Saturday, May 10, 2008

Miyamoto Musashi, Buku 6-1


Cerita Novel Musashi buku 6, karangan Eiji Yoshikawa, terbitan gramedia.
[Lihat: Pengantar] [lihat: Cerita Sebelumnya]


Percakapan dengan Pengikut

Sebelum makan pagi, Yang Dipertuan Hosokawa Tadatoshi memulai acara hariannya dengan mempelajari buku-buku klasik Kong Hu-Cu. Kewajiban­-kewajiban resmi yang sering kali menuntut kehadirannya di Benteng Edo menghabiskan sebagian besar waktunya, tetapi manakala ia dapat me­masukkannya dalam jadwal acaranya, ia berlatih seni bela diri. Malam hari, manakala mungkin, ia habiskan bersama para samurai muda yang bekerja padanya.

Suasana di antara mereka agak seperti suasana keluarga yang harmonis, duduk melingkari kepala keluarga. Tentu saja tidak sepenuhnya tidak resmi, karena memang tidak hendak ditanamkan bahwa Yang Dipertuan sederajat dengan mereka. Namun tata krama yang biasanya keras itu dikendurkan sedikit. Tadatoshi, yang bersantai mengenakan kimono dari kain rami ringan, mengundang pertukaran pendapat, yang sering kali mencakup desas-desus terakhir.

“Okatani,” kata Yang Dipertuan, khusus kepada salah seorang lelaki yang paling tegap.

“Ya, Pak.”

“Kudengar kau cukup mahir main lembing sekarang.”

“Betul. Bahkan mahir sekali.”

“Ha, ha. Jelas sekali kau bukan orang yang suka pura-pura rendah hati!”

“Kalau semua orang menyatakan demikian, kenapa mesti saya tolak?”

“Hari-hari ini aku akan lihat sendiri, sampai di mana kemajuan teknikmu sesungguhnya.”

“Saya selalu menunggu kesempatan itu, tapi tak pernah datang rupanya.”

“Kau beruntung kesempatan tidak datang.”

“Kalau boleh tanya, apa Bapak pernah mendengar lagu yang sekarang dinyanyikan semua orang?”

“Apa itu?”

“Bunyinya begini:

Ada pemain lembing dan pemain lembing, Segala macam pemain lembing, Tapi yang paling besar Adalah Okatani Goroji… “

Tadatoshi tertawa. “Tak bisa kau begitu saja mempermainkan aku. Itu kan lagu tentang Nagoya Sanzo.”

Yang lain-lain ikut tertawa.

“Oh, jadi Bapak tahu?”

“Kau akan heran kalau melihat apa yang kuketahui.” la sudah hampir memberikan bukti lebih lanjut tentang itu, tapi kemudian dipertimbang­kannya kembali. Ia suka mendengarkan apa yang dipikirkan dan dibicarakan orang-orangnya, dan ia beranggapan bahwa tahu keadaan adalah kewajiban, namun barangkali kurang cocok kalau ia mengungkapkan berapa banyak yang sebenarnya ia ketahui. Maka sebaliknya ia bertanya, “Berapa banyak di antara kalian mengkhususkan diri dalam lembing, dan berapa dalam pedang?”

Dari tujuh orang, ada lima yang belajar lembing, dan hanya dua yang belajar pedang.

“Kenapa begitu banyak yang lebih menyukai lembing?” tanya Tadatoshi. Para pemain lembing sepakat bahwa lembing lebih efektif untuk per­tempuran.

“Dan bagaimana pendapat pemain pedang?”

Salah satu dari kedua orang itu menjawab, “Pedang lebih baik. Keahlian bermain pedang menyiapkan diri kita untuk keadaan damai maupun perang.”

Ini memang soal yang selalu menjadi pembicaraan, dan perdebatan biasanya berlangsung hidup.

Salah seorang pemain lembing menyela, “Makin panjang lembing itu, makin baik, asalkan tidak terlalu panjang untuk ditangani secara efisien. Lembing dapat dipakai untuk memukul, menusuk, atau membabat, dan kalau mengalami kegagalan, kita dapat beralih pada pedang. Kalau kita hanya menggunakan pedang dan pedang itu patah… nah!”

“Barangkali benar begitu,” balas seorang wakil seni pedang, “tapi kerja seorang samurai tidak terbatas pada medan tempur. Pedang adalah jiwanya. Melatih seni pedang berarti menghaluskan dan mendisiplinkan semangat kita. Dalam arti seluas-luasnya, pedang adalah dasar semua latihan militer, apa pun kekurangan pedang dalam pertempuran. Kalau kita menguasai makna yang dalam dari Jalan Samurai, disiplin pedang itu dapat diterapkan pada lembing, atau bahkan juga senapan. Kalau kita mengenal pedang, kita tidak akan melakukan kesalahan-kesalahan yang bodoh atau kena serangan mendadak. Permainan pedang adalah seni yang dapat diterapkan menye­luruh.”

Perdebatan itu bisa berlangsung terus, tanpa batas, tapi Tadatoshi yang mendengarkan tanpa berpihak itu berkata, “Mainosuke, apa yang baru kaukatakan itu kedengarannya ucapan orang lain.”

Matsushita Mainosuke bertahan. “Tidak, Pak. Itu pendapat saya sendiri.”

“Ayolah, jujur saja.”

“Ya, terus terang, saya mendengar yang serupa itu ketika saya mengunjungi Kakubei baru-baru mi. Sasaki Kojiro bicara soal itu juga. Tapi ucapan itu cocok sekali dengan pikiran saya sendiri…. Saya tak mau menipu siapa-­siapa. Cuma Sasaki dapat menguraikannya dengan lebih baik daripada saya.”

“Aku juga berpikir begitu,” kata Tadatoshi disertai senyum maklum. Disebutkannya nama Kojiro mengingatkan dirinya bahwa ia belum meng­ambil keputusan, apakah akan menerima rekomendasi Kakubei.

Kakubei menyarankan karena Kojiro belum begitu tua, kepadanya dapat ditawarkan sekitar seribu gantang. Tapi ada yang jauh lebih penting dari­pada persoalan penghasilan. Tadatoshi sudah berkali-kali diberitahu ayahnya bahwa yang paling penting pada waktu mempekerjakan samurai, pertama-­tama adalah melakukan penilaian yang baik, dan baru memperlakukan mereka dengan baik. Sebelum menerima seorang calon, sangat ditekankan untuk tidak hanya menaksir keterampilannya, melainkan juga wataknya. Betapapun orang itu diinginkan, kalau ia tidak dapat bekerja sama dengan para abdi yang telah membentuk suasana dalam Keluarga Hosokawa sekarang mi, orang itu tidak akan berguna.

Tanah perdikan itu seperti benteng yang dibangun dari banyak batu, demikian nasihat Hosokawa tua. Batu yang tidak dapat dipotong agar sesuai dengan batu-batuan yang lain, akan melemahkan hubungan kese­luruhan, sekalipun batu itu sendiri ukuran dan mutunya mengagumkan. Para daimyo zaman baru meninggalkan batu-batuan yang tidak cocok di pegunungan dan ladang, karena jumlah batu-batuan macam itu melimpah. Tantangan paling besar adalah bagaimana menemukan batu besar yang akan memberikan sumbangan menonjol kepada tembok. Ditinjau dari pemikiran itu, Tadatoshi merasa bahwa umur muda Kojiro itu cocok untuknya. Pemuda itu sedang dalam tahun-tahun pembentukan diri, sehingga masih dapat menerima sejumlah pengaruh.

Tapi Tadatoshi juga teringat akan seorang ronin lain. Nagaoka Sado sudah menyebutkan Musashi lebih dahulu dalam salah satu pertemuan malam seperti itu. Sado membiarkan Musashi lolos dari tangannya, tapi Tadatoshi tidak melupakannya. Kalau keterangan Sado memang tepat, Musashi adalah prajurit yang lebih baik daripada Kojiro, dan sekaligus orang yang cukup luas wawasannya, dan itu diperlukan sekali dalam pemerintahan.

Kalau ia bandingkan kedua orang itu, ia mesti mengakui bahwa kebanyakan daimyo akan lebih menyukai Kojiro. Ia berasal dari keluarga baik-baik dan telah mempelajari Seni Perang secara menyeluruh. Sekalipun masih muda, ia sudah mengembangkan gayanya sendiri yang hebat, dan sudah memperoleh kemasyhuran sebagai petarung. Cerita tentang kekalahan “gemilang” orang-­orang Akademi Obata di tepi Sungai Sumida dan sekali lagi di tanggul Sungai Kanda itu sudah dikenal orang.

Sementara itu, tak ada orang mendengar tentang Musashi. Kemenangannya di Ichijoji memang menciptakan nama baik baginya. Tapi hal itu sudah bertahun-tahun yang lalu, dan segera sesudahnya tersebar berita bahwa cerita itu cuma dibesar-besarkan. Bahwa Musashi adalah pengejar ke­masyhuran yang hanya membuat-buat perkelahian, kemudian melakukan serangan kilat dan melarikan diri ke Gunung Hiei. Setiap kali Musashi melakukan sesuatu yang patut dipuji, banjir desas-desus pun menyusul, mencemarkan watak dan kemampuannya. Hal itu sudah mencapai puncak­nya, hingga kalau nama Musashi diucapkan orang saja, biasanya segera disambut dengan kecaman. Atau orang mengabaikannya sama sekali. Sebagai anak prajurit yang tak dikenal di Pegunungan Mimasaka, garis keturunannya tidaklah menonjol. Ada orang-orang lain yang sederhana asal-usulnya—yang paling menonjol di antaranya, Toyotomi Hideyoshi dari Nakamura di Provinsi Owari—telah mencapai kemuliaan belum lama ini, namun orang banyak itu secara keseluruhan bersikap sadar kelas, dan tidak menghiraukan orang dengan latar belakang seperti Musashi.

Sementara Tadatoshi merenungkan persoalan itu, ia memandang ke sekitarnya dan bertanya, “Apa ada di antara kalian yang kenal samurai bernama Miyamoto Musashi?”

“Musashi?” terdengar jawaban terkejut. “Mustahil kalau orang tidak men­dengar tentang dia. Namanya disebut-sebut orang di seluruh kota.” Jelas kelihatan, mereka semua kenal baik dengan nama itu.

“Kenapa begitu?” Pandangan penuh harap tampak pada wajah Tadatoshi.

“Banyak papan pengumuman dipasang tentang dia,” ujar seorang pemuda dengan nada agak enggan.

Seorang samurai lain bernama Mori menimpali, “Orang banyak menyalin papan pengumuman itu, termasuk saya. Ada saya bawa sekarang. Boleh saya bacakan?”

“Ya, bacalah.”

“Oh, ini dia,” kata Mori sambil membuka sobekan kertas yang sudah kusut.

“‘Ditujukan kepada Miyamoto Musashi yang sudah balik gagang dan lari…”‘ Orang-orang mengangkat alis dan mulai tersenyum, tapi wajah Tadatoshi murung. “Cuma itu?”

“Tidak.” Mori membaca selebihnya, dan katanya, “Papan-papan itu dipasang gerombolan dari daerah tukang kayu. Orang menganggap ini me­narik sekali, karena soalnya bajingan jalanan menjewer hidung seorang samurai.”

Tadatoshi mengerutkan kening sedikit, dan merasa bahwa kata-kata yang memfitnah Musashi itu menyebabkan penilaiannya sendiri perlu dipertanyakan kembali. Ini berbeda sekali dengan gambarannya sendiri tentang Musashi. Namun ia tidak hendak menerima apa yang didengarnya itu begitu saja. “Hmm,” gumamnya. “Aku ingin tahu juga, apa Musashi betul-betul orang macam itu.”

“Saya kira dia itu orang kampung yang tidak ada harganya,” ujar Mori, dan pendapatnya itu sama dengan pendapat yang lain-lain. “Atau paling sedikit, seorang pengecut. Kalau tidak, kenapa dia membiarkan namanya terseret dalam lumpur?”

Jam berbunyi, dan orang-orang pergi, tetapi Tadatoshi masih terus duduk sambil berpikir, “Ada yang menarik pada orang ini.” Sebagai orang yang tak mau diombang-ambingkan oleh pendapat umum, ia ingin tahu cerita itu dari pihak Musashi.

Pagi harinya, sesudah mendengarkan kuliah tentang kesusastraan klasik Cina, ia keluar dari kamar belajarnya, masuk beranda, dan melihat Sado di halaman.

“Selamat pagi, kawan tua,” serunya.

Sado menoleh, dan dengan sopan membungkuk sebagai ucapan selamat pagi.

“Apa Anda masih mencari?” tanya Tadatoshi.

Heran mendapat pertayaan itu, Sado hanya menatap balik.

“Maksud saya, apa Anda masih juga mencari Miyamoto Musashi?”

“Betul, Pak.” Sado menundukkan mata.

“Kalau Anda sudah menemukan dia, bawa dia kemari. Saya ingin lihat, orang macam apa dia.”

Tak lama sesudah tengah hari, pada hari itu juga, Kakubei mendekati Tadatoshi di lapangan memanah dan mendesakkan rekomendasinya tentang Kojiro.

Yang Dipertuan Muda memungut busur, dan katanya tenang, “Maaf, aku lupa. Bawa dia kapan saja kemari. Aku ingin melihatnya. Entah dia akan diterima menjadi abdi atau tidak, itu soal lain. Kau kan tahu.”

Serangga-Serangga Mendengung

Kojiro duduk di kamar belakang rumah kecil yang dipinjamkan Kakubei. Ia mengamati Galah Pengering. Sesudah peristiwa dengan Hojo Shinzo, ia minta Kakubei mendesak tukang gosok pedang itu untuk mengembalikan senjatanya. Senjatanya kembali pagi itu.

“Pasti takkan digosok,” pikir Kojiro, tapi ternyata pedang itu sudah digarap dengan saksama dan penuh perhatian, melebihi harapannya yang paling tinggi. Dari logam biru hitam, yang mengombak seperti aliran sungai dalam, sekarang muncul sinar putih cemerlang, cahaya abad-abad yang lewat, noda-noda karat seperti cacat lepra sudah hilang. Pola tempaan yang berombak antara mata pedang dan garis punggung pedang, yang selama itu penuh noda darah, kini indah cemerlang seperti bulan berkabut mengambang di langit.

“Seperti melihatnya pertama kali,” pikir Kojiro dengan kagum. Karena tak dapat melepaskan pandang dari pedang itu, tidak didengarnya tamu berseru dari depan rumah,

“Kau di rumah?… Kojiro?”

Bagian bukit itu diberi nama Tsukinomisaki, karena indahnya peman­dangan di sana waktu bulan naik. Dari ruang duduknya, Kojiro dapat melihat hamparan teluk dari Shiba sampai Shinagawa. Di seberang teluk, awan-awan berbusa muncul sampai setinggi matanya. Pada waktu itu, warna putih pada perbukitan yang jauh dan warna biru kehijauan pada air seperti berpadu dengan pedang.

“Kojiro! Apa tak ada orang di sini?” Kali ini suara itu datang dari pintu samping yang dijalari rumput.

Sadar dari lamunannya, Kojiro berteriak, “Siapa itu?” lalu memasukkan kembali pedang ke dalam sarungnya. “Saya di belakang. Kalau mau ketemu saya, masuk saja ke beranda.”

“Oh, di sini kau rupanya,” kata Osugi, yang lalu berjalan memutar, ke tempat yang memungkinkannya melihat ke dalam rumah.

“Wah, ini kejutan,” kata Kojiro dengan hangat. “Apa yang mendorong Nenek keluar pada hari sepanas ini?”

“Tunggu sebentar. Aku mau membasuh kaki. Sesudah itu, kita bicara.”

“Sumurnya di sana. Hati-hati, dalam sekali. Hei, Bung, kawani Nenek ini, dan jaga jangan sampai terjerumus.” Orang yang dipanggil “Bung” itu anggota rendahan gerombolan Hangawara, yang dikirim untuk mengawal Osugi.

Sesudah membasuh wajahnya yang berkeringat dan mencuci kakinya, Osugi masuk rumah dan bertukar salam sedikit. Melihat bahwa angin me­nyenangkan bertiup dari teluk, ia memicingkan mata, dan katanya, “Rumah ini bagus dan sejuk. Apa kau tidak takut jadi malas, tinggal di tempat me­nyenangkan macam ini?”

Kojiro tertawa. “Saya bukan macam Matahachi.”

Perempuan itu mengedip-ngedipkan matanya dengan sedih, tapi meng­abaikan saja ejekan itu. “Maaf, aku tidak membawa hadiah yang pantas,” katanya. “Sebagai gantinya, kuberi kau sutra yang kusalin sendiri.” Sambil menyerahkan pada Kojiro buku Sutra tentang Cinta Agung Orangtua, ia menambahkan, “Silakan baca, kalau ada waktu.”

Kojiro memandang acuh tak acuh hasil kerja tangan perempuan itu, lalu menoleh pada pengantar Osugi, dan katanya, “Aku jadi teringat. Apa sudah kaupasang papan-papan yang kutulisi itu?”

“Yang minta Musashi keluar dari persembunyian?”

“Ya, itu.”

“Dua hari penuh kami habiskan. Sudah kami pasang satu di hampir tiap persimpangan penting.”

Osugi berkata, “Kami melihat beberapa dalam perjalanan kemari tadi. Di mana-mana orang berdiri berkerumun dan bergunjing. Aku senang men­dengar omongan mereka tentang Musashi.”

“Kalau dia tidak menjawab tantangan itu, habis riwayatnya sebagai samurai. Seluruh negeri akan menertawakannya. Dan itu sudah cukup jadi balas dendam Nenek.”

“Mana bisa. Ditertawakan orang tidak cukup buat dia. Dia orang yang tak tahu malu. Lagi pula, aku tidak puas kalau dia cuma ditertawakan. Aku ingin dia dihukum tandas.”

“Ha, ha,” Kojiro tertawa, senang karena kegigihan perempuan itu. “Nenek semakin tua, tapi tak pernah menyerah, ya? Omong-omong, apa ada hal khusus yang terjadi?”

Wanita tua itu membenahi dirinya, lalu menjelaskan bahwa sesudah lebih dari dua tahun hidup dengan Hangawara, ia merasa mesti jalan terus. Tidak baik kalau ia hidup di atas keramahtamahan Yajibei terus-menerus. Disamping itu, ia sudah lelah mengurus kaum bajingan yang jumlahnya serumah itu. Ia sudah melihat satu tempat kecil yang enak untuk disewa, di daerah Kapal Tambang Yoroi.

“Bagaimana pendapatmu?” Wajah Osugi tampak bersungguh-sungguh, mengandung tanda tanya. “Rupanya aku takkan segera dapat menjumpai Musashi. Dan lagi, aku merasa bahwa Matahachi ada di Edo ini. Kupikir aku mesti minta dikirimi uang dari rumah dan tinggal di sini sebentar lagi. Tapi sendirian saja, seperti kukatakan tadi.”

Karena tak ada alasan keberatan, Kojiro cepat menyetujui. Hubungannya sendiri dengan pimpinan rumah tangga Hangawara memang semula meng­hibur dan bermanfaat, namun sekarang sedikit memalukan. Hubungan itu sudah pasti bukan merupakan modal bagi seorang ronin yang mencari majikan. Maka ia memutuskan untuk tidak melanjutkan pelajaran-pelajaran praktek itu.

Kojiro memanggil salah seorang bawahan Kakubei, dan menyuruhnya mengambilkan semangka dari petak tanah di belakang rumah. Mereka mengobrol sementara semangka itu dipotong dan dihidangkan, tapi tak lama kemudian Kojiro mengantar tamunya ke luar. Tingkah lakunya menunjukkan bahwa ia lebih suka kalau tamunya pulang sebelum matahari tenggelam.

Sesudah tamu-tamu pergi, Kojiro sendiri menyapu kamar-kamarnya dan menyirami halaman dengan air sumur. Pokok bunga terompet dan ubi rambat yang tumbuh di pagar sudah mencapai puncak pagar dan kemball turun ke tanah, mengancam menjerat kaki pasu air dari batu di situ. Bunga-bunga yang putih warnanya itu melambai-lambai ditiup angin petang.

Sampai di kamar, ia kembali membaringkan diri, dan iseng bertanya pada diri sendiri, apakah tuan rumah akan bertugas malam itu di rumah Hosokawa. Lampu yang toh akan mati oleh tiupan angin tidak dinyalakan. Cahaya bulan yang naik di seberang teluk sudah menerangi permukaannya.

Di kaki bukit, seorang samurai muda menerobos pagar makam.

Kakubei hendak mengandangkan kuda yang biasa dinaikinya pulang­pergi ke tempat semayam Hosokawa, di toko bunga di kaki bukit Isarago.

Tapi petang itu aneh juga, tidak kelihatan tanda-tanda si tukang bunga, padahal biasanya la segera datang mengurusi binatang itu. Karena tidak melihat tukang bunga itu di dalam toko, Kakubei berjalan memutar ke belakang, dan menambatkan kudanya ke sebatang pohon. Selagi ia melakukan itu, tukang bunga datang berlari dari belakang kuil.

Sambil terengah-engah, ia terima kendali dari tangan Kakubei, dan katanya, “Maaf, Pak. Ada orang asing di makam, mau naik bukit. Saya teriaki, saya katakan tak ada jalan ke sana. Dia menoleh dan memandang saya, marah kelihatannya, kemudian menghilang.” Ia berhenti sebentar, kemudian memandang ke arah pepohonan gelap, dan menambahkan dengan sikap kuatir. “Apa menurut Bapak tak mungkin dia pencuri? Orang bilang, banyak rumah daimyo dimasuki pencuri akhir-akhir ini.”

Kakubei sudah mendengar desas-desus itu, tapi ia menjawab disertai tawa singkat, “Semua itu cuma omongan, tak lebih dari itu. Kalau orang yang kaulihat itu pencuri, aku berani mengatakan dia cuma pencuri kecil atau salah seorang ronin yang suka mencegat orang di jalan-jalan.”

“Tapi kita ini ada di pintu masuk ke Tokaido, dan banyak musafir diserang orang-orang yang sedang melarikan diri ke provinsi-provinsi lain. Saya jadi bingung, kalau melihat orang-orang yang tampaknya mencurigakan pada malam hari.”

