Saturday, September 15, 2007

Ringkasan Ajaran Buddha


Beberapa tahun lalu, saya sulit membedakan antara Buddhisme VS Atheisme[1], Buddhisme VS Aliran lainnya asal India dan Tiongkok serta banyak pengertian lainnya:
  1. Inti Buddhism: Si Pembuat Rumah, Tanha, Avijja, dan 3 Ciri Umum (Tilakkhana) [↓], Tanpa 8 Jalan Mulia, Tak Ada Mahluk Suci [↓], Tingkat Kesucian dan Definisi Mahluk Suci [↓], Hukum Kamma [↓], Hukum Sebab Yang Bergantungan/Paticca samuppada [↓], 4 Kesunyataan Mulia [↓], 8 Jalan Mulia [↓]
  2. Tidak ada: Tuhan/Ketuhanan, Adi Buddha, Tanah Buddha. Pengertian: Nibbana dan Dhamma-Kaya [↓]
  3. Definisi Mahluk apapun: PancaKhanda dan nāmarūpa [↓]. Struktur Semesta Buddhism: Semesta Horizontal (Milyaran Tata Surya) [↓], Siklus Berulang: Hancur dan Terbentuknya Semesta [↓] Semesta Vertikal: LEBIH DARI 31 Alam Kehidupan [↓].
  4. Jalan Keselamatan Buddhism: Dana, Sila [↓] dan Samädhi: Tujuan dan Cara Melatih Samädhi dalam 4 x 4 set [↓]. Samatha vs Vipassana [↓], JHANA (Pencapaian Jhana ke-1 s.d 9) [↓], Tidak Ada Pencapaian Arahat Tanpa Jhana [↓]
  5. Atthaloka Dhamma: Pasang Surut Kehidupan dan Cara Menyikapinya [↓]
  6. Sikap Buddhis Yang Baik Ketika Tinggal Di KOMUNITAS Yang GANAS [↓]
  7. Paritta, Doa, Berlindung, Puja Bakti, Namakkāra, Pemuja Berhala dan Asalmula Penyembahan Patung Buddha [↓]
  8. Terbentuknya Kitab Suci Tipitaka: Kemunculan Aliran-Aliran, Konsili ke-1 s.d ke-4 dan Apakah Abhidhamma Sabda Sang Buddha? [↓]. Lenyapnya Dhamma Sejati [↓]
  9. Hari Raya: Waisak, Kathina, Magha-puja, Asadha [↓]. Perabuan Jenazah, Meninggalkan Keluarga [↓]
  10. Pattidana: Arti dan Definisi, Landasan Sutta dan Polemiknya [↓]
  11. Download TIPITAKA bahasa Indonesia (28.4 MB): DN (PDF: 34 Sutta), AN (Word: buku ke-1 s.d ke-11), MN (Word: 152 Sutta), SN (Word dan PDF: Buku ke-1 s.d Ke-5), Dhammapada Atthakata (Word: Bab 1-26) dan Vinaya (PDF: Vol 1 dan Vol.IV)
Selamat membaca.

Mau traktir Wirajhana, kopi? Kirim ke: Bank Mandiri, no. 116 000 1111 591

-------

Inti Buddhisme

Ketika Sidharta Gautama hendak mencapai Buddha, beliau:
    mengingat ragam kelahiran kehidupan lampauNya: mula-mula 1 kelahiran, 2, 5, 10, 50, 100, 1000, 100.000, banyak Kappa menyusut/kontraksi, banyak Kappa mengembang, banyak Kappa kontraksi dan mengembang (anekepi saṃvaṭṭakappe anekepi vivaṭṭakappe anekepi saṃvaṭṭavivaṭṭakappe)[..]. Pengetahuan pertama ini pada malam waktu jaga ke-1 (rattiyā paṭhame yāme: 18.00 s/d 22.00)[..]

    melalui mata dewaNya, melihat mahluk-mahluk wafat dan muncul kembali di bermacam alam, terhubung dengan karma mereka sendiri hingga dibedakan menjadi inferior/superior, penampilannya baik/buruk, beruntung/sial;[..]. Pengetahuan ke-2 ini pada malam waktu jaga ke-2 [rattiyā majjhime yāme: 22.00 s/d 02.00][..]

    pengetahuan penyebab, cara penghancuran noda (asavakkhaya ñãna) dan mengakhir kelahiran kembali [..]. Pengetahuan ke-3 ini pada malam waktu jaga ke-3 [rattiyā pacchime yāme: 02.00 s/d 06.00] [MN 36/Mahasaccaka Sutta]
Dan syair beliau disetelah mencapai kebuddhaan:
    Anekajāti samsāraṃ sandhāvissaṃ
    anibbisaṃ 'Gahakāraṃ' gavesanto
    dukkhā jāti punappunaṃ
    Gahakāraka diṭṭhosi
    puna gehaṃ na kāhasi
    Sabbā te phāsukā bhaggā
    gahakūṭaṃ visaṅkhataṃ
    Visaṅkhāragataṃ cittaṃ
    taṇhānaṃ khayamajjhagā
    Lari berputar diragam lingkaran kelahiran
    Sia-sia mencari 'Pembuat Rumah'
    Menyakitkan, terlahir lagi dan lagi
    Pembuat Rumah, telah ditemukan
    Takkan lagi dapat membuat rumah
    Semua sendimu telah hancur
    atapmu telah roboh
    bentukan material pikiran telah dilucuti
    Belitan nafsu keinginan telah dihancurkan

    [Dhammapada syair 153 & 154]
'Si Pembuat Rumah' yang dimaksudkan adalah kehausan/Nafsu Keinginan (tanha)
    kehausan/nafsu keinginan (taṇhā) mengarahkan pada kelahiran kembali (ponobbhavikā) yang disertai ketertarikan dan kesenangan (nandirāgasahagatā), mencari kesenangan pada ini dan itu (tatratatrābhinandinī), yaitu haus akan: hasrat sensual, menjadi sesuatu dan tidak menjadi sesuatu (kāmataṇhā, bhavataṇhā, vibhavataṇhā) [SN 56.11/Dhammacakkappavattana, tentang Dukkhasamudaya/Asalmula ketidakpuasan/penderitaan]

    Anamataggoyaṃ, bhikkhave, saṃsāro. Pubbā koṭi na paññāyati avijjānīvaraṇānaṃ sattānaṃ taṇhāsaṃyojanānaṃ sandhāvataṃ saṃsarataṃ. [Tak berkesudahan, Para Bhikkhu, samsara (kelahiran kembali). Titik awal tak terlihat karena terhalang ketidaktahuan para makhluk yang terbelenggu kehausan/nafsu keinginan terus menerus] [SN 15.1/Tiṇakaṭṭha sutta, SN 22.9: Gaddulabaddha Sutta, SN 56.35/Sattisata Sutta, dll]

    Titik awal ketidak-tahuan (avijja), tidak terlihat sedemikian bahwa sebelum ini tidak ada ketidaktahuan dan setelahnya menjadi ada. [AN 10.61/AvijjaSutta]

    Titik awal haus menjadi sesuatu (Bhavatanha), tidak terlihat sedemikian bahwa sebelum ini tidak ada kehausan menjadi sesuatu dan setelahnya menjadi ada.’... Kehausan pada penjelmaan memiliki makanan, yaitu ketidak-tahuan (Avijja) [AN 10.62/TanhaSutta]

    Avijja muncul karena adanya noda-noda (asava: kāma/keinginan indriya, bhava/penjelmaan, avijja/ketidaktahuan) dan noda-nodapun muncul karena Avijja. [MN 9/ sammādiṭṭhi sutta]
Bahkan, Tanha dan Avijja pun adalah makanan
    munculnya ini” adalah sebagai makanan (Tadāhārasambhavanti), dengan lenyapnya makanan maka apa yang muncul akan lenyap (Tadāhāra-nirodhā yaṃ bhūtaṃ, taṃ nirodhadhammanti) [MN 38/Mahatanhasankhaya Sutta]
Tanha dan Avijja memiliki rantai penyebab kemunculan, memiliki makanan yang membuatnya ada, tumbuh juga berkembang.
    Kemunculan Tanha karena adanya Vedana/perasaan.
    Kemunculan Perasaan karena adanya Phassa/kontak Indriya.
    Kemunculan kontak indriya karena adanya landasan/tempat indriya.
    Kemunculan landasan karena adanya Nama-rupa/mahluk.
    Kemunculan nama-rupa karena adanya Vinanna/kesadaran.
    Kemunculan kesadaran karena adanya sankhara/paduan kondisi/bentuk-bentuk Kamma.
    Kemunculan paduan kondisi/bentuk-bentuk kamma karena adanya ketidaktahuan/avijja [DN 15/Mahanidana sutta, SN 12.2/Paticca-samuppada-vibhanga Sutta]
Sang Buddha menyampaikan 4 "makanan" (ahara) yang menjadi sebab makhluk-makhluk dapat lahir dan berlangsung:
  1. makanan/asupan (Kabaḷīkāro āhāro)..jika makanan dipahami sepenuhnya (yaitu: tanpa: keserakahan dan keinginan, pilih-pilih, kerakusan, mengutamakan diri, berdelusi dengan yang dimakan, merindukannya lagi, menimbun, bangga, meremehkan, dan pertengkaran), maka nafsu akan 5 utas kenikmatan indria (panca kamaguna: bentuk, suara, bebauan, kecapan, objek sentuh yang dikenali mata, telinga, hidung, lidah dan badan yang diinginkan, disukai, menyenangkan, terhubung dengan kenikmatan indria, menggoda) juga dipahami sepenuhnya..

  2. kontak dari 6 indria kita dengan dunia luar (phassa)..Jika makanan kontak dipahami sepenuhnya, maka 3 jenis perasaan (menyenangkan, menyakitkan, bukan keduanya) juga dipahami sepenuhnya..

  3. kehendak atau kemauan [manosañcetana: mano: pikiran + san/sam: bersama, tergabung + cetana: kehendak]..jika makanan dari cetana dipahami sepenuhnya, maka 3 bentuk tanha (kehausan akan nafsu indriya, menjadi atau tidak menjadi sesuatu) juga dipahami sepenuhnya..

      Note:
      Cetana adalah apa dikehendaki/diniatkan [ceteti], diatur/dipikirkan ulang [pakappeti] dan kecenderungan/dilekati [anuseti] → menyokong kesadaran → menjadikan sesuatu di kemudian hari [SN 12.38/Cetana Sutta]

      Apa yang dikehendaki, direncanakan dan kecenderungan apa pun yang dimiliki seorang, menjadi dasar pemeliharaan kesadaran. Jika ada dasar maka ada dukungan terbentuknya kesadaran. Ketika kesadaran terbentuk dan telah berkembang, maka ada produksi penjelmaan kembali. Jika ada produksi penjelmaan kembali di masa depan, dengan kelahiran sebagai kondisi, muncul penuaan-dan-kematian, kesedihan, ratapan, kesakitan, kesenangan, dan keputusasaan muncul. Demikianlah asal-mula keseluruhan kumpulan Dukkha/penderitaan ini [SN 12.38-39]

  4. kesadaran (viññana)..Jika makanan kesadaran dipahami sepenuhnya, maka mental-materi (namarupa) juga dipahami sepenuhnya.. [SN 12.63 Puttamamsa Sutta]
Apa makanan dari Avijja?
    Makanan Avijja adalah lima rintangan/Panca Nivarana (hasrat indriya/kamacchanda, penolakan/byapada, malas-lamban/thina-midha, gelisah-cemas/uddhaca-kukkukcha dan keraguan/vicikicha).
    Makanan 5 rintangan adalah 3 jenis perbuatan salah (pikiran, ucapan dan perbuatan).
    Makanan 3 jenis perbuatan salah adalah ketiadaan pengendalian atas organ-organ indria.
    Makanan Ketiadaan pengendalian atas organ-organ indria adalah kurangnya perhatian dan pemahaman jernih.
    Makanan Kurangnya perhatian dan pemahaman jernih adalah perhatian tidak seksama.
    Makanan Perhatian tidak seksama adalah kurangnya keyakinan.
    Makanan dari kurangnya keyakinan adalah karena tidak mendengarkan Dhamma sejati.
    Makanan dari tidak mendengarkan Dhamma sejati adalah karena tidak bergaul dengan orang-orang baik [AN 10.61/Avijja sutta]
Disebut Avijja karena tidak mengetahui:
  • 4 Kebenaran/kesunyataan Mulia (cattāri ariyasaccāni): (1) Dukkha (tidak memuaskan/penderitaan), (2) Asal-mulanya, (3) Lenyapnya dan (4) Jalan untuk melenyapkannya, yaitu: 8 Jalan Utama (ariya aṭṭhaṅgika magga)

  • Bahwa terdapat 3 ciri umum/Tilakkhana pada segala bentukan:

      Para bhikkhu, MUNCUL atau TIDAKNYA para Tathāgata di dunia, terdapat hal yang tetap, yang pasti dari segala sesuatu, bahwa:

      • SEGALA YANG BERKONDISI adalah TIDAK KEKAL (Sabbe saṅkhārā aniccā)..
      • SEGALA YANG BERKONDISI adalah TIDAK MEMUASKAN (sabbe saṅkhārā dukkhā)..
      • SEGALA HAL (berkondisi, terkondisi, tak terkondisi) adalah BUKAN DIRI (Sabbe dhammā anattā).. [Dhammapada; syair 277-279; AN 3.137/Uppādāsutta atau AN 3.134/Dhamma-Niyama Sutta]

      Note:
      • sabbe = semua/segala
      • saṅkhāra/saṃskāra: Saṅ/saṃ (bersama, gabungan) + khāra/skāra atau kriya = perbuatan: (1) bentukan yang berkondisi (2) bentukan-bentukan pikiran, ucapan perbuatan yang dihasilkan melalui kehendak. Jadi: yang berkondisi adalah bentukan bentukan dari ucapan, pikiran dan perbuatan melalui kehendak
      • anicca: Kata ini bisa berasal dari: (1) an+icca/suka = tidak suka atau (2) a+nicca/kekal = tidak kekal. Arti yang mana yang dimaksudkan? Dalam banyak sutta sang buddha menyampaikan pertanyaan perbandingan yang berlawanan: "niccaṃ vā aniccaṃ vā”ti?", maka anicca di sini BUKAN dari an+icca MELAINKAN dari a+nicca = tidak kekal
      • dukkha: du(s) + kha/stha = membawa ketidaknyamanan; tidak memuaskan; tidak dapat diandalkan; tidak mudah; tidak stabil; tidak tenang. Jadi arti dukkha = tidak memuaskan, tidak menyenangkan, sulit dipertahankan, sulit dipikul, tidak stabil
      • dhamma = sankhara (berkondisi) + sakhata (terkondisi) + asankhata (tidak terkondisi). Ada 3 ciri dari “terkondisi”: TERLIHAT (paññāyati): Kemunculannya (Uppādo), kelenyapannya (vayo/bhanga) dan perubahan selama berlangsungnya (ṭhitassa) dan 3 ciri dari “tidak terkondisi”: TIDAK ADA kemunculannya, TIDAK ADA kelenyapannya dan TIDAK ADA perubahannya terlihat [AN 3.47/sankhatalakkhana sutta]. Contoh dari TIDAK terkondisi: Nibbana (Udena 8.3, Thag 16.1) dan inipun juga an-atta
      • anatta: “an-atta” BUKANLAH “tidak ada atta”
        Kalimat pali: “ada atta” dan “tidak ada atta”, misalnya SN 44.10: “Bagaimana, Guru Gotama, apakah ada diri (kiṃ nu kho, bho gotama, atthatta/atthi+atta)? .. Kalau begitu, Guru Gotama, apakah tidak ada diri (Kiṃ pana, bho gotama, natthatta/nathi+atta)?”
        Kata “atta” = “atma” (sanskrit). Atma dalam sanskrit = jiva, roh atau sesuatu yang kekal, inti dari mahluk. Sementara dalam pali, cakupan “atta” BUKAN HANYA Jiva/roh namun juga IDENTITAS APAPUN atau SEGALA APAPUN baik itu: bentukan/materi (rupa) atau perasaan/vedana atau persepsi/sanna atau bentukan-bentukan yang muncul dari kehendak (sankhara) atau kesadaran (vinnana) yang DIANGGAP sebagai suatu yang KEKAL, STABIL/TETAP ADA, ABADI dan TIDAK TUNDUK PADA PERUBAHAN

        Berikut sabda sang buddha yang akan membantu memahami bahwa atta bukan cuma sekedar JIVA/ATMA/ROH tapi APAPUN ITU YANG dinyatakan bersifat KEKAL, STABIL/TETAP ADA, ABADI dan TIDAK TUNDUK PADA PERUBAHAN:

          apakah, yang para bijaksana dunia ini katakan tidak ada (natthisammataṃ loke paṇḍitānaṃ), dan Aku juga katakan bahwa itu tidak ada (ahampi taṃ ‘natthī’ti vadāmi)?

          [materi/Bentuk.. Perasaan … Persepsi … Bentukan-bentukan kehendak … Kesadaran] sebagai yang kekal (nicca), stabil/tetap ada (dhuva), abadi (sassata), tidak tunduk pada perubahan (avipariṇāmadhamma): ini yang para bijaksana dunia ini katakan tidak ada, dan Aku juga katakan bahwa ini tidak ada.

          Dan apakah, yang para bijaksana dunia ini katakan ada
          (atthisammataṃ loke paṇḍitānaṃ), yang Aku juga katakan bahwa itu ada (ahampi taṃ ‘atthī’ti vadāmi)?

          [Bentuk ..Perasaan … Persepsi … Bentukan-bentukan kehendak … Kesadaran] sebagai yang tidak kekal (anicca), penderitaan (adhuva), dan tunduk pada perubahan (vipariṇāmadhamma): ini oleh para bijaksana di dunia ini dikatakan ada, dan Aku juga mengatakan bahwa ini ada.

          Bentuk.. Perasaan … Persepsi … Bentukan-bentukan kehendak … Kesadaran adalah suatu fenomena-dunia
          (loke lokadhammo). [SN 22.94/Bunga sutta]

          Kata “loke” jika diganti dengan kata benda/sifat lainnya atau bahkan dengan kata “tathagata/sang Buddha” sekalipun, juga tidak kekal dan/atau tunduk pada perubahan, maka itu juga fenomena-fenomena (lokadhammo) dan segala HAL (berkondisi, terkondisi, tak terkondisi) adalah bukan diri (anatta)

      Rangkaian: Uppāda (muncul/timbul) - Vayo/Bhanga (berakhir/lenyap) dan ṭhitassa (perubahan selama berlangsungnya) disebut kondisi, sebuah kestabilan semu. Tak ada yang abadi dalam rangkaian kemunculan dan kelenyapan, sehingga segala yang berkondisi adalah tidak kekal, tidak memuaskan dan bukan diri. Oleh karenanya, terdapat 2 paham yang juga tidak dibenarkan, yaitu:

      • Sassata/Attaväda - Paham keabadian → atma/roh/jiwa dan apapun yang dianggap kekal abadi
      • Ucchedaväda - Paham bahwa setelah mati tidak ada apapun lagi.

      Karena ADA atau TIDAKnya seorang Buddha, terdapat hal tetap dan pasti, maka kebenaran di buddhism dibedakan menjadi:

      • Kebenaran relatif (Sammuti-sacca): bergantung waktu, tempat dan keadaan.
      • Kebenaran Mutlak (Paramatha-sacca): tidak bergantung: waktu (dulu, sekarang dan masa datang akan sama saja), tempat (di mana saja akan sama saja), keadaan dan tidak tergantung pada ada/tidaknya para Buddha/Tathagata
Karena tidak mengetahui dan tidak melihat 3 ciri umum segala bentukan, Ia mengalami kebingungan/salah paham dalam memperhatikan dan memunculkan akar tidak bermanfaat/akusalamula atau 3 akar tidak bermanfaat[3], yaitu:
  • Moha/avijja: PERHATIAN TIDAK BENAR [atau: MEMPERHATIKAN yang TIDAK LAYAK dan TIDAK MEMPERHATIKAN yang LAYAK], maka kekeliruan tahu yang tadinya belum muncul akan muncul dan kekeliruan tahu yang telah muncul akan meningkat.
  • Lobha/raga: PERHATIAN TIDAK BENAR [ayoniso manasikāro] pada OBJEK MENARIK, maka nafsu yang tadinya belum muncul akan muncul dan nafsu yang telah muncul akan meningkat (ini disebut juga kemelekatan/keserakahan).
  • Dosa/patigha: PERHATIAN TIDAK BENAR pada OBJEK TIDAK MENARIK, maka penolakan yang tadinya belum muncul akan muncul dan penolakan yang telah muncul akan meningkat (Penolakan ini juga disebut kebencian/ketidaknyamanan). [AN 3.65/Kalama Sutta, AN 3.69, It.50]
3 hal yang tidak bermanfaat inilah yang menjadi sumber dari bentukan-bentukan kamma [AN 3.34].

Apa itu Kamma?
    O, bhikkhu, kehendak [cetana] untuk berbuat itulah yang Kunamakan Kamma. Sesudah berkehendak orang lantas berbuat dengan badan, perkataan atau pikiran [AN 6.63, Nibbedhika Sutta]
Agar tidak ada celah bagi hal-hal tidak bermanfaat menerobos dalam pikiran, yang dapat menjadi makanan dari bentukan kamma atau agar “Sipembuat rumah, tak lagi dapat membuat rumah”:
  • Indiriya harus dikendalikan, jika 6 indria tidak terkendali, maka kondisi-kondisi buruk tidak bermanfaat berupa ketamakan dan kesedihan akan melandanya

  • Memperhatikan dengan mengetahui sepenuhnya aktivitas yang dilakukan, ketika: berbaring, berdiri, duduk atau berjalan (AN 5.29) juga ketika melihat ke depan/sekitarnya; membungkuk/menegakkan badan; memakai pakaian, membawa sesuatu; makan, minum, mengunyah, atau mengecap/menelan; membuang air besar; berbaring, terjaga, berbicara, atau berdiam diri, dll (AN 47.2/Satisutta)
Jika hal di atas dilakukan dengan rajin, tekun, bersungguh-sungguh, maka ingatan-ingatan dan kehendak-kehendak keduniawian menjadi ditinggalkan. Alurnya: Pengendalian Indriya dan melakukan Moralitas → agar pikiran tidak tercemari hal buruk (abyāsittacittassa) dan agar tidak muncul ketidakmenyesalan (Avippaṭisāro) → timbul sukacita (Pāmojja) → timbul girang (pīti) → muncul ketenangan (passaddhi) → timbul bahagia (Sukhaṃ) → Pikiran terpusat (Samādhi) → mengetahui dan melihat sebagaimana adanya (Yathā bhūta ñāṇa dassana) → timbul kekecewaan (nibbidā) → timbul kebosanan (viraga) → Mengetahui dan melihat kebebasan (vimuttiñāṇadassana) [Gabungan dari AN 11.1 dan SN 35.97]

Panduan tindakan agar dapat membongkar sendi, merobohkan atap, mencabuti bentukan pikiran dan menghancurkan belitan nafsu keinginan agar “si pembuat rumah tak lagi dapat membuat rumah”:
    Sabbapāpassa akaraṇaṃ (1)
    kusalassa upasampadā (2)
    Sa-citta-pariyodapanaṃ (3)..
    Segala hal buruk tidak perbuat (1)
    Lakukan yang bermanfaat (2)
    Sertai dengan pikiran murni (3)..
    [DN 14/Mahapadana Sutta; Dhammapada syair no.183]
Dengan tidak berbuat buruk, maka Ia berada di jalan melatih mengembangkan brahmavihara (metta, karuna, mudita, upekkha), Ia telah melakukan hal bermanfaat/bajik, dengan memperbanyak yang bermanfaat, Ia mensejahterakan dirinya dan ketika Ia mendorong orang agar tidak berbuat buruk dan melakukan hal yang bajik/bermanfaat, maka Ia mensejahterakan dirinya dan juga orang lainnya. Sang Buddha menyatakan ada 4 jenis orang di dunia:
  • TIDAK mensejahterakan dirinya dan TIDAK mensejahterakan orang lain (Ia sendiri TIDAK MELAKUKAN juga TIDAK MENDORONG orang lain melenyapkan nafsu, kebencian, dan kekeliruan tahu; atau menjalankan 5 sila; atau dengan cepat memahami, mengingat, memeriksa makna ajaran, melatihnya, mengajarkan, mendorong, menginspirasi, dan menggembirakan teman-temannya);
  • mensejahterakan orang lain tapi TIDAK dirinya (Ia MENDORONG orang lain melakukan, namun Ia sendiri TIDAK MELAKUKANNYA), ini lebih unggul dari sebelumnya
  • mensejahterakan dirinya tapi TIDAK orang lain (Ia MELAKUKANNYA namun TIDAK MENDORONG orang lain melakukan), ini lebih unggul dari sebelumnya; dan
  • mensejahterakan dirinya dan juga orang lain (Ia MELAKUKANNYA dan juga MENDORONG orang lain melakukan), ini adalah yang terbaik" [AN 4.95/Chavālāta, AN 4.96/Rāgavinaya, 4.97-99]
Karena diri sendiri adalah pemilik, pewaris perbuatan, berasal dan terkait dengan perbuatan dan memiliki perbuatan sebagai pelindung [AN 5.57/Upajjhatthana Sutta] dan diri sendiri adalah pelindung bagi diri sendiri (Dhammapada syair ke 380) maka semua ini haruslah dimulai oleh diri sendiri, dengan mempertimbangkan bahwa "segala hal buruk yang tidak ingin pihak lain lakukan padanya, maka perbuatan itu juga tidak dilakukannya pada pihak lain".
    Seseorang merenungkan:
    Aku adalah seorang yang ingin hidup, yang tidak ingin mati; aku menginginkan kebahagiaan dan menolak penderitaan.., maka jika seseorang:

    1. membunuhku
    2. mengambil dariku apa yang tidak ku berikan, yaitu, melakukan pencurian
    3. melakukan hubungan seksual dengan istriku [me dāresu cārittaṃ āpajjeyya]
    4. merusak kesejahteraanku dengan kebohongan
    5. memecah-belahku dari teman-temanku dengan ucapan yang bersifat memecah-belah
    6. berkata padaku dengan ucapan kasar
    7. berkata padaku dengan ucapan yang tanpa tujuan/gosip

    itu tidak menyenangkan dan tidak disukai olehku. dan jika aku:

    1. membunuh orang lain – seorang yang ingin hidup, yang tidak ingin mati, yang menginginkan kebahagiaan dan menolak penderitaan
    2. mengambil dari orang lain apa yang tidak ia berikan, yaitu, melakukan pencurian
    3. melakukan hubungan seksual dengan istri orang lain [parassa dāresu cārittaṃ āpajjeyyaṃ]
    4. merusak kesejahteraan orang lain dengan kebohongan
    5. memecahbelah orang lain dari teman-temannya dengan ucapan yang bersifat memecah-belah
    6. berkata pada orang lain dengan ucapan kasar
    7. berkata pada orang lain dengan ucapan tanpa tujuan dan gosip

    itu juga tidak menyenangkan dan tidak disukai orang lain

    Apa yang tidak menyenangkan dan tidak disukai olehku juga tidak menyenangkan dan tidak disukai orang lain juga. Bagaimana mungkin aku dapat melakukannya pada orang lain apa yang tidak menyenangkan dan tidak disukai olehku?

    Setelah merenungkan demikian, ia:

    1. menanggalkan [paṭivirato]: pembunuhan, mengambil yang tidak diberikan, melakukan perbuatan indriya dengan cara yang salah, kebohongan, ucapan yang bersifat memecah-belah, ucapan kasar dan ucapan yang tanpa tujuan dan gosip

    2. menasihati/mendorong orang lain[parañca..samādapeti] menahan diri dari (veramaṇi): pembunuhan, mengambil yang tidak diberikan,..,dan ucapan yang tanpa tujuan dan gosip

    3. memuji tindakan [vaṇṇaṃ bhāsati] yang menahan diri dari (veramaṇi): pembunuhan, mengambil yang tidak diberikan,..,dan ucapan yang tanpa tujuan dan gosip

    Demikianlah perbuatan melalui jasmani dimurnikan dalam 3 aspek. [SN 55.7/Gerbang Bambu (Veḷudvāreyyasutta)]
Definisi tentang orang jahat di buddhisme adalah:
  • Seorang yang melakukan:

    1. Perbuatan: menyakiti mahluk hidup; mengambil yang tidak diberikan; berprilaku salah dalam kenikmatan indriya; menyatakan yang tidak benar; memecah-belah; berbicara kasar; bergossip; memasukan asupan memabukan yang menjadi landasan kelengahan; tamak/irihati (abhijjhālu); berpikiran buruk (byāpannacitto) dan berpandangan salah [AN 4.201/Sikkhapada, AN 4.203/Sattakamma, AN 4.204/Dasakamma] dan/atau
    2. Tidak teguh/tidak berkeyakinan (assaddho); tidak punya rasa malu dalam hal moralitas (ahiriko); Sembrono/menyepelekan (anottappī); kurang pembelajaran (appassuto); malas/kusīto; pelupa/berpikiran kacau (muṭṭhassati); berpikiran pendek/tidak bijaksana (duppañño) [AN 4.202/Assaddha] dan/atau
    3. Berpandangan salah; berkehendak salah; berucapan salah; berperbuatan salah, berpenghidupan salah; berdaya upaya salah; berperhatian salah; berpikiran terpusat yang salah; berpengetahuan salah, dan berkebebasan salah [AN 4.205/Aṭṭhaṅgika, AN 4.206/Dasamagga]

    disebut orang jahat/asappurisa

  • Seseorang yang melakukan hal-hal di atas juga MENDORONG orang lain melakukan hal-hal di atas disebut orang yang lebih rendah dari orang jahat
  • Seseorang yang MENANGGALKAN (paṭivirato) hal-hal di atas disebut orang baik/sappurisa
  • Seseorang yang MENANGGALKAN hal-hal di atas juga MENDORONG orang lain MENAHAN DIRI (veramani) dari hal-hal di atas disebut orang yang lebih tinggi dari orang baik [AN 4.201-206/Sappurisa 1-6]
Jika sulit menentukan apakah suatu perbuatan itu baik atau buruk, maka check dengan parameter:
    jika perbuatan itu dilakukan dan 'kualitas TIDAK BERMANFAAT bertambah dan kualitas BERMANFAAT berkurang dalam diriku’, maka perbuatan itu JANGAN DILAKUKAN, tetapi jika 'kualitas tidak bermanfaat BERKURANG dan kualitas bermanfaat BERTAMBAH dalam diriku’, maka lakukanlah perbuatan itu [AN 9.6/Sevana sutta].
Atau
    Apakah perbuatan tersebut

    1. BERMANFAAT / TIDAK? [kusala/akusala];
    2. DICELA / TIDAK? [anavajjā/sāvajjā];
    3. DIPUJIKAN / DIHINDARI para bijaksana? [viññuppasatthā/viññugarahitā];
    4. MENUJU: bahagia sejahtera / penderitaan? [hitāya sukhāya/a-hitāya dukkhāya saṃvattantīti]

    yang jika dijalankan, membuat atau TIDAK dirinya: tergairahkan, terbanjiri dan tertaklukkan oleh 3 akar tidak bermanfaat (Lobha, Dosa dan Moha)? [AN 3.65/Kalama Sutta]
Jalan untuk mencabut 3 akar tidak bermanfaat penyebab Dukkha ini, disebut 8 jalan mulia dan ini adalah ciri Buddhisme. Sang Buddha mengemas 8 jalan mulia ini ke dalam ti-sikkha (3 Latihan), yaitu: Paññā/Kebijaksanaan, Sila/Moralitas dan Samädhi/Pemusatan pikiran, agar terlatih sempurna/parami memperhatikan yang benar. Tentunya ini semua harus diawali dengan Pariyati/mempelajarinya, kemudian Patipatti/mempraktekkannya agar dapat Pativeda/memperoleh hasil dari pelaksanaan, agar dapat:
  • mengetahui (jānato) dan melihat (passato) bahwa: (segala) yang terkondisi (abhisaṅkhato) hasil dari kehendak (ābhisañcetasiko) adalah TIDAK KEKAL (anicca), AKAN BERAKHIR (Nirodha-dhamma) [MN 121/Culasunnata sutta] dan/atau
  • materi/bentuk ..perasaan ..persepsi ..bentukan kehendak/kondisi ..kesadaran apapun juga, apakah di masa: lalu, depan, atau sekarang, internal atau eksternal, kasar atau halus, hina atau mulia, jauh atau dekat: seorang..memeriksanya, merenungkannya, dan dengan saksama menyelidikinya, dan akan melihatnya sebagai: hampa, kosong, tanpa inti/tanpa diri [SN 22.95].. ‘ini bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan diriku.’[SN 22.49]
Kemudian, karenanya, pikirannya menjadi terbebaskan (cittaṃ vimuccati) dari noda: keinginan indria (kāmāsavāpi), penjelmaan (Bhavāsavāpi, dan ketidaktahuan (Avijjāsavāpi). Ketika terbebaskan muncul pengetahuan (ñāṇa): ‘Terbebaskan.’ Ia mengetahui: ‘Kelahiran telah dihancurkan (Khīṇā jāti), prilaku hidup suci telah dijalani (/vusitaṃ brahmacariyaṃ), apa yang harus dilakukan telah dilakukan (kataṃ karaṇīyaṃ), tak lagi menjadi mahluk apapun (nāparaṃ itthattāyāti)' [MN 121/Culasunnata sutta]
    .. Ketika itu seorang petapa pengembara, Subhadda, yang sedang di Kusinara mendengar kabar: "Hari ini, pada jam ke-3 (02.00-06.00) malam ini, petapa Gotama akan Parinibbana"

    Karenanya timbul dipikirannya: "Aku pernah mendengar dari para petapa senior dan mulia, para guru, bahwa kemunculan para Tathagata Arahat SammaSambuddha di dunia adalah jarang sekali. Pada hari ini, pada jam ke-3 malam, petapa Gotama akan Parinibbana. Pada diriku ada suatu keraguan dan aku yakin bahwa petapa Gautama, akan dapat mengajarkanku Dhamma yang menghilangkan keraguanku."
    ...
    26. Kemudian petapa pengembara Subhadda mendekati Sang Bhagava menghormat dengan sopan, duduk di satu sisi, berkata: "Yang Mulia Gautama, ada para petapa dan brahmana pemimpin sejumlah besar siswa yang punya banyak pengiring, para pemimpin perguruan terkenal dan masyur yang mendapat penghormatan tinggi dari khalayak, seperti: Purana Kassapa, Makkhali Gosala, Ajita Kesakambali, Pakudha Kaccayana, Sanjaya Belatthiputta, Nigantha-Nataputta. Apakah mereka semua telah mencapai kebebasan, seperti yang dikatakan orang, atau apakah tak ada dari mereka yang mencapai kebebasan atau apakah hanya beberapa saja yang mencapai, dan yang lainnya tidak?"

    "Cukuplah Subhadda. Biarkanlah apa yang dikatakan orang, apakah mereka semua telah mencapai pembebasan, seperti yang disiarkan, atau tak ada dari mereka yang mencapai kebebasan, atau hanya beberapa saja dari mereka yang mencapai kebebasan yang lain tidak. Hal itu tidak perlu dirundingkan. Kini, aku akan mengajarkan kebenaran padamu, Subhadda, dengar dan perhatikanlah dengan benar yang akan ku katakan"

    "Baiklah, bhante," jawab Subhadda.

    Kemudian Sang Bhagava berkata:
    27. "Subhadda, dalam dhamma dan vinaya mana pun, jika TIDAK TERDAPAT Jalan Mulia Berunsur 8, maka di sana pun TIDAK ADA seorang petapa sejati, juga TIDAK ADA petapa sejati ke-2, ke-3 atau ke-4. Tetapi dalam dhamma dan vinaya yang mana pun, jika terdapat Jalan Mulia Berunsur 8, maka di sana pun akan ada petapa sejati, juga ada petapa sejati ke-2, ke-3 atau ke-4. Kini, dalam dhamma dan vinaya yang kuajarkan terdapat Jalan Mulia Berunsur 8 itu, maka dengan sendirinya terdapat petapa-petapa sejati, juga petapa-petapa sejati ke-2, ke-3 atau ke-4

    Ajaran guru-guru lainnya yang tidak memiliki Jalan Mulia Berunsur 8 adalah kosong dan bukan petapa yang sejati. Subhadda, jika para bhikkhu ini hidup dengan baik menurut dhamma dan vinaya, maka dunia ini takkan kekosongan Arahat

    Usia-Ku 29 tahun, Subhadda
    ketika meninggalkan keduniawian mencari kebajikan
    Sudah lebih dari 50 tahun
    Sejak Aku meninggalkan keduniawian, Subadha
    Bernaung di jalur Dhamma
    Yang di luarnya TIDAK ADA Petapa

    Petapa ke-2 .. ke-3 .. ke-4 TIDAK ADA
    Aliran lainnya mandul Petapa, Subhadda
    Tetapi jika para bhikkhu menjalani benar
    Dunia ini tak kekosongan Arahat


    [..]

    Demikianlah, pertapa pengembara Subhadda diterima dan ditahbiskan menjadi bhikkhu oleh Sang Bhagava sendiri. Ia pun tekun, rajin dan sungguh-sungguh...Bhikkhu Subhadda menjadi salah seorang di antara para Arahat dan Ia adalah siswa terakhir yang diterima Sang Bhagava [DN16/Mahaparinibana Sutta] []
---------------

Tingkat Kesucian dan Definisi Mahluk Suci

Mahluk dibagi 2 golongan:
  • Puthujjana: BELUM MENCAPAI KESUCIAN, yaitu: Manusia atau BUKAN dan ini termasuk para bodhisatta
  • Ariya-puggalä: MAHLUK SUCI, yaitu Manusia dan Deva/Brahma yang sekurangnya telah mematahkan 3 belenggu [AN 10.13/Saṃyojana Sutta]. Para Bodhisatta BUKANLAH ariya puggala NAMUN HANYA puthujjana
Level Kesucian terkait dengan SEBERAPA BANYAK dari 10 BELENGGU dapat dipatahkan:
  1. sotāpanna, (sota = arus; apanna = telah sampai); Berada di 8 jalan mulia/utama; tak terlahir lagi di 3 alam apaya [alam menderita: Alam Peta, Binatang, Neraka]. Telah mematahkan 3 belenggu. Karena Bodhisatta masih dapat terlahir sebagai binatang, maka Ia bukan sotāpanna dan lebih rendah dari sotāpanna. Untuk mencapainya, 3 belenggu rendah harus dipatahkan:

    1. Sakkäya-ditthi = Pandangan tentang adanya Pribadi/identitas [sakkaya] atau diri/jiwa/atta/atman.

      3 hal mengenai anatta:
      • Ini adalah AKU: berkenaan dengan pandangan terhadap Identitas → Inilah lingkup bahasan tentang Sakkaya
      • Ini adalah diriKU: Berkenaan dengan "keangkuhan" ketika membandingkan diri sendiri dengan pihak lain → Inilah lingkup bahasan tentang Mana
      • Ini adalah Milik-KU: Berkenaan dengan Tanha [nafsu keinginan]

      Untuk urusan "IDENTITAS", di MN 44/Cūḷavedalla Sutta:

      Apa itu Sakkaya (Identitas, Pribadi)?

      5 [panca], kelompok unsur kehidupan [khandha] (yang terpengaruh) kemelekatan [upadana] disebut sebagai identitas (Sakkaya), yaitu:

      1. kelompok materi yang terpengaruh kemelekatan [rūpupādānakkhandho],
      2. kelompok perasaan yang terpengaruh kemelekatan [vedanupādānakkhandho],
      3. kelompok persepsi yang terpengaruh kemelekatan [saññupādānakkhandho],
      4. kelompok bentukan-bentukan yang terpengaruh kemelekatan [saṅkhārupādānakkhandho] dan
      5. kelompok kesadaran yang terpengaruh kemelekatan [viññāṇupādānakkhandho]

      Ke-5 kelompok unsur kehidupan yang terpengaruh kemelekatan [Pancupadanakkhandha] ini disebut identitas [sakkaya].

      Asal mula Sakkaya:
      Keinginan yang mengarah pada penjelmaan baru [tanha ponobbhavika], disertai kesenangan pada nafsu [nandi-rāga-sahagata] dan tenggelam dalam kesenangan di sana sini [tatratatrābhinandinī], yaitu [Seyyatidam]: keinginan akan kenikmatan indria [kamatanha], Keinginan untuk menjelma menjadi sesuatu [bhavatanha] atau tidak menjelma menjadi sesuatu [vibhavatanha].

      Lenyapnya Sakkaya:
      Pelenyapan tanpa sisa dan lenyapnya keinginan, menghentikan, melepaskan, melewatkan dan penolakan atas keinginan yang sama.

      Jalan menuju lenyapnya Sakkaya:
      8 jalan mulia/utama.

      Kemelekatan [upadana] tidaklah sama dengan Pancakandha yang terpengaruh kemelekatan [Pancupadanakhanda] JUGA Kemelekatan tidaklah terpisah dari pancakandha yang terpengaruh kemelekatan. Adalah Keinginan dan nafsu sehubungan dengan pancakandha yang terpengaruh kemelekatan yang menjadi kemelekatan di sana.

      Munculnya Pandangan Identitas [Sakkaya-Dhitti]:
      Ia menganggap:

      1. bentukan/materi adalah/sebagai diri [rūpaṃ attato], atau
      2. diri punya bentukan/materi [rūpavantaṃ vā attānaṃ], atau
      3. bentukan/materi di/pada diri [attani vā rūpaṃ], atau
      4. diri di dalam bentukan/materi [rūpasmiṃ vā attānaṃ]

      Ia menganggap:

      Perasaan adalah diri,..
      Persepsi adalah diri,..
      Bentukan adaah diri,..
      Kesadaran adalah diri,..

      [Total jumlah: 20 pandangan identitas]

      [Juga di MN 109/Mahapunnama Sutta; MN131-132/Bhaddekaratta Sutta; SN 22.1/Nakulapitu Sutta, dll]

      Tidak munculnya padangan tentang identitas jika, ia TIDAK menganggap:

      Materi adalah diri..
      Perasaan adalah diri..
      Persepsi adalah diri..
      Bentukan adalah diri..
      Kesadaran adalah diri..

      Kemudian,
      Di MN.2/Sabbāsava Sutta [segala noda]: Hancurnya noda-noda adalah untuk seorang yang mengetahui [Jānato] dan melihat [passato], bukan untuk seorang yang tidak mengetahui dan tidak melihat.

      mengetahui dan melihat apakah?

      • Ketika seseorang memperhatikan dengan TIDAK semestinya [Ayoniso ca manasikāraṃ], noda-noda yang belum muncul menjadi muncul dan noda-noda yang telah muncul menjadi bertambah.
      • Ketika seseorang memperhatikan dengan semestinya [Yoniso ca manasikāraṃ], noda-noda yang belum muncul takkan muncul dan noda-noda yang telah muncul ditinggalkan.

      Noda-noda yang harus ditinggalkan dengan melihat [dassanā].

      Dalam kitab komentar sabbasava sutta: Kata “melihat” (dassanā) merujuk pada jalan memasuki-arus (sotāpattimagga) – disebut demikian karena memberikan penglihatan sepintas pada Nibbāna.

      Ketika Ia MEMPERHATIKAN hal-hal yang TIDAK LAYAK diperhatikan:

      1. noda-noda [KEINGINAN INDRIA juga KEBODOHAN] yang belum muncul menjadi muncul dalam dirinya dan
      2. noda-noda [KEINGINAN INDRIA juga KEBODOHAN] yang telah muncul menjadi bertambah,
      3. noda-noda penjelmaan yang belum muncul menjadi muncul dalam dirinya dan
      4. noda-noda penjelmaan yang telah muncul menjadi bertambah,

      Ketika Ia memperhatikan Hal-hal YANG LAYAK diperhatikan:

      1. noda-noda [KEINGINAN INDRIA juga KEBODOHAN] yang belum muncul tidak muncul dalam dirinya dan
      2. noda-noda [KEINGINAN INDRIA juga KEBODOHAN] yang telah muncul ditinggalkan, noda-noda penjelmaan yang belum muncul tidak muncul dalam dirinya dan
      3. noda-noda penjelmaan yang belum muncul tidak muncul dalam dirinya
      4. noda-noda penjelmaan yang telah muncul ditinggalkan

      Dengan MEMPERHATIKAN hal-hal yang TIDAK LAYAK dan TIDAK MEMPERHATIKAN hal-hal YANG LAYAK, maka noda-noda yang belum muncul menjadi muncul dan noda-noda yang telah muncul menjadi bertambah.

      Bagaimana Ia memperhatikan dengan TIDAK semestinya [ayoniso manasi karoti]?

      Masa lalu:

      1. ADAKAH aku di masa lampau (ahosiṃ nu kho ahaṃ atītamaddhāna)?
      2. TIDAK ADAKAH (aku) di masa lampau? (Na nu kho ahosiṃ atītamaddhāna)
      3. (Menjadi) apakah (aku) di masa lampau? (Kiṃ nu kho ahosiṃ atītamaddhāna)
      4. Bagaimanakah aku di masa lampau? (Kathaṃ nu kho ahosiṃ atītamaddhāna)
      5. Setelah menjadi apa, kemudian menjadi apakah aku di masa lampau? (Kiṃ hutvā kiṃ ahosiṃ nu kho ahaṃ atītamaddhāna)

      Masa Depan:

      1. ADAKAH keberadaanku di masa depan? (Bhavissāmi nu kho ahaṃ anāgatamaddhāna)
      2. TIDAK ADAKAH keberadaan(ku) di masa depan? (Na nu kho bhavissāmi anāgatamaddhāna)
      3. Menjadi apakah aku di masa depan? (Kiṃ nu kho bhavissāmi anāgatamaddhāna)
      4. Bagaimanakah aku di masa depan? (Kathaṃ nu kho bhavissāmi anāgatamaddhāna)
      5. Setelah menjadi apa, kemudian menjadi apakah aku di di masa depan? (Kiṃ hutvā kiṃ bhavissāmi nu kho ahaṃ anāgatamaddhāna)

          note:
          Ahosi = telah terjadi/menjadi; bhavissami = belum/akan terjadi/menjadi

      Atau kalau tidak demikian, ia kebingungan sehubungan dengan masa sekarang:

      1. Apakah aku (aham) ada? (ahaṃ nu khosmi)
      2. Apakah aku tidak ada? (No nu khosmi)
      3. apakah aku? (kim nu khosmi)
      4. Bagaimanakah aku? (khatam nu khosmi)
      5. Dari manakah makhluk ini datang? (Ayaṃ nu kho satto kuto āgato)
      6. Kemanakah akan menjelma? (So kuhiṃ gāmī bhavissatī)

      Ketika ia memperhatikan dengan TIDAK semestinya, 1 dari 6 pandangan muncul dalam dirinya sebagai benar dan kokoh:

      1. Aku MEMILIKI diri [Atthi me attā]
      2. Aku TIDAK MEMILIKI diri [Natthi me attā]
      3. MENGANGGAP diri sebagai diri [attanāva attānaṃ sañjānāmī]
      4. MENGANGGAP bukan-diri sebagai diri [attanāva ANattānaṃ sañjānām]
      5. MENGANGGAP diri sebagai bukan-diri [ANattanāva attānaṃ sañjānāmī]; atau
      6. adalah diriku yang berbicara dan merasakan dan mengalami di sana-sini akibat dari perbuatan baik dan buruk; tetapi diriku (ayaṃ atta) adalah kekal (nicca), stabil/tetap ada (dhuvo), abadi (sassata), tidak tunduk pada perubahan (avipariṇāmadhamm), dan akan bertahan selamanya (sassatisamaṃ tatheva ṭhassatī).

      Pandangan spekulatif ini, disebut rimba pandangan, belantara pandangan, pemutar-balikan pandangan, kebingungan pandangan, belenggu pandangan. Terbelenggu belenggu pandangan, seorang biasa yang tak terlatih tak terbebas dari kelahiran, penuaan, dan kematian, dari dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan; ia tak terbebas dari penderitaan.

      Namun,
      jika Ia memperhatikan dengan semestinya:

      ‘Ini adalah penderitaan’;
      ‘Ini adalah asal-mula penderitaan’;
      ‘Ini adalah lenyapnya penderitaan’;
      ‘Ini adalah jalan menuju lenyapnya penderitaan.’

      Ketika ia memperhatikan dengan semestinya seperti ini, maka 3 belenggu, yaitu: pandangan akan diri/identitas [sakkāyadiṭṭhi], keragu-raguan/vicikicchā, dan salah memahami/melekat pada praktek/aturan [sīlabbataparāmāsa] menjadi ditinggalkan.

      Ini disebut noda-noda yang harus ditinggalkan dengan melihat [dassana].

    2. Vicikicchä (vi + cikiccha: tanpa + pengobatan / tanpa + kebijaksanaan atau vici + kiccha: bertanya-tanya + pikiran gundah ). Keadaan ragu-ragu, tidak meyakini, belum tetap hati, tidak dapat memutuskan apakah sedang melakukan tindakan kusala atau akusala, termasuk keraguan pada Buddha, Dhamma [Ajaran] dan Sangha.

    3. Sīlabbataparāmāsa (Sīla = moralitas, karakter, perilaku; bbata/brata/vata/vrata = praktek, kebiasaan, perilaku, sumpah; Parāmāsa = melekat, salah mengerti, tertular)

      Melekat pada ritual/kebiasaan dan berdelusi bahwa itu sudah mencukupi [Vin i.184, M i.433, Dhs 1.005, A iii.377, iv.144] atau Percaya/terikat bahwa upacara/ritual/aturan dapat membebaskan dari dukkha. Contoh di kitab komentar: Mempercayai jika berprilaku seperti sapi/anjing (hidup, makan, dll) akan bebas dari kekotoran mental. Jadi, maksud Sīlabbataparāmāsa adalah salah memahami/melekat pada praktek/aturan/kebiasaan prilaku kesucian yang ketika dilakukan TIDAK meningkatkan kusala (hal bermanfaat) dan/atau malah MENAMBAH akusala:

        Sang Buddha: "Ananda, apakah setiap setiap prilaku moralitas dan cara berkehidupan suci yang ditegakkan sebagai keutamaan akan berbuah (sabbaṃ nu kho, ānanda, sīlabbataṃ jīvitaṃ brahmacariyaṃ upaṭṭhānasāraṃ saphalan”ti)?"

        .. Ananda: "Jika prilaku moralitas dan cara berkehidupan suci yang ditegakkan sebagai keutamaan menyebabkan kualitas yang tidak bermanfaat bertambah dan kualitas bermanfaat berkurang, maka..tidaklah berbuah. Tetapi jika kualitas tidak bermanfaat berkurang dan kualitas bermanfaat bertambah, maka..berbuah". Sang Buddha menyetujui dan memuji jawaban Ananda. [AN 3.78/Sīlabbata (moralitas-prilaku)]

      Jangan sampai: Yang belajar sutta lupa tujuan membaca, mendengar, menghafal, mengurai makna dan berdiskusi adalah agar melenyapkan penderitaan malah menjadi ahli philosopi. Yang praktek malah melakukan ritual pembersihkan dosa, menghindari kematian atau meringankan penderitaan. Yang bersamadhi tidak bertujuan memahami anicca, dukkha dan anatta dll.

      Oleh karenanya sang Buddha berkata bahwa dhamma dipelajari, agar diperiksa maknanya, agar mendapat pemahaman mendalam, agar tidak keliru dipahami dan mengalami kebaikan darinya. Dhamma dipelajari BUKAN untuk mengkritik/mencela dan BUKAN untuk memenangkan perdebatan. [MN.22/Alagaddūpama Sutta]

        ..melakukan kehidupan suci.. adalah bukan untuk memperoleh keuntungan, kehormatan, dan kemasyhuran sebagai manfaatnya (nayidaṃ brahmacariyaṃ lābhasakkārasilokānisaṃsaṃ); bukan untuk pencapaian moralitas sebagai manfaatnya (na sīlasampadānisaṃsaṃ); bukan untuk pencapaian pikiran terpusat sebagai manfaatnya (na samādhisampadānisaṃsaṃ); bukan untuk pengetahuan dan penglihatan sebagai manfaatnya (na ñāṇadassanānisaṃsaṃ). Melainkan: Kebebasan pikiran yang tak tergoyahkan (akuppā cetovimutti) adalah tujuan dalam berkehidupan suci (etadatthamidaṃ.. brahmacariyaṃ), inilah inti kayunya, dan inilah akhirnya (etaṃ sāraṃ etaṃ pariyosānan) [MN 29/Mahasaropama Sutta]

      Bahkan, hal yang sebelumnya adalah kusala, dapat berubah menjadi akusala jika ia lengah dan bahkan dilekati

        ”munculnya ini” adalah sebagai makanan (Tadāhārasambhavanti), dengan lenyapnya makanan maka apa yang muncul akan lenyap (Tadāhāra-nirodhā yaṃ bhūtaṃ, taṃ nirodhadhammanti).

        Keragu-raguan muncul karena tidak meyakini (kaṅkhato uppajjati vicikicchā), keragu-raguan adalah makanan, dengan lenyapnya makanan maka apa yang muncul akan lenyap.

        Keragu-raguan ditinggalkan dengan melihat sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar (yathābhūtaṃ sammappaññāya passato yā vicikicchā sā pahīyatī) muncul. Ini (Keragu-raguan ditinggalkan dengan melihat sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar) adalah makanan, dengan lenyapnya makanan maka apa yang muncul akan lenyap.

        Bebas dari keragu-raguan (nibbicikicchā) muncul. Ini adalah makanan, dengan lenyapnya makanan maka apa yang muncul akan lenyap.

        Telah terlihat jelas sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar (yathābhūtaṃ sammappaññāya sudiṭṭhan) muncul. Ini adalah makanan, dengan lenyapnya makanan maka apa yang muncul akan lenyap.

        ..Para bhikkhu, sungguh murni dan cerah pandangan ini, JIKA KALIAN TIDAK MELEKAT PADANYA, TIDAK MEMUJANYA, TIDAK SANGAT MENGHARGAINYA, DAN TIDAK MEMPERLAKUKANNYA SEBAGAI HARTA, Maka kalian dapat memahami Dhamma yang telah Kuajarkan dalam perumpamaan rakit, sebagai bertujuan untuk menyeberang, bukan bertujuan untuk digenggam [MN 38/Mahatanhasankhaya Sutta]

        Note:
        Bagaimana cara melihat sebagaimana adanya (yathābhūtaṃ) dengan kebijaksanaan yang benar?

          Ia melihat materi/bentuk, perasaan, persepsi, sankhara dan kesadaran apakah di masa: lalu, depan, atau sekarang, internal/eksternal, kasar/halus, hina/mulia, jauh/dekat:

          • sebagai tidak kekal, penderitaan dan tunduk pada perubahan, oleh karenanya Ia, TIDAK menganggap:

            • dirinya sendiri ‘lebih tinggi/rendah’ atau ‘sama’ dengan mahluk lainnya
            • itu sebagai ‘milikku, aku, diriku’ [SN 22.49/sona sutta] atau;

          • Ia akan memeriksanya, merenungkannya, dan dengan seksama menyelidikinya, dan akan melihatnya sebagai hampa/ritta, kosong/tuccha, tanpa inti/asāra, Karena inti apakah yang dapat berada di dalam bentuk/materi, perasaan, persepsi, sankhara dan kesadaran? [SN 22.95/buih sutta]

          Melihat demikian, Ia mengalami kejenuhan akan materi/bentuk,..., kejenuhan akan kesadaran. Dengan mengalami kejenuhan, ia menjadi bosan. Melalui kebosanan [mentalnya] terbebaskan..

      Sang Buddha:

        Misalkan seseorang dalam suatu perjalanannya menjumpai hamparan air yang luas. Di areanya sekarang, tempat itu berbahaya dan menakutkan sedangkan di pantai seberang, aman dan bebas dari ketakutan, namun untuk menyeberang tidak ada perahu atau jembatan menuju pantai seberang. Kemudian orang itu mengumpulkan rerumputan, ranting, dahan, dan dedaunan, dan mengikatnya menjadi satu sehingga menjadi rakit, dan dengan didukung oleh rakit itu dan berusaha dengan tangan dan kaki, ia DENGAN SELAMAT MENYEBERANG ke pantai seberang…

        Kemudian, ketika ia TELAH MENYEBERANG dan TELAH SAMPAI di pantai seberang, ia mungkin berpikir sebagai berikut: ‘Rakit ini telah sangat berguna bagiku, karena dengan didukung oleh rakit ini dan berusaha dengan tangan dan kakiku, aku dapat DENGAN SELAMAT MENYEBERANG ke pantai seberang…

        Apa yang kemudian yang seharusnya dilakukan dengan rakit itu?

        Rakit itu TIDAK diangkat di atas kepala atau dipikul di bahu, dan kemudian pergi kemanapun yang diinginkan.’ Itu BUKAN yang seharusnya dilakukan.

        Namun, yang seharusnya dilakukan adalah menarik rakit itu ke daratan atau menghanyutkannya di air dan kemudian pergi kemanapun yang diinginkannya.

        Demikianlah Dhamma itu serupa rakit, berguna untuk menyeberang, bukan untuk dilekati/digenggam [gahaṇatthāya]. Perumpamaan rakit telah ajarkan kepada kalian, para Bhikkhu (Kullūpamaṃ vo, bhikkhave, dhammaṃ desitaṃ), melekati Dhamma-dhamma saja seharusnya kalian tanggalkan apalagi yang bukan dhamma-dhamma (ājānantehi dhammāpi vo pahātabbā pageva adhammā).[MN.22/Alagaddūpama Sutta]

    Untuk menghancurkan 3 belenggu di atas, dilakukan melalui 2 pendekatan:

    • BERKEYAKINAN TAK GOYAH (penganut karena keyakinan)
    • TELAH MELAKUKAN SEJUMLAH PERENUNGAN dan KEBIJAKSANAAN (Penganut karena Dhamma)

    Tolak ukur keberhasilan kedua pendekatan adalah harus dapat mengetahui dan melihat bahwa hal-hal yang berkondisi, terkondisi adalah anicca, maka 3 belenggu hancur dan Ia disebut sotāpanna:

    “Para bhikkhu,

    1. Mata/Cakkhu, Telinga/sota, Hidung/ghana, Lidah/jivha, Badan/kayo, Pikiran/mano adalah.. [SN 25.1/Cakhhu sutta]
    2. Bentuk/rupa, Suara/sadda, bebauan/gandha, kecapan/rasa, objek sentuh/photthabba, bentukan-bentukan pikiran ucapan perbuatan melalui kehendak/dhamma adalah.. [SN 25.2/Rupa Sutta]
    3. Kesadaran dari (mata, telinga, hidung, lidah, badan, pikiran) adalah.. [SN 25.3/Vinanna sutta]
    4. Kontak dari (mata, telinga, hidung, lidah, badan, pikiran) adalah.. [SN 25.4/Phassa Sutta]
    5. Perasaan yang muncul dari kontak (mata, telinga, hidung, lidah, badan, pikiran) adalah.. [SN 25.5/Vedana Sutta]
    6. Persepsi/ingatan akan (Bentuk, Suara, Bau, kecapan, Objek sentuhan, bentukan-bentukan pikiran ucapan perbuatan melalui kehendak) adalah.. [SN 25.6/Sanna Sutta]
    7. Kehendak sehubungan dengan (Bentuk, Suara, Bau, kecapan, Objek sentuhan, bentukan-bentukan pikiran melalui kehendak) adalah.. [SN 25.7/Cetana Sutta]
    8. Nafsu keinginan akan (bentuk, Suara, Bau, kecapan, Objek sentuhan, bentukan-bentukan pikiran ucapan perbuatan melalui kehendak) adalah.. [SN 25.8/Tanha Sutta]
    9. Landasan/unsur/senyawa: Padat/penyokong/pijakan [pathavi], Cair/perekat [Apo], panas/umur/habis/terbakar/gelombang partikel [Tejo], gerak/getar/tekanan [Vayo], ruang/jarak [akasa], kesadaran [vinanna] adalah.. [SN 25.9/Dhatu Sutta]
    10. Kelompok: Betuk/materi [Rupa], Perasaan [Vedana], Persepsi [Sanna], (hal yang berkondisi atau bentukan-bentukan pikiran ucapan perbuatan melalui kehendak [samkhara]), Kesadaran [Vinnana] adalah.. [SN 25.10/Khandha Sutta]

    [Semua yang di atas]

    adalah tidak kekal [anica], menjadi berubah [annathabhavi] melapuk [viparinami]

    1. Seorang yang BERKEYAKINAN TAK GOYAH [saddahati adhimuccati] dan Ia memahaminya secara demikian disebut Penganut karena keyakinan [saddhā-nusārī], atau
    2. Seseorang yang setelah melakukan sejumlah perenungan dengan kebijaksanaan [paññāya mattaso nijjhānaṃ khamanti] dan memahaminya demikian, disebut Penganut karena Dhamma[dhammā-nusārī]

        Note:
        Ini harus terlihat dalam 4 faktor pemasuk arus (Catūsu sotāpattiyaṅgesu) [SN 48.8], yaitu: Keyakinan pada (1) Buddha, (2) Dhamma, (3) sangha, dan (4) moralitas yang disenangi para mulia yaitu moralitas yang tidak rusak, tidak robek, tanpa noda, tanpa bercak, membebaskan, tidak melekat dan menuntun pada pikiran terpusat [SN 55.1,2] atau Pengelompokan lain 4 faktor pemasuk arus: (1) Pergaulan dengan orang Mulia (Sappurisasaṃseva), (2) mengikuti dhamma sejati (saddhammassavana), (3) memperhatikan yang seharusnya (yonisomanasikāra) dan (4) berprilaku sesuai dhamma/ajaran (dhammānudhammappaṭi-patti). Arus adalah 8 jalan mulia (pandangan benar..pemusatan pikiran yang benar). Pemasuk arus adalah yang memiliki 8 jalan mulia [SN 55.5, 50; DN 33]

        Namun, karena Sang Buddha juga bersabda: "..Sekarang, Ānanda, prilaku menuju kesucian menjadi tidak bertahan lama. Sekarang, Ānanda, DHAMMA SEJATI hanya bertahan 500 tahun (na dāni, ānanda, brahmacariyaṃ ciraṭṭhitikaṃ bhavissati. Pañceva dāni, ānanda, vassasatāni saddhammo ṭhassati)” [AN 8.51, Vinaya: Cullavagga X.1.6], maka, setelah tahun ke-500nya penahbisan Mahapajapati Gotami, Dhamma sejati lenyap, pencapaian Sotapanna TIDAK DIMUNGKINKAN di alam Manusia. Mereka yang mengaku berkeyakinan kokoh tak tergoyahkan pada Buddha, Dhamma, seharusnya juga YAKIN pada sabda sang Buddha tentang ini.

    [Mereka di atas ini]

    memasuki [okkanto] jalan pasti kebenaran [sammattaniyāmaṃ], memasuki [okkanto] wilayah orang-orang mulia, melampaui [vītivatto] wilayah kaum duniawi [puthujjana]; tidak mampu [abhabbo] melakukan perbuatan yang berakibat terlahir kembali di alam: neraka, binatang, mahluk halus; IA takkan WAFAT tanpa menembus buah memasuki-arus [sotāpattiphala].

    Seorang yang MENGETAHUI dan MELIHAT [pajānāti evaṃ passati] secara demikian disebut Pemasuk-arus [sotāpanna], Ia takkan lagi terlahir di alam rendah, pasti mencapai tujuan, dengan penerangan sebagai tujuannya. [Ini adalah ringkasan SN 25:1-10/Okkanta (memasuki) sutta yang merupakan kumpulan sutta-sutta pendek: Cakkhu Sutta, Rūpa Sutta, Viññana Sutta, Phassa Sutta, Vedanā Sutta, Saññā Sutta, Cetanā Sutta, Tanhā Sutta, Dhātu Sutta dan Khanda Sutta]

    Type-Type Sotapana:

    • "Ia yang menghancurkan 3 belenggu menjadi paling banyak 7 x (So tiṇṇaṃ saṃyojanānaṃ parikkhayā sattakkhattuparamo hoti). Paling banyak 7x berkelanjutan menjadi deva, manusia untuk mengakhiri dukkha (Sattakkhattuparamaṃ deve ca manusse ca sandhāvitvā saṃsaritvā dukkhassantaṃ karoti).

        Note:
        "Ye ariyasaccāni vibhāvayanti, gambhīrapaññena sudesitāni; Kiñcāpi te honti bhusaṃ pamattā, na te bhavaṃ aṭṭhamamādiyanti" (Siapapun yang menembus kebenaran Mulia, kebijakan yang sangat dalam yang telah dibabarkan, meski masih banyak kealpaan, terlahir tidak lebih dari 8 kehidupan) [SNP 2.1/Ratana Sutta, syair ke-9]

    • Ia yang menghancurkan 3 belenggu menjadi kolamkola, terlahir berkelanjutan dalam 2 atau 3 klan/keluarga/kelompok untuk mengakhiri dukkha (So tiṇṇaṃ saṃyojanānaṃ parikkhayā kolaṃkolo hoti, dve vā tīṇi vā kulāni sandhāvitvā saṃsaritvā dukkhassantaṃ karoti).

        Note:
        Visuddhimagga-mahāṭīkā: "Yāva chaṭṭhabhavā saṃsarantopi kolaṃkolova hoti" (hingga 6 x terlahir dari keluarga ke keluarga)

      Kata "terlahir kembali" tidak selalu merujuk kejadian setelah kematian:

        “Kalau begitu, Angulimāla, pergilah ke Sāvatthī dan katakan pada perempuan itu: ‘Saudari, SEJAK KELAHIRANKU (jātiyā jāto), aku tidak ingat bahwa aku pernah dengan sengaja membunuh makhluk hidup. Dengan kebenaran ini, semoga engkau sejahtera dan semoga bayimu sejahtera!’”

        “Yang Mulia, bukankah dengan demikian aku mengatakan kebohongan dengan sengaja, karena aku telah dengan sengaja membunuh banyak makhluk hidup?”

        “Kalau begitu, pergilah ke Sāvatthī dan katakan pada perempuan itu: ‘Saudari, SEJAK KELAHIRANKU di kelahiran KEMULIAAN (ariyāya jātiyā jāto), aku tidak ingat bahwa aku pernah dengan sengaja membunuh makhluk hidup. Dengan kebenaran ini, semoga engkau sejahtera dan semoga bayimu sejahtera!’" [MN 86/Angulimāla Sutta]

      Sehingga:

      • Sebagai manusia, mencapai sotāpanna, wafat, terlahir kembali dalam kelompok deva (keluarga deva tertentu putra deva/deva baru). Contoh raja bimbisara, setelah mencapai sotāpanna, wafat dan terlahir di alam catumaharajika sebagai keluarga/kelompok Yakkha, pengiring Raja Vessavana dan menuju ke sakadagami di alam deva (DN 18). Ananthapindika, lahir dari keluarga manusia, mencapai sotapanna dan terlahir kembali sebagai keluarga alam deva Tusita (MN 143)
      • Sebagai Deva mencapai sotāpanna, wafat, terlahir kembali dalam kelompok deva yang sama atau berbeda dan mengakhiri dukkha di alam-alam deva. Contoh: deva sakka, setelah mencapai sotāpanna wafat dan terlahir menjadi deva sakka lagi, ketika wafat, akan terlahir di kelompok deva alam Suddhavasa dan padam di sana [DN 21]
      • Sebagai manusia, menjadi sotapanna, kemudian menjadi bhikkhu, Ia disebut pengikut kelompok Sakya: Yassa, ayahnya, dll

          Vāseṭṭha, kalian semua, walaupun dari kelahiran, nama, suku dan keluarga yang berbeda, yang telah meninggalkan kehidupan rumah tangga untuk menjalani kehidupan tanpa rumah, jika kalian ditanya siapakah kalian, maka kalian harus menjawab: “Kami adalah petapa, pengikut Sakya.." [DN 27]

      Jadi makna klan, keluarga sebagai arti kola tidak harus merujuk pada keluarga kelahiran dari rahim

    • Ia yang menghancurkan 3 belenggu (So tiṇṇaṃ saṃyojanānaṃ parikkhayā) menjadi satu benih (ekabījī hoti), bahkan/juga/hanya menjadi satu manusia (ekaṃyeva mānusakaṃ bhavaṃ) menghasilkan berakhirnya dukkha (nibbattetvā dukkhassantaṃ karoti) [AN 3.86-88] Ini Sariputta, jenis mahluk ke-7 dengan sisa tertinggal saat waktunya (wafat) bebas dari: alam niraya, binatang, peta, keadaan sengsara/merugi menderita menuju kehancuran (Ayaṃ, sāriputta, sattamo puggalo saupādiseso kālaṃ kurumāno parimutto nirayā parimutto tiracchānayoniyā parimutto pettivisayā parimutto apāyaduggativinipātā) [AN 9.12].

      Sutta terakhir menggunakan kata: “kalam kurumano/karoti” dan BUKAN kata: “marana”. Walaupun ke-2 kata ini merujuk pada kematian, namun maksudnya berbeda, marana = telah mati, sedangkan kālaṃ-karoti = to bring one's time to an end to die/saatnya tiba untuk mati → akan mati/belum mati, contoh penggunaan: “sammūḷho kālaṃ karoti” (waktunya (untuk mati) berada dalam kebingungan) → Ia jelas belum mati.

      Jadi sutta ini menyatakan pada kondisi seseorang yang sedang menjadi manusia, kemudian di kehidupannya saat itu, Ia meraih kesucian sotapanna, sehingga sebelum kematiannya, walaupun ada sisa yang tertinggal, ini sudah lolos dari bahaya kehancuran, kondisi ekabijji menyebabkan, hingga sebelum wafatnya, Ia akan berhasil memproduksi berakhirnya dukkha dan menjadi arahat

      Contoh ekabiji sotāpanna: Kondanna, Sariputta, Maha Moggalana, Raja Sudoddanna, maha pajapati Gotami dan lainnya

    Benarkah yang TELAH MENCAPAI sotāpanna, jika wafat akan terlahir lagi sebagai manusia? Tidak. Alasannya:

    Ke-1,
    "Perumah tangga muda, siswa ariya dengan meninggalkan 4 kekotoran perbuatan, dengan tidak melakukan kejahatan dari 4 penyebab, dengan tidak mengikuti 6 cara membuang-buang harta seseorang, dengan menghindari 14 kejahatan ini – maka mencakup 6 arah, MEMASUKI JALAN UNTUK MENAKLUKAN 2 ALAM, Semuanya berjalan lancar baginya, BAIK DI ALAM INI MAUPUN ALAM BERIKUTNYA, bersamaan dengan hancurnya jasmani setelah kematian terlahir dalam keadaan BAHAGIA (sugatiṃ) di ALAM SURGA (saggaṃ lokaṃ).’[DN 31/Sigalaka sutta]

    “Mereka yang memiliki: (1) Keyakinan pada Buddha, (2) Dhamma, (3) sangha dan (4) moralitas yang disenangi para mulia -tidak rusak, robek, tanpa noda, tanpa bercak, membebaskan, dipuji oleh para mulia, tidak digenggam, menuntun pada pikiran terpusat adalah lintasan para dewa” [SN 55.34-35].

    ”ketika seorang siswa mulia memiliki 4 hal di atas maka para deva bersukacita dan membicarakan kemiripannya dengan mereka para deva yaitu ketika mereka wafat di alam manusia terlahir kembali di alam deva, maka Ia akan datang ke hadapan para Deva [SN 55.36]

    Ke-2,
    YM Kumara Kassapa dalam perumpamaan orang yang terjatuh di lubang kotoran (Gūthakūpapurisa-upamā), mengatakan, "Demikianlah, Pangeran, manusia adalah kotor, berbau, mengerikan, menjijikkan, dan biasanya dianggap demikian oleh para dewa." [DN 23/Payasi Sutta]

    Ke-3,
    Sebelum pertemuan Sakka dan sang Buddha, Sakka mengetahui seorang umat awam wanita (gopaka) terlahir di Tavatimsa, sementara 3 bhikkhu terlahir di alam deva yang lebih rendah (sebagai gandhabba). Setelah dimarahi dan didorong, 2 diantaranya malu dan mengembangkan perhatian dan berhasil menghancurkan kama samyojana dan terlahir di alam brahma purohita. [DN 21/Sakka panha sutta]

    Deva sakka kemudian bertemu sang Buddha dan di tanya jawab tersebut, Ia mencapai sotāpanna. Kemudian muncul dalam pikiran Deva Sakkha 6 hal yang menggembirakannya, diantaranya adalah point ke-1, 2, dan 5:

    1. Idheva (idha_eva → di sini) tiṭṭhamānassa (berada, berdiam), devabhūtassa (mahluk deva) me (aku) sato (sadar, kenali); Punarāyu (berlanjut lagi) ca (dan, ",") me (aku) laddho (mendapat, menerima, memperoleh), evaṃ (kemudian, dalam cara ini) jānāhi (ketahui) mārisa (tuan)

      → Berada di sini, aku memahami sebagai dewa, kehidupan dapat berlanjut lagi, kemudian ku ketahui tuan.

    2. Cutāhaṃ (cuta+aham, cuta=menjauh, mengilang, aham=amha=kami), diviyā (deva) kāyā (tubuh), āyuṃ (hidup) hitvā (menghindari, membuang) amānusaṃ (non manusia); Amūḷho (tidak salah jalan) gabbhamessāmi (akan ke rahim), yattha (kemana saja, dimana) me (aku, punyaku) ramatī (kegembiraan) mano (pikiran)
      ----
      mūḷha
      [Vedic mūḍha, pp. of muh; cp. also muddha1= Vedic mugdha] 1. gone astray, erring, having lost one's way (magga°) D.I,85 ≒ (°ssa maggaṁ ācikkhati); Pv IV.148 (id. with pāvadati); PvA.112 (magga°). -- 2. confused, infatuated, blinded, erring, foolish D.I,59; Pv IV.334 (sa°, better to be written sam°).

      --gabbhā (f.) a woman whose 「fœtus in utero」 has gone astray, i. e. cannot be delivered properly, a woman difficult to be delivered J.I,407=DhA.IV,192; Miln.169; VbhA.96. --rūpa foolish Dh.268; DhA.III,395. (Page 540)

      → Kami menjauhi tubuh deva, menghindari kehidupan non manusia; takkan di rahim, kemana saja pikiranku gembira.

    1. Cutāhaṃ (cuta+aham, cuta=menjauh, menghilang aham=amha=kami) mānusā (manusia) kāyā (tubuh), āyuṃ (hidup) hitvāna (hitvana = jahati = membuang, menghindari) mānusaṃ; Puna (again) devo bhavissāmi (akan menjadi deva), devalokamhi uttamo (deva-loka-amhi-uttamo =aku di alam deva utama).

      → kami menjauhi tubuh manusia, menghindari kehidupan manusia; lagi akan menjadi deva aku di alam deva utama

    Ke-4,
    Selama 45 tahun menjadi Buddha hingga parinibbana, tidak pernah disebutkan dalam sutta/Vinaya, 1 (satu) pun sotāpanna/sakadagami terlahir KEMBALI di alam manusia, malah disampaikan banyak contoh mereka ini terlahir di alam surgawi, misal:

    1. DN 16/Mahaparanibbana sutta:

        .."Bhante, di Nadika ini bhikkhu Salha dan bhikkhu Nanda telah meninggal. Juga yang telah meninggal adalah upasaka Sudatta, upasika Sujata serta beberapa upasaka lain yaitu Kakhuda, Kalinga, Nikata, Katissabha, Tuttho, Santuttha, Bhadda dan Subhadda. Bagaimanakah nasib mereka? Bagaimanakah keadaan tumimbal lahir mereka?"

        "Ananda, mengenai bhikkhu Salha,..ia telah memperoleh kebebasan mental dari noda..

        Mengenai bhikkhu Nanda, dengan menghancurkan 5 belenggu yang lebih rendah..takkan kembali lagi di alam ini (Dunia ini maksudnya: di luar alam anagami/alam sudhavasa).

        Mengenai upasaka Sudatta, ia telah menghancurkan 3 belenggu, mengurangi hawa nafsu dan kebencian..menjadi seorang yang hanya dilahirkan sekali lagi; untuk mengakhiri penderitaannya, ia akan dilahirkan kembali sekali lagi di alam ini. [sakadāgāmī sakideva imaṃ lokaṃ āgantvā dukkhassantaṃ karissati, maksud alam ini adalah di luar alam sudhavasa]

        Mengenai upasika Sujata, dengan menghancurkan 3 Belenggu.., mencapai tingkat sotāpanna, dan telah bebas dari bahaya jatuh ke dalam keadaan yang buruk, telah terjamin dan siap untuk mencapai kesempurnaan.

        Mengenai upasaka Kakhuda, dengan menghancurkan 5 belenggu rendah..tidak terlahir kembali di alam ini dan pasti akan mencapai nibbana.

        Demikian pula halnya dengan Kalingga, Nikata, Katissabha, Tuttho, Santuttha, Bhadda dan Subhadda, beserta lebih dari 50 orang di Nadika. Lebih dari 90 orang telah wafat di Nadika, dengan menghancurkan 3 Belenggu dan pengurangan hawa nafsu, kebencian dan khayalan, telah menjadi sakadagami dan telah siap mencapai akhir dari penderitaannya dalam kelahirannya kembali yang sekali lagi di alam ini. Lebih dari 500 orang yang telah wafat di Nadika, dengan melenyapkan 3 belenggu, mereka adalah para sotāpanna dan telah bebas dari kelahiran kembali di alam penderitaan, yang pasti akan mencapai penerangan sempurna (bodhi)."

    2. DN 18/Janavasabha Sutta:

        [Sang Buddha didatangi satu yakkha bernama Janavasabha, ex-Bimbisāra, yang lahir ke-7xnya sebagai pengiring Raja Vessavaṇa (raja para Yakkha alam Catumaharajika). Ia tahu dirinya bebas dari alam sengsara, dan sekarang berkeinginan untuk menjadi Yang-Kembali-Sekali. Ia menyampaikan bahwa di hari uposatha yang lalu, para deva alam 30 deva dan 4 raja dewa alam catumaharajika berkumpul di Aula Sudhamma, kemudian Brahmā Sanankumāra muncul di hadapan mereka]

        Brahma sanakumara: Mereka yang berkeyakinan tidak tergoyahkan pada Buddha, Dhamma, dan Sangha, dan memiliki moralitas-moralitas yang menyenangkan Para Mulia, makhluk-makhluk yang telah muncul di sini karena latihan-Dhamma mereka, berjumlah lebih dari 24.000 dari Magadha yang telah meninggal dunia, setelah menghancurkan 3 belenggu menjadi para Pemenang-Arus, tidak mungkin lagi terjatuh ke alam sengsara dan pasti mencapai Pencerahan, dan sesungguhnya juga ada sakadagami di sini...

    Kelahiran sebagai Deva adalah kelahiran spontan sehingga dapat INGAT mengapa terlahir di situ, Ia telah mendapatkan bukti langsung kebenaran ajaran dan dapat meneruskan yang telah dilakukan dengan kendala yang semakin sedikit

    Ke-5,
    [..]memasuki jalan pasti kebenaran, memasuki wilayah orang-orang mulia, melampaui wilayah kaum duniawi; TIDAK DAPAT MELAKUKAN PERBUATAN YANG BERAKIBAT TERLAHIR KEMBALI DI ALAM: neraka, binatang, mahluk halus; Ia TIDAK DAPAT meninggal dunia tanpa menembus buah Memasuki-arus. [SN 25.1-10]

    "..Bersamaan dengan kemampuannya melihat, ditanggalkannya 3 hal (Sahā vassa dassanasampadāya, tayassu dhammā jahitā bhavanti), pandangan identitas, keraguan dan salah memahami/melekat pada aturan/praktek (Sakkāyadiṭṭhi vicikicchitañ-ca sīlabbataṁ vāpi yad-atthi kiñci), bebas dari 4 keadaan sengsara (catūhapāyehi ca vippamutto), tak dapat melakukan 6 hal lebih/besar (Chaccaabhiṭhānāni a-bhabba kātuṃ)....Perbuatan buruk yang dilakukannya (Kiñcāpi so kammaṁ karoti pāpakaṁ) melalui badan, ucapan dan pikiran (Kāyena vācā uda cetasā vā) tidak dapat disembunyikannya (abhabbo so tassa paṭicchādāya). Tidak dapat oleh yang dikatakan telah melihat jalan (abhabbatā diṭṭhapadassa vuttā).." [SNP 2.1/KHP.6/Ratana Sutta]

      note:
      Tentang 6 hal lebih/berat: Beberapa menyatakan: pembunuhan ibu (1), ayah (2), arahat (3), berpikiran buruk dan melukai buddha (4) dan memecah belah sangha (5), namun dapat pula mengenai 5 sila. Sedangkan yang ke-6 adalah tidak berguru pada yang mengajarkan ajaran lain, namun dapat juga mengenai pandangan salah.

      sotāpanna masih dimungkinkan: menonton hiburan, menyanyi, menari, memainkan musik, makan lebih dari 1x, berhubungan badan dan lainnya.

    "Bagi yang berpandangan benar TIDAK MUNGKIN:

    1. menganggap sankhāra/sesuatu yang berkondisi adalah kekal, menyenangkan dan dhamma (hal yang berkondisi maupun tidak) sebagai diri
    2. Membunuh: ibu, bapak, arahat, berpikiran buruk dan melukai sang buddha, memecahbelah sangha
    3. berguru pada yang lain

    Namun MUNGKIN bagi Puthujjana". [AN 1.268-276/AN 1.15.1−9/Aṭṭhāna sutta]

    "Tidak mungkin suatu akibat yang: diharapkan, diinginkan, dan menyenangkan dapat dihasilkan dari perilaku salah: melalui jasmani, ...melalui ucapan, …melalui pikiran; tidak ada kemungkinan seperti itu. Tetapi ada kemungkinan bahwa suatu akibat yang tidak: diharapkan, diinginkan, dan menyenangkan dapat dihasilkan dari perilaku salah; melalui jasmani, …melalui ucapan, ...melalui pikiran; ada kemungkinan seperti itu" [AN 1.284-286/AN 1.15.17−19/Aṭṭhāna sutta]

    Terdapat 4 keadaan yang takkan terjadi pada sotāpanna:
    Atha kho so parimutto nirayā, parimutto tiracchānayoniyo, parimutto pettivisayā, parimutto apāyaduggativinipātā. [kemudian Ia bebas dari: neraka, binatang, alam peta dan keadaan sengsara menderita menuju kehancuran] [SN 55.1/Raja sutta]

    Kalimat parimutto apāyaduggativinipātā (bebas dari kerugian kesengsaraan kehancuran) menunjukan ia tidak dapat terlahir lagi di alam manusia.

    Mengapa?

    Terlahir kembali sebagai manusia, maka ia akan mengalami keadaan kerugian ketika masih sebagai janin dan bayi. Sebagai balita, Ia rentan terhadap potensi pelanggaran sila (misal: mengambil yang tidak diberikan). Bayi tidak memiliki gagasan tentang pandangan indentitas, ajaran dan keraguan terhadap ajaran serta tidak 'melihat dan mengetahui' anicca yang seharusnya merupakan syarat seorang sebagai sotāpanna.

    Dalam MN 64/ Mahāmālunkya Sutta :
    “Mālunkyāputta, dari siapakah engkau mengingat bahwa Aku telah mengajarkan ke-5 belenggu yang lebih rendah dalam cara itu? Tidakkah para pengembara sekte lain membantahmu dengan perumpamaan bayi? Karena:

    1. seorang bayi yang lembut yang berbaring telungkup bahkan tidak memiliki gagasan ‘identitas,’ jadi bagaimana mungkin pandangan identitas muncul dalam dirinya? namun kecenderungan tersembunyi pada pandangan identitas terdapat dalam dirinya
    2. Seorang bayi yang lembut yang berbaring telungkup bahkan tidak memiliki gagasan ‘ajaran,’ jadi bagaimana mungkin keragu-raguan terhadap ajaran muncul dalam dirinya? namun kecenderungan tersembunyi pada keragu-raguan terdapat dalam dirinya
    3. Seorang bayi yang lembut yang berbaring telungkup bahkan tidak memiliki gagasan ‘peraturan,’ jadi bagaimana mungkin keterikatan pada peraturan dan pelaksanaan muncul dalam dirinya? namun kecenderungan tersembunyi pada peraturan dan pelaksanaan terdapat dalam dirinya.
    4. Seorang bayi yang lembut yang berbaring telungkup bahkan tidak memiliki gagasan ‘kenikmatan indria,’ jadi bagaimana mungkin keterikatan pada keinginan indria muncul dalam dirinya? namun kecenderungan tersembunyi pada nafsu indria terdapat dalam dirinya
    5. Seorang bayi yang lembut yang berbaring telungkup bahkan tidak memiliki gagasan ‘makhluk-makhluk,’ jadi bagaimana mungkin kehendak buruk terhadap makhluk-makhluk muncul dalam dirinya? namun kecenderungan tersembunyi pada kehendak buruk terdapat dalam dirinya. Tidakkah para pengembara sekte lain membantahmu dengan perumpamaan bayi?”

    Itulah mengapa kelahiran berikut sotāpanna adalah kelahiran spontan dan tidak terlahir lagi sebagai manusia namun terus di alam-alam bahagia.

  2. Sakadägämi (sakṛt = 1 x; āgacchati = datang): Ia menghancurkan 3 belenggu mengurangi ragadosamoha (So tiṇṇaṃ saṃyojanānaṃ parikkhayā rāgadosamohānaṃ tanuttā) menjadi sakadagami (sakadāgāmī hoti) 1 x kembali ke alam ini untuk mengakhiri dukkha (sakideva imaṃ lokaṃ āgantvā dukkhassantaṃ karoti) (= menjadi arahat) [AN 3.86, 87; 4.88, 421; 7.15; 9.12; SN 55.8, 10, 24, 52; MN 6, 22, 34, 68, 118; DN 6, 16, 18, 19, 28, 29].

    Maksud kata "kembali ke alam ini" bukanlah alam manusia, karena sample di DN 18, ada juga yang terlahir di alam 30 Deva. Di AN 10.63 ,64 ada frase: "pañcannaṃ idha niṭṭhā, pañcannaṃ idha vihāya niṭṭhā..uddhaṃsotassa akaniṭ-ṭhagāmino" (5 berakhir di sini, 5 pergi dari sini..menuju ke atas ke akanittha/alam sudhavasa). Jadi maksud "alam ini" adalah selain alam Sudhavasa (dan tentu saja selain alam menderita dan keadaan merugi). Untuk mencapai kesucian ini: 3 belenggu sotāpanna harus telah dipatahkan dan harus telah melemahkan 2 belenggu berikutnya:

    1. Kämaräga = Nafsu Indriya/nafsu sensual
    2. Vyäpäda = kehendak buruk/benci/permusuhan/penolakan.

  3. Anägämi (an = tidak; āgacchati = datang), Ia TELAH mematahkan 5 belenggu terendah (Orambhãgiya-samyojana: sakayadithi, vicikicca, silabbata-paramasa, kamaraga dan Byapada).

    Para anagami yang wafat belum mencapai Arahat, HANYA akan terlahir di alam-alam Śuddhāvāsa (alam murni; Sudha: menjadi bersih dari, Avasa: kekotoran mental), takkan terlahir lagi di luar alam itu hingga mencapai Nibbana dan juga parinibbana di alam itu.

  4. Arahat, setelah mematahkan 5 belenggu terendah, juga harus mematahkan 5 belenggu tertinggi (Uddhambhãgiya-samyojana):

    1. Ruparäga = hasrat terlahir di alam materi

    2. Aruparäga = hasrat terlahir di alam tanpa materi

      Kitab komentar: Mereka yang telah menghancurkan belenggu no.6 (ruparaga) dan/atau no.7 (a-ruparaga), apabila meninggal di keadaan samädhi [mencapai Jhãna ke-1. sd ke-4) akan muncul di alam bentuk (rüpa-loka). Ini tidak benar. Mereka yang TELAH menghancurkan 5 belenggu terendah (Orambhãgiya), jika wafat dan belum arahat, mereka SELALU AKAN terlahir di alam-alam Suddhavasa. Di alam-alam itu, setelah menghancurkan 5 belenggu yang lebih tinggi (Uddhambhãgiya) mereka menjadi arahat.

    3. Mäna: berkenaan dengan "keangkuhan" ketika membandingkan diri sendiri vs pihak lainnya [bentuk, perasaan, persepsi, dll] yang hasilnya, Ia merasa: lebih baik/tinggi atau sama atau lebih rendah/rendah dari pihak lainnya.

    4. Uddhacca = Gelisah, resah, khawatir pada hal tertentu yang belum terjadi/pada masa depan

    5. Avijjä = Ketidaktahuan. Perbedaan Avijjä vs Moha:

      • Avijjä = Tidak mengetahui 4 Kesunyataan Mulia, Tilakkhana, Paticca-Samuppada dan hukum Kamma.
      • Moha = Tidak dapat membedakan hal yang bermanfaat dan tidak.
Walaupun para Ariyasavaka (mereka yang terlatih, termasuk para Pacceka Buddha) dan juga para Puthujjana (bukan mahluk suci) sama-sama merasakan perasaan menyenangkan, menyakitkan atau bukan keduanya namun ada perbedaannya:
    Mereka yang tidak terlatih..merasakan 2 perasaan: Jasmani (kayika) dan Mental (cetasika). Seperti seorang yang dibidik sebatang anak panah dan dibidik lagi dengan anak panah ke-2 hingga merasakan perasaan yang ditimbulkan 2 anak panah itu. Ketika tersentuh perasaan menyakitkan, ia terganggu. Ketika terganggu, ada kecenderungan tersembunyi melawannya. Karena tersentuh perasaan menyakitkan, ia mencari kesenangan dalam kenikmatan indria karena Ia TIDAK TAHU jalan membebaskan diri dari perasaan menyakitkan selain melalui kenikmatan indria. Ketika mencari kesenangan dalam kenikmatan indria, ada kecenderungan tersembunyi melekatinya. Ia TIDAK MEMAHAMI asal-mula dan lenyapnya, kepuasan sesaat, bahaya, dan jalan membebaskan diri darinya. Ketika TIDAK MEMAHAMINYA, ada kecenderungan tersembunyi TIDAK MENGETAHUI perasaan bukan-menyakitkan juga bukan-menyenangkannya. Merasakan perasan menyenangkan, Ia terikat/terbelenggu (saññutto). Merasakan perasaan menyakitkan, Ia terikat. Merasakan perasaan bukan-menyakitkan juga bukan-menyenangkan, Ia terikat

    Sedangkan mereka yang terlatih HANYA merasakan perasan itu pada jasmaninya saja dan TIDAK di mental, ini seperti dibidik satu anak panah saja.. Ketika tersentuh perasaan menyakitkan, ia TIDAK terganggu. Ketika TIDAK terganggu, TIDAK ADA kecenderungan tersembunyi melawannya. Karena tersentuh perasaan menyakitkan, ia TIDAK mencari kesenangan dalam kenikmatan indria.. Karena ..TAHU jalan membebaskan diri dari perasaan menyakitkan selain dari kenikmatan indria. Ketika TIDAK mencari kesenangan dalam kenikmatan indria, TIDAK ADA kecenderungan tersembunyi melekatinya. Ia MEMAHAMI asal-mula dan lenyapnya, kepuasan sesaat, bahaya, dan jalan membebaskan diri darinya. Ketika MEMAHAMINYA, TIDAK ADA kecenderungan tersembunyi tidak mengetahui perasaan bukan-menyakitkan juga bukan-menyenangkannya. Merasakan perasan menyenangkan, ia TIDAK terikat/terbelenggu (visaññutto). Merasakan perasaan menyakitkan, Ia TIDAK terikat. Merasakan perasaan bukan-menyakitkan juga bukan-menyenangkan, Ia TIDAK terikat. [SN 36.6/Sallatha Sutta]
Namun Sang Buddha juga menyatakan bahwa kehidupan brahmacariya tidak bertahan lama, usia Saddhamma/Dhamma sejati HANYA bertahan 500 tahun sejak ditahbiskannya Bhikkhuni pertama[↓]. Setelah 500 tahun berlalu, maka TAK ADA lagi, MANUSIA yang mencapai kesucian bahkan untuk sotāpanna sekalipun dengan melalui ajarannya, terjadi banyak penyimpangan, ajaran perlahan melenyap, masuk vase panjang kevakuman ajaran Buddha namun disela-selanya dimungkinkan kemunculan para Pacceka Buddha (yang mencapai pencerahan juga dengan usaha sendiri) dan berakhirnya vase vakumnya ajaran ketika Buddha Metteya (Maitreya) muncul di dunia untuk memutar kembali roda Dhamma.

Sudah ada berapa BUDDHA, sebelum Buddha Gautama? lihat: "BLOG INI" []
---------------

Hukum Kamma

Sebagai awalan, kita ambil contoh terlahir sebagai manusia:
    Dari 91 alam kehidupan (biasanya 31 alam), terlahir sebagai manusia seharusnya adalah hasil kamma baik. Sang buddha memberikan perumpamaan sulitnya terlahir sebagai manusia:

      Misal di suatu Samudra, sebuah GENDAR berlubang satu terapung di lautan dan misalkan ada seekor kura-kura buta yang muncul ke permukaan setiap 1 abad sekali, maka di suatu saat, di akhir suatu masa yang lama, kura-kura buta itu dapat saja memasukan lehernya ke lubang gendar itu dan itu adalah lebih cepat waktunya dari seorang yang memperoleh kondisi manusianya kembali.

    Jadi, terlahir sebagai manusia jangankan sebagai manusia normal bahkan terlahir cacat sekalipun sudah merupakan hal yang sangat sulit:

    Kondisi lengkap tidak dipunyai seorang yang cacat kaki dan tubuh → Kamma buruk.

    Namun walaupun anggota tubuh tidak lengkap, ia kaya, terkenal dan beristri cantik → Kamma baik

    Cacat anggota tubuh seseorang adalah keunggulan, jika digunakan mengemis akan memperoleh cukup uang dan makanan → Kamma baik.

    Nick Vujicic, turunan Serbia Australlia, tidak punya kaki dan tangan, terkenal, kaya-raya beristri cantik, Ia tidak lagi mengatakan hidupnya buah dari kamma buruk :)

    Pelacur menurut pandangan umum → Kamma buruk

    Agar orang mau membayarnya, Ia haruslah berpenampilan FISIK MENARIK → Kamma baik.

    Pelacur jarang kekurangan makan, mampu memilih menu, padahal, tidak banyak orang di muka bumi ini cukup makan dan bahkan bisa memilih menu → Kamma baik.

    Pelacur memiliki pakaian yang baik, terlindungi dari kedinginan, memiliki perhiasan karena dan untuk menambah dayatariknya, bertempat tinggal cukup nyaman dan terhindar dari hujan dan terik matahari → Kamma baik
Ilustrasi di atas menunjukan BAIK atau BURUKnya sebuah hasil/vipaka kamma adalah RELATIF menurut sudut pandang.

Apa arti Kamma?

Kamma [artinya: perbuatan], meliputi semua jenis kehendak/maksud perbuatan baik/buruk yang dilakukan melalui: pikiran, kata, atau tindakan:
    "O, bhikkhu, kehendak [cetana] untuk berbuat itulah yang Kunamakan Kamma. Sesudah berkehendak orang lantas berbuat dengan badan, perkataan atau pikiran." [AN 6.63/Nibbedhika Sutta]
Apa yang menjadi penyebab Kamma?

Kontak/Indra [Phassa], terdapat 2 tipe Kamma:
    Kamma lama [Purana]:
    Yang telah dilakukan [abhisaṅkhataṃ], dikehendaki [abhisañcetayitaṃ] dan dirasakan [vedayitaṃ] karena/beraal dari Mata atau telinga atau hidung atau lidah atau tubuh atau pikiran

    Kamma Baru [Nava]:
    Perbuatan sekarang yang dilakukan melalui pikiran, ucapan perbuatan
3 cara/bentuk (ti-vidhā) kamma dirasakan (vedaniya kamma), yaitu: sekarang ini/ kehidupan ini (diṭṭhe va dhamme/dittheva dhamme ) atau berikutnya (upapajja) atau lain periode atau beberapa periode berkelanjutan lain (apare vā pariyāye ) [MN.136/Maha kamma vibhangga sutta; AN 3.34/NIDANA SUTTA; AN.10.217/Paṭhamasañcetanikasutta; AN 6.63/Nibbe Dihika/pariyaya sutta] atau juga kamma dirasakan sekarang ini/kehidupan ini (ditthe va dhamme) dan beberapa periode ke depan (samparaya) [MN 101/Devadaha Sutta]

Mulai tingkat kesucian anagami, buah kamma dirasakannya di saat dan di kehidupan ini:
    Seharusnya dikembangkan dengan baik (Bhāvetabbā kho panāyaṃ), Para Bhikkhu (bhikkhave), pembebasan pikiran dengan cinta kasih (mettācetovimutti) / ..dengan karuna (Karuṇācetovimutti) / ..dengan mudita (muditācetovimutti) / ..dengan upekkhā (upekkhācetovimutti) oleh pria atau wanita (itthiyā vā purisena vā). Wanita atau para bhikkhu atau Pria (Itthiyā vā bhikkhave purisassa vā) tidak membawa tubuhnya ketika pergi (nāyaṃ kāyo ādāya gamanīyo); Pikiran/kesadaran rantai antara dirinya, para bikkhu (Cittantaro ayaṃ, bhikkhave, macco).’

    “Kemudian Ia (so evam) [ariyasāvako/pencapai kesucian] mengetahui (pajānāti): ‘Apapun Perbuatan jahat lampau yang kulakukan melalui tubuh (yaṃ kho me idaṃ kiñci pubbe iminā karajakāyena pāpakammaṃ kataṃ. "Karaja-kayena" meliputi: perbuatan dari 6 kontak Indriya yaitu dari Pikiran, Ucapan dan Perbuatan), seluruh hasil akan dirasakan di saat ini/di kehidupan ini (sabbaṃ taṃ idha vedanīyaṃ) Tidak lagi menjadi mengikuti ku (na taṃ anugaṃ bhavissatī).’

    jika dikembangkan sedemikian rupa, para Bhikkhu (Evaṃ bhāvitā kho, bhikkhave). Pembebasan pikiran dengan metta .. karuna .. mudita .. upekkha (metta ..karuna .. mudita .. upekkha cetovimutti), akan membawa menuju keadaan Yang-Tidak-Kembali-Lagi (anāgāmitāya saṃvattati), bagi bhikkhu yang telah mantap dalam kebijaksanaan yang terdapat di dalam Ajaran ini tetapi masih belum menembus pembebasan yang lebih tinggi (idha paññassa bhikkhuno uttari vimuttiṃ appaṭivijjhato) [AN 10.208/Karajakaya Brahma Vihara Sutta]
Cara memadamkannya:
8 Jalan mulia/utama. [SN 35.146/kamanirodha sutta]

Berikut beberapa variasi penjelasan tentang kamma:
    "Sesuai dengan benih yang ditanam, demikian pula buah yang akan dipetik, pelaku kebaikan memetik kebaikan, pelaku kejahatan memetik kejahatan. Olehmu, teman, benih telah ditanam, Kelak kau akan rasakan buahnya".[SN 11.10/Isayosamuddaka Sutta; kalimat yang kurang lebih sama ada di jataka no.222 dan 353. Kalimat ini adalah kalimat para petapa pada Raja Asura, Sambara, saat menjelang perselisihan antara deva vs Asura. Kalimat ini, mirip dengan ucapan Yājñavalkya pada Jāratkārava Ārtabhāga di Brihad-Āranyaka Upanishad 3.2.13: "Seseorang menjadi baik karena perbuatan baik, menjadi buruk karena perbuatan buruk"]

    Makhluk-makhluk adalah pemilik perbuatan mereka, pewaris perbuatan mereka, mereka berasal-mula dari perbuatan mereka, terkait dengan perbuatan mereka, memiliki perbuatan mereka sebagai perlindungan mereka. Adalah perbuatan yang membedakan makhluk-makhluk sebagai hina dan mulia.[MN 135/Cula Kamma Vibhanga Sutta]

    Aku adalah pemilik dari perbuatanku, pewaris dari perbuatanku, berasal dari perbuatanku, terkait dengan perbuatanku, dan memiliki perbuatanku sebagai pelindungku. Apapun yang kulakukan, baik atau buruk, akulah pewarisnya. [AN 5.57/Upajjhatthana Sutta]

    "Para bhikkhu, seorang yang menyatakan, 'Seperti apapun kamma yang diperbuatnya (yathā yathāyaṃ puriso kammaṃ karoti), Demikian pula yang akan dialaminya (tathā tathā taṃ paṭisaṃvediyatī)', Jika demikian para bhikkhu, menjalani prilaku menuju kesucian tidak ada (brahmacariyavāso na hoti), tidak ada jalan mengakhiri Dukkha (okāso na paññāyati sammā dukkhassa antakiriyāya). TAPI para bhikkhu, seorang yang menyatakan 'seperti apapun perasaan atas kamma yang diperbuatnya (yathā yathā vedanīyaṃ ayaṃ puriso kammaṃ karoti), Demikian pula hasil yang akan dialaminya (tathā tathāssa vipākaṃ paṭisaṃvediyatī)', Jika demikian para bhikkhu (evaṃ santaṃ, bhikkhave), menjalani prilaku menuju kesucian ada (brahmacariyavāso hoti), ada jalan benar diberakhirnya Dukkha (okāso paññāyati sammā dukkhassa antakiriyāya)" [AN 3.99/lonapala Sutta]

    Aku tidak katakan, Para Bhikkhu, bahwa perbuatan disengaja (sañcetanikānaṃ kammānaṃ) selesai (katānaṃ) akumulasinya (upacitānaṃ) tanpa sepenuhnya dialami (appaṭisaṃveditvā) penjelmaan menjadi berakhir (byantībhāvaṃ) baik itu (Tañca kho) sekarang atau di kehidupan ini (diṭṭheva dhamme), berikutnya atau (upapajje vā), lain periode atau beberapa periode berkelanjutan tertentu (apare vā pariyāye). Juga tidak aku katakan, para bhikkhu, bahwa perbuatan disengaja selesai akumulasinya tanpa sepenuhnya dialami diberakhirnya Dukkha (dukkhassantakiriyaṃ). [AN 10.206/Sancetanika sutta]
Sang Buddha menyampaikan seseorang yang telah melakukan perbuatan buruk, Ia dapat saja terlahir di alam manusia terlihat atau menjadi: hina/mulia, berumur pendek/panjang, berpenyakit/sehat, cantik/buruk rupa, berpengaruh/tidak, miskin/kaya, berkelahiran rendah/tinggi, bodoh/bijaksana.
  1. Seseorang menyakiti makhluk hidup [atau terbiasa dengan kekerasan, tanpa belas kasihan] → Karena melakukan dan menjalankan perbuatan-perbuatan demikian → bersamaan hancurnya tubuh setelah kematian terlahir di keadaan sengsara/merugi menderita menuju kehancuran bahkan neraka, sebaliknya jika tidak, Ia muncul di alam manusia dan akan berumur pendek.

  2. Seseorang melukai makhluk-makhluk dengan tangan, dengan bongkahan tanah, dengan tongkat, atau dengan pisau → Karena melakukan dan menjalankan perbuatan-perbuatan demikian → bersamaan hancurnya tubuh setelah kematian terlahir di keadaan sengsara/merugi menderita menuju kehancuran bahkan neraka, sebaliknya jika tidak, Ia muncul di alam manusia dan akan berpenyakit.

  3. Seseorang memiliki karakter pemarah dan mudah tersinggung; bahkan jika dikritik sedikit, ia menjadi tersinggung, menjadi marah, bermusuhan, dan membenci, dan menunjukkan kemarahan, kebencian, dan dendam → Karena melakukan dan menjalankan perbuatan-perbuatan demikian → bersamaan hancurnya tubuh setelah kematian terlahir di keadaan sengsara/merugi menderita menuju kehancuran bahkan neraka, sebaliknya jika tidak, Ia muncul di alam manusia dan rupa yang buruk.

  4. Seseorang bersifat iri, seorang yang iri-hati, sakit hati, dan iri akan perolehan, pujian, penghargaan, penghormatan, salam, dan pemujaan yang diterima oleh orang lain→ Karena melakukan dan menjalankan perbuatan-perbuatan demikian → bersamaan hancurnya tubuh setelah kematian terlahir di keadaan sengsara/merugi menderita menuju kehancuran bahkan neraka, sebaliknya jika tidak, Ia muncul di alam manusia dan akan takkan memiliki pengaruh.

  5. Seseorang yang tidak memberikan makanan, minuman, pakaian, kereta, kalung bunga, wangi-wangian, salep, tempat tidur, tempat tinggal, dan pelita pada para petapa atau para brahmana [ato sesuai MN142/dakkhinaVibhanga sutta] → Karena melakukan dan menjalankan perbuatan-perbuatan demikian → bersamaan hancurnya tubuh setelah kematian terlahir di keadaan sengsara/merugi menderita menuju kehancuran bahkan neraka, sebaliknya jika tidak, Ia muncul di alam manusia dan akan menjadi miskin.

  6. Seseorang yang keras kepala dan sombong; ia tidak memberi hormat pada yang selayaknya menerima penghormatan, tidak bangkit berdiri pada yang karena kehadirannya seharusnya ia bangkit berdiri, tidak memberikan tempat duduk pada yang layak menerima tempat duduk, tidak memberi jalan untuk yang seharusnya diberi jalan, dan tidak memghormati, menghargai, memuja, dan memuliakan yang seharusnya dihormati, dihargai, dipuja, dan dimuliakan → Karena melakukan dan menjalankan perbuatan-perbuatan demikian → bersamaan hancurnya tubuh setelah kematian terlahir di keadaan sengsara/merugi menderita menuju kehancuran bahkan neraka, sebaliknya jika tidak, Ia muncul di alam manusia dan akan berkelahiran rendah.

  7. Seseorang yang tidak mengunjungi seorang petapa atau seorang brahmana dan bertanya: ‘Yang Mulia, apakah yang bermanfaat/tidak? Apakah yang tercela/tidak? Apakah yang harus/tidak boleh dilatih? Perbuatan apakah yang mengarah pada kerugian dan penderitaanku untuk waktu yang lama? Perbuatan apakah yang mengarah pada kesejahteraan dan kebahagiaanku untuk waktu yang lama? Karena melakukan dan menjalankan perbuatan-perbuatan demikian → bersamaan hancurnya tubuh setelah kematian terlahir di keadaan sengsara/merugi menderita menuju kehancuran bahkan neraka, sebaliknya jika tidak, Ia muncul di alam manusia dan akan menjadi bodoh. [Contoh lain, yang lebih positif, baca di MN 3.135/Cula Kammavibhangga Sutta]
Rumusan hasil TIDAKLAH HARUS: "Jika melakukan A, maka akan mendapat A", karena bisa saja seorang telah banyak berbuat baik di kehidupan ini, namun di kelahiran berikutnya, Ia malah terlahir menyedihkan!. Sang Buddha menyampaikan:
  1. Orang yang menyakiti makhluk hidup; mengambil yang tidak diberikan; berperilaku salah dalam kenikmatan indria; menyatakan yang tidak benar/musāvādī; fitnah/pisuṇavāco, kata-kata kasar/pharusavāco; bergosip/berkata yang tak perlu/samphappalāpī; tamak/irihati/abhijjhā; berpikiran buruk/byāpannacitto: berharap ada yang terbunuh, ditangkap, dimusnahkan, tidak ada lagi; dan menganut pandangan salah/micchādiṭṭhi. bersamaan hancurnya tubuh setelah kematian terlahir di:

    1. keadaan sengsara/merugi menderita menuju kehancuran bahkan neraka [jika menjadi manusia dalam keadaan mengenaskan, Alam: mahluk halus, binatang dan neraka]
    2. keadaan bahagia di alam surga [jika jadi manusia dalam keadaan menyenangkan dan/atau di atas alam manusia]

  2. Orang yang TIDAK menyakiti makhluk hidup...dan menganut pandangan salah. bersamaan hancurnya tubuh setelah kematian terlahir di:

    1. keadaan sengsara/merugi menderita menuju kehancuran bahkan neraka [jika menjadi manusia dalam keadaan mengenaskan, Alam: mahluk halus, binatang dan neraka]
    2. keadaan bahagia di alam surga [jika jadi manusia dalam keadaan menyenangkan dan/atau di atas alam manusia]

    [MN 3.136/Maha kammavibhanga sutta]
Sehingga mereka yang menyatakan:
  • Melakukan perbuatan salah PASTI terlahir alam menderita bahkan neraka, atau
  • Tidak ada akibat dari perbuatan salah, atau
  • Melakukan perbuatan benar PASTI terlahir di Alam bahagia, atau
  • Tidak ada akibat dari perbuatan baik
ADALAH BUKAN ajaran sang Buddha, Lebih lanjut sang Buddha menyatakan:
  1. sehubungan dengan orang yang [menyakiti makhluk hidup...; dan menganut pandangan salah/micchādiṭṭhi], bersamaan hancurnya tubuh setelah kematian terlahir di:

    • keadaan sengsara/merugi menderita menuju kehancuran bahkan neraka:

      sebelumnya telah melakukan perbuatan buruk yang dirasakan sebagai menyakitkan, atau belakangan ia melakukan perbuatan buruk yang dirasakan sebagai menyakitkan, atau pada saat kematian ia memperoleh dan menganut pandangan salah.

      Karena hal itu, bersamaan hancurnya tubuh setelah kematian terlahir di keadaan sengsara/merugi menderita menuju kehancuran bahkan neraka...

    • di alam bahagia, bahkan di alam Deva:

      sebelumnya telah melakukan perbuatan baik yang dirasakan sebagai menyenangkan, atau belakangan ia melakukan perbuatan baik yang dirasakan sebagai menyenangkan, atau pada saat kematian ia memperoleh dan menganut pandangan benar.

      Karena hal itu, bersamaan hancurnya tubuh setelah kematian terlahir di keadaan bahagia di alam Deva...

    Dan karena ia di sini telah [menyakiti makhluk hidup...; dan menganut pandangan salah/micchādiṭṭhi], ia akan mengalami akibat dari perbuatan itu di sini dan saat ini, atau dalam kelahiran kembali berikutnya, atau dalam beberapa kelahiran setelahnya

  2. sehubungan dengan orang yang menanggalkan menyakiti makhluk hidup … dan menganut pandangan benar, bersamaan hancurnya tubuh setelah kematian terlahir di:

    • keadaan bahagia di alam Deva:

      sebelumnya telah melakukan perbuatan baik yang dirasakan sebagai menyenangkan, atau belakangan ia melakukan perbuatan baik yang dirasakan sebagai menyenangkan, atau pada saat kematian ia memperoleh dan menganut pandangan benar.

      Karena hal itu, bersamaan hancurnya tubuh setelah kematian terlahir di keadaan bahagia di alam Deva...

    • dalam kondisi menderita … bahkan di neraka:

      sebelumnya telah melakukan perbuatan buruk yang dirasakan sebagai menyakitkan, atau belakangan ia melakukan perbuatan buruk yang dirasakan sebagai menyakitkan, atau pada saat kematian ia memperoleh dan menganut pandangan salah.

      Karena hal itu, bersamaan hancurnya tubuh setelah kematian terlahir di keadaan sengsara/merugi menderita menuju kehancuran bahkan neraka...

    Dan karena ia di sini telah menanggalkan menyakiti makhluk hidup … dan menganut pandangan benar, ia akan mengalami akibat dari perbuatan itu di sini dan saat ini, atau dalam kelahiran kembali berikutnya, atau dalam beberapa kelahiran setelahnya. [MN 3.136/Maha kammavibhanga sutta]
ADA 5 KAMMA BURUK BERAT yang MENUNDA hasil perbuatan baik dan berakibat terlahir di neraka, yaitu membunuh: ibu, ayah, arahat; melukai seorang Buddha dan menyebabkan perpecahan dalam Sangha. [AN 5.129/parikuppa sutta]
    Note:
    Dhammapada syair no.294 dan 295. terdapat frase kiasan membunuh: ibu, ayah, 2 raja, negara dan pendukungnya dan 5 harimau. Ini adalah kiasan dan BUKAN arti sebenarnya:

    Mātaraṃ pitaraṃ hantvā [Setelah membunuh Ibu dan Ayah]
    rājāno dve ca khattiye [serta 2 raja ksatria]
    Raṭṭhaṃ sānucaraṃ hantvā [Setelah menghancurkan negara serta pendukungnya]
    anīgho yāti brāhmaṇo [Brahmana bebas dari kebingungan]

    Mātaraṃ pitaraṃ hantvā [Setelah membunuh Ibu dan Ayah]
    rājāno dve ca sotthiye [serta 2 raja kuat]
    Veyagghapañcamaṃ hantvā [Setelah membunuh 5 harimau]
    anīgho yāti brāhmaṇo [Brahmana bebas dari kebingungan]

    Kitab komentar Dhammapada dan Nettippakaraṇa menjelaskan kiasan ini:

    Ibu = taṇhā/nafsu keinginan;
    Ayah = asmimāna/keangkuhan;
    Dua raja ksatria/kuat = dve sassatucchedadiṭṭhiyo/dua pandangan ekstrim keabadian dan nihilisme;
    Negara dan Pendukungnya = Dvādasāyatanāni: 12 landasan: 6 pintu Indriya dan 6 objek;
    5 harimau = nīvaraṇapañcakaṃ: 5 rintangan: kamacchanda/keinginan indriya, dst

    Tampaknya perumpamaan ini tentang menghancurkan 10 belenggu:

    • untuk yang termaktub dalam sutta (SN 45.179 dan 45.180): sakaya ditthi...avijjā. Belenggu penjelmaan rupa/arupa dijadikan satu
    • untuk yang termaktub dalam Dhammsangani Abhidhamma Pitaka (Dhs. 1113-34) dan Culla Niddesa (Nd2 656, 1463): nafsu sensual/kāma-rāga; kemarahan/paṭigha; keangkuhan/māna; pandangan/diṭṭhi; keraguan/vicikicchā; Melekat/Salah memahami pada praktek-aturan/sīlabbataparāmāsa; kemelekatan penjelmaan/bhava-rāga; kecemburuan/issā; keserakahan/macchariya dan kebodohan/avijjā. Belenggu pandangan dan silabbataparamasa dijadikan satu

    Perbedaan list: Abhidhamma/culanidessa mulai dari aspek keserakahan sementara sutta mulai dari aspek pandangan
Kemudian,
Karena lingkaran kelahiran kembali adalah “tanpa awal yang dapat ditemukan” (anamatagga saṃsāra), dan dalam rentang waktu ini kita semua telah mengumpulkan kamma yang sangat tak hingga banyaknya sehingga walaupun kita mempunyai waktu yang juga tak terhingga banyaknya, maka waktu itu tidak cukup untuk menghabiskan kamma demikian dengan mengalami akibatnya.

Banyak hal yang terjadi merupakan hasil perbuatan kita sendiri yang dilakukan dalam kehidupan sekarang dan juga karena sebab – sebab eksternal lain, contoh:
    Jika seseorang yang gagal ujian karena kelalaiannya sendiri atau seseorang yang sedang terburu – buru dengan cerobohnya Ia terbentur batu namun menganggap kegagalan dan kecelakaannya itu karena kammanya di masa lampau atau karena adanya campur tangan Tuhan atau karena sebuah kebetulan semata. Atau pada percobaan biologi tentang daging yang diletakkan dalam botol dan di beberapa waktu kemudian muncul belatung namun menganggap kemunculan belatung ini dikarenakan campur tangan Tuhan atau malah sebagai sebuah kebetulan semata.
Jadi ADALAH TIDAK BENAR untuk mengatakan bahwa segala hal yang terjadi disebabkan oleh perbuatannya di masa lampau, atau karena campur tangan Tuhan atau bahkan karena kebetulan semata. Sang Buddha menolak 3 pandangan tersebut:
    ..ada 3 Pandangan (titthāyatanāni), yaitu: Apapun yang dialami seseorang, apakah itu perasaan: menyenangkan, menyakitkan atau perasaan bukan menyenangkan bukan menyakitkan, semua itu:

    1. disebabkan oleh tindakan lampau/pubbekatahetū;
    2. disebabkan oleh kuasa TUHAN [Issaranimmānahetū]
      "Issaranimmānahetū’ ti issaranimmānakāraṇā, issarena nimmitattā paṭisaṁvedetī ti attho" (Disebabkan kuasa tuhan, Karena kuasa TUHAN, Dirinya mengalami dari kuasa tuhan);
    3. tanpa penyebab dan tanpa kondisi/ahetu-appaccayā

    yang, jika sepenuhnya disidik/periksa [samanuyuñjiyamānāni], diteliti [samanugāhiyamānāni] dan dibahas [samanubhāsiyamānāni], akan berakhir pada suatu doktrin tanpa tindakan, SEKALIPUN SUDAH DITERAPKAN KARENA TRADISI [AN 3.61/Titha sutta].
Tidak terhitung lagi banyaknya perbuatan (Kamma) baik/buruk yang telah dilakukan dan dikumpulkan selama lingkaran kelahiran kembali dan ini berpotensi untuk matang di perjalanan lingkaran kelahiran kembali. Maka Sang Buddha mengajarkan bahwa kunci menuju kebebasan bukanlah dengan melenyapkan kamma masa lalu (apakah dengan mengalami akibatnya atau melalui pertapaan keras) NAMUN dengan melenyapkan kekotoran-kekotoran/noda (asava). Dengan terhentinya kekotoran-kekotoran, terhenti pula sebab dan kondisi, terhentinya Kelahiran kembali. Tidak ada lagi sebab dan kondisi yang berpotensi mematangkan kamma-kamma sebelumnya

Sebagai kesimpulan tentang hukum kamma, berikut dari MN 57/Kukkuravatika Sutta:
    Terdapat 4 jenis perbuatan yang dinyatakan oleh Sang Buddha:

    1. Ada perbuatan gelap dengan akibat gelap:

      Seseorang menghasilkan bentukan: jasmani, ucapan, pikiran yang menyakitkan → menghasilkan bentukan: jasmani, ucapan, dan bentukan pikiran yang menyakitkan → muncul kembali di alam sengsara → kontak yang menyakitkan menyentuhnya → merasakan perasaan yang menyakitkan, sangat menyakitkan, seperti pada makhluk-makhluk di neraka

    2. Ada perbuatan terang dengan akibat terang:

      Seseorang menghasilkan bentukan: jasmani, ucapan, pikiran yang menyenangkan → menghasilkan bentukan: jasmani, ucapan, dan bentukan pikiran yang menyenangkan → muncul kembali di alam bahagia → kontak yang menyenangkan menyentuhnya → merasakan perasaan yang menyenangkan, sangat menyenangkan, seperti pada para dewa dengan Keagungan Gemilang

    3. Ada perbuatan gelap-dan-terang dengan akibat gelap-dan-terang:

      Seseorang menghasilkan bentukan: jasmani, ucapan, pikiran yang menyakitkan juga menyenangkan → menghasilkan bentukan: jasmani, ucapan, dan bentukan pikiran yang menyakitkan juga menyenangkan → muncul kembali di alam bahagia → muncul kembali di alam sengsara juga bahagia → kontak yang menyakitkan maupun menyenangkan menyentuhnya → merasakan perasaan yang menyakitkan juga menyenangkan, campuran kenikmatan dan kesakitan, seperti pada manusia dan beberapa dewa di alam yang lebih rendah

    Demikianlah kemunculan kembali suatu makhluk adalah karena suatu makhluk; seorang yang muncul kembali melalui perbuatan yang telah ia lakukan. Ketika ia telah muncul kembali, kontak menyentuhnya. Demikianlah Aku katakan bahwa makhluk-makhluk adalah pewaris perbuatan mereka.

    1. Ada perbuatan yang bukan gelap juga bukan terang dengan akibat yang bukan gelap juga bukan terang, perbuatan yang mengarah menuju hancurnya perbuatan.

      Di sini, kehendak untuk meninggalkan jenis:

      1. perbuatan gelap dengan akibat gelap, dan
      2. perbuatan terang dengan akibat terang dan
      3. perbuatan gelap-dan-terang dengan akibat gelap-dan-terang

      Ini disebut perbuatan bukan gelap juga bukan terang dengan akibat bukan gelap juga bukan terang yang mengarah menuju hancurnya perbuatan [Nibbana] []
---------------

Hukum Paticca-Samuppäda (sebab-sebab yang bergantungan)

Jalur untuk memotong Samsara, padamnya kehausan, padamnya kesadaran, Sang Buddha jelaskan dalam rumusan Paticca-Samuppäda (sebab-sebab yang bergantungan). Rumusan sederhananya:
  • Apapun yang muncul, itu akan berakhir [SN 56.11/Dhammacakkappavattanasutta].
  • Tidak terdapat suatu kondisi yang timbul tanpa adanya suatu sebab, ‘Dengan ada ini, maka muncul itu, Dengan timbul ini, maka timbul itu, Dengan tidak ada ini, maka tidak ada itu, Dengan terhenti ini, maka terhenti itu' [SN 12.21/DasaBala Sutta; SN 12.37/Natumha; SN 12.41/Pañcabhayavera; SN 12.49-50/Ariyasāvaka; SN.12.61-62/Assutavantu; SA.358, Udana 1].
  • ”munculnya ini” adalah sebagai makanan (tadāhārasambhavanti), dengan lenyapnya makanan maka apa yang muncul akan lenyap (tadāhāra-nirodhā yaṃ bhūtaṃ, taṃ nirodhadhammanti) [MN 38/Mahatanhasankhaya Sutta]
lebih luasnya, diterangkan dalam 12 nidāna (sebab, asal, sumber):
    i–iiAvijjä Paccayä sankhāra: Ketidaktahuan memunculkan bentuk-bentuk kehendak/karma.

    Note:
    "sankhāra": paduan unsur dan kondisi (paccaya): semua makhluk sebagai akibat dari sebab dan kondisi (paccaya) dan apa yang mereka lakukan sebagai sebab dan kondisi yang menghasilkan akibat lain.
    ii–iiiSankhära Paccayä Viññäna: Bentukan kehendak/karma memunculkan kesadaran

    Note:
    Terdapat 6 jenis Kesadaran: Kesadaran mata, telinga, .., kesadaran pikiran. Kesadaran indriya adalah pertemuan antara Indria dan 6 objek-objeknya
    iii–ivViññäna Paccayä nāmarūpa: Kesadaran memunculkan Mental-Materi

    Note:
    Namarupa = Vedana + sanna + cetana + phassa + manosikharo + rupa

    Rupa = catumahabhuta dan turunannya, “catunnañca mahābhūtānaṃ upādāyarūpaṃ” – SN 12.2. CatumahaBhuta = Padat/penyokong/Pathavi + cair/perekat/Apo + Sinar/gelombang partikel/suhu: panas-dingin/Tejo + Tekanan/Gerak/Getar/Vayo
    iv–vnāmarūpa Paccayä Saläyatana: Mental-Materi memunculkan 6 landasan indra (mata, telinga, hidung, lidah, badan dan pikiran)
    v–viSaläyatana Paccayä Phassa: 6 landasan indra memunculkan kontak (= pertemuan 3 hal: Indriya + objeknya + kesadaran)
    vi–viiPhassa Paccayä Vedanä: Kontak memunculkan perasaan ( = menyenangkan, menyakitkan, bukan keduanya)
    vii–viiiVedanä Paccayä Tanhä: Perasaan memunculkan kehausan/keinginan

    Note:
    DN 15/Mahanidana sutta: perasaan muncul dari 6 kontrak Indria. Perasaan mengondisikan kehausan/keinginan, keinginan mengondisikan pencarian [pariyesanā], pencarian mengondisikan perolehan [lābho], perolehan mengondisikan pengambilan keputusan [vinicchayo], pengambilan keputusan mengondisikan nafsu ketagihan [chandarāgo], nafsu ketagihan mengondisikan keterikatan [ajjhosāna], keterikatan mengondisikan kelayakan [pariggaho], kelayakan mengondisikan ketamakan [macchariya], ketamakan mengondisikan penjagaan atas harta-benda yang dimiliki [ārakkho], dan karena penjagaan harta-benda yang dimiliki, muncullah pengambilan tongkat dan pedang, pertengkaran, perselisihan, perdebatan, percekcokan, caci-maki, kebohongan dan kejahatan tidak terampil lainnya.’

