Saturday, May 10, 2008

Miyamoto Musashi, Buku 3-3


Cerita Novel Musashi buku 3, karangan Eiji Yoshikawa, terbitan gramedia.
[Lihat: Pengantar] [lihat: Cerita Sebelumnya]


“Ah, itu kan cuma tadi malam, dan cuma karena sudah gelap dan kita mesti buru-buru. Kalau begitu pendapatmu, aku akan jalan sepanjang hari im.

“Hari ini giliranku naik kuda.”

“Anak-anak tak perlu naik kuda.”

“Tapi aku ingin naik kuda. Apa tak bisa? Bisa, kan?”

“Barangkali, tapi hari ini saja.”

“Kulihat ada kuda terikat di warung teh itu. Kita dapat menyewanya.­

“Jangan, sekarang masih terlalu pagi.”

“Kalau begitu, Kakak bohong tadi bilang aku boleh naik kuda!”

“Aku tidak bohong, tapi kamu kan belum capek? Menyewa kuda itu membuang-buang uang saja.”

“Kakak kan tahu betul, aku tak pernah capek. Aku tak akan capek, biar kita jalan seratus hari atau seribu lima ratus kilo. Kalau mesti tunggu sampai lelah, tak bakal aku naik kuda. Ayolah, mari kita sewa kuda sekarang, mumpung tak ada orang di depan kita. Ini lebih aman daripada kalau jalan ramai. Ayolah!”

Karena merasa bahwa kalau terus begitu mereka akan kehilangan waktu yang sudah mereka hemat dengan berangkat pagi-pagi, maka Otsu me­nyetujui. Begitu Jotaro merasa Otsu mengangguk setuju, ia berlari kembali ke warung teh ia memang tidak menantikan anggukan Otsu.

Walaupun di sekitar itu terdapat empat warung teh, seperti ditunjukkan oleh nama Yonkenjaya itu, warung-warung itu terletak di berbagai tempat yang berlainan di lereng Gunung Fudesute dan Kutsutake. Adapun warung yang baru mereka lewati itulah satu-satunya yang tampak oleh mereka.

Jotaro berlari menjumpai pemilik warung, kemudian berhenti tiba-tiba, serunya, “Hei, siapa di situ? Aku mau kuda! Keluarkan satu buatku!”

Orang tua itu sedang menurunkan daun jendela. Teriakan bernafsu anak itu mengejutkannya dan membangunkannya. Dengan muka masam ia menggerutu, “Apa saja ini! Buat apa memekik sekeras itu!”

“Aku perlu kuda. Minta disiapkan sekarang juga. Berapa sampai Minakuchi? Kalau tak begitu mahal, bisa diteruskan sampai Kusatsu.”

Tapi kamu ini anak siapa?”

Aku anak ibuku dan ayahku,” jawab Jotaro kurang ajar.

“Kupikir turunan liar dewa badai.”

“Kamu ini dewa badainya. Tampangmu gila macam guntur.”

“Bandel!”

“Mana kudanya!”

“Oh, kau pikir kuda itu buat disewakan? Kuda itu tidak disewakan. Maka aku kuatir tidak mendapat kehormatan meminjamkannya kepada Tuan.”

Dan untuk mengimbangi nada bicara orang itu, Jotaro menyahut, “Oh, jadi aku tak akan mendapat kehormatan menyewanya?”

“Lancang kamu, ya?” teriak orang itu sambil mengambil ranting menyala dari api di bawah tungku dan melemparkannya kepada anak itu. Ranting iru tidak mengenai Jotaro, tapi menimpa kuda tua yang tertambat di bawah ujung atap. Sambil meringkik membelah udara, kuda itu mundur .ian membenturkan punggungnya ke tiang.

Bajingan!” jerit si pemilik. Ia melompat keluar dari warung sambil memuntahkan sumpah serapah dan berlari mendapatkan binatang itu.

Selagi ia melepaskan tali dan menuntun kuda itu ke pekarangan samping, Jotaro mulai lagi. “Pinjamkan dia untuk aku.”

Tidak bisa.”

Kenapa tak bisa?”

Tak ada tukang yang membawanya.”

Otsu memihak Jotaro dan menyarankan, kalau tak ada tukang kuda ia dapat membayar uang di muka dan mengirimkan kuda pulang kembali dari Minakuchi bersama musafir yang pergi ke sini. Sikap Otsu yang memohon itu melunakkan si orang tua, dan ia mengambil keputusan bahwa ia dapat mempercayai Otsu. Sambil menyerahkan tali kepada Otsu, karanva, “Kalau begitu, bisa kaubawa dia ke Minakuchi, atau juga ke Kusatsu, kalau kau mau. Cuma permintaanku, kirim dia kembali.”

Ketika mereka akan berangkat, ujar Jotaro marah, “Apa pendapat Kakak tentang dia? Dia perlakukan aku seperti keledai, tapi begitu dia lihat wajah manis….

“Hati-hati kamu, kalau bicara tentang orang tua itu. Kudanya ini mendengarkan. Dia bisa marah dan melemparkanmu.”

Apa menurut Kakak, kuda tua lemah kaki ini bisa mengalahkan aku?”

Kamu kan belum bisa naik kuda?”

Siapa bilang tak bisa?”

Lalu macam apa pula ini, naik dari belakang?”

Ah. tolong dong!”

Brengsek!” Otsu memegang ketiak Jotaro dan menaikkannya ke punggung binatang itu.

Jotaro memandang megah ke sekitar, ke dunia di bawahnya. “Kakak jalan di depan, dong,” katanya.

“Dudukmu belum benar.”

“Jangan kuatir. Soal itu beres.”

“Baiklah, tapi kamu menyesal nanti.” Sambil memegang tali kekang dengan satu tangan, Otsu melambaikan ucapan selamat berpisah kepada pemilik kuda dengan tangan satunya, lalu keduanya berangkat.

Belum lagi seratus langkah, mereka sudah mendengar pekik keras dari tengah kabut di belakang mereka, diiringi langkah kaki berlari.

“Siapa itu kira-kira?” tanya Jotaro.

“Apa kita yang dipanggilnya?” tanya Otsu.

Mereka menghentikan kuda itu dan menoleh. Di tengah kabut putih mengasap itu terbentuk bayangan orang. Semula mereka hanya dapat menangkap garis bentuknya saja, kemudian warnanya, tapi segera kemudian orang itu sudah cukup dekat, hingga mereka dapat mengira-ngirakan penampilannya dan umurnya. Hawa setani mengitari tubuhnya, seakan-­akan orang itu diikuti angin pusaran yang sedang mengamuk. Orang itu cepat mendekat ke samping Otsu, berhenti, dan dengan gerakan cepat merebut tali kekang dari tangan Otsu.

“Turun!” perintahnya sambil menatap Jotaro.

Kuda itu berlari kecil mundur. Sambil mencekal bulu tengkuknya, Jotaro memekik, “Hei, mana boleh begitu! Aku yang menyewa kuda ini, bukan kamu!”

Orang itu mendengus, menoleh kepada Otsu, katanya, “Perempuan!”

“Ya?” kata Otsu lirih.

“Namaku Shishido Baiken. Aku tinggal di Desa Ujii di pegunungan. sebelah sana perbatasan. Aku sedang mengejar orang yang namanya Miyamoto Musashi. Dia lewat jalan ini sebelum fajar tadi. Barangkali dia lewat beberapa jam lalu, jadi aku mesti jalan cepat kalau mau berhasil mengejar dia di Yasugawa, perbatasan Omi. Berikan kuda ini padaku.” Orang itu bicara sangat cepat, tulang rusuknya mengembang dan mengempis. Dalam udara dingin itu, kabut mengental menjadi bunga es pada cabang-­cabang dan ranting-ranting pohon, tapi leher orang itu berkelip-kelip seperti ular karena keringat.

Otsu tegak diam, wajahnya putih seperti mayat, seakan bumi di bawahnya menguras seluruh darah tubuhnya. Bibirnya menggeletar. Ingin sekali ia bertanya, untuk memastikan apa yang didengarnya itu benar. Tapi ia tak dapat mengucapkan sepatah kata pun.

“Kamu bilang Musashi?” ucap Jotaro. Ia masih mencengkeram bulu tengkuk kuda itu, tapi kaki dan tangannya gemetar.

Baiken demikian terburu-buru, hingga tidak melihat geletar tubuh mereka. “Ayo cepat! Kalau tidak kucambuk kamu!” Dan ia mengacungkan ujung tali kekang itu seperti cambuk.

Jotaro tetap menggeleng. “Aku tak mau.”

Apa maksudmu tak mau?”

Ini kudaku, kamu tak bisa mengambilnya. Tak peduli kamu terburu­-buru atau tidak.”

“Awas kau! Sikapku sudah baik sekali, kujelaskan duduk perkaranya, kalian cuma seorang perempuan dan anak yang jalan sendiri, tapi…”

“Betul, kan, Otsu?” sela Jotaro. “Tak boleh dia ambil kuda ini, kan?” Otsu ingin memeluk anak itu. Baginya soalnya bukanlah kuda itu, tetapi bagaimana mencegah orang jahat ini mengejar lebih cepat.

“Betul,” katanya. “Saya percaya Tuan memang buru-buru, tapi kami juga buru-buru. Tuan dapat menyewa salah satu kuda yang jalan naik-turun gunung ini dengan teratur. Seperti dikatakan anak ini, tidak adil kalau Tuan mencoba mengambil kuda ini dari kami.”

“Aku tak mau turun,” ulang Jotaro. “Lebih baik aku mati daripada turun!”

“Sudah bulat kamu tak mau melepaskan kuda ini?” tanya Baiken kasar.

“Mestinya kamu sudah tahu, kami tak mau,” jawab Jotaro geram.

Anak anjing!” teriak Baiken, marah oleh nada bicara anak itu.

Jotaro yang mengetatkan cengkeramannya pada bulu tengkuk kuda itu tampak hanya sedikit lebih besar dari seekor kucu. Baiken menjangkau sebelah kaki Jotaro dan menariknya turun. Inilah saatnya Jotaro mesti menggunakan pedang kayunya. Tapi karena bingung ia lupa sama sekali akan senjata itu. Berhadapan dengan musuh yang lebih kuat daripada dirinya, satu-satunya cara bertahan yang teringat olehnya adalah meludahi muka Baiken, dan itulah yang dilakukannya berulang-ulang.

Otsu jadi ngeri sekali. Rasa takut akan terluka atau terbunuh oleh orang ini mendatangkan rasa asam dan kering dalam mulutnya. Tapi memang tak ada soal menyerah dan membiarkan orang itu mengambil kuda. Musashi sedang dikejar makin lama ia dapat menghambat iblis ini, makin banyak Musashi punya waktu untuk lari. Tak jadi soal baginya, apakah jarak antara Musahi dan dirinya akan bertambah juga, justru pada waktu ia tahu bahwa setidak-tidaknya mereka berada di jalan yang sama. Sambil menggigit bibir dan kemudian menjerit, “Kamu tidak boleh berbuat begitu!” ia memukul dada Baiken dengan tenaga yang bahkan ia sendiri pun tak menduganya.

Karena masih menghapus ludah dari wajahnya, Baiken kehilangan ke-seimbangan, dan pada detik itulah tangan Otsu menangkap gagang pedangnya.

Anjing!” salak orang itu, berusaha mencengkeram pergelangan tangan Otsu. Tapi tiba-tiba ia melolong kesakitan. Karena sebagian pedang itu sudah keluar dari sarungnya, bukan tangan Otsu yang ia parut, tapi mata pedang. Ujung dua jari tangan kanannya jatuh ke tanah. Sambil memegang tangan yang berdarah itu ia melompat mundur, sehingga tak sengaja menghunus pedang dari sarungnya. Baja berkilau cemerlang yang terulur dari tangan Otsu menggaruk tanah dan berhenti di belakang gadis itu.

Baiken melakukan kesalahan lebih besar lagi daripada malam sebelumnya.

Sambil mengutuk diri sendiri karena sikapnya yang tidak hati-hati, ia berjuang untuk memperoleh kembali keseimbangannya. Otsu kini tidak takut pada apa pun dan mengayunkan pedang itu ke samping, ke arah orang itu. Tapi senjata itu senjata besar berlempeng lebar, panjangnya hampir tiga kaki, tidak setiap lelaki dapat menggunakannya. Ketika Baiken menghindar, tangan Otsu guncang dan ia terhuyung ke depan. Ia rasakan kedua tangannya terpilin sekilas dan darah hitam kemerahan menyembur ke wajahnya. Setelah pusing sebentar, ia sadar bahwa pedang mengenai pantat kuda.

Luka itu tidak dalam, tapi kuda itu memperdengarkan suara mengerikan, kemudian mundur dan menyepak dengan liarnya. Disertai teriakan tak keruan, Baiken mencengkeram terus pergelangan tangan Otsu dan mencoba memperoleh kembali pedangnya, tapi waktu itu si kuda menyepak mereka berdua ke udara. Kemudian, sambil berdiri pada kaki belakangnya, kuda meringkik keras dan terbang ke jalan seperti anak panah lepas dari busurnya, sementara Jotaro terus bergayut kuat-kuat pada punggungnya dan darah mencurah di belakangnya.

Baiken terhuyung-huyung di udara penuh debu. Ia tahu tak dapat menangkap binatang yang menggila itu, karena itu dengan mata marah ia menoleh ke tempat Otsu tadi berada. Tapi Otsu sudah tak ada.

Sesaat kemudian ia melihat pedangnya di bawah sebatang pohon larch, dan sekali sergap ia mengambilnya kembali. Sesudah ia membenahi diri, terpikir olehnya: tentunya ada hubungan antara perempuan ini dengan Musashi! Dan kalau ia teman Musashi, ia bisa menjadi umpan yang baik sekali. Setidaknya ia pasti tahu ke mana perginya Musashi.

Setengah berlari setengah meluncur ia menuruni tanggul di samping jalan, mengitari sebuah rumah pertanian beratap lalang, memeriksa bawah lantai dan dalam gudangnya. Seorang perempuan tua yang membungkuk di balik mesin pemintal dalam rumah memandangnya ketakutan.

Kemudian tampak olehnya Otsu berlari kencang melintasi rumpun kriptomeria yang rimbun, menuju lembah di kejauhan. Kelihatan bercak­-bercak salju terakhir.

Ia menyerbu turun bukit dengan tenaga bagai tanah longsor dan segera dapat menguasai jarak yang memisahkan mereka.

“Anjing!” teriaknya sambil mengulurkan tangan kiri dan memegang rambut Otsu.

Otsu jatuh ke bawah dan berpegangan pada akar-akar sebatang pohon, tapi kakinya tergelincir dan tubuhnya jatuh ke ujung karang terjal. Di situ tubuh itu berayun-ayun seperti bandul jam. Lumpur dan kerikil jatuh ke wajahnya ketika ia memandang ke atas, ke mata Baiken yang besar dan pedangnya yang berkilauan.

“Tolol!” kata Baiken menghina. “Kau pikir kau bisa lolos sekarang?”

Otsu menatap ke bawah. Lima puluh atau enam puluh kaki di bawah sana sebatang sungai melintasi dasar lembah. Anehnya ia tidak takut. Ia menganggap lembah itu sebagai penyelamatnya. Kapan saja ia mau, ia dapat meloloskan diri hanya dengan melepaskan pohon itu dan melemparkan diri, menyerahkan diri kepada ruang terbuka di bawah. Ia merasakan dekatnya maut, tapi bukan itu yang dipikirkannya. Ia pusatkan pikiran pada satu-satunya bayangan dalam batinnya: Musashi. Ia seolah melihat Musashi seperti bulan bulat di langit penuh badai.

Baiken cepat menangkap pergelangan Otsu, mengangkatnya, dan menyeret-nya dari ujung karang.

Tepat pada saat itu seorang begundalnya memanggil dari jalan. “Apa kerja Bapak di sana? Sebaiknya kita cepat-cepat. Orang tua di warung itu tadi bilang, seorang samurai membangunkannva sebelum fajar, memesan makan siang, dan lari ke Lembah Kaga.”

“Lembah Kaga?”

“Katanya. Tapi dia pergi ke sana atau menyeberang Gunung Tsuchi ke Minakuchi, bukan soal. Semua jalan itu sampai Ishibe. Kalau kita cepat-­cepat ke Yasugawa, kita akan bisa menangkapnya di sana.”

Punggung Baiken membelakangi orang itu, sedangkan matanya terpancang pada Otsu yang meringkuk di depannya, seakan terjebak oleh pandangan ganas Baiken. “Hei!” raung Baiken. “Kalian bertiga turun sini!”

“Ada apa?”

“Turun sini cepat!”

“Kalau kita buang waktu, Musashi akan mendahului kita ke Yasugawa.”

“Biar.”

Ketiga orang itu sebagian orang-orang yang ikut melakukan pencarian sia-sia malam sebelumya. Karena terbiasa berjalan melintasi pegunungan, mereka dapat menyerbu menuruni lereng dengan kecepatan gerombolan babi hutan. Sampai di tempat berdirinya Baiken, mereka melihat Otsu. Pemimpin mereka cepat menjelaskan keadaan itu.

“Ikat dia dan bawa,” kata Baiken sebelum berangkat melintasi hutan.

Mereka mengikat Otsu, tapi merasa kasihan kepadanya. Otsu terbaring tanpa daya di tanah, wajahnya menghadap ke samping. Dengan mencuri­-curi mereka melontarkan pandangan malu ke raut muka Otsu yang pucat.

Baiken sudah di Lembah Kaga. Ia berhenti, menoleh ke karang, dan berteriak, “Kita ketemu di Yasugawa. Aku ambil jalan pintas, tapi kalian terus ambil jalan raya. Dan buka mata kalian.”

Baik, Pak!” sahut mereka serempak.

Baiken berlari seperti kambing gunung di antara batu-batu karang, dan segera kemudian sudah tidak kelihatan.

Jotaro terus meluncur ke jalan raya. Meskipun sudah tua, kuda itu demikian menggila, hingga tak dapat dihentikan seutas tali kekang, kalaupun Jotaro tahu caranva. Karena luka baru yang membakar seperti obor, ia melaju membuta ke depan, mendaki bukit turun lembah, melintasi desa-desa.

Suatu nasib baik semata-mata bahwa Jotaro tidak terlontar. “Awas! awas!jeritnya berulang-ulang. Kata-kata itu sudah seperti doa yang terus diulang­ulangnya.

Karena tak bisa lagi bergayut pada bulu tengkuk kuda, ia mengetatkan cekalannya pada leher kuda. Matanya tertutup.

Apabila pantat binatang itu naik ke udara, Jotaro ikut juga naik. Karena lama-kelamaan sadar bahwa teriakan-teriakannya tidak bermanfaat, berangsur­-angsur permohonannya berganti dengan lolongan sedih. Ketika ia minta Otsu membolehkannya naik kuda tadi, pikirnya alangkah hebat men­congklang sekehendak hati dengan kuda indah, tapi sesudah beberapa menit saja naik dengan cara yang menegakkan bulu roma seperti itu, kapoklah ia.

Jotaro berharap ada orang-siapa saja-yang mau bersukarela menangkap tali kekang yang lepas itu dan menghentikan si kuda. Tapi harapan itu rasanya berlebihan, karena orang jalan dan orang desa tak ada yang mau terluka oleh perkara yang tidak menyangkut kepentingan mereka. Bukannya membantu, semua orang malah mencoba mencari tempat aman di pinggir jalan dan memaki penunggang kuda yang tidak bertanggung jawab itu.

Sebentar saja ia telah melewati Desa Mikumo dan sampai di kota penginapan Natsumi. Sekiranya ia penunggang ahli yang dapat dengan sempurna mengendalikan kudanya, dapat kiranya ia memayungi mata dengan tangan, dan dengan tenang meninjau pegunungan dan lembah Iga yang indah itu-meninjau ke puncak Nunobiki, Sungai Yakota, dan di kejauhan perairan Danau Biwa yang seperti cermin.

“Berhenti! Berhenti! Berhenti!” nada teriakannya telah berubah. Lebih kuatir. Dan ketika mulai menuruni Bukit Koji, teriakannya mendadak berubah lagi. “Tolong! Tolong!” jeritnya.

Kuda mulai menuruni lereng terjal, dan Jotaro terpental-pental seperti bola di atas punggungnya.

Sekitar sepertiga jalan ke bawah, sebatang pohon ek besar menonjol dari sebuah karang terjal di sebelah kiri, dan salah satu cabangnya mencongak menyeberang jalan. Ketika Jotaro merasa daun-daunan menempel di wajahnya, ia menyatukan kedua tangannya, dengan keyakinan bahwa dewa-­dewa telah mendengar doanya dan menggerakkan anggota badannya ke depan. Barangkali ia benar. Ia melompat seperti kodok, dan sesaat kemudian sudah tergantung di udara, kedua tangannya merangkum erat-erat dahan di atas kepalanya. Kuda lolos dari bawahnya dan lari sedikit lebih cepat, karena tanpa pengendara lagi.

Untuk menjatuhkan diri ke tanah, jaraknya tidak lebih tiga meter. Tapi Jotaro tak mau memaksa diri melepaskan cengkeramannya. Dalam keadaan sangat terguncang itu, jarak yang begitu dekat terasa seperti jurang menganga. Ia bergantung terus pada dahan penyelamat hidupnya, ia silangkan kedua kakinya di atas dahan itu, ia perbaiki letak tangannya yang sakit, dan bertanya-tanya dengan gundahnya dalam hati, apa yang harus dilakukannya. Persoalan segera terpecahkan. Cabang itu patah dengan suara berderak. Sesaat Jotaro menyangka telah mati, duduk di tanah tanpa cedera.

“Haa h,” hanya itu yang dapat dikatakannya.

Beberapa menit lamanya ia duduk malas, semangatnya merosot, kalau tak hendak dikatakan patah. Kemudian ia ingat, kenapa ada di sana, dan langsung lompat berdiri.

Tanpa mengindahkan tanah yang diinjaknya ia berseru, “Otsu!”

Ia berlari balik mendaki lereng, sebelah tangannya erat memegang pedang kayu.

“Apa yang mungkin terjadi dengan dia? …Otsu, Otsu! O-tsu-u-u!”

Tak lama kemudian ia bertemu dengan seorang lelaki berkimono merah kelabu yang menuruni bukit. Orang asing itu mengenakan hakama kulit dan membawa dua bilah pedang, tapi tak berjubah. Sesudah melewati Jotaro ia menoleh dan katanya, “Halo!” Jotaro menengok, dan orang itu bertanya, “Apa yang terjadi?”

“Bapak datang dari atas bukit sana, kan?” tanya Jotaro.

“Ya.

“Apa Bapak lihat perempuan manis umur sekitar dua puluh tahun?”

“Ya, kulihat.”

“Di mana?”

