Saturday, May 10, 2008

Miyamoto Musashi, Buku 5-2


Cerita Novel Musashi buku 5, karangan Eiji Yoshikawa, terbitan gramedia.
[Lihat: Pengantar] [lihat: Cerita Sebelumnya]


Dan mulailah ia mengubah diri kembali menjadi Daizo dari Narai yang terkenal, pedagang ramuan yang makmur. Pakaian petani yang dililitkan ke sekop disembunyikan dalam semak, yang sedikit kemungkinannya ditemukan orang lain. Ia mengenakan jubah perjalanan dan menggantungkan kantong uangnya di leher, seperti pendeta keliling. Ia masukkan kakinya ke dalam zori, dan gumamnya puas, “Lumayan juga kerja malam ini.”

Ketika Daizo sudah berada di luar jarak pendengaran, Jotaro muncul dari tempat persembunyiannya dan pergi ke batu itu. Walaupun diperhatikan­ nya tempat itu baik-baik, ia tak dapat menemukan jejak segala yang baru saja ia saksikan. Ia menatap tanah itu, seakan-akan menatap telapak tangan tukang sulap yang kosong.

“Lebih baik aku pergi sekarang,” pikirnya tiba-tiba. “Kalau aku tak ada di tempat ketika dia kembali di penginapan, dia akan curiga.” Karena lampu-lampu kota sekarang tampak di bawahnya, tak sulit ia menempuh jalannya. Sambil berlari kencang, ia berusaha terus berada di jalan samping yang jauh dari jalan yang ditempuh Daizo.

Dengan wajah betul-betul polos, ia daki tangga penginapan dan masuk ke kamarnya. Ia beruntung. Sukeichi sedang telungkup pada peti perjalanan yang dipernis itu, sendirian, dan tidur lelap. Air liur meleleh ke dagunya.

“Hei, Sukeichi, bisa masuk angin kau di sini.” Dengan sengaja Jotaro mengguncangnya supaya bangun.

“Oh, kau, ya?” kata Sukeichi lambat-lambat, sambil menggosok mata. “Apa kerjamu sampai malam begini, tanpa bilang Bapak?”

“Kau gila, ya? Aku sudah berjam-jam kembali. Kalau kau tidak tidur, pasti kau tahu.”

“Jangan bohong kau. Aku tahu kau pergi dengan perempuan dari Sumiya itu. Kalau sekarang saja kau sudah mengejar-ngejar pelacur, benci aku me­mikirkan bagaimana perbuatanmu nanti kalau besar.”

Justru waktu itu Daizo membuka shoji. “Aku kembali,” hanya itu yang dikatakannya.

Pagi-pagi sekali, orang harus sudah berangkat agar dapat sampai di Edo sebelum malam tiba. Jinnai sudah membawa rombongannya turun ke jalan, jauh sebelum matahari terbit, termasuk Akemi. Tapi Daizo, Sukeichi, dan Jotaro tenang saja sarapan, dan belum juga berangkat sampai matahari cukup tinggi di langit.

Seperti biasa, Daizo berjalan di depan, Jotaro mengikuti di belakang bersama Sukeichi, dan inilah yang tidak biasa.

Akhirnya Daizo berhenti, dan tanyanya, “Apa yang terjadi denganmu pagi ini?”

“Bagaimana, Pak?” Jotaro berusaha agar kelihatan tak acuh.

“Ada yang tak beres?”

“Tidak, sama sekali tidak. Kenapa Bapak bertanya begitu?”

“Kau kelihatan murung. Tidak seperti biasanya.”

“Tak ada apa-apa, Pak. Saya cuma berpikir. Kalau saya terus tinggal dengan Bapak, tak tahulah saya, apa saya akan pernah ketemu guru saya. Ingin saya mencarinya sendiri, kalau Bapak tidak keberatan.”

Tanpa ragu jawab Daizo, “Keberatan!”

Jotaro sebetulnya sudah mendekat dan mulai memegang lengan orang itu, tapi sekarang ia menarik kembali tangannya, dan tanyanya bingung. “Kenapa?”

“Mari kita istirahat sebentar,” kata Daizo, duduk di dataran berumput yang membuat Provinsi Musashi sangat terkenal itu. Begitu duduk, ia memberikan isyarat pada Sukeichi untuk jalan terus.

“Tapi saya mesti mencari guru saya… selekasnya,” kilah Jotaro.

“Aku sudah bilang, kau tak boleh pergi sendiri.” Dengan wajah garang, Daizo memasukkan pipa keramik ke mulutnya dan mengisapnya. “Sejak hari ini, kau jadi anakku.”

Suaranya kedengaran sungguh-sungguh. Jotaro menelan ludah, tapi Daizo tertawa. Jotaro menyimpulkan semua itu hanya lelucon, katanya, “Tak bisa saya terima. Saya tak mau jadi anak Bapak.”

Apa?”

“Bapak seorang saudagar, sedangkan saya ingin jadi samurai.”

“Aku yakin kau melihat sendiri, bahwa Daizo dari Narai bukan orang kota biasa, yang tanpa kehormatan atau latar belakang. Jadilah anak angkatku, akan kubuat kau menjadi samurai sejati.”

Dengan perasaan cemas, Jotaro sadar bahwa Daizo sungguh-sungguh dengan ucapannya. “Apa boleh saya bertanya, kenapa Bapak tiba-tiba saja mengambil keputusan itu?” tanya anak itu.

Dalam sekejap mata, Daizo menangkapnya dan mencengkeramnya ke sisinya. Dilekatkannya mulutnya ke telinga anak itu, dan bisiknya, “Kau melihat aku, kan, bajingan kecil?”

“Saya lihat Bapak?”

“Ya, kau mengawasi aku, kan?”

“Saya tak mengerti apa yang Bapak bicarakan ini. Mengawasi apa?”

“Yang kulakukan semalam.”

Jotaro berusaha sekuat-kuatnya untuk tetap tenang.

“Kenapa kaulakukan itu?”

Pertahanan anak itu hampir runtuh.

“Kenapa kau mengintip-intip urusan pribadiku?”

“Maaf.” ujar Jotaro. “Saya betul-betul minta maaf. Takkan saya ceritakan pada siapa-siapa.”

“Pelankan suaramu! Aku takkan menghukummu. Sebaliknya, kau akan menjadi anak angkatku. Kalau kau menolak, berarti kau tidak memberi pilihan padaku, kecuali membunuhmu. Nah, jangan paksa aku berbuat begitu. Kupikir kamu anak baik, anak yang sangat menyenangkan.”

Untuk pertama kali dalam hidupnya, Jotaro mulai merasakan takut yang sebenar-benarnya. “Maaf,” ulangnya sungguh-sungguh. “Jangan bunuh saya. Saya tak mau mati!” Seperti burung kutilang yang tertangkap, ia menggeliat­-geliat takut dalam tangan Daizo. Ia takut kalau ia benar-benar memberontak, tangan maut akan langsung menerkamnya.

Jotaro merasakan cengkeraman Daizo seperti catok, padahal Daizo sama sekali tidak erat memegangnya. Bahkan ketika ia menarik Jotaro ke pangku­annya, sentuhan tangannya hampir-hampir mesra. “Nah, kau mau jadi anakku, kan?” Janggutnya yang kaku menggores pipi Jotaro.

Meskipun Jotaro tidak akan dapat menyebutkannya, tapi ia merasa bahwa yang membelenggunya adalah bau orang dewasa, bau lelaki. Di pangkuan Daizo ia seperti bayi saja, tidak dapat melawan, bahkan tak dapat berbicara.

“Kau sendiri yang mesti memutuskan. Kau mau kupungut anak atau mau mati? Jawab sekarang juga!”

Sambil melolong, anak itu menangis keras. Ia gosok wajahnya dengan jari-jarinya yang kotor, sampai genangan-genangan kecil keruh bermunculan di kedua sisi hidungnya.

“Kenapa menangis? Kau beruntung mendapat kesempatan ini. Kujamin kau akan jadi samurai besar, setelah aku selesai mendidikmu.”

“Tapi…

“Apa itu?”

“Bapak adalah… Bapak adalah…”

“Ya?”

“Saya tak bisa mengatakannya.”

“Keluarkan. Bicaralah. Orang mesti mengemukakan pikiran dengan singkat dan jelas.”

“Bapak adalah… yah, pekerjaan Bapak adalah mencuri.” Sekiranya tangan Daizo tidak memegangnya, Jotaro pasti sudah enyah seperti rusa. Tetapi pangkuan Daizo itu seperti lubang yang dalam, dan dinding-dinding lubang itu tidak memungkinkannya bergerak.

“Heh-heh-heh,” Daizo terkekeh sambil menampar punggung Jotaro dengan main-main. “Apa cuma itu yang jadi beban pikiranmu?”

“Ya-y-y-ya.”

Bahu orang yang kasar badannya itu berguncang karena tawa. “Aku memang jenis orang yang bisa mencuri seluruh negeri ini, tapi aku bukan pencuri biasa atau penyamun. Lihat Ieyasu, Hideyoshi, atau Nobunaga, ­mereka semua prajurit yang mencuri, atau mencoba mencuri seluruh bangsa ini, kan? Ikutlah saja denganku, dan hari-hari ini kau akan mengerti.”

“Jadi, Bapak bukan pencuri?”

“Aku tak mau susah-susah dengan urusan yang begitu tak menguntung­kan.” Ia mengangkat anak itu dari lututnya, katanya, “Sekarang jangan kau mengoceh lagi, dan mari kita jalan terus. Sejak saat ini, kau jadi anakku. Aku akan jadi ayah yang baik untukmu. Janji, kau takkan mengucapkan sepatah kata pun tentang apa yang kaulihat semalam. Kalau kau buka mulut, kupuntir lehermu.”

Jotaro percaya kepadanya.

Perintis

PADA suatu hari, dekat akhir bulan kelima, ketika Osugi sampai di Edo, udara panas dan lembap, seperti biasa terjadi pada musim hujan, tapi tidak datang hujan. Selama hampir dua bulan sejak meninggalkan Kyoto, ia berjalan dengan langkah santai, sambil sekali-sekali mengobati rasa sakit dan nyeri yang dideritanya, atau mengunjungi tempat-tempat suci dan kuil.

Kesan pertama yang diperolehnya tentang ibu kota shogun itu tidak menyenangkan. “Kenapa mesti membangun rumah di rawa-rawa macam ini?” ujarnya menghina. “Rumput liar dan rumput mendong bahkan belum dibersihkan.”

Karena kemarau yang salah musim, kabut debu mengambang di atas jalan raya Takanawa, dengan pohon-pohonnya yang baru ditanam dan tanda-tanda jarak yang belum lama didirikan. Dataran antara Shioiri dan Nihombashi penuh dengan gerobak sapi bermuatan batu dan balok. Se­panjang jalan, rumah-rumah baru bermunculan cepat.

“Bajingan…!” gagap Osugi sambil menengadah marah ke arah sebuah rumah yang baru setengah jadi. Segumpal tanah liar basah dari ember seorang tukang plester secara kebetulan mendarat di kimononya.

Para pekerja meledak tertawa.

“Berani-berani kalian lempar lumpur pada orang lain, lalu berdiri tertawa­-tawa? Kalian mesti berlutut minta maafl”

Kalau di Miyamoto, beberapa patah kata tajam saja darinya akan mem­buat para penyewa tanah atau orang desa yang lain gemetar ketakutan. Tetapi pekerja-pekerja yang hanya merupakan sebagian kecil dari ribuan pendatang baru dari seluruh negeri itu hampir tidak menoleh dari pekerjaan mereka.

“Apa yang diocehkan perempuan jelek itu?” tanya seorang pekerja.

Osugi yang sudah naik darah itu berteriak, “Siapa bilang itu? Kenapa kau…”

Makin banyak Osugi menggerutu, makin keras tawa orang-orang itu. Para penonton mulai berkumpul dan saling bertanya, kenapa perempuan tua itu tidak bersikap sesuai umurnya dan menerima saja soal itu dengan tenang.

Osugi menyerbu ke dalam rumah, mencengkeram ujung papan tempat berdiri tukang-tukang plester, dan menyentakkannya dari tiangnya. Beberapa orang beserta ember penuh tanah liat runtuh ke tanah.

“Perempuan brengsek!”

Mereka bangkit dan mengepung Osugi dengan sikap mengancam.

Osugi tak beranjak. “Keluar kalian!” perintahnya dengan muka cemberut. Tangannya meraba pedang pendeknya.

Para pekerja terpaksa berpikir dua kali. Cara perempuan itu memandang dan membawa diri menunjukkan bahwa ia dari keluarga samurai. Mereka bisa mendapat kesulitan, kalau tidak berhati-hati. Maka sikap mereka pun melunak.

Melihat perubahan itu, Osugi dengan agung berkata, “Mulai sekarang takkan kubiarkan kekasaran orang-orang macam kalian.” Dengan wajah puas ia keluar dan turun kembali ke jalan, meninggalkan para penonton yang ternganga memandang punggungnya yang lurus dan keras itu.

Belum lagi ia sempat berjalan kembali, seorang magang dengan kaki ber­lumpur, yang anehnya penuh serutan dan debu gergaji, berlari di belakangnya, membawa seember tanah liat yang kotor.

Ia meneriakkan, “Bagaimana kalau ini, nenek sihir?” Ia tumpahkan isi ember itu ke punggung Osugi.

“O-w-w-w!” Lolongan itu memang baik untuk paru-paru Osugi, tapi sebelum ia dapat membalikkan badan, magang itu sudah lenyap. Ketika ia sadar betapa kotor punggungnya, ia memberengut sedih, air mata kejengkelan memenuhi matanya.

Orang-orang bersorak gembira.

“Apa yang kalian tertawakan, orang-orang goblok?” berang Osugi. “Apa lucunya perempuan tua disiram kotoran? Apa begini cara kalian menyambut orang tua di Edo ini? Kalian pun manusia, bukan? Ingatlah, kalian semua akan tua juga nanti.”

Semburan kata-kata ini lebih menarik lagi bagi para penonton.

“Begini ini yang namanya Edo!” dengus Osugi. “Kalau dengar omongan orang, kita pikir ini tadinya kota terbesar di seluruh negeri. Tapi apa kenyataannya? Cuma tempat penuh kotoran dan kemesuman. Di mana­mana orang meruntuhkan bukit dan menimbun rawa-rawa, menggali parit dan menimbun pasir pantai. Bukan hanya itu, kota ini penuh jembel yang takkan pernah dapat ditemukan di Kyoto atau di mana pun di barat.” Sesudah mengucapkan semua itu, ia membelakangi orang banyak yang tertawa dan cepat-cepat meninggalkan tempat itu.

Memang kebaruan kota merupakan hal yang paling menonjol. Kayu dan plester rumah-rumah semuanya tampak cemerlang dan segar, banyak tanah bangunan yang baru sebagian saja diratakan. Tahi rubah dan kuda mencolok mata dan mengganggu lubang hidung.

Belum lama berselang, jalan ini cuma jalan setapak di tengah sawah, antara Desa Hibiya dan Chiyoda. Sekiranya Osugi pergi sedikit ke barat, dekat Benteng Edo, ia akan menemukan daerah yang lebih tua dan lebih tenang, di mana para daimyo dan pengikut shogun membangun tempat per­semayaman, segera sesudah Tokugawa Ieyasu menduduki Edo pada tahun 1590.

Dalam keadaannya sekarang, sama sekali tak ada yang dapat menggugah hati Osugi. Ia merasa tua. Setiap orang yang dilihatnya-tukang warung, para pejabat yang naik kuda, para samurai yang jalan-jalan mengenakan topi anyaman-semuanya masih muda, seperti halnya para pekerja, tukang, pedagang, serdadu, bahkan juga jenderal.

Di depan sebuah rumah yang masih dikerjakan oleh tukang-tukang plester tergantung papan nama toko, dan di belakangnya duduk seorang perempuan berpupur tebal yang sedang mengecat alisnya, sambil menanti langganan. Di gedung-gedung lain yang baru setengah digarap, orang menjual sake, mengatur barang-barang tekstil yang hendak dipamerkan, atau mengatur perbekalan ikan kering. Seorang lelaki sedang menggantungkan papan obat-obatan.

“Sekiranya aku tidak mencari orang,” gumam Osugi masam, “satu malam pun aku takkan mau tinggal di tong sampah ini.”

Sampai di sebuah bukit tanah galian yang menghalangi jalan, ia ber­henti. Di kaki jembatan yang menyeberangi parit yang masih belum berair, berdiri sebuah pondok. Dindingnya terdiri atas tikar gelagah yang diikat tali-tali bambu, tapi sebuah spanduk menyatakan bahwa pondok itu sebuah tempat mandi umum. Osugi menyerahkan sekeping mata uang tembaga, dan masuk untuk mencuci kimononya. Sesudah membersihkan semampunya, ia meminjam galah pengering dan menggantungkan pakaian itu di samping gubuk. Hanya mengenakan pakaian dalam yang ditutup jubah mandi ringan, ia berjongkok di dalam bayangan rumah mandi dan memandang kosong ke jalan.

Di seberang jalan, setengah lusin orang lelaki berdiri melingkar sambil tawar-menawar dengan suara cukup keras, hingga Osugi dapat mendengar apa yang mereka bicarakan.

“Berapa meter persegi itu? Saya tidak keberatan mempertimbangkan, kalau harganya betul.”

“Ada dua ribu tujuh ratus meter persegi. Harga seperti saya sebut sebelumnya. Tak bisa turun.”

“Ah, terlalu mahal. Tahu sendiri.”

“Sama sekali tidak mahal. Menimbun tanah itu makan banyak uang. Dan jangan lupa, tak ada lagi tanah lain sekitar sini.”

“Ah, pasti ada. Di mana-mana orang sedang menimbun.”

“Sudah terjual. Orang berebut tanah seperti apa adanya, termasuk yang masih rawa-rawa dan segalanya itu. Sekarang tak ada lagi tanah tiga puluh meter persegi yang masih dijual. Tentu saja kalau kita mau ke jurusan Sungai Sumida, masih bisa kita dapat yang lebih murah.”

“Kau menjamin ada dua ribu tujuh ratus meter persegi?”

“Tak perlu kausuruh aku berjanji. Ambil tali dan ukur olehmu sendiri.”

Osugi heran sekali; angka yang disebut untuk sepuluh meter persegi cukup untuk membeli ribuan meter persegi tanah sawah yang baik. Tetapi percakapan serupa itu terjadi di seluruh kota, karena memang banyak saudagar yang berspekulasi dengan tanah. Osugi jadi terpesona. “Kenapa semua orang menghendaki tanah di sini? Tempat ini tidak baik untuk padi dan tak dapat juga disebut kota.”

Segera kemudian persetujuan di seberang jalan itu ditutup dengan cara bertepuk tangan, agar nasib baik memberkahi semua yang bersangkutan. Selagi Osugi iseng memperhatikan perginya bayangan orang-orang itu, terasa olehnya sebuah tangan meraba bagian belakang obi-nya. “Copet’” jeritnya sambil menangkap pergelangan tangan pencopet itu. Tapi ternyata kantong uangnya sudah hilang, dan pencopet itu sudah sampai di jalan.

“Copet!” jerit Osugi lagi. Ia segera mengejar orang itu, dan berhasil melingkarkan tangan ke pinggang si pencopet. “Tolong! Copet”

Si pencopet memberontak dan memukul muka Osugi beberapa kali, tapi tak dapat melepaskan cengkeraman Osugi. “Lepaskan aku, sapi!” teriaknya sambil menendang tulang rusuk Osugi. Osugi jatuh disertai omelan keras. tapi ia berhasil mencabut pedang pendeknya dan melukai tumit orang itu.

“Ow!” Darah menyembur dari luka itu. Orang itu berjalan pincang beberapa langkah, kemudian terguling ke tanah.

Kaget oleh keributan itu, para penjual tanah menoleh. Seorang dari mereka berseru. “Hei, apa itu bukan si sampah dari Koshu itu?” Yang mengatakan itu Hangawara Yajibei, kepala gerombolan besar pekerja bangun­an.

“Kelihatannya dia,” salah seorang anak buahnya membenarkan. “Apa yang ada di tangannya itu? Kelihatannya kantong uang.”

“Betul, kan? Dan barusan ada orang teriak copet. Lihat! Ada perempuan tua menggeletak di tanah. Lihat sana, apa yang terjadi dengannya. Aku sendiri akan mengurusi orang itu.”

Pencopet itu berdiri dan lari lagi, tapi Yajibei menyusulnya dan mem­bantingnya ke tanah, seperti menepuk belalang.

Kembali mendapatkan majikannya, anak buah Yajibei melaporkan, “Seperti kita duga. Dia mencopet kantong uang wanita itu.”

“Kantong itu ada padaku sekarang. Bagaimana dengan perempuan itu.”

“Tak begitu parah lukanya. Dia tadi pingsan, tapi sudah bisa teriak pembunuh!”

“Dia masih duduk di sana. Apa dia tak bisa berdiri?”

“Saya kira tak bisa. Pencopet itu menendang tulang rusuknya.”

“Oo, bajingan!” Sambil terus menatap pencopet itu, Yajibei mengeluarkan perintah kepada bawahannya. “Ushi, dirikan tiang.”

Kata-kata itu membuat si pencopet gemetar, seakan-akan ujung pisau ditekankan ke tenggorokannya. “Jangan, jangan!” mohonnya sambil me­nyembah-nyembah di tanah, pada kaki Yajibei. “Lepaskan saya, kali ini saja! Saya janji takkan melakukan lagi.”

Yajibei menggelengkan kepala. “Tidak. Kau harus dapat ganjaran.”

Ushi—nama ini diberikan menurut rasi bintang waktu ia lahir, sesuai kebiasaan para petani, kembali bersama dua pekerja dari tempat pembangun­an jembatan, tidak jauh dari situ.

“Di sana,” katanya sambil menuding ke tengah tempat kosong.

Sesudah kedua pekerja itu menghunjamkan tiang berat ke dalam tanah, seorang di antaranya bertanya, “Sudah cukup baik?”

“Bagus,” kata Yajibei. “Sekarang ikatkan dia ke situ, dan pakukan papan di atas kepalanya.”

Ketika semua itu sudah dilakukan, Yajibei meminjam wadah tinta dari tukang kayu dan menuliskan di papan itu, “Orang ini pencopet. Belum lama dia masih bekerja pada saya, tapi dia melakukan kejahatan, dan untuk itu dia harus dihukum. Dia mesti diikat di sini, agar kena hujan dan panas, tujuh hari tujuh malam lamanya. Diperintahkan oleh Yajibei dari Bakurocho.”

“Terima kasih,” katanya, mengembalikan tempat tinta. “Nah, kalau tidak terlalu merepotkan, kasih dia makanan sekali-sekali. Sekadar supaya dia tidak mati. Yah, sisa makan siangmu cukuplah.”

Kedua pekerja dan orang-orang lain, yang sementara itu berkerumun di situ, menyatakan persetujuan mereka. Sebagian pekerja berjanji menjamin agar si pencopet mendapat jatah ejekan. Tidak hanya para samurai yang takut dipertontonkan pada umum karena kejahatan atau kelemahannya. Bagi penduduk kota zaman itu, ditertawakan adalah hukuman paling berat.

Menghukum penjahat tanpa proses hukum sudah merupakan praktek yang diterima dengan baik. Karena para prajurit terlalu sibuk dengan pe­perangan, hingga tak sempat menjaga ketertiban, orang-orang kota mengambil alih tindakan terhadap para penjahat, demi keamanan mereka sendiri. Walaupun Edo sekarang memiliki hakim resmi dan ada satu sistem yang dikembangkan, di mana warga kota terkemuka di tiap daerah berfungsi se­bagai wakil pemerintah, namun masih juga terjadi penghakiman langsung macam itu. Dan dalam keadaan yang masih sedikit kacau itu, para penguasa tak banyak melihat alasan untuk campur tangan.

“Ushi,” kata Yajibei, “kembalikan kantong uang wanita tua itu. Sayang sekali peristiwa ini terjadi pada orang setua dia. Rupanya dia sendirian di dunia ini. Apa yang terjadi dengan kimononya?”

“Dia bilang kimononya dicuci dan dijemur.”

“Ambilkan kimononya, kemudian bawa dia. Kita bisa juga membawanya pulang. Tak banyak artinya kita menghukum si pencopet, kalau kita tinggalkan dia di sini untuk dimangsa bajingan lain.”

Beberapa waktu kemudian, Yajibei berangkat. Ushi mengikutinya dari belakang, sambil membawa kimono Osugi, sedangkan Osugi sendiri di­gendongnya.

Segera mereka sampai di Nihombashi, “Jembatan Jepang.” Dari jembatan itulah sekarang diukur semua jarak jalan dari Edo. Batu penopang men­dukung busur jembatan yang terbuat dari kayu, dan karena jembatan itu dibangun hanya sekitar setahun sebelumnya, susurannya masih kelihatan baru. Perahu-perahu dari Kamakura dan Odawara ditambatkan sepanjang tepi sungai. Di pinggiran terdapat pasar ikan kota.

“Oh, sakit pinggangku,” Osugi mengerang keras.

Para pedagang ikan menegakkan kepala, untuk melihat apa yang terjadi.

Yajibei tak suka menjadi tontonan. Ia menatap Osugi, katanya, “Kita segera sampai. Coba dulu bertahan. Hidup Ibu tak lagi dalam bahaya.”

Osugi meletakkan kepalanya ke punggung Ushi dan menjadi setenang bayi.

