Saturday, May 10, 2008

Miyamoto Musashi, Buku 1-2


Cerita Novel Musashi buku 1, karangan Eiji Yoshikawa, terbitan gramedia.
[Lihat: Pengantar] [lihat: Cerita Sebelumnya]


Kegarangan si Jenggot Jarang menguap dalam sekejap. Mabuknya pun sudah sedikit berkurang, sekalipun tampaknya ia masih belum dapat menilai apakah yang dikatakan Takuan itu benar atau tidak. la tampak lumpuh, dan tidak tahu mau bertindak bagaimana.
“Pertama-tama, lebih baik kau duduk dulu,” kata biarawan itu. “Kalau kaupikir aku bohong, aku senang bisa pergi bersamamu ke puri dan menghadap Yang Dipertuan sendiri. Sebagai hadiah, aku bisa membawakannya tepung soba lezat, yang bisa dibikin orang sini. Beliau suka sekali tepung itu.
“Tapi tak ada yang lebih capek, dan tak ada yang paling tidak kusukai daripada mendatangi seorang daimyo. Dan lagi, kalau orang-orang yang menjadi korban tindakanmu di Miyamoto kebetulan datang selagi kami mengobrol sambil minum teh, aku tak dapat berbohong. Kejadiannya barangkali akan berakhir dengan kau bunuh diri gara-gara ketidakmampuanmu.
“Sudah dari semula kukatakan supaya jangan mengancamku, tapi kalian para prajurit ini memang sama saja. Kalian tak pernah berpikir tentang konsekuensi. Dan inilah kekurangan kalian yang terbesar.
“Sekarang turunkan pedang itu; akan kuceritakan hal lain.”
Kapten yang sudah tak berdaya itu pun menurut.
“Kau tentu kenal dengan buku Seni Perang karangan Jenderal Sun-tzu, yang merupakan karya klasik Cina tentang strategi militer? Aku yakin prajurit setarafmu kenal sekali dengan buku yang demikian penting. Aku menyebutnya karena aku ingin memberikan satu pelajaran yang menggambarkan salah satu prinsip utama buku itu. Aku mau menunjukkan kepadamu bagaimana menangkap Takezo tanpa kehilangan lagi anak buah atau menyebabkan orang kampung mendapat kesulitan lebih dari yang sudah kauberikan. Ini ada hubungannya dengan kerja resmimu, karena itu kau mesti benar-benar memperhatikannya.” la menoleh pada sang gadis. “Otsu, tolong tuangkan secangkir sake lagi untuk Kapten.”
Kapten itu lelaki umur empat puluhan, kira-kira sepuluh tahun lebih tua daripada Takuan, tapi jelas dari wajah mereka waktu itu bahwa kekuatan watak tak ada urusannya dengan umur. Cacian lisan Takuan telah merendahkan orang yang lebih tua itu, dan keangkuhannya pun menguap.
Dengan takut-takut ia berkata, “Tidak, saya tak mau lagi sake. Saya minta Anda memaafkan saya. Saya tak tahu sama sekali bahwa Anda teman Yang Dipertuan Terumasa. Maaf, saya telah berlaku terlalu kasar.” la jadi begitu tertekan, hingga tampak menggelikan, tapi Takuan menahan diri untuk tidak lebih memojokkannya lagi.
“Mari kita lupakan saja. Yang ingin kubicarakan adalah bagaimana menangkap Takezo. Itulah yang harus Anda lakukan untuk melaksanakan perintah dan menjaga kehormatan Anda sebagai samurai.”
“Ya.”
“Tentu saja aku juga tahu bahwa buat Anda tidak penting berapa lama dibutuhkan untuk menangkap orang itu. Bukankah makin lama waktu itu, makin lama Anda bisa tinggal di kuil ini, makan, dan mengerling Otsu?”
“Saya minta jangan membawa-bawa lagi soal itu. Terutama di depan Yang Dipertuan.” Serdadu itu pun tampak seperti seorang anak yang akan menangis.
“Aku bersedia menganggap seluruh peristiwa ini sebagai rahasia. Tapi kalau pencarian di pegunungan sepanjang hari itu berjalan terus, para petani akan mengalami kesulitan besar. Tidak hanya para petani, tetapi juga penduduk kampung terlalu limgung dan ketakutan untuk melakukan pekerjaan yang biasa. Menurut penglihatanku, kesulitannya adalah Anda tidak menggunakan strategi yang sewajarnya. Bahkan menurut pendapatku Anda tidak menggunakan strategi sama sekali. Apa betul anggapanku, bahwa Anda tidak mengenal Seni Perang?”
“Saya malu mengakuinya, tapi memang demikian.”
“Nah, Anda harus merasa malu. Karena itu tak akan kaget kalau aku sebut Anda tolol. Anda bisa saja seorang pejabat, tapi menyedihkan sekali, Anda orang yang tidak berpendidikan dan sama sekali tidak efektif. Tapi tak ada gunanya membikin pusing Anda. Aku hanya akan mengusulkan sesuatu. Aku pribadi menawarkan diri untuk menangkap Takezo dalam tiga hari.”
“Anda menangkap dia?”
“Apa Anda kira aku berkelakar?”
“Tidak, tapi…”
“Tapi apa?”
“Tapi kalau dihitung tenaga bantuan dari Himeji dan semua petani serta prajurit itu, lebih dari dua ratus orang sudah menjelajahi pegunungan itu hampir tiga minggu lamanya.”
“Aku paham betul.”
“Dan karena sekarang ini musim semi, Takezo beruntung. Banyak yang bisa dimakan pada musim ini.”
“Kalau begitu, apa Anda merencanakan untuk menunggu sampai turun saiju? Kira-kira delapan bulan lagi?”
“Tidak, saya pikir tak bisa.”
“Tentu saja tidak bisa. Justru karena itu aku menawarkan diri menangkapnya untuk Anda. Aku tidak membutuhkan bantuan; aku dapat melakukannya sendiri. Tapi pikir-pikir, barangkali aku akan membawa serta Otsu. Ya, kami berdua cukuplah.”
“Anda main-main saja, kan?”
“Diam dulu! Apa menurut Anda, Takuan Soho menghabiskan seluruh waktunya buat bikin lelucon?”
“Maaf.”
“Seperti kukatakan tadi, Anda tidak mengenal Seni Perang, padahal menurut pendapatku, itulah sebab terpenting kegagalan Anda yang memalukan. Sebaliknya, mungkin saja aku hanya seorang pendeta sederhana, tapi aku memahami Sun-tzu. Sekarang tinggal satu syarat lagi. Kalau Anda tak setuju, aku terpaksa duduk lagi dan melihat saja Anda terus membuat kesalahan besar, sampai salju jatuh, dan barangkali juga kepala Anda.”
“Apa syaratnya?” tanya Kapten hati-hati.
“Kalau aku berhasil membawa pulang pelarian itu, akulah yang menentukan nasibnya.”
“Apa maksud Anda?” Kapten menarik-narik kumisnya. Berbagai pikiran berkecamuk dalam kepalanya. Bagaimana mungkin ia bisa yakin biarawan aneh ini tidak akan menipunya? Walau ia bicara lancar, ada kemungkinan ia sama sekali tidak waras. Mungkinkah ia teman Takezo, seorang anteknya? Mungkinkah ia tahu di mana orang itu bersembunyi? Tapi kalaupun tidak tahu-rasanya memang tidak-apa salahnya memberinya kesempatan, sekadar untuk melihat apakah ia berhasil dengan rencana gilanya. Setidak-tidaknya barangkali ia dapat memetik hasil pada saat terakhir. Dengan pikiran itu, Kapten mengangguk tanda setuju. “Baiklah kalau begitu. Kalau Anda menangkapnya, Anda dapat memutuskan apa hukumannya. Tapi bagaimana kalau Anda tidak dapat menemukannya dalam tiga hari?”
“Aku akan gantung diri pada pohon kriptomeria di kebun itu.”
Pagi harinya pembantu kuil dengan wajah sangat gelisah berlari ke dapur. Terengah-engah ia berseru, “Apa Takuan sudah gila? Saya dengar dia berjanji mencari Takezo sendiri!”
Mata orang-orang di dapur terbelalak. “Tidak!”
“Tidak, sungguh-sungguh gila!”
“Bagaimana dia akan menangkapnya?”
Jawaban-jawaban konyol clan ketawa mengejek pun terdengar, tapi terdengar juga bisikan terpendam yang mengandung kekhawatiran.
Ketika berita itu sampai ke telinga pendeta kuil, ia mengangguk bijaksana dan mengatakan bahwa mulut manusia itu pintu bencana. Tetapi yang betul-betul paling khawatir adalah Otsu. Hanya sehari sebelumnya surat selamat tinggal Matahachi melukainya. Lukanya lebih perih dibanding berita kematiannya. Ia mempercayai tunangannya itu, dan bahkan bersedia menenggang Osugi yang dahsyat itu sebagai mertua tukang perintah, demi Matahachi. Kepada siapa ia harus berpaling kini?
Bagi Otsu yang sudah tercebur dalam kegelapan dan keputusasaan, Takuan merupakan titik terang dalam hidup ini. Sinar harapannya yang terakhir. Sehari sebelumnya, ketika ia menangis sendirian di kamar tenun, ia mengambil pisau tajam dan mengiris-iris sampai lumat kain kimono yang sungguh-sungguh telah disulami jiwanya. la juga sudah bermaksud menghunjamkan bilah tajam itu ke dalam tenggorokannya. la sangat tergoda untuk melakukan hal itu, namun munculnya Takuan akhirnya membuyarkan maksud itu dari kepalanya. Takuan menghiburnya dan meyakinkannya agar setuju menuangkan sake, clan Takuan akhirnya menepuk punggungnya. Ia masih dapat merasakan hangatnya tangan kokoh biarawan itu ketika membimbingnya ke luar kamar tenun.
Dan sekarang Takuan membuat perjanjian yang sinting.
Otsu tidak begitu memedulikan keselamatannya sendiri. Yang lebih dipedulikannya adalah kemungkinan satu-satunya teman di dunia ini akan hilang juga karena usul tololnya. la merasa putus asa dan sangat tertekan. Akal sehatnya menyatakan aneh kalau ia dan Takuan dapat menemukan tempat Takezo dalam waktu sesingkat itu.
Takuan bahkan sudah berani bertukar sumpah dengan si Jenggot Jarang di hadapan altar Hachiman, dewa perang. Ketika Takuan kembali, Otsu menegurnya dengan keras karena sikapnya yang terburu-buru itu, tetapi Takuan berkeras tak ada yang mesti dikhawatirkan. Katanya, tujuannya adalah meringankan beban kampung, mengamankan kembali lalu lintas di jalan raya, dan mencegah berlangsungnya terus pemborosan hidup manusia. Mengingat jumlah nyawa yang dapat diselamatkan kalau Takezo bisa cepat ditangkap, nyawanya sendiri tidaklah begitu penting. Takuan pun meminta agar Otsu beristirahat sebanyak-banyaknya menjelang malam hari berikutnya, saat mereka berangkat. Otsu harus ikut tanpa mengeluh, dan percaya penuh padanya. Otsu sudah terlampau bingung untuk menolak, lagi pula pilihan untuk tinggal di kuil clan selalu gelisah lebih buruk lagi dibanding dengan pergi.
Petang hari berikutnya Takuan masih tidur bersama kucing di sudut bangunan utama kuil. Wajah Otsu cekung. Baik pendeta, pesuruh, maupun pembantu pendeta mencoba meyakinkannya untuk tidak pergi. “Pergi saja sembunyi,” itulah nasihat praktis mereka, tapi karena alasan-alasan yang hampir tak dapat dimengertinya sendiri, Otsu sama sekali tidak tergerak untuk berbuat demikian.
Matahari tenggelam dengan cepat, dan bayang-bayang malam yang pekat mulai menyelimuti celah-celah jajaran gunung yang menandai alur Sungai Aida. Kucing melompat turun dari emperan kuil, dan akhirnya Takuan sendiri keluar ke beranda. Seperti si kucing, ia pun meregangkan anggota badannya sambil menguap lebar.
“Otsu,” panggilnya, “lebih baik kita berangkat sekarang.”
“Sudah saya kemasi semuanya-sandal jerami, tongkat, pembalut kaki, obat-obatan, kertas minyak polonia.”
“Ada yang kamu lupa.”
“Apa? Senjata? Apa kita mesti bahwa pedang atau lembing, atau yang lain?”
“Tentu saja tidak! Aku mau bawa bekal makanan.”
“0, maksud Bapak beberapa kotak makan siang?”
“Bukan, makanan yang enak. Aku mau bawa nasi, bumbu kacang, clan… o, ya, sedikit sake. Apa saja yang enak bolehlah. Aku juga butuh kuali. Pergi ke dapur sana, bikin bungkusan yang besar. Dan bawa pikulan.”
Pegunungan dekat tempat itu kini lebih hitam dibanding pernis yang paling hitam, sedangkan pegunungan yang di kejauhan lebih pucat daripada mika. Waktu itu musim semi sudah hampir usai, angin berbau wangi dan hangat. Bambu bergaris dan tumbuhan jalar wistaria menjerat kabut. Makin jauh Takuan dan Otsu meninggalkan kampung, pegunungan dengan dedaunan yang berkilat-kilat lemah oleh cahaya suram makin tampak seakan bermandikan hujan petang hari. Mereka berjalan beriringan menembus kegelapan, masing-masing memikul ujung pikulan bambu yang digantungi bungkusan yang terikat baik-baik.
“Malam yang bagus buat jalan-jalan, ya?” kata Takuan sambil menoleh ke belakang.
“Rasanya kurang begitu indah,” gerutu Otsu. “Ke mana kita pergi?”
“Aku belum tahu,” jawab Takuan, tampak berpikir sedikit, “tapi mari kita jalan lebih jauh lagi sedikit.”
“Saya sih tidak keberatan jalan.”
“Apa kau capek?”
“Tidak,” jawab gadis itu, tapi pikulan itu jelas menyakitinya, karena setiap kali ia memindahkannya dari bahu satu ke bahu lain.
“Di mana saja orang-orang ini? Tak seorang pun kulihat.”
“Kapten tidak memperlihatkan muka di kuil sepanjang hari tadi. Saya berani bertaruh, dia menyuruh pulang para pencari, supaya kita dapat sendirian saja tiga hari ini. Pak Takuan, bagaimana caranya menangkap Takezo?”
“0, jangan khawatir. Cepat atau lambat dia akan muncul.”
“Tapi dia belum pernah menemui siapa pun. Kalau nanti dia muncul, apa yang akan kita lakukan? Sesudah diburu orang banyak begitu lama, tentunya dia nekat sekarang. Dia berjuang demi hidupnya, dan dia sangat kuat. Memikirkan itu saja kaki saya sudah gemetar.”
“Hati-hati! Awas kakimu!” seru Takuan tiba-tiba.
“Oh!” teriak Otsu ketakutan, langkahnya langsung terhenti. “Ada apa? ‘ Kenapa Bapak bikin takut saya?”
“Jangan khawatir. Bukan Takezo. Aku cuma mau mengingatkan kamu supaya jalan yang balk. Banyak wistaria dan perangkap semak sepanjang pinggir jalan ini.”
“Apa para petani itu yang memasangnya di sini buat menangkap Takezo?” “He-eh. Tapi kalau kita tidak hati-hati, kita yang akan masuk kedalamnya.”
“Takuan, kalau Bapak bicara soal itu, saya jadi gugup dan tak bisa melangkah.”
“Apa yang kau khawatirkan? Kalaupun kita terperangkap, aku yang lebih dulu Tak perlu kau menyusulku.” la menyeringai pada Otsu. “Menurutku, sia-sia saja mereka menempuh banyak kesulitan.” Sesudah diam sekejap, ia pun menambahkan, “Otsu, apa menurutmu jurang ini tidak makin sempit?”
“Tak tahulah saya, tapi sisi belakang Sanumo sudah kita lewati beberapa waktu lalu. Ini tentunya Tsujinohara.”
“Kalau begitu, kita terpaksa jalan sepanjang malam ini.”
“Ah, saya bahkan tak tahu ke mana kita ini. Kenapa bicara soal jalan pada saya?”
“Mari kita turunkan beban ini sebentar.” Habis meletakkan bungkusan itu ke tanah, Takuan pergi menuju karang yang berdekatan.
“Bapak mau ke mana?”
“Mau buang air.”
Seratus kaki di bawah Takuan, kali-kali kecil yang bergabung menjadi Sungai Aida mengguntur dari batu ke batu. Bunyi itu menderu menuju dirinya, memenuhi telinganya, dan menembus seluruh dirinya. Sambil buang air kecil, ia memandang ke langit, seakan-akan menghitung-hitung bintang. “Oh, nikmat rasanya!” katanya bersuka hati. “Aku menyatu dengan alam semesta, atau alam semesta menyatu denganku?”
Akhirnya ia kembali dan jelasnya, “Ketika di sana tadi, aku membuka-buka Buku Perubahan, dan sekarang aku tahu pasti tindakan apa yang akan kita ambil. Sudah jelas sekarang.”
“Buku Perubahan? Bapak tidak membawa buku.”
“Bukan yang tertulis, tapi yang ada dalam diriku. Buku Perubahan asli milikku sendiri. Dia ada dalam hati, atau perut, atau di tempat lain. Ketika berdiri di sana tadi, aku memikirkan letak tanah, penampilan air, dan keadaan langit. Kemudian aku menutup mata, dan ketika aku membukanya, ada yang mengatakan, ‘Pergi ke gunung di sana itu.” la menunjuk ke puncak yang dekat.
“Maksud Bapak, Gunung Takateru?”
“Aku tidak tahu namanya. Pokoknya, yang setengahnya dataran terbuka.” “Orang menyebutnya padang rumput Itadori.”
“0, jadi ada namanya?”
Ketika mereka sampai, padang rumput itu ternyata sebuah dataran kecil yang melandai ke tenggara dan memberikan pemandangan indah daerah sekitar. Para petani biasa menggiring kuda dan lembunya ke sana untuk merumput, tapi malam itu tak seekor binatang pun kelihatan atau terdengar. Ketenangan di situ hanya terpecahkan oleh angin musim semi yang hangat membelai rerumputan.
“Kita berkemah di sini,” ucap Takuan. “Takezo, musuh itu, akan jatuh ke tanganku tepat seperti Jenderal Ts’ao dari Wei jatuh ke tangan Ch’u-ko K’ung-ming.”
Ketika mereka sudah menurunkan beban, Otsu bertanya, “Apa yang kita lakukan di sini?”
“Duduk,” jawab Takuan mantap.
“Bagaimana kita bisa menangkap Takezo kalau hanya duduk di sini?” “Dengan jaring pun kita dapat menangkap burung terbang tanpa mesti terbang sendiri.”
“Tapi kita belum memasang jaring sama sekali. Apa Bapak yakin tidak kesurupan rubah atau yang lain?’
“Kalau begitu, mari bikin api. Rubah takut api, jadi kalau aku kesurupan, aku bisa lekas bebas.”
Mereka mengumpulkan kayu kering, dan Takuan membuat api. Semangat Otsu tampak naik.
“Api yang baik membuat gembira orang, betul tidak?”
“Yang jelas menghangatkan. Tapi, apa kau sedang sedih?”
“Oh, Takuan, Bapak sudah lihat sendiri bagaimana perasaan saya selama ini. Dan saya rasa tak ada orang yang betul-betul suka menginap di pegunungan seperti ini. Apa yang akan kita lakukan, seandainya sekarang ini turun hujan?”
“Dalam perjalanan ke atas tadi, aku melihat gua dekat jalan. Kita dapat berteduh di sana sampai hujan berhenti.”
“Itulah barangkali yang dilakukan Takezo pada malam hari dan kalau udara buruk. Mestinya banyak tempat macam itu di seluruh gunung ini. Di situ barangkali dia menyembunyikan diri selama ini.”
“Barangkali. Dia sebetulnya tidak begitu cerdik, tapi tentunya dia cukup cerdik untuk berteduh dalam gua jika hujan.”
Otsu jadi tercenung. “Pak Takuan, kenapa orang kampung begitu benci pada Takezo?”
“Para penguasa itu yang membuat mereka membencinya. Otsu, mereka itu orang-orang sederhana. Mereka takut kepada pemerintah; begitu takutnya, sampai kalau pemerintah yang menitahkan, akan mereka halau orang-orang sekampungnya, bahkan juga sanak mereka sendiri.”
“Jadi, menurut Bapak, mereka cuma berkepentingan melindungi diri sendiri.”
“Sebetulnya bukan salah mereka. Mereka itu sama sekali tak berdaya. Kau mesti memaafkan mereka karena mendahulukan kepentingan sendiri, karena ini masalah mempertahankan diri. Yang mereka kehendaki sebetulnya cuma sekadar tidak diganggu.”
“Tapi bagaimana dengan samurai? Kenapa mereka ribut mempersoalkan orang tak penting macam Takezo?”
“Karena dia lambang kekacauan, orang di luar hukum. Mereka harus menjaga ketenangan. Sesudah perang Sekigahara, Takezo selalu merasa dikejar-kejar musuh. Kesalahan besar pertamanya adalah menerobos rintangan di perbatasan. Dia mestinya menggunakan otaknya sedikit, kabur malam hari atau menyamar. Apa saja. Tapi Takezo tidak begitu! Dia merasa harus masuk dan membunuh seorang pengawal, dan kemudian membunuhi orang-orang lain lagi. Sesudah itu ya seperti bola salju yang menggelinding. Dia harus terus membunuh untuk melindungi hidupnya sendiri. Tapi dialah yang memulai. Seluruh keadaan yang tak menguntungkan itu akibat satu hal saja: Takezo sama sekali tak punya akal sehat.”
“Apa Bapak membencinya juga?”
“Aku jijik! Aku tidak menyukai kebodohannya! Kalau aku penguasa di provinsi ini, akan kubikin dia menanggung hukuman paling buruk yang dapat kutemukan. Sesungguhnya, untuk pelajaran bagi orang banyak, akan kusuruh orang mempreteli anggota badannya. Bagaimanapun, dia tak lebih dari binatang liar, kan? Penguasa provinsi tidak boleh bermurah hati pada orang-orang macam Takezo, walaupun dia sendiri bagi sejumlah orang tak lebih dari seorang bajingan. Tindakannya merugikan hukum dan ketertiban, dan itu tidak baik, terutama pada masa-masa yang tak menentu ini.”
“Selama ini saya selalu menganggap Bapak orang baik, tapi di dasar hati ternyata Bapak sangat keras. Saya tak menyangka Bapak mengurusi hukumhukum daimyo itu.”
“Memang. Yang baik harus diganjar dan yang jahat harus dihukum, dan aku datang kemari justru dengan kekuasaan untuk melaksanakannya.”
“Oh, apa itu?” teriak Otsu sambil meloncat bangun dari tempatnya dekat api. “Apa Bapak tidak dengar? Kedengaran bunyi gemeresik, seperti langkah-langkah kaki, di pohon-pohon sana itu?”
“Langkah-langkah kaki?” Takuan pun bersikap waspada. Tapi sesudah mendengarkan baik-baik beberapa saat lamanya, pecahlah tawanya. “Ha, ha! Itu kan cuma beberapa ekor monyet. Lihat!” Dan tampaklah bayangan seekor monyet besar dan monyet kecil yang berayun-ayun di antara pepohonan.
Otsu kelihatan lega, dan duduk kembali. “Uh, saya setengah mati ketakutan!”
Selama beberapa jam berikutnya, keduanya hanya duduk diam menatap api. Tiap kali api akan mati, Takuan mematahkan ranting-ranting kering dan membakarnya.
“Otsu, apa yang kaupikirkan?”
“Saya?”
“Ya, kamu. Meski sering melakukannya, tapi sebetulnya aku benci percakapan dengan diri sendiri.”
Mata Otsu sudah bengkak oleh asap. Sambil menengadah ke langit berbintang, Ia berkata lirih, “Saya pikir aneh sekali dunia ini. Semua bintang di kegelapan kosong di sana itu…. Tidak, bukan itu maksud saya. Malam telah penuh. Merangkum segala-galanya. Kalau Bapak memandang bintang-bintang itu lama-lama, kelihatan mereka bergerak. Bergerak pelan, pelan. Kesimpulannya tak bisa lain bahwa seluruh dunia ini bergerak. Saya merasakannya. Sedangkan diri saya hanya satu rink kecil di dalam semua itu-satu titik yang dikendalikan oleh kekuatan mengagumkan yang tak dapat saya lihat. Bahkan selagi saya duduk di sini sambil merenung, nasib saya pun berubah sedikit demi sedikit. Pikiran saya terasa berputar-putar dalam lingkaran.”
“Kau tidak bicara yang sebenarnya!” kata Takuan tajam. “Pikiran-pikiran itu memang betul masuk kepalamu, tapi ada pikiran lain yang jauh lebih khusus di otakmu.”
Otsu diam.
“Aku minta maaf telah melanggar rahasia pribadimu, Otsu. Aku telah membaca surat-surat yang kauterima itu.”
“Betul? Tapi laknya tidak rusak!”
“Aku membacanya sesudah melihatmu di kamar tenun itu. Ketika kaubilang tidak membutuhkannya, kumasukkan surat itu dalam lengan bajuku. Kupikir sikapku itu keliru, tapi kemudian ketika aku ada di kamar kecil, kukeluarkan surat-surat itu dan kubaca, sekadar membuang waktu.”
“Bapak jelek! Bagaimana mungkin Bapak melakukan itu! Dan buat membuang waktu pula!”
“Untuk alasan apa sajalah. Tapi setidak-tidaknya sekarang aku tahu, apa yang bikin banjir air mata itu. Apa yang bikin kau kelihatan setengah mati waktu itu. Dengarkan, Otsu, kupikir kau beruntung. Lama-kelamaan kupikir lebih baik jalannya peristiwa justru seperti sekarang. Kaupikir aku jelek? Lihatlah dia!”
“Apa maksud Bapak?”
“Matahachi itu, dulu maupun sekarang, tak kenal tanggung jawab. Kalau kau kawin dengan dia, dan kemudian suatu hari dia mengejutkanmu dengan surat seperti itu, apa yang akan kaulakukan? Tak usahlah kaukatakan, aku kenal kau. Kau akan menceburkan diri ke laut dari karang yang terjal. Aku senang semua itu sudah lewat sebelum sampai di situ.”
“Wanita tidak berpikir seperti itu.”
“Betul begitu? Bagaimana pikiran mereka?”
“Saya marah betul. Rasanya ingin menjerit!” Dan dengan marahnya ia pun menarik lengan kimononya dengan giginya. “Suatu hari nanti akan saya temukan dia! Saya bersumpah, pasti saya temukan! Saya tak akan berhenti, sebelum saya mengatakan langsung padanya pendapat saya tentang dia. Termasuk tentang perempuan Oko itu.”
Air mata Otsu bercucuran karena marahnya. Takuan menatapnya dengan bergumam samar-samar, “Sudah mulai, ya?”
Otsu tampak tercengang. “Apa?”
Takuan menatap tanah, seperti sedang menyusun pikirannya. Kemudian katanya, “Otsu, aku betul-betul mengharapkan bahwa kau, lebih dari orang-orang lain, terhindar dari hal-hal yang jahat dan sikap muka dua di dunia ini. Kuharap dirimu yang manis dan polos itu dapat melewati semua tahap kehidupan tanpa cela dan tanpa luka.” Tapi kelihatannya angin nasib sudah sepenuhnya gila? Kadang-kadang orang yang tidak begitu beres otaknya dianggap jenius oleh orang lain. Takuan kemungkinan orang semacam itu. Otsu mulai merasa yakin akan hal ini.
Tenang seperti biasanya, biarawan itu terus memandang kosong ke api. Akhirnya ia bergumam, seakan-akan baru melihatnya, “Sudah larut sekarang, ya?”
“Tentu saja! Sebentar lagi fajar,” sambar Otsu dengan nada getir yang memang disengaja. Kenapa ia mempercayai orang gila yang mau bunuh diri ini?
Tanpa menghiraukan tajamnya jawaban Otsu, Takuan berkomat-kamit, “Aneh, ya?”
“Apa yang dikomat-kamitkan?”
“Aku baru saja menyadari bahwa Takezo harus segera muncul.”
“Ya, tapi barangkali dia tidak merasa kalian berdua punya janji.” Melihat wajah biarawan yang tegang itu, Otsu pun melunak. “Apa betul menurut Bapak dia akan muncul?”
“Tentu saja!”
“Tapi kenapa dia mau langsung masuk perangkap?”
“Ah, tidak persis begitu. Soalnya, hanya sifat manusia, itu saja. Manusia hatinya tidak kuat, mereka itu lemah. Kesendirian bukan alamnya, terutama kalau kesendirian itu disertai pengepungan tentara clan pengejaran dengan pedang. Kau bisa saja menganggap itu wajar, tapi aku akan heran sekali kalau Takezo bisa menolak godaan untuk mendatangi kita clan menghangatkan diri dekat api.”
“Apa itu bukan sekadar impian? Dia barangkali sama sekali tidak di dekat-dekat sini.”
Takuan menggelengkan kepala dan katanya, “Bukan, ini bukan sekadar impian. Ini malahan bukan teoriku sendiri. Ini milik seorang ahli strategi.” Ia berbicara demikian yakin, hingga Otsu jadi merasa puas bahwa penolakan Takuan itu demikian pastinya.
“Aku perkirakan Shimmen Takezo berada dekat sekali di sini, tapi belum lagi bisa memutuskan, kita ini kawan atau lawan. Anak malang itu barangkali sedang dilanda keraguan, dan dia sedang bergelut dengannya, tak dapat maju atau mundur. Dugaanku dia sedang bersembunyi di dalam bayangan kegelapan sekarang ini, memandang kita dengan mencuri-curi, dan bertanya-tanya habis-habisan, apa yang harus dilakukannya. 0, begini. Coba kemarikan suling yang kausimpan dalam obi-mu itu.”
“Suling bambu saya?”
“Ya, biar kumainkan sebentar.”
“Tidak. Tak mungkin. Tak pernah saya mengizinkan siapa pun menyentuhnya.”
“Kenapa?” desak Takuan.
“Tak peduli kenapa!” teriak Otsu sambil menggeleng.