“Kalau ada apa-apa, lari saja naik ke bukit dan ketuk gerbangku. Orang yang tinggal denganku kesal juga dengan soal itu, dan selalu mengeluh karena tak pernah ada tindakan di sekitar tempat ini.”

“Maksud Bapak, Sasaki Kojiro? Dia sudah mendapat nama yang lumayan sebagai pemain pedang di daerah ini.”

Kata-kata itu sama sekali tidak mengganggu rasa harga diri Kakubei. la suka pada orang muda, dan tahu benar bahwa menerima pemuda yang punya masa depan sebagai anak didik, dianggap terpuji dan sekaligus bijak­sana untuk samurai yang sudah mantap seperti dirinya. Sekiranya terjadi bahaya, tidak ada bukti yang lebih meyakinkan mengenai kesetiaannya dari­pada kemampuannya menyiapkan pesilat-pesilat hebat bagi tuannya. Dan jika seorang dari mereka kemudian menjadi terkemuka, maka pujian se­pantasnya akan diberikan kepada abdi yang telah mengusulkannya. Salah satu keyakinan Kakubei adalah bahwa kepentingan pribadi merupakan ciri yang tak disukai pada seorang pengikut. Namun ia sendiri bersikap realistis. Dalam sebuah perdikan besar, hanya sedikit abdi yang mengingkari kepen­tingan diri seluruhnya.

Sekalipun ia mendapat kedudukan karena keturunan, Kakubei setia kepada Yang Dipertuan Tadatoshi, sama dengan abdi-abdi lain. Ia bukan macam orang yang akan mencoba mengalahkan orang-orang lain dengan memamerkan kesetiaannya. Untuk pemerintahan rutin, orang-orang semacam dirinya secara keseluruhan jauh lebih memuaskan daripada para penghasut yang berusaha melakukan perbuatan-perbuatan menakjubkan.

“Aku kembali,” serunya sewaktu memasuki gerbang rumahnya. Bukit itu sangat terjal, dan ia selalu agak kehabisan napas ketika sampai di tempat itu. Karena ia tinggalkan istrinya di desa, dan rumah itu kebanyakan hanya dihuni lelaki dan sedikit pembantu perempuan, maka sentuhan kewanitaan cenderung tak ada di situ. Namun pada malam hari, apabila tak ada tugas malam, ia merasa bahwa jalan batu dari gerbang merah ke pintu masuk itu menarik hatinya, karena jalan itu telah dibasahi sebelum ia pulang. Tak peduli betapapun larut ia pulang, selalu ada orang datang ke pintu depan untuk menyambutnya.

“Apa Kojiro ada?” tanyanya.

“Sepanjang hari ada di rumah, Tuan,” jawab pembantu itu. “Sekarang sedang berbaring di kamarnya, menikmati tiupan angin.”

“Bagus. Siapkan sake, dan minta dia menemui aku.”

Sementara dilakukan persiapan, Kakubei menanggalkan pakaiannya yang sudah berkeringat, dan bersantai di bak mandi. Sesudah mengenakan kimono tipis, la masuk ruang duduk, di mana Kojiro duduk memainkan kipasnya.

Sake datang, Kakubei menuangkan, katanya, “Kau kupanggil karena hari ini terjadi sesuatu yang membesarkan hati, yang ingin kusampaikan padamu.”

“Kabar baik?”

“Sejak aku menyebut namamu di hadapan Yang Dipertuan Tadatoshi, rupanya dia sudah mendengar tentangmu dari sumber-sumber lain juga. Hari ini dia minta aku membawamu menghadap dia segera. Seperti kau tahu, tidak mudah menyiapkan soal ini. Ada berlusin-lusin abdi yang ingin mengusulkan calonnya.” Harapannya bahwa Kojiro akan senang sekali mendengar hal itu, tampak jelas dalam nada bicara dan tingkahnya.

Kojiro melekatkan mangkuknya ke bibir dan minum. Ketika bicara, air mukanya tidak berubah, dan ia hanya berkata, “Biar saya tuangkan untuk Anda.”

Kakubei jauh dari merasa jengkel. Ia kagum pada pemuda itu, karena kemampuannya menyembunyikan perasaannya. “Artinya aku sudah berhasil melaksanakan apa yang kauminta. Kupikir hal itu perlu kita rayakan. Minum lagi.”

Kojiro menekurkan kepalanya sedikit, bergumam, “Saya ucapkan terima kasih atas kebaikan Anda.”

“Ah, aku cuma menjalankan tugas,” jawab Kakubei rendah hati. “Kalau ada orang yang begitu berkemampuan dan berbakat seperti kau ini, aku wajib mendorong Yang Dipertuan supaya mempertimbangkanmu.”

“Saya harap Anda tidak melebih-lebihkan saya. Dan izinkan saya me­nekankan kembali satu hal. Bukan penghasilan yang menjadi kepentingan saya. Saya hanya berpendapat bahwa Keluarga Hosokawa adalah keluarga yang baik sekali untuk tempat mengabdi seorang samurai. Di situ berturut-­turut ada tiga orang terkemuka-Tadatoshi, ayahnya, dan kakeknya, Sansai dan Yusai.”

“Jangan kau mengira aku menonjol-nonjolkan dirimu sampai setinggi langit. Tak perlu aku melakukan itu. Nama Sasaki Kojiro sudah dikenal di seluruh ibu kota.”

“Bagaimana mungkin saya terkenal, kalau yang saya lakukan cuma menganggur di sini sepanjang hari? Saya tidak merasa diri saya orang terkemuka. Cuma karena di sekitar sini begitu banyak orang-orang palsu.”

“Jadi, aku diberitahu dapat membawamu setiap waktu. Kapan kau mau pergi?”

“Kapan saja cocok buat saya.”

“Bagaimana kalau besok?”

“Boleh.” Wajahnya tidak memperlihatkan hasrat atau keinginan, hanya keyakinan diri yang tenang.

Kakubei lebih terkesan lagi oleh sikap dingin Kojiro, dan ia memilih saat itu untuk bicara apa adanya, “Kau tentunya mengerti, Yang Dipertuan takkan dapat mengambil keputusan akhir sebelum melihatmu. Tapi kau tak perlu kuatir soal itu. Ini cuma prosedur. Aku tidak sangsi. Soalnya cuma kedudukan apa yang akan ditawarkan.”

Kojiro meletakkan mangkuknya di meja dan menatap langsung wajah Kakubei. Kemudian, dengan sikap sangat dingin dan menantang, katanya, “Saya sudah mengubah pikiran. Saya minta maaf, sudah demikian banyak menyulitkan Anda.” Darah seakan-akan hendak menyembur dari cuping telinganya yang sudah merah terang oleh minuman.

“A-apa?” gagap Kakubei. “Maksudmu, kau melepaskan kesempatan men­dapat kedudukan dalam Keluarga Hosokawa?”

“Saya tak suka,” jawab tamunya singkat, dan tidak memberikan penjelasan lagi. Rasa harga dirinya menyatakan tak ada alasan baginya untuk menjalani pemeriksaan. Berlusin-lusin daimyo lain akan cepat mengambilnya, tanpa melihatnya, dengan bayaran seribu lima ratus atau bahkan dua ribu lima ratus gantang.

Rasa kecewa penuh tanda tanya yang dialami Kakubei sama sekali tidak menimbulkan kesan padanya. Dan tak menjadi soal pula baginya bahwa ia akan dianggap sebagai orang yang tidak tahu terima kasih. Sama sekali tanpa tanda-tanda ragu atau sesal, ia selesaikan makannya tanpa kata-kata, kemudian kembali ke kamarnya sendiri.

Sinar bulan jatuh dengan lembutnya ke atas tatami. Sambil meregangkan badan penuh rasa mabuk di lantai, dan sambil berbantalkan tangan, mulai­lah ia tertawa pelan-pelan pada dirinya, “Orang jujur Kakubei itu. Oh, Kakubei yang baik, tua, dan jujur.” Ia tahu tuan rumah itu akan kehilangan akal untuk menjelaskan pada Tadatoshi tentang peralihan sikapnya yang tiba-tiba itu, tapi ia tahu juga bahwa Kakubei takkan lama marah kepadanya, bagaimanapun kasarnya ia bertindak.

Dengan sikap tegas ia telah mengingkari minat akan penghasilan yang ditawarkan, padahal sesungguhnya ia penuh ambisi. Memang la menghendaki penghasilan, bahkan jauh lebih banyak lagi dari itu—ia menginginkan segala kemasyhuran dan keberhasilan yang dapat diraih. Kalau tidak demi­kian, apa gunanya bertahun-tahun ia bertekun dalam latihan yang sulit.

Perbedaan ambisi Kojiro dengan ambisi orang-orang lain adalah dalam hal besarnya. Ia ingin dikenal di seluruh negeri sebagai orang besar dan berhasil, ingin membawa kemuliaan pada kediamannya di Iwakuni, ingin menikmati setiap keuntungan yang dapat diambilnya karena dilahirkan sebagai manusia. Jalan tercepat untuk menuju kemasyhuran dan kekayaan adalah dengan unggul dalam seni bela diri. Ia beruntung memiliki bakat alamiah dalam permainan pedang. Ia tahu itu, dan tidak sedikit ia menimba rasa puas diri dari hal tersebut. Ia sudah merencanakan jalan hidupnya dengan cerdas, dan dengan tinjauan hebat ke masa depan. Setiap tindakannya diperhitungkan untuk dapat lebih mendekatkannya pada tujuan itu. Menurut jalan pikirannya, Kakubei orang yang naif dan sedikit sentimental, sekalipun lebih senior daripadanya. Ia jatuh tertidur, dan bermimpi tentang masa depannya yang gemilang.

Kemudian, ketika cahaya bulan bergeser satu kaki melintas tatami, suatu suara yang tidak lebih keras dari angin yang berbisik melintasi bambu, mengatakan, “Sekarang!” Satu sosok gelap yang merunduk dikerubuti nyamuk merangkak maju seperti kodok, menuju ujung atap rumah yang tak berpenerangan itu.

Orang misterius yang sebelumnya terlihat di kaki bukit itu maju pelan­pelan, diam-diam, sampai mencapai beranda. Di situ ia berhenti dan mengintip ke dalam kamar. Dengan terus merunduk dalam gelap, di luar cahaya bulan, sebetulnya kehadirannya tidak akan diketahui orang sampai kapan pun, asalkan ia sendiri tidak membuat suara.

Kojiro terus mendengkur. Dengung serangga yang lembut, yang sejenak terganggu ketika orang itu mengubah posisinya, terdengar kembali melintasi rumput yang tertutup embun.

Beberapa menit berlalu. Kemudian ketenangan itu dirusak oleh bunyi berdetak, ketika orang itu mencabut pedangnya dan melompat naik ke beranda.

Ia meloncat ke arah Kojiro dan berteriak “Arrgh!”, sesaat sebelum ia mengertakkan gigi dan menghantam.

Terdengar desing tajam ketika satu benda hitam panjang pada pergelangan tangannya menghunjam berat; kekuatan asal pukulan itu sendiri memang hebat, namun pedang itu bukan jatuh dari tangannya, melainkan meng­hunjam ke tatami tempat tubuh Kojiro tadi terbaring.

Seperti ikan yang mengelak menghindari galah yang memukul air, begitulah calon korban itu melejit ke dinding. Dan sekarang ia berdiri menghadapi si penyerbu, satu tangannya memegang Galah Pengering, dan satu lagi memegang sarungnya.

“Siapa kau?” Napas Kojiro terdengar tenang. Ia tak gentar, karena seperti biasa, ia selalu waspada mendengarkan bunyi-bunyi alam, juga jatuhnya titik embun.

“I-ini aku!”

“‘Aku’ itu tak ada artinya buatku. Aku tahu kau pengecut, menyerang orang yang sedang tidur. Siapa namamu?”

“Aku Yogoro, anak tunggal Obata Kagenori. Kau ambil keuntungan dari ayahku, ketika beliau sakit. Dan kausebarkan desas-desus tentang beliau di seluruh kota.”

“Bukan aku yang menyebarkan desas-desus, tapi tukang-tukang sebar desas-desus-penduduk Edo.”

“Tapi siapa yang memanas-manasi para murid supaya berkelahi, dan kemudian membunuh mereka?”

“Tak ada kesangsian soal itu, aku yang melakukannya. Namaku Sasaki Kojiro. Bagaimana mungkin aku menghindar, kalau aku lebih baik dari mereka? Aku lebih kuat. Lebih berani. Lebih berpengetahuan dalam Seni Perang.”

“Beraninya kau mengatakan itu, padahal kau minta bantuan kepada hama-hama jalanan itu?”

Sambil menggeram dengan rasa muak, Kojiro maju selangkah. “Kalau kau ingin membenciku, ayolah! Tapi orang yang menggunakan dendam pribadi untuk menguji kekuatannya dalam Seni Perang, dia bahkan tak bisa disebut pengecut. Dia lebih jelek dari itu, lebih patut dikasihani, lebih patut ditertawakan. Jadi, sekali lagi terpaksa aku mencabut nyawa seorang Obata. Kau siap?”

Tak ada jawaban.

“Kukatakan, apa kau siap menerima nasibmu?” Ia maju selangkah lagi. Sementara ia berkata-kata, cahaya bulan yang terpantul dari lempeng pedang yang baru digosok itu membutakan mata Yogoro.

Kojiro menatap korbannya, seperti orang kelaparan menatap santapan besar.

Elang

Kakubei menyesal membiarkan dirinya dimanfaatkan secara begitu tak adil, dan ia bersumpah takkan berurusan lagi dengan Kojiro. Namun jauh di dasar hatinya, ia suka pada pemuda itu. Yang tak disukainya adalah terjerat antara majikan dan anak didik itu. Dan ia mulai memikirkan kembali soal tersebut.

“Barangkali reaksi Kojiro menunjukkan bahwa dia memang orang yang luar biasa. Samurai biasa akan melonjak gembira jika mendapat kesempatan menghadap.” Semakin ia merenungkan kekesalan yang melanda Kojiro, semakin jiwa merdeka ronin itu menggugah hatinya.

Tiga hari berikutnya, Kakubei bertugas malam. Ia tidak bertemu dengan Kojiro sampai pagi hari keempat. Pada hari itu, ia pergi biasa saja ke kamar pemuda itu.

Sejenak mereka sama-sama terdiam kikuk, tapi kemudian Kakubei berkata, “Aku ingin bicara denganmu sebentar, Kojiro. Kemarin, ketika aku mau pulang, Yang Dipertuan Tadatoshi menanyakanmu. Dia bilang ingin ketemu kau. Bagaimana kalau kau datang ke lapangan panahan dan melihat teknik Hosokawa?”

Kojiro menyeringai tanpa menjawab, dan Kakubei menambahkan, “Aku tak mengerti, kenapa kau berkeras mengira hal itu merendahkan dirimu. Suatu hal biasa kalau kepada seseorang diajukan pertanyaan-pertanyaan, sebelum kepadanya ditawarkan kedudukan resmi.”

“Saya tahu, tapi kalau dia menolak saya, lalu bagaimana? Saya akan terbuang, kan? Saya tidak begitu kekurangan uang, hingga mesti menjajakan diri kepada orang yang memberikan tawaran tertinggi.”

“Kalau begitu, akulah yang salah. Aku keliru. Yang Dipertuan tidak pernah mengisyaratkan hal seperti itu.”

“Lalu jawaban apa yang Anda berikan kepadanya?”

“Aku belum menjawab. Tapi dia kelihatan kurang sabar.”

“Ha, ha. Anda rupanya sangat bijaksana, dan sangat berkemauan membantu. Saya kira tidak semestinya saya menyulitkan kedudukan Anda.”

“Bagaimana kalau kau memikirkan hal itu sekali lagi, dan pergi me­nemuinya, sekali saja?”

“Baiklah, kalau itu ada artinya buat Anda,” kata Kojiro dengan sikap merendahkan diri, namun Kakubei sudah merasa senang.

“Bagaimana kalau hari lm?”

“Begitu lekas?”

“Ya.”

“Kapan?”

“Bagaimana kalau sesudah tengah hari? Waktu itulah beliau berlatih panahan.”

“Baiklah, saya akan ke sana.”

Kojiro mulai melakukan persiapan teliti untuk pertemuan itu. Dipilihnya kimono dari mutu yang sangat baik, dan hakama-nya terbuat dari kain impor. Di atas kimono ia mengenakan semacam rompi resmi yang terbuat semata-mata dari sutra, tidak berlengan, tapi dengan bahu melebar kaku. Untuk melengkapi dandanan itu, ada beberapa pelayan yang membawakannya zori dan topi anyaman baru.

“Apa ada kuda yang bisa saya pakai?” tanyanya.

“Ya. Kuda cadangan Kakubei yang putih itu ada di toko di kaki bukit.” Gagal menemukan si tukang bunga, Kojiro memandang ke arah pekarangan kuil di seberang jalan. Sekelompok orang bergerombol mengitari mayat yang tertutup anyaman buluh. Ia pergi ke sana untuk melihat.

Orang-orang itu sedang membicarakan rencana penguburan dengan pen­deta setempat. Si korban tidak punya tanda-tanda pengenal. Tak seorang pun tahu siapa dia. Hanya diketahui bahwa ia masih muda, dan dari golongan samurai. Darah di sekitar luka dalam yang memanjang dari ujung bahunya sampai pinggang sudah kering dan hitam.

“Saya pernah melihat dia sebelum ini. Sekitar empat hari lalu, malam hari,” kata tukang bunga. Ia pun terus berbicara dengan bersemangat, sampai akhirnya sebuah tangan memegang bahunya.

Ketika ia menoleh untuk melihat, Kojiro berkata, “Aku diberitahu, kuda Kakubei ada di tempatmu. Coba tolong siapkan.”

Sambil membungkuk tergesa-gesa, tanya tukang bunga asal saja, “Bapak mau pergi?” lalu bergegas pergi.

Tukang bunga menuntun kuda kelabu berbintik-bintik itu ke luar

kandang sambil menepuk-nepuknya. “Bagus sekali kuda ini,” ujar Kojiro.

“Ya, betul. Binatang bagus.”

Begitu Kojiro naik pelana, tukang bunga berseri-seri, katanya, “Cocok sekali!”

Kojiro mengambil uang dari kantung uang dan melemparkannya pada orang itu. “Buat bunga dan setanggi.”

“Hah? Buat siapa?”

“Orang yang mati di sana tadi.”

Di luar gerbang kuil, Kojiro mendeham lalu meludah, seakan-akan untuk membuang rasa pahit karena memandang mayat itu. Tapi ia merasa seolah-olah pemuda yang telah dirobohkannya dengan Galah Pengering itu menyingkapkan anyaman buluh dan mengikutinya. “Tak ada alasan bagi dia untuk membenciku,” katanya pada diri sendiri. Setelah itu ia merasa lebih ringan.

Ketika kuda dan pengendaranya sudah menyusuri jalan raya Takanawa di bawah matahari terik, orang-orang kota dan para samurai menyingkir memberi jalan. Kepala-kepala menoleh dengan perasaan kagum. Bahkan di jalan-jalan kota Edo itu Kojiro tampak mengesankan, dan membuat orang bertanya-tanya, siapakah dia, dan dari mana datangnya.

Di tempat kediaman Hosokawa, ia serahkan kuda kepada seorang pelayan, lalu masuk rumah. Kakubei bergegas menjumpainya. “Kuucapkan terima kasih atas kedatanganmu. Tepat pada waktunya,” katanya, seakan-akan Kojiro melakukan sesuatu yang sangat berarti buat dirinya pribadi. “Silakan istirahat sebentar. Akan kusampaikan kepada Yang Dipertuan, engkau ada di sini.” Sebelum pergi, ia memerintahkan agar tamunya disajikan air dingin, teh, dan baki tembakau.

Ketika seorang abdi datang untuk mengantarnya ke lapangan panahan, Kojiro menyerahkan Galah Pengering-nya yang tercinta, dan mengikuti abdi itu dengan hanya membawa pedang pendeknya.

Yang dipertuan Tadatoshi memutuskan untuk menembakkan seratus anak panah sehari, selama bulan-bulan musim panas itu. Sejumlah abdi terdekat selalu ada di sana, memperhatikan setiap tembakannya dengan napas ditahan, dan berusaha menunjukkan jasa dengan mengambil kembali anak-anak panah itu.

“Kasih aku handuk,” perintah Yang Dipertuan sambil menegakkan busur­nya di sampingnya.

Sambil berlutut, Kakubei bertanya, “Boleh saya mengganggu, Pak?” “Ada apa?”

“Sasaki Kojiro ada di sini. Saya berterima kasih, kalau Bapak sudi men­jumpainya.”

“Sasaki? Oh, ya.”

Ia pasangkan anak panah pada tali busur, lalu mengambil jurus terbuka, dan mengangkat tangan yang akan menembak itu di atas kening. Ia, maupun yang lain-lain, tidak menoleh ke arah Kojiro sebelum keseratus tembakan itu dilepaskan.

Sambil mendesah, Tadatoshi berkata, “Air. Aku minta air.”

Seorang pesuruh membawa air dari sumur dan menuangkannya ke dalam bak kayu besar dekat kaki Tadatoshi. Bagian atas kimononya dibiar­kannya bergantung longgar, kemudian ia menyeka dadanya dan mencuci kakinya. Orang-orang membantunya dengan memegang lengan kimononya, berlari mengambil lebih banyak air, dan menyeka punggungnya. Dalam tingkah laku mereka tidak kelihatan sifat resmi, tak ada yang menunjukkan pada orang luar bahwa mereka itu daimyo dengan pengikutnya.

Kojiro semula menduga bahwa Tadatoshi yang penyair dan estetikus, putra Yang Dipertuan Sansai dan cucu Yang Dipertuan Yusai itu, orang yang berpembawaan aristokrat dan halus, sama dengan orang-orang istana yang anggun di Kyoto. Tetapi keheranannya itu tidak tampak di matanya, sementara ia memperhatikan.

Sambil memasukkan kakinya yang masih basah ke dalam zori, Tadatoshi memandang Kakubei yang menanti di pinggir. Dengan wajah orang yang tiba-tiba teringat akan janjinya, katanya, “O ya, Kakubei, sekarang aku akan menemui orangmu.” Sebuah bangku diambil dan diletakkan di ke­teduhan bayangan sebuah tenda; Tadatoshi duduk di depan panji-panji dengan lambang sebuah lingkaran yang dikitari delapan lingkaran yang lebih kecil, menggambarkan matahari, bulan, dan tujuh planet.