“Di Natsumi kulihat beberapa bromocorah berjalan dengan seorang gadis. Tangan gadis itu terikat di belakang. Tentu saja aneh, tapi aku tak punya alasan untuk campur tangan. Aku yakin orang-orang itu gerombolan Tsujikaze Kohei. Mereka pindahan satu desa penuh gelandangan dari Yasugawa ke Lembah Suzuka beberapa tahun lalu.”

“Itu dia, aku yakin,” Jotaro mulai berjalan terus, tapi orang itu meng­hentikannya.

“Apa kalian tadi jalan bersama?” tanyanya.

“Ya. Namanya Otsu.”

“Kalau kau nekat, kau bisa terbunuh sebelum dapat menolong orang lain. Kenapa kau tidak tunggu saja di sini? Cepat atau lambat mereka akan lewat sini. Nah, sekarang ceritakan padaku, apa saja semua ini. Barangkali aku dapat memberimu nasihat.”

Jotaro segera menaruh kepercayaan pada orang itu dan menceritakan segala yang terjadi sejak pagi. Berkali-kali orang bertopi itu mengangguk­angguk. Ketika Jotaro selesai bercerita, ia berkata, “Aku mengerti kesulitannya, tapi biarpun dengan keberanian, seorang perempuan dan… anak lelaki bukan tandingan orang-orang Kohei. Kupikir lebih baik kuselamatkan Otsu, betul itu namanya?”

“Apa mau mereka menyerahkannya pada Bapak?”

“Barangkali tidak, kalau cuma diminta, tapi akan kupikirkan hal itu nanti. Sementara ini sembunyilah kamu di semak-semak, dan diam di sana.”

Sementara Jotaro memilih rumpun semak dan bersembunyi di baliknya. orang itu melanjutkan jalan cepat menuruni bukit. Sesaat Jotaro bertanya­-tanya dalam hati, apakah ia tidak tertipu. Karena merasa kuatir, ia meng­angkat kepala ke atas belukar, tapi karena mendengar suara orang, ia menundukkan badan lagi.

Satu-dua menit kemudian Otsu tampak, dikitari tiga orang dengan tangan terikat erat di belakang. Darah mengering di goresan pada kakinya yang putih.

Salah seorang bajingan itu menggeram sambil mendorong bahu Otsu ke depan, “Apa pula menoleh-noleh! Jalan cepat!”

“Betul itu, jalan!”

“Saya mencari teman saya. Apa yang terjadi dengannya?… Jotaro!”

“Diam!”

Jotaro sudah hampir memekik dan melompat keluar dari persembunyian­nya, tapi ronin itu sudah kembali lagi, kali ini tampak mengenakan topi. Umurnya dua puluh enam atau dua puluh tujuh, dan warna mukanya gelap. Pandangan matanya tampak lurus dan tidak mengembara ke kanan atau ke kiri. Sambil berjalan cepat mendaki lereng, ia berkata seolah kepada diri sendiri, “Mengerikan, betul-betul mengerikan!”

Ketika melewati Otsu dan orang-orang yang menangkapnya, ia menegur mereka dengan gumaman dan berjalan terus cepat-cepat, tetapi orang-orang itu menghentikannya. “Hei!” seru seorang di antaranya. “Apa kamu bukan kemenakan Watanabe? Apanya yang mengerikan?”

Watanabe adalah nama keluarga tua di daerah itu. Kepala keluarganya sekarang Watanabe Hanzo, seorang pelaksana taktik gaib yang dikenal dengan nama Ninjutzu.

“Belum dengar?”

“Dengar apa?”

“Di kaki bukit ini ada samurai, namanya Miyamoto Musashi, yang siap melakukan pertarungan besar. Dia berdiri di tengah jalan dengan pedang terhunus, dan menanyai tiap orang yang lewat. Matanya paling dahsyat yang pernah saya lihat.”

“Musashi?”

“Betul. Dia langsung mendatangi saya dan menanyakan nama saya, jadi saya katakan padanya nama saya Tsuge Sannojo, kemenakan Watanabe Hanzo, dan saya datang dari Iga. Dia minta maaf dan membiarkan saya pergi. Dia sangat sopan sesungguhnya. Katanya, selama saya tak ada hubungan dengan Tsujikaze Kohei, beres saja.”

“Begitu?”

“Saya bertanya padanya, apa yang terjadi. Dia bilang Kohei ada di jalan itu dengan begundal-begundalnya, mau menangkap dan membunuhnya. Dia bertekad berkubu di tempat itu dan menanti serangan di situ. Rupanya dia siap tempur sampai penghabisan.”

“Benar yang kau katakan itu, Sannojo?”

“Tentu saja. Buat apa saya bohong?”

Wajah ketiga orang itu pucat. Mereka saling pandang dengan gelisah, ragu-ragu apa yang hendak mereka lakukan.

“Lebih baik Anda sekalian hati-hati,” kata Sannojo, pura-pura meneruskan jalan mendaki bukit.

“Sannojo!”

Ya?”

“Aku tak tahu apa yang mesti kami lakukan. Pak Ketua bilang, Musashi ini luar biasa kuatnya.”

“Memang kelihatannya dia yakin betul dengan dirinya. Waktu dia mendekati saya dengan pedang, saya betul-betul merasa takkan bisa melawan­nya.”

“Apa yang mesti kami lakukan menurutmu? Kami lagi membawa pe­rempuan ini ke Yasugawa atas perintah Pak Ketua.”

“Tak ada hubungannya dengan saya.”

“Jangan seperti itu. Tolonglah kami.”

“Mustahil! Kalau saya tolong Anda sekalian dan paman saya tahu, dia takkan mengakui saya lagi. Tapi tentu saja saya dapat memberikan nasihat pada kalian.”

“Nah, bicaralah! Apa yang mesti kami lakukan?”

“Hm… Pertama, kalian dapat mengikat perempuan itu pada sebuah pohon dan meninggalkannya. Dengan begitu, kalian dapat bergerak lebih cepat.”

“Ada lagi?”

“Kalian jangan ambil jalan ini. Ada jalan yang agak lebih jauh, Anda sekalian dapat menempuh jalan lembah ke Yasugawa dan memberitahu orang-orang di sana tentang semua ini. Kemudian kalian dapat mengepung Musashi dan berangsur-angsur menjepitnya.”

“Tidak jelek gagasan itu.”

“Tapi Anda sekalian mesti hati-hati sekali. Musashi akan berkelahi demi hidupnya, dan dia akan membawa beberapa nyawa kalau dia pergi. Lebih baik Anda sekalian menghindar.”

Mereka segera sependapat dengan saran Sannojo, lalu mereka seret Otsu ke sebuah belukar dan mereka ikatkan talinya pada sebatang pohon. Kemudian mereka pergi, tapi beberapa menit kemudian mereka kembali untuk menyumbat mulutnya.

“Cukup kukira,” kata seorang.

“Mari jalan.”

Mereka masuk hutan.

Sambil jongkok di belakang tabir dedaunan, Jotaro menanti dengan sabar, sebelum akhirnya mengangkat kepala, meninjau sekitarnya. Tak seorang pun tampak olehnya-tak ada orang jalan, tak ada bromocorah, tak ada Sannojo.

“Otsu!” panggilnya sambil berjingkrak keluar dari semak. Ia cepat men­dapatkan Otsu, melepaskan ikatannya, dan menggandengnya. Mereka berlari ke jalan. “Ayo pergi dari sini!” desaknya.

“Apa kerjamu sembunyi dalam semak itu?” “Tidak apa-apa! Ayo kita pergi!”

“Tunggu sebentar,” kata Otsu sambil berhenti untuk merapikan rambutnya, meluruskan kerahnya, dan membetulkan letak obi-nya.

Jotaro mendecapkan lidahnya. “Ini bukan waktu buat berdandan. Apa tak bisa Kakak mengaturnya kemudian?”

“Tapi ronin itu bilang Musashi ada di kaki bukit.”

“Oh, jadi itu sebabnya Kakak mempercantik diri?”

“Tentu saja tidak,” kata Otsu, mempertahankan diri dengan sikap serius yang hampir-hampir lucu. “Tapi kalau Musashi sudah begitu dekat, tak ada yang mesti kita kuatirkan. Dan karena kesulitan kita boleh dibilang sudah lewat, aku merasa tenang dan cukup aman memikirkan penampilan.”

“Apa Kakak percaya, ronin itu betul-betul melihat Musashi?”

“Tentu saja. Tapi omong-omong, di mana dia tadi?”

“Dia baru saja menghilang. Agak aneh juga dia itu, ya?”

“Kita pergi sekarang?” kata Otsu.

“Kakak yakin sekarang sudah cukup manis?”

“Jotaro!”

“Ah, cuma main-main. Kakak kelihatan senang.”

“Kamu juga.

“Memang, tapi aku tak mencoba menyembunyikannya seperti Kakak. Aku akan berteriak, supaya tiap orang mendengar, ‘Aku senang!“‘ Ia menari-nari sedikit, melambai-lambaikan tangan, dan menendang-nendangkan kaki, kemudian katanya, “Sungguh mengecewakan kalau Musashi tak ada di sana, ya? Aku akan lari duluan buat melihat.”

Otsu tenang saja. Hatinya sudah terbang ke dasar lereng sana, lebih cepat daripada lari Jotaro.

“Tampangku tak keruan,” pikirnya sambil mengamati kakinya yang luka dan berlumpur serta dedaunan yang menempel pada lngan kimononya.

“Ayolah!” seru Jotaro. “Apa yang dikutik-kutik itu?” Dari irama bicaranya, Otsu merasa pasti bahwa Jotaro sudah melihat Musashi.

“Akhirnya,” demikian pikirnya. Sampai waktu itu ia harus mencari kesenangan di dalam dirinya sendiri, dan ia sudah bosan. Ia merasakan semacam kebanggaan, baik kepada dirinya maupun kepada dewa-dewa, karena tetap setia pada tujuan. Sekarang, ketika ia akan bertemu dengan Musashi kembali, semangatnya menari-nari gembira. Ia tahu kegembiraan ini disebabkan oleh harapan yang dipendam-nya, namun ia tak dapat meramalkan apakah Musashi akan menerima kesetiaan-nya. Kegembiraan akan berjumpa dengan Musashi itu hanya sedikit ternodai firasat pedih, bahwa penemuan mungkin membawa kesedihan.

Di lereng bukit Koji yang teduh itu bumi beku, tapi di warung teh dekat kaki bukit, cuaca hangat hingga lalat-lalat berterbangan. Ini kota penginapan, karena itu tentu saja warung menjual teh kepada para musafir. Dijual juga berbagai barang kebutuhan para petani daerah itu, mulai dari gula-gula murah sampai terompah sapi jerami. Jotaro berdiri di depan warung itu sebagai anak kecil di tengah lautan manusia vans ribut.

“Di mana Musashi?” Otsu mencari-cari ke sekitar.

“Tak ada,” jawab Jotaro lesu.

“Tak ada? Dia mesti ada!”

“Tapi aku tidak menemukannya dan tukang warung bilang tidak melihat samurai macam itu di sini. Mestinya keliru.” Jotaro memang tapi tidak patah hati.

Otsu bisa saja mengakui bahwa sebetulnya tak ada alasan baginya berharap seperti sekarang itu, tapi jawaban Jotaro yang tak acuh menjengkel­kannya. Karena guncang hatinya dan sedikit marah melihat kurangnya perhatian Jotaro, ia berkata, “Apa sudah kau cari di sana?”

“Sudah.”

“Bagaimana kalau di belakang tonggak kilometer Koshin

“Aku sudah lihat. Tak ada di situ.”

“Di belakang warung teh?”

“Sudah kubilang, tak ada di situ!” Otsu membuang muka dari Jotaro. “Kakak menangis?” tanya Jotaro.

“Bukan urusanmu,” kata Otsu tajam.

“Sungguh tak mengerti aku. Kakak ini biasanya cukup bijaksana, tapi kadang-kadang seperi bayi. Bagaimana mungkin kita tahu apakah Sannojo itu benar atau tidak? Kakak memutuskan sendiri cerita itu benar, tapi ketika ternyata tidak, Kakak menangis. Perempuan memang gila,” ujar Jotaro, lalu pecah ketawanya.

Otsu merasa ingin langsung duduk dan menyerah. Dalam sejenak saja cahaya hidupnya hilang. Ia merasa kehilangan harapan seperti sebehumnya, bahkan lebih lagi. Gigi sulung rusak dalam mulut Jotaro yang sedang tertawa itu memuakkannya. Dengan marah ia bertanya pada dirinya, kenapa ia menyeret-nyeret anak semacam ini ke mana-mana. Ia iadi ingin sekali meninggalkannya di tempat itu juga.

Benar, anak itu mencari Musashi juga, tapi ia mencarinya hanya sebagai guru. Bagi Otsu, Musashi adalah hidup itu sendiri. Jotaro dapat melepaskan segalanya dengan tawa dan kembali girang seperti biasa daiam sekejap, tapi Otsu bisa berhari-hari lamanya kehilangan daya untuk terus hidup. Dalam pikiran Jotaro yang masih muda itu terdapat keyakinan gembira bahwa pada suatu hari nanti, cepat atau lambat, ia akan bertemu kembali dengan Musashi. Otsu tak punya keyakinan akan akhir yang bahagia seperti itu. Sesudah terlampau optimis akan dapat bertemu dengan Musashi hari ini, kini ia berayun ke arah yang berlawanan dan bertanya pada diri sendiri, apakah hidupnya akan berlangsung selamanya seperti ini, dan ia tak akan lagi melihat atau berbicara dengan orang yang dicintainya.

Orang-orang yang dilanda cinta biasa mencari filsafat, dan karena itulah mereka suka akan kesendirian. Dalam hal Otsu yang yatim, ia merasa sangat terpencil dari orang lain. Untuk membalas sikap tak acuh Jotaro itu, ia mengerutkan kening dan diam-diam pergi meninggalkan warung teh.

“Otsu!” Suara itu suara Sannojo. Ia muncul dari belakang tonggak kilometer Koshin dan menghampiri Otsu lewat belukar yang layu. Sarung pedangnya lembap.

“Bapak bohong,” tuduh Jotaro.

“Apa maksudmu?”

“Bapak bilang Musashi menunggu di kaki bukit. Bapak bohong!”

“Jangan bodoh begitu!” kata Sannojo mencela. “Justru karena kebohongan itu Otsu dapat lolos, kan? Apa yang kamu keluhkan? Apa kamu tak mesti mengucapkan terima kasih padaku?”

“Jadi, Bapak mengarang cerita itu buat mengecoh orang-orang tadi?”

“Tentu saja.”

Sambil menoleh pada Otsu dengan sikap penuh kemenangan, Jotaro berkata, “Lihat tidak? Kubilang begitu tadi, kan?”

Otsu merasa berhak penuh marah kepada Jotaro, tapi tak ada alasan baginya menggerutu kepada Sannojo. Beberapa kali ia membungkuk pada Sannojo dan banyak-banvak mengucapkan terima kasih karena Sannojo telah menyelamatkan-nya.

“Gerombolan gelandangan dari Suzuka itu jauh lebih jinak daripada dulu,” kata Sannojo, “tapi kalau mereka pergi mencegat seseorang, kurang kemungkinannya orang itu dapat lewat jalan ini dengan selamat. Tapi dari pendengaranku tentang Musashi yang kalian risaukan itu, rasanya dia cukup cekatan, hingga tak mungkin masuk salah satu perangkap mereka.”

“Apakah selain jalan ini ada jalan-jalan lain ke Omi?”

“Ada,” jawab Sannojo sambil menengadahkan mata ke puncak-puncak gunung-gunung yang berkilauan oleh matahari tengah hari.

“Kalau kalian pergi ke Lembah Iga, di sana ada jalan menuju Ueno, dan dari Lembah Ano ada satu jalan yang menuju Yokkaichi dan Kuwana. Kalau tak salah, ada tiga atau empat jalan gunung dan terobosan lain. Perkiraanku, Musashi sudah meninggalkan jalan raya pagi-pagi.”

“Jadi, menurut Bapak, dia masih selamat?”

“Itu yang paling mungkin. Paling tidak, lebih aman daripada kalian berdua. Kalian sudah selamat satu kali hari ini, tapi kalau kalian tetap ada di jalan ini, orang-orang Tsujikaze akan menangkap kalian lagi di Yasugawa. Kalau kalian sanggup sedikit mendaki, ayo jalan denganku. Akan ku­tunjukkan jalan yang praktis tak diketahui siapa pun.”

Cepat saja mereka menerima saran itu.

Sannojo mengantar mereka naik Desa Kaga, menuju Celah Makado. Dari Celah Makado terdapat jalan setapak turun ke Seto, di Otsu.

Sesudah menjelaskan seterang-terangnya cara melanjutkan perjalanan, Sannojo berkata, “Kalian sudah lepas dari jalan yang berbahaya sekarang. Buka mata dan telinga kalian, dan yakinlah kalian akan menemukan tempat aman sebelum gelap.”

Otsu mengucapkan terima kasih atas segala kebaikan Sannojo, dan berangkat, tetapi Sannojo memandangnya dan berkata, “Kita berpisah di sini sekarang.” Kata-kata itu terasa penuh arti, dan tampak matanya memancarkan keprihatinan. “Sepanjang jalan tadi terpikir olehku. ‘Apa dia akan bertanya sekarang?”‘ demikian ia melanjutkan, “tapi tak juga kamu bertanya.”

“Menanyakan apa?”

“Namaku.”

“Tapi saya sudah mendengar nama Bapak, waktu kita di Bukit Koji.

­“Kamu ingat nama itu?”

“Tentu ingat Tsuge Sannojo, kemenakan Watanabe Hanzo.”

“Terima kasih. Bukannya aku minta supaya kamu selamanya berterima kasih padaku atau yang serupa itu, tapi kuharap betul kamu ingat aku.”

“Tentu, saya berutang sekali pada Tuan.”

“Bukan itu maksudku. Yang kumaksud, nah, aku ini belum kawin. Kalau pamanku tak sekeras itu, mau aku membawamu langsung pulang sekarang…. Tapi kulihat kamu tergesa-gesa. Setidaknya akan kamu temui nanti penginapan kecil beberapa mil dari sini, dan di situ kalian dapat menginap. Aku kenal baik dengan pemilik penginapan itu, karena icu sebut saja namaku kepadanya. Selamat jalan!”

Sesudah orang itu pergi, terasa aneh oleh Otsu. Dari semula ia tak dapat menggambarkan orang macam apakah Sannojo itu, dan ketika mereka berpisah, terasa olehnya seakan ia lolos dari cengkeraman seekor binatang berbahaya. Selama ini dirasanya ia mesti terus mengucapkan terima kasih kepada orang itu, padahal di dalam hatinya ia tak merasa berterima kasih.

Jotaro ada kecenderungan menyukai orang-orang baru, namun reaksinya terhadap orang itu hampir sama dengan Otsu. Ketika mereka berdua sudah mulai menuruni celah itu, ia berkata, “Aku tak suka orang itu.”­

Otsu tak ingin bicara buruk di belakang Sannojo, tapi ia membenarkan bahwa ia pun tak suka orang itu, dan tambahnya, “Menurutmu, apa maksudnya bilang dia masih sendiri itu?”

“Ah, itu isyarat dia mau melamarmu nanti.”

Wah, tidak lucu!”

Mereka melanjutkan perjalanan ke Kyoto tanpa kejadian apa pun, walaupun merasa kecewa karena tidak menjumpai Musashi di tempat­-tempat yang mereka harapkan di tepi danau di Omi, di jembatan Kara di Seta, ataupun di perbatasan di Osaka.

Dari Keage mereka bergabung dengan lautan manusia yang merayakan akhir tahun dekat pintu masuk Jalan Sanjo yang menuju kota. Di ibu kota itu, seperti sudah menjadi tradisi pada Tahun Baru, dinding depan rumah dihiasi ranting-ranting pohon pinus. Melihat perhiasan itu, Otsu menjadi riang. Ia tidak meratapi lepasnya kesempatan di masa lalu, dan memnutuskan untuk menaruh harapan pada masa depan dan kemungkinan-kemungkin­annya untuk menjumpai Musashi. Jembatan Besar Jalan Gojo. Hari pertama Tahun Baru. Kalau Musashi tak muncul lagi hari itu, maka pagi keduanya. atau pagi ketiganya… Musashi sudah mengatakan pasti akan ada di sana. demikian yang diketahuinya dari Jotaro. Walaupun Musashi datang tidak untuk menjumpainya, tapi cukuplah kalau ia dapat datang melihat pemuda itu dan bicara lagi dengannya.

Kemungkinan berjumpa dengan Matahachi merupakan awan tergelap yang membayangi impiannya. Menurut Jotaro, pesan Musashi hanya di­sampaikannya kepada Akemi, jadi Matahachi kemungkinan tidak menerima pesan itu. Otsu berdoa semoga Matahachi tidak menerimanya, agar Musashi­lah yang datang, dan bukan Matahachi.

Otsu melambatkan jalannya, karena terpikir olehnya mungkin Musashi ada di tengah orang banyak itu juga. Bulu romanya pun berdiri, dan ia berjalan lebih cepat. Ibu Matahachi yang mengerikan itu bisa saja muncul setiap saat.

Jotaro sendiri tak punva masalah di dunia ini. Warna-warna dan suara kota yang dilihat dan didengarnya sesudah sekian lama, menyegarkan kembali dirinva. “Apa kita mau langsung ke penginapan?” tanyanya prihatin.

“Tidak, belum.”

“Bagus! Membosankan tinggal di dalam rumah kalau di luar masih terang. Mari kita jalan dulu lagi. Kelihatannya ada pasar di sana.”

“Tak ada waktu buat ke pasar. Ada urusan penting yang mesti kira selesaikan.”

“Urusan? Kita punya urusan?”

“Apa kamu lupa dengan kotak di punggungmu itu?”

“Oh, ini?”

“Ya, itu. Takkan tenang perasaanku sebelum aku menemukan tempat semayam Yang Dipertuan Karasumaru Mitsuhiro dan menyampaikan gulungan itu kepada beliau.”

“Apa kita akan tinggal di rumahnya malam ini?”

“Tentu saja tidak.” Otsu tertawa sambil memandang Sungai Kamo. “Apa menurutmu bangsawan besar macam beliau mau menerima anak kotor macam kamu menginap di bawah atapnya?”

Kupu-Kupu di Musim Dingin

AKEMI menyelinap dari penginapan di Sumiyoshi tanpa memberitahu siapa pun ia merasa seperti burung lepas sangkar, tapi masih belum cukup wmbuh dari persentuhannya dengan maut, hingga belum terbang terlampau tinggi. Bekas-bekas luka yang ditinggalkan oleh kekerasan Seijuro tak akan sembuh dengan cepat. Seijuro telah memporak-porandakan impian yang diudam-idamkannya, yaitu menyerahkan diri tanpa noda kepada lelaki yang benar-benar dicintainya.