    ‘Aku mengatakan: “Semua hal tak bermanfaat yang tidak terampil ini muncul karena penjagaan harta-benda miliknya.” Karena jika sama sekali tidak ada penjagaan terhadap harta-benda ... apakah ada tindakan mengambil tongkat atau pedang ...?’ ‘Tidak, Bhagavā.’ ‘Oleh karena itu, Ānanda, menjaga harta-benda adalah akar, penyebab, asal-mula, kondisi bagi semua kondisi kejahatan yang tidak terampil.’....Tanha dan pariyesana bergabung menjadi satu dalam perasaan
    viii–ixTanhä Paccayä Upädäna: Kehausan/Keinginan memunculkan kemelekatan

    Note:
    DN 15/Mahanidana sutta dan SN 12.2: Keinginan terhadap 6 objek indriya: bentuk-bentuk, suara,.. bentukan-bentukan pikiran, ucapan, perbuatan melalui kehendak)
    ix–xUpädäna Paccayä Bhavo: Kemelekatan memunculkan penjelmaan

    Note:
    DN 15/Mahanidana sutta dan SN 12.2: kemelekatan terhadap: kenikmatan indria (kāmupādāna) dan/atau pandangan-pandangan (diṭṭhupādāna) dan/atau ritual moralitas (sīlabbatupādāna) dan/atau kosep/ajaran tentang diri (attavādapādāna)
    x– xiBhava Paccayä Jati: Penjelmaan memunculkan kelahiran

    Note:
    DN 15/Mahanidana sutta: Penjelmaan di alam: kenikmatan-indria/kamabhava atau bentuk/rupabhava atau tanpa bentuk/arupabhava
    xi–xiiJati Paccayä jarā maraṇa soka parideva dukkha domanassupāyāsā: Kelahiran memunculkan: penuaan/jara, mati/marana, sedih/soka, ratapan/parideva, rasa sakit/dukkha, pedih/Domanassa dan putusasa/upāyāsā
Untuk menghentikan samsara, mulai dengan menghentikan Ketidaktahuan.
    i–iiAvijjāya tveva asesavirāga-nirodhā saṅkhāranirodho: Hanya segala ketidaktahuan ketidakpedulian ini berhenti maka bentukan/paduan kondisi/bentuk – bentuk karma berhenti
    ii–iiiBentukan/paduan kondisi/bentuk – bentuk karma berhenti maka kesadaran berhenti.
    iii–ivKesadaran berhenti maka MentalMateri berhenti.
    iv–vMentalMateri berhenti maka 6 landasan indra berhenti.
    v–vi6 landasan indra berhenti maka kontak berhenti.
    vi–viiKontak berhenti maka perasaan berhenti.
    vii–viiiPerasaan berhenti maka nafsu keinginan berhenti.
    viii–ixNafsu keinginan berhenti maka kemelekatan berhenti.
    ix–xKemelekatan berhenti maka penjelmaan berhenti.
    x–xipenjelmaan berhenti maka kelahiran berhenti.
    xi–xiiKelahiran berhenti maka lapuk/tua, kematian, sedih, rataptangis, rasa sakit, pedih dan putus asa berhenti

    [Lihat: DN 15/Mahanidana sutta, SN 12.2/Paticca-samuppada-vibhanga Sutta, SN 12.23/Upanisa Sutta, MN.9/Samaditthi Sutta, MN 38/Mahātaṇhāsankhaya Sutta]
Demikianlah berhentinya seluruh bentuk Penderitaan. []
---------------

4 Kesunyataan Mulia [Cattari Ariya Saccani]

4 Kesunyataan mulia adalah Paramatha-sacca (berlaku pada mahluk apa saja, tidak peduli mengakuinya/tidak, percaya/tidak, suka/tidak atau bahkan muncul/tidaknya para Buddha/Tathagata di dunia ini):
  1. Kesunyataan Mulia: Tentang Dukkha
    (Du = tidak menyenangkan, sulit dipertahankan, sulit dipikul; kha = kosong). Hidup dalam bentuk apa pun adalah dukkha (Penderitaan/tidak memuaskan):

    • Kelahiran; menjadi tua; penyakit; kematian; kesedihan, ratap tangis, rasa sakit, kepedihan dan keputusasaan adalah penderitaan
    • berkumpul dengan yang tidak disukai adalah penderitaan.
    • berpisah dengan yang dicintai adalah penderitaan.
    • tidak memperoleh yang di-inginkan adalah penderitaan.
    • masih memiliki 5 khanda adalah penderitaan.
    • penjelmaan; kemelekatan; keinginan; perasaan; kontak [phassa]; 6 landasan; Mental-Materi; kesadaran; bentukan2; kebodohan; noda-noda adalah penderitaan
    • makanan [ahara], kontak [phassa], kehendak pikiran [manosañcetanā] dan kesadaran [viññāṇa] adalah penderitaan

    "sabbe sankhāra dukkha" [segala yang berkondisi adalah tidak memuaskan], kondisi adalah rangkaian awal-akhir: Tidakkekal, berubah, TIDAK LAYAK digenggam/bergantung/dijadikan: penunjang/landasan/sokongan.

    Dukkha meliputi:

    • dukkha-dukkha: penderitaan nyata, dirasakan raga dan mental, misal: sakit kepala, sakit gigi, susah hati dll.
    • viparinäma-dukkha: Segala perasaan senang dan bahagia akan berakhir, ada kekecewaan, kekesalan dll.
    • sankhärä-dukkha: 5 kelompok/khanda adalah penderitaan; selama masih ada 5 khanda maka tak mungkin bebas dari kelapukan/sakit.

  2. Kesunyataan Mulia: Asal mula Dukkha
    Ketidaktahuan/avijjā sebagai kondisi munculah bentukan kehendak/sankhāra .. Kelahiran sebagai kondisi munculah tua/jara, mati/marana, sedih, ratap tangis, rasa sakit, pedih dan putusasa [sokaparidevadukkhadomanassupāyāsā]. Demikianlah asal mula seluruh kelompok penderitaan hidup ini. [AN 3.61].

    Sumber dukkha adalah tanhä [nafsu keinginan yang tiada habisnya]

    Adalah keinginan yang menuntun menuju penjelmaan baru, disertai dengan kesenangan dan nafsu, mencari kenikmatan di sana-sini; yaitu :

    • Kämatanhä (berasal dari 6 indra):

      • bentuk-bentuk (misal: cantik)
      • suara-suara (merdu)
      • wewangian
      • rasa (nikmat)
      • sentuhan-sentuhan (lembut)
      • bentuk-bentuk pikiran

    • Bhavatanhä: Keinginan menjelma menjadi hal tertentu [karena kesukaan setelah kontak dengan 6 Indra]

    • Vibhavatanhä: Keinginan tidak menjelma menjadi hal tertentu [karena ketidaksukaan setelah kontak dengan 6 Indria] [SN 56.11/Dhamma cakkappavattana /Pemutaran roda Dhamma]

    Untuk menjelaskan kaitannya terdapat perumpamaan 6 binatang (SN 35.247/Chappana sutta/enam binatang):

      "Para bikkhu, misalkan terdapat seseorang dengan badan terluka dan bernanah memasuki hutan yang penuh buluh dan duri. Duri kusa menusuk kakinya dan buluh menyayat tubuhnya, karena itu orang tersebut mengalami sepenuhnya perasaan tidak menyenangkan yang menyakitkan (dukkhaṃ domanassaṃ paṭisaṃvediyetha). Demikian pula, para bhikkhu, beberapa bhikkhu, di sini, pergi ke desa atau hutan, bertemu orang yang berkata:, 'Yang mulia ini, berbuat ini, berprilaku ini, Ia duri yang mencemari desa.' Setelah memahami ini sebagai 'duri', maka pengendalian (saṃvara) dan bukan pengendalian (asaṃvara) seharusnya Ia pahami"

      Dan bagaimanakah, para bhikkhu, bukan pengendalian itu?

      Di sini setelah melihat bentuk dengan mata, seorang Bhikkhu terpikat bentuk menyenangkan dan terganggu bentuk tidak menyenangkan. Dengan tidak menegakkan perhatian pada jasmani, pikirannya menjadi lemah/terbatas (parittacetasa), Ia tidak memahami kebebasan melalui pikiran/mental (cetovimutti) dan kebebasan melalui kebijaksanaan (paññāvimutti), di mana kondisi-kondisi buruk tidak bermanfaat lenyap tanpa sisa.

      Setelah mendengar suara dengan telinga, seorang bhikkhu...
      Setelah merasakan sentuhan dengan kulit..
      Setelah mencicipi rasa dengan lidah..
      Setelah mencium aroma dengan hidung..
      Setelah mengenali suatu bentukan pikiran dengan pikiran..

      [dan diteruskan kalimat yang sama]

      Misalkan, Para Bhikkhu seorang menangkap 6 binatang dari habitat berbeda dan mengikat kuat mereka dengan tali.

      Ia menangkap Ular, buaya, burung, anjing, srigala dan monyet. Masing-masing diikatnya dengan tali menjadi satu simpul ditengahnya dan kemudian dilepaskan.

      Ke-6 binatang dari habitat berbeda itu akan menariknya ke wilayah mereka.

      Ular akan menarik ke satu arah, berpikir, "aku akan menuju sarang semut".
      Buaya akan menarik kearah lain, berpikir, "aku akan masuk ke air".
      Burung akan menarik ke arah lain, berpikir, "aku akan terbang ke angkasa".
      Anjing akan menarik ke arah lain, berpikir, "aku akan memasuki desa".
      Serigala akan menarik ke arah lain, berpikir, "Aku akan pergi ke kuburan".
      Monyet akan menarik ke arah lain, berpikir, "aku akan memasuki hutan"

      Ketika ke-6 binatang itu menjadi letih dan lelah, mereka dikuasai satu diantara yang terkuat dan berada di bawah kendalinya

      Demikian pula, para bhikkhu, ketika perhatian pada jasmani [kāyagatāsati] tidak dikembangkan (abhāvitā) dan tidak dilatihnya (abahulīka), maka mata ke arah bentuk-bentuk menyenangkan atau ke arah lain dari bentuk-bentuk memuakkan/menyakitkan.

      Telinga..
      Kulit..
      Lidah..
      Hidung..
      Pikiran..

      [dan diteruskan kalimat yang sama]

      Demikianlah bukan pengendalian itu.

      Dan bagaimanakah, para bhikkhu, pengendalian itu?

      Di sini setelah melihat bentuk dengan mata, seorang Bhikkhu tidak terpikat bentuk menyenangkan dan tidak terganggu bentuk tidak menyenangkan. Dengan menegakkan perhatian pada jasmani, pikirannya menjadi tak terbatas (appamāṇacetasa), Ia memahami kebebasan melalui pikiran/mental dan kebebasan melalui kebijaksanaan, di mana kondisi-kondisi buruk tidak bermanfaat lenyap tanpa sisa.

      Setelah mendengar suara dengan telinga, seorang bhikkhu...
      Setelah merasakan sentuhan dengan kulit..
      Setelah mencicipi rasa dengan lidah..
      Setelah mencium aroma dengan hidung..
      Setelah mengenali suatu bentukan pikiran dengan pikiran..

      [dan diteruskan kalimat yang sama]

      Misalkan, Para Bhikkhu seorang menangkap 6 binatang dari habitat berbeda dan mengikat kuat mereka dengan tali.

      Ia menangkap Ular, buaya, burung, anjing, srigala dan monyet. Masing-masing diikatnya dengan tali DAN SETELAH MELAKUKAN ITU, IA IKAT DI SEBUAH TIANG/PILAR.

      Ke-6 binatang dari habitat berbeda itu akan menariknya ke wilayah mereka.

      Ular akan menarik ke satu arah, berpikir, "aku akan menuju sarang semut"....

      [sama seperti di atas]

      Ketika ke-6 binatang itu menjadi letih dan lelah, mereka akan BERADA DI DEKAT TIANG, AKAN DUDUK/BERBARING DISANA

      Demikian pula, para bhikkhu, ketika perhatian pada jasmani dikembangkan dan dilatih, maka mata tidak ke arah bentuk-bentuk menyenangkan atau tidak ke arah lain dari bentuk-bentuk memuakan/menyakitkan.

      Telinga..
      Kulit..
      Lidah..
      Hidung..
      Pikiran..

      [dan diteruskan kalimat yang sama]

      Demikianlah pengendalian itu.

      Tiang/pilar yang kuat" adalah perhatian pada jasmani. Karena itu, para bhikkhu, kalian harus berlatih: Perhatian pada Jasmani akan kami kembangkan dan latih, menjadikannya kendaraan, menjadikannya landasan, menstabilkannya, mengerahkan usaha kami dan menyempurnakannya. Demikianlah kalian harus melatihnya

  3. Kesunyataan Mulia: Lenyapnya Dukkha
    adalah Berhenti tanpa sisa dan lenyapnya keinginan yang sama itu, meninggalkan dan melepaskannya, kebebasan darinya, tidak bergantung padanya (SN 56.11)

    Avijjā secara total berhenti maka bentukan-bentukan kehendak berhenti .. Kelahiran sebagai kondisi berhenti maka tua dan kematian, kesedihan, ratap tangis, rasa sakit, kepedihan dan keputusasaan berhenti. Demikianlah berhentinya seluruh kelompok penderitaan [AN 3.61]

    Melenyapkan tanhä akan membebaskan dari Dukkha, Keadaan ini disebut Nibbana/Nirvana [nir; nis = "tidak ada, lenyap, habis'; + va = "meniup", "Musnah, Lenyap, Padam, memadamkan"]. Keadaan/kondisi padamnya nafsu keinginan

    1. Sa-upadisesa-Nibbana = Nibbana dengan 'sisa' [5 khanda masih ada, mahluknya masih hidup]
    2. An-upadisesa-Nibbana = Parinibbana = Nibbana tanpa sisa, tidak ada lagi kemunculan di masa depan dalam bentukan apapun

    Berikut sutta:

      ....Pada saat itu seorang bhikkhu bernama Tissa baru saja wafat dan telah terlahir kembali di alam brahmā tertentu. Di sana mereka juga mengenalnya sebagai “Brahmā Tissa, yang kuat dan perkasa.” Kemudian, secepat seorang kuat merentangkan lengannya yang tertekuk atau menekuk lengannya yang terentang, Yang Mulia Mahāmoggallāna lenyap dari Gunung Puncak Nasar dan muncul kembali di alam brahmā itu...

      Mahāmoggallāna:
      “Deva manakah, Tissa, yang mengenali seseorang masih memiliki sisa (saupādisa) sebagai ‘seorang yang masih memiliki sisa’ dan seorang yang tanpa sisa (anupādisesa) sebagai ‘seorang yang tanpa sisa’?”

      Brahma Tissa:
      “Para deva kumpulan Brahmā memiliki pengetahuan demikian, Moggallāna yang terhormat.”

      Mahāmoggallāna:
      “Apakah semua deva kumpulan Brahmā memiliki pengetahuan demikian, Tissa?”

      Brahma Tissa:
      “Tidak semua, Moggallāna yang terhormat....“Di sini, Moggallāna yang terhormat, ketika seorang bhikkhu terbebaskan..para deva mengenalinya sebagai berikut:
      ‘Yang Mulia ini terbebaskan..Selama jasmaninya masih berdiri, para deva dan manusia dapat melihatnya, tetapi dengan hancurnya jasmani, maka para deva dan manusia tidak lagi dapat melihatnya.’

      Dengan cara inilah para deva itu mengenali seseorang yang masih memiliki sisa sebagai ‘seorang yang masih memiliki sisa’ dan seorang yang tanpa sisa sebagai ‘seorang yang tanpa sisa.’ [AN 7.56/Tissa suta]

      ***

      Pertanyaan Vacchagotta:
      Ketika seorang bhikkhu terbebaskan demikian, Guru Gotama, di manakah ia muncul kembali [setelah kematian]?”

      [..]

      Jawaban sang Buddha:
      “Demikian pula, Vaccha, Sang Tathāgata telah MENINGGALKAN BENTUK MATERI...PERASAAN..PERSEPSI..BENTUKAN-BENTUKAN..KESADARAN yang dengannya seseorang yang menggambarkan Sang Tathāgata dapat menggambarkannya; Beliau telah memotongnya pada akarnya, membuatnya menjadi seperti tunggul pohon palem, menyingkirkannya SEHINGGA TIDAK MUNGKIN MUNCUL LAGI DI MASA DEPAN...[MN72/Aggivacchagotta Sutta]

      ***

      Demikian telah dikatakan oleh Sang Buddha … “Wahai para bhikkhu, ada 2 elemen-Nibbana (nibbānadhātu). Apakah 2 elemen itu? Elemen-Nibbana dengan sisa (saupādisesā nibbānadhātu) dan elemen-Nibbana tanpa sisa (anupādisesā nibbānadhātu)”

      “Wahai para bhikkhu, apakah elemen-Nibbana dengan sisa itu?”

      “Di sini, seorang bhikkhu merupakan Arahat, orang yang noda-nodanya telah lenyap, kehidupan sucinya telah terpenuhi, yang telah melakukan apa yang harus dilakukan, tak lagi menanggung beban, telah mencapai tujuan menghancurkan belenggu-belenggu KELAHIRAN KEMBALI dan sepenuhnya terbebas melalui pengetahuan akhir. Tetapi, ke-5 indrianya tetap berfungsi, dan dengan indria itu dia masih mengalami apa yang menyenangkan dan tidak menyenangkan, serta merasakan sukacita dan penderitaan. Hilangnya kemelekatan, kebencian, dan kebodohan mental di dalam dirinya ITULAH YANG DISEBUT ELEMEN-NIBBANA DENGAN SISA”

      “Dan, wahai para bhikkhu, apakah elemen-Nibbana yang tanpa sisa itu?

      Di sini seorang bhikkhu merupakan Arahat … yang sepenuhnya terbebas melalui pengetahuan akhir. Baginya, di sini dalam kehidupan ini juga, segala yang dialami, karena tidak ditanggapi dengan kegembiraan, akan padam. Para Bhikkhu, ITULAH YANG DISEBUT ELEMEN-NIBANA TANPA SISA”

      “Demikianlah, wahai para bhikkhu, 2 elemen-Nibbana itu.”

      Dua elemen-Nibbana ini diperkenalkan
      Oleh Yang Melihat, yang tenang dan tidak terikat:
      Yang satu adalah elemen yang dilihat di sini dan kini
      Dengan sisa, tetapi tali kelahiran kembalinya telah dihancurkan;
      Yang lain, KARENA TIDAK MEMILIKI SISA DI MASA DEPAN,
      Di situ semua jenis kehidupan sepenuhnya berhenti.

      Setelah memahami keadaan yang tak terkondisi,
      Terbebas pikirannya karena tali kelahiran kembali yang telah dihancurkan,
      Mereka telah mencapai intisari Dhamma,
      Bergembira dalam penghancuran (nafsu keinginan),
      Mereka yang tenang telah meninggalkan semua kelahiran kembali
      . [ITIVUTTAKA no.44]

  4. Kesunyataan Mulia: Jalan mengakhiri Dukkha, yaitu melalui 8 jalan mulia/utama (Ariya Atthangiko Magga). Ini disebut juga jalan tengah (majjhimā paṭipadā) yang memunculkan: penglihatan (cakkhukaraṇī), pengetahuan (ñāṇakaraṇī), yang menuntun menuju: kedamaian (upasamāya), pengetahuan langsung (abhiññāya), pencerahan (sambodhāya), menuju Nibbāna (nibbānāya) [SN 56.11], yaitu:

    1. Pandangan Benar (sammä-ditthi)
    2. Kehendak Benar (sammä-sankappa)
    3. Ucapan Benar (sammä-väcä)
    4. Perbuatan Benar (sammä-kammanta)
    5. Pencaharian Benar (sammä-ajiva)
    6. Daya-upaya Benar (sammä-väyäma)
    7. Perhatian Benar (sammä-sati)
    8. Pikiran terpusat Benar (sammä-samädhi) []
---------------

Jalan Mulia Berunsur 8

8 jalan mulia/utama dikelompokkan menjadi: Paññā, Sila dan Samädhi [MN.44/Cūḷavedalla Sutta]:
  1. Paññā: PANDANGAN BENAR (sammä-ditthi):

  2. Sang Buddha menyampaikan bahayanya berpandangan salah:

      "Para bhikkhu,..DENGAN BERPANDANGAN SALAH, MAKA DENGAN HANCURNYA JASMANI, SETELAH KEMATIAN, PARA MAHLUK TERLAHIR KEMBALI DI KEADAAN SENGSARA/MERUGI MENDERITA MENUJU KEHANCURAN BAHKAN NERAKA" [AN.1.312/Ekadhamma Sutta]

      "Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu hal pun yang begitu tercela seperti halnya pandangan salah. PANDANGAN SALAH ADALAH HAL TERBURUK YANG TERCELA" [AN.1.318/Ekadhamma Sutta]

      "Para bhikkhu, ada satu orang yang muncul di dunia ini demi bahaya banyak orang, demi ketidak-bahagiaan banyak orang, demi kehancuran, bahaya, dan penderitaan banyak orang, para deva dan manusia. Siapakah satu orang itu? YAITU SEORANG YANG MENGANUT PANDANGAN SALAH DAN MEMILIKI PERSFEKTIF KELIRU. IA MENGALIHKAN BANYAK ORANG DARI DHAMMA SEJATI DAN MENEGAKKAN DHAMMA YANG BURUK PADA MEREKA. Ini adalah satu orang yang muncul di dunia ini demi bahaya banyak orang, demi ketidak-bahagiaan banyak orang, demi kehancuran, bahaya, dan penderitaan banyak orang, para deva dan manusia" [AN 1.316/Ekadhamma sutta]

      Para Bhikkhu, 4 hal dengannya menuju ke neraka yaitu: berpandangan salah (attanā ca micchādiṭṭhiko hoti), mendorong orang lain berpandangan salah (parañca micchādiṭṭhiyā samādapeti), menyetujui pandangan salah (micchādiṭṭhiyā ca samanuñño hoti) dan memuji pandangan salah (vaṇṇaṃ bhāsati) [AN 4.273/Micchādiṭṭhisutta]

    Beberapa sample lain bahayanya berpandangan salah:

      Seseorang mengembangkan perilaku, kebiasaan, pikiran dan tingkah laku anjing/sapi sepenuhnya dan tanpa terputus. Setelah melakukan demikian, di setelah kematian muncul kembali di antara anjing-anjing [atau jenis lainnya]. NAMUN Ia YANG BERPANDANGAN: "Dengan moralitas atau aturan/ritual atau pertapaan atau kehidupan suci ini (imināhaṃ sīlena vā vatena vā tapena vā brahmacariyena), maka aku akan menjadi dewa atau diantara dewa" itu adalah pandangan salah di pihaknya. Bagi yang BERPANDANGAN SALAH, Aku katakan, hanya ada satu dari dua alam tujuan: neraka atau alam binatang. Jadi, jika perilaku-anjingnya berhasil, akan menuntunnya menuju kelahiran kembali di antara anjing-anjing [atau jenis lainnya]; jika gagal, maka akan menuntunnya menuju neraka. [MN 57/Kukkuravativa Sutta]

      ..Di atas panggung, para makhluk-makhluk yang masih belum terbebas dari nafsu:

      • yang masih terikat belenggu nafsu, menghibur dengan hal-hal yang merangsang yang menggairahkan orang bahkan lebih kuat daripada nafsu.
      • yang masih terikat belenggu kebencian, menghibur dengan hal-hal yang menjengkelkan yang menggairahkan orang bahkan lebih kuat daripada kebencian.
      • yang masih terikat belenggu kebodohan, menghibur mereka dengan hal-hal yang membingungkan yang menggairahkan orang bahkan lebih kuat daripada kebodohan.

      Demikianlah karena mabuk dan lengah, setelah membuat orang lain mabuk dan lengah, dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, ia terlahir kembali di ‘Neraka. NAMUN Ia YANG BERPANDANGAN: “seorang penghibur menyenangkan orang dengan kebenaran dan kebohongan, Ia akan terlahir sebagai Deva atau di antara para deva”, itu adalah pandangan salah di pihaknya. Bagi yang BERPANDANGAN SALAH, Aku katakan, hanya ada satu dari dua alam tujuan: neraka atau alam binatang [SN 42.2/Talaputa sutta]

      Seorang prajurit yang berjuang dalam pertempuran, pikirannya rendah, rusak, salah-arah dengan pikiran: ‘Biarlah makhluk-makhluk ini dibunuh, dibantai, dimusnahkan, dihancurkan, atau dibasmi’ Jika orang lain membunuhnya sewaktu ia sedang berjuang dalam pertempuran, maka dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, ia terlahir kembali di ‘neraka. NAMUN Ia YANG BERPANDANGAN: "Ketika seorang prajurit yang berjuang dalam pertempuran, jika orang lain membunuhnya sewaktu ia sedang berjuang dalam pertempuran, maka dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, ia terlahir kembali di tengah-tengah para deva" – itu adalah pandangan salah di pihaknya. Bagi yang BERPANDANGAN SALAH, Aku katakan, hanya ada satu dari dua alam tujuan: neraka atau alam binatang.” [SN 42.3/Yodhajiva, SN 42.4/Hattharoha, SN 42.5/Assaroha]

      Seseorang menemukan ajaran yang baik dan tidak merasa perlu menyampaikan pada orang lain, karena alasan APA YANG DAPAT DILAKUKAN SEORANG UNTUK ORANG LAIN? Ia ini tidak berbelas kasih, dan dipenuhi permusuhan/kebencian (sapattaka), dan itu merupakan pandangan salah. Bagi yang BERPANDANGAN SALAH, Aku katakan, hanya ada satu dari dua alam tujuan: neraka atau alam binatang. [DN 12/ Lohicca_Sutta]

      ..indria mata menggenggam gambaran melalui cici-ciri (anubyañjanasa nimittaggāho) dalam sebuah bentuk yang dapat dikenali oleh mata.. telinga.. badan.. ..gagasan-gagasan yang dapat mengarahkan seseorang yang telah dikuasai membuat perpecahan.. Karena jika kesadaran terikat pada kepuasan dalam gambaran atau dalam ciri-ciri, dan jika ia meninggal dunia pada saat itu, adalah mungkin bahwa ia akan pergi ke satu dari dua tujuan ini: neraka atau alam binatang [SN 35.235/Ādittapariyāya]

    Karena begitu luas dan beragamnya pandangan salah dari 6 kontak Indriya serta begitu mengerikan akibatnya, maka sangatlah dimengerti mengapa jalan menuju lenyapnya penderitaan, pandangan benar, ada di awal. Sang Buddha menyampaikan “Seseorang memahami:

    • Micchaditthi (pandangan yang salah, yaitu 10 pandangan salah[↓]) sebagai pandangan salah..kehendak salah sebagai kehendak salah..ucapan salah sebagai ucapan salah..perbuatan salah sebagai perbuatan salah..pencaharian/penghidupan salah sebagai pencaharian/penghidupan salah, dan
    • pandangan benar sebagai pandangan benar..kehendak benar sebagai kehendak benar..ucapan benar sebagai ucapan benar..perbuatan benar sebagai perbuatan bener..pencaharian/penghidupan benar sebagai penghidupan benar

    ini adalah pandangan benar seseorang.

    Pandangan benar ada 2:

    1. Pandangan benar (sammādiṭṭhi) dengan noda-noda (sāsavā) berhubungan dengan jasa kebajikan (puññabhāgiyā) dan kematangan dalam dasar/hasil (upadhivepakkā), yaitu: Lawan dari 10 pandangan salah
    2. Pandangan benar (sammādiṭṭhi) mulia tanpa noda (ariyā anāsavā) melampaui duniawi (lokuttarā) dan faktor dari sang jalan (maggaṅgā): Kebijaksanaan (paññā), indria kebijaksanaan (pañña-indriya), kekuatan kebijaksanaan(paññā-bala), faktor pencerahan ketajaman dhamma/penyelidikan kondisi-kondisi (dhamma-vicaya-sambojjhaṅga), faktor sang jalan pandangan benar (sammādiṭṭhi maggaṅga) dalam diri seseorang yang pikirannya mulia, yang pikirannya tanpa noda, yang memiliki jalan mulia dan yang mengembangkan jalan mulia

    Seseorang berusaha untuk meninggalkan (pahānāya) pandangan salah dan memasuki pandangan benar: ini adalah usaha benar seseorang.

    Dengan penuh perhatian meninggalkan pandangan salah, dengan penuh perhatian memasuki dan berdiam dalam pandangan benar: ini adalah perhatian benar seseorang.

    Demikianlah ke-3 kondisi ini berlangsung dan di sekeliling pandangan benar: pandangan benar, usaha benar, dan perhatian benar"

    "Apakah, para bhikkhu, pikiran terpusat benar yang mulia dengan pendukung serta perlengkapannya, yaitu pandangan benar, kehendak benar, ucapan benar, perbuatan benar, penghidupan benar, usaha benar, dan perhatian benar? Keterpusatan pikiran yang dilengkapi dengan ke-7 faktor ini disebut pikiran terpusat benar yang mulia dengan pendukung serta perlengkapannya.

    [..] Bagaimanakah pandangan benar muncul di urutan pertama?

    Pada seorang yang berpandangan benar, muncul kehendak benar;
    Pada seorang dengan kehendak benar, muncul ucapan benar;
    Pada seorang dengan ucapan benar, muncul perbuatan benar;
    Pada seorang dengan perbuatan benar, muncul penghidupan benar;
    Pada seorang dengan penghidupan benar, muncul usaha benar;
    Pada seorang dengan usaha benar, muncul perhatian benar;
    Pada seorang dengan perhatian benar, muncul pikiran terpusat benar;
    Pada seorang dengan pikiran terpusat benar, muncul pengetahuan benar [sammā-ñāṇa];
    Pada seorang dengan pengetahuan benar, muncul pembebasan benar [sammā-vimutti].

    Demikianlah, para bhikkhu, jalan dari siswa yang dalam latihan lebih tinggi memiliki 8 faktor, Arahant memiliki 10 faktor.

    “[..] bagaimanakah pandangan benar muncul di urutan pertama?

    Pada seorang yang berpandangan benar, pandangan salah lenyap (nijjiṇṇa), dan berbagai hal buruk tak bermanfaat yang berasal dari pandangan salah di sana juga menjadi lenyap, berbagai kondisi bermanfaat yang berasal dari pandangan benar menjadi berkembang sepenuhnya.

    Pada seorang dengan kehendak benar, kehendak salah lenyap ...
    Pada seorang dengan ucapan benar, ucapan salah lenyap …
    Pada seorang dengan perbuatan benar, perbuatan salah lenyap …
    Pada seorang dengan penghidupan benar, penghidupan salah lenyap …
    Pada seorang dengan usaha benar, usaha salah lenyap …
    Pada seorang dengan perhatian benar, perhatian salah lenyap …
    Pada seorang dengan pikiran terpusat benar, pikiran terpusat salah lenyap …
    Pada seorang dengan pengetahuan benar, pengetahuan salah lenyap …
    Pada seorang dengan pembebasan benar, pembebasan salah lenyap, banyak kondisi buruk tidak bermanfaat yang berasal dari pembebasan salah di sana juga menjadi lenyap, berbagai kondisi bermanfaat yang berasal dari pembebasan benar menjadi berkembang sepenuhnya [MN 117/Mahācattārīsakasutta]

    Pandangan benar dibantu 5 Faktor agar berbuah dan bermanfaat Cetovimutti [kebebasan pikiran] dan Paññāvimutti [kebebasan kebijaksanaan], yaitu:

      Moralitas [sīlā];
      Mendengar/belajar [sutā];
      Dibahas/didiskusikan [sākacchā];
      Ketenangan/peredaan/pengendapan [samathā] dan
      Mengamati secara khusus [vipassanā] [MN.43/Mahāvedalla Sutta]
  1. Paññā: KEHENDAK BENAR (sammä-sankappa)

  2. “Seseorang memahami kehendak salah sebagai kehendak salah dan kehendak benar sebagai kehendak benar: ini adalah pandangan benar seseorang. Seseorang berusaha untuk meninggalkan kehendak salah dan memasuki kehendak benar: ini adalah usaha benar seseorang. Dengan penuh perhatian meninggalkan kehendak salah, dengan penuh perhatian memasuki dan berdiam dalam kehendak benar: ini adalah perhatian benar seseorang. Demikianlah ke-3 kondisi ini berlangsung dan di sekeliling kehendak benar: pandangan benar, usaha benar, dan perhatian benar." [MN117/Mahācattarisaka Sutta]

      Mano-pubbaṅgamā dhammā (Pikiran pelopor dari sesuatu), mano-seṭṭhā manomayā (pikiran pemimpin mentalitas); Manasā ce paduṭṭhena (bila dengan pikiran menyeleweng), bhāsati vā karoti vā (berkata atau berbuat); Tato naṃ dukkhamanveti (penderitaan mengikutinya), cakkaṃva vahato padaṃ (bagai jejak roda angkutan)...Manasā ce pasannena (bila dengan pikiran murni), bhāsati vā karoti vā (berkata atau berbuat);Tato naṃ sukhamanveti (kebahagiaan mengikutinya), chāyāva anapāyinī (bagai bayang-bayang yang tak pernah meninggalkannya) [Dhammapada Bab I, syair 1-2]

    kehendak salah (micchāsaṅkappo) vs kehendak benar (sammāsaṅkappo):

    • Kāmasaṅkappo (Kehendak keinginan indria) vs Nekkhammasaṅkappo (Kehendak melepas keduniawian)
    • byāpādasaṅkappo (kehendak buruk, permusuhan, penolakan, benci) vs a-byāpādasaṅkappo (tanpa kehendak buruk)
    • vihiṃsāsaṅkappo (kekejaman) vs a-vihiṃsāsaṅkappo (tanpa kekejaman)
    • [SN 45.8/Vibhaṅga Sutta dan DN 22/Mahāsatipaṭṭhāna Sutta]

    Kehendak benar ada 2:

    1. Kehendak benar lawan dari kehendak salah di atas adalah kehendak benar dengan noda-noda (sāsavā) berhubungan dengan jasa kebajikan (puññabhāgiyā) dan kematangan dalam dasar/hasil (upadhivepakkā)
    2. Kehendak benar berikutnya adalah kehendak benar mulia tanpa noda (ariyā anāsavā) melampaui duniawi (lokuttarā) dan faktor dari sang jalan (maggaṅgā): Pemikiran (takka), pikiran (vitakka), kehendak (saṅkappa), pencerapan pikiran/pencerapan jhana (appanā), ketetapan pikiran/fokus (byappanā), pengarahan pikiran (cetaso abhiniropanā), bentukan ucapan pikiran (vacī-saṅkhāra) dalam diri seseorang yang pikirannya mulia, yang pikirannya tanpa noda, yang memiliki jalan mulia dan yang mengembangkan jalan mulia

    Variasi kehendak benar lainnya menurut AN 10.176/Cunda Sutta pada perumah tangga Cunda; MN 41/Sāleyyaka Sutta; MN 42/Verañjaka Sutta pada Brahmana perumahtangga sala dan veranja:

    • abhijjhālu: Irihati/tamak: menginginkan kekayaan dan harta benda orang lain. Dia berpikir: “O, apa yang dia miliki itu seharusnya kumiliki!”
    • Byāpannacitto: memiliki kehendak buruk/permusuhan/penolakan: memiliki pikiran yang keji, seperti misalnya: “Biarlah makhluk-makhluk ini dibantai! Biarlah mereka dibunuh dan dihancurkan! Semoga mereka musnah dan tidak ada lagi!”
    • Micchaditthi (pandangan salah: 10 pandangan salah[↓])

  3. SILA: UCAPAN BENAR (sammä-väcä)

  4. “Seseorang memahami ucapan salah sebagai ucapan salah dan ucapan benar sebagai ucapan benar: ini adalah pandangan benar seseorang. Seseorang berusaha untuk meninggalkan ucapan salah dan memasuki ucapan benar: ini adalah usaha benar seseorang. Dengan penuh perhatian meninggalkan ucapan salah, dengan penuh perhatian memasuki dan berdiam dalam ucapan benar: ini adalah perhatian benar seseorang. Demikianlah ke-3 kondisi ini berlangsung dan di sekeliling ucapan benar: pandangan benar, usaha benar, dan perhatian benar." [MN117/Mahācattarisaka Sutta]

    Ucapan salah (micchāvācā) vs Ucapan Benar (sammāvācā), yaitu:

    • musāvādā (berdusta)[↓] VS menahan diri dari berdusta (Musāvādā veramaṇī)
    • Pisuṇavāco (ucapan memecah belah) VS menahan diri dari ucapan memecah belah (pisuṇāya vācāya veramaṇī)
    • Pharusavāco (ucapan kasar) VS menahan diri dari ucapan kasar (pharusāya vācāya veramaṇī)
    • Samphappalāpī (ucapan tidak penting) VS menahan diri dari ucapan tidak penting (Samphappalāpī veramaṇī)

    Ucapan benar ada 2:

    1. Ucapan benar lawan dari ucapan salah di atas adalah ucapan benar dengan noda-noda (sāsavā) berhubungan dengan jasa kebajikan (puññabhāgiyā) dan kematangan dalam dasar/hasil (upadhivepakkā)
    2. Ucapan benar berikutnya adalah ucapan benar mulia tanpa noda (ariyā anāsavā) melampaui duniawi (lokuttarā) dan faktor dari sang jalan (maggaṅgā): berhenti (ārati) dari 4 ucapan buruk (catūhi vacīduccaritehi): tidak melakukannya (virati), menanggalkannya (paṭivirati), dan menahan diri (veramaṇī) ada dalam diri seseorang yang pikirannya mulia, yang pikirannya tanpa noda, yang memiliki jalan mulia dan yang mengembangkan jalan mulia


  5. SILA: PERBUATAN BENAR (sammä-kammanta)

  6. “Seseorang memahami perbuatan salah sebagai perbuatan salah dan perbuatan benar sebagai perbuatan benar: ini adalah pandangan benar seseorang. Seseorang berusaha untuk meninggalkan perbuatan salah dan memasuki perbuatan benar: ini adalah usaha benar seseorang. Dengan penuh perhatian meninggalkan perbuatan salah, dengan penuh perhatian memasuki dan berdiam dalam perbuatan benar: ini adalah perhatian benar seseorang. Demikianlah ke-3 kondisi ini berlangsung dan di sekeliling perbuatan benar: pandangan benar, usaha benar, dan perhatian benar." [MN117/Mahācattarisaka Sutta]

    Perbuatan salah (Micchākammanta) vs Perbuatan Benar (Sammākammanta), yaitu:

    • pāṇātipāta (menghancurkan kehidupan/menyakiti)[↓] VS Pāṇātipātā veramaṇī (Menahan diri dari menghancurkan kehidupan/menyakiti)
    • adinnādānā (mengambil yang tidak diberikan)[↓] VS adinnādānā veramaṇī (Menahan diri dari mengambil yang tidak diberikan)
    • kāmesumicchācāra (Perbuatan indriya dengan cara yang salah)[↓] VS kāmesumicchācāra veramaṇī (menahan diri dari perbuatan indriya dengan cara yang salah)
    • Surāmerayamajjappamādaṭṭhānā (asupan memabukan landasan bagi kelengahan)[↓] VS Surämeraya-majjapamädatthänä veramani [Perbuatan salah ini TIDAK tercantum dalam MN 117, namun tercantum di sutta-sutta lainnya, misal di SN 55.37/Mahanama Sutta, DN 31/Sigalovada sutta, DN 33, DN 34, AN 7.6, AN 8.39-43, 45, SNP 2.14/Dhammika Sutta, dst: → "Surāmeraya.." tercantum bersama sila lainnya]

    Perbuatan benar ada 2:

    1. Perbuatan benar lawan dari perbuatan salah di atas adalah perbuatan benar dengan noda-noda (sāsavā) berhubungan dengan jasa kebajikan (puññabhāgiyā) dan kematangan dalam dasar/hasil (upadhivepakkā)
    2. Perbuatan benar berikutnya adalah perbuatan benar mulia tanpa noda (ariyā anāsavā) melampaui duniawi (lokuttarā) dan faktor dari sang jalan (maggaṅgā): berhenti dari 3 perbuatan buruk (tīhi kāyaduccaritehi): tidak melakukannya, menanggalkannya dan menahan diri ada dalam diri seseorang yang pikirannya mulia, yang pikirannya tanpa noda, yang memiliki jalan mulia dan yang mengembangkan jalan mulia


  7. SILA: BERPENCAHARIAN/BERPENGHIDUPAN BENAR (sammä-ajiva)

  8. “Seseorang memahami penghidupan salah sebagai penghidupan salah dan penghidupan benar sebagai penghidupan benar: ini adalah pandangan benar seseorang. Seseorang berusaha untuk meninggalkan penghidupan salah dan memasuki penghidupan benar: ini adalah usaha benar seseorang. Dengan penuh perhatian meninggalkan penghidupan salah, dengan penuh perhatian memasuki dan berdiam dalam penghidupan benar: ini adalah perhatian benar seseorang. Demikianlah ke-3 kondisi ini berlangsung dan di sekeliling penghidupan benar: pandangan benar, usaha benar, dan perhatian benar." [MN117/Mahācattarisaka Sutta]

    Dalam sutta yang sama disebutkan 5 micchāājīvo (pencaharian salah) yang harus dihindari: “kuhanā lapanā nemittikatā nippesikatā lābhena lābhaṃ nijigiṃsanātā..

      kuhanā = penipuan, munafik, pemalsuan;

      lapanā = membesar-besarkan, bohong [dengan ucapan];
      nemittikatā = Penujuman, kemelitan, tuduhan tak langsung, sindiran;
      nippesikatā = mengakali, menyulap, tipudaya;
      lābhena = mengambil alih, menerima, memberi hadiah/bingkisan, tindakan mendapatkan kepemilikan;
      lābhaṃ = dengan cara;
      nijigiṃsanātā = serakah/tamak

    Ramuan kata di atas, dalam banyak terjemahan diartikan:

    1. penipuan;
    2. ketidaksetiaan;
    3. penujuman;
    4. kecurangan;
    5. memungut bunga yang tinggi (lintah darat)

    Di samping itu seorang siswa harus pula menghindari 5 macam perdagangan [AN 5.177/Vanijja Sutta dan DN 22/Mahāsatipaṭṭhāna Sutta], yaitu berdagang (vanijja):

    1. alat senjata (Sattha, (sanskrit: śastra, bukan –śāstra/guru,ilmu atau juga bukan sa+attha/sartha, caravan, juga bukan sasati/menceritakan atau bukan juga śvasta/bernafas)
    2. mahluk hidup [note: Satta, bukan cuma manusia, namun mahluk hidup. Beberapa menterjemahkan ini hanya manusia karena mengikuti penjelasan penjualan manusia di kitab komentar, yaitu: "sattavaṇijjā ti manussavikkayo" (Berdagang manusia juga berdagang makhluk hidup), "sattavaṇijjā abhujissabhāvakaraṇato" (hilang kemerdekaannya karena perdagangan mahluk hidup]
    3. daging [maṃsa] (yang berasal dari penganiayaan mahluk hidup)
    4. hal memabukkan [majja] (atau mengakibatkan kelengahan/ketagihan)
    5. racun (visa).

    Penghidupan benar ada 2:

    1. Penghidupan benar lawan dari penghidupan salah di atas adalah penghidupan benar dengan noda-noda (sāsavā) berhubungan dengan jasa kebajikan (puññabhāgiyā) dan kematangan dalam dasar/hasil (upadhivepakkā)
    2. Penghidupan benar berikutnya adalah penghidupan benar mulia tanpa noda (ariyā anāsavā) melampaui duniawi (lokuttarā) dan faktor dari sang jalan (maggaṅgā): berhenti dari penghidupan salah: tidak melakukannya, menanggalkannya dan menahan diri ada dalam diri seseorang yang pikirannya mulia, yang pikirannya tanpa noda, yang memiliki jalan mulia dan yang mengembangkan jalan mulia
  1. Samädhi : Daya upaya benar, Perhatian benar dan pikiran terpusat benar

    Jangan menggali (tinggal di) masa lalu [Atītaṃ nānvāgameyya]
    Jangan berhasrat pada yang belum ada [Nappaṭikaṅkhe anāgataṃ]
    masa lalu telah usai [Yadatītaṃ pahīnaṃ taṃ]
    masa depan belumlah tiba [Appattañca anāgataṃ]
    apapun yang ada saat ini [Paccuppannañca yo dhammaṃ]
    lihat dengan seksama di sana sini [Tattha tattha vipassati]
    tidak tergairahkan, tidak terganggu [Asaṃhīraṃ asaṃkuppaṃ]
    bijak untuk dikembangkan [Taṃ vidvā manubrūhaye]
    jangan ditunda-tunda [Ajjeva kiccamātappaṃ]
    Siapa tahu esok kematian datang [Ko jaññā maraṇaṃ suve]
    Tanpa dapat ditawar [Na hi no saṅgaraṃ tena]
    Kematian hadir dalam ragam cara [Mahāsenena maccunā]
    Seseorang yang berdiam tekun [Evaṃvihāriṃ ātāpiṃ]
    Tanpa kendur siang dan malam [Ahorattamatanditaṃ]
    adalah Ia yang berhasil baik [Taṃ ve bhaddekarattoti]
    Dikedamaian kata para bijak [Santo ācikkhate muni]


    Bagaimana menggali masa lalu?
    Seseorang terbuai dengan pikiran: Dahulu aku bermateri demikian.. merasakan demikian.. berpersepsi demikian.. memiliki bentukan-bentukan kehendak demikian.. memiliki kesadaran demikian’

    Bagaimana tidak menggali masa lalu?
    Seseorang tidak memikirkan: Dahulu aku bermateri demikian.. merasakan demikian.. berpersepsi demikian.. memiliki bentukan-bentukan kehendak demikian.. memiliki kesadaran demikian’

    Bagaimana berhasrat pada yang belum ada?
    Seseorang terbuai dengan pikiran: Kelak aku ingin menjadi bermateri demikian.. merasakan demikian.. berpersepsi demikian.. memiliki bentukan-bentukan kehendak demikian.. memiliki kesadaran demikian’

    Bagaimana tidak berhasrat pada yang belum ada?
    Seseorang tidak memikirkan: Kelak aku ingin bermateri demikian.. merasakan demikian.. berpersepsi demikian.. memiliki bentukan-bentukan kehendak demikian... memiliki kesadaran demikian’

    Bagaimana tergairahkan pada hal-hal yang ada sekarang?
    Ia menganggap bahwa materi sebagai diri, atau diri memiliki materi, atau materi di dalam diri, atau diri di dalam materi

    Ia mengganggap perasaan sebagai diri...
    Ia mengganggap persepsi sebagai diri...
    Ia mengganggap bentukan-bentukan sebagai diri...
    Ia mengganggap Kesadaran sebagai diri...

    Bagaimana tidak tergairahkan pada hal-hal yang ada sekarang?
    Ia tidak menganggap: materi sebagai diri, atau diri memiliki materi, atau materi di dalam diri, atau diri di dalam materi

    Ia tidak mengganggap: perasaan sebagai diri...
    Ia tidak mengganggap: persepsi sebagai diri...
    Ia tidak mengganggap: bentukan-bentukan sebagai diri...
    Ia tidak mengganggap: kesadaran sebagai diri... [MN. 131-134/Bhaddekaratta Sutta]

    Alur kemunculan kesadaran dan lanjutannya:

    1. Dengan mata [cakkhu] dan bentuk/materi [rupa] sebagai kondisi, maka timbul kesadaran-mata [cakkhuviññāṇa]. Pertemuan ke-3nya [tiṇṇaṃ saṅgati] adalah kontak [phassa].
    2. Dengan kontak sebagai kondisi, muncul perasaan [vedana].
    3. Apa yang dirasakan, itu yang dikenali [sañjānāti].
    4. Apa yang dikenali, itu yang dipikirkan [vitakketi].
    5. Apa yang dipikirkan, itu yang dikembangbiakkan [papañceti] pikiran.
    6. Dengan apa yang dikembangbiakkan di pikirannya sebagai sumber, persepsi dan gagasan [papañca-saññā-saṅkhā], melandanya melalui bentuk-bentuk masa lalu, masa depan dan masa sekarang yang dikenali mata.

    Dengan telinga [sota] dan suara-suara [sadde] sebagai kondisi, maka munculah kesadaran telinga [sotaviññāṇa]..
    Dengan hidung [ghāna] dan bau-bauan [gandhe] sebagai kondisi, maka munculah kesadaran hidung [ghānaviññāṇa]..
    Dengan lidah [jivha] dan kecapan [rase] sebagai kondisi, maka munculah kesadaran lidah [jivhaviññāṇa]..
    Dengan tubuh/jasmani [kaya] dan sentuhan-sentuhan [phoṭṭhabbe] sebagai kondisi, maka munculah kesadaran tubuh/jasmani [kayaviññāṇa]..
    Dengan pikiran [mana] dan obyek-obyek pikiran [dhamma] sebagai kondisi, maka munculah kesadaran pikiran [manoviññāṇa]..[MN 18/Madhupiṇḍikasutta]

      note:
      Terdapat 6 Indriya (mata,...dan pikiran) x 3 perasaan (menyenangkan, menyakitkan dan bukan ke-2nya) x 3 dalam bentuk waktu (masa lalu/ingatan, kini, depan/khayalan) x 2 kondisi (kusala/akusala) = 108 Kesadaran ketika kontak atau per indriya = 18 Kesadaran (Indriya dan objeknya yang memunculkan kesadaran indriya x 3 perasaan x 3 persepsi waktu x 2 kondisi kusala/akusala).

      Seseorang yang berdiam dengan tekun dalam perenungan/samadhi, berupaya membatasi keaktifannya pada 1-2 Indriya saja, yaitu salah satu dari Indera (mata / telinga / hidung / sentuh / kecap ketika bertemu objek) + Indra pikiran (ketika bertemu objek bentukan kehendak, persepsi atau perasaan), namun lambat laun yang aktif hanya 1 indera saja yang aktif yaitu indera pikiran, sehingga Ia tidak mengaktifkan 4-5 Indriya lainnya (maksimum 5 x 18 = 90 kesadarannya tidak aktif). Sehingga terdapat potensi minimum 18 kesadaran indriya pikirannya yang aktif.

      Ketika Ia batasi persepsi pikirannya pada momentum saat ini dan tidak pada ingatan lampaunya atau hasratnya di masa depan, maka 12 lainnya menjadi tidak aktif, yaitu: pikiran dengan kontak ingatan pada masa lalu (1) atau pikiran dengan hasrat pada hal di masa depan (1) masing-masing disertai kemunculan perasaan: menyenangkan (1) atau menyakitkan (1) atau bukan ke-2nya (1) apakah itu kusala (1) ataupun akusala (1)

      Kemudian ketika perasaan menyakitkan lenyap, maka kusala (1) ataupun akusala (1) sehubungan dengan perasaan itu pun lenyap = 2
      Ketika perasaan menyenangkan lenyap, maka 3 set potensi kemunculan lain kesadaran pun menjadi lenyap. Yang tersisa sekarang, hanyalah perasaan bukan ke-2nya yang muncul akibat adanya kontak indriya pikiran dengan ragam persepsi lain di pikirannya

      Jika ia mampu melenyapkan satu persatu persepsi lainnya, maka pijakan landasan kesadaran indriya pikirannyapun satu persatu lenyap, ketika kontak pikiran tidak lagi ada, karena persepsi yang menjadi objek pikiran lenyap, maka perasaan yang muncul akibat dari kontak Indria tersebut, yaitu perasaan bukan keduanya pun lenyap

  2. Samädhi : DAYA-UPAYA BENAR (sammä-väyäma)
    Seseorang berusaha untuk meninggalkan Pandangan salah dan memasuki penghidupan benar; kehendak salah dan memasuki kehendak benar; Ucapan salah dan memasuki ucapan benar; Perbuatan salah dan memasuki perbuatan benar; Penghidupan salah dan memasuki Penghidupan benar: ini adalah usaha benar seseorang. [MN117/Mahacattarisakasutta]

    • Dengan sekuat tenaga mencegah munculnya hal tidak bermanfaat dan ketidakbaikan di dalam mental.
    • Dengan sekuat tenaga berusaha untuk memusnahkan hal tidak bermanfaat dan ketidakbaikan di dalam mental.
    • Dengan sekuat tenaga berusaha untuk membangkitkan kebaikan dan bermanfaat di dalam mental.
    • Berusaha keras untuk mempernyata, mengembangkan dan memperkuat kebaikan dan bermanfaat di dalam mental.

  3. Samädhi : PERHATIAN BENAR (sammä-sati)

  4. Dengan penuh perhatian meninggalkan Pandangan salah, kehendak salah, ucapan salah, perbuatan salah, penghidupan salah; dengan penuh perhatian memasuki dan berdiam dalam pandangan benar, kehendak benar, ucapan benar, perbuatan benar penghidupan benar: ini adalah perhatian benar seseorang.

    3 akar kejahatan muncul dan/atau meningkat adalah akibat dari perhatian tidak benar

    • Moha [atau: Avijja], PERHATIAN TIDAK BENAR [atau: MEMPERHATIKAN yang TIDAK LAYAK dan TIDAK MEMPERHATIKAN yang LAYAK]" ~ AN 3.65/Kalama Sutta], maka kekeliruan tahu yang tadinya belum muncul akan muncul dan kekeliruan tahu yang telah muncul akan meningkat
    • Lobha [atau: Raga], PERHATIAN TIDAK BENAR pada OBJEK MENARIK, maka nafsu yang tadinya belum muncul akan muncul dan nafsu yang telah muncul akan meningkat. [Nafsu ini disebut juga kemelekatan/keserakahan].
    • Dosa [atau: Patigha], PERHATIAN TIDAK BENAR terhadap OBJEK TIDAK MENARIK, maka penolakan yang tadinya belum muncul akan muncul dan penolakan yang telah muncul akan meningkat. [Penolakan ini juga disebut kebencian/ketidaknyamanan].

    Mengapa menjaga perhatian terhadap Objek?

      Karena munculnya kesadaran adalah akibat pertemuan antara Indria dan objeknya. Kontak ini memunculkan perasaan, apa yang dirasakan itu yang dikenali dan apa yang dikenali itu yang dipikirkan dan berkembang biak dalam pikiran

      vedanā yā ca saññā yañca viññāṇaṃ – ime dhammā saṃsaṭṭhā, no visaṃsaṭṭhā. (Perasaan, persepsi dan kesadaran, kondisi ini tergabung, bukan terpisah). Na ca labbhā imesaṃ dhammānaṃ vinibbhujitvā vinibbhujitvā nānākaraṇaṃ paññāpetuṃ (tidak dapat memisahkan kondisi-kondisi ini satu sama lainnya untuk menggambarkan perbedaan antaranya). vedeti taṃ sañjānāti, yaṃ sañjānāti taṃ vijānāti. (Karena yang dirasakan, itu yang dipersepsikannya; yang dipersepsikan, itu yang dikenalinya) [MN.43/Mahāvedalla Sutta]

      Saññā ca vedanā ca cetasikā ete dhammā cittapaṭibaddhā (Persepsi dan perasaan menyertai pikiran, kondisi ini terikat dengan pikiran). Tasmā saññā ca vedanā ca cittasaṅkhāroti (Itulah mengapa persepsi dan perasaan adalah bentukan pikiran) [MN.44/Cūḷavedalla Sutta]

    Siapapun, baik itu Puthujjana, siswa dengan latihan tinggi atau bahkan arahat, maka Indriya tetap aktif dan pikirannya TIDAKLAH PASIF

      Bagaimanakah pengembangan indria-indria yang tertinggi dalam Disiplin Para Mulia?

        ketika seorang melihat/mendengar .. [aktifitas 6 indriya] terhadap suatu bentuk/suara.. [6 objek Indriya], di sana muncul dalam dirinya perasaan apa yang menyenangkan [manāpaṃ] atau apa yang tidak menyenangkan [amanāpaṃ] atau apa yang menyenangkan dan tidak menyenangkan [manāpāmanāpaṃ]

        Ia memahami sebagai berikut:
        ‘Di sana telah muncul padaku perasaan apa yang: menyenangkan atau apa yang tidak menyenangkan atau apa yang menyenangkan dan tidak menyenangkan tetapi hal itu adalah terkondisi [saṅkhataṃ], kasar [oḷārikaṃ], muncul bergantungan [paṭiccasamuppannaṃ]; Ini adalah damai [santaṃ], Ini adalah dipujikan [paṇītaṃ], yaitu keseimbangan [upekkha].’

        Apa yang menyenangkan atau apa yang tidak menyenangkan atau apa yang menyenangkan dan tidak menyenangkan yang muncul dalam dirinya menjadi lenyap [nirujjhati] dengan cepat dan mudah dan keseimbangan [upekkha] ditegakkan.

        Seperti halnya seseorang yang berpenglihatan baik, setelah membuka matanya seketika menutupnya kembali atau setelah menutup matanya seketika membukanya kembali, demikian pula sehubungan dengan segala sesuatu, apa yang menyenangkan, apa yang tidak menyenangkan, dan apa yang menyenangkan dan tidak menyenangkan yang muncul menjadi lenyap dengan cepat dan mudah, dan keseimbangan ditegakkan

        Ini disebut pengembangan indria-indria yang tertinggi dalam Disiplin Para Mulia sehubungan dengan bentuk-bentuk yang dikenali oleh mata/suara..[6 Indriya].

      Bagaimanakah seseorang siswa dalam latihan yang lebih tinggi, yang telah memasuki sang jalan [sekha pāṭipada]?

        Di sini, ketika seorang melihat/mendengar..[aktifitas 6 indriya] terhadap suatu bentuk/suara.. [6 objek Indriya] di sana muncul dalam dirinya perasaan apa yang menyenangkan atau apa yang tidak menyenangkan atau apa yang menyenangkan dan tidak menyenangkan

        ia jenuh [aṭṭīyati], segan [harāyati], dan menghindarkan [jigucchati] dengan apa yang menyenangkan yang muncul atau apa yang tidak menyenangkan yang muncul atau apa yang menyenangkan dan tidak menyenangkan yang muncul

        Itu adalah bagaimana seseorang siswa dalam latihan yang lebih tinggi, yang telah memasuki sang jalan [sekha pāṭipada].

      “Dan bagaimanakah, seseorang mulia dengan indria-indria terkembang?

        Di sini, ketika seorang melihat/mendengar..[aktifitas 6 indriya] terhadap suatu bentuk/suara.. [6 objek Indriya] di sana muncul dalam dirinya perasaan apa yang menyenangkan atau apa yang tidak menyenangkan atau apa yang menyenangkan dan tidak menyenangkan

        Jika ia berkehendak, “semoga aku:

        • berdiam dengan persepsi ketidakjenuhan [appaṭikūla-saññī] dalam kejenuhan [paṭikūla],’ maka ia berdiam dengan persepsi ketidakjenuhan dalam kejenuhan, atau
        • berdiam dengan persepsi kejenuhan [paṭikūla-saññī] dalam ketidakjenuhan [appaṭikūla],’ maka ia berdiam dengan persepsi kejenuhan dalam ketidakjenuhan, atau
        • berdiam dengan persepsi ketidakjenuhan dalam kejenuhan dan ketidakjenuhan [paṭikūle ca appaṭikūle],’ maka ia berdiam dengan persepsi ketidakjenuhan, atau
        • berdiam dengan persepsi kejenuhan dalam ketidakjenuhan dan kejenuhan [appaṭikūle ca paṭikūle],’ maka ia berdiam dengan persepsi kejenuhan, atau
        • dengan menghindari [abhinivajjetvā] kejenuhan dan ketidakjenuhan kedua-duanya, berdiam dalam keseimbangan, penuh perhatian dan penuh kewaspadaan,’ maka ia berdiam dalam keseimbangan, penuh perhatian dan penuh kewaspadaan.

        Itu adalah bagaimana seseorang mulia dengan indria-indria terkembang [MN 152/Indriyabhāvanā Sutta]

    Itulah mengapa PERHATIAN BENAR bersifat aktif dan harus dikembangkan terus menerus.

  5. Samädhi : PIKIRAN TERPUSAT BENAR (sammä-samädhi: sammā = benar; samadhi = Pikiran terpusat)

  6. “Apakah, para bhikkhu, Pikiran terpusat benar yang mulia dengan pendukung serta perlengkapannya, yaitu, pandangan benar, kehendak benar, ucapan benar, perbuatan benar, penghidupan benar, usaha benar, dan perhatian benar? Keterpusatan pikiran yang dilengkapi dengan ke-7 faktor ini disebut pikiran terpusat benar yang mulia dengan pendukung serta perlengkapannya

    [..]

    Di sana, para bhikkhu, pandangan benar muncul di urutan pertama. Dan bagaimanakah pandangan benar muncul di urutan pertama?

    Pada seorang yang berpandangan benar, muncul (pahoti) kehendak benar;
    Pada seorang dengan kehendak benar, muncul ucapan benar;
    Pada seorang dengan ucapan benar, muncul perbuatan benar;
    Pada seorang dengan perbuatan benar, muncul penghidupan benar;
    Pada seorang yang berpenghidupan benar, muncul usaha benar;
    Pada seorang dengan usaha benar, muncul perhatian benar;
    Pada seorang dengan perhatian benar, muncul pikiran terpusat benar;
    Pada seorang dengan pikiran terpusat benar, muncul pengetahuan benar [sammā-ñāṇa];
    Pada seorang dengan pengetahuan benar, muncul pembebasan benar [sammā-vimutti].

    Demikianlah, para bhikkhu, jalan dari siswa yang dalam latihan lebih tinggi memiliki 8 faktor, Arahant memiliki 10 faktor.

    Dan bagaimanakah pandangan benar muncul di urutan pertama?

    Pada seorang yang berpandangan benar, pandangan salah lenyap (nijjiṇṇa), dan berbagai hal buruk tak bermanfaat (akusala) yang berasal dari pandangan salah di sana juga menjadi (sambhavanti te cassa) lenyap, berbagai kondisi bermanfaat yang berasal dari pandangan benar menjadi berkembang sepenuhnya (bhāvanāpāripūriṃ gacchanti).

    Pada seorang dengan kehendak benar, kehendak salah lenyap ...
    Pada seorang dengan ucapan benar, ucapan salah lenyap …
    Pada seorang dengan perbuatan benar, perbuatan salah lenyap …
    Pada seorang dengan penghidupan benar, penghidupan salah lenyap …
    Pada seorang dengan usaha benar, usaha salah lenyap …
    Pada seorang dengan perhatian benar, perhatian salah lenyap …
    Pada seorang dengan pikiran terpusat benar, pikiran terpusat salah lenyap …
    Pada seorang dengan pengetahuan benar, pengetahuan salah lenyap …
    Pada seorang dengan pembebasan benar, pembebasan salah lenyap, banyak kondisi buruk tidak bermanfaat yang berasal dari pembebasan salah di sana juga menjadi lenyap, berbagai kondisi bermanfaat yang berasal dari pembebasan benar menjadi berkembang sepenuhnya.[MN 117/Mahācattārīsakasutta]

      “Yang Mulia, apakah Samādhi? Apakah gambaran samadhi (samādhi-nimittā)? Apakah perlengkapan samādhi (samādhi-parikkhārā)? Apakah yang disebut dengan mengembangkan samādhi (samādhi-bhāvanā)?”

      Keterpusatan pikiran (cittassa ekaggatā), teman Visākha, adalah samādhi (ayaṃ samādhi); 4 landasan perhatian (Cattāro satipaṭṭhānā) adalah gambaran keterpusatan pikiran; 4 usaha benar (Cattāro sammappadhānā) adalah perlengkapan keterpusatan pikiran; Pengulangan [dhammāna āsevanā], praktek/mengolah [bhavana] hingga mahir [bahulīkammaṃ] adalah mengembangkan Samadhi” [MN44/Cūḷavedalla Sutta]

    Keberhasilan Jhāya/Samadhi harus terlihat dalam 4 Jhäna [Arti: terpesona, tercerap] [SN 48.8, 9]

    Perhatian benar [no.7] dan pikiran terpusat benar [no.8] dapat dilakukan dalam posisi/sikap/postur (Iriyapatha): berbaring (sayano), berdiri (caram/ṭhito), duduk (nissino) atau berjalan (gacchanto atau cankama/AN 5.29) sehingga dengan berdiam demikian dengan rajin, tekun, bersungguh-sungguh, ingatan-ingatan dan kehendak-kehendaknya dari kehidupan rumah tangga ditinggalkan; dengan ditinggalkannya hal-hal itu pikirannya menjadi kokoh ke dalam, tenang, manunggal dan pikirannya menjadi terpusat [ajjhattameva cittaṃ santiṭṭhati, sannisīdati, ekodi hoti, samādhiyati]

    Dalam DN16/Mahaparinibbana sutta disampaikan dalam memperhatikan..seorang ..berdiam mengetahui sepenuhnya..

    • merenungkan jasmani adalah jasmani (kāye kāyānupassī ), berada tekun dalam perhatian dengan sepenuhnya mengetahui (viharati ātāpī sampajāno satimā) setelah menyingkirkan ketamakan dan kesuraman akan dunia (vineyya loke abhijjhādomanassaṃ)
    • merenungkan perasaan adalah perasaan (Vedanāsu vedanānupassī viharati)..,
    • pikiran adalah pikiran (citte cittānupassī viharati)...
    • Fenomena (HAL yang berkondisi, terkondisi, tak terkondisi adalah Fenomena (HAL yang berkondisi, terkondisi, tak terkondisi) (dhammesu dhammānupassī viharati)...

    mengetahui sepenuhnya (sampajāno) ketika berjalan maju/mundur (abhikkante paṭikkante); Melihat ke depan/sekitarnya (ālokite vilokite); Membungkuk/menegakkan badan (samiñjite pasārite); membawa jubah/mangkuk (saṅghāṭipattacīvaradhāraṇe); makan, minum, mengunyah, atau mengecap/menelan (asite pīte khāyite sāyite); membuang air besar (uccārapassāvakamme); berjalan, berdiri, duduk, tidur, terjaga, berbicara, atau berdiam diri (gate ṭhite nisinne sutte jāgarite bhāsite tuṇhībhāve)
Diberbagai kota/tempat yang dikunjunginya, sang Buddha menyatakan:
    iti sīlaṃ, iti samādhi, iti paññā (Ini adalah moralitas, ini adalah pemusatan pikiran, ini adalah kebijaksanaan). Sīlaparibhāvito samādhi mahapphalo hoti mahānisaṃso (Samädhi yang dilandasi sila akan menghasilkan buah dan manfaat yang besar). Samādhiparibhāvitā paññā mahapphalā hoti mahānisaṃsā (Kebijaksanaan yang dilandasi Samädhi akan menghasilkan buah dan manfaat yang Besar). Paññāparibhāvitaṃ cittaṃ sammadeva āsavehi vimuccati, seyyathidaṃ kāmāsavā, bhavāsavā, avijjāsavā”ti (Pikiran yang dilandasi kebijaksanaan akan sepenuhnya terbebas dari kekotoran/noda, yaitu, indria, penjelmaan, ketidaktahuan] [DN16/Mahaparinibbana sutta]
Dan Sang Buddha menyampaikan bahwa kematian tidaklah akan menjadi sesuatu yang buruk ketika: dīgharattaṃ saddhāparibhāvitaṃ cittaṃ sīlaparibhāvitaṃ cittaṃ sutaparibhāvitaṃ cittaṃ cāgapari-bhāvitaṃ cittaṃ paññāparibhāvitaṃ cittaṃ (dalam suatu waktu yang lama pikiran seseorang telah diperkuat/dilandasai dengan keyakinan, moralitas, pembelajaran, kedermawanan, dan kebijaksanaan) taṃ uddhagāmi hoti visesagāmi (maka ini hanya akan mengarahkannya menuju keluhuran) [SN 55.21/Mahanama Sutta] []
---------------

KETUHANAN

Ketuhanan adalah sifat keadaan Tuhan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan Tuhan, kepercayaan pada Tuhan Yang Maha Esa (arti: satu, semata, hanya. Berasal dari kata sanskrit "ãsa" (bukan Eka): "lord, iva").

Tuhan dalam pandangan agama samawi dan non samawi, baik itu dipersonifikasi (berbentuk, digambarkan menyerupai manusia) maupun bukan (berbentuk lainnya: tidak menyerupai manusia, berubah bentuk ataupun tidak berbentuk) adalah sebagai sesuatu yang disembah, yang kekal, maha kuasa, maha pencipta (termasuk alam semesta), pemilik Surga dan Neraka yang kekal. Tujuan akhir manusia adalah kembali ke surga yang kekal ciptaan Tuhan yang kekal (atau kembali kepada Tuhan yang kekal). Definisi Tuhan yang seperti ini dalam bahasa pali disebut issara (sanskrit: īśvara).

Pandangan ini ditolak Buddhism dan merupakan pandangan salah. Mengapa? Ide tentang adanya sesuatu yang kekal bertentangan dengan tilakkhana (Anicca, Dukkha dan Anatta). Namun demikian, pandangan salah ini masih banyak digenggam oleh kebanyakan pengikut Buddhism Indonesia. Variasi pandangan salah tentang ini juga berkembang lebih jauh lagi diantaranya: Mempercayai bahwa Buddha dan/atau Nibbana adalah Tuhan dan/atau Tuhan-Ketuhanan Buddhism adalah Nibbana dan/atau Buddhism juga punya Tuhan seperti definisi di atas.

Padahal,
Kongres pertama dari Dewan Sangha Buddhis Dunia (WBSC: World Buddhist Sangha Council), Colombo, Sri Lanka, pada 27 Januari 1967 secara bulat menyepakati 9 point. Di point no. 3 adalah tidak meyakini bahwa dunia ini diciptakan dan diatur oleh tuhan. Pendapat ini didukung, sutta-sutta Buddhism, diantaranya:
  • DN 1/Brahmajala Sutta [↓] , pada pandangan salah no.5, asal usul munculnya keyakinan adanya tuhan/Issara/isvara

      ..Setelah rentang waktu yang panjang, ketika dunia ini menyusut/penghancuran [samvattati]. Pada saat penyusutan/penghancuran, sebagian besar makhluk terlahir di alam Brahmā Ābhassara. Dan di sana mereka berdiam, dengan ciptaan-pikiran [Mano mayo], dengan kegirangan [Piti] sebagai penunjang, mereka hidup demikian selama waktu yang sangat lama.

      ..Setelah rentang waktu yang panjang, ketika dunia ini mulai mengembang [vivattati]… sebuah tempat Brahmā [Brahma vimanam] muncul. Dan kemudian satu makhluk, karena habisnya masa kehidupannya atau jasa baiknya, jatuh dari alam Ābhassara dan muncul kembali dalam tempat Brahmā. Dan di sana ia berdiam, dengan ciptaan-pikiran, dengan kegembiraan sebagai penunjang/makanan, bercahaya, melayang diantara batasan [antalikkha → sankrit: antar/diantara + īkṣa/tampak/batasan], agung – dan mereka hidup demikian selama waktu yang sangat lama.’

      Kemudian dalam diri makhluk ini yang telah menyendiri sekian lama, muncullah kegelisahan, ketidakpuasan, dan kekhawatiran, ia berpikir: “Oh, seandainya makhluk lainnya muncul ke sini!”

      dan makhluk-makhluk lain, karena habisnya masa kehidupan mereka atau jasa-jasa baik mereka, jatuh dari alam Ābhassara, muncul kembali di dalam tempat Brahmā sebagai teman-teman bagi makhluk ini. Dan di sana ia berdiam, dengan ciptaan-pikiran, ... dan mereka hidup demikian selama waktu yang sangat lama.’

      Dan kemudian, makhluk yang pertama muncul di sana berpikir:

      "..mahābrahmā (Brahma yang Agung) abhibhū (penakluk) anabhibhūto (yang tak tertaklukan) aññadatthudaso (melihat segalanya) vasavattī (maha menguasai/maha sakti) issaro (Tuhan/yang termulia) kattā (pembuat) nimmātā (pencipta) seṭṭho (pemilik/terbesar) sajitā (pemberi perintah) vasī (paling awal) pitā bhūtabhabyānaṃ (Ayah dari segala yang ada dan akan ada) Makhluk-makhluk ini diciptakan olehku"

        Note:
        Juga di MN49/Brahmanimantanika dan di DN.11/Kevaddha Sutta. Di Kitab komentar: “Akulah maha pengatur, Akulah yang mengatur para mahluk di posisinya: kamu menjadi yang mulia [mis:Ksatria], kamu menjadi brahmana [pendeta, ulama], kamu menjadi pedagang, kamu menjadi pekerja kasar, kamu perumahtangga, kamu menjadi petapa, kamu menjadi unta, kamu menjadi sapi” [DA 1:111 f]

        Mahluk halus tidak terdektesi Indria namun banyak yang mengklaim mampu melihatnya. Para ilmuwan sudah mampu mendeteksi keberadaan energi tertentu, mereka tidak mendefinisikannya secara tegas tapi memberitahu bahwa ada sesuatu. Sementara TUHAN, disamping tidak dapat dibuktikan keberadaannya oleh ilmuwan manapun, bahkan seluruh Indra dan alat bantunyapun tidak dapat men-scan keberadaannya. Perasaan nyaman/tidak nyata dirasakan semua orang dan bukan orang. Pengetahuan ini bukan dari buku dan/atau ceramah namun dapat dialami yang mengalaminya. Nibbana adalah "pengalaman" yang di alami sendiri oleh mereka yang telah menyelesaikan latihan sesuai metoda dari sang Buddha.

      Mengapa demikian?

      Karena akulah yang pertama berpikir: ‘Oh, seandainya beberapa makhluk lain muncul ke sini!’ itu keinginanku, dan kemudian makhluk-makhluk ini muncul!”

      Makhluk-makhluk yang muncul belakangan berpikir: “Ini, Teman-teman, adalah Brahmā, Mahā-Brahmā, sang penakluk, yang tidak tertaklukkan, maha melihat, mahasakti, yang termulia, pembuat dan pencipta, penguasa, pengambil keputusan dan pemberi perintah, Ayah dari semua yang telah ada dan yang akan ada.

      Mengapa demikian?

      Kita telah melihat bahwa dia adalah yang pertama di sini, dan bahwa kita muncul setelah dia.”’

      ‘Dan makhluk yang muncul pertama ini hidup lebih lama, lebih indah dan lebih sakti daripada makhluk lainnya. Dan akan terjadi bahwa beberapa makhluk jatuh dari alam itu dan muncul di dunia ini. Setelah muncul di dunia ini, ia pergi meninggalkan kehidupan rumah tangga untuk menjalani kehidupan tanpa rumah. Setelah pergi, ia melalui usaha, upaya, penerapan, ketekunan dan perhatian benar mencapai suatu kondisi tertentu dari keterpusatan pikiran hingga mampu mengingat kehidupan sebelumnya yang terakhir, tetapi tidak mampu mengingat yang sebelum itu.

      Dan ia berpikir: “Brahma pencipta itu [bhavaṃ brahmā mahābrahmā], ... ia menciptakan kami, dan ia kekal, stabil, abadi, tidak mengalami perubahan, sama selamanya. Tetapi kami yang diciptakan oleh Brahmā itu, kami tidak kekal, tidak stabil, berumur pendek, ditakdirkan terjatuh, dan kami datang ke dunia ini."

    Demikianlah asal-usul kemunculan pandangan salah tentang adanya tuhan yang maha ini.

  • AN 3.61/Tittha sutta[8], tentang 3 pandangan salah:

      ..ada 3 Pandangan (titthāyatanāni), yaitu: Apapun yang dialami seseorang, apakah itu perasaan: menyenangkan, menyakitkan atau perasaan bukan menyenangkan bukan menyakitkan, semua itu:

      1. disebabkan oleh tindakan lampau/pubbekatahetū;
      2. disebabkan oleh kuasa TUHAN [Issaranimmānahetū]
        "Issaranimmānahetū’ ti issaranimmānakāraṇā, issarena nimmitattā paṭisaṁvedetī ti attho" (Disebabkan kuasa tuhan, Karena kuasa TUHAN, Dirinya mengalami dari kuasa tuhan);
      3. tanpa penyebab dan tanpa kondisi/ahetu-appaccayā

      yang, jika sepenuhnya disidik/periksa [samanuyuñjiyamānāni], diteliti [samanugāhiyamānāni] dan dibahas [samanubhāsiyamānāni], akan berakhir pada suatu doktrin tanpa tindakan, SEKALIPUN SUDAH DITERAPKAN KARENA TRADISI.

    Buddha menolak pandangan-pandangan itu. Karena jika semua perbuatan dan yang dialami disebabkan oleh tindakan lampau atau disebabkan oleh kehendak tuhan atau disebabkan oleh sebuah kebetulan semata sebagai faktor penentu, maka akibatnya seseorang TIDAK memiliki kehendak bebas dan hanya ”boneka” yang tidak bisa membebaskan diri dari penderitaan serta akan menjadi seseorang yang berkewaspadaan dan pengendalian diri.

  • Di Mahabodhi Jataka (no.528)

      Sang Bodhisatta berkata:
      "Jika Tuhan sekalian alam, yang menentukan bagi seluruh ciptaannya, kebahagiaan atau penderitaan, perbuatan baik maupun buruk, maka manusia hanya menjalankan perintahnya saja, sedangkan Tuhan itu yang diliputi dosa" (issaro sabbalokassa, sace kappeti jīvitaṃ, Iddhiṃ byasanabhāvañca, kammaṃ kalyāṇapāpakaṃ; Niddesakārī puriso, issaro tena lippati)

  • Di Bhuridatta Jataka [no.543]

      Terdapat kalimat berulang dari sang Bodhisatta,

      "Sace hi so issaro sabbaloke" (Sebab jika Ia Tuhan sekalian alam):

      ”Dengan mata, seseorang dapat melihat pandangan memilukan; Mengapa Brahma itu tidak menciptakan secara baik? Bila kekuatannya demikian tak terbatas, mengapa tangannya begitu jarang memberkati? Mengapa dia tidak memberi kebahagiaan semata? Mengapa kejahatan, kebohongan dan ketidak-tahuan merajalela? Mengapa memenangkan kepalsuan, sedangkan kebenaran dan keadilan gagal? Saya menganggap, Brahma adalah ketak-adilan. Yang membuat dunia yang diatur keliru"
Jadi, meyakini adanya Tuhan seperti definisi kaum Samawi/non Samawi sebagai Maha Pencipta, Pengatur, Hakim Akhir dan/atau menyematkan Sang Buddha sebagai Tuhan/ketuhanan adalah adalah Pandangan salah dalam Buddhism

Pandangan salah bahwa Nibbana adalah tuhan/konsep ketuhanan dalam Buddhism
Beberapa mengajarkan pandangan salah dengan menggunakan alasan POLITIK Indonesia saat itu dan dikaitkan dengan dasar negara Pancasila, padahal, sang penggali pancasila sendiri yaitu, Ir. Soekarno, sudah tahu bahwa Buddhism TIDAK MEYAKINI adanya TUHAN, namun sekelompok orang ini sudah nekad dan SECARA PAKSA mengklaim bahwa Ketuhanan Yang Mahaesa dalam bahasa Pali adalah "Atthi ajātaṃ abhūtaṃ akataṃ asaṅkhataṃ" (Ada tidak dilahirkan, tidak menjelma, tidak menjadi, tidak berkondisi). Mereka mengklaim bahwa sifat tuhan telah terwakili dengan sifat nibbana, menurut mereka, Ketuhanan Yang Maha Esa adalah suatu yang tanpa aku (anatta), yang tidak dapat dipersonifikasikan dalam bentuk apa pun. Tetapi dengan adanya Yang Mutlak, yang tidak berkondisi (asamkhata) maka manusia yang berkondisi (samkhata) dapat mencapai kebebasan dari lingkaran kehidupan (samsara) dengan cara bersamadhi.

Klaim ini diambil dari potongan syair Udana 8.3 dan terkadang ada juga yang mengkaitkannya dengan "Pembuat Rumah" (potongan pekik kemenangan Sidharta Gautama ketika menjadi Buddha). Pemaksaan dengan penggalan syair ini malah membuat maksudnya menjadi melenceng jauh, seperti ilustrasi ini:
    Si x, berkata, "Semua berasal dari Universitas Katolik Parahyangan", kemudian, satu orang sengaja memotong bagian ucapan si x menjadi, "Semua berasal dari Universitas Katolik Parah"
ketika terpotong, maka sangatlah jauh beda artinya, bukan?! Agar jelas maksudnya, mari kita simak Udana 8.1-4, tentang Nibbana:
    Demikianlah yang kudengar. Suatu ketika Sang Bhagava sedang berada di dekat Savatthi, di Hutan Jeta, di Vihara Anathapindika. Saat itu Sang Bhagava sedang mengajar, memberi inspirasi, dan menggembirakan para bhikkhu dengan nibbānapaṭisaṃyuttāya dhammiyā (pembicaraan Dhamma tentang Nibbana), dan para bhikkhu, dengan keyakinan dan penuh perhatian, memusatkan seluruh pikiran, sangat berminat mendengarkan Dhamma.

    Menyadari pentingnya ini, Sang Bhagava menyampaikan kotbah inspirasi:

    Atthi, bhikkhave, tadāyatanaṃ, yattha neva pathavī, na āpo, na tejo, na vāyo, na ākāsānañcāyatanaṃ, na viññāṇañcāyatanaṃ, na ākiñcaññāyatanaṃ, na nevasaññānāsaññāyatanaṃ, nāyaṃ loko, na paraloko, na ubho candimasūriyā (Ada[6], para bhikkhu, keadaan bukan padat/landasan/sokongan; bukan cair/rekat, bukan suhu/temperatur/gelombang partikel/umur/habis, dan bukan getar/gerak/tekanan; bukan landasan ruang tak berbatas, bukan landasan kesadaran tak berbatas, bukan landasan kekosongan, bukan landasan presepsi dan bukan-bukan presepsi; bukan dunia ini atau dunia lain; bukan matahari rembulan)

    Tatrāpāhaṃ, bhikkhave, neva āgatiṃ vadāmi, na gatiṃ, na ṭhitiṃ, na cutiṃ, na upapattiṃ; appatiṭṭhaṃ, appavattaṃ, anārammaṇamevetaṃ. Esevanto dukkhassā”ti (Di sini, para bhikkhu, bukan kedatangan, bukan kepergian, bukan yang tinggal, bukan kematian, bukan kemunculan; tanpa fondasi pijakan, tanpa kelanjutan, tanpa kondisi penyebab kemunculan. Inilah akhir dari penderitaan) [Udana 8.1].

    Duddasaṃ anataṃ nāma, na hi saccaṃ sudassanaṃ; Paṭividdhā taṇhā jānato, passato natthi kiñcanan”ti. (Yang tidak terpengaruh sulit untuk diketahui, Kebenaran tidak mudah dilihat; Nafsu keinginan akan ditembus oleh orang yang tahu, Tidak ada penghalang bagi orang yang melihat) [Udana 8.2]

    atthi bhikkhave, ajātaṃ abhūtaṃ akataṃ asaṅkhataṃ[6] (Ada, para bhikkhu, tidak dilahirkan, tidak menjelma, tidak menjadi, tidak berkondisi)

    No ce taṃ bhikkhave, abhavissā ajātaṃ abūtaṃ akataṃ asaṅkhataṃ, nayidha jātassa bhūtassa katassa saṅkhatassa nissaraṇaṃ paññāyetha (Jika saja tidak ada, para bhikkhu, yang tidak dilahirkan, tidak-menjelma, tidak menjadi, tidak berkondisi; maka tidak ada jalan keluar dari kelahiran, penjelmaan, menjadi, berkondisi)

    yasmā ca kho bhikkhave, atthi ajātaṃ abhūtaṃ akataṃ asaṅkhataṃ, tasmā jātassa bhūtassa katassa saṅkhatassa nissaraṇaṃ paññāyatī"ti (Tetapi karena, para bhikkhu, ada tidak dilahirkan, tidak-menjelma, tidak menjadi, tidak berkondisi; maka ada jalan keluar dari kelahiran, penjelmaan, menjadi, berkondisi) [Udana 8.3]

    Nissitassa calitaṃ, anissitassa calitaṃ natthi. Calite asati passaddhi, passaddhiyā sati nati na hoti. Natiyā asati āgatigati na hoti. Āgatigatiyā asati cutūpapāto na hoti. Cutūpapāte asati nevidha na huraṃ na ubhayamantarena. Esevanto dukkhassā”ti (Bagi yang ditopang, ada ketidak-stabilan. Bagi yang tidak ditopang, tidak ada ketidak-stabilan; Bila tidak ada ketidak-stabilan ada ketenangan; Bila ada ketenangan tidak ada hasrat; Bila tidak ada hasrat tidak ada 'datang dan pergi'; Bila tidak ada 'datang dan pergi' tidak ada 'kematian dan kemunculan'; Bila tidak ada kematian dan kemunculan', tidak ada 'di sini atau diluar sana' ataupun 'di antara keduanya'. Inilah akhir dari penderitaan) [Udana 8.4]
Sebagaimana tercantum di pembukaan sutta-sutta di atas, ini adalah pembicaraan tentang NIBBANA, yaitu sebuah keadaan mental seseorang DAN BUKAN sesuatu sosok atau pun tempat. Penjelasan lain tentang Nibbana, misalnya dari seorang budak perempuan ratu Samavati yang bernama Khujjuttara (seorang sotāpanna dan yang membuat ratu beserta 500 pelayannya juga berhasil mencapai sotāpanna):
    Demikian dari Sang Buddha yang kudengar (Vuttañhetaṃ bhagavatā vuttamarahatāti me sutaṃ):

    Ada para Bhikkhu, tidak dilahirkan, tidak menjelma, tidak menjadi, tidak berkondisi (Atthi, bhikkhave, ajātaṃ abhūtaṃ akataṃ asaṅkhataṃ)

    Jika saja tidak ada, para bhikkhu, yang tidak dilahirkan, tidak menjelma, tidak menjadi, tidak berkondisi (No cetaṃ, bhikkhave, abhavissa ajātaṃ abhūtaṃ akataṃ asaṅkhataṃ), maka tidak ada jalan keluar dari kelahiran, penjelmaan, menjadi, berkondisi (nayidha jātassa bhūtassa katassa saṅkhatassa nissaraṇaṃ paññāyetha)

    Karena, Para Bhikku, ada tidak dilahirkan, tidak menjelma, tidak menjadi, tidak berkondisi (Yasmā ca kho, bhikkhave, atthi ajātaṃ abhūtaṃ akataṃ asaṅkhataṃ), maka ada jalan keluar dari kelahiran, penjelmaan, menjadi, berkondisi (tasmā jātassa bhūtassa katassa saṅkhatassa nissaraṇaṃ paññāyatī”ti)

    Kelahiran, penjelmaan, kemunculan (Jātaṃ bhūtaṃ samuppannaṃ)
    Menjadi, berkondisi tidak kekal (kataṃ saṅkhatamaddhuvaṃ),
    Bersatu dengan kelapukan dan kematian (Jarāmaraṇasaṅghāṭaṃ),
    Sarang penyakit, rentan (roganīḷaṃ pabhaṅguraṃ),

    Muncul dari makanan dan tali nafsu- (Āhāranettippabhavaṃ)
    bukan hal menggembirakan (nālaṃ tadabhinandituṃ)
    Jalan keluar, yang damai (Tassa nissaraṇaṃ santaṃ)
    berada di luar nalar (atakkāvacaraṃ dhuvaṃ),

    tidak dilahirkan, tidak muncul (Ajātaṃ asamuppannaṃ),
    Keadaan tanpa duka bebas noda (asokaṃ virajaṃ padaṃ)
    Padamnya penderitaan (Nirodho dukkhadhammānaṃ),
    Meredanya bentukan - sukacita (saṅkhārūpasamo sukho”ti).

    [Itivuttaka 43, ajatasutta: Tidak Dilahirkan]
Jelas sekali, yang Sang Buddha ajarkan adalah pemadaman kehausan/nafsu keinginan, yaitu Nibana/Nirvana [nir; nis = tidak ada, lenyap, habis; + va = meniup, Musnah, Lenyap, Padam, memadamkan], ketika nafsu keinginan padam, maka tidak ada lagi yang "membakar" kesadaran (pertemuan antara indriya dan objeknya). Keadaan inilah yang disebut Nibbana sedangkan yang dimaksudkan dengan Parinibbana adalah padamnya baik itu nafsu keinginan dan juga matinya penyokong kehidupan (tubuh/landasan Indriya, rumah dari kemunculan kesadaran), yaitu musnahnya kehidupan itu sendiri. Berikut ini penjelasan Sang Buddha pada petapa pengembara VacchaGotta[20]:
    “Bagaimana menurutmu, Vaccha? Misalkan terdapat api yang membakar di depanmu. Apakah engkau mengetahui: ‘Api ini membakar di depanku’?”

    “Aku mengetahuinya, Guru Gotama.”

    “Jika seseorang bertanya padamu, Vaccha: ‘Bergantung pada apakah api yang membakar di depanmu ini?’ – jika ditanya demikian, bagaimanakah engkau menjawab?”

    “Jika ditanya demikian, Guru Gotama, aku akan menjawab: ‘Api ini membakar dengan bergantung pada bahan bakar rumput dan kayu.’”

    “Jika api di depanmu itu padam, apakah engkau mengetahui: ‘Api di depanku ini telah padam’?”

    “Aku mengetahuinya, Guru Gotama.”

    “Jika seseorang bertanya padamu, Vaccha: ‘Ketika api di depanmu itu padam, ke arah manakah perginya: ke timur, ke barat, ke utara, atau ke selaatan?’ - jika ditanya demikian, bagaimanakah engkau menjawab?”

    “Itu tidak berlaku, Guru Gotama. Api itu membakar dengan bergantung pada bahan bakar rumput dan kayu. Ketika bahan bakar itu habis, jika tidak mendapatkan tambahan bahan bakar, karena tanpa bahan bakar, maka itu dikatakan sebagai padam.”
Jadi, Nibbana/Parinibbana jelas BUKAN alam/tempat, sosok atau Tuhan/ketuhanan.

Pandangan Salah bahwa Adi Buddha adalah TUHAN atau KETUHANAN dalam Buddhism
Sang Buddha TIDAK PERNAH mengajarkan doktrin ADI BUDDHA atau mengucapkan adanya "sanghyang adi buddha"[9].

Doktrin ini, muncul belakangan, terutama sekitar abad ke-1 Masehi. Padahal di buku abad ke-10, karangan empu-Sindok, yaitu Sanghyang Kahamayanikam (yang dirujuk oleh pemegang paham tuhan Buddhisme adalah sanghyang adi-buddha), akan ditemukan bahwa Adi-Buddha yang dimaksudkan BUKANLAH Tuhan melainkan nama seorang raja.

Juga TIDAK PERNAH sang Buddha mengajarkan adanya Buddha pertama atau Buddha yang lebih Buddha dari Buddha lainnya sebagai yang Maha Buddha yang kemudian ini dianggap sebagai tuhan atau sebagai ketuhanan di Buddhisme. Mengapa? Karena syarat untuk menjadi seorang SammasamBuddha, Ia HARUS SELALU:
  1. Manusia
  2. Mempunyai lengkap 32 tanda ditubuhnya sebagai maha-purisa/Manusia agung[14] dan tidak boleh kurang satupun
Di teks pali belakangan, setelah konsili ke-3 (abad 3 SM), terdapat suatu ide "abhinihara-karana/mulanidhana/Vyakarana atau tekad untuk menjadi seorang Sammasambuddha", misalnya di Khuddaka Nikaya, kitab Buddhavamsa yaitu kehidupan-kehidupan sebelumnya seorang Sammasambuddha, ketika sebagai Bodhisatta (manusia atau bukan) harus pernah ber-vyakarana DIHADAPAN seorang sammasamBuddha saat itu dan MENDAPATKAN kepastian dari beliau bahwa tekadnya akan tercapai.
    Calon Buddha Gautama, mulai ber-vyakarana, ketika terlahir sebagai petapa dengan nama Sumedha dihadapan Buddha Dipankara dan mendapatkan kepastian bahwa tekadnya akan tercapai. Sejak itulah mereka ini disebut bodhisatta, hingga yang ke-23xnya sebagai Bodhisatta Jotipala di jaman Buddha Kassapa
Jadi ide tentang adanya Buddha pertama atau super Buddha menjadi tidak memungkinkan karenanya.

Dhamma-Kaya BUKANLAH TUHAN atau KETUHANAN
Konsep AdiBuddha dan/atau konsep khayal lainnya yang sejenis seperti 5 Buddha di 5 (lima) arah mata angin sebagai Buddha dan/atau maha Buddha dan/atau tuhan, muncul karena PANDANGAN SALAH tentang DHAMMA-KAYA/Tubuh Dhamma.

Pengertian Dhamma-Kaya tercantum dalam SN 22.87/Vakkali sutta (Kisah Vakkali, juga ada di kitab komentar: Apadana dan Dhammapada syair 381, yang dikisahkan sangat berbeda dan Ia dianggap "berkecenderungan HOMOSEKSUAL"[11]):

Ketika itu Vakkali berdiam di gubuk pengrajin tembikar sedang menderita sakit berat, meminta pada sahabatnya agar mengunjungi, memberi hormat pada sang Buddha dan memohon kedatangan beliau. Sang Buddha kemudian mengunjunginya dan berharap Ia dapat bertahan, menjadi lebih baik dan perasaan sakitnya mereda. Vakali menyatakan Ia tidak dapat bertahan, tidak lebih baik dan perasaan sakitnya meningkat. Sang Buddha berharap agar Ia tidak terganggu penyesalan. Vakkali menjawab bahwa Ia memiliki banyak penyesalan. Sang Buddha berharap agar penyesalannya bukan karena moralitas. Vakkali menyatakan bukan, namun karena keinginannya untuk mengunjungi Sang Buddha tidak dapat dilakukan karena kesehatannya. Sang Bhagavā berkata:
    “Mengapa engkau ingin mengunjungi tubuh menjijikkan ini?" dhammaṃ passati so maṃ passati; yo maṃ passati so dhammaṃ passati (Ia yang melihat Dhamma, melihat Aku; Ia yang melihat Aku, melihat Dhamma)
Kemudian sang Buddha memberikan nasihat tentang Dhamma-Kaya:
    Sang Buddha: "Bagaimana menurutmu, Vakkali, apakah materi itu kekal atau tidak kekal?".
    Vakkali: “Tidak kekal, Yang Mulia”.
    Sang Buddha: “Apakah sesuatu yang tidak kekal itu penderitaan atau kebahagiaan?”.
    Vakkali: “Penderitaan..".
    Sang Buddha: “Apakah sesuatu yang tidak kekal, penderitaan, dan mengalami perubahan layak dianggap sebagai: ‘ini milikku, ini aku, ini diriku’?”
    Vakkali: “Tidak..”.

    Sang Buddha: “Apakah perasaan itu kekal atau tidak kekal?…
    Apakah persepsi itu kekal atau tidak kekal?…
    Apakah bentukan-bentukan kehendak itu kekal atau tidak kekal?…
    Apakah kesadaran adalah itu atau tidak kekal?”…

    “Oleh karenanya, Vakkali, materi apa pun juga, apakah di masa lalu, di masa depan, atau di masa sekarang, internal atau eksternal, kasar atau halus, hina atau mulia, jauh atau dekat, semuanya harus dilihat sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar sebagai berikut: ‘ini bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan diriku’"

    Perasaan apa pun juga …
    Persepsi apa pun juga …
    Bentukanbentukan kehendak apa pun juga …
    Kesadaran apa pun juga …

    Melihat demikian, Vakkali, siswa mulia yang terlatih mengalami kejenuhan terhadap: materi, perasaan, persepsi, bentukan-bentukan kehendak, dan kesadaran. Mengalami kejenuhan, ia menjadi bosan. Melalui kebosanan, Ia terbebaskan. Ketika terbebaskan, muncullah pengetahuan: ‘Terbebaskan.’ Ia memahami: ‘Kelahiran telah dihancurkan, vusitaṃ brahmacariyaṃ (kehidupan suci telah dijalani), apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak ada lagi kondisi bagi makhluk ini.'"[↓ Bunuh diri di buddhism]
Demikianlah Dhamma kaya yang dimaksudkan. Hubungan antara tubuh dhamma dan tubuh brahma (arti: berkembang, bersifat baik. Lihat penggunaannya di brahmacariya, brahma vihara, brahmajala) disampaikan di DN.27/agganna sutta:
    [..]Ia yang berkeyakinan di dalam Sang Tathāgata, teguh, berakar, kokoh, padat, tidak tergoyahkan oleh petapa dan Brāhmaṇa mana pun juga, dewa atau māra atau Brahmā atau siapa pun di dunia ini, dapat dengan benar mengatakan:

    Aku adalah putra sejati Sang Bhagavā, lahir dari mulut-Nya, lahir dari Dhamma, diciptakan oleh Dhamma, seorang keturunan Dhamma

    Mengapa demikian?

    Karena..ini menunjuk pada Sang Tathāgata: “Tubuh Dhamma”, yaitu, “Tubuh Brahmā”, atau dhammabhūto (Menjadi Dhamma), yaitu “Menjadi Brahmā”.’
Jadi, dhamma-kaya (dan juga Brahma Kaya) samasekali jauh dari maksud adanya Buddha lain atau mahluk super tertentu atau Buddha yang kekal. []
---------------

Tumimbal Lahir di Samsara: PancaKhanda dan nāmarūpa

Menurut Buddhisme, Semua mahluk hidup (Brahma, deva, manusia, peta/mahluk halus, binatang, neraka) dan ALAM KEHIDUPANNYA baik itu VERTIKAL maupun HORIZONTAL telah berulang kali terbentuk dan hancur.

Seorang Brahmin bernama Rādha bertanya tentang apa itu Mahluk, Sang Buddha menjawab:
    yang (yo): Ingin (chanda), tertarik (rāga), gemar (nandī), haus (tanha) akan: Materi (rūpa).. Perasaan (Vedana).. Persepsi/Ingatan (sañña).. hal yang berkondisi atau bentukan-bentukan pikiran, ucapan perbuatan melalui kehendak (saṅkhāra).. Kesadaran (viññāṇa) di situlah mahluk (tatra satta) di situlah terjerat (tatra visatta), maka disebut mahluk (tasmā sattoti vuccati) [SN 23.2/Satta Sutta]
Pancakhanda
SEMUA mahluk merupakan gabungan dari PancaKhanda [SN.22.56/Parivatta Sutta juga di DN.33 /Sanghiti Sutta, [Panca = 5 + khanda = kumpulan, gugus, faktor/unsur pembentuk; agregat, kelompok (kehidupan)] dan juga merupakan dukkha (sankhāra dukkha). Pañcakkhandhā (citta dan cetasika), terdiri dari:

Citta:
  1. Viññāṇakkhandho, Pertemuan antara Indriya dan objek-objeknya memunculkan kesadaran. ke-3nya (Indriya+objek+Kesadaran) disebut kontak/Phassa. Viññāṇa-ṭṭhitiyo [viññāṇa = kesadaran, semangat, gelora + ṭṭhitiyo = stages of sentient beings], kesadaran ini berlandaskan pada 4 (empat)[DN.33/Sanghiti Sutta]:

    1. Materi [rupayam] sebagai objek, atau
    2. Vedanā [vedanupayam], atau
    3. Saññā [sannupayam], atau
    4. Saṅkhāra [sankharupayam]
Bagaimana membedakan antara “Citta”, “Mano” dan “Vinanna”?
Dalam sutta SN 12.61, 62, Sang Buddha menyampaikan 3 kata itu sekaligus, oleh karenanya, 3 kata itu tentunya memiliki perbedaan satu sama lainnya. Citta dan Mano dapat sebagai persamaan kata dari kata “pikiran” (mano = ceto = citta = Pikiran), perbedaannya adalah: Citta = proses berpikir atau pemikiran atau bentuk pemikiran atau bentukan mentalnya dari pikiran, sementara Mano = pikiran sebagai Indriya atau jasmani. Sedangkan Vinanna adalah bentuk proses kesadaran atau kesadaran tentang pengenalan akan sesuatu hal, yaitu ketika salah satu atau seluruh dari 6 Indriya (mata, telinga, hidung, lidah, badan dan pikiran) bertemu objeknya-objeknya.

Cetasika:
Perasaan, persepsi dan kesadaran, kondisi ini tergabung, bukan terpisah. Tidak dapat memisahkan kondisi-kondisi ini satu sama lainnya untuk menggambarkan perbedaan antaranya). Karena yang dirasakan, itu yang dipersepsikannya; yang dipersepsikan, itu yang dikenalinya. [MN.43/Mahāvedalla Sutta]. Persepsi dan perasaan menyertai pikiran, kondisi ini terikat dengan pikiran. Itulah mengapa persepsi dan perasaan adalah bentukan pikiran [MN.44/Cūḷavedalla Sutta]
  1. (a) Vedanākkhandho (Vedanā = perasaan, sensasi): Muncul karena adanya kontak berupa: menyenangkan, menyakitkan dan bukan ke-2nya

  2. (b) Saññākkhandho (Saññā = Perekaman, pengertian, kesadaran, pencerapan, persepsi, pengenalan, penyadaran; konsepsi, ide, gagasan, pikiran, tanda, isyarat, kesan, ingatan) dalam bentuk masa lalu, sekarang dan masa depan: Muncul bersamaan dengan perasaan

  3. Saṅkhārakkhandho (San+khara, san = gabungan, khara = bentukan/kondisi; kehendak, sañcetanā, abhisaṅkhara, kamma, sebagai faktor ke-2 dalam 12 mata rantai paṭicca-samuppāda; faktor penggerak; pendorong; kekuatan; faktor pembentuk)

  4. (f) Rūpakkhandho "Cattāri ca mahābhūtāni catunnañca mahābhūtānaṃ upādāya", catumaha bhuta/Elemen/Materi adalah no-upada [tidak dapat diuraikan lagi]:

    1. elemen/keadaan Padat/landasan/penyokong [Pathavi dhatu]: memberikan sifat kaku atau mempertahankan posisi;
    2. elemen/keadaan cair/rekatan (Apo-Dhatu): bersifat memberi rekatan;
    3. elemen Gerak/Getar/tekanan (Vayo-Dhatu): bersifat memelihara
    4. elemen umur/habis/gelombang partikel/temperatur (panas/dingin) / energi (Tejo-Dhatu): bersifat menggelembungkan

    4 unsur dasar ini merupakan elemen/materi fundamental yang hadir bersama dan tidak terpisahkan. Setiap substansi, apakah itu Pathavi, Apo, Tejo ato Vayo baik kecil atau besar terbuat dari 4 elemen ini dengan karekteristik spesifik [Abhidhamma ch.6]. Unsur Pathavi bertindak seperti dasar/penyokong uunsur Apo, Tejo dan Vayo; Unsur Apo bertindak seperti perekat bagi 3 unsur lainnya; Unsur Tejo bertindak seperti memelihara/menegakan 3 unsur lainnya. Unsur Vayu bertindak seperti penggelembungan 3 unsur lainnya. [Visudhi magga XI, 109]

    Terdapat turunan (upada) dari CATUMAHABHUTA, sehingga disebut bukan cuma 4 elemen/dhatu namun:

    • 5 elemen (Akasa = Ruang, area kosong/hampa diantara objek dan grup/gugusan materi,[..] [Bodhi, Bhikkhu, A Comprehensive Manual of Abhidhamma, p. 241]. Lihat penggunaan akasa di DN 33, MN 140 SN 27.9) atau
    • 6 elemen (viññāṇa + perasaan) atau
    • 10 elemen [+ 6 objek indriya] atau 23 [lihat Dhammasangani. 596], atau bahkan
    • hingga 24 [lihat Visuddhimagga XIV, 36 ff]

    4 unsur utama dan rūpa yang diturunkan dari 4 unsur utama, ini disebut rūpa (note: kata “rupa” hampir bersinonim dengan “sarira”/badan) [MN 9/Sammadithi Sutta].

    Tentang rūpa,
    ini kerap diterjemahkan sebagai "form" / "bentuk", sehingga a-rupa diartikan tanpa bentuk. Terjemahan ini miskin karena rūpa disamping elemen/keadaan/materi mahabhuta dan juga turunannya, baik itu berbentuk ataupun tidak, misal: akasa (ruang yang terdapat diantara elemen) dan juga organ-organ indera (pasada-rupa) beserta objek-objeknya (arammana), yaitu mencakup obyek-obyek dalam maupun luar diri beserta indera-indera yang dapat kontak dengannya.

    • bentuk dan warna sebagai objek penglihatan mata;
    • suara sebagai objek pendengaran telinga;
    • bebauan sebagai objek penciuman hidung;
    • cita rasa sebagai objek pengecapan lidah;
    • hal-hal dengan ragam variasi bentuk, temperatur, permukaan kasar atau licin, keras atau lembut, sebagai objek perabaan kulit; dan
    • objek- objek mental seperti pikiran, ingatan, konsep dan ide-ide sebagai objek pemikiran mental.

    Sehingga terjemahan a-rūpa yang lebih mendekati maksud dari mahluk ini adalah adalah tanpa adanya badan/sarira (bukan bentukan kasar dari elemen catumahabhuta yang dapat discan indriya namun dalam artian tetap ada landasan pijak/patthavi kemunculan dan merekat/apo, mempertahakan rekatan/vayo hingga waktu tertentu/umur/tejo tertentu)
Nama lain pancakhanda adalah Nāmarūpa (MentalMateri):
  • Vedanā (Perasaan)
  • Saññā (Persepsi)
  • Phasso (Kontak: Indria dan Objek yang memunculkan Kesadaran, 3 hal ini disebut kontak)
  • Cetanā (Kehendak, Kamma. Cetana terhubung dengan pikiran)
  • Manasikāro (perhatian, pemikiran, membuat pertimbangan, bentukan pikiran)
  • Rūpa
Pada nāmarūpa, kesadaran (Viññāṇa) tidak disebutkan, karena kesadaran ada di kontak indriya, yaitu akibat dari pertemuan antara Indriya dan objeknya. Indriya ada 6, yaitu: mata, telinga, hidung, lidah, badan dan pikiran.

NamaRupa menimbulkan 6 landasan Indria/saḷāyatana yaitu: Internal/ajjhattikāni (Mata/Cakkha; Telinga/sota; Hidung/ghāna; Kecap/jivha; Badan/kāya; Pikiran/mana) dan luar diri/bāhirāni (bentuk/materi/Rūpa; Suara/sadda; bebauan/gandha; rasa/rasa; Sentuh/phoṭṭhabba; Objek Pikiran/dhamma).
    Pertemuan 6 Indriya [mata, telinga,.., pikiran] dan objeknya [bentukan, suara,.., ingatan/persepsi] sebagai kondisi, memunculkan kesadaran indriya [mata, telinga,.., pikiran].
    Pertemuan ke-3nya (6 Indriya, Objek-objeknya dan kesadaran) disebut Kontak
    Dengan kontak sebagai kondisi, muncul perasaan;
    Apa yang dirasakan, itulah yang dikenali;
    Apa yang dikenali, itulah yang dipikirkan;
    Apa yang dipikirkan, itulah yang dikembangbiakkan pikiran;
    Dengan apa yang dikembangbiakkan dipikirannya sebagai: sumber, persepsi dan gagasan, melanda seseorang melalui objek-objek [bentukan, suara,..] masa: lalu, sekarang dan depan yang dikenali 6 Indriya [mata, telinga,..]. [MN 18/Madhupiṇḍikasutta]
Karena ini adalah bauran, maka Buddhism menolak adanya KONSEP atma/anatta/roh yang kekal abadi dan/atau yang menjadi inti mahluk hidup. Untuk jelasnya, misalnya roti:
    Roti adalah paduan: tepung, ragi, gula, garam, mentega, susu, air, api, tenaga kerja dll. Setelah menjadi roti, tidak dapat kita tunjuk satu bagian tertentu dan mengatakan: ini adalah tepungnya dan/atau ini garamnya dan/atau ini menteganya, dan/atau ini airnya dan/atau ini apinya dan/atau ini tenaga kerjanya dst. Karena setelah bahan-bahan diaduk menjadi satu dan dibakar di oven, maka telah berbaur dan telah berubah.
Demikianlah kira-kira, mengapa ini hanyalah bauran dan tidak ada inti/jiwa/roh dalam mahluk hidup, bahkan variasinya saja membuat penamaannya berbeda, contohnya sepeda roda 2:
    Rodanya saja tidak dapat dikatakan sebagai sepeda, begitu pula stang, rem, sadel jerujinya saja tidak dapat dikatakan sepeda roda 2. Untuk dikatakan sebagai sepeda roda 2, harus ada rangka, stang, pedal, sadel, rantai, roda, dll dan secara keseluruhan inilah yang disebut sepeda roda 2.

    Perubahan padanya tidak lagi membuatnya dinamakan sepeda roda 2, misal ada mesinnya, maka ini bukan lagi sepeda roda 2 melainkan motor atau rodanya menjadi 3, maka ini menjadi beca atau disamping rodanya menjadi 3, juga ada mesin, maka ini disebut bemo/bajaj atau roda belakang diganti penyerut, maka ini bukan lagi sepeda roda dua
Demikianlah kira-kira bauran itu kemudian disebut dengan berbagai klasifikasi dan penamaan bertumimbal lahir (kemunculan suatu mahluk hidup di alam kehidupan yang sama atau berbeda) secara berulang.

Dimanakah letak Kesadaran?
Karena kesadaran muncul akibat pertemuan Indria dan Objeknya yang ke-3 hal itu (Indriya, Objek dan Kesadaran) disebut kontak Indria, maka kesadaran letaknya ada di kontak Indriya. Karena seluruh elemen di semesta ini adalah Catu Mahabhuta (Padat/penyokong/Pathavi; cair/perekat/Apo; Sinar/gelombang partikel/suhu: panas-dingin/Tejo; Tekanan/Gerak/Getar/Vayo), misalnya pada satu tempat tertentu, kita melihat hanya gunung, padang rumput dan beberapa pohon, batuan cadas dekat pantai dan pantai. Selebihnya terlihat kosong melompong. Namun inipun tidaklah kosong, karena walaupun yang terlihat hanya 2 unsur Mahabutha yaitu padat dan cair saja, namun terdapat unsur lainnya di bagian yang berisi dan juga yang kosong, yaitu ada tekanan/getar/gerak/udara dan gelombang materi/suhu/temperatur

Semesta ini, tidak ada 1 titik ruang/celah kosong dari catumahabhuta, bahkan di angkasa luar sekalipun. Ia seolah hanya kosong, namun terdapat debu/partikel padat kecil dan juga partikel-partikel cahaya [photon: lepton dan quark], temperatur dingin/panas, getar dan gerak, gaya tarik dan dorong

Jadi semesta pun penuh dengan unsur CatuMahabhuta!

Tubuh terdiri dari catumahabhuha. Indera dan objeknya-pun terdiri dari catumahabhuta, misal: Indera mata + objek yang dikenalinya (padat/cair/partikel warna); telinga (getar/gerak), raba/rasa/penciuman (suhu, gelombang, cair, gerak/getar), dan pikiran (ingatan, formula, putusan yang terekam dalam bentuk padat, cairan, getar/gerak, gelombang/suhu)

Sehingga karena yang memunculkan kesadaran juga merupakan unsur-unsur catumahabhuta dan bahkan hasil putusannyapun berupa elemen catumahabhuta. Maka kesadaran ada di lingkungan yang sama, yaitu pada lingkungan catumahabutha, tidak kemana-mana.

Untuk jelasnya, misal kita ambil contoh ide film fiksi layar lebar "The matrik":
    Dikisahkan pada 200 tahun kemudian, dunia telah dikuasai oleh sekumpulan komputer yang memiliki intelgensi tinggi yang dinamakan Matrix. Komputer canggih ini menciptakan semacam program dan terhubung dengan seluruh umat manusia saat itu.

    Suatu ketika, ada seorang hacker yang bernama Neo (Keanu Reeves), Ia dikisahkan hidup normal seperti kebanyakan manusia normal lainnya di dunia kita. Di film itu, Ia beranggapan bahwa kehidupan di planet bumi tak lain dari semacam program komputer yang diciptakan oleh suatu mesin canggih yang berhati dengki. Program komputer Matrix itu ternyata ada cacatnya dan terjadi beberapa kesalahan yang membuat Neo keheranan akan ketidakwajaran itu dan kemudian mencari tau. hasil pencariannya mengakibatkan juga ia mengetahui ke adaan sebenarnya kehidupannya dulu. ketika ia terlepas, iapun terkaget-kaget mengetahui bahwa seluruh ras umat manusia terplug-in dengan semacam mesin

    Mesin-mesin itu mengubah semua informasi tentang abad ke-20 menjadi gelombang/getaran/impuls dan terhubung melalui semacam kabel ke system syaraf manusia sehingga menyebabkan seolah2 mereka sendiri mengalami peristiwa Lahir, besar, bekerja, menikah, mempunyai anak dan juga bepergian kemana2 padahal jelas mereka tidak pergi kemanapun dalam keadaan plug-in dengan komputer di lingkungan yang sama hingga mereka mati.

    Setelah mati, tubuhnya itu didaur ulang untuk sebagai energi bagi kelangsungan hidup para super komputer itu dan para super komputer itupun juga di disain untuk dapat melakukan proses re-produksi manusia dan membesarkan mereka dalam lingkungan itu dengan cara yang sama.
Sinopsis di atas memberikan gagasan tentang hal-hal yang dikenali INDRIYA dan diterjemahkan dalam sinyal-sinyal kimiawi dan listrik. Neurofisiologi menyatakan bahwa efek listrik terdapat di dalam dan pada permukaan tubuh manusia, misalnya kekuatan otot adalah akibat daya tarik-tolak muatan listrik, jantung dan system syaraf di otak juga melibatkan aliran arus listrik.
    Prof. Galvani ditahun 1780-1791 melakukan percobaan listrik pada kaki katak. Awalnya Ia hubungkan dengan sumber listrik statis namun kemudian Ia gunakan dua lempeng logam tanpa sumber listrik statis dan hasilnya kaki katak tersebut juga bergerak. Ia menduga bahwa tubuh mahluk hidup terdapat listrik dan magnet. Tidak lama setelahnya, Volta, dengan tujuan untuk menunjukan bahwa potensial (tegangan) listrik adalah berasal karena perbedaan jenis logam, Ia ganti konduktor lembab kaki katak dengan konduktor lain berupa kain lembab berisi cairan garam atau asam cair di antara dua kepingan logam atau karbon sebagai pengganti salah satu logam dan juga menghasilkan listrik.

    Temuan ini membuktikan bahwa energi kimia dapat diubah menjadi energi listrik.


Tubuh manusia berisi triliunan sel elektrokimia (cairan elektrolisis, berupa: Na+, K+, CL-, protein, asam nukleat, dll), di mana pada bagian dalam sel mempunyai potensial (tegangan) dengan range -50 mv s.d -90 mv (disebut potensial istirahat neuron, rata-rata: -70 milivolts) yang terjadi karena ion negatif lebih pada bagian dalam membran dari bagian luarnya.

Listrik tubuh dari hasil elektrokimia sel berfungsi sebagai kontrol dan operasi syaraf, otot dan organ di mana neuron melalui kontak sinapsis yang terletak di dendrit dengan multi sensornya menerima rangsangan secara fisik maupun kimiawi seperti panas, dingin, cahaya, suara dan bau yang menyebabkan beda potensial (tegangan) antar membran dan kemudian mengubahnya menjadi sinyal listrik di sepanjang serat-serat saraf/Akson menuju otot, kelenjar dan/atau neuron lainnya. Ketika terjadi perpindahan/difusi ion pada membran yang menyebabkan beda potensial yang menuju pada arah positif voltmeter disebut depolarisasi dan yang menuju arah negatif disebut repolarisasi [lihat:Nervous Systems Part-1].

Mengalirnya aliran listrik akan menimbulkan medan magnet dan medan magnet terkuat tubuh adalah jantung yang terjadi akibat depolarisasi dan repolarisasi. Video di bawah adalah sample apa yang dapat dilakukan manusia sehubungan dengan listrik dan medan magnet yang ada padanya. (sanggahan dari yang tidak percaya di sini)

video


Berikut ini adalah dokumentasi tahun 1940 berdurasi 19:31 menit yang dilakukan di Soviet, oleh Dr Sergei Brukhonenko tentang membangkitkan kembali beberapa organ anjing yang terpisah mandiri (jantung, paru-paru), kepala anjing tanpa tubuh dan anjing utuh yang telah mati.

video

Percobaan ke-1:
menghidupkan organ-organ tubuh anjing yang terpisah mandiri, yaitu jantung anjing yang bekerja normal dalam kondisi buatan khusus; Paru-paru yang dihubungkan kipas sedot-tiup, dialiri darah ke dalamnya dan saat keluar paru-paru, darah tersebut telah mengandung oksigen.

Percobaan ke-2,
mulai menit 4:27, yaitu menghidupkan kepala anjing utuh tanpa badan yang terhubung dengan 4 selang (sebagai 2 arteri dan 2 vena), menuju/keluar jantung dan dari jantung ada 2 selang yang menuju/keluar tabung (berfungsi sebagai paru-paru buatan yang berisi darah beroksigen). Aliran darah beroksigen ditarik jantung buatan, dialirkan menuju kepala Anjing, kemudian aliran darah keluar dari kepala anjing menuju jantung buatan dan dialirkan menuju tabung. Kepala anjing itu dibuat hidup selama 1 jam dan diperlihatkan bahwa Indera mata, lidah, telinga, penciuman, peraba yang ada diseputaran kepala anjing tersebut berfungsi normal dalam kondisi tersebut.

Percobaan ke-3,
mulai menit 6:50, yaitu menghidupkan kembali anjing utuh. Seekor anjing hidup dalam keadaan telah dianestesi, darahnya dikuras hingga habis hingga mati secara klinis, terlihat dalam plot grafis aktivitas paru-paru dan jantungnya, yaitu detak jantung melemah seiring terkurasnya darah keluar tubuh dan kemudian berhenti. Juga plot grafis nafas normal, melemah, hentakan akhir dan nafas terakhirnya. Anjing itu dibiarkan mati selama 10 MENIT. Kemudian arteri dan vena tubuh anjing, dihubungkan ke mesin jantung-paru (autojektor, cara kerjanya sama seperti percobaan kepala anjing tanpa tubuh). Setelah beberapa saat, aliran darah yang masuk ke tubuh anjing mulai menggerakan detak jantungnya pertama, kedua dan secara perlahan detak jantung kembali normal, kemudian terjadi hentakan nafas pertama, kedua dan secara perlahan pernafasan kembali normal. Setelah pernafasan dan jantung terlihat normal, mesin dimatikan, sambungan selang ke tubuh anjing dicabut, dijahit kembali dalam keadaan teranestesi, diistirahatkan dan pada 10-12 hari kemudian, anjing tersebut berada pada kondisi normal seperti sebelum percobaan dilakukan.

Tidak terdekteksi keberadaan jiwa/roh dipercobaan tersebut kecuali proses kelistrikan dan kimiawi tubuh belaka.

Sample proses kerja beberapa perasaan dalam tubuh manusia:
Rasa sakit: Hargreaves dan tim penelitinya melakukan percobaan pada jaringan kulit tikus yang dipanaskan pada suhu 43 atau 48 derajat Celcius. Panas di suhu itu biasanya menimbulkan rasa sakit. Kulit yang dipanaskan itu memproduksi molekul seperti capsaicin dalam bentuk cairan dan inilah yang berkemampuan mengaktifkan rasa sakit pada neuron, sel-sel khusus yang ada diseluruh tubuh meneruskan pesan ini ke otak.

kecemasan: Madison Universitas Wisconsin, dalam jurnal “Nature”, yang terbit Rabu (11/8). Dengan menggunakan pemindai topografi emisi positron (PET scan) beresolusi tinggi yang menunjukan menunjukkan aktivitas otak tinggi di bagian “amygdala” dan “anterior hippocampus”, tim peneliti menguji 238 rhesus monyet muda dan sang Manusia “penyusup” dipakai sebagai peran potensi ancaman berdiri dekat kandang. Para peneliti memperhatikan reaksi mereka dan mengukur aktivitas otaknya hasilnya semakin gelisah monyet tersebut semakin tinggi aktivitas di pangkal pusat “amygdala” dan “anterior hippocampus”.

Ketakutan: Pada 1920-an, Psikolog Amerika John Watson, melakukan eksperimen yang kelak dinamakan "little Albert", seorang bayi bernama Albert di ajari untuk takut tikus putih. Sebelumnya "Little Albert" tidak takut pada laboratorium uji hewan. Dia menunjukkan kegembiraannya saat melihat tikus-tikus, terutama tikus yang berwarna putih dan selalu mengulurkan tangan untuk mereka.

Watson dan asistennya mengajarkan Albert menjadi takut terhadap tikus putih. Mereka menggunakan kondisi Pavlovian (klasik), sepasangan stimulus netral (tikus) diberikan efek negatif yaitu tiap kali Albert meraih salah satu tikus itu, mereka membuat suara keras yang menakutkan tepat di belakang anak berusia 11 bulan.

Albert tidak hanya cepat belajar untuk takut pada tikus putih, menangis dan menjauh setiap kali melihat satu tikus putih, tetapi ia juga mulai menangis jika berhadapan dengan binatang berbulu putih dan sinter klas yang berjanggut putih.

Seperti Albert kecil yang takut pada tikus putih, maka begitupula ketakutan-ketakutan orang pada Tuhan, Setan, neraka yang dikondisikan selama bertahun-tahun pada mereka sendiri. Setelah mereka besar, semua persoalan menjadi terhubung dengan peran tuhan, setan dan neraka.

Ketakutan merupakan reaksi berantai dalam otak yang dimulai dengan rangsangan stres dan berakhir dengan reaksi kimia yang menyebabkan jantung berdegup, bernafas dengan cepat dan menegangnya otot. Pendorong rangsangan itu bervariasi mulai dari ular, ajaran agama dll. Ada dua jalur di area otak yang konon berjalan bersamaan dalam merespon rasa takut, yaitu jalan pendek [hajar dulu, selidiki belakangan] dan jalan panjang [selidiki dulu baru ambil putusan].
    Untuk jalan pendek, misalnya pada bunyi di pintu [ini adalah rangsangan awalnya]. Segera setelah mendengar dan melihat gerakan di daerah pintu, indera kemudian menyampaikan ke otak dan mengirimkan data indera ke talamus. Saat ini, thalamus tidak tahu apakah sinyal yang diterima itu merupakan tanda bahaya atau bukan. Ini diteruskan ke amigdala untuk menggali informasi lanjutan. Amygdala menerima impuls syaraf dan mengambil tindakan untuk melindungi; Ia mengirimkan sinyal pada hypothalamus untuk menghidupkan respon "lawan atau lari" yang berguna menyelamatkan diri ketika yang didengar/dilihat ternyata merupakan bahaya

    Otak juga memakai jalur lainnya [yang konon dinyatakan bersamaan] yaitu dengan mempertimbangkan pilihan yang diketahui berupa apakah itu pencuri, hantu ataukah angin? Proses panjangnya seperti ini: Ketika mata dan telinga menerima suara dan gerakan di pintu kemudian disalurkan ke talamus. Talamus mengirimkan informasi ini ke korteks sensorik dan ditafsirkan artinya. Korteks sensorik menentukan bahwa ada lebih dari satu kemungkinan pada interpretasi data yang diterima dan diteruskan ke hipokampus untuk membangun konteks.Pertanyaan yang di ajukan Hippocampus misalnya, "Apakah rangsangan ini pernah terjadi sebelumnya? Jika ya, maka waktu itu rangsangan ini berarti apa, ya?". Beberapa hal memberikan petunjuk lanjutan misalnya, "ini adalah pencuri atau hantu atau angin?!". Hippocampus bisa juga mengambil data lainnya di proses ini, seperti sentuhan cabang pohon pada jendela, suara mirip geraman sengau tertahan di luar atau bunyi perabotan di teras yg terpelanting terbang. Mempertimbangkan informasi tadi, hippocampus menentukan bahwa tindakan pintu kemungkinan besar berasal dari angin dan kemudian hasil itu dikirim ke amigdala bahwa itu bukan ancaman/bahaya. Amigdala kemudian mengirim sinyal ke hipotalamus untuk mematikan respon "lawan atau lari".
Apakah Kelahiran kembali memiliki Jeda atau Tidak?
Kematian adalah ketika Jasmani [kaya] kehilangan [Jahanti] 3 kondisi [tayo dhamma]: kekuatan/ayu, panas/usma dan kesadaran/vinnana [MN 43/Mahavedalla sutta, SN 22.95/Pheṇapiṇḍūpamasutta]. bentukan-bentukan: jasmani, ucapan dan pikiran memudar dan sirna, vitalitas/ayu padam, panas/usma berhamburan, dan indria-indrianya terberai dan Ia akan bertumimbal lahir (kemunculan suatu mahluk hidup di alam kehidupan yang sama atau berbeda) namun arus kesadarannya dikehidupan ini dan di kelahiran berikutnya tak terputus dan tanpa jeda:
    ..arus kesadaran manusia yang tidak terputus yang ada di alam ini maupun di alam berikutnya" ["Purisassa ca viññāṇasotaṃ pajānāti, ubhayato abbocchinnaṃ idha loke appatiṭṭhitañca paraloke appatiṭṭhitañca", DN 28/Sampasādanīya Sutta]."Kesadaran itu muncul bergantungan, jika tanpa suatu kondisi, maka tidak ada asal-mula kesadaran." [MN 38/Mahātaṇhāsankhaya Sutta]. "nāmarūpa (MentalMateri) mengondisikan kesadaran dan kesadaran mengondisikan nāmarūpa, nāmarūpa mengondisikan kontak" [DN 15/Mahānidāna Sutta]

      Note:

      • Aliran Theravada, tidak mengenal jeda waktu antara satu kelahiran dengan kelahiran lainnya [antara-bhava] yang berarti tumimbal lahir itu berlangsung segera.
      • Aliran Mahayana, seseorang yang meninggal akan tinggal dalam keadaan alam perantara dalam 1, 2, 3,5, 6 atau 7 minggu, sampai hari ke-49. Sehingga dalam Buddhisme Mahayana sering dikenal adanya berbagai praktek ritual upacara kematian yang berlangsung setiap minggu sampai hari ke-49.
      • Aliran Tantrayana, terdapat istilah `bardo'atau alam perantara, yang memiliki enam keadaan, yaitu saat: di kandungan [kye-nay bardo]; bermimpi [mi-lam bardo]; samädhi yang mendalam [tin-ge-zin sam-tam bardo]; sekarat [chi-kai bardo]; meninggal [cho-nyid bardo]; dan saat pencarian kelahiran kembali [sid-pa bardo]. 3 keadaan bardo yang terakhir adalah ketika wafat-terlahir, sedangkan 2 lainnya dialami semasa masih hidup.

