut kalangan atas Tokugawa dan Toyotomi yang berpikir untuk menciptakan Jalan Samurai baru yang dapat menjadi dasar kekuatan dan kesejahteraan bangsa.

Pikiran Musashi kembali ke tahun-tahun ketika ia ditahan di Benteng Himeji. Takuan ingat bahwa Yang Dipertuan Ikeda menyimpan dalam per­pustakaannya naskah tulisan tangan Nichiyo Shushin-kan karangan Fushikian. Takuan mengambilnya supaya dipelajari Musashi. Fushikian adalah nama samaran jenderal termasyhur Uesugi Kenshin. Dalam bukunya, Fushikian mencatat soal-soal latihan etika sehari-hari untuk pegangan para pengikut utamanya. Dari buku itu, Musashi tidak hanya belajar tentang kegiatan pribadi Kenshin, melainkan juga memperoleh pengertian tentang kenapa tanah perdikan Kenshin di Echigo kemudian dikenal di seluruh negeri karena kekayaan dan kecakapan militernya.

Terbuai oleh penggambaran Geki yang bersemangat, Musashi mulai merasa bahwa Yang Dipertuan Date punya kesamaan dengan Kenshin dalam ketu­lusan hati. Ia juga menciptakan suasana tertentu di daerahnya, di mana para samurai didorong untuk mengembangkan Jalan baru, jalan yang akan me­mungkinkan mereka melawan, termasuk melawan shogun apabila perlu.

“Anda mesti memaaflcan saya karena terus bicara tentang hal-hal yang menjadi minat saya sendiri,” kata Geki. “Bagaimana pendapat Anda, Musashi? Tak ingin Anda datang ke Sendai untuk melihat sendiri? Yang Dipertuan itu orangnya jujur dan terus terang. Kalau Anda memang berusaha keras menemukan Jalan itu, status Anda yang sekarang ini tidak menjadi soal baginya. Anda dapat bicara dengannya, seperti bicara dengan orang lain.

“Banyak yang diperlukan oleh samurai yang hendak mempersembahkan hidupnya kepada negerinya. Saya akan lebih dari bahagia kalau dapat memperkenalkan Anda. Kalau setuju, kita dapat pergi ke Sendai bersama­-sama.”

Waktu itu baki-baki makan malam sudah diambil, tapi semangat Geki sama sekali belum menurun. Musashi terkesan, tapi masih tetap berhati-­hati, dan katanya, “Saya mesti memikirkannya dulu sebelum memberi jawaban.”

Ia mengucapkan selamat malam, dan pergi ke kamarnya. Di situ ia berbaring melotot dalam gelap, matanya berkilat-kilat. Jalan Samurai. Ia pusatkan perhatian pada ajaran itu dalam penerapannya dengan dirinya dan pedangnya.

Tiba-tiba ia melihat kebenaran: teknik-teknik pedang bukanlah tujuan yang sedang dikejarnya. Yang ia cari adalah Jalan Pedang yang mencakup segalanya. Pedang mesti jauh lebih berarti daripada senjata sederhana. Ia mesti merupakan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan hidup. Jalan Uesugi Kenshin dan Date Masamune terlalu bersifat militer, terlampau picik. Akan terserah kepadanya untuk melengkapi segi-segi manusianya, memberikan lebih banyak kedalaman, lebih banyak keunggulan.

Untuk pertama kali, ia bertanya apakah mungkin seorang manusia biasa menyatu dengan alam semesta.

Pemberian Uang

PIKIRAN pertama yang menggugah Musashi adalah tentang Otsu dan Jotaro. Walaupun ia dan Geki bercakap-cakap ramah sambil makan pagi, masalah bagaimana menemukan mereka berdua itulah yang paling menyita pikirannya. Keluar dari penginapan, tanpa disadarinya ia perhatikan betul-betul setiap wajah yang dijumpainya di jalan raya. Sekali-dua kali dikiranya ia melihat Otsu di depan, tapi ternyata ia keliru.

“Anda rupanya mencari seseorang,” kata Geki.

“Memang. Teman-teman saya terpisah dari saya di jalan, dan sekarang saya kuatir dengan nasib mereka. Saya pikir, lebih baik saya melepaskan keinginan pergi ke Edo, dan mencari jalan lain.”

Dengan kecewa, kata Geki, “Sayang sekali. Saya ingin sekali berjalan bersama Anda. Saya harap Anda tidak mengubah keinginan mengunjungi Sendai, gara-gara saya bicara terlalu banyak semalam.”

Sikap Geki yang terus terang dan jantan itu merangsang Musashi. “Anda baik sekali,” katanya. “Saya harap saya punya kesempatan nanti.”

“Saya ingin Anda menyaksikan sendiri, bagaimana samurai kami mem­bawa diri. Dan kalau Anda tidak tertarik soal itu, nah, anggap saja itu sekadar tamasya. Anda dapat mendengarkan lagu-lagu setempat, dan me­ngunjungi Matsushima. Tempat itu terkenal pemandangannya.”

Geki minta diri, dan lekas-lekas menuju Celah Wada.

Musashi membalikkan badan dan kembali ke persimpangan Nakasendo, pangkal jalan raya Koshu. Selagi ia berdiri di sana, merencanakan apa yang hendak diperbuatnya, segerombolan pekerja harian dan Suwa mendatanginya. Pakaian mereka menunjukkan bahwa mereka kuli, tukang kuda, atau pemikul joli yang bisa dipergunakan orang di daerah itu. Mereka datang pelan-pelan dengan tangan terlipat, kelihatannya seperti segerombolan kepiting.

Mata mereka dengan kasar menyelidik tubuh Musashi. Seorang dari mereka berkata, “Pak, kelihatannya Anda sedang mencari seseorang. Seorang wanita cantik atau pesuruh?”

Musashi menggelengkan kepala, mengusir mereka dengan isyarat agak meremehkan, lalu menyingkir. Tak tahu ia, apakah akan pergi ke timur atau barat, tapi akhirnya ia putuskan untuk menghabiskan waktu hari itu dengan melihat-lihat apa yang dapat ia temukan di sekitar tempat itu. Kalau pencarian yang dilakukannya tidak membawa hasil, selanjutnya ia dapat pergi ke ibu kota shogun dengan hati bersih.

Salah seorang pekerja menyela pikirannya. “Kalau memang mencari sese­orang, kami dapat membantu,” katanya. “Itu lebih baik daripada berdiri­diri di bawah sinar matahari. Bagaimana tampang orangnya?”

Yang lain menambahkan, “Kami bahkan tidak menentukan tarif jasa kami. Kami serahkan pada Tuan.”

Akhirnya Musashi mengalah. Ia bahkan melukiskan Otsu dan Jotaro secara terperinci.

Sesudah berunding dengan teman-temannya, orang pertama tadi me­ngatakan, “Kami belum pernah melihat mereka, tapi kalau kami membentuk kelompok-kelompok, kami yakin akan menemukan mereka. Penculik-penculik itu tentunya masuk salah satu dari tiga jalan antara Suwa dan Shiojiri. Anda tak kenal daerah ini, tapi kami kenal.”

Musashi tidak begitu optimis tentang kemungkinan berhasil di medan yang demikian sukar, tapi katanya, “Baik, pergilah cari mereka.”

“Jadi,” teriak orang-orang itu.

Sekali lagi mereka berkerumun, berpura-pura sedang memutuskan bagian pekerjaan masing-masing. Kemudian pimpinan mereka maju ke depan dan menggosok-gosok tangan dengan sikap hormat. “Cuma masih ada satu soal kecil, Pak. Begini… saya kurang suka menyebutkan ini, tapi kami ini cuma pekerja tak berduit. Tak ada di antara kami yang sudah makan hari ini. Apa tak dapat Anda memberi persekot buat setengah hari pembayaran, dengan sedikit tambahan? Saya jamin akan menemukan teman-teman Anda itu sebelum matahari tenggelam.”

“Tentu. Saya memang mau memberi.”

Orang itu menyebut suatu jumlah, tapi sesudah Musashi menghitung uang­nya, ternyata jumlah itu lebih tinggi dari uang yang dimilikinya. Musashi bukan orang yang tidak hirau dengan nilai uang, tapi karena ia hidup sendirian, tanpa tanggungan, sikapnya terhadap uang boleh dikata masa bodoh. Teman-teman dan orang-orang yang kagum padanya kadang-kadang menyumbangnya untuk perjalanan, dan ada kuil-kuil yang sering dapat memberikan penginapan gratis kepadanya. Pada kesempatan lain, ia dapat tidur di udara terbuka, atau pergi tanpa mesti makan secara normal. Dengan berbagai cara, ia selalu dapat mengatasi soal itu.

Dalam perjalanan ini, ia telah menyerahkan soal uang kepada Otsu yang mendapat hadiah besar berupa uang perjalanan dari Yang Dipertuan Karasumaru. Otsu-lah yang telah membayar macam-macam rekening dan memberinya uang saku tiap pagi, seperti biasa dilakukan seorang istri.

Sesudah menyisihkan sedikit untuk diri sendiri, Musashi pun membagikan sisa uangnya pada orang-orang itu. Walaupun sebetulnya mereka mengharap­kan jumlah yang lebih besar, mereka setuju melakukan pencarian sebagai “pertolongan khusus”.

“Nantikan kami dekat gerbang bertingkat dua di Tempat Suci Suwa Myojin,” nasihat si juru bicara. “Petang nanti, kami kembali membawa berita.” Dan mereka berangkat ke beberapa jurusan.

Musashi tidak membuang-buang waktu percuma, tapi pergi melihat Benteng Takashima dan kota Shimosuwa, juga berhenti di sana-sini untuk mencatat ciri-ciri topografi setempat, yang mungkin di masa depan ada gunanya, dan memperhatikan cara-cara pengairan di sana. Beberapa kali ia bertanya apakah di daerah itu ada ahli militer terkemuka, tapi tak ada jawaban menarik yang didengarnya.

Ketika matahari semakin terbenam, ia pergi ke tempat suci dan duduk di tangga batu yang menuju gerbang bertingkat dua. Badannya lelah tak bersemangat. Tak seorang pun memperlihatkan hidung, karena itu ia berjalan mengitari pekarangan kecil yang luas itu. Namun ketika kembali di pintu gerbang, tetap tidak ada orang.

Bunyi kuda yang mengentak-entakan kaki ke tanah mulai menekan sarafnya, walaupun bunyi itu tidak keras. Ia turun tangga dan tiba di sebuah gubuk yang hanya remang-remang kelihatan akibat tertutup pe­pohonan. Seorang perawat kuda tua sedang memberi makan kuda putih suci milik tempat suci.

Orang itu menatap Musashi dengan sikap curiga. “Ada apa?” tanyanya kasar “Apa urusanmu dengan kuil ini?”

Ketika orang itu mendengar alasan Musashi ada di sana, ia tertawa terpingkal-pingkal. Karena sama sekali tidak merasa lucu, Musashi tidak berusaha menyembunyikan amarahnya. Namun sebelum ia mengatakan sesuatu, orang tua itu berkata, “Tak bisa kau jalan sendirian di jalan ini. Kau terlalu polos. Apa kau percaya betul, hama-hama jalanan itu akan menghabiskan waktu seharian buat mencari teman-temanmu? Kalau kau bayar mereka di muka, kau takkan melihat mereka lagi.”

“Maksud Bapak, mereka cuma pura-pura waktu membentuk kelompok-­kelompok dan berangkat itu?”

Kim wajah si perawat kuda berubah bersimpati. “Kau sudah ditipu!” katanya. “Aku dengar ada sekitar sepuluh orang gelandangan minum-­minum dan berjudi di balik bukit sebelah sana hari ini. Kemungkinan besar mereka itulah orangnya. Hal-hal ini sering terjadi.” Kemudian ia menyampaikan beberapa cerita tentang musafir-musafir yang ditipu uangnya oleh pekerja-pekerja bejat itu, tetapi ia menyimpulkan dengan lunak, “Yah, demikianlah dunia ini. Lebih baik mulai sekarang kau lebih berhati-hati.”