Atas panggilan Kakubei, Kojiro maju dan berlutut di depan Yang Diper­tuan Tadatoshi. Sesudah salam resmi dilaksanakan, Tadatoshi mempersilakan Kojiro duduk di bangku, dengan demikian menunjukkan bahwa ia tamu terhormat.

“Terima kasih,” kata Kojiro, ketika ia bangkit dan mengambil tempat duduk menghadap Tadatoshi.

“Saya sudah mendengar tentang Anda dari Kakubei. Saya percaya, Anda kelahiran Iwakuni, bukan?”

“Betul, Tuan.”

“Yang Dipertuan Kikkawa Hiroie dari Iwakuni terkenal sebagai penguasa bijaksana dan mulia. Apakah nenek moyang Anda abdi beliau?”

“Tidak, kami tidak pernah mengabdi pada Keluarga Kikkawa. Saya tahu bahwa kami ini berasal dari Keluarga Sasaki dari Provinsi Omi. Sesudah jatuhnya Shogun Ashikaga yang terakhir, ayah saya rupanya mengundurkan diri ke kampung ibu saya.”

Sesudah melontarkan beberapa pertanyaan lagi mengenai keluarga dan garis keturunan, Yang Dipertuan Tadatoshi bertanya, “Apakah ini pertama kalinya Anda akan mengabdi?”

“Saya belum tahu apakah saya akan mengabdi.”

“Kakubei memberitahukan bahwa Anda ingin mengabdi pada Keluarga Hosokawa. Apa alasan-alasan Anda?”

“Saya percaya inilah keluarga yang tepat bagi saya, untuk hidup dan mati.”

Tadatoshi kelihatan senang dengan jawaban ini. “Dan gaya perkelahian Anda?”

“Saya menamakannya Gaya Ganryu.”

“Ganryu?”

“Itu gaya yang saya temukan sendiri.”

“Tentunya ada pendahulunya.”

“Saya belajar Gaya Tomita, dan saya mendapat keuntungan dari pelajaran­pelajaran Yang Dipertuan Katayama Hisayasu dari Hoki, yang pada hari tuanya mengundurkan diri ke Iwakuni. Saya juga menguasai banyak teknik saya sendiri. Saya biasa berlatih menetak burung layang-layang yang sedang terbang.”

“Begitu. Saya kira nama Ganryu itu berasal dari nama sungai di dekat tempat kelahiran Anda?”

“Betul.”

“Saya ingin melihat demonstrasinya.” Tadatoshi melayangkan pandang ke wajah para samurainya. “Siapa di antara kalian mau melawan orang ini?”

Sejak tadi mereka memperhatikan tanya-jawab itu dengan diam. Menurut pikiran mereka, Kojiro terlalu muda untuk memperoleh nama baik yang sudah dimilikinya itu. Mula-mula semuanya saling pandang, kemudian me­mandang Kojiro. Sementara itu, pipi Kojiro yang merah menyatakan bahwa ia bersedia menghadapi penantang mana pun.

“Bagaimana kalau kau saja, Okatani?”

“Baik, Pak.”

“Kau selalu mengatakan lembing lebih unggul daripada pedang. Sekarang kesempatanmu untuk membuktikan.”

“Dengan senang hati, kalau Sasaki mau.”

“Tentu,” jawab Kojiro sigap. Dalam nada bicaranya yang sopan dan sangat dingin itu terasa nada kejam.

Samurai-samurai yang tadi menyapu pasir di lapangan panahan dan menyingkirkan peralatan, kini berkumpul di belakang majikan mereka. Sekalipun mereka mengenal persenjataan sebagaimana mereka mengenal sumpit, pengalaman mereka terutama adalah di dojo. Kesempatan untuk menyaksikan pertarungan sebenarnya hanya sedikit dalam hidup mereka, dan lebih sedikit lagi kesempatan untuk mengalaminya sendiri. Mereka sependapat bahwa perkelahian satu lawan satu merupakan tantangan lebih besar dibandingkan dengan pergi ke medan pertempuran, di mana kadang-­kadang ada kemungkinan untuk beristirahat dan mengambil napas, sementara teman-teman lain berkelahi terus. Dalam pertarungan satu lawan satu, orang hanya dapat mengandalkan diri sendiri, hanya dapat mengandalkan kewaspadaan dan kekuatan sendiri dari awal sampai akhir. la dapat menang, tapi juga dapat terbunuh atau cacat.

Mereka memperhatikan Okatani Goroji dengan khidmat. Di antara para prajurit biasa yang paling rendah pangkatnya pun hanya sedikit yang mahir bermain lembing. Goroji umumnya diakui sebagai yang terbaik. Ia tidak hanya pernah ikut dalam pertempuran, melainkan juga berlatih dengan rajin dan menemukan teknik-teknik sendiri.

“Saya mohon waktu beberapa menit,” kata Goroji, membungkuk pada Tadatoshi dan Kojiro, sebelum mengundurkan diri untuk melakukan per­siapan. Ia merasa senang hari ini, seperti juga pada hari-hari lain, karena ia mengenakan pakaian dalam yang tak bernoda, sebagai tradisi samurai yang baik, yang memulai setiap hari baru dengan senyuman dan ketidakpastian: mungkin pada petang hari ia sudah menjadi mayat.

Sesudah meminjam sebilah pedang kayu yang panjangnya satu meter, Kojiro memilih medan untuk pertandingan itu. Tubuhnya kelihatan santai dan bebas, lebih-lebih karena ia tidak menyingsingkan hakama-nya yang berlipat-lipat itu. Pemunculannya hebat. Musuh-musuhnya pun terpaksa mengakui hal itu. Dalam sosoknya terasa keberanian seekor burung elang, dan raut mukanya yang tampan begitu penuh keyakinan.

Orang-orang menoleh dengan pandangan kuatir ke arah tirai. Di balik tirai itu, Goroji sedang mencocokkan pakaian dan perlengkapannya.

“Kenapa dia begitu lama?” tanya seseorang.

Goroji dengan tenang sedang melilitkan secarik kain basah pada ujung lembingnya, senjata yang telah dipergunakannya dalam pertempuran dengan hasil sangat bagus. Batangnya tiga meter panjangnya, dan lempeng logamnya yang lonjong dan panjangnya 20-30 sentimeter itu sama dengan sebilah pedang pendek.

“Apa yang Anda lakukan?” seru Kojiro. “Kalau Anda kuatir akan melukai saya, hilangkan kekuatiran itu.” Sekali lagi, kata-kata itu cukup sopan, tapi secara tidak langsung menyatakan kesombongan. “Tak apa-apa buat saya, kalaupun tidak dibungkus.”

Sambil memandang tajam kepadanya, Goroji berkata, “Anda yakin?”

“Yakin sekali.”

Yang Dipertuan Tadatoshi maupun orang-orangnya tidak mengatakan sesuatu, tetapi pandangan mata mereka yang menghunjam itu sudah meminta kepada Goroji untuk lekas bertindak. Kalau orang asing itu ada nyali untuk menantang, apa salahnya menerjangnya?

“Kalau begitu…” Goroji pun membuka pembungkus itu, dan maju memegang tengah gagang lembing. “Saya senang mengikuti kemauan Anda, tapi kalau saya menggunakan lempeng telanjang, saya minta Anda juga menggunakan pedang sungguhan.”

“Tapi pedang kayu ini baik sekali.”

“Tidak, saya tak setuju Anda pakai pedang itu.”

“Anda tentunya tahu sendiri, saya sebagai orang luar tidak berani meng­gunakan pedang sungguhan di hadapan Yang Dipertuan.”

“Tapi…”

Dengan nada tak sabar, Yang Dipertuan Tadatoshi berkata, “Mulai saja, Okatani. Tidak ada yang akan menganggapmu pengecut kerena menuruti kehendak orang ini.” Jelas terasa bahwa sikap Kojiro sudah berpengaruh terhadapnya.

Kedua orang yang wajahnya sudah merah karena tekad itu bertukar salam dengan mata. Goroji membuat gerakan pertama dengan melompat ke samping, tapi Kojiro, seperti seekor burung yang menempel pada galah penangkap burung yang berperekat, menyelinap ke bawah lembing dan menghantam langsung dadanya. Karena tak ada waktu untuk menusuk, pemain lembing berpusing ke samping dan mencoba menotok belakang leher Kojiro dengan pangkal senjatanya. Diiringi suara berderak, lembing itu terlempar ke udara, ketika pedang Kojiro menggigit rusuk Goroji yang terbuka oleh kepesatan lembing yang menaik. Goroji meluncur ke sisi, kemudian melompat menghindar, tapi serangan berlanjut terns tanpa henti. Tanpa ada kesempatan menarik napas, ia melompat lagi ke samping, disusul dengan lompatan lain dan lain lagi. Beberapa kali ia dapat mengelak dengan baik, tapi sesudah itu ia seperti burung merpati yang mencoba menangkis serangan burung elang. Diburu oleh pedang yang mengamuk itu, gagang lembing patah menjadi dua. Pada saat itu juga, Goroji me­ngeluarkan teriakan, seolah jiwanya direnggutkan dari tubuhnya.

Pertempuran singkat itu berakhir. Kojiro berharap menghadapi empat atau lima orang, tapi Tadatoshi mengatakan ia sudah cukup menyaksikan.

Ketika Kakubei pulang malam itu, Kojiro bertanya kepadanya, “Apa terlalu jauh tadi saya melangkah? Maksud saya, di hadapan Yang Dipertuan itu.”

“Tidak, itu demonstrasi yang baik sekali.” Kakubei merasa kurang tenang. Sekarang, sesudah dapat menilai kemampuan Kojiro sepenuhnya, ia merasa seperti orang yang mendekap burung kecil di dadanya, tapi burung itu ternyata tumbuh menjadi seekor elang.

“Apa Yang Dipertuan Tadatoshi mengatakan sesuatu?”

“Tak ada yang khusus.”

“Ayolah, tentunya dia mengatakan sesuatu.”

“Tidak, dia meninggalkan lapangan panahan tanpa mengatakan sesuatu.”

“Hmm.” Kojiro tampak kecewa, tapi katanya, “Ah, tapi tak apalah. Saya mendapat kesan bahwa dia ternyata lebih besar daripada umumnya orang sekelasnya. Terpikir oleh saya, kalau saya mesti mengabdi pada seseorang, pada dialah saya akan mengabdi. Tapi tentu saja saya tak bisa menentukan jalannya peristiwa.” Ia tidak mengungkapkan, betapa hati-hati sesungguhnya ia memikirkan situasinya. Sesudah tokoh-tokoh Date, Kuroda, Shimazu, dan Mori, Hosokawa-lah yang punya reputasi paling baik dan kokoh kedudukannya. Ia merasa keadaannya akan terus demikian, selama Yang Dipertuan Sansai masih menguasai perdikan Buzen. Dan cepat atau lambat, Edo dan Osaka akan bertumbukan untuk penghabisan kali. Tak mungkin meramalkan kesudahannya. Seorang samurai yang keliru memilih majikan bisa mudah sekali menjadi ronin kembali, dan seluruh hidupnya dikorbankan demi penghasilan beberapa bulan.

Sehari sesudah pertarungan itu, terdengar kabar bahwa Goroji tetap hidup, sekalipun pinggul atau tulang paha kirinya remuk. Kojiro menerima kabar itu dengan tenang, dan menyatakan pada dirinya sendiri bahwa sekalipun tidak menerima kedudukan, ia sudah tampil cukup baik.

Beberapa hari kemudian, tiba-tiba ia menyatakan akan menjenguk Goroji. Tanpa memberikan penjelasan mengenai kebaikan hati yang mendadak diperlihatkannya itu, ia berangkat berjalan kaki ke rumah Goroji di dekat Jembatan Tokiwa.

Tamu yang tak diduga-duga itu diterima dengan hangat oleh yang luka.

“Pertandingan adalah pertandingan,” kata Goroji, tersenyum dengan mata basah. “Saya hanya bisa menyesalkan kekurangterampilan saya. Yang pasti, saya tidak menyimpan perasaan dendam terhadap Anda. Sungguh menyenangkan bahwa Anda datang menengok saya. Terima kasih.”

Sesudah Kojiro pergi, Goroji menyatakan pada seorang teman, “Nah, itulah samurai yang kukagumi. Tadinya kupikir dia anak anjing yang congkak, tapi ternyata sikapnya bersahabat dan juga sopan.”

Justru ini reaksi yang diharapkan Kojiro. Itu adalah bagian dari rencananya. Tamu-tamu lain kini akan mendengar dirinya dipuji oleh orang yang dikalahkannya sendiri. Ia datang ke rumah Goroji tiap dua-tiga hari sekali, dan berkunjung tiga kali lagi. Pada suatu kali, ia memesankan ikan hidup dari pasar ikan, sebagai hadiah supaya lekas sembuh.

Kesemek Muda

PADA hari-hari terik di tengah musim panas berhujan itu, kepiting darat merangkak-rangkak dengan lambannya di jalan kering, sementara papan­papan yang mengejek Musashi supaya “keluar dan berkelahi” tidak kelihatan lagi. Sebagian dari papan-papan yang tidak jatuh ke tanah yang lunak oleh hujan, atau dicuri orang untuk kayu bakar, sudah tertutup rumput liar atau rumput tinggi.

“Mestinya ada yang berjualan,” pikir Kojiro sambil mencari-cari tempat untuk makan. Tap ini Edo, bukan Kyoto. Warung-warung nasi dan teh murah yang demikian umum di kota lama itu, belum muncul di sini. Satu-­satunya tempat, yang agaknya mirip tempat itu, berdiri di sebuah lapangan, ditabiri kerai dari buluh. Asap naik dengan malasnya dari balik kerai, dan pada selembar panji-panji yang tegak letaknya tertulis Donjiki. Kata itu segera mengingatkan Kojiro pada Donjiki, yang di masa lalu berarti gumpal nasi untuk ransum militer.

Ketika ia mendekat, terdengar olehnya suara lelaki meminta semangkuk teh. Di dalam, dua samurai sedang melahap nasi dengan bernafsu, yang seorang dari mangkuk nasi biasa, yang lain dari mangkuk sake.

Kojiro mengambil tempat duduk di ujung bangku di seberang mereka, dan bertanya pada tukang warung, “Apa yang ada di sini?”

“Nasi. Juga sake.”

“Pada panji-panji itu tertulis Donjiki. Apa itu artinya?”

“Sebenarnya saya juga tidak tahu.”

“Apa bukan Anda yang menulis itu?’

“Tidak. Nama itu ditulis oleh seorang bekas saudagar yang singgah di sini buat beristirahat.”

“Begitu? Bagus juga tulisannya, menurut saya.”

“Dia bilang, dia lagi melakukan ziarah keagamaan. Katanya dia sudah mendatangi Tempat Suci Hirakawa Tenjin, Tempat Suci Hikawa, Kanda Myojin, dan segala macam tempat lain, dan di mana-mana dia memberikan sumbangan besar. Kelihatannya sangat saleh dan dermawan.”

“Apa Anda tahu namanya?”

“Dia bilang, Daizo dari Narai.”

“Saya pernah mendengar nama itu.”

“Donjiki—yah, saya tak mengerti itu. Tapi saya kira, kalau orang baikmacam dia yang menulisnya, tulisan itu dapat membantu mengusir dewa kemiskinan.” ia pun tertawa.

Kojiro melongok isi beberapa cembung porselen besar, kemudian meng­ambil nasi dan ikan. Nasi dituanginya teh, seekor lalat dikibasnya dengan sumpitnya, dan ia mulai makan.

Salah seorang tamu berdiri dan mengintip lewat bilah yang patah dalam kerai. “Lihat ke sana itu, Hamada,” katanya kepada temannya. “Apa bukan itu penjual semangkanya?”

Orang yang satu lagi cepat pergi ke dekat kerai dan memandang ke luar. “Ya, memang dia.”

Penjual yang memikul dua keranjang itu berjalan lesu melewati Donjiki. Kedua samurai berlari ke luar warung dan menyusulnya. Mereka hunus pedang mereka, dan mereka putuskan tali keranjangnya. Si penjual terhuyung ke depan bersama semangka-semangkanya.

Hamada merenggut tengkuknya. “Ke mana kaubawa perempuan itu?” tanyanya marah. “Jangan bohong. Pasti kausembunyikan dia.”

Samurai lain menempelkan ujung pedangnya ke bawah hidung tangkapan mereka.

“Cepat katakan! Di mana dia?”

Lempeng pedang diketuk-ketukkan ke pipi orang itu dengan penuh ancaman. “Mana mungkin orang yang mukanya macam mukamu ini berani bawa perempuan orang lain?”

Si penjual, dengan pipi merah karena marah dan takut, menggelengkan kepala, kemudian ketika melihat kesempatan, didorongnya salah seorang penangkapnya itu ke samping, dipungutnya pikulan, dan diayunkannya ke samurai yang lain.

“Oh, jadi kau mau berkelahi ya? Hati-hati, Hamada, orang ini bukan penjual semangka biasa.”

“Apa yang bisa dilakukan keledai ini?” cemooh Hamada sambil merebut pikulan dan memukul penjual itu hingga jatuh ke tanah. Didudukinya orang itu, dan dengan tali diikatnya orang itu pada pikulan.

Tiba-tiba terdengar teriakan seperti babi ditusuk di belakangnya. Hamada menoleh ke belakang, dan waktu itu juga ia tersemprot kabut merah yang halus. Dengan mulut ternganga ia melompat, dan teriaknya, “Siapa kau? Apa…”

Lempeng pedang yang seperti ular berbisa itu langsung bergerak ke arahnya. Kojiro tertawa, dan ketika Hamada mundur, Kojiro mengikutinya tanpa kenal ampun. Kedua orang itu bergerak melingkar di rumput. Ketika Hamada melompat ke samping, Galah Pengering mengikuti dan menuding terus calon korbannya.

Penjual semangka berteriak kaget, “Kojiro! Ini aku. Tolong aku!”

Hamada menjadi pucat pasi karena takut, gagapnya, “Oh, Ko-ji-ro.” Kemudian ia memutar badan dan mencoba lari.

“Kau mau ke mana?” salak Kojiro. Galah Pengering mendesah menembus ketenangan yang pengap, memutuskan telinga Hamada, dan selanjutnya bersarang ke dalam daging di bawah bahu. Ia mati di tempat.

Kojiro cepat memotong ikatan si penjual semangka. Orang itu mencoba mengatur dirinya untuk dapat duduk normal, kemudian membungkuk terus, karena terlalu malu menunjukkan wajahnya.

Kojiro menyeka dan menyarungkan pedangnya. Pada bibirnya tersungging senyum senang, katanya, “Apa yang terjadi denganmu, Matahachi? Jangan kelihatan sengsara begitu. Kau masih hidup.”

“Ya, Pak.”

“Buang kata-kata ‘Ya, Pak’ itu. Pandang aku. Sudah lama waktu berlalu, ya?”

“Saya senang Anda dalam keadaan baik.”

“Kenapa tidak? Tapi mesti kukatakan, daganganmu ini lain dari yang lain.”

“Ah, tak usahlah membicarakan itu.”

“Baik. Punguti semangkamu itu. Kemudian… oh, bagaimana kalau kau­tinggalkan saja di Donjiki itu?” Dengan teriakan keras ia panggil tukang warung, yang kemudian membantu mereka menimbun semangka-semangka itu di belakang kerai.

Kojiro mengeluarkan kuas dan tinta, dan menulis pada salah satu shoji warung, Kepada siapa saja yang berkepentingan: menerangkan bahwa orang yang membunuh kedua orang yang tergeletak di tempat kosong ini adalah saya sendiri, Sasaki Kojiro, ronin yang berdiam di Tsukinomisaki.

Kepada tukang warung ia berkata, “Ini buat menjamin agar tak seorang pun mengganggu Anda sehubungan dengan pembunuhan ini.”

“Terima kasih, Pak.”

“Sudah. Kalau teman-teman atau sanak saudara orang-orang yang mati itu datang kemari, sampaikan pesan ini atas nama saya. Katakan pada mereka, saya takkan lari. Kalau mereka ingin bertemu saya, saya siap me­nyambut mereka kapan saja.”

Kembali berada di luar, katanya pada Matahachi, “Ayo pergi.”

Matahachi berjalan di sampingnya, tapi la tak juga melepaskan pandang­annya dari tanah. Semenjak datang ke Edo, ia belum mempunyai pekerjaan tetap. Apa pun yang menjadi maksudnya-menjadi shugyosha atau pengusaha ­apabila menjumpai kesukaran, ia pun mengubah pekerjaan. Dan sesudah Otsu melarikan diri darinya, makin lama ia makin kurang suka bekerja. Ia tidur berpindah-pindah, kadang-kadang di tempat tidur yang dihuni para penjahat.

Dalam beberapa minggu terakhir itu, ia hidup sebagai penjaja bebas, berjalan dari satu bagian dinding benteng ke bagian dinding benteng yang lain, menjajakan semangka.

Kojiro sebenarnya tidak begitu tertarik mengenai apa yang telah dilakukan Matahachi, tapi ia sudah menulis pengumuman di Donjiki itu, dan ada kemungkinan nanti ia ditanyai orang tentang peristiwa itu. “Kenapa kedua samurai itu membalas dendam padamu?” tanyanya.

“Terus terang, ada hubungannya dengan perempuan….”

Kojiro tersenyum, pikirnya, ke mana saja Matahachi pergi, selalu timbul kesulitan sehubungan dengan perempuan. Barangkali ini memang karmanya.

“Mm,” gumamnya. “Oh, jadi si pencinta besar beraksi lagi, ya?” Kemudian dengan suara lebih keras, “Tapi siapa perempuan itu, dan apa yang se­benarnya terjadi?”

Setelah didesak, akhirnya Matahachi menyerah dan mau menyampaikan ceritanya, atau sebagian dari ceritanya. Tidak jauh dari parit benteng itu terdapat berlusin-lusin warung teh kecil yang melayani kaum buruh bangunan dan orang lewat. Di salah satu warung tadinya ada seorang pelayan pe­rempuan yang menarik perhatian semua orang, dan mencoba memikat orang-orang lelaki yang tidak ingin minum teh untuk masuk dan minum, dan orang-orang lelaki yang tidak cukup lapar, untuk memesan agar-agar manis. Salah seorang langganan warung itu adalah Hamada; Matahachi pun kadang-kadang singgah.