Di perahu yang membawanya memudiki Sungai Yodo ke Kyoto ia merasa bahwa seluruh air sungai itu tidaklah sebanyak air mata yang ingin dicurahkannya. Ketika perahu-perahu lain yang bermuatan hiasan dan perbekalan peringatan Tahun Baru didayung lewat dengan cepat, ia me­natapnya dan pikirnya, “Sekarang, walaupun betul-betul bertemu dengan Musashi…” Matanya yang resah berlinang, dan tumpahlah air matanya. Tak seorang pun tahu, betapa besar harapannya terhadap pagi Tahun Baru itu, ketika ia akan bertemu dengan Musashi di Jembatan Besar Jalan Gojo.

Kerinduannya kepada Musashi tumbuh semakin dalam dan semakin kuat. Benang cinta telah memanjang, dan menggulung menjadi bola di dalam dadanya. Bertahun-tahun la terus memintal benang kenangan, jauh dari remah-remah berita yang didengarnya, dan menggulungnya pada bola itu serta menjadikan benang itu lebih panjang dan lebih besar. Sampai beberapa hari lalu ia tetap mengagungkan kegadisannya dan terus membawa­bawanya seperti bunga liar segar dari lereng Gunung Ibuki. Tapi kini kembang di dalam dirinya telah hancur. Walaupun kurang kemungkinannya tiap orang mengetahui kejadian itu, terbayang olehnya setiap orang me­mandang kepadanya dengan mata maklum.

Di Kyoto, dalam cahaya petang yang memudar itu, Akemi berjalan di antara pohon-pohon liu tak berdaun dan pagoda-pagoda mini Teramachi dekat Jalan Gojo dengan wajah dingin dan murung, seperti kupu-kupu di musim dingin.

“Hei, gadis cantik!” tegur seorang lelaki. “Tali obi-mu lepas. Bagaimana kalau kuikatkan?” Orang itu kurus, pakaiannya jembel, dan bicaranya kurang ajar, tapi ia menyandang dua pedang samurai.

Akemi belum pernah melihatnya, tapi para langganan tempat-tempat minum sekitar itu tentu dapat mengatakan kepadanya nama orang itu, Akakabe Yasoma. Pada malam-malam musim dingin ia biasa bergelandangan di jalan-jalan gelap. Sandal jeraminya yang sudah usang mendetap-detap ketika ia berlari ke belakang Akemi dan menangkap ujung tali obi Akemi yang terlepas.

“Apa kerjamu sendirian di tempat ini? Kamu bukan bangsanya perempuan­perempuan gila yang suka main sandiwara Kyoken itu, kan? Wajahmu manis. Kenapa tidak kamu tata rambutmu sedikit, dan jalan macam gadis-­gadis lain?”

Akemi berjalan terus, pura-pura tak bertelinga, tapi Yasoma mengiranya malu. “Kamu kelihatannya gadis kota. Apa kerjamu? Lari dari rumah? Atau suamimu mau kamu tinggalkan?”

Akemi tak menjawab.

“Gadis manis macam kau mesti hati-hati berkeliaran tak menentu, seperti lagi dalam kesulitan atau semacam itu. Kamu belum tahu apa yang bisa terjadi. Di sini tak ada pencuri atau bajingan, macam yang berkeliaran seperti Rashomon. Tapi di sini banyak bromocorah yang segera mengocor air liurnya kalau lihat perempuan. Juga gelandangan, dan orang-orang yang suka jual-beli perempuan.”

Walau Akemi tak mengucapkan sepatah kata pun, Yasoma terus ngotot, dan bila diperlukan ia pun menjawab pertanyaan-pertanyaannya sendiri.

“Betul-betul bahaya. Kata orang, perempuan Kyoto dijual dengan harga tinggi di Edo sekarang. Dulu orang biasa membawa perempuan dari sini ke Hiraizumi di timur laut sana, tapi sekarang ke Edo. Sebabnya shogun kedua, Hidetada, sedang membangun kota itu secepat mungkin. Rumah-­rumah pelesiran di Kyoto semua buka cabang di sana sekarang.”

Akemi diam saja.

“Kamu tampak mencolok di mana saja, karena itu mesti hati-hati. Kalau tidak awas, kamu bisa terlibat dengan bajingan. Betul-betul bahaya!”

Maka habislah kesabaran Akemi. Sambil menyampirkan lengan kimononya ke bahu dengan marah, ia menoleh dan mendesis keras kepada Yasoma. Yasoma hanya tertawa. “Percaya tidak, kupikir kamu ini betul-betul gila!”

“Diam, dan pergi dari sini!”

“Kamu memang gila, ya?”

“Kamu yang gila!”

“Ha, ha, ha! Itu namanya membuktikan! Kamu gila. Kasihan.”

“Kalau kamu tidak pergi, kulempar batu!”

“Ah, kamu main-main saja, kan?”

“Pergi kamu, binatang!” Kedok angkuh yang dikenakannya itu memang untuk menutupi rasa takut yang dirasakannya. Dibentaknya Yasoma, lalu ia lari masuk ladang miskantus, bekas tempat bersemayam Yang Dipertuan Komatsu dan kebunnya yang penuh lentera batu. Akemi seolah berenang di tengah tanaman yang berayun-ayun itu.

“Tunggu!” teriak Yasoma, mengejarnya seperti anjing pemburu.

Di atas Bukit Toribe bulan petang membubung seperti setan betina yang menyeringai liar.

Tak seorang pun kelihatan di sekitar. Orang terdekat di tempat itu jaraknya sekitar tiga ratus meter. Mereka adalah rombongan yang pelan­-pelan menuruni bukit, tapi mereka tidak bakal datang menyelamatkan Akemi, sekalipun mendengar pekikannya, karena mereka sedang kembali dari penguburan. Mereka mengenakan pakaian putih, topi berpita putih pula, dan memegang tasbih. Sebagian masih menangis.

Tiba-tiba Akemi didorong tajam dari belakang, terantuk, dan jatuh.

“Oh, maaf,” kata Yasoma. Ia terjatuh menimpa Akemi, dan terus juga meminta maaf. “Sakit, ya?” tanyanya sok baik, sambil mendekap Akemi.

Mendidih karena marah, Akemi menampar wajahnya yang berjenggot, tapi tamparan itu tidak membuat ia mundur, bahkan ia kelihatan senang. Ia melirik dan menyeringai ketika Akemi memukul, kemudian ia dekap Akemi lebih erat dan ia gosokkan pipinya ke pipi Akemi. Hampir Akemi tak dapat bernapas. Ia cakar Yasoma dengan sekenanya, dan kebetulan salah satu kukunya mencakar bagian dalam hidung Yasoma, hingga darah me­mancar. Namun Yasoma tidak mengendurkan pelukannya.

Lonceng Gedung Amida di Bukit Toribe memperdengarkan lagu pe­nguburan, suatu ratapan atas kefanaan dan kesia-siaan hidup. Tapi lonceng itu tidak membawa kesan kepada dua orang yang sedang bergumul itu. Miskantus layu berayun-ayun hebat terkena gerakan mereka.

“Tenanglah, jangan melawan lagi,” mohon Yasoma. “Tak ada yang mesti ditakutkan. Kamu bisa jadi calon istriku. Kamu suka, kan?”

Akemi menjerit, “Aku cuma ingin mati!” Derita dalam suaranya me­ngejutkan Yasoma.

“Kenapa? Apa soalnya?” gagapnya.

Posisi Akemi meringkuk. Tangan, lutut, dan dada yang terikat erat jadi satu itu mirip kuncup bunga sasankua. Yasoma menghibur dan membujuk, dengan harapan dapat meredakan Akemi dan menundukkannya. Rupanya bukan pertama kali ini ia menjumpai keadaan semacam itu. Sebaliknya, kelihatannya ia menyukainya, karena wajahnya bersinar senang, tapi tetap menyimpan ancaman. Ia tidak terburu-buru. Seperti kucing, ia menikmati permainan dengan korbannya.

Jangan menangis,” katanya. “Tak ada yang mesti ditangiskan, kan?” Sambil memberi ciuman di telinga, ia melanjutkan, “Kamu mestinya sudah pernah dengan lelaki. Gadis seumurmu tak mungkin masih suci.”

Seijuro. Akemi pun teringat, betapa ia pernah tercekik dan menderita, betapa sosok shoji itu mengabur di depan matanya.

“Tunggu!” kata Akemi.

“Tunggu? Baik, aku akan tunggu,” kata Yasoma, yang mengira panas tubuh Akemi yang seperti demam itu panas nafsu. “Tapi jangan coba-coba kamu lari. Aku bisa jadi kasar.”

Sambil menggerutu tajam Akemi menggeliatkan bahunya dan mengibaskan tangan Yasoma. Ia menatap wajah Yasoma dan bangkit pelan-pelan. “Mau berbuat apa kamu padaku?”

“Kamu tahu keinginanku!”

“Kaupikir kau dapat menggarap perempuan seperti orang tolol, kan? Kalian orang lelaki semuanya begitu! Nah, aku memang perempuan, tapi aku punya keberanian.” Darah merembes keluar dari bibir Akemi yang tergores daun miskantus. Sambil menggigit bibir itu, ia kembali mengucurkan air mata.

“Bicaramu aneh,” kata Yasoma. “Tak mungkin lain, kamu pasti gila.”

“Terserah aku mau bicara apa!” jerit Akemi. Ia tolakkan dada Yasoma dengan segala kekuatannya, kemudian ia tinggalkan tempat itu, menempuh padang miskantus yang menghampar sejauh mata memandang dalam sinar bulan.

“Pembunuh! Tolong! Pembunuh!”

Yasoma menyergapnya. Belum lagi Akemi mencapai sepuluh langkah, Yasoma sudah menangkapnya dan menjatuhkannya kembali. Kaki Akemi yang putih tampak di bawah kimononya, rambutnya membelit muka, dan ia tergeletak dengan pipi tertempel ke tanah. Kimononya setengah terbuka, dan buah dadanya yang putih merasakan angin dingin.

Baru saja Yasoma akan menerkamnya, sesuatu yang keras mendarat di dekat telinganya. Darah muncrat ke kepala dan ia menjerit kesakitan. Ketika ia menoleh untuk melihat, benda keras itu datang lagi menghantam puncak kepalanya. Kali ini tak mungkin lagi ia merasa sakit, karena ia segera jatuh pingsan, kepalanya bergoyang kosong seperti kepala macan kertas. Ia tergeletak dengan mulut menganga.

Penyerangnya, seorang pendeta pengemis, berdiri di atasnya, memegang shakuhachi yang tadi dipergunakannya memukul.

“Binatang jahat!” katanya. “Tapi ternyata lebih mudah mengalahkannya daripada yang kusangka.” Pendeta itu memandang Yasoma beberapa waktu lamanya, ragu-ragu apakah lebih baik ia membunuhnya sekaligus, sebab kalaupun sadar kembali, orang itu tak bakal dapat waras kembali.

Akemi menatap kosong kepada penyelamatnya. Kecuali shakuhachi, tak ada hal lain yang dapat menunjukkan bahwa ia pendeta. Melihat pakaiannya yang kotor dan pedang yang tergantung di pinggangnya, barangkali ia samurai melarat atau bahkan pengemis.

“Aman sekarang,” katanya. “Kamu tak perlu kuatir lagi.”

Setelah pulih dari bingungnya, Akemi mengucapkan terima kasih ke­padanya dan mulai meluruskan rambut dan kimononya. Namun ia me­mandang kegelapan di sekitarnya dengan mata masih ketakutan.

“Di mana kau tinggal?” tanya pendeta itu.

“Ya? Tinggal?… Maksud Bapak, di mana rumah saya?” kata Akemi sambil menutup muka dengan tangan. Disertai sedu sedannya, Akemi mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan orang itu, tapi ia merasa tak dapat berlaku jujur sepenuhnya. Sebagian dari yang disampaikannya pada orang itu memang benar-ibunya lain dengan dirinya, ibunya mencoba menukarkan d:rinya dengan uang, dan la lari ke sini dari Sumiyoshi-tapi selebihnya dikarangnya seketika itu juga.

“Lebih baik saya mati daripada pulang,” lolongnya. “Banyak beban Ibu yang mesti saya tanggung! Saya sudah dipermalukan dengan berbagai macam cara! Bahkan ketika masih kecil, saya sudah mesti pergi ke medan pertempuran buat mengambil barang-barang dan tubuh prajurit yang tewas.”

Kebencian terhadap ibunya membuat tulang-tulangnya gemetar.

Aoki Tanzaemon membantunya menyingkir ke sebuah lembah kecil, di mana keadaan tenang dan angin tidak begitu dingin. Sampai di sebuah kuil kecil yang sudah runtuh, ia menyeringai, dan katanya, “Di sini aku tinggal. Semuanya serba seadanya, tapi aku suka di sini.”

Akemi sadar, pertanyaan berikut ini sedikit kasar, tapi ia tak dapat tidak menyampaikannya, “Bapak betul-betul tinggal di sini?”

Tanzaemon membuka pintu berjeruji dengan mendorongnya dan mem­persilakan Akemi masuk. Akemi ragu-ragu.

“Di dalam lebih hangat daripada yang kauduga,” katanya. “Buat tutup lantai, aku cuma punya tikar jerami tipis. Tap itu lebih baik daripada tak ada. Kau takut padaku seperti pada binatang di sana tadi?”

Akemi menggeleng diam. Tanzaemon tidak membuatnya takut. Ia yakin orang itu orang baik, lagi pula sudah cukup umur. Ia terka umurnya sudah lebih dari lima puluh. Yang membuatnya mundur adalah kotornya kuil kecil itu dan bau tubuh serta pakaian Tanzaemon. Tapi ia tak dapat pergi ke tempat lain, belum lagi kalau Yasoma atau orang lain semacamnya menemukannya, padahal kepalanya masih menyala oleh demam.

“Apa saya tidak mengganggu Bapak?” tanyanya ketika ia mendaki anak tangga.

“Sama sekali tidak. Tak ada yang keberatan, biar engkau tinggal di sini beberapa bulan.”

Bangunan itu hitam legam, tempat yang cocok buat kelelawar.

“Tunggu sebentar,” kata Tanzaemon.

Terdengar oleh Akemi suara goresan logam pada batu api, dan sebuah lampu kecil memancarkan sinar lemah. Entah dari mana dipungutnya lampu itu. Akemi menoleh ke sekitar, dan tampak olehnya orang aneh itu ternyata telah mengumpulkan berbagai alat kebutuhan rumah tangga yang pokok-satu-dua buah kuali, beberapa pinggan, bantal kayu, dan tikar jerami. Ia bilang akan membuat sedikit bubur soba untuk Akemi, dan mulai meromet dengan anglo tanahnya yang sudah pecah. Mula-mula dimasukkannya sedikit arang, kemudian beberapa bilah kayu, dan akhirnya naiklah bunga-bunga api. Api menyala.

“Orang tua yang baik,” pikir Akemi. Sesudah mulai merasa lebih tenang, Akemi merasa tempat itu tidak lagi kotor.

“Nah, nah,” kata Tanzaemon. “Kaubilang cuma capek, padahal kelihat­annya kau demam. Barangkali masuk angin. Lebih baik kau berbaring di sana, menunggu makanan siap.” Ia menuding ke kasur darurat dari jerami dan kantong beras.

Akemi menebarkan kertas yang ada padanya di atas bantal kayu, dan berbaringlah ia sesudah menggumamkan permintaan maaf karena ia beristi­rahat, sementara Tanzaemon bekerja. Sebagai selimut dipergunakannya sisa­sisa kelambu yang sudah compang-camping. Kelambu itu ditutupkannya ke badannya, tapi justru ketika itu seekor binatang dengan mata gemerlap meloncat dari bawahnya dan melompati kepalanya. Akemi menjerit mem­benamkan muka ke kasur.

Tanzaemon lebih kaget lagi. Kantong tepung yang sedang dituangkannya ke air terjatuh, hingga setengahnya tercurah ke lututnya. “Apa itu?” teriaknya.

Akemi menjawab sambil terus menyembunyikan wajah, “Entahlah, ke­lihatannya lebih besar dari tikus.”

“Barangkali bajing. Kadang-kadang memang datang kalau bau makanan. Tapi mana?”

Sambil mengangkat kepala sedikit, kata Akemi, “Itu dia!” “Di mana?”

Tanzaemon menegakkan badan dan menoleh ke sekitar. Seekor monyet kecil bertengger di atas susuran tempat semadi bagian dalam, yang sudah lama tak berpatung Budha lagi. Monyet itu meringkuk ketakutan oleh pandangan tajam Tanzaemon.

Tanzaemon tampak terheran-heran, tapi monyet itu tidak kelihatan takut. Sesudah beberapa kali meloncat naik-turun susuran yang warna merahnya sudah pudar, ia duduk kembali. Ia perlihatkan mukanya yang seperti buah persik berbulu panjang, dan mulai mengedip-ngedipkan mata.

“Dari mana dia datang, menurutmu?… Aha! Aku tahu sekarang. Kalau tak salah, tadi beras berceceran.” Ia bergerak mendekati monyet itu. Melihat ia mendekat, monyet itu melompat ke belakang tempat semadi dan bersembunyi.

“Setan kecil mungil,” kata Tanzaemon. “Kalau kita beri dia makan sedikit, barangkali dia tak akan bertingkah. Mari kita biarkan dia.” Ia kibaskan tepung dari lututnya, dan kembali ia duduk di depan anglo. “Tak ada yang perlu ditakutkan, Akemi. Istirahatlah.”

“Apa menurut Bapak dia baik?”

“Ya. Monyet ini bukan monyet liar. Tentunya milik seseorang. Tak perlu kita kuatir. Apa sudah cukup hangat?”

Ya.”

“Kalau begitu, tidurlah. Itulah obat terbaik buat melawan masuk angin.”

Ia tuangkan lagi tepung di dalam air, dan ia aduk bubur itu dengan sumpit. Api menyala-nyala sekarang. Sementara adonan memanas, Tanzaemon mengiris-iris brambang. Daun meja tua dipakainya sebagai talenan, dan pisaunya belati kecil berkarat. Dengan tangan yang tidak dibasuh ia gusurkan brambang itu ke dalam mangkuk kayu, kemudian ia bersihkan talenan dan ia ubah menjadi baki.

Gejolak dalam kuali yang sedang mendidih berangsur-angsur memanaskan ruangan. Sambil duduk merangkum lutut yang kurus, bekas samurai itu memandang air kaldunya dengan mata lapar. Ia memandang dengan perasaan bahagia dan penuh hasrat, seakan-akan kuali di hadapannya itu berisi kenikmatan tertinggi umat manusia.

Lonceng Kiyomizudera berdentang seperti kebiasaannya tiap malam. Kerasnya udara musim dingin yang berlangsung tiga puluh hari sudah berakhir, dan Tahun Baru sudah dekat, tapi seperti biasa kalau tahun akan berakhir, beban jiwa orang banyak tampak semakin besar. Sampai jauh malam para pemohon berkah masih terus membunyikan gong timah di atas pintu masuk kuil. Mereka membungkuk berdoa, dan lagu-lagu bernada tinggi yang menyerukan minta pertolongan sang Budha mendengung mem­bosankan.

Sambil mengaduk bubur pelan-pelan agar tidak gosong, Tanzaemon melamun. “Aku telah menerima hukuman dan bertobat atas dosa-dosaku, tapi apa yang terjadi dengan Jotaro? Tak ada perbuatan anak itu yang salah. Oh, Kannon yang terberkati, aku mohon, hukumlah orang tua ini karena dosa-dosanya, tapi layangkanlah pandangan penuh kecintaan kepada anak…”

Suatu jeritan tiba-tiba melengking melengkapi doanya. “Binatang kamu!” Mata Akemi masih terpejam, wajahnya menempel erat ke bantal kayu, tapi ia menangis sedih. Ia terus mengigau, sampai bunyi suaranya sendiri mem­bangunkannya.

“Apa saya mengigau?” tanyanya.

“Ya, bikin aku terkejut,” kata Tanzaemon. Ia datang ke sisi tempat tidur dan menghapus dahi Akemi dengan gombal sejuk. “Keringatmu luar biasa. Tentunya demam.”

Saya… saya… bilang apa?”

“Oh, banyak.”

Apa saja?” Wajah Akemi yang demam jadi bertambah merah karena malu. Ia tarik selimut untuk menutupinya.

Tanzaemon tidak menjawab langsung, tapi katanya, “Akemi, ada lelaki yang ingin kau kutuk, ya?”

Apa saya mengatakannya?”

°Hm. Apa yang terjadi? Apa dia meninggalkanmu?”

“Tidak. “

“Oh, begitu,” kata Tanzaemon mengambil kesimpulan sendiri.

Sambil menggeser badannya ke atas hingga setengah duduk, Akemi berkata, “Oh, apa yang mesti saya lakukan sekarang? Tolonglah, katakan.” Ia sudah bersumpah takkan mengungkapkan aib yang menjadi rahasianya itu pada siapa pun, tapi kemarahan, kesedihan, dan rasa kehilangan yang terpendam dalam dirinya demikian hebat untuk ditanggung sendirian. Ia meringkuk di lutut Tanzaemon dan mengungkapkan seluruh riwayatnya, sambil tersedu-sedu dan meratap.

“Oh,” lolongnya akhirnya. “Aku ingin mati, mati! Biarlah aku mati!”

Napas Tanzaemon menjadi panas. Begitu lama ia tidak begini dekat dengan perempuan. Bau perempuan itu membakar lubang-lubang hidungnya, juga matanya. Hasrat tubuh, yang menurut persangkaannya sudah dapat diatasinya, kini mulai membengkak akibat masuknya darah panas. Tubuhnya yang sampai waktu itu tidak lebih dari sebatang pohon mandul kini mulai memperlihatkan hidup baru. Sebagai gantinya, ia teringat bahwa di balik tulang rusuknya bersemayam paru-paru dan jantung.

“Mm,” gumamnya. “Jadi, begitu macamnya Yoshioka Seijuro.” Dan kebencian hebat terhadap Seijuro menggelegak di dalam dirinya. Bukan hanya kemarahan. Semacam rasa cemburu menggerakkannya untuk me­ngetatkan pelukan, seakan-akan anak perempuannya sendiri yang diperkosa. Sementara Akemi menggeliat berurai air mata di lututnya. ia merasa memperoleh keakraban, dan pandangan bingung merayapi wajahnya.

“Sudah, sudah, jangan menangis lagi. Hatimu masih suci. Engkau tidak membiarkan lelaki itu menggaulimu dan tidak membalas cintanya. Yang penting pada seorang perempuan bukan tubuhnya, tapi hatinya, dan ke­murnian adalah soal batin. Sebaliknya, kalau seorang perempuan tidak menyerahkan diri pada seorang lelaki, namun memandang lelaki itu dengan bernafsu, dia menjadi tidak murni dan tidak bersih, setidak-tidaknya selama perasaan itu berlangsung.