Setelah memberikan nasihat bijaksana itu, ia mengambil ember kosong dan pergi meninggalkan Musashi yang merasa dirinya tolol. “Sudah terlambat melakukan sesuatu sekarang,” keluhnya. “Aku membanggakan diri karena mampu tidak memberikan peluang sedikit pun pada lawan, tapi sekarang aku dapat ditipu oleh gerombolan pekerja buta huruf.” Bukti tentang mudahnya dirinya ditipu orang itu datang seperti tamparan pada wajahnya. Kekurangan-kekurangan seperti itu dapat dengan mudah me­ngeruhkan latihannya dalam Seni Perang. Bagaimana mungkin orang yang demikian mudah ditipu oleh orang-orang yang lebih rendah darinya dapat secara efektif memimpin pasukan? Sambil naik pelan-pelan menuju gerbang. ia memutuskan untuk mencurahkan lebih banyak perhatian pada cara-cara yang dipakai dunia sekitarnya.

Salah seorang pekerja menoleh ke sana kemari dalam gelap. Begitu melihat Musashi, ia memanggilnya dan berlari turun tangga.

“Saya senang dapat ketemu Anda,” katanya. “Saya sudah dapat berita tentang seorang dari orang-orang yang Anda cari itu.”

“Oh,” Musashi keheranan, karena baru saja ia memarahi dirinya atas kenaifannya. Ia senang mengetahui bahwa tidak semua orang di dunia ini penipu. “Yang kau maksud seorang dari mereka itu anak lelaki atau pe­rempuan?”

“Anak lelaki. Dia bersama Daizo dari Narai, dan saya sudah tahu di mana Daizo berada, atau setidak-tidaknya ke mana dia pergi.”

“Ke mana?”

“Saya kira orang-orang yang bersama saya tadi pagi takkan memenuhi janji mereka. Mereka sudah memutuskan menghabiskan waktu hari ini dengan berjudi, tapi saya kasihan pada Anda. Saya pergi dari Shiojiri ke Seba, dan bertanya pada semua orang yang saya temui. Tak seorang pun tahu tentang gadis itu, tapi saya dengar dari pelayan di penginapan tempat saya makan bahwa Daizo lewat Suwa sekitar tengah hari ini, dalam per­jalanan ke Celah Wada. Gadis pelayan itu mengatakan Daizo bersama seorang anak lelaki.”

Dengan rasa malu, kata Musashi sedikit resmi, “Terima kasih kau sudi ­memberitahukan hal itu padaku.” Ia keluarkan kantong uangnya, walaupur. ia tahu isinya hanya cukup untuk makannya sendiri. Sesaat ia ragu-ragu, tapi karena pikirnya kejujuran tak boleh tidak mendapat ganjaran, maka ia serahkan uang terakhir miliknya kepada pekerja itu.

Senang mendapat imbalan, orang itu mengangkat uang tersebut ke dahinya sebagai tanda terima kasih, dan pergi dengan gembira.

Melihat uangnya dibawa pergi, Musashi merasa telah menggunakan uang itu untuk tujuan yang lebih berharga daripada sekadar pengisi perut. Barangkali sesudah mengetahui bahwa tingkah laku yang benar dapat mendatangkan keuntungan, hari berikutnya pekerja itu akan mau menolong musafir lain lagi.

Hari sudah gelap, tapi Musashi memutuskan untuk tidak tidur di bawah tepian atap rumah petani, melainkan akan melintasi Celah Wada. Kalau sepanjang malam ia berjalan terus, ia dapat menyusul Daizo. Ia berangkat­ dan sekali lagi ia senang bahwa pada malam hari ia berada di jalan sepi. Ada sesuatu yang mengimbau nalurinya dalam suasana itu. Seraya meng­hitung langkah kakinya dan mendengarkan suara langit di atas sana, ia melupakan segalanya dan bergirang atas kehadirannya di dunia ini. Apabila dikelilingi kumpulan orang yang sibuk, ia sering kali merasa sedih dan terpencil, tapi sekarang ia merasa hidup dan ringan hati. Ia dapat memikirkan hidup ini dengan kepala dingin dan objektif, bahkan dapat menyanjung dirinya sebagaimana ia menyanjung orang yang tak dikenalnya sama sekali.

Sebentar setelah tengah malam, renungannya terganggu oleh seberkas cahaya di kejauhan. Sesudah menyeberangi jembatan Sungai Ochiai, ia mendaki terus dengan mantap. Satu celah sudah dilaluinya. Celah berikutnya yaitu Celah Wada, membayang di langit berbintang di atasnya, dan di sebelahnya terdapat penyeberangan yang lebih tinggi lagi, di Daimon. Cahaya itu terdapat di dalam sebuah lubang yang sejajar letaknya dengan kedua punggung pegunungan itu.

“Kelihatannya seperti api unggun,” pikirnya, dan untuk pertama kali selama berjam-jam itu, perutnya terasa lapar. “Barangkali di sana aku bisa mengeringkan lengan baju dan makan sedikit bubur atau yang lain.”

Ketika sudah dekat, ternyata cahaya itu bukan dari api di luar rumah, melainkan dari warung teh kecil di pinggir jalan. Ada empat-lima pancang untuk menambatkan kuda, tapi tak ada kuda. Rasanya mustahil ada orang di tempat seperti itu, malam-malam begini, namun ia mendengar suara­suara serak bercampur kemeretak bunyi api. Beberapa menit lamanya ia berdiri ragu-ragu di bawah tepian atap. Kalau rumah itu gubuk petani atau penebang kayu, ia tak akan ragu minta tempat berteduh atau sisa makanan, tapi ini rumah usaha.

Bau makanan membuatnya lebih lapar daripada sebelumnya. Asap hangat menyelimutinya. Ia tak dapat lagi meninggalkan tempat itu. “Yah, kalau kujelaskan keadaanku, barangkali mereka mau menerima patung untuk pembayaran.” Yang disebutnya “patung” itu adalah patung Kannon yang telah dipahatnya dari kayu prem tua.

Begitu ia masuk warung, para tamu terkejut dan berhenti berbicara. Bagian dalam warung itu sederhana, lantainya dari tanah, dengan perapian dan kerudung api di tengah. Di sekitarnya berkerumun tiga orang lelaki yang duduk di bangku. Di dalam kuali sedang direbus daging babi hutan campur lobak besar. Sebuah guci sake dihangatkan di dalam abu. Tukang warung berdiri membelakangi mereka, mengiris-iris acar sambil mengobrol dengan ramahnya.

“Mau apa?” tanya salah seorang tamu, seorang lelaki bermata tajam ber­cambang panjang.

Musashi terlampau lapar, hingga tak mendengar. Ia lewati orang-orang itu, dan sambil duduk di ujung bangku, katanya pada tukang warung, “Kasih saya makan, cepat. Nasi acar cukuplah. Apa saja.”

Orang itu menuangkan sedikit kuah ke nasi dingin di mangkuk, dan meletakkannya di depan Musashi. “Anda mau lewat Celah malam ini?” ­tanyanya.

“Ya,” gumam Musashi, yang waktu itu sudah mengambil supit dan sudah akan menyerbu makanan dengan bergairah. Sesudah dua kali menyuap. ia bertanya, “Barangkali Bapak tahu, apa orang yang namanya Daizo dari Narai ada lewat tempat ini sore tadi, menuju Celah? Dia bersama seorang anak lelaki.”

“Menyesal sekali saya tak dapat membantu Anda.” Kemudian kata si pemilik warung pada orang-orang yang lain, “Toji, apa kau atau orang­orangmu melihat orang tua jalan dengan anak lelaki?”

Sesudah saling berbisik, ketiga orang itu menjawab tidak dan serempak menggeleng.

Sesudah kenyang dan merasa hangat oleh makanan panas itu, Musashi mulai kuatir memikirkan pembayarannya. Ia ragu-ragu bicara dengan tukang warung, karena hadirnya orang-orang lain, tapi sekejap pun ia tidak merasa sedang mengemis. Cuma menurutnya kebutuhan perutnya lebih penting untuk diatasi terlebih dahulu. Ia memutuskan bahwa jika tukang warung tidak mau menerima patungnya, ia akan menawarkan belatinya.

“Saya minta maaf,” katanya memulai, “karena saya sama sekali tak punya uang tunai. Tapi harap maklum, saya bukannya minta makan tanpa bayar. Saya punya barang yang dapat saya tawarkan, kalau Bapak mau menerima­nya.”

Di luar dugaan, sikap tukang warung ternyata ramah. Jawabannya, “Saya kira bisa saja. Apa barangnya?”

“Patung Kannon.”

“Patung benar-benar?”

“Ah, tapi bukan karya pemahat terkenal—cuma hasil pahatan sendiri. Harganya takkan cukup buat semangkuk nasi, tapi biar bagaimana silakan Bapak lihat dulu.”

Ketika ia mulai melepas tali-tali tas yang bertahun-tahun dibawanya itu ketiga orang lain meninggalkan minuman mereka dan memusatkan perhatian kepada tangan Musashi. Disamping patung, tas itu berisi juga sepasang pakaian dalam untuk ganti, dan perangkat alat tulis. Begitu dikosongkan isinya, ada barang yang jatuh ke tanah dengan bunyi mendenting. Tamu­tamu lain menahan napas, karena barang yang tergeletak di kaki Musashi itu ternyata kantong uang, dan dari kantong itu keluar beberapa mata uang emas dan perak. Musashi sendiri membelalak heran tanpa kata.

“Oh, dari mana ini datangnya?” tanyanya heran.

Orang-orang lain menjulurkan leher untuk melongok harta kekayaannya. Musashi merasa ada barang lain lagi dalam tas itu, dan ketika dikeluarkannya ternyata sepucuk surat. Surat berisi satu baris kalimat, bunyinya :

Untuk sementara, ini dapat menutup biaya perjalananmu, dan ditandatangani, Geki.

Mengertilah Musashi apa artinya. Itulah cara Geki berusaha membeli jasanya, demi Yang Dipertuan Date Masamune dari Sendai Benteng Aoba. Kemungkinan bakal terjadinya benturan terakhir antara Keluarga Tokugawa dan Keluarga Toyotomi memang semakin besar, hingga para daimyo besar itu semakin merasakan pentingnya memperoleh pesilat cakap dalam jumlah besar. Cara yang disenangi dalam persaingan tajam merebut samurai yang benar-benar terkemuka adalah mencoba memaksa mereka berutang, walaupun hanya dalam jumlah kecil, dan kemudian memperoleh persetujuan diam-diam untuk mengadakan kerja sama di masa mendatang.

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa Toyotomi Hideyori memberi­kan uang dalam jumlah besar pada Goto Matabei dan Sanada Yukimura. Walaupun Yukimura berpura-pura mengundurkan diri di Gunung Kudo, sekian banyak emas perak dikirimkan kepadanya dari Benteng Osaka, hingga Ieyasu melancarkan pemeriksaan besar-besaran. Karena kebutuhan pribadi seorang jenderal yang sudah mengundurkan diri di pertapaan itu sederhana sekali, pastilah uang itu kemudian diteruskan pada beberapa ribu ronin miskin yang kerjanya menghabis-habiskan waktu di kota-kota besar dan kecil yang berdekatan, sambil menanti pecahnya permusuhan.

Menemukan seorang pesilat cakap seperti diyakini oleh Geki itu, dan memikatnya untuk bekerja pada tuannya, adalah satu di antara jasa paling berharga yang dapat dilakukan seorang abdi. Dan justru karena alasan ini, Musashi tak punya minat terhadap uang Geki. Menggunakan uang itu berarti menanggung kewajiban yang tak diinginkannya. Dalam beberapa detik saja ia sudah memutuskan untuk mengabaikan pemberian itu, dan berpura-pura bahwa uang itu tidak ada.

Tanpa berkata-kata, ia membungkuk memungut kantong uang itu dan memasukkannya kembali ke dalam tasnya. Kepada tukang warung ia berkata, seakan-akan tidak terjadi sesuatu, “Baiklah, akan saya tinggalkan patung ini buat pembayaran.”

