Saturday, May 10, 2008

Miyamoto Musashi, Buku 6-2


Cerita Novel Musashi buku 6, karangan Eiji Yoshikawa, terbitan gramedia.
[Lihat: Pengantar] [lihat: Cerita Sebelumnya]


Dengan mata menunduk, Toranosuke berjalan mundur sepuluh langkah, dan berlutut di lantai dengan tangan di depan, siap membungkuk.

“Saya mengharapkan kesehatan yang sebaik-baiknya untuk Bapak… juga untuk yang lain-lain,” suaranya terdengar muram.

Ia bangkit dan berjalan dengan sedih meninggalkan dojo.

Tadaaki berdiri. “Aku juga harus meninggalkan dunia ini.” Terdengar suara sedu-sedan tertahan. Kata-katanya yang terakhir itu tegas, namun penuh rasa cinta. “Kenapa mesti murung? Hari kalian sudah datang. Ter­serah pada kalian, bagaimana mengatur agar perguruan ini maju menuju zaman baru yang penuh kehormatan. Mulai sekarang, bersikaplah rendah hati, kerja keras, dan coba dengan segala kekuatan untuk mengembangkan semangat kalian.”

Tadaaki kembali ke kamar tamu. Wajahnya sama sekali tidak resah, ketika ia diam-diam duduk dan berbicara pada Kojiro. Sesudah meminta maaf karena memaksa Kojiro menanti, katanya, “Baru saja saya usir Hamada. Saya nasihatkan kepadanya untuk mengubah tingkah lakunya, dan mencoba memahami makna sesungguhnya disiplin samurai. Tentu saja saya bermaksud melepaskan wanita tua itu. Anda ingin membawanya sekarang, atau kemudian saya atur kepulangannya?”

“Saya puas dengan tindakan Tuan. Dia bisa pulang bersama saya.” Kojiro bergerak seakan hendak bangkit. Tapi pertarungan itu telah menguras tenaganya, dan saat menanti sesudahnya itu terasa luar biasa panjang baginya.

“Jangan pergi dulu,” kata Tadaaki. “Semua sudah berlalu, dan marilah sekarang kita minum dulu secangkir. Yang lalu biarlah lalu.” Sambil me­nepukkan tangan, ia memanggil, “Omitsu! Bawa sake kemari.”

“Terima kasih,” kata Kojiro. “Saya mengucapkan terima kasih atas undangan Bapak.” Ia tersenyum, dan katanya dengan munafik, “Saya tahu sekarang, kenapa Ono Tadaaki dan Gaya Itto demikian terkenal.” Padahal ia sama sekali tidak menghormati Tadaaki.

“Kalau bakat-bakat alamnya dikembangkan menurut jalan yang benar,” pikir Tadaaki, “dunia akan tunduk di bawah kakinya. Tapi kalau dia menempuh jalan keliru, berarti Zenki lain lagi yang lahir.”

“Sekiranya kau muridku…” Kata-kata itu sudah ada di ujung lidah Tadaaki. Tapi Tadaaki tidak mengucapkannya, melainkan hanya tertawa, dan menjawab jilatan Kojiro dengan rendah hati.

Di tengah percakapan mereka, nama Musashi disebut, dan Kojiro pun mengetahui bahwa Musashi dipertimbangkan untuk menjadi salah satu di antara orang-orang pilihan yang akan memberikan pelajaran kepada shogun.

Kojiro hanya mengucap, “Oh”. Namun air mukanya memperlihatkan rasa tidak suka. Ia melayangkan pandang ke matahari terbenam, dan me­negaskan bahwa sudah waktunya pergi.

Tak lama sesudah itu, Tadaaki menghilang dari Edo. Ia orang yang me­miliki nama baik sebagai prajurit sederhana dan jujur, perwujudan dari ketulusan sifat tidak mementingkan diri sendiri, namun ia bukan orang yang memiliki keterampilan politik seperti Munenori. Orang-orang tidak habis pikir, kenapa orang yang jelas dapat melaksanakan segala yang di­inginkannya itu mesti meninggalkan dunia. Mereka ingin tahu sebabnya, dan memberikan tafsiran sendiri-sendiri mengenai kepergiannya.

Kata mereka, akibat kegagalannya, Tadaaki kehilangan akal sehatnya.

Kepekaan Akan Segala Sesuatu

Musashi mengatakan itulah badai terburuk yang pernah dilihatnya.

Iori menatap murung halaman-halaman buku yang sudah basah kuyup, compang-camping, dan berantakan itu. Pikirnya sedih, “Tak bisa lagi belajar.”

Dua hari di musim gugur—hari kedua ratus sepuluh dan kedua ratus dua puluh dalam satu tahun—khusus ditakuti oleh para petani. Pada kedua hari itu, topan kemungkinan menghancurkan tanaman padi. Iori, yang lebih terbiasa menghadapi bahaya daripada gurunya, sudah mengambil langkah-langkah pencegahan dengan mengikat atap dan memberatinya dengan batu karang. Namun malam hari angin merenggutkan atap itu, dan ketika hari sudah cukup terang untuk memeriksa kerusakan yang menimpa, jelas­lah bahwa pondok itu tak ada harapan lagi untuk diperbaiki.

Ingat akan pengalaman di Hotengahara, Musashi berangkat sebentar sesudah fajar. Melihat ia pergi, Iori berpikir, “Apa gunanya dia melihat sawah para tetangga? Tentu saja sawah-sawah itu kebanjiran. Apa rumahnya sendiri tidak menunjukkan hal itu?”

Ia membuat api dengan potongan-potongan dan pecahan-pecahan dinding dan lantai, lalu memanggang buah berangan dan bangkai burung untuk makan pagi. Asap membuat pedas matanya.

Musashi pulang tak lama sesudah tengah hari. Sekitar sejam kemudian, serombongan petani yang mengenakan mantel hujan dari jerami tebal datang mengucapkan terima kasih-atas bantuannya pada seorang yang sakit, atas pertolongannya mengeringkan air banjir, dan atas sejumlah pelayanan lain. Satu orang tua mengatakan, “Kami selalu bertengkar pada waktu-waktu seperti ini; dan ini selalu terjadi, karena semua orang terburu­-buru hendak menyelesaikan masalahnya sendiri lebih dahulu. Tapi hari ini kami mengikuti nasihat Anda dan bekerja sama.”

Mereka juga membawa pemberian makanan-gula-gula, asinan, dan kue betas yang sangat menggembirakan Iori. Memikirkan hal itu, Iori mengambil kesimpulan bahwa hari itu ia mendapat pelajaran: kalau orang melupakan dirinya dan bekerja untuk kelompok, maka makanan dengan sendirinya akan datang.

“Kami akan membuatkan Anda rumah baru,” seorang petani menjanjikan. “Rumah yang takkan terbawa angin.” Untuk sementara ini, ia mengundang Musashi dan Iori tinggal di rumahnya, rumah tertua di kampung itu. Sampai di sana, istri orang itu menggantungkan pakaian mereka untuk dikeringkan, dan ketika mereka hendak tidur, pada mereka ditunjukkan dua kamar berlainan.

Sebelum jatuh tertidur, Iori mendengar suara yang menggelitik perhati­annya. Sambil menoleh menghadap kamar Musashi, bisiknya lewat shoji, “Pak, dengar suara itu?”

“Hm.”

“Coba Bapak dengarkan. Bapak bisa mendengarnya—genderang untuk tarian kuil. Aneh, ya, ada tarian keagamaan pada malam sesudah topan?” Satu-satunya jawaban Musashi adalah bunyi napasnya yang dalam.

Pagi harinya, Iori bangun pagi-pagi, dan bertanya kepada tuan rumah tentang genderang itu. Kembali ke kamar Musashi, kata Iori girang, “Kuil Mitsumine di Chichibu tidak begitu jauh dari sini, kan?”

“Kupikir tidak.”

“Saya senang kalau Bapak mau membawa saya ke sana. Buat menyatakan hormat.”

Musashi bertanya keheranan, kenapa tiba-tiba Iori demikian berminat. Ia mendapat jawaban bahwa para penabuh genderang itu pemusik-pemusik dari kampung sebelah, yang biasa bermain untuk Tarian Suci Asagaya. Tarian itu kekhususan rumah tangga mereka semenjak zaman kuno.

Tiap bulan mereka pergi mengadakan pertunjukan pada Pesta Kuil Mitsumine.

Iori mengenal keindahan musik dan tarian hanya melalui tarian shinto ini. Senang sekali dengan tarian-tarian itu, maka ketika didengarnya bahwa tarian-tarian Mitsumine adalah satu dari tiga jenis besar tradisi tari ini, ia bertekad menontonnya.

“Mau Bapak mengajak saya pergi?” mohonnya. “Paling tidak, perlu waktu lima atau enam hari untuk menyelesaikan rumah itu.”

Kesungguhan hati Iori mengingatkan Musashi pada Jotaro yang sering kali ribut sendiri—merengek, mencebik, menggeram—untuk dapat mem­peroleh apa yang diinginkannya. Iori, karena sudah demikian dewasa dan mandiri, walau umurnya masih muda, jarang menggunakan taktik-taktik serupa itu. Musashi memang tidak khusus memikirkannya, tapi orang lain barangkali akan melihat pengaruh dirinya pada anak itu. Satu hal yang dengan sengaja diajarkannya pada Iori adalah membuat perbedaan tegas antara diri anak itu dan gurunya.

Semula ia menjawab tanpa menyatakan pendapat, tapi sesudah berpikir sebentar, katanya, “Baik, akan kuajak kau.”

Iori melompat-lompat, serunya, “Dan cuaca bagus pula.” Dalam lima menit ia sudah mengabarkan rasa senangnya itu pada tuan rumah, lalu minta bekal makanan dan mencari sandal jerami yang baru. Kemudian ia kembali ke hadapan gurunya lagi, dan tanyanya, “Apa tidak berangkat sekarang?”

Petani itu melepas kepergian mereka, dengan janji akan menyelesaikan rumah mereka pada waktu mereka pulang.

Mereka melewati tempat-tempat di mana topan meninggalkan sejumlah kolam, bahkan boleh dikatakan danau-danau kecil. Kalau tak ada semua itu, orang sukar mempercayai bahwa langit melampiaskan kemarahannya hanya dua hari sebelum itu. Burung-burung jagal terbang rendah di langit biru cerah.

Malam pertama, mereka memilih penginapan murah di kampung Tanashi dan lekas pergi tidur. Hari berikutnya, jalan membawa mereka lebih jauh memasuki Dataran Musashino yang luas.

Perjalanan mereka terhambat beberapa jam di Sungai Iruma yang mem­bengkak sampai tiga kali besarnya yang biasa. Hanya sepotong kecil jembatan tanah yang masih berdiri tanpa guna di sungai itu.

Sementara Musashi memperhatikan sekelompok petani yang datang mem­bawa tiang-tiang pancang baru dari kedua tepi sungai untuk membuat penyeberangan sementara, Iori melihat beberapa ujung anak panah tua dan bicara tentangnya, “Dan ada bagian atas topi baja juga. Mestinya pernah terjadi pertempuran di sini.” Ia menghibur diri di tepi sungai itu, sambil menggali-gali ujung anak panah, patahan-patahan pedang yang sudah ber­karat, dan aneka ragam pecahan logam yang sudah tua dan tak dapat ditentukan macamnya.

Tiba-tiba ia menarik tangannya dari benda putih yang semula hendak dipungutnya.

“Oh, tulang manusia!” serunya.

“Bawa kemari,” kata Musashi.

Iori tak berselera untuk menyentuhnya lagi. “Akan Bapak apakan?”

“Kuburkan di tempat yang takkan diinjak-injak orang.”

“Tapi bukan hanya beberapa tulang yang ada di sini. Banyak sekali.”

“Bagus. Berarti kita dapat kerjaan. Bawa semua yang kautemukan.”

Sambil membelakangi sungai, katanya, “Kau dapat menguburkannya di sana, di tempat bunga gentian itu.”

“Saya tak punya sekop.”

“Kau bisa pakai patahan pedang.”

Ketika lubang sudah cukup dalam, Iori memasukkan tulang-tulang itu ke dalamnya, kemudian ia kumpulkan semua ujung panah dan pecahan logam, dan ia kuburkan bersama tulang-tulang itu. “Beres?” tanyanya.

“Taruhkan batu di atasnya. Bikin tanda peringatan yang pantas.”

“Kapan terjadi pertempuran itu di sini?”

“Kau sudah lupa? Kau tentunya sudah membaca tentangnya. Buku Taiheiki bercerita tentang dua pertempuran hebat, tahun 1333 dan 1352, di tempat yang namanya Kotesashigahara. Tempat itu kira-kira tempat kita berada sekarang ini. Di satu pihak, Keluarga Nitta yang mendukung Istana Selatan, dan di pihak lain, tentara yang besar di bawah pimpinan Ashikaga Takauji.”

“Oh, pertempuran Kotesashigahara. Saya ingat sekarang.”

Atas desakan Musashi, Iori melanjutkan. “Buku itu menerangkan pada kita bahwa Pangeran Munenaga lama tinggal di daearah timur dan mem­pelajari Jalan Samurai, tapi dia terkejut ketika Kaisar menunjuknya sebagai shogun.”

“Sajak apa yang dikarangnya mengenai kejadian itu?” tanya Musashi.

Iori menengadah ke arah seekor burung yang sedang membubung tinggi di langit biru, lalu berdeklamasi:

“Bagaimana mungkin aku tahu Apakah akan pernah aku menjadi ahli Busur katalpa?

Bukankah kutempuh Hidup ini

Tanpa menyentuhnya?”

“Dan sajak dalam bab yang menceritakan bagaimana dia melintasi Provinsi Musashi dan bertempur di Kotesashigahara?”

Anak itu ragu-ragu dan menggigit bibir, kemudian memulai, sebagian besar dengan kata-kata yang disusunnya sendiri:

“Kalau begitu, kenapa aku mesti bergayut

Pada hidup yang sudah jadi,

Padahal hidup itu dengan khidmat diberikan

Demi tuan kita yang agung

Dan demi orang banyak?”

“Dan artinya?”

“Saya sudah mengerti.”

“Kau yakin?”

“Orang yang tidak dapat mengerti kalau tidak dijelaskan kepadanya, dia itu bukan benar-benar orang Jepang, walaupun dia seorang samurai. Betul begitu?”

“Ya, kalau begitu coba terangkan, Iori, kenapa kau bersikap seolah dengan memegang tulang-tulang itu, tanganmu menjadi kotor?”

“Tapi, apa Bapak merasa senang memegang tulang-tulang orang yang su­dah meninggal?”

“Orang-orang yang meninggal di sini para prajurit. Mereka berkelahi dan tewas demi perasaan yang diungkapkan dalam sajak Pangeran Munenaga itu. Jumlah samurai seperti itu tak terhitung. Tulang-tulang mereka yang terkubur dalam bumi menjadi dasar pembangunan negeri ini. Kalau tidak karena mereka, sekarang kita masih belum mendapat kedamaian atau harapan kesejahteraan.

“Peperangan sudah berlalu, seperti halnya topan yang baru kita alami. Tanah secara keseluruhan tidak berubah, tapi kita tidak boleh melupakan utang kita kepada tulang-tulang putih di bawah itu.”

Iori mengangguk pada hampir setiap patah kata gurunya. “Saya mengerti sekarang. Apa saya mesti memberikan persembahan bunga dan membungkuk kepada tulang-tulang yang baru saya kuburkan?”

Musashi tertawa. “Membungkuk itu tak perlu benar, kalau kau telah mengenangnya dalam hati.”

“Tapi…” Karena merasa tak puas benar, anak itu mengumpulkan bunga dan meletakkannya di depan onggokan batu itu. Ia hendak mengatupkan tangan dengan sikap patuh, tapi tiba-tiba datang pikiran lain mengganggunya. “Semua ini baik saja, kalau tulang-tulang ini benar-benar tulang yang setia kepada Kaisar. Tapi bagaimana kalau mereka itu sisa-sisa pasukan Ashikaga Takauji? Tak ingin saya menyatakan hormat pada mereka.”

Iori menatap, menanti jawaban. Musashi tengah memandang seiris bulan siang hari. Namun tak terpikir olehnya jawaban yang memuaskan.

Akhirnya ia berkata, “Dalam agama Budha, ada penyelamatan untuk orang-orang yang bersalah telah melakukan sepuluh kejahatan dan lima dosa besar. Hati itu sendiri adalah pencerahan. Sang Budha mengampuni si jahat, asalkan dia membuka mata terhadap kebijaksanaan.”

“Artinya, prajurit yang setia dan pemberontak yang jahat sama saja, se­sudah mereka mati?”

“Tidak!” kata Musashi tegas. “Seorang samurai menjunjung tinggi namanya yang suci. Kalau dia menodainya, tidak ada penebusan sepanjang zaman.”

“Kalau begitu, kenapa sang Budha sama saja dalam memperlakukan orang yang jahat dan pembantu yang setia?”

“Karena semua manusia pada dasarnya sama. Ada orang-orang yang demikian dibutakan oleh kepentingan diri sendiri dan hasrat, hingga mereka menjadi pemberontak dan perompak. Sang Budha bersedia mengabaikan saja hal itu. la mendorong semua orang untuk menerima pencerahan, membuka mata mereka pada kebijaksanaan sejati. Ini pesan seribu kitab suci. Tentu saja, apabila orang mati, semuanya menjadi kehampaan.”

“Saya mengerti,” kata Iori, walaupun tidak betul-betul mengerti. la renungkan soal itu beberapa menit lamanya, kemudian tanyanya, “Tapi untuk samurai, tidak demikian, kan? Tidak semuanya menjadi kehampaan, kalau seorang samurai mati.”

“Kenapa kau bilang begitu?”

“Namanya akan hidup terus, kan?”

“Itu betul.”

“Kalau namanya jelek, nama itu tinggal jelek. Kalau nama itu baik, dia tinggal baik, biarpun samurai itu sudah tinggal tulang-tulang. Apa bukan begitu?”

“Ya, tapi soalnya tidak sesederhana itu,” kata Musashi. Sementara itu, ia bertanya-tanya sendiri, apakah ia dapat dengan baik menyalurkan rasa ingin tahu muridnya itu. “Dalam persoalan seorang samurai, ada yang dinamakan penilaian terhadap kepekaan akan segala sesuatu. Seorang pejuang yang tidak memiliki kepekaan ini sama saja dengan semak di tengah padang pasir. Menjadi seorang jago yang hebat, semata-mata adalah seperti topan. Itu sama dengan pemain pedang yang hanya memikirkan pedang, pedang, dan pedang. Seorang samurai sejati, seorang pemain pedang murni, mem­punyai hati yang mengandung belas kasihan. Dia mengerti kepekaan hidup.”

Tanpa berkata-kata lagi, Iori menyusun kembali bunga-bunga itu dan mengatupkan kedua tangannya.

Dua Pemukul Genderang

DI tengah jalan gunung, sosok-sosok manusia yang berarak tak henti-henti­nya mendaki seperti semut, ditelan lingkaran awan tebal. Sampai di dekat puncak, tempat berdirinya Kuil Mitsumine, mereka disambut oleh langit tak berawan.

Ketiga puncak gunung itu, Kumotori, Shiraiwa, dan Myohogatake, me­ngangkangi keempat provinsi di timur. Di dalam kompleks Shinto itu terdapat kuil-kuil dan pagoda Budha, juga berbagai bangunan lain dan pintu gerbang. Di luarnya terdapat kota kecil yang sedang berkembang pesat, dengan warung-warung teh dan toko-toko cendera mata, kantor-­kantor pendeta tinggi, dan rumah-rumah sekitar tujuh puluh petani, yang hasil produksinya disimpan untuk digunakan oleh kuil.

“Dengar! Mereka sudah mulai menabuh genderang besar,” kata Iori gembira, sambil menelan nasi dan buncis merahnya. Musashi duduk di depannya, sedang makan dengan santai.

Iori menjatuhkan sumpitnya. “Musik sudah mulai,” katanya. “Mari kita pergi melihat.”

“Aku sudah cukup melihat semalam. Pergi sana sendiri.”

“Tapi semalam mereka cuma mempertunjukkan dua tarian. Apa Bapak tak ingin lihat yang lain?”

“Ingin, tapi kalau buru-buru, tidak.”

Melihat bahwa mangkuk kayu gurunya masih setengah penuh, Iori berkata dengan nada lebih tenang, “Beribu-ribu orang sudah datang dari kemarin. Sungguh sayang kalau hujan.”

“Oh?”

Ketika akhirnya Musashi mengatakan, “Kita pergi sekarang?” Iori langsung berlari ke pintu depan, seperti anjing baru dilepas. Ia meminjam sandal jerami, dan meletakkannya di ambang pintu, untuk gurunya.

Di depan Kannon’in, yaitu kuil bawahan tempat mereka menginap dan di kiri-kanan gerbang utama tempat suci, menyala beberapa api unggun besar. Setiap rumah memasang obor menyala. Di depan seluruh wilayah yang tingginya beberapa ribu kaki di atas permukaan laut itu, suasana terang benderang seperti siang. DI atas, di langit yang berwarna telaga dalam, Sungai Surga berkilau-kilauan seperti asap ajaib, sedangkan di jalan rombongan lelaki dan perempuan berjalan berduyun-duyun menuju panggung tempat ditampilkannya tari-tarian suci, tanpa memedulikan dinginnya udara gunung. Seruling dan genderang-genderang besar menggema dalam tiupan angin gunung. Panggung itu sendiri kosong, kecuali panji-panji yang me­ngepak-ngepak pelan, yang nanti akan menjadi latar belakang pertunjukan.

Karena didesak-desak orang banyak, Iori jadi terpisah dari Musashi, tapi ia cepat dapat menembus orang banyak itu, sampai akhirnya terlihat olehnya Musashi berdiri di dekat sebuah bangunan, sedang menengadah memandang daftar penyumbang. Iori memanggil namanya, berlari kepadanya, dan menarik lengan kimononya, tapi perhatian Musashi sedang terpusat pada sebuah piagam yang lebih besar daripada yang lain-lain. Papan itu lebih menonjol karena besarnya sumbangan yang diberikan oleh “Daizo dari Narai, Kampung Shibaura, Provinsi Musashi.”

Derum genderang semakin meninggi.

“Tarian sudah mulai,” pekik Iori, sementara hatinya terbang ke paviliun tarian suci. “Sensei, apa yang Bapak perhatikan?”

Musashi tersadar dari lamunan, dan katanya. “Oh, tak ada yang khusus…. Aku cuma ingat sesuatu yang mesti kulakukan. Pergi sana, lihat tarian. Aku datang nanti.”

Musashi pergi mencari kantor para pendeta Shinto. Di sana ia disambut oleh seorang tua.

“Saya ingin mencari keterangan tentang seorang penyumbang,” kata Musashi.