“Apa ruginya kalau aku memainkannya? Suling bertambah baik kalau imainkan. Aku tak akan merusaknya.”
“Tapi….” Dan Otsu pun mencengkeramkan tangan kanannya kuat-kuat ke suling dalam obi-nya.
Ia selalu menyimpan suling itu dekat tubuhnya, dan Takuan tahu betapa berharga barang itu untuknya. Namun tak pernah Takuan membayangkan bahwa Otsu akan menolak meminjamkannya.
“Betul, aku tak akan merusakkannya, Otsu. Sudah berlusin-lusin suling aku mainkan. Ayolah, aku pegang saja.”
“Tidak.”
“Apa pun yang terjadi?”
“Apa pun yang terjadi.”
“Keras kepala!”
“Biar saya keras kepala.”
Takuan pun mengalah. “Nah, kalau begitu kamulah yang memainkannya. Mainkanlah untukku sedikit.”
“Itu pun saya tak mau.”
“Kenapa?”
“Karena saya akan menangis, dan saya tak dapat main suling kalau saya menangis.”
“Hmm.” Takuan berpikir. la merasa kasihan akan sifat gigih bercampur keras kepala yang khas anak yatim. Tapi ia pun sadar akan kehampaan yang ada dalam hati mereka yang tegar itu. Menurutnya hati itu sudah ditakdirkan untuk mati-matian merindukan apa yang tidak bisa diperolehnya, merindukan cinta orangtua yang tidak pernah mereka kenyam.
Otsu selalu merindukan orangtua yang tidak pernah dikenalnya dan mereka pun merindukannya, tapi ia tak mengenal cinta asli orangtua. Suling itulah satu-satunya barang peninggalan orangtuanya baginya, satu-satunya gambaran yang pernah ia punyai tentang mereka. Ketika ia belum lagi cukup umur untuk melihat cahaya matahari, dan ditinggalkan seperti anak kucing telantar di emperan Kuil Shippoji, suling itu bukan sekadar gambaran tentang ibu dan ayah yang tak pernah dilihatnya, tetapi juga . merupakan suara mereka.
“Jadi, dia menangis kalau memainkannya!” pikir Takuan. “Tidak heran dia begitu enggan meminjamkannya pada orang lain, malahan juga memainkannya sendiri.” Dan ia pun merasa kasihan pada Otsu.
Pada malam ketiga ini, untuk pertama kali bulan indah berkilau-kilau di langit, dan sekali-sekali larut di balik awan berkabut. Angsa liar yang selalu bermigrasi ke Jepang pada musim gugur dan pulang pada musim semi kini tampak dalam perjalanan kembali ke utara. Kadang-kadang suara kuak mereka terdengar di telinga kedua orang itu dari tengah awan-awan.
Bangun dari lamunannya, Takuan berkata, “Apinya mati, Otsu. Masukkan sedikit kayu lagi…. Nah, ada apa? Ada yang tidak beres?”
Otsu tidak menjawab.
“Apa kau menangis?”
Otsu tetap diam.
“Maaf aku telah mengingatkan masa lalu padamu. Bukan maksudku mengganggumu.”
“Tidak apa-apa,” bisik Otsu. “Mestinya saya tak boleh begitu keras kepala. Ambillah suling ini dan mainkanlah.” la pun mengeluarkan suling itu dari obi-nya dan mengulurkannya pada Takuan lewat atas api. Suling itu terbungkus dalam kain brokat yang sudah tua dan aus. Kainnya sobek-sobek, talinya rantas, namun masih tampak keanggunan yang antik.
“Boleh kulihat?” tanya Takuan.
“Ya, lihatlah. Saya tidak keberatan lagi.”
“Tapi kenapa tidak kaumainkan sendiri? Lebih baik aku mendengarkan saja. Aku duduk saja di sini seperti ini.” la memutar ke samping dan memelukkan tangannya ke lutut.
“Baiklah. Saya tidak begitu pandai,” kata Otsu merendah, “tapi akan saya coba.”
la berlutut dengan sikap formal di atas rumput, menegakkan leher kimononya dan membungkuk ke arah suling yang terletak di depannya. Takuan tidak bicara apa-apa lagi. Yang ada hanyalah alam semesta yang besar dan diam terselimut malam. Tubuh biarawan yang seperti bayangan itu tampak seperti batu karang yang telah berguling turun dari sisi bukit dan menetap di dataran.
Otsu, wajahnya yang putih menoleh sedikit ke samping, meletakkan barang pusaka yang dipujanya itu ke bibir. la membasahi pipit suling clan membulatkan jiwa untuk bermain. la tampak berbeda dari Otsu yang biasanya. Otsu yang mewakili kekuatan dan keluhuran seni. Ia menoleh pada Takuan. Dengan santun sekali lagi ia mengingkari bahwa ia cakap bermain. Takuan mengangguk acuh tak acuh.
Suara basah suling mulai mengalun. Jemari pipih gadis itu menari di atas ketujuh lubang alat musik tersebut. Buku-buku jarinya tampak seperti kurcaci yang sedang tenggelam dalam tarian lambat. Terdengar bunyi, rendah, seperti gemericik kali kecil. Takuan merasa dirinya berubah menjadi air mengalir yang berkecipak menyusuri jurang, dan bermain-main di tempat yang dangkal. Ketika nada-nada tinggi terdengar, ia merasa semangatnya terembus ke langit, meloncat-loncat bersama awan-awan. Bunyi bumi dan gaung langit bercampur dan berubah menjadi rintihan sayu angin yang berembus melintas pepohonan cemara, meratapi ketidakabadian dunia ini.
Ia asyik mendengarkan dengan mata tertutup. Takuan pun teringat akan legenda Pangeran Hiromasa yang sedang bercengkerama pada suatu malam terang bulan di Gerbang Suzaku, Kyoto, sambil memainkan sulingnya, diselarasi oleh suling lain. Pangeran mencari-cari pemain suling itu, dan menemukannya di tingkat atas gerbang itu. Mereka bertukar suling dan bermain musik bersama sepanjang malam. Baru kemudian pangeran itu mengetahui bahwa teman bermainnya itu setan dalam bentuk manusia.
–Setan pun tergerak hatinya oleh musik,” pikir Takuan, “apalagi manusia yang punya lima macam nafsu, betapa dalam dia akan terpengaruh bunyi suling yang dimainkan gadis cantik ini!” Ia ingin menangis, tapi air matanva tidak keluar. Wajahnya terbenam lebih dalam lagi di antara lututnya, yang secara tak sadar dipeluknya lebih erat lagi.
Ketika cahaya api sedikit demi sedikit surut, pipi Otsu berubah jadi merah tua. la begitu menyatu dalam musiknya, hingga sukar membedakannya dari alat musik yang dimainkannya.
Apakah ia sedang memanggil ibu dan ayahnya? Apakah bunyi-bunyi yang mendaki langit itu betul-betul melantunkan, “Di manakah engkau!” Apakah jeritan ini tidak tercampur rasa benci yang sangat dari seorang perawan yang ditinggalkan dan dikhianati lelaki tak setia?
Otsu agaknya sudah mabuk oleh musik dan tenggelam dalam emosinya. Napasnya mulai menunjukkan tanda-tanda lelah. Butir-butir keringat muncul di dahi, di sekitar anak rambutnya. Air mata menuruni wajahnya. Sekalipun terputus-putus oleh sedu sedan tertahan, terasa lagu itu bagai berlanjut terus untuk selamanya.

Dan tiba-tiba terlihat gerakan di rumput. Jaraknya tidak lebih dari lima atau enam meter dari api. Terdengar seperti binatang yang sedang melata. Kepala Takuan mendongak. la memandang langsung ke benda hitam itu. Diam-diam ia mengangkat tangan clan melambaikan salam.
“Hai, kamu yang di sana! Tentu dingin rasanya di tengah embun. Datanglah ke dekat api sini dan hangatkan badanmu. Ke sinilah, clan mari kita bicara.”
Otsu terkejut dan berhenti bermain. Katanya, “Pak Takuan, apa Bapak bicara sendiri lagi?”
“Apa kau tidak lihat?” tanya Takuan sambil menuding. “Takezo ada di sana tadi, beberapa waktu lamanya. Dia mendengarkan kau main suling.”
Otsu menoleh, kemudian sambil menjerit ia melemparkan sulingnya ke sosok hitam itu. Memang itu Takezo. la melompat seperti kijang yang terperanjat dan lari.
Takuan sama kagetnya seperti Takezo karena jeritan Otsu. la merasa seakan-akan jaring yang dengan hati-hati direntangkannya telah sobek clan ikan pun lolos. la melompat dan memanggil sekuat paru-parunya, “Takezo! Berhenti!”
Di dalam suara itu terasa ada kekuatan yang perkasa, kekuatan yang memerintah, yang tidak dapat begitu saja diabaikan. Pelarian itu berhenti seakan terpaku di tanah, dan menoleh ke belakang, sedikit terpesona. la memandang Takuan dengan mata curiga.
Biarawan itu tidak bicara. Disilangkannya tangannya pelan-pelan ke dada. Ditatapnya Takezo semantap tatapan Takezo padanya. Kedua orang itu tampaknya bahkan menyatu dalam tarikan napas mereka.
Sedikit demi sedikit di sudut-sudut mata Takuan muncul kerut-merut yang menandai mulainya senyuman bersahabat. la membuka lipatan tangannya dan memberikan isyarat kepada Takezo. Katanya, “Kemarilah!”
Mendengar kata-kata itu, Takezo mengedip. Wajahnya yang gelap memperlihatkan ekspresi aneh.
“Kemarilah,” desak Takuan, “dan kita dapat saling tukar pikiran.” Menyusul sunyi penuh tanda tanya.
“Di sini banyak makanan. Malahan kami juga punya sake. Kami bukan musuhmu. Datanglah ke dekat api ini. Mari kita bicara.” Sunyi lagi.
“Takezo, apa kau tidak membuat kesalahan besar? Ada tempat yang menyediakan api, makanan, dan minuman, bahkan juga simpati manusia. Tapi kau berkeras menyeret dirimu ke dalam neraka pribadimu sendiri. Kau mengukuhi pandangan yang cukup menyesatkan tentang dunia ini. Tapi aku tak akan berdebat lagi denganmu. Dalam keadaanmu sekarang, memang hampir tidak dapat kau mendengar suara akal sehat. Sudahlah, datang ke dekat api sini. Otsu, panaskan kentang rebus yang kaubuat tadi. Aku pun sudah lapar.”
Otsu meletakkan kuali di atas api, dan Takuan meletakkan guci sake di dekat api untuk menghangatkannya. Adegan penuh kedamaian ini menghapuskan rasa takut Takezo, dan ia beringsut mendekat. Ketika hampir berada di atas mereka, ia berhenti dan tegak diam, agaknya terhambat oleh semacam rasa malu di dalam dirinya.
Takuan menggelindingkan sebuah batu karang ke dekat api clan menepuk punggung Takezo. “Duduklah di sini,” katanya.
Takezo mendadak duduk. Otsu tidak dapat memandang langsung kepada teman bekas tunangannya itu. la merasa seolah-olah berada di dekat binatang liar tak terantai.
Sambil membuka tutup kuali, Takuan berkata, “Rupanya sudah matang.” la tusukkan ujung sumpitnya ke kentang, ia keluarkan kentang itu, clan ia masukkan ke dalam mulutnya. la mengunyah lahap, katanya, “Manis sekali dan empuk. Mau coba sedikit, Takezo?”
Takezo mengangguk dan untuk pertama kali ia menyeringai, memperlihatkan sederetan gigi yang sempurna putihnya. Otsu memasukkan kentang ke dalam mangkuk clan memberikannya kepada Takezo. Takezo sekali-sekali mengembus makanan yang masih panas itu dan melahapnya dengan suapan besar-besar. Tangannya gemetar dan giginya gemerincing mengenai tepi mangkuk. Karena lapar yang luar biasa, geletar itu tidak terkendalikan lagi. Mengerikan.
“Enak, ya?” tanya biarawan itu sambil meletakkan sumpitnya. “Bagaimana kalau mencoba sake?”
“Saya tak mau sake.”
“Tidak suka?”
“Saya tak mau sekarang.” Sesudah sekian lama berkeliaran di pegunungan, ia takut sake akan membuatnya sakit.
Segera ia berkata dengan cukup sopan, “Terima kasih untuk makanan ini. Saya merasa hangat sekarang.” “Apa sudah cukup?”
“Sudah, terima kasih.” Ketika mengembalikan mangkuk kepada Otsu, ia bertanya, “Kenapa kau datang kemari? Kemarin malam kulihat juga apimu.”
Pertanyaan Takezo itu mengejutkan Otsu, clan ia tak siap dengan jawaban, tetapi Takuan menyelamatkannya dengan langsung mengatakan, “Terus terang saja, kami datang kemari untuk menangkapmu.”
Takezo tidak memperlihatkan sikap kaget secara khusus, sekalipun agaknya ia ragu-ragu menerima ucapan Takuan itu demikian saja. la diam saja dan menundukkan kepala. Kemudian ganti la memandang kedua orang itu.
Takuan menyadari bahwa waktu untuk bertindak sudah tiba. Sambil berputar langsung menghadap Takezo ia pun berkata, “Bagaimana pendapatmu? Kalau kau akan ditangkap, apa tidak lebih baik kalau kau diikat dengan ikatan Hukum Budha? Peraturan daimyo itu hukum dan Hukum Budha pun hukum, tapi dari antara dua itu, ikatan Budha-lah yang lebih lembut dan berperi- kemanusiaan.”
“Tidak, tidak!” kata Takezo, menggeleng-geleng marah.
Takuan melanjutkan dengan nada lunak. “Dengar dulu sebentar. Aku mengerti bahwa engkau bertekad untuk bertahan sampai mati, tapi pada akhirnya apa engkau bisa betul-betul menang?”
“Apa maksudmu, aku dapat menang itu?”
“Maksudku, apakah engkau dapat berhasil bertahan terhadap rakyat yang membencimu, terhadap hukum provinsi, dan terhadap musuhmu terbesar, dirimu sendiri?”
-Aku tahu aku sudah kalah,” rintih Takezo. Wajahnya berubah penuh kesedihan, dan matanya basah. “Akhirnya aku akan terbunuh, tapi sebelumnva akan kubunuh dulu perempuan Hon’iden tua itu dan serdadu-serdadu Himeji, juga semua orang yang kubenci! Akan kubunuh orang sebanyak vang aku bisa!”
“Dan apa yang hendak kaulakukan untuk kakak perempuanmu?”
„Ha …”
“Ogin. Apa yang akan kaulakukan untuknya? Dia dikurung di benteng Hinagura!”
Takezo tak dapat menjawab, sekalipun sebelumnya ia berketetapan untuk membebaskan kakaknya.
“Apa engkau tidak mesti mulai memikirkan nasib wanita yang baik itu? Sudah demikian banyak yang dilakukannya untukmu. Dan bagaimana dengan kewajibanmu melanjutkan nama ayahmu. Shimmen Munisai? Apa engkau sudah lupa bahwa nama itu berasal dari keluarga Hirata, bahkan selanjutnya dari wangsa Akamatsu dari Harima yang terkenal itu?”
Takezo menutup mukanya dengan kedua tangannya yang hitam dan kini berkuku panjang itu. Bahunya yang tajam mencuat ke atas ketika berguncang bersama gemetarnya tubuhnya yang kurus. la tersedu-sedu sedih. “Aku… aku… tidak tahu. Apa… apa bedanya sekarang ini?”
Melihat itu, Takuan tiba-tiba mengepalkan tinjunya clan menghantam keras-keras rahang Takezo.
“Sinting!” guntur suara biarawan itu.
Karena terkejut, Takezo pun terhuyung-huyung oleh pukulan itu, tapi sebelum sempat pulih dari pukulan itu ia sudah menerima pukulan lain di sisi lain.
“Orang bebal tak bertanggung jawab! Orang bodoh tak kenal terima kasih. Karena ayah-ibumu dan nenek moyangmu tak ada di sini untuk menghukummu, akulah yang melakukannya atas nama mereka. Terimalah ini!” Biarawan itu pun memukulnya lagi, kali ini hingga Takezo jatuh ke tanah. “Sakit?” tanyanya sengit.
“Ya, sakit,” rengek pelarian itu.
“Bagus. Kalau sakit, artinya kau masih punya sedikit darah manusia dalam nadimu. Otsu, berikan ke sini tali itu. Nah, tunggu apa lagi? Bawa ke sini tali itu! Takezo sudah tahu aku akan mengikatnya. Dia sudah siap. Ini bukan tali kekuasaan, tapi tali cinta. Tidak ada alasan bagimu untuk takut atau kasihan padanya. Cepat berikan tali itu!”
Takezo diam menelungkup di tanah, tidak berusaha bergerak. Takuan pun dengan mudah menduduki punggungnya. Kalau mau melawan, bisa saja Takezo menendang Takuan ke udara, seperti bola kertas kecil. Mereka berdua pun tahu itu. Namun Takezo hanya terbaring pasif, kaki dan tangannya terulur, seakan-akan akhirnya ia menyerah pada suatu hukum alam yang tak kelihatan.

