Monday, May 19, 2008

Mara..


Godhika Thera, pada suatu kesempatan, melatih meditasi ketenangan dan pandangan terang, di atas lempengan batu di kaki gunung Isigili di Magadha. Ketika beliau telah mencapai Jhana, beliau jatuh sakit; dan kondisi ini mempengaruhi latihannya. Dengan mengabaikan rasa sakitnya, dia tetap berlatih dengan keras; tetapi setiap kali beliau mencapai kemajuan beliau merasa kesakitan. Beliau mengalami hal ini sebanyak enam kali. Akhirnya, beliau memutuskan untuk berjuang keras hingga mencapai tingkat arahat, walaupun ia harus mati untuk itu.

Tanpa beristirahat beliau melanjutkan meditasinya dengan rajin. Akhirnya beliau memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Dengan memilih perasaan sakit sebagai obyek meditasi, beliau memotong lehernya sendiri dengan pisau. Dengan berkonsentrasi terhadap rasa sakit, beliau dapat memusatkan pikirannya dan mencapai arahat, tepat sebelum beliau meninggal.

Ketika Mara mendengar bahwa Godhika Thera telah meninggal dunia, ia mencoba untuk menemukan dimana Godhika Thera tersebut dilahirkan tetapi gagal. Maka, dengan menyamar seperti laki-laki muda, Mara menghampiri Sang Buddha dan bertanya di mana Godhika Thera sekarang. Sang Buddha menjawab,

"Tidak ada manfaatnya bagi kamu untuk mengetahui Godhika Thera. Setelah terbebas dari kekotoran-kekotoran moral ia mencapai tingkat kesucian arahat. Seseorang seperti kamu, Mara, dengan seluruh kekuatanmu tidak akan dapat menemukan ke mana para arahat pergi setelah meninggal dunia". Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 57 berikut:

Mara tak dapat menemukan jejak mereka yang memiliki sila, yang hidup tanpa kelengahan, dan yang telah terbebas melalui Pengetahuan Sempurna. [Dhammapada, Bab 3, Pikiran/Citta Vagga, Syair 57, Kisah Godhika Thera]

Mara? Apakah Itu? Apakah sejenis Iblis/Setan atau mahluk halus sebagamana layaknya sosok antagonis dari kalangan Abrahamic? Atau apakah itu merupakan sifat/perilaku Negatif?

Yang pasti, Mara bukanlah kelompok mahluk alam bawah seperti Peta/setan/Iblis/jin, Mara adalah kelompok para Dewa:
  • ..ada delapan macam perhimpunan, yaitu Perhimpunan para kesatriya, para brahmana, orang-orang berumah tangga, para pertapa, para dewa Catummaharajika, para dewa Tavatimsa, para Mara dan para dewa Brahma.. [DN 16/Mahaparainibanna Suta, DN 33/Sangiti Sutta]
  • ..di tengah-tengah para dewa di alam surga Empat Raja Dewa! ... di tengah-tengah para dewa di alam surga Tiga Puluh Tiga ... para dewa Yāma ... para dewa di alam surga Tusita ... para dewa Nimmānarati ... para dewa ParanimmitaVasavatti ... para dewa pengikut Brahmā ...[MN 41/ Sāleyyaka Sutta]
  • DN 11/Kevaddha sutta menyatakan bahwa penguasa alam Paranimimitavasavati adalah Vasavatti. Dalam kitab komentar untuk MN dikatakan bahwa Vasavatti adalah raja alam paranimmitavasavatti, Māra memerintah di area tersendiri seperti pangeran bandel di pinggiran kerajaan [Paranimmitavasavattidevaloke. Tatra hi vasavattirājā rajjaṃ kāreti. Māro ekasmiṃ padese attano parisāya issariyaṃ pavattento rajjapaccante dāmarikarājaputto viya vasatīti vadanti] dan di kitab komentar untuk SN dan AN dikatakan bahwa nama Mara adalah Vassavati yang berkuasa atas semuanya [māro nāma vasavattī sabbesaṃ upari vasaṃ vatteti]
Informasi di atas menunjukan keberadaan alam ini 1 tingkat di bawah alam brahma dan kitab komentar menyatakan bahwa Mara Vasavatti berada di alam ini namun ini tidak sertamerta berarti bahwa Mara berasal dan/atau hanya ada di alam ini.