      Karena arus kesadaran dikatakan tidak terputus, maka TIDAK ADA tentang definisi alam Bardo atau antarabhava (jeda waktu di keadaan setelah wafat dan terlahir, yang lamanya menurut Mahāvibhāṣa (150 M) dan Abhidharmakośa (abad 5 M): "7 x 7 hari" = 49 hari) atau menjadi suatu mahluk tertentu sebelum akan dilahirkan, yang Garbhāvakrāntisūtra katakan juga punya gender ("Life in the Womb", Robert Kritzer, hal.80]. Bahkan di Abhidhamma pitaka, poin kontroversi, Kathavatthu 8.2 mengatakan: TIDAK ADA antarabhava. Perlu diketahui, Bardo/antarabhava BERBEDA dengan antarāparinibbāyī (Pada periode mana di umur kehidupannya, para mahluk anagami alam suddhāvāsa itu menjadi padam)
Ketika jasmani mengalami kematian, indriya pikiran dan objek-objek pikiran tetap mengalami kontak. Walau jantung telah berhenti, masih ada selisih sekitar 7 menit sebelum matinya otak karena kekurangan oksigen. Karena tidak ada aliran darah, maka tidak ada sinyal syaraf dari/ke Indriya. 5 Indria (mata, telinga, penciuman, pencicipan dan rabaan) menjadi tidak berfungsi namun Indria pikiran masih berfungsi. Pikiran tersebut memuat ingatan yang berisi rekaman perasaan (Menyenangkan, menyakitkan, bukan ke-2nya) dan PERSEPSI dari PERBUATAN-PERBUATAN yang: BARU DILAKUKAN, PERNAH DILAKUKAN dan/atau TERBIASA DILAKUKAN melalui pikiran, ucapan, perbuatan sepanjang hidupnya. Oleh karenanya, terdapat Pertemuan antara Indera pikiran dan objeknya yang berupa Ingatan. Kondisi ini muncul pada pikiran saat kematian atau CUTI CITTA (moment pikiran di menjelang kematian).

Pertemuan ini SANGAT DERAS karena tidak ada HAMBATAN LAGI dari 5 INDRIYA LAINNYA. Akan muncul ingatan yang DOMINAN yang sangat berkesan dan karenanya muncul KEINGINAN [Untuk menjadi/tidak ingin menjadi sesuatu]. Karena ada keinginan, maka ada kemelekatan, Karena ada kemelekatan, muncul nāmarūpa.
    Dengan munculnya kesadaran karena pertemuan pikiran dan objeknya menjelang kematian (cuticitta) maka muncul pula nāmarūpa... [MN.9/Sammādiṭṭhi Sutta]. Kesadaran, perasaan, persepsi itu tegabung tidak terpisah. tidak dapat memisahkan kondisi-kondisi ini satu sama lainnya untuk menggambarkan perbedaan antaranya. Karena yang dirasakan, itu yang dipersepsikannya; yang dipersepsikan, itu yang dikenalinya. [MN 43] PERASAAN dan PERSEPSI terikat dengan PIKIRAN/CITTA, maka terjadi BENTUKAN-BENTUKAN PIKIRAN (Citta/Manosankhāra) [MN 44]
Mengenai kelahiran melalui kandungan, berikut beberapa sutta berkenaan dengan hal ini. Empat keadaan seseorang dalam rahim:
  • Tidak mengetahui ketika muncul, berdiam dan keluar dari rahim ibu, atau
  • Mengetahui ketika muncul di rahim ibu namun tidak mengetahui ketika berdiam dan keluar dari rahim, atau
  • Mengetahui ketika muncul dan berdiam di rahim Ibu namun tidak mengetahui ketika keluar dari rahim Ibu, atau
  • Mengetahui ketika muncul, berdiam dan keluar dari rahum Ibu. [DN 28/Sampasādanīya, DN 33/Saṅgīti]
Sutta mengenai Gandhabba yang hadir setelah konsepsi kehamilan:
    Sang Buddha/petapa Asita Devala:
    Tuan-tuan, tahukah kalian bagaimana kehamilan terjadi [gabbhassa avakkanti]?’

    7 Brahmana:
    “’Tuan, kami mengetahui bagaimana kehamilan terjadi. Di sini, penyatuan ibu dan ayah, dan ibu sedang dalam masa subur, dan gandhabba hadir. Demikianlah kehamilan terjadi terjadi melalui perpaduan ke-3 hal ini.’

      Note:
      Gandhabba di Rig Veda 10.177.2, "Gandhava dalam rahim" (ghandharvo..gharbheantaḥ), arti: embriyo. Gandha+abba/ava: semerbaknya menarik; gam+tabba: Membuatnya menjadi. Arti lain: Penerus "kesadaran"

      atau di kamus Pali-Inggris:
      It is often stated that the Gandhabbas preside over conception [Mendahului penghamilan/pembuahan]; this is due to an erroneous translation of the word gandhabba in passages (E.g., M.i.157, 265f) dealing with the circumstances necessary for conception (mātāpitaro ca sannipatitā honti, mātā ca utunī hoti, gandhabbo ca paccupatthito hoti).

      The Commentaries (E.g., MA.i.481f ) explain that here gandhabba means tatrūpakasatta - tasmim okāse nibbattanako satto - meaning a being fit and ready to be born to the parents concerned.[Pali-English Oleh G.P. Malalasekera]. Juga lihat di sini

    Sang Buddha/petapa Asita Devala:
    “Kalau begitu, Tuan-tuan, apakah kalian mengetahui dengan pasti apakah gandhabba itu seorang mulia, atau seorang brahmana, atau seorang pedagang, atau seorang pekerja?’

    7 Brahmana:
    “Tuan, kami tidak mengetahui dengan pasti apakah gandhabba itu seorang mulia, atau seorang brahmana, atau seorang pedagang, atau seorang pekerja.’

    Sang Buddha/petapa Asita Devala:
    “’Kalau begitu, Tuan-tuan, jadi siapakah kalian?’

    7 Brahmana:
    “’Kalau begitu, Tuan, kami tidak mengetahui siapa kami ini.’[MN 93/assalayana sutta]

    Sang Buddha:
    “3 hal, Para bhikkhu, perpaduan kehamilan terjadi [sannipātā gabbhassāvakkanti]. Di sini, ada perpaduan ibu dan ayah, tetapi bukan musim kesuburan ibu, dan tidak ada kehadiran gandhabba - dalam kasus ini Kehamilan tidak terjadi.

    Di sini, ada perpaduan ibu dan ayah, dan musim kesuburan ibu, tetapi tidak ada kehadiran gandhabba - dalam kasus ini Kehamilan tidak terjadi.

    Tetapi jika ada perpaduan ibu dan ayah, dan musim kesuburan ibu, dan ada kehadiran gandhabba, melalui perpaduan ke-3 hal ini maka kehamilan janin terjadi. [MN 38/Mahātaṇhāsankhaya Sutta]

    Sang Buddha pada Ananda:
    "Kesadaran mengondisikan nāmarūpa (mentalmateri)” ...jika kesadaran, Ananda [Viññāṇañca hi, ānanda] di dalam rahim ibu [mātukucchismiṃ] tidak muncul berbaur [na okkamissatha], akankah nāmarūpa di rahim ibu berkembang?’

    ‘Tidak, Bhagavā.’

    ‘Atau jika kesadaran, Ananda [Viññāṇañca hi, ānanda] di dalam rahim ibu, setelah muncul [okkamitvā] gagal terbaur [vokkamissatha], akankah nāmarūpa dilahirkan dalam kehidupan ini?’

    ‘Tidak Bhagavā.’

    ‘Dan jika kesadaran, Ananda dari makhluk muda tersebut, laki-laki atau perempuan, dipotong, akankah nāmarūpa tumbuh, berkembang dan dewasa?’

    ‘Tidak, Bhagavā.
    ’ [DN 15/Mahānidānasutta sutta]

    Yakkha Indaka:
    Karena para Buddha berkata bentuk bukanlah roh (Rūpaṃ na jīvanti vadanti buddhā), Bagaimanakah jasmani diperoleh? Darimanakah tulang dan hatinya? Bagaimanakah Ia melekat pada rahim?”

    Sang Bhagavā:
    Pertama-tama kalala; Dari kalala (1) muncul abbuda; Dari abbuda (2) dihasilkan pesī; Dari pesī (3) muncul ghana; Dari ghana (4) muncul pasākhā (5) (organ tubuh); Rambut kepala, bulu-badan, dan kuku. Dan apa pun makanan yang dimakan ibu, makanan dan minuman yang dikonsumsinya, dengannya Ia dipelihara, di dalam rahim ibu.” [SN 10.1/Indaka Sutta, juga di Kv 14.2]

Jadi, terjadi 2 proses berlainan, yaitu:
  1. Proses kesadaran itu sendiri merupakan 1 hal.
  2. Proses awal janin dalam rahim merupakan hal lain lagi.
Yang kemudian menyatu dalam suatu kondisi tertentu

Terdapat statement di kitab komentar [> abad ke 5 M] yang menyatakan tentang patisandhi [penyambungan kembali, penyambung, penyambungan kesadaran] seperti ini:
    "Kelahiran adalah kemunculan/penjelmaan di waktu kemudian (patisandhiti ayatim uppatti), penerusan kemunculan kehidupan baru dari kehidupan lama (bhavantara patisandhanato patisandhiti vuccati). Penggabungan satu kehidupan dan kehidupan lainnya (bhavato bhavassa patisandhanam patisandhi kiccam)".
Statement abad ke-5 ini 100% keliru. Kenapa?

kemunculan KEHIDUPAN BARU JUSTRU terjadi akibat kemunculan kesadaran. Kemunculan kesadaran terjadi akibat dari adanya kondisi dan BUKAN sebagai penyambungan nāmarūpa lama dan baru dan juga BUKAN karena kesadarannya yang berpindah.

Tumimbal lahir VS Reinkarnasi:
Reinkarnasi [latin: in carne] berasal dari terminologi Nasrani, dari bahasa yunani [en sarki: "menjadi daging", Di AL KITAB 1 Tim 3:16; Yehezkiel 37:1-14; Yohanes 3:3-12]. Reinkarnasi Hinduism, merujuk pada jiwa yang kekal yang setelah mati, meninggalkan badan lama mencari badan baru. Jadi, reinkarnasi BUKANLAH konsep Buddhism [Tentang tidak adanya roh/jiwa baca: di sini, di sini dan di sini].

Dalam Buddhism, mereka yang wafat sebagai manusia/Dewa dan terlahir kembali sebagai manusia/Dewa jumlahnya sangat sedikit sekali dibanding yang terlahir kembali di alam-alam bawahnya:
    Sang Bhagavā mengambil sedikit tanah dengan ujung kuku jari-Nya dan berkata kepada para bhikkhu “Para bhikkhu bagaimanakah menurut kalian, mana yang lebih banyak: sedikit tanah yang Kuambil di ujung kuku jari tangan-Ku ini atau bumi ini?”

    “Yang Mulia, bumi ini lebih banyak. Sedikit tanah yang Bhagavā ambil di ujung kuku jari tangan Beliau adalah tidak berarti. Dibandingkan dengan bumi ini, sedikit tanah itu tidak perlu dihitung, tidak dapat dijadikan perbandingan, tidak sebanding bahkan dengan sebagian kecilnya.

    “Demikian pula, para bhikkhu:

    • hanya sedikit sekali mahluk yang meninggal dunia sebagai manusia, terlahir kembali di antara manusia namun banyak sekali yang meninggal dunia sebagai manusia terlahir kembali di alam: neraka (SN 56.102), binatang (SN 56.103), mahluk halus (SN. 56.104, 105-107)

    • hanya sedikit sekali mahluk yang meninggal dunia sebagai deva, terlahir kembali di antara deva, hanya sedikit sekali mahluk yang meninggal dunia sebagai deva terlahir kembali diantara manusia (SN 56.111-113) namun banyak sekali yang meninggal dunia sebagai deva terlahir kembali di alam: neraka, binatang dan mahluk halus” (SN 56.108-100)

    • hanya sedikit sekali mahluk yang meninggal dunia dari alam neraka, terlahir kembali di antara para deva (SN 56.117-119), hanya sedikit sekali mahluk yang meninggal dunia dari alam neraka terlahir kembali diantara manusia (SN 114-116) namun banyak sekali yang meninggal dunia dari neraka, terlahir kembali di alam: neraka, binatang dan mahluk halus (SN 56. 114-116)

    • hanya sedikit sekali mahluk yang meninggal dunia dari alam binatang, terlahir kembali di antara para deva (SN 56.123-125), hanya sedikit sekali mahluk yang meninggal dunia dari alam binatang terlahir kembali diantara manusia (SN 120-122) namun banyak sekali yang meninggal dunia dari alam binatang terlahir kembali di alam: neraka, binatang dan mahluk halus (SN 56. 120-122)

    • hanya sedikit sekali mahluk yang meninggal dunia dari alam mahluk halus, terlahir kembali di antara para deva (SN 56.129-131), hanya sedikit sekali mahluk yang meninggal dunia dari alam mahluk halus terlahir kembali diantara manusia (SN 120-122) namun banyak sekali yang meninggal dunia dari alam mahluk halus, terlahir kembali di alam neraka, alam binatang, alam mahluk halus (SN 56. 126-131) []
---------------

Horizontal: tri-sahasra-mahasahasra-dhatu (3 lipat semesta dari Ribuan Tata Surya)

Menurut Buddhism, system galaxy triliunan jumlahnya, AN 3.80/culanika sutta:
    “Bhante, di hadapan Sang Bhagavā aku mendengar ini; di hadapan Beliau aku mempelajari ini: ‘Abhibhū, seorang siswa Sang Bhagavā Sikhī, sewaktu sedang menetap di alam brahmā, menyampaikan suaranya ke seribu sistem dunia (sahassilokadhātuṃ).’ Berapa jauhkah, Bhante, Sang Bhagavā, Sang Arahant, Yang Tercerahkan Sempurna, dapat menyampaikan suaraNya?”

    “Ia adalah seorang siswa, Ānanda. Tathāgata adalah tidak terukur (appameyyā)

    ...Ananda, sejauh matahari dan rembulan meliputi dengan cahaya sejauh seribu dunia (tāva sahassadhā loke). Seribu dunia ini terdapat seribu rembulan, seribu matahari, seribu raja pegunungan Sineru, seribu Jambudīpa, seribu Aparagoyāna, seribu Uttarakuru, seribu Pubbavideha, dan seribu 4 samudra raya (alam asura); seribu 4 raja dewa, seribu para deva yang dipimpin oleh 4 raja dewa, seribu Tāvatiṃsa, seribu Yāma, seribu Tusita, seribu para deva yang bersenang-senang dalam penciptaan, seribu para deva yang mengendalikan ciptaan para deva lain, seribu alam brahmā. Inilah Ananda yang disebut seribu dunia kecil (sahassī cūḷanikā lokadhātu)
    (Paragraph ini ada juga di AN 10.29/kosala Sutta, dengan tambahan kalimat, "para bhikkhu, seribu sistem dunia ini membentang, Mahābrahmā menempati posisi sebagai yang terunggul. Tetapi bahkan bagi Mahābrahmā terjadi penggantian; terjadi perubahan..")

    Ananda, seribu dunia kecil sejauh seribu dunia ini (sahassī cūḷanikā lokadhātu tāva sahassadhā loko) dinamakan "dvisahassī majjhimikā lokadhātu".

    Ananda, Seribu dunia menengah sejauh seribu dunia (dvisahassī majjhimikā lokadhātu tāva sahassadhā loko) dinamakan "tisahassī mahāsahassī lokadhātu".

    Ananda, bilamana Sang Tathagata mau, maka ia dapat menyampaikan suara-Nya (saranena) hingga di Tisahassi mahasahassi lokadhatu [AN 3.80]

    Note:
    Ratusan tahun setelah Buddha parinibbana, muncullah definisi ruang lingkup Buddha/Buddha-kheta, yaitu: Jati-khetta/lingkup kelahiran, Ana-kheta/lingkup kewenangan dan visaya-kheta/lingkup kebijasanaan [Jinalankara Tika dan kitab komentar Parajika]. Definisi yang berasal dari aliran Mahayana (mulai muncul di akhir abad ke-1 SM) ikut pula mempengaruhi aliran Theravada (melalui Buddhapadana, dibuat abad ke-1/2 M). Definisi ini dikembangbiakan sutra-sutra baru Mahayana (didalamnya ada menyatakan Ananda adalah arahat saat sang Buddha masih hidup) bahwa terdapat Buddha-budha lainnya di lokadhatu lain di antara ribuan lokadhatu tersebut pada kurun kehidupan Buddha Gotama [↓].

    Konsep ini bukan sabda Sang Buddha dan jelas keliru (juga, Ide tentang adanya Buddha-budha lain di berbagai arah mata angin telah tertolak di konsili ke-3, 3 SM, yaitu di kitab Abhidhamma, KathaVathu 21.6), karena Tathāgata tidak terukur (appameyyā), triliunan lokadhatu ini hanyalah bagian kecil dari satu kesatuan dunia (ekissa lokadhatuya) yaitu 91 Alam (biasanya 31 alam) Buddhisme. Bahkan triliunan lokadhatu yang berada dibawah alam Abhasara itupun muncul dan berakhirnya hanya dalam 1 Maha Kappa saja.

    Sahassilokadhātuṃ = sahassī cūḷanikā lokadhātu: 1000 alam Brahma beserta ribuan alam di bawahnya. Dvisahassilokadhātuṃ = Dvisahassi Majjhimanika lokadhatu: 1000 x 1000 = 1.000.000. Tisahassiloka-dhātuṃ = Tisahassi Mahasahassi lokadhatu: 1.000.000 x 1000 = 1.000.000.000 dan masih ada yang lebih dari itu, yaitu misalnya pada pengertian "Dasasahassilokadhātuṃ" dalam MN123/Acchariya-abbhūta Sutta, "Dan 10.000 sistem dunia ini bergoyang dan bergoncang dan bergetar, dan di sana juga muncul cahaya terang yang tidak terukur melampaui kemegahan para dewa."

    Dalam sutta MN.120/Sankhārupapatti Sutta: "Kemudian, seorang bhikkhu memiliki keyakinan … kebijaksanaan. Ia mendengar bahwa Brahmā 1000 berumur panjang, rupawan, dan menikmati kebahagiaan luar biasa. Sekarang Brahmā 1000 berdiam dengan bertekad meliputi satu sistem dunia 1000 dunia [sahassilokadhātuṃ]...Brahmā 2000.. [dvisahassilokadhātuṃ] … Brahmā 3000.. [tisahassilokadhātuṃ] … Brahmā 4000 … Brahmā 5000.. Brahmā 10.000.. [Dasasahassasilokadhātuṃ],..Brahmā 100.000 berdiam dengan bertekad meliputi satu sistem dunia 100.000 dunia [satasahassasilokadhātuṃ]..Ini, para bhikkhu, adalah jalan, cara yang mengarah pada kemunculan kembali di sana."

    Kemudian, seorang bhikkhu memiliki keyakinan … kebijaksanaan. Ia mendengar bahwa para dewa Bercahaya … para dewa dengan Cahaya Terbatas … para dewa dengan Cahaya Tanpa Batas … para dewa dengan Cahaya Gemilang … para Dewa Agung … para dewa dengan Keagungan Terbatas … para dewa dengan Keagungan Tanpa Batas … para dewa dengan Keagungan Gemilang … … para dewa dengan Buah Besar … para dewa Aviha … para dewa Atappa … para dewa Sudassa … para dewa Sudassī … para dewa Akaniṭṭha berumur panjang, rupawan, dan menikmati kebahagiaan luar biasa. Ia berpikir: ‘Oh, semoga ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, aku dapat muncul kembali di tengah-tengah para dewa Akaniṭṭha!’"...

    Pengertian lokadhatuya melingkupi: sahassada loka, cakkavala (artinya dapat berarti bentuk melingkar atau juga tatasurya, dst), sahassi-lokadhatuya [culanika, majjhimanika, mahasahassi,..., dasasahassi, satasahassilokadhatuya] adalah bagian kecil dari "ekissā lokadhātuyā"

    "Triliunan alam (jambudipa..Brahma) itu berada di bawah alam ābhassarā devā, dst yang kesemuanya ini adalah satu kesatuan dunia (ekissā lokadhātuyā) 91 Alam (biasanya 31 alam) Buddhism dan "Aṭṭhānametaṃ anavakāso yaṃ ekissā lokadhātuyā dve arahanto sammāsambuddhā apubbaṃ acarimaṃ uppajjeyyuṃ" [Tidak mungkin ada 2 sammasambuddha muncul bersamaan di satu kesatuan dunia].

    Detail lebih lanjut: BLOG INI dan BLOG INI []
---------------

Siklus Berulang: Hancur dan Terbentuknya Semesta

Sang Buddha, juga disebut ‘Pengenal alam semesta' (Lokavidu) [misal: MN 95/Canki sutta, dst]. Hancur leburnya bumi disampaikan dalam AN 7.66/Sattasuriya Sutta, yang disampaikan di Vesali di hutan mangga milik Ambhapali:
    Akan tiba waktunya, para bhikkhu, ketika hujan tidak turun selama bertahun-tahun, selama ratusan tahun, selama ribuan tahun, selama ratusan ribu tahun. Ketika hujan tidak turun, maka benih-benih kehidupan dan tumbuh-tumbuhan, tanaman obat-obatan, rerumputan, dan pepohonan besar di dalam hutan menjadi layu dan mengering dan menjadi tidak ada lagi. Begitu tidak kekalnya HAL yang berkondisi/terkondisi, begitu tidak stabilnya, begitu tidak dapat diandalkannya. Cukuplah itu untuk menjadi kecewa pada segala hal yang berkondisi/terkondisi, cukuplah itu untuk menjadi bosan pada segala hal yang berkondisi/terkondisi, cukuplah itu untuk terbebaskan dari segala hal berkondisi/terkondisi

    Akan tiba waktunya, setelah waktu yang lama, matahari ke-2 muncul..maka sungai-sungai kecil dan danau-danau mengering dan menguap dan menjadi tiada lagi...

    Akan tiba waktunya, setelah waktu yang lama, matahari ke-3 muncul..maka sungai-sungai besar – Gangga, Yamunā, Aciravatī, Sarabhū, dan Mahī - mengering dan menguap dan menjadi tiada lagi...

    Akan tiba waktunya, setelah waktu yang lama, matahari ke-4 muncul..maka danau-danau besar dari mana sungai-sungai besar itu berasal – Anotatta, Sīhapapāta, Rathakāra, Kaṇṇamuṇda, Kunāla, Chaddanta, dan Mandākinī - mengering dan menguap dan menjadi tiada lagi...

    Akan tiba waktunya, setelah waktu yang lama, matahari ke-5 muncul..maka air di samudra raya menyurut hingga 100 Yojana, 200,.., 700 yojana ... air tersisa sedalam tinggi 7 pohon palem, 6,.., 1 pohon palem ... sedalam 7 depa, 6,.., 1 depa, 1/2 depa … setinggi pinggang … setinggi lutut … semata kaki...menggenang di sana sini sebesar jejak kaki sapi...hingga sendi-sendi jari tangan...

    Akan tiba waktunya, setelah waktu yang lama, matahari ke-6 muncul..bumi ini dan Sineru, raja pegunungan, berasap, berpijar, dan menyala. Bagaikan api pengrajin tembikar, ketika dinyalakan, pertama-tama berasap, berpijar, dan menyala...

    Akan tiba waktunya, setelah waktu yang lama, matahari ke-7 muncul..bumi ini (mahāpathavī) dan Sineru, raja pegunungan, meledak terbakar, menyala dengan terang, dan menjadi sebuah kumpulan api yang besar. Ketika bumi ini dan Sineru menyala dan terbakar, apinya tertiup angin, menjulang hingga ke alam brahmā. Ketika kehancuran sedang berlangsung dan dikuasai oleh kumpulan besar panas, maka gunung yang puncaknya setinggi 100 yojana, 200,..,600 yojana menjadi hancur.

    ...ketika bumi ini dan Sineru terbakar dan menyala, tidak ada abu atau jelaga yang terlihat. Begitu tidak kekalnya hal-hal yang berkondisi/terkondisi, begitu tidak stabilnya, begitu tidak dapat diandalkannya. Cukuplah itu untuk menjadi kecewa pada segala hal yang terkondisi/berkondisi, cukuplah itu untuk menjadi bosan pada segala hal yang berkondisi/terkondisi, cukuplah itu untuk terbebaskan dari segala hal yang berkondisi/terkondisi.

      Note:
      Kemunculan matahari berikutnya dimungkinkan karena adanya gaya tarik antar bintang, gravitasi dan revolusinya. Matahari kita berevolusi pada galaksi bima sakti: 220-230 km/s (828.000 km/jam), satu putarannya: 225-250 juta tahun bumi. Rotasi matahari berlawanan arah jarum jam dan karena merupakan bola gas, maka rotasinya tidak merata di seluruh bagian seperti planet/bulan yang padat, area khatulistiwa matahari berputar lebih cepat (sekitar 24 hari) dibanding area kutub (lebih dari 30 hari).

      Sidereal rotasi: waktu sebuah bintik di bagian equator matahari berotasi: 24.47 (atau 25.38) hari. Synodic rotasi: waktu bentukan di matahari terlihat pada posisi yang sama dari bumi: 26.24 (27.2753) hari. Waktu synodic = rotasi matahari sendiri + revolusi bumi terhadap matahari. [Lihat juga: "Earth’s Sun: Facts About the Sun’s Age, Size and History". "Hydrogen Materials Science and Chemistry of Carbon Nanomaterials Ichms 2009", D.V. Schur,S.Yu. Zaginaichenko,T.N. Veziroglu, hal.1084. Wikipedia: Solar rotation dan milky way]

      Ada beberapa matahari lain berjarak kurang dari 9 tahun cahaya [lihat ini dan ini], misal: (1) Proxima Centauri – 4.22 tahun cahaya; (2) Alpha Centauri A dan B – 4.37 Tahun Cahaya; (3) Barnard Star – 5.96 Tahun cahaya; (4) Wolf 359 – 7.78 Tahun Cahaya; (5) Sirius A dan b – 8.58 tahun Cahaya; (6) Luyten-8 A dan B – 8.73 Tahun Cahaya. [1 tahun cahaya = 9,46 x 1012 KM]. Jarak Matahari-Bumi rata-rata 1.5 x 108 KM
Siklus evolusi 1 kesatuan dunia dalam hitungan Maha kappa, terbagi dalam 4 sub Kappa (AN 4.156/Asaṅkheyya, DN1/Brahmajalasutta, DN27/Agganna Sutta, dll):
  1. vivaṭṭati kappa, Periode mulainya kembali/berkembangnya semesta, diawali jatuhnya satu mahluk alam Ābhassara dan terlahir kembali di alam Brahma kosong (suññaṃ brahmavimānaṃ) yang kemudian disebut MahaBrahma dan selama beberapa waktu kemudian dan sendiri untuk waktu yang lama.
  2. vivaṭṭo tiṭṭhati kappa, Periode tahap pengembangan semesta, ditandai dengan jatuhnya para mahluk dari alam atas dan dari alam Abhassara ke alam Brahma atau di bawahnya; dari alam brahma ke alam di bawahnya dan dari alam di bawah alam Brahma ke alam-alam di bawahnya serta sebaliknya. Triliunan alam brahma beserta sinerunya terbentuk. Kemunculan mahluk ke-alam binatang terjadi setelah adanya tumbuhan
  3. saṁvaṭṭati kappa, Periode penyusutan/kehancuran semesta, diawali dengan tidak adanya mahluk yang muncul kembali di neraka, habisnya penghuni alam binatang dan alam manusia yang terjadi sebelum kemunculan matahari ke-2, juga pada para penghuni alam-alam di atasnya. Kebanyakan dari mereka terlahir kembali di alam Abhassara.
  4. saṃvaṭṭo tiṭṭhati kappa, Periode tahap kehancuran semesta, tidak adanya mahluk di kamaloka, berlanjut hingga alam atasnya dan puncaknya dengan berakhirnya umur kehidupan MahaBrahma, di setelah kemunculan matahari ke-7, kebanyakan dari mereka ini kemudian terlahir kembali di alam Abhasara dan alam di bawahnya menjadi kosong kembali.
Di tahap pengembangan semesta (periode ke-2), munculah manusia-manusia pertama, kemudian mengangkat raja pertama, Raja pemutar roda (cakkavatin/raja dunia) untuk menegakan dan melaksanakan aturan [DN.17/Mahāsudassana-sutta]. Di sutta itu, Sang Buddha mengingat pernah wafat 6x di Kusinara dan pernah menjadi Raja Mahāsudassana yang hidup selama 336,000 tahun.
    Raja Mahāsudassana menikmati masa kanak-kanak: 84.000 tahun, menjadi raja Muda: 84.000 tahun, menjadi raja: 84.000 tahun dan sebagai umat awam: 84.000 tahun, Ia kemudian menjalani kehidupan suci di Istana Dhamma dan setelah melatih 4 kediaman luhur, saat hancurnya jasmani, terlahir kembali di alam Brahmā
MahaSudassana di atas bukanlah raja pertama pada Maha Kappa ini. Sutta dan Vinaya tidak pernah menyebutkan nama mahasammata/raja pertama pada maha kappa ini namun Kitab komentar vimanavatthu menyatakan namanya adalah Manu [Lihat: DPPN].

Selama Maha Kappa ini, telah muncul 4 Buddha: (1) Kakusandha (berumur hingga 40,000 tahun); (2) Konāgamana (berumur hingga 30,000 tahun); dan (3) Kassapa (berumur hingga 20,000 tahun) [DN .14/Mahāpadāna-sutta] dan (4) Śākyamuni (berumur hingga 80 tahun).

Dari buku RAPB yang bersumber dari kitab komentar (BUKAN kanon pali, tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya) disampaikan pola kenaikan umur - penurunan umur di maha kappa ini dengan kemunculan 4 Buddha: Kakusandha, Konàgamana, Kassapa dan Gotama yang rata-rata berselisih 1 antara kappa lebih:
    Dalam antara kappa ke-8 menurut Mahà Rajavaÿsa atau antara kappa ke-1 menurut Hmannan Rajavaÿsa [hal.363], yaitu umur kehidupan manusia perlahan-lahan turun dari asankhyeyya hingga menjadi 40.000 tahun, Bodhisatta Kakusandha terlahir kembali dari Surga Tusita ke alam manusia [hal.364].

    Setelah Buddha Kakusandha Parinibbàna, dalam bhadda kappa ini, umur kehidupan manusia perlahan-lahan menurun dari 40.000 tahun menjadi → 10 tahun → naik menjadi asankhyeyya → turun lagi hingga 30.000 tahun, Bodhisatta Konàgamana, terlahir kembali dari Surga Tusita ke alam manusia [hal.369]

    Setelah Buddha Konàgamana Parinibbàna, dalam bhadda kappa ini, umur kehidupan manusia perlahan-lahan menurun dari 30.000 tahun menjadi → 10 tahun → naik menjadi asankhyeyya → turun lagi hingga 20.000 tahun, Bodhisatta Kassapa, terlahir kembali dari Surga Tusita ke alam manusia [hal.374]

    Setelah munculnya Buddha Kassapa sewaktu umur kehidupan manusia adalah 20.000 tahun, kemudian turun menjadi → 10 tahun → naik menjadi asankhyeyya → turun lagi menjadi 100 tahun di mana Buddha Gotama muncul [hal.547, 835].
DN.26/Cakkavatti sīhanāda-sutta menceritakan kemunculan Buddha Metteya diawali kemunculan Cakkavatin bernama Daḷhanemi berlanjut dengan penurunan umur dan kenaikan umur serta kemunculan raja Cakkavatin bernama Sankha.

Raja Cakkavatin Dalhanemi dan 5 keturunannya hidup lebih dari 80,000an tahun. Turunan ke-7, memecahkan tradisi yaitu turun tahta sebelum waktunya, menyerahkan tahta pada anaknya dan menjadi śamaṇa. Kemiskinan meningkat, pencurian mulai, institusi hukuman menjadi ada, pembunuhan dan kejahatan merajalela. Umur manusia menjadi berkurang dari 80,000an menjadi 100 tahun. Setiap generasi terjadi peningkatan kejahatan, kemerosotan moral, penipuan, pelecehan, penyesatan kotbah, keserakahan, kebencian, berpandangan salah, kegiatan seksual dengan saudara kandung dan abnormal lainnya, tidak menghormati orang tua dan tetua.

Kemerosotan mencapai puncak kerusakannya, umur hidup semakin berkurang hingga tidak lebih dari 10 tahun, menikah di usia 5 tahun; Makanan lebih buruk dan kurang lezat; Bentuk moralitas akan tidak dikenali. Orang yang keji dan tidak bermoral akan menjadi pemimpin. Perkawinan antar saudara kandung merajalela. Kebencian antar masyarakat, sesama anggota keluarga tumbuh hingga masing-masing orang saling ‘memangsa’.

Selekasnya perang besar terjadi, semakin beringas, kejam dan biadab. Yang kurang agresif akan bersembunyi di hutan dan beberapa tempat rahasia.,akan terjadi banyak perang
    Di antara yang berumur 10 tahun, tidak ada yang dianggap ibu atau bibi, saudara ibu, istri guru, atau istri ayah dan lain-lain – semua dianggap sama di dunia ini seperti kambing dan domba, unggas dan babi, anjing dan serigala. Di antara mereka, permusuhan sengit akan terjadi satu sama lain, kebencian hebat, kemarahan besar, dan pikiran membunuh, antara ibu melawan anak dan anak melawan ibu, ayah melawan anak dan anak melawan ayah, saudara laki-laki melawan saudara laki-laki, saudara laki-laki melawan saudara perempuan, bagaikan pemburu yang merasakan kebencian terhadap binatang yang ia buru ....
Di akhir peperangan, yang selama keluar dari persembunyiannya dan menyesali perbuatannya, Mereka mulai berkelakuan baik, umur mereka meningkat, kesehatan dan kesejahteraan meningkat. Umur ras manusia juga meningkat. Hingga waktu yang kemudian, keturunan-keturunan mereka yang berumur rata-rata 10 tahunan akan meningkat hingga menjadi 80.000an tahun,

Saat itulah muncul raja Cakravartin bernama Saṅkha dan Bodhisatva yang ketika itu ada di alam deva Tuṣita muncul kembali ke alam manusia dengan nama Ajita yang kemudian akan hidup sebagai Samana dan mencapai penerangan sempurna sebagai Buddha Metteyya.

TIDAK ADA pernyataan Buddha Gautama atau para sepuh arahat lain bahwa Buddha Metteya akan muncul setelah 1 antara kappa berikutnya atau di antara kappa terakhir Maha kappa ini. Bisa jadi kemunculannya akan lebih lama lagi dari 4 Buddha sebelumnya karena DN 16/Mahaparinibbana sutta, ketika usai pembagian relik Buddha Gautama, para sepuh konsili ke-1 telah menyatakan, "ratusan kappa belum tentu ada seorang Buddha" (Buddho have kappasatehi dullabhoti). []
---------------

Vertikal: LEBIH DARI 31 Alam Kehidupan

Umumnya buddhisme menyatakan ada 31 alam kelahiran kembali (4 alam arupa + 16 alam brahma rupa + 7 alam dewa + 1 alam manusia + 3 alam menderita) namun jumlah itu TIDAK PERNAH tercantum dalam sutta bahkan di sutta akan ditemukan SEKURANGNYA 91 alam kelahiran kembali (4 alam arupa + 23 alam brahma rupa + 60 alam dewa kamadhatu + 1 alam manusia + 3 alam menderita) yang terbagi dalam 9 kelompok kediaman mahluk:
  1. berbeda dalam bentuk (kaya) dan persepsi: manusia, beberapa deva dan makhluk alam rendah
  2. berbeda dalam bentuk, punya kesamaan dalam persepsi: devā brahmakāyikā (Deva kumpulan Brahmā) dari jhāna ke-1
  3. punya kesamaan dalam bentuk, berbeda dalam persepsi: devā ābhassarā (Brahma Abhassara)
  4. Punya kesamaan dalam bentuk dan persepsi: devā subhakiṇhā (deva dengan keagungan gemilang)
  5. tidak lagi mencerap sepenuhnya yang dialami/dirasakan (asaññino appaṭisaṃvedino): devā asaññasattā (Mahluk deva tidak mencerap)
  6. melampaui sepenuhnya persepsi materi persepsi kontak indria tanpa-perhatian pada persepsi keberagaman, [mempersepsikan] ‘ruang tak berbatas,’
  7. melampaui sepenuhnya persepsi ruang tak berbatas, [mempersepsikan] ‘kesadaran tak berbatas,’
  8. melampaui sepenuhnya persepsi kesadaran tak berbatas, [mempersepsikan] ‘tidak ada apa-apapun,’
  9. melampaui sepenuhnya persepsi kekosongan, menjadi bagian persepsi bukan persepsi juga bukan tanpa persepsi [AN 9.24/Sattavasasutta].
Struktur alam terbagi menjadi alam arupa dan rupa, Kamaloka berada di alam rupa. Struktur di bawah alam manusia disebut alam menderita dan di atasnya disebut alam bahagia /Alam Para dewa.

Dewa vs Malaikat
  • Dewa-dewa Buddhis, tidak abadi namun berumur panjang, ketika habis umurnya, ada yang mencapai Nibbana namun banyak yang terlahir kembali di alam yang: sama atau lebih tinggi atau lebih rendah
  • Dewa-dewa Buddhist tidak maha tahu, berpengetahan JAUH LEBIH RENDAH dari para Buddha dan Arahat dan para orang Suci, tidak menciptakan atau membentuk dunia. Terlahir dari karmanya, tunduk pada sebab-akibat seperti mahluk lainnya dan tidak berperan dalam peleburan/kiamat.
  • Dewa-dewa Buddhist tidak Maha kuasa. Kekuatan mereka terbatas pada alamnya dan alam yang lebih rendah. Jarang campur tangan dengan persoalan alam manusia, dan campurtangannya lebih banyak dilakukan dalam nasehat/petunjuk daripada fisik
  • Dewa-dewa Buddhist BUKAN penjelmaan dan/atau CIPTAAN dari MAHLUK ADIKUASA seperti kepercayaan pemeluk Pantheisme, Politheisme, Monotheisme dan juga BUKAN perlambang/tafsir, juga bukan OBJEK SEMBAH, walaupun beberapa mempunyai kebijakan, pencapaian kesucian dan moral yang tinggi
  • Dewa-dewa Buddhist ada yang berbentuk dan ada yang tidak berbentuk, yang tidak berbentuk ada yang bermateri ada yang tidak. Dewa alam Brahma tidak memiliki gairah dan nafsu, Dewa kamaloka memiliki hasrat seperti manusia, spt birahi, cemburu, marah, dst.
Berikut struktur alam kehidupan di Buddhisme:
  1. Alam Deva Arūpadhātu/Arupaloka (Alam tanpa materi),
    Penghuninya juga mempunyai nāmarūpa dan setelah habisnya umur kehidupannya, ia akan jatuh ke alam-alam di bawahnya (tidak harus berurutan, dapat langsung ke alam apaya). Kemunculan di alam arupa berasal dari suatu kondisi [sankhāra] sebelumnya yang memicu munculnya kesadaran yang memunculkan nāmarūpa/pancakhanda:

    1. Cuti citta/pikiran menjelang kematian adalah Indriya dan juga objek yang memunculkan Kesadaran pikiran. Ini adalah kontak Kesadaran/Viññāṇa. Ini yang meneruskan kehidupan. Ini yang memunculkan nama rupa

    2. Karena ada kontak pikiran, maka muncul Vedana/perasaan. Perasaan dan Persepsi dan kesadaran kondisinya adalah tergabung tak terpisah. Karena yang dirasakan, itu yang dipersepsikannya; yang dipersepsikan, itu yang dikenalinya [MN.43/Mahāvedalla Sutta]. Persepsi dan perasaan menyertai pikiran, kondisi ini terikat dengan pikiran. Itulah mengapa persepsi dan perasaan adalah bentukan pikiran [MN.44/Cūḷavedalla Sutta], misal: nevasaññānāsaññāyatanasañña karena terikat di pikiran maka terdapat pula citta dan cittasaṅkhāroti. Karena itu adalah perbuatan maka ada bentukan pikiran dan juga cetana

    3. Kemunculan RUPA:

      1. Pathavi (landasan), berupa: Kesadaran dan kondisi penerusan sebagai landasannya;
      2. Apo (merekat), berbaurnya nāmarūpa;
      3. Vayo [tekanan, aksi mempertahankan perekatan tsb), kekuatan mempertahankan bentukan;
      4. Tejo: habisnya umur bentukan karena habisnya kamma

    Itulah sebabnya di alam a-rupa, nāmarūpa tetap ada.

    1. neva-saññā-na-a-saññā-āyatana,"Landasan bukan persepsi bukan-tanpa persepsi". Salah satu penghuninya Uddaka Rāmaputta (Salah satu guru Sidhartha Gautama). Deskripsi dan cara mencapai landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi[↓].

    2. ākiñcañña-āyatana, "Landasan tidak ada apa-apapun". Salah satu penghuninya Āḷāra Kālāma (Salah satu guru Sidhartha Gautama). Deskripsi dan cara mencapai landasan tidak ada apa-apapun[↓].

    3. viññāṇañca-āyatana,"Landasan kesadaran tak berbatas”. Deskripsi dan cara mencapai landasan kesadaran tak berbatas[↓].

    4. ākāsānañca-āyatana, "Landasan ruang tak berbatas". Deskripsi dan cara mencapai landasan ruang tak berbatas[↓].

  2. Alam Dewa Rūpadhātu/Rūpaloka(Alam materi)
    Dewa-dewa ini memiliki bentuk fisik tanpa jenis kelamin

    Alam Śuddhāvāsa,"alam murni" (Sudha: menjadi bersih dari, Avasa: kekotoran mental)
    Hanya para anagami (an+āgāmin, "tidak kembali/datang", mereka juga disebut sebagai MahaBrahma) yang terlahir di sini dan melanjutkan latihannya hingga nibbana. Tidak 1 mahluk non anagami-pun yang akan terlahir di alam ini. DN 14/Mahapadana Sutta menginformasikan:

      Ketika sang Buddha menetap di Ukkhaṭṭha, Beliau berkunjung ke alam kediaman murni Aviha ("takkan Jatuh", alam no.9, alam terendah kelompok alam Suddhavasa).

      Di alam aviha ini,
      Sang Buddha bertemu ribuan deva alam itu yang terlahir menjadi anagami setelah menjalani kehidupan suci di jaman Buddha Vipassi (91 Maha kappa lalu)..kemudian, bertemu ribuan deva alam itu yang terlahir menjadi anagami setelah menjalani kehidupan suci di jaman Buddha Sikhi (31 Maha Kappa).. Vesabbhu (31 Maha kappa).. Kakusandha (Kappa yang sama dengan Buddha Gautama).. Konagama.. Kassapa.. dan Gautama..

      Kemudian,
      Bersama ribuan deva alam murni Aviha, mereka berkunjung ke alam murni Atapa ("tenang", alam no.8). Di alam ini, Sang Buddha bertemu ribuan deva alam itu yang terlahir menjadi anagami setelah menjalani kehidupan suci di jaman Buddha Vipassi..Sikki.. dan Buddha Gautama..

      Kemudian,
      Mereka semua berkunjung ke alam murni, Suddhasa ("Indah", alam no.7). Di alam ini, Sang Buddha bertemu ribuan deva alam itu yang terlahir menjadi anagami setelah menjalani kehidupan suci di jaman Buddha Vipassi..Sikki.. dan Buddha Gautama..

      Kemudian,
      Mereka semua berkunjung ke alam murni Suddhasi ("Penglihatan jelas", alam no.6). Di alam ini, Sang Buddha bertemu ribuan deva alam itu yang terlahir menjadi anagami setelah menjalani kehidupan suci di jaman Buddha Vipassi..Sikki.. dan Buddha Gautama..

      Kemudian,
      Mereka semua berkunjung ke alam murni Akanittha ("tidak rendah/muda", alam no.5, alam tertinggi kelompok alam suddhavasa. Sakka, ketika menjadi anagami akan terlahir di alam ini hingga mencapai arahat). Di alam ini, Sang Buddha bertemu ribuan deva alam itu yang terlahir menjadi anagami setelah menjalani kehidupan suci di jaman Buddha Vipassi..Sikki.. dan Buddha Gautama...

        Note:
        Kelak Deva Sakka di sini, berawal sebagai Dewa Puthujjana, menjadi Dewa sotāpanna (wafat dan langsung terlahir kembali menjadi Sakka), menjadi anagami alam akaniṭṭhā, [DN 21/Sakka panha sutta: Te paṇītatarā devā, akaniṭṭhā yasassino; Antime vattamānamhi, so nivāso bhavissati yang terbaik dari para deva, akanittha yang tersohor, penjelmaanku terakhir, yang menjadi alamku

    Di 5 tingkatan alam murni Suddhavasa, penghuni alam rendahnya dapat berkunjung ke alam mana saja yang lebih tinggi (tanpa perlu wafat dahulu). Seluruh penghuni tertuanya menyatakan dirinya menjadi anagami di jaman Buddha Vipassi, melihat Buddha Vipassi berkunjung ke alam mereka. TIDAK SATUPUN dari mereka menyatakan bahwa mereka mencapai anagami di jaman SEBELUM Buddha Vipassi (misal: Buddha Phusa, muncul 92 Kappa sebelum Buddha Gautama atau 1 Kappa sebelum Buddha Vipassi)

    Sehingga,

    1. WAKTU MAKSIMUM tercapainya arahat di alam Suddhavasa takkan LEBIH DARI 91/92 Kappa

    2. Memperhatikan sejarah kemunculan 7 Buddha, yaitu setelah para Bodhisatta ini berhasil mencapai Buddha, kemudian 1 Brahma Anagami tertentu dari alam ini datang mengunjungi para beliau, maka WAKTU TERLAMA KEKOSONGAN kemunculan seorang Sammasambuddha seharusnya TIDAK AKAN melebihi 91/92 Kappa pula. Konsekuensinya adalah:

      • Klaim dari kitab Abhidhamma, yaitu di: Vibhanga 18 dan Kathavatthu 2.7 (ke-2 kitab ini baru muncul SETELAH abad ke-3 SM) bahwa umur kehidupan, deva alam Aviha: 1000 Kappa; Attapa: 2000 Kappa; Suddasa: 4000 Kappa; Suddasi: 8000 Kappa; Akkanittha: 16.000 Kappa

      • Klaim dari kitab komentar karangan Buddhaghosa, abad ke-5 Masehi tentang lamanya kebahagiaan di alam brahma, yaitu selama 31.000 Kappa sebelum akhirnya Nibanna yang dialami oleh: Visākhā, Sakka dan Anāthapindika, yang terlahir sebagai uddhaṃsoto akaniṭṭhagāmī: di alam Avihā (1000 kappa) + Atappa (2000 kappa) + Sudassa (4000 kappa) + suddassi (8000 kappa) + Akanittha (16.000 kappa). (DA.iii.740: ..avihesu kappasahassaṃ vasissati, atappesu dve kappasahassāni, sudassesu cattāri kappasahassāni, sudassīsu aṭṭha, akaniṭṭhesu soḷasāti ekatiṃsa kappasahassāni brahmaāyuṃ anubhavissati. Sakko devarājā anāthapiṇḍiko gahapati visākhā mahāupāsikāti tayopi hi ime ekappamāṇaāyukā eva..)

      TIDAK DIDUKUNG informasi dari sutta-sutta 5 nikaya awal yang berasal dari konsili ke-1 dan ke-2 (nikaya ke-5 adalah khuddaka Nikaya bagian awal SELAIN dari Peta/vimanavatthu, Apadana, Cariyapitaka dan Buddhavamsa. 5 sutta ini baru muncul JAUH SETELAH konsili ke-3, yaitu paling cepat pada akhir abad ke-2 SM) tentang lamanya kehidupan di alam-alam brahma tersebut.

    3. TIDAK SATUPUN anagami dari alam Suddhavasa ini menyatakan diri:

      • sebagai murid Buddha Amitabha (dan/atau 4 Buddha arah mata angin lain yang ada dalam versi Mahayana) dan/atau
      • pernah mendengar adanya tentang Buddha Amitabha (dan/atau 4 Buddha arah mata angin lain yang ada dalam versi Mahayana) yang konon masih hidup hingga saat ini

      Oleh karenanya, Sutta ini:

      • MEMBANTAH klaim Mahayana tentang adanya system dunia lain dengan sammasambuddha berbeda yang hidup di kurun waktu yang sama dan para sammasambuddha ini saling mengenal keberadaan masing-masing mereka di system dunia lainnya
      • MENEGASKAN bahwa TIDAK ADA system dunia lainnya kecuali hanya 1 system dunia saja dan TIDAK ADA 2 SammasamBuddha dapat muncul bersamaan dalam system dunia ini

    Di AN 7.55/Purisagati sutta, 3.86/87 Sikkha Sutta dan SN 48.15-17/Vitthara sutta 1-3, terdapat 5 Tipe Anagami yang dicapai berdasarkan pada kuat/lemahnya kelengkapan/terpenuhinya 5 indriya atau jika menurut SN 55.25 (memenuhi saddhaindriya, memiliki hāsapañño/kebijasanaan yang membuatnya bergembira dan javanapañño/kebijaksanaan tangkas dan cepat), yaitu:

    (1) masa antara/antarāparinibbāyī, atau
    (2) ketika mendarat/upahaccaparinibbāyī, atau
    (3) tanpa usaha/asaṅkhāraparinibbāyī, atau
    (4) dengan usaha/sasaṅkhāraparinibbāyī, atau
    (5) berenang ke atas (uddhaṃsoto) hingga ke akanittha

    Di AN 7.55, terdapat perumpamaan yang diberikan untuk memahami 5 tipe anagami di atas ini: “Misalkan, ketika sebuah mangkuk besi dipanaskan sepanjang hari dan dipukul, kemudian percikannya akan memercik:

    • (atau terbang) dan padam (ketika masih di udara)” → antarāparinibbāyī. Ia mencapai arahat, saat baru terlahir spontan di alam anagami (memercik namun kemudian padam) atau pada masa setelah terlahir spontan s.d sebelum wafat (percikannya terbang dan kemudian padam ketika di udara).
    • terbang dan padam ketika mendarat di tanah → upahaccaparinibbāyī. Ia mencapai arahat persis ketika wafat
    • terbang, jatuh di tumpukan jerami/kayu. Serpihan menjadi api dan asap, kemudian jerami/kayu habis, tidak ada bahan bakar tambahan, maka api menjadi padam. Untuk yang jatuh di tumpukan kecil jerami → asaṅkhāraparinibbāyī. Untuk yang jatuh di tumpukan besar jerami → sasaṅkhāraparinibbāyī. Ke-2 tipe ini lahir kembali secara spontan di alam anagami yang lebih atas dan mencapai arahat di kehidupan barunya. Untuk yang tanpa usaha, sample di alam manusia, misal pada kisah samanera berusia 7 tahun, Ia mencapai arahat ketika melihat rambutnya di potong (Dhammapada syair 96), atau kisah Yasa yang menjadi arahat saat Sang Buddha berkotbah pada ayahnya
    • terbang dan jatuh di atas tumpukan besar jerami/kayu. Serpihan menjadi api dan asap, ketika tumpukan besar jerami/kayu itu habis, kemudian api membakar hutan/belukar hingga tepian lahan/jalan → uddhaṃsoto akaniṭṭhagāmī. Tipe anagami ini akan terlahir spontan LEBIH dari 1x, di alam anagami yang lebih tinggi hingga alam Akanitthagami dan mencapai arahat di alam tertinggi itu
  1. asaññasatta
    .., asaññasattā nāma devā. Saññuppādā ca pana te devā tamhā kāyā cavanti (.., para dewa tidak mencerap. Ketika muncul pencerapan, para dewa itu jatuh dari alam itu) [Patika Sutta, Brahmajala Sutta]. Dalam DN 33/Sangīti Sutta dan Sattavasa Sutta: “sattā asaññino appaṭisaṃvedino” → sattā = Mahluk; a = tidak; sanna = persepsi/pencerapan/ingatan; patisamvedi = pati (kembali/lagi) + sam (sepenuhnya/kumplit) + vedi/vedeti (menikmati / merasakan / menjalani / melalui/ mengalami: suka atau duka atau bukan kedua-nya). Kata "vedi" berhubungan dengan perasaan maka "appatisamvedi" = "perasaan (suka, duka dan/atau bukan ke-2nya) tidak sepenuhnya/dalam teralami/dirasakan/dilalui", jadi, mahluk yang tidak lagi mencerap sepenuhnya yang dialami/dirasakan-nya.

    Arahat Sobhita dikatakan pernah terlahir sebagai mahluk asanna (Kitab komentar untuk Theragāthā 1.2.3.3). Sutta di 4 Nikaya awal TIDAK MEMBERIKAN INFORMASI seberapa panjang umur kehidupan deva alam ini, namun kitab Abhidhamma Vibhanga 18 (muncul setelah abad ke-3 SM s.d 50 SM) menyatakan bahwa umur kehidupan alam ini adalah 500 Kappa (sama dengan umur kehidupan deva Vehapphala)

    Contoh dari kitab komentar Dhammapada:

      Ketika Sang Buddha sedang berpindapatta di Rajagaha, ia melihat seekor induk babi muda yang kotor. Beliau tersenyum, ketika ditanya Ananda, Sang Buddha menjawab,

      "Ananda, babi ini dulunya seekor ayam betina di masa Buddha Kakusandha. Karena tinggal di dekat ruang makan suatu vihara, ia biasa mendengar pengulangan teks suci dan khotbah Dhamma. Ketika wafat, ia terlahir kembali sebagai seorang putri.

      Suatu ketika, saat putri pergi ke kakus, sang putri melihat belatung dan menjadi sadar pada sifat "menjijikkan"/tidak menarik dari tubuh. Ketika wafat, ia terlahir kembali di alam Brahma sebagai brahma puthujjana; tetapi kemudian karena beberapa perbuatan buruknya, ia terlahir kembali sebagai babi betina. Ananda! Lihat, karena perbuatan baik dan buruk tiada akhir di lingkaran kehidupan." [..][Dhammapada, Kisah Seekor Induk Babi Muda, syair 338-343]

    Mahasi Sayadaw meneruskan kisah di atas:

      Babi betina muda tersebut, kemudian terlahir di Tathon, Suvannabhumi di keluarga bangsawan. Kemudian secara berturut-berturut setelah meninggal, ia terlahir di Baranasi, di pelabuhan Suppara di keluarga pedagang kuda, di pelabuhan Kavira di kelurga pelaut, di Anuradhapura di keluarga pemimpin, dilahirkan lagi di desa Bhokkanta, arah utara Anuradhapura sebagai putri seorang kaya dan dinamai Sumana. Bersama ayahnya, ia pergi ke Dighavapi dan tinggal di desa Mahamuni.

      Salah seorang menteri raja dutthagamini [161SM - 137SM] bernama Lakundakatimbara melihatnya, menjadikannya istri dan mereka tinggal di desa Mahapunnama.

      Suatu hari, bhikkhu Maha Anuruddha thera dari Vihara Kotitapabbata ketika berpindapata melihatnya tengah berdiri di depan pintu dan berkata ke bhikkhu lainnya, "kawan, sungguh mengagumkan..babi muda betina tersebut sekarang telah menjadi istri menteri Lakundakatimbara".

      Ketika Wanita itu (Sumana) mendengar itu, Ia mengingat kembali kehidupan lampaunya. Saat itu juga, ia memperoleh samvega (dorongan untuk menempuh kesucian) dan setelah memasak untuk suaminya, ia minta ditahbis para bhikkhuni yang dikenal pañcabalaka dengan upacara besar.

      Setelah mendengar khotbah Mahāsatipaṭṭhāna di vihara Tissamahavihara, ia mencapai sotapatti. Ketika ada kerusuhan oleh orang-orang Damila (tamil), ia pergi ke desa Bhokkanta, ke rumah kerabatnya dan hidup di sana. Suatu ketika, ia mendengarkan khotbah Asivisopama di vihara Kallamahavihara, Ia mencapai arahat. [The Ups and Downs of Rebirth, Mahasi Sayadaw]

      Note:
      Samvega dapat muncul karena: Ada kematian [AN 5.77], merasa di masa depan: Dhamma sudah tidak lagi baik [AN 5.78], tidak ada lagi Sang Guru yang sempurna [AN 5.79] atau Sangha menurun kualitasnya [AN 5.80]

    Terlahir sebagai mahluk asaññā satta dan berakhir menjadi mahluk asanna

      Perasaan, persepsi dan kesadaran, kondisi ini tergabung, bukan terpisah. Tidak dapat memisahkan kondisi-kondisi ini satu sama lainnya untuk menggambarkan perbedaan antaranya. Karena yang dirasakan, itu yang dipersepsikannya; yang dipersepsikan, itu yang dikenalinya) [MN.43/Mahāvedalla Sutta]. Persepsi dan perasaan menyertai pikiran, kondisi ini terikat dengan pikiran. Itulah mengapa persepsi dan perasaan adalah bentukan pikiran [MN.44/Cūḷavedalla Sutta]. Nāmarūpa/mentalmateri mengondisikan kesadaran dan kesadaran mengondisikan nāmarūpa, nāmarūpa mengondisikan kontak [DN 15/Mahānidāna Sutta]

      Landasan kesadaran adalah kontak (phassa): Indriya + objek-objeknya sebagai kondisi → muncul kesadaran Indriya. Pertemuan ke-3nya disebut kontak indriya.
      Dengan kontak Indriya sebagai kondisi, muncul perasaan
      Apa yang dirasakan, itulah yang dikenali
      Apa yang dikenali, itulah yang dipikirkan;
      Apa yang dipikirkan, itulah yang dikembangbiakkan pikiran
      Dengan apa yang dikembangbiakkan dipikirannya sebagai: sumber, persepsi dan gagasan, melanda seseorang melalui objek-objek dalam bentuk masa: lalu, sekarang dan depan yang dikenali Indriya [MN 18/Madhupiṇḍika]

    Di menjelang kematian suatu mahluk tertentu (mahluk alam manusia ke atas), cerapan kontak Indrianya jenuh dengan bentukan/materi/rupa tertentu yang disertai perasaan bukan menyenangkan dan juga bukan menyakitkan namun TIDAK/BELUM sepenuhnya melampaui persepsi materi/rupa/bentukan. Kondisi ini membuatnya terlahir kembali sebagai mahluk asanna.

    Di suatu kondisi kemudian, Ia mengenali keberadaannya di alam itu, itu adalah bentukan pikirannya, Itu adalah objek indriyanya, Ia mengenali, Itu adalah persepsi, Ia mencerap sepenuhnya disertai salah satu perasaan: menyenangkan atau tidak menyenangkan atau bukan keduanya. Saat itulah kehidupannya sebagai mahluk asanna berakhir dan terlahir kembali sebagai mahluk baru sehubungan dengan persepsi dan perasaan terakhirnya itu. [↓]

  2. Vehapphala, "Yang mendapatkan Hasil/buah yang baik"
  3. Kitab komentar Sammohavinodanī untuk vibhanga, karya Buddhaghosa (Abad 5 M) menyatakan beberapa Anāgāmi terlahir di alam ini. Pernyataan ini keliru. Para Ariyasavaka dapat mencapai arahat di alam ini. Jika Ia wafat dan telah menghancurkan belenggu terendah namun belum arahat, Ia akan terlahir di alam sudhavassa. Deskripsi dan cara mencapai alam ini lihat Jhana ke-4[↓]. Sutta di 5 Nikaya (AN 4.123, 125) dan kitab Abhidhamma Vibhanga 18 sama-sama menyebutkan panjangnya umur kehidupan dewa alam ini adalah 500 Kappa

    Terdapat alam Brahma YANG LEBIH TINGGI LAGI DARI alam Vehaphala ini, yaitu alam Brahma Abhibhu/"Yang berbuah besar" (MN 49/Brahmanimantanika sutta),

  4. Śubhakiṇha, "Keagungan Gemilang" [Misal: AN 4.123, 125]

  5. Appamāṇasubha, "Keagungan Tanpa Batas" [MN 120/Sankhārupapatti Sutta]

  6. Parittasubha, "Keagungan Terbatas" [MN 120]

  7. Cara mencapai 3 alam ini (no. 12, 13, 14) dan juga deskripsinya lihat Jhana ke-3[↓]. Sutta dalam 5 Nikaya awal hanya menyebutkan batasan umur kehidupan Śubhakiṇha deva saja yaitu 4 Kappa (AN 4.123, 125), sedangkan umur 2 alam Jhana ke-3 yang lebih rendah lainnya hanya muncul di kitab Abhidhamma Vibhanga 18 dan non kanon pali, yaitu di Patisandhicatukka, Abhidhammattha-sangaha, karya anuruddha, abad ke-10 M

  8. Alam Ābhassara, "Cahaya Gemilang" [Misal AN 4.123, 125]

  9. Appamāṇābha, "Cahaya tak terbatas" [MN 120]

  10. Parittābha, "Cahaya terbatas" [MN 120]

  11. Deva-deva alam Ābhassara sering menyatakan, "aho sukham! (Oh, Nikmat!)". [DN 31/Sangiti Sutta dan AN 5.170/Bhaddaji Sutta]. Tubuh mereka seragam namun persepsinya yang berbeda-beda (ekattakāyā nānat-tasaññino)

    Cara mencapai 3 alam ini (no. 15, 16, 17) dan juga deskripsinya lihat Jhana ke-2[↓]. Sutta di 5 Nikaya awal hanya menyebutkan batasan umur kehidupan Ābhassara saja, yaitu: 2 Kappa (AN 4.123,125), sedangkan umur 2 alam Jhana ke-2 yang lebih rendah lainnya hanya muncul di kitab abhidhamma Vibhanga 18 dan non kanon pali, yaitu di Patisandhicatukka, Abhidhammattha-sangaha

  12. Mahābrahmā, "Brahmā yang Besar", lebih merupakan sebuah gelar daripada Nama mahluk alam ini:

    "Brahma, Brahma yang Agung, Sang Penakluk, Yang taktertaklukan, Yang maha melihat, Maha kuasa, Yang maha kuasa, Maha pencipta, Maha memerintah, Maha menempatkan, Bapak dari semua yang ada dan akan ada"

    DN 1/Brahmajāla Sutta menyampaikan satu mahluk alam Abhasara, setelah habis buah kammanya, Ia jatuh ke alam brahma yang lebih rendah yang menandai dimulainya Maha Kappa. Mahluk ini lupa kelahiran sebelumnya sehingga ia meyakini dirinya ada tanpa sebab musabab. Di satu masa yang sangat panjang, setelah lama sendirian di alam itu, timbul dipikirannya agar ada mahluk lain di alam nya dan setelahnya muncul mahluk-mahluk di alamnya. Ketika mereka tanya apa sebab keberadaan mereka, ia katakan bahwa kemunculan mereka terjadi setelah ia berpikir demikian. Mereka kemudian menyebutnya sebagai maha pencipta, Maha Brahma. Mahluk-mahluk di alamnya yang terlahir belakangan berumur lebih pendek dan terlahir di alam yang lebih rendah. Beberapa dapat mengingat kelahiran sebelumnya tentang Maha Brahma sebagai Maha pencipta dan membawa pandangan itu di alam-alam kelahirannya. Di Kevaddha-sutta (DN.11), Mahabrahma, tidak dapat menjawab pertanyaan seorang Bikkhu dan berkata agar bertanya pada Buddha.

    Alam brahma, bersama seluruh alam di bawah alam Abhasara mengalami kehancuran dipenghujung mahākalpa.

    MahaBrahma adalah pemimpin dari 1000 Dunia Brahma dan 1000 Alam-alam deva di bawahnya, 1000 matahari, bintang dan bulan [Sahassilokadatu, AN 10.29/Kosala Sutta].

    Namun demikian, masih terdapat alam Brahma YANG LEBIH TINGGI DARI ALAM MAHABRAHMA dan berada di bawah alam ABHASARA, sebagaimana disebut di MN 120/Saṅkhārupapatti sutta:

      Brahmā 1000 berumur panjang... berdiam dengan bertekad meliputi satu sistem dunia 1000 dunia, dan ia berdiam dengan bertekad meliputi makhluk-makhluk yang telah muncul kembali di sana
      Brahmā 2000
      Brahmā 3000
      Brahmā 4000
      Brahmā 5000 ....
      Brahmā 10.000 ...
      Brahmā 100.000 berumur panjang,...berdiam dengan bertekad meliputi satu sistem dunia 100.000 dunia, dan ia berdiam dengan bertekad meliputi makhluk-makhluk yang telah muncul kembali di sana.

  13. Brahmapurohita – "Yang mengiringi Brahmā" [DN 21/Sankhapanhasutta]

  14. Brahmapārisajja – "Para Penasehat/Para anggota dewan dari Brahmā". [MN 120]

  15. Cara mencapai 3 alam ini (no. 18, 19, 20) dan juga deskripsinya lihat Jhana ke-1[↓]. Sutta hanya menyebutkan batasan umur kehidupan Mahābrahmā dan Brahma Baka. [Sedangkan umur 2 alam Jhana ke-1 yang lebih rendah lainnya hanya muncul di kitab abhidhamma Vibhanga 18 dan non kanon pali, yaitu di Patisandhicatukka, Abhidhammattha-sangaha]

    Brahmā Sahampati
    Muncul berkali-kali dalam sutta dan dahulunya Ia Bikkhu bernama Sahaka, anggota Saṅgha jaman Buddha Kasapa.

    Brahmā Sanatkumāra
    Brahmā Sanatkumāra (Sanskrit) atau Brahmā Sanaṅkumāra (Pāli), “Yang selalu muda” muncul pada Janavasabha-sutta (DN.18), ketika hadir dihadapan Dewa2 alam Tavatimsa, bagai sebuah bayangan yang kemudian terlihat sangat gemilang melebihi kegemilangan Śakka dan dewa lainnya dan tampil sebagai anak kecil dengan rambut yang masih di ikat berusia 5-11 tahunan.

    Pacceka Brahma
    Di Samyutta Nikaya terdapat 3 Brahma yang disebut sebagai Brahma Mandiri yang tidak disinggung termasuk alam Brahma manapun, yaitu: Subrahmā, Suddhavāsa

    Baka Brahmā
    Suatu ketika ia berpikir bahwa dunia-nya adalah kekal takkan hancur, tidak ada alam yang lebih tinggi dari alammnya. Buddha kemudian memperbaiki pandangan salahnya terhadap anicca (ketidakkekalan/fana). Māra mempengaruhi salah satu pelayan Brahma dengan menyatakan bahwa Baka adalah Pecipta, barang siapa yang memujanya akan mendapatkan pahala dan mereka yang menyangkal/tidak mengakui kekuasaannya akan mendapatkan balasan yang mengerikan. Buddha mengenali Mara dan menyatakan bahwa Buddha tidak terpengaruh kekuasaan Brahma.

    Baka kemudian menyatakan bahwa sia-sia untuk lolos dari kekuasaannya dan menyatakan bahwa Buddha terpengaruh dalam kekuasaannya karena Ia berada didalam alamnya dan Baka dapat bertindak yang ia mau. Buddha merespon bahwa pengetahun Buddha melampauinya, Baka tidak mempunyai kekuasaan/kekuatan sebesar itu bahkan terdapat alam Brahma lain yang Baka tidak tahu. KBuddha membuat dirinya menghilang dari alam Brahma dan Baka tidak dapat menemukan Buddha. Baka mengakui kekurangannya dan kemampuan Buddha ketika Buddha menerangkan kehidupan lalu Baka.

    Dulunya Baka adalah Petapa bernama Kesava yang menyelamatkan banyak manusia dari kehancuran. Atas hasil kemahirannya dalam samadhi, ia kemudian terlahir di alam Vehappla dan setelah wafat terjatuh ke alam-alam yang lebih rendah hingga menjadi Brahma baka.

    Dalam satu kejadian, Baka yakin bahwa tidak ada satu petapa yang dapat memasuki alamnya, namun Buddha dan beberapa muridnya mengunjungi untuk membuktikan pandangan salahnya.

    Jumlah Baka brahma termasuk dirinya adalah 72. Umur Baka Brahma adalah 100.000 nirabbuda dan berkuasa ’Sejauh bulan dan matahari berputar, Bersinar dan bercahaya, Lebih dari 1000 dunia (sahassadhā loko)" [MN.49/Brahmanimantanika Sutta dan SN 6.4/BakaBrahma sutta].

    Pandangan Hinduisme mengenai Brahma dan Brahman.
    Hinduisme hanya mengenal satu Brahma, sebagai mahluk maha pencipta dan menganggap Brahma tidak identik dengan Brahman. Dalam “Ajaran Pokok dalam Upanisad”, SM Smnivasa Chan meyatakan: akar kata kerja brh artinya ‘tumbuh’ (brhati) dan menyebabkan tumbuh (brhmayati).

    • Dalam Atharvaira Upanisad, “brhati, bhmayati tasmad ucyate parabrahma” (Disebut Brahman karena tumbuh dan menyebabkan tumbuh)

    • Taittiriya Upanisad memberikan sebuah pengertian tunggal tentang istilah Brahman. Sebagai jawaban atas permintaan dari Bhrgu pada ayahnya Varuna agar mengajarkan padanya tentang Brahman, Varuna menawarkan pengertian sebagai berikut, “Yang daripada-Nya segala mahiuk dilahirkan, Yang oleh-Nya dan pada-Nya mereka [Ajaran Pokok Dalam Upanisad, S.M. Smnivasa Chan, PHDI]

    • Taittiriya Upanisad 2.1.1, “Brahmavid apnoti param tad esa bhyukta, Satyam jnanam anantam Brahma Veda, Nihitam guhayah parame vyman so’ snute, Kaman vipascita iti” (Ia yang mengetahui Brahman sebagai kebenaran, pengetahuan dan tidak terbatas, bersemayam dalam hati dan berada jauh di angkasa. Ia yang terpenuhi segala keinginannya dalam kesatuan dengan Brahman, Ia yang maha mengetahui). [TejaSurya.com]

    • Aitareya Upanishad 3.3, “prajnānam brahma” (Brahman adalah Pengetahuan)

    • Brihadaranyaka Upanishad 4.4.5, “ayam ātmā brahma" (Atma adalah Brahma atau Atman adalah Brahman)

    • Brihadaranyaka Upanishad 1.4.10, “aham brahmāsmi" (aku adalah Brahman)

    • Chhāndogya Upanishad 3.14.1-2, “sarvam khalv idam brahma, tajjalaniti santa upasita” (Semua yang ada di dunia adalah Brahman..), menurut Ramanuja, pada kalimat "tajjalan iti" (akar: tat + ja = lahir + la = larut/lebur) seperti analogi ikan lahir di air, hidup di air dan berakhir di air tapi ikan bukanlah air

    • Mandukya Upanisad ayat 2, “sarvam hyetad brahmāyamātmā brahma soyamātmā chatushpāt” (Semua ini sebenarnya Brahman; Ia adalah Atman; Ia mempunyai 4 bagian) [Wikipedia: Brahman]

    Terlihat jelas bahwa Atma = Atman dan Brahma = Brahman, Jadi tidak ada beda antara Brahma vs Brahman

    • Brahma (Tunggal nominatif), brahman (bukan laki/perempuan) artinya Jiwa Cosmis yang agung, akar kata dari brha (tumbuh, berkembang, meluas, membesar)
    • Brahmānda (Tunggal nominatif), dari akar kata brha (meluas) + anda (telur), artinya perluasan jagad raya
    • Brahma (Tunggal nominatif), brahman (tidak laki dan perempuan) Artinya konsep Tuhan tertinggi yang kekal; Perlu diketahui bahwa kata Brahman dalam kondisi tertentu diperlakukan sebagai “Pria” (lihat Merrill-Webster Sanskrit Dictionary). Brahm, juga merupakan variasi dari Brahman.
    • Brahmā (Tunggal nominatif), Brahman (Jenis lelaki) artinya adalah Prajapati Brahma [Pencipta], anggota Trimurti
  1. Alam Deva Kāmadhātu/Kāmaloka(Alam kenikmatan Indriya)
    Deva di alam ini terbenam dalam kesenangan. [Untuk umur kehidupan: AN.8.41/Uposatha sutta; AN 8.43/VisakhUposatha sutta; AN 3.71/Uposatha sutta]

    Walaupun terdapat 60 TINGKATAN alam dewa yang ada di alam Kamadhatu (dari alam Catumaharajika s.d Alam Brahma, DN 20/Mahasamaya Sutta) namun seringnya hanya 7 alam saja yang disebutkan, yaitu alam: Catumaharajika, Asura, Tavatimsa, Yama, Tusita, Nimarnarati dan Paranimmita vasavatti.

    Bagaimana cara terlahir di alam-alam deva ini?
    Brahma Sanankumāra menyampaikan, "siapa pun yang berlindung pada Buddha (1), Dhamma (2), dan Sangha (3) dan melaksanakan sila (4), saat hancurnya jasmani, muncul kembali dalam kelompok: para dewa Paranimmita-Vasavatti, atau para dewa Nimmānaratti, atau para dewa Tusita, atau para dewa Yāma, atau dalam kelompok pengikut dewa Tavatimsa, atau 4 Raja Dewa – atau yang paling rendah dalam kelompok para gandhabba. [DN.18/Janavasabha_Sutta].

      note:
      Ketika no.(1), (2), (3) KEYAKINANNYA TIDAK TERGOYAHKAN, dan silanya merupakan moralitas yang disenangi para mulia -tidak rusak, robek, tanpa noda, tanpa bercak, membebaskan, dipuji oleh para mulia, tidak digenggam, menuntun pada pikiran terpusat, Maka itu adalah pencapaian kesucian. [SN 55.34-35]. Dalam SN 55.36 disampaikan ketika seorang siswa mulia memiliki 4 hal di atas maka para deva bersukacita dan membicarakan kemiripannya dengan mereka para deva yaitu ketika mereka wafat di alam manusia terlahir kembali di alam deva, maka Ia akan datang ke hadapan para Deva.

    Ada 3 gerbang menuju kebahagiaan

    Pertama,
    seseorang berdiam dalam kenikmatan-indria, dengan kondisi-kondisi tak bermanfaat. Suatu ketika, ia mendengarkan Dhamma Ariya, ia memperhatikan dengan saksama dan berlatih sesuai dengan Dhamma. Dengan melakukan hal itu, ia kemudian menjauhi kenikmatan-indria dan kondisi-kondisi tak bermanfaat. Sebagai akibat dari tindakan menjauhi ini, perasaan menyenangkan muncul, dan apalagi, kegembiraan, seperti halnya kenikmatan akan memunculkan kegirangan, demikian pula dari perasaan menyenangkan, ia mengalami kegembiraan.

    Ke-2,
    ada seseorang yang kecenderungan kasar dari jasmani, ucapan, dan pikirannya belum ditenangkan. Pada suatu ketika, ia mendengarkan Dhamma Ariya, ... dan kecenderungan kasar jasmani, ucapan dan pikirannya ditenangkan. Sebagai akibat dari tindakan menenangkan ini, perasaan menyenangkan muncul, dan apalagi, Kegembiraan....

    Ke-3,
    ada seseorang yang benar-benar tidak mengetahui apa yang benar dan apa yang salah, apa yang patut dicela dan apa yang tidak patut dicela, apa yang harus dilatih dan apa yang tidak perlu dilatih, apa yang rendah dan apa yang mulia, dan apa yang busuk, indah, atau campuran dalam hal kualitas. Suatu ketika, ia mendengarkan Dhamma Ariya, ia memperhatikan dengan saksama dan berlatih sesuai dengan Dhamma. Sebagai akibatnya, ia menjadi mengetahui apa yang benar dan apa yang salah, apa yang patut dicela dan apa yang tidak patut dicela, apa yang harus dilatih dan apa yang tidak perlu dilatih, apa yang rendah dan apa yang mulia, dan apa yang busuk, indah, atau campuran dalam hal kualitas. Dalam diri seorang yang mengetahui dan melihat demikian, kebodohan tersingkirkan dan muncul pengetahuan. Dengan memudarnya kebodohan dan munculnya pengetahuan, perasaan menyenangkan muncul, dan apalagi, Kegembiraan, seperti halnya kenikmatan akan memunculkan kegirangan, demikian pula dari perasaan menyenangkan, ia mengalami kegembiraan. Ini adalah 3 gerbang menuju kebahagiaan [DN 18/Janavasabha Sutta]

    atau

    Dengan menjalani: keyakinan (1), moralitas (2), pembelajaran (3), kedermawanan (4), dan kebijaksanaan (5) dalam Dhamma dan Disiplin [salah satu contoh adalah suppabuddha di SN 11.14/Dalidda Sutta]

    atau

    Seperti Sakka di kehidupan sebelumnya dengan melakukan sumpah 7 latihan dan berhasil dilakukan seumur hidupnya: 'Aku bersumpah, seumur hidup akan:

    1. menyokong orang tua
    2. menghormati saudara-saudara yang tua
    3. berbicara dengan lembut/tidak kasar
    4. tidak berbicara yang bersifat memecah-belah
    5. berdiam di rumah dengan pikiran yang tanpa-kekikiran, bersikap dermawan, tangan-terbuka, gembira dalam pelepasan, bermurah-hati, gembira dalam memberi dan berbagi
    6. membicarakan kebenaran
    7. berharap agar terbebas dari kemarahan, dan jika kemarahan muncul, segera melenyapkannya [SN 11.10-11/Sattavatapada]

    atau

    Kitab komentar untuk Dhammapada:

      Ketika Maha Moggallana Thera bertanya perbuatan baik apa yang mereka lakukan sehingga terlahir di alam Dewa. Dewa ke-1: bukan karena banyak berdana atau mendengarkan Dhamma, tetapi karena ia selalu berbicara benar. Dewi ke-2: Karena Ia tidak pernah marah pada tuannya dan tidak memiliki maksud buruk padanya meskipun tuannya sering memukuli dan menyiksanya. Dengan meredam kemarahan dan menghindari kebencian, ia terlahir di alam surga. Dewa lainnya: karena sedikit berdana, sebatang gula tebu, buah, atau beberapa sayuran pada seorang bhikkhu atau pada orang lain [Dhammapadda Syair no.224]

    Kecuali jika telah mencapai kesucian, ketika wafat, Dewa dapat terjatuh ke alam bawah bahkan neraka, seperti dalam kisah Deva Subrahma:

      Ketika Dewa muda ini sedang bermain di Hutan Nandana bersama 1000 peri pengikutnya. 500 peri yang sedang di pohon, bernyanyi dan melempar-lemparkan bunga, tiba-tiba menghilang. Dewa muda ini melihat bahwa 500 pengikutnya yang hilang telah terlahir kembali di neraka, Ketika Ia memeriksa kehidupannya, Ia mengetahui bahwa Ia akan meninggal dalam 7 hari dan akan terlahir kembali di neraka. Maka, dengan ketakutan, Ia mendatangi Sang Buddha untuk mencari penghiburan [Devaputta samyutta 2:17]

    Dalam MN.90/Kaṇṇakatthala Sutta terdapat 2 pertanyaan Raja Pasenadi yang dijawab sang Buddha dan Ananda:

    • Raja:
      “Yang Mulia, apakah para dewa itu kembali ke alam ini [āgantāro itthatta] atau tidak?” ("alam ini", yang dimaksudkan Raja Pasenadi bisa jadi alam manussia, namun seharusnya maksudnya adalah alam non suddhavasa)

      Sang Buddha:
      “Baginda, para dewa yang masih tunduk pada kehendak buruk [sabyābajjhā] akan kembali ke alam ini, para dewa yang tak lagi tunduk pada kehendak buruk [abyābajjho] takkan kembali ke alam ini (anāgantāro itthattan)”

    • Raja:
      “Yang Mulia, Apakah Brahmā itu kembali di alam ini atau tidak.”

      Sang Buddha:
      “Baginda, Brahmā yang masih tunduk pada kehendak buruk akan kembali ke alam ini, Brahmā yang tak lagi tunduk pada kehendak buruk takkan kembali ke alam ini.”

    Lahir meningkat dari satu alam Deva ke alam deva yang lebih tinggi dapat terjadi karena berhasil melatih 4 landasan perhatian dan mencapai pencapaian Jhana, sebagaimana disampaikan Deva Sakka:

      Sesungguhnya aku telah menyaksikannya sendiri. Ada, Bhagavā, di sini, di Kapilavatthu, seorang gadis Sakya bernama Gopikā yang berkeyakinan terhadap Buddha (1), Dhamma (2), dan Sangha (3), dan yang melaksanakan peraturan sīla dengan saksama (4)..Kemudian, setelah kematiannya, saat hancurnya jasmani, ia terlahir kembali di alam bahagia, di alam tavatimsa, sebagai salah satu dari putra kami (Deva yang terlahir kembali di Alam deva manapun disebut Putra deva penguasa alam tersebut), dan dikenal dengan nama Gopaka, putra para dewa.

      Juga, ada 3 bhikkhu yang, setelah menjalani kehidupan suci di bawah Bhagavā, terlahir kembali di alam yang lebih rendah di antara para gandhabba (Alam Catumaharajika). Mereka menikmati kenikmatan 5 indria, sebagai pelayan atau pembantu kami.

      Mengetahui ini, Gopaka "memarahi" mereka dengan mengatakan:

      Siswa dari Ia-Yang-Melihat (Ex 3 Bhikkhu),
      Namaku saat itu adalah Gopikā.
      Berkeyakinan kuat di dalam Buddha, Dhamma
      Dengan gembira aku melayani Sangha.
      Berkat pengabdian setia pada-Nya
      Lihatlah aku sekarang, seorang putra-Sakka,
      Berkuasa, di 3 alam surga,
      Gilang-gemilang, Gopaka namaku.
      Aku melihat, yang dulunya adalah para bhikkhu,
      Mencapai tidak lebih dari peringkat gandhabba,
      Yang sebelumnya terlahir sebagai manusia
      Dan menjalani kehidupan yang diajarkan Sang Buddha.
      Kami mempersembahkan makanan dan minuman untuk mereka
      Dan melayani mereka di rumah-rumah kami.
      Mereka tidak menggunakan telinga, yang mereka miliki,
      Masih tidak dapat menangkap ajaran Buddha?
      Masing-masing harus memahami untuk dirinya sendiri
      Dhamma yang diajarkan oleh Ia-Yang-Melihat,
      Dan telah dibabarkan dengan sempurna.
      Aku, melayani kalian, Mendengarkan kata-kata baik dari Para Mulia,
      Dan karenanya, aku terlahir menjadi seorang putra Sakka
      Berkuasa, di 3 alam surga,
      Dan gilang-gemilang, sedangkan kalian,
      Walaupun kalian melayani Pangeran Manusia
      Dan menjalani kehidupan tanpa tandingan yang Beliau ajarkan,
      Telah muncul dalam kondisi rendah,
      Dan tidak mencapai peringkat yang seharusnya,
      Pemandangan menyedihkan untuk dilihat
      Teman-teman dalam Dhamma tenggelam begitu rendah
      Menjadi, para gandhabba, kalian
      Datang untuk melayani para dewa,
      Sedangkan aku – aku berubah!
      Dari kehidupan rumah tangga, dan seorang perempuan,
      aku, sekarang terlahir kembali sebagai laki-laki, dewa,
      Bergembira dalam kebahagiaan surgawi!”

      Ketika dikecam demikian oleh Gopaka,
      Siswa sejati Gotama,
      Dengan sedih mereka menjawab:
      “Aduh, marilah kita pergi, dan berusaha keras,
      Dan jangan lagi menjadi budak yang lain!

      Dan dari tiga, 2 berusaha keras,
      Dan mengingat-ingat kata-kata Sang Guru.
      Mereka memurnikan hati mereka dari nafsu (Caranya melalui: mengembangkan satipatthana (4 landasan perhatian): Jasmani sebagai jasmani, perasaan sebagai Perasan, Pikiran sebagai pikiran dan Bentukan pikiran sebagai bentukan pikiran),
      Melihat bahaya dalam keinginan,
      Dan bagaikan gajah yang mengamuk
      Semua belenggu yang mengikat, mereka patahkan
      Belenggu dan ikatan nafsu,
      Belenggu-belenggu tak bermanfaat itu
      Begitu sulit diatasi – dan demikianlah
      Para dewa, Tavatimsa,
      Dengan Indra dan Pajāpati,
      Yang duduk di singgasana dalam Aula Pertemuan,
      Ke-2 pahlawan ini, dengan nafsu tersingkirkan,
      Melampaui, dan meninggalkan mereka jauh di belakang.

      Melihat hal ini, Vasavā (raja Gandhabba), terkejut,
      Pemimpin di tengah-tengah kerumunan para dewa,
      Berteriak: “Lihat bagaimana mereka yang rendah ini
      Melampaui para dewa, Tavatimsa Dewa!”
      Kemudian mendengar ketakutan pemimpinnya,
      Gopaka berkata pada Vasava:

      "Tuan Indra, di alam manusia
      Seorang Buddha, yang disebut Sang Bijaksana Sakya,
      Telah menguasai nafsu
      Dan para siswa ini, yang telah gagal
      Dalam perhatian, ketika meninggal dunia,
      Sekarang telah mendapatkannya kembali dengan bantuanku.
      Walaupun satu dari mereka tertinggal di belakang
      Dan masih bersama para gandhabba,
      Dua ini, dengan mengerahkan kebijaksanaan tertinggi,
      Dalam pencerapan mendalam menolak alam dewa!
      Jangan ada siswa yang ragu
      Bahwa kebenaran dapat dicapai
      Oleh mereka yang berada di alam ini.
      Bagi ia yang menyeberangi banjir dan
      mengakhiri keraguan, hormat yang selayaknya pada,
      Sang Buddha, Pemenang, Bhagavā, kita persembahkan."

      Bahkan di sini, mereka mencapai kebenaran, dan dengan demikian
      Telah melewati melampaui kemuliaan yang lebih tinggi.
      Dua itu telah mencapai alam yang lebih tinggi daripada yang ini,
      Alam Pengikut Brahmā.(Alam Jhana)
      [DN.21/Sakkapanha Sutta]

    Alam-Alam Kamaloka:

    1. Paranimmita-vasavatti (Para: meliputi, melebihi; Nimmita: tanda, ciptaan; Vasavatti: maha menguasai/mahasakti; "Menguasai melebihi dari ciptaan mahluk lainya"). Para deva alam Paranimmitavasavatti, kesenangan sensualnya terpenuhi ketika para mahluk lainnya berada dalam cengkraman kesenangan sensual ulahnya sendiri. Sutta mengenai alam ini, diantaranya:

      • ..ada 8 macam perhimpunan, yaitu perhimpunan para kesatriya, para brahmana, orang-orang berumah tangga, para pertapa, para dewa Catummaharajika, para dewa Tavatimsa, para Mara dan para dewa Brahma.. [DN 16/Mahaparainibbana Suta, DN 33/Sangiti Sutta]
      • ..di tengah-tengah para dewa di alam surga 4 Raja Dewa! ... di tengah-tengah para dewa di alam surga 33 ... para dewa Yāma ... para dewa di alam surga Tusita ... para dewa Nimmānarati ... para dewa ParanimmitaVasavatti ... para dewa pengikut Brahmā ...[MN 41/ Sāleyyaka Sutta]
      • DN 11/Kevaddha sutta menyatakan bahwa penguasa alam Paranimimitavasavati adalah Vasavatti. Dalam kitab komentar untuk MN dikatakan bahwa Vasavatti adalah raja alam paranimmitavasavatti, Māra memerintah di area tersendiri seperti pangeran bandel di pinggiran kerajaan [Paranimmitavasavattidevaloke. Tatra hi vasavattirājā rajjaṃ kāreti. Māro ekasmiṃ padese attano parisāya issariyaṃ pavattento rajjapaccante dāmarikarājaputto viya vasatīti vadanti] dan di kitab komentar untuk SN dan AN dikatakan bahwa nama Mara adalah Vassavati yang berkuasa atas semuanya [māro nāma vasavattī sabbesaṃ upari vasaṃ vatteti]

      Umur kehidupan: 1 hari + 1 malam di alam ini (24 jam) = 1600 tahun manusia (1 bulan = 30 hari, 1 tahun = 12 bulan = 360 hari). Lama Umur Deva adalah 16000 tahun deva (9.216.000.000 tahun manusia), 1 jam di alam ini = 66.67 tahun manusia [AN 3.70/1, Uposatha sutta]

      Kitab komentar menyatakan bahwa Mara Vasavatti berada di alam ini namun ini tidak sertamerta berarti bahwa Mara berasal dan/atau hanya ada di alam ini.

      Dalam MN 49/Brahmanimantanika Sutta disampaikan bahwa Brahma Baka yang berada 1 alam di atas alam paranimmitavasavatti terkena pengaruhi Mara (juga di komentar Dhammapada, Bab 3, Pikiran/Citta Vagga, Syair 57, Kisah Godhika Thera, Mara berkemampuan mendeteksi kelahiran kembali para mahluk yang belum padam). Ini menunjukan bahwa seluruh alam (termasuk alam Brahma dan juga alam brahma lain di atasnya) tidak luput dari cengkraman Mara, sehingga wajar saja jika di bagian awal SN 3.2/Padhana sutta, Mara disebut juga dengan gelar Namuci (na+muc/muccati = tidak+lepas/bebas, "tak ada yang lolos darinya").

      Mengenai Namuci,
      Di Mahasamaya Sutta, ketika para dewa dari 10 alam-semesta datang menemui Sang Buddha dan para Bhikkhu, di antara para yang hadir terdapat mahluk Asura yang bernama namuci:

        [setelah menyebutkan kedatangan para deva catumaharajika]..Yang dikalahkan pemegang halilintar (vajirahatthena = Indra = Sakka), para Asura penguasa Samudra, saudara Vāsava (raja para Asura) yang sakti dalam kegemilangan, Kālakañcā yang sangat menyeramkan (bukan Kālakañja), Dānaveghasa, Vepacitti, Sucitti dan Pahāradha (Penguasa lautan) bersama Namucī, ratusan putra Bali yang semuanya bernama Veroca, pasukan Bali yang gagah, bergabung dengan Rāhu yang beruntung: Sekarang saatnya, yang mulia, pertemuan para Bhikkhu di hutan"..

        ..Para Khemiya, Tusita dan Yāma, Para Kaṭṭhaka dengan kereta, para Lambītaka, Para pemimpin Lāma, dan para Āsava, para dewa Nimmānarati dan Paranimmitavasavatti. dalam 10 kelompok dalam bentuk berbeda, yang sakti cemerlang, datang melihat para bhikkhu dan Sang Buddha"..

        ..Dan ketika semua telah hadir dalam barisan besar bersama Indra dan kelompok Brahmā, Datanglah pasukan Māra (Mārasenā), Si dungu gelap berkata: "Ayo tangkap dan ikat mereka dalam jeratan nafsu indriya, kepung dari segala penjuru jangan sampai ada yang lolos" ... kemudian Ia mundur dengan gusar dan tak berkekuatan lagi (Tadā so paccudāvatti, saṅkuddho asayaṃvase) ... 'SEMUA berjaya, melampaui rasa takut, dalam kegemilangan (Sabbe vijitasaṅgāmā, bhayātītā yasassino); bersama dalam kegembiraan, Murid-muridNya, mereka yang mengetahui (Modanti saha bhūtehi, sāvakā te janesutā)'.

        Kitab komentar di RAPB buku ke-1, hal 1106-1122, Cet I, Mei 2008, hal. 1117, menyatakan: "Pada akhir khotbah Mahàsamaya Sutta, seratus ribu crore (100.000 x 10.000.000 = 1012) dewa dan brahmà berhasil mencapai kesucian Arahatta, dan mereka yang mencapai kesucian Sotàpanna tidak terhitung banyaknya (lihat juga di: kitab komentar untuk MahàVagga)"

      Sutta ini memberikan kita 3 informasi:

      • Tidak semua penghuni alam Paramanimmitavasavatti dibawah lingkup kekuasaan Mara
      • Di alam Paranimmitavasavatti-pun, penghuninya dapat mencapai kesucian, dan
      • Namuci Asura adalah BUKAN Mara vasavatti, Namuci Asura tidak dikuasai Mara dan Namuci di sini BUKANLAH julukan lain dari Mara.

      Mengenai Mārasenā/Mahasena (memiliki tentara yang besar),
      SN 3.2/Padhana Sutta menyampaikan 10 pasukan Namuci/Mara yaitu berupa kecenderungan kegemaran atau kekotoran mental (kilesa):

      1. Kesenangan indriawi (Kāmā),
      2. Tidak menyukai kehidupan suci (arati),
      3. Lapar dan haus (khuppipāsā),
      4. Ketagihan (taṇhā),
      5. Kemalasan dan kelambanan (thinamidha),
      6. Ketakutan (bhīrū/bhaya),
      7. Keraguan (vicikicchā),
      8. Mencela dan membandel (Makkho thambho),
      9. Pendapatan (Lābha), pujian (siloka), penghormatan (sakkāra), ketenaran (yasa) dan status yang di raih dengan cara keliru (Micchāladdho),
      10. Memuji diri sendiri dan merendahkan yang lain (cattānaṃ samukkaṃse, pare ca avajānati / atukhamsana paravambhana).

      Di bagian akhir SN 3.2/Padhana sutta, ada kata "dummano yakkho" (mahluk halus yang merana). Kata "yakkha" menurut kamus Pali, Thomas William Rhys Davids, ‎William Stede juga berarti: "sinar cahaya yang cepat atau bergerak dengan cepatnya, mungkin: mahluk yang cepat, berubah tempat tinggalnya dengan cepat dan sesukanya - menurut adat kebiasaan populer dari asal katanya". Jadi, kata yakkha adalah kata umum untuk jenis mahluk tak tampak dan dapat berarti ada mahluk yakkha berjenis namuci yang dikuasai 10 kekotoran mental (dalam cengkraman Mara).

      Memperhatikan pasukan mara di atas, bisa dimengerti mengapa Mara disebut namuci atau "tak ada yang lolos darinya". Hanya mereka yang telah membuang 10 kekotoran mental saja (arahat), yang bebas dari jeratan mara.

      Mara juga dijuluki pāpimā (artinya: penghasut, namun lebih sering diterjemahkan sebagai si jahat). Terjemahan menjadi "si jahat" ini tidaklah tepat mengingat mara adalah jelas mahluk dewa yang bahkan derajat kedewaannya jauh lebih tinggi lagi dari Sakka (raja para deva alam sumeru) dan seluruh deva alam Tusita. Hanya mereka yang melakukan banyak perbuatan baik dan saat kematiannya sedang dalam pikiran kusala yang dapat terlahir di alam bahagia sebagai Deva, bukan?! Sehingga, kata "pāpimā" ini adalah sebagai nama, seperti kata Ananda, yang punya arti literalnya "gembira", "senang" namun juga nama dari sekretaris tetap sang Buddha.

      Julukan Mara yang lainnya:

        MaccuMāra/MaccuRaja (Raja Kematian, Mara si kematian), Antaka (kematian, batas akhir), Pajāpati (tuan dari awal mula), DevaputtaMara (Mara, deva yang baru terlahir), Pamattabandhu (sahabat dari yang tidak perhatian, lalai, lengah, ceroboh), Kaṇha (hitam, gelap), (panca)KhandaMāra (Mara si (lima) kelompok kemelekatan), AbhisankhāraMara (Mara si bentukan karma), kilesaMara (Mara si noda)

      Semua ini merupakan julukan lain Māra (pembunuh, kematian).

      Dalam literatur belakangan,
      julukan Mara juga bertambah, misalnya dari Buddhacarita-nya Asvaghosa (abad ke-2 M) mara disebutkan yang sehubungan dengan cinta/nafsu sehingga disebut juga: Kamadeva (deva cinta), Manmatha (Pengganggu pikiran), Ananga (ranga) (Tak bertubuh), Kusumayudha (Senjata bunga), Pancabana (5 anak panah) dan Makara/Matsya-dhvaja (Tanda/karakter/seperti Buaya/Ikan)

      Sebagai penggoda,
      Mara sendiripun tak luput dari jeratan sensualnya sendiri, keasikkannya menggoda itu bagaikan memakan cabe yang kelimpungan tersiksa pedasnya sendiri. Keasikannya menggoda menjerumuskannya terlahir di alam Neraka sebagaimana disampaikan dalam MN 50/Maratajjaniya Sutta yang memuat kisah Y.M. Maha Moggallana yang pernah terlahir sebagai Mara yang bernama Dusi dan saat itu Mara Vasavatti adalah ponakan lelakinya (anak dari Kali). Perbuatan Mara Dusi yang menggoda seorang Arahat dengan sangat keterlaluannya mengakibatkan Mara Dusi terlahir di neraka Avici selama 10 ribu tahun. Neraka Avici adalah alam Neraka ying takterputus siksaannya.

      Mara Dusi, Sang penggoda, termakan godaaanya sendiri, senjata makan tuan, bermain api dan terbakar api, terlempar masuk ke Neraka:

        Apabila orang bodoh melakukan kejahatan, ia tak mengerti akan akibat perbuatannya. Orang bodoh akan tersiksa oleh perbuatannya sendiri, seperti orang yang terbakar oleh api

        Bagaikan karat yang timbul dari besi, bila telah timbul akan menghancurkan besi itu sendiri, begitu pula perbuatan-perbuatan sendiri yang buruk akan menjerumuskan pelakunya ke alam kehidupan yang menyedihkan.[Dhamapada syair 136 dan 240]

      Namun demikian,
      Dalam kasus Mara Vasavatti, Deva satu ini tampak benar-benar dipenuhi keberuntungan.

      Di Udana 1.1 (Bodhi Sutta), dikatakan 7 tahun lamanya, dari sebelum hingga mencapai penerangan sempurna, Mara mengikuti/memperhatikan dan menggoda Sidharta Gautama. Di literatur lainnya kita temukan Mara gemar sekali menggoda Buddha dan murid-muridnya dan bahkan memohon agar Sang Buddha selekasnya Parinibbana, namun tidak satu literatur Buddhispun yang menyatakan bahwa Dewa Mara Vasavatti layak terlempar ke Neraka

      Jadi kesimpulan yang kita dapat mengenai Mara vs Paranimmitavasavatti adalah:

      • Ketika mahluk masih memiliki 1 diantara 10 kilesa, ia masih dalam jeratan Mara. Kebebasan sepenuhnya dari jeratan HANYA di level kesucian arahat, selain itu masih dalam jeratan mara. Ada cara sementara terlepas dari jangkauan mara, yaitu dengan mencapai Jhana ke-1, karena 5 nivarana telah dilenyapkan (MN 25, AN 9.39)
      • Tidak semua penghuni alam Paranimittavasavatti adalah Mara
      • Para penghuni 91 Alam (biasanya 31 alam), terjerat mara dengan pasukan kilesanya

    2. Nimmānaratī – Alam dari deva-deva yang senang dalam mencipta, dapat mengubah bentuk sesuka mereka. Penguasa alam ini adalah Sunimmita (DN 11/kevaddha sutta); Kitab komentar untuk viharavatthu menceritakan pertemuan YM Anuruddha dengan seorang devi dari alam Tavatimsa, yang dulunya adalah teman Visakha (Seorang umat awam wanita/Upasikha). Temannya ini wafat dalam keadaan bersukacita melihat vihara yang telah selesai dibangun Visakha dan terlahir kembali di alam Tavatimsa. Devi itu berkata bahwa Visākhā terlahir di alam Nimmānaratī menjadi pendamping Sunimmita (Vva.189).

        Sāvatthiyaṃ mayhaṃ sakhī bhadante,Saṃghassa kāresi mahāvihāraṃ (Di Savatthi, Bhante yang terhormat, seorang temanku membangun vihara besar bagi Sangha).. Yā sā ahu mayhaṃ sakhī bhadante, Saṃghassa kāresi mahāvihāraṃ; Viññātadhammā sā adāsi dānaṃ, Uppannā nimmānaratīsu devesu. Pajāpatī tassa sunimmitassa (wanita temanku itu, Bhante yang terhormat,..memahami Dhamma dan memberikan dana itu telah muncul di antara para Dewa Yang Bergembira Dalam Mencipta. Dia ratu utama Sunimmita) [KN, vimanavathu no.44]

      Buddha Gautama, bervassa untuk pertama kalinya di Savatthi adalah di Jetavana (tahun ke-14 kebuddhaan/di usia ke-50an), Setelah masa Vassa, beliau bisa jadi pergi menuju daerah Bhaddiya, kerajaan Anga dan menetap 3 bulan di Jatiyavana, kemudian bertemu Brahmana Sela (1 minggu setelah bertemu, menjadi Arahat), Bhaddaji (menjadi Arahat setelah mendengarkan Kotbah), dan juga Visakha (berusia 7 tahun, saat bertemu Sang Buddha dan menjadi sotāpanna setelah kotbah).

      Saat Buddha Gautama Parinibbana di usia 80 tahun, Visakha berusia 37 Tahun. Kitab komentar menyampaikan Visakha wafat di usia 120 tahun (83-an tahun setelah wafatnya Buddha Gautama dan 48-an tahun setelah wafatnya YM Anuruddha).

      Jika teman Devi ini adalah Visakha (yang membangun vihara Pubbarama di Savatthi dan Sang Buddha bervassa di Pubbarama mulai tahun ke-39 s/d tahun ke-44), maka sekurangnya terdapat 2 kemungkinan:

      Vimanavatthu no.44 ini baru muncul sekurangnya 83-an tahun setelah Buddha parinibbana dan YM Anuruddha yang ada di komentar viharavatthu BUKANLAH YM Anuruddha sepupu sang Buddha (wafat di usia 115 tahun/DhA ii.413, 35 tahunan setelah Buddha Parinibbana).

      atau

      Tidak seluruh bagian syair dalam Vimanavatthu no.44 (saat ini) disampaikan oleh YM Anurudha (sepupu sang Buddha), khususnya syair ke-16 s.d syair ke-18 adalah TAMBAHAN BELAKANGAN yang hanya terjadi di setelah wafatnya Visakha.

      Umur kehidupan di alam ini:
      1 hari + 1 malam di alam ini (24 jam) = 800 tahun manusia (1 bulan = 30 hari, 1 tahun = 12 bulan = 360 hari). Lama Umur Deva adalah 8000 tahun deva (2.304.000.000 tahun manusia), 1 jam di alam ini = 33.33 tahun manusia [AN 3.70/1, Uposatha sutta]

    3. Tuṣita – Alam Deva yang "penuh kegembiraan".
      Seluruh Bodhisatta sebelum terlahir terakhir kalinya di alam manusia untuk menjadi Sammasambuddha adalah dari alam ini. Kelak, Bodhisatta Nātha (atau Nāthadeva) yang akan terlahir sebagai Ajita dan kemudian menjadi Buddha Metteyya juga akan ada di alam ini. Penghuni alam ini TIDAK HARUS Bodhisatta. Penguasa alam ini adalah deva Santusita (DN 11/Kevaddha Sutta).

      DN14/Mahapanada sutta, menyampaikan Dhammatā (hal-hal yang hanya terjadi) pada setiap sammasambuddha, yaitu:

      1. Para Bodhisatta mengetahui sepenuhnya dalam perhatian jatuh dari surga tusita dan ada dalam rahim ibu-Nya
      2. Para Bodhisatta akan berada 10 bulan penuh dalam rahim ibu-Nya
      3. Tidak ada seorang pun, manusia atau bukan yang dapat membunuh Bodhisatta atau ibu-Nya'
      4. Para Ibunda Boddhisatta akan menjalankan sila: tidak menyakiti mahluk hidup, tidak mengambil yang tidak diberikan.., mengendalikan inderanya dari perbuatan yang tidak patut..tidak memiliki pikiran indriawi sehubungan dengan laki-laki, tidak dapat dikuasai laki-laki mana pun yang berpikiran penuh nafsu, tidak menyatakan yang tidak benar, tidak makan/minum yang dapat melemahkan kesadarannya
      5. Para Ibunda Boddhisatta takkan mengalami penyakit apa pun, selalu merasa nyaman dan tidak merasakan keletihan pada tubuhnya, dan dapat melihat Sang Bodhisatta di rahimnya, lengkap dengan seluruh anggota tubuh dan indria-Nya
      6. Para Ibunda Boddhisatta akan melahirkan dalam posisi berdiri
      7. Ketika keluar dari rahim: Sang Bodhisatta berdiri mantap di kedua kaki menghadap utara, berjalan 7 langkah, dengan payung putih yang bantu menahanNya, menatap sekeliling penjuru, berbicara kata-kata agung: “Akulah unggulan dunia; Akulah terbaik dunia; Akulah terkemuka dunia; kelahiran terakhirKu; Kini tak ada lagi penjelmaan”
      8. Para Ibunda Boddhisatta meninggal dunia 7 hari setelah melahirkan Sang Bodhisatta dan terlahir di alam surga Tusita

      Umur kehidupan:
      1 hari + 1 malam di alam ini (24 jam) = 400 tahun manusia (1 bulan = 30 hari, 1 tahun = 12 bulan = 360 hari). Lama Umur Deva adalah 4000 tahun deva (576.000.000 tahun manusia), 1 jam di alam ini = 16.67 tahun manusia [AN 3.70/1, Uposatha sutta]

    4. Yāma (mengekang, menyaksikan, gabungan/pasangan)– kadang disebut "Alam Deva tanpa peperangan" karena terpisah dari kekusutan alam-alam mahameru. Penguasa alam ini: Deva Suyama [Kevadda Sutta]. Kitab komentar: Sirimā, yang pernah menjadi pelacur di Rājagṛha, terlahir kembali menjadi pendamping Suyama (SNA.i.244f, 253f) namun di Vimanavatthu (KN, Vimannavatthu no.16), Sirima mencapai sotāpanna dan terlahir di alam Nimmānarati

        Kāmaggapattānaṃ yamāhunuttaraṃ, Nimmāya nimmāya ramanti devatām Tasmā kāyā accharā kāmavaṇṇinī (melampaui kesenangan sensual tertinggi dengan pengekangan diri, devata yang mendapatkan kegembiraan dengan mencipta, Mahluk dari kelompok yang dapat mengubah bentuk semaunya).. Evaṃ ahaṃ amatadasamhi devatā, Tathāgatassanadhivarassa sāvikā; Dhammaddasā paṭhamaphale patiṭṭhitā, Sotāpannā na ca pana matthi duggati (Demikianlah saya adalah devata yang mengetahui tanpa-kematian, siswa perempuan sang Tathagata yang tiada bandingnya, telah melihat Dhamma mantap dalam buah pertama, Pemasuk-Arus dan tidak ada lagi menuju keadaan menderita)

      Umur kehidupan:
      1 hari + 1 malam di alam ini (24 jam) = 200 tahun manusia (1 bulan = 30 hari, 1 tahun = 12 bulan = 360 hari). Lama Umur Deva adalah 2000 tahun deva (144.000.000 tahun manusia), 1 jam di alam ini = 8.33 tahun manusia [AN 3.70/1, Uposatha sutta]

      Mulai di bawah ini disebut alam KAMA LOKA

      KAMALOKA (alam Kamadhatu), strukturnya menyerupai "meru" (kutub, gunung, bertingkat) yang disebut Sineru/Sumeru (su = baik; meru = gunung/kutub bertingkat) atau mahaneru/mahameru (tinggi sekali). Di satu set kesatuan dunia, terdapat triliunan lebih Sineru [AN 3.80].

      Ukuran Sineru kita: 84.000 yojana panjang x 84.000 yojana lebar x terbenam 84.000 yojana di dalam samudra raya/alam asura dan menjulang 84.000 yojana di atas samudra raya/alam asura [AN 7.66/Sattasūriya Sutta. 1 yojana = 7-9 mil, 1 mil = 1.6 km, jadi 84.000 Yojana = 940,800 km - 1,209,600 km, dengan luas permukaan (dengan asumsi menyerupai lingkaran): 2,781,757,440,000 km2 - 4,598,415,360,000 km2. Sebagai gambaran untuk tata surya kita, yang tampaknya hanya bumi saja yang berisi kehidupan: manusia dan binatang, diameternya = 12.742 km dan luas permukaan = 510,072,000 km2 dan 29.2%nya daratan].

      Sineru merupakan kumpulan alam-alam dibawah alam Yama, yang pada bagian atasnya: perasaan menyenangkan/sugati, bagian bawahnya: perasaan menyakitkan/duggati dan ditengahnya: campuran ke-2nya. Alam manusia ada di tengah dan jumlahnya jauh lebih sedikit dari binatang, peta dan neraka, sehingga bentuk Sineru dengan kategori jumlah penghuni, akan menyerupai TEROMPET yang membesar ke bawah

      Sains mengenal 11 dimensi ruang dan waktu :). Di mana ruang adalah hubungan antar benda [baca: MATERI] dan ketika berhubungan dengan kata "ukur" maka ada definisi:

      • Besaran [relatif antar objek]
      • jarak [relatif posisi terhadap ruang] dan
      • waktu [pengukuran relatif terhadap perbedaan keserempakan terhadap koordinat ruang]

      Ruang dan waktu 4 dimensi adalah:

      ke-1 = garis (1 sisi)
      ke-2 = bidang (2 sisi)
      ke-3 = volume [3 sisi, P x l x t]
      ke-4 = waktu

      Dari 4 dimensi diolah lagi menjadi 11 dimensi:

      ke-5 = pergerakan 1 sisi;
      ke-6 = pergerakan 2 sisi;
      ke-7 = pergerakan 3 sisi;
      ke-8 = denyut dari waktu [kontraksi/ekspansi waktu];
      ke-9 = getar/goyang 1 sisi;
      ke-10= getar/goyang 2 sisi;
      ke-11= getar/goyang 3 sisi

      Sains berkembang dalam mendefinisikan materi, awalnya materi adalah massa, berubah menjadi materi adalah volume dan terakhir ditemukan materi yang tidak ber-massa [leptons dan quarks].

      [Suara adalah perambatan partikel. Dalam quantum mekanik getaran atom dan molekul adalah phonon / quata / paket energi atau juga partikel yang juga adalah materi. Cahaya di samping gelombang elektromagnetik juga materi [photon]. Bagi mereka yang percaya ada roh/jiwa/atma, maka ini seharusnya adalah materi karena terperangkap di tubuh materi. Sesuatu yang terperangkap dalam materi maka itu materi juga]

    1. Tāvatiṃsa
      (tāva/tavat = "sebanding/sebagus"; Timsa/Trimsat = "30". Namun dalam terjemahan Inggris/Indonesia/dan lainnya, diterjemahkan surga 33 dewa) Alam ini berada di puncak Sineru atau su-meru "tingkatan yang baik" atau su-dassana "pandangan yang jelas".

      Tentang 33 dewa
      Terdapat beberapa ajaran yang menyinggung kata "33 dewa", diantaranya:

      • Zoroastrian (Zend Avesta), terdapat frase: "33 ratu (hakim, dewa)" [Yas 1.10].

      • Literatur Veda (Brahmanisme), mendetailkan jumlah 33 dewa: 11 deva di langit + 11 deva di bumi + 11 Deva di perairan [Yajurveda 7.19], atau juga dikelompokkan menjadi: 8 Vasu + 11 Rudra + 12 Aditya + 2 deva lainnya (nama 33 dewanya bervariasi, tidak harus seperti bawah ini):

        • 8 Vasu: Pṛthivī, Agni, Antarikṣa, Vāyu, Dyauṣ/dyo, Sūrya/Adiya, Nakṣatra, Somacandrama [Brihadaranyak Upanishad 3.9.2]
        • 11 Rudra: Ānanda, Vijñāna, Mana, Prāṇa, Vāc, Śiva – Īśāna, Tatpuruṣa, Aghora, Vāmadeva, Sadyojāta, , Ātmā) +
        • 12 Aditya: Mitra, Aryaman, Bhaga, Varuṇa, Dakṣa/Dhâtâ, Aṃśa, Tvāṣṭṛ/Tvashthâ, Pūṣan/Pusha, Vivasvan, Savitṛ/Savitâ, Śakra/S'atru, Viṣṇu/vaman.
        • 2 deva lainnya: Dyaus dan Prthivi (Satapatha Brahmana 4.5.7. Indra tidak termasuk di 33 dewa) atau Indra dan Prajapati (Satapatha Brahmana II. 6. 3; Brihadaranyaka Upanisad 3.9.2) atau Vasapkara dan Prajapati (Aitareya Brahmana 2. 18. 8. Di mana Indra termasuk di 33 dewa). Menurut Monier-Williams: Deva kembar aswin.

        • Walaupun alamnya 33 dewa, namun jumlahnya jelas jauh melebihi (3.33 juta deva dalam Brihadaranyaka Upanishad 3.9)

      • Buddhism: Di alam itu, sebelumnya, sudah ada para Deva lain (pubbadeva) sebelum Magha dan 29 temannya terlahir di alam itu (Penduduk kampung Magha berisi 30 keluarga - Jataka no. 31/kulavaka) dan Magha terlahir kembali menjadi Deva Sakka/raja Para deva.

        30 orang ini ditambah 3 perempuan yang hidup di jaman Magha dan terlahir kembali menjadi pelayan sakkha, yaitu: Sudhama, Nanda dan Citta. Jadi totalnya adalah 33 Dewa. Seharusnya ada 1 nama lagi, yaitu: Suja, namun Suja kemudian terlahir menjadi anak perempuan raja Asura (Vepaciti) dan menjadi pendamping Sakka. [Jataka no. 31/kulavaka]. Selama kurun waktu Pra dan jaman Buddhism, banyak bermunculan para deva baru, misalnya: Kassapa, Magha, Magadha, Damali, Kamada, Pancalacanda, Tayana, Candima [candra], Suriya [surya], Candimasa, Venhu [Visnu], Siva, Dighalatthi, Nandana, Candana, Vasudatta, Subrahma, Kakudha, Uttara, Anathapindika, Khema, Seri, Ghatikara, Jantu, Rohitassa, Nanda, Nandivisala, Susima dan banyak lagi [Devaputtasamyutta]

        Di Vimana vatthu, terdapat 85 bentukan Istana yang muncul di alam Tavatimsa

        DN 20/Mahasamaya Sutta, menyebutkan nama beberapa kelompok deva yang penempatannya berada di atas para Asura dan di bawah alam Yama, misalnya: Dewa yang tinggal di: Tanah, api, air, udara, matahari, bulan, bintang, awan (awan: dingin, panas, badai, hujan dan angin, lihat: SN 32/VahalakaSamyutta) dan banyak lagi

        Jadi, nama alam itu bukanlah alam 33 dewa, namun alam yang yang SEBANDING dengan 30 dewa

      Umur kehidupan:
      1 hari + 1 malam di alam ini (24 jam) = 100 tahun manusia (1 bulan = 30 hari, 1 tahun = 12 bulan = 360 hari). Lama Umur Deva adalah 1000 tahun deva (36.000.000 tahun manusia), 1 jam di alam ini = 4.17 tahun manusia [AN 3.70/1, Uposatha sutta]

      Peperangan deva dan asura:
      Penguasa Asura sebelum Vepacitti disebut sambara. Dulu para pertapa pernah meminta perlindungan sambara, namun ditolak, hingga mereka pun mengutuknya. Karena takut atas kutukan itu, Ia menjadi sakit [SN 11.10]. Dikisahkan ketika Vepacitti sakit, Deva Sakka memohon diajari ilmu sambari/ilmu gaib namun vepacitti menolaknya [SN 11.10/23] Buddhaghosa menyatakan ada perubahan nama dari Sambara menjadi Vepacitti. Frase "cittam vepati" (CIttam = pikiran/mental; vepa = sakit, kacau) menjadi asal nama Vepacitti.

      SEBELUM suja (anak perempuan Vepacitti) mendampingi sakka [ini menyebabkan Sakka juga digelari Sujampati], sudah sejak lama terjadi perseteruan antara para Asura vs Deva [SN 11.1-20]

      Dalam kisah yang membalut syair di Jataka (hanya syairnya yang termasuk kanon pali, sedangkan kisahnya berasal di abad setelah 3-2 SM], pertikaian antara para deva dan asura dikisahkan terjadi secara fisik. Juga, ketika kalah tertulis dalam terjemahan bahwa Vepacitti (Raja asura) "terikat ke-4 anggota tubuh dan lehernya" [SN 11.4/Vepacitti Sutta]. Kitab komentar menyatakan frase "terikat ke-empat anggota tubuh dan leher" adalah KIASAN. Keterangan kitab komentar ini sejalan dengan SN.7/Nadubbhiya Sutta, yaitu ketika Sakka "menangkap" vepacitti:

        “Para bhikkhu, suatu ketika di masa lampau, ketika Sakka, raja para deva, sedang sendirian dalam keheningan, perenungan berikut ini muncul dalam pikirannya: ‘Walaupun seseorang adalah musuhku, aku tidak boleh melawannya.’

        “Kemudian, Para bhikkhu, Vepacitti, raja para asura, setelah dengan pikirannya mengetahui perenungan dalam pikiran Sakka, mendekati Sakka, raja para deva. Dari jauh, Sakka melihat kedatangan Vepacitti, berkata: ‘Berhenti, Vepaciti, engkau tertangkap! (gahitosī)’

        ‘Tuan, jangan abaikan gagasan yang baru saja muncul dalam benakmu.’

        ‘Bersumpahlah, Vepacitti, bahwa engkau takkan melawanku.’

        [Vepacitti:]
        ‘“Kejahatan apapun yang muncul di diri seorang pembohong,
        Kejahatan apapun yang muncul di diri seorang penghina para mulia,
        Kejahatan apapun yang muncul di diri seorang pengkhianat para sahabat,
        Kejahatan apapun yang muncul di diri seseorang yang tidak tahu berterima kasih:
        Kejahatan yang sama akan menghampirinya
        Siapakah yang melawanmu, Suami Sujā.

      Sutta di atas menunjukan kata "tertangkap" tidaklah dalam keadaan terikat di leher dan tubuh. Perseteruan ini tidaklah dilakukan secara fisik namun dalam kebajikan dan juga syair nasihat. Dalam perseteruan, para Deva dan juga Asura, masing-masing 3x menang [AN 3.39/Devasurasangama Sutta. Rig veda menyatakan Sambara ditaklukan Indra]. Kisah kekalahan dan kemenangan Deva tercatat seperti ini:

        Di Sāvatthī. “Para bhikkhu, Di masa lampau (Bhūtapubbaṃ), para deva dan para asura kerap dalam pertikaian..Dalam pertikaian itu, para asura unggul [jiniṃsu] dan para deva merosot [parājiniṃsu]. Karena kalah, para deva merosot dalam ketinggian [apāyaṃsveva uttarenamukhā], dihadapan asura [abhiyaṃsveva ne asurā]. Kemudian..Sakka raja deva menyampaikan syair pada matali pelayannya:

        kesia-sian, matali, simbali (mitologi pohon tinggi besar dengan duri terbakar berpijar, ini menunjukan frase perasaan menyakitkan, ganjaran melakukan hal tidak baik) [Kulāvakā mātali simbalismiṃ];
        arah kereta menjauh [Īsāmukhena parivajjayassu, merujuk pada menjauh dari kebajikan];
        hasrat sensual (kāmaṃ) memancar (cajāmana) rasa ini dan itu (asu-rasa) kehidupan (pāṇa) [Kāmaṃ cajāma asuresu pāṇaṃ];
        kami (māyime) brahmana (dijā) sia-sia (vikulāva-ka) jadinya (ahesu) [māyime dijā vikulāvakā ahesu'nti]

        ‘Demikian yang mulia, para bhikkhu, matali pelayan Sakka raja deva, mengikuti [paṭissutvā], kumpulan ribuan [sahassayuttaṃ] berkecenderungan dalam kebahagiaan [ājañña-rathaṃ] balik kembali [paccudāvattesi]. Dan kemudian, Para bhikkhu, asurānaṃ etadahosi [asura berpikir] – balik kembali sekarang Sakka raja para deva bersama ribuan yang cenderung dalam kebahagiaan [paccudāvatto kho dāni sakkassa devānamindassa sahassayutto ājaññaratho]. Ke-2 X, para deva dan asura berada dalam pertikaian [Dutiyampi kho devā asurehi saṅgāmessantīti] rasa khawatir memasuki kota para asura [bhītā asurapurameva pāvisiṃsu]. Demikianlah para bhikkhu, sakka Raja deva, telah memenangkan rintangan [dhammena jayo ahosī]. [SN 11.6/Kulāvaka Sutta. Note: Sutta ini diterjemahkan sangat berbeda di berbagai terjemahan lainnya (Inggris/Indonesia)].

      Perseteruan diselesaikan melalui adu syair yang dimenangkan oleh Sakka:

        "Vepacitti, raja para asura, berkata pada Sakka, raja para deva: ‘Raja deva, biarlah kemenangan ditentukan oleh nasihat yang diucapkan dengan baik.’

        [Dan Sakka menjawab]:
        ‘Vepacitti, biarlah kemenangan ditentukan oleh nasihat yang diucapkan dengan baik.’”

        “Kemudian, Para bhikkhu, para deva dan para asura menunjuk suatu panel hakim, dan berkata: ‘orang-orang ini akan memastikan apa yang diucapkan dengan baik dan apa yang diucapkan dengan buruk oleh kita...

        [terjadi adu syair]

        ...Kemudian panel hakim yang ditunjuk oleh para deva dan para asura berkata: ‘Syair-syair yang diucapkan oleh Vepacitti, raja para asura, adalah dalam lingkup hukuman dan kekerasan; karenanya [menyebabkan] konflik, perdebatan, dan perselisihan. Tetapi syair-syair yang diucapkan oleh Sakka, raja para deva, adalah dalam lingkup bukan-hukuman dan bukan-kekerasan; karenanya [menyebabkan] kebebasan dari konflik, kebebasan dari perdebatan, dan kebebasan dari perselisihan. Sakka, raja para deva, telah menang dengan nasihat yang diucapkan dengan baik.’

        “Demikianlah, Para bhikkhu, Sakka, raja para deva, menang dengan nasihat yang diucapkan dengan baik.” [SN 11.5/Subhasitajaya Sutta]

      Sang Buddha di Tavatimsa
      Pembabaran Dhamma sang Buddha di Tavatimsa sekurangnya tercantum di 4 sutta:

      • DN 21/Sankapanha sutta, yaitu di jawaban Bhadda suriyavaccasa (anak perempuan gandhabba timbaru) pada Pancasikha:

        “..Tuan, aku belum pernah melihat Sang Bhagavā secara pribadi, meskipun aku telah mendengar-Nya saat aku pergi ke Aula Sudhamma Tavatimsa untuk menari (ca sutoyeva me so bhagavā devānaṃ tāvatiṃsānaṃ sudhammāyaṃ sabhāyaṃ upanaccantiyā). Dan karena, Tuan, engkau memuji Sang Bhagavā begitu tinggi, marilah kita bertemu hari ini. Dan demikianlah, Bhagavā. Aku bertemu nona itu, bukan saat itu, tapi setelah itu..’

        Dalam DN 21/Sankhapanha, Sakka, raja para deva, menggunakan kata, "bhante" bukan "marissa" [sama seperti tuan, bho, avuso, pada yang sederajat] oleh sakka pada sang Buddha, maka di waktu penyampaian sutta ini, Sakka telah menjadi pengikut sang Buddha

      • DN 16/Mahaparinibbana sutta:

        [Aṭṭhaparisā] 8 MACAM PERHIMPUNAN
        21. "Ananda, ada 8 macam perhimpunan, yaitu Perhimpunan para kesatriya, para brahmana, orang-orang berumah tangga, para pertapa, para dewa Catummaharajika, para dewa Tavatimsa, para Mara dan para dewa Brahma.