Pohon Kriptomeria Tua

SEKALIPUN pagi itu bukan saat biasanya lonceng kuil dibunyikan, namun gema suara lonceng yang berat teratur itu terdengar mendayu-dayu di seluruh kampung dan menggaung sampai jauh ke pegunungan. Hari itu hari perhitungan. Batas waktu yang diberikan pada Takuan sudah habis. Penduduk kampung bergegas menuju bukit, untuk melihat apakah Takuan berhasil melakukan tugas yang mustahil itu. Berita keberhasilannya menyebar seperti api liar.

“Takezo sudah tertangkap!”

“Betul? Siapa yang menangkap?”

“Takuan!”

“Ah, tak percaya aku! Tanpa senjata? Tak mungkin!”

Orang membanjir ke Shippoji clan memandang ternganga ke arah penjahat yang relah tertangkap itu. la diikat seperti binatang ke pagar tangga di depan bangunan suci utama. Beberapa orang menahan napas dan terengah-engah melihat pemandangan itu, seakan-akan mereka sedang menyaksikan wajah jin Gunung Oe yang ditakuti. Seakan-akan untuk mengecilkan reaksi mereka yang dibesar-besarkan itu, Takuan pun duduk sedikit ke atas tangga sambil bertelekan pada sikunya, dan menyeringai dengan sikap bersahabat.

“Orang-orang Miyamoto,” serunya, “sekarang kalian dapat kembali ke ladang kalian dengan damai. Tentara akan segera pergi!”

Bagi orang kampung yang biasa ditakut-takuti itu, Takuan pun segera menjadi pahlawan, pembebas, dan pelindung dari yang jahat. Beberapa orang membungkuk rendah, kepala hampir menyentuh tanah di halaman kuil. Yang lain mendesakkan diri ke depan untuk menyentuh tangan atau jubahnya. Yang lain lagi berlutut di kakinya. Ngeri oleh sikap mendewakan diri ini, Takuan pun menarik diri dari kerumunan itu dan mengangkat tangan untuk menenangkan mereka.

“Dengar, penduduk Miyamoto. Ada yang mau kukatakan kepada kalian, sesuatu yang penting.” Tepik sorak orang banyak pun mereda. “Bukan aku yang berjasa atas penangkapan Takezo. Bukan aku yang melaksanakannya, tapi hukum alam. Orang yang melanggar hukum alam akhirnya akan kalah. Hukum itulah yang harus kalian hormati.”

“Jangan melucu begitu! Anda yang menangkapnya, bukan alam!”
“Jangan merendahkan diri, Biarawan!”
“Kami hanya memberikan penghargaan yang pada tempatnya!”
“Lupakan hukum itu. Kami mau berterima kasih pada Anda!”
“Nah, kalau begitu berterima kasihlah padaku,” lanjut Takuan. “Aku tidak keberatan. Tapi kalian mesti menghormati hukum. Baiklah, yang sudah, sudahlah, dan sekarang ini ada sesuatu yang sangat penting, yang hendak kuminta dari kalian. Aku membutuhkan bantuan kalian.”
“Bantuan apa?” terdengar pertanyaan dari kerumunan yang ingin tahu.
“Cuma ini: apa yang akan kita lakukan terhadap Takezo sekarang? Janjiku kepada wakil Keluarga Ikeda, aku yakin kalian pernah melihatnya, adalah kalau aku tidak membawa pulang pelarian itu dalam tiga hari, aku akan menggantung diri di potion kriptomeria besar itu. Tapi kalau aku berhasil, akulah yang menentukan nasibnya.”
Orang banyak mulai berbisik-bisik.
“Kami tahu!”
Takuan kembali mengambil sikap hakim. “Nah, kalau begitu apa yang akan kita lakukan dengan dia? Seperti kalian lihat, binatang yang ditakuti ini sudah ada di sini dalam keadaan hidup. Dia tidak begitu mengerikan, kan? Sebetulnya, dia sampai kemari ini tanpa perkelahian, si orang lembek ini. Akan kita bunuh dia, atau kita lepaskan?”
Terdengar suara heboh tanda tak setuju dengan gagasan untuk melepaskan Takezo. Satu orang berteriak, “Mesti kita bunuh dia! Dia tak berguna, dia jahat! Kalau kita biarkan hidup, dia akan jadi kutukan buat kampung ini.”
Selagi Takuan berhenti bicara dan tampaknya sedang memikirkan kemungkinan-kemungkinannya, suara-suara marah dan tak sabaran terdengar dari belakang, “Bunuh dia! Bunuh dia!”
Pada saat itu, seorang perempuan tua mendesakkan diri ke depan dan menyingkirkan orang-orang lelaki yang badannya dua kali lebih besar darinya dengan tusukan-tusukan tajam sikunya. Tak salah lagi, dialah Osugi si pemarah itu. Sampai di tangga, ia membelalak pada Takezo sejenak, kemudian menoleh pada orang-orang kampung. Sambil mengacungkan ranting pohon arbei ke udara ia pun berteriak, “Aku tak akan puas kalau dia hanya dibunuh! Biar dia menderita dulu! Lihat saja mukanya yang mengerikan itu!” Sambil kembali menoleh kepada tawanan, ia mengangkat ranting pohon itu, dan pekiknya, “Kamu makhluk rendah, memuakkan!” Dan ia pun menyabetkan ranting di tangannya beberapa kali kepada Takezo, sampai akhirnya la kehabisan napas dan tangannya jatuh ke samping tubuhnya. Takezo menyeringai kesakitan, sementara Osugi menoleh kepada Takuan dengan pandangan mengancam.
“Apa yang Ibu inginkan dariku?” tanya biarawan itu.
“Karena pembunuh inilah hidup anakku hancur.” Badan Osugi berguncang hrbat. dan ia menjerit, “Padahal tanpa Matahachi tak ada yang akan meneruskan nama keluarga kami!”
“Yah,” balas Takuan. “Matahachi itu, kalau boleh aku mengatakannya, sebetulnya cuma kroco belaka. Apa tak akan lebih baik kalau kelak Ibu mengangkat menantu lelaki Ibu sebagai ahli waris dan memberikan padanya nama Hon’iden yang terhormat itu?”
“Berani betul kamu berkata seperti itu!” Tiba-tiba janda bangsawan yang sombong itu meledak sedu sedannya. “Aku tak peduli dengan pendapatmu. Memang tak ada orang yang mengerti dia. Sebetulnya dia tidak jelek, buah hatiku itu.” Kemarahannya timbul lagi, dan ia menunjuk Takezo. “Dialah yang menyesatkan anakku, dia yang membuat anakku jadi brengsek seperti dia sendiri. Aku punya hak untuk membalas dendam.” Ia meminta kepada khalayak, “Biarkan aku yang memutuskan. Beri aku kesempatan. Aku tahu apa yang mesti dilakukan terhadapnya!”
Tepat pada saat itu satu teriakan keras dan marah menghentikan perempuan itu. Kerumunan orang terbelah menjadi dua seperti kain sobek, dan orang yang baru datang itu pun berjalan cepat ke depan. Orang itu si Jenggot Jarang. Kemarahannya sedang menjulang.
“Ada apa di sini? Ini bukan pertunjukan ekstra! Pergi semua dari sini! Kembali kerja. Pulang. Cepat!” Terdengar kaki-kaki diseret, tapi tak seorang pun mau pergi. “Kalian sudah dengar apa kataku! Ayo jalan! Apa yang kalian tunggu?” Ia melangkah dengan sikap mengancam ke arah mereka. Tangannya tertumpang di pedang. Orang-orang yang ada di depan mundur dengan mata melotot.
“Tidak!” sela Takuan. “Tak ada alasan mengusir orang-orang baik ini. Aku mengundang mereka kemari justru untuk dengan cepat membicarakan apa yang harus dilakukan terhadap Takezo.”
“Diam kamu!” perintah Kapten. “Kau tak perlu bicara dalam soal ini.” la berdiri tegak dan membelalak kepada Takuan, kemudian kepada Osugi, dan akhirnya kepada orang banyak. la pun berkata dengan suara menggelegar, “Shimmen Takezo ini tidak hanya sudah melakukan kejahatan-kejahatan berat dan serius terhadap hukum provinsi, dia juga pelarian dari Sekigahara. Hukumannya tidak bisa ditentukan oleh rakyat. Dia harus dikembalikan kepada pemerintah!”
Takuan menggelengkan kepala. “Omong kosong!” Melihat si Jenggot Jarang sudah siap menjawab, ia pun mengangkat jari menyuruhnya diam. “Bukan itu yang sudah kausetujui!”
Merasa martabatnya terancam, Kapten mulai mencari-cari alasan. “Takuan, kau pasti akan menerima uang yang sudah ditawarkan pemerintah sebagai hadiah. Tapi sebagai wakil resmi Yang Dipertuan Terumasa, adalah kewajibanku untuk mengambil tanggung jawab atas tawanan ini. Nasib tawanan ini tidak lagi menjadi kepentinganmu. Tidak usah kau menyusahkan diri. Memikirkan dia pun tak perlu.”
Takuan tidak berusaha menjawab, tapi tertawa terpingkal-pingkal. Tiap kali tawa itu seperti akan berhenti, tapi lalu meningkat lagi.
“Perhatikan tingkahmu, Biarawan!” kata Kapten memperingatkan. la mulai meludah dan menggerutu, “Apanya yang lucu? Hah? Kaupikir semua ini lelucon?”
“Tingkahku?” ulang Takuan, dan tawanya pun pecah lagi. “Tingkahku? Dengar. Jenggot Jarang, apa kau bermaksud melanggar persetujuan kita dan tidak memenuhi janjimu yang suci? Kalau benar demikian, kuperingatkan, akan kulepaskan Takezo sekarang juga di tempat ini!”
Terengah-engah orang kampung serentak mulai menyingkir.
“Siap?” tanya Takuan sambil menjangkau tali yang mengikat Takezo.
Kapten bungkam.
“Dan kalau kulepaskan dia akan kusuruh dia pertama-tama menyerangmu. Kalian dapat menyelesaikan perkelahian itu berdua. Lalu tahanlah dia kalau kau bisa!”
“Tunggu dulu… sebentar saja!”
“Aku sudah memegang janjiku,” Takuan terus berlalu, seolah akan melepaskan belenggu tawanan itu.
“Tunggu.” Di dahi samurai itu bermunculan titik-titik keringat.
“Kenapa?”
“Ya, karena… karena…” la hampir menggagap. “Dia sudah terikat. Tak boleh dia dilepaskan. Cuma akan bikin kesulitan lagi. Dengarlah! Kau bisa membunuh Takezo sendiri. Ini… ini pedangku. Cuma, berikan kepalanya padaku untuk kubawa pulang. Adil, kan?”
“Kepalanya untukmu! Tak bakalan! Urusan kependetaan antara lain memimpin upacara pemakaman. Tapi membuang mayat atau bagian-bagiannya… itu akan memberikan nama jelek pada kami para pendeta, betul tidak? Tak seorang pun akan mempercayakan mayat keluarga mereka, kalau kami hanya akan membuangnya, dan kuil-kuil akan bangkrut dalam waktu singkat.” Walau tangan samurai itu sudah mencengkeram gagang pedang, Takuan tidak tahan untuk tidak mengejeknya.
Menghadap kepada khalayak, biarawan itu mengambil sikap sungguhsungguh lagi. “Kuminta kalian bicarakan hal ini sekali lagi di antara kalian, dan berikan jawabannya padaku. Apa yang akan kita lakukan? Perempuan itu bilang, tidak cukup membunuhnya seketika, kita harus menyiksanya dulu. Bagaimana kalau dia diikatkan ke cabang pohon kriptomeria itu beberapa hari: Kita dapat mengikat tangan dan kakinya, dan dia akan merasakan cuaca siang dan malam. Burung-burung gagak barangkali akan mematuk bola-bola matanya. Bagaimana?”

Usul biarawan itu terdengar sangat kejam oleh para pendengarnya, tak berperikemanusiaan, hingga mula-mula tak seorang pun dapat menjawab.
Kecuali Osugi, yang mengatakan, “Takuan, gagasanmu itu menunjukkan kau sungguh-sungguh bijaksana. Tapi kupikir kita harus menggantungnya seminggu lamanya-o, tidak, lebih! Biar dia tergantung di sana sepuluh atau dua puluh hari. Lalu aku sendiri akan datang memberikan pukulan maut.”
Tanpa panjang kata, Takuan pun mengangguk, “Baik. Jadi!”
Ia memegang tall yang sudah dilepasnya dari pagar, dan diseretnya Takezo seperti seekor anjing menuju pohon. Tawanan itu berjalan tanpa perlawanan, kepalanya tertunduk tanpa kata-kata. la tampak begitu menyesal, hingga beberapa orang yang berhati lunak merasa sedikit kasihan kepadanya. Namun kegembiraan karena telah menangkap “binatang liar” itu tidak juga usai, dan dengan penuh semangat semua orang ikut serta dalam kesenangan itu. Beberapa potong tali disambung-sambungkan menjadi satu. Takezo dinaikkan ke sebuah cabang, sekitar sepuluh meter tingginya dari tanah, dan diikat erat. Dalam keadaan terikat, ia lebih mirip boneka jerami besar daripada seorang manusia hidup.