Deva di alam Paranimmitavasavatti (Para: meliputi, melebihi; Nimmita: tanda, ciptaan; Vasavatti: maha menguasai/mahasakti; "Menguasai melebihi dari ciptaan mahluk lainya"), kesenangan sensualnya terpenuhi ketika para mahluk lainnya berada dalam cengkraman kesenangan sensual ulahnya sendiri.

Umur kehidupan di alam ini: 1 hari + 1 malam di alam ini (24 jam) = 1600 tahun manusia (1 bulan = 30 hari, 1 tahun = 12 bulan = 360 hari). Lama Umur Deva adalah 16000 tahun deva (9.216.000.000 tahun manusia), 1 jam di alam ini = 66.67 tahun manusia [AN 3.70/1, Uposatha sutta]

Kata vasavatti yang digunakan tentang alam ini juga digunakan ketika mendefinisikan pandangan salah mahabrahma yang mengklaim dirinya, "..mahābrahmā (Brahma yang Agung) abhibhū (penakluk) anabhibhūto (yang tak tertaklukan) aññadatthudaso (melihat segalanya) vasavattī (maha menguasai/maha sakti) issaro (yang termulia) kattā (pembuat) nimmātā (pencipta) seṭṭho (pemilik/terbesar) sajitā (pemberi perintah) vasī (paling awal) pitā bhūtabhabyānaṃ (Ayah dari segala yang ada dan akan ada)" [DN1/Brahmajala sutta, MN49/Brahma­niman­tanika­sutta, dll].

Jadi kata ini hanya merujuk pada keadaan "sangat berkuasa" atas sesuatu, sehingga walaupun Mara vasavatti ada di alam ini, ini dapat juga berarti ada/beberapa mahluk alam itu sedang dijerat Mara, karena kekuasaan jeratan Mara tidak hanya sampai di alam ini saja namun meliputi juga alam-alam di atas alam ini.

Dalam MN 49/Brahmanimantanika Sutta disampaikan bahwa Brahma Baka yang berada 1 alam di atas alam paranimmitavasavatti terkena pengaruhi Mara (juga di komentar Dhammapada, Bab 3, Pikiran/Citta Vagga, Syair 57, Kisah Godhika Thera, Mara berkemampuan mendeteksi kelahiran kembali para mahluk yang belum padam). Ini menunjukan bahwa seluruh alam (termasuk alam Brahma dan juga alam brahma lain di atasnya) tidak luput dari cengkraman Mara, sehingga wajar saja jika di bagian awal SN 3.2/Padhana sutta, Mara disebut juga dengan gelar Namuci (na+muc/muccati = tidak+lepas/bebas, "tak ada yang lolos darinya").

Mengenai Namuci,
Di Mahasamaya Sutta, ketika para dewa dari sepuluh alam-semesta datang menemui Sang Buddha dan para Bhikkhu, di antara para yang hadir terdapat mahluk Asura yang bernama namuci:
    [setelah menyebutkan kedatangan para deva catumaharajika]..Yang dikalahkan si pemegang halilintar (vajirahatthena = Indra = Sakka), para Asura penguasa Samudra, saudara dari Vāsava (raja para Asura) berkuasa, gemilang, Para Kālakañja (Asura tingkatan terendah, bentuknya menyerupai peta) yang menyeramkan dilihat, Para Dānaveghasa, Vepacitti, Sucitti dan Pahāradha (Raja asura penguasa lautan) bersama Namucī, ratusan putra Bali yang semuanya bernama Veroca, pasukan Bali yang gagah, bergabung dengan Rāhu yang beruntung: Sekarang saatnya, yang mulia, pertemuan para Bhikkhu di hutan"..

    ..Para Khemiya, Tusita dan Yāma, Para Kaṭṭhaka dengan kereta, para Lambītaka, Para pemimpin Lāma, dan para Āsava, para dewa Nimmānarati dan Paranimmitavasavatti. mereka dalam sepuluh kelompok dalam bentuk berbeda, sakti perkasa dan gemilang, datang melihat para bhikkhu dan Sang Buddha"..

    ..Dan ketika semua telah hadir dalam barisan besar bersama Indra dan kelompok Brahmā, Datanglah pasukan Māra (Mārasenā), Si dungu gelap berkata: "Ayo tangkap dan ikat mereka dalam jeratan nafsu indriya, Kepung dari segala penjuru jangan sampai siapapun lolos"..kemudian Ia mundur dengan gusar dan tak berkekuatan lagi (Tadā so paccudāvatti, saṅkuddho asayaṃvase): 'Semua berjaya, melampaui rasa takut, mereka menang: Para pengikutNya bergembira bersama seluruh dunia!' (Sabbe vijitasaṅgāmā, bhayātītā yasassino; Modanti saha bhūtehi, sāvakā te janesutā’’ti).