“Sudahlah, sudah. Jangan menangis lagi,” kata Tanzaemon lagi, menepuk punggung Akemi. Tetapi geletar leher Akemi yang putih itu tidak me­mungkinkan ia menunjukkan simpati yang tulus. Kulit yang lembut itu, yang demikian manis baunya, telah dicuri lelaki lain.

Tapi tepat waktu itu si monyet menyelinap ke kuali dan menyantap isinya, maka tanpa basa-basi Tanzaemon memindahkan kepala Akemi dari lututnya. Ia ayunkan tinjunya dan ia kutuk binatang itu sehabis-habisnya. Makanan jelas lebih penting daripada penderitaan seorang perempuan.

Pagi berikutnya Tanzaemon menyatakan akan pergi ke kota membawa mangkuk pengemisnya.”Engkau tinggal di sini selama aku pergi,” katanya. “Aku mesti cari uang buat membelikanmu obat, dan lagi kita butuh beras dan minyak, agar dapat makan panas.”

Topinya bukan topi tinggi yang dianyam dari gelagah seperti biasa dipakai kebanyakan pendeta pengembara, melainkan dari bambu biasa, dan sandal jeraminya yang sudah lusuh dan belah di tumit mencakar-cakar tanah selagi ia berjalan. Tidak hanya kumisnya, melainkan segala yang ada padanya menampilkan kemesuman. Namun, biarpun tampangnya seperti pengejut burung, ia biasa pergi tiap hari, kecuali kalau hujan.

Karena tak nyenyak tidur, pagi itu matanya tampak muram sekali. Sesudah menangis berkepanjangan malam itu, Akemi sempat menyantap bubur hingga bercucuran keringat, dan ia tidur nyenyak. Sampai fajar, Tanzaemon hampir tak memejamkan mata. Bahkan ketika berjalan di bawah matahari pagi yang cemerlang, penyebab kurang tidurnya tetap bertahan. la tak dapat mengusirnya dari pikiran.

“Hampir sama umurnya dengan Otsu,” pikirnya. “Tapi wataknya sama sekali berlainan. Pada Otsu ada keanggunan dan kehalusan budi, tapi terasa dingin. Sedangkan Akemi merangsang, baik sedang tertawa, menangis, atau cemberut.”

Umur muda di dalam sel-sel tubuh Tanzaemon yang sudah mengering itu bangkit oleh sinar tajam pesona Akemi. Perasaan itu membuatnya sadar akan umurnya. Semalam, sementara ia memandang penuh hasrat kepada Akemi, yaitu selagi gadis itu bergerak dalam tidurnya, peringatan lain memperdengarkan diri dalam hatinya. “Sungguh aku orang tolol yang sial! Apa belum juga aku belajar? Biarpun aku memakai jubah pendeta dan memainkan shakuhachi pengemis, masih jauh aku dari memperoleh pen­cerahan P’u-hua yang jernih dan sempurna. Tak pernahkah aku akan menemukan kebijaksanaan yang akan membebaskan diriku dari tubuh ini?”

Sesudah menghukum dirinya berkepanjangan, ia memaksa matanya yang sedih memejam dan mencoba tidur, tapi sia-sia.

Di waktu fajar, sekali lagi ia memutuskan, “Aku mau dan harus me­ninggalkan pikiran-pikiran jahat!” Tapi Akemi itu gadis yang memesona dan demikian menderita. Ia harus mencoba menyenangkan hatinya. Ia harus memperlihatkan pada gadis itu, bahwa tidak semua lelaki di dunia ini setan-setan nafsu.

Disamping obat, ia memikirkan hadiah macam apa yang akan dibawa­kannya untuk Akemi kalau ia pulang malam nanti. Selama mengemis sepanjang hari itu, semangatnya terdorong oleh keinginan melakukan sesuatu untuk membuat Akemi sedikit lebih bahagia. Cukuplah itu. Ia tidak mendambakan hasrat yang lebih besar.

Kira-kira ketika ia sudah memperoleh ketenangan kembali, dan ketika warna merah sudah kembali ke wajahnya, terdengar olehnya kepak-kepak sayap di atas karang terjal di sampingnya. Bayangan elang pemburu yang besar meluncur, dan tampaklah oleh Tanzaemon bulu cokelat seekor burung kecil menggeletar turun dari sebuah cabang pohon ek di tengah belukar tak berdaun di atasnya. Sambil mencengkeram burung kecil itu, elang pemburu membubung ke udara, memperlihatkan bagian bawah sayapnya.

Tidak jauh dari situ terdengar orang mengatakan, “Sukses!” Dan pemilik elang bersuit kepada burungnya.

Beberapa detik kemudian Tanzaemon melihat dua orang berpakaian pemburu turun bukit di belakang Ennenji. Elang itu bertengger di tinju kiri seorang dari mereka yang menyandang kantong rajut buat tangkapannya di sisi pinggang yang berlawanan dengan kedua pedangnya. Seekor anjing pemburu yang tampak cerdas dan cokelat warnanya menderap di belakang­nya.

Kojiro berhenti dan memperhatikan sekitarnya. “Kira-kira di sini kejadi­annya kemarin petang,” katanya. “Monyetku berkelahi dengan anjing, dan anjing itu menggigit ekornya. Dia lalu sembunyi dan tak muncul lagi. Terpikir olehku sekarang, apa dia tidak berada di atas salah satu pohon itu.”

Seijuro tampak agak tak puas. Ia duduk di sebuah batu. “Mengapa pula dia mesti terus di sini? Dia kan punya kaki? Dan lagi, aku tak mengerti kenapa Anda membawa-bawa monyet, padahal Anda berburu dengan elang.”

Kojiro duduk seenak mungkin di akar sebatang pohon. “Oh, aku tidak membawanya, tapi aku tak dapat mencegahnya ikut. Dan aku begitu terbiasa dengan dia, hingga rasanya kehilangan kalau dia tak ada.”

“Tadinya aku menyangka cuma perempuan dan orang yang suka melengah waktu yang menyukai monyet dan anjing timangan, tapi ternyata sangkaanku keliru. Sukar dibayangkan bahwa seorang prajurit seperti Anda begitu terikat pada seekor monyet.” Sesudah melihat Kojiro beraksi di tanggul Kema itu, Seijuro sungguh menghargai keahliannya bermain pedang, tetapi selera dan cara hidupnya pada umumnya kelihatan terlampau kekanak-­kanakan. Sesudah tinggal serumah dengannya beberapa hari itu, yakinlah Seijuro bahwa kematangan dicapai bersamaan dengan bertambahnya umur. Sukar baginya menghormati Kojiro sebagai pribadi, tapi dalam hal tertentu hal itu mempermudah ia berhubungan dengan pemuda ini.

Kojiro menjawab tertawa, “Sebabnya karena aku masih amat muda. Tak lama lagi aku akan belajar menyukai perempuan, baru sesudah itu barangkali aku akan melupakan monyet itu.”

Kojiro mengobrol dengan nada ringan, sebaliknya wajah Seijuro kelihatan makin lama makin prihatin. Matanya memperlihatkan sorot resah, hampir serupa dengan mata elang yang bertengger di tangannya. Mendadak katanya tak senang, “Apa kerja pendeta pengemis di sana itu? Dari tadi dia berdiri memandangi kita, sejak kita sampai di sini.”

Seijuro menatap Tanzaemon dengan curiga, dan Kojiro memutar badan untuk melihat.

Tanzaemon membalikkan badan dan pergi tertatih-tatih.

Tiba-tiba Seijuro berdiri. “Kojiro,” katanya, “aku mau pulang. Bagaimana­pun, mi bukan waktu buat berburu. Sekarang sudah tanggal dua puluh sembilan.”

Sambil tertawa dan dengan nada mencela, kata Kojiro, “Tapi kita pergi ini buat berburu, kan? Baru dapat seekor perkutut dan beberapa mural buat bukti. Kita mesti coba lebih jauh naik bukit.”

“Tidak, mari kita hentikan. Aku tak suka berburu sekarang, dan kalau aku tidak merasa senang, elang ini jadi tidak benar terbangnya. Mari pulang dan berlatih.” Kemudian tambahnya, seolah kepada diri sendiri, “Itulah yang kuperlukan, berlatih.”

“Nah, kalau Anda memang mesti pulang, aku ikut.” Ia berjalan di samping Seijuro, tapi tampak kurang senang. “Kupikir saranku keliru.”

“Saran apa?”

“Pergi berburu kemarin dan hari ini.”

“Sudahlah. Aku tahu Anda bermaksud baik. Cuma, ini akhir tahun, sedang pertarungan dengan Musashi semakin dekat.”

“Itu sebabnya menurutku baik kalau Anda pergi berburu. Anda dapat bersantai, supaya semangat Anda wajar. Tapi kukira Anda bukan orang ,vang dapat melakukan hal itu.”

“Hm. Semakin aku mendengar tentang Musashi, semakin aku cenderung untuk tidak menyepelekannya.”

“Apa itu bukan lebih merupakan alasan untuk menghindari keresahan dan kepanikan? Anda mesti mendisiplinkan semangat Anda.”

“Aku tidak panik. Pelajaran pertama dalam seni bela diri adalah tidak :nenganggap enteng musuh, dan kupikir masuk akal kalau kita mencoba banyak berlatih sebelum bertarung. Kalau mesti kalah, setidaknya aku tahu. Bahwa aku sudah mencoba sebaik-baiknya. Kalau orang itu memang lebih baik daripada aku, yah…”

Sekalipun Kojiro sangat menghargai ketulusan Seijuro, menurutnya dalam diri Seijuro terdapat kekerdilan semangat, dan ini menyulitkan Seijuro menjunjung tinggi nama baik Perguruan Yoshioka.

Karena Seijuro tidak memiliki visi pribadi yang diperlukan untuk meng­ikuti jejak ayahnya dan menyelenggarakan perguruan besar itu sebaik-baik­nya, maka Kojiro merasa kasihan kepadanya. Menurut pendapatnya, adik Seijuro, Denshichiro, lebih kuat wataknya, tapi Denshichiro seorang playboy yang sudah rusak. Sekalipun ia pemain pedang yang lebih mampu dibanding Seijuro, ia tak bisa diharapkan untuk mempertahankan nama Yoshioka.

Kojiro menginginkan Seijuro melupakan pertarungan dengan Musashi yang terus mendekat itu, karena menurut keyakinannya itulah persiapan terbaik baginya. Pertanyaan yang ingin dilontarkannya, namun tidak dilontarkannya adalah apa yang ingin dipelajari Seijuro sejak sekarang sampai saat pertandingan. “Yah,” demikian pikirnya pasrah, “Itulah dia. Kukira tak banyak yang bisa kubantu.”

Anjing itu lari dan kini menggonggong galak di kejauhan.

“Itu berarti dia menemukan mangsa!” kata Kojiro, dan matanya bercahaya.

“Biar dia pergi. Nanti toh menyusul kita.”

Akan kulihat. Anda tunggu di sini.”

Kojiro berlari cepat ke arah datangnya gonggongan, dan semenit dua menit kemudian terlihat olehnya anjing itu berada di beranda sebuah kuil kuno yang sudah bobrok. Binatang itu melompat-lompat ke pintu kisi-kisi yang bobrok, tapi berulang-ulang mundur kembali. Sesudah beberapa kali mencoba, ia mencakar-cakar tiang dan dinding bangunan berlak merah usang itu. Sambil bertanya-tanya dalam hati, apa gerangan yang membuat anjing itu demikian ribut, Kojiro pergi ke pintu lain. Melihat ke dalam kisi-kisi itu seperti melihat ke dalam jambangan lak hitam.

Derak-derik pintu yang dibukanya membuat anjing itu berlari meng­ikutinya sambil mengibas-ngibaskan ekor. Kojiro menendang pergi anjing itu, tapi tak banyak hasilnya. Dan ketika ia masuk, si anjing cepat berlari menyerobot.

Jeritan perempuan itu memekakkan telinga, sejenis jeritan yang dapat memecahkan kaca. Kemudian anjing itu melolong, dan terjadilah adu suara antara dia dan perempuan yang menjerit itu. Kojiro bertaya-tanya dalam hati, apakah tiang-tiang tak akan ambruk. Ia berlari maju, dan dilihatnya Akemi berbaring di bawah kelambu, sementara monyet yang melompat masuk dari jendela untuk menghindari anjing itu bersembunyi di bela­kangnya.

Akemi ada di antara anjing dan monyet, menghalangi jalan anjing. Karena itu anjing menyerangnya. Ketika Akemi berguling ke samping, lolongan anjing mencapai puncaknya.

Akemi kini menjerit bukan karena takut, tapi karena sakit. Anjing menggigit lengannya. Sambil menyumpah, Kojiro menendangnya lagi keras­-keras pada rusuknya. Anjing itu mati oleh tendangan pertama, tapi sesudah tendangan kedua pun giginya tetap mengatup erat ke lengan Akemi.

“Lepaskan! Lepaskan!” jerit Akemi sambil menggeliat di lantai.

Kojiro berlutut di sampingnya dan membuka paksa rahang anjing itu. Bunyinya seperti potongan-potongan kayu berlem yang dipisahkan satu dari yang lain. Mulut anjing itu terluka. Sedikit saja lagi tenaga Kojiro akan membuat kepala anjing itu belah menjadi dua. Ia lemparkan bangkai anjing itu ke luar pintu, lalu kembali ke sisi Akemi.

“Beres sekarang,” katanya menghibur, tapi lengan Akemi tampak parah. Darah yang mengalir di kulit putih itu membuat gigitan tersebut seperti bunga peoni besar berwarna merah tua.

Melihat itu, Kojiro menggigil. “Apa tak ada sake di sini? Nanti kubasuh dengan sake…. Oh ya, kukira tak ada sake di tempat seperti ini.” Darah hangat mengalir turun dari lengan ke pergelangan. “Akan kucoba,” katanya. “Kalau tidak, racun gigi anjing bisa bikin kau gila. Dia memang aneh tingkahnya beberapa hari terakhir ini.”

Sementara Kojiro menimbang-nimbang apa yang dapat diperbuatnva lekas-lekas, Akemi mengerutkan kening sampai alisnya menjadi satu, meng­geliatkan lehernya yang putih indah, dan teriaknya, “Gila? Oh, itu sungguh bagus! Itu yang saya inginkan—gila! Betul-betul gila sama sekali!”

“A-a-apa maksudmu?” gagap Kojiro. Dan tanpa banyak bicara lagi ia membengkokkan lengan Akemi dan mengisap darah dari lukanya. Ketika mulutnya penuh, ia ludahkan isinya dan ia lekatkan kembali ke kulit yang putih itu dan ia isap sampai pipinya menggelembung.

Malam hari Tanzaemon kembali dari perjalanan hariannya. “Aku pulang, Akemi,” katanya sambil masuk kuil, “Apa kau kesepian selagi aku pergi?”

Ia letakkan obat untuk Akemi di sudut, bersama makanan dan guci minyak yang dibelinya, dan katanya, “Tunggu sebentar, akan kunyalakan lampu.”

Ketika lilin sudah dinyalakan, ia lihat Akemi tak ada di dalam ruangan. “Akemi” panggilnya. “Ke mana perginya dia?”

Cinta sebelah tangan tiba-tiba berubah menjadi kemarahan, tapi kemudian cepat digantikan pula oleh kesepian. Seperti kejadian sebelumnya, Tanzaemon diingatkan bahwa ia takkan menjadi muda kembali, dan bahwa tak ada lagi padanya kehormatan, tak ada lagi harapan. Terpikir olehnya tubuhnya yang menua, dan ia menggerenyit.

“Aku sudah menyelamatkan dia dan merawatnya,” gerutunya, “tapi se­karang dia pergi tanpa pesan. Akan begitukah dunia ini selamanya? Memang begitukah dia? Atau masihkah dia curiga dengan maksud-maksudku?”

Di tempat tidur ia temukan potongan kain, jelas sobekan ujung obi Akemi. Bercak darah pada kain itu membangkitkan naluri binatangnya. Ia tendang tilam jerami itu ke udara dan ia lemparkan obat ke luar jendela.

Dalam keadaan lapar, namun tak ingin menyiapkan makanan, ia ambil shakuhachi, dan sambil mengeluh ia pergi ke beranda. Sekitar sejam lama­nva tak henti-henti ia bermain, mencoba mengusir keinginan dan angan-­angannya. Namun jelas baginya, nafsu-nafsu dalam dirinya tetap dan akan tinggal dengannya sampai ia mati. “Akemi sudah diambil lelaki lain,” renungnya. “Kenapa pula kemarin aku mesti begitu bermoral dan jujur? Tak ada gunanya aku berbaring sendirian, merana sepanjang malam.”

Separuh dirinya menyesal karena ia tidak berbuat, tapi separuh lagi mengutuk hasratnya yang bejat. Justru konflik emosi yang tanpa henti­hentinya bergejolak dalam nadinya itulah yang oleh sang Budha disebut nafsu. Sekarang ia sedang mencoba membasuh dirinya yang tidak murni, tapi semakin ia berusaha, semakin keruh nada shakuhachi yang dimainkannya.

Pengemis yang tidur di bawah kuil itu melongokkan kepalanya dari bawah beranda. “Kenapa kau main suling?” tanyanya. “Apa ada kejadian yang menyenangkan? Kalau kau bawa banyak uang dan beli sake, bagaimana kalau aku minta minum?” Orang itu pincang, dan dari sudut pandangnya yang hina, Tanzaemon hidup seperti raja.

Apa kau tahu, apa yang terjadi dengan gadis yang kubawa semalam?”

“Manis juga cewek itu, ya? Kalau aku bisa, takkan kubiarkan dia pergi. Tak lama sesudah kau pergi tadi, seorang samurai muda yang pakai kuncung dan pedang raksasa membawanya pergi. Juga monyet itu. Yang satu dipikul di kiri, yang lain di kanan.”

“Samurai… kuncung?”

“Ya. Dan bukan main tampannya anak itu, jelas lebih tampan daripada kau dan aku!”

Humor kalimat tersebut membuat pengemis itu tertawa terbahak-bahak.

Pengumuman
SEIJURO tiba kembali di sekolah dalam keadaan murung. Ia sorongkan elangnya ke tangan seorang murid, dan dengan singkat ia perintahkan murid itu memasukkannya kembali ke sangkarnya.

“Kojiro tidak bersama Tuan?” tanya murid itu.

“Tidak, tapi aku yakin sebentar lagi dia datang.”

Sesudah mengganti pakaian, Seijuro duduk di kamar tamu. Di seberang, halaman ada dojo besar yang sudah ditutup sejak latihan terakhir tanggal dua puluh lima. Selama setahun itu sekitar seribu orang murid pergi-datang. Dojo takkan dibuka lagi sampai datangnya masa latihan pertama Tahun Baru. Karena pedang-pedang kayu tak berbunyi, rumah jadi terasa sunyi dan dingin.

Seijuro ingin sekali berpasangan latihan dengan Kojiro, karena itu ber­ulang-ulang ia bertanya kepada muridnya, apakah Kojiro sudah kembali. Tapi Kojiro tidak kembali, tidak juga malam itu, dan hari berikutnya.

Tamu-tamu lain, sebaliknya, datang dengan paksa, karena itu hari terakhir rahun ini, yaitu hari untuk membereskan semua rekening. Bagi orang-orang rang bergerak dalam bidang usaha, persoalannya adalah menagih sekarang atau menanti sampai pesta Bon musim panas berikut. Karena itu, tengah hari kamar depan penuh penagih rekening. Biasanya orang-orang itu memperlihat­kan wajah patuh sepenuhnya di hadapan samurai, tapi kini kesabaran mereka sudah habis. Mereka mengambil sikap blak-blakan dan menggunakan istilah-istilah jelas.

“Apa tak bisa Bapak paling tidak membayar sebagian utang?”

Bapak selalu bilang, orang yang bertugas sedang keluar, atau guru sedang pergi selama beberapa bulan ini. Apa Bapak kira Bapak bisa me­nangguhkan selamanya?”

Berapa kali kami mesti datang kemari?”

Pak Guru yang tua dulu langganan yang baik. Saya takkan mengatakan apa-apa kalau cuma untuk setengah tahun terakhir, tapi tengah tahun pun Bapak belum bayar. Oh, bahkan dari tahun lalu ada rekening-rekening yang tak terbayar!”

Beberapa orang dengan tak sabar mengetuk-ngetuk buku rekeningnya dan menyodorkannya ke bawah hidung murid itu. Mereka itu tukang kayu, tukang plester, tukang beras, pedagang sake, penjahit pakaian, dan macam­macam warung teh di mana Seijuro makan dan minum dengan berutang. Tapi semua itu cuma kecil saja, dan tagihan mereka tidak seberapa dibandingkan dengan tagihan dari para lintah darat. Tanpa sepengetahuan kakaknya. Denshichiro meminjam uang tunai pada mereka.

Setengah lusin di antara orang-orang itu tetap duduk, menolak meninggal­kan tempat.

“Kami mau bicara dengan Seijuro sendiri. Menghabiskan waktu saja bicara dengan murid-murid.”

Seijuro menyendiri di belakang rumah. Pesannya hanyalah, “Katakan pada mereka, aku pergi.” Denshichiro tentu saja takkan berada dekat-dekat rumah pada hari seperti itu. Wajah paling mencolok yang tidak kelihatan adalah wajah orang yang bertanggung jawab atas buku perguruan dan rekening rumah tangga, Gion Toji. Beberapa hari sebelumnya ia melarikan diri dengan Oko beserta semua uang yang telah dihimpunnya dalam perjalanan ke barat.

Tak lama kemudian, enam atau tujuh orang berjalan petentengan masuk, dipimpin Ueda Ryohei. Dalam keadaan demikian memalukan pun Ueda Ryohei tetap merasa bangga menjadi seorang di antara Sepuluh Pemain Pedang Keluarga Yoshioka. Dengan pandangan mengancam ia bertanya, “Apa yang terjadi di sini?”

Murid itu memberikan ikhtisar singkat, walaupun berusaha menyatakan bahwa menurut anggapannya penjelasan tidaklah perlu.

“Cuma itu?” tanya Ryohei mencela. “Jadi, ini cuma rombongan buaya duit? Apa bedanya? Toh akhirnya akan dibayar. Suruh orang-orang yang tak mau tunggu pembayaran itu masuk ruang latihan. Akan kubicarakan dengan mereka menurut bahasaku sendiri.”

Mendengar ancaman ini tukang tagih rekening jadi sebal. Karena kejujuran Yoshioka Kempo dahulu dalam persoalan uang, belum lagi karena keduduk­annya sebagai instruktur militer untuk para shogun Ashikaga, para penagih rekening sangat hormat pada Keluarga Yoshioka, mau menyembah-nyembah, mau meminjamkan barang dan segalanya, mau datang apabila dipanggil dan pergi apabila disuruh pergi, dan mau mengatakan ya mengenai segala soal. Tapi ada batasnya sampai berapa lama mereka mesti menjilat prajurit-­prajurit kosong ini. Begitu mereka membiarkan dirinya digertak dengan ancaman seperti yang dilontarkan Ryohei, begitu kelas saudagar akan terusir dari dunia usaha. Padahal tanpa mereka, apa yang dapat dilakukan kaum samurai? Apa mereka menyangka dapat menjalankan segalanya itu sendiri?