Di daerah kota paling ramai, para pedagang dan tukang membentuk lingkungan sendiri. Ada daerah tukang besi, daerah pembuat lembing, daerah-daerah lain untuk tukang celup, penganyam tatami, dan sebagainya. Rumah Yajibei tampak paling mencolok di antara rumah-rumah tukang kayu lain, karena setengah atap bagian depan ditutup genting. Semua rumah lain beratap papan. Sebelum terjadi kebakaran beberapa tahun silam, hampir semua atap terbuat dari lalang. Secara kebetulan, Yajibei memperoleh nama keluarganya dari atap ini, Hangawara berarti “setengah bergenting”.

Ia datang dari Edo sebagai ronin, tapi karena pandai dan sekaligus ramah, ia membuktikan dirinya seorang pengelola yang terampil. Tak lama kemudian, ia mampu bertindak sebagai kontraktor yang mempekerjakan sejumlah besar tukang kayu, tukang atap, dan pekerja tidak terampil. Dari sejumlah daimyo, ia memperoleh cukup modal untuk menjangkau juga usaha real estate. Karena sudah terlalu kaya untuk bekerja dengan tangan sendiri, ia memainkan peranan sebagai majikan. Di antara sejumlah besar majikan yang berdiri sendiri di Edo, Yajibei termasuk salah seorang yang paling terkenal dan paling dihormati.

Penduduk kota menghormati para majikan dan juga prajurit, tapi dari keduanya itu, para majikan lebih mereka kagumi, karena para majikan biasanya membela kepentingan rakyat banyak. Sekalipun para majikan Edo memiliki gaya dan semangat sendiri, mereka tidaklah unik bagi ibu kota yang baru itu. Sejarah mereka bermula dari zaman akhir ke-shogun-an Ashikaga yang penuh kekacauan, ketika gerombolan-gerombolan penjahat kejam bergelandangan di pedesaan, seperti kawanan singa yang menjarah semau-maunya dan sama sekali tak kenal kendali.

Menurut seorang penulis dari zaman itu, pakaian mereka waktu itu tidak lebih dari cawat merah terang dan kain penutup perut yang lebar. Pedang mereka sangat panjang-hampir empat kaki—dan bahkan pedang pendeknya lebih dari dua kaki panjangnya. Banyak di antaranya menggunakan senjata lain dari jenis yang lebih kasar, seperti misalnya kampak perang dan “cakar besi”. Mereka membiarkan rambut mereka tumbuh liar, menggunakan tali besar untuk ikat kepala, dan sering kali menutup betisnya dengan pembalut kaki.

Karena tidak mengabdi pada orang-orang tertentu, mereka bertindak sebagai serdadu bayaran, dan sesudah perdamaian ditegakkan, mereka di­singkirkan, baik oleh para petani maupun samurai. Pada zaman Edo, orang-orang yang tak suka menjadi bandit atau penyamun sering mencari peruntungan di ibu kota baru. Banyak dari mereka mendapat sukses, dan pemimpin-pemimpin jenis ini pernah dilukiskan sebagai “bertulang kebajikan, berdaging kecintaan pada rakyat, dan berkulit ksatriaan.” Singkatnya, mereka betul-betul pahlawan rakyat.

Pembantaian di Tepi Sungai

HIDUP di bawah atap setengah genting Yajibei itu sangat cocok untuk Osugi, hingga satu setengah tahun kemudian ia masih tinggal di sana. Beberapa minggu pertama dipergunakannya untuk beristirahat dan me­nyembuhkan badan. Sesudah itu, hampir tak pernah ada hari lewat tanpa ia menyatakan ingin pergi meninggalkan tempat itu.

Setiap kali ia memulai pembicaraan tentang itu, Yajibei yang tidak sering dilihatnya, mendesaknya untuk tinggal lebih lama. “Untuk apa tergesa­-gesa?” tanyanya. “Tak ada alasan buat Ibu pergi ke mana-mana. Tunggu kesempatan dulu, sampai kami menemukan Musashi. Waktu itulah kami akan bertindak sebagai pendukung Ibu.” Yajibei tak tahu apa-apa tentang musuh Osugi, kecuali dari yang telah diceritakan Osugi sendiri kepadanya. Musashi, menurut Osugi, adalah orang paling jahat dari seluruh orang jahat, dan itu diuraikannya sampai bertele-tele. Semenjak kedatangannya, semua bawahan Yajibei mendapat perintah untuk segera melaporkan apa pun yang mereka dengar tentang Musashi, atau apabila mereka melihatnva.

Semula Osugi membenci Edo, tapi kemudian sikapnya melunak, sampai akhirnya ia mau mengakui bahwa orang-orang itu “bersahabat, periang, dan betul-betul baik hati”.

Rumah tangga Hangawara adalah tempat yang sangat gampang, dan merupakan semacam pelabuhan bagi orang-orang buangan. Pemuda-pemuda desa yang terlampau malas untuk bertani, ronin yang tersingkir, orang­-orang jangak yang telah menghabiskan uang orangtua mereka, dan bekas-­bekas narapidana bertato, di tempat itu membentuk persekutuan orang kasar dan aneka warna. Semangat korps yang menyatukan mereka anehnya mirip dengan semangat perguruan prajurit yang terurus baik. Namun yang menjadi ideal di situ adalah kejantanan penuh gertakan, bukan kelelakian spiritual. Tempat ini betul-betul dojo untuk para penjahat kejam.

Sebagaimana dalam dojo seni perang, di situ terdapat struktur kelas yang ketat. Di bawah majikan yang merupakan penguasa spiritual dan yang sangat sementara sifatnya, terdapat kelompok senior yang biasanya disebut “kakak”. Di bawah mereka terdapat bawahan atau kobun, yang kedudukannya sangat ditentukan oleh panjangnya masa dinas. Ada juga kelas khusus berupa “tamu”. Status tamu tergantung pada faktor-faktor seperti kecakapan mereka menggunakan senjata. Organisasi hierarki ini didukung kode sopan santun yang asal-usulnya tidak jelas, namun dianut dengan tegas.

Suatu kali, karena menduga Osugi merasa bosan, Yajibei menyarankan agar Osugi mau mengurusi orang-orang muda itu. Semenjak itu, hari-hari Osugi disibukkan sepenuhnya oleh kerja menjahit, menambal, mencuci, dan mengatur para kobun. Kebiasaan ceroboh mereka memberikan banyak kesibukan kepadanya.

Meskipun tidak berpendidikan, para kobun itu bisa menghargai kualitas kalau mereka menyaksikannya. Mereka umumnya mengagumi kebiasaan­-kebiasaan hidup Osugi yang sederhana dan keras, serta efisiensi kerjanya. “Dia betul-betul wanita samurai,” demikian kata mereka. “Keluarga Hon’iden itu pasti memiliki darah yang sangat balk.”

Tuan rumah yang lain dari yang lain itu memperlakukan Osugi dengan penuh perhatian. Ia bahkan membangun ruang tinggal terpisah untuk Osugi, di tanah kosong di belakang rumahnya. Kalau sedang berada di rumah, ia selalu pergi menyatakan hormat kepada Osugi, tiap pagi dan petang. Tatkala salah seorang anak buahnya bertanya, kenapa ia begitu hormat pada seorang asing, Yajibei mengakui bahwa dulu ia memperlakukan ayah dan ibunya dengan sangat buruk, selagi mereka masih hidup. “Pada umurku sekarang,” katanya, “aku merasa berkewajiban sebagai anak pada semua orang tua.”

Musim semi tiba, dan kembang-kembang prem liar sudah berjatuhan, tapi di kota itu sendiri, hingga waktu itu hampir belum ada bunga sakura. Selain beberapa pohon di bukit-bukit barat yang hanya di sana-sini dihuni orang, hanya terdapat pohon-pohon muda yang ditanam orang-orang Budhis sepanjang jalan menuju Sensoji, di Asakusa. Orang mengatakan tahun ini pohon-pohon itu akan berkuncup dan berkembang untuk pertama kali.

Pada suatu hari, Yajibei datang ke kamar Osugi, katanya, “Saya akan pergi ke Sensoji. Barangkali Ibu mau ikut?”

“Senang sekali. Kuil itu dipersembahkan pada Kanzeon, dan saya percaya sekali pada kekuatannya. Dia bodhisatwa yang sama dengan Kannon yang saya puja di Kuil Kiyomizudera, Kyoto.”

Bersama Yajibei dan Osugi ikut dua dari antara para kobun, Juro dan Koroku. Jutu mempunyai nama panggilan “Tikar Buluh”, yang asalnya tak ada yang mengetahui; sebaliknya, jelas kenapa Koroku disebut “Akolit”. Ia bertubuh kecil, berbadan pejal, wajahnya sangat ramah, kalau orang tidak menghiraukan tiga bekas luka jelek pada dahinya, yang menjadi bukti kecenderungannya bertengkar di jalan-jalan.

Pertama, mereka pergi ke parit di Kyobashi, tempat penyewaan perahu.

Koroku dengan terampil mengayuh keluar dari parit, dan masuk Sungai Sumida, kemudian Yajibei memerintahkan membuka bekal perjalanan.

“Saya pergi ke kuil itu hari ini,” jelasnya, “sebab hari ini ulang tahun meninggalnya ibu saya. Sebetulnya saya mesti pulang berziarah ke makamnya, tapi tempatnya terlalu jauh, karena itu saya ambil jalan tengah pergi ke Sensoji dan memberikan sumbangan. Tapi sebetulnya itu serbatanggung jadinya. Anggap sajalah ini piknik.” Ia menjangkau tepi perahu, membasuh mangkuk sake dengan air sungai, dan menawarkannya pada Osugi.

“Bagus sekali Anda ingat pada ibu,” kata Osugi ketika menerima mangkuk: sesuai dengan sifatnya yang suka bertingkah, ia bertanya-tanya apakah Matahachi akan berbuat demikian juga bila nanti ia sudah mati. “Tapi terpikir juga oleh saya, apa pantas minum sake pada ulang tahun me­ninggalnya ibu Anda yang malang itu?”

“Ah, tapi saya lebih baik melakukan ini daripada mengadakan upacara yang muluk-muluk. Biar bagaimana, saya percaya kepada sang Budha. Itulah yang penting untuk orang udik bebal macam saya. Ibu kenal dengan peribahasa ini, kan? Barang siapa beriman, dia tidak membutuhkan pengetahuan’.”

Osugi tidak mengganggu-gugat lagi soal itu, dan minta tambah sake beberapa kali lagi. Beberapa waktu kemudian, ia menyatakan, “Lama sekali saya tidak minum macam ini. Saya merasa seperti mengapung di udara.”

“Minumlah,” desak Yajibei. “Sake-nya enak, kan? Jangan kuatir akan jatuh ke air. Kami di sini menjaga Ibu.”

Sungai yang mengalir ke selatan dari Sumida itu lebar dan tenang. Di tepian Shimosa, yaitu tepi timur yang berhadap-hadapan dengan Edo, terdapat hutan subur. Akar-akar pohon yang menjulur ke dalam air membentuk sarang. mengelilingi kolam-kolam jernih bersinar seperti batu safir di sinar matahari.

“Oh,” kata Osugi. “Dengarkan burung bulbul itu.”

“Kalau musim hujan datang, kita dapat mendengar burung kukuk ber­bunyi sepanjang hari.”

“Mari saya tuangkan lagi. Saya harap Anda tidak keberatan saya ikut dalam perayaan ini.”

“Oh, saya senang kalau Ibu senang.”

Dari buritan perahu, Koroku berseru keras, “Bagaimana kalau sake diedar­kan, Bos?”

“Perhatikan dulu kerjamu. Kalau kau mulai minum sekarang, kita semua bisa tenggelam. Waktu pulang nanti, kau boleh minum sesukamu.”

“Beres. Tapi sebaiknya Anda tahu, sungai ini seluruhnya mulai kelihatan seperti sake.”

“Jangan pikirkan lagi soal itu. Nah, bawa perahu ini ke perahu dekat tepi itu, supaya kita dapat membeli ikan segar.”

Koroku memenuhi perintah. Sesudah sedikit tawar-menawar, memperlihat­kan senyuman senang, si nelayan membuka tangki yang ditanam di dek dan mempersilakan mereka mengambil sesuka mereka. Belum pernah Osugi melihat pemandangan macam itu. Tangki itu penuh dengan ikan yang menggelepar-gelepar dan mengepak-ngepak, sebagian dari laut, sebagian lagi dari sungai: ikan gurame, udang, ikan berkumis, porgi hitam, dan ikan gobi. Bahkan ikan forrel dan bandeng ada juga.

Yajibei menuangkan kecap pada beberapa ikan umpan putih dan mulai melahapnya mentah-mentah. Ia menawarkannya juga pada Osugi, tapi Osugi menolak dengan wajah ngeri.

Ketika mereka merapat ke tepi barat dan turun, Osugi kelihatan sedikit goyah kakinya.

“Hati-hati,” Yajibei mengingatkan. “Pegang tangan saya ini.”

“Terima kasih. Saya tak perlu bantuan,” katanya sambil melambaikan satu tangan ke depan mukanya sendiri dengan sikap marah.

Sesudah Juro dan Koroku menambatkan perahu, keempat orang itu me­lintasi padang batu dan kubangan air yang luas, menuju tepi sungai yang bersih.

Serombongan anak kecil sibuk membalik-balik batu, tapi ketika melihat keempat orang yang tidak biasa mereka lihat itu, mereka pun berhenti dan segera mengelilingi dan berceloteh dengan riuhnya.

“Beli ini, Pak. Beli, Pak.”

“Mau beli, Nek?”

Yajibei rupanya suka anak-anak. Setidaknya, ia tidak memperlihatkan tanda-tanda kesal. “Apa yang kaujual itu-kepiting?”

“Bukan kepiting, mata panah,” seru mereka sambil mengeluarkan sejumlah besar barang itu dari dalam kimono.

“Mata panah?”

“Betul, Pak. Banyak orang dan kuda dikubur di bukit dekat kuil itu. Orang datang kemari beli mata panah buat sesajen orang yang meninggal. Bapak perlu juga?”

“Aku barangkali tidak butuh mata panah, tapi akan kuberi kau uang. Bagaimana kalau begitu?”

Pilihan baik sekali. Begitu Yajibei selesai membagikan beberapa mata uang, anak-anak itu berlarian pergi dan kembali menggali. Tapi, selagi ia masih memperhatikan, seorang lelaki keluar dari sebuah rumah beratap lalang, tidak jauh dari sana, mengambil mata uang itu dari tangan anak-­anak, dan masuk kembali ke dalam rumah. Yajibei mendecapkan lidah dan membuang muka dengan sikap muak.

Osugi melayangkan pandang ke seberang sungai, dengan mata tampak terpesona. “Kalau di sini banyak mata panah,” ujarnya, “tentunya di sini pernah terjadi pertempuran besar.”

“Saya tidak tahu benar, tapi rupanya memang terjadi sejumlah pertem­puran di sini, ketika Edo cuma sebuah tanah milik provinsi, empat atau lima ratus tahun yang lalu. Saya pernah mendengar, Minamoto no Yoritomo datang kemari dari Izu, untuk menyusun pasukan pada abad dua belas.

Ketika istana Kaisar terpecah-kapan itu, ya, pada abad empat belas?­Yang Dipertuan Nitta dari Musashi dikalahkan oleh Keluarga Ashikaga di sekitar daerah ini. Beberapa abad terakhir, Ota Dokan dan jenderal setempat lainnya kabarnya melakukan banyak pertempuran di arah udik.”

Sementara mereka bercakap-cakap, Juro dan Koroku pergi menyiapkan tempat duduk bagi mereka di beranda kuil.

Sensoji ternyata sangat mengecewakan Osugi. Di matanya, kuil itu tidak lebih dari rumah besar yang sudah tidak terpelihara, sedangkan tempat tinggal pendeta hanya sebuah gubuk. “Apa ini yang namanya Sensoji?” tanyanya dengan nada lebih dari sekadar mencela. “Sesudah begitu banyak saya mendengar tentang Sensoji…”

Lingkungan kuil itu berupa hutan kuno yang indah, dengan pohon-pohon besar tua, tapi kekurangannya tidak hanya karena ruang Kanzeon itu tampak kotor. Apabila sungai banjir, air naik dari hutan, langsung ke beranda. Pada waktu lain pun, air anak-anak sungai kecil melimpahi pekarangan itu.

“Selamat datang. Saya senang bertemu lagi dengan Bapak.”

Osugi menengadah keheranan, dan melihat seorang pendeta berlutut di atas atap.

“Mengerjakan atap?” tanya Yajibei ramah.

“Terpaksa, gara-gara burung. Makin sering saya memperbaikinya, makin sering dia mencuri lalang untuk membuat sarang. Selalu saja ada yang bocor. Silakan, Pak. Sebentar lagi saya turun.”

Yajibei dan Osugi mengambil lilin nazar dan masuk ke dalam ruangan yang remang-remang. “Tidak heran kalau bocor,” pikir Osugi, yang melihat lubang-lubang seperti bintang di atas kepalanya.

Sambil berlutut di samping Yajibei, Osugi mengeluarkan tasbihnya dan dengan pandangan menerawang ia menyanyikan Sumpah Kanzeon dari kitab Sutra Teratai.

Engkau bersemayam di langit seperti matahari

Dan kalau engkau dikejar orang-orang jahat.

Dan ditolakkan dari Gunung Berlian.

Kenangkan olehmu kuasa Kanzeon.

Dan engkau takkan kehilangan selembar pun rambut kepalamu.

Dan kalau bandit-bandit mengepungmu.

Dan mengancammu dengan pedang

Kalau engkau kenangkan kuasa Kanzeon,

Bandit-bandit akan kasihan kepadamu.

Dan kalau raja menghukum mati engkau

Dan pedang akan memenggal kepalamu,

Kenangkan olehmu kuasa Kanzeon

Pedang akan patah berkeping-keping

Semula ia membacakan lagu itu pelan-pelan, tapi ketika ia sudah lupa akan hadirnya Yajibei, Juro, dan Koroku, suaranya pun naik dan jadi ber­gaung; wajahnya tampak asyik.

Delapan puluh empat makhluk perkasa

Mulai dengan sepenuh hati menghasratkan Amuttara-samyak-sambodhi

Kebijaksanaan sang Budha yang tak ada bandingannya.

Tasbih menggeletar dalam jemarinya; tanpa berhenti, Osugi beralih dari pembacaan ke permohonan pribadinya sendiri.

Hidup Kanzeon Maha Terhormat!

Hidup Bodhisatwa Keampunan Tak terbatas dan

Belas kasihan Tak terbatas!

Kabulkanlah harapan perempuan tua ini.

Izinkan aku menjatuhkan Musashi, segera sekali!

Izinkan aku menjatuhkannya!

Izinkan aku menjatuhkannya!

Tiba-tiba ia menurunkan suaranya dan membungkuk ke lantai.

“Dan jadikan Matahachi anak yang baik!

Datangkan kesejahteraan kepada Keluarga Hon’iden!”

Sesudah doa panjang itu berakhir, menyusul saat tenang dan pendeta mengundang mereka ke luar untuk minum teh. Yajibei dan kedua orang muda yang berlutut tertib selama berlangsung pembacaan doa itu bangkit sambil menggosok-gosok kaki yang kesemutan, dan keluar menuju beranda.

“Sekarang boleh minum sake, kan?” tanya Juro. Begitu diberi izin, ia bergegas menuju rumah pendeta dan menyiapkan makan slang di serambi. Ketika orang­-orang lain menggabungkan diri dengannya, ia sedang menghirup sake dengan satu tangan, dan dengan tangan satunya memanggang ikan yang tadi mereka beli. “Siapa yang peduli, ada bunga sakura atau tidak?” ucapnya. “Rasanya sekarang ini saja sudah seperti piknik sambil meninjau bunga-bunga.”

Yajibei menyerahkan kepada pendeta persembahan yang dengan rapi dibungkus kertas, dan ia minta agar uang itu digunakan untuk membetulkan atap. Saat melakukan itu, kebetulan ia melihat sebaris piagam dari kayu, yang memuat nama-nama para penyumbang dan jumlah yang mereka sumbangkan. Hampir semuanya sama dengan jumlah yang diberikan Yajibei. Beberapa orang kurang jumlahnya, tapi ada satu yang mencolok. Sepuluh mata uang emas, Daizo dari Narai, Provinsi Shinano.

Sambil menoleh kepada pendeta, Yajibei menyatakan dengan sedikit malu-malu. “Barangkali kasar saya menyatakan ini, tapi sepuluh mata uang emas adalah jumlah yang besar. Apa Daizo dari Narai itu memang kaya?”

“Tak bisa saya mengatakan itu. Dia muncul entah dari mana, pada suatu hari menjelang akhir tahun lalu, dan mengatakan sungguh memalukan bahwa kuil paling terkenal di daerah Kanto ini dalam keadaan begini jelek. Dia minta saya menambahkan uang itu kepada dana kami, untuk membeli kayu.”

“Kedengarannya seperti orang yang patut dikagumi.”

“Dia juga menyumbangkan tiga keping mata uang emas kepada Tempat Suci Yushima, dan tak kurang dari dua puluh keping kepada Tempat Suci Kanda Myojin. Dia minta agar yang terakhir itu disimpan baik-baik, karena dia mengabdikan semangat Taira no Masakado. Daizo menekankan bahwa Masakado bukan seorang pemberontak. Menurutnya, Masakado mesti dipuja sebagai perintis yang telah membuka bagian timur negeri ini. Anda lihat ada beberapa penyumbang yang sangat luar biasa di dunia ini.”

Belum lagi selesai ia berbicara, segerombolan anak-anak datang berlari, berebut-rebut mendekati mereka.

“Apa kerja kalian di sini?” teriak si pendeta dengan garang. “Kalau kalian mau main, turun sana ke sungai. Kalian jangan lari-lari tak keruan di pe­karangan kuil.”

Tetapi anak-anak itu terus juga berlari seperti kawanan ikan mino, sam­pai mereka mencapai beranda.

“Cepat ke sana!” teriak salah satu dari mereka. “Bukan main!”

“Ada samurai di sana. Lagi berkelahi!”

“Satu orang lawan empat.”

“Pedang betulan!”

“Terpujilah sang Budha, jangan lagi terjadi!” rintih si pendeta sambil bergegas mengenakan sandalnya. Sebelum berlari pergi, ia berhenti dulu sebentar, memberi penjelasan. “Maafkan saya. Terpaksa saya meninggalkan Anda sekalian sebentar. Tapi sungai ini tempat yang disenangi orang buat berkelahi. Tiap kali saya keliling, ada saja orang di sana memotong-motong yang lain atau memukulinya sampai tinggal jadi daging. Kemudian petugas kantor hakim datang menemui saya dan minta laporan tertulis. Terpaksa sekarang saya pergi melihat apa yang terjadi.”

“Perkelahian?” tanya Yajibei dan orang-orangnya serempak, dan segera ikut lari. Osugi ikut juga, tapi karena jauh lebih lambat jalannya, ketika ia sampai di sana, perkelahian sudah selesai. Anak-anak dan beberapa penonton dari desa nelayan sekitar situ berdiri diam berkeliling. Mereka semua me­nelan ludah dengan susah-payah, muka mereka pucat.

Semula Osugi merasa suasana diam itu aneh, tapi kemudian ia ikut tergagap dan matanya melotot. Bayangan seekor burung layang-layang me­lintas di tanah. Seorang samurai muda berwajah puas diri, berpakaian jubah prajurit warna merah keunguan, berjalan ke arah mereka. Entah ia melihat para penonton atau tidak, tapi yang jelas ia tidak memperhatikan mereka.

Pandangan Osugi berpindah kepada empat tubuh yang tergeletak tumpang tindih sekitar dua puluh langkah di belakang samurai itu.

Si pemenang itu berhenti. Begitu ia berhenti, beberapa mulut tergagap, karena seorang dari orang-orang yang kalah itu bergerak. Mati-matian ia berusaha tegak berdiri, lalu berteriak, “Tunggu! Tak bisa kau lari!”

Samurai itu mengambil jurus menanti, dan orang yang luka itu berlari ke depan, terengah-engah, “Pertempuran… ini… belum selesai!”

Ketika orang itu melompat lemah untuk menyerang, si samurai mundur setapak, hingga orang itu terhuyung ke depan, kemudian ia menebas, dan kepala orang itu pun terbelah dua.

“Nah, selesai sekarang?” teriaknya kejam.

Bahkan tak seorang pun melihat kapan Galah Pengering itu dihunus.

Sesudah menghapus mata pedang, ia membungkuk untuk mencuci tangan­nya di sungai. Sekalipun orang-orang desa itu sudah terbiasa dengan per­kelahian, mereka terpana melihat sikap darah dingin samurai itu. Kematian orang terakhir itu tidak hanya bersifat seketika, tapi juga kejam tak ber­perikemanusiaan. Tak satu patah kata pun terucapkan.

Samurai itu berdiri meregangkan badan. “Ini seperti Sungai Iwakuni,” katanya. “Dan mengingatkan aku pada rumah.” Beberapa saat lamanya ia iseng memandang sungai lebar dan sekawanan burung layang-layang berdada putih yang menukik dan menyambar air. Kemudian ia membalik dan ber­jalan cepat menghilir.

Ia langsung menuju perahu Yajibei, tapi ketika ia baru mulai melepaskan tambatannya, Juro dan Koroku datang berlari-lari dari hutan.

“Tunggu! Apa maksudmu?” teriak Juro yang kini sudah cukup dekat, hingga melihat darah pada hakama samurai itu dan tali sandalnya, tapi tidak mengacuhkannya.

Sambil menjatuhkan tali perahu, samurai itu menyeringai, tanyanya, “Apa tak boleh aku pakai perahu ini?”

“Tentu saja tak boleh,” sahut Juro.

“Dan kalau kubayar untuk kugunakan?”

“Jangan omong kosong.” Suara kasar menolak permintaan samurai itu datang dari Juro, tapi sepertinya seluruh kota Edo yang baru dan kurang ajar itulah yang bicara tanpa kenal takut melalui mulutnya.