    Kitab komentar di RAPB buku ke-1, hal 1106-1122, Cetakan I, Mei 2008, hal. 1117, menyatakan maksud dari kalimat terakhir adalah: "Pada akhir khotbah Mahàsamaya Sutta, seratus ribu crore (100.000 x 10.000.000 = 1012) dewa dan brahmà berhasil mencapai kesucian Arahatta, dan mereka yang mencapai kesucian Sotàpanna tidak terhitung banyaknya (lihat juga di: kitab komentar untuk MahàVagga)."
Sutta di atas ini memberikan kita 3 informasi, yaitu:
  • Tidak semua penghuni alam Paramanimmitavasavatti dikuasai Mara
  • Di alam Paranimmitavasavatti-pun, para penghuninya dapat mencapai kesucian, dan
  • Namuci Asura adalah BUKAN Mara vasavatti, Namuci Asura tidak dikuasai Mara dan Namuci di sini BUKANLAH julukan lain dari Mara.
Mengenai Mārasenā/Mahasena (memiliki tentara yang besar),
SN 3.2/Padhana Sutta menyampaikan 10 pasukan Namuci/Mara yaitu berupa kecenderungan kegemaran atau kekotoran batin (kilesa):
  1. Kesenangan indriawi (Kāmā),
  2. Tidak menyukai kehidupan suci (arati),
  3. Lapar dan haus (khuppipāsā),
  4. Ketagihan (taṇhā),
  5. Kemalasan dan kelambanan (thinamidha),
  6. Ketakutan (bhīrū/bhaya),
  7. Keraguan (vicikicchā),
  8. Mencela dan membandel (Makkho thambho),
  9. Pendapatan (Lābha), pujian (siloka), penghormatan (sakkāra), ketenaran (yasa) dan status yang di raih dengan cara keliru (Micchāladdho),
  10. Memuji diri sendiri dan merendahkan yang lain (cattānaṃ samukkaṃse, pare ca avajānati / atukhamsana paravambhana).
Di bagian akhir SN 3.2/Padhana sutta, terdapat kata "dummano yakkho" ("mahluk halus yang merana"). Kata "yakkha"di sini, menurut kamus Pali, Thomas William Rhys Davids, ‎William Stede juga berarti: "sinar cahaya yang cepat atau bergerak dengan cepatnya, mungkin: mahluk yang cepat, berubah tempat tinggalnya dengan cepat dan sesukanya - menurut adat kebiasaan populer dari asal katanya". Jadi kata yakkha adalah kata umum dalam mendefinisikan semua jenis mahluk halus/tak tampak. Sehingga ini juga berarti ada mahluk yakkha berjenis namuci yang dikuasai 10 kecenderungan batin (terkena cengkraman Mara).

Memperhatikan pasukan mara di atas, bisa dimengerti mengapa Mara disebut namuci atau "tak ada yang lolos darinya". Hanya mereka yang telah membuang 10 kekotoran batin saja, yaitu para arahat, yang bebas dari jeratan mara.

Selain Namuci,
Mara juga dijuluki pāpimā (artinya: penghasut, namun lebih sering diterjemahkan sebagai si jahat). Terjemahan menjadi "si jahat" ini tidaklah tepat mengingat mara adalah jelas mahluk dewa yang bahkan derajat kedewaannya jauh lebih tinggi lagi dari Sakka (raja para deva alam sumeru) dan seluruh deva alam Tusita. Hanya mereka yang melakukan banyak perbuatan baik dan saat kematiannya sedang dalam pikiran kusala yang dapat terlahir di alam bahagia sebagai Deva, bukan?! Sehingga, kata "pāpimā" ini adalah sebagai nama, seperti kata Ananda, yang punya arti literalnya "gembira", "senang" namun juga nama dari sekretaris tetap sang Buddha.

Julukan Mara, selain Vasavatti, Namuci dan Papima adalah juga:
    MaccuMāra/MaccuRaja (Raja Kematian, Mara si kematian), Antaka (kematian, batas akhir), Pajāpati (tuan dari awal mula), DevaputtaMara (Mara, deva yang baru terlahir), Pamattabandhu (sahabat dari yang tidak perhatian, lalai, lengah, ceroboh), Kaṇha (hitam, gelap), (panca)KhandaMāra (Mara si (lima) kelompok kemelekatan), AbhisankharaMara (Mara si bentukan karma), kilesaMara (Mara si noda)
Semua ini merupakan julukan lain Māra (pembunuh, kematian).

