Thursday, October 11, 2007

Riwayat Sidharta Gautama / Buddha Gotama


Pengantar
Ini adalah kisah kehidupan Sidharta Gotama (Nama sebelum menjadi Buddha) yang kelak dikenal sebagai Buddha Gotama (Buddha dari keturunan keluarga Gotama) atau Samana/Petapa Gotama atau Sang Bhagava atau Buddha Sakyamuni (Buddha Petapa suku Sakya) yang hidup dikisaran 568 SM - 488 SM

Kisahnya diambil dari berbagai sumber di antaranya: Sutta dan Vinaya, kitab komentar, Buku Riwayat Agung Para Buddha, "Biography of Sakayamuni Buddha", Gunapayuta et al; Dictionary of Pāli Proper Names (atau DPPN), dll. Gambar kebanyakan diambil dari: Buddhanet, dll.


Kapilavatthu
Di suatu masa, hiduplah Raja Okkāka, raja ke-3 dinasti saat itu yang merupakan leluhur suku Sakya dan Koliya. Raja mempunyai 16.000 istri (5 diantaranya bernama: Bhattā, Cittā, Jālinī, Visākhā dan Jantū. Sementara Bhattā adalah permaisurinya). Permaisuri Bhattā melahirkan 4 anak pria (Okkāmukha, Karaṇḍu, Hatthinīya dan Sīnipura) dan 5 anak perempuan (Piyā, Suppiyā, Anandā, Vijitā and Vijitasenā). Ketika Bhattā wafat, Raja menikah lagi dan lahirlah Jantukumāra (arti: anak lelaki Jantu). Permaisuri barunya ini berkeinginan untuk memberikan tahta kerajaan kepada putranya (Jantukumara). Keinginannya dikabulkan, maka kemudian, raja mengusir 9 putra-putri lainnya, yang lebih tua dari kerajaan.

Mereka yang terusir ini pergi mengembara dan tiba di lereng Himālaya di sebelah kolam teratai di mana terdapat hutan pohon sāka (pohon ek). Karena khawatir akan mencemari keturunan, anak raja Okkāka yang terusir ini, para prianya menikahi saudari-saudarinya. Suatu ketika Raja Okkāka bertanya kepada para menteri dan penasihatnya: “Di manakah para pangeran menetap sekarang?” dan mereka memberitahunya. Mendengar berita ini Raja Okkāka berseru: “Mereka kuat bagaikan kayu jati sāka, para pangeran ini, mereka adalah orang Sakya sejati!” dan demikianlah bagaimana suku Sakya memperoleh namanya [DN 3/Ambattha Sutta, juga Theragata Apadana 44].

Tempat di mana para anak raja Okkāka yang terusir ini tiba dari pengembaraan, adalah tempat pertapaan Rsi/Petapa Kapila. Sang Rsi kemudian menyarankan mereka untuk membangun kediaman di situ. Saran itu diikuti dan mereka namakan tempat itu Kapilavatthu (kediaman Kapila). [Kitab komentar: DA.i.259 f; MT.132 f; SnA.ii.353]

Para ahli jaman sekarang menduga lokasi Kapilavatthu, entah ada di Tilaurakot (Nepal, ± 28 Km dari Lumbini) atau di Piprahwa (Uttar Pradesh, India, ± 14,5 Km dari Lumbini). Kedua lokasi ini terletak di kaki pegunungan Himalaya. Luas Kapilavatthu diperkirakan ± 100 mil2.

Di India saat itu, yaitu pada jaman sang Buddha Gautama, terdapat 16 Kerajaan besar (Kosala, Kāsī, Anga, Magadha, Vajji, Mallā, Cetiya, Vamsā, Kuru, Pañcāla, Macchā, Sūrasena, Assaka, Avantī, Gandhāra dan Kamboja). Kapilavatthu adalah satu dari sekian kerajaan kecil yang ada di bawah kekuasaan kerajaan besar Kosala [MN 89, AN 126]

Ratu Maha Maya dan Raja Suddhodana
Jaman berganti jaman, hingga kemudian, ada turunan suku Sakya bernama Suddhodana yang menjadi pimpinan suku Sakya di Kapilavatthu. Ia adalah ayah dari Siddharta Gautama. Raja Suddhodana mempunyai dua istri, yaitu Mahāmāyā/Māyā (MayaDewi) dan Mahapajapati Gotami

Mahāmāyā/Māyā adalah Ibu dari Pangeran Siddhattha. Ia merupakan putri dari Raja Anjana (pemimpin suku Koliya, 11 mil timur Kapilavatthu) dan Yasodharā (putri Raja Jayasena dari suku Sākya). Mahāmāyā memiliki 3 saudara kandung yaitu: Suppabuddha [Ayah dari Devadatta dan Yasodhara], Dandapāni (Pria), dan Mahāpajāpatī Gotami. Mereka lahir di Devadaha.

Kedua putri raja Anjana ini, yaitu Mahamaya dan Mahapajapatigotami, dinikahi secara bersamaan oleh Raja Suddhodana. Mereka, kakak beradik ini, kemudian hamil dengan selisih beberapa hari. Ratu Maya hamil di usia 45 tahun. (Mahāvamsa ii. hal .15 - dst)

Mahāmāyā memiliki kualitas-kualitas yang diperlukan bagi seseorang untuk menjadi ibu bagi seorang Bodhisatta (calon Buddha), antara lain: ia tidak memiliki napsu yang berlebihan, ia tidak minum minuman yang memabukkan, ia berlatih pāramitā (kesempurnaan) selama ratusan ribu kappa, dan sejak lahir tidak pernah melakukan pelanggaran panca sila (lima latihan moralitas, yaitu: Tidak membunuh, tidak mengambil yang tidak diberikan, tidak memuaskan indriya dengan cara yang salah, tidak berkata yang tidak baik dan tidak memasukan asupan yang mengakibatkan lemahnya perhatian/kesadaran).

Pada masa awal pembuahan kandungan, ia mengikuti perayaan tahunan Uttarāsālhanakkhatta. Ia melakukan puasa, dan dalam tidurnya malam itu ia bermimpi: empat raja dewa mengangkat dan membawa dirinya duduk dikursi kerajaan menuju Manosilātala, di dekat Danau Anotta di Himalaya. Di sana, ia ditempatkan di bawah naungan sebatang pohon sāla. Lalu, para istri dari keempat raja dewa itu mendekati dan memandikannya di danau tersebut. Mereka memakaikan busana surgawi, mengurapinya dengan minyak wangi, dan meriasinya dengan bunga-bunga surgawi. Mereka membiarkan dirinya tidur di dalam wisma keemasan yang terletak di sebuah gunung perak yang tidak jauh dari danau tersebut. Dalam mimpi itu, tampak olehnya seekor gajah putih yang membawa sekuntum teratai dengan belalainya yang berkilau. Gajah itu muncul dan mengelilinginya tiga kali searah jarum jam, lalu memasuki kandungannya melalui sisi kanan tubuhnya. Akhirnya, gajah itu menghilang, dan sang ratu terjaga dari tidurnya.

Ratu memberitahukan mimpi ini kepada Raja. Kemudian Raja lalu memanggil para brahmana untuk menanyakan arti mimpi tersebut. Para brahmana menerangkan bahwa Ratu akan mengandung seorang bayi laki-laki yang kelak akan menjadi seorang Cakkavatti (Raja dari semua Raja) atau seorang Buddha. Memang sejak hari itu Ratu mengandung, dan Ratu Maya dapat melihat dengan jelas bayi dalam kandungannya yang duduk dalam sikap meditasi dengan muka menghadap ke depan.

Note:
Kisah mimpi Mahamaya dan Gajah putih hanya ada dalam kitab komentar: Asvaghoha (2 M) dalam "Buddha carita"; dalam Asanga (4 M) "Uttara tantra"; Butön Rin-chen-grup (1290-1364) dalam "History of Buddhism". Buton adalah guru Tibet seorang translator dan sejarahwan dari sekte Kagyu; Dhammapala (5 M) dalam Buddhavamsa 298. Namun demikian, kisah mimpi Mahamaya dan gajah putih tampaknya SUDAH ADA di jaman Raja Asoka, 3 SM

Lahirnya Sidharta Gotama
Di sekitar umur kandungannya tepat sepuluh bulan, Ratu mohon perkenan dari Raja untuk dapat bersalin di rumah ibunya di Devadaha. Dalam perjalanan ke Devadaha, yaitu di bulan purnama Vaisak, tibalah rombongan Ratu di Taman Lumbini (sekarang Rumminde di Pejwar, Nepal) yang indah sekali. Di kebun itu Ratu memerintahkan rombongan berhenti untuk beristirahat. Dengan gembira Ratu berjalan-jalan di taman dan berhenti di bawah pohon Sala. Pada waktu itulah Ratu merasa perutnya agak kurang enak. Dengan cepat dayang-dayang membuat tirai di sekeliling Ratu. Ratu berpegangan pada dahan pohon Sala dan dalam sikap berdiri itulah Ratu melahirkan seorang bayi laki-laki (Jātaka i.h.49-dst). Ketika itu tepat purnama sidhi. (kelak Raja Asoka mendirikan suatu Pilar untuk memperingati hal ini).

Dalam DN 14/Mahapadana sutta, MN 123/Acchariya-abbhūta sutta dan KV 7/Lakkhanakattha, disampaikan Dhammatā (kebiasaan yang selalu terjadi) pada seorang Bodhisatta yaitu:
  1. Sang Bodhisatta mahluk alam Tusita mengetahui sepenuhnya dalam perhatian telah jatuh ke rahim ibunya (bodhisatto tusitā kāyā cavitvā sato sampajāno mātukucchiṃ okkami).’
  2. Ketika Sang Bodhisatta telah jatuh ke rahim ibunya, suatu cahaya yang tidak terukur yang melampaui para dewa muncul di dunia ini bersama dengan para dewa, Māra, dan Brahmā, dalam generasi ini bersama dengan para petapa dan brahmana, dengan para raja dan rakyatnya. Dan alam ruang antara yang tanpa dasar, kelam, gelap gulita, di mana bulan dan matahari, yang kuat dan perkasa, tidak dapat menjangkaunya – cahaya terang yang tidak terukur melampaui kemegahan para dewa juga muncul di sana. Dan makhluk-makhluk yang terlahir kembali di sana dapat saling melihat karena cahaya itu: “Sesungguhnya, Tuan, ada makhluk-makhluk lain yang terlahir kembali di sini!” Dan sepuluh ribu sistem dunia ini bergoyang dan bergoncang dan bergetar, dan di sana juga muncul cahaya terang yang tidak terukur melampaui kemegahan para dewa.
  3. Ketika Sang Bodhisatta telah ada di rahim ibunya (yadā bodhisatto mātukucchiṃ okkanto hoti), empat dewa muda datang untuk menjaganya di empat penjuru agar tidak ada manusia atau bukan-manusia atau siapapun dapat mencelakai Sang Bodhisatta atau ibunya
  4. Ketika Sang Bodhisatta telah ada di rahim ibunya, sang ibu menjadi sungguh-sungguh bermoral, menghindari: (membunuh makhluk-makhluk hidup, mengambil apa yang tidak diberikan, berperilaku salah dalam kenikmatan indria, kebohongan, dan anggur, meniman keras, dan minuman memabukkan), yang menjadi landasan kelengahan
  5. Ketika Sang Bodhisatta telah ada di rahim ibunya, tidak ada pikiran indriawi yang muncul pada ibunya sehubungan dengan laki-laki, dan ia tidak tersentuh oleh laki-laki manapun yang memiliki pikiran bernafsu
  6. Ketika Sang Bodhisatta telah ada di rahim ibunya, sang ibu memperoleh kelima utas kenikmatan indria, dan memilikinya, ia menikmatinya
  7. Ketika Sang Bodhisatta telah ada di rahim ibunya, tidak ada penderitaan apapun yang muncul pada sang ibu; ia bahagia dan bebas dari kelelahan jasmani. Ia mengetahui Sang Bodhisatta di dalam rahimnya dengan seluruh bagian-bagian tubuhnya, lengkap dengan organ-organ indria. Misalkan terdapat seutas benang berwarna biru, kuning, merah, putih, atau coklat menembus mengikat sebuah permata beryl yang indah sebening air yang paling jernih, bersisi-delapan, dipotong dengan baik, dan seseorang yang berpenglihatan baik, memegangnya dengan tangannya, mengamatinya sebagai berikut: “Ini adalah permata beryl yang indah sebening air yang paling jernih, bersisi-delapan, dipotong dengan baik, jernih dan cemerlang, memiliki segala kualitas baik, dan seutas benang berwarna biru, kuning, merah, putih, atau coklat menembus mengikatnya.” Demikian pula, ketika Sang Bodhisatta telah ada di rahim ibunya ... lengkap dengan organ-organ indria
  8. Ibu Sang Bodhisatta akan meninggal dunia 7 hari setelah melahirkan Sang Bodhisatta dan terlahir kembali menjadi mahluk alam Tusita
  9. Ibu seorang Bodhisatta, mengandung Beliau selama tepat 10 bulan
  10. Ibu seorang Bodhisatta, melahirkan dalam posisi berdiri.
  11. Ketika Sang Bodhisatta keluar dari rahim ibunya, pertama-tama para dewa menerimaNya, kemudian manusia
  12. Ketika Sang Bodhisatta keluar dari rahim ibunya, Beliau tidak menyentuh tanah. Empat dewa muda menerimanya dan mengangkatnya di depan sang ibu dengan mengatakan: “Bergembiralah, O Ratu, seorang putera dengan kekuasaan luar biasa telah engkau lahirkan.”
  13. Ketika Sang Bodhisatta keluar dari rahim ibunya, Beliau keluar dalam keadaan bersih, tidak berlumuran air atau cairan atau darah atau kotoran apapun juga, bersih, dan tanpa noda. Misalkan terdapat sebutir permata yang diletakkan di atas sehelai kain Kāsi, maak permata itu tidak mengotori kain atau kain mengotori permata. Mengapakah? Karena kemurnian keduanya.
  14. Ketika Sang Bodhisatta keluar dari rahim ibunya, dua pancuran air memancar dari angkasa, satu sejuk dan satu hangat, untuk memandikan Sang Bodhisatta dan ibunya
  15. Segera setelah lahir, bodhisatto samehi pādehi patiṭṭhahitvā uttarābhimukho (Sang Bodhisatta berdiri mantap di kedua kaki menghadap utara), satta­pada­vī­tihā­rena gacchati (melangkah tujuh langkah), setamhi chatte anudhāriyamāne (dengan payung putih yang bantu menahanNya), sabbā ca disā anuviloketi (menatap sekeliling penjuru), āsabhiṃ vācaṃ bhāsati (berbicara kata-kata agung): “aggohamasmi lokassa (Akulah unggulan dunia); jeṭṭhohamasmi lokassa (Akulah terbaik dunia); seṭṭhohamasmi lokassa (Akulah terkemuka dunia). ayamantimā jāti (Kelahiran terakhirKu); natthi dāni punabbhavo’ti (Kini tak ada lagi penjelmaan)”
  16. Ketika Sang Bodhisatta keluar dari rahim ibunya, suatu cahaya yang tidak terukur yang melampaui para dewa muncul di dunia ini bersama dengan para dewa, Māra, dan Brahmā, dalam generasi ini bersama dengan para petapa dan brahmana, dengan para raja dan rakyatnya. Dan bahkan alam ruang antara yang tanpa dasar, kelam, gelap gulita, di mana bulan dan matahari, yang kuat dan perkasa, tidak dapat menjangkaunya – cahaya terang yang tidak terukur melampaui kemegahan para dewa juga muncul di sana.’ Dan makhluk-makhluk yang terlahir kembali di sana dapat saling melihat karena cahaya itu: “Sesungguhnya, Tuan, ada makhluk-makhluk lain yang terlahir kembali di sini!” Dan sepuluh ribu sistem dunia ini bergoyang dan bergoncang dan bergetar, dan di sana juga muncul cahaya terang yang tidak terukur melampaui kemegahan para dewa

  17. note:
    Lazimnya tidak mungkin bayi baru lahir dapat berjalan dan berbicara. Perkembangan kemampuan melangkah/berbicara bayi tergantung dari perkembangan otak bayi dan kondisi lain yang mendukung.

    Di Lorica, Kolombia [lihat: youtube, nairaland, kualalumpurpost, nydailynews dan dailymail], saat diwawancarai oleh sebuah station radio Ana Feria Santos menyampaikan bahwa bayinya "aneh" dan telah dapat berjalan seperti orang dewasa di usia 4 minggu. Sciencenews menjelaskan tentang "primitif reflex" yang dipunyai bayi dari sejak lahir, salah satunya adalah berjalan. Video ini memperlihatkan peragaan primitif reflek pada bayi berumur 6 hari, sang bayi berada diposisi berdiri, dipegang dan ketika menyentuh tanah, kakinya reflek melangkah. Ibu Sidharta Gotama melahirkan dalam posisi berdiri sehingga kemungkinan setelah keluar dari rahim, Sidhartha Gotama tidak berada dalam posisi terelentang terbaring namun dalam posisi berdiri dengan kaki menyentuh tanah dan terpegang/bersandar (kaki/tubuh ibu), reflek primitifnya bekerja, membuat langkah pertama, kehilangan keseimbangan, terimbangi dengan langkah kedua, demikian hingga 7 kali pertukaran kaki dan berhenti karena kekuatan kakinya tidak cukup kuat lama dalam menopang tubuhnya lagi.

    Di Norilsk, Rusia, seorang bayi baru lahir bernama Stephan dapat bicara beberapa patah kata. Kata pertama sang bayi setelah lahir adalah "Papa", beberapa menit kemudian mengatakan "Mama". Keesokan harinya, ketika sang Ibu (Lisa Bazheyeva, 17 tahun) mengatakan bahwa ayahnya (Rodion Bejeev) hendak mengunjungi mereka di rumah sakit municipal, bayi itu berkata, "Siapa? Papa?. Dokter Psikologi kandungan rumah sakit pemerintah (Marina Panova) yang membantu persalinan menegaskan laporan itu. "Saya mendengar dengan telinga saya sendiri bahwa bayi yang baru lahir berbicara!", Ia menambahkan belum pernah melihat hal semacam itu selama 23 tahun bekerja di klinik bersalin. "Bayi yang baru lahir tidak bisa mengucapkan suku kata yang rumit seperti itu", katanya "Janin bisa belajar saat masih dalam rahim ibu. Jika ibu berbicara pada janin dan memberikan hiburan seolah-olah telah lahir, bayi biasanya lahir berbakat". kata Panova. [Sumber: Encyclopedia of safety: "In Russia spoke just born baby", 08.05.2009. Juga di: juniorsbook.com, davidicke, nifahamishe.com, apropo.ro dan lihat juga: Baby talk: newborns recall words heard in the womb, research shows dan Babies Learn to Recognize Words in the Womb]
Pada hari yang sama saat Sidharta Gotama lahir, muncul pula dalam dunia ini:
  • Yasodhara (Istrinya)
  • Ananda [Anak dari Amitodana, saudara termuda Raja Suddhodana], yang kelak menjadi pembantu tetap Sang Buddha selama 25 tahun dan wafat di usia 120 tahun,
  • Kanthaka, yang kelak menjadi kuda Pangeran Siddhattha,
  • Channa, yang kelak menjadi kusir Pangeran Siddhattha,
  • Kaludayi, yang kelak mengundang Sang Buddha untuk berkunjung kembali ke Kapilavatthu,
  • Seekor gajah istana,
  • Pohon Bodhi, di bawah pohon ini Pangeran Siddhattha kelak mendapatkan Penerangan Agung,
  • Nidhikumbhi, kendi tempat harta pusaka.
Tidak jauh dari taman itu didalam rimba, seorang Pertapa bernama Asita (Yang Tak Melekat atau julukan lainnya: Si pertapa berambut panjang, ‘Kemegahan yang gelap'), yang mempunyai kemampuan membaca perubahan tanda-tanda alam dan dapat menuju alam para Dewa. Suatu hari pada saat istirahat siang, pertapa Asita melihat bahwa 30 dewa telah berkumpul. Dipenuhi suka cita sambil memuji-muji Indra, dengan pakaian putih cemerlang mereka melambai-lambaikan jubah dan bendera mereka dengan amat gembira [SNP 3.11/Nalaka sutta], Ia juga keheranan melihat para dewa sangat bersukacita pada hari itu dan mendapatkan konfirmasi ulang bahwa telah lahir seorang Calon Buddha. Ia kemudian menuju Istana. Ketika tiba, Ia melihat adanya 32 tanda dari seorang Mahapurisa (Manusia Agung) pada bayi tersebut, ia kemudian bersukacita dan memberikan hormat. Melihat hal ini Raja pun turut memberi penghormatan kepada putranya.

Setelah Petapa tersebut bergembira tidak berapa lama kemudian Ia menangis sehingga membuat kaget dan khawatir memikirkan nasib bayi itu. Petapa Asita kemudian menjelaskan bahwa tangisannya karena Ia tahu umurnya sudah dekat sehingga tidak berkesempatan mendengarkan pengajaranNya kelak.

[Buddhaghosa dari abad ke 5 M menyatakan: Asita mempunyai corak kulit hitam (SnA.ii.483), nama keduanya adalah Kanha Devala (SnA.ii.487) atau Kanha Siri (Sn.v.689) atau Siri Kanha (SnA.487) atau Kāla Devala (J.i.54)]. Petapa Asita kemudian terlahir di alam Arupa (Sn., pp.131-36; SnA.ii.483ff.; J.i.54f)]

Lima hari setelah lahirnya Sang bayi, Raja Suddhodana memanggil sanak keluarganya untuk berkumpul dan bersama-sama dengan 108 orang Brahmana merayakan kelahiran anak pertamanya dan juga untuk memilih nama yang baik. Nama yang dipilih adalah Siddhattha yang berarti "Tercapailah segala cita-citanya". Diantara para Brahmana terdapat 8 orang Brahmana yang mahir dalam meramal nasib, yaitu: Rama, Dhaja, Lakkhana, Manti, Kondañña, Bhoja, Suyama dan Sudatta. Para 7 peramal meramalkan bahwa Sang bayi kelak akan menjadi Cakkavati (Raja dari semua Raja) atau akan menjadi Buddha. Hanya Kondañña (Brahmana yang termuda) sajalah yang mengatakan dengan pasti bahwa Sang bayi kelak akan menjadi Buddha. Raja Suddhodana, menjadi khawatir karena Pertapa Asita (Kaladeva) juga telah meramalkan bahwa jika pangeran sudah melihat orang tua, orang sakit, orang meninggal, dan seorang Brahmana/Pertapa, maka pangeran akan meninggalkan istana untuk menjadi Pertapa, bukan menjadi seorang Raja.

Tujuh hari setelah Pangeran Siddhattha dilahirkan, Ratu Maha Maya wafat dan terlahir kembali di surga Tusita sebagai putra dewa dengan nama Mayadevaputta (Kitab Komentar Theragāthā i.502) atau Santusita. Adik Ratu Maha Maya yaitu Maha Pajapati Gotami yang juga merupakan isteri Raja Suddhodana menggantikan posisi Ratu Maha Maya sebagai ratu sekaligus ibu bagi si pangeran kecil.

Dari Maha Pajapati Gotami, Raja Suddhodana mempunyai lagi seorang putra bernama Nanda (lahir 2 hari setelah kelahiran Pangeran Siddhattha) dan kemudian seorang putri bernama Nanda [Sundari Nanda]. Setelah Maha maya wafat, Maha Pajapati Gotami lah yang merawat Pangeran Siddhattha.

Prajapati Gotami Mengurus Pangeran Siddharta dan Pangeran Bersekolah
Adik Ratu Maha Maya, Prajapati Gotami mengurus pangeran yang masih bayi dengan cinta kasih seperti mengurus anaknya sendiri. Saat usianya telah lewat 8 tahun, Raja Suddhodana mengangkat Visvamitra sebagai guru pangeran.

Pangeran Siddharta merupakan murid yang terpandai di kelasnya dan yang terbaik dalam segala permainan. Ia sangat cepat memahami segala sesuatunya dan melebihi dari apa yang diajarkan tanpa melihat buku sehingga Gurunya heran kemudian bersujud dihadapan muridnya dan berkata: "Bukan aku, hanya Kaulah yang menjadi Guru, terimalah hormatku". Dari gurunya, Pangeran Sidharta belajar berbagai ilmu pengetahuan, ilmu taktik perang, sejarah dan Pancavidya, yaitu: sabda (bahasa dan sastra); Silpakarmasthana (ilmu dan matematika); Cikitsa (ramuan obat-obatan); Hatri (logika); Adhyatma (filsafat agama) dan Tevijja [3 Veda: Irubbeda/Iruveda=Rg; yaju & sāma (Miln 178; DA i.247; SnA 447)].

Note:
Kisah di atas ini berasal dari "The Light of Asia"-nya Sir Edwin Arnold, hal. 18-23. Menurut Milanda Panha 5.5.11/Ācariyānācariyapañha, nama gurunya: Sabbamitta, keluarga Brahmana dari Udicca. Ia adalah guru ke-2 Pangeran Siddhartha, seorang yang ahli bahasa, grammar dan fasih 6 Vedaṅga. Di Mitologi Hinduism: Rama, avatar Wisnu, gurunya bernama: Visvamitra

Pangeran Siddharta Melindungi Seekor Ular
Siddharta bisa saja memilih hidup seenaknya tanpa mempedulikan banyak hal, namun tidak dilakukannya. Ia dikenal simpatik dan simpati pada para mahluk, misalnya di suatu hari pangeran Siddharta melihat seorang anak kota memukul seekor ular dengan kayu. Pangeran Siddharta segera menghentikannya, dan memberitahu kepadanya agar tidak melukai ular itu.

Note:
Dalam TIPITKA pali, yaitu Udana 2.3/Daṇḍa sutta, kisah tercatat setelah beliau menjadi Buddha:

..Sang Bhagava sedang menuju Savatthi untuk mengumpulkan makanan, Pada saat itu, di daerah antara Savatthi dan hutan Jeta, beliau melihat sejumlah anak laki-laki sedang memukuli seekor ular dengan tongkat, Sang Bhagava kemudian menyampaikan kotbah ini: "Siapa yang menyakiti mahluk hidup dengan tongkat untuk memperoleh kebahagiaan, walaupun dia sendiri mencari kebahagiaan, dia tidak mendapatkannya sesudah kematian. Siapa yang tidak melukai mahluk hidup dengan tongkat untuk memperoleh kebahagiaan, sementara dia sendiri mencari kebahagiaan, dia mendapatkannya sesudah kematian"

Menyelamatkan Angsa Yang Dipanah Oleh Devadatta
Suatu hari, pangeran Siddhartha sedang bermain dengan teman-temannya di taman istana. Salah satu dari mereka adalah sepupunya, Pangeran Devadatta. Pangeran Siddhartha adalah seorang yang lembut dan baik, sedangkan pangeran Devadatta adalah seorang yang kejam dan suka membunuh makhluk lain. Ketika mereka sedang bermain, pangeran Devadatta membidik seekor angsa dengan panahnya. Angsa itu terluka parah. namun Pangeran Siddhattha berhasil terlebih dulu mengambil angsa itu dan dengan lembut Ia menarik anak panah yang menusuk angsa tersebut serta memberikan obat pada lukanya.

Pangeran Devadatta yang baru saja tiba menuntut agar unggas itu diserahkan kepadanya, namun Pangeran Siddhattha menolaknya. Akhirnya terjadilah perselisihan dan saling debat. Pangeran Devadatta bersikukuh bahwa angsa itu adalah miliknya karena ia yang memanahnya. Sedangkan Pangeran Siddhattha mengatakan bahwa Ia yang berhak atas angsa itu karena Ia telah menyelamatkan hidupnya, sedangkan si pemanah tidak berhak akan angsa yang masih hidup tersebut.

Akhirnya Pangeran Siddhattha mengusulkan agar permasalahan ini dibawa ke makamah para bijak untuk memperoleh jawaban atas siapa yang berhak atas angsa tersebut. Setelah diajukan ke makamah para bijak, akhirnya salah satu dari para bijak tersebut berseru, “Semua makhluk patut menjadi milik mereka yang menyelamatkan atau menjaga hidup. Kehidupan tak pantas dimiliki oleh orang yang berusaha menghancurkannya. Angsa yang terluka ini masih hidup dan diselamatkan oleh Pangeran Siddhattha. Karenanya, angsa ini mesti dimiliki oleh penyelamatnya, yaitu Pangeran Siddhattha!”

Note:
Kisah ini TIDAK ADA dalam Tipitaka Pali dan juga di komentar untuk Jataka. Kisah ini berasal dari “Abhiniṣkramaṇa Sūtra”, Bab.12, aliran Mahayana, TIDAK ADA teks Sanskritnya (abad ke-1 SM – 1 M) dan konon sudah merupakan atau telah diterjemahkan ke bahasa China di abad ke-6 Masehi. Kisah ini juga ada di "The Light of Asia"-nya Sir Edwin Arnold, hal. 25. Ada juga yang mengklaim bahwa kisah ini ada di Jataka-Mala (Sanksrit, Mahayana), namun TIDAK ditulis detail refensi no. kisahnya

Perayaan Membajak
Suatu hari ayahnya mengajaknya ke perayaan membajak sawah tahunan. Sang raja memulai upacara dengan menunggang sepasang kerbau yang telah dihias indah. Pangeran Siddhartha duduk di bawah pohon jambu dan mengamati semua orang. Pangeran Siddharta memperhatikan ketika orang-orang sedang senang, sepasang kerbau itu harus bekerja keras dan membajak sawah. Kerbau-kerbau itu tidak tampak senang sama sekali.

Note:
Tentang Festival membajak dan duduk di pohon jambu, ada dalam komentar untuk Jataka no.547

Melihat Kehidupan Yang Alami
Pangeran Siddhartha mengamati makhluk lain disekitarnya. Ada seekor kadal sedang memakan semut-semut. Tetapi ular segera datang, menangkap kadal, dan memakannya. Kemudian, tiba-tiba seekor burung datang dari langit dan memangsa ular itu. Ia sadar bahwa semua makhluk ini senang sebentar, tetapi berakhir menderita. Meskipun hidup menyenangkan, tetap Ia merasakan sejumlah penderitaan. Ia merenungi apa yang dilihatnya. Meskipun Ia bahagia, ada sejumlah penderitaan dalam hidup. Sehingga hatinya merasa begitu bersimpati terhadap semua makhluk.

Note:
Kisah ini TIDAK ADA dalam Sutta, Vinaya dan di kitab-kitab komentar Buddhis klasik KECUALI dari buku ke-1, "The Light of Asia"-nya Sir Edwin Arnold, hal. 28

Pangeran Siddhartha ditemukan sedang bermeditasi
Ketika sang raja dan para pembantunya menyadari sang pangeran tidak ada di antara kerumunan, Para pelayan pergi mencarinya. Mereka terkejut menemukan sang pangeran duduk dengan kaki bersila, dalam meditasi yang dalam. Dengan cepat mereka melaporkan peristiwa tersebut kepada Raja. Raja dengan diiringi para petani berbondong-bondong datang untuk menyaksikan peristiwa ganjil tersebut.

Benar saja mereka menemukan Pangeran kecil sedang bermeditasi dengan kaki bersila dan tidak menghiraukan kehadiran orang-orang yang sedang memperhatikannya. Karena Pangeran saat itu telah mencapai Jhana ke-1 (kebahagiaan dan kegembiraan yang muncul dari keterasingan setelah menghancurkan 5 rintangan). [MN 36], Ia sama sekali tidak terganggu oleh suara-suara yang berisik. Bayangan pohon jambu tidak mengikuti jalannya matahari tetapi tetap memayungi Pangeran kecil yang sedang bermeditasi. Melihat keadaan yang ganjil ini untuk kedua kalinya Raja Suddhodana memberi hormat kepada anaknya.

Note:
Untuk bayangan pohon jambu yang tidak bergerak, kisah ini HANYA ada di komentar untuk Jataka no.547 dan Madhyamagama no.32 (teks China), sedangkan dalam kanon teks pali, TIDAK ADA

Sang Raja memberikan Siddhartha sebuah istana
Raja Suddhodana tidak ingin anaknya berpikir hal-hal yang mendalam mengenai kehidupan. Ia ingat bahwa orang-orang bijak (Bramana/Pertapa) telah memprediksikan bahwa anaknya akan meninggalkan istana dan menjadi seorang bhikkhu.

Jadi, dalam rangka menarik perhatiannya, sang raja kemudian mendirikan sebuah istana yang megah. Raja memerintahkan untuk membuat tiga kolam di halaman istana. Di kolam-kolam itu ditanami berbagai jenis bunga teratai (lotus). Satu kolam dengan bunga teratai yang berwarna biru (Upala), satu kolam dengan bunga yang berwarna merah (Paduma), dan satu kolam lagi dengan bunga yang berwarna putih (Pundarika).

Selain tiga kolam tersebut, Raja juga memesan wangi-wangian, pakaian dan tutup kepala dari negara Kasi, yang terkenal sebagai penghasil barang-barang bermutu terbaik. Pelayan-pelayan diperintahkan untuk melindungi Pangeran, baik siang maupun malam hari sebagai lambang dari keagungannya. Tetapi itu tidak menghentikan Pangeran Siddharta dari pemikiran mengenai penderitaan dan ketidakbahagiaan yang terjadi disekitarnya.

Mempelai wanita Siddhartha, Ratu Yasodharā
Untuk menghentikan Siddhartha dari pikiran-pikirannya dan juga mencegahnya untuk meninggalkan rumah, maka saat pangeran Sidharta berusia 16 Tahun, Raja Suddhodana mengatur pernikahannya dengan sepupunya yang cantik menawan, yaitu Putri Yasodhara yang juga berusia 16 tahun.


Perlombaan Memanah, Pedang & menjinakkan kuda
Mengikuti tradisi, Ayah Yasodara (Suppabuddha, Raja Koliya) kemudian mengadakan kompetisi untuk mendapatkan Putrinya. Para pesertanya diantaranya adalah Devadatta yang terkenal pandai memanah, Arjuna yang pandai menunggang Kuda dan Nanda yang pandai permainan Pedang. Pada pertandingan Panah, karena kuatnya tarikan lengan Siharta, maka beberapa kali Busur Panahnya Patah, sehingga ia kemudian mengambil suatu Busur panah yang tersimpan sudah sangat lama dalam suatu Biara. Busur itu terbuat dari Baja Hitam yang berbalut emas bernama "Sinhahanu". Busur itu sangat berat dan harus digotong oleh 4 orang. Dewadatta mencoba menarik busur itu namun tidak berhasil merentangkannya. Dengan Busur itu, ia kemudian memanah Tambur yang lebih jauh dari Dewadatta dan kemudian panah tersebut masuk kedalam suatu sumur.

Pada pertandingan berikutnya, Pedang Sidharta mampu menebas Pohon yang tebalnya 2 kali 9 Jari, karena kuat dan cepatnya Tebasan tersebut, Pohon itu tidak segera tumbang, setelah Angin meniupnya baru pohon Itu tumbang.

Sayembara terakhir adalah Menunggang Kuda, Sidharta menunggangi Kanthaka dan menang, namun Nanda protes dan meminta untuk dicarikan kuda lainnya seperti kanthaka. Didapatlah seekor kuda berbulu hitam yang terikat 3 rantai besi. Devaddata, Arjuna dan Nanda berusaha menungganginya namun jatuh. Tidak seperti peserta lainnya, Sidharta menjinakkan kuda liar tersebut tidak dengan memukulnya, Ia berbicara dengan kuda itu dan membelainya dengan lembut dan kemudian baru menungganginya. Pangeran Siddharta keluar sebagai pemenang dan berhak menikahi Putri Yasodhara.

Kelak setelah menjadi Buddha dan kemudian mengunjungi Kapilavatthu, beliau menceritakan bahwa di banyak kehidupan lampaunya, Ia dan Yasodhara telah berulang kali berpasangan. Berikut kisah awal pertemuan pertama di jaman Buddha Dipankara:
    4 Asekheya Kappa dan 100.000 Kappa lalu, di sebuah kota bernama Amaravatã, hiduplah seorang bernama Sumedha, Ia adalah keturunan Brahmana selama 7 generasi dengan kekayaan melimpah, pandai 3 veda dan ilmu pengetahuan lainnya. Ketika ayah dan Ibunya wafat, Ia diwarisi kekayaan keluarganya, namun kemudian Ia merenungkan bahwa dengan memiliki kekayaan sebanyak ini pun, para leluhur, saudara dan ayah ibunya bahkan tidak mampu membawa 1 keping uangpun ketika mereka wafat, oleh karenanya, Ia umumkan untuk menyumbangkan kekayaan keluarganya kepada seluruh penduduk kota tanpa membedakan status miskin atau kaya. Setelahnya, Ia pergi menuju Pegunungan Himalaya ke Gunung Dhammika untuk melepas keduniawian dan berhasil mencapai 8 penjacaian jhana meditasi serta 5 kekuatan mental.

    Suatu ketika, Sumedhà, pergi meninggalkan pertapaannya dan sampailah Ia di kota Rammàvatã. Di kota itu, para penduduknya tengah bergembira bergotong royong untuk memperbaiki dan menghias jalan dalam menyambut kedatangan Buddha Dipankara ke kota mereka. Mengetahui ini, Sumedhà memohon kepada para penduduk untuk diberikan kepadanya sedikit bagian jalan untuk diperbaiki dan dihias olehnya. Para penduduk mengabulkannya dan tanpa menggunakan kekuatan mentalnya, Ia kerjakan bagiannya. Namun, sebelum pekerjaannya selesai, Buddha Dipankarà tiba dengan diiringi 400.000 Arahanta. Oleh karenanya, Ia segera menggelar matras kulit macan dan juga jubahnya di atas tanah yang becek dan berbaring tiarap di atasnya. Ia bermaksud menggunakan dirinya sebagai jembatan agar sang Buddha Dipankara dan para pengikutnya tidak menginjak lumpur saat lewat. Ketika sedang bertiarap demikian, seketika muncul keinginannya untuk menjadi Buddha.

    Di tengah keramaian saat itu, terdapat pula seorang brahmana perempuan muda bernama Sumittà yang membawa 8 kuntum bunga teratai yang rencananya akan dipersembahkan kepada Buddha Dipankara. Ketika Sumedha sedang bertiarap secara demikian, Mata Sumittà menatapnya dengan terpesona dan seketika jatuh cinta padanya. Ia kemudian berkata kepada Sumedhà, “Yang mulia petapa, aku berikan padamu 5 kuntum bunga teratai, agar engkau dapat mempersembahkannya sendiri kepada Buddha. Sisa 3 kuntum ini adalah persembahanku kepada Buddha dan semoga, selama waktu yang akan engkau jalani dalam mencapai Kebuddhaan; aku selalu menjadi pendampingmu”.

    Sumedhà menerima bunga teratai dari Sumittà dan di tengah-tengah keramaian,Ia persembahkan bunga itu kepada Buddha Dãpankarà yang tengah menghampiri dan berdiri dekat kepalanya yang tengah bertiarap. Sang Buddha Dipankara dengan kekuatan mental-Nya, melihat jauh ke masa depan dan berkata, “Sumedhà, engkau akan menjadi Buddha, bernama Gotama, setelah 4 Asaïkhyeyya dan 100.000 kappa sejak saat ini”. Kemudian, mengamati apa yang sedang terjadi antara Sumedhà dan Sumittà, Sang Buddha Dipankara berkata:

    “O, Sumedhà, perempuan ini Sumittà, akan menjadi pendampingmu dalam berbagi hidup, membantumu dengan semangat dan perbuatan yang sama dalam usahamu mencapai Kebuddhaan, ia akan membahagiakanmu dalam setiap pikiran, perkataan, dan perbuatannya. Dalam kelahiranmu yang terakhir, ia juga akan menjadi pendampingmu, kemudian menjadi murid perempuanmu dan menjadi seorang Arahanta”. Sang Buddha Dãpankarà kemudian pergi dengan menginjakkan kaki kanan-Nya di sebelah Sumedhà

    [Buddhavamsa: Sumedha patthanā kathā; RAPB buku ke-1, Bab 2, “Kisah Sumedha Sang Brahmana”, hal 29-67, Cetakan ke-1, May 2008; Versi lain kisah masa lalu Sang Buddha ada di “Sumpah Teratai” dari buku “Jalur Tua Awan Putih”, Jilid ke-2, Bab 36 hal.66, Oleh: Thicht Nhat Hanh. Kisahnya agak berbeda, Nama pemuda bukan Sumedha namun Megha]
Istana yang menyenangkan
Dalam upaya menghentikan pikiran pangeran Siddharta dari kehidupan kesucian, Raja Suddhodana kemudian membangun sebuah istana yang dinamakan Wishramwan yang ditengah-tengahnya terdapat 3 Taman yang airnya berasal dari sungai Rohini (sekarang, bernama Kohana) berikut para penari dan penyanyi yang siap menghibur mereka, dan hanya orang-orang yang sehat dan muda saja yang diizinkan masuk ke dalam istana dan taman istana agar pangeran Siddhartha teralih perhatiannya tenggelam dalam kesenangan Indriya.

Meskipun ayahnya telah berupaya keras secara demikian, pangeran lambat laun merasa bosan dan jemu akan hal tersebut, Ia kemudian memohon agar dijinkan pesiar keluar. Akhirnya, Raja mengizinkan pangeran melancong dan Pangeranpun pergi bersama kusirnya, Channa.

4 Tanda: Lanjut Usia
Ketika sedang berada dalam perjalanan, Pangeran Siddhartha melihat seorang tua, bungkuk bagaikan balok atap, usang, bersandar pada sebatang tongkat, berjalan terhuyung-huyung, sakit, seluruh kemudaannya lenyap. Melihat pemandangan itu, Ia berkata kepada sang kusir: “Kusir, ada apa dengan orang itu? Rambutnya tidak seperti rambut orang lain, badannya tidak seperti badan orang lain.”
“Pangeran, itu adalah apa yang disebut sebagai orang tua.”
“Tetapi mengapa ia disebut orang tua?”
“Ia disebut tua, Pangeran, karena ia hidup dalam waktu yang tidak lama lagi.”
“Tetapi apakah Aku akan menjadi tua, dan tidak terbebas dari usia tua?” “Engkau dan aku, Pangeran, pasti menjadi tua, dan tidak terbebas dari usia tua.”

Kemudian sang Pangeran menyuruh kusirnya untuk kembali ke Istana. Sesampainya di istana, Pangeran merasa sedih dan patah hati, ia meratap: “Sungguh menyakitkan kelahiran ini, karena bagi mereka yang dilahirkan, penuaan pasti terjadi!

‘Kemudian Raja memanggil sang kusir menanyakan apakah pangeran bersenang-senang dalam kunjunganya, apa saja yang dilihatnya dan sang kusir menceritakan semua yang terjadi.

Raja berpikir: “Pangeran tidak boleh meninggalkan takhta, Ia tidak boleh meninggalkan kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah—kata-kata para Brahmana yang terpelajar dalam tanda-tanda tidak boleh terjadi!” Maka Raja memberikan lebih banyak lagi 5 kenikmatan-indria kepada Pangeran. Demikianlah Pangeran melanjutkan kehidupannya dalam kenikmatan duniawi, dan tenggelam dalam 5 kenikmatan-indria.

Note:
Dalam TIPITAKA pali, 4 tanda ini dikenal dengan nama 4 devadūta atau 4 utusan surga. Tanda-tanda ini TIDAK MUNCUL SEKALIGUS dalam 1 kunjungan. Setelah kunjungan, ADA JEDA SELAMA SEKIAN WAKTU sebelum kunjungan berikutnya. Di RAPB buku ke- 1, hal.517-521. Lamanya jeda waktu dari 1 kunjungan ke kunjungan berikutnya adalah 4 bulan. Proses 4 tanda ini TERJADI JUGA PADA SELURUH CALON BUDDHA MASA LAMPAU, untuk itu, paragraph percakapan di atas dan juga 3 tanda berikutnya di bawah ini, diambil dari kisah Pangeran Vipassi yang kelak menjadi Buddha Vipassi dalam DN 14/Mahapadana Sutta.

Menurut Kitab komentar untuk DN 14:
Para Brahmà Arahanta dari Alam Sudhàvàsa, dengannya, menciptakan orang tua (juga untuk orang sakit,orang mati dan petapa) di depan kereta, yang hanya terlihat oleh Pangeran dan kusirnya. Para Brahmà Arahanta dari Alam Suddhàvàsa, mempertimbangkan, “Sang Bodhisatta Pangeran sekarang telah terperosok ke dalam lumpur lima kenikmatan indria bagaikan sapi yang berkubang di rawa-rawa. Kita harus membantunya untuk mengembalikan perhatiannya,” dan memperlihatkan bentuk orang tua, sakit, mati dan petapa [RAPB buku ke-1, hal 517-521].

4 Tanda: Penyakit
Setelah sekian lama waktu berlalu, Iapun bosan dan jemu akan kenikmatan indriya yang diberikan padanya dan Ia pun akhirnya mampu mengatasi ketakutannya akan penuaan:
    .. Aku berpikir:
    ‘Seorang kaum duniawi yang tidak terpelajar, walaupun dirinya tunduk pada penuaan, tidak terbebas dari penuaan, merasa muak, malu, dan jijik ketika ia melihat orang lain yang tua, dengan mengabaikan keadaannya sendiri. Sekarang, Aku juga tunduk pada penuaan dan tidak terbebas dari penuaan. Karena itu, jika Aku merasa muak, malu, dan jijik ketika melihat orang lain yang tua, maka itu tidaklah selayaknya bagiKu.’

    Ketika Aku merefleksikan demikian, maka kemabukanKu akan kemudaan sepenuhnya ditinggalkan [AN 3.39/Sukhumālasutta]
Iapun memutuskan untuk kembali melancong keluar dan ketika sedang berada dalam perjalanan melancong, Pangeran melihat seorang sakit, menderita, sangat sakit, terjatuh di atas air kencing dan kotorannya sendiri, dan beberapa orang mengangkatnya, dan yang lain meletakkannya ke tempat tidur. Melihat pemandangan itu Ia berkata kepada kusirNya: “Ada apa dengan orang itu? Matanya tidak seperti mata orang lain, kepalanya tidak seperti kepala orang lain.”
‘“Pangeran, itu adalah apa yang disebut orang sakit.”
“Tetapi mengapa ia disebut orang sakit?”
‘“Pangeran, ia disebut demikian karena ia hampir tidak dapat sembuh dari penyakitnya.”
“Tetapi apakah Aku bisa sakit, dan tidak terbebas dari penyakit?”
“Engkau dan aku, Pangeran, bisa sakit, dan tidak terbebas dari penyakit.”

Kemudian sang Pangeran menyuruh kusirnya untuk kembali ke Istana. Sesampainya di istana, Pangeran merasa sedih dan patah hati, ia meratap: “Sungguh menyakitkan kelahiran ini, karena bagi mereka yang dilahirkan, pasti mengalami penyakit!

Kemudian Raja memanggil sang kusir, yang menceritakan apa yang terjadi dan Raja memberikan lebih banyak lagi lima kenikmatan-indria kepada Pangeran, agar Ia kelak memerintah kerajaan dan tidak meninggalkan kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah … Demikianlah Pangeran melanjutkan kehidupannya dalam kenikmatan duniawi, dan tenggelam dalam 5 kenikmatan-indria.

4 Tanda: Kematian
Setelah sekian lama waktu berlalu, Iapun bosan dan jemu akan kenikmatan indriya yang diberikan padanya dan Ia pun akhirnya mampu mengatasi ketakutannya akan penyakit:
    .. Aku berpikir:
    ‘Seorang kaum duniawi yang tidak terpelajar, walaupun dirinya tunduk pada penyakit, tidak terbebas dari penyakit, merasa muak, malu, dan jijik ketika ia melihat orang lain yang sakit, dengan mengabaikan keadaannya sendiri. Sekarang, Aku juga tunduk pada penyakit dan tidak terbebas dari penyakit. Karena itu, jika Aku merasa muak, malu, dan jijik ketika melihat orang lain yang sakit, maka itu tidaklah selayaknya bagiKu.’

    Ketika Aku merefleksikan demikian, maka kemabukanKu akan kesehatan sepenuhnya ditinggalkan [AN 3.39/Sukhumālasutta]
Iapun memutuskan untuk kembali melancong keluar dan ketika sedang berada dalam perjalanan melancong, Pangeran melihat kerumunan besar, berpakaian berwarna-warni, dan membawa tandu jenazah. Melihat pemandangan itu ia berkata kepada kusirnya: “Apa yang dilakukan orang-orang itu?”
“Pangeran, itu adalah apa yang disebut orang mati.”
“Bawa Aku ke tempat orang mati tersebut.”
“Baik, Pangeran”, jawab sang kusir dan melakukan apa yang diperintahkan.
Dan Pangeran menatap mayat orang mati tersebut. Kemudian Ia berkata kepada sang kusir: “Mengapa ia disebut orang mati?”
“Pangeran, ia disebut orang mati karena sekarang orangtuanya dan sanak saudaranya tidak akan melihatnya lagi, dan sebaliknya.”
“Tetapi, apakah Aku akan mengalami kematian, tidak terbebas dari kematian?”
“Engkau dan aku, Pangeran, pasti mengalami kematian, tidak terbebas darinya.”

Kemudian sang Pangeran menyuruh kusirnya untuk kembali ke Istana. Sesampainya di istana, Pangeran merasa sedih dan patah hati, ia meratap: “Sungguh menyakitkan kelahiran ini, karena bagi mereka yang dilahirkan, pasti mengalami kematian!

Kemudian Raja memanggil sang kusir, yang menceritakan apa yang terjadi dan Raja memberikan lebih banyak lagi lima kenikmatan-indria kepada Pangeran, agar Ia kelak memerintah kerajaan dan tidak meninggalkan kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah … Demikianlah Pangeran melanjutkan kehidupannya dalam kenikmatan duniawi, dan tenggelam dalam 5 kenikmatan-indria.

4 tanda: Seorang Pertapa
Setelah sekian lama waktu berlalu, Iapun bosan dan jemu akan kenikmatan indriya yang diberikan padanya dan Ia pun akhirnya mampu mengatasi ketakutannya akan kematian:
    .. Aku berpikir:
    ‘Seorang kaum duniawi yang tidak terpelajar, walaupun dirinya tunduk pada kematian, tidak terbebas dari kematian, merasa muak, malu, dan jijik ketika ia melihat orang lain yang mati, dengan mengabaikan keadaannya sendiri. Sekarang, Aku juga tunduk pada kematian dan tidak terbebas dari kematian. Karena itu, jika Aku merasa muak, malu, dan jijik ketika melihat orang lain yang mati, maka itu tidaklah selayaknya bagiKu.’

    Ketika Aku merefleksikan demikian, maka kemabukanKu akan kehidupan sepenuhnya ditinggalkan [AN 3.39/Sukhumālasutta]
Iapun memutuskan untuk kembali melancong keluar dan ketika sedang berada dalam perjalanan melancong, Pangeran melihat seorang rambut dan janggutnya dicukur dan mengenakan jubah kuning. Dan Ia berkata kepada kusirnya: “Ada apa dengan orang itu? Kepalanya tidak seperti kepala orang lain, dan pakaiannya tidak seperti pakaian orang lain.”
“Pangeran, ia disebut seorang yang telah meninggalkan keduniawian.”
“Mengapa ia disebut seorang yang telah meninggalkan keduniawian?”
“Pangeran, yang dimaksud dengan seorang yang telah meninggalkan keduniawian adalah seorang yang sungguh-sungguh mengikuti Dhamma, yang sungguh-sungguh hidup dalam ketenangan, melakukan perbuatan baik, melakukan kebajikan, tidak melukai dan sungguh-sungguh berbelas kasih terhadap makhluk-makhluk hidup.”
“Kusir, ia tepat sekali disebut sebagai seorang yang telah meninggalkan keduniawian … bawa Aku kepadanya.”
“Baik, Pangeran”, jawab si kusir dan melakukan apa yang diperintahkan. Dan Pangeran menanyai orang yang telah meninggalkan keduniawian tersebut.
“Pangeran, sebagai seorang yang telah meninggalkan keduniawian aku sungguh-sungguh mengikuti Dhamma … dan berbelas kasih terhadap makhluk-makhluk hidup.”
“Engkau memang tepat sekali disebut sebagai seorang yang telah meninggalkan keduniawian …” [DN 14]

Pangeran melihat petapa itu terlihat sangat damai, Ia kagum dan terinspirasi untuk mencari kebebasan dengan cara yang sama hari itu juga. Namun, kemudian datanglah kurir Istana memberitahunya bahwa Putri Yasodhara telah melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat. Mendengar ini, Pangeran berkata, "rāhu jāto, bandhanaṃ jāta" ("belenggu terlahir, ikatan terlahir"). Karena ucapan ini, Raja menamakan cucunya dengan nama "Rahula".

Dalam perjalanan pulang, Pangeran melewati tempat kediaman para Bangsawan, Sidharta bertemu dengan Kisa (Krsa) Gotami, ponakan sang Raja, yang karena kagumnya melihat Sidharta, kemudian mengucapkan syair:

"Nibbutā nūna sā mātā, nibbuto nūna so pitā; Nibbutā nūna sā nārī, yassāyaṃ īdiso patī’’ti" ("Tenanglah ibunya, Tenanglah ayahnya, Tenanglah istrinya yang bersuami sepertinya") - [Budhavamsa 27, Jataka I-2]

Pangeran tergetar mendengar kata "Nibbuta" (yang selain berarti "tenang" juga berarti "padam"), karena kata yang menggetarkan ini, sebagai rasa terima kasih, Pangeran menghadiahi KisaGotami kalung seharga seratus ribu keping emas yang sedang dipakainya. Atas pemberian kalung itu, rupanya KisaGotami berprasangka bahwa pikiran sepupunya sedang tertuju padanya.
    Berapa jumlah istri Siddharta Gotama?
    Hanyalah 1, yaitu: Yasodharā (Yaso = Mulia, Dharā = Penolong, lihat di: KN, TheriApadana, Yaso­dharā­therī­apadāna; Divyavadana 18 dharmarucyavadānam, abad ke-2 M; Buddhacarita, karya Aśvaghoṣa, abad ke-2 M, 2.26-27; Buddhavamsa Atthakata (BuA), karya Buddhadatta, abad ke-5 M; Jinacaritaṁ, karya Ven. Medhaṅkara Thera abad ke-11/14 M, Bab.3.26 dan Mahavastu). Ia disebut juga Rāhulamātā (Vin.I.82, MahaKhandhaka dan Mahavastu, translasi dari: J.J.JONES, Vol.1, Hal.101). Arti Rāhulamātā adalah "Ibunya Rahula".

    Selain nama Yasodara atau Rāhulamātā, nama lain yang merujuk pada orang yang sama adalah:

    • Theri Bimbādevī (Bimba = bentuk/tubuh, Nama ini baru ada setelah Yasodara menjadi Biksuni, lihat di: Jataka no.281/ABBHANTARA, Jataka no.292/SUPATTA; DA.ii.422) atau Bimbāsundarī (Bimba yang cantik, Jataka no.485/Canda-Kinnara, J.vi.478), atau
    • Bhaddakaccā (KN, BuddhaVamsa, terjemahan Rev.Richard Morris, 26.15, hal.65) atau Bhaddakaccānā/Subhaddakā (Su = Baik, Bhadda = keberuntungan, Kaccāna = Keemasan atau bisa juga berarti keturunan dari kati, AN I.235-247 atau di Mahavamsa.ii.24, karya Mahanama MahaThera, Paman raja Dhatusena (460-478), Dighasanda Senapathi Pirivena, dari Vihara Mahavihara, Anuradhapura, Srilanka), atau
    • Gopā ("The Life of Buddha", A. Ferdinand Herold, bab 10 dan 16 yang banyak mengambil bahan dari Lalitavistara. Juga "Gotama Buddha: Lord of Wisdom", Rohini Chowdhury, hal.38. Di Arya Lalitavistara: Gopā dulunya Devi bernama Yasovatī, kemudian bersamaan dengan lahirnya Bodhisatva, Ia pun terlahir kembali sebagai Gopa dan menjadi istri Bodhisatva setelah menang sayembara. Saat Bodhisatva meninggalkan Istana, tertulis: Yasovati dan para pelayan tertidur dan setelah Bodhisatva meninggalkan istana, tertulis: Gopa dan para pelayan terbangun. Hal ini menunjukan bahwa nama lain Gopa adalah Yasovati)

    Dalam "Suramgamasamadhisutra", Etienne Lamotte, hal.154-155, menyampaikan nama calon istri Sidhartha Gotama, saat sayembara adalah:

    • Yasodhara (Fang kuang ta chuang yen ching, T 187, ch.4, p.561c; Yin kuo ching, T 189, ch.2, p.629b; Fo pen hsing chi ching, T 190, ch.13, p.712c; Ching hsu mo ho ti ching, T 191, ch.4, p. 942c; Buddhacarita II, v.26; Mahavastu II, p.48 sq.)
    • Gopa/Gopi (Hsiu hsing pen ch'i ching, T 184, ch.l, p.465&; T'ai tzu jui ying pen ch'i ching, T 185, ch.l, p.475a; P'u yao ching, T 186, ch.3, p.500c; I ch'u p'u sa pen ch'i ching, T 188, p.619a; Lalitavistara, p. 142 sq)

    Pendapat Lamotte adalah mengutip Upadesanya Nagarjuna dari aliran Mahayana (Nagarjuna, Traite 11, pp. 1002-4), bahwa di Rahulamatrjataka dikatakan Bodhisattva Sakyamuni punya 2 Istri: Gopa/Gopiya dan Yasodhara/Yasodhara Rahulamata. Gopa tidak mempunyai anak.

    Masalahnya,
    tidak ada rujukan lainnya yang menyebutkan adanya sayembara lain dan/atau ada dua wanita berbeda diboyong dalam sayembara tersebut. Disamping itu, rujukan di aliran Mahayana sendiri jelas menyatakan bahwa kedua nama itu sama-sama disebut Rāhulamātā, maka ini jelas merujuk pada 1 orang yang sama tapi beda nama

    Lamotte juga menyampaikan bahwa di Vinaya Mulasarvastiva dikatakan Boddhisatva beristri 3 orang dan masing-masing ditemani 20,000 pelayan: Yaśodharā, Gopā dan Mṛgajā (Ken pen shuo...p'i nai yeh, T 1442, ch.l 8, p.720c 12-13; P'o seng shih, T 1450, ch.3, p.1146 24-26; ch.12, p.l60c 15):

    • Ia memilih Yaśodharā dari seluruh gadis perawan sukunya (T 1450, ch.3, p.l 1 lc; W.W. Rockhill, Life of the Buddha,p.20);
    • Ia berhenti di pinggiran beranda teras rumah Gopā; Melihat ini, Suddhodana mengambil Gopā untuk anaknya (T 1450, ch.3, p. 1 12c; Rockhill, op. cit., pp.2 1-2);
    • 7 Hari menjelang kepergiannya, ketika calon buddha kembali ke Istananya, Mṛgajā berkata padanya dengan syair terkenal, "nibuttā nūna sā mātā.."; Sakyamuni, karena berterima kasih, Ia melemparkan kalungnya pada gadis ini; Mengetahui ini, Suddhodana, mengambil Mṛgajā untuk anaknya (T 1450, ch.3, p. 1146; Rockhill, op. cit., pp.23-4). Versi ini disampaikan oleh Chung hsu mo ho ti ching (T 191, ch.4, pp.944c-945fl). Sumber-sumber lain menyampaikan syair tersebut diuncarkan gadis muda bernama Mrgi (Fo pen hsing chi ching, T 190, ch.15, p. 7246; Mahavastu II, p. 157) atau Kisagotami/Krsa Gotami (Jataka I, pp.60-1; Komentar Dhammapada I, p.85), namun tidak dikatakan bahwa Ia diambil istri oleh Sakyamuni

    Dalam "Manual Of Indian Buddhism", H. Kern, di catatan kaki no.3, hal.16 disebutkan bahwa Kisagotami yang disebut juga dengan nama lain Mrgi adalah Ibu dari Ananda (Mhv. If. 157 dan Bhadrak. XXXV), sedangkan Siddharta tidak mempunyai anak lain selain Rahula. DPPN-nya G.P Malalasekera menyajikan informasi tentang 4 Kisagotami, di mana: 2 orang berada pada jaman Buddha Tissa dan Pussa, 2 Kisagotami ada di jaman Buddha Gotama, yaitu satunya merupakan penduduk Savatthi bukan Kapilavatthu, bernama Gotami, Ia disebut Kisa karena kurus dan kemudian mengalami kematian anak. Satunya lagi adalah yang melanturkan syair, "Nibbutā nūna sā mātā..". Ini adalah sepupu Sidharta dan tidak disebutkan Ia menikah dengan Sidharta.