“Maaf, tapi kami di sini tak ada hubungannya dengan itu. Anda mesti pergi ke tempat kediaman kepala pendeta Budha. Akan saya tunjukkan tempatnya.”

Tempat Suci Mitsumine itu tempat suci Shinto, tapi pengawasan umum atas seluruh bangunan itu berada di tangan seorang pendeta tinggi Budha. Papan nama di atas pintu gerbang berbunyi, Kantor Pendeta Tinggi yang Bertugas, dengan huruf-huruf besar serasi.

Di ruang depan, orang tua itu berbicara agak lama dengan pendeta yang bertugas. Selesai itu, pendeta mengundang Musashi masuk, dengan sangat sopan mengantarnya ke sebuah ruang dalam. Teh dihidangkan, disertai senampan kue-kue lezat. Berikutnya datang nampan kedua, yang sebentar kemudian disusul oleh datangnya seorang calon pendeta muda yang tampan, membawa sake. Tak lama kemudian, muncul seorang tokoh yang tak kurang dari seorang kepala pendeta sementara.

“Selamat datang di gunung kami,” katanya. “Saya kuatir kami hanya menyuguhkan makanan kampung pada Anda. Saya harap Anda mau me­maafkan kami. Anggaplah seperti di rumah sendiri.”

Musashi bingung mendapat perlakuan yang demikian penuh perhatian. Tanpa menyentuh sake, katanya, “Saya datang untuk mencari keterangan tentang salah seorang penyumbang Anda.”

“Apa?” Wajah ramah pendeta yang bulat gemuk dan berumur sekitar lima puluh tahun itu berubah sedikit. “Mencari keterangan?” tanyanya curiga.

Berturut-turut Musashi mengajukan pertanyaan tentang kapan Daizo datang ke kuil itu, Apakah ia sering datang ke situ, apakah ia pernah mem­bawa serta orang lain, dan kalau ya, macam apa orang itu.

Semakin banyak pertanyaan itu, semakin besar rasa tak senang si pendeta, sampai akhirnya la berkata, “Jadi, Anda datang kemari bukan untuk mem­berikan sumbangan, tapi hanya untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang orang yang menyumbang?” Wajahnya memperlihatkan kejengkelan yang amat sangat.

“Bapak tua tadi tentunya salah mengerti tentang saya. Saya tidak ber­maksud memberikan sumbangan. Saya hanya ingin bertanya tentang Daizo.”

“Anda dapat memperoleh keterangan jelas tentang itu di pintu masuk,” kata si pendeta dengan pongah. “Menurut penglihatan saya, Anda seorang ronin. Saya tidak tahu siapa Anda, atau dari mana Anda datang. Anda mesti mengerti, saya tak dapat memberikan keterangan tentang penyumbang kami pada sembarang orang.”

“Percayalah, takkan terjadi sesuatu.”

“Yah, Anda terpaksa bertemu dengan pendeta yang bertugas menangani soal-soal itu.” Dengan wajah seolah sudah dirampok, pendeta itu melepas Musashi.

Daftar penyumbang ternyata tidak banyak membantu, karena di situ hanya dicatat bahwa Daizo datang ke sana beberapa kali. Musashi meng­ucapkan terima kasih kepada pendeta, dan pergi.

Di dekat paviliun tarian, ia memandang berkeliling, mencari Iori, tapi sia-sia. Sekiranya ia mau menengadah, ia akan melihatnya, karena anak itu berada hampir tepat di atas kepalanya. Ia memanjat sebatang pohon agar dapat melihat lebih baik.

Memandang adegan di panggung, Musashi terkenang kembali akan masa kecilnya, akan pesta malam hari di Kuil Sanumo di Miyamoto. Ia melihat bayangan orang banyak itu, melihat bayangan wajah putih Otsu di tengah mereka. Ia melihat bayangan Matahachi yang selalu mengunyah makanan, bayangan Paman Gon yang berjalan ke sana kemari dengan penuh lagak. Samar-samar terbayang wajah ibunya yang cemas karena ia masih berada di luar, di malam selarut itu, dan karena itu ibunya datang mencarinya.

Para pemusik yang mengenakan pakaian yang lain dari yang lain, dengan maksud menirukan keanggunan pengawal kerajaan zaman dulu, mengambil tempat di panggung. Dalam sinar api, dandanan mereka yang mentereng dan berkilauan oleh bercak-bercak kain emas itu mengingatkan orang pada jubah dalam mitos di zaman dewa-dewa. Pukulan genderang yang kulitnya agak kendur menggema melintasi hutan kriptomeria, kemudian seruling dan papan yang dipukul berirama dengan kayu-kayu kecil memperdengarkan musik pendahuluan. Guru tart maju ke depan, mengenakan topeng kuno. Topeng berupa wajah aneh itu sudah banyak mengelupas pernisnya di bagian pipi dan dagu, dan bergerak-gerak pelan ketika orang ins menvamvikan kata-kata dari Kamiasobi, tarian dewa-dewa.

Di atas Gunung Mimuro yang suci Dengan pagarnya yang saleh, Di hadapan dewata yang agung, Dedaunan pohon sakaki Tumbuh berlimpah-ruah, Tumbuh berlimpab-ruah.

Tempo genderang meningkat, dan alat-alat lain pun ikut serta. Segera kemudian, lagu dan tari menyatu dalam irama yang hidup, penuh senggakan.

Dari mana datangnya lembing ini? Inilah lembing kediaman suci Putri Toyooka di Surga… Lembing kediaman suci.

Musashi mengenal sebagian dari lagu-lagu itu. Ketika masih kecil, ia pernah menyanyikannya, mengenakan topeng serta ambil bagian dalam acara tarian di Kuil Sanumo.

Pedang yang melindungi rakyat,

Rakyat segala negeri.

Mari kita gantungkan dia penuh pesta di hadapan dewata,

Kita gantungkan dia penuh pesta di hadapan dewata.

Ilham itu seperti kilat datangnya. Selama itu, Musashi memang terus mem­perhatikan tangan salah seorang pemukul genderang, yang asyik memainkan kedua pemukul genderang pendek berbentuk pentung. Tiba-tiba ia menarik napas dan berseru lepas, “Itu dia! Dua pedang!”

Kaget oleh suara itu, cukup lama Iori mengalihkan pandangannya dari panggung ke bawah, dan katanya, “Oh, Bapak ada di situ!”

Musashi sendiri tak jua menengadah. Ia memandang langsung ke depan, bukan dengan wajah bermimpi karena tergiur, seperti biasa terjadi pada orang-orang lain, melainkan dengan pandangan mata hampir-hampir me­nembus, mengerikan.

“Dua pedang!” ulangnya. “Prinsipnya sama saja. Dua pemukul genderang, dengan hanya satu bunyi.” Ia melipat kedua tangannya lebih erat, dan memperhatikan baik-baik setiap gerakan pemain genderang itu.

Ditinjau dari satu sudut pandangan, hal itu biasa saja. Manusia dilahirkan dengan dua tangan, jadi kenapa pula ia tidak menggunakan keduanya? Tapi kenyataannya, para pemain pedang hanya berkelahi dengan sebuah pedang, dan sering kali hanya dengan satu tangan. Hal itu masuk akal saja, asalkan setiap orang berbuat demikian juga. Tapi kalau seorang jago menggunakan dua pedang sekaligus, lalu berapa kesempatan menang bagi lawan yang hanya menggunakan sebilah pedang saja?

Ketika melawan Perguruan Yoshioka di Ichijoji dulu, Musashi meng­gunakan pedang panjang di tangan kanan, dan pedang pendek di tangan kiri. Ia mencengkeram kedua senjata itu secara naluriah saja, tanpa sadar, masing-masing tangan bertugas melindungi diri sebaik-baiknya. Dalam per­kelahian antara hidup dan mati waktu itu, ia bereaksi dengan cara yang tidak lazim. Tapi tiba-tiba kini dasar pemikirannya itu terasa wajar, kalau tak hendak dikatakan tak terhindarkan.

Kalau dua barisan tentara saling berhadapan dalam suatu pertempuran, menurut aturan Seni Perang, tidak masuk akal kalau yang dikerahkan hanya satu sayap saja, sementara sayap yang lain dibiarkan menganggur. Bukankah prinsip itu tak bisa disepelekan oleh pemain pedang yang sendirian? Semenjak pengalamannya di Ichijoji, Musashi merasa penggunaan kedua tangan dan kedua pedang itu adalah cara yang normal, cara manusia. Hanya kebiasaanlah yang membuat hal itu kelihatan tidak normal, dan kebiasaan itu sudah berabad-abad diikuti, tanpa banyak protes. Kini ia merasa telah sampai pada kebenaran yang tak tertahankan: kebiasaan telah membentuk hal yang tidak wajar, dan sebaliknya.

Kebiasaan dibentuk oleh pengalaman sehari-hari, sedangkan berada di perbatasan hidup dan mati hanya dapat terjadi beberapa kali selama hidup. Namun tujuan terakhir Jalan Pedang adalah untuk mampu berdiri di tabir maut, setiap saat. Menghadapi maut dengan tepat, pantang mundur, haruslah sama akrabnya dengan semua pengalaman hidup sehari-hari lainnya. Dan proses itu pun haruslah sesuatu yang disadari. Meski demikian, gerakan yang dibuat mesti bebas, seolah bersifat refleks semata.

Gaya dua-pedang itu harus bersifat demikian pula-sadar, tapi sekaligus otomatis, bagaikan refleks, sama sekali bebas dari batasan-batasan yang biasanya menyertai tindakan sadar. Musashi telah beberapa waktu mencoba menyatukan apa yang ia ketahui secara naluriah itu dengan apa yang ia pelajari secara intelektual, dalam suatu prinsip yang benar. Sekarang ia sudah hampir dapat merumuskannya dengan kata-kata. Hal itu akan mem­buatnya termasyhur di seluruh negeri, selama bergenerasi-generasi mendatang.

Dua pemukul genderang, satu bunyi. Pemain genderang itu sadar akan kiri dan kanannya, kanan dan kirinya, tapi sekaligus tak sadar akan ke­duanya. Dan kini, di hadapan matanya, terpapar suasana Budha bagi berlangsungnya proses saling susup dan bebas. Musashi merasa mengalami pencerahan, mengalami pemuasan.

Kelima tarian suci, yang dimulai dengan lagu dari guru tari, berlangsung terus dengan pertunjukan para pemain lain. Ada tarian Iwato yang lebar dan luas geraknya, kemudian tarian Ara Mikoto no Hoko. Nada-nada seruling semakin cepat, lonceng-lonceng mendering dalam irama yang hidup.

Musashi menengadah kepada Iori, dan katanya. “Apa kau belum mau pulang?”

“Belum,” terdengar jawaban melamun. Jiwa Iori kini sudah menjadi bagian dari tarian itu, dan ia merasa dirinva sebagai salah seorang pemain.

“Pulang sekarang, nanti terlambat. Besok akan kita daki puncak itu, ke kuil bagian dalam.”

Penjaga Setan

ANJING-ANJING Mitsumine adalah jenis binatang liar. Kata orang, mereka hasil persilangan antara anjing yang didatangkan oleh kaum imigran Korea lebih dari seribu tahun lalu, dengan anjing liar dari Pegunungan Chichibu. Tingkat hidup anjing-anjing itu hanya selangkah terpisah dari tingkat binatang liar lain, dan mereka mengembara di lereng gunung, dan memangsa binatang liar lain di daerah itu. Tapi karena anjing-anjing itu dianggap utusan dewata dan dikatakan orang sebagai “penjaga” dewata, sering kali para pemuja membawa pulang gambaran mereka itu dalam bentuk cetakan atau pahatan, sebagai jimat keberuntungan.

Anjing hitam yang membuntuti Musashi bersama lelaki itu ukurannya sebesar anak sapi.

Ketika Musashi masuk Kannon’in, orang itu menoleh, katanya, “Jalan sini,” dan memberi isyarat dengan tangannya yang tidak memegang tali.

Anjing itu menggeram, menyentakkan tali pengikatnya yang berupa seutas tali tebal, dan mulai mendengus.

Sambil memukulkan tali itu ke punggung anjing, orang itu berkata, “Sst! Tenang, Kuro!”

Orang itu sekitar lima puluh tahun umurnya, tubuhnya pejal, tapi gemulai. Seperti anjingnya, ia tidak begitu jinak, tapi ia berpakaian rapi. Disamping memakai kimono yang tampak seperti jubah pendeta atau pakaian resmi samurai, ia mengenakan juga obi datar dan hakama dari rami. Sandal jeraminya, yang biasa dipakai orang pada pesta-pesta, masih baru talinya.

“Baiken?” Perempuan itu mundur menghindari anjing.

“Balik!” perintah Baiken sambil mengetuk kepala anjing itu dengan keras. “Aku senang kau dapat mengenali dia, Oko.”

“Jadi, memang dia?”

“Tidak sangsi lagi.”

Untuk sesaat mereka berdiri diam, sambil memandang lewat celah awan, ke arah bintang-bintang. Mereka mendengar bunyi musik tarian suci itu, tapi tidak menyimaknya.

“Apa yang akan kita lakukan?”

“Akan kupikirkan.”

“Kita tak boleh melewatkan kesempatan kali ini lolos sia-sia.” Oko memandang Baiken penuh harapan. “Apa Toji ada di rumah?” tanyanya. “Ya, mabuk oleh sake di pesta itu, dan jatuh tertidur.”

“Bangunkan dia.”

“Kau sendiri bagaimana?”

“Aku ada pekerjaan. Sesudah keliling, aku datang lagi ke tempatmu.”

Di luar gerbang utama tempat suci itu, Oko mulai menderap. Sebagian besar dari kedua puluh atau tiga puluh rumah itu adalah toko cendera mata atau warung teh. Ada juga beberapa rumah makan kecil. Dari dalam rumah-rumah makan terdengar suara gembira orang-orang yang bersuka ria. Di ujung atap gubuk yang dimasuki Oko, tergantung papan bertuliskan Rumah Istirahat. Di salah satu bangku, di kamar depan yang berlantai tanah, duduk seorang gadis pelayan yang sedang tidur-tidur ayam.

“Masih tidur?” tanya Oko.

Gadis yang merasa akan mendapatkan makian itu menggelengkan kepala kuat-kuat.

“Maksudku bukan kau, tapi suamiku.”

“Oh, ya, masih tidur.”

Sambil mendecap tak senang, Oko menggerutu, “Pesta masih berjalan, dia tidur. Ini satu-satunya warung yang tidak penuh pembeli.”

Di dekat pintu, seorang lelaki dan seorang perempuan tua sedang mengukus nasi dan buncis dengan tungku tanah. Nyala api menjadi satu­satunya nada gembira di dalam ruangan yang murung itu.

Oko mendekati lelaki yang sedang tidur di bangku dekat dinding, menepuk bahunya, dan katanya, “Bangun! Buka matamu buat selingan.”

“Hah?” gumam orang itu sambil menegakkan badan sedikit.

“Oh, oh!” seru Oko sambil mundur. Kemudian ia tertawa dan katanya, “Maaf, saya kira suami saya.”

Sepotong tikar meluncur jatuh ke lantai. Orang muda bermuka bundar dan bermata besar mengandung tanda tanya itu memungutnya kembali, menutupkannya ke wajahnya, dan membaringkan badan kembali. Kepalanya di atas bantal kayu, dan sandalnya berlepotan lumpur. Di atas meja di dekatnya terletak baki dan mangkuk nasi yang kosong. Di dekat dinding terdapat bungkusan perjalanan, topi anyaman, dan tongkat.

Sambil kembali mendekati gadis itu, Oko berkata, “Apa dia pembeli?”

“Ya. Katanya, dia mau masuk kuil bagian dalam pagi-pagi sekali, dan minta tidur di sini.”

“Di mana Toji?”

“Aku di sini, goblok!” Terdengar suara Toji dari belakang shoji yang koyak. Dengan badan disandarkan di kamar sebelah, dan satu kaki menjulur ke dalam warung, katanya muram, “Kenapa pula mencari-cari orang yang mau tidur sebentar? Ke mana saja kau? Mestinya kau mengurusi warung.”

Tahun-tahun itu lebih banyak mendatangkan kedukaan pada Oko, dari­pada kepada Toji. Tidak hanya pesona umur mudanya sudah tidak lagi kelihatan, tapi menyelenggarakan Warung Teh Oinu itu menuntut kerja keras lelaki, agar ia dapat menanggung hidup suaminya yang pemalas. Penghasilan Toji dari berburu di musim dingin kecil sekali, dan di luar itu ia hanya sedikit bekerja. Sesudah Musashi membakar persembunyiannya yang berkamar rahasia di Celah Wada itu, semua anak buahnya sudah meninggalkannya.

Mata Toji yang merah buram sedikit demi sedikit melihat tong air. Ia memaksakan diri berdiri, mendekati tong, dan meneguk penuh seciduk air.

Oko bersandar pada sebuah bangku dan menolehkan kepala kepadanya. “Masa bodoh pesta itu! Sudah waktunya kau belajar berhenti minum. Beruntung kau tidak ditembus pedang, selagi tak sadar tadi.”

“Hah?”

“Kukasih tahu sekarang, ada baiknya kau lebih hati-hati.”

“Aku tak mengerti, apa yang kaubicarakan ini.”

“Kau tidak tahu Musashi ada di pesta itu?”

“Musashi? Miyamoto… Musashi?” Toji jadi sepenuhnya terjaga. Katanya, “Kau sungguh-sungguh? Kalau begitu, lebih baik kau sembunyi di belakang.”

“Jadi, cuma itu yang bisa kaupikirkan… sembunyi?” “Aku tak ingin kejadian di Celah Wada itu terulang lagi.”

“Pengecut. Apa kau tak ingin membalas? Bukan hanya untuk itu, tapi juga untuk membalas perbuatannya terhadap Perguruan Yoshioka? Aku sen­diri, aku cuma seorang perempuan.”

“Ya, tapi jangan lupa, waktu itu kita punya banyak orang untuk membantu. Sekarang cuma kita berdua.” Toji tidak ikut berada di Ichijoji, tapi ia mendengar bagaimana Musashi berkelahi di sana. Ia tidak berani membayangkan, siapa yang akhirnya mati, kalau mereka berdua berjumpa lagi.

Sambil mendekat ke samping suaminya, Oko berkata, “Nah, di situlah kau keliru. Ada orang lain lagi di sini, kan? Dia juga membenci Musashi, seperti kau!”

Toji tahu, yang dimaksud Oko adalah Baiken yang mulai mereka kenal, ketika akhirnya pengembaraan mereka membawa mereka sampai ke Mitsumine.

Karena tidak ada pertempuran lagi, menjadi bromocorah tidak lagi menguntungkan, karena itu Baiken membuka bengkel besi di Iga, tapi dari sana ia terusir, ketika Yang Dipertuan Todo mengetatkan kekuasaannya atas provinsi itu. Karena bermaksud mencari peruntungan di Edo, ia mem­bubarkan gerombolannya. Dengan diantar seorang teman, ia kemudian menjadi penjaga di gedung harta kuil.

Sampai sekarang pun, pegunungan yang terletak di antara Provinsi Musashi dan Kai itu masih penuh bandit. Dengan mempekerjakan Baiken sebagai pengawal gedung harta, yang berisi harta keagamaan dan uang tunai hasil sumbangan, berarti para pimpinan kuil memerangi api dengan api. Baiken memiliki kelebihan, karena ia mengenal dengan baik cara-cara kerja para bandit, dan ia sendiri ahli dalam menggunakan senjata rantai­bola-sabit. Sebagai penemu Gaya Yaegaki, dapat kiranya ia menarik perhatian seorang daimyo, sekiranya ia bukan saudara Tsujikaze Temma. Bertahun­-tahun silam, kedua bersaudara itu telah menteror daerah yang terletak di antara Gunung Ibuki dan daerah Yasugawa. Perubahan zaman tak ada artinya sama sekali bagi Baiken. Menurut jalan pikirannya, kematian Temma di tangan Takezo adalah asal-usul segala kesulitan yang kemudian me­nimpanya.

Oko sudah lama menyampaikan pada Baiken tentang dendam mereka terhadap Musashi. Ia membesar-besarkan kebenciannya agar dapat me­mantapkan persahabatannya dengan orang itu. Baiken menyambutnya dengan memaki, katanya, “Suatu hari nanti…”

Oko baru saja selesai menyampaikan apa yang dilihatnya kepada Toji. Katanya, ia melihat Musashi di warung teh, kemudian Musashi menghilang di tengah orang banyak. Mengikuti nalurinya, ia pergi ke Kannon’in, dan tiba di sana tepat ketika Musashi dan Iori baru berangkat ke tempat suci bagian luar. Informasi ini segera ia sampaikan pada Baiken.

“Oh, jadi begitu,” kata Toji. Ia kini mulai mendapat keberanian, karena tahu bahwa sekutu yang dapat diandalkan sudah tampil. la tahu, dengan senjata kesayangannya itu, Baiken telah mengalahkan semua pemain pedang dalam pertandingan di tempat suci baru-baru ini. Kalau Baiken menyerang Musashi, kemungkinan besar ia menang. “Dan apa katanya, waktu kau­sampaikan kepadanya?”

“Dia akan datang, begitu selesai keliling.”

“Musashi bukan orang bodoh. Kalau kita tidak hati-hati…” Toji bergidik, dan dari mulutnya terdengar suara kasar, tak tertangkap maknanya. Oko mengikuti pandangan matanya ke arah orang yang tidur di bangku. “Siapa itu?” tanya Toji.

“Cuma pembeli,” jawab Oko.

“Bangunkan dia, dan suruh pergi dari sini!”

Oko meneruskan perintah itu kepada gadis pelayan. Gadis pelayan pergi ke sudut sana dan mengguncangkan tubuh orang itu, sampai orang itu duduk.

“Keluar!” kata gadis itu langsung. “Kami mau tutup sekarang.”

Orang itu berdiri, meregangkan badan, dan katanya, “Uh, enak sekali tidur di sini.” Sambil tersenyum dan mengedip-ngedipkan mata, ia bergerak capat, namun halus, membungkuskan anyaman tikar ke bahunya, mengena­kan caping, dan membenahi letak bungkusannya. Ia kempit tongkatnya, katanya, “Terima kasih banyak.” Ia membungkuk dan berjalan cepat ke luar pintu.

Dari pakaian dan tekanan bicaranya, Oko menilai orang itu bukan petani setempat, tapi kelihatannya tidak berbahaya. “Lucu kelihatannya,” katanya. “Aku ingin tahu, apa dia membayar belanjaannya.”

Oko dan Toji sedang menggulung kerai dan memberesi warung, ketika Baiken datang bersama Kuro.

“Senang saya melihat Anda,” kata Toji. “Mari kita masuk kamar belakang.”