Tapi orang itu menolak keras. “Saya tak bisa menerimanya.”

“Lho, apa salahnya patung ini? Saya memang tidak menamakan diri pemahat, tapi…”

“Oh, patung ini tidak jelek, dan saya mau saja menerimanya, kalau Tuan tak punya uang seperti Tuan bilang tadi, tapi nyatanya Tuan punya banyak uang. Kenapa pula Tuan lempar-lemparkan uang tunai Tuan hingga orang banyak melihatnya, kalau Tuan ingin dikira sudah bangkrut?”

Tamu-tamu lain pun jadi sadar dan tergetar melihat emas itu, dan me­reka mengangguk-anggukkan kepala sebagai tanda setuju. Karena sadar akan sia-sia mengatakan uang itu bukan uangnya, Musashi mengeluarkan sekeping uang perak dan menyerahkannya kepada tukang warung.

“Ini terlalu banyak, Tuan,” keluh tukang warung. “Apa tak ada uang kecil?”

Pengamatan sepintas menunjukkan bahwa keping-keping uang dalam kantong Musashi itu beberapa macam nilainya, tapi tak ada yang kecil. “Tak usah kuatir soal kembaliannya,” kata Musashi. “Bapak boleh ambil.”

Karena tak dapat lagi berpegang pada khayal bahwa uang itu tidak ada, Musashi memasukkan tempat uang itu ke dalam kantong bagian perut untuk keamanannya.

Kemudian ia panggul bungkusannya dan menghilang dalam gelap, sekali­pun ia banyak mendengar desakan untuk tinggal lebih lama. Karena sudah makan dan pulih kesehatannya, menurut perhitungannya ia dapat sampai di Celah Daimon waktu matahari terbit. Siang hari ia dapat melihat di sekitarnya bunga-bunga dataran tinggi dalam jumlah melimpah-rhodo den­dron, gentian, krisan liar-tapi pada malam hari, di tengah lautan luas kegelapan itu, yang tampak olehnya hanyalah kabut seperti kapas yang bergayut ke tanah.

Baru sekitar dua mil dari warung teh itu, seorang dari orang-orang yang dilihatnya di warung berseru kepadanya, “Tunggu! Ada yang Anda lupa.” Sesudah dekat Musashi, orang itu berkata sambil terengah-engah, “Minta ampun, jalan Anda cepat sekali! Sesudah Anda pergi, saya temukan uang ini, dan saya bawa kemari. Tentunya milik Anda.”

Ia keluarkan keping uang perak yang ditolak oleh Musashi, dengan mengatakan uang itu pasti bukan uangnya. Tapi orang itu berkeras me­ngatakan uang itu milik Musashi. “Uang ini tentunya menggelinding ke sudut waktu kantong uang Anda jatuh.”

Karena memang tidak menghitung uang itu, Musashi tidak dapat mem­buktikan bahwa orang itu keliru. Disertai ucapan terima kasih, ia terima uang perak itu dan ia masukkan ke dalam lengan kimononya. Namun, karena alasan tertentu, ia sama sekali tidak tergerak oleh pameran kejujuran ini.

Walaupun tugas orang itu sudah selesai, masih juga ia berjalan di sam­ping Musashi dan mulai bicara sedikit.

“Barangkali tak boleh saya menanyakan ini, tapi apa Anda belajar main pedang pada guru terkenal?”

“Tidak, saya pakai gaya saya sendiri.”

Jawaban Musashi yang acuh tak acuh tidak membikin mundur orang itu. Ia menyatakan dirinya samurai juga, dan tambahnya, “Tapi untuk sementara saya terpaksa tinggal di pegunungan ini.”

“Begitu?”

“Ya. Dua teman saya itu juga. Kami bertiga samurai. Sekarang kami hidup dari menebang pohon dan mengumpulkan ramuan. Kami ini seperti naga yang menanti saat baik di sebuah kolam, seperti kata pepatah. Tak bisa saya berpura-pura menjadi Sano Genzaemon, tapi kalau tiba waktunya nanti, saya akan mengambil pedang tua saya, mengenakan ketopong usang itu, dan pergi berperang demi seorang daimyo terkenal. Sekarang sava menunggu datangnya waktu itu!”

“Anda berpihak pada Osaka atau Edo?”

“Bukan soal. Yang penting, saya berada pada salah satu pihak. Kalau tidak, bisa habis waktu saya buat berkeliaran di sini.”

Musashi tertawa sopan. “Terima kasih atas uang ini.”

Kemudian, dalam usaha meninggalkan orang itu, ia mulai membuat langkah-langkah panjang dan cepat. Tapi orang itu tetap juga ikut di sampingnya. Langkah yang diambilnya sama dengan langkah Musashi. Ia terus berkeras berada di sisi kiri Musashi, suatu gangguan yang pasti dianggap mencurigakan oleh pemain pedang mana pun yang berpengalaman. Namun Musashi tidak berbuat apa-apa untuk melindungi sisi kirinya, agar tidak memperlihatkan sikap waspada. Akibatnya sisi itu terbuka lebar.

Orang itu semakin bersahabat sikapnya. “Boleh saya memberi saran? Kalau Anda mau, bagaimana kalau menginap di tempat kami? Sesudah Celah Wada, Anda masih akan melewati Daimon. Anda bisa meneruskan jalan ke sana pagi hari, tapi jalannya terjal sekali-sukar sekali untuk orang yang tidak biasa dengan daerah ini.”

“Terima kasih. Saya terima undangan itu.”

“Ya, tentu, tentu. Cuma, kami tak dapat menawarkan apa-apa dalam bentuk makanan atau hiburan.”

“Tapi saya senang dapat berbaring. Di mana rumah Anda?”

“Sekitar setengah mil ke kiri, dan sedikit ke atas.”

“Berarti Anda betul-betul tinggal di pedalaman gunung, ya?”

“Seperti saya katakan tadi, sampai datangnya waktu yang baik, kami tinggal bersembunyi, mengumpulkan ramuan, berburu, yah, melakukan hal­hal seperti itu. Saya tinggal serumah dengan dua yang lain tadi.”

“Kebetulan Anda menyebutkannya, tapi bagaimana dengan mereka itu?”

“Mereka barangkali masih minum. Tiap kali kami pergi ke sana, mereka mabuk, dan akhirnya saya yang mengangkat mereka pulang. Malam ini saya putuskan meninggalkan saja mereka…. Awas! Ada turunan tajam di situ-di bawah sana ada sungai. Bahaya sekali.”

“Apa kita mesti menyeberang sungai?”

“Ya. Di sini sempit dan ada titian balok di bawah kita ini. Sesudah menyeberang, kita membelok ke kanan dan mendaki menyusuri tepi sungai.”

Musashi merasa orang itu sudah berhenti jalan, tapi ia tidak menoleh ke belakang. Ia temukan balok itu, dan mulai menyeberang. Sesaat kemudian, orang itu melompat ke depan dan mengangkat ujung balok untuk melontarkan Musashi ke dalam sungai.

“Apa maksudmu?”

Teriakan itu datang dari bawah, tapi orang itu menengadah ke atas dengan heran. Karena sudah tahu terlebih dahulu gerak pengkhianatan orang itu, Musashi sempat melompat dari balok dan mendarat dengan ringannya di atas batu besar. Penyerangnya yang terkejut, menjatuhkan balok ke dalam sungai. Sebelum tirai air yang muncrat jatuh kembali ke tanah, Musashi sudah melompat kembali ke tepi sungai dengan pedang terhunus, dan memotong penyerangnya. Semua itu terjadi demikian cepat, hingga orang itu bahkan tak melihat Musashi menarik pedang.

Mayat itu menyentak-nyentak sesaat-dua saat, kemudian diam. Musashi bahkan tak hendak memandangnya. Ia kini mengambil jurus yang baru, sebagai persiapan atas serangan berikut, karena ia yakin akan ada serangan lagi. Sementara ia memantapkan jurusnya, rambutnya berdiri seperti garuda.

Sunyi sesaat, kemudian terdengar bunyi berdebam yang cukup keras, yang dapat menghancurkan ngarai itu. Tembakan bedil itu rupanya datang dari suatu tempat di pinggir lain. Musashi mengelak, dan peluru yang jitu arahnya itu mendesis melintasi ruangan yang tadi ditempatinya, dan me­ngubur diri dalam tanggul di belakangnya. Sambil menjatuhkan diri seakan terluka, Musashi memandang ke seberang. Ia melihat bunga-bunga api merah beterbangan di udara, seperti kunang-kunang. Terlihat olehnya dua sosok tubuh yang merangkak hati-hati ke depan.

Api Pembasuh

ORANG itu mengatupkan gigi erat-erat, menanti sumbu yang sudah menyala mendesis. Ia bersiap menembakkan lagi bedilnya. Temannya merunduk dan menjeling ke kejauhan. Bisiknya, “Kaupikir aman?”

“Aku yakin sudah kena dengan tembakan pertama tadi,” terdengar jawaban yakin.

Kedua orang itu merangkak hati-hati ke depan, tapi begitu mereka sampai ujung tepi sungai, Musashi meloncat naik. Pembawa bedil tergagap dan menembak, tapi kehilangan keseimbangan, hingga peluru melejit tanpa guna ke udara. Suara gema bersahut-sahutan di dalam lembah, dan dua orang dari warung teh itu pun lari ke atas.

Tiba-tiba seorang di antaranya berhenti dan berteriak, “Tunggu! Buat apa kita lari? Kita berdua, dan dia sendiri. Aku hadapi dia, dan kau membantu.”

“Aku bersamamu!” teriak pembawa bedil. Ia melepaskan sumbu dan membidikkan gagang bedilnya kepada Musashi.

Pasti mereka agak lebih tinggi dari sekadar penjahat. Menurut dugaan Musashi, mereka pemimpin gerombolan. Kedua orang itu dapat mengguna­kan pedang dengan kemahiran sejati, namun mereka sama sekali bukan tandingan Musashi. Dengan satu kali pukulan pedang saja, mereka berdua sudah melayang ke udara. Pembawa bedil terbelah dari bahu sampai ping­gang, kemudian jatuh tewas ke tanah, sementara bagian atas tubuhnya ter­gantung-gantung di tepi sungai, seperti pada selembar benang. Orang satunya lari mendaki lereng, sambil mencengkeram lengan bawahnya yang terluka, dikejar cepat oleh Musashi. Hujan debu dan pasir menjulang, lalu jatuh lagi di belakangnya.

Lembah bernama Lembah Buna itu terletak di tengah jalan antara Celah Wada dan Daimon. Namanya diambil dari pohon-pohon yang menutupnya. Pada puncaknya yang tertinggi, dikelilingi pepohonan, berdiri sebuah pondok besar dan kasar, terbuat dari balok-balok kayu.

Sambil berlari cepat ke nyala obor, bandit itu berteriak, “Padamkan api!”

Seorang perempuan melindungi nyala api itu dengan lengan baju yang direntangkan, dan serunya, “Ah, kau—oh, kau berlumuran darah!”

“D—diam kau, tolol! Matikan lampu—yang di dalam juga.” Hampir ia tak dapat mengeluarkan kata-kata, karena terengah-engah. Ia menoleh sekali lagi ke belakang, dan meluncur terus melewati perempuan itu. Perempuan itu mematikan obor dan bergegas mengejarnya.

Begitu Musashi sampai di pondok itu, tak satu cahaya pun tampak.

“Buka!” teriaknya. Ia marah, bukan karena dianggap orang tolol, atau karena serangan pengecut yang dilancarkan kepadanya, melainkan karena orang-orang seperti itu setiap hari mendatangkan kerugian besar kepada musafir yang tak bersalah.

Sebetulnya bisa saja ia merusak tirai hujan yang terbuat dari kayu itu, tapi ia tidak mau menyerang dari depan, hingga bagian belakangnya bisa berada dalam bahaya, melainkan secara hati-hati menjaga jarak dua-tiga meter.

“Buka!”