Sekembalinya ke kuil dari pegunungan itu, Otsu mulai merasakan kesenduan yang aneh dan amat sangat apabila ia berada sendirian di dalam kamar. Ia bertanya-tanya kenapa demikian. Tinggal sendirian bukanlah hal baru baginya. Dan lagi di sekitar kuil selalu ada beberapa orang. la memiliki segala yang menyenangkan di rumah. Namun ia merasa lebih sepi kini daripada sewaktu tiga hari lamanya berada di sisi bukit terpencil, hanya berteman Takuan. Duduk bertopang dagu menghadap meja rendah di dekat jendela, ia menimbang-nimbang perasaannya setengah hari lamanya, sebelum akhirnya sampai pada satu kesimpulan.
la merasa pengalaman ini telah memberikan pemahaman ke dalam hatinya sendiri. Ia menyadari, kesepian ternyata seperti rasa lapar. Bukan di luar, tapi di dalam diri seseorang. Kesepian berarti merasa kekurangan sesuatu. Sesuatu yang harus ada, namun tak tahu ia apakah itu.
Baik. Orang-orang di sekitarnya maupun keramahan hidup di kuil tidak dapat meredakan perasaan terpencil yang sekarang ia rasakan. Di pegunungan yang ada hanya kesunyian, pepohonan, dan kabut, tapi waktu itu ada juga Takuan. Kesadaran datang bagai wahyu. Takuan tidak sama sekali berada di luar dirinya. Kata-kata Takuan masuk langsung ke dalam hatinya, menghangatkan dan meneranginya. Api atau lampu mana pun tak dapat menandingi. Kemudian sampailah ia kepada kesadaran polos bahwa ia kesepian karena Takuan tidak ada di dekatnya.
Sadar akan penemuan ini, ia pun berdiri, tapi pikirannya masih terus digeluti oleh masalah itu. Sesudah memutuskan hukuman untuk Takezo, hampir sepanjang waktu Takuan rapat di kamar tamu dengan samurai Himeji. Karena harus mondar-mandir ke kampung untuk menyampaikan ini-itu, Takuan tak punya waktu lagi untuk duduk bercakap-cakap dengan Otsu seperti yang ia lakukan di pegunungan itu. Otsu duduk kembali.
Oh, sekiranya ia punya seorang teman! la tidak membutuhkan banyak. Satu saja yang mengenalnya dengan baik. Satu orang yang dapat disandarinya. Satu orang yang kuat dan sepenuhnya dapat dipercayai. Itulah yang ia rindukan, itulah yang ia dambakan sekali sampai ia hampir gila.
Memang selalu ada suling itu. Tapi pada saat seorang gadis mencapai umur enam belas tahun, ada soal-soal clan hal-hal tak menentu di dalam dirinya yang tidak dapat dijawab oleh sebatang bambu. la membutuhkan keakraban clan rasa kebersamaan, bukan sekadar hidup yang mengamati, yang nyata.
“Semua memuakkan!” katanya keras. Tapi menyuarakan perasaannya itu sama sekali tidak meredakan kebenciannya kepada Matahachi. Air matanya tumpah ke meja kecil yang dipernis itu. Darah yang bergejolak di dalam nadinya membuat pelipisnya biru. Kepalanya berdenyut.
Diam-diam pintu di belakangnya bergeser terbuka. Di dapur kuil, api untuk memasak makan malam menyala terang.
“Ah ha! Jadi, di sinilah kamu sembunyi! Duduk di sini dan membiarkan hari lewat sia-sia!”
Tubuh Osugi muncul di pintu. Terkejut dari lamunannya, sesaat Otsu ragu-ragu sebelum menyambut perempuan tua itu dan meletakkan bantal tempat duduk. Tanpa menunggu kata-kata tuan rumah, Osugi langsung duduk.
“Menantuku yang baik…,” Osugi memulai dengan nada-nada megah.
“Ya, Bu,” jawab Otsu. Karena takutnya, ia membungkuk rendah di hadapan perempuan tua jelek itu.
“Karena kau sudah mengakui ada hubungan di antara kita, ada satu hal kecil yang ingin kubicarakan denganmu. Tapi ambilkan dulu teh untukku. Aku baru saja bicara dengan Takuan dan samurai Himeji itu, tapi pembantu pendeta tidak menyuguhkan minuman. Tenggorokanku kering!”
Otsu menurut dan mengambilkan teh.
“Aku ingin bicara tentang Matahachi,” kata perempuan tua itu tanpa pendahuluan lagi. “Tentu saja bodoh kalau aku percaya kata-kata Takezo si tukang bohong itu, tapi rupanya Matahachi masih hidup dan tinggal di provinsi lain.”
“Betul?” kata Otsu dingin.
“Aku tak yakin. Tapi yang jelas, pendeta yang bertindak sebagai pelindungmu di sini sudah menyetujui perkawinanmu dengan anakku, dan keluarga Hon’iden sudah menerimamu sebagai istri anakku. Apa pun yang terjadi nanti, aku percaya kamu tak punya pikiran buat melanggar janji.”
“Eh….
“Kamu tak akan melakukan hal seperti itu, kan?”
Otsu mengeluh pelan.
“Baiklah kalau begitu, aku gembira!” Ia berbicara seolah-olah menangguhkan suatu pertemuan. “Kamu tahu omongan orang. Tak ada berita kapan Matahachi kembali. Karena itu aku ingin kamu tinggalkan kuil ini dan menetap bersamaku. Pekerjaanku banyak sekali. Tak dapat kukerjakan sendiri. Dan karena menantuku juga repot dengan keluarganya sendiri, tak bisa aku terlalu banyak memaksanya. Jadi, aku perlu bantuanmu.”
“Tapi saya…”
“Siapa lagi yang bisa masuk rumah Hon’iden, kalau bukan istri Matahachi?”
“Tak tahu saya, tapi…”
“Apa kamu mau bilang keberatan? Apa kamu tak ingin tinggal di rumahku? Kebanyakan gadis-gadis akan melompat mendapat kesempatan itu!”
“Bukan, bukan itu. Tapi…”
“Nah, kalau begitu jangan membuang-buang waktu lagi! Kumpulkan barang-barangmu!”
“Sekarang juga? Apa tidak lebih baik menunggu?” “Tunggu apa?”
“Sampai… sampai Matahachi kembali.”
“Sama sekali jangan!” Nada Osugi terdengar pasti. “Bisa-bisa kamu mulai memikirkan lelaki lain. Tugasku menjaga supaya kamu tidak berlaku tak senonoh. Sementara itu, aku perlu mengatur supaya kamu belajar melakukan pekerjaan ladang, memelihara ulat sutra, menjahit lurus keliman, dan berlaku seperti nyonya bangsawan.”
“0… begitu.” Otsu tak berdaya untuk membantah. Kepalanya masih berdenyut. Pembicaraan tentang Matahachi itu membuat dadanya sesak. la takut bicara lagi, jangan-jangan air matanya membanjir.
“Dan ada satu hat lagi,” kata Osugi. Tanpa menghiraukan bingungnya gadis itu, la mengangkat kepala dengan angkuhnya. “Aku masih belum merasa pasti, apa yang hendak dilakukan biarawan yang tak bisa diduga itu atas Takezo. Aku khawatir. Aku ingin kamu mengawasi baik-baik kedua orang itu, sampai kita yakin bahwa Takezo mati. Siang dan malam. Kalau kamu tidak khusus berjaga malam hari, tak bisa diketahui apa yang mungkin dilakukan Takuan. Mereka bisa bersekongkol!”
“Jadi, Ibu tidak keberatan saya tinggal di sini?”
“Sementara tidak. Kamu tak bisa tinggal di dua tempat sekaligus, kan? Kamu datang dengan barang-barangmu ke rumah keluarga Hon’iden nanti, waktu kepala Takezo sudah terpisah dari badannya. Mengerti?”
“Ya, saya mengerti.”
“Jangan sampai lupa!” salak Osugi seraya mendesis keluar dari ruangan itu.
Sesudah itu, seakan-akan sudah lama menanti kesempatan, muncullah sebuah bayangan di jendela yang tertutup kertas itu. Suara lelaki memanggil pelan, “Otsu! Otsu!”
Karena berharap orang itu Takuan, Otsu tak lagi memandang bentuk bayangannya dan langsung bergegas membuka jendela. Ketika jendela dibuka, ia tersentak mundur karena kagetnya. Mata yang menyambutnya ternyata mata Kapten. Kapten mengulurkan tangan, menangkap tangan Otsu dan meremasnya keras-keras.
“Kau sudah berbuat baik padaku,” katanya, “tapi aku baru saja terima perintah dari Himeji untuk pulang.”
“0, sayang sekali.” Otsu berusaha menarik tangannya, tapi cengkeraman kapten itu terlalu kuat.
“Rupanya mereka sedang melakukan penyelidikan tentang kejadian di sini,” jelasnya. “Kalau saja aku bisa memperoleh kepala Takezo, aku bisa mengatakan telah melaksanakan tugas dengan penuh kehormatan. Aku akan mendapat nama baik. Tapi Takuan yang gila dan keras kepala itu tidak membiarkan aku memilikinya. Dia tak mau mendengarkan apa pun yang kukatakan. Kupikir kau ada di pihakku; itu sebabnya aku datang kemari. Ambil surat ini, dan baca kemudian kalau tak ada orang melihatmu.”
Kapten memasukkan surat itu ke tangan Otsu, dan pergi seketika itu juga. Otsu dapat mendengarnya bergegas menuruni tangga, ke jalanan.
Barang itu ternyata lebih dari sekadar surat, karena di dalamnya terdapat sepotong besar uang emas. Namun isi tulisannya sendiri cukup jelas: ia minta Otsu memotong kepala Takezo dalam beberapa hari itu dan membawanya ke Himeji. Si penulis akan memperistrinya, dan Otsu akan hidup di tengah kekayaan dan kemuliaan selama hidupnya. Surat itu ditandatangani oleh “Aoki Tanzaemon”, nama yang menurut pengakuan si penulis sendiri termasuk salah satu prajurit paling ternama di daerah itu. Otsu ingin tertawa terbahak-bahak, tapi ia terlalu murka waktu itu.
Ketika ia selesai membaca,Takuan memanggil, “Otsu, kau belum makan?”
Otsu mengenakan sandal dan keluar.
“Rasanya saya tak ingin makan. Kepala saya sakit.”
“Apa yang kaupegang itu?” ,
“Surat.”
“Lain lagi?”
“Ya.”
“Dari siapa?”
“Bapak ini mau campur tangan saja!”
“Ingin tahu, Nak, dan ingin menyelidiki. Bukan mau campur tangan!”
“Apa Bapak mau lihat?”
“Kalau kau tidak keberatan.”
“Cuma buat mengisi waktu?”
“Itu alasan yang sama baiknya dengan alasan yang lain.”
“Ini. Saya tidak keberatan sama sekali.”
Otsu menyerahkan surat itu, clan sesudah membacanya Takuan pun tertawa dengan riangnya. Otsu tidak bisa berbuat lain kecuali tersenyum.
“Kasihan! Dia begitu putus asa, sampai-sampai mencoba menyuapmu dengan cinta dan uang sekaligus. Surat ini sungguh surat yang lucu! Sesungguhnya dunia kita ini beruntung karena diberkati dengan samurai yang demikian terkemuka dan jujur! Dia demikian berani, hingga seorang gadis dia minta menggantikannya memotong kepala. Dan demikian bodohnya, hingga dia menuliskannya.”
“Surat itu tidak merisaukan saya,” kata Otsu, “tapi apa yang akan saya lakukan dengan uang ini?” Ia menyerahkan kepingan emas itu kepada Takuan.
“Barang ini cukup besar nilainya,” kata Takuan sambil menimbang-nimbang barang itu dengan tangannya.
“Itulah yang merisaukan saya.”
“Jangan khawatir. Aku pintar membuang uang.”
Takuan pun pergi ke depan kuil, di mana terdapat kotak derma. Sebelum memasukkan mata uang itu ke dalamnya, ia sentuhkan uang itu ke dahinya, sebagai tanda hormat kepada sang Budha. Tapi kemudian ia berubah pikiran. “Kalau dipikir sekali lagi, lebih baik ini kausimpan. Aku berani mengatakan, ini tak akan mengganggu.”
“Saya tak mau. Cuma akan bikin sulit. Saya bisa ditagih kemudian hari. Lebih baik saya berpura-pura tak pernah melihatnya.”
“Emas ini bukan lagi milik Aoki Tanzaemon, Otsu. Ini sudah menjadi persembahan bagi sang Budha, dan sang Budha menyerahkannya kepadamu. Simpanlah untuk keberuntunganmu.”
Tanpa protes lagi Otsu memasukkan mata uang itu ke dalam obi-nya. Kemudian, sambil menengadah ke langit, ia berkata, “Angin, ya? Akan hujan malam ini barangkali. Sudah berabad-abad lamanya tidak hujan.”
“Musim semi sudah hampir lewat, jadi sudah waktunya turun hujan lebat. Kita membutuhkannya untuk membersihkan semua bunga mati, termasuk menghilangkan kebosanan orang.”
“Tapi kalau hujan itu lebat, apa yang akan terjadi dengan Takezo?”
“Hmmm. Takezo….” Takuan termenung.
Baru saja kedua orang itu menoleh ke arah pohon kriptomeria, terdengar panggilan dari cabang-cabangnya di atas.
“Takuan! Takuan!”
“Apa? Kamu yang memanggilku, Takezo?”
Ketika Takuan menjeling untuk melihat ke atas pohon, Takezo pun menghujankan kutukan-kutukannya. “Biarawan babi kamu! Penipu kotor! Coba berdiri di bawah sini! Ada yang mau kukatakan padamu!”
Angin menerpa deras cabang-cabang pohon itu. Suara Takezo terdengar patah-patah dan putus-putus. Daun-daun berguguran di sekitar pohon dan mengenai wajah Takuan yang menengadah.
Biarawan itu tertawa. “Kulihat kau masih segar bugar. Bagus, cocok betul buatku. Kuharap itu bukan sekadar daya palsu, karena kau tahu akan segera mati.”
“Diam kamu!” teriak Takezo, yang tidak segar-bugar, melainkan sangat marah. “Kalau aku takut mati, kenapa pula aku mesti diam saja ketika kau mengikatku?”
“Kau melakukan itu karena aku kuat dan kamu lemah!”
“Itu bohong, dan kau tahu itu!”
“Kalau begitu, akan kukatakan dengan cara lain: aku pandai dan kamu bodoh.”
“Kau mungkin benar. Aku betul-betul bodoh membiarkan kau menangkapku.”
“Jangan menggeliat terlalu banyak, hai, monyet pohon! Itu tak baik buatmu, cuma bikin kau berdarah, kalau memang masih ada sisa darahmu. Dan terus terang, itu sangat tak pantas.”
“Dengar, Takuan!”
“Aku dengarkan.”
“Kalau aku mau melawanmu di gunung itu, aku bisa dengan mudah melumatkanmu seperti ketimun dengan sebelah kakiku.”
“Itu bukan persamaan yang sangat menyanjung. Tapi biar bagaimanapun kau tidak melakukannya, jadi lebih baik kau meninggalkan jalan pikiran itu. Lupakan yang sudah terjadi. Sudah terlambat untuk menyesal.”
“Kau mengecohku dengan khotbahmu yang muluk-muluk. Sungguh menjijikkan, bajingan! Kau menyuruhku percaya padamu, tapi kau berkhianat. Kubiarkan kau menangkapku karena kupikir kau lain dart yang lain. Aku tak mengira akan dihina seperti ini.”
“Langsung saja pada soalnya, Takezo,” kata Takuan tak sabar.
“Kenapa kau melakukan lm?” bungkah jerami itu menjerit. “Kenapa tidak kaupenggal saja kepalaku, habis perkara! Kupikir, kalau aku memang harus mati lebih baik kaupilih cara menghukumku daripada membiarkan orang banyak yang haus darah itu melakukannya. Walau kau seorang biarawan, katamu kau mengerti juga Jalan Samurai.”
“0, memang aku mengerti, hai, orang sesat yang malang. Jauh lebih mengerti daripada kamu!”
“Rasanya lebih baik kalau orang-orang kampung itu yang menangkapku. Paling tidak, mereka manusia.”
“Itukah kesalahanmu satu-satunya, Takezo? Apa segala yang pernah kau lakukan itu bukan kesalahan? Selagi kau di atas, kenapa tidak kaucoba memikirkan masa lalu sedikit?”
“0, diam kamu, munafik! Aku tidak malu! Ibu Matahachi boleh menyebutku apa saja semaunya, tapi Matahachi temanku, temanku yang terbaik. Kewajibankulah untuk datang menyampaikan kepada perempuan setan tua itu apa yang terjadi dengan Matahachi, tapi apa yang dia lakukan? Dia mencoba menghasut orang banyak untuk menyiksaku! Membawa berita untuknya tentang anak yang disayanginya, itulah satu-satunya sebab kenapa aku menerobos rintangan dan datang kemari. Apa itu pelanggaran atas tata krama prajurit?”
“Bukan itu soalnya, pandir! Susahnya, berpikir pun kamu tak bisa. Kau rupanya salah mengerti. Perbuatan berani semata-mata seakan-akan dapat membuatmu menjadi samurai. Padahal tidak begitu! Kau merasa yakin bahwa tindak kesetiaanmu itu benar. Semakin kau yakin, semakin kau merugikan dirimu clan semua orang lain. Dan sekarang, di mana kau berada? Tertangkap dalam perangkap yang kaupasang sendiri!” Takuan berhenti sebentar. “Tapi omong-omong, bagaimana pemandangan dari atas, Takezo?”
“Babi kamu! Tak akan kulupakan perbuatanmu ini!”
“Kau akan segera lupa segalanya. Sebelum kau berubah jadi daging kering, Takezo, cobalah pandang dunia luas di sekitarmu. Perhatikan dunia manusia, clan ubahlah cara berpikirmu yang cuma mementingkan diri sendiri. Kemudian, kalau kau sampai di dunia sana clan bersatu dengan nenek moyangmu, katakan pada mereka bahwa tepat sebelum kau mati, ada orang bernama Takuan Soho yang mengatakan hal ini padamu. Mereka akan girang sekali mengetahui bahwa kau sudah memperoleh bimbingan yang begitu baik, walau kau mempelajari hakikat hidup ini sudah terlambat sekali, hingga yang kaudapat untuk keluargamu hanyalah aib.”
Otsu yang selama itu berdiri terpaku tidak jauh dari situ datang berlarilari dan menyerang Takuan dengan suara nyaring.
“Pak Takuan, ini sudah keterlaluan! Saya dengar. Saya dengar semuanya. Bagaimana Bapak bisa begitu kejam pada orang yang mempertahankan diri pun tak bisa? Bapak kan orang saleh, atau mestinya begitu! Takezo benar, waktu dia mengatakan percaya pada Bapak dan membiarkan Bapak menangkapnya tanpa perlawanan.”
“Lho, apa pula ini? Apa teman seperjuanganku sudah berbalik melawanku?”
“Kasihan, Pak! Kalau mendengar Bapak bicara seperti itu, sungguh saya benci pada Bapak. Kalau Bapak bermaksud membunuh dia, bunuh saja, habis perkara! Takezo sudah pasrah untuk mati. Biarlah dia mati dengan damai!” Begitu berangnya Otsu, hingga disambarnya dada Takuan dengan kalut.
“Diam kamu!” kata Takuan dengan sikap brutal, tidak seperti biasanya. “Perempuan tak tahu apa-apa soal ini. Tahan mulutmu; atau akan kugantung juga kamu bersama dia di sana.”
“Tidak, saya tak mau, tak mau!” pekik Otsu. “Tapi saya mesti dikasih kesempatan bicara juga. Saya sudah ikut Bapak ke pegunungan dan tinggal di sana tiga hari tiga malam, bukan?”
“Tak ada hubungannya itu. Takuan Soho yang akan menghukum Takezo dengan hukuman yang menurut dia cocok.”
“Kalau begitu, hukumlah dia! Bunuh dia! Sekarang. Tidak betul kalau Bapak menertawakan kesengsaraannya selagi dia terbaring setengah mati di sana.”
“Kebetulan itulah satu-satunya kelemahanku, menertawakan orang-orang tolol macam dia.”
“Itu tidak berperikemanusiaan.”
“Pergi dari sini, sekarang! Pergi, Otsu; tinggalkan aku sendiri.”
“Saya tak mau!”
“Jangan kamu keras kepala lagi,” seru Takuan sambil menyikut Otsu dengan keras.
Begitu sadar, Otsu sudah tertelungkup di pohon. la menempelkan muka dan dadanya ke batang pohon dan mulai meratap. Tak pernah ia membayangkan bahwa Takuan bisa demikian kejam. Orang kampung percaya bahwa kalaupun biarawan itu mengikat Takezo sementara waktu, akhirnya ia akan melunakkan dan meringankan hukuman itu. Sekarang Takuan mengaku bahwa kelemahannya adalah menikmati Takezo menderita! Otsu menggigil melihat kebuasan manusia ini.
Jadi, kalau Takuan yang ia percayai dengan sepenuh hati saja dapat menjadi orang yang tak berhati, seluruh dunia ini tentunya jahat luar biasa. Dan kalau tak ada seorang pun yang dapat la percayai…
la merasakan kehangatan aneh pada pohon ini. Batangnya kuno dan besar, demikian besar hingga sepuluh orang tidak dapat mencakupnya dengan rentangan tangan. Dalam batang itu la merasakan darah Takezo beredar, mengalir turun dari penjaranya yang genting di cabang-cabang pohon di atas itu.
Sungguh ia mirip anak seorang samurai! Sungguh ia berani! Ketika Takuan pertama kali mengikatnya, dan sekali lagi belum lama mi, Otsu melihat kelemahan Takezo. Takezo dapat menangis. Sampai saat ini Otsu terbawa arus pendapat orang banyak, terbuai olehnya, tanpa memiliki gambaran nyata tentang manusianya sendiri. Apakah yang membuat orang banyak itu membencinya seperti iblis dan memburunya seperti binatang?
Punggung dan bahu Otsu naik-turun karena sedu sedannya. Masih bergayut erat pada batang pohon, la menggosokkan pipinya yang basah oleh air mata ke kulit pohon. Angin bersiul keras lewat cabang-cabang atas yang berayun-ayun lebar ke sana kemari. Titik-titik air besar jatuh di leher kimononya dan mengalir menuruni punggung, membuat dingin tulang punggungnya.
“Ayolah, Otsu,” seru Takuan sambil memayungi kepalanya dengan tangan. “Kita basah kuyup nanti.”
Otsu tidak menjawab.
“Semua ini salahmu, Otsu! Kau ini bayi cengeng! Kau menangis, langit menangis juga.” Kemudian nada ejekan itu hilang dari suaranya, “Angin makin keras, clan kelihatannya akan datang badai besar, karena itu ayo masuk. Jangan buang-buang air matamu untuk orang yang biar bagaimanapun akan mati! Ayo!” Sambil menutupkan ujung kimononya ke kepala, Takuan berlari ke tempat berteduh di kuil.
Dalam beberapa saat saja hujan deras turun. Titik-titik hujan menimbulkan titik-titik putih saat menghunjam tanah. Sekalipun air sudah mengaliri punggungnya, Otsu tidak juga beranjak. la tak sanggup pergi, sekalipun kimononya yang basah kuyup sudah menempel ke kulitnya dan ia kedinginan sampai ke tulang sumsum. Ketika pikirannya tertuju kepada Takezo, hujan jadi tak berarti lagi. Tidak terpikir olehnya kenapa ia mesti menderita semata-mata karena Takezo menderita. Otaknya dipenuhi gambaran yang baru terbentuk tentang bagaimana seharusnya seorang lelaki. Diam-diam ia berdoa agar hidup Takezo terselamatkan.
la berjalan berputar-putar mengelilingi pangkal potion dan berkali-kali memandang ke Takezo, tapi tak dapat melihatnya karena badai. Serta-merta ia memanggil namanya, tapi tidak ada jawaban. Timbul kecurigaan dalam benaknya, jangan-jangan ia dianggap salah seorang anggota keluarga Hon’iden, atau sekadar orang kampung yang memusuhinya.
“Kalau dia terus kehujanan,” demikian pikirnya putus asa, “pasti dia mati sebelum pagi. Oh, apa tak ada orang di dunia ini yang dapat menyelamatkan dia?”
Ia berlari sekencang-kencangnya, sebagian terdorong angin yang menggila. Bangunan dapur dan petak pendeta di belakang kuil utama tertutup rapat. Air yang melimpah dari talang menimbulkan selokan-selokan yang dalam di tanah ketika menderas menuruni bukit.
“Pak Takuan!” pekiknya. la sudah sampai di pintu kamar Takuan dan mulai menggedor-gedornya sekuat tenaga. “Siapa?” terdengar suara Takuan dari dalam. “Saya-Otsu!”
“Kenapa masih di luar saja?” Takuan cepat membuka pintu dan memandang Otsu keheranan. Bangunan itu memiliki tepi atap yang panjang, namun hujan menyiram Takuan juga. “Cepat masuk!” serunya sambil langsung mencengkeram lengan Otsu, tapi Otsu menariknya kembali.
“Tidak. Saya datang untuk minta tolong, bukan untuk mengeringkan badan. Saya mohon, Bapak, turunkan dia dari pohon itu!”
“Apa? Tak akan aku melakukannya!” kata Takuan bersikeras.
“Saya motion, Pak, turunkanlah dia. Saya akan berterima kasih pada Bapak untuk selama-lamanya.” la pun berlutut di lumpur dan mengangkat kedua tangannya memohon. “Tentang saya sendiri tak usah dipikirkan, tapi Bapak mesti menolongnya! Ayolah, Pak! Bapak tak bisa membiarkannya mati-tak bisa!”
Bunyi air yang menderas hampir menenggelamkan suaranya yang bercampur tangis. Dengan tangan masih diacungkan ke depan la tampak seperti seorang penganut Budha yang sedang menjalani latihan ketahanan dengan berdiri di bawah air terjun dingin.
“Saya sembah Bapak. Saya mohon. Akan saya lakukan apa saja untuk Bapak, tapi saya minta, selamatkan dia!”
Takuan diam. Matanya terpejam erat, seperti pintu-pintu bangunan suci tempat penyimpanan Budha yang rahasia. la menarik keluh panjang. la membuka mata dan menyemburkan api.
“Tidur sana! Sekarang juga! Badanmu lemah! Dan berada di luar pada cuaca seperti ini sama saja dengan bunuh diri.”
“Tolong, Pak, tolong,” mohon Otsu mendekati pintu.
“Aku mau tidur. Dan aku nasihati kamu tidur juga.” Suaranya seperti es.
Pintu pun mengatup keras.
Tapi Otsu tetap tidak menyerah. la merangkak di bawah rumah sampai mencapai tempat yang menurut perkiraannya tempat tidur Takuan. la panggili Takuan lagi. “Saya mohon, Pak Takuan. Ini soal paling penting di dunia buat saya! Pak, apa Bapak dengar suara saya? Jawab, Pak! 0, sungguh Bapak binatang! Jahanam tak berhati dan berdarah dingin!”
Untuk sesaat lamanya biarawan itu mendengarkan saja dengan sabar tanpa menjawab, tapi tindakan Otsu itu membuatnya tak bisa tidur. Akhirnya dalam ledakan kemarahan ia pun melompat keluar clan tempat tidur, dan serunya, “Tolong! Pencuri! Pencuri di bawah lantai! Tangkap!”
Otsu merangkak ke luar menuju badai lagi dan mundur kalah. Tapi ia belum menyerah

Batu Karang dan Pohon

PAGI harinya, angin clan hujan telah menghalau musim semi tanpa jejak. Matahari panas melecut bumi dengan garangnya. Hanya sedikit orang kampung yang berjalan tanpa mengenakan caping pelindung.
Osugi mendaki bukit menuju kuil, dan tiba di pintu Takuan dalam keadaan haus dan kehabisan napas. Titik-titik keringat muncul di atas rambutnya dan menyatu menjadi alur-alur keringat yang mengalir langsung menuruni hidungnya yang lurus. la tidak memperhatikannya, karena sudah tak sabar ingin mengetahui nasib korbannya.
“Takuan,” panggilnya, “apa Takezo tetap hidup kena badai itu?”
Biarawan itu muncul di beranda. “Oh, Ibu. Mengerikan sekali hujan kemarin, ya?”
“Ya.” Osugi tersenyum licik. “Bisa bikin mati.”
“Tapi saya yakin Ibu tahu, tidak terlalu sukar satu-dua malam menahan hujan yang terderas pun. Tubuh manusia mampu menahan banyak lecutan. Mataharilah yang bisa membunuh.”
“Maksud Anda, dia masih hidup?” kata Osugi tak percaya, dan seketika ia menolehkan mukanya yang keriput itu ke pohon kriptomeria tua. Matanya yang seperti jarum menciut dalam cahaya matahari yang menyilaukan. la mengangkat tangan untuk melindungi matanya clan sesaat ia pun lega sedikit. “Menunduk dia seperti gombal basah,” katanya dengan harapan baru. “Tentunya sudah tak mungkin dia hidup lagi, tak mungkin.”
“Saya belum lihat burung gagak mematuk mukanya,” kata Takuan tersenyum. “Saya pikir itu artinya dia masih bernapas.”
“Terima kasih. Orang terpelajar seperti Anda pasti lebih tahu daripada saya tentang hal-hal seperti itu.” la pun menjulurkan lehernya dan mengintip ke dalam ruangan. “Saya tak melihat menantu saya di mana-mana. Tolonglah Anda panggilkan.”
“Menantu Ibu? Saya tak pernah bertemu dengannya. Paling tidak, saya tak kenal namanya. Jadi, bagaimana mungkin saya memanggilnya?”
“Panggil dia, kataku!” ulang Osugi tak sabaran. “Siapa pula yang Ibu bicarakan ini?”
“Lho, tentu saja Otsu!”
“Otsu? Kenapa Ibu sebut dia menantu Ibu? Dia belum masuk keluarga Hon’iden, kan?”
“Belum, tapi aku punya rencana memasukkannya segera, sebagai istri Matahachi.”
“Sukar dibayangkan. Bagaimana mungkin dia mengawini seseorang, kalau orang itu tidak ada?”
Osugi jadi lebih naik darah lagi. “Dengar, gelandangan! Ini tak ada hubungannya denganmu! Katakan saja, di mana Otsu!”
“Rasanya masih di tempat tidur.”
“O ya, mestinya tadi aku menyangka begitu,” gerutu perempuan tua itu, setengah kepada dirinya. “Aku memang menyuruhnya mengawasi Takezo malam hari, jadi mestinya dia capek juga slang hari. Apa kamu tidak harus mengawasinya kalau siang?” tanyanya mengandung tuduhan.
Tanpa menanti jawaban, ia sudah balik kanan dan berjalan menuju bawah pohon. Di sana ia menatap ke atas lama-lama, seakan-akan kesurupan. Ketika akhirnya selesai, ia berjalan tertatih-tatih ke kampung, bertopang tongkat kayu arbei.
Takuan kembali ke kamar dan tinggal di situ sampai malam.
Kamar Otsu tidak jauh dari kamarnya, di bangunan yang sama. Pintunya tertutup juga sepanjang hari, kecuali apabila dibuka oleh pembantu pendeta. Beberapa kali pembantu membawakan obat atau mangkuk tanah berisi bubur betas kental. Ketika orang menemukan Otsu dalam keadaan setengah mati di tengah hujan malam sebelumnya, orang terpaksa menyeretnya masuk dan memaksanya minum sedikit teh. la menendang-nendang dan menjerit-jerit. Pendeta melancarkan cacian keras kepadanya, tapi ia duduk bisu bersandar di dinding.