Tanpa berkata-kata, Baiken melepaskan sandal dan mengikuti mereka. Sementara itu, anjingnya mengendus-endus mencari remah makanan. Kamar belakang itu hanya berupa ruang tambahan yang sudah rusak. Dindingnya hanya dilapisi adukan kasar, tapi berada di luar jarak pendengaran orang dalam warung.

Ketika lampu sudah dinyalakan, Baiken berkata, “Tadi malam, di depan panggung tarian, saya dengar Musashi mengatakan pada anak itu, mereka akan pergi ke tempat suci bagian dalam besok pagi. Kemudian saya pergi ke Kannon’in dan mengeceknya.”

Oko dan Toji menelan ludah dan memandang ke luar jendela. Puncak gunung tempat bertenggernya kuil bagian dalam itu membayang kabur, dengan latar belakang langit berbintang.

Karena tahu siapa yang akan dihadapinya, Baiken punya rencana me­nyerang dan mengerahkan bala bantuan. Dua pendeta dan para pengawal gedung harta sudah setuju menolong, dan sudah langsung menyiapkan lem­bingnya. Ada juga satu orang dari Perguruan Yoshioka yang memimpin dojo kecil di tempat suci itu. Baiken memperhitungkan ia dapat mengerahkan barangkali sepuluh bromocorah, orang-orang yang telah dikenalnya di Iga, dan sekarang bekerja di sekitar tempat itu. Toji akan membawa senapannya, sedangkan Baiken akan menggunakan senjata rantai-bola-sabit.

“Jadi, Anda sudah mempersiapkan semua itu?” tanya Toji tak percaya.

Baiken menyeringai, tapi tidak mengatakan apa-apa lagi.

Bulan yang cuma sepotong kecil, tinggi di atas lembah, tersembunyi di balik kabut tebal. Puncak agung itu masih tertidur. Hanya gemercik dan deru air sungai yang menegaskan ketenangan suasana waktu itu. Segerom­bolan sosok hitam berdesak-desak di atas jembatan Kosaruzawa.

“Toji?” bisik Baiken serak.

“Di sini.”

“Jaga supaya sumbu tetap kering.”

Yang paling mencolok di antara awak yang beraneka ragam itu adalah kedua pendeta berlembing. Mereka menyingsingkan jubah, siap beraksi. Yang lain-lain mengenakan berbagai macam pakaian, tapi semuanya bersepatu, agar dapat bergerak cekatan.

“Ini sudah semua?”

“Ya.”

“Berapa semuanya?”

Mereka menghitung kepala: tiga belas.

“Bagus,” kata Baiken. Dan ia mengulangi perintahnya pada mereka. Mereka mendengarkan tanpa kata-kata, sambil mengangguk sekali-sekali. Setelah mendapat isyarat, mereka bergegas masuk kabut untuk mengambil kedudukan di sepanjang jalan. Di ujung jembatan, mereka melewati tonggak jarak yang berbunyi: Enam Ribu Meter ke Kuil Bagian Dalam.

Ketika jembatan kosong kembali, serombongan monyet muncul dari persembunyian, melompat dari dahan-dahan, memanjat tumbuhan jalar, dan berkumpul di jalanan. Mereka berlari masuk jembatan, merangkak di bawahnya, dan melemparkan bebatuan ke dalam jurang. Kabut bermain dengan mereka, seolah-olah ikut memeriahkan acara bersenang-senang itu. Sekiranya seorang makhluk Taois yang Baka muncul dan memberikan isyarat, barangkali mereka akan berubah menjadi awan-awan yang terbang dengannya ke surga.

Salak seekor anjing bergema menembus pegunungan. Monyet-monyet menghilang seperti daun pohon damar diembus angin musim gugur.

Kuro muncul di jalan, menyeret-nyeret Oko. Akhirnya anjing itu berhasil membebaskan dirinya. Meskipun Oko dapat menangkap kembali tall itu, ia tetap tak dapat memaksa anjing itu kembali. Oko tahu, Toji tak ingin anjing itu membuat bunyi di sekitar tempat itu, karena itu Oko berpikir mungkin ia dapat menyingkirkan Kuro dengan membiarkannya naik ke kuil.

Ketika kabut yang terns bergerak itu mulai menetap di dalam lembah, seperti salju, ketiga puncak Mitsumine dan gunung-gunung yang lebih kecil di antara Musashino dan Kai bangkit dengan latar belakang langit beserta segala kebesarannya. Jalan yang berkelok-kelok tampak putih, dan burung­burung mulai menggelepar-geleparkan sayap mereka, mencicit-cicit me­nyambut fajar.

Iori berkata, setengah kepada diri sendiri, “Kenapa begitu?”

“Apanya yang kenapa?” tanya Musashi.

“Hari mulai terang, tapi saya tak dapat melihat matahari.”

“Ya, karena kau memandang ke barat.”

“Oh,” Iori melontarkan pandangan sekilas ke bulan yang sedang terbenam di belakang puncak-puncak gunung yang jauh itu. “Iori, rupanya banyak temanmu di pegunungan ini.”

“Di mana?”

“Di sana itu.” Musashi tertawa sambil menunjuk kera-kera yang berge­rombol di sekitar induknya.

“Saya mau jadi salah satu dari mereka.”

“Kenapa begitu?”

“Paling tidak, mereka punya induk.”

Dengan diam mereka mendaki bagian jalan yang terjal, dan masuk ke petak tanah yang agak datar. Musashi melihat rumput di situ habis diinjak­injak sejumlah besar kaki.

Selesai mengitari gunung sebentar lagi, sampailah mereka di sebuah dataran; di situ mereka menghadap ke timur.

“Coba lihat,” seru Iori sambil menoleh pada Musashi. “Matahari naik.”

“Ya, betul.”

Gunung Kai dan Kozuke menjulang seperti pulau-pulau di tengah lautan awan di bawahnya. Iori berhenti, dan berdiri tak bergerak-gerak, kakinya berimpitan, tangannya di samping badan, dan bibirnya terkatup erat. De­ngan sangat terpesona ia menatap benda keemasan yang besar itu, dan membayangkan dirinya sebagai putra matahari. Sekonyong-konyong ia berseru dengan suara sangat keras, “Itu Amaterasu Omikami! Bukan begitu?” Ia memandang Musashi, meminta persetujuan.

“Betul.”

Anak itu mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi di atas kepalanya, dan menyaring cahaya yang berkilauan itu dengan jemarinya. “Darah saya!” serunya. “Warnanya sama dengan darah matahari.” Sambil menepukkan tangan, seperti nanti dilakukannya di kuil untuk menyeru dewata, ia menundukkan kepala sebagai tanda sembah tanpa kata, dan pikirnyal “Monyet-monyet itu punya induk. Aku tak punya. Tapi aku punya dewi, sedangkan mereka tak punya apa-apa.”

Ilham itu membuatnya penuh dengan kegembiraan. Seraya berurai air mata, ia serasa mendengar dari sebelah awan-awan itu musik tari-tarian di kuil. Bunyi genderang berdentam-dentam di telinganya, sedangkan lagu tambahan yang dimainkan seruling mengapung mengiringi melodi Tarian Iwato. Kaki Iori menangkap iramanya, dan kedua tangannya berayun anggun. Dari bibirnya keluar kata-kata yang baru ia ingat malam sebelumnya.

“Busur katalpa…

Setiap kali musim semi datang,

Ingin aku melihat tarian Beribu dewa,

Oh, betapa ingin aku melihatnya menari… “

Tiba-tiba disadarinya bahwa Musashi sudah jauh berjalan di depan, maka ia tinggalkan tarian itu dan berlari mengejarnya.

Cahaya pagi belum lagi menembus hutan yang kini mereka masuki. Di sekitar kuil bagian dalam ini, pohon-pohon kriptomeria berbaris membentuk lingkaran besar, dan semuanya hampir sama tingginya. Bunga-bunga putih kecil tumbuh di tengah bercak-bercak lumut yang bergayut pada pepohonan itu. Karena mengira pepohonan itu sudah kuno-lima ratus tahun umurnya, atau barangkali bahkan seribu tahun—Iori ingin membungkuk kepadanya. Di sana-sini tampak olehnya pohon mapel berwarna merah cemerlang. Rumpun bambu yang rendah bergaris-garis tumbuh ke tengah jalan, hingga menyempitkan jalan itu menjadi jalan setapak.

Sekonyong-konyong bumi yang mereka injak seolah berguncang. Sekejap sesudah letusan itu, terdengar jeritan yang melemahkan semangat, diiringi hujan gema yang tajam. Iori menutup telinga dengan tangannya dan menyuruk ke dalam rumpun bambu.

“Iori! Tetap tiarap!” perintah Musashi dari balik sebatang pohon besar. “Jangan bergerak, biarpun mereka menginjakmu!”

Cahaya yang hanya remang-remang itu seolah penuh dengan lembing dan pedang. Mendengar teriakan itu, para penyerang semula mengira peluru telah menemukan sasaran, tapi tak seorang pun kelihatan. Karena tidak tahu pasti apa yang terjadi, mereka terpaku.

Iori berada di pusat lingkaran mata dan pedang terhunus. Di tengah kesunyian mencekam yang berlangsung sesudah itu, ia mulai tak bisa mengendalikan rasa ingin tahunya. Pelan-pelan ia mengangkat kepala ke atas rumpun bambu. Beberapa meter dari tempatnya, tampak sebilah pedang terjulur dari belakang pohon, berkilau oleh sinar matahari.

Lepas dari segala kendali, Iori berteriak sekuat paru-parunya. “Sensei! Ada orang sembunyi di situ!” Sambil berteriak, ia bangkit berdiri dan berlarl mencari selamat.

Pedang pun melompat dari balik bayangan, dan bergantung seperti iblis di atas kepalanya. Tapi cuma sesaat. Belati Musashi langsung terbang ke arah kepala pemain pedang itu, dan bersarang di pelipisnya.

“Ya-a-h!”

Salah seorang pendeta menyerang Musashi dengan lembingnya. Musashi menangkap lembing itu dan mencengkeramnya erat-erat dengan satu tangan.

Sekali lagi terdengar jeritan maut, seolah-olah mulut orang itu tersumbat batu karang. Terpikir oleh Musashi, apakah mungkin para penyerangnya saling serang, dan ia menajamkan penglihatannya. Pendeta lain membidikkan lembingnya, lalu menyerbu ke arahnya. Musashi menangkap juga lembingnya dan menguncinya dengan tangan kanan.

“Serang dia sekarang!” jerit salah seorang pendeta, karena tahu bahwa kedua tangan Musashi terpakai.

Dengan suara nyaring, teriak Musashi, “Siapa kalian’ Sebutkan diri kalian, kalau tidak, aku anggap kalian semua musuh. Sungguh memalukan, menumpahkan darah di tanah suci ini, tapi bagaimana lagi kalau tak ada pilihan lain?”

Musashi memutar kedua lembing di tangannya, lalu melepaskannya hingga kedua pendeta terlontar ke arah yang berbeda, kemudian ia me­lecutkan pedangnya, menetak seorang dari mereka sebelum orang itu sem­pat berhenti terhuyung. Dan ketika Musashi memutar tubuh, ia dapati dirinya berhadapan dengan tiga bilah pedang lain, berbaris di seberang jalan sempit itu. Tanpa beristirahat terlebih dahulu, ia hampiri mereka dengan sikap mengancam, selangkah demi selangkah. Dua orang lagi muncul dan mengambil tempat di samping ketiga orang pertama.

Musashi maju ke depan, tapi semua lawannya mundur. Waktu itu terlihat sekilas olehnya pendeta pemain lembing lain memperoleh kembali senjatanya, dan sedang mengejar Iori. “Berhenti kau, pembunuh!” pekiknya. Tapi begitu ia membalik untuk menyelamatkan Ion, kelima orang itu melolong menyerang. Musashi menerjang, menyambut mereka. Akibatnya seperti tabrakan antara dua gelombang yang sedang mengamuk, tapi sem­protan yang keluar di sini semprotan darah, bukan semprotan air asin. Musashi berpusing dari satu lawan ke lawan lain, dengan kecepatan angin topan. Terdengar dua jeritan yang membekukan darah, kemudian yang ketiga. Mereka jatuh seperti pohon tumbang, masing-masing terpotong di tengah badan. DI tangan kanan Musashi tergenggam pedang panjang, di tangan kirinya pedang pendek.

Sambil memekik ngeri, kedua orang yang terakhir membalikkan badan dan lari, dikejar oleh Musashi.

“Ke mana kalian lari?” pekik Musashi sambil membelah kepala salah seorang dari mereka dengan pedang pendek. Percikan darah hitam mengenai mata Musashi. Dengan gerak refleks ia angkat tangan kirinya ke depan, dan pada saat itu juga ia mendengar bunyi logam di belakangnya.

Ia ayunkan pedang panjang untuk menangkis benda itu, tetapi efeknya ternyata berlainan sekali dengan yang diinginkannya. Ia tercengkeram rasa panik, melihat bola dan rantai membelit pedangnya di dekat pelindung tangan. Ia telah lengah.

“Musashi!” teriak Baiken. Ia tarik kuat-kuat rantai itu. “Kau sudah lupa padaku?”

Sesaat Musashi menatapnya, lalu serunya, “Shishido Baiken dari Gunung Suzuka?”

“Betul. Saudaraku Temma yang memanggilmu dari lembah neraka. Ku­jamin, kau akan lekas sampai ke sana!”

Musashi tak dapat membebaskan pedangnya. Sedikit demi sedikit, Baiken meraih rantai dan bergerak mendekat, untuk menggunakan sabit yang setajam pisau cukur itu. Musashi mencari peluang untuk memegang pedang pendeknya, dan sadarlah ia seketika, bahwa kalau tadi ia berkelahi hanya dengan pedang pendek, pasti ia sudah sama sekali tanpa pertahanan seka­rang.

Leher Baiken membengkak sampai hampir sebesar kepalanya. Sambil berteriak genting, ia renggutkan rantai itu sekuat-kuatnya.

Musashi telah berbuat kesalahan. Ia tahu itu. Rantai-bola-sabit itu adalah senjata yang luar biasa, namun Musashi bukan tak kenal dengannya. Bebe­rapa tahun sebelumnya, ia pernah dibuat kagum, ketika pertama kali me­lihat senjata neraka itu di tangan istri Baiken. Tapi melihat senjata itu lain sekali dengan menghadapinya.

Baiken bermegah-megah kini. Ia menyeringai lebar dan jahat. Musashi tahu, tinggal satu kesempatan terbuka baginya: ia harus membebaskan pedang panjangnya. Dan ia mencari saat yang tepat.

Sambil melolong garang, Baiken melompat dan menyapukan sabitnya ke arah kepala Musashi. Serambut lagi, pasti sabit itu mengenai sasaran. Musashi berhasil melepaskan pedangnya, diiringi geraman keras. Baru saja sabit selesai ditarik, bola sudah datang mendesing di udara. Kemudian ganti sabit, bola, sabit….

Menghindari sabit berarti menempatkan diri langsung di arah gerak bola. Musashi tak dapat mendekat untuk melakukan pukulan. Dengan kalut ia bertanya pada diri sendiri, berapa lama ia dapat bertahan dengan cara demikian. “Jadi, begini ini rupanya?” tanyanya. Pertanyaan itu adalah per­tanyaan sadar, tapi karena ketegangan yang makin meningkat, tubuhnya jadi sukar dikendalikan, dan reaksinya jadi bersifat psikologis semata. Tidak hanya otot-ototnya, melainkan juga kulitnya kini hanya berkelahi secara naluriah. la begitu ketat memusatkan perhatian, hingga aliran keringat berminyak itu terhenti. Seluruh bulu tubuhnya tegak.

Terlambat sudah untuk lari ke balik pohon. Kalau sekarang ia lari ke sana, barangkali ia akan bertemu dengan musuh lain.

Terdengar olehnya suara teriakan yang jelas dan sayu, dan ia pun berpikir, “Hah? Iori?” la ingin melihat, walaupun dalam hatinya ia sudah merelakan anak itu.

“Mati kau! Bajingan!” Teriakan itu datang dari belakang Musashi. Ke­mudian, “Musashi, kenapa begitu lama? Saya sedang membereskan kutu di belakang ini.”

Musashi tidak mengenali suara itu, tapi kini ia merasa dapat memusatkan perhatian pada Baiken.

Bagi Baiken, faktor terpenting adalah jarak dengan lawan. Keunggulannya terletak dalam memanfaatkan panjangnya rantai. Kalau Musashi dapat bergerak satu kaki saja ke luar jangkauan rantai, atau menghampiri satu kaki saja lebih dekat, Baiken akan mengalami kesulitan. Ia harus berusaha sebaik-baiknya agar Musashi tidak melakukan kedua hat itu.

Musashi kagum akan teknik rahasia orang itu, tapi sambil kagum, tiba­tiba terpikir olehnya bahwa itulah prinsip dua pedang. Rantai menjadi panjang, bola berfungsi sebagai pedang kanan, sabit pedang kiri.

“Ya! Tentu!” serunya penuh kemenangan. “Itulah dia Gaya Yaegaki!” Dan dengan keyakinan akan menang, ia melompat mundur, membuat jarak dua meter dengan musuhnya. Ia pindahkan pedangnya ke tangan kanan, lalu ia lontarkan lurus ke depan, seperti anak panah.

Baiken berkelit dan pedang pun melesat, menghunjam ke akar sebatang pohon, tak jauh dari situ. Tapi ketika la berkelit, rantai membelit tubuhnya.

Belum lagi ia sempat berteriak, Musashi sudah mengempaskan seluruh berat tubuhnya ke atasnya. Baiken mengulurkan tangan sampai sejauh gagang pedangnya, tapi Musashi mematahkan usahanya dengan tetakan tajam ke atas pergelangannya. Sebagai kelanjutan gerakan tersebut, ia tarik senjata itu hingga membelah tubuh Baiken, seperti kilat membelah pohon. Sambil menurunkan pedang, ia berkelit sedikit.

“Sayang,” pikir Musashi. Menurut cerita orang kemudian, ia bahkan me­ngeluh iba, ketika penemu Gaya Yaegaki itu mengembuskan napas terakhir.

“Irisan karatake,” terdengar suara kagum. “Langsung menyusur tubuh. Tak beda dengan bambu dibelah. Ini pertama kali saya lihat.”

Musashi menoleh, katanya, “Oh, kalau tak salah… Gonnosuke dari Kiso. Apa kerja Anda di sini?”

“Lama tak jumpa, ya? Tentunya Dewa Mitsumine yang sudah mengatur, dan barangkali dengan bantuan ibu saya, yang sudah banyak mengajar saya sebelum meninggal.”

Mereka mulai mengobrol, tapi tiba-tiba Musashi berhenti bicara dan ber­seru, “Iori!”

“Dia baik-baik saja. Saya selamatkan dia dari si pendeta babi itu, ke­mudian saya suruh naik pohon.”

Iori, yang memperhatikan mereka dari cabang tinggi itu, hendak mulai berbicara, tapi tiba-tiba ia memayungi matanya dan memandang ke arah dataran kecil di ujung hutan. Kuro, yang terikat pada sebatang pohon, telah berhasil menggigit lengan kimono Oko. Oko mati-matian menyentakkannya. Dalam sekejap mata lengan kimono itu sobek, dan Oko lari.

Satu-satunya orang yang selamat, yaitu pendeta kedua itu, berjalan terpincang-pincang bertongkatkan lembing. Darah mengalir dari luka di kepalanya. Anjing yang barangkali sudah menggila oleh bau darah itu mulai ribut luar biasa. Sejenak suaranya terpantul ke sana kemari, tapi kemudian tali itu putus, dan anjing itu pun mengejar Oko. Sampai di dekat pendeta, si pendeta mengangkat lembing dan membidik kepala anjing itu. Kena lehernya, dan binatang itu lari masuk hutan.

“Perempuan itu lari,” teriak Iori.

“Tak apa-apa. Kau boleh turun sekarang.”

“Ada pendeta yang luka di sana. Apa tidak ditangkap?”

“Lupakan. Tak ada lagi artinya.”

“Perempuan itu barangkali orang dari Warung Teh Oinu itu,” kata Gonnosuke. Ia menjelaskan alasan kedatangannya, juga peristiwa kebetulan yang memungkinkan ia datang membantu Musashi.

Dengan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya, Musashi berkata, “Anda membunuh orang yang menembakkan senapan itu?”

“Tidak,” kata Gonnosuke, tersenyum. “Bukan saya, tapi tongkat saya. Saya tahu biasanya Anda dapat melayani orang-orang macam itu, tapi ka­rena mereka mulai menggunakan senapan, terpaksa saya bertindak. Jadi, saya datang kemari mendahului mereka dan menyelinap ke belakang orang itu, ketika hari masih gelap.”

Mereka memeriksa mayat-mayat itu. Tujuh orang terbunuh dengan tongkat, hanya lima yang dengan pedang. Musashi berkata, “Yang saya lakukan tadi tak lain dari mempertahankan diri. Daerah ini termasuk tempat suci. Saya rasa, saya mesti menjelaskan segala sesuatunya kepada pejabat pemerintah yang bertugas. Kemudian dia dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan membereskan peristiwa ini.”

Dalam perjalanan turun gunung, mereka berpapasan dengan kesatuan pejabat bersenjata di jembatan Kosaruzawa. Musashi menyampaikan lapor­annya. Kapten yang bertugas itu mendengarkan, agaknya dengan perasaan heran, namun ia perintahkan juga mengikat Musashi.

Musashi jadi terkejut, dan ia bertanya kenapa ia ditindak, padahal ia bermaksud melaporkan hal itu pada mereka.

“Jalan!” perintah kapten itu.

Musashi marah, karena diperlakukan sebagai penjahat biasa, tapi masih ada hal lain yang mengejutkan. Di bawah sana ternyata ada lebih banyak lagi pejabat. Ketika mereka sampai di kota, orang yang mengawalnya tak kurang jumlahnya dari seratus orang.

Sesama Murid

“AYOLAH, tak usah menangis lagi!” Gonnosuke mendekap Iori ke dadanya. “Kau lelaki, kan?”

“Justru karena saya lelaki… saya menangis.” Iori mengangkat kepalanya, membuka mulut lebar-lebar, dan menangis sambil menengadah.

“Bukan mereka yang menahan Musashi. Dia yang menyerahkan diri.” Kata-kata lunak Gonnosuke itu menyembunyikan keprihatinannya sendiri yang dalam. “Ayolah, kita pergi sekarang.”

“Tidak, sebelum mereka mengembalikan dia!”

“Tak lama lagi mereka akan melepaskannya. Harus! Apa kau mau kutinggalkan di sini sendirian?” Gonnosuke menjauh beberapa langkah.

Iori tak bergerak. Justru pada waktu itu anjing Baiken datang menyerbu dari dalam hutan, dengan moncong merah berdarah. “Tolong!” jerit Iori sambil berlari ke samping Gonnosuke.