Samurai itu tidak minta maaf, tapi tidak juga hendak menggunakan kekerasan. Ia hanya membalik dan pergi tanpa mengatakan sesuatu.

“Kojiro! Kojiro! Tunggu!” panggil Osugi sekuat paru-parunya.

Ketika Kojiro melihat siapa yang memanggilnya, kegarangan pada mukanya pun lenyap, dan tersungginglah senyuman ramah. “Lho, apa yang Ibu kerjakan di sini? Sebenarnya ingin tahu juga saya, apa yang terjadi dengan Ibu.”

“Saya di sini menyatakan hormat pada Kanzeon. Saya datang dengan Hangawara Yajibei dan dua pemuda itu. Yajibei memperkenankan saya tinggal di rumahnya, di Bakurocho.”

“Kapan terakhir kali kita bertemu, ya? Coba saya ingat-ingat-oh, Gunung Hiei. Waktu itu Ibu mengatakan akan pergi ke Edo, karena itu saya sudah pikir mungkin akan ketemu Ibu. Tak disangka bisa ketemu Ibu di sini.” Ia memandang Juro dan Koroku yang waktu itu sedang tercengang-­cengang. “Maksud Ibu dua pemuda di sana itu?”

“Ah, mereka itu cuma sepasang bajingan, tapi majikan mereka orang yang baik sekali.”

Sama dengan semua orang, Yajibei seperti disambar petir ketika melihat tamunya mengobrol ramah dengan samurai mengerikan itu. Dalam sekejap ia sudah tiba di tempat itu dan membungkuk pada Kojiro, katanya, “Barangkali anak-anak buah saya bersikap sangat kasar pada Anda. Saya harap Anda mau memaafkan mereka. Kami sudah siap untuk pergi. Barangkali Anda mau menghilir bersama kami?”

Serutan

SEPERTI halnya orang-orang yang terpaksa berkumpul karena keadaan, walaupun hanya sedikit saja atau sama sekali tak ada kepentingan bersama, samurai dan tuan rumah itu segera mendapatkan tempat berpijak yang sama. Persediaan sake banyak, ikan masih segar, dan Osugi memiliki hubungan spiritual khusus dengan Kojiro, yang menyebabkan suasana menjadi tidak resmi. Dengan penuh perhatian, Osugi bertanya tentang karier Kojiro sebagai shugyosha, dan Kojiro bertanya tentang kemajuan Osugi dalam mencapai “ambisi besar”-nya.

Ketika Osugi menyatakan bahwa sudah lama ia tidak mendengar kabar tentang Musashi, Kojiro menyuguhkan setitik harapan. “Saya dengar dia mengunjungi dua atau tiga petarung terkemuka pada musim gugur dan musim dingin lalu. Saya duga, dia masih ada diEdo.”

Tentu saja Yajibei tidak yakin akan berita itu. Ia nyatakan pada Kojiro bahwa orang-orangnya sama sekali tidak mendapat kabar apa pun. Mereka membicarakan keadaan sulit Osugi itu dari segala sudut, lalu Yajibei berkata, “Saya harap kami dapat terus mengandalkan diri pada persahabatan Anda.”

Kojiro menjawab dengan nada yang sama, serta sedikit pamer, dengan mencuci mangkuk dan menawarkannya tidak hanya kepada Yajibei, me­lainkan juga pada kedua anak buahnya. Ia juga menuangkan sake untuk mereka semua.

Osugi benar-benar gembira. “Orang bilang,” katanya sungguh-sungguh, “kebaikan dapat ditemukan di mana saja. Biarpun begitu, saya sungguh beruntung. Dua orang kuat seperti Anda ada di pihak saya! Bukan main! Saya yakin, Kanzeon yang agung selalu menjaga saya.” Dan ia sama sekali tidak menyembunyikan isak tangis atau air matanya. ‘

Karena tak ingin percakapan itu menjadi cengeng, Yajibei berkata, “Coba ceritakan, Kojiro, siapa empat orang yang Anda robohkan di sana tadi.”

Ini rupanya merupakan kesempatan yang sudah dinanti-nantikan Kojiro, karena sesudah itu lidahnya yang cekatan segera bekerja tanpa ditunda tunda lagi. “Oh, mereka!” ia memulai, diiringi tawa acuh tak acuh. “Cuma beberapa ronin dari Perguruan Obata. Lima atau enam kali saya pergi ke sana, untuk membicarakan soal-soal militer dengan Obata, tapi orang-orang itu terus saja menyela saya dengan pertanyaan-pertanyaan kurang ajar. Mereka bahkan berani-berani membual mengenai permainan pedang, karena itu saya katakan pada mereka bahwa kalau mereka mau datang ke tepi Sungai Sumida, akan saya berikan pada mereka pelajaran tentang rahasia Gaya Ganryu, termasuk pameran mata pedang Galah Pengering. Saya sampaikan pada mereka, saya tak peduli berapa banyak dari mereka akan datang.

“Waktu saya sampai di sana, lima orang datang, tapi begitu saya pasang jurus, seorang berbalik dan lari. Bisa saya katakan, Edo memang lebih banyak memiliki orang yang cakap bicara daripada berkelahi.” Ia tertawa lagi, kali ini dengan riuhnya.

“Obata?”

“Anda tak kenal dia? Obata Kagenori. Dia berasal dari garis keturunan Obata Nichijo yang mengabdi pada Keluarga Takeda dari Kai. Ieyasu mempekerjakannya, dan sekarang dia memberi kuliah dalam ilmu militer untuk shogun, Hidetada. Dia juga punya perguruan sendiri.”

“Oh, ya, saya ingat sekarang.” Yajibei heran dan terkesan oleh hubungan erat Kojiro dengan orang yang demikian terkemuka. “Orang muda ini masih mengenakan jambul,” demikian kagumnya diam-diam, “tapi tentunya orang penting juga dia, kalau punya hubungan dengan samurai berpangkat itu.” Majikan tukang kayu, bagaimanapun, hanyalah orang sederhana, dan nilai yang paling dikagumi pada orang sejenisnya adalah kekuatan kasarnya. Maka kekagumannya terhadap Kojiro semakin besar lagi.

Sambil mendekatkan muka pada samurai itu, katanya, “Sekarang saya ingin mengajukan tawaran. Di sekitar rumah saya selalu ada empat atau lima puluh pemuda desa. Bagaimana kalau saya membuat dojo untuk Anda dan saya minta Anda melatih mereka?”

“Ya, saya tidak keberatan memberikan pelajaran pada mereka, tapi Anda mesti mengerti, demikian banyak daimyo menarik-narik lengan saya dengan membawa tawaran dua ribu, tiga ribu gantang, sampai saya tak tahu lagi apa yang mesti saya lakukan. Terus terang, saya takkan mempertimbangkan secara serius pekerjaan pada orang lain dengan penghasilan kurang dari lima ribu. Lagi pula, untuk kesopanan, saya agak berkewajiban tinggal di tempat saya berdiam sekarang. Tapi saya tidak keberatan datang ke tempat Anda.”

Sambil membungkuk rendah, kata Yajibei, “Oh, saya hargai kesediaan Anda itu.”

Osugi melengkapi, “Kami nantikan kedatanganmu.”

Juro dan Koroku, yang terlampau naif untuk dapat mengenali keramahan dart propaganda yang membunga-bungai pembicaraan Kojiro, sungguh terpukau oleh kemurahan hati orang besar itu.

Ketika perahu mengitari belokan dan masuk parit Kyobashi, Kojiro berkata, “Saya turun di sini.” Kemudian ia melompat ke tepi, dan dalam beberapa detik saja ia sudah hilang ditelan debu yang mengepul di alas j alan.

“Orang muda yang sangat mengesankan,” kata Yajibei yang masih juga terpesona.

“Ya,” kata Osugi menyetujui, penuh keyakinan. “Dia sungguh seorang petarung sejati. Saya yakin banyak daimyo yang bersedia memberikan upah yang balk kepadanya.” Dan setelah diam sebentar, ia menambahkan dengan prihatin, “Oh, kalau saja Matahachi bisa seperti itu.”

Sekitar lima hari kemudian, Kojiro masuk ke dalam pekarangan Yajibei, dan dipersilakan masuk ruang tamu. Di sana, empat puluh atau lima puluh anak buah Yajibei hadir menyatakan hormat kepadanya satu per satu. Karena girang, Kojiro menyatakan pada Yajibei bahwa rupanya ia kini sedang menempuh hidup yang sangat menarik.

Meneruskan gagasan sebelumnya, Yajibei berkata, “Seperti saya katakan, saya ingin membangun sebuah dojo. Anda tidak keberatan melihat-lihat dulu pekarangan di sini?”

Lapangan di belakang rumah itu berukuran hampir dua ekar. Di sebuah sudut lapangan, tergantung kain yang baru selesai dicelup, tapi Yajibei meyakinkan Kojiro bahwa tukang celup yang menyewa petak tanah itu dapat diusir dengan mudah.

“Sebetulnya Anda tidak memerlukan dojo,” kata Kojiro. “Tempat ini tidak terbuka ke jalan. Tak seorang pun akan masuk.”

“Terserah Anda, tapi bagaimana kalau hujan?”

“Saya takkan datang kalau cuaca jelek. Tapi mesti saya ingatkan, latihan saya lebih kasar daripada yang diadakan oleh Perguruan Yagyu atau perguruan-perguruan lain di kota ini. Kalau orang-orang Anda tidak berhati-­hati, mereka bisa jadi cacat, atau lebih buruk lagi dari itu. Lebih baik Anda menjelaskan hal itu pada mereka.”

“Tak akan ada salah mengerti tentang hal itu. Anda bebas memimpin kelas, dengan cara yang menurut Anda cocok.”

Mereka setuju untuk pelajaran tiga kali sebulan, pada tanggal tiga, tiga belas, dan dua puluh tiga, asalkan cuaca baik.

Munculnya Kojiro di Bakurocho menjadi sumber desas-desus yang tak ada akhirnya. Seorang tetangga terdengar mengatakan, “Sekarang mereka bikin pameran yang lebih buruk daripada semua yang lain itu dijadikan satu.” Jambulnya yang kekanak-kanakan itu menimbulkan banyak komentar juga. Pendapat umum menyatakan bahwa karena umurnya yang tentunya sudah dua puluh tahun lebih sedikit, sudah waktunya ia menyesuaikan diri dengan kebiasaan samurai, mencukur kepala. Hanya orang-orang yang ada dalam rumah tangga Hangawara dikaruniai kesempatan melihat jubah dalam Kojiro yang bersulam cemerlang. Jubah itu dapat mereka lihat setiap kali Kojiro membuka bahunya, agar lengannya dapat bergerak bebas.

Sikap Kojiro tepat seperti sudah diduga. Walaupun pelajaran itu berupa pelajaran latihan, dan banyak di antara siswanya masih belum berpengalaman. ia tak kenal ampun. Baru sampai pelajaran ketiga, korban yang jatuh sudah mencakup satu cacat selamanya, tambah empat atau lima orang yang menderita cedera kecil. Orang-orang yang luka itu tidak jauh, rintihan mereka dapat didengar dari belakang rumah.

“Berikutnya!” seru Kojiro sambil mengacungkan pedang panjang yang terbuat dari kayu lokwat. Pada permulaan pelajaran, ia mengatakan pada mereka bahwa pukulan dengan pedang lokwat “akan membikin busuk dagingmu sampai ke tulang.”

“Mau mengundurkan diri? Kalau tidak, ayo maju. Tapi kalau mengundur­kan diri, aku pulang,” celanya merendahkan.

Hanya karena perasaan terhina, satu orang berkata, “Baik, saya akan mencoba.” Ia meninggalkan yang lain dan berjalan mendekati Kojiro, ke­mudian membungkuk untuk mengambil pedang kayu. Dengan bunyi keras berderak, Kojiro membuatnya terkapar di tanah.

“Ini,” demikian dinyatakannya, “adalah pelajaran tentang kenapa kalian tak boleh membuka diri. Membuka diri itu sangat berbahaya.” Dengan penuh kepuasan ia menoleh ke sekitar, ke wajah orang-orang lain yane jumlahnya tiga puluh sampai empat puluh orang, yang kebanyakan menggeletar tubuhnya.

Korban terakhir itu dibawa ke sumur, dan di situ disiram air. Tapi ia tak sadar juga.

“Anak malang itu tidak balik lagi.”

“Maksudmu… dia meninggal?”

“Tidak bernapas.”

Yang lain-lain berlari untuk menatap rekan mereka yang sudah terbunuh. Sebagian marah, sebagian lagi bersabar, tapi Kojiro sendiri tak sampai dua kali menoleh mayat itu.

“Kalau kejadian macam ini bikin kalian takut,” katanya mengancam. “lebih baik kalian lupakan pedang. Kalau kupikir, kalian selalu gatal untuk melawan orang di jalan, yang menyebut kalian pembunuh atau pembual…. ” Ia tak meneruskan kalimatnya, tapi ketika berjalan melintasi lapangan dengan kaus kulitnya, ia meneruskan kuliahnya. “Kalian pikirkanlah soal ini, perusuh yang baik. Kalian lantas saja menghunus pedang, waktu orang lain menginjak jari kaki kalian atau menyinggung sarung pedang kalian tapi kalian cuma bergerombol waktu terjadi pertarungan sesungguhnya Kalian dengan riang mau membuang nyawa demi seorang perempuan atau demi harga diri picisan kalian, tapi kalian tak punya nyali buat me­ngorbankan diri demi hal yang lebih berharga. Kalian emosional, hanya tergerak oleh tetek-bengek. Ini tak cukup, sama sekali tak cukup.”

Sambil membusungkan dada, simpulpya, “Soalnya sederhana saja. Satu-­satunya keberanian sejati dan keyakinan diri yang murni berasal dari latihan dan disiplin pribadi. Sekarang kutantang kalian semua: bangun, dan lawan aku seperti lelaki.”

Dengan keinginan agar ia mencabut kembali kata-katanya, seorang siswa menyerangnya dari belakang. Kojiro membungkuk hingga hampir menyentuh tanah, dan penyerang itu terbang lewat kepalanya, mendarat di depannya. Saar berikutnya terdengar derak keras, dan pedang lokwat Kojiro mengenai tulang pinggul orang itu.

“Cukuplah buat hari ini,” katanya sambil melempar pedangnya ke samping, dan pergi ke sumur untuk mencuci tangan. Mayat itu masih teronggok di samping bak cuci. Kojiro mencelupkan tangan ke air dan mengusapkan sebagian air itu ke wajahnya, tanpa sedikit pun ucapan simpati.

Ia menyelipkan tangan kembali ke dalam lengan kimono, dan katanya, “Saya dengar banyak orang pergi ke tempat yang namanya Yoshiwara. Anda tentunya kenal baik daerah itu. Apa tak ingin Anda memperlihatkannya pada saya?” Sudah menjadi kebiasaan Kojiro untuk terang-terangan me­nyatakan bahwa ia ingin bersenang-senang atau pergi minum. Tapi hanya dapat diduga-duga, apakah ia dengan sengaja bersikap kurang ajar, atau bersikap tulus memperdayakan.

Yajibei memilih tafsiran yang lunak. “Anda belum pernah pergi ke Yoshiwara?” tanyanya heran. “Kalau begitu, kami mesti membantu. Saya mau saja pergi dengan Anda, tapi, yah, malam ini saya mesti tinggal di sini, berjaga mayat dan sebagainya itu.”

Ia memilih Juro dan Koroku, dan memberi mereka uang, juga peringatan. “Ingat, kalian berdua, aku kirim kalian bukan untuk keluyuran. Kalian pergi cuma menjaga guru kalian dan membuatnya senang.”

Kojiro berjalan beberapa langkah di depan kedua orang itu. Segera kemudian, ia merasa sulit dapat tetap berjalan, karena pada malam hari, kebanyakan tempat di Edo gelap pekat. Ini sama sekali tak terbayangkan untuk kota-kota seperti Kyoto, Nara, dan Osaka.

“Jalan ini mengerikan sekali,” katanya. “Kita mesti bawa lentera tadi.”

“Orang bisa menertawakan kita, kalau kita masuk daerah lokalisasi membawa lentera,” kata Juro. “Awas, tumpukan tanah yang Anda injak itu parit baru. Lebih baik Anda turun, sebelum jatuh ke dalamnya.”

Tak lama kemudian, air dalam parit itu menjadi kemerah-merahan, seperti langit di seberang Sungai Sumida. Bulan akhir musim semi tergantung seperti kue putih gepeng di atas atap-atap Yoshiwara.

“Di sana tempatnya, di seberang jembatan,” kata Juro. “Mau saya pin­jami saputangan?”

“Untuk apa?”

“Untuk menyembunyikan wajah Anda sedikit, macam ini.” juro dan Koroku menarik kain merah dari dalam obi dan mengikatkannya ke kepala, seperti saputangan. Kojiro menirukan dengan menggunakan secarik kain sutra cokelat muda.

“Ya, begitu,” kata Juro. “Cocok untuk Anda.” “Pantas Anda pakai.”

Kojiro dan kedua pengawalnya masuk dalam rombongan orang ber­bandana, yang berjalan dari rumah ke rumah. Seperti halnya Yanagimachi di Kyoto, Yoshiwara berlampu terang. Pintu masuk ke rumah-rumah itu dihiasi secara meriah dengan tirai-tirai merah atau kuning pucat. Sebagian memasang bel di bawah, agar gadis-gadis itu tahu apabila tamu-tamu masuk.

Sesudah keluar-masuk dua atau tiga rumah, Juro berkata sambil melirik Kojiro, “Tak ada guna, mencoba menyembunyikannya.”

“Menyembunyikan apa?”

“Anda bilang tak pernah kemari sebelumnya, tapi seorang gadis di rumah terakhir itu mengenali Anda. Begitu kita masuk, dia memekik kecil dan sembunyi di belakang tirai. Rahasia Anda terbuka sudah.”

“Belum pernah aku pergi kemari. Siapa yang kaubicarakan itu?”

“Jangan pura-pura. Mari kita kembali, nanti saya tunjukkan.”

Mereka masuk kembali ke rumah yang tirainya memakai hiasan berbentuk daun semanggi pecah tiga. Kata “Sumiya” tertulis dengan huruf-huruf agak kecil di sebelah kiri.

Tiang-tiang berat rumah itu, dan gang-gangnya yang megah, mengingatkan orang pada arsitektur Kuil Kyoto, tapi kilaunya yang tampak baru tidak memberikan suasana tradisi dan bermartabat. Kojiro menduga keras bahwa tumbuhan rawa masih berkembang pesat di bawah lantai rumah itu.

Ruang besar tempat mereka diantar di lantai atas belum lagi dibereskan, sesudah dipergunakan tamu-tamu sebelumnya. Di meja dan lantai bertebaran remah-remah makanan, kertas lap, tusuk gigi, dan barang-barang kecil lain. Gadis pelayan yang kemudian datang membersihkan tempat itu melaksanakan pekerjaannya dengan kesempurnaan seorang pekerja harian.

Ketika Onao datang untuk menerima pesanan mereka, ia menyatakan juga pada mereka betapa ia sibuk. Katanya ia hampir tak punya waktu untuk tidur. Tiga tahun lagi, kerja seribut itu akan membawanya ke hang lahat. Rumah-rumah pelacuran yang lebih baik di Kyoto berhasil memegang teguh kesan bahwa kehadiran mereka adalah untuk menghibur dan me­nyenangkan para tamu. Tapi di sini tujuannya jelas untuk mengosongkan uang orang-orang itu secepat-cepatnya.

“Jadi, beginilah rupanya daerah hiburan Edo ini,” dengus Kojiro, disertai pandangan mencela ke arah lubang-lubang kayu di langit-langit. “Brengsek juga.”

“Ah, tapi ini cuma sementara,” protes Onao. “Gedung yang sedang kami bangun sekarang akan lebih bagus daripada yang pernah Anda lihat di Kyoto atau Fushimi.” Ia menatap Kojiro sebentar. “Ah, tapi saya sudah pernah lihat Anda sebelum ini. Ah, ya! Tahun lalu, di jalan raya Koshu.”

Kojiro sudah lupa akan pertemuan kebetulan itu, tapi karena diingatkan, maka katanya sedikit menunjukkan minat, “Oh, ya, saya kira nasib kita ini terjalin.”

“Saya kira memang begitu,” kata Juro sambil tertawa, “kalau di sini ada gadis yang ingat Anda.” Sambil menggoda Kojiro mengenai masa lalunya, ia melukiskan wajah gadis itu dan pakaiannya, serta minta Onao pergi mencarinya.

“Saya tahu yang Anda maksud,” kata Onao, lalu pergi menjemput gadis itu.

Beberapa waktu berlalu, tapi perempuan itu masih belum kembali, karena itu Juro dan Koroku pergi ke ruang besar dan bertepuk tangan me­manggilnya, dan barulah akhirnya perempuan itu muncul kembali.

“Yang Anda minta itu tak ada di sini,” kata Onao.

“Dia ada di sini beberapa menit lalu.”

“Memang aneh, seperti saya katakan pada majikan saya. Dulu, ketika kami ada di Celah Kobotoke, samurai yang bersama tuan-tuan itu datang, dan gadis itu juga lari.”

Di belakang Sumiya itu berdiri kerangka gedung yang masih baru, atap­nya sebagian sudah selesai, tapi belum berdinding. “Hanagiri! Hanagiri!”

Itulah nama yang diberikan pada Akemi. Ia bersembunyi di antara tim­bunan kayu dan onggokan serutan. Beberapa kali para pencari lewat begitu dekat dengannya, hingga ia mesti menahan napas.

“Memuakkan sekali!” pikirnya. Beberapa menit pertama, kemarahannya hanya tertuju pada Kojiro seorang. Tapi sekarang kemarahan itu meluas mencakup semua lelaki-Kojiro, Seijuro, samurai di Hachioji, dan tamu­-tamu yang menganiayanya tiap malam di Sumiya. Semua lelaki adalah musuhnya, semuanya buruk sekali.

Kecuali satu, yang benar, yaitu yang seperti Musashi, yang ia cari tak henti-hentinya. Sesudah melepaskan khayal tentang Musashi yang sebenarnya, ia membayangkan akan menyenangkan kiranya kalau ia berpura-pura jatuh cinta pada orang yang mirip Musashi. Tapi sungguh mengecewakan bahwa ia tidak menemukan satu pun orang yang mirip Musashi.

“Ha-na-gi-ri!” Orang itu Shoji Jinnai sendiri, yang semula berseru dari belakang rumah, tapi kemudian makin mendekat ke tempat persembunyian­nya.

Ia dikawani Kojiro dan kedua kawannya. Mereka mengomel tak henti-­hentinya, hingga menyebabkan Jinnai mengulang-ulang permintaan maafnya. Tapi akhirnya mereka pergi ke arah jalan.

Melihat mereka pergi, Akemi menarik napas lega dan menunggu sampai Jinnai kembali ke dalam, kemudian ia berlari langsung ke pintu dapur.

“Lho, Hanagiri, apa engkau di luar terus malam ini tadi?” tanya pelayan dapur, histeris.

“Sst! Tenanglah, dan beri aku sake.”

“Sake? Sekarang?”

“Ya, sake!” Semenjak tiba di Edo, memang semakin sering Akemi men­cari hiburan dalam sake.

Karena takut, gadis pelayan itu menuangkannya satu mangkuk besar. Sambil memejamkan mata, Akemi mengosongkan isi mangkuk itu. Wajahnya yang berbedak ditegakkan ke belakang, sampai hampir sejajar dengan mangkuk putih itu.

Ketika ia pergi meninggalkan pintu, gadis pelayan itu berteriak kuatir. “Kau mau ke mana sekarang?”

“Tutup mulut! Aku cuma mau membasuh kaki, lalu kembali masuk.” Karena percaya dengan kata-katanya, gadis pelayan itu menutup pintu dan kembali pada pekerjaannya.

Akemi memasukkan kakinya ke zori pertama yang dilihatnya, dan melangkah agak gontai ke jalan. “Alangkah senangnya berada di luar. Itulah reaksinya yang pertama, tapi perasaan itu segera diikuti perasaan muak. Ia meludah ke semua arah, kepada para pencari kesenangan yang sedang menyusuri jalan yang berlampu terang, lalu enyah dari tempat itu.

Sampai di tempat bintang-bintang tercermin di dalam parit, ia berhenti untuk melihat. Ia dengar bunyi kaki berlari-lari di belakangnya. “Oh, oh” Pakai lentera pula sekarang. Dan dari Sumiya mereka. Binatang! Tak dapatkah mereka memberi kedamaian beberapa menit saja pada seorang gadis. Tidak mau! Temukan dia! Kembalikan dia buat mencetak uang. Mengubah daging dan darah menjadi kayu untuk rumah baru mereka ­itulah satu-satunya yang dapat memuaskan hati mereka. Tapi tak bakal mereka dapat mengembalikan aku!”

Serutan kayu yang melingkar-lingkar dan bergantung lepas pada rambutnya melompat-lompat naik-turun, ketika ia berlari sekencang-kencangnya dalam kegelapan. Tak tahu ia ke mana akan pergi, dan ia pun tak peduli. Pokoknya ia pergi, pergi jauh.

Burung Hantu

KETIKA akhirnya mereka meninggalkan warung teh, Kojiro hampir tak da­pat lagi berdiri.

“Topang… topang,” katanya sambil menggapai Juro dan Koroku, mencari topangan.

Ketiga orang itu berjalan goyah menyusuri jalanan gelap dan sepi itu. Juro berkata, “Saya sudah bilang, kita mesti menginap.”

“Di warung murahan itu? Tak bakalan! Lebih baik aku kembali ke Sumiya.”