        22-23. Ananda, kini kami ingat bagaimana kami telah pernah menghadiri undangan dari ke-8 persidangan yang masing-masing dihadiri beratus-ratus individu. Sebelum dimulai percakapan atau pembahasan, kami membuat wajahku mirip dengan wajah mereka, suaraku menyerupai suara mereka. Demikianlah kami mengajarkan mereka mengenai Dhamma, dan hal ini memberikan manfaat dan kegembiraan pada mereka. Meskipun demikian, tatkala kami sedang memberikan Dhamma pada mereka, mereka tak mengetahui siapa sebenarnya kami ini, dan mereka saling bertanya pada kawan-kawannya, "Siapa gerangan yang sedang berbicara pada kita? Apakah gerangan ia seorang manusia atau dewa?" tanya mereka.

        Sesudah Sang Bhagava mengajarkan Dhamma dan telah membimbing mereka, mereka menyadari manfaatnya dan gembira, lalu kami pergi. Setelah kami meninggalkan mereka, mereka belum juga mengetahui tentang kami, mereka saling bertanya: "Siapakah gerangan dia yang telah pergi itu? Apakah dia manusia atau dewa?" Ananda, begitulah 8 macam perhimpunan itu.

      • MN 134/Lomasakangiyabhaddekaratta Sutta, yaitu dari pernyataan Deva Candana:

        "Bhikkhu, suatu ketika Sang Bhagavā berdiam di antara para dewa di alam Tavatimsa, di atas batu pualam merah di bawah pohon Pāricchattaka. Di sana Sang Bhagavā membabarkan ringkasan dan penjelasan ‘Seorang yang menggemari kualitas baik’ pada para dewa di alam Tavatimsa" [Ekamidaṃ, bhikkhu, samayaṃ bhagavā devesu tāvatiṃsesu viharati pāricchattakamūle paṇḍukambalasilāyaṃ. Tatra bhagavā devānaṃ tāvatiṃsānaṃ bhaddekarattassa uddesañca vibhaṅgañca abhāsi]

      • Di SN 55.20. Dari hutan Jeta mengunjungi Alam Tavatimsa dan menyampaikan 4 faktor pemasuk arus melalui Indera keyakinan, yaitu keyakinan pada Buddha (1), dhamma (2), sangha (3) dan moralitas yang disenangi para mulia dan menuntun pada pikiran terpusat (4).

      Dari sample di atas, kunjungan beliau ke Tavatimsa terjadi berulang kali.

      Kitab komentar menyatakan: Sang Buddha, di tahun ke-7 ke-Buddha-an, pergi ke Tavamtisa mengajarkan Abhidhamma kepada IbuNya (beliau terlahir kembali di alam itu ± 4.32 jam menurut waktu alam surga Tusita. Nama devanya: Santusita, namun di Thag.vss.533f, ThagA.i.502, nama devanya: Māyādevaputta). Saat pembabaran itu, IbundaNya mencapai sotāpanna [Kitab komentar untuk: Jataka no.483 dan Dhammapada no. 181].

      Kejadian ke Tavamtisa diawali peristiwa pertunjukan kesaktian dihadapan umat awam yang dilakukan YM Pindola Bhâradvadja pada hari ke-7, setelah 6 hari lamanya, 6 guru terkemuka [Purana Kassapa, Makkhali Gosala, Ajita Kesakambali, Pakudha Kaccayana, Sanjaya Belatthiputta, Nigantha-Nataputta] gagal memberi bukti kepada seorang pedagang kaya Rajagaha yang tidak percaya arahat sejati ada karena dibingungkan begitu banyaknya yang mengaku sebagai Arahat, untuk itu, Ia membuat mangkuk dari cendana dan menggantungkannya di atas rangkaian bambu setinggi 60 lengan dan mengumumkan, "Arahanta sejati boleh mengambil mangkuk ini dengan cara terbang ke angkasa".

      Kejadian YM Pindola menghebohkan penduduk Rajagaha sehingga mereka mengekoriNya. Kegaduhan ini diketahui sang Buddha. YM Ananda menerangkan sebab terjadinya kegaduhan dan Sang Buddha menetapkan larangan, "Para bhikkhu…seorang bhikkhu tidak memperlihatkan kesaktiannya di hadapan umat awam; dan ini adalah pelanggaran, 'Dukkata âpatti'/Pelanggaran minor".

      Pertunjukan kesaktian dari YM Pindola Bharadvaja, tercantum dalam vinaya: [Theravada Pali V.5.8; Dharmaguptaka ch 51 1916: 235-238 (96-99); Mahīśāsaka ch 26 1916: 238-243 (99-103); Sarvâstivāda ch 37 1916: 243-246 (103-105); Mūla,sarvâstivāda Divy 256.25-257.21], Kitab komentar: [AA 1:196-199; SA 393; DhA 14.2.2/3:199-201; ThaA 2:4-6; UA 252; J 4:263; SnA 570; ApA 197. S] dan hanya kitab komentar yang mencantumkan tahun kejadiannya, yaitu di tahun ke-6 masa Vassa .

      Larangan tersebut menggembirakan para pengikut 6 Guru lainnya. Raja Bimbisara bertanya pada sang Buddha tentang pelarangan itu dan sang Buddha menyampaikan bahwa 4 bulan kemudian di Savatthi, beliau akan mempertunjukan keajaiban. [RAPB buku ke-1, hal 1187]. Jarak Rajagaha – Savatthi = 45 Yojana (504 km s.d 648 km).

      Kemudian di Savatthi,
      Beberapa dari sangha Bhikkhu dan bikkhuni, diantaranya Samaneri Cirra yang berumur 7 tahun dan Bhikkhuni Uppavalavanna memohon ijin untuk menggantikan beliau menunjukan kesaktian, namun tidak diperkenankan. Sang Buddha kemudian mempertunjukan kesaktiannya dan setelah itu ke alam Tavatimsa. Salah satu dari 6 guru, yaitu Purana Kassapa, bunuh diri terjun ke sungai karena malu akan kegagalannya di Rajagaha.

      Apa yang dapat kita gali dari informasi di atas?
      Di atas disampaikan bahwa YM Ananda memberitahukan kehebohan yang terjadi di Rajagaha kepada Sang Buddha. Sutta menginformasikan bahwa YM Ananda menjadi Buddhopaṭṭhāka (pembantu tetap Sang Buddha) justru mulai di tahun ke-20: "Paṇṇavīsati-vassāni (Selama 25 tahun); bhagavantaṃ upaṭṭhahiṃ (menjadi pendamping Sang Bhagava); Mettena kāya.. vacī.. manokammena (dengan cinta kasih melalui perbuatan, perkataan dan pikiran), chāyāva anapāyinī (bagai bayangan yang tak lepas)" [Thag 17.3/Ananda]. Jadi seharusnya terjadi di atas tahun ke-20.

      Di atas ada Samaneri dan Bhikkhuni. Ini seharusnya terjadi di atas tahun ke-20.

      Sutta Di DN2/Sāmaññaphala Sutta:
      Raja Ajjatasattu pernah berkonsultasi dan kemudian disarankan juga untuk berkonsultasi lagi dengan 6 guru terkemuka, yang salah satunya adalah Purana Kassapa.

      Raja Bimbisara wafat ketika Sang Buddha berusia 72 tahun (Sang Buddha wafat di tahun ke-8 masa pemerintahan Ajjatasattu). Dalam waktu 4 bulan, setelah pertunjukan Pindola Bhavadraja, Raja Magadha telah berganti dari Bimbisara menjadi Ajjatasattu. Ketika Purana Kassapa bunuh diri ini terjadi beberapa bulan setelah Ajjatasattu menjadi Raja

      Oleh karenanya, perjalanan ke Tavatimsa, yang konon untuk urusan mengajar Abhidhamma, seharusnya terjadi di tahun ke-37

      Sementara itu,
      hasil konsili ke-1 dan ke-2, sama sekali tidak memuat adanya Abhidhamma sebagai ajaran yang khusus terpisah (atau kelak sebagai 7 kitab yang menjadi 1/3 tipitaka). Sejarah mencatat bahwa 7 kitab Abhidhamma baru ada di tahun ke-3 SM, setelah konsili ke-3 [Untuk jelasnya, lihat: Terbentuknya Tipitaka dan Perpecahan Buddhisme Menjadi Banyak Aliran]

      Klaim bahwa Abhiddhama diturunkan via YM Sariputta
      YM Sariputta disebut sang Buddha sebagai “Yang terunggul dalam intuisi kebijaksanaan”, di beberapa sutta, kita temukan beberapa diskusi logika analisis, misal di Mahaghosinga sutta [YM Moggalana dan YM Sariputta] juga Mahavedalla sutta [YM Kotthita dan YM Sariputta] mereka berdiskusi lebih dalam lagi tentang Dhamma. Pembicaraan Dhamma yang dalam lagi ini adalah bagian dari Dhamma itu sendiri.

        YM Sariputta:
        2 minggu setelah ditahbiskan, Aku memahami analisa: [atthapaṭisambhidā/pengertian secara luas dan mendalam; dhammapaṭisambhidā/hubungan kondisi dan sebab; niruttipaṭisambhidā/Tata bahasa asal usul interpretasi pengucapan dialek dan ekspresi; paṭibhānapaṭisambhidā/Penerangan, intelektual dan kefasihan penyampaian] dan dengan rincian ciri dan kekhasannya (sacchikatā odhiso byañjanaso) Itu saya nyatakan, terangkan, perlihatkan dan tunjukan dalam dalam berbagai cara (AN 4.173/Vibhatti sutta).

      Pengakuan YM Sariputta ini adalah tentang apa yang dicapainya, tidak pernah disebutkan di manapun dalam sutta dan vinaya bahwa beliau mendapatkan suatu ajaran khusus yang disebut dengan nama Abhiddhama. Hanya kitab-kitab komentar buatan abad-abad belakanganlah yang memuat perluasan imaginasi bahwa Abhidhamma diturunkan via Sariputta yang dikaitkan dengan perjalanan fiksi sang Buddha ke Tavatimsa untuk mengajar Abhiddhama kepada IbuNya. Klaim kitab-kitab komentar ini, seharusnya mengundang beberapa pertanyaan lanjutan, misalnya:

      • Mengapa IbuNya tidak ke alam manussa saja untuk mendapatkan pengajaran, karena toh, sutta dan vinaya juga menyampaikan bahwa para devapun kerap berkunjung ke alam manussa untuk mendengarkan dhamma Sang Buddha dan para Arahat lainnya?
      • Mengapa selama 3 bulan (90 hari) musim vassa alam manussa yang setara dengan 3.6 detik di Tavatimsa itu, Sang Buddha perlu turun (atau membuat proyeksi image-Nya) ke alam manussa untuk berpindapatta setiap harinya? Mengapa sang Buddha tidak kuat untuk tidak makan untuk sekedar hanya 3.6 detik saja? Atau mengapa para deva menjadi begitu pelitnya tidak menyuguhkan sesuatu jika memang waktunya pindapatta? atau tidakkah 90x kepergiannya dalam 3.6 detik itu menjadikan diriNya tampak tidak serius mengajar? Atau tidakkah proyeksi image itu (dalam komentar lainnya) membuat sang Buddha menjadi pelanggar sila ke-4 karena membohongi pemberi dana?

      Jadi jelas sang Buddha tidak pernah mengajarkan secara khusus tentang Abhidhamma (yang kelak menjadi 1/3 Tipitaka) di Tavatimsa pada tahun ke-7 atau tahun manapun keBuddhaan

      Sementara itu,
      Abhidhamma asli yang merupakan ajaran sang Buddha adalah 37 hal sisi pencerahan/Sattatiṁsā Bodhipakkhiya dhammā:

      ”…hal-hal ini yang telah Kuajarkan kepada kalian setelah mengetahuinya secara langsung, yaitu:

      • 4 landasan perhatian
      • 4 jenis usaha benar
      • 4 landasan kekuatan mental
      • 5 indria
      • 5 kekuatan
      • 7 faktor pencerahan
      • 8 jalan Mulia [37 ini juga tercantum di DN 16/Mahaparinibanna sutta]

      dalam hal-hal ini kalian semuanya harus berlatih dalam kerukunan, dengan saling menghargai, tanpa perselisihan. Tesañca vo, bhikkhave, samaggānaṃ sammodamānānaṃ avivadamānānaṃ sikkhataṃ siyaṃsu dve bhikkhū abhidhamme nānāvādā... (Sewaktu kalian berlatih dalam kerukunan, dengan saling menghargai, tanpa perselisihan, dua bhikkhu mungkin membuat pernyataan berbeda sehubungan dengan Dhamma yang lebih dalam…)” [MN 103/Kinti Sutta]

    2. Asura
      Sakka/Sakra/Indra di juluki Asurinda [J.i.66: "Asurindena pavitthadevanagaram viya"]. Pendamping Sakka adalah Suja (anak perempuan Raja Asura, vepacitti) sehingga Sakka juga dijuluki Sujampati. Para asura disebut Pubbadeva [Dewa awal/senior/tua, SnA.484]. Dulu Tavatimsa adalah tempat para Pubbadeva dan deva muda lainnya yang sebanding dengan 30 deva (Magha dan temannya). (lihat: di sini). Sekelompok deva di alam itu rupanya punya kegemaran "Gandapāna/gandhāpana" (gandha + apana, wewangian yang memabukan, ini mungkin berhubungan dengan kekuatan/ilmu Sambara, yang ketika itu Sakka sempat memohon Vepacitti untuk mengajarinya namun ditolak). Kejadian gandhapana ini, tidak disukai Sakka, mengakibatkan kelompok tersebut berada di area selatan/bawah Sumeru dan para deva lainnya di area utara/atas sumeru. [Jataka no.31]

      Menurut Hinduism awal:
      Rg Veda mengenal 2 kekuatan itu saling tarik menarik, saling kerjasama dan saling berlawanan, seperti tangan kanan dan tangan kiri sehingga Asura bukanlah bentuk negatif sura melainkan berasal dari asu+ra (Asu = udara, nafas, kekuatan. Ra = mengontrol, Seseorang yang menguasai/punya kekuatan), jadi artinya adalah pemilik kekuatan.

      Asura di Rig Veda: Varuna, raja para Deva [RV 1.24.4], Savitur [RV 1.35.9], Rudra [Penguasa nafas, penguasa surga yang perkasa RV 2.1.6], Mitra [bersama Varuna sebagai asura di RV 5.63.3; sebagai Deva di RV 7.60.12], Indra [RV 1.174.1], Agni [RV 5.12.1] Soma [RV 9.72.1].

      Dalam Aiteya brahmana [terkait dengan Rig Veda, AB 4.5] Deva penguasa siang: Sura; Deva penguasa malam: Asura. Pembimbing Asura [termasuk Deva]: Bhrgu dan Brhaspati.

      Aplikasi lain Asura, yaitu 1 dari 8 jenis perkawinan (manusmrti 3.1): Perkawinan di mana mempelai pria memberikan uang pada ibu mempelai wanita, ayahnya, kakak/adiknya atau saudaranya atau pada mempelai wanita dan juga ada sanksinya berkenaan dengan hal tersebut

      Terdapat pendapat bahwa pergeseran makna Asura terkait dengan pertentangan keluarga kaum Aryan di Iran, yang pecah 2: Vedic Aryan dan Iranic Aryan, di mana mahluk yang bagi kaum Vedic Aryan adalah SETAN, KOTOR, JELEK berarti sebaliknya bagi kaum Iranic Aryan.

      Itulah mengapa teks-teks Hindu/Buddha belakangan (dipastikan terjadi di setelah abad ke-3 SM) menyebutkan Asura sebagai sesuatu yang bersifat buruk.

      Menurut Buddhism:
      Literatur awal Buddhisme TIDAK mengelompokan ASURA di ALAM MENDERITA.

      Itivuttaka no.93 menyampaikan: "bahwa meningkatnya penghuni neraka, alam binatang, alam peta asura, karena tak bebas dari belenggu Mara" (Te vaḍḍhayanti nirayaṃ, tiracchānañca yoniyo; Asuraṃ pettivisayaṃ, amuttā mārabandhanā)". Mahluk yang belum bebas dari mara, akan terlahir kembali di alam duggati dan suggati, namun untuk alam duggati, hanya 3 saja:

      • Orang ini juga, Mahānāma, terbebas dari neraka, alam binatang, alam peta, terbebas dari keadaan sengsara menderita menuju kehancuran. (Ayampi kho, mahānāma, puggalo agantā nirayaṃ agantā tiracchānayoniṃ agantā pettivisayaṃ agantā apāyaṃ duggatiṃ vinipātaṃ) [SN 55.24-25/Sarakani Sutta]
      • Kemudian Ia bebas dari: neraka; binatang; alam peta; bebas dari keadaan sengsara menderita menuju kehancuran (Atha kho so parimutto nirayā, parimutto tiracchānayoniyo, parimutto pettivisayā, parimutto apāyaduggativinipātā) [SN 55.1/Raja sutta]
      • tidak mampu melakukan perbuatan yang berakibat terlahir kembali di alam: neraka, binatang, peta (abhabbo taṃ kammaṃ kātuṃ, yaṃ kammaṃ katvā nirayaṃ vā tiracchānayoniṃ vā pettivisayaṃ vā upapajjeyya) [SN 25.1-10/Okkanta Samyutta]

      Para sotāpanna tidak pernah lagi akan terlahir di 3 alam apaya ini

      Di DN 33/Sangiti Sutta dan DN34/Dasuttara Sutta terdapat frase "akkhaṇā asamayā brahmacariya-vāsāya" (waktu yang tidak tepat untuk menjalankan prilaku menuju kesucian), yaitu: 9 waktu:

      • ketika seorang Buddha muncul di dunia namun mahluk tersebut terlahir di: Niraya (1), Binatang (2) Peta (3), asurakaya (4), Deva tertentu yang hidupnya panjang sekali (5) atau Mahluk tersebut terlahir (paccājāto):

        • di negeri yang jauh di wilayah kaum asing (tak beradab) yang tidak berpengetahuan [berpemahamaan] dan di sana tidak terdapat cara hidup sebagai [yattha natthi gati] bhikkhu/bhikkhunī atau umat awam pria/wanita (6),
        • di tengah-tengah negeri, namun memiliki 10 pandangan salah (7)[↓],
        • di tengah-tengah negeri, namun ia tidak punya kebijaksanaan, bodoh, atau tuli atau bisu dan tidak mampu mengetahui apakah sesuatu hal telah dinyatakan dengan benar atau salah.(8)

      • ketika TIDAK ADA seorang Buddha muncul di dunia dan mahluk tersebut terlahir di tengah-tengah negeri, cerdas, TIDAK (bodoh, atau tuli atau bisu), dan mengetahui dengan baik apakah sesuatu hal telah dinyatakan dengan benar atau salah (9)

      Di DN34/Dasuttara Sutta, Sariputta menerangkan pada para bhikkhu 8 hal (attha dhamma) yang banyak membantu (bahukara), yang harus dikembangkan (bhavetabba), yang harus diketahui (parinneyya), yang harus disingkirkan (pahatabba), yang membawa kemerosotan (hanabhagiya), yang membawa kemuliaan (visesabhagiya) yang sulit ditembus (duppativijjha), yang harus ditimbulkan (uppadetabba), yang harus dimengerti sepenuhnya (abhinneyya), dan yang harus direalisasi (sacchikatabba).

      Ketika membabarkan hal yang sulit ditembus untuk menjalani kehidupan suci pada waktu ada atau tidaknya seorang Buddha di dunia, para Asurakaya TIDAK TERMASUK di dalamnya.

      Kemudian,
      Para asura juga kerap berkunjung pada sang Buddha, diantaranya: Raja para asura (verocana) dan raja para deva (sakka) [SN 11.8/Verocanasurinda sutta] atau raja asura Paharada yang menjawab sang Buddha mengenai 8 hal yang menyenangkan dan baik dari Samudra, kemudian sang Buddha menyampaikan 8 hal menyenangkan hidup sebagai bhikkhu [AN 8.19, 20, Ud 5.5].

      Hal terjelas yang menunjukan level Asura masuk pada kelompok para Deva disampaikan di 2 tempat, yaitu:

      • Sakka Raja deva berkata pada Vepacitti Raja asura; ‘Engkau, Vepacitti, sebagai deva senior di sini' (sakko devānamindo vepacittiṃ asurindaṃ etadavoca: ‘tumhe khvettha, vepacitti, pubbadevā) [SN 11.5/Subhāsitajaya sutta]

      • Sang Buddha menyampaikan urutan para deva dan Brahma dari terendah hingga tertinggi.

          ... [setelah menyebutkan kedatangan para deva catumaharajika]
          "..Yang dikalahkan pemegang halilintar (vajirahatthena = Indra = Sakka), para Asura penguasa Samudra, saudara Vāsava (raja para Asura) yang sakti dalam kegemilangan, Kālakañcā yang sangat menyeramkan (bukan Kālakañja), Dānaveghasa, Vepacitti, Sucitti dan Pahāradha (Penguasa lautan) bersama Namucī, ratusan putra Bali yang semuanya bernama Veroca, pasukan Bali yang gagah, bergabung dengan Rāhu yang beruntung: Sekarang saatnya, yang mulia, pertemuan para Bhikkhu di hutan"
          [dilanjutkan menyebutkan kedatangan deva tavatimsa] ... [DN 20/Mahasamaya sutta]

            Note:
            DI SN 2.9-10, Rahu beruntung karena sang buddha menasehatinya agar tidak menelan kebiasaan tertentu:

            Siapapun yang terbebas dari kebingungan (Yo andhakāre tamasi pabhaṅkaro,
            Sinar terang terus memancar (Verocano maṇḍalī uggatejo);
            Janganlah rahu menelan kebiasaan tertentu (Mā rāhu gilī caramantalikkhe)
            Anaku, rahu lepaskanlah suriya (Pajaṃ mamaṃ rāhu pamuñca sūriyan”ti)

            Arti kata perkata:
            yo = siapapun; andhakāre = kegelapan, sesuraman, kebingungan; tamasi = grup pikiran, kegelapan, ketidaktahuan; pabhaṅkaro = seorang yang menerangi, seorang yang tercerahkan, pembawa cahaya, matahari
            - > “Siapapun yang terbebas dari kebingungan”

            Verocano = literalnya terus bersinar, matahari, nama lain rahu (veroca), permata; maṇḍalī = berputar, bergerak; uggatejo = ugga+tejo = besar/keras/luar biasa + panas/sinar
            - >”Sinar terang terus memancar”

            Mā = jangan, bulan; rahu = rahu; gilī = menggayang, menelan; caramantalikkhe (cara+manta+likkha) = melakukan/biasa + ucapan/saran/pola + satuan ukuran
            - >“Janganlah rahu menelan kebiasaan tertentu”

            Pajaṃ = generasi, angkatan; Mamam = aku (punyaku/dariku); rāhu = rahu; pamuñca = bebaskan/lepaskan; sūriyan = suriya
            →“Anakku, rahu lepaskanlah suriya”

        Pada bagian akhir sutta:
        "..Dan ketika semua telah hadir dalam barisan besar bersama Indra dan kelompok Brahmā, Datanglah pasukan Māra (Mārasenā), Si dungu gelap berkata: "Ayo tangkap dan ikat mereka dalam jeratan nafsu indriya, kepung dari segala penjuru jangan sampai ada yang lolos" ... kemudian Ia mundur dengan gusar dan tak berkekuatan lagi (Tadā so paccudāvatti, saṅkuddho asayaṃvase) ... 'SEMUA berjaya, melampaui rasa takut, dalam kegemilangan (Sabbe vijitasaṅgāmā, bhayātītā yasassino); bersama dalam kegembiraan, Murid-muridNya, mereka yang mengetahui (Modanti saha bhūtehi, sāvakā te janesutā’)' [DN 20/Mahasamaya sutta]

        Kitab komentar di RAPB buku ke-1, Cetakan I, Mei 2008, hal. 1117, menyatakan:

          "Pada akhir khotbah Mahàsamaya Sutta, 100.000 crore (100.000 x 10.000.000 = 1012) dewa dan brahmà berhasil mencapai kesucian Arahatta, dan mereka yang mencapai kesucian Sotàpanna tidak terhitung banyaknya" (juga di kitab komentar untuk MahàVagga)

      Sutta dan kitab komentar di atas menunjukan para Asura berhasil MENCAPAI TINGKAT KESUCIAN TERTENTU, ini konsisten bahwa para sotāpanna magga dan phala takkan terlahir di 3 alam (neraka, binatang, peta) sehingga Asura TIDAK TERMASUK "apāyaṃ duggatiṃ vinipātaṃ" juga TIDAK TERMASUK kelompok "yang sulit menembus Dhamma".

    3. Cātummahārājika
      Alam "Empat raja Besar ", mereka menempati lereng Sumeru. DN20/Maha samaya sutta, menyatakan bahwa tingkatan mereka di atas alam manusia dan di bawah alam Deva tavatimsa.

      Umur kehidupan:
      1 hari + 1 malam di alam ini (24 jam) = 50 tahun manusia (1 bulan = 30 hari, 1 tahun = 12 bulan = 360 hari). Lama umur Deva adalah 500 tahun deva (9.000.000 tahun manusia), 1 jam di alam ini = 2.08 tahun manusia [AN 3.70/1, Uposatha sutta]

      Empat raja
      Dalam DN 32/Āṭānāṭiya Sutta disebutkan 4 raja alam Cātummahārājikā:

      • Penguasa arah Timur, penguasa Gandhabba: Dhatarattha (Ia yang memelihara keadaan atau Pengawas dunia);
      • Peguasa arah Selatan, penguasa Kumbhanda: Virulhaka (Ia yang membesar atau Penyokong kehidupan);
      • Penguasa arah Barat, penguasa Naga: Virupakkha (Ia yang melihat segalanya);
      • Penguasa arah Utara, penguasa Yakkha: Vessavana (Ia yang mendengar semuanya), Pemimpin alam Catumaharajika

      Semua dari mereka berputera 80, 10, dan 1. Mereka semua hanya dipanggil dengan satu nama saja yaitu: Indra, raja dari kekuatan

      Di alam tersebut, terdapat beberapa mahluk alam itu yang dapat dimintai tolong saat diganggu para Yakha yang ganas, nama-nama mereka yaitu:

        Inda, Soma, Varuna, Bharadvaja, Pajapati, Candana, Kamasettha, Kinnughandu, Nighandu, Panada, Opamanna, Devasuta, Matali, Cittasena (sang gandhabba), Nala, Raja, Janesabha, Satagira, Hemavata, Punnaka, Karatiya, Gula, Sivaka, Mucalinda, Vessamitta, Yugandhara, Gopala,Suppagedha, Hiri, Netti, Mandiya, Pancalacanda, Alavaka, Pajunna, Sumana, Sumukha, Dadimukha, Mani, Manicara, Digha, dan Serissaka.

      Nama-nama mereka di atas juga ada dalam Rg Veda dan mereka ini BUKAN untuk DISEMBAH namun DIUNDANG saat diganggu, seperti bunyi cuplikan syair sutta tersebut janji raja alam catumaharajika:

        "Kini bila ada yakkha..gandhabba..yang mendatangi para bhikkhu dan umat awam dengan sikap bermusuhan, maka orang itu harus waspada. Mereka hendaknya berseru memohon pertolongan para para yakkha, yakkha terkemuka, beserta pemimpin mereka.
        Katakanlah, "Makhluk halus jahat ini telah menyerangku, melukaiku, membahayakanku, dan tidak membiarkanku pergi!"

      "Vessavaṇa" adalah gelar. Setiap kematian Vessavaṇa, segera muncul Vessavaṇa baru. Pada masa awal Buddhism, Vessavaṇa dipuja sebagai yang bertempat tinggal di pepohonan oleh yang ingin diberkahi anak.

      Vessavana juga dinamakan "Kuvera" karena dikehidupan lampaunya, Ia adalah Brahmin pemilik penggilingan gandum/beras bernama Kuvera yang menyumbangkan semua hasil 7 pabrik penggilingannya, setara dengan memberikan makan pada kaum miskin selama 20,000 tahun. Pendamping Vessavaṇa adalah Bhuñjatī (DN 21), mempunyai 5 anak wanita, Latā, Sajjā, Pavarā, Acchimatī dan Sutā. Ponakannya bernama Puṇṇaka (yakkha) suami dari Irandati (naga wanita). Keretanya dinamakan Nārīvāhana. Senjatanya adalah gadāvudha (Sanskrit: gadāyudha) yang digunakan sebelum menjadi pengikut Buddha. Ketika Buddha muncul di dunia, Vessavaṇa menjadi pengikutnya dan mencapai tingkatan sotāpanna.

      Gandhabba
      Gandha artinya harum, mahluk ini menetap pada: kulit, akar, inti kayu, daun, buah, getah atau aroma dari pohon yang harum [SN 31/Gandhabba Sutta]. Definisi Gandhabba, Kumbanda dan Yakkha terkadang sama; Yakkha adalah nama generik semua deva tingkat rendah. Bagi para Bikkhu masa awal Buddhism, kelahiran sebagai Gandhabba dianggap “memalukan” [DN 21/Sakka Panha Sutta: 3 bhikkhu yang terlahir kembali sebagai Gandhabba terbangkitkan semangatnya karena sindiran Gopaka, umat awam yang terlahir sebagai deva di Tavatimsa, ketika mereka kembangkan perhatian dan menghancurkan kama samyojana, 2 diantaranya terlahir sebagai Pengikut Brahmā]

      Beberapa Gandhabba yang disebut di DN.20 dan DN.32 di antaranya: Panāda, Opamañña, Naḷa, Cittasena, Rājā. Mātali

      Gandhabba bernama Pañcasikha jatuh cinta pada Bhaddā Suriyavaccasā (Putri Timbarū, pemimpin para Gandhabba) ketika dilihatnya menari di Tavatimsa, namun saat itu, Bhadda tengah menjalin cinta dengan Sikhandī (atau Sikhaddi), anak Mātali. Pañcasikha kemudian mendatangi tempat tinggal Timbarū dan memainkan kecapinya (dari kayu beluva) dan menyanyikan lagu cinta yang dikombinasikan dengan kisah tentang Buddha dan para Arahat-nya. Bhadda, tersanjung dan menyukai Pancasikka

      Di DN 21/Sakkapanha sutta, Sakka dalam kegirangannya mencapai sotāpanna setelah bertemu sang Buddha dan merasa Pancasikha telah berjasa besar karena ini, Ia nyatakan Pancasikka akan menjadi raja para Gandhabba dan Bhaddā Suriyavaccasā diserahkan padanya

      Yakka/Yakha
      Para Yakkha diberi nama berdasarkan asal dan fungsi mereka:

      • Penampilan (Kuvannā, Khara, Kharaloma, Kharadāthika, Citta, Cittarāja, Silesaloma, Sūciloma dan Harita)
      • Tempat tinggal/menetap/menungganginya atau atribut alam mereka, hewan, tumbuhan, manusia, dll (Ajakalāpaka, Alavaka (penghuni hutan), Uppala, Kakudha (nama tumbuhan), Kumbhīra, Gumbiya, Disāmukha, Yamamoli, Vajira, Vajirapāni atau Vajirabāhu, Sātāgira, Serīsaka). Salah satu contoh menarik misalnya mereka hidup dengan menunggangi binatang dan manusia sebagaimana disebutkan dalam DN 32/Atanatiya sutta:

          ..Sapi dengan satu sadel terpasang,
          Demikianlah mereka menunggang berkeliling,
          Menggunakan perempuan sebagai tunggangan,
          Demikianlah mereka menunggang berkeliling;
          Menggunakan laki-laki sebagai tunggangan,
          Demikianlah mereka menunggang berkeliling;
          Menggunakan gadis perawan sebagai tunggangan,
          Demikianlah mereka menunggang berkeliling;
          Menggunakan anak-anak laki-laki sebagai tunggangan,
          Demikianlah mereka menunggang berkeliling
          ;..

      • Kualitas karakter, dll (Adhamma, Katattha , Dhamma, Punnaka, Mara, Sakata)
      • Perwujudan berdasarkan kelahiran sebelumnya (Janavasabha: penguasa laki-laki = Bimbisara Raja Magada, di DN 20/Maha samaya sutta, terdapat nama Janesabhā, mungkin ini nama yang sama dengan Janavasabha), Digha, NaraDeva, Pandaka, Sīvaka, seri). [Lanjutan: DPPN]

      Juga hal menarik lainnya di SN 10.5/Sanusutta, satu Yakkha menduduki/menangkap Sanu, putra seorang upasika (upāsikāya sānu nāma putto yakkhena gahito hoti) yang tampaknya karena Sanu meninggalkan kebhikkhuan

      Di Alavaka Sutta (SN 10.12 dan SNP 1.10) sang Buddha bertemu Yakkha Alavaka yang memintanya untuk masuk dan keluar sebanyak 3x dan yang terakhir sang Buddha tidak pergi. Sang Yakkha kemudian meminta Sang Buddha menjawab pertanyaannya, jika tidak dapat menjawab, maka Yakkha tersebut mengancam akan membuatnya gila atau memecahkan jantungnya atau mencengkram kakinya atau melemparkannya ke sungai Gangga. [Ancaman ini juga dilakukan Yakkha suciloma di SN 10.3], Sang Buddha sampaikan bahwa tidak ada 1 pun mahluk di semesta ini yang mampu melakukan itu pada seorang Buddha dan beliau menjawab pertanyaan sang Yakkha. Setelah tanya jawab selesai, Yakkha Alavaka berlindung pada Buddha, Dhamma dan sangha.

      Kitab komentar abad ke-5, karya Buddhaghosa, menyampaikan rekonstruksi kejadian sutta yang diawali kisah Raja Alavi ditangkap Yakkha ini dan dilepaskan setelah sang Raja berjanji akan membawakan korban manusia dan makanan 1 mangkuk makanan setiap hari. Semula korban manusia diambil berasal dari para kriminal, setelah habis, Raja meminta penduduk untuk mengirimkan anak mereka namun ketika tiba gilirannya, para penduduk kabur dari kerajaan. Keadaan tersebut berlangsung Selama 12 tahun dan anak yang tersisa hanyalah anak Raja Alavi yang bernama Hatthaka. Raja perintahkan anak itu disiapkan dengan segala kemegahan dan dibawa kehadapan Sang Yakkha. Sang Buddha mengetahui apa yang terjadi dan menuju ke kediaman sang Yakkha. Demikianlah menurut kitab komentar namun ini janggal karena:

      1. Dua Sutta tidak menyampaikan Yakkha Alavaka gemar kurban manusia bahkan Yakkha Suciloma, yang tinggal di Gaya (15 Yojana) juga menyampaikan ancaman serupa namun tidak terdapat adanya kisah "bombastis" seperti itu.
      2. Mengapa kota terdekat lainnya (misalnya Benares, jaraknya 12 Yojana), tidak resah atas adanya Yakkha buas selama lebih dari 12 tahunan, seolah-olah mereka tidak punya kerabat di kota lainnya?
      3. 4320 orang telah menjadi korban selama 12 tahun (360 hari x 12). Ketika 1 orang calon korban kabur bersama keluarga, maka ada yang menggantikannya, ketika si pengganti ini tahu bahwa hari itu tiba-tiba menjadi gilirannya, Ia menjadi tidak puas dan di 1 harian itu (atau beberapa harinya) akan terjadi pindahan masal penduduk ke luar kota. Bagaimana mungkin hal ini tidak menggegerkan kota sekitar malah tetap terpendam 12 tahun lamanya?
      4. Bagaimana mungkin, perlu 12 tahun lamanya bagi seorang Buddha untuk muncul belas kasihnya? dan itupun baru muncul ketika anak raja Alavi yang akan jadi korbannya. Padahal dikisah lainnya dikatakan ketika beliau belum mencapai pencerahan, Sidartha Gautama, bahkan menggendong anak kambing yang tidak bisa berjalan? Jadi bagaimana mungkin perlu waktu 12 tahun bagi seorang Buddha untuk tergugah?

      Kumbhāṇḍa
      Kumbhāṇḍa secara literal dialek berarti "Labu", yang mungkin karena memiliki bagian bawah perut yang besar. Kumbhāṇḍa dapat juga berarti kantung telur (bentuk sopan dari testis), kumbhāṇḍa digambarkan sebagai mahluk bertestis besar.

      Nāga

      • Nama suku yang tersebar di beberapa wilayah, missal: Kashmir, Assam, Sri Lanka, dll. (A Social History of India, S. N. Sadasivan, hal.327-329) atau kumpulan orang yang menyembah mahluk supranatural Naga ("RELIGION AND PHILOSOPHY", Dr. Sunil Chandra Ray)
      • orang yang memiliki kekuatan dan daya tahan luar biasa. Misal: di SN 1.38/Pecahan batu: Sang Buddha disebut: nāga karena kekuatan-Nya; singa (sīha) karena tanpa-ketakutan; berdarah murni (ājāniya) karena pemahaman-Nya akan apa yang telah Ia pelajari (byattaparicayaṭṭhena), atau karena Ia mengetahui apa yang benar dan apa yang salah; sapi pemimpin (nisabha) karena Ia tanpa tandingan; binatang pembawa beban (dhorayha) karena Ia membawa beban; jinak (danta) karena ia bebas dari perilaku menyimpang). Para Bhikkhu arahat juga disebut Naga (SN 1.37)
      • Pemikiran dan tindakannya yang luar biasa (Udana 4.4 dan 4.5. SN 1.37, 38)
      • Karena UKURANNYA luar biasa (AN 6.43/Naga sutta)
      • Mahluk supranatural yang berbentuk kobra besar, kadang berkepalanya satu, kadang banyak. Beberapa berkemampuan berubah bentuk menjadi Manusia. Satu nāga, yang kecewa karena tidak terlahir sebagai manusia, kemudian mengubah dirinya menjadi manusia dan memohon pentahbisan. Suatu ketika Bhikkhu jadi-jadian ini tertidur dan bentuknya kembali sebagai Naga dan badannya memenuhi seantero vihara, seorang bhikkhu yang melihatnya menjadi ketakutan. Para bhikkhu kemudian bertanya pada sang naga, siapa Ia dan apa tujuannya. Sang naga menyampaikan tujuannya menjadi Bhikkhu. Para bhikkhu bertanya pada sang Buddha dan berliau berkata bahwa naga ini tidak dapat maju dalam dhamma sehingga tidak tepat menjalani kehidupan kebhikkhuan, Sang Naga kemudian disarankan melakukan atthasila/Uposatha[↓] agar dapat terlahir sebagai manusia dan menjadi bhikkhu saat itu. [Mahavagga I.63].

      Pendapat yang mengatakan bahwa para naga takkan dapat mencapai kesucian adalah keliru karena mahasamaya sutta jelas menyampaikan para naga yang hadir dipertemuan itu juga mengalami keadaan bebas dari pengaruh cengkraman Mara.

      Penggambaran mahluk supranatural ini, selain dari teks-teks Hindu dan Buddha, juga dari para Shaman Jivaro (dukun) suku-suku AMAZON dan testimoni anthropolog Michael J harner yang mengikuti ritual itu

        Ketika pertama kalinya saya mengadakan penelitian di antara Jivaro di tahun 1956-1957, saya tidak sepenuhnya menghargai dampak psikologis dari realitas minuman Banisteriopsis dari sudut pandang suku asli, tapi pada tahun 1961 saya memiliki kesempatan untuk minum halusinogen untuk sesi penelitian lapangan dengan suku Amazon lain Basin atas. Selama beberapa jam setelah minum minuman itu, saya menemukan diri saya, dalam keadaan terjaga, di alam yang secara harfiah di luar mimpi terliar saya. Saya bertemu orang-orang berkepala burung, serta makhluk naga-seperti yang dijelaskan bahwa mereka adalah dewa asli di dunia ini. Saya meminta bantuan mahluk supranatural lainnya agar dapat terbang ke pelosok Galaxy. Angkutan dalam keadaan trans dimana supranatural adalah tampak alami, saya menyadari bahwa para antropolog, termasuk saya sendiri, telah sangat meremehkan pentingnya obat yang mempengaruhi ideologi suku asli. Oleh karena itu, pada tahun 1964 saya kembali ke Jivaro untuk memberikan perhatian khusus terhadap penggunaan obat oleh dukun Jivaro ["Native South Americans: Ethnology of the Least Known Continent", Patricia Lyon, Hal. 277]

      Supanna (Garuda atau Garula)
      Supanna ada yang terlahir secara spontan atau dari: telur, rahim atau kelembapan. Dari 4 cara itu, kelahiran spontan yang terunggul (SN 30/SupannaSamyutta). Kisah di Jataka (Jataka di kanon pali hanya berisi syair tidak ada ceritanya. Cerita yang menyelimuti syair tidak termasuk kanon pali dan baru ada setelah abad ke-3 SM) memuat banyak informasi tentang Garuda, misalnya Garuda berbentuk burung kisahnya biasanya dibarengi dengan Nāga (misal, J.iv.181, 202). Mereka hidup di area hutan yang sedikit pepohonan di Simbali (misal, J.i.202). Simbalī adalah sebuah pohon yang sangat khusus di dunia Garuda (Vsm.i.206) Garuda memiliki tubuh besar kurang lebih 150 mil dari sayap ke sayap (J.iii.397). Kepakan sayapnya dapat mendatangkan badai, yang dikenal dengan pusaran Garuda (J.v.77). Pusaran ini dapat menjadikan satu kota dalam kegelapan dan menerbangkan rumah (J.iii.188).

      Garuda cukup kuat untuk mengakut seluruh pohon beringin beserta akarnya (J.vi.177). Garuda musuh abadi para Naga (J.ii.13; iii.103) tinggal di pulau Seruma (J.iii.187), karena banyak naga juga tinggal di sana. Kebahagian para naga adalah apabila bebas dari serangan para Garuda (J.iv.463). Bulu Garuda begitu tebalnya hingga manusia bisa bersembunyi tanpa diketahui contoh, Natakuvera (J.iii.91). Kadang Garuda memakai bentuk manusia; 2 raja Garuda dikatakan bermain dadu dengan para raja di Benares, jatuh cinta dengan ratu mereka dan dibawa pulang ke kota para Garuda, Sussondī (J.iii.187) dan Kākātī (J.iii.91). Di setiap kisahnya, para ratu akhirnya tidak setia pada Garuda dan dikembalikan pada suaminya. Garuda mengetahui mantra ālambāyana yang membuat tidak satu nagapun mampu melawannya (J.vi.178, 184). Di masa lalu, ketika para Garuda belum tahu cara menangkap Nāga; Ia menangkap Nāga yang baru menelan batu-batu besar, sehingga berat dan menyebabkan kematiannya karena kecapaian, kemudian para Garuda belajar rahasia mengangkap naga dengan menghianati petapa Karambiya, (Pandara Jātaka (J.vi.175f)).

      Garuda terkadang dikisahkan hidup dalam kebajikan, berpuasa dan mengikuti perintah dan larangan. Misalnya Raja Garuda (misal: Pandara Jātaka), Anak dari Vināta, berkunjung ke taman milik Dhanañjaya Koravya, Ia memberikan karangan bunga keemasan setelah mendengarkan ceramah Pandita Vidhura (J.vi.261f).

      Satu dari 5 pengawal Sakka adalah Garuda untuk melindungi Tāvatimsa dari Asura (J.i.204). Bodhisatta (J.iii.187) dan Sāriputta (J.iii.400) ke-2nya pernah terlahir sebagai Raja Garuda.

    4. Alam Manussa
      Dalam Buddhisme, TIDAK ADA manusia pertama dan terdapat BANYAK manusia pertama. Para dewa terlahir di permulaan kappa, secara perlahan melalui PROSES PANJANG EVOLUSI menjadi para Manusia pertama. Kejadian penciptaan BUMI dan MANUSIA-MANUSIA pertama diuraikan di DN 27/Agganna Sutta dan DN 1/Brahmajala Sutta

      Untuk menjadi Sammasambuddha dan/atau Pacekka Buddha, maka mereka harus terlahir sebagai manusia namun untuk menjadi Savaka Buddha dan/atau mahluk suci lainnya, TIDAK HARUS terlahir sebagai manusia namun hanya dapat dicapai mulai dari alam manusia ke atas .

      Sang Buddha menyampaikan sebuah perumpamaan betapa sulitnya terlahir kembali ke alam manusia setelah terlahir di alam binatang dalam MN 129/Balapandita sutta [dan SN 56.47-48/Chigala Sutta]:

        “Para bhikkhu, Aku dapat menjelaskan dalam banyak cara tentang alam binatang. Begitu banyak sehingga sulit menyelesaikan penjelasan terhadap penderitaan di alam binatang.

        “Misalkan seseorang melemparkan sebuah gandar berlubang satu ke laut, dan angin timur meniupnya ke barat, dan angin barat meniupnya ke timur, dan angin utara meniupnya ke selatan, dan angin selatan meniupnya ke utara. Misalkan ada seekor kura-kura buta yang muncul ke permukaan setiap satu abad sekali. Bagaimana menurutmu, Para bhikkhu? Dapatkah kura-kura buta itu memasukkan lehernya ke dalam gandar berlubang satu itu?”

        “Dapat, Yang Mulia, pada suatu saat atau diakhir suatu masa yang lama.”

        “Para bhikkhu, kura-kura buta itu dapat memasukkan lehernya ke dalam gandar berlubang satu itu lebih cepat daripada seorang dungu, yang begitu terlahir di alam sengsara, dapat memperoleh kondisi manusianya kembali, Aku katakan.

        Mengapakah?

        Karena tidak ada praktik Dhamma di sana, tidak ada praktik kebenaran, tidak melakukan apa yang bermanfaat, tidak ada pelaksanaan kebajikan. Di sana hanya ada saling memangsa, dan pembantaian pada yang lemah.

      Bumi dan Manusia-Manusia Pertama
      Menurut DN.27/Aggañña Sutta, Manusia di awal Maha kappa ini berasal dari para dewa yang wafat dari alam Ābhāssara.

        ‘Akan tiba waktunya, Vāseṭṭha, cepat atau lambat setelah rentang waktu yang panjang, ketika dunia ini menyusut/penghancuran [samvattati]. Pada saat penyusutan/penghancuran, sebagian besar [Yebhuyyena] makhluk terlahir di alam Brahmā Ābhassara. Dan di sana mereka berdiam, dengan ciptaan-pikiran [Mano mayo], dengan kegembiraan [Piti], bukan merupakan bagian dari vedana, namun keadaan pencerapan dalam kondisi Jhana] sebagai penunjang, mereka hidup demikian selama waktu yang sangat lama. Akan tiba saatnya, cepat atau lambat setelah rentang waktu yang panjang, ketika dunia ini mulai mengembang [vivattati].

        Pada saat mengembang ini, makhluk-makhluk dari alam Brahmā Ābhassara, setelah meninggal dunia dari sana, sebagian besar terlahir kembali di alam ini. Dan di sana ia berdiam, dengan ciptaan-pikiran, dengan kegembiraan sebagai penunjang/makanan, bercahaya, melayang diantara batasan [antalikkha → sankrit: antar/diantara + īkṣa/tampak/batasan], agung – dan mereka hidup demikian selama waktu yang sangat lama.’

        Pada waktu itu, Ekodakībhūtaṃ[12], Vassettha (dan Bharadvadja), diselimuti kegelapan, kegelapan yang membutakan, tidak ada bulan dan tidak ada matahari yang muncul, tidak ada bintang, siang dan malam tidak dapat dibedakan, tidak juga bulan dan minggu, tidak juga tahun atau musim, dan tidak ada laki-laki dan perempuan, makhluk-makhluk hanya dikenal sebagai makhluk-makhluk.

        Vasettha, cepat atau lambat setelah suatu masa yang lama sekali bagi para mahluk tersebut, tanah dengan sarinya muncul keluar dari dalam air. Sama seperti bentuk-bentuk buih (busa) di permukaan nasi susu masak yang mendingin, demikianlah munculnya tanah itu. Tanah itu memiliki warna, bau dan rasa. Sama seperti dadi susu atau mentega murni, demikianlah warna tanah itu; sama seperti madu tawon murni, demikianlah manis tanah itu.

        Kemudian Vasettha, di antara mahluk yang memiliki sifat serakah (lolajatiko) berkata: 'O apakah ini? Dan mencicipi sari tanah itu dengan jarinya. Dengan mencicipinya, maka ia diliputi oleh sari itu, dan nafsu keinginan masuk dalam diri para mahluk lainnya mengikuti contoh perbuatannya, mencicipi sari tanah itu dengan jari-jari .....Para mahluk itu mulai makan sari tanah, memecahkan gumpalan-gumpalan sari tanah tersebut dengan tangan mereka. Dan akibat dari perbuatan ini adalah cahaya tubuh mereka lenyap. Dan sebagai akibat dari lenyapnya cahaya tubuh mereka, bulan dan matahari muncul, malam dan siang dapat dibedakan, bulan dan minggu muncul, dan tahun dan musim. Sampai sejauh itu, dunia mengembang.’

        Vasettha, selanjutnya para mahluk itu menikmati sari tanah, memakannya, hidup dengannya, dan berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali. Berdasarkan atas takaran yang mereka makan itu, maka tubuh mereka menjadi padat, dan terwujudlah berbagai macam bentuk tubuh. Sebagian mahluk memiliki bentuk tubuh yang indah dan sebagian mahluk memiliki tubuh yang buruk. Dan karena keadaan ini, mereka yang bertubuh indah memandang rendah mereka yang bertubuh buruk ..... maka sari tanah itupun lenyap ..... ketika sari tanah lenyap .....muncullah tumbuhan dari tanah (bhumipappatiko).

        Cara tumbuhnya seperti cendawan ..... Mereka menikmati, mendapatkan makanan, hidup dengan tumbuhan yang muncul dari tanah tersebut, dan hal ini berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali ..... (seperti di atas). Sementara mereka bangga akan keindahan diri mereka, mereka menjadi sombong dan congkak, maka tumbuhan yang muncul dari tanah itu pun lenyap.

        Selanjutnya tumbuhan menjalar (badalata) muncul ..... warnanya seperti dadi susu atau mentega murni, manisnya seperti madu tawon murni .....Mereka menikmati, mendapatkan makanan dan hidup dengan tumbuhan menjalar itu ..... maka tubuh mereka menjadi lebih padat; dan perbedaan bentuk tubuh mereka nampak lebih jelas; sebagian nampak indah dan sebagian nampak buruk.

        Dan karena keadaan ini, maka mereka bertubuh indah memandang rendah mereka yang bertubuh buruk ..... Sementara mereka bangga akan keindahan tubuh mereka sehingga menjadi sombong dan congkak, maka tumbuhan menjalar itu pun lenyap.

        Kemudian, Vasettha, ketika tumbuhan menjalar lenyap ..... muncullah tumbuhan padi (sali) yang masak di alam terbuka, tanpa dedak dan sekam, harum, dengan bulir-bulir yang bersih. Pada sore hari mereka mengumpulkan dan membawanya untuk makan malam, pada keesokkan paginya padi itu telah tumbuh dan masak kembali. Bila pada pagi hari mereka mengumpulkan dan membawanya untuk makan siang, maka pada sore hari padi tersebut telah tumbuh dan masak kembali, demikian terus menerus padi itu muncul.

        Vasettha, selanjutnya para mahluk itu menikmati padi (masak) dari alam terbuka, mendapatkan makanan dan hidup dengan tumbuhan padi tersebut, dan hal ini berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali. Berdasarkan atas takaran yang mereka nikmati dan makan itu, maka tubuh mereka tumbuh lebih padat, dan perbedaan bentuk mereka nampak lebih jelas. Bagi wanita nampak jelas kewanitaannya (itthilinga) dan bagi laki-laki nampak jelas kelaki-lakiannya (purisalinga).

        Kemudian dalam masa yang lama sekali wanita memperhatikan kesamaannya (upanijjhāyati) dengan laki-laki, dan laki-laki pun memperhatikan kesamaannya dengan wanita. Karena mereka saling memperhatikan keadaan diri satu sama lain terlalu banyak, maka timbullah nafsu indriya yang membakar tubuh mereka. Dan sebagai akibat adanya nafsu indriya tersebut, mereka melakukan hubungan kelamin.

        Vasettha, ketika para mahluk lain melihat mereka melakukan hubungan kelamin Mereka yang melihat perbuatan itu melemparkan debu, abu, atau kotoran sapi pada mereka, meneriakkan: “Matilah, engkau binatang kotor! Bagaimana mungkin seseorang melakukan hal demikian terhadap orang lain!” seperti di masa kini, ketika seorang menantu perempuan di bawa keluar, beberapa orang melemparkan kotoran padanya, beberapa melemparkan abu, dan beberapa melemparkan kotoran-sapi, tanpa menyadari bahwa mereka mengulangi perilaku masa lampau. Apa yang dianggap bentuk yang buruk di masa itu, sekarang dianggap bentuk yang baik.

      Penggunaan kata MANUSIA muncul setelah terbentuknya kelamin dan saat itu telah ada mahluk di alam binatang.

      Gelar dan arti 4 Warna/Kasta
      Agganna Sutta memberikan informasi asal mula penyebutan gelar dan juga arti 4 Warna (pekerjaan) yang kemudian dibengkokan menjadi 4 penggolongan manusia (Kasta)

        Kemudian di waktu yang lama setelahnya mereka mereka memutuskan untuk memilih satu diantara mereka yang paling tampan, paling menarik, paling menyenangkan dan mampu, dan memintanya untuk menegakan aturan dan melaksanakannya dan sebagai imbalan mereka memberikan padanya sebagian beras mereka.

        • “Pilihan penduduk” adalah arti dari Mahā-Sammata, yang merupakan gelar pertama yang diperkenalkan.
        • “Tuan tanah” adalah arti dari Khattiya, gelar ke-2. Dan
        • “Ia menggembirakan orang lain dengan Dhamma” adalah arti dari Rājā, gelar ke-3 yang diperkenalkan

        Inilah asal-usul dari kasta Khattiya, sesuai dengan gelar masa lampau yang diperkenalkan untuk menyebut mereka. Mereka berasal dari makhluk-makhluk yang sama, seperti kita juga, tidak ada perbedaan, dan sesuai dengan Dhamma, bukan sebaliknya.

        Kemudian beberapa makhluk ini berpikir: “Hal-hal buruk telah muncul di tengah-tengah para makhluk, seperti mengambil apa yang tidak diberikan, dan mencela, dan berbohong, hukuman, dan pengusiran. Kita harus menyingkirkan hal-hal buruk dan tak bermanfaat.” Dan mereka melakukan hal itu. “Mereka menyingkirkan hal-hal buruk dan tak bermanfaat” adalah arti dari Brāhmaṇa, yang merupakan gelar pertama yang diperkenalkan untuk orang-orang demikian.

        Mereka mendirikan gubuk-gubuk daun di tempat-tempat di dalam hutan dan mengarahkan pikiran/bersamadhi (araññāyatane paṇṇakuṭiyo karitvā paṇṇakuṭīsu jhāyanti). Dengan api dipadamkan, dengan penumbuk padi disingkirkan, mengumpulkan makanan untuk makan pagi dan malam mereka, mereka pergi ke desa, kota, atau ibu kota untuk mencari makanan, dan kemudian kembali ke gubuk daun mereka untuk bersamadhi (jhāyanti). Orang-orang melihat hal ini dan memerhatikan bagaimana mereka bersamadhi. “Orang yang bersamadhi, Orang yang bersamadhi” adalah arti Jhāyaka, yang adalah gelar ke-2 yang diperkenalkan.’

        ‘Akan tetapi, beberapa makhluk yang tinggal di gubuk daun di hutan, tidak mampu mencapai jhana (taṃ jhānaṃ anabhisambhuṇamānā), mereka bertempat tinggal di dekat desa dan kota dan menyusun buku. Orang-orang melihat mereka sekarang tidak bersamadhi (na dānime jhāyantī). Sekarang tidak bersamadhi, Vasettha, “Orang yang tidak bersamadhi, orang yang tidak bersamadhi” adalah arti Ajjhāyaka, yang adalah gelar ke-3 yang diperkenalkan. Pada masa itu, ini dianggap sebutan yang rendah, tetapi sekarang sebutan ini menjadi lebih tinggi. Inilah kemudian, yang menjadi asal-usul dari kasta Brāhmaṇa, sesuai dengan gelar masa lampau yang diperkenalkan..

        ‘Dan kemudian, beberapa dari makhluk-makhluk itu, setelah berpasangan, melakukan berbagai jenis perdagangan, dan kata “Berbagai” ini adalah arti dari Vessa, yang menjadi gelar biasa bagi orang-orang demikian. Inilah kemudian, yang menjadi asal-usul dari kasta Vessa..

        Dan kemudian, makhluk-makhluk itu yang tetap melakukan perburuan. “Mereka yang rendah yang hidup dari perburuan”, dan ini adalah arti dari Sudda, yang menjadi gelar biasa bagi orang-orang demikian. Inilah kemudian, yang menjadi asal-usul dari kasta Sudda

        ‘Dan kemudian, beberapa Khattiya tidak puas dengan Dhamma-nya sendiri, meninggalkan kehidupan rumah tangga untuk menjalani kehidupan tanpa rumah, berpikir: “Aku akan menjadi seorang petapa.” Dan seorang Brāhmaṇa melakukan hal yang sama, seorang Vessa juga melakukan hal yang sama, dan juga seorang Sudda. Dari 4 kasta ini, muncullah kasta petapa.

        Mereka berasal dari makhluk-makhluk yang sama seperti mereka, tidak ada perbedaan, dan sesuai dengan Dhamma, bukan sebaliknya

      Juga, sang Buddha menyampaikan kreteria mereka yang disebut Manusia Sampah, yaitu: SIAPAPUN yang:

      1. marah, berpikiran buruk, jahat dan iri hati; berberpandangan salah, bertipu muslihat, dialah yang disebut sampah.
      2. menghancurkan kehidupan, baik burung atau binatang, serangga atau ikan, tidak berkasih sayang terhadap kehidupan, dialah yang disebut ….
      3. merusak atau suka menyerang di kota dan desa dan dikenal sebagai perusak atau penjahat yang kejam, dialah yang ….
      4. mencuri milik orang lain, baik yang ada di desa atau hutan ….
      5. setelah berhutang lalu menyangkal ketika ditagih, dan menjawab pedas: ‘Aku tidak berhutang padamu!’ ….
      6. berkeinginan mencuri walaupun benda tidak berharga, lalu mengambil barang itu setelah membunuh orang di jalan ….
      7. memberikan sumpah palsu untuk kepentingannya sendiri, untuk kepentingan orang lain, atau untuk mendapat keuntungan ….
      8. mempunyai hubungan gelap dengan istri famili atau temannya, secara paksaan atau karena suka sama suka ….
      9. tidak menyokong ayah atau ibunya, yang sudah tua dan lemah, padahal dia hidup dalam keadaan berkecukupan ….
      10. menyerang atau mencaci-maki ayah, ibu, saudara kandung, atau ibu mertua ….
      11. dimintai nasihat yang baik tetapi malahan mengajarkan apa yang menyesatkan atau berbicara dengan tidak jelas ….
      12. Setelah melakukan pelanggaran ingin menyembunyikannya dari orang-orang lain ….
      13. setelah berkunjung ke rumah orang lain dan menerima keramah-tamahan di sana, tidak membalasnya dengan sikap serupa ….
      14. menipu pertapa, bhikkhu atau guru spiritual lain ….
      15. mencaci-maki dan tidak melayani pertapa atau bhikkhu yang datang untuk makan ….
      16. karena terperangkap dalam kebodohan, memberikan ramalan yang tidak benar demi keuntungan yang sebenarnya tak berharga ….
      17. meninggikan diri sendiri dan merendahkan orang lain, pongah dalam kesombongannya ….
      18. suka memicu pertengkaran, kikir, berkehendak buruk, iri hati, tak tahu malu dan tak menyesal kalau melakukan kejahatan ….
      19. menghina Sang Buddha atau siswa-siswanya, baik yang yang berkehidupan suci maupun perumah-tangga ….
      20. berpura-pura Arahat padahal bukan, adalah penipu hina terbesar di dunia ini, sampah terendah dari semuanya.

      Demikian telah kujelaskan siapa yang merupakan sampah. Bukan karena kelahiran orang menjadi sampah. Bukan karena kelahiran orang menjadi brahmana (mulia). Karena perbuatanlah orang menjadi sampah. Karena perbuatanlah orang menjadi brahmana…

      Kini dengarkanlah, akan kuberikan suatu contoh. Ada seorang anak laki-laki kasta rendah bernama Matanga dari keluarga Sopaka. Dia mencapai puncak kejayaan. Dan sesudah itu, para ksatria, brahmana, dan orang-orang lain datang untuk melayaninya. Setelah menghancurkan nafsu-nafsu duniawi, dia memasuki Jalan Mulia dan mencapai alam Brahma. Kasta tidak dapat mencegahnya terlahir di alam surgawi.

      Para brahmana yang mengenal Veda dengan baik dan terlahir di keluarga yang hafal Kitab Veda, jika mereka kecanduan melakukan perbuatan-perbuatan buruk. Mereka bukan hanya ternoda di dalam kehidupan ini saja; di dalam kehidupan yang akan datang pun mereka akan terlahir di dalam keadaan yang menderita. Kasta tidak dapat mencegah mereka ternoda atau terlahir di dalam keadaan yang menderita.’

      Bukan karena kelahiran orang menjadi sampah. Bukan karena kelahiran orang menjadi brahmana (mulia). Karena perbuatanlah orang menjadi sampah. Karena perbuatanlah orang menjadi brahmana… [SNP 1.7/Vasala Sutta atau Aggika-Bhārādvāja Sutta] [↑]

    5. Mulai di bawah ini adalah alam-alam apaya, sejumlah 3 alam saja (bukan 4 alam):

    6. Alam Peta – Mahluk alam ini mengalami perasaan yang menyakitkan, kita menyebutnya mahluk halus atau setan. Beberapa kelompok Peta, misal:

      PETA 4 (Petavatthu-Atthakatha, oleh Dhammapala, Abad ke-6 M): Khupapipasika-Peta: selalu lapar dan haus; Nijjhamatanhika-Peta: selalu kepanasan; Kalakancika-Peta: berbentuk Asura dan Paradattupajivika-Peta: hidupnya dari suguhan upacara sembahyang dan dikatakan para Bodhisattva, jika terlahir menjadi peta, ia hanya akan menjadi mahluk ini

      AN 10.177/Janussonin sutta: Hanya peta kelaparan yang dapat menerima persembahan makanan dari kerabatnya, itupun jika kerabatnya melimpahkan jasanya ketika memberikan makan pada orang/hewan. (lihat: Pattidana[↓])

      PETA 12 (Kitab Gambhilokapannatti, dikompilasi di Burma setelah abad ke-11 M atau Traibhumikatha, penguasa Sukhothaim Lu'Tai, 1347 M - 1374 M): Vantasa-Peta: makan ludah, dahak dan muntah; Kunapasa-Peta: makan mayat manusia dan binatang; Guthakhadaka-Peta: makan kotoran; Aggijalamukha-Peta: dimulutnya selalu ada api; Sucimuja-Peta: mulutnya sekecil jarum; Tanhattika-Peta: dikendalikan napsu keinginan rendah sehingga lapar dan haus; Sunijjhamaka-Peta: berbulu hitam seperti arang; Suttanga-Peta: kuku tangan/kaki panjang dan tajam seperti pisau; Pabbatanga-Peta: bertubuh setinggi gunung; Ajagaranga-Peta: bertubuh seperti ular; Vemanika-Peta: menderita saat siang dan senang bagai di khayangan saat malam; Mahidadhika-Peta: punya ilmu gaib.

      PETA 21 (Vinaya Pitaka: vinnivatthu, bagian dari suttavibhanga, vol.1 cetakan Des 2006, hal.237 - 253 dan SN 19.1-21/Lakkhanasamyutta):

      • aṭṭhikasaṅkha-Peta: Tulang bersambungan, tak berdaging
      • maṃsapesi-Peta: Daging terpecah-pecah, tak bertulang
      • maṃsapiṇḍa-Peta: daging berkeping-keping
      • nicchaviṃ purisa-Peta: tak berkulit
      • asilomaṃ purisa-Peta: berbulu tajam
      • sattilomaṃ purisa-Peta: berbulu seperti tombak
      • usulomaṃ purisa-Peta: berbulu panjang seperti panah
      • sūcilomaṃ purisa-Peta dan Dutiyasūcilomaṃ purisa-Peta: berbulu seperti jarum
      • kumbhaṇḍaṃ purisa-Peta: berkemaluan sangat besar berbentuk kendi
      • purisaṃ gūthakūpe sasīsakaṃ nimugga-Peta: kepala terbenam di lubang kotoran
      • purisaṃ gūthakūpe nimuggaṃ ubhohi hatthehi gūthaṃ khādanta-Peta: kepala terbenam di lubang kotoran, memakan kotoran dengan kedua tangannya
      • nicchaviṃ itthi-Peta: perempuan tak berkulit
      • itthiṃ duggandhaṃ maṅguli-Peta: Perempuan yang berbau busuk
      • itthiṃ uppakkaṃ okiliniṃ okirini-Peta: Perempuan tubuh terpanggang berkeringat jelaga
      • asīsakaṃ kabandha-Peta: tak berkepala
      • Bhikkhu dan Bhikkhuni Peta; pāpasikkhamānā ahosi-Peta; Samanera dan Samaneri Peta: berbentuk Bhikkhu atau; bhikkhuni atau; Perempuan yang menjalani percobaan 2 tahun dengan melatih sila sebelum menjadi Samaneri atau; samanera atau; samaneri yang tubuhnya terbakar

    7. Tiracchāna-yoni – Alam para binatang, merasakan hal menyenangkan dan menyakitkan, namun perasaan menyakitkan lebih banyak dari perasaan menyenangkan. Binatang dibagi menjadi 4 kelompok: tak berkaki, berkaki 2, 4 dan banyak.

      Apakah tumbuhan mahluk hidup? Punya kesadaran?

      Dalam SNP 3.9/Vasettha Sutta dan MN 98/Vasettha Sutta, Sang Buddha berkata pada Vasettha:

        "Akan kujelaskan padamu - ragam tingkatan (anupubbaṃ yathātathaṃ) – klasifikasi keberadaan kehidupan (Jātivibhaṅgaṃ pāṇānaṃ) karena satu sama lainnya punya kekhususan (aññamaññā hi jātiyo)."

        “perhatikanlah pohon dan rumput (Tiṇa-rukkhepi jānātha), tidak mempunyai kesadaran (na cāpi paṭijānare), bermacam karasteristik kemunculan/kelahiran (Liṅgaṃ jāti-mayaṃ tesaṃ) karena satu sama lainnya punya kekhususan (aññamaññā hi jātiyo)"

        "Berikutnya serangga, bersayap dan (Tato kīṭe paṭaṅge ca) seterusnya semacam semutrayap (yāva kunthakipillike), bermacam karasteristik kemunculan/kelahiran (Liṅgaṃ jāti-mayaṃ tesaṃ) karena satu sama lainnya punya kekhususan (aññamaññā hi jātiyo)"

        Kemudian ketahuilah jenis-jenis binatang kaki baik kecil maupun besar..
        Ketahuilah binatang-binatang yang perutnya adalah kakinya, Yaitu, kelompok ular berbadan panjang..
        Ketahui juga ikan-ikan yang berdiam di air, Habitatnya adalah alam cair..
        Berikutnya ketahuilah burung-burung yang mengepakkan sayapnya, Ketika terbang di angkasa raya.."
        "Di antara manusia......"

      Dalam Vasettha Sutta, tumbuhan adalah bentuk kehidupan [pāṇā: kehidupan, nafas, bentuk kehidupan] dan bukan mahluk hidup (Satta). Kelompok pana dan satta ada yang berespirasi ada yang tidak

      Apa beda Satta dan Pana?
      Bedanya pada berkesadaran atau tidak. Mahluk hidup/Satta/Sattva mempunyai PANCAKHANDA (Kesadaran, perasaan, persepsi, bentukan pikiran dan RUPA) atau nāmarūpa (Perasaan, persepsi, Phassa, cetana, manosikara dan RUPA).

      Dalam Buddhism, kesadaran berkaitan erat dengan kemunculan perasaan, pengenalan, pikiran, bentukan pikiran [MN 18/Madhupiṇḍikasutta]

      Perasaan, persepsi dan kesadaran, kondisi ini tergabung bukan terpisah, tidak dapat memisahkan kondisi-kondisi ini satu sama lainnya untuk menggambarkan perbedaan antaranya, karena yang dirasakan, itu yang dipersepsikannya; yang dipersepsikan, itu yang dikenalinya [MN.43/Mahāvedalla Sutta]

      Persepsi dan perasaan menyertai pikiran, kondisi ini terikat dengan pikiran, itulah mengapa persepsi dan perasaan adalah bentukan pikiran [MN.44/Cūḷavedalla Sutta].

      Tumbuhan tidak punya: kesadaran, perasaan, persepsi, bentukan pikiran atau tidak punya NAMA (perasaan, persepsi, phassa, cetana dan manosikhara) dan hanya punya RUPA (padat/landasan; rekat/cair; tekanan/getar/gerak; umur/habis/panas/gelombang partikel + turunannya), oleh karenanya, tumbuhan bukan mahluk hidup. Sesuatu yang tidak memiliki kesadaran ketika mati tidak terlahir kembali. [Lihat juga: Uraian mengenai tumbuhan]

      Penelitian modern ada yang menyatakan bahwa tumbuhan dapat berkomunikasi terhadap sesamanya namun ini tidaklah benar, karena test gelombang suara tersebut merupakan pergerakan cairan kimiawi melalui pembuluh, penghantar (tanah) atau daun, bunga dan batang yang beberapa diantaranya berfungsi sebagai mekanisme pertahanan diri (DI SINI, DI SINI dan DI SINI).

    8. NIRAYA
    9. Niraya (nir-aya "tanpa kegembiraan/keuntungan" atau "menuju kehancuran" atau nir-raya "Tidak: mengalir/longgar"): kondisi ketakutan ekstrim dan/atau ketidakberdayaan mengalami perasaan menyakitkan luarbiasa. Neraka di Buddhism TIDAK ABADI dan BUKAN hasil penilaian mahluk ADI DAYA tertentu untuk menghukum.

      Sebelum menyampaikan beberapa perumpamaan tentang neraka, Sang Buddha di MN.129/Balapandita-sutta menyampaikan 3 kesakitan yang dirasakan seorang dungu pelaku amoral dalam hidupnya sebelum kematian:

        Ketika dalam suatu pertemuan diruangan, jalan atau lapangan, dan orang-orang di sana sedang mendiskusikan persoalan-persoalan, Ia yang melanggar moralitas, merasa mereka mendiskusikan yang berkaitan dengan dirinya. Ia merasa kesakitan dan kesedihan di sana dan di saat itu

        Ketika seorang penjahat tertangkap dan Ia menyaksikannya dijatuhi hukuman. Ia yang melanggar moralitas merasakan kesakitan dan kesakitan di sini dan di saat ini

        Ketika sedang beristirahat atau tidur, maka perbuatan buruk dan prilaku salah jasmani, ucapan dan pikiran yang lakukannya di masa lalu, meliputinya, menyelimutinya, dan membungkusnya. Ia merasa kesakitan dan kesedihan di sini dan saat ini

        Pelaku perilaku salah dalam jasmani, ucapan, dan pikiran, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, akan muncul kembali dalam kondisi kesengsaraan, di alam tujuan kelahiran tidak bahagia, bahkan di neraka.

      Kemudian, beliau lanjutkan dengan memberikan perumpamaan-perumpamaan betapa menyakitkannya di neraka. Jika di MN.129 sloka ke 8-9, perumpamaan dilakukan raja dan pelaksanaannya oleh para penjaga, maka di MN 130 sloka 3-10, perumpamaan dilakukan dengan menggunakan kepercayaan populer masyarakat yaitu raja neraka Yama dan para penjaganya yang didahului penyidangan bahwa perasaan sangat menyakitkan ini tidaklah terjadi jika disaat hidup mereka memahami telah bertemu 5 Duta Deva, yaitu: kelahiran (1), tua (2), sakit (3), pelaku kejahatan mengalami siksaan dikehidupannya saat itu (4) dan kematian (5).

      Lanjutan perumpamaan di MN 129 sloka 8-9:

        7. "...adalah tentang neraka, sedemikian sulit menemukan perumpamaan bagi penderitaan di neraka”. Ketika hal ini dikatakan, seorang bhikkhu bertanya pada Sang Bhagavā: “Tetapi, Yang Mulia, dapatkah suatu perumpamaan diberikan?

        8. “Dapat, Bhikkhu” Sang Bhagavā berkata. “Para bhikkhu, misalkan beberapa orang menangkap seorang penjahat perampok dan membawanya ke hadapan raja, dengan berkata: ‘Baginda, ini adalah seorang penjahat perampok. Perintahkanlah hukuman apapun yang engkau inginkan atas dirinya.’

        Kemudian raja berkata: ‘Pergilah dan tusuk orang ini di pagi hari dengan 100 tombak.’ Dan mereka menusuknya di pagi hari dengan 100 tombak.
        Kemudian di siang hari raja bertanya: ‘Bagaimana orang itu?’ – ‘Baginda, ia masih hidup.’ Kemudian ia berkata: ‘Pergilah dan tusuk orang ini di siang hari dengan 100 tombak.’ Dan mereka menusuknya di siang hari dengan 100 tombak.
        Kemudian di malam hari raja bertanya: ‘Bagaimana orang itu?’ – ‘Baginda, ia masih hidup.’ Kemudian ia berkata: ‘Pergilah dan tusuk orang ini di malam hari dengan 100 tombak.’ Dan mereka menusuknya di malam hari dengan 100 tombak.

        Bagaimana menurut kalian, para bhikkhu? Apakah orang itu mengalami kesakitan dan kesedihan karena ditusuk dengan 300 tombak?”

        “Yang Mulia, orang itu akan mengalami kesakitan dan kesedihan karena ditusuk bahkan hanya dengan satu tombak, apa lagi 300.”

        9. Kemudian, dengan mengambil sebutir batu berukuran sekepalan tanganNya, Sang Bhagavā berkata: “Bagaimana menurut kalian, para bhikkhu? Manakah yang lebih besar, batu kecil yang kuambil ini, yang berukuran sekepalan tanganKu, atau Himalaya, raja pegunungan?”

        “Yang Mulia, batu kecil yang telah Sang Bhagavā ambil itu, yang berukuran sekepalan tangan Beliau, tidak berarti dibandingkan Himalaya, raja pegunungan; bahkan tidak ada sebagian kecilnya, tidak dapat dibandingkan.”

        “Demikian pula, para bhikkhu, kesakitan dan kesedihan yang orang itu alami karena ditusuk dengan 300 tombak adalah tidak berarti dibandingkan penderitaan neraka; bahkan tidak ada sebagian kecilnya, tidak dapat dibandingkan.

      Setelah itu baik MN.129 sloka 10-16 dan MN 130 Sloka 10-16 menyampaikan lanjutan perumpamaan yang seragam isinya:

        “Kemudian para penjaga neraka menyiksanya dengan 5 tusukan. Mereka menusukkan sebatang pancang besi membara menembus satu tangan, ...menembus tangan lainnya, ..menembus satu kakinya, ..menembus kaki lainnya, ..menembus perutnya. Di sana ia merasakan perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk. Namun ia tidak mati selama akibat dari perbuatan jahatnya belum habis.

        [..]

        “Kemudian para penjaga neraka melemparnya ke dalam Neraka Besar.[..]

      Di MN 130 gambaran perumpamaan penyiksaan dikembangkan hingga sloka ke-27. Setelah selesai menyampaikan perumpamaan, sang Buddha berkata:

        “Para bhikkhu, Aku dapat menjelaskan dalam banyak cara tentang neraka. Begitu banyak sehingga sulit menyelesaikan penjelasan terhadap penderitaan di neraka. [MN 129, sloka ke-17]

        Para bhikkhu, Aku mengatakan hal ini pada kalian bukan sebagai sesuatu yang Kudengar dari petapa atau brahmana lain. Aku mengatakan hal ini pada kalian sebagai sesuatu yang sebenarnya diketahui, dilihat, dan ditemukan olehKu sendiri [MN 130/Devaduta Sutta, Sloka ke-29]

      Berikut beberapa versi "Daftar nama" dari Niraya/neraka di Buddhisme:

      • SN 6.7-10, AN 10.89 dan SuttaNipata 3.10 sehubungan dengan bikkhu Kokalika: Abbuda, Nirabbuda, Ababa, Atata, Ahaha, Kumuda, Sogandhika, Uppalaka, Pundarīka, Paduma (lihat juga Dvy. 67). J.v.266, 271; Listnya sama dengan di Dvy.67, kecuali neraka Raurava diganti dengan neraka Jalaroruva dan Mahāraurava diganti dengan Dhūmaroruva.

      • Dalam MN.50/Māratajjanīya Sutta, YM Maha Moggallana menyampaikan ada 3 sebutan bagi Neraka Besar: (1) neraka 6 landasan kontak indriya, (2) neraka tusukan tombak, dan (3) neraka yang dirasakan oleh diri sendiri.

      • Devadūta Sutta (MN.130): Gūtha, Kukkula, Simbalivana, Asipattavana, dan Khārodakanadī. Nama lainnya secara acak (misal Khuradhāra (J.v.269), Kākola (J.vi.247), Sataporisa (J.v.269), dan Sattisūla (J.v.143).

      • Dari kisah yang membungkus syair-syair di Jātaka: Sañjīva, Kālasutta, Sanghāta, Jālaroruva, Dhūmaroruva, Mahāvīci, Tapana, Patāpana

      • Kitab komentar [misal. AA.ii.853], menyatakan bahwa neraka ini BUKAN neraka dengan tempat terpisah dengan atau dari neraka Avici, namun lamanya waktu keberadaan mahluk di alam itu yang berbeda-beda

      Pada abad selanjutnya yaitu mulai dari abad ke-1 SM, penamaan dan jenis neraka makin bertambah, misal:

      • Neraka Panas: Sanjiva (hidup lagi), Kalasuta (benang hitam), Sanghata (penghancur), Roruva (daerah tertarus), Maha roruva (daerah tartarus yang besar), Tapana (pembakar), Pratāpana (pembakaran yang hebat), Avici (tanpa henti, merasakan perasaan menyakitkan tanpa henti)

      • Neraka dingin: lamanya waktu (bukan dari sutta): seperti mengosongkan sedrum biji Wijen yang tiap 100 tahun diambil 1 biji. Makin rendah, lamanya 2 lipat sebelumnya, yaitu: Aruba, Nirarbuda, Atata, Hahava (Apapa), Huhuva (Hahadhara), Utpala (Nilotpala), Padma dan Mahapadma. Juga ada Neraka tambahan dan Lokantarika (Neraka terpencil, SA.ii.442f.; DhsA.297f, Lokasi neraka ini ada di gunung, hutan, angkasa atau di atas bumi dan sebagainya yang muncul karena perbuatan masing-masing yang mengakibatkannya demikian. Neraka-neraka ini tidak seperti 8 neraka panas dan 8 neraka dingin yang mempunyai tempat tertentu)

      LAMA WAKTU di NIRAYA
      Dalam kokkalika sutta [misal: AN, Sn, SN] disampaikan perumpamaan panjangnya waktu di neraka Paduma:

        "[..]Yang Mulia, berapa lama waktu kehidupan di neraka Paduma?

        Bhikkhu, Umur kehidupan di Neraka Paduma adalah panjang, tidaklah mudah menghitungnya dan menyebutkannya dalam tahun, atau ratusan tahun, atau ribuan tahun, atau ratusan ribu tahun.

        Yang mulia, apakah dapat diberikan perumpamaan?

        Mungkin, Bhikkhu.

        1. Misalkan, Bhikkhu, terdapat 1 kereta dari Kosala berukuran 20 penuh dengan biji wijen. Di akhir setiap 100 tahun, seseorang akan mengambil sebutir dari sana. Kereta dari Kosala berukuran 20 yang penuh dengan biji wijen itu kosong lebih cepat daripada 1 Neraka Abbuda dilalui;
        2. 20 Neraka Abbuda = dengan 1 Neraka Nirabbuda;
        3. 20 Neraka Nirabbuda = dengan 1 Neraka Ababa;
        4. 20 Neraka Ababa = dengan 1 Neraka Atata;
        5. 20 Neraka Atata = dengan 1 Neraka Ahaha;
        6. 20 Neraka Ahaha = dengan 1 Neraka Kumuda;
        7. 20 Neraka Kumuda = dengan 1 Neraka Soghandika;
        8. 20 Neraka Soghandika = dengan 1 Neraka Uppalaka;
        9. 20 Neraka Uppalaka = dengan 1 Neraka Pundarika; dan
        10. 20 Neraka Pundarika = dengan 1 Neraka Paduma.[..]"

        Ukuran kaum Kosala, dari Pattha ke atas, 4x dari yang digunakan di Magadha: 20 khaari = 1 khaarika ( = 1 gerobak/kereta)

        Di mana,
        1 biji gandum/wijen (Yavodara/barley corn) = 1/6 Inch (0.166667 Inch)
        1 Angula = 8 x Yavodara (biji gandum/wijen = 1.333333 Inch)
        1 Hasta = 4 x 6 Angula [= 32 Inch]

        1 Magadha Karika = 1 cubic Hasta = [32 inci]3= 32,768 inci3

        Perhitungan jumlah gandum/wijen-nya saya ambil dari di sini atau di sini:

        1 sendok makan (besar) = 2,865 wijen/gandum
        1 sendok makan = 1/16 cangkir/mangkok
        1 cangkir/mangkok = 45,840 wijen/gandum
        1 cangkir/mangkok = 14,4375 inci3
        1 Inci3 = 3,175 biji wijen/gandum

        1 Magadha karika = 32,768 x 3,175 wijen = 104,038,400 wijen/gandum
        1 abbuda niraya = Setiap 100 tahun, 1 wijen dari 1 Magadha karika dibuang,

        Lamanya waktu di abbuda niraya = 104,038,400 wijen/gandum x 100 tahun = 10.403.840.000 tahun, “itu kosong lebih cepat daripada satu Neraka Abbuda dilalui”, jadi, lamanya 1 Abbudda jauh melebihi angka itu.

        Note:
        Dipavamsa 3.10-13 (Abad ke-4 M) dan kitab komentar untuk Jataka no.405 karangan Buddhaghosa (Abad ke-5 M) menerangkan besaran angka hingga ke abbuda:

        Divampasa:
        Dasadasakaṃ sataṃca sataṃ dasa sahassiyo, Dasa sahassaṃ nahutaṃ dasa nahutaṃ satasahassiyo, Dasasatasahassaṃ koṭi dasa koṭi pakoṭiyo, Tathā koṭippakoṭī ca nahutaṃ ninnahutaṃ pica, Akkhohiṇī bidūca abbudo” (10 x 10 = 102; 10 x 100 = 103; 10 x 1000 = 104; 10 x 10.000 = 105; 10 x 100.000 = 106; koti (107); 10 x koti (108); pakoti (107 x 107 = 1014); kotipakoti (1021); nahuta (1028); ninnahuta (1035); abbuda (1042)
        "..Nirabbuda..Paduma. Ettaka ganita savkhya gananaganita tahim, Tato uparimabhumi asamkheyya’ti vuccati" (..Nirabbuda..Paduma. Seluruh angka ini dapat di-angka-kan dengan dibuat hitungannya; lebih dari jumlah ini disebut asamkkheyya/tak terhitung)

        Komentar Jataka dari Buddhaghosa:
        dasadasakaṃ sataṃ, dasa satānaṃ sahassaṃ, sataṃ sahassānaṃ satasahassaṃ, sataṃ satasahassānaṃ koṭi nāma” (10 x 10 = 102; 10 x 100 = 103; 100 x 1000 = 105; 100 x 100.000 = 107 = 1 koti)
        sataṃ koṭisatasahassānaṃ pakoṭi nāma, sataṃ pakoṭisatasahassānaṃ koṭipakoṭi nāma, sataṃ koṭipakoṭisatasahassānaṃ ekaṃ nahutaṃ nāma, sataṃ nahutasatasahassānaṃ ekaṃ ninnahutaṃ nāma.. sataṃ ninnahutasatasahassānaṃ ekaṃ abbudaṃ“ (koti (107) x koti = pakoti (1014); koti x pakoti = kotipakoti (1021); koti x kotipakoti = 1 nahutam (1028); koti x nahutam = 1 ninnahutam (107 x 1028) = 1035; koti x ninnahutam (107 x 1035 = 1042) = 1 Abudda)

        Untuk itu, 1 abbuda = 1042

        1 Nirabbudda = 20 Abbuda = 20 x 1042 = 2 x 1043
        1 Ababa = 20 x 2 x 1043 = 4 x 1044
        1 Añaña = 20 x 4 x 1044 = 8 x 1045
        1 Ahaha = 20 x 8 x 1045 = 1.6 x 1047
        1 Kumuda = 20 x 1.6 x 1047 = 3.2 x 1048
        1 Soghandika = 20 x 3.2 x 1048 =6. 4 x 1049
        1 Uppala = 20 x 6.4 x 1049 = 1.28 x 1051
        1 Pundarika = 20 x 1.28 x 1051 = 2.56 x 1052
        1 Paduma = 20 x 2.56 x 1052 = 5.12 x 1053 tahun

      AVICI
      avici (a-vīci "bersambungan atau tidak terputus"). Jika memperhatikan penggunaan kata "avici" dalam sutta dan kitab komentar:

      • kata "Avici" tentang neraka (Avīcinirayaṃ) ada di Itivuttaka no.89 dan vinaya Culavagga 7.3, yaitu sehubungan dengan Devadatta yang mengalami neraka selama 1 Kappa. Baik di Itivuttaka, culavagga maupun kokalika Sutta, TIDAK ADA yang menyebutkan berapa lama 1 Kappa NERAKA AVICI yang dimaksud. Namun kitab-kitab komentar memberikan perkiraan hitungan 1 Maha Kappa:

        1. menurut umur keadaan di neraka Avici: 1 Maha Kappa = 4 x 20 antara kappa [umur kehidupan di neraka avici] = 80 antara kappa [Terasakandaa tika, Subkomentar dari Vinaya].
        2. menurut perubahan umur manusia: 1 MK = 4 x 64 antara kappa [umur kehidupan di alam manusia di umur 84.000 tahun - turun menjadi 10 tahun - naik menjadi 84.000 tahun] = 256 antara kappa [Visuddhimagga Mahà-Tikà, Abhidhammàttha-vibhàvani Tika]. Diantara 256 antara kappa, hanya 64 antara kappa saja terdapat kehidupan manusia.[RAPB buku ke-1, hal.363].

        Sehingga, hubungan antara kappa neraka avici vs alam manusia: 1 antara kappa neraka avici = 256/80 = 3.2 antara kappa alam manusia.

        Detail lain perhitungan 1 Maha Kappa, lihat BLOG INI

      • kata "Avici" yang TIDAK berhubungan dengan neraka ada di DN.26/Cakkavati Sihanada Sutta, "jarak antar desa dan kota hanya sejauh jarak terbang ayam antara satu sama lainnya. Jambudīpa ini seperti Avīci [avīci maññe], ramai oleh manusia bagaikan hutan belantara yang dipenuhi tanaman merambat dan semak belukar." (juga di AN 3.56, "avīci maññe").

      Maka maksud dari neraka "avici" BUKANLAH nama atau jenis neraka lainnya, namun keadaan menyakitkan yang terjadi bersambungan tak putus, Ia tidak dapat mati saat menjalaninya, selama akibat perbuatan jahatnya belum habis [MN.130 syair 9 s.d 27]. []
---------------

KESELAMATAN ATAU KEBEBASAN

Keselamatan atau kebebasan merupakan tujuan semua agama, ada agama yang menjanjikan:
  1. Jika berbuat baik semasa hidup, setelah wafat, masuk surga dan bila berbuat buruk, masuk neraka.

  2. Apapun perbuatannya, Jika sebelum wafat, Ia menyembah Sosok tertentu [dan/atau mengakui nabinya][15] dan/atau menerima Sosok tertentu sebagai juru selamatnya, maka pasti masuk surga[16]

    Beberapa menyatakan surga/nerakanya kekal, lainnya menyatakan bersifat sementara.

    Jadi bahkan jika Ia semasa hidupnya: selalu berbuat baik namun sebelum wafatnya Ia TETAP TIDAK MENYEMBAH/menerima sosok tertentu, maka Ia tetap saja akan masuk neraka atau selama hidup selalu berbuat buruk namun sebelum wafat Ia menyembah/menerima sosok tertentu, maka Ia tetap saja akan masuk surga.
Sementara, dalam Buddhism,
Surga/neraka hanya salah satu dari sekian alam kelahiran kembali yang bersifat sementara. Kelahiran di alam2 tersebut adalah akibat dari kondisi masaknya buah perbuatan mahluk itu sendiri karena masih diliputi lobha, dosa dan Moha (LDM). Bahkan, baik itu ada/tidak Buddhism, percaya/tidak Buddhism, selama Ia masih diliputi LDM, maka Ia pasti akan tetap terlahir kembali! Oleh karenanya, memadamkan LDM adalah jalan keselamatan atau kebebasan yang dituju dan itu dapat dicapai semasa hidup dan diketahui olehnya:
    Dan Brahmana Sundarika Bhāradvāja menerima pelepasan keduniawian di bawah Sang Bhagavā, dan menerima penahbisan penuh. Tidak lama setelah menerima penahbisan penuh, dengan berdiam sendirian, mengasingkan diri, rajin, tekun, dan bersungguh-sungguh, YM Bhāradvāja, menembus pengetahuan langsung, di sini di saat ini memasuki dan berdiam dalam tujuan tertinggi kehidupan suci yang dicari para anggota keluarga yang meninggalkan kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah.

    Ia secara langsung mengetahui: “Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, takkan ada lagi penjelmaan menjadi kondisi makhluk apapun.” Dan YM Bhāradvāja menjadi satu di antara para Arahat.
    [MN 7/Vatthūpama Sutta. Juga di: MN 1/ Mulapariyaya sutta, MN39/Mahā-Assapura Sutta, bahkan pada seseorang yang mencapai tingkat kesucian terendah/sotāpanna sekalipun, lihat AN 10.92/vera sutta]

    Ada, para bhikkhu, satu jalan untuk memurnikan makhluk-makhluk; mengatasi dukacita dan kesusahan; melenyapkan kesakitan dan kesedihan; memperoleh jalan benar; mencapai Nibbāna: yaitu, 4 landasan perhatian..berdiam merenungkan:

    1. jasmani sebagai jasmani,..
    2. perasaan sebagai perasaan,..
    3. pikiran sebagai pikiran,..
    4. objek-pikiran sebagai objek-pikiran,

    tekun, dengan kesadaran jernih dan penuh perhatian, setelah menyingkirkan keinginan dan belenggu dunia.’

    [..]

    “'Siapa pun [Yo hi Koci], para bhikkhu, yang mempraktikkan 4 Landasan Perhatian ini selama 7 tahun dapat mengharapkan satu dari 2 hasil ini: mencapai kesucian Arahant DALAM KEHIDUPAN INI [diṭṭheva dhamme aññā] atau, jika masih ada beberapa kekotoran tersisa, mencapai kondisi Yang-Tidak-Kembali. Jangankan 7 tahun – siapa pun yang mempraktikkannya selama 6 tahun.., 5 tahun.., 4 tahun.., 3 tahun.., 2 tahun.., 1 tahun dapat mengharapkan satu dari 2 hasil..; jangankan 1 tahun-siapa pun yang mempraktikkannya selama 7 bulan.., 6 bulan.., 5 bulan.., 4 bulan.., 3 bulan.., 2 bulan.., 1 bulan.., 1/2 bulan dapat mengharapkan satu dari 2 hasil..; jangankan 1/2-siapa pun yang mempraktikkan 4 Landasan Perhatian ini selama 7 hari dapat mengharapkan satu dari 2 hasil ini: mencapai kesucian Arahant dalam kehidupan ini atau, jika masih ada beberapa kekotoran tersisa, mencapai kondisi Yang-Tidak-Kembali.’
    [MN 10/Satipaṭṭhāna Sutta dan DN 22/Mahāsatipaṭṭhāna Sutta]
Namun, di jaman ini, jangankan pencapaian Arahat, bahkan untuk sotāpanna pun SUDAH TIDAK MUNGKIN , karena prilaku Brahmacariya tidak bertahan lama, umur DHAMMA SEJATI berakhir 500 tahun dari ditahbiskannya bhikkhuni pertama[↓]. Namun demikian, remah tersisa dari ajaran ini masihlah sangat bermanfaat dalam mengasah kesempurnaan/parami [yaitu dalam MEMPERHATIKAN yang BENAR] di perjalanan samsara (kelahiran kembali) .

Hubungan antara parami dan tingkat kesucian adalah hubungan positif:
    Bagaikan sebuah tempayan akan terisi penuh oleh air yang dijatuhkan setetes demi setetes, demikian pula orang bijaksana sedikit demi sedikit memenuhi dirinya dengan kebajikan. [Dhammapada bab 9, Syair 122]
Sang Buddha memberikan perumpamaan perbandingan dengan garam yang ditaburkan di 2 tempat air berbeda. Garam diibaratkan sebagai kamma buruk dan air adalah kamma baik, kemudian sejumlah garam yang sama banyaknya, satunya, ditaburkan pada secangkir air dan lainnya ke dalam sungai Gangga.
    "Misalkan, seseorang menaburkan sejumlah garam ke dalam secangkir air. Bagaimana menurutmu? Apakah air dalam cangkir itu akan menjadi asin karena garam itu?"

    "Ya, guru."

    "Mengapa?"

    "karena hanya ada sedikit air dalam cangkir dan air akan menjadi asin karena garam itu"

    "Sekarang, misalkan seseorang menaburkan sejumlah garam yang sama ke dalam sungai Gangga. Bagaimana menurutmu? Apakah air di sungai gangga itu akan menjadi asin karena garam?"

    "Tidak, guru"

    "Mengapa?"

    karena ada sejumlah besar massa air di sungai Gangga dan air takkan menjadi asin karena taburan garam itu." [AN 3.99/Lonaphala Sutta]
Jadi walaupun kamma buruk yang telah dilakukan sebelumnya TETAP ADA dan TETAP BERPOTENSI BERBUAH, namun dengan semakin melimpahnya KEBAJIKAN yang dilakukan, masaknya kamma buruk dampaknya semakin tak terasa karena kondisi kondusif dari pelaku kebajikan

Terdapat latihan yang dirancang untuk memunculkan kondisi-kondisi bermanfaat dalam mengikis lobha, dosa dan Moha, bahkan efek samping dari pelatihan mengakibatkan peluang terlahir dalam keadaan keadaan sengsara, merugi menuju kehancuran atau alam sengsara makin mengecil dan peluang terlahir dalam keadaan baik atau di alam baik makin membesar

Secara ringkas, JALAN MENUJU KESELAMATAN dan KEBEBASAN dalam buddhisme adalah: "Segala hal buruk tidak diperbuat, lakukan yang bermanfaat, sertai dengan pikiran murni". Untuk caranya, Sang buddha mengatakan:
    Para bhikkhu, ada 3 cara membuat jasa kebajikan (puññakiriyavatthūni), yaitu dengan berdana, melatih moralitas, dan mengembangkan Samadhi/Bhavana [AN 8.36/Puññakiriyavatthu-sutta]
3 Latihan ini bertujuan untuk mengasah kesempurnaan/parami dalam MEMPERHATIKAN YANG BENAR agar mengetahui dan melihat bahwa apapun yang berkondisi adalah anicca, dukkha dan anatta.

Dana
Siapapun anda, baik itu anak kecil/dewasa, bermoral atau bahkan penjahat kelas berat, Pemuja Tuhan manapun atau tidak satupun, kaya/miskin, cacat/normal, semua mampu untuk berdana. Maka tidak mengherankan dalam Dasa Paramita[17], dana berada di tempat pertama
    Sang Buddha berkata:
    “Wahai para bhikkhu, seandainya para makhluk tahu, seperti yang aku tahu, buah dari perbuatan memberi serta berbagi, mereka takkan makan sebelum memberi; mereka takkan membiarkan noda kekikiran menguasai dan mengakar di pikiran mereka. Bahkan seandainya itu adalah makanan terakhir, suapan terakhir, mereka takkan menikmatinya tanpa membaginya seandainya ada orang yang dapat diajak berbagi.

    Tetapi, wahai para bhikkhu, karena para makhluk tidak tahu, seperti yang aku tahu, buah dari perbuatan memberi serta berbagi, maka mereka makan tanpa memberi dan noda kekikiran menguasai dan mengakar di pikiran mereka.” [Itivuttaka 1.26]
Sang Buddha pernah menyampaikan bahwa memberikan persembahan pada yang membutuhkan dapat mengurangi kemiskinan dan kejahatan!
    ..Raja melakukan penjagaan dan perlindungan, tetapi tidak memberikan persembahan pada yang membutuhkan, dan sebagai akibatnya, kemiskinan berkembang. Dengan meningkatnya kemiskinan, seseorang mengambil apa yang tidak diberikan, dengan demikian melakukan apa yang disebut pencurian..[DN 26/Cakkavati Sihanada Sutta]
Sang Buddha menyampaikan bagaimana seharusnya seorang dalam melayani:
    Aku TIDAK mengatakan SEMUA harus dilayani, atau TIDAK ADA yang harus dilayani. Namun, jika karena pelayanan itu:

    1. Ia menjadi LEBIH BURUK dan TIDAK LEBIH BAIK, maka Ia seharusnya TIDAK dilayani
    2. Ia menjadi LEBIH BAIK dan TIDAK LEBIH BURUK, maka Ia seharusnya dilayani
    3. AKU menjadi LEBIH BURUK dan TIDAK LEBIH BAIK, maka AKU seharusnya TIDAK melayaninya
    4. AKU menjadi LEBIH BAIK dan TIDAK LEBIH BURUK, maka AKU seharusnya melayaninya

    Ketika melayani seseorang: (1) keyakinan (saddhā), (2) moralitas (sīla), (3) pembelajaran (suta), (4) kedermawanan (cāga), dan (5) kebijaksanaannya (paññā) BERTAMBAH, maka seseorang SEHARUSNYA dilayani [MN96/Esukārī Sutta]
Mereka yang berbagi, sepatutnya memberikan persembahan dan pelayanan dari hal baik, yaitu tidak berasal dari: menyakiti mahluk hidup, mengambil yang tidak diberikan, menjual/memperbudak orang, menipu dan menjual persenjataan atau hal yang menyakiti kehidupan, pencurian dan asupan memabukan. Tindakan ini pada gilirannya dapat menurunkan kemiskinan, mengurangi niat jahat, perampokan, pencurian, korupsi dan lainnya yang membuat keamanan dan kenyamanan hidup meningkat seiring berkurangnya kejahatan.

Kemudian, Sang Buddha menyampaikan terdapat 3 jenis orang sehubungan dengan memberi:
    “Wahai para bhikkhu, ada 3 macam orang di dunia sini yaitu: yang bagaikan awan tanpa hujan, yang bagaikan hujan lokal, dan yang bagaikan hujan di mana-mana.”

    “Seperti apakah orang yang bagaikan awan tanpa hujan?”

    “orang itu tidak memberi pada siapa pun. Dia tidak memberi makanan, minuman, pakaian, kendaraan, bunga-bungaan, pengharum, minyak, tempat tidur, tempat bernaung, dan lampu pada para pertapa dan brahmana, pada orang yang miskin, pada orang yang terlantar dan membutuhkan. Orang semacam ini bagaikan awan tanpa hujan.”

    “Seperti apakah orang yang bagaikan hujan lokal?”

    “orang itu memberi pada beberapa orang tetapi tidak memberi pada yang lain. Dia hanya memberikan makanan, minuman, pakaian, kendaraan, bunga-bungaan, pengharum, minyak, tempat tidur, tempat bernaung, dan lampu pada beberapa pertapa dan brahmana, pada beberapa orang yang miskin, pada beberapa orang yang terlantar dan membutuhkan, tetapi tidak memberikannya pada yang lain. Inilah orang bagaikan hujan lokal.”

    “Seperti apakah orang yang bagaikan hujan di mana-mana?”

    “orang itu memberi pada semuanya. Dia memberikan makanan, minuman, pakaian, kendaraan, bunga-bungaan, pengharum, minyak, tempat tidur, tempat bernaung, dan lampu pada semua pertapa dan brahmana, pada orang yang miskin, pada orang yang terlantar dan yang membutuhkan. Inilah orang yang bagaikan hujan di mana-mana.”

    “Wahai para bhikkhu, demikianlah 3 macam orang yang ada di dunia ini.”

    Tidak pada para pertapa maupun brahmana, Tidak juga pada yang miskin dan terlantar, Dia membagikan simpanan, Makanan, minuman dan barang-barangnya; Orang yang dasarnya seperti itu disebut ‘Orang yang bagaikan awan tanpa hujan’.

    Pada beberapa orang dia tidak memberi, Pada beberapa orang dia menawarkan dana makanan; Oleh para bijaksana orang seperti itu disebut ‘Orang yang bagaikan hujan lokal’.

    Orang yang dikenal karena kebesaran hatinya, Yang mengasihi semua makhluk, Membagikan dana dengan senang hati.‘Beri! Beri!’ katanya.

    Bagaikan awan yang tebal Yang menggelegar mencurahkan hujan Mengisi bagian yang rata dan cekung, Membasahi bumi dengan air, Seperti itulah orang ini.

    Setelah dengan benar mengumpulkan kekayaan Yang dia peroleh dengan usahanya sendiri, Dia memberikan cukup makanan dan minuman Pada makhluk apa pun yang membutuhkan
    [Itivuttaka 75]
Sang Buddha menyampaikan ADA PERBEDAAN antara seorang pemberi dana VS bukan pemberi dana, walaupun mereka sama-sama memiliki keyakinan, keluhuran dan kebijaksanaan:
    Pada suatu ketika Sang Bhagava berada di dekat Savatthi, di Hutan Jeta, di Vihara Anathapindika. Pada saat itu, Putri Sumana –dengan 500 wanita kerajaan datang berkunjung, setelah memberikan hormat, duduk di satu sisi dan berkata:

    “Bhante, seandainya ada 2 siswa Bhante yang setara dalam: keyakinan, keluhuran dan kebijaksanaannya namun yang satu adalah pemberi dana, sedangkan yang lain bukan. Maka ke-2nya ini, bersamaan hancurnya tubuh setelah kematian terlahir di keadaan bahagia di alam surgawi. Setelah menjadi dewa demikian, adakah ketidaksamaan di antara ke-2nya?”

    Sang Buddha berkata, “Ada, Sumana. Si pemberi dana, sesudah menjadi dewa, akan melampaui yang bukan pemberi dana dalam 5 hal: Umur kehidupan (āyunā), kelas/kualitas/keindahan (vaṇṇena), kebahagiaan (sukhena), keagungan/kemasyhuran (yasena) dan pengaruh/kekuatan (ādhipateyyena) surgawi"

    “Tetapi, Bhante, jika ke-2nya ini kemudian meninggal dari sana dan kembali ke alam ini di sini, apakah masih ada ketidaksamaan di antara mereka ketika mereka menjadi manusia lagi?”

    Sang Buddha, “Ada, Sumana. Si pemberi dana, setelah menjadi manusia, akan melampaui yang bukan-pemberi dana dalam 5 hal: umur kehidupan (āyunā), kelas/kualitas/keindahan (vaṇṇena), kebahagiaan (sukhena), keagungan/kemasyhuran (yasena) dan pengaruh/kekuatan (ādhipateyyena) manusiawi.”

    “Tetapi, Bhante, jika ke-2nya ini akan meninggalkan kehidupan perumah-tangga menuju kehidupan tak-berumah sebagai bhikkhu, apakah masih akan ada ketidaksamaan di antara mereka ketika mereka menjadi bhikkhu?”

    Sang Buddha, “Ada, Sumana. Si pemberi dana, sesudah menjadi bhikkhu, akan melampaui yang bukan-pemberi dana di dalam 5 hal: Ia sering diminta untuk menerima jubah, dan jarang dia tidak diminta; dia sering diminta untuk menerima dana makanan … tempat tinggal … dan obat-obatan, dan jarang dia tidak diminta. Selanjutnya, sesama bhikkhu biasanya ramah terhadapnya lewat perbuatan, kata-kata dan pikiran; jarang mereka tidak ramah. Pemberian-pemberian yang mereka bawa padanya kebanyakan menyenangkan. Jarang pemberian-pemberian itu tidak menyenangkan.”

    “Tetapi, Bhante, jika keduanya mencapai tingkat Arahat, apakah masih akan ada ketidaksamaan di antara ke-2nya?”

    “Di dalam hal itu, Sumana, kunyatakan takkan ada perbedaan antara satu pembebasan dan pembebasan lain.”.. [AN 5.31/Sumana Sutta]
Alasan mengapa ada perbedaan buah dari pemberian:
    Vacchagotta:
    “Telah kudengar, Guru Gotama, bahwa Petapa Gotama berkata: ‘Hadiah harus diberikan hanya padaku dan bukan pada yang lain; hadiah harus diberikan hanya pada siswa-siswaku dan bukan pada siswa-siswa yang lain. Hanya apa yang diberikan padaku saja yang memberikan buah yang besar, bukan apa yang diberikan pada yang lain; hanya apa yang diberikan pada siswa-siswaku saja yang memberikan buah yang besar, bukan apa yang diberikan pada siswa-siswa yang lain.’

    Guru Gotama, apakah mereka yang mengatakan demikian itu benar-benar menyampaikan kata-kata Guru Gotama dan tidak salah mewakili Beliau? Apakah mereka menyatakan hal ini sesuai dengan ajaran-ajaran Guru? Apakah pernyataan mereka itu tidak menimbulkan alasan untuk dicela? Kami tentu saja tidak ingin salah mewakili Guru Gotama.”

    Sang Buddha:
    Mereka yang mengatakan demikian, Vaccha, tidak menyatakan kata-kataku dengan benar, salah mewakiliku. Pernyataan mereka tidak sesuai dengan ajaran-ajaranku dan pernyataan mereka yang salah tentu saja akan menimbulkan penyebab celaan.

    “Vaccha, siapapun yang mencegah orang lain agar tidak memberikan dana berarti menyebabkan penghalang dan kesukaran bagi 3 orang:

    1. dia menghalangi si pemberi untuk melakukan suatu tindakan yang berjasa,
    2. dia menghalangi si penerima untuk menerima pemberian itu, dan sebelum itu,
    3. dia merendahkan dan merugikan wataknya sendiri.

    Vaccha, inilah yang sesungguhnya kuajarkan: bahkan seandainya seseorang melempar air bekas cucian mangkuk atau cangkir ke kolam desa, dengan harapan bahwa makhluk-makhluk hidup di sana bisa memperoleh makanan dari itu – bahkan perbuatan ini pun akan menjadi sumber perbuatan jasa, apalagi memberikan sesuatu pada manusia

    “Tetapi aku memang menyatakan bahwa persembahan yang diberikan pada mereka yang luhur akan memberikan buah yang kaya, dan buah persembahan takkan sebanyak itu bila diberikan pada mereka yang tidak luhur

    Orang yang luhur telah meninggalkan [vippahinani] 5 sifat dan memiliki 5 sifat upaya pembebasan diri [samanagato].

    Apakah 5 sifat yang telah ditinggalkannya itu?

    keinginan indriya/duniawi (kamacchanda), kehendak buruk/benci/permusuhan/penolakan (byapada), kemalasan dan kelambanan (thina-midha), kegelisahan dan kecemasan (uddhaca-kukkukcha), dan keragu-raguan (vicikicha): inilah 5 sifat yang telah dia tinggalkan [mereka yang mencapai jhana ke-1].

    Dan apakah 5 sifat upaya pembebasan diri yang dia miliki?

    Dia memiliki keluhuran moralitas (sīla-kkhandhe), pikiran terpusat (samādhi-kkhandhe), kebijaksanaan (paññā-kkhandhe), pembebasan (vimutti-kkhandhe), dan pengetahuan melihat pembebasan (vimutti-ñāṇa-dassana-kkhandhe) dari orang yang telah sempurna latihannya. Inilah 5 sifat yang dimilikinya.

    “Memberi pada orang yang telah meninggalkan 5 sifat itu dan yang memiliki 5 sifat ini – inilah yang kunyatakan akan memberikan buah yang kaya.” [AN 3.57/Vacchagotta sutta]
Kemudian, agar bermanfaat besar dalam memberi, sang Buddha menyampaikan:
    • Si pemberi bergembira sebelum memberikan;
    • memiliki pikiran yang tenang, dan penuh kepercayaan saat memberikan; dan
    • bersukacita setelah memberikan.

    Sebelum memberi Ia bergembira;
    Sewaktu memberi ia mengokohkan pikirannya dalam kepercayaan;
    Setelah memberi ia bersukacita:
    Ini adalah keberhasilan dalam tindakan memberi.

    Ketika mereka yang hampa dari nafsu dan kebencian,
    Hampa dari delusi, tanpa noda,
    Terkendali, menjalani kehidupan spiritual,
    Maka lahan persembahan menjadi lengkap.

    Setelah membersihkan dirinya sendiri
    Dan memberi dengan tangannya sendiri,
    Tindakan derma menjadi sangat berbuah
    Bagi dirinya sendiri dan sehubungan dengan orang lain.

    Setelah melakukan perbuatan derma demikian
    Dengan pikiran yang bebas dari kekikiran,
    Orang bijaksana, kaya dalam keyakinan,
    Terlahir kembali di alam bahagia, tanpa kesusahan
    [AN 6.37/Chaḷaṅgadāna sutta]
Lebih lanjutnya, dalam sutta lainnya, Sang Buddha menyampaikan:
    ketika seseorang, berkat orang lain, Ia menjadi:

    1. berlindung pada Sang Buddha, Dhamma, dan Sangha [dan/atau]..
    2. menjalankan pancasila[dan/atau]..
    3. memiliki keyakinan yang tak tergoyahkan pada Buddha, Dhamma, dan Sangha, dan memiliki moralitas [sila] yang disenangi oleh para mulia[dan/atau]..
    4. terbebas dari keragu-raguan terhadap 4 KESUNYATAAN/KEBENARAN MULIA [Cattari Ariya Saccani]

    maka, tidak mudah bagi orang ke-1 membalas orang ke-2 dengan cara memberikan penghormatan, bangkit untuknya, memberikan salam penghormatan dan pelayanan sopan., dan dengan memberikan jubah, makanan, tempat tinggal, dan obat-obatan.

    ...pemberian secara Pribadi pada seorang:

    1. Sammasambuddha (sudah tidak bisa), dapat berbuah tidak terukur x lipat
    2. Paccekabuddha (sudah tidak bisa), dapat berbuah tidak terukur x lipat
    3. Arahat (sudah tidak bisa), dapat berbuah tidak terukur x lipat
    4. Yang berada di jalan Arahat (sudah tidak bisa), dapat berbuah tidak terukur x lipat
    5. Anagami (sudah tidak bisa), dapat berbuah tidak terukur x lipat
    6. Yang berada di jalan Anagami (sudah tidak bisa), dapat berbuah tidak terukur x lipat
    7. Sakadagami (sudah tidak bisa), dapat berbuah tidak terukur x lipat
    8. Yang berada di jalan Sakadagami (sudah tidak bisa), dapat berbuah tidak terukur x lipat
    9. Sotāpanna (sudah tidak bisa), dapat berbuah tidak terukur x lipat
    10. Yang berada di jalan sotāpanna (tidak bisa lagi), dapat berbuah tidak terukur x lipat
    11. Yang di luar ajaran namun bebas nafsu akan kenikmatan indria [Bāhirake kāmesu vītarāge: mereka yang telah mencapai Jhana], dapat berbuah 100.000 x 100.000 lipat
    12. puthujjana yang bermoral, dapat berbuah 100.000x lipat
    13. putthujjana yang tidak bermoral, dapat berbuah 1000x lipat
    14. Pada hewan, dapat berbuah 100x lipat

    ...7 Jenis Pemberian pada Sangha (SanghikaDāna):

    1. Sangha Bhikkhu dan Bhikkhuni dipimpin oleh Buddha (Sudah tidak bisa)
    2. Sangha Bhikkhu dan Bhikkhuni setelah Buddha mencapai Parinibnibbāna (Sudah tidak bisa)
    3. Sangha bhikkhu
    4. Pada Sangha dari bhikkhuni
      Seseorang memberikan dana: "Tunjuklah untukku sejumlah tertentu para bhikkhu dan bhikkhunī dari Sangha”
    5. Seseorang memberikan dana: "Tunjuklah untukku sejumlah tertentu para bhikkhu dari Sangha”
    6. Seseorang memberikan dana: "Tunjuklah untukku sejumlah tertentu para bhikkhunī dari Sangha”.

    ...“Di masa depan, Ānanda, akan ada anggota-anggota kelompok, ‘leher-kuning,’ tidak bermoral, dan berkarakter jahat. Orang-orang akan memberikan pemberian pada orang-orang tidak bermoral itu demi Sangha. Bahkan yang demikianpun, Aku katakan, suatu persembahan yang diberikan pada Sangha adalah TIDAK TERHITUNG dan TIDAK TERUKUR.

    Dan Aku katakan bahwa TIDAK MUNGKIN suatu persembahan yang diberikan pada individu AKAN LEBIH berbuah daripada persembahan yang diberikan pada Sangha
    .

      note:
      Bhikkhu leher kuning [kāsāva kaṇṭha] "anggota-anggota kelompok” (gotrabhuno): mereka menjadi bhikkhu secara nama, bepergian dengan sehelai kain kuning yang diikatkan di leher/lengannya, masih menyokong anak dan istri dengan terlibat di perdagangan dan pertanian, dsb [Papañca Sūdanī, komentar MN 5:74 f]

      gotrabhu, juga termasuk orang tua dan/atau perorangan yang telah mengikuti ajaran namun belum magga dan phala (8 individu jalan dan buah) (AN 9.10/Ahuneyyapuggala sutta: "9 orang yang layak menerima: pemberian, keramahan, persembahan, penghormatan, lahan jasa tiada tara di dunia"), misal: yang telah berlindung, yang mempraktekkan ti-sikkha, anggota sangha dan yang tengah condong pada dhamma ajaran

    Empat jenis pemurnian persembahan:

    1. Dimurnikan oleh si pemberi, bukan oleh si penerima.
    2. Dimurnikan oleh si penerima, bukan oleh si pemberi.
    3. Dimurnikan bukan oleh si pemberi juga bukan oleh si penerima.
    4. Dimurnikan si pemberi & si penerima akan berbuah sepenuhnya
    5. Pemurnian adalah oleh orang yang bermoral, berkarakter baik.

    "Ketika:

    • seorang bermoral memberi pada yang tidak bermoral pemberian yang diperoleh dengan benar dengan penuh keyakinan, Meyakini bahwa buah perbuatan itu adalah besar, Moralitas si pemberi memurnikan persembahan itu.
    • seorang tidak bermoral memberi pada yang bermoral pemberian yang diperoleh dengan tidak benar dengan tanpa keyakinan, Juga tidak meyakini bahwa buah perbuatan itu adalah besar, Moralitas si penerima memurnikan persembahan itu.
    • seorang tidak bermoral memberi pada yang tidak bermoral pemberian yang diperoleh dengan tidak benar dengan tanpa keyakinan, Juga tidak meyakini bahwa buah perbuatan itu adalah besar, Moralitas keduanya tidak memurnikan persembahan itu.
    • seorang bermoral memberi pada yang bermoral pemberian yang diperoleh dengan benar dengan penuh keyakinan, Meyakini bahwa buah perbuatan itu adalah besar, Pemberian itu, akan berbuah sepenuhnya.
    • seorang yang tanpa nafsu memberi pada seorang yang tanpa nafsu pemberian yang diperoleh dengan benar dengan penuh keyakinan, Meyakini bahwa buah perbuatan itu adalah besar, Pemberian itu, yang terbaik di antara pemberian-pemberian duniawi” [MN 142/Dakkhiṇāvibhanga Sutta]
Sang Buddha juga menyampaikan bahwa orang tua adalah ladang yang sangat subur, karena hutang budi kita sangatlah besar:
    Kunyatakan, O para bhikkhu, ada 2 orang yang tidak pernah dapat dibalas budinya oleh seseorang. Apakah yang 2 itu? Ibu dan ayah.

    Bahkan seandainya saja seseorang memikul ibunya ke mana-mana di satu bahunya dan memikul ayahnya di bahu yang lain, dan ketika melakukan ini dia hidup 100 tahun, mencapai usia 100 tahun; dan seandainya saja dia melayani ibu dan ayahnya dengan meminyaki mereka, memijit, memandikan, dan menggosok kaki tangan mereka, serta membersihkan kotoran mereka di sana bahkan – perbuatan itupun belum cukup, dia belum dapat membalas budi ibu dan ayahnya.

    Bahkan seandainya saja dia mengangkat orang tuanya sebagai raja dan penguasa besar di bumi ini, yang sangat kaya dalam 7 macam harta, dia belum berbuat cukup untuk mereka, dia belum dapat membalas budi mereka.

    Apakah alasan untuk hal ini?

    Orang tua berbuat banyak untuk anak mereka: mereka membesarkannya, memberi makan dan membimbingnya melalui dunia ini.

    Tetapi, O para bhikkhu, seseorang:

    • yang mendorong orang tuanya yang tadinya tidak percaya, membiasakan dan mengukuhkan mereka di dalam keyakinan;
    • yang mendorong orang tuanya yang tadinya tidak bermoral, membiasakan dan mengukuhkan mereka di dalam moralitas;
    • yang mendorong orang tuanya yang tadinya kikir, membiasakan dan mengukuhkan mereka di dalam kedermawanan;
    • yang mendorong orang tuanya yang tadinya bodoh mentalnya, membiasakan dan mengukuhkan mereka di dalam kebijaksanaan

    orang seperti itu, O para bhikkhu, telah berbuat cukup untuk ibu dan ayahnya: dia telah membalas budi mereka dan lebih dari membalas budi atas apa yang telah mereka lakukan. [AN 2.32 (II.4)/ Samacittavaggo]
Sang Buddha menyatakan bahwa Ibu-bapak adalah Brahma, Dewa, Guru (pubbaachariya/Ajahn) yang harus dihormati, dilayani dengan: makanan, minuman, pakaian, tempat tidur, memijat, memandikan, mencuci kaki mereka dan layak menerima pemberian. Prilaku terpuji ini membuatnya setelah kematian bergembira di alam surga [AN 3.31, AN 4.63, It no.106/SaBrahma Sutta]. Berperilaku baik terhadap ibunya, ayahnya, Sang Tathāgata dan siswa Sang Tathāgata, maka sang bijaksana, yang kompeten, dan baik, mempertahankan dirinya dalam kondisi tidak-celaka dan tidak-terluka; tanpa cela dan di luar celaan para bijaksana; dan menghasilkan banyak jasa, setelah kematian ia pergi ke alam surga [AN 4.4/khata sutta]
    Kebudayaan India sangat menghormati ibu:
    seorang Acharya (guru) 10x lebih mulia dari Upajaya (guru angkat), seorang Ayah 100x lebih mulia dari Acharya dan seorang Ibu 1000x lebih mulia dari seorang ayah [Hindu Manusmrti 2.145 dan Vâsishtha Smrti 13.48]
Tentu saja, sulit sekali menerima pernyataan "MELEPASLAH TANPA PAMRIH!", karena JIKA benar tanpa PAMRIH, tidaklah perlu pilih-pilih atau bahkan BUANG SAJA HARTA/DANA tersebut ke tempat sampah tanpa menengok lagi.

MAMPU?

JIKA TIDAK, maka apapun itu, tentunya dimulai dengan PAMRIH namun SERTAI dengan MORALITAS/SILA yang baik dan Sang Buddha menyampaikan bahwa seorang yang MENGHARAPKAN IMBALAN ATAS PEMBERIANNYA, maka PAMRIH itu memang dapat saja membawanya terlahir kembali di tempat yang dicita-citakannya, ASALKAN hal ini dibarengi dengan PRILAKU yang SUNGGUH BERMORAL:
    Seseorang memberikan pada seorang petapa/Brāhmaṇa, makanan, minuman, pakaian, transportasi (yānaṁ), karangan bunga, wewangian, ramuan, tempat tinggal, tidur, atau lampu penerangan, dan ia mengharapkan imbalan atas pemberiannya itu, Ia

    • melihat (a) seorang Khattiya atau Brāhmaṇa atau perumah tangga kaya yang hidup dipenuhi dengan kenikmatan 5 indria, Ia berpikir: “Seandainya aku bisa terlahir kembali seperti salah satu dari orang kaya itu!”, Ia memantapkan pikirannya pada pikiran itu, memusatkan dan mengembangkannya (bhāveti). Dan pikiran ini, karena ditujukan (vimuttaṁ) pada tingkat rendah (hīne) dan tidak dikembangkan pada tingkat lebih tinggi (uttariṁ abhāvitaṁ), maka mengarah pada kelahiran kembali di sana. Tetapi aku mengatakan ini dalam hal seorang yang benar-benar bermoral [silavato], bukan seorang yang tidak bermoral [dussīlassa]. Cita-cita [cetopaṇidhi] dari seorang yang sungguh bermoral murni [sīlavato cetopaṇidhi visuddhattā]. atau

    • mendengar bahwa para dewa di alam:

      • (b) 4 Raja Dewa.., atau
      • (c) Tavatimsa dewa.., atau
      • (d) Dewa Yama.., atau
      • (e) Dewa Tusita.., atau
      • (f) Dewa Nimmānarati.., atau
      • (g) Dewa Paranimmita-vasavatti..

      berumur panjang, berbentuk menarik dan menikmati kehidupan bahagia, Ia berpikir: “Seandainya aku bisa terlahir di sana!, Ia memantapkan pikirannya pada pikiran itu, memusatkan dan mengembangkannya. Dan pikiran ini, karena ditujukan pada tingkat rendah dan tidak dikembangkan pada tingkat lebih tinggi, maka mengarah pada kelahiran kembali di sana. Tetapi aku mengatakan ini dalam hal seorang yang benar-benar bermoral, bukan seorang yang tidak bermoral. Cita-cita dari seorang yang sungguh bermoral murni.

    (h) Atau ia bercita-cita untuk terlahir kembali di alam Brahmā rupa [brahmakāyikānaṃ]..