“Kau capek, ya? Mau digendong?”

Iori dengan senang bergumam menyatakan terima kasih, lalu naik ke punggung yang ditawarkan kepadanya, dan mendekapkan kedua tangannya ke bahu yang lebar itu.

Habis pesta malam kemarin, para tamu pergi. Angin lembut meniupkan sisa-sisa bungkusan dari daun bambu dan carik-carik kertas di sepanjang jalanan sepi itu.

Lewat Warung Teh Oinu, Gonnosuke menoleh ke dalam, maksudnya hendak lewat saja, tanpa diperhatikan orang.

Tapi Iori berseru, “Itu perempuan yang lari tadi!”

“Aku bisa mengerti, mestinya memang dia di sini.” Gonnosuke berhenti, dan menyatakan keheranannya, “Kalau para pejabat bisa menyeret Musashi, kenapa mereka tidak menahan orang ini?”

Melihat Gonnosuke, mata Oko menyala-nyala karena marah.

Melihat perempuan itu terburu-buru mengumpulkan barang miliknya, Gonnosuke tertawa. “Mau bepergian, ya?” tanyanya.

“Bukan urusanmu. Jangan sangka aku tidak kenal kau, bajingan tukang campur tangan! Kau sudah membunuh suamiku!”

“Kalian sendiri penyebabnya.”

“Hari-hari ini juga kubalas kau.”

“Iblis perempuan!” seru Iori dari atas kepala Gonnosuke.

Sambil mengundurkan diri ke kamar belakang, Oko tertawa menghina,

“Apa kalian pikir kalian orang baik-baik, berani-berani mengata-ngatai aku? Kan kalian pencuri yang masuk gedung harta?”

“Apa?” Gonnosuke segera menurunkan Iori ke tanah, dan masuk ke dalam warung. “Siapa yang kausebut pencuri?”

“Tak bisa kau membohongi aku!”

“Katakan sekali lagi, dan…”

“Pencuri!’

Gonnosuke mencengkeram tangan Oko, tapi waktu itu juga Oko mem­balikkan badan dan menusukkan belati ke arahnya. Tanpa mengusik tongkat­nya, Gonnosuke mencoba merebut belati dari tangan Oko dan menyurukkan perempuan itu lewat pintu depan.

Oko cepat berdiri dan menjerit, “Tolong! Pencuri! Aku dikeroyok!”

Gonnosuke membidik, dan melontarkan belatinya. Menancap di punggung Oko, ujungnya menyembul di dada. Oko jatuh tertelungkup.

Entah dari mana datangnya, Kuro langsung muncul dan mengangkangi tubuh itu. Pertama, ia menghirup darahnya dengan lapar, kemudian meng­angkat kepala dan melolong ke langit.

“Lihat matanya itu!” seru Iori ngeri.

Teriakan Oko tadi sampai ke telinga orang-orang kampung yang sedang heboh. Sesaat sebelum fajar, memang ada orang menyerobot masuk gedung harta kuil. Jelas perbuatan itu dilakukan oleh orang luar, karena harta keagamaan seperti pedang-pedang tua, cermin, dan barang lain semacam itu tidak dijamah, sedangkan kekayaan dalam bentuk emas urai, emas lantakan, dan uang tunai yang disimpan bertahun-tahun lamanya, hilang. Berita itu lambat sekali bocornya, dan belum ditegaskan kebenarannya. Akibat jeritan Oko, yang sedemikian jauh merupakan bukti paling nyata itu, sungguh cepat.

“Itu mereka!”

“Dalam Warung Oinu!”

Teriakan-teriakan itu memikat lebih banyak lagi orang yang bersenjatakan bambu runcing, senapan babi hutan, tongkat, dan batu. Dalam sekejap mata saja seluruh kampung sudah mengepung warung teh itu dengan sikap haus darah.

Gonnosuke dan Iori lari dari pintu belakang, dan beberapa jam berikutnya berturut-turut mereka terusir dari persembunyian yang satu ke persembunyian yang lain. Tapi kini mereka mendapat kejelasan: Musashi ditahan bukan karena “kejahatan” yang akan diakuinya, melainkan karena pencurian. Baru sesudah sampai di Celah Shomaru mereka berhasil melepaskan diri dari rombongan pencari yang terakhir.

“Bapak dapat melihat Dataran Musashino dari sini,” kata Iori. “Ingin tahu juga rasanya, apa guru saya selamat.”

“Hmm. Kukira dia ada di penjara sekarang, dan sedang diperiksa.”

“Apa tak ada jalan menyelamatkan dia?”

“Harusnya ada.”

“Saya mohon, tolonglah.”

“Tak perlu kau memohon. Dia semacam guru juga buatku. Tapi, Iori, tak banyak yang bisa kaulakukan di sini. Apa kau bisa pulang sendiri?”

“Saya kira bisa, kalau memang terpaksa.” “Bagus.”

“Bapak sendiri bagaimana?”

“Aku akan kembali ke Chichibu. Kalau mereka menolak melepaskan Musashi, akan kukeluarkan dia, entah dengan cara bagaimana, biar mesti meruntuhkan penjara.” Untuk menekankan kata-katanya, ia hantamkan tongkatnya satu kali ke tanah. Iori sudah menyaksikan tenaga senjata itu, dan ia cepat mengangguk menyetujui. “Kau anak baik. Pulanglah dan urus segalanya, sampai aku membawa Musashi pulang dalam keadaan sehat tak kurang suatu apa.” Sambil mengepit tongkatnya, Gonnosuke berbalik menuju Chichibu.

Iori tidak merasa kesepian atau takut. Ia juga tidak kuatir akan tersesat. Tapi ia mengantuk bukan main. Sementara berjalan di bawah matahari panas itu, ia hampir tak dapat membuka matanya. Di Sakamoto, ia melihat patung Budha di tepi jalan, dan berbaringlah ia di bawah bayangannya.

Ketika sinar matahari sore makin menggelap, ia terbangun mendengar suara-suara pelan di sebelah patting. Karena merasa agak bersalah men­dengarkan percakapan orang, ia berpura-pura masih tidur.

Ada dua orang-yang satu duduk di atas tunggul potion, yang lain di atas batu. Tidak jauh dari situ, ada dua ekor kuda tertambat pada pohon, dengan peti-peti pernis tergantung di kedua sisi pelananya. Label kayu yang tertera pada salah satu peti itu bertuliskan: Dari Provinsi Shimotsuke. Untuk pembangunan lingkar barat. Leveransir Bahan Pernis untuk Shogun.

Bagi Iori, yang sekarang menoleh ke sekitar patung, kedua orang itu tidak mirip kawanan pejabat kuil yang makmur. Mata mereka terlalu tajam, dan tubuh mereka terlalu berotot. Yang lebih tua tampak tegap, umurnya lebih dari lima puluh tahun. Sinar matahari terakhir terpantul tajam dari topi yang menutupi kedua telinganya, dan topi itu menjorok ke depan, menutupi wajahnya.

Temannya seorang pemuda ramping dan kokoh, dengan jambul yang cocok untuk wajahnya yang kekanak-kanakan. Kepalanya tertutup sapu­tangan bercelup Suo dan diikatkan di bawah dagu.

“Bagaimana peti-peti pernis itu?” tanya yang muda. “Bagus juga, kan?”

“Ya, bagus. Orang bisa menduga kita ada hubungan dengan pekerjaan yang sedang berlangsung di kuil. Takkan terpikir olehku hal itu.”

“Terpaksa saya mengajarkan soal-soal ini pada Bapak, sedikit demi sedikit.”

“Hati-hati kau! Jangan menertawakan orang tua. Tapi siapa tahu? Barangkali dalam empat atau lima tahun, Daizo tua ini akan menerima perintah darimu!”

“Ya, orang muda tumbuh dewasa. Orang tua terus tambah tua, tak peduli berapa keras mereka berusaha untuk tetap muda.”

“Kaupikir, itu yang kulakukan?”

“Jelas, kan? Bapak selalu berpikir tentang umur Bapak, dan itu yang menyebabkan Bapak berusaha keras agar misi Bapak itu terlaksana.”

“Rupanya kau sudah betul-betul mengenal diriku.”

“Apa kita tidak berangkat?”

“Ya, jangan sampai keburu malam.”

“Saya tak mau sampai tertangkap.”

“Ha, ha. Kalau kau begitu cepat takut, kau tak bisa punya keyakinan penuh akan apa yang kaulakukan.”

“Saya belum lama terjun dalam urusan ini. Bunyi angin pun kadang-­kadang membuat saya gugup.”

“Itu karena kau masih berpikir tentang dirimu sebagai pencuri biasa. Kalau kau berpikir bahwa yang kaulakukan adalah untuk kebaikan negerimu, perasaanmu akan tenang.”

“Bapak selalu bilang begitu. Saya percaya pada Bapak, tapi ada yang selalu mengingatkan saya, bahwa yang saya lakukan ini tidak benar.”

“Kau mesti punya keberanian berpendirian!” Namun nasihat itu terdengar kurang meyakinkan, seakan-akan Daizo sedang meyakinkan dirinya sendiri.

Pemuda itu melompat ringan ke atas pelana, dan berjalan mendahului. “Bapak perhatikan saya,” serunya sambil menoleh ke belakang. “Kalau saya melihat apa-apa, akan saya beri isyarat.”

Jalan itu turun melandai ke selatan. Iori memperhatikan dari balik patung Budha sejenak, kemudian memutuskan untuk mengikuti mereka. Bagaimanapun, ia yakin mereka itulah pencuri-pencuri gedung harta.

Sekali-dua kali, mereka menoleh ke belakang dengan hati-hati. Karena merasa tak ada tanda-tanda bahaya, sebentar kemudian mereka sepertinya sudah tampak melupakan Iori. Tak lama sesudah itu, cahaya petang lenyap, dan keadaan pun jadi terlalu gelap, hingga susah melihat beberapa meter ke depan.

Kedua penunggang kuda hampir sampai ke ujung Dataran Musashino, ketika pemuda itu menuding dan berkata, “Nah, di sana Pak Kepala bisa melihat lampu Ogimachiya.” Jalanan jadi mendatar. Tidak berapa jauh di depan, tampak Sungai Iruma berkilauan seperti perak oleh sinar bulan, ber­kelok-kelok seperti obi yang tercecer.

Iori kini bersikap hati-hati, agar tetap tidak menjadi perhatian. Dugaannya bahwa orang-orang itu pencuri telah semakin besar, dan ia kenal segala sesuatu tentang bandit, semenjak ia tinggal di Hotengahara. Bandit adalah orang­-orang jahat yang tega berbuat aniaya hanya karena sebutir telur atau secuil buncis merah. Pembunuhan tanpa alasan bukanlah apa-apa bagi mereka.

Segera mereka masuk kota Ogimachiya. Daizo mengangkat satu tangannya dan berkata, “Jota, kita berhenti di sini buat makan. Kuda mesti diberi makan, dan aku ingin merokok.”

Mereka mengikatkan kuda di depan warung yang lampunya remang­remang, dan masuk. Jota menempatkan diri di dekat pintu, dan terns me­natapkan matanya ke peti-peti itu, selama ia makan. Begitu selesai, ia keluar dan memberi makan kudanya.

Ion masuk warung makanan di seberang jalan, dan ketika kedua orang itu berangkat lagi, ia sambar gumpalan terakhir nasinya, dan ia makan seraya berjalan.

Kedua orang itu kini berjalan berdampingan. Jalanan gelap, tapi rata. “Apa kau sudah kirim kurir ke Kiso, Jota?” “Ya, sudah.”

“Kapan kausebutkan waktunya?”

“Tengah malam. Kita mesti sampai di sana menurut jadwal.”

Di malam tenang itu, Iori cukup dapat menangkap percakapan mereka, hingga ia pun tahu bahwa Daizo memanggil temannya dengan nama anak-­anak, sedangkan Jota menyebut orang yang lebih tua itu dengan “Kepala”. Artinya tidak lain bahwa orang itu kepala gerombolannya. Tetapi, bagai­manapun, Iori mendapat kesan bahwa mereka itu bapak dan anak. Ini berarti mereka bukan sekadar bandit, melainkan bandit turunan, yang tidak dapat ia tangkap sendirian. Tapi kalau ia dapat menghampiri mereka cukup dekat, ia dapat melaporkan tempat mereka kepada pejabat.

Kota Kawagoe sedang tertidur lelap, tenang seperti rawa-rawa di tengah malam buta. Sesudah melewati baris-baris rumah yang sudah gelap, kedua penunggang kuda itu meninggalkan jalan raya dan mulai mendaki bukit. Sebuah tanda dari batu di bawah kuil menyatakan: Hutan Bukit Kuburan Kepala-di Atas.

Iori mendaki lewat semak-semak di sepanjang jalan setapak, dan sampal lebih dahulu di puncak. Di sana ada sebatang pohon pinus besar. Seekor kuda tertambat pada pohon itu. Tiga orang berpakaian ronin jongkok di bawah, dengan tangan dilipat di atas lutut. Mereka memandang penuh harapan ke arah jalan setapak.

Baru saja Iori menyembunyikan diri, salah seorang dari orang-orang itu menegakkan badan, katanya, “Itu Daizo.” Ketiga orang itu berlari ke depan, dan bertukar salam gembira dengan Daizo. Daizo dan sekongkolnya memang sudah hampir empat tahun lamanya tidak berjumpa.

Sebentar kemudian, mereka mulai bekerja. Atas petunjuk Daizo, mereka menggelindingkan sebuah batu besar ke sisi, dan mulai menggali. Tanah ditumpuk di satu sisi, sedangkan timbunan emas dan perak di sisi lain. Jota menurunkan peti-peti itu dari punggung kuda dan mengeluarkan isi­nya yang, seperti diduga Iori, terdiri atas harta Kuil Mitsumine yang hilang itu. Kalau ditambahkan pada simpanan sebelumnya, barang rampokan itu tentunya bernilai puluhan ribu ryo.

Barang logam berharga itu dituangkan ke dalam karung-karung jerami biasa, kemudian dimuatkan ke punggung tiga ekor kuda. Peti-peti pernis yang sudah kosong, bersama-sama barang lain yang sudah memenuhi tugasnya itu, dimasukkan ke dalam lubang. Tanah diratakan kembali, dan batu pun dikembalikan pada kedudukan semula.

“Cukuplah ini,” kata Daizo. “Sekarang waktunya merokok.” Ia duduk di samping pohon pinus dan mengeluarkan pipanya. Yang lain-lain mengibaskan pakaian dan menggabungkan diri dengannya.

Selama empat tahun melakukan apa yang dinamakan ziarah itu, Daizo telah menjelajahi Dataran Kanto secara menyeluruh. Hanya sedikit kuil atau tempat suci yang tidak memiliki piagam yang menyebutkan kederma­wanannya yang sudah tidak lagi menjadi rahasia. Namun aneh juga, tak seorang pun terpikir untuk menanyakan, bagaimana ia memperoleh seluruh uang itu.

Daizo, Jotaro, dan ketiga orang dari Kiso itu duduk melingkar sekitar satu jam lamanya, membicarakan rencana-rencana masa depan. Tak sangsi lagi, sekarang ini berbahaya bagi Daizo untuk kembali ke Edo, namun seorang dari mereka harus pergi ke sana. Dalam gudang di Shibaura ada emas yang mesti diambil dan dokumen-dokumen yang mesti dibakar. Dan ada yang mesti dilakukan untuk mengurus Akemi.

Tepat sebelum matahari terbit, Daizo dan ketiga orang itu mulai menuruni jalan raya Koshu, menuju Kiso. Jotaro berjalan kaki menuju arah berlawanan.

Bintang-bintang yang ditatap Iori tidak memberikan jawaban atas per­tanyaannya, “Siapa yang harus dikuntit?”

Di bawah langit musim gugur yang biru cerah, sinar tegas matahari petang seakan-akan tenggelam langsung ke dalam kulit Jotaro. Dengan kepala dipenuhi pikiran mengenai perannya di masa mendatang, ia me­langkah santai melintasi Dataran Musashino, seakan-akan dialah pemiliknya.

Sambil melontarkan pandang agak kuatir ke belakang, pikirnya, “Dia masih di sana.” Karena mengira anak lelaki itu ingin bicara dengannya, beberapa kali ia berhenti, tapi anak itu tidak berusaha menyusulnya.

Jotaro memutuskan untuk mengetahui apa yang sedang terjadi. Ia ber­sembunyi di balik serumpun elalia.

Sampai di bagian jalan tempat ia terakhir kali melihat Jotaro, mulailah Iori menoleh ke sekelilingnya dengan gelisah.

Sekonyong-konyong Jotaro berdiri dan berseru, “Hei, orang kerdil!”

Iori tergagap, tapi sekejap kemudian sudah pulih kembali. Karena merasa tak dapat meloloskan diri, ia berjalan terus dan bertanya acuh tak acuh. “Apa maumu?”

“Kau mengikuti aku, kan?”

“Tidak!” Ion menggelengkan kepala dengan sikap tak bersalah. “Aku mau pergi ke Juniso Nakano.”

“Bohong! Kau tadi mengikuti aku.”

“Aku tak mengerti apa yang kaubicarakan itu.” Iori mulai angkat kaki dan lari, tapi Jotaro menangkap belakang kimononya. “Katakan!”

“Tapi… aku… aku tidak tahu apa-apa!”

“Pembohong!” kata Jotaro sambil mengetatkan cengkeramannya. “Ada yang menyuruhmu mengikuti aku. Kau mata-mata.”

“Dan kau… kau pencuri jelek!”

“Apa?” pekik Jotaro dengan muka hampir menyentuh muka Iori.

Iori membungkukkan badan sampai hampir menyentuh tanah, bebas, dan lari.

Sejenak Jotaro ragu-ragu, tapi kemudian mengejarnya.

Iori membelok ke samping, dan dari situ terlihat olehnya atap lalang tersebar di sana-sini, seperti sarang lebah. Ia melintasi ladang yang ditumbuhi rumput musim gugur kemerahan. Beberapa timbunan tanah tempat tikus mondok tertendang olehnya.

“Tolong! Tolong! Pencuri!” teriak Iori.

Kampung kecil yang dimasukinya itu dihuni sejumlah keluarga yang bertugas memadamkan kebakaran di dataran itu. Iori dapat mendengar bunyi palu dan paron seorang pandai besi. Orang banyak datang berlarian dari dalam kandang dan rumah yang gelap. Di rumah-rumah itu bergantung buah kesemek dikeringkan. Sambil melambai-lambaikan tangan, Iori berteriak terengah-engah, “Orang yang pakai ikat kepala… dan mengejar saya… itu pencuri. Tangkap dia! Ayolah! … Oh, oh! Ini dia kemari!”

Orang-orang kampung menatap kebingungan, Sebagian memandang takut pada kedua pemuda itu, tapi Iori kecewa karena mereka tidak bergerak me­nangkap Jotaro.

Di tengah kampung, Iori berhenti karena sadar bahwa ternyata satu-­satunya yang mengganggu suasana damai itu adalah teriakannya. Kemudian ia berlari lagi, dan menemukan tempat untuk bersembunyi dan mengambil napas.

Jotaro pelan-pelan menenangkan diri, sampai akhirnya dapat kembali berjalan normal, sebagai orang yang bermartabat. Orang-orang kampung memperhatikannya tanpa mengatakan apa-apa. Ia memang tidak mirip perampok atau ronin yang bermaksud jahat. Sesungguhnya ia tampak seperti pemuda baik-baik, yang tak mungkin melakukan kejahatan.

Karena merasa muak bahwa orang-orang kampung-orang-orang dewasa itu tak hendak menindak pencuri, Iori memutuskan untuk segera kembali ke Nakano. Di sana, setidaknya ia dapat menyampaikan urusannya pada orang-orang yang dikenalnya.

Ia meninggalkan jalan, lalu memotong dataran. Begitu melihat rumpun kriptomeria di belakang rumah, berarti tinggal satu kilometer lagi jarak yang mesti ditempuhnya. Dengan perasaan puas, Ia ubah langkahnya, dari menderap jadi berlari penuh.

Tiba-tiba ia melihat jalannya dihalangi oleh seorang lelaki yang me­rentangkan kedua tangannya.

Tak sempat ia membayangkan, bagaimana Jotaro bisa mendahuluinya, tapi sekarang ia berada di daerah sendiri. Ia melompat mundur dan me­narik pedangnya.

“Bajingan!” pekiknya.

Jotaro menyerbu ke depan dengan tangan kosong dan menangkap kerah Iori, tapi anak itu berhasil membebaskan diri dan melompat sepuluh kaki ke samping.

“Bangsat!” gumam Jotaro, yang merasa darah hangat mengalir turun di tangan kanannya, oleh luka sepanjang lima sentimeter.

Iori mengambil jurus, dan memusatkan pikiran pada pelajaran yang dulu didengung-dengungkan Musashi kepadanya: Mata… Mata… Mata. Ke­kuatannya terpusat dalam kedua bola matanya. Keseluruhan dirinya seperti tersalur ke dalam sepasang matanya yang berapi-api.

Karena kalah beradu pandang, Jotaro menebaskan pedangnya sendiri. “Terpaksa aku membunuhmu!” gertaknya.

Kembali mendapat keberanian karena kemenangan yang baru didapatnya, Iori menyerang. Itulah serangan yang selalu dipergunakannya terhadap Musashi.

Jotaro terpaksa berpikir sekali lagi. Tadinya ia tak percaya Iori dapat mempergunakan pedang. Kini ia kerahkan seluruh kekuatannya untuk berkelahi. Demi kawan-kawannya, ia harus menyingkirkan anak yang suka campur tangan ini. Ia mendesak maju, agaknya tanpa memperhatikan serangan Iori, dan ia mengayunkan pedang dengan ganas, namun meleset.

Sesudah dua-tiga kali menangkis, Iori membalik, kemudian lari, berhenti, dan menyerang lagi. Apabila Jotaro menghadapinya, ia mundur lagi. Ia senang melihat taktiknya berhasil. Dengan cara itu, ia memikat lawan me­masuki wilayahnya.

Sambil beristirahat untuk menarik napas, Jotaro menoleh ke sekitar semak yang gelap, lalu berteriak, “Ke mana kau, bajingan bodoh?” Jawab­annya ternyata hujan dari pohon dan daun. Jotaro menegakkan kepala, dan berteriak, “Aku melihatmu!” sekalipun yang ia lihat di tengah dedaunan itu sebenarnya hanyalah sepasang bintang.

Jotaro memanjat ke arah bunyi gemeresik yang ditimbulkan Iori, ketika Iori berpindah tempat ke cabang lain. Sayang sekali, dari sana tak ada lagi jalan untuk lari.