Pada suatu hari, pelayan itu berbisik kepadanya bahwa la membutuhkan bantuannya. “Ronin itu,” kata si pelayan. “Saya tak suka padanya, tapi tiap malam, sesudah warung tutup, pemilik warung menyuruh saya pulang ber­sama dia. Apa bisa saya sembunyi di rumahmu? Saya takkan menjadi beban. Saya bisa masak buatmu dan menambal pakaianmu.”

Karena permohonannya kedengaran masuk akal, Matahachi menyetujui. Cuma itu, demikian ditekankannya.

Tapi Kojiro tidak begitu percaya. “Kedengarannya mencurigakan.”

“Kenapa begitu?” tanya Matahachi.

Kojiro tak dapat memastikan, apakah Matahachi hanya ingin membuat dirinya tampak tak bersalah, ataukah ingin membualkan petualangan cintanya.

Tanpa tersenyum sama sekali, kata Kojiro, “Ya sudah. Panas di sini, kena matahari. Ayo kita pergi ke rumahmu. Di sana kau bisa cerita lagi lebih terperinci.”

Matahachi berhenti berjalan.

“Keberatan?” tanya Kojiro.

“Ah, tapi tempat saya itu… tidak pantas untuk menerimamu.”

Melihat pandangan risau pada mata Matahachi, Kojiro pun berkata ringan, “Ya sudah. Tapi hari-hari ini kau mesti datang menemui aku. Aku tinggal di rumah Iwama Kakubei, sekitar setengah jalan naik Bukit Isarago.”

“Dengan senang hati.”

“Omong-omong, apa kau melihat papan-papan yang dipasang di seluruh kota baru-baru ini, yang ditujukan pada Musashi?”

“Ya.”

“Orang bilang, ibumu mencari dia juga. Bagaimana kalau kau pergi menj umpainya?”

“Dalam keadaan saya seperti ini, tak mungkin.”

“Goblok. Menghadapi ibumu sendiri tak perlu bermegah-megah. Memang tak mungkin mengetahui, kapan dia akan menemui Musashi, tapi kalau kau tak ada di sana waktu itu, kau akan kehilangan kesempatan selamanya. Kau akan menyesal nantinya.”

“Ya, saya mesti segera berbuat sesuatu,” kata Matahachi tanpa mengatakan pendapatnya. Dengan perasaan benci, terpikir olehnya bahwa orang-orang lain itu tak mengerti perasaan yang ada antara ibu dan anaknya, termasuk orang yang baru saja menyelamatkan hidupnya ini.

Mereka berpisah. Matahachi berjalan pelan mengikuti jalan berumput, sedangkan Kojiro berpura-pura berangkat ke arah berlawanan, tapi tak lama kemudian balik kanan, mengikuti Matahachi.

Tak lama kemudian, Matahachi tiba di sebuah “rumah panjang”, rumah­rumah petak yang masing-masing berisi tiga-empat petak kecil beratap tunggal. Karena kota Edo tumbuh dengan cepat, dan tidak tiap orang dapat bersikap rewel dalam hal memilih rumah, maka orang pun membuka tanah di mana saja, menurut kebutuhan. Jalan-jalan boleh muncul belakangan. la berkembang wajar dari jalan setapak. Pembuangan air ber­jalan asal saja. Air buangan itu mencari jalannya sendiri, menuju kali ter­dekat. Sekiranya tidak karena gubuk-gubuk yang dibangun serampangan ini, masuknya orang-orang baru takkan mungkin terserap seluruhnya. Sebagian besar penghuni tempat-tempat seperti itu tentu saja kaum pekerja.

Di dekat rumahnya, Matahachi disambut seorang tetangga bernama Umpei, majikan regu penggali sumur. Umpei duduk bersilang kaki dalam bak kayu besar, hanya wajahnya yang tampak di atas tirai hujan yang dipasang menyamping di dekat bak, agar tidak kelihatan oleh orang lain.

“Selamat malam,” kata Matahachi. “Saya lihat Bapak sedang mandi.”

“Saya sudah akan keluar,” jawab si majikan dengan ramah. “Apa kau mau pakai sekarang?”

“Terima kasih, saya pikir Akemi sudah memanaskan air untuk saya.”

“Kalian berdua sudah sama-sama suka, ya? Tak seorang pun di sini yang tahu, kalian berdua ini bersaudara, atau suami-istri. Yang mana dari yang dua itu?”

Matahachi tertawa mengikik malu-malu. Munculnya Akemi menyelamat­kannya, dan ia tak perlu menjawab pertanyaan itu.

Akemi meletakkan sebuah bak di bawah pohon kesemek, kemudian me­nuangkan beberapa ember air panas dari rumah ke dalamnya. Selesai melakukan itu, katanya, “Coba rasakan, Matahachi, sudah cukup panas apa belum.”

“Sedikit terlalu panas.”

Terdengar bunyi menderit dari kerekan sumur, Matahachi membuka pakaian, sampai tinggal cawat, dan menimba seember air dingin yang di­tuangkannya ke bak mandi, lalu ia masuk ke dalam bak itu. “Ah-h-h,” keluhnya puas. “Enak rasanya.”

Umpei, yang mengenakan kimono katun musim panas, meletakkan bangku bambu di bawah tanaman labu yang merambat, dan duduk. “Laku banyak semangkanya hari ini?”

“Tidak banyak. Tak pernah saya menjual banyak.” Pada waktu itu, Matahachi melihat darah kering di antara jari-jarinya, dan ia cepat-cepat menghapusnya.

“Saya pikir juga tak mungkin. Tapi saya pikir hidupmu akan lebih ringan kalau kau kerja dalam rombongan penggali sumur.”

“Bapak selalu mengatakan begitu. Jangan Bapak kira saya tidak berterima kasih, tapi jika saya terima itu, mereka takkan mengizinkan saya me­ninggalkan pekarangan benteng, kan? Itu sebabnya Akemi tak ingin saya menerima pekerjaan itu. Dia bilang, dia kesepian tanpa saya.”

“Pasangan yang bahagia, ya? Ya, ya.”

“Uh!”

“Ada apa?”

“Ada yang jatuh ke kepala saya.” Sebuah kesemek muda jatuh ke tanah, tepat di belakang Matahachi.

“Ha, ha! Itu hukuman karena membualkan kesetiaan istrimu itu.” Sambil terus tertawa, Umpei mengetuk-ngetukkan kipas yang berlapis bahan penyamak ke lututnya.

Umpei sudah berumur lebih dari enam puluh tahun. Rambutnya putih kusut, menyerupai rami. Ia orang yang dihormati para tetangga dan di­kagumi para pemuda, karena para pemuda itu dengan besar hati diper­lakukannya sebagai anak-anak sendiri. Tiap pagi, orang dapat mendengarnya menyanyikan Namu Myoho Rengekyo, doa suci Nichiren.

Ia berasal dari Ito di Provinsi Izu, dan di depan rumahnya terdapat papan bertuliskan Idohori no umpei. Penggali sumur untuk Benteng Shogun. Untuk membuat banyak sumur yang diperlukan benteng itu, diperlukan keterampilan teknik yang melebihi keterampilan buruh biasa. Umpei dipe­kerjakan sebagai konsultan dan pengerah tenaga buruh karena pengalamannya yang panjang di pertambangan emas Semenanjung Izu. Tak ada yang lebih nikmat baginya daripada duduk di bawah rambatan labu yang dicintainya, sambil memintal benang dan minum shochu yang murah namun kuat. Shochu adalah sake kaum miskin.

Sesudah Matahachi keluar dari bak mandi, Akemi memasang tirai hujan di sekeliling bak itu, dan mandi. Kemudian usul Umpei muncul sekali lagi dalam pikirannya. Disamping mesti tinggal di pekarangan benteng, kaum buruh diawasi dengan ketat, dan keluarga mereka boleh dikatakan menjadi sandera para majikan di daerah tempat mereka bekerja. Namun pekerjaan di situ lebih ringan daripada di luar, dan upahnya paling tidak dua kali lipat.

Matahachi menghadapi nampan berisi tahu dingin yang dihias daun kemangi segar semerbak, dan katanya, “Aku tak ingin menjadi tawanan hanya untuk memperoleh uang sedikit lebih banyak. Aku takkan menjual semangka seumur hidup, tapi sabarlah dulu hidup denganku, Akemi.”

“Mmm,” jawab Akemi di antara suapan bubur teh dan nasinya. “Kupikir kau lebih baik mencoba sekali saja, melakukan sesuatu yang betul-betul ada artinya, sesuatu yang akan membuat orang memperhatikan.”

Akemi tak pernah berusaha membantah anggapan bahwa ia adalah istri sah Matahachi, tapi, sesungguhnya, ia tidak akan mau kawin dengan orang yang tak bisa diandalkan seperti Matahachi itu. Melarikan diri dari dunia malam di Sakaimachi dengan Matahachi adalah suatu ikhtiar. Matahachi hanyalah tempat bertengger. Dari situ, ia bermaksud terbang ke langit bebas sekali lagi, begitu ada kesempatan pertama. Kalau Matahachi pergi bekerja ke benteng, itu tidak sesuai dengan maksud-maksudnya. la merasa bahwa ditinggalkan sendiri akan berbahaya baginya. Khususnya ia takut Hamada akan menemukannya dan memaksanya hidup dengannya.

“Oh, aku lupa,” kata Matahachi, ketika mereka selesai makan makanan sederhana itu. Kemudian ia pun bercerita pada Akemi tentang pengalamannya hari itu, namun perinciannya dibuat sedemikian rupa, agar dapat me­nyenangkan hati Akemi. Begitu ia selesai bercerita, wajah Akemi pucat.

Sambil menarik napas panjang, katanya, “Kau ketemu Kojiro? Apa kau memberitahukan aku ada di sini? Tidak, kan?” Matahachi memegang tangan Akemi dan meletakkannya di atas lututnya. “Tentu saja tidak. Apa kaupikir akan kubiarkan bajingan itu mengetahui tempatmu? Dia orang yang tak pernah menyerah. Dia pasti mengejarmu…”

Saar itu juga Matahachi berteriak dan menekankan satu tangan ke sisi wajahnya. Kesemek muda yang jatuh kena pipinya pecah, memercikkan dagingnya yang keputihan ke wajah Akemi.

Di luar, dalam bayangan rumpun bambu yang diterangi sinar bulan, sesosok tubuh yang bukan tak mirip dengan sosok Kojiro, berjalan acuh tak acuh ke arah kota.

Mata

“SENSEI!” panggil Iori, yang belum cukup tinggi untuk melihat lewat atas rumput tinggi itu. Mereka berada di Dataran Musashino, yang kata orang meliputi sepuluh kabupaten.

“Aku di sini,” jawab Musashi. “Kenapa kau begitu lama?”

“Saya pikir ada jalan, tapi saya tersesat terus. Berapa jauh lagi kita mesti jalan?”

“Sampai kita menemukan tempat yang baik untuk tinggal.”

“Tinggal? Kita akan tinggal di sekitar sini?”

“Kenapa tidak?”

Iori menatap langit. Ia memikirkan keluasan dan kekosongan tanah di sekitarnya itu, dan katanya, “Heran.”

“Tapi coba bayangkan keadaannya waktu musim gugur. Langit jernih indah, embun segar di rumput. Apa memikirkannya saja tidak membuatmu merasa lebih jernih?”

“Barangkali juga, tapi saya tidak antihidup di kota seperti Bapak.”

“Sebetulnya aku tidak anti.. Dalam hat tertentu, sungguh senang hidup di antara orang banyak, tapi biarpun dengan kulit tebal, tidak tahan aku tinggal di sana, kalau papan-papan itu dipasang. Kaulihat sendiri apa yang mereka katakan.”

Ion menyeringai. “Memikirkannya saja saya jadi gila.”

“Tapi kenapa pula kau marah?”

“Saya tidak tahan. Ke mana pun saya pergi, tak ada yang bicara baik tentang Bapak.”

“Tak ada yang dapat kuperbuat dalam hat itu.”

“Bapak dapat merobohkan orang-orang yang menyebarkan desas-desus

itu. Bapak dapat memasang papan-papan sendiri buat menantang mereka.”

“Tak ada gunanya memulai perkelahian yang tak dapat kita menangkan.”

“Bapak takkan kalah dari sampah masyarakat itu. Tak mungkin.”

“Tidak, kau keliru. Aku akan kalah.”

“Bagaimana mungkin?”

“Karena jumlah. Kalau kupukul sepuluh, akan datang seratus lagi. Kalau kukalahkan seratus, akan datang seribu. Tak ada kemungkinan menang dalam keadaan macam itu.”

“Berarti Bapak akan terus ditertawakan orang selama hidup?”

“Tentu saja tidak. Seperti semua orang lain, aku bertekad memiliki nama harum. Aku berutang budi pada nenek moyangku. Dan aku bermaksud menjadi orang yang tak pernah ditertawakan. Itulah yang mau kupelajari di stnt.

“Kita bisa saja berjalan terus, tapi saya kira kita takkan menemukan rumah. Bagaimana kalau kita mencoba mencari kuil buat tinggal lagi?”

“Itu bukan gagasan jelek, tapi sebenarnya yang kuinginkan adalah me­nemukan tempat yang banyak pohonnya, dan membangun rumah kita sendiri.”

“Macam Hotengahara lagi, ya?”

“Tidak. Kali ini kita takkan bertani. Kupikir, barangkali aku akan me­lakukan semadi Zen tiap hari. Kau bisa membaca buku-buku, dan aku memberikan pelajaran main pedang padamu.”

Mereka memasuki dataran itu dari desa Kashiwagi, pintu masuk Koshu menuju Edo. Mereka menuruni lereng panjang itu dari Junisho Gongen, kemudian menelusuri jalan sempit yang berkali-kali seakan menghilang di antara rumput musim panas yang mengombak. Ketika akhirnya mereka sampai di bukit kecil yang ditumbuhi pinus, Musashi melakukan pengamatan cepat atas dataran itu, dan katanya, “Ini cocok sekali.” Baginya, tempat mana pun bisa menjadi rumahnya-bahkan lebih dari itu: di mana pun ia berada, itulah alam semesta.

Mereka meminjam peralatan dan menggaji seorang buruh dari rumah pertanian terdekat. Cara Musashi membangun rumah sama sekali tidak canggih: sesungguhnya la masih dapat belajar cukup banyak dengan meng­amati burung-burung yang sedang membuat sarang. Hasilnya, yang selesai beberapa hari kemudian, tampak aneh. Rumah itu kurang kokoh dibanding­kan rumah pertapa di gunung, tapi tidak sekasar gubuk. Tiang-tiangnya dari balok yang masih berkulit, sedangkan sisanya dari gabungan kasar papan, kulit kayu, bambu, dan miskantus.

Musashi mundur untuk memperhatikan rumah itu balk-balk, kemudian ujarnya sambil berpikir, “Rumah ini tentunya mirip rumah yang didiami orang banyak pada zaman dewa-dewa.” Satu-satunya yang mengimbangi keprimitifan rumah itu adalah lembar-lembar kertas yang ditata sedemikian rupa dengan penuh cinta, menjadi shoji kecil.

Hari-hari berikutnya, suara Iori sudah mengalun dari belakang kerai buluh. la mengulang-ulang pelajarannya, suaranya menggema mengatasi bunyi jangkrik. Latihan yang ditempuhnya dalam segala hal sangat keras.

Kepada Jotaro, Musashi tidak menekankan disiplin, karena menurut pen­dapatnya waktu itu, yang terbaik adalah membiarkan anak-anak yang sedang tumbuh itu berkembang secara alamiah. Tapi, sejalan dengan ber­lalunya waktu, ia melihat bahwa sifat-sifat jelek cenderung berkembang dan sifat-sifat balk tertekan. Dan ia melihat bahwa pohon dan tanaman yang hendak ditanaminya tak mau tumbuh, sementara rumput liar dan semak­semak tumbuh pesat, tak peduli berapa sering ia menebasnya.

Selama beberapa ratus tahun sesudah Perang Onin, bangsa ini seperti massa tanaman rami yang tumbuh liar dan kacau. Kemudian Nobunaga menebasi semuanya itu, Hideyoshi mengikatnya, dan Ieyasu telah membuka serta melembutkan tanahnya untuk membangun dunia baru. Musashi melihat bahwa kaum prajurit yang hanya menjunjung tinggi praktek­praktek perang, kini tidak lagi merupakan unsur dominan dalam masyarakat. Ciri mereka yang paling menonjol adalah ambisi yang tak terbatas. Tapi Sekigahara sudah mengakhiri semua itu.

Musashi sudah mendapat keyakinan, biarpun bangsa ini tetap berada di tangan Keluarga Tokugawa, atau kembali kepada Keluarga Toyotomi, tapi rakyat pada umumnya sudah tahu, ke arah mana mereka ingin bergerak: dari kemelut menuju ketertiban, dan dari kehancuran menuju pembangunan.

Kadang-kadang ia merasa dirinya terlalu terlambat dilahirkan. Begitu kebesaran Hideyoshi masuk ke daerah-daerah pedesaan terpencil dan meng­gugah hati anak-anak lelaki seperti Musashi, maka kemungkinan untuk mengikuti langkah-langkah Hideyoshi sudah menguap.

Jadi, pengalaman sendirilah yang menuntun Musashi mengambil keputusan untuk menekankan disiplin dalam pendidikan Iori. Kalau ia hendak men­ciptakan seorang samurai, ia mesti menciptakannya untuk masa mendatang. Bukan untuk masa lalu.

“Iori.”

“Ya, Pak.” Anak itu langsung saja berlutut di depan Musashi, sebelum kata-kata itu selesai diucapkan.

“Sudah hampir senja. Waktunya belajar. Ambil pedang-pedang itu.”

“Baik, Pak.” Ketika pedang-pedang sudah diletakkannya di hadapan Musashi, ia berlutut dan secara resmi memohon pelajaran.

Pedang Musashi panjang, sedangkan pedang Iori pendek, tapi keduanya pedang latihan dari kayu. Guru dan murid saling berhadapan, diam kaku, pedang dipegang setinggi mata. Seberkas sisa sinar matahari mengambang di kaki langit. Rumpun pohon kriptomeria di belakang pondok sudah ter­benam dalam kegelapan, tapi kalau orang melihat ke arah bunyi jangkrik, akan tampak sepotong bulan lewat rerantingan.

“Mata,” kata Musashi.

Iori membuka matanya lebar-lebar. “Mataku. Lihat mataku.”

Iori berusaha sebaik-baiknya, tapi pandangan matanya rupanya selalu mental sama sekali dari mata Musashi. Bukannya menatap, tapi langsung kalah oleh mata lawannya. Ketika mencoba lagi, ia bahkan merasa pusing.

Mulai terasa olehnya, kepala itu seakan-akan bukan lagi kepalanya sendiri. Tangannya, kakinya, seluruh tubuhnya terasa goyah.

“Lihat mataku!” perintah Musashi dengan garang, segarang-garangnya. Tapi pandangan mata Iori mengembara lagi. Kemudian, ketika ia dapat memusatkan perhatian ke mata gurunya, ia lupa akan pedang di tangannya. Kayu melengkung yang pendek itu terasa seberat batangan baja.

“Mata, mata!” kata Musashi sambil maju sedikit.

Iori berusaha untuk tidak rebah ke belakang. Untuk itu, sampai berlusin-­lusin kali ia dicerca. Begitu ia berusaha mengikuti gerak lawannya dan bergerak maju, kakinya seperti terpaku ke bumi. Tak dapat ia maju atau mundur, dan terasa olehnya suhu badannya naik. “Apa yang terjadi dengan diriku?” Pikiran itu meledak seperti bunga api di dalam dirinya.

Merasakan terjadinya ledakan kekuatan mental ini, Musashi memekik, “Serang!” Pada saat itu juga, ia merendahkan bahunya, mundur, dan meng­elak dengan kecekatan seekor ikan.

Sambil terengah, Iori meloncat ke depan, memutar badan, tapi Musashi sudah berdiri di tempat tadi ia berdiri. Konfrontasi pun dimulai, tepat seperti tadi, guru dan murid diam tanpa suara.

Tak lama kemudian, rumput basah oleh embun, dan alis bulan bergantung di atas pepohonan kriptomeria. Setiap kali angin bertiup, serangga-serangga seketika berhenti bernyanyi. Musim gugur tiba, sekalipun tidak menakjubkan di siang hari, bunga-bunga liar kini berayun-ayun dengan anggunnya, seperti jubah bulu dewa yang sedang menari.

“Cukup,” kata Musashi sambil menurunkan pedang.

Ia serahkan pedang itu kepada Iori, tapi waktu itu juga terdengar oleh mereka suara dari arah rumpun pohon. “Siapa pula itu?” kata Musashi.

“Barangkali musafir tersesat yang ingin bermalam.”

“Lari sana, lihat.”

Iori berlari ke sisi rumah, dan Musashi mendudukkan diri di beranda bambu, memandang ke arah dataran. Pohon-pohon elalia sudah tinggi, puncaknya berkembang halus. Rumput bermandikan cahaya, menampilkan kemilau musim gugur yang khas.

Ketika Iori kembali, Musashi bertanya, “Musafir, ya?”

“Bukan, tamu.”

“Tamu? Di sini?”

“Hojo Shinzo. Dia sudah menambatkan kudanya, dan sekarang menunggu Bapak di belakang.”

“Rumah ini tak ada depan atau belakangnya, tapi kupikir lebih baik ku­terima dia di sini.”

Iori berlari memutar lewat sisi pondok, dan teriaknya, “Silakan jalan lewat sini.”

“Oh, menyenangkan sekali,” kata Musashi. Matanya menyatakan kegem­biraan ketika melihat Shinzo sudah sembuh sama sekali.

“Maaf, begitu lama saya tidak menghubungi. Saya kira Anda tinggal di sini supaya jauh dari orang banyak? Saya harap Anda memaafkan saya, karena saya singgah tanpa diduga-duga macam ini.”

Mereka bertukar salam, kemudian Musashi mengajak Shinzo ikut dengan­nya ke beranda.

“Bagaimana Anda bisa menemukan tempat saya? Tak seorang pun saya beritahu bahwa saya ada di sini.”

“Zushino Kosuke. Dia bilang, Anda menyelesaikan Kannon yang Anda janjikan kepadanya, dan menyuruh Iori mengirimkannya.”