    Ia memantapkan pikirannya pada pikiran itu, memusatkan dan mengembangkannya. Dan pikiran ini, karena ditujukan pada tingkat rendah dan tidak dikembangkan pada tingkat lebih tinggi, maka mengarah pada kelahiran kembali di sana. Tetapi aku mengatakan ini dalam hal seorang yang benar-benar bermoral, bukan seorang yang tidak bermoral, seorang yang terbebas dari nafsu (vītarāgassa), bukan seorang yang masih terombang-ambing oleh nafsu [sarāgassa]. Cita-cita dari seorang yang sungguh bermoral dan bebas dari nafsu [sīlavato cetopaṇidhi vītarāgattā]’ [DN 33/Sangiti Sutta, juga AN 8.35/Dānūpapatti]
Bagaimana pikiran dikembangkan ke tingkat yang lebih tinggi dan bermanfaat besar, misalnya:
  • Suatu ketika, Ia berharap/cemas akan keluarganya (ayah, ibu, Istri, Anak), Ia SEHARUSNYA merenungkan bahwa bahkan dirinya pun, cepat atau lambat, akan mati, terlepas apakah Ia dan/atau keluarga mengharapkan atau mencemaskannya, maka tetap saja Ia sendiri akan mati, atau
  • Ia mengharapkan sangat atau cemas akan kehilangan kenikmatan dari lima utas Indriya manusia, Ia SEHARUSNYA merenungkan dan mengembangkan pikiran bahwa kenikmatan indria surgawi adalah lebih luhur dan unggul dibanding kenikmatan indriya alam manusia,
  • Ketika akhirnya pikiran itu telah teralihkan ke tingkat yang lebih tinggi dan tidak lagi ditempat rendah, maka Ia SEHARUSNYA merenungkan bahkan para deva dan brahma alam mana saja pun tunduk pada ketidakkekalan dan hanyalah sebuah identitas,
  • Oleh karenanya, Ia SEHARUSNYA mengembangkan pikiran ke arah lenyapnya Identitas [SN 54.4/Gilana Sutta]
Dengan cara ini, ketika kematian melanda seorang, pikiran terakhirnya tidak menghantarkan pada kelahiran yang lebih rendah, merugi dan bahkan neraka atau bahkan dapat menghantarkannya menuju kepemadaman. Di beberapa kesempatan, Sang Buddha menyampaikan 8 alasan orang memberikan (dānāni):
  1. Āsajja dānaṃ deti (memberikan setelah menghina)
  2. bhayā dānaṃ deti (memberikan karena takut)
  3. ‘adāsi me’ti dānaṃ deti (memberikan untuk membalas pemberian sebelumnya)
  4. ‘dassati me’ti dānaṃ deti (memberikan karena berharap kelak dibalas)
  5. ‘sāhu dānan’ti dānaṃ deti (memberikan karena itu adalah perbuatan baik)
  6. ‘ahaṃ pacāmi, ime na pacanti; nārahāmi pacanto apacantānaṃ dānaṃ adātun’ti dānaṃ deti (“Aku memasak, sedangkan mereka tidak. Tidak pantas aku yang memasak tidak memberikan yang tidak memasak”)
  7. ‘imaṃ me dānaṃ dadato kalyāṇo kittisaddo abbhuggacchatī’ti dānaṃ deti (memberikan agar mendapat nama harum)
  8. cittālaṅkāracittaparikkhāratthaṃ dānaṃ deti (memberikan sebagai hiasan pikiran, perlengkapan pikiran) [AN 8.31/Dana Sutta; DN 33/sangiti sutta]
Juga menyampaikan 8 landasan seseorang memberikan (dānavatthūni):
  1. Chandā dānaṃ deti (memberikan karena menyukai/yang disukai)
  2. dosā dānaṃ deti (memberikan karena kebencian)
  3. mohā dānaṃ deti (memberikan karena kekeliruan tahu)
  4. bhayā dānaṃ deti (memberi karena takut)
  5. dinnapubbaṃ katapubbaṃ pitupitāmahehi, nārahāmi porāṇaṃ kulavaṃsaṃ hāpetun’ti dānaṃ deti (memberikan karena dahulu dilakukan ayahku dan leluhurku; aku tidak boleh meninggalkan kebiasaan keluarga yang sudah berlangsung lama ini’)
  6. imāhaṃ dānaṃ datvā kāyassa bhedā paraṃ maraṇā sugatiṃ saggaṃ lokaṃ upapajjissāmī’ti dānaṃ deti (memberikan karena ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, aku akan terlahir kembali di alam baik, di alam surga)
  7. imaṃ me dānaṃ dadato cittaṃ pasīdati, attamanatā somanassaṃ upajāyatī’ti dānaṃ deti (Memberikan karena ‘ketika sedang memberi pikiranku menjadi tenang, kegirangan dan kegembiraan muncul dalam diriku’)
  8. cittālaṅkāracittaparikkhāratthaṃ dānaṃ deti (memberikan sebagai hiasan pikiran, perlengkapan pikiran. Note: Memberi atau melepas sudah bukan lagi karena pamrih/motif positif/negatif, namun menjadi kebiasaan wajar saja) [AN 8.33/Danavatthu Sutta]
Atau juga:
    Ketika sedang menetap di Campā di tepi Kolam Teratai Gaggārā, dihadapan sejumlah umat awam, YM Sāriputta bertanya pada Sang Buddha: “Mungkinkah, Bhante, bahwa suatu pemberian tidak berbuah dan tidak bermanfaat besar? Dan suatu pemberian berbuah dan bermanfaat besar?”. Sang Buddha menjawab, itu mungkin saja:

    • Seseorang yang memberikan suatu pemberian dengan: pengharapan, pikiran melekat, mengharapkan imbalan [dengan berpikir]: ‘Setelah meninggal dunia, aku akan memanfaatkannya.’atau

    • Seseorang yang memberikan suatu pemberian TIDAK dengan: pengharapan, TIDAK dengan pikiran melekat, TIDAK dengan mengharapkan imbalan [dengan berpikir]: ‘Setelah meninggal dunia, aku akan memanfaatkannya.’ Melainkan

      • ‘Memberi adalah baik.’ atau
      • ‘Memberi dipraktikkan sebelum ayah dan kakekku; aku tidak boleh meninggalkan kebiasaan masa lampau ini’ atau
      • ‘Aku memasak; orang-orang ini tidak memasak. Tidaklah benar bahwa aku yang memasak tidak memberi pada mereka yang tidak memasak’ atau
      • ‘Seperti halnya para bijaksana masa lampau – yaitu, Aṭṭhaka, Vāmaka, Vāmadeva, Vessāmitta, Yamataggi, Aṅgīrasa, Bhāradvāja, Vāseṭṭha, Kassapa, dan Bhagu – mengadakan pengorbanan besar itu, demikian pula aku akan memberikan suatu pemberian.’ atau
      • ‘Ketika aku sedang memberikan suatu pemberian pikiranku menjadi tenang, dan sukacita dan kegembiraan muncul.’

      Setelah memberikan pemberian demikian, dengan hancurnya jasmani, setelah kematian; ia terlahir kembali dalam kumpulan para deva catumaharajika, setelah habisnya kamma, kekuatan, keagungan, dan kekuasaan itu, ia kembali terlahir di alam ini (āgāmī hoti āgantā itthattaṃ).

    Ia yang memberikan suatu pemberian, TIDAK dengan cara semua di atas itu MELAINKAN [dengan berpikir]: ‘Ini adalah suatu hiasan pikiran, suatu perlengkapan pikiran (cittālaṅkāracittaparikkhāraṃ).’ Setelah memberikan pemberian demikian, dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, ia terlahir kembali di tengah-tengah para deva kumpulan Brahmā. Setelah habisnya kamma, kekuatan mental, keagungan, dan kekuasaannya, Ia tidak kembali terlahir di alam ini (anāgāmī hoti anāgantā itthattaṃ). [AN 7.52/Dānamahapphalasuttaṃ]
Selain itu, alam Brahma dapat juga dicapai melalui perenungan CAGANUSATI/Perenungan kedermawanan [↓].

Bagaimana definisi kesempurnaan dalam kedermawanan (bagi perumah tangga):
    Perumahtangga yang pikirannya bebas noda ketamakan/kekikiran (vigatamalamaccherena cetasā agāraṃ ajjhāvasati) murah hati dalam memberi dengan tangan terbuka (muttacāgo payatapāṇi), gemar memberi (vossaggarato) selalu siap bagi yang membutuhkan (yācayogo), bergembira sepenuhnya dalam memberi dan berbagi (dānasaṃvibhāgarata) [SN 55.37/Mahanama]
Pengulangan dari perbuatan memberi akan menjadi sebuah kebiasaan, ini akan mengembangkan moralitas dan kebijaksanaan, oleh karenanya pamrih mereda, meredanya ini makin menyempurnakan moralitas dan kebijaksanaan. Moralitas yang sempurna menumbuhkan kondisi bermanfaat dalam KESEMPURNAAN/Parami MEMPERHATIKAN YANG BENAR bahwa ini adalah ANICCA, DUKKHA dan ANATTA yang menuju pada kehancuran 3 akar tidak bermanfaat, yaitu: MOHA, LOBHA, DOSA.

Sila
SILA artinya adalah sifat, tabiat, perangai, watak, perilaku, tingkah laku; budi pekerti, akhlak, moralitas yang baik. Beberapa sutta di atas JELAS MENGINDIKASIKAN bahwa pemurnian persembahan dilakukan melalui moralitas/sila si pemberi dan/atau si penerima persembahan.

Mengapa moralitas/Sila adalah sebagai pemurni dana?
    ..pemurnian moralitas adalah demi untuk mencapai pemurnian pikiran;
    pemurnian pikiran adalah demi untuk mencapai pemurnian pandangan;
    pemurnian pandangan adalah demi untuk mencapai pemurnian dengan mengatasi keragu-raguan;
    pemurnian dengan mengatasi keragu-raguan adalah demi untuk mencapai pemurnian melalui pengetahuan dan penglihatan mengenai mana jalan dan mana yang bukan jalan;
    pemurnian melalui pengetahuan dan penglihatan mengenai mana jalan dan mana yang bukan jalan adalah demi untuk mencapai pemurnian melalui pengetahuan dan penglihatan terhadap sang jalan;
    pemurnian melalui pengetahuan dan penglihatan terhadap sang jalan adalah demi untuk mencapai pemurnian melalui pengetahuan dan penglihatan;
    pemurnian melalui pengetahuan dan penglihatan adalah demi untuk mencapai Nibbāna akhir tanpa kemelekatan..[MN 24/Rathavinītasutta]
Bukan cuma berdana, bahkan samadhi pun menjadi bermanfaat besar jika dilandasi dengan moralitas!
    Samädhi yang dilandasi sila akan menghasilkan buah dan manfaat yang besar. Kebijaksanaan yang dilandasi Samädhi akan menghasilkan buah dan manfaat yang Besar. Pikiran yang dilandasi kebijaksanaan akan sepenuhnya terbebas dari kekotoran/noda, yaitu, indria, penjelmaan, ketidaktahuan [DN16/Mahaparinibbana sutta]
Moralitas/SILA bukan hanya berfungsi sebagai PEMURNI DANA, karena sang Buddha berkata pada Anāthapindika (sotāpanna, kaya raya dan murah hati, Ia berhenti berdagang, pengeluaran berdana yang besar dan tanpa lagi ada pemasukan membuat kekayaannya menyusut dan akhirnya jatuh miskin namun hal itu tetap itu tidak menghentikan kegemarannya akan berdana meskipun tidak lagi berkemampuan besar seperti dulu):
    ..Sang Buddha: “Apakah dana diberikan dalam keluargamu, perumah tangga?”

    Ananthapindika: “Dana diberikan dalam keluargaku, Bhante, tetapi terdiri dari nasi basi disertai dengan bubur”

    Sang Buddha: "Jika seseorang memberikan persembahan baik atau tidak baik, namun dana itu TIDAK dilakukan dengan hormat, TANPA pertimbangan, TIDAK dengan tangan sendiri, memberikan apa yang seharusnya dijauhkan dan TANPA tanpa pandangan atas konsekuensi masa depan, maka apa pun akibat dari pemberian yang ia hasilkan, pikirannya tidak condong ke arah kenikmatan makanan lezat, pakaian bagus, kendaraan-kendaraan bagus, juga tidak ke arah kenikmatan apa pun yang baik di antara objek-objek kenikmatan indria. Juga, anak-anaknya, istri-istrinya, budak-budaknya, pelayan-pelayannya, dan para pekerjanya, tidak mendengarkannya, tidak menyimaknya, dan tidak mengarahkan pikiran untuk memahaminya. Karena alasan apakah? Karena akibat perbuatan yang dilakukan dengan tidak hormat

    [berlaku sebaliknya]

    Di masa lampau, perumah tangga, terdapat seorang brahmana bernama Velāma yang memberikan persembahan dana besar:

    84.000 mangkuk emas penuh dengan perak;
    84.000 mangkuk perak penuh dengan emas;
    84.000 mangkuk perunggu penuh dengan emas dan perak;
    84.000 gajah dengan dekorasi bendera emas dan emas dan ditutup jaring emas;
    84.000 kereta dengan aksesoris kulit singa, harimau, rusa, selimut oranye dihiasi emas dan bendera emas yang ditutup jaring emas;
    84.000 sapi ditutupi kain halus dengan ember perunggu untuk susu mereka;
    84.000 gadis yang berhias anting-anting permata;
    84.000 bantal berlapis kulit rusa, karpet kulit rusa, kanopi dengan bantal merah di kedua sisi;
    84.000 score (x 20) pakaian dari kain: linen halus, sutra halus, wol halus; makanan, minuman, makanan keras dan manisan penutup yang disampaikan bagai sungai mengalir.

    “Engkau mungkin berpikir, perumah tangga: ‘Ia adalah seorang lain, Brahmana Velāma itu yang pada saat itu memberikan persembahan dana besar itu.’ Tetapi engkau jangan melihatnya demikian. Aku sendiri adalah Brahmana Velāma itu yang pada saat itu memberikan persembahan dana besar.

    “Sekarang, perumah tangga, pada persembahan dana besar itu tak ada seorang pun yang layak menerima persembahan, tak ada seorang pun yang memurnikan persembahan itu.

    Yang lebih berbuah daripada persembahan besar yang diberikan Brahmana Velāma adalah memberi makan pada hanya 1 orang yang berpandangan benar [dithi sampanna/sotāpanna);
    Yang lebih berbuah daripada memberi makan pada 100 orang sotāpanna adalah memberi makan pada hanya 1 orang Sakadagami;
    ..100 Sakadagami..1 orang Anagami;
    ..100 Anagami..1 orang Arahat;
    ..100 Arahat..1 orang Pacceka Buddha;
    ..100 Pacceka Buddha..1 orang Sammasambbuddha;
    ..daripada memberi makan pada hanya 1 orang Sammasambuddha adalah memberi makan pada 1 komunitas sangha yang dipimpin Sang Buddha;
    ..daripada memberi makan pada 1 komunitas sangha..adalah membangun vihara untuk Saṅgha dari 4 penjuru;
    ..daripada membangun vihara..adalah dengan penuh keyakinan berlindung pada Buddha, Dhamma dan Sangha;
    ..daripada..adalah dengan penuh keyakinan melakukan PANCASILA;
    ..daripada..adalah mengembangkan METTA BHAVANA [mettacittaṃ] selama satu hirupan bebauan [antamaso gandhohanamattampi];
    ..daripada..adalah mengembangkan PERSEPSI KETIDAK-KEKALAN [anicca saññaṃ] selama satu jentikan jari [accharāsaṅghātamattampi] [AN 9.20/Velamaka Sutta]
Tampak jelas bahwa menjalankan moralitas/SILA bermanfaat sangat besar yaitu ketika berdana dan/atau daripada berdana dan bahkan daripada berlindung pada sang TIRATANA itu sendiri!

Jadi, seseorang TIDAK PERLU ber-KTP Buddha untuk dapat memperoleh manfaat besar dari mempraktekkan kebajikan-kebajikan di atas agar tidak terlahir di alam bawah.

Latihan moralitas/SILA menjaga dunia dari kekacauan:
    Para bhikkhu, ada 2 prinsip terang yang melindungi dunia. Apakah 2 hal itu? Rasa malu [hiri] dan rasa takut [ottapa]

    Para bhikkhu, seandainya 2 prinsip terang ini tidak melindungi dunia, maka tidak ada penghormatan yang selayaknya terhadap ibu, bibi, istri guru atau istri para orang terhormat lainnya.

    Maka dunia akan jatuh ke dalam kekacauan, seperti domba dengan kambing, ayam dengan babi, anjing dengan serigala. Tetapi karena 2 prinsip ini yang melindungi dunia, maka ada penghormatan yang selayaknya terhadap ibu, bibi.. istri para orang terhormat lainnya

    Mereka yang di dalam dirinya tidak dapat ditemukan
    Malu berbuat yang tidak baik dan takut akibat dari perbuatan tidak baik,
    Telah menyimpang dari sumber yang terang,
    Dan akan terseret kembali pada kelahiran dan kematian.

    Namun mereka yang di dalam dirinya selalu ada
    Malu berbuat yang tidak baik dan takut akibat dari perbuatan tidak baik,
    Yang damai, mantap dalam kehidupan suci,
    Mereka dapat mengakhiri kelahiran kembali
    . [AN 2.9/Cariya sutta; Itivuttaka no.42]
Sang Buddha juga menyampaikan 4 hal yang dengannya akan mengarah ke alam bahagia atau ke neraka, yaitu apakah Ia: melakukan moralitas atau tidak, mendorong orang lain melakukannya atau tidak (parañca...samādapeti), menyetujui moralitas atau tidak (samanuñño) dan memuji moralitas atau tidak (vaṇṇaṃ bhāsati) [AN 4.264-273]

Dihadapan SUKU KALAMA, sang Buddha menyampaikan jaminan bagi para pelaku moralitas/sila:
    "Suku Kalama, bila orang yang menempuh kehidupan agung ini telah membuat pikirannya mudah menerima/bebas dari permusuhan, bebas dari kehendak buruk, murni dan tidak kotor, dia telah memenangkan 4 jaminan dalam kehidupan ini juga.

    • Inilah jaminan ke-1 yang telah dimenangkannya: 'Seandainya ada alam lain, dan seandainya perilaku yang baik dan buruk memang memberikan buah dan menghasilkan akibat, maka ada kemungkinan bersamaan hancurnya tubuh setelah kematian terlahir di keadaan bahagia di alam Deva.'
    • Inilah jaminan ke-2 yang telah dimenangkannya: 'Seandainya tidak ada alam lain, dan seandainya tindakan baik dan buruk memang tidak memberikan buah dan menghasilkan akibat, tetap saja di sini, di dalam kehidupan ini juga, aku hidup dengan bahagia, mudah menerima/bebas permusuhan, bebas dari kehendak buruk.'
    • Inilah jaminan ke-3 yang telah dimenangkannya: 'Seandainya kejahatan menimpa si pelaku kejahatan, maka karena aku tak berkehendak buruk pada siapapun, bagaimana mungkin penderitaan menyerangku, orang yang tidak melakukan kejahatan?'
    • Inilah jaminan ke-4 yang telah dimenangkannya: 'Seandainya kejahatan tidak menimpa pelaku kejahatan, maka di sini juga aku melihat diriku sendiri termurnikan di dalam 2 hal [dia tidak melakukan kejahatan dan tak ada kejahatan yang akan menimpanya]'

    "Suku Kalama, bila orang yang menempuh kehidupan agung ini telah membuat pikirannya mudah menerima/bebas dari permusuhan, bebas dari kehendak buruk, murni dan tidak kotor, maka dia telah memenangkan 4 jaminan ini di dalam kehidupan ini juga." [AN 3.65/Kalama sutta]
Bagaimanakah latihan moralitas yang diajarkan Sang Buddha?
Melatih 5 sila atau 8 sila atau 10 sila, yaitu tidak melakukan prilaku tertentu (Vāritta Sila) dan/atau karena semakin baiknya moralitas, rasa HIRI/malu dan OTAPPA/takut berbuat salah makin berkembang, maka tidak melakukan prilaku tertentu (Cāritta Sila):
  1. Vāritta Sila: Pänätipätä veramani sikkhäpadam samädiyämi
    (Pāṇātipāta: pāṇa = napas, kehidupan, makhluk hidup; atipāta = penyerangan, pembunuhan, penghancuran, pembinasaan + veramani sikkhäpadam samädiyämi: veramaṇī = menghindari, menahan diri; sikkhā = latihan; padam = langkah; samādiyami = Aku bertekad/berupaya). Jadi artinya: “Aku bertekad menjalankan latihan menahan diri dari menganiaya mahluk hidup.

    Tindakan TIDAK murni: membunuh, bertangan darah, terbiasa memukul dan kekerasan, tanpa belas kasih pada makhluk hidup. Tindakan pemurnian: meninggalkan dan menghindarinya, berhati-hati dan baik hati, berbelaskasih pada semua makhluk hidup [AN 10.176/Cunda Sutta; MN 41/Sāleyyaka Sutta; MN 42/Verañjaka Sutta]

    Latihan sila ke-1 ini juga termasuk TIDAK berdagang: mahluk hidup dan DAGING [AN 5.177/Vanijja sutta].

    Apakah makan daging diperbolehkan? Ya!

    "ada 3 kasus yang mana daging boleh dimakan, jika: tidak terlihat (a-diṭṭhaṃ), tidak terdengar (a-sutaṃ), dan tidak dicurigai (a-parisaṅkitaṃ)
    - bahwa makhluk hidup itu disembelih untuk dirinya-" [MN 55/Jivaka Sutta]. Kitab komentar MN menyatakan kondisi 3 ini sebagai tikoṭiparisuddha (murni dalam 3 aspek) untuk menghindari diri dari pembunuhan, melarangnya membunuh demi makanan namun tidak melarang memakan daging yang berasal dari binatang yang telah mati.

    Ajakan vegetarianisme BUKAN ajaran sang Buddha namun berasal dari ajaran Bhikkhu Devadatta (sepupu Sang Buddha, yang selalu menentang Sang Buddha) namun itu ditolak Sang Buddha:

      Kemudian Devadatta bersama dengan teman-temannya menghadap Sang Bhagavā..berkata pada Sang Bhagavā:

      “Yang Mulia, dalam berbagai cara Yang Mulia memuji sedikit keinginan … siapa pun yang memakan ikan dan daging, maka ia melakukan pelanggaran.”

      “Cukup, Devadatta,” Beliau berkata. “Siapa pun yang menghendaki, ia boleh: menjadi penghuni-hutan; ..menetap di dekat desa; ..melakukan pindapatta; ..menerima undangan;..menjadi pemakai jubah kain buangan; .. menerima jubah dari para perumah tangga. Selama 8 bulan, Devadatta, Aku mengizinkan para bhikkhu menetap di bawah pohon. Ikan dan daging adalah murni dalam 3 hal: jika tidak terlihat, terdengar atau dicurigai (dibunuh dengan sengaja untuknya) [cullavagga, bab.7, vinaya pitaka].

    Dalam SNP 2.2/Amagandha Sutta: pada suatu ketika, seorang Brahmin (yang bernama Amagandha) bersama 500 muridnya yang menjalani praktek vegetarian mendatangi Sang Buddha menanyakan apakah Sang Buddha memakan/tidak amagandha? (amagandha = bau daging. Juga berkonotasi sesuatu yang busuk, menjijikkan, dan kotor). Sang Buddha menjelaskan bahwa daging bukanlah amagandha, tetapi kekotoran mental dan bentuk perbuatan buruklah yang disebut amagandha.

    Jadi, umat Buddha TIDAK BERKEWAJIBAN vegetarian, karena makan sayuranis dan/atau daging TIDAK ADA RELEVANSINYA dengan kesucian seseorang. [detailnya lihat BLOG INI]

    Bagaimana dengan BUNUH DIRI?
    Tindakan mengakhiri hidup sendiri (satthaṃ âharitaṃ/âharesi) diperbolehkan namun HANYA JIKA berhubungan dengan jalan untuk pencapaian kesucian DAN PELAKUNYA sekurangnya berada pada JALAN/magga menuju kearahatan. Terdapat 3 sutta tentang ini, yaitu:

    Godhika Thera (SN 4.23/Godhika, melakukannya di akhir arahata magga dan awal arahata phala)

      Godhika thera telah 6x mencapai sāmayika cetovimutti (kebebasan sementara) namun terjatuh dari kebebasan sementara itu. Di usaha yang ke-7, selagi Godhika berdiam dengan tekun, rajin, dan teguh, mencapai pembebasan mental sementara, Ia berpikir: “Sudah 6x kali aku jatuh dari pembebasan mental sementara. Biarlah aku lakukan satthaṃ āharitaṃ"

        note:
        "satthaṃ âharitaṃ/âharesi" adalah ungkapan mengakhiri hidup dan belum tentu dilakukan dengan pisau (sattha: senjata, pisau, pedang, tombak; ilmu, seni, karavan dan BERNAFAS. âharitaṃ/âharesi: memegang, membawa, memasukan ke dalam, menahan. Jadi artinya: Tindak mengakhiri hidup) dan tampaknya yang digunakannya adalah perhatian pada objek rasa sakit. Salah satu alasan terjatuh dari keadaan ini karena kondisi fisiknya tidak mendukung. Keputusan ini diambil karena tahu caranya dan sedang di arahata magga. Bagi umat awam, tindakan ini beresiko tinggi:

        1. destinasi setelah kematian seorang yang keluar dari Jhāna tidak dapat dipastikan (bahkan neraka),
        2. yang tidak jatuh dari Jhana, pasti terlahir kembali di alam brahmā.

        Māra tahu bahwa upaya gigih hingga mengabaikan tubuh dan kehidupan menunjukan seseorang yang berkemampuan mencapai Kearahatan.

        Godhika termasuk jenis jīvitasamasīsī: Sembuh dari penyakit sekaligus mencapai kearahatan atau berakhir kehidupannya sekaligus mencapai kehancuran kekotoran

      Setelah Godhika melakukannya dan Mara tidak menemukan jejak kelahiran kembalinya, sang Buddha berkata: "Appatiṭṭhena ca bhikkhave viññâṇena Godhiko kulaputto parinibutto (tidak muncul di mana pun, Para bhikkhu, kesadarannya, Godhika, mencapai Nibbana akhir)".

        note:
        Kitab komentar: Appatiṭṭhena adalah indikasi perasaan (itthambhūtalakkhaṇa) tidak muncul (anuppattidhammena), jika ada, kemunculan kesadaran akan terbentuk. Tidak adanya kemunculan kesadaran menjadi penyebab Parinibbāna-nya (yadeva tassa viññâṇassa appatiṭṭhānakāranaṃ tadeva parinibbānakāranaṃ)

      Sang Buddha berkata, “Orang bijak tidak tergoyahkan, jhāyī jhānarato sadā (Pelaku samadhi selalu gemar Jhana), gigih siang dan malam, tanpa melekat pada hidupnya. Setelah menaklukkan bala tentara kematian, tidak kembali ke kehidupan baru, setelah mencabut keinginan hingga ke akar, Godhika mencapai Nibbāna akhir”

    Vakkali Thera (SN 22.87/Vakkali, melakukannya saat di arahata phala)

      Ketika Vakkali sakit berat, Sang Buddha mengunjunginya dan berharap Ia dapat bertahan, menjadi lebih baik dan perasaan sakitnya mereda. Vakali menyatakan Ia tidak dapat bertahan, tidak lebih baik dan perasaan sakitnya meningkat. Sang Buddha berharap agar Ia tidak terganggu penyesalan. Vakkali menjawab bahwa Ia memiliki banyak penyesalan. Sang Buddha berharap agar penyesalannya bukan karena moralitas. Vakkali menyatakan bukan karena moralitas namun karena keinginannya untuk mengunjungi Sang Buddha tidak dapat dilakukan karena kesehatannya. Sang Bhagavā berkata:

        “Cukup, Vakkali. Mengapa engkau ingin mengunjungi tubuh menjijikkan ini?" dhammaṃ passati so maṃ passati; yo maṃ passati so dhammaṃ passati (Ia yang melihat Dhamma, melihat Aku; Ia yang melihat Aku, melihat Dhamma)

      Kemudian sang Buddha memberikan nasihat tentang Dhamma-Kaya:

        Sang Buddha: "Bagaimana menurutmu, Vakkali, apakah bentuk kekal atau tidak kekal?".
        Vakkali: “Tidak kekal, Yang Mulia”.
        Sang Buddha: “Apakah sesuatu yang tidak kekal itu penderitaan atau kebahagiaan?”.
        Vakkali: “Penderitaan..".
        Sang Buddha: “Apakah sesuatu yang tidak kekal, penderitaan, dan mengalami perubahan layak dianggap sebagai: ‘ini milikku, ini aku, ini diriku’?”
        Vakkali: “Tidak..”.

        Sang Buddha: “Apakah perasaan adalah kekal atau tidak kekal?…
        Apakah persepsi adalah kekal atau tidak kekal?…
        Apakah bentukan-bentukan kehendak adalah kekal atau tidak kekal?…
        Apakah kesadaran adalah kekal atau tidak kekal?”…

        “Oleh karena itu, Vakkali, bentuk apa pun juga, apakah di masa lalu, di masa depan, atau di masa sekarang, internal atau eksternal, kasar atau halus, hina atau mulia, jauh atau dekat, semuanya harus dilihat sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar sebagai berikut: ‘ini bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan diriku’"

        Perasaan apa pun juga …
        Persepsi apa pun juga …
        Bentukanbentukan kehendak apa pun juga …
        Kesadaran apa pun juga …

        Melihat demikian, Vakkali, siswa mulia yang terlatih mengalami kejijikan terhadap bentuk, kejijikan terhadap perasaan, kejijikan terhadap persepsi, kejijikan terhadap bentukan-bentukan kehendak, kejijikan terhadap kesadaran. Mengalami kejijikan, ia menjadi bosan. Melalui kebosanan maka terbebaskan. Ketika terbebaskan, muncullah pengetahuan: ‘Terbebaskan.’ Ia memahami: ‘Kelahiran telah dihancurkan, vusitaṃ brahmacariyaṃ (kehidupan suci telah dijalani), apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak ada lagi kondisi bagi makhluk ini."

      Setelah Sang Buddha pergi, Vakkali bersama pengiringnya menuju Batu Hitam di Lereng Isigili. Di tempat lain, Sang Buddha didatangi 2 deva yang mengabarkan bahwa Vakkali berusaha mencapai pembebasan. Kemudian Sang Buddha mengirim beberapa Bhikkhu mendatangi Vakkali untuk menyampaikan apa kata 2 deva tersebut dan juga pesan beliau, “Jangan takut, Vakkali, kematianmu bukanlah kematian yang buruk".

      Setelah menerima pesan tersebut, Vakkali menitipkan pesan pada Sang Buddha melalui mereka: "Aku tidak meragukan bahwa bentuk adalah tidak kekal, dengan apa yang tidak kekal adalah penderitaan, dengan apa yang tidak kekal, penderitaan, dan mengalami perubahan, aku tidak lagi memiliki keinginan, nafsu, atau kerinduan... Perasaan adalah tidak kekal … Persepsi adalah tidak kekal … Bentukan-bentukan kehendak adalah tidak kekal … Kesadaran adalah tidak kekal..". Setelah para bhikkhu pergi, YM Vakkali melakukan satthaṃ āharesi. Para bhikkhu menyampaikan pesan itu pada Sang Buddha.

      Sang buddha yang tahu bahwa Vakkali telah melakukan satthaṃ āharesi mengajak para Bhikkhu ke sana dan melihat Mara tidak menemukan jejak kelahiran kembali Vakkali, Sang Buddha berkata pada para Bhikkhu, "appatiṭṭhitena ca, bhikkhave, viññāṇena vakkali kulaputto parinibbuto (tidak muncul di mana pun, Para bhikkhu, kesadarannya, Vakkali, mencapai Nibbana akhir)"

    Channa Thera (MN 144/Channovada dan SN 35.87/Channa, melakukannya di saat di arahatphala)

      Channa mengalami sakit berat, Sariputta dan Mahacunda datang berkunjung dan Channa menyatakan keputusannya: Anupavajjaṃ channo bhikkhu satthaṃ āharissatī’ti evametaṃ, āvuso sāriputta, dhārehī (Ingatlah ini, Teman Sāriputta: Bhikkhu Channa akan mengakhiri hidupnya dengan tanpa noda).

      Sariputta bertanya: "Teman Channa, apakah engkau menganggap mata, kesadaran-mata, dan bentuk-bentuk yang dikenali oleh pikiran melalui kesadaran-mata sebagai: ‘Ini milikku, ini aku, ini diriku’? Apakah engkau menganggap telinga … hidung … lidah … badan … pikiran, kesadaran-pikiran, dan hal-hal yang dikenali oleh pikiran melalui kesadaran-pikiran sebagai: ‘Ini milikku, ini aku, ini diriku’?”.

      Channa: "Teman Sariputta, aku menganggap mata,...kesadaran-pikiran, dan hal-hal yang dikenali oleh pikiran melalui kesadaran-pikiran sebagai: ‘Ini bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan diriku.’”.

      Sariputta: “Teman Channa, apakah yang telah engkau lihat dan ketahui secara langsung dalam mata, dalam kesadaran-mata, dan dalam bentuk-bentuk yang dikenali oleh pikiran melalui kesadaran-mata, yang engkau anggap sebagai: ‘Ini bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan diriku’? Apakah yang telah engkau lihat dan ketahui secara langsung dalam telinga … dalam hidung … dalam lidah … dalam badan … dalam pikiran, dalam kesadaran-pikiran, dan dalam hal-hal yang dikenali oleh pikiran melalui kesadaran-pikiran, yang engkau anggap sebagai: ‘Ini bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan diriku’?”

      Channa: "Teman Sāriputta, adalah dengan melihat dan secara langsung mengetahui pelenyapan di dalam mata...di dalam kesadaran-pikiran, dan di dalam hal-hal yang dikenali oleh pikiran melalui kesadaran-pikiran, maka aku menganggapnya sebagai: ‘Ini bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan diriku.’”.

      Setelah Sariputta dan Mahacunda pergi, YM Channa melakukan satthaṃ āharesi. Sariputta bertanya pada sang Buddha, "Kemanakah alam tujuannya, dimanakah ia dilahirkan kembali?". Sang Buddha: "imañca kāyaṃ nikkhipati aññañca kāyaṃ upādiyati tamahaṃ ‘saupavajjo’ti vadāmi. Taṃ channassa bhikkhuno natthi. ‘Anupavajjo channo bhikkhu satthaṃ āharesī (Jika seseorang melepaskan tubuh ini dan menimbulkan tubuh lainnya, maka Aku katakan bahwa ia tercela. Ini tidak terjadi pada Bhikkhu Channa. Dengan tanpa noda, Bhikkhu Channa mengakhiri hidupnya)"

    Dalam 3 sutta di atas pelakunya memahami pasti bahwa tindakannya TIDAK sedang meninggalkan belenggu lama namun akan menimbulkan belenggu baru. [↑] [↑ dhammakaya]

  2. Vāritta Sila: Adinnädāna veramani sikkhäpadam samädiyämi
    (Adinnädāna : a =Tidak; dinna = diberikan, dihadiahi; ādāna = pengambilan, penggenggaman, kemelekatan, penyantapan/makanan). Jadi artinya: “Aku bertekad menahan diri dari mengambil yang tidak diberikan

    Tindakan TIDAK murni: mengambil apa yang tidak diberikan padanya, mencuri kekayaan dan harta milik orang lain di pemukiman maupun hutan. Tindakan pemurnian: meninggalkan dan menghindarinya [AN 10.176/Cunda Sutta; MN 41/Sāleyyaka Sutta; MN 42/Verañjaka Sutta] [↑]

  3. Cāritta Sila: Kämesu micchäcärä veramani sikkhäpadam samädiyämi
    (Kamesu jamak dari 'kama', yaitu kenikmatan indriya yang berasal dari 6 kontak indriya: mata, telinga, badan, lidah, hidung, pikiran; micchacara = dengan cara keliru. micchā = salah, keliru; cāra = aksi, proses, cara). Jadi artinya: Aku bertekad menahan diri dari kenikmatan indriya dengan cara yang salah. Arti "Kamesu":

    • Vedabase: kāmeṣu — in sense enjoyment;to material enjoyment; in the material world, where lusty desires predominate;in sense gratification; in objects of selfish desires;

    • Ulasan wisdomquartely, disebutkan bahwa pengertian fisik itu justru berasal dari ide a susila-nya nasrani

    • Sample Sutta:
      3 jenis kelahiran di Alam Keinginan-Indria: santāvuso sattā.. (Ada, teman-teman, makhluk-mahluk..), te paccupaṭṭhitesu kāmesu vasaṃ vattenti, seyyathāpi manussā ekacce ca devā ekacce ca vinipātikā (yang menggenggam kenikmatan indria pada apa yang muncul untuk mereka, seperti manusia, beberapa dewa dan beberapa makhluk di alam sengsara), ...te nimminitvā nimminitvā kāmesu vasaṃ vattenti, seyyathāpi devā nimmānaratī (yang menggenggam kenikmatan indera apa yang mereka ciptakan, seperti para Dewa nimmānaratī). te paranimmitesu kāmesu vasaṃ vattenti, seyyathāpi devā paranimmitavasavattī (yang menggenggam kenikmatan indera bergembira dalam ciptaan makhluk lain, seperti para dewa Parinimmita-vasavatti)....[DN33/Saṅgīti sutta]

      Yebhuyyena, bhikkhave, sattā kāmesu laḷitā (Para bhikkhu, sebagian besar makhluk terpikat kenikmatan indria). Ketika seorang anggota keluarga meninggalkan arit dan tongkat pikulan dan meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah, maka ia digambarkan sebagai seorang anggota keluarga yang telah meninggalkan keduniawian karena keyakinan. Karena alasan apakah? Kenikmatan indria, apakah dari jenis ini atau itu, dapat diperoleh seorang pemuda. Kenikmatan indria yang rendah, menengah, dan tinggi semuanya dikenal hanya sebagai kenikmatan-kenikmatan indria...[AN 5.7, Kāmesu palāḷita]

      Juga di Kamesu Satta Sutta [Ud.7.3 dan Ud.7.4] dan MN 13/Mahādukkhakkhandha Sutta disampaikan cakupan arti "Kamesu" yang bukan hanya sekedar seksual dan bahayanya pemuasan kenikmatan indriya-indriya: ”Dengan kenikmatan indria sebagai penyebab, sebagai sumber, sebagai dasar, ..orang-orang berperilaku salah dalam perbuatan, ucapan, dan pikiran. Setelah berprilaku demikian, bersamaan hancurnya tubuh setelah kematian, terlahir dalam keadaan sengsara/merugi menderita menuju kehancuran bahkan neraka.”

    Jadi "kamesu" pada sila ke-3 ini tidak MELULU pada urusan SEKSUAL, sehingga mengartikan KAMESU = METHUNA [atau Ajjācāra; Aticara; Anācāra] sangat memiskinkan arti kamesu.

    [Methuna = hubungan kelamin; Ajjācāra = prilaku salah secara seksual; Ajjācāra, pelanggaran (hukum), yang berhubungan dengan prilaku salah secara seksual; Anācāra = kelakuan tidak senonoh]

    Ada sila ke-3 lainnya dengan kata "abrahmacariya", yang artinya “prilaku yang TIDAK menuju kesucian”, dari perbuatan melalui pikiran, ucapan dan perbuatan badan baik itu terkait seksual maupun tidak

    Pelanggaran sila ke-3 (kamesu micchacara) terkait dengan cara yang salah atau tidakpatut. Contoh di urusan seksual misalnya di hubungan suami istri, Istri sedang tidak mau digauli namun suami MEMAKSA menggauli → Ini adalah Pelanggaran SILA ke-3, karena kenikmatan indriya dilakukan dengan cara yang salah, yaitu dengan paksa walaupun terhadap istri sendiri sekalipun.

    contoh lain dari KAMESU MICCHACARA, masih dalam hubungan seksual, lihat di AN 10.176/Cunda Sutta , MN 114/Sevitabbāsevitabba Sutta, MN.41/Sāleyyaka Sutta, AN.10.17.10; AN.10.17/21/23/24/25, Karajakàyavaggo, juga di vinaya III.1.139 yang berkaitan dengan Wanita/pria yang TIDAK PATUT DIGAULI karena:

    1. Berada dalam PERLINDUNGAN: ibu (matu), ayah (pitu), Ayah-Ibu (matapitu), Kakak/adik perempuan (bhagini), kakak/adik lelaki (bhatu), sanak (nati), keluarga besar (gotta), mengikuti ajaran (Dhamma), dalam perlindungan hukum [saparidanda], oleh lelaki lain/Tuan/majikannya [Sassāmika], sudah berkalung bunga sebagai tanda pertunangan [mālāguḷaparikkhittāpi] (Untuk para Pria, kurang lebih sama seperti di atas)
    2. SUDAH TERIKAT MENJADI ISTRI, yaitu karena: telah diberikan mahar (Dhanakheta), kemauannya (chandavàsinã), harta kekayaan [Bhogavàsinã], berharap barang sandang (Pañavàsinã), Odapattakinã/perkawinan dengan sebuah kendi air/odappatikà: mencelupkan kedua tangan dalam mangkuk air dan berkata: “menyatu seperti air ini, semoga tak terpisahkan" atau karena, diselamatkan sebagai: rampasan [Obhatacumbañà], tawanan [Dhajàbhata: Tradisi tertentu menganggap wanita yang telah ditawan sudah tak suci lagi], agar terbebas sebagai budak [dasibhariya] & pekerja [kammabhariya] atau di jangka waktu tertentu [muhuttika]

      Note:
      Dari list 20 wanita dalam perlindungan yang tidak patut digauli, pelacur tidak disebutkan.

    KETIDAKPATUTAN seksual selain dengan cara pemaksaan, mengancam, kekerasan, mengkasari juga dengan cara menipu, mencurangi, misalnya yang tercantum di SNP 1.6/Parabhava sutta (Penyebab kemerosotan):

    1. Menyukai para orang jahat, tidak menyukai para orang bajik, lebih suka cara orang jahat,
    2. Suka tidur, kumpul-kumpul, lamban, malas dan mudah marah
    3. Dalam keadaan sejahtera tidak mau menyokong ayah dan ibu yang udah tua dan lemah
    4. Menipu pertapa, brahmana atau rahib lainnya
    5. Kekayaan, emas dan makanan berlimpah tapi hanya dinikmati sendiri
    6. Membangggakan keturunan, kekayaan atau suku dan merendahkan keluarga sendiri
    7. Perisau, peminum, atau penjudi, memboroskan penghasilan
    8. "sehi dārehi asantuṭṭho [dārehyasantuṭṭho (ka.)], vesiyāsu padussati [padissati (sī.)] Dussati [dissati (sī. pī.)] paradāresu[..]" [Tidakpuas dengan istri sendiri, mencurangi para pelacur, mengganggu para istri orang lain]

      Note:
      sehi dārehi (Istri sendiri); asantuṭṭho (tidak puas); vesiyāsu (para Pelacur); padussati (bersalah, jahat, buruk, menipu, curang, merusak); padissati (terlihat); dussati (menyakitkan hati, melukai hati, mengganggu (misal: asap merokok). melakukan kesalahan. yang bersalah, menjadi jahat/curang/jahat/rusak); dissati (terlihat); paradāresu (dengan para istri orang lain)

      Kenapa ada 2 arti kata dalam kurung yaitu Padussati [Padissati] dan Dussati [Dissati]?

      "Padissati" dan "dissati" berdasarkan naskah konsili Burma tahun 1871 [juga terjemahan dari Max Müller dan Max Fausböl masih menggunakan kata "padissati" dan "dissati", Untuk jelasnya lihat di sini, di sini dan disini]. Namun World-Tipitaka merujuk bahwa kata yang benar adalah "Padussati"/"dussati" dan BUKANLAH "Padissati"/"dissati"

    9. Berusia tua beristri wanita muda usia dan tak dapat tidur karena cemburu
    10. Membiarkan wanita/lelaki mabuk-mabukan dan pemborosan
    11. Terlahir di keluarga ksatria berambisi besar, berkemampuan kurang, memimpikan kekuasaan [↑]

  4. Vāritta Sila: Musävädä veramani sikkhäpadam samädiyämi
    musā = secara salah, tidak benar; vāda = perkataan, ucapan, pembicaraan, tuturan, ujaran, omongan, diskusi, perdebatan, perbantahan, pembahasan; doktrin, ajaran, paham. Jadi artinya: “Aku bertekad menahan diri dari menyatakan yang tidak benar

    • musāvāda (berdusta): ketika dia berada dikomunitasnya atau di kelompoknya atau di sanak saudaranya, teman sekerjanya, di pengadilan negara, atau ketika dipanggil sebagai saksi dan diminta mengatakan apa yang diketahuinya. meski tidak tahu, dia berkata, “Saya tahu”; meski tahu, dia berkata “Saya tidak tahu”; meski tidak melihat, dia berkata, “Saya telah melihat”; dan meski telah melihat, dia berkata, “Saya tidak melihat”. Ia mengucapkan kebohongan, baik demi dirinya, demi orang lain, atau demi keuntungan materi. VS menahan diri berdusta (Musāvādā veramaṇī), pisuṇāya vācāya veramaṇī, pharusāya vācāya veramaṇī
    • Pisuṇavāco (ucapan memecah belah): apa yang didengarnya di sini dilaporkannya di sana agat timbul konflik di sana; dan apa yang didengarnya di sana dilaporkannya di sini agar timbul konflik di sini. Ia menciptakan perselisihan di antara yang rukun, menghasut yang sedang berselisih, menikmati perselisihan, bergembira dan bersukacita di dalamnya, pengucap kata-kata yang menyebabkan perselisihan. VS menahan diri dari ucapan memecah belah (pisuṇāya vācāya veramaṇī)
    • Pharusavāco (ucapan kasar): kata-kata kasar, keras, menyakiti, menghina, berbatasan dengan kemarahan, tidak menunjang pikiran terpusat VS menahan diri dari ucapan kasar (pharusāya vācāya veramaṇī)
    • Samphappalāpī (ucapan tidak penting): berbicara tidak di waktu yang tepat, tidak beralasan, tidak bermanfaat, berlawanan dengan Dhamma/Vinaya: tidak layak disimpan, melampaui batas, mencelakakan. VS menahan diri dari ucapan tidak penting (Samphappalāpī veramaṇī)

    • [AN 10.176/Cunda Sutta; MN 41/Sāleyyaka Sutta; MN 42/Verañjaka Sutta]

    Sang Buddha memberikan nasehat pada YM Rahula di MN 61/Ambalaṭṭhikārāhulovāda Sutta:

      jika seseorang tidak malu mengucapkan kebohongan yang disengaja, maka tidak ada kejahatan, Aku katakan, yang takkan ia lakukan. Oleh karena itu, Rāhula, engkau harus berlatih sebagai berikut: ‘Aku takkan mengucapkan kebohongan bahkan sebagai suatu gurauan.’

    Pelanggaran sila ke-4 mengakibatkan banyak ajaran dijungkir-balikan dan berakibat terjadinya banyak pertengkaran, pembunuhan, penyiksaan, perampokan, pencurian, perkosaan, dan lainnya, Para PENIPU mengajarkan ajaran SALAH namun mengaku sebagai PENYELAMAT sebagai utusan mahluk antah berantah namun ajarannya justru mengajarkan, menganjurkan KEKERASAN, KEKEJAMAN, KESERAKAHAN dan PEMBODOHAN serta mengklaim sebagai jalan satu-satunya yang dapat MENYELAMATKAN. [↑]

  5. Vāritta Sila: Surämeraya-majjapamädaṭṭhāna veramani sikkhäpadam samädiyämi
    (Surä = berani/nekad, kepahlawanan, beralkohol, memabukkan; meraya = fermentasi, beralkohol; majja = membuat mabuk; pamāda = lalai, malas, ceroboh, lengah, alpa, sembrono, lamban, kekilesaan; ṭṭhāna = Landasan). Jadi artinya: “Aku bertekad menahan diri dari asupan memabukan landasan bagi kelengahan”. Jadi, sila ini disamping asupan yang memabukan juga hal memabukkan lain selain makanan/minuman yang dapat menjadi landasan kelengahan.

      Note:
      Asupan yang bukan berupa makanan/minuman namun dapat memabukan landasan bagi kelengahan, misalnya: Keuntungan/lābha; kehormatan/sakkāra; ketenaran/siloka; Pencapaian sila/sīlasampadāya; Pencapaian pikiran terpusat/samādhisampadāya; Pengetahuan dan penglihatannya/ñāṇadassanena. Ia mabuk itu dan menjadi lengah [MN 29/Mahasaropama sutta]

      Sang buddha juga mengajak merenungkan dengan bijaksana tujuan penggunaan:

      • jubah (civara, mungkin dapat diaplikasikan lebih luas menjadi pakaian), yaitu: melindungi diri dari: dingin, panas, kontak dengan lalat, nyamuk, angin, matahari, dan binatang-binatang melata, dan menutupi bagian tubuh yang pribadi
      • tempat tinggal, yaitu: perlindungan dari: dingin, panas, kontak dengan lalat, nyamuk, angin, matahari, dan binatang-binatang melata, dan untuk menangkis bahaya iklim dan menjalani latihan [AN 6.58,MN 2]

    Beberapa makanan secara alami akan berethanol tanpa melalui proses lanjutan misal nira, duren. Beberapa setelah fermentasi, akan berkadar ethanol di bawah 4% (air tape/ketan) atau bahkan lebih jika disuling (miras). Daerah dengan suhu dingin, masyarakatnya ada yang berkebiasaan untuk mengatasinya melalui konsumsi minuman beralkohol, mamun ini hanyalah ilusi kehangatan tubuh.

      Dalam aturan kebhikkhuan, bahkan obat yang warna (vanno), bau (gandho), dan rasa (rasa) yang mengandung hal memabukan, tidak boleh dikonsumsi [Mahavagga 6.14.1]

        Sang Buddha menasehati agar merenungkan dengan bijaksana tujuan penggunaan pengobatan adalah untuk meredakan perasaan menyakitkan yang telah ada, utamanya tanpa membuatnya cedera lain (yāvadeva uppannānaṃ veyyābādhikānaṃ vedanānaṃ paṭighātāya, abyābajjha-paramatāyā’ti) [AN 6.58, MN 2]

      Umat awam yang bergembira dalam ajaran, tidak mengkonsumsi, mendorong, menyetujui asupan yang memabukan. Para orang dungu melakukan perbuatan buruk karena mabuk, menyebabkan orang lain berada dalam kelengahan, mengikuti hal yang sama. Seharusnya Ia menghindari perbuatan buruk, kegilaan, kebodohan mental yang menjadi kesenangan para orang dungu [SNP 2.14/Dhammika Sutta]

      6 bahaya dari asupan memabukan landasan bagi kelengahan: menghabiskan kekayaan, mengundang pertengkaran, landasan penyakit, merusak reputasi, membuka rahasia orang dan melemahkan kebijaksanaan [DN 31/Sigalaka sutta]

    Bagaimana ukuran sila ke-5 ini?

      Merenungkan dengan bijaksana tujuan pemenuhan makanan (paṭisaṅkhā yoniso āhāraṃ āhāreti) – bukan untuk: kesenangan/lomba/hiburan (‘neva davāya), mabuk2an (na madāya), menimbun/menggemukan atau berlebihan (na maṇḍanāya), memperindah diri/agar menarik (na vibhūsanāya), namun secukupnya untuk menyokong tubuh ini (yāvadeva imassa kāyassa ṭhitiyā yāpanāya), meredakan rasa menyakitkan (mis: lapar) agar dapat meneruskan menjalani prilaku menuju kesucian (vihiṃsūparatiyā brahmacariyānuggahāya), meredakan perasaan sebelumnya (misal: lapar) (iti purāṇañca vedanaṃ paṭihaṅkhāmi) tanpa menimbulkan perasaan baru (misal: malas, kekenyangan) (navañca vedanaṃ na uppādessāmi), kehidupanku berlangsung (yātrā ca me bhavissati), bebas gangguan/celaan dan berdiam dalam ketentraman (anavajjatā ca phāsuvihāro) [AN 6.58/Asava Sutta, SN 35.20/Abhinanda Sutta, MN.107/Gaṇakamoggallāna Sutta] [↑]

Selain pancasila,
Untuk meningkatkan PERHATIAN dan PEMURNIAN, juga disarankan melatih Atthasila/8 sila [AN 3.70/Muluposatha Sutta; AN 8.41-45/Visākhā/Vāseṭṭha/Bojjhā_uposatha Sutta; Sn 2.14/Dhammika Sutta] yang jika tidak dilakukan tiap hari, maka dapat dilakukan di waktu tertentu, misal di setiap awal minggu tiap bulannya, dan/atau ditambah pada bulan baru dan purnama, dan/atau merayakan: ulang tahun kelahiran, dan/atau 1 bulan sebelum Waisak, Maghapuja, Asadha dan/atau waktu yang dianggap penting lainnya:
  1. pāṇātipātaṃ pahāya pāṇātipātā paṭiviratā, (meninggalkan dan menanggalkan menyakiti kehidupan)
  2. adinnādānaṃ pahāya adinnādānā paṭiviratā, (meninggalkan dan menanggalkan mengambil yang tidak diberikan)
  3. abrahmacariyaṃ pahāya brahmacārino ārācārino viratā methunā gāmadhammā, (Meninggalkan prilaku YANG TIDAK menuju kesucian, menjalani prilaku yang menuju kesucian, hidup terpisah, tidak melakukan hubungan seksual prilaku umat awam)
  4. musāvādaṃ pahāya musāvādā paṭiviratā (meninggalkan dan menanggalkan menyatakan yang tidak benar)
  5. surāmerayamajjapamādaṭṭhānaṃ pahāya surāmeraya majjapamādaṭṭhānā paṭiviratā (menanggalkan dan menanggalkan asupan memabukan landasan bagi kelengahan)
  6. ekabhattikā rattūparatā viratā vikālabhojanā, (makan 1x sehari, tidak makan di malam hari di luar waktu, yaitu: sejak matahari terbit s.d sebelum tengah hari).

    Jika umat awam saja melatih sila ini, maka para Bhikkhu seharusnya juga makan hanya 1x sehari [ekabhattikā; ekāsanabhojanaṃ], sebelum tengah hari. [MN65/Bhaddali sutta, MN21/Kakacūpama Sutta, AN 8.41/Uposatha Sutta, AN 3.70/Uposatha Sutta, AN 3.180/Gavesin Sutta, AN 5.228/Ussura-bhatta sutta]

  7. naccagītavāditavisūkadassana mālāgandhavilepanadhāraṇamaṇḍanavibhūsanaṭṭhānā paṭiviratā, (menanggalkan menari, menyanyi, bermain musik, melihat tontonan, memakai bunga, wewangian, kosmetik, perhiasan/kalung, berdandan, untuk memperindah diri)
  8. uccāsayanamahāsayanaṃ pahāya uccāsayanamahāsayanā paṭiviratā, (menanggalkan tempat berbaring untuk duduk/tidur) yang tinggi/mewah dan lebar/besar) [↑ atthasila]
10 Sila (KHP 2/Dasa Sikkhapada),
sila ke-1 s.d ke-6 sama seperti di atas. Sila ke-7: naccagītavāditavisūkadassana veramani (menahan diri dari menari, menyanyi, bermain musik, pergi melihat tontonan), sila ke-8: mālāgandhavilepanadhāraṇamaṇḍanavibhūsanaṭṭhānā veramani (menahan diri dari memakai bunga, wewangian, kosmetik untuk berhias), sila ke-9: uccāsayanamahāsayanā veramani, (menahan diri dari menggunakan tempat tidur dan tempat duduk tinggi dan besar) dan sila ke-10: Jātarūparajatapaṭiggahaṇā veramaṇī (Menahan diri dari menerima emas, perak dan uang)

Bagaimana definisi kesempurnaan sila?
  • Telah menanggalkan (paṭivirata) perbuatan: menyakiti kehidupan, mengambil yang tidak diberikan, perbuatan indriya dengan cara yang salah, menyatakan yang tidak benar, asupan memabukan landasan bagi kelengahan [Misal SN 55.37/Mahanama Sutta].
  • Memiliki moralitas yang: tak rusak/utuh keseluruhan, tak cacat/robek, tak bernoda, tak bercela, membebaskan, dipujikan para bijaksana, tak digenggam/melekat dan mengarah pada pikiran terpusat [Misal SN 55.1]
Laju kesempurnaannya mulai dari: Menahan diri (veramani) → tidak melakukannya (virata) → sungguh-sungguh menanggalkannya (Pativirata)/meninggalkan (Pahaya) → Berhenti (arati) dan juga mendorong orang lain untuk menahan diri, menyetujui dan memuji tentang sila.

Namun demikian, kemurnian dan kesempurnaan sila, barulah TITIK AWAL dari kondisi-kondisi bermanfaat (ini pun jika dibarengi dengan PANDANGAN BENAR, lihat: SN 47.3) dan tercapainya kesempurnaan sila adalah MASIH JAUH dari padam/nibbana.
    Sang Buddha dalam suatu diskusi dengan Udayin/Sakuludāyin (petapa pengembara):
    Bagaimanakah, Udāyin, adakah loko/alam/keadaan yang sungguh menyenangkan (atthi ekantasukho loko)? Adakah cara/langkah yang membumi (atthi ākāravatī paṭipadā) untuk mecapai lokassa/alam/keadaan yang sungguh menyenangkan itu (ekantasukhassa lokassa sacchikiriyā)?”

      Note:
      loka = ruang, alam, kondisi/keadaan yang terkait dengan perasaan dari kontak indriya

    Udayin:
    “Yang Mulia, menurut ajaran para guru kami: ‘Ada loka yang sungguh menyenangkan; ada cara yang membumi untuk mencapai loka yang sungguh menyenangkan itu.’”

    Sang Buddha:
    “bagaimanakah cara yang membumi untuk mencapai kondisi yang sungguh menyenangkan itu?”

    Udayin:
    “Di sini, Yang Mulia dengan meninggalkan (pahaya)dan menanggalkan (pativirata):

    1. menyakiti makhluk hidup;
    2. mengambil yang tidak diberikan;
    3. berperilaku salah dalam kenikmatan indriya;
    4. menyatakan yang tidak benar;
    5. atau kalau tidak, Ia menjalani beberapa jenis praktik pertapaan.

    Inilah adalah jalan yang membumi untuk mencapai loka yang sungguh menyenangkan itu.”

      Note:
      Sutta ini memberi bukti bahwa Praktik sila dan syarat kesempurnaannya adalah CARA dan PENGETAHUAN UMUM yang telah ada SEBELUM KEMUNCULAN BUDDHISM dan latihan untuk mencapai keadaan yang sungguh bahagia

    Sang Buddha:
    pada saat ia meninggalkan dan menanggalkan menyakiti makhluk hidup, apakah dirinya merasakan hanya perasaan menyenangkan atau merasakan perasaan baik menyenangkan maupun menyakitkan?”

    Udayin:
    “perasaan menyenangkan dan juga menyakitkan, Yang Mulia.”

    Sang Buddha:
    pada saat ia meninggalkan dan menanggalkan mengambil yang tidak diberikan;.. menjalani beberapa jenis praktik pertapaan, apakah dirinya merasakan hanya perasaan menyenangkan atau merasakan perasaan baik menyenangkan maupun menyakitkan?”

    Udayin:
    “perasaan menyenangkan dan juga menyakitkan, Yang Mulia”

    Sang Buddha:
    Apakah pencapaian loka yang sungguh menyenangkan dapat dicapai dengan jalan yang mencampurkan antara perasaan menyenangkan dan menyakitkan?”

    Udayin bersepakat bahwa itu bukanlah cara yang membumi untuk mencapai loka yang sungguh menyenangkan dan kemudian Ia balik bertanya:
    “adakah loka yang sungguh menyenangkan? Adakah cara membumi untuk mecapai loka yang sungguh menyenangkan itu?”

      Note:
      Walaupun kesempurnaan sila adalah cara terbaik memperbesar peluang terlahir kembali di alam kenikmatan Indriya (Manusia..paranimmitavasavattī loka), namun karena 5 nivarana (hasrat indriya/kamacchanda, penolakan/byapada, malas-lamban/thina-midha, gelisah-cemas/uddhaca-kukkukcha dan keraguan/vicikicha) masih melandanya dikeseharian hidupnya Ia belum sungguh terbebas dari nafsu/vītarāgassa, masih terombang-ambing nafsu/sarāgassa dan dapat dilanda perasaan menyakitkan ketika tidak terpenuhinya hasratnya akan suatu hal

    Sang Buddha:
    ‘Ada loka yang sungguh menyenangkan; ada cara membumi untuk mencapai loka yang sungguh menyenangkan itu. Di sini, Udāyin, Setelah melepas kenikmatan indriya yang tak bermanfaat, dengan usaha awal pikiran menggenggam dan mempertahankan objek, dari melepas ini merasakan pīti-sukha, jhana ke-1 dicapai keberadaannya… Dengan lenyapnya usaha awal pikiran menggenggam objek dan mempertahankannya.., ia berdiam di jhāna ke-2 … di jhāna ke-3 … ini adalah cara membumi untuk mencapai lokassa/alam/keadaan yang sungguh menyenangkan itu.”

    Udayin:
    “Yang Mulia, itu bukan cara membumi untuk mencapai loka yang sungguh menyenangkan pada titik itu loka yang sungguh menyenangkan telah dicapainya (sacchikato hissa, bhante, ettāvatā ekantasukho loko hotī)”

      Note:
      Dalam pandangan beberapa ajaran non Buddhis, setelah 5 nivarana disingkirkan, maka perasaan menyakitkan lenyap, mereka ada yang merasakan perasaan gembira (piti) dan menyenangkan (sukha), ada yang berhasil meredakan perasaan menggembirakan dan hanya merasakan perasaan menyenangkan saja maka mereka anggap telah mencapai tujuan kesucian dan tidak mengetahui bahwa bahkan melekati itu akan membuatnya terlahir kembali

    Sang Buddha:
    “Udāyin, pada titik itu loka yang sungguh menyenangkan belum tercapai; itu hanyalah cara praktis untuk mencapai alam yang sungguh-sungguh menyenangkan itu.”

    Udayin:
    “Yang Mulia, pada titik manakah alam yang sungguh-sungguh menyenangkan itu tercapai?”

    Sang Buddha:
    “Di sini, Udāyin, dengan meninggalkan perasaan menyenangkan juga menyakitkan dan lenyapnya perasaan menggembirakan dan menyedihkan sebelumnya, merasakan perasaan tanpa menyakitkan dan tanpa merasakan perasaan menyenangkan seimbang dalam perhatian murni Jhana ke-4 tercapai keberadaannya, Ia berdiam bersama para dewa yang telah muncul dalam loka yang sungguh menyenangkan, berbicara dan berbincang dengan mereka. Pada titik ini loka yang sungguh menyenangkan telah tercapai.”

    Udayin:
    “Yang Mulia, tentu adalah demi mencapai loka yang sungguh menyenangkan itu maka para bhikkhu menjalani kehidupan suci di bawah Sang Bhagavā.”

      Note:
      Ketika perasaan hanya menyenangkan berakhir kondisinya, mereka mengetahui bahwa itu tidak menyenangkan, sehingga ketika berhasil mencapai redanya perasaan hanya menyenangkan dan merasakan perasaan tanpa menyenangkan tanpa menyakitkan, maka mereka anggap telah mencapai tujuan kesucian dan tidak mengetahui bahwa bahkan melekati itu akan membuatnya terlahir kembali.

      Di sebelum Buddhisme ada, pencapaian Jhana ke-1 s.d 8 dianggap sebagai Nibbana. Ini adalah pandangan salah yang umum dianut sebelum kemunculan sang Buddha

    Sang Buddha:
    “Bukan demi mencapai loka yang sungguh menyenangkan itu maka para bhikkhu menjalani kehidupan suci di bawahKu. Ada kondisi-kondisi lain, Udāyin, yang lebih tinggi dan lebih mulia [daripada itu] dan adalah demi mencapai itu maka para bhikkhu menjalani kehidupan suci di bawahKu”..[MN 79/Culasakuludayi Sutta]
Namun demikian, kemurnian sila dan samadhi memang sangat dianjurkan sang Buddha
    “Wahai para bhikkhu, janganlah takut melakukan perbuatan yang bermanfaat. ‘Perbuatan yang bermanfaat’ merupakan ungkapan yang menunjukkan kebahagiaan, apa yang pantas dilakukan, yang diinginkan, diharapkan, berharga, dan menyenangkan.”

    “Karena telah kuketahui dengan pasti, wahai para bhikkhu, bahwa sudah lama aku mengalami buah-buah yang diinginkan, diharapkan, berharga, dan menyenangkan, karena seringnya melakukan perbuatan yang bermanfaat.”

    “Setelah selama 7 tahun mengembangkan pikiran yang penuh cinta-kasih, selama 7 kalpa yang menyusut dan mengembang, aku tidak pernah kembali ke alam ini. Bilamana kalpa menyusut, aku mencapai alam brahma yang bercahaya gilang-gemilang. Ketika kalpa mengembang, aku muncul di alam brahma yang kosong. Di sana aku pernah menjadi Brahma, Brahma Agung [mahābrahmā], Pemenang Yang Tak Terkalahkan, Yang Maha Tahu, Yang Maha Kuasa.”

    “36 x aku menjadi Sakka, raja para dewa. Dan beratus-ratus kali aku lahir sebagai Penguasa Pemutar-Roda yang berbudi, raja keluhuran, penakluk 4 penjuru dunia [cakkavattī dhammiko dhammarājā], yang mempertahankan stabilitas di negeri itu, pemilik 7 perhiasan. Maka apa gunanya berbicara perihal menjadi raja setempat saja?”

    “Wahai para bhikkhu, aku pernah berpikir: Tindakanku yang bagaimanakah yang memberikan buah ini? Tindakan manakah yang masak sehingga aku sekarang dapat memiliki pencapaian dan kekuatan yang sedemikian besar ini?”

    Dan kemudian muncul dalam diriku: “Adalah karena pahala 3 jenis tindakanku, matangnya 3 jenis perbuatanku inilah yang membuat aku sekarang memiliki pencapaian dan kekuatan yang sedemikian besar, yaitu: perbuatan memberi [dānassa], menguasai diri [damassa], dan menahan diri [saññamassā].”

    Orang harus berlatih melakukan perbuatan yang bermanfaat Yang menghasilkan kebahagiaan yang berlangsung lama:
    Dermawan [Dānañca], hidup seimbang [samacariyañca], Mengembangkan pikiran yang penuh cinta kasih [Mettacittañca bhāvaye].

    Dengan mengembangkan 3 perbuatan ini, Yaitu perbuatan yang membuahkan kebahagiaan,Orang bijaksana terlahir kembali dalam kebahagiaan, Dalam alam bahagia yang tidak terganggu.
    [Itivuttaka 22]
Untuk mencapai alam Brahma, pemurnian sila haruslah dikembangkan hingga benar bebas dari nafsu indriya. Selain itu, alam Brahma dapat juga dicapai melalui perenungan SILANUSATI/perenungan terhadap sila [↓]

Apakah keuntungan terlahir menjadi deva/Brahma?
  • Karena terlahir kembali secara SPONTAN, ini memudahkannya mengingat sebab kemunculannya di alam itu dan memperbesar peluang mengulang sukses serupa
  • Di Alam itu, terdapat banyak Deva/Brahma yang telah mencapai kesucian, Ia dapat mempelajari caranya dari mereka
Umur kehidupan Brahma sangatlah panjang, Brahma terendah di alam Jhana ke-1, yaitu Brahma-pārisajjā berumur 1/3 Asankheyya Kappa (AK), tabel di bawah menyajikan perkiraan BERAPA KALI harus terlahir secara bersambungan di alam-alam deva KAMALOKA tertentu [alam terendah dan tertinggiNYA] AGAR DAPAT MENYAMAI 1 x umur kehidupan Brahma-pārisajjā.

Alam DevaUmur DevaJumlah Harus Terlahir Berulang, agar = 1 x umur Brahma-pārisajjā?
Catumaharajika9 x 106 tahun3.95 x 1015 Kali
Mara9.2 x 109 tahun3.85 x 1012 Kali

Note:
  • Nilai Kappa berdasarkan lama waktu di neraka Paduma, yaitu: 5.327 x 1021 tahun [Lihat: BLOG INI], Umur kehidupan di neraka Paduma DIASUMSIKAN SAMA SAJA dengan 1 antara kappa neraka Avici.
  • 1 MK = 80 antara kappa neraka avici; 1 MK = 4 Asenkkheyya Kappa (AK); 1 AK = 20 antara kappa, sehingga 1/3 AK = 3.6 x 1021
Namun demikian, mereka yang BELUM mencapai kesucian, ketika wafat di alam-alam Deva/Brahma, maka kemunculan berikutnya Ia BISA jatuh ke ALAM BAWAHnya atau bahkan langsung ke neraka. [[↑]]


Samädhi/Meditasi dan Paññā

Sang Buddha pernah berkata bahwa 5 Indriya/Pañcindriyāni atau juga disebut 5 Kekuatan/pañca balā, jika dikembangkan dan dilatih (bhāvitāni bahulīkatāni), akan menuntun pada (saṃvattanti): Hancurnya noda-noda (āsavānaṃ khayāya) atau Hancurnya belenggu-belenggu (saṃyojanappahānāya) atau Tercabutnya kecenderungan tersembunyi (anusayasamug-ghātāya) atau Pemahaman penuh pada sang jalan (addhā-napariññāya)" [SN 48.61-64]. 5 Indriya (atau 5 kekuatan, ref SN 48.3), yang dimaksud adalah:
  1. Indria/Kekuatan keyakinan (Saddha), harus terlihat dalam (daṭṭhabba) 4 faktor memasuki-arus (Catūsu sotāpattiyaṅgesu) [SN 48.8] atau CERMIN DHAMMA/dhammādāso (SN 55.8-10), yaitu: Keyakinan kokoh tak tergoyahkan pada (1) Buddha, (2) Dhamma, (3) sangha, dan (4) moralitas yang disenangi para mulia yaitu moralitas yang tidak rusak, tidak robek, tanpa noda, tanpa bercak, membebaskan, tidak digenggam/melekat dan menuntun pada pikiran terpusat [SN 55.1,2].

    Pengelompokan lain 4 faktor pemasuk arus: (1) Pergaulan dengan orang yang Mulia (Sappurisasaṃseva), (2) mengikuti dhamma sejati (saddhammassavana), (3) memperhatikan yang seharusnya (yonisomanasikāra) dan (4) berprilaku sesuai dhamma/ajaran (dhammānudhammappaṭi-patti). Arus adalah 8 jalan mulia (pandangan benar..pemusatan pikiran yang benar). Pemasuk arus adalah yang memiliki 8 jalan mulia [SN 55.5, 50; DN 33]

      Note:
      Karena Sang Buddha juga bersabda: "..Sekarang, Ānanda, prilaku menuju kesucian menjadi tidak bertahan lama. Sekarang, Ānanda, DHAMMA SEJATI hanya bertahan 500 tahun (na dāni, ānanda, brahmacariyaṃ ciraṭṭhitikaṃ bhavissati. Pañceva dāni, ānanda, vassasatāni saddhammo ṭhassati)” [AN 8.51, Vinaya: Cullavagga X.1.6][↓], maka, setelah tahun ke-500nya penahbisan Mahapajapati Gotami, Dhamma sejati lenyap, pencapaian Sotapanna TIDAK DIMUNGKINKAN di alam Manusia. Mereka yang mengaku berkeyakinan terhadap Buddha, Dhamma, seharusnya juga YAKIN pada sabda sang Buddha tentang yang ini

    Sidharta Gautama dengan usahanya sendiri, menembus pencerahan, pengetahuan ini diajarkanNya pada yang patut dijinakkan. Jadi, seseorang, melihat orang yang dikenalnya, menjalani latihan ajaran ini dan mencapai pencapaian. Ini menginspirasikannya untuk mengikutinya atau untuk membuktikannya, ATAU Seseorang, setelah mendengar/membaca ajaran, Ia merenungkannya dan melihat manfaatnya ada, Ini adalah benih awal keyakinannya, Ia ingin membuktikan kelanjutannya dan Ia mencapai beberapa kemajuan mental seperti yang tertera di ajaran, oleh karenanya, keyakinannya mengokoh dan makin tak goyah.

    Alur maju dari indera Keyakinan:

      “..yang berbakti sepenuhnya kepada Sang Tathāgata dan berkeyakinan penuh pada-Nya tidak memiliki kebingungan atau keraguan terhadapNya atau ajaranNya → akan terbangkitkan kegigihannya untuk meninggalkan kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan mendapatkan kondisi-kondisi yang bermanfaat → akan menjadi penuh perhatian, memiliki perhatian dan kewaspadaan tinggi, mengingat apa yang dilakukan dan katakan di waktu yang telah lama berlalu → akan memperoleh keterpusatan pikiran, akan memperoleh pikiran yang terpusat, setelah melepaskan objek → dan akan memahami..

      Ketika ia, berulang-ulang berusaha dengan cara demikian, berulang-ulang merenungkan demikian, berulang-ulang memusatkan pikiran demikian, berulang-ulang mengetahuinya dengan cara demikian, siswa mulia itu memperoleh keyakinan penuh sebagai berikut: ‘Sehubungan dengan hal-hal ini yang hanya pernah kudengar sebelumnya, Aku, sekarang, setelah menyentuhnya dengan jasmani dan, setelah menembusnya melalui kebijaksanaan, aku melihat.’ Keyakinannya itu adalah indria keyakinan.” [SN 48.50. Juga lihat: MN 68/Nalakapanasutta dan MN 11/Culasihanada Sutta]

    Perumpamaan tentang Kereta Dhamma dari Sang Buddha:

      Adalah keyakinan dan kebijaksanaan (yassa saddhā ca paññā ca)
      pasangan yang terjalin bersama (dhammā yuttā sadā dhuraṃ)
      rasa malu tiangnya, pikiran gandar-ikatnya (Hirī īsā mano yottaṃ)
      perhatian kusir pengarahnya (sati ārakkhasārathi)

      moralitas perlengkapan keretanya (ratho sīlaparikkhāro)
      jhana as-nya kegigihan rodanya (jhānakkho cakkavīriyo)
      keseimbangan terjalin pikiran terpusat (upekkhā dhurasamādhi)
      dan ketiadaan keinginan sebagai penutupnya (anicchā parivāraṇaṃ)

      tanpa niat buruk tanpa kekejaman (Abyāpādo avihiṃsā)
      dan melepaskan adalah persenjataannya (viveko yassa āvudhaṃ)
      kesabaran perisai zirahnya (Titikkhā cammasannāho)
      bebas kemelekatan arahnya (yogakkhemāya vattati)

      berasal dari diri sendiri (tadattani sambhūtaṃ)
      kendaraan brahma yang tiadatara (brahmayānaṃ anuttaraṃ)
      dikendarai para bijak dunia kita (Niyyanti dhīrā lokamhā)
      pasti berjaya dengan kemenangan (aññadatthu jayaṃ jayan”ti) [SN 45.4]

  2. Indria/Kekuatan kegigihan (vīriya), harus terlihat dalam 4 usaha benar (Catūsu sammappadhānesu) [SN 48.8], yaitu: Membangkitkan kegigihan untuk:

    • meninggalkan kondisi-kondisi tak bermanfaat dan mendapatkan kondisi-kondisi bermanfaat; kuat, teguh dalam usaha, tidak melalaikan tanggung jawab untuk melatih kondisi-kondisi bermanfaat. Membangkitkan keinginan untuk tak memunculkan kondisi-kondisi buruk tak bermanfaat yang belum muncul;

    • Mengarahkan pikirannya, berupaya dan membangkitkan keinginan untuk: meninggalkan kondisi-kondisi buruk tak bermanfaat yang telah muncul dan membangkitkan keinginan untuk memunculkan kondisi-kondisi bermanfaat yang belum muncul;

    • Mengarahkan pikirannya, berupaya dan membangkitkan keinginan untuk memunculkan kondisi-kondisi bermanfaat yang belum muncul dan;

    • mengarahkan pikirannya, berupaya dan membangkitkan keinginan untuk mempertahankan kondisi-kondisi bermanfaat yang telah muncul, untuk ketidak-rusakannya, meningkatkannya, memperluasnya, dan memenuhinya melalui pengembangan [SN 48.10; DN 16]

    Sang Buddha: Jika 4 Indriya (catunnaṃ indriyānaṃ) yaitu Indria/kekuatan: Kebijaksanaan, Pikiran terpusat, Perhatian dan Kegigihan, telah dikembangkan dan dilatih, ini akan menuntun pada hancurnya noda-noda [SN 48.47]

  3. Indria/Kekuatan perhatian (sati), yaitu penuh perhatian, memiliki perhatian dan kewaspadaan tinggi, mengingat apa yang dilakukan dan katakan di waktu yang telah lama berlalu. Indria perhatian harus terlihat dalam 4 landasan perhatian (Catūsu satipaṭṭhānesu), yaitu setelah meninggalkan kerinduan kegundahan dunia dengan tekun mengetahui sepenuhnya dalam perhatian merenungkan: Jasmani adalah jasmani (kāye kāyānupassī) ..Perasaan adalah perasaan (vedanāsu vedanānupassī) ..Pikiran adalah pikiran (citte cittānupassī) .. HAL (berkondisi, terkondisi, tak terkondisi) adalah HAL (berkondisi, terkondisi, tak terkondisi) (dhammesu dhammānupassī) [SN 48.8, 48.10]

    Sang Buddha: Mereka yang BELUM meninggalkan 6 hal, TIDAK AKAN MAMPU untuk merenungkan: jasmani adalah jasmani baik secara internal dan eksternal.. perasaan.. pikiran.. dhamma adalah dhamma baik itu secara internal dan eksternal. 6 hal yang dimaksud adalah senang/gemar dalam:

    1. kesibukan/menyibukan diri bekerja (Kammārāmata)
    2. berbicara/ngobrol (tulis dan ucapan) (bhassārāmata)
    3. tidur (niddārāmata)
    4. berkumpul/kumpul-kumpul (saṅgaṇikārāmata)
    5. tidak menjaga pintu-pintu indria (indriyesu aguttadvārata), dan
    6. makan berlebihan/tak membatasi (bhojane amattaññuta) [AN 6.118]

    Sang Buddha: Jika 3 Indriya (tiṇṇannaṃ indriyāna) yaitu Indria/kekuatan: Kebijaksanaan, Pikiran terpusat dan Perhatian, telah dikembangkan dan dilatih, ini akan menuntun pada hancurnya noda-noda. [SN 48.49/Pindola]

  4. Indria/kekuatan pikiran terpusat (samādhi) atau juga disebut Samatha (AN 6.54) yaitu memperoleh samadhi, memperoleh keterpusatan pikiran, setelah melepaskan objek. Indria keterpusatan pikiran harus terlihat dalam 4 Jhana (Catūsu jhānesu): Jhana ke-1 s.d Jhana ke-4 [SN 48.8, 9].

    "Sammā-samādhi" dengan pendukung dan perlengkapan berupa Pandangan benar, kehendak benar, ucapan benar, perbuatan benar, pencaharian benar, usaha benar dan perhatian benar, mengarah pada nibana atau hancurnya kekotoran mental [SN 45.28].

    Sang Buddha: Jika 2 Indriya (dvinnaṃ indriyānaṃ), yaitu Indria/kekuatan: kebijaksanaan/Kebijaksanaan mulia dan Kebebasan mulia/Indria pikiran terpusat, telah dikembangkan dan dilatih, ini akan menuntun pada hancurnya noda-noda [SN 48.46]

  5. Indria/kekuatan kebijaksanaan (pañña) atau Pengetahuan Mulia (Ariyā paññā) atau vipassana (AN 6.54): Mengarah pada muncul-lenyapnya dan dapat menembus, menuntun pada hancurnya penderitaan [SN 48.9], Indria Kebijaksanaan harus terlihat dalam 4 Kesunyataan mulia (Catūsu ariyasaccesu), yaitu: tentang dukkha, asalmulanya, lenyapnya dan jalan menuju lenyapnya dukkha [SN 48.8].

    Sang Buddha: Jika 1 indriya (ekassa indriyassa), yaitu Indra/Kekuatan kebijaksanaan atau pengetahuan Mulia, telah dikembangkan dan dilatihnya, ini akan menuntun pada hancurnya noda-noda. Selama pengetahuan mulia belum muncul, maka selama itu tidak ada: kekokohan (saṇṭhiti) dan kekuatan (avaṭṭhiti) pada 4 indriya/kekuatan lainnya. Dengan memiliki kebijaksanaan, maka 4 Indra/kekuatan lainnya akan menjadi stabil (saṇṭhāti). Oleh karenanya, Indriya/Kekuatan kebijaksanan adalah yang terunggul dari 4 Indriya lainnya dalam kondisi-kondisi yang mendukung pencapaian pencerahan (bodhipakkhiyā dhammā) atau dalam tahap-tahap menuju tercapainya pencerahan (padāni bodhāya saṃvattanti)) [SN 48.45, 51, 52, 54, 67-70]
Kemudian, Sang buddha juga menyampaikan ajarannya tentang: "Yang tak terkondisi" (asaṅkhata = Nibanna, yaitu: hancurnya (kkhayo): Kemelekatan/rāga, Kebencian/dosa dan Kekeliruan tahu/moha) dan jalan-jalan menuju "yang tak terkondisi" (asaṅkhatagāmiñca maggaṃ) [SN 43.12], yaitu:
  • Perhatian pada jasmani (Kāyagatāsati), Setelah mengajarkan itu, beliau menginstruksikan muridnya untuk, "jhāyatha" [SN 43.1], atau juga

  • Ketenangan (samatha: tenang/hening) dan melihat secara khusus (vipassanā: vi = pemisahan/khusus/dalam + "passana/passati" = melihat, mengamati).

    Setelah mengajarkan samatha dan vipassana sebagai jalan menuju yang tak terkondisi, beliau menginstruksikan muridnya untuk, "jhāyatha" [SN 43.1,2]

    Banyak pengajar meditasi menyatakan keunggulan salah satunya, menepis manfaat lainnya, bahkan memisahkan ke-2nya dalam praktek. Ini KELIRU dan TIDAK sejalan 2 sutta di bawah ini:

      Ada 2 hal yang mendukung pada pengetahuan (vijjābhāgiyā), yaitu Samatha dan Vipassanā.

      Ketika samatha dikembangkan, apa tujuannya? Citta/Pikiran dikembangkan. Ketika pikiran dikembangkan, apa tujuannya? Kemelekatan ditinggalkan.

      Ketika vipassana dikembangkan, apa tujuannya? Paññā/Kebijaksanaan dikembangkan. Ketika Paññā dikembangkan, apa tujuannya? Avijjā/ketidaktahuan ditinggalkan.

      Dikotori kemelekatan, pikiran tak terbebaskan. Dikotori ketidaktahuan, Paññā tak berkembang. ketiadaan kemelekatan adalah cetovimutti (Kebebasan pikiran). Ketiadaan ketidaktahuan adalah Paññāvimutti (kebebasan kebijaksanaan) [AN 2.30/Vijja-bhagiya Sutta]

      "Saudara, siapapun dia, baik Bhikkhu atau Bhikkhuni telah menyatakan di hadapan Ku bahwa mereka semua mencapai kearahatan melalui salah satu dari 4 jalan ini:

      1. mengembangkan Vipassana yang didahului Samatha [samathapubbaṅgamaṃ vipassanaṃ bhāveti]
      2. mengembangkan Samatha yang didahului Vipassana [vipassanāpubbaṅgamaṃ samathaṃ bhāveti]
      3. mengembangkan gabungan Samatha dan Vipassana. [samathavipassanaṃ yuganaddhaṃ bhāveti]
      4. kegelisahan pikiran akan Dhamma (hal yang berkondisi maupun bukan) makin terkendali [dhammuddhaccaviggahitaṃ mānasaṃ hoti..]. akan tiba saat pikirannya menjadi kokoh ke dalam, tenang, manunggal dan pikirannya menjadi terpusat.[samayo yaṃ taṃ cittaṃ ajjhattaṃyeva santiṭṭhati sannisīdati ekodi hoti samādhiyati] [AN 4.170/Yuganaddha Sutta]

        note:
        Untuk no.4, karena hasilnya adalah samadhi, maka ini harus terlihat dalam 4 Jhana (SN 48.8,9), variasi/detail mengokohkan pikiran ke dalam, tenang, manunggal dan terpusat dalam 4 jhana, lihat MN 119/kāyagatāsati dan MN 122/Mahasunnata sutta

        Samatha dan vipassana dilakukan dengan pemusatan pikiran, namun diperjalanan sejarah Buddhisme, di setelah abad masehi, Vipassana menjadi sebuah teknik konsentrasi yang bergerak, pegangan awalnya satu objek, namun JIKA MUNCUL objek dominan LAIN, objek tersebut diamati/dicatat dan tidak dinilai, terus demikian, padahal arti samadhi sendiri justru terpusatnya pikiran. Juga, muncul pula jenis samadhi lain, yaitu Khaṇikā samadhi (konsentrasinya bersifat sementara) dan Upacāra samadhi (dekat atau hampir di samadhi), yang tidak pernah diajarkan sang Buddha dan para Arahat lainnya. Entah mengapa Buddhaghosa berani sekali menambahkan hal-hal yang tidak pernah diajarkan Sang Buddha dan para Arahat lainnya

    Samatha-Vipassana disebut sepasang utusan cepat (sīghaṃ dūtayuga) [SN 35.245/Kimsuka sutta] dilakukan berpasangan dan bukan terpisah: Dengan pikiran terpusat merasakan sepenuhnya seluruh bentukan kehendak/sankhara hingga hal tersebut menenang, kemunculan-kelenyapannya dilihat sebagaimana adanya. [SN 4.91-94, SN 35.245]

    Samatha-Vipassana dilakukan harus dengan moralitas penuh tanpa mengabaikan Jhana-jhana:

      Jika mengharapkan (Ākaṅkheyya): ‘dengan hancurnya noda-noda (āsavānaṃ khayā), merealisasikan bagi dirinya pengetahuan langsung di kehidupan ini: kebebasan pikiran tanpa noda dan kebebasan kebijaksanaan (anāsavaṃ cetovimuttiṃ paññāvimuttiṃ diṭṭheva dhamme sayaṃ abhiññā sacchikatvā) dan setelah mencapainya, Ia berada di dalamnya (upasampajja vihareyyan’ti)’, Ia haruslah seorang yang penuh moralitas, menekuni ketenangan pikiran internal, tidak mengabaikan jhāna-jhāna, berpandangan terang (sīlesvevassa paripūrakārī ajjhattaṃ cetosamathamanuyutto anirākatajjhāno vipassanāya samannāgato brūhetā)..". [AN 10.71, MN 6] []

  • Samādhi/Pikiran terpusat, melalui: Savitakkasavicāra (awal (pikiran) menggenggam dan mempertahankan objek, atau Jhana ke-1), avitakkavicāramatta (tanpa awal menggenggam objek dan hanya mempertahankan objek, Jhana ke-1 menjelang jhana ke-2), avitakkaavicāra (dengan tanpa awal menggenggam dan tanpa mempertahankan objek, Jhana ke-2 s.d 9), Suññata (Landasan kekosongan), animitta (landasan tanpa gambaran), appaṇihita (Landasan tanpa tujuan/keinginan). Setelah mengajarkan itu, beliau menginstruksikan muridnya untuk, "jhāyatha" [SN 43.3-4], atau juga

  • 4 landasan perhatian/Cattāro satipaṭṭhānā atau juga disebut gambaran samadhi/samādhi-nimittā (MN 44, AN 8.63, Cattāro satipaṭṭhānā secara eksplisit disebut sebagai pikiran terpusat atau samadhi); 4 Usaha benar/Cattāro sammappadhānā atau juga disebut Perlengkapan Samadhi/samādhi-parikkhārā (MN 44). Setelah mengajarkan ini, beliau menginstruksikan muridnya untuk, "jhāyatha" [SN 43.5, 6], atau juga

  • 4 landasan kemahiran mental/Cattāro iddhipādā: 4 Pengembangan Iddhipada, yaitu samadhi melalui: (1) keinginan dan upaya dalam bentukan-bentukan kehendak (chanda-samādhippadhānasaṅkhārasamannāgata) (2) kegigihan dan upaya dalam bentukan-bentukan kehendak (vīriyasamādhippadhānasaṅkhārasamannāgata) (3) pikiran dan upaya dalam bentukan-bentukan kehendak (cittasamādhippadhānasaṅkhārasamannāgata) (4) penyelidikan dan upaya dalam bentukan-bentukan kehendak (vīmaṃsā samādhippadhānasaṅ-khārasamannāgata) [SN 51.11]. Setelah mengajarkan ini, beliau menginstruksikan muridnya untuk, "jhāyatha" [SN 43.5, 6], atau juga

  • 5 Indrya/Pañcindriyāni atau juga disebut 5 Kekuatan/Pañca balāni; 7 faktor pencerahan/Satta bojjhaṅgā; 8 jalan mulia/aṭṭhaṅgiko magga (Pandangan benar..Pemusatan pikiran yang benar). Setelah mengajarkan ini, beliau menginstruksikan muridnya untuk, "jhāyatha" [SN 43.7- 11]
Setiap telah mengajarkan jalan-jalan menuju "yang tak terkondisi" tersebut, Sang Buddha, selalu menginstruksikan mereka untuk, "Jhāya" [SN 43.12/Asaṅkhatasaṃyutta, dll]
    Note:
    Di SN 48.10 ada kalimat, "Katamañca, bhikkhave, samādhindriyaṃ? ..labhati samādhiṃ, labhati cittassa ekaggataṃ—idaṃ vuccati, bhikkhave, samādhindriyaṃ" (Dan apakah, para bhikkhu, indria samadhi?..memperoleh samādhi, memperoleh keterpusatan pikiran. Ini disebut indria samādhi) dan di MN 44 ada kalimat, "Katamo panāyye, samādhi?..cittassa ekaggatā ayaṃ samādhi" (Sekarang, Yang mulia, apakah samadhi?...keterpusatan pikiran adalah samadhi). "Sammā-samādhi" (sammā = benar; sama = seimbang/tenang/tentram/rata/serupa; adhi = menuju/ke/pada/ke atas). Secara literal Sammā-samādhi = "menuju ketenangan yang benar", namun, 2 sutta di atas, sfesifik mendefinisikan Samādhi = "Pikiran yang terpusat", jadi sammā-samādhi = "pikiran terpusat yang benar".

    Di SN 34.11 ada frase "ekacco jhāyī samādhismiṃ" (seorang jhāyi bersamadhi). Di Sutta SN 43.12, ada kata Jhāyatha dan Samādhi. Di SN 40.8, ada kalimat: "Kattha ca, bhikkhave, samādhindriyaṃ daṭṭhabbaṃ? Catūsu jhānesu" (Dan di manakah, para bhikkhu, indria samādhi harus terlihat? dalam 4 jhāna). Di DN.27/Aggañña Sutta ada kalimat,

      ..araññāyatane paṇṇakuṭīsu jhāyantī’ti. jhāyantīti kho, vāseṭṭha, ‘jhāyakā, jhāyakā’..sattānaṃ ekacce sattā araññāyatane paṇṇakuṭīsu taṃ jhānaṃ anabhisambhuṇamānā (di gubuk-gubuk daun di hutan mereka ber-jhāyanti. Mereka ber-jhāyanti, Vasettha, ‘jhāyakā, jhāyakā’..beberapa yang tinggal di gubuk-gubuk daun di hutan tidak mampu mencapai jhana)

    Di SN 34.11/Sandhasutta:

      "ber-jhāya-lah seperti jhāyi seekor kuda berdarah murni, Sandha/nama orang (jānīyajhāyitaṃ kho, saddha, jhāya), bukan jhāyi sekor anak kuda liar (mā khaḷuṅkajhāyitaṃ). Bagaimanakah jhāyi seekor anak kuda liar? (Kathañca, khaḷuṅkajhāyitaṃ hoti)? Ketika seekor anak kuda liar, Sandha, diikat di tempat makanan, ia ber-jhāyati: ‘rumput, rumput!’ (Assakhaḷuṅko hi, saddha, doṇiyā baddho ‘yavasaṃ yavasan’ti jhāyati)"

    Di SN 4.23 ada kata “jhāyī jhāna-rato sadā” (jhāyī selalu gemar-Jhana) dan di DN 19 ada kata “karuṇaṃ jhānaṃ jhāyati” (jhāyati welas asih jhāna, yaitu meditator mencapai pikiran yang disertai welas asih atau mencapai jhana ke-3)

    "jhāya" (kata kerja orang ke-2 jamak: Jhāyatha, Orang ke-2 tunggal: Jhāyati, Orang ke-3 jamak: jhāyantī) = Memusatkan pikiran, mengarahkan pikiran atau membuat pikiran tercerap, terpesona, terbakar. Pelakunya disebut "jhāyī" atau “jhāyakā”. Hasil jhāya atau samadhi atau “hasil dari kegiatan agar pikiran tercerap/terpesona/terbakar dengan pikiran terpusat” disebut jhāna

    Apakah yang disebut dengan mengembangkan samadhi (samādhi-bhāvanā)? Pengulangan [dhammāna āsevanā], praktek/mengolah [bhavana] hingga mahir [bahulīkammaṃ] adalah mengembangkan Samadhi [MN 44/Mahavedala sutta]

    Pencapaian samadhi jhana ke-1 s.d ke-4 disebut kediaman yang menyenangkan di sini dan saat ini (Diṭṭhadhammasukhavihārā). Pencapaian samadhi jhana ke-5 s.d ke-8 disebut kediaman yang damai (Santā ete vihārā) [MN.8/Sallekha Sutta]

    Untuk mencapai jhana, TIDAKLAH PERLU menjadi bhikkhu dulu, karena di jaman sang Buddha, para umat awampun telah mencapainya, misal: Perumah tangga Pria Citta (SN 48.1, 41.9) dan perumah tangga wanita Nandamātā (AN 7.53)
Jadi, tampak jelas bahwa apapun jalan untuk menghancurkan asava, beliau selalu instruksikan dengan melalui jhana.

Apa tugas pelaku Samadhi?
Tekun dalam menjaga perhatian dan mengetahui sepenuhnya apapun yang terjadi atau dilakukannya.
    Pengendalian Indria-indera Jasmani dan Moralitas → pikiran tak tercemari hal buruk (abyāsittacittassa) dan ketidakmenyesalan (Avippaṭisāro) → timbul sukacita (Pāmojja) → timbul girang (pīti) → muncul ketenangan (passaddhi) → timbul bahagia (Sukhaṃ) → Pikiran terpusat (Samādhi) → mengetahui dan melihat sebagaimana adanya (Yathā bhūta ñāṇa dassana) → timbul kekecewaan (nibbidā) → timbul kebosanan (viraga) → Mengetahui dan melihat kebebasan (vimuttiñāṇadassana) [Gabungan dari AN 11.1 dan SN 35.97]
Ada 4 postur dan sikap dalam bersamadhi
Posisi/sikap/postur (Iriyapatha) 4 posisi (cattaro iriyapatha), yaitu: berbaring (sayano), berdiri (caram/ṭhito), duduk (nissino) atau berjalan (gacchanto atau cankama/AN 5.29). Ketika Ia berbaring.. berdiri.. duduk.. berjalan, Ia mengetahui bahwa dirinya sedang: berbaring.. berdiri.. duduk.. berjalan. Ia mengetahui dengan jelas bagaimanapun tubuhnya berposisi. Ketika hal ini dilakukan dengan rajin, tekun, bersungguh-sungguh, maka ingatan-ingatan dan kehendak-kehendak sehubungan keduniawian menjadi ditinggalkan; dengan ditinggalkannya itu, pikirannya menjadi kokoh ke dalam, tenang, manunggal dan pikirannya menjadi terpusat [ajjhattameva cittaṃ santiṭṭhati, sannisīdati, ekodi hoti, samādhiyati] [MN 119/Kayagati Sutta].

Memperhatikan (sati) apa?
Setelah meninggalkan kerinduan kegundahan dunia, Ia dengan tekun memperhatikan dengan sepenuhnya mengetahui, merenungkan: Jasmani adalah jasmani ..Perasaan adalah perasaan ..Pikiran adalah pikiran .. Dhamma adalah dhamma ..

Mengetahui sepenuhnya apa?
saat: bertindak bolak-balik (abhikkante paṭikkante); melihat ke depan, ke samping (ālokite vilokite); menarik atau merentangkan tangan-kaki (samiñjite pasārite); menggunakan jubah atau pakaian, jubah luar dan mangkuk (saṅghāṭi patta cīvara dhāraṇe); makan (asita), minum (pīta), mengunyah makanan (khāyita), dan mengecap (sāyita); buang air besar (uccāra) dan kencing (passāva); berjalan (gata), berdiri (thita), duduk (nisinna), tidur (sutte), terbangun/terjaga (jāgarite), berbicara (bhāsita), dan tidak berbicara (tuṇhībhāva) [AN 47.2/Satisutta]
    Note:
    ‘Sutte’ (keadaan tidur: di kursi, pembaringan, bersender, duduk, berdiri) dalam perhatiannya dengan sepenuhnya mengetahui itu. ‘Jagarite’ (terjaga: selain tidur, termasuk saat berbaring sakit atau keadaan yang tidak memungkinkan bangkit dari posisi berbaring) dalam perhatiannya dengan sepenuhnya mengetahui itu, jadi, ini bahkan di sebelum membuka mata ketika terjaga. Perhatian untuk mengetahui sepenuhnya ini dilakukan terus menerus tanpa putus, seperti sabda sang Buddha, "yang senantiasa waspada, giat berlatih siang-malam, mengarahkan diri ke nibbana, kekotoran mentalnya akan musnah" [Dhammapada syair no.226]’
Sewaktu berada rajin, tekun, bersungguh-sungguh memperhatikan dengan mengetahui sepenuhnya secara demikian, jika muncul perasaan: menyenangkan atau menyakitkan atau bukan keduanya, dalam dirinya,

Ia mengetahui:
Telah muncul perasaan (menyenangkan atau menyakitkan atau bukan keduanya) dalam diriku. Perasaan itu muncul disebabkan jasmani ini dan jasmani ini tidak kekal, terkondisi dan muncul karena sebab sebabnya. Maka perasaan yang muncul adalah juga tidak kekal, terkondisi dan muncul karena sebab-sebabnya
    Ia merenungkan ketidakkekalan jasmani dan perasaan itu,
    Ia merenungkan kelapukannya (awal - akhir dari jasmani dan perasaan itu),
    Ia merenungkan memudarnya (minat / pencarian / mendapatkan / mempertahankan jasmani dan perasaan: menyenangkan atau bukan menyakitkan bukan menyenangkan atau menolak jasmani dan perasaan: menyakitkan),
    Ia merenungkan melenyapnya (minat/pencarian atau penolakan) jasmani dan perasaan itu,
    Ia merenungkan kejenuhan (minat/pencarian atau penolakan) jasmani dan perasaan itu.
Ketika berada secara demikian, kecenderungan tersembunyi (minat/pencarian atau penolakan) sehubungan dengan jasmani dan perasaan itu menjadi ditinggalkannya

Jika merasakan perasaan (menyenangkan atau menyakitkan atau bukan keduanya), Ia mengetahui: ‘ini: tidak kekal, tidak dilekati, tidak diminati’ (anicca, anajjhosita, anabhinandita)
Jika merasakan perasaan (menyenangkan atau menyakitkan atau bukan keduanya), Ia merasakannya dengan tidak terkait/melekat.

Ketika ia merasakan perasaan yang berujung pada berakhirnya jasmani, Ia mengetahui: Aku merasakan perasaan yang berujung pada berakhirnya jasmani’
Ketika ia merasakan perasaan yang berujung pada berakhirnya kehidupan, ia mengetahui: ‘Aku merasakan perasaan yang berujung pada berakhirnya kehidupan’ Ia mengetahui: ‘Dengan hancurnya jasmani, berujung pada berakhirnya kehidupan, semua yang dirasakan, tidak menarik minatnya (untuk tertarik atau menolak) (anabhinanditāni), akan mendingin di sini'.

Seperti halnya, sebuah lampu minyak menyala yang bergantung pada minyak dan sumbu, dengan habisnya minyak dan sumbu maka lampu itu menjadi padam karena kehabisan minyak [SN 36.7]

Objek Meditasi/Samadhi
Objek/Kammatthana dari Samatha jumlahnya lebih dari 40. Buddhaghosa dari abad ke-5 Masehi-lah yang menyatakan objek/Kammathana berjumlah 40[18] namun di abad ke-19, Mahasi Sayadaw, memperkenalkan tambahan 1 objek lagi yaitu kembang kempisnya perut, Objek ini juga menggunakan "badan dan nafas" sebagai landasannya, sehingga dari sisi ini saja, jumlahnya memang lebih dari 40

Oleh Karena itu, pilih dan tekuni cukup satu objek saja karena apapun objeknya, tujuan dan hasil dari penggunaan objek ini adalah untuk menghancurkan kekotoran mental. Dari sekian banyak objek Samadhi, salah satunya adalah bernafas [ānāpāna: āna/menarik nafas + apāna/mengeluarkan nafas]. Nafas adalah kondisi alami yang dimiliki manusia. Juga, ānāpānasati [perhatian pada nafas yang keluar/masuk] merupakan objek samadhi yang digunakan seluruh SammasamBuddha. Buddha Gotama, selama masa vassa berdiam pada objek ini [SN 54.11/Icchānaṅgala].
    Note:
    Objek bernafas, ini artinya: Indriya (perasa) dan objeknya (udara/tekanan) terjadi pesentuhan (di sekitar hidung, perut atau dada). Persentuhan ini memunculkan kesadaran, ke-3nya (Indra perasa, objek: udara/tekanan dan Kesadaran) disebut kontak (Mengetahui, mengalami sepenuhnya). Kontak memuncukan perasaan (menyenangkan, menyakitkan atau bukan ke-2nya). Apa yang dirasakan itu yang dipikirkan. Apa yang dipikirkan itu berkembang biak dalam pikiran berupa: sumber, persepsi, gagasan dalam bentuk masa lalu (ingatan), sekarang dan masa depan (nafas: panjang, pendek, cepat, lambat, halus, kasar, menyenangkan, menyakitkan, biasa-biasa saja, dll) yang dikenali oleh indera perasa → Pertemuan ke-3nya disebut kontak, dst, dikenali polanya (muncul-lenyap), dipahami bahwa ini terkondisi. Dipahami sepenuhnya bahwa semua yang berkondisi adalah tidak memuaskan, bukanlah landasan untuk digenggam atau dilekati dan munculah pengetahuan pembebasan]

    Ketika sedang menggunakan objek bernafas sebagai landasan perhatian, maka:

    • Jika pikiran berkeliaran (Pikiran apa saja: baik, buruk, indah, jahat, erotis, berguna/tidak), maka jangan senang dengan pikiran baik dan jangan murung dengan pikiran buruk, cukup diketahui, tidak melibatkan diri secara emosi, akal; tidak mengomentari, menyalahkan, menilai maupun memuji dan segera kembalikan perhatian pada gerak napas
    • Jika mendengar suara, hanya dikenali dan segera kembalikan perhatian pada gerak napas
    • Begitu pula dengan bau, rasa, sentuhan: menyenangkan, sakit, gatal, maka cukup diketahui, tidak terlibat dengan menolak atau menerima, meditator, bertahan untuk tidak meladeni dan segera kembalikan perhatian pada gerak napas
    • Bisa juga akan muncul bayangan yang dihasilkan dari ingatan dan khayalan, seperti cahaya, warna, bentuk dan sebagainya. Jangan terpengaruh dengan mengira bahwa inilah kehebatan mental. Ini jauh dari itu, semua ini hanyalah rintangan yang menghambat kemajuan. Waspada terhadap semua bayangan ini tanpa terlibat, segera kembalikan perhatian pada gerak napas

    Seiring dengan waktu, pengulangan perhatian pada napas keluar dan masuk , maka nafas akhirnya menjadi tanpa usaha sama sekali, pada temponya napas bisa menjadi amat lembut dan halus hingga tidak terasa atau bahkan tidak dapat dibedakan apakah itu tarikan atau hembusan nafas. Walaupun demikian, perhatian tetap ditujukan pada gerak napas. Perhatian benar berarti mengamati apapun itu secara apa adanya, tanpa menilai baik/buruknya, sekedar mengawasi, mengenali kemunculannya dan membiarkannya berlalu.

    Secara bertahap pemusatan perhatian pada napas akan bertambah kuat, hanya ada napas dan memperhatikannya, keluar dan masuk napas namun tidak ada pelaku di baliknya. Mungkin saja keadaan ini hanya sebentar dan pikiran berkelana kembali, terasa sulit untuk berkonsentrasi, merasa malas atau ingin tidur, bosan dan gelisah, merasa jemu dengan latihan samadhi. Tidak mengapa, yang diperlukan adalah menumbuhkan kembali kemauan, menetapkan ketekunan, siap bertempur.

    Mengembangkan mental seperti ini bukanlah sesuatu yang dapat dicapai dalam satu malam. Keteraturan dan kesinambungan merupakan aturan yang harus ditaati. Seluruh latihan mental harus dilaksanakan secara wajar dan penuh kewaspadaan; sebab ‘berkobar-kobar saja tanpa kewaspadaan bagaikan berlari-lari di malam yang gelap gulita’. [Beberapa paragraph di atas ini, berasal dari: “Buddhis Meditation”, Piyadassi Thera]

    Sangat dianjurkan untuk tidak percaya begitu saja, selidiki secara empiris [KBBI: EMPIRIS = berdasarkan pengalaman] atau EHIPASSIKO [datang dan alamilah sendiri]
Metode Anapanasati (Perhatian pada objek bernafas)
Metode ini tercantum di: SN 54 (Anapana Samyutta), MN10/Satipatthana sutta, DN.22/Mahāsatipaṭṭhāna Sutta, MN62/Mahārāhulovāda Sutta, MN118/ānāpānasati Sutta, MN119/Kayagatasati Sutta, SN 54.7/MahaKampina Sutta, SN 54.10/Kimbila Sutta dan masih banyak lagi
    Ananda:
    Yang Mulia, apakah 1 hal (ekadhammo) yang, jika dikembangkan dan dilatih (bhāvito bahulīkato), memenuhi 4 hal (cattāro dhamme); dan 4 hal yang, jika dikembangkan dan dilatih, memenuhi 7 hal (satta dhamme); dan 7 hal yang, jika dikembangkan dan dilatih, memenuhi 2 hal (dve dhamme)?”

    Sang Buddha:
    “Pikiran terpusat dengan perhatian pada pernafasan (Ānāpānassati samādhi), Ānanda, adalah 1 hal yang jika dikembangkan dan dilatih, memenuhi 4 Landasan Perhatian (cattāro satipaṭṭhāna).
    4 Landasan Perhatian, jika dikembangkan dan dilatih, memenuhi 7 Faktor Pencerahan (satta bojjhaṅga).
    7 Faktor Pencerahan, jika dikembangkan dan dilatih, memenuhi pengetahuan dan kebebasan (vijjā-vimuttiṃ) [SN 54.13]

    Note:
    1 hal yang dikembangkan adalah mengembangkan anapanasati (perhatian pada nafas), terdiri dari 4 x 4 set landasan perhatian. Sedangkan 4 Landasan perhatian dalam objek nafas adalah:

    • Jasmani/tubuh: yaitu nafas itu sendiri: berupa tarikan dan hembusan
    • Perasaan ketika bernafas,
    • Pikiran ketika bernafas dan
    • HAL (berkondisi, terkondisi, tak terkondisi) atau bentukan-bentukan ketika bernafas.
Bagaimana mengembangkan anapanasati: 4 x 4 = 16 perhatian pada nafas?
Duduk dengan bersila (nisīdati pallaṅkaṃ ābhujitvā), tubuh tegak/lurus (ujuṃ kāyaṃ paṇidhāya), Perhatian ditegakkan ke depan (parimukhaṃ satiṃ upaṭṭhapetvā)
    Note:
    Arti kata mukha: “mulut, wajah, di depan/di hadapan”. Walaupun kata hidung dan bibir dalam bahasa Pali bukanlah mukha (hidung = nāsika, lubang hidung = nāsikasota; bibir = ottha), namun kitab Abhidhamma buku ke-2, Vibhanga 12 (buku ke-2, bagian matika ini dibuat jauh lebih belakangan lagi daripada buku ke-4 dan sebagian buku ke-1 Abhidhamma, yaitu s.d tahun 50 SM) dan Ps 1.3 (dibuat jauh lebih belakangan lagi daripada Vibhanga-nya Abhidhamma, salah satu alasannya karena isinya kerap mengutip Vibhanga), menyatakan bahwa kata “parimukha” maksudnya adalah nāsikagge (ujung hidung) dan/atau parimukhanimitta (kata ini sering diterjemahkan = ujung bibir atas, padahal di banyak sutta sendiri, misal AN 5.193, SN 22.83, MN 77: parimukhanimitta = “bayangan/pantulan wajah”). Dukungan 2 text tersebut menyebabkan banyak yang menterjemahkan “parimukha” sebagai ujung hidung/bibir atas.

    Namun, Di MN 62/MahaRahulavada Sutta, saat Rahula duduk menegakkan perhatian adalah untuk MERENUNGKAN Pancakhanda. Perenungannya ini tidak ada kaitannya dengan ujung atas bibir/mulut, wajah atau ujung hidung. Ia duduk dengan menegakkan perhatian ke arah depan. Juga, di vinaya, Cullavagga, KhuddakaVatthu (V.27.3-6), tentang aturan bulu/rambut, terdapat frase “parimukhaṃ kārāpenti dan parimukhaṃ kārāpetabbaṃ” (yang ditulis tanpa ada kata massu/jenggot). Frase ini diartikan: “bulu dada” dan bukan ”bulu wajah/bibir/hidung”

    Beberapa sutta juga membawa frase “..parimukhaṃ satiṃ upaṭṭhapetvā” yang tidak terkait dengan kegiatan samadhi anapanasati/perhatian pada bernafas (misal: SN 7.18, AN 6.28, MN 62). Penegakkan perhatian adalah ke arah depan. Bahkan, jika ini adalah samadhi dengan objek bernafas sekalipun, maka, perhatian TIDAKLAH ditujukan pada hidung/ujung bibir atas, melainkan HANYA pada NAFAS.

    Jadi frase ini tidak terkait dengan urusan hidung, bibir dan wajah, namun menegakkan perhatian ke arah depan

    Postur duduk idealnya dilakukan dengan kaki bersila (dengan sikap teratai sempurna atau tidak, duduk di lantai dengan alas tebal ataupun tidak atau di atas kursi dengan bersila atau tidak). Saat duduk, tulang belakang dan kepala tegak, seimbang dan lurus namun tidak kaku. Posisi kedua tangan diletakkan lemas di atas pangkuan paha (boleh juga tidak, yang penting dalam keadaan lemas dan nyaman). Mata boleh dipejamkan ataupun tidak, selama hal ini menunjang pemusatan pikiran (karena yang aktif adalah Indra perasa, pikiran ketika bersentuhan dengan objeknya). Badan diupayakan tidak bergerak sekecil apapun.

    Kenyamanan duduk adalah upaya diri untuk menerima kondisi. Perubahan apapun untuk memperbaiki kenyamanan ketika duduk, hanya berhasil untuk sementara, namun posisi itupun lambat laun akan menjadi tidak nyaman pula karena Sabbe sankhāra anicca.. dukkha (semua yang berkondisi adalah tidak kekal dan tidak memuaskan) sehingga kesabaran dalam bertahan sangatlah diperlukan, berusaha untuk membiasakan tubuh menerima posisi tersebut, berusaha untuk tidak bergerak atau merubah posisi sekecil apapun selama waktu yang ditetapkannya

      Note:
      Asava/noda-noda ada yang harus ditinggalkan melalui kesabaran..dengan sabar (adhivāsanāya) bertahan terhadap: dingin-panas, lapar-haus; kontak dengan: lalat, nyamuk, angin, panas matahari, ular-ular; ucapan: kasar dan menghina;perasaan jasmani: menyakitkan, menyiksa, tajam, menusuk, mengerikan, tidak menyenangkan, melemahkan vitalitas. Noda-noda, gangguan/yang menyusahkan dan gejolak/menyebabkan demam, dapat saja muncul pada mereka yang tidak dengan sabar bertahan namun tidak muncul pada mereka yang dengan sabar bertahan. [MN 2/Sabbāsavā sutta, AN 6.58/āsavā sutta]

    Ketika lelah duduk (atau karena perasaan menyakitkan yang tak tertahankan lagi), ini harus dalam perhatiannya dengan diketahui sepenuhnya (bahwa ini bukan karena penolakan atau kemalasan atau perasaan baru yang tak bermanfaat/akusala atau meningkatkan perasaan akusala sebelumnya), setelah menimbang demikian, dalam perhatian dengan sepenuhnya mengetahui: dalam berkehendak, merubah posisi: badan, kaki, lengan dan tangan atau menggosok tangan ke bagian yang penat atau melemaskan otot dengan cara berdiri, berjalan, memutar, berhenti bergerak, saat berjalan kaki menyentuh lantai/tanah, atau saat mata memandang sekitar, dll. Ketika melakukan pergerakan, maka objek nafas TIDAK LAGI DIGUNAKANNYA, perhatian dan objeknya saat itu adalah pada gerakan) dan ini semua dilakukan harus dalam perhatian dengan sepenuhnya mengetahui
4 set ke-1: (tubuh/jasmani)
Dengan perhatian menarik nafas [satova assasati], dengan perhatian mengembuskan nafas [satova passasati]:
  1. mengetahui (pajānāti) nafas panjang/dalam (dīgha):

    ‘Aku mengetahui sedang menarik nafas panjang’; atau
    ‘Aku mengetahui sedang mengembuskan nafas panjang'

  2. mengetahui (pajānāti) nafas pendek (rassa):

    ‘Aku mengetahui sedang menarik nafas pendek’; atau
    ‘Aku mengetahui sedang mengembuskan nafas pendek

    note:
    pajānāti: tahu, mengenali, mengerti, memahami, 'melihat' jelas

  3. Berlatih (sikkhati] merasakan penuh (paṭisaṃvedī) seluruh tubuh nafas (sabbakāya):

    ‘Dengan merasakan sepenuhnya seluruh tubuh nafas, aku menarik nafas';
    ‘Dengan merasakan sepenuhnya seluruh tubuh nafas, aku mengembuskan nafas’

  4. note:
    Dalam SN 54.13 dan MN 118/Ānāpānasati Sutta, di akhir 4 set ke-1 ini, sang Buddha mengatakan: "Aku katakan bahwa ini adalah suatu jenis tertentu tubuh (Kāyaññatarāhaṃ), yaitu: nafas-masuk dan nafas-keluar". Sabbakāya (keseluruhan tubuh nafas): masing-masing terdapat 2 atau 3 fase dalam setiap tarikan atau hembusan nafas, yaitu: (awal - akhir) atau (awal - berlangsungnya - akhir).

    Paṭisaṃvedī: pati (kembali/lagi) + sam (sepenuhnya/kumplit) + vedi/vedeti (menikmati, merasakan, menjalani, melalui, mengalami. Kata "vedi" berhubungan dengan perasaan), jadi patisamvedi: mengalami sepenuhnya perasaan tertentu

    Kata berlatih mengindikasikan ada semacam kesengajaan MENGATUR NAFAS ketika menarik dan menghembuskan nagas. Namun nafas, baik itu sengaja diatur maupun alami, yang diperhatikan tetap seluruh tubuh nafas, diketahui dan dialami sepenuhnya: awal, berlangsung dan berakhirnya

    Kemudian, dalam upaya mencapai 5 faktor Jhana, langkah ke-3 adalah bagian penting untuk mendapatkan cittekaggatā/pemusatan pikiran melalui vitakka (menggenggam objek) dan juga vicara (mempertahankan objek), oleh karenanya, beberapa cara yang sering disampaikan para pengajar untuk menetapkan perhatian pada napas, misalnya dengan cara menghitung:

    • Hitungan ‘satu’ pada saat masuknya napas dan ‘dua’ pada saat napas keluar, mencatat dalam pikiran: ‘satu’ pada akhir masuknya napas dan ‘dua’ pada akhir hembusan dan keluarnya napas dan begitu pula seterusnya. Saat perhatian sudah tertuju pada nafas, hitungan dihentikan, atau
    • dalam satu kesatuan tarikan nafas masuk hingga nafas keluar, ditandai sebagai hitungan: ‘satu’, demikian seterusnya hingga hitungan ke-'lima' dan ulangi dari "satu". Saat perhatian sudah tertuju pada nafas, hitungan dihentikan

    HARUS DIHINDARI

    Cara menghitung akan berakibat membuyarkan lagi perhatian yang akan dan sedang dibentuk melalui latihan merasakan sepenuhnya seluruh tubuh nafas. Cara menghitung MENJADI MENGGANGGU, namun jikapun tetap memaksakan untuk menggunakan hitungan, itu juga tidak mengapa, karena dapat juga dianggap sebagai latihan pembuyaran pikiran-pikiran lain hingga hanya terpusat perhatiannya pada nafas masuk dan nafas keluar saja, yang ketika telah terbiasa, cara menghitung pun dengan sendirinya akan tinggalkan. Namun, cara menghitung, hanya memperpanjang rute atau memperlama proses yang seharusnya dapat ditempuh

  5. Berlatih (sikkhati), menenangnya (Passambhaya) bentukan tubuh nafas (kāyasaṅkhāra):

    ‘dengan menenangnya bentukan tubuh nafas, aku menarik nafas';
    ‘dengan menenangnya bentukan tubuh nafas, aku menghembuskan nafas’

  6. Bagaikan seorang pekerja bubut yang terampil atau muridnya:

    Ketika melakukan putaran panjang, Ia mengetahui: ‘Aku melakukan putaran panjang’; atau
    ketika melakukan putaran pendek, Ia mengetahui : ‘Aku melakukan putaran pendek’;

    Demikian pula, menarik nafas panjang, Ia mengetahui: ‘Aku sedang menarik nafas panjang’.. aku sedang menghembuskan nafas panjang".. pendek.. seluruh tubuh nafas.. dengan menenangnya bentukan tubuh nafas, aku menghembuskan nafas'

    note:
    Passambhaya: tenang, reda, hening, diam, berhenti, lenyap.

    Ada 3 bentukan [sankhāra] dalam konteks samädhi:

    1. Bentukan jasmani/kaya sankhāra: tubuh nafas (Nafas masuk dan keluar). Karena nafas keluar dan masuk terikat dengan jasmani, maka disebut kāyasaṅkhāra
    2. Bentukan ucapan/vaci sankhāra: usaha pikiran menggenggam obyek nafas[vitakka] dan mempertahan objek nafas [vicara] dan kemudian terjadi kegiatan mengungkapkannya [membatin]
    3. Bentukan-kehendak pikiran/citta sankhāra: Sanna/Persepsi dan Vedana/Perasaan. Persepsi dan perasaan menyertai pikiran, kondisi ini terikat dengan pikiran (Saññā ca vedanā ca cetasikā ete dhammā cittapaṭibaddhā). Itulah mengapa persepsi dan perasaan adalah bentukan pikiran (Tasmā saññā ca vedanā ca cittasaṅkhāroti) [MN.44]

      Perasaan, persepsi dan kesadaran, kondisi ini tergabung, bukan terpisah (vedanā yā ca saññā yañca viññāṇaṃ – ime dhammā saṃsaṭṭhā, no visaṃsaṭṭhā). tidak dapat memisahkan kondisi-kondisi ini satu sama lainnya untuk menggambarkan perbedaan antaranya (Na ca labbhā imesaṃ dhammānaṃ vinibbhujitvā vinibbhujitvā nānākaraṇaṃ paññāpetuṃ) Karena apa yang seseorang rasakan, itulah yang dipersepsikannya; dan yang dipersepsikan, itulah yang dikenalinya (Yaṃ hāvuso vedeti taṃ sañjānāti, yaṃ sañjānāti taṃ vijānāti) [MN 43]

    Meditator, ketika menarik nafas, akan mengetahui bahwa ketika nafas ditarik secara perlahan dengan perhatian, tidak berbunyi, nafas itu akan menjadi panjang. Demikian pula ketika menghembus nafas secara perlahan dengan perhatian, tidak perbunyi, nafas dihembuskan menjadi panjang. Karena ini bukan hembusan nafas yang biasa dilakukan, maka sejenak terjadi fase kekurangan oksigen, terjadi keinginan untuk cepat menarik nafas berikutnya (keinginan ini salah satu yang timbul dan tidak harus diikuti), ketika kemudian nafas ditarik, maka tarikan itu menjadi pendek dan ketika dihembuskan akan menjadi pendek. Ini adalah kondisi atau bentukan pada jasmani

      'mengetahui (Pajānāti), mengetahui (Pajānāti),’ teman (avuso), itulah mengapa (tasmā) disebut ‘memiliki kebijaksanaan" (paññavāti vuccati).’ Dan apakah yang diketahui? Ia mengetahui: "ini tidak memuaskan (dukkha)", "ini asalmula (samudayo) tidak memuaskan", "ini lenyapnya (nirodho) tidak memuaskan" dan "ini jalan menuju lenyapnya (nirodhagāminī paṭipadā) tidak memuaskan" [MN.43]

    Ketika telah terbiasa dalam melatih perhatian pada nafas, tidak ada keinginan yang terburu-buru dalam menarik dan menghembuskan nafas, tidak ada perbedaan putaran panjang dan pendek, di suatu saat, bahkan tidak ada perbedaan antara tarikan dan hembuskan nafas, seolah-olah tercampur antara menarik nafas dan mengeluarkan nafas atau bahkan seolah-olah tidak lagi sedang bernafas.

    Kata terampil mengindikasikan ADANYA PENGULANGAN yang cukup. PENGULANGAN tarikan/keluaran nafas panjang kemudian PENDEK yang berulang: dari kasar menjadi halus, mengetahui: dari kasar menjadi halus, merasakan sepenuhnya: dari kasar menjadi halus, dan mereda dalam kehalusan. Seperti seorang yang mulai belajar naik sepeda, permulaan sekali ia akan menggenggam (vitakka) stang dan mempertahankan (vicara) erat sedemikian rupa hingga memahami teknik keseimbangan. Setelah mahir tidak perlu erat menggenggam bahkan dapat melepas stang namun tetap di keseimbangan.

4 set ke-2 (Perasaan):
Memperhatikan perasaan [vedana]:
  1. Berlatih (sikkhati] merasakan penuh (paṭisaṃvedī) gembira (Pīti):

    ’Dengan merasakan sepenuhnya gembira, aku menarik nafas'; atau
    ‘Dengan merasakan sepenuhnya gembira, Aku mengembuskan nafas'

  2. Berlatih (sikkhati] merasakan penuh (paṭisaṃvedī) bahagia (sukha):

    ’Dengan merasakan sepenuhnya bahagia, aku menarik nafas'; atau
    ‘’Dengan merasakan sepenuhnya bahagia, aku mengembuskan nafas'

  3. Berlatih (sikkhati] merasakan penuh (paṭisaṃvedī) bentukan-kehendak pikiran (citta-saṅkhāra):

    ’Dengan merasakan sepenuhnya bentukan-kehendak pikiran, aku menarik nafas'; atau
    ’Dengan merasakan sepenuhnya bentukan-kehendak pikiran, aku mengembuskan nafas'

  4. Berlatih (sikkhati), menenangnya (Passambhaya) bentukan-kehendak pikiran (citta-saṅkhāra):

    ’Dengan menenangnya bentukan-kehendak pikiran, aku menarik nafas'; atau
    ’Dengan menenangnya bentukan-kehendak pikiran, aku mengembuskan nafas

    note:
    Piti = gembira/girang; sukha = bahagia/nikmat; passambhaya = menenangnya. Kemunculan piti dan sukha menunjukan ini telah memasuki jhana ke-1/ke-2.