    Satu masalah dari kisah versi aliran Mahayana adalah saat Sidhartha bertemu Kisagotami/Mṛgajā adalah saat cucu pertama Raja Suddhodana atau anak Siddhartha lahir. Raja dan seluruh Istana sedang sangat bergembira, perhatian terpusat pada cucu pertama Raja berupa undangan pada sanak dan para Brahmana untuk perayaan dan pemilihan nama untuknya seperti ketika Sidharta lahir, yang terjadi sekurangnya 5 hari kemudian. Setelah perayaan penuh kegembiraan usai, kelelahan melanda penghuni Istana, mereka menjadi mudah terlelap, saat itulah, saat yang paling mungkin sebagai peristiwa perginya sang Bodhisatta meninggalkan istana untuk menjadi petapa. Tidak ada waktu yang memungkinkan untuk peristiwa pernikahan dengan Kisagotami. Bahkan di literatur-literatur pali awal pun tidak ada peristiwa pernikahan ke-2 Siddharta
Menjauh dari para penari
Sejak melihat seorang pertapa dan bertekad menempuh kehidupan suci, maka terhadap 5 kesenangan Indriawi berupa kekayaan, penari, tarian, musik hiburan dan lainnya, semakin tampak menjemukan, membosankan dan menakutkan: "Alangkah menakutkannya! Alangkah mengerikannya!". [Komentar GotamaBuddhavamsa].

Pikirannya semakin tertuju pada cara membebaskan diri dari usia lanjut, penyakit dan kematian. Bahkan Yasodarapun tahu akan hal ini, hingga kerap mengigau dalam tidurnya: "Waktunya sudah sampai! Temponya sudah datang!".

Semakin hari, semakin kuat keinginannya untuk menjadi petapa, hingga akhirnya ia berpikir, “Sekarang adalah waktunya bagi-Ku bahkan hari ini juga untuk pergi meninggalkan kehidupan rumah tangga.

Siddhartha meninggalkan rumah
Suatu malam, ketika orang-orang istana sedang lelap tidur, Ia berdiri mengawasi Yasodara yang dicintainya pulas tertidur sambil memeluk Rahula. Ia berlutut dan mencium kaki Yasodara, mengawasi sekali lagi paras cantik itu dan ucapkan perkataan selamat tinggal padanya, Hatinya ingin memondong bayinya untuk diciumnya sebelum keberangkatannya, tapi ia khawatir Ibu dan anak itu terbangun, tiga kali ia bolak-balik keluar masuk kamar seperti tertarik besi sembrani. Sungguh suatu pergulatan yang sulit. Setelah berjanji akan kembali setelah berhasil, akhirnya ia pergi, dengan melewati tempat dayang-dayangnya yang muda dan cantik, Ia menuju tempat kusirnya, Channa dan membangunkannya, Ia memintanya untuk menyiapkan kudanya, Kanthaka.

Melihat Kapilavatthu untuk terakhir kalinya
Dalam kesunyian malam, Pangeran Siddhartha menunggangi Kanthaka. Bersama Channa, ia meninggalkan istana dan kota Kapilavatthu. Setelah sampai di luar kota, Pangeran berhenti sejenak dan memutar kudanya untuk melihat kota Kapilavatthu untuk terakhir kali (di tempat itu kemudian didirikan sebuah cetiya yang dinamakan Kanthakanivattana-cetiya). Saat itu terang bulan di bulan Asalha. Perjalanan diteruskan melintasi perbatasan negara Sakya, Koliya, dan Malla, kemudian dengan satu kali loncatan menyeberangi Sungai Anoma.

Pangeran turun dari kuda, melepas semua perhiasannya dan memberikannya kepada Channa, mencukur kumisnya, memotong rambut di kepalanya dengan pedang dan melemparkannya ke udara (yang disambut oleh Dewa Sakka/Sakra(Indra) dan membawanya ke surga Tavatimsa untuk dipuja di Culamani-cetiya). Rambut yang tersisa sepanjang dua anguli (± dua inci) semasa hidupnya tetap sepanjang itu dan tidak tumbuh-tumbuh lagi.
    Apakah Sang Buddha Gundul?
    Tentang rambut, dalam sutta ada “muṇḍaka” = “yang rambutnya tercukur” (Muṇḍana = bercukur/memotong, tindakan mencukur), misal: "mā te muṇḍakā samaṇakā pānīyaṃ apaṃsū" (Jangan sampai para petapa yang rambutnya tercukur ini meminum air kami, Ud 7.9/Udapānasutta) namun kata itu kerap diterjemahkan “gundul”. Sutta ini menunjukan bahwa penampilan Sang Buddha dan murid-muridnya adalah sama, yaitu dengan rambut tercukur. Rambut panjang dijaman itu adalah simbol kejayaan. Seorang dengan rambut terpotong dikarenakan beberapa sebab: Kaum rendahan atau sedang menjalani hukuman atau terbuang dari sukunya atau mereka yang tengah melakukan sumpah tertentu atau mulai menjadi Petapa namun tradisi brahmanism tertentu tidak melakukan potong rambut saat melakukan sumpah atau menjadi petapa.

    Gundul total bukanlah keharusan, karena di vinaya, culavagga V.2.2 dikatakan: "Tidak sepantasnya, Para Bhikkhu, berambut panjang, pelanggaran tentang ini adalah dukhata. Kuperkenankan, Para bhikkhu, rambut panjangnya hingga seumuran 2 bulan atau 2 anguli (2 inchi/5.08 cm)". Ini tampaknya ukuran panjang rambut Siddharta Gautama ketika bertekad menempuh kehidupan pertapaan dengan memotong rambut dan janggutnya. Dalam kitab komentar dikatakan rambutnya tidak lagi memanjang, bentuknya melingkar kecil seperti siput dengan panjang tidak lebih dari 2 anguli.

    Berapakah Tinggi Tubuh Sidhartha Gautama?
    Penampilan Buddha Gautama adalah seperti para Bhikkhu lainnya, misalnya Pangeran Ajjasattu tidak mengenali Sang Buddha dalam kumpulan Bhikkhu yang sedang bersila [DN.2/Samaññaphala Sutta]; Penjaga taman hutan bambu taman rusa tidak mengenali sang Buddha [MN 128/Upakkilesa Sutta] dan Pukkhusati, raja kerajaan Gandhara yang menjadi Bhikkhu dan hendak bertemu Sang Buddha, ketika bertemu, TIDAK MENGENALI beliau adalah Buddha [MN 140/Dhatu Vibhangga sutta ].

    Ini mengindikasikan perawakan beliau tidak berbeda dengan bhikkhu lainnya, vinaya Paticiya ke-92 ada tertulis: "Apabila seorang bhikkhu membuat jubah yang sama atau lebih besar dari ukuran jubah sugata, maka ia melanggar peraturan pacittiya dan kain tersebut terlebih harus dipotong. Ukuran jubah sugata adalah sebagai berikut: panjang 9 sugata dan lebar 6 sugata". Dalam DN.14; DN.30; MN.91 tentang 32 ciri manusia agung disebutkan, "rentang kedua lengannya sama dengan tinggi badannya, dan tinggi badannya sama dengan rentang kedua lengannya

    Jika lengan di tekuk dan ujung jari bertemu di depan dada, maka panjangnya = 4 x SIKU-UJUNG JARI (Hasta). Dimana, SIKU-UJUNG JARI = 2 JENGKAL tangan sendiri [vadatthi]. Jadi TOTAL PANJANG = 8 JENGKAL.

    Panjang manusia = 8 jengkalnya sendiri, yaitu PUSER - UBUN KEPALA = 3 JENGKAL; PUSER - Tapak KAKI = 5 Jengkal. Jika duduk bersila, LANTAI - UBUN KEPALA = 4 Jengkalnya sendiri. Karena Ajjasattu tidak mengenali sang Buddha dan para bhikkhunya ketika duduk bersila, maka 8 Jengkal sang Buddha TIDAK JAUH BEDANYA dengan rata-rata manusia.

    1 Jengkal [vidatthi] = 8.5 inch s/d 9 inch. 1 Inchi = 2.54 CM. 1 Jengkal = 21.59 CM - 22.86 CM. 8 Jengkal = 172.72 CM - 182.88 CM. [6 kaki = 182.88 CM].

    RAPB buku ke-1, hal 400-401: Tinggi Buddha Gautama adalah 16 hatta s/d 18 hatta [Di 32 ciri-ciri Buddha no.5 dan no.6, hatta adalah tangan], lebar tangan = 4 inch. 16 Hatta = 162.54 CM dan 18 Hatta = 182.88 CM

    Jubah: "panjang 9 (jengkal) sugata dan lebar 6 (jengkal) sugata". Dimana, 9 jengkal = 194.31 CM - 205.74 CM. Maka 8 JENGKAL seharusnya TIDAK LEBIH dari 194.31 CM. Jadi range perkiraan tinggi beliau adalah: 172.72 CM s.d 194.31 CM
Brahma Ghatikara muncul dihadapannya mempersembahkan delapan jenis barang: jubah luar, jubah dalam, kain bawah, ikat pinggang, mangkuk makanan, pisau, jarum, dan saringan air. Setelah menukar pakaiannya dengan jubah pertapa, Pangeran memerintahkan Channa untuk kembali ke istana. Pada awalnya, Channa dan Kanthaka menolak untuk kembali, tetapi pangeran Siddhartha menegaskan harus pergi dan berkata, "Jangan Channa, bawa pakaian dan perhiasan ini kembali, berikan kepada Ayahku dan sampaikan pesanku untuk Ayah, Ibu, dan Yasodhara untuk jangan terlalu bersusah hati. Aku akan mencari obat untuk menghentikan usia tua, sakit, dan mati.

Segera setelah aku memperolehnya, aku kembali ke istana untuk memberikannya kepada Ayah, Ibu, Yasodhara, Rahula, dan kepada semua orang yang ada di dunia ini."Dengan air mata bercucuran di wajahnya, Channa dan Kanthaka mengamati perginya pangeran Siddharta berjalan kaki menjauh. Kembalinya Channa bersama Kanthaka (tanpa Pangeran) ke Kapilavatthu disambut oleh Raja dan seluruh penghuni istana dengan ratapan dan tangisan. Channa menyerahkan perhiasan, pedang serta pakaian Pangeran kepada Baginda Raja, menyampaikan salam perpisahan Pangeran kepada Ibunya dan Yasodhara beserta segenap keluarga lainnya. Selanjutnya Channa memberitahukan bahwa Pangeran sekarang berada di tepi Sungai Anoma di negara Malla. Meskipun menyesali kepergian Pangeran Siddhattha, tetapi Raja tahu bahwa kepergiannya itu sesuai dengan ramalan pertapa Asita dan Kondañña dan mengharap-harap cemas bila kiranya Pangeran akan berhasil menjadi seorang Buddha. Mulai hari itu Raja selalu mengikuti keadaan Pangeran dengan menyuruh orang menyelidiki dan melaporkan kepada Raja segala sesuatu yang dikerjakan Pangeran dan dimana Beliau berada.

Hidup sebagai pertapa
Usianya saat itu 29 tahun, Siddhartha mulai menjalani kehidupan tanpa rumah sebagai seorang pertapa. Dari Kapilavatthu, Sidharta berjalan ke arah selatan menuju Rajagaha, ibukota negara Magadha. Raja negara ini bernama Bimbisara. Sesampainya di Rajagaha, Ia mendapatkan makanannya dengan jalan seperti para pertapa lainnya yaitu terserah dari apa yang orang hendak berikan, setelahnya, Ia menuju luarkota ke arah sebuah Gunung di Timur kota (gunung Pandava), duduk di sana dan memakan makanan yang diperolehnya

Simpati terhadap seekor domba yang terluka
Setelah makan, Siddhartha memutuskan untuk pergi ke pegunungan dimana orang-orang yang hidup menyendiri dan orang-orang bijak tinggal. Dalam perjalanannya menuju kesana, Siddharta melewati sekumpulan domba. Para penggembala mengarahkan domba-dombanya ke Rajagaha untuk dikorbankan dalam suatu upacara pembakaran. Satu domba kecil terluka. Karena simpati, Siddhartha menggendong domba itu dan mengikuti para penggembala domba kembali ke kota.

Menghentikan pengorbanan binatang
Di kota, dalam suatu pemujaan di rumah pemujaan, terdapat api menyala di atas altar, Raja Bimbisara dan sekelompok pendeta sedang melakukan upacara mereka kepada Dewa Indra diseputaran api. Di seputaran api itu telah banyak darah mengucur dan Ketika seorang pemimpin dari para pemuja api itu mengangkat pedangnya untuk membunuh domba pertama, Siddhartha menghampirinya dan meminta kepada raja untuk menghentikan ritual ini, sambil membuka tali yang mengikat domba itu. Tidak ada seorangpun yang sanggup mencegahnya. Siddharta meminta ijin raja Bimbisara untuk berbicara bahwa semua dapat membuat musnah jiwa-jiwa mahluk lain namun tidak ada yang dapat membuat hidup mahluk yang sudah mati, Bagi yang ingin dikasihani Dewa-dewa, agar juga mengasihani mahluk lainnya, manusia tidak nanti dapat membersihkan diri mereka dengan menggunakan darah,

Siapa yang menabur penderitaan memetik buah yang sama
Sambil menghampiri Raja dengan merangkapkan kedua tangan, ia berkata pula bahwa Alangkah indahnya kalau semua mahluk hidup saling berbuat baik terhadap yang lain, karena Jika manusia mengharapkan belas kasih, maka mereka seharusnya menunjukkan belas kasih. Sesuai hukum sebab-akibat, mereka yang membunuh makhluk lain akan, pada gilirannya, akan terbunuh. Jika kita mengharapkan kebahagiaan di masa depan, kita tidak boleh melukai semua makhluk. Siapapun yang menabur penderitaan akan menuai buah yang sama. Alangkah indahnya kalau semua mahluk hidup saling berbuat yang baik terhadap yang lain. Ucapan ini mengubah pikiran raja Bimbisara yang kemudian membuat maklumat bahwa sejak saat itu dilarang menumpahkan darah binatang, baik itu untuk persembahan para Dewa maupun untuk dimakan. Raja kemudian mengundang Siddhartha untuk tinggal dan mengajari rakyatnya. Tetapi Siddhartha menolak, karena Ia belum menemukan kebenaran yang dicarinya.
    Note:
    3 Kisah Siddharttha di atas ini, yaitu mulai dari menggendong domba kecil terluka, heroisme menggagalkan pengorbanan binatang dalam upacara, menasehati raja, Raja Bimbisara menyampaikan maklumat melarang membunuh binatang dan mengundang Siddhartha TIDAK ADA dalam Sutta, Vinaya dan juga di kitab-kitab komentar Buddhis klasik KECUALI berasal dari buku "The Light of Asia", buku ke-5, karangan Sir Edwin Arnold. Kecuali dari pengarangnya, tidak diketahui asal-usul dari kisah karangannya ini berasal. [Lihat juga: INI]

    Kitab Komentar:
    Setelah mencukur rambut dan menjadi petapa, Pangeran Sidharta, menurut:

    • Kitab komentar untuk Buddhavamsa dan Jataka: Ia berdiam 7 hari di huta Mangga, Anupiya dan kemudian berjalan kaki 30 yojana sehari memasuki Rajagaha.
    • Kitab komentar Sutta Nipatta: Ia menjalani sila dan berjalan 30 Yojana dalam 7 hari dari tepi sungai Anoma memasuki Rajagaha

    adalah untuk mengumpulkan dana makanan.

    7 Hari sebelum Pangeran Siddharta memasuki Rajagaha, sebuah festival sedang dirayakan oleh orang banyak. Pada hari, Pangeran Siddharta memasuki kota, Raja Bimbisàra mengumumkan dengan tabuhan genderang bahwa Festival telah selesai. Ketika Sang Petapa mengumpukan dana makanan, para penduduk masih berkerumun dan membicarakan dirinya. Para pelayan Istana melaporkan kejadian ini pada Raja Bimbisàra, raja juga sempat melihat beliau dari teras atas dan merasa penasaran, kemudian memerintahkan menterinya untuk menyelidikinya

    Setelah selesai mengumpulkan dana makan, Pangeran Siddharta menuju luar kota untuk memakan dana makanan yang diibawa-Nya. Awalnya, saat menyuap dan menelan makanan campur aduk berwarna-warni yang sangat menjijikan ini ke mulutnya, Ia merasa menderita dan nyaris muntah-muntah karena belum pernah melihat dan memakan makanan yang sangat menjijikan seperti itu. Setelah menenangkan diri dan menegur diri sendiri akan tujuan dan tekadnya, barulah Ia dapat dengan baik makan makanan yang sangat menjiikan itu

    Setelah mendapat laporan dari menterinya, Raja Bimbisara kemudian mendatanginya [kitab komentar Buddhavamsa dan Subkomentar Jinàlankàra. Juga lihat buku "Riwayat Agung Para Buddha", buku ke-1. Cet-ke-1, tahun 2008, hal. 550-558]

    Raja duduk di sebelahNya, bertukar salam dan penghormatan, kemudian berkata:

      "Tuan, Engkau masih muda, di puncak kehidupanmu, tampan dan rupawan. Tampaknya engkau seorang putra mahkota dari keluarga bangsawan. Engkau dapat diiringi bala tentara yang hebat dan dihormati oleh kelompok bangsawan. Nikmatilah kekayaan yang dapat kuberikan padamu. Tetapi, dapatkah engkau beritahukan dari keluarga manakah asalmu?’ [SNP 3.1/Pabbaja Sutta]

    Pangeran Siddharta menjelaskan asal usulnya dan menolak tawaran sang Raja dengan berkata:

      'Telah kulihat penderitaan akibat kesenangan. Telah kulihat kemantapan yang ada bila meninggalkan penderitaan-penderitaan itu,
      Jadi sekarang aku akan pergi,
      Aku akan menuju ke medan perjuangan,
      Inilah kebahagiaan pikiranku;
      Di sinilah pikiranku mendapat kebahagiaan
      ’ [SNP 3.1/Pabbaja Sutta]

    Mendengar ini, raja Bimbisara kemudian memohon saat sang petapa telah mencapai tujuannya, agar kunjungan pertamanya adalah ke negerinya. Setelah pertemuan ini, Sang Pangeran melanjutkan perjalanannya [kitab komentar Buddhavamsa dan Subkomentar Jinàlankàra. Juga lihat buku "Riwayat Agung Para Buddha", buku ke-1. Cet-ke-1, tahun 2008, hal. 550-558]

    Kurban binatang berawal di jaman Raja Okkāka
    Para brahmana pada zaman dahulu tidak punya ternak, emas maupun jagung. Makanan apa pun yang disiapkan untuk mereka diletakkan di pintu... Orang-orang kaya dari berbagai propinsi dan negeri lain memuja para brahmana itu dengan pemberian jubah beraneka warna, tempat tidur dan tempat berdiam...Tak ada yang pernah menolak mereka di ambang pintu rumah mana pun.

    Sebelumnya, para brahmana mempraktekkan kehidupan selibat di masa muda sampai usia 48 tahun, tidak hidup bersama istri orang lain, tidak membeli istri... Tidak hidup bersama kecuali dengan seorang istri yang telah berhenti haid, dan hanya pada waktu yang tepat... brahmana itu bersih dari tindakan seksual yang tidak pantas, dan bahkan dalam mimpi, sekalipun dia tidak memanjakan diri dalam hubungan seksual... Mereka mengagungkan kesucian, moralitas, integritas, keramahtamahan, keprihatinan, kelembutan hati, daya tahan, dan mereka anti-kekerasan.

    ... Mereka mempersembahkan benda-benda itu untuk kurban, dan untuk kurban mereka tidak membunuh sapi. Sapi-sapi, yang darinya obat-obatan dihasilkan, merupakan sahabat kita yang baik, bagaikan ibu, ayah, saudara dan sanak kita. Sapi-sapi itu memberi makanan, kekuatan, keindahan, kesehatan. Karena manfaat-manfaat ini, para brahmana itu tidak membunuh ternak.

    Namun kemudian mereka mulai melihat kekayaan dan wanita dengan aneka perhiasan, dan mulailah terjadi perubahan dalam diri mereka. Para brahmana itu mulai menginginkan sapi-sapi, wanita-wanita cantik, kereta dengan kuda-kuda terlatih baik yang dihiasi tirai-tirai indah, serta rumah dan tempat tinggal yang dibangun dan ditata baik.

    Setelah mencipta lagu-lagu pujian, mereka kemudian menghadap Raja Okkaka..Karena bujukan para brahmana, maka Raja, penguasa kereta, dengan bebas melakukan kurban kuda, kurban manusia, ritual-ritual air dan kurban minuman keras. Setelah melakukan kurban-kurban ini, Raja memberikan harta kepada para brahmana itu, yaitu: Ternak, tempat tidur, pakaian, wanita-wanita berhias, kereta-kereta kokoh yang ditarik oleh kuda-kuda indah dan dihias kain berbordir, Rumah-rumah indah, yang dirancang baik dengan masing-masing bagiannya, yang penuh dengan berbagai macam biji-bijian.

    Setelah menerima kekayaan, para brahmana pun berkeinginan untuk menimbun; dan karena dikuasai oleh keinginan memiliki kekayaan, keserakahan mereka pun meningkat. Mereka menciptakan lagu-lagu pujian dan sekali lagi menghadap Okkaka.. Kemudian, karena bujukan para brahmana, Raja, penguasa kereta, menyebabkan terbunuhnya beratus-ratus ribu ternak untuk kurban. Padahal sapi-sapi tidak menyakiti siapa pun dengan kaki maupun tanduk mereka. Mereka patuh bagaikan domba dan memberikan amat banyak susu. Namun Raja menangkap mereka ..dan memerintahkan agar sapi-sapi itu dibunuh dengan pedang.

    Maka para dewa, leluhur, Indra para asura pelindung (asurarakkhasā), ketika pedang itu terayun pada sapi, berteriak: ‘Ini Adhamma!’. Pada zaman dahulu hanya ada 3 macam penyakit: nafsu, kelaparan, dan kelapukan. Tetapi karena pembunuhan binatang, jumlah penyakit bertambah menjadi 98.. Ketidakadilan yang sudah tua ini terus terjadi turun temurun [SnP 2.7/BrahmanaDhammika Sutta]
Mendatangi Āḷāra Kālāma dan Uddaka Rāmaputta
Setelah meninggalkan Rajagaha, Siddhartha mendatangi Āḷāra Kālāma dan berkata kepadanya: ‘Teman Kālāma, Aku ingin menjalani kehidupan suci dalam Dhamma dan Disiplin ini.’ Āḷāra Kālāma menjawab: ‘Yang Mulia boleh menetap di sini. Dhamma ini adalah sedemikian sehingga seorang bijaksana dapat segera memasuki dan berdiam di dalamnya, menembus doktrin gurunya sendiri untuk dirinya sendiri melalui pengetahuan langsung.’ Aku dengan segera mempelajari Dhamma itu. Sejauh hanya mengulangi dan melafalkan ajarannya melalui mulut, Aku dapat mengatakan dengan pengetahuan dan kepastian, dan Aku mengakui, ‘Aku mengetahui dan melihat’—dan ada orang-orang lain yang juga melakukan demikian.

“Aku merenungkan: ‘Bukan hanya sekadar keyakinan saja maka Āḷāra Kālāma menyatakan: “Dengan menembusnya untuk diriKu sendiri dengan pengetahuan langsung, Aku masuk dan berdiam dalam Dhamma ini.” Āḷāra Kālāma pasti berdiam dengan mengetahui dan melihat Dhamma ini.’ Kemudian Aku mendatangi Āḷāra Kālāma dan bertanya: ‘Teman Kālāma, dalam cara bagaimanakah engkau menyatakan bahwa dengan menembusnya untuk dirimu sendiri dengan pengetahuan langsung engkau masuk dan berdiam dalam Dhamma ini?’ Sebagai jawaban ia menyatakan landasan tidak ada apapun

“Aku merenungkan: ‘Bukan hanya Āḷāra Kālāma yang memiliki keyakinan, kegigihan, perhatian, konsentrasi, dan kebijaksanaan. Aku juga memiliki keyakinan, kegigihan, perhatian, konsentrasi, dan kebijaksanaan. Bagaimana jika Aku berjuang untuk menembus Dhamma yang dinyatakan oleh Āḷāra Kālāma bahwa ia telah masuk dan berdiam di dalamnya dengan menembusnya untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung?’

“Aku dengan cepat memasuki dan berdiam dalam Dhamma dengan menembusnya untuk diriKu sendiri dengan pengetahuan langsung. Kemudian Aku mendatangi Āḷāra Kālāma dan bertanya: ‘Teman Kālāma, apakah dengan cara ini engkau menyatakan bahwa engkau masuk dan berdiam dalam Dhamma ini dengan menembusnya untuk dirimu sendiri dengan pengetahuan langsung?’—‘Demikianlah, teman.’—‘Adalah dengan cara ini, teman, bahwa Aku juga masuk dan berdiam dalam Dhamma ini dengan menembusnya untuk diriKu sendiri dengan pengetahuan langsung.’—‘Suatu keuntungan bagi kita, teman, suatu keuntungan besar bagi kita bahwa kita memiliki seorang mulia demikian bagi teman-teman kita dalam kehidupan suci. jadi Dhamma yang kunyatakan telah kumasuki dan berdiam di dalamnya dengan menembusnya untuk diriku sendiri dengan pengetahuan langsung adalah juga Dhamma yang Engkau masuki dan berdiam di dalamnya dengan menembusnya untuk diriMu sendiri dengan pengetahuan langsung. Dan Dhamma yang Engkau masuki dan berdiam di dalamnya dengan menembusnya untuk diriMu sendiri dengan pengetahuan langsung adalah Dhamma yang kunyatakan telah aku masuki dan berdiam di dalamnya dengan menembusnya untuk diriku sendiri dengan pengetahuan langsung. Jadi Engkau mengetahui Dhamma yang kuketahui dan aku mengetahui Dhamma yang Engkau ketahui. Sebagaimana aku, demikian pula Engkau; sebagaimana Engkau, demikian pula aku. Marilah, teman, mari kita memimpin komunitas ini bersama-sama.’

“Demikianlah Āḷāra Kālāma, guruKu, menempatkan Aku, muridnya, setara dengan dirinya dan menganugerahi diriku dengan penghormatan tertinggi. Tetapi aku berpikir: ‘Dhamma ini tidak menuntun menuju kekecewaan, tidak menuntun menuju kebosanan, tidak menuntun menuju lenyapnya, tidak menuntun menuju kedamaian, tidak menuntun menuju pengetahuan langsung, tidak menuntun menuju Nibbāna, tetapi hanya menuntun menuju kemunculan kembali dalam landasan kekosongan.’ Karena tidak puas dengan Dhamma itu, Aku pergi dan meninggalkan tempat itu. [MN 26]

Uddaka Rāmaputta
“Aku mendatangi Uddaka Rāmaputta dan berkata kepadanya: ‘Teman, Aku ingin menjalani kehidupan suci dalam Dhamma dan Disiplin ini.’ Uddaka Rāmaputta menjawab: ‘Yang Mulia boleh menetap di sini. Dhamma ini adalah sedemikian sehingga seorang bijaksana dapat segera memasuki dan berdiam di dalamnya, menembus doktrin gurunya sendiri untuk dirinya sendiri melalui pengetahuan langsung.’ Aku dengan segera mempelajari Dhamma itu. Sejauh hanya mengulangi dan melafalkan ajarannya melalui mulut, Aku dapat mengatakan dengan pengetahuan dan kepastian, dan Aku mengakui, ‘Aku mengetahui dan melihat’—dan ada orang-orang lain yang juga melakukan demikian.

“Aku merenungkan: ‘Bukan hanya sekadar keyakinan saja maka Rāma menyatakan: “Dengan menembusnya untuk diriKu sendiri dengan pengetahuan langsung, Aku masuk dan berdiam dalam Dhamma ini.” Rāma pasti berdiam dengan mengetahui dan melihat Dhamma ini.’ Kemudian Aku mendatangi Uddaka Rāmaputta dan bertanya: ‘Teman, dalam cara bagaimanakah Rāma menyatakan bahwa dengan menembusnya untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung ia masuk dan berdiam dalam Dhamma ini?’ Sebagai jawaban ia menyatakan landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi

“Aku merenungkan: ‘Bukan hanya Rāma yang memiliki keyakinan, kegigihan, perhatian, konsentrasi, dan kebijaksanaan. Aku juga memiliki keyakinan, kegigihan, perhatian, konsentrasi, dan kebijaksanaan. Bagaimana jika Aku berjuang untuk menembus Dhamma yang dinyatakan oleh Rāma bahwa ia telah masuk dan berdiam di dalamnya dengan menembusnya untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung?’

“Aku dengan cepat masuk dan berdiam dalam Dhamma dengan menembusnya untuk diriKu sendiri dengan pengetahuan langsung. Kemudian Aku mendatangi Uddaka Rāmaputta dan bertanya: ‘Teman, apakah dengan cara ini Rāma menyatakan bahwa ia masuk dan berdiam dalam Dhamma ini dengan menembusnya untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung?’—‘Demikianlah, teman.’—‘Adalah dengan cara ini, teman, bahwa Aku juga masuk dan berdiam dalam Dhamma ini dengan menembusnya untuk diriKu sendiri dengan pengetahuan langsung.’—‘Suatu keuntungan bagi kita, teman, suatu keuntungan besar bagi kita bahwa kita memiliki seorang mulia demikian bagi teman-teman kita dalam kehidupan suci. jadi Dhamma yang dinyatakan oleh Rāma telah ia masuki dan diami di dalamnya dengan menembusnya untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung adalah juga Dhamma yang Engkau masuki dan diami di dalamnya dengan menembusnya untuk dirimu sendiri dengan pengetahuan langsung. Dan Dhamma yang Engkau masuki dan diami di dalamnya dengan menembusnya untuk dirimu sendiri dengan pengetahuan langsung adalah Dhamma yang dinyatakan oleh Rāma telah ia masuki dan diami di dalamnya dengan menembusnya untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung. Jadi Engkau mengetahui Dhamma yang diketahui oleh Rāma dan Rāma mengetahui Dhamma yang Engkau ketahui. Sebagaimana Rāma, demikian pula Engkau; sebagaimana Engkau, demikian pula Rāma. Marilah, teman, mari kita memimpin komunitas ini bersama-sama.

“Demikianlah Uddaka Rāmaputta, temanKu dalam kehidupan suci, menempatkan Aku dalam posisi seorang guru dan menganugerahi diriku dengan penghormatan tertinggi. Tetapi aku berpikir: ‘Dhamma ini tidak menuntun menuju kekecewaan, menuju kebosanan, menuju lenyapnya, menuju kedamaian, menuju pengetahuan langsung, menuju Nibbāna, tetapi hanya menuju kemunculan kembali dalam landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi.’ Karena tidak puas dengan Dhamma itu, Aku pergi dan meninggalkan tempat itu. [MN 26]

Kelompok 5 pertapa
“Aku mengembara secara bertahap melewati Negeri Magadha hingga akhirnya Aku sampai di Senānigama di dekat Uruvelā. Di sana Aku melihat sepetak tanah yang nyaman, hutan yang indah dengan aliran sungai yang jernih dengan pantai yang halus dan menyenangkan dan di dekat sana terdapat sebuah desa sebagai sumber dana makanan. Aku merenungkan: ‘Ini adalah sepetak tanah yang nyaman, ini adalah hutan yang indah dengan aliran sungai yang jernih dengan pantai yang halus dan menyenangkan dan di dekat sana terdapat sebuah desa sebagai sumber dana makanan. Ini akan membantu usaha seseorang yang bersungguh-sungguh untuk berusaha.’ Dan Aku duduk di sana berpikir: ‘Ini akan membantu usaha.’ [MN 26]

Kelompok lima petapa (Kondanna, Bhaddiya, Vappa, Mahanama dan Assaji) mendengar bahwa Siddharta telah menjadi petapa mereka mulai mengunjungi desa-desa, kota-kota, dan lain-lain satu demi satu, untuk mencari Bodhisatta dan akhirnya bertemu di Hutan Uruvelà. Karena berharap tidak lama lagi, Beliau akan menjadi seorang Buddha, maka melayani-Nya dalam praktek penyiksaan diri (dukkaracariya) selama 6 tahun; mereka bergerak ke sana ke sini memenuhi kewajiban mereka seperti menyapu, mengambil air panas, dingin, dan lain-lain [RAPB Buku ke-1, Cetakan ke-1, May 2008, Bab.12, hal.569-570].
    Sang Buddha, ‘Para bhikkhu dari kelompok lima yang melayaniKu sewaktu aku menjalani usahaku telah sangat membantu” [MN 26]
Penderitaan dengan praktek ekstrim
Pangeran Siddhartha mempraktekkan berbagai variasi praktek pertapaan selama enam tahun perjuangannya mencapai pencerahan:
    Melakukan meditasi tanpa bernafas yang sangat keras:
    Aku menghentikan nafas masuk dan nafas keluar melalui mulut dan hidungKu. Sewaktu Aku melakukan demikian, terdengar suara angin yang keras menerobos keluar dari lubang telingaKu. Bagaikan suara keras yang terdengar ketika pipa pengembus pandai besi ditiup, demikian pula, sewaktu Aku menghentikan nafas masuk dan nafas keluar melalui hidung dan telingaKu, terdengar suara angin yang keras menerobos keluar dari lubang telingaKu...

    Aku menghentikan nafas masuk dan nafas keluar melalui mulut, hidung, dan telingaKu. Ketika Aku melakukan demikian, angin kencang menembus kepalaKu. Seolah-olah seorang kuat menusuk kepalaKu dengan ujung pedang tajam...Aku merasakan kesakitan luar biasa di kepalaKu. Seolah-olah seorang kuat mengencangkan tali kulit di kepalaKu sebagai ikat kepala...Angin kencang menerobos keluar melalui perutKu. Bagaikan seorang tukang daging yang terampil atau muridnya membelah perut seekor sapi dengan pisau daging yang tajam...Aku merasakan kebakaran hebat di seluruh tubuhKu. Bagaikan dua orang kuat mencengkeram seseorang yang lebih lemah pada kedua lengannya dan memanggangnya di atas lubang membara..Tetapi walaupun kegigihan yang tidak kenal lelah telah dibangkitkan dalam diriKu dan perhatian yang tidak mengendur telah kokoh, tubuhKu kelelahan dan tidak tenang karena Aku terlalu letih oleh usaha yang menyakitkan. Tetapi perasaan menyakitkan demikian yang muncul padaKu tidak menyerbu pikiranKu dan tidak menetap di sana. [MN 36/Mahasaccaka Sutta]

    Pertapaan sangat keras
    “Aku bepergian dengan telanjang, menolak kebiasaan-kebiasaan, menjilat tanganKu, tidak datang ketika dipanggil, tidak berhenti ketika diminta;
    Aku tidak menerima makanan yang dibawa atau makanan yang secara khusus dipersiapkan atau suatu undangan makan;
    Aku tidak menerima dari kendi, dari mangkuk, melintasi ambang pintu, terhalang tongkat kayu, terhalang alat penumbuk, dari 2 orang yang sedang makan bersama, dari perempuan hamil, dari perempuan yang sedang menyusui, dari perempuan yang sedang berbaring bersama laki-laki, dari mana terdapat pengumuman pembagian makanan, dari mana seekor anjing sedang menunggu, dari mana lalat beterbangan;
    Aku tidak menerima ikan atau daging,
    Aku tidak meminum minuman keras, anggur, atau minuman fermentasi.
    Aku mendatangi 1 rumah, 1 suap;
    Aku mendatangi 2 rumah, 2 suap; …
    Aku mendatangi 7 rumah, 7 suap.
    Aku makan satu mangkuk sehari,
    Aku makan 2 mangkuk sehari …
    Aku makan 7 mangkuk sehari;
    Aku makan sekali dalam sehari,
    Aku makan sekali dalam 2 hari …
    Aku makan sekali dalam 7 hari, dan seterusnya hingga sekali setiap 2 minggu; Aku berdiam menjalani praktik makan pada interval waktu yang telah ditentukan.
    Aku adalah pemakan sayur-sayuran dan padi-padian atau beras kasar atau kulit kupasan buah atau lumut atau kulit padi atau sekam atau tepung wijen atau rumput atau kotoran sapi.
    Aku hidup dari akar-akaran dan buah-buahan di hutan;
    Aku memakan buah-buahan yang jatuh.
    Aku mengenakan pakaian terbuat dari rami, dari rami dan kain, dari kain pembungkus mayat, dari selimut yang dibuang, dari kulit pohon, dari kulit rusa, dari cabikan kulit rusa, dari kain rumput kusa, dari kain kulit kayu, dari kain serutan kayu, dari kain rambut, dari kain bulu binatang, dari bulu sayap burung hantu.
    Aku adalah seorang yang mencabut rambut dan janggut, menjalani praktik mencabut rambut dan janggut.
    Aku adalah seorang yang berdiri terus-menerus, menolak tempat duduk.
    Aku adalah seorang yang berjongkok terus-menerus, senantiasa mempertahankan posisi jongkok.
    Aku adalah seorang yang menggunakan alas tidur paku;
    Aku menjadikan alas tidur paku sebagai tempat tidurKu.
    Aku berdiam dengan menjalani praktik mandi 3x sehari termasuk malam hari.

    Demikianlah dalam berbagai cara Aku berdiam dengan menjalani praktik menyiksa dan menghukum diri. Demikianlah pertapaanKu.

    Kekasaran – sangat kasar
    “bagaikan batang pohon Tindukā, yang terkumpul selama bertahun-tahun, menempel dan mengelupas, demikian pula, debu dan daki, yang terkumpul selama bertahun-tahun, menempel di tubuhKu dan mengelupas. Tidak pernah terpikir olehKu: ‘Oh, Aku akan menggosok debu dan daki ini dengan tanganKu, atau membiarkan orang lain menggosok debu dan daki ini dengan tangannya’ – tidak pernah terpikirkan olehKu demikian. Demikianlah kekasaranKu.

    Kehati-hatian – sangat hati-hati
    “Aku senantiasa penuh perhatian dalam melangkah maju dan melangkah mundur. Aku selalu berbelas kasihan bahkan pada [makhluk-makhluk] dalam setetes air sebagai berikut: ‘Semoga Aku tidak menyakiti makhluk-makhluk kecil dalam celah tanah ini.’ Demikianlah kehati-hatianKu.

    Keterasingan – sangat terasing
    “Aku akan memasuki hutan dan berdiam di sana. Dan ketika Aku melihat seorang penggembala sapi atau seorang penggembala domba atau seseorang yang sedang mengumpulkan rumput atau kayu, atau seorang pekerja hutan, Aku akan pergi dari hutan ke hutan, dari belantara ke belantara, dari lembah ke lembah, dari bukit ke bukit. Mengapakah? Agar mereka tidak melihatKu atau agar Aku tidak melihat mereka. Bagaikan seekor rusa yang lahir di dalam hutan, ketika melihat manusia, akan lari dari hutan ke hutan, dari belantara ke belantara, dari lembah ke lembah, dari bukit ke bukit, demikian pula, ketika Aku melihat seorang penggembala sapi atau seorang penggembala domba … Demikianlah keterasinganKu.

    Praktek meniru Binatang dan makan kotoran
    “Aku akan bepergian dengan ke-4 tangan dan kakiKu menuju kandang sapi ketika sapi-sapi telah pergi dan si penggembala meninggalkannya, dan Aku akan memakan kotoran sapi-sapi muda. Selama kotoran dan air kencingKu masih ada, Aku akan memakan kotoran dan air kencingKu sendiri. Demikianlah praktik kerasKu dalam hal memakan kotoran.

    Praktek kediaman
    “Aku akan pergi ke hutan-hutan yang menakutkan dan berdiam di sana – hutan yang begitu menakutkan sehingga umumnya akan membuat seseorang merinding jika ia tidak terbebas dari nafsu. Pada malam-malam musim dingin selama ‘8 hari interval beku,’ Aku akan berdiam di ruang terbuka dan siang harinya di dalam hutan. Dalam bulan terakhir musim panas Aku akan berdiam di ruang terbuka pada siang hari dan di dalam hutan pada malam hari. Dan di sana secara spontan muncul dalam diriKu syair ini yang belum pernah terdengar sebelumnya:

    Kedinginan di malam hari dan terpanggang di siang hari,
    Sendirian di dalam hutan yang menakutkan,
    Telanjang, tidak ada api untuk duduk di dekatnya,
    Namun Sang Petapa tetap melanjutkan pencariannya
    .’

    “Aku membuat tempat tidur di tanah pekuburan dengan tulang-belulang orang mati sebagai bantal. Dan anak-anak penggembala datang dan meludahiKu, mengencingiKu, melemparkan tanah padaKu, dan menusukkan kayu ke dalam telingaKu. Namun Aku tidak ingat bahwa Aku pernah membangkitkan pikiran buruk terhadap mereka. Demikianlah kediamanKu dalam keseimbangan.

    Praktek mengikuti model aliran lainnya:
    “Ada petapa dan brahmana tertentu yang doktrin dan pandangannya seperti ini: ‘Pemurnian muncul melalui makanan.’ Mereka mengatakan: ‘Ayo kita hidup dari memakan buah kola,’ dan mereka memakan buah kola, mereka memakan tepung kola, mereka meminum air buah kola, dan mereka membuat berbagai jenis ramuan buah kola. Sekarang Aku ingat pernah memakan satu buah kola sehari.

    ..engkau mungkin berpikir bahwa buah kola pada masa itu lebih besar, namun engkau tidak boleh menganggapnya demikian; buah kola pada masa itu berukuran sama seperti sekarang.
    Karena memakan satu buah kola sehari, tubuhKu menjadi sangat kurus.
    Karena makan begitu sedikit anggota-anggota tubuhku menjadi seperti tanaman merambat atau batang bambu.
    Karena makan begitu sedikit punggungku menjadi seperti kuku unta.
    Karena makan begitu sedikit tonjolan tulang punggungku menonjol bagaikan untaian tasbih.
    Karena makan begitu sedikit tulang rusukKu menonjol karena kurus seperti kasau dari sebuah lumbung tanpa atap.
    Karena makan begitu sedikit bola mataKu masuk jauh ke dalam lubang mata, terlihat seperti kilauan air yang jauh di dalam sumur yang dalam.
    Karena makan begitu sedikit kulit kepalaKu mengerut dan layu bagaikan buah labu pahit yang mengerut dan layu oleh angin dan matahari.
    Karena makan begitu sedikit kulit perutku menempel pada tulang punggungKu; sedemikian sehingga jika Aku menyentuh kulit perutKu maka akan tersentuh tulang punggungKu, dan jika Aku menyentuh tulang punggungKu maka akan tersentuh kulit perutKu.
    Karena makan begitu sedikit, jika Aku mencoba menyamankan diriKu dengan memijat badanKu dengan tanganKu, maka bulunya, tercabut pada akarnya, berguguran dari badanKu ketika Aku menggosoknya.

    “..ada petapa dan brahmana tertentu yang doktrin dan pandangannya seperti ini: ‘Pemurnian muncul melalui makanan.’ Mereka mengatakan: ‘Ayo kita hidup dari memakan kacang,’ ...
    ‘Ayo kita hidup dari memakan wijen,’ ...
    ‘Ayo kita hidup dari memakan nasi,’ dan mereka memakan nasi, mereka memakan tepung beras, mereka meminum air beras, dan mereka membuat berbagai jenis ramuan beras. Sekarang Aku ingat pernah memakan satu butir nasi sehari.

    ..engkau mungkin berpikir bahwa butiran beras pada masa itu lebih besar, namun engkau tidak boleh menganggapnya demikian; butiran beras pada masa itu berukuran sama seperti sekarang.
    Karena memakan satu butir nasi sehari, tubuhKu menjadi sangat kurus. Karena makan begitu sedikit ... maka bulunya, tercabut pada akarnya, berguguran dari badanKu ketika Aku menggosoknya. [MN 12/Mahasihanada Sutta]
Akibatnya, Pangeran Siddharta menjadi sangat kurus, kesehatannya memburuk, jika berdiri, tak dapat Ia diam karena kakinya gemetar, namun demikian, tetap Ia tak menyerah biarpun mengalami pingsan beberapa kali karenanya.

Berikut sample variasi kisah pertolongan yang diberikan kepada Sidhartha Gautama, dimenjelang pencerahannya:

Pertolongan dari anak penggembala, Penari dan Penyanyi
Seorang anak penggembala dengan seekor kambing lewat dan melihat keadaan pangeran Siddhartha, Ia tau bahwa tanpa makanan pangeran Siddhartha dapat menemui ajal. Pada saat itu di Hindustan terdapat pantangan bahwa apabila bersentuhan dengan kasta rendah maka hilanglah kesucian kaum Brahmana. Ia peras susu kambing tersebut dan dikucurkan kemulut Sidharta hati-hati agar tidak menyenggol badannya. Setelah siuman, Sidharta meminta lagi susu kambing itu dan anak tersebut menolak lantaran ia sebagai kasta Sudra, Lalu Sidharta berkata "Darah manusia tidak mengenal perbedaan, begitu pula airmata, Siapa manusia yang lakukan perbuatan benar ialah seorang suci"

Anak Gembala itu tercengang karena anggapan itu belum pernah ia dapatkan sebelumnya dan memberinya susu kambing. Siddhartha mulai merasa lebih baik. Pangeran Siddharta sadar bahwa tanpa pertolongan anak gembala itu, ia dapat tewas sebelum mencapai pencerahan.

Suatu ketika lewatlah kawanan penyanyi yang terdiri dari perempuan muda dan beberapak lelaki dan mendendangkan suatu lagu yang kurang lebih berbunyi "Kalau sitar dipentang terlalu keras, talinya putus, lagu pergi, kalau tali terlalu kendor iapun tidak bisa bersuara, ia punya nada tidak boleh terlalu kendor atau terlalu kencang, orang yang memainkan mesti bisa menimbang dan memperkirakannya".

Sidartha terheran-heran dan berkata "Sungguh aneh keadaan di dunia ini bahwa seorang Bodhisatta (calon Buddha) harus menerima pelajaran dari seorang penari ronggeng. Karena bodoh aku telah menarik demikian keras tali kehidupan, sehingga hampir-hampir saja putus. Memang seharusnya aku tidak boleh menarik tali itu terlalu keras atau terlalu kendur" ["Gautama the Buddha: An Inspiring Biography for the Young Readers", H. L. Luthra, hal.15-16]

Dua kisah di atas ini, yaitu anak penggembala diceramahi tentang kasta dan tentang nyanyian Sitar juga TIDAK ADA dalam Sutta, Vinaya dan di kitab-kitab komentar Buddhis klasik KECUALI berasal dari buku ke-6, "The Light of Asia"-nya Sir Edwin Arnold. Tidak diketahui darimana asal-usul kisah karangannya ini. Khusus mengenai syair tentang "tinggi-rendahnya nada sitar", di AN 6.55/Sona Sutta, nasihat ini berasal dari Buddha Gautama kepada Bhikkhu Sona dan BUKAN dari penyanyi sitar kepada Siddharta di sebelum pencerahannya:
    “Katakan padaKu, Soṇa, di masa lalu, ketika engkau menetap di rumah, bukankah engkau terampil dalam bermain Sitar/Dawai/kecapi (tantissare)?”
    “Benar, Bhante (guru).”
    “Bagaimana menurutmu, Soṇa? ketika senarnya terlalu kencang, apakah nadanya tertala dengan baik dan mudah dimainkan?”
    “Tidak, Bhante.”
    “Ketika senarnya terlalu kendur, apakah nadanya tertala dengan baik dan mudah dimainkan?”
    “Tidak, Bhante.”
    “Tetapi, Soṇa, ketika senarnya tidak terlalu kencang juga tidak terlalu kendur, melainkan diatur seimbang, apakah nadanya tertala dengan baik dan mudah dimainkan?”
    “Benar, Bhante.”
    “Demikian pula, Soṇa, jika kegigihan dibangkitkan terlalu kuat maka ini mengarah pada kegelisahan, dan jika kegigihan terlalu kendur maka ini mengarah pada kemalasan. Oleh karenanya, Soṇa, bertekadlah pada kegigihan yang seimbang, capailah kesetaraan indria-indria mental, dan peganglah objek di sana.”
Versi lainnya kisah pertolongan setelah pingsan, misalnya di bawah ini:

Pertolongan putri kepala kawanan gembala bernama Nandabala yang memberikan Tajin & Sujata menawarkan susu beras
Ketika Sidharta pergi mandi, Ia tidak kuat berbangkit di air hampir tenggelam dan untunglah ada suatu cabang pohon ia merayap naik dan dengan perlahan berlalu dari sungai. menuju tempat pertapaannya, tidak berapa lama kemudian ia roboh dengan tubuh tidak bergerak. Kelima Pertapa yang bersamanya mengira bahwa ia sudah mati. Kebetulan hari itu ada seorang anak perempuan bernama Nandabala, anak seorang kepala kawanan gembala dan Sidharta diberikan nasi Tajin olehnya [Buddhacarita, karya Asvhagosha abad ke-2 M]
    Note:
    Versi lainnya lagi ada di kitab komentar, yaitu Sujata memberikan nasi-beras pada Sidhartha yang tengah bermeditasi dan dianggapnya sebagai dewa
Siddhartha memahami bahwa praktek dengan cara-cara sebelumnya tidaklah membawanya menuju Penerangan Agung. Kemudian, timbul dalam tiga buah perumpamaan yang sebelumnya tak pernah muncul sebelumnya dalam pikirannya.

Pertama:
Kalau sekiranya sepotong kayu diletakkan di dalam air dan seorang membawa sepotong kayu lain (yang biasa digunakan untuk membuat api dengan menggosok-gosoknya) dan ia pikir, "Aku ingin membuat api, aku ingin mendapatkan hawa panas." Orang ini tidak mungkin dapat membuat api dari kayu yang basah itu dan ia hanya akan memperoleh keletihan dan kesedihan. Begitu pula para pertapa dan Brahmana yang masih terikat kepada kesenangan nafsu-nafsu indria dan mentalnya masih ingin menikmatinya pasti tak akan berhasil.

Kedua:
Kalau sekiranya sepotong kayu basah diletakkan di tanah yang kering dan seorang membawa sepotong kayu lain (yang biasa digunakan untuk membuat api dengan menggosok-gosoknya) dan ia pikir, "Aku ingin membuat api, aku ingin mendapatkan hawa panas." Orang ini tidak mungkin dapat membuat api dari kayu yang basah itu dan ia hanya akan memperoleh keletihan dan kesedihan. Begitu pula para pertapa dan Brahmana yang tidak terikat lagi kepada kesenangan nafsu-nafsu indria tetapi mentalnya masih ingin menikmatinya pasti juga tidak akan berhasil.

Ketiga:
Kalau sekiranya sepotong kayu kering diletakkan di tanah yang kering dan seorang membawa sepotong kayu lain (yang biasa digunakan untuk membuat api dengan menggosok-gosoknya) dan ia pikir, "Aku ingin membuat api, aku ingin mendapatkan hawa panas." Orang ini pasti dapat membuat api dari kayu kering itu. Begitu pula para pertapa dan Brahmana yang tidak terikat lagi kepada kesenangan nafsu-nafsu indria dan mentalnya juga tidak terikat lagi, maka pertapa dan Brahmana itu berada dalam keadaan yang baik sekali untuk memperoleh Penerangan Agung

Aku mempertimbangkan:
‘Aku ingat ketika ayahKu orang Sakya yang berkuasa, sewaktu Aku sedang duduk di keteduhan pohon jambu, dengan cukup terasing dari kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat, Aku masuk dan berdiam dalam jhāna pertama, yang disertai dengan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan. Mungkinkah itu adalah jalan menuju pencerahan?’ Kemudian, dengan mengikuti ingatan itu, muncullah pengetahuan: ‘Itu adalah jalan menuju pencerahan.’

Aku berpikir: ‘Mengapa Aku takut pada kenikmatan itu yang tidak berhubungan dengan kenikmatan indria dan kondisi-kondisi tidak bermanfaat?’ Aku berpikir: ‘Aku tidak takut pada kenikmatan itu karena tidak berhubungan dengan kenikmatan indria dan kondisi-kondisi tidak bermanfaat.’

Aku mempertimbangkan:
‘Tidaklah mudah untuk mencapai kenikmatan demikian dengan badan yang sangat kurus. Bagaimana jika Aku memakan sedikit makanan padat—sedikit nasi dan bubur.’ Dan Aku memakan sedikit makanan padat—sedikit nasi dan bubur.[MN 36/Mahasaccaka Sutta]

Aku sampai di Senānigama di dekat (hutan) Uruvelā. Di sana Aku melihat sepetak tanah yang nyaman, hutan yang indah dengan aliran sungai yang jernih dengan pesisir yang halus dan menyenangkan dan di dekat sana terdapat sebuah desa sebagai sumber dana makanan. [MN 26/ Ariyapariyesanā Sutta]
    Kitab Komentar:
    Dekat tempat Siddharta bertapa, tinggal seorang pemilik tanah yang bernama Senani yang mempunyai anak perempuan bernama Sujata. Suatu pagi, karena terkabul harapannya, Sujata, hendak memberikan persembahan kepada Dewa. Ia kemudian melihat Sidharta yang tengah bersemedi dan menganggapnya sebagai Dewa. Dengan keadaan yang sangat bergembira, Ia kemudian persembahkan mangkuk dengan bahan emas yang berisi susu beras kepadanya sambil berkata, "Seperti harapanku yang terwujud, semoga demikian pula dengan Yang mulia". Sidharta, dengan membawa mangkuk kosong, berjalan sampai di tepian Sungai Nerañjara dan melemparkannya ke tengah sungai, sambil berkata, "Jika sudah waktuku, maka mangkuk ini akan mengalir melawan arus, bukan mengikuti arus". Mangkuk itu kemudian mengalir melawan arus. [Jinacarita, karya Medhaṁkara, abad ke-13 M, no.215-219. Juga di DPPN: Sujata]
Tetapi ketika Aku memakan nasi dan bubur, kelima petapa itu menjadi jijik dan meninggalkan Aku, dengan berpikir: ‘Petapa Gotama sekarang hidup dalam kemewahan; ia telah meninggalkan usahaNya dan kembali pada kemewahan.’ [MN 36/ Mahasaccaka Sutta]

Bertekad menemukan Kebenaran
Sebelum pencerahanNya, Pangeran Sidhartha, mengalami 5 mimpi yang semakin meneguhkan bahwa cita-citanya akan segera tercapai, yaitu mimpi mengenai:
  1. bumi besar ini menjadi ranjangnya; Himālaya, raja pegunungan, menjadi bantalNya; tangan kiriNya berada di atas lautan timur, tangan kananNya di lautan barat, dan kedua kakiNya di lautan selatan.
  2. sejenis rumput yang disebut tiriyā muncul dari pusarNya dan menjulang menyentuh langit
  3. ulat-ulat putih berkepala hitam merayap dari kaki hingga ke lututNya dan menutupinya.
  4. empat ekor burung berbeda warna datang dari empat penjuru, jatuh di kakinya, dan semuanya berubah menjadi putih.
  5. Beliau mendaki gunung kotoran yang besar tanpa terkotori oleh kotoran itu [AN 5.196]
Kemudian, seorang penjual jerami bernama Sotthiya dan memberikan rumput kepadanya. Rumput itu dijadikan alas duduknya di bawah pohon Bodhi. Kemudian, ia duduk menghadap ke Timur, dengan berbekal semangat, "walaupun kulitku, uratku, dan tulangku yang tersisa, dan walaupun daging dan darahku mengering dalam tubuhku, aku tidak akan mengendurkan usahaku sebelum aku mencapai apa yang dapat dicapai dengan kekuatan manusia, dengan kegigihan manusia, dengan usaha manusia" [syair ini berasal dari MN 70], Ia pun bermeditasi

Meditasi di bawah pohon bodhi
Ia mengabaikan semua gangguan, ingatan-ingatan kenikmatan masa lalu, pemikiran duniawi dan hanya mengarahkan pikiran pada keluar masuknya nafas.
    "Setelah memakan makanan padat dan memperoleh kembali kekuatanKu, maka dengan cukup terasing dari kenikmatan indria, terasing dari hal yang tak bermanfaat (melalui pemusatan pikiran) dengan menggenggam dan mempertahankan (objek) dari menanggalkan itu, munculah rasa sukacita dan nikmat, aku masuk dalam Jhana ke-1... dalam jhāna ke-2.. dalam jhāna ke-3... dalam jhāna ke-4... perasaan menyenangkan yang muncul itu tidak menyerbu pikiranKu dan tidak menetap di sana. [MN 36/Mahasaccaka Sutta]
Pada mulanya banyak imaginasi mengganggu muncul dalam pikiran seperti keinginan pada benda-benda duniawi, tidak menyukai kehidupan kesucian, kemalasan untuk tidak melakukannya, keraguan, ketakutan akan mahluk-mahluk halus, dan banyak lagi rintangan dan gangguan mental ketika berupaya melawan keinginan dan nafsu-nafsu.
    Ketika Aku berdiam di tepian sungai Neranjara, dalam pergulatanku bermeditasi mengerahkan segenap kekuatan untuk bebas dari belenggu. Namucci/Mara menghampiriku dan berbicara manis seolah bersimpati: ‘Engkau begitu kurus dan pucat, nyaris binasa, seribu bagian binasa, satu bagian hidup, Bertahanlah hidup, Yang Mulia! Lebih baik hidup, dapat mengumpulkan kebajikan jika hidup. Menjalani kesucian, melakukan persembahan pada api suci. Mendapatkan banyak kebajikan. Buat apa semua pergulatan ini? Jalan pergulatan ini sangatlah keras, melelahkan dan sulit

    Ketika Mara mengatakan ini, Ia di dekatKu. Kemudian Sang Buddha berkata:
    ‘Wahai sang jahat, sahabat bagi yang lengah? Kau datang untuk kepentinganmu sendiri. Tak ku butuhkan kebajikan seperti itu. Oh Mara, kotbah kebajikanmu, sampaikan pada yang butuh. Dengan keyakinan dan semangat juga pengetahuanku. Ketika berjuang menahan, Mengapa berbicara tentang hidup?

    Dengan bertiupnya angin, bahkan air aliran sungaipun mengering. Dengah berjuang menahan, darahku mereda. Dengan mereda darahku, demikian pula gairah dan gelora. Jasmani mereda, pikiran semakin murni, semakin perhatian dan bijak, pikiran terpusat tak goyah. Berdiam seperti ini, ku memahami lintasan perasaan, pikiran ku tak lagi merindukan kenikmatan, melihat apa adanya kehidupan.

    Bala tentaramu yang ke-1 adalah Nafsu, yang ke-2 adalah ketidakpuasan, yang ke-3 adalah kehausan, yang ke-4 adalah ketagihan, yang ke-5 lamban dan malas, yang ke-6 adalah ketakutan, yang ke-7 adalah keraguan, yang ke-8 adalah tak menghargai dan keangkuhan. Juga keuntungan materi, pujian, kehormatan dan kemasyhuran dengan cara keliru, meninggikan diri dan merendahkan lainnya.

    Semua ini, wahai Mara, tentaramu, pasukan penyerang kegelapan. Hanya keberanian menaklukan yang memperoleh kebahagiaan. Dengan anyaman rumput munja, pantang mundur, malu hidup untuk kalah di sini, lebih baik mati dalam pertempuran daripada hidup untuk dikalahkan...

    Dengan seluruh bala tentara disekelilingku, Mara siap beserta kendaraannya, Aku siap menempur, Aku tidak tergoyahkan. Seandainya seluruh dunia, termasuk para dewanya, tak dapat mengalahkan bala tentaramu, aku akan menghancurkannya dengan kekuatan kebijaksanaan, bagaikan pot tembikar yang tidak dibakar dihancurkan oleh buah batu...


    Mara:
    Selama 7 tahun ku ikuti jejak Sang Buddha,’mengamati setiap langkahnya. Tidak satu kali pun aku bisa mengalahkanNya..[SNP 3.2/Padhana Sutta]
Pencerahan sempurna
“Ketika konsentrasi pikiranKu sedemikian murni, cerah, tanpa noda, bebas kekotoran, lunak, lentur, kokoh, dan mencapai keadaan tanpa-gangguan, Aku mengarahkannya pada pengetahuan mengingat kehidupan lampau:

[..] Aku mengingat banyak ragam kelahiran dikehidupan lampauKu sebagai berikut: mula-mula 1 kelahiran, 2, 5, 10, 50, 100, 1000, 100.000, banyak Kappa kontraksi kosmis, banyak Kappa kosmis mengembang, banyak Kappa dari kontraksi dan mengembangnya kosmis [..] Pengetahuan pertama ini didapat pada malam hari di waktu jaga ke-1 (18.00 s/d 22.00);

melalui mata dewaNya, melihat mahluk-mahluk wafat dan muncul kembali di bermacam alam, terhubung dengan karma mereka sendiri hingga dibedakan menjadi inferior/superior, penampilannya baik/buruk, beruntung/sial;[..]. Pengetahuan ke-2 ini pada malam waktu jaga ke-2 [22.00 s/d 02.00];

pengetahuan penyebab, cara penghancuran noda dan mengakhir kelahiran kembali [..]. Pengetahuan ke-3 ini pada malam waktu jaga ke-3 [02.00 s/d 06.00] [MN 36/Mahasaccaka Sutta]

Akhirnya, di akhir malam itu, beliau menang:
"melalui ragam lingkaran kelahiran, sia-sia berputaran mencari si 'Pembuat Rumah', Menyakitkan terlahir lagi dan lagi; Pembuat Rumah, telah ditemukan, Tak kan lagi dapat membuat rumah, Semua sendimu telah hancur, atapmu telah roboh, bentukan material pikiran telah dilucuti, belitan nafsu keinginan telah dihancurkan" [Dhammapada Syair 153-154].