Dalam literatur yang berumur jauh lebih muda,
julukan Mara juga bertambah, misalnya dari Buddhacarita-nya Asvaghosa (abad ke-2 Masehi) mara disebutkan yang sehubungan dengan cinta/nafsu sehingga disebut juga: Kamadeva (deva cinta), Manmatha (Pengganggu pikiran), Ananga (ranga) (Tak bertubuh), Kusumayudha (Senjata bunga), Pancabana (lima anak panah) dan Makara/Matsya-dhvaja (Tanda/karakter/seperti Buaya/Ikan)

Sebagai penggoda,
Mara sendiripun tak luput dari jeratan sensualnya sendiri, keasikkannya menggoda itu bagaikan memakan cabe yang kelimpungan tersiksa pedasnya sendiri. Keasikannya menggoda menjerumuskannya terlahir di alam Neraka sebagaimana disampaikan dalam MN 50/Maratajjaniya Sutta yang memuat kisah Y.M. Maha Moggallana yang pernah terlahir sebagai Mara yang bernama Dusi dan saat itu Mara Vasavatti adalah ponakan lelakinya (anak dari Kali). Perbuatan Mara Dusi yang menggoda seorang Arahat dengan sangat keterlaluannya mengakibatkan Mara Dusi terlahir di neraka Avici selama 10 ribu tahun. Neraka Avici adalah alam Neraka ying takterputus siksaannya.

Mara Dusi, Sang penggoda, termakan godaaanya sendiri, senjata makan tuan, bermain api dan terbakar api, terlempar masuk ke Neraka:
    Apabila orang bodoh melakukan kejahatan, ia tak mengerti akan akibat perbuatannya. Orang bodoh akan tersiksa oleh perbuatannya sendiri, seperti orang yang terbakar oleh api

    Bagaikan karat yang timbul dari besi, bila telah timbul akan menghancurkan besi itu sendiri, begitu pula perbuatan-perbuatan sendiri yang buruk akan menjerumuskan pelakunya ke alam kehidupan yang menyedihkan.[Dhamapada syair 136 dan 240]
Namun demikian,
Dalam kasus Mara Vasavatti, Deva yang satu ini tampaknya benar-benar dipenuhi keberuntungan.

Di Udana 1.1 (Bodhi Sutta), dikatakan bahwa selama 7 tahun, Mara mengikuti/memperhatikan dan menggoda Sidharta Gautama, dari sebelum pencerahan hingga ketika mencapai penerangan sempurna dan juga dalam literatur lainnya kita temukan Mara juga gemar sekali menggoda Buddha dan murid-muridnya dan bahkan Ia pula-lah yang memohon pada Sang Buddha untuk selekasnya Parinibanna, namun dari keseluruhan tingkah pola Dewa Mara Vasavatti, tidak satu literatur Buddhispun yang menyatakan bahwa Dewa Mara Vasavatti layak untuk terlempar ke dalam Neraka.

Dalam literatur Buddhis belakangan,
misalnya di buku Thailand: Lokadipani (Abad 11 Masehi) mengisahkan bahwa Sang Buddha pernah meramalkan bahwa di masa yang akan datang akan muncul seorang bhikkhu bernama Upagupta yang akan meredam kejahatan Dewa Mara dengan kesaktiannya yang membuat Mara sadar akan kesalahannya.
    Dua ratus tahun kemudian, setelah Buddha Parrinibanna, diadakanlah konsili buddha yang ke-3 yang diprakarsai oleh Maharaja Asoka.

      Note:
      Terdapat perbedaan Signifikan antara Versi terjemahan Phra Dhammadhirajamahamuni VS temuan John strong mengenai Lokapannati:

      Menurut John Strong, kisah di Lokapannati tidak ada kaitannya dengan konsili ke-3, namun tentang festival megah yang akan diselenggarakan Raja Asoka sehubungan dengan temuan relik2 buddha di dalam Stupa-stupa yang dibuat Raja Ajatasatru. Relik-relik itu dijaga oleh sekawanan robot mekanik buatan roma yang galak-galak jika ada yang mencoba menerobos masuk :) Oleh karenanya Raja Asoka harus temukan mekanik yang dapat membuat robot itu shut down. Permasalahan raja yang berikutnya adalah mencegah adanya gangguan ketika Festival relik itu berlangsung. Untuk urusan ini Raja memohon petunjuk sangha, dan seorang samanera sakti menganjurkannya agar Ia meminta bantuan Mr. kisanaga upagupta :). Alhasil festival dan pertarungan mara vs Mr. Kisanaga Upagupta berjalan bersamaan namun di tempat yang berbeda sehingga tidak mengganggu kelancaran Festival relik Buddha tersebut. ["The Legend and Cult of Upagupta: Sanskrit Buddhism in North India and Southeast Asia", John Strong, Ch 9. Lokapannati]