Sementara mereka berdiri bergerombol sambil menggerutu, Ryohei menyatakan terang-terangan bahwa menurut anggapannya mereka itu cuma sampah. “Ya sudah, pulang kalian sekarang! Menggerombol di sini tak ada gunanya buat kalian.”

Para saudagar terdiam, tapi tak bergerak meninggalkan tempat. “Usir mereka keluar!” teriak Ryohei.

“Pak, ini keterlaluan!”

“Apanya yang keterlaluan?” tanya Ryohei.

“Sama sekali tak bertanggung jawab!”

“Siapa bilang tak bertanggung jawab?”

“Tapi mengusir kami keluar itu tak bertanggung jawab!”

“Kalau begitu, kenapa kalian tidak pergi baik-baik? Kami sibuk di sini.”

“Kami takkan mengemis di sini kalau ini bukan hari terakhir tahun ini. Kami butuh uang buat menutup utang-utang kami sendiri sebelum hari ini habis.”

“Berat. Berat sekali. Sekarang pergi kalian!”

“Bukan begini cara memperlakukan kami!”

“Kupikir sudah cukup aku mendengar keluhan kalian!” Suara Ryohei menjadi marah lagi.

“Tak seorang pun akan mengeluh kalau Bapak mau bayar!”

“Sini!” perintah Ryohei.

“Si-siapa?”

“Siapa saja yang tak puas.”

“Gila!”

“Siapa yang bilang begitu?”

“Saya tidak bicara tentang Bapak. Saya bicara tentang ke… adaan ini.”

“Diam!” Ryohei mencekal rambut orang itu dan melemparkannya ke luar pintu samping.

“Ada lagi yang mau mengeluh?” geram Ryohei. “Takkan kubiarkan orang jembel macam kalian berada di rumah ini menuntut uang sesen dua sen. Takkan kubiarkan! Biarpun Tuan Muda ingin membayar kalian, akan kucegah dia melakukannya.”

Melihat tinju Ryohei, para penagih rekening berlari serabutan ke luar gerbang. Tapi begitu mereka sampai di luar, penghinaan yang mereka lontarkan pada Keluarga Yoshioka bertambah hebat.

“Aku akan tertawa dan tepuk tangan nanti, kalau tanda ‘Dijual’ dipasang di tempat ini! Tunggulah, sebentar lagi akan terjadi.”

“Ya, memang, kata orang tak lama lagi.”

“Mana mungkin?”

Ryohei merasa senang sekali. Sambil tertawa memegang perutnya, ia pergi ke belakang rumah. Murid-murid lain pergi bersamanya ke ruang tempat Seijuro membungkuk ke anglo, sendirian dalam diam.

“Tuan Muda,” kata Ryohei, “Tuan begitu diam. Apa ada yang terjadi?”

“Oh, tidak,” jawab Seijuro, sedikit riang melihat para pengikutnya yang paling setia. “Sebentar lagi tiba harinya, ya?” katanya.

“Ya,” Ryohei membenarkan. “Itu sebabnya kami datang menjumpai Tuan. Apa tidak kita tentukan waktu dan tempatnya dan memberitahukan pada Musashi?”

“Ya, kukira begitu,” kata Seijuro termenung. “Tempatnya… di mana tempat yang baik? Bagaimana kalau lapangan Rendaiji di utara kota?”

“Bagus juga… dan waktunya?”

“Sebelum hiasan Tahun Baru diturunkan, atau sesudahnya?”

“Makin cepat makin baik. Jangan kasih kesempatan pengecut itu menye­linap lari.”

“Bagaimana kalau hari kedelapan?”

“Hari kedelapan itu kan ulang tahun meninggalnya Empu Kempo?”

“Betul kalau begitu, bagaimana kalau hari kesembilan? Jam tujuh pagi: Cocok, kan?”

“Bagus, kita pasang pengumuman di jembatan malam ini.”

“Bagus!”

“Apa Anda sudah siap?” tanya Ryohei.

“Sudah lama aku siap,” jawab Seijuro yang memang tak mungkin menjawab lain. Ia sama sekali tak memikirkan kemungkinan kalah dari Musashi. Sesudah belajar di bawah pimpinan ayahnya sejak kecil, dan sesudah selalu menang melawan siapa pun di perguruan, bahkan dengan yang paling tua dan paling terlatih sekalipun, ia tak dapat membayangkan terkalahkan oleh orang udik yang masih muda dan tak berpengalaman itu.

Namun keyakinannya itu tidaklah mutlak. Ia merasakan adanya rona ketidakpastian. Ia tidak mencari sebab kekurangyakinannya itu pada kegagalannya melaksanakan Jalan Samurai, tapi menganggapnya disebabkan oleh kesulitan-kesulitan pribadi belum lama ini. Salah satu kesulitan itu. barangkali yang terbesar, adalah Akemi. Ia merasa kurang senang semenjak di Sumiyoshi. Ketika Gion Toji lari diam-diam, mengertilah ia bahwa kanker keuangan dalam rumah tangga Yoshioka telah mencapai tahap kritis.

Ryohei dan lain-lainnya kembali membawa pesan untuk Musashi yang ditulis di papan yang baru dipotong.

“Beginikah yang Anda maksud?” tanya Ryohei. Bunyi huruf-huruf yang masih basah mengilat itu sebagai berikut:

Jawaban-Menjawab permintaan Anda untuk mengadakan pertandingan, dengan ini saya sebutkan waktu dan tempatnya. Tempat: Lapangan Rendaiji. Waktu: Jam tujuh pagi, hari kesembilan bulan pertama. Saya ucapkan sumpah suci bahwa saya akan datang.

Kalau karena sesuatu alasan Anda tidak memenuhi janji Anda, saya anggap menjadi hak saya untuk menertawakan Anda di depan umum.

Kalau saya melanggar perjanjian ini, semoga hukuman dewa-dewa jatuh pada saya!

Seijuro, Yoshioka Kempo II dari Kyoto.

Dibuat pada hari terakhir/tahun 1605.

Kepada ronin dari Mimasaka, Miyamoto Musahi.


Sesudah membacanya, Seijuro berkata, “Baik.” Pengumuman itu membuat-nya merasa lebih santai, barangkali karena itulah untuk pertama kali ia sadar bahwa dadu sudah dilemparkan.

Pada waktu matahari terbenam, Ryohei mengepit tanda pengumuman itu dan berjalan bangga bersama sejumlah murid lain untuk memasangnya di Jembatan Besar Jalan Gojo.

Di kaki Bukit Yoshida, orang yang dimaksud dalam pengumuman itu berjalan melewati daerah samurai keturunan bangsawan tapi tidak kaya. Mereka cenderung konservatif, hidup biasa-biasa saja, dan tidak melakukan sesuatu yang istimewa.

Musashi berjalan dari gerbang yang satu ke gerbang lain, memeriksa papan-papan nama yang ada. Akhirnya ia berhenti di tengah jalan, kelihat­annya tak mau atau tak bisa melihat lebih jauh lagi. Ia sedang mencari bibinya, satu-satunya sanak yang masih hidup di luar Ogin.

Suami bibinya adalah samurai yang bekerja dengan gaji kecil pada Keluarga Konoe. Semula Musashi menyangka mudah menemukan rumah dekat Bukit Yoshida itu, tapi segera ia paham bahwa sukar sekali mem­bedakan rumah yang satu dengan yang lain. Kebanyakan ruimah itu kecil dan dikelilingi pohon-pohonan. Gerbang-gerbangnya tertutup rapat seperti i:ijing. Cukup banyak juga gerbang yang tak berpapan nama.

Karena kurang pasti tentang tempat yang dicarinya, ia enggan bertanya. Mereka tentunya sudah pindah,” pikirnya. “Lebih baik aku tidak mencari lagi, ia kembali ke pusat kota. Kota waktu itu berselimut kabut yang me­mantulkan lampu-lampu pasar akhir tahun. Sekalipun waktu itu malam Tahun Baru, jalan-jalan di pusat kota masih berdengung oleh bunyi kesibukan orang banyak.

Musashi menoleh, melihat seorang perempuan yang baru saja lewat ke arah berlawanan. Paling sedikit tujuh atau delapan tahun ia tidak melihat bibinya, tapi ia yakin perempuan itu bibinya, karena ia mirip dengan gambaran yang diciptakannya tentang ibunya. Ia mengikutinya dari jarak dekat dan memanggilnya.

Perempuan itu menatapnya penuh kecurigaan sesaat dua saat. Keterkejutan­nya sangat tercermin dalam matanya yang mengeriput oleh hidup yang membosankan, dengan anggaran belanja kecil bertahun-tahun lamanya. “Engkau Musashi, anak Munisai, kan?” tanyanya akhirnya.

Musashi heran, kenapa perempuan itu memanggilnya Musashi, bukan Takezo. Tapi yang betul-betul menggundahkan adalah kesan bahwa perempuan itu tidak menerimanya dengan baik. “Ya,” demikian jawabnya. “saya Takezo dari keluarga Shimmen.”

Perempuan itu memandangnya dari kaki sampai rambut, tanpa meng­ucapkan “oh” atau “ah” yang biasa diucapkan orang, dan tidak menyatakan betapa Musashi sudah besar dan betapa berlainan wajahnya dari sebelumnya. “Kenapa kau datang kemari?” tanyanya dingin, dengan agak menguji.

“Saya datang tanpa maksud khusus. Kebetulan saja saya ada di Kyoto. Saya pikir alangkah senang ketemu Bibi.” Melihat mata dan garis rambut bibinya, ia ingat ibunya. Sekiranya masih hidup, pasti ibu setinggi perempuan ini, dan suara bicaranya pun serupa.

“Engkau bermaksud menengok aku?” tanya bibinya tak percaya.

“Ya. Maaf, begini tiba-tiba.”

Bibinya mengibaskan tangan di depan muka, sebagai tanda tak perlu minta maaf. “Nah, engkau sudah bertemu denganku, jadi tak ada urusan lagi. Pergilah!”

Merasa dipermalukan oleh penerimaan yang dingin ini, Musashi marah, “Kenapa Bibi mengatakan itu, padahal Bibi baru melihat saya? Kalau Bibi menyuruh saya pergi, saya akan pergi, tapi saya tak mengerti sebabnya. Apakah saya melakukan sesuatu yang tidak Bibi sukai? Kalau memang, demikian, setidak-tidaknya katakanlah.”

Bibinya kelihatan enggan berterus terang. “Ya, berhubung kau sudah di sini, bagaimana kalau kau datang ke rumah kami dan menjumpai pamanmu. Tapi kau tahu sendiri, orang macam apa dia, jadi jangan kecewa dengan apa yang mungkin dikatakannya. Aku bibimu dan karena engkau datang menegok kami, aku tak ingin kau pergi dengan perasaan berat.”

Sambil menyenangkan diri sedikit dengan ucapan bibinya itu, Musashi berjalan bersamanya ke rumah bibinya, kemudian menanti di kamar depan sementara bibinya mengabari suaminya. Lewat shoji ia dapat mendengar suara pamannya yang asmatis menggerutu. Nama paman itu Matsuo Kaname.

“Apa?” tanya Kaname dengan jengkel. “Anak Munisai di sini? Memang itu yang kutakutkan. Akhirnya dia muncul. Maksudmu dia di sini, di rumah ini? Kau membiarkannya masuk tanpa tanya aku dulu?”

Cukup sudah. Tapi ketika Musashi berseru mengucapkan selamat berpisah kepada bibinya, Kaname berkata, “Kau di sini, ya?” dan membuka pintu. Ia bukannya mengerutkan kening lagi, tapi menunjukkan sikap benci sebenci-bencinya, seperti sikap yang ditunjukkan orang kota kepada sanak dari desa yang tidak mandi, seakan-akan seekor sapi masuk rumah dan menginjakkan kakinya ke atas tatami.

“Kenapa engkau datang kemari?” tanya Kaname.

“Kebetulan saja saya ada di kota ini. Saya cuma ingin melihat keadaan Paman.”

“Bohong!”

“Paman?”

“Kau boleh bohong semaumu, tapi aku tahu apa yang kaulakukan. Kau mendatangkan banyak kesulitan di Mimasaka, membuat banyak orang membencimu, mengaibkan nama keluargamu, dan kemudian lari. Apa tidak benar begitu?”

Musashi tercengang.

“Bagaimana mungkin kau bisa begitu tak tahu malu mengunjungi sanak keluarga?”

“Saya minta maaf atas segala yang telah saya perbuat,” kata Musashi. “Tapi saya betul-betul bermaksud menebusnya, demi leluhur saya dan desa saya.”

“Rasanya kau tak bisa pulang. Yah, tangan mencencang bahu memikul. Munisai tentu menangis dalam kuburnya.”

“Rasanya saya sudah cukup lama di sini,” kata Musashi. “Saya pergi sekarang.”

“Jangan!” kata Kaname marah. “Kau tinggal saja di sini! Kalau kau mondar-mandir sekitar tempat ini, sebentar saja kau akan mendapat kesulitan. Perempuan tua tukang bantah dari Keluarga Hon’iden itu muncul di sini kira-kira setengah tahun lalu. Baru-baru ini beberapa kali dia datang. Dia terus bertanya pada kami apa kamu datang kemari, dan mencoba mengetahui dari kami di mana kamu berada. Dia menguntitmu terus dengan nafsu balas dendam yang mengerikan.”

“Oh, Osugi. Dia pernah kemari?”

“Betul. Aku mendengar semua tentangmu dari dia. Kalau kau bukan sanakku, pasti kuikat kau dan kuserahkan padanya, tapi karena keadaan… Paling tidak, tinggallah kau di sini sekarang. Sebaiknya kau meninggalkan tempat ini tengah malam. Jadi, takkan ada kesulitan dengan bibimu dan aku.

Sungguh memalukan bahwa bibi dan pamannya menelan setiap patah kata dalam fitnah Osugi. Dengan perasaan betul-betul seorang diri, ia duduk diam menatap lantai. Akhirnya bibinya kasihan kepadanya dan menyuruhnya pergi ke kamar lain untuk tidur.

Musashi menjatuhkan diri ke lantai dan mengendurkan sarung pedangnya. Sekali lagi ia merasa bahwa di dunia ini tak ada tempat ia bergantung, kecuali diri sendiri.

Ia merenung. Barangkali benar, justru karena pertalian darahlah paman dan bibinya menerimanya dengan terus terang dan keras. Kalau tadi ia begitu marah, hingga ingin meludah di pintu dan pergi, maka sekarang ia mengambil sikap lebih toleran. Ia ingatkan dirinya bahwa penting ia melepaskan mereka dari segala dakwaan.

Musashi memang terlalu naif, hingga tak dapat menilai secara tepat orang-orang yang ada di sekitarnya. Sekiranya ia sudah kaya dan terkenal, perasaannya mengenai sanak keluarganya pasti mengena. Sekarang ini begitu saja ia masuk dari tengah udara dingin, dengan kimono kotor dan gombal, padahal malam itu malam Tahun Baru. Mengingat itu, tidak mengherankan bahwa bibi dan pamannya tidak menunjukkan keakraban kekeluargaan.

Hal itu segera menyadarkan Musashi. Ia membaringkan badan dalam keadaan lapar, dan merasa akan mendapat tawaran makan. Ia memang mencium bau makanan yang sedang dimasak dan mendengar denting­denting pinggan-mangkuk di dapur, tapi tak seorang pun mendekati kamar­nya. Kelap-kelip api dalam anglo tidak lebih besar dari seekor kunang­kunang.. Tak lama kemudian ia menyimpulkan bahwa lapar dan dingin itu nomor dua. Yang paling penting sekarang tidur, karena itu ia segera menidurkan diri.

Ia terbangun sekitar empat jam kemudian oleh dentang lonceng kuil yang menandakan habisnya tahun lama. Tidur membuat badannya sehat. Ketika ia bangkit, terasa lelahnya lenyap. Pikirannya segar dan jernih.

Di dalam dan di sekitar kota, lonceng besar berdentam-dentam dengan irama lambat dan anggun, menandai berakhirnya kegelapan dan dimulainya terang. Seratus delapan dentangan untuk seratus delapan angan-angan hidup, dan setiap dentangan merupakan seruan kepada lelaki maupun perempuan untuk mengenangkan kesia-siaan cara hidup mereka.

Musashi bertanya-tanya pada diri sendiri, berapa banyak orang yang pada malam itu dapat mengatakan, “Aku benar. Aku sudah melakukan apa yang harus kulakukan. Aku tidak menyesal.” Baginya sendiri, setiap dentang lonceng yang menggema itu membangkitkan getar sesal yang dalam. Ia tak dapat menampilkan apa pun kecuali hal-hal salah yang dilakukannya tahun lalu-tahun sebelumnya dan tahun sebelum itu pun, atau seluruh tahun yang telah lewat itu, semuanya membawa penyesalan baginya. Tak satu tahun pun tanpa penyesalan. Ya, boleh dikata tak satu hari pun tanpa penyesalan.

Menurut pandangannya yang terbatas atas dunia ini, tampaknya apa pun yang diperbuat orang, segera kemudian akan mereka sesali. Orang misalnya mengambil istri dengan maksud menjalani hidup bersama, tapi sering kemudian ia berubah pikiran. Kita dapat dengan mudah memaafkan per­ubahan pikiran pada perempuan, tapi perempuan jarang memperdengarkan keluhan, sedangkan lelaki sering. Berapa kali ia pernah mendengar lelaki memperolok-olok istrinya, seolah istri itu sandal buangan yang usang.

Musashi memang tidak punya masalah perkawinan, tapi ia menjadi korban angan-angan, dan sesal bukanlah perasaan yang asing baginya. Pada saat ini pun ia menyesal sekali telah datang ke rumah bibinya. “Sekarang pun,” demikian ratapnya, “aku tak bebas dari rasa ketergantungan. Aku selalu mengatakan pada diriku bahwa aku harus berdiri di atas kaki sendiri dan menjaga diri sendiri. Tapi kemudian tiba-tiba aku mundur dan bertopang kepada orang lain. Ini sungguh dangkal! Sungguh bodoh!

“Tahulah aku apa yang mesti kulakukan!” pikirnya. “Aku mesti mengambil sikap dan menuilskannya.”

Ia membuka bungkusan shugyosha-nya dan mengeluarkan buku tulis yang terbuat dari lembar-lembar kertas lipat empat dan diikat dengan kertas gulung. Ia biasa menggunakannya untuk mencatat pikiran-pikiran yang datang kepadanya selama pengembaraannya, termasuk ungkapan-ungkap­an Zen, catatan tentang ilmu bumi, nasihat-nasihat untuk diri sendiri, dan kadang juga sketsa kasar tentang hal-hal menarik yang dilihatnya. Dibukanya buku tulis itu di hadapannya, dikeluarkannya kuas, dan dipandangnya kertas putih itu. Ia menulis:

Aku takkan menyesali apa pun.

Sering memang ia menuliskan sikap yang diambilnya. Menurutnya, dengan menuliskannya pun ia dapat merasakan lega sedikit. Ia mesti mengulang-ulangnya untuk diri sendiri tiap pagi dan malam, seperti orang membaca kitab suci. Akibatnya ia selalu mencoba memilih kata-kata yang mudah diingat dan dibaca, seperti sajak. Lalu sejenak ia menatap apa yang telah ditulisnya itu dan mengubahnya dengan:

Aku takkan menyesali perbuatan-perbuatanku.

Ia menggumamkan kata-kata itu pada diri sendiri, tapi masih terasa kurang memuaskan, dan mengubahnya lagi:

Aku takkan melakukan sesuatu yang akan kusesali.

Puas dengan usahanya yang ketiga, ia memainkan kuasnya. Sekalipun ketiga kalimat itu ditulis dengan maksud sama, dua kalimat pertama bisa saja berarti ia takkan menyesal, entah ia berbuat benar atau salah, sedangkan kalimat ketiga menekankan tekadnya untuk bertindak demikian rupa, hingga tak perlu lagi kritik diri.

Musashi mengulangi ketetapan hati itu pada diri sendiri, karena sadar bahwa itu suatu cita-cita yang takkan dapat tercapai kalau ia tidak men­disiplin hati dan pikirannya semampu-mampunya. Namun demikian, ber­juang untuk mencapai tingkat di mana tak ada tindakannya yang akan menimbulkan penyesalan merupakan jalan yang harus ia tempuh. “Pada suatu hari nanti aku akan mencapai cita-cita itu!” demikian sumpahnya. Ia benamkan sumpah itu ke dasar hatinya, seperti membenamkan pancang.

Shoji di belakangnya menggeser terbuka dan bibinya menjenguk Dengan suara menggeletar di sekitar akar giginya, bibinya berkata, “Sudah kuduga sebelumnya! Ada yang mengatakan padaku, tak perlu aku menerimamu di sini, dan sekarang apa yang kutakutkan itu betul-betul terjadi. Osugi datang mengetuk dan melihat sandalmu di gang masuk. Dia yakin kamu ada di sini dan mendesak aku menyerahkanmu kepadanya! Dengar itu! Kamu bisa mendengar-nya dari sini. Oh, Musashi, apa yang akan kau­lakukan?”

“Osugi? Di sini!” tanya Musashi, enggan mempercayai telinganya. Tapi benar tak ada yang salah. Ia mendengar suara Osugi yang parau itu me­nerobos celah-celah seperti angin dingin, suara itu tertuju pada Kaname, dengan nada paling kaku dan paling congkak.

Osugi datang ketika dentang-dentang lonceng tengah malam baru saja berhenti dan bibi Musashi baru saja akan pergi menimba air bersih untuk Tahun Baru. Bibi itu gelisah oleh bayangannya sendiri bahwa Tahun Baru­nya akan kacau oleh pertumpahan darah yang tak suci, karena itu la tidak berusaha menyembunyikan kesal hatinya.

“Larilah kamu secepat-cepatnya,” mohonnya. “Pamanmu masih menahan­nya dengan mengatakan kamu tidak datang kemari. Menyelinaplah, selagi ada waktu.” Ia pungut topi dan bungkusan Musashi, dan ia antar Musashi ke pintu belakang. Di situ ia telah meletakkan kaus kaki kulit suaminya beserta beberapa pasang sandal jerami.

Sambil mengikatkan sandal, Musashi berkata tersipu-sipu, “Saya sebetulnya benci mengganggu orang, tapi apa tak bisa Bibi berikan pada saya semangkuk bubur? Saya belum makan apa pun malam ini.”

“Ini bukan waktu makan! Tapi inilah, ambil ini! Dan pergi sana!” Ia ulurkan lima kue betas dengan secarik kertas putih.