“Ha, ha. Kalau begitu, Iori yang membongkar rahasia itu. Tidak apalah. Saya belum cukup tua untuk meninggalkan dunia ini dan mengundurkan diri. Tapi saya pikir, kalau saya menghilang beberapa bulan lamanya, desas­desus jahat itu akan mereda. Dan akan berkurang bahaya pembalasan ter­hadap Kosuke dan teman-teman saya yang lain.”

Shinzo menundukkan kepala. “Saya mesti minta maaf pada Anda. Semua kesulitan ini, sayalah penyebabnya.”

“Tidak sepenuhnya begitu. Itu soal kecil. Akar sesungguhnya dari persoalan ini ada kaitannya dengan urusan antara Kojiro dan saya.”

“Apa Anda tahu dia sudah membunuh Obata Yogoro?”

“Tidak.”

“Ketika mendengar tentang diri saya, Yogoro memutuskan membalas dendam sendiri. Dia bukan tandingan Kojiro.”

“Saya sudah memperingatkan dia….” Bayangan Yogoro yang berdiri di pintu masuk rumah ayahnya masih jelas dalam pikiran Musashi. “Sayang sekali,” pikirnya.

“Saya bisa mengerti perasaannya,” sambung Shinzo. “Semua murid sudah pergi, dan ayahnya sudah meninggal. Dia tentunya berpikir, dialah satu­-satunya yang dapat melakukan pembalasan. Paling tidak, rupanya dia sudah pergi ke rumah Kojiro. Tapi tak seorang pun melihat mereka bersama-sama, tak ada bukti yang nyata.”

“Mm. Barangkali peringatan itu berakibat sebaliknya dari yang saya maksud-justru menggugah rasa harga dirinya, hingga dia merasa mesti berkelahi. Sayang!”

“Memang. Yogoro satu-satunya orang sedarah dengan Sensei. Dengan ke­matiannya, Keluarga Obata tak ada lagi. Namun ayah saya sudah mem­bicarakan persoalan ini dengan Yang Dipertuan Munenori, yang kemudian berhasil menempuh prosedur pemungutan anak. Saya akan menjadi ahli waris dan pengganti Kagenori, dan menggunakan nama Obata…. Memang saya belum yakin bahwa saya sudah cukup matang. Saya pun kuatir akan mengakhiri semua ini dengan mendatangkan aib lebih lanjut kepada beliau. Bagaimanapun, beliau penganjur terbesar tradisi militer Koshu.”

“Ayah Anda adalah Yang Dipertuan dari Awa. Apakah tradisi militer Hojo tidak dianggap sama dengan Perguruan Koshu? Dan ayah Anda guru yang sama besarnya dengan Kagenori?”

“Itu kata orang. Nenek moyang kami berasal dari Provinsi Totomi. Kakek saya mengabdi pada Hojo Ujitsuna dan Ujiyasu dari Odawara, dan ayah saya dipilih oleh Ieyasu sendiri untuk menggantikan mereka sebagai kepala keluarga.”

“Sebagai orang yang berasal dari keluarga militer terkenal, apakah tidak luar biasa bahwa Anda menjadi murid Kagenori?”

“Ayah saya mempunyai murid sendiri, dan dia memberikan kuliah pada shogun tentang ilmu pengetahuan militer. Tapi dia bukannya mengajarkan sesuatu pada saya, sebaliknya dia suruh saya pergi dan belajar dari orang lain. Carl jalan yang keras! Itulah ayah saya.”

Musashi merasakan kesopanan, dan bahkan keagungan yang wajar, pada sikap Shinzo itu. Dan itu barangkali memang sudah sewajarnya, pikirnya, karena ayah Shinzo, Ujikatsu, adalah seorang jenderal terkemuka, dan ibunya, putri Hojo Ujiyasu.

“Saya takut sudah terlalu banyak bicara,” kata Shinzo. “Sesungguhnya, ayah saya yang menyuruh saya kemari. Tentu saja wajar sekali kalau beliau yang datang menyatakan terima kasih pada Anda, tapi sekarang beliau sedang menerima tamu yang ingin sekali bertemu dengan Anda. Ayah minta saya pulang bersama Anda. Maukah Anda datang?” Dan ia me­mandang wajah Musashi penuh tanya.

“Tamu ayah Anda ingin bertemu dengan saya?”

“Betul.”

“Siapa dia? Saya hampir tak kenal siapa pun di Edo.”

“Orang yang Anda kenal sejak kecil.”

Musashi tak dapat membayangkan, siapa orangnya. Matahachi barangkali? Samurai dari Benteng Takeyama? Seorang teman ayahnya?

Barangkali bahkan Otsu…. Tapi Shinzo menolak membuka rahasianya. “Saya dilarang mengatakannya. Dan tamu itu mengatakan lebih baik mem­berikan kejutan pada Anda. Maukah Anda datang?”

Rasa ingin tahu Musashi pun bangkit. Ia mengatakan pada diri sendiri, tak mungkin itu Otsu, tapi dalam hati ia berharap demikian.

“Mari,” katanya sambil berdiri. “Iori, jangan tunggu aku.”

Shinzo senang misinya berhasil, dan ia pergi ke belakang rumah, membawa kudanya. Pelana dan sanggurdinya meneteskan air embun. Sambil memegang kekang, ia menawarkannya kepada Musashi, yang tanpa banyak bicara langsung menaikinya.

Ketika mereka berangkat, kata Musashi pada Iori, “Jaga dirimu, aku mungkin tidak kembali sampai besok.” Tak lama kemudian, sosoknya sudah lenyap ditelan kabut malam.

Iori duduk tenang di beranda, tenggelam dalam lamunan.

“Mata,” pikirnya. “Mata.” Tak terhitung sudah berapa kali ia diperintahkan menatap ke mata lawan, namun ia belum dapat memahami maksud perintah itu, maupun menghilangkannya dari pikiran. la menatap kosong ke Sungai Surga.

Apa yang salah dengannya? Kenapa kalau Musashi menatapnya, ia tak dapat balas menatap? Ia lebih jengkel akan kegagalannya itu daripada orang dewasa, dan ketika sedang berusaha keras menemukan penjelasan tentang soal itu, tiba-tiba dilihatnya sepasang mata. Mata itu tertuju kepadanya dari antara ranting-ranting tanaman anggur yang membelit sebuah pohon di depan pondok.

“Apa itu?” pikirnya.

Mata yang bersinar cemerlang itu mengingatkannya pada mata Musashi selagi berlangsung pelajaran praktek.

“Tentunya seekor kuskus.” Sudah beberapa kali ia melihat binatang itu sedang makan anggur liar. Mata itu seperti barn akik, mata hantu ganas.

“Binatang!” teriak Iori. “Kaupikir aku tak punya keberanian? Kaupikir dapat menundukkan aku dengan pandangan mata? Akan kutunjukkan padamu! Tak bakal aku kalah darimu.”

Dengan tekad teguh ia ketatkan alisnya, dan ia menatap balik. Kuskus itu tak bergerak untuk melarikan diri, mungkin karena keras kepala, mungkin juga karena rasa ingin tahu. Matanya begitu cemerlang.

Iori begitu serius dengan usahanya itu, hingga ia lupa bernapas. la bersumpah untuk tidak kalah. la tak mau kalah oleh binatang hina itu. Setelah beberapa waktu yang terasa seperti beberapa jam, ia tiba-tiba sadar bahwa ia menang. Daun-daun anggur itu bergoyang, dan kuskus pun lenyap.

“Nah, tahu rasa kau!” kata Iori girang. Badannya basah oleh keringat, tapi la merasa lega dan segar kembali. Ia berharap dapat mengulangi per­buatannya itu, kalau nanti berhadapan lagi dengan Musashi.

Ia turunkan kerai buluh di jendela dan ia matikan lampu, kemudian ia pergi tidur. Cahaya putih kebiruan memantul dari rumput di luar. Ia tertidur, tapi di dalam kepalanya la seolah melihat satu titik kecil yang bersinar seperti permata. Pada waktunya, titik itu tumbuh menjadi bentuk samar wajah kuskus itu.

Dalam tidurnya ia berguling ke sana kemari dan mengeluh, dan tiba-tiba ia merasa yakin bahwa di kaki kasurnya terdapat sepasang mata yang memandanginya. Dengan susah payah ia bangun. “Bajingan!” teriaknya sambil menjangkau pedangnya. la ayunkan pedang itu sehebat-hebatnya, tapi akibatnya la jadi jungkir-balik. Bayangan kuskus itu menjadi titik yang bergerak di kerai. Ia tebas binatang itu dengan kejam, kemudian ia berlari ke luar, dan ia tetak tanaman anggur dengan ganas. Matanya menengadah ke langit, mencari mata kuskus.

Dan pelan-pelan, tampak jelas olehnya dua bintang besar kebiruan.

Empat Guru dengan Satu Lampu

“NAH, kita sudah sampai,” kata Shinzo, ketika mereka sampai di kaki Bukit Akagi.

Dari suara suling yang terdengar seperti iringan tari suci di tempat suci, dan dari api unggun yang tampak lewat kayu-kayuan, Musashi mengira sedang berlangsung pesta malam. Perjalanan ke Ushigome itu makan waktu dua jam.

Di satu sisi terdapat pekarangan luas Kuil Akagi. Di seberang jalan me­landai, berdiri tembok tanah sebuah kediaman pribadi yang besar, dan sebuah pintu gerbang yang besar sekali ukurannya. Sampai di pintu gerbang itu, Musashi turun dan menyerahkan kendali pada Shinzo, sambil mengucapkan terima kasih.

Shinzo menuntun kuda itu ke dalam, dan menyerahkan kendalinya pada salah seorang samurai yang sedang menanti di dekat pintu masuk, memegang lentera kertas. Mereka semua maju ke depan, menyambut kedatangannya, dan mengantarnya lewat pepohonan, ke sebuah tempat terbuka di depan pendopo yang mengesankan. Di dalam, para pembantu yang memegang lentera berbaris di kiri-kanan ruang masuk.

Kepala pelayan menyambut mereka, katanya, “Silakan masuk. Yang Dipertuan sudah menanti Bapak. Saya tunjukkan jalannya.”

“Terima kasih,” jawab Musashi. Ia mengikuti para pelayan itu menaiki sebuah tangga, kemudian masuk kamar tunggu.

Pola rumah itu lain dari yang lain. Beberapa tangga berturut-turut mem­bawa orang ke serangkaian apartemen yang tampak saling menumpuk, mendaki Bukit Akagi. Begitu duduk, Musashi melihat bahwa ruangan itu ada di atas lereng bukit. Di sebelah cekungan, di ujung halaman, ia hanya dapat melihat bagian utara parit benteng dan hutan yang melingkari tebing curam itu. Terpikir olehnya, pemandangan dari ruangan itu pada siang hari tentunya mengesankan sekali.

Tanpa bunyi, pintu sebuah jalan keluar yang melengkung, terbuka. Se­orang gadis pelayan yang cantik masuk dengan anggunnya, meletakkan nampan berisi kue-kue, teh, dan tembakau di depan Musashi. Kemudian ia menyelinap ke luar, tanpa suara, sama dengan sewaktu ia masuk. Seakan­akan kimono dan obi-nya yang beraneka warna itu muncul dan kemudian mencair kembali ke dalam dinding itu. Sesudah kepergiannya, masih ter­cium lamat-lamat semerbak harumnya, dan tiba-tiba Musashi jadi ingat akan adanya wanita.

Tak lama kemudian, tuan rumah muncul diiringi seorang samurai muda. Dengan menanggalkan sikap resmi, katanya, “Baik sekali Anda datang.” Dengan gaya prajurit yang baik, ia pun duduk bersilang kaki di bantalan yang disediakan oleh pembantunya, dan katanya, “Menurut yang saya dengar, anak saya telah banyak berutang budi pada Anda. Saya mohon Anda memaafkan saya karena meminta Anda datang kemari, bukan sebalik­nya saya mengunjungi rumah Anda untuk menyatakan terima kasih saya.” Dengan tangan bertumpu ringan pada kipas di pangkuannya, ia sedikit me­nyorongkan dahinya yang menonjol.

“Saya merasa mendapat kehormatan diundang menjumpai Bapak,” kata Musashi.

Tidak mudah menaksir umur Hojo Ujikatsu. Tiga gigi depannya sudah tak ada, tapi kulitnya yang lembut mengilap memberikan bukti bahwa ia tak hendak menjadi tua. Kumisnya yang hitam lebat dan hanya terhias beberapa rambut putih itu dibiarkan tumbuh di kiri-kanan, untuk menyem­bunyikan kerut-merut akibat tiadanya ketiga gigi itu. Kesan Musashi yang pertama adalah bahwa orang itu memiliki banyak anak dan baik sekali hubungannya dengan orang-orang muda.

Merasa bahwa tuan rumah takkan keberatan, Musashi bicara langsung ke tujuan. “Putra Bapak mengatakan pada saya bahwa Bapak punya tamu yang mengenal saya. Siapakah orang itu?”

“Bukan satu, tapi dua. Anda akan segera melihat mereka.”

“Dua orang?”

“Ya. Mereka kenal baik satu sama lain, dan mereka berdua sahabat saya. Saya kebetulan bertemu dengan mereka di benteng hari ini. Mereka pulang bersama saya, dan ketika Shinzo datang menyambut mereka, mulailah kami mengobrol tentang Anda. Seorang dari mereka mengatakan sudah lama tidak bertemu dengan Anda, dan ingin bertemu. Yang lain, yang mengenal Anda hanya dari nama baik Anda, menyatakan keinginan untuk diperkenalkan.”

Sambil tersenyum lebar, Musashi berkata, “Saya tahu. Yang satu Takuan Soho, kan?”

“Betul,” seru Yang Dipertuan Ujikatsu sambil menepuk lutut dengan ter­kej ut.

“Saya tidak pernah jumpa dengannya sejak pergi ke timur beberapa tahun lalu.”

Sebelum Musashi sempat menduga siapa orang satunya, Yang Dipertuan sudah mengatakan, “Mari ikut saya,” dan keluar dari kamar, menuju gang.

Mereka mendaki tangga pendek dan berjalan sepanjang gang yang panjang dan gelap. Tirai hujan terpasang di satu sisi. Tiba-tiba Musashi tak melihat lagi Yang Dipertuan Ujikatsu. Ia berhenti dan mendengarkan.

Beberapa waktu kemudian, Ujikatsu memanggil, “Saya di sini!” Suaranya seperti datang dari kamar terang yang terletak di seberang tempat terbuka di depan gang.

“Saya tahu,” seru Musashi membalas. Tapi Musashi tidak langsung men­dekati cahaya itu, melainkan berdiri saja di tempatnya. Tempat terbuka di depan gang itu memikat sekali, tapi terasa olehnya ada cahaya yang meng­ancam di tempat gelap itu.

“Apa yang Anda tunggu, Musashi? Kami di sini.”

“Sebentar,” jawab Musashi. Tak ada kemungkinan baginya memberikan jawaban lain, tapi indra keenamnya mengingatkannya untuk waspada. Dengan diam-diam la berbalik, dan berjalan kembali sekitar sepuluh langkah, menuju pintu kecil yang menuju halaman. Ia pakai sandal di situ, dan kemudian berjalan mengitari halaman, menuju beranda kamar Yang Dipertuan Ujikatsu.

“Oh, Anda lewat sana, ya?” kata Yang Dipertuan, sambil menoleh dari ujung lain ruangan itu. Suaranya menunjukkan kekecewaan.

“Takuan!” seru Musashi ketika ia masuk kamar, disertai senyuman cerah pada wajahnya. Pendeta yang duduk di depan ceruk kamar itu berdiri me­nyambutnya. Bertemu kembali, dan di bawah atap Yang Dipertuan Ujikatsu pula, rasanya hampir terlampau kebetulan. Susah bagi Musashi meyakinkan dirinya bahwa peristiwa itu benar-benar terjadi.

“Nah, kita mesti saling berkabar dulu,” kata Takuan. “Boleh aku me­mulai?” Takuan mengenakan jubah polos yang selalu dikenakannya. Tak ada tambahan apa pun, bahkan tasbih pun tidak. Namun ia kelihatan lebih matang daripada sebelumnya. Bicaranya lebih lunak. Sebagaimana pembawaan kasar Musashi telah hanyut akibat usaha kerasnya mendisiplinkan diri, demikian pula Takuan rupanya telah dapat menghaluskan sifat-sifat yang kasar dan telah lebih banyak diberkati kebijaksanaan Zen. Memang ia bukan lagi seorang pemuda. Sebelas tahun lebih tua dari Musashi, umurnya sekarang mendekati empat puluh.

“Coba kita ingat-ingat, oh, di Kyoto waktu itu, ya? Ya, ya, aku ingat. Waktu itu tak lama sesudah aku kembali ke Tajima. Sesudah meninggalkan ibuku, kuhabiskan waktu setahun untuk berkabung. Kemudian aku meng­adakan perjalanan sebentar, beberapa waktu tinggal di Kuil Nansoji di Izumi, kemudian di Kuil Daitokuji. Belakangan aku sering bertemu dengan Yang Dipertuan Karasumaru—mengarang sajak dengannya, mengadakan upacara-upacara teh, dan mencoba membuang urusan dunia ini. Tanpa kusadari, sudah tiga tahun waktu kuhabiskan di Kyoto. Baru-baru ini aku bersahabat dengan Yang Dipertuan Koide dari Benteng Kishiwada, dan bersama beliau datang kemari melihat Edo.”

“Kalau demikian, Anda belum lama di sini?”

“Ya, sekalipun sudah dua kali aku bertemu dengan Hidetada di Kuil Daitokuji, dan banyak kali aku diundang menghadap Ieyasu, tapi inilah pertama kalinya aku mengadakan perjalanan ke Edo. Dan bagaimana denganmu?”

“Saya di sini sejak awal musim panas.”

“Rupanya kau sudah mendapat nama juga di bagian negeri ini.”

Musashi tidak mencoba membela diri. Ia menundukkan kepala, katanya, “Saya kira Anda sudah mendengar sendiri tentang itu.”

Takuan menatapnya beberapa saat, agaknya sedang membandingkan dengan Takezo yang lama. “Kenapa pula mesti resah? Aneh rasanya, kalau orang seumurmu memiliki nama terlalu baik. Selama kau tidak melakukan sesuatu yang sifatnya tidak setia, tercela, atau memberontak, apa pula urus­annya? Aku lebih berminat mendengarkan latihanmu.”

Musashi menyampaikan uraian pendek tentang pengalamannya belum lama ini, dan mengakhirinya, “Saya takut masih belum matang, kurang bijaksana… jauh dari pencerahan. Semakin banyak saya mengadakan per­jalanan, semakin panjang jalan itu. Saya merasa sedang mendaki jalan gu­nung yang tak ada ujungnya.”

“Memang demikian mestinya,” kata Takuan, yang jelas merasa senang akan kejujuran dan sikap rendah hati pemuda itu. “Kalau orang yang umurnya di bawah tiga puluh tahun menyatakan sudah mengetahui sedikit saja mengenai Jalan, itu suatu tanda yang jelas bahwa pertumbuhannya sudah berhenti. Aku sendiri masih bergidik malu, kalau ada orang menyata­kan bahwa pendeta kasar macam diriku ini tahu makna pokok Zen. Sungguh membingungkan, kalau orang selalu minta aku menguraikan pada mereka tentang Hukum Budha, atau menjelaskan ajaran-ajaran yang benar itu. Orang banyak itu mencoba memandang seorang pendeta seperti meman­dang Budha yang hidup. Bersyukurlah bahwa orang lain tidak terlalu tinggi memandangmu, dan bahwa engkau tak perlu memperhatikan penampilan.”

Sementara kedua orang itu gembira memperbaharui persahabatan mereka, para pelayan membawakan makanan dan minuman. Kemudian Takuan berkata, “Maafkan saya, Yang Dipertuan, saya kuatir ada yang kita lupakan. Bagaimana kalau tamu Anda yang lain dibawa masuk?”

Musashi merasa pasti sekarang, bahwa ia tahu siapa orang keempat itu, tapi ia memilih diam.

Dengan sikap agak ragu-ragu, kata Ujikatsu, “Boleh saya panggil?” Ke­mudian kepada Musashi, “Saya mesti mengakui, Anda sudah dapat menebak permainan kecil kami. Sebagai yang merencanakannya, saya merasa agak malu.”

Takuan tertawa. “Bagus! Saya senang melihat Bapak mau mengakui ke­kalahan. Kenapa tidak? Bagaimanapun, ini cuma permainan untuk menghibur hati semua orang, kan? Pasti tak bisa menjadi alasan bagi guru Gaya Hojo untuk kehilangan muka.”

“Yah, tak sangsi lagi saya kalah,” gerutu Ujikatsu dengan suara masih mengandung keengganan. “Kenyataannya, biarpun saya sudah mendengar orang macam apa Anda ini, saya belum tahu sampai seberapa jauh Anda terlatih dan terdisiplin. Maka saya putuskan untuk menyaksikannya sendiri, dan tamu saya yang lain itu setuju untuk bekerja sama. Ketika Anda ber­henti di gang tadi itu, dia menanti untuk menyergap, siap menarik pedang.” Yang Dipertuan rupanya menyesal telah menguji Musashi. “Tapi Anda sadar sedang dijebak untuk memasuki perangkap, lalu menyeberang halaman.” Sambil menatap Musashi, tanyanya, “Boleh saya bertanya, kenapa Anda berbuat demikian?”

Musashi hanya menyeringai.

Takuan angkat bicara. “Itulah beda antara seorang ahli strategi dan pemain pedang.”

“Betul begitu?”

“Soalnya cuma tanggapan naluriah, yaitu tanggapan naluriah seorang sarjana militer yang mendasarkan diri pada prinsip-prinsip intelektual, melawan tanggapan orang yang mengikuti Jalan Pedang, yang mendasarkan diri pada hatinya. Menurut jalan pikiran Anda, kalau Anda mengantar Musashi, dia akan mengikuti. Namun, walau tak dapat melihat dengan nyata atau menjamah sesuatu yang pasti, Musashi merasa ada bahaya, dan dia bergerak melindungi diri. Reaksinya itu spontan, naluriah.”

“Naluriah?”

“Seperti wahyu Zen.”

“Apakah Anda suka merasakan pertanda macam itu?”

“Rasanya tidak.”