Karena tak ada jawaban, dipungutnya batu terbesar yang dapat diangkat­nya, dan dilontarkannya ke tirai itu. Batu menghantam celah antara dua papan, hingga lelaki dan perempuan itu sempoyongan masuk rumah. Sebilah pedang terbang dari bawah mereka, disusul lelaki itu merangkak di lantai. Tapi ia cepat dapat berdiri kembali dan mengundurkan diri ke dalam rumah. Musashi meloncat maju dan menangkap belakang kimononya.

“Jangan bunuh aku! Ampun!” mohon Gion Toji. Suaranya merengek seperti suara bangsat kecil-kecilan.

Segera kemudian ia berhasil berdiri lagi, dan mencoba menemukan titik lemah Musashi. Musashi menangkis setiap gerakannya, tapi ketika ia men­desak terus ke depan untuk mengimpit lawan, Toji mengerahkan segala kekuatannya dan menarik pedang pendeknya, serta membuat tusukan keras. Musashi mengelak dengan cekatan, menyapunya dengan kedua lengannya. dan dengan teriakan menghina membantingnya ke kamar sebelah. Lengan atau kakinya barangkali menghantam penggantung kuali, karena tiang bambu tempat bergantungnya kuali itu patah. Suaranya berderak. Abu putih mengepul naik dari perapian, seperti asap gunung berapi.

Rentetan benda yang dilemparkan menerjang asap dan abu memaksa Musashi bertahan. Ketika abu sudah turun, ia lihat lawannya sudah bukan lagi kepala bandit yang kini sudah telentang di dekat dinding. Sambil memaki-maki, perempuan itulah yang melemparkan segala yang dapat di­pegangnya-tutup kuali, kayu bakar, supit logam, mangkuk teh.

Musashi melompat ke depan dan cepat mengimpitnya ke lantai, tapi perempuan itu berhasil menarik tusuk konde dari rambutnya dan menusuk Musashi. Musashi menginjakkan kakinya ke pergelangan tangan perempuan itu, dan perempuan itu mengertakkan giginya, kemudian berteriak marah dan muak kepada Toji yang sudah tak sadar, “Tak punya nyali kau? Bagai­mana mungkin kau kalah dari orang tak punya nama macam ini?”

Mendengar suaranya, Musashi tiba-tiba menarik napas panjang dan melepaskannya. Perempuan itu bangkit berdiri, mencabut pedang pendeknya, dan menerjangnya.

“Hentikan, Bu,” kata Musashi.

Kaget mendengar nada biasa yang sopan itu, perempuan itu berhenti dan melongo melihat Musashi.

“Lho, ini… ini kan Takezo!”

Dugaan Musashi benar. Di luar Osugi, satu-satunya perempuan yang masih mungkin menyebutnya dengan nama kecilnya adalah Oko.

“Oh, benar Takezo!” seru Oko, suaranya jadi manis sekali. “Namamu sekarang Musashi, kan? Kau sudah jadi pemain pedang besar, ya?”

“Apa kerja Ibu di tempat macam ini?”

”Malu aku mengatakannya.”

“Apa yang terbaring itu suami Ibu?”

“Kau tentunya mengenal dia. Itulah sisa orang yang namanya Gion Toji.”

“Itu Toji?” bisik Musashi. Ia pernah mendengar di Kyoto bahwa Toji adalah bajingan yang telah mengantongi uang yang dikumpulkannya untuk memperbesar perguruan dan melarikan diri dengan Oko. Namun, melihat manusia yang sudah jadi rongsokan di dekat dinding itu, tak dapat tidak ia merasa kasihan. “Lebih baik Ibu urus dia,” katanya, “Kalau saya tahu dia suami Ibu, tak akan saya berlaku kasar kepadanya.”

“Oh, ingin aku merangkak masuk lubang, menyembunyikan diri,” kata Oko, tersenyum palsu.

Ia pergi ke sisi Toji, memberikan air, dan membalut luka-lukanya. Ketika Toji mulai siuman, ia pun bercerita siapa Musashi.

“Apa?” teriaknya parau. “Miyamoto Musashi? Orang yang… oh, memalu­kan!” Sambil menutup muka dengan tangan, ia meringkuk hina-dina.

Musashi melupakan kemarahannya, dan membiarkan dirinya diperlakukan sebagai tamu terhormat. Oko menyapu lantai, membereskan perapian, me­masukkan kayu api baru, dan menghangatkan sake.

Sambil mengangsurkan mangkuk kepada Musashi, katanya santun, “Kami tak dapat menyuguhkan apa-apa, tapi…”

“Saya sudah cukup makan-minum di warung teh tadi,” jawab Musashi sopan. “Tak usah repot-repot.”

“Tapi kuharap kau mau makan makanan yang kusiapkan. Begitu lama kita tidak bertemu.” Ia menggantungkan kuali rebusan pada gantungan kuali, kemudian duduk di samping Musashi dan menuangkan sake.

“Ini mengingatkan saya pada masa lalu di Gunung Ibuki,” kata Musashi ramah.

Angin keras bertiup. Walaupun tirai-tirai sudah kembali ke tempat masing-­masing, angin bertiup masuk lewat berbagai celah dan mempermainkan asap perapian, sementara asap itu naik ke langit-langit.

“Tak usah aku diingatkan pada waktu itu,” kata Oko. “Tapi apa kau men­dengar sesuatu tentang Akemi? Bisa kau memperkirakan di mana dia se­karang?”

“Saya dengar dia menginap beberapa hari di penginapan Gunung Hiei. Dia dan Matahachi rencananya akan ke Edo. Tapi rupanya dia lari mem­bawa semua uang Matahachi.”

“Oh?” kata Oko kecewa. “Dia juga!” Dan ia menatap lantai, dengan sedih membandingkan hidup anaknya dengan hidupnya sendiri.

Ketika Toji sudah cukup pulih, ia menggabungkan diri dengan mereka dan minta maaf kepada Musashi. Menurut pengakuannya, ia bertindak atas dorongan seketika, dan sekarang ia menyesalinya. Ia meyakinkan tamunya bahwa akan tiba waktu baginya untuk kembali memasuki masyarakat sebagai Gion Toji yang pernah dikenal dunia.

Musashi diam saja, tapi sebenarnya ia ingin mengatakan bahwa tak banyak yang dapat dipilih antara Toji samurai dan Toji bandit. Tapi kalau Toji benar-benar kembali ke kehidupan prajurit, jalanan akan jauh lebih aman bagi para musafir.

Dengan sikap agak lunak karena sake, katanya pada Oko, “Saya pikir akan bijaksana kalau Ibu meninggalkan cara hidup yang berbahaya ini.”

“Kau benar, tapi tentu saja saya hidup macam ini bukan atas dasar pilihan. Ketika meninggalkan Kyoto, kami bermaksud mengadu untung di Edo. Tetapi di Suwa, Toji mulai berjudi dan menghabiskan semua uang kami-uang perjalanan. Aku bermaksud mengusahakan moxa, karena itu kami mulai mengumpulkan ramuan dan menjualnya di kota. Oh, aku sudah cukup banyak mengikuti rencana-rencananya buat kaya mendadak. Sesudah peristiwa malam ini, aku muak.” Seperti biasa, beberapa tegukan sake mendatangkan nada genit dalam pembicaraannya, dan mulailah ia me­masang pesona.

Oko adalah jenis perempuan yang umurnya tidak bisa ditentukan, dan ia masih berbahaya. Seekor kucing rumahan akan bermain dengan sikap malu­-malu di pangkuan tuannya, selama diberi makan dan dipelihara, tapi kala dilepaskan di pegunungan, seketika ia akan mencari mangsa malam hari dengan mata menyala, siap berpesta bangkai atau mengoyak daging hidup para musafir yang jatuh sakit di pinggir jalan. Oko mirip sekali dengan kucing.

“Toji,” katanya mesra, “menurut Takezo, Akemi pergi ke Edo. Apa kita tak bisa pergi ke sana, dan hidup seperti manusia lagi? Kalau kita dapa: menemukan Akemi, aku yakin kita akan dapat menemukan usaha yang menguntungkan buat kita.”

“Barangkali juga,” terdengar jawaban lesu. Toji memeluk lutut sambil merenung. Barangkali, bahkan bagi Toji, pikiran yang hendak dikemuka­kan Oko itu—menjajakan tubuh Akemi—terasa sedikit kasar. Sesudah hidup ­dengan perempuan ganas ini, Toji sendiri sudah mulai merasa malu sebagaimana Matahachi.

Untuk Musashi, ekspresi wajah Toji tampak pedih. Wajah itu mengingatkannya kepada Matahachi. Ia bergidik saat teringat bagaimana ia pernah dipikat oleh pesona perempuan itu.

“Oko,” kata Toji sambil mengangkat kepala. “Sebentar lagi slang. Musashi barangkali lelah. Bagaimana kalau disiapkan tempat untuknya di kamar belakang, supaya dia dapat beristirahat?”

“Tentu.” Sambil melirik dengan mata hampir mabuk kepada Musashi, ia berkata, “Kau mesti hati-hati, Takezo. Di belakang sana gelap.”

“Terima kasih. Barangkali saya bisa tidur sedikit.”

Musashi mengikuti perempuan itu menyusuri gang gelap ke belakang rumah. Kamar itu rupanya kamar tambahan untuk pondok tersebut. Dari bawah, ruangan itu didukung oleh sejumlah balok, dan dibangun menjorok ke atas lembah. Dari dinding luar ke sungai tingginya sekitar dua puluh meter. Udara di situ lembap, akibat kabut dan cipratan air yang mengembus masuk dari air terjun. Tiap kali deru angin meningkat sedikit, ruangan kecil itu berguncang seperti perahu.

Kaki Oko yang putih kembali melintasi lantai berbilah gang terbuka itu, ke kamar perapian.

“Sudah tidur dia?”

“Kupikir begitu,” jawab Oko sambil berlutut di samping Toji, lalu ber­bisik ke telinganya, “Apa yang mau kaulakukan?”

“Panggil yang lain-lain.”

“Kau mau melaksanakannya?”

“Tentu saja! Ini bukan hanya soal uang. Kalau aku bunuh si bangsat itu, berarti aku membalaskan dendam Keluarga Yoshioka.”

Oko menyingsingkan rok kimononya, dan pergi ke luar rumah. Di bawah langit tak berbintang, jauh di pegunungan itu, ia berlari kencang melintas angin hitam, seperti kucing setan, rambut panjangnya berkibar-kibar.

Sudut dan celah di sisi gunung itu tidak hanya dihuni oleh burung dan binatang liar. Sambil berlari, Oko berhubungan dengan lebih dari dua puluh anggota gerombolan Toji. Karena sudah terlatih dalam penggerebekan malam, gerakan mereka lebih tenang daripada daun yang mengapung, menuju tempat di depan pondok.

“Cuma satu orang?”

“Samurai?”

“Ada uangnya?”

Percakapan yang dilakukan dengan berbisik itu diiringi gerak-gerik pen­jelasan dan gerakan mata. Sambil membawa bedil, belati, dan lembing yang biasa dipakai oleh pemburu babi hutan, sebagian dari mereka mengepung kamar belakang. Sekitar separuhnya turun ke lembah, dan dua orang ber­henti di tengah, tepat di bawah kamar.

Lantai kamar itu tertutup tikar gelagah. Sepanjang salah satu dindingnya terdapat tumpukan-tumpukan kecil ramuan kering yang rapi, juga kumpulan lumpang dan alat-alat lain untuk membuat obat. Musashi merasa terhibur mencium bau ramuan yang menyenangkan. Bau itu seolah mengajaknya memejamkan mata dan tidur. Tubuhnya terasa tumpul dan membengkak sampai ujung-ujung anggota badan. Tapi ia sadar, tidak boleh menyerah pada ajakan manis itu.