“Enggan saya.”

“Kenapa?”

“Gadis itu, dia melarikan diri dari Anda. Kalau mereka menemukan gadis itu, mereka akan menahannya supaya tidur dengan Anda, tapi untuk apa? Anda tak dapat menikmatinya.”

“Ya. Barangkali kau benar.”

“Anda ingin dengan dia, ya?”

“Enggak.”

“Tapi Anda tak bisa melupakan dia, kan?”

“Tak pernah aku jatuh cinta dalam hidupku. Aku bukan orang macam itu. Ada hal-hal yang lebih penting yang mesti kulakukan.”

“Apa itu?”

“Oh, itu jelas. Aku mau jadi pemain pedang terbaik dan paling terkenal, dan jalan tercepat untuk mencapai itu adalah menjadi guru shogun.”

“Tapi sudah ada Keluarga Yagyu yang mengajarnya. Dan saya dengar, belum lama ini dia mempekerjakan juga Ono Jiroemon.”

“Ono Jiroemon! Siapa pula yang peduli tentang dia? Keluarga Yagyu saja tidak membuatku terkesan. Tunggu saja aku. Hari-hari ini…”

Mereka sampai di bagian jalan yang di sisinya dibuat parit baru. Lumpur lunak tertimbun di situ, setinggi setengah pohon liu.

“Hati-hati, licin sekali,” kata Juro ketika ia dan Koroku mencoba mem­bantu gurunya turun dari timbunan lumpur itu.

“Awas!” pekik Kojiro. Tiba-tiba ia menolakkan kedua kawannya. Dengan cepat ia meluncur turun dari timbunan lumpur. “Siapa di situ?”

Orang yang baru saja menerjang punggung Kojiro itu kehilangan kese­imbangan dan terjungkal masuk parit.

“Sudah lupa kamu, Sasaki?”

“Kau membunuh empat kawan kami!”

Kojiro melompat ke puncak onggokan lumpur, dan dari situ ia melihat setidaknya ada sepuluh orang berdiri di antara pepohonan, sebagian ter­sembunyi dalam rumpun mendong. Pedang-pedang diarahkan kepadanya, dan mereka mulai merapat.

“Oh, jadi kalian dari Perguruan Obata?” tanyanya dengan nada menghina. Aksi mendadak itu membuatnya sadar dari mabuknya. “Yang lalu itu. kalian kehilangan empat dari antara lima orang. Berapa orang lagi kalian datang malam ini? Berapa orang ingin mati? Ayo berikan jumlahnya, biar aku melayani kalian. Pengecut! Maju, kalau kalian berani!”

Tangannya pun dengan tangkas bergerak ke atas bahu, menangkap ga­gang Galah Pengering.

Sebelum mencukur rambut kepalanya, Obata Nichijo adalah seorang di antara prajurit paling terkemuka di Kai, sebuah provinsi yang termasyhur karena para samurainya yang heroik. Sesudah dikalahkannya Keluarga Takeda oleh Tokugawa Ieyasu. Keluarga Obata hidup tak dikenal orang, sampai akhirnya Kagenori mendapat nama dalam Pertempuran Sekigahara. Sesudah itu, ia diminta oleh Ieyasu sendiri untuk mengabdi dan memperoleh ke­masyhuran sebagai guru dalam ilmu militer. Namun ia menolak tawaran shogun untuk memilih petak tanah di Edo Tengah, dengan alasan bahwa seorang prajurit desa seperti dirinya akan merasa asing di sana. Ia lebih menyukai bidang tanah berhutan yang berdekatan dengan Tempat Suci Hirakawa Tenjin, di mana ia membangun perguruan sendiri, di dalam sebuah rumah pertanian tua beratap lalang. Sesudah itu ditambahkan olehnya sebuah ruang kuliah baru dan pintu masuk yang agak mengesankan.

Sekarang Kagenori sudah berusia lanjut dan menderita gangguan saraf. Pada bulan-bulan terakhir itu, ia hanya tinggal di kamar dan jarang sekali muncul di ruang kuliah. Hutan di sekitar tempat itu penuh burung hantu dan Kagenori pun mulai suka menulis namanya sebagai “Orang Tua Burung Hantu”. Kadang-kadang ia tersenyum lemah, dan katanya, “Aku ini burung hantu, seperti orang-orang lain juga.”

Bukan tidak sering rasa nyeri dari pinggang ke atas tidak tertahankan lagi olehnya. Dan malam itu ia kumat lagi.

“Sudah lebih baik? Mau sedikit air?” Yang berbicara itu Hojo Shinzo, anak Hojo Ujikatsu, ahli strategi militer terkemuka.

“Jauh lebih enak sekarang,” kata Kagenori. “Kenapa kau tidak tidur, sebentar lagi terang.” Rambut orang sakit itu putih, tubuhnya kurus sekali, bersegi-segi seperti pohon prem tua.

“Tak usah kuatir dengan saya. Saya banyak tidur siang hari.”

“Tak mungkin kau punya banyak waktu buat tidur, kalau waktu siangmu kau habiskan buat mendengarkan kuliah-kuliahku. Kau satu-satunya yang dapat melakukan itu.”

“Tidur terlalu banyak bukan disiplin yang baik.”

Melihat bahwa lampu sudah akan man, Shinzo berhenti menggosok punggung orang tua itu, dan pergi mengambil minyak. Begitu ia kembali, Kagenori yang masih berbaring tengkurap mengangkat wajahnya yang kurus dari bantal. Cahaya lampu terpantul menakutkan pada matanya.

“Ada apa, Pak?”

“Kau tidak mendengar? Kedengarannya seperti air berkecipak.”

“Kedengarannya dari sumur.”

“Siapa pula itu, malam-malam begini? Apa menurutmu sebagian orang­orang itu pergi minum lagi?”

“Mungkin juga. Akan saya lihat.”

“Kau mesti memarahi mereka.”

“Baik, Pak. Sekarang lebih baik Bapak tidur. Bapak tentunya lelah.” Ketika rasa nyeri Kagenori sudah berkurang dan ia jatuh tertidur, dengan hati-hati Shinzo menaikkan selimut ke bahunya dan pergi ke pintu belakang.

Dua murid membungkuk ke ember sumur, sedang mencuci darah dari wajah dan tangan mereka.

Ia berlari mendapatkan mereka dengan wajah marah. “Kalian pergi, ya?” katanya singkat. “Padahal sudah kularang!” Kegusaran dalam suaranya mereda ketika ia melihat orang ketiga terbaring dalam bayangan sumur. Dari cara orang itu mengerang, kedengaran bahwa setiap saat ia bisa mati karena lukanya.

Seperti anak kecil yang memohon bantuan dari kakaknya, dengan wajah tak keruan bentuknya, kedua orang itu terisak-isak tak terkendalikan.

“Tolol!” Shinzo mesti mengendalikan diri untuk tidak menyabet mereka. “Berapa kali sudah kuperingatkan pada kalian, bahwa kalian bukan tanding­annya? Kenapa kalian tidak mendengarkan?”

“Sesudah dia benamkan nama guru kita ke dalam lumpur? Sesudah dia bunuh empat orang di antara kita? Kau selalu bilang kami tak cukup akal. Apa bukan kau sendiri yang sudah kehilangan akal sehat? Kau mengendalikan kemarahan, menahan diri, menerima saja hinaan diam-diam! Apa itu yang kau namakan akal sehat? Itu bukan Jalan Samurai.”

“Bukan, ya? Kalau soalnya berhadapan dengan Sasaki Kojiro, aku yang akan menantangnya sendiri. Dia sudah memilih jalan menghina guru kita dan melakukan kebiadaban-kebiadaban lain terhadap kita, tapi itu bukan alasan bagi kita untuk kehilangan rasa keseimbangan. Aku tidak takut mati, tapi Kojiro tidak pantas membahayakan hidupku atau hidup orang lain lagi.”

“Tapi itu bukan pendapat kebanyakan orang. Mereka pikir kita takut padanya. Takut membela kehormatan kita. Kojiro sudah menjelek-jelekkan Kagenori di seluruh Edo.”

“Kalau dia mau lari pada omongan, biar saja. Kalian pikir orang yang kenal dengan Kagenori kalah argumentasi dengan orang baru yang congkak itu?”

“Terserah padamu, Shinzo. Kami takkan duduk menonton tanpa berbuat apa-apa.”

“Lalu apa yang kalian maksud?”

“Cuma satu hal. Bunuh dia!”

“Kalian pikir dapat? Aku sudah bilang, kalian jangan pergi ke Sensoji. Kalian tak mau mendengarkan. Empat orang meninggal. Dan sekarang kalian baru kembali sesudah dikalahkan lagi olehnya. Apa itu bukan menambahkan aib ke atas kecemaran? Bukan Kojiro yang menghancurkan nama baik Kagenori, tapi kalian. Nah, aku punya satu pertanyaan. Apa kalian berhasil membunuh dia?”

Tak terdengar jawaban.

“Tentu saja tidak. Aku berani bertaruh, kena goresan pun dia tidak. Sulitnya dengan kalian adalah kalian tak punya cukup pertimbangan buat menghindari pertemuan dengannya menurut persyaratannya sendiri. Kalian tak mengerti kekuatannya. Memang benar, dia masih muda, wataknya rendah, kasar, sombong. Tapi dia pemain pedang yang bagus. Bagaimana dia mempelajari keterampilan itu aku tak tahu, tapi tak bisa dibantah lagi. dia memilikinya. Kalian menyepelekan dia. Itulah kesalahan kalian yang utama.”

Satu orang menghampiri Shinzo, seakan siap menyerangnya secara fisik. “Kaubilang apa pun yang dilakukan bajingan itu, tak ada yang dapat kita perbuat?”

Shinzo mengangguk menantang. “Tepat sekali. Tak ada yang dapat kita lakukan. Kita ini bukan pedang, kita ini murid ilmu militer. Kalau me­nurut kalian sikapku ini pengecut, akan kuterima diriku disebut pengecut.” Orang yang terluka di dekat kaki mereka mengerang. “Air… air… minta air.” Kedua kawannya berlutut dan mendudukkannya.

Melihat mereka akan memberikan air kepadanya, Shinzo berteriak kuatir.

“Berhenti! Kalau dia minum air, mati dia!”

Selagi mereka masih ragu-ragu, orang itu meletakkan mulutnya ke ember. Satu hirupan saja, dan kepalanya pun jatuh ke dalam ember, hingga jumlah orang yang tewas malam itu menjadi lima.

Diiringi suara burung-burung hantu yang menyambut bulan pagi, diam­diam Shinzo kembali ke kamar si sakit. Kagenori masih tidur, napasnya dalam. Dengan perasaan tenteram, Shinzo masuk ke kamarnya sendiri.

Karya-karya tentang ilmu militer terbentang di mejanya. Buku-buku itu sedang dibacanya, tapi tak ada waktu untuk menyelesaikannya. Sekalipun ia dari keluarga berkecukupan, selagi kanak-kanak ia ikut membelah kayu bakar, mengangkut air, dan berjam-jam belajar dengan lampu lilin. Ayahnya, seorang samurai besar, tidak percaya bahwa pemuda-pemuda segolongannya mesti dimanjakan. Shinzo masuk Perguruan Obata dengan tujuan akhir menyempurnakan keterampilan militer yang didapatnva di keluarganya. Sekalipun tergolong murid muda, ia menduduki tempat tertinggi dalam penilaian gurunya.

Karena merawat gurunya yang sakit, kebanyakan malam hari ia terpaksa berjaga. Sekarang ia duduk melipat tangan dan menarik napas panjang. Siapa yang akan merawat Kagenori, kalau ia tak ada di sana? Semua murid lain yang tinggal di perguruan itu orang-orang kasar yang tertarik pada soal-soal militer, sedangkan mereka yang datang ke perguruan hanya untuk masuk kelas, lebih jelek lagi. Mereka bicara keras di mana-mana, menge­mukakan pendapat tentang soal-soal jantan yang biasa dibicarakan para samurai. Tak ada di antara mereka yang benar-benar mengerti semangat guru mereka, seorang kesepian yang berakal budi. Soal-soal yang lebih dalam mengenai ilmu militer tidak masuk dalam kepala mereka. Yang lebih mudah mereka pahami adalah cercaan jenis apa saja, baik yang nyata mau­pun khayal, terhadap harga diri atau kemampuan mereka sebagai samurai. Kalau merasa terhina, seketika mereka menjadi alat balas dendam yang tidak berakal.

Shinzo sedang bepergian ketika Kojiro datang di perguruan itu. Karena Kojiro menyatakan ingin mengajukan beberapa pertanyaan tentang buku-­buku pelajaran militer, minatnya itu tampak murni, dan ia diperkenalkan dengan sang guru. Tetapi kemudian, tanpa mengajukan satu pertanyaan pun, ia mulai berdebat dengan Kagenori dengan lancang dan sombongnya, dan ini menyebabkan orang menduga bahwa tujuannya yang sebenarnya adalah justru menghina orang tua itu. Ketika akhirnya beberapa murid berhasil membawanya ke kamar lain dan minta penjelasan kepadanya, ia membalas dengan banjir makian dan tantangan untuk berkelahi dengan siapa saja di antara mereka dan kapan saja.

Kojiro kemudian menimbulkan kesan bahwa studi militer Obata itu dangkal, bahwa studi itu tidak lebih dari kunyahan Gaya Kusunoki atau buku militer Tiongkok kuno yang dikenal dengan nama Enam Rahasia, dan bahwa mereka itu lancung dan tak dapat diandalkan. Ketika ucapan­-ucapannya yang jahat itu memantul kembali ke telinga para murid, mereka bersumpah memaksanya membayar dengan nyawa.

Oposisi dari pihak Shinzo ternyata sia-sia, sekalipun ia juga sudah me­nyatakan bahwa sebelum mengambil langkah menentukan, anak Kagenori, yaitu Yogoro yang waktu itu dalam perjalanan jauh, supaya lebih dulu diajak berbicara. Pendapat Shinzo sendiri: itu masalah kecil, guru mereka tidak perlu diganggu dengan soal-soal macam itu, karena Kojiro bukanlah murid serius dalam ilmu militer.

“Apa mereka tidak melihat, berapa banyak kesulitan sia-sia yang telah mereka timbulkan?” sesal Shinzo. Cahaya lampu yang meredup, samar­samar menerangi wajahnya yang keruh. Sambil masih mencoba mengerahkan otaknya, mencari pemecahan, ia meletakkan kedua lengannya menyilang ke buku-buku yang terbuka itu, dan jatuh tertidur.

Ia terbangun oleh suara bisik-bisik tak jelas. Mula-mula ia pergi ke ruang kuliah, tapi didapatinya ruangan itu kosong, karena itu ia pun memasukkan kakinya ke dalam zori dan pergi ke luar. Di tengah rumpun bambu yang menjadi bagian dari pekarangan Tempat Suci Hirakawa Tenjin, ia saksikan apa yang memang sudah ia duga sebelumnya: sekelompok besar murid sedang mengadakan sidang perang yang penuh emosi. Dua orang yang terluka, dengan wajah pucat pasi dan tangan tergantung dalam gendongan putih, berdiri berdampingan, melukiskan bencana yang telah terjadi malam itu.

Satu orang bertanya marah, “Kaubilang sepuluh orang berangkat dan setengahnya dibunuh oleh satu orang itu saja?”

“Kukira demikian. Bahkan mendekatinya saja kami tak bisa.”

“Murata dan Ayabe bisa dikatakan pemain pedang terbaik kita.”

“Mereka yang pertama pergi. Cuma karena keuletannya, Yosobei berhasil kembali kemari, tapi dia membuat kesalahan dengan minum air, sebelum kami dapat menghentikannya.”

Keheningan murung menyelimuti kelompok orang itu. Sebagai murid ilmu militer, mereka berkepentingan dengan masalah logistik, strategi, per­hubungan, intel, dan sebagainya, tapi bukan dengan teknik-teknik perkelahian satu lawan satu. Sebagian besar dari mereka percaya, karena begitulah yang diajarkan pada mereka, bahwa permainan pedang adalah untuk prajurit biasa, bukan untuk jenderal. Namun kebanggaan mereka sebagai samurai menghalangi mereka untuk menerima akibat yang wajar, bahwa mereka jadi tak berdaya menghadapi pemain pedang ahli seperti Sasaki Kojiro.

“Apa yang dapat kita lakukan?” tanya seseorang dengan suara merenung. Untuk sesaat, satu-satunya jawaban yang terdengar adalah suara burung hantu.

Kemudian seorang murid berkata nyaring, “Saya punya saudara sepupu dalam Keluarga Yagyu. Barangkali lewat dia, kita dapat minta bantuan mereka.”

“Jangan bodoh!” teriak beberapa yang lain. “Kita tak bisa minta bantuan dari luar. Itu akan mendatangkan banyak aib pada guru kita. Itu berarti mengakui kelemahan.”

“Nah, kalau begitu, apa yang dapat kita lakukan?”

“Satu-satunya cara, dengan kembali menghadapi Kojiro. Tapi kalau kita lakukan di jalanan gelap lagi, akan lebih rusaklah nama baik perguruan kita. Kalau kita mesti mati dalam pertempuran terbuka, biarlah. Paling tidak, kita takkan dianggap pengecut.”

“Apa akan kita kirimkan tantangan resmi kepadanya?”

“Ya, dan kita mesti terus berpegang pada tantangan itu, tak peduli berapa kali kita akan kalah.”

“Kupikir kau benar, tapi Shinzo takkan menyukai ini.”

“Dia tak boleh tahu soal ini, juga guru kita. Kalian semua mesti ingat. Kita dapat meminjam kuas dan tinta dari pendeta.”

Dan berangkatlah mereka diam-diam ke rumah pendeta. Tapi belum lagi sepuluh langkah mereka pergi, orang yang berjalan di depan tergagap dan undur selangkah. Yang lain-lain seketika berhenti, dan mata mereka terarah ke beranda belakang bangunan tempat suci yang sudah usang oleh waktu. Di sana, dengan latar belakang yang dibentuk oleh bayangan pohon prem yang lebat buahnya dan masih hijau, berdiri Kojiro. Satu kakinya ditopangkan pada susuran beranda, dan wajahnya memperlihatkan seringai jahat. Tanpa kecuali, para siswa menjadi pucat. Beberapa orang jadi susah bernapas.

Suara Kojiro terdengar sengit, “Aku mengerti dari pembicaraan kalian, bahwa kalian masih belum juga mau belajar. Kalian memutuskan menulis surat tantangan dan menyampaikan padaku. Nah, kalian tak usah repot-­repot. Aku di sini, dan siap tempur.

“Tadi malam, sebelum sempat membasuh darah dari tanganku, aku sudah mengambil kesimpulan akan ada sambungannya, karena itu kuikuti kalian, pengecut-pengecut cengeng ini, pulang.”

Ia berhenti, menanti kata-katanya dimengerti, kemudian melanjutkan dengan nada ironis. “Tadi aku ingin juga tahu, bagaimana kalian akan menetapkan waktu dan tempat untuk menantang seorang musuh. Apa kalian melihat horoskop dulu untuk memilih hari baik? Atau menurut kalian lebih bijaksana untuk tidak menarik pedang sampai datang malam gelap, ketika lawan kalian mabuk dan dalam perjalanan pulang dari daerah lokalisasi.” Ia berhenti lagi, seakan-akan menantikan jawaban.

“Tak ada yang kalian katakan? Tak ada satu pun orang berdarah merah di antara kalian? Kalau kalian memang ingin sekali berkelahi denganku, ayolah. Satu-satu, atau semua sekaligus, sama saja buatku! Tak bakal aku lari dari orang-orang macam kalian, biarpun kalian pakai ketopong lengkap dan maju bersama dengan pukulan genderang!”

Tak ada suara terdengar dari orang-orang yang ketakutan itu.

“Apa yang terjadi dengan kalian?” Makin lama makin panjang ia berhenti bicara. “Apa kalian memutuskan tak jadi menantangku? Apa tak ada satu pun di antara kalian yang punya tulang punggung?

“Baiklah, sudah waktunya sekarang aku membuka telinga kalian yang bodoh. Dengarlah. Aku Sasaki Kojiro. Aku belajar seni pedang secara tak langsung dari Toda Seigen yang agung, sesudah kematiannya. Aku tahu rahasia-rahasia menghunus pedang yang ditemukan Katayama Hisayasu, dan aku sendiri sudah menciptakan Gaya Ganryu. Aku ini tak seperti orang-orang yang urusannya teori, yang kerjanya membaca buku-buku dan mendengarkan kuliah tentang Sun-tzu atau Enam Rahasia. Dalam semangat dan dalam kemauan, kalian dan aku tak ada persamaan.

“Aku tak tahu perincian pelajaran kalian sehari-hari, tapi akan kutunjukkar pada kalian sekarang, apa artinya ilmu berkelahi itu dalam kehidupan nyata. Aku tidak membual. Coba pikirkan! Kalau orang diserang dalam kegelapan, seperti halnya diriku tadi malam, maka kalau dia beruntung bisa selamat, apa yang dilakukannya? Kalau dia orang biasa, dia akan pergi secepat-cepatnya ke tempat aman. Di situ dia akan memikirkan kembali peristiwa yang baru dialaminya, dan mengucapkan selamat kepada dirinya karena tetap hidup. Betul begitu? Apa bukan itu yang akan kalian perbuat?

“Tapi apa aku berbuat demikian? Tidak! Aku tidak hanya merobohkan setengah dari kalian, tapi kuikuti tukang-tukang keluyur itu pulang, dan aku menanti di sini, langsung di bawah hidung kalian. Aku mendengarkan ketika kalian mencoba menyusun pikiran kalian yang lemah itu, dan aku menimbulkan kejutan pada kalian. Kalau mau, aku dapat menyerang kalian sekarang juga dan menghancurkan kalian berkeping-keping. Itulah makna menjadi militer! Itulah rahasia ilmu militer!

“Sebagian dari kalian mengatakan, Sasaki Kojiro cuma pemain pedang: dia tak ada urusan datang ke perguruan militer dan buka mulut di sini. Seberapa jauh aku mesti meyakinkan kalian bahwa kalian keliru? Barangkali hari ini juga aku akan membuktikan pada kalian, bahwa aku bukan saja pemain pedang terbesar di negeri ini, tapi juga ahli taktik!

“Ha, ha! Jadilah kuliah kecil, ya? Aku kuatir kalau kulanjutkan me­nuangkan pengetahuanku ini, Obata Kagenori yang malang itu bisa kehabisan penghasilan. Itu tak pantas, bukan?

“Oh, aku haus. Koroku! Juro! Bawa air sini!”

“Sekarang juga, Pak!” jawab kedua orang itu serentak dari samping tem­pat suci. Mereka memperhatikan peristiwa itu dengan penuh kekaguman. Juro membawakan Kojiro satu mangkuk besar air, kemudian bertanya ingin tahu, “Apa yang akan Bapak lakukan sekarang?”

“Tanya mereka itu!” kata Kojiro mengejek. “Jawaban untukmu ada di muka-muka kosong macam muka musang itu!”

“Pernah Bapak lihat orang yang mukanya begitu bodoh?” Koroku tertawa.

“Kumpulan orang tak punya nyali!” kata Juro. “Mari kita pergi sekarang, Pak. Mereka takkan menghadapi Bapak.”

Ketika ketiga orang itu berjalan petentengan melewati gerbang tempat suci, Shinzo yang tersembunyi di tengah pepohonan bergumam dengan gigi terkatup, “Awas pembalasanku!”

Para murid merasa sangat sedih. Kojiro sudah membikin lumpuh dan mengalahkan mereka. Kemudian ia bermegah-megah, meninggalkan mereka dalam keadaan ketakutan dan terhina.

Ketenangan itu pecah oleh seorang murid yang datang berlari-lari dan bertanya dengan nada bingung, “Apa kita sudah pesan peti mati?” Dan ketika tak seorang pun menjawab, katanya, “Tukang peti mayat baru saja datang, membawa lima peti. Dia menunggu sekarang.”

Akhirnya seorang dari mereka menjawab lesu, “Sudah diperintahkan supaya mayat-mayat dibawa kemari, tapi belum datang. Aku tidak begitu yakin, tapi kupikir kita membutuhkan satu peti mati lagi. Suruh dia mem­buatnya, dan menyimpan yang sudah dibawanya dalam gudang.”

Malam itu diadakan jaga mayat di ruang kuliah. Segalanya dilakukan dengan tenang, dengan harapan Kagenori tidak mendengar. Tapi ia dapat iuga menduga apa yang telah terjadi. Hanya saja ia menahan diri untuk tidak mengajukan pertanyaan, dan Shinzo pun tidak berkomentar.

Sejak hari itu, noda kekalahan mengawang di atas perguruan tersebut. Hanya Shinzo yang menganjurkan menahan diri dan mendapat tuduhan pengecut itu yang tetap menyimpan keinginan untuk membalas dendam. Matanya menyimpan kilauan yang tak dapat ditebak oleh yang lain-lain.

Awal musim gugur, sakit Kagenori makin parah. Dari tempat tidurnya, ia bisa melihat seekor burung hantu hinggap di atas cabang pohon zelkova besar. Mata burung itu menatapnya, sekalipun ia tak bergerak, dan sepanjang hari ia berbunyi ke arah bulan. Kini Shinzo menangkap bunyi burung hantu itu sebagai tanda bahwa ajal gurunya sudah dekat.

Kemudian datang surat dari Yogoro, menyatakan bahwa ia telah men­dengar tentang Kojiro, dan sedang dalam perjalanan pulang. Beberapa hari sesudah itu, Shinzo terus bertanya-tanya, mana yang akan terjadi lebih dulu, kedatangan sang anak atau kematian sang ayah. Baik yang pertama maupun yang kedua, akan berarti datangnya hari yang dinanti-nantikannya, yaitu ketika ia akan lepas dari kewajiban-kewajibannya.