“Tapi setidaknya saya mendapat pelajaran. Pada waktu merasa ada bahaya, seorang samurai lalu kehilangan akal, atau barangkali justru meng­gunakan perangkap itu sebagai alasan untuk memamerkan kehebatannya dengan pedang. Ketika tadi saya melihat Musashi kembali, mengenakan sandal dan melintas halaman, saya terkesan sekali.”

Musashi terus diam. Wajahnya tidak mengungkapkan rasa senang men­dengarkan kata-kata pujian dari Yang Dipertuan Ujikatsu itu. Pikirannya tertuju kepada orang yang berdiri dalam gelap di luar, yang kandas karena sang korban tidak masuk perangkap.

Kepada tuan rumah, ia berkata, “Boleh saya mohon agar Yang Dipertuan dari Tajima mengambil tempat duduk di antara kita sekarang?”

“Oh, apa pula itu?” Ujikatsu kagum, juga Takuan. “Bagaimana Anda bisa tahu?”

Sambil mundur memberikan tempat kehormatan bagi Yagyu Munenori, Musashi berkata, “Walaupun gelap, saya dapat merasakan kehadiran pemain pedang yang tak ada taranya. Menimbang wajah-wajah lain yang hadir di sini, rasanya saya bisa menebak siapa orang satunya itu.”

“Sekali lagi Anda berhasil!” Ujikatsu berkata dengan kagum.

Mendapat anggukan darinya, Takuan pun berkata, “Yang Dipertuan dari Tajima. Benar sekali!” Sambil menoleh ke pintu, la berseru, “Rahasia sudah terbongkar, Yang Dipertuan Munenori! Silakan menggabungkan diri dengan kami.”

Terdengar tawa keras, dan Munenori muncul di pintu. Ia bukannya mengambil tempat dengan nyaman di depan ceruk kamar, melainkan berlutut di depan Musashi dan menyalaminya sebagai orang yang setara dengannya, katanya, “Nama saya Mataemon Munenori. Saya harap Anda ingat pada saya.”

“Suatu kehormatan bagi saya dapat bertemu dengan Bapak. Saya ronin dari Mimasaka, Miyamato Musashi nama saya. Saya mohon petunjuk Bapak di masa mendatang.”

“Kimura Sukekuro menyebut nama Anda beberapa bulan lalu, tapi waktu itu saya sedang sibuk karena penyakit ayah saya.”

“Bagaimana kabarnya Yang Dipertuan Sekishusai?”

“Yah, beliau sudah tua sekali. Tak bisa kita tahu…” Ia berhenti sebentar, kemudian melanjutkan dengan sikap ramah penuh kehangatan, “Ayah saya membicarakan Anda dalam sebuah suratnya, dan Takuan beberapa kali saya dengar bicara tentang Anda. Mesti saya katakan, reaksi Anda beberapa menit yang lalu itu mengagumkan. Kalau Anda tidak keberatan, rasanya kita mesti anggap pertarungan yang Anda usulkan itu sudah berlangsung. Saya harap Anda tidak tersinggung bahwa saya melaksanakannya dengan cara tidak lazim.”

Yang mengesankan Musashi adalah kecerdasannya dan kematangannya, dan itu sesuai sekali dengan nama baik daimyo itu.

“Saya merasa malu karena Bapak begitu penuh perhatian,” jawab Musashi sambil membungkuk rendah sekali. Sikap hormat yang diperlihatkan itu wajar, karena status Yang Dipertuan Munenori demikian jauh di atas status Musashi, sehingga bisa dikatakan beliau berada di dunia lain. Sekalipun perdikan Yang Dipertuan Munenori hanya bernilai lima puluh ribu gantang, tapi keluarganya terkenal sebagai hakim provinsi sejak abad sepuluh. Ke­banyakan orang akan merasa janggal mendapati salah seorang guru pribadi shogun berada di ruangan yang sama dengan Musashi, apalagi bercakap-­cakap dengannya dalam suasana bersahabat, tidak resmi. Musashi merasa lega, karena baik Ujikatsu yang sarjana dan anggota pengawal panji-panji shogun, maupun Takuan yang asalnya pendeta desa itu, tidak merasakan hambatan karena pangkat Munenori.

Sake hangat didatangkan, mangkuk-mangkuk dipertukarkan, kemudian menyusul percakapan dan tawa. Perbedaan umur dan kelas dilupakan. Musashi tahu, ia diterima dalam lingkungan terpilih bukan karena statusnya. Ia sedang menekuni Jalan, seperti juga mereka. Jalan itulah yang me­mungkinkan persahabatan itu.

Pada suatu ketika, Takuan meletakkan mangkuknya dan bertanya pada Musashi, “Bagaimana kabar Otsu?”

Dengan wajah sedikit memerah, Musashi menjawab bahwa ia sudah beberapa waktu lamanya tidak melihat atau mendengar tentang Otsu.

“Sama sekali tidak?”

“Sama sekali.”

“Malang sekali. Kau tak dapat meninggalkannya dalam kesukaran selama­nya. Dan untukmu sendiri pun itu tak baik.”

“Yang Anda maksud dengan Otsu itu, apa gadis yang pernah tinggal dengan ayah saya di Koyagyu?” tanya Munenori.

“Ya,” jawab Takuan, mewakili Musashi.

“Saya tahu di mana dia berada. Waktu itu dia pergi ke Koyagyu dengan kemenakan saya, Hyogo, untuk membantu merawat ayah saya.”

Terpikir oleh Musashi, kehadiran sarjana militer ternama itu, dan Takuan, memungkinkan mereka berbicara tentang strategi atau membahas Zen, sedangkan dengan hadirnya Munenori dan Musashi, pokok pembicaraan dapat berpusat pada pedang.

Sambil mengangguk meminta maaf kepada Musashi, Takuan bercerita pada orang-orang lain tentang Otsu dan hubungannya dengan Musashi. “Cepat atau lambat,” demikian kesimpulannya, “harus ada orang yang me­nyatukan kalian berdua lagi, tapi saya takut itu bukan tugas pendeta. Saya mohon bantuan dari Anda berdua dalam hal ini.” Yang dimaksudnya adalah agar Ujikatsu dan Munenori bertindak sebagai wali Musashi.

Mereka agaknya mau menerima peranan itu. Munenori menyatakan bahwa Musashi sudah cukup umur untuk berkeluarga, sedangkan Ujikatsu mengatakan ia sudah mencapai tingkat latihan cukup tinggi.

Munenori menyarankan agar hari-hari itu Otsu dipanggil kembali dari Koyagyu dan dikawinkan dengan Musashi. Kemudian Musashi dapat menetap di Edo. Di situ, bersama dengan rumah Ono Tadaaki dan Yagyu Munenori, rumahnya akan membentuk tiga serangkai pedang dan mengantar orang ke zaman keemasan ilmu pedang di ibu kota baru. Takuan maupun Ujikatsu sependapat.

Khususnya, Yang Dipertuan Ujikatsu, yang ingin sekali membalas kebaikan Musashi pada Shinzo, hendak mengusulkannya sebagai guru shogun, dan ini gagasan yang sudah mereka pertimbangkan bertiga, sebelum mereka me­nyuruh Shinzo memanggil Musashi. Dan sesudah melihat reaksi Musashi terhadap percobaan mereka, Munenori sendiri pun sekarang bersedia mem­berikan penjelasan atas rencana itu.

Ada beberapa kesulitan yang mesti diatasi, satu di antaranya adalah bahwa seorang guru dalam rumah tangga shogun juga harus menjadi anggota pengawal kehormatan. Karena banyak dari anggota pengawal ke­hormatan itu pengikut setia Keluarga Tokugawa semenjak Ieyasu memegang perdikan Mikawa, maka ada keengganan untuk menerima orang-orang baru, dan semua calon diselidiki dengan teliti. Namun demikian, dengan usulan dari Ujikatsu dan Munenori, disertai surat jaminan dari Takuan, diperkirakan Musashi akan lulus.

Soal yang agak sukar adalah keturunannya. Tidak ada catatan tertulis yang dapat membuktikan keturunannya sampai pada Hirata Shogen klan Akamatsu, dan tidak ada pula daftar silsilah yang dapat membuktikan bahwa ia dari keluarga samurai yang baik. Ia sudah pasti tidak ada hubungan keluarga dengan Keluarga Tokugawa. Sebaliknya, terdapat fakta yang tak terbantah bahwa sebagai pemuda hijau umur tujuh belas, ia telah ikut berperang melawan angkatan perang Tokugawa di Sekigahara. Namun terbuka kemungkinan: ronin lain dari bekas klan musuh telah juga meng­gabungkan diri dengan Keluarga Tokugawa sesudah Pertempuran Sekigahara. Bahkan Ono Tadaaki, seorang ronin dari klan Kitabatake yang sedang bersembunyi di Ise Matsuzaka, punya perjanjian menjadi guru shogun, sekalipun ada hubungan-hubungan yang tak dikehendaki.

Sesudah ketiga orang itu sekali lagi menimbang hal-hal yang positif dan negatif, Takuan berkata, “Baiklah kalau begitu, mari kita usulkan dia. Tapi barangkali kita mesti mengetahui dulu, bagaimana pendapatnya sendiri.”

Persoalan itu dikemukakan kepada Musashi, dan Musashi menjawab ringan, “Sungguh baik dan dermawan bahwa Bapak-bapak menyarankan hal ini, tapi saya tak lebih dari seorang pemuda yang belum matang.”

“Jangan berpikir seperti itu,” kata Takuan dengan nada terus terang. “Yang kami nasihatkan padamu adalah supaya engkau menjadi matang. Mau kau membangun rumahmu sendiri, ataukah ada rencanamu untuk membuat Otsu terus mengembara tanpa batas, seperti yang dilakukannya sekarang?”

Musashi merasa dipojokkan. Otsu memang pernah mengatakan mau me­nanggung kesulitan apa pun, tapi itu sama sekali tidak mengurangi tanggung jawab Musashi apabila kemalangan menimpa Otsu. Memang biasa seorang perempuan bertindak sesuai dengan perasaannya sendiri, tapi kalau hasilnya tidak menyenangkan, laki-lakilah yang disalahkan.

Bukannya Musashi tak ingin menerima tanggung jawab itu. la ingin sekali menerimanya. Sikap Otsu itu dituntun oleh rasa cintanya, dan beban cinta itu sama beratnya, baik untuk Musashi maupun untuk Otsu. Namun Musashi merasa masih terlalu pagi baginya untuk kawin dan berkeluarga. Jalan Pedang yang panjang dan berat terbentang dl hadapannya, dan ke­inginannya untuk menempuh jalan itu tidak berkurang.

Bahwa sikapnya terhadap pedang sudah berubah, tidaklah mempermudah persoalan itu. Semenjak pengalaman di Hotengahara, pedang penakluk dan pedang pembunuh baginya sudah merupakan masa lalu, dan tidak lagi ada guna atau artinya.

Menjadi ahli teknik pun tidak membangkitkan seleranya, sekalipun ia akan memberikan pelajaran kepada orang-orang shogun. Akhirnya ia mengerti bahwa Jalan Pedang mesti memiliki tujuan-tujuan khusus: menegakkan ke­tertiban, melindungi, dan menghaluskan semangat. Jalan itu mesti merupakan jalan yang dapat didambakan orang, sebagaimana orang mendambakan hidupnya sendiri, sampai hari kematiannya. Kalau Jalan semacam itu ada, bukankah Jalan itu dapat dipergunakan untuk mendatangkan perdamaian di dunia dan kebahagiaan bagi semua orang?

Ketika ia menjawab surat Sukekuro dengan tantangan kepada Yang Dipertuan Munenori itu, alasannya bukanlah dorongan dangkal untuk memperoleh kemenangan, yang akan memungkinkannya menantang Sekishusai. Sekarang yang menjadi keinginannya adalah melibatkan diri dalam urusan pemerintahan. Tentu saja bukan dalam skala besar. Perdikan kecil tak berarti cukuplah baginya untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang, dalam bayangannya, dapat memajukan prinsip pemerintahan yang baik.

Tapi ia tidak memiliki keyakinan untuk menyatakan gagasan-gagasan ini, karena ia merasa para pemain pedang lain akan menganggap ambisi-ambisi mudanya itu keterlaluan. Atau, kalau mereka menanggapinya dengan sungguh-sungguh, mereka akan merasa terpaksa memperingatkannya: politik itu menjurus pada kehancuran. Masuk dalam pemerintahan, berarti ia menodai pedang yang dicintainya. Dan mereka akan memperingatkannya karena keprihatinan mereka yang tulus terhadap jiwa Musashi.

Ia bahkan percaya bahwa jika ia mengemukakan pikirannya yang terus terang, kedua prajurit dan pendeta itu akan tertawa atau kaget.

Ketika ia sungguh-sungguh berbicara, maka yang keluar adalah protes bahwa ia masih terlalu muda, terlalu mentah, dan latihannya belum men­cukupi.. ..

Akhirnya Takuan menukasnya. “Serahkanlah pada kami,” katanya.

Yang Dipertuan Ujikatsu menambahkan, “Kami akan berusaha agar hasilnya baik buat Anda.”

Maka diputuskanlah soal itu.

Karena setiap kali Shinzo masuk untuk meratakan nyala lampu, maka ia dapat menangkap pokok percakapan orang-orang itu. Diam-diam ia me­nyatakan kepada ayah dan tamunya, bahwa apa yang didengarnya itu sangat menggembirakan.

Pohon Lokus

MATAHACHI membuka mata dan memandang ke sekitar, lalu bangkit dan melongokkan kepalanya ke pintu belakang. “Akemi!” panggilnya.

Tidak ada jawaban.

Ada sesuatu yang mendorongnya untuk membuka lemari dinding. Belum lama Akemi selesai membuat kimononya yang baru. Tapi kimono itu tidak ada.

Maka ia pergi ke rumah sebelah, yaitu rumah Umpei, kemudian ia me­nyusuri jalan kecil yang menuju jalan besar. Dengan penuh kekuatiran ia tanyai semua orang yang ia jumpai, apakah mereka melihat Akemi. “Saya melihat dia tadi pagi,” kata istri tukang arang. “Betul? Di mana?”

“Dia berpakaian rapi. Saya tanya, mau ke mana dia pergi, dan katanya menengok keluarga di Shinagawa.”

“Shinagawa?”

“Apa dia tak punya keluarga di sana?” tanya perempuan itu ragu-ragu.

Matahachi hendak mengatakan tidak, tapi seketika itu juga tersadar. “Oh, ya, tentu saja. Jadi, dia pergi ke sana.”

Apakah ia akan mengejar Akemi? Sesungguhnya ikatannya dengan Akemi tidak terlalu kuat, dan ia lebih merasakan jengkel daripada apa pun yang lain. Menghilangnya Akemi meninggalkan rasa pahit-manis kepadanya.

Ia meludah dan melontarkan satu-dua makian, kemudian berjalan ke pantai, di sisi lain jalan raya Shibaura. Naik sedikit dari tepi air itu, ber­serakan rumah-rumah nelayan. Sudah menjadi kebiasaannya tiap pagi datang kemari selagi Akemi memasak nasi, dan di situ ia mencari ikan. Biasanya, paling tidak lima-enam ekor ikan ia dapat dengan jaringnya, dan ia pulang tepat pada waktunya, hingga ikan itu dapat dimasak untuk makan pagi. Hari ini la abaikan saja ikan itu.

“Ada apa, Matahachi?” Pemilik rumah gadai di jalan utama itu menepuk bahunya.

“Selamat pagi,” kata Matahachi.

“Enak sekali keluar pagi-pagi, ya? Aku senang melihatmu keluar berjalan­-jalan tiap pagi. Itu baik sekali untuk kesehatanmu.”

“Bapak berkelakar, saya kira. Barangkali kalau saya kaya seperti Bapak, saya akan berjalan-jalan untuk kesehatan saya. Untuk saya, berjalan ini pekerjaan!”

“Kelihatannya kau kurang sehat. Ada apa?”

Matahachi mengambil segenggam pasir, dan membuangnya sedikit-sedikit bersama angin. Ia maupun Akemi kenal baik dengan pemilik rumah gadai, yang pernah membantu mereka dalam beberapa keadaan darurat.

Tanpa menghiraukan penerimaan Matahachi, orang itu melanjutkan, “Kau tahu, ada yang ingin kubicarakan padamu, tapi belum pernah ada kesempatan. Apa kau akan pergi kerja hari ini?”

“Ah, buat apa repot-repot? Jual semangka itu kan tak boleh disebut penghidupan?”

“Ayo menangkap ikan denganku.”

Matahachi menggaruk kepalanya dan menampakkan wajah minta maaf. “Terima kasih, tapi saya betul-betul tak ingin menangkap ikan.”

“Nah, kalau kau tak ingin, tak perlu kau menangkap ikan. Tapi ayolah pergi. Nanti kau akan merasa lebih ringan. Di sana itu perahuku. Kau bisa mendayung, kan?”

“Saya kira bisa.”

“Ayo pergi. Akan kuceritakan padamu, bagaimana cara mendapatkan uang banyak-barangkali seribu keping emas! Nah, bagaimana pendapatmu?”

Tiba-tiba Matahachi berminat sekali menangkap ikan.

Sekitar seribu meter dari pantai, air masih cukup dangkal, hingga dasar­nya dapat disentuh dengan dayung. Sambil menghanyutkan perahu, tanya Matahachi, “Bagaimana cara mendapat uang itu?”

“Sebentar lagi akan kuceritakan padamu.” Pemilik rumah gadai mem­perbaiki letak badannya yang besar sekali di tempat duduk di pinggir perahu. “Ada baiknya kalau kau memegang joran di atas air.”

“Kenapa begitu?”

“Lebih baik kalau orang mengira kita memancing. Dua orang berdayung sampai sejauh ini, hanya untuk berbicara, akan kelihatan mencurigakan.”

“Kalau begini, bagaimana?”

“Bagus.” Pemilik rumah gadai mengeluarkan pipa bermangkuk keramik, mengisinya dengan tembakau mahal, dan menyalakannya. “Sebelum me­nyampaikan apa yang ada dalam pikiranku, izinkan aku mengajukan per­tanyaan. Apa kata para tetanggamu tentang diriku?”

“Tentang Bapak?”

“Ya, tentang Daizo dari Narai.”

“Yah, pemilik rumah gadai mestinya jahat, tapi semua orang mengatakan Bapak ini baik sekali dalam meminjamkan uang. Mereka bilang, Bapak orang yang mengerti kehidupan.”

“Yang kumaksud bukan praktek usahaku. Aku ingin tahu pendapat mereka tentang diriku pribadi.”

“Mereka berpendapat Bapak orang baik, orang yang punya hati. Saya bukan menjilat Bapak. Memang itulah yang mereka katakan.”

“Apa tak pernah mereka berkomentar bahwa aku orang yang religius?”

“Oh, ya, tentu saja. Semua orang kagum melihat kedermawanan Bapak.”

“Apa orang-orang dari kantor hakim pernah datang bertanya tentang

aku?”

“Tidak. Buat apa pula?”

Daizo tertawa kecil. “Kukira kau merasa pertanyaan-pertanyaanku ini bodoh, tapi persoalannya adalah aku ini bukan betul-betul pemilik rumah gadai.”

“Apa?”

“Matahachi, barangkali kau takkan pernah punya kesempatan lain untuk mendapat uang banyak sekaligus.”

“Bapak barangkali benar.”

“Nah, kau ingin?”

“Ingin apa?”

“Pohon uang.”

“A-apa yang mesti saya lakukan?” “Berjanji padaku dan melaksanakannya.” “Cuma itu?”

“Cuma itu. Tapi kalau kau mengubah pikiran kemudian, boleh dibilang

kau mati. Aku tahu kau membutuhkan uang, tapi pikirkan dulu baik-baik,

sebelum kau memberikan jawaban terakhir.”

“Lalu apa yang mesti saya lakukan?” tanya Matahachi curiga. “Kau mesti jadi penggali sumur. Cuma itu.” “Di Benteng Edo?”

Daizo melayangkan pandang ke teluk. Kapal-kapal berisi bahan bangunan dan mengibarkan bendera beberapa keluarga besar-Todo, Arima, Kato, Date, Hosokawa-berbaris hampir-hampir bersinggung haluan dan buritan.

“Cepat sekali daya tangkapmu, Matahachi.” Pemilik rumah gadai itu mengisi kembali pipanya. “Benteng Edo itulah yang justru kupikirkan. Kalau aku tak salah, Umpei sudah sering mendesakmu supaya kau mau menggali sumur. Wajar sekali kalau kau memutuskan menerima tawarannya itu.”

“Cuma itu yang mesti saya lakukan?… Bagaimana mungkin menjadi penggali sumur bisa mendapat uang banyak?”

“Sabarlah. Akan kuceritakan semuanya!”

Ketika mereka kembali ke pantai, Matahachi gembira sekali. Mereka berpisah dengan suatu janji. Malam itu ia mesti menyelinap tanpa dilihat orang, dan masuk rumah Daizo untuk menerima panjar tiga puluh keping emas.

Ia pulang, tidur, dan bangun beberapa jam kemudian. Terbayang olehnya uang dalam jumlah besar yang akan segera menjadi miliknya itu menari­nari di depan matanya.

Uang yang jumlahnya fantastis itu bisa menebus semua nasib buruk yang dideritanya sampai waktu itu. Dan cukup untuk hidup seterusnya. Tapi yang lebih menggembirakan lagi adalah nantinya ia dapat menunjukkan pada orang banyak bahwa mereka keliru, dan bahwa akhirnya ia toh berhasil.

Terserang oleh demam uang, ia tidak dapat lagi tenang. Mulutnya terasa kering, bahkan sedikit kaku. la keluar, berdiri di jalan kosong yang meng­hadap rumpun bambu di belakang rumah, dan pikirnya, “Siapa dia sebetul­nya? Apa yang mau dilakukannya?” Lalu ia mulai mengingat kembali percakapannya dengan Daizo.

Para penggali sumur waktu itu bekerja di Goshinjo, benteng baru di lingkaran barat. Daizo mengatakan padanya, “Kau mesti menunggu ke­sempatan, sampai kesempatan itu datang sendiri, dan waktu itulah kau mesti menembak shogun baru itu dengan bedil.” Senapan dan amunisinya ada di pekarangan benteng, di bawah pohon lokus besar yang sudah berabad-abad umurnya, dekat gerbang belakang, di kaki Bukit Momiji.