    Variasi lainnya perenungan perasaan tanpa perhatian pada nafas:

    Seseorang merasakan:

    • perasaan menyenangkan (sukha vedana) atau perasaan jasmani/material yang menyenangkan (sāmisā sukha) atau perasaan non-material yang menyenangkan (nirāmisa sukha) atau
    • perasaan menyakitkan (dukkha vedana) atau perasaan jasmani/material yang menyakitkan (sāmisā dukkha) atau perasaan non-material yang menyakitkan (nirāmisa dukkha) atau
    • perasaan bukan keduanya (adukkhamasukha vedana) atau perasaan jasmani/materi yang bukan keduanya (sāmisā adukkhamasukha) atau perasaan non-material yang bukan keduannya (nirāmisa adukkhamasukha)

    Ia mengetahui sedang merasakan perasaan itu. Ia merenungkan: perasaan adalah perasaan secara internal dan eksternal, munculnya, lenyapnya, muncul-lenyapnya perasaan itu atau memperhatikan “ada perasaan” di dirinya hanya sejauh yang diperlukannya untuk diketahui dan diperhatikannya tanpa bergantung tanpa melekati apapun di dunia ini [DN22 dan MN 10/Satipatthana sutta]

    • Ada 3 jenis perasaan gembira (pīti), dari: tubuh jasmani/material (sāmisā pīti), non-material (nirāmisā pīti), yang melebihi non-material (nirāmisā nirāmisatarā pīti)
    • Ada 3 jenis perasaan bahagia (sukha), dari: tubuh jasmani/material (sāmisaṃ sukha), non-material (nirāmisā sukha), yang melebihi non-material (nirāmisā nirāmisatarā sukha)
    • Ada 3 jenis perasaan tenang-seimbang (upekkhā), dari: tubuh jasmani/material (sāmisaṃ upekkhā), non-material (nirāmisā upekkhā), yang melebihi non-material (nirāmisā nirāmisatarā upekkhā)

    Perasaan Indria/tubuh jasmani/material, baik itu: gembira (sāmisā pīti) atau bahagia (sāmisaṃ sukha) atau tenang-seimbang (sāmisaṃ upekkhā), kemunculannya adalah karena 5 utas kenikmatan indria (pañca kāmaguṇe), yaitu: Bentuk-bentuk yang dapat dikenali mata, … , objek-objek sentuhan yang dapat dikenali badan, yang disukai, indah, menyenangkan, nikmat, memikat indria, menggoda)

    Perasaan gembira non-material (nirāmisā pīti) kemunculannya sehubungan dengan jhana ke-1 dan ke-2; Perasaan bahagia non-material (nirāmisā sukha) kemunculannya sehubungan dengan Jhana ke-1 s.d Jhana ke-3; Perasaan yang tenang-seimbang non-material (nirāmisā upekkhā) kemunculannya sehubungan dengan jhana ke-4

    Perasaan gembira atau bahagia atau tenang-seimbang yang melebihi non material, kemunculannya sehubungan dengan yang noda-nodanya telah dihancurkan, meninjau mentalnya terbebas dari nafsu, kebencian, kekeliruan tahu [SN 36.31]

    Hubungan 5 perasaan (atau juga disebut 5 indriya, ref SN 48.31) dan pencapaian jhana:

    • Indria kesakitan (dukkhindriyaṃ): Kesakitan tubuh (kāyikaṃ dukkhaṃ) dan ketidaknyamanan tubuh (kāyikaṃ asātaṃ). Perasaan sakit tubuh dan tidaknyaman tubuh yang berasal dari kontak jasmani (kāyasamphassajaṃ dukkhaṃ asātaṃ vedayitaṃ) [SN 48.36]

      Di manakah indria kesakitan lenyap tanpa sisa? ..Di Jhana ke-1 [SN 48.39,40]

    • Indria ketidaksenangan (domanassindriyaṃ): Kesakitan mental (cetasikaṃ dukkhaṃ) dan ketidaknyamanan mental (cetasikaṃ asātaṃ). Perasaan sakit mental dan tidak-nyaman mental yang berasal dari kontak pikiran (manosamphassajaṃ dukkhaṃ asātaṃ vedayitaṃ)[SN 48.36]

      Di manakah indria ketidaksenangan lenyap tanpa sisa? ..Di Jhana ke-2 [SN 48.39,40]

      Indria kesakitan dan indria ketidaksenangan harus dilihat sebagai perasaan menyakitkan (dukkhā sā vedanā) [SN 48.37-38]

    • Indria kesenangan (Sukhindriyaṃ): Kesenangan tubuh (kāyikaṃ sukhaṃ) dan kenyamanan tubuh (kāyikaṃ sātaṃ). Perasaan nikmat tubuh dan nyaman tubuh yang berasal dari kontak jasmani (kāyasamphassajaṃ sukhaṃ sātaṃ vedayitaṃ) [SN 48.36]

      Di manakah indria kesenangan lenyap tanpa sisa? ..Di Jhana ke-3 [SN 48.39,40]

    • Indra kegembiraan (somanassindriyaṃ): Kesenangan mental (cetasikaṃ sukhaṃ) dan kenyamanan mental (cetasikaṃ sātaṃ), perasaan senang dan nyaman mental yang berasal dari kontak pikiran (manosamphassajaṃ sukhaṃ sātaṃ vedayitaṃ) [SN 48.36]

      Di manakah indria kegembiraan lenyap tanpa sisa? ..Di Jhana ke-4 [SN 48.39,40]

      Indria kesenangan dan indria kegembiraan harus dilihat sebagai perasaan menyenangkan (sukhā sā vedanā) [SN 48.37-38]

    • Indria keseimbangan (upekkhindriyaṃ): Perasaan tubuh atau mental yang bukan-nyaman juga bukan tidak-nyaman (kāyikaṃ vā cetasikaṃ vā nevasātaṃ nāsātaṃ vedayitaṃ) [SN 48.36]. Indria keseimbangan harus dilihat sebagai perasaan bukan-menyakitkan juga bukan-menyenangkan (adukkhamasukhā sā vedanā) [SN 48.37-38]

      Di manakah indria keseimbangan itu lenyap tanpa sisa? ..di pencapaian “lenyapnya persepsi dan perasaan” (saññāvedayitanirodhaṃ). Di sinilah indria keseimbangan yang telah muncul itu lenyap tanpa sisa [SN 48.39, 40]

        Note:
        Terdapat perbedaan untuk perasan upekkha/netral antara sutta vs Abhidhamma. Menurut Abhidhamma, semua perasaan jasmani yang muncul melalui sensitivitas jasmani (kāyappasāda) hanyalah menyenangkan atau menyakitkan. Tidak ada perasaan netral yang muncul melalui sensitivitas Jasmani [Lihat juga: ini dan ini]. SN 36.19 : ada 2 perasaan: sukhā vedanā, dukkhā vedanā(perasaan nikmat, perasaan menyakitkan) dan tentang adukkhamasukhā vedanā, santasmiṃ esā paṇīte sukhe (perasaan bukan menyakitkan bukan menyenangkan adalah kenikmatan yang damai luhur)

4 set ke-3 (Pikiran):
Memperhatikan pikiran [citta: Indera dalam proses berpikir]:
  1. Berlatih (sikkhati] merasakan penuh (paṭisaṃvedī) pikiran (citta):

    ’Dengan merasakan sepenuhnya pikiran, aku menarik nafas; atau
    ’Dengan merasakan sepenuhnya pikiran, aku menghembuskan nafas'

  2. Berlatih (sikkhati] menggembirakan (abhippamodaya) pikiran (citta):

    ’Dengan bergembiranya pikiran, aku menarik nafas; atau
    ’Dengan bergembiranya pikiran, aku menghembuskan nafas'

  3. Berlatih (sikkhati] memusatkan (samādaha) pikiran (citta):

    ’Dengan memusatnya pikiran, aku menarik nafas; atau
    ’Dengan memusatnya pikiran, aku menghembuskan nafas'

  4. Berlatih (sikkhati] mebebaskan/melonggarkan/melepaskan (vimocaya) pikiran (citta):

    ’Dengan melonggarnya pikiran, aku menarik nafas; atau
    ’Dengan melonggarnya pikiran, aku menghembuskan nafas'

    note:
    abhippamodaya = menggembirakan menyenangkan; samadaha = manunggal, terpusat, terkonsentrasi, menjadi satu; vimocaya = terbebas, terlepas, longgar

    Variasi lain perenungan pikiran tanpa perhatian pada nafas:

    mengetahui (pajānāti):

    • pikiran yang terpengaruh nafsu (sa-rāga) sebagai pikiran yang terpengaruh nafsu dan pikiran yang tidak terpengaruh nafsu (vīta-rāga) sebagai pikiran yang tidak terpengaruh nafsu.
    • pikiran yang terpengaruh kebencian (sa-dosa) sebagai pikiran yang terpengaruh kebencian dan pikiran yang tidak terpengaruh kebencian (vīta-dosa) sebagai pikiran yang tidak terpengaruh kebencian.
    • pikiran yang terpengaruh kebodohan (sa-moha) sebagai pikiran yang terpengaruh kebodohan dan pikiran yang tidak terpengaruh kebodohan (vīta-moha) sebagai pikiran yang tidak terpengaruh kebodohan.
    • pikiran yang tersusun (saṅkhitta) sebagai pikiran yang mengerut dan pikiran yang berserakan/kacau (vikkhitta) sebagai pikiran yang berserakan/kacau
    • pikiran yang luhur (mahaggata) sebagai pikiran yang luhur dan pikiran yang tidak luhur (amahaggata) sebagai pikiran yang tidak luhur
    • pikiran yang melampaui (sauttara) sebagai pikiran yang melampaui dan pikiran yang unggul (anuttaraṃ) sebagai pikiran yang unggul
    • pikiran memperoleh pencapaian (samāhita) sebagai pikiran yang memperoleh pencapaian dan pikiran tidak memperoleh pencapaian (a-samāhita) sebagai pikiran tidak memperoleh pencapaian)
    • pikiran yang terbebaskan (vimutta) sebagai pikiran yang terbebaskan dan pikiran yang tidak terbebaskan (a-vimutta) sebagai pikiran yang tidak terbebaskan

    Demikian ia merenungkan: pikiran adalah pikiran secara internal dan secara eksternal, munculnya, lenyapnya, muncul-lenyapnya di pikiran atau memperhatikan “ada pikiran” dalam dirinya hanya sejauh yang diperlukannya untuk diketahui dan diperhatikan tanpa bergantung tanpa melekati apapun di dunia ini [DN22 dan MN 10/Satipatthana sutta]

4 set ke-4 (Dhamma):
Memperhatikan Dhamma [hal yang berkondisi/terkondisi, tak terkondisi dan/atau bentukan-bentukan pikiran, ucapan, perbuatan yang muncul melalui kehendak, objek dari Indera pikiran]:
  1. Berlatih (sikkhati] merenungkan (anupassī) ketidakkekalan (anicca: adanya awal dan akhir):

    ’Dengan merenungkan ketidak-kekalan, aku menarik nafas; atau
    ’Dengan merenungkan ketidak-kekalan, aku menghembuskan nafas'

  2. Berlatih (sikkhati] merenungkan (anupassī) memudarnya (virāga: fase berkurangnya minat/pencarian atau mendapatkan, mempertahankan atau menolak):

    ’Dengan merenungkan pemudaran, aku menarik nafas; atau
    ’Dengan merenungkan pemudaran, aku menghembuskan nafas'

  3. Berlatih (sikkhati] merenungkan (anupassī) ke-lenyap-an (nirodha: fase meningkatnya pengurangan minat/pencarian atau mendapatkan, mempertahankan atau menolak):

    ’Dengan merenungkan ke-lenyap-an, aku menarik nafas; atau
    ’Dengan merenungkan ke-lenyap-an, aku menghembuskan nafas'

  4. Berlatih (sikkhati] merenungkan (anupassī) pe-lepas-an/peng-abai-an/ketiadaan minat (paṭinissagga: kejenuhan dalam minat/pencarian atau mendapatkan, mempertahankan atau menolak):

    ’Dengan merenungkan pengabaian, aku menarik nafas; atau
    ’Dengan merenungkan pengabaian, aku menghembuskan nafas'

  5. Dalam MN 62/Maharahulovada Sutta, diakhir set ke-4 terdapat kalimat:
    "Ketika perhatian pada pernafasan dikembangkan dan dilatih dengan cara ini, maka bahkan nafas masuk dan nafas keluar terakhir dapat diketahui pada saat lenyapnya, bukan tidak diketahui"

Bagaimana terpenuhinya 4 landasan perhatian melalui mengembangkan dan melatih anapanasati? Di MN 118 dan SN 54.13, disampaikan:
  1. Setelah meninggalkan kerinduan kegundahan dunia, kapan pun, set ke-1 , yang terdiri dari 4 langkah dilakukan, saat itu, melalui suatu jenis tertentu dari tubuh (Kāyaññatarāhaṃ), yaitu nafas masuk dan keluar, Ia berada tekun memperhatikan dengan mengetahui sepenuhnya merenungkan jasmani adalah jasmani [SN 54.13]

    Sang Buddha: Rāhula, segala jenis materi apakah di masa lampau, di masa depan, atau di masa sekarang, masuk atau keluar, kasar atau halus, hina atau mulia, jauh atau dekat, semua materi harus dilihat sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar (yathābhūtaṃ sammappaññāya daṭṭhabba):

    Ini bukan milik-KU [Netaṁ mama],
    ini bukan AKU [nesoham-asmi],
    ini bukan diri-KU [na meso attā ti].

    Rahula: Hanya materi [rupa], Sang Bhagavā? Hanya materi, Yang Sempurna?

    Sang Buddha: materi [rupa], perasaan [vedanā], persepsi/ingatan [saññā], bentukan-bentukan [saṅkhārā], dan kesadaran [viññāṇa].” [= Pancakhanda].. [MN 62]

  2. Setelah meninggalkan kerinduan kegundahan dunia, kapan pun, set ke-2 yang terdiri dari 4 langkah dilakukan, saat itu, melalui suatu jenis tertentu dari perasaan (Vedanāññatarāhaṃ), Ia memperhatikan secara seksama nafas masuk dan berakhir keluar (assāsapassāsānaṃ sādhukaṃ manasikāraṃ), Ia berada tekun memperhatikan dengan mengetahui sepenuhnya merenungkan perasaan adalah perasan

  3. Setelah meninggalkan kerinduan kegundahan dunia, kapan pun, set ke-3, yang terdiri dari 4 langkah, dilakukan, maka saat itu, Ia berada tekun memperhatikan dengan mengetahui sepenuhnya merenungkan pikiran adalah pikiran (citte cittānupassī), karena tidak ada pengembangan pikiran terpusat melalui perhatian pada pernafasan bagi seseorang yang pehatiannya kacau dan tidak sepenuhnya mengetahui (muṭṭhassatissa asampajānassa ānāpānassatisamādhibhāvanaṃ)

  4. Setelah meninggalkan kerinduan kegundahan dunia, kapan pun, set ke-4, yang terdiri dari 4 langkah, dilakukan, maka saat itu, Ia dengan kebijaksanaan secara seksama melihat dalam keseimbangan
Ketika pikiran terpusat melalui perhatian pada pernafasan dikembangkan dan dilatih dengan cara ini, maka 4 Landasan Perhatian terpenuhi

Bagaimana terpenuhinya 7 faktor pencerahan melalui mengembangkan dan melatih 4 landasan perhatian? Di MN 118 dan SN 54.13, disampaikan:
  1. Sewaktu, Ia merenungkan jasmani adalalah jasmani, ..perasaan adalah perasaan,.. pikiran adalah pikiran, .. Dhamma adalah Dhamma, maka saat itu, perhatian yang tidak kacau muncul dalam dirinya, saat itu, faktor pencerahan perhatian (satisambojjhaṅga) dibangkitkannya; dikembangkannya; Faktor pencerahan perhatian terpenuhi melalui pengembangan dalam dirinya

  2. Sewaktu, Ia dengan penuh perhatian demikian, melalui kebijaksanaan membedakan Dhamma, memeriksanya, menyelidikinya, maka saat itu, faktor pencerahan pembedaan kondisi-kondisi (dhammavicayasambojjhaṅga) dibangkitkannya; dikembangkanya; Faktor pencerahan pembedaan kondisi-kondisi terpenuhi melalui pengembangan dalam dirinya.

  3. Sewaktu, Ia melalui kebijaksanaan membedakan Dhamma, memeriksanya, menyelidikinya, maka, kegigihannya dibangkitkan tanpa mengendur, Saat itu faktor pencerahan kegigihan (vīriyasambojjhaṅga) dibangkitkannya; dikemabangkan; Faktor pencerahan kegigihan terpenuhi melalui pengembangan dalam dirinya

  4. Sewaktu, Ia membangkitkan kegigihan, muncul perasaan gembira (pīti) yang bebas hasrat sensual (nirāmisā). Maka saat itu faktor pencerahan kegembiraan (pītisambojjhaṅga) dibangkitkannya; dikembangkanya. Faktor pencerahan kegembiraan terpenuhi melalui pengembangan dalam dirinya

  5. Seorang dengan pikiran yang diliputi kegembiraan, tubuh dan pikirannya menjadi tenang (kāyopi passambhati, cittampi passambhati), maka saat itu faktor pencerahan ketenangan (passaddhisambojjhaṅga) dibangkitkannya, dikembangkannya, Faktor pencerahan ketenangan terpenuhi melalui pengembangan dalam dirinya

  6. Seseorang dengan tubuh tenang dan pikiran bahagia, pikirannya menjadi terpusat (Passaddhakāyassa sukhino cittaṃ samādhiyati), maka saat itu faktor pencerahan pikiran terpusat (samādhisambojjhaṅga) dibangkitkannya; dikembangkannya. Faktor pencerahan pikiran terpusat terpenuhi melalui pengembangan dalam dirinya

  7. Seorang dengan pikiran terpusat demikian, secara seksama melihat dalam keseimbangan (So tathāsamāhitaṃ cittaṃ sādhukaṃ ajjhupekkhitā hoti). Maka, saat itu, faktor pencerahan keseimbangan (upekkhāsambojjhaṅga) dibangkitkannya; dikembangkannya. Faktor pencerahan keseimbangan terpenuhi melalui pengembangan dalam dirinya
Bagaimana terpenuhinya pengetahuan dan kebebasan melalui mengembangkan dan melatih 7 faktor pencerahan? Di MN 118 dan SN 54.13, disampaikan:
    Seorang yang mengembangkan 7 faktor pencerahan, maka, saat itu, Ia bersandar pada: keterasingan, kejenuhan, kelenyapan, siap dalam melepas (vivekanissitaṃ virāganissitaṃ nirodhanissitaṃ vossaggapariṇāmiṃ)

5 RINTANGAN (PANCANIVARANA)
Ada 5 rintangan [nivarana] yang muncul ketika berupaya membangun pemusatan pikiran. Berikut ini adalah yang tercantum dalam TEVIJJA SUTTA (dan DN 2/Samanaphala sutta):
    Setelah menjalani kehidupan yang terkendali dengan pengendalian lewat aturan-aturan (pātimokkha saṃvara saṃvuto viharati), mempertahankan perilaku benar (ācāra gocara sampanno), melihat bahaya dalam kesalahan terkecil (aṇumattesu vajjesu bhayadassāvī), melatih diri dalam latihan (samādāya sikkhati sikkhāpadesu) perbuatan jasmani dan ucapan yang penuh manfaat (kāyakamma vacīkammena samannāgato kusalena), berpenghidupan murni (parisuddhājīvo), sempurna dalam moralitas (sīlasampanno), menjaga indria-indriya (indriyesu guttadvāro), dalam perhatian dengan mengetahui sepenuhnya (satisampajaññena samannāgato) berpuas diri (santuṭṭho)

    Ia memilih tempat-tempat sunyi, duduk bersila dengan badan tegak lurus dan perhatian ditegakkan ke depan… Dengan menyingkirkan, rintangan:

    1. keinginan duniawi (abhijjha = kamacchanda = lobha), Pikirannya bebas dari keinginan duniawi, Ia membersihkan pikiran dari keinginan duniawi
    2. permusuhan/kemarahan/penolakan/kebencian (Byāpādapadosa = Byapada), Pikirannya bebas dari permusuhan (abyāpannacitto), dengan pikiran bersahabat penuh kasih pada semua makhluk, semua yang hidup, ia membersihkan pilkiran dari permusuhan
    3. kemalasan (thina) - kelambanan/ngantuk (middha), pikirannya bebas dari malas-lamban; dengan memusatkan perhatian pada āloka-saññi (persepsi penglihatan), Ia membersihkan pikiran dari kemalasan dan kelambanan.

      note:
      āloka = melihat, penglihatan, pandangan, pemandangan, cahaya; anāloka = buta; saññi = persepsi

      Nasehat Sang Buddha kepada Mahamoggalana tentang mengatasi kantuk, “jika engkau tak dapat meninggalkan kantukmu dengan cara demikian, maka engkau harus memperhatikan persepsi penglihatan (ālokasañña); engkau harus mempersepsikan siang hari (divāsañña) sebagai berikut: ‘Seperti halnya siang, demikian pula malam; seperti halnya malam, demikian pula siang.’ Demikianlah, dengan pikiran terbuka dan tidak tertutup, engkau harus mengembangkan pikiran yang dipenuhi dengan kecemerlangan (sappabhāsa: “kecemerlangan pikiran dapat dikotori oleh kotoran dari luar”, AN 1.51-52). Dengan cara demikian, adalah mungkin bahwa kantukmu akan ditinggalkan” [AN 7.61]. Namun rupanya kitab komentar menyampaikan secara literal: Saat mengantuk agar memperhatikan cahaya (bintang/lilin/bulan). Ini pendapat yang bermasalah, karena samadhi di jaman itupun, dilakukan dalam ruangan tertutup yang gelap tanpa cahaya, sehingga maksudnya JELAS BUKANLAH persepsi cahaya, namun persepsi yang jelas dalam hal: materi (4 bhuta), perasaan, persepsi, sankhāra, kesadaran

      Di MN 128/Upakilesa Sutta dan AN 8.64/Gayasisasutta, sang Buddha menyampaikan kepada mereka yang ingin mendapatkan pengetahuan penglihatan (ñāṇadassana) tentang landasan perenungan (anussatiṭṭhānānī): “pencerapan kejelasan penampakan bentuk-bentuk” (obhāsañceva sañjānāmi dassanañca rūpānaṃ).

      Arti kata obhāsa: “cahaya, jelas”. Misalnya untuk arti “jelas”: “telah diberikan isyarat yang nyata oleh Sang Bhagavā, walaupun ia diberikan petunjuk yang jelas (bhagavatā oḷārike nimitte kayiramāne oḷārike obhāse kayiramāne nāsakkhi paṭivijjhituṃ, SN 51.10/Ud 6.1/AN 8.70/DN 16)

      ”Pencerapan kejelasan dan penampakan bentuk” dapat jatuh karena keterpusatan pikiran jatuh. Keterpusatan pikiran jatuh karena: keragu-raguan (vicikicchā), kurang memperhatikan/lengah (amanasikāro), malas-lamban (thinamiddha), ketakutan (chambhitatta), menggelembung/kegirangan (uppila), cabul (duṭṭhulla), gigih yang berlebihan (accāraddhavīriya), kurang gigih (atilīnavīriya), mengharapkan/rindu (abhijappā), persepsi keberagaman (nānattasaññā) dan samadhi berlebihan pada bentuk-bentuk (atinij-jhāyitattaṃ rūpānaṃ)

    4. kegelisahan (Uddhacca) dan kekhawatiran (kukkucca), pikirannya bebas dari kekacauan (anuddhato); pikirannya tenang ke dalam (ajjhattaṃ vūpasantacitto), Ia membersihkan pikiran dari kegelisahan dan kekhawatiran.
    5. keragu-raguan (vicikiccha), pikirannya bebas dari keraguan; tanpa ragu pada hal yang bermanfaat (akathaṅkathī kusalesu dhammesu), Ia membersihkan pikiran dari keragu-raguan'.

    'Vasettha, seperti seseorang yang berhutang untuk berdagang, setelah berhasil, bukan saja ia mampu membayar hutangnya, namun masih ada kelebihan untuk merawat istrinya. Ia berpikir: "Dulu aku berhutang dan berdagang sampai berhasil, kini bukan saja aku dapat membayar hutangku, tetapi masih ada kelebihan untuk merawat istriku".

    Karenanya ia bersukacita, menjadi lega (labhetha pāmojjaṃ, adhigaccheyya somanassaṃ)'.

    'Vasettha, seperti seorang yang sakit, menderita, amat parah, tak dapat makan, sehingga badannya lemah; namun setelah sembuh, dapat makan, sehingga badannya pulih. Ia berpikir: 'Dulu aku sakit, menderita, amat parah, tak dapat makan, badanku lemah, namun kini aku telah sembuh, dapat makan sehingga badanku pulih'.

    Karenanya ia bersukacita, menjadi lega'.

    'Vasettha, seperti seorang yang dipenjara, kemudian bebas dari penjara, aman dan sehat, barang-barangnya tak ada yang dirampas. Ia berpikir: 'Dulu aku dipenjara, kini aku telah bebas dari penjara, aman dan sehat, barang-barangku tak ada yang dirampas'.

    Karenanya ia bersukacita, menjadi lega'

    'Vasettha, seperti seseorang yang menjadi budak, bukan tuan dirinya sendiri, tunduk pada orang lain, tak dapat pergi ke mana ia suka; Kemudian ia bebas dari perbudakan, menjadi tuan dirinya sendiri, tak tunduk pada orang lain, bebas pergi ke mana ia suka. Ia berpikir: 'Dulu aku seorang budak, bukan tuan diriku sendiri, tunduk pada orang lain, tak dapat pergi ke mana aku suka; kini aku telah bebas dari perbudakan, menjadi tuan diriku sendiri, tak tunduk pada orang lain, bebas pergi ke mana aku suka'.

    Karenanya ia bersukacita, menjadi lega'.

    'Vasettha, seperti seorang yang membawa kekayaan dan barang, melakukan perjalanan di padang pasir, di mana tak ada makanan selain banyak bahaya; kemudian Ia berhasil keluar dari padang pasir selamat tiba di perbatasan desanya, suatu tempat yang aman, tak ada bahaya. Ia berpikir: 'Dulu, dengan membawa kekayaan dan barang, aku melakukan perjalanan di padang pasir, di mana tak ada makanan selain banyak bahaya; kini aku telah keluar dari padang pasir itu, selamat tiba di perbatasan desaku, suatu tempat yang aman, tak ada bahaya'.

    Karenanya ia bersukacita, menjadi riang'.

    'Vasettha, demikianlah selama 5 rintangan (panca nivarana) belum disingkirkan, seorang bhikkhu merasakan seperti seorang yang sedang berhutang, terserang penyakit, dipenjara, menjadi budak, melakukan perjalanan di padang pasir. Vasettha, tetapi setelah 5 rintangan disingkirkan, maka seorang bhikkhu merasakan seperti orang yang telah bebas dari hutang, penyakit, penjara, perbudakan, sampai di tempat yang aman.

    'Apabila ia tahu (samanupassato) 5 rintangan telah disingkirkannya:

    1. memperoleh sukacita (pāmojjaṃ jāyati),
    2. lega/sukacita menimbukan girang (pamuditassa pīti jāyati),
    3. pikiran girang membuat tubuh nyaman (pītimanassa kāyo passambhati),
    4. tubuh nyaman nikmat dirasakan (passaddhakāyo sukhaṃ vedeti),
    5. dalam pikiran nikmat pikirannya terpusat (sukhino cittaṃ samādhiyati).

    Kemudian, setelah lepas dari kenikmatan indria yang tak bermanfaat, (melalui pemusatan pikiran) dengan: menggenggam dan mempertahankan (objek tertentu: agar dapat meninggalkan 5 nivarana). Dari meninggalkan/melepas itu merasakan girang-nikmat (pīti-sukha), Keberadaan jhana ke-1 dicapai. Piti-sukha yang muncul dari melepas ini memenuhi, menggenangi, meresapi seluruh tubuhnya. Tak ada satu bagian tubuhnya yang tak diliputi perasaan girang-nikmat yang muncul dari melepas itu.

      Note:
      samadhinimitta berupa Jhana, tidak serta merta mereda setelah keluar dari keadaan samadhi. Keadaan tersebut masih dirasakannya dibeberapa waktu lamanya: "..Di malam hari, ketika seorang bhikkhu terhormat telah keluar dari keterasingan dan sedang duduk bersila di bawah keteduhan tempat kediamannya, menegakkan tubuh, setelah menegakkan perhatian di depannya, gambaran pikiran terpusat (samadhinimitta) yang ia perhatikan selama siang hari masih ada padanya.." [AN 6.28/dutiyasamaya sutta]

    'Kemudian pikiran yang disertai cinta kasih (mettā. Metta = abhyapada = tidak ada permusuhan/penolakan (AN 6.13), karena perasaan tubuh yang menyakitkan dan tidak nyaman yang berasal dari kontak jasmani, lenyap di jhana ke-1) dipancarkan ke satu arah, kemudian ke: 2 arah, 3 arah dan 4 arah, demikian ke: atas, bawah, bulak-balik, ke mana saja, pada mahluk alam apapun, pikirannya yang disertai cinta kasih dipancarkannya: berlimpah, luhur, tak berbatas, lembut, tanpa halangrintang

    'Vasettha, bagaikan seorang peniup trompet besar memperdengarkan suara tanpa kesulitan ke semua arah; begitu pula semua bentuk dan berbagai ukuran makhluk, tanpa terkecuali, dengan memperhatikan mereka semua dikembangkannya pikiran yang bebas dan penuh cinta kasih'.

    'Vasettha, inilah jalan bersatu dengan Brahma'.

    "Kemudian dalam pikiran yang diliputi welas asih (karuṇā = avihesā = tidak adanya kekejaman/tidak ada keinginan mencelakakan karena perasaan mental yang menyakitkan dan tidak-nyaman yang berasal dari kontak pikiran, lenyap di jhana ke-2) ... dikembangkannya pikiran yang bebas dan penuh welas asih' ... 'Vasettha, inilah jalan bersatu dengan Brahma'.

    ...simpati (muditā = rati = nyaman dan puas, karena di samping sebelumnya, seluruh perasaan tubuh dan mental yang menyakitkan yang berasal dari kontak jasmani dan pikiran telah lenyap, sekarang bahkan perasaan tubuh yang menyenangkan dan nyaman yang berasal dari kontak jasmani pun lenyap di jhana ke-3) ... dikembangkannya pikiran yang bebas dan penuh simpati' ... 'Vasettha, inilah jalan bersatu dengan Brahma'.

    ...tenang seimbang (upekkhā = a-raga = tanpa nafsu. karena seluruh perasaan tubuh dan mental yang menyakitkan dan menyenangkan yang berasal dari kontak jasmani dan kontak pikiran, lenyap di jhana ke-4) ... dikembangkannya pikiran yang bebas dan penuh tenang seimbang' ... 'Vasettha, inilah jalan bersatu dengan Brahma'. [..] []
---------------

JHANA ke-1 s.d ke-9

Kesempurnaan atau hasil samädhi ditandai dengan tercapainya jhana. Sang Buddha menyamakan pencapaian jhana dalam makna sementara, sebagai: seorang saksi tubuh (AN 9.43) atau terbebaskan melalui kebijaksanaan (AN 9.44) atau terbebaskan dalam kedua aspek (AN 9.45) atau dhamma yang terlihat langsung (AN 9.46) atau nibbāna yang terlihat langsung (AN 9.47) atau nibbāna (AN 9.48) atau parinibbana (AN 9.49) atau nibbāna dalam aspek tertentu (AN 9.50) atau nibbāna dalam kehidupan ini (AN 9.51) dan banyak lagi dalam makna sementara.

Dalam AN 9.35/Gavi Sutta, sang buddha mengingatkan agar MENGUASAI dengan baik setiap pencapaian samadhi SEBELUM berlanjut kepencapaian berikutnya melalui perumpamaan sapi gunung yang bodoh, tidak berpengalaman, tidak terbiasa dengan padang rumputnya, tidak pula terampil menjelajah pegunungan terjal namun pergi ke daerah yang tak dikenal dan tak pernah didatanginya untuk mencoba rumput dan air yang tak pernah ia makan dan minum sebelumnya, sehingga ketika melangkah, Ia tidak dapat meletakan kakinya dengan baik dan membuatnya tak dapat maju maupun kembali

Pencapaian jhana bukan monopoli ajaran Buddha.
Sebelum mencapai pencerahan, Sidhartha Gotama belajar samadhi pada beberapa guru (visvamitta/sabbamitta, Alara Kalama, Uddaka ramaputta), oleh karennya, tahu cara mencapai alam rupa dan arupa. Dikehidupan lampunya-pun, beliau melatih Jhana.
    Di jaman lampau yang berbeda, terdapat 7 guru (Sunetta, Mūgapakkha, Aranemi, Kuddālaka, Hatthipala, Jotipāla dan Araka) yang bebas nafsu indriawi dan mengajarkan pada banyak muridnya cara terlahir di alam Brahma. [AN 6.54/Dhammika Sutta, AN 7.66/Satasuriya sutta, AN 7.73/Suneta Sutta, AN 7.74/Araka Sutta]

    Para murid yang memahami ajaran, setelah kematian terlahir di ALAM Brahma. Beberapa yang tidak memahami penuh, terlahir di alam paranimmitavasavattīnaṃ.. nimmānaratīnaṃ.. tusitānaṃ.. yāmānaṃ.. tāvatiṃsānaṃ.. cātumahārājikānaṃ.. sebagai Ksatria, Brahma dan perumah tangga [AN 7.66]. Mereka yang tidak memahami dan tidak menjalankan ajaran dan mempunyai keyakinan pada ajaran gurunya, muncul di keadaan sengsara/merugi menderita menuju kehancuran bahkan neraka [AN 6.54, AN 7.73, AN 7.74].

    Guru-guru ini berpikir tidak pantas jika mereka terlahir di alam yang sama juga dengan para muridnya, oleh karenanya, mereka mengembangkan pikiran penuh metta selama 7 tahun. Setelah wafat, selama 7 kalpa menyusut dan mengembang, tidak pernah kembali ke alam ini. Bila kappa menyusut, muncul di alam brahma ābhassara. Ketika kappa mengembang, muncul di alam brahma yang kosong [suññaṃ brahmavimānaṃ] menjadi Brahma yang agung/mahābrahmā, 36 x menjadi Sakka, raja para dewa. Ratusan kali terlahir sebagai Raja dunia/cakkavattī dhammiko dhammarājā

    Walaupun guru-guru ini hidup panjang namun tidak terbebas dari kelahiran, pelakukan, kematian, duka, lara, ketidakpuasan dan penderitaan karena mereka tidak menjalankan moralitas, samädhi, kebijaksanaan dan pembebasan yang mulia [AN 7.66]
Jhana ke-1,
Harus secara total melepas: Persepsi dan perhatian pada sensualitas (kāmasahagatā saññāmanasikārā). Karena pikiran akan masih melekat atau teralihkan ketika berusaha untuk mencapainya, maka sang Buddha mengingatkan agar pikiran: dikokohkan, mengarah ke satu hal dan terpusat (Cittham: saṇṭhapehi, ekodiṃ karohi, samādahā) [SN 40.1/Paṭhamajhānapañhā sutta]

Deskripsi Jhana ke-1 (juga akan menjadi alam kelahiran berikutnya, jika kondisi cuti citta (pikiran menjelang kematian)-nya di jhana ke-1):

Ia memilih tempat-tempat sunyi, duduk bersila dengan badan tegak lurus dan perhatian ditegakkan ke depan. Setelah melepaskan 5 rintangan (5 nivarana) dan/atau cukup terasing dari kenikmatan indria, terasing dari hal yang tak bermanfaat (vivicceva kāmehi vivicca akusalehi dhammehi ):
    (melalui pemusatan pikiran) dengan: menggenggam dan mempertahankan (objek tertentu: agar 5 nivarana dapat ditinggalkan/dilepaskan) (savitakka savicāra) dari meninggalkan/melepas itu merasakan pīti-sukha (vivekajaṃ pītisukhaṃ), Keberadaan jhana ke-1 dicapai (paṭhamaṃ jhānaṃ upasampajja viharati) [MN 111/Anupadasutta, AN 4.123, AN 9.31, 32, 33, 35, 36]

    atau

    (Dalam dirinya) muncul sukacita (pāmojjaṃ jāyati), sukacita menimbukan kegirangan (pamuditassa pīti jāyati), pikiran girang membuat tubuh nyaman (pītimanassa kāyo passambhati), tubuh nyaman nikmat dirasakannya (passaddhakāyo sukhaṃ vedeti), dalam pikiran yang nikmat, terpusat pikirannya (sukhino cittaṃ samādhiyati: artinya masuk jhana ke-1)

    Pikiran yang disertai cinta kasih (mettāsahagatena cetasā. Metta = abhyapada = tidak ada permusuhan/penolakan (AN 6.13) karena perasaan tubuh yang menyakitkan dan tidaknyaman yang berasal dari kontak jasmani, lenyap (SN 48.36)) dipancarkan ke satu arah (ekaṃ disaṃ pharitvā viharati) kemudian ke: 2 arah, 3 arah dan 4 arah (tathā dutiyaṃ tathā tatiyaṃ tathā catutthiṃ), demikian ke: atas, bawah, bulak-balik, ke mana saja, pada mahluk alam apapun (termasuk dirinya) (iti uddhamadho tiriyaṃ sabbadhi sabbattatāya sabbāvantaṃ lokaṃ) pikirannya yang disertai cinta kasih dipancarkannya: berlimpah, luhur, tak berbatas, lembut, tanpa halangrintang (mettāsahagatena cetasā vipulena mahaggatena appamāṇena averena abyāpajjhena pharitvā viharati) [AN 4.125/Metta sutta DN 13/Tevijja sutta, DN13: Kesempurnaan pancaran metta terjadi setelah tercapainya jhana ke-1].
Perasaan piti-sukha memenuhi, menggenangi, meresapi seluruh tubuhnya. Tak ada satu bagian dari tubuhnya yang tidak diliputi perasaan girang-nikmat yang muncul dari pelepasan itu.

‘Bagaikan seorang petugas pemandian yang terampil atau pembantunya, mengadon bubuk-sabun yang telah dibasahi air, membentuknya dalam sebuah piringan logam, menjadi bongkahan lunak, sehingga bola bubuk-sabun itu menjadi satu bongkahan berminyak, terekat oleh minyak sehingga tak ada yang berserakan—demikian pula piti-sukha meliputi, basah seluruhnya, mengisi dan memenuhi tubuhnya sehingga tak ada bagian tubuhnya yang tak tersentuh..' [DN 2, 9, 13; MN 39, 77, 119].
    Ilustrasi bedanya pīti vs sukha:
    Seseorang di padang pasir, kehabisan air, dilanda haus, lemah dan pegal. Ketika berjalan tertatih-tatih, dari kejauhan dilihatnya Oasis [sumber mata air]. Sejak melihat hingga yakin itu adalah oasis, perasaan girang yang muncul terus menguat, rasa haus dan payahnya teralihkan, Ia bersemangat ke Oasis. Keadaan ini menyerupai PITI. Ketika Ia minum airnya, muncul rasa nikmat. Keadaan ini menyerupai SUKHA

    Seseorang di kemacetan lalulintas dilanda keinginan buang air yang hebat. Saat itu, Pikirannya terpusat pada kakus. Ketika menemukannya, muncul perasaan girang. Ini menyerupai Piti, Nikmatnya membuang hajat/kencing menyerupai sukha
"Ia menikmati, meminati dan karenanya menemukan kebahagiaan. Kemudian mengakar menjadi kebiasaan kerap didalamnya tanpa alpa selalu melakukannya. Ia terlahir di antara Deva Brahmakayika dengan batasan kehidupan 1 kappa" (So tadassādeti taṃ nikāmeti tena ca vittiṃ āpajjati. Tattha ṭhito tadadhimutto tabbahulavihārī aparihīno kālaṃ kurumāno. brahmakāyikānaṃ devānaṃ sahavyataṃ upapajjati. Brahmakāyikānaṃ bhikkhave devānaṃ kappo āyuppamāṇaṃ) [AN 4.123, 125][alam ↑]

Saat mencapai Jhana ke-1:
Ia meninggalkan 5 rintangan/nivarana dan meraih 5 faktor jhana diraih (MN 43). Keadaan ini disebut berada di luar jangkauan Mara (MN 25, AN 9.39).
    5 rintangan:
    Kamacchanda/keinginan Indriya (Kama: sensualitas Indriya. Chanda: terangsang, kehendak, hasrat untuk);
    byapada (kehendak buruk, penolakan, benci, permusuhan);
    Thina-middha (kelambanan-kemalasan/ngantuk);
    Uddhacca-kukkucca (kegelisahan-kecemasan) dan
    Vicikiccha (keragu-raguan)

    5 Faktor Jhana:
    Vitakka (pikiran menggenggam/mengarahkan pikiran pada objek);
    Vicāra (pikiran mempertahankan objek/mempertahankan pikiran pada objek);
    Pīti (gembira/girang/tergiur) → masuk dalam sankhāra khanda;
    Sukha (bahagia/nikmat) → masuk dalam vedana khanda;
    Pikiran terpusat (cittekaggatā) [MN 111/Anupadasutta, AN 9.31, 32, 33, 35, 36]
Lenyap tanpa sisanya dukkhindriyam/Indria kesakitan: Perasaan tubuh yang menyakitkan dan tidak nyaman yang berasal dari kontak jasmani (kāyasamphassajaṃ dukkhaṃ asātaṃ vedayitaṃ) [SN 48.36, 39, 40]

Lenyapnya persepsi Indriya/kamasanna niruddha (DN 9, AN 9.31). Lenyapnya "bicara" [vaca niruddha] (SN 36.11, SN 36.15). Oleh karenanya, kebisingan adalah duri (saddo kaṇṭako) bagi jhāna ke-1 (AN 10.72)

Lenyap tanpa sisanya kehendak-kehendak YANG TIDAK bermanfaat/akusalānaṃ saṅkappānaṃ, yaitu kehendak: keinginan indria, kehendak buruk/permusuhan/penolakan, dan kehendak kekejaman.
    Dan dari manakah kehendak-kehendak YANG TIDAK bermanfaat ini berasal-mula?
    Kehendak-kehendak YANG TIDAK bermanfaat ini harus dikatakan bermula dari persepsi. Persepsi apakah?.. persepsi keinginan indria, persepsi kehendak buruk/permusuhan, dan persepsi kekejaman.

    Dan dimanakah kehendak-kehendak YANG TIDAK bermanfaat ini lenyap tanpa sisa?.. jhana ke-1.. [MN 78]

    Tanpa meninggalkan/melenyapkan 6 Hal, seseorang tidak akan mencapai Jhana ke-1, yaitu: Pikiran indriawi (Kāmavitakka), pikiran buruk (byāpādavitak-ka), pikiran kejam/mencelakai (vihiṃsāvitakka), persepsi indriawi (kāmasañña), persepsi buruk (byāpādasañña), dan persepsi mencelakai (vihiṃsāsañña) [AN 6.74]
Mengapa mettā dikaitkan dengan keadaan Jhana ke-1?

Kesakitan tubuh (kāyikaṃ dukkhaṃ) dan ketidaknyamanan tubuh (kāyikaṃ asātaṃ), perasaan sakit dan tidaknyaman dari kontak jasmani (kāyasamphassajaṃ dukkhaṃ asātaṃ vedayitaṃ) [SN 48.36] lenyap di keadaan itu, sehingga tidak mungkin kehendak buruk/penolakan/permusuhan menguasai pikiran (byāpādo cittaṃ pariyādāya tiṭṭhatī) [AN 6.13/Nissāraṇīyasutta], kehendak-kehendak tak bermanfaat lenyap tanpa sisa (MN 78). Pikirannya dipenuhi perasaan menyenangkan: girang dan nikmat (pīti-sukha) yang ingin dibagikannya ke seluruh dunia, karena "Apa yang dirasakan, itu yang dipikirkan, apa yang dipikirkan berkembang biak dalam pikiran berupa sumber, gagasan, Ide dalam bentuk masa lalu, sekarang atau masa depan yang dikenali oleh Inderanya (pikiran, mata, dll)".

Terdapat 11 manfaat ketika kebebasan pikiran melalui cinta kasih telah diusahakan, dikembangkan, dan dilatih, dijadikan kendaraan dan landasan, dijalankan, dikokohkan, dan dengan benar dilakukan:

(1) Tidur nyaman (Sukham supati); (2) terjaga nyaman (sukham paṭibujjhati); (3) tidak mimpi buruk (na pāpakaṃ supinaṃ passati); (4) disukai orang (manussānaṃ piyo hoti); (5) disukai makhluk bukan orang (amanussānaṃ piyo hoti); (6) Dilindungi Devata (Devata rakkhanti) (7) terhindar dari api, racun dan Senjata (Nassa Aggi VA Visam VA satthaṃ VA kamati); (8) pikirannya terpusat dengan cepat (tuvaṭaṃ cittam samādhiyati); (9) raut wajahnya tenang (mukhavaṇṇo vippasīdati); (10) saat tiba (untuk wafat) tidak dalam kebingungan (asammūḷho kālaṃ karoti); dan (11) jika tidak menembus lebih jauh, Ia terlahir di alam brahmā (uttari appaṭivijjhanto brahmalokūpago hoti) [AN 8.1/AN 11.15/Mettânisaṁsa Sutta. Di AN 4.67/Ahina Sutta: memancarkan metta dapat terhindar dari kematian akibat gigitan ular berbisa atau digigit ular berbisa namun saat menggigit, ular tersebut tidak menyuntikan bisa (lihat: gigitan kering atau ini)]


Jhana ke-2,
Harus secara total melepas: Persepsi dan perhatian pada usaha awal pikiran menggenggam obyek dan mempertahankannya (vitakkasahagatā saññāmanasikārā). Karena pikiran akan masih melekat atau teralihkan ketika berusaha untuk mencapainya, maka sang Buddha mengingatkan agar pikiran: dikokohkan, mengarah ke satu hal dan terpusat (Cittham: saṇṭhapehi, ekodiṃ karohi, samādahā) [SN 40.2/Dutiyajhānapañhā sutta, SN 21.1/Kolita Sutta].

Deskripsi Jhana ke-2 (juga akan menjadi alam kelahiran berikutnya, jika kondisi cuti citta (pikiran menjelang kematian)-nya di jhana ke-2):
    Meredanya pemusatan pikiran melalui menggenggam dan mempertahankan objek [vitakkavicārānaṃ vūpasamā], terjadi keheningan di dalam [ajjhattaṃ sampasādo], pikirannya menjadi terpusat tanpa dengan usaha menggenggam dan mempertahankan objek [cetaso ekodibhāvaṃ avitakkaṃ avicāraṃ]. Dari pikiran yang terpusat seperti ini, Ia merasakan girang dan nikmat [samādhijaṃ pītisukhaṃ], keberadaan jhana ke-2 dicapai (dutiyaṃ jhānaṃ upasampajja viharati) [MN 111/Anupadasutta, AN 9.31, 32, 33, 35, 36]

    atau

    Pikiran yang disertai welas asih (karuṇāsahagatena cetasā. Karuṇā = avihesā = tidak adanya kekejaman/tidak ada keinginan mencelakakan karena seluruh perasaan tubuh dan mental yang menyakitkan dan tidak nyaman yang berasal dari kontak jasmani dan pikiran, lenyap (SN 48.36)) dipancarkan ke satu arah (ekaṃ disaṃ pharitvā viharati) kemudian ke: 2 arah, 3 arah dan 4 arah (tathā dutiyaṃ tathā tatiyaṃ tathā catutthiṃ), demikian ke: atas, bawah, bulak-balik, ke mana saja, pada mahluk alam apapun (termasuk dirinya), pikirannya yang disertai welas asih dipancarkannya: berlimpah, luhur, tak berbatas, lembut, tanpa halangrintang [AN 4.125/Metta sutta; DN 13/Tevijja sutta]
Ia menikmati, meminati dan karenanya menemukan kebahagiaan. Kemudian mengakar menjadi kebiasaan kerap di dalamnya tanpa alpa selalu melakukannya. Ia terlahir di antara Deva ābhassarā. Deva ābhassarā dengan batasan kehidupan 2 kappa (ābhassarānaṃ devānaṃ sahavyataṃ upapajjati. Ābhassarānaṃ bhikkhave devānaṃ dve kappā āyuppamāṇaṃ)[AN 4.123, 125][alam ↑]

Kondisi/faktor di Jhana ke-2 adalah: hening di dalam (tanpa vitakkavicara), piti, sukha dan pikiran terpusat [cittekaggatā]

Saat mencapai jhana ke-2:
Jika pada sebelumnya pemusatan pikiran dengan vitakka-vicara, untuk melepas memunculkan persepsi girang dan nikmat, maka ketika pemusatan pikiran dapat dilakukannya tanpa melalui vitakka-vicara, dari pikiran terpusat dengan cara itu, persepsi perasaan girang dan nikmat memenuhi, menggenangi, meresapi seluruh tubuhnya. Tak ada satu bagian dari tubuhnya yang tidak diliputi perasaan girang dan nikmat yang muncul dari keterpusatan pikiran dengan cara itu.

‘Bagaikan sebuah danau yang bersumber dari sebuah mata air, tak ada air yang mengalir dari timur, barat, utara atau selatan, tidak bertambah dengan hujan dari waktu ke waktu, kemudian mata air sejuk memenuhi, mengisi, meliputi seluruh danau itu, sehingga tak ada bagian danau itu yang tidak terliputi air sejuk itu—demikian pula dengan kegirangan dan kenikmatan yang muncul dari pikiran terpusat meliputi seluruh tubuhnya sehingga tak ada bagian yang tidak tersentuh. [DN 2, DN 9, MN 39, MN 77, MN 119]

Jhana ke-2 disebut keheningan ariya/kesunyian ariya/noble Silence (“ariya tuṇhībhāva”, SN 21.1), yaitu lenyapnya (Niruddha): awal pikiran menggenggam dan mempertahankan objek [avitakkavicārā] (SN 36.11, 36.15, AN 9.31) atau berhentinya vacīsaṅkhāra [MN 44, SN 41.6], sekarang ini vitakkavicārā adalah duri di jhāna ke-2 [AN 10.72]
    Note:
    Melatih ariya tuṇhībhāva mulai dari menyempurnakan sila (sila ke-4: tidak musavada, tidak bergosip, hanya berkata benar, dst) mengendalikan indriyanya, sepenuhnya dalam perhatian dan mengetahui, Ia berpuas diri, Ia membatasi pikiran dan dirinya untuk berkata seperlunya. Sang Buddha: Seorang yang melakukan praktek brahmacariya (meninggalkan keduniawian), ketika berkumpul, Ia melakukan salah satu dari 2 hal: berdiskusi Dhamma atau mempertahankan keheningan mulia [MN 26/Ariyapariyesana sutta].

    Sample lain, misalnya cara YM Anuruddha dan 2 teman seperjuangan dalam keseharian mereka: “..Siapapun yang melihat kendi air minum, air untuk mencuci, atau kakus sudah hampir habis atau sudah habis maka ia akan melakukan apa yang harus ia lakukan. Jika terlalu berat baginya, maka ia akan memanggil seseorang lain dengan isyarat tangan dan mereka bersama-sama memindahkannya, tetapi hal ini tidak membuat kami terlibat dalam percakapan. Tetapi setiap 5 hari kami duduk bersama sepanjang malam mendiskusikan Dhamma”. [MN 128/Upakilesa Sutta]
Lenyap tanpa sisanya domanassindriyaṃ/Indria ketidaksenangan: Perasaan mental yang menyakitkan dan tidak nyaman yang berasal dari kontak pikiran (manosamphassajaṃ dukkhaṃ asātaṃ vedayitaṃ) [SN 48.36, 39, 40]

Lenyap tanpa sisanya kehendak-kehendak YANG bermanfaat/kusalā saṅkappā, yaitu kehendak: pelepasan keduniawian (Nekkhammasaṅkappo), tanpa permusuhan/penolakan/kehendak buruk (abyāpādasaṅkappo) dan tanpa-kekejaman (avihiṃsāsaṅkappo)
    dari manakah YANG kehendak-kehendak bermanfaat ini berasal-mula?
    Kehendak-kehendak YANG bermanfaat ini harus dikatakan bermula dari persepsi. Persepsi apakah?..persepsi pelepasan keduniawian (Nekkhammasaññā), persepsi tanpa kehendak buruk (abyāpādasaññā), dan persepsi tanpa-kekejaman (avihiṃsāsaññā)

    Dan di manakah kehendak-kehendak YANG bermanfaat ini lenyap tanpa sisa?.. Jhana ke-2. [MN 78]
Mengapa karuṇā dikaitkan dengan keadaan Jhana ke-2?

Disamping perasaan tubuh menyakitkan dan tidak nyaman yang berasal dari kontak jasmani sudah lenyap di jhana ke-1, sekarang bahkan: perasaan mental menyakitkan (cetasikaṃ dukkhaṃ) dan tidak nyaman (cetasikaṃ asātaṃ) yang berasal dari kontak pikiran [SN 48.36] juga lenyap, sehingga tidak mungkin kehendak buruk, permusuhan, kekejaman atau keinginan mencelakakan menguasai pikirannya [AN 6.13/Nissāraṇīyasutta]. Pikirannya yang hening di dalam dan dipenuhi perasaan menyenangkan: girang dan nikmat (pīti-sukha) ingin dibagikannya ke seluruh dunia


Jhana ke-3,
Harus secara total melepas: Persepsi dan perhatian pada perasaan gembira/girang (pītisahagatā saññāmanasikārā). Karena pikiran akan masih melekat atau teralihkan ketika berusaha untuk mencapainya, maka sang Buddha mengingatkan agar pikiran: dikokohkan, mengarah ke satu hal dan terpusat (Cittham: saṇṭhapehi, ekodiṃ karohi, samādahā) [SN 40.3/Tatiyajhānapañhā sutta].

Deskripsi Jhana ke-3 (juga akan menjadi alam kelahiran berikutnya, jika kondisi cuti citta (pikiran menjelang kematian)-nya di jhana ke-3):
    Perasaaan gembira mereda (piti virāgā), (pikirannya) berada dikenyamanan (upekkhako ca viharati) dalam memperhatikan dengan sepenuhnya mengetahui (sato sampajāna), tubuhnya merasakan nikmat, sebagaimana yang dikatakan para ariya: “berdiam nikmat nyaman dalam memperhatikan” (upekkhako satimā sukhavihārī’ti). Keberadaan jhana ke-3 dicapai] [MN 111/Anupadasutta, AN 9.31, 32, 33, 35, 36]

    atau

    Pikiran yang disertai simpati/empati (muditāsahagatena cetasā. Muditā = rati = nyaman dan puas karena disamping sebelumnya seluruh perasaan tubuh dan mental yang menyakitkan dan tidak nyaman yang berasal dari kontak jasmani maupun mental telah lenyap, sekarang bahkan perasaan tubuh menyenangkan dan nyaman yang berasal dari kontak jasmani juga lenyap (SN 48.36)) dipancarkan ke satu arah (ekaṃ disaṃ pharitvā viharati) kemudian ke: 2 arah, 3 arah dan 4 arah (tathā dutiyaṃ tathā tatiyaṃ tathā catutthiṃ), demikian ke: atas, bawah, bulak-balik, ke mana saja, pada mahluk alam apapun (termasuk dirinya), pikirannya yang disertai simpati dipancarkannya: berlimpah, luhur, tak berbatas, lembut, tanpa halangrintang [AN 4.125/Metta sutta; DN 13/Tevijja sutta]
Ia menikmati, meminati dan karenanya menemukan kebahagiaan. Kemudian mengakar menjadi kebiasaan kerap di dalamnya tanpa alpa selalu melakukannya. Ia terlahir di antara Deva subhakiṇhā. Deva subhakiṇhā dengan batasan kehidupan 4 kappa (subhakiṇhānaṃ devānaṃ sahavyataṃ upapajjati. Subhakiṇhānaṃ bhikkhave devānaṃ cattāro kappā āyuppamāṇaṃ) [AN 4.123, 125]. [alam ↑]

Kondisi/faktor di Jhana ke-3 adalah sukha, sati, sampajāna dan cittekaggatā. Sementara itu, perasaan gembira (piti) adalah duri bagi jhana ke-3 [AN 10.72]

Saat mencapai Jhana ke-3:
Jika sebelumnya persepsi kegirangan dan kenikmatan setelah lenyapnya vitakka dan vicara muncul dari pikiran terpusat, maka ketika kegirangan (piti) melenyap, munculah nikmat yang memenuhi, menggenangi, meresapi seluruh tubuhnya. Tak ada satu bagian dari tubuhnya yang tidak diliputi nikmat yang muncul karena lenyapnya kegirangan itu

‘Bagaikan, di sebuah kolam, teratai biru atau merah atau putih tumbuh dan berkembang dalam air tanpa keluar dari air, dan air sejuk membasahi, merendam, mengisi, dan meliputi teratai-teratai itu dari pucuk hingga ke akarnya; demikian pula, nikmat yang memenuhi, menggenangi, meresapi seluruh tubuhnya. Tak ada satu bagian dari tubuhnya yang tidak diliputi nikmat yang muncul karena lenyapnya kegirangan itu [DN 2, DN 9, MN 39, MN 77, MN 119]

Lenyap tanpa sisanya sukhindriyaṃ/Indria kesenangan: Perasaan tubuh yang menyenangkan dan nyaman yang berasal dari kontak jasmani (kāyasamphassajaṃ sukhaṃ asātaṃ vedayitaṃ) [SN 48.36, 39, 40]

Mengapa muditā dikaitkan dengan keadaan Jhana ke-3?

Disamping seluruh perasaan tubuh dan mental yang menyakitkan yang berasal dari kontak jasmani dan pikiran telah lenyap di jhana ke-1 dan jhana ke-2, sekarang bahkan perasaan tubuh menyenangkan dan nyaman yang berasal dari kontak jasmani juga lenyap, sehingga tidak mungkin ketidak-puasan masih menguasai pikirannya (arati) [AN 6.13/Nissāraṇīyasutta]. Pikirannya yang sekarang berada dalam keadaan nikmat nyaman dalam memperhatikan, ingin dibagikannya ke seluruh dunia


Jhana ke-4,
Harus secara total melepas: Persepsi dan perhatian pada perasaan nikmat (sukhasahagatā saññāmanasikārā). Karena pikiran akan masih melekat atau teralihkan ketika berusaha untuk mencapainya, maka sang Buddha mengingatkan agar pikiran: dikokohkan, mengarah ke satu hal dan terpusat (Cittham: saṇṭhapehi, ekodiṃ karohi, samādahā) [SN 40.4/Catutthajhānapañhā sutta].

Deskripsi Jhana ke-4 (juga akan menjadi alam kelahiran berikutnya, jika kondisi cuti citta (pikiran menjelang kematian)-nya di jhana ke-4):
    Perasan menyenangkan (jasmani) dan perasaan menyakitkan (jasmani dan mental) telah ditinggalkannya (sukhassa ca pahānā dukkhassa ca pahānā), kegembiraan-kesedihan sebelumnya mereda (pubbeva somanassadomanassānaṃ atthaṅgamā), merasakan perasaan yang tanpa menyakitkan - tanpa menyenangkan (adukkhaṃasukhaṃ) dalam keseimbangan/nyaman dengan perhatian murni (upekkhā-sati-pārisuddhiṃ), keberadaan jhana ke-4 dicapai [MN 111/Anupadasutta, AN 9.31, 32, 33, 35, 36]

    atau

    Pikiran yang disertai tenang seimbang (upekkhāsahagatena cetasā. Upekkhā = a-rāgo = tanpa nafsu/tanpa ketidapuasan karena seluruh perasaan tubuh dan mental yang menyakitkan dan menyenangkan yang berasal dari kontak jasmani dan pikiran telah lenyap sepenuhnya (SN 48.36)) dipancarkan ke satu arah (ekaṃ disaṃ pharitvā viharati) kemudian ke: 2 arah, 3 arah dan 4 arah (tathā dutiyaṃ tathā tatiyaṃ tathā catutthiṃ), demikian ke: atas, bawah, bulak-balik, ke mana saja, pada mahluk alam apapun (termasuk dirinya), pikiran yang disertai tenang seimbang dipancarkannya: berlimpah, luhur, tak berbatas, lembut, tanpa halangrintang [AN 4.125/Metta sutta; DN 13/Tevijja sutta]
Ia menikmati, meminati dan karenanya menemukan kebahagiaan. Kemudian mengakar menjadi kebiasaan kerap di dalamnya tanpa alpa selalu melakukannya. Ia terlahir di antara Deva vehapphalā. Deva vehapphalā dengan batasan kehidupan 500 kappa (Vehapphalānaṃ bhikkhave devānaṃ pañcakappasatāni āyuppamāṇaṃ) [AN 4.123, 125][alam ↑]

Kondisi/faktor di Jhana ke-4 adalah keseimbangan (upekkhā), perasaan tanpa menyakitkan tanpa menyenangkan (adukkhamasukhā vedanā), Pikirannya santai tidak berkecondongan, perhatiannya murni dalam keterpusatan pikiran (passaddhattā cetaso anābhogo satipārisuddhi cittekaggatā) [MN 111]

Jika sebelumnya persepsi kenyamanan dan perasaan nikmat muncul dari ketiadaan kegirangan, maka persepsi kenyamanan mereda, muncul kenyamanan/keseimbangan perhatian murni dari persepsi perasaan tanpa menyakitkan tanpa menyenangkan, ini memenuhi, menggenangi, meresapi seluruh tubuhnya dengan pikiran murni bersih

Bagaikan seorang yang duduk dan ditutupi dengan kain putih dari kepala ke bawah, sehingga tak ada bagian dari tubuhnya yang tidak tertutupi oleh kain putih itu; Demikianlah Tak ada satu bagian dari tubuhnya yang tidak diliputi pikiran murni bersih itu.

Ia berdiam bersama dengan para dewa yang telah muncul dalam alam yang sepenuhnya nikmat, berbicara dan berbincang-bincang dengan mereka [Yā tā devatā ekantasukhaṃ lokaṃ upapannā tāhi devatāhi saddhiṃ santiṭṭhati sallapati sākacchaṃ samāpajjati]. Pada titik ini alam yang sungguh-sungguh menyenangkan itu telah tercapai (MN 79)

Lenyap tanpa sisanya somanassindriyaṃ/Indria kegembiraan: Perasaan mental yang menyenangkan dan nyaman yang berasal dari kontak pikiran (manosamphassajaṃ sukhaṃ sātaṃ vedayitaṃ) [SN 48.36, 39, 40]

Berhentinya pernafasan (SN 36.11, 36.15, AN 9.31). Kayasankhāra (semua formasi rupa/kaya [nafas keluar/masuk]) terhenti = ditenangkan sempurna. Sehingga dikatakan bahwa napas-masuk dan napas-keluar adalah duri bagi jhāna ke-4 [AN 10.72]

Keluar dari tahap ini, Ia berjalan, berdiri dan seterusnya dengan kebahagiaan yang muncul dari ketenangan (AN 3.63)

Pikiran kokoh/terpusat (samāhite citte), murni (parisuddhe), bersih (pariyodāte), tidak ternoda (anaṅgaṇe), bebas kekotoran (vigatūpakkilese), lentur (mudubhūte), mudah dibentuk (kammaniye), kokoh (ṭhite), setelah mendapatkan (pāpuṇāti) kondisi tanpa-gangguan/tenang sekali (āneñja/āneñjappatte), diarahkan (abhinīharati) condong (abhininnāmeti) pikirannya untuk merelisasikan berbagai pengetahuan langsung:
  1. pengetahuan melihat (ñāṇadassanāya) badan jasmani adalah materi catumahabutha, tidak kekal, dapat luka dan usang, rusak dan hancur, kesadaran melekat dan bergantung padanya,
  2. menghasilkan tubuh ciptaan-pikiran (manomayaṃ kāyaṃ abhinimmānāya) dari tubuhnya, menghasilkan tubuh lain, berbentuk, ciptaan-pikiran, lengkap dengan semua bagian tubuh dan indrianya,
  3. berbagai macam bentuk kekuatan mental (anekavihitaṃ iddhividhāya),
  4. telinga deva (dibbāya sotadhātuyā) mendengar suara alam dewa dan manusia jauh maupun dekat
  5. pengetahuan atas pikiran makhluk-makhluk lain (cetopariyañāṇāya),
  6. pengetahuan kehidupan lampau (pubbenivāsānussatiñāṇāya),
  7. pengetahuan lenyapnya dan munculnya makhluk-makhluk dengan mata dewa (sattānaṃ cutūpapātañāṇāya),
  8. pengetahuan hancurnya kekotoran (āsavānaṃ khayañāṇāya) [DN2, MN 76-79, dll]
Penting untuk diketahui bahwa di AN 9.35/Gavi sutta, secara eksplisit dinyatakan bahwa 8 pengetahuan langsung di atas (di AN 9.35 hanya tercatat 6 abhinna/pengetahuan langsung), DAPAT MULAI di tiap tingkatan manapun:
    Ketika,.. seorang.. masuk dan keluar dari tiap-tiap pencapaian tersebut (jhana ke-1 s.d jhana ke-9), pikirannya menjadi lunak dan lentur [.. taṁ tad eva samāpattiṁ samāpajjatipi vuṭṭhāti pi]. Dengan pikiran lentur dan mudah dibentuk, tak terbatas pengembangan dari pemusatan pikiran [Tassa muduṁ cittaṁ hoti kammaññaṁ, mudunā citte kammaññena, appamāṇo samādhi hoti subhāvito]. Dengan tak terbatas pengembangan dari pemusatan pikiran, apa pun pengetahuan tinggi yang seharusnya dengan mengarahkan pikirannya ia mendapatkannya [So appamāṇena samādhinā subhāvitena, yassa yassa abhiññā,sacchikaraṇīyassa, dhammassa cittaṁ abhininnāmeti, abhiññā,sacchikiriyāya]. Ia mengalami sendiri aspek di dalamnya, bila kondisinya tepat [Tatra tatr’eva sakkhi,bhabbataṁ pāpuṇāti sati sati āyatane]
Mengapa upekkhā dikaitkan dengan keadaan Jhana ke-4?

Seluruh perasaan tubuh dan mental yang menyenangkan dan menyakitkan yang berasal dari kontak jasmani dan pikiran telah lenyap sepenuhnya, sekarang Ia berada pada perasaan bukan menyakitkan dan bukan menyenangkan, Pikirannya santai tak berkecondongan, perhatiannya murni dalam keterpusatan pikiran [MN 111], sehingga tidak mungkin nafsu masih menguasai pikirannya [AN 6.13/Nissāraṇīyasutta]. Pikirannya yang dalam keseimbangan/nyaman dengan perhatian murni, ingin dibagikannya ke seluruh dunia


Ke-5,
Landasan ruang tak berbatas (ākāsaañancaāyatana: ākāsa = ruang; ananca = tak berbatas, tanpa akhir; āyatana = landasan),

Harus secara total melepas: Persepsi dan perhatian yang terkait Jasmani atau materi (rūpasahagatā saññāmanasikārā). Karena tiap momen, pikiran akan masih melekat atau teralihkan ketika berusaha untuk mencapainya, maka sang Buddha mengingatkan agar pikiran: dikokohkan, mengarah ke satu hal dan terpusat (Cittham: saṇṭhapehi, ekodiṃ karohi, samādahā) [SN 40.5/Ākāsānañcāyatanapañhā sutta]

Deskripsi landasan ini (juga akan menjadi alam kelahiran berikutnya, jika kondisi cuti citta (pikiran menjelang kematian)-nya di landasan ini):
    Setelah sepenuhnya (sabbaso) melampaui persepsi materi (rūpasaññā samatikkamā) kejenuhan terhadap persepsi mereda (paṭighasanna atthaṅgamā) beragam persepsi tidak berkembang-biak (nānatta saññānaṃ amanasikara) [mengetahui:] ‘ruang tak berbatas' (ākāso ananto), Keberadaan landasan ruang tak berbatas dicapai (ākāsaanañcaāyatana upasampajja viharati) [MN 111/Anupadasutta, AN 9.31, 32, 33, 35, 36]
Ia menikmati, meminati dan karenanya menemukan kebahagiaan. Kemudian mengakar menjadi kebiasaan kerap di dalamnya tanpa alpa selalu melakukannya. Ia terlahir di antara Deva ākāsānañcāyatana. Deva ākāsānañcāyatana dengan batasan kehidupan 20.000 kappa (ākāsānañcāyatanūpagānaṃ devānaṃ sahabyataṃ upapajjati. Ākāsānañcāyatanūpagānaṃ, bhikkhave, devānaṃ vīsati kappasahassāni āyuppamāṇaṃ) [AN 3.116/Āneñja sutta][alam ↑]

Kondisi/faktor di landasan ini adalah: Perasaan adukkhamasukhā, Persepsi landasan ruang tak berbatas dan keterpusatan pikiran.
    note:
    Di Brahmajala sutta: Para Brahma itu melayang di ruang antar batasan [antalikkhe], jadi ruang tanpa batas = bebas dari batas-batasan materi/fisikal
Pencapaian arupa di 4 Nikaya disebutkan sebagai pencapaian [samapatti: DN.3, MN.3, AN 1,4,5] atau keadaaan arupa [aruppa: MN1, It 61, Kvu 325] atau alam dengan landasan citta [DN2, MN2, AN4]


Ke-6,
Landasan Kesadaran tak berbatas (viññāṇaañancaāyatana)

Harus secara total melepas: Persepsi dan perhatian yang terkait landasan ruang tak berbatas (ākāsānañcāyatanasahagatā saññāmanasikārā). Karena tiap momentnya, pikiran akan masih melekat atau teralihkan ketika berusaha untuk mencapainya, maka sang Buddha mengingatkan agar pikiran: dikokohkan, mengarah ke satu hal dan terpusat (Cittham: saṇṭhapehi, ekodiṃ karohi, samādahā) [SN 40.6/Viññānañcāyatana sutta]

Deskripsi landasan ini (juga akan menjadi alam kelahiran berikutnya, jika kondisi cuti citta (pikiran menjelang kematian)-nya di landasan ini):
    Setelah sepenuhnya (sabbaso) melampaui landasan ruang tak berbatas (ākāsaanañcaāyatana samatikkamā), [mengetahui:] 'Kesadaran tak berbatas’ (viññāṇa ananta), Keberadaan landasan kesadaran tak berbatas dicapai (viññāṇaanañcaāyatana upasampajja viharati) [MN 111/Anupadasutta, AN 9.31, 32, 33, 35, 36]
Ia menikmati, meminati dan karenanya menemukan kebahagiaan. Kemudian mengakar menjadi kebiasaan kerap di dalamnya tanpa alpa selalu melakukannya. Ia terlahir di antara Deva viññāṇañcāyatana. Deva viññāṇañcāyatana dengan batasan kehidupan 40.000 kappa (viññāṇañcāyatanūpagānaṃ devānaṃ sahabyataṃ upapajjati. Viññāṇañcāyatanūpagānaṃ, bhikkhave, devānaṃ cattārīsaṃ kappasahassāni āyuppamāṇaṃ) [AN 3.116/Āneñja sutta][alam ↑]

Kondisi/faktor di landasan ini adalah: Perasaaan adukkhamasukhā, Persepsi landasan kesadaran tak berbatas dan keterpusatan pikiran


Ke-7,
Landasan tidak ada apa-apapun (Ākiñcanaañancaāyatana. Ākiñcana = tidak ada sesuatu apapun)

Harus secara total melepas: Persepsi dan perhatian yang terkait landasan kesadaran tak berbatas (viññāṇañcāyatanasahagatā saññāmanasikārā). Karena tiap momentnya, pikiran akan masih melekat atau teralihkan ketika berusaha untuk mencapainya, maka sang Buddha mengingatkan agar pikiran: dikokohkan, mengarah ke satu hal dan terpusat (Cittham: saṇṭhapehi, ekodiṃ karohi, samādahā) [SN 40.7/Ākiñcaññāyatana sutta]

Deskripsi landasan ini (juga akan menjadi alam kelahiran berikutnya, jika kondisi cuti citta (pikiran menjelang kematian)-nya di landasan ini):
    Setelah sepenuhnya (sabbaso) melampaui landasan kesadaran tak berbatas (viññāṇaanañcaāyatana samatikkamā), [mengetahui:] 'tidak ada sesuatu apapun' (natthi kinci), Keberadaan landasan tak ada sesuatu apapun dicapai (ākiñcaññāyatanaṃ upasampajja viharati) [MN 111/Anupadasutta, AN 9.31, 32, 33, 35, 36]
Ia menikmati, meminati dan karenanya menemukan kebahagiaan. Kemudian mengakar menjadi kebiasaan kerap di dalamnya tanpa alpa selalu melakukannya. Ia terlahir di antara Deva ākiñcaññāyatana. Deva ākiñcaññāyatana dengan batasan kehidupan 60.000 kappa (ākiñcaññāyatanūpagānaṃ devānaṃ sahabyataṃ upapajjati. Ākiñcaññāyatanūpagānaṃ, bhikkhave, devānaṃ saṭṭhi kappasahassāni āyuppamāṇaṃ) [AN 3.116/Āneñja sutta][alam ↑]

Kondisi/faktor di landasan ini adalah: Perasaan adukkhamasukhā, persepsi landasan tidak ada apa-apapun dan keterpusatan pikiran.


Ke-8,
Landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi (nevasaññānāsaññāyatana. Sanna = Persepsi, sumber, gagasan, ide, cerapan, ingatan)

Harus secara total melepas: Persepsi dan perhatian yang terkait landasan tidak ada ada apa-apapun (ākiñcaññāyatanasahagatā saññāmanasikārā). Karena tiap momentnya, pikiran akan masih melekat atau teralihkan ketika berusaha untuk mencapainya, maka sang Buddha mengingatkan agar pikiran: dikokohkan, mengarah ke satu hal dan terpusat (Cittham: saṇṭhapehi, ekodiṃ karohi, samādahā) [SN 40.8/Nevasaññānāsaññāyatana sutta]

Deskripsi landasan ini (juga akan menjadi alam kelahiran berikutnya, jika kondisi cuti citta (pikiran menjelang kematian)-nya di landasan ini):
  • Setelah sepenuhnya (sabbaso) melampaui landasan tak ada sesuatu apapun (ākiñcaññāyatanaṃ samatikkamā) [Mengetahui:] Keberadaan landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi dicapai (nevasaññānaasaññaayatanaṃ upasampajja viharati) [MN 111/Anupadasutta, AN 9.31, 32, 33, 35, 36], atau

  • Dengan tidak memperhatikan (amanasikaritvā) Persepsi pada: landasan kesadaran tidak berbatas dan landasan tidak ada apa-apapun (viññāṇañcāyatanasaññaṃ ākiñcaññāyatanasaññaṃ), Perhatian hanya bergantung pada (paṭicca manasi karoti ekattaṃ) landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi (nevasaññānāsaññāyatanasañña). Di persepsi landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi (tassa nevasaññānāsaññāyatanasaññāya) pikirannya (cittaṃ) mendapatkan kepuasan (pakkhandati), kejelasan (pasīdati), kokoh (santiṭṭhati), dan menetap (adhimuccati) [MN 121]
Ia menikmati, meminati dan karenanya menemukan kebahagiaan. Kemudian mengakar menjadi kebiasaan kerap di dalamnya tanpa alpa selalu melakukannya. Ia terlahir di antara Deva nevasaññānāsaññāyatana ( nevasaññānāsaññāyatanūpagānaṃ devānaṃ sahavyataṃ upapajjati [AN 4.172/Sāriputtapaṭisambhidā [Vibhatti] sutta]

Di Sutta (di 5 Nikaya), TIDAK ditemukan berapa panjang umur kehidupan deva alam ini, jika melihat peningkatan dari urutan sebelumnya, maka umur kehidupan deva ini tampaknya atau bisa jadi MELEBIHI dari umur deva ākiñcaññāyatana. Namun demikian, di kitab Abhidhamma pali, yaitu Vibhanga 18 (muncul setelah abad ke-3 SM s.d 50 SM), umur kehidupan deva alam ini disebutkan sepanjang 84.000 Kappa (Caturāsīti kappasahassānīti ) dan informasi tersebut, dikutip ulang di kitab non kanon pali, Patisandhicatukka, Abhidhammattha-sangaha, karya anuruddha, abad ke-10 M, yaitu umur kehidupan deva ini 84.000 Kappa. Walau kelihatannya, ini mengikuti pola, namun jelas bukan sabda sang buddha (Atau para arahat lain yang hidup di jaman sang Buddha di konsili ke-1 atau para Arahat yang merupakan murid para Arahat jaman sang Buddha, yang ikut di konsili ke-2), maka informasi ini bisa saja kita abaikan.[alam ↑]

Kondisi/faktor di landasan ini adalah: perasaan adukkhamasukhā, persepsi landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi dan pikiran terpusat.


***

Sebelum melanjutkan ke pencapaian ke-9,
Perbedaan antara para siswa agung (ariyasāvakassa, murid Sang Buddha), yang berlatih (sutavato) [= para mahluk suci: deva/manusia, mulai sotapanna atau lebih] vs Puthujjana yang tidak terlatih [bukan mahluk suci: deva dan manusia]: Para puthujjana, setelah habis umurnya di alam itu, Ia dapat saja telahir kembali ke alam: Neraka, binatang atau Peta (Mahluk halus). Sedangkan para ariya savaka, setelah habisnya umur di alam itu, Ia mencapai Nibbana akhir [Bhagavato pana sāvako tattha yāvatāyukaṃ ṭhatvā yāvatakaṃ tesaṃ devānaṃ āyuppamāṇaṃ taṃ sabbaṃ khepetvā tasmiṃ yeva bhave parinibbāyati] [AN 4.123/Jhana sutta dan AN 4.125/Metta sutta (1), AN 3.116/Āneñja]

siswa sang Buddha melihat,
apapun yang ada di sana yaitu kondisi: materi, perasaan, persepsi, bentukan-bentukan, dan kesadaran (So yadeva tattha hoti rūpagataṃ vedanāgataṃ saññāgataṃ saṅkhāragataṃ viññāṇagataṃ), Ia melihatnya sebagai: tidak kekal, tidak memuaskan, sebagai: penyakit, tumor, duri, bencana, malapetaka, sesuatu yang asing, kehancuran, kehampaan, bukan diri (te dhamme aniccato dukkhato rogato gaṇḍato sallato aghato ābādhato parato palokato suññato anattato samanupassati). [AN 124, 126, MN 64, AN 9.36]:
  • Ia mengalihkan pikirannya dari kondisi-kondisi tersebut. Ia mengarahkan pikirannya pada unsur tanpa kematian (amatāya), pikirannya terpusat: ‘ini damai, ini luhur, yaitu, tenangnya segala bentukan, lepasnya segala kemelekatan, hancurnya keinginan, kebosanan, lenyapnya, Nibbāna‘ (etaṃ santaṃ etaṃ paṇītaṃ yadidaṃ sabbasaṅkhārasamatho sabbūpadhipaṭinissaggo taṇhākkhayo virāgo nirodho nibbānan’ti)’, Jika ia [MN 64, AN 9.36]:

    • kokoh di dalam itu, maka ia mencapai hancurnya noda-noda.
    • tidak mencapai hancurnya noda-noda karena keinginan akan Dhamma itu, kegembiraan dalam Dhamma itu, maka dengan hancurnya 5 belenggu yang lebih rendah, muncul kembali secara spontan dan di sana mencapai Nibbāna akhir tanpa pernah kembali ke alam ini. [MN 64, AN 9.36]

  • Ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, Ia muncul kembali di alam suddhavasa. [AN 124/Jhana Sutta dan AN 4.126/Metta sutta (2)]
------
Note:
  • AN 123, 125: Mereka yang telah menghancurkan 5 belenggu yang lebih rendah dan berada di alam jhana ke-1 s.d ke-4, namun belum mencapai Nibbana saat wafat, Ia akan terlahir di alam Suddhavasa.
  • AN 3.117: Mereka yang telah menghancurkan 5 belenggu yang lebih rendah berada di alam landasan: ruang tak berbatas, kesadaran tak berbatas dan tidak ada apa-apapun, namun belum mencapai Nibbana saat wafat, Ia akan terlahir di alam Suddhavasa.
  • AN 4.172: Tujuan kematian mereka yang belum menghancurkan 5 belenggu lebih rendah vs yang telah menghancurkan 5 belenggu lebih rendah namun saat ada di landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi:

      Mahluk tertentu (ekaccassa puggala) yang tidak menghancurkan (appahīṇā) belenggu (saññojanāni) lebih rendah (orambhāgiyāni), Ia, sekarang dan saat ini (diṭṭheva dhamme) berada di landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi. Ia menikmati, meminati dan karenanya menemukan kebahagiaan. Kemudian mengakar menjadi kebiasaan kerap di dalamnya tanpa alpa selalu melakukannya. Ia terlahir di antara Deva nevasaññānāsaññāyatana. Ia dari sini [So tato] setelah wafat [cuto] menjadi kembali [āgāmī hoti] kembali ke alam ini [āgantā itthattaṃ, yaitu: selain alam suddhavasa].

      Mahluk tertentu yang menghancurkan (pahīṇā) belenggu lebih rendah yang mengikatnya di alam sensual, Ia, sekarang dan saat ini berada di landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi. Ia menikmati, meminati dan karenanya menemukan kebahagiaan. Kemudian mengakar menjadi kebiasaan kerap di dalamnya tanpa alpa selalu melakukannya. Ia terlahir di antara Deva nevasaññānāsaññāyatana. Ketika wafat ia TIDAK kembali lagi (ānagāmī) tidak kembali ke alam ini [anāgantā itthattaṃ: Terlahir di alam Suddhavasa]

    Di sutta MN 106/Āneñjasappāya Sutta[↓] adalah latihan yang dilakukan oleh seorang bhikkhu (manusia) dan tidak tertulis apakah latihan itu dapat dilakukan ketika ia menjadi deva di alam bukan persepsi bukan tanpa persepsi

    Namun, para ariya yang menjadi deva bukan persepsi bukan tanpa persepsi, jika ia sudah menghancurkan 5 belenggu, saat kematian, ia terlahir kembali di alam Suddhavasa, jika Ia telah menghancurkan 3 belenggu namun kurang dari 5 belenggu, ia terlahir kembali ke alam deva lainnya namun tidak di alam manusia (dan di bawahnya), sampai Ia dapat menghancurkan seluruh belenggu dan mencapai nibbana.
***


Ke-9,
Pikiran terpusat tanpa bentukan/ciptaan pikiran (animitta cetosamādhi. Nimitta = ciptaan/buatan; hiasan; membangun; menghasilkan; penetapan ukuran; berencana; gambaran)

Harus secara total melepas: kesadaran mengikuti bentukan (nimittânusāri viññāṇaṁ). Karena tiap momentnya, pikiran akan masih melekat atau teralihkan ketika berusaha untuk mencapainya, maka sang Buddha mengingatkan agar pikiran: dikokohkan, mengarah ke satu hal dan terpusat (Cittham: saṇṭhapehi, ekodiṃ karohi, samādahā) [SN 40.9/Animitta sutta, MN 43, SN 41.7].

Deskripsi samädhi ini:
    Segala gambaran tidak diperhatikan (sabbanimittānaṃ amanasikārā); pikiran dengan pikiran terpusat tanpa gambaran dicapai keberadaannya (animittaṃ cetosamādhiṃ upasampajja viharati) [SN 40.9]
Atau:
    Dengan tidak memperhatikan (amanasikaritvā):

    • Persepsi landasan tidak ada apa-apapun (ākiñcaññāyatanasañña),
    • Persepsi landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi (nevasaññānāsaññāyatanasañña)

    Perhatian tunggal bergantung pada pikiran dengan pikiran terpusat tanpa gambaran (animittaṃ cetosamādhiṃ paṭicca manasi karoti ekattaṃ). Pada pikiran dengan pikiran terpusat tanpa gambaran (Tassa animitte cetosamādhimhi) pikirannya (cittaṃ) mendapatkan kepuasan (pakkhandati) kejelasan (pasīdati), kokoh (santiṭṭhati), dan menetap (adhimuccati) [MN 121]

Ada 2 kondisi bagi pencapaian kebebasan tanpa gambaran pikiran: (1) tanpa-perhatian pada segala bentukan/ciptaan dan (2) perhatian pada unsur tanpa bentukan/ciptaan.

Ada 3 kondisi bagi pencapaian kebebasan pikiran tanpa gambaran yang terus-menerus, yaitu: (1) tanpa-perhatian pada segala gambaran dan (2) perhatian pada unsur tanpa gambaran dan dan tekad sebelumnya (pubbe ca abhisaṅkhāro) [MN 43]

Di SN 43.44: pikiran terpusat pada kehampaan/kekosongan (Suññato samādhi), Pikiran terpusat pada tanpa gambaran/bentukan/ciptaan pikiran (animitto samādhi) dan Pikiran terpusat pada tanpa tujuan/keinginan (appaṇihito samādhi)

Perasaan adukkhamasukhā, belum lenyap di 3 jenis samadhi di atas ini.

Deskripsi samädhi saññāvedayitanirodhaṃ:
    Setelah sepenuhnya (sabbaso) melampaui landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi (nevasaññānāsaññāyatanaṃ samatikkamma) [mengetahui:] Keberadaan lenyapnya persepsi dan perasaan dicapai (saññāvedayitanirodhaṃ upasampajja viharati) [MN 111]
Lenyap tanpa sisanya upekkhindriyaṃ/Indriya keseimbangan atau perasaan bukan-menyakitkan juga bukan-menyenangkan/adukkhamasukhā sā vedanā: Perasaan tubuh dan mental yang bukan-nyaman juga bukan tidak-nyaman (kāyikaṃ vā cetasikaṃ vā nevasātaṃ nāsātaṃ vedayitaṃ) [SN 48.36-38] Di manakah indria keseimbangan lenyap tanpa sisa? ..di pencapaian “lenyapnya persepsi dan perasaan” (saññāvedayitanirodhaṃ) [SN 48.39, 40]

Berikut dari MN.44/Mahavedalla sutta [dan juga SN 41.7]
    Visakha: Yang Mulia, ada berapakah bentukan-bentukan (saṅkhārā) itu?”

    Dhammadinna: “Ada 3 bentukan: bentukan jasmani [kāyasaṅkhāro], bentukan ucapan [vacīsaṅkhāro], dan bentukan pikiran [cittasaṅkhāro]..Nafas masuk dan keluar [Assāsa-passāsā] adalah bentukan jasmani; vitakkavicārā adalah bentukan ucapan; persepsi dan perasaan [saññā ca vedanā] adalah bentukan pikiran”

    Visakha: “..mengapa: nafas-masuk dan nafas-keluar adalah bentukan jasmani? awal pikiran dan kelangsungan pikiran adalah bentukan ucapan? persepsi dan perasaan adalah bentukan pikiran?

    Dhammadinna: “nafas-masuk dan nafas-keluar adalah jasmani, kondisi-kondisi ini terikat dengan jasmani; itulah sebabnya mengapa nafas-masuk dan nafas-keluar adalah bentukan jasmani. Pertama-tama seseorang mulai berpikir dan mempertahankan pikiran, dan selanjutnya ia mengungkapkannya melalui ucapan; itulah sebabnya mengapa awal-pikiran dan kelangsungan pikiran adalah bentukan ucapan. Persepsi dan perasaan adalah pikiran, kondisi-kondisi ini terikat dengan pikiran; itulah sebabnya mengapa persepsi dan perasaan adalah bentukan pikiran.” ...

    Visakha: “..ketika..sedang mencapai lenyapnya persepsi dan perasaan [saññāvedayita-nirodha-samāpatti], kondisi manakah yang pertama lenyap dalam dirinya: bentukan jasmani, bentukan ucapan, atau bentukan pikiran?”

    Dhammadina: “.., pertama-tama bentukan ucapan lenyap [ini jhana ke-2], kemudian bentukan jasmani [ini jhana ke-4], kemudian bentukan pikiran [ini pencapaian ke-9].” ...

    Visakha: “..ketika..keluar dari pencapaian lenyapnya persepsi dan perasaan, kondisi manakah yang pertama muncul dalam dirinya: bentukan jasmani, bentukan ucapan, atau bentukan pikiran?”

    Dhammadina: “.., pertama-tama bentukan pikiran muncul, kemudian bentukan jasmani, kemudian bentukan ucapan

    Visakha: “..ketika..keluar dari pencapaian lenyapnya persepsi dan perasaan, ada berapakah kontak yang menyentuhnya?”

    Dhammadina: “..3 jenis kontak menyentuhnya: kontak kehampaan/kekosongan [Suññato phasso], kontak tanpa gambaran, bentukan/ciptaan pikiran [animitto phasso], kontak tanpa: mengarahkan, berkeinginan, mengarahkan, menuju [appaṇihito phasso]”

      Note:
      Karena kontak memuncukan perasaan, maka perasaan adukkhamasukhā akan juga muncul di samadhi: sunnato, animitto dan appanihito

    Visakha: “..ketika..keluar (vuṭṭhita) dari pencapaian lenyapnya persepsi dan perasaan, pada apakah pikirannya: condong (ninna)?, bersandar (poṇa)?, mengarah (pabbhāra)?”

    Dhammadina: ".., pikirannya condong, bersandar, dan mengarah pada: pelepasan (viveka).”
Di pencapaian samädhi lenyapnya persepsi dan perasaan, kondisinya mirip orang mati:
    Teman, dalam hal seorang yang mati, yang telah menyelesaikan waktunya, bentukan-bentukan jasmaninya [kaya sankhāra] , bentukan-bentukan ucapannya [vici sankhāra] dan bentukan-bentukan pikirannya [citta sankhāra] telah memudar dan sirna, vitalitasnya [ayu] padam, panasnya [usma] berhamburan, dan indria-indrianya hancur seluruhnya.

    Dalam hal seorang bhikkhu yang memasuki lenyapnya persepsi dan perasaan, bentukan-bentukan jasmaninya dan bentukan-bentukan ucapannya telah memudar dan sirna, tetapi vitalitasnya tidak padam, panasnya tidak berhamburan, dan indria-indrianya menjadi sangat jernih.

    Ini adalah perbedaan antara seseorang yang mati, yang telah menyelesaikan waktunya, dan seorang yang memasuki lenyapnya persepsi dan perasaan [MN 43 dan SN 41.6] []
---------------

Tak ada kearahatan tanpa melalui Jhana

Kitab Visudhimagga (karya buddhaghosa, bukan kanon pali) menyatakan 4 tipe arahat yaitu: sukkhavipassako (ini yang kelak diklaim sebagai pembebasan tanpa jhana), Abhina, tevijja dan patisambhiddha. Ia dan beberapa kalangan buddhis menyatakan pembebasan dapat dicapai tanpa jhana. Mereka yang berpendapat ini menyandarkan rujukannya pada MN 106/Āneñjasappāya Sutta[↓] dan terutamanya pada SN 12.70/Susima Sutta bahwa Paññāvimutti dilakukan tanpa melalui jhana:
    Susima, petapa aliran non Buddhis, mempunyai tujuan mencuri pengajaran buddhis bagi kejayaan alirannya. Untuk itu ia berusaha menjadi anggota sangha. Sang pemilik Dasabala, mengetahui niat susima dan tetap menyuruh Ananda untuk menahbiskannya.

    Susima melihat banyak anggota sangha yang mendeklarasikan dirinya telah mencapai kesucian arahat, Ia bertemu beberapa arahat baru, bertanya cara mereka mencapai kearahatannya, yaitu:

      apakah mereka melihat dan mengetahui: berbagai macam bentuk kekuatan? Telinga deva? Kemampuan membaca pikiran mahluk lain? Kemampuan mengingat aneka kehidupan lampau? Mata dewa? Berdiam pada sentuhan jasmani pembebasan yang damai melampaui pencapaian rupa dan arupa? (santā vimokkhā atikkamma rūpe āruppā, te kāyena phusitvā viharathā)

        Note:
        ”melampaui pencapaian rupa dan arupa” adalah salah satu dari samadhi: animittaṃ cetosamādhi (pikiran tanpa gambaran/ciri) atau saññāvedayitanirodha (lenyapnya perasaan dan persepsi), untuk sampai tahap ini, Ia harus telah melampaui jhana ke-4, berlanjut hingga melampaui ākiñcaññāyatanasañña dan/atau nevasaññānāsaññāyatanasañña. Namun karena penghancuran asava sudah dapat dilakukan mulai dari jhana ke-1 [Lihat AN 9.36/JhanaSutta] dan memang tidak harus sampai perlu melampaui pencapaian rupa dan arupa, maka sutta ini justru menegaskan penghancuran asava adalah dengan melalui jhana-jhana.

    Masing-masing pertanyaan itu, Mereka menjawab: TIDAK dan menyatakan mereka terbebaskan melalui "Paññāvimutti". Susima tidak memahami ini. Untuk itu, ketika bertemu sang Buddha, Ia bertanya tentang ini dan Sang Buddha menerangkan Susima sebagai berikut:

    1. Mulai dengan pengetahuan karasteristik keberlangsungan dhamma (dhammaṭṭhitiñāṇaṃ), setelah itu pengetahuan nibbana (pacchā nibbāṇe ñāṇanti)

    2. Panca khanda (viññāṇa...rupa) adalah Anicca (tidak kekal) bukan nicca (kekal); Dukkha (tidak memuaskan) bukan (sukha); Anatta (ini BUKAN: milikku, aku, diriku) apapun (viññāṇa, Perasaan, persepsi, sankhāra dan rupa) dalam masa: lalu, depan, sekarang; internal/eksternal; kasar/halus; hina/mulia; jauh/dekat; segala (viññāṇa..rupa) dilihat sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar: ini dan BUKAN: milikku, aku, diriku

      Melihat (passati) ini para ariya savaka jenuh (nibbindati) pada panca khanda. Jenuh menimbulkan ketidakminatan (virajjati), tidak menginginkannya (viraga), terbebas darinya (vimuccati). Ketika terbebaskan muncullah pengetahuan: ‘terbebaskan’ Ia mengetahui (pajānāti): Kelahiran telah dihancurkan (Khīṇā jāti), prilaku menuju kesucian telah dijalani (vusitaṃ brahmacariyaṃ), apa yang harus dilakukan telah dilakukan (kataṃ karaṇīyaṃ), tak ada kelanjutan menjadi mahluk apapun (nāparaṃ itthattāyāti)

    3. Susima kemudian melihat (passati) Paticca samuppada (kemunculan dan kelenyapan yang bergantungan)

    Sang Buddha: "setelah mengetahui dan melihat ini apakah engkau memiliki: Berbagai macam bentuk kekuatan? Telinga deva? Kemampuan membaca pikiran mahluk lain? Kemampuan mengingat aneka kehidupan lampau? Mata dewa? Berdiam pada sentuhan jasmani pembebasan yang damai melampaui pencapaian rupa dan arupa?

    Masing-masing pertanyaan itu, Susima menjawab: "TIDAK".

    Sang Buddha: "baru saja, Susima, Tidak-kah engkau menyampaikan deklarasi tanpa pencapaian dhamma ini?" [SN 12.70/Susima Sutta]
Klaim bahwa tingkatan arahat dapat dilakukan tanpa tercerap (Jhana) adalah tidak benar:
    “Bhikkhu, Aku katakan penghancuran āsava didukung: Jhāna ke-1, ..jhana ke- 2, ..ke-3, ke-4, ..pada landasan persepsi: (5) ruang tidak berbatas; (6) Kesadaran tidak berbatas; (7) Tidak ada apa-apapun; (8) bukan persepsi bukan tanpa persepsi dan ... (9) berhentinya perasaan dan persepsi.

    “bhikkhu, aku katakan penghancuran noda-noda didukung jhana ke-1,”

    dengan alasan apa dikatakan demikian?

    Di sini, para bhikkhu,..[setelah mencapai jhana ke-1].. So yadeva tattha hoti rūpagataṃ vedanāgataṃ saññāgataṃ saṅkhāragataṃ viññāṇagataṃ (apapun yang ada di sana yaitu kondisi: materi, perasaan, persepsi, bentukan-bentukan, dan kesadaran), te dhamme aniccato dukkhato rogato gaṇḍato sallato aghato ābādhato parato palokato suññato anattato samanupassati (Ia melihatnya sebagai: tidak kekal, tidak memuaskan, sebagai: penyakit, tumor, duri, bencana, malapetaka, sesuatu yang asing, kehancuran, kehampaan, bukan diri).

    Ia mengalihkan pikirannya dari kondisi-kondisi tersebut, Ia mengarahkan pikirannya pada unsur amatāya (tanpa kematian), pikirannya terpusat: ‘etaṃ santaṃ etaṃ paṇītaṃ yadidaṃ sabbasaṅkhārasamatho sabbūpadhipaṭinissaggo taṇhākkhayo virāgo nirodho nibbānan’ti (ini damai, ini luhur, yaitu, tenangnya segala bentukan, lepasnya segala kemelekatan, hancurnya keinginan, kebosanan, lenyapnya, Nibbāna)’

    Jika ia kokoh di dalam itu, maka ia mencapai hancurnya noda-noda. Tetapi jika ia tidak mencapai hancurnya noda-noda karena keinginan akan Dhamma itu, kegembiraan dalam Dhamma itu, dengan hancurnya [parikkhayā] ke-5 belenggu yang lebih rendah [pañcannaṃ orambhāgiyānaṃ saṃyojanāna] ia muncul kembali secara spontan di sana mencapai Nibbāna akhir tanpa pernah kembali ke alam ini.

    Sama halnya, para bhikkhu, seorang pemanah atau muridnya yang berlatih dengan orang-orangan jerami atau seonggok tanah liat yang kemudian menjadi sasaran jarak jauh, seorang pembidik jitu yang bisa menjatuhkan sasaran yang besar, demikian pula halnya dengan seorang bhikkhu yang mencapai hancurnya noda-noda bergantung pada jhana ke-1.

    [kalimat yang sama seperti di atas di ulang untuk setelah pencapaian jhana ke-2, ke-3, ke-4 dan 3 pencapaian landasan a-rupa (non materi)]

    Demikian, para bhikkhu, penembusan pada pengetahuan akhir terjadi sampai pada tahap adanya pencapaian dengan persepsi. Tetapi mengenai 2 landasan ini – pencapaian landasan bukan-persepsi-pun-bukan-tanpa-persepsi, dan berhentinya persepsi dan perasaan – kukatakan bahwa ke-2nya ini harus dijunjung tinggi oleh para bhikkhu yang ber-jhāyīhete (kegiatan mengarahkan pikiran atau memusatkan pikiran yang terlihat hasilnya dalam jhana), yang terampil dalam pencapaian dan terampil keluar dari pencapaian itu, setelah mereka mencapainya dan keluar darinya [AN 9.36/Jhana Sutta, juga di MN 64/Mahāmālunkya Sutta: jhana ke-1 s.d landasan tidak ada apa-apapun]
Juga
di sutta lainnya disebutkan pentingnya jhana untuk melihat/memperhatikan secara jelas/khusus kemunculan kondisi-kondisi satu demi satu [anupadadhammavipassanaṃ vipassati]:
    kondisi yang menyertai pencapaian (jhana ke-1 atau ke-2..atau ke-8):

    • Jhana ke-1: vitakka, vicara, pīti, sukha dan cittekaggatā (pikiran terpusat), atau
    • Jhana ke-2: ajjhattaṃ sampasādo (kedamaian diri), pīti, sukha dan cittekaggatā, atau
    • Jhana ke-3: sukha, sati sampajāna (perhatian dengan mengetahui sepenuhnya) dan cittekaggatā, atau
    • Jhana ke-4: keseimbangan (upekkhā), perasaan bukan kesakitan bukan kenikmatan (adukkhamasukhā vedanā), ketidak-tertarikan pikiran karena ketenangan, kemurnian perhatian (passaddhattā cetaso anābhogo satipārisuddhi) dan cittekaggatā, atau
    • Landasan ruang tak berbatas: persepsi landasan ruang tak berbatas (ākāsānañcāyatanasaññā) dan cittekaggatā, atau
    • Landasan kesadaran tak berbatas: persepsi landasan kesadaran tak berbatas (viññāṇañcāyatanasaññā) dan cittekaggatā, atau
    • Landasan tidak ada apapun: persepsi landasan tidak ada apapun (ākiñcaññāyatanasaññā) dan cittekaggatā, atau
    • Landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi (MN 121/culasunna sutta)

    +

    kondisi lainnya:
    kontak [phasso] (1), perasaan [vedana] (2), persepsi [sanna] (3), kehendak [cetana] (4), pikiran [citta] (5); keinginan/semangat [chando] (6), ketetapan [adhimokkho] (7), usaha/kegigihan [viriya] (8), perhatian [sati] (9), keseimbangan [uppekha] (10), dan pengamatan/perhatian [manosikharo] (11)


    Kondisi-kondisi tersebut dikenali satu demi satu kemunculannya. kondisi-kondisi itu dikenali: saat muncul - berlangsung - lenyap → sankhāra anicca

    Mengetahui [pajānāti]:
    ‘Demikianlah kondisi-kondisi ini sesungguhnya: dari tidak ada - menjadi ada - dari ada - menjadi lenyap.’ → sankhāra anicca, dukkha

    Sehubungan dengan kondisi-kondisi itu (dhamma), Pikirannya menjadi (cetasā viharati): tak tertarik (anupāyo), tidak menolak (anapāyo), tidak bergantung (anissito), tidak terhubung dengannya (appaṭibaddho), lepas/mengalir (vippamutto), longgar/bebas (visaṃyutto), bebas dari penghalang (vimariyādīkatena).→ bukan aku, bukan miliku, bukan diriku.

    [Untuk Jhana ke-1 s.d ke-8] Mengetahui:
    ‘ada jalan keluar lanjutan' (so ‘atthi uttari nissaraṇa’nti). Mengembangkan ini (tabbahulīkārā), Ia tegaskan itu ada (atthitievaassa) [MN.111/Anupada Sutta]

      Landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi:
      ... [setelah masuk landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi].. dari pencapaian itu (samāpattiyā), Ia keluar dengan penuh perhatian (sato vuṭṭhahati). Merenungkan (samanupassati) kondisi-kondisi (ye dhammā): yang telah berlalu (atītā), lenyap (niruddhā), dan berubah (dhamme): ‘Demikianlah kondisi-kondisi ini sesungguhnya: dari tidak ada - menjadi ada - dari ada - menjadi lenyap.’ → sankhāra anicca, dukkha, anatta

      Sehubungan dengan kondisi-kondisi itu, Pikirannya menjadi: tak tertarik, tidak menolak, tidak bergantung, tidak terhubung dengannya, lepas/mengalir, longgar/bebas, bebas dari penghalang. → bukan aku, bukan miliku, bukan diriku.

      Ia mengetahui: ‘ada jalan keluar lanjutan'. Mengembangkan ini, Ia tegaskan itu ada [MN.111/Anupada Sutta]

    Pencapaian (samāpatti): saññāvedayitanirodha / animitta cetosamādhi:

    • ... .. [setelah masuk lenyapnya persepsi dan perasaan] ... Dari pencapaian itu, keluar dengan penuh perhatian. Merenungkan kondisi-kondisi: yang telah berlalu, lenyap, dan berubah: ‘Demikianlah kondisi-kondisi ini sesungguhnya: dari tidak ada - menjadi ada - dari ada - menjadi lenyap.’ → sankhāra anicca, dukkha, anatta

      Sehubungan dengan kondisi-kondisi itu, Pikirannya menjadi: tak tertarik, tidak menolak, tidak bergantung, tidak terhubung dengannya, lepas/mengalir, longgar/bebas, bebas dari penghalang. → bukan aku, bukan miliku, bukan diriku.

      Ia mengetahui:
      ‘Tidak ada jalan keluar lanjutan'. Mengembangkan ini, Ia tegaskan tidak ada (naatthitievaassa) [MN.111/Anupada Sutta]

    • Untuk pencapaian animmitta cetosamädhi, di MN 121/Cūḷasuññata Sutta, disampaikan sebagai berikut:

      Dengan tidak memperhatikan: Persepsi landasan tidak ada apa-apapun (ākiñcaññāyatanasañña), Persepsi landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi (nevasaññānāsaññāyatanasañña). Perhatian tunggal bergantung pada (paṭicca manasi karoti ekattaṃ) pikiran dengan pikiran terpusat tanpa gambaran (animittaṃ cetosamādhiṃ). Pikirannya berada tanpa gambaran, pikirannya mendapatkan kepuasan (pakkhandati), kejelasan (pasīdati), kokoh (santiṭṭhati), dan menetap (adhimuccati).

      • Ia mengetahui (pajānāti):
        Kepedihan apapun (assu darathā) bergantung pada: Persepsi landasan tidak ada apa-apapun (ākiñcaññāyatanasañña), persepsi landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi (nevasaññānāsaññāyatanasañña)

        Tidak ada di sini.

        Hanya ada kepedihan yang berhubungan dengan 6 landasan yang bergantung pada jasmani dan dikondisikan oleh kehidupan

        Ia mengetahui (pajanati):
        ‘Bidang persepsi ini hampa/kosong (sunna) dari: Persepsi landasan tidak ada apa-apapun (ākiñcaññāyatanasañña), Persepsi landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi (nevasaññānāsaññāyatanasañña)

        Ketidakhampaan/Kekosongan ini (asunna) bergantung tunggal pada yang berhubungan dengan 6 landasan yang bergantung pada jasmani dan dikondisikan oleh kehidupan.’

        Demikianlah ia melihat/menganggap hampa/kosong dari apa yang tidak ada di sana, tetapi sehubungan dengan apa yang ada di sana ia memahami apa yang ada di sana sebagai berikut: ‘Ini ada.’, atau

      • Ia mengetahui (pajānāti):
        Pikiran terpusat tanpa gambaran adalah terkondisi (abhisaṅkhato), dihasilkan melalui kehendak (abhisañcetayito). Apapun yang terkondisi, dihasilkan melalui kehendak adalah tidak kekal, tunduk pada lenyapnya.’

        Ketika ia mengetahui dan melihat demikian, pikirannya terbebaskan dari noda keinginan indria, dari noda penjelmaan, dan dari noda kebodohan. Ketika terbebaskan muncullah pengetahuan: ‘Terbebaskan.’

        Ia mengetahui (pajanati):
        ‘Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, takkan ada lagi penjelmaan menjadi kondisi makhluk apapun
"Demikianlah, para bhikkhu; seorang bhikkhu tanpa ketenangan samädhi dan menghargainya (na santena samādhinā na paṇītena), tanpa meraih ketenangan (paṭippassaddhiladdhena), tanpa mencapai pengembangan keterpusatan (na ekodibhāvādhigatena) tidak dapat memasuki dan berdiam dalam pembebasan pikiran atau pembebasan kebijaksanaan." [AN 6.70/Samädhi Sutta]

Bahkan,
Sang buddha di AN 9.44/Paññāvimutti sutta menyampaikan bahwa cara mencapai kebebasan melalui kebijaksanaan (Paññāvimutti) adalah melalui jhana dan dapat di mulai dari jhana ke-1. []
---------------

ATTHA LOKA-DHAMMA (8 Kondisi Duniawi)

Ada 8 kondisi duniawi yang silih berganti di dunia, dan dunia silih berganti dengan 8 kondisi duniawi [aṭṭha lokadhammā lokaṃ anuparivattanti, loko ca ime aṭṭha lokadhamme anuparivattati], yaitu.

Lābha - alābha (untung – rugi)
yasa - ayasa (terkenal/sukses/masyhur – gagal/terpuruk/kehinaan)
nindā - pasaṃsā (celaan – pujian)
sukha - dukkha (senang/nikmat – sedih/sakit)

Keuntungan menguasai pikirannya, kerugian menguasai pikirannya, kemasyhuran menguasai pikirannya, kehinaan mengusai pikirannya, celaan menguasai pikirannya, pujian menguasai pikirannya, kenikmatan menguasai pikirannya dan kesakitan menguasai pikirannya. Ia tertarik pada keuntungan dan menolak kerugian. Ia tertarik pada kemasyhuran dan menolak kehinaan. Ia tertarik pada pujian dan menolak celaan. Ia tertarik pada kenikmatan dan menolak kesakitan. Demikianlah dengan terlibat dalam ketertarikan dan penolakan, ia tidak terbebas dari kelahiran, dari penuaan dan kematian, dari dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan kesengsaraan; ia tidak terbebas dari penderitaan [AN 8.5, 8.6, DN 33, 34]
    Keuntungan dan kerugian, kehinaan dan kemasyhuran,
    celaan dan pujian, kenikmatan dan kesakitan:
    ini tidak kekal dialami manusia
    bersifat sementara dan tunduk pada perubahan

    Seorang bijak penuh perhatian tahu akan ini
    melihat ini tunduk pada perubahan.
    Hal menyenangkan tak menggairahkan pikirannya
    hal tak menyenangkan tak mmbuatnya mundur

    Ia telah halau ketertarikan dan penolakan;
    hal-hal itu telah pergi dan tak ada lagi.
    Setelah mengetahui keadaan tanpa noda dan dukacita,
    mengetahui benar bahwa penjelmaan telah dilampauinya
    . [AN 8.5-6]
Penolakan berlebihan dapat mengakibatkan kemalasan, padahal itupun berbahaya:
    ‘Ada 6 bahaya yang terdapat dalam kemalasan: mengeluh: “Terlalu dingin” ia tidak bekerja; “Terlalu panas” ia tidak bekerja; “Terlalu pagi” ia tidak bekerja; “Terlalu larut” ia tidak bekerja; “Aku terlalu lapar” ia tidak bekerja; “Aku terlalu kenyang” ia tidak bekerja’ “Terlalu dingin! Terlalu panas! Terlalu larut!” mereka mengeluh, dan meninggalkan pekerjaan mereka, hingga setiap kesempatan untuk melakukan kebajikan terlepaskan. Tetapi ia yang menganggap dingin dan panas tidak berarti, bertindak sebagai lelaki yang melaksanakan tugas-tugasnya, kegembiraannya takkan berkurang. [DN.31/Sigalaka Sutta]
Mereka yang telah mengembangkan latihan menegakkan perhatian pada jasmani sehubungan dengan jasmani (kāye kāyagatāsati), akan:
  1. seperti halnya tanah, di mana mereka membuang benda-benda yang murni maupun tidak murni – kotoran tinja, air kencing, ludah, nanah, dan darah – namun tanah ini tidak menolak, tidak muak, dan tidak jijik karena itu; demikian pula, aku (evamevaṃ kho ahaṃ) berdiam dalam pikiran seperti tanah, melimpah, luhur, tak berbatas, mudah menerima, tanpa kehendak buruk/benci/memusuhi/penolakan (pathavīsamena cetasā viharāmi vipulena mahaggatena appamāṇena averena abyāpajjena).
  2. Seperti halnya air, di mana mereka mencuci benda-benda yang murni maupun tidak murni – kotoran tinja, air kencing, ludah, nanah, dan darah – namun air itu itu tidak menolak, tidak muak, dan tidak jijik karena itu; demikian pula, aku berdiam dalam pikiran seperti air, melimpah, luhur, tak berbatas,...
  3. Seperti halnya api yang membakar benda-benda yang murni maupun tidak murni – kotoran tinja, air kencing, ludah, nanah, dan darah – namun api itu tidak menolak, tidak muak, dan tidak jijik karena itu; demikian pula, aku berdiam dalam pikiran seperti api, melimpah, luhur, tak berbatas,..
  4. Seperti halnya udara yang meniup benda-benda yang murni maupun tidak murni – kotoran tinja, air kencing, ludah, nanah, dan darah – namun udara itu itu tidak menolak, tidak muak, dan tidak jijik karena itu; demikian pula, aku berdiam dalam pikiran seperti udara, melimpah, luhur, tak berbatas,..
  5. Seperti halnya sebuah sikat yang menghapuskan benda-benda yang murni maupun tidak murni – kotoran tinja, air kencing, ludah, nanah, dan darah – namun sikat itu tidak menolak, tidak muak, dan tidak jijik karena itu; demikian pula, aku berdiam dalam pikiran seperti sebuah sikat, melimpah, luhur, tak berbatas..
  6. Seperti halnya seorang anak laki-laki atau anak perempuan dari kasta terbuang, yang berpakaian dari kain bertambalan dan memegang kendi, memasuki sebuah desa atau pemukiman dengan pikiran rendah hati; demikian pula, aku berdiam dalam pikiran seperti anak laki-laki dari kasta buangan itu, melimpah, luhur, tak berbatas,..
  7. Seperti halnya seekor sapi jantan dengan tanduk terpotong, yang lembut, yang dijinakkan dengan baik dan dilatih dengan baik, berkeliaran dari jalan ke jalan, dari lapangan ke lapangan tanpa melukai siapa pun dengan kaki atau tanduknya; demikian pula, aku berdiam dalam pikiran bagaikan pikiran sapi jantan yang tanduknya terpotong itu, melimpah, luhur, tak berbatas,..
  8. Seperti halnya seorang perempuan atau lelaki - muda, berpenampilan muda, dan menyukai perhiasan, dengan kepala dicuci – akan mundur, muak, dan jijik jika bangkai ular, anjing, atau manusia, dikalungkan di lehernya; demikian pula, aku mundur, muak, dan jijik oleh tubuh busuk ini
  9. Seperti halnya seseorang yang membawa mangkuk retak dan berlubang berisi cairan lemak yang tumpah dan menetes; demikian pula, aku membawa tubuh retak dan berlubang yang tumpah dan menetes [AN 9.11/Sāriputta sīhanāda]
Mereka dengan mental seimbang tidaklah goyah, tidaklah bergetar dalam pujian, celaan, untung, rugi, suka, duka, seteguh batu karang. 'mereka telah meninggalkan dan menanggalkan keinginan terhadap apapun. Tak lagi menghiraukan pikiran-pikiran untuk memiliki. Tak disentuh kesakitan ataupun kebahagiaan, para Bijak tak menunjukkan kegairahan atau keputusan-asaan.

'Dengan bebas dari ketakutan dan kegelisahan, ia mampu mengenali kerapuhan dari sesuatu yang tak kekal. mental yang tenang … maju terus, baik saat yang menguntungkan maupun merugikan, pada keteguhan langkah sendiri bagaikan lonceng yang berdetak terus di saat terjadi badai.' ["The Buddha His Life and Teaching", Piyadassi Thera, R.L Stevenson, Ch.13] []
---------------

Sikap Buddhis Yang Baik Ketika Tinggal Di KOMUNITAS Yang GANAS

Tidak memuji kejahatan yang telah terjadi, hanya melihat kebaikan karena tidak terjadi kejahatan lainnya:
    [..]Puṇṇa, di negeri manakah engkau akan menetap?”

    “Yang Mulia, .. aku akan menetap di negeri Sunāparanta.”

    “Puṇṇa, orang-orang Sunāparanta ganas dan kasar. Jika mereka mencaci dan mengancammu, apa yang akan menjadi perhatianmu? / bagaimana kau akan menyikapinya? (kinti bhavissatī?)”

    “Yang Mulia, jika orang-orang Sunāparanta mencaci dan mengancamku, maka yang akan menjadi perhatianku / aku akan bersikap: ‘Orang-orang Sunāparanta ini sungguh baik, sungguh sangat baik, sehingga mereka tidak memukulku dengan tinju.’ Demikian aku akan menyikapinya, Sang Bhagavā..”

    “Tetapi, Puṇṇa, jika orang-orang Sunāparanta memukulmu dengan tinju, bagaimana kau akan menyikapinya?”

    “Yang Mulia, jika orang-orang Sunāparanta memukulku dengan tinju, maka aku akan bersikap: ‘Orang-orang Sunāparanta ini sungguh baik, sungguh sangat baik, sehingga mereka tidak memukulku dengan bongkahan tanah.’ Demikian aku akan menyikapinya, Sang Bhagavā..”

    “Tetapi, Puṇṇa, jika orang-orang Sunāparanta memukulmu dengan bongkahan tanah, bagaimana kau akan menyikapinya?”

    “Yang Mulia, jika orang-orang Sunāparanta memukulku dengan bongkahan tanah, maka aku akan bersikap: ‘Orang-orang Sunāparanta ini sungguh baik, sungguh sangat baik, sehingga mereka tidak memukulku dengan tongkat kayu.’ Demikian aku akan menyikapinya, Sang Bhagavā..”

    “Tetapi, Puṇṇa, jika orang-orang Sunāparanta memukulmu dengan tongkat kayu, bagaimana kau akan menyikapinya?”

    “Yang Mulia, jika orang-orang Sunāparanta memukulku dengan tongkat kayu, maka aku akan bersikap: ‘Orang-orang Sunāparanta ini sungguh baik, sungguh sangat baik, sehingga mereka tidak menusukku dengan pisau.’ Demikian aku akan menyikapinya, Sang Bhagavā..”

    “Tetapi, Puṇṇa, jika orang-orang Sunāparanta menusukmu dengan pisau, bagaimana kau akan menyikapinya?”

    “Yang Mulia, jika orang-orang Sunāparanta menusukku dengan pisau, maka aku akan bersikap: ‘Orang-orang Sunāparanta ini sungguh baik, sungguh sangat baik, sehingga mereka tidak membunuhku dengan pisau tajam.’ Demikian aku akan menyikapinya, Sang Bhagavā..”

    “Tetapi, Puṇṇa, jika orang-orang Sunāparanta akan membunuhmu dengan pisau tajam, bagaimana kau akan menyikapinya?”

    “Yang Mulia, jika orang-orang Sunāparanta akan membunuhku dengan pisau tajam, maka aku akan bersikap: ‘Ada para siswa Sang Bhagavā yang karena merasa muak, malu dan jijik akan jasmani ini, akan kehidupan ini, telah berharap agar dapat terbunuh. Tetapi aku telah mendapatkan pembunuh ini bahkan tanpa mengharapkannya.’ Demikian aku akan menyikapinya, Sang Bhagavā..”

    “Bagus, bagus, Puṇṇa! Dengan memiliki pengendalian diri dan kedamaian demikian, Kau akan mampu bertahan di negeri Sunāparanta. Sekarang, Puṇṇa, adalah waktunya kau melakukan apa yang perlu kau lakukan.” [..] [MN 145/Puṇṇovāda Sutta, SN 35.88] []
---------------

PARITTĀ, DOA, PUJA BAKTI, MENYEMBAH dan BERLINDUNG

Saat membutuhkan ata dalam situasi sulit, banyak orang berdoa (KBBI: permohonan, harapan, permintaan, pujian) pada kekuatan tertentu berharap untuk dibantu dan hasilnya kadang: ada, tidak, atau berada di antara ke-2nya atau tidak diantara ke-2nya.

Sang Buddha TIDAK mengajarkan memohon/meminta pada sosok tertentu, namun diajarkan untuk menjadikan diri sendiri sebagai pelindung dengan melatih prilaku moralitas tertentu. BUKAN dengan memohon pada kekuatan tertentu dan/atau dengan upacara tertentu manfaat dan/atau kesucian diperloleh NAMUN melalui pandangan, kehendak, perkataan, perbuatan, penghidupan, upaya, perhatian dan pemusatan pikiran yang benar.

Upacara persembahan pada, korban untuk dan memohon pada sosok tertentu juga doa-doanya adalah karena salah memahami atau kemelekatan pada praktek/aturan, Ini adalah belenggu ke-3 (Silabbataparamasa) dari 10 belenggu yang harus dihancurkan agar terbebas dari kelahiran kembali. Ini adalah sebuah kesia-siaan.
    Satu hari, ketika Sang Buddha berdialog dengan perumah tangga terkemuka bernama Anathapindika (beliau menyatakan komentarnya terhadap penggunaan doa-doa):

    "O perumah tangga, terdapat 5 hal yang diinginkan, menyenangkan dan disetujui yang jarang di dunia ini. Apakah ke-5 hal tersebut?

    Mereka adalah umur panjang, kecantikan (ketampanan), kegembiraan, nama baik (kemasyuran) dan (tumimbal lahir) di alam Deva.

    Namun, O perumah tangga, di antara ke-5 hal ini, saya tidak mengajarkan bahwa mereka diperoleh dengan doa (āyācanahetu) atau bersumpah kaul (patthanāhetu). Apabila seseorang dapat memperoleh ke-5 hal itu hanya dengan doa atau kaul, siapakah yang takkan melakukannya?

    Bagi siswa yang mulia, O perumah tangga, yang berharap memiliki umur panjang, tidaklah tepat jika ia harus berdoa bagi umur panjang atau merasa senang melakukan hal itu. Ia seyogyanya lebih baik mengikuti satu jalan kehidupan (Dana, Sila, Bhavana) yang menunjang panjangnya umur. Dengan mengikuti jalan tersebut ia akan memperoleh umur panjang baik sebagai mahluk Devata maupun manusia.

    Bagi siswa yang mulia, O perumah tangga, yang berharap memiliki kecantikan..kegembiraan..kemasyuran.., (tumimbal lahir) di alam Deva, tidaklah tepat jika ia harus berdoa bagi hal itu atau merasa senang melakukan hal itu.

    Ia seyogyanya lebih baik mengikuti satu jalan kehidupan (Dana, Sila, Bhavana) yang menunjang kecantikan..kegembiraan..kemasyuran.., (tumimbal lahir) di alam Deva. Dengan mengikuti jalan tersebut ia akan (tumimbal lahir) di alam Deva." [AN 5.43/Pañcaiṭṭhadhamma]
Juga:
    Ketika Sang Buddha menetap di Nalanda di Kebun Mangga Pavarika, seorang kepala kampung putera Asibandhaka berkata pada Sang Buddha bahwa para brahmana dari Barat, pembawa pot air, pemakai parfum lily, yang menyucikan menggunakan air, pemuja api, mengakhiri upacara kematian dengan cara mengangkat orang mati itu ke atas dan membawanya keluar, memanggil namanya dan hal ini dipercayai untuk mempercepat orang mati itu ke alam Deva.

    Atas pernyataan tersebut, Sang Buddha bertanya dengan mengemukakan 2 buah perumpamaan yang patut kita renungkan setiap saat sehingga tidak tergoda oleh fasilitas maupun ancaman oknum penjual kepercayaan religius, sebagai berikut:

    1. Andaikata, seseorang melemparkan sebuah batu karang yang amat besar ke sebuah kolam air yang sangat dalam; kemudian sejumlah besar orang berkumpul, bergerombol bersama, berdoa serta memujinya dan melakukannya dengan merangkapkan kedua tangan dan berkata:

      "Naiklah, batu karang yang baik! Mengambanglah, batu karang yang baik! Mengambanglah ke tepi, batu karang yang baik!"

      Mungkinkah karena doa-doa, pujian yang dilakukan dengan penuh hormat dengan merangkapkan kedua belah tangan menyebabkan batu karang yang amat besar itu naik ke atas dan mengambang ke tepi?'

      Asibandhaka: hal itu tidak mungkin terjadi.

      Sang Buddha: Demikian pula halnya dengan siapa saja yang menyakiti mahluk hidup, mengambil yang tidak diberikan, berprilaku salah dalam kenikmatan indriya, menyatakan yang tidak benar; memecah-belah, berbicara kasar, bergossip/hal yang tidak bermanfaat, tamak/irihati, berpikiran buruk dan berpandangan salah, betapapun besarnya kumpulan orang yang berdoa bersama, melakukan pujian, penghormatan dengan merangkapkan kedua belah tangan ke atas dengan berkata:

      "Semoga orang ini, bersamaan hancurnya tubuh setelah kematian terlahir di keadaan bahagia di alam Deva."

      Orang tersebut, bersamaan hancurnya tubuh setelah kematian terlahir di keadaan sengsara/merugi menderita menuju kehancuran bahkan neraka.

    2. Andaikata, seseorang menyelam membawa guci berisi mentega atau minyak ke sebuah kolam air yang sangat dalam, lalu memecahkan guci tersebut sehingga pecahan guci itu tenggelam sedangkan mentega atau minyaknya mengambang naik ke permukaan air; kemudian sejumlah besar orang berkumpul, bergerombol bersama, berdoa serta memujinya dan melakukannya dengan merangkapkan kedua tangan (beranjali), dan berkata:

      "Turunlah, mentega yang baik! Tenggelamlah ke dasar kolam, mentega yang baik! Pergilah ke dasar kolam, mentega dan minyak yang baik!"

      Mungkinkah karena doa-doa, pujian yang dilakukan dengan penuh hormat dengan merangkapkan kedua belah tangan ke atas menyebabkan mentega atau minyak itu turun ke bawah dan tenggelam ke dasar kolam ?'

      Asibandhaka: hal itu tidak mungkin terjadi.

      Sang Buddha: Demikian pula halnya dengan siapa saja yang menahan diri dari: menyakiti mahluk hidup, mengambil yang tidak diberikan, berprilaku salah dalam kenikmatan indriya, menyatakan yang tidak benar; memecah-belah, berbicara kasar, bergossip/hal yang tidak bermanfaat, tamak/irihati, berpikiran buruk dan berpandangan salah, betapapun besarnya kumpulan orang yang berdoa bersama, melakukan pujian, penghormatan dengan merangkapkan kedua belah tangan ke atas dengan berkata:

      "Semoga orang ini, bersamaan hancurnya tubuh setelah kematian terlahir di keadaan sengsara/merugi menderita menuju kehancuran bahkan neraka"

      Orang tersebut, bersamaan hancurnya tubuh setelah kematian terlahir di keadaan berbahagia di alam Deva... [SN 42.6/Asibandhakaputta Sutta]

Paritā dan Mantra
Parittā (pari = segala arah; trā/tara = perlindungan; mantra: mano = pikiran + tara) adalah sloka/gatha/kalimat/paragraph dari ceramah sang Buddha (dan/atau BUKAN dari Sang Buddha) yang bertujuan untuk melindungi diri sendiri dan/atau pihak lain. Manfaat pembacaan parittā:
  • Karena mengucapkan hal yang baik, maka ini memupuk kamma baik melalui pikiran dan ucapan (karenanya, sangat penting untuk memahami arti/maksud sloka-sloka tersebut)
  • Ini menyebabkan orang berupaya mencari tahu maksudnya. Setelah tahu dan dimengerti maka akan dipraktekkan dikeseharian
  • Pengulangan pembacaan berarti melestarikan ajaran para Buddha
Menurut Milinda Panha[13], ada 3 alasan parittā tidak bekerja: kamma masa lalu, kekotoran mental masa kini, dan kurangnya keyakinan. Parittā kehilangan kekuatannya karena "cacat" yang berasal dari mereka sendiri.