Pada malam sebelum Yogoro diperkirakan datang, Shinzo meninggalkan surat berpamitan di mejanya dan meninggalkan Perguruan Obata. Dari hutan di dekat tempat suci, ia menghadap ke kamar Kagenori dan berkata pelan, “Maafkan saya, karena pergi tanpa izin Bapak. Beristirahatlah dalam damai, guru yang baik. Yogoro akan pulang besok. Saya tak tahu apakah saya dapat mempersembahkan kepala Kojiro sebelum Bapak meninggal, tapi saya harus berusaha. Kalau sekiranya saya mati dalam usaha ini, akan saya nantikan Bapak di negeri orang-orang mati.”

Sepiring Ikan Lumpur

MUSASHI terus mengembara di pedesaan, menghabiskan waktu dengan berlatih hidup secara kekurangan, menghukum tubuhnya untuk menyem­purnakan jiwa. Lebih dari sebelumnya, ia bertekad untuk menempuh semua itu sendirian. Kalau itu berarti ia mesti menanggung lapar, hidup di udara terbuka, di tengah udara dingin dan hujan, serta berkeliling dengan pakaian compang-camping dan kotor, ia biarkan saja. Di dalam hatinya akan tersimpan impian yang takkan pernah terpuaskan jika ia menerima kedudukan sebagai pegawai Yang Dipertuan Date, sekalipun seandaimya Yang Dipertuan itu menawarkan kepadanya seluruh tanah perdikannya yang berpenghasilan tiga juta gantang.

Sesudah melakukan perjalanan panjang naik ke Nakasendo, hanya beberapa malam ia tinggal di Edo, dan kemudian turun ke jalan lagi, kali ini ke utara, menuju Sendai. Uang yang diberikan kepadanya oleh Ishimoda Geki menjadi beban nuraninya. Semenjak menemukan uang itu, ia tahu takkan punya kedamaian, sebelum ia mengembalikannya.

Sekarang, satu setengah tahun kemudian, ia berada di Hotengahara, satu dataran di Provinsi Shimosa, sebelah timur Edo, yang sedikit berubah sejak pemberontak Taira no Masakado dan pasukannya mengamuk melintasi daerah itu pada abad sepuluh. Dataran itu tempat yang suram, baru sedikit dihuni orang, dan tak punya tumbuhan bernilai. Yang ada hanyalah rumput liar, sejumlah pohon, dan beberapa rumpun bambu dan rumput mendong. Matahari yang bergantung rendah di kaki langit memantulkan warna merah di kolam-kolam air yang mandek, rerumputan dan semak­semak menjadi tak berwarna dan tidak tegas kelihatannya.

“Apa lagi sekarang?” gumam Musashi sambil mengistirahatkan kakinya yang letih di persimpangan jalan. Badannya terasa lesu dan masih lembap akibat hujan deras yang menimpanya beberapa hari sebelum itu di Celah Tochigi. Kelembapan malam membuatnya ingin sekali menemukan tempat tinggal manusia. Dua malam terakhir itu, ia tidur di bawah bintang, tapi sekarang ia menginginkan kehangatan perapian dan makanan sungguhan, bahkan juga makanan petani yang sederhana, seperti jewawut yang dimasak campur nasi.

Rasa garam dalam angin yang bertiup menandakan bahwa laut tidak jauh dari tempat itu. Kalau ia menuju ke sana, ia bisa menemukan rumah, barangkali juga desa nelayan atau pelabuhan kecil, demikian pikirnya. Kalau tidak, terpaksa ia mesti puas tinggal semalam lagi di rumput musim gugur, di bawah bulan penuh musim gugur.

Ia menyadari pula dengan nada ironis, bahwa sekiranya ia orang yang berjiwa lebih puitis, ia bisa menikmati detik-detik berada di tengah peman­dangan yang sangat tenang itu. Tapi kali ini ia hanya ingin meloloskan diri, berada di tengah orang banyak, menyantap makanan yang pantas, dan ber­istirahat, namun dengung serangga yang tak henti-hentinya itu seperti membacakan rangkaian doa untuk pengembaraannya yang dilakukan seorang diri.

Musashi berhenti di sebuah jembatan yang penuh kotoran. Bunyi kecipak jelas terdengar, mengatasi desir damai sungai sempit itu. Apakah itu berang-berang? Dalam cahaya sore yang mulai mengabur, ia tajamkan pandangan matanya, sampai ia melihat sesosok tubuh sedang berlutut di dalam lubang di tepi air. Ia mendecap melihat seorang anak lelaki me­mandang kepadanya. Muka anak itu betul-betul mirip muka berang-berang.

“Apa yang kaulakukan di bawah situ?” seru Musashi dengan suara ramah.

“Ikan lumpur,” terdengar jawaban singkat. Anak itu mengguncang­guncangkan keranjang anyam di dalam air, untuk membersihkan lumpur dan pasir dari hasil tangkapannya yang menggelepar-gelepar.

“Sudah dapat banyak?” tanya Musashi, yang enggan memutuskan ikatan yang baru ditemukannya dengan manusia lain itu.

“Tak banyak di sini. Sudah musim gugur.”

“Boleh aku minta ikan itu?”

“Ikan lumpur ini?”

“Ya, sedikit saja. Akan kubayar.”

“Maaf, tapi ini buat ayah saya.” Sambil memeluk keranjangnya, anak itu melompat dengan cekatan ke tepi sungai, dan enyah dari situ, seperti tembak­an ke dalam kegelapan.

“Cepat juga. Seperti setan.” Musashi, yang kembali sendirian, tertawa. Ia teringat akan masa kecilnya sendiri, dan juga akan Jotaro. “Ingin tahu juga aku, apa jadinya anak itu,” renungnya. Jotaro berumur empat belas tahun ketika Musashi terakhir bertemu dengannya. Sebentar lagi ia berumur enam belas. “Anak malang. Dia menerimaku sebagai guru, mencintaiku sebagai guru, melayaniku sebagai guru, tapi apa yang kulakukan untuknya? Tak ada.”

Karena tenggelam dalam kenangan, ia lupa akan rasa lelahnya. Ia ber­henti dan berdiri diam. Bulan sudah naik, terang, dan penuh. Pada malam seperti itu, Otsu suka bermain suling. Di tengah bunyi-bunyi serangga, Musashi serasa mendengar suara tawa Otsu dan Jotaro bersama-sama.

Ketika ia menoleh ke samping, tampak olehnya seberkas cahaya. Dengan seluruh sisa tubuhnya ditolehkannya ke arah itu, dan ia pun berjalan ke sana. Lespedeza tumbuh di seputar gubuk terpencil itu, hampir setinggi atapnya yang miring. Dinding-dinding gubuk tertutup pohon labu, dari kembangnya tampak seperti titik-titik embun yang besar. Ketika mendekat, ia terkejut oleh dengus marah seekor kuda tak berpelana yang ditambat di samping gubuk.

“Siapa itu?”

Musashi mengenali suara dan gubuk itu. Suara anak yang membawa ikan lumpur tadi. Sambil tersenyum, serunya, “Apa boleh aku menginap sini? Aku akan pergi pagi-pagi.”

Anak lelaki itu mendekat ke pintu dan mengamati Musashi baik-baik. Sebentar kemudian, katanya, “Baik. Silakan masuk.”

Rumah itu sama reyotnya dengan rumah-rumah lain yang pernah dilihat Musashi. Bulan bersinar menerobos celah-celah dinding dan atap. Setelah melepaskan jubahnya, Musashi tak dapat menemukan sangkutan untuk menggantungkan jubah itu. Angin dari bawah menyebabkan lantai berangin, sekalipun lantai itu tertutup tikar buluh.

Anak itu berlutut di depan tamunya, sesuai kebiasaan, dan katanya, “Waktu di sungai tadi, Bapak menginginkan ikan lumpur, kan? Apa Bapak suka ikan lumpur?”

Di tengah lingkungan seperti itu, sikap resmi si anak mengherankan Musashi, hingga ia hanya menatap.

“Apa yang Bapak perhatikan?”

“Berapa tahun umurmu?”

“Dua belas.”

Musashi terkesan oleh wajahnya. Wajah anak itu sama kotornya dengan akar bunga teratai yang baru dicabut dari tanah, dan rambutnya panjang dan berbau seperti sarang burung. Namun wajahnya mengekspresikan karakter. Pipinya sintal, dan matanya, yang bersinar seperti manik-manik di tengah debu yang mengitarinya itu, indah sekali.

“Saya punya jewawut campur nasi sedikit,” kata anak itu ramah. “Dan kalau suka, Bapak dapat ambil sisa ikan itu, karena sudah saya berikan sebagian pada Ayah.”

“Terima kasih.”

“Saya kira Bapak ingin teh juga.”

“Ya, kalau tidak terlalu mengganggu.”

“Silakan tunggu di sini.” Ia membuka pintu yang berbunyi menderit. Ia masuk ke kamar sebelah. Musashi mendengarnya mematahkan kayu kemudian mengipasi api dalam hibachi tanah. Tak lama kemudian asap yang memenuhi gubuk itu mengusir kawanan serangga ke luar.

Anak itu kembali membawa baki, yang kemudian diletakkannya di lantai, di depan Musashi. Musashi segera mulai makan, melalap ikan lumpur panggang yang asin itu, juga jewawut dan nasi, serta kue kedele manis, dalam waktu singkat sekali.

“Enak sekali,” katanya berterima kasih.

“Betul?” Anak itu rupanya ikut senang melihat orang lain puas.

Anak yang baik kelakuannya, pikir Musashi. “Aku ingin mengucapkan terima kasih pada kepala rumah tangga. Apa beliau sudah pergi tidur?”

“Tidak, dia ada di depan Bapak.” Anak itu menunjuk hidungnya sendiri. “Kau tinggal di sini sendirian?”

“Ya.”

“Begitu.” Menyusul keheningan yang kaku. “Lalu apa kerjamu buat makan sehari-hari?” tanya Musashi.

“Saya menyewakan kuda, dan pergi ke mana-mana sebagai tukang kuda. Kami dulu bertani juga sedikit… Oh, kita kehabisan minyak lampu. Bapak tentunya sudah ingin tidur, kan?”

Musashi membenarkan, kemudian membaringkan diri di kasur jerami usang yang ditebarkan dekat dinding. Dengung serangga terdengar menen­teramkan. Ia segera jatuh tertidur, tapi mungkin karena kecapekan, keringat­nya keluar. Kemudian ia bermimpi mendengar hujan turun.

Bunyi dalam mimpinya membuat ia duduk terkejut. Tak salah lagi. Yang didengarnya kini adalah bunyi pisau atau pedang yang sedang diasah. Ketika ia menjangkau pedangnya sambil berpikir-pikir, anak itu berseru kepadanya, “Bapak tak bisa tidur?”

Bagaimana mungkin dia tahu? Dengan heran Musashi berkata, “Apa kerjamu mengasah pisau, malam-malam begini?” Pertanyaan itu diucapkan demikian tegang, hingga kedengarannya lebih seperti pukulan batik sebilah pedang, bukan sebuah pertanyaan.

Anak itu tertawa keras. “Gara-gara saya, Bapak jadi takut, ya? Bapak kelihatan begitu kuat dan berani, jadi mestinya tidak begitu mudah merasa takut.”

Musashi terdiam. Ia bertanya-tanya dalam hati, apakah ia bertemu dengan setan yang tahu segalanya, dalam samaran seorang anak petani.

Ketika gosokan pisau pada asahan itu terdengar lagi, Musashi pergi ke pintu. Lewat sebuah celah, ia dapat melihat bahwa kamar lain itu dapur, dengan ruang tidur kecil di ujungnya. Anak itu berlutut dalam sinar bulan di samping jendela, dan di dekatnya berdiri guci air besar. Pedang yang diasahnya adalah dari jenis yang biasa dipakai petani.

“Apa yang mau kaulakukan dengan pedang itu?” tanya Musashi.

Anak itu menoleh ke pintu, tapi terus juga dengan pekerjaannya. Bebe­rapa menit kemudian, ia mengelap pedang yang panjangnya sekitar setengah meter itu dan memeriksanya. Pedang itu berkilau cemerlang dalam sinar bulan.

“Menurut Bapak, apa saya bisa memotong orang jadi dua dengan pedang ini?” tanyanya.

“Tergantung, kau tahu menggunakannya atau tidak.”

“Oh, saya yakin tahu.”

“Apa ada orang tertentu yang kaupikirkan?”

“Ayah saya.”

“Ayahmu!” Musashi membuka pintu. “Kuharap ini bukan kelakar.”

“Saya tidak berkelakar.”

“Tak mungkin kau bermaksud membunuh ayahmu. Tikus dan tawon di tengah alam liar yang terpencil saja punya akal lebih baik daripada mem­bunuh orangtuanya.”

“Tapi kalau tidak saya potong jadi dua, tak bisa saya membawanya.”

“Membawanya ke mana?”

“Saya mesti membawanya ke kuburnya.”

“Maksudmu, dia sudah meninggal?”

“Ya.”

Musashi memandang kembali dinding di sebelah sana. Tidak terpikir ­olehnya bahwa sosok besar yang la lihat di sana itu tubuh manusia. Sekarang ia melihat bahwa benda itu memang mayat seorang tua yang diletakkan lurus, kepalanya diganjal bantal dan ditutup kimono. Di sampingnya terdapat cambung nasi, secangkir air, dan seporsi ikan lumpur panggang di piring kayu.

Musashi merasa agak malu, mengingat tanpa disadarinya ia minta anak itu membagi ikan lumpur yang dimaksudkannya sebagai sesaji untuk jiwa orang yang sudah mati. Bersamaan dengan itu, ia mengagumi anak ini. karena memiliki ketenangan hendak memotong tubuh itu menjadi beberapa potongan, agar dapat membawanya. Matanya diarahkan ke wajah anak itu, dan untuk beberapa waktu ia tidak mengatakan apa-apa.

“Kapan dia meninggal?”

“Tadi pagi.”

“Berapa jauh kuburan dari sini?”

“Di atas bukit sana.”

“Apa tak bisa kau menyuruh orang lain?”

“Saya tak punya uang.”

“Ini, kuberikan.”

Anak itu menggeleng. “Tidak. Ayah saya tak suka menerima hadiah. Dan juga tak suka pergi ke kuil. Terima kasih, saya bisa menyelesaikannya.”

Dari semangat dan keberanian anak itu, dari sifatnya yang tenang namun praktis, Musashi menduga bahwa ayahnya bukan petani biasa. Mesti ada alasan tertentu, kenapa anak itu memiliki sifat mandiri yang mengagumkan sepern itu.

Untuk menghormati keinginan orang yang meninggal itu, Musashi rela menyimpan uangnya, tapi sebaliknya menawarkan sumbangan tenaga yang diperlukan untuk mengangkut tubuh itu dalam keadaan utuh. Anak itu menyetujui, dan bersama-sama mereka menaikkan mayat itu ke atas kuda. Saat mendaki jalan terjal, mereka turunkan mayat dari kuda, dan Musashi mendukungnya di punggung. Kuburan itu ternyata suatu tempat terbuka kecil, di bawah sebatang pohon berangan. Di sana terdapat satu batu bundar sebagai tanda.

Sesudah penguburan, anak itu meletakkan sedikit bunga ke atas makam, dan katanya, “Kakek, nenek, dan ibu saya dikubur di sini juga.” Ia melipat tangan untuk berdoa. Musashi ikut dengannya, memohon ketenangan keluarga dengan diam.

“Batu makam itu kelihatannya belum lama,” ujar Musashi. “Kapan keluargamu menetap di sini?”

“Di masa hidup kakek saya.”

“Dan di mana mereka tinggal sebelum itu?”

“Kakek saya seorang samurai dari suku Mogami, tapi sesudah kekalahan tuannya, dia membakar silsilah kami dan semua yang lain. Tak ada lagi yang tertinggal.”

“Pada batu itu tak ada kulihat namanya. Bahkan tak ada lambang ke­luarga atau tanggal.”

“Ketika meninggal, dia memerintahkan agar tidak ditulis apa-apa di batu. Dia sangat keras. Satu kali datang orang-orang dari perdikan Gamo, lalu dari perdikan Date, menawarkan kedudukan kepadanya, tapi dia menolak. Dia bilang seorang samurai tidak boleh mengabdi pada lebih dari seorang tuan. Itulah juga sikapnya mengenai batu itu. Karena sudah menjadi petani, dia bilang menuliskan nama di batu itu akan membuat malu tuannya yang sudah meninggal.”

“Apa kau tahu nama kakekmu?”

“Tahu. Namanya Misawa Iori. Karena ayah saya cuma petani, dia meng­hilangkan nama keluarga dan menyebut dirinya San’emon saja.”

“Dan namamu?”

“Sannosuke.”

“Apa kau punya sanak saudara?”

“Ada kakak perempuan, tapi dia sudah lama pergi. Tak tahu saya, di mana dia sekarang.”‘

“Tak ada orang yang tahu?”

“Tidak.”

“Apa rencana hidupmu sekarang?”

“Seperti sebelumnya, saya kira.” Tapi kemudian ia buru-buru me­nambahkan, “Tapi begini. Bapak seorang shugyosha, kan? Bapak tentunya jalan keliling ke mana-mana. Bawalah saya. Bapak dapat naik kuda saya, dan saya akan jadi tukang kudanya.”

Sementara menimbang-nimbang permintaan anak itu, Musashi me­layangkan pandang ke tanah di bawah mereka. Karena tanah itu cukup subur untuk menghidupi demikian banyak rumput liar, tak mengerti ia kenapa tanah itu tidak digarap. Sudah pasti itu bukan karena orang di sekitar tempat itu sudah makmur. Ia melihat sendiri bukti kemelaratan di mana-mana.

Menurut Musashi, peradaban tidak akan berkembang sebelum orang belajar mengendalikan kekuatan alam. Ia heran, kenapa penduduk di tengah Dataran Kanto ini demikian tak berdaya, kenapa mereka membiarkan diri ditindas oleh alam. Ketika matahari naik, Musashi melihat binatang­-binatang kecil dan burung-burung bersuka ria di tengah kekayaan yang belum diketahui cara memanfaatkannya ini. Atau begitulah kira-kira.

Segera ia tersadar, bahwa sekalipun memiliki keberanian dan kemandirian. Sannosuke hanyalah anak kecil. Sinar matahari menyebabkan dedaunan yang berembun itu berkilau-kilau. Mereka siap untuk kembali pulang, dan anak itu tidak lagi sedih, bahkan kelihatannya sudah mengusir seluruh pikiran tentang ayahnya dari kepalanya.

Di tengah jalan menuruni bukit, mulailah ia mendesak-desak Musashi memberikan jawaban atas usulnya. “Saya siap mulai hari ini,” katanya. ­”Pikirkan saja, ke mana pergi, Bapak dapat naik kuda ini, dan saya akan ­selalu melayani Bapak.”

Desakan itu menyebabkan Musashi diam-diam bersungut-sungut. Banyak yang bisa ditawarkan oleh Sannosuke, tapi Musashi bertanya pada diri sendiri, apakah ia mesti menempatkan diri lagi pada tanggung jawab atas masa depan seorang anak. Jotaro anak yang memiliki kemampuan alamiah. Tapi keuntungan apa yang didapatnya dengan mengikatkan diri pada Musashi.

Dan sekarang, ketika Jotaro lenyap entah ke mana, lebih terasa lagi oleh Musashi tanggung jawabnya. Namun, menurut Musashi, kalau orang hanya memikirkan bahaya-bahaya yang menghadang, ia takkan dapat maju selangkah pun, apalagi mencapai sukses dalam hidup ini. Lebih daripada itu, dalam persoalan seorang anak, tak seorang pun dapat benar-benar menjamin masa depannya, termasuk juga orangtuanya sendiri. “Mungkinkah secara objektif memutuskan apa yang baik untuk seorang anak, dan apa yang tidak baik?” tanyanya pada diri sendiri. “Kalau persoalannya mengembangkan bakat-bakat Sannosuke dan memimpinnya ke arah yang benar, aku dapat melakukannya. Kukira hal itu sama juga dengan yang dapat dilakukan orang lain.”

“Bapak mau berjanji, kan? Ayolah,” desak anak itu.

“Sannosuke, apa kau ingin jadi tukang kuda seumur hidupmu?”

“Tentu saja tidak. Saya ingin jadi samurai.”

“Justru itu yang kupikirkan. Tapi kalau kau ikut aku dan menjadi muridku, kau akan mengalami banyak penderitaan.”

Anak itu menjatuhkan tali kuda, dan sebelum Musashi tahu apa yang hendak dilakukannya, ia sudah berlutut di tanah, di bawah kepala kuda. Sambil membungkuk dalam-dalam, katanya, “Saya mohon, Bapak menjadikan saya seorang samurai. Itulah yang diinginkan ayah saya, tapi tak ada orang yang dapat dimintai pertolongannya.”

Musashi turun dari kuda, menoleh ke sekitarnya sebentar, kemudian memungut sebilah tongkat dart menyerahkannya pada Sannosuke. Ia ambil tongkat satu lagi untuk dirinya, dan katanya, “Coba pukul aku dengan tongkat itu. Sesudah kulihat bagaimana kau melakukannya, baru aku dapat memastikan, apa kau punya bakat jadi samurai.”

“Kalau saya dapat memukul Bapak, apa Bapak akan mengatakan ya?”

“Coba dulu, dan lihat.” Musashi tertawa.

Sannosuke mencengkeram erat senjatanya dan menyerbu ke depan, seperti orang kesurupan. Musashi tak kenal belas kasihan. Berkali-kali anak itu dipukulnya di bahu, di wajah, di tangan. Setiap kali si anak mundur terhuyung jauh, tapi selalu kembali menyerang.

“Sebentar lagi dia pasti menangis,” pikir Musashi.

Tapi Sannosuke tak hendak menyerah. Ketika tongkatnya patah dua, ia menyerang dengan tangan kosong.

“Apa yang kaulakukan, orang kerdil?” bentak Musashi dengan sikap marah yang disengaja. Ditangkapnya obi anak itu dan dibantingnya si anak ke tanah.

“Bajingan besar!” teriak Sannosuke yang sudah berdiri lagi dan menyerang kembali.

Musashi menangkap pinggangnya dan mengangkatnya ke udara. “Cukup?”

“Tidak!” teriak anak itu, sekalipun matanya sudah basah, dan tangan serta kakinya menggapai-gapai sia-sia.

“Kubanting kau ke batu di sana, dan kau akan mati. Menyerah, tidak?”

“Tidak!”

“Keras kepala, ya? Apa tak lihat, kau sudah kalah?”

“Selama masih hidup, aku belum kalah! Lihat saja, akhirnya aku akan menang.”

“Dengan cara apa?”

“Aku akan latihan, aku akan mendisiplinkan diriku.”

“Tapi selagi kau berlatih sepuluh tahun lamanya, aku juga berbuat begitu.”

“Ya, tapi kau jauh lebih tua dariku. Kau akan mati dulu.”

“Hmm.”

“Dan kalau orang memasukkanmu ke peti mati, aku akan kasih pukulan rerakhir, dan menang!”

“Tolol!” teriak Musashi sambil melontarkan anak itu ke tanah.

Ketika Sannosuke berdiri lagi, sesaat Musashi memandang wajahnya, tertcawa, dan bertepuk tangan. “Bagus. Kau boleh jadi muridku.”

Begitu Gurunya, Begitu Pula Muridnya

DALAM perjalanan singkat kembali ke gubuk itu, Sannosuke terus mengoceh tentang impian-impian masa depannya.

Tapi malam itu, ketika Musashi mengatakan bahwa ia harus siap meng­ucapkan selamat tinggal kepada satu-satunya rumah yang pernah dikenalnva itu, ia jadi sedih. Mereka tetap jaga sampai larut malam, dan Sannosuke dengan mata berkaca-kaca dan dengan suara lirih bercerita kepada Musashi tentang orangtua dan kakek-kakeknya.

Pagi hari, ketika mereka bersiap keluar, Musashi menyatakan bahwa sejak saat itu ia akan menyebut Sannosuke dengan nama Iori. “Kalau kau ingin menjadi samurai,” jelasnya, “sudah sewajarnya kau mengambil nama kakek­mu.” Anak itu belum cukup dewasa untuk mendapat upacara akil-balig, yaitu ketika seorang anak memperoleh nama dewasa. Tapi, menurut pendapat Musashi, menggunakan nama kakeknya akan menyemangati anak itu.

Kemudian, ketika anak itu kelihatan masih ingin berlama-lama di dalam rumah, Musashi berkata tenang, tapi mantap, “Iori, ayo cepat. Di sini tak ada yang kauperlukan. Kau tidak membutuhkan sisa-sisa masa lalu.”

Iori berlari ke luar rumah, memakai kimono yang sedikit menutupi pahanya, mengenakan sandal jerami tukang kuda, dan membawa bungkus kain berisi bekal makanan yang terdiri atas jewawut campur nasi. Ia tampak seperti kodok kecil, tapi slap dan ingin sekali menempuh hidup baru.

“Pilih satu pohon yang jauh dari rumah, dan ikatkan kuda itu,” perintah Musashi.

“Bapak bisa naik sekarang.”

“Kerjakan perintahku.”

“Baik, Pak.”

Musashi merasakan sikap sopan itu. Suatu tanda kecil, tapi menggembirakan, bahwa anak itu bersedia memilih jalan samurai sebagai ganti omongan teledor kaum tani.

Iori mengikatkan kuda, dan kembali ke tempat Musashi berdiri di bawah tepian atap gubuk tua itu, seraya memandang dataran di sekitar. “Apa yang ditunggu?” tanya anak itu dalam hati.