Pagi harinya ia demam hebat, hampir tidak dapat mengangkat kepala untuk makan buburnya.
Malam tiba. Bertentangan sekali dengan malam sebelumnya, bulan bersinar terang, seperti lubang yang dibuat dengan rapi di langit. Ketika semua orang sedang tidur nyenyak, Takuan meletakkan buku yang sedang dibacanya, mengenakan bakiak, dan keluar ke halaman.
“Takezo!” panggilnya.
Jauh di atas kepalanya satu cabang bergoyang, dan titik-titik embun yang berkelipan jatuh.
“Kasihan. Mungkin dia tak punya tenaga lagi buat menjawab,” kata Takuan sendiri. “Takezo! Takezo!”
“Apa maumu, biarawan bajingan?” terdengar jawaban garang.
Takuan orang yang selalu waspada, tapi kali itu la tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya. “Keras juga suaramu, untuk ukuran orang yang sudah mau mati. Yakin kau betul-betul bukan seekor ikan atau sejenis monster laut? Kalau begini caranya, kau butuh lima atau enam hari lagi. Tapi omong-omong, bagaimana perutmu? Cukup kosong, ya?”
“Lupakan omongan tetek-bengek ini, Takuan, potong kepalaku, habis perkara.”
“O, tidak! Tidak secepat itu! Orang mesti hati-hati menghadapi hal-hal seperti itu. Kalau kupotong kepalamu sekarang juga, barangkali dia akan terbang ke bawah dan berusaha menggigitku.” Suara Takuan melemah, dan ia memandang ke langit. “Indah sekali bulan itu! Kau beruntung dapat melihatnya dari tempat yang begitu menguntungkan.”
“Baiklah, pandangilah aku, biarawan anjing kampung kotor! Akan kutunjukkan apa yang aku bisa, kalau aku mau!” Dengan segenap kekuatan yang masih tersisa dalam tubuhnya mulailah ia menggoyangkan badannya sehebat-hebatnya, mengempaskan bobot tubuhnya ke atas ke bawah, hingga hampir patah cabang yang menjadi gantungannya. Kulit kayu dan dedaunan menghujani orang yang di bawah. Namun Takuan tetap tenang, atau agak berpura-pura bodoh.
Biarawan itu dengan tenang mengusap bahunya, dan ketika selesai, ia pun menengadah lagi. “Itulah yang dinamakan semangat, Takezo! Memang baik marah seperti kau sekarang ini. Teruskan! Rasakan kekuatanmu sepenuhpenuhnya, tunjukkan bahwa kau manusia sejati, tunjukkan pada kami, terbuat dari apakah kau ini! Orang zaman sekarang menyangka bahwa mampu menahan marah adalah tanda kebijaksanaan dan kepribadian, tapi menurut pendapatku mereka itu bodoh. Aku benci melihat orang muda yang menahan diri, yang sopan santun. Mereka memiliki lebih banyak semangat daripada orang-orang tua, dan mereka harus menunjukkannya. Jangan menahan-nahan diri, Takezo! Makin gila kamu, makin baik!”
“Tunggu, Takuan, tunggu! Kalau aku memang mesti mengunyah tali ini dengan gigi telanjang, aku akan mengunyahnya supaya aku dapat menangkapmu dan mempreteli anggota tubuhmu!”
“Itu janji atau ancaman? Kalau menurutmu kau memang dapat melakukannya, aku akan tinggal di bawah sini, menanti. Apa kau yakin bisa mengerjakannya tanpa membunuh dirimu sendiri, sebelum tali itu putus?”
“Diam!” pekik Takezo parau.
“Kau memang betul-betul kuat, Takezo! Seluruh pohon bergoyang. Tapi maaf saja, tidak kulihat tanah bergetar. Susahnya, kenyataannya kamu itu lemah. Kemarahanmu itu tidak lebih dari kedengkian pribadi. Kemarahan lelaki sejati adalah ungkapan kemarahan moral. Kemarahan karena tetek-bengek emosional yang tak ada artinya adalah untuk perempuan, bukan lelaki.”
“Sebentar lagi,” ancam Takezo. “Aku akan langsung ke lehermu!”
Takezo berjuang terus, tapi tali besar itu tidak menunjukkan tanda-tanda melemah. Takuan memandang terus sejenak, kemudian memberikan nasihat persahabatan. “Kenapa kau tidak menyerah saja, Takezo, kau tidak bakal berhasil. Kau cuma melelahkan dirimu, dan apa gunanya untukmu? Biar kau menggeliat-geliat seperti apa pun, tak bakalan kau bisa mematahkan satu pun cabang pohon ini, apalagi membuat penyok alam semesta ini.”
Takezo memperdengarkan erangan keras. Kemarahannya sudah lewat. Ia sadar bahwa biarawan itu benar.
“Kurasa kekuatan itu lebih baik digunakan bekerja untuk kebaikan negeri. Kau mesti mencoba berbuat sesuatu untuk orang lain, Takezo, biarpun sudah sedikit telat untuk mulai sekarang. Kalau kau mencoba, kau akan punya kesempatan menggerakkan dewa-dewa atau bahkan alam semesta, belum lagi orang-orang biasa yang sederhana.” Suara Takuan kini ganti jadi sedikit bernada petuah. “Sayang, sayang sekali! Biarpun kau dilahirkan sebagai manusia, kau lebih mirip binatang, tidak lebih baik daripada babi hutan atau serigala. Sungguh menyedihkan bahwa seorang pemuda tampan seperti kau mesti menemui ajal di sini, tanpa pernah menjadi manusia sebenarnya! Sungguh sia-sia!”
“Kausebut dirimu sendiri manusia?” Takezo meludah.
“Dengar, orang barbar! Kau percaya betul dengan kekuatan kasarmu sendiri, dan mengira kau tak ada tandingannya di dunia ini. Tapi coba lihat, di mana kau sekarang!”
“Tak ada yang perlu kumalukan. Ini pertarungan tak adil.”
“Pada akhirnya tak ada bedanya, Takezo. Kau bukannya kena hajar, tapi kena diakali dan dibikin bungkam. Kalau kalah, kalah sajalah. Suka atau tidak, sekarang aku duduk di batu karang ini, sedangkan kau terbaring di atas situ tanpa daya. Apa kau tak bisa lihat perbedaan antara kau dan aku?”
“Ya. Tapi kau curang. Kau penipu dan pengecut!”
“0, sungguh gila aku, kalau aku mencoba menangkapmu dengan kekuatan. Tubuhmu terlalu kuat. Manusia tak punya banyak kesempatan menang bergulat dengan macan. Tapi untunglah jarang manusia mesti bergulat dengan macan, karena dia lebih pandai. Tidak banyak orang yang membantah kenyataan bahwa macan lebih rendah daripada manusia.”
Tak ada petunjuk bahwa Takezo masih mendengarkan.
“Itu sama saja dengan yang kaunamakan keberanianmu itu. Tingkah lakumu sampai sekarang ini tidak lebih dari keberanian binatang, jenis keberanian yang tak menghargai nilai-nilai kemanusiaan dan kehidupan. Itu bukan jenis keberanian yang menciptakan seorang samurai. Keberanian sejati mengenal rasa takut. Dia tahu bagaimana takut pada apa yang harus ditakuti. Orang-orang yang tulus menghargai hidup dengan penuh kecintaan. Mereka mendekapnya sebagai permata yang berharga. Dan mereka memilih waktu dan tempat yang tepat untuk menyerahkannya. Mati dengan penuh kemuliaan.”
Tetap tak ada jawaban.
“Itulah yang kumaksud, kalau kukatakan kau ini payah. Kau dilahirkan dengan kekuatan fisik dan keuletan, tapi kau kurang pengetahuan dan kebijaksanaan. Kau berhasil menguasai beberapa ciri kurang baik dari Jalan Samurai, tapi kau tidak berusaha mencapai pengetahuan atau kebajikan. Orang bicara tentang bagaimana mencampurkan Jalan Pengetahuan dengan Jalan Samurai, padahal kalau dicampurkan dengan balk keduanya itu bukan dua-keduanya itu satu. Hanya ada satu jalan, Takezo.”
Pohon itu diam, sediam batu karang yang diduduki Takuan. Kegelapan itu pun diam. Beberapa waktu kemudian, Takuan bangkit pelan-pelan dan berhati-hati. “Pikirkan satu malam lagi, Takezo. Sesudah itu, akan kupotong kepalamu seperti kauminta.” la meninggalkan tempat itu dengan langkahlangkah panjang penuh pikiran, kepala menunduk. Belum lagi dua puluh langkah, suara Takezo mendering keras clan terasa mendesak.
“Tunggu!”
Takuan menoleh, dan serunya, “Apa maumu sekarang?”
“Kembalilah.”
“Mm. Apa kau mau mendengar lebih banyak lagi? Apa kau akhirnya mulai berpikir?”
“Takuan! Selamatkan aku!” Teriakan minta tolong Takezo itu keras dan sedih. Cabang pohon itu mulai bergetar, seakan-akan seluruh pohon itu menangis.
“Aku mau jadi orang yang lebih baik. Aku sadar sekarang, betapa penting dan istimewanya lahir sebagai manusia. Aku hampir mati, tapi aku mengerti apa artinya hidup. Dan pada saat aku sadar, hidupku hanya tinggal terikat pada pohon ini! Tak dapat aku menghapuskan apa-apa yang telah kulakukan.”
“Akhirnya kau sadar. Untuk pertama kali dalam hidupmu kau bicara sebagai manusia.”
“Aku tak mau mati, Takuan!” teriak Takezo, “Aku mau hidup. Aku mau pergi, mencoba lagi, dan melakukan semuanya baik-baik.” Tubuhnya mengejang-ngejang karena sedu sedan. “Takuan… aku mohon! Tolonglah aku… tolong!”
Biarawan itu menggelengkan kepala. “Maaf, Takezo. Itu di luar kekuasaanku. Itu hukum alam. Kau tak bisa mengulangnya. Itulah hidup. Segala yang terjadi adalah untuk selamanya. Segalanya! Kau tak bisa mengembalikan kepalamu di tempatnya sesudah musuh memenggalnya. Begitulah adanya. Tentu saja aku kasihan padamu, tapi aku tak dapat melepaskan tali itu, karena bukan aku yang mengikatkannya. Kau sendirilah yang mengikatkannya. Yang dapat kulakukan hanyalah memberikan nasihat padamu. Hadapilah maut dengan berani dan tenang. Ucapkan doa dan berharaplah ada orang yang mau mendengarkan. Dan demi nenek moyangmu, Takezo, matilah dengan layak, dengan wajah damai!”
Gemeratak sandal Takuan menghilang di kejauhan. Takuan telah pergi, dan Takezo tidak berteriak lagi. Mengikuti nasihat biarawan itu, ia menutup mata yang baru saja mengalami kesadaran luar biasa dan melupakan segalanya. la lupakan kehidupan dan kematian, dan di bawah sejuta bintang kecil ia terbaring diam. Angin malam berdesir melintas pohon. la merasa dingin, dingin sekali.
Sejenak kemudian ia merasa ada orang di pangkal pohon. Orang itu, entah siapa, mendekap batang pohon yang lebar itu dan berusaha setengah mati naik ke dahan terendah. Terasa ia tidak begitu cakap. Takezo dapat mendengarkan bagaimana si pemanjat itu tergelincir hampir di tiap usahanya untuk naik. la pun dapat mendengar potongan-potongan kulit pohon berguguran ke tanah, dan ia yakin bahwa tangan-tangan itu jauh lebih terkelupas daripada pohonnya. Tetapi si pemanjat meneruskan usahanya dengan tabah, mencoba berkali-kali lagi menempel pada pohon, sampai akhirnya dahan yang pertama dapat dicapai. Kemudian sosok itu naik dengan agak mudah ke tempat Takezo terbaring dalam keadaan kehabisan tenaga. Tubuh Takezo hampir tak bisa dibedakan dari dahan tempatnya terikat. Suara terengah-engah membisikkan namanya.
Dengan susah payah Takezo membuka mata dan ternyata ia berhadapan dengan kerangka. Hanya matanya yang hidup dan tampak bersemangat. Wajah itu bicara. “Ini aku!” katanya dengan keluguan kanak-kanak.
“Otsu?”
“Ya, aku. Takezo, ayo kita lari! Aku dengar kau memekik ingin sekali hidup.”
“Lari? Kau akan melepas ikatanku dan membebaskan aku?”
“Ya. Aku juga tak tahan lagi diam di kampung ini. Kalau aku tinggal di sini… oh, aku tak ingin lagi memikirkan itu. Aku punya alasan sendiri. Aku cuma mau keluar dari tempat yang bodoh dan kejam ini. Aku akan menolongmu. Takezo! Kita dapat saling menolong!” Otsu sudah mengenakan pakaian perjalanan, dan semua miliknya sudah bergantung pada bahunya, dalam sebuah kantong kain kecil.
“Cepat putuskan tali! Apa lagi yang kautunggu? Potong!”
“Takkan makan waktu lama.”
Otsu menghunus belati kecilnya, dan dalam sekejap mata ia sudah meretas ikatan tahanan itu. Beberapa menit berlalu sebelum rasa berdenyut pada kaki-tangan Takezo mereda dan ia dapat melenturkan otot-ototnya. Otsu mencoba mendukung seluruh bobot Takezo, tapi akibatnya, ketika Takezo tergelincir, Otsu pun terperosok bersama. Kedua tubuh itu saling bergayutan, lalu lepas terpelanting, berputar di udara clan jatuh ke tanah.
Takezo berdiri. Kepalanya pusing karena jatuh dari ketinggian sepuluh meter, dan badannya lemah dan kaku, namun ia menjejakkan kaki di tanah mantap-mantap. Otsu merangkak, menggeliat kesakitan.
“O-o-h-h,” erangnya.
Takezo merangkulnya clan membantunya berdiri. “Ada yang patah?”
“Entah, tapi rasanya aku masih bisa jalan.”
“Kita jatuh menimpa cabang-cabang itu, jadi barangkali lukamu tidak seberapa.”
“Kau sendiri bagaimana? Tidak apa-apa?”
“Ya… Aku… Aku… tidak apa-apa, aku…” la berhenti sedetik-dua, kemudian ucapnya, “Aku hidup! Aku betul-betul hidup!”
“Tentu saja kau hidup!”
“Itu bukan ‘tentu saja’.”
“Mari kita lekas pergi dari sini. Kalau ada yang menemukan kita di sini, celaka nanti.”
Otsu berjalan terpincang-pincang, dan Takezo mengikutinya… pelan-pelan, diam-diam, seperti dua ekor serangga rapuh terluka sedang berjalan di udara dingin musim gugur.
Mereka berjalan sedapat-dapatnya, terpincang-pincang dalam diam. Kediaman yang lama kemudian baru terpecahkan, ketika Otsu berteriak, “Lihat! Sudah mulai terang di arah Harima.”
“Di mana kita ini?”
“Di puncak Celah Nakayama.”
“Apa betul sudah begitu jauh?”
“Ya.” Otsu tersenyum lemah. “Mengagumkan memang apa yang dapat dilakukan orang, kalau sudah bertekad. Tapi, Takezo…” Otsu kelihatan khawatir. “Kau tentunya kelaparan. Kau tidak makan apa-apa berhari-hari.”
Mendengar kata makanan, Takezo tiba-tiba menyadari bahwa perutnya yang kisut kejang kesakitan. Begitu ia sadar, keadaan jadi menyiksa. Terasa berjam-jam lamanya, sebelum akhirnya Otsu dapat membuka kantongnya dan mengeluarkaan makanan. Hadiah kehidupan Otsu adalah kue bakpao yang dipadati kacang manis. Ketika rasa manis kue itu menurun lembut dalam kerongkongannya, kepala Takezo pun menjadi pusing. Jari-jari yang memegang kue itu bergetar. “Aku hidup,” pikirnya berulang-ulang. la bersumpah sejak saat itu akan hidup secara berbeda sama sekali.
Awan yang kemerah-merahan pagi itu membuat pipi mereka berwarna merah muda. Ketika Takezo bisa memandang wajah Otsu dengan lebih jelas, dan rasa laparnya berganti menjadi tenang karena kenyang, terasa olehnya seperti mimpi bahwa ia kini duduk di sini, sehat walafiat, bersama Otsu.
“Kalau hari terang, kita harus sangat hati-hati. Kita hampir sampai perbatasan provinsi,” kata Otsu.
Mata Takezo melebar. “Perbatasan! Betul, aku lupa. Aku harus pergi ke Hinagura.”
“Hinagura? Kenapa?”
“Di sana kakak perempuanku dikurung. Aku harus mengeluarkannya dari sana. Kukira aku terpaksa mengucapkan selamat tinggal.”
Otsu memandang wajah Takezo dengan tajam, diam terpukau. “Kalau memang itu yang kaurasakan, pergilah! Tapi kalau aku tahu kau akan meninggalkan aku, tak akan aku meninggalkan Miyamoto.”
“Apa lagi yang dapat kulakukan? Membiarkan dia dl benteng sana?”
Dengan pandangan menghunjam, Otsu menggenggam tangan Takezo. Wajah dan seluruh tubuhnya menyala oleh cinta. “Takezo,” mohonnya, “akan kukatakan padamu bagaimana perasaanku kemudian, kalau ada waktu, tapi kuminta jangan tinggalkan aku di sini sendiri! Bawa aku ke mana saja kau pergi!”
“Tapi aku tak bisa!”
“Ingatlah”-Otsu mencengkeram tangan Takezo erat-erat-”suka atau tidak, aku akan ikut. Kalau kau berusaha menyelamatkan Ogin, aku akan pergi ke Himeji dan menanti.”
“Baiklah,” kata Takezo langsung setuju.
“Kau pasti akan datang, kan?”
“Tentu.”
“Aku menunggu di Jembatan Hanada, di pinggiran Himeji. Kutunggu kau di sana, biar sampai seratus atau seribu hari.”
Dengan jawaban anggukan kecil, Takezo berangkat tanpa banyak berkatakata lagi. la bergegas menyusuri pegunungan yang membujur dari celah itu ke pegunungan di kejauhan. Otsu mengangkat kepala untuk memperhatikannya, sampai tubuh Takezo menyatu dengan pemandangan.
Sementara itu di kampung, cucu Osugi berlari-lari naik ke rumah besar Hon’iden, sambil berseru, “Nek! Nenek!”
Sambil menghapus hidung dengan punggung tangan, la melongok ke dapur dan katanya ribut, “Nek, apa Nenek sudah dengar? Ada kejadian hebat!”
Osugi yang sedang berdiri di depan tungku dan menghidupkan api dengan kipas, hampir tidak memperhatikan cucunya.
“Apa sih ribut-ribut ini?”
“Nek, Nenek belum tahu? Takezo lari!”
“Lari!” Dan kipas pun jatuh ke api. “Apa katamu?” “Pagi ini dia tak ada di pohon. Talinya putus.”
“Heita, kau ingat apa kata Nenek kalau orang bohong?” “Ini betul, Nek, sumpah! Semua orang bilang begitu.” “Kau yakin betul?”
“Ya, Nek. Dan di kuil orang mencari Otsu. Dia hilang juga. Semua orang lari ke sana kernari berteriak-teriak.”
Akibat berita itu sungguh penuh warna. Muka Osugi memutih, penuh bayang-bayang nyala kipasnya yang terbakar itu, yang berubah warna dari merah ke biru dan lembayung. Segera wajah itu seolah-olah kehilangan darah, sedemikian rupa hingga Heita mengerut ketakutan.
“Heita!”
“Ya?”
“Lari secepat-cepatnya. Jemput ayahmu, lalu pergilah ke pinggir kali dan panggil Paman Gon! Cepat!” Suara Osugi menggeletar.
Sebelum Heita sampai di gerbang, sejumlah orang kampung sudah datang. Mereka ramai berbicara sendiri. Di antara mereka terdapat menantu lelaki Osugi, Paman Gon, sanak keluarga yang lain, dan sejumlah petani penyewa.
“Jadi, Otsu lari juga, ya?”
“Dan Takuan juga tidak kelihatan lagi!” “Pasti mereka kerja sama.”
“Apa yang dilakukan perempuan tua itu nanti? Kehormatan keluarganya jadi taruhan!”
Menantu Osugi dan Paman Gon yang membawa lembing turun-temurun dari nenek moyang, memandang kosong ke arah rumah. Mereka belum dapat melakukan sesuatu. Mereka butuh petunjuk. Karena itu mereka berdiri saja di sana dengan gelisah, menanti Osugi keluar memberikan perintah-perintahnya.
“Nek!” seru seseorang akhirnya. “Apa Nenek belum dengar?”
“Aku akan datang segera ke sana,” terdengar jawabannya. “Kalian semua tenang saja, dan tunggu.”
Osugi segera bertindak. Ketika ia mengetahui bahwa berita mengerikan itu benar, darahnya pun mendidih, tapi ia berusaha mengendalikan dirinya dengan berlutut di depan altar keluarga. Sesudah menyampaikan doa permohonan dengan diam, ia mengangkat kepala, membuka mata, dan menoleh ke sekitar. Tenang ia membuka tutup peti pedang, menarik lacinya dan mengeluarkan senjata simpanannya. la kenakan pakaian yang cocok untuk memburu orang, ia selipkan pedang pendek itu dalam obi-nya, dan pergilah ia ke pintu gerbang. Di situ ia ikatkan tall sandal baik-baik pada pergelangan kakinya.
Keheningan penuh pesona yang menyambutnya ketika ia mendekati gerbang jelas menunjukkan bahwa orang-orang itu sudah tahu untuk apa ia berpakaian demikian. Perempuan tua yang keras kepala itu memang bermaksud bertindak, dan ia lebih dari siap untuk membalas dendam atas penghinaan terhadap keluarganya.
“Semuanya akan beres,” ucapnya dengan nada pendek-pendek. “Akan kuburu sendiri perempuan jalang yang tak kenal malu itu, dan mengaturnya supaya dia mendapat hukuman setimpal.” Rahangnya mengatup.
la sudah berjalan cepat di jalan, barulah akhirnya seorang dari antara orang banyak itu memperdengarkan suaranya. “Kalau perempuan tua itu pergi, kita harus pergi juga.” Semua sanak keluarga dan penyewa pun berdiri dan serentak mengikuti bunda mereka yang gagah berani itu. Bersenjatakan tongkat, dan sambil membuat tombak bambu dalam perjalanan, mereka beriring-iring menuju Celah Nakayama, tanpa berhenti untuk istirahat. Mereka sampai di sana tepat sebelum tengah hari, tapi sudah terlambat.
“Mereka sudah berhasil lolos!” seru seseorang. Orang banyak itu pun menggelegak marahnya. Kekecewaan mereka ditambah lagi dengan penjelasan seorang pejabat perbatasan bahwa rombongan sebesar itu tidak bisa lewat.
Paman Gon maju ke depan clan memohon dengan sangat kepada pejabat itu. la melukiskan Takezo sebagai seorang “penjahat”, Otsu “setan”, dan Takuan “gila”. “Kalau tidak kami selesaikan soal ini sekarang,” jelasnya, “nama nenek moyang kami akan ternoda. Dan kami tak akan pernah bisa menegakkan kepala. Kami akan menjadi bahan tertawaan orang kampung. Bahkan keluarga Hon’iden bisa terpaksa meninggalkan tanahnya.”
Pejabat itu mengatakan dapat memahami keadaan sulit tersebut, tapi ia tak dapat berbuat apa-apa untuk menolong. Hukum adalah hukum. Barangkali la dapat melakukan penyelidikan di Himeji dan memintakan izin khusus untuk menyeberang perbatasan bagi mereka, tapi itu akan makan waktu.
Sesudah berunding dengan sanak saudara dan petani penyewa, Osugi maju ke hadapan pejabat itu dan bertanya, “Kalau begitu, apa ada alasan kenapa kami berdua, yaitu saya sendiri dan Paman Gon, tidak bisa jalan terus?”
“Sampai lima orang bisa diizinkan.” Osugi mengangguk setuju. Kemudian kelihatannya ia hendak mengucapkan kata-kata perpisahan yang mengharukan. Tapi akhirnya ia hanya menyuruh para pengikutnya berkumpul dengan singkat. Mereka berbaris di depannya, memandang penuh perhatian kepada mulutnya yang berbibir tipis clan giginya yang besar merongos.
Ketika mereka semua sudah diam, la berkata, “Tak usah kalian bingung. Sejak sebelum berangkat pun aku sudah membayangkan ini akan terjadi. Ketika aku mengambil pedang pendek ini, salah satu pusaka Hon’iden yang paling berharga, aku berlutut di depan tanda peringatan nenek moyang kita dan mengucapkan selamat berpisah secara resmi pada mereka. Aku juga mengucapkan dua sumpah.
“Satu, aku akan mengejar dan menghukum perempuan kurang ajar yang sudah mencoreng nama kita dengan lumpur. Yang kedua, aku harus memastikan-bahkan sampai mati-apakah anakku Matahachi masih hidup. Dan kalau dia masih hidup, akan kubawa dia pulang untuk melanjutkan nama keluarga. Aku bersumpah melakukan ini, dan akan kulaksanakan, biarpun misalnya aku terpaksa mengikat lehernya clan menyeretnya pulang. Dia punya kewajiban tidak hanya kepadaku dan kepada mereka yang sudah pergi, tapi juga kepada kalian. Baru sesudah itu dia akan mencari seorang istri yang seratus kali lebih baik dari Otsu dan menghapuskan aib ini selamanya, supaya orang kampung sekali lagi mengakui keluarga kita sebagai keluarga yang mulia dan terhormat.”
Ketika mereka bertepuk tangan dan bersorak-sorai, seorang lelaki mengucapkan sesuatu yang kedengaran seperti erangan. Osugi menatap tajam menantunya.
“Sekarang ini, Paman Gon an aku sudah cukup tua untuk pensiun,” lanjutnya. “Kami berdua sependapat mengenai segala sesuatu yang sudah kusumpahkan tadi, dan dia juga sudah bertekad untuk melaksanakan sumpah itu, biarpun menghabiskan waktu dua-tiga tahun tanpa melakukan apa-apa, biarpun terpaksa menjelajahi negeri ini. Selama aku pergi, menantuku akan mengambil alih jabatanku sebagai kepala keluarga. Selama itu kalian harus berjanji untuk bekerja keras seperti biasanya. Aku tak ingin mendengar ada di antara kalian yang menelantarkan ulat sutra atau membiarkan rumput tumbuh liar di ladang. Mengerti?”
Paman Gon hampir lima puluh tahun umurnya, sedangkan Osugi sepuluh tahun lebih tua. Orang-orang itu rupanya bimbang untuk membiarkan mereka berdua pergi sendiri, karena jelas kedua orang itu bukan tandingan Takezo apabila mereka menemukannya. Mereka semua membayangkan Takezo sebagai orang gila yang baru mencium bau darah saja sudah menyerang dan membunuh.
“Apa tidak lebih baik kalau Ibu membawa tiga pemuda?” saran seseorang. “Pejabat itu mengatakan lima orang bisa lewat.”
Perempuan tua itu menggelengkan kepalanya keras-keras. “Aku tidak butuh bantuan apa-apa. Aku tak pernah dibantu,dan aku tak akan mau. Ha! Semua orang berpendapat Takezo sangat kuat, tapi itu tidak bikin aku takut! Dia itu cuma anak bandel. Rambutnya tak lebih dari yang pernah kukenal waktu dia bayi. Aku tak sebanding dengan dia dalam kekuatan tubuh, pasti, tapi aku belum kehilangan akalku. Aku masih dapat mengakali seorang dua orang musuh. Paman Gon juga belum pikun. Sekarang sudah kusampaikan pada kalian apa yang akan kulakukan,” katanya lagi sambil menudingkan jari telunjuknya ke hidung. “Dan aku akan melaksanakannya. Tak ada lagi yang mesti kalian lakukan sekarang kecuali pulang. Jadi, pulanglah clan urus semuanya sampai kami kembali.”
la mengusir mereka dan pergi menuju perbatasan. Tak seorang pun mencoba menghentikannya lagi. Mereka menyerukan salam perpisahan dan memandangi pasangan tua itu memulai perjalanannya ke timur, menuruni sisi gunung.
“Perempuan tua itu betul-betul berani, ya?” kata seseorang.
Seorang lelaki lain mencorongkan tangannya dan berseru, “Kalau Ibu jatuh sakit, kirim suruhan ke kampung.”
Orang ketiga berseru khawatir, “Jaga diri baik-baik.”
Ketika Osugi sudah tak dapat lagi mendengar suara orang-orang itu, ia menoleh pada Paman Gon. “Biar bagaimana kita akan mati sebelum orang orang muda itu.”
“Nenek benar sekali,” jawab Paman Gon yakin. Paman Gon hidup dengan berburu, tapi di masa mudanya ia samurai. Menurut ceritanya sendiri, ia pernah terlibat dalam banyak pertempuran berdarah. Sampai sekarang pun kulitnya masih merah sehat dan rambutnya sehitam biasanya. Nama keluarganya Fuchikawa; Gon adalah singkatan Gonroku, namanya sendiri. Sebagai paman Matahachi, dengan sendirinya ia sangat prihatin dan bingung oleh peristiwa-peristiwa yang baru terjadi itu. “Nek,” katanya.
“Apa?”
“Nenek sempat memikirkan pakaian perjalanan, tapi aku sendiri cuma memakai pakaian sehari-hari. Aku harus berhenti nanti, mencari sandal dan topi.”
“Ada warung teh kira-kira setengah jalan turun bukit ini.”
“Ya, betul! Aku ingat. Namanya Warung Teh Mikazuki, kan? Aku yakin mereka menjual barang yang kubutuhkan.”
Ketika sampai di warung teh itu, heranlah mereka melihat matahari sudah mulai terbenam. Tadinya mereka mengira masih mempunyai waktu beberapa jam lagi, karena hari-hari memang bertambah panjang bersama datangnya musim panas berarti lebih banyak waktu untuk melakukan pencarian. Hari pertama mengejar kehormatan keluarga yang hilang.
Mereka minum sedikit teh dan beristirahat sebentar. Ketika mengeluarkan uang, Osugi berkata, “Takano terlalu jauh kalau dicapai malam hari. Kita terpaksa tidur di tikar bau di penginapan kusir kuda beban di Shingu, meskipun tidak tidur sama sekali barangkali lebih balk.”
“Kita butuh tidur justru sekarang ini. Ayo kita jalan,” kata Gonroku sambil bangkit mencekau topi jerami yang barusan dibelinya. “Tapi tunggu sebentar.”