Tak perlu disebutkan lagi, bahwa kaum buruh mendapat pengawasan ketat, tapi Hidetada suka berkeliling dengan para pembantunya, memeriksa pekerjaan. Gampang sekali melaksanakan tujuan itu. Dalam hiruk-pikuk yang kemudian terjadi, Matahachi dapat menyelamatkan diri dengan me­lompat ke parit luar, dan dari situ para pengikut Daizo akan menyelamat­kannya. “Pasti,” demikian dikatakannya.

Matahachi kembali ke kamarnya, dan menatap langit-langit. Seolah-olah ia mendengar suara Daizo membisikkan kata-kata tertentu berulang kali, dan teringat olehnya bagaimana bibirnya sendiri bergetar ketika ia me­ngatakan, “Ya, akan saya lakukan.” Dengan bulu roma meremang, ia bangkit berdiri. “Oh, ini mengerikan! Aku akan pergi ke sana sekarang juga, dan mengatakan padanya, tak ingin aku ambil bagian.”

Kemudian diingatnya kata-kata lain yang diucapkan Daizo, “Nah, sesudah kuceritakan semua ini padamu, berarti kau sudah terikat. Aku tak suka ada sesuatu terjadi denganmu, tapi kalau kau ingkar, teman-temanku yang akan mengambil kepalamu-paling lama tiga hari.” Tatapan mata Daizo yang dingin menusuk waktu mengucapkan kata-kata itu terbayang kembali di mata Matahachi.

Matahachi berjalan menempuh jarak singkat menyusuri Jalan Nishikubo, menuju sudut jalan raya Takanawa, tempat berdirinya rumah gadai. Teluk yang sudah terselimut kegelapan berada di ujung jalan samping. Ia masuki jalan kecil di sisi gudang yang dikenalnya itu, kemudian ia dekati pintu belakang toko yang tidak menarik perhatian itu, dan mengetuk pelan.

“Tidak dikunci,” segera terdengar balasannya.

“Daizo?”

“Ya. Aku senang kau datang. Mari masuk gudang.”

Sebuah tirai hujan dibiarkan terbuka. Matahachi masuk gang luar dan berjalan mengikuti pemilik rumah gadai itu.

“Duduk,” kata Daizo sambil meletakkan lilin di atas peti pakaian panjang dari kayu. Sambil duduk menyilangkan tangan, tanya Daizo, “Kau sudah bertemu Umpei?”

“Ya.”

“Kapan dia akan membawamu ke benteng?”

“Lusa. Waktu itu dia mesti membawa sepuluh buruh baru. Dia bilang, saya masuk rombongan itu.”

“Jadi, semua sudah beres?”

“Tapi kepala daerah dan lima anggota rukun tetangga masih harus

membubuhkan cap pada dokumen-dokumennya.”

“Bukan soal. Kebetulan aku anggota perkumpulan itu.”

“Betul? Bapak?”

“Apa yang mengherankan? Aku salah seorang pengusaha berpengaruh di lingkungan ini. Musim semi yang lalu, kepala daerah mendesakku menjadi anggota.”

“Oh, saya tidak heran. Saya… saya cuma tidak tahu. Itu saja.”

“Ha, ha. Aku tahu betul apa yang kaupikirkan. Menurut pikiranmu, sungguh skandal besar bahwa orang macam aku duduk dalam pengurus yang kerjanya mengurusi lingkungan. Nah, baik kusampaikan saja padamu, kalau kita punya uang, semua orang akan mengatakan kita orang baik. Tak dapat kita menolak menjadi pemimpin setempat, biarpun kita mencobanya. Nah, pikirkan, Matahachi. Tak lama lagi, kau pun akan punya uang banyak.”

“Ya-y-ya,” kata Matahachi, terbata-bata, tak mampu menekan gemetarnya. “B-b-bapak mau kasih saya panjar sekarang?”

“Tunggu dulu.”

Daizo mengambil lilin dan pergi ke bagian belakang gudang. Dari sebuah kotak perhiasan di atas rak, ia hitung tiga puluh keping emas. Ia kembali, dan katanya, “Ada yang bisa kaupakai membungkus?”

“Tidak.”

“Pakai ini.” Ia pungut gombal katun dari lantai dan la lemparkan pada Matahachi. “Lebih baik kaumasukkan dalam kantong perutmu, dan jaga baik-baik.”

“Apa mestinya saya berikan tanda terima?”

“Tanda terima?” kata Daizo, disertai tawa di luar kemauannya. “Astaga, betul-betul orang jujur kau ini! Tidak, aku tak butuh tanda terima. Tapi kalau kau berbuat kekeliruan, kusita kepalamu.”

Matahachi mengedip-ngedip, “Saya kira, lebih baik saya pergi sekarang.” “Jangan buru-buru. Ada beberapa kewajiban, sesudah kauterima uang itu. Kau ingat semua yang kuceritakan tadi pagi?”

“Ya, ya, ada satu hal. Bapak bilang bedil itu ada di bawah pohon lokus. Siapa yang akan menaruhnya di sana?” Karena menurutnya sukar sekali bagi buruh biasa memasuki pekarangan benteng itu, ia pun heran bahwa ada orang yang dapat menyelundupkan bedil dan amunisinya. Dan bagai­mana mungkin orang yang tanpa kekuatan supranatural dapat menguburkan keduanya itu supaya siap dan menanti setengah bulan lamanya dari sekarang?

“Itu bukan urusanmu. Kau cuma mesti melakukan yang sudah kausetujui. Kau gugup sekarang, karena belum biasa dengan jalan pikiran ini. Sesudah beberapa minggu di sana, kau akan biasa.”

“Saya harap begitu.”

“Pertama, kau mesti membulatkan pikiran bahwa kau dapat menyelesaikan tugasmu. Kemudian kau mesti mencari saat yang tepat.”

“Saya mengerti.”

“Aku tidak menghendaki kekeliruan. Sembunyikan uang itu, supaya tak seorang pun dapat menemukannya. Dan tinggalkan di situ, sampai sesudah kau melaksanakan misimu. Kalau proyek macam ini gagal, biasanya itu karena uang.”

“Jangan kuatir. Saya sudah memikirkan hal itu. Tapi izinkan saya meng­ajukan satu pertanyaan: bagaimana mungkin saya percaya bahwa sesudah saya melakukan tugas saya, Bapak takkan menolak membayar kelebihannya?”

“Oh! Kedengarannya kata-kataku ini seperti bualan, tapi uang sebetulnya soal yang paling ringan buatku. Boleh kau memuaskan matamu memandangi peti-peti itu.” Ia naikkan lilin itu, hingga Matahachi bisa melihat lebih baik. Di seluruh kamar itu terdapat peti-peti-untuk nampan pernis, untuk baju zirah, dan untuk banyak keperluan lain. “Masing-masing peti itu berisi seribu keping emas.”

Tanpa memperhatikannya secara teliti, Matahachi berkata dengan nada minta maaf, “Saya tidak menyangsikan janji Bapak, tentu saja.”

Percakapan rahasia itu berlangsung sekitar satu jam lagi. Akhirnya, dengan perasaan lebih mantap, Matahachi pulang lewat jalan belakang.

Daizo pergi ke kamar sebelah dan melihat ke dalam. “Kau di situ, Akemi?” panggilnya. “Kupikir dari sini dia akan langsung pergi menyem­bunyikan uang itu. Lebih baik kauikuti dia.”

Sesudah beberapa kali berkunjung ke rumah gadai itu, Akemi terpesona oleh kepribadian Daizo, dan mengungkapkan beban pikirannya kepadanya. Ia mengeluh tentang keadaannya sekarang, dan menyatakan keinginannya untuk mencapai hidup yang lebih baik. Beberapa hari sebelum itu, Daizo sudah mengemukakan bahwa ia membutuhkan seorang perempuan yang akan mengurus rumahnya. Akemi datang ke pintunya pagi-pagi sekali hari itu. Daizo mempersilakan masuk dan minta Akemi jangan kuatir, karena Matahachi akan ia “urus”.

Calon pembunuh yang betul-betul tak sadar bahwa dirinya diikuti itu pun kembali pulang. Sambil memegang cangkul, ia naik ke puncak Bukit Nishikubo, lewat belukar di belakang rumah, dan menguburkan kekayaannya di sana.

Selesai melihat semua itu, Akemi melaporkannya kepada Daizo, dan Daizo segera berangkat ke Bukit Nishikubo. Hampir fajar, ia kembali ke gudang dan menghitung keping-keping emas yang baru digalinya. Ia meng­hitungnya dua kali, tiga kali, dan tak salah lagi. Hanya ada dua puluh delapan keping.

Daizo menggelengkan kepala dan mengerutkan kening. la betul-betul tak suka kalau orang mencuri uangnya.

Kegilaan Tadaaki

OsugI bukan orang yang bisa berputus asa akibat kesedihan dan kekecewaan yang luar biasa, karena baktinya sebagai seorang ibu tidak berbalas. Tetapi di sini, sementara serangga-serangga mendengung di tengah tumbuhan lespedeza dan elalia, dan sungai besar mengalir pelan ke hilir, perasaannya tergugah oleh nostalgia dan kefanaan hidup ini.

“Nenek di rumah, ya?” terdengar suara kasar di tengah udara malam yang tenang itu.

“Siapa itu?” seru Osugi.

“Saya dari Hangawara. Banyak sayuran segar datang dari Katsushika. Majikan menyuruh saya membawakan untuk Nenek.”

“Yajibei memang selalu penuh perhatian.”

Osugi waktu itu sedang duduk menghadap meja pendek. Lilin menyala di sampingnya, dan ia memegang kuas tulis. Ia sedang menyalin kitab Sutra tentang Cinta Agung Orangtua. Ia sudah pindah ke rumah sewa kecil di daerah Hamacho yang jarang penduduknya, dan di situ ia hidup cukup nyaman, mengobati orang yang sakit dan nyeri dengan moxa. Ia sendiri tak lagi punya keluhan fisik. Sejak permulaan musim gugur, ia sudah merasa muda kembali.

“Apa ada pemuda datang menengok Nenek sore tadi?”

“Maksudmu untuk mendapat pengobatan dengan moxa?”

“Mm. Dia datang menemui Yajibei. Rupanya ada soal penting yang akan disampaikannya. Dia tanya di mana Nenek tinggal sekarang, dan kami memberitahukannya.”

“Berapa umurnya?”

“Dua puluh tujuh atau dua puluh delapan, saya kira.”

“Bagaimana kelihatannya?”

“Agak bulat mukanya. Tidak begitu tinggi badannya.”

“Mm, siapa ya….”

“Nada bicaranya mirip Nenek. Saya pikir barangkali dia datang dari tempat yang sama. Nah, saya mesti pergi. Selamat malam.”

Ketika langkah kaki orang itu menghilang, bunyi-bunyi serangga terdengar kembali seperti bunyi hujan gerimis. Osugi meletakkan kuasnya dan menatap lilin. Pikirannya melayang ke masa mudanya, ketika orang menafsirkan isyarat yang ada dalam lingkaran cahaya lilin. Orang-orang yang ditinggal di rumah tak dapat mengetahui keadaan suami, anak, atau saudaranya yang pergi berperang, atau bagaimana nasib mereka sendiri yang tak tentu itu di masa depan. Lingkaran cahaya terang diartikan sebagai tanda keberuntungan, bayangan keunguan diartikan sebagai petunjuk bahwa ada yang telah meninggal. Kalau nyalanya berbunyi berkeretak seperti bunyi daun pinus terbakar, artinya orang yang mereka harap-harapkan pasti akan datang.

Osugi sudah lupa bagaimana menafsirkan pertanda-pertanda itu, tapi malam ini lingkaran cahaya gembira yang indah beraneka warna seperti pelangi itu menyarankan akan datang sesuatu yang indah.

Mungkinkah itu Matahachi: Tangannva menjangkau kuas, tapi ia me­nariknya kembali. Ia seakan sudah kesurupan dan lupa akan diri dan seke­lilingnya. Sejam-dua jam berikutnya, ia hanya memikirkan wajah anaknya yang seakan mengapung terus dalam kegelapan kamarnya itu.

Bunyi gemeresik di pintu belakang menyadarkannya dari lamunan. Ia bertanya pada dirinya, apakah ada musang yang sedang merusak dapurnya, karenanya ia mengambil lilin dan pergi untuk memeriksanya.

Karung sayuran ada di dekat meja cuci. Di atas karung terdapat benda putih. Benda itu diambilnya, dan terasa berat-seberat dua keping emas. Di kertas putih yang dipakai membungkusnya, ditulis oleh Matahachi, Saya masih belum berani menghadap Ibu. Maafkan saya kalau enam bulan lagi Ibu saya telantarkan. Saya tinggalkan surat ini tanpa masuk.

Seorang samurai, dengan mata memancarkan nafsu membunuh, menerobos rumput tinggi untuk menghampiri dua lelaki yang berdiri di tepi sungai. Terengah-engah ia berseru, “Hamada, diakah itu?”

“Bukan,” keluh Hamada. “Salah.” Tapi matanya berkilau-kilau ketika ia terus meninjau keadaan sekitar.

“Aku yakin dia.”

“Bukan. Itu tukang perahu.”

“Kau yakin?”

“Waktu kukejar, dia masuk perahu di sana itu.”

“Itu tidak berarti dia tukang perahu.”

“Sudah kuperiksa.”

“Mesti kuakui, orang itu cepat kakinya.”

Mereka meninggalkan sungai, dan kembali melintasi perladangan Hamacho. “Matahachi… Matahachi!”

Semula suara itu hampir tak lebih keras dari bisik sungai, tapi ketika ke­mudian diulang-ulang dan menjadi tak mungkin ditafsirkan lain lagi, mereka berhenti dan saling pandang keheranan.

“Ada orang memanggilnya! Bagaimana mungkin?”

“Kedengarannya seperti perempuan tua.”

Dipimpin Hamada, mereka cepat mencari suara itu sampai ke sumbernya, dan ketika Osugi mendengar jejak langkah mereka, ia berdiri mendapatkan mereka.

“Matahachi? Apa di antara kalian…”

Mereka mengepung Osugi dan melipat tangannya ke belakang.

“Apa yang kalian lakukan ini?” Wajahnya menggelembung seperti ikan buntal yang sedang marah. Teriaknya, “Siapa pula kalian ini?”

“Kami murid Perguruan Ono.”

“Aku tak kenal orang yang namanya Ono.”

“Kau tak pernah dengar nama Ono Tadaaki, guru shogun?”

“Tak pernah.”

“Ah, orang tua…

“Tunggu. Mari kita lihat, apa yang dia ketahui tentang Matahachi.”

“Aku ibunya.”

“Kau ibu Matahachi penjual semangka itu?”

“Apa maksudmu, babi? Penjual semangka? Matahachi itu keturunan Keluarga Hon’iden, dan Hon’iden keluarga penting di Provinsi Mimasaka. Kalian mesti tahu, Keluarga Hon’iden abdi-abdi berpangkat tinggi pada Shimmen Munetsura, penguasa Benteng Takeyama di Yoshino.”

“Cukup sudah,” kata satu orang.

“Apa yang mesti kita lakukan?”

“Angkat dia dan bawa.”

“Sandera? Kaupikir akan ada hasilnya?”

“Kalau ini ibunya, dia akan datang menjemput ibunya.”

Osugi menggagahkan dirinya yang kurus kering itu dan memberontak seperti macan betina yang tersudut, tapi sia-sia.

Karena bosan dan kecewa dalam beberapa minggu terakhir ini, Kojiro jadi terbiasa banyak tidur, siang ataupun malam. Waktu itu ia sedang ber­baring menelentang, sambil menggerutu sendiri dan mendekapkan pedang ke dadanya.

“Ini bisa bikin Galah Pengering menangis. Pedang macam ini, dan pe­main pedang macam diriku… melapuk di rumah orang lain!” Terdengar detak keras dan kilasan logam. “Tolol!”

Senjata itu menebas dalam gerak lengkung besar di atasnya, kemudian menyelinap kembali ke dalam sarungnya, seperti makhluk hidup.

“Bagus!” teriak seorang pelayan dari ujung beranda. “Bapak sedang melatih teknik pukulan dengan posisi telentang?”

“Jangan bodoh,” dengus Kojiro. Ia membalikkan badan dan menelungkup, memungut dua bintik kecil, dan menjentikkannya ke arah beranda. “Bikin ribut saja di sini.”

Mata pelayan itu membelalak. Serangga yang mirip ngengat itu, kedua sayap halus dan tubuhnya yang kecil terbelah rapi menjadi dua.

“Kau mau memasang tilam bantalku?” tanya Kojiro.

“Oh, tidak! Maafl Ada surat buat Bapak.”

Tanpa tergesa-gesa, Kojiro membuka surat itu dan mulai membaca. Sementara membaca, ekspresi gembira merayapi wajahnya. Menurut Yajibei, Osugi hilang sejak malam kemarin. Kojiro diminta datang segera untuk merundingkan satu tindakan.

Surat itu menerangkan secara agak panjang-lebar, bagaimana mereka mengetahui tempat Osugi. Yajibei mengirim semua orangnya untuk mencari, namun isi pokok persoalan itu adalah pesan yang ditinggalkan Kojiro di Donjiki. Pesan itu telah dicoret, dan di sampingnya ditulis: Kepada Sasaki Kojiro: Orang yang menahan ibu Matahachi adalah Hamada Toranosuke dari Keluarga Ono.

“Akhirnya!” kata Kojiro. Perkataan itu keluar dari dalam tenggorokannya. Pada waktu menyelamatkan Matahachi, ia curiga kedua samurai yang telah dirobohkan itu ada hubungannya dengan Perguruan Ono.

Ia mendecap, katanya. “Tepat seperti yang kunanti” Sambil berdiri di beranda, ia menengadah ke langit malam. Awan banyak, tapi sepertinya tidak akan turun hujan.

Sebentar kemudian, ia sudah mengendarai kuda beban, menyusuri jalan raya Takanawa. Sampai di rumah Hangawara, hari sudah larut. Sesudah mengajukan pertanyaan kepada Yajibei sampai sekecil-kecilnya, ia memutus­kan untuk menginap di sana dan bertindak pagi harinya.

Ono Tadaaki memperoleh nama baru, tak lama sesudah Pertempuran Sekigahara. Namanya masih Mikogami Tenzen ketika ia diundang datang ke perkemahan Hidetada untuk memberikan kuliah tentang ilmu pedang, dan kuliah itu diberikannya dengan mutu tinggi. Disamping memperoleh limpahan nama itu, ia memperoleh penunjukan sebagai pengikut langsung Keluarga Tokugawa dan hadiah tempat tinggal baru di Bukit Kanda, di Edo.

Karena dari bukit itu pemandangan ke Gunung Fuji bagus sekali, maka ke-shogun-an menetapkannya sebagai daerah kediaman para abdi dari Suruga, provinsi tempat gunung Fuji terletak.

“Ada yang bilang rumah itu ada di Lereng Saikachi,” kata Kojiro.

Ia dan satu orang Hangawara ada di puncak bukit itu. Jauh di dalam lembah di bawah sana, mereka melihat Ochanomizu, bagian sungai yang kabarnya menjadi sumber air untuk teh shogun.

“Bapak tunggu di sini,” kata pengawal Kojiro. “Akan saya periksa, sampai di mana kita.” Sebentar kemudian, ia kembali dengan keterangan bahwa mereka sudah melewatinya.

“Tapi seingatku kita belum melewati tempat guru shogun.”

“Saya juga tak melihat. Saya pikir dia punya rumah besar macam Yagyu Munenori. Tapi rumahnya adalah yang sudah tua dan kita lihat di sebelah kanan tadi. Saya dengar rumah itu tadinya milik penjaga kandang shogun.”

“Hal itu tak perlu diherankan. Ono cuma punya penghasilan seribu lima ratus gantang, sedangkan sebagian besar penghasilan Munenori sudah diper­oleh sejak zaman nenek moyangnya.”

“Itu dia,” kata pengawal sambil menuding.

Kojiro berhenti untuk memeriksa susunan bangunan yang ada. Tembok tanah yang sudah tua memanjang ke belakang, dari bagian tengah lereng bukit, menuju semak-semak di atas bukit. Pekarangan itu tampaknya besar sekali. Dari gerbang yang tidak berpintu, ia dapat melihat bangunan besar di sebelah rumah utama, yang menurut taksirannya adalah dojo dan sebuah ruang tambahan yang jelas merupakan bangunan yang dibuat belakangan.

“Kau boleh kembali sekarang,” kata Kojiro. “Dan katakan pada Yajibei, kalau aku tidak kembali dengan nyonya tua itu pada malam hari, berarti aku terbunuh.”

“Baik, Pak.” Orang itu cepat lari menuruni Lereng Saikachi. Beberapa kali la berhenti untuk menoleh.

Kojiro tak mau membuang-buang waktu untuk mendekati Yagyu Munenori. Selama itu tak ada jalan untuk mengalahkannya dan merebut kemuliaannya, karena Gaya Yagyu adalah gaya yang sesungguhnya dipakai oleh Keluarga Tokugawa. Hal itu saja sudah menjadi alasan bagi Munenori untuk menolak menghadapi ronin ambisius. Tadaaki-lah yang cenderung menghadapi tantangan.

Dibandingkan dengan Gaya Yagyu, Gaya Ono lebih praktis. Tujuannya bukan untuk memamerkan keterampilan dengan seluas-luasnya, melainkan untuk membunuh. Kojiro belum pernah mendengar ada yang berhasil me­nyerang Keluarga Ono dan mempermalukan mereka. Kalau Munenori pada umumnya dianggap lebih terhormat, maka Tadaaki dianggap lebih kuat.

Semenjak datang di Edo dan mempelajari keadaan, Kojiro sudah ber­ketetapan akan mengetuk gerbang Ono.

Numata Kajuro melayangkan pandang dari jendela kamar dojo. Sekaligus matanya melayang ke dalam ruangan, mencari Toranosuke. Ketika dilihatnya orang itu ada di tengah ruangan, sedang memberikan pelajaran pada seorang murid muda, ia berlari ke sampingnya, dan dengan suara rendah berkata, “Dia di sini! Itu di sana, di halaman depan!”

Toranosuke, yang memegang pedang kayu, berseru kepada murid itu, “Siap!” Kemudian ia maju mendesak ke depan. Langkah-langkah kakinyabergema tajam di lantai. Begitu kedua orang itu sampai di sudut utara, murid itu terjungkir balik dan pedang kayunya melayang ke udara.