“Kena kau sekarang! Lebih baik kau menyerah, kecuali kalau kau punya sayap. Kalau tidak, mati kau!”

Diam-diam Iori kembali ke sebuah titik percabangan dua batang, pelan, hati-hati. Ketika Jotaro menggapai untuk menangkapnya, kembali Iori berpindah tempat ke salah satu batang. Sambil menggeram, Jotaro menangkap sebuah cabang dengan kedua tangannya dan mengangkat badannya ke atas. Dengan demikian, ia memberikan kesempatan kepada Iori, kesempatan yang memang dinantikan anak itu. Dengan bunyi berderak, pedangnya menetak cabang yang digantungi Jotaro. Cabang itu patah, dan Jotaro jatuh terjerembap ke tanah.

“Bagaimana rasanya, pencuri?” tanya Iori dengan bangga.

Jotaro jatuh terhalang dahan-dahan di bawah, karena itu ia tidak terluka parah, hanya terluka harga dirinya. Ia memaki-maki dan mulai memanjat lagi, kali ini dengan kecepatan seekor macan tutul. Sampai di kaki Iori lagi, Iori menebaskan pedangnya ke sana kemari, agar Jotaro tidak sempat mendekat.

Sementara mereka terkunci dalam jalan buntu, nada-nada sendu shakuhachi terdengar oleh telinga mereka. Sesaat mereka berdua berhenti dan men­dengarkan.

Kemudian Jotaro memutuskan untuk mencoba bicara baik-baik dengan lawannya. “Baiklah,” katanya, “kau sudah menunjukkan kemampuan berke­lahi lebih baik dari yang kuduga. Aku kagum padamu. Kalau kau me­ngatakan siapa yang memerintahkanmu mengikutiku, akan kulepaskan kau.”

“Akui, kau kalah!”

“Kau gila, ya?”

“Mungkin saja aku belum besar, tapi namaku Misawa Iori, satu-satunya murid Miyamoto Musashi. Minta belas kasihan itu hinaan buat nama baik guruku. Menyerahlah kau!”

“A-apa?” tanya Jotaro tak percaya. “K-katakan itu sekali lagi!” suaranya nyaring dan tidak mantap.

“Dengar baik-baik,” kata Iori bangga. “Aku Misawa Iori, satu-satunya murid Miyamoto Musashi. Apa itu membuatmu heran?”

Jotaro kini bersedia mengakui kekalahan. Dengan rasa sangsi, bercampur ingin tahu, ia bertanya, “Bagaimana guruku itu? Apa dia baik-baik saja? Di mana dia?”

Dengan kaget Iori menjawab, namun tetap menjaga jarak dari Jotaro, yang sementara itu terus mendekat. “Ha! Sensei tak akan punya murid seorang pencuri.”

“Jangan sebut aku pencuri. Apa Musashi tak pernah menyebut Jotaro?”

“Jotaro?”

“Kalau kau betul-betul murid Musashi, pasti kau pernah mendengar dia menyebut namaku sekali-sekali. Aku seumurmu waktu itu.”

“Bohong!”

“Tidak bohong! Betul!”

Penuh dengan rasa nostalgia, Jotaro mengulurkan tangan kepada Iori, dan mencoba menjelaskan bahwa mereka berdua mesti bersahabat, karena mereka murid dari guru yang sama. Namun Iori tetap bersikap waspada, dan melayangkan pukulan ke arah rusuk Jotaro.

Karena terjepit antara dua dahan, hampir Jotaro tak berhasil menceng­keramkan tangannya ke pergelangan Iori. Entah karena apa, Iori melepaskan cabang yang selama itu dipegangnya. Mereka pun jatuh bersama, satu di atas yang lain, dan kedua-duanya pingsan.

Cahaya di rumah baru Musashi itu tampak dari segala jurusan, karena sekalipun atapnya sudah terpasang, dinding-dindingnya belum dibuat.

Takuan datang sehari sebelumnya, untuk melakukan kunjungan seusai badai, dan ia memutuskan untuk menanti kembalinya Musashi. Tepat malam tadi, kenikmatan yang diperolehnya dari lingkungan sepi itu diganggu oleh seorang pendeta pengemis yang minta air panas untuk makan malam.

Pendeta tua itu makan kue berasnya yang sederhana, lalu mulai bermain shakuhachi untuk Takuan. Dengan gerak tertegun-tegun dan gaya amatiran, ia mainkan alat itu dengan jari-jarinya. Mendengar permainannya, Takuan merasa bahwa musik yang didengarnya itu mengandung nada-nada murni, sekalipun terdengar juga nada-nada klise, seperti sering terungkap dalam sajak orang-orang yang bukan penyair. Ia merasa juga, bahwa ia dapat menangkap emosi yang hendak dinyatakan oleh si pemain dengan alatnya. Musik itu murung. Dari nada sumbang yang pertama sampai yang terakhir, terasa lolongan penyesalan.

Terasa oleh Takuan, semua itu seperti cerita tentang kehidupan orang itu sendiri, dan ia bayangkan bahwa cerita itu tentunya tidak jauh berbeda dari hidupnya sendiri. Besar atau kecil seseorang, tidak banyak beda pengalaman hidup rohaninya. Perbedaannya hanyalah bagaimana masing-masing dari mereka menangani kelemahan-kelemahan manusia yang umum sifatnya. Bagi Takuan, ia dan orang lain itu pada dasarnya hanyalah seikat khayal yang terbungkus daging manusia.

“Saya yakin pernah melihat Anda, entah di mana,” gumam Takuan me­renung.

Pendeta itu mengedip-ngedipkan matanya yang hampir tak melihat, dan katanya, “Sesudah Anda mengucapkan kata itu, saya jadi kenal suara Anda. Bukankah Anda Takuan Soho dari Tajima?”

Ingatan Takuan menjadi terang kini. Sambil mendekaikan lampu ke wajah orang itu, katanya, “Anda Aoki Tanzaemon, kan:

“Kalau begitu, Anda betul Takuan. Oh, alangkah ingin saya merangkak ke dalam lubang, dan menyembunyikan diri saya yang celaka ini.”

“Aneh sekali, kita berjumpa di tempat semacam ini. Sudah hampir sepuluh tahun berlalu, sejak peristiwa di Kuil Shippoji itu, kan?”

“Oh, menggigil saya, kalau memikirkan masa itu.” Kemudian katanya kaku, “Sesudah menjadi pengembara dalam kegelapan, onggokan tulang sial ini hanya punya satu penunjang semangat hidupnya, yaitu kenangan akan anak.”

“Anda punya anak?”

“Orang bilang, anak saya hidup bersama orang yang diikat pada pohon kriptomeria tua dulu itu. Takezo namanya, kan? Saya dengar namanya sekarang Miyamoto Musashi. Kata orang, keduanya pergi ke timur.”

“Maksud Anda, anak Anda itu murid Musashi?”

“Begitulah kata orang. Saya malu sekali. Tak mungkin saya menghadapi Musashi, karena itu saya putuskan untuk menghilangkan saja anak itu dari pikiran saya. Tapi… ah, umurnya sudah tujuh belas tahun sekarang. Sekiranya saya dapat melihatnya sekali saja, dan tahu akan menjadi orang macam apa dia nanti, siaplah dan maulah saya mati.”

“Jadi, Jotaro itu anak Anda? Saya tidak tahu,” kata Takuan.

Tanzaemon mengangguk. Tak ada tanda-tanda pada tubuhnya yang mengeriput itu, bahwa ia kapten angkuh yang bernafsu terhadap Otsu dulu. Takuan memandangnya dengan perasaan iba, dan sedih melihat Tanzaemon yang demikian tersiksa oleh kesalahannya sendiri.

Sekalipun mengenakan pakaian pendeta, orang itu jelas tidak mendapatkan ketenangan dalam keyakinan keagamaan, maka Takuan memutuskan langkah pertama yang harus diambilnya adalah menghadapkan pendeta itu kepada Budha Amida, yang dengan keampunan tanpa batas dapat menyelamatkan mereka yang telah bersalah melakukan sepuluh tindak kejahatan dan lima dosa tak berampun. Sesudah ia sembuh dari rasa putus asanya, masih akan cukup waktu untuk mencari Jotaro.

Takuan memberikan kepadanya nama sebuah kuil Zen di Edo. “Kalau Anda katakan pada mereka bahwa saya yang mengirim Anda ke sana, mereka akan mengizinkan Anda tinggal di sana berapa lama pun Anda suka. Begitu ada waktu nanti, saya akan datang, dan kita akan berbicara panjang-lebar. Saya dapat menduga di mana anak Anda berada. Akan saya usahakan sebisa-bisanya agar Anda dapat bertemu dengannya tidak lama lagi. Sementara itu, tinggalkan pengembaraan Anda. Sesudah berumur lima puluh atau enam puluh tahun pun, orang masih bisa mengenal kebahagiaan, bahkan juga melakukan kerja yang bermanfaat. Anda bisa hidup bertahun­tahun lagi. Bicarakan soal ini dengan pendeta-pendeta di sana, kalau Anda sampai di kuil itu.”

Takuan mengusir Tanzaemon ke luar pintu, tanpa banyak upacara dan rasa simpati, tapi Tanzaemon rupanya menghargai sikapnya yang tanpa perasaan itu. Sesudah beberapa kali membungkuk sebagai tanda terima kasih, ia memungut topi buluh dan shakuhachi-nya, lalu pergi.

Karena takut tergelincir, Tanzaemon memilih jalan lewat hutan, di mana jalan setapak lebih melandai. Akhirnya tongkatnya menyinggung suatu rintangan. Ketika ia meraba-raba dengan kedua tangannya, terkejutlah ia menepuk dua tubuh yang terbaring tak bergerak-gerak di tanah lembap itu.

Ia lekas-lekas kembali ke pondok tadi. “Takuan! Apa Anda bisa membantu saya? Saya menemukan dua anak lelaki pingsan di hutan.” Takuan bangkit dan pergi ke luar. Sambung Tanzaemon, “Saya tidak bawa obat, dan penglihatan saya tidak begitu baik untuk mengambilkan mereka air.”

Takuan mengenakan sandalnya dan berseru ke arah dasar bukit. Suaranya mengalun lepas. Seorang petani menjawab dan bertanya kepadanya, apa yang dikehendakinya. Takuan minta ia membawa obor, juga beberapa orang lelaki dan sedikit air. Sambil menanti, ia menyatakan pada Tanzaemon bahwa jalan itu adalah jalan yang sebaik-baiknya untuk ditempuh. la lukiskan jalan itu dengan terperinci, dan ia anjurkan Tanzaemon jalan terus. Di tengah jalan menuruni bukit, Tanzaemon berpapasan dengan orang-orang yang naik.

Ketika Takuan tiba dengan petani itu, Jotaro sudah tersadar dan duduk di bawah pohon, tampaknya bingung. Sebelah tangannya terletak di atas tangan Iori, dan ia bimbang: menyadarkan Iori dan mencoba mengetahui apa yang dikehendakinya, ataukah pergi dart sana? Melihat obor datang, ia bereaksi seperti binatang malam, menegangkan otot-otot, siap untuk lari.

“Apa yang terjadi di sini?” tanya Takuan. la memperhatikan segalanya lebih teliti, dan minatnya yang bercampur rasa ingin tahu berubah menjadi sikap heran, sama seperti Jotaro. Anak muda itu jauh lebih tinggi dari anak yang pernah dikenal Takuan, dan wajahnya berubah sedikit.

“Kau Jotaro, kan?”

Pemuda itu meletakkan kedua tangannya ke tanah, membungkuk. “Betul,” katanya tertegun, hampir-hampir dengan sikap takut. Ia mengenal Takuan seketika itu juga.

“Oh, kau memang sudah tumbuh menjadi pemuda tampan.” Sambil mengalihkan perhatian kepada Iori, Takuan merangkulnya dan memastikan bahwa anak,itu masih hidup.

Iori sadar kembali. Sesudah menoleh sekeliling beberapa detik lamanya dengan keheranan, ia pun menangis.

“Ada apa?” tanya Takuan dengan nada menghibur. “Apa kau luka?”

Iori menggelengkan kepala, menangis, “Saya tidak luka. Tapi mereka membawa guru saya. Dia di penjara Chichibu sekarang.” Karena tangisnya itu, sukar Takuan menangkap maksud kata-katanya, tapi kemudian ceritanya pun menjadi jelas. Sadar akan seriusnya keadaan itu, Takuan jadi hampir sama sedihnya dengan Iori.

Jotaro pun sangat gelisah. Dengan suara bergetar, katanya tiba-tiba, “Pak Takuan, ada yang hendak saya sampaikan pada Bapak. Apa kita bisa pergi ke tempat lain untuk bicara?”

“Dialah salah seorang pencuri itu,” kata Iori. “Bapak jangan percaya dia. Apa saja yang dikatakannya pasti bohong.” Ia menunjuk Jotaro dengan nada menuduh, dan mereka saling tatap.

“Diam kalian berdua! Biar kuputuskan siapa yang benar dan siapa yang salah.” Takuan membawa mereka kembali ke rumah, dan memerintahkan mereka membuat api di luar.

Takuan duduk di samping api, dan ia perintahkan mereka untuk berbuat demikian juga. Iori ragu-ragu. Air mukanya jelas-jelas menyatakan bahwa ia tak ingin bersahabat dengan pencuri. Tapi, melihat Takuan dan Jotaro berbicara akrab mengenai masa lalu, ia merasa iri, dan sambil menggerutu mengambil tempat duduk di dekat mereka.

Jotaro merendahkan suaranya, dan seperti perempuan yang sedang meng­aku dosa kepada sang Budha, ia menjadi sangat sungguh-sungguh.

“Selama empat tahun ini saya menerima latihan dari orang bernama Daizo. Dia berasal dari Narai di Kiso. Saya sudah tahu apa yang menjadi keinginannya, dan apa yang dia kehendaki untuk dunia ini. Kalau perlu, saya bersedia mati untuk dia. Itu sebabnya saya mencoba membantu pekerjaannya… Yah, memang sakit disebut pencuri, tapi saya masih menjadi murid Musashi. Biarpun saya terpisah darinya, dalam semangat saya tak pernah terpisah, sehari pun tidak.”

Ia bicara terus dengan tergesa-gesa, tak mau menanti diberi pertanyaan. “Daizo dan saya sudah bersumpah kepada dewa-dewa di langit dan di bumi, tidak akan mengatakan pada orang lain, apa tujuan hidup kami. Kepada Bapak pun tak dapat saya sampaikan. Tapi saya tak bisa tinggal diam kalau Musashi dijebloskan dalam penjara. Saya akan pergi ke Chichibu besok, dan mengaku.”

Takuan berkata, “Jadi, kamu dan Daizo yang merampok gedung harta itu.”

“Ya,” jawab Jotaro tanpa sedikit pun nada bersalah.

“Kalau begitu, kau memang pencuri,” kata Takuan.

Jotaro menundukkan kepala untuk menghindari mata Takuan.

“Tidak… tidak,” gumamnya tertegun-tegun. “Kami bukan pencuri biasa.”

“Aku tidak tahu bahwa pencuri ada macam-macam jenisnya.”

“Tapi, maksud saya, kami lakukan ini bukan untuk keuntungan sendiri. Kami lakukan semua ini untuk orang banyak. Soalnya adalah memindahkan kekayaan umum untuk kepentingan umum.”

“Aku tak mengerti jalan pikiran macam itu. Maksudmu, perampokan yang kalian lakukan itu kejahatan yang bisa dibenarkan? Maksudmu, kalian ini sejenis pahlawan bandit dalam novel-novel Cina? Kalau memang demi­kian, sungguh tiruan yang jelek!”

“Tak bisa saya menjawab pertanyaan itu tanpa membuka persetujuan rahasia dengan Daizo.”

“Ha, ha. Jadi, kau tak mau mengakui dirimu ditipu, kan?”

“Tak peduli saya, apa yang Bapak katakan. Saya akan mengaku, cuma untuk menyelamatkan Musashi. Saya harap Bapak menyatakan hal yang baik tentang saya kepadanya nanti.”

“Aku takkan dapat menemukan kata yang baik untuk disampaikan. Musashi tidak bersalah. Kau mengaku atau tidak, dia akan bebas juga. Menurutku, jauh lebih baik bagimu datang kepada sang Budha. Gunakan diriku sebagai perantara, dan akui segalanya kepadanya.”

“Budha?”

“Betul. Katamu kau melakukan sesuatu yang besar untuk kepentingan orang lain. Jadi, kau menempatkan dirimu di hadapan orang lain. Apa tak terpikir olehmu bahwa kau mengakibatkan sejumlah orang tidak bahagia?”

“Orang tak mungkin memikirkan dirinya, kalau dia bekerja demi masyarakat.”

“Tolol!” Takuan memukul pipi Jotaro keras-keras dengan tinjunya. “Diri seseorang itu adalah dasar segalanya. Setiap tindakan adalah ungkapan diri seseorang. Orang yang tidak kenal dirinya tak dapat melakukan apa pun buat orang lain.”

“Maksud saya… saya bertindak bukan buat memuaskan keinginan saya sendiri.”

“Tutup mulut! Apa kau tidak lihat, dirimu itu baru saja dewasa? Tak ada yang lebih mengerikan daripada orang sok pahlawan yang baru setengah matang, yang tak tahu apa-apa tentang dunia ini, tapi berani mengatakan pada dunia apa yang baik untuk dunia itu. Tak perlu lagi kau bercerita tentang apa yang kau dan Daizo lakukan. Aku mendapat gagasan yang sangat bagus… Apa yang kautangiskan? Buang ingusmu itu!”

Jotaro diperintahkan pergi tidur, dan dengan patuhnya ia membaringkan diri, tapi la tak dapat tidur karena memikirkan Musashi. Ia tangkupkan kedua tangannya di dada, dan diam-diam ia memohon pengampunan. Air mata mengalir masuk telinganya. Ia miringkan badan, dan mulailah ia memikirkan Otsu. Pipinya terasa sakit, tapi air mata Otsu tentulah lebih menyakitkan lagi. Namun membukakan janji rahasianya kepada Daizo tidaklah mungkin baginya, sekalipun Takuan akan mencoba mengoreknya dari dirinya pagi nanti. Hal itu ia yakini benar.

Ia berdiri tanpa bersuara, kemudian pergi ke luar, memandang bintang­-bintang. Ia mesti cepat bertindak. Malam hampir lewat.

“Berhenti!” Suara itu membuat Jotaro berdiri mematung di tempatnya. Di belakang menyusul bayangan Takuan yang sangat besar.

Pendeta itu datang ke sisinya dan merangkulnya. “Apa kau bertekad pergi mengaku?”

Jotaro mengangguk.

“Perbuatan yang tidak begitu pintar!” kata Takuan dengan nada bersimpati. “Kau bisa mati seperti anjing. Rupanya kau mengira kalau kau menyerahkan diri, Musashi akan dilepaskan, padahal soalnya tidak sesederhana itu. Pejabat-pejabat itu akan tetap menahan Musashi di penjara, sampai kau menceritakan semuanya yang kausembunyikan dariku. Dan kau… kau akan disiksa sampai kau bicara, tak peduli akan makan waktu setahun, dua tahun, atau lebih.”

Jotaro menundukkan kepala.

“Apa kau ingin mati seperti anjing? Kau tak punya pilihan lain sekarang: kau mengakui segalanya dengan siksaan, atau kau menceritakan segalanya padaku. Sebagai murid sang Budha, aku takkan ikut mengadili. Aku akan menyampaikannya kepada Amida.”

Jotaro tidak mengatakan apa-apa.

“Tapi ada cara lain lagi. Kebetulan sekali semalam aku bertemu ayahmu. Dia sekarang menjadi pendeta pengemis. Tentu saja aku tak menyangka kau ada di sini juga. Kusuruh dia pergi ke kuil di Edo. Kalau kau sudah mantap untuk mati, sebaiknya kau menjumpai dia dulu. Dan kalau ber­temu dengannya, kau dapat bertanya padanya, apakah tidak betul pendapatku ini.

“Jotaro, ada tiga jalan terbuka buatmu. Kau mesti memilih sendiri, yang mana akan kautempuh.” Takuan membalikkan badan, dan kembali masuk ke rumah.

Sadarlah Jotaro bahwa shakuhachi yang didengarnya kemarin malam itu tentu shakuhachi ayahnya. Tanpa diberitahu, ia dapat membayangkan sendiri wajah dan perasaan ayahnya, sementara ia mengembara dari tempat yang satu ke tempat lain.

“Takuan, tunggu! Saya akan bicara. Akan saya sampaikan semuanya kepada sang Budha, termasuk janji saya pada Daizo.” Jotaro mencengkeram lengan baju pendeta itu, dan keduanya masuk ke dalam belukar.

Jotaro mengaku dalam bentuk monolog panjang. Tak ada yag dilewat­kannya. Takuan tak bergerak ataupun berbicara.

“Hanya itu,” kata Jotaro.

“Sudah semuanya?”

“Sudah semuanya.”

“Bagus.”

Takuan tetap diam, sampai satu jam penuh. Fajar merekah. Burung gagak mulai berkaok-kaok. Embun berkilauan di mana-mana. Takuan duduk di pangkal pohon kriptomeria. Jotaro menyandarkan diri ke pohon lain dengan kepala tertunduk, menanti makian yang pasti datang.

Ketika akhirnya Takuan berbicara, tampak ia tak ragu lagi, “Mesti kukatakan, kau sudah terlibat dengan orang-orang yang bukan main! Semoga Tuhan membantu mereka. Mereka tak mengerti, ke mana arah dunia berputar. Baik sekali kau sudah menceritakannya sebelum keadaan menjadi lebih buruk.” Ia merogohkan tangan ke dalam kimono. Meng­herankan juga, dari situ la mengeluarkan dua keping uang emas dan mem­berikannya pada Jotaro. “Lebih baik kau pergi selekas-lekasnya. Sedikit saja tertunda, bisa mendatangkan bencana, tidak hanya buat dirimu, tapi juga buat ayahmu dan gurumu. Pergilah sejauh-jauhnya, tapi jangan mendekati jalan raya Koshu atau Nakasendo. Tengah hari ini mereka melakukan pemeriksaan ketat pada semua orang yang lewat.”

“Apa yang akan terjadi dengan Sensei nanti? Tak bisa saya pergi me­ninggalkan dia di tempatnya sekarang.”

“Serahkan padaku. Setahun-dua tahun lagi, kalau segalanya mereda, kau bisa datang bertemu dengannya, meminta maaf. Waktu itulah akan kusam­paikan berita baik buatmu.”

“Selamat tinggal.”

“Tunggu sebentar.”

Ya?”

“Pergilah ke Edo dulu. Di Azabu ada kuil Zen bernama Shojuan. Ayah­mu mestinya di sana sekarang. Bawa materai yang kuterima dari Daitokuji ini. Mereka akan tahu, ini milikku. Minta untuk dirimu dan ayahmu topi dan pakaian pendeta, juga surat-surat kepercayaan yang diperlukan. Sudah itu, kau dapat berjalan dengan menyamar.”