TIDAK SEMUA PARITTĀ yang KERAP diujarkan kalangan BUDDHISM berasal dari sabda sang Buddha dan/atau orang suci lainnya, misalnya di buku “Parittā suci”, yang disusun Yayasan Sangha Theravada Indonesia, cetakan ke-4, terdapat banyak parittā karangan orang biasa saja (bukan orang suci) dan muncul jauh abad setelah konsili ke-3, sample:
  • “pattidana” (hal.122), “Namakārasiddhi Gāthā” (hal.73-74), “Namokāraţţhaka Gāthā” (hal 78) adalah karangan Phra Poramenthra Maha Mongkut Phra Chom Klao Chao Yu Hua, raja ke-4 Thailand (1804-1868), pendiri Dhammayuttika Nikaya - salah satu aliran Buddhisme di Thailand. Bahkan di “Namokāraţţhaka Gāthā” sang pengarang malah mengajarkan mengucapkan mantra “AUM” yang seharusnya TIDAK DIKENAL dalam khazanah Buddhism awal
  • ”Buddha Jaya Mangala Gatha” (hal.108) adalah karangan Sumdhet Pawanarat, Biarawan pertama Kuil Yai Chai Mongkhol, yang ia persembahkan kepada Raja Thailand, Naresuan (1555-1605, juga dikenal dengan julukan “pangeran hitam”) untuk merayakan kemenangan perang Thailand melawan Burma. Isi parittā memang tidak ada relevansinya dengan perang antara Thailand vs Burma, namun kemunculan parittā ini justru karena perang
Sehingga, yang beralasan melestarikan ajaran dan juga sebagai perlindungan, langkah awal yang SEHARUSNYA dilakukan adalah MEMBUANG parittā-parittā yang BUKAN sabda sang Buddha (atau BUKAN dari konsili ke-1 dan 2) dan lebih berfokus pada pengulangan sutta-sutta dan vinaya saja

3 kalimat perlindungan dalam Buddhisme:
  • Buddham Sāranam Gacchāmi (sāra = sangat berharga, sarati = mengenang/merenung, sarana: pergi, berlindung pada. Gacchati = menuju, berjalan) = Aku mengikuti Buddha/Aku berlindung pada Buddha (yaitu mengikuti kualitas/sifat para Buddha).
  • Dhammam Sāranam Gacchāmi = Aku mengikuti Dhamma/Aku berlindung pada Dhamma (yaitu berupaya melaksanakan ajaran para Buddha, menghindari diri dari hal yang akusala/tidak bermanfaat).
  • Sangham Sāranam Gacchāmi = Aku mengikuti Sangha/Aku berlindung pada Sangha (yaitu KOMUNITAS yang menjalankan ajaran para Buddha yang melakukan latihan untuk membebaskan diri dari dosa, lobha dan moha). Dalam terminologi Buddhis, kelompok ini adalah:

    • Savaka Sangha [savaka = murid], kumpulan Ariya [mulai level Sotapanna atau lebih], manusia atau bukan. Mereka juga disebut THERA (sesepuh/senior).
    • Sammuti sangha [sammuti = tradisi, ungkapan populer]/ sangha konvensional [monastik], kumpulan para Bhikkhu: Puthujjana dan Ariya

    Mereka yang tahu/mengenal kualitas seorang Buddha akan menyerukan rasa hormat (Vandana) seperti ini:

      "Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma-Sambuddhassa" (Hormat pada Sang Bhagavā, yang sempurna dan tercerahkan sempurna) - [MN 27/Cūḷahatthipadopama Sutta]

    Pujian itu, diantaranya disampaikan Brahma Janussoni, Brahmana Karanapali dan Brahmani Dhananjani yang saat mengucapkan itu, belum menjadi pengikut Sang Buddha.
Puja Bakti, Namakkāra dan Pemuja Berhala
[Pujja = penghormatan + bhaj/Bhakti = pengabdian, kesukaan, rangkaian; Nama = hormat/penghormatan + kāra = tindakan], yaitu kegiatan menghormati dengan menjalankan ajaran. Sang Buddha menyampaikan tentang cara menghormat yang diharapkan Beliau:
    "Para bhikkhu, barang siapa yang mencintai dan menghormatiKu seharusnya berkelakuan seperti Attadattha. Tidaklah datang dengan memberikan bunga-bunga, wangi-wangian, dupa, atau menjenguk-Ku, kalian menghormatiKu, namun dengan mempraktekkan Dhamma yang telah Kuajarkan pada kalian seperti Lokuttara Dhamma, Kalian memberikan penghormatan padaKu" [Komentar Dhammapada, Syair ke-166]
Di hari menjelang parinibbanaNya, ketika itu pohon Sala kembar berbunga di luar musimnya, bunga-bunga jatuh berhamburan, bunga surgawi, serbuk cendana surgawi bertaburan, nyanyian surgawi serta suara musik surgawi berkumandang sebagai tanda penghormatan pada beliau. Namun sang Buddha berkata:
    Na kho Ānanda ettāvatā (Bukan dengan seperti ini, Ananda) Tathāgato sakkato vā hoti garukato vā mānito vā pūjito vā apacito vā (Sang Tathagata dihormati, dimuliakan, dihargai, dipuja dan dijunjung). Siapa saja, apakah bhikkhu, bhikkhuni, umat awam pria dan wanita, yang berpegang pada Dhamma, hidup sesuai Dhamma, berkelakuan sesuai Dhamma, Ia menghormati, memuliakan, menghargai, memuja, menjunjung Sang Tathagata dengan pemujaan tertinggi. Oleh karenanya, Ananda, berpeganglah pada Dhamma, hidup sesuai Dhamma dan berkelakuanlah sesuai Dhamma. Demikian caramu melatih diri" [DN 16/Maha Parinibbana Sutta]
Kemudian, beberapa variasi bentukan “namakhara” yang ada di tradisi India:
  1. Pradaksina [Pa+Dakkhina], berjalan memutari objek searah jarum jam/menuju arah selatan, Objek selalu di arah kanan (Ini artinya arah mataangin pertama adalah TIMUR) [Dilakukan oleh yang mengerti arti seorang Mulia, diantaranya oleh Raja Pasenadi, Kosala (Dhammapada Bab 13.6). Di Udana 5.3/Kutthi Sutta, mengisahkan kehidupan lalu Suppabuddha, si penderita kusta (Dhammapada Bab.V). Ketika melihat seorang Pacceka Buddha berpenyakit kusta, Ia meludah dan arahkan bagian kiri badannya lalu pergi]
  2. Tengkurap dengan dada dan kepala menghadap tanah dan tangan sejajar
  3. Berlutut dan membungkuk hingga dahi menyentuh tanah (5 titik menyentuh tanah), kadang dikenal sebagai "menyembah" dan sekarang bentukan ini dikenal dengan nama namaskara/namakkara
  4. Berlutut namun tangan tercakup di dada. [Dhammapada syair ke-167]
  5. Berdiri membungkukan badan. [oleh menteri Santati (suami Putri Suppavasa), Dhammapada syair ke-414]
  6. Membungkukkan badan ke arah objek dan selalu tidur dengan kepala menghadap ke arah yang sama [Sariputta, Dhammapada syair ke-392]
  7. Anjali, tangan tercakup di dada.
  8. Berjalan mundur. [Oleh Uttari theri (berusia 120 tahun), Dhammapada syair ke-148]
  9. Mempersembahkan Dupa, bunga dan wangi-wangian [Oleh Sakkha, Raja Deva, Dhammapada syair ke-94, Culasubhadda dari Ugga di Dhammapada syair ke-304]
Tujuan dari memberikan penghormatan atau mendatangi tempat tertentu adalah agar terbangkitnya ketergugahan (saṃvejanīyāni ṭhānāni) dan/atau agar pikiran dalam keadaan damai bahagia (pasannacittā). Namun sayangnya, tempat atau orang/relik yang benar-benar bermanfaat untuk membantu berada di keadaan itu, terbatas jumlahnya:
  • Ananda:
    Guru, Dahulu, sesudah musim hujan para bhikkhu dari berbagai tempat biasanya datang menemui Sang Tathagata. Kami berkesempatan melihat para bikkhu yang layak dihormati, berkesempatan untuk menemuiMu. Namun setelah Sang Bhagava tiada, Kami tidak berkesempatan melihat para bhikkhu yang layak dihormati, tidak dapat menemuimu

    Sang Buddha:
    Ada 4 Tempat, Ananda, bagi seorang yang berkeyakinan mendatanginya (saddhassa kulaputtassadassanīyāni), bangkit ketergugahannya: haru atau antusias (saṃvejanīyāni ṭhānāni), yaitu tempat di mana Sang Tathagata:

    1. Dilahirkan
    2. Mencapai penerangan sempurna
    3. Memutar Roda Dhamma untuk kali pertama
    4. Parinibbana

    Para: bhikkhu, bhikkhuni, upasaka atau upasika yang berkeyakinan (saddhā), datang dalam damai (āgamissanti) [merenungkan:] 'Di sinilah Sang Tathagata: dilahirkan. ..mencapai Penerangan Sempurna. ..memutarkan roda dhamma untuk pertama kali. ..parinibbana', pergi ke tempat-tempat itu (cetiyacārikaṃ āhiṇḍantā) saatnya tiba (untuk wafat) dalam pikiran bahagia (pasannacittā kālaṃ karissanti), ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, akan terlahir bahagia di alam deva [DN 16]

  • Terdapat 4 jenis manusia, Ananda, yang pantas dibuatkan stupa, yaitu seorang:

    1. Tathagata Arahat Samma Sambuddha
    2. Pacceka Buddha
    3. Siswa dari Tathagata dan
    4. Raja Dunia

    Karena jika seseorang merenungkan: 'Ini adalah stupa Sang Bhagava Arahat Samma Sambuddha.. seorang raja dunia', pikirannya menjadi bahagia, maka dengan pikiran bahagia demikian, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, akan terlahir bahagia di alam deva

    Siapapun yang dengan: rangkaian bunga (mālaṃ), dupa/serbuk wangi (gandhaṃ va cuṇṇakaṃ) mempersembahkannya dalam damai (āropessanti), memberikan penghormatan dalam damai (abhivādessanti), pikirannya damai bahagia (cittaṃ va pasādessanti) maka bahagia dan sejahtera akan menyertainya dalam waktu yang lama (tesaṃ taṃ bhavissati dīgharattaṃ hitāya sukhāya) [DN 16]

    Setelah sang Buddha parinibbana, para umat awam pimpinan Brahmana Dona, membagikan relik dan abu beliau yang kemudian dibuat 10 stupa: 8 stupa untuk relik, yang ke-9 untuk tempayan dan yang ke-10 untuk abu Sang Bhagava [DN 16]. Kemudian, kitab komentar Dhammapada untuk syair 195-196 menyatakan tentang 3 kelompok jenis peninggalan yang digunakan untuk stupa, yaitu: Sarira-cetiya (sarira = bagian tubuh: rambut, dll); Uddissa-cetiya (uddissa: kisah, paritta, ciri-ciri); dan Paribhoga-cetiya (barang yang digunakan: mangkuk, jubah, Pohon Bodhi juga termasuk)

      Ia yang menghormati mereka yang patut dihormati, yakni Para Buddha atau siswa-siswa-Nya yang telah dapat mengatasi rintangan-rintangan, akan bebas dari kesedihan dan ratap tangis. Ia yang menghormati orang-orang suci yang telah menemukan kedamaian dan telah bebas dari ketakutan; maka jasa perbuatannya tak dapat diukur dengan ukuran apapun. [Dhammapada Syair 195-196]
Seperti terlihat di atas, patung Buddha jelas TIDAK TERMASUK dalam jenis cetiya dan BUKAN bagian dari yang diajarkan sang Buddha. Namun sekarang ini, justru banyak vihara berlomba-lomba memajang patung-patung Buddha (buddharûpa/buddhapatimâ): Buddha Gautama dan/atau Buddha 5 arah lainnya (Amitabha, Akshobya, Vairocana, Amoghasiddhi dan Ratnasambhava, para Bodhisatva dan Mahasatvanya di antaranya Avalokitesvara, dan lainnya. Ide tentang adanya Buddha-budha lain di berbagai arah mata angin telah tertolak di konsili ke-3, 3 SM [Lihat: Abhidhamma, KathaVathu 21.6], kisah keberadaan mereka ini, baru dibuat beberapa abad setelah konsili ke-3, jadi ini jelas hanya dongeng belaka). Di depan patung-patung itu, mereka melakukan ritual sujud 5 titik, añjali (mencakupkan tangan depan dada) dan/atau menganggukan kepala dan/atau mempersembahkan bunga, buah, lilin dan sebagainya.

Alasan mereka dalam melakukan penyembahan dan menghormati patung-pating Buddha diantaranya adalah untuk meminta berkah dan doa pengharapan, padahal, jangankan meminta-minta atau berharap sesuatu yang memang tidak diajarkan, bahkan menghormati patung Buddha (termasuk Buddha 5 arah mata angin berikut Bodhisatvanya) adalah kegiatan TIDAK BERGUNA dan TIDAK DIAJARKAN sang Buddha dan para sesepuh konsili ke-1-3.

Mereka yang mempertahankan ritual menyembah patung-patung ini, kemudian beralasan bahwa Ini adalah bentuk penghormatan dan cara berterima kasih karena kemunculan ajaran yang diberikan atau ada yang beralasan itu sebagai obyek samadhi/meditasi perenungan. Alasan ini TIDAKLAH TEPAT. Disamping patung-patung ini BUKANLAH representatif Buddha Gautama dan hanya imajinasi pembuatnya, cara memberhalakan seperti ini TIDAK DIAJARKAN Sang Buddha dan para sepuh konsili ke-1-3.

Ritual dan kegiatan seperti ini membahayakan pelaku karena pencerapan indriyanya menjadi menguat akibat pem-biasa-an dan kebiasaan berulang. Ketika cuticitta (pikiran menjelang wafat), kenangan tentang itu dalam perasaan menyenangkan atau menyakitkan mengkondisikannya terlahir di alam menyedihkan atau dalam kondisi merugi

Asalmuasal tradisi menyembah patung Buddha
Selama ratusan tahun setelah wafatnya Sang buddha tidak ada penggambaran bentuk buddha dan bahkan Dewa-dewa agama Brâhma (Sekarang lazim disebut Sanathana Dharma/Hindu) pun, awalnya dalam bentuk abstrak berupa penggambaran bentuk dan ciri melalui tutur kata saja.


Penghormatan Sang Buddha (buddhacetiyatthâna) pada masa itu masih berupa simbol-simbol: pohon Bodhi/asattha: simbol mencapai kebuddhaan; bunga teratai: simbol pencapaian kesucian; tempat duduk/singgasana kosong: simbol Sang Buddha; cakra/roda: simbol dhamma yang dibabarkan, tapak kaki bergambarkan cakra: simbol tapak kaki sang Buddha dan singa duduk di atas bentuk teratai: simbol keagungan dan keanggunan seseorang.

Demikianlah yang terjadi selama ratusan tahun.

Kemudian,
Di tahun 326 SM, Alexander yang agung menaklukan area Gandhara (ibukotanya Taxila, sekarang wilayah Afganistan/Pakistan), sejak itu terjadi akulturasi budaya Yunani - India, salah satunya adalah senirupa dan diantara periode tersebutlah dewa-dewa kepercayaan sanathana Dharma (dan tradisi spiritual India lainnya) banyak diwujudkan dalam bentuk patung namun Buddhism hingga lewatnya jaman Asoka tetap belum membuat bentukan gambar Buddha.

Pada akhir abad 2/awal 1 SM, Raja Menander I, asal Gandara yang menggandrungi Buddhism, walaupun koin kuno kerajaan tidak ada gambar Buddha, namun tradisi Yunani dalam menghormati filsuf mereka diabadikan dalam bentuk patung, maka Ia-lah yang diduga sebagai raja pertama yang membuat bentukan antropomorfik Buddha. Foucher menduga demikian melalui lukisan dinding China yang menggambarkan Kaisar Wu Han menyembah patung Buddha yang dibawa dari Asia Tengah pada 120 SM. Rupang Buddha awal dibentuk berdasarkan bentukan dewa Yunani Apollo ["Empire of Alexander the Great", Debra Skelton, Pamela Dell, 2009, hal.107; "A Journey Through India's Past", Chandra Mauli Mani, Jan 2005, hal.56 dan "Buddhism Today and Aesthetic Creativity", Ananda Guruge, 2010, hal.27]. Konon, Nagasena, guru Buddhis Menander yang membuat Buddha emerald di tahun 43 SM di kota Pataliputra, yang kemudian dibawa ke Thailand ["Encyclopaedia of Oriental Philosophy and Religion: Buddhism", Nagendra Kr Singh, A. P. Mishra, 2007, hal.611]. Namun beberapa cendekiawan arkeolog berpandangan bahwa buddharûpa diciptakan pertama kali pada zaman raja Kaniska dinasti Kusâna (berkuasa 119 - 163 M).

Mengenai asal usul tradisi menyembah buddharupa adalah karena dari sisi geografis, awal pembuatan buddharûpa terjadi di wilayah India Utara dan Barat Laut, yaitu wilayah Kashmir, Pakistan, Afganistan sekarang, yang mengikuti tradisi Uttaranikâya, cikal bakal tradisi Âcariyavâda (atau Mahâyâna: diperkirakan muncul pada akhir abad ke-1 SM - 1 M), sehingga dapat dikatakan bahwa objek puja dalam bentuk patung di buddhisme berasal dari kelompok Âcariyavâda ["Buddharupa", Bhikkhu Dhammadiro, Juli 2012, hal. 22-28] yang secara perlahan diserap aliran Theravada dan menjadi RITUAL menular pada umat awam (atau sebaliknya dari umat awam menular pada Bhikkhu) dan tindakan penyembahan ini dibumbui pernyataan bahwa ini merupakan perbuatan benar bermanfaat dan tidak menghormati jika tidak dilakukan sehingga MEMUNCULKAN PERASAAN TAKUT bagi yang enggan.

Klenteng VS Vihara
Di Indonesia ada kata "Kelenteng" yang asal muasal kata itu adalah karena bunyi lonceng. Umumnya orang anggap kelenteng = vihara, padahal untuk disebut vihara harus tidak ada patung deva-deva (hanya ada simbol-simbol Buddha), harus ada Dhammasala (tempat untuk berkhotbah) dan kuti (tempat menginap para bhikkhu/bhikkhuni). Kebanyakan kelenteng tidak memuat simbol-simbol Buddha malah memajang patung deva-deva dan ada kelenteng yang khusus digunakan untuk menyimpan abu leluhur dari suatu golongan masyarakat tertentu.

Menyembah Deva dan Leluhur
Boleh atau tidak seorang pemeluk Buddhisme memasang hio, memberikan persembahan atau memuja Dewa Kwan Kong atau Dewi Kwan Im [atau memohon keselamatan dan rejeki pada mahluk/Dzat tertentu]?

Tidak ada larangan memasang hio atau memberikan persembahan ataupun memohon perlindungan berupa keselamatan dan/atau rejeki di manapun [termasuk di kuburan, batu, pohon, kamar] namun apakah hal tersebut memberikan manfaat? Tepatkah objeknya? Caranya? Berlindung pada yang tepat?
    Guan Yu/ Kwan Kong (160 M - 219 M, 59 tahun), mempunyai 2 istri dan 3 anak (ping, suo dan xing-dari istri ke-2). Setelah kalah dalam perang, Ia kemudian dipenggal kepalanya, Karena marah dan penasaran, ia kemudian menjadi setan penasaran dan hendak membalas dendam. Konon kemudian ia bertemu Biksu Pu jing dan menjadi berlindung pada Tri Ratna

    Kwan Im,
    Legenda yang datang besama ajaran Buddha india di abad ke-1 SM, ia adalah pria, namun di jaman kerajaan sung [abad ke-10-13 M] berubah jadi wanita. Pengaruh ini berhubungan dengan ajaran tao dan kong hucu dan juga legenda purba China tentang Dewi Niang-Niang dan juga legenda puteri Miao San [abad ke-3 SM]. Raja Miao Zhuang, punya 3 Puteri dan hanya puteri bungsunya yang tidak mau menikah2 dan hidup menyepi. Raja habis kesabarannya dan memerintahkan untuk menangkap dan menghukum mati sang puteri. Ia dikisahkan MASUK NERAKA dan karena ia sedih melihat mereka yang dineraka Ia berdoa agar mereka yang di neraka berbahagia. Secara ajaib doanya membuat dirinya kembali pada rupanya terdahulu.

    Di 9 Tahun kemudian, Raja sakit parah dan ia berniat mengobati sang raja, namun terlambat dan sang raja masuk neraka. Ia kemudian menolong sang raja dengan keluar dari neraka dan untuk umpan ia potong tangannya sendiri dan mereka selamat. Raja kembali menjadi rupanya sendiri. Sang Raja kemudian Insaf dan jadi pengikut buddha Amitabha. Rakyat terharu dan membuatkan banyak tangan palsu dan secara ajaib Miao san kemudian bertangan seribu banyaknya. Legenda lainnya mengatakan ketika ia bersamadhi ia menjadi sedih karena begitu banyaknya mahluk yang menderita kepalanya menjadi pecah berkeping-keping, karena "welas asihnya" kepalanya kembali utuh dan menjadi bermata seribu. Ada juga legenda yang menyatakan saat dia berperang lawan siluman-siluman saking banyaknya ia kemudian menggunakan kesaktian tangan dan matanya menjadi ribuan.

    Diantara banyak legenda, satu sutra Mahayana (Maha Karuna Dharani Sutra) yang menyampaikan legenda lebih ajaib lagi bahwa belau ini bahkan telah menjadi Buddha
    Problem besar dari legenda Kwan Im di atas adalah ajaran Buddha masuk China paling cepat terjadi di abad ke-1 SM, sementara wujud Avalokitesvara (ava = ke bawah + lokita/melihat + īśvara = tuhan. Translasi tibet: chenrezig = mengamati + wangchug = Ishvara/tuhan) yang dimaksud adalah pria bukan wanita. Kisah tentang Dewi perempuan itu terjadi sekurangnya mulai abad 7 M

    Sebagai pembanding kesamaan hal di atas, adalah kisah berikut ini:

      Suatu masa, 4 putra orang kaya menyewa seorang pelacur, setelah selesai, salah satunya mengusulkan merampok perhiasan dan 1000 keping perak sang pelacur dan disetujui yang lainnya, kemudian mereka menyerangnya secara brutal. Pelacur itu marah dengan pikiran, "mereka jahat dan tidak tahu malu ini memanfaatkan diriku dengan penuh nafsu, sekarang berusaha membunuhku karena serakah. Aku tidak salah apa pun pada mereka. Aku putus asa. Biarkan mereka membunuhku. Semoga aku terlahir menjadi mahluk yang mampu membunuh mereka berkali-kali!"

    Pelacur itu wafat dengan dendam, terlahir berulang sebagai mahluk halus pembunuh dalam wujud seekor Banteng yang berulang membunuh mereka (Pukkhusati, Tambadatika, Suppabuda dan Bahiya Daruciriya)
Buddhism menjelaskan bahwa mereka yang menjelang wafatnya: penasaran, karena marah, kecewa, sedih, dendam dan/atau sakit hati maka kondisi perasaan negatif tersebut merupakan penyambung kesadaran menuju kemunculan di alam-alam bawah jelas menunjukan mereka bukanlah Dewa.

Kwan Kong maupun Kuan-im adalah leluhur keluarga tertentu jadi sah-sah saja bagi mereka menghormati leluhurnya dengan memasang hio, memberikan persembahan namun cara itu tidak bermanfaat bagi mendiang dan diri sendiri. Buddhisme menyarankannya dengan kemurahan hati [caga] ber-PATTIDANA[↓].

Sang Buddha juga menyatakan bahwa cara MENGHORMATI leluhur yang baik sebagaimana dinasehatkan Beliau pada SIGALAKA, dimana Suatu ketika, Sang Bhagavā sedang menetap di Rājagaha, di Taman Suaka Tupai, di Hutan Bambu. Pada saat itu, Sigālaka putra seorang perumah tangga, setelah bangun pagi dan keluar dari Rājagaha, sedang menyembah, dengan pakaian dan rambut basah dan tangan dirangkapkan, ke arah yang berbeda-beda: ke timur, selatan, barat, dan utara, ke bawah dan ke atas. Beliau menyatakan bukan itu maksud dari leluhur Sigala. Apa nasehat BELIAU pada SIGALAKA? silakan lihat di: Sigalaka Sutta

Kemudian,
MEMBERIKAN sesuatu pada YAKKHA juga tidaklah berguna, NAMUN ada bantuan yang dapat dimohonkan pada YAKKHA:
    ‘Ini, Yang Mulia, adalah syair-syair perlindungan Āṭānāṭā, yang dengannya para bhikkhu dan bhikkhunī, para umat awam laki-laki dan perempuan akan dikawal, dilindungi, tidak dicelakai, dan merasa nyaman.

    Dan jika bhikkhu atau bhikkhunī, umat awam laki-laki atau perempuan mana pun juga, mempelajari syair-syair ini dengan baik dan menghafalkannya dalam hati, maka jika makhluk bukan manusia mana pun juga, yakkha laki-laki atau perempuan atau anak-anak yakkha, atau pemimpin pelayan atau pelayan yakkha, gandhabba laki-laki atau perempuan, ... kumbhaṇḍa, ... nāga, ... mendatangi orang itu dengan niat jahat ketika ia sedang berjalan atau hendak berjalan, berdiri atau hendak berdiri, duduk atau hendak duduk, berbaring atau hendak berbaring, maka makhluk bukan manusia itu takkan dihormati dan disembah di desa dan kota. Makhluk itu takkan mendapatkan tempat tinggal di ibu kotaku Āḷakamandā, ia takkan diizinkan menghadiri pertemuan para yakkha, juga tidak diterima dalam suatu pernikahan. Dan semua makhluk bukan manusia, dengan kemarahan, akan mengecamnya. Kemudian mereka akan merenggut kepalanya seperti mangkuk kosong, dan mereka akan memecahkan kepalanya menjadi 7 keping.’

    ‘Ada, Yang Mulia, beberapa makhluk bukan manusia, yang ganas, liar, dan mengerikan. Mereka tidak mematuhi para Raja Dewa, juga tidak pada para menterinya, juga tidak pada para pelayannya. Mereka dikatakan memberontak melawan Raja Dewa. Bagaikan pemimpin-penjahat yang ditaklukkan oleh Raja Magadha, tidak mematuhi Raja Magadha, atau menterinya atau pelayannya, demikian pula mereka bersikap. Sekarang jika ada yakkha atau anak-anak yakkha yang mana pun, ... gandhabba, ... mendatangi bhikkhu atau bhikkhunī, umat awam laki-laki atau perempuan mana pun juga, dengan niat jahat, maka orang itu harus waspada, memanggil dan meneriakkan nama para yakkha, yakkha sakti, para pemimpin dan jenderal mereka, dengan mengatakan: “Yakkha ini telah menangkapku, menyakitiku, mencelakaiku, melukaiku, dan tidak membebaskanku!” [Untuk nama-nama Yakkha yang dapat dimanfaatkan jadi “tukang pukul”, liat DN32/Āṭānāṭiya Sutta]
Sutta ini adalah JANJI raja catumaharajika pada sang Buddha untuk melindungi para pengikut sang Buddha dari disakiti/dicelakai mahluk non alam itu, APAKAH mereka berkata benar dan menepati janjinya? Jawabannya tentu saja dapat.
    Maha Moggallana Thera kerap berkunjung ke alam Dewa dan mewawancarai para dewa sehubungan dengan perbuatan baik apa yang menyebabkan mereka terlahir di alam Dewa dan mereka memberikan jawaban yang berbeda-beda.

    • Dewa pertama mengatakan bukan karena banyak berdana atau sering mendengarkan Dhamma tetapi karena ia selalu berbicara benar.
    • Dewa wanita menyatakan karena tidak pernah marah pada tuannya dan tidak memiliki maksud buruk padanya meskipun tuannya sering memukul dan menyiksanya. Dengan meredam kemarahan dan menghindari kebencian, ia terlahir di alam Dewa.
    • Ada yang menyatakan karena sedikit berdana sebatang gula tebu, buah, atau beberapa sayuran pada seorang bhikkhu atau pada orang lain.

    Setelah kembali dari alam Dewa, Maha Moggallana Thera bertanya pada Sang Buddha, apakah mungkin meraih banyak keuntungan hanya dengan bicara benar, atau mengendalikan perbuatan atau dengan memberikan sedikit barang seperti buah dan sayuran.

    Sang Buddha menjawab, "Anak-Ku, mengapa kau bertanya hal itu ? Apakah kamu tidak melihat dan mendengar sendiri apa yang dewa-dewa itu katakan ? Seharusnya engkau tidak meragukannya.[..]" [Dhammapada Bab 15, syair 224]
SEBERAPA CEPAT REALISASI PEMENUHAN JANJINYA?

DI UPOSATHA SUTTA disebutkan: 1 hari di alam TAVATIMSA = 100 tahun di alam Manusia; 1 hari di alam CATUMAHARAJIKA = 50 tahun tahun di alam manusia, Sehingga:
    1 detik di alam tavatimsa = 10 JAM di alam manusia
    1 detik di alam catumaharajika = 5 jam di alam manusia
    1 jam alam Tavatimsa = 4 tahunan di alam manusia
    1 jam alam Catumaharajika = 2 tahunan di alam manusia
Dengan persamaan di atas, ketika MEMINTA PERTOLONGAN pada Yakkha/Deva yang disebutkan di atas, kehidupan kita bisa jadi sudah tidak sama lagi dan tidak lagi di alam yang sama, karena kedatangannya, terjadi SEKURANGNYA dalam 5 jam sejak saat kejadian!

Mengapa? Karena itu jika minta bantuan pada yang disebutkan di Atanatiya sutta dan akan menjadi lebih lama lagi jika bukan.

Misalkan kerabat kita wafat dan terlahir di alam Catumaharajika, saat terlahir, tentu Ia terheran dengan keadaan barunya sehingga perhatiannya akan banyak teralihkan dan belum tentu Ia akan segera merenungkan, "Mengapa Aku berada di sini?, Siapa dan dimana aku sebelumnya?" dan setelahnya ada kemungkinan ia berniat mencari keturunannya.

Sehingga jika beliau tersebut tersadar saja di 1 harian, maka itu = 50 tahun kemudian! Dan saat itu, bisa jadi kita telah wafat dan telah terlahir kembali dalam keadaan yang berbeda.

Objek yang tidak tepat lainnya adalah MEMUJA bentukan berupa batu, patung manusia/dewa/binatang, mahluk2 halus tertentu baik yang menyerupai binatang atau tanpa bentuk apapun ataupun ritual-ritual mandi kembang dengan tujuan meminta dan memohon atau berterimakasih.

Jadi apa objek yang tepat?

Buddha! Namun TIDAK BERGUNA jika disembah (termasuk dengan mempersembahkan bunga, buah dan dupa) untuk meminta, memohon keselamatan dan rejeki:
    Ketika Sang Buddha mengumumkan bahwa sekian bulan lagi beliau akan mangkat, maka di beberapa waktu kemudian segerombolan Bikkhu berusaha mengadili beberapa bikkhu [Attadattha, Dhammarama dan Tissa Thera] yang malah pergi menyendiri, tidak berada dekat-dekat beliau dan memuja Beliau seperti yang dilakukan oleh segerombolan Bikkhu lainnya setelah pengumuman tersebut,

    "Bhante, bhikkhu ini tidak terlihat mencintai, memuja-Mu, tidak menghargai, tidak mau peduli, tidak menghormat, dan tidak berbakti pada Bhante [seperti yang kami lakukan]. Ia terlihat menyendiri pada saat para bhikkhu lain sedang berada di dekat Bhante."

    Masing-masing tertuduh [Atthadata, Tissa Thera dan Dhammarama] menjelaskan bahwa dia berusaha keras untuk mencapai tingkat kesucian arahat sebelum Sang Buddha mangkat (parinibbana) dengan memperaktekan salah satu Bhavana, dan itulah alasannya mengapa dia tidak datang mendekat Sang Buddha.

    Sang Buddha sangat puas dan menghargai apa yang telah diungkapkan dan dilakukan oleh Bhikkhu Dhammarama, kemudian berkata, "Anak-Ku Dhammarama, engkau telah berperilaku sangat baik. Seorang bhikkhu yang mencintai dan menghormat pada-Ku hendaknya berkelakuan seperti engkau. Mereka yang mempersembahkan bunga, pelita, dan dupa pada-Ku tidaklah benar-benar memberi hormat pada-Ku. Hanya mereka yang melaksanakan Dhamma, ajaran-Ku, adalah benar-benar seseorang yang memberikan hormat pada-Ku." [Dhammapada bab 12, bab 15 dan bab 25]
Walaupun objeknya tepat, namun tujuan dan caranya yang kurang tepat karena Buddha bukanlah sesembahan untuk dipuja dan tempat meminta namun sebagai objek perenungan dan salah satu objek perenungan yaitu Buddhanussati [Buddha + anussati: perenungan, mengarahkan pikiran pada].

Objek perenungan tidak berarti memvisualisasikannya dalam bentuk PATUNG dan berkonsentrasi pada itu. Cara ini justru menjerumuskan menuju ke alam-alam menderita.
    Sang Buddha menyatakan:

    • ..indria mata menggenggam gambaran melalui cici-ciri (anubyañjanasa nimittaggāho) dalam sebuah bentuk yang dapat dikenali oleh mata
    • ..indera telinga..
    • ..indera hidung..
    • ..indera lidah..
    • ..indera badan..

    ..Karena jika kesadaran terikat pada kepuasan dalam gambaran atau dalam ciri-ciri, dan jika ia meninggal dunia pada saat itu, adalah mungkin bahwa ia akan pergi ke satu dari dua tujuan ini: neraka atau alam binatang [SN 35.235/Ādittapariyāya]
Jadi, jangan heran mendapatkan seseorang berKTP Buddhis, rajin ke vihara, tunggang-tungging tiap saat di depan patung Buddha namun tetep melakukan pembunuhan, pencurian, perkosaan, menipu, korupsi dan mabuk-mabukan itu karena mereka tidak sepenuhnya serius praktek Dhamma sang Buddha.

Cara yang dilakukan agar tidak menggenggam gambaran ciri-ciri yang dikenali oleh indriya adalah sebagaimana dinasehatkan sang Buddha:
    Sehubungan dengan ini, para bhikkhu, siswa mulia yang terlatih merenungkan sebagai berikut: Aku hanya akan memperhatikan ini:

    Mata adalah tidak kekal, bentuk-bentuk adalah tidak kekal, kesadaran-mata adalah tidak kekal, kontak-mata adalah tidak kekal, perasaan apa pun yang muncul dengan kontak-mata sebagai kondisi apakah menyenangkan atau menyakitkan atau bukan-menyakitkan juga bukan-menyenangkan – itu juga tidak kekal.
    Telinga adalah tidak kekal.. itu juga tidak kekal.
    Indera hidung..
    Indera lidah..
    Indera badan..
    Pikiran adalah tidak kekal, bentukan-bentukan pikiran adalah tidak kekal, kesadaran-pikiran adalah tidak kekal, kontak-pikiran adalah tidak kekal, perasaan apa pun yang muncul dengan kontak-pikiran sebagai kondisi… itu juga tidak kekal.’

    ”Melihat demikian, para bhikkhu, siswa mulia yang terlatih mengalami kemuakan terhadap mata, bentuk-bentuk, kesadaran-mata, kontak mata, dan perasaan apa pun yang muncul dengan kontak-mata sebagai kondisi – apakah menyenangkan atau menyakitkan atau bukan-menyakitkan juga bukan-menyenangkan … terhadap telinga.. terhadap hidung.. terhadap lidah.. terhadap badan.. terhadap pikiran, bentukan-bentukan pikiran, kesadaran-pikiran, kontak-pikiran, perasaan apa pun yang muncul dengan kontak-pikiran sebagai kondisi….

    Mengalami kemuakan, ia menjadi bosan. Melalui kebosanan, maka terbebaskan. Ketika terbebaskan muncullah pengetahuan: ‘Terbebaskan.’Ia memahami: ‘Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak ada lagi kondisi bagi makhluk ini.’ [SN 35.235/Ādittapariyāya]
Selain itu, dalam AN 6.10/Mahānāma Sutta (dan AN 3.70/Uposatha Silla) disampaikan 6 objek perenungan, yaitu: (1) Buddha, (2) Dhamma, (3) Sangha, (4) Sila, (5) Caga [Kedermawanan] dan (6) Devanussati.
    Satu waktu sang Bhagava sedang berdiam di vihara Nigrodha wilayah kaum Sakya. Kemudian Mahanama dari suku Sakya mendekati Sang Bhagava, memberikan penghormatan, duduk di satu sisi dan berkata pada sang Bhagava:

    Mahanama:
    Yang mulia guru, ketika siswa mulia yang telah mencapai hasil dan memahami pengajaran, apa yang terbiasa Ia lakukan dalam menjalani hidupnya?

    Buddha:
    Mahanama, siswa mulia yang telah mencapai hasil dan memahami pengajaran menjalani hidupnya dengan terbiasa melakukan:

    ATAU

    Mahanama:
    Yang mulia Guru, Kami tinggal pada banyak macam kediaman, Yang mana kediaman terbaik bagi kami berdiam?

    Buddha:
    Bagus, Bagus, Mahanama, Ini adalah baik Mahanama, keluarga perumah tangga sepertimu menemui sang Tathagata dan bertanya, "Yang mulia Guru, Kami tinggal di banyak macam kediaman, yang mana kediaman terbaik bagi kami berdiam?

    1. Dengan keyakinan, Mahanama, kesuksesan terjadi, bukan tanpa keyakinan;
    2. Dengan kegigihan kesuksesan terjadi, bukan dengan kemalasan;
    3. Dengan perhatian penuh kesuksesan terjadi bukan dengan kekacauan perhatian;
    4. Dengan keterpusatan pikiran kesuksesan terjadi bukan tanpa terpusatnya konsentrasi;
    5. Dengan kebijaksanaan kesuksesan terjadi bukan tanpa kebijakan

    Setelah mengembangkan 5 hal ini, lakukanlah salah satu diantara 6 perenungan:

    • Buddhānussati (Perenungan tentang Buddha), 9 kualitas:
      Idha mahānāma, ariyasāvako tathāgataṃ anussarati (Mahanama, dalam hal ini, siswa mulia merenungkan sang tathāgata): itipi so (demikianlah beliau) bhagavā (sang pembawa keberuntungan): (1) arahaṃ (padam, yang patut, telah memotong jeruji lingkaran, menjinakan kejahatan, yang telah terbebas dari samsara) (2) sammāsambuddho (yang tercerahkan sempurna dengan cara yang benar), (3) vijjācaraṇasampanno (Sempurna pengetahuan dan prilaku), (4) sugato (dalam kebahagiaan sejati), (5) lokavidū (pengenal alam), (6) anuttaro purisadammasārathi (Penunjuk jalan tiada banding bagi yang patut dijinakkan), (7) satthā devamanussānaṃ (Guru para deva dan manusia), (8) buddho (yang tercerahkan sempurna) (9) bhagavā ti (sang pembawa keberuntungan)

    • Dhammānussati (Perenungan tentang Dhamma), 6 kualitas:
      Puna caparaṃ, mahānāma, ariyasāvako dhammaṃ anussarati (Kemudian, Mahanama, siswa mulia merenungkan Dhamma): (1) svākkhāto bhagavatā dhammo (Ajaran sang pembawa keberuntungan telah disampaikan dengan baik) (2) sandiṭṭhiko (Nyata manfaatnya di kehidupan ini juga) (3) akāliko (tak berbatas waktu) (4) ehipassiko (mengundang untuk dibuktikan sendiri) (5) opaneyyiko (memberikan tuntunan) (6) paccattaṃ veditabbo viññūhī ti. (secara pribadi dirasakan/dikenali yang mengetahui/melakukannya)

    • Saṅghānussati (perenungan tentang Sangha) 9 kualitas:
      Kemudian, Mahanama, siswa mulia merenungkan Sangha (Puna caparaṃ, mahānāma, ariyasāvako saṅghaṃ anussarati): Kumpulan siswa mulia sang pembawa keberuntungan (bhagavato sāvakasaṅgho) yang telah memasuki jalan: baik (1) (supaṭipanno), lurus (2) (ujupaṭipanno), benar (3) (ñāyapaṭipanno), terhormat (4) (sāmīcipaṭipanno), terdiri dari 4 pasang mahluk (yadidaṃ cattāri purisayugāni: sotāpanna, sakadagami, anagami dan arahat), 8 individu (aṭṭha purisapuggalā: sotāpanna magga (jalan) dan phala (buah/hasil) .. arahat magga dan phala), patut menerima: persembahan (5) (āhuneyyo), pelayanan (6) (pāhuneyyo), pemberian (7) (dakkhiṇeyyo), penghormatan (8) (añjalikaraṇīyo), ladang menanam kebajikan yang tiada banding di seluruh alam (9) (anuttaraṃ puñña'k'khettaṃ lokassā ti) [AN 6.10, AN 11.12-13]

    Kesucian sotāpanna dapat dicapai melalui 2 cara yaitu: Saddhānusāri (berkeyakinan kuat pada Buddha, dhamma dan sangha dengan memiliki sila sempurna yang mengarah pada keterpusatan pikiran) dan Dhammānusāri (melihat dan mengetahui bahwa segala yang berkondisi tidak kekal/anicca). Tidak peduli apakah ADA atau TIDAK seorang Buddha dan/atau ajarannya, maka tentang anicca (tidak kekal), dukkha (tidak memuaskan) dan anatta (bukan diri) itu ada

    Sehingga ketika membaca 3 perenungan di atas, namun tetap tidak dapat melihat keindahannya, maka ia belumlah Saddhanusari dan Dhammanusari. Tentu saja tidak serta merta mereka yang dapat melihat keindahan 3 perenungan di atas, lantas dapat disebut saddhanusari atau dhammanusari, karena seorang yang benar-benar melihat keindahan 3 perenungan di atas, takkan lagi melakukan perbuatan-perbuatan akusala/tidak bermanfaat

    Seseorang yang TIDAK PERNAH menerima pengajaran atau TIDAK mempelajari ajaran atau juga TIDAK mengalami sendiri hasil praktek ajaran ini (misal: perubahan sikap dan prilaku, pencapaian hasil samadhi), adalah TIDAK MUNGKIN baginya untuk dapat melihat keindahan 3 perenungan di atas, oleh karenanya, 3 perenungan di atas sebaiknya dilewati saja dan coba 3 PERENUNGAN di bawah ini.

    • Sīlānussati (Perenungan tentang moralitas/sila):
      Puna caparaṃ, mahānāma, ariyasāvako attano sīlāni anussarati (Kemudian, Mahanama, siswa mulia merenungkan moralitasnya) yang: akhaṇḍāni (tak rusak/utuh keseluruhan) acchiddāni (tak cacat/robek) asabalāni (tak bernoda) akammāsāni (tak bercela) bhujissāni (membebaskan) viññuppasatthāni (dipujikan para bijaksana) aparāmaṭṭhāni (tak digenggam) samādhisaṃvattanikāni (mengarah pada pikiran terpusat)

    • Cāgānussati (Perenungan tentang kemurahan hati):
      Kemudian, Mahanama, siswa mulia merenungkan kemurahan hatinya sendiri sebagai berikut: keberuntungan bagiku, bermanfaat besar bagiku, di antara mereka yang tergairahkan noda ketamakan, Aku perumah tangga yang pikirannya bebas noda ketamakan/kekikitan, murah hati dalam memberi dengan tangan terbuka, gemar memberi, selalu siap bagi yang membutuhkan, bergembira sepenuhnya dalam memberi dan berbagi

    • Devatānussati (Perenungan tentang para deva):
      Kemudian, Mahanama, siswa mulia mengembangkan perenungan para Deva: Kedamaian Deva: catumaharajika, Tavatimsa, Yama, Tusita, Nimmanarati, Paranimiitavasavatti, Para Dewa alam Brahma dan Para Deva lain yang lebih tinggi lagi

      Dengan keyakinan (saddhāya) yang dimiliki para dewa ini, mereka wafat dari sini, dan dilahirkan kembali di sana, Akupun memiliki keyakinan yang demikian pula

      Dengan moralitas (sīlena) yang dimiliki para dewa ini, mereka wafat dari sini, dan dilahirkan kembali di sana, Akupun memiliki moralitas yang demikian pula

      Dengan pemahaman pembelajaran (sutena) yang dimiliki para dewa ini, mereka wafat dari sini, dan dilahirkan kembali di sana, Akupun memiliki pemahaman pembelajaran yang demikian pula

      Dengan kemurahan hati (cāgena) yang dimiliki para dewa ini, mereka wafat dari sini, dan dilahirkan kembali di sana, Akupun memiliki kemurahan hati yang demikian pula

      Dengan kebijaksanaan (paññāya) yang dimiliki para dewa ini, mereka wafat dari sini, dan dilahirkan kembali di sana, Akupun memiliki kebijaksanaan yang demikian pula [SN 48.15-17, MN 48, AN 6.10, AN 11.12-13] [↑] [↑]

      Note:
      Beberapa Deva terlahir karena menjalankan ajaran Sang Buddha. Beberapa lagi TIDAK, namun karena menjalankan praktek Samädhi atau praktek MORALITAS atau praktek KEMURAHAN HATI atau praktek TIDAK MEMBENCI atau praktek TIDAK MUDAH MARAH atau praktek TIDAK MENYAKITI atau praktek MENYATAKAN YANG BENAR selama hidup.

      Itulah mengapa 3 perenungan terakhir ini sungguhlah menarik, karena membuat kita dengan sekuat-kuatnya berusaha menjalankan PRAKTEK KEBAJIKAN selama hidup

    Kemudian, Mahanama, ketika siswa mulia merenungkan:

    (Sang Tathagata atau Dhamma atau Sangha atau moralitas atau kemurahan hati atau 'Keyakinan, moralitas, pemahaman pembelajaran, kemurahan hati dan kebijaksanaan dari para Deva')

    maka pikirannya tidak terobsesi oleh:
    nafsu (raga), kebencian (dosa), kekeliruan tahu (moha);

    Pikirannya menjadi terarah [ujugatacitto] pada:
    (Sang Tathagata atau Dhamma atau Sangha atau moralitasmu sendiri atau kemurahan hatimu sendiri atau para Deva)

    Dengan terarahnya pikiran, mahanama, siswa mulia memperoleh (Labhati) pemahaman makna (atthavedam), pemahaman ajaran (dhammavedam), sukacita sehubungan dengan pemahaman ajaran (dhammūpasaṃhitaṃ pāmojjaṃ). Kelegaan besar menimbulkan kegirangan (Pamuditassa pīti jāyati), Pikiran girang membuat tubuh nyaman (pītimanassa kāyo passambhati), tubuh nyaman nikmat dirasakan (passaddhakāyo sukhaṃ vediyati), dalam pikiran nikmat pikirannya terpusat (sukhino cittaṃ samādhiyati)

    Ini dikatakan, Mahanama, Siswa mulia yang sukses berdiam dalam kumpulan yang tidak harmonis, hidup tidak bermasalah dalam kumpulan yang bermasalah, memasuki arus Dhamma dengan mengembangkan perenungan pada: (Buddha atau Dhamma atau Sangha atau moralitasmu sendiri atau kemurahan hatimu sendiri atau para Deva) [dhammasotaṃ samāpanno devatānussatiṃ bhāveti]

    Demikian Mahanama, seharusnya engkau kembangkan perenungan pada:
    (Sang Tathagata atau Dhamma atau Sangha atau moralitasmu sendiri atau kemurahan hatimu sendiri atau para Deva)

    ketika: berjalan, berdiri, duduk, berbaring, sibuk di pekerjaan, bersantai di rumah bersama anak-anakmu

      Note:
      Sutta tentang 6 perenungan merupakan ringkasan dari 3 sutta dengan nama yang sama, yaitu "Mahanama Sutta" (AN 6.10, AN 11.12-13, kerangka utamanya saya gunakan AN 6.10)

      Mahanama dalam sutta ini adalah sepupu dari Sidharta Gautama. Sidhartha Gautama melepaskan haknya sebagai pewaris tahta Kapilavatthu untuk menjadi petapa dan kemudian menjadi Buddha. Pangeran lainnya termasuk Rahula (Putera Sidharta Gautama) juga memilih menjadi petapa. Menjelang wafatnya raja Suddhodana, Mahanama ditunjuk menjadi pewaris tahta.

      Dalam suttanya, setiap masing-masing dari 6 perenungan di atas, seharusnya dilanjutkan dengan kalimat "Kemudian, Mahanama, ketika siswa mulia merenungkan:..pikirannya tidak terobsesi oleh: nafsu (raga),..", namun untuk MENYINGKAT, saya letakkan bagian tersebut di akhir perenungan ke-6. Sutta ini memberikan konfirmasi bahwa:
      Praktek DANA - SILA yang dilakukan dapat berbuah pencapaian kesucian jika ia melihat dan mengetahui anicca, dukkha dan anatta. Ini berlawanan dengan anggapan beberapa orang bahwa praktek DANA - SILA tidak dapat mencapai kesucian.

      Pencapaian jhana ke-1 (vitakka, vicara, piti, sukha, keterpusatan konsentrasi) dapat dicapai melalui jalur perenungan.

      Pun jika gagal menapak tingkat kesucian, perenungan ini membuka peluang besar bagi yang melakukannya untuk terlahir kembali di alam brahma dan meneruskan latihan di alam itu. Bahkan ketika gagal mencapai alam brahma sekalipun, perenungan ini pun masih memiliki kegunaan, CHECK dan RE-CHECK antara KENYATAAN DIRI vs KONDISI PERENUNGAN, mengakibatkan adanya upaya diri yang berakibat memperkecil peluang terlahir kembali di kondisi merugi bahkan menderita di alam bawah
Diatas,
telah disampaikan bahwa mereka-mereka yang muncul di alam Deva di antaranya karena melakukan beberapa latihan, Pengetahuan, kebijaksanaan misalnya dengan kesabaran, berkata benar, melakukan kemurahan hati dengan berdana, menjalankan sila, dan kebajikan lainnya. Sehingga dapat diketahui bahwa PERLINDUNGAN TERBAIK hanyalah pada diri sendiri dengan menjalankan DANA-SILA-Samādhi. Kebiasaan baik itu akan sangat bermanfaat karena berada dalam pikiran saat kematian [cuticitta]. Perasaan bahagia akan muncul dan kebahagiaan itulah yang akan menghantarkan kita muncul di antara para Deva.

Itulah perlindungan yang sesungguhnya.
    "Oleh diri sendiri kejahatan dilakukan; oleh diri sendiri seseorang menjadi tidak suci. Hanya oleh diri sendiri kejahatan dihentikan; hanya oleh diri sendiri seseorang menjadi suci. Suci dan tidak suci tergantung pada diri sendiri. Tak seorang pun dapat menyucikan orang lain." [Dhammapada, syair 165]
Mari, tinggalkan kebiasaan meminta-minta, mulailah bergantung pada DIRI SENDIRI dengan menjalankan DANA, SILA dan Samādhi! []
---------------

LENYAPNYA DHAMMA SEJATI

Sekurangnya ada 2 sutta yang digunakan sebagai dasar klaim bahwa Dhamma sejati MASIH ADA, yaitu:
  • ”Subhadda, dalam dhamma dan vinaya mana pun, jika TIDAK TERDAPAT Jalan Mulia Berunsur 8, maka di sana pun TIDAK ADA seorang petapa sejati, juga TIDAK ADA petapa sejati ke-2, ke-3 atau ke-4. Tetapi dalam dhamma dan vinaya yang mana pun, jika terdapat Jalan Mulia Berunsur 8, maka di sana pun akan ada petapa sejati, juga ada petapa sejati ke-2, ke-3 atau ke-4. Kini, dalam dhamma dan vinaya yang kuajarkan terdapat Jalan Mulia Berunsur 8 itu, maka dengan sendirinya terdapat petapa-petapa sejati, juga petapa-petapa sejati ke-2, ke-3 atau ke-4

    Ajaran guru-guru lainnya yang tidak memiliki Jalan Mulia Berunsur 8 adalah kosong dan bukan petapa yang sejati. Subhadda, jika para bhikkhu ini hidup dengan baik menurut dhamma dan vinaya, maka dunia ini takkan kekosongan Arahat” [DN16/Mahaparinibana Sutta].

    Sehingga, disebut dhamma sejati karena:

    (1) Ada ajaran yang mengandung jalan berunsur 8;
    (2) Ada yang mencapai kesucian dengan ajaran tersebut, dan
    (3) Ada suciwan yang mengajarkannya.

    Jadi, selama kita menjalani/mengikuti ajaran yang mengandung 8 Jalan mulia maka PASTI AKAN [atau MASIH ADA yang] mencapai tingkat kesucian sotapanna s.d arahat atau dengan kata lain, karena ajaran Buddha yang ada sampai sekarang ini menuliskan atau ada kalimat jalan mulia berunsur 8, maka SEKARANG INIPUN masih ada ORANG suci oleh karenanya Dhamma sejati masihlah ada dan/atau

  • ”Siapa pun [Yo hi Koci], para bhikkhu, yang mempraktikkan 4 Landasan Perhatian ini selama 7 tahun dapat mengharapkan satu dari 2 hasil ini: mencapai kesucian Arahant DALAM KEHIDUPAN INI [diṭṭheva dhamme aññā] atau, jika masih ada beberapa kekotoran tersisa, mencapai kondisi Yang-Tidak-Kembali. Jangankan 7 tahun – siapa pun yang mempraktikkannya selama 6 tahun.., 5 tahun.., 4 tahun.., 3 tahun.., 2 tahun.., 1 tahun dapat mengharapkan satu dari 2 hasil..; jangankan 1 tahun-siapa pun yang mempraktikkannya selama 7 bulan.., 6 bulan.., 5 bulan.., 4 bulan.., 3 bulan.., 2 bulan.., 1 bulan.., ;½ ;bulan dapat mengharapkan satu dari 2 hasil..; jangankan ½ bulan-siapa pun yang mempraktikkan 4 Landasan Perhatian ini selama 7 hari dapat mengharapkan satu dari 2 hasil ini: mencapai kesucian Arahant dalam kehidupan ini atau, jika masih ada beberapa kekotoran tersisa, mencapai kondisi Yang-Tidak-Kembali.’ [MN 10/Satipaṭṭhāna Sutta dan DN 22/Mahāsatipaṭṭhāna Sutta].

    Kata "diṭṭheva dhamme" berarti: "di sini sekarang" atau "dikehidupan saat ini". Untuk kata "siapa pun [Yo hi koci]", Buddhaghosa di kitab komentarnya menyatakan: para Bhikkhu/bhikkhuni atau upasaka/upasika [umat awam laki/perempuan].
Namun,
di banyak sutta juga kita temukan bahkan dari jaman sang Buddha masih hidup dan mereka mempraktekkan ajarannya, ternyata:
  • Ada banyak bhikkhu/Bhikkhuni yang keluar dari komunitas sangha (misal di SN 16.11: 30 bhikkhu murid dari YM ananda. Untuk kasus Bhikkhuni, misal: Thullananda di SN 16.),
  • Ada beberapa yang berhenti menyakini sang Buddha (misal: mantan pembantu tetap sang Buddha: Sunakkhatta, padahal Ia telah mengikuti beliau bertahun-tahun lamanya) dan
  • Tidak terhitung jumlah anggota sangha bhikkhu dan bhikkhuni serta para upasaka dan upasika (umat awam pria dan wanita) yang tidak mencapai kesucian bahkan hingga wafatnya sang Buddha.
  • Para bhikkhu/bhikkhuni juga SUDAH TAHU tentang 4 landasan perhatian dan juga mencoba mempraktekkannya, namun tetap saja banyak yang tidak dapat mencapai kesucian dan beberapa malah meninggalkan komunitas sangha dan bahkan sasana/ajaran.
Bahkan jika benar seperti yang Buddhaghosa sampaikan bahwa ini ditujukan pada siapapun bhikkhu/bhikkhuninya namun Buddhaghosa sendiripun tidak mencapai kesucian apapun!
    Kutipan:
    Di akhir buku Visuddhimagga versi Sri Lanka, ada beberapa syair yang mengatakan bahwa melalui kebajikan yang muncul karena penulisan Visuddhimagga, bhikkhu Buddhaghosa bercita-cita untuk terlahir di alam Tavatimsa dan mencapai kesucian sotāpanna di jaman Buddha Metteyya.

    Visuddhimagga versi Myanmar tidak memberikan pernyataan demikian namun di Buddhaghosupatti, satu buku yang ditulis di Myanmar, ada beberapa fakta yang menyimpulkan bahwa Bhikkhu Buddhaghosa tidak mencapai kesucian..Berikut pernyataan yang tertulis dalam bahasa Pāli dalam Buddhaghosuppatti:

    Cintetvā ca pana maraṇadivase Buddhaguṇena saddhiṃ attano sīlaṃ anussaramāno kalaṃ katvā Tusitapure nibbattitvā dvādasayojanike kanakavimane devaccharasahassapirivārā saddhiṃ paṭivasati.

    Yadā Metteyyo bodhisatto idha manussaloke sabbaññūtapatto hessati tadā so ca tassa sāvako bhavissati aggo ca seṭṭho ca Metteyyassa Bhavagato sabbadhammesu appaṭihatena attano ñāṇavasena. So ca sattakkhattuṃ Metteyyena Bhagavatā etadagge ṭhapito bhavissati— ‘Mama sāvakānaṃ dhammavinayadharānaṃ bahussutānaṃ ñāṇagatīnaṃ ñāṇadharanaṃ yadidaṃ Buddhaghoso’ ti
    ”.

    [Setelah merenungkan hari kematiaanya, saat mengingat moralitasnya yang sesuai dengan kwalitas seorang Buddha, (Buddhaghosa) meninggal dan terlahir di alam Tusita di mana ia memiliki istana emas terbentang 12 yojana dan hidup dikelilingi seribu bidadari

    Ketika Bodhisatta Metteyya mencapai kebuddhaan di alam manusia ini, Ia (Buddhaghosa) akan menjadi muridnya yang tertinggi, teragung, tanpa cacat, sempurna dan berpengetahuan dalam ajaran. Ia akan dinyatakan Sang Buddha Metteyya sendiri: ‘Di antara para muridku yang ahli dalam Dhamma dan vinaya, terpelajar, telah menguasai pengetahuan dan menjaga pengetahuan, adalah Buddhaghosa” [Dhammacitta: Critic About Buddhaghosa]
Bhikkhu S. Dhammika:
    Aku mendengar pandangan yang sama yang disampaikan ribuan kali di Sri Lanka. Bahkan Buddhaghosa tidak benar percaya bahwa Praktek Theravada menghantarkan ke nirvana. Buku Visuddhimagga-nya, seharusnya merupakan detail, step by step tuntunan menuju pencerahan. Dan tetap di dalam Naskah belakangan Ia berkata bahwa Ia berharap jasa kebaikannya menulis Visuddhimagga berbuah dengan membuatnya terlahir kembali di alam surga sampai kemunculan Buddha Metteya, mendengarkan ajarannya dan kemudian memperoleh pencerahan.

    Di Sri Lanka secara luas dipercaya bahwa adalah tidak mungkin mencapai pencerahan lagi dan ini dipercayai bukan oleh sekedar umat biasa. Saya suatu ketika datang bercakap dengan Narada Thera yang terkenal dari vihara Vajirarama, Colombo, Saat percakapan ia berkata bahwa bahkan tidak mungkin menjadi sotāpanna sekarang ini. Richard Gombrich menemukan ide yang sama yang beredar luas di Sri Lanka. ["THE BROKEN BUDDHA", Critical Reflections on Theravada and a Plea for a New Buddhism, by S. Dhammika, hal.13]
Walaupun ajaran Sang Buddha mengandung jalan mulia ber unsur 8, namun ada faktor-faktor yang menyebabkan banyak dari mereka tidak mencapai kesucian, misalnya kualitas/sikap seseorang, yang walaupun mendengarkan dhamma sejati, pasti tidak akan memasuki manfaat kebenaran dhamma, karena para bhikkhu:
    meremehkan: khotbah, pembabar atau dirinya sendiri; mendengarkan Dhamma sebagai seorang pencela yang dikuasai oleh celaan atau dengan niat untuk mengkritiknya, mencari kesalahan-kesalahan; Berwatak buruk terhadap gurunya, berniat untuk menyerangnya atau mendengarkan Dhamma dengan pikiran kacau dan berhamburan atau memperhatikan secara sembrono atau tidak bijaksana, bodoh, tumpul; membayangkan bahwa ia telah memahami apa yang belum ia pahami [AN 5.151-153]
Juga beberapa hal yang menyebabkan kemunduran dan lenyapnya Dhamma sejati adalah karena para Bhikkhu:
  • Tidak seksama dalam: mendengarkan, mempelajari, menghafalkan Dhamma; tidak memeriksa makna ajaran yang telah dihafalkan; tidak memahami makna dan pengajaran; tidak mempraktekkan sesuai pengajaran [AN 5.154]

  • Tidak mempelajari ajaran berupa: khotbah-khotbah/sutta, campuran prosa dan syair/geyya, penjelasan-penjelasan/veyyākaraṇaṃ, syair-syair/gātha, ucapan-ucapan inspiratif/udāna, kutipan-kutipan/ itivutta, kisah-kisah kelahiran/jātaka, kisah-kisah menakjubkan/abbhutadhamma, dan serial pertanyaan dan jawaban/vedalla;
    Tidak mengajarkan ajaran kepada orang lain secara terperinci seperti yang mereka dengar dan pelajari;
    Tidak menyuruh orang lain untuk mengulangi dan melafalkan ajaran secara terperinci seperti yang mereka dengar dan pelajari;
    Tidak merenungkan/anuvitakkenti, menjelajahi/anuvicārenti, dan menyelidiki/manasānupekkhanti ajaran dalam pikiran seperti yang mereka dengar dan pelajari [AN 5.155]

  • mempelajari kotbah-kotbah yang salah (duggahitaṃ suttantaṃ pariyāpuṇanti) , dengan kata-kata dan frasa yang buruk/salah kontekstual (dunnikkhittehi padabyañjanehi). Dengan kata-kata dan frasa-frasa yang buruk, maknanya menjadi salah (Dunnikkhittassa padabyañjanassa atthopi dunnayodunnayo);
    Para bhikkhu sulit dikoreksi dan memiliki kualitas-kualitas yang membuat mereka sulit dikoreksi, tidak sabar dan tidak menerima ajaran dengan hormat;
    Para bhikkhu terpelajar (bahussutā) yang menguasai ajaran (āgatāgamā = hafal 5 nikaya), ahli dalam Dhamma (dhammadharā), vinaya (vinayadharā) dan kerangka ajaran (mātikādharā), tidak dengan baik mengajarkan khotbah-khotbah kepada orang lain. Ketika wafat, khotbah-khotbah itu terpotong akarnya, tanpa pewaris;
    Para bhikkhu senior tenggelam dalam kemewahan dan menjadi mengendur, pelopor dalam kemerosotan, mengabaikan tugas keterasingan; tidak membangkitkan kegigihan untuk mencapai apa-yang-belum-dicapai, untuk memperoleh apa-yang-belum-diperoleh, untuk merealisasikan apa-yang-belum-direalisasikan. PARA GENERASI BERIKUTNYA mengikuti gaya mereka, tenggelam dalam kemewahan dan menjadi mengendur, pelopor dalam kemerosotan, mengabaikan tugas keterasingan; tidak membangkitkan kegigihan untuk mencapai apa-yang-belum-dicapai, untuk memperoleh apa-yang-belum-diperoleh, untuk merealisasikan apa-yang-belum-direalisasikan.
    Terjadi perpecahan dalam Saṅgha, dan ketika terjadi perpecahan dalam Saṅgha maka terdapat saling menghina, saling mencaci, saling mencela, dan saling menolak. Kemudian mereka yang tanpa keyakinan tidak memperoleh keyakinan, sedangkan beberapa di antara mereka yang berkeyakinan menjadi berubah pikiran [AN 4.160; AN 5.156]
Disamping itu,
Di Sutta dan Vinaya, kita juga akan temukan kronologi lenyapnya Dhamma sejati, yaitu mulai dengan ditetapkan aturan-aturan kebhikkhuan (Vinaya) dan penetapan vonis tahun MULAINYA hitungan mundur sisa umur ajarannya (Dhamma sejati) yang ditandai dengan penahbisan Mahapajapati Gotami sebagai Bhikkhuni pertama.

Kapankah aturan-aturan kebhikkhuan ditetapkan?
Tradisi menyatakan bahwa di masa Vassa ke-5 (di Vesali)[5], sangha bhikkhuni terbentuk, namun tampaknya hal ini belumlah dapat dilakukan, karena di saat itu Vinaya dan Patimokkha belumlah ada. Bahkan hingga tahun ke-12 kebuddhaan, yaitu di Veranja, Vinaya & Patimokha juga belum ada karena saat itu dari seluruh bhikkhu yang menjadi muridNya, semuanya telah mencapai kesucian dan yang terendah adalah sotāpanna.
    Di kota Veranja (sebelah Baratnya Kapilavastu dan Koliya), ketika itu tengah dilanda masa paceklik dan kelaparan (dubbhikkhe), kepada Sang Buddha, Sariputta bertanya: "Pada Masa Buddha siapakah kehidupan suci bertahan lama dan masa Buddha siapakah tidak bertahan lama?”. Sang Buddha:

    • Pada masa Buddha Vipassī, Sikhī and Vessabhū tidak membabarkan khotbah Dhamma secara terperinci, peraturan latihan bagi para siswa (vinaya) tidak dipermaklumkan dan kumpulan peraturan tidak dirumuskan (Pàtimokkha, inti peraturan). Setelah Para Buddha, generasi para siswanya parinibbana, ajaran itu lenyap dengan cepat.
    • Pada masa Buddha Kakusandha, Konāgamana and Kassapa membabarkan khotbah Mereka secara terperinci, menetapkan Vinaya dan Pàtimokkha. Setelah Mereka dan para siswa langsung Parinibbana, generasi-generasi berikutnya menjaga ajaran itu hingga bertahan.

    Mendengar itu, YM Sariputta memohon pada sang Buddha agar menetapkan vinaya dan patimokkha. Sang Buddha: ITU BELUMLAH SAATNYA karena dari puluhan ribu anggota sangha saat itu, hanya 500nya saja yang sotāpanna dan kelak ketika jumlah anggota sangha semakin membesar akan terjadi kecenderungan berpikir, berucap dan berbuat yang menjauh dari jalan kesucian, di saat itulah vinaya dan patimokkha baru dapat ditetapkan [Suttavibhanga Vin.I.3, 2-4]
Bahkan,
Di paruh pertama ke-Buddhan (20 tahun), vinaya dan Patimokkhapun, belumlah ditetapkan, untuk itu, di MN.21/Kakacūpama Sutta, Sang Buddha menggambarkan tentang masa-masa menyenangkan, "ārādhayiṃsu vata me, bhikkhave, bhikkhū ekaṃ samayaṃ cittaṃ" [Para bhikkhu, pernah terjadi di satu masa di mana para bhikkhu memuaskan pikiranKu]. Buddhaghosa menjelaskan komentarnya di Vinaya, sub bagian parajikakhanda bahwa itu dikatakan terjadi pada 20 tahun pertama ke-Buddhaan:
    "Apaññatte sikkhāpadeti paṭhamapārājikasikkhāpade aṭṭhapite. Bhagavato kira paṭhamabodhiyaṃ vīsati vassāni bhikkhū cittaṃ ārādhayiṃsu, na evarūpaṃ ajjhācāramakaṃsu. Taṃ sandhāyeva idaṃ suttamāha – ‘‘ārādhayiṃsu vata me, bhikkhave, bhikkhū ekaṃ samayaṃ citta’’nti . Atha bhagavā ajjhācāraṃ apassanto pārājikaṃ vā saṅghādisesaṃ vā na paññapesi. Tasmiṃ tasmiṃ pana vatthusmiṃ avasese pañca khuddakāpattikkhandhe eva paññapesi. Tena vuttaṃ – ‘‘apaññatte sikkhāpade’’ti"

    [Aturan latihan belum diumumkan, parajika pertama belum ditetapkan. Demikian dikatakan, 20 tahun/vīsati vassāni pertama masa ke-Buddhaan, para bhikkhu memuaskan pikiran sang Buddha dengan tidak melakukan kesalahan. Dalam sutta dikatakan, 'Para bhikkhu, pernah terjadi suatu masa di mana para bhikkhu memuaskan pikiranKu'. Sang Buddha, tidak melihat adanya kesalahan, tidak mengumumkan pārājika ataupun Sanghadisesa. Ketika muncul kasus, beliau umumkan 5 keadaan pelanggaran kecil, karena itulah beliau katakan, ‘apaññatte sikkhāpade].
Komentar Buddhaghosa, tampaknya memiliki dasar, beberapa di bawah ini terjadi mulai dari tahun ke-20:
  • YM Ananda menjadi Buddhopaṭṭhāka (pembantu tetap Sang Buddha) [Thag 17.3/Ananda].

  • Parajika ke-1 vinaya ditetapkan sehubungan kasus Bhikkhu Sudinna dari desa Kalandaka (belum sotāpanna). Sang Buddha setelah akhir masa vassa di Veranja(a)(c), Beliau pergi ke Vesali dan kemungkinan di sana Sudinna ditahbiskan. Setelah ditahbiskan, Sudinna kemudian tinggal disekitar desa-desa area Vaji (Sebelah Timurnya Kapilavastu dan Devadaha)(b). Di Vajji ada paceklik dan bencana kelaparan(d) sehingga para bhikkhu sulit berpindapatta (mengumpulkan dàna makanan dengan mangkuk di tangan mereka). Karenanya, Suddina bermaksud menggantungkan hidup pada sanak keluarganya di Vesali (di Timur Kapilavastu), dengan alasan, "Karena aku mereka dapat mempersembahkan dàna dan melakukan kebajikan. Dan para bhikkhu akan memperoleh keuntungan secara materi, dan aku takkan dipersulit dalam hal makanan”.

    Di Vesali, keluarganya berusaha membujuknya dengan harta agar kembali ke kehidupan lamanya, namun Ia tidak bergeming. Kemudian, Ibunya memintanya agar diberikan keturunan sebagai pewaris harta keluarga agar tidak direnggut kaum Licchavi. Permohonan sang ibu ini dikabulkannya dan Ia melakukan hubungan seksual dengan istri lamanya, Istri lamanya hamil dan lahirlah anak bernama Bijaka, Ibu anak itu dipanggil Ibu Bijaka (BijakaMata), Sudinna dipanggil teman-temanya: Bapak Bijaka (BijakaPita). Berapa lama kemudian(c), baik Bijaka dan Bijakamata, memutuskan untuk melepas keduniawian menjadi Bhikkhu dan Bhikkhuni dan akhirnya mereka menjadi Arahat.

    Sebaliknya Sudinna, Ia dilanda kecemasan dan penyesalan, tubuhnya semakin kurus dan pucat, pembuluh darahnya menonjol di seluruh anggota tubuhnya; Ia menjadi sengsara dan tertekan, teman-temannya sesama Bhikkhu bertanya apa yang melandanya dan Ia akui bahwa Ia menyesal melakukan hubungan seksual setelah menjalani kebhikkhuan. Permasalahan ini kemudian disampaikan kepada sang Buddha yang ketika itu sedang ada di Vesali dan atas kejadian ini, beliau kemudian menetapkan aturan untuk kali pertamanya bahwa barang siapa yang melakukan percabulan maka ia sudah kalah (parajika), tidak lagi dalam sangha [Suttavibhanga Vin.I.3, 2-4]

      Note:
      (a) Di Veranja adalah masa vassa ke-12. [Kitab komentar Vinaya Parajikakandha].

      (b) Sudinna di area Vaji 8 tahun lamanya [Kitab komentar Vinaya Parajikakandha] atau tahun ke-20 keBuddhaan. Aturan parajika ke-1, ditetapkan sang Buddha, juga di Vesali, namun itu terjadi di tahun ke-21. . Vinaya juga menyampaikan bahwa pada masa paceklik di Vajji terjadi Parajika ke-4 (klaim memiliki supranatural agar mudah mendapatkan makanan). Masa Paceklik dan kelaparan dapat terjadi 12 tahun lamanya (saat jaman raja Vattagamini di Sri Lanka).

      (c) Bhikkhuvibhanga, Vinaya, tidak menyebutkan angka tahun-nya namun di kitab komentar Vinaya dikatakan bahwa keduanya melepas keduniawian di 7/8 tahun setelahnya dan kemudian mereka menjadi arahat, “Bījakassa kira sattaṭṭhavassakāle tassa mātā bhikkhunīsu so ca bhikkhūsu pabbajitvā kalyāṇamitte upanissāya arahatte patiṭṭhahiṃsu]

      (d) Sutta dan Vinaya menyampaikan terdapat beberapa daerah yang terkena bencana kelaparan (Dubbhikkhe), diantaranya:

      • Vesali yang berada dalam wilayah Vajji dilanda kemarau panjang, panenan gagal, terjadi kekurangan makanan, kelaparan, penyakit [kolera, ahivàta roga], kematian terjadi dimana-mana, mayat-mayat berserakan di kota. Raja Vesali kemudian mengutus 2 pangeran Licchavi untuk menemui sang Buddha yang sedang ada di Rajagaha dan Sang Buddha pun menuju Vesali. Jarak Rajagaha - Sungai Gangga (5 Yojana) - Vesali (3 Yojana) atau sekitar: 89.6 km s.d 115 km (1 yojana = 7-9 mil, 1 mil = 1.6 km). Di sana beliau membabarkan RATANA SUTTA pada YM ANANDA dan meminta YM Ananda berkeliling kota membacakan Ratana Sutta [RAPB, buku ke-2, Cetakan I, Mei 2008. hal 1451 s/d. 1489]

      • Rajagaha

      • Nalanda (Buddhaghosa mengatakan jaraknya 1 Yojana dari Rajagaha. Di SN 42.9/kula sutta, ada narasi tentang bencana kelaparan, Sang Buddha hanya menyebut Sangha Bhikkhu tanpa ada Bhikkhuni. Asibandhakaputta, sang pengikut Nigaṇṭha Nāṭaputta yang kemudian menjadi pengikut Sang Buddha. SN 42.7: Tanpa ada narasi tentang bencana Kelaparan, Asibandhakaputta tidak disebut lagi sebagai pengikut Jain dan Sang Buddha ada menyebutkan kata “bhikkhu dan bhikkhuni”)

      • Alavi

      • Savatthi, tempat terjadinya Parajika ke-2 (Kasus pencurian).

      • Sungai Rohini: Kapilavatthu/Sakya ada di sebelah Baratnya dan Devadaha/Koliya di Timurnya. Jarak Kapilavastu - Devadaha: 5 Yojana. Air sungai ini digunakan kedua negara dalam mengairi persawahan mereka namun kemudian ketinggian air terus menurun hingga titik terendahnya. Para petani kedua kerajaan mengadakan rapat mengenai masalah pembagian air, kesepakatan tidak terjadi dan malah meruncing yang berujung akan terjadi perang di antara 2 negara. Sang Buddha berhasil mendamaikannya dan setelahnya, 250 pria dari masing-masing suku, memutuskan untuk menjadi bhikkhu

        Pertengkaran di Sungai Rohini hanya tercantum sebagai narasi di: Jataka no.74; no.475; no.536 dan Dhammapada syair 197-199. Sedangkan Syair di Thag 10.1/Kaludayi hanya menuliskan nama 2 negara itu dan sungai Rohini tanpa ada penjelasan pertengkaran. Sang Buddha bervassa di Vihàra Jetavana, Sàvatthi [RAPB buku ke-1, Cetakan ke-1, May 2008, hal. 1080]. Jarak Savatthi-Kapilavastu: 6 Yojana (67.2 km - 86.4 km)

      Tampaknya, paceklik besar yang berakibat bencana kelaparan hampir merata melanda wilayah Barat hingga Timur Jambudwipa diseputaran tahun ke-20 ke-Buddhaan.
Dari kejadian di atas, awal vinaya ditetapkan, tampaknya terjadi di tahun ke-21, kemudian dari pelanggaran-pelanggaran berat yang muncul, satu persatu aturan (Parajika dan Sanghadisesa) ditetapkan. Setelah Vinaya dan Patimokkha, menemukan bentuknya, munculah kejadian penahbisan Bhikkhuni pertama, yang menandai dimulainya hitungan mundur 500 tahun berakhirnya: Dhamma Sejati dan prilaku brahmacariya menurut Dhamma-Vinaya

Penahbisan Bhikkhuni pertama, mulainya hitungan mundur akhir dari Dhamma sejati dan terbentuknya Sangha Bhikkhuni
    Pada suatu ketika Yang Tercerahkan, Sang Bhagavā, sedang menetap di antara penduduk Sakya di Kapilavatthu di vihara Banyan. Kemudian Gotami Pajāpatī yang Agung, menghadap Sang Bhagavā; setelah mendekat, setelah menyapa Sang Bhagavā, ia berdiri dalam jarak selayaknya. Setelah berdiri dalam jarak selayaknya, Gotami Pajāpati yang Agung, berkata pada Sang Bhagavā sebagai berikut:

    “Yang Mulia, baik sekali jika perempuan boleh diperbolehkan meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah dalam dhamma dan disiplin (dhammavinaye) yang dinyatakan oleh Sang Penemu-kebenaran ini.”

    “Hati-hati, Gotami, tentang pelepasan keduniawian perempuan dari kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah dalam dhamma dan disiplin yang dinyatakan oleh Sang Penemu-kebenaran ini.” Dan untuk ke-2xnya … Dan untuk ke-3xnya Gotami Pajāpati yang Agung, berkata pada Sang Bhagavā sebagai berikut: “Yang Mulia, baik sekali …”

    “Hati-hati, Gotami, tentang pelepasan keduniawian perempuan dari kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah dalam dhamma dan disiplin yang dinyatakan oleh Sang Penemu-kebenaran ini.”

    Kemudian Gotami, Pajāpati yang Agung, karena berpikir: “Sang Bhagavā tidak memperbolehkan perempuan meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah dalam dhamma dan disiplin ini yang dinyatakan oleh Sang Penemu-kebenaran,” berduka, bersedih, dengan wajah basah oleh air mata dan menangis, setelah berpamitan dengan Sang Bhagavā, pergi dengan Beliau di sisi kanannya. ||1||

    Kemudian Sang Bhagavā setelah menetap di Kapilavatthu selama yang Beliau kehendaki, melakukan perjalanan menuju Vesālī. Secara bertahap, berjalan kaki dalam perjalanan itu, akhirnya Beliau tiba di Vesālī. Sang Bhagavā menetap di sana di Vesālī di Hutan Besar di Aula beratap segitiga. Kemudian Gotami Pajāpati yang Agung, setelah memotong rambutnya, setelah mengenakan jubah kuning, melakukan perjalanan menuju Vesālī bersama dengan beberapa perempuan Sakya, dan akhirnya mereka mendekati Vesālī, Hutan Besar, Aula beratap segitiga. Kemudian Gotami Pajāpati yang Agung, kakinya membengkak, tubuhnya tertutup debu, dengan wajah basah oleh air mata dan menangis, berdiri di luar teras utama.

      Note:
      Mahapajapati Gotami adalah adik dari MahaMaya (Ibu Sidharta Gautama). Kakak beradik ini, dikawini bersamaan oleh Raja Suddhodana. MahaMaya hamil di usia 45 tahun [lihat: DPPN, Mahāvamsa ii.hal.15 - dst]. Ketika Sidhartha Gotama lahir 10 bulan kemudian, Ibunya berusia: ± 46 tahun dan jika selisih adik/kakak hanya 1 tahun, maka usia MahaPajapati Gotami: ± 45 tahun. Ketika Sidharta Gautama memutuskan menjadi petapa di usia 29 tahun dan 6 tahun kemudian mencapai kebuddhaan, Ia berusia 80 tahun.

      Setelah peristiwa sungai Rohini, dimana 250 pria dari masing-masing suku Sakya dan Koliya menjadi Bhikku, maka kehidupan 500 wanita yang suaminya menjadi Bhikkhu menjadi semakin sulit di situasi paceklik tersebut sehingga mereka putuskan untuk ikut menjadi petapa. Mereka bersama Mahàpajàpati Gotami, dengan berjalan kaki, pergi dari Kapilavastu ke Hutan Mahavana di Vesali. Jarak Kapilavastu – Vesali via kusinara: 43 yojana (481,6 km – 619,2 km) atau 50 Yojana (560 km s.d 720 km) [versi RAPB, cetakan 1, may 2008 jilid 1, hal.1128]

    Yang Mulia Ānanda melihat Gotami Pajāpati yang Agung berdiri di luar teras utama, kakinya membengkak, tubuhnya tertutup debu, dengan wajah basah oleh air mata dan menangis; melihatnya, ia berkata pada Gotami Pajāpati yang Agung sebagai berikut:

    “Mengapa engkau, Gotami, berdiri … dan menangis?”

    “Karena, Yang Mulia Ānanda, Sang Bhagavā tidak memperbolehkan perempuan meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah dalam dhamma dan disiplin ini yang dinyatakan oleh Sang Penemu-kebenaran.”

    “Baiklah, Gotami, tunggulah sebentar di sini, hingga aku memohon pada Sang Bhagavā atas pelepasan keduniawian bagi perempuan dari kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah dalam dhamma dan disiplin ini yang dinyatakan oleh Sang Penemu-kebenaran.” ||2||

    Kemudian Yang Mulia Ānanda menghadap Sang Bhagavā; setelah mendekat, setelah menyapa Sang Bhagavā, ia duduk dalam jarak selayaknya. Setelah duduk dalam jarak selayaknya, Yang Mulia Ānanda berkata pada Sang Bhagavā sebagai berikut:

    “Yang Mulia, Gotamid, Pajāpati yang Agung, sedang berdiri di luar teras utama, kakinya membengkak, tubuhnya tertutup debu, dengan wajah basah oleh air mata dan menangis, dan mengatakan bahwa Sang Bhagavā tidak memperbolehkan perempuan meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah dalam dhamma dan disiplin ini yang dinyatakan oleh Sang Penemu-kebenaran. Baik sekali, Yang Mulia, jika perempuan diperbolehkan meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga … oleh Sang Penemu-kebenaran.”

    “Hati-hati, Ānanda, tentang pelepasan keduniawian perempuan dari kehidupan rumah tangga … oleh Sang Penemu-kebenaran ini.” Dan untuk ke-2xnya … Dan untuk ke-3xnya Yang Mulia Ānanda berkata pada Sang Bhagavā sebagai berikut: “Baik sekali, Yang Mulia, jika perempuan diperbolehkan meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga … yang dinyatakan oleh Sang Penemu-kebenaran.”

    “Hati-hati, Ānanda, tentang pelepasan keduniawian perempuan dari kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah dalam `dhamma dan disiplin ini yang dinyatakan oleh Sang Penemu-kebenaran ini.” Kemudian Yang Mulia Ānanda berpikir:

    “Sang Bhagavā tidak memperbolehkan pelepasan keduniawian bagi perempuan dari kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah dalam dhamma dan disiplin yang dinyatakan oleh Sang Penemu-kebenaran ini. Bagaimana jika aku, dengan cara lain, memohon pada Sang Bhagavā untuk memperbolehkan pelepasan keduniawian bagi perempuan dari kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah dalam dhamma dan disiplin yang dinyatakan oleh Sang Penemu-kebenaran ini.” Kemudian Yang Mulia Ānanda berkata pada Sang Bhagavā sebagai berikut:

    “Yang Mulia, apakah para perempuan, setelah meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah dalam dhamma dan disiplin yang dinyatakan oleh Sang Penemu-kebenaran ini, mampu mencapai buah pencapaian-arus atau buah yang-kembali-sekali atau buah yang-tidak-kembali atau kesempurnaan?”

    “Para perempuan, Ānanda, setelah meninggalkan keduniawian … mampu mencapai … kesempurnaan.”

    “Jika, Yang Mulia, setelah meninggalkan keduniawian … mampu mencapai … kesempurnaan – dan, Yang Mulia, Gotami Pajāpati yang Agung, telah sagat banyak membantu: ia adalah bibi Sang Bhagavā, ibu pengasuh, perawat, pemberi susu, karena ketika ibu Sang Bhagavā meninggal dunia ia menyusui Beliau - baik sekali, Yang Mulia, jika para perempuan diperbolehkan meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah dalam dhamma dan disiplin yang dinyatakan oleh Sang Penemu-kebenaran.” ||3||

    “Jika, Ānanda, Gotami Pajāpati yang Agung, menerima 8 peraturan penting, maka ia boleh ditahbiskan:

    1. “Seorang bhikkhunī yang telah ditahbiskan (bahkan) selama satu abad harus menyapa dengan hormat, bangkit dari duduknya, memberi hormat dengan merangkapkan tangan, memberikan penghormatan selayaknya pada seorang bhikkhu bahkan yang baru ditahbiskan pada hari itu. Dan peraturan ini harus dihormati, dihargai, dijunjung, dimuliakan, tidak boleh dilanggar seumur hidupnya.

    2. “Seorang bhikkhunī tidak boleh melewatkan musim hujan di tempat tinggal di mana tidak terdapat bhikkhu. Peraturan ini juga harus dihormati … seumur hidupnya.

    3. “Setiap setengah bulan seorang bhikkhunī harus mengharapkan 2 hal dari Saṅgha para bhikkhu: bertanya (sehubungan dengan tanggal) hari Uposatha, dan kedatangan untuk memberikan nasihat. Peraturan ini juga harus dihormati … seumur hidupnya.

    4. “Setelah musim hujan seorang bhikkhunī harus ‘melakukan undangan’ di hadapan kedua Saṅgha sehubungan dengan 3 hal: apa yang dilihat, apa yang didengar, apa yang dicurigai. Peraturan ini juga harus dihormati … seumur hidupnya.

    5. “Seorang bhikkhunī yang melanggar suatu peraturan penting, harus menjalani mānatta (disiplin) selama setengah bulan di hadapan kedua Saṅgha. Peraturan ini juga harus dihormati … seumur hidupnya.

    6. “Ketika, selagi menjalani masa percobaan, ia telah berlatih dalam 6 peraturan selama 2 tahun, maka ia harus memohon penahbisan dari kedua Saṅgha. Peraturan ini juga harus dihormati … seumur hidupnya.

    7. “Seorang bhikkhu tidak boleh dicela atau ditegur dalam cara apa pun oleh seorang bhikkhunī. Peraturan ini juga harus dihormati … seumur hidupnya.

    8. “Mulai hari ini pemberian nasihat pada para bhikkhu oleh para bhikkhunī adalah terlarang, pemberian nasihat pada para bhikkhunī oleh para bhikkhu diperbolehkan. Dan peraturan ini harus dihormati, dihargai, dijunjung, dimuliakan, tidak boleh dilanggar seumur hidupnya.

      [Kata "vacanapatha" di sini diartikan sebagai "pemberian nasihat" namun kata ini dapat bermakna "tidak berkata-kata kasar/menyakitkan"]

    “Jika, Ānanda, Gotami Pajāpati yang Agung, menerima 8 peraturan penting, maka ia boleh ditahbiskan.” ||4||

    Kemudian Yang Mulia Ānanda, setelah menghafalkan 8 peraturan penting ini dari Sang Bhagavā, mendatangi Gotami Pajāpati yang Agung; setelah mendekat, ia berkata pada Gotami Pajāpati yang Agung sebagai berikut:

    “Jika engkau, Gotami, sudi menerima 8 peraturan penting, maka engkau boleh ditahbiskan: Seorang bhikkhunī yang telah ditahbiskan (bahkan) selama satu abad … Mulai hari ini pemberian nasihat pada para bhikkhu oleh para bhikkhunī adalah terlarang … tidak boleh dilanggar seumur hidupmu. Jika engkau, Gotami, sudi menerima 8 peraturan penting, maka engkau boleh ditahbiskan.”

    “Seperti halnya, Yang Mulia Ānanda, seorang perempuan atau laki-laki muda, berusia muda, dan menyukai perhiasan, setelah mencuci (badan dan) kepala(nya), setelah memperoleh kalung bunga teratai atau kalung bunga melati atau kalung bunga tanaman merambat yang harum, setelah memegangnya dengan kedua tangan akan meletakkan di atas kepalanya – demikian pula aku, menghormati, Ānanda, dan menerima ke-8 peraturan penting ini dan takkan pernah melanggarnya seumur hidupku.” ||5||

    Kemudian Yang Mulia Ānanda menghadap Sang Bhagavā; setelah mendekat, setelah menyapa Sang Bhagavā, ia duduk dalam jarak selayaknya. Setelah duduk dalam jarak selayaknya, Yang Mulia Ānanda berkata pada Sang Bhagavā sebagai berikut: “Yang Mulia, 8 peraturan penting ini diterima Gotami Pajāpati yang Agung.”

    “Jika, Ānanda, perempuan tidak memperoleh pelepasan keduniawian kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah dalam dhamma-disiplin yang dinyatakan oleh Sang Penemu-kebenaran, maka menjalani prilaku menuju kesucian (brahmacariya) Ānanda, akan bertahan lama, dhamma sejati akan bertahan selama 1000 tahun (vassasahassaṃ saddhammo tiṭṭheyya). Tetapi karena, Ānanda, perempuan telah memperoleh pelepasan keduniawian … dhamma-disiplin yang dinyatakan oleh Sang Penemu-kebenaran, Sekarang, Ānanda, prilaku menuju kesucian menjadi tidak bertahan lama. Sekarang, Ānanda, DHAMMA SEJATI hanya bertahan 500 tahun (na dāni, ānanda, brahmacariyaṃ ciraṭṭhitikaṃ bhavissati. Pañceva dāni, ānanda, vassasatāni saddhammo ṭhassati)..[AN 8.51/Gotami Sutta dan Vinaya Pitaka, Cullavagga X.1.6]

      Note:
      • Penetapan 1000 tahun menjadi 500 tahun adalah berdasarkan pemikiran Seorang Buddha, pemilik 10 kekuatan/Dasabalā yang salah satunya adalah "memahami sebagaimana adanya akibat-akibat dari perbuatan-perbuatan yang dilakukan, di masa: lalu, depan, dan sekarang, dengan kemungkinan dan penyebabnya" yang dengan kekuatan ini, beliau mengetahui dan melihat bahwa setelah tahun ke-500, tidak ada lagi manusia yang berada dalam kondisi siap atau matang dalam mencapai kesucian dan juga mampu menjalani sepenuhnya prilaku brahmacariya dhamma-vinaya

      • Terdapat selisih waktu 2 tahun antara penahbisan Mahapajapati Gotami dan 500 Puteri Sakya:

        • Dalam Attha Garudhamma ke-6, calon harus menjalani 6 Sila selama 2 tahun sebelum dapat ditahbiskan dan harus dilakukan oleh ke-2 sangha;
        • 500 puteri ini tidak ditahbiskan sang Buddha namun oleh murid-muridNya;
        • Di Cullavagga terekam penolakan para puteri sakya ketika upajaya mereka adalah Mahapajapati Gotami, mereka anggap Ia belum ditahbiskan, namun Sang Buddha menegaskan bahwa Attha Garudhamma adalah penahbisannya Mahapajapati Gotami. [Cullavagga]

        Kemudian, Mahapajapati Gotami bersama Sangha Bhikkhu menahbiskan 500 Puteri. Mahapajapati Gotami mencapai arahat setelah arahan Sang Buddha dan 500 Bhikkhuni mencapai arahat setelah kotbah YM Nandaka. Di Jetavana, Mahapajapati Gotami dianugrahi gelar "rattaññūnaṃ". Tak lama setelah kembali ke Vesali, Ia wafat diusia 120 tahun (Tahun ke-40 Kebuddhaan) bersamaan dengan wafatnya 500 Bhikkhuni yang ditahbiskannya. [DPPN]

        Gelar "rattaññūnaṃ" diberikan di Jetavana kepada: Annasi Kondanna (Arahat pertama Pria era Buddha Gotama) dan Mahapajapati Gotami (Arahat wanita pertama). Tidak tercatat dianugerahkan secara bersamaan sehingga tampaknya pengukuhan ini disampaikan ketika yang bersangkutan hendak wafat. Annasi Kondanna menjadi arahat di tahun ke-1 keBuddhaan, Pada tahun ke-2, di Rajagaha, Ia meminta ijin menyepi dan 12 tahun kemudian (tahun ke-14) di Jetavana, beliau berpamitan pada Sang Buddha untuk parinibbana. Sang Buddha bervasa di Jetavana pertama kali tahun ke-14 dan di sana Kondanna dianugerahi gelar "rattaññūnaṃ". Tampaknya vassa terakhir di Jetavana di tahun ke-38, Mahapajapati Gotami dianugerahi gelar yang sama.

      Kutipan syair "..karena, Ānanda, perempuan telah memperoleh pelepasan keduniawian …, sekarang, Ānanda, prilaku menuju kesucian menjadi tidak bertahan lama. Sekarang, Ananda, DHAMMA SEJATI hanya bertahan 500 tahun", diklaim sebagai bukti bahwa sang Buddha sexist, karena telah menyalahkan wanita sebagai biang keladi umur Dhamma sejati (dan menjalani prilaku kehidupan brahmacariya menurut dhamma-vinaya) menjadi hanya 500 tahun saja. Namun, masalahnya, di sebelum itupun, sudah ada gender ke-3 (bukan pria dan wanita) misalnya: Soreyya dan Vakkali. Beberapa dari gender ke-3 menambah ragam permasalahan, misalnya: Ia berubah kelamin namun tetap ingin ditahbiskan atau tetap dalam himpunan atau Ia menjadi bhikkhu untuk merayu para bhikkhu/ni, samanera/ri, umat awam.

      Jadi, bukan gender, melainkan membesarnya jumlah yang berjenis moghapurisa (misal di SN 16.13, AN 4.160. AN 5.1503-156) yang mempercepat tenggelamnya Dhamma sejati dan prilaku menuju kesucian menurut dhamma-vinaya, mereka inilah, memperkaya ragam permasalahan internal/eksternal di kedua sangha dan/atau dengan/antar umat awam atau dengan penganut ajaran lain, penjiplakan ajaran, alasan perawatan kesehatan yang lebih terjamin, kultur, sosial, budaya, bahasa, agama, gender, perekonomian, politik, dan lainnya.

        Maha Kassapa:
        "Apa alasan dan bergantung pada kondisi apa ketika sebelumnya sedikit aturan (sikkhāpadāni), banyak bhikkhu yang memperoleh pencerahan namun sekarang ini, lebih banyak aturan yang ditetapkan namun lebih sedikit bhikkhu yang mencapai pencerahan sempurna?"

        Sang Buddha:
        Ketika para mahluk merosot [sattesu hayamanesu], Dhamma sejati juga akan memudar, aturan ditetapkan semakin banyak, semakin sedikit bhikkhu yang mencapai pencerahan namun itu tidak membuat Dhamma sejati lenyap hingga kemudian dhamma tiruan bermunculan di dunia. Ketika Dhamma tiruan bermunculan di dunia maka dhamma sejati akan lenyap.

        Bagaikan, Kassapa, emas takkan lenyap selama tiruan emas tidak muncul di dunia ini, tetapi ketika tiruan emas muncul maka emas sejati lenyap, demikian pula, Dhamma sejati takkan lenyap selama tiruan dari Dhamma sejati tidak muncul. Tetapi ketika tiruan Dhamma sejati muncul di dunia ini, maka Dhamma sejati lenyap.

        Bukan karena unsur landasan/tanah, Kassapa, yang menyebabkan Dhamma sejati lenyap, juga bukan unsur rekatan/air, juga bukan unsur yang membakar/api, juga bukan unsur tekanan/gerak/angin. Adalah orang yang kosong melompong spiritualitasnya (mogha purisa) yang bermunculan di sini yang menyebabkan Dhamma sejati melenyap.

        Dhamma sejati tidak lenyap seketika bagaikan kapal tenggelam. Terdapat 5 faktor yang menyebabkan menurunnya Dhamma sejati, yaitu Bhikkhu, Bhikkhuni dan umat awam bersikap tidak hormat dan melawan pada: Guru, dhamma, sangha, pelatihan dan samadhi [SN 16.13/Saddhamma Patirūpaka Sutta]

      Sutta (SN 16.13) di atas ini menegaskan bahwa dhamma sejati MEMANG AKAN LENYAP yaitu karena para manusia yang kosong melompong, yang ketika mendapatkan dhamma dan/atau menempuh kehidupan kesucian tidak dengan seksama dan malah melakukan banyak pelanggaran hingga perlu ditetapkan banyak peraturan ditetapkan untuk mengerem laju kelenyapan dan lenyapnya Dhamma sejati adalah karena kumunculan ajaran-ajaran tiruan.
Kemudian,
Di DN 23/Payasi Sutta, kita akan temukan batas tahun terbentuknya Sangha Bhikkhuni. Sutta itu memuat kisah pertemuan antara YM Kumara Kassapa dengan pangeran Payasi dan beberapa waktu setelah berdana, Pangeran Payasi dan Brahmin muda bernama Uttara wafat. Pangeran Payasi terlahir kembali di alam deva Catumaharajika bertemu dengan YM Gavampati yang sedang berkunjung ke alam itu. Kisah kelahiran YM Kumara Kassappa tercantum dalam Jataka no. 12/Nigrodhamika:

Ibu Kumara Kassapa adalah putri seorang kaya dari Rajagaha. Ia berniat menjadi Bhikkhuni namun tidak diijin orang tuanya, setelah menikah, Ia meminta ijin suami dan diijinkan. Ibu YM Kumara Kassapa diantar suami kekumpulan bhikkhu (sangha) pimpinan Devadatta dan ditahbiskan di sana. Saat menerima penahbisan, Ia tidak tahu dirinya tengah hamil, ketika kehamilannya membesar dan diketahui, mereka melaporkan ini ke Devadatta yang kemudian memutuskan bahwa Ia tidak lagi bhikkhuni dan di usir.

(Ini mengindikasikan, ketika menahbiskan, Devadatta tidak mengikuti aturan attha Garudhamma, akan ada selisih 2 tahun karena calon harus menjalani 6 sila terlebih dahulu sebelum berhak ditahbiskan)

Bhikkhuni muda ini kemudian meminta diantar ke vihara Jetavana (Savatthi, perjalanan sejauh 45 yojana) untuk menetap di sana. Permasalahan ini kemudian dilaporkan ke sang Buddha. Walaupun Sang Buddha tahu kehamilan Bhikkhuni ini terjadi saat menjadi umat awam, namun untuk mencegah kontroversi dan gunjingan lanjutan, beliau mengundang Raja Pasenadi dari Kosala, Anathapindika, Visakha dan lainnya untuk menyelidiki hal ini dan akhirnya diketahui bahwa kehamilan telah terjadi SEBELUM Ia ditahbiskan sehingga YM Upali putuskan tidak ada aturan parajika yang dilanggar.

Ketika anak itu lahir raja Pasenadi dari Kosala memeliharannya, Ia diberi nama: Kassapa. Pada usia 7 tahun dikirim ke vihara ditahbiskan menjadi SAMANERA dan ketika ia membawa hidangan kecil seperti buah kepada Sang Buddha, Ia mendapat tambahan nama kumara, sejak itu disebut Kumara Kassapa. Arti kata kumara adalah anak atau pangeran.

Kumara Kassapa ditahbiskan menjadi Bhikkhu diusia 20 tahun yang terhitung sejak dalam kandungan ibunya. [Khandhaka, Mahavaga, Vinaya] dan setelah MN 23/Vammikka Sutta, Ia menjadi Arahat. Komentar Anguttara (AA i.159) menyatakan Sang Buddha memberinya gelar cittakathikānam (trampil dalam menyampaikan pembicaraan) yang dikaitkan dengan pembicaraan Kumara kassapa dengan Pāyāsi,

YM Gavampati wafat menjelang berlangsungnya konsili ke-1, yang diselenggarakan 3 bulan setelah wafatnya sang Buddha.

AN 3.70/Uposatha sutta menyatakan 1 hari di alam TAVATIMSA = 100 tahun di alam Manusia; 1 hari di alam CATUMAHARAJIKA = 50 tahun tahun di alam manusia, sehingga:

1 jam alam Tavatimsa = 4 tahunan di alam manusia
1 jam alam Catumaharajika = 2 tahunan di alam manusia.

Penahbisan Mahapaja Gotami menjadi Bhikkhuni bisa jadi di tahun ke-21/22, dan Sangha Bhikkhuni terbentuk di tahun ke-23/24, maka saat Kumara kassapa ditahbiskan menjadi bhikkhu di usia 20 yang terhitung sejak dalam kandungan adalah di tahun ke-42/43. Ia mencapai Arahat setelah Vammika Sutta dan bertemu Payasi sebelum wafatnya Payasi. Terdapat selisih ± 2/3 tahunan antara wafatnya YM Gavampati dan 1 jam kelahiran kembali Pangeran Payasi di alam Catumaharajika.

Sehingga Sangha Bhikkhuni terbentuk paling telat di tahun ke-24 KeBuddhaan.

Kapankah akhir tahun ke-500 dari Sad Dhamma/Dhamma sejati?
Uji radioaktif karbon pada situs-situs yang diduga berhubungan dengan kehidupan sang Buddha, menunjukan hasil berada pada kisaran abad ke-6 SM (sumber: Archaeological discoveries confirm early date of Buddha's life)
    "Genap 218 tahun setelah wafatnya Tathagata (= tahun ke-219), Seorang raja memerintah seluruh Jambudwipa (Tathaagatassa parinibbaanato dvinnam vassasataanam upari athaarasame vasse sakala-Jambudiipe ekarajjaabhisekam paapuni)" [Mhv 5.21; Dipv 6.1]
Kronologi Dinasti dan Raja yang memerintah mulai dari wafatnya Sang Buddha sampai dengan pemerintahan raja Asoka ("The Cambridge History of India", hal.189 "Mahavamsa: Great Chronicle of Ceylon", Wilhelm Geiger, hal. xlvi):
    Ajatasattu (32 tahun, Sang Buddha wafat di tahun ke-8 pemerintahannya = 24 tahun) + Udayin-Bhadda (16 tahun) + Anuruddha dan Munda (8 tahun) + Nagadasaka (24 tahun) + Shisunaga (18 tahun) + Kalasoka (28 tahun) + keturunan Kalasoka (22 tahun) + Nanda dan Keturunannya (22 tahun) + Candragupta (24 tahun) + Bindusara (28 Tahun) + Asoka dinobatkan (tahun ke-5 setelah bindusara wafat)
Jadi tahun ke-(24 + 16 + 8 + 24 + 18 + 28 + 22 + 22 + 24 + 28 + 5) 219 tahun setelah parinibannanya sang Buddha, adalah tahun ketika Asoka menjadi raja. Asoka wafat setelah memerintah 37 tahun lamanya, sehingga 256 tahun telah berlalu sejak parinibannanya sang Budha

Penemuan arkeologi Inskripsi-Inskripsi di atas batu tentang Devanampiya piyadasi raja Magadha, Asoka:
terdapat sekurangnya 19 inskripsi berupa pilar batu dengan tinggi ± 12 – 15 Meter dan berat: ± 50 ton, 14 inskripsi pada batu yang besar dan beratnya bervariasi [“Asoka Maurya - His attitudes towards reformist sects of Jainas, Ajivikas and Buddhist as reflected in his Dhamma Edict?”, Bipin Shah].
  • Inskripsi maklumat batu di Maski, tahun 1915, di baris pertama, tertulis "Devanampiya asokasa", dilanjutkan dengan kalimat, "Selama 2.5 tahun Saya sebagai umat awam.....Aku menemui (upagate)...Sangha...jambudwipa". pada Inskripsi Bhabru/Bairat, tertulis kalimat "Piyadasi laja magadhe sangham abhivademanam" (Raja Magadha yang ramah menyampaikan hormat pada Sangha'). Kata “Piyadassi” yang merujuk pada Asoka, tercantum dalam text Dipavamsa 6.1-18. Seluruh rangkaian ini, menegaskan bahwa Inkripsi-inkripsi yang ditemukan dengan memuat kata devanampiya dan piyadasi adalah memang merujuk pada Asoka, sehingga keberadaan Asoka adalah nyata

  • Maklumat kecil batu I, yang ditemukan di 3 tempat (Brahmagiri, Rupanath dan Sahasram) terdapat tulisan angka "256":

    Brahmagiri: Iyam cha savan(e) sav(a)p(i)te vyuthena 200 50 6
    Rupnath: V(y)uthena savane kate 200 50 6 sata vivasa ta (atau ti)
    Sahasram: Iyam (cha savane v)ivuthena duve sapamnalatisata (atau dve satpancasaratrisate?) vivutha ti 200 50 6

    Tentang arti angka 256 yang tidak berisi petunjuk apakah itu sebagai tahun, hari atau orang:

    Geiger menuliskan bahwa Buhller dan fleet menyatakan sebagai “tahun” (256 tahun berlalu sejak nirwana), F.W Thomas menyatakan sebagai "hari” (256 hari), dengan mengartikan "lati" = "ratri" = malam. Geiger (dan bisa jadi, seluruh para ahli bahasa serupa) menyatakan: Fleet dan Buhler pastinya tahu ada kata “lati” dan mereka temukan bahwa konteknya tidak tepat untuk diterjemahkan demikian (Mahavamsa, Geiger, introduction, xxvii-xxviii. Sample ahli yang juga menolak ide bahwa kata lati = ratri, misal: ”Asoka”, Mookerji Radhakumud, hal. 114-115, cat kaki 3).

    Fleet menyampaikan: Nama-nama ahli-ahli bahasa, selain Buhller yang mengartikan sebagai “256 tahun”, nama para ahli lain yang menterjemahkan sebagai “256 hari” atau “256 orang” atau “256 kali”. Ia memahami bahwa tidak ada kata “tahun” (juga tidak ada kata hari atau orang atau kali) di inkripsi-inkripsi tersebut, namun kemudian, Ia menjadi bersepakat penuh dengan Buhller, dengan alasan bahwa penulisan angkat tahun namun tidak menyebutkan kata “tahun” adalah lazim dilakukan para ahli pali ketika menuliskan tahun karya mereka, Ia mengambil contoh Pannasami (seorang ahli pali dan buddhis dari Burma, tahun 1861), dalam karyanya “Sasanavamsa” atau “Sasanavamsappadipika”, menuliskan tanggal selesai karyanya dengan kalimat, “Dvi-sate cha sahasse cha tevis-adhike gate punnayam Migasirassa nittham gata va sabbaso (Ini telah diselesaikan dalam menghormati purnama bulan Migasira, yang telah berlalu 1223) tanpa menambahkan kata “tahun” namun jelas yang dimaksudkan adalah “1223 tahun” dan bukan hari atau lainnya [“The Date of Buddha's Death, as Determined By a Record of Asoka”, J.F. Fleet, I.C.S.(Retd.), Ph.D., C.I.E. Journal of The Royal Asiatic Society, hal. 1-26, 1904].

    Kata 256 ini menjadi bahan kontroversi menarik karena 219 (tahun penobatan) + 37 (lamanya memerintah) = 256 tahun berlalu sejak parinibannya sang Buddha

  • Kemudian, Inskripsi maklumat Asoka pada pilar batu ke-13 (girnar dan kalsi), tertulis, “Yatra Aṃtiyoko nāma Y[o]na-raja paraṃ ca tena Atiyok[e]na cature 4 rajani Turamaye nama Aṃtikini nama Maka nama Alikasudaro nama” (Disana ada Yunani, rajanya bernama Antiochos, lebih jauh lagi ada 4 raja yang bernama Ptolemy, Antigonos, Maga dan Alexander)

    Antiochos II Theos (261 - 246 SM), Ptolemy II Philadelphos (285 - 247 SM), Antigonos Gonatos (278(1)/276(2) SM - 239 SM), Maga (300 - 258/wafat sebelum 250(2)(3) SM) dan Alexander of Epirus (272 - 258/255(2) SM) atau Alexander of Corinth (252 - 244 SM)

    [Sumber: (1)”The Edicts of King Asoka an English rendering“,Ven. S. Dhammika, 1994; (2) “Early Buddhist Transmission and Trade Networks: Mobility and Exchange Within and Beyond the Northwestern Borderlands of South Asia”, Jason Neelis , hal .82, cat kaki no.52; (3) Magas of Cyrene, cat kaki no.7]

    Irisan tahun kehidupan 4 raja tersebut berada pada dikisaran 260 SM s.d 256 SM. Pilar ini dinyatakan buatan tahun 256 SM (catatan kaki no.25), yaitu tahun pemerintahan Asoka ke-12 (“The Past Before Us”, Romila Thapar, hal.390, cat kaki no.14) atau ke-13 (“Early Buddhist Transmission and Trade Networks:..”, Jason Neelis, hal.82, Cat kaki no.52)

    Jadi, setelah 37 tahun memerintah, Asoka wafat di ± tahun 232 SM atau 256 tahun setelah parinibananya sang Buddha
Sekarang, hampir pasti dapat kita simpulkan bahwa wafatnya Buddha Gautama terjadi dikisaran 488 SM (256+232) dan beliau lahir dikisaran tahun 568 SM (488+80) [Detail lainnya di BLOG INI]

Mahapajapati Gotami ditahbiskan pada sekitar tahun ke-21/22 ke-Buddhaan, sekitar 23/24 tahun sebelum Sang Buddha Parinibanna atau 279/280 tahun berlalu hingga wafatnya Asoka, sehingga berakhirnya 500 tahun Dhamma sejati dan prilaku Brahmacariya menurut dhamma-vinaya, terjadi di kisaran tahun 12/11 SM (256 tahun + 23/24 tahun + 232 SM – 500 tahun).

Rupanya,
Komunitas buddhis di awal milenium pertama abad ini tersadar bahwa kisaran waktu 500 tahun sudah terlewatkan maka marak bermunculan tradisi-tradisi baru untuk memperpanjang sendiri batasan umur Dhamma sejati tersebut:
  1. Di peride SETELAH 500 tahun Parinibanyanya Sang Buddha ["paścimāyāṁ pańacaśatyām", Sūtra Intan, dan Sūtra Teratai]
  2. 700 tahun [Sūtra Mahāparinirvāṇa dan Sūtra 7 mimpi Ananda (Taisho 49, no. 2034, p. 116, c4)]
  3. 1000 tahun [Bhadrakalpika Sūtra dan komentar dari Prajńāpāramitā Sūtra, dibagi per 500 tahun]
  4. 1500 tahun [Candragarbha Sūtra, Mahāsaṃnipata Sūtra, Karunapundarīka Sutra, Mahāmāyā Sūtra]
  5. Setelah 2500 tahun yang dibagi per 500 tahun. [Mahāsaṃnipata Sūtra, dalam Abhidharma Mahāvibhāṣa Śāstra: dibagi per 500 tahun setelah parinibbana Sang Buddha terakhir 3500 tahun.]
  6. 5000 tahun [dengan tabel waktu dalam: Komentar Buddhagosa pada Aṅguttara Nikāya, juga di Maitreya Sūtra(sumber tibet)]
  7. 5104 tahun [Kalacakra tantra, tibetan]
  8. ≥ 10.000 tahun [translasi dari Samantapasadika ch. 18 merubah dari 5000 menjadi 10.000 dengan perincian 1000 tahun Saddharma, 5000 tahun mirip dhamma dan terus hingga batas 10.000 tahun juga di Ju She Lun Bao, ch.29 Shu ; juga ada yang menyatakan 11.500 tahun (Taisho no.1933, 46.786c4-6); kemudian 12000 tahun (Taisho T42, no. 1824,.p. 18, b2-5, T47, no. 1960, p. 48, c7-8 dan T35, no. 1709,p. 520, c10)], dll
  9. Kitab komentar Aliran Theravada abad ke-5 M, melakukan penciptaan sendiri perpanjangan batasan hingga 5000 tahun dengan urutan kelenyapannya: (1) Pencapaian Tingkat Kesucian; (2) Pelaksanaan-Benar (Jhana, pandangan terang, Jalan dan Buah (Magga dan Phala), 4 kemurnian perilaku (Catuparisuddhi Sīla: Sila kebhikkhuan, indera, penghidupan dan yang berhubungan dengan 4 kebutuhan pokok). Kemudian perlahan hanya menjaga diri dari 4 Parajika/pelanggaran berat, hingga Bhikkhu terakhir wafat dan lenyaplah pelaksanaan benar); (3) Ajaran (dengan urutan: Abhidhamma (dengan urutan: Patthana, Yamaka, Katha-vatthu, Pugala-pannatti, Dhatu-katha, dst), Sutta Pitaka (dengan urutan: AN, SN, MN, DN), Jataka (dengan urutan: Vessantara Jataka, Apannaka Jataka, dst), Vinaya Pitaka dan terakhir lenyap: 4 syair Dhammapada no.183); Simbol/Bentuk Luar (Berjubah, berjubah sepotong, berjubah dan menunjang anak Istri, tidak jubah dan berburu binatang) dan (5) Relik (mulai tahun ke-5000, sampai tidak menghormati relik sang Buddha, tidak ada penghormatan dan pemujaan terhadap relik)
Semakin lengkaplah terjadi! dengan kemunculan Dhamma tiruan [baik dari kalangan dalam maupun luar ajaran Buddha sendiri][10]. Namun karena AJARAN BUDDHA masih ada, walau tidak murni, maka PACCEKA BUDDHA MASIH BELUM SAATNYA muncul. Para Paccekka hanya muncul ketika AJARAN BUDDHA SUDAH LENYAP SEPENUHNYA [Lihat: DI SINI. Pacceka Buddha terakhir adalah Mātaṅga, Parinibbana ± 7 hari setelah lahirnya Sidharta Gautama, Nama beliau disebut di Isigli sutta; Kisahnya disampaikan di KITAB KOMENTAR: ApA.i.107, ApA.i.170; SNA.i.128f; Mtu.i.357. Pacceka Buddha juga dapat mengajarkan ‘4 Kebenaran Mulia' hingga yang diajari dapat mencapai ke-arahatan (Dhammapada Atthakatha, syair ke-290, tentang Brahmana Sankha dan Susima)] [] [] []
---------------

Hari Raya Keagamaan

Hari Waisak:
  1. Lahirnya Pangeran Siddharta di Taman Lumbini: Segera setelah lahir, bodhisatto samehi pādehi patiṭṭhahitvā uttarābhimukho (Sang Bodhisatta berdiri mantap di kedua kaki menghadap utara), sattapadavītihārena gacchati (berjalan 7 langkah), setamhi chatte anudhāriyamāne (dengan payung putih yang bantu menahanNya), sabbā ca disā anuviloketi (menatap sekeliling penjuru), āsabhiṃ vācaṃ bhāsati (berbicara kata-kata agung): “aggohamasmi lokassa (Akulah unggulan dunia); jeṭṭhohamasmi lokassa (Akulah terbaik dunia); seṭṭhohamasmi lokassa (Akulah terkemuka dunia). ayamantimā jāti (kelahiran terakhirKu); natthi dāni punabbhavo’ti (Kini tak ada lagi penjelmaan)” [DN 14/Mahapadana sutta, MN 123/Acchariya-abbhūta sutta dan KV 7/Lakkhanakattha]

    Note:
    Lazimnya tidak mungkin bayi baru lahir dapat berjalan dan berbicara. Perkembangan kemampuan melangkah/berbicara bayi tergantung dari perkembangan otak bayi dan kondisi lain yang mendukung.

    Di Lorica, Kolombia [lihat: youtube, nairaland, kualalumpurpost, nydailynews dan dailymail], saat diwawancarai oleh sebuah station radio Ana Feria Santos menyampaikan bahwa bayinya "aneh" dan telah dapat berjalan seperti orang dewasa di usia 4 minggu. Sciencenews menjelaskan tentang "primitif reflex" yang dipunyai bayi dari sejak lahir, salah satunya adalah berjalan. Video ini memperlihatkan peragaan primitif reflek pada bayi berumur 6 hari, sang bayi berada diposisi berdiri, dipegang dan ketika menyentuh tanah, kakinya reflek melangkah

    Di Norilsk, Rusia, seorang bayi baru lahir bernama Stephan dapat bicara beberapa patah kata. Kata pertama sang bayi setelah lahir adalah "Papa", beberapa menit kemudian mengatakan "Mama". Keesokan harinya, ketika sang Ibu (Lisa Bazheyeva, 17 tahun) mengatakan bahwa ayahnya (Rodion Bejeev) hendak mengunjungi mereka di rumah sakit municipal, bayi itu berkata, "Siapa? Papa?. Dokter Psikologi kandungan rumah sakit pemerintah (Marina Panova) yang membantu persalinan menegaskan laporan itu. "Saya mendengar dengan telinga saya sendiri bahwa bayi yang baru lahir berbicara!", Ia menambahkan belum pernah melihat hal semacam itu selama 23 tahun bekerja di klinik bersalin. "Bayi yang baru lahir tidak bisa mengucapkan suku kata yang rumit seperti itu", katanya "Janin bisa belajar saat masih dalam rahim ibu. Jika ibu berbicara pada janin dan memberikan hiburan seolah-olah telah lahir, bayi biasanya lahir berbakat". kata Panova. [Sumber: Encyclopedia of safety: "In Russia spoke just born baby", 08.05.2009. Juga di: juniorsbook.com, davidicke, nifahamishe.com, apropo.ro dan lihat juga: Baby talk: newborns recall words heard in the womb, research shows dan Babies Learn to Recognize Words in the Womb]

  2. Mencapai keBuddhaan di Buddha-Gaya diusia 35 tahun, dengan syair: "melalui ragam lingkaran kelahiran, sia-sia berputaran mencari si 'Pembuat Rumah', Menyakitkan terlahir lagi dan lagi; Pembuat Rumah, telah ditemukan, Tak kan lagi dapat membuat rumah, Semua sendimu telah hancur, atapmu telah roboh, bentukan material pikiran telah dilucuti, belitan nafsu keinginan telah dihancurkan" [Dhammapada Syair 153-154]

    Berikut cuplikan betapa KERAS dan MENGHARUKANNYA perjuangan beliau untuk mencapai PENERANGAN SEMPUNA, yang menyebabkan badannya menjadi sangat kurus, kesehatannya memburuk, jika berdiri tak dapat diam karena kaki gemetar dan beberapa kali mengalami pingsan karenanya, namun biarpun demikian, beliau tetap tak menyerah:

      Melakukan meditasi tanpa bernafas yang sangat keras:
      Aku menghentikan nafas masuk dan nafas keluar melalui mulut dan hidungKu. Sewaktu Aku melakukan demikian, terdengar suara angin yang keras menerobos keluar dari lubang telingaKu. Bagaikan suara keras yang terdengar ketika pipa pengembus pandai besi ditiup, demikian pula, sewaktu Aku menghentikan nafas masuk dan nafas keluar melalui hidung dan telingaKu, terdengar suara angin yang keras menerobos keluar dari lubang telingaKu...

      Aku menghentikan nafas masuk dan nafas keluar melalui mulut, hidung, dan telingaKu. Ketika Aku melakukan demikian, angin kencang menembus kepalaKu. Seolah-olah seorang kuat menusuk kepalaKu dengan ujung pedang tajam...Aku merasakan kesakitan luar biasa di kepalaKu. Seolah-olah seorang kuat mengencangkan tali kulit di kepalaKu sebagai ikat kepala...Angin kencang menerobos keluar melalui perutKu. Bagaikan seorang tukang daging yang terampil atau muridnya membelah perut seekor sapi dengan pisau daging yang tajam...Aku merasakan kebakaran hebat di seluruh tubuhKu. Bagaikan dua orang kuat mencengkeram seseorang yang lebih lemah pada kedua lengannya dan memanggangnya di atas lubang membara..Tetapi walaupun kegigihan yang tidak kenal lelah telah dibangkitkan dalam diriKu dan perhatian yang tidak mengendur telah kokoh, tubuhKu kelelahan dan tidak tenang karena Aku terlalu letih oleh usaha yang menyakitkan. Tetapi perasaan menyakitkan demikian yang muncul padaKu tidak menyerbu pikiranKu dan tidak menetap di sana. [MN 36/Mahasaccaka Sutta]

      Pertapaan sangat keras
      “Aku bepergian dengan telanjang, menolak kebiasaan-kebiasaan, menjilat tanganKu, tidak datang ketika dipanggil, tidak berhenti ketika diminta;
      Aku tidak menerima makanan yang dibawa atau makanan yang secara khusus dipersiapkan atau suatu undangan makan;
      Aku tidak menerima dari kendi, dari mangkuk, melintasi ambang pintu, terhalang tongkat kayu, terhalang alat penumbuk, dari 2 orang yang sedang makan bersama, dari perempuan hamil, dari perempuan yang sedang menyusui, dari perempuan yang sedang berbaring bersama laki-laki, dari mana terdapat pengumuman pembagian makanan, dari mana seekor anjing sedang menunggu, dari mana lalat beterbangan;
      Aku tidak menerima ikan atau daging,
      Aku tidak meminum minuman keras, anggur, atau minuman fermentasi.
      Aku mendatangi 1 rumah, 1 suap;
      Aku mendatangi 2 rumah, 2 suap; …
      Aku mendatangi 7 rumah, 7 suap.
      Aku makan satu mangkuk sehari,
      Aku makan 2 mangkuk sehari …
      Aku makan 7 mangkuk sehari;
      Aku makan sekali dalam sehari,
      Aku makan sekali dalam 2 hari …
      Aku makan sekali dalam 7 hari, dan seterusnya hingga sekali setiap 2 minggu; Aku berdiam menjalani praktik makan pada interval waktu yang telah ditentukan.
      Aku adalah pemakan sayur-sayuran dan padi-padian atau beras kasar atau kulit kupasan buah atau lumut atau kulit padi atau sekam atau tepung wijen atau rumput atau kotoran sapi.
      Aku hidup dari akar-akaran dan buah-buahan di hutan;
      Aku memakan buah-buahan yang jatuh.
      Aku mengenakan pakaian terbuat dari rami, dari rami dan kain, dari kain pembungkus mayat, dari selimut yang dibuang, dari kulit pohon, dari kulit rusa, dari cabikan kulit rusa, dari kain rumput kusa, dari kain kulit kayu, dari kain serutan kayu, dari kain rambut, dari kain bulu binatang, dari bulu sayap burung hantu.
      Aku adalah seorang yang mencabut rambut dan janggut, menjalani praktik mencabut rambut dan janggut.
      Aku adalah seorang yang berdiri terus-menerus, menolak tempat duduk.
      Aku adalah seorang yang berjongkok terus-menerus, senantiasa mempertahankan posisi jongkok.
      Aku adalah seorang yang menggunakan alas tidur paku;
      Aku menjadikan alas tidur paku sebagai tempat tidurKu.
      Aku berdiam dengan menjalani praktik mandi 3x sehari termasuk malam hari.

      Demikianlah dalam berbagai cara Aku berdiam dengan menjalani praktik menyiksa dan menghukum diri. Demikianlah pertapaanKu.

      Kekasaran – sangat kasar
      “bagaikan batang pohon Tindukā, yang terkumpul selama bertahun-tahun, menempel dan mengelupas, demikian pula, debu dan daki, yang terkumpul selama bertahun-tahun, menempel di tubuhKu dan mengelupas. Tidak pernah terpikir olehKu: ‘Oh, Aku akan menggosok debu dan daki ini dengan tanganKu, atau membiarkan orang lain menggosok debu dan daki ini dengan tangannya’ – tidak pernah terpikirkan olehKu demikian. Demikianlah kekasaranKu.

      Kehati-hatian – sangat hati-hati
      “Aku senantiasa penuh perhatian dalam melangkah maju dan melangkah mundur. Aku selalu berbelas kasihan bahkan pada [makhluk-makhluk] dalam setetes air sebagai berikut: ‘Semoga Aku tidak menyakiti makhluk-makhluk kecil dalam celah tanah ini.’ Demikianlah kehati-hatianKu.

      Keterasingan – sangat terasing
      “Aku akan memasuki hutan dan berdiam di sana. Dan ketika Aku melihat seorang penggembala sapi atau seorang penggembala domba atau seseorang yang sedang mengumpulkan rumput atau kayu, atau seorang pekerja hutan, Aku akan pergi dari hutan ke hutan, dari belantara ke belantara, dari lembah ke lembah, dari bukit ke bukit. Mengapakah? Agar mereka tidak melihatKu atau agar Aku tidak melihat mereka. Bagaikan seekor rusa yang lahir di dalam hutan, ketika melihat manusia, akan lari dari hutan ke hutan, dari belantara ke belantara, dari lembah ke lembah, dari bukit ke bukit, demikian pula, ketika Aku melihat seorang penggembala sapi atau seorang penggembala domba … Demikianlah keterasinganKu.

      Praktek meniru Binatang dan makan kotoran
      “Aku akan bepergian dengan ke-4 tangan dan kakiKu menuju kandang sapi ketika sapi-sapi telah pergi dan si penggembala meninggalkannya, dan Aku akan memakan kotoran sapi-sapi muda. Selama kotoran dan air kencingKu masih ada, Aku akan memakan kotoran dan air kencingKu sendiri. Demikianlah praktik kerasKu dalam hal memakan kotoran.

      Praktek kediaman
      “Aku akan pergi ke hutan-hutan yang menakutkan dan berdiam di sana – hutan yang begitu menakutkan sehingga umumnya akan membuat seseorang merinding jika ia tidak terbebas dari nafsu. Pada malam-malam musim dingin selama ‘8 hari interval beku,’ Aku akan berdiam di ruang terbuka dan siang harinya di dalam hutan. Dalam bulan terakhir musim panas Aku akan berdiam di ruang terbuka pada siang hari dan di dalam hutan pada malam hari. Dan di sana secara spontan muncul dalam diriKu syair ini yang belum pernah terdengar sebelumnya:

      Kedinginan di malam hari dan terpanggang di siang hari,
      Sendirian di dalam hutan yang menakutkan,
      Telanjang, tidak ada api untuk duduk di dekatnya,
      Namun Sang Petapa tetap melanjutkan pencariannya
      .’

      “Aku membuat tempat tidur di tanah pekuburan dengan tulang-belulang orang mati sebagai bantal. Dan anak-anak penggembala datang dan meludahiKu, mengencingiKu, melemparkan tanah padaKu, dan menusukkan kayu ke dalam telingaKu. Namun Aku tidak ingat bahwa Aku pernah membangkitkan pikiran buruk terhadap mereka. Demikianlah kediamanKu dalam keseimbangan.