Di usia 35 tahun, tercapailah cita-citanya, menjadi Buddha, yang tercerahkan sempurna.

Setelah mencapai pencerahan sempurna, selama berminggu-minggu kemudian, sang Buddha masih menetap di dekat sungai Neranjara, di hutan Uruvela, bermeditasi di bawah beberapa pohon, yaitu: pohon Bodhi, Beringin (ajapālanigrodha) gembala kambing, Mucalinda dan Rajayatana.

Minggu ke-1,
    Demikianlah yang saya dengar. Pada suatu ketika Sang Bhagava sedang berada di hutan Uruvela, di tepi sungai Neranjara, di bawah pohon Bodhi, baru saja Sang Bhagava mencapai Penerangan Sempurna. Pada saat itu Sang Bhagava duduk bermeditasi selama tujuh hari menikmati kebahagian Kebebasannya. Setelah lewat hari ke-7 (sattāhassa accayena) itu, Sang Bhagava keluar dari meditasinya [Udana 1.1/Bodhi Sutta, Vinaya I]
Selama minggu ke-2,
Dalam Kitab Komentar:
Sang Buddha berdiri beberapa kaki dari pohon Bodhi dan memandanginya terus-menerus dengan mata tidak berkedip selama satu minggu sebagai ucapan terima kasih dan penghargaan kepada pohon yang telah memberi-Nya tempat untuk berteduh sewaktu berjuang untuk mencapai tingkat Buddha. Raja asoka membangun cetiya Animisa untuk mengenang peristiwa ini. Di komentar yang sama, dikatakan bahwa untuk meyakinkan para dewa Sang Buddha melakukan pula keajaiban kembar (yamakapāṭihāriya)[UA 52; MA 2:184; J 1:77]

Namun dalam Sutta dan VInaya, setelah sebelumnya bermeditasi selama 7 hari penuh, maka pada hari ke-8, yaitu di minggu ke-2, malam hari pada jam jaga ke-1, Sang Buddha keluar dari Meditasinya dan memformulasikan Paticcasamuppada:
    ..Di malam jaga pertama (18.00-22.00), Sang Bhagava memperhatikan sebab musabab yang saling bergantungan dalam urutan maju: "Ini ada, itu ada; karena munculnya ini, maka muncullah itu. Yaitu:

    dengan adanya ketidaktahuan sebagai kondisi, bentuk-bentuk pemikiran/kehendak muncul;
    dengan adanya bentuk-bentuk pemikiran/kehendak sebagai kondisi, kesadaran muncul;
    dengan adanya kesadaran sebagai kondisi, mental dan jasmani muncul;
    dengan adanya mental dan jasmani sebagai kondisi, enam landasan indria sebagai kondisi, kontak terjadi,
    dengan adanya kontak sebagai kondisi, perasaan muncul;
    dengan adanya perasaan sebagai kondisi, nafsu keinginan muncul;
    dengan adanya nafsu keinginan sebagai kondisi, kemelekatan muncul;
    dengan adanya kemelekatan sebagai kondisi, dumadi/keberlangsungan muncul muncul;
    dengan adanya dumadi/keberlangsungan sebagai kondisi, kelahiran muncul;
    dengan adanya kelahiran sebagai kondisi, umur tua dan kematian, duka cita, keluh kesah, rasa sakit, kesedihan dan keputusasaan muncul.
    Inilah asal mula dari seluruh rangkaian penderitaan".

    Kemudian karena menyadari pentingnya hal itu, Sang Bhagava pada saat itu mengungkapkan kotbah inspirasi ini: Jika Kebenaran menjadi jelas bagi Brahmana yang bermeditasi dengan giat, maka semua keraguan lenyap karena ia mengerti bagaimana tiap faktor yang muncul ada penyebabnya [Udana 1.1/Bodhi Sutta, Vinaya I]
Di jam jaga ke-2:
    ..Di malam jaga ke-2 (22.00-02.00), Sang Bhagava memperhatikan sebab musabab yang saling bergantungan dalam urutan mundur: "Ini tidak ada, itu tidak ada, dari berhentinya ini, maka itu berhenti. Yaitu:

    dari berhentinya ketidaktahuan, bentuk-bentuk pemikiran/kehendak berhenti;
    dari berhentinya bentuk-bentuk pemikiran/kehendak, kesadaran berhenti;
    dari berhentinya kesadaran, mental dan jasmani berhenti;
    dari berhentinya mental dan jasmani, enam landasan indria berhenti;
    dari berhentinya enam landasan indria, kontak berhenti;
    dari berhentinya kontak, perasaan berhenti;
    dari berhentinya perasaan, nafsu keinginan berhenti;
    dari berhentinya nafsu keinginan, kemelekatan berhenti;
    dari berhentinya kemelekatan, dumadi berhenti;
    dari berhentinya dumadi, kelahiran berhenti;
    dari berhentinya kelahiran, usia tua dan kematian, duka cita, keluh kesah, rasa sakit, kesedihan, dan keputusasaan berhenti.
    Ini merupakan berhentinya seluruh rangkaian penderitaan.." [Udana 1.2/Bodhi Sutta, Vinaya I]
Di jam jaga ke-3:
    ..di malam jaga ke-3 (02.00-06.00), Sang Bhagava memperhatikan sebab musabab yang saling bergantungan dalam urutan maju dan mundur, demikian:

    "Karena ini ada, itu ada; dari timbulnya ini, timbullah itu; karena tidak ada ini, itu tidak ada; dari berhentinya ini, itu berhenti. Yaitu: dengan adanya ketidaktahuan sebagai kondisi, bentuk-bentuk pemikiran/kehendak muncul; dengan adanya kelahiran sebagai kondisi, maka usia tua dan kematian, duka cita, keluh kesah, rasa sakit, kesedihan, dan keputusasaan muncul. Ini merupakan asal mula seluruh rangkaian penderitaan. Tapi dari lenyap dan berhentinya sama sekali ketidaktahuan keseluruhan maka bentuk-bentuk pemikiran/kehendak berhenti; dari berhentinya kelahiran maka usia tua dan kematian, duka cita, keluh kesah, rasa sakit, kesedihan, dan keputusasaan berhenti. Ini merupakan berhentinya seluruh rangkaian penderitaan.." [Udana 1.3/Bodhi Sutta, Vinaya I]
Setelah memformulasikan paticcasamuppada, tampaknya Sang Bhagava melanjutkan meditasinya lagi selama 7 hari di bawah pohon bodhi, SEBELUM PINDAH ke pohon beringin (Ajapala Nigrodha) gembala kambing:
    Sang Bhagava, setelah terbangun dari meditasi SELAMA 7 hari, Ia mendatangi pohon Beringin.. [Vinaya I]
Selama minggu ke-3,
    ..Ia mendatangi pohon beringin dan di bawah pohon itu Ia bermeditasi selama 7 hari menikmati kebahagiaan dari kebebasannya [Vinaya I]

    Demikianlah yang saya dengar. Pada suatu saat Sang Bhagava sedang tinggal di hutan Uruvela, di dekat sungai Neranjara, di bawah Pohon Beringin Gembala Kambing, setelah baru saja memperoleh Penerangan Sempurna. Pada saat itu Sang Bhagava duduk bermeditasi selama tujuh hari menikmati kebahagiaan dari Kebebasan. Kemudian ketika tujuh hari itu sudah berlalu, Sang Bhagava berhenti bermeditasi [Udana 1.4, Bodhi Sutta]
Namun di kitab komentar:
selama minggu ke-3, Sang Buddha berjalan mondar-mandir di jalan setapak permata yang diciptakan oleh para dewa dan brahmà dan berjalan dari timur ke barat antara singgasana Aparàjita dan cetiya ‘tatapan’; Pada saat itu Beliau merenungkan Dhamma dan tenggelam dalam Phala Samàpatti, meditasi dalam Buah Pencapaian. [RAPB, buku ke-1, cetakan ke-1, May 1998, hal.659]

Selama minggu ke-4,
Sutta dan Vinaya:
Di pohon Beringin, setelah 7 hari bermeditasi tidak terputus, Sang Bhagava terbangun dari meditasinya. Saat itu seorang Brahmana mendekati Sang Bhagava, bertegur sapa, setelah mengakhiri ramah tamah itu, Brahmana itu tetap berdiri pada satu sisi, berdiri di sana dan berkata kepada Sang Bhagava: "Gotama yang baik, bagaimanakah seseorang bisa disebut Brahmana dan apakah hal-hal yang membuat seseorang menjadi Brahmana?". Kemudian karena menyadari pentingnya hal itu, Sang Bhagava pada saat itu mengungkapkan kotbah inspirasi ini:

Seorang Brahmana adalah seseorang yang sudah membuang semua hal buruk, Tidak sombong, bebas dari kekotoran mental, mempunyai pengendalian diri, Sempurna dalam pengetahuan, seseorang yang sudah menjalani hidup suci. Dia mempunyai hak menggunakan kata 'Brahmana' Yang tidak akan menjumpai rintangan-rintangan dimanapun di dunia [Udana 1.4, Bodhi Sutta, Vinaya I]

..Kemudian sejumlah para brahmana yang sepuh, tua, terbebani tahun demi tahun, berusia lanjut, sampai pada tahap akhir, mendatangiKu dan saling bertukar sapa denganKu. Ketika mereka telah mengakhiri ramah tamah itu, mereka duduk di satu sisi dan berkata kepadaKu: “‘Kami telah mendengar, Guru Gotama: “Petapa Gotama tidak menghormat para brahmana yang sepuh, tua, terbebani tahun demi tahun, berusia lanjut, sampai pada tahap akhir; Beliau juga tidak bangkit untuk mereka dan menawarkan tempat duduk kepada mereka.” Hal ini memang benar, karena Guru Gotama tidak menghormat para brahmana yang sepuh, tua, terbebani tahun demi tahun, berusia lanjut, sampai pada tahap akhir; Beliau juga tidak bangkit untuk mereka dan menawarkan tempat duduk kepada mereka. Hal ini tidak selayaknya, Guru Gotama’

“Kemudian Aku berpikir: Para mulia ini tidak mengetahui apa itu sepuh dan kualitas-kualitas apa yang membuat seseorang menjadi sepuh. Walaupun seseorang berusia tua—80, 90, atau 100 tahun sejak lahir—jika ia berbicara pada waktu yang tidak tepat, tidak benar, mengatakan apa yang tidak bermanfaat, mengatakan apa yang berlawanan dengan Dhamma dan disiplin, jika pada waktu yang tidak tepat ia mengucapkan kata-kata yang tidak berguna, tidak masuk akal, berbicara tanpa tujuan, dan tidak bermanfaat, maka ia dianggap sebagai seorang sepuh yang kekanak-kanakan.

Tetapi walaupun seseorang berusia muda, seorang pemuda berambut hitam, memiliki berkah kemudaan, pada masa utama kehidupannya, jika ia berbicara pada waktu yang tepat, jujur, mengatakan apa yang bermanfaat, mengatakan apa yang sesuai dengan Dhamma dan disiplin, dan jika pada waktu yang tepat ia mengucapkan kata-kata yang layak diingat, masuk akal, ringkas, dan bermanfaat, maka ia dianggap sebagai sesepuh bijaksana’” [AN 4.22/Uruvela Sutta]

Kemudian setelah hal ini berlalu, tampaknya Sang Bhagava melanjutkan meditasinya lagi selama 7 hari di bawah pohon beringin, SEBELUM PINDAH ke pohon Mucalinda:
    Kemudian, Sang Bhagava, di akhir hari ke-7, terbangun dari meditasinya dan mendekati pohon Mucalinda. [Vinaya I]
Namun di kitab komentar:
Selama minggu ke-4, Sang Buddha berdiam di kamar batu permata (ratanagharacetiya) yang diciptakan-Nya dan bermeditasi mengenai Abhidhamma (ajaran yang lebih dalam). Mental dan badan jasmani-Nya telah menjadi demikian bersih, sehingga badannya memancarkan 6 sinar, yaitu: Biru (Nila), Kuning (Pita), Merah (Rohita), Putih (Odata), Jingga (Manjistha) dan campuran 5 warna sebelumnya (Prabhasvara). Pancaran sinar ini disebut Buddharasmi atau Sinar Buddha (warna-warna tersebut kini diabadikan sebagai bendera umat Buddha) [Kitab komentar tentang 6 warna disebutkan di sini. Contoh lain tentang pancaran 6 warna, disebutkan juga dalam komentar untuk jataka misal di no.4, 87, 536].
    Note:
    Tidak ada di Sutta maupun Vinaya yang menyatakan bahwa di minggu ke-4 (bahkan hingga akhir hayat beliau sekalipun), Sang Buddha menyusun Abhidhamma (yang kelak menjadi 1/3 bagian tipitaka: Sutta, vinaya dan Abhidhamma). Juga Tidak ada pula di sutta dan vinaya manapun yang menyebutkan bahwa 7 kitab Abhidhamma berasal dari Sang Buddha (ataupun diturunkan via Sariputta). 7 kitab Abhidhamma sendiri baru muncul di jaman raja Asoka (abad ke-3 SM) setelah konsili ke-3. Untuk jelasnya baca: Terbentuknya Tipitaka dan Perpecahan Buddhisme Menjadi Banyak Aliran

    Sementara itu,
    Abhidhamma asli yang merupakan ajaran sang Buddha adalah 37 hal sisi pencerahan/Sattatiṁsā Bodhipakkhiya dhammā:

    ”…hal-hal ini yang telah Kuajarkan kepada kalian setelah mengetahuinya secara langsung, yaitu:

    • 4 landasan perhatian
    • 4 jenis usaha benar
    • 4 landasan kekuatan mental
    • 5 indria
    • 5 kekuatan
    • 7 faktor pencerahan
    • 8 jalan Mulia [37 ini juga tercantum di DN 16/Mahaparinibanna sutta]

    dalam hal-hal ini kalian semuanya harus berlatih dalam kerukunan, dengan saling menghargai, tanpa perselisihan. Tesañca vo, bhikkhave, samaggānaṃ sammodamānānaṃ avivadamānānaṃ sikkhataṃ siyaṃsu dve bhikkhū abhidhamme nānāvādā... (Sewaktu kalian berlatih dalam kerukunan, dengan saling menghargai, tanpa perselisihan, dua bhikkhu mungkin membuat pernyataan berbeda sehubungan dengan Dhamma yang lebih dalam…)” [MN 103/Kinti Sutta]
Selama minggu ke- 5-6,
Sutta dan Vinaya:
Setelah dari Ajapala Nirogha, Sang Buddha menuju ke pohon Mucalinda dan Sang Bhagava duduk bermeditasi selama 7 hari menikmati kebahagiaan dari Kebebasan. Saat itu walaupun bukan masanya, terjadilah hujan badai yang besar, dan selama 7 hari terdapat awan-awan hitam, angin dingin dan cuaca yang tidak menentu. Waktu itu Mucalinda, Raja-Naga, meninggalkan tempat tinggalnya dan sesudah melingkari tubuh Sang Bhagava tujuh kali dengan tubuhnya, dia berdiri dengan kerudung kepalanya yang terbentang di atas kepala Sang Bhagava, (sambil berpikir) untuk melindungi Sang Bhagava dari dingin dan panas, dari pengganggu, nyamuk, angin, matahari, dan sentuhan makhluk-makhluk yang menjalar. Pada akhir hari ke-7, Sang Bhagava berhenti dari meditasinya. Saat itu Mucalinda, Raja-Naga, melihat bahwa langit telah cerah dan awan-awan hujan telah berlalu, melepas lingkaran tubuhnya dari tubuh Sang Bhagava. Dengan merubah penampilannya dan membentuk penampilan sebagai seorang pemuda, dia berdiri di depan Sang Bhagava, dengan tangan dirangkapkan, untuk menghormat beliau. Kemudian karena menyadari pentingnya hal itu, Sang Bhagava pada saat itu mengungkapkan kotbah inspirasi ini:

Berbahagia adalah ketidakterikatan bagi seseorang yang puas hati,
bagi seseorang yang sudah belajar Dhamma dan yang melihat;
berbahagia adalah tidak adanya penderitaan di dunia ini,
mengendalikan diri terhadap makhluk-makhluk hidup; berbahagia adalah tidak adanya nafsu di dunia ini,
mengalahkan nafsu-nafsu indria;
tetapi menghilangkan kesombongan “aku”,
itu adalah benar-benar kebahagiaan tertinggi
[Udana 2.1: Mucalinda Sutta, Vinaya I].

Kitab komentar menempatkan kejadian ini pada minggu ke-6.

Selama minggu ke- 6-7,
Setelah dari pohon Mucalinda, Sang Buddha menuju pohon Rajayatana dan bermeditasi tanpa terputus 7 hari lamanya. [Vinaya I].

Pada saat itu, dua orang pedagang lewat di dekat tempat Sang Buddha sedang duduk. Mereka, Tapussa dan Bhallika, menghampiri Sang Buddha dan mempersembahkan makanan dari beras dan madu. Muncul dalam pikiran Sang Buddha, bahwa beliau tidak memiliki mangkuk untuk menerima persembahan tersebut (mangkok yang diterima dari Sujata telah dihanyutkan di Sungai Neranjara dan sejak zaman dahulu tidak pernah seorang Buddha menerima makanan dengan kedua tangan-Nya).

Kemudian, empat raja dewa dari empat penjuru (Dhatarattha dari Timur, Virulhaka dari Selatan, Virupakkha dari Barat, dan Kuvera dari Utara) mengetahui pikiran sang Bhagava, datang dengan 4 mangkuk yang terbuat dari kristal, berkata, "mohon Yang Mulia agar menerimanya dengan ini”. Sang Bhagava menerima 4 mangkuk tersebut, mengubahnya menjadi satu dan menerima persembahan Tapussa dan Bhallika. Setelah Sang Buddha selesai makan kedua pedagang itu memohon agar diterima sebagai pengikut dan diterima sehingga mereka upasaka-upasaka pertama yang berlindung kepada Sang Buddha dan Dhamma. [Vinaya I]
    Kitab komentar:
    Kemudian mereka mohon diberikan suatu benda yang dapat mereka bawa pulang, Sang Buddha mengusap kepala-Nya dengan tangan kanan dan memberikan beberapa helai rambut (Kesa Dhatu = Relik Rambut). Tapussa dan Bhallika dengan gembira menerima Kesa Dhatu tersebut dan setelah tiba di tempat mereka tinggal di kota Pokkharawata, Ukkala [Myanmar], mereka mendirikan sebuah pagoda untuk memuja Kesa Dhatu ini [Pagoda adalah Shwedagon berlokasi di Yangon, Myanmar, telah di pugar oleh banyak generasi sesudahnya dan menjadi Pagoda terbesar di dunia]
Setelah menerima persembahan, Sang Buddha bermeditasi kembali 7 hari lamanya, SEBELUM PINDAH ke pohon Beringin:
    Kemudian sang Bhagava, setelah terbangun dari meditasi selama 7 hari, dari pohon Rājāyatana mendekati pohon Beringin... [Vinaya I]
Sang Buddha memutuskan untuk mengajar
Sutta dan VInaya:
Setelah pindah dari pohon Rājāyatana; beliau mendatangi pohon beringin gembala kambing dan tinggal disana, kemudian ketika dalam keterasingan, muncul dalam pemikiranNya: “Dhamma yang Kutemukan ini dalam, sulit dilihat, sulit dimengerti, damai dan luhur, di luar jangkauan logika, halus, untuk dialami para bijaksana. Generasi ini menyenangi keduniawian, bergembira dalam keduniawian, bersukacita dalam keduniawian. Sulit bagi generasi ini untuk melihat kebenaran ini, yaitu, kondisionalitas spesifik, kemunculan bergantungan. Dan adalah sulit untuk melihat kebenaran ini, yaitu, tenangnya segala bentukan, lepasnya segala kemelekatan, hancurnya keinginan, kebosanan, lenyapnya, Nibbāna. Jika Aku harus mengajarkan Dhamma, mereka tidak akan memahamiKu, dan itu akan melelahkan dan menyusahkan bagiKu"

Selanjutnya muncul dari sang Bhagava, syair-syair yang belum pernah terdengar sebelumnya:

Sungguh sulit yang kuperoleh (Kicchena me adhigataṃ)
Kini dapat diketahui (halaṃ dāni pakāsituṃ);
yang terpengaruh nafsu dan kebencian (Rāgadosaparetehi)
tidak dapat menembus dhamma (nāyaṃ dhammo susambudho)

perlu keterampilan menembus arus (Paṭisotagāmiṃ nipuṇaṃ),
yang dalam, sulit dilihat dan halus (gambhīraṃ duddasaṃ aṇuṃ),
para budak nafsu yang tak tangkas (Rāgarattā na dakkhanti),
berada dalam kegelapan (tamokhandhena āvuṭā)


Brahmā Sahampati memahami pikiranNya: ‘Dunia akan musnah (nassati vata bho loko), dunia akan binasa (vinassati vata bho loko), karena Sang Tathāgata yang sempurna dan tercerahkan sempurna (yatra hi nāma tathāgatassa arahato sammāsambuddhassa), pikirannya condong untuk tidak bertindak (appossukkatāya cittaṃ namati), tidak mewejangkan Dhamma (no dhammadesanāyā)’

Secepat seorang kuat merentangkan tangannya yang tertekuk atau menekuk tangannya yang terentang, Brahmā Sahampati lenyap dari alam Brahmā dan muncul di hadapan beliau, merangkapkan tangan dan memohon: ‘Yang Mulia, sudilah Sang Bhagavā mewejangkan Dhamma, sudilah Yang Sempurna mewejangkan Dhamma. Ada makhluk-makhluk dengan sedikit debu di mata mereka akan tersia-sia karena tidak mendengarkan Dhamma. Akan ada di antara mereka yang akan memahami Dhamma’ [SN 6.1; MN 26; MN 85, sebagian di DN 14 dan Vinaya I]

Hingga kini kenangan atas kebajikan yang dimohonkan Brahma Sahampati kepada Sang Buddha, disyairkan oleh umat kepada bhikkhu, ketika hendak memohon wejangan Dhamma:

"Brahmā ca lokādhipatī sahampatī, Katañjalī anadhivaraṃ ayācatha; “Santīdha sattāpparajakkha-jātikā, Desehi dhammaṃ anukampimaṃ pajaṃ" (Oh, Brahma Sahampati, Penguasa dunia ini, mencakupkan tangannya dan memohon, "Ada makhluk-mahluk yang sedikit debu di mata mereka, wejangkanlah dhamma demi kasih pada mereka") [Budhavamsa no.1]

Sang Buddha melihat ke seputar Jagad dengan Buddha cakkhu (Mata sakti Buddha) dan melihat ada yang mampu memahami Dhamma walaupun dibabarkan singkat; Ada yang mampu memahami Dhamma setelah dibimbing dan diberi penjelasan rinci; Ada yang mampu memahami Dhamma karena dibimbing dan mempraktikan Dhamma selama bertahun-tahun; Ada yang tak akan menyadari Dhamma dalam hidup ini namun akan memetik manfaat dalam kehidupan selanjutnya.

Maka Buddha lalu berkata: "Terbukalah pintu tanpa kematian (apārutā tesaṃ amatassa dvārā), bagi mereka yang mau mendengarkan dengan keyakinan (Ye sotavanto pamuñcantu saddhaṃ); Praktek kekejaman tidak lagi bersinar (Vihiṃsasaññī paguṇaṃ na bhāsiṃ), Dhamma akan dibawakan diantara manusia, O Brahma (Dhammaṃ paṇītaṃ manujesu brahme)." . Brahma Sahampati bergembira, karena sang Buddha meluluskan permohonannya, kemudian pergi menghilang [SN 6.1; MN 26; MN 85, sebagian di DN 14 dan Vinaya I]

Setelah sang Bhagava memutuskan mengajar, Mara mendatangi sang Buddha:
    Demikianlah yang kudengar. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Uruvelā di tepi sungai Nerañjarā di bawah Pohon Banyan Penggembala. Pada saat itu Māra papima telah mengikuti Sang Bhagavā selama 7 tahun, mencari peluang untuk menguasaiNya tetapi tidak berhasil, kemudian mendekati Sang Bhagavā,..Mara berkata: "Jika Engkau telah menemukan Sang Jalan, Jalan aman menuju Keabadian, Pergilah dan jalani Jalan itu sendirian; Apa gunanya mengajarkan orang lain?"

    Sang Bhagavā:
    "Orang-orang itu yang pergi ke pantai seberang, Bertanya apa yang ada di alam setelah kematian. Ketika ditanya, Aku menjelaskan kepada mereka Kebenaran tanpa perolehan" [SN 4.24]

      Mara:
      ”Bhagavā, sudilah Yang Terberkahi sekarang mencapai Nibbāna akhir, sudilah Yang Sempurna menempuh Sang jalan sekarang mencapai Nibbāna akhir. Sekarang adalah waktunya bagi Sang Bhagavā untuk mencapai Nibbāna akhir”.

      Sang Buddha:
      “Mara Penggoda, Aku tidak akan mencapai Nibbāna akhir SEBELUM:

      • Para [bhikkhu, bhikkhuni, Upasaka/umat awam pria dan Upasika/umat awam wanita]-ku menjadi siswa yang sempurna, terlatih, terampil, menguasai Dhamma, terlatih dalam keselarasan dengan Dhamma, terlatih dengan baik dan berjalan di jalan Dhamma, yang telah lulus dari apa yang mereka terima dari Guru mereka, mengajarkan, menyatakan, mengukuhkan, membabarkan, menganalisa, menjelaskan; hingga mereka mampu menggunakan Dhamma untuk membantah ajaran-ajaran salah yang telah muncul, dan mengajarkan Dhamma yang memiliki hasil yang menakjubkan.
      • Kehidupan suci telah mantap dan berkembang, menyebar, dikenal luas, diajarkan baik di antara para deva dan manusia di mana-mana” [DN 16/Maha Parinibbana Sutta]

      [Kelak di setelah vassa terakhir beliau, di cetiya Capala, Mara datang kembali, juga memintaNya untuk parinibbana saat itu juga dengan mengingatkan bahwa segala hal ini telah tercapai. Setelahnya, Sang Buddha berkata bahwa di 3 bulan mendatang, beliau akan parinibbana]

    Mara:
    "..Yang Mulia, semua penyimpangan, muslihat, perubahanku telah dipotong, pecah, dan hancur oleh Sang Bhagavā. Sekarang, aku tidak mampu lagi mendekati Bhagavā untuk menguasaiNya."

    Kemudian Māra Papima melantunkan syair kekecewaan di hadapan Sang Bhagavā [SN 4.24].

    Māra papima, setelah mengucapkan syair kekecewaan di hadapan Sang Bhagavā, pergi dari tempat itu dan duduk bersila di atas tanah tidak jauh dari Sang Bhagavā, diam, cemas dengan bahu turun, putus asa, merenung, tidak mampu berkata-kata, menggores tanah dengan sebatang tongkat. Kemudian putri-putri Māra—Taṇhā, Arati, dan Ragā—mendekati Māra papima dan berkata kepadanya dalam syair: "Mengapa engkau bersedih, Ayah? Siapakah orang yang membuatmu berduka? Kami akan menangkapnya dengan jerat nafsu Seperti mereka menangkap gajah hutan. Kami akan mengikatnya erat dan membawanya kembali, Dan ia akan berada di bawah kekuasaanmu."

    Mara:
    "Sang Arahanta, Yang Sempurna di dunia ini, Tidaklah mudah ditarik dengan menggunakan nafsu. Ia telah pergi meninggalkan alam Māra: Oleh karena itu, aku berduka dengan pahit."

    Kemudian putri-putri Māra—Taṇhā, Arati, dan Ragā—mendekati Sang Bhagavā dan berkata kepada-Nya: "Kami melayani-Mu, Petapa.". Tetapi Sang Bhagavā tidak memperhatikan, karena Beliau terbebas dalam padamnya perolehan yang tiada bandingnya.

    Kemudian putri-putri Māra—Taṇhā, Arati, dan Ragā—pergi ke pinggir dan berembuk: "Selera laki-laki berbeda-beda. Bagaimana jika masing-masing dari kita menjelma menjadi bentuk seratus bidadari.". Kemudian ketiga putri Māra itu, masing-masing mengubah wujudnya menjadi seratus bidadari..menjadi bentuk seratus orang perempuan yang belum pernah melahirkan...menjadi bentuk seratus orang perempuan yang pernah melahirkan satu kali..yang pernah melahirkan dua kali..perempuan setengah tua..perempuan tua, mendekati Sang Bhagavā dan berkata kepada-Nya: “Kami melayani-Mu, Petapa.” Tetapi Sang Bhagavā tidak memperhatikan, karena Beliau terbebas dalam padamnya perolehan yang tiada bandingnya.

    Kemudian putri-putri Māra—Taṇhā, Arati, dan Ragā—mendekati Sang Bhagavā dan berdiri di satu sisi. Sambil berdiri di satu sisi, Putri Māra bernama Taṇhā berkata: "Apakah karena Engkau tenggelam dalam kesedihan Maka Engkau bermeditasi di dalam hutan? Karena Engkau kehilangan harta atau menginginkan harta, Atau melakukan kejahatan di desa? Mengapa Engkau tidak bergaul dengan orang-orang? Mengapa Engkau tidak menjalin hubungan akrab?”

    Sang Bhagavā:
    "Setelah menaklukkan bala tentara kesenangan dan kenikmatan, bermeditasi sendirian, Aku menemukan kebahagiaan, Pencapaian tujuan, kedamaian batin. Oleh karena itu, Aku tidak bergaul dengan orang-orang, Juga, Aku tidak menjalin hubungan akrab."

    Kemudian putri Māra bernama Arati berkata: "Bagaimanakah seorang bhikkhu di sini sering berdiam bahwa, lima banjir telah terseberangi, di sini ia menyeberangi yang ke enam? Bagaimanakah Ia bermeditasi sehingga persepsi indria dipojokkan dan tidak dapat mencengkeramnya?"

    Sang Bhagavā:
    "Tenang dalam jasmani, dalam pikiran yang terbebaskan sepenuhnya, Tidak menghasilkan, penuh perhatian, tanpa rumah, Mengetahui Dhamma, bermeditasi yang bebas-pikiran, Ia tidak meledak, atau hanyut, atau kaku. Ketika seorang bhikkhu di sini sering berdiam demikian, Dengan lima banjir terseberangi, ia di sini menyeberangi yang ke enam. Ketika Ia bermeditasi demikian, persepsi indria dipojokkan dan tidak dapat mencengkeramnya."

    Kemudian putri Māra bernama Rāga berkata: "Ia telah memotong keinginan, mengembara dengan kelompoknya; Tentu saja banyak mahkluk akan menyeberang. Aduh, Yang Tanpa Rumah ini akan merampas banyak orang Dan membawa mereka melampaui Raja Kematian."

    Sang Bhagavā:
    "Sungguh Para Tathāgata, para pahlawan besar, Dituntun oleh Dhamma sejati. Ketika mereka menuntun dengan Dhamma sejati, Kecemburuan apakah yang ada dalam diri mereka yang mengerti?"

    Kemudian putri-putri Māra—Taṇhā, Arati, dan Ragā—mendekati Māra Papima. Māra melihat mereka datang dari jauh dan berkata kepada mereka: "Bodoh! Kalian mencoba untuk menyerang gunung Dengan tangkai bunga teratai, Menggali gunung dengan kukumu, Mengunyah besi dengan gigimu. Seolah-olah, setelah mengangkat batu dengan kepalamu, Engkau mencari tempat berpijak di jurang; Seolah-olah engkau menabrak tunggul dengan dadamu, Engkau meninggalkan Gotama dengan kecewa."

    Mereka mendatangi Beliau, gemerlap dengan kecantikan— Taṇhā, Arati, dan Ragā—Tetapi Sang Guru menyapu mereka dari sana Bagaikan angin, gumpalan kapas jatuh [SN 4.25]
Kitab Komentar menempatkan kejadian ini terjadi pada minggu ke-5.

Sang Buddha mencari orang-orang yang pernah bertapa denganNya
Setelah menerima permohonan Brahma Sahampati, beliau merenungkan: ‘Kepada siapakah pertama kali Aku mengajarkan Dhamma? Siapakah yang akan memahami Dhamma ini dengan cepat?’ Āḷāra Kālāma bijaksana, cerdas, dan dapat melihat; ia telah lama memiliki sedikit debu di matanya. Bagaimana jika Aku mengajarkan Dhamma pertama kali kepada Āḷāra Kālāma. Ia akan memahaminya dengan cepat.’ . Para deva mendatangi Sang Buddha mengatakan bahwa Āḷāra Kālāma meninggal 7 hari yang lalu dan dari pengetahuan dan penglihatannya beliau tahu bahwa benar Āḷāra Kālāma meninggal 7 hari yang lalu. Sehingga beliau berpikir: ‘Kerugian Āḷāra Kālāma sungguh besar. Jika ia mendengarkan Dhamma ini, ia akan memahaminya dengan cepat.’ [MN 26]. Alara kalama melatih meditasi dengan landasan persepsi tak ada sesuatu apapun. Ia menikmati, meminati dan berbahagia dengan persepsi tersebut dan karena mengakar menjadi kebiasaan tanpa alpa melakukannya maka disetelah wafatnya terlahir di antara Deva ākiñcaññāyatana yang akan berumur 60.000 Kappa [AN 3.116/Āneñja sutta]. Gangguan luar dapat menyebabkannya terbangun dari persepsi tersebut dan karena nafsunya belum padam, ini akan mengusiknya, sehingga dapat menyebabkannya terjatuh dari alam itu ke alam yang bawahnya bahkan sampai ke alam Neraka. Sang Buddha tentunya tidak akan melakukan itu

Demikian pula ketika beliau berpikir tentang Uddaka Rāmaputta, Para Deva menyampaikan bahwa Uddaka Rāmaputta meninggal kemarin malam dan dari pengetahuan dan penglihatannya, ia tahu bahwa benar Uddaka Rāmaputta meninggal kemarin malam [MN 26]. Uddaka Ramaputta melatih meditasi dengan landasan landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi Ia menikmati, meminati dan berbahagia dengan persepsi tersebut dan karena mengakar menjadi kebiasaan tanpa alpa melakukannya maka disetelah wafatnya terlahir di antara Deva nevasaññānāsaññāyatana (nevasaññānāsaññāyatanūpagānaṃ devānaṃ sahavyataṃ upapajjati [AN 4.172] yang menurut Vibhanga no.18 Mahluk di alam itu akan berumur hingga 84.000 Kappa, Gangguan luar dapat menyebabkannya terbangun dari persepsi tersebut dan karena nafsunya belum padam, ini akan mengusiknya, sehingga dapat menyebabkannya terjatuh dari alam itu ke alam yang bawahnya bahkan sampai ke alam Neraka. Sang Buddha tentunya tidak akan melakukan itu

Kemudian beliau teringat akan kelima teman asetiknya, Kondanna, Bhaddiya, Vappa, Mahanama and Assaji, mengetahui bahwa mereka tinggal di Sarnath, dekat Varanasi, Beliau segera pergi untuk mencari mereka.

Dalam perjalanan menuju Benares. Antara Gayā dan tempat pencerahannya, Sang Buddha bertemu petapa Ajivaka bernama Upaka. Ketika melihat Sang Buddha, dengan keheranan, ia mendekat dan berkata, "Teman, indriamu cerah, warna kulitmu bersih dan cemerlang. Di bawah siapakah Engkau meninggalkan keduniawian, teman? Siapakah guruMu? Dhamma siapakah yang Engkau anut?". Sang Buddha memberikan jawaban sebagai berikut:

(1)Sabbābhibhū sabbavidū'ham-asmi
sabbesu dhammesu anūpalitto
sabbaɱjaho taṇhakkhaye vimutto
sayaɱ abhiññāya kam-uddiseyyaɱ


Aku seorang yang telah melampaui segalanya, pengenal segalanya, Tak ternoda di antara segalanya, meninggalkan segalanya, Terbebaskan dalam lenyapnya keinginan. Setelah mengetahui semua ini, Siapakah yang harus Kutunjuk sebagai guru?

(2)Na me ācariyo atthi
sadiso me na vijjati
sadevakasmiɱ lokasmiɱ
na-tthi me paṭipuggalo


Tidak ada guruku, Bahkan untuk yang sepertiku, Tidak ditemukan, di segala alam beserta para dewanya, Tidak ada yang sebanding denganku

(3)Ahaɱ hi arahā loke
ahaɱ satthā anuttaro
eko'mhi sammāsambuddho
sītibhūto'smi nibbuto


Aku adalah Yang Sempurna di dunia ini, Aku Guru Utama, seorang Yang Tercerahkan Sempurna, yang api-apinya telah padam.

(4) Dhammacakkaɱ pavattetuɱ gacchāmi Kāsinaɱ puraɱ
andhabhūtasmiɱ lokasmiɱ āhañchaɱ amatadundubhin ti


Untuk memutar Roda Dhamma, aku menuju Kasi (Taman Rusa Isipatana, dekat Vàrànasi), menabuh genderang tanpa kematian bagi dunia yang tengah meraba-raba dalam kebutaan

Setelah itu, Petapa Upaka berkata,
Yathā kho tvaɱ āvuso paṭijānāsi arahasi anantajino ti

Dengan pengakuanmu, teman, engkau pastinya Pemenang Segalanya

Sang Buddha menjawab:
(5)Mādisā ve jinā honti ye pattā āsavakkhayaɱ
jitā me pāpakā dhammā
tasmā'haɱ Upakā jino ti


Para penakluk (Jina) adalah yang telah menghancurkan noda-noda, Aku telah menaklukkan segala kondisi buruk, Oleh karenanya, Upaka, Aku adalah Pemenang

Selanjutnya, Petapa Upaka berkata, ‘Semoga demikian, teman.’ Dengan menggelengkan kepala, ia berjalan melalui jalan kecil dan pergi. [MN 26/Ariyapariyesanā Sutta].

Dalam kitab komentar, dikatakan bahwa selanjutnya Upaka jatuh cinta dengan puteri seorang pemburu dan menikahinya. Ketika pernikahannya tidak membuatnya bahagia, ia pergi menuju Sang Buddha, memasuki Sangha, mencapai tingkatan seorang yang-tidak-kembali (Anagami), wafat dan terlahir di alam Sudhavasa terbawah [Aviha], dan mencapai Kearahattaannya di sana [Lihat: RAPB, Buku ke-1, Hal 693-698]

Bertemu dengan lima rekannya
Di Benares, Taman Rusa di Isipatana, dan Aku mendekati lima petapa. Dari jauh mereka melihatKu mendekat, dan mereka sepakat: ‘Teman-teman, telah datang Petapa Gotama yang hidup dalam kemewahan, yang telah meninggalkan usahaNya, dan kembali kepada kemewahan. Kita tidak perlu memberi hormat kepadanya atau bangkit menyambutnya atau menerima mangkuk dan jubah luarNya. Tetapi sebuah tempat duduk boleh disediakan untukNya. Jika Ia menginginkan, Ia boleh duduk.’ Akan tetapi, ketika Aku mendekat, para bhikkhu itu tidak dapat mempertahankan kesepakatan mereka. Salah seorang datang menyambutKu dan mengambil mangkuk dan jubah luarKu, yang lain menyiapkan tempat duduk, dan yang lain lagi menyediakan air untuk membasuh kakiKu akan tetapi mereka menyapaKu dengan nama dan sebagai ‘teman.’ [MN 26]

Sang Buddha meyakinkan 5 Rekannya
Setelah duduk, sang Buddha memberitahu mereka: "Para bhikkhu, jangan menyapa Sang Tathāgata dengan nama dan sebagai “teman.” Sang Tathāgata adalah seorang yang sempurna, seorang Yang Tercerahkan Sempurna. Dengarkanlah, para bhikkhu, Keabadian telah dicapai. Aku akan memberikan instruksi kepada kalian, Aku akan mengajarkan Dhamma kepada kalian. Dengan mempraktikkan sesuai yang diinstruksikan, dengan menembusnya untuk kalian sendiri di sini dan saat ini melalui pengetahuan langsung, kalian akan segera memasuki dan berdiam dalam tujuan tertinggi kehidupan suci yang karenanya para anggota keluarga meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah" [MN 26]

Pada mulanya, kelima petapa ini meragukanNya dan memberikan banyak argumen, kemudian sang Buddha berkata pada mereka, "Para petapa, pernahkah kalian mendengar Aku berkata seperti ini sebelumnya?" Mereka menjawab: ‘Tidak, Yang Mulia.’ [MN 26]. Akhirnya mereka mulai mempercayainya dan mau mendengar ajaranNya. Maka Sang Buddha memberikan khotbah pertamaNya yang kelak dikenal sebagai Dhammacakkappavattana Sutta (Khotbah Pemutaran Roda Dhamma). Khotbah ini disampaikan tepat di saat purnama sidhi, pada bulan asadha. Inilah ringkasan kotbah pertama yang legendaris itu:
    "Para bhikkhu, Ada 2 hal ekstrim yang harus tidak dihindari oleh seorang yang menempuh kesucian;

    (1) Mengejar kebahagiaan indria dalam kenikmatan indria (kāmesu kāmasukhallikānuyogo), yang rendah, kasar, cara-cara kaum duniawi, tidak mulia, tidak bermanfaat (hīno gammo pothujjaniko anariyo anatthasaṃhito); dan

    (2) praktek penyiksaan diri (attakilamathānuyogo), yang menyakitkan, tidak mulia, tidak bermanfaat (dukkho anariyo anatthasaṃhito).

    Tanpa berbelok ke arah salah satu dari ekstrim-ekstrim ini, Sang Tathāgata telah membangkitkan jalan tengah, yang memunculkan: penglihatan, pengetahuan, yang menuntun menuju: kedamaian, pengetahuan langsung, pencerahan, menuju Nibbāna.

    Dan apakah, para bhikkhu, jalan tengah yang dibangkitkan oleh Sang Tathāgata, yang memunculkan: penglihatan,.. menuju Nibbāna?

    Adalah Jalan Mulia Berunsur 8: Pandangan benar, kehendak benar, Ucapan Benar, Perbuatan Benar, Pencaharian Benar, Daya-upaya Benar, Perhatian Benar dan Pikiran terpusat Benar.

    Ini, para bhikkhu, jalan tengah yang dibangkitkan Sang Tathāgata, yang memunculkan: penglihatan.., menuju Nibbāna.

    Kemudian, para Bhikkhu, Ini adalah kebenaran mulia penderitaan/Dukkha:
    kelahiran adalah penderitaan, penuaan adalah penderitaan... singkatnya, 5 kelompok unsur kehidupan yang tunduk pada kemelekatan adalah penderitaan.

    Kemudian, para bhikkhu, Ini adalah kebenaran mulia asal-mula penderitaan:
    adalah keinginan yang menuntun menuju penjelmaan baru, disertai dengan kesenangan dan nafsu, mencari kenikmatan di sana-sini; yaitu, keinginan pada kenikmatan indria, keinginan pada penjelmaan, keinginan pada pemusnahan.

    Kemudian, para bhikkhu, Ini adalah kebenaran mulia lenyapnya penderitaan:
    adalah peluruhan tanpa sisa dan lenyapnya keinginan yang sama itu, meninggalkan dan melepaskannya, kebebasan darinya, tidak bergantung padanya.

    Kemudian, para bhikkhu, Ini adalah kebenaran mulia jalan menuju lenyapnya penderitaan:
    adalah Jalan Mulia Berunsur 8; yaitu, pandangan benar, …, pikiran terpusat benar.

    [..] Demikianlah yang dikatakan Sang Bhagavā. Bersuka-cita, Kelompok 5 Bhikkhu gembira mendengar penjelasan Sang Bhagavā. Dan selagi khotbah dibabarkan, muncullah pada Yang Mulia Kondañña penglihatan Dhamma tanpa noda, bebas dari debu: “Apa pun yang tunduk pada asal-mula semuanya tunduk pada lenyapnya.”

    Kemudian Sang Bhagavā mengucapkan ucapan inspitarif ini: “Kondañña sungguh telah mengerti! Kondañña sungguh telah mengerti!”. Demikianlah YM Kondañña memperoleh nama “Aññā Kondañña - Kondañña Yang Telah Mengerti.” [SN 56.11/Dhammacakkappavattana sutta (Pemutaran roda Dhamma)]
Berdirinya Sangha (kumpulan minimum 5 Bikkhu)
Saat roda dhamma diputar, Kondañña menjadi manusia pertama yang mencapai Sotapanna di era Buddha Gotama. Setelah pemutaran roda Dhamma, Kondañña mohon ditahbiskan menjadi Bhikkhu dan Ia ditahbiskan dengan kalimat, "Mari (ehi) bhikkhu, Dhamma telah dibabarkan dengan jelas. Laksanakan kehidupan suci dan singkirkanlah penderitaan", maka Kondañña menjadi bhikkhu pertama murid Sang Buddha dan yang pertama ditahbiskan dengan "ehi bhikkhu".

Dua hari setelahnya, Vappa dan Bhaddiya menjadi Sotapanna dan ditahbiskan dengan kalimat "ehi bhikkhu". Di hari ke-4, Mahanama dan Assaji menjadi Sotapanna dan ditahbiskan dengan kalimat "ehi bhikkhu". Dengan adanya 5 Bhikkhu ini, maka terbentuklah sangha Bhikkhu pertama di era Buddha Gotama.

Pada hari ke-5, setelah memberikan khotbah pertama, Sang Buddha membabarkan khotbah kedua, Anattalakkhana sutta:
    "Jasmani/materi, para bhikkhu, adalah bukan diri. JIKA JASMANI ADALAH DIRI, JASMANI INI TAKKAN MENYEBABKAN KEKECEWAAN. Akan mungkin [untuk mengatakan] sehubungan dengan jasmani, 'Semoga jasmani ini menjadi demikian. Semoga jasmani ini tidak menjadi demikian.'

    TETAPI KARENA JASMANI BUKAN DIRI, MAKA JASMANI MENYEBABKAN KEKECEWAAN. Dan tidaklah mungkin [untuk mengatakan] sehubungan dengan jasmani, 'Semoga jasmani ini menjadi demikian. Semoga jasmani ini tidak menjadi demikian'

    "Perasaan bukanlah diri...
    "Persepsi bukanlah diri...
    "Bentukan [mental] bukanlah diri...

    "Kesadaran bukanlah diri. JIKA KESADARAN ADALAH DIRI, KESADARAN INI TAKKAN MENYEBABKAN KEKECEWAAN. Adalah mungkin [untuk mengatakan] sehubungan dengan kesadaran, 'Semoga kesadaranku menjadi demikian. Semoga kesadaranku tidak menjadi demikian.'

    TETAPI KARENA KESADARAN BUKAN DIRI, KESADARAN MENYEBABKAN KEKECEWAAN. Dan tidaklah mungkin [untuk mengatakan] sehubungan dengan kesadaran, 'Semoga kesadaranku menjadi demikian. Semoga kesadaranku tidak menjadi demikian'

    Sang Buddha: "Bagaimana menurutmu, para bhikkhu — Apakah jasmani/materi kekal atau tidak kekal?"

    5 Pertapa: "Tidak kekal, Bhante (guru)."

    Sang Buddha: "Dan apakah hal yang tidak kekal itu memberikan kenyamanan (memuaskan) atau penderitaan (tidak memuaskan)?"

    5 Pertapa: "Penderitaan (tidak memuaskan), Bhante."

    Sang Buddha: "Dan apakah tepat sesuatu yang tidak kekal, menyebabkan penderitaan, tunduk pada hukum perubahan sebagai: 'Ini milikku. Ini adalah diriku. Ini adalah aku'?"

    5 Pertapa: Tidak, Bhante."

    Sang Buddha: "Apakah perasaan..., persepsi..., bentukan..., kesadaran kekal atau tidak kekal?"

    5 Pertapa: "Tidak kekal, Bhante."

    Sang Buddha: "Bagaimana menurutmu, para bhikkhu — Apakah kesadaran kekal atau tidak kekal?"

    5 Pertapa: "Tidak kekal, Bhante."

    Sang Buddha: "Dan apakah hal yang tidak kekal itu memberikan kenyamanan atau penderitaan?"

    5 Pertapa: "Penderitaan, Bhante."

    Sang Buddha: "Dan apakah tepat sesuatu yang tidak kekal, menyebabkan penderitaan, tunduk pada hukum perubahan sebagai: 'Ini milikku. Ini adalah diriku. Ini adalah aku'?"

    5 Pertapa: "Tidak, Bhante."

    Sang Buddha: "Karena itu, para bhikkhu, apapun jasmani/materi di masa lampau, masa depan, atau masa sekarang; di dalam atau di luar; kasar atau halus; rendah atau luhur; jauh atau dekat; apapun jasmani/materi dilihat sebagaimana adanya dengan pemahaman benar sebagai: 'Ini BUKAN MILIKKU. Ini BUKAN DIRIKU. Ini BUKAN AKU.'

    "Perasaan apapun...Persepsi apapun... Bentukan [mental] apapun... Kesadaran apapun di masa lampau, masa depan, atau masa sekarang; di dalam atau di luar; kasar atau halus; rendah atau luhur; jauh atau dekat: apapun kesadaran dilihat sebagaimana adanya dengan pemahaman benar sebagai: 'Ini BUKAN MILIKKU. Ini BUKAN DIRIKU. Ini BUKAN AKU.'

    "Melihat demikian, siswa Ariya, yang telah memahaminya dengan baik, menjadi:

    TAK TERKESAN (hambar; tak terpesona) dengan jasmani,
    TAK TERKESAN dengan perasaan,
    TAK TERKESAN dengan persepsi,
    TAK TERKESAN dengan bentukan [mental],
    TAK TERKESAN dengan kesadaran.

    SETELAH menjadi TAK TERKESAN, hambar, tak terpesona [nibbida], PADAMLAH NAFSU KEINGINAN untuk menggenggam [viraga].

    SETELAH PADAMNYA NAFSU KEINGINAN untuk menggenggam [viraga], dia TERBEBAS SEPENUHNYA [vimutti].

    Dengan terbebas penuh [vimutti], disana ada pengetahuan [asavakkhayañana], 'Terbebas sepenuhnya.' Dia mengetahui 'Kelahiran telah berakhir, kehidupan suci telah terpenuhi, tugas telah selesai. Tidak ada lagi lebih jauh untuk dunia ini' (lingkaran samsara terpatahkan)

    Demikian yang dikatakan Sang Bhagava. kelompok 5 petapa tersebut bergembira dengan kata-kata Beliau. Sewaktu penjelasan sedang diberikan, mental kelompok 5 bhikkhu, melalui ketidakmelekatan, terbebas sepenuhnya dari kekotoran mental [SN 22.59/Anattalakhana sutta (Karakteristik Bukan-Diri/tanpa inti)]
Pada bulan ini, di era Buddha Gotama, karena roda dhamma berputar lagi, maka untuk pertama kalinya, MANUSIA BERKESEMPATAN LAGI untuk mencapai tingkat ARAHAT, sebagai SAVAKA ARAHAT (mencapai arahat dengan bimbingan/ajaran Buddha)

Menginstruksikan Yasa
Di Benares saat itu, terdapat anak muda bernama Yasa (Anak Sujata, Perempuan yang pernah memberikan Susu beras pada Siddharta Gautama) yang hidupnya dipenuhi kemewahan dikelilingi gadis-gadis cantik yang menyajikan berbagai macam hiburan. Seperti juga pangeran Sidhartha, Yasa memiliki tiga rumah tinggal untuk setiap musimnya.

Pada suatu malam di musim hujan, Yasa terbangun dari tidurnya dan melihat para pengikut dan penarinya tertidur bergelimpangan bagai mayat di kuburan, beberapa dengan rambut acak-acakan, beberapa dengan air liur menetes, beberapa mengigau dan banyak postur lainnya yang membuatnya menjadi jemu dengan kenikmatan indriya dan mengucapkan, "Alangkah menakutkannya! Alangkah mengerikannya!". Dengan pikiran kalut penuh kecemasan, Ia berjalan meninggalkan kediamannya hingga sampaila di Taman Rusa di Isipatana pada waktu hampir menjelang pagi. Saat itu, Sang Buddha, baru selesai berjalan dan duduk di satu tempat. Ketika Yasa berjalan dekat Sang Buddha, Ia mengulangi ucapannya, "Alangkah menakutkan! Alangkah mengerikannya!". Sang Buddha menyapanya, "Ini, Yasa, tidaklah menakutkan. Tidaklah mengerikan. Mari, duduklah di sini, Aku akan mengajarkannya". Mendengar itu, Yasa berpikir, "Dikatakan ini tidak menakutkan dan tidak mengerikan?”. Merasa tertarik dan gembira, Ia melepas sandalnya, menghampiri Sang Buddha, memberi hormat dan duduk di sisiNya.

Sang Buddha mengawalinya dengan manfaat berdana, latihan moralitas, kelahiran di alam-alam bahagia karena melakukan banyak kebajikan, buruknya mengumbar nafsu dan manfaat melepas diri dari kesenangan Indriawi. Setelah Sang Buddha melihat pikiran Yasa lunak, lentur, bergembira, tanpa rintangan menerima pengajaran, beliau melanjutkannya dengan Empat Kesunyataan Mulia yang membebaskan. Setelah Sang Buddha selesai dengan uraiannya, Yasa yang dalam keadaan duduk, memperoleh Mata Dhamma (melihat ajaran) bahwa apapun yang muncul, akan berakhir.

Ketika itu, ayahnya Yasa tengah mencarinya hingga ke sana. Sang Buddha melihatnya dari kejauhan dan dengan kekuatan mentalnya, beliau membuat Yasa tidak terlihat oleh ayahnya. Setelah mendekat dan bertegur sapa, sang ayah bertanya pada Sang Buddha apakah beliau melihat Yasa. Sang Buddha menjawabnya dengan mengajaknya duduk di situ agar dapat melihat Yasa. Mendengar itu, ayah Yasa merasa tertarik dan senang, kemudian duduk di situ.

Kemudian, Sang Buddha menyampaikan kembali uraiannya seperti yang disampaikannya kepada Yasa. Setelah mendengar uraian sang Buddha, ayah Yasa melihat ajaran/Dhamma (diṭṭhadhammā), memperoleh ajaran (pattadhammā), tahu akan ajaran (viditadhammā) mengakar kokoh dalam ajaran (pariyogāḷhadhammā) melampaui keragu-raguan (tiṇṇavicikicchā), menghalau kebingungan (vigata-kathaṃkathā) ajaran, mempunyai kepercayaan diri (vesārajjappattā) akan ajaran dan tidak bergantung pada yang lain (aparappaccayā) dalam ajaran dan memohon untuk berlindung pada Buddha, Dhamma dan kumpulan para PetapaNya (sangha). Saat itu, Ayah Yasa adalah umat awam pertama yang berlindung pada ti ratana (3 permata).
    Note:
    Sebelumnya, Tapussa dan Bhallika juga telah menyatakan diri berlindung pada Sang Buddha dan DhammaNya. Namun ketika itu, Sang Buddha belum mempunyai murid yang menjadi PetapaNya, sehingga 3 permata belum ada dan baru ada setelah 5 petapa menjadi Bhikkhu. Oleh karenanya, Tapussa dan Bhallika bukanlah umat awam pertama yang berlindung pada tiratana
Sewaktu Sang Buddha menyampaikan kembali uraiannya kepada ayah Yasa. Pikiran Yasa menjadi terbebaskan, Ia mencapai arahat. Yasa adalah umat awam pertama yang mencapai arahat.

Kemudian Sang Buddha membuat ayah Yasa dapat melihat kehadiran Yasa yang tengah duduk di sana. Ayahnya Yasa menyampaikan pada Yasa bahwa ibunya sedang bersedih karena kehilangannya. Yasa kemudian menatap Sang Buddha dan Sang Buddha bertanya pada ayah Yasa mengenai bagaimana dengan ajaran yang telah dilihat dan dipahaminya yang juga telah dilihat dan dipahami oleh Yasa? Saat itu, pikiran ayah Yasa juga menjadi terbebaskan dan menjadi Arahat . Ia mengetahui bahwa dirinya dan juga anaknya, sekarang, tidak mungkin lagi kembali pada kehidupan menjadi perumah tangga

Ayah Yasa kemudian mengundang Sang Buddha untuk datang esok harinya ke rumahnya menerima dana makanan. Sang Buddha menerimanya dengan berdiam diri. Setelah permohonannya diterima, ayah Yasa berdiri berpamitan pulang dengan cara memberi penghormatan dengan berjalan memutari Sang Buddha pada sisi kanannya dan kembali pulang ke istananya.

Setelah ayahnya pulang, Yasa memohon untuk ditahbiskan. Sang Buddha mentahbiskannya dengan kalimat yang mirip dengan cara menahbiskan lima petapa pertama yaitu, "Ehi bhikkhu, Dhamma telah dibabarkan dengan jelas. Laksanakanlah kehidupan suci" TANPA kalimat "dan singkirkanlah penderitaan" karena Yasa pada waktu itu sudah mencapai tingkat Arahat sebelum ditahbiskan. Dengan demikian, pada waktu itu sudah ada 7 orang Arahat.

Keesokan harinya dengan diiringi Yasa, Sang Buddha pergi ke rumah ayah Yasa dan duduk di tempat yang telah disediakan. Ibu dan istri Yasa keluar memberi penghormatan. Sang Buddha kembali menyampaikan uraiannya dan mereka berdua pun rnemperoleh Mata Dhamma dan memohon menjadi umat awam wanita yang berlindung kepada Buddha, Dhamma, dan Sangha. Ibu dan Istri Yasa adalah umat awam wanita pertama yang berlindung pada ti ratana

Di Benares, Yasa mempunyai 4 orang sahabat, semuanya anak-anak orang kaya yang bernama Vimala, Subahu, Punnaji, dan Gavampati. Mereka mendengar bahwa Yasa sekarang sudah menjadi bhikkhu. Mereka menganggap bahwa ajaran-ajaran yang benar-benar sempurnalah yang dapat menggerakkan hati Yasa untuk meninggalkan kehidupannya yang mewah. Karena itu mereka menemui bhikkhu Yasa yang kemudian membawa ke-4 kawannya menghadap Sang Buddha.

Setelah mendengar khotbah Sang Buddha, mereka semua memperoleh Mata Dhamma dan kemudian diterima menjadi bhikkhu. Setelah mendapat penjelasan tambahan, keempatnya dalam waktu singkat mencapai tingkat Arahat. Dengan demikian jumlah Arahat pada waktu itu menjadi 11 orang.

50 orang teman Yasa mendengar bahwa sahabat mereka menjadi bhikkhu, mereka pun mengambil keputusan untuk mengikuti jejak bhikkhu Yasa. Mereka semua diterima menjadi bhikkhu dan dalam waktu singkat semuanya mencapai tingkat Arahat, sehingga pada waktu itu terdapat 61 orang Arahat.

Menyebarkan Dharma
Kepada 61 Bhikkhu pengikutnya, Sang Buddha berkata: "Aku telah terbebaskan dari segala jeratan surgawi maupun manusiawi. Kalian juga, telah terbebas dari segala jeratan surgawi maupun manusiawi. Mengembaralah, Para bhikkhu, demi kesejahteraan banyak makhluk, demi kebahagiaan banyak makhluk, demi belas kasihan terhadap dunia, demi kebaikan, kesejahteraan dan kebahagiaan para deva dan manusia. Janganlah dua orang pergi bersama. Ajarilah, O para bhikkhu, Dhamma yang indah di awal, di pertengahan dan di akhir, dengan makna dan kata yang benar. Ungkapkanlah kehidupan suci yang lengkap dan murni sempurna. Ada makhluk-makhluk dengan sedikit debu di mata mereka yang akan jatuh jika mereka tidak mendengar Dhamma. Ada di antara mereka yang dapat memahami Dhamma. Aku juga, para bhikkhu, akan pergi ke Senānigama di Uruvelā untuk mengajarkan Dhamma".

Kemudian Māra si Jahat mendekati Sang Bhagavā dan berkata:
Engkau terikat oleh segala jeratan
surgawi maupun manusiawi;
Engkau terikat oleh belenggu kuat:
Engkau tidak dapat menghindariku, Petapa!

Sang Bhagavā:
Aku terbebas dari segala jeratan
surgawi maupun manusiawi;
Aku terbebas dari belenggu kuat:
Engkau telah kalah, sang Kematian [Vinaya: Mahakhandhaka dan AN 4.5/Dutiyamārapāsasutta]

Kemudian berangkatlah ke-61 Arahat itu sendiri-sendiri ke berbagai jurusan mengajarkan Dhamma. Kerap mereka bertemu orang yang ingin menjadi bhikkhu, namun mereka belum bisa mentahbiskannya, maka orang itu mereka bawa kehadapan Sang Buddha, Ini sungguh suatu perjalanan yang melelahkan. Melihat kesulitan ini, Sang Buddha memperkenankan para bhikkhu memberikan pentahbisan:

"Aku perkenankan kalian, para Bhikkhu, untuk mentahbiskan orang di tempat-tempat yang jauh. Inilah yang harus kamu lakukan. Rambut serta kumisnya harus dicukur, mereka harus memakai jubah Kasaya (jubah yang dicelup dalam air larutan kulit kayu tertentu), bersimpuh, merangkapkan kedua tangannya dalam sikap menghormat dan kemudian berlutut di depan kaki bhikkhu. Selanjutnya kamu harus mengucapkan dan mereka harus mengulang ucapanmu, "Aku berlindung kepada Sang Buddha, aku berlindung kepada Dhamma, aku berlindung kepada Sangha"

Sehingga, mulai saat itu ada dua cara pentahbisan, pertama oleh Sang Buddha sendiri dengan "ehi bhikkhu" dan kedua oleh murid-muridNya yang dinamakan pentahbisan "Tisaranagamana".