Musashi menerimanya dengan girang dan mengangkatnya ke depan dahi sebagai tanda terima kasih. “Selamat tinggal,” katanya.

Ia susuri jalanan yang licin oleh es pada hari pertama Tahun Baru yang gembira itu dengan sedih, seperti seekor burung musim dingin yang bulunya berterbangan ke langit hitam.

Rambut dan kuku-kukunya terasa membeku. Yang tampak olehnya hanyalah napasnya sendiri yang putih, yang cepat membeku pada bulu halus sekitar mulutnya. “Dingin,” katanya keras. Tujuh Neraka Beku pasti tak sedingin ini! Kalau biasanya ia mengibaskan rasa dingin begitu saja, kenapa pagi ini ia rasakan dingin sehebat ini?

Dan ia menjawab pertanyaannya sendiri, “Tidak hanya tubuhku. Jiwaku pun dingin. Berarti belum dapat diatur dengan baik. Demikianlah adanya. Aku masih ingin bergayut pada daging hangat, seperti bayi, dan aku terlalu cepat menyerah pada sentimentalitas. Karena aku sendirian, aku merasa kasihan pada diri sendiri dan iri kepada orang-orang yang punya rumah bagus dan hangat. Dalam hal aku merasa hina dan tak berarti! Kenapakah aku tak bisa berterima kasih atas kebebasan dan kemerdekaan untuk pergi ke mana kusuka? Kenapakah aku tak dapat berpegang pada cita-cita dan harga diri?”

Sementara menikmati keunggulan nilai kemerdekaan, kakinya yang sakit bertambah hangar, bahkan sampai ujung-ujung jarinya, dan napasnya berubah menjadi uap. “Seorang pengembara tanpa cita-cita dan tanpa rasa syukur kepada kebebasan yang dimilikinya tidak lebih dari seorang pengemis! Perbedaan besar antara seorang pengemis dan pendeta pengembara menurut Saigyo terletak di dalam hati!”

Tiba-tiba ia melihat kilau putih di bawah kakinya. Ia menginjak lapisan es rapuh. Tanpa diketahuinya, sejak tadi la berjalan menuju tepi Sungai Kamo yang membeku. Sungai maupun langit masih hitam, dan di timur belum lagi tampak bayangan fajar. Kakinya berhenti berjalan. Bagaimanapun, kaki itu telah membawanya dengan selamat melintasi kegelapan Bukit Yoshida. Sekarang keduanya enggan berjalan terus.

Di balik tanggul ia kumpulkan ranting-ranting, pecah-pecahan kayu dan apa saja yang dapat terbakar, kemudian ia menggoreskan batu api. Membuat nyala kecil yang pertama itu menuntut kerja keras dan kesabaran, tapi akhirnya sejumlah daun kering mulai menyala. Dengan ketekunan seorang tukang kayu, ia dapat mengonggokkan bilah-bilah kayu dan cabang-cabang kecil. Pada taraf tertentu, api dengan cepat menyala, dan ketika angin bertiup ia menjilat pembuatnya, hampir-hampir membakar wajahnya.

Musashi mengeluarkan kue betas pemberian bibinya dan membakarnya satu per satu dalam nyala api. Kue itu menjadi cokelat dan membengkak seperti gelembung, mengingatkannya pada perayaan Tahun Baru di masa kecilnya. Kue itu tidak memiliki rasa lain kecuali rasanya sendiri, karena memang tidak digarami atau digulai.

Ketika ia mengunyahnya, terasa olehnya nasi putih itu sebagai rasa dunia nyata di sekitarnya. “Aku merayakan Tahun Baru sendiri,” pikirnya bahagia. Sesudah menghangatkan muka dengan nyala api dan mengisi mulutnya, maka dunia pun terasa agak menarik.

“Ini perayaan Tahun Baru yang bagus! Kalau seorang pengembara seperti aku memiliki lima biji kue nasi yang baik, mestinya surga memberikan kemungkinan pada tiap orang untuk merayakan Tahun Baru dengan caranya masing-masing. Di sini ada Sungai Kamo yang akan kuajak minum meraya­kan Tahun Baru. Tiga puluh puncak Gunung Higashiyama itulah hiasan pinusku! Aku mesti membasuh tubuhku dan menantikan sinar matahari pertama.”

Di tepi sungai yang membeku itu ia buka obi-nya, ia lepas kimono dan pakaian dalamnya, kemudian ia mencemplungkan diri ke air, membasuh diri seluruhnya sambil berkecipak seperti burung air.

Ia sedang berdiri di tepi sungai sambil menggosok kulitnya kuat-kuat, ketika cahaya fajar pertama memecah dari balik awan dan jatuh hangat ke punggungnya. Ia memandang ke arah api dan tampaklah seseorang berdiri di tanggul di atas api itu. Seorang musafir yang berbeda dalam umur dan penampilan, dan terbawa kemari oleh nasib. Osugi.

Perempuan tua itu melihatnya juga, dan dalam hatinya berseru, “Dia di sini! Perusuh itu di sini!” Dilanda perasaan gembira sekaligus takut, hampir saja ia jatuh pingsan. Ia ingin memanggil Musashi, tapi suaranya tertahan. Tubuhnya gemetar dan tak mau tunduk pada perintahnya.

Secara mendadak ia duduk dalam bayangan sebatang pinus kecil.

“Akhirnya!” ucapnya gembira. “Akhirnya kutemukan dia! Jisim Paman Gon yang memimpinku menemukan dia.” Dalam tas yang bergantung di pinggangnya ia simpan sebagian tulang Paman Gon dan sejumlah rambutnya.

Tiap hari, semenjak kematian Paman Gon, ia bicara dengan orang mati itu. “Paman Gon,” katanya, “biarpun kau sudah mati, aku tak merasa sendirian. Kau bersamaku. Aku bersumpah takkan kembali ke desa sebelum menghukum Musashi dan Otsu. Dan kau masih bersamaku sekarang. Boleh saja kau mati, tapi jisimmu selalu di sampingku. Kita akan bersama selamanya. Pandanglah ke atas lewat rerumputan kepadaku, dan perhatikan! Tak bakal aku membiarkan Musashi pergi tanpa hukuman!”

Paman Gon baru seminggu meninggal, tapi Osugi sudah berketetapan akan setia kepadanya, sampai ia sendiri nanti berubah menjadi abu. Beberapa hari terakhir itu Ia melipatgandakan usaha pencarian dengan kehebohan Kishimojin yang dahsyat. Sebelum tunduk pada sang Budha, Kishimojin telah membunuhi anak-anak lain untuk memberi makan anaknya sendiri ­kabarnya jumlahnya sampai lima ratus, atau seribu, atau sepuluh ribu.

Kabar nyata pertama yang didengar Osugi adalah omongan orang di jalan bahwa segera akan terjadi pertarungan antara Musashi dan Yoshioka Seijuro. Kemudian, malam sebelumnya ia berada di tengah orang-orang yang merubung papan pengumuman yang terpasang di Jembatan Besar Jalan Gojo. Sungguh peristiwa itu membesarkan hatinya! Ia membaca papan itu berulang kali sambil berpikir. “Jadi, ambisi Musashi itu akhirnya menguasainya. Oh, mereka akan membuatnya seperti badut. Yoshioka akan membunuhnya. Oh! Kalau hal itu terjadi, bagaimana mungkin aku meng­hadapi orang di desa? Aku bersumpah aku sendirilah yang akan mem­bunuhnya. Aku harus mendahului Yoshioka dan membawa wajah menangis itu pulang ke rumah, menjinjingnya pada rambutnya supaya orang-orang desa dapat melihatnya!” Kemudian ia berdoa kepada dewa-dewa, bodhisatwa, dan para leluhur, agar mereka membantunya.

Karena marah dan sengit, ia meninggalkan rumah Matsuo dengan kecewa. Pulang menyusuri Sungai Kamo, semula la menyangka cahaya itu api unggun seorang pengemis. Tanpa suatu sebab khusus ia berhenti di tanggul dan menanti. Ketika dilihatnya seorang lelaki telanjang berotot muncul dari sungai tanpa memedulikan dingin, tahulah ia bahwa orang itu Musashi.

Karena Musashi tidak berpakaian, itulah saat yang paling baik untuk menangkapnya dengan kejutan dan memotongnya, tetapi hatinya yang tua dan mengering itu tak tega berbuat demikian.

Ia mengatupkan tangan dan mengucapkan doa syukur, seolah-olah telah membawa kepala Musashi. “Sungguh aku bahagia! Terima kasihku atas pertolongan dewa-dewa dan bodhisatwa, bahwa sekarang aku melihat Musashi di depan mataku. Ini tak mungkin sekadar kebetulan! Keyakinanku yang tak pernah kendur kini mendapat berkah. Musuh diserahkan ke tanganku!” Ia menyembah surga, karena ia percaya sepenuhnya bahwa sekarang tibalah baginya saat terbaik untuk menyempurnakan tugasnya.

Batu-batuan sepanjang tepi air kelihatan mengapung di atas tanah satu demi satu ketika cahaya menimpanya. Musashi mengenakan kimono, meng­ikatkan obi erat-erat, dan memasangkan kedua pedangnya. Ia bersujud diam kepada dewa-dewa langit dan bumi.

Jantung Osugi melompat ketika ia berbisik, “Sekarang!”

Tepat pada waktu itu Musashi melompat berdiri. Dengan gesitnya ia melompati air dan berjalan cepat menyusuri tepi sungai. Osugi buru-buru berjalan menyusur tanggul, berusaha tidak memancing perhatian Musashi.

Atap-atap dan jembatan-jembatan kota mulai membentuk garis-garis putih dalam kabut pagi, tapi di atas sana bintang-bintang masih melayang­layang di angkasa, dan daerah sepanjang kaki Gunung Higashiyama masih sehitam tinta. Ketika Musashi sampai jembatan kayu di Jalan Sanjo, ia lewat di bawahnya dan muncul kembali di puncak tanggul di seberangnya. Ia berjalan dengan langkah lelaki, panjang-panjang. Beberapa kali Osugi sudah begitu dekat, hingga dapat memanggil Musashi, tapi ia menahan diri.

Musashi iahu la ada di belakang. Tapi ia pun tahu bahwa jika ia menoleh ke belakang, Osugi akan menyerangnya, dan terpaksalah ia meng­hadiahi perempuan itu dengan pameran cara bertahan, tanpa melukainya. “Lawan yang mengerikan!” pikirnya. Sekiranya ia masih Takezo dulu di desa, tak akan ia memikirkan yang lain kecuali merobohkannya dan meng­hantamnya sampai muntah darah. Sekarang tentu saja tak dapat lagi ia berbuat demikian.

Sebetulnya ia lebih punya hak membenci perempuan itu daripada sebalik­nya, tapi ia ingin perempuan itu sadar bahwa perasaan terhadap dirinya hanya berlandaskan salah pengertian besar. Ia yakin bahwa kalau ia dapat menjelaskan duduk perkaranya, tidak akan lagi perempuan itu bertahun-­tahun lamanya menyimpan dendam kesumat, tapi kecil kemungkinannya Musashi dapat meyakinkannya sekarang, kecuali kalau ia menjelaskannya seribu kali. Hanya ada satu kemungkinan. Walaupun keras kepala, Osugi pasti percaya kepada Matahachi. Kalau anaknya sendiri menceritakan dengan tepat apa yang telah terjadi sebelum dan sesudah Sekigahara, mungkin ia tak lagi menganggap Musashi musuh Keluarga Hon’iden, apalagi orang yang melarikan calon istri anaknya.

Kini ia mendekati jembatan di daerah yang pada akhir abad dua belas berkembang pesat, yaitu ketika Keluarga Taira berada di puncak kejayaannya. Sesudah peperangan di abad lima belas pun daerah itu tetap merupakan salah satu bagian Kyoto yang paling padat penduduknya. Matahari baru saja mulai menyinari bagian depan rumah-rumah dan kebun. Tanda-tanda bekas sapuan malam sebelumnya masih kelihatan, tapi pada waktu sepagi itu tak satu pintu pun terbuka.

Osugi dapat menandai jejak kaki Musashi di lumpur. Jejak kaki itu pun dibencinya.

Seratus meter lagi, kemudian lima puluh.

“Musashi!” jerit perempuan tua itu. Sambil mengepalkan tinju ia menjulurkan kepalanya dan berlari mengejar. “Setan jahat kamu!” serunya. “Apa kamu tak punya telinga?”

Musashi tidak menoleh.

Osugi terus berlari. Sekalipun sudah tua, tekadnya yang tak kenal maut memberikan keberanian dan kelelakian kepada langkah-langkahnya. Musashi terus membelakanginya, gelisah menimbang-nimbang cara bertindak.

Tiba-tiba perempuan itu melompat ke hadapannya dan menjerit, “Ber­henti!” Bahunya yang lancip dan tulang rusuknya yang tipis kerempeng bergeser. Sesaat la berdiri dengan napas terengah-engah sambil mengumpulkan ludah di mulut.

Musashi tak menyembunyikan sikap pasrahnya. Katanya dengan sikap tak acuh sebisanya, “Oh, kalau tak salah ini Nyonya Hon’iden! Apa kerja Ibu di sini?”

“Anjing biadab kamu! Kenapa pula aku tak di sini? Aku yang mestinya bertanya. Aku sudah membiarkanmu lepas di Bukit Sannen, tapi hari ini akan kumiliki kepalamu itu!” Lehernya yang kurus kering mengingatkan Musashi kepada jago aduan, dan suaranya yang menggeletar, yang seakan hendak melontarkan giginya yang merongos keluar dari mulut itu, lebih mengerikan daripada teriakan perang.

Rasa takut Musashi kepada perempuan tua itu berakar dalam kenangan masa kanak-kanaknya, ketika Osugi menangkap basah ia dan Matahachi melakukan suatu kenakalan di rumpun buah mulberi atau di dapur Hon’iden. Waktu itu ia berumur delapan atau sembilan tahun, masa ketika mereka berdua selalu saja melakukan kenakalan. Dan ia masih ingat dengan jelas, bagaimana waktu itu Osugi memaki-makinya. Waktu itu ia lari ketakutan dan perutnya terasa mual. Kenangan ini membuatnya menggigil. Ia sudah menganggap perempuan itu tukang sihir tua yang bikin benci dan gampang marah. Sekarang pun ia benci pada Osugi karena pernah mengkhianatinya, sewaktu ia pulang ke desa dari Sekigahara. Tapi aneh, ia juga sudah terbiasa menganggap wanita itu sebagai orang yang takkan pernah dapat dihadapinya dengan baik. Hanya bersama berlalunya waktu, perasaan terhadap perempuan itu menjadi lunak.

Pada Osugi, sebaliknya yang terjadi. Ia tak dapat melepaskan gambaran tentang Takezo sebagai anak nakal yang menjengkelkan dan tak bisa diatur. Ia mengenalnya sejak bayi. Seorang anak yang selalu meler hidungnya dan kepalanya luka-luka. Tangan dan kakinya begitu panjang, hingga kelihatan tidak normal. Bukannya ia tak sadar akan jalannya waktu, bahwa ia sudah tua sekarang. Ia sadar. Dan Musashi sudah dewasa. Tapi ia tak dapat mengatasi dorongan hatinya untuk memperlakukan Musashi sebagai anak melarat yang jahat. Apabila terpikir olehnya betapa anak kecil ini telah mempermalukannya, kontan ia berniat membalas dendam! Soalnya bukanlah sekadar membersihkan diri di hadapan orang desa. Ia mesti melihat Musashi masuk kubur sebelum ia sendiri mengakhiri hidupnya.

“Tak ada gunanya bicara!” pekiknya. “Serahkan kepalamu, atau siap­siaplah merasakan pedangku! Siap kamu, Musashi!” Ia menghapus bibirnya dengan jari, meludah ke tangan kiri, dan mencekal sarung pedangnya.

Ada peribahasa tentang seekor belalang betina yang menyerang kereta kaisar. Tentunya peribahasa itu diciptakan orang untuk melukiskan Osugi yang pucat pasi itu, yang menyerang Musashi dengan kakinya yang kurus panjang. Ia tampak benar-benar seperti seekor belalang betina. Matanya, kulitnya, cara berdirinya yang aneh, semuanya sama. Musashi berdiri waspada memperhatikan gerak Osugi, seperti terhadap anak yang sedang bermain. Bahu dan dadanya tampak tak terkalahkan, seperti kereta besi yang kekar.

Walaupun situasinya tampak ganjil, ia tidak dapat tertawa, karena tiba-­tiba ia merasa sangat kasihan. “Tunggu dulu, Nek!” mohonnya sambil menangkap siku perempuan itu sedikit, namun erat.

“A… pa pula ini!” teriak Osugi. Tangannya yang tak berdaya dan giginya gemetar karena terkejut. “P-p-pe-ngecut!” gagapnya. “Kaupikir kau bisa men-cegahku? Empat puluh Tahun Baru lebih banyak telah kulihat daripada yang sudah kaulihat, karena itu tak bisa kau memperdayakan aku. Terima hukumanmu!” Warna kulit Osugi seperti warna tanah liat merah, sedangkan suaranya penuh kenekatan.

Sambil mengangguk bersemangat, Musashi berkata, “Saya mengerti; saya tahu perasaan Nenek. Memang Nenek menyimpan semangat juang Keluarga Hon’iden. Saya lihat Nenek memiliki darah yang sama dengan leluhur Keluarga Hon’iden, yang dengan berani pernah mengabdi pada Shimmen Munetsura.”

“Lepaskan aku…! Takkan kudengarkan jilatan orang yang semuda cucuku.” “Tenanglah. Kurang tepat kalau orang setua Nenek bersikap kasar. Ada yang mau saya katakan.”

“Pernyataan terakhir sebelum menemui ajalmu?”

“Tidak; saya mau menjelaskan.”

“Aku tak ingin penjelasan apa pun darimu!” Perempuan tua itu menegak­kan diri setinggi-tingginya.

“Nah, kalau begitu saya cuma akan mengambil pedang Nenek itu. Nanti, kalau Matahachi muncul, biar dia yang menjelaskan segalanya pada Nenek.”

“Matahachi?”

“Ya. Saya sudah kirim pesan padanya musim gugur lalu.”

“Oh, begitu.”

“Saya minta dia menjumpai saya di sini pagi Tahun Baru ini.”

“Bohong!” jerit Osugi sambil menggelengkan kepala dengan hebatnya. “Kamu mesti malu, Musashi. Apa kamu bukan anak Munisai? Apa dia tidak mengajarkan padamu, bahwa kalau tiba waktunya untuk mati, kau mesti mati seperti lelaki? Ini bukan waktunya bermain kata-kata. Seluruh hidupku ada di belakang pedang ini, dan aku mendapat dukungan dewa­-dewa dan bodhisatwa. Kalau kau berani menghadapinya, hadapilah!” Ia berusaha meloloskan tangannya dari Musashi, sambil teriaknya, “Hidup sang Budha.” Ia mencabut pedang dan mencengkeramnya dengan kedua tangan, lalu menerjang dada Musashi.

Musashi mengelak. “Tenang, Nek, tenanglah!”

Musashi menepuk punggungnya sedikit, Osugi menjerit dan berpusing menghadapi Musashi. Sambil bersiap menyerang ia menyerukan nama Kannon. “Puji bagi Kannon Bosatsu!” Ia menyerang lagi.

Ketika melewati Musashi, Musashi menangkap pergelangan tangannya. “Kalau Nenek terus begini, Nenek cuma akan bikin capek diri sendiri. Lihat, jembatan ada di sana. Ayolah kita sama-sama ke sana.”

Osugi memutar kepalanya, menyeringai, dan mengerutkan bibir. “Fui!” Ia meludah dengan segala kekuatannya yang masih tinggal.

Musashi melepaskannya dan menyingkir sambil menggosok mata kirinya. Mata itu terasa terbakar, seolah telah terkena bunga api. Ia pandang tangan yang dipakainya menggosok mata itu. Tak ada darah di situ, tapi ia tak dapat membuka mata. Melihat ia sedang lengah, Osugi menyerang lagi dengan kekuatan baru, sambil menyerukan lagi nama Kannon. Dua kali, tiga kali ia mengayunkan pedang ke arah Musashi.

Ketika pedang terayun ketiga kalinya, Musashi hanya membungkukkan badan sedikit dari pinggang, karena sibuk dengan matanya. Pedang me­motong lengan kimononya dan menggores lengannya.

Potongan lengan kimono itu jatuh, hingga Osugi mendapat kesempatan melihat darah pada lapisan putih. “Aku sudah melukainya!” jeritnya gembira meluap-luap, dan terus mengayun-ayunkan pedang membabi buta. Ia merasa bangga, seolah-olah telah menumbangkan sebatang pohon besar sekali tebas. Sama sekali tak mengurangi kegembiraannya bahwa Musashi tidak balik membalas. Terus juga ia meneriakkan nama Kannon dari Kiyomizudera dan menyerukan dewa untuk turun ke bumi.

Dengan suara hiruk-pikuk luar biasa ia berlari-lari sekitar Musashi, menyerangnya dari depan dan belakang. Musashi sendiri tidak berbuat lain kecuali mengubah-ubah letak tubuhnya untuk menghindari tebasan.

Matanya mengganggunya dan lengannya terkena goresan. Walaupun melihat datangnya tebasan, ia tak dapat bergerak cepat untuk menghindar. Belum pernah sebelumnya orang sampai melompatinya atau melukainya biarpun sedikit. Karena ia tidak melayani serangan Osugi secara sungguh-­sungguh, tidak pernah terlintas dalam pikirannya siapa akan menang dan siapa kalah.

Tapi bukankah sudah ia biarkan dirinya terluka, karena tidak melayani secara sungguh-sungguh? Menurut Seni Perang, betapapun kecilnya luka itu jelas ia kalah. Keyakinan perempuan tua itu dan ujung pedangnya me­nunjukkan pada semua orang bahwa Musashi belum matang.

“Aku salah,” demikian pikirnya. Sadar bahwa bersikap pasif itu bodoh. Ia pun melompat menghindari pedang yang menyerangnya, kemudian menampar punggung Osugi dengan keras, hingga perempuan itu terguling dan pedang terlepas dan tangannya.

Dengan lengan kiri, Musashi memungut pedang itu, dan dengan tangan kanan diangkatnya Osugi ke dalam lekuk lengannya.

“Turunkan aku!” jerit Osugi menggapai-gapai. “Apa tak ada dewa-dewa? Tak ada bodhisatwa? Aku sudah melukainya sekali! Apa dayaku, Musashi! Jangan permalukan aku macam ini! Potong kepalaku! Bunuh aku sekarang!”