“Kenapa saya mesti pura-pura jadi pendeta?”

“Kau benar-benar bodoh, ya? Dengar, sahabat muda yang konyol, kau ini agen suatu kelompok yang punya rencana membunuh shogun, membakar benteng di Suruga, mengacaukan seluruh daerah Kanto, dan mengambil alih pemerintahan. Singkatnya, kau ini seorang pengkhianat. Kalau kau tertangkap, hukuman yang pasti adalah mati digantung.”

Jotaro ternganga.

“Sekarang pergilah!”

“Boleh saya mengajukan pertanyaan? Kenapa orang yang hendak meng­gulingkan Keluarga Tokugawa mesti dianggap pengkhianat? Kenapa orang-­orang yang sudah menggulingkan Keluarga Toyotomi dan merebut kekuasaan atas negeri ini bukan pengkhianat?”

“Jangan tanya aku,” jawab Takuan dengan pandangan dingin.

Buah Delima

TAKUAN dan Iori tiba di tempat semayam Yang Dipertuan Hoko Ujikatsu di Ushigome, hari itu juga. Seorang abdi muda yang bertugas di pintu gerbang menyampaikan kedatangan Takuan, dan beberapa menit kemudian Shinzo keluar.

“Ayah saya sedang di Benteng Edo,” kata Shinzo. “Apa tak ingin Anda masuk dan menunggu?”

“Di benteng?” tanya Takuan. “Kalau begitu saya terus saja, karena itulah tujuan saya. Bagaimana kalau saya tinggalkan Iori ini pada Anda?”

“Boleh saja,” jawab Shinzo, disertai senyuman dan pandangan cepat ke arah Iori. “Boleh saya pesankan joli untuk Anda?”

“Kalau tidak keberatan.”

Baru saja joli berpernis itu hilang dari pandangan, Iori sudah berada di kandang kuda, memperhatikan satu demi satu kuda-kuda cokelat dan kelabu berbintik-bintik yang terpelihara baik, milik Yang Dipertuan Ujikatsu. la terutama mengagumi wajah kuda-kuda itu. Menurut pendapatnya, wajah kuda-kuda itu jauh lebih bangsawan daripada wajah kuda-kuda kerja para kenalannya. Namun di sini tersembunyi tanda tanya besar; bagaimana mungkin golongan prajurit menyimpan kuda dalam jumlah besar, dan semua kuda itu hanya menganggur, dan tidak digunakan untuk kerja di ladang?

Baru saja ia mulai membayangkan tentara berkuda berbaris menuju per­tempuran, suara Shinzo yang keras mengalihkan perhatiannya. Ia memandang ke arah rumah, dengan dugaan akan dicaci maki, tapi ternyata terlihat olehnya bahwa sasaran kemarahan Shinzo adalah seorang perempuan tua kurus yang bertongkat, dan wajahnya tampak keras kepala.

“Pura-pura keluar?” teriak Shinzo. “Buat apa ayah saya berpura-pura pada seorang perempuan tua yang jelek dan tak dikenalnya?”

“Oh, jadi Anda marah?” kata Osugi, menyindir tajam. “Kalau tak salah. Anda anak Yang Dipertuan. Apa Anda tahu, berapa kali sudah saya datang kemari untuk bertemu ayah Anda? Percayalah, bukan hanya beberapa kali, tapi tiap kali saya diberitahu dia pergi!”

Shinzo sedikit bingung, tapi katanya, “Tak peduli sudah berapa kali Nyonya datang. Ayah saya tak suka menerima tamu. Kalau dia tak suka menemui Nyonya, kenapa pula Nyonya terus datang?”

Tanpa rasa takut, Osugi mengoceh, “Tak suka menerima tamu! Kalau begitu, kenapa dia hidup di tengah orang banyak?” Dan ia menyeringai.

Terpikir oleh Shinzo untuk memaki-maki perempuan itu, dan memberikan kesempatan padanya mendengar detak pedang dilepas dari sarungnya, tapi ia tak ingin memperlihatkan kemarahan yang tidak pada tempatnya, lagi pula ia tak yakin sikap itu akan mencapai sasaran.

“Ayah saya tak ada di sini,” katanya dengan nada biasa. “Bagaimana kalau Nyonya duduk di sini, dan menceritakan apa persoalannya?”

“Yah, saya pikir akan saya terima tawaran Anda yang baik itu. Sudah jauh saya berjalan, dan kaki saya sudah lelah.” Ia duduk di ujung tangga dan mulai menggosok-gosok lututnya. “Karena Anda bicara lembut pada saya, saya jadi malu telah bicara keras. Nah, tolong sampaikan apa yang akan saya katakan pada ayah Anda, kalau dia pulang nanti.”

“Dengan senang hati akan saya sampaikan.”

“Saya datang untuk menceritakan kepadanya soal Miyamoto Musashi.”

Dengan wajah bertanya-tanya, Shinzo berkata, “Ada apa dengannya?”

“Tidak, saya hanya ingin ayah Anda tahu, orang macam apa dia itu. Ketika berumur tujuh belas tahun, Musashi pergi ke Sekigahara dan ikut bertempur melawan orang Tokugawa. Melawan orang Tokugawa! Tuan dengar itu? Dan lebih dari itu, dia sudah melakukan banyak kejahatan di Mimasaka, sampai tak seorang pun di sana bicara baik tentangnya. Dia sudah membunuh beberapa orang, dan dia melarikan diri dari saya bertahun­-tahun lamanya, karena itu saya berusaha membalas dendam kepadanya, yang memang menjadi hak sava. Musashi itu gelandangan yang tak ada gunanya, dan dia berbahava!”

“Tunggu…”

“Tidak, Anda dengarlah dulu! Musashi itu main-main dengan perempuan yang menjadi tunangan anak sava. Dia mencuri tunangan anak saya itu dan lari dengannya.”

“Berhenti dulu,” kata Shinzo, mengangkat satu tangan sebagai protes. “Buat apa Nyonya berkata begitu tentang Musashi?”‘

“Saya lakukan ini untuk kepentingan negeri ini,” kata Osugi puas diri.

“Apa gunanya memfitnah Musashi buat negeri ini?”

Osugi membenahi dirinya kembali, katanya, ‘Saya dengar bajingan berlidah licin itu akan segera ditunjuk menjadi instruktur keluarga shogun.”

“Di mana Nyonya dengar itu?”

“Dari seorang lelaki di dojo Ono. Saya dengar dengan telinga saya sendiri.”

“Begitu?”

“Babi macam Musashi itu tidak boleh dibiarkan ada dekat shogun, apalagi ditunjuk jadi guru. Guru Keluarga Tokugawa berarti guru seluruh bangsa. Memikirkan hal itu saja saya sudah muak. Saya ada di sini buat memperingatkan Yang Dipertuan Hojo, karena saya dengar dia yang meng­usulkan Musashi. Anda mengerti sekarang?” Ia mengisap air liur dari sudut­-sudut mulutnya, dan lanjutnya, “Memperingatkan ayah Anda itu saya yakin balk buat negeri ini. Dan ada baiknya saya peringatkan Anda juga. Hati-­hatilah, supaya Anda tidak terkecoh mulut manis Musashi.”

Karena takut Osugi akan terus bicara seperti itu berjam-jam lamanva. Shinzo mengerahkan kesabarannya yang terakhir, kemudian menarik napas berat, dan katanya, “Terima kasih. Saya mengerti maksud Nyonya. Akan saya sampaikan semua itu pada ayah saya.”

“Ya, tolonglah sampaikan!”

Dengan wajah puas, karena akhirnya mencapai tujuan yang diidam­idamkan, Osugi pun bangkit dan menuju pintu gerbang dengan sandalnya yang mendetap-detap di jalan.

“Perempuan tua jelek kotor!” terdengar teriakan kekanak-kanakan.

Osugi terperanjat, dan langsung menyalak, “Apa?… Apa?” sambil menoleiu ke sekitar, hingga akhirnya ia melihat Iori di antara pepohonan, sedang menyeringai seperti kuda.

“Makan ini!” seru Iori, dan melemparkan buah delima ke Osugi. Buah itu begitu keras menghantamnva, hingga pecah.

“Ow-w-w!” jerit Osugi, mencengkeram dadanya.

Ia membungkuk memungut benda itu, untuk dilemparkan pada Iori. tapi Iori sudah lari dan tidak kelihatan lagi. Kini Osugi lari ke kandang. Baru saja ia memandang ke dalam, seonggok tahi kuda yang masih lunak tepat menimpa wajahnya.

Sambil menggerutu dan meludah, ia hapus kotoran itu dari mukanva dengan jari-jarinya. Air matanya mulai mengalir. Sungguh menyedihkan bahwa sesudah menjelajahi negeri untuk kepentingan anaknya, akhirnva beginilah kesudahannya!

Iori memperhatikan dari jarak yang cukup aman, di belakang sebatang pohon. Melihat Osugi menangis seperti anak kecil, tiba-tiba ia merasa malu sekali pada dirinya. Ia setengah ingin pergi meminta maaf kepada Osugi. sebelum Osugi keluar pintu gerbang, tapi rasa marah mendengar perempuan itu memfitnah Musashi belum lagi reda. Ia berdiri saja beberapa waktu lamanya, sambil menggigit kuku, terombang-ambing antara rasa kasihan dan dendam.

“Coba sini, Iori. Sekarang kau bisa lihat Gunung Fuji yang merah itu.” Suara Shinzo datang dari sebuah ruangan di atas bukit.

Iori berlari ke sana dengan perasaan lega luar biasa. “Gunung Fuji.” Bayangan tentang puncak gunung yang tercelup warna merah akibat cahaya petang itu mengosongkan kepalanya dari segala macam pikiran lain.

Shinzo pun kelihatannya sudah lupa akan percakapannya dengan Osugi.

Negeri Impian

IEYASU menyerahkan kekuasaan ke-shogun-an kepada Hidetada pada tahun 1605, tapi ia masih terus memerintah dari bentengnya di Suruga. Kini usaha meletakkan dasar-dasar bagi kekuasaan baru sudah sebagian besar terlaksana, dan ia minta Hidetada mengambil alih kewajiban-kewajiban yang memang menjadi haknya.

Ketika menyerahkan kekuasaan itu, Ieyasu bertanya kepada anaknya, apa yang hendak dilakukannya.

Jawaban Hidetada, “Saya akan membangun!” Kabarnya, jawaban tersebut sangat menyenangkan hati shogun tua itu.

Berlawanan dengan di Edo, Osaka masih sibuk melakukan persiapan­-persiapan menghadapi pertempuran terakhir. Jenderal-jenderal terkenal me­nyusun persekongkolan-persekongkolan rahasia, kurir-kurir membawa pesan ke tanah-tanah perdikan tertentu, pemimpin-pemimpin militer dan para ronin yang sudah dipecat, diberi tempat berlindung dan upah. Amunisi ditimbun, lembing-lembing dipoles, dan parit-parit didalamkan.

Makin lama makin banyak orang kota meninggalkan kota-kota di barat, menuju kota yang sedang menanjak di timur itu. Mereka acap kali berganti kesetiaan, karena takut kemenangan Toyotomi akan berarti kembalinya permusuhan yang tak henti-hentinya.

Bagi para daimyo dan pengikut yang tinggi kedudukannya, yang harus menentukan sikap apakah mereka mempercayakan nasib anak cucu mereka kepada Edo atau Osaka, progam pembangunan yang mengesankan di Edo itu merupakan alasan kuat untuk mendukung Keluarga Tokugawa.

Hari ini, seperti hari-hari lainnya, Hidetada sedang sibuk dengan hiburan yang disukainya. Dengan pakaian seperti hendak pesiar ke pedesaan, ia tinggalkan daerah lingkaran utama, dan pergi ke bukit di Fukiage untuk memeriksa pekerjaan pembangunan.

Kira-kira waktu shogun beserta pengiringnya yang terdiri atas para menteri, ajudan pribadi, dan para pendeta Budha berhenti untuk beristirahat, pecah keributan di kaki Bukit Momiji.

“Hentikan bajingan itu!”

“Tangkap dia!”

Seorang penggali sumur berlari berputar-putar, mencoba melepaskan diri dari beberapa tukang kayu yang mengejarnya. la meluncur seperti kelinci di antara timbunan balok. Sejenak ia bersembunyi di belakang gubuk para tukang plester, kemudian melejit ke arah perancah dinding luar, dan mulai memanjat.

Sambil memaki keras-keras, beberapa tukang kayu ikut memanjat dan berhasil menangkap kakinya. Sambil mengayun-ayunkan kedua tangannya, dengan kalut penggali sumur itu menjatuhkan diri ke dalam onggokan serutan.

Tukang-tukang menerkamnya, menendangi, dan memukulinya dari segala penjuru. Sungguh mengherankan, ia tidak berteriak atau melawan, tapi mencengkeram erat-erat ke tanah, seakan-akan hanya itulah harapan satu­satunya.

Samurai yang bertanggung jawab atas para tukang dan pengawas buruh datang berlari-lari.

“Ada apa di sini?” tanya samurai itu.

“Dia menginjak siku-siku saya, babi kotor ini!” dengking seorang tukang kayu. “Siku-siku itu jiwa tukang kayu!”

“Sabar kamu!”

“Coba, apa tindakan Bapak, misalnya dia menginjak pedang Bapak?” tanya si tukang kayu.

“Baiklah, cukup! Shogun sedang beristirahat di bukit sana.”

Mendengar kata shogun, tukang kayu yang pertama pun tenang, tapi yang lain mengatakan, “Dia mesti membersihkan diri. Dan dia mesti mem­bungkuk kepada siku-siku, minta maafl”

“Kami nanti yang akan mengurus hukumannya,” kata si pengawas. “Kalian kembali kerja di sana!”

Kemudian ditangkapnya kerah orang yang sudah letih itu, dan katanya, “Perlihatkan mukamu!”

“Ya, Pak.”

“Kau salah seorang penggali sumur, kan?”

“Betul, Pak.”

“Apa kerjamu di sini? Ini bukan tempat kerjamu.”

“Kemarin juga dia di sini!” kata tukang kayu.

“Betul?” tanya si pengawas, sambil menatap wajah pucat Matahachi. Di­lihatnya wajah itu terlalu lembut, terlalu halus untuk seorang tukang gali sumur.

Ia berunding dengan si samurai sebentar, kemudian membawa Matahachi pergi. Matahachi disekap dalam gudang kayu di belakang Kantor Pengawas Buruh, dan selama beberapa hari sesudah itu, tak ada yang dilihatnya kecuali kayu api, sekarung-dua karung arang, dan tong-tong pembuat acar. Kemungkinan terbongkarnya komplotan itu segera membuatnya ketakutan.

Sebetulnya, begitu berada di dalam benteng, ia telah menimbang-nimbang dan memutuskan bahwa kalaupun mesti menjadi penggali sumur sepanjang sisa hidupnya, ia tak akan menjadi pembunuh. Ia sudah melihat Shogun dan rombongannya beberapa kali, namun tidak melakukan apa-apa.

Yang mendorongnya datang ke kaki Bukit Momiji, setiap kali ada kesempatan di tengah waktu istirahat, adalah kerumitan yang tak terduga­-duga. Menurut rencana, sebuah perpustakaan mesti dibangun, dan kalau selesai dibangun, pohon lokus itu akan disingkirkan. Matahachi, dengan perasaan bersalah, menduga senapan itu pasti akan ditemukan orang, dan itu berarti dirinya akan langsung dilibatkan dalam komplotan. Namun ia belum mendapatkan waktu yang tepat—yaitu ketika tak ada orang di sana—untuk menggali senapan dan menyingkirkannya.

Sedang tidur pun keringatnya bercucuran. Sekali ia bermimpi berada di negeri orang mati, dan ke mana pun ia memandang, yang tampak olehnya adalah pohon lokus. Beberapa malam sesudah disekap dalam gudang kayu itu, ia bermimpi ibunya. Begitu nyata mimpi itu, seperti siang hari. Osugi bukannya kasihan kepadanya, melainkan berteriak marah dan melemparkan sekeranjang kepompong ke arahnya. Ketika kepompong itu menghujani kepalanya, ia mencoba melarikan diri. Osugi mengejarnya, dan secara ajaib rambutnya berubah menjadi kepompong-kepompong putih. la berlari terus, tapi Osugi selalu ada di belakangnya. Basah kuyup oleh keringat, ia meloncat dari karang terjal dan jatuh menembus kegelapan neraka, menuju kegelapan yang tak ada akhirnya.

“Ibu! Maafkan aku!” teriaknya seperti anak terluka, dan la terbangun oleh suaranya sendiri. Kini kenyataan yang dihadapinya, yaitu kemungkinan datangnya maut, terasa lebih mengerikan daripada mimpi itu sendiri.

Ia mencoba membuka pintu, meskipun tahu pintu itu terkunci. Dengan putus asa ia panjat tong acar, ia pecahkan jendela kecil di dekat atap, lalu menerobos ke luar. Ia menyelinap di antara timbunan kayu, batu, dan onggok-onggokan tanah galian, lalu lari ke dekat gerbang belakang sebelah barat. Pohon lokus itu masih ada! la menarik napas puas.

Kebetulan ia menemukan sebuah cangkul, dan ia pun mulai menggali, seakan-akan di situ la berharap akan menemukan hidupnya sendiri. Gentar oleh bunyi yang ditimbulkannya, ia berhenti dan memandang ke sekitar. Melihat tak ada orang, mulai lagi ia menggali.

Kuatir orang lain telah menemukan senapan itu, cangkul diayunkannya dengan kalut. Napasnya menderu dan tidak tetap. Keringat dan debu ber­campur menjadi satu, membuatnya tampak seakan baru mandi lumpur. la mulai pening, tapi ia tak dapat berhenti.

Mata cangkul terantuk suatu benda panjang. Cangkul ditepiskannya, lalu ia mengulurkan tangan untuk mengeluarkan benda itu, dan pikirnya, “Kutemukan!”

Tapi perasaan lega itu hanya berlangsung singkat. Benda itu ternyata tidak dibungkus kertas minyak, tanpa kotak, dan tidak dingin seperti logam. la pegang benda itu, ia angkat, kemudian ia jatuhkan. Cuma tulang lengan atau tulang kering yang putih ramping.

Matahachi tak punya semangat lagi untuk mengangkat cangkul. Rasanya seperti mimpi buruk lain lagi. Padahal ia tahu dirinya sadar. Ia dapat menghitung seluruh daun yang ada di pohon lokus itu.

“Untuk apa Daizo berbohong?” pikirnya terheran-heran. la kitari pohon itu, sambil menendang-nendang tanah.

Ia masih melingkari pohon itu, ketika sesosok tubuh mendekatinya diam-diam dari belakang, dan menepuk pelan punggungnya. Sambil tertawa keras, tepat di samping telinga Matahachi, kata orang itu, “Tak bakal kau menemukannya!”

Sekujur tubuh Matahachi lemas. Hampir ia jatuh ke dalam lubang. Sam­bil menoleh ke arah itu, ia memandang kosong beberapa menit lamanya, kemudian memperdengarkan suara parau heran.

“Ayo ikut aku!” kata Takuan, menggandeng tangannya.

Matahachi tak dapat bergerak. Jari-jarinya jadi mati rasa. Ia mencengkeram tangan pendeta itu. Perasaan ngeri bercampur hina merayapi tubuhnya, dari tumit ke atas.

“Kau tidak dengar, ya? Ayo ikut aku!” kata Takuan, memaki dengan matanya.

Lidah Matahachi hampir sama kelunya dengan lidah orang bisu. “I-ni… saya bereskan… tanah… saya…”

Tanpa nada kasihan, Takuan berkata, “Tinggalkan! Buang-buang waktu. Apa yang dilakukan manusia di bumi ini, baik atau buruk, seperti tinta di atas kertas. Semuanya itu tak dapat dihapus, biar seribu tahun! Kaukira dengan menendang-nendang sedikit tanah itu, apa yang telah kauperbuat akan hapus? Karena pikiran macam itulah, hidupmu begitu berantakan. Sekarang ayo ikut aku. Kau ini penjahat, dan kejahatanmu keji sekali. Akan kupotong kepalamu dengan gergaji bambu, dan kulemparkan kau ke Kolam Darah di neraka.” Ia jewer telinga Matahachi, dan ia tarik pergi.

Takuan mengetuk pintu gubuk tempat para pekerja dapur tidur.

“Coba satu orang keluar sini!” katanya.

Seorang anak lelaki keluar sambil menggosok matanya yang mengantuk. Ketika mengenali orang itu sebagai pendeta yang tadi dilihatnya berbicara dengan shogun, barulah ia bangun dan katanya, “Ya, Pak? Apa yang harus saya lakukan?”

“Buka gudang kayu itu.”

“Ada penggali sumur yang disekap di sana.”

“Tidak ada lagi di sana. Dia ada di sini. Tak ada gunanya memasukkannya kembali lewat jendela, karena itu buka pintunya.”

Anak itu bergegas memanggil pengawas. Pengawas berlari ke luar dan minta maaf, memohon Takuan tidak melaporkan soal itu.

Takuan mendorong Matahachi masuk gudang, kemudian ia sendiri masuk gudang juga, dan menutup pintunya. Beberapa menit kemudian, ia menjulurkan kepala, katanya, “Kau tentunya punya pisau cukur. Tajamkan pisau itu, dan bawa kemari.”

Pengawas dan pekerja dapur saling pandang, tak berani bertanya kepada pendeta, kenapa pendeta menghendaki pisau cukur. Mereka mengasah pisau itu dan menyerahkannya kepada pendeta.

“Terima kasih,” kata Takuan. “Sekarang kalian boleh kembali tidur.”

Di dalam gudang itu gelap gulita, hanya secercah cahaya bintang yang mengintip dari jendela yang rusak. Takuan duduk di atas onggokan kayu bakar. Matahachi memerosotkan diri di tikar bambu. Kepalanya tunduk penuh rasa malu. Lama tak ada yang berbicara. Karena tak melihat pisau cukur itu, Matahachi pun bertanya-tanya dengan gelisah, apakah Takuan memegang pisau itu.

Akhirnya Takuan membuka mulut. “Matahachi, apa yang kaugali di bawah pohon lokus itu?”

Diam.

“Aku bisa menunjukkan padamu, bagaimana cara menggali sesuatu. Arti­nya, mengambil sesuatu dari ketiadaan, memperoleh kembali dunia nyata dari negeri impian.”

“Ya, Pak.”

“Kau sedikit pun tak mengerti kenyataan yang kumaksud. Tak sangsi lagi, kau masih ada di dunia khayalmu. Nah, karena kau ini sama naifnya dengan bayi, terpaksa aku mengunyahkan makanan otak untukmu…. Be­rapa tahun umurmu?”