Sepanjang Perjalanan di Desa Uruvela
Beliau menuju Uruvela dan duduk di satu akar pohon tertentu. ketika itu, datang sekumpulan orang muda dan sampai dihadapan Sang Buddha, mereka bertanya, "Yang Mulia! Apakah Yang mulia melihat seorang perempuan?"

Sang Buddha menjawab, “Para orang muda! Ada urusan apakah kalian mencari perempuan itu?” Mereka menjawab, “Yang Mulia! Kami 30 bersaudara Bhaddavaggiya (bermuka menyenangkan, tahu aturan dan bersikap) sedang pesiar bersama bersama istri-istri kami di Hutan Kappàsika. Seorang dari kami belum beristri sehingga datang dengan membawa seorang pelacur. Ketika kami tengah dalam kesenangan, pelacur tersebut mencuri hartanya dan kabur melarikan diri. Kami membantunya mencari hingga sampai di sini.
Sang Buddha berkata, “Para orang muda, mana yang lebih baik bagi kalian, mencari perempuan yang hilang itu atau mencari diri kalian sendiri?”
Mereka menjawab, “Yang Mulia! Tentu saja lebih baik mencari diri kami sendiri.”
Buddha berkata, “Jika demikian, Para orang muda, Duduklah. Aku, akan mengajarkannya”
Mereka menjawab, "Baiklah, Yang mulia", kemudian, setelah bersujud hormat kepada Sang Buddha, 30 bersaudara inipun duduk.

Sang Buddha kemudian menjelaskan manfaat berdana, latihan moralitas, kelahiran di alam-alam bahagia karena melakukan banyak kebajikan, buruknya mengumbar nafsu dan manfaat melepas diri dari kesenangan Indriawi. Setelah Sang Buddha melihat pikiran mereka lunak, lentur, bergembira, tanpa rintangan menerima pengajaran, beliau melanjutkannya dengan Empat Kesunyataan Mulia yang membebaskan.

Mendengar uraian beliau, mereka semua: melihat Dhamma, memperoleh dhamma, tahu akan Dhamma, mengakar kokoh dalam Dhamma, melampaui keragu-raguan, menghalau kebingungan ajaran, mempunyai kepercayaan diri akan ajaran dan tidak bergantung pada yang lain dalam ajaran. Mereka kemudian memohon ditahbiskan dan sang Buddha ucapkan, "Etha bhikkhavo" (Mari, Para Bhikkhu) "Dhamma telah dibabarkan, jalani kesucian untuk mengakhiri penderitaan” (saat itu, ke-30 orang ini minimum telah sotapanna, namun belum arahat) .

Sang Buddha kemudian meneruskan perjalanannya,
Di 3 tempat sepanjang Sungai Neranjara, tinggallah 3 Kassapa bersaudara yang menjadi pemimpin kaum Jatila, para pemuja api. Yang tertua, Uruvela Kassapa, mahir ilmu gaib, tinggal di hulu sungai dan punya 500 pengikut. Yang ke-2, Nadi Kassapa, tinggal di hilir sungai dan punya 300 pengikut. Yang ke-3, Gaya Kassapa, tinggal lebih hilir dari Nadi Kassapa dan punya 200 pengikut.

Sang Buddha menemui pertapa Uruvela Kassapa dan meminta ijin agar dapat bermalam di ruang perapiannya". Uruvela Kassapa menyatakan di ruang perapian itu tinggal pula seekor raja ular yang ganas, berbisa dan berkemampuan tinggi, takutnya sang Buddha akan dilukai raja ular itu namun Sang Buddha berkata: "Raja Ular itu tidak dapat melukaiKu, Kassapa. Izinkanlah Saya bermalam di ruang perapian itu.". Setelah memperoleh izin, Sang Buddha memasuki ruang perapian dan menebarkan alas tempat duduk, dan Sang Guru kemudian duduk dengan tubuh dan pikiran yang tenang.

Melihat sang Buddha, ular itu menjadi sedih, menderita dan terusik, Ia kemudian menyemburkan meniupkan asap panas dan juga api yang berkobar tanpa henti ke arah Sang Buddha. Kemudian dengan tanpa melukai dan menyakiti fisik raja ular ini, beliau kemudian menahan kekuatan sang raja ular dengan meniupkan asap panas dan juga api yang jauh lebih dahsyat. Seluruh tempat perapian tersebut terlihat seperti terbakar karena api yang diciptakan oleh Sang Buddha dan sang raja ular. Para petapa yang dipimpin oleh Uruvela-Kassapa berkumpul di sekeliling perapian dan berkata dengan ketakutan, “Teman-teman! Bhikkhu itu telah dicelakai raja ular itu!”. Pagi harinya, Sang Buddha meletakkan raja ular itu di mangkuk makananNya, menunjukkan kepada Uruvela-Kassapa, “Inikah raja ular yang engkau maksudkan. Aku telah menaklukkannya dengan kekuatan-Ku.”. Uruvela-Kassapa berpikir: “walaupun Bhikkhu ini sangat kuat dan sakti, Ia bukanlah Arahanta sepertiku”.

Terkesan dengan dengan keajaiban (pañihàriya)-Nya, Uruvela-Kassapa mengundang Sang Buddha untuk tinggal ditempatnya. Demikianlah, Sang Buddha menetap di Uruvela, selama 3 bulan, Uruvela Kassapa melihat dan mengetahui sendiri 16 keajaiban yang dilakukan beliau (yaitu: 4 raja deva, Sakka, Brahma Sahampati memohon pengajaran Dhamma, mengetahui sang Buddha dapat membaca pikiran Uruvela Kassapa, para Deva melayaniNya dalam membersihkan jubahnya dengan terciptanya kolam, batu dan pohon yang melengkung, mendatangkan buah dan bunga yang luar biasa, memecah kayu menjadi 500 ikat potongan kayu, menghidupkan api dan membakar kayu-kayu tersebut, Hujan lebat yang turun diluar musim, tidak dapat membasahinya dan walaupun berada di tempat paling rendah, banjir akibat hujan tersebut tidak dapat menghanyutkannya, kemudian Ia, dengan terbang menghampiri Uruvela Kassapa). Melihat dan mengetahui ini, Uruvela-Kassapa tetap berpikir: “walaupun Bhikkhu ini sangat kuat dan sakti, Ia bukanlah Arahanta sepertiku”

Di akhir 3 bulan itu, Sang Buddha menyampaikan kepada Uruvela Kassapa, bahwa Uruvela Kassapa bukanlah seorang Arahat seperti yang disangkanya juga tidak menempuh jalan yang benar untuk menuju kebebasan yang sempurna. Uruvela Kassapa tampaknya menyadari ini dan memohon agar diterima menjadi murid Sang Buddha. Sang Buddha mengingatkannya untuk memikirkan kesejahteraan 500 muridnya, oleh karenanya Ia berbicara kepada 500 muridnya bahwa Ia akan menjadi murid sang Buddha dan akhirnya, dengan membuang semua pakaian dan peralatan persembahyangan yang selama ini dilakukan, Ia dan 500 muridnya menjadi murid Sang Buddha.

Pada suatu hari, Nadi Kassapa yang bertempat tinggal di sebelah hilir sungai menjadi terkejut melihat banyak peralatan sembahyang terapung di sungai. Ia mengira bahwa suatu bencana hebat telah menimpa kakaknya. Dengan tergesa-gesa, beserta 300 pengikutnya, Nadi Kassapa menuju tempat Uruvela Kassapa. Setelah tiba, Nadi Kassapa melihat kakaknya sudah menjadi bhikkhu. Selanjutnya Nadi Kassapa diberi penjelasan tentang sia-sianya memuja api, sehingga akhirnya ia bersama-sama 300 pengikutnya pun menjadi bhikkhu. Hal yang sama juga terjadi pada diri Gaya Kassapa beserta 200 pengikutnya. Dengan demikian, 3 kelompok kaum Jatila berjumlah 1.003 menjadi pengikut Sang Buddha.

Setelah beberapa waktu di Uruvela, Sang Buddha beserta rombongan melanjutkan perjalanan-Nya menuju Gayasisa di tepi Sungai Gaya. Di tempat itu Sang Buddha mengumpulkan murid-muridNya dan memberikan khotbah SN 35.28/Adittapariyaya Sutta, yang ringkasan khotbah itu adalah sebagai berikut:
    Para bhikkhu, segalanya terbakar. Dan apakah, para bhikkhu, segalanya yang terbakar itu?

    Mata terbakar … Telinga terbakar … Hidung terbakar … Lidah terbakar … Badan terbakar … Pikiran terbakar,

    bentuk-bentuk terbakar … suara-suara terbakar … bebauan terbakar … rasa kecapan terbakar … objek sentuhan terbakar … fenomena pikiran terbakar,

    kesadaran-mata terbakar … kesadaran-telinga terbakar … kesadaran-hidung terbakar … kesadaran-lidah terbakar … kesadaran-badan terbakar … kesadaran-Pikiran terbakar,

    kontak-mata terbakar … kontak-telinga terbakar … kontak-hidung terbakar … kontak-lidah terbakar … kontak-badan terbakar … kontak-pikiran terbakar,

    dan perasaan apa pun yang muncul dengan:
    kontak-mata sebagai kondisi … kontak telinga sebagai kondisi … kontak hidung sebagai kondisi … kontak lidah sebagai kondisi … kontak badan sebagai kondisi … kontak pikiran sebagai kondisi
    —apakah menyenangkan atau menyakitkan atau bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan—
    itu juga terbakar.

    Terbakar oleh apakah?

    Terbakar oleh api nafsu, oleh api ketidaknyamanan, oleh api delusi; terbakar oleh kelahiran, penuaan, dan kematian; oleh dukacita, ratapan, kesakitan, ketidak-senangan, dan keputus-asaan, Aku katakan.

    “Melihat demikian, para bhikkhu, siswa mulia yang terpelajar mengalami kejijikan:
    terhadap mata … terhadap pikiran,
    terhadap bentuk-bentuk … terhadap fenomena pikiran,
    terhadap kesadaran-mata … terhadap kesadaran-pikiran,
    terhadap kontak-mata … terhadap kontak- pikiran,
    terhadap perasaan apa pun yang muncul dengan kontak-mata sebagai kondisi … terhadap perasaan apapun yang muncul dengan kontak pikiran sebagai kondisi
    —apakah menyenangkan atau menyakitkan atau bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan;
    Dengan mengalami kejijikan, ia menjadi bosan. Melalui kebosanan mentalnya terbebaskan. Ketika terbebaskan muncullah pengetahuan: ‘Terbebaskan.’ Ia memahami: ‘Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak ada lagi penjelmaan dalam kondisi makhluk apa pun.’”
Ketika kotbah ini disampaikan, mereka mencapai Arahat, yang terbebaskan melalui ketidak-melekatan

Menuju Kota Rajagaha
Setelah beberapa lama diam di Gayasisa, Sang Buddha kemudian melanjutkan perjalanannya menuju Rajagaha dan berhenti di hutan kecil Latthivana.

Dalam waktu singkat tersiar berita bahwa Pertapa Gotama, putra Sakya, sekarang berada di Rajagaha dan berdiam di hutan kecil Latthivana. Mendengar berita itu, Raja Bimbisara datang mengunjungi Sang Buddha dengan diikuti pengiringnya. Setelah memberi hormat, Raja kemudian duduk di satu sisi. Tetapi para pengiringnya bersikap macam-macam dan ada yang bersikap acuh tak acuh. Ada yang berlutut, ada yang hanya memberi hormat dengan ucapan, ada yang menyembah, ada yang memberitahukan namanya dan juga nama keluarganya, dan ada yang duduk diam saja.

Melihat sikap mereka, Sang Buddha tahu bahwa mereka masih belum siap menerima ajaran dan untuk menyingkirkan keragu-raguan sebelum mereka siap untuk mendengarkan Dhamma, sang Buddha kemudian berkata kepada Uruvela Kassapa, "Oh, Kassapa, kamu sudah lama berdiam di Uruvela dan menjadi pemimpin kaum Jatila yang pandai dalam upacara keagamaan. Apakah sebabnya sehingga kamu berhenti melakukan pemujaan api yang biasa kamu lakukan? Mengapa kamu meninggalkan kebiasaan memuja api?"

Uruvela Kassapa menjawab, "Semua Yajña atau upacara dengan mempersembahkan bertujuan untuk memperoleh penglihatan, suara, rasa dan wanita yang menggiurkan, yang didambakan manusia. Persembahan itu menimbulkan harapan bahwa setelah melakukan persembahan tersebut orang akan dapat memperoleh hasil yang diinginkan. Telah kuketahui sekarang bahwa kesenangan-kesenangan indria tersebut merupakan kekotoran mental yang membuat orang dicengkeram oleh nafsu-nafsu. Karena itu aku tidak lagi tertarik melakukan praktek pemujaan api."

Kemudian Sang Buddha bertanya lagi, "Setelah kini kamu tidak lagi tertarik kepada penglihatan, suara dan rasa yang menjadi obyek bagi kesenangan indria, oh Kassapa, apa sebenarnya yang kamu cari di alam manusia dan alam dewa ini? Coba kamu ceritakan."

Kassapa menjawab, "Aku telah berhasil mencapai keadaan yang penuh damai, tanpa dikotori oleh nafsu-nafsu yang dapat menimbulkan penderitaan, tanpa keinginan untuk melekat, tanpa kemelekatan kepada alam kesenangan indria, tanpa perubahan, tanpa tergantung pada kekuatan luar dan hanya dapat dipahami oleh pribadi masing-masing. Karena hal-hal yang di atas itulah aku tidak lagi tertarik untuk melakukan praktek pemujaan api yang dulu kulakukan."

Selesai memberi jawaban, Kassapa bangun dari tempat duduknya. Dengan jubah menutupi satu pundaknya (sebagai sikap menghormat) ia berlutut tiga kali di bawah kaki Sang Buddha dan mengaku bahwa Sang Buddha adalah gurunya dan ia adalah murid-Nya.

Setelah keragu-raguan para hadirin dapat disingkirkan dan siap menerima pelajaran, mulailah Sang Buddha memberikan khotbah tentang Anupubbikatha dilanjutkan dengan Empat Kesunyataan Mulia. Selesai Sang Buddha memberikan khotbah, sebelas dari dua belas orang yang hadir memperoleh Mata Dhamma dan yang lain memperoleh keyakinan yang tak tergoyahkan terhadap Sang Buddha, Dhamma, dan Sangha.

Kemudian Raja menceritakan tentang keinginannya semenjak kecil, "Dulu, sewaktu masih menjadi Putra Mahkota dan belum naik tahta kerajaan, aku mempunyai lima macam keinginan, yaitu pertama, semoga aku kelak naik di tahta kerajaan Magadha. Kedua, semoga seorang Arahat yang memperoleh Penerangan Agung datang di negeriku sewaktu aku masih memerintah. Ketiga, semoga aku memperoleh kesempatan untuk mengunjungi Arahat tersebut. Keempat, semoga Arahat tersebut memberikan khotbah kepadaku. Kelima, semoga aku mengerti apa yang harus dimengerti dari ajaran Arahat tersebut. Sekarang semua keinginanku yang berjumlah lima itu telah terpenuhi." .

Selanjutnya Raja Bimbisara memuji khotbah Sang Buddha dan menyatakan dirinya sebagai upasaka untuk seumur hidup dibawah perlindungan dari Sang Buddha dan menjadi pengikutNya. Raja Bimbisara menyumbangkan Taman Veluvana sebagai tempat tinggal Sang Buddha dan para Bhikkhu. Ini kemudian menjadi Vihara yang pertama dan juga sumbangan tempat tinggal untuk pata bhikkhu yang pertama, mulai hari itu Sang Buddha memperbolehkan para bhikkhu menerima pemberian serupa itu.

MahaKassapa menjadi Murid Sang Buddha
Ketika sang Buddha berada dalam kuti harumnya di Veluvana, Beliau mengetahui telah terjadi gempa bumi di persimpangan jalan tempat berpisahnya pemuda Pippali (atau MahaKassapa) dan gadis Bhaddàkàpilàni yang sama-sama bertekad untuk menjadi petapa setelah tanpa ragu meninggalkan kekayaan mereka. Untuk itu, Sang Buddha keluar dari Kuti harumnya dan tanpa meminta satu pun dari muridNya untuk menyertai-Nya, pergi sejauh tiga gàvuta (3/4 Yojana) duduk bersila di bawah pohon banyan/Bahuputtaka yang terletak di antara Ràjagaha dan Nàlanda.

Pancaran keagungan beliau segera diketahui pemuda Pipphali yang berpikir, “Orang Mulia ini pasti guruku, Buddha. Sesungguhnya aku menjadi bhikkhu, mengabdikan kebhikkhuanku kepada guru ini.”. Kemudian, dari tempatnya berdiri, pemuda Pipphali berjalan, membungkukkan badannya; mendekat. Pada seluruh tiga jarak, jauh, sedang dan dekat, ia memberi hormat kepada Buddha dan menyatakan diri 3x sebagai siswa, “Satthà me Bhante Bhagavà, sàvako’hamasmi, ‘Buddha Yang Agung, Engkau adalah guruku! Aku adalah siswa-Mu, Yang Mulia!”. Sang Buddha menerimanya, Ia ditahbiskan dengan memberikan tiga nasehat:
    "Oh, Kassapa, engkau harus selalu ingat bahwa pertama, engkau harus hidup sederhana dan patuh kepada para bhikkhu yang tua, yang muda, dan yang setengah tua. Kedua, engkau harus mendengarkan Dhamma dengan baik, memperhatikannya dan merenungkannya. Ketiga, engkau harus selalu menyadari dan memperhatikan tubuhmu dan terus-menerus mengambil tubuhmu sebagai obyek meditasi."
Setelah menerima penahbisan itu, di hari ke-8nya, MahaKassapa mencapai Kearahattaan lengkap dengan 4 Pengetahuan Analitis.

Setelah bertemu dan menahbiskan Maha Kassapa, Sang Buddha dan MahaKassapa melanjutkan perjalanannya dan pada suatu jarak tertentu, Sang Buddha berbelok dari jalan utama menuju ke sebuah pohon, hendak duduk. Mengetahui ini, MahaKassapa kemudian melipat empat jubah luarnya dan menghamparkannya sebagai alas duduk Sang Buddha. Ketika Sang Buddha memuji kehalusan jubah yang menjadi alas duduknya, MahaKassapa kemudian memohon agar Sang Buddha mau menerima jubah tersebut. Karena hal ini, Sang Buddha kemudian bertanya, “Anak-Ku Kassapa, jika demikian, maka jubah apa yang akan engkau pakai?”. MahaKassapa menjawab bahwa Ia ingin memakai jubah yang sedang dipakai Sang Buddha. Kemudian sang Buddha berkata, “Apakah engkau sanggup melakukannya? Mereka yang kurang mulia tidak akan mampu mengenakan jubah usang ini. Hanya mereka yang selalu berdiam di dalam praktik Dhamma memiliki kemuliaan seperti itu dan yang layak memakainya.” Setelah berkata demikian Sang Buddha menyerahkan jubah-Nya kepada MahaKassapa dan setelah bertukar jubah, terjadilah gempa bumi.

Karena mendapatkan jubah sang Buddha, MahaKassapa kemudian bertekad untuk seumur hidupnya menjalankan 13 praktik keras (dhutanga). Ia mewarisi tradisi pertapaan yang dijalankan sang Buddha.

Maha Kassapa sering dijadikan suri teladan tentang sikap yang baik dari seorang bhikkhu yang berdiam di hutan. Selama menjadi bhikkhu sampai berusia lanjut, Maha Kassapa selalu tinggal di hutan, tiap hari mengumpulkan makanan, selalu memakai baju bekas (pembungkus mayat), sudah puas dengan pemberian yang sedikit (kecil), selalu hidup menjauhi masyarakat ramai dan terkenal rajin sekali. Sebagai penghormatan, Beliau diberi nama Maha Kassapa (Kassapa Agung).

Sigala Memuja di enam arah
Pada suatu ketika, Sang Buddha sedang berdiam di Rajagaha, di Vihara Hutan Bambu (Veluvana), di Kandakavinapa (Tempat Pemeliharaan Tupai). Pada waktu itu, Sigala, putra kepala keluarga, bangun pagi-pagi sekali dan pergi meninggalkan Rajagaha, dengan rambut dan pakaian basah, sambil mencakupkan tangan (pañjaliko) dan memberikan hormat (namassati) ke berbagai arah, yaitu arah Timur, Selatan, Barat, Utara, Bawah dan Atas. Dan Sang Bhagava pada pagi hari itu, setelah mengenakan jubah serta membawa mangkukNya, pergi ke Rajagaha untuk mengumpulkan dana makanan (pindapata).
    Bagaimana Cara Sang Buddha dan Para BhikkhuNya Berpindapata?
    "..dan di pagi hari dia pergi ke desa..Setelah dia sampai di desa, dia tidak bergegas dari satu rumah ke rumah lain. Dan ketika dia mengumpulkan makanan, dia tidak membicarakan itu atau memberikan tanda apa pun..Maka dia berkelana berkeliling dengan mangkuknya di tangan. Walaupun tidak bisu, namun dia bagaikan bisu. Dia menerima pemberian walau amat sedikit, dan juga menerima pemberian dari orang kecil, tanpa merendahkan serta tanpa kesombongan.." [SNP 3.11/Nalaka Sutta]
Kemudian Sang Bhagava melihat Sigala, putera kepala keluarga itu memberi hormat ke berbagai arah dan bertanya :

"O Putera kepala keluarga, mengapa engkau bangun pagi-pagi sekali dan pergi meninggalkan Rajagaha, dengan rambut dan pakaian basah sambil mencakupkan tangan dan memberikan hormat ke berbagai arah, yaitu ke arah Timur, Selatan, Barat, Utara, Bawah dan Atas?"

"Yang Mulia, ketika ayahku menjelang wafat, beliau berkata kepadaku untuk memberi hormat ke enam arah. Demikianlah Yang Mulia, karena menghormati, mengindahkan, menjunjung dan menganggap suci kata-kata ayah itulah, maka saya bangun pagi-pagi sekali dan pergi meninggalkan Rajagaha. Dengan rambut dan pakaian basah, sambil mencakupkan tangan, saya memberikan hormat ke enam arah."

Sang Buddha lalu berkata, "Tetapi anakKu, dalam jalan seorang Ariya, enam arah tidak seharusnya dihormati dengan cara demikian."

Sigala, putera kepala keluarga itu bertanya :
"Yang Mulia, bagaimanakah seharusnya seorang Ariya menghormati ke enam arah itu? Alangkah baiknya apabila Sang Bhagava berkenan mengajarkan saya, ajaran yang menguraikan cara memberi hormat ke enam arah sesuai jalan seorang Ariya."

Memberi arahan pada Sigala
Sang Buddha kemudian menjelaskan kepada Sigala mengenai apa yang sebenarnya dimaksud oleh ayahnya, "O putera kepala keluarga, dengarkan dan perhatikan dengan baik kata-kataKu ini.

Karena siswa Ariya telah menyingkirkan empat kekotoran tingkah laku (kammakilesa), karena ia tidak melakukan perbuatan-perbuatan buruk (papakamma) yang didasari oleh empat dorongan, karena ia tidak mengejar enam saluran yang memboroskan kekayaan, maka dengan menjauhi (nasevati) empat belas hal buruk ini, ia adalah seorang pengayom enam arah itu, seorang penakluk (vijaya), yaitu ia akan sejahtera dalam alam ini dan alam berikutnya.

Pada saat penghancuran tubuhnya, setelah mati, ia akan terlahir kembali dalam alam bahagia, alam surga.

Apakah empat kekotoran tingkah laku yang telah ia singkirkan itu?

Yaitu membunuh makhluk hidup, mengambil apa yang tidak diberikan, melakukan kenikmatan indriya dengan cara yang salah dan berbicara tidak benar.

Apakah empat dorongan yang mendasari perbuatan-perbuatan buruk yang tidak ia lakukan?

Perbuatan-perbuatan buruk yang dilakukan:
  • atas dorongan rasa senang sepihak (chanda gati),
  • atas dorongan tidak suka/kebencian (dosa gati),
  • atas dorongan ketidak-tahuan (moha gati), dan
  • atas dorongan rasa takut (bhaya gati).
Tetapi karena para siswa Ariya tidak terseret oleh keempat dorongan-dorongan tersebut, maka ia tidak melakukan perbuatan-perbuatan buruk."

Kemudian Sang Buddha menerangkan lebih lanjut:

"Siapa pun yang karena rasa senang atau tidak suka atau ketidak-tahuan atau ketakutan telah melanggar Dhamma, maka nama baik dan kemashyurannya akan menjadi pudar, bagaikan bulan yang susut pada masa bulan gelap."

"Siapa pun yang karena rasa senang sepihak atau kebencian, atau ketidak-tahuan atau ketakutan tidak pernah melanggar Dhamma, maka nama baik dan kemashyurannya menjadi sempurna dan penuh, bagaikan bulan purnama pada masa bulan terang."

"Dan apakah enam saluran yang memboroskan kekayaan itu?" Yaitu:
  1. Gemar minum minuman yang memabukkan,
  2. Berkeliaran di jalan pada saat yang tidak pantas,
  3. Mengejar tempat-tempat hiburan,
  4. Gemar berjudi,
  5. Bergaul dengan teman-teman jahat,
  6. Kebiasaan malas.
"O putera kepala keluarga, terdapat pula enam bahaya karena :

  1. Gemar minum minuman yang memabukkan, yaitu :

    • Kerugian harta secara nyata,
    • Bertambahnya pertengkaran,
    • Tubuh mudah terserang penyakit,
    • Kehilangan sifat yang baik,
    • Terlihat tidak sopan,
    • Kecerdasan menjadi lemah.

  2. Berkeliaran di jalan pada saat yang tidak pantas, terdapat enam bahayanya, yaitu:

    • Dirinya sendiri tidak terjaga dan tidak terlindung,
    • Anak isterinya tidak terjaga dan tidak terlindung,
    • Harta kekayaannya tidak terjaga dan tidak terlindung,
    • Ia dapat dituduh sebagai pelaku kejahatan-kejahatan yang belum terbukti,
    • Menjadi sasaran desas-desus palsu,
    • Ia akan menjumpai banyak kesulitan.

  3. Mengejar tempat-tempat hiburan, bahaya-bahayanya adalah ia akan selalu berpikir:

    • Dimanakah ada tari-tarian,
    • Dimanakah ada nyanyi-nyanyian,
    • Dimanakah ada pertunjukan musik,
    • Dimanakah ada pembacaan deklamasi,
    • Dimanakah ada permainan tambur,
    • Dimanakah ada permainan genderang.

  4. Gemar berjudi, bahaya-bahayanya adalah :

    • Bila menang, ia memperoleh kebencian,
    • Bila kalah, ia kehilangan harta kekayaannya,
    • Kerugian harta benda secara nyata,
    • Di pengadilan kata-katanya tidak berharga,
    • Ia dipandang rendah oleh sahabat-sahabat dan pejabat-pejabat pemerintah,
    • Ia tidak disukai oleh orang-orang yang akan mencari menantu, karena mereka akan berkata bahwa seorang penjudi tidak dapat memelihara seorang isteri.

  5. Bergaul dengan teman-teman jahat, bahaya-bahayanya adalah ia menjadi teman dan sahabat dari:

    • Setiap penjudi,
    • Setiap orang yang gemar berfoya-foya,
    • Setiap pemabuk,
    • Setiap penipu,
    • Setiap orang yang kejam.

  6. Kebiasaan menganggur (malas), bahaya-bahayanya adalah ia akan selalu berkata:

    • 'Terlalu dingin' dan ia tidak bekerja,
    • 'Terlalu panas' dan ia tidak bekerja,
    • 'Terlalu pagi' dan ia tidak bekerja,
    • 'Terlalu siang' dan ia tidak bekerja,
    • 'Aku terlalu lapar' dan ia tidak bekerja,
    • 'Aku terlalu kenyang' dan ia tidak bekerja.
Dengan demikian semua yang harus ia kerjakan tetap tidak dikerjakan, harta kekayaan baru tidak ia peroleh dan harta kekayaan yang sudah ia miliki menjadi habis."

Sang Buddha kemudian menerangkan :
"O putera kepala keluarga, terdapat empat macam orang yang harus dianggap musuh yang berpura-pura menjadi sahabat, yaitu :
  1. Orang yang tamak,
  2. Orang yang banyak bicara tetapi tidak berbuat suatu apapun,
  3. Penjilat,
  4. Kawan pemboros.
Terdapat pula empat dasar yang menyebabkan orang yang seharusnya dianggap sebagai musuh yang berpura-pura menjadi sahabat, yaitu :

  1. Orang yang tamak, mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

    • Ia tamak,
    • Ia memberi sedikit dan meminta banyak,
    • Ia melakukan kewajibannya karena takut,
    • Ia hanya ingat akan kepentingannya sendiri.

  2. Orang yang banyak bicara, tetapi tidak berbuat sesuatu apapun, dengan ciri-ciri sebagai berikut :

    • Ia menyatakan persahabatan berkenaan dengan hal-hal yang lampau,
    • Ia menyatakan persahabatan berkenaan dengan hal-hal yang mendatang,
    • Ia berusaha untuk mendapatkan simpati dengan kata-kata kosong,
    • Bila ada kesempatan untuk membantu ia mengatakan tidak sanggup.

  3. Penjilat mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

    • Ia menyetujui hal-hal yang salah,
    • Ia tidak menganjurkan hal-hal yang benar,
    • Ia akan memuji dirimu dihadapanmu,
    • Ia berbicara jelek tentang dirimu dihadapan orang-orang lain.

  4. Kawan pemboros mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :

    • Ia menjadi kawanmu apabila engkau gemar akan minum minuman keras,
    • Ia menjadi kawanmu apabila engkau sering berkeliaran di jalan pada waktu yang tidak pantas,
    • Ia menjadi kawanmu apabila engkau mengejar tempat-tempat hiburan dan pertunjukkan,
    • Ia menjadi kawanmu apabila engkau gemar berjudi."
Sang Bhagava lalu mengucapkan syair berikut:

"Sahabat yang selalu mencari apa-apa untuk diambil, sahabat yang kata-katanya berlainan dengan perbuatannya, sahabat yang menjilat, lagi pula hanya berusaha membuat engkau senang, sahabat yang bergembira dengan cara-cara salah. Empat ini adalah musuh-musuh. Setelah menyadarinya demikian, biarlah orang bijaksana menghindari mereka dari jauh, seakan mereka jalan yang berbahaya dan menakutkan."

"O putera kepala keluarga, terdapat empat macam sahabat yang harus dipandang berhati tulus (suhada), yaitu:
  1. Sahabat penolong,
  2. Sahabat pada waktu senang dan susah,
  3. Sahabat yang memberi nasehat yang baik,
  4. Sahabat yang bersimpati.
Atas empat dasar inilah sahabat penolong harus dipandang berhati tulus:
  1. Sahabat penolong berhati tulus karena :

    • Ia menjaga dirimu sewaktu engkau lengah,
    • Ia menjaga milikmu sewaktu engkau lengah,
    • Ia menjadi pelindung dirimu sewaktu engkau dalam ketakutan,
    • Ia memberikan bantuan dua kali daripada apa yang engkau perlukan.

  2. Sahabat pada waktu senang dan susah berhati tulus karena:

    • Ia menceritakan rahasia-rahasia dirinya kepadamu,
    • Ia menjaga rahasia dirimu,
    • Ia tidak akan meninggalkan dirimu sewaktu engkau berada dalam kesulitan
    • Ia bahkan bersedia mengorbankan hidupnya demi kepentinganmu.

  3. Sahabat yang memberi nasehat yang baik, berhati tulus karena:

    • Ia mencegah engkau berbuat yang buruk,
    • Ia menganjurkan engkau untuk berbuat yang baik,
    • Ia memberitahukan apa yang belum engkau pernah dengar,
    • Ia menunjukkan engkau jalan ke surga.

  4. Sahabat yang bersimpati, berhati tulus karena:

    • Ia tidak bergembira atas kesengsaraanmu,
    • Ia merasa senang atas kesejahteraanmu,
    • Ia mencegah orang lain berbicara jelek tentang dirimu,
    • Ia membenarkan orang lain yang memuji dirimu.
"O putera kepala keluarga, bagaimanakah caranya siswa Ariya melindungi enam arah itu?

Enam arah itu harus dipandang sebagai berikut:
  1. Ibu-ayah (Mātāpitā) seperti arah Timur,
  2. Guru (ācariyā) seperti arah Selatan,
  3. Isteri dan anak (Puttadārā) seperti arah Barat,
  4. Teman dan sejawat (mittāmaccā) seperti arah Utara,
  5. Pelayan dan karyawan (dāsakammakarā) seperti arah bawah,
  6. Petapa dan Brahmana (samaṇabrāhmaṇā) seperti arah atas,
"AnakKu, Sigala, putera kepala keluarga, dengarkanlah baik-baik keterangan ini :
  1. Ibu dan ayah seperti arah Timur.

    Ada lima cara seorang anak harus memperlakukan orang tuanya seperti arah Timur:

    • Dahulu aku ditunjang oleh mereka, sekarang aku menjadi
      penunjang mereka,
    • Aku akan menjalankan kewajibanku terhadap mereka
    • Aku akan pertahankan kehormatan keluargaku,
    • Aku akan mengurus warisanku,
    • Aku akan melakukan/mengatur persembahan untuk sanak keluarga yang telah meninggal.

    • [note: konteks persembahan kepada yang telah meninggal adalah upacara pelimpahan jasa sebagaimana tercantum pada tirokudda sutta dan Sariputtattheramatupetivatthuvannana, Pembahasannya lihat di sini atau lebih detail lagi, lihat: PattiDana]

    Dalam lima cara inilah, orang tua yang diperlakukan demikian oleh seorang anak seperti arah Timur, menunjukkan kecintaan mereka kepadanya dengan:

    • Mencegah anaknya berbuat yang buruk,
    • Mendorong mereka berbuat yang baik,
    • Melatihnya dalam suatu profesi,
    • Mencarikan pasangan (suami/isteri) yang pantas,
    • Pada waktu yang tepat, mereka menyerahkan warisan kepada anaknya.

    O putera kepala keluarga, dalam lima cara inilah seorang anak memperlakukan orang tuanya seperti arah Timur.

    Dalam lima cara inilah orang tua menunjukkan kecintaan mereka kepadanya. Demikianlah arah Timur ini dilindungi, diselamatkan dan diamankan olehnya.

  2. Guru seperti arah Selatan.

    Ada lima cara siswa-siswa harus memperlakukan guru-guru mereka seperti arah Selatan:

    • Dengan bangkit (dari tempat duduk untuk memberi hormat),
    • Dengan melayani mereka,
    • Dengan bersemangat untuk belajar,
    • Dengan memberikan jasa-jasa kepada mereka,
    • Dengan memberikan perhatian sewaktu menerima ajaran dari mereka.

    Dalam lima cara inilah, guru-guru yang diperlakukan demikian oleh siswa-siswa mereka seperti arah Selatan, akan mencintai siswa-siswanya dengan:

    • Melatihnya sedemikian rupa sehingga ia selalu baik,
    • Membuatnya menguasai apa yang telah diajarkan,
    • Mengajarnya secara menyeluruh dalam berbagai ilmu dan seni,
    • Berbicara baik tentang dirinya di antara sahabat-sahabatnya dan kawan-kawannya,
    • Menjaga keselamatannya di semua tempat.

    O putera kepala keluarga, dengan lima cara inilah siswa-siswa memperlakukan guru-guru mereka seperti arah Selatan.

    Dalam lima cara inilah guru-buru mencintai siswa-siswa mereka. Demikianlah arah Selatan ini dilindungi, diselamatkan dan diamankan olehnya.

  3. Isteri dan anak seperti arah Barat.

    Dengan lima cara seorang isteri harus diperlakukan oleh suaminya seperti arah Barat:

    • Dengan menghormati,
    • Dengan bersikap ramah-tamah,
    • Dengan kesetiaan,
    • Dengan menyerahkan kekuasaan rumah-tangga kepadanya,
    • Dengan memberikan barang-barang perhiasan kepadanya.

    Dengan enam cara inilah, seorang isteri yang diperlakukan demikian oleh suaminya seperti arah Barat dengan:

    • Mencintainya,
    • Menjalankan kewajiban-kewajibannya dengan baik,
    • Bersikap ramah-tamah terhadap sanak-keluarga kedua belah pihak,
    • Dengan kesetiaan,
    • Dengan menjaga barang-barang yang diberikan suaminya,
    • Pandai dan rajin dalam melaksanakan segala tanggung-jawabnya.

    O putera kepala keluarga, dengan lima cara inilah seorang suami memperlakukan isterinya seperti arah Barat.

    Dalam enam cara inilah seorang isteri mencintai suaminya. Demikianlah arah Barat ini dilindungi, diselamatkan dan diamankan olehnya.

  4. Teman dan sejawat seperti arah Utara.

    Dengan lima cara seorang warga keluarga memperlakukan teman dan sejawatnya seperti arah Utara dengan:

    • Bermurah hati,
    • Berlaku ramah,
    • Memberikan bantuan,
    • Memperlakukan mereka seperti ia memperlakukan dirinya sendiri,
    • Berbuat sebaik ucapannya.

    Dalam lima cara inilah, o putera kepala keluarga, teman dan sejawat yang diperlakukan demikian oleh seorang warga keluarga seperti arah Utara, mencintainya dengan:

    • Mereka melindunginya sewaktu ia lengah,
    • Mereka melindungi harta miliknya sewaktu ia lengah,
    • Mereka menjadi pelindung sewaktu ia berada dalam bahaya,
    • Mereka tidak akan meninggalkannya sewaktu ia sedang dalam kesulitan,
    • Mereka menghormati keluarganya.

    O putera kepala keluarga, dalam lima cara inilah seorang warga keluarga memperlakukan teman dan sejawatnya seperti arah Utara.

    Dalam lima cara inilah teman dan sejawat mencintainya. Demikianlah arah Utara ini dilindungi, diselamatkan dan diamankan olehnya.

  5. Pelayan dan karyawan seperti arah bawah.

    Dalam lima cara seorang majikan memperlakukan pelayan-pelayan dan karyawan-karyawannya seperti arah bawah:

    • Dengan memberikan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan mereka,
    • Dengan memberikan mereka makanan dan upah,
    • Dengan merawat mereka sewaktu mereka sakit,
    • Dengan membagi barang-barang kebutuhan hidupnya,
    • Dengan memberikan cuti pada waktu-waktu tertentu.

    Dalam lima cara inilah, o putera kepala keluarga, pelayan-pelayan dan karyawan-karyawan yang diperlakukan demikian oleh majikan seperti arah bawah, akan mencintainya dengan cara:

    • Mereka bangun lebih pagi daripadanya,
    • Mereka merebahkan diri untuk beristirahat setelahnya,
    • Mereka puas dengan apa yang diberikan kepada mereka,
    • Mereka melakukan kewajiban-kewajiban mereka dengan baik,
    • Dimanapun mereka berada mereka akan memuji majikannya, memuji keharuman namanya.

    O putera kepala keluarga, dalam lima cara inilah seorang majikan memperlakukan pelayan-pelayan dan karyawan-karyawannya seperti arah bawah.

    Dalam lima cara inilah pelayan-pelayan dan karyawan-karyawan mencintainya. Demikianlah arah bawah ini dilindungi, diselamatkan dan diamankan olehnya.

  6. Petapa dan brahmana seperti arah atas.

    Dalam lima cara seorang warga keluarga harus memperlakukan para pertapa dan brahmana seperti arah atas:

    • Dengan cinta kasih dalam perbuatan,
    • Dengan cinta kasih dalam perkataan,
    • Dengan cinta kasih dalam pikiran,
    • Membuka pintu rumah bagi mereka (mempersilahkan mereka),
    • Menunjang kebutuhan hidup mereka pada waktu-waktu tertentu.

    Dalam enam cara inilah, o putera kepala keluarga, para pertapa dan brahmana yang diperlakukan demikian oleh seorang warga keluarga seperti arah atas, akan menunjukkan kecintaan mereka:

    • Mereka mencegah ia berbuat buruk,
    • Mereka menganjurkan ia barbuat baik,
    • Mereka mencintainya dengan pikiran penuh kasih sayang,
    • Mereka mengajarkan apa yang belum pernah ia dengar,
    • Mereka membenarkan dan memurnikan apa yang pernah ia dengar,
    • Mereka menunjukkan ia jalan ke surga.

    O putera kepala keluarga, dalam lima cara inilah seorang warga keluarga memperlakukan para pertapa dan brahmana seperti arah atas.

    Dalam enam cara inilah para pertapa dan brahmana menunjukkan kecintaan mereka kepadanya. Demikianlah arah atas ini dilindungi, diselamatkan dan diamankan olehnya."
Mendengarkan perkataan Sang Buddha tersebut, Sigala merasa sangat berbahagia, sehingga setelahnya, Sigala memohon agar diterima sebagai pengikut awam dan menyatakan berlindung kepada Buddha, Dhamma serta Sangha [DN 31/Sīgālovāda/Sīgālaka Sutta]

Upatissa/Sariputta dan Kolita/Moggallana
Selama Sang Buddha tinggal di dekat Rajagaha, waktu itu hidup dua orang pemuda dari kasta brahmana yang kaya raya, yang sejak kecil bersahabat. Yang satu bernama Upatissa, anak seorang wanita bernama Rupasari, yang lain bernama Kolita, anak seorang wanita bernama Moggalli. Mereka berdua berguru kepada Sanjaya, seorang pertapa dari golongan Paribbajaka, yang mempunyai dua ratus lima puluh orang murid.

Upatissa dan Kolita termasuk dua orang murid yang pandai dan sering mewakili gurunya memberi bimbingan kepada murid-murid yang lain. Meskipun sudah belajar lama dan memiliki seluruh kepandaian gurunya, tetapi mereka berdua masih belum puas. Mereka kemudian berjanji bahwa siapa di antara mereka kelak yang lebih dulu memperoleh ajaran sempurna akan memberitahukan hal itu kepada yang lain.

Bertemu dengan arahat Assaji
Pada suatu hari Ayasma Assaji, seorang dari lima orang bhikkhu pertama, kembali ke Rajagaha untuk memberi laporan kepada Sang Buddha tentang perjalanannya ke berbagai tempat untuk mengajar Dhamma. Sebagaimana biasa, Ayasma Assaji tiap pagi mengumpulkan makanan dan waktu itulah Beliau terlihat oleh Upatissa. Upatissa terkesan sekali melihat sikap Ayasma Assaji yang demikian tenang dan agung. Setiap gerakannya memberi kesan berwibawa dan menuntut penghormatan dari orang yang melihatnya.

Baik berjalan ke depan atau bertindak ke belakang, atau membentangkan, atau menekuk tangannya, ia selalu kelihatan penuh keseimbangan dengan kepala agak tunduk sedikit dan mata ditujukan ke arah depan Pemandangan ini membuat Upatissa terpesona dan membangkitkan perasaan ingin tahu. Seketika itu ia ingin menegur, tetapi kemudian membatalkannya karena ia menganggap waktunya kurang tepat berhubung waktu itu Ayasma Assaji sedang mengumpulkan makanan.

Ia menunggu sampai Ayasma Assaji selesai makan dan kemudian mendekati serta memberi hormat, "Saudara, pembawaan Anda luar biasa dan wajah Anda terang sekali. Dengan menjalankan kehidupan suci ini kepada siapakah Anda mengabdi? Siapakah guru Anda? Dan ajaran siapakah yang Anda ikuti?"

Ayasma Assaji menjawab, "Saudara, dengan menjalankan kehidupan suci ini aku mengabdi kepada seorang Pertapa Agung, anak dari suku Sakya, yang telah menjadi bhikkhu dari keluarga Sakya. Pertapa Agung itulah yang menjadi guruku. Dan ajaran-Nya yang aku ikuti."

"Apakah yang diajar guru Anda, Saudara?"

"Aku seorang pendatang baru. Aku baru saja ditahbiskan. Aku belum berapa lama mengikuti ajaran ini, sehingga aku tidak dapat memberikan pelajaran itu secara terperinci. Tetapi aku akan memberitahukan Anda garis besarnya."

"Baik sekali, Saudara. Bagi saya sama saja apakah Anda memberitahukan garis besarnya atau secara terperinci. Aku ingin mendengar intisari dari ajaran tersebut, yang lain tidak dapat membantu apa-apa."

Ayasma Assaji kemudian mengucapkan syair di bawah ini: "Ye dhamma hetuppabhava,Tessam hetum Tathagato, Tesañca yo nirodho ca, Evam vadi mahasamano., Artinya: "Semua benda yang timbul karena satu 'sebab', 'Sebabnya' telah diberitahukan oleh Sang Tathagata, Dan juga lenyapnya kembali

Itulah yang diajarkan Sang Pertapa Agung"

Mendengar syair tersebut, Upatissa seketika memperoleh Mata Dhamma (Dhammacakkhu) dan berkata dalam hatinya, "Yankiñci samudayadhammam Sabbantam nirodha dhammam." Artinya: "Segala sesuatu yang timbul karena satu 'sebab' Di dalamnya pun terdapat 'sebab' yang membuat ia musnah kembali. "

Kemudian Upatissa menanyakan tempat tinggal Sang Buddha. Setelah diberitahukan bahwa Sang Buddha pada saat itu berdiam di Veluvanarama, Upatissa kemudian mohon diri dari Ayasma Assaji dan berjanji akan datang mengunjungi Sang Buddha bersama sahabatnya yang bernama Kolita. Upatissa kembali ke tempat gurunya, Sanjaya, dan memberitahukan Kolita peristiwa apa yang baru saja ia alami.

Ia mengulang syair yang diucapkan Ayasma Assaji dan seketika itu pula Kolita memperoleh Mata Dhamma dan menjadi seorang Sotapanna. Kemudian mereka berdua melaporkan berita ini kepada Sanjaya dan mohon diperkenankan untuk mengunjungi Sang Buddha. Tetapi Sanjaya menolak untuk memberi izin. Akhirnya, tanpa izin, mereka berdua dengan diikuti dua ratus lima puluh orang muridnya pergi juga berkunjung kepada Sang Buddha dan mohon ditahbiskan menjadi bhikkhu.

Dari kelompok ini dapat diceritakan bahwa mereka semua mencapai tingkat Arahat, bahkan para muridnya terlebih dulu mencapai tingkat kesucian tersebut, kemudian disusul oleh Kolita dan yang terakhir Upatissa. Tujuh hari setelah ditahbiskan menjadi bhikkhu, Kolita menyepi di Desa Kallavalamuttagama di kota Magadha. Di tempat itu Kolita giat melatih meditasi dan di suatu ketika ia merasa ngantuk sekali.

Sang Buddha menghampirinya dan memberikan petunjuk untuk menanggulangi kantuk, "Apa pun pencerapanmu pada waktu kamu diserang perasaan mengantuk, Moggallana, engkau seharusnya terus menyadari pencerapan tersebut. Dengan cara demikian, adalah mungkin bahwa kantukmu akan ditinggalkan"

"jika engkau tak dapat meninggalkan kantukmu dengan cara demikian, maka engkau harus memusatkan pikiranmu kepada Dhamma yang pernah kamu dengar atau pelajari. Dengan cara demikian, adalah mungkin bahwa kantukmu akan ditinggalkan"

"jika engkau tak dapat meninggalkan kantukmu dengan cara demikian, maka engkau harus mengulang dengan suara keras Dhamma yang pernah kamu dengar atau pelajari. Dengan cara demikian, adalah mungkin bahwa kantukmu akan ditinggalkan"

"jika engkau tak dapat meninggalkan kantukmu dengan cara demikian, maka engkau harus menggosok-gosok kupingmu dengan jeriji dan mengusap-usap tubuhmu dengan tangan. Dengan cara demikian, adalah mungkin bahwa kantukmu akan ditinggalkan"

"jika engkau tak dapat meninggalkan kantukmu dengan cara demikian, maka engkau harus bangun dan mencuci matamu dengan air, kemudian memandang ke sekelilingmu dan mengamat-amati bintang di langit. Dengan cara demikian, adalah mungkin bahwa kantukmu akan ditinggalkan"

"jika engkau tak dapat meninggalkan kantukmu dengan cara demikian, maka engkau harus memperhatikan persepsi penglihatan (ālokasañña); engkau harus mempersepsikan siang hari (divāsañña) sebagai berikut: ‘Seperti halnya siang, demikian pula malam; seperti halnya malam, demikian pula siang.’ Demikianlah, dengan pikiran terbuka dan tidak tertutup, engkau harus mengembangkan pikiran yang dipenuhi dengan kecemerlangan (sappabhāsa: “kecemerlangan pikiran dapat dikotori oleh kotoran dari luar. Dengan cara demikian, adalah mungkin bahwa kantukmu akan ditinggalkan"

" jika engkau tak dapat meninggalkan kantukmu dengan cara demikian, maka engkau harus berbaring dengan 'sikap seekor singa', yaitu miring ke kanan dengan kaki kiri di atas kaki kanan, batin dalam keadaan 'sadar' dan pikiran terpusat kepada saat kamu ingin bangun. Setelah bangun engkau harus segera bangkit sambil merenung 'Aku tidak ingin memanjakan diriku dengan berbaring, menyender atau tidur'. Ini Moggallana, yang kamu harus selalu ingat."

"Selanjutnya, Moggallana, kamu harus selalu ingat 'aku tidak boleh merasa ingin terlalu dihormat kalau masuk ke rumah seorang umat biasa'. Sebab kalau seorang bhikkhu masuk ke rumah seorang umat biasa dengan perasaan ingin terlalu dihormat dan pada waktu itu mungkin ada urusan rumah tangga yang sangat penting yang harus diselesaikan terlebih dulu sehingga bhikkhu itu 'terlupakan', maka akan timbul pikiran dalam batin bhikkhu tersebut,

Siapakah yang menghasut orang ini terhadap diriku?

Orang ini kelihatannya sekarang 'acuh tak acuh'. Karena merasa tak diacuhkan lagi timbul perasaan malu, karena malu pikirannya kacau, karena pikirannya kacau ia tidak dapat mengendalikan dirinya dengan baik, karena tidak dapat mengendalikan diri dengan baik, ia gagal melakukan meditasi."

"Selain dari itu, Moggallana, kamu harus selalu ingat, 'aku tidak ingin mengucapkan sesuatu yang dapat menimbulkan pertengkaran atau mencari-cari kesalahan orang lain'. Sebab kalau orang berbicara tentang sesuatu yang dapat menimbulkan pertengkaran atau mencari-cari kesalahan orang lain, maka hal itu mengakibatkan perdebatan yang panjang. Dengan adanya perdebatan yang panjang, ia tak dapat memusatkan pikirannya. Karena tak dapat memusatkan pikirannya, ia tak dapat mengendalikan diri, karena ia tak dapat mengendalikan diri, ia gagal melakukan meditasi."

"Sekarang, Moggallana, aku tidak selalu memujikan orang berkumpul dan juga aku tidak selalu menolaknya. Aku tidak memujikan berkumpul dengan orang banyak, baik itu bhikkhu atau orang biasa. Tetapi kalau ada tempat sunyi dan tidak terganggu oleh suara berisik dari orang yang lalu lalang, cocok sekali untuk seorang pertapa yang menyukai kesunyian, cocok untuk dipakai sebagai tempat menyepi oleh mereka yang lebih menyukai hidup menyendiri, maka berdiam di tempat demikian itu selalu aku pujikan."

Setelah diberikan petunjuk di atas, Moggallana menanyakan tentang kesimpulan terakhir bagi orang yang sudah cenderung untuk menyingkirkan nafsu-nafsu keinginan dan sudah siap untuk memperoleh hasil 'di luar duniawi'.

Sang Buddha menjawab, "Moggallana, seorang bhikkhu yang melaksanakan Dhamma ini, tahu bahwa tidak ada sesuatu pun yang berharga untuk dilekati. Setelah tahu hal tersebut, ia kemudian mengamat-amati benda-benda itu dengan Kebijaksanaan Tinggi, setelah mengamat-amati benda-benda itu dengan Kebijaksanaan Tinggi, ia dapat menyelami hakekat benda-benda tersebut, maka sewaktu mengalami perasaan menyenangkan, tidak menyenangkan atau netral ia memandangnya sebagai sesuatu yang tidak kekal. Jadi, ia memandangnya dengan perasaan jemu untuk kemudian menyingkir dan melepaskan diri dari perasaan tersebut.

Dengan merenung seperti itu, ia tidak melekat lagi kepada apa pun dalam dunia ini, karena tidak lagi melekat, ia tidak dapat lagi diganggu, karena tidak dapat lagi diganggu, ia dapat rnenyingkirkan semua kekotoran batin dan mengetahui bahwa ini adalah kehidupannya yang terakhir, kehidupan suci telah dilaksanakan dan selesailah tugas yang harus dikerjakan dan tidak ada sesuatu apa pun yang masih harus dikerjakan untuk memperoleh Penerangan Agung. Dengan kesimpulan terakhir inilah, Moggallana, seorang bhikkhu dapat dipandang sudah cenderung untuk menyingkirkan nafsu-nafsu keinginannya dan sudah siap untuk memperoleh hasil 'di luar duniawi'."

Dengan melaksanakan petunjuk tesebut, Moggallana berhasil mencapai tingkat Arahat hari itu juga. Lima belas hari setelah ditahbiskan, Upatissa (yang kemudian terkenal sebagai Sariputta, anak Sari), berdiam bersama-sama Sang Buddha di Goa Sukarakhata dari Gunung Gijjhakuta (Puncak Burung Nasar) di kota Rajagaha.

Seorang pertapa golongan Paribbajaka bernama Dighanakha dari keluarga Aggivesana pada suatu hari menghampiri Sang Buddha dan setelah saling mengucapkan kata-kata menghormat, ia berdiri di satu sisi. Ia kemudian memberikan pandangannya dengan mengatakan, "Yang Mulia Gotama, semua benda tidak menyenangkan hatiku. Aku tidak merasa tertarik kepadanya."

"Kalau begitu, Aggivesana, pandangan yang demikian itu pasti tidak menyenangkan hatimu dan sudah semestinya kamu tidak tertarik lagi kepadanya." Setelah itu Sang Buddha menguraikan tentang adanya tiga pandangan mengenai hal tersebut.

"Ada kelompok pertapa dan Brahmana, Aggivesana, yang mempunyai pandangan bahwa semua benda menyenangkan hati mereka, mereka tertarik kepada semua benda. Ada kelompok lain berpegang teguh kepada pandangan bahwa semua benda tidak menyenangkan hati mereka, mereka tidak tertarik kepada apa pun juga. Kelompok ketiga mempunyai pandangan bahwa ada benda-benda yang menyenangkan hati dan mereka tertarik kepada benda-benda tersebut".

"Terhadap benda-benda lain yang tidak menyenangkan hati, mereka tidak tertarik. Pandangan kelompok pertama ialah condong ingin memiliki benda-benda tersebut. Pandangan kelompok kedua condong untuk membenci atau mempunyai pikiran buruk terhadap benda-benda. Pandangan kelompok ketiga ialah condong ingin memiliki beberapa benda-benda dan membenci benda-benda yang lain."

"Seorang bijaksana melihat bahwa kalau ia mengambil sikap dan mengatakan bahwa ini yang benar dan yang dua itu salah, ia akan bertentangan pendapat dengan mereka yang mempunyai kedua pandangan yang lain itu. Dengan adanya pertentangan pendapat akan timbul pertengkaran. Dengan adanya pertengkaran akan timbul perasaan benci. Dengan adanya perasaan benci akan timbul permusuhan. Setelah menyelami keadaan ini, seorang bijaksana akan menyingkirkan pandangan itu dan juga tidak menganut pandangan pandangan yang lain. Dengan melakukan ini, ia telah melepaskan ketiga pandangan tersebut".

Setelah menjelaskan tentang ketiga pandangan salah tersebut, Sang Buddha kemudian memberikan uraian tentang cara bagaimana orang dapat menyingkirkan kemelekatan.

"Tubuh ini, Aggivesana, terdiri atas empat unsur pokok (Mahabhutarupa), yaitu tanah, air, hawa udara, dan api. Ia berasal dari ayah dan ibu, dibesarkan dengan makanan nasi dan sayur-sayuran, selalu memerlukan wangi-wangian dan sabun untuk menutupi bau yang menyerang keluar, dan selalu harus dibersihkan dan digosok (untuk membersihkan kotoran yang melekat di kulit)."

"Ia ditakdirkan untuk lapuk dan membusuk. Kamu harus melihatnya sebagai sesuatu yang tidak kekal, penderitaan, sulit untuk dipertahankan, kamu harus melihatnya sebagai penyakit, sebagai bisul yang terkena anak panah dan menimbulkan kepedihan dan kesakitan, kamu harus melihatnya sebagai tanpa aku. Kalau melihat semua ini dengan terang, kamu dapat melepaskan keinginan terhadap kesenangan-kesenangan indria".

"Selain dari itu, perasaan terdiri atas tiga jenis, yaitu yang menyenangkan, tidak menyenangkan, dan yang netral. Kalau perasaan menyenangkan timbul, maka perasaan tidak menyenangkan dan netral tidak bisa muncul. Kalau perasaan tidak menyenangkan timbul, maka perasaan menyenangkan dan netral tidak bisa muncul. Kalau perasaan netral timbul, maka perasaan menyenangkan dan tidak menyenangkan tidak bisa muncul. Itulah tiga jenis perasaan yang tidak kekal dan timbul oleh sesuatu sebab dan dilahirkan oleh sebab. Perasaan itu ditakdirkan untuk mati kembali, menyusut, menciut, dan hilang sama sekali".

"Siswa Yang Ariya, yang mengetahui hakekat yang sebenarnya, merasa jemu terhadap perasaan yang menyenangkan, tidak menyenangkan, dan netral. Karena jemu, ia akan melepaskan diri dari nafsu-nafsu keinginan. Tanpa nafsu-nafsu keinginan, ia akan bebas dari kemelekatan"

"Dalam batin yang bebas dari kemelekatan akan timbul pengetahuan bahwa batinnya sekarang benar-benar telah bebas. Siswa Yang Ariya itu tahu bahwa ini adalah kehidupannya yang terakhir, kehidupan suci telah dilaksanakan dan selesailah tugas yang harus dikerjakan dan tidak ada sesuatu apa pun yang masih harus dikerjakan untuk memperoleh Penerangan Agung. Bhikkhu yang demikian itu tidak mungkin akan bertengkar lagi mengenai sesuatu pandangan. Apa pun dalil keduniawian yang dikemukakan orang, ia dapat mengikutinya, tetapi ia tidak menganutnya dan juga tidak melekat kepada salah satu dalil."

Selama itu Sariputta berdiri di sisi Sang Buddha dengan kipas di tangan dan mengipasi Sang Bhagava. Mendengar khotbah kepada Dighanakha ia berpikir, "Sang Bhagava menganjurkan untuk melepaskan ikatan kepada semua benda melalui Kebijaksanaan Tertinggi."

Merenungkan arti yang terkandung dalam khotbah tersebut, batinnya terbebas dari semua kekotoran batin dengan jalan menyingkirkan kemelekatan. Setelah khotbah selesai, Dighanakha memperoleh Mata Dhamma.

Terbebas dari keragu-raguan Dhamma. Ia menyatakan diri sebagai upasaka, "Aku berlindung kepada Sang Buddha, Dhamma, dan Sangha. Semoga Sang Bhagava menerima aku sebagai upasaka yang berlindung kepada Sang Ti-Ratana untuk seumur hidup."