Ia sadar, ada sesuatu yang akan terjadi. Pengumpul ramuan dari Mimasaka tak pernah memiliki lumbung macam ini. Lumbung mereka tak pernah terletak di tempat berkumpulnya kelembapan, dan selamanya jauh dari tumbuh-tumbuhan berdaun rimbun. Dari terang cahaya lampu kecil yang terletak di sebuah mangkuk penumbuk di samping bantal, ia melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Siku-siku logam yang mengikat kamar itu pada sudut-sudutnya dikelilingi sejumlah besar lubang paku. Ia juga dapat melihat permukaan kayu yang masih baru, yang sebelumnya tentunya tertutup meja-kursi. Maka tidak mungkin keliru makna yang tersembunyi di situ. Kamar itu pernah dibangun kembali, barangkali berulang kali.

Senyuman kecil tersungging di bibirnya, tapi ia tak bergerak.

“Takezo,” panggil Oko lembut. “Kau tidur, ya?” Digesernya pintu shoji pelan-pelan, lalu la berjingkat menuju kasur dan meletakkan nampan di dekat kepala Musashi. “Kutaruh air minum buatmu di sini,” katanya. Musashi tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia masih terjaga.

Ketika Oko kembali ke pondok, Toji berbisik, “Semuanya beres?”

Sambil memejamkan mata sebagai penekanan, jawab Oko, “Dia tidur lelap.”

Dengan pandangan puas, Toji bergegas ke luar, menuju belakang pondok. Di situ ia melambaikan sumbu bedil yang sudah dinyalakan. Melihat itu, orang-orang yang ada di bawah menarik tiang-tiang pendukung kamar ter­sebut, hingga kamar runtuh ke dalam lembah, dinding-dindingnya, kerangkanya, blandar bubungannya, semuanya.

Sambil bersorak penuh kemenangan, yang lain-lain meloncat dari tempat-­tempat persembunyian, seperti pemburu keluar dari persembunyian buatan, dan menyerbu tepi sungai. Langkah berikutnya adalah memungut mayat dan harta milik korban reruntuhan. Sesudah itu, soal kecil mengumpulkan kepingan-kepingan kamar dan membangunnya kembali.

Bandit-bandit itu berloncatan ke timbunan papan dan tiang, seperti anjing menyerbu tulang.

Bandit-bandit lain yang datang dari atas bertanya, “Sudah ketemu mayat­nya?”

“Belum!”

“Mestinya di sekitar sini.”

Toji berteriak keras, “Barangkali membentur batu atau yang lain waktu jatuh, dan terlempar ke samping. Cari.”

Batu-batuan, air, pepohonan, dan tumbuh-tumbuhan di dalam lembah itu jadi berwarna merah terang. Diiringi pekikan terkejut, Toji dan para be­gundalnya memandang ke atas, nyala terang menyembur dari pintu-pintu, jendela-jendela, dinding-dinding, dan atap pondok. Pondok itu berubah menjadi bola api yang sangat besar.

“Cepat! Lekas! Kembali ke atas sini!” Panggilan yang merobek telinga itu datang dari Oko, dan kedengaran seperti lolongan seorang perempuan yang sudah gila.

Pada waktu orang-orang itu naik sampai ke batu karang, nyala api sudah menari-nari dengan hebatnya karena angin. Oko berdiri dalam keadaan terikat erat pada sebatang pohon, terkena hujan bunga api dan arang.

Semua orang tertegun. Musashi lenyap? Bagaimana caranya? Bagaimana mungkin ia mengecoh mereka semua?

Toji patah semangat. Ia bahkan tidak memerintahkan orang-orangnya mengejar. Sudah banyak ia mendengar tentang Musashi, dan ia tahu, me­reka takkan dapat menangkapnya. Tapi, atas kemauan sendiri, bandit-bandit itu cepat menyusun rombongan-rombongan pencari, dan terbang ke seluruh penjuru. Mereka tidak menemukan jejak Musashi.

Bermain Api

TIDAK seperti jalan-jalan utama yang lain, tidak ada pepohonan mengapit jalan raya Koshu, yang menghubungkan Shiojiri dan Edo lewat Provinsi Kai. Jalan yang dipergunakan untuk keperluan militer selama abad enam belas itu tidak memiliki jaringan jalan belakang sejenis jaringan Nakasendo, dan belum lama ditingkatkan menjadi jalan utama. Untuk musafir yang datang dari Kyoto atau Osaka, ciri yang paling tidak menyenangkan pada jalan raya Koshu itu adalah tidak adanya penginapan dan tempat makan yang baik. Pesanan makanan bekal paling-paling dapat dipenuhi dengan lempengan kue betas terbungkus daun bambu yang tidak membangkitkan selera, atau bahkan lebih tidak merangsang lagi dari itu, kepalan nasi putih terbungkus daun ek kering. Walaupun makanan di situ sederhana sekali­barangkali tidak banyak bedanya dengan makanan zaman Fujiwara beberapa ratus tahun sebelum itu-penginapan-penginapan kasar itu dikerumuni banyak tamu juga, kebanyakan menuju Edo.

Sekelompok musafir sedang beristirahat di atas Celah Kobotoke. Seorang dari mereka berseru, “Lihat, ada satu rombongan lagi.” Yang dimaksud adalah pemandangan yang hampir setiap hari dinikmatinya bersama teman­temannya-serombongan pelacur yang sedang dalam perjalanan dari Kyoto ke Edo.

Gadis-gadis itu jumlahnya sekitar tiga puluh orang, sebagian umur dua puluhan atau awal tiga puluhan, dan setidak-tidaknya ada lima yang umurnya belasan tahun. Bersama sekitar sepuluh orang yang mengelola atau melayani, mereka mirip keluarga besar. Di samping mereka masih ada beberapa ekor kuda beban yang dimuati segala macam barang, mulai dari keranjang anyaman kecil sampai peti-peti kayu sebesar orang.

Kepala “keluarga”, yaitu seorang lelaki berumur sekitar empat puluh tahun, sedang berbicara kepada gadis-gadisnya. “Kalau sandal jerami kalian bikin melepuh, ganti dengan zori, tapi mesti diikat baik-baik, supaya tidak lepas ke sana-sini. Dan jangan lagi mengeluh tak dapat berjalan terus. Lihat saja anak-anak di jalanan itu!” Jelas dari nada bicaranya yang masam bahwa orang itu mengalami kesulitan dalam memaksa orang-orang tanggungan yang biasanya tak pernah bepergian itu untuk terus berjalan.

Orang itu, yang bernama Shoji Jinnai, adalah penduduk asli Fushimi keturunan samurai, yang karena alasan-alasan pribadi meninggalkan kehidupan militer dan menjadi pemilik rumah pelacuran. Karena biasa cepat berpikir, banyak akal, ia berhasil memperoleh dukungan dari Tokugawa Ieyasu yang sering tinggal di Benteng Fushimi. Ia tidak hanya memperoleh izin memindahkan usahanya ke Edo, tetapi juga dapat meyakinkan banyak rekan seusahanya untuk berbuat demikian juga.

Di dekat puncak Kobotoke, Jinnai menyuruh iring-iringannya berhenti, katanya, “Sekarang ini masih pagi, tapi kita dapat makan siang sekarang.” Sambil menoleh kepada Onao, seorang perempuan tua yang jadi semacam induk ayam, ia memerintahkan mengeluarkan makanan.

Keranjang berisi bekal makanan segera diturunkan dari salah satu kuda beban, dan kepalan nasi terbungkus daun dibagikan kepada para perempuan itu, yang kemudian berpencar mengistirahatkan diri. Debu yang membuat kuning kulit mereka juga membuat rambut mereka yang hitam menjadi hampir putih, sekalipun mereka mengenakan caping jalan bertepi lebar atau mengikatkan saputangan ke kepala. Karena tidak ada teh, acara makan itu diiringi banyak jilatan lidah dan isapan gigi. Tidak tampak di situ tipu muslihat seksual atau getaran cinta. “Tangan siapa yang akan memeluk kembang merah padam ini malam nanti?” Benar-benar kata-kata yang terasa tidak pada tempatnya.

“Oh, enak sekali!” teriak salah seorang anak buah Jinnai yang masih muda, dengan gembiranya. Nada suaranya itu kiranya bisa mendatangkan air mata ibunya.

Perhatian dua-tiga orang lainnya mengembara dari makan siang itu, dan terpusat pada seorang samurai muda yang lewat. “Tampan dia, ya?” bisik seorang.

“Ya, lumayan,” jawab yang lain, yang lebih duniawi pandangannya.

Yang ketiga menyambut, “Ah, aku kenal dia itu. Dia biasa datang ke tempat kami, dengan orang-orang dari Perguruan Yoshioka.”

“Yang mana yang kamu bicarakan itu?” tanya lainnya, yang matanya bernafsu.

“Yang muda itu, yang tegap jalannya, membawa pedang panjang di punggungnya.”

Tak sadar akan kekaguman orang-orang itu, Sasaki Kojiro terus berusaha lewat saja di antara barisan kuli dan kuda beban.

Satu suara tinggi mencumbu berseru, “Pak Sasaki! Ke sini, Pak Sasaki!”

Karena banyak orang yang bernama Sasaki, maka Kojiro sama sekali tidak menoleh.

“Bapak yang pakai jambul!”

Alis Kojiro naik, dan ia memutar badan.

“Jaga lidahmu!” teriak Jinnai marah. “Kau terlalu kasar.” Tapi ketika ia menengadah dari makannya, dikenalinya Kojiro.

“Ya, ya,” katanya sambil bangkit cepat-cepat. “Kalau tidak salah, ini teman saya Sasaki! Ke mana Anda pergi, kalau boleh saya bertanya?”

“Oh, halo! Anda pemilik Sumiya, kan? Saya dalam perjalanan ke Edo. Dan bagaimana dengan Anda? Anda rupanya pindah besar-besaran, ya?”

“Betul. Kami pindah ke ibu kota baru.”

“Betul? Anda yakin dapat kemajuan di sana?”

“Tak ada yang bisa tumbuh di air yang tak mengalir.”

“Kalau melihat perkembangan Edo, saya bayangkan di sana banyak pekerjaan untuk pekerja bangunan dan pandai senapan. Tapi hiburan yang elok? Masih meragukan, apa di sana banyak permintaan.”

“Anda salah sangka. Para perempuan sudah menciptakan kota Osaka, sebelum Hideyoshi mulai memperhatikannya.”

“Barangkali juga, tapi di tempat sebaru Edo itu, barangkali menemukan rumah yang cocok saja pun Anda tak bisa.”

“Keliru lagi. Pemerintah sudah menyisihkan tanah rawa di tempat yang namanya Yoshiwara untuk orang-orang dari bidang saya. Rekan-rekan saya sudah masuk, membuat jalan-jalan, dan membangun rumah. Dari laporan yang saya peroleh, saya akan dapat dengan mudah memperoleh tempat di pinggir jalan yang baik.”

“Maksud Anda, Keluarga Tokugawa memberikan tanahnya? Cuma-cuma?”

“Tentu. Siapa mau bayar tanah rawa? Pemerintah bahkan menyediakan sebagian bahan bangunannya.”

“Oh, begitu. Tidak heran, Anda semua meninggalkan daerah Kyoto.”

“Dan bagaimana dengan Anda? Atau Anda sudah punya bayangan mendapat kedudukan pada seorang daimyo?”

“Ah, tidak. Tak ada yang seperti itu. Saya akan menerimanya, kalau ada tawaran. Saya cuma ingin melihat apa yang terjadi di Edo, karena tempat itu menjadi tempat semayam shogun, dan di masa depan dari situlah asalnya macam-macam perintah. Tentu saja sekiranya saya diminta menjadi instruktur shogun, mungkin saya terima.”

Jinnai bukan orang yang dapat menilai ilmu permainan pedang, tetapi penglihatannya atas manusia sangatlah tajam. Menurut pikirannya, lebih baik ia tidak memberikan komentar atas kecongkakan Kojiro yang tak terkendalikan itu. Karena itu, ia memalingkan muka dan mulai menyuruh anak buahnya bergerak. “Sudah waktunya kita jalan lagi.”

Onao menghitung kepala orang-orang itu, dan katanya, “Rupanya kita kehilangan satu orang. Siapa kali ini? Kicho? Atau barangkali Sumizome. Tidak, mereka berdua ada di sana. Aneh. Siapa rupanya?”