Toranosuke menoleh, katanya, “Siapa yang kausebut tadi? Kojiro?”

“Ya, dia sudah di dalam gerbang. Sebentar lagi pasti sampai di sini.”

“Jauh lebih cepat dari yang kuharapkan. Menyandera nyonya tua itu memang gagasan bagus.”

“Apa rencanamu sekarang? Siapa yang akan memyambutnya? Yang me­nyambut mestinya orang yang siap untuk segalam-a. Kalau dia punya keberanian datang kemari sendiri, berarti dia bisa membuat gerakan kejutan.”

“Bawa dia masuk dojo. Aku akan menvambutnya sendiri. Kalian semua tinggal di belakang diam-diam.”

“Setidaknya jumlah kita banyak di sini,” kata Kajuro. Ia menoleh ke sekitar, dan bangkitlah semangatnva memandang wajah orang-orang tegap seperti Kamei Hyosuke, Negoro Hachikuro, dan Ito Magobei. Masih ada sekitar dua puluh orang lagi. Mereka memang tidak mengerti jalan pikiran Kojiro, tapi mereka semua tahu kenapa Toranosuke menginginkannya datang ke sini.

Seorang dari dua orang yang telah dibunuh Kojiro dekat Donjiki adalah kakak Toranosuke. Sekalipun si kakak itu hanya sampah, dan di perguruan tidak banyak dihargai orang, namun kematiannya mesti dibalaskan karena hubungan darah.

Sekalipun masih muda dan kecil penghasilannya, Toranosuke seorang samurai yang mesti diperhitungkan di Edo. Seperti Keluarga Tokugawa, semula ia datang dari Provinsi Mikawa, dan keluarganya tergolong yang tertua di antara pengikut warisan shogun. Ia juga seorang dari “Empat Jenderal dari Lereng Saikachi”: tiga yang lain adalah Kamei, Negoro, dan Ito. Ketika Toranosuke pulang kemarin malam dengan membawa Osugi, orang sependapat bahwa ia mencapai keberhasilan yang patut dicatat. Sekarang sukar bagi Kojiro untuk tidak memperlihatkan muka. Orang-­orang itu sudah bersumpah bahwa kalau ia muncul, mereka akan memukuli­nya setengah mati, memotong hidungnya, dan menggantungnya pada se­batang pohon di tepi Sungai Kanda, agar menjadi tontonan orang banyak. Tapi mereka sama sekali tak yakin ia akan datang. Mereka bertaruh tentang itu, dan sebagian besar bertaruh ia takkan datang.

Mereka berkumpul di ruangan utama dojo, membiarkan lantai bagian tengah terbuka, dan menanti dengan gelisah.

Beberapa waktu kemudian, satu orang bertanva kepada Kajuro, “Kau yakin yang kaulihat itu Kojiro?”

“Yakin betul!”

Mereka duduk dalam susunan mengesankan. Wajah mereka kaku sekali, kemudian memperlihatkan tanda-tanda tegang. Sebagian dari mereka takut kalau keadaan itu berlangsung terlalu lama, mereka akan menjadi korban ketegangan mereka sendiri. Tepat ketika titik ledak mereka makin mendekat, detak cepat sandal terdengar berhenti di luar kamar pakaian, dan wajah seorang murid lain yang bersijingkat muncul di jendela.

“Hei, dengar! Tak ada gunanya menunggu di sini. Kojiro takkan datang.”

“Apa maksudmu? Kajuro baru saja melihatnya.”

“Ya, tapi dia langsung pergi ke rumah itu. Bagaimana dia mendapat izin, aku tidak tahu, tapi sekarang dia di kamar tamu, bicara dengan guru.”

“Guru,” gema orang banyak itu tergagap.

“Betul yang kauomongkan itu?” tanya Toranosuke. Wajahnya hampir-­hampir memperlihatkan kekuatiran. Dugaannya sangat kuat bahwa jika soal kematian kakaknya diselidiki, akan ketahuan bahwa ia bermaksud melakukan sesuatu yang tidak baik. Ia menyembunyikan kenyataan itu sewaktu men­ceritakan peristiwanya pada Tadaaki. Dan kalau gurunya tahu ia sudah menculik Osugi, itu bukanlah karena ia sendiri yang menyampaikannya kepada gurunya.

“Kalau kau tak percaya, lihat sendiri.”

“Brengsek!” rintih Toranosuke.

Teman-temannya bukannya bersimpati kepadanya, melainkan jengkel melihat sikap ragunya.

Kamei dan Negoro menasihati teman-temannya untuk tetap tenang, se­mentara mereka akan pergi untuk mengetahui situasi, tapi baru saja mereka mengenakan zori, seorang gadis menarik berkulit kuning langsat berlari ke luar rumah. Melihat bahwa gadis itu Omitsu, mereka seketika berhenti, dan yang lain-lain tumpah ke pintu.

“Hei, kalian semua!” teriak Omitsu dengan suara serak dan resah. “Lekas datang! Paman dan tamu itu sudah menghunus pedang. Di halaman. Me­reka berkelahi!”

Walaupun Omitsu secara resmi dianggap sebagai kemenakan Tadaaki, orang banyak membisikkan bahwa sebetulnya ia anak Ito Ittosai dengan seorang gundik. Menurut bisikan orang, karena Ittosai adalah guru Tadaaki, maka Tadaaki terpaksa setuju merawat gadis itu.

Ungkapan rasa takut yang tampak pada matanya betul-betul lain daripada yang lain. “Saya dengar Paman dan tamu itu bicara… suara mereka makin lama makin keras… dan yang kemudian saya ketahui… saya kira Paman tidak dalam bahaya, tapi…”

Keempat jenderal itu serentak memperdengarkan lengkingan, dan langsung berlari ke halaman yang dipisahkan dari pekarangan luar oleh pagar hidup. Yang lain menyusul mereka di pintu gerbang yang terbuat dari bambu anyam.

“Gerbang terkunci.”

“Tak bisa kau mendobraknya?”

Tapi ternyata dobrakan tidak diperlukan. Pintu gerbang ambruk oleh berat badan samurai yang mendesaknya. Ketika gerbang itu ambruk, suatu daerah luas, dengan latar belakang sebuah bukit, terhampar di depan mata mereka. Tadaaki dengan pedang Yukihira-nya yang setia dipegang setinggi mata, berdiri di tengah. Di seberangnya, pada jarak cukup jauh, berdiri Kojiro dengan Galah Pengering yang besar, menjulang di atas kepalanya. Matanya memancarkan api.

Suasana gawat itu rupanya merupakan penghalang yang tidak kelihatan. Untuk orang yang terdidik dalam tradisi keras golongan samurai, ke­khidmatan mengerikan yang menyelimuti pihak-pihak yang bertarung, dan martabat pedang yang sudah terhunus untuk membunuh itu, tidak dapat lagi dilanggar. Sekalipun para murid meluap, namun untuk sesaat mereka menahan diri tidak bergerak ataupun melampiaskan emosi.

Tapi kemudian, dua-tiga orang dari mereka mulai bergerak ke belakang Kojiro.

“Balik, kalian!” teriak Tadaaki marah. Suaranya kasar mengerikan, sama sekali bukan suara kebapakan yang biasa mereka dengar, dan itu meng­hentikan semua gerakan para murid.

Orang cenderung menduga umur Tadaaki sepuluh tahun lebih muda daripada sebenarnya, yaitu lima puluh empat atau lima puluh lima tahun, dan tinggi badannya rata-rata, padahal sesungguhnya tinggi badannya kurang dari itu. Rambutnya hitam, tubuhnya kecil, tapi kekar, dan sama sekali tidak tampak kekakuan atau kekikukan dalam gerak kaki dan lengannya yang panjang-panjang itu.

Kojiro belum lagi melakukan pukulan—lebih tepat dikatakan belum dapat melakukannya.

Namun demikian, Tadaaki seketika itu juga terpaksa menghadapi ke­nyataan. Ia berhadapan dengan pemain pedang hebat. “Orang ini macam Zenki!” pikirnya sambil menggigil tanpa terasa.

Zenki adalah pemain pedang terakhir yang dihadapinya, yang memiliki jangkauan dan ambisi sehebat ini. Dan peristiwa itu terjadi sudah lama, ketika Tadaaki masih muda, ketika ia mengadakan perjalanan dengan Ittosai dan menjalani hidup sebagai shugyosha. Zenki, anak seorang tukang perahu di Provinsi Kuwana, adalah murid senior Ittosai. Ketika Ittosai makin tua, Zenki mulai merendahkannya, bahkan menyatakan bahwa Gaya Itto adalah penemuannya sendiri.

Tingkah Zenki membuat Ittosai sedih sekali, karena semakin mahir ia memainkan pedang, semakin banyak ia menimbulkan kerugian kepada orang lain. “Zenki,” sesal Ittosai, “adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Kalau aku memandangnya, terlihat olehku monster yang mewujudkan segala sifat jelek yang pernah kupunyai. Memandang dia, aku jadi benci pada diriku sendiri.”

Tapi ironisnya, Zenki sudah berjasa besar pada Tadaaki yang masih muda waktu itu—sebagai contoh yang buruk—dengan mendorongnya men­capai prestasi-prestasi yang lebih tinggi daripada yang mungkin waktu itu. Akhirnya Tadaaki berbenturan dengan anak ajaib itu di Koganegahara, Shimosa, dan membunuhnya. Karena itu Ittosai menghadiahinya ijazah Gaya Itto, dan memberikan kepadanya buku pelajaran rahasia.

Satu kekurangan Zenki adalah kemampuan teknisnya dicemarkan oleh kurangnya pendidikan. Tidak demikian halnya Kojiro. Kecerdasan dan pen­didikannya jelas kelihatan dalam permainan pedangnya.

“Aku tak dapat memenangkan perkelahian ini,” pikir Tadaaki, padahal sama sekali ia tidak merasa lebih rendah dari Munenori. Sesungguhnya, penilaiannya mengenai keterampilan Munenori tidaklah terlalu tinggi.

Selagi menatap lawannya yang memesona itu, ada kebenaran lain lagi yang segera disadarinya. “Waktu rupanya sudah lama berlalu bagiku,” pikir­nya sedih.

Mereka berdiri tanpa gerak. Tak sedikit pun kelihatan perubahan. Padahal, baik Tadaaki maupun Kojiro, sudah mengerahkan tenaga vital mereka dengan jumlah mengerikan. Beban fisiologisnya mengambil bentuk keringat yang mencurah deras dari dahi mereka, udara yang mendesah lewat lubang hidung mereka yang mengembang, dan kulit mereka yang berubah warna menjadi putih, kemudian kebiruan. Memang sebentar lagi agaknya akan terjadi gerakan, namun kedua pedang tetap terpentang dan teguh.

“Aku menyerah,” kata Tadaaki, dan tiba-tiba mundur beberapa langkah. Mereka berdua memang sepakat, ini takkan merupakan perkelahian habis­-habisan. Masing-masing dapat menarik diri dan mengaku kalah.

Tapi, sambil meloncat seperti binatang buruan, Kojiro mulai memainkan Galah Pengering-nya dengan pukulan ke bawah, disertai kekuatan dan kecepatan angin kisaran. Tadaaki merunduk tepat pada waktunya, namun gelungnya terlontar ke atas dan putus. Tadaaki sendiri, sambil mengelak, melancarkan balasan cemerlang dan berhasil menyayat sekitar enam inci lengan kimono Kojiro.

“Pengecut!” seru para murid. Wajah mereka menyala karena berang. Me­manfaatkan penyerahan lawannya sebagai pembuka serangan, berarti Kojiro telah melanggar etika samurai.

Maka semua murid, tanpa kecuali, menghampiri Kojiro.

Kojiro menjawab dengan terbang secepat burung kasa ke pohon jujube besar di ujung halaman, dan menyembunyikan diri di belakang batangnya.

Matanya bergerak-gerak dengan kecepatan menakutkan.

“Anda lihat?” teriaknya. “Anda lihat siapa yang menang?”

“Mereka yang melihatnya,” kata Tadaaki. “Mundur!” perintahnya kepada orang-orang, sambil menyarungkan pedang dan kembali ke beranda kamar belajarnya.

Ia memanggil Omitsu dan minta gadis itu mengikat rambutnya. Sementara Omitsu mengikat rambutnya, Tadaaki menarik napas. Dadanya berkilat­-kilat oleh aliran keringat.

Sebuah pepatah lama teringat olehnya: mudah mengungguli seorang pen­dahulu, tapi sukar menghindari untuk diungguli seorang pengganti. Selama ini ia menikmati buah dari latihan keras di masa mudanya, dan merasa senang karena tahu Gaya Itto yang dikuasainya tidak kurang ampuhnya dari Gaya Yagyu. Tapi, sementara itu, masyarakat melahirkan jenius-jenius baru, seperti Kojiro. Kesadaran itu datang sebagai guncangan pahit, namun ia bukan jenis orang yang akan mengabaikan saja hal itu.

Ketika Omitsu selesai dengan tugasnya, kata Tadaaki, “Berikan air kepada tamu muda kita itu untuk berkumur, dan antar dia kembali ke kamar tamu.”

Wajah para murid di seputar Tadaaki tampak putih karena terguncang. Sebagian menahan air mata, sebagian lagi menatap benci pada guru mereka.

“Kita berkumpul di dojo,” kata Tadaaki. “Sekarang.” Dan ia sendiri men­dahului pergi.

Tadaaki mengambil tempat di kursi yang ditinggikan di depan, dan diam-diam memperhatikan tiga baris pengikutnya yang duduk menghadapi­nya.

Akhirnya ia menunduk, dan katanya pelan, “Aku kuatir aku pun sudah tua. Kalau aku menoleh ke belakang, terasa olehku, masa terbaikku sebagai pemain pedang adalah ketika aku mengalahkan Zenki. Pada waktu perguruan ini dibuka dan orang mulai bicara tentang kelompok Ono di Lereng Saikachi, serta menyebut Gaya Itto tak terkalahkan, waktu itu aku sudah melewati puncakku sebagai pemain pedang.”

Suara Tadaaki menjadi lebih mantap, dan ia memandang langsung wajah-wajah mereka yang mencerminkan keraguan dan ketidakpuasan. “Me­nurut pendapatku, hal ini bisa terjadi pada semua orang. Umur kita merangkak terus, sementara kita tidak memperhatikannya. Masa berubah. Para pengikut mengungguli para pemimpin. Angkatan baru membuka jalan baru…. Memang demikian seharusnya, karena dunia ini maju hanya melalui perubahan. Namun, di bidang permainan pedang, hal ini tidak boleh terjadi. Jalan Pedang harus merupakan jalan yang tidak mengizinkan orang menjadi tua. Ittosai…. Entah apakah beliau masih hidup. Bertahun-tahun aku tidak mendengar berita tentang guruku itu. Sesudah peristiwa di Koganegahara, beliau mencukur rambutnya dan mengundurkan diri ke pegunungan. Tujuan beliau, menurut beliau, adalah mempelajari pedang, mempraktekkan Zen, mencari jalan hidup dan man, mendaki puncak tertinggi pencerahan yang sempurna.

“Sekarang ini datang giliranku. Sesudah peristiwa hari ini, aku tidak dapat lagi menegakkan kepala di hadapan guruku…. Aku menyesal bahwa yang kutempuh bukan hidup yang lebih baik.”

“G-guru” sahut Negoro Hachikuro. “Bapak mengatakan kalah, tapi kami tak percaya Bapak kalah melawan orang macam Kojiro dalam keadaan normal, biarpun dia masih muda. Ada yang salah dalam kejadian hari ini.”

“Ada yang salah?” Tadaaki menggelengkan kepala dan mendecap. “Tak ada yang salah. Kojiro masih muda. Tapi bukan karena itu aku kalah. Aku kalah karena waktu sudah berubah.”

“Apa artinya itu?”

“Dengarkanlah, dan lihat.” Dari memandang Hachikuro, ia memandang wajah-wajah diam yang lain. “Akan kucoba bicara sangat singkat, karena Kojiro menantiku. Aku minta kalian mendengarkan baik-baik, pikiran-­pikiran dan harapan-harapanku untuk masa yang akan datang.”

Kemudian ia mengatakan pada mereka bahwa sejak hari itu, ia akan mengundurkan diri, tidak dalam arti yang biasa, melainkan mengikuti jejak Ittosai dan pergi mencari pencerahan agung.

“Itulah harapan besarku yang pertama,” katanya pada mereka.

Selanjutnya ia minta kemenakannya, Ito Magobei, untuk mengurus putra tunggalnya, Tadanari. Magobei juga diperintahkan melaporkan kejadian hari ini kepada ke-shogun-an, dan menjelaskan bahwa Tadaaki telah me­mutuskan untuk menjadi pendeta Budha.

Kemudian katanya, “Aku tidak menyesali benar kekalahanku menghadapi orang yang lebih muda. Yang sungguh merisaukan dan membuatku malu adalah bahwa pejuang-pejuang baru seperti Sasaki ini justru muncul di tempat lain, dan tak seorang pun pemain pedang sekaliber dia muncul di tengah Perguruan Ono. Kupikir aku tahu mengapa demikian. Sebagian besar dari kalian adalah pengikut shogun karena keturunan. Kalian mem­biarkan status kalian menguasai diri. Sesudah sedikit saja mendapat latihan, kalian sudah mulai menganggap diri kalian ahli dalam ‘Gaya Itto yang tak terkalahkan’. Kalian terlalu puas diri.”

“Tapi sebentar, Pak,” protes Hyosuke dengan suara gemetar. “Itu tak adil. Tidak semua kami ini malas dan sombong. Tidak semuanya kami me­lalaikan pelajaran.”

“Tutup mulut!” Tadaaki menatapnya dengan ganas. “Kelonggaran sikap pada murid adalah cermin kelonggaran sikap gurunya. Aku mengakui aibku sendiri sekarang, dan aku menghukum diriku sendiri.

“Tugas kalian adalah membuang sikap longgar itu, untuk membuat Perguruan Ono menjadi pusat, di mana bakat pemuda dapat berkembang dengan benar. Perguruan ini harus menjadi medan latihan masa depan. Kalau tidak demikian, tindakanku meninggalkan tempat ini dan membuka jalan bagi pembaruan itu tidak ada artinya.”

Akhirnya ketulusan pernyataan itu mulai ada hasilnya. Para siswa me­nekurkan kepala dan merenungkan kata-kata Tadaaki. Masing-masing me­nimbang-nimbang kekurangannya sendiri.

“Hamada!” kata Tadaaki.

Toranosuke menjawab, “Ya, Pak,” tapi jelas kelihatan ia terkejut. Mendapat tatapan mata Tadaaki yang dingin itu, pandangan matanya pun jatuh ke lantai.

“Berdiri!”

“Ya, Pak,” kata Toranosuke tanpa berdiri. “Berdiri! Sekarang juga.”

Toranosuke bangkit berdiri. Yang lain-lain memandang diam.

“Kau kukeluarkan dari perguruan ini.” Tadaaki berhenti bicara agar kata­-katanya mengendap. “Tapi kuharap suatu saat nanti kau memperbaiki cara­-caramu, belajar disiplin dan memahami makna Seni Perang. Barangkali pada waktu itulah kita akan bersama lagi sebagai guru dan murid. Sekarang keluar!”

“G-guru, tapi kenapa? Seingat saya, tak ada alasan untuk saya diperlakukan seperti ini.”

“Kau tak ingat karena kau tak mengerti Seni Perang. Kalau kaupikirkan lama-lama dan saksama, kau akan melihatnya.”

“Bapak, sampaikanlah pada saya. Saya tak bisa pergi sebelum Bapak sampaikan itu.” Urat-urat nadi di dahinya menggelembung.

“Baik. Sifat pengecut adalah kelemahan paling memalukan yang dapat dituduhkan pada seorang samurai. Seni Perang mengingatkan kita dengan tegas untuk menjauhinya. Ada peraturan keras di perguruan ini, bahwa orang yang bersalah karena perbuatan pengecut harus dikeluarkan.

“Namun demikian, Hamada Toranosuke, kaubiarkan waktu berlalu bebe­rapa minggu sesudah kematian saudaramu, dan baru kau menantang Sasaki Kojiro. Sementara itu, kau mencoba membalas dendam kepada penjual semangka yang tak berarti. Dan kemarin kautahan ibu tua orang itu, dan kaubawa dia kemari. Apa kelakuan itu kaunamakan kelakuan samurai?”

“‘Tapi Bapak kurang mengerti. Saya lakukan itu buat menarik keluar Kojiro.” Ia hendak melancarkan pembelaan yang bersemangat, tapi Tadaaki menukasnya.

“Itulah justru yang kumaksud dengan sifat pengecut itu. Kalau mau me­lawan Kojiro, kenapa kau tidak langsung saja pergi ke rumahnya? Kenapa tidak kaukirimkan pesan untuk menantangnya? Kenapa tidak kaunyatakan namamu dan tujuanmu?”

“Y y-yah, sudah terpikir juga oleh saya hal-hal itu, tapi…”

“Terpikir? Tak ada yang menghalangimu berbuat demikian. Tapi kau memilih tipu muslihat pengecut, supaya orang-orang lain membantumu memikat Kojiro kemari, agar dapat kau menyerangnya beramai-ramai. Kalau diperbandingkan, sikap Kojiro itu sangat mengagumkan.” Tadaaki berhenti berbicara. “Dia datang sendiri untuk bertemu denganku pribadi. Dia menolak berurusan dengan seorang pengecut, dan dia menantangku dengan alasan: tingkah buruk seorang murid, berarti tingkah buruk gurunya.

“Hasil pertarungan pedangnya dengan pedangku itulah yang meng­ungkapkan kejahatan memalukan. Dan sekarang, dengan rendah hati aku mengakui kejahatan itu.”

Ruangan jadi hening seperti kuburan.

“Nah, Toranosuke, kalau kaurenungkan, apa kau masih percaya bahwa dirimu seorang samurai tanpa malu?”

“Maafkan saya.”

“Keluar.”


Cerita Novel Musashi buku 6, karangan Eiji Yoshikawa, terbitan gramedia, di kutip dari Website:
http://topmdi.com/ceritawp/?cat=74
[Lihat: Lanjutan Cerita]


0 KOMENTAR ANDA:

Post a Comment