Dengan cara-cara inilah Moggallana dan Sariputta memperoleh Penerangan Agung dan menjadi Arahat. Sang Buddha sendiri pernah menerangkan di hadapan para bhikkhu dan bhikkhuni bahwa Sariputta adalah murid-Nya yang terpandai dalam kebijaksanaan dan Moggallana yang terpandai dalam kekuatan gaib. Kalau Sang Buddha dinamakan Dhammaraja (Raja Dhamma) maka Sariputta diberi gelar Dhammasenapati (Jenderal Dhamma).
    DN 16/Mahā Parinibbana Sutta menyampaikan bahwa sebelum sang Buddha menghabiskan masa Vassa terakhirnya di Beluva, Beliau bertemu dengan Sariputta di Nalanda dan di sana, Sariputta menyampaikan "auman singa" (sīhanāda), pujian penghormatan kepada Sang Buddha yang setelahnya Sang Buddha meneruskan perjalanan ke arah Savatthi. Tampaknya itu adalah pertemuan akhir mereka, karena setelah dari Nalanda, Sāriputta menuju Nālakagāma, area Magadha, ke tempat kelahirannya. Di sana, Sariputta jatuh sakit dan Parinibbana (Nibbana Akhir) [SN 47.13/Cunda Sutta]. Samanera Cunda mengabarkan Ananda tentang ini. Sāriputta Nibbana akhir di bulan purnama Kattika (Oktober-November), sedangkan Moggallna nibbana akhir 2 minggu kemudian [SA.iii.181; J. i.391]. Tidak lama setelah Sāriputta dan Moggallāna mencapai Nibbāna akhir. Sang Buddha menetap di antara para Vajji di Ukkacelā di tepi sungai Gangga [SN 47.14/Ukkacela Sutta]
Konferensi di Veluvana
Ketika Sang Buddha berada di kota Rajagaha, seribu dua ratus lima puluh orang Arahat datang berkumpul. Tempat mereka berkumpul adalah di Veluvanarama (hutan pohon bambu) dan waktu itu tengah hari pada saat purnama sidhi di bulan Magha. Peristiwa yang bersejarah ini hingga kini masih tetap dirayakan sebagai Magha-Puja, terutama oleh para bhikkhu di Muangthai / Thailand. Pertemuan para Arahat tersebut dinamakan Caturangasannipata atau Pertemuan Besar Yang Diberkahi dengan Empat Faktor, yaitu:
  • Mereka berkumpul tanpa pemberitahuan terlebih dulu.
  • Mereka semuanya Arahat dan memiliki 6 (enam) kekuatan gaib (abhiñña)
  • Semuanya ditahbiskan dengan memakai ucapan "Ehi bhikkhu".
  • Waktu itu Sang Buddha mengucapkan Ovadda Patimokkha.
Ovada Patimokkha yang diucapkan Sang Buddha adalah sebagai berikut (Dhammapada 183;5):

"Sabba papassa akaranam, Kusalassa upasampada, Sacittapariyo dapanam, Etam Buddhana sasanam. Khanti paramam tapo titikkha, Nibbanam paramam vadanti Buddha, Na hi pabbajjito parupaghati, Samano hoti param vihethayanto. Anupavado, anupaghato, Patimokkhe ca samvaro, Mattaññuta ca bhattasmim, Pantham ca sayanasanam, Adhicitte ca ayogo, Etam Budhana sasanam."

Artinya: "Janganlah berbuat kejahatan, Perbanyaklah perbuatan baik, Sucikan hati dan pikiranmu, Itulah ajaran semua Buddha. Kesabaran adalah cara bertapa yang paling baik, Sang Buddha bersabda; Nibbanalah yang tertinggi dari semuanya, Beliau bukan pertapa yang menindas orang lain, Beliau bukan pula pertapa yang menyebabkan kesusahan orang lain. Tidak menghina, tidak melukai, Mengendalikan diri sesuai dengan tata tertib, Makanlah secukupnya, Hidup dengan menyepi, Dan senantiasa berpikir luhur, Itulah ajaran semua Buddha."

Kembali ke Kapilavatthu
Setelah Raja Suddhodana menerima berita bahwa Sang Buddha berada di Rajagaha, ibukota negara Magadha, maka Beliau mengirim berturut-turut sembilan orang utusan yang masing-masing disertai 1000 pengikut untuk mengundang Sang Buddha pulang ke Kapilavatthu. Namun utusan-utusan tersebut 'lupa' untuk menyampaikan undangan dari Raja Suddhodana, malah setelah mereka mendengarkan khotbah Sang Buddha, mereka bergabung menjadi Bhikkhu dan mencapai tingkat Arahat.

Akhirnya Raja Suddhodana mengutus Kaludayi bersama 1000 orang pengikut lagi untuk mengundang Sang Buddha. Kaludayi adalah kawan bermain Pangeran Siddhattha waktu kecil dan lahir pada hari, bulan, dan tahun yang sama. Kaludayi berangkat menuju Rajagaha. Hal yang hampir sama terjadi, Ia dan 1000 pengikutnya ketika mendengar Sang Buddha, menjadi Bhikkhu dan mencapai Arahat.

Namun kali ini, Kaludayi menyampaikan undangan Raja Suddhodana agar beliau berkunjung ke Kapilavatthu. Sang Buddha menerima baik undangan tersebut. Setelah Kaludayi berdiam tujuh hari di Rajagaha, berangkatlah Sang Bhagava beserta 20.000 bhikkhu menuju Kapilavatthu.

Perjalanan tersebut jauhnya 60 Yojana ((1 yojana = 7-9 mil, 1 mil = 1.6 km) yang ditempuh dalam waktu 60 hari.

Berita kedatangan Sang Buddha beserta rombongan ke Kapilavatthu dengan cepat sampai kepada Raja Suddhodana. Beliau memerintahkan untuk segera disiapkan tempat yang letaknya di luar kota dan dikenal dengan nama Nigrodharama (hutan pohon beringin) bagi rombongan yang akan tiba. Sewaktu rombongan tiba, Raja Suddhodana, pengiring dan penduduk Kapilavatthu berduyun-duyun datang ke Nigrodharama. Peristiwa bertemunya kembali Raja Suddhodana dengan anaknya dituturkan dalam Mhvu. III, 114-121.

Waktu rombongan mendekati Nigrodharama, Sang Buddha merenung, "Bangsa Sakya terkenal sebagai bangsa yang tinggi hati. Bila Aku menyambut mereka dengan tetap duduk di tempat duduk-Ku, mereka akan mencela sikap-Ku dan mengatakan, 'Sungguh keterlaluan Sang Pangeran ini, Ia telah meninggalkan tahta, menjadi pertapa dan mengaku telah memperoleh Penerangan Agung Raja Dhamma namun Ia duduk dan tidak berdiri menyambut kedatangan ayah-Nya yang sudah tua dan sangat dihormati seluruh rakyat Sakya', namun Apabila Sang Tathagata bangun untuk menghormatnya, semua kelompok makhluk yang menerima penghormatannya maka kepalanya akan terbelah belah tujuh. Untuk itu, Lebih baik Aku berjalan diudara setinggi orang dewasa".

Karena itu, setibanya Rombongan, Sang Buddha berjalan diudara setinggi orang dewasa. Dari kejauhan, Raja dapat melihat anaknya sedang berjalan-jalan di udara dan merasa sangat kagum. Tiba di pinggir hutan Nigrodharama, Raja turun dari keretanya dan bersama-sama dengan pengiringnya berjalan kaki menuju ke tempat Sang Buddha tinggal. Sang Buddha naik keudara lebih tinggi lagi dan berdiri setinggi pohon palem, sehingga dapat dilihat oleh segenap yang hadir.

Pada waktu itulah Sang Buddha mempertontonkan Yamakapatihariya atau Mukjizat Ganda, yang hanya dapat dilakukan oleh seorang Buddha, yaitu Api berkobar-kobar dari badan sebelah atas dan air dingin memancar lima ratus pancaran turun dari badan sebelah bawah. kemudian air memancar dari sebelah atas badan dan api berkobar-kobar dari badan sebelah bawah. Segenap yang hadir bersorak-sorak gembira melihat kemukjizatan tersebut.

Saat itu Yasodhara juga hadir dengan menuntun Maha Pradjapati. Maha Pradjapati mengalami kebutaan mata akibat terlalu sedih dan banyak menangis ketika Pangeran Siddhattha meninggalkan istana. Maha Pradjapati mendengar hadirin bersorak-sorak, namun tak dapat melihatnya, Yasodhara menceritakan kejadian tersebut kepadanya. Dengan penuh rasa haru dan kesujudan, Yasodhara menampung air yang keluar dari badan Sang Buddha sewaktu melakukan Mukjizat Ganda dengan kedua tangannya. Dengan air itu, Ia membasuh dan mencuci mata Mahapajapati berulang kali disertai doa semoga hal itu dapat mengembalikan penglihatan Mahapajapati. Satu mukjizat telah terjadi. Perlahan tapi pasti Mahapradjapati dapat melihat kembali sehingga penglihatannya pulih seluruhnya dan dapat menyaksikan sendiri peristiwa itu. Para hadirin yang melihat itu pun semakin bersorak-sorak gembira.

Sehabis Mukjizat Ganda, kemudian Sang Buddha menghilang. Secara tiba-tiba di udara muncul seekor banteng besar dengan tengkuk yang bergetar-getar lari dari arah Timur dan lenyap disebelah Barat, kemudian lari dari arah Barat dan lenyap di sebelah Timur. Kemudian muncul lagi dan lari dari arah Utara dan lenyap di sebelah Selatan, dan lari dari sebelah Selatan dan lenyap di sebelah Utara. Setelah pemandangan yang di atas lenyap sama sekali, kemudian Sang Buddha terlihat duduk dengan tenang di tempat duduk-Nya.

Hilang sudah keragu-raguan seluruh hadirin, Mereka yakin dengan seluruh hati bahwa Pangeran Siddhattha telah menjadi Buddha. Mereka kemudian berlutut memberi hormat dengan kedua tangan dirangkapkan di depan dada kepada Sang Buddha.

Raja Suddhodana menghampiri anaknya dan berkata, "Ini adalah untuk ketiga kalinya aku menundukkan kepalaku dan menyerukan penghormatan (vandana), oh Yang Maha Tahu, yang pertama kali adalah sewaktu pertapa Asita meramalkan bahwa anakku kelak akan menjadi Buddha, kedua kali sewaktu aku lihat anakku bermeditasi di bawah Pohon jambu dan ini adalah yang ketiga kalinya." [Lihat juga komentar untuk Jataka no.547]

Kemudian, Raja Suddhodana menanyakan beberapa hal yang menggambarkan begitu besarnya kasih sayang dan perhatian orang tua kepada anaknya, "Dulu anakku selalu memakai sandal terbuat dari kain wol halus, berjalan di atas permadani yang empuk dan dipayungi dengan payung putih. Tetapi sekarang kaki anakku yang halus dan berwarna tembaga serta penuh garis-garis ajaib ini harus berjalan di atas rumput kasar, duri, dan batu kerikil. Apakah kaki anakku tidak pernah merasa sakit?"

Sang Buddha menjawab, "Aku adalah Sang Penakluk, Yang Maha Tahu, tak ternoda oleh kekotoran-kekotoran batin di dunia ini. Aku telah melepaskan diri dari ikatan kebendaan dan telah terbebas dengan musnahnya semua nafsu-nafsu keinginan. Orang seperti Aku tak dapat lagi diganggu oleh perasaan enak dan tidak enak."

Raja Suddhodana berkata, "Dulu para pelayan setiap hari memandikan dan menggosok-gosok badan anakku dengan minyak kayu cendana yang baunya harum semerbak. Tetapi sekarang anakku mengembara di waktu malam yang dingin dari satu hutan ke hutan yang lain. Siapakah yang memandikan anakku dengan air bersih dan menyegarkan apabila anakku merasa lelah?"

Sang Buddha menjawab, "Oh, Baginda, murni adalah arus air yang berasal dari pantai kebajikan yang tak ternoda dan dipujikan oleh para bijaksana. Dengan mandi dan menyelam dalam air dewata itulah Aku telah tiba di pantai seberang."

Raja Suddhodana berkata, "Dulu anakku selalu memakai kain buatan Benares dan baju bersih yang berbau wangi bunga teratai dan cempaka, anakku adalah orang yang paling bercahaya di antara orang-orang dari suku Sakya, sebagaimana dewa Sakka yang paling bercahaya di antara dewa-dewa di langit. Tetapi sekarang anakku memakai pakaian dari kain kasar yang terbuat dari serat kayu merah. Sungguh aneh anakku berbuat seperti ini."

Sang Buddha menjawab, "Para Penakluk, oh Baginda, tidak menghiraukan pakaian, tempat tidur atau makanan, dan juga tidak menghiraukan apakah yang semua yang diterimanya menyenangkan atau tidak."

Raja Suddhodana berkata, "Dulu, kereta yang mahal dan bergemerlapan dengan emas dan tembaga selalu tersedia untuk dipakai kemana pun anakku pergi dan diikuti sebuah payung putih, sebuah pusaka, sebatang pedang, dan sebuah lambang kerajaan. Lagipula Kanthaka, kuda yang paling gagah dan cepat larinya di seluruh negeri selalu menyertai anakku. Meskipun hingga, kereta perang, kuda dan gajah masih ada, namun anakku lebih senang berjalan kaki dari satu kerajaan ke kerajaan lain. Coba katakan anakku, apakah anakku tidak lelah?"

Sang Buddha menjawab, "Kekuatan gaib adalah kereta-Ku. Ketetapan hati, kebijaksanaan dan pikiran yang terpusat adalah sais-Ku. Padhana yang terdiri atas Sanvara (pengekangan diri dari nafsu-nafsu), Pahana (melenyapkan kekotoran batin), Bhavana. (melaksanakan meditasi) dan Anurakkhana (menjaga watak sendiri) adalah kuda-kuda-Ku. Dengan itu Seorang diri Aku mengembara dan menjelajah ke tempat-tempat yang jauh."

Raja Suddhodana berkata, "Dulu anakku makan dari piring perak dan minum dari mangkuk emas. Selalu tersedia makanan yang lezat-lezat dengan bumbu yang terpilih, sebagaimana layaknya disajikan kepada seorang raja. Tetapi sekarang anakku makan dengan tanpa perasaan muaknya hidangan asin atau tidak asin, kasar atau lembut, dengan bumbu atau tanpa bumbu. Sungguh aneh anakku berbuat hal seperti itu."

Sang Buddha menjawab, "Seperti juga Buddha-Buddha dari zaman dulu hingga zaman yang akan datang, maka Aku, Sang Tathagata, makan yang lembut dan kasar, berbumbu atau tidak dengan pikiran yang terkendali hanya untuk kepentingan dunia ini."

Raja Suddhodana berkata, "Dulu, anakku tidur di dipan tinggi yang dilapisi kulit kambing hutan dengan bantal yang empuk dilapisi sutra halus. Kaki dipan terbuat dari emas dan dibalut dengan untaian bunga yang harum semerbak, dengan lantai dialaskan permadani yang terbuat dari bahan wol dan kapas. Sekarang anakku memakai rumput dan daun-daunan sebagai kasur dan tidur di atas tanah yang kasar dan berbatu. Dan rupanya anakku menyukainya. Apakah tubuh Yang Maha Bijaksana tidak merasa sakit?"

Sang Buddha menjawab, "Oh, Baginda, orang seperti Aku senantiasa tidur dengan nyenyak. Semua duka cita dan kesedihan telah Kutinggalkan. Dengan terbebas dari duka cita dan kesedihan, Aku selalu menjaga batin-Ku agar selalu berbelas-kasih kepada semua makhluk."

Raja Suddhodana berkata, "Dulu, anakku tinggal di istana dengan kamar (di lantai atas) menyerupai tempat kediaman para dewa, diterangi oleh sekumpulan kunang-kunang, dilengkapi jendela putar yang serasi, dimana pelayan wanita yang memakai perhiasan dan kalungan bunga menunggu dengan sabar kata-kata yang akan keluar dari mulut Tuannya."

Sang Buddha menjawab, "Sekarang, oh Baginda, di tempat ini yang dihuni oleh manusia pun terdapat para Brahma dan Dewa Agung yang senantiasa mengikuti petunjuk-petunjuk-Ku dan juga Aku dapat pergi kemana pun yang Kukehendaki."

Raja Suddhodana berkata, "Dulu, para penyanyi selalu menyanyikan lagu-lagu dengan iringan musik yang merdu yang anakku senangi. Dan anakku adalah orang yang paling bercahaya di antara orang-orang suku Sakya, sebagaimana Dewa Sakka yang paling bercahaya di antara dewa-dewa di langit."

Sang Buddha menjawab, "Sekarang Aku menyanyikan lagu dengan pembabaran Dhamma dan terbebas karena memperoleh Kebijaksanaan Tertinggi. Aku sekarang paling bercahaya di antara bhikkhu-bhikkhu seperti Brahma di antara dewa-dewa di langit."

Raja Suddhodana berkata, "Dulu, oh Yang Maha Kuat, di istana, kamar anakku menyerupai tempat kediaman para dewa, selalu dijaga oleh pengawal bersenjata yang mahir menggunakan pedang. Tetapi sekarang, di hutan anakku seorang diri berada di tengah-tengah teriakan burung hantu dan jeritan anjing-anjing hutan, yang penuh binatang buas berkeliaran mencari mangsa dimalam hari. Apakah anakku tidak takut?."

Sang Buddha menjawab, "Justru karena Aku telah menyingkirkan semua perasaan takut. maka Aku menang dan berhasil keluar dari lingkaran tumimbal lahir meskipun semua gerombolan Yakka datang bersama gajah-gajah liar yang mengarungi hutan belantara, mereka tidak akan dapat mengganggu walaupun selembar rambut-Ku Seorang diri Aku berkelana, seorang pertapa yang selalu waspada dan tidak tergoyahkan oleh celaan atau pujian, seperti seekor singa tidak takut kepada suara, seperti angin tidak dapat dijerat oleh jala. Karena itu, oh Baginda, bagaimana Anda dapat katakan bahwa Sang Penakluk, Pemimpin yang tidak dipimpin oleh siapa pun, dapat merasa takut?"

Raja Suddhodana kembali bertanya, "Sebenarnya seluruh dunia bisa menjadi tanah milikmu dan seribu orang anak dapat pula menjadi milikmu, kalau saja anakku tidak melepaskan tujuh rupa pusaka (lambang seorang Raja) menjadi seorang pertapa."

Sang Buddha menjawab, "Sekarang pun seluruh dunia masih tetap menjadi milik-Ku dan Aku tetap masih memiliki ribuan orang anak. Lagipula sekarang Aku memiliki Delapan Mustika yang tidak ada bandingannya di dunia ini."

Selesai percakapan ini, Raja Suddhodana memperoleh Mata Dhamma dan menjadi seorang Sotapanna (telah menaklukan 3 belenggu dan terlahir paling banyak 7 kali lagi)

Note:
Kisah dan pencapaian sotapana Suddhodana di atas adalah versi "Riwayat Hidup Buddha Gotama", Bab IV, "Kembali Ke Kapilavatthu", Maha Pandita Sumedha Widyadharma, Penerbit: Cetiya Vatthu Daya; Cetakan Ke-12s, 1999.

Namun dalam buku Riwayat Agung Para Buddha (RAPB), buku ke-1, cetakan May 2008, bab 24, hal. 917-938 dan juga dalam komentar untuk Dhammapada Bab.12, Syair 168-169, disampaikan bahwa pencapaian sotapanna Raja Suddhodana terjadi ketika Sang Buddha berjalan mengumpulkan dana makanan ditengah kota Kapilavatthu dan memberikan penjelasan kepada Raja mengenai itu

    Ketika Sang Buddha datang ke Kapilavatthu pertama kalinya, setelah seluruh keluarga kerajaan melihat peristiwa hujan ajaib dan setelah mendengarkan kisah Vessantara, seluruh anggota keluarga kerajaan meninggalkan tempat; tidak seorang pun yang mengajukan undangan seperti “mohon datang dan menerima dàna makanan yang akan kami persembahkan besok". Raja Suddhodana berpikir bahwa “Tidak ada tempat lain selain istanaku untuk putraku, Tathàgata, berkunjung; Ia pasti akan datang ke istanaku.” Merasa yakin demikian, ia pulang ke istananya tanpa mengajukan undangan secara khusus. Di istana, ia memerintahkan untuk membuat persiapan nasi lunak, dan lain-lain dan menyiapkan akomodasi sementara untuk dua puluh ribu Arahanta yang dipimpin oleh Buddha

    Pada pagi hari itu Sang Buddha berjalan untuk menerima dana makanan bersama dengan rombongan para bhikkhu, seperti kebiasaan semua Buddha. Yasodhara dan Rahula melihat Sang Buddha berjalan untuk menerima dana makanan dari jendela istana, Ini menarik perhatian Ràhula, sehingga Yasodhara mengucapkan 10 bait syair pujian terhadap keagungan fisik seorang Buddha (Narasiha Gatha) dari kening hingga telapak kaki-Nya. Setelahnya, Ia memberitahukan ayah mertuanya mengenai ini. Sang raja tergesa-gesa menghampiri dan memberitahukan Sang Buddha bahwa untuk seorang anggota keluarga kerajaan Khattiya, berkeliling meminta makanan dari pintu ke pintu adalah memalukan.

    Namun sang Buddha menjawab bahwa itu merupakan kebiasaan semua Buddha untuk berkeliling menerima dana makanan dari rumah ke rumah, dan oleh karenanya itu adalah benar dan layak bagi Beliau untuk tetap menjaga tradisi itu, kemudian beliau menyampaikan syair:

    Bangun ! Jangan lengah ! Tempuhlah kehidupan benar. Barangsiapa menempuh kehidupan benar, maka ia akan hidup bahagia di dunia ini maupun di dunia selanjutnya

    Disampaikan pula bahwa seorang bhikkhu yang menerima dàna makanan setelah berdiri dengan sopan di tiap-tiap pintu rumah para dermawan, harus selalu penuh perhatian menerima makanan; tidak boleh menerima atau mencari dàna makanan dengan cara yang salah; harus mempraktikkan berkeliling untuk menerima dàna makanan dengan cara yang patut dihargai. Seorang bhikkhu yang melatih praktik ini tanpa gagal dengan cara ini akan hidup damai dalam hidup ini dan juga pada kehidupan mendatang.

    Raja Suddhodana mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma itu berakhir.

    Setelah mencapai Sotàpanna, Raja Suddhodana mengambil mangkuk dari tangan Tathàgata dan sambil memegangnya ia mengundang Buddha dan dua puluh ribu Arahanta untuk datang ke istananya di mana ia menyediakan tempat duduk kehormatan yang khusus disiapkan. Setibanya di istana Tathàgata mengucapkan syair berikut:

    Hendaklah seseorang hidup sesuai dengan Dhamma dan tak menempuh cara-cara jahat. Barangsiapa hidup sesuai dengan Dhamma, maka ia akan hidup bahagia di dunia ini maupun di dunia selanjutnya.

    Disampaikan bahwa cara yang salah dan tidak biasa untuk mendapatkan dàna makanan harus dihindari dan cara yang benar dalam menerima dàna makanan harus dipraktikkan. Seorang bhikkhu yang melatih praktik ini tanpa gagal dengan cara demikian akan hidup damai dalam hidup ini dan juga dalam kehidupan mendatang.

    Di akhir syair kedua tersebut, Raja Suddhodana menjadi Sakadàgàmi dan ibu asuh, Mahàpajàpati Gotami mencapai Sotàpanna
Kemudian Raja Suddhodana mendanakan berbagai jenis makanan keras dan lunak yang telah dipersiapkan sebelumnya kepada Tathàgata dan dua puluh ribu Arahanta Setelah dàna makanan selesai, seluruh pejabat istana dan para pelayan berkumpul di kaki Buddha memberikan penghormatan kepada-Nya.

Yasodhara
Meskipun para pelayan perempuan memohon kepada Yasodhara, “Yang Mulia, mohon datang ke kamar istana dan beri hormat kepada Sang Buddha,” Yasodhara menjawab, “Jika aku pernah memberikan pelayanan yang patut kepada-Nya, Yang Mulia sendiri yang akan datang kepadaku,” ia tetap tidak bergerak dan dengan tenang diam di kamarnya.

Kemudian, sang Buddha meminta Raja Suddhodana membawakan mangkuk-Nya dan diiringi dua Siswa Utama-Nya (Sariputta dan MahaMoggallana), pergi menuju ruang rekreasi putri. Setibanya di kamar Putri Yasodharà, Tathàgata berkata, “Jangan ada yang bersuara untuk menghalang-halangi Putri Yasodharà sewaktu ia memberi hormat kepada-Ku sesuai keinginannya,” dan kemudian Ia duduk di tempat yang telah dipersiapkan untuk-Nya.

Putri Yasodharà segera datang ke hadapan Tathàgata dan kemudian merangkul kedua kaki Tathàgata dengan kedua tangannya dengan sekuat tenaga. Ia menyandarkan kepalanya di kedua kaki Tathàgata, bergantian kiri dan kanan, ia bersujud lagi dan lagi dengan penuh hormat. Raja Suddhodana berkata, "Yang mulia, Yasodhara adalah seorang isteri yang sangat setia;

Ketika mendengar bahwa Yang Mulia mulai menjadi petapa dengan memakai jubah kuning, ia pun memakai jubah kuning,

Ketika mendengar Yang Mulia hanya makan satu kali sehari, ia pun makan hanya satu hari sehari. Ia senantiasa mengikuti kehidupan Yang Mulia, Ia tidak lagi tidur di dipan yang tinggi dan mewah namun ditanah, Ia tidak lagi memakai untaian bunga dan wewangian. Apabila sanak-saudaranya mengajaknya tinggal bersama mereka, dia tidak mengikut mereka.

Ketika Yang Mulia memasuki kehidupan non-duniawi ia menjadi janda; dan menolak hadiah dari Raja lain yang menyukainya. Demikian setia hatinya padamu."

Sang Buddha Menjawab, "Itu tidaklah mengherankan, jika ibu Ràhula tetap memelihara kesetiaan dan martabatnya, karena Ia sekarang telah matang dalam kebijaksanaan dan mampu melindungi dirinya sendiri. Bahkan di kehidupan lampaunyapun, Ia telah melindungi dirinya sendiri dan juga diriku, bahkan saat itu ia belum memiliki kebijaksanaan yang matang dan tanpa pelindung”. Kemudian sang Buddha menceritakan kisah Candakinnarã (Jàtaka no. 485), yaitu ketika Siddhartha Gautama dan Yasodhara terlahir sebagai sepasang Peri/Kinnara. Pada saat itu, Seorang raja jatuh cinta kepada Peri perempuan dan memanah Peri Pria dengan panah beracun yang menyebabkan ia terluka dan tampak seperti mati. Berkat kegigihan sang peri Perempuan, bukan saja Ia tidak jadi ditangkap raja bahkan dapat membuat Deva Sakka mengobati suami perinya itu dengan racunnya sehingga Peri pria itu sehat kembali.

Setelah menceritakan kisah itu, Sang Buddha kembali ke Vihàra Nigrodha diiringi oleh 20.000 Arahanta.
    Beberapa belas tahun kemudian, kitab komentar Anguttara Nikaya menyampaikan bahwa setelah Suddhodana wafat, Yasodhara bersama Janapadakalyānī (Nanda) ikut rombongan yang dipimpin Maha Pajapati Gotami pergi menemui sang Buddha untuk ditahbiskan menjadi Bhikkhuni. Setelah Mahapajapati ditahbiskan menjadi Bhikkhuni pertama, Yasodhara bersama sejumlah perempuan ditahbiskan MahaPajapati Gotami. Yasodhara dikenal juga dengan nama Bhaddakaccanā theri dan menjadi salah satu Arahat (AA I.245). Di Kitab Theri Apadana disampaikan bahwa ketika Ia berusia 78 tahun, setelah berpamitan pada Sang Buddha, Ia bersama 18.000 arahat yang menemaninya, setelah melakukan berbagai Mukjizat, mereka Parinibbana bersama-sama [Theri Apadana no.28]
Nanda dan Janapada Kalyani
Pada hari ketiga, di istana berlangsung beberapa upacara, diantaranya upacara pernikahan Pangeran Nanda, Sepupu Siddharta Gautama, yang merupakan anak dari MahaPajapati Gotami. Pada kesempatan itu Tathàgata pergi ke istana dan setelah memberikan khotbah mengenai kebajikan, Beliau secara sengaja menyerahkan mangkuk-Nya kepada Pangeran Nanda kemudian pulang ke vihàra. Karena rasa hormatnya pada saudaranya, Pangeran Nanda tidak berani berkata sepatah kata pun dan terpaksa mengikutinya. Sang Buddha terus berjalan tanpa membebaskannya dari mangkuk tersebut dan Pangeran Nanda, mengikuti dengan enggan, ingin berbalik, tetapi rasa hormatnya yang tinggi membuatnya tetap diam, dan berharap di suatu tempat nanti mangkuk tersebut akan diambil kembali. Akhirnya ia pergi bersama Tathàgata.

Janapada Kalyani, tunangannya, mendengar bahwa Pangeran sedang mengikuti Sang Buddha dengan mangkok di tangan, segera bergegas lari, secepat yang dapat dilakukannya untuk mengejar Pangeran Nanda, dan dengan air mata bercucuran di pipi serta rambut separuh tersisir berteriak sedih pada Pangeran Nanda, "Kembalikan cepat, Kembalilah segera, Yang Mulia !"

Sang Buddha berjalan tanpa mengambil mangkuk-Nya dari Pangeran Nanda, dan setibanya di vihàra, ia bertanya kepada Nanda, “Maukah engkau menerima penahbisan dan menjadi bhikkhu?” Karena rasa takut dan hormat, ia tidak mampu mengungkapkan keengganannya, “Tidak, aku tidak mau,” Tetapi sebaliknya ia malah menyetujuinya, dengan berkata, “Baiklah, Saudaraku Yang Mulia aku akan menerima penahbisan.”. “Jika demikian, para bhikkhu, kalian dapat menyaksikan saudara muda-Ku ditahbiskan,” kata Tathàgata dan para bhikkhu melakukan seperti yang diperintahkan.

Benarlah, selama menjadi Bhikkhu Nanda merasa sangat tidak betah, tidak senang, dan setengah kecewa. Ia hanya menemukan sedikit kesenangan dalam hidup sebagai seorang bhikkhu. Ia ingin kembali pada kehidupan berumah-tangga. Kata-kata Putri Janapadakalyani, yang memohonnya untuk kembali secepatnya terus teringat di benak dan sanubarinya. Hatinya semakin goyah dan semakin goyah.
    ..Pada suatu ketika Sang Bhagava sedang berada di dekat Savatthi, di hutan Jeta, di Vihara Anathapindika. Pada saat itu Nanda, saudara tiri Sang Bhagava, putra bibi yang membesarkannya, memberitahukan sejumlah bhikkhu: “Saya tidak puas menjalani kehidupan suci, sahabat-sahabat. Saya tidak dapat memikul kehidupan suci. Saya akan berhenti dari latihan ini dan kembali ke kehidupan rendah.”

    [Kemudian seorang bhikkhu mendekati Sang Bhagava, bersujud, duduk di satu sisi dan menyampaikan keluhan Nanda. Sang Buddha meminta kepada seorang Bhikkhu agar memanggil Nanda. Nanda kemudian mendatangi Sang Buddha, bersujud dan duduk di satu sisi]

    Sang Bhagava kemudian berkata kepadanya: “Apakah benar Nanda, bahwa kamu memberitahu sejumlah bhikkhu demikian: “Saya tidak puas menjalani kehidupan suci ….. saya akan kembali ke kehidupan rendah ?”

    “Ya, Bhante.”

    “Tetapi mengapa, Nanda, kamu tidak puas dengan menjalani kehidupan suci?”

    “Ketika berangkat dari rumah, Bhante, seorang gadis Sakya yang tercantik di negeri ini, dengan rambutnya setengah tersisir, memandang saya dan berkata “Kembalilah segera, Tuan.”. Ketika mengingat kembali hal itu, Bhante, saya tidak puas menjalani kehidupan suci ….., saya tidak dapat memikul kehidupan suci. Saya akan berhenti dari latihan ini dan kembali ke kehidupan rendah.”

    Kemudian Sang Bhagava memegang tangan Yang Ariya Nanda, dan persis seperti seorang laki-laki kuat yang menjulurkan tangannya yang lentur atau melenturkan tangannya yang terjulur, demikianlah mereka lenyap dari hutan Jeta dan muncul di antara para dewa di surga Tavatimsa. Pada saat itu, kira-kira 500 bidadari berkaki merah muda datang untuk melayani Sakka, penguasa para dewa. Dan Sang Bhagava berkata kepada Yang Ariya Nanda, “Apakah kamu melihat 500 bidadari yang berkaki merah muda itu?”

    “Ya, Bhante.”

    “Apa pendapatmu, Nanda, siapakah yang lebih cantik, lebih indah untuk dipandang, dan lebih menggiurkan – gadis Sakya yang tercantik di seluruh negeri atau 500 bidadari yang berkaki merah muda ini ?”

    “Bhante, dibanding dengan 500 bidadari yang berkaki merah muda ini, gadis Sakya, yang tercantik di seluruh negeri itu, seperti seekor monyet betina bunting yang hidung dan telinganya dipotong. Dia tidak masuk hitungan; dia tidak cukup berharga dibandingkan dengan para bidadari itu; sama sekali tidak dapat dibandingkan. Atha kho imāneva pañca accharāsatāni abhirūpatarāni ceva dassanīyatarāni ca pāsādikatarāni cā’’ti. (500 bidadari ini tentunya berbentuk lebih sempurna dan seimbang)”

    ‘‘Abhirama, nanda, abhirama, nanda, ahaṃ te pāṭibhogo pañcannaṃ accharāsatānaṃ paṭilābhāya kakuṭapādāna’’nti (munculkan sukacita, Nanda! munculkan sukacita, Nanda! Aku jamin dengannya, kau akan mendapatkan 500 bidadari ini)”

    ‘‘Sace me, bhante bhagavā, pāṭibhogo pañcannaṃ accharāsatānaṃ paṭilābhāya kakuṭapādānaṃ, abhiramissāmahaṃ, bhante, bhagavati brahmacariye’’ti (Jika guru, Bhagawa, menjamin dengannya, akan mendapatkan 500 bidadari ini, aku akan bersukacita daripada galau, dalam menjalankan prilaku menuju kesucian dalam bimbingan Sang Bhagawa)”

    Kemudian Sang Bhagava memegang tangan Yang Ariya Nanda ….. mereka lenyap dari antara para dewa di surga Tavatimsa dan muncul di hutan Jeta.

    Para bhikkhu mendengar: “Dikatakan bahwa Yang Ariya Nanda, saudara tiri Sang Bhagava, putra bibi yang mengasuhnya, menjalani kehidupan suci demi para bidadari. Dikatakan bahwa Sang Bhagava telah menjamin bahwa dia akan mendapatkan 500 bidadari berkaki merah muda.”

    Kemudian sahabat-sahabat bhikkhu dari Yang Ariya Nanda, berkeliling dengan menyebutnya “orang jaminan” dan “orang rendah”, dengan mengatakan: “Yang Ariya Nanda adalah orang jaminan! Yang Ariya Nanda adalah orang rendah! Dia menjalani hidup suci demi para bidadari! Dikatakan bahwa Sang Bhagava menjamin dia akan mendapat 500 bidadari berkaki merah muda!”

    Maka Nanda merasa terhina, malu, dan sedih karena sahabat-sahabatnya menyebutnya “orang jaminan” dan “orang rendah”. Dengan hidup menyendiri, menyepi, rajin,bersemangat dan penuh tekad, dia segera menyadari, bahkan di sini dan saat ini juga melalui pengetahuan langsungnya sendiri, tujuan kehidupan suci yang tiada bandingnya itu dimana putra keluarga baik-baik sudah pada tempatnya pergi dari keadaan berumah ke keadaan tidak berumah, dan setelah masuk, dia tinggal di dalamnya. Dan dia tahu: “Selesailah sudah kelahiran, telah dijalani kehidupan suci, telah dilakukan apa yang harus dilakukan, tidak akan ada keadaan seperti ini lagi.” Dan Yang Ariya Nanda menjadi salah seorang Arahat.

    Kemudian, setelah malam semakin larut, seorang dewata yang tampan sekali menyinari seluruh hutan Jeta, mendekati Sang Bhagava, bersujud dan berdiri di satu sisi. Sementara berdiri di sana, Sang Dewata berkata kepada Sang Bhagava: “Yang Ariya Nanda, Bhante, saudara tiri Sang Bhagava, putra bibi yang mengasuh Nya, dengan melenyapkan noda-noda, telah menyadari di sini dan saat ini juga, pembebasan batin yang tanpa noda, dan pembebasan penuh kebijaksanaan, dan setelah masuk, dia tinggal di dalamnya”. Dalam mental Sang Bhagava pun muncul pengertian: “Nanda, dengan melenyapkan noda-noda, telah menyadari di sini dan saat ini juga, pembebasan batin yang tanpa noda, dan pembebasan penuh kebijaksanaan, dan setelah masuk, dia tinggal di dalamnya”.

    Ketika malam itu telah berakhir, Yang Ariya Nanda mendekati Sang Bhagava, bersujud, duduk di satu sisi dan berkata kepada Sang Bhagava: “Bhante, mengenai jaminan Sang Bhagava bahwa saya akan mendapatkan 500 bidadari berkaki merah muda tersebut, saya membebaskan Sang Bhagava dari janji itu.”

    “Tapi, Nanda, dengan memahami jalan pikiranmu melalui pikiranku, pada saat itu saya tahu: ‘Nanda telah menyadari di sini dan saat ini pembebasan batin yang tanpa noda dan pembebasan penuh kebijaksanaan’. Juga seorang dewata memberitahu saya: ‘Yang Ariya Nanda, Bhante, telah menyadari di sini dan saat ini pembebasan batin yang tanpa noda dan pembebasan penuh kebijaksanaan’. Nanda, ketika batinmu telah terbebas dari noda-noda tanpa kemelekatan, dengan demikian saya bebas dari janji itu.”

    Kemudian karena menyadari pentingnya hal itu, Sang Bhagava pada saat itu mengungkapkan kotbah inspirasi ini:

    Bhikkhu yang sudah melewati lumpur,
    Menghancurkan duri nafsu indria,
    Dan mencapai pemusnahan ketidaktahuan,
    Tak lagi terganggu oleh kesenangan dan rasa sakit
    . [Udana 3.2/Nanda]
Belasan tahun kemudian sejak kejadian ini Janapada Kalyani bertekad menjadi Bhikkhuni. Janapada kalyani adalah seorang yang sangat cantik sehingga juga dikenal dengan nama Rupananda.

Pada suatu hari dia merenung, "Kakak saya yang akan menjadi raja telah meninggalkan keduniawian menjadi bhikkhu dan telah mencapai ke-Buddha-an. Rahula, anak kakak saya, suami saya(Nanda), ibu saya, dan juga Ibu Rahula, mereka semua telah meninggalkan keduniawian untuk menjadi bhikkhu dan bhikkhuni, sekarang tinggal saya sendiri di sini!"

Setelah merenung demikian dia memutuskan pergi ke vihara dan minta ditahbiskan untuk menjadi seorang bhikkhuni, Ia melakukan itu bukan karena keyakinan tetapi hanya meniru orang lain dan merasa kesepian tinggal seorang diri.

Setelah menjadi bhikkhuni, Rupananda sering mendengar bahwa Sang Buddha mengajarkan tentang ketidakkekalan, sehingga dia berpikir kalau dia bertemu dengan Sang Buddha pasti Beliau akan mencela kecantikannya, sehingga dia berusaha untuk menghindari perjumpaan dengan Sang Buddha. Akan tetapi karena terlalu banyak orang yang memuji mengenai Sang Buddha, akhirnya dia memutuskan untuk bertemu dengan Sang Buddha bersama para bhikkhuni.

Ketika Sang Buddha bertemu dengan Rupananda, Beliau mengetahui dan berpikir, "Duri hanya dapat dikeluarkan dengan duri. Rupananda sangat bangga dan melekat terhadap tubuhnya, sangat sombong akan kecantikannya, dia harus meninggalkan kemelekatan dan kesombongan akan kecantikannya".

Kemudian Sang Buddha dengan kemampuan batin luar biasa menciptakan seorang anak gadis yang sangat cantik, berusia kira-kira 16 tahun dan duduk di dekatnya. Anak gadis itu hanya dapat dilihat oleh Sang Buddha dan Rupananda. Ketika Rupananda melihat anak gadis tersebut, Rupananda merasa dirinya hanyalah seekor gagak yang tua dan jelek dibandingkan dengan anak gadis itu, yang terlihat seperti seekor angsa putih yang bersinar cemerlang. Rupananda begitu mengagumi wajah anak gadis tersebut yang sangat cantik jelita. Rupananda memperhatikan sungguh-sungguh anak gadis itu, kemudian dia terkejut karena anak gadis tersebut terus bertambah tua menjadi berusia 20, kemudian bertambah tua, bertambah tua lagi dan menjadi sangat tua.

Anak gadis itu berubah dari anak gadis muda, menjadi setengah baya, tua, dan sangat tua. Rupananda mulai menyadari bahwa timbulnya bayangan baru maka bayangan lama lenyap, Ia mulai menyadari proses perubahan yang terus menerus dan kelapukan dari tubuh. Dengan kesadaran ini, kemelekatan terhadap tubuhnya berkurang. Pada saat itu bayangan anak gadis yang ada di dekat Sang Buddha telah berubah menjadi wanita jompo, tidak dapat lagi mengatur gerak tubuhnya, wanita jompo itu terjatuh dan meninggal dunia. Dari tubuhnya muncul belatung, cairan tubuh keluar dari sembilan lubang, burung gagak dan pemakan bangkai mencabik-cabik bangkai itu. Setelah melihat semua ini, Rupananda merenung, "Gadis muda itu menjadi tua dan jompo kemudian meninggal dunia di sini d ihadapan mataku.

Sama halnya dengan tubuhku akan menjadi tua dan rusak, akan merupakan sarang penyakit dan juga akan meninggal dunia." Kemudian Rupananda menyadari akan corak sebenarnya kelompok kehidupan. Pada saat itu Sang Buddha memberikan khotbah tentang ketidak-kekalan, ketidak-puasan, dan ketanpa-intian dari kelompok kehidupan (khandha) dan Rupananda mencapai tingkat kesucian sotapatti. Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 150 berikut : Kota (tubuh) ini terbuat dari tulang belulang yang dibungkus oleh daging dan darah. Di sinilah terdapat kelapukan dan kematian, kesombongan dan iri hati. Rupananda mencapai tingkat kesucian arahat setelah khotbah Dhamma itu berakhir.

Rahula
7 hari setelah peristiwa Pangeran Nanda ditahbiskan, Sang Buddha disertai 20.000 Arahat, mengunjungi Istana untuk menerima undangan dana Makan. Putri Yasodharà memakaikan pakaian yang indah kepada putranya, Ràhula, yang saat itu berusia 7 tahun dan berkata, “Anakku sayang, lihatlah Bhikkhu Agung itu, yang dilayani oleh 20.000 ribu bhikkhu, dengan penampilan keemasan dan tubuh yang anggun bagaikan brahmà; Beliau adalah ayahmu. Pergilah kepadanya dan mintalah harta pusaka untukmu".

Ketika Buddha berjalan menuju istana, Rahula bersujud dengan membaringkan tubuhnya di atas tanah, cara ini adalah bentuk penghormatan yang tertinggi dalam budaya India Pangeran Rahula yang masih kecil itu kemudian pergi mendekati Sang Buddha dan sambil memegang jari tangan Sang Buddha mengatakan apa yang dipesankan ibunya. Kemudian ia menambahkan "Ayah, bahkan bayangan ayah membuat hatiku senang".

Buddha menyentuh Rahula dan berkata, "Nak, kamu sudah besar".

Rahula mengetahui bahwa Pamannya, Nanda, telah menjadi bikkhu dan merasa iri karena ia berpikir bahwa pamannya selalu dapat berdekatan dengan Ayahnya sehingga kemudian ia pun berkata berkata pada ayahnya, "Ayah, aku ingin bersamamu.

Aku juga ingin menjadi bhikkhu untuk mempelajari kebenaran." Sang Buddha menjawab, "Suatu hari nanti, kamu boleh ikut Aku sebagai bikkhu" Buddha berkata dengan penuh belas kasih.

Selesai makan Siang Sang Buddha meninggalkan istana. Rahula mengikut sambil terus merengek, "Ayah, berikanlah aku harta pusaka. Kelak aku akan menjadi raja, aku ingin memiliki harta pusaka. Ayah, berikanlah aku harta warisan".

Tak ada orang yang mencoba menghalang-halangi dan Sang Buddha sendiri juga membiarkan Rahula berbuat demikian. Buddha melihat bahwa Rahula anak yang pintar, baik hati, dan dapat menjadi anak Buddhis yang baik. Yasodhara mengamati mereka dari atas balkon istana. Dia tahu bahwa Buddha telah mengijinkan Rahula untuk kembali bersamaNya ke wihara hari itu.

Setibanya Sang Buddha di taman, beliau berpikir, "Rahula minta warisan harta pusaka, tetapi semua harta dunia penuh dengan penderitaan. Lebih baik aku memberikan warisan berupa Tujuh Faktor Penerangan Agung yang aku peroleh dibawah pohon Bodhi. Dengan demikian ia akan mewaisi harta pusaka yang paling mulia".

Di Vihara, Sang Buddha meminta Moggallana untuk mencukur kepala Rahula dan meminta Sariputta menjadi guru Rahula. Sariputta kemudian Menabhiskan Rahula sebagai Samanera(Calon Bikkhu). Dengan demikian Rahula merupakan samanera pertama.

Sewaktu kabar bahwa Rahula telah dicukur bersih kepalanya dan menjadi calon Bikkhu(samanera) sampai pula ke istana, Baginda Raja menjadi sangat sedih karenanya. Baginda raja maupun ibu ratu sangat merindukan Rahula. Mereka berpikir sebelumnya bawha rahula pergi mengunjungi wihara hanya untuk beberapa hari saja setelah itu akan kembali ke istana. Mereka sama sekali tak menyangka bahwa Rahula akan menetap di wihara. Mereka merasa sangat kesepian tanpa cucu mereka. Yasodhara merasakan kesedihan dan kebahagiaan bercampur aduk. Walau dia sangat-sangat merindukan putranya, namun ia juga merasa terhibur karena mengetahui bahwa sekarang Rahula berada di dekat ayahnya setelah sekian tahun tidak melihatNya.

Akhirnya pada suatu siang Baginda Raja bersama Ratu Gotami dan Yasodhara naik kereta kencana pergi mengunjungi wihara. Mereka ditemui oleh Buddha. Nanda(Sepupu Sang Buddha) dan Rahula keluar untuk menyalami mereka juga. Dalam kegembiraan kanak2nya, Rahula kemudian berlari ke ibunya dan dengan hangat Yasodhara memeluk putranya. Setelah itu, Rahula memeluk kakek neneknya.

Baginda raja membungkuk hormat kepada Buddha lalu berkata dengan nada agak menyalahkan, "Tak terkirakan penderitaanku sewaktu engkau meninggalkan rumah untuk menjadi seorang bikkhu. Kemudian belum lama ini, Nanda juga meninggalkanku dan terlalu berat untuk dapat menanggung kehilangan Rahula. Bagi seorang perumah tangga seperti diriku ini, ikatan antara ayah, anak, dan cucu sedemikian pentingnya. Rasa sakit yang kualami di kala engkau pergi bak sebilah pisau mengiris kulitku. Setelah mengiris kulitku, pisau itu mengiris dagingku. Setelah mengiris dagingku, pisau itu tembus hingga ke tulang. Aku mohon kepadamu, pertimbangkanlah segala tindakanmu. Di kemudian hari, janganlah engkau mengijinkan seorang bocah ditahbiskan kecuali jika ia telah mendapatkan ijin dari orang tuanya."

Sang Buddha mendengarkan itu dengan sabar kemudian menenangkan baginda raja dengan membabarkan kebenaran ketidakkekalan dan tanpa adanya diri yang terpisah. Beliau juga mengingatkannya bahwa latihan kesadaran harian merupakan satu-satunya gerbang untuk mengatasi penderitaan. Nanda dan Rahula sekarang memperoleh kesempatan untuk menjalani kehidupan semacam itu secara mendalam. Buddha kemudian membesarkan hati ayahandaNya untuk mengapresiasi keberuntungan mereka dan terus melanjutkan mengikuti jalan menuju kewaspadaan dalam kehidupan sehari-hari untuk menemukan kebahagiaan sejati. Sang Buddha juga menyetujui permohonan Raja Suddhodana maka mulai saat itu lah tidak mentabhiskan bhikkhu atau samanera tanpa terlebih dahulu mendapat ijin dari orangtuannya.
    Setelah peristiwa tersebut,
    pada suatu harinya, Sang Buddha datang ke istana raja untuk menerima dana makan diiringi oleh 20.000 Arahanta, Raja Suddhodana melayani Tathàgata dan Para Arahanta dan menceritakan bahwa di saat perjuangan Sang Buddha sebelum mencapai Buddha, Raja didatangi satu mahluk Deva yang mengabarkan bahwa Pangeran Siddhattha telah meninggal karena kekurangan makanan. Raja menolak kata-kata dewa tersebut karena sangat mempercayai bahwa tidak mungkin putranya meninggal sebelum mencapai kebuddhaan.

    Sang Buddha berkata, “Raja, bahkan ketika dikehidupan lampau, sebagai kepala suku Mahà Dhammapàla pun engkau juga menolak kata-kata seorang guru termasyhur, Disàpàmokkha, yang memberitahukan, ‘Putramu, pemuda Dhammapàla meninggal dunia; ini adalah tulang belulang putramu’ sambil memperlihatkan tulang belulang seekor kambing sebagai bukti. Engkau menolak kata-katanya dengan berkata, ‘Dalam suku Dhammapàla kami, tidak ada yang mati dalam usia muda’ Engkau tidak mempercayainya sama sekali”. Kemudian atas permohonan Raja, Sang Buddha menceritakan kisah Mahà Dhammapàla Jàtaka (Jataka no.447) yang setelahnya, beliau lanjutkan dengan penyampaian pokok-pokok Dhamma dari Empat Kesunyataan mulia.

    Di akhir penjelasan, Raja Suddhodana mencapai tingkat kesucian Anàgàmi. [RAPB buku ke-1, hal. 934-935]
Setelah ditabhiskan oleh YA Sariputta, Rahula harus mengikuti peraturan yang berlaku. Sebagai anak, Rahula yang melihat ayahnya ada didekatnya namun tidak dapat memanggil ayah atau selalu berdekatan dengan Sang Buddha merupakan suatu kesedihan tersendiri baginya terutama saat ia tidak dapat memperlakukan ayahnya sebagai ayah-ayah orang lainnya. Hal ini mendorongnya untuk mencari perhatian dan melakukan kenakalan-kenakalan kecil yang badung. Ia suka bercanda dan mengolok-olok orang lain sampai mereka bingung, sementara ia bertepuk tangan dan tertawa keras kegirangan. Contoh lainnya, suatu kali ia menunjukkan arah yang salah kepada umat yang datang ke vihara dan bertanya dimana dapat bertemu dengan Sang Buddha.

Hal ini telah diketahui dan didengar oleh Sang Buddha. Hingga suatu saat yang Ia anggap tepat, dikenakalan berikutnya, Beliau sendiri pergi mencari Rahula. Ketika Rahula melihat Ayahnya, Ia merasa bahagia namun segera menyadari hal tidak benar yang telah ia lakukan. Ia segera membawa sebaskom air untuk mencuci kaki Buddha.

Setelah itu, Buddha berkata kepada Rahula, "Rahula, dapatkah air di baskom ini digunakan untuk minum?"

Rahula menjawab, "Tidak, tadi air ini bersih, tetapi sekarang sesudah dipakai membasuh kaki, air menjadi terlalu kotor untuk diminum".

"Rahula, sekarang kamu seperti air ini." Buddha menatap Rahula, lalu melanjutkan, "air ini awalnya bersih, tetapi menjadi kotor setelah dipakai untuk mencuci kaki. Demikian pula, kamu. Sebagai seorang anggota kerajaan yang akan mewarisi kerajaan, engkau melepaskan tahta dan menjadi bhikkhu untuk memperaktikkan Dhamma. Tekad dan cita-citamu adalah sungguh hebat! akan tetapi, di sini kamu masih suka bermain2 setiap hari. Engkau tidak mau menjadi rajin. Semua orang menjadi tidak suka melihatmu, seperti melihat engkau melihat air baskom yang kotor setelah digunakan untuk mencuci kaki!"

Sang Buddha kemudian menyuruh Rahula membuang air itu dan kembali lagi dengan baskom yang sudah kosong lalu Sang Buddha berkata, " Rahula, dapakah kamu menaruh masakan kedalam baskom ini?"

Rahula menjawah, "Tidak, saya tidak dapat menaruh makanan di baskom karena bekas tempat air kotor".

Mendengar jawaban Rahula Sang Buddha berkata, "Seseorang yang mengetahui bahwa kebohongan adalah perbuatan buruk, tetapi berbohong terus menerus dengan menyakiti orang lain adalah seperti air yang kotor atau sebuah baskom yang sudah kotor. Kejahatan mulai dengan berbohong yang akan mengundang kejahatan lain pada dirinya sendiri. dan penderitaan yang disebabkan oleh kebohongan tidak akan dapat dielakkan oleh sipembuat kebohongan."

Dengan kata-kata yang disampaikan oleh sang Buddha sangat mengena pada Rahula maka sejak itu ia menjadi amat rajin dan mematuhi semua peraturan Sangha. Ia menjadi seorang bhikkhu yang terkemuka dalam melaksanakan perbuatan baik. Banyak orang memandang Rahula dengan penuh simpati, meski terlahir dan dididik sebagai Pangeran, ia dapat melepaskan semua hak-hak istimewanya dan pada usia demikian muda dan dapat menjalani kehidupan suci dengan begitu baiknya.

Namun ada pula anggota Sangha yang memperlakukannya dengan tidak ramah, dan beberapa orang bhikkhu iri hati kepadanya. Ia menerima perlakuan yang tidak menyenangkan itu dan mengganggapnya sebagai ujian baginya.

Suatu hari, Rahula pergi mendengarkan ceramah yang diberikan oleh Buddha. Ketika ia kembali, ia mendapati bahwa kamarnya telah dipakai oleh bhikkhu lain. Peraturan di dalam Sangha menyatakan bahwa samanera muda harus menghormati bhikkhu yang lebih tua dan mengalah padanya. Rahula lalu beristirahat di bawah pohon namun tidak lama kemudian, turunlah hujan yang sangat lebat.

Rahula tidak punya pilihan lain kecuali lari ke kakus untuk berteduh dalam keadaan basah sambil menahan kedinginan yang sangat menusuk tulang. Sang Buddha yang memiliki kekuatan gaib. mengetahu tentang tekad dan keadaan Rahula pada waktu itu, sehingga Buddha pergi menemui Rahula pada waktu itu di tengah hujan lebat. Rahula yang tidak punya siapa pun untuk bercerita, saat melihat Buddha datang ke arahnya, ia segera memeluk buddha dan menangis dengan sedihnya. Sang Buddha menenangkan Rahula dan berkata, "Rahula, kamu mau mendahulukan orang lain. Latihan Dhamma kamu sudah lebih maju".

Pada suatu ketika, ketika Sariputta dan Rahula sedang berpindapata di Rajagaha, Mereka bertemu seorang pembuat onar yang dengan sengaja menuangkan pasir ke mangkuk Sariputta dan memukul kepala Rahula dengan sebuah tongkat.

Darah mengucur deras dari kepala Rahula yang terluka. Sariputta segera mengingatkan Rahula, "Rahula, engkau adalah siswa Sang Buddha. Perlakuan apapun yang kamu terima, tidak boleh menyebabkan kemarahan masuk ke dalam hatimu. Kamu harus selalu berbelas kasihan kepada semua makhluk. Orang yang paling berani, orang yang mencari penerangan membuka kesombongannya dan memiliki keteguhan hati untuk mengatasi kemarahan".

Setelah mendengarkan Sariputta, Rahula menjadi tenang dan kemudian ia tersenyum. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia pergi sendiri ke tepi sungai dan mencuci darah di kepala dan wajahnya. Kemudian ia menggunakan sapu tangannya untuk membalut luka dan melanjutkan mengumpulkan dana dari umat, seolah-olah ia tidak terluka sama sekali.

Rahula tidak pernah membenci nasehat yang diberikan kepadanya. Setiap bangun pagi ia mengambil segenggam pasir dan bertekad. "Semoga hari ini saya mendapat nasehat sebanyak pasir ini".

Semangatnya dapat terlihat dari kenyataan bahwa ia melaksanakan latihan-latihan yang sangat sulit dan keras, yaitu dengan tidak terbaring melainkan duduk dalam posisi meditasi untuk tidur selama masa 12 tahun.

Pada usia 20 tahun, Rahula ditabhiskan menjadi bhikkhu dengan pembimbing (upajjhaya) Saripputta dan guru penasbisannya adalah Moggallana. Selama kurang lebih satu masa latihan musim hujan Rahula melatih diri dengan sungguh-sungguh. Ketika itu Sang Buddha yang mengetahui bahwa pikiran Rahula sudah matang, membawanya ke hutan Ananda, dan mengajarkan ajaran yang dikenal sebagai Nasihat kecil untuk Rahula (Cula Rahulavada Sutta, Majjhima Nikaya).

Rahula merasakan kegembiraan setelah mendengar sabda Sang Buddha dan hatinya terbebaskan dari kekotoranbatin (asava) kemudian beliau mencapai tingkat kesucian tertinggi yaitu arahat.

Sang Buddha menyampaikan bahwa Di antara para siswaNya, Rahula yang terunggul dalam berlatih dengan tenang.

Ini berarti Rahula mempraktikkan Dhamma sendiri, tanpa membiarkan orang tahu tentang itu. Dialah siswa yang paling randah hati dan paling sabar.

Pada suatu kali 8 tahun setelah mencapai tingkat Arahat, terdapat para bhikkhu yang datang memakai tempat tidur Rahula. Oleh karena tidak menemukan tempat lain untuk istirahat maka Rahula tidur diruang terbuka di depan tempat Sang Buddha.

Setelah mencapai Pencerahan, Rahula tetap mengikuti Buddha dan Sariputta, berkelana dari satu tempat ke tempat lain untuk mengajarkan Dhamma. Ia tidak suka memuji diri sendiri atau memamerkan diri. Ia serius dan bertanggung jawab dalam melakukan tugasnya. Seperti ayahnya, Sang Buddha, Rahula juga dikenang dan sangat dihormati oleh generasi berikutnya.

Rahula disukai oleh banyak orang bukan karena ia adalah putera Buddha, tetapi karena cinta kasih, belas kasih, latihan kesabaran, dan ketenangannya. Semua ini mengundang pujian tulus dari yang dalam dari hati setiap orang. Kitab komentar menyatakan Rahula Parinibbana/wafat SEBELUM Sariputta, Maha Moggallana dan Sang Buddha wafat (DA.ii.549; SA.iii.172), di usia sekitar 50 tahun. Dibangun sebuah stupa untuk menyimpan peninggalan beliau.

6 Pangeran menjadi Bhikkhu
Setelah membantu ayah-Nya, Raja Suddhodana, untuk mencapai tiga tingkat Buah (Sotàpatti-Phala, Sakadàgàmã-Phala, dan Anàgàmã-Phala), Sang Buddha meninggalkan Kapilavatthu diiringi oleh 20.000 ribu Arahanta dan melakukan perjalanan menuju Ràjagaha; setibanya di hutan mangga Anupiya di kerajaan Mala, Buddha menghentikan perjalanan untuk beristirahat.

Ketika itu, 6 bangsawan muda suku Sakya yang rata-rata berusia di atas 35 tahun, yaitu: Bhaddiya sang kepala suku, Anuruddha, Ānanda, Bhagu, Kimbila dan Devadatta memutuskan untuk menjadi siswa Sang Buddha. Mereka pergi meningalkan kapilavastu bersama Upāli si pemangkas rambut sebagai yang ke-7 dengan diiringi 4 barisan bala tentara. Setelah melewati wilayah lain, mereka memulangkan bala tentara itu, Kemudian mereka melepaskan perhiasan, mengikatnya dalam satu buntelan dengan jubah luar, berkata kepada Upāli: “Pergilah, Upāli, pulanglah, ini akan mencukupi untuk kehidupanmu”. Ketika Upāli dalam perjalanan pulang, Ia berpikir, “Orang-orang Sakya kejam, bisa jadi berpikir: ‘Orang ini telah membuat pemuda-pemuda itu meninggalkan keduniawian,’ mereka bahkan mungkin akan membunuhku. Tetapi jika para pemuda Sakya ini akan meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah, mengapa aku tidak?”