Karena tak suka berteman jalan rombongan pelacur, Kojiro berjalan sendiri.

Beberapa gadis yang pulang dari mencari gadis yang hilang itu kini kembali ke tempat Onao.

Jinnai menyatukan diri dengan mereka. “Sini, sini, Onao, jadi yang mana yang hilang?”

“Ah, saya tahu sekarang. Yang namanya Akemi,” jawabnya menyesal, seakan-akan kesalahan itu ia yang melakukan. “Yang Bapak ambil di jalan, di Kiso itu.”

“Tentunya masih di sekitar tempat ini.”

“Kami sudah mencari di mana-mana. Dia tentunya sudah lari.”

“Ah, aku tak punya perjanjian tertulis dengan dia, dan aku juga tidak meminjamkan ‘uang badan’ kepadanya. Dia bilang dia mau, dan karena wajahnya cukup menarik untuk dipasarkan, kuambil dia. Sekalipun kukira dia sudah menghabiskan biaya jalan yang lumayan, tapi tak banyak, jadi tak perlu kuatir. Biarkan saja dia. Ayo kita jalan.”

Dan mulailah ia menggiring rombongannya. Ia ingin sampai di Hachioji dalam sehari, sekalipun itu berarti berjalan sesudah matahari terbenam. Kalau mereka dapat berjalan sejauh itu, mereka akan sampai di Edo hari berikutnya.

Tidak lama kemudian, Akemi muncul kembali dan menggabungkan diri dengan mereka.

“Di mana kamu tadi?” tanya Onao marah. “Kau tak boleh berkeliaran ke mana-mana tanpa mengatakan ke mana kau pergi. Kecuali kalau kau mau meninggalkan kami.” Perempuan tua itu lalu menjelaskan dengan cara yang menurutnya benar, bahwa mereka semua sudah kuatir dengan Akemi.

“Ibu tak mengerti,” kata Akemi. Cacian perempuan tua itu hanya disambutnya dengan tawa mengikik. “Ada lelaki yang saya kenal di jalan tadi, dan saya tidak ingin dilihat olehnya. Saya lari ke rumpun bambu, tapi tak tahu di situ ada turunan. Saya tergelincir sampai ke dasar.” Ia me­nguatkan keterangannya dengan mengangkat kimononya yang sobek dan sikunya yang terkelupas. Namun selagi ia memohon maaf itu, wajahnya tidak menunjukkan sedikit pun tanda menyesal.

Dari kedudukannya yang hampir di depan, Jinnai sudah mendengar tentang apa yang terjadi, dan memanggil Akemi. Dengan garang katanya, “Namamu Akemi, kan? Akemi… ini nama yang sukar diingat. Kalau kau betul-betul mau berhasil dalam usaha ini, kau mesti mencari nama yang lebih baik. Coba katakan, apa kau sudah betul-betul mengambil keputusan akan kerja di sini?”

“Apa menjadi pelacur itu membutuhkan keputusan?”

“Ini bukan hal yang dapat kaujalani sekitar sebulan, kemudian kau pergi. Dan kalau kau menjadi anggotaku, kau mesti memberikan apa yang diminta para langganan, suka atau tidak suka. Jadi, jangan sampai keliru soal ini.”

“Buat saya, semua itu sudah tak ada bedanya. Orang-orang lelaki sudah bikin hidup saya berantakan.”

“Itu sama sekali bukan sikap yang benar. Coba pikirkan soal ini baik­-baik. Kalau kau berubah pendirian sebelum sampai Edo, itu baik. Aku takkan minta kau mengembalikan biaya makan dan penginapan.”

Hari itu juga, di Kuil Yakuoin di Takao, seorang lelaki tua yang agaknya baru lepas dari himpitan urusan usahanya, akan mulai menikmati bagian santai perjalanannya. Ia, pembantunya, dan seorang anak lelaki umur sekitar lima belas tahun, datang di sana malam sebelumnya dan meminta penginapan. Ia dan anak lelaki itu sudah mengelilingi kompleks-kompleks kuil sejak pagi-pagi benar. Sekarang sekitar tengah hari.

“Pergunakan ini untuk memperbaiki atap, atau apa saja yang perlu,” katanya. Ia menyerahkan kepada salah seorang pendeta itu tiga mata uang emas besar.

Pendeta kepala, yang mendapat berita tentang hadiah itu, demikian terkesan oleh kemurahan hati si dermawan, hingga ia bergegas keluar untuk bertukar salam. “Barangkali Anda akan meninggalkan nama?” katanya.

Pendeta lain mengatakan bahwa hal itu sudah dilakukan, dan me­nunjukkan kepadanya tulisan dalam daftar kuil, yang bunyinya, “Daizo dari Narai, pedagang ramuan, tinggal di kaki Gunung Ontake, di Kiso.”

Pendeta kepala meminta maaf dengan sangat atas rendahnya mutu makanan yang dihidangkan oleh kuil, karena Daizo dari Narai dikenal di seluruh negeri sebagai penyumbang yang dermawan kepada tempat-tempat suci dan kuil-kuil. Pemberiannya selalu berbentuk mata uang emas-dalam beberapa peristiwa, kata orang, bahkan mencapai jumlah beberapa lusin. Hanya ia seorang yang mengetahui, apakah ia melakukan itu untuk hiburan, untuk mencari nama baik, ataukah karena kesalehan.

Pendeta ingin sekali Daizo tinggal lebih lama, dan memohon kepadanya untuk melihat-lihat kekayaan kuil, suatu hak istimewa yang hanya diberikan kepada beberapa orang.

“Saya takkan lama di Edo,” kata Daizo. “Dan saya akan datang melihatnya lain kali.”

“Tentu, tentu, tapi setidaknya mari saya temani ke gerbang luar,” desak pendeta itu. “Apakah Anda punya rencana menginap di Fuchu malam ini?”

“Tidak, di Hachioji.”

“Kalau begitu, ini perjalanan yang mudah.”

“Tapi siapa penguasa Hachioji sekarang?”

“Baru-baru ini diletakkan di bawah administrasi Okubo Nagayasu.”

“Dia dulunya hakim di Nara, kan?”

“Ya, benar. Tambang emas di Pulau Sado juga di bawah pengawasannya. Dia kaya raya.”

“Orang pandai nampaknya.”

Hari masih terang ketika mereka sampai di kaki pegunungan itu, dan berdiri di jalan utama yang ramai di Hachioji, di mana kabarnya terdapat tidak kurang dari dua puluh lima penginapan.

“Nah, Jotaro, di mana kita menginap?”

Jotaro, yang menempel terus di sisi Daizo seperti bayangan, memberi isyarat dengan tanda-tanda terang, bahwa ia lebih menyukai “di mana saja, asalkan tidak di kuil.”

Daizo memilih penginapan yang paling besar dan paling mengesankan. Ia masuk dan memesan kamar. Pemunculannya yang lain daripada yang lain, dan peti perjalanannya yang anggun, dipernis dan didukung pelayan itu, menimbulkan kesan memikat pada kerani kepala. Kerani kepala berkata dengan nada menjilat, “Wah, Bapak datang dini sekali?” Penginapan-penginapan sepanjang jalan raya memang terbiasa menerima rombongan musafir pada waktu makan malam, atau bahkan lebih malam.

Daizo diantar ke sebuah kamar besar di tingkat pertama, tapi tak lama sesudah matahari terbenam, pemilik penginapan dan kerani kepala datang ke kamar Daizo.

“Saya tahu ini sangat tidak menyenangkan,” pemilik penginapan memulai dengan rendah hati, “tapi satu rombongan besar tamu datang tiba-tiba sekali. Saya takut suasana di sini akan ribut bukan main. Kalau Bapak tidak keberatan, saya persilakan sebuah kamar di tingkat dua…”

“Oh, tidak apa-apa,” jawab Daizo ramah. “Saya senang melihat usaha Anda maju.”

Daizo memberikan isyarat kepada Sukeichi, pelayannya, agar mengurus barang bawaannya, dan ia naik ke atas. Begitu ia pergi, ruang itu pun diserbu perempuan-perempuan dari Sumiya itu.

Penginapan jadi tidak sekadar sibuk, tapi ingar-bingar. Karena ributnya keadaan di bawah, para pelayan tidak datang pada waktu dipanggil. Makan malam terlambat, dan ketika mereka selesai makan, tak seorang pun datang untuk menyingkirkan pinggan dan mangkuk. Belum lagi suara entakan kaki yang tak henti-hentinya di kedua lantai. Hanya rasa simpati Daizo kepada orang upahan saja yang membuat ia tidak kehilangan kesabaran. Tanpa menghiraukan pinggan-mangkuk yang masih berantakan di kamar, ia membaringkan diri, tidur berbantal tangan. Beberapa menit kemudian, tiba-tiba terpikir olehnya sesuatu, dan la memanggil Sukeichi.

Sukeichi tidak muncul, karena itu Daizo membuka mata, duduk dan berseru, “Jotaro, sini!”

Tapi Jotaro pun sudah lenyap.

Daizo berdiri dan pergi ke beranda. Dilihatnya beranda penuh deretan tamu yang gembira menonton para pelacur di lantai pertama.

Melihat Jotaro ada di antara para penonton, direnggutkannya anak itu kembali ke kamarnya. Dengan sorot mata menakutkan, ia bertanya, “Apa yang kautatap itu?”

Pedang kayu panjang yang tidak dilepas Jotaro, sekalipun di dalam ruangan, menggaruk tatami ketika ia duduk. “Semua orang melihat,” kata­nya.

“Tapi apa yang mereka lihat?”

“Ada banyak perempuan di kamar belakang, di bawah.”

“Cuma itu?”

“Ya.”

“Apa pula yang menyenangkan, kalau cuma itu?” Hadirnya para pelacur itu sama sekali tidak mengganggu Daizo, tapi karena alasan tertentu, ia merasa bahwa niat besar para lelaki yang menganga melihat mereka itu menjengkelkan.

“Saya tidak tahu,” jawab Jotaro jujur.

“Aku mau jalan-jalan keliling kota,” kata Daizo. “Sementara aku pergi, kau tinggal di sini.”

“Saya tak boleh ikut?”

“Waktu malam tidak.”

“Kenapa tak boleh?”

“Seperti kukatakan sebelumnya, kalau aku pergi jalan-jalan, itu bukan sekadar buat menyenangkan diri.”

“Apa belum cukup yang Bapak dapat dari tempat-tempat suci dan kuil­kuil itu pada siang hari? Pendeta-pendeta juga tidur waktu malam.”

“Agama itu lebih dari sekadar tempat suci dan kuil, anak muda. Sekarang panggil Sukeichi kemari. Dia bawa kunci peti perjalananku.”

“Dia pergi turun beberapa menit lalu. Saya lihat dia mengintip ke kamar perempuan-perempuan itu.”

“Oh, dia juga?” seru Daizo, mendecapkan lidahnya. “Pergi sana panggil dia, dan cepat!” Sesudah Jotaro pergi, Daizo mulai mengikatkan obi-nya.

Mendengar bahwa perempuan-perempuan itu adalah pelacur Kyoto yang terkenal kecantikannya dan kecakapannya dalam melakukan segala sesuatu, maka tamu-tamu lelaki tak dapat berhenti memestakan mata mereka. Sukeichi demikian asyik melihat pemandangan itu, hingga mulutnya masih menganga ketika Jotaro menemukannya.

“Ayo, sudah cukup kau melihat!” bentak anak itu sambil menjewer telinga si pelayan.

“Oh!” pekik Sukeichi.

“Tuanmu memanggil.”

“Bohong.”

“Tak percaya! Dia bilang akan pergi jalan-jalan. Dia selalu jalan-jalan, kan?”

“Ha? Baik, kalau begitu,” kata Sukeichi, enggan menolehkan mukanya.

Anak itu membalikkan badan mengikutinya, ketika tiba-tiba saja ada suara memanggilnya, “Jotaro? Kau Jotaro, kan?”

Suara itu suara perempuan muda. Jotaro menoleh ke sekitar, mencari­cari. Harapannya untuk menemukan gurunya dan Otsu tak pernah lenyap dari hatinya. Mungkinkah mereka? Ia menatap tegang lewat cabang-cabang rumpun pohon.