Sambil meletakkan tangan ke kepala Iori, kata Musashi, “Inilah tempatmu dilahirkan, dan tempatmu memperoleh tekad untuk menang.”

Iori mengangguk.

“Daripada mengabdi kepada tuan kedua, kakekmu menarik diri dari golongan prajurit. Ayahmu, yang setia pada harapan terakhir kakekmu, merasa puas dengan hanya menjadi petani. Kematiannya membuatmu seorang diri di dunia ini, karena itu sudah tiba waktunya bagimu untuk berdiri di atas kaki sendiri.”

“Ya, Pak.”

“Kau mesti menjadi orang besar!”

“Akan saya coba.” Air mata merebak di matanya.

“Selama tiga generasi, rumah ini meneduhi keluargamu dari angin dan hujan. Ucapkan terima kasih kepadanya, kemudian ucapkan selamat tinggal untuk selama-lamanya, dan jangan menyesal.”

Musashi masuk ke dalam, dan membakar pondok itu. Ketika ia keluar, Iori menatap dengan mata berkaca-kaca.

“Kalau kita tinggalkan rumah ini berdiri,” kata Musashi, “cuma akan menjadi tempat persembunyian penyamun atau pencuri. Kubakar dia agar orang-orang macam itu tidak menodai kenangan mengenai ayah dan akekmu.”

“Saya berterima kasih.”

Gubuk itu berubah menjadi onggokan api, kemudian runtuh.

“Mari kita pergi,” kata Iori, yang tidak lagi berminat pada sisa-sisa masa lalu.

“Belum.”

“Tapi tak ada lagi yang mesti kita lakukan di sini, kan?”

Musashi tertawa. “Kita membangun rumah baru di atas bukit kecil di sana itu.”

“Rumah baru? Buat apa? Bapak baru saja membakar yang lama.”

“Itu milik ayah dan kakekmu. Yang kita bangun itu akan menjadi milik kita.”

“Maksud Bapak, kita akan tinggal di situ?”

“Betul.”

“Kita tak akan pergi ke mana-mana, berlatih, dan mendisiplinkan diri?”

“Akan kita lakukan itu di situ.”

“Apa yang dapat kita latih di situ?”

“Menjadi pemain pedang, menjadi samurai. Kita akan mendisiplinkan semangat kita, dan kerja keras mengubah diri kita menjadi manusia sejati. Ayo ikut aku, dan bawa kapak itu.” Ia menunjuk rumpun rumput tempat ia meletakkan alat-alat pertanian.

Sambil memanggul kapak, Iori mengikuti Musashi menuju bukit kecil. Di sana tumbuh beberapa pohon berangan, pinus, dan kriptomeria.

Sesudah membuka baju sampai pinggang, Musashi mengambil kapak dan pergi bekerja. Segera kemudian ia betul-betul membikin hujan dari remah-remah kayu mentah.

Iori memperhatikan dan berpikir, “Barangkali dia akan membangun dojo. Atau apa kami akan berlatih di lapangan terbuka?”

Satu pohon tumbang, kemudian yang lain lagi. Keringat mengucur dari pipi Musashi yang merah sehat, membasuh kelesuan dan kesepian beberapa tahun yang lewat itu.

Ia menyusun rencana ini ketika berdiri di dekat makam baru petani, di atas kuburan kecil itu. “Aku akan meletakkan pedang sementara waktu, ­demikian diputuskannya, “dan sebagai gantinya, bekerja dengan cangkul.­ Zen, kaligrafi, seni minum teh, melukis, dan mengukir patung-semua itu bermanfaat untuk menyempurnakan ilmu pedang seseorang. Apakah meng­garap ladang tidak dapat juga memberikan sumbangan kepada latihannya? Bukankah petak tanah luas ini, yang menanti garapan tangan manusia merupakan ruang latihan yang sempurna? Dengan mengubah tanah datar yang tidak ramah menjadi tanah pertanian, ia dapat memajukan kesejahteraan generasi masa depan.

Selama ini ia menempuh hidup seperti pendeta pengemis Zen boleh dikatakan hidup atas prinsip menerima, yaitu tergantung pada makanan, peneduh, dan sumbangan orang lain. Ia ingin mengadakan perubahan radikal, karena sudah lama ia menduga bahwa hanya mereka yang benar-­benar menanam padi dan sayuran sendiri, dapat benar-benar memahami betapa suci dan bernilai keduanya itu. Mereka yang belum pernah menanam itu, seperti pendeta yang tidak mempraktekkan apa yang mereka khotbahkan. atau pemain pedang yang belajar teknik-teknik perkelahian, tapi tak tahu apa-apa tentang Jalan Samurai.

Waktu masih kanak-kanak, ia sering dibawa ibunya ke ladang, dan di sana bekerja bersama petani penyewa dan orang-orang desa. Tetapi tujuan yang hendak dicapainya sekarang lebih dari sekadar menghasilkan makanan untuk makannya sehari-hari. Ia mencari makanan yang berfaedah untuk jiwanya. Ia ingin mempelajari arti bekerja untuk hidup, dan bukan sekadar meminta. Ia juga ingin menanamkan jalan pikirannya kepada orang-orang di daerah itu. Menurut penglihatannya, menyerahkan tanah itu kepada rumput liar dan widuri, dan membiarkannya ditimpa badai dan banjir berarti menurunkan hidup melarat dari generasi yang satu kepada generasi yang lain, tanpa membuka mata terhadap kemampuan mereka sendiri dan kemampuan tanah sekitar mereka.

“Iori,” panggilnya, “ambil tali, dan ikat balok ini. Kemudian seret ke tepi sungai.”

Ketika perintah sudah dilaksanakan, Musashi menyandarkan kapaknya ke sebuah pohon dan menghapus keringat di dahinya dengan siku. Kemudian ia turun dan mengupas kulit pohon itu dengan kapak. Gelap turun, dan mereka menyalakan api unggun dengan serpih-serpih kayu, serta membuat potongan-potongan kayu untuk bantal.

“Pekerjaan menarik, ya?” kata Musashi.

Dengan penuh kejujuran, Iori menjawab, “Saya pikir sama sekali tak menarik. Tak perlu saya menjadi murid Bapak, kalau cuma untuk belajar mengerjakan ini.”

“Lama-lama kau akan suka.”

Bersamaan dengan perginya musim gugur, bunvi-bunyi serangga pun menghilang. Dedaunan menjadi layu dan berjacuhan. Musashi dan Iori selesai mengerjakan pondok mereka, dan kini memusatkan perhatian pada tugas menyiapkan tanah untuk ditanami.

Pada suatu hari, ketika sedang mengamati tanah itu, tiba-tiba terpikir oleh Musashi bahwa suasana tanah itu seperti diagram keresahan sosial yang telah berlangsung seabad, sesudah Perang Onin. Tanpa pikiran-pikiran itu pun, sesungguhnya keadaan tanah tidaklah membesarkan hati.

Musashi tidak tahu bahwa Hotengahara sudah berabad-abad lamanya tertimbun abu gunung berapi berkali-kali dari Gunung Fuji, dan Sungai Tone sudah berulang-ulang membanjiri dataran itu. Apabila cuaca cerah, tanah itu kering sekali, tapi apabila turun hujan lebat, air memahat saluran-saluran baru, dan sekaligus mengangkut sejumlah besar lumpur dan bebatuan. Tidak ada alur pokok yang dapat secara alamiah menjadi curahan alur-alur kecil. Yang ada cuma lembah lebar yang tidak memiliki kemampuan untuk mengairi atau mengeringkan daerah itu secara menyeluruh. Kebutuhan yang paling mendesak adalah mengendalikan air itu.

Dan makin ia memperhatikan, makin sering ia bertanya pada diri sen­diri, kenapa daerah itu tidak berkembang. “Pekerjaan ini takkan mudah,” pikirnya, tergugah oleh tantangan yang dihadapkan tanah itu kepadanya. Menggabungkan air dan tanah untuk menciptakan ladang-ladang produktif tidak banyak bedanya dengan memimpin manusia lelaki dan perempuan demikian rupa, hingga peradaban bisa berkembang pesat. Bagi Musashi, tujuannya ini sesuai benar dengan cita-citanya dalam permainan pedang.

Mulailah ia melihat Jalan Pedang secara baru. Setahun-dua tahun yang lalu, ia hanya ingin menaklukkan semua saingannya, tapi sekarang ia tidak lagi puas pada jalan pikiran yang mengatakan bahwa pedang ada di dunia untuk tujuan memberi kekuasaan atas orang lain. Merobohkan orang, membuktikan kejayaan kepada mereka, memamerkan batas kekuatan diri­semua itu makin terasa sia-sia olehnya. Ia ingin menaklukkan dirinya sen­diri, membuat hidup itu sendiri takluk kepadanya, mendorong orang lain untuk hidup, dan bukan untuk mati. Jalan Pedang tidak boleh dipergunakan semata-mata untuk menyempurnakan diri. Ia harus menjadi sumber kekuatan untuk menguasai orang banyak, dan memimpin mereka ke arah perdamaian dan kebahagiaan.

Ia sadar bahwa cita-citanya yang agung tidak lagi sekadar impian, dan cita-cita itu akan tetap ada selama la masih belum memiliki kekuasaan po­litik untuk melaksanakannya. Tetapi di tanah gurun ini ia tidak membutuh­kan pangkat atau kekuasaan. Dan ia menceburkan diri dalam perjuangan itu dengan penuh kegembiraan dan semangat.

Hari-hari datang dan pergi; tanggul-tanggul kayu dicabut, batu kerikil disaring, tanah garapan diratakan, tanah dan batu dibuat tanggul. Musashi dan Iori bekerja dari sebelum fajar sampai sesudah bintang-bintang bersinar terang di langit.

Kerja keras mereka yang tak kenal lelah itu memikat perhatian. Orang-­orang desa yang lewat sering kali berhenti, memperhatikan, dan memberi komentar.

“Menurut mereka, apa yang mereka kerjakan itu?”

“Bagaimana mereka bisa hidup di tempat macam itu?”

“Apa anak lelaki itu bukan anak si tua San’emon?”

Semua orang tertawa, tapi tidak semua berlalu demikian saja. Satu orang datang dengan bekal kebaikan hati semata-mata, dan katanya, “Saya tak suka mengatakan ini, tapi saya kira Anda membuang-buang waktu saja. Tulang punggung Anda bisa patah membuat ladang di sini. Satu kali saja datang badai, dalam semalam akan habis semuanya.”

Ketika beberapa hari kemudian ia lihat mereka masih saja mengerjakannya, ia rupanya sedikit tersinggung. “Baiklah, Anda saya beri tahu: yang Anda lakukan di sini cuma membuat lubang-lubang air, dan itu tak ada gunanya.”

Beberapa hari kemudian, ia menyimpulkan bahwa samurai yang aneh itu tak punya otak. “Orang-orang tolol!” teriaknya muak.

Hari berikutnya, datang satu rombongan untuk mengejek-ejek.

“Kalau memang ada yang bisa tumbuh di sini, kita tidak akan mandi keringat di bawah matahari panas, mengerjakan ladang kita sendiri, seperti orang-orang malang itu. Lebih baik kita tinggal di rumah, main suling.”

“Dan tidak bakal ada bencana kelaparan.”

“Kalian sia-sia saja mencangkul.”

“Otak kalian seperti setumpukan rabuk.”

Sambil mencangkul, Musashi terus menatap tanah, dan menyeringai. Iori merasa kurang senang, sekalipun sebelum itu Musashi sudah memarahinya karena menanggapi omongan para petani itu secara sungguh-sungguh. “Tapi, Pak,” demikian ia mencebil, “yang mereka katakan yang itu-itu juga!”

“Jangan perhatikan.”

“Saya tak tahan!” teriak anak itu sambil mengambil sebuah batu untuk dilemparkan kepada orang-orang yang mengejeknya. Mata Musashi membelalak, mencegahnya berbuat sesuatu. “Coba pikir apa ada gunanya? Kalau kau tidak berlaku sopan, tak akan kau kuterima jadi murid.”

Telinga Iori terbakar mendengar omelan itu, tapi ia bukannya membuang batu tersebut, melainkan mengutuk dan melemparkannya ke sebuah batu besar. Batu itu pecah menjadi dua, hingga timbul bunga-bunga api darinya. Iori melemparkan cangkulnya dan menangis. Musashi mengabaikan saja, walaupun sesungguhnya tergugah juga hatinya. “Dia seorang diri di dunia ini, seperti aku,” pikirnya.

Seolah bersimpati pada kesedihan anak itu, angin senja bertiup di atas dataran, menggerakkan segala bentuk kehidupan, langit menggelap, dan titik-titik hujan turun.

“Ayo, Iori, masuk!” panggil Musashi. “Kelihatannya akan datang angin topan.” Dengan tergesa-gesa ia mengumpulkan peralatannya, dan berlari menuju rumah. Begitu ia sampai di dalam, hujan turun dengan derasnya.

“Iori!” teriaknya heran, karena ternyata anak itu tidak masuk bersamanya. Ia pergi ke jendela dan melayangkan pandang ke arah ladang. Hujan me­mercik ke wajahnya, dari ambang jendela. Kilat membelah udara, menyambar bumi. Ketika memejamkan mata dan menutupi telinga, ia bisa merasakan kekuatan halilintar itu.

Di tengah angin dan hujan, Musashi seolah melihat pohon kriptomeria di Kuil Shippoji itu, dan mendengar suara garang Takuan. Ia merasa bahwa apa pun yang telah ia capai semenjak itu, ia berutang budi pada keduanya. Ia ingin memiliki kekuatan agung yang dimiliki pohon itu, juga hasrat dingin tak tergoyahkan yang dimiliki Takuan. Kalau ia dapat menunjukkan sikap kepada Iori sebagaimana sikap kriptomeria tua itu kepadanya, ia merasa telah berhasil membayar kembali sebagian utangnya kepada biarawan itu.

“Iori! … Iori!”

Tidak ada jawaban. Yang ada hanya halilintar dan hujan yang menghantam atap.

“Ke mana pula perginya?” tanyanya pada diri sendiri, tapi ia masih enggan pergi ke luar.

Ketika kemudian hujan mereda menjadi gerimis, barulah ia keluar. Ternyata Iori belum beranjak satu inci pun dari tempatnya. Dengan pakaian masih melekat pada tubuhnya, dan wajah masih cemberut marah, ia agak mirip dengan pengejut burung. Bagaimana mungkin seorang anak bersikap demikian kepala batu?

“Goblok!” umpat Musashi. “Balik sana ke rumah! Basah kuyup macam itu tak baik buatmu. Cepat, sebelum sungai-sungai itu naik! Bisa-bisa kau tidak kembali.”

Iori menoleh, seakan berusaha menemukan asal suara Musashi, kemudian mulai tertawa. “Bapak kuatir? Hujan macam ini tak lama. Lihat, awan sudah bubar.”

Musashi tak menduga bakal menerima pelajaran dari muridnya, karena itu agak kesal juga ia, padahal Iori sendiri tidak memikirkan lagi soal itu. “Marilah,” kata anak itu sambil memungut cangkulnya. “Kita masih dapat bekerja sedikit lagi, sebelum matahari tenggelam.”

Lima hari berikutnya, burung bulbul dan jagal bersahut-sahutan di bawah langit biru tak berawan. Retak-retak besar bermunculan di tanah, dan petak-petak kecil terbentuk di sekitar akar-akar mendong. Pada hari keenam, serangkaian awan hitam kecil-kecil muncul di kaki langit, dan dengan cepat menyebar di keluasan langit, sampai seluruh dataran tampak seolah terkena gerhana.

Iori mengamati langit itu sebentar, kemudian katanya dengan nada kuatir, “Kali ini benar-benar.” Bahkan ketika ia masih berbicara, angin hitam sudah memusar di sekitar mereka. Dedaunan bergetar dan burung­burung kecil berjatuhan ke tanah, seakan dijatuhkan oleh gerombolan pemburu yang diam tak terlihat.

“Hujan sebentar lagi?” tanya Musashi.

“Kalau langit begini, tidak cuma sebentar. Lebih baik saya pergi ke desa, dan Bapak lebih baik mengumpulkan alat-alat dan masuk rumah selekas-­lekasnya.” Sebelum Musashi dapat bertanya kenapa demikian, Iori sudah berangkat melintasi dataran, dan segera kemudian sudah tenggelam di lautan rumput yang tinggi.

Sekali lagi, penilaian Iori tentang cuaca itu tepat. Hujan deras yang tiba-­tiba turun itu mengembangkan irama khasnya sendiri, dipacu oleh angin ribut menggila, yang menyebabkan Musashi buru-buru mencari peneduh. Untuk sesaat lamanya, hujan turun dalam kederasan tak terbayangkan, lalu tiba-tiba berhenti, dan akhirnya mulai lagi dengan lebih hebat. Malam tiba, tapi badai tak juga mereda. Kelihatannya langit mengubah seluruh bumi menjadi samudra. Beberapa kali Musashi merasa kuatir angin akan me­nyingkapkan atap. Lantai rumah sudah kotor oleh strap yang tercerabut dari sisi bawah atap itu.

Pagi tiba, kelabu dan tanpa bentuk. Tidak ada tanda-tanda di mana Iori berada. Musashi berdiri dekat jendela. Hatinya serasa terbang. Ia tak dapat melakukan sesuatu. Di sana-sini kelihatan sebatang pohon atau rumput­-rumput. Di luar itu hanyalah lautan paya berlumpur. Untunglah pondok itu masih berada di atas permukaan air, tapi di tempat bantaran sungai yang biasanya kering, di bawah sana, sekarang menderas arus air yang menggelandang segalanya.

Karena tak tahu benar, apakah Iori barangkali sudah jatuh ke air dar, tenggelam, Musashi merasa waktu berjalan sangat lambat, sampai akhirnya dirasanya ia mendengar suara Iori memanggil, “Sensei! Sini!” Anak itu ada di seberang sungai, sedang mengendarai sapi kebiri. Sebuah bungkusan besar terikat di punggungnya.

Musashi memandang dengan cemas ketika Iori dengan sapinya langsung masuk aliran lumpur yang seakan-akan hendak mengisapnya itu.

Ketika sampai di tepi, ia guncangkan badannya untuk mengusir rasa dingin dan basah, tapi dengan tenang ia tuntun sapi itu ke samping pondok.

“Kau pergi ke mana?” tanya Musashi. Dalam suaranya ada nada marah, tapi sekaligus juga lega.

“Ke desa, tentu saja. Saya membawa banyak makanan. Badai ini sama dengan hujan setengah tahun, dan kalau nanti berhenti, kita akan terperangkap air banjir.”

Bungkusan jerami mereka bawa ke dalam rumah, kemudian Iori membuka talinya dan mengeluarkan isinya satu per satu dari bungkusan kertas minyak. “Ini buah berangan… buncis miju-miju… ikan asin…. Kita takkan kehabisan makanan, biarpun sebulan-dua bulan kita menunggu turunnya air.”

Mata Musashi berkaca-kaca oleh rasa terima kasih, tapi ia tidak mengata­kan apa-apa. Terlampau malu ia tidak memikirkan semua itu. Bagaimana mungkin ia memimpin umat manusia, kalau ia tak bisa mengurusi masalah hidup-matinya sendiri? Kalau tidak karena jasa Iori, barangkali sekarang ia akan kelaparan. Sebaliknya, karena dibesarkan di daerah pertanian terpencil, anak itu sudah tahu menimbun perbekalan semenjak ia berumur dua tahun.

Musashi sungguh heran bahwa orang-orang desa mau menyediakan semua makanan itu. Mereka tak mungkin memilikinya dalam jumlah ter­lampau banyak. Ketika akhirnya ia dapat berbicara dan mengemukakan soal itu, Iori menjawab, “Saya gadaikan kantong uang saya, dan saya pinjam dari Tokuganji.”

“Apa itu Tokuganji?”

“Itu kuil, sekitar dua mil dari sini. Ayah saya bilang, dalam kantong itu ada sedikit emas bubuk. Dia bilang, kalau saya mengalami kesulitan, saya mesti menggunakannya sedikit-sedikit. Kemarin, ketika cuaca buruk, saya ingat ucapannya itu.” Iori memperlihatkan senyum kemenangan.

“Apa kantong itu bukan tanda mata dari ayahmu?”

“Ya. Sesudah rumah tua itu dibakar, satu-satunya barang yang masih tinggal adalah kantong itu dan pedang.” Ia meraba gagang senjata pendek itu dalam obi-nya. Biarpun ujung pedang itu tidak memperlihatkan tanda tangan pembuatnya, Musashi sudah melihat ketika memeriksa pedang itu sebelumnya, bahwa pedang itu baik sekali mutunya. la juga merasa bahwa kantong warisan itu memiliki arti lebih besar dari sekadar emas urai di dalamnya.

“Kau jangan menyerahkan tanda mata pada orang lain. Hari-hari ini akan kuambil kembali kantong itu, tapi sesudah itu kau mesti janji takkan melepaskannya lagi.”

“Baik, Pak.”

“Di mana kau menginap?”

“Pendeta bilang, lebih baik saya tunggu di sana sampai pagi.”

“Kau sudah makan?”

“Belum. Tapi Bapak belum juga, kan?” “Belum, tapi tak ada kayu api, kan?”

“Oh, banyak.” Ia menunjuk ke ruangan di bawah pondok, dan sekali lagi Musashi mengagumi akal sehat anak itu. Dalam lingkungan seperti ini, kemampuan hidup tergantung pada wawasan ke depan, dan kesalahan kecil berarti hidup atau mati.

Ketika mereka selesai makan, Iori mengeluarkan buku. Kemudian, sambil berlutut sopan di depan gurunya, katanya, “Sambil menunggu turunnya air dan kita bisa kerja lagi, saya minta Bapak mengajari saya membaca dan menulis.”

Musashi setuju. Pada hari berlangsungnya badai yang demikian suram, itulah cara yang baik untuk memanfaatkan waktu. Buku itu adalah satu jilid Bunga Rampai Kong-Hu-Cu. Iori mengatakan buku itu dihadiahkan orang kepadanya di kuil.

“Kau betul-betul ingin belajar?”

“Ya.”

“Apa kau sudah banyak membaca?”

“Belum, baru sedikit.”

“Siapa yang mengajarmu?”

“Ayah saya.”

“Apa yang sudah kaubaca?”

“Ajaran Kecil.”

“Kau senang membaca itu?”

“Ya, senang sekali,” katanya bersemangat, dan matanya berbinar-binar.

“Baik, kalau begitu. Akan kuajarkan apa yang kutahu. Di kemudian hari, kau dapat menemukan orang yang lebih terpelajar untuk mengajarimu hal-hal yang tak kuketahui.”

Mereka menggunakan sisa hari itu untuk belajar. Anak itu membaca keras, dan Musashi sekali-sekali menghentikannya, untuk membetulkan kesalahan atau menjelaskan kata-kata yang tidak ia mengerti. Mereka duduk memusatkan perhatian, sama sekali tak menghiraukan badai yang bertiup.

Banjir besar itu berlangsung dua hari lagi, dan selama itu tidak kelihatan tanah di mana pun.

Hari berikutnya masih juga turun hujan. Dengan gembira Iori mcengeluarkan bukunya lagi, katanya, “Kita mulai lagi?”

“Tidak hari ini. Cukup sudah kau membaca.”

“Kenapa?”

“Kalau kau cuma membaca, kamu tidak melihat kenyataan di sekitarmu. Bagaimana kalau kau libur sehari dan bermain? Aku juga mau bersantai.”

“Tapi saya tak bisa keluar.”

“Kalau begitu, lakukan seperti yang kulakukan,” kata Musashi sambil menelentang dan menyilangkan kedua tangan di bawah kepala. “Apa saya mesti berbaring?”

“Lakukan saja yang kausukai. Berbaring, berdiri, duduk-mana saja yang enak.”

“Sesudah itu?

“Aku akan bercerita.”

“Oh, senang sekali,” kata Iori sambil menjatuhkan diri pada perutnya dan menggerak-gerakkan kakinya ke udara. “Cerita apa itu?”

“Sebentar,” kata Musashi, mengingat-ingat dongeng yang disukainya ketika masih kecil. Ia pilih pertempuran antara Genji dan Heike. Semua anak lelaki menyukainya.

Iori ternyata bukan perkecualian. Ketika Musashi sampai pada bagian tentang bagaimana Genji dikalahkan dan Heike mengambil alih negeri, wajah anak itu menjadi suram. Terpaksa ia mengedip-ngedipkan mata agar tidak menangisi nasib sedih Nyonya Tokiwa. Tetapi semangatnya naik, ketika ia mendengar bagaimana Minamoto no Yoshitsune belajar ilmu pedang pada “setan-setan berhidung panjang” di Gunung Kurama, dan kemudian melarikan diri dari Kyoto.

“Saya suka Yoshitsune,” katanya sambil duduk. “Apa betul di Gunung Kurama ada setan-setan itu?”

“Mungkin. Paling tidak, di dunia ini ada orang-orang yang bisa disebut setan. Tetapi yang mengajar Yoshitsune itu bukan setan betulan.” “Lalu apa mereka itu?”

“Mereka itu pengikut setia Genji yang kalah. Mereka tak bisa keluar terang-terangan sementara Heike memegang kekuasaan, karena itu mereka bersembunyi di pegunungan, sampai kesempatan datang.”

“Seperti kakek saya?”

“Betul, cuma kakekmu menunggu sepanjang hidupnya, dan kesempatan itu tak pernah datang. Sesudah Yoshitsune besar, para pengikut Genji yang setia dan pernah merawatnya di masa kecil, mendapat kesempatan yang mereka idam-idamkan.”

“Saya akan dapat kesempatan mencapai idam-idaman kakek saya, kan?”