Berpikir itu, Ia kemudian menurunkan buntelan tersebut dan menggantungnya di sebatang pohon, dengan berkata: “Siapa pun yang melihatnya, maka ini diberikan padanya dan boleh diambil”. Ia mendatangi para pemuda Sakya itu dan mereka berkata, “Upali, mengapa, engkau kembali?”. Ia menjawab dengan menceritakan pikirannya itu dan apa yang dilakukannya. Mereka dengan membawa Upāli mereka mendatangi Sang Bhagavā memohon penahbisan dan agar Upali yang terlebih dahulu dapat ditahbiskan sehingga mereka dapat mengurangi kesombongan dengan menjadikan Upali sebagai senior mereka. Dalam 1 tahun setelah penahsbisan, Bhaddiya mencapai 3 pengetahuan (Arahat); Anuruddha mencapai mata dewa yang dapat melihat timbul dan lenyapnya makhluk-makhluk; Ananda mencapai buah pemasuk arus (Sotapanna) dan Devadatta mencapai kekuatan batin biasa

Setelah menetap di Anupiyā selama yang Beliau kehendaki, Sang Bhagavā kemudian melanjutkan perjalanan menuju Kosambī dan menetap di vihara Ghosita. [Vinaya, Cullavagga, Sanghabheda]
    Note:
    Untuk perjalanan lanjutan sang Buddha setelah dari hutan Anupiya. Vinaya: Sang Buddha kemudian menuju Kosambi dan menetap di vihara Ghosita, sementara kitab komentar yang dikemas di RAPB: “Sang Buddha dengan diiringi 20.000 bhikkhu arahat, meninggalkan hutan mangga Anupiya dekat Desa Anupiya di kerajaan Malla dan pergi menuju Vihàra Veluvana, Ràjagaha dan menjalani masa vassa ke-2 bersama 20.000 Bhikkhu [RAPB, buku ke-1, cetakan I, May 2008, hal.949]

    Karena versi vinaya lebih terpercaya, oleh karenanya, kejadian penahbisan 6 Pangeran dan Upali, tidak terjadi di tahun ke-1 namun sekurangnya terjadi di tahun ke-8 ke-Buddha-an
Upali mengabdikan dirinya dalam peraturan dan latihan dan memegang teguh semua sila - mulai dari yang paling dasar yaitu tidak membunuh, mencuri, melakukan tindakan asusila, berdusta, minum minuman keras yang memabukkan – sedemikian baiknya sehingga orang-orang datang kepadanya untuk meminta nasihatnya dan bertindak sebagai penuntun bagi bagi bhikkhu-bhikkhu lainnya. Apabila menemui keragu-raguan sesedikit apapun, beliau segera menanyakannya kepada Sang Buddha. Pada suatu kali beliau bertemu dengan seorang bhikkhu tua yang sakit yang baru kembali dari perjalanan. Mendengar bahwa sakit tersebut dapat diobati dengan meminum anggur, YM Upali menemui Sang Buddha dan bertanya apa yang harus dilakukannya. Sang Buddha berkata bahwa orang yang sakit dikecualikan dari aturan yang melarang minum minuman yang diragi. YM Upali segera memberikan anggur kepada bhikku itu, yang dengan demikian menjadi sembuh dari sakitnya.

Oleh karenanya, Upali menjadi yang terkemuka di antara mereka yang mempelajari Vinaya (aturan kebhikkhuan). Beliau dihormati atas caranya menyelesaikan perselisihan yang seringkali mengganggu Sangha. Sesudah Sang Buddha mencapai Parinibbana, beliau memberikan sumbangan yang sangat besar dalam melestarikan Ajaran Sang Buddha dengan mengulang Vinaya (peraturan kebhikkhuan) dalam Sidang Agung yang diselenggarakan di bawah pimpinan YA Maha Kassapa.

Tempat Sang Buddha Selama Musim Hujan
Para petapa di India tidak berkelana sepanjang tahun namun hanya 8-9 bulan saja. Selebihnya, mereka akan menetap di suatu tempat selama 3 atau 4 bulan, yaitu selama musim hujan (Vassa). Demikian pula dengan Sang Buddha dan para Muridnya. Vassāna/Musim Hujan dibagi dua, yaitu:
  • Musim Hujan/Vassāna (Juli-Sept): Bulan Savana/Nikkhamanīya (Juli-Aug) dan Bulan Pottapada (Aug-Sept).
  • Musim Gugur/Sarada (Sept-Nov): Bulan Assayujja/Pubba kattika (Sept-Oct) dan Bulan Kattika/Paccima Kattika (Oct-Nov)
Ketika MUSIM VASSA BERAKHIR, para bhikkhu melakukan Pavarana (undangan di antara para bhikkhu) untuk mengakhiri vassa. sedangkan para umat awam di AKHIR MUSIM VASSA, merayakannya dengan memberikan persembahan untuk keperluan para Bhikkhu.

Selama 45 tahun mengajar, sang Buddha menetap bervassa di berbagai tempat, list tempat dan tahunnya massa vassa berikut ini adalah menurut kitab komentar Buddhavamsa, Madhuratthavilāsinī, Buddhadatta (abad ke-5 M) dan kitab Komentar Duka Nipata, Buddhaghosa (Abad ke-5 M), DPPN dan "The Buddha", Piyadassi Thera, hal.126-130:
  1. Setelah mencapai KeBuddhaan, bervassa di Isipatana, Migadàya dekat vàrànasi/Kasi, Kerajaan Kosala

  2. Masa Vassa ke-2, ke-3, ke-4, di Vihàra Veluvana, Ràjagaha, Kerajaan Magadha. Di tempat ini terjadi pertemuan pertama antara Anathapindika/Sudatta dan Sang Buddha, yaitu: di tahun ke-1 (versi: DPPN, G.P. Malalasekera) atau tahun ke-3 (Versi: "The Buddha", Piyadassi Thera, hal.126) dan mencapai Sotapanna (SN 10.8 dan Vinaya II)
  1. Vihàra Aula Kutagara, Hutan Mahàvana, dekat Vesàli, Area para Licchavi, Vajji

  2. di:

    • Vihàra di Hutan Khyaya, lereng bukit Mamkula, Kosambi, kerajaan Vamsa, 30 Yojana dari Vanarasi; atau
    • Hutan Mahavana, Kūtāgārasālā, Vesali

  3. Di Savatthi, Kerajaan Kosala

      Note:
      Kitab komentar menyatakan: Sang Buddha, di tahun ke-7, pergi ke Tavamtisa mengajarkan Abhidhamma kepada IbuNya [Kitab komentar untuk: Jataka no.483 dan Dhammapada no. 181].
      Kejadian ke Tavamtisa diawali peristiwa pertunjukan kesaktian dihadapan umat awam yang dilakukan YM Pindola Bhâradvadja pada hari ke-7, setelah 6 hari lamanya, 6 guru terkemuka [Purana Kassapa, Makkhali Gosala, Ajita Kesakambali, Pakudha Kaccayana, Sanjaya Belatthiputta, Nigantha-Nataputta] gagal memberi bukti kepada seorang pedagang kaya Rajagaha yang tidak percaya arahat sejati ada karena dibingungkan begitu banyaknya yang mengaku sebagai Arahat, untuk itu, Ia membuat mangkuk dari cendana dan menggantungkannya di atas rangkaian bambu setinggi 60 lengan dan mengumumkan, "Arahanta sejati boleh mengambil mangkuk ini dengan cara terbang ke angkasa".

      Kejadian YM Pindola menghebohkan penduduk Rajagaha sehingga mereka mengekoriNya. Kegaduhan ini diketahui sang Buddha. YM Ananda menerangkan sebab terjadinya kegaduhan dan Sang Buddha menetapkan larangan, "Para bhikkhu…seorang bhikkhu tidak memperlihatkan kesaktiannya di hadapan umat awam; dan ini adalah pelanggaran, 'Dukkata âpatti'/Pelanggaran minor".

      Pertunjukan kesaktian dari YM Pindola Bharadvaja, tercantum dalam vinaya: [Theravada Pali V.5.8; Dharmaguptaka ch 51 1916: 235-238 (96-99); Mahīśāsaka ch 26 1916: 238-243 (99-103); Sarvâstivāda ch 37 1916: 243-246 (103-105); Mūla,sarvâstivāda Divy 256.25-257.21], Kitab komentar: [AA 1:196-199; SA 393; DhA 14.2.2/3:199-201; ThaA 2:4-6; UA 252; J 4:263; SnA 570; ApA 197. S] dan hanya kitab komentar yang mencantumkan tahun kejadiannya, yaitu di tahun ke-6 masa Vassa .

      Larangan tersebut menggembirakan para pengikut 6 Guru lainnya. Raja Bimbisara bertanya pada sang Buddha tentang pelarangan itu dan sang Buddha menyampaikan bahwa 4 bulan kemudian di Savatthi, beliau akan mempertunjukan keajaiban. [RAPB buku ke-1, hal 1187]. Jarak Rajagaha – Savatthi = 45 Yojana (504 km s.d 648 km).

      Kemudian di Savatthi,
      Beberapa dari sangha Bhikkhu dan bikkhuni, diantaranya Samaneri Cirra yang berumur 7 tahun dan Bhikkhuni Uppavalavanna memohon ijin untuk menggantikan beliau menunjukan kesaktian, namun tidak diperkenankan. Sang Buddha kemudian mempertunjukan kesaktiannya dan setelah itu ke alam Tavatimsa. Salah satu dari 6 guru, yaitu Purana Kassapa, bunuh diri terjun ke sungai karena malu akan kegagalannya di Rajagaha.

      Apa yang dapat kita gali dari informasi di atas?
      Di atas disampaikan bahwa YM Ananda memberitahukan kehebohan yang terjadi di Rajagaha kepada Sang Buddha. Sutta menginformasikan bahwa YM Ananda menjadi Buddhopaṭṭhāka (pembantu tetap Sang Buddha) justru mulai di tahun ke-20: "Paṇṇavīsati-vassāni (Selama 25 tahun); bhagavantaṃ upaṭṭhahiṃ (menjadi pendamping Sang Bhagava); Mettena kāya.. vacī.. manokammena (dengan cinta kasih melalui perbuatan, perkataan dan pikiran), chāyāva anapāyinī (bagai bayangan yang tak lepas)" [Thag 17.3/Ananda]. Jadi seharusnya terjadi di atas tahun ke-20.

      Di atas ada Samaneri dan Bhikkhuni. Ini seharusnya terjadi di atas tahun ke-20.

      Sutta Di DN2/Sāmaññaphala Sutta:
      Raja Ajjatasattu pernah berkonsultasi dan kemudian disarankan juga untuk berkonsultasi lagi dengan 6 guru terkemuka, yang salah satunya adalah Purana Kassapa.

      Raja Bimbisara wafat ketika Sang Buddha berusia 72 tahun (Sang Buddha wafat di tahun ke-8 masa pemerintahan Ajjatasattu). Dalam waktu 4 bulan, setelah pertunjukan Pindola Bhavadraja, Raja Magadha telah berganti dari Bimbisara menjadi Ajjatasattu. Ketika Purana Kassapa bunuh diri ini terjadi beberapa bulan setelah Ajjatasattu menjadi Raja

      Oleh karenanya, perjalanan ke Tavatimsa, yang konon untuk urusan mengajar Abhidhamma, seharusnya terjadi di tahun ke-37

      Sementara itu,
      hasil konsili ke-1 dan ke-2, sama sekali tidak memuat adanya Abhidhamma sebagai ajaran yang khusus terpisah (atau kelak sebagai 7 kitab yang menjadi 1/3 tipitaka). Sejarah mencatat bahwa 7 kitab Abhidhamma baru ada di tahun ke-3 SM, setelah konsili ke-3 [Untuk lebih jelasnya, lihat: Terbentuknya Tipitaka dan Perpecahan Buddhisme Menjadi Banyak Aliran]

      Klaim bahwa Abhiddhama diturunkan via YM Sariputta
      YM Sariputta disebut sang Buddha sebagai “Yang terunggul dalam intuisi kebijaksanaan”, di beberapa sutta, kita temukan beberapa diskusi logika analisis, misal di Mahaghosinga sutta [YM Moggalana dan YM Sariputta] juga Mahavedalla sutta [YM Kotthita dan YM Sariputta] mereka berdiskusi lebih dalam lagi tentang Dhamma. Pembicaraan Dhamma yang dalam lagi ini adalah bagian dari Dhamma itu sendiri.

        YM Sariputta:
        2 minggu setelah ditahbiskan, Aku memahami analisa: [atthapaṭisambhidā/pengertian secara luas dan mendalam; dhammapaṭisambhidā/hubungan kondisi dan sebab; niruttipaṭisambhidā/Tata bahasa asal usul interpretasi pengucapan dialek dan ekspresi; paṭibhānapaṭisambhidā/Penerangan, intelektual dan kefasihan penyampaian] dan dengan rincian ciri dan kekhasannya (sacchikatā odhiso byañjanaso) Itu saya nyatakan, terangkan, perlihatkan dan tunjukan dalam dalam berbagai cara (AN 4.173/Vibhatti sutta).

      Pengakuan YM Sariputta ini adalah tentang apa yang dicapainya, tidak pernah disebutkan di manapun dalam sutta dan vinaya bahwa beliau mendapatkan suatu ajaran khusus yang disebut dengan nama Abhiddhama. Hanya kitab-kitab komentar buatan abad-abad belakanganlah yang memuat perluasan imaginasi bahwa Abhidhamma diturunkan via Sariputta yang dikaitkan dengan perjalanan fiksi sang Buddha ke Tavatimsa untuk mengajar Abhiddhama kepada IbuNya. Klaim kitab-kitab komentar ini, seharusnya mengundang beberapa pertanyaan lanjutan, misalnya:

      • Mengapa IbuNya tidak ke alam manussa saja untuk mendapatkan pengajaran, karena toh, sutta dan vinaya juga menyampaikan bahwa para devapun kerap berkunjung ke alam manussa untuk mendengarkan dhamma Sang Buddha dan para Arahat lainnya?
      • Mengapa selama 3 bulan (90 hari) musim vassa alam manussa yang setara dengan 3.6 detik di Tavatimsa itu, Sang Buddha perlu turun (atau membuat proyeksi image-Nya) ke alam manussa untuk berpindapata setiap harinya? Mengapa sang Buddha tidak kuat untuk tidak makan untuk sekedar hanya 3.6 detik saja? Atau mengapa para deva menjadi begitu pelitnya tidak menyuguhkan sesuatu jika memang waktunya pindapata? atau tidakkah 90x kepergiannya dalam 3.6 detik itu menjadikan diriNya tampak tidak serius mengajar? Atau tidakkah proyeksi image itu (dalam komentar lainnya) membuat sang Buddha menjadi pelanggar sila ke-4 karena membohongi pemberi dana?

      Jadi jelas sang Buddha tidak pernah mengajarkan secara khusus tentang Abhidhamma apalagi di Tavatimsa

      Untuk itu tanpa keraguan dapat kita katakan bahwa pendapat yang menyatakan: Abhidhamma (7 kitab konsili ke-3) adalah ajaran Sang Buddha atau berasal dari sang Buddha ataupun Sang Buddha mengajarkan abhidhamma di Tavatimsa dan bahkan bahwa tahun ini sebagai tahun kepergian sang Buddha ke Tavatimsa, SEHARUSNYA DI ABAIKAN/DI TOLAK

  4. Hutan kacang merpati, tempat perlindungan hewan [area kekuasaan Yakkha Bhesakala], Bukit Sumsumara/Bukit Buaya, Kerajaan Bhagga [antara Vesali - Savatthi/Kosala]

      Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di tengah-tengah penduduk Bhagga, di Suṃsumāragira, di Taman Rusa di Hutan Bhesakalā. Kemudian, pada pagi harinya, Sang Bhagavā merapikan jubah, membawa mangkuk dan jubahNya, dan pergi ke kediaman perumah-tangga Nakulapitā, di mana Beliau duduk di tempat yang telah dipersiapkan. Kemudian perumah-tangga Nakulapitā dan istrinya, Nakulamātā mendekati Sang Bhagavā, bersujud kepada Beliau, dan duduk di satu sisi. Nakulapitā dan Nakulamātā, secara berurutan, berkata kepada Sang Bhagavā:

      “Bhante, sejak aku masih muda, sejak dalam pernikahan, aku tidak ingat pernah memperlakukannya dengan buruk bahkan dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan. Kami berharap, Bhante, agar dapat saling bertemu satu sama lain bukan hanya dalam kehidupan ini tetapi juga dalam kehidupan mendatang.”

      Sang Buddha:
      “Perumah-tangga, jika baik istri maupun suami ingin dapat saling bertemu satu sama lain bukan hanya dalam kehidupan ini tetapi juga dalam kehidupan mendatang, maka mereka harus memiliki keyakinan yang sama, perilaku bermoral yang sama, kedermawanan yang sama, dan kebijaksanaan yang sama. Maka mereka akan dapat senantiasa saling bertemu satu sama lain bukan hanya dalam kehidupan ini tetapi juga dalam kehidupan mendatang.”

      Baik suami maupun istri memiliki keyakinan,
      murah hati dan terkendali oleh diri sendiri,
      menjalani kehidupan mereka dengan kebaikan,
      saling menyapa satu sama lain dengan kata-kata menyenangkan,

      Banyak keuntungan mendatangi mereka,
      dan mereka berdiam dengan nyaman.
      Musuh-musuh mereka akan kecewa
      ketika keduanya setara dalam moralitas.

      Setelah mempraktikkan Dhamma di sini,
      dalam perilaku bermoral dan pelaksanaan yang sama,
      bergembira [setelah kematian] di alam deva,
      mereka bersukacita, menikmati kenikmatan-kenikmatan indria
      [AN 4.55/Samajivi]

      Tampaknya kemudian, suami-istri ini selama 16 tahun setelahnya, melatih hidup selibat perumah tangga (sila ke-3, abrahmacariya), hal ini disampaikan di AN 6.16/Nakula Sutta, yaitu ketika sang Suami sedang sakit keras, sang Istri memintanya untuk tidak berkhawatir karena ia akan tetap dapat membiayai kehidupan keluarga mereka, tidak akan menikah, rajin berkunjug pada Sang Buddha dan siswanya, tetap menjaga moralitas, memiliki ketenangan internal dan Ia telah: mencapai pijakan kaki, pijakan yang kokoh, dan jaminan dalam Dhamma dan disiplin telah melampaui keragu-raguan, melenyapkan kebingungan, percaya diri dan tidak bergantung yang lain dalam ajaran.

  5. Vihàra Ghositàràma, Kosambi

  6. Hutan Pārileyyaka/Pàlileyyaka (palale), dekat Kosambi. Tampaknya ini tidak akurat jika terjadi di tahun ke-10, karena sutta menyatakan saat itu telah ada para Bhikkhuni, sedangkan penahbisan Bhikkhuni baru muncul setelah tahun ke-20

      Demikianlah yang saya dengar. Pada suatu ketika Sang Bhagava sedang berada dekat Kosambi, di vihara Ghosita. Pada saat itu Sang Bhagava hidup dikelilingi oleh para bhikkhu dan bhikkuni, pengikut awam pria maupun wanita, raja-raja dan menteri-menteri kerajaan, guru-guru ajaran lain dan murid-murid mereka, dan beliau tinggal dalam keadaan yang tidak nyaman dan tidak tenang. Kemudian Sang Bhagava berpikir: “Pada saat ini saya tinggal terjepit diantara para bhikkhu dan bhikkuni …. oleh para guru ajaran lain dan murid-murid mereka dan saya tinggal dalam keadaan yang tidak nyaman dan tidak tenang. Seandainya saya tinggal sendirian, terpisah dari kelompok orang-orang ini?

      ...dan tanpa memberitahu para umat atau mengucapkan selamat tinggal kepada bhikkhu sangha, Sang Bhagava berangkat sendirian, tanpa teman, menuju Parileyyaka. Berjalan terus tanpa berhenti, beliau tiba di Parileyyaka dan tinggal dekat Parileyyaka di suatu hutan yang terlindung di kaki pohon sala yang menyenangkan... gajah jantan itu ..mendekati Sang Bhagava di kaki pohon sala yang nyaman... menjaga tempat itu agar bebas dari lumpur dan membawakan air dengan belalainya untuk digunakan Sang Bhagava.[Udana 4.5]

  7. Dekat Maghada: di Vihàra Nàlikàràma, perkampungan Brahmana Nàla, Nalaka, Magadha (versi Buddhaghosa). Di DPPN dan Piyadassi Thera: di Ekanala, Dakkhinagiri, Magadha bertemu Brahmana Kasi Bharadvaja SN 7.11 dan SNP 1.4

  8. Dekat pohon tragacanth [area kekuasaan Yakkha Naleru], kediaman Brahmana, di Veranjà

      Di kota Veranja (sebelah Baratnya Kapilavastu dan Koliya), ketika itu tengah dilanda masa paceklik dan kelaparan (dubbhikkhe), kepada Sang Buddha, Sariputta bertanya: "Pada Masa Buddha siapakah kehidupan suci bertahan lama dan masa Buddha siapakah tidak bertahan lama?”. Sang Buddha:

      • Pada masa Buddha Vipassī, Sikhī and Vessabhū tidak membabarkan khotbah Dhamma secara terperinci, peraturan latihan bagi para siswa (vinaya) tidak dipermaklumkan dan kumpulan peraturan tidak dirumuskan (Pàtimokkha, inti peraturan). Setelah Para Buddha, generasi para siswanya parinibbana, ajaran itu lenyap dengan cepat.
      • Pada masa Buddha Kakusandha, Konāgamana and Kassapa membabarkan khotbah Mereka secara terperinci, menetapkan Vinaya dan Pàtimokkha. Setelah Mereka dan para siswa langsung Parinibbana, generasi-generasi berikutnya menjaga ajaran itu hingga bertahan.

      Mendengar itu, YM Sariputta memohon pada sang Buddha agar menetapkan vinaya dan patimokkha. Sang Buddha: ITU BELUMLAH SAATNYA karena dari puluhan ribu anggota sangha saat itu, hanya 500nya saja yang sotāpanna dan kelak ketika jumlah anggota sangha semakin membesar akan terjadi kecenderungan berpikir, berucap dan berbuat yang menjauh dari jalan kesucian, di saat itulah vinaya dan patimokkha baru dapat ditetapkan [Suttavibhanga Vin.I.3, 2-4]

  9. Buddhadatta: Bukit Càliya/calika, Desa Jantu/Pacinavamsamigadaya, Càlika, kerajaan Cetiya. Buddhaghosa: Bukit Maliya. Meghiya menjadi pelayan tetap Sang Buddha dalam Meghiya Sutta: Udana 4.1 dan AN 9.3

  10. Vihàra Jetavana, Sàvatthi, Kerajaan Kosala [Thag. vs. 295f]. Tahun ini Rahula genap berusia 20 tahun dan ia ditahbiskan menjadi Bhikkhu

  11. Vihàra Nigrodha, Kapilavatthu. Mungkin di tahun ini Raja Suddhodana wafat. Namun, Piyadassi Thera dalam buku “The Buddha”, hal 126, mengatakan tahun ini adalah wafatnya Suppabuddha, ayah Yasodhara dan Devadatta. Tampaknya kisah Suppabuddha wafat tidak terjadi di tahun ini, karena Ananda dalam kitab komentar Dhammapada bertindak sebagai pendamping/pelayan Sang Buddha dan jika sebagai pelayan tetapnya, maka ini terjadi setelah tahun ke-20.

  12. Buddhadatta: Alavaka; BuddhaGhosa: Kuil Aggàlava (kuil para arwah), kerajaan âlavi. Mungkin di tahun ini Sang Buddha bertemu Yakkha Alavaka yang memintanya untuk masuk dan keluar sebanyak 3x dan yang terakhir sang Buddha tidak pergi. Sang Yakkha kemudian meminta Sang Buddha menjawab pertanyaannya, jika tidak dapat menjawab, maka Yakkha tersebut mengancam akan membuatnya gila atau memecahkan jantungnya atau mencengkram kakinya atau melemparkannya ke sungai Gangga. [Ancaman ini juga dilakukan Yakkha suciloma di SN 10.3], Sang Buddha sampaikan bahwa tidak ada 1 pun mahluk di semesta ini yang mampu melakukan itu pada seorang Buddha dan beliau menjawab pertanyaan sang Yakkha. Setelah tanya jawab selesai, Yakkha Alavaka berlindung pada Buddha, Dhamma dan sangha [Alavaka Sutta: SN 10.12 dan SNP 1.10]

  13. Vihàra Veluvana, Ràjagaha, Magadha: Mungkin di tahun ini Sirima wafat:

      [Sirima, adik dari Tabib Jivaka, Sirima berprofesi sebagai pelacur, Ia dan 500 pengiringnya mencapai Sotapanna dalam kisah di kitab komentar Dhammapada syair no.223]

      Saat itu di Rajagaha tinggal seorang pelacur yang sangat cantik bernama Sirima. Setiap hari Sirima berdana makanan kepada delapan bhikkhu. Suatu ketika, salah seorang dari bhikkhu-bhikkhu itu mengatakan kepada bhikkhu-bhikkhu lain betapa cantiknya Sirima dan setiap hari ia mempersembahkan dana makanan kepada para bhikkhu

      Mendengar hal ini, seorang bhikkhu muda langsung jatuh cinta pada Sirima meskipun belum pernah melihat Sirima. Hari berikutnya bhikkhu muda itu bersama dengan para bhikkhu yang lain pergi ke rumah Sirima untuk menerima dana makanan, pada hari itu Sirima sedang sakit. Tetapi karena Sirima ingin berdana makanan maka ia menerima kehadiran para bhikkhu. Begitu bhikkhu muda tersebut melihat Sirima lalu bhikkhu muda berpikir, "Meskipun ia sedang sakit, ia sangat cantik!". Bhikkhu muda tersebut memiliki hawa nafsu yang kuat terhadapnya

      Larut malam itu, Sirima meninggal dunia. Raja Bimbisara pergi menghadap Sang Buddha dan memberitahukan bahwa Sirima, saudara perempuan Jivaka, telah meninggal dunia. Sang Buddha menyuruh Raja Bimbisara membawa jenazah Sirima ke kuburan dan menyimpannya di sana selama 3 hari tanpa dikubur, tetapi hendaknya dilindungi dari burung gagak dan burung hering

      Raja melakukan perintah Sang Buddha. Pada hari ke empat jenazah Sirima yang cantik sudah tidak lagi cantik dan menarik. Jenazah itu mulai membengkak dan mengeluarkan cairan dari enam lubang

      Hari itu Sang Buddha bersama para bhikkhu pergi ke kuburan untuk melihat jenazah Sirima. Raja Bimbisara dan pengawal kerajaan juga pergi ke kuburan untuk melihat jenazah Sirima. Bhikkhu muda yang telah tergila-gila kepada Sirima tidak mengetahui bahwa Sirima telah meninggal dunia

      Ketika ia mengetahui perihal itu dari Sang Buddha dan para bhikkhu yang pergi melihat jenazah Sirima, maka iapun turut serta bersama mereka. Setelah mereka tiba di makam, Sang Buddha, para bhikkhu, raja, dan pengawalnya mengelilingi jenazah Sirima

      Kemudian Sang Buddha meminta kepada Raja Bimbisara untuk mengumumkan kepada penduduk yang hadir, siapa yang menginginkan tubuh Sirima satu malam boleh membayar 1.000 tail, akan tetapi tak seorang pun yang bersedia mengambilnya dengan membayar seharga 1.000 tail, atau 500, atau 250, ataupun cuma-cuma. Kemudian Sang Buddha berkata,

      "Para bhikkhu, lihat Sirima! Ketika ia masih hidup, banyak sekali orang yang ingin membayar seribu tail untuk menghabiskan satu malam bersamanya, tetapi sekarang tak seorangpun yang ingin mengambil tubuhnya walaupun dengan cuma-cuma. Tubuh manusia sesungguhnya subyek dari kelapukan dan kehancuran"

      Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 147:

      Pandanglah tubuh yang indah ini, penuh luka, terdiri dari rangkaian tulang, berpenyakit serta memerlukan banyak perawatan. Ia tidak kekal serta tidak tetap keadaannya

      Bhikkhu muda itu mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma berakhir. [Kitab Dhammapada syair ke-147]

  14. Di Jetavana atau di bukit Caliya: Mungkin di tahun ini, ketika di Alavi, seorang gadis penenun mendengarkan dhamma dan 3 tahun kemudian, Sang Buddha ke Alavi untuk menemui gadis itu, ia mencapai sotapanna dan wafat:

      Pada akhir upacara pemberian dana makanan di Alavi, Sang Buddha memberikan khotbah tentang ketidak-kekalan dari kumpulan-kumpulan kehidupan (khandha). Pada hari itu Sang Buddha menekankan hal utama yang dapat dijelaskan seperti di bawah ini:

      "Hidup-Ku adalah tidak pasti; bagi-Ku, hanya kematianlah satu-satunya yang pasti. Aku pasti mati; hidup-Ku berakhir dengan kematian. Hidup tidaklah pasti; kematian adalah pasti"

      Sang Buddha juga menasehati orang-orang yang mendengarkan Beliau agar selalu sadar dan berusaha untuk memahami kesunyataan tentang kelompok kehidupan (Khandha). Beliau juga berkata,

      "Seperti seseorang yang bersenjatakan tongkat atau tombak telah bersiap untuk bertemu dengan musuh (misal seekor ular berbisa), demikian pula halnya seseorang yang selalu sadar terhadap kematian akan menghadapi kematian dengan penuh kesadaran.Kemudian ia akan meninggalkan dunia ini untuk mencapai tujuan kebahagiaan (sugati)"

      Banyak orang yang tidak memperhatikan penjelasan di atas dengan serius, tetapi seorang gadis penenun muda berusia enam belas tahun mengerti makna penjelasan tersebut. Setelah memberikan khotbah, Sang Buddha kembali ke Vihara Jetavana

      Selang tiga tahun kemudian, ketika Sang Buddha melihat dunia kehidupan, Beliau melihat penenun muda, dan mengetahui bahwa sudah saatnya bagi gadis itu untuk mencapai tingkat kesucian sotapatti. Sehingga Sang Buddha datang ke negara Alavi untuk menjelaskan Dhamma untuk kedua kalinya

      Ketika sang gadis mendengar bahwa Sang Buddha telah tiba beserta lima ratus bhikkhu, dia ingin pergi dan mendengarkan khotbah yang akan diberikan oleh Sang Buddha

      Tetapi, ayahnya juga meminta kepadanya untuk menggulung beberapa gulungan benang yang dibutuhkan dengan segera, sehingga dia dengan cepat menggulung beberapa gulungan dan membawanya kepada ayahnya

      Dalam perjalanan menuju ke tempat ayahnya berada, dia berhenti untuk sementara di samping orang-orang yang telah tiba untuk mendengarkan khotbah Sang Buddha

      Ketika itu Sang Buddha mengetahui bahwa gadis penenun muda akan datang untuk mendengarkan khotbah-Nya; Beliau juga mengetahui bahwa sang gadis akan meninggal pada saat dia pergi ke tempat penenunan.

      Oleh karena itu, sangatlah penting baginya untuk mendengarkan Dhamma dalam perjalanan menuju ke tempat penenunan dan bukan pada saat dia kembali. Jadi, ketika gadis penenun muda itu muncul dalam kumpulan orang-orang, Sang Buddha melihatnya.

      Ketika dia melihat Sang Buddha menatapnya, dia menjatuhkan keranjangnya dan dengan penuh hormat mendekati Sang Buddha. Kemudian, Sang Buddha memberikan empat pertanyaan kepadanya dan dia menjawab semua pertanyaan tersebut. Pertanyaan dan jawaban diberikan seperti di bawah ini:

      Pertanyaan 1, Dari mana asalmu?
      Jawaban 1, Saya tidak tahu
      Pertanyaan 2, Ke mana kamu akan pergi?
      Jawaban 2, Saya tidak tahu
      Pertanyaan 3, Tidakkah kau tahu?
      Jawaban 3, Ya, saya tahu
      Pertanyaan 4, Tahukah kamu?
      Jawaban 4, Saya tidak tahu, Bhante

      Mendengar jawaban itu, orang-orang berpikir bahwa gadis penenun muda sangat tidak hormat. Kemudian, Sang Buddha meminta untuk menjelaskan apa maksud jawabannya, dan diapun menjelaskan.

      "Bhante! Engkau tahu bahwa saya datang dari rumah saya; saya mengartikan pertanyaan pertama anda, anda bermaksud untuk menanyakan dari kehidupan yang lampau manakah saya datang. Karena itu jawaban saya, "Saya tidak tahu"

      Maksud pertanyaan kedua, pada kehidupan yang akan datang manakah akan saya tempuh setelah ini; oleh karena itu jawaban saya, "Saya tidak tahu"

      Maksud pertanyaan ketiga, apakah saya tidak tahu bahwa suatu hari saya akan meninggal dunia; oleh karena itu jawaban saya, "Ya, saya tahu"

      Maksud pertanyaan terakhir apakah saya tahu kapan saya akan meninggal dunia; oleh karena itu jawaban saya, "Saya tidak tahu"

      Sang Buddha sangat puas dengan penjelasannya dan berkata kepada orang-orang hadir, "Banyak dari kalian yang mungkin tidak mengerti dengan jelas maksud dari jawaban yang diberikan oleh gadis penenun muda. Mereka yang bodoh berada dalam kegelapan, seperti orang buta"

      Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 174:

      Dunia ini terselubung kegelapan, dan hanya sedikit orang yang dapat melihat dengan jelas. Bagaikan burung-burung kena jerat, hanya sedikit yang dapat melepaskan diri; demikian pula hanya sedikit orang yang dapat pergi ke alam surga

      Gadis penenun muda mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma itu berakhir. Kemudian, dia melanjutkan perjalanannya menuju tempat penenunan. Ketika dia sampai di sana, ayahnya tertidur di atas kursi peralatan tenun. Saat ayahnya terbangun dengan tiba-tiba, dia dengan tidak sengaja menarik gulungan dan ujung gulungan menusuk tepat di dada sang gadis. Gadis penenun muda meninggal dunia di tempat itu juga, dan ayahnya sangat sedih

      Dengan berlinangan air mata ayah gadis itu pergi menghadap Sang Buddha dan memohon agar Sang Buddha menerimanya sebagai bhikkhu. Kemudian, ia menjadi seorang bhikkhu, dan tidak lama setelah itu mencapai tingkat kesucian arahat [Komentar Dhammapada Syair no.174]

  15. Di:

    • Gunung Càliya/calika, Desa Jantu, Càlika; atau
    • Rajagaha, Kerajaan Magadha.
  1. Vihàra Veluvana, Ràjagaha, Kerajaan Magadha

  2. Masa Vassa ke-21 s/d ke-44, di Vihàra Jetavana dan Vihàra Pubbàràma, Sàvatthi, Kerajaan Kosala. Jarak Rajagaha – Savatthi: 45 Yojana (1 yojana = 7-9 mil, 1 mil = 1.6 km. Jadi sekitar: 504 km s.d 648 km)

    Tahun ke-21 s.d 38 di Jetavana, 6 tahun sisanya di Pubbarama. Tahun ke-31, vihara Pubbarama selesai dibuat, Sang Buddha menetap bolak-balik selama masa vassa di 2 Vihara tersebut.
  1. Desa Veluva, Vesàli [RAPB buku ke-1, May 2000, hal.949-952. Peta perjalanan 8/9 bulanan sang Buddha di 25 tahun terakhirnya, menurut penuturan pengurus rumah tangga Raja Pasenadi: Isidatta dan Purana]
Penetapan Aturan-aturan KeBhikkhuan
Hingga tahun ke-12 kebuddhaan (di Veranja, yang saat itu dilanda masa Paceklik dan kelaparan), Vinaya & Patimokha sebagai aturan tatatertib kebhikkhuan belum ditetapkan Sang Buddha, ini dikarenakan PULUHAN RIBU yang menjadi muridNya, saat itu, semuanya telah mencapai kesucian dan yang terendah adalah sotāpanna [Suttavibhanga Vin.I.3, 2-4]

Bahkan,
Di paruh pertama ke-Buddhan (20 tahun), Vinaya dan Patimokkha-pun, belumlah ditetapkan, untuk itu, di MN.21/Kakacūpama Sutta, Sang Buddha menggambarkan tentang masa-masa menyenangkan, "ārādhayiṃsu vata me, bhikkhave, bhikkhū ekaṃ samayaṃ cittaṃ" [Para bhikkhu, pernah terjadi di satu masa di mana para bhikkhu memuaskan pikiranKu]. Buddhaghosa menjelaskan komentarnya di Vinaya, sub bagian parajikakhanda bahwa itu dikatakan terjadi pada 20 tahun pertama ke-Buddhaan:
    "Apaññatte sikkhāpadeti paṭhamapārājikasikkhāpade aṭṭhapite. Bhagavato kira paṭhamabodhiyaṃ vīsati vassāni bhikkhū cittaṃ ārādhayiṃsu, na evarūpaṃ ajjhācāramakaṃsu. Taṃ sandhāyeva idaṃ suttamāha – ‘‘ārādhayiṃsu vata me, bhikkhave, bhikkhū ekaṃ samayaṃ citta’’nti . Atha bhagavā ajjhācāraṃ apassanto pārājikaṃ vā saṅghādisesaṃ vā na paññapesi. Tasmiṃ tasmiṃ pana vatthusmiṃ avasese pañca khuddakāpattikkhandhe eva paññapesi. Tena vuttaṃ – ‘‘apaññatte sikkhāpade’’ti"

    [Aturan latihan belum diumumkan, parajika pertama belum ditetapkan. Demikian dikatakan, 20 tahun/vīsati vassāni pertama masa ke-Buddhaan, para bhikkhu memuaskan pikiran sang Buddha dengan tidak melakukan kesalahan. Dalam sutta dikatakan, 'Para bhikkhu, pernah terjadi suatu masa di mana para bhikkhu memuaskan pikiranKu'. Sang Buddha, tidak melihat adanya kesalahan, tidak mengumumkan pārājika ataupun Sanghadisesa. Ketika muncul kasus, beliau umumkan 5 keadaan pelanggaran kecil, karena itulah beliau katakan, ‘apaññatte sikkhāpade].
Komentar Buddhaghosa, tampaknya memiliki dasar, beberapa di bawah ini terjadi mulai dari tahun ke-20:
  • Ananda menjadi Pembantu tetap Sang Buddha, di tahun ke-20
    Pada 20 tahun pertama setelah mencapai penerangan sempurna, Sang Buddha tidak mempunyai seorangpun pendamping/pembantu tetap. Dari waktu ke waktu beberapa Bhikkhu pernah melayaninya, diantaranya adalah: Nāgasamāla, Nāgita, Upavāna, Sunakkhatta, samanera Cunda, Sāgata, Rādha dan Meghiya. Di akhir tahun ke-20, di hadapan sekumpulan Bhikkhu, Sang Buddha mengumumkan bahwa Ia sekarang telah berumur [Ananda dan Sang Buddha adalah sebaya] dan menanyakan apakah ada yang berkehendak untuk menjadi pendamping/pelayan tetapnya, yaitu seorang yang akan menghormati harapannya dalam banyak cara, karena terkadang mereka yang pernah mendampinginya tidak mematuhinya, pernah menjatuhkan mangkok, jubahnya dan juga pergi meninggalkannya.

    Semua siswa utamanya, menawarkan diri mereka untuk hal ini, namun ditolak Sang Buddha. Kecuali Ānanda, Ia tidak menawarkan dirinya dan berdiam saja. Ketika ditanya mengapa Ia tidak menawarkan dirinya, ia jawab bahwa Sang Buddha tahu dengan baik siapa yang dikehendakinya. Dan Benarlah, sang Buddha kemudian menyatakan harapannya bahwa Ananda mau melakukannya. Ananda kemudian menyatakan kesediannya jika beberapa syarat yang disampaikannya ini di setujui oleh sang Buddha:

    1. Bahwa Bhagavà tidak memberikan kepadaku jubah baik yang Beliau terima.
    2. Bahwa Bhagavà tidak memberikan makanan yang baik kepadaku
    3. Bahwa Bhagavà tidak mengizinkan aku menetap di tempat yang sama dengan Beliau.
    4. Bahwa Bhagavà tidak mengajakku ke rumah umat awam yang mengundang Beliau
    5. Bahwa Bhagavà sudi pergi ke tempat aku diundang
    6. Bahwa Bhagavà sudi memberikan audisi kepada pengunjung asing segera setelah mereka tiba
    7. Bahwa Bhagavà sudi menjelaskan segala hal yang berhubungan dengan Dhamma kepadaku saat aku memerlukan penjelasan
    8. Bahwa Bhagavà sudi mengulangi semua khotbah yang telah dibabarkan tanpa kehadiranku [RAPB buku ke-2, cetakan ke-1, Mei 2008, hal.1642-1644 yang mengutip dari kitab komentar: (1) Jataka no.456/JunhaJataka atau (2) DN 14/Mahapadana Sutta]

    Sang Buddha menyetujui permintaan tersebut dan sejak saat itu Ananda resmi menjadi Buddhopaṭṭhāka (Pembantu Tetap Sang Buddha):

      "Paṇṇavīsati-vassāni (Selama 25 tahun); bhagavantaṃ upaṭṭhahiṃ (menjadi pendamping Sang Bhagava); Mettena kāya.. vacī.. manokammena (dengan cinta kasih melalui perbuatan, perkataan dan pikiran), chāyāva anapāyinī (bagai bayangan yang tak lepas)" [Thag 17.3/Ananda]

    Karena syarat-syarat ini dan juga didukung daya ingat luar biasanya, Ananda bukan saja mendengarkan semua Dhamma dari sang Buddha namun juga dhamma dari para Bhikkhu lainnya, sehingga tidaklah berlebihan, jika ia kemudian dikenal sebagai 'Bendahara Dhamma' (Dhamma Bhandagarika)

      "Dvāsīti buddhato gaṇhiṃ, dve sahassāni bhikkhuto; Caturāsītisahassāni, ye me dhammā pavattino’. Dari semua Dhamma yang Saya hafalkan, 82.000 dari Sang Buddha sendiri; sedangkan 2.000 dari para bhikkhu, sehinga seluruhnya berjumlah 84.000" [Thag 17.3/Ananda]

    Ini jika dikumpulkan, setara dengan 45 Jilid buku. [Jika anda merasa ragu apakah ini mampu dilakukan manusia, silakan baca Daniel paul tammet dan ini]

    Pada suatu ketika di Jetavana dalam pertemuan para bhikkhu, Sang Buddha memuji Ananda dan menempatkannya sebagai bhikkhu yang utama dalam lima hal: kepandaian (Bahusacca), ingatan yang kuat (Sati), kelakuan baik (Gati), ketabahan (Dhiti), perhatian penuh dalam pelayanan (Upatthana).

    Walaupun demikian, sampai dengan Sang Buddha Parinibbana/wafat, Ananda belum juga mencapai tingkat Arahat dan hanya mencapai sotapanna. Tiga bulan setelah wafatnya Sang Buddha yaitu pada Sidang Agung Pertarna di Gua Sattapanni, Rajagaha. Ketika itu, YM Maha Kassapa mengusulkan untuk mengulang kembali Dhamma dan Vinaya, Para bhikkhu arahat meminta YM Kassapa memilih anggota pertemuan tersebut. Beliau memilih 499 Arahat + Ananda yang masih sotapanna karena Ananda telah menerima Dhamma dan Vinaya dari Sang Buddha sendiri.

    Ananda menyadari bahwa dirinya satu-satunya peserta yang belum Arahat, kemudian di satu hari sebelum pertemuan, YM Ānanda berpikir: “Besok adalah hari pertemuan, tidak selayaknya bagiku, seorang yang masih berlatih, pergi ke pertemuan itu,”. Setelah melewatkan banyak waktu di malam itu dalam perhatian pada jasmani, ketika malam hampir berlalu, ia berpikir akan berbaring, ketika Ia sedang merebahkan tubuh, yaitu ketika kepala BELUM menyentuh alas tidur dan ketika kaki TELAH terangkat dari tanah.

    Di interval waktu itulah, pikirannya terbebaskan dari kekotoran mental (anupādāya āsavehi cittaṃ vimucci) dan keesokan harinya, YM Ānanda, pergi kepertemuan itu sebagai Arahat [Vinaya, Cullavagga XI]. Karena itulah beliau dikatakan sebagai satu-satunya siswa yang mencapai Arahat tanpa empat sikap tubuh (Iriyapatha).

  • Parajika ke-1 vinaya ditetapkan sehubungan kasus Bhikkhu Sudinna dari desa Kalandaka (belum sotāpanna). Sang Buddha setelah akhir masa vassa di Veranja(a)(c), Beliau pergi ke Vesali dan kemungkinan di sana Sudinna ditahbiskan. Setelah ditahbiskan, Sudinna kemudian tinggal disekitar desa-desa area Vaji (Sebelah Timurnya Kapilavastu dan Devadaha)(b). Di Vajji ada paceklik dan bencana kelaparan(d) sehingga para bhikkhu sulit berpindapata (mengumpulkan dàna makanan dengan mangkuk di tangan mereka). Karenanya, Suddina bermaksud menggantungkan hidup pada sanak keluarganya di Vesali (di Timur Kapilavastu), dengan alasan, "Karena aku mereka dapat mempersembahkan dàna dan melakukan kebajikan. Dan para bhikkhu akan memperoleh keuntungan secara materi, dan aku takkan dipersulit dalam hal makanan”.

    Di Vesali, keluarganya berusaha membujuknya dengan harta agar kembali ke kehidupan lamanya, namun Ia tidak bergeming. Kemudian, Ibunya memintanya agar diberikan keturunan sebagai pewaris harta keluarga agar tidak direnggut kaum Licchavi. Permohonan sang ibu ini dikabulkannya dan Ia melakukan hubungan seksual dengan istri lamanya, Istri lamanya hamil dan lahirlah anak bernama Bijaka, Ibu anak itu dipanggil Ibu Bijaka (BijakaMata), Sudinna dipanggil teman-temanya: Bapak Bijaka (BijakaPita). Berapa lama kemudian(c), baik Bijaka dan Bijakamata, memutuskan untuk melepas keduniawian menjadi Bhikkhu dan Bhikkhuni dan akhirnya mereka menjadi Arahat.

    Sebaliknya Sudinna, Ia dilanda kecemasan dan penyesalan, tubuhnya semakin kurus dan pucat, pembuluh darahnya menonjol di seluruh anggota tubuhnya; Ia menjadi sengsara dan tertekan, teman-temannya sesama Bhikkhu bertanya apa yang melandanya dan Ia akui bahwa Ia menyesal melakukan hubungan seksual setelah menjalani kebhikkhuan. Permasalahan ini kemudian disampaikan kepada sang Buddha yang ketika itu sedang ada di Vesali dan atas kejadian ini, beliau kemudian menetapkan aturan untuk kali pertamanya bahwa barang siapa yang melakukan percabulan maka ia sudah kalah (parajika), tidak lagi dalam sangha [Suttavibhanga Vin.I.3, 2-4]

      Note:
      (a) Di Veranja adalah masa vassa ke-12. [Kitab komentar Vinaya Parajikakandha].

      (b) Sudinna di area Vaji 8 tahun lamanya [Kitab komentar Vinaya Parajikakandha] atau tahun ke-20 keBuddhaan. Aturan parajika ke-1, ditetapkan sang Buddha, juga di Vesali, namun itu terjadi di tahun ke-21. Vinaya juga menyampaikan bahwa pada masa paceklik di Vajji terjadi Parajika ke-4 (klaim memiliki supranatural agar mudah mendapatkan makanan). Masa Paceklik dan kelaparan dapat terjadi 12 tahun lamanya (saat jaman raja Vattagamini di Sri Lanka).

      (c) Bhikkhuvibhanga, Vinaya, tidak menyebutkan angka tahun-nya namun di kitab komentar Vinaya dikatakan bahwa keduanya melepas keduniawian di 7/8 tahun setelahnya dan kemudian mereka menjadi arahat, “Bījakassa kira sattaṭṭhavassakāle tassa mātā bhikkhunīsu so ca bhikkhūsu pabbajitvā kalyāṇamitte upanissāya arahatte patiṭṭhahiṃsu]

      (d) Sutta dan Vinaya menyampaikan terdapat beberapa daerah yang terkena bencana kelaparan (Dubbhikkhe), diantaranya:

      • Vesali yang berada dalam wilayah Vajji dilanda kemarau panjang, panenan gagal, terjadi kekurangan makanan, kelaparan, penyakit [kolera, ahivàta roga], kematian terjadi dimana-mana, mayat-mayat berserakan di kota. Raja Vesali kemudian mengutus 2 pangeran Licchavi untuk menemui sang Buddha yang sedang ada di Rajagaha dan Sang Buddha pun menuju Vesali. Jarak Rajagaha - Sungai Gangga (5 Yojana) - Vesali (3 Yojana) atau sekitar: 89.6 km s.d 115 km (1 yojana = 7-9 mil, 1 mil = 1.6 km). Di sana beliau membabarkan RATANA SUTTA pada YM ANANDA dan meminta YM Ananda berkeliling kota membacakan Ratana Sutta [RAPB, buku ke-2, Cetakan I, Mei 2008. hal 1451 s/d. 1489]

      • Rajagaha

      • Nalanda (Buddhaghosa mengatakan jaraknya 1 Yojana dari Rajagaha. Di SN 42.9/kula sutta, ada narasi tentang bencana kelaparan, Sang Buddha hanya menyebut Sangha Bhikkhu tanpa ada Bhikkhuni. Asibandhakaputta, sang pengikut Nigaṇṭha Nāṭaputta yang kemudian menjadi pengikut Sang Buddha. SN 42.7: Tanpa ada narasi tentang bencana Kelaparan, Asibandhakaputta tidak disebut lagi sebagai pengikut Jain dan Sang Buddha ada menyebutkan kata “bhikkhu dan bhikkhuni”)

      • Alavi

      • Savatthi, tempat terjadinya Parajika ke-2 (Kasus pencurian).

      • Sungai Rohini: Kapilavatthu/Sakya ada di sebelah Baratnya dan Devadaha/Koliya di Timurnya. Jarak Kapilavastu - Devadaha: 5 Yojana. Air sungai ini digunakan kedua negara dalam mengairi persawahan mereka namun kemudian ketinggian air terus menurun hingga titik terendahnya. Para petani kedua kerajaan mengadakan rapat mengenai masalah pembagian air, kesepakatan tidak terjadi dan malah meruncing yang berujung akan terjadi perang di antara 2 negara. Sang Buddha berhasil mendamaikannya dan setelahnya, 250 pria dari masing-masing suku, memutuskan untuk menjadi bhikkhu

        Pertengkaran di Sungai Rohini hanya tercantum sebagai narasi di: Jataka no.74; no.475; no.536 dan Dhammapada syair 197-199. Sedangkan Syair di Thag 10.1/Kaludayi hanya menuliskan nama 2 negara itu dan sungai Rohini tanpa ada penjelasan pertengkaran. Sang Buddha bervassa di Vihàra Jetavana, Sàvatthi [RAPB buku ke-1, Cetakan ke-1, May 2008, hal. 1080]. Jarak Savatthi-Kapilavastu: 6 Yojana (67.2 km - 86.4 km)

      Tampaknya, paceklik besar yang berakibat bencana kelaparan hampir merata melanda wilayah Barat hingga Timur Jambudwipa diseputaran tahun ke-20 ke-Buddhaan.
Dari kejadian di atas, awal vinaya ditetapkan, tampaknya terjadi di tahun ke-21, kemudian dari pelanggaran-pelanggaran berat yang muncul, satu persatu aturan (Parajika dan Sanghadisesa) ditetapkan, maka Vinaya dan Patimokkha pun mulai menemukan bentuknya

Kematian Raja Suddhodana
Banyak tahun telah berlalu ketika Sang Buddha mengunjungi Kapilavatthu untuk pertama kalinya. Kemudian di suatu hari, ketika sang Buddha sedang berada di Vesali, beliau mengetahui bahwa Raja Suddhodana sedang menderita sakit parah dan sudah waktunya untuk wafat. Oleh karenanya, sang Buddha kembali mengunjungi Kapilavatthu. Raja Suddhodana tentu saja sangat berbahagia dapat melihat Sang Buddha lagi. Di sana sang Buddha memberikan khotbah kepada ayah-Nya dan setelah mendengarkan khotbah tersebut Raja Suddhodana mencapai tingkat Arahat. 7 hari setelah menikmati kedamaian Nibbana, Raja Suddhodana wafat.

Prajapati Gotami menjadi Bhikkhuni, Sangha Bhikkhuni Terbentuk, Hitungan Mundur Lenyapnya Dhamma sejati
Ketika Raja Suddhodana meninggal, Ratu Prajapati Gotami merasa sangat sedih dan kesepian. Ia dan beberapa wanita lain memutuskan untuk meninggalkan kehidupan duniawi dan bergabung dengan kelompok Bhikkhu Sang Buddha untuk mempraktekkan Dharma.
    Pada suatu ketika Yang Tercerahkan, Sang Bhagavā, sedang menetap di antara penduduk Sakya di Kapilavatthu di vihara Banyan. Kemudian Gotami Pajāpatī yang Agung, menghadap Sang Bhagavā; setelah mendekat, setelah menyapa Sang Bhagavā, ia berdiri dalam jarak selayaknya. Setelah berdiri dalam jarak selayaknya, Gotami Pajāpati yang Agung, berkata pada Sang Bhagavā sebagai berikut:

    “Yang Mulia, baik sekali jika perempuan boleh diperbolehkan meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah dalam dhamma dan disiplin (dhammavinaye) yang dinyatakan oleh Sang Penemu-kebenaran ini.”

    “Hati-hati, Gotami, tentang pelepasan keduniawian perempuan dari kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah dalam dhamma dan disiplin yang dinyatakan oleh Sang Penemu-kebenaran ini.” Dan untuk ke-2xnya … Dan untuk ke-3xnya Gotami Pajāpati yang Agung, berkata pada Sang Bhagavā sebagai berikut: “Yang Mulia, baik sekali …”

    “Hati-hati, Gotami, tentang pelepasan keduniawian perempuan dari kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah dalam dhamma dan disiplin yang dinyatakan oleh Sang Penemu-kebenaran ini.”

    Kemudian Gotami, Pajāpati yang Agung, karena berpikir: “Sang Bhagavā tidak memperbolehkan perempuan meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah dalam dhamma dan disiplin ini yang dinyatakan oleh Sang Penemu-kebenaran,” berduka, bersedih, dengan wajah basah oleh air mata dan menangis, setelah berpamitan dengan Sang Bhagavā, pergi dengan Beliau di sisi kanannya. ||1||

    Kemudian Sang Bhagavā setelah menetap di Kapilavatthu selama yang Beliau kehendaki, melakukan perjalanan menuju Vesālī. Secara bertahap, berjalan kaki dalam perjalanan itu, akhirnya Beliau tiba di Vesālī. Sang Bhagavā menetap di sana di Vesālī di Hutan Besar di Aula beratap segitiga. Kemudian Gotami Pajāpati yang Agung, setelah memotong rambutnya, setelah mengenakan jubah kuning, melakukan perjalanan menuju Vesālī bersama dengan beberapa perempuan Sakya, dan akhirnya mereka mendekati Vesālī, Hutan Besar, Aula beratap segitiga. Kemudian Gotami Pajāpati yang Agung, kakinya membengkak, tubuhnya tertutup debu, dengan wajah basah oleh air mata dan menangis, berdiri di luar teras utama.

      Note:
      Mahapajapati Gotami adalah adik dari MahaMaya (Ibu Sidharta Gautama). Kakak beradik ini, dikawini bersamaan oleh Raja Suddhodana. MahaMaya hamil di usia 45 tahun [lihat: DPPN, Mahāvamsa ii.hal.15 - dst]. Ketika Sidhartha Gotama lahir 10 bulan kemudian, Ibunya berusia: ± 46 tahun dan jika selisih adik/kakak hanya 1 tahun, maka usia MahaPajapati Gotami: ± 45 tahun. Ketika Sidharta Gautama memutuskan menjadi petapa di usia 29 tahun dan 6 tahun kemudian mencapai kebuddhaan, Ia berusia 80 tahun.

      Setelah peristiwa sungai Rohini, dimana 250 pria dari masing-masing suku Sakya dan Koliya menjadi Bhikku, maka kehidupan 500 wanita yang suaminya menjadi Bhikkhu menjadi semakin sulit di situasi paceklik tersebut sehingga mereka putuskan untuk ikut menjadi petapa. Mereka bersama Mahàpajàpati Gotami, dengan berjalan kaki, pergi dari Kapilavastu ke Hutan Mahavana di Vesali. Jarak Kapilavastu – Vesali via kusinara: 43 yojana (481,6 km – 619,2 km) atau 50 Yojana (560 km s.d 720 km) [versi RAPB, cetakan 1, may 2008 jilid 1, hal.1128]

    Yang Mulia Ānanda melihat Gotami Pajāpati yang Agung berdiri di luar teras utama, kakinya membengkak, tubuhnya tertutup debu, dengan wajah basah oleh air mata dan menangis; melihatnya, ia berkata pada Gotami Pajāpati yang Agung sebagai berikut:

    “Mengapa engkau, Gotami, berdiri … dan menangis?”

    “Karena, Yang Mulia Ānanda, Sang Bhagavā tidak memperbolehkan perempuan meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah dalam dhamma dan disiplin ini yang dinyatakan oleh Sang Penemu-kebenaran.”

    “Baiklah, Gotami, tunggulah sebentar di sini, hingga aku memohon pada Sang Bhagavā atas pelepasan keduniawian bagi perempuan dari kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah dalam dhamma dan disiplin ini yang dinyatakan oleh Sang Penemu-kebenaran.” ||2||

    Kemudian Yang Mulia Ānanda menghadap Sang Bhagavā; setelah mendekat, setelah menyapa Sang Bhagavā, ia duduk dalam jarak selayaknya. Setelah duduk dalam jarak selayaknya, Yang Mulia Ānanda berkata pada Sang Bhagavā sebagai berikut:

    “Yang Mulia, Gotamid, Pajāpati yang Agung, sedang berdiri di luar teras utama, kakinya membengkak, tubuhnya tertutup debu, dengan wajah basah oleh air mata dan menangis, dan mengatakan bahwa Sang Bhagavā tidak memperbolehkan perempuan meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah dalam dhamma dan disiplin ini yang dinyatakan oleh Sang Penemu-kebenaran. Baik sekali, Yang Mulia, jika perempuan diperbolehkan meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga … oleh Sang Penemu-kebenaran.”

    “Hati-hati, Ānanda, tentang pelepasan keduniawian perempuan dari kehidupan rumah tangga … oleh Sang Penemu-kebenaran ini.” Dan untuk ke-2xnya … Dan untuk ke-3xnya Yang Mulia Ānanda berkata pada Sang Bhagavā sebagai berikut: “Baik sekali, Yang Mulia, jika perempuan diperbolehkan meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga … yang dinyatakan oleh Sang Penemu-kebenaran.”

    “Hati-hati, Ānanda, tentang pelepasan keduniawian perempuan dari kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah dalam `dhamma dan disiplin ini yang dinyatakan oleh Sang Penemu-kebenaran ini.” Kemudian Yang Mulia Ānanda berpikir:

    “Sang Bhagavā tidak memperbolehkan pelepasan keduniawian bagi perempuan dari kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah dalam dhamma dan disiplin yang dinyatakan oleh Sang Penemu-kebenaran ini. Bagaimana jika aku, dengan cara lain, memohon pada Sang Bhagavā untuk memperbolehkan pelepasan keduniawian bagi perempuan dari kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah dalam dhamma dan disiplin yang dinyatakan oleh Sang Penemu-kebenaran ini.” Kemudian Yang Mulia Ānanda berkata pada Sang Bhagavā sebagai berikut:

    “Yang Mulia, apakah para perempuan, setelah meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah dalam dhamma dan disiplin yang dinyatakan oleh Sang Penemu-kebenaran ini, mampu mencapai buah pencapaian-arus atau buah yang-kembali-sekali atau buah yang-tidak-kembali atau kesempurnaan?”

    “Para perempuan, Ānanda, setelah meninggalkan keduniawian … mampu mencapai … kesempurnaan.”

    “Jika, Yang Mulia, setelah meninggalkan keduniawian … mampu mencapai … kesempurnaan – dan, Yang Mulia, Gotami Pajāpati yang Agung, telah sagat banyak membantu: ia adalah bibi Sang Bhagavā, ibu pengasuh, perawat, pemberi susu, karena ketika ibu Sang Bhagavā meninggal dunia ia menyusui Beliau - baik sekali, Yang Mulia, jika para perempuan diperbolehkan meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah dalam dhamma dan disiplin yang dinyatakan oleh Sang Penemu-kebenaran.” ||3||

    “Jika, Ānanda, Gotami Pajāpati yang Agung, menerima 8 peraturan penting, maka ia boleh ditahbiskan:

    1. “Seorang bhikkhunī yang telah ditahbiskan (bahkan) selama satu abad harus menyapa dengan hormat, bangkit dari duduknya, memberi hormat dengan merangkapkan tangan, memberikan penghormatan selayaknya pada seorang bhikkhu bahkan yang baru ditahbiskan pada hari itu. Dan peraturan ini harus dihormati, dihargai, dijunjung, dimuliakan, tidak boleh dilanggar seumur hidupnya.

    2. “Seorang bhikkhunī tidak boleh melewatkan musim hujan di tempat tinggal di mana tidak terdapat bhikkhu. Peraturan ini juga harus dihormati … seumur hidupnya.

    3. “Setiap setengah bulan seorang bhikkhunī harus mengharapkan 2 hal dari Saṅgha para bhikkhu: bertanya (sehubungan dengan tanggal) hari Uposatha, dan kedatangan untuk memberikan nasihat. Peraturan ini juga harus dihormati … seumur hidupnya.

    4. “Setelah musim hujan seorang bhikkhunī harus ‘melakukan undangan’ di hadapan kedua Saṅgha sehubungan dengan 3 hal: apa yang dilihat, apa yang didengar, apa yang dicurigai. Peraturan ini juga harus dihormati … seumur hidupnya.

    5. “Seorang bhikkhunī yang melanggar suatu peraturan penting, harus menjalani mānatta (disiplin) selama setengah bulan di hadapan kedua Saṅgha. Peraturan ini juga harus dihormati … seumur hidupnya.

    6. “Ketika, selagi menjalani masa percobaan, ia telah berlatih dalam 6 peraturan selama 2 tahun, maka ia harus memohon penahbisan dari kedua Saṅgha. Peraturan ini juga harus dihormati … seumur hidupnya.