“Siapa itu?”

“Aku.”

Wajah yang muncul dari tengah dedaunan itu dikenalnya. “Oh, kau.”

Akemi dengan kasar menepuk punggungnya. “Anak bandel! Kan sudah lama betul kita tak jumpa! Apa kerjamu di sini?”

“Aku bisa juga tanya begitu.”

“Oh, aku… ah, tapi itu tak ada artinya buatmu.”

“Apa kau jalan sama perempuan-perempuan itu?”

“Betul, tapi aku belum ambil keputusan.”

“Ambil keputusan soal apa?”

“Jadi anggota mereka atau tidak,” jawab Akemi mengeluh. Lama kemudian baru ia bertanya, “Apa kerja Musashi sekarang ini?”

Jotaro mengerti, itulah yang sesungguhnya ingin diketahui Akemi. Ia ingin bisa menjawab pertanyaan itu.

“Otsu, Musashi, dan aku… kami terpisah di jalan raya.”

“Otsu? Siapa dia?” Baru saja mengucapkan itu, teringat olehnya. “Oh ya, aku tahu. Apa masih juga dia mengejar-ngejar Musashi?” Akemi sudah terbiasa menganggap Musashi seorang shugyosha gagah yang mengembara seenak hatinya, hidup di hutan dan tidur di batu-batu telanjang. Sekalipun misalnya ia berhasil mengejar Musashi, Musashi langsung dapat mengetahui betapa cabul hidup yang telah ditempuhnya, dan akan menghindarinya. Sudah lama ia tidak lagi memikirkan bahwa cintanya akan berbalas.

Tetapi disebutnya nama perempuan lain itu membangkitkan perasaan cemburu, dan mengusik kembali bara naluri cintanya yang sedang sekarat.

“Jotaro,” katanya, “di sekitar tempat ini begitu banyak mata yang ingin tahu. Mari kita pergi ke tempat lain.”

Mereka pergi lewat gerbang halaman. Di jalan, mata mereka berpesta menikmati lampu-lampu Hachioji dan kedua puluh lima penginapannya. Itulah kota tersibuk yang pernah mereka saksikan semenjak meninggalkan Kyoto. Di sebelah barat laut, menjulang jajaran Pegunungan Chichibu yang gelap diam, dan pegunungan yang menandai perbatasan Provinsi Kai, tapi di sini suasana penuh aroma sake, ribut oleh detak-detik buluh penenun, teriakan pegawai-pegawai pasar, pekik riuh para penjudi, dan rengekan lesu penyanyi-penyanyi jalanan.

“Sering aku mendengar Matahachi menyebut nama Otsu,” kata Akemi berbohong. “Orang macam apa dia?”

“Oh, dia baik sekali,” kata Jotaro seadanya. “Manis, lembut, baik budi, dan cantik. Aku suka sekali padanya.”

Ancaman yang terasa mengawang di atas Akemi jadi bertambah hebat, tapi ia menyelimuti perasaannya dengan senyuman ramah. “Apa dia memang sebaik itu?”

“Memang. Dan dia dapat melakukan apa saja. Dia dapat menyanyi, dapat menulis dengan baik, dan dia dapat main suling.”

Sekarang Akemi tampak gusar, katanya, “Ah, tapi aku tak melihat gunanya perempuan main suling.”

“Kalau kau tak cocok, boleh saja, tapi semua orang memuji Otsu, ter­masuk Yang Dipertuan Yagyu Sekishusai. Cuma ada satu hal kecil yang tak kusukai.”

“Semua perempuan punya kekurangan. Soalnya cuma, apa mereka mau mengakuinya dengan jujur, seperti yang kuperbuat, atau mencoba me­nyembunyikan kekurangan itu di balik sikap wanita terhormat.”

“Otsu bukan orang macam itu. Cuma ada kelemahan kecil pada dia.”

“Kelemahan apa?”

“Dia selalu nangis. Betul-betul cengeng.”

“Oh? Kenapa begitu?”

“Dia selalu nangis kalau memikirkan Musashi. Akibatnya murung juga ada di dekatnya, dan itu aku tak suka.” Jotaro menyatakan pendapatnya dengan sikap masa bodoh kanak-kanak, tak sadar akan akibat yang bisa ditimbulkannya.

Hati Akemi dan seluruh tubuhnya terbakar apt cemburu. Hal itu tampak di kedalaman matanya, bahkan juga pada warna kulitnya. Tapi ia meneruskan pertanyaannya. “Berapa tahun umurnya?”

“Kira-kira sama.”

“Maksudmu, sama dengan aku?”

“Ya. Tapi dia kelihatan lebih muda dan lebih manis.”

Akemi sekarang nekat menyerang, dengan harapan agar Jotaro menentang Otsu. “Musashi lebih jantan dari kebanyakan lelaki. Dia tentu benci melihat perempuan yang berlaku tak pantas terus-menerus. Otsu barangkali mengira air matanya dapat memenangkan simpati pria, macam gadis-gadis yang bekerja untuk Sumiya.”

Jotaro jengkel sekali, dan jawabnya pedas, “Tak benar sama sekali. Pertama-tama, Musashi suka Otsu. Memang dia tak pernah memperlihatkan perasaannya, tapi dia mencintai Otsu.”

Wajah Akemi yang kemerahan itu berubah menjadi merah tua. Ingin ia menceburkan diri ke sungai, untuk memadamkan nyala api yang membakar dirinya.

“Jotaro, ayo kita ke sini.” Ia tarik Jotaro ke arah lampu merah di sebuah jalan kecil.

“Tapi itu tempat minum.”

“Lalu, apa salahnya?”

“Itu bukan tempat untuk perempuan. Kau tak boleh pergi ke sana.”

“Tiba-tiba saja aku ingin sekali minum, dan aku tak bisa pergi sendiri. Aku malu.”

“Kau malu. Tapi aku sendiri bagaimana?”

“Di situ ada makanan juga. Kau bisa makan apa saja yang kausukai.”

Sepintas lalu, warung itu kelihatan kosong, Akemi langsung masuk. Sambil menghadap dinding, katanya, “Saya mau sake.”

Mangkuk demi mangkuk diteguk dengan kecepatan yang masih mungkin dicapai manusia. Kuatir melihat banyaknya Akemi minum, Jotaro mencoba menghambatnya, tapi Akemi menepiskannya.

“Diam!” pekiknya. “Kau ini mengganggu saja! Kasih sake lagi! Sake!”

Sambil menyelipkan diri antara Akemi dan guci sake, Jotaro memohon, “Kau mesti berhenti sekarang. Kau tak boleh minum terus macam ini.”

“Jangan kuatir,” kata Akemi cepat. “Kau teman Otsu, kan? Aku tak suka perempuan yang mencoba menaklukkan lelaki dengan air mata!”

“Dan aku tak suka perempuan mabuk.”

“Aku minta maaf, tapi bagaimana mungkin orang kerdil macam kau mengerti kenapa aku minum?”

“Ayolah, bayar saja sekarang.”

“Kaupikir aku punya uang?”

“Kau tak punya?”

“Tidak. Barangkali dia bisa ambil uangnya dari Sumiya. Aku toh sudah menjual diri kepada pemiliknya.” Air mata membanjiri mata Akemi. “Aku minta maaf…. Aku betul-betul minta maaf.”

“Jadi kau menertawakan Otsu karena nangis, kan? Tapi coba lihat diri­mu itu!”

“Air mataku lain dengan air matanya. Oh, hidup ini banyak sekali kesulitannya. Lebih baik aku mati.”

Sesudah mengucapkan kata-kata itu, Akemi berdiri dan enyah ke jalan. Tukang warung yang memang biasa mendapat pembeli macam itu hanya tertawa, tapi seorang ronin yang selama itu tidur tenang di sudut warung, membuka matanya yang muram dan menatap punggung Akemi yang kian menjauh.

Jotaro mengejarnya dan menangkap pinggangnya, tapi terlepas. Akemi lari masuk jalan gelap, dan Jotaro mengejarnya.

“Berhenti!” teriak Jotaro kuatir. “Kau tak boleh berpikir begitu. Ayo kembali!”

Akemi kelihatannya tak peduli, apakah ia menubruk sesuatu dalam kegelapan atau jatuh ke paya-paya, tapi ia sadar sepenuhnya akan permintaan Jotaro. Ketika menceburkan diri ke laut di Sumiyoshi dulu, ia memang mau bunuh diri, tapi sekarang ia tidak lagi sepolos dulu. Melihat Jotaro demikian kuatir akan dirinya, ia merasakan getaran nikmat.

“Awas!” teriak Jotaro, ketika melihat Akemi langsung menuju air parit yang kelam. “Berhenti! Kau mau mati, ya? Gila kau.”

Sekali lagi Jotaro menangkap pinggangnya, dan Akemi pun melolong, “Apa salahnya kalau aku mati? Kaupikir aku jahat. Begitu juga pikir Musashi. Setiap orang berpikir begitu. Tak ada lagi pilihanku, kecuali mati sambil memeluk Musashi dalam hati. Takkan kubiarkan dia direbut pe­rempuan macam itu dari tanganku.”

“Kau betul-betul kacau. Bagaimana bisa kau jadi begini?”

“Tak peduli. Sekarang tinggal kaudorong aku masuk parit. Ayolah, Jotaro, dorong aku.” Sambil menutup muka dengan kedua tangan, pecahlah tangisnya. Hal itu menimbulkan rasa ngeri yang aneh dalam diri Jotaro, dan ia merasa ingin menangis juga.

“Ayolah, Akemi. Mari kita pulang.”

“Oh, begitu ingin aku melihat dia. Cobalah cari dia Jotaro. Cari Musashi untukku.”

“Berdiri diam-diam! Jangan bergerak, berbahaya!”

“Oh, Musashi!”

“Awas!”

Pada waktu itu, ronin dari warung sake itu muncul dari kegelapan. “Pergi kau, anak kecil!” perintahnya. “Akan kukembalikan dia ke warung.” Ia selipkan tangannya di kedua ketiak Jotaro, dan dengan kasar ia angkat anak itu ke pinggir.

Ronin itu bertubuh jangkung, umurnya tiga puluh empat atau tiga puluh lima tahun, matanya dalam dan jenggotnya lebat. Sebuah tanda bekas luka menggores dari bawah telinga kanan ke dagu. Tidak sangsi lagi, itu luka bekas pedang. Tampaknya seperti koyakan bergerigi pada buah persik apabila dibuka.

Sambil menelan ludah dengan susah payah untuk mengatasi rasa takutnya, Jotaro mencoba membujuk. “Akemi, ayolah ikut aku. Semuanya akan beres.” Kepala Akemi kini terkulai di dada samurai itu.

“Lihat,” kata orang itu, “dia sudah tertidur. Pergi kau! Akan kubawa dia pulang nanti.”

“Tidak! Biarkan dia pergi!”

Ketika anak itu menolak beranjak, ronin itu pelan-pelan mengulurkan satu tangannya dan menangkap kerah Jotaro.

“Lepaskan!” jerit Jotaro, melawan sekuat tenaga.

“Bajingan kecil! Bagaimana kalau kau dilemparkan ke parit?”

“Siapa yang melemparkan?” Ia menggeliatkan badan untuk melepaskan diri. Begitu terlepas, tangannya meraba ujung pedang kayunya. Ia ayunkan pedang itu ke lambung orang tersebut, tapi ternyata tubuhnya sendiri terjungkir balik dan jatuh ke batu di pinggir jalan. Ia merintih sejenak, kemudian diam.

Jotaro pingsan beberapa waktu lamanya, kemudian mulai mendengar suara-suara di sekitarnya.

“Hei, bangun!”

“Apa yang terjadi?”

Ketika ia membuka mata, samar-samar tampak olehnya sejumlah orang mengelilinginya.

“Sudah sadar?”

“Kau baik-baik saja?”