    Menjelang diadakannya perhelatan peresmian dan perayaan atas berhasilnya pemugaran candi-candi Buddha serta pelestarian Buddhasasana, para bhikkhu Arahat dan menguasai Abhinna (kesaktian), berkumpul diketuai oleh Moggalliputta Tissa Thera. Mereka membicarakan tentang maksud Dewa Mara yang akan mengganggu dan menghalangi terlaksananya perhelatan tersebut. Walaupun para bhikkhu itu telah mencapai Kearahatan (kesempurnaan batin seperti Buddha) dan menguasai Abhinna, namun mereka mengetahui bahwa kecuali satu orang, maka tak seorang yang hadir saat itu mampu mengatasi Dewa Mara dan orang itu adalah Bhikkhu Kisanaga Upagupta Thera.

    Persoalan kehebohan ini juga dipicu oleh ketersinggungan Mara, yang dikisahkan pada suatu kejadian, ada seekor anjing yang datang setiap hari kepada para bhiksu. Anjing itu tertarik mendengarkan pembabaran Dhamma dari Bikkhu Kisanaga Upagupta Thera. Anjing itu duduk dengan telinga diangkat, Ia duduk bersikap seperti sedang diajarkan dharma. Ketika ia mati, ia terlahir sebagai dewa dan duduk di tempat yang sama dengan Dewa Mara.

    Mara berpikir: "Kebajikan apa yang diperbuat mahluk ini sehingga terlahir ditempat ini dan menjadi setaraf denganku? Saya harus mencari tahu tentang hal ini!"

    Dia menemukan bahwa dewa itu sebelumnya adalah seekor anjing dan mengetahui bagaimana sampai ke surganya adalah hanya karena mendengarkan pembabaran dhamma. Mara kemudian berpikir: "Para bhiksu telah menghina diriku "

    Dari tempatnya, Ia melihat bhikkhu Upagupta sedang duduk dalam samadhi, kemudian Ia menjahilinya, yang mengakibatkan Bikkhu itu tersadar dalam samadinya dan ada mahkota di atas kepalanya sendiri, Bikkhu Upagupta kemudian menyelidiki mengapa hal tersebut sampai terjadi. Akhirnya Ia mengetahui bahwa itu adalah perbuatan Mara. Kemudian atas desakan Mara dan juga untuk memberikan pelajaran pada Mara, maka mereka bertempur dan Mara tidak mampu mengungguli kesaktian Bikkhu Upagupta. Kemudian, dengan kekuatan spiritualnya, Bikkhu Upagupta menciptakan sebuah topi yang berasal dari bangkai anjing yang telah mati dan meletakkan topi tersebut di kepala Mara, sambil berkata: "Ini adalah balasan dari mahkota yang engkau hadiahkan untukku dan tidak ada satu-pun mahluk, apakah itu para Dewa, Brahma dan asura yang mampu melepaskan topi ini”

    Mara melihat bahwa topi dikepalanya adalah mayat anjing dan Ia berusha untuk membuangnya, namun tidak bisa. Kemudian Ia pergi ke tempat Dewa Sakka(Indra) dan berkata: "Indra, lepaskan benda mengerikan ini dari kepalaku."

    Indra berkata: "Tidak mungkin. Hanya orang yang menaruhnya yang bisa mengambilnya. Aku tidak bisa."

    Kemudian Mara pergi ke berbagai alam, mulai dari alam Asura, raja para dewa hingga Maha Brahma, untuk meminta mereka untuk memindahkan benda menjijikan dari kepalanya tapi, tidak satupun dari mereka yang mampu memenuhi permintaannya itu kecuali hanya menyarankan hal yang sama yaitu agar Mara memohon Bikkhu Upagupta untuk melepaskannya.