    7. “Seorang bhikkhu tidak boleh dicela atau ditegur dalam cara apa pun oleh seorang bhikkhunī. Peraturan ini juga harus dihormati … seumur hidupnya.

    8. “Mulai hari ini pemberian nasihat pada para bhikkhu oleh para bhikkhunī adalah terlarang, pemberian nasihat pada para bhikkhunī oleh para bhikkhu diperbolehkan. Dan peraturan ini harus dihormati, dihargai, dijunjung, dimuliakan, tidak boleh dilanggar seumur hidupnya.

      [Kata "vacanapatha" di sini diartikan sebagai "pemberian nasihat" namun kata ini dapat bermakna "tidak berkata-kata kasar/menyakitkan"]

    “Jika, Ānanda, Gotami Pajāpati yang Agung, menerima 8 peraturan penting, maka ia boleh ditahbiskan.” ||4||

    Kemudian Yang Mulia Ānanda, setelah menghafalkan 8 peraturan penting ini dari Sang Bhagavā, mendatangi Gotami Pajāpati yang Agung; setelah mendekat, ia berkata pada Gotami Pajāpati yang Agung sebagai berikut:

    “Jika engkau, Gotami, sudi menerima 8 peraturan penting, maka engkau boleh ditahbiskan: Seorang bhikkhunī yang telah ditahbiskan (bahkan) selama satu abad … Mulai hari ini pemberian nasihat pada para bhikkhu oleh para bhikkhunī adalah terlarang … tidak boleh dilanggar seumur hidupmu. Jika engkau, Gotami, sudi menerima 8 peraturan penting, maka engkau boleh ditahbiskan.”

    “Seperti halnya, Yang Mulia Ānanda, seorang perempuan atau laki-laki muda, berusia muda, dan menyukai perhiasan, setelah mencuci (badan dan) kepala(nya), setelah memperoleh kalung bunga teratai atau kalung bunga melati atau kalung bunga tanaman merambat yang harum, setelah memegangnya dengan kedua tangan akan meletakkan di atas kepalanya – demikian pula aku, menghormati, Ānanda, dan menerima ke-8 peraturan penting ini dan takkan pernah melanggarnya seumur hidupku.” ||5||

    Kemudian Yang Mulia Ānanda menghadap Sang Bhagavā; setelah mendekat, setelah menyapa Sang Bhagavā, ia duduk dalam jarak selayaknya. Setelah duduk dalam jarak selayaknya, Yang Mulia Ānanda berkata pada Sang Bhagavā sebagai berikut: “Yang Mulia, 8 peraturan penting ini diterima Gotami Pajāpati yang Agung.”

    “Jika, Ānanda, perempuan tidak memperoleh pelepasan keduniawian kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah dalam dhamma-disiplin yang dinyatakan oleh Sang Penemu-kebenaran, maka menjalani prilaku menuju kesucian (brahmacariya) Ānanda, akan bertahan lama, dhamma sejati akan bertahan selama 1000 tahun (vassasahassaṃ saddhammo tiṭṭheyya). Tetapi karena, Ānanda, perempuan telah memperoleh pelepasan keduniawian … dhamma-disiplin yang dinyatakan oleh Sang Penemu-kebenaran, Sekarang, Ānanda, prilaku menuju kesucian menjadi tidak bertahan lama. Sekarang, Ānanda, DHAMMA SEJATI hanya bertahan 500 tahun (na dāni, ānanda, brahmacariyaṃ ciraṭṭhitikaṃ bhavissati. Pañceva dāni, ānanda, vassasatāni saddhammo ṭhassati)..[AN 8.51/Gotami Sutta dan Vinaya Pitaka, Cullavagga X.1.6]

      Note:
      • Penetapan 1000 tahun menjadi 500 tahun adalah berdasarkan pemikiran Seorang Buddha, pemilik 10 kekuatan/Dasabalā yang salah satunya adalah "memahami sebagaimana adanya akibat-akibat dari perbuatan-perbuatan yang dilakukan, di masa: lalu, depan, dan sekarang, dengan kemungkinan dan penyebabnya" yang dengan kekuatan ini, beliau mengetahui dan melihat bahwa setelah tahun ke-500, tidak ada lagi manusia yang berada dalam kondisi siap atau matang dalam mencapai kesucian dan juga mampu menjalani sepenuhnya prilaku brahmacariya dhamma-vinaya

      • Terdapat selisih waktu 2 tahun antara penahbisan Mahapajapati Gotami dan 500 Puteri Sakya:

        • Dalam Attha Garudhamma ke-6, calon harus menjalani 6 Sila selama 2 tahun sebelum dapat ditahbiskan dan harus dilakukan oleh ke-2 sangha;
        • 500 puteri ini tidak ditahbiskan sang Buddha namun oleh murid-muridNya;
        • Di Cullavagga terekam penolakan para puteri sakya ketika upajaya mereka adalah Mahapajapati Gotami, mereka anggap Ia belum ditahbiskan, namun Sang Buddha menegaskan bahwa Attha Garudhamma adalah penahbisannya Mahapajapati Gotami. [Cullavagga]

        Kemudian, Mahapajapati Gotami bersama Sangha Bhikkhu menahbiskan 500 Puteri. Mahapajapati Gotami mencapai arahat setelah arahan Sang Buddha dan 500 Bhikkhuni mencapai arahat setelah kotbah YM Nandaka. Di Jetavana, Mahapajapati Gotami dianugrahi gelar "rattaññūnaṃ". Tak lama setelah kembali ke Vesali, Ia wafat diusia 120 tahun (Tahun ke-40 Kebuddhaan) bersamaan dengan wafatnya 500 Bhikkhuni yang ditahbiskannya. [DPPN]

        Gelar "rattaññūnaṃ" diberikan di Jetavana kepada: Annasi Kondanna (Arahat pertama Pria era Buddha Gotama) dan Mahapajapati Gotami (Arahat wanita pertama). Tidak tercatat dianugerahkan secara bersamaan sehingga tampaknya pengukuhan ini disampaikan ketika yang bersangkutan hendak wafat. Annasi Kondanna menjadi arahat di tahun ke-1 keBuddhaan, Pada tahun ke-2, di Rajagaha, Ia meminta ijin menyepi dan 12 tahun kemudian (tahun ke-14) di Jetavana, beliau berpamitan pada Sang Buddha untuk parinibbana. Sang Buddha bervasa di Jetavana pertama kali tahun ke-14 dan di sana Kondanna dianugerahi gelar "rattaññūnaṃ". Tampaknya vassa terakhir di Jetavana di tahun ke-38, Mahapajapati Gotami dianugerahi gelar yang sama.

      Kutipan syair "..karena, Ānanda, perempuan telah memperoleh pelepasan keduniawian …, sekarang, Ānanda, prilaku menuju kesucian menjadi tidak bertahan lama. Sekarang, Ananda, DHAMMA SEJATI hanya bertahan 500 tahun", diklaim sebagai bukti bahwa sang Buddha sexist, karena telah menyalahkan wanita sebagai biang keladi umur Dhamma sejati (dan menjalani prilaku kehidupan brahmacariya menurut dhamma-vinaya) menjadi hanya 500 tahun saja. Namun, masalahnya, di sebelum itupun, sudah ada gender ke-3 (bukan pria dan wanita) misalnya: Soreyya dan Vakkali. Beberapa dari gender ke-3 menambah ragam permasalahan, misalnya: Ia berubah kelamin namun tetap ingin ditahbiskan atau tetap dalam himpunan atau Ia menjadi bhikkhu untuk merayu para bhikkhu/ni, samanera/ri, umat awam.

      Jadi, bukan gender, melainkan membesarnya jumlah yang berjenis moghapurisa (misal di SN 16.13, AN 4.160. AN 5.1503-156) yang mempercepat tenggelamnya Dhamma sejati dan prilaku menuju kesucian menurut dhamma-vinaya, mereka inilah, memperkaya ragam permasalahan internal/eksternal di kedua sangha dan/atau dengan/antar umat awam atau dengan penganut ajaran lain, penjiplakan ajaran, alasan perawatan kesehatan yang lebih terjamin, kultur, sosial, budaya, bahasa, agama, gender, perekonomian, politik, dan lainnya.

        Maha Kassapa:
        "Apa alasan dan bergantung pada kondisi apa ketika sebelumnya sedikit aturan (sikkhāpadāni), banyak bhikkhu yang memperoleh pencerahan namun sekarang ini, lebih banyak aturan yang ditetapkan namun lebih sedikit bhikkhu yang mencapai pencerahan sempurna?"

        Sang Buddha:
        Ketika para mahluk merosot [sattesu hayamanesu], Dhamma sejati juga akan memudar, aturan ditetapkan semakin banyak, semakin sedikit bhikkhu yang mencapai pencerahan namun itu tidak membuat Dhamma sejati lenyap hingga kemudian dhamma tiruan bermunculan di dunia. Ketika Dhamma tiruan bermunculan di dunia maka dhamma sejati akan lenyap.

        Bagaikan, Kassapa, emas takkan lenyap selama tiruan emas tidak muncul di dunia ini, tetapi ketika tiruan emas muncul maka emas sejati lenyap, demikian pula, Dhamma sejati takkan lenyap selama tiruan dari Dhamma sejati tidak muncul. Tetapi ketika tiruan Dhamma sejati muncul di dunia ini, maka Dhamma sejati lenyap.

        Bukan karena unsur landasan/tanah, Kassapa, yang menyebabkan Dhamma sejati lenyap, juga bukan unsur rekatan/air, juga bukan unsur yang membakar/api, juga bukan unsur tekanan/gerak/angin. Adalah orang yang kosong melompong spiritualitasnya (mogha purisa) yang bermunculan di sini yang menyebabkan Dhamma sejati melenyap.

        Dhamma sejati tidak lenyap seketika bagaikan kapal tenggelam. Terdapat 5 faktor yang menyebabkan menurunnya Dhamma sejati, yaitu Bhikkhu, Bhikkhuni dan umat awam bersikap tidak hormat dan melawan pada: Guru, dhamma, sangha, pelatihan dan samadhi [SN 16.13/Saddhamma Patirūpaka Sutta]

      Sutta (SN 16.13) di atas ini menegaskan bahwa dhamma sejati MEMANG AKAN LENYAP yaitu karena para manusia yang kosong melompong, yang ketika mendapatkan dhamma dan/atau menempuh kehidupan kesucian tidak dengan seksama dan malah melakukan banyak pelanggaran hingga perlu ditetapkan banyak peraturan ditetapkan untuk mengerem laju kelenyapan dan lenyapnya Dhamma sejati adalah karena kumunculan ajaran-ajaran tiruan.
Kemudian,
Di DN 23/Payasi Sutta, kita akan temukan batas tahun terbentuknya Sangha Bhikkhuni. Sutta itu memuat kisah pertemuan antara YM Kumara Kassapa dengan pangeran Payasi dan beberapa waktu setelah berdana, Pangeran Payasi dan Brahmin muda bernama Uttara wafat. Pangeran Payasi terlahir kembali di alam deva Catumaharajika bertemu dengan YM Gavampati yang sedang berkunjung ke alam itu. Kisah kelahiran YM Kumara Kassappa tercantum dalam Jataka no. 12/Nigrodhamika:

Ibu Kumara Kassapa adalah putri seorang kaya dari Rajagaha. Ia berniat menjadi Bhikkhuni namun tidak diijin orang tuanya, setelah menikah, Ia meminta ijin suami dan diijinkan. Ibu YM Kumara Kassapa diantar suami kekumpulan bhikkhu (sangha) pimpinan Devadatta dan ditahbiskan di sana. Saat menerima penahbisan, Ia tidak tahu dirinya tengah hamil, ketika kehamilannya membesar dan diketahui, mereka melaporkan ini ke Devadatta yang kemudian memutuskan bahwa Ia tidak lagi bhikkhuni dan di usir.

(Ini mengindikasikan, ketika menahbiskan, Devadatta tidak mengikuti aturan attha Garudhamma, akan ada selisih 2 tahun karena calon harus menjalani 6 sila terlebih dahulu sebelum berhak ditahbiskan)

Bhikkhuni muda ini kemudian meminta diantar ke vihara Jetavana (Savatthi, perjalanan sejauh 45 yojana) untuk menetap di sana. Permasalahan ini kemudian dilaporkan ke sang Buddha. Walaupun Sang Buddha tahu kehamilan Bhikkhuni ini terjadi saat menjadi umat awam, namun untuk mencegah kontroversi dan gunjingan lanjutan, beliau mengundang Raja Pasenadi dari Kosala, Anathapindika, Visakha dan lainnya untuk menyelidiki hal ini dan akhirnya diketahui bahwa kehamilan telah terjadi SEBELUM Ia ditahbiskan sehingga YM Upali putuskan tidak ada aturan parajika yang dilanggar.

Ketika anak itu lahir raja Pasenadi dari Kosala memeliharannya, Ia diberi nama: Kassapa. Pada usia 7 tahun dikirim ke vihara ditahbiskan menjadi SAMANERA dan ketika ia membawa hidangan kecil seperti buah kepada Sang Buddha, Ia mendapat tambahan nama kumara, sejak itu disebut Kumara Kassapa. Arti kata kumara adalah anak atau pangeran.

Kumara Kassapa ditahbiskan menjadi Bhikkhu diusia 20 tahun yang terhitung sejak dalam kandungan ibunya. [Khandhaka, Mahavaga, Vinaya] dan setelah MN 23/Vammikka Sutta, Ia menjadi Arahat. Komentar Anguttara (AA i.159) menyatakan Sang Buddha memberinya gelar cittakathikānam (trampil dalam menyampaikan pembicaraan) yang dikaitkan dengan pembicaraan Kumara kassapa dengan Pāyāsi,

YM Gavampati wafat menjelang berlangsungnya konsili ke-1, yang diselenggarakan 3 bulan setelah wafatnya sang Buddha.

AN 3.70/Uposatha sutta menyatakan 1 hari di alam TAVATIMSA = 100 tahun di alam Manusia; 1 hari di alam CATUMAHARAJIKA = 50 tahun tahun di alam manusia:

1 jam alam Tavatimsa = 4 tahunan di alam manusia
1 jam alam Catumaharajika = 2 tahunan di alam manusia.

Penahbisan Mahapaja Gotami menjadi Bhikkhuni bisa jadi di tahun ke-21/22, dan Sangha Bhikkhuni terbentuk di tahun ke-23/24, maka saat Kumara kassapa ditahbiskan menjadi bhikkhu di usia 20 yang terhitung sejak dalam kandungan adalah di tahun ke-42/43. Ia mencapai Arahat setelah Vammika Sutta dan bertemu Payasi sebelum wafatnya Payasi. Terdapat selisih ± 2/3 tahunan antara wafatnya YM Gavampati dan 1 jam kelahiran kembali Pangeran Payasi di alam Catumaharajika.

Sehingga Sangha Bhikkhuni terbentuk paling telat di tahun ke-24 KeBuddhaan

Sang Buddha menaklukan Angulimala
Di setelah tahun ke-20 masa KeBuddhaan, di kerajaan Kosala terdapat Bandit bernama Ahimsaka yang gemar membunuh dan jari-jari korbannya dijadikan untaian kalung dan karenanya, Ia dinamakan: Anguli (jari) Mala (kalung). Latar belakang Ahimsaka melakukan pembunuhan ini adalah karena teman-temannya sesama pelajar di Taxila, cemburu karena Ahimsaka amat pandai dan menjadi kesayangan gurunya. Mereka kemudian, membagi diri menjadi 3 kelompok: Kelompok ke-1 memberitahukan kepada guru mereka bahwa Ahimsaka telah melakukan hal yang tidak pantas dengan istri sang guru. Kelompok ke-2 dan ke-3, membenarkan apa yang dikatakan kelompok ke-1. Karena gurunya masih tidak percaya, mereka mengusulkan agar guru mereka membuktikannya sendiri.

Di suatu hari, Guru Ahimsaka melihat istrinya berbicara dengan ramah kepada Ahimsaka, ini membuatnya mempercayai pernyataan mereka dan kemudian gurunya menjadi berniat melenyapkan Ahimsaka namun upaya ini tidak dilakukannya secara terbuka karena takut tidak ada lagi murid yang mau berguru kepadanya. sang guru berkata pada Ahimsaka: "Muridku, saya tidak sanggup lagi mengajarmu lebih lanjut, kecuali kamu dapat mengumpulkan 1000 jari tangan kanan manusia sebagai biaya pendidikanmu.". [Note: Guru dhaksina (Meminta upah) biaya pendidikan berupa jari tangan, juga muncul di Mahabharata, yaitu ketika Drona meminta ibu jari Ekalavya sebagai upah mengajarnya memanah]

Harapan sang guru, ketika Ahimsaka melakukannya, maka ia akan ditangkap kerajaan karena kejahatan pembunuhan.

Ahimsaka berulang kali memohon agar ia dapat membayar biaya pendidikan dengan cara lain, tetapi gurunya tetap pada pendiriannya. Karena jika menolak, ia takut mendapat kutukan. Maka ia mempersenjatai dirinya, masuk ke hutan Jalini di Kosala dan mulai mengumpulkan jari tangan manusia sesuai permintaan gurunya.

Karena banyak pembunuhan, Rakyat kemudian menghadap raja dan rajapun memerintahkan sejumlah pasukan untuk menyelidiki dan menangkap perampok tersebut. Ayah Angulimala yaitu Bhramana Gagga saat itu adalah penasehat keraan Kosala, Ia tahu bahwa perampok kejam itu adalah anaknya sendiri. Setelah berbincang dengan istrinya (Mantani), Ibu Ahimsaka menjadi khawatir akan nasib anaknya, kemudian Ia pergi mencari Ahimsaka untuk memberitahu bahwa kerajaan hendak menangkapnya dan agar anaknya berhenti melakukan pembunuhan

Pada saat itu, Sang Buddha yang sedang berada di Vihara Jetavana, dengan Mata Buddhanya, beliau mengetahui bahwa kumpulan karma Angulimala sudah masak, Ia dapat menjadi Bhikkhu dan mencapai kesucian Arahat pada kehidupan ini sementara itu, Ibu Angulimala dapat terbunuh apabila Angulimala melihatnya, karena ia sudah amat ingin melengkapi untaian jari yang diminta gurunya.

Setelah sang Buddha kembali dari mengumpulkan dana makanan dan selesai makan, Beliau merapikan tempat istirahatnya, mengambil mangkuk dan jubah luarnya, lalu berangkat menuju jalan yang mengarah ke Angulimala. Para penggembala sapi, penggembala kambing, dan pembajak sawah yang lewat melihat Sang Buddha menuju Angulimala memberitahukan sebanyak 3x agar tidak mengambil jalan tersebut karena ada pembunuh kejam namun Sang Buddha tetap meneruskan perjalanannya.

Angulimala melihat Sang Buddha datang dari kejauhan, Kemudian dengan senjatanya, Ia mengikuti dari dekat di belakangnya. Sang Buddha dengan kekuatan supranormal, membuat bandit Angulimala, walaupun berjalan secepatnya yang ia bisa, tetap tidak sanggup mengejar beliau yang tampak hanya berjalan normal. Angulimala berpikir; “Ini hebat, ini luar biasa! Aku bisa mengejar bahkan gajah yang cepat dan menangkapnya; aku bisa mengejar bahkan kuda yang cepat dan menangkapnya; aku bisa mengejar bahkan kereta yang cepat dan menangkapnya; aku bisa mengejar bahkan rusa yang cepat dan menangkapnya; tetapi sekarang, walaupun aku berjalan secepat yang aku bisa, aku tidak sanggup mengejar petapa yangberjalan dengan kecepatan normal ini!”

Iapun berhenti dan berteriak kepada sang Buddha: "berhenti, petapa! Berhenti, petapa!"

Sang Buddha berkata, "Aku telah berhenti, Angulimala, engkau pun berhentilah juga" (Ṭhito ahaṃ, aṅgulimāla, tvañca tiṭṭhā”ti)

Angulimala keheranan dan bertanya kepada Sang Buddha, "Sementara engkau sedang berjalan, petapa, kau katakan padaku engkau telah berhenti; Tetapi sekarang, ketika aku telah berhenti, kau katakan aku belum berhenti. Aku bertanya kepadamu kini, O petapa, tentang artinya: Bagaimana bisa engkau telah berhenti dan aku belum?”

sang Buddha, "Angulimala, aku telah berdiri diam selamanya, Aku bebas dari kekerasan terhadap makhluk hidup; Tetapi engkau tidak punya pengendalian diri terhadap makhluk-makhluk hidup: Itulah sebabnya aku telah berdiri diam dan engkau belum." [note: Jawaban Sang Buddha dengan menggunakan kata "ṭhito" (arti literal: berdiri) dimaksudkan bahwa pikiranNya telah berhenti dan tidak lagi menciptakan bentukan karma baru, Karena Angulimala masih melakukan pembunuhan, maka ia belumlah berhenti menciptakan karma baru]

Angulimala terhenyak mendengarkan itu dan kemudian berkata bahwa ia hendak meninggalkan kejahatan ini untuk selamanya, lalu Ia membuang senjatanya ke jurang, menyembah dikaki sang Buddha untuk memohon pentahbisan. Sang Buddha kemudian menahbiskan dengan kata, "Datanglah, bhikkhu.". demikianlah Angulimala menjadi Bhikkhu dan menjadi pelayan beliau

Saat itu, Raja pasenadi dari kosala disertai dengan 500 pasukan berkuda melakukan perjalan menemui Sang Buddha dan berkeluh kesah bahwa di kerajaanya terdapat seorang Pembunuh yang meresahkan warga namun tidak pernah berhasil ditumpasnya.

Sang Buddha kemudian berkata, jika sang raja melihat Angulimala telah mencukur rambut dan jenggotnya, mengenakan jubah kuning, dan meninggalkan kehidupan umat awam menjadi petapa, tidak lagi membunuh, tidak lagi mengambil apa yang tidak diberikan, tidak lagi bicara bohong, hanya makan 1x sehari dan hidup selibat, luhur, dengan watak baik. maka bagaimanakah sang raja akan memperlakukannya?

Raja berkata bahwa mereka akan menghormatinya dirinya dan memperlakukannya dengan kehormatan sepatutnya namun Raja menyatakan bagaimana bisa seorang manusia tak-bermoral, berwatak jahat dapat memiliki moralitas dan pengendalian semacam itu?

sang Buddha kemudian mengulurkan tangan kanannya dan berkata kepada Raja Pasenadi dari Kosala: "Raja Yang agung, inilah Angulimala."

Raja Pasenadi menjadi ketakutan dan sang Buddha menenangkan beliau bahwa tidak ada yang perlu ditakuti lagi darinya.

Raja Pasenadi, berencana hendak menyediakan jubah, dana makanan, tempat istirahat, dan kebutuhan-kebutuhan obat sebagaimana diberikan pada para bhikkhu dan pertapa kepada Angulimala, namun karena Angulimala adalah petapa hutan ia mengatakan "tiga jubahku sudah lengkap". Raja Pasenandi menjadi kagum dan berkata, kerajaannya tidak bisa menjinakkannya dengan kekuatan dan senjata, tetapi sang Buddha telah menjinakkannya tanpa kekuatan atau pun senjata. Setelah berkata itu, Raja Pasenadi pun pulang kembali.

Di suatu pagi, Y.M. Angulimala tengah pergi Ke Savatthi untuk mengumpulkan dana makanan. Ketika itu, beliau melihat seorang perempuan sedang kesulitan melahirkan anak dan berpikir, "Betapa menderitanya para makhluk! Sungguh, betapa menderitanya para makhluk!”. Ia kemudian menyampaikan hal ini pada Sang Buddha. sang Buddha kemudian berkata, "Kalau begitu, Angulimala, pergilah ke Savatthi dan katakan kepada perempuan itu: 'Saudari, sejak saya terlahir (yato haṃ bhagini jāto), saya tidak ingat pernah dengan sengaja membunuh makhluk hidup. Dengan kebenaran ini, semoga Anda sejahtera dan bayi Anda sejahtera'"

Rupanya Angulimala tidak menyadari makna kalimat ini, dan menyatakan pada sang Buddha, "Guru, apakah saya tidak menceritakan kebohongan yang disengaja, karena toh dengan sengaja saya telah membunuh banyak makhluk hidup?"

Sang Buddha kemudian berkata, "Kalau begitu, Agulimala, pergilah ke Savatthi dan katakan kepada perempuan itu: 'Saudari, sejak saya terlahir dengan kelahiran mulia (yato haṃ bhagini ariyāya jātiyā jāto), saya tidak ingat pernah dengan sengaja membunuh makhluk hidup. Dengan kebenaran ini, semoga Anda sejahtera dan bayi Anda sejahtera!'" [Note: Ariya jatiya adalah kelahiran mulia, maksudnya adalah mencapai tingkat kesucian sekurangnya Sotapanna)

Kemudian Angulimala menuju Savatthi dan menyatakan kalimat itu, kemudian perempuan itu menjadi mudah melahirkan dan bayinya sejahtera.

Tak lama setelahnya, dengan berdiam sendiri, melihat ke dalam diri, rajin, bersemangat, dan mantap, Y.M. Angulimala, merealisasikan bagi dirinya melalui pengetahuan langsung, di sini dan kini masuk dan berdiam di dalam tujuan tertinggi kehidupan suci dan Ia langsung mengetahui: “Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak lagi ada kelahiran di alam mana pun juga." Dan Y.M. Angulimala menjadi salah satu Arahat.

Di suatu pagi, Y.M. Angulimala berpakaian, mengambil mangkuk serta jubah luarnya, dan pergi ke Savatthi untuk mengumpulkan dana makanan. Ketka itu, seseorang melempar tongkat yang mengenai tubuhnya, lalu orang lain melempar pecahan tembikar yang mengenai tubuhnya. Kemudian, dengan darah yang mengalir dari kepalanya yang terluka, dengan mangkuknya yang pecah dan jubah luarnya yang robek, Y.M. Angulimala menemui Sang Buddha. Melihatnya datang, sang Buddha dari kejauhan berkata: “Tanggunglah, brahmana! Tanggunglah, brahmana! Engkau mengalami di sini dan kini akibat tindakan-tindakan yang karenanya engkau mungkin di siksa di neraka selama bertahun tahun selama beratus-ratus tahun, selama beribu-ribu tahun. [Note: Masaknya buah karma dapat terjadi pada kehidupan saat, atau di kehidupan berikutnya dan juga di beberapa kehidupan berikutnya, karena Ia telah mencapai arahat dan tidak lagi terlahirkan, maka dua jenis masaknya karma berikutnya tidak dialaminya lagi, namun tetap masih mengalami jenis pertama masaknya karma]

Y.M Angulimala hidup menyendiri, menikmati kebahagiaan kebebasan, mengucapkan pernyataan-pernyataan kebijaksanaan, wafat dan mencapai Nibbana [Sumber: MN 86/Angulimala Sutta, Theragata 16.7/Aṅguli­mālat­thera­gāthā, Komentar Dhammapada Syair 173 dan lihat juga: Vinaya Mahavagga]

Skema jahat Devadatta
Setelah penahbisan 6 pangeran dan Upali menjadi Bhikkhu, Sang Bhagavā, dari Anupiyā pergi menuju Kosambī dan menetap di vihara Ghosita. Di Vihara itu, ketika Devadatta sedang bermeditasi di dalam kamarnya suatu pemikiran muncul: “Siapakah yang dapat menjadi gembira karena aku, sehingga karena ia gembira denganku maka aku akan dapat memperoleh banyak keuntungan dan kemasyhuran?..Pangeran Ajātasattu masih muda dan juga memiliki masa depan yang cerah. Bagaimana jika aku membuatnya gembira, sehingga karena ia gembira denganku maka aku akan dapat memperoleh banyak keuntungan dan kemasyhuran?”

Kemudian Devadatta, setelah merapikan tempat tinggalnya, dengan membawa mangkuk dan jubahnya, pergi menuju Rājagaha; Kemudian Devadatta, mengubah wujudnya menjadi seorang anak kecil dengan sabuk ular muncul di pangkuan Pangeran Ajātasattu dan membuatnya menjadi khawatir, cemas, ketakutan, gelisah. Kemudian Devadatta berkata: “Apakah engkau takut padaku, Pangeran?”

“Ya, aku takut. Siapakah engkau?”

“Aku Devadatta.”

“Jika engkau, Yang Mulia, adalah sungguh Guru Devadatta, mohon engkau kembali ke wujudmu semula.” Kemudian Devadatta melepaskan wujud anak kecilnya, berdiri, dengan mengenakan jubahnya dan membawa mangkuknya, di hadapan Pangeran Ajātasattu. Kemudian Pangeran Ajātasattu, yang sangat gembira melihat kekuatan mental Devadatta, pagi dan malam hari melayaninya dengan 500 kereta, dan 500 persembahan nasi susu diberikan kepadanya. Kemudian Devadatta yang dikuasai perolehan, kehormatan, dan kemasyhuran, pikirannya dikuasai hal-hal itu, muncul salah satu di antaranya adalah keinginan: “Adalah aku yang akan memimpin perkumpulan para bhikkhu.” Pada saat Ia berpikir demikian Devadatta mengalami kejatuhan dalam hal kekuatan mentalnya. [Vinaya, Cullavagga, Sanghabheda]

Tahun demi tahun berlalu, di Rajagaha, Sang Bhagavā sedang duduk membabarkan dhamma dengan dikelilingi oleh banyak pengikut, termasuk sang raja. Devadatta bangkit dari duduknya, setelah memberi hormat kepada Sang Bhagavā dengan merangkapkan tangan, berkata kepada Sang Bhagavā: “Yang Mulia, sekarang Sang Bhagavā sudah tua, jompo, didera bertahun-tahun, Beliau telah menjalani umur kehidupanNya dan menjelang akhir hidupNya ; Yang Mulia, sudilah Yang Mulia sekarang merasa puas dengan kediaman nyaman di sini dan saat ini, sudilah Beliau menyerahkan kumpulan para bhikkhu ini kepadaku. Adalah aku yang akan memimpin kumpulan para bhikkhu ini.”

Sang Buddha:
“Cukup, Devadatta, jangan memimpin kumpulan para bhikkhu ini.”

Dan untuk ke dua kalinya … Dan untuk ke tiga kalinya Devadatta berkata kepada Sang Bhagavā seperti diatas

Sang Buddha:
“Aku, Devadatta, tidak dapat menyerahkan kumpulan para bhikkhu ini bahkan kepada Sāriputta dan Moggallāna. Bagaimana mungkin Aku menyerahkannya kepadamu, seorang malang yang untuk dimuntahkan bagai ludah?”

Devadatta tersinggung dengan celaan dan penolakan yang disampaikan di hadapan kumpulan, termasuk sang raja, Ia juga iri terhadap Sāriputta dan Moggallāna di puji sang Buddha. Karena marah dan tidak senang, Devadatta kemudian berpamitan kepada Sang Bhagavā. Ini adalah kali pertama Devadatta merasa dengki terhadap Sang Bhagavā

Kemudian Sangha, menunjuk Sariputta, agar menyampaikan keputusan sangha berupa tindakan resmi tentang informasi sehubungan dengan Devadatta di Rājagaha bahwa Devadatta sekarang berubah; apa pun yang dilakukan Devadatta melalui tindakan atau ucapan, maka Sang Tathāgata, dhamma atau pun Sangha tidak bertangung jawab, melainkan hanya Devadatta yang bertanggung jawab

Kemudian Devadatta mendatangi Pangeran Ajatasattu dan berkata: “Dulu, pangeran, orang-orang berumur panjang, sekarang mereka berumur pendek, dan adalah mungkin bahwa engkau, selagi masih menjadi pangeran, meninggal dunia, sekarang engkau, pangeran, setelah membunuh ayahmu, akan menjadi raja. Aku, setelah membunuh Sang Bhagavā, aku menjadi Yang Tercerahkan”

Pangeran Ajātasattu berpikir: “Guru Devadatta memiliki kekuatan mental yang luar biasa, keagungan yang luar biasa; Guru Devadatta pasti mengetahui (apa yang benar)”. Ia kemudian berusaha membunuh ayahnya dengan belati namun ketahuan. Raja diberitahu mengenai kejadian ini, raja Seniya Bimbisara berkata kepada Pangeran Ajātasattu: “Mengapa engkau, ingin membunuhku?” Pangeran Ajātasattu: “Aku menginginkan kerajaan, Yang Mulia”. Raja kemudian menyerahkan tahtanya kepada Pangeran Ajātasattu [Vinaya, Cullavagga, Sanghabheda]. Setelah naik tahta, Raja baru Magadha, Ajātasattu, kemudian memenjarakan ayahnya, menyiksanya hingga tewas.

Devadatta berusaha membunuh Sang Buddha
Kemudian Devadatta mendatangi Raja Ajàtasattu dan memintanya mengirimkan beberapa orang untuk membunuh Buddha. Raja mengirimkan beberapa orang pembunuh kepada Devadatta dengan pesan agar mematuhi instruksi gurunya.
  1. Devadatta memerintahkan orang pertama, “Pergilah, teman-teman, Petapa Gotama menetap di suatu tempat. Setelah membunuhnya, kembalilah melalui jalan lain”
  2. Kemudian ia memerintahkan 2 orang lainnya untuk membunuh orang pertama dan kembali melalui jalan lain.
  3. Kemudian ia memerintahkan kelompok 4 orang lainnya untuk membunuh 2 orang (dari kelompok kedua) dan kembali melalui jalan lain.
  4. Kemudian ia memerintahkan kelompok 8 orang lainnya untuk membunuh 4 orang (dari kelompok ketiga) dan kembali melalui jalan lain.
  5. Kemudian ia memerintahkan kelompok 16 orang lainnya (kelompok kelima) untuk membunuh 8 orang (dari kelompok keempat) dan kembali melalui jalan lain.
Bersenjatakan pedang dan perisai, busur dan sarung anak panah, orang pertama mendatangi Sang Buddha dan berdiri dengan tubuh kaku di dekat Beliau, gemetar ketakutan.

Melihatnya, Buddha berkata, “Kemarilah, sahabat, jangan takut”

Kemudian orang itu, setelah mengesampingkan pedang dan tamengnya ke satu sisi, setelah menurunkan busur dan kantung anak panah, mendekati Sang Bhagavā, mencondongkan kepalanya ke kaki Sang Bhagavā, Ia menyatakan penyesalannya atas kesalahannya dan memohon Sang Buddha menerima pengakuannya sebagai pelanggaran demi pengendalian dirinya di masa depan. Kemudian Sang Bhagavā membabarkan khotbah bertahap kepada orang ini, yaitu, kedermawanan, perilaku bermoral, alam surga … penderitaan, asal-mulanya, lenyapnya, dan Sang Jalan. Selagi orang itu duduk, Ia mencapai Sotapanna dan kemudian menyatakan diri berlindung kepada Buddha dhamma dan Sangha dan memohon diterima sebagai umat awam yang telah menerima perlindungan sejak saat itu.

Kemudian Buddha mempersilakan orang itu pergi dengan memberitahunya agar tidak melalui jalan yang diperintahkan oleh Devadatta tetapi melalui jalan lainnya.

Kemudian kelompok dua orang itu, berpikir: “Mengapa orang itu yang sendirian begitu lambat datang ke sini?” pergi untuk menjumpainya dan melihat Sang Bhagavā duduk di bawah sebatang pohon. Melihat Beliau, mereka mendekati Sang Bhagavā; setelah mendekat, setelah menyapa Sang Bhagavā, mereka duduk dalam jarak yang selayaknya. Sang Bhagavā membabarkan khotbah bertahap kepada kedua orang itu … mereka berhasil mencapai Buah Sotàpatti seperti halnya orang pertama, kemudian menyatakan diri berlindung kepada Buddha dhamma dan Sangha dan memohon diterima sebagai umat awam yang telah menerima perlindungan sejak saat itu.

Kemudian, Sang Buddha mempersilakan mereka pergi, dan memberitahu mereka agar melalui jalan lain.

Kemudian 4 orang (dari kelompok ketiga)…
Kemudian 8 orang (dari kelompok keempat)…
Kemudian 16 orang (dari kelompok kelima)…

Kemudian orang pertama mendatangi Devadatta dan berkata, “Tuan, aku tidak dapat membunuh Sang Bhagavā, Beliau sangat sakti.” Devadatta berkata, “Cukup! Jangan membunuh Petapa Gotama. Aku sendiri yang akan membunuh Petapa Gotama” [Vinaya, Cullavagga, SanghaBheda dan RAPB buku ke-2 hal. 1790 - 1798]

Sekarang Devadatta memutuskan untuk membunuh Sang Buddha. Pada saat itu Sang Bhagavā sedang berjalan mondar-mandir di bawah keteduhan Puncak Gunung Nasar. Kemudian Devadatta, setelah mendaki Puncak Gunung Nasar melemparkan sebuah batu besar ke bawah, dengan berpikir: “Dengan ini aku akan membunuh Petapa Gotama.” Tetapi dua gundukan tanah muncul dengan sendirinya menahan laju batu itu, menghancurkan batu itu, dan (hanya) sepotong kecil dari batu itu, setelah jatuh, melukai kaki Sang Bhagavā hingga berdarah. [Vinaya, Cullavagga, Sanghabheda]. Sang Buddha kembali ke vihara dan dirawat oleh dokter terkenal, Jivaka [tentang Tabib Jivaka, Lihat: Tabib Jivaka, Para Pelacur, Kathina dan Ayur-Veda!].

Seekor gajah yang buas dijinakkan oleh cinta kasih
Pada saat itu ada seekor gajah buas di Rājagaha, gajah pembunuh-manusia, bernama Nālāgiri. Kemudian Devadatta, setelah memasuki Rājagaha, setelah pergi ke kandang gajah, berkata kepada para pawang gajah sebagai berikut: “Kami, sahabat, adalah sahabat raja. Kami mampu menaikkan jabatan seseorang yang berjabatan rendah dan memberikan kenaikan upah dan makanan. Sekarang, sahabat, ketika Petapa Gotama berjalan melalui jalan kereta ini, maka, setelah melepaskan gajah Nālāgiri ini, bawalah ia ke jalan kereta ini.”

“Baiklah, Tuan,” para pawang gajah itu menjawab Devadatta.

Kemudian Sang Bhagavā, setelah merapikan jubah di pagi hari, dengan membawa mangkuk dan jubahNya, memasuki Rājagaha untuk menerima dana makanan bersama dengan beberapa bhikkhu. Kemudian Sang Bhagavā berjalan melalui jalan kereta. Kemudian para pawang gajah itu melihat Sang Bhagavā berjalan melalui jalan kereta itu; melihat Beliau, setelah melepaskan gajah Nālāgiri, mereka membawanya ke jalan kereta. Gajah Nālāgiri melihat Sang Bhagavā datang dari jauh; melihat Beliau, setelah mengangkat belalainya, ia berlari menuju Sang Bhagavā, telinga dan ekornya tegak. Kemudian Sang Bhagavā melingkupi gajah Nālāgiri dengan pikiran cinta kasih. Kemudian gajah Nālāgiri, yang terlingkupi oleh pikiran cinta kasih dari Sang Bhagavā, setelah menurunkan belalainya, mendekati Sang Bhagavā; setelah mendekat, ia berdiri di hadapan Sang Bhagavā. Kemudian Sang Bhagavā menepuk kening gajah Nālāgiri dengan tangan kananNya, berkata kepada gajah Nālāgiri dengan syair sebagai berikut:

Jangan gajah, menyerang gajah (di antara manusia), karena serangan gajah (di antara manusia) sungguh menyakitkan, Karena tidak ada tujuan yang baik, bagi pembunuh gajah (di antara manusia) ketika ia telah menyeberang. Jangan sombong, jangan ceroboh, karena mereka yang ceroboh tidak akan pergi menuju tujuan yang baik; Hanya itu yang harus engkau lakukan yang dengannya engkau akan pergi menuju tujuan yang baik”

Kemudian gajah Nālāgiri, setelah meniup debu dari kaki Sang Bhagavā dengan belalainya, setelah menebarkannya di atas kepalanya, mundur berlutut sambil menatap Sang Bhagavā. kembali ke kandangnya. Pada saat itu orang-orang menyanyikan syair ini:

“Beberapa dijinakkan dengan kayu, dengan tongkat kendali dan cambuk, Gajah itu dijinakkan oleh Sang Bijaksana Agung tanpa tongkat, tanpa senjata” . [Vinaya, Cullavagga, Sanghabheda]
    Note:
    Kitab komentar menyatakan bahwa kelak Nalagiripun akan menjadi yang tercerahkan, setelah: Metteyya, Rama [Raja], Pasenadi of Kosala [Raja], Abhibhu [Deva], Dighasoni [Asura], Candani [Brahmana], Subha [Anak Muda], Todeyya [Brahmana], Nalagiri dan Palaleya [kedua2nya Gajah]
Setelah kejadian ini, Orang-orang kemudian merendahkan, mengkritik, menyebarkan, celaan terhadap Devadatta. Akibatnya, perolehan dan kehormatan Devadatta berkurang; perolehan dan kehormatan Sang Bhagavā bertambah. [Vinaya, Cullavagga, Sanghabheda]

Usaha Devadatta dalam membunuh Buddha menuai kecaman dari banyak orang. Mereka menyalahkan Raja Ajàtasattu, dengan berkata, “Devadatta yang menyebabkan kematian Raja Bimbisàra kita. Devadatta yang mengirim para pembunuh. Dialah yang menjatuhkan batu; dan sekarang ia mengirim Gajah Nalagiri untuk membunuh Guru. Namun penjahat begitu diangkat sebagai guru oleh Raja Ajàtasattu yang selalu bepergian bersamanya.” Ketika Raja Ajàtasattu mendengar kecaman banyak orang itu, ia memerintahkan untuk menarik persembahan rutin lima ratus kendi makanan kepada Devadatta dan ia berhenti mengunjungi mantan gurunya itu. Para penduduk juga, berhenti mempersembahkan makanan kepada Devadatta yang mengunjungi rumah mereka untuk mengumpulkan makanan. [RAPB buku ke-2 hal. 1808]

Sang Buddha memperingati Devadatta dan Perpecahan Sangha
Devadatta melihat perolehannya semakin berkurang hari demi hari, Ia memutuskan untuk melakukan sesuatu hal dramatis demi penghidupannya.

Kemudian Devadatta mendatangi Kokālika, Kaṭamorakatissaka, putera Nyonya Khaṇḍā, dan Samuddadatta: “Yang Mulia, Marilah, kita memecah-belah Saṅgha Petapa Gotama dan merusak kerukunan..Kita menghadap pada petapa Gotama dan meminta 5 hal dengan mengatakan: ‘Yang Mulia, dalam berbagai cara Yang Mulia memuji sedikit keinginan, merasa puas, melenyapkan (keburukan), berhati-hati, berbelas kasih, mengurangi (rintangan-rintangan), mengerahkan kegigihan. Yang Mulia, 5 hal ini berperan besar dalam hal sedikit keinginan,…, mengerahkan kegigihan. Baik sekali, Yang Mulia, jika para bhikkhu, seumur hidup mereka harus:
  1. menjadi penghuni-hutan; siapa pun yang bepergian ke dekat desa, maka ia melakukan pelanggaran.
  2. menjadi penerima dana makanan dengan cara berjalan untuk mengumpulkannya; siapa pun yang menerima suatu undangan, maka ia melakukan pelanggaran.
  3. menjadi pemakai jubah kain buangan; siapa pun yang menerima jubah yang diberikan oleh perumah tangga, maka ia melakukan pelanggaran.
  4. berdiam di bawah pohon; siapa pun yang berada di bawah atap, maka ia melakukan pelanggaran.
  5. tidak boleh makan ikan dan daging, siapa pun yang memakan ikan dan daging, maka ia melakukan pelanggaran’
Petapa Gotama tidak akan menyetujui hal-hal ini. Maka kemudian kita akan menarik orang-orang melalui ke-5 hal ini.”

Kemudian Devadatta bersama dengan teman-temannya menghadap Sang Bhagavā dan menyampaikan hal tersebut. Sang Buddha berkata: ”Cukup, Devadatta, Siapa pun yang menghendaki, Ia:
  1. boleh menjadi penghuni-hutan; boleh menetap di dekat desa;
  2. boleh menerima dana makanan dengan cara berjalan untuk mengumpulkannya; boleh menerima undangan;
  3. boleh menjadi pemakai jubah kain buangan; boleh menerima jubah dari para perumah tangga
  4. selama 8 bulan (selain masa vassa), Devadatta, Aku mengizinkan para bhikkhu menetap di bawah pohon
  5. boleh memakan Ikan dan daging asalkan murni dalam 3 hal: TIDAK melihat secara langsung pada saat binatang tersebut dibunuh, TIDAK Mendengar secara langsung suara binatang tersebut pada saat dibunuh dan Mengetahui bahwa hidangan daging itu, TIDAK KHUSUS dibunuh agar dapat diberikan padanya”
Devadatta merasa senang dan gembira, karena Sang Buddha tidak menyetujui 5 hal usulannya itu, Ia kemudian bangkit dari duduknya bersama dengan teman-temannya, pamit pada Sang Bhagavā.

Kemudian Devadatta pergi bersama para pengikutnya ke Ràjagaha menyebarkan ajarannya. Mereka mengatakan kepada para penduduk bahwa Guru telah menolak apa yang menurut mereka adalah permohonan yang sangat beralasan karena Lima hal itu mengarah kepada ketidakmelekatan, dan seterusnya, dan mereka sebaliknya akan hidup dengan mematuhi Lima hal itu.

Para penduduk yang tidak berkeyakinan dan kurang cerdas memuji Devadatta dan mencela Sang Buddha. Mereka yang berkeyakinan dan cerdas mengkritik Devadatta karena berusaha menciptakan perpecahan di dalam Sangha dan melangkahi kekuasaan Guru. Para bhikkhu yang mendengar kata-kata para penduduk itu juga mengkritik Devadatta dan melaporkan hal itu kepada Sang Buddha Buddha.

Kemudian Sang Buddha bertanya kepada Devadatta: “Benarkah, seperti dikatakan, bahwa engkau, Devadatta, memecah-belah Saṅgha, menghancurkan kerukunan?”

Devadatta: “Benar, Yang Mulia”. Sang Buddha: “Cukup, Devadatta, jangan memecah-belah Saṅgha, karena ini berakibat sangat serius. Siapa pun yang memecah Saṅgha yang bersatu, Ia membentuk keburukan yang bertahan selama 1 kappa; Ia menderita di neraka selama 1 kappa; tetapi siapa pun, Devadatta, yang merukunkan Saṅgha yang terpecah, maka ia membentuk kebajikan luhur, Ia bergembira di alam surga selama 1 kappa. Cukup, Devadatta, jangan memecah-belah Saṅgha, karena ini berakibat sangat serius”

Pagi harinya, ketika YM Ānanda memasuki Rājagaha untuk menerima dana makanan, Devadatta mendekatinya dan berkata: “Yang Mulia Ānanda, Mulai hari ini aku akan menjalankan Uposatha yang berbeda dengan Sang Bhagavā dan berbeda dengan Saṅgha para bhikkhu dan akan menjalankan tindakan resmi untuk kelompok ini”. YM Ananda menyampaikan hal ini kepada Sang Buddha dan setelah memahami persoalan ini, sang Buddha mengucapkan syair ini: “Adalah mudah bagi orang baik melakukan kebaikan, melakukan kebaikan bagi orang jahat adalah sulit. Adalah mudah bagi orang jahat melakukan kejahatan, melakukan kejahatan bagi para mulia adalah sulit

Di hari Uposatha itu, Devadatta membagikan kupon suara, dengan mengatakan: “Yang Mulia, Kami, setelah menghadap Petapa Gotama, memohon ke-5 hal ini … Petapa Gotama tidak menyetujui ke-5 hal ini, tetapi kami akan hidup dengan menjalankan ke5 hal ini. Jika ke-5 hal ini sesuai dengan kehendak Yang Mulia, silakan masing-masing mengambil satu kupon suara”. Saat itu sebanyak 500 bhikkhu, yaitu para orang Vajji dari Vesālī, yang baru saja ditahbiskan dan masih belum berpengalaman berpikir: “Ini adalah aturan, ini adalah disiplin, ini adalah instruksi Sang Guru,” mereka mengambil kupon suara. Hari itu, Sangha terpecah untuk pertama kalinya. Kemudian Devadatta bersama 500 bhikkhu ini melakukan perjalanan menuju Gayāsisa [Vinaya, Cullavagga, Sanghabheda]

Kelompok bhikkhu pendukung Devadatta
YM Sāriputta dan Moggallāna menghadap pada Sang Bhagavā dan YM Sāriputta menyampaikan bahwa Devadatta, setelah memecah-belah Saṅgha, pergi ke Gayāsisa dengan membawa 500 bhikkhu. Sang Buddha kemudian mengutus Sāriputta dan Moggallāna ke Gayāsisa untuk mengajarkan Dhamma kepada ke-500 bhikkhu yang dibawa Devadatta tersebut. Ketika itu, Devadatta, dengan dikelilingi sejumlah besar pengikutnya, sedang mengajarkan dhamma, melihat kedatangan mereka, Ia berkata: “Lihatlah, para bhikkhu, betapa baiknya dhamma yang kuajarkan sehingga bahkan Sāriputta dan Moggallāna – datang untuk membenarkan dhammaku”. Kokālika mengingatkan Devadatta agar mewaspadai kedatangan mereka, namun diabaikannya. Devadatta kemudian mengundang Sāriputta untuk duduk pada setengah tempat duduknya. Namun ditolaknya dan mengambil tempat duduk lainnya, demikian pula dengan Moggallāna.

Devadatta, setelah menggembirakan, menyenangkan, membangkitkan semangat, membahagiakan para bhikkhu hingga larut malam dengan khotbah dhammanya, Ia berkata pada YM Sāriputta: "Sudilah engkau, YM Sāriputta untuk membabarkan dhamma kepada para bhikkhu. Punggungku sakit dan aku akan meregangkannya”. YM Sariputta menyetujuinya. Kemudian Devadatta, setelah melipat 4 jubah luarnya, Ia berbaring namun karena lelah, lengah dan tanpa perhatian, Ia jatuh terlelap tidur.

YM Sāriputta kemudian memberikan khotbah dhamma tentang membaca-pikiran sedangkan YM Moggallāna memberikan khotbah dhamma tentang kekuatan mental. Setelah mendengarkan kotbah-kotbah tersebut, munculah pada diri ke-500 Bhikkhu tersebut suatu penglihatan-dhamma, yang tanpa debu, tanpa noda bahwa “segala sesuatu yang muncul akan lenyap”. YM Sāriputta kemudian mengajak ke-500 Bhikkhu tersebut untuk menghadap Sang Bhagavā.

Kemudian Kokālika membangunkan Devadatta mengabarkan bahwa para bhikkhu itu telah diambil alih oleh Sāriputta dan Moggallāna dan menyesali mengapa Devadatta mengabaikan peringatannya untuk tidak mempercayai mereka. [Vinaya, Cullavagga, Sanghabheda]

Kitab komentar menyampaikan Ketika Devadatta terbangun dan mengetahui bahwa ke-500 bhikkhu telah diambil alih, Ia kemudian muntah darah dan jatuh sakit. Setelah menderita sakit selama 9 bulan, dia meminta murid-muridnya untuk membawanya menghadap Sang Buddha di Vihara Jetavana. Ketika Devadatta dan rombongannya mencapai kolam di dekat Vihara Jetavana, para pengangkutnya meletakkan tandu tempat berbaringnya di tepi kolam, dan mereka pergi mandi. Devadatta bangun dari tempat berbaringnya, dan menaruhkan kedua kakinya di tanah. Pada saat itu juga kakinya masuk ke dalam bumi, dan sedikit demi sedikit dia ditelan bumi. Setelah kematiannya, dia terlahir di Neraka Avici [Kitab komentar untuk Jataka no. 466; RAPB, Buku ke-2, hal 1818-1820]. Setelah penderitaan di neraka Avici selama 100.000 Kalpa, Devadatta akan terlahir kembali dan menjadi Pacceka Buddha dengan nama Atthissara. [Kitab komentar Dhammapada: Devadattavatthu dan Milianda Panha:Mendakopanho. RAPB, buku ke-2, hal.1820]

Musnahnya Kapilavatthu
Raja Pasenadi dari kerajaan Kosala, walau mempunyai beberapa Istri namun tidak satupun yang memberikannya anak lelaki, ini membuatnya kecewa. Sang Buddha pernah memberikan wejangan padanya tentang keunggulan anak wanita:
    “Seorang perempuan, O, Raja manusia. Dapat lebih baik daripada seorang lelaki: Ia mungkin menjadi bijaksana dan bermoral, Seorang istri yang baik, menghormati mertuanya bagai Deva.

    “Putra yang ia lahirkan mungkin menjadi seorang pahlawan, O, Raja manusia. Putra dari seorang perempuan yang terberkahi itu mungkin bahkan akan memerintah wilayahnya. [SN 3.16/Mallika Sutta, Puteri]
Kemudian, agar dapat mempunyai hubungan kekerabatan dengan Sang Buddha, juga untuk memperbesar peluangnya mendapatkan anak lelaki, maka Raja Pasenadi mengirim utusan ke Kapilavatthu agar dapat menikahi seorang putri dari suku Sakya. Saat itu, posisi suku Sakya adalah pelayan raja Kosala
    ..suku Sakya adalah pelayan Raja Kosala. Mereka memberikan pelayanan, dan memberikan penghormatan kepadanya, bangkit dan menyembah dan memberikan layanan selayaknya. [DN 27/Agganna Sutta]
Suku Sakya enggan mengabulkan permintaan ini, namun takut juga dengan kemarahan raja Kosala, jika menolaknya. Untuk itu, dalam suatu rapat suku Sakya, diputuskan untuk memberikan Vāsabhakhattiyā, putri raja Mahānāma yang lahir dari seorang budak wanita. Raja Pasenadi, mengangkat Vāsabhakhattiyā menjadi Permaisuri dan dari perkawinan ini, lahirlah seorang putera yang bernama Vidudabha. Ketika Vidudabha berusia 16 tahun, Ia berkunjung ke Kapilavatthu, di sana, ia mendengar perkataan seorang budak wanita bahwa Vidudabha cuma anak seorang budak. Raja Pasenadi akhirnya tahu bahwa wanita yang dinikahinya ternyata anak seorang budak wanita, Ia merasa tertipu dan marah besar, Ia cabut atribut kehormatan isteri dan putranya itu namun pada akhirnya, Raja Pasenadi memulihkan kembali status mereka. Vidudabha menjadi mendendam karena merasa terhina dan bersumpah akan menghancurkan suku Sākya.

Ketika Pasenadi berusia 80 tahun, Sang Buddha juga berusia 80 tahun dan di tahun itu, Raja Pasenadi pergi berkunjung kepada Sang Buddha yang sedang berada di Medatalumpa/Ullumpa. [MN 89/ Dhammacetiya]. Saat itulah, Vidudabha merampas tahta Kosala. Mengetahui pemberontakan ini, raja Pasenadi bergegas menuju Rajagraha untuk meminta bantuan Ajātasattu (pernah dipulihkan tahtanya oleh Pasenadi, ketika Ajatasattu kalah darinya dan juga telah menjadi menantunya karena dinikahkan dengan anak perempuannya, Vajira). Namun ketika Pasenadi tiba di Rajagaha, hari sudah malam, gerbang kota telah ditutup. Kelelahan akibat perjalanan tersebut, malam itu juga, raja Pasenadi wafat

Vidudabha, Raja baru Kosala, ingat akan sumpahnya untuk membalas suku Sakya. Ia kerahkan pasukan menuju Kapilavastu. Sang Buddha, mengetahui bencana ini sulit akibat masaknya kondisi kamma suku Sakya, yang di kehidupan lampau, mereka meracuni sungai untuk membunuh biota sungai.

Sang Buddha berusaha mengurungkan niat Vidudabha. Untuk itu, beliau pergi menuju perbatasan Kapilavatthu-Kosala, berdiri menunggu di bawah sebuah pohon yang sangat tidak rindang. Pohon ini terletak di area kerajaan Kapilavatthu. Sementara tidak jauh dari situ, di area kerajaan Kosala, terdapat sebuah pohon beringin yang sangat rindangnya. Ketika Vidūdabha, melihat Sang Buddha, Ia memohon agar sang Buddha duduk di bawah pohon beringin yang rindang, sang Buddha mengatakan bahwa sanak keluarganya telah meneduhkannya (karena banyak dari mereka telah menjadi arahat). Mengetahui sang Buddha mencegahnya, Vidūdabha menarik mundur pasukannya. Paparan teriknya sinar matahari akibat menunggu, membuat Sang Buddha menderita sakit kepala yang berlangsung hingga akhir hidupnya (UdA.265; Ap.i.300).

3x Vidudabha mencoba menyerang, 3x pula sang Buddha menantinya di bawah pohon yang sama, sehingga Vidudabha lagi-lagi menarik mundur pasukannya. Namun ini tetap tidak menghentikan Vidudabha, maka diupayanya yang ke-4x, rupanya Sang Buddha tidak lagi ada menunggu di bawah pohon. Vidūdabha kemudian memerintahkan menyerang dan membunuhi seluruh suku Sakya, termasuk bayi-bayi. Di perjalanan pulang, ketika Ia dan pasukannya beristirahat di tepian sungai, terjadi banjir besar yang menenggelamkan mereka. [kitab Komentar: Dhammapada no.47 dan Jataka no.465; Apadana no.392/Pubbakammapilotika, juga Pallava ke-11 dari Avadānakalpalatā]

Beberapa Penyakit Yang Diderita Sang Buddha
Sekurangnya di paruh ke-2 pencerahan (di atas tahun ke-20), sang Buddha terkena beberapa penyakit, di antaranya:
  • Di Rajagaha: terkena sembelit (Vinaya: Civara)
  • Di Kapilavatu, di Nalaka/Kosala. Di Pava/Malla: menderita sakit punggung (Thera Apadana no.292: piṭṭhidukkhaṃ dan MN 53/SN 35.243; AN 10.67,68; DN 33)
  • Di perbatasan antara Kosala-Kapilavatthu terkena sakit kepala (Thera Apadana no.292: sīsadukkhaṃ)
  • Selama musim vassa terakhir di Veluva: dilanda sakit keras dengan rasa sakit menusuk terus menerus yang sangat mematikan namun beliau menahannya tanpa mengeluh, kemudian beliau mengerahkan upaya menundukan penyakitnya dan penyakitnya mereda. Oleh karenanya sang Buddha mengatakan kepada Ananda bahwa tubuh beliau semakin rentan, “Ananda, Aku sekarang ini, menua semakin rapuh, menua menjadi usang, Aku hampir mencapai 80 tahun. Ananda, bagai sebuah kereta tua yang dapat jalan dengan diikat, demikian kira-kira tubuh Sang Tathāgata dapat hidup dengan disokong. Hanya ketika Sang Tathāgata tidak memperhatikan gambaran-gambaran, dengan lenyapnya perasaan-perasaan tertentu, pikiran terpusat tanpa gambaran, maka ketika itulah tubuh Sang Tathāgata keadaan baik [DN 16/Maha Parinibbana sutta, SN 47.9]
  • Di hari terakhir beliau, di Pava: kharo ābādho uppajji (sakit keras melandanya), lohitapakkhandikā (area antara dada - diagframa/abdomen memerah) pabāḷhā vedanā vattanti māraṇantikā (dengan rasa sakit menusuk/terus menerus yang sangat mematikan), seperti yang dirasakan saat di Veluva, namun beliau menahannya tanpa mengeluh [DN 16/MahaParinibbana Sutta, Ud 8.5/Cunda Sutta]
Menetapkan Saat Parinibbana
Sekitar 10 bulan menjelang Parinibbana [kitab komentar untuk dhammapada syair ke-206-208], Sang Buddha bervasa di Beluva. Ketika telah memasuki musim hujan, beliau dilanda sakit keras dengan rasa sakit menusuk terus menerus yang sangat mematikan, namun beliau menerimanya tanpa mengeluh. Kemudian Sang Bhagava berpikir bahwa tidak tepat baginya tanpa memberitahukan pengikutnya dan juga tanpa memberikan nasehat kepada bhikkhu Sangha untuk padam sempurna, kemudian beliau mengerahkan upaya menundukkan penyakitnya yang mengarah pada berlanjutnya kehidupan. Akhirnya penyakit beliaupun mereda [DN 16/Maha Parinibbana Sutta dan SN 47.9/Gilana Sutta. Buddhaghosa, abad ke-5 M, pada komentar untuk DN dan SN: "ahaṃ dasamāsamattaṃ ṭhatvā parinibbāyissāmi .. samāpattivikkhambhitā vedanā dasa māse na uppajjiyeva" (sekitar 10 bulan menjelang Parinibbana .. perasaan-perasaan yang ditekan melalui pencapaiannya itu tak muncul lagi selama 10 bulan)]

Setelah Sang Bhagava sembuh dari sakitnya, beliau menyampaikan pada Ananda bahwa beliau menua semakin rapuh, menua menjadi usang, di usia hampir mencapai 80 tahun, tubuh beliau bagai sebuah kereta tua yang dapat jalan karena diikat, yaitu hanya ketika beliau tidak memperhatikan gambaran-gambaran dan dengan lenyapnya perasaan-perasaan tertentu, pikiran terpusat tanpa gambaran, maka ketika itulah tubuh Sang Tathāgata dalam keadaan baik. Kemudian beliau menasehati Ananda agar seperti pulau, menjadikan diri sendiri sebagai pelindung, tidak berlindung pada yang lain, menjadikan Dhamma sebagai pulau, sebagai pelindung, tidak dengan perlindungan lainnya yaitu dengan rajin melakukan 4 landasan perhatian [DN 16/Maha Parinibbana Sutta dan SN 47.9/Gilana Sutta]

Setelah musim hujan, Sang Buddha masih menetap di sekitar Vesali, diantaranya di KutagaraSala:
    Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Vesālī di Hutan Besar di Aula beratap lancip. Kemudian, pada suatu pagi, Sang Bhagavā merapikan jubah dan, membawa mangkuk dan jubahNya, memasuki Vesālī untuk menerima dana makanan.. [Udana 6.1, SN 51.10 dan AN 8.70]
Kemudian di suatu waktu, setelah menerima dana makan di Vesali, Beliau mengajak Ananda menuju cetiya Capala dan di sana Māro pāpimā (Māra penggoda) mendatangi Sang Bhagavā:
    ‘Bhagavā, sudilah Yang Terberkahi sekarang mencapai Nibbāna akhir, sudilah Yang Sempurna menempuh Sang jalan sekarang mencapai Nibbāna akhir. Sekarang adalah waktunya bagi Sang Bhagavā untuk mencapai Nibbāna akhir Karena … sekarang, para [bhikkhu, bhikkhuni, Upasaka/umat awam pria dan Upasika/umat awam wanita] sang Bhagava telah menjadi siswa yang sempurna, terlatih, terampil, menguasai Dhamma, terlatih dalam keselarasan dengan Dhamma, terlatih dengan baik dan berjalan di jalan Dhamma, yang telah lulus dari apa yang mereka terima dari Guru mereka, mengajarkan, menyatakan, mengukuhkan, membabarkan, menganalisa, menjelaskan; hingga mereka mampu menggunakan Dhamma untuk membantah ajaran-ajaran salah yang telah muncul, dan mengajarkan Dhamma yang memiliki hasil yang menakjubkan …sekarang, kehidupan suci telah mantap dan berkembang, menyebar, dikenal luas, diajarkan baik di antara para deva dan manusia di mana-mana..”
Sang Bhagava menjawab: "Pāpima, jangan kau menyusahkan dirimu. Saat parinibbana Sang Tathagata belum tiba, 3 bulan lagi Sang Tathagata akan Parinibbana”.