Malu karena telah menarik perhatian orang banyak, Jotaro memungut pedang kayunya dan pergi, tapi seorang kerani penginapan mencengkeram tangannya. “Tunggu sebentar,” salaknya. “Apa yang terjadi dengan perempuan temanmu itu?”

Jotaro memandang ke sekitar, dan ia mendapat kesan bahwa orang-orang yang lain itu juga dari penginapan, tamu-tamu dan pegawai penginapan. Sebagian orang itu membawa tongkat. Yang lain memegang lentera kertas bulat.

“Satu orang mengatakan kau diserang, dan seorang ronin membawa pergi perempuan itu. Apa kau tahu ke mana mereka pergi?”

Jotaro menggeleng. Kepalanya masih pusing.

“Tidak mungkin. Kau mestinya tahu.”

Jotaro menuding arah pertama yang dapat ditudingnya. “Sekarang saya ingat. Ke situ!” Ia enggan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi, karena takut mendapat teguran Daizo gara-gara terlibat soal itu. Ia juga takut mengakui di depan begitu banyak orang bahwa ronin itu sudah melempar­kannya.

Walaupun jawaban itu samar-samar, orang banyak itu bergegas juga ke sana, dan tak lama kemudian terdengar teriakan. “Ini dia! Ada di sini!”

Lentera-lentera berkerumun di sekitar Akemi. Tubuhnya yang kusut ­masai terbaring di tempat ia ditelantarkan, di atas setumpuk jerami dalam lumbung seorang petani. Ia baru tersadar kembali sesudah mendengar ribut langkah kaki orang berlari, dan ia memaksa dirinya berdiri. Bagian depan kimononya terbuka, obi-nya tergeletak di tanah. Jerami menempel pada rambut dan pakaiannya.

“Apa yang terjadi?”

Kata “perkosaan” menggantung di bibir setiap orang, tapi tak ada yang mengucapkannya. Dan tak seorang pun di antara mereka terpikir akan mengejar bajingan itu. Apa pun yang terjadi dengan Akemi, mereka merasa ia sendiri yang bersalah.

“Mari kita kembali,” kata seseorang sambil menggandeng tangan Akemi. Akemi cepat menarik dirinya. Ia menempelkan wajahnya ke dinding, dan menangis sedih sekali.

“Rupanya dia mabuk.”

“Bagaimana dia bisa sampai begitu?”

Jotaro mengawasi adegan itu dari kejauhan. Apa yang terjadi dengan Akemi tak jelas baginya, tapi bagaimanapun ia teringat pengalaman yang tak ada hubungannya sama sekali dengan Akemi. Terkenang kembali oleh­nya rangsangan yang pernah dialaminya ketika ia terbaring di lumbung makanan ternak di Koyagyu, bersama Kocha. Terkenang olehnya rasa takut yang anehnya menggairahkan, rasa takut akan langkah-langkah yang waktu itu sedang mendekat. Tapi cuma sebentar ia menikmati kenangan itu. “Lebih baik aku kembali,” katanya memutuskan.

Langkahnya menjadi cepat, dan semangatnya yang baru kembali dari wilayah tak dikenal itu menggerakkannya untuk menyanyikan lagu.

Oh, Budha logam tua yang berdiri di ladang, Kaulihatkah gadis umur enam belas? Tak kaulihatkah gadis itu? Kalau ditanya, jawabmu ‘Bung.’ Kalau dipukul, katamu ‘Bung. “

Jangkrik di Rumput

JOTARO berjalan dengan langkah santai, tanpa banyak memperhatikan jalan. Tiba-tiba ia berhenti dan menoleh sekeliling, ingin tahu apakah ia tidak tersesat. “Rasanya aku belum pernah jalan di sini,” pikirnya bingung.

Rumah-rumah samurai melingkari sisa-sisa sebuah benteng kuno. Satu bagian kompleks itu telah dibangun kembali, sebagai tempat bersemayam resmi Okubo Nagayasu yang belum lama diangkat, tapi selebihnya daerah yang meninggi seperti bukit alamiah itu masih tertutup rumput liar dan pepohonan. Kubu-kubu batu di situ sudah runtuh, dijarah oleh tentara penyerbu bertahun-tahun sebelumnya. Kubu di situ tampak primitif diban­dingkan dengan kompleks benteng empat puluh sampai lima puluh tahun terakhir. Tak ada parit benteng, tak ada jembatan, tak ada barang yang dapat dilukiskan sebagai dinding benteng. Benteng itu barangkali dulunya milik salah seorang bangsawan setempat, seorang daimyo yang di masa sebelum perang saudara besar menggabungkan milik pertaniannya dengan kepangeranan feodal yang lebih besar.

Pada satu sisi jalan terdapat sawah-sawah dan rawa-rawa, pada sisi lain dinding-dinding benteng, dan di sebelah luarnya batu karang. Di atas batu karang itu tentunya dulu berdiri sebuah benteng.

Jotaro berusaha mengetahui posisinya, matanya mengembara menelusuri batu karang. Kemudian ia lihat ada sesuatu yang bergerak, berhenti, dan kemudian bergerak lagi. Semula sesuatu itu tampak seperti binatang, tapi segera kemudian bayangan yang bergerak mencuri-curi itu menjadi sosok seorang manusia. Jotaro menggigil, tapi ia berdiri terus menatapnya.

Orang itu menurunkan tali dengan sangkutan yang diletakkan di puncak karang. Ia meluncur turun dengan bergantung pada tali itu, dan sesudah mendapat tempat berpijak, ia guncangkan sangkutan itu sampai lepas, dan ia ulangi lagi proses itu. Sesampainya di bawah, ia menghilang dalam be­lukar.

Rasa ingin tahu Jotaro bangkit. Beberapa menit kemudian, ia lihat orang itu berjalan menyusuri pematang yang memisahkan petak-petak padi, dan agaknya langsung menuju dirinya. Hampir saja ia panik, tapi kemudian ia merasa tenang melihat bungkusan di punggung orang itu. “Sungguh membuang-buang waktu! Tak lebih dari seorang petani yang mencuri kayu api.” Pikirnya, orang itu tentunya gila, karena mau membahayakan hidup dengan mendaki batu karang, sekadar untuk mengambil kayu bakar. Ia juga kecewa. Hal yang semula misterius, kini jadi membosankan sekali. Tapi kemudian ia mendapat guncangan kedua. Ketika orang itu berjalan melewati pohon yang dipakainya ber­sembunyi, terpaksa ia tergagap. Ia yakin bahwa sosok hitam itu Daizo.

“Ah, tak mungkin,” katanya pada diri sendiri.

Orang itu menutup wajahnya dengan kain hitam dan mengenakan celana tanggung petani, juga pembalut kaki dan sandal jerami ringan.

Orang misterius itu membelok ke jalan setapak yang melingkari bukit. Orang yang demikian tegap bahunya dan ringan langkahnya tak mungkin berumur lima puluhan, sebagaimana halnya Daizo. Sesudah meyakinkan dirinya bahwa ia keliru, Jotaro mengikuti dari belakang. Ia mesti kembali ke penginapan, dan orang itu tanpa disadarinya tentunya bisa membantunya menemukan jalan.

Ketika orang itu sampai di sebuah tanda jarak jalan, ia menurunkan bungkusannya, yang sepertinya sangat berat. Ketika ia membungkuk untuk membaca tulisan pada batu itu, ada hal lain pada orang itu yang memukau Jotaro sebagai hal yang sudah dikenalnya.

Sementara orang itu mendaki jalan setapak naik bukit, Jotaro memeriksa tanda jalan itu. Di situ terukir kata-kata Pohon Pinus di Bukit Kuburan Kepala-di Atas. Inilah tempat penduduk setempat menguburkan kepala kriminal dan prajurit yang kalah.

Cabang-cabang pohon pinus yang besar sekali itu tampak jelas pada latar belakang langit malam. Begitu Jotaro sampai di puncak tanjakan, orang itu sudah duduk di dekat akar pohon, dan sedang merokok pipa. Daizo! Tak perlu dipersoalkan lagi sekarang. Seorang petani tak pernah membawa tembakau. Ada memang tembakau yang ditanam di dalam negeri dan berhasil, tapi jumlahnya demikian terbatas, hingga harganya masih sangat mahal. Di daerah Kansai yang relatif makmur pun tembakau masih dianggap sebagai kemewahan. Dan di Sendai, bila Yang Dipertuan Date merokok, juru tulis merasa perlu membuat daftar dalam buku hariannya, “Pagi tiga rokok, sore empat rokok, sebelum tidur satu rokok.”

Di luar persoalan keuangan, kebanyakan orang yang memiliki kesempatan mencoba tembakau, merasa bahwa tembakau itu membuat mereka pusing, dan bahkan hampir mabuk. Sekalipun tembakau mendapat penghargaan karena rasanya, pada umumnya ia dianggap narkotika.

Jotaro tahu bahwa jumlah perokok tidak banyak. Ia tahu juga bahwa Daizo adalah salah seorang perokok itu, karena ia sering melihat Daizo mengeluarkan pipa keramik yang bagus buatannya. Tapi hal itu tak pernah kelihatan janggal olehnya, karena Daizo memang orang kaya dan seleranya mahal.

“Apa yang dilakukannya?” pikirnya tak sabar. Karena sudah terbiasa dengan bahaya mengancam, sedikit-sedikit ia merangkak mendekati.

Selesai mengisap, saudagar itu berdiri, melepas kain kepalanya yang hitam, dan menyelipkannya ke pinggang. Kemudian pelan-pelan ia berjalan mengelilingi pohon pinus. Hal berikut yang diketahui Jotaro, Daizo me­megang sekop. Dan mana datangnya sekop itu? Sambil bertelekan pada sekop, Daizo memandang sekelilingnya, ke arah pemandangan malam, agaknya sedang mengingat-ingat lokasi tersebut.

Daizo kelihatan puas, kemudian menggulingkan sebuah batu besar ke sisi utara pohon dan mulai menggali dengan giat, tanpa menoleh ke kanan atau ke kiri. Jotaro melihat lubang itu semakin dalam, sampai cukup untuk orang berdiri. Akhirnya Daizo berhenti dan menghapus keringat di wajahnya dengan saputangan. Jotaro tetap diam tak bergerak. Ia betul-betul tercengang.

“Cukuplah ini,” bisik saudagar itu pelan, selesai menginjak-injak tanah lunak di dasar lubang. Sesaat Jotaro ingin sekali memanggil dan meng­ingatkan Daizo untuk tidak mengubur dirinya sendiri, tapi tidak jadi.

Daizo meloncat ke atas, lalu menarik bungkusan berat itu dari dekat pohon ke tepi lubang, dan melepaskan tali rami di bagian atasnya. Semula Jotaro mengira karung itu terbuat dari kain, tapi sekarang ia dapat melihat bahwa karung itu jubah kulit yang berat, seperti yang biasa dipakai para jenderal menutup ketopong. Di dalamnya terdapat karung lain dari kain terpal atau sebangsanya. Ketika karung itu dibuka, tampaklah bagian atas tumpukan emas yang sukar dipercaya-batangan setengah silinder yang dibuat dengan menuangkan cor-coran emas ke dalam belahan bambu.

Dan masih ada lagi yang menyusul. Daizo melonggarkan obi-nya dan melepaskan bebannya, berupa beberapa lusin kepingan emas besar yang baru selesai dicetak, yang semula dimasukkan dalam kantong di bagian perut, bagian belakang kimono, dan bagian-bagian lain pakaiannya. Kepingan-­kepingan itu diletakkannya rapt di atas batangan, kemudian ia ikat kedua wadah itu baik-baik dan ia masukkan bungkusan itu ke dalam lubang, seperti mencemplungkan bangkai anjing. Kemudian ia timbunkan tanah kembali, ia injak-injak, dan ia kembalikan batu itu. Akhirnya ia sebarkan rumput kering dan ranting-ranting kayu di sekitar batu.


Cerita Novel Musashi buku 5, karangan Eiji Yoshikawa, terbitan gramedia, di kutip dari Website:
http://topmdi.com/ceritawp/?cat=72
[lihat: Lanjutan cerita]


0 KOMENTAR ANDA:

Posting Komentar