Musashi bungkam seribu bahasa. Ia menyusuri jalan setapak sambil mengepit perempuan yang meronta-ronta itu. Sementara itu Osugi terus memprotes dengan suara seraknya, “Inilah peruntungan perang! Ini nasib! Kalau memang ini kehendak dewa-dewa, aku takkan bersikap pengecut!… Kalau Matahachi mendengar Paman Gon dan aku terbunuh dalam usaha balas dendam, pasti bangkit marahnya dan akan dia balaskan dendam kami berdua. Itu obat mujarab untuknya. Musashi, bunuh aku. Bunuh aku sekarang! Ke mana kamu pergi? Mau kautambahkan lagi aib pada ajalku? Berhenti! Potong kepalaku sekarang!”

Musashi tidak juga menghiraukannya, tapi ketika sampai di jembatan ia mulai bertanya-tanya dalam hati, apa yang mesti ia lakukan terhadap perempuan itu.

Kemudian datanglah ilham. Ketika turun ke sungai, ditemuinya di situ sebuah perahu tertambat di salah satu tiang jembatan. Pelan-pelan diturun­kannya perempuan itu ke dalamnya. “Nah, sekarang Nenek mesti sabar dan tinggal di sini sebentar. Matahachi sebentar lagi datang.”

“Apa maumu?” teriak Osugi, mencoba menepiskan tangan Musashi dan sekaligus tikar-tikar gelagah di dasar perahu itu. “Apa bedanya, Matahachi datang ke sini atau tidak? Dan kenapa kaubilang dia akan datang? Aku tahu apa yang akan kaulakukan. Kau tak puas kalau hanya membunuhku; kau mau menghinaku juga!”

“Terserah Nenek. Tak lama lagi Nenek akan lihat kebenaranmya.”

“Bunuh aku!”

“Ha, ha, ha!”

“Apa yang lucu? Kau takkan sulit memotong leher tua ini dengan sekali tebas!”

Karena tak ada cara yang lebih baik, Musashi pun mengikatkannya ke bagian lunas perahu yang menyembul ke atas air. Kemudian dimasukkannya pedang perempuan itu ke dalam sarungnya dan diletakkan baik-baik di sampingnya.

Begitu Musashi pergi, Osugi mengejeknya, katanya, “Musashi! Menurutku kau ini tak mengerti Jalan Samurai! Baik, kemari, akan kuajari kamu.”

“Nanti.”

Musashi mulai mendaki tanggul, tapi Osugi demikian hebohnya, hingga terpaksa ia kembali dan menimbunkan beberapa tikar gelagah di atasnya.

Matahari merah besar menyala-nyala di atas Gunung Higashiyama. Musashi memandang terpesona ketika matahari itu naik dan merasakan cahayanya menembus ke dalam dirinya. la pun jadi termenung. Pikirnya, hanya sekali setahun matahari barn ini naik, membikin cacing ego yang mengikat manusia pada pikiran-pikiran kerdilnya mencair dan menghilang oleh cahaya yang luar biasa. Dan Musashi dipenuhi kegembiraan karena masih hidup. Ia berseru gembira di tengah fajar merekali itu, “Aku masih muda!”

Jembatan Besar di Jalan Gojo

“LAPANGAN RENDAIJI… hari kesembilan bulan pertama….”

Membaca kata-kata itu membuat darah Musashi menggelegak.

Namun perhatiannya terganggu oleh rasa nyeri tajam dan menikam pada mata kirinya. Ketika ia mengangkat tangan setinggi kelopak mata, kelihatan ada jarum kecil menancap pada lengan kimononya, dan ketika lebih saksama diperhatikannya ternyata ada empat atau lima lagi bersarang seperti potongan-potongan es kena cahaya pagi.

“Oh, ini dia!” serunya sambil mencabut satu di antaranya dan mengamat­amatinya. Besarnya seperti jarum jahit kecil, tapi tak berlubang, dan bentuknya bukan bulat, tapi segi tiga. “Anjing perempuan!” katanya jijik sambil menatap ke arah perahu. “Aku sudah dengar tentang jarum semburan macam ini, tapi siapa sangka perempuan jelek tua itu yang menembakkannya? Sungguh nyaris.”

Rasa ingin tahu seperti biasa muncul. Ia kumpulkan jarum-jarum itu satu demi satu, kemudian ia sisipkan baik-baik dalam kerahnya, dengan maksud mempelajarinya kemudian. Ia mendengar bahwa di antara para prajurit terdapat dua aliran yang berlawanan mengenai senjata kecil ini. Yang satu berpendapat bahwa jarum itu dapat dengan efektif dipergunakan sebagai alat penangkis dengan menyemburkannya ke wajah lawan, sedangkan yang lain menyatakan bahwa itu omong kosong.

Golongan pendukung senjata itu menyatakan bahwa cara yang sudah sangat tua dalam menggunakan jarum itu dikembangkan dari permainan para penjahit dan pemintal yang pindah dari Tiongkok ke Jepang pada abad enam atau tujuh. Sekalipun tidak dianggap sebagai alat penyerang, menurut mereka senjata itu dipergunakan sampai zaman ke-shogun-an Ashikaga sebagai alat persiapan untuk melindungi diri terhadap lawan.

Pihak lain bahkan sampai menyatakan tak pernah ada teknik kuno dalam hal itu, sekalipun mereka membenarkan semburan jarum itu pernah dipergunakan untuk permainan. Mereka membenarkan, orang-orang perem­puan mungkin saja bermain-main dengan itu, tapi mereka tetap menolak bahwa semburan jarum dapat dikembangkan sampai taraf dapat menimbulkan luka. Mereka juga menyatakan bahwa air ludah memang dapat menahan panas, dingin, atau keasaman tertentu, tapi sedikit saja dapat menahan rasa nyeri akibat jarum yang menusuk bagian dalam mulut. Jawaban atas pertanyaan ini tentu saja bahwa dengan latihan yang cukup, orang dapat menyimpan jarum-jarum dalam mulutnya tanpa merasa sakit dan me­luncurkannya dengan lidah, dengan ketepatan dan kekuatan tinggi. Itu cukup untuk membutakan orang.

Orang-orang yang tak percaya membantah. Mereka berpendapat bahwa sekalipun jarum itu dapat disemburkan dengan keras dan cepat, kemungkinan untuk dapat melukai seseorang sangat minim.

Bagaimanapun, menurut mereka bagian wajah yang lemah terhadap serangan itu hanyalah mata, sedangkan kemungkinan jarum itu mengenai mata tidak begitu besar, biarpun dalam kondisi paling menguntungkan. Dan kerusakan yang ditimbulkannya tidaklah berarti.

Mendengar banyak argumentasi pada waktu yang berlain-lainan, Musashi cenderung memihak orang-orang yang menyangsikannya. Tapi sesudah men­dapat pengalaman sendiri, ia pun sadar bahwa penilaiannya terlampau tergesa-gesa dan bahwa penggal-penggal pengetahuan yang diperoleh secara sembarangan saja dapat terbukti sangat penting dan bermanfaat.

Jarum-jarum itu tidak mengenai biji matanya, tapi matanya kini berair. Ketika ia sedang meraba-raba pakaiannya untuk mencari sesuatu yang dapat dipergunakannya mengeringkannya, didengarnya bunyi kain disobek. Dan ketika ia menoleh, dilihatnya seorang gadis sedang merobek secarik kain merah dari lengan baju dalamnya.

Akemi datang berlari kepadanya. Rambutnya tidak ditata untuk perayaan Tahun Baru dan kimononya acak-acakan. Ia mengenakan sandal, tapi tanpa kaus. Musashi menyipitkan mata memandang kepadanya dan bergurnam. Walau gadis itu tidak asing baginya, tapi tak dapat ia mengenali wajahnya.

“Ini aku, Takezo… eh, Musashi,” kata Akemi ragu-ragu sambil me­nawarkan kain merah itu. “Matamu kelilipan, ya? Jangan gosok. Bisa lebih sakit. Pakai ini.”

Musashi menerima kebaikannya tanpa mengatakan sesuatu, lalu menutup matanya dengan kain itu. Kemudian ia menatap wajah Akemi dengan saksama.

“Kau tak ingat aku?” tanya Akemi tak percaya. “Kau harus ingat!” Wajah Musashi betul-betul kosong.

“Harus!”

Sikap diam Musashi itu membobol tanggul penahan emosi Akemi yang sudah lama terpendam. Jiwanya yang sudah demikian terbiasa dengan kesedihan dan kekejaman itu telanjur bergayut pada harapan terakhir ini, dan kini fajar sudah menyingsing, karena itu semuanya jadi tak lebih dari khayal yang telah diciptakannya sendiri. Di dalam dadanya terbentuk gumpalan keras, dan terdengarlah ia tercekik. Sekalipun ia menutup mulut dan hidung untuk menindas sedu-sedannya, namun bahunya menggeletar tak terkendalikan lagi.

Caranya memandang sewaktu menangis itu mengingatkan Musashi kepada sikap gadis polos di zaman Ibuki. Ketika itu anak itu menggantungkan giring-giring pada obi-nya. Musashi melingkarkan tangannya ke bahu yang tipis dan lemah itu.

“Kamu Akemi, tentu saja. Ya, aku ingat. Bagaimana kau bisa sampai di sini? Apa yang terjadi dengan ibumu?” Pertanyaan-pertanyaan Musashi itu seperti mata kail, dan yang paling berat adalah penyebutan nama Oko, yang dengan sendirinya mengingatkannya pada teman lamanya. “Apa kau masih tinggal dengan Matahachi? Dia mestinya datang kemari pagi ini. Apa kebetulan kau tidak bertemu dengannya?”

Setiap patah kata itu menambah penderitaan Akemi. Di dalam pelukan Musashi, tak ada lagi yang diperbuatnya selain menggeleng-gelengkan kepala sambil menangis.

“Apa Matahachi takkan datang?” tanya Musashi lagi. “Apa yang terjadi dengannya? Bagaimana aku bisa mengerti, kalau kamu cuma menangis?”

“Dia… dia… dia takkan datang. Dia tak pernah… tak pernah terima pesan-mu.” Dan Akemi pun menekankan wajahnya ke dada Musashi dan kembali menangis mengejang-ngejang.

Ia ingin mengatakan… bercerita… tapi setiap gagasan mati dalam otaknya yang demam. Bagaimana ia dapat menceritakan kepada Musashi nasib ngeri yang dideritanya karena ibunya? Bagaimana mungkin ia meng­utarakannya dalam kata-kata, apa yang telah terjadi di Sumiyoshi atau pada hari-hari sesudah itu?

Jembatan itu bermandikan matahari Tahun Baru, dan semakin banyak orang berlalu lalang. Gadis-gadis berkimono baru cemerlang pergi melakukan sembahyang Tahun Baru di Kuil Kiyomizudera. Laki-laki berpakaian jubah resmi mulai melakukan kunjungan Tahun Baru. Hampir tersembunyi di tengah mereka itu ada Jotaro dengan rambut awut-awutan seperti biasa. Hampir sampai tengah jembatan, baru ia melihat Musashi dan Akemi.

“Apa pula ini?” tanyanya pada diri sendiri. “Kupikir dia bersama Otsu. Tapi itu bukan Otsu!” Ia berhenti dan wajahnya berubah.

Ia betul-betul terpukau. Sebetulnya tidak apa-apa, kalau tak ada orang memperhatikan. Tapi di sana mereka beradu dada dan saling peluk di jalan ramai. Seorang lelaki dan seorang perempuan saling dekap di depan umum? Itu tak kenal malu. Ia tak dapat percaya bahwa orang dewasa dapat berlaku demikian memalukan, lebih-lebih sensei-nya sendiri yang dipujanya. Jantung Jotaro berdentam hebat. Ia merasa sedih dan sekaligus sedikit cemburu. Dan marah, begitu marah, hingga ia ingin memungut batu dan melempar mereka.

“Aku pernah melihat perempuan itu,” pikirnya. “Ah… ya, dialah yang menyampaikan pesan Musashi untuk Matahachi. Ya… dia itu gadis warung teh, jadi tak heran. Tapi bagaimana pula mereka bisa saling kenal? Rasanya ini mesti kusampaikan pada Otsu!”

Ia menengok ke sana kemari di jalan itu, mengintai dari susuran jembatan, tapi tak ada tanda-tanda Otsu.

Malam kemarin, karena yakin akan bertemu Musashi hari berikutnya, Otsu mengeramasi rambutnya dan tetap jaga sampai jam-jam pertama Tahun Baru karena menata rambutnya secara layak. Kemudian ia mengenakan kimono hadiah Keluarga Karasumaru, dan sebelum fajar ia pergi memberikan penghormatan ke Kuil Gion dan Kiyomizudera, dan akhirnya pergi ke Jalan Gojo. Jotaro ingin mengawaninya, tapi ia menolak.

Menurut Otsu, pada hari biasa tidak apalah, tapi hari ini Jotaro akan merupakan gangguan. “Kamu diam di sini,” katanya. “Pertama, aku mau bicara dengan Musashi sendiri. Kamu boleh pergi ke jembatan sesudah hari terang, tapi tak perlu buru-buru. Dan jangan kuatir; aku berjanji akan menantimu di sana dengan Musashi, waktu kamu datang.”

Jotaro lebih dari sekadar jengkel. Tidak hanya ia merasa sudah cukup dewasa untuk memahami perasaan Otsu, ia pun menghargai perasaan saling tertarik antara lelaki dan perempuan. Pengalaman berguling-guling di jerami dengan Kocha di Koyagyu itu belum luntur dari kenangannya; sekalipun begitu, aneh baginya bahwa seorang perempuan dewasa seperti Otsu pergi ke sana kemari bermuram durja dan menangisi seorang lelaki.

Walau sudah berusaha setengah mati, ia tak dapat menemukan Otsu. Sementara ia sedang resah itu, Musashi dan Akemi pergi ke ujung jembatan, agaknya supaya tidak tampak terlalu mencolok. Musashi melipatkan lengan dan bersandar pada susuran jembatan. Akemi berdiri di sampingnya, me­mandang ke sungai. Mereka tidak melihat Jotaro ketika ia menjelinap lewat di sisi lain jembatan itu.

“Kenapa begini lama? Berapa lama orang bisa berdoa buat Kannon?” Sambil menggerutu, Jotaro berjingkat dan menatapkan pandangan ke ujung Jalan Gojo.

Sekitar sepuluh langkah dari tempat berdirinya terdapat empat atau lima pohon liu yang tak berdaun. Sering kali kawanan bangau putih berkumpul sepanjang sungai itu, mencari ikan, tapi hari ini tak seekor pun kelihatan. Seorang pemuda berkuncung panjang bersandar pada cabang pohon liu yang menjulur ke tanah seperti naga yang sedang tidur.

Di jembatan, Musashi mengangguk ketika Akemi berbisik bergairah kepadanya. Akemi membuang jauh-jauh harga dirinya dan sedang bercerita kepada Musashi tentang segalanya, dengan harapan dapat meyakinkan Musashi agar menjadi miliknya seorang. Sukarlah meneliti, apakah kata-kata yang diucapkannya menembus telinga Musashi. Musashi memang terkadang mengangguk, tapi pandangan matanya bukan pandangan seorang kekasih yang sedang mengucapkan kata-kata manis kosong kepada kekasihnya.

Sebaliknya biji matanya bersinar tanpa warna dan tanpa panas, dan terpusat terus pada sesuatu. Akemi tak menyadari ini. Karena tenggelam sepenuhnya, ia sampai tercekik sedikit ketika mencoba menguraikan perasaan yang dikandungnya.

“Nah,” demikian keluhnya, “sudah kuceritakan padamu semua yang bisa kuceritakan. Tak ada sama sekali yang kusembunyikan.” Sambil beringsut mendekati Musashi, katanya prihatin, “Empat tahun sudah lewat sejak Sekigahara itu. Tubuh dan jiwaku sudah berubah.” Kemudian sambil mencucurkan air mata, “Tapi tidak! Aku tidak betul-betul berubah. Perasaan­ku padamu tak berubah sedikit pun. Aku yakin betul. Kau mengerti, Musashi? Mengerti bagaimana perasaanku?”

“Mm. Mm.”

“Cobalah kau mengerti! Aku sudah menceritakan segalanya. Aku bukan bunga liar yang tanpa dosa seperti ketika kita pertama bertemu di kaki Gunung Ibuki. Aku cuma perempuan biasa yang sudah diperkosa…. Tapi kesucian itu persoalan tubuh atau pikiran? Apa seorang perawan yang berpikiran cabul itu suci?… Aku sudah kehilangan keperawanan gara-­gara… tak dapat aku menyebut namanya, tapi gara-gara lelaki tertentu­, tapi hatiku masih murni.”

“Mm. Mm.”

“Apa kau tidak menyimpan rasa tertentu padaku? Tak bisa aku menyimpan rahasia kepada orang yang kucintai. Aku bertanya-tanya pada diri sendiri, apa yang akan kukatakan, ketika aku melihatmu. Haruskah aku mengatakan semuanya atau tidak? Tapi kemudian jelas soalnya buatku. Tak dapat aku menipumu, biarpun aku menghendakinya. Kuharap kau mengerti! Katakan­lah! Katakan kau memaafkan aku. Atau, apa menurut pendapatmu aku tercela?”

“Mm. Ah….

“Kalau kupikirkan hal itu lagi, aku jadi begitu marah!” Akemi pun menurunkan wajahnya ke susuran jembatan. “Oh, malu aku memintamu mencintaiku. Aku tak punya hak berbuat begitu. Tapi… tapi… dalam hatiku aku masih perawan. Aku masih menilai cinta pertamaku ini seperti sebutir mutiara. Aku belum kehilangan kekayaan itu, dan aku tak mau, tak peduli aku menjalani hidup macam apa, atau ke tengah laki-laki macam apa aku tercebur!”

Tiap helai rambut di kepalanya bergetar bersama sedu-sedannya. Di bawah jembatan tempat jatuhnya air matanya, sungai yang berkilauan dalam matahari Tahun Baru itu mengalir terus seperti impian Akemi tentang keabadian harapan.

“Mm. Mm.” Kepedihan cerita Akemi sering kali mendapat anggukan dan sambutaan suara rendah, tapi mata Musashi tetap terpusat pada titik di kejauhan. Ayahnya pernah mengatakan, “Kau ini tidak seperti aku. Mataku hitam, sedang matamu cokelat tua. Orang bilang, kakekmu, Hirata Shogen, matanya cokelat mengerikan, jadi barangkali kau meniru dia.” Pada waktu itu, dalam sinar matahari yang mencondong, mata Musashi seperti batu koral murni tak bercacat.

“Tentunya dia,” pikir Sasaki Kojiro, orang yang bersandar pada pohon liu itu. Berkali-kali ia mendengar tentang Musashi, tapi inilah untuk pertama kali ia melihatnya.

Musashi bertanya-tanya, “Siapa gerangan orang itu?”

Semenjak mata mereka beradu, diam-diam mereka menyelidik. Masing­masing menaksir dalamnya semangat pihak lain. Dalam melaksanakan Seni Perang, kata orang, kita harus mengukur kemampuan musuh dari ujung pedangnya. Justru inilah yang dilakukan kedua orang itu. Mereka seperti pegulat yang saling mengukur lawan sebelum akhirnya saling cekam. Dan masing-masing punya alasan untuk memandang lawan dengan penuh ke­curigaan.

“Aku tak suka,” pikir Kojiro, mendidih darahnya oleh perasaan tak suka. Ia merawat Akemi sejak menyelamatkannya dari Gunung Amida yang rusak itu. Percakapan intim antara Akemi dan Musashi mengesalkannya. “Barangkali dia jenis orang yang biasa memangsa perempuan-perempuan tak berdosa. Dan Akemi! Akemi tak mengatakan tadi ke mana perginya, tapi sekarang dia ada di sana, menangis di bahu seorang lelaki!” Sedang ia sendiri ada di sini karena mengikutinya.

Nada permusuhan dalam mata Kojiro itu tidak hilang begitu saja. Musashi menyadari terjadinya konflik sesaat yang khas itu, yaitu konflik kemauan yang timbul apabila seorang shugyosha bertemu dengan shugyosha lain. Dan tak ada keraguan pula bahwa Kojiro merasakan semangat me­nantang yang terlontar dari ekspresi Musashi.

“Siapa dia gerangan?” pikir Musashi lagi. “Kelihatannya dia memang jagoan. Tapi kenapa ada pandangan dengki pada matanya? Lebih baik aku mengamatinya.”

Kehebatan kedua lelaki itu bukan bersumber pada mata mereka, tapi pada inti diri mereka. Kembang api seperti akan meloncat dari biji mata mereka. Dilihat dari penampilannya, Musashi tampak setahun atau dua tahun lebih muda dari Kojiro, tapi mungkin juga sebaliknya. Apa pun kenyataannya, mereka berdua memiliki kesamaan: keduanya dalam umur yang ditandai rasa sok, yaitu bahwa mereka merasa yakin tahu segala yang mesti diketahui mengenai politik, masyarakat, Seni Perang, dan semua persoalan lain. Seperti anjing galak yang menggeram apabila melihat anjing galak lainnya, demikianlah Musashi maupun Kojiro. Secara naluriah masing­-masing tahu bahwa pihak lain berbahaya.

Kojiro-lah yang pertama melepaskan pandangannya, dan itu dilakukannya disertai gerutu kecil. Musashi yakin sekali bahwa ia menang, sekalipun ia merasakan ada nada ejekan dalam profil Kojiro. Lawan menyerah kepada pandangan matanya, kepada daya kemampuannya, dan ini membuat Musashi merasa bahagia.

“Akemi,” katanya sambil meletakkan tangan ke bahu Akemi.

Akemi masih tersedu-sedu. Wajahnya menempel di susuran jembatan. la tak menjawab.

“Siapa lelaki di sana itu? Dia kenal kamu, kan? Maksudku pemuda yang tampak seperti calon prajurit itu. Siapa dia?”

Akemi diam saja. Sampai waktu itu, ia belum melihat Kojiro. Ketika melihatnya, wajahnya yang bengkak oleh air mata itu menjadi bingung. “Oh… maksudmu orang jangkung di sana itu?”

“Ya. Siapa dia?”

“Oh, dia… anu… dia… aku tidak begitu kenal dia.”

“Tapi kamu kenal dia, kan?”

“Ya, ya.

“Bawa pedang sebesar dan sepanjang itu, dan pakaiannya memikat perhatian orang-tentunya dia merasa sudah pemain pedang besar! Bagaimana kamu bisa kenal?”

“Beberapa hari lalu,” kata Akemi cepat, “aku digigit anjing, dan darah tak mau berhenti, karena itu aku pergi ke dokter, dan di situ kebetulan dia tinggal. Dia merawatku beberapa hari ini.”

“Dengan kata lain, kamu tinggal serumah dengan dia?”

“Ya, ya, aku memang tinggal di sana, tapi itu tak ada artinya. Tak ada apa-apa antara kami.” Bicaranya lebih tegas sekarang.

“Kalau begitu, kukira kamu tak banyak tahu tentang dia. Apa kamu tahu namanya?”