    Dengan berat hati, Mara kembali kepada Bikkhu Upagupta dan Ia menemukannya di kaki pegunungan Himalaya. Mara kemudian berkata: "Buddha dianugrahi dengan kebajikan yang besar dan welas asih yang luar biasa, saat Ia belum menjadi Buddha, Aku kepung Ia (bodhisattva) dengan 80.000 Mara, Aku juga telah sekuat tenaga berusaha menghalangiNya dari pencapaian penerangan dan mencoba membingungkanNya, namun Ia tidak pernah marah dan menghukumku, Ia selalu berwelas asih padaku. Tapi engkau, Sravaka? adalah benar-benar payah! Membalas lelucon kecil yang aku mainkan dengan hal seperti ini?". Kemudian masih dengan keangkuhan dan kesombongannya, Ia berkata singkat: "Bhante, lepaskanlah bangkai ini dari leher-ku"

    Bikkhu Upagupta, melihat dan mengetahui bahwa Mara masih dipenuhi dengan keangkuhan dan kesombongan, kemudian Bhikkhu Upagupta berdiri. Melolos ikat pinggangnya serta melemparkannya pada dewa Mara. Ikat pinggang itu memanjang di udara, jatuh tepat di tubuh dewa Màra, membelit, mengikat tubuh dewa Mara. Tubuh yang telah terikat erat dan tak bisa berkutik itu dijinjing oleh Sang Thera, dibawa terbang menuju puncak gunung Himalaya

    "Mara, lebih baik kau beristirahat saja di sini hingga perhelatan yang diadakan Asoka Maharaja usai. Dengan begini, kau tak bisa mengganggunya," kata bhikkhu Upagupta. Perhelatan itu dilaksanakan selama 7 tahun, 7 bulan dan 7 hari, sehingga selama itu pula-lah Mara terpaksa merenungi keadaannya di puncak Himalaya yang dingin itu hingga pada suatu yaitu menjelang berakhirnya perhelatan itu, Mara mengalami pencerahan dan mengikrarkan dirinya untuk menjadi seorang Sammasambuddha di kehidupan mendatang. [Lokadipani, Phra Dhammadhirajamahamuni, dituturkan kembali secara bebas Oleh : Hananto atau lihat di: Sutra of the Wise and the Foolish [mdo mdzangs blun] / Ocean of Narratives [uligerun dalai] penerbit: Library of Tibetan Works & Archieves]
Tampak jelas welas asih Para Buddha adalah tanpa kecuali, tidak satupun mahluk dianggap sebagai musuh, termasuk Mara sekali-pun.

Mengapa?

Karena para beliau ini tahu persis bahwa bukanlah Mara penyebab kelahiran kembali, nafsu keinginanlah penyebabnya:
    "Anekajāti samsāraṃ sandhāvissaṃ, anibbisaṃ 'Gahakāraṃ' gavesanto, dukkhā jāti punappunaṃ, Gahakāraka diṭṭhosi, puna gehaṃ na kāhasi, Sabbā te phāsukā bhaggā, gahakūṭaṃ visaṅkhataṃ, Visaṅ­khā­ra­gataṃ cittaṃ, taṇhānaṃ khayamajjhagā"

    [Lari berputar diragam lingkaran kelahiran, Sia-sia mencari 'Pembuat Rumah', Menyakitkan, kelahiran yang tiada akhir, Pembuat Rumah, telah diketahui, Tak lagi dapat membuat rumah, Semua sendi telah dibongkar, atap telah dirobohkan, Macam bentukan pikiran telah dicabuti, Belitan keinginan telah dihancurkan" - Dhammapada Syair 153-154].
Jadi kesimpulan yang kita dapat mengenai Mara vs Paranimmitavasavatti adalah:
  • Ketika mahluk masih memiliki 1 diantara 10 kilesa, maka ia dapat berada dalam jeratan Mara. Kebebasan sepenuhnya dari jeratan ini hanya terjadi pada level kesucian arahat saja. Mereka yang mencapai level kesucian di bawahnya masih terkena potensi terjerat mara (artinya alam suddhavasa pun, para penghuninya, masih ada yang memiliki sedikit kilesa atau masih berada pada jeratan Mara). Juga terdapat cara lainnya agar terlepas sementara dari jangkauan mara, yaitu melalui pencapaian Jhana ke-1 meditasi karena 5 nivarana telah di hancurkan (MN 25, AN 9.39)
  • Tidak semua penghuni alam Paranimittavasavatti adalah Mara
  • Para penghuni 31 Alam, menjadi terjerat mara melalui pasukan kilesanya

0 KOMENTAR ANDA:

Post a Comment