“Hmm. Ya, kupikir mungkin saja itu. Ya, memang kupikir begitu.” Ditariknya Iori, diangkatnya, dan diseimbangkannya di atas tangan dan kakinya, seperti bola. “Sekarang cobalah menjadi orang besar!” Musashi tertawa.

Iori terkekeh-kekeh, dan katanya terbata-bata, “Pak… Bapak ini setan juga! Tunggu… saya jatuh nanti.” Ia turun dan memijit hidung Musashi.

Hari kesebelas, akhirnya hujan berhenti. Musashi sudah tak sabar ingin berada di luar, tapi minggu berikutnya baru mereka dapat kembali bekerja di bawah matahari terang. Ladang yang dengan bersemangat mereka ukir dari tanah liar kini lenyap tanpa jejak. Sebagai gantinya, tinggal batu-batu karang dan sungai yang tadinya tidak ada. Air rupanya mengejek mereka, seperti halnya orang-orang desa.

Iori, yang tak melihat jalan untuk memperoleh kembali ladang yang sudah hilang itu, menengadah dan katanya, “Tempat ini tak bisa diharapkan. Mari kita cari tanah yang lebih baik di tempat lain.”

“Tidak,” kata Musashi tegas. “Sesudah air surut, tanah ini akan menjadi tanah pertanian yang baik sekali. Aku sudah memeriksa tempat ini dari setiap sudutnya, sebelum aku memilihnya.”

“Bagaimana kalau turun hujan lebat lagi?”

“Akan kita atur supaya air tidak lewat tempat ini. Akan kita buat bendungan dari sini, sampai bukit di sana itu.”

“Tapi itu butuh kerja banyak sekali.”

“Kau rupanya lupa bahwa ini dojo kita. Satu kaki pun dari tanah ini takkan kulepaskan, sebelum aku melihat gandum tumbuh di atasnya.”

Musashi melakukan pekerjaan yang ulet itu sepanjang musim dingin, sampai bulan kedua tahun baru. Ia butuh waktu beberapa minggu kerja keras untuk menggali parit, mengeringkan air, menimbun lumpur untuk pematang, dan kemudian menutupnya dengan batu-batu berat.

Tiga minggu kemudian, segala sesuatu hanyut lagi dibawa air.

“Lihat,” kata Iori, “kita membuang-buang tenaga saja untuk sesuatu yang tak mungkin. Apa itu yang namanya Jalan Pedang?” Pertanyaan itu cukup tandas, tapi Musashi tak mau mundur.

Hanya sebulan berlalu, sebelum terjadi bencana berikutnya, berupa hujan salju berat yang dengan cepat diikuti dengan mencairnya es. Setiap kali kembali dari perjalanan ke kuil untuk mencari makanan, Iori berwajah murung, karena orang-orang di sana tanpa kenal ampun menjadikannya bulan-bulanan mengenai kegagalan Musashi. Dan akhirnya Musashi sendiri mulai kehilangan semangat. Dua hari penuh dan masuk hari ketiga ia duduk diam, merenungi dan menatap ladangnya.

Baru kemudian tiba-tiba terpikir olehnya. Tanpa disadarinya, ia telah mencoba menciptakan ladang persegi yang rapi, seperti umum terdapat di bagian-bagian lain Dataran Kanto, padahal daerah ini sesungguhnya tak cocok untuk itu. Di sini, sekalipun pada umumnya tanahnya datar, letak tanahnya agak bervariasi, demikian pula mutu tanah, dan ini dapat menjadi alasan untuk membuat ladang yang tidak teratur bentuknya.

“Bodoh sekali yang sudah kulakukan itu,” serunya keras. “Aku mencoba memaksa air mengalir ke tempat yang kukehendaki, dan memaksa lumpur diam di tempat yang menurutku memang tempatnya. Tapi itu tak benar. Bagaimana mungkin? Air adalah air, dan lumpur adalah lumpur, tak dapat aku mengubah hakikat keduanya itu. Yang mesti kulakukan adalah belajar menjadi pelayan air dan pelindung tanah.”

Jadi, dengan caranya sendiri ia telah menyerah pada sikap para petani. Tapi hari itu ia berubah menjadi pelayan alam. Ia tidak lagi mencoba memaksakan kemauannya pada alam. Dibiarkannya alam menempuh jalannya sendiri, sementara ia mencari kemungkinan-kemungkinan yang ada di luar jangkauan penghuni lain dataran itu.

Salju turun lagi, dan mencair. Air keruh mengalir pelan di atas dataran. Tapi Musashi telah mengembangkan pendekatan yang baru, sehingga ladangnya pun dapat bertahan.

“Hukum macam itu berlaku juga dalam mengatur orang banyak,” kata­nya pada diri sendiri. Dalam buku catatannya ia menulis, jangan mencoba melawan jalannya alam semesta. Tapi pertama-tama yakinkan dirimu bahwa engkau mengenal jalan alam semesta.

Setan-Setan Gunung

“BAIKLAH, saya sampaikan dengan terus terang. Saya tak ingin merepotkan Anda. Keramahtamahan Anda sangat saya hargai, dan itu cukup.”

“Baik, Pak. Bapak sungguh baik budi,” jawab pendeta itu.

“Saya cuma ingin beristirahat. Itu saja.” “Oh, silakan, silakan.”

“Nah, sekarang saya harap Anda mau memaafkan kekasaran saya,” kata samurai itu sambil seenaknya berbaring miring, dan mengganjal kepalanya yang sudah ubanan dengan lengannya.

Tamu yang baru datang di Kuil Tokuganji itu adalah Nagaoka Sado, tangan kanan Yang Dipertuan Hosokawa Tadaoki dari Buzen. Ia bukan orang yang punya banyak waktu untuk urusan pribadi, tapi pada kesempatan-­kesempatan seperti peringatan tahunan meninggalnya ayahnya, ia selalu datang, dan biasanya ia bermalam, karena kuil itu sekitar dua puluh mil jauhnya dari Edo. Untuk ukuran orang berpangkat seperti dirinya, perjalan­annya itu ia lakukan dengan sederhana saja, kali ini hanya diiringi dua samurai dan seorang pelayan pribadi yang masih muda. Untuk dapat sebentar saja meninggalkan bangunan Hosokawa itu, ia mesti membuat­-buat alasan. Jarang ia mendapat kesempatan melakukan sesuatu yang ia senangi, maka ketika ia dapat melakukannya, seperti sekarang ini, ia dengan sungguh-sungguh menikmati sake buatan setempat, sambil men­dengarkan kodok-kodok berbunyi. Sebentar saja ia sudah dapat melupakan segalanya-masalah-masalah pemerintahan dan kebutuhan yang tak henti-­hentinya untuk menyesuaikan diri dengan nuansa peristiwa sehari-hari.

Sesudah makam malam, si pendeta lekas-lekas membereskan pinggan ­mangkuk, dan pergi. Sado mengobrol iseng dengan para pelayannya yang duduk di dekat dinding. Hanya wajah mereka yang tampak dalam cahaya lampu.

“Mau rasanya berbaring terus di sini, dan masuk Nirwana, seperti sang Budha,” kata Sado malas.

“Tapi hati-hati, jangan sampai Bapak pilek. Udara malam lembap.”

“Ah, sudahlah. Beberapa pertempuran sudah dialami badan ini dengan selamat. Dia akan sanggup menghadapi sendiri satu-dua bersin. Tapi coba cium bau kembang masak itu! Harum sekali, ya?”

“Saya tak mencium apa-apa.”

“Tidak? Kalau indra penciummu begitu lemah… apa kau yakin kau sendiri tidak pilek?”

Sementara mereka sibuk dengan kelakar yang kelihatannya ringan ini, tiba-tiba kodok-kodok berhenti berbunyi, dan seseorang berteriak keras, “Setan kau! Apa kerjamu di sini, mengawas-awasi kamar tamu?”

Seketika pengawal Sado berdiri.

“Ada apa?”

“Siapa di sana?”

Sementara mata tajam mereka menyelidiki halaman, detap kaki-kaki kecil kedengaran menjauh ke arah dapur.

Seorang pendeta masuk dari beranda, membungkuk, dan katanya, “Maaf atas gangguan ini. Cuma seorang dari anak-anak sini. Tak perlu kuatir.”

“Anda yakin?”

“Tentu. Dia tinggal beberapa mil dari sini. Ayahnya dulu kerja sebagai tukang kuda, sampai meninggalnya baru-baru ini. Kakeknya kabarnya se­orang samurai. Tiap kali anak itu melihat samurai, dia berhenti untuk melihat, dan menggigit jari.”

Sado duduk. “Anda jangan terlalu keras dengan dia. Kalau dia ingin menjadi samurai, bawa dia masuk. Kita keluarkan gula-gula, dan kita bicarakan soal itu.”

Waktu itu Iori sudah sampai dapur. “Hei, Nek,” teriaknya. “Saya kehabisan jewawut. Isi dong ini.” Karung yang disodorkannya pada perempuan tua yang sudah keriput dan kerja di dapur itu barangkali bisa muat setengah gantang.

Perempuan itu membalas dengan teriakan. “Jaga lidahmu, pengemis! Bicaramu seakan kami berutang padamu.”

“Dan lagi berani-berani amat kau ini!” kata seorang pendeta yang sedang mencuci piring. “Pendeta kepala kasihan padamu, karena itu kami beri kau makanan, tapi jangan kurang ajar. Kalau kau minta bantuan, mesti sopan.”

“Saya tidak mengemis. Saya berikan pada pendeta kantung peninggalan ayah saya. Dalam kantung itu ada uang, dan banyak jumlahnva.”

“Kau kira berapa banyak dapat ditinggalkan seorang tukang kuda yang hidup di desa itu?”

“Mau kasih jewawut sama saya atau tidak?”

“Nah, begitu lagi. Coba lihat dirimu itu. Kau memang sinting, mau saja menerima perintah-perintah ronin tolol itu. Dari mana pula asal orang itu? Siapa dia? Kenapa dia mesti makan makananmu?”

“Sama sekali bukan urusanmu.”

“Huh. Mencangkul terus di tanah tandus, di mana takkan mungkin tim­bul ladang atau kebun atau apa pun! Seluruh desa menertawakan kalian.”

“Siapa yang minta nasihatmu?”

“Apa pun penyakit yang ada dalam kepala ronin itu, pasti menular. Apa yang kalian temukan di sana itu-satu kuali emas, macam dalam dongeng. Kau ini masih plonco, tapi sudah menggali kuburanmu sendiri.”

“Tutup mulutmu, dan beri aku jewawut. Jewawut! Sekarang!”

Pendeta masih menggoda Iori beberapa menit lagi, dan tiba-tiba suatu benda dingin berlumpur mengenai wajahnya. Mata si pendeta melotot, kemudian tahulah ia benda apa itu—seekor kodok berkutil. Ia menjerit dan menyerbu ke arah anak itu, tapi ketika ia berhasil mencengkeram leher baju si anak, pendeta lain datang menyatakan bahwa anak itu diminta masuk ruangan samurai.

Pendeta kepala sudah mendengar juga keributan itu, dan bergegas ke dapur. “Apa dia sudah bikin apa-apa yang mengganggu tamu kita?” tanyanya cemas.

“Tidak. Sado baru saja mengatakan ingin bicara dengannya, dan mau memberinya gula-gula.”

Pendeta kepala buru-buru menggandeng tangan Iori dan membawanya langsung ke ruangan Sado.

Iori dengan malu-malu duduk di samping sang pendeta, dan Sado ber­tanya, “Berapa umurmu?”

“Tiga belas.”

“Kau ingin menjadi samurai, ya?”

“Betul,” jawab Iori sambil mengangguk-angguk bersemangat.

“Ya, ya. Bagaimana kalau kau pindah tinggal di rumahku? Mula-mula kau mesti membantu melakukan pekerjaan rumah tangga, tapi nanti akan kubikin kau magang samurai.”

Iori menggelengkan kepala, tanpa kata-kata. Sado mengira sikap demikian itu disebabkan rasa malu, dan ia meyakinkan anak itu bahwa tawarannya sungguh-sungguh.

Iori melontarkan pandangan marah, katanya, “Saya dengar Bapak mau memberi saya gula-gula. Mana gula-gula itu?”

Dengan wajah pucat, pendeta kepala menampar pergelangan tangannva.

“Jangan marahi dia,” kata Sado dengan nada memarahi. Ia memang suka pada anak-anak, dan cenderung untuk selalu menuruti kemauan mereka­. “Dia benar. Seorang lelaki mesti memenuhi janjinya. Ambilkan gula-gula itu.”

Ketika gula-gula itu dibawa masuk, Iori mulai menjejalkannya ke dalam kimononya.

Sado heran juga, tanyanya, “Kau tidak memakannya di sini?”

“Tidak. Guru saya menanti saya di rumah.”

“Oh? Kau punya guru?”

Iori tak mau susah-susah menjawab. Ia meloncat dari ruangan dan merig­hilang ke kebun.

Sado merasa tingkah laku Iori itu menarik sekali. Tapi tidak demikian halnya dengan pendeta kepala. Ia membungkuk ke lantai dua-tiga kali sebelum pergi ke dapur, mengejar Iori.

“Di mana anak kurang ajar itu?”

“Dia ambil karung jewawut itu, dan pergi.”

Mereka mendengarkan sebentar, tapi yang mereka dengar tak lain dari bunyi lengkingan yang tidak selaras. Iori sudah memetik daun sebuah pohon, dan mencoba memainkan satu lagu. Tapi rupanya di antara beberapa lagu yang dikenalnya, tak ada yang dapat dimainkan dengan baik. Lagu kerja tukang-tukang kuda terlalu lambat, sedangkan lagu-lagu pesta Bon terlalu rumit. Akhirnya ia memainkan saja lagu yang mirip dengan musik tari suci di tempat suci setempat. Ini cocok sekali untuknya, karena ia me­nyukai tari-tarian itu. Kadang-kadang dulu ayahnya membawanya melihat tari-tarian itu.

Sekitar setengah jam ke Hotengahara, di tempat bertemunya dua aliran air menjadi sebuah sungai, tiba-tiba ia terkejut. Daun itu terloncat dari mulutnya, disertai semprotan ludah, dan ia melompat ke rumpun bambu di samping jalan.

Di atas sebuah jembatan sederhana, berdiri tiga atau empat orang, sedang terlibat dalam percakapan rahasia. “Mereka!” seru Iori lirih.

Ancaman yang pernah didengarnya mendering lagi dalam telinganya yang ketakutan. Apabila para ibu di daerah ini memarahi anak-anaknya, mereka terbiasa mengatakan, “Kalau kau nakal, setan-setan gunung akan turun mengambilmu.” Terakhir kali setan-setan gunung itu benar-benar datang adalah pada musim gugur dua tahun yang lalu.

Sekitar tiga puluh kilometer dari situ, di Pegunungan Hitachi, ada sebuah tempat suci yang dipersembahkan kepada dewa gunung. Berabad-­abad sebelumnya, penduduk begitu takut pada dewa itu, hingga desa-desa bergiliran memberikan sesaji tahunan berupa padi dan perempuan kepadanya. Apabila tiba giliran sebuah desa, maka penduduk desa itu mengumpulkan persembahan dan berarak-arak membawa obor ke tempat suci itu. Kemudian, setelah ketahuan bahwa dewa itu hanya seorang manusia, mereka menjadi lalai memberikan persembahan.

Selama berlangsungnya perang saudara, apa yang dinamakan dewa gunung itu mulai mengumpulkan persembahan dengan paksa. Tiap dua atau tiga tahun, gerombolan perampok bersenjatakan tombak-kapak, tombak berburu, kapak-apa saja yang dapat menimbulkan rasa takut dalam hati penduduk yang damai-turun mula-mula ke satu desa, kemudian ke desa lain, mem­bawa pergi segala yang memenuhi selera mereka, termasuk istri-istri orang dan anak-anak gadis. Kalau korban memberikan perlawanan, penjarahan pun disertai pembantaian.

Karena serbuan terakhir mereka masih tergambar jelas dalam kenangannya, Iori menyembunyikan diri di semak-semak. Kelompok yang terdiri atas lima bayangan datang berlari melintas ladang ke jembatan. Kemudian, di tengah kabut malam itu, datang kelompok lain yang lebih kecil, menyusul kelompok lain lagi, sampai jumlah bandit itu mencapai antara empat puluh dan lima puluh orang.

Iori menahan napas dan memperhatikan baik-baik, sementara mereka bersoal jawab tentang tindakan yang akan mereka ambil. Segera kemudian mereka mencapai kesepakatan. Pemimpin mereka mengeluarkan perintah dan menuding ke arah desa. Orang-orang itu menyerbu ke sana, seperti kawanan belalang.

Tak lama kemudian, kabut malam penuh oleh suara ingar-bingar­burung, binatang ternak, kuda, lolongan manusia, tua maupun muda.

Iori cepat mengambil keputusan untuk meminta bantuan dari samurai yang ada di Kuil Tokuganji, tapi begitu ia meninggalkan persembunyian bambu itu, terdengar teriakan dari jembatan, “Siapa di sana?” Ia tak melihat bahwa dua orang ditinggalkan untuk berjaga di jembatan. Dengan napas terengah-engah ia berlari sekencang-kencangnya, tapi kedua kakinya yang pendek itu bukan tandingan untuk dua orang dewasa.

“Ke mana kau pergi?” teriak orang yang pertama menangkapnya.

“Siapa kau?”

Iori bukannya menangis seperti bayi yang akan membuat orang-orang itu lengah, tapi sebaliknya mencakar-cakar memberontak, melawan tangan-­tangan kuat yang memenjarakannya.

“Dia melihat kita semua. Dia akan melapor.”

“Kita pukuli saja sampai babak belur, lalu kita buang ke sawah.”

“Aku ada pikiran yang lebih baik.”

Mereka membawa Iori ke sungai, mereka lemparkan ke bawah, kemudian mereka sendiri menyusul melompat, dan mereka ikatkan Iori ke salah satu tiang jembatan.

“Nah, di situ dia akan aman.” Kedua bajingan itu naik kembali ke pos mereka di jembatan.

Lonceng kuil berdentang-dentang di kejauhan. Iori ketakutan melihat nyala api yang membubung di atas desa itu membuat sungai menjadi merah darah. Suara bayi menangis dan perempuan-perempuan melolong terdengar makin lama makin dekat. Kemudian terdengar roda-roda berkeracak naik jembatan. Setengah lusin bandit menggiring kereta-kereta sapi dar kuda-kuda yang bermuatan barang rampasan.

“Sampah kotor!” teriak satu suara lelaki.

“Kembalikan istriku!”

Perkelahian di atas jembatan itu singkat, tapi ganas. Orang-orang memekik dan logam berdentangan, jeritan melangit, dan sesosok mayat berlumuran darah mendarat di kaki Iori. Tubuh lain tercebur ke sungai, memerciki wajahnya dengan darah dan air. Satu demi satu para petani jatuh dari jembatan, enam orang semuanya. Tubuh-tubuh itu naik ke permukaan dan mengapung turun menghilir, tapi satu orang yang belum mati benar mencengkeram buluh dan mencakar tanah, hingga ia dapat mengangkat setengah badannya dari air.

“Hei!” teriak Iori. “Lepaskan tali ini. Saya akan minta tolong. Akan saya usahakan supaya Bapak bisa balas dendam.” Kemudian suaranya berubah jadi teriakan. “Ayo! Lepaskan saya. Saya mesti selamatkan desa itu.” Tapi orang itu tak bergerak.

Iori mendesak ikatannya dengan seluruh tenaganya, dan akhirnya ia ber­hasil mengendurkannya sedikit, hingga dapat memerosotkan badan dan menendang bahu orang itu.

Wajah yang menoleh kepadanya itu bernoda lumpur dan darah kental. Matanya pudar, tak paham.

Orang itu merangkak dengan penuh kesakitan, mendekat. Dengan sisa tenaganya la lepaskan simpul tali. Ketika tali terlepas, ia rebah dan mati.

Iori memandang hati-hati ke jembatan, dan menggigit bibir. Di atas sana terdapat lebih banyak tubuh orang. Tapi ia beruntung. Sebuah roda gerobak terperosok ke dalam papan yang sudah lapuk. Para perampok menariknya keluar dalam keadaan tergesa-gesa, dan tidak melihat Iori meloloskan diri.

Karena sadar tidak akan bisa sampai ke kuil, Iori berjingkat menyusur bayangan pepohonan, sampai akhirnya tiba di tempat yang cukup dangkal untuk diseberangi. Ketika sampai di seberang sana, ia sudah berada di ujung Hotengahara. Ia tempuh jarak satu kilometer lagi ke pondoknya, seakan-akan kilat sedang menyambar-nyambar tumitnya.

Ketika sudah menghampiri bukit tempat berdirinya pondok, ia lihat Musashi berdiri di luar, memandang langit. “Cepat ikut!” teriak Iori.

“Ada apa?”

“Kita mesti pergi ke desa.”

“Apa api itu di sana?”

“Ya, setan-setan gunung itu datang lagi.”

“Setan?… Bandit, ya?”

“Ya, paling tidak empat puluh orang jumlahnya. Kita mesti menyelamatkan orang desa.”

Musashi masuk ke dalam pondok, dan keluar lagi membawa kedua pedangnya.

Sementara ia mengikatkan sandalnya, Iori berkata, “Ikuti saya. Akan saya tunjukkan jalannya.”

“Jangan. Kau tinggal di sini.”

Iori tak dapat mempercayai telinganya.

“Terlalu berbahaya.”

“Tapi saya tidak takut.”

“Kau bisa menghalangi.”

“Tapi Bapak tidak tahu jalan terdekat ke sana!”

“Api itu bisa jadi penunjukku. Sekarang jadilah anak baik, dan tinggal saja di sini.”

“Baik, Pak.” Iori mengangguk patuh, tapi dengan perasaan sangat was-was. Ia menolehkan kepala ke arah desa, dan memandang muram ketika Musashi melejit ke arah nyala merah itu.

Bandit-bandit mengikat para tawanan perempuan yang merintih dan menjerit dalam satu barisan, dan menarik mereka tanpa kenal ampun ke jembatan.

“Jangan lagi berkaok-kaok!” teriak seorang bandit. “Seperti tak bisa jalan saja. Ayo jalan!”

Ketika perempuan-perempuan itu bertahan, bajingan-bajingan itu mendera mereka dengan cambuk. Seorang perempuan jatuh, menyeret jatuh yang lain-lain. Seseorang menangkap tali itu dan memaksa mereka berdiri kembali. Bentaknya, “Anjing-anjing kepala batu! Apa yang kalian rintihkan? Mau saja kalian tinggal di sini, kerja macam budak sepanjang hidup, cuma demi secuwil jewawut? Coba lihat diri kalian itu, cuma kulit pembalut tulang. Kalian bisa jauh lebih makmur, kalau mau bersenang-senang dengan kami.­

Mereka pilih salah satu binatang yang tampaknya lebih sehat dan penuh bermuatan barang rampasan, mereka ikatkan tali itu padanya, lalu mereka cambuk pantat binatang itu keras-keras. Tali pun mengencang dengan tiba­tiba, dan jeritan-jeritan membelah udara ketika perempuan-perempuan itu disentakkan lagi ke depan. Yang terjatuh terseret terus, wajah mereka meng­garuk-garuk tanah.

“Berhenti!” jerit seorang. “Tanganku bisa lepas!”

Gelombang tawa parau melanda kawanan perampok itu.

Tapi pada saat itu, kuda dan perempuan-perempuan itu mendadak berhenti.

“Ada apa?… Oh, ada orang di depan!”

Semua mata ditajamkan untuk melihat.

“Siapa di sana?” raung seorang bandit.

Bayangan tenang yang berjalan ke arah mereka itu membawa pedang. Bandit-bandit yang sudah tajam mencium bau, dengan seketika dapat mengenali bau yang mereka cium—darah yang menetes-netes dari pedang.

Orang-orang yang ada di depan mundur dengan kikuk, dan Musashi menaksir kekuatan musuhnya. Dua belas orang, semuanya berotot keras dan tampak kasar. Sesudah sadar kembali dari guncangan awal, mereka menyiapkan senjata dan mengambil jurus bertahan. Satu orang berlari ke depan, membawa kapak. Seorang lagi, yang membawa tombak berburu. mendekat dari arah diagonal sambil merunduk rendah, mengancam rusuk Musashi. Orang yang memegang kapak maju pertama.

“A-w-w-k!” Kedengaran seperti menggigit lidah sendiri sampai putus. orang itu menggeliat hebat, kemudian roboh.

“Kalian tak kenal aku?” suara Musashi mendering tajam. “Aku pelindung rakyat, utusan dewa yang mengawasi desa ini.” Detik itu juga ia menangkap tombak yang diarahkan kepadanya, menyentakkannya dari tangan pemiliknya, dan membantingnya keras ke tanah. Dengan cepat ia menyerbu ke tengah gerombolan bajingan itu, sibuk menangkis tusukan-tusukan yang datang dari segala penjuru. Tapi, sesudah serangan pertama yang dilancarkan selagi mereka masih berkelahi dengan penuh keyakinan, tahulah Musashi apa yang bakal terjadi. Persoalannya bukan jumlah, tapi kekompakan dan kontrol diri lawan.

Melihat bahwa satu demi satu rekan mereka berubah menjadi peluru yang menyemburkan darah, bandit-bandit itu segera mengundurkan diri, makin lama makin jauh, akhirnya panik dan kehilangan segala kemampuan untuk menyusun diri.

Selagi berkelahi pun Musashi dapat menarik pelajaran, memanfaatkan pengalaman yang kelak menuntunnya kepada metode khusus untuk diper­gunakan pihak lemah terhadap pihak kuat. Ini adalah pelajaran berharga, yang tidak dapat diperoleh dalam perkelahian dengan musuh tunggal.