Kemudian, sang Buddha dengan mengetahui sepenuhnya dalam perhatian, beliau melepaskan ikatan vitalitasnya. Pelepasan ikatan vitalitas ini menimbulkan gempa bumi dahsyat yang menyeramkan, membuat merinding dengan kilat gemuruh membelah. Dan Sang Bhagava melihat pentingnya hal ini mengucapkan kata-kata:

keberlangsungan yang terukur maupun tidak
bentukan keberlangsungan telah sang muni potong
Dalam kedamaian diri
merobek segel keberlangsungan


Ananda yang merasa heran dengan terjadinya gempa bumi dahsyat yang menyeramkan, membuat merinding dengan kilat gemuruh membelah itu, kemudian mendatangi Sang Buddha untuk bertanya sebab-sebab terjadinya gempa. Sang Buddha menjelaskan 8 sebab terjadinya suatu gempa, yaitu
  1. Daratan besar ini disokong oleh cairan, cairan disokong oleh tekanan udara, tekanan udara antar rongga. Sewaktu terjadi pergerakan tekanan udara yang besar, pergerakan tekanan udara yang besar membuat cairan bergoncang. Dengan bergoncangnya cairan, daratan bergoncang. Ini adalah sebab pertama gempa bumi
  2. Ketika seorang pertapa atau brahmana yang mempunyai kekuatan pikiran yang terlatih baik atau mahluk dewa yang mempunyai kekuatan psikis yang sangat besar mengembangkan secara terbatas pada persepsi padat namun tak terbatas di persepsi rekatan, ini menyebabkan daratan bergetar, bergoyang, dan keras bergoncang
  3. Ketika sang Bodhisatta meninggalkan alam surga Tusita mengetahui sepenuhnya dalam perhatian memasuki rahim seorang ibu..
  4. Ketika sang Bodhisatta mengetahui sepenuhnya dalam perhatian keluar dari rahim seorang Ibu..
  5. Ketika sang Tathagata mencapai penerangan sempurna yang tiada banding..
  6. Ketika sang Tathāgata memutar Roda Dhamma..
  7. Ketika sang Tathagata dengan mengetahui sepenuhnya dalam perhatian melepas ikatan vitalitasnya..
  8. Ketika sang Tathagata mencapai unsur Nibbāna tanpa sisa. Semua ini, adalah delapan alasan, delapan penyebab gempa bumi dahsyat
Setelah menjelaskan hal tersebut, Sang Buddha menyampaikan bahwa hari ini Mara pāpimā memohonnya agar parinibbana hari itu juga, namun ditolaknya karena beliau akan parinibbana 3 bulan lagi. Mendengar ini, Ananda berusaha memohon agar sang Buddha memperpanjang umur dan tidak segera parinibbana, namun sang Buddha menolaknya, "Ananda, bukanlah Aku telah mengatakan bahwa segala yang kita senangi dan menyenangkan pasti akan mengalami perubahan, berpisah dan berganti? Apapun yang dilahirkan, menjelma, tersusun, pasti mengalami kerusakan—bahwa ini tidak akan menjadi rusak adalah tidak mungkin. Dan bahwa apa yang telah dilepaskan, dihentikan, ditolak, dibuang, ditinggalkan. Sang Tathāgata telah melepaskan ikatan vitalitas. Sang Tathāgata pernah mengatakan satu kali: 'tak lama lagi adalah parinibananya sang Tathagata. Tiga bulan dari sekarang, Sang Tathāgata akan mencapai Nibbāna akhir’. Bahwa sang Tathāgata harus menarik kembali suatu pernyataan demi untuk hidup, itu adalah tidak mungkin"[DN 16/Maha Parinibbana Sutta, Udana 6.1, SN 51.10 dan AN 8.70]
    Bulan apa Sang Buddha Parinibbana?
    Sebelum kita telusuri, ada baiknya, kita kenali tentang musim dan bulan yang berlangsung di India:

    Vassāna/Musim Hujan (Jul-Nov):

    • Musim Hujan/Vassāna (Juli-Sept): Bulan Savana (Juli-Aug) dan Bulan Pottapada (Aug-Sept)
    • Musim Gugur/Sarada (Sept-Nov): Bulan Assayujja/Pubba kattika (Sept-Oct) dan Bulan Kattika/Paccima Kattika (Oct-Nov)

    Hemanta/Musim Salju (Nov-Mar):

    • Musim Salju/Hemanta (Nov-Jan): Bulan Māgasira (Nov-Des) dan Bulan Phussa (Des-Jan)
    • Musim Dingin/Sisira (Jan-Mar): Bulan Māgha (Jan-Feb) dan Bulan Phagguṇa (Feb-Mar)

    Gimhāna/Musim Panas (Mar-Jul):

    • Musim Semi/Vasanta (Mar-May): Bulan Citta/Rammaka (Mar-Apr) dan Bulan Vesākha (Apr-May)
    • Musim Panas/Gimha (May-Jul): Bulan Jettha (May-Jun) dan Bulan Asaḷha (Jun-Jul)

    Oleh karena Sutta dan Vinaya tidak menyatakan bulan Parinibbananya sang Buddha, maka terdapat beberapa variasi pendapat mengenai bulannya.

    1. Xuansang, seorang Biksu China abad ke-7 Masehi mencatat bahwa aliran Sartivada merayakan Parinibbana sang Buddha pada hari ke-8, minggu ke-2, di bulan Kattika (Oct-Nov). Pendapat ini beranggapan bahwa sang Buddha sakit di awal musim hujan dan sembuh tak lama kemudian, kemudian MASIH DI AWAL musim hujan, Sang Buddha pergi ke cetiya Capala (sutta TIDAK ADA menyebutkan ini terjadi di musim hujan), 3 bulan kemudian, beberapa hari setelah musim hujan berakhir, yaitu di buan Kattika, sang Buddha Parinibbana.

    2. Sang Buddha wafat 3 bulan setelah musim vassa usai, yaitu di bulan Magha (Jan-Feb). Pendapat ini beranggapan bahwa segera SETELAH masa vassa USAI, yaitu di bulan Kattika, sang Buddha pergi ke cetiya Capala (sutta juga TIDAK ADA menyebutkan ini terjadi di bulan Kattika), 3 bulan setelah bulan Kattika, yaitu bulan Magha, sang Buddha Parinibbana

    3. Pendapat tradisional yang dipercayai hampir seluruh umat Buddha: Sang Buddha parinibbana 9 atau 10 bulan sejak dari permulaan vassa di Veluva, yaitu di bulan Vesakha (Apr-May). Pendapat ini tercantum dalam: Mahavamsa 3.2 (Buddha Parinibbana di bulan Vesakha). Mahavamsa 35.7 (Raja Vasabha/67 M – 111 M mengadakan 44x Festival Vesakha), Dipavamsa 1.24 dan 5.4 (Konsili ke-1 diadakan di bulan ke-2 musim Vassa, 4 bulan setelah Parinibbananya sang Buddha) juga Buddhaghosa dalam beberapa kitab komentarnya, (di antaranya dengan kalimat 10 bulan sebelum parinibbana bervasa di Beluva) dan lain sebagainya

    Bulan mana yang benar?

    Pertama-tama,
    VInaya telah menetapkan: TIDAK BEPERGIAN selama musim Vassa [Vinaya, Mahavagga 3.1-selesai]. Oleh karenanya, perjalanan sang Buddha dan rombongan para bhikkhunya, TIDAK DAPAT dilakukan selama musim hujan, di samping ini akan mengundang celaan masyarakat dan para petapa aliran lain, juga menjadi TIDAK KONSISTEN dengan aturan yang ditetapkan sang Buddha sendiri

    Sutta menyatakan di saat sang Buddha parinibbananya, pohon sala berbunga DILUAR MUSIMNYA

      ..pergi ke hutan Sala di daerah suku Malla, dekat Kusinara.. Setelah tiba, Sang Bhagava berkata kepada Ananda: "Ananda, tolong sediakan tempat berbaring di antara pohon-pohon Sala kembar itu, saya ingin berbaring."…Sang Bhagava membaring diri pada sisi kanan dengan sikap bagaikan singa, meletakkan salah satu kakinya pada kakinya yang lain..Pada saat itu tiba-tiba dua pohon Sala kembar itu berbunga walaupun BUKAN PADA MUSIMNYA untuk berbunga. Bunga-bunga itu jatuh bertaburan di atas tubuh Sang Tathagata … Kemudian Sang Bhagava berkata kepada Ananda: "Ananda, pohon Sala kembar ini berbunga semerbak, meskipun sekarang BUKAN MUSIMNYA BERBUNGA [DN 16/Maha Parinibbana Sutta]

      Pohon sala (Shorea robusta) mulai berbunga di MUSIM HUJAN [Juli - November] (Paradox of leaf phenology: Shorea robusta is a semi-evergreen species in tropical dry deciduous forests in India, hal, 1822). Pohon Sala sering keliru dianggap sebagai cannonball tree [termasuk kelompok Couroupita guianensis. Sering disebut Shiva linga dan Naga lingam. Pohon canonball mulai berbunga pada pertengahan musim panas (May-Juli) - sebelum musim hujan [Juli-Agustus], namun juga dikatakan pohon ini berbunga hampir di sepanjang tahun]

    Dengan informasi ini, jika parnibanna terjadi beberapa hari setelah musim hujan usai TIDAK KONSISTEN dengan informasi sutta. Disamping itu, sutta juga TIDAK MENYEBUTKAN adanya pelaksaaan Kathina yang dilakukan penduduk Vesali. Ini karena sang Buddha MASIH MENETAP SEKIAN LAMA di sekitar Vesali walaupun musim hujan telah usai, yaitu di kūṭāgārasālā, Mahavana dan setelahnya baru beliau dan rombongan pergi ke cetiya Capala:

      Demikianlah yang kudengar. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Vesālī di Kūṭā¬gāra¬sā, Mahāvana. Kemudian, pada suatu pagi, Sang Bhagavā merapikan jubah dan, membawa mangkuk dan jubahNya, memasuki Vesālī untuk menerima dana makanan. Ketika Beliau telah berjalan menerima dana makanan di Vesālī dan telah kembali dari perjalanan itu, setelah makan Beliau berkata kepada Yang Mulia Ānanda: “Bawalah alas duduk, Ānanda. Mari kita pergi ke cetiya Cāpāla .. “

      … Sang Bhagava berkata kepada Mara papima: "Pāpima, jangan kau menyusahkan dirimu. Saat parinibbana Sang Tathagata belum tiba, tiga bulan lagi Sang Tathagata akan Parinibbana”
      [Udana 6.1, SN 51.10 dan AN 8.70]

    Berdasarkan beberapa alasan ini, maka pendapat sang Buddha wafat di bulan Kattika adalah TIDAK TEPAT

    Berapa lama sang Buddha di Kūṭāgārasālā, Mahavana sebelum ke cetiya Capala?
    Walaupun Sutta TIDAK MENYEBUTKAN kata, “yathābhirantaṃ (selama yang Beliau inginkan)” namun hanya menggunakan kata “viharati” (menetap) ketika berada di Kūṭāgārasālā, Mahavana namun lamanya waktu menetap dapat diketahui karena sutta juga memberikan indikasi jelas bahwa saat sang Buddha parinibbana adalah saat MUSIM PANAS:

    Ke-1,
    Di hari terakhir, dalam perjalanan dari Pava ke Kusinara, Sang Bhagava berhenti di bawah sebatang pohon. Beliau kehausan (pipāsito) dan meminta Ananda untuk mengambil air di sungai agar dapat beliau minum

      Sang Buddha:
      "Ananda tolonglah bawakan aku sedikit air, aku haus dan ingin minum."

      Ananda:
      "Bhante, baru saja sejumlah 500 pedati telah menyeberangi cakkacchinna udaka paritta/nadī cakkacchinnā parittā (aliran air yang dangkal/sungai dengan air yang sedikit), dan roda-rodanya telah mengeruhkan air sungai ini. Sebaiknya kita pergi ke sungai Kakutha yang tidak jauh dari sini. Air sungai itu sangat jernih, sejuk dan bening. Sungai itu mudah dicapai dan letaknya sangat baik. Di sana bhante dapat menghilangkan rasa haus dan menyegarkan tubuh

    Sungai dengan air yang sedikit hingga dapat diseberangi rombongan pedati sangat wajar terjadi di musim panas, bukan?

    Ke-2,
    Sang Buddha mandi 2x di sungai Kakhuda:

      .. Kemudian Sang Bhagava pergi ke sungai Kakuttha bersama dengan sekumpulan para bhikkhu. Setelah tiba di tepi sungai itu, Sang Bhagava mandi. Setelah Sang Bhagava mandi, Beliau pergi ke Ambavana. Di tempat ini Beliau berkata kepada Cundaka: "Cundaka tolonglah lipat jubah luarku, lipatlah dalam empat lipatan lalu letakkan di bawah tubuhku. Aku merasa lelah dan ingin beristirahat sebentar."… Kemudian setelah bangun, Sang Buddha pergi ke sungai Kakuttha yang airnya jernih sejuk menyegarkan. Beliau mandi untuk menyegarkan badannya yang lelah.. [DN 16/Maha Parinibbana Sutta]

    Mandi sampai 2x sangat wajar jika terjadi di hari yang sangat panas, di musim panas, bukan?

    Ke-3,
    Bhikkhu Upavana mengipasi Sang Buddha

      Pada waktu itu Upavana sedang di hadapan Sang Bhagava, sambil mengipasi beliau.. [DN 16/Maha Parinibbana Sutta]

    Mengipasi adalah kegiatan yang wajar terjadi di hari yang sangat panas, di musim panas, bukan?

    Musim Panas terjadi 9 atau 10 bulan setelah musim Hujan. Berdasarkan beberapa alasan ini, maka pendapat sang Buddha wafat di bulan Magha adalah TIDAK TEPAT, sehingga pendapat bahwa sang Buddha parinibbana di musim panas, di bulan Vesakha sangat wajar untuk diterima.
Ajaran-ajaran Terakhir Kepada Para Bhikkhunya
Kemudian Sang Bhagava pergi ke Kutagara Sala, Mahavana. Beliau meminta Ananda untuk mengumpulkan para Bhikkhu dan memberikan wejangan bahwa dhamma yang telah disampaikanNya berupa 37 Boddhipakkhiyadhamma, yaitu:
  • 4 landasan perhatian: perenungan pada Jasmani, Perasaan, Pikiran, & Bentukan pikiran
  • 4 usaha benar: memunculkan keinginan untuk tidak memunculkan kondisi-kondisi tidak bermanfaat yang belum muncul; memunculkan keinginan untuk meninggalkan kondisi kondisi tidak bermanfaat yang telah muncul; memunculkan keinginan untuk memunculkan kondisi-kondisi bermanfaat yang belum muncul dan memunculkan keinginan untuk mempertahankan kondisi-kondisi bermanfaat yang telah muncul, untuk ketidakmundurannya, untuk meningkatkannya, untuk memperluasnya, dan memenuhinya melalui pengembangan
  • 4 landasan kekuatan pemusatan pikiran: dari keinginan disertai bentukan kerja keras; dari ketekunan disertai bentukan kerja keras; dari pikiran disertai bentukan kerja keras dan dari penyelidikan pikiran disertai bentukan kerja keras
  • 5 Indria spiritual dan 5 Kekuatan: keyakinan, usaha, perhatian, pemusatan pikiran dan kebijaksanaan
  • 7 faktor penerangan sejati: perhatian; Penyelidikan keadaan; ketekunan usaha; Semangat kegembiraan; Ketenangan; Pemusatan pikiran dan Kesimbangan perasaan
  • 8 jalan mulia: Pandangan benar; Kehendak benar; Ucapan benar; Perbuatan benar; Pencaharian benar; Usaha benar; Perhatian benar dan Pemusatan pikiran yang benar
Agar Dhamma tersebut dipelajari dengan seksama, dipelihara, dikembangkan dan praktekkan berulang-ulang. Dengan demikian kehidupan suci itu akan dapat diwujudkan dan Dhamma semua berlangsung lama demi kesejahteraan dan kebahagiaan umat manusia berdasarkan kasih sayang pada dunia ini, untuk kebaikan mahluk-mahluk dan kebahagiaan para dewa dan manusia.

Kemudian Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu: ”Aku nasehati kalian: yang berkondisi tunduk pada kelapukan, dengan kewaspadaan capailah tujuan. Tak lama lagi Sang tathagatha akan paranibanna. 3 bulan dari sekarang, sang Tathagata akan Paranibanna. Dengan kewaspadaan, perhatian menjadi bermoral luhur, kendalikanlah kehendak disertai pikiran yang terjaga. Siapapun melatih ajaran dan disiplin, hidup dalam kewaspadaan, Ia akan meninggalkan lingkaran kelahiran" [DN 16/Maha Parinibbana Sutta] [Lihat juga: "Ringkasan Ajaran Buddha]

Kunjungan Terakhir ke Kota Vesali
Kemudian Sang Bhagava mempersiapkan diri untuk pindapata (menerima dana makanan) di pagi hari. Sang Bhagava mengambil patta serta jubahnya lalu pergi ke Vesali. Sesudah mendapat dana dan selesai bersantap, beliau kembali ke tempatnya. Beliau memandang Vesali dengan pandangan sebagai gajah (para Buddha, tidak menengok ke belakang, melainkan membalikkan badan Beliau, seperti lakunya para gajah) dan berkata kepada Ananda : "Ananda inilah yang terakhir kalinya Sang Tathagata meninjau Vesali. Marilah Ananda kita pergi ke Bhadagama". Setelah Sang Bhagava cukup lama berada di Bhadagama, Beliau bersabda kepada Ananda: "Marilah Ananda, kita pergi ke Hattigama bersama-sama dengan para bhikkhu." Demikianlah Sang Bhagava lama berdiam di Hattigama. Beliau lalu pergi ke Ambagama, kemudian ke Jambagama. Di setiap tempat yang disinggahinya, Sang Bhagava kerap berpesan kepada para bhikkhu:
    Ini adalah moralitas, ini adalah meditasi, ini adalah kebijaksanaan. Samadhi yang dilandasi sila akan menghasilkan buah dan manfaat yang besar. Kebijaksanaan yang dilandasi Samadhi akan menghasilkan buah dan manfaat yang Besar. Pikiran yang dilandasi kebijaksanaan akan sepenuhnya terbebas dari kekotoran/noda, yaitu, indria, penjelmaan, ketidaktahuan
Setelah Sang Bhagava lama berdiam di Jambagama, beliau berkata kepada Ananda : "Ananda, marilah kita pergi ke Bhoganagara. Di sana Sang Buddha beliau menyampaikan cara menyikapi klaim-klaim bahwa itu adalah ajaran sang Buddha atau bukan, yaitu dengan membandingkan klaim-klaim itu dengan sutta-sutta dan vinaya:
  1. Buddha. ..“Di hadapan Sang Bhagavā aku mendengar hal ini; di hadapan Beliau aku mempelajari hal ini: inilah Dhamma/Sutta, inilah Vinaya/Patimokha/disiplin, inilah Ajaran Sang Guru” maka, kalian tidak boleh menerima atau menolak kata-katanya. Kemudian tanpa menerima atau menolak, kata-kata dan frasenya harus dengan baik dipelajari, dibandingkan dengan sutta-sutta dan dilihat di vinaya (sutte otāretabbāni, vinaye sandassetabbāni), Jika telah dibandingkan dengan sutta-sutta dan telah dilihat di vinaya, tidak selaras dengan sutta-sutta dan tidak ada di vinaya, maka “Pasti ini bukan kata-kata Sang Buddha, hal ini telah keliru dipahami bhikkhu ini,” dan kata-katanya harus ditolak. Jika telah dibandingkan dengan sutta-sutta dan telah dilihat di vinaya, selaras dengan sutta-sutta dan ada di vinaya, maka “Pasti ini adalah kata-kata Sang Buddha, hal ini telah dengan benar dipahami bhikkhu ini.” Ini adalah kriteria ke-1.
  2. Sangha. ..“dihadapan sangha itu, Aku mendengar, mempelajari hal ini: inilah Dhamma, inilah disiplin, inilah Ajaran Sang Guru,” maka, kalian tidak boleh menerima atau menolak kata-katanya ... (seperti di atas). Ini adalah kriteria ke-2.’
  3. Para Bhikkhu Senior. ..“di hadapan beberapa bhikkhu senior terpelajar yang menguasai ajaran, ahli dalam Dhamma, vinaya dan kerangka ajaran itu, Aku mendengar, mempelajari hal ini: inilah Dhamma, inilah disiplin, inilah Ajaran Sang Guru,” ... (seperti di atas). Ini adalah kriteria ke-3.’
  4. Seorang Bhikkhu Senior. ..“ di hadapan seorang bhikkhu senior terpelajar yang menguasai ajaran, ahli dalam Dhamma, vinaya dan kerangka ajaran, Aku mendengar, mempelajari hal ini: inilah Dhamma, inilah disiplin, inilah Ajaran Sang Guru,” ... (seperti di atas). Ini adalah kriteria ke-4' [DN 16/Maha Parinibbana Sutta dan AN 4.180/Maha Padesa Sutta]
Juga ditempat itu, lagi sang Buddha berpesan
    Ini adalah moralitas, ini adalah meditasi, ini adalah kebijaksanaan. Samadhi yang dilandasi sila akan menghasilkan buah dan manfaat yang besar. Kebijaksanaan yang dilandasi Samadhi akan menghasilkan buah dan manfaat yang Besar. Pikiran yang dilandasi kebijaksanaan akan sepenuhnya terbebas dari kekotoran/noda, yaitu, indria, penjelmaan, ketidaktahuan
Setelah itu, Sang Buddha bersama sejumlah besar para bikhhu meneruskan perjalanan ke Pava dan tinggal di di Ambavana milik Cunda, si pandai besi. [DN 16/Maha Parinibbana Sutta]

Makanan terakhir Sang Buddha
Di Ambavana, Sang Bhagava mengajarkan Cunda, pandai-besi, tentang dhamma yang telah membangkitkan semangatnya dan menyebabkan hatinya sangat gembira. Kemudian Cunda mengundang Sang Buddha bersama para Bhikkhu untuk datang kekediamannya esok hari untuk menerima dana makanan. Setelah sang Buddha menerima undangannya, Cunda pulang kerumahnya untuk membuat makanan yang keras serta yang lunak dan makanan yang terdiri dari Sukaramaddava (daging babi muda).

Keesokan harinya sang Buddha dan rombongan tiba, duduk di tempat yang telah disediakan. Kemudian sang Buddha berkata kepada Cunda: "Hidangan Sukaramaddava (daging babi muda) yang telah engkau sediakan, hidangkanlah itu untukKu. Sedangkan makanan lain yang keras dan lunak, saudara dapat hidangkan kepada para bhikkhu". Cunda kemudian menghidangkannya sesuai kehendak Sang Buddha
    Apa arti Sūkara-maddava?
    Kata “Sūkara-Maddava” muncul di: DN 16/Mahaparinibbana Sutta, Ud 8.5/Cunda Sutta dan juga Milinda Panha. Kitab komentar menunjukan bahwa dikisaran abad ke-5 M, arti kata tersebut sudah bervariasi yaitu: daging, nasi campur, bambu, sejenis rasa, teknik membuat senang dan jamur:

      Sūkaramaddava adalah daging yang telah tersedia, yang tidak terlalu muda dan tua dari sebuah babi/kepala babi (Sūkaramaddavanti nātitaruṇassa nātijiṇṇassa ekajeṭṭhakasūkarassa pavattamaṃsaṃ), empuk (mudu) dan lembut/lentur adanya (Taṃ kira mudu ceva siniddhañca hoti), disiapkan dan dimasak dengan baik (taṃ paṭiyādāpetvā sādhukaṃ pacāpetvāti attho). Ada yang mengatakan 'Sūkaramaddava adalah nasi lembut yang diproses dengan kuah campuran lima produk dari sapi, ini semacam nama sebuah masakan' (Eke bhaṇanti – ‘sūkaramaddavanti pana muduodanassa pañcagorasayūsapācanavidhānassa nāmetaṃ, yathā gavapānaṃ nāma pākanāma’’nti). Lainnya mengatakan 'Sūkaramaddava adalah nama teknik (vidhi) untuk membuat senang (rasāyana). Jadi, didatangkan ahli pembuat senang (guru rasāyana), yaitu Cunda, 'agar membuat senang sehingga Parinibanna Sang Bhagawa tidak jadi' (Keci bhaṇanti – ‘sūkaramaddavaṃ nāma rasāyanavidhi, taṃ pana rasāyanasatthe āgacchati, taṃ cundena – ‘bhagavato parinibbānaṃ na bhaveyyā’ti rasāyanaṃ paṭiyatta’’nti). Di sana para deva empat benua besar (mahādīpa) dan dua ribu pengiring memasukkan nutrisi (oja) (Tattha pana dvisahassadīpaparivāresu catūsu mahādīpesu devatā ojaṃ pakkhipiṃsu.) [Mahāparinibbānasuttavaṇṇanā: Kammāraputtacundavatthuvaṇṇanā]

      Sukara maddava adalah bagian yang lunak dari daging babi yang sudah tersedia (Sūkaramaddavanti sūkarassa mudusiniddhaṃ pavattamaṃsa) seperti kata Maha-atthakata (mahāaṭṭhakathāyaṃ vuttaṃ). yang lain..katakan (Keci pana..vadanti) sukara maddava bukanlah daging babi, batang bambu yang telah diinjak-injak babi (sūkaramaddavanti na sūkaramaṃsaṃ, sūkarehi madditavaṃsakaḷīro). lainnya (Aññe) Jamur payung yang tumbuh dari gemburan tanah injakan babi (sūkarehi madditappadese jātaṃ ahichattaka), lainnya lagi..katakan (Apare pana..bhaṇiṃsu) Sukara maddava adalah nama suatu rasa (sūkaramaddavaṃ nāma ekaṃ rasāyana) [komentar dari Maha-atthakata (Dhammapala, 5 M) yang dikutip dalam Udāna-aṭṭhakathā, Pāṭaligāmiyavaggo: Cundasuttavaṇṇanā]

    Menurut ahli botani, komposisi jamur: 90% air, kurang dari 3% protein, kurang dari 5 % karbohidrat, kurang dari 1% lemak dan 1 % mineral, garam dan vitamin, Komposisi ini KURANG COCOK untuk keperluan energi yang besar, untuk sekelompok orang yang makan hanya 1x, apalagi telah diketahui, bahwa beliau sendiri akan parinibbana.

    Sangat mengherankan melihat hubungan yang dijelaskan di kitab komentar antara jamur dan binatang babi, tampaknya, alasan mengapa jamur menjadi terkait dengan binatang babi adalah karena untuk mendapatkan jamur tersebut, babi digunakan sebagai pelacaknya:

    • Kompas, ”Mengenal Jamur Pencabut Nyawa" sub: Babi pelacak, Rabu, 05 April 2006, 20:24 WIB: ‘[..] Kalau jenis jamur beracun dikerat, kemudian dilekatkan pada benda yang terbuat dari perak asli (misal pisau, sendok, garpu, atau cincin), maka pada permukaan benda tersebut akan ada warna hitam (karena xulfida) atau kebiruan (karena cianida)..para pemburu jamur di beberapa negara Eropa, terutama tradisi-tradisi di negara-negara Skandinavia (Swedia, Norwegia, Denmark, dan sebagainya)...biasanya akan membawa binatang "pelacak jamur" andalan. Bukan anjing, tapi babi yang sebelumnya sudah diberi latihan khusus...membedakan mana jamur yang bisa dimakan/tidak.’.

    • Cara Menghindari Kematian karena Makan Jamur Liar", H Unus Suriawiria, Senin, 31 Januari 2005: '(4) Kalau jenis jamur beracun dimasak/dipepes bersama nasi putih, nasi tersebut akan berubah warna menjadi coklat, kuning, merah, atau hitam...Bagi pemburu jamur di beberapa negara Eropa-misalnya, acara tradisi di negara-negara Skandinavia (Sweden, Norwegia, dan sebagainya)-kalau musimnya berburu jamur selalu akan membawa babi yang sudah terlatih, yang dapat membedakan mana jamur beracun dan mana yang tidak.'

    Seorang yang sangat berbakti, yang sedang mengundang sekelompok tamu yang sangat agung untuk makan dirumahnya, bagaimana mungkin dalam event yang sepenting itu, Ia akan menghidangkan makanan yang sangat beresiko tinggi? Oleh karenanya, kata sukara-maddava yang diartikan sebagai jamur adalah sangatlah meragukan.

    Disamping itu, di bahasa pali sendiri sudah ada kata tersendiri yang merujuk pada arti “jamur”, yaitu: "chattaka" atau "pappaṭaka". Sample: ahihattaka/ahichattaka" = jamur ‘payung ular’. Bahasa Hindi: 'sarpchatr'. Bahasa Bengali: 'byaner chata' atau ‘payung katak’ [lihat: Rhys Davis: hal.92, 274; Buddhadatta Mahatera: hal.45, 182]. Sementara kata “sūkara” = babi hutan/wild boar. Kata ini digunakan untuk membedakannya dengan babi/boar (varāha) [“Vedic Index of Names and Subjects”, Vol 2;Vol 5, Arthur Berriedale Keith, hal.461]. Kemudian kata “Maddava/Madhava” = lembut, empuk, halus.

    Prof. Rhys Davids, ketika menterjemahkan teks-teks Buddhist dan Milianda Panha, Ia terjemahkan kata itu sebagai `bagian daging babi yang empuk’ (“Milianda Panha”, buku ke-5, bab 3, hal 244, cat kaki.1). Miss I.B. Horner dalam terjemahan “Madhuratthavilāsinī” menyatakan: “..Oleh karenanya, bagian ini memberikan bukti bahwa sukara-maddava, makanan terakhir sang Buddha, seharusnya TIDAK diterjemahkan seperti yang kadang sebagai "jamur", namun lebih sebagai bagian yang lembut, 'maddava', dari (daging) babi hutan..” (..Therefore, this passage provides evidence that suukara-maddava, the Buddha Gotama’s last meal, should not be translated as sometimes it has been as “truffles”, but rather as tender, ‘maddava’, (flesh or meat) from a boar..) [Introduction hal. xxxix]

    Para kelompok vegetarian cenderung mengartikan kata ini sebagai jamur, namun sayangnya, Buddhisme BUKANLAH VEGETARIAN dan BOLEH makan daging, malah ada istilah sukaramamsa, yang berarti daging babi dan juga makanan terakhir semua Buddha dalam Buddhavamsa, jelas disebutkan makanan yang mengandung daging:

    • Terdapat 3 syarat untuk dapat mengkonsumsi daging, yaitu: TIDAK melihat secara langsung pada saat binatang tersebut dibunuh, TIDAK Mendengar secara langsung suara binatang tersebut pada saat dibunuh dan Mengetahui bahwa hidangan daging itu, TIDAK KHUSUS dibunuh agar dapat diberikan padanya [MN 55/Jivaka sutta].

    • Selain 3 syarat di atas, terdapat juga 10 macam daging yang tidak diperkenankan dikonsumsi oleh para bhikkhu, yaitu: daging manusia, daging gajah, daging kuda, daging anjing, daging ular, daging singa, daging harimau, daging macan tutul, daging beruang, dan daging serigala atau hyena [Mahavagga Pali, Vinaya Pitaka, Vol.3.58], sehingga selain 10 macam daging tersebut, boleh dikonsumsi para Bhikkhu

    • Seorang perumah tangga dari Vesali bernama Ugga yang menyajikan daging babi kepada Sang Buddha: "Di hadapan Guru, aku mendengar dan tahu dari Sang Bhagava sendiri bahwa seseorang yang memberikan hal menyenangkan, akan menerima kegembiraan, aku menyenangi daging babi (sūkaramaṃsaṃ) dengan sari buah jujube. Semoga sang Bhagava menerimanya dengan perasaan kasih. Dengan perasaan kasihnya Sang Buddha menerima" (Sammukhā metaṃ, bhante, bhagavato sutaṃ sammukhā paṭiggahitaṃ: ‘manāpadāyī labhate manāpan’ti. Manāpaṃ me, bhante, sampannakolakaṃ sūkaramaṃsaṃ; taṃ me bhagavā paṭiggaṇhātu anukampaṃ upādāyā”ti. Paṭiggahesi bhagavā anukampaṃ upādāya) [AN 5.44/Manāpadāyī sutta]

    • Buddhavamsa: Buddhapakiṇṇakakathā:
      Sabbabuddhānaṃ samattiṃsavidhā dhammatā (30 hal yang selalu terjadi pada para Buddha), di no.29 ada kalimat, parinibbānadivase maṃsarasabhojanaṃ (Di hari Parinibannanya makan makanan yang mengandung daging). Arti kata "maṃsa" adalah daging. [Detail lainnya, lihat: Vegetarian, Makanan Religius? Bukan! Ia Cuma Pilihan Selera Makan..Ngga Lebih Dari Itu!]

    Sehingga sūkara-maddava TIDAK TEPAT diartikan jamur, seharusnya “daging babi yang empuk”
Sesudah makan, Sang Bhagava berkata kepada Cunda: "Cunda, sisa-sisa Sukaramaddava (daging babi muda) dari hidangan untukKu, agar ditanam di sebuah lobang, karena di dunia ini di antara para dewa, Mara, Brahmana, para samana atau Brahma, atau pun manusia, tidak ada seorang pun yang sanggup memakannya atau mencernakannya, kecuali Sang Tathagata sendiri". Demikianlah sisa Sukaramaddava yang tertinggal itu ditanamkannya dalam sebuah lobang. kembali kepada Sang Bhagava, Ia memberi hormat dan duduk pada salah satu sisi. Kemudian Sang Bhagava mengajarkan Cunda pandai-besi itu mengenai pelajaran yang membangkitkan semangat, yang berisi penerangan yang menggembirakan hatinya. Sesudah itu beliau bangun dari tempat duduknya pergi meninggalkan Cunda
    Mengapa makanan yang diperuntukkan khusus pada sang Buddha harus di kubur?
    [..]Kemudian Kasibharadvaja mengisikan nasi-susu ke dalam mangkuk emas yang besar dan mempersembahkannya kepada Sang Buddha sambil berkata: 'Silakan Yang Mulia Gotama menyantap nasi susu ini. Engkau memang petani karena alasan membajak itu; memang hal itu memberikan buah kekekalan.'

    'Apa yang diperoleh lewat pembacaan mantra-mantra bukanlah makananku. O, brahmana, ini bukanlah praktek bagi mereka yang melihat dengan benar. Para Buddha menolak apa yang diperoleh lewat pembacaan mantra.'

    'Engkau harus mempersembahkan makanan dan minuman lain kepada pertapa agung yang telah mantap, yang telah bebas dari kekotoran mental dan penyesalan. Itu merupakan ladang bagi dia yang mencari jasa kebajikan.'

    'Kalau demikian, Yang Mulia Gotama, kepada siapakah saya harus memberikan nasi-susu ini?'

    O, brahmana, di dunia termasuk para dewa, Mara, Brahma, serta di antara para brahmana dan manusia, aku tidak melihat siapa pun kecuali Sang Tathagata

    Karena itu, O brahmana, sebaiknya engkau membuang nasi-susu ini di suatu tempat yang tidak ada rumputnya, atau membuangnya ke air di mana tidak ada makhluk hidupnya.'

    Maka Kasibharadvaja membuang nasi susu itu ke dalam air yang tidak mengandung kehidupan. Pada saat itu terdengar bunyi mendesis disertai banyak uap dan asap dari semua sisi, persis seperti mata bajak yang telah dipanaskan sepanjang hari lalu dicelupkan ke dalam air menghasilkan bunyi desis dan mengeluarkan uap serta asap di semua sisi.

    Kemudian Kasibharadvaja, dengan perasaan amat terpukau dan bulu kuduk berdiri, mendekati Sang Buddha dan meletakkan kepalanya di kaki Sang Buddha. Dia berkata: 'Sungguh menakjubkan, Yang Mulia Gotama, sungguh luar biasa, Yang Mulia Gotama! [..] [Sn 1.4/KASIBHARADVAJA SUTTA, yang terjadi di sekitar tahun ke-11 beliau setelah mencapai buddha]

    Juga di Samyutta nikaya SN 7.9/Sundarika Sutta atau di Sagatha-Vagga 7.1.9, yaitu makanan yang telah didanakan khusus kepada seorang Samma Sambuddha, tidak dapat dimakan oleh mahluk lain dan jika bersisa maka dibuang di tempat yang tidak ada rumputnya atau membuangnya ke air dimana tidak ada mahluk hidupnya. Salah satu alasan mengapa makanan tersebut tidak dapat dimakan mahluk lain, kitab komentar menyampaikan bahwa para deva ikut berpartisipasi pada dana makanan dengan memberikan nutrisi

    [Spekulasi modern seputar wafatnya sang Buddha: "Artikel Bhikkhu Mettanando dari aliran Dhammakaya: BAGAIMANA SANG BUDDHA WAFAT ?]
Sesudah Sang Bhagava menyantap santapan yang dihidangkan oleh Cunda, pandai-besi itu, sakit keras melandanya, area antara dada - diagframa/abdomen memerah (lohitapakkhandikā), rasa sakit menusuk/terus menerus yang sangat mematikan. Dengan mengetahui sepenuhnya dalam memperhatikan, sang Buddha menerimanya tanpa mengeluh. Kemudian Sang Bhagava berkata kepada Ananda: "Ananda, marilah kita ke Kusinara"

Di perjalanan Sang Buddha bertemu pangeran dari suku Malla. Sang Buddha mengajarkannya cara untuk hidup dalam kedamaian. Sang Pangeran kemudian berlindung dalam Buddha, Dhamma dan Sangha, dan mempersembahkan 2 jubah berwarna emas kepada Sang Buddha. Sang Buddha hanya mau menerimanya 1 buah saja dan menyarankan pada sang Pangeran, agar satunya diberikan kepada Ananda. Kali ini Ananda mau menerimanya. [DN 16/Maha Parinibbana Sutta]. Buddhaghosa dalam kitab komentarnya menjelaskan mengapa Ananda mau menerimanya karena tahu masa pelayanannya akan segera berakhir dan menganggap itu sebagai hadiah dari sang Buddha kepadanya atas kesetiaannya melayani selama 25 tahun (DA. Ii.570)

Di tepi Sungai Kakuttha
Kemudian Sang Bhagava pergi ke sungai Kakuttha bersama dengan sekumpulan para bhikkhu. Setelah tiba di tepi sungai itu, Sang Bhagava mandi. Setelah Sang Bhagava mandi, Beliau pergi ke Ambavana. Di tempat ini, karena merasa lelah, beliau beristirahat sebentar dengan membaringkan tubuhnya pada sisi kanannya, dengan sikap seperti singa, dan meletakkan salah satu kakinya di atas kakinya yang satu lagi, dengan sikap demikian Beliau selalu tetap sadar, penuh perhatian dan setiap saat dapat bangun dengan mudah.

Kemudian, Sang Buddha pergi lagi ke sungai Kakuttha yang airnya jernih sejuk menyegarkan. Beliau mandi untuk menyegarkan badannya yang lelah. Setelah selesai mandi dan minum, Sang Buddha lalu berjalan ke Ambavana untuk membicarakan dhamma.

Menghilangkan Kegundahan Cunda
Dikesempatan itu pula, Sang Bhagavā berkata kepada Ānanda: “Mungkin saja, Ānanda, Cunda si pandai besi merasa menyesal, dengan berpikir: ‘adalah kesalahanmu, sahabat Cunda, karena kecerobohanmu sehingga Tathāgata mencapai Nibbāna akhir setelah memakan makanan yang engkau persembahkan!

Penyesalan Cunda dapat diatasi dengan cara ini: ‘Itu adalah jasamu, sahabat Cunda, karena perbuatan baikmu sehingga Tathāgata mencapai Nibbāna akhir setelah memakan makanan yang engkau persembahkan! Karena, sahabat Cunda, aku telah mendengar dan memahami dari mulut Sang Bhagavā sendiri, bahwa 2 persembahan akan menghasilkan buah yang besar, akibat yang sangat besar, lebih berbuah dan lebih bermanfaat daripada persembahan lainnya.

Apakah dua ini? Ke-1 adalah persembahan yang setelah memakannya, Sang Tathāgata mencapai Penerangan Sempurna, dan yang lainnya adalah yang setelah memakannya, Beliau mencapai unsur-Nibbāna tanpa sisa saat meninggal dunia.

Kedua persembahan ini adalah yang lebih berbuah dan lebih bermanfaat dari semua persembahan lainnya. Perbuatan Cunda ini mendukung umur panjang, penampilan yang baik, kebahagiaan, kemasyhuran, alam surga, dan kekuasaan
’ Demikianlah, Ānanda, cara mengatasi penyesalan Cunda” [DN 16/Maha Parinibbana Sutta dan Udana 8.5]

Tempat Peristirahatan Terakhir Antara Dua Pohon Sala
Demikianlah, Sang Bhagava bersama sejumlah besar bhikkhu menyeberang sungai, tiba di Hirannavati, pergi ke hutan Sala di daerah suku Malla, dekat Kusinara. Setelah tiba, Sang Bhagava berkata kepada Ananda: "Ananda, tolong sediakan tempat berbaring di antara pohon-pohon Sala kembar itu, saya ingin berbaring". Sang Bhagavā berbaring pada posisi kanan dalam posisi singa, meletakkan satu kaki-Nya di atas kaki lainnya mengetahui sepenuhnya dalam memperhatikan

Pada saat itu dua pohon Sala kembar itu berbunga walaupun bukan pada musimnya. Bunga-bunga itu jatuh bertaburan di atas tubuh Sang Tathagata, juga bunga surgawi serta serbuk cendana bertaburan dari angkasa ke tubuh Sang Bhagava sebagai penghormatan kepada Sang Tathagata. Suara nyanyian surgawi serta suara musik surgawi dengan lagu sangat merdu terdengar di angkasa, juga sebagai penghormatan kepada Sang Tathagata. Melihat pentingnya hal ini, sang Buddha berkata:
    Na kho Ānanda ettāvatā (Bukan dengan seperti ini, Ananda) Tathāgato sakkato vā hoti garukato vā mānito vā pūjito vā apacito vā (Sang Tathagata dihormati, dimuliakan, dihargai, dipuja dan dijunjung). Siapa saja, apakah bhikkhu, bhikkhuni, umat awam pria dan wanita, yang berpegang pada Dhamma, hidup sesuai Dhamma, berkelakuan sesuai Dhamma, Ia menghormati, memuliakan, menghargai, memuja, menjunjung Sang Tathagata dengan pemujaan tertinggi. Oleh karenanya, Ananda, berpeganglah pada Dhamma, hidup sesuai Dhamma dan berkelakuanlah sesuai Dhamma. Demikian caramu melatih diri" [DN 16/Maha Parinibbana Sutta]
Sang Buddha juga menyampaikan bahwa para dewa dari sepuluh ribu tata surya, datang berkumpul di sini berkata, "Dari jauh datang kemari untuk menghadap Sang Tathagata. Karena jarang sekali di dunia ini muncul para Tathagata Arahat SammaSambuddha. Hari ini, di jam ke-3/02.00-06.00 malam ini, Sang Tathagata akan Parinibbana/padam sepenuhnya". Pada dewa yang masih cenderung pada kesenangan nafsu, meratap. 'Terlalu cepat Sang Tathagata parinibbana, terlalu cepat Sang Sugata parinibbana, terlalu cepat Sang Guru jagat parinibbana dan akan lenyap dari pandangan", sementara para dewa yang telah terbebas-dari hawa nafsu dengan penuh kesadaran dan pengertian yang benar, merenung: "Segala sesuatu adalah tidak kekal, bersifat sementara. Bagaimanakah yang akan terjadi, jika tidak terjadi demikian?" [DN 16/Maha Parinibbana Sutta]

Dukacita Ananda dan Pujian Untuk Ananda
Ananda kemudian menuju vihara, bersandar pada tiang pintu dan meratap (rodamāno), "Saya masih seorang siswa (savaka) dan masih harus berjuang untuk mencapai kesempurnaan. Sungguh malang aku ini, Guru yang penuh kasih sayang padaku akan meninggal dunia". Sang Buddha menanyakan keberadaan Ananda dan disampaikan bahwa Ia tengah meratapi diri, kemudian Sang Buddha meminta untuk memanggil Ananda. Setelah Ananda datang, sang Buddha berkata, "Ananda, cukuplah jangan bersedih (mā soci), janganlah meratap (mā paridevi), Bukankah sudah kukatakan padamu bahwa segala sesuatu yang indah dan menyenangkan pasti mengalami perubahan, pasti berpisah dan menjadi yang lain. Jadi bagaimana mungkin, Ānanda—karena segala sesuatu yang dilahirkan, menjelma, tersusun pasti mengalami kerusakan—bagaimana mungkin hal itu tidak berlalu? Sejak lama, Ānanda, engkau telah berada di sisi Sang Tathāgata, memperlihatkan cinta-kasihdalam tindakan jasmani, ucapan dan pikiran, memberikan manfaat, menyenangkan, sepenuh hati dan tidak terbatas. Engkau telah mendapatkan banyak jasa. Berusahalah, dan dalam waktu singkat engkau akan terbebas dari kekotoran"

Kemudian sang Buddha berkata kepada para Bhikkhu memuji kualitas Anada:
  • bahwa Para Buddha di waktu-waktu yang lampau, juga mempunyai bhikkhu sebagai pendamping yang sangat tekun dan berbakti, seperti Ananda. Demikian pula di masa yang akan datang.
  • Ananda, cakap dan jujur, mengetahui waktu yang tepat untuk para bhikkhu, Bhikkhuni, para umat awam pria/wanita, para raja, patih negara dan para guru aliran lain serta pengikutnya ketika hendak menghadap Sang Buddha
  • Kualitas menarik Ananda yaitu para bhikkhu/umat awam akan sangat bergembira bila dapat bertemu Anada, merasa senang jika membicarakan Dhamma dengan Ananda dan akan merasa kecewa jika Ananda berdiam diri [DN 16/Maha Parinibbana Sutta]
Rakyat Kusinara Berduka
Sang Buddha meminta Ananda pergi ke Kusinara menyampaikan pada suku Malla bahwa hari ini, di jam ke-3 (02.00-06.00) malam ini, Sang Tathagata akan Parinibbana, agar mereka tidak menyesali diri di belakang hari bahwa di daerah mereka Sang Buddha Parinibbana tetapi di saat terakhirnya, tidak melihat beliau. Ketika ini disampaikan, Para suku Malla, sedih, berduka cita dan bersusah hati, meratap, "Terlalu cepatlah Sang Tathagata Parinibbana. Terlalu cepatlah Sang Sugata Parinibbana. Terlalu cepatlah Sang Guru Jagat lenyap dari pandangan". Mereka kemudian datang memberikan pernghormatan, Ananda mengatur pembagian menurut golongan dan rombongan, agar tidak satupersatu yang akan memakan waktu panjang. Akhirnya, pada jam pertama malam itu (18.00-22.00], semua mendapatkan kesempatannya. [DN 16/Maha Parinibbana Sutta]

Subhadda, Orang terakhir Yang Ditahbiskan Sang Buddha
Ketika itu seorang petapa pengembara, Subhadda, yang sedang di Kusinara mendengar kabar: "Hari ini, pada jam ke-3 (02.00-06.00) malam ini, petapa Gotama akan Parinibbana"

Karenanya timbul dipikirannya: "Aku pernah mendengar dari para petapa senior dan mulia, para guru, bahwa kemunculan para Tathagata Arahat SammaSambuddha di dunia adalah jarang sekali. Pada hari ini, pada jam ke-3 malam, petapa Gotama akan Parinibbana. Pada diriku ada suatu keraguan dan aku yakin bahwa petapa Gautama, akan dapat mengajarkanku Dhamma yang menghilangkan keraguanku."

Kemudian petapa pengembara Subhadda mendekati Sang Bhagava menghormat dengan sopan, duduk di satu sisi, berkata: "Yang Mulia Gautama, ada para petapa dan brahmana pemimpin sejumlah besar siswa yang punya banyak pengiring, para pemimpin perguruan terkenal dan masyur yang mendapat penghormatan tinggi dari khalayak, seperti: Purana Kassapa, Makkhali Gosala, Ajita Kesakambali, Pakudha Kaccayana, Sanjaya Belatthiputta, Nigantha-Nataputta. Apakah mereka semua telah mencapai kebebasan, seperti yang dikatakan orang, atau apakah tak ada dari mereka yang mencapai kebebasan atau apakah hanya beberapa saja yang mencapai, dan yang lainnya tidak?"

"Cukuplah Subhadda. Biarkanlah apa yang dikatakan orang, apakah mereka semua telah mencapai pembebasan, seperti yang disiarkan, atau tak ada dari mereka yang mencapai kebebasan, atau hanya beberapa saja dari mereka yang mencapai kebebasan yang lain tidak. Hal itu tidak perlu dirundingkan. Kini, aku akan mengajarkan kebenaran padamu, Subhadda, dengar dan perhatikanlah dengan benar yang akan ku katakan"

"Baiklah, bhante," jawab Subhadda.

Kemudian Sang Bhagava berkata: "Subhadda, dalam dhamma dan vinaya mana pun, jika TIDAK TERDAPAT Jalan Mulia Berunsur 8, maka di sana pun TIDAK ADA seorang petapa sejati, juga TIDAK ADA petapa sejati ke-2, ke-3 atau ke-4. Tetapi dalam dhamma dan vinaya yang mana pun, jika terdapat Jalan Mulia Berunsur 8, maka di sana pun akan ada petapa sejati, juga ada petapa sejati ke-2, ke-3 atau ke-4. Kini, dalam dhamma dan vinaya yang kuajarkan terdapat Jalan Mulia Berunsur 8 itu, maka dengan sendirinya terdapat petapa-petapa sejati, juga petapa-petapa sejati ke-2, ke-3 atau ke-4

Ajaran guru-guru lainnya yang tidak memiliki Jalan Mulia Berunsur 8 adalah kosong dan bukan petapa yang sejati. Subhadda, jika para bhikkhu ini hidup dengan baik menurut dhamma dan vinaya, maka dunia ini takkan kekosongan Arahat

Usia-Ku 29 tahun, Subhadda)
ketika meninggalkan keduniawian mencari kebajikan
Sudah lebih dari 50 tahun
Sejak Aku meninggalkan keduniawian, Subadha
Bernaung di jalur Dhamma
Yang di luarnya TIDAK ADA Petapa

Petapa ke-2 .. ke-3 .. ke-4 TIDAK ADA
Aliran lainnya mandul Petapa, Subhadda
Tetapi jika para bhikkhu menjalani benar
Dunia ini tak kekosongan Arahat


[..]

Demikianlah, pertapa pengembara Subhadda diterima dan ditahbiskan menjadi bhikkhu oleh Sang Bhagava sendiri. Ia pun tekun, rajin dan sungguh-sungguh...Bhikkhu Subhadda menjadi salah seorang di antara para Arahat dan Ia adalah siswa terakhir yang diterima Sang Bhagava [DN16/Mahaparinibana Sutta]

Kata-kata Terakhir Sang Buddha
Sang Buddha menyampaikan bahwa walaupun beliau sudah tidak ada lagi, namun yang diajarkan dan dijelaskan sebagai Dhamma dan vinaya adalah guru mereka. Kemudian sang Buddha bertanya jika ada dari para Bhikkhu yang masih memiliki keraguan atau ada yang hendak ditanyakan, namun para Bhikkhu berdiam diri, sampai 3x diulangi, para bhikkhu tetap berdiam diri. Sang Buddha berkata bahwa memang kumpulan dari 500 Bhikkhu ini, bahkan pencapaian yang terendah diantara mereka adalah sotapanna sehingga tidak ada yang memiliki keraguan terhadap Buddha, Dhamma dan sangha, tak mungkin terlahir kembali di alam penderitaan dan pasti akan mencapai penerangan sempurna di kemudian hari. Kemudian Sang Buddha menyampaikan nasehat terakhirnya, "Para bhikkhu, perhatikanlah nasehat ini: 'yang berkondisi tunduk pada kelapukan, dengan kewaspadaan capailah tujuan'" [DN 16/Maha Parinibbana Sutta]

PariNibbana
Mula-mula Sang Bhagava masuk Jhana ke-1.
Bangkit dari Jhana ke-1, masuk Jhana ke-2.
Bangkit dari Jhana ke-2, masuk Jhana ke-3.
Bangkit dari Jhana ke-3, masuk Jhana ke-4.
Bangkit dari Jhana ke-4, masuk landasan ruang tak berbatas.
Bangkit dari landasan ruang tak berbatas, masuk landasan kesadaran tak berbatas.
Bangkit dari landasan kesadaran tak berbatas, masuk landasan tak ada sesuatu apapun.
Bangkit dari landasan tak ada sesuatu apapun, masuk landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi.
Bangkit dari landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi, beliau masuk lenyapnya persepsi dan perasaan.

Kemudian Ananda berkata demikian: "Anuruddha kiranya Sang Bhagava telah padam sempurna"

"Tidak, Ananda, Sang Bhagava belum padam sempurna, Beliau masuk lenyapnya persepsi dan perasaan."

Kemudian Sang Bhagava,
bangkit dari lenyapnya persepsi dan perasaan, beliau masuk landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi.
Bangkit dari landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi, masuk landasan tak ada sesuatu apapun,
Bangkit dari landasan tak ada sesuatu apapun, masuk landasan kesadaran tak berbatas,
Bangkit dari landasan kesadaran tak berbatas, masuk landasan ruang tak berbatas.
Bangkit dari landasan ruang tak berbatas, masuk Jhana ke-4.
Bangkit dari Jhana ke-4, masuk Jhana ke-3.
Bangkit dari Jhana ke-3, masuk Jhana ke-2.
Bangkit dari Jhana ke-2, masuk Jhana ke-1.

Bangkit dari Jhana ke-1, masuk Jhana ke-2.
Bangkit dari Jhana ke-2, masuk Jhana ke-3.
Bangkit dari Jhana ke-3, masuk Jhana ke-4.
Dan bangkit dari Jhana ke-4, lalu padam sempurna-lah, Sang Bhagava.

Demikianlah ketika Sang Bhagava telah padam sempurna, tepat saat parinibbanaNya, terjadilah gempa bumi yang sangat dahsyat, menakutkan, mengerikan, dan mengejutkan disertai halilintar sambar-menyambar di angkasa.

Ketika Sang Bhagava padam sempurna,

dewa Brahma Sahampati mengucapkan syair ini:

Mahluk apapun di dunia, bentukannya akan-lah berakhir
Juga sang Guru, yang tiada banding di dunia,
Yang tercerahkan, sang pemilik kekuatan, maha tau, juga padam sempurna
.

dewa Sakka, raja para dewa, mengucapkan syair ini:

Bentukan benarlah tiada kekal adanya,
yang muncul akan-lah lenyap,
Setelah timbul akan-lah tenggelam,
padam adalah kebahagiaan

bhikkhu Anuruddha mengucapkan syair ini:

Tak ada lagi nafas, teguh pikiranNya
bebas nafsu, dalam kedamaian, demikian akhir sang Muni
PikiranNya tak tergoyahkan, dalam menahan rasa menyakitkan
Seperti padamnya nyala api, demikian pula pikiranNya terbebaskan padam


Ananda mengucapkan syair ini:

Demikian mengerikannya, Demikian merindingnya,
Ketika yang maha tahu, yang sempurna dalam kualitas mulia, padam sempurna


Setelah para suku Malla Kusinara melakukan penghormatan dengan nyanyian dan tarian selama 6 hari, yang juga dilakukan oleh para deva di hari ke-7, maka kemudian para pemimpin Malla, setelah mencuci kepala mereka dan mengenakan pakaian baru, mereka hendak menyulutkan api pemakaman Sang Bhagavā, tetapi mereka tidak dapat melakukannya. Mereka mendatangi YM Anuruddha dan menanyakan mengapa mereka tidak dapat menyalakan api. YM Anuruddha menyampaikan bahwa para deva sedang menantikan kedatangan YM MahaKassapa yang sedang dalam perjalanan dari Pāvā menuju Kusinārā bersama 500 bhikkhu. Api pemakaman Sang Bhagavā tidak akan menyala sampai YM MahaKassapa memberikan penghormatan dengan kepalanya di kaki Sang Bhagavā.

Demikianlah di hari ke-7, YM Kassapa tiba di cetiya suku Malla di Makuṭa-Bandhana menuju tempat pemakaman Sang Bhagavā. Beliau dengan menutupi satu bahunya dengan jubahnya, merangkapkan tangan memberikan penghormatan, mengelilingi tempat pemakaman 3x, membuka selubung kaki Sang Bhagavā, memberi hormat dengan kepalanya di kaki Sang Bhagavā, dan 500 bhikkhu juga melakukan hal yang sama. Dan ketika semua ini selesai, api pemakaman Sang Bhagavā menyala dengan sendirinya [DN 16/Maha Parinibbana Sutta]

Setelah Parinibbana Sang Buddha, yaitu di 3 bulan kemudian, diadakan pertemuan 500 arahat di Goa Satapani, Rajagraha yang dipimpin oleh YA.Maha Kassapa. Selama 2 (dua) bulan, mereka menghimpun Ajaran Sang Buddha yang diajarkan kepada orang yang berlainan, di tempat yang berlainan dan dalam waktu yang berlainan. Y.A. Upali mengulang Vinaya dan Y.A. Ananda mengulang Dhamma. Dengan cara ini, ajaran-ajaran Sang Buddha masih dapat diketahui hingga sekarang

Sekitar satu abad setelah wafatnya Beliau, terdapat sekelompok Bhikkhu yang berniat hendak mengubah Vinaya. Menghadapi ini, para Bhikkhu yang ingin mempertahankan Dhamma - Vinaya kemudian menyelenggarakan Pesamuan Agung Kedua. Kelompok Bhikkhu yang memegang teguh kemurnian Dhamma - Vinaya disebut Sthaviravada (atau Theravãda). Sedangkan kelompok Bhikkhu yang ingin mengubah Vinaya disebut Mahasanghika (kelak ini berkembang menjadi mazhab Mahayana) dan dari keduanya ini, kemudian, pecah kembali menjadi makin banyak aliran. [Lihat: Terbentuknya Tipitaka dan Perpecahan Buddhisme Menjadi Banyak Aliran]

Buddho have kappasatehi dullabho ti
Diratusan kappa, sungguhlah sulit muncul seorang Buddha

Mau traktir Wirajhana, kopi?
Kirim ke: Bank Mandiri, no. 116 000 1111 591

2 comments:

  1. BAGUS, UNTUK TAMBAHAN PENGETAHUAN.

    ReplyDelete
  2. Sangat bagus. Sampai saya tidak tau harus mengatakan kata-kata apa yang pantas. Memang hebat untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.Mengagumkan

    ReplyDelete