“Namanya Sasaki Kojiro. Dipanggil juga Ganryu.”

“Ganryu?” Musashi pernah mendengar nama itu.. Walaupun nama itu tidak terlalu terkenal, tapi dikenal oleh para prajurit di sejumlah provinsi.

Ternyata ia lebih muda dari yang pernah dibayangkan Musashi, dan ia memandang orang itu lagi sekarang.

Kemudian terjadilah sesuatu yang ganjil. Sepasang lesung pipit muncul di pipi Kojiro.

Musashi membalas senyumnya. Namun komunikasi diam ini tidaklah penuh sinar perdamaian dan persahabatan, seperti senyum yang dipertukarkan oleh sang Budha dan muridnya Ananda selagi mereka meremas bunga dengan jemari mereka. Dalam senyuman Kojiro terasa cemooh menantang dan unsur ironi.

Sementara itu, senyuman Musashi tidak hanya bersifat menerima tantangan Kojiro, melainkan juga menyampaikan kehendak yang dashyat untuk bertempur.

Akemi terperangkap di antara dua orang yang berkemauan keras itu. Ia
hendak mulai mencurahkan perasaannya kembali, tapi sebelum terlaksana,
Musashi
sudah menyatakan, “Nah, Akemi, kupikir lebih baik kamu kembali ke tempat penginapanmu dengan orang itu. Sebentar lagi aku akan datang menemuimu. Jangan kuatir.”

“Betul-betul kamu akan datang?”

“Ya, tentu.”

“Nama penginapan itu Zuzuya, di depan biara Jalan Rokujo!”

“Baik.”

Sikap sambil lalu dalam jawaban Musashi itu kurang memuaskan Akemi. Ia tarik tangan Musashi dari susuran jembatan dan ia pilin penuh perasaan di belakang lengan kimononya. “Kamu betul-betul akan datang, kan? Janji?”

Jawaban Musashi tenggelam dalam ledakan tawa yang memekakkan telinga. “Ha, ha, ha, ha, ha! Oh! Ha, ha, ha, ha! Oh…” Kojiro membalikkan punggungnya dan pergi baik-baik, membawa kegembiraannya yang tak terkendalikan itu.

Jotaro memandang masam dari ujung sana, pikirnya, “Tak ada yang seaneh itu!” Ia sendiri muak dengan dunia ini, terutama dengan gurunya yang seenaknya, dan juga dengan Otsu.

“Ke mana pula perginya Otsu?” tanyanya lagi sambil melangkah marah ke arah kota. Baru saja beberapa langkah, terlihat wajah Otsu yang putih di antara roda-roda kereta sapi di pangkalan jalan itu. “Itu dia!” teriaknya. Karena tergesa-gesa hendak menangkap Otsu, ia tertumbuk ke hidung sapi.

Lain dari biasanya, hari itu Otsu mengenakan sedikit gincu. Riasannya masih sedikit amatir, tapi baunya enak, sedangkan kimononya merupakan setelan musim semi yang manis, dengan sulaman pola putih dan hijau pada latar belakang merah muda. Jotaro mendekap dari belakang. Ia tak peduli tindakannya mengacaukan rambut Otsu atau mengotorkan pupur putih di lehernya.

“Kenapa Kakak sembunyi di sini? Berjam-jam aku menunggu. Ayo ikut aku, cepat!”

Otsu tak menjawab.

“Ayo, sekarang juga!” mohonnya sambil mengguncang-guncangkan bahu Otsu. “Musashi ada di sini juga. Lihat, Kakak dapat melihat dari sini. Aku marah juga sama dia, tapi biar bagaimana ayolah. Kalau kita tidak buru-­buru, dia akan pergi!” Ia pegang pergelangan Otsu dan mencoba menarik Otsu berdiri, tapi ia lihat tangan Otsu basah. “Wah! Kakak menangis?”

“Jo, sembunyilah di belakang kereta ini seperti aku. Ayolah!”

“Kenapa?”

“Tak usah tanya kenapa.”

“Nah, inilah…” Jotaro melontarkan kemarahannya. “Inilah yang kubenci pada perempuan. Mereka suka bikin hal-hal yang aneh! Kakak selalu bilang ingin ketemu Musashi, dan di mana-mana nangis mencari dia. Tapi sekarang, ketika dia ada di depan mata, Kakak putuskan sembunyi. Malahan Kakak suruh aku sembunyi! Apa tidak aneh? Ha-oh, ketawa pun aku tak bisa.”

Kata-kata itu menyengat seperti cambuk. Sambil mengangkat matanya yang merah bengkak, Otsu berkata, “Jangan kamu bicara begitu, Jotaro. Aku mohon. Dan jangan kejam padaku juga!”

“Kenapa menuduh aku kejam? Apa yang kulakukan?”

“Diamlah. Dan rundukkan badan di sini denganku.”

“Aku tak mau. Ada tahi sapi di tanah itu. Kakak tahu sendiri, kata orang, kalau kita nangis pada Tahun Baru, burung gagak pun akan me­nertawakan kita.”

“Oh, aku tak peduli. Aku cuma…”

“Nah, kalau begitu aku akan menertawakan Kakak! Tertawa macam samurai beberapa menit lalu itu. Ini ketawaku yang pertama pada Tahun Baru. Cocok buat Kakak?”

“Ya. Tertawalah! Tertawalah keras-keras!”

“Tidak bisa,” kata Jotaro sambil menghapus hidungnya. “Berani bertaruh, aku tahu apa soalnya. Kakak cemburu, karena Musashi bicara dengan perempuan itu.”

“Bukan… bukan itu! Sama sekali bukan!”

“Memang! Aku tahu, memang itu. Perbuatan itu bikin aku marah juga. Tapi kan masih banyak alasan lain untuk datang dan bicara dengannya? Kakak kan belum mengerti apa-apa.”

Otsu tidak memperlihatkan tanda-tanda akan berdiri, tapi Jotaro me­nyentakkan pergelangannya demikian keras, hingga akhirnya ia terpaksa berdiri.

“Berhenti!” teriak Otsu. “Sakit! Jangan dendam begitu. Kaubilang aku tak mengerti apa-apa, padahal kau sama sekali tak mengerti perasaanku.”

“Aku tahu betul apa yang Kakak rasakan. Kakak cemburu!”

“Bukan hanya itu.”

“Diamlah. Ayo pergi!”

Otsu keluar dari belakang kereta, walau enggan. Anak itu menariknya, dan kaki Otsu mencakar-cakar tanah. Jotaro terus menarik-narik dan menjulurkan leher, melihat ke arah jembatan. “Lihat!” kata Jotaro. “Akemi tak ada lagi.”

“Akemi? Siapa itu Akemi?”

“Gadis yang diajak bicara Musashi tadi…. Nah, nah! Musashi pergi sekarang. Kalau tak dikejar, dia bisa hilang.” Jotaro melepaskan Otsu dan berjalan ke arah jembatan.

“Tunggu!” teriak Otsu sambil melontarkan pandangan ke jembatan, untuk mendapatkan kepastian bahwa Akemi tidak terlihat lagi. Setelah yakin bahwa saingannya benar-benar sudah pergi, ia tampak puas sekali dan dahinya tidak mengerut lagi. Tapi ia kembali ke belakang kereta untuk mengeringkan matanya yang bengkak dengan lengan kimono, merapikan runbut, dan meluruskan kimono.

“Cepat, Otsu!” seru Jotaro tak sabar. “Musashi turun ke sungai. Ini bukan waktunya berdandan!”

“Ke mana?”

“Turun ke sungai. Saya tak tahu kenapa, tapi dia ke sana.” Keduanya berlari bersama ke ujung jembatan. Sambil meminta-minta maaf, Jotaro merintis jalan di tengah orang banyak, menuju susuran jembatan.

Musashi masih berdiri dekat perahu tempat Osugi menggeliat-geliat mencoba membebaskan diri dari ikatan.

“Maaf, Nek,” katanya, “tapi rupanya Matahachi takkan datang sama sekali. Saya berharap dapat ketemu dengannya tak lama lagi dan mencoba mengobarkan keberanianya. Sementara itu, Nenek sendiri mesti mencoba menemukannya dan membawanya pulang sebagai anak yang baik. Itu cara yang jauh lebih baik untuk menyatakan rasa terima kasih Nenek kepada leluhur, daripada mencoba memotong kepala saya.”

Ia selipkan tangannya ke bawah tikar, dan dengan pisau kecil diputus­kannya talinya.

“Kau bicara terlalu banyak, Musashi! Aku tak butuh nasihatmu! Susun pikiranmu yang bodoh itu, apa yang mau kaulakukan. Kau mau bunuh aku atau dibunuh?”

Nadi-nadi biru cemerlang muncul di seluruh wajah Osugi ketika ia meronta melepaskan diri dari bawah tikar, tapi ketika ia berdiri, Musashi sudah menyeberang sungai, melompat-lompat seperti kodok menyeberangi karang dan beting. Dalam waktu singkat ia sudah mencapai seberang dan mendaki puncak tanggul.

Jotaro melihatnya dan berteriak, “Lihat, Otsu! Itu dia!” Anak itu langsung turun tanggul dan Otsu mengikuti.

Bagi Jotaro yang cekatan, sungai dan pegunungan tak berarti apa-apa, tetapi Otsu yang mengenakan kimono bagus itu tiba-tiba berhenti di tepi sungai. Musashi tak kelihatan sekarang, tapi Otsu berdiri di situ, menjeritkan namanya berulang-ulang dengan sekuat paru-parunya.

“Otsu!” terdengar jawaban dari tempat yang tak diduga-duga. Osugi tak sampai seratus kaki dari situ.

Ketika Otsu melihat siapa orang itu, ia berteriak, sesaat menutup wajahnya dan lari.

Perempuan tua itu tak membuang-buang waktu, dan mengejar. Rambutnya yang putih melambai-lambai oleh angin. “Otsu!” jeritnya dengan suara yang dapat membelah air Sungai Kamo. “Tunggu! Aku ingin bicara denganmu!”

Perempuan tua yang curiga sifatnya itu mulai mereka-reka sendiri dalam pikirannya tentang hadirnya Otsu. Ia yakin Musashi mengikatnya karena Musashi hendak bertemu dengan gadis itu dan tak ingin kelihatan olehnya. Kemudian, demikian pikirnya, kata-kata Otsu menyinggung perasaannya dan Musashi meninggalkannya. Tidak sangsi lagi, itulah sebabnya Otsu memanggil Musashi kembali.

“Gadis itu tak dapat diperbaiki lagi!” katanya. Kebenciannya pada Otsu jadi lebih besar lagi daripada kebenciannya pada Musashi. Di dalam pikirannya, Otsu sudah sah menjadi menantunya, tak peduli apakah per­kawinan sudah berlangsung atau belum. Janji sudah diberikan, dan kalau calon istri ini membenci anaknya, mestinya la membenci juga mertuanya sendiri.

“Tunggu!” jeritnya lagi, hingga mulutnya terbuka lebar dari telinga kiri ke telinga kanan.

Kerasnya jeritan itu mengagetkan Jotaro yang waktu itu berada di sampingnya, maka dicengkeramnya perempuan itu, dan pekiknya, “Kamu mau apa, tukang sihir tua?”

“Menyingkir kamu!” teriak Osugi menepiskan Jotaro.

Jotaro tidak tahu siapa perempuan itu dan kenapa Otsu lari melihatnya, tapi ia merasa bahaya mengancam darinya. Sebagai anak Aoki Tanzaemon dan murid satu-satunya Miyamoto Musashi, ia tak mau disingkirkan dengan siku kurus seorang perempuan tua jelek.

“Oh, kau tak boleh memperlakukan aku begitu!” Dikejarnya perempuan tua itu dan hinggaplah ia di punggungnya.

Osugi cepat mengibaskannya, dan sambil memitingnya dijatuhkannya tamparan keras beberapa kali. “Setan kecil kamu! Ini pelajaran buat orang yang suka mengganggu!”

Sementara Jotaro berjuang melepaskan diri, Otsu berlari terus dengan pikiran kacau. Ia masih muda, dan seperti kebanyakan oang muda, ia masih penuh harapan dan tidak terbiasa menangisi nasibnya yang sial. Ia melahap setiap hari baru, seakan-akan cahaya itu bunga-bunga di kebun Yang disinari matahari. Kesedihan dan kekecewaan memang menjadi ke­nyataan hidup, rapt semuanya itu tidak membebaninya terlalu lama. Begitu pula ia tak dapat membayangkan kesenangan yang sepenuhnya terpisah dari rasa pedih.

Tapi hari ini ia dipaksa melepaskan optimismenya, bukan satu kali, melainkan dua kali. Kenapa ia sampai datang kemari pagi ini? Demikianlah ia bertanya pada diri sendiri.

Tak ada air mata atau kemarahan yang dapat menghilangkan guncangan itu. Sepintas-lintas terpikir olehnya untuk bunuh diri, kemudian dikutuknya semua lelaki sebagai pembohong kejam. Berganti-ganti ia berang dan sengsara, benci kepada dunia, benci kepada diri sendiri, terlalu tak berdaya untuk mencari kelegaan dalam air mata ataupun berpikir dengan jelas tentang segala sesuatu. Darahnya mendidih karena cemburu, dan kegoyahan yang ditimbulkannya membuat ia mencaci diri sendiri atas begitu banyak kekurangan yang ia miliki, termasuk tak adanya sikap tenang pada waktu ini. Berulang-ulang ia menyuruh dirinya tetap tenang dan sedikit demi sedikit ia menekan berbagai dorongan dari bawah tabir harga dirt yang sewajarnya dimiliki kaum perempuan.

Selama gadis asing itu berada di samping Musashi, Otsu tidak dapat bergerak. Tapi ketika Akemi pergi, kesabarannya habis. Otsu merasa harus bertemu Musashi dan mencurahkan segala yang dirasakannya. Sekalipun tidak tahu di mana harus memulai, ia sudah memutuskan untuk mem­bukakan hatinya dan menceritakan segalanya kepada Musashi.

Tetapi hidup ini penuh dengan kecelakaan kecil. Satu langkah keliru saja—salah hitung kecil yang dibuat di tengah gejolak peristiwa—dapat mengubah bentuk persoalan selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun mendatang. Justru karena membiarkan Musashi lepas dari pandangan sedetik itu maka Otsu dapat ditemukan Osugi. Pada pagi Tahun Baru yang mulia ini, kebun kegembiraan Otsu dilanda kawanan ular.

Ini sama dengan mimpi buruk yang menjadi kenyataan. Dalam banyak mimpinya yang kacau ia sudah bertemu dengan wajah Osugi yang menatap jahat, dan inilah kini kenyataan telanjang itu.

Sesudah berlari beberapa ratus meter, Otsu kehabisan napas sama sekali. Ia berhenti dan menoleh ke belakang. Untuk sesaat napasnya berhenti sama sekali. Osugi yang berada sekitar seratus meter dari situ sedang memukuli dan mengayun-ayunkan Jotaro ke kiri dan ke kanan.

Jotaro melawan, menendang tanah, menendang udara, sekali-sekali me­mukul kepala penangkapnya.

Otsu melihat bahwa sebentar lagi Jotaro berhasil menarik pedang kayunya. Dan bila demikian, pasti perempuan itu akan menghunus pedang pendeknya dan takkan menyesal menggunakannya. Pada saat itu, Osugi bukan orang yang akan menunjukkan belas kasihan. Jotaro bahkan bisa terbunuh.

Otsu dalam keadaan sulit luar biasa. Jotaro mesti diselamatkan, tapi ia tak berani mendekati Osugi.

Jotaro memang berhasil meloloskan pedang kayu dari obi-nya, tapi tidak berhasil meloloskan kepalanya dari cengkeraman Osugi yang seperti catok itu. Segala tendangan dan ayunan tangannya hanya merugikan dirinya, karena semua menambah keyakinan diri perempuan tua itu.

“Anak bandel!” teriaknya menghina. “Apa yang mau kaulakukan? Niru kodok?” Giginya yang merongos membuat bibirnya tampak seperti bibir kelinci, tetapi air mukanya memperlihatkan kemenangan tersembunyi. Se­langkah demi selangkah ia mengingsut mendekati Otsu.

Melihat gadis yang ketakutan itu, sifat liciknya tampil. Dalam sekejap terpikir olehnya bahwa ia menempuh jalan yang salah. Sekiranya lawannya itu Musashi, kecohan takkan mempan. Musuh di depannya sekarang Otsu—yang halus, yang polos—yang barangkali dapat dibuat percaya akan segalanya, asalkan disampaikan dengan lemah lembut dan dengan nada tulus. Pertama ia mesti diikat dengan kata-kata, demikian pikir Osugi, dan kemudian dipanggang untuk makan malam.

“Otsu!” panggilnya dengan nada betul-betul pedih. “Kenapa kau lari? Apa yang membuatmu lari begitu melihatku? Kau lari juga waktu di dimaafkan, tapi masih ada Matahachi yang mesti dipertimbangkan. Apa kau tak mau bertemu lagi dengannya dan bicara dengannya? Sejak dia lari dengan perempuan lain atas kemauan sendiri, menurutku dia takkan minta kamu kembali padanya. Sebetulnya aku tak suka dia melakukan sesuatu yang hanya mementingkan diri sendiri, tapi…”

“Apa?”

“Apa setidaknya kamu tak mau bertemu dengannya? Nanti, kalau kalian sudah berdua, akan kuceritakan padanya bagaimana duduk perkaranya. Dengan begitu, aku dapat menunaikan tugasku sebagai ibu. Aku akan merasa sudah melaksanakan segalanya semampuku.”

“Saya mengerti,” jawab Otsu. Dari pasir di sampingnya, seekor kepiting kecil merangkak ke luar, lalu bergegas lari ke belakang batu. Jotaro menangkapnya, kemudian pergi ke belakang Osugi dan menjatuhkannya ke atas kepalanya.

Kata Otsu, “Tapi biar bagaimana, saya merasa sesudah terjadi semua peristiwa itu, lebih baik saya tidak bertemu Matahachi.”

“Aku bersamamu. Apa tidak lebih baik untukmu kalau kamu bertemu dengannya dan mengutarakan segalanya?”

“Ya, tapi…”

“Nah, kalau begitu lakukanlah itu. Kukatakan ini demi masa depanmu sendiri.”

“Kalau saya setuju… bagaimana kita bisa bertemu dengan Matahachi. Apa Nenek tahu di mana dia?”

“Aku dapat cepat menemukan dia. Cepat sekali… kau tahu, baru-baru ini aku bertemu dengannya di Osaka. Lagi ngumbar napsu, dan di­tinggalkannya aku di Sumiyoshi. Tapi biasanya kalau dia berbuat seperti itu, dia akan menyesal. Tak lama lagi dia pasti muncul di Kyoto mencariku.

Otsu merasa kurang enak, karena menurutnya Osugi berbohong. Tapi hanyut juga ia oleh rasa sayang orang tua itu kepada anaknya yang brengsek. Namun yang menyebabkan ia menyerah sepenuhnya adalah keyakinan bahwa yang diusulkan Osuugi itu benar dan wajar.

“Bagaimana kalau saya pergi membantu Nenek mencari Matahachi.demikian tanyanya.

“Oh, kau mau?” teriak Osugi, menggenggam tangan gadis itu.

“Ya, saya pikir saya mesti pergi.”

“Baiklah, ikutlah denganku sekarang ke penginapan. Uh! Apa ini? Sambil berdiri ia meraba belakang kerahnya dan menangkap kepiting itu.

Ia gemetar, serunya, “Oh, bagaimana dia bisa sampai di sini?” Ia mengulurkan tangannya, kemudian mengibaskan kepiting itu dari jari-jarinya.

Jotaro yang berada di belakangnya menahan gelaknya, tapi Osugi tak dapat dikibuli. Dengan mata menyala ia menoleh dan menatap Jotaro. “Perbuatanmu itu, aku yakin!”

“Bukan aku. Aku tidak melakukannya.” Jotaro lari mendekati tanggul menyelamatkan diri, dan serunya, “Otsu, Kakak akan pergi dengan dia ke penginapan, ya?”

Sebelum Otsu dapat menjawab sendiri, Osugi sudah mengatakan, “Ya, dia ikut aku. Aku tinggal di penginapan dekat kaki Bukit Sannen. Selamanya aku tinggal di sana jika datang di Kyoto. Kami tak butuh kamu. Kembalilah kau ke tempatmu sendiri.”

“Baik, aku tinggal di rumah Karasumaru. Kakak datang ke sana juga, kalau sudah selesai urusannya.”

Waktu itu Otsu merasakan denyutan kekuatiran. “Jo, tunggu!” Ia berlari cepat naik tanggul, karena enggan melepaskan Jotaro pergi. Karena takut gadis itu akan mengubah pikiran dan melarikan diri, Osugi cepat meng­ikutinya, tapi beberapa saat lamanya Otsu dan Jotaro sempat sendirian.

“Kupikir aku mesti pergi dengan dia,” kata Otsu. “Tapi aku akan datang ke tempat Yang Dipertuan Karasumaru, begitu ada kesempatan. Jelaskan semuanya pada mereka dan mohonlah tinggal di sana sampai aku selesai dengan urusanku.”

“Jangan kuatir. Aku akan menunggu Kakak.”

“Cari Musashi selama kau menunggu, ya?”

“Nah, ke situ lagi Kakak ini maunya! Waktu Kakak menemukan dia, Kakak sembunyi. Dan sekarang Kakak menyesal. Jangan Kakak bilang aku tidak memperingatkan.”

Osugi datang dan berdiri di antara keduanya. Ketiganya berjalan kembali ke jembatan. Pandangan Osugi yang seperti jarum itu berulang-ulang menghujam ke arah Otsu. Ia tak berani mempercayai gadis itu. Walau tak sedikit pun menduga bencana yang menghadangnya, namun Otsu merasa sudah terperangkap.

Sampai di jembatan, matahari sudah tinggi di atas pohon liu dan pinus, jalan-jalan sudah penuh orang-orang yang berbondong-bondong merayakan Tahun Baru, Satu gerombolan besar di antaranya berkerumun di depan papan yang terpasang di Jembatan.

“Aku tak pernah dengar tentang dia.”

“Tentunya jagoan boleh juga, kalau berani menghadapi orang-orang Yoshioka. Menarik juga untuk ditonton.”

Otsu berhenti dan memandang, Osugi dan Jotaro juga berhenti dan memandang sambil mendengarkan bisik-bisik orang yang memantul-mantul pelan di sana-sini. Seperti riak-riak air yang digerakkan ikan-ikan mino di bering, nama Musashi menyebar ke tengah orang banyak itu.


Cerita Novel Musashi buku 3, karangan Eiji Yoshikawa, terbitan gramedia, di kutip dari Website:
http://topmdi.com/ceritawp//?cat=44
[lihat: Lanjutan cerita]


0 KOMENTAR ANDA:

Post a Comment