“Ada apa?”
“Aku mau mengisi tabung bambu ini dengan air minum”
Gonroku berjalan ke belakang rumah dan mencelupkan tabungnya ke kali yang mengalir jernih, sampai gelembung-gelembung air tidak naik lagi ke permukaan. Dalam perjalanan kembali ke jalan di depan, sekilas ia memandang lewat jendela samping ke bagian dalam warung teh yang samar-samar itu. Tiba-tiba ia pun terhenti, karena terkejut melihat sesosok tubuh yang terbaring di lantai, berselimut tikar jerami. Bau obat-obatan memenuhi udara. Gonroku tak dapat melihat wajah orang itu, tapi dapat melihat rambut hitam yang terburai ke sana kemari di atas bantal.
“Paman Gon, lekas!” seru Osugi tak sabaran.
“Sebentar.”
“Ada apa?”
“Kelihatannya ada orang sakit di dalam,” kata Gonroku sambil berjalan di belakang Osugi seperti anjing yang sedang dihukum.
“Apa itu luar biasa? Perhatianmu ini gampang teralih, seperti anak-anak.”
“Maaf, maaf,” Gonroku lekas-lekas minta maaf. la memang gampang ditakut-takuti Osugi, seperti orang lain juga, tapi ia lebih tahu cara mengendalikan perempuan itu daripada kebanyakan orang lain.
Mereka berangkat menuruni bukit yang cukup terjal, menuju jalan Harima. Jalan yang sehari-harinya dilalui kuda-kuda beban dari tambang perak itu penuh dengan lubang.
“Jangan sampai jatuh, Nek,” nasihat Gon.
“0, jangan berani-berani kau mengajariku! Jalan ini bisa kulalui dengan mata tertutup. Kau sendiri yang mesti hati-hati, orang sinting tua!”
Pada saat itu terdengar suara yang menyapa mereka dari belakang. “Anda berdua ini cekatan sekali.”
Mereka menoleh, dan tampaklah oleh mereka pemilik warung teh itu menunggang kudanya.
“0, ya, kami baru saja istirahat di tempat Anda, terima kasih. Dan ke mana Anda akan pergi?”
“Tatsuno.”
“Malam begini?”
“Tidak ada dokter, kecuali di sana. Biarpun naik kuda, baru tengah malam saya akan sampai.”
“Apa istri Anda sakit?”
“O, tidak.” Keningnya mengerut. “Kalau istri saya sendiri atau salah seorang anak saya, tidak apalah. Tapi berat rasanya kalau buat orang lain, orang yang baru datang buat istirahat.”
“O,” kata Paman Gon, “Apa itu gadis yang ada di kamar belakang Anda? Kebetulan saya melihatnya tadi sekilas.”
Kening Osugi sekarang ikut berkerut.
“Ya,” kata pemilik warung. “Ketika dia istirahat badannya mulai menggigil, jadi saya tawarkan kamar belakang buat berbaring. Saya merasa harus berbuat sesuatu. Tapi tidak juga dia membaik. Sebaliknya, keadaannya jauh lebih buruk. Badannya panas sekali karena demam. Kelihatannya cukup gawat.”
Osugi menghentikan jalannya. “Apa gadis itu sekitar enam belas tahun, dan sangat ramping?”
“Ya, sekitar enam belas, saya kira. Katanya dia datang dari Miyamoto.”
Osugi pun mengedip pada Gonroku dan mulai menggerayangi obi-nya. Tapi pandangan kecewa tergambar pada wajahnya, ketika la berseru, “Oh, ketinggalan di warung teh itu!”
“Apa yang ketinggalan?”
“Tasbih. Aku ingat sekarang-tadi kutaruh di atas bangku.”
“O, celaka,” kata tukang warung seraya membalikkan kudanya. “Sebentar saya ambilkan.”
“Jangan, jangan! Anda mesti menjemput dokter. Gadis yang sakit itu lebih penting daripada tasbih saya. Biar kami sendiri kembali mengambilnya.”
Paman Gon sementara itu sudah berbalik, melangkah cepat mendaki bukit. Begitu selesai berbicara dengan pemilik warung teh yang baik budi itu, Osugi pun segera menyusul. Tak lama kemudian mereka berdua terengah-engah kehabisan napas. Tak seorang pun bicara. Pasti itu Otsu!
Otsu sebetulnya belum sembuh benar dari demam yang menyerangnya pada malam ia diseret masuk dari tengah badai itu. la dapat melupakan sakitnya ketika beberapa jam berada bersama Takezo, tapi sesudah Takezo meninggalkannya ia hanya dapat berjalan sedikit sebelum akhirnya mulai menyerah pada rasa sakit clan lelah. Ketika sampai di warung teh itu, ia sudah benar-benar tidak tahan.
Tak tahu ia sudah berapa lama terbaring di kamar belakang itu, dan berkali-kali meminta air dalam igauannya. Sebelum pergi, tukang warung menjenguknya dan mendesaknya supaya bertahan. Beberapa waktu kemudian Otsu sudah lupa bahwa tukang warung pernah bicara dengannya.
Mulutnya kering. la merasa mulutnya penuh duri. “Air, air, minta air!” serunya lemah. Karena tak ada jawaban, ia pun menegakkan badan dengan kedua sikunya dan menjulurkan leher ke arah tempayan air yang ada di luar pintu. Pelan-pelan la berhasil merangkak ke situ, tapi ketika ia mengulurkan tangan untuk memegang ciduk bambu di sampingnya, didengarnya tirai hujan jatuh ke tanah di belakangnya. Warung teh itu memang tak lebih dari gubuk pegunungan, clan tidak suatu pun dapat mencegah orang mengangkat satu atau seluruh tirai yang tak terikat itu.
Osugi dan Paman Gon menerobos dari tempat tirai terbuka itu.
“Aku tidak lihat apa-apa,” keluh perempuan tua itu dengan suara yang menurutnya hanya bisikan.
“Tunggu,” jawab Gon yang waktu itu sedang menuju kamar perapian, lalu mengaduk bara dan memasukkan sedikit kayu untuk sedikit menerangi ruangan.
“Tak ada di sini, Nek!”
“Dia pasti di sini! Tak mungkin dia pergi!” Hampir seketika itu juga Osugi pun melihat pintu kamar belakang terbuka. “Lihat di sana!” serunya.
Otsu, yang sudah berdiri di luar, menyiramkan air yang sudah diciduk tadi lewat lubang sempit ke muka perempuan tua itu dan berlari kencang menuruni bukit seperti burung di tengah angin, sampai lengan baju dan kimononya mengembung di belakangnya.
Osugi berlari ke luar dan memaki-maki.
“Gon, Gon. Kejar, Gon, kejar!” ,
“Apa dia lari?”
“Tentu saja lari! Kita sudah kasih dia kesempatan lari, karena banyak ribut itu. Mana kau menjatuhkan tirai segala!” Wajah perempuan tua itu sudah berubah bentuk karena berang. “Apa tak bisa kaukejar?”
Paman Gon mengarahkan pandangannya ke sosok tubuh yang seperti’ kijang terbang di kejauhan. la mengangkat tangan clan menuding. “Itu dia, kan? Jangan khawatir, dia tak jauh mendahului kita. Dia sakit, dan lagi kakinya kaki gadis. Sebentar lagi dia pasti terkejar olehku.” la menarik dagunya dan langsung berlari. Osugi segera menyusulnya.
“Paman Gon,” teriaknya, “kau boleh menggunakan pedang, tapi jangan potong kepalanya sebelum aku sempat kasih dia sedikit pendapatku.”
Paman Gon tiba-tiba memekik kaget dan jatuh tengkurap. “Ada apa?” teriak Osugi yang menyusulnya.
“Lihat itu ke bawah.” Osugi pun melihat ke sana. Tepat di depan mereka ternganga jurang terjal penuh bambu. “Dia terjun ke situ?”
“Ya. Kukira tidak terlalu dalam, tapi terlalu gelap. Terpaksa kembali ke warung teh buat ambil obor.” Ketika ia sedang berlutut memandang ke dalam jurang, Osugi berteriak, “Apa yang kautunggu, tolol?” dan menyodoknya dengan keras. Terdengar bunyi kaki-kaki yang mencoba mencari pijakan, merangkak-rangkak, clan akhirnya berhenti di dasar jurang.
“Tukang sihir tua!” teriak Paman Gon marah. “Cobalah turun sendiri! Biar tahu sendiri rasanya!”

Takezo duduk di atas batu besar sambil melipat tangan dan memandang ke seberang lembah, ke benteng Hinagura. la membayangkan di bawah salah satu atap itulah kakak perempuannya dipenjarakan. la sudah duduk di situ sejak matahari terbit sampai matahari terbenam sehari sebelumnya clan sepanjang hari ini, namun belum juga la dapat menyusun rencana untuk mengeluarkan kakaknya. la bermaksud terus duduk sampai ia mendapatkan rencana itu.
Pikirannya sudah sampai pada keyakinan bahwa la dapat membikin lumpuh lima puluh atau seratus serdadu yang mengawal benteng itu, tapi ia masih terus mempertimbangkan letak tanah. Yang la perlukan bukan hanya masuknya, tapi juga keluarnya. Keadaannya tidak begitu membesarkan hati. Di belakang benteng terdapat parit dalam, sedangkan di depan, jalan masuk benteng itu dilindungi dengan baik oleh gerbang ganda. Yang lebih buruk lagi, mereka berdua nantinya akan terpaksa melarikan din menyeberangi dataran rata yang tidak ditumbuhi sebatang pohon pun untuk berlindung. Pada hari tak berawan seperti ini, tak ada sasaran yang lebih baik dari itu.
Jadi, keadaan itu memaksanya melakukan serangan malam, tapi ia sudah melihat bahwa gerbang-gerbang itu ditutup dan dikunci sebelum matahari terbenam. Setiap usaha untuk mendobraknya pasti membunyikan tanda bahaya berupa anak genta dari kayu yang ingar-bingar bunyinya itu. Agaknya tak ada cara yang mudah untuk mendekati benteng itu.
Tak ada jalan, pikir Takezo sedih. “Sekalipun aku mengambil jalan terbaik, pasti membahayakan hidupku sendiri dan hidupnya. Tak bisa.” Ia merasa terhina dan tak berdaya. “Bagaimana mungkin aku jadi begini pengecut?” tanyanya pada diri sendiri. “Seminggu yang lalu aku bahkan tidak berpikir sempat lolos dalam keadaan hidup.”
Setengah hari kemudian tangannya masih tetap terlipat di dada, seakan terkunci. Ia mengkhawatirkan sesuatu yang tak dapat dirumuskannya, dan ia ragu-ragu mendekati benteng itu. Berkali-kali ia mencela dirinya sendiri. “Aku sudah kehilangan keberanian. Tak pernah aku seperti ini. Barangkali berhadapan dengan maut membikin orang jadi pengecut.”
Ia pun menggelengkan kepala. Tidak, bukan itu, bukan sikap pengecut. Ia menarik pelajaran yang dengan segala jerih payah diberikan oleh Takuan, dan sekarang ia bisa melihat segala sesuatu dengan lebih jernih. la merasakan ketenangan baru, perasaan damai. Rasanya perasaan itu mengalir di dadanya seperti sungai yang lembut. Berani, lain sekali dengan ganas. la paham sekarang. la tidak merasa seperti binatang, ia merasa seperti seorang manusia. Manusia berani yang sudah melampaui kesembronoan remajanya. Hidup yang diberikan padanya adalah sesuatu yang harus dihargai clan dijunjung, dipoles clan disempurnakan.
Ia menatap langit terang yang cantik, yang warnanya saja rasanya sudah merupakan keajaiban. Namun ia tidak dapat membiarkan kakak perempuannya ditahan, sekalipun artinya ia harus melanggar untuk terakhir kalinya pengetahuan diri yang sangat berharga, yang baru saja la peroleh dengan penuh penderitaan.
Sebuah rencana mulai terbentuk. “Kalau malam tiba, aku akan menyeberangi lembah dan memanjat karang di sebelah sana. Rintangan alam itu bisa menjadi samaran. Tak ada gerbang di bagian belakang, clan agaknya tempat itu tidak dikawal ketat.”
Belum lagi la sampai pada kesimpulan ini, sebatang anak panah mendesis ke arahnya dan menancap di tanah, beberapa inci dari jemari kakinya. Di seberang lembah sana ia melihat kerumunan orang banyak bergerak ke sana kemari di dalam benteng. Jelas mereka telah melihatnya. Hampir seketika itu juga mereka buyar. la menduga tembakan itu percobaan untuk melihat, reaksinya, tapi dengan sengaja ia diam tak bergerak di tempatnya.
Tak lama kemudian, cahaya matahari sore mulai mengabur di belakang puncak pegunungan barat. Tepat sebelum kegelapan menyelimuti, ia bangkit dan memungut sebuah batu. la sudah melihat makan malamnya melayang di atas kepala. Begitu dilemparnya burung itu pun jatuh, dikoyaknya dan dibenamkannya giginya ke dalam daging yang hangat itu.
Selagi ia makan, lebih dari dua puluh serdadu bergerak ribut mencari posisi clan mengepungnya. Begitu posisi rapi, mereka memperdengarkan teriakan perang. Satu orang berseru, “Itu Takezo! Takezo dari Miyamoto!”