“Dua puluh delapan.”

“Sama dengan Musashi.”

Matahachi menangkupkan tangan ke wajahnya, dan tersedu-sedu.

Takuan tidak bicara, sampai Matahachi puas menangis. Kemudian katanya, “Sungguh mengerikan, kalau dipikirkan bahwa pohon lokus itu hampir menjadi tanda kuburan seorang tolol. Kau menggali kuburanmu sendiri. Kau betul-betul sudah hampir memasukkan dirimu ke dalamnya.”

Matahachi merangkul kaki Takuan, dan mohonnya, “Selamatkan saya! Oh, selamatkan saya. Mata saya… mata saya terbuka sekarang. Saya sudah ditipu Daizo dari Narai.”

“Tidak, matamu tidak terbuka. Daizo juga tidak menipumu. Dia cuma mencoba memanfaatkan orang paling tolol di dunia ini, orang tolol yang serakah, tidak punya pengalaman, berpikiran sempit, tapi berani-berani me­nerima tugas yang akan ditolak oleh siapa pun yang berakal sehat.”

“Ya… ya… saya memang orang tolol.”

“Lalu menurutmu siapa Daizo itu?”

“Saya tidak tahu.”

“Nama aslinya Mizoguchi Shinano. Dia abdi Otani Yoshitsugu, teman akrab Ishida Mitsunari. Kau tentunya ingat bahwa Mitsunari adalah salah satu pihak yang kalah di Sekigahara.”

“Oh,” gagap Matahachi. “Jadi, salah seorang prajurit yang sedang dilacak shogun?”

“Siapa lagi orang yang hendak membunuh shogun? Kebodohanmu betul-­betul keterlaluan.”

“Dia tidak mengatakan begitu pada saya. Dia cuma mengatakan benci Keluarga Tokugawa. Menurutnya, akan baik buat negeri ini kalau Keluarga Toyotomi pegang kekuasaan. Yang dibicarakannya cuma kerja demi ke­pentingan semua orang.”

“Dan kau tidak lagi bertanya pada diri sendiri, siapa sesungguhnya dia, kan? Tanpa menggunakan kepalamu lagi, dengan berani kau menerima tugas darinya, menggali kuburanmu sendiri! Jenis keberanianmu itu me­ngerikan, Matahachi.”

“Apa yang mesti saya lakukan sekarang?”

”Lakukan?”

“Ayolah, Takuan, ayolah, tolong saya!”

“Lepaskan aku!”

“Tapi… tapi saya tidak benar-benar menggunakan senapan itu. Saya bahkan tidak menemukannya!”

“Tentu saja kau tidak menemukannya. Senapan itu tidak datang pada waktunya. Kalau Jotaro, yang dikecoh untuk menjadi bagian persekongkolan mengerikan ini, sudah sampai Edo seperti direncanakan, senapan itu ke­mungkinan sudah dikuburkan di bawah pohon itu.”

“Jotaro? Maksud Anda, anak lelaki…”

“Sudahlah! Tak ada urusannya denganmu. Yang ada hubungannya dengan­mu adalah kejahatan pengkhianatan yang telah kaulakukan dan tak dapat diampuni, termasuk oleh dewa-dewa dan sang Budha. Dan tak perlu kau berpikir dapat diselamatkan.”

“Apa tak ada jalan…?”

“Tentu saja tak ada!”

“Kasihani saya,” Matahachi tersedu-sedu sambil bergayut pada lutut Takuan.

Takuan berdiri dan menendangnya. “Goblok!” bentaknya dengan suara seolah akan menerbangkan atap gudang itu. Kegarangan matanya tak dapat dilukiskan lagi-seperti Budha yang menolak digayuti, seorang Budha yang mengerikan dan tak berkenan menyelamatkan manusia, walaupun manusia itu sudah menyesal.

Sekejap-dua kejap Matahachi menatap pandangan itu dengan sikap benci. Kemudian kepalanya tertunduk menverah, dan tubuhnya diguncang sedu-sedan.

Takuan mengambil pisau cukur dari atas timbunan kavu, dan menyentuh kepala Matahachi sedikit dengan pisau itu.

“Karena kau akan mati, bolehlah kau mati seperti murid sang Budha. Atas dasar persahabatan, akan kubantu kau melakukannya. Tutup matamu dan duduk diam dengan kaki disilangkan. Garis yang membatasi hidup dan man tidak lebih tebal dari kelopak mata. Tak ada yang menakutkan dalam kematian. Tak ada yang mesti ditangiskan. Jangan menangis, Nak, jangan menangis. Takuan menyiapkan akhir hayatmu.”

Ruang tempat berkumpulnya Dewan Sesepuh Shogun untuk membicara­kan soal-soal negara itu letaknya terpencil dari bagian-bagian lain Benteng Edo. Ruang rahasia ini sepenuhnya tertutup oleh ruangan-ruangan dan pendopo-pendopo lain. Apabila para menteri diperlukan untuk menerima keputusan shogun, mereka menghadap ke ruang audiensi atau mengirimkan petisi dalam kotak berpernis. Surat-surat dan jawabannya terus mondar-­mandir dengan kecepatan luar biasa, dan Takuan beserta Yang Dipertuan Hojo sudah beberapa kali diizinkan masuk ruangan itu. Acap kali mereka tinggal di sana sepanjang hari, kalau diperlukan menimbang-nimbang soal secara mendalam.

Pada hari khusus itu, di dalam ruangan lain yang tidak terlalu terpencil, namun tetap dijaga ketat, para menteri mendengarkan laporan dari utusan yang dikirimkan ke Kiso.

Utusan itu mengatakan bahwa sekalipun tidak ada penundaan dalam melaksanakan perintah untuk menangkap Daizo, namun Daizo berhasil meloloskan diri sesudah menutup kediamannya di Narai, dengan membawa serta seluruh rumah tangganya. Penggeledahan yang dilakukan mengungkap­kan adanya persediaan senjata dan amunisi dalam jumlah besar, juga se­jumlah dokumen yang lolos dari penghancuran. Termasuk juga dalam dokumen itu surat-surat kepada dan dari para pendukung Toyotomi di Osaka. Utusan itu telah mengatur pengapalan barang bukti tersebut ke ibu kota shogun, dan kemudian lekas kembali ke Edo dengan kuda cepat.

Para menteri merasa seperti nelayan yang telah menebarkan jaring besar, namun tak berhasil menangkap ikan, kecuali seekor ikan teri.

Hari berikutnya, seorang abdi Yang Dipertuan Sakai, yang menjadi anggota Dewan Sesepuh, membuat laporan lain: “Sesuai dengan perintah Yang Dipertuan, Miyamoto Musashi sudah dikeluarkan dari penjara. Ia diserahkan kepada orang bernama Muso Gonnosuke. Kepada Gonnosuke telah kami jelaskan secara terperinci mengenai salah pengertian yang telah terjadi.”

Yang Dipertuan Sakai segera memberitahukan hal itu kepada Takuan, dan Takuan menyahut ringan, “Terima kasih atas kebaikan Anda.”

“Anda mintalah kepada sahabat Anda, Musashi itu, untuk tidak terlalu buruk sangka terhadap kami,” Yang Dipertuan Sakai meminta maaf. Ia merasa kurang enak melihat kekeliruan yang terjadi di wilayah kekuasaannya.

Salah satu masalah yang cepat sekali dipecahkan adalah masalah pangkalan operasi Daizo di Edo. Para pejabat, dengan pimpinan Komisaris Edo, turun ke toko gadai di Shibaura, dan dengan gerak cepat menyita segalanya, baik berupa harta milik maupun dokumen-dokumen rahasia. Dalam peristiwa itu, Akemi yang sial ditangkap, sekalipun ia sepenuhnya buta mengenai rencana-rencana pengkhianatan pelindungnya.

Pada suatu malam, Takuan diterima untuk beraudiensi dengan shogun, dan kepada shogun ia menguraikan segala peristiwa yang diketahuinya dan bagaimana kesudahannya. Ia menutup uraiannya dengan mengatakan, “Hen­daknya Anda tidak melupakan sedikit pun, bahwa di dunia ini masih lebih banyak lagi Daizo dari Narai.”

Hidetada menerima peringatan itu dengan anggukan keras.

“Kalau Anda mencoba mencari semua orang itu dan menyeretnya ke pengadilan,” sambung Takuan, “seluruh waktu dan usaha Anda akan habis hanya untuk urusan para pembangkang itu. Anda takkan dapat melaksanakan kerja besar yang diharapkan dari Anda sebagai pengganti ayah Anda.”

Shogun dapat memahami kebenaran kata-kata Takuan itu, dan memasuk­kannya ke dalam hati. “Biarlah hukuman itu ringan saja,” demikian ia memberikan pengarahan. “Karena Anda yang telah melaporkan adanya per­sekongkolan itu, saya serahkan pada Anda untuk memutuskan hukumannya.”

Sesudah mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya, Takuan berkata, “Tanpa saya sadari, sudah lebih dari sebulan saya tinggal di benteng ini. Sudah waktunya saya meneruskan perjalanan. Saya akan pergi ke Koyagyu di Yamato, untuk menjenguk Yang Dipertuan Sekishusai. Ke­mudian saya akan kembali ke Daitokuji, melalui daerah Senshu.”

Mendengar nama Sekishusai agaknya menimbulkan kenangan yang me­nyenangkan pada Hidetada. “Bagaimana dengan kesehatan Pak Tua Yagyu itu?” tanyanya.

“Sayang sekali, saya mendapat berita bahwa menurut Yang Dipertuan Munenori, ajal sudah dekat.”

Hidetada mengenang peristiwa ketika ia berada di perkemahan Shokokuji, dan Sekishusai diterima oleh Ieyasu. Waktu itu Hidetada masih kanak-­kanak, dan sikap Sekishusai yang jantan menimbulkan kesan mendalam baginya.

Takuan memecahkan kesunyian. “Ada satu hal lain,” katanya. “Sesudah berunding dengan Dewan Sesepuh, dan dengan izin para anggota Dewan, Yang Dipertuan Hojo dari Awa dan saya mengusulkan samurai bernama Miyamoto Musashi untuk menjadi guru dalam rumah tangga Yang Mulia. Saya berharap Anda akan memberikan penilaian baik pada usul kami ini.”

“Saya sudah mendapat pemberitahuan teptang itu. Kabarnya Keluarga Hosokawa berminat juga kepadanya, dan sangat cocok dengannya. Saya sudah memutuskan untuk menyetujui pengangkatan seorang guru lagi.”

Sehari-dua hari sebelum Takuan meninggalkan benteng, ia memperoleh seorang murid baru. Ia pergi ke gudang kayu di belakang kantor pengawas, dan minta salah seorang pekerja dapur membukakan pintu baginya. Cahaya dari luar mengenai kepala yang baru dicukur.

Untuk sesaat, murid baru itu tak dapat melihat. Ia, yang merasa sebagai orang hukuman, pelan-pelan mengangkat matanya yang sejak tadi menunduk, dan katanya,

“Ayo!” kata Takuan.

Mengenakan jubah pendeta kiriman Takuan, Matahachi berdiri gontai dengan kaki yang terasa seolah mulai membusuk. Takuan pelan-pelan merangkul bahunya dan membantunya keluar dari gudang.

Hari pembalasan telah tiba. Dari balik kelopak matanya yang tertutup pasrah, Matahachi dapat melihat tikar buluh. Di tikar itulah ia akan dipaksa berlutut, sebelum algojo mengangkat pedang. Jelaslah, ia sudah lupa bahwa para pengkhianat biasanya menjumpai maut secara memalukan, dengan digantung. Air mata bercucuran di pipinya yang tercukur bersih.

“Kau bisa jalan?” tanya Takuan.

Matahachi merasa memberikan jawaban, padahal tak ada suara yang keluar dari mulutnya. Secara hampir tak sadar ia lewati gerbang-gerbang benteng, dan ia seberangi jembatan-jembatan yang melengkungi parit-parit dalam dan luar. Murung, ia melangkah di samping Takuan, persis seperti domba dituntun ke pembantaian. “Terpujilah sang Budha Amida, terpujilah sang Budha Amida…” Dengan diam ia mengulang-ulang doa bagi sang Budha Terang Abadi itu.

Matahachi menyipitkan mata, melihat ke seberang parit di luar, ke arah kediaman daimyo yang anggun. Lebih jauh ke timur sana terletak Kampung Hibiya. Di sebelahnya tampak jalan-jalan daerah pusat kota.

Dunia yang mengambang itu kini serasa baru baginya, dan bersamaan dengan timbulnya hasrat akan dunia itu, air matanya kembali bercucuran. Ia pejamkan kedua mata itu, dan ulangnya cepat-cepat, “Terpujilah sang Budha Amida, terpujilah sang Budha Amida….” Permohonan itu mulai ke­dengaran oleh telinga, kemudian terdengar makin keras, dan makin cepat.

“Lekas!” kata Takuan garang.

Dari parit itu, mereka membelok ke arah Otemachi dan melintasi sebuah tempat terbuka yang luas dan kosong. Matahachi merasa sudah me­nempuh jarak seribu kilometer. Apakah jalan ini akan terus begini sampai di neraka, sementara sinar terang perlahan-lahan didesak gelap gulita?

“Tunggu di sini!” perintah Takuan. Mereka berada di tengah tempat terbuka yang datar. Di sebelah kiri, air berlumpur mengalir menuruni parit dari Jembatan Tokiwa.

Tepat di seberang jalan, ada sebuah dinding tanah yang barn saja selesai diplester putih. Di sebelahnya tembok penjara baru, dan sekelompok gedung hitam yang tampak seperti rumah-rumah kota yang biasa, meskipun sebetulnya adalah kediaman resmi Komisaris Edo.

Kaki Matahachi gemetar, tak dapat lagi menopang tubuhnya. la roboh ke tanah. Di rumput, entah di mana, terdengar suara burung yang seolah membayangkan jalan menuju negeri orang mati.

Lari? Kedua kakinya tak siap untuk itu, juga kedua tangannya. Tidak, ia tak dapat lari, pikirnya. Kalau shogun sudah menetapkan ia perlu ditangkap, tak ada selembar daun atau rumput pun yang bisa menjadi tempat ia me­nyembunyikan diri.

Dalam hati ia berteriak memanggil ibunya, yang waktu itu terasa sangat dekat olehnya. Sekiranya dulu ia tidak meninggalkan ibunya, ia tak akan ada di sini sekarang. Ia teringat akan perempuan-perempuan lain: Oko, Akemi, Otsu, dan perempuan-perempuan lain lagi yang disukainya, atau pernah diajaknya bermain-main. Namun ibunyalah satu-satunya perempuan yang betul-betul ingin dijumpainya. Sekiranya ia mendapat kesempatan hidup terus, ia tak man lagi menentang kemauan ibunya, takkan lagi ia menjadi anak durhaka.

Tengkuknya terasa dingin. Ia menengadah ke arah tiga ekor angsa liar yang sedang terbang ke arah teluk, dan ia iri pada mereka.

Dorongan untuk lari kini terasa sangat kuat. Kenapa tidak? Ia takkan kehilangan apa-apa. Kalau ia tertangkap, nasibnya takkan lebih buruk daripada sekarang. Dengan pandangan putus asa, ia menatap pintu gerbang di seberang jalan. Tak ada tanda-tanda Takuan.

Maka ia lompat berdiri dan lari.

“Berhenti!” Kerasnya suara itu sudah cukup mematahkan semangatnya. Ia menoleh ke sekitar, dan tampak olehnya salah seorang algojo komisaris. Orang itu melangkah maju dan menjatuhkan tongkat panjangnya ke bahu Matahachi. Dengan satu pukulan saja ia berhasil menjatuhkan Matahachi, kemudian mengimpitnya dengan tongkat, seperti anak-anak mengimpit katak dengan kayu.

Takuan keluar dari rumah kediaman komisaris, disertai beberapa pengawal, termasuk seorang kapten. Mereka menuntun tahanan lain ke luar, dalam keadaan terikat tali.

Si kapten memilih tempat untuk melaksanakan hukuman, dan dua lembar tikar buluh yang baru selesai dianyam dihamparkan di tanah.

“Kita mulai?” tanyanya pada Takuan, dan Takuan mengangguk tanda mengiakan.

Ketika si kapten dan pendeta sudah duduk di bangku, algojo berteriak, “Berdiri!” dan mengangkat tongkatnya. Matahachi mencoba sebisa-bisanya mengangkat dirinya, tapi la terlampau lemah untuk berjalan. Algojo dengan marah menangkap bagian belakang jubahnya, dan setengah menyeretnya ke salah satu tikar.

Ia duduk. Kepalanya tertunduk. Ia tak dapat lagi mendengar suara burung itu. Ia sadar akan suara-suara itu, tapi begitu tak jelas, seakan-akan terpisahkan oleh sebuah dinding. Tiba-tiba terdengar olehnya namanya dibisikkan orang, dan ia menengadah heran.

“Akemi!” gagapnya. “Apa kerjamu di sini?”

Akemi berlutut di tikar yang lain.

“Dilarang bicara!” Dua pengawal menggunakan tongkat untuk memisahkan mereka.

Si kapten berdiri dan mulai membacakan keputusan dan hukuman resmi dengan nada garang bermartabat. Akemi menahan air matanya, tapi Matahachi menangis tanpa kenal malu. Kapten selesai membaca, duduk, dan berseru, “Pukul!”

Dua pengawal berpangkat rendah yang membawa bilah-bilah bambu panjang berjingkrak mengambil posisi, dan mulai mencambuk punggung kedua tahanan itu.

“Satu. Dua. Tiga,” mereka menghitung. Matahachi merintih. Akemi, de­ngan muka tertunduk pucat pasi, mengatupkan gigi sekuat-kuatnya untuk menahan rasa sakit.

“Tujuh. Delapan. Sembilan.” Cambuk bambu jadi berumbai-rumbai, dan asap seolah mengepul dari ujung-ujungnya.

Beberapa pejalan kaki berhenti di tepi lapangan, untuk melihat. “Ada apa?”

“Dua tahanan sedang dihukum rupanya.”

“Seratus cambukan barangkali.”

“Belum lagi lima puluh.”

“Tentunya sakit.”

Seorang pengawal datang mendekat dan mengejutkan mereka dengan menghantamkan tongkat keras-keras ke tanah. “Pergi sana! Dilarang berdiri di sini.”

Orang-orang yang suka ingin tahu itu pun mencari tempat yang lebih aman, dan ketika mereka menoleh ke belakang, mereka lihat hukuman sudah selesai. Para pengawal membuang cambuk yang kini tinggal lembar-lembar lembut, dan menghapus keringat dari wajah.

Takuan berdiri. Kapten juga sudah berdiri. Mereka bertukar basa-basi, kemudian Kapten membawa anak buahnya kembali ke kediaman komisaris. Takuan masih berdiri beberapa menit lamanya, memandangi kedua tubuh yang membungkuk di tikar itu. Ia tidak mengatakan apa-apa, dan pergi meninggalkan tempat itu.

Shogun memberikan sejumlah hadiah kepadanya, yang kemudian di­sumbangkannya kepada berbagai kuil Zen di kota itu. Namun gunjingan orang Edo segera mulai lagi. Menurut desas-desus, ia pendeta ambisius yang suka ikut campur politik. Desas-desus lain mengatakan ia orang yang di­tugaskan Keluarga Tokugawa untuk memata-matai golongan Osaka. Lain lagi mengatakan ia anggota komplotan “berjubah hitam”.

Gunjingan-gunjingan itu tidak dihiraukan sama sekali oleh Takuan. Memang ia sangat prihatin mengenai kesejahteraan bangsa, tapi tidak banyak bedanya baginya, apakah bunga-bunga zaman yang sedang mencolok waktu itu-yaitu benteng di Edo dan Osaka-berkembang atau gugur.

Beberapa berkas sinar tipis menerobos awan, dan suara burung terdengar kembali. Kedua sosok itu tidak juga bergerak, walau sudah beberapa waktu berlalu, dan mereka sedikit pun tidak kehilangan kesadaran.

Akhirnya Akemi bergumam, “Matahachi, lihat—air!” Di depan mereka terdapat dua ember kayu berisi air, masing-masing ada ciduknya, suatu bukti bahwa kantor komisaris itu tidak sepenuhnya kejam.

Akemi meminum beberapa teguk air, kemudian menawarkan ciduk pada Matahachi. Tapi Matahachi tidak menjawab, maka tanya Akemi, “Ada apa? Kau tidak mau?”

Pelan-pelan Matahachi mengulurkan tangan dan menerima ciduk. Begitu ciduk menyentuh bibir, ia minum dengan rakusnya.

“Matahachi, apa kau menjadi pendeta?”

“Hah? … Apa sudah selesai?”

“Apanya yang sudah selesai?”

“Hukuman itu? Mereka belum memotong kepala kita.”

“Bukan itu tugas mereka. Apa kau tidak dengar orang itu membacakan hukumannya?”

“Apa katanya?”

“Katanya, kita mesti dibuang dari Edo.”

“Lho, aku hidup!” jerit Matahachi. Ia hampir sinting karena gembira. Ia melompat meninggalkan tempat itu, tanpa menoleh lagi pada Akemi.

Akemi memegang kepalanya dan mulai sibuk dengan rambutnya. Kemu­dian ia membenahi kimono dan mengetatkan obi-nya. “Tak kenal malu!” gumamnya dengan bibir perot. Kini Matahachi hanya tampak sebagai titik di kaki langit.

Tantangan

BEBERAPA hari saja Iori sudah bosan tinggal di kediaman Hojo. Tak ada yang dilakukannya, kecuali bermain.

“Kapan Takuan kembali?” tanyanya pada Shinzo pada suatu pagi, karena ia memang ingin mengetahui kabar Musashi.

“Ayahku masih ada di benteng, jadi kukira Takuan masih di sana juga,” kata Shinzo. “Nantilah, mereka pasti kembali. Bagaimana kalau kau meng­hibur diri dengan main bersama kuda-kuda itu?”

Maka Iori berlari ke kandang, dan segera melemparkan pelana berpernis dan berindung mutiara ke punggung kuda jantan yang disukainya. Ia sudah mengendarai kuda itu hari sebelumnya dan sebelumnya lagi, tanpa mem­beritahu Shinzo. Izin itu membuatnya merasa bangga. Ia pun naik, lalu melintas ke luar gerbang belakang dengan mencongklang penuh.

Rumah-rumah daimyo, jalan-jalan yang melintasi perladangan, sawah­sawah, hutan-hutan-semuanya dengan cepat ia lintasi bergantian, dan ia tinggalkan di belakang. Labu ular yang merah cemerlang dan rumput yang cokelat muda menandakan bahwa musim gugur sedang memuncak sehebat­hebatnya. Punggung Gunung Chichibu menjulang di sebelah Dataran Musashino. “Tentunya dia di pegunungan sana itu,” pikir Iori. Ia mem­bayangkan guru yang dicintainya itu dalam penjara, dan air mata di pipi­nya membuat angin terasa dingin menyejukkan.