Kedua pedangnya masih berada dalam sarungnya. Bertahun-tahun ia berlatih menguasai seni menangkap senjata lawan dan membalikkannya untuk menyerang. Sekarang ia melaksanakan teori itu dalam praktek, merebut pedang dari orang pertama yang dihadapinya. Alasannya bukan karena pedangnya, yang ia anggap sebagai jiwanya sendiri itu, terlampau bersih untuk dinodai darah perampok biasa. Ia hanya bertindak praktis: untuk melawan persenjataan yang beraneka ragam itu, pedang bisa rompal, bahkan bisa patah.

Ketika lima atau enam orang yang masih selamat melarikan diri ke arah desa, Musashi mengambil waktu semenit-dua menit untuk beristirahat dan mengatur napas, dengan perkiraan mereka akan datang kembali membawa bala bantuan. Kemudian ia bebaskan perempuan-perempuan itu, dan ia perintahkan mereka yang masih bisa berdiri untuk membantu yang lain.

Sesudah mengucapkan beberapa patah kata untuk menghibur dan me­nyemangati mereka, ia mengatakan bahwa tergantung pada mereka sendiri untuk menyelamatkan orang tua, anak-anak, dan suami mereka.

“Kalian akan merana kalau kalian tetap hidup, sedangkan mereka tewas, kan?” tanyanya.

Terdengar bisik-bisik setuju.

“Kalian sebetulnya punya kekuatan untuk melindungi diri dan menye­lamatkan yang lain-lain. Tapi kalian tidak tahu bagaimana menggunakan kekuatan itu. Karena itulah kalian menjadi korban bandit-bandit itu. Kita mesti mengubah keadaan ini. Akan kubantu kalian menggunakan kekuatan yang kalian miliki. Yang pertama-tama mesti dilakukan, persenjatai diri kalian.”

Ia suruh mereka mengumpulkan senjata yang bertebaran itu, dan mem­bagikannya satu-satu pada semua perempuan.

“Sekarang ikut aku, dan lakukan seperti kuperintahkan. Kalian tak perlu takut. Coba yakinkan diri kalian, bahwa dewa daerah ini ada di pihak kalian.”

Ketika ia pimpin perempuan-perempuan itu menuju desa yang terbakar, orang-orang lain yang juga menjadi korban, muncul dari balik bayangan pepohonan dan menggabungkan diri dengan mereka. Sebentar kemudian, kelompok itu sudah berkembang menjadi pasukan kecil yang jumlahnya hampir seratus orang. Para perempuan mendekap orang-orang yang mereka cintai sambil berurai air mata. Anak-anak perempuan dipersatukan kembali dengan orangtuanya, istri-istri dengan suaminya, ibu-ibu dengan anak­-anaknya.

Semula, ketika perempuan-perempuan menceritakan bagaimana Musashi menghadapi bandit-bandit itu, orang-orang lelaki hanya mendengarkan de­ngan wajah bengong, tak percaya bahwa itulah ronin goblok dari Hotengahara itu. Ketika mereka mempercayainya, rasa terima kasih mereka tak disembunyikan lagi, sekalipun ada kesulitan dalam hal dialek.

Sambil menoleh kepada kaum pria, Musashi minta mereka mencari senjata. “Apa pun bisa digunakan, bahkan tongkat yang cukup berat dan baik, atau sebatang bambu yang masih baru.”

Tak seorang pun membantah atau bertanya tentang perintah-perintahnya.

Musashi bertanya, “Berapa orang bandit semuanya?”

“Sekitar lima puluh.”

“Berapa rumah di desa itu?”

“Tujuh puluh.”

Musashi memperhitungkan, barangkali seluruhnya ada tujuh atau delapan ratus orang. Biarpun orang tua dan anak-anak tidak dimasukkan, perampok masih kalah jauh jumlahnya, sepuluh lawan satu.

Ia tersenyum geram, karena penduduk desa yang damai itu tadinya percaya tak ada jalan lain kecuali mengangkat tangan dengan putus asa. Ia tahu bahwa jika tidak dilakukan suatu tindakan, kekejian itu akan berulang. Malam itu ia ingin melaksanakan dua hal: menunjukkan pada orang-orang desa, bagaimana melindungi diri sendiri, dan mengusahakan agar para perampok itu pergi untuk selamanya.

“Pak,” teriak seorang lelaki yang baru saja datang dari desa. “Mereka sedang jalan ke sini.”

Walaupun sekarang orang-orang desa sudah bersenjata, berita itu membuat mereka gelisah. Terlihat tanda-tanda mereka ragu dan akan lari.

Untuk mengembalikan keyakinan mereka, Musashi berkata keras, “Tak ada yang perlu dikuatirkan. Aku sudah menduga. Kuminta kalian bersem­bunyi di kedua sisi jalan, tapi pertama-tama dengarkan perintahku.” Ia berbicara cepat tapi tenang, dan dengan singkat mengulangi beberapa hal yang mesti ditekankan. “Kalau mereka sampai di sini, akan kubiarkan me­reka menyerangku. Kemudian aku akan pura-pura lari. Mereka akan mengejarku. Kalian-kalian semua-tinggal di tempat kalian. Aku tak butuh bantuan apa-apa.

“Tapi sebentar kemudian mereka akan kembali. Nah, waktu mereka kembali, serang! Bikin suara ribut, bikin mereka terkejut. Pukul lambung mereka, kaki dan dada meraka-mana saja yang tak terlindung. Habis melayani rombongan pertama itu, kalian sembunyi lagi, dan tunggu yang berikutnya. Lakukan terus begitu, sampai mereka semua mati.”

Belum lagi ia selesai mengucapkan kata-kata itu dan para petani menyebar, kaum perusak itu muncul. Dari pakaian dan tiadanya kerja sama pada mereka, Musashi menduga kekuatan tempur mereka itu masih primitif, seperti pada zaman dahulu, ketika orang masih berburu dan menangkap ikan untuk hidup. Nama Tokugawa tak ada artinya bagi mereka, begitu pula nama Toyotomi. Pegununganlah tempat kediaman suku mereka. Orang-orang desa itu bertugas menyediakan makanan dan perbekalan bagi mereka.

“Berhenti!” perintah satu orang yang ada di depan kawanan. Jumlah me­reka sekitar dua puluh orang, sebagian memegang pedang kasar, sebagian lagi lembing, satu membawa kapak perang, yang lain tombak berkarat. Dengan latar belakang nyala api, tubuh mereka tampak seperti bayang­-bayang setan sehitam jelaga.

“Apa ini orangnya?”

“Ya, itu dia orangnya.”

Musashi berdiri menghadang, sekitar dua puluh meter di hadapan mereka. Mereka bingung, dan mulai meragukan kekuatan sendiri. Untuk sesaat tak seorang pun dari mereka bergerak.

Tapi itu hanya berlangsung sebentar. Mata Musashi yang menyala-nyala mulai menyeret mereka ke arahnya, tanpa dapat ditawar lagi.

“Kau bajingan mau mencoba menghalangi jalan kami?”

“Betul!” raung Musashi sambil menangkap pedang dan menyerbu ke tengah mereka. Maka berkumandanglah suara seru, diikuti keributan angin pusaran. Tak mungkin lagi melihat gerakan masing-masing orang. Suasana jadi seperti kerumunan semut yang berputar-putar.

Sawah di satu sisi jalan dan tanggul yang dibarisi pepohonan dan semak belukar di sisi yang lain itu baik sekali untuk Musashi, karena memberikan semacam perlindungan, tapi sesudah bertempur sebentar, ia melakukan pengunduran diri secara strategis.

“Lihat.”

“Bangsat itu lari!”

“Kejar dia!”

Mereka mengejarnya sampai sudut terjauh ladang terdekat, dan di situ ia membalik dan menghadapi mereka kembali. Karena tak ada apa pun di belakangnya, kedudukannya kelihatan lebih buruk, tapi ia terus memaksa lawan-lawannya bertahan dengan bergerak cepat ke kiri dan ke kanan. Ke­mudian, bila ada yang membuat gerakan keliru, Musashi segera menghantamnya.

Sosok tubuhnya yang hitam seakan melenting dan tempat yang satu ke tempat lain, sementara darah menyembur di depannya, tiap kali ia berhenti. Bandit-bandit yang tidak terbunuh jadi terlalu bingung untuk berkelahi, sedangkan Musashi sendiri semakin dahsyat pukulannya. Pertempuran ini lain dengan pertempuran di Ichijoji. Ia tidak merasa berdiri di perbatasan antara hidup dan mati. Ia sudah mencapai tingkat di luar dirinya, sementara tubuh dan pedangnya terus bekerja, tanpa mesti berpikir secara sadar. Para penyerang melarikan diri tunggang-langgang.

Bisikan berantai terdengar di antara orang-orang desa. “Mereka datang.” Kemudian sekelompok dari mereka melompat keluar dari persembunyian dan menyerang dua-tiga bandit pertama, dan membunuh mereka hampir tanpa kesukaran. Para petani masuk kembali ke dalam kegelapan, dan proses itu berulang lagi, sampai semua bandit berhasil dihadang dan dibunuh. Ketika jumlah mayat dihitung, keyakinan orang desa meningkat.

“Ternyata mereka tidak begitu kuat,” satu orang berkata megah.

“Tunggu! Ini datang satu lagi.”

“Hajar dia!”

“Hai, jangan serang. Ronin itu!”

Dengan sedikit saja kekacauan, mereka membariskan diri sepanjang jalan, seperti serdadu yang sedang diperiksa oleh jenderalnya. Semua mata tertuju kepada pakaian Musashi yang basah oleh darah, dan pedangnya yang juga mengucurkan darah. Pedang itu rompal di selusin tempat. la buang pedang itu, dan ia pungut sebatang lembing.

“Kerja kita belum selesai,” katanya. “Cari senjata buat kalian sendiri, dan mari ikut aku. Dengan menyatukan kekuatan, kalian dapat mengusir kaum perusak itu dari desa dan menyelamatkan keluarga kalian.”

Tak seorang pun ragu-ragu. Perempuan dan anak-anak pun mendapat senjata dan ikut serta.

Kerusakan yang menimpa desa tidak seluas yang mereka takutkan, karena kediaman mereka terpisah satu sama lain. Tetapi ternak yang ketakutan menimbulkan keributan baru, dan ada seorang bayi yang menangis keras. Letusan-letusan keras terdengar dari tepi jalan. Di situ api menjalar ke sebuah rumpun bambu yang masih hijau.

Bandit-bandit tidak kelihatan di mana pun.

“Di mana mereka?” tanya Musashi. “Rasanya aku mencium bau sake. Di mana ada banyak sake terkumpul?”

Orang desa demikian sibuk melihat api, hingga tak seorang pun mencium bau itu, tapi seorang dari mereka berkata, “Tentunya di rumah kepala Dia punya bertong-tong sake.”

“Kalau begitu, kita cari mereka di sana,” kata Musashi.

Sementara mereka maju, lebih banyak lagi orang keluar dari persem­bunyian dan menyatukan diri dengan barisan mereka. Musashi puas melihat berkembangnya semangat kesatuan.

“Nah, di sana,” kata satu orang sambil menuding sebuah rumah besar yang dikelilingi tembok tanah.

Sementara para petani menyusun diri, Musashi memanjat tembok dan memasuki benteng bandit-bandit itu. Pemimpinnya dan wakil-wakil terpentingnya menyembunyikan diri dalam kamar berlantai tanah. Mereka sedang meneguk sake dan memperhatikan gadis-gadis muda yang mereka tawan.

“Jangan bingung!” teriak sang pemimpin marah, dengan dialek gunung yang kasar. “Dia cuma satu orang. Tak perlu aku sendiri yang turun tangan. Kalian semua hadapi dia.” Ia sedang memarahi seorang bawahan yang berlari masuk membawa berita kekalahan di luar desa itu.

Ketika pemimpin mereka terdiam, yang lain-lain mulai mendengar ribut­nya suara marah di luar tembok, dan mulailah mereka bergerak gelisah. Sambil menjatuhkan daging ayam yang baru setengah dimakan dan mangkuk-mangkuk sake, mereka bangkit berdiri dan secara naluriah men­jangkau senjata. Kemudian mereka berdiri, menatap pintu masuk ke kamar itu.

Musashi menggunakan lembingnya sebagai galah, melompat lewat jendela samping yang tinggi, dan mendarat langsung di belakang si pemimpin. Orang itu memutar badan, tapi seketika itu juga ia sudah tertembus lem­bing. Dengan memperdengarkan bunyi “A-w-r-g” mengerikan, ia mencekal lembing yang bersarang di dadanya dengan kedua tangan. Dengan tenang Musashi melepaskan lembing itu, dan rebahlah orang itu ke tanah, sementara mata lembing dan gagangnya mencuat dari punggungnya.

Orang kedua yang menyerang Musashi terampas pedangnya. Musashi membelah tubuhnya, kemudian menebaskan pedang itu ke kepala orang ketiga, dan menusukkannya ke dada orang keempat. Yang lain-lain lari tunggang-langgang ke pintu. Musashi melemparkan pedang itu ke arah mereka, dan sebagai kelanjutan gerak itu, ia mencabut lembing dari tubuh si pemimpin.

“Jangan bergerak!” teriaknya. Ia menyerang dengan lembing yang dipegang mendatar, dan memisahkan para bandit itu menjadi dua, seperti air ditempa galah. Ini memberikan kepadanya cukup ruang untuk secara efektif meng­gunakan senjata panjang itu. Sekarang lembing diayunkannya dengan penuh kecekatan, untuk mencoba daya lenting gagangnya yang terbuat dari kayu ek hitam itu. Ia memukul ke samping, menebas ke bawah, dan menusuk tanpa kenal ampun ke depan.

Bandit-bandit yang mencoba keluar dari gerbang terhalang jalannya oleh orang-orang desa yang bersenjata. Beberapa orang memanjat dinding. Waktu mereka turun ke tanah, kebanyakan langsung dibunuh di tempat. Dari beberapa orang yang selamat meloloskan diri, hampir seluruhnya mendapat luka yang membikin cacat.

Untuk sesaat udara penuh pekik kemenangan orang-orang muda maupun tua, lelaki maupun perempuan. Ketika gejolak kemenangan yang pertama itu mereda, suami-istri, orang tua, dan anak-anak pun saling mendekap dan mengucurkan air mata kegembiraan.

Di tengah adegan gembira luar biasa, seseorang bertanya, “Bagaimana kalau mereka datang lagi?”

Tiba-tiba suasana jadi diam penuh pertanyaan.

“Mereka takkan kembali,” kata Musashi tegas. “Takkan kembali ke desa ini. Tapi jangan terlampau yakin. Urusan kalian menggunakan bajak, bukan pedang. Kalau kalian terlalu bangga dengan kemampuan tempur kalian, hukuman yang akan dijatuhkan dari langit kepada kalian akan lebih buruk daripada gempuran setan-setan gunung mana pun.”

“Sudah kalian ketahui apa yang terjadi?” tanya Nagaoka Sado pada kedua samurai itu, ketika mereka kembali ke Kuil Tokuganji. Di kejauhan, di sebelah sana ladang dan paya, ia dapat melihat cahaya api di desa itu semakin surut.

“Semuanya sudah tenang sekarang.”

“Apa kalian usir bandit-bandit itu? Berapa banyak kerusakan yang di­timbulkan pada desa?”

“Orang-orang desa sudah membunuh semuanya, kecuali beberapa orang sebelum kami sampai di sana. Yang lain-lain lari.”

“Aneh.” Ia tampak tekejut, karena jika hal itu benar, ada gagasan yang hendak dilaksanakannya mengenai cara memerintah di daerah tuannya sendiri.

Sewaktu meninggalkan kuil hari berikutnya, ia mengarahkan kudanya ke desa itu. Katanya, “Sebetulnya ini di luar jalur, tapi mari kita lihat.”

Seorang pendeta ikut serta untuk menunjukkan jalan. Selagi berjalan. Sado berkata, “Tubuh-tubuh sepanjang tepi jalan itu kelihatannya seperti bukan para petani yang memotong,” dan ia minta lebih banyak perincian kepada samurainya.

Penduduk desa tidak jadi tidur, melainkan kerja keras mengubur mayat dan membersihkan reruntuhan kebakaran besar itu. Tapi ketika melihat Sado dan kedua samurai itu, mereka lari ke dalam rumah dan menyem­bunyikan diri.

“Bawa seorang dari orang-orang desa itu kemari, dan mari kita coba mengetahui apa yang terjadi,” katanya kepada si pendeta.

Orang yang datang bersama si pendeta memberikan uraian cukup ter­perinci tentang peristiwa yang terjadi malam itu.

“Sekarang mulai dapat diterima akal,” kata Sado mengangguk. “Siapa nama ronin itu?”

Petani yang tak pernah mendengar nama Musashi itu menelengkan ke­pala. Ketika Sado mendesak bertanya, si pendeta berkeliling beberapa waktu lamanya, dan kembali dengan membawa keterangan yang dibutuhkan.

“Miyamoto Musashi?” tanya Sado sambil merenung. “Apa dia yang dikatakan guru oleh anak lelaki itu?”

“Betul. Dari caranya mencoba menggarap petak tanah gurun di Hotengahara, penduduk desa menduga dia agak sinting.”

“Aku ingin ketemu dia,” kata Sado, tapi kemudian teringat olehnya pekerjaan yang menantinya di Edo. “Tapi tak apalah, lain kali saja aku bicara dengannya, kalau aku kemari lagi.” Ia memutar kudanya dan meninggalkan petani itu berdiri di tepi jalan.

Beberapa menit kemudian, ia berhenti di depan gerbang kepala desa. Di situ tergantung sebuah papan yang masih baru, dengan tulisan tinta mengilap, Peringatan untuk Penduduk Desa: Bajakmu adalah Pedangmu. Pedangmu adalah Bajakmu. Selagi kerja di ladang, jangan lupa serbuan luar. Selagi memikirkan serbuan luar, jangan lupa ladangmu. Segala hal mesti berimbang dan terpadu. Yang paling penting, jangan melawan Jalan Pergantian Generasi.

“Hmm. Siapa yang menulis ini?”

Kepala desa akhirnya keluar, dan kini membungkuk ke tanah di depan Sado. “Musashi,” jawabnya.

Sambil menoleh pada si pendeta, kata Sado, “Terima kasih Anda sudah membawa kami kemari. Sayang sekali saya tak dapat menjumpai Musashi, tapi sekarang memang tak ada waktu. Saya akan kembali tak lama lagi”

Tanam Pertama

PENGELOLAAN tempat semayam Hosokawa yang indah di Edo, demikian juga pelaksanaan kewajiban-kewajiban perdikan untuk shogun, dipercayakan pada seorang lelaki yang baru berumur dua puluh lebih sedikit—Tadatoshi, anak tertua daimyo Hosokawa Tadaoki. Sang ayah, seorang jenderal ternama yang juga mempunyai nama baik sebagai penyair dan ahli upacara teh, lebih suka tinggal di perdikan Kokura yang besar di Provinsi Buzen, Pulau Kyushu.

Sekalipun Nagaoka Sado dan sejumlah abdi terpercaya lain ditugaskan membantu orang muda itu, tidak berarti bahwa pemuda itu tidak mampu. Ia tidak hanya diterima sebagai teman oleh pengikut-pengikut kuat yang paling dekat dengan shogun, melainkan telah memantapkan diri sebagai pengelola yang berpandangan jauh dan penuh semangat. Sesungguhnya ia lebih cocok dengan suasana perdamaian dan kemakmuran dibandingkan dengan generasi yang lebih tua, yang terdidik dalam peperangan berkepanjangan.

Waktu itu Sado sedang berjalan menuju lapangan kuda. “Apa kau sudah melihat Tuan Muda?” tanyanya pada samurai magang yang datang meng­hampirinya.

“Saya kira beliau ada di tempat latihan panahan.”

Sementara Sado menyusuri jalan setapak yang sempit itu, ia dengar suara bertanya, “Boleh saya bicara dengan Anda?”

Sado berhenti, dan muncullah di hadapannya Iwama Kakubei, seorang pengikut yang disegani orang karena kelihaian dan kepraktisannya. “Apa anda akan bicara dengan Yang Dipertuan?” tanyanya.

“Ya.”

“Kalau Anda tidak terburu-buru, ada soal kecil yang ingin saya bicarakan dengan Anda. Bagaimana kalau kita duduk di sana?” Sementara mereka melewati beberapa anak tangga yang menuju sebuah beranda sederhana. Kakubei berkata, “Saya ingin minta pertolongan, kalau Anda ada kesempatan selagi berbicara dengan beliau. Ada satu orang yang ingin saya usulkan kepada Tuan Muda.”

“Orang yang ingin mengabdi pada Keluarga Hosokawa?”

“Ya. Saya tahu, macam-macam orang datang pada Anda mengajukan permohonan seperti itu, tapi orang ini lain dari yang lain.”

“Apa dia hanya tertarik pada soal keamanan dan penghasilan?”

“Sama sekali tidak. Dia ada hubungan keluarga dengan istri saya. Dia tinggal dengan kami sejak datang dari Iwakuni beberapa tahun lalu, karena itu saya kenal dia benar.”

“Iwakuni? Keluarga Kikkawa menguasai Provinsi Suo sebelum Pertempuran Sekigahara. Apa dia salah seorang ronin mereka?”

“Bukan. Dia anak seorang samurai desa. Namanya Sasaki Kojiro. Dia masih muda, tapi terlatih dalam Gaya Tomita dari Kanemaki Jisai, dan dia mempelajari teknik menarik pedang dengan kecepatan kilat dari Yang Dipertuan Katayama Hisayasu dari Hoki. Dia bahkan sudah menciptakan gayanya sendiri, yang disebutnya Ganryu.” Kakubei berbicara terus, meng­uraikan secara terperinci berbagai perbuatan luar biasa dan prestasi Kojiro.

Sado tidak benar-benar mendengarkan. Pikirannya kembali pada kun­jungannya yang terakhir ke Tokuganji. Sekalipun hanya sedikit yang ia saksikan dan ia dengar, ia merasa yakin bahwa Musashi adalah orang yang tepat untuk Keluarga Hosokawa, namun ia bermaksud menjumpainya dulu secara langsung sebelum mengajukannya kepada tuannya. Sementara itu satu setengah tahun sudah berlalu, dan ia belum juga memperoleh kesempat­an untuk mengunjungi Hotengahara.

Ketika Kakubei selesai bicara, Sado berkata, “Akan saya lakukan apa yang saya bisa,” dan meneruskan perjalanan ke tempat latihan panahan.

Tadatoshi sedang sibuk bertanding dengan beberapa pengikut yang seumur dengannya, tapi tak seorang pun dari mereka merupakan tandingan berat baginya. Tembakan-tembakannya tepat mengenai sasaran, dan dilaksanakan dengan gaya yang mulus. Sejumlah abdi menyinggungnya karena sedemikian sungguh-sungguh ia menggeluti panahan. Menurut mereka, pada abad senapan dan lembing sekarang, pedang maupun busur tidak lagi banyak manfaatnya dalam pertarungan yang sebenar-benarnya. Atas pendapat ini, ia hanya menjawab samar-samar, “Anak panah saya ini tertuju pada jiwa.”

Abdi-abdi Hosokawa sangat menghormati Tadatoshi, dan mau kiranya bekerja di bawah pemuda ini dengan penuh semangat, sekalipun seandainya ayahnya yang mereka junjung bukanlah orang yang menonjol prestasinya. Pada waktu ini, Sado menyesali janji yang baru saja ia berikan pada Kakubei. Tadatoshi bukan orang yang dapat dengan mudah diusuli calon­-calon abdi.

Sambil menghapus keringat dari wajahnya, Tadatoshi berjalan melewati beberapa samurai muda, dengan siapa ia bercakap-cakap dan tertawa. Melihat Sado, ia berseru, “Bagaimana kalau mencoba satu kali, orang tua?”

“Kebiasaan saya, saya hanya bertanding melawan orang-orang dewasa,” jawab Sado.

“Jadi, Anda masih mengira kami ini anak-anak kecil, biarpun kami sudah bergelung?”

“Apa Anda sudah lupa Pertempuran Yamazaki? Dan Benteng Nirayama: Saya mendapat pujian karena prestasi saya di medan perang, lho! Disamping itu, yang saya ikuti adalah panahan sejati, bukan…”

“Ha, ha. Maaf saya sudah menyebut hal itu. Tak ada maksud saya supaya Anda memulai soal itu lagi.” Yang lain-lain ikut tertawa. Tadatoshi mengeluarkan tangan dari lengan kimononya, dan berubah serius, tanyanya. “Anda datang untuk membicarakan sesuatu?”

Sesudah membicarakan sejumlah soal rutin, akhirnya Sado berkata. “Kakubei mengatakan dia punya samurai yang akan diusulkan pada Anda.­

Untuk sesaat mata Tadatoshi memandang jauh. “Saya kira yang dibicara­kannya itu Sasaki Kojiro. Sudah beberapa kali nama itu disebutkan.”

“Kenapa tidak Anda panggil orang itu dan Anda lihat?”

“Apa dia benar-benar hebat?”

“Apa Anda tak hendak melihat sendiri?”

Tadatoshi mengenakan sarung tangan dan menerima sebatang anak panah dari seorang pembantu. “Akan saya lihat orang Kakubei itu,” katanya. “Tapi saya ingin juga melihat ronin yang Anda sebutkan itu, Miyamoto Musashi.

“Ya.”


Cerita Novel Musashi buku 5, karangan Eiji Yoshikawa, terbitan gramedia, di kutip dari Website:
http://topmdi.com/ceritawp/?cat=72
[lihat: Lanjutan cerita]


0 KOMENTAR ANDA:

Post a Comment