“Dia berbahaya! Jangan sepelekan dia!” satu orang lagi mengingatkan.
Takezo menghentikan pesta unggas mentah itu dan menyorotkan pandangan kejam ke arah para calon penangkapnya. Pandangan yang biasa diperlihatkan oleh binatang ketika terganggu di tengah makannya.
“Ya-a-h-h!” pekiknya sambil mengambil sebuah batu besar dan melontarkannya ke baris depan dinding manusia itu. Batu itu menjadi merah oleh darah, dan dalam sekejap ia sendiri sudah menerobos, berlari langsung ke arah gerbang benteng.
Orang-orang itu ternganga.
“Apa yang dia lakukan?”
“Ke mana perginya orang sinting itu?” “Dia gila!”
Takezo terbang seperti capung yang keranjingan, dikejar para serdadu yang memperdengarkan teriakan-teriakan perang. Namun ketika mereka sampai di gerbang luar, Takezo sudah melompat naik. Sekarang ia berada di antara kedua gerbang, yang sebetulnya sebuah perangkap. Mata Takezo sama sekali tak melihat. la tak dapat melihat serdadu yang mengejarnya, pagar, maupun para pengawal di gerbang kedua. la bahkan tak sadar ketika merobohkan dengan satu pukulan saja seorang penjaga yang mencoba melompatinya. Dengan kekuatan yang hampir-hampir di luar kekuatan manusia, ia merenggut sebuah tiang di gerbang dalam, ia guncangkan matimatian, sampai tercerabut dari tanah. Kemudian ia berbalik kepada para pengejarnya. la tak tahu jumlah mereka. Yang diketahuinya hanyalah sesuatu yang besar dan hitam menyerangnya. la membidik sebaik-baiknya, lalu la hantam benda tak berbentuk itu dengan tiang gerbang. Sejumlah besar lembing dan pedang berantakan, terbang ke udara dan jatuh berantakan ke tanah.
“Ogin!” teriak Takezo sambil berlari ke bagian belakang benteng. “Ogin, ini aku, Takezo.”
Ia tatap gedung-gedung itu dengan mata menyala, sambil terus memanggilmanggil kakak perempuannya. “Apa semua ini tipu daya?” pikirnya panik. Satu demi satu ia gedor pintu-pintu itu dengan tiang gerbang. Ayam-ayam pengawal berkaok-kaok menyelamatkan hidup, terbang ke segala jurusan.
“Ogin!”
Setelah gagal mengetahui tempat kakak perempuannya, teriakan-teriakannya yang serak menjadi hampir tak bisa dimengerti.
Akhirnya di dalam bayangan salah satu sel kecil dan kotor, ia melihat seorang lelaki mencoba menyelinap.
“Berhenti!” serunya sambil melemparkan tiang gerbang yang bernoda darah itu ke kaki makhluk seperti musang tersebut. Ketika Takezo melompat ke arahnya, orang itu mulai menangis tak kenal malu. Takezo menampar keras pipinya, “Mana kakakku?” raungnya. “Diapakan dia? Katakan di mana dia, kalau tidak kubunuh kau!”
“Dia… dia tidak di sini. Kemarin dulu dia dibawa pergi. Perintah dari puri.”
“Di mana. baiinw
I y y ya „

“Kalau kau bohong, ku…” Takezo mencekau rambut orang yang menangis tersedu-sedu itu.
“Betul… betul. Sumpah!”
“Nah, lebih balk kalau begitu. Tapi kalau kau bohong, aku akan kembali khusus mencarimu!”
Serdadu-serdadu itu merapat lagi. Takezo mengangkat orang itu dan melemparkannya ke arah mereka. Kemudian ia menghilang ke dalam bayangan sel-sel yang mesum. Setengah lusin anak panah terbang melewatinya, sebuah menempel seperti jarum jahit raksasa di kimononya. Takezo menggigit kuku ibu jarinya dan memandang anak-anak panah itu melaju lewat, kemudian tiba-tiba ia menuju pagar, dan dalam sekejap mata sudah melompatinya.
Di belakangnya terdengar ledakan keras. Gema tembakan senapan itu meraung ke seberang lembah.
Takezo meluncur menuruni jurang, dan sementara berlari petikan-petikan ajaran Takuan pun melintas dalam kepalanya, “Belajarlah takut pada apa yang menakutkan…. Kekuatan yang kasar dalam permainan anak-anak, kekuatan binatang yang tak berakal…. Punyailah kekuatan prajurit sejati… keberanian yang nyata…. Hidup itu berharga.”

Lahirnya Musashi

TAKEZO menanti di pinggiran kota Himeji, kadang-kadang bersembunyi di bawah Jembatan Hanada, tapi lebih sering berdiri di jembatan clan diamdiam memperhatikan orang-orang lewat. Apabila sedang tidak berada di dekat jembatan itu, ia biasa melakukan pesiar singkat sekitar kota, dengan hati-hati membenamkan topi clan menyembunyikan wajahnya, seperti pengemis, dengan anyaman jerami.
la sangat risau bahwa Otsu belum juga muncul; baru seminggu berlalu sejak gadis itu bersumpah akan menanti di situ-bukan seratus hari, tapi seribu. Sekali Takezo membuat janji, pantang ia melanggarnya. Tetapi bersamaan dengan berlalunya waktu, ia pun semakin tergoda untuk mondarmandir, sekalipun janjinya pada Otsu bukanlah satu-satunya alasan kenapa ia ke Himeji. la pun harus menemukan di mana orang menahan Ogin.
la sedang berada di dekat pusat kota pada suatu hari, ketika didengarnya suara orang memanggil namanya. Langkah-langkah kaki terdengar di belakangnya. la mengangkat kepala dengan tegas, dan tampak olehnya Takuan datang mendekat sambil berseru, “Takezo! Tunggu!”
Takezo terperanjat, dan seperti biasa di hadapan biarawan ini ia merasa sedikit rendah diri. la menyangka penyamarannya sudah aman, dan merasa yakin bahwa tak seorang pun mengenalinya, bahkan juga Takuan.
Biarawan itu menangkap pergelangan tangannya. “Ayo ikut aku,” perintahnya. rintahnya. Nada gawat yang ada dalam suaranya itu mustahil diabaikan. “Dan jangan bikin ribut. Sudah lama aku mencarimu.”
Takezo ikut tanpa melawan. Tak terpikir olehnya ke mana mereka pergi, tapi sekali lagi ia merasa tanpa daya menghadapi orang istimewa ini. Ia heran, kenapa demikian. Ia merdeka sekarang dan sepanjang pengetahuannya mereka berjalan langsung kembali ke pohon gila di Miyamoto itu. Atau barangkali ke kamar bawah tanah di dalam puri. la menduga kakaknya ditahan di dalam salah satu benteng, tapi tak ada satu bukti pun untuk membenarkan dugaannya itu. la berharap ia benar. Kalau ia tertangkap di sana, setidak-tidaknya mereka dapat mati bersama. Kalaupun mereka harus mati, memang tak ada orang lain yang cukup dicintainya yang dapat diajaknya berbagi saat-saat akhir hidup yang berharga ini.
Puri Himeji muncul di hadapan matanya. la dapat melihat sekarang, kenapa puri itu disebut “Puri Bangau Putih”. Bangunan megah itu berdiri di atas kubu batu yang sangat besar, seperti burung besar angkuh yang turun dari langit. Takuan mendahuluinya menyeberangi jembatan lengkung lebar yang membentang hingga parit luar. Sebarisan pengawal berdiri tegak di depan gerbang besi. Cahaya matahari yang memantulkan lembinglembing terhunus membuat Takezo sekejap ragu-ragu lewat. Walaupun tidak menoleh, Takuan dapat merasakan keraguannya. Dengan isyarat tak sabar la mendesak Takezo maju terus. Lewat menara gerbang, mereka mendekati gerbang kedua. Di sini serdadu-serdadu memandang lebih cermat dan waspada lagi, clan siap untuk berkelahi begitu ada perintah. Ini puri seorang daimyo. Sulit bagi penghuninya untuk dapat santai dan menerima kenyataan bahwa negeri telah berhasil dipersatukan. Seperti banyak puri lain pada zaman itu, ia belum terbiasa akan kemewahan perdamaian.
Takuan memanggil kapten pengawal. “Aku sudah menangkapnya,” ucapnya. Sambil menyerahkan Takezo, biarawan itu menasihati orang tersebut untuk memperlakukan Takezo baik-baik sebagaimana diinstruksikan sebelumnya, tapi ia menambahkan, “Hati-hati. Dia anak macan yang bertaring. Dia masih liar. Kalau kau menggodanya, dia akan menggigit.”
Takuan melewati gerbang kedua menuju bangunan tengah, di mana terletak kediaman daimyo. Rupanya ia kenal baik jalan di situ. Buktinya ia tidak memerlukan penunjuk jalan ataupun petunjuk. la hampir tidak mengangkat kepala waktu berjalan, dan tak seorang pun mengganggu jalannya.
Sesuai perintah Takuan, Kapten tidak menyentuh orang yang jadi tanggungannya. la hanya minta Takezo mengikutinya. Takezo ikut tanpa berkata-kata. Segera mereka sampai di rumah mandi, dan Kapten memerintahkannya membasuh badan. Saat itu punggung Takezo pun mengejang, karena ia ingat benar akan waktu mandi terakhir kali di rumah Osugi, ingat akan perangkap yang untung berhasil diterobosnya. Ia melipat tangan dan mencoba berpikir, mengulur waktu dan memperhatikan sekitarnya. Segalanya begitu damai-sebuah pulau ketenangan, di mana seorang daimyo dapat menikmati kenikmatan hidup, apabila tidak sedang mengatur strategi. Segera kemudian seorang pembantu datang membawa kimono katun hitam hakama. Ia mengangguk dan berkata sopan, “Saya letakkan di sini. Anda dapat memakainya kalau nanti keluar.”
Takezo hampir menangis. Perlengkapan itu mencakup tidak hanya kipas lipat dan kertas tisu, melainkan juga sepasang pedang samurai panjang dan pendek. Segalanya sederhana dan tidak mahal, tapi tak ada yang kurang. Ia diperlakukan sebagai manusia lagi, dan ingin ia mengangkat kain katun bersih itu ke wajahnya dan menggosokkannya ke pipi serta menghirup bau segarnya. Ia berbalik dan masuk rumah mandi.
Ikeda Terumasa, yang dipertuan di puri itu, menyandarkan diri pada tangan kursi dan memandang ke luar, ke kebun. Tubuhnya pendek, kepalanya tercukur bersih, dan noda-noda gelap bekas cacar menaburi wajahnya. Walau tidak mengenakan pakaian paling resmi, ia mengenakan juga tutup kepala dan kain sutra longgar yang sesuai dengan lingkungannya.
“Itu dia?” tanyanya kepada Takuan sambil menudingkan kipas lipatnya.
“Ya, itu dia,” jawab biarawan itu sambil membungkuk hormat.
“Wajahnya cakap. Bagus sekali Anda menyelamatkannya.”
“Dia berutang nyawa pada Tuan. Bukan pada saya.”
“Tidak betul itu, Takuan, dan Anda tahu itu. O, sekiranya aku memiliki banyak anak buah seperti Anda di sini, tak sangsi lagi banyak orang berguna akan diselamatkan, dan dunia akan menjadi lebih baik karenanya.” Daimyo itu mengeluh. “Susahnya, semua orangku menyangka bahwa satu-satunya tugas mereka adalah mengikat orang atau memenggal kepalanya.”
Satu jam kemudian Takezo sudah duduk di kebun di luar beranda, kepalanya tertunduk dan tangannya terletak rata di atas lutut, dengan sikap hormat mendengarkan.
“Jadi, namamu Shimmen Takezo?” tanya Yang Dipertuan Ikeda.
Takezo menengadah cepat dan melihat wajah orang terkenal itu, kemudian dengan hormat menunduk kembali. “Ya, Tuan,” jawabnya terang.
“Keluarga Shimmen adalah cabang keluarga Akamatsu, klan Akamatsu Masanori, seperti kau tahu betul, pernah menjadi yang dipertuan di puri mi.
Kerongkongan Takezo jadi kering. Baru sekali itu ia kehabisan kata. Selamanya ia menganggap dirinya kambing hitam keluarga Shimmen, yang tak ada perasaan hormat khusus ataupun perasaan kagum kepada daimyo itu, namun demikian ia merasa malu karena telah mendatangkan aib besar kepada nenek moyangnya dan nama keluarganya. Wajahnya serasa terbakar.
“Yang kauperbuat itu tak dapat diampuni,” lanjut Terumasa dengan nada lebih keras.
“Ya, Tuan.”
“Karenanya, aku terpaksa menghukummu.” Sambil menoleh kepada Takuan ia bertanya, “Apa betul pembantuku Aoki Tanzaemon tanpa izinku berjanji, kalau Anda berhasil menangkap orang ini, Anda dapat memutuskan dan memberikan hukuman?”
“Saya kira Anda dapat mengetahui hal itu dengan langsung bertanya pada Tanzaemon.”
“Aku sudah bertanya padanya.”
“Kalau begitu, apakah menurut pendapat Anda saya berbohong?”
“Tentu saja tidak. Tanzaemon sudah mengaku, tapi aku menginginkan pembenaran Anda. Karena dia bawahan langsungku, sumpahnya pada Anda berarti sumpahku. Karena itu, walaupun aku yang dipertuan di tanah ini, aku telah kehilangan hakku menghukum Takezo dengan hukuman yang cocok. Tentu aku tak akan mengizinkan dia pergi tanpa hukuman, tapi terserah Anda, bentuk hukuman apa yang akan diambil.”
“Bagus. Itulah justru yang saya pikirkan.”
“Kalau begitu, aku simpulkan Anda sudah punya usul. Nah, apa yang akan kita lakukan kepadanya?”
“Saya pikir, yang terbaik adalah menempatkan tawanan ini dalam-akan kita namakan apa itu?–’keadaan serba kurang’ untuk sementara waktu.”
“Dan bagaimana usul Anda untuk melakukan itu?”
“Saya yakin di puri ini ada sebuah kamar tertutup yang sudah lama didesas-desuskan ada hantunya?”
“Betul. Semua pesuruhku menolak untuk masuk dan para pembantu selalu menghindarinya, karena kamar itu selamanya tidak terpakai. Sekarang kamar itu kubiarkan sebagaimana adanya, karena tak ada alasan untuk membukanya.”
“Tapi apakah menurut pendapat Anda tidak rendah bagi kemuliaan salah seorang prajurit terkuat dalam lingkungan Tokugawa, kalau Anda, Ikeda Terumasa, memiliki kamar yang tak pernah berlampu dalam puri?”
“Tak pernah aku berpikir demikian.”
“Nah, orang suka berpikir demikian. Ini adalah cermin kekuasaan dan martabat Anda. Menurut saya, kita harus menaruh lampu di sana.”
“Hmm. ”
“Kalau Anda mengizinkan saya menggunakan kamar itu, akan saya simpan Takezo di sana sampai saya siap memaafkannya. Sudah cukup lama dia hidup dalam kegelapan semata. Kaudengar itu, Takezo?”
Tidak kedengaran Takezo berkuik, tetapi Terumasa mulai tertawa, dan katanya, “Bagus!”
Jelas hubungan mereka baik sekali. Jadi, apa yang dikatakan Takuan pada Aoki Tanzaemon di kuil malam hari dulu itu benar. Takuan dan Terumasa, dua-duanya pengikut Zen, nampak sangat bersahabat, bahkan hampir-hampir bersaudara.
“Sesudah mengantarnya ke petak baru itu nanti, sebaiknya Anda ikut aku ke warung teh,” kata Terumasa pada si biarawan, ketika ia hendak pergi.
“O, apa Anda bermaksud sekali lagi memperlihatkan ketidakmahiran Anda dalam upacara minum teh?”
“Ah, tidak betul, Takuan. Hari-hari ini aku sudah betul-betul mulai tahu seluk-beluknya. Datanglah nanti, dan akan kubuktikan bahwa aku bukan lagi sekadar serdadu yang tak tahu adat. Aku menunggu.” Terumasa lalu mengundurkan diri ke bagian dalam kediamannya. Sekalipun tubuhnya pendek-hampir tidak sampai satu setengah meter-kehadirannya seakanakan memenuhi puri yang bertingkat banyak itu.
Menara utama benteng di atas itu selalu gelap gulita. Di situlah terletak kamar yang ada hantunya itu. Di situ tak ada kalender, tak ada musim semi, tak ada musim gugur, tak ada bunyi kehidupan keseharian. Hanya ada sebuah lampu kecil yang menerangi pipi pucat cekung Takezo.
Bagian ilmu medan dalam buku Seni Perang karangan Sun-tzu terbuka di meja rendah di hadapannya.

Sun-tzu berkata: “Inilah yang penting diketahui tentang medan, Ada yang dapat menerobos. Ada yang membatasi. Ada bagian yang terpencil. Ada yang memungkinkan gerak laju. Ada jarak yang harus diperhitungkan.”

Apabila terbaca olehnya bagian yang sangat menarik seperti di bawah ini, ia membacanya keras berulang-ulang, seperti nyanyian.

Barang siapa mengenal seni perang, tak akan serampangan ia dalam gerakannya. la kaya karsa dan membatasi kemungkinan.
Karenanya Sun-tzu berkata, “Barang siapa mengenal dirinya sendiri dan mengenal musuhnya, ia senantiasa menang dengan mudah. Barang siapa mengenal langit dan bumi, ia menang atas segalanya.”