Apa salahnya bertemu dengan Musashi? Tanpa memikirkan lebih lanjut, ia melecut kudanya, dan kuda beserta pengendaranya terbang menempuh lautan perak elalia lembut.

Sesudah menempuh jarak satu kilometer dengan kecepatan penuh, ia mengekang kudanya, pikirnya, “Barangkali dia kembali ke rumah itu.”

Ia mendapati rumah baru itu sudati selesai, tapi tidak ditinggali. Di sawah terdekat, ia berseru kepada para petani yang sedang menuai padi, “Apa ada di antara bapak-bapak yang melihat guru saya?” Mereka menjawab dengan gelengan sedih.

Kalau begitu, mestinya di Chichibu. Dengan kuda ia dapat menempuh jarak itu dalam sehari. Sebentar kemudian, ia sampai di Kampung Nobidome. Jalan masuk ke kampung sesak dipenuhi kuda tunggang samurai, kuda beban, peti perjalanan, joli, dan sekitar empat puluh sampai lima puluh samurai yang sedang makan siang. Ia memandang ke sekitar, untuk mencari jalan kampung.

Tiga-empat orang membantu samurai berlari mengejarnya.

“Hai, bajingan! Tunggu!”

“Kalian sebut apa aku?” tanya Iori marah.

“Turun dari kuda itu!” Mereka sudah ada di kedua sisinya sekarang.

“Kenapa begitu? Aku tidak kenal kalian.”

“Pokoknya tutup mulutmu, dan turun!”

“Tidak! Mana bisa!”

Belum lagi Iori tahu apa yang terjadi, salah seorang dari mereka sudah menangkap kaki kanannya tinggi-tinggi, hingga ia terjungkal ke sisi lain kudanya.

“Ada yang mau ketemu denganmu. Ayo ikut aku.” Dipegangnya kerah Iori, dan diseretnya anak itu ke warung teh di pinggir jalan.

Osugi berdiri di luar warung, memegang tongkat. Ia suruh pergi para

pembantu dengan gerakan tangannya yang tidak memegang tongkat. Ia me­ngenakan pakaian perjalanan, dan berada di tengah semua samurai itu. Iori tidak tahu mesti berbuat apa, dan ia tak punya waktu buat memikirkannya.

“Anak bandel!” kata Osugi, lalu dipukulnya bahu Iori keras-keras dengan tongkatnya. Iori membuat gerakan pasang kuda-kuda, walaupun tahu ia betul-betul kalah jumlah. “Musashi cuma punya murid terbaik. Ha! Kudengar kau seorang dari muridnya.”

“Ah… Saya takkan bicara begitu, seandainya saya ini Nenek.”

“Oh, takkan bicara, ya?”

“Saya… saya tak punya urusan dengan Nenek.”

“Oh, ada! Kau mesti mengatakan beberapa hal pada kami. Siapa yang menyuruhmu mengikuti kami?”

“Mengikuti kalian?” dengus Iori menghina.

“Berani amat kau bicara begitu!” pekik perempuan tua itu. “Apa Musashi tak pernah mengajarkan kesopanan padamu?”

“Saya tidak butuh pelajaran dari Nenek. Saya mau pergi sekarang.”

“Kau takkan pergi!” teriak Osugi yang segera memukul tulang kering Iori dengan tongkatnya.

“O-w-w!” Iori runtuh ke tanah.

Para pembantu mencekal anak itu, dan menyeretnya ke bengkel kilang di dekat gerbang kampung. Di situ duduk seorang samurai yang agaknya berpangkat tinggi. Ia baru selesai makan, dan sedang menghirup air panas. Melihat keadaan Iori, ia menyeringai.

“Berbahaya,” pikir anak itu, ketika matanya bertemu dengan mata Kojiro.

Dengan tampang penuh kemenangan, Osugi mendongakkan dagunya, katanya, “Lihat! Tepat seperti yang kuduga—Iori! Apa yang mau dilakukan Musashi sekarang? Siapa lagi kalau bukan dia yang mengirim anak ini buat mengikuti kita?”

“Ya,” gumam Kojiro sambil mengangguk, lalu menyuruh para pembantu pergi. Seorang pembantu bertanya, apakah ia menghendaki anak itu diikat. Kojiro tersenyum dan menggelengkan kepala. Ia tak dapat berdiri tegak, apalagi lari.

Kata Kojiro, “Kau dengar apa kata Nenek. Apa itu betul?”

“Tidak. Saya cuma jalan-jalan berkuda. Saya tidak mengikuti kalian atau siapa pun.”

“Hmm, mungkin juga. Kalau Musashi memang seorang samurai, dia tak akan menggunakan tipu daya murahan.” Kemudian ia mulai bersoal-jawab sendiri. “Sebaliknya, kalau dia dengar kami tiba-tiba berangkat dengan serombongan samurai Hosokawa, dia mungkin curiga dan mengirimkan orang untuk memeriksa gerakan kami. Itu wajar sekali.”

Perubahan yang terjadi pada Kojiro sungguh mencolok. Ia tidak lagi mengenakan jambul, sebaliknya kepalanya tercukur seperti wajarnya seorang samurai. Dan sebagai ganti pakaian mencolok yang biasa dikenakannya, kini ia mengenakan kimono hitam. Hakama kasar yang dikenakannya me­nimbulkan kesan amat konservatif. Galah Pengering disandangnya di sisi. Keinginannya untuk menjadi pengikut Keluaarga Hosokawa telah ter­laksana—bukan dengan imbalan lima ribu gantang seperti dikehendakinya, melainkan imbalan sekitar separuh jumlah itu.

Rombongan yang dipimpin Kakubei itu rombongan pendahuluan yang sedang dalam perjalanan ke Buzen, untuk mempersiapkan kembalinya Hosokawa Tadatoshi. Karena prihatin akan umur ayahnya, ia menyampaikan permohonan kepada shogun beberapa waktu sebelumnya. Izin akhirnya diberikan, suatu petunjuk bahwa shogun tidak memiliki prasangka apa pun terhadap kesetiaan Keluarga Hosokawa.

Osugi minta ikut serta, karena ia memang merasa harus pulang. Ia tidak melepaskan kedudukannya sebagai kepala keluarga, namun sudah hampir sepuluh tahun ia tidak hadir di tempat. Paman Gon-lah yang mestinya mengurus segala sesuatu atas namanya, jika orang itu masih hidup. Karena Paman Gon sudah meninggal, ia menduga kini banyak soal keluarga yang butuh perhatiannya.

Mereka akan melewati Osaka, di mana ia meninggalkan abu Paman Gon. Ia akan dapat membawa abu itu ke Mimasaka dan mengadakan upacara doa. Sudah lama juga ia menelantarkan upacara doa untuk nenek moyangnya. Ia dapat kembali mengadakan pencarian nanti, sesudah mem­bereskan soal-soal di rumah.

Baru-baru ini ia merasa senang-dengan dirinya, karena menurut keyakin­annya ia telah menjatuhkan pukulan keras terhadap Musashi. Mula-mula, ketika mendengar tentang usulan itu dari Kojiro, ia merasa semangatnya akan runtuh. Kalau Musashi memperoleh pengangkatan, berarti Musashi akan semakin tak terjangkau olehnya.

Maka ia memutuskan untuk mencegah agar tidak terjadi bencana pada shogun dan seluruh bangsa. Ia belum bertemu dengan Takuan, tapi ia telah mengunjungi keluarga Yagyu maupun Hojo, untuk mencela Musashi dan menyatakan bahwa mengangkat Musashi untuk kedudukan tinggi berarti kebodohan berbahaya. Belum puas dengan hal itu, ia mengulangi fitnah-­fitnahnya di rumah setiap menteri pemerintah yang mengizinkan ia masuk pintu gerbang.

Tentu saja Kojiro tidak berusaha mencegahnya, namun tidak pula mem­berikan dorongan khusus kepadanya, karena ia tahu Osugi takkan mau ber­henti sebelum menuntaskan misinya. Dan ia amat serius menjalaninya: ia bahkan menulis surat-surat jahat tentang masa lalu Musashi, dan melem­parkan surat-surat itu ke pekarangan Komisaris Edo dan para anggota Dewan Sesepuh. Sebelum ia selesai dengan pekerjaannya, Kojiro sendiri sampai bertanya-tanya, apakah perempuan itu tidak melangkah terlalu jauh.

Kojiro mendorong Osugi ikut dalam perjalanan itu, karena ia percaya akan lebih baik kalau Osugi kembali ke kampung. Di sana ia tidak akan terlalu menimbulkan kerugian. Kalaupun ada yang disesali Osugi, itu karena Matahachi tidak pergi bersamanya; ia masih yakin bahwa suatu hari nanti, Matahachi akan sadar dan kembali kepadanya.

Iori sendiri tak mungkin tahu keadaan yang melingkunginya. Ia tak dapat melarikan diri, dan segan menangis, karena takut hal itu merusak nama Musashi. Kini ia merasa tertangkap di tengah musuh.

Kojiro dengan sengaja memandang langsung mata itu, dan alangkah heran­nya ia, karena tatapan matanya mendapat balasan. Tak sekali pun mata Iori goyah.

“Ibu punya kuas dan tinta?” tanya Kojiro pada Osugi.

“Ya, tapi tintanya sudah kering. Kenapa?”

“Saya mau menulis surat. Papan pengumuman yang dipasang anak buah Yajibei itu tidak membuat Musashi keluar, dan saya tidak tahu di mana dia berada sekarang. Di sini Iori bisa menjadi utusan terbaik. Saya akan kirim surat pada Musashi, berkenaan dengan keberangkatan saya dari Edo.”

“Apa yang hendak kautuliskan?”

“Biasa saja. Akan saya minta dia berlatih pedang dan mengunjungi saya di Buzen hari-hari ini. Akan saya beritahukan padanya, saya bersedia menunggunya sepanjang sisa hidup saya. Dia bisa datang kapan saja, kalau dia sudah merasakan keyakinan yang dibutuhkannya.”

Osugi melambungkan tangannya dengan ngeri. “Bagaimana mungkin kau bicara begitu? Seluruh sisa hidupmu! Ya, ya! Aku tak punya waktu sebanyak itu buat menunggu. Aku harus lihat Musashi mati, paling lama dalam dua atau tiga tahun ini.”

“Serahkan soal itu pada saya. Akan saya urus, sementara saya mengurus urusan saya.”

“Apa kau tidak lihat, aku bertambah tua? Mesti dilakukan selagi aku masih hidup.”

“Kalau Ibu bisa menjaga diri, Ibu akan hadir waktu pedang saya yang tak terkalahkan ini melakukan tugasnya.”

Kojiro mengeluarkan kantung tulisnya dan pergi ke sungai terdekat. Di situ ia basahi jarinya untuk membasahi potongan tinta. Sambil berdiri, ia keluarkan kertas dari kimononya. Ia menulis cepat, namun tulisan dan susunan kata-katanya benar-benar goresan seorang ahli.

“Kau bisa pakai ini buat lem,” kata Osugi, mengeluarkan beberapa butir nasi dan meletakkannya di selembar daun. Kojiro meremas nasi itu dengan jari-jarinya, mengoleskannya sepanjang tepi surat, dan menutup surat itu. Di belakang ditulisnya: Dari Sasaki Ganryu. Abdi Keluarga Hosokawa.

“Hei, sini kau! Kau takkan diapa-apakan. Tapi bawa surat ini pada Musashi, dan jaga betul supaya sampai, karena surat ini penting.”

Iori mundur sejenak, tapi kemudian bergumam menyatakan kesediaannya, dan mengambil surat itu dari tangan Kojiro. “Apa isinya?”

“Seperti kukatakan pada ibu tua tadi.”

“Boleh saya lihat?”

“Kau tak boleh membuka lemnya.”

“Kalau tulisanmu menghina, saya tak mau membawanya.”

“Tak ada yang kasar dalam surat itu. Kuminta dia ingat pada janji kami untuk masa depan, dan kukatakan padanya, aku menanti bertemu lagi dengan dia, barangkali di Buzen, kalau kebetulan dia datang ke sana.”

“Apa maksudmu dengan bertemu lagi dengan dia?”

“Maksudku, bertemu dengan dia di batas antara hidup dan mati.” Pipi Kojiro memerah sedikit.

Sambil memasukkan surat itu ke dalam kimononya, Iori berkata, “Baik, akan saya sampaikan,” lalu ia berlari pergi. Baru sekitar tiga puluh meter ia berhenti, menoleh, dan menjulurkan lidahnya kepada Osugi, “Tukang sihir tua gila!” teriaknya.

“A-apa?” kata Osugi, yang lalu siap mengejarnya, tapi Kojiro memegang tangannya dan menahannya.

“Biarlah,” kata Kojiro disertai senyum sedih. “Dia cuma anak kecil.” Ke­mudian teriaknya pada Iori, “Apa tak bisa kau mengatakan yang lebih baik dari itu?”

“Tak bisa….” Air mata marah menggejolak dari dalam dada Iori. “Tapi kau akan menyesal. Musashi tidak bakal kalah dengan orang macam kau.”

“Kau mirip dia rupanya? Pantang menyerah. Tapi aku senang melihat caramu membela dia. Kalau nanti dia mati, datanglah padaku. Akan kuberi kau kerja menyapu halaman, atau yang lain.”

Iori tak mengerti bahwa Kojiro hanya bergurau, dan ia pun merasa sa­ngat terhina. Dipungutnya batu. Tapi, ketika ia mengangkat tangan untuk melemparkannya, Kojiro menatapnya.

“Jangan lakukan itu!” katanya dengan suara tenang, tapi mantap.

Iori merasa kedua mata itu menembusnya seperti dua butir peluru; ia menjatuhkan batu itu dan lari. Ia lari terus, sampai akhirnya ia kehabisan tenaga dan roboh di tengah Dataran Musashino.

Dua jam lamanya ia duduk di sana, memikirkan orang yang ia anggap sebagai gurunya. Walaupun ia tahu Musashi punya banyak musuh, ia menganggap Musashi orang besar, dan ia ingin dirinya menjadi orang besar juga. Karena merasa mesti melakukan sesuatu untuk memenuhi kewajiban kepada gurunya dan menjamin keselamatannya, ia memutuskan untuk mengembangkan kekuatannya sendiri secepat mungkin.

Kemudian kenangan tentang sorot mata Kojiro yang mengerikan kembali menghantuinya. Ia bertanya-tanya, dapatkah Musashi mengalahkan orang sekuat itu. Dengan kecil hati ia menyimpulkan, bahkan gurunya pun akan terpaksa belajar dan berlatih lebih keras. Ia berdiri.

Kabut putih yang turun dari pegunungan itu menyebar ke seluruh dataran. Ia putuskan untuk jalan terus ke Chichibu, menyampaikan surat Kojiro itu, tapi tiba-tiba ia teringat kudanya. Ia kuatir para bandit sudah menguasai kuda itu, karena itu ia setengah mati mencarinya, memanggil dan menyiulinya setiap dua kali melangkah.

Ia merasa mendengar suara sepatu kuda dari arah yang menurutnya sebuah kolam. Ia lari ke sana. Tapi ternyata tak ada kuda, juga tak ada kolam. Kabut yang berkelap-kelip menarik diri ke kejauhan.

Dilihatnya benda hitam bergerak, dan didekatinya. Seekor babi hutan berhenti menggusur makanan dan mengamuk ganas di dekatnya. Kemudian babi hutan itu tertelan rumpun buluh, dan sesudah itu membentuk garis putih, seolah-olah ditaburkan lewat tongkat tukang sulap. Begitu ditatapnya benda itu, sadarlah ia bahwa ada suara gemercik air. Ia mendekat, dan tampak olehnya bayangan bulan di sungai gunung.

Sejak dulu ia selalu peka terhadap misteri yang ada di dataran terbuka. Ia yakin benar bahwa kumbang tutul yang sekecil-kecilnya pun memiliki kekuatan spiritual dewa-dewa. Dalam pandangannya, tak ada suatu pun yang tak berjiwa, termasuk dedaunan yang bergoyang, air yang memberi isyarat, atau angin yang bertiup. Kini, di tengah alam, ia dapat merasakan sepinya musim gugur yang hampir lewat, juga kekecewaan muram yang tentunya dirasakan oleh rumput, serangga, dan air.

Ia tersedu-sedan demikian keras, hingga bahunya berguncang-tapi air matanya air mata manis, bukan air mata pahit. Sekiranya waktu itu ada makhluk lain yang bukan manusia-barangkali sebuah bintang atau roh dataran-bertanya kepadanya kenapa ia menangis, pasti ia tak dapat men­jawabnya. Tapi kalau roh yang selalu ingin tahu itu berkeras bertanya, diiringi belaian dan bujukan, akhirnya ia akan mengatakan, “Aku sering menangis kalau berada di tempat terbuka. Aku selalu merasa rumah di Hotengahara itu ada di dekatku.”

Menangis merupakan penyegar jiwanya. Sesudah ia menangis sepuas­puasnya, langit dan bumi akan menghiburnya. Apabila air matanya sudah kering, semangatnya akan muncul kembali dari tengah awan, bersih dan segar.

“Itu Iori, kan?”

“Saya kira begitu.”

Iori menoleh ke arah suara-suara iru. Kedua sosok itu berdiri tegak, hitam, dengan latar belakang langit petang.

“Sensei!” teriaknya. Iori lalu mendapatkan orang yang duduk di pelana itu. “Bapak!” Tak tahan lagi karena gembira, ia bergayut ke sanggurdi untuk meyakinkan dirinya bahwa ia tidak bermimpi.

“Ada apa?” tanya Musashi. “Apa kerjamu di sini sendirian?” Wajah Musashi tampak kurus sekali—apakah karena cahaya bulan? Tapi kehangatan suaranya itulah yang selama berminggu-minggu ingin sekali didengar Iori. “Saya bermaksud pergi ke Chichibu…” Sampai di situ, Iori melihat sadel kuda itu. “Lho, ini kuda yang saya naiki tadi!”

Sambil tertawa, kata Gonnosuke, “Ini kudamu?”

“Ya.”

“Kami tidak tahu milik siapa kuda ini. Dia berkelana dekat Sungai Iruma, maka saya anggap dia hadiah dari langit untuk Musashi.”

“Dewa dataran ini yang tentunya mengirimkan kuda ini buat menjemput Bapak,” kata Iori penuh ketulusan.

“Kaubilang ini kudamu? Pelananya ini tak mungkin milik seorang samurai yang penghasilannya kurang dari lima ribu gantang.”

“Memang kuda ini milik Shinzo.”

Sambil turun, tanya Musashi, “Kalau begitu, kau tinggal di rumahnya?”

“Ya, Takuan yang membawa saya ke situ.”

“Bagaimana dengan rumah baru kita?”

“Sudah selesai.”

“Bagus. Kita bisa kembali ke sana.”

“Sensei.”

“Ya.”

“Bapak begitu kurus. Kenapa?”

“Aku cukup lama bersemadi.”

“Bagaimana Bapak keluar dari penjara?”

“Nanti kau dapat mendengarnya dari Gonnosuke. Untuk sementara, kita anggap saja dewa-dewa ada di pihakku.”

“Kau tak perlu kuatir, Iori,” kata Gonnosuke. “Tak ada yang menyangsi­kan bahwa dia tak bersalah.”

Karena merasa lega, Iori jadi suka bicara. Ia bercerita tentang per­temuannya dengan Jotaro, dan tentang kepergian Jotaro ke Edo. Ketika ceritanya sampai pada “perempuan tua menjijikkan” yang datang ke kediaman Hojo itu, ingatlah ia akan surat Kojiro.

“Oh, saya sampai lupa!” serunya, lalu menyerahkan surat itu kepada Musashi.

“Surat dari Kojiro?” Dengan heran Musashi memegang surat itu beberapa saat, seolah-olah surat itu dari seorang sahabat yang lama hilang.

“Di mana kau ketemu dia?” tanyanya.

“Di Kampung Nobidome. Perempuan tua jelek itu ada bersamanya. Kojiro bilang, dia akan pergi ke Buzen.”

“Oh?”

“Dia bersama banyak samurai Hosokawa… Sensei, lebih baik Bapak hati­-hati, dan jangan ambil risiko.”

Musashi memasukkan surat itu, tanpa dibuka, ke dalam kimononya dan mengangguk.

Karena merasa belum pasti, apakah maksudnya dimengerti, Iori berkata lagi, “Kojiro itu kuat sekali, kan? Apa dia punya masalah dengan Bapak?” Lalu ia bercerita pada Musashi sampai sekecil-kecilnya tentang perjumpaannya dengan musuh itu.

Sesampai mereka di pondok, Iori turun ke kaki bukit, mencari makanan, sementara Gonnosuke mengumpulkan kayu dan mengambil air.

Mereka duduk melingkar sekitar api yang menyala terang di perapian. Mereka menikmati kegembiraan itu, karena masing-masing dari mereka sehat tak kurang suatu apa. Justru waktu itulah Iori melihat bekas-bekas luka yang masih baru, dan tanda-tanda memar di tangan dan leher Musashi.

“Bagaimana Bapak mendapat tanda-tanda itu?” tanyanya. “Sekujur tubuh Bapak penuh tanda itu.”

“Ah, ini tidak begitu penting. Apa kuda sudah kauberi makan?”

“Sudah.”

“Besok mesti kaukembalikan.”

Hari berikutnya, pagi-pagi Iori sudah menaiki kuda itu dan mencongklang sebentar menjelang makan pagi. Begitu matahari sudah di atas kaki langit, ia hentikan kuda itu, dan ia terperangah kagum. Ia pacu kudanya pulang ke pondok, pekiknya, “Sensei! Bangun! Cepat! Mataharinya seperti waktu kita melihatnya dan atas gunung di Chichibu. Matahari itu… besar sekali, seperti mau menggelinding di atas dataran. Bangun, Gonnosuke!”

“Selamat pagi!” kata Musashi dari belukar tempat ia berjalan-jalan. Karena terlalu girang, Iori lupa makan pagi, katanya, “Saya pergi sekarang,” lalu berangkat.

Musashi memperhatikan ketika anak itu, bersama kudanya, akhirnya tinggal seperti sosok burung gagak di pusat matahari. Noda hitam itu makin lama makin kecil, sampai akhirnya tertelan oleh bulatan menyala yang mahabesar.


Cerita Novel Musashi buku 6, karangan Eiji Yoshikawa, terbitan gramedia, di kutip dari Website:
http://topmdi.com/ceritawp/?cat=74
[Lihat: Lanjutan Cerita]


0 KOMENTAR ANDA:

Post a Comment