Apabila matanya sudah kabur karena lelah, ia mencucinya dengan air sejuk dari mangkuk kecil yang selalu ada di sampingnya. Kalau minyak hampir habis dan sumbu lampu memercik, dimatikannya saja lampu itu. Sekeliling meja bertumpuk-tumpuk buku, sebagian dalam bahasa Jepang, sebagian lagi dalam bahasa Cina. Buku-buku tentang Zen, dan berjilid-jilid tentang sejarah Jepang. Takezo benar-benar tenggelam dalam buku pelajaran ini. Semua itu dipinjam dari koleksi Yang Dipertuan Ikeda.
Ketika Takuan menjatuhkan hukuman kurungan, ia berkata, “Kau boleh membaca sebanyak kau suka. Seorang pendeta terkenal zaman kuno pernah berkata, Saya terbenam dalam kitab-kitab suci dan membaca beribu-ribu jilid buku. Ketika saya keluar, hati saya serasa melihat lebih banyak daripada sebelumnya.
“Anggaplah kamar ini sebagai rahim ibumu dan bersiaplah untuk lahir kembali. Kalau kau melihatnya hanya dengan matamu, tak akan kau melihat apa-apa kecuali sel yang tak berlampu dan tertutup. Tapi pandanglah lebih saksama. Lihatlah dengan akalmu dan berpikirlah. Kamar ini dapat menjadi sumber pencerahan, pancuran pengetahuan yang ditemukan dan diperkaya oleh orang-orang bijak di masa lalu. Terserah padamu, apakah kamar ini menjadi kamar kegelapan, ataukah kamar penuh cahaya.”
Sejak itu Takezo berhenti menghitung hari. Kalau udara dingin, artinya musim dingin. Kalau udara panas, musim panas. Lain dari itu tidak banyak yang diketahuinya. Udara tetap sama, lembap dan pengap, dan musim tak ada sangkut-pautnya dengan hidupnya. Namun ia hampir merasa pasti bahwa kalau nanti burung layang-layang datang bersarang lagi dalam lubang-lubang penyimpanan senapan yang tertutup papan dalam menara itu, maka itulah musim semi tahun ketiga la berada di dalam rahim itu.
“Aku akan berumur dua puluh satu tahun,” katanya pada dirinya sendiri. Disergap rasa sesal, ia pun merintih, seakan-akan berkabung, “Dan apa yang sudah kulakukan selama dua puluh satu tahun ini?” Kadang-kadang kenangan tentang tahun-tahun lalu itu menekan dirinya tak hentihentinya dan merundungnya dengan kesedihan. la meratap dan mengerang, memukul dan menendang, dan kadang-kadang ia tersedu-sedan bagai bayi. Hari-hari ditelan derita. Apabila derita itu mereda, ia kehabisan tenaga dan gairah hidup. Rambutnya berantakan dan hatinya hancur.
Akhirnya suatu hari ia mendengar burung layang-layang kembali ke bawah atap menara itu. Sekali lagi musim semi terbang dari seberang lautan.
Tak lama sesudah datangnya burung itu, terdengar suara bertanya, kali ini kedengaran aneh, hampir-hampir menyakitkan telinga, “Takezo, kau baik-baik saja?”
Kepala Takuan yang sudah dikenalnya itu muncul di puncak tangga. Terkejut dan terlampau terharu hingga tak dapat mengeluarkan kata-kata, Takezo menarik lengan kimono biarawan itu dan menariknya masuk kamar. Pesuruh-pesuruh yang membawakannya makanan tidak sekali pun pernah mengucapkan kata-kata. Kegembiraannya meluap mendengar suara manusia lain, terutama suara manusia ini.
“Aku baru pulang dari perjalanan,” kata Takuan. “Ini sudah tahun ketigamu di sini. Sesudah menempuh masa persiapan selama ini, tentunya kau sudah jadi sekarang.”
“Saya berterima kasih atas kebaikan Bapak. Saya paham sekarang, apa yang Bapak maksudkan. Bagaimana saya harus mengucapkan terima kasih pada Takuan?”
“Terima kasih?” kata Takuan tak percaya. Lalu ia tertawa. “Walau tak ada yang dapat kauajak bercakap-cakap kecuali dirimu sendiri, ternyata kau sudah betul-betul bisa bicara seperti manusia! Bagus! Hari ini kau boleh meninggalkan tempat ini. Dan kalau kau pergi, peluklah dengan erat pencerahan yang telah kaubayar mahal. Kau akan membutuhkannya apabila nanti memasuki dunia dan menggabungkan diri dengan sesamamu.”
Takuan membawa Takezo sebagaimana adanya menghadap Yang Dipertuan Ikeda. Dalam pertemuan sebelumnya ia didudukkan di kebun, tapi sekarang untuknya disediakan tempat di beranda. Sesudah saling mengucapkan salam dan basa-basi, Terumasa tidak membuang-buang waktu dan meminta Takezo menjadi bawahannya.
Takezo menolak. la merasa mendapat kehormatan besar, demikian dijelaskannya, tapi ia merasa belum waktunya mengabdi pada seorang daimyo. “Dan kalau saya mengabdi di puri ini,” katanya, “hantu-hantu barangkali akan mulai muncul dalam kamar tertutup itu tiap malam, seperti kata semua orang.”
“Kenapa? Apa hantu-hantu itu menemanimu?”
“Kalau Tuan membawa lampu dan memeriksa kamar itu dengan saksama, Tuan akan melihat bercak-bercak hitam memerciki pintu-pintu dan tiang-tiangnya. Kelihatannya seperti lak, tapi bukan. Itu darah manusia, kemungkinan besar darah yang dicurahkan oleh orang-orang Akamatsu, nenek moyang saya, ketika mereka mempertahankan puri ini.”
“Hmm. Kemungkinan besar kau benar.”
“Melihat noda-noda itu, saya jadi naik pitam. Darah saya mendidih memikirkan bagaimana nenek moyang saya yang pernah menguasai seluruh wilayah ini berakhir dengan kebinasaan. Jiwa mereka begitu saja tersapu angin musim gugur. Mereka tewas binasa, tapi mereka wangsa yang perkasa, dan mereka dapat dibangkitkan.
“Darah yang sama mengalir juga dalam nadi saya,” ia melanjutkan dengan pandangan saksama. “Walau saya orang tak berharga, saya anggota wangsa yang sama, dan kalau saya tinggal di puri ini, hantu-hantu bisa bangkit dan mencoba meraih saya. Dalam batas tertentu, mereka sudah merasuki saya. Penjelasan datang pada saya di kamar itu: siapa saya ini. Tapi mereka dapat menimbulkan kemelut, barangkali juga pemberontakan, bahkan pertumpahan darah lagi. Kita tidak dalam suasana damai. Saya berutang budi pada semua penduduk di daerah ini, karena tidak menggoda saya untuk membalas dendam nenek moyang saya.”
Terumasa mengangguk. “Aku mengerti maksudmu. Memang lebih baik kalau kau meninggalkan puri ini, tapi ke mana? Apa kau bermaksud kembali ke Miyamoto? Dan hidup di sana?”
Takezo tersenyum tanpa suara. “Saya ingin mengembara sekehendak hati saya untuk sementara.”
“O, begitu,” jawab Yang Dipertuan sambil menoleh kepada Takuan. “Sediakan untuknya uang dan pakaian yang sesuai,” perintahnya.
Takuan membungkuk. “Izinkan saya mengucapkan teirma kasih atas kebaikan hati Anda pada anak ini.”
“Takuan!” Ikeda tertawa. “Inilah pertama kali Anda mengucapkan dua kali terima kasih padaku untuk satu hal saja!”
“Benar.” Takuan menyeringai. “Baiklah, itu tidak akan terulang lagi.”
“Biarlah dia mengembara dulu sementara masih muda,” kata Terumasa. “Tapi karena dia hendak pergi sendiri-dan menurut Anda sudah dilahirkan kembali-dia harus mempunyai nama baru. Sebaiknya namanya Miyamoto, hingga dia tak akan lupa tempat kelahirannya. Jadi, sejak saat ini, Takezo, sebut dirimu Miyamoto.”
Tangan Takezo langsung jatuh ke lantai. Dengan telapak tangan tertelungkup ia membungkuk dalam dan lama. “Baik, Tuan. Saya terima.”
“Dan kau mesti mengubah nama kecilmu juga,” seru Takuan. “Bagaimana kalau namamu dibaca seperti huruf Cina ‘Musashi’ dan bukan ‘Takezo’? Kau bisa tetap menulis namamu seperti sebelumnya. Tepat sekali, segalanya mesti baru pada hari kelahiranmu ini.”
Terumasa yang sedang sangat senang perasaannya, mengangguk bergairah. “Miyamoto Musashi! Nama yang bagus, nama yang bagus sekali. Kita mesti minum untuk merayakannya.”
Mereka berpindah ke kamar lain, sake dihidangkan, clan Takezo serta Takuan mengawani Yang Dipertuan sampai larut malam. Mereka disertai beberapa pembantu Terumasa, dan akhirnya Takuan bangkit berdiri, menarikan satu tarian kuno. la memang ahli. Gerak-geriknya yang indah menciptakan dunia kegembiraan khayali. Takezo yang kini bernama Musashi memandang penuh kagum, hormat dan gembira, sementara acara minum berjalan terus.
Hari berikutnya mereka berdua meninggalkan puri. Musashi mengawali hidup baru, hidup dalam disiplin clan latihan seni bela diri. Selama tiga tahun di dalam kurungan itu la telah bertekad menguasai Seni Perang.
Takuan punya rencana-rencana sendiri. la berketetapan menjelajahi pedesaan. Dan waktu berpisah sudah tiba, katanya.
Ketika mereka sampai di wilayah kota di luar dinding puri, Musashi memperlihatkan gelagat hendak minta diri, tapi si biarawan menarik lengan kimononya. Katanya, “Apa tak ada yang ingin kaujumpai?”
“Siapa?”
“Ogin?”
“Apa dia masih hidup?” tanyanya heran. Dalam tidurnya pun tak pernah ia melupakan kakak perempuannya yang lembut, yang sudah demikian lama ia anggap seperti ibunya sendiri.
Takuan bercerita bahwa ketika Musashi menyerang benteng Hinagura tiga tahun lalu, Ogin memang sudah dilepaskan. Sekalipun tak ada tuduhan terhadapnya, ternyata Ogin enggan pulang. Ia memilih tinggal dengan seorang sanak di sebuah kampung di daerah Sayo. Sekarang ia sudah senang tinggal di sana.
“Apa kau tak ingin bertemu dengannya?” tanya Takuan. “Dia ingin sekali ketemu kau. Aku bilang padanya tiga tahun lalu bahwa dia mesti menganggapmu sudah mati, karena dalam arti tertentu kau memang sudah mati. Tapi aku bilang juga padanya, bahwa tiga tahun kemudian aku akan mengantarkan adik lelaki yang baru, yang tak lain dari Takezo yang lama.”
Musashi menangkupkan kedua telapak tangannya dan mengangkatnya di depan kepala, seperti yang ia lakukan kalau berdoa di depan patung sang Budha. “Bapak tidak hanya menyelamatkan saya,” katanya penuh haru, “tapi Bapak pun sudah memperhatikan kesejahteraan Ogin. Bapak sungguh orang yang penuh kasih kepada orang lain. Saya kira tak akan dapat saya mengucapkan terima kasih atas apa-apa yang telah Bapak perbuat itu.”
“Salah satu cara untuk mengucapkan terima kasih padaku adalah dengan membiarkan aku mengantarmu ke kakakmu.”
“Tidak… tidak, saya tak akan menemuinya. Mendengar kabarnya saja dari Bapak sudah sama baiknya dengan menemuinya.”
“Kau pasti ingin bertemu dengannya sendiri, walau cuma beberapa menit.”
“Tidak, rasanya tidak. Saya sudah mati, Pak, dan saya sungguh-sungguh lahir kembali. Rasanya bukan sekarang saatnya kembali ke masa lalu. Yang harus saya lakukan sekarang adalah mengambil langkah pasti ke muka, ke masa depan. Saya belum lagi menemukan jalan yang hendak saya tempuh. Kalau saya sudah mendapat kemajuan dalam pengetahuan dan penyempurnaan diri yang sedang saya can ini, barangkali akan saya perlukan waktu untuk bersantai dan menoleh ke belakang. Tapi bukan sekarang.”
“Aku mengerti.”
“Sukar saya meneruskannya dalam kata-kata, tapi saya harap Bapak dapat memahaminya.”
“Aku tahu. Aku gembira melihat kau bersungguh-sungguh dalam tujuanmu. Teruslah ikuti jalan pikiranmu.”
“Saya mengucapkan selamat berpisah sekarang. Suatu kali nanti, kalau saya tidak terbunuh di perjalanan, kita akan bertemu lagi.”
“Ya, ya. Kalau ada kesempatan, mari kita usahakan sungguh-sungguh untuk bersua lagi.” Takuan berbalik, melangkah, tapi kemudian berhenti.
“O, ya. Aku mesti mengingatkanmu bahwa Osugi dan Paman Gon meninggalkan Miyamoto mencarimu dan Otsu tiga tahun lalu. Mereka bertekad takkan pulang sebelum dapat membalas dendam. Biar mereka sudah tua, mereka masih berusaha menelusuri jejakmu. Bisa saja mereka berbuat sesuatu yang tak akan mengenakkan, tapi rasanya mereka tak akan betul-betul menyulitkanmu. Jangan terlalu dipikirkan.
“0, ya, ada lagi. Aoki Tanzaemon. Mungkin kau tak pernah kenal namanya, tapi dialah yang bertanggung jawab ketika kau diburu-buru. Barangkali tak ada hubungannya dengan apa yang kita katakan atau kita perbuat, tapi samurai yang baik itu sudah membikin cemar dirinya sendiri. Akibatnya dia dipecat untuk selamanya dari pekerjaannya oleh Yang Dipertuan Ikeda. Pasti dia juga sedang mengembara.” Takuan jadi murung. “Musashi, jalanmu bukan jalan yang mudah. Berhati-hatilah menempuh jalan itu.”
“Saya akan berusaha sebaik-baiknya.” Musashi tersenyum.
“Nah, rasanya sudah semuanya. Aku pergi.” Takuan berbalik dan berjalan ke barat. la tidak menoleh lagi.
“Baik-baik di jalan,” seru Musashi kepadanya. la sendiri terus di persimpangan jalan sambil memperhatikan bagaimana sosok biarawan itu semakin mengecil, sampai akhirnya tidak kelihatan lagi. Kemudian, sekali lagi sendirian, ia berjalan ke timur.
“Sekarang cuma ada pedang ini,” pikirnya. “Satu-satunya barang di dunia ini yang harus jadi andalanku.” Ia letakkan tangannya ke gagang senjata, dan berjanji pada diri sendiri, “Aku akan hidup dengan aturannya. Aku akan menganggapnya jiwaku, dan dengan belajar menguasainya aku akan berjuang memperbaiki diriku, untuk menjadi manusia yang lebih baik dan lebih bijaksana. Takuan mengikuti Jalan Zen, dan aku akan mengikuti Jalan Pedang. Aku harus menjadikan diriku manusia yang lebih baik dari dirinya.”
Bagaimanapun, demikian pikirnya, ia masih muda. Belum lagi terlambat.
Langkah kakinya tetap tegap, matanya penuh dengan gairah muda dan harapan. Dari waktu ke waktu ia mengangkat tepi topi anyamannya dan menatap jalan ke masa depan, jalan asing yang harus ditempuh semua orang.
Belum lagi jauh-sesungguhnya ia baru berada di pinggiran Himejiseorang perempuan datang berlari-lari ke arahnya dari sisi lain Jembatan Hanada. Mata Musashi menyipit karena terang matahari.
“Ah, akhirnya kau muncul juga!” teriak Otsu sambil mencekau lengan kimononya.
Musashi terengah-engah kaget.
Kata-kata Otsu bernada teguran. “Takezo, kau tidak lupa, kan? Kau tidak lupa nama jembatan ini? Apa kau lupa janjiku akan menanti di sini berapa pun lamanya?”
“Kau menanti di sini tiga tahun lamanya?” Musashi terpana.
“Ya. Osugi dan Paman Gon menyusulku tepat saat kau pergi. Waktu itu aku sakit dan harus beristirahat. Hampir saja aku terbunuh. Tapi aku berhasil lolos. Aku menunggu di sini sejak dua puluh hari sejak kita berpisah di Celah Nakayama itu.”
la menunjuk toko anyaman di ujung jembatan, sebuah kedai kecil khas di pinggir jalan raya yang menjual cenderamata. Lanjutnya, “Kuceritakan riwayatku kepada orang-orang di sana, dan mereka berbaik hati menerimaku sebagai semacam pembantu. Jadi, aku bisa tinggal di sana dan menantimu. Hari ini hari kesembilan ratus tujuh puluh, dan aku sudah memenuhi janjiku dengan setia.” Ia menatap wajah Musashi, mencoba menduga pikirannya. “Aku boleh ikut kamu, bukan?”
Sesungguhnya, tentu saja Musashi tak punya maksud untuk mengajaknya atau siapa pun. Saat itu ia sedang bergegas menghindarkan pikiran tentang kakak perempuannya yang demikian ingin ia temui dan demikian kuat ia rindukan.
Masalah-masalah itu berkecamuk dalam pikirannya yang gelisah. “Apa dayaku? Bagaimana mungkin aku berhasil mencari kebenaran dan pengetahuan, kalau selamanya dicampuri oleh perempuan, oleh siapa pun? Lagi pula, gadis ini masih tunangan Matahachi.” Tak bisa Musashi menyembunyikan pikiran-pikiran itu dari wajahnya.
“Ikut? Ikut ke mana?” tanyanya blak-blakan.
“Ke mana saja kau pergi.”
“Aku harus menempuh perjalanan panjang dan berat, bukan untuk pelesir!”
“Aku tak akan menghalangi jalanmu. Dan aku siap menahan beberapa kesulitan.”
“Beberapa? Hanya beberapa?”
“Berapa pun banyaknya.”
“Bukan itu soalnya. Otsu, bagaimana mungkin seorang lelaki menguasai Jalan Samurai, kalau perempuan membuntutinya terus? Apa tidak lucu? Orang akan mengatakan, ‘Lihat Musashi itu: dia butuh seorang inang buat menjaganya.’” Otsu lebih keras menarik kimono Musashi dan bergayut seperti anak-anak. “Lepaskan bajuku,” perintah Musashi.
“Tidak, aku tak mau! Kau bohong.”
“Kapan aku membohongimu?”
“Di celah gunung itu. Kau berjanji akan mengajakku.”
“Itu berabad-abad lalu. Waktu itu aku tidak serius, dan tak ada waktu buat menjelaskan. Dan lagi, itu bukan pikiranku, itu pikiranmu. Aku sedang tergesa-gesa dan kau tak mau melepaskan aku sebelum aku berjanji. Aku iyakan saja, karena tak ada pilihan lain.”
“Tidak, tidak, tidak! Tidak betul yang kaukatakan itu, tidak betul,” teriak Otsu. Ia mendesak Musashi ke pagar jembatan.
“Lepaskan! Orang-orang memandangi kita!”
“Biar saja! Waktu kau terikat di pohon itu, aku tanya apa kau butuh pertolonganku. Kau begitu gembira, hingga dua kali kauminta aku memotong tali itu. Kau tidak menyangkal hal ini, kan?”
Otsu berusaha mengemukakan alasan yang logis, tapi ternyata air mata menggagalkannya. Pertama ia ditinggalkan selagi bayi, kemudian diputus cintanya oleh tunangannya, dan sekarang ini! Musashi tahu Otsu sendirian di dunia ini, dan Musashi sangat memikirkannya, tapi lidahnya kelu, sekalipun dari luar ia tampak lebih tenang.
“Lepaskan!” katanya memutuskan. “Ini tengah hari benderang, dan orang-orang memandangi kita. Apa kau ingin kita jadi tontonan buat orang-orang yang suka ikut campur?”
Otsu melepaskan lengan baju Musashi dan jatuh tersedu-sedu ke pagar jembatan. Rambutnya yang berkilauan menutupi wajahnya.
“Maaf,” gumam Otsu. “Mestinya aku tak boleh bicara seperti itu. Lupakanlah. Engkau tidak berutang apa pun padaku.”
Musashi membungkuk dan menyibakkan rambut Otsu dari wajahnya dengan kedua belah tangan, kemudian ia menatap mata Otsu. “Otsu,” katanya lembut. “Selama kau menanti sampai hari ini, aku terkurung dalam menara puri. Tiga tahun lamanya aku bahkan tak pernah melihat matahari.”
“Ya, aku sudah dengar.” “Engkau tahu?”
“Pak Takuan bilang padaku.”
“Takuan? Dia menceritakan segalanya?”
“Kukira begitu. Dulu aku jatuh pingsan di dasar jurang dekat Warung Teh Mikazuki. Waktu itu aku melarikan diri dari Osugi dan Paman Gon. Pak Takuan menyelamatkan aku. Dia juga yang menolongku mendapatkan pekerjaan di sini, di toko cenderamata. Itu tiga tahun lalu. Sesudah itu aku tidak melihatnya lagi sampai kemarin, ketika dia datang dan minum teh. Aku tidak begitu mengerti apa yang dimaksudkannya, tapi dia berkata, ‘Soalnya adalah soal antara lelaki dan perempuan, jadi siapa yang tahu bagaimana akhirnya?”‘
Musashi menurunkan tangannya dan memandang ke jalan yang menuju barat. la bertanya dalam hati, akan pernahkah la bertemu lagi dengan orang yang telah menyelamatkan hidupnya. Sekali lagi ia terpukau oleh perhatian Takuan terhadap sesama manusia yang mencakup segalanya dan sepenuhnya bebas dari sikap mementingkan diri sendiri. Musashi pun sadar betapa sempit pandangannya selama ini, dan betapa kerdil ia menyangka bahwa biarawan itu hanya punya rasa cinta khusus kepadanya seorang. Padahal kebesaran jiwanya mencakup Ogin, Otsu, dan siapa saja yang membutuhkan, yang menurut pendapatnya dapat dibantunya.
“Soalnya adalah soal antara lelaki dan perempuan…” Kata-kata Takuan kepada Otsu itu kini memberati pikirannya. Ini beban yang tak siap dipikulnya, karena dalam bergunung-gunung buku yang telah dibacanya bertahun-tahun itu, tidak ada satu kata pun yang membahas situasi yang dihadapinya sekarang. Bahkan Takuan pun mengundurkan diri, agar tidak tersangkut dalam persoalan antara dia dan Otsu. Apakah maksud Takuan hubungan antara lelaki dan wanita itu harus dipecahkan oleh orang-orang yang bersangkutan saja? Apakah menurutnya tidak ada aturan yang dapat diterapkan seperti halnya dalam Seni Perang? Tidak ada strategi yang aman, tidak ada jalan untuk menang? Atau apakah ini yang dimaksud cobaan bagi Musashi, suatu masalah yang hanya dapat dipecahkan Musashi sendiri?
Tenggelam dalam renungan, la menatap ke bawah, ke air yang mengalir di bawah jembatan.
Otsu memandang wajah Musashi yang kini tampak jauh dan tenang. “Jadi, aku boleh ikut?” mohonnya. “Pemilik toko sudah berjanji membolehkan aku pergi kapan saja kuinginkan. Aku cuma perlu datang dan menjelaskan soalnya, dan kemudian mengemasi barang-barangku. Sebentar aku kembali.”
Musashi menggenggam tangan Otsu yang putih mungil dan tertumpang di atas pagar jembatan itu. “Dengar, Otsu,” katanya sedih. “Aku minta, pikirkanlah lagi.”
“Apanya yang mesti dipikirkan?”
“Sudah kukatakan. Aku baru menjadi orang baru. Tiga tahun lamanya aku tinggal dalam lubang lembap. Aku membaca buku. Aku berpikir. Aku menjerit dan berteriak. Dan tiba-tiba fajar merekah. Aku baru paham apa artinya menjadi manusia. Aku punya nama baru sekarang, Miyamoto Musashi. Aku mau membaktikan diriku pada latihan dan disiplin. Aku ingin memanfaatkan setiap saat dalam tiap hariku untuk bekerja memperbaiki diri. Aku sadar sekarang, betapa jauh jalan yang harus kutempuh. Kalau engkau memilih mengikatkan hidupmu padaku, engkau tak akan pernah bahagia. Hanya ada kesukaran, dan kesukaran itu tidak akan berkurang. Bahkan keadaan semakin lama akan semakin sukar saja.”
“Bicaramu membuat aku merasa lebih dekat padamu daripada kapan pun. Sekarang aku yakin diriku benar. Aku sudah menemukan pria terbaik, yang takkan kuperoleh lagi sampai akhir hidupku.”
Musashi sadar ia hanya memperburuk keadaan. “Maafkan aku. Aku tak dapat membawamu,” katanya.
“Kalau begitu, aku ikut saja. Selama aku tidak mencampuri latihanmu, apa jeleknya? Engkau pun tak akan merasa aku ada di situ.” Musashi tak dapat menjawab lagi. “Aku tak akan mengganggumu. Aku berjanji.” Musashi tetap diam.
“Beres, kan? Tunggu saja di sini; sebentar aku kembali. Aku akan marah sekali kalau kau pergi diam-diam.” Otsu berlari ke arah toko anyaman.
Terpikir oleh Musahi akan mengabaikan saja semuanya itu dan lari ke arah yang bertentangan. Keinginan demikian ada padanya, tapi kakinya tak mau bergerak.
Otsu menoleh ke belakang, dan serunya, “Ingat, jangan coba-coba pergi diam-diam!” la tersenyum memperlihatkan lesung pipitnya, dan Musashi asal mengangguk saja. Puas mendapatkan isyarat ini, Otsu menghilang ke dalam toko.

Kalau ia memang mau melarikan diri, inilah saatnya. Hatinya mengatakan demikian, tapi tubuhnya masih terbelenggu oleh lesung pipit yang manis dan mata Otsu yang memohon. Alangkah manisnya anak itu! Jelas baginya, tak seorang pun di dunia ini yang begitu mencintainya, kecuali kakak perempuannya. Dan ia pun bukan tidak menyukai Otsu.

la memandang ke langit, melihat ke dalam air, mencengkeram pagar jembatan dengan kerasnya, kacau dan bingung. Segera saja potongan-potongan kecil kayu jembatan mengapung di air yang mengalir.

Otsu muncul kembali di jembatan, mengenakan sandal jerami baru, pembalut kaki kuning muda, dan topi besar perjalanan yang terikat di bawah dagu dengan pita merah tua. Tak pernah ia tampak begitu cantik.
Tapi Musashi tak nampak lagi.

Otsu berteriak terkejut dan menangis sejadi-jadinya. Kemudian terpandang olehnya bagian pagar jembatan, tempat asal jatuhnya potongan-potongan kayu tadi. Di situ tertulis jelas pesan yang digoreskan dengan ujung belati. “Maafkan aku. Maafkan aku”


Cerita Novel Musashi buku 1, karangan Eiji Yoshikawa, terbitan gramedia, di kutip dari Website:
http://topmdi.com/ceritawp//?cat=31
[lihat: Lanjutan cerita]


0 KOMENTAR ANDA:

Post a Comment