      Praktek mengikuti model aliran lainnya:
      “Ada petapa dan brahmana tertentu yang doktrin dan pandangannya seperti ini: ‘Pemurnian muncul melalui makanan.’ Mereka mengatakan: ‘Ayo kita hidup dari memakan buah kola,’ dan mereka memakan buah kola, mereka memakan tepung kola, mereka meminum air buah kola, dan mereka membuat berbagai jenis ramuan buah kola. Sekarang Aku ingat pernah memakan satu buah kola sehari.

      ..engkau mungkin berpikir bahwa buah kola pada masa itu lebih besar, namun engkau tidak boleh menganggapnya demikian; buah kola pada masa itu berukuran sama seperti sekarang.
      Karena memakan satu buah kola sehari, tubuhKu menjadi sangat kurus.
      Karena makan begitu sedikit anggota-anggota tubuhku menjadi seperti tanaman merambat atau batang bambu.
      Karena makan begitu sedikit punggungku menjadi seperti kuku unta.
      Karena makan begitu sedikit tonjolan tulang punggungku menonjol bagaikan untaian tasbih.
      Karena makan begitu sedikit tulang rusukKu menonjol karena kurus seperti kasau dari sebuah lumbung tanpa atap.
      Karena makan begitu sedikit bola mataKu masuk jauh ke dalam lubang mata, terlihat seperti kilauan air yang jauh di dalam sumur yang dalam.
      Karena makan begitu sedikit kulit kepalaKu mengerut dan layu bagaikan buah labu pahit yang mengerut dan layu oleh angin dan matahari.
      Karena makan begitu sedikit kulit perutku menempel pada tulang punggungKu; sedemikian sehingga jika Aku menyentuh kulit perutKu maka akan tersentuh tulang punggungKu, dan jika Aku menyentuh tulang punggungKu maka akan tersentuh kulit perutKu.
      Karena makan begitu sedikit, jika Aku mencoba menyamankan diriKu dengan memijat badanKu dengan tanganKu, maka bulunya, tercabut pada akarnya, berguguran dari badanKu ketika Aku menggosoknya.

      “..ada petapa dan brahmana tertentu yang doktrin dan pandangannya seperti ini: ‘Pemurnian muncul melalui makanan.’ Mereka mengatakan: ‘Ayo kita hidup dari memakan kacang,’ ...
      ‘Ayo kita hidup dari memakan wijen,’ ...
      ‘Ayo kita hidup dari memakan nasi,’ dan mereka memakan nasi, mereka memakan tepung beras, mereka meminum air beras, dan mereka membuat berbagai jenis ramuan beras. Sekarang Aku ingat pernah memakan satu butir nasi sehari.

      ..engkau mungkin berpikir bahwa butiran beras pada masa itu lebih besar, namun engkau tidak boleh menganggapnya demikian; butiran beras pada masa itu berukuran sama seperti sekarang.
      Karena memakan satu butir nasi sehari, tubuhKu menjadi sangat kurus. Karena makan begitu sedikit ... maka bulunya, tercabut pada akarnya, berguguran dari badanKu ketika Aku menggosoknya. [MN 12/Mahasihanada Sutta]

  3. Mangkat di Kusinara diusia 80 tahun dengan nasehat: "vayadhammā saṅkhārā (yang berkondisi tunduk pada kelapukan) appamādena sampādetha (dengan kesungguhan/kewaspadaan capailah tujuan)". [SN 6.15, DN 16/Mahaparinibbana sutta] dan lihat juga:Riwayat Sidharta Gautama

Asadha:
Dirayakan 2 bulan setelah Waisak, di bulan (purnama sidhi, sekitar bulan Juli) memperingati Khotbah pertama Sang Buddha di taman rusa Isipatana kepada 5 pertapa: Kondañña, Badhiya, Vappa, Mahanama dan Assaji. Khotbah pertama ini disebut Dhammacakkapavatana (berputarnya roda Dhamma):.
    Demikianlah yang kudengar.
    Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang berdiam di Bārāṇasī di Taman Rusa di Isipatana. Di sana Sang Bhagavā berkata pada Kelompok 5 petapa:

    “Para bhikkhu, kedua ekstrim ini tidak boleh diikuti oleh seorang yang telah meninggalkan kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah.

    Apakah 2 ini?

    (1) Mengejar kebahagiaan indria dalam kenikmatan indria (kāmesu kāmasukhallikānuyogo), yang rendah, kasar, cara-cara kaum duniawi, tidak mulia, tidak bermanfaat (hīno gammo pothujjaniko anariyo anatthasaṃhito); dan

    (2) praktek penyiksaan diri (attakilamathānuyogo), yang menyakitkan, tidak mulia, tidak bermanfaat (dukkho anariyo anatthasaṃhito)

    Tanpa berbelok ke salah satu ekstrim ini, Sang Tathāgata membangkitkan jalan tengah, memunculkan: penglihatan, pengetahuan, menuntun menuju: kedamaian, pengetahuan langsung, pencerahan, menuju Nibbāna

    Dan apakah, jalan tengah yang dibangkitkan oleh Sang Tathāgata, yang memunculkan: penglihatan,.. menuju Nibbāna ini?

    Adalah Jalan Mulia Berunsur 8: Pandangan benar, ..., pikiran terpusat benar.

    Ini, jalan tengah yang dibangkitkan Sang Tathāgata, yang memunculkan: penglihatan.., menuju Nibbāna.

    Kemudian, para Petapa:

    1. Ini adalah kebenaran mulia penderitaan/Dukkha:
      kelahiran adalah penderitaan, penuaan adalah penderitaan... singkatnya, 5 kelompok unsur kehidupan yang tunduk pada kemelekatan adalah penderitaan.

    2. Ini adalah kebenaran mulia asal-mula penderitaan:
      adalah keinginan yang menuntun menuju penjelmaan baru, disertai dengan kesenangan dan nafsu, mencari kenikmatan di sana-sini; yaitu, keinginan pada kenikmatan indria, keinginan pada penjelmaan, keinginan pada pemusnahan.

    3. Ini adalah kebenaran mulia lenyapnya penderitaan:
      adalah peluruhan tanpa sisa dan lenyapnya keinginan yang sama itu, meninggalkan dan melepaskannya, kebebasan darinya, tidak bergantung padanya.

    4. Ini adalah kebenaran mulia jalan menuju lenyapnya penderitaan:
      adalah Jalan Mulia Berunsur 8; yaitu, pandangan benar, …, pikiran terpusat benar.

    Ini adalah kebenaran mulia penderitaan': Demikianlah, sehubungan dengan hal-hal yang belum pernah terdengar sebelumnya, muncullah pada-Ku penglihatan (cakkhuṃ), pengetahuan (ñāṇa), kebijaksanaan (paññā), pengetahuan sejati (vijjā), dan penglihatan (āloko).
    ‘Kebenaran mulia penderitaan HARUS DIPAHAMI SEPENUHNYA (pariññeyyan)’: demikianlah,...(seperti di atas)
    ‘Kebenaran mulia penderitaan TELAH DIPAHAMI SEPENUHNYA (pariññātan)’: demikianlah,...

    Ini adalah kebenaran mulia ASAL-MULA penderitaan’: demikianlah,...(seperti di atas)
    ‘Kebenaran mulia asal-mula penderitaan HARUS DITINGGALKAN’: demikianlah,...
    ‘Kebenaran mulia asal-mula penderitaan TELAH DITINGGALKAN’: demikianlah,...

    Ini adalah kebenaran mulia LENYAPNYA penderitaan’: demikianlah,...(seperti di atas)
    ‘Kebenaran mulia lenyapnya penderitaan HARUS DICAPAI’: demikianlah,...
    ‘Kebenaran mulia lenyapnya penderitaan TELAH DICAPAI’: demikianlah,...

    Ini adalah kebenaran mulia JALAN MENUJU LENYAPNYA penderitaan’: demikianlah,...(seperti di atas)
    ‘Kebenaran mulia jalan menuju lenyapnya penderitaan HARUS DIKEMBANGKAN’: demikianlah,...
    ‘Kebenaran mulia jalan menuju lenyapnya penderitaan TELAH DIKEMBANGKAN’: demikianlah,....

    Selama, pengetahuan dan penglihatan-Ku terhadap 4 Kebenaran Mulia sebagaimana adanya ini dengan 3 tahap dan 12 aspeknya belum sempurna dimurnikan dengan cara ini Aku tidak mengaku telah tercerahkan hingga pencerahan sempurna yang tiada bandingnya di dunia ini dengan para deva, Māra, dan Brahmā, dalam generasi ini bersama dengan para petapa dan brahmana, para deva dan manusia.

    Tetapi ketika pengetahuan dan penglihatan-Ku terhadap 4 Kebenaran Mulia sebagaimana adanya ini dengan 3 tahap dan 12 aspeknya telah sempurna dimurnikan dengan cara ini, maka Aku mengaku telah tercerahkan hingga...dan manusia. Pengetahuan dan penglihatan muncul pada-Ku:

    Kebebasan mental-Ku tidak tergoyahkan. Ini adalah kelahiran-Ku yang terakhir. Takkan ada lagi penjelmaan baru.’”

    Demikianlah yang dikatakan Sang Bhagavā dengan sukacita. Kelompok 5 Petapa bergembira mendengar penjelasan Sang Bhagavā. Selagi khotbah dibabarkan, muncullah pada Yang Mulia Kondañña penglihatan Dhamma tanpa noda, bebas dari debu: “Apa pun yang tunduk pada asal-mula semuanya tunduk pada lenyapnya.”

    Ketika Roda Dhamma telah diputar Sang Bhagavā, para deva yang bersemayam di bumi berseru: “Di Bārāṇasī, di Taman Rusa di Isipatana, Roda Dhamma tanpa banding telah diputar Sang Bhagavā, yang tidak dapat dihentikan oleh petapa atau brahmana atau deva atau Māra atau Brahmā atau siapa pun di dunia.”
    Setelah mendengar seruan para deva yang bertempat tinggal di bumi, para deva di alam 4 Raja Deva berseru: “Di Bārāṇasī...(seperti di atas)
    Setelah mendengar seruan para deva di alam 4 Raja Deva, para deva Tāvatimsa...
    para deva Yāma....
    para deva Tusita...
    para deva Nimmānaratī...
    para deva Paranimmitavasavattī...
    para deva pengikut Brahmā berseru: Di Bārāṇasī,...”

    Demikianlah di saat itu, seketika itu, detik itu, seruan itu menyebar hingga sejauh alam brahmā, dan 10.000 sistem dunia berguncang, bergoyang, dan bergetar, dan cahaya agung tanpa batas muncul di dunia melampaui keagungan para deva di surga.

    Kemudian Sang Bhagavā mengucapkan ucapan inspitarif ini: “Kondañña sungguh telah mengerti! Kondañña sungguh telah mengerti!”. Demikianlah YM Kondañña memperoleh nama “Aññā Kondañña - Kondañña Yang Telah Mengerti.” [SN 56.11/Dhammacakkappavattana sutta (Pemutaran roda Dhamma)]
Saat roda dhamma diputar, Kondañña menjadi manusia pertama yang mencapai Sotapanna di era Buddha Gotama. Setelah pemutaran roda Dhamma, Kondañña mohon ditahbiskan menjadi Bhikkhu dan Ia ditahbiskan dengan kalimat, "Mari (ehi) bhikkhu, Dhamma telah dibabarkan dengan jelas. Laksanakan kehidupan suci dan singkirkanlah penderitaan", maka Kondañña menjadi bhikkhu pertama murid Sang Buddha dan yang pertama ditahbiskan dengan "ehi bhikkhu".

Dua hari setelahnya, Vappa dan Bhaddiya menjadi Sotapanna dan ditahbiskan dengan kalimat "ehi bhikkhu". Di hari ke-4, Mahanama dan Assaji menjadi Sotapanna dan ditahbiskan dengan kalimat "ehi bhikkhu". Dengan adanya 5 Bhikkhu ini, maka terbentuklah sangha Bhikkhu pertama di era Buddha Gotama.

Pada hari ke-5, setelah memberikan khotbah pertama, Sang Buddha membabarkan khotbah kedua, Anattalakkhana sutta:
    Demikian yang kudengar.
    Pada suatu waktu Sang Bhagavā sedang berdiam di Bārāṇasī di Taman Rusa di Isipatana. Beliau berbicara kepada kelompok 5 bhikkhu:

    "Jasmani/materi, para bhikkhu, adalah bukan diri. JIKA JASMANI ADALAH DIRI, JASMANI INI TAKKAN MENYEBABKAN KEKECEWAAN. Akan mungkin [untuk mengatakan] sehubungan dengan jasmani, 'Semoga jasmani ini menjadi demikian. Semoga jasmani ini tidak menjadi demikian.'

    TETAPI KARENA JASMANI BUKAN DIRI, MAKA JASMANI MENYEBABKAN KEKECEWAAN. Dan tidaklah mungkin [untuk mengatakan] sehubungan dengan jasmani, 'Semoga jasmani ini menjadi demikian. Semoga jasmani ini tidak menjadi demikian'

    "Perasaan bukanlah diri...
    "Persepsi bukanlah diri...
    "Bentukan [mental] bukanlah diri...

    "Kesadaran bukanlah diri. JIKA KESADARAN ADALAH DIRI, KESADARAN INI TAKKAN MENYEBABKAN KEKECEWAAN. Adalah mungkin [untuk mengatakan] sehubungan dengan kesadaran, 'Semoga kesadaranku menjadi demikian. Semoga kesadaranku tidak menjadi demikian.'

    TETAPI KARENA KESADARAN BUKAN DIRI, KESADARAN MENYEBABKAN KEKECEWAAN. Dan tidaklah mungkin [untuk mengatakan] sehubungan dengan kesadaran, 'Semoga kesadaranku menjadi demikian. Semoga kesadaranku tidak menjadi demikian'

    Sang Buddha: "Bagaimana menurutmu, para bhikkhu — Apakah jasmani/materi kekal atau tidak kekal?"

    5 Pertapa: "Tidak kekal, Bhante."

    Sang Buddha: "Dan apakah hal yang tidak kekal itu memberikan kenyamanan (memuaskan) atau penderitaan (tidak memuaskan)?"

    5 Pertapa: "Penderitaan (tidak memuaskan), Bhante."

    Sang Buddha: "Dan apakah tepat sesuatu yang tidak kekal, menyebabkan penderitaan, tunduk pada hukum perubahan sebagai: 'Ini milikku. Ini adalah diriku. Ini adalah aku'?"

    5 Pertapa: Tidak, Bhante."

    Sang Buddha: "Apakah perasaan..., persepsi..., bentukan..., kesadaran kekal atau tidak kekal?"

    5 Pertapa: "Tidak kekal, Bhante."

    Sang Buddha: "Bagaimana menurutmu, para bhikkhu — Apakah kesadaran kekal atau tidak kekal?"

    5 Pertapa: "Tidak kekal, Bhante."

    Sang Buddha: "Dan apakah hal yang tidak kekal itu memberikan kenyamanan atau penderitaan?"

    5 Pertapa: "Penderitaan, Bhante."

    Sang Buddha: "Dan apakah tepat sesuatu yang tidak kekal, menyebabkan penderitaan, tunduk pada hukum perubahan sebagai: 'Ini milikku. Ini adalah diriku. Ini adalah aku'?"

    5 Pertapa: "Tidak, Bhante."

    Sang Buddha: "Karena itu, para bhikkhu, apapun jasmani/materi di masa lampau, masa depan, atau masa sekarang; di dalam atau di luar; kasar atau halus; rendah atau luhur; jauh atau dekat; apapun jasmani/materi dilihat sebagaimana adanya dengan pemahaman benar sebagai: 'Ini BUKAN MILIKKU. Ini BUKAN DIRIKU. Ini BUKAN AKU.'

    "Perasaan apapun...Persepsi apapun... Bentukan [mental] apapun... Kesadaran apapun di masa lampau, masa depan, atau masa sekarang; di dalam atau di luar; kasar atau halus; rendah atau luhur; jauh atau dekat: apapun kesadaran dilihat sebagaimana adanya dengan pemahaman benar sebagai: 'Ini BUKAN MILIKKU. Ini BUKAN DIRIKU. Ini BUKAN AKU.'

    "Melihat demikian, siswa Ariya, yang telah memahaminya dengan baik, menjadi:

    TAK TERKESAN (hambar; tak terpesona) dengan jasmani,
    TAK TERKESAN dengan perasaan,
    TAK TERKESAN dengan persepsi,
    TAK TERKESAN dengan bentukan [mental],
    TAK TERKESAN dengan kesadaran.

    SETELAH menjadi TAK TERKESAN, hambar, tak terpesona [nibbida], PADAMLAH NAFSU KEINGINAN untuk menggenggam [viraga].

    SETELAH PADAMNYA NAFSU KEINGINAN untuk menggenggam [viraga], dia TERBEBAS SEPENUHNYA [vimutti].

    Dengan terbebas penuh [vimutti], disana ada pengetahuan [asavakkhayañana], 'Terbebas sepenuhnya.' Dia mengetahui 'Kelahiran telah berakhir, kehidupan suci telah terpenuhi, tugas telah selesai. Tidak ada lagi lebih jauh untuk dunia ini' (lingkaran samsara terpatahkan)."

    Demikian yang dikatakan Sang Bhagava. Berterimakasih, kelompok 5 bhikkhu tersebut gembira atas kata-kata Beliau. Sewaktu penjelasan sedang diberikan, mental kelompok 5 bhikkhu, melalui ketidakmelekatan, terbebas sepenuhnya dari kekotoran mental [SN 22.59/Anattalakhana sutta (Karakteristik Bukan-Diri/tanpa inti)].
Pada bulan ini, di era Buddha Gotama, karena roda dhamma berputar lagi, maka untuk pertama kalinya, MANUSIA BERKESEMPATAN LAGI untuk mencapai tingkat ARAHAT, sebagai SAVAKA ARAHAT (mencapai arahat dengan bimbingan/ajaran Buddha)

Kathina:
Kathina dirayakan 3 bulan setelah Asadha, yaitu pada bulan Pubba/Paccima Kattika, yang jatuh SETELAH masa Vassa (berasal dari kata Vassāna = hujan, musim hujan di India terjadi 3 atau 4 bulan lamanya)

Di jaman dulu, pada bulan-bulan vassa/hujan, para petapa (Buddhis dan non Buddhis) TIDAK LELUASA BEPERGIAN, alasan diantaranya agar tanaman yang sedang/mulai tumbuh TIDAK MENJADI RUSAK akibat terjangan jejak-jejak kaki para petapa [Vinaya, Mahavagga 3.1], akibat sering basah hujan dan kedinginan menjadi rawan sakit, oleh karenanya, para petapa tidak bepergian di musim hujan dan menetap di tempat-tempat tertentu

Masa Vassa juga digunakan sebagai ukuran senioritas seorang petapa yaitu berdasarkan jumlah masa vassa yang telah dijalankannya. Selama masa Vassa, Para Bhikkhu dengan keadaan-keadaan tertentu, masih boleh bepergian namun tidak lebih dari 7 hari, jika tidak, maka masa vassanya dianggap GAGAL dan tidak dihitung.

Di muslim hujan ini, para Bhikkhu sulit mendapatkan makanan, sulit mendapatkan potongan kain untuk jubah (cīvara), yang biasanya mereka kumpulkan di kuburan-kuburan, tempat pembuangan sampah, dll. Juga karena ditempat menetap terdapat pula kelompok bukan dari aliran yang sama atau tidak menjalankan latihan yang sama, maka ketenangan dan hidup harmonis dalam keragaman sulit didapat. Itu juga sebabnya disebut juga Kathina (Arti Kathina = tidak leluasa/kaku, sulit, susah)

Saat berakhirnya masa Vassa, para bhikkhu melakukan Pavarana (undangan di antara para bhikkhu) untuk mengakhiri vassa [Pavarana dapat ditunda 2 minggu atau 1 bulan atau di hari-hari lainnya]. Jumlah bhikkhu yang hadir ≥ 4 Bhikkhu. Hanya bhikkhu yang sukses menyelesaikan masa vassalah yang ber-pavarana

Pada Musim Vassa/hujan, Para umat/penduduk mengambil kesempatan dengan MENGUNDANG para Petapa untuk menetap di desa-desa mereka agar para umat berkesempatan melakukan lebih banyak kebajikan di tiap harinya dengan mendengarkan Dhamma, memohon dan melatih sila (latihan kemoralan) yang lebih tinggi dan juga BERDANA MAKANAN serta keperluan lainnya kepada para Bhikkhu. Karena ketika masa vassa usai, para Bhikkhu, akan berkelana kembali, belum tentu berkesempatan lagi bertemu dengan para Bhikkhu ini

Untuk itu SEBAGAI RASA TERIMA KASIH dari umat kepada para Bhikkhu, di AKHIR MUSIM VASSA, para umat merayakannya dengan memberikan persembahan keperluan para Bhikkhu yang diantaranya adalah jubah-jubah (cīvara)
    Note:
    UANG, EMAS dan PERAK TIDAK DIPERSEMBAHKAN kepada PARA BHIKKHU/SAMANA karena MERUPAKAN NODA bagi petapa [AN 4.50/Upakilesa]. samana/petapa TIDAK membolehkan, TIDAK menyetujui, telah melepaskan dan meninggalkan uang, emas/perak. TIDAK ADA ALASAN untuk membenarkan penerimaan uang, emas dan perak [SN 42.10/Maniculaka Sutta]. Di samping itu, Sang Buddha telah menetapkan Nissaggiya no.18, no.19, bahwa seorang bhikkhu yang menerima uang dengan tangannya sendiri atau membuat orang lain menerima uang untuknya, atau menyetujuinya diletakkan di dekatnya atau disimpan untuknya, maka DIA TELAH MELAKUKAN PELANGGARAN
Perayaan inilah yang dikenal sebagai PERAYAAN KATHINA (Perayaan ini dapat berlangsung 1 bulan lamanya). Hanya bhikkhu yang sukses menyelesaikan masa vassalah yang seharusnya lega untuk hadir di perayaan kathina dan menerima persembahan

Magha-Puja:
Dirayakan di bulan Magha (Februari/Maret) pada waktu terang bulan; untuk memperingati peristiwa berkumpulnya 4 faktor (caturrangga-sannipata) pada hari tersebut.:
  1. Purnama sidhi bulan Magha.
  2. 1.250 orang bhikkhu arahat datang bersama, berkumpul di Rajagaha tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. (Terdiri dari: 1000 Bhikkhu, dipimpin Uruvela Kassapa bersaudara dan 250 bhikkhu pimpinan Sariputta dan Moggalana ex pengikut Sanjaya).
  3. Semuanya Arahat dan memiliki 6 (enam) abhiññā
  4. Semuanya ditahbiskan dengan memakai ucapan 'Ehi-bhikkhu'.
Pada waktu itu Sang Buddha membacakan Ovada patimokkha [Ovada = Nasehat; Patimokkha= yang seharusnya dilakukan; aturan]. Ovada patimokkha juga disampaikan 91 Kappa lalu oleh Buddha Vippasi sebagaimana tercantum di DN 14/MahaPadana Sutta:
    Khantī paramaṃ tapo titikkhā, Nibbānaṃ paramaṃ vadanti buddhā; Na hi pabbajito parūpaghātī, Na samaṇo hoti paraṃ viheṭhayanto
    Kesabaran adalah moral utama. Sang Buddha bersabda: Nibbana yang utama. Bukanlah Petapa jika masih menyakiti, Bukan pula Petapa jika menyusahkan sekitar

    Sabbapāpassa akaraṇaṃ, kusalassa upasampadā; Sacittapariyodapanaṃ, etaṃ buddhānasāsanaṃ
    Segala hal buruk tidak diperbuat, Lakukan yang bermanfaat, Sertai dengan pikiran murni, Itulah ajaran para Buddha

    Anūpavādo anūpaghāto, Pātimokkhe ca saṃvaro; Mattaññutā ca bhattasmiṃ, Pantañca sayanāsanaṃ; Adhicitte ca āyogo, Etaṃ buddhānasāsanan
    Tidak menghina, tidak melukai, Mengendalikan diri sesuai aturan. Makan secukupnya, Hidup menyepi. Senantiasalah berpikir luhur, Itulah ajaran para Buddha
Ucapan di atas juga merupakan jawaban atas pertanyaan Ananda, "Apakah pelajaran dasar untuk para bhikkhu yang diberikan para Buddha terdahulu sama seperti yang diberikan Sang Buddha sekarang?" [Lihat: Dhammapada, Bab 14, Budhha vagga syair 183, 184, 185].

Ada 2 Patimokkha: ovada patimokkha (disampaikan oleh sang Buddha) dan Ana patimokkha (disampaikan siswa-siswanya). Pembacaan Ana patimokkha dilakukan tiap 2 minggu.

Buddha Vipassi mengajarkan Ovàda Pàtimokkha per 6 tahun. Para siswa bhikkhu-Nya tidak membacakan Pàtimokkha dalam wilayah vihàranya masing-masing. Semua bhikkhu dalam wilayah Jambådãpa berkumpul bersama-sama untuk mengadakan upacara uposatha hanya dalam lingkungan vihàra di mana Buddha Vipassi berada. Buddha Gotama, mengajarkan Ovàda Pàtimokkha di 20 tahun pertama kebuddhaan [Patthama Bodhi]. (Buku ke-1 komentar Vinaya dan juga RAPB buku ke-1, Cetakan May 2000, hal 856). Patimokkha diijinkan dibacakan disaat ketidakhadiran beliau, disampaikan sang Buddha di vihara Pubbarama [DPPN]. []
---------------

Lain-lain: Perabuan Jenazah, Meninggalkan Keluarga

Perlakuan jenazah:
Jenazah umat Buddha TIDAK HARUS diperabukan, bebas menentukan apakah dikubur atau dibakar, dibuang di laut atau ditinggal di hutan/goa tanpa dikubur.

TIDAK HARUS meninggalkan keluarga:
Menjadi umat Buddha yang baik TIDAK PERLU meninggalkan keluarga menjadi Bhikkhu/bhikkhuni. Terdapat banyak contoh para perumah tanggal (upasaka/upasika) sanggup mencapai tingkat-tingkat kesucian. Yang hendak menjadi bhikkhu, harus mendapat ijin orang tua dan/atau isterinya, juga harus memenuhi syarat lainnya, misal: isteri dan anaknya tidak terlantar, berkelakuan baik dan tidak menderita penyakit menular atau jiwa. []
---------------

Pattidana

Kebiasaan mempersembahkan dan melimpahkan perbuatan baik pada pihak lainnya telah ada di sebelum jaman Sang Buddha, misalnya di AN 10.177, terdapat kebiasaan mempersembahkan pada mendiang dengan pikiran: ‘Semoga pemberian kami bermanfaat bagi mendiang sanak keluarga kami’

Atau di AN 5.41/Adiya, AN 4.61/Pattakamma, "Dengan kekayaan yang diperoleh melalui usaha keras penuh semangat, dikumpulkan melalui kekuatan tangannya, didapat melalui keringat di alis matanya, kekayaan benar yang diperoleh dengan benar, maka siswa mulia itu melakukan 4 perbuatan yang layak...melakukan 5 persembahan (panca bali): pada sanak (nati), tamu (atithi), mendiang (pubbapeta), raja (rāja); dewata (devata). ini adalah manfaat ke-4 yang dapat diperoleh dari kekayaan..kekayaan digunakan dengan baik, yang telah dengan benar dimanfaatkan dan digunakan untuk sebab yang layak" [Note: Panca bali atau panca yadnya, yaitu: Deva, pitra (leluhur), Rsi (manusia yang dianggap suci), Manusia dan Butha (alam bawah)]

Kata 'pattidana' arti literalnya adalah "mendapatkan pemberian/transfer jasa' yaitu membagi kebajikan pada pihak lainnya [lihat: Milanda Panha untuk pertanyaan no.74. "Manual of Buddhist Terms and Doctrines", NYANATILOKA MAHATHERA. "'Transference of Merit' in Ceylonese Buddhism", G. P. Malalasekera, Philosophy East and West, V. 17 (1967) pp. 85-90]:

Patti:
    [fr. patti2] mempunyai bagian, perolehan atau keuntungan; partner, donor [Pali-english P.T.S]
    (f.) kedatangan; pencapaian; jasa; keuntungan; bagian. [Concise pali english]
Dana:
    hadiah; sumbangan; persembahan; pemberian derma. [concise pali-english]
Sehingga artinya adalah menyampaikan adanya andil/bagian pihak lain ketika kita melakukan/memberikan persembahan/dana/jasa (punna) secara tepatguna (cara, bentuk dan sipenerimanya), agar perbuatan/hasil tersebut bermanfaat bagi: yang ikut mempunyai andil, kita dan penerimanya.

Siapa saja dan Bagaimana caranya?
  1. Dalam kasus SN.6.3/Brahmadeva Sutta, Ibu dari seorang brahmana (Brahmanadeva) secara rutin memberikan persembahan (Ahutiṃ niccaṃ paggaṇhāti, upacara lengkap dengan mempersembahkan nasi-susu yang manis, dengan ritual pemanggilan) pada mahluk Brahmā (atau Deva), maka tindakan ini tidak ada manfaatnya, sebagaimana disampaikan Brahma Sahampati pada ibu Brahmadeva: "Alam Brahmā, Nyonya, adalah jauh dari sini. Yang padanya engkau memberikan persembahan secara rutin. Brahmā tidak memakan makanan seperti itu, Ibu" dan Brahma Sahampati, mengajarkan cara melakukan persembahan makanan itu agar bermanfaat bagi pemberinya (yaitu dengan cara mempersembahkan makanan pada mereka yang benar-benar bisa memakannya).

  2. Dalam kasus AN 7.53/Nandamata sutta, Menghadiahkan jasa untuk dewata setelah melakukan pemberian makanan/melayani orang:

    Ketika itu Deva bernama Vessavana (AA.ii.718: Dewa sotāpanna), kebetulan lewat sekitar tempat tinggal nandamatta (AA.ii.718; SNA.i.370: Seorang Anagami) dan berhenti mendengarkan Nandamata melantunkan pārāyana vagga.

    Setelahnya, Sang deva memberikan pujian dan Nandamatapun memberikan persembahan (Āthitheyya: pemberian pada tamu sebagai bentuk keramahan) paritta tersebut kepada Sang Deva:

      "..biarlah pembabaran Dhamma barusan menjadi hadiah untuk tamu bagimu.”

      Deva Vessavana:
      “Bagus, saudari! Dan biarlah yang ini juga menjadi hadiah untuk tamu bagiku, besok, sebelum saat pengumpulan dana pagi, Saṅgha bhikkhu pimpinan Sāriputta dan Moggallāna akan tiba di Veḷukaṇṭaka. Engkau layanilah mereka (berdana makanan) dan hadiahkanlah jasa itu untukku. Itulah yang akan menjadi hadiah untuk tamu darimu padaku.”

    Nandamatta melakukan permintaannya dan setelahnya, Ia menyampaikan pada sangha: "biarlah, Bhante (guru), jasa apapun yang kuperoleh dari pemberian ini aku hadiahkan demi kebahagiaan maharaja Vessavaṇa" [Yadidaṃ, bhante, dāne puññañca puññamahī ca taṃ vessavaṇassa mahārājassa sukhāya hotū]

  3. Pada Peta [Alam mahluk halus], dalam kasus KN: khuddakapāṭha 7 (atau petavatthu, uragavagga 5 Tirokuṭṭapetavatthu) Tirokudda sutta [pada Peta], maka tindakan ini bermanfaat:

      Di luar dinding mereka berdiri dan menanti,
      di persimpangan-persimpangan jalan,
      mereka kembali ke rumah yang dulu dihuninya,
      dan menanti di muka pintu.
      Tetapi bila diadakan pesta yang meriah,
      dengan makanan dan minuman yang berlimpah,
      ternyata tidak seorang pun yang ingat pada para mahluk itu,
      yang merupakan leluhur mereka.

      Hanya mereka yang hatinya penuh welas asih,
      memberikan persembahan pada sanak keluarganya,
      berupa makanan dan minuman yang lezat,
      baik, dan disukai pada waktu mereka masih hidup.

      “Semoga buah jasa-jasa baik kita,
      melimpah pada sanak keluarga yang telah meninggal.
      Semoga mereka berbahagia.”

      Sanak keluarga kita yang sedang berkumpul di tempat ini
      dengan gembira akan memberikan restu mereka
      karena diberi makanan dan minuman yang berlimpah.
      “Semoga sanak keluargaku berusia panjang
      sebab karena merekalah kami memperoleh sajian uang lezat ini.”

      “Karena kami diberi penghormatan yang tulus
      maka yang memberinya pasti akan memperoleh
      buah jasa yang setimpal
      Karena di sini tidak ada pertanian
      dan juga tidak ada peternakan
      tidak ada perdagangan
      juga tidak ada peredaran uang dan emas.”
      Sanak keluarga kita yang telah meninggal
      hidup di sana dari pemberian kita di sini.

      Bagaikan air mengalir dari atas bukit
      turun ke bawah untuk mencapai lembah yang kosong,
      demikian pula sesajian yang diberikan
      dapat menolong sanak keluarga kita yang telah meninggal
      Bagaikan sungai, bila airnya penuh
      akan mengalirkan airnya ke laut,
      demikian pula sesajian yang diberikan
      dapat menolong sanak keluarga kita yang telah meninggal,

      “Ia memberi padaku, ia bekerja untukku,
      ia sanak keluargaku, ia sahabatku, kerabatku.”
      Memberikan sesajian pada mereka yang telah meninggal dunia
      dan mengingat kembali pada apa yang biasa mereka lakukan.
      Bukan ratap tangis,
      bukan kesedihan hati,
      bukan berkabung dengan cara apapun juga
      untuk menolong mereka yang telah meninggal dunia
      yang dilakukan sanak keluarga yang telah ditinggalkan.

      Tetapi bila persembahan ini dengan penuh bakti
      diberikan pada Sangha atas nama mereka
      dapat menolong mereka untuk waktu yang panjang
      di kemudian hari maupun pada saat ini.

      Telah diperlihatkan hakikat sesungguhnya
      dari sesajian bagi sanak keluarga
      dan bagaimana penghormatan yang lebih bernilai
      dapat diberikan pada mereka
      serta bagaimana para bhikkhu mendapat kekuatan
      dan bagaimana Anda sendiri dapat menimbun
      buah karma yang baik.


      Pada saat Sang Buddha selesai mengucapkan syair ini, 84.000 mahluk memperoleh pengertian Dhamma Yang Mulia.

    Mahluk alam Peta tidak dapat secara langsung menerima makanan. Makanan diberikan pada yang bisa memakannya (contoh: para brahmana/pertapa/bhikkhu, manusia, binatang) dan sampaikan (dalam pikiran/ucapan) bahwa para mahluk peta mempunyai andil dalam perbuatan baik ini, dengan cara ini mahluk alam peta menerima manfaat yang meredakan perasaan menderita yang tengah mereka alami

  4. Dalam kasus Silanisamsa jataka no.190 (Jataka harusnya hanya berupa syair tanpa ada ceritanya. Cerita adalah tambahan belakangan dari abad ke-3 SM atau 2 SM), contoh cerita tambahan belakangan di jataka ini:

      Seorang sotāpanna dijaman samasambuddha kassapa bepergian naik perahu dengan temannya dan ditengah jalan perahunya tenggelam, kemudian karena tidak ada pertolongan, sang sotāpanna merenungkan kualitas 3 permata (Buddha, dhamma dan sangha) dan sesosok Deva laut kemudian merubah dirinya menjadi bentuk perahu dan menolongnya namun tidak temannya, untuk itu ia tanya, "Mengapa tidak boleh?”

      “Dia bukanlah seorang dengan kualitas moral yang bagus, itulah alasannya,” katanya, “saya membawa kapal ini untuk dirimu, bukan untuk dirinya.”

      “Baiklah — semua derma yang telah kuberikan, kebajikan yang telah kulakukan, kekuatan yang telah kukembangkan — kuberikan padanya buah dari semua perbuatan baikku itu!” (Hotu, aham attana dinnadanena rakkhitasilena bhavitabhavanaya etassa pattim dammi”ti)

      “Terima kasih, Tuan!” kata tukang pangkas itu.

      “Sekarang,” kata dewa laut, “saya dapat membawamu ikut berlayar.”
Perbuatan baik dapat dibagikan pada pihak lain diantaranya adalah pembacaan sutta/dhamma, persembahan (makanan/minuman, pakaian, obat-obatan dan/atau tempat tinggal, lampu) pada yang dapat menerimanya. Untuk makan/obat/pakaian/tempat tinggal diberikan pada manusia, hewan. [Note: tingkatan manfaat dari pemberian, lihat di MN 142/Dakkhina Vibhanga sutta]

AN 10.177/Jāṇussoṇi Sutta, mengajarkan cara melakukannya:
    Brahmana Janussoni: "Guru Gotama, Anda tahu bahwa kita para brahmana memberikan hadiah, persembahan, [berkata:] 'Semoga karunia ini dinikmati oleh para mendiang [pubbapeta] sanak keluarga hubungaan darah [ñātisālohitā] kami. Semoga para mendiang sanak keluarga kami mengambil bagian menikmati (pari+bujanta) ini". Guru Gotama, apakah hadiah di nikmati oleh para mendiang sanak keluarga kami? Apakah para mendiang sanak keluarga kami mengambil bagian menikmati itu? "

    Sang Buddha menjawab: "..Pada kesempatan yang tepat, brahmana, pemberian itu dapat bermanfaat, bukan pada kesempatan yang tidak tepat".

    Kemudian sang Buddha menyampaikan:
    kesempatan yang tidak tepat, yaitu jika mereka terlahir di alam neraka, binatang, Manusia, Dewa, maka pemberian tidak bermanfaat bagi yang hidup di sana.

    Kesempatan yang tepat yaitu jika mereka terlahir di alam peta (pettivisaya) maka "yang teman/kenalan/tetangga (mittāmaccā) atau kerabat hubungan darah (ñātisālohitā) limpahkan (anupavecchati; hand over) bermanfaat bagi yang hidup di sana"

    Brahmana Jāṇussoṇi: "Bagaimana jika sanak keluarga yang telah meninggal dunia (petā ñātisālohitā) tidak ada yang terlahir kembali di tempat itu (alam peta)?".

    Sang Buddha: "Sanak keluarga yang telah meninggal dunia lainnya (Aññepissa petā ñātisālohitā) yang telah terlahir kembali di tempat itu akan menerima pemberian itu."

    Jāṇussoṇi: "Bagaimana jika tidak ada sanak keluarga yang telah meninggal dan tidak ada
    yang telah terlahir kembali di tempat itu"

    Sang Buddha: "Dalam rentang waktu yang panjang, brahmana, tidak mungkin dan tidak terbayangkan alam itu kosong dari sanak keluarga seseorang yang telah meninggal. Lebih jauh lagi, bagi si pemberi bukannya tidak berbuah ... karena Ia telah memberikan makanan dan minuman; pakaian dan kendaraan; kalung bunga, wangi-wangian, dan salep; tempat tidur, tempat tinggal, dan cahaya pada seorang petapa atau brahmana ... maka ketika terlahir di alam binatang, Ia menerima makanan, minuman, kalungan bunga dan perhiasan ... maka ketika terlahir di alam manusia atau dewa, Ia menerima 5 kenikmatan indriawi manusia atau dewa
Sutta di atas mempertegas buah manfaat rajin memberi/mempersembahkan pada para BRAHMANA/PERTAPA/BHIKKHU, yaitu ketika si pemberi terlahir BUKAN di alam neraka, dirinya mendapat sokongan dari perbuatan baiknya sendiri dan ketika si pemberi melimpahkan andil kebajikan pada kerabat/kenalan yang telah wafat, maka kerabat/kenalan yang wafat di alam peta juga menerima sokongan. [↑] [↑ peta] []
---------------

Pustaka dan Catatan
[1] A-Gnostic [tanpa+pengetahuan]: Masih membutuhkan bukti untuk meyimpulkan adanya Tuhan.

A-theis [Theos, Theoi (Yunani) [theein = memerintah], dewa; thea [dewi, feminim]: Telah menyimpulkan bahwa Dewa-Dewi sebagai sang penguasa/pencipta adalah tidak ada. Setelah perkembangan nasrani (di Perjanjian Baru), arti thea/os berubah menjadi Tuhan [sang Penguasa/pencipta] yang dibuat untuk membedakan dewa vs Tuhan dan derajat dewa dibuat lebih rendah dari Tuhan, sehingga arti A Theis pun berubah menjadi tidak percaya TUHAN.

Di Tradisi India: Yang tidak mempercayai Tuhan disebut Nastika [N+astika, (asti=ada), misal: Buddhism, Jainism, Cravaka dan Ajiwika. Nastika juga berarti mereka yang menolak otoritas Veda. Namun tidak mengakui otoritas Veda tidak berarti tidak mengakui Dewa-dewi

Buddhism dan Jainism tidak mengakui adanya tuhan Pencipta, namun mengakui Kamma, kelahiran kembali, keberadaan Surga/Neraka dan dewa-dewi [bukan dalam konteks Pencipta].
  • Cravaka, tidak mengakui adanya Tuhan, Deva, Surga, Neraka, kelahiran kembali dan singkatnya: tidak ada kehidupan setelah mati.
  • Ajiwika, percaya ada jiwa, kelahiran kembali namun tidak percaya pada karma [↑]

[3] Terdapat misalnya di: DN.33/Sangiti Sutta; DN 34/Dasuttara sutta; AN 3.33/Nidana sutta; AN 3.65/Kalama sutta; Itivuttaka 50; dll. Misalnya di AN 3.68 di bawah ini:
    “Para bhikkhu, petapa kelana dari kelompok lain mungkin bertanya pada kalian demikian: ‘Sahabat, ada 3 sifat ini: nafsu [rāgo = lobha], kebencian/ketidaknyamanan [dosa] dan kekeliruan tahu [moha]. Sahabat, apakah perbedaan di antara 3 sifat ini, apakah ketidaksamaan dan kelainannya?’

    Jika ditanya demikian, para bhikkhu, bagaimanakah kalian akan menjawab petapa-petapa kelana dari sekte lain itu?”

    "Bagi kami, Bhante, akar ajaran ada pada Yang Terberkati, dan Bhantelah pembimbing serta sumbernya. Adalah baik jika Bhante sendiri mau menjelaskan arti dari pernyataan ini. Setelah mendengarkan Bhante, para bhikkhu akan menyimpannya di pikiran.”

    “Kalau demikian, para bhikkhu, dengarkanlah dengan seksama. Aku akan berbicara.”

    “Baik, Bhante,” jawab para bhikkhu.

    Sang Buddha mengatakan demikian:
    “Jika para petapa kelana dari sekte lain menanyakan tentang perbedaan, ketidaksamaan, dan kelainan di antara 3 sifat ini, demikian ini kalian harus menjawab:

    Nafsu tidak amat tercela tetapi sulit dihilangkan.
    Kebencian lebih tercela tetapi lebih mudah dihilangkan.
    Kebodohan mental sangat tercela dan sulit dihilangkan

    “Jika mereka bertanya:
    ‘Sahabat, apakah penyebab dan alasan bagi munculnya nafsu yang tadinya belum muncul, dan bagi meningkat serta menguatnya nafsu yang telah muncul?’

    Kalian harus menjawab:
    Objek yang indah: bagi orang yang memperhatikan objek yang indah secara tidak benar, maka nafsu yang tadinya belum muncul akan muncul dan nafsu yang telah muncul akan meningkat dan menjadi kuat.’

    “Jika mereka bertanya:
    ‘Sahabat, apakah penyebab dan alasan bagi munculnya kebencian yang tadinya belum muncul, dan bagi meningkat serta menguatnya kebencian yang telah muncul?’

    Kalian harus menjawab:
    Objek yang tidak menarik: bagi orang yang memperhatikan objek yang tidak menarik secara tidak benar, maka kebencian yang tadinya belum muncul akan muncul dan kebencian yang telah muncul akan meningkat dan menjadi kuat.’

    “Jika mereka bertanya:
    ‘Sahabat, apakah penyebab dan alasan bagi munculnya kebodohan mental yang tadinya belum muncul, dan bagi meningkat serta menguatnya kebodohan mental yang telah muncul?’

    Kalian harus menjawab:
    Perhatian yang tidak benar: bagi orang yang memperhatikan hal-hal secara tidak benar, maka kebodohan mental yang tadinya belum muncul akan muncul dan kebodohan mental yang telah muncul akan meningkat dan menjadi kuat.’

    “Jika mereka bertanya:
    ‘Sahabat, apakah penyebab dan alasan bagi tidak munculnya nafsu yang belum muncul, dan bagi lenyapnya nafsu yang telah muncul?’

    Kalian harus menjawab:
    Objek yang tidak menarik: bagi orang yang memperhatikan objek yang tidak menarik secara benar, maka nafsu yang belum muncul takkan muncul dan nafsu yang telah muncul akan ditinggalkan.’

    “Jika mereka bertanya:
    ‘Sahabat, apakah penyebab dan alasan bagi tidak munculnya kebencian yang belum muncul, dan bagi lenyapnya kebencian yang telah muncul?’

    Kalian harus menjawab:
    Pembebasan pikiran oleh cinta kasih: bagi orang yang memperhatikan secara benar kebebasan pikiran oleh cinta kasih, maka kebencian yang belum muncul takkan muncul dan kebencian yang telah muncul akan ditinggalkan.’

    “Jika mereka bertanya:
    ‘Sahabat, apakah penyebab dan alasan bagi tidak munculnya kebodohan mental yang belum muncul, dan bagi lenyapnya kebodohan mental yang telah muncul?’

    Kalian harus menjawab:
    Perhatian yang benar: bagi orang yang memperhatikan hal-hal secara benar, maka kebodohan mental yang belum muncul takkan muncul dan kebodohan mental yang telah muncul akan lenyap.”‘ [↑]


[5] Berikut daftar masa Vassa (tidak bepergian selama musim hujan) Sang Buddha menurut kitab komentar Buddhavamsa, Madhuratthavilāsinī, Buddhadatta (abad ke-5 M) dan kitab Komentar Duka Nipata, Buddhaghosa (Abad ke-5 M), DPPN dan "The Buddha", Piyadassi Thera, hal.126-130:
  1. Setelah mencapai KeBuddhaan, bervassa di Isipatana, Migadàya dekat vàrànasi/Kasi, Kerajaan Kosala

  2. Masa Vassa ke-2, ke-3, ke-4, di Vihàra Veluvana, Ràjagaha, Kerajaan Magadha
  1. Vihàra Aula Kutagara, Hutan Mahàvana, dekat Vesàli, Area para Licchavi, Vajji

  2. di:

    • Vihàra di Hutan Khyaya, lereng bukit Mamkula, Kosambi, kerajaan Vamsa, 30 Yojana dari Vanarasi; atau
    • Hutan Mahavana, Kūtāgārasālā, Vesali

  3. Di Savatthi, Kerajaan Kosala

  4. Hutan kacang merpati, tempat perlindungan hewan [area kekuasaan Yakkha Bhesakala), Bukit Sumsumara/Bukit Buaya , Kerajaan Bhagga [antara Vesali - Savatthi/Kosala]

  5. Vihàra Ghositàràma, Kosambi

  6. Hutan Pārileyyaka/Pàlileyyaka (palale), dekat Kosambi. Tampaknya ini tidak akurat jika terjadi di tahun ke-10, karena sutta Udana 4.5 menyatakan saat itu telah ada para Bhikkhuni, sedangkan penahbisan Bhikkhuni baru muncul setelah tahun ke-20

  7. Dekat Maghada: di Vihàra Nàlikàràma, perkampungan Brahmana Nàla, Nalaka, Magadha (versi Buddhaghosa). Di DPPN dan Piyadassi Thera: di Ekanala, Dakkhinagiri, Magadha bertemu Brahmana Kasi Bharadvaja SN 7.11 dan SNP 1.4

  8. Dekat pohon tragacanth [area kekuasaan Yakkha Naleru], kediaman Brahmana, di Veranjà

  9. Buddhadatta: Bukit Càliya/calika, Desa Jantu/Pacinavamsamigadaya, Càlika, kerajaan Cetiya. Buddhaghosa: Bukit Maliya

  10. Vihàra Jetavana, Sàvatthi, Kerajaan Kosala

  11. Vihàra Nigrodha, Kapilavatthu

  12. Buddhadatta: Alavaka; Buddhaghosa: Kuil Aggàlava (kuil para arwah), kerajaan âlavi

  13. Vihàra Veluvana, Ràjagaha, Magadha

  14. Dari Jetavana atau di bukit Caliya: Pergi ke Alavi menemui seorang gadis penenun.

  15. Di:

    • Gunung Càliya/calika, Desa Jantu, Càlika; atau
    • Rajagaha, Kerajaan Magadha.
  1. Vihàra Veluvana, Ràjagaha, Kerajaan Magadha

  2. Masa Vassa ke-21 s/d ke-44, di Vihàra Jetavana dan Vihàra Pubbàràma, Sàvatthi, Kerajaan Kosala. Jarak Rajagaha – Savatthi: 45 Yojana (sekitar: 504 km s.d 648 km)

    Tahun ke-21 s.d 38 di Jetavana, 6 tahun sisanya di Pubbarama. Tahun ke-31, vihara Pubbarama selesai dibuat, Sang Buddha menetap bolak-balik selama masa vassa di 2 Vihara tersebut.
  1. Desa Veluva, Vesàli [RAPB buku ke-1, May 2000, hal.949-952. Peta perjalanan 8/9 bulanan sang Buddha di 25 tahun terakhirnya, menurut penuturan pengurus rumah tangga Raja Pasenadi: Isidatta dan Purana


[6] Terjemahan kata "atthi" = "THERE IS" (ADA), terjemahan ini, membuat arti seolah-olah adanya keberadaan tertentu, padahal tidaklah demikian maksudnya. Untuk mengartikannya, lihat bentuk negativenya: "nātthi" = "There is not" (BUKAN/TIDAK). Kata "tadāyatanaṃ": Situasi, keadaan, dasar, lingkup, tempat, daerah, posisi, dsb yang berarti Nibbana/padam. Parinibbana = padam sepenuhnya, termasuk badan, tidak muncul lagi dimasa depan dalam bentuk apapun.[↑]
Kata "a-saṅkhataṃ" diterjemahkan "MUTLAK" adalah MENYESATKAN. "a-saṅkhataṃ" adalah negatif dari "saṅkhataṃ" (menjadi satu, gabungan, berkondisi, muncul karena kombinasi sebab, terjadi akibat perbuatan di kehidupan-kehidupan sebelumnya) dan BUKAN dimaksudkan sebagai yang ABSOLUT namun sebagai TIDAK BERKONDISI merujuk pada pengertian "semua yang berkondisi adalah tidaklah memuaskan" [↑]

[7] Ringkasan DN.1/Brahmajala sutta:
  • Jika orang menghina Buddha, Dhamma dan Sangha: tidak boleh marah, tersinggung, atau terganggu akan hal itu. Jika marah atau tidak senang akan itu, akan menjadi rintangan diri.. harus dijelaskan apa yang tidak benar sebagai tidak benar: “Itu tidak benar, itu salah, itu bukan jalan kami, itu tidak ada pada kami.”

    Jika orang memuji Buddha, Dhamma, atau Sangha: tidak boleh gembira, bahagia, atau senang akan hal itu. Jika gembira, bahagia, atau senang akan itu, akan menjadi rintangan diri.. harus diakui kebenaran sebagai kebenaran: “Itu benar, itu tepat sekali, itu adalah jalan kami, itu ada pada kami."

  • Moralitas dan juga Penghidupan ajaran Sang Buddha [lihat DN 1.7 s.d 1.27]

  • 62 PANDANGAN SALAH [lihat juga 10 Pandangan salah selain sutta ini[↓]]:

    Ada 18 macam pijakan pandangan/Ditthitthana, tentang masa lalu (Pubbanta kappa):

    • 4 pandangan salah keabadian [sassata vada] tentang diri (atta) dan alam (loka), yaitu beberapa petapa yang dapat mengingat:

      1. sampai 100.000 kelahirannya atau
      2. sampai 10 kappa [20 Kappa → di DN.28/Sampasādanīya_Sutta] kelahirannya atau
      3. sampai 40 kappa kelahirannya,

        Kemudian berdasarkan rincian ingatan dari berbagai kehidupan lampaunya tersebut, + [ia mengatakan: “Aku mengetahui masa lampau, apakah alam ini mengembang atau mengerut, tetapi aku tidak mengetahui apakah di masa depan alam ini akan mengembang atau mengerut.→ kalimat ini ada d DN 28, Sampasādanīya_Sutta]

      4. Ada pertapa yang menggunakan logika [Takkī], menguji dan menyelidiki [Vimamsi]. Mengembangkannya dengan alasan, menyidiki melalui pemikiran, mengikuti jalan pemikirannya sendiri

        ket:
        Takki hoti vimamasi mungkin bersinonim dengan "akara parivitakka"/(penyidikan dengan rasio, yang merupakan 1 dari 5 faktor Pengetahuan yaitu 1. Saddha (Keyakinan), 2.Ruci (persetujuan/kesepakatan), 3. anussaya (tradisi turun temurun), 4.akara parivitakka (Penyelidikan melalui rasio/penalaran), 5.ditthi nijjhanakkhanti (penerimaan pandangan melalui perenungan) [MN.95/Canki sutta]

      Dan berkata: “Diri dan dunia adalah abadi, tidak ada hal baru lagi, bagaikan puncak gunung, kokoh bagaikan tonggak. Makhluk-makhluk ini berkelana dan berputar dalam samsara [kelahiran kembali], meninggal dunia dan muncul kembali, namun diri [atta] dan alam [loka] tetap sama persis seperti keabadian.

      Sang Tathāgata memahami Sudut-sudut pandang ini yang digenggam secara demikian yang karenanya akan membawa menuju alam-alam kelahiran kembali.

      Sang Tathāgata mengetahui dan lebih jauh lagi, namun Beliau tidak melekat pada pengetahuan itu [Tan ca pajananam na paramasati, tidak melekatinya bahkan pada pandangan benar sekalipun].

      Dan karena tidak melekat, Beliau mengalami/mengetahui dari diri-Nya sendiri [paccattam] kedamaian sempurna, dan setelah memahami sepenuhnya muncul dan lenyapnya perasaan, keindahan dan bahayanya, dan kebebasan darinya, Sang Tathāgata terbebaskan tanpa sisa.

    • 4 pandangan salah sebagian keabadian dan sebagian lagi ketidakabadian [ekacca sassatika ekacca asassatika] tentang diri (atta) dan alam (loka):

      Akan tiba waktunya, cepat atau lambat setelah rentang waktu yang panjang, ketika dunia ini menyusut/penghancuran [samvattati]. Pada saat penyusutan/penghancuran, sebagian besar [Yebhuyyena] makhluk terlahir di alam Brahmā Ābhassara. Dan di sana mereka berdiam, dengan ciptaan-pikiran [Mano mayo], dengan kegirangan [Piti] sebagai penunjang, mereka hidup demikian selama waktu yang sangat lama. Akan tiba saatnya, cepat atau lambat setelah rentang waktu yang panjang, ketika dunia ini mulai mengembang [vivattati].

      1. Dalam dunia yang mengembang ini, sebuah tempat Brahmā [Brahma vimanam] muncul. Dan kemudian satu makhluk, karena habisnya masa kehidupannya atau jasa baiknya, jatuh dari alam Ābhassara dan muncul kembali dalam tempat Brahmā. Dan di sana ia berdiam, dengan ciptaan-pikiran, dengan kegembiraan sebagai penunjang/makanan, bercahaya, melayang diantara batasan [antalikkha → sankrit: antar/diantara + īkṣa/tampak/batasan], agung – dan mereka hidup demikian selama waktu yang sangat lama.’

        Kemudian dalam diri makhluk ini yang telah menyendiri sekian lama, muncullah kegelisahan, ketidakpuasan, dan kekhawatiran, ia berpikir: “Oh, seandainya makhluk lainnya dapat datang ke sini!”

        dan makhluk-makhluk lain, karena habisnya masa kehidupan mereka atau jasa-jasa baik mereka, jatuh dari alam Ābhassara dan muncul kembali di dalam tempat Brahmā sebagai teman-teman bagi makhluk ini. Dan di sana ia berdiam, dengan ciptaan-pikiran, ... dan mereka hidup demikian selama waktu yang sangat lama.’

        Dan kemudian, makhluk yang pertama muncul di sana berpikir: “Aku adalah Brahmā, Mahā-Brahmā, sang penakluk, yang tidak tertaklukkan, maha melihat, mahasakti, yang termulia, pembuat dan pencipta, penguasa, pengambil keputusan dan pemberi perintah, Ayah dari semua yang telah ada dan yang akan ada. Makhluk-makhluk ini diciptakan olehku.

          Note:
          Pengakuan sepihak ini lihat juga di DN.11/Kevaddha Sutta. Kitab komentar: Akulah maha pengatur, Akulah yang mengatur para mahluk di posisinya: kamu menjadi yang mulia [mis:Ksatria], kamu menjadi brahmana [pendeta, ulama], kamu menjadi pedagang, kamu menjadi pekerja kasar, kamu perumahtangga, kamu menjadi petapa, kamu menjadi unta, kamu menjadi sapi [DA 1:111 f]

        Mengapa demikian?

        Karena akulah yang pertama memiliki pikiran: ‘Oh, seandainya beberapa makhluk lain dapat datang ke sini!’ itu adalah keinginanku, dan kemudian makhluk-makhluk ini muncul!”

        Tetapi makhluk-makhluk lain yang muncul belakangan berpikir: “Ini, Teman-teman, adalah Brahmā, Mahā-Brahmā, sang penakluk, yang tidak tertaklukkan, maha melihat, mahasakti, yang termulia, pembuat dan pencipta, penguasa, pengambil keputusan dan pemberi perintah, Ayah dari semua yang telah ada dan yang akan ada.

        Mengapa demikian?

        Kita telah melihat bahwa dia adalah yang pertama di sini, dan bahwa kita muncul setelah dia.”’

        ‘Dan makhluk yang muncul pertama ini hidup lebih lama, lebih indah dan lebih sakti daripada makhluk lainnya. Dan akan terjadi bahwa beberapa makhluk jatuh dari alam itu dan muncul di dunia ini. Setelah muncul di dunia ini, ia pergi meninggalkan kehidupan rumah tangga untuk menjalani kehidupan tanpa rumah. Setelah pergi, ia melalui usaha, upaya, penerapan, ketekunan dan perhatian benar mencapai suatu kondisi tertentu dari pikiran terpusat hingga mampu mengingat kehidupan sebelumnya yang terakhir, tetapi tidak mampu mengingat yang sebelum itu.

        Dan ia berpikir: “Brahma pencipta itu [bhavaṃ brahmā mahābrahmā], ... ia menciptakan kami, dan ia kekal, stabil, abadi, tidak mengalami perubahan, sama selamanya. Tetapi kami yang diciptakan oleh Brahmā itu, kami tidak kekal, tidak stabil, berumur pendek, ditakdirkan terjatuh, dan kami datang ke dunia ini."[↑]

      2. Ada, dewa-dewa tertentu yang disebut:

      3. Rusak oleh Kenikmatan [Khidda Padosika]. Mereka menghabiskan waktu dalam kesenangan dan bersuka ria, sehingga perhatian mereka memudar, dan dengan memudarnya perhatian mereka, makhuk-makhluk itu jatuh dari kondisi tersebut.’

      4. Rusak dalam Pikiran [Mano Padosika]. Mereka menghabiskan waktu memerhatikan yang lainnya dengan iri hati. Karena pikiran mereka yang rusak, mereka menjadi lelah dalam jasmani dan pikiran. Dan mereka jatuh dari tempat itu.’

      5. 'Dan akan terjadi bahwa satu makhluk, setelah jatuh dari kondisi tersebut, muncul di dunia ini. Setelah muncul di dunia ini, ia pergi meninggalkan kehidupan rumah tangga untuk menjalani kehidupan tanpa rumah. Setelah pergi, ia melalui usaha, upaya, ... mengingat kehidupan sebelumnya yang terakhir, tetapi tidak mampu mengingat yang sebelum itu.’

        ‘Ia berpikir: “Para dewa mulia itu [bhonto], yang:

        • tidak rusak oleh kenikmatan, tidak menghabiskan waktu menikmati kesenangan, bermain dan bersuka ria. Karenanya, perhatian mereka tidak memudar
        • tidak rusak dalam pikiran, tidak menghabiskan banyak waktu memerhatikan yang lainnya dengan iri hati ... mereka tidak rusak dalam pikiran, atau lelah dalam jasmani dan pikiran

        dan karenanya mereka tidak jatuh dari kondisi tersebut. Mereka kekal, stabil, abadi, tidak mengalami perubahan, sama selamanya.

        Tetapi kami, yang rusak oleh:

        • kenikmatan, menghabiskan banyak waktu menikmati kesenangan, bermain dan bersuka ria
        • pikiran, ...

        karena itu, kami, dengan memudarnya perhatian, telah jatuh dari kondisi tersebut, kami tidak kekal, tidak stabil, berumur pendek, ditakdirkan terjatuh, dan kami datang ke dunia ini.
      6. Ada petapa atau Brāhmaṇa tertentu menggunakan logika [Takkī], menguji dan menyelidiki [Vimamsi]. Mengembangkannya dengan alasan, menyidiki melalui pemikiran, mengikuti jalan pemikirannya sendiri: “Apa pun yang disebut mata atau telinga atau hidung atau lidah atau badan, adalah diri yang tidak kekal, tidak stabil, tidak abadi, mengalami perubahan. Tetapi apa yang disebut "pikiran" [citta] atau "pemikiran" [mano] atau kesadaran [viññāṇa], yaitu diri yang kekal, stabil, abadi, tidak mengalami perubahan, sama selamanya

      Sang Tathāgata memahami Sudut-sudut pandang ini yang digenggam secara demikian yang karenanya akan membawa menuju alam-alam kelahiran kembali.

      Sang Tathāgata mengetahui dan lebih jauh lagi, namun Beliau tidak melekat pada pengetahuan itu [Tan ca pajananam na paramasati, tidak melekatinya bahkan pada pandangan benar sekalipun].

      Dan karena tidak melekat, Beliau mengalami/mengetahui dari diri-Nya sendiri [paccattam] kedamaian sempurna, dan setelah memahami sepenuhnya muncul dan lenyapnya perasaan, keindahan dan bahayanya, dan kebebasan darinya, Sang Tathāgata terbebaskan tanpa sisa.

    • 4 pandangan salah dunia itu terbatas dan tidak terbatas [antanata vada]:

      Ada pertapa dengan melalui usaha, upaya, penerapan, ketekunan dan perhatian benar mencapai suatu kondisi tertentu dari keterpusatan pikiran bahwa ia merasa tinggal di dalam:

      1. Dunia ini sebagai terbatas. Ia berpikir: “Dunia ini adalah terbatas dan dibatasi oleh sebuah lingkaran".[Antava ayam loko parivatumo]
      2. tidak terbatas. Ia berpikir: “Dunia ini tidak terbatas dan tidak dibatasi [Ananto ayam loko aparivatumo]. Petapa dan Brāhmaṇa itu, yang mengatakan bahwa dunia ini terbatas dan dibatasi adalah keliru [tesam musa].
      3. terbatas dari atas-dan-bawah, dan tidak terbatas secara melintang. Ia berpikir: “Dunia adalah terbatas dan tidak terbatas [Antava ca ayam loko Ananto ca]. Para petapa dan Brāhmaṇa, itu yang mengatakan bahwa "dunia ini terbatas dan "dunia ini tidak terbatas" adalah keliru.
      1. Ada petapa atau Brāhmaṇa tertentu menggunakan logika [Takkī], menguji dan menyelidiki [Vimamsi]. Mengembangkannya dengan alasan, menyidiki melalui pemikiran, mengikuti jalan pemikirannya sendiri bahwa Dunia ini bukan terbatas juga bukan tidak terbatas [nevāyaṃ loko antavā, na panānanto]. Mereka yang mengatakan terbatas ato tidak terbatas ato yang mengatakan terbatas dan tidak terbatas adalah keliru

    • 4 pandangan salah dalam cara menggeliat bagaikan belut [amara vikhepa vada]:

      ada seorang petapa atau Brāhmaṇa yang tidak mengetahui yang sebenarnya apakah suatu hal baik atau buruk:

      1. Ia berpikir: “Aku tidak mengetahui sebenarnya apakah hal ini baik atau buruk. Tanpa mengetahui apakah ini benar, aku menyatakan: ‘Itu baik’, atau ‘Itu buruk’, dan hal itu mungkin suatu kebodohan, dan akan membuatku menderita. Dan jika aku menderita, itu akan menjadi rintangan bagiku.” Demikianlah karena takut berbohong, tidak suka berbohong, tetapi ketika ia ditanya tentang persoalan itu,
      2. Ia berpikir: “Aku akan menyatakan: ‘Itu baik’, atau ‘Itu buruk’, dan aku akan merasakan keinginan atau nafsu atau kebencian atau penolakan. Jika aku merasakan keinginan atau nafsu atau kebencian atau penolakan, itu akan menjadi kemelekatan bagiku. Jika aku merasakan kemelekatan, itu akan membuatku menderita, dan jika aku menderita, itu akan menjadi rintangan bagiku.” Demikianlah, karena takut akan kemelekatan, tidak menyukai kemelekatan,
      3. Ia berpikir: “Aku akan menyatakan: ‘Itu baik’, atau ‘Itu buruk’, tetapi ada para petapa dan Brāhmaṇa yang bijaksana, terampil, pendebat terlatih, bagaikan pemanah yang dapat membelah rambut, yang mengembara menghancurkan pandangan-pandangan orang lain dengan kebijaksanaan mereka, dan mereka akan menanyaiku, menuntut alasan-alasanku dan berdebat. Dan aku mungkin tidak mampu menjawab. Tidak mampu menjawab akan membuatku menderita, dan jika aku menderita, itu akan menjadi rintangan bagiku.” Demikianlah, karena takut berdebat, tidak suka berdebat,

      Ia menghindar dan menggeliat seperti belut: “Aku tidak mengatakan ini, aku tidak mengatakan itu, aku tidak mengatakan sebaliknya. Aku tidak mengatakan tidak. Aku tidak tidak mengatakan tidak.”

      1. Di sini, seorang petapa atau Brāhmaṇa adalah tumpul dan bodoh. Karena ketumpulan dan kebodohannya, ketika ia ditanya, ia akan mengemukakan pernyataan menghindar dan menggeliat seperti belut: "Jika engkau bertanya padaku apakah:

        1. ada dunia lain?
        2. tidak ada..?
        3. ada dan juga tidak ada..?
        4. bukan ada dan juga bukan tidak ada..?
        5. ada makhluk-makhluk yang terlahir secara spontan?
        6. tidak ada..?
        7. ada dan juga tidak ada..?
        8. bukan ada dan juga bukan tidak ada..?
        9. Apakah perbuatan baik dan buruk berbuah dan berakibat?
        10. tidak ada..?
        11. ada dan juga tidak ada..?
        12. bukan ada dan juga bukan tidak ada..?
        13. Apakah Tathāgata ada setelah kematian?
        14. tidak ada..?
        15. ada dan juga tidak ada..?
        16. bukan ada dan juga bukan tidak ada..?

        jika aku berpikir demikian, aku akan mengatakan ada dunia lain. Tetapi aku tidak mengatakan demikian. Dan aku tidak mengatakan sebaliknya. Dan aku tidak mengatakan tidak ada, dan aku tidak tidak mengatakan tidak ada.

    • 2 pandangan asal-mula tentang diri (atta) dan alam (loka) adalah kebetulan semata (Adhicca samuppana Vada)

      1. ‘Ada, para bhikkhu, para dewa tertentu yang disebut tidak mencerap (asannasatta[↑], alam rupa jhana ke-4). Ketika muncul pencerapan, para dewa itu jatuh dari alam itu. Dan dapat terjadi bahwa suatu makhluk jatuh dari alam tersebut, muncul di alam ini. Ia melalui usaha, upaya, penerapan, ketekunan, dan perhatian benar mencapai suatu kondisi tertentu dari keterpusatan pikiran hingga mampu mengingat kehidupan sebelumnya, tetapi tidak mengingat yang sebelum itu. Ia berpikir: “Diri dan dunia muncul secara kebetulan. Bagaimanakah demikian? Sebelum ini, aku tidak ada. Sekarang dari tidak ada, aku menjadi ada”

      2. Di sini seorang petapa atau Brāhmaṇa tertentu yang menggunakan logika [Takkī], menguji dan menyelidiki [Vimamsi]. Mengembangkannya dengan alasan, menyidiki melalui pemikiran, mengikuti jalan pemikirannya sendiri dan menyatakan: “Diri dan dunia muncul secara kebetulan.”

    Ada 44 macam pijakan pandangan/Ditthitthana, tentang masa depan (Aparanta kappa):

    • 16 pandangan salah uddhamāghātanikā saññīvādā (kelompok tentang kekekalan persepi/persepsi yang bertahan) uddhamāghātanaṃ saññiṃ attānaṃ (kekekalan persepsi diri/jiwa/atma), arogo paraṃ maraṇā saññī (kekal setelah kematian persepsi):

      1. diri bermateri (rūpī atta),
      2. diri tanpa materi (arūpī atta),
      3. diri bermateri dan tanpa materi (rūpī ca arūpī ca attā),
      4. diri bukan bermateri dan bukan tanpa materi (nevarūpī nārūpī attā),
      5. diri terbatas (antavā attā),
      6. diri tidak terbatas (anantavā attā),
      7. diri ke-2nya (antavā ca anantavā ca attā),
      8. diri bukan ke-2nya (nevantavā nānantavā attā),
      9. persepsi diri tunggal/unik/seragam (ekattasaññī attā),
      10. persepsi diri berbeda-beda (nānattasaññī attā),
      11. persepsi diri terbatas (parittasaññī attā),
      12. persepsi tidak terbatas (appamāṇasaññī attā),
      13. diri bahagia sepenuhnya (ekantasukhī attā),
      14. diri menderita sepenuhnya (ekantadukkhī attā),
      15. diri bahagia dan menderita (sukhadukkhī attā),
      16. diri bukan bahagia dan menderita (adukkhamasukhī attā)

    • 8 pandangan uddhamāghātanikā asaññīvādā (kelompok tentang kekekalan tanpa persepi) uddhamāghātanaṃ asaññiṃ attānaṃ (kekekalan tanpa persepsi diri/jiwa/atma), arogo paraṃ maraṇā asaññī (kekal setelah kematian tanpa persepsi):

      1. diri bermateri (Rūpī atta),
      2. diri tanpa materi (aRūpī atta),
      3. diri bermateri dan tanpa materi (Rūpī ca arūpī ca attā),
      4. diri bukan bermateri dan bukan tanpa materi (nevarūpī nārūpī attā),
      5. diri terbatas (antavā attā),
      6. diri tidak terbatas (anantavā attā),
      7. diri ke-2nya (antavā ca anantavā ca attā),
      8. diri bukan ke-2nya (nevantavā nānantavā attā),

    • 8 pandangan salah uddhamāghātanikā nevasaññīnāsaññīvādā (kelompok tentang kekekalan bukan persepi dan bukan tanpa persepsi) uddhamāghātanaṃ nevasaññīnāsaññiṃ attānaṃ (kekekalan bukan persepi dan bukan tanpa persepsi diri/jiwa/atma), arogo paraṃ maraṇā nevasaññīnāsaññī (kekal setelah kematian bukan persepi dan bukan tanpa persepsi):

      1. diri bermateri (Rūpī atta),
      2. diri tanpa materi (aRūpī atta),
      3. diri bermateri dan tanpa materi (Rūpī ca arūpī ca attā),
      4. diri bukan bermateri dan bukan tanpa materi (nevarūpī nārūpī attā),
      5. diri terbatas (antavā attā),
      6. diri tidak terbatas (anantavā attā),
      7. diri ke-2nya (antavā ca anantavā ca attā),
      8. diri bukan ke-2nya (nevantavā nānantavā attā),

    • 7 Pandangan salah tentang pemusnahan bahwa pemusnahan, penghancuran, dan ke-tiada-an makhluk-makhluk (Uccheda vada), yaitu:

      Di sini, seorang petapa atau Brāhmaṇa tertentu menyatakan dan menganut pandangan: “Karena diri ini adalah materi (Rūpī) dan tersusun dari 4 unsur (cātumahābhūtiko), produk dari ibu dan ayah (mātāpettikasambhavo),

      1. saat hancurnya jasmani, diri ini musnah dan binasa, dan tidak ada setelah kematian. Yang lain berkata: aku tidak menyangkalnya, diri seperti yang engkau katakan. Namun diri itu tidak sepenuhnya musnah. Karena:

      2. ada diri yang lain (añño attā), dewa bermateri (dibbo rūpī), di alam-indria (kāmāvacaro), memakan makanan nyata (kabaḷīkārāhārabhakkho).
      3. ada diri yang lain, dewa bermateri, ciptaan-pikiran (manomayo) lengkap dengan semua bagian-bagian tubuhnya, tidak cacat dalam semua organ-indrianya (sabbaṅgapaccaṅgī ahīnindriyo)
      4. Ada diri yang lain yang dengan melewatkan seluruhnya melampaui sensasi jasmani, dengan lenyapnya semua penolakan dan dengan ketidaktertarikan pada persepsi yang beraneka-ragam, melihat bahwa ruang adalah tidak terbatas, telah mencapai alam ruang tak berbatas.
      5. Ada diri yang lain yang, dengan melewatkan seluruhnya melampaui alam ruang tanpa batas, melihat bahwa kesadaran adalah tanpa batas, telah mencapai alam kesadaran tak berbatas.
      6. Ada diri yang lain yang, dengan melewatkan seluruhnya melampaui alam kesadaran tanpa batas, melihat bahwa kesadaran adalah tidak ada apa pun, telah mencapai alam tidak ada apa-apapun.
      7. Ada diri yang lain, yang dengan melewatkan seluruhnya melampaui alam tak ada apa-apapun dan melihat bahwa: ‘Ini adalah kedamaian, ini adalah keluhuran’, telah mencapai alam bukan persepsi bukan tanpa persepsi.

      Engkau tidak mengetahuinya atau melihatnya, tetapi aku mengetahuinya dan melihatnya. Diri ini saat hancurnya jasmani, akan musnah dan binasa, dan tidak ada setelah kematian.

    • 5 pandangan salah bahwa Nibbāna di sini dan saat ini (diṭṭhadhammanibbānavādā), yaitu:

      ‘Di sini, seorang petapa atau Brāhmaṇa tertentu menyatakan:

      1. Dalam diri ini, yang dilengkapi/penuh (samappito) dan memiliki/berkah dengan (samaṅgībhūto) 5 kenikmatan-indria (pañcahi kāmaguṇehi), menikmatinya (paricāreti), maka itulah saatnya diri mencapai Nibbāna tertinggi di sini dan saat ini.

      2. ‘Yang lain berkata padanya: “Tuan, ada diri seperti yang engkau katakan. Aku tidak menyangkalnya. Tetapi itu bukanlah di mana diri mencapai Nibbāna tertinggi di sini dan saat ini.

        Mengapa demikian? Karena:

      3. kenikmatan-indria tidak kekal (aniccā), penuh penderitaan (dukkhā), dan mengalami perubahan (vipariṇāmadhammā), dan dari perubahan muncullah (tesaṃ vipariṇāmaññathābhāvā) kesedihan, ratapan, dukacita, dan kesusahan (uppajjanti sokaparidevadukkhadomanassupāyāsā). Tetapi ketika diri, lepas (vivicca) dari kenikmatan-indria (kāmehi) yang tak bermanfaat (akusalehi dhammehi), dengan usaha awal pikiran menggenggam (vitakka) dan mempertahankan (vicara) objek, dari melepas ini munculah girang (pīti) dan nikmat (sukha), jhana ke-1 dicapai keberadaannya
      4. kondisi vitakka-vicara menjadi terbiasa. ketika vitakka-vicara lenyap, terjadi kedamaian diri [ajjhattaṃ sampasādo] dari pikiran terpusattanpavitakka-vicara. Dari pikiran terpusat munculah girang (piti) dan nikmat (sukha). Ia berdiam di jhana ke-2
      5. dengan adanya nikmat, maka kondisi kegirangan dianggap kasar. Ketika girang (piti) mereda, Ia berada di keseimbangan yang diketahui sepenuhnya dalam perhatian, tubuh merasakan nikmat, yang para ariya katakan: “Berdiam nikmat dalam keseimbangan perhatian". Ia berdiam di jhana ke-3
      6. pikiran mengandung gagasan kenikmatan dianggap kasar. Ketika kenikmatan dan kesakitan ditinggalkan, kegembiraan-kesedihan yang sebelumnya lenyap, tanpa menyakitkan - tanpa menyenangkan, dalam keseimbangan perhatian murni, ia berdiam di jhana ke-4

      itulah saatnya diri mencapai Nibbāna tertinggi di sini dan saat ini.

    Sang Tathāgata memahami sudut-sudut pandang ini digenggam secara demikian yang karenanya akan membawa menuju alam-alam kelahiran kembali.

    Sang Tathāgata mengetahui dan lebih jauh lagi, namun Beliau tidak melekat pada pengetahuan itu (Tan ca pajananam na paramasati: tidak melekatinya bahkan pada pandangan benar sekalipun].

    Dan karena tidak melekat, Beliau mengalami/mengetahui dari diri-Nya sendiri [paccattam] kedamaian sempurna, dan setelah memahami sepenuhnya muncul dan lenyapnya perasaan, keindahan dan bahayanya, dan kebebasan darinya, Sang Tathāgata terbebaskan tanpa sisa.[↑]
Juga terdapat uraian singkat 10 pandangan salah, misal MN 114/Sevitabbāsevitabba Sutta dan MN 117/Mahācattarisaka Sutta:

“Dan apakah, para bhikkhu, pandangan salah?
  1. ‘Tidak ada yang diberikan [natthi dinna],
  2. tidak ada yang dipersembahkan [natthi yiṭṭha],
  3. tidak ada yang dikorbankan [natthi huta];
  4. tidak ada buah/akibat dari perbuatan baik dan buruk [natthi sukaṭadukkaṭānaṃ kammānaṃ phalaṃ vipāko];
  5. tidak ada dunia ini [natthi ayaṃ loko],
  6. tidak ada dunia lain [natthi paro loko];
  7. tidak ada ibu [natthi mātā],
  8. tidak ada ayah [natthi pitā];
  9. tidak ada makhluk-makhluk yang terlahir kembali secara spontan [natthi sattā opapātikā];
  10. tidak ada para petapa dan brahmana baik dan mulia di dunia ini yang telah menembus oleh diri mereka sendiri dengan pengetahuan langsung dan menyatakan dunia ini dan dunia lain. [natthi loke samaṇabrāhmaṇā sammaggatā sammāpaṭipannā, ye imaṃ ca lokaṃ paraṃ ca lokaṃ sayaṃ abhiññā sacchikatvā pavedentīti]’
[↑ sammä-ditthi] [↑ sammä-sankappa] [↑] [↑ Asura]

[8] AN 3.61/Titha Sutta, Sang Buddha menerangkan 3 Pandangan SEKTERIAN (termasuk pandangan tentang dosa warisan, ketuhanan) dijamannya, bantahannya VS Ajaran Buddha:

Para bhikkhu, ada 3 Pandangan (titthāyatanāni) yang, jika sepenuhnya disidik/periksa [samanuyuñjiyamānāni], diteliti [samanugāhiyamānāni] dan dibahas [samanubhāsiyamānāni], akan berakhir pada suatu doktrin tanpa tindakan, SEKALIPUN SUDAH DITERAPKAN KARENA TRADISI.

Apakah 3 pandangan ini?

Apapun yang dialami seseorang, apakah itu perasaan: menyenangkan, menyakitkan atau perasaan bukan menyenangkan bukan menyakitkan [adukkhamasukhaṁ], semua itu:
  1. disebabkan tindakan lampau [pubbekatahetū].
  2. disebabkan kuasa TUHAN [Issaranimmānahetū]
    "issaranimmānahetū’ ti issaranimmānakāraṇā, issarena nimmitattā paṭisaṁvedetī ti attho" (Disebabkan kuasa tuhan, Karena kuasa TUHAN, Dirinya mengalami dari kuasa tuhan)
  3. tanpa penyebab dan tanpa kondisi [ahetu-appaccayā].
Para bhikkhu, aku telah menemui para petapa dan brahmana ini dan berkata:

PANDANGAN KE-1:
“Apakah benar, seperti kata orang, bahwa yang mulia mengajar dan memegang pandangan: apapun yang dialami seseorang… semua itu disebabkan oleh tindakan lampau?”

Ketika mereka mengatakan “Ya”, aku katakan: “Jika demikian halnya, yang mulia, maka yang MEMBUAT orang:
  1. menyakiti mahluk hidup adalah karena tindakan kehidupan/masa lampau;
  2. mengambil yang tidak diberikan adalah karena tindakan kehidupan/masa lampau;
  3. berperilaku salah dalam kenikmatan indriya adalah karena tindakan masa lampau;
  4. berbohong, mengucapkan kata-kata memecah belah, berbicara kasar dan berbicara tak berguna adalah karena tindakan kehidupan/masa lampau;
  5. menginginkan milik orang lain, dengki, dan jahat adalah karena tindakan kehidupan/masa lampau;
  6. berpandangan salah adalah karena tindakan kehidupan/masa lampau.
Maka mereka yang menganggap tindakan lampau sebagai faktor penentu tidak memiliki semangat dan usaha bahwa ini seharusnya dilakukan atau seharusnya tidak dilakukan. Karena mereka tidak memiliki kebenaran dan tidak dapat dipercaya bahwa bahwa ini atau itu harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan. Mereka hidup tanpa kewaspadaan dan tanpa pengendalian diri (dari 6 indriyanya) dan Mereka ini tidak beralasan dikatakan sebagai ‘petapa’"

Para bhikkhu, inilah teguran ke-1 – yang diakui kebenarannya – pada para petapa dan brahmana yang mengajarkan dan memegang pandangan seperti itu.

PANDANGAN KE-2:
“Apakah benar, seperti kata orang, bahwa yang mulia mengajar dan memegang pandangan bahwa apapun yang dialami seseorang… semua itu disebabkan oleh kuasa Tuhan?”

Ketika mereka mengatakan “Ya”, kukatakan: “Jika demikian halnya, yang mulia, maka yang MEMBUAT orang:
  1. menyakiti mahluk hidup adalah karena kuasa TUHAN;
  2. mengambil yang tidak diberikan adalah karena kuasa TUHAN;
  3. berperilaku salah dalam kenikmatan indriya adalah karena kuasa TUHAN;
  4. berbohong, mengucapkan kata-kata memecah belah, berbicara kasar dan berbicara tak berguna adalah karena kuasa TUHAN;
  5. menginginkan milik orang lain, dengki, dan jahat adalah karena kuasa TUHAN;
  6. berpandangan salah adalah karena kuasa TUHAN.
Maka mereka yang menganggap ciptaan Tuhan sebagai faktor penentu tidak memiliki semangat dan usaha bahwa ini seharusnya dilakukan, atau seharusnya tidak dilakukan. Karena mereka tidak memiliki kebenaran dan tidak dapat dipercaya bahwa bahwa ini atau itu harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan. Mereka hidup tanpa kewaspadaan dan tanpa pengendalian diri (dari 6 indriyanya) dan Mereka ini tidak beralasan dikatakan sebagai ‘petapa’"

Para bhikkhu, inilah teguran ke-2ku – yang diakui kebenarannya...

PANDANGAN KE-3:
“Apakah benar, seperti kata orang, bahwa yang mulia mengajarkan dan memegang pandangan bahwa apapun yang dialami seseorang… semua itu tidak ada sebabnya dan tidak dikondisikan?”

Ketika mereka mengatakan “Ya”, kukatakan: “Jika demikian halnya, yang mulia, maka yang MEMBUAT orang:
  1. menyakiti mahluk hidup adalah tanpa penyebab dan tanpa kondisi;
  2. mengambil yang tidak diberikan adalah tanpa penyebab dan tanpa kondisi;
  3. berperilaku salah dalam kenikmatan indriya adalah tanpa penyebab dan tanpa kondisi;
  4. berbohong, mengucapkan kata-kata memecah belah, berbicara kasar dan berbicara tak berguna adalah tanpa penyebab dan tanpa kondisi;
  5. menginginkan milik orang lain, dengki, dan jahat adalah tanpa penyebab dan tanpa kondisi;
  6. berpandangan salah adalah tanpa penyebab dan tanpa kondisi.
Maka mereka yang menganggap bahwa (urutan peristiwa) yang tanpa sebab dan kondisi sebagai faktor penentu tidak memiliki semangat dan usaha bahwa ini seharusnya dilakukan, atau seharusnya tidak dilakukan. Karena mereka tidak memiliki kebenaran dan tidak dapat dipercaya bahwa bahwa ini atau itu harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan. Mereka hidup tanpa kewaspadaan dan tanpa pengendalian diri (dari 6 indriyanya) dan Mereka ini tidak beralasan dikatakan sebagai ‘petapa’"

Para bhikkhu, inilah teguran ke-3ku – yang diakui kebenarannya...

Demikianlah, para bhikkhu, 3 pendapat sektarian yang, jika sepenuhnya diperiksa, diteliti dan dibahas, akan berakhir pada suatu doktrin tanpa-tindakan, sekalipun JIKA DIPAKAI KARENA TRADISI.

AJARAN BUDDHA:
Para bhikkhu, Dhamma yang diajarkan olehku tidak dapat disangkal, tidak ternoda, tidak tercela, dan tidak dapat dikecam oleh petapa dan brahmana yang pandai. Dan apakah Dhamma itu?
  1. 6 unsur/element:
    Unsur padat/tanah/landasan [paṭhavīdhātu]; Unsur cairan/perekat [āpodhātu]; Unsur panas/habis/gelompang partikel [tejodhātu]; Unsur Getar/gerak/tekanan [vāyodhātu]; Unsur Ruang (ada diantara 2 unsur/materi) [ākāsadhātu]; Unsur kesadaran [viññāṇadhātu]

  2. 6 landasan kontak
    : mata, telinga, hidung, lidah, tubuh dan pikiran

  3. 18 pemeriksaan mental
    : Ketika melihat/mendengar..memikirkan (kegiatan dari indriya) suatu OBJEK dengan mata/telinga..pikiran (6 Indriya) yang mungkin memunculkan 3 perasaan: SUKACITA [somanassaṭṭhāniya], DUKACITA [domanassaṭṭhāniya] atau NETRAL [upekkhaṭṭhāniya]

  4. 4 Kebenaran Mulia: Dukkha, asalmula Dukkha, berhentinya Dukkha dan jalan menghentikan dukkha (yaitu: 8 jalan utama)
[..] inilah Dhamma ajaranKu, yang tidak dapat disangkal, tidak ternoda, tidak tercela, dan tidak dapat dikecam oleh petapa dan brahmana yang pandai. [↑]

[9] Sanghyang: sang + hyang. KBBI tidak punya arti kata "hyang" dan "sanghyang". Di KBBI: "Sang" adalah kata yang dipakai di depan nama orang, binatang, atau benda yang dianggap hidup atau dimuliakan atau kata yang dipakai di depan nama benda untuk berolok-olok.

"Hyang", berarti divinity [Deva, allah, tuhan], juga di ucapkan "hiang" yang artinya menghilang.[A dictionary of the Sunda language of Java, Jonathan Rigg.hal.147 dan 153]

Sanghyang menurut Platt artinya adalah deva yang dihormati [plates 23, 24, 25; Dance & drama in Bali, Walter Spies,Beryl De Zoete, hal.70.]

Ādi-buddha [ādi = pertama, asli] atau Buddha yang pertama; Mahluk tertinggi di atas semua Buddha dan boddhisatva dalam Mahayana Buddhism of Tibet, Nepal, Jawa, dan Jepang. Dalam tulisan theosophy, Aspek tertinggi atau kesatuan dari mahluk menakjubkan tertinggi dari jagat raya kita, hadir sebagai yang paling agung dalam kondisi dharmakaya.

Aiśvarika [īśvara = raja, tuan, tuhan, pemilik dari akar verbal īś menjadi sah, berkuasa, ahli dalam]. Hirarkhi dari jiva tertinggi. Dalam aliran ini adi-buddha adalah jiva kosmis, perhatian mahluk terpusat pada ini menjadi tingkat yang luarbisa. Isvara atau hirarkhi tertinggi dalam kosmis. Istilah Isvara yang merupakan pengaruh Hinduism terkait dengan doktrin adanya Buddha pertama/maha buddha. Doktrin ini bertentangan dengan kanon pali.

Kitab-kitab yang memuat kata AdiBuddha (juga Adideva) hanya ada di aliran Mahayana[10] dan Vajrayana yang hadir 1000an tahun setelah Parinibana Buddha. Misalnya kitab Mahayana Karandavyuha Sutra, dibuat pada akhir abad ke-4 atau awal abad ke-5 M ["The Concept Of Avalokitesvara and Buddhas ini The KĀRAṆḌAVYŪHA SŪTRA, Mingkwan Chaiyapong, hal.11], walaupun kitab ini tidak memuat kata adibuddha, namun menggunakan terminologi Ādideva yang mempunyai kesamaan karakteristik dengan Ādibuddha.

Dikisahkan Avalokitesvara dari beberapa bagian tubuhnya lahir: Bulan dan Matahari, Mahesvara, Brahma, Varuna, Narayana, angin, Dharani dan Saraswati. Kemudian Mahesvara di jaman kaliyuga akan disebut Ādideva. Menariknya, Avalokitesvara disebut juga Mahesvara sebanyak 3x yaitu oleh Yama, Siva dan Uma.

Kemudian di kitab setelahnya yaitu Guṇakāraṇḍa-Vyūha (GKV) yang dibuat pada sekitar abad ke-7 M (W.B Douglas menyebutkan bahwa kitab ini baru dibuat pada abad ke-15 M. Ia mengulas "srhi Ghano Buddha"/julukan lain Adibuddha yang ada di GKV, Mañjuśrī-nāma-saṅgīti dan Svayambhupurana). Kitab Gunakaranda Vyuha menyebutkan bahwa Avalokitesvara terlahir dari adibuddha, sebagai anak pertama adi-buddha [Ibid, hal.14]. Dalam kitab Mañjuśrī-nāma-saṅgīti (MNS), yang dibuat pada sekitar abad ke-7 M, di mana Manjusri didefinisikan sebagai sinonim dari kebijaksanaam kolektif dari seluruh buddha, dan itu disebut Ādibuddha [Ibid, hal.15]

Kemudian di Indonesia terdapat kitab bernama "Sanghyang Kahamayanikam" (Kitab Siva-Buddha, abad ke-10 M), Jaman raja Empu Sindok yang memuat nama adibuddha di sloka no 65:" [..]Dadi tang āmbek ādibuddha[..]". Terjemahan yang memuat sloka tersebut tertulis:

"bersikaplah seperti adibuddha raja cakravati yang telah mengalahkan musuh sakti, dapat memberikan keinginan semua makhluk, sikap demikian, mahamunivara-cintamani-samädhi, namanya"

Adibuddha di kitab ini adalah nama seorang raja cakravati dan konsep maha yang mampu memberikan keinginan [cinta mani], sejalan dengan sekte Vaisnawa (Empu Sindok sendiri merupakan penganut Hindu, yang menuhankan Visnu). Pengertian cintamani:
  1. Dunia spiritual, dimana seluruhnya dibuat oleh batu sentuh (cintamani).
  2. Permata pengabul keinginan (RRV2-12b)
  3. Batu philosophi mistis, yang dapat membuat apapun yang seseorang inginkan. Tanah di Vaikuntha terbuat dari batu-batu cintamani. Di Brahma Samhita, sebuah kitab abad ke-15 [cintamani tercantum dalam syair 26, 29, 56], disebutkan untuk memenuhi nafsu keingingan indria dengan benda bernama cintamani yang dapat menciptakan apapun yang di inginkan.
  4. Permata yang dapat memberikan apapun yang dapat seseorang pikirkan
  5. chinthaa-mani, Permata pengabul keinginan yang mengabulkan semua keinginan pemiliknya
Perlu juga di ketahui, tidaklah benar bahwa perkembangan Buddhisme Indonesia tidak mungkin bisa eksis jika tidak menggunakan doktrin adibuddha. Landasan pendapat mereka bukanlah pada ajaran namun berdasarkan isu politik dan kemudian mengukuhkan sendiri kebenaran alirannya. Namun alasan inipun lemah karena:
  1. Agama Buddha di Nusantara telah ada sebelum jaman penjajahan Jepang, Belanda, VOC, juga telah ada sebelum jaman kerajaan Mahapahit, Syailendra. Agama Buddha TETAP ADA di Nusantara dan TIDAK PERNAH PUNAH, tidak peduli apakah Negara Indonesia ini jadi ada atau tidak. Jadi tidak ada gunanya menyelipkan SangHyang Adi Buddha [SAB] sebagai alasan politik dan sejarah.

  2. Kebangkitan Buddhi setelah 500 tahun runtuhnya Majapahit adalah dongeng karena TIDAK PERNAH Buddhisme hilang dari Indonesia. Salah satu bukti, misal Vihara Setia Buddha di Binjai di dirikan Tahun 1885 atau di Vihara Bodhi Jl.Irian Barat Medan, seorang Bhiksuninya bernama Chuan Sim seorang asli Indonesia yang ditahbiskan bahkan sebelum Ashin Jinarakhita menjadi Bhikkhu atau di tahun 1934, seorang bhikkhu Theravada Srilangka, yaitu Narada MahaThera [14 Juli 1898 – 2 Oktober 1983] datang di Indonesia, beliau ini, 49x Bolak-balik ke Indonesia [4 Maret 1934 - Maret 1982]

  3. Ada atau tidaknya Ashin Jinarakkhita TIDAKLAH PENTING, karena Buddhism SUDAH MENJADI AGAMA RESMI INDONESIA jauh sebelum Ia ada. Bukti mengenai justru ada dalam sejarah perjalanan Negara Indonesia, misal:

    • Sebelum kemerdekaan melalui transkrip Pidato Bung Karno di Sidang Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai, 1 Juni 1945: "orang Buddha menjalankan ibadatnya menurut kitab-kitab yang ada padanya." [lihat isi transrip lengkap di sini]
    • Pada, penetapan hari raya keagamaan no.2/oem tahun 1946, tanggal 18 Juni 1946, saja Agama konghucu mendapatkan persetujuan 4 tanggal sebagai hari raya, maka apalagi agama buddha.
    • Tahun 1951, di BUKU, "Filsafat Pancasila menurut Bung karno", Oleh Soekarno...dalam PENGUKUHAN HONORIS CAUSA ilmu HUKUM, tanggal 19 September 1951. Soekarno berpidato dan SFESIFIK menyebutkan kata "AGAMA BUDHA" sebanyak: 3x, yaitu di hal.94, 156, 230.
    • Tahun 1958, dalam pidatonya di Peringatan Lahirnya Pancasila di Istana Negara, Tanggal 5 Juni 1958, Bung Karno:

      Bung Yamin mengemukakan beberapa bantahan. Sayapun ingin mengemukakan beberapa bantahan, antara lain bantahan: Pancasila adalah satu agama, katanya, agama baru. Bukan! Bukan! Pancasila bukan agama baru! Pancasila adalah Weltan-schauung, falsafah Negara Republik Indonesia, bukan satu agama baru. Bukan! Ada yang berkata: Pancasila itu sebetulnya adalah perasan daripada agama Budhisme. Bagaimana bisa mengatakan bahwa Pancasila itu adalah perasaan daripada agama Budhisme? Orang yang berkata begitu sebetulnya tidak tahu apa yang dinamakan Budhisme itu. Misalnya saja, saudara-saudara, Ketuhanan Yang Maha esa; BUDHISME TIDAK KENAL KETUHANAN. Coba tanya pada prof. Muh. Yamin, tanya pada prof. Hazairin; tanya pada sarjana-sarjana yang duduk di sini. BUDDHISME TIDAK MENGENAL APA YANG DINAMAKAN TUHAN. Budhisme adalah satu levens beschouwing, satu pandangan hidup, cara hidup agar supaya nanti bisa mencapai kesempurnaan nirwana. Budhisme TIDAK MENGENAL Al-lah. Budhisme TIDAK MENGENAL God, Budhisme TIDAK MENGENGAL Jehovah. Budhisme TIDAK MENGENAL apa yang seperti kita artikan sebagai Tuhan. Jikalau engkau ingin hidup dikemudian hari, sempurna, jikalau engkau ingin masuk nirwana, lakukanlah ini, lakukanlah ini. 8 marga daripada Budha, jalan 8 macam, saudara-saudara. Jadi Budhisme adalah satu pandangan hidup, satu cara hidup, satu levensbeschouwing, bukan sebenarnya satu godsdienst.

      Kok lantas ada orang berkata: Pancasila yang dengan tegas mengatakan pada sila yang pertama Ketuhanan Yang Maha esa, bahwa Pancasila itu adalah perasaan daripada Budhisme. Tidak kena ini, saudara-saudara. Sama sekali tidak! Saya minta janganlah menaruhkan Pancasila ini secara antagonistis terhadap pada misalnya agama Islam. dan janganlah pula meletakkan Pancasila ini secara congruentie yang sama dengan misalnya Agama Budha, janganlah ditaruhkan secara antagonistis pada Agama Islam. jangan ditaruh secara congruent terhadap pada Agama Budha. Jangan! Sebab Pancasila adalah falsafah bagi Negara Republik Indonesia, sebab Pancasila adalah satu dasar daripada Negara Republik Indonesia ini. Kita ingin kekal dan abadikan dan sebagai tadi sudah saya katakan, syarat mutlak bagi mengkekalabadikan Negara republik Indonesia, adalah persatuan daripada bangsa Indonesia.
    • Masih di tahun 1958, pada "PANCASILA SEBAGAI DASAR NEGARA", Kursus Presiden Soekarno Tentang Pancasila di Istana Negara, Tanggal 22 Juli 1958:

      Oleh karena itu tempo hari saya berkata di dalam salah satu pidato: agama budha tidak mengenal begrip Tuhan. Agama lain mempunyai begrip Tuhan: Ya Allah atau Ya Tuhan atau Ya God atau Yehova, mohon, mohon; ada tempat permohonan. Budha berkata TIDAK ADA, tidak perlu engkau mohon-mohon, cukup engkau bersihkan engkau punya kalbu daripada nafsu dan dia sebut 8 nafsu...
    • Pada tahun 1960, dalam pidatonya di sidang umum PBB ke-15, 30 September 1960, dengan judul, "MEMBANGUN DUNIA KEMBALI", Bung Karno:

      Bangsa saya meliputi orang-orang yang menganut berbagai macam agama: ada yang Islam, ada yang Kristen, dan ada yang Budha dan ada yang tidak menganut sesuatu agama. Meskipun demikian untuk 85% dari 92 juta rakyat kami, bangsa Indonesia terdiri dari pengikut Islam. Berpangkal pada kenyataan ini dan mengingat akan berbeda-beda tetapi bersatunya bangsa kami, kami menempatkan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai yang paling utama dalam falsafah hidup kami. BAHKAN MEREKA YANG TIDAK PERCAYA PADA TUHAN PUN, karena toleransinya yang menjadi pembawaan, mengakui bahwa kepercayaan pada Yang Maha Kuasa merupakan karakteristik dari bangsanya, sehingga mereka menerima Sila pertama ini.
    • PENJELASAN PENPRES 1/1965: "Agama-agama yang dipeluk oleh penduduk di Indonesia ialah Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan khong Cu (Confusius). Hal ini dapat dibuktikan dalam sejarah perkembangan Agama-agama di Indonesia."
    • DIRJEN Hindu dan Buddha, TELAH ADA sebelum diciptakannya istilah sanghyang adi buddha:

      KMA No. 47 Tahun 1963, Bagian Urusan Hindu Bali ditingkatkan menjadi Biro Urusan Hindu Bali. Kemudian pada tahun 1966 dikeluarkan Keputusan Presiden RI No. 170 Tahun 1966, Biro Urusan Hindu Bali ditingkatkan menjadi Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Beragama Hindu Bali dan Buddha, dan diikuti dengan perpindahan kantor ke Jl. MH. Thamrin No. 6 Jakarta. Sedangkan susunan organisasinya sebagaimana diatur dalam Keputusan Menteri Agama No. 56 Tahun 1967.

      Pada tahun 1969 dikeluarkan kembali KEPPRES RI No. 39 Tahun 1968, Direktorat Jenderal Bimas Beragama Hindu Bali dan Buddha berubah menjadi Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu dan Buddha, yang disertai dengan pengembangan struktur meliputi: Direktur Jenderal, Sekretaris Direktorat Jenderal, dan Direktorat Urusan Agama Hindu dan Buddha.
    • Jumlah Wihara di tahun 1968 adalah 520
    • Tempo, 26 FEBRUARI 1972: Fakta bahwa pengaruh non tionghoa pada Buddhisme sudah tinggi:

      Maka agama Budhapun memantjar kembali keseluruh pendjuru, setelah berabad hening bagai dalam samadi. Sudah tentu diluar kalangan Sam Kauw. dikalangan penduduk pribumi di Djawa atau Bali atau Nusa Tenggara, potensi-potensi kebangkitan, kembali Budhisme ini sudah bertumpuk. [↑]

[10] List sutta dan sutra variasi berakhirnya dhamma sejati berasal dari: "An Analytical Study on Buddhist Eschatology" – Prophecy of Decline of Dharma Based on the Sūtra on the Seven Dreams of Ānanda, Shih You Zhi, Graduate School of Buddhist Studies, Fo Guang University, 2008] dan Macmillian-Encylopedia of Buddhism, Vol.1, A-L, Robert E. Buswell, Jr., Editor in Chief, 2004. hal.210-213

Berikut ini adalah tahun pembuatan kitab-kitab kalangan Mahayana:
  1. Prajñāpāramitā Sutra:

    • Aṣṭasāhasrikā Sutra (Kesempurnaan Kebijaksanaan) dalam 8.000 baris. Prof E.Conze: sutra ini dikompilasi di abad ke-1 SM dan translasi ke Cina di abad ke-2 M. Text (Prosa) sutra itu tergabung bersama sloka Ratnaguṇasaṁcaya Gāthā, yang diperkirakan muncul sedikit lebih awal(a)
    • Vajracchedikā Sūtra (Sutra Intan): Sejarahwan Jepang: sutta ini paling awal ada di abad ke-1 SM(b). Sejarahwan lain menyepakati bahwa Astasahasrika merupakan adaptasi dari Vajradika sutra(c)
    • Hṛdaya Sūtra (Sutera hati), abad ke-1 M, dari era kerajaan Kushan oleh mantan Biksu aliran Sarvastivada(d). Translasi ke Chinese paling awal di tahun 200 - 250 M oleh Bhikku Yuezhi (Zhi Qian). Menurut E. Conze: estimasi asal sutra ini ada ditahun 350 M, beberapa sejarahwan menganggap seharusnya 2 abad lebih lama lagi namun di bawah abad ke-7 M. Versi awal Tibet muncul di tahun 755-800 M(e)

    Para ahli barat berpendapat bahwa sutra-sutra ini, dengan mengabaikan sumber-sumbernya, dikompilasi ke dalam sanskrit pada 100 SM s/d 800 M. Dalam 4 phase pengembangan. Sutera intan dan sutera hati dikembangkan dari tahun 300 s.d 500M. Prof. Dr. Edward Conze:

    Prajnaparamita Sutra dapat dibagi 3 fase yang masing-masing lamanya 2 abad dan 1 fase sisanya lamanya 5 atau 6 abad.

    Fase ke-1 (100 SM - 100 M) terdiri dari perluasan ajaran ke suatu teks dasar.
    Fase ke-2 (100 M - 300 M) perluasannya ke 3 atau 4 risalah yang sangat penting.
    Fase ke-3 (300 M - 500 M) penyingkatannya ke sejumlah risalah yang lebih pendek, dan
    Fase ke-4 (500 M - 1200 M) penyingkatannya ke Dharani dan Mantra Tantra.(f).

    --------------
    Sumber:
      (a) Guang Xing. The Concept of the Buddha: Its Evolution from Early Buddhism to the Trikaya Theory. 2004. p. 66,
      (b) Williams, Paul. Mahāyāna Buddhism: the Doctrinal Foundations. London, UK: Routledge. ISBN 0-4150-2537-0. p.42
      (c) Schopen, Gregory. Figments and Fragments of Mahāyāna Buddhism in India. 2005. pp. 31-32
      (d) Pine, Red. The Heart Sutra: The Womb of the Buddhas (2004) Shoemaker 7 Hoard. ISBN 1-59376-009-4, hal.18-21
      (e) Lopez, Donald S., Jr. The Heart Sutra Explained: Indian and Tibetan Commentaries (1988) State Univ of New York Pr. ISBN 0-88706-589-9, hal.5
      (f) Conze, Edward. Prajnaparamita Literature (2000) Munshiram Manoharlal Publishers ISBN 81-215-0992-0, originally published 1960 by Mouton & Co.

  2. Sutra teratai (Saddharma Puṇḍarīka Sūtra) adalah bagian terbesar sutra Mahayana. Sejarahwan menyatakan sutra ini dikompilasi dalam 4 fase ke Sanskrit, yaitu: Abad ke-1 s/d 150 M. Ditranslasi beberapa kali ke Cina yaitu abad ke-3 s.d 5 M salah satunya oleh Dharmarakṣa [Zhu Fahu, 286 M, diantaranya oleh Kumarajiva (w. 406 M). Translasi dari Cina ke Jepang oleh Biksu Dengyo (Saiyo di abad ke-8 M) [Paul Williams, Mahāyāna Buddhism: the doctrinal foundations. Routledge 1989, page 142]

  3. Lalitavistara, [hadir belakangan, sekitar 400 M], berisi prosa dan sloka kehidupan sang Buddha mulai dari alam Tusita s.d pembabaran pertama di Sarnath. Aslinya tertulis dalam Sanskrit. Aliran Mahayana dalam pandangannya tentang Sakyamuni, menghiasi kisahnya dengan kisah-kisah ajaib [John Strong, diambil dari Encyclopedia of Buddhism©2004 by Macmillan, hal.450]

    Rhys Davids: "Prosa yang tidak diketahui tanggal pembuatannya dan pengarangnya tak dikenal, kemungkinan dikompilasi di Nepal, oleh Buddhis yang hidup dikisaran 600 tahun s.d 1000 tahun setelah Sang Buddha" [Hibbert Lectures, p. 197 -→ p.239-240]

    Ketika text sanskrit pertamakalinya dipublikasikan [tahun 1877/1878] ditemukan banyak kandungan sloka yang dibalut prosa. Pertanyaannya mana yang lebih tua: prosanya atau slokanya? Dengan mengabaikan sumber slokanya, maka terlihat bahwa ini berasal dari aliran Sarvastivada, namun jika merujuk pada, "Sardulavikridita metre", maka ini ada di periode belakangan. Namun tidak diragukan bahwa prosa dan slokanya berasal dari Sarvastivada [Hibbert Lectures, p.241; The Lalitavistara and Sarvastivada, By Thomas, E. J. Indian Historical Quarterly 16:2 1940.06 p. 239-245]

  4. Sukhavativyuha Sutra (versi panjang maupun Pendek) dikompilasi pada jaman dinasti Kuṣāṇa Dynasty (30 M - 375 M), yaitu: abad ke-1 s.d ke-2 M atas perintah para bhikhu Mahīśāsaka, aliran yang berkembang di area Gandhāra [Nakamura, Hajime. Indian Buddhism: A Survey With Biographical Notes. 1999. hal. 205 dan Williams, Paul. Mahāyāna Buddhism: The Doctrinal Foundations. 2008. hal. 239]

    Versi panjang Sukhavativyuha Sutra, teks utamanya diterjemahkan 2x di pertengahan abad ke-3 M. Di tahun 402 M: Amitabha Sutra (Amida Sutra atau versi pendek dari Sukhavativyuha-sutra) dan Dasabhumikavibhasa (Risalah tentang 10 tingkatan), karya Nagarjuna (Abad ke-2 M) diterjemahkan Kumarajiva (350–409/413 M).

    Guan Wuliangshoujing (Sutra Kontemplasi Keabadian Buddha) diklaim alirannya bahwa ini diterjemahkan antara 424 M dan 453 M, walaupun kemungkinan ini merupakan kompilasi dari China atau Asia tengah. Ketika 3 Sutra utama dan 1 sutra komentar dari sutra ini muncul, ajaran tanah suci dibuang dari Pratyutpannasamädhi-sutra. [Encyclopedia of Buddhism©2004 by Macmillan, hal.707]

    Sutra-sutra tersebut menjalankan konsep Mahayana mengenai pentingnya peran Bodhisattva, yang di lankavatara sutra dikatakan bahwa pada tahap ke-6, mereka bersumpah takkan masuk nirvana sebelum semua mahluk terbebaskan, (lihat ch.xi, Lankavatara sutra, dikompilasi pada tahun 350-400 M, lihat: Asanga Tillekharatna, "Laṅkāvatāra Sūtra" Encyclopedia of Buddhism Vol 6. ed. G. P. Malalasekara). Juga menyatakan bahwa beberapa Bodhisattva YANG TELAH MENJADI BUDDHA dan bersemayam di 5 arah (Timur, Barat, Utara, Selatan, Tengah) ada di saat Sammasambuddha Gautama hidup dan masih hidup hingga kini:

    • ananda:
      “Apakah Sang Bhiksu Dharmakara sudah menjadi Buddha? Apakah Beliau sudah Parinirvana atau belum? Dan di manakah Beliau berada pada masa sekarang? mohon dijelaskan!”

      Buddha Gotama:
      “Bhiksu Dharmakara O, Beliau telah menjadi Buddha yakni Buddha Amitayus juga disebut Buddha Amitabha! Kini, Beliau berada di Surga Barat..

      Ananda:
      “O, Sudah menjadi Buddha?” Arya Ananda tanya lagi: “Kapankah? Sudah berapa lamakah Beliau mencapai Kebudhaan O, Bhagavan?”

      Buddha Gotama:
      “Lamanya sudah 10 Kalpa!” [Sukhavativyuha sutra: panjang dan pendek]

    • Ananda:
      “Bhagava, siapa nama Bodhisattva-Mahasattva yang sungguh baik memberi ajaran pada kita tentang Mantra Agung ini?”

      Buddha Gotama:
      “Bodhisattva ini bernama Avalokitesvara, Makhluk Agung yang Tak Terbatas, juga dikenal dengan nama Seribu Mata Terang. Orang Budiman, Bodhisattva Avalokitesvara memiliki kekuatan agung yang tidak terbayangkan. Kalpa-kalpa tak terhitung yang lalu, ia telah menjadi Seorang Buddha yang bernama Buddha Dharma Suci Terang Benderang Tathagataya (正法明如來, SadDharma Virya Tathagatha). [mahakaruna dharani sutra, ditranslasi ke bahasa China pada abad ke-7 M]

    Padahal, HINGGA SAAT INIPUN masih banyak mahluk yang belum tercerahkan di luar mitos tanah sucinya :)

    Problem konsep ke-Bodhisattva-an aliran Mahayana bukan cuma itu, Aliran ini juga mengajarkan pandangan salah tentang adanya jiwa dan juga mengajarkan untuk meminta/menyembah di depan patung yang bahkan Buddha Gautama sendiri tidak ajarkan itu, misal:

      Jika dipengaruhi oleh jiwa kucing, carikan tulang kepala kucing yang sudah mati, bakar sampai menjadi abu, campurkan abu dengan tanah liat yang bersih, dipadatkan dan dibentuk sehingga serupa bentuk kucing. Di depan patung Bodhisattva Avalokitesvara Tangan Seribu dan Seribu Mata, lafalkan Mantra Agung sebanyak 108 x ditujukan ke sebuah pisau tajam, dan model kucing tersebut mulai dipotong hingga 108 potongan dengan melafal dan menyebutkan namanya sekali tiap memotong, maka jiwa kucing tersebut akan pergi dan takkan kembali [mahakaruna dharani sutra]

    Juga mengajarkan bahwa dengan melafalkan mantra dengan keyakinan, maka seluruh dosa akan lenyap, bahkan 5 dosa berat pun akan lenyap:

      Setelah mengucapkan tekad murni tersebut, sebutkan namaku (Namo Kwan Im Pu Sha/Avalokitesvara) dengan keyakinan dan hati yang murni, juga sebutkan nama guruku – Buddha Amitabha Tathagataya juga dengan keyakinan dan hati yang murni, kemudian lafalkan mantra ini 5 x atau lebih seharinya, untuk melenyapkan dosa-dosa berat dari proses kelahiran dan kematian yang terkumpul sejak ratusan-ribuan-jutaan kalpa-kalpa yang lampau.”
      ...
      Jika ada siapa saja yang mengambil tanpa ijin makanan, minuman, ataupun barang-barang milik para Sangha, walaupun seribu Para Buddha muncul di dunia, dia tidak mau minta pengampunan dan berubah. Walaupun jika ia minta pengampunan, dosa-dosanya tidak dapat diampuni. Tetapi saat ini, jika mampu melafal berulang kali Mantra Agung dari Mahakaruna Dharani, maka dosa-dosanya akan dapat lenyap..
      ...
      Semua karma buruk dan dosa berat, seperti 10 perbuatan buruk, 5 perbuatan dosa tak terampuni, mencaci-maki orang lain, ajaran Dharma, melanggar Atha-Sila, melanggar Sila yang lainnya, menghancurkan Stupa, menghancurkan Vihara, mencuri barang milik Sangha, dan tidak menghormati perbuatan Suci-Brahma, semua dosa-dosa itu akan dapat lenyap dengan melafal Mantra Agung Mahakaruna Dharani..” [mahakaruna dharani sutra, juga variasinya di sutra kontemplasi amitabha no.0365 dan beberapa variasi yang terdapat di sumpah para Buddha aliran Mahayana lainnya]

    Prinsip ini bertentangan dengan sutta-sutta Theravada yang menyatakan DOA/Mantra tidak membuat orang terhindar dari akibat masaknya kamma dan juga tidak pernah dapat menghapus dosa dan malah berpotensi terlahir kembali di alam-alam sengsara bahkan neraka akibat kebodohan dan ketamakan/kemelekatan (seperti kisah di kitab komentar tentang seorang thera yang malam menjelang tidur berpikir dan merasa gembira akan mengenakan jubah pemberian dikeesokan harinya dan malam itu Ia wafat dan terlahir menjadi kutu)

    Figur Amitabha tidak dikenal di awal literatur Buddhisme India, namun sekitar awal abad masehi muncul sebagai Buddha dari Barat..Pemujaan Amitabha, pengembangan dan bagian dari praktek awal mahayana melalui permohonan dan pemujaan pada semua Buddha dan berharap agar terlahir di tanah suci. Mitos sumpah dan tanah sucinya saling mirip atau bersaing satu sama lainnya dengan kepercayaan tentang Buddha lainnya seperti AKSOBHYA [Encyclopedia of Buddhism©2004 by Macmillan, hal.15].

    Legenda tanah suci Aksobhya adalah Abhirati, Tanah suci Vairocana (Buddha gautama yang telah parinibbana dianggap sebagai penjelmaannya) adalah Akanistha Ghanavyuha, tanah suci Amoghasiddhi adalah Prakuta, tanah suci buddha Ratnasambhava adalah Shrimat dan banyak lagi legenda lainnya yang sejenis

    Sukhavativyuha versi panjang dan pendek ini, juga mempunyai kejangggalan lainnya, yaitu dikatakan ketika Buddha Gautama masih hidup, Ananda malah sudah Arahat

    SUKHĀVATĪVYŪHAḤ (SAṂKṢIPTAMĀTṚKĀ)/Amitabha Sutra (sutra pendek, lebih dulu dari sutra panjang)
    evaṁ mayā śrutam | ekasmin samaye bhagavān śrāvastyāṁ viharati sma jetavane’nāthapiṇḍadasyārāme mahatā bhikṣusaṁghena sārdhamardhatrayodaśabhirbhikṣuśatairabhijñātābhijñātaiḥ sthavirairmahāśrāvakaiḥ sarvairarhadbhiḥ | tadyathā-sthavireṇa ca śāriputreṇa, mahāmaudgalyāyanena ca mahākāśyapena ca mahākapphiṇena ca mahākātyāyanena ca mahākauṣṭhilena ca revatena ca śuddhipanthakena ca nandena ca ānandena ca rāhulena ca gavāṁpatinā ca bharadvājena ca kālodayinā ca vakkulena ca aniruddhena ca |
    etaiścānyaiśca saṁbahulairmahāśrāvakaiḥ | saṁbahulaiśca bodhisattvairmahāsattvaiḥ | [..]

    Terjemahan:
    Demikianlah telah kudengar: Pada suatu ketika Sang Buddha berdiam di Sravasti pertapaan Jeta Taman Anthapindaka bersama serombongan Biksu yang berjumlah 1250 semuanya Arahat yang namanya telah dikenal semua orang seperti: Sariputra, Mahamaudgalyayana, Mahakasyapa, Mahakatyayana, Mahakausthila, Revata, Suddhipanthaka, Nanda, Ananda, Rahula, Gavampati, Pindolabharadvaja, Kalodayin, Mahakaphina, Vakula, Aniruddha
    dan beserta Siswa-siswa terkemuka lainnya; dan para Bodhisattva Mahasattva [..]

    Kontroversi terjemahan sanskrit vs china sutra versi panjang:

    SUKHĀVATĪVYŪHAḤ (VISTARAMĀTṚKĀ):
    我聞如是。一時佛住王舍城耆闍崛山中。與大比丘衆萬二千人倶。一切大聖神通已達。其名曰尊者了本際.尊者正願.尊者正語.尊者大號.尊者仁賢.尊者離垢.尊者名聞.尊者善實.尊者具足.尊者牛王.尊者優樓頻蠡迦葉.尊者伽耶迦葉.尊者那提迦葉.尊者摩訶迦葉.尊者舍利弗.尊者大目揵連.尊者劫賓那.尊者大住.尊者大淨志.尊者摩訶周那.尊者滿願子.尊者離障閡.尊者流灌.尊者堅伏.尊者面王.尊者果乘.尊者仁性.尊者喜樂.尊者善來.尊者羅云.尊者阿難。皆如斯等上首者也。[Versi China no.360]

    Terjemahan:
    Sang Bhagavan berdiam di puncak Nasar di Rajagrha bersama-sama sekumpulan besar 12.000 Biksu, semuanya Arhat, yang mempunyai kekuatan supranatural, diantara mereka adalah yang mulia: Ājñāta-kauṇḍinya, Aśvajit, Vāṣpa, Mahānāma, Bhadrajit, Vimala, Yaśodeva, Sūbahu , Pūrṇaka, Gavāṃpati, Uruvilvā-kāśyapa, Gayā-kāśyapa, Nadī-kāśyapa, Mahākāśyapa, Śāriputra, Mahāmaudgalyāyana, Kapphiṇa, Mahākauṣṭhila, Mahākātyāyana, Mahācunda, Pūrṇa-maitrayāṇīputra, Aniruddha, Revata, Kimpila, Amogha-rāja, Parayānika, Vakkula, Nanda, Svāgata, Rāhula dan yang mulia Ānanda. Semuanya adalah para sepuh. [Terjemahan: Hisao Inagaki (ke-1 yang juga diterjemahkan samghavarman dan ke-2) dan rulu]

    Menariknya sutra panjang untuk no.363 terdapat beda antara versi:
    Versi sanskrit no.362, "dvātriṃśatā bhikṣusahasraiḥ, sarvairarhadbhiḥ" (sekumpulan bhiksu sangha sejumlah 32.000 dan semuanya arahat) + "...ca, cullapatkena ca, nandena ca, rāhulena ca, āyuṣmatānandena ca, etaiścānyaiśca abhijñātābhijñaiḥ sthavirairmahāśrāvakairekaṃ pudgalaṃ sthāpayitvā śaikṣapratidyuttarikaraṇīyaṃ yadidamāyuṣmantamānandam" (...cullapatkena, Nanda, Rahula, yang mulia Ananda (āyuṣmata-anandena)--dengan ini dan dengan para sesepuh lainnya, dan para murid utama, yang memiliki kebijaksanan, dan dengan pengecualian yang tengah melaju pada jalan siswa, yaitu, yang mulia Ananda (yadidama-ayuṣmantama-anandam / beda lagi dengan "anandena" yang mencirikan adanya frase tambahan)--...)"

    VS

    Versi China no.363: "与大苾刍众三万二千人俱,皆得阿罗汉"(sekumpulan biksu sangha sejumlah 32.000 adalah arahat) + "..尊者嚩拘隶曩、尊者阿难陀、尊者罗睺罗、尊者善来,如是等三万二千人俱" (...cullapatkena, Nanda, Rahula, yang mulia Ananda. Seperti semua yang 32.000)

    Terjemahan buatan lainnya bahkan sampai menambahkan keterangan: "YM Ananda adalah siswa" (dengan cara/kalimat: "- āyuṣmatā ca ānandena śaikṣeṇa"), Ini jelas menunjukan kalimat "ananda adalah siswa" adalah TAMBAHAN BELAKANGAN, mengaburkan pembaca dari ketidakvalidan sutranya dan telah berbohong mengalamatkan sutra ini sebagai ucapan sang Buddha (via Ananda) [↑]

  5. Mahayana Mahaparinirvana Sutra (Nirvana Sutra). Paul Williams: dikompilasi setelah abad ke-2 M; Stephen Hodge: 100 M s/d to 220 M ["On the Eschatology of the Mahaparinirvana Sutra and Related Matters", Hodge, Stephen (2006)]

    Untuk Mahayana Mahaparinivana sutra (Taisho Tripitaka, Vol.12, No.374, versi China, oleh Dharmakshema, translasi ke Inggris oleh Kosho Yamamoto) adalah buatan tahun 422 M. Di dalamnya terdapat tambahan material baru yang tidak ditemukan di versi sanskritnya. Tambahan ini mirip ajaran hinduism, misalnya kisah-kisah Mahabharata.

    Dalam Nirvana sutra terdapat kalimat "mereka yang tidak mampu menerima bahwa Tathagata adalah kekal [nitya] menyebabkan penderitaan". Statement bahwa Tathagata kekal abadi dan tidak berubah juga muncul di bab 4 dan bab.10. Statement-statement sutra ini bertentangan dengan paham anatta, anicca dan paticcasamuppada.

  6. Vimalakirti Sutra, dibuat tahun 100 M [The Vimalakirti Sutra, Burton Watson, New York: Columbia University Press. hal.1–5,], sample misalnya bab. 6 hal.62, Vimala Kirti (umat awam, reinkarnasi Bodhisatva alam buddha Abhirati milik Buddha Aksobbhya) menegur Arahat Sariputta:

    ...Bhiksu Sariputra berpikir: “Tidak terdapat satu pun kursi di dalam rumah ini. Di manakah para Shravaka dan Bodhisattva akan duduk?”. Licchavi Vimalakirti mengetahui pikiran Bhiksu Sariputra dan berkata, “Bhante Sariputra, apakah engkau datang ke sini demi Dharma? Atau apakah engkau datang ke sini demi sebuah kursi?”. Sariputra menjawab, “Saya datang demi Dharma, bukan demi sebuah kursi.”. Vimalakirti berkata lebih lanjut, “Bhante Sariputra, dia yang tertarik pada Dharma tidaklah tertarik bahkan pada tubuhnya sendiri, apalagi tertarik pada sebuah kursi. Bhante Sariputra, dia yang tertarik pada Dharma tidaklah tertarik pada wujud, sensasi,..".
    --

    Skenario sutra ini aneh, karena Arahat TIDAK LAGI AKAN memperhatikan yang tidak layak dan tidak memperhatikan yang layak, juga seorang Arahat tidak tertarik pada khanda dan nafsu keinginannya telah padam. Jadi bagaimana mungkin seorang arahat sampai digambarkan memikirkan kursi untuk duduk di rumah orang?

    Mengapa arahat dalam aliran mahayana diperlakukan serendah ini?

    Ini karena aliran mahayana menganggap para Arahat dan para Pacceka Buddha adalah jauh dari Nirvana [Śrīmālādevī Siṃhanāda Sūtra Bab.5, hal.24-25, sutra ini dibuat pada abad ke-3 M, jaman dinasti Īkṣvāku, oleh Mahāsāṃghika, area Āndhra, dari aliran Caitika] dan mengagungkan boddhisattva, di mana seorang bodhisatva tingkat ke-7 (disebut mahasatva, dianggap setara arahat) dikatakan sudah dapat masuk Nirvana jika mereka mau, namun ditolaknya dengan alasan hendak membantu yang belum tercerahkan. Aliran ini menganggap nirvana semacam alam di mana orang dapat keluar masuk kapanpun Ia mau.

  7. Upaya-Kausalya Sutra (translasi dari tibet: Upaya-kausalya nama mahayana sutra, oleh Tatz, 1994. Atau dari china: Jnanottara Bodhisattva-Pariprccha, oleh Chang, 1983. ato Taisho 345). Salah satu isinya adalah kehidupan kelahiran sebelumnya bodhsattva, Ia membunuh penjahat untuk menyelamatkan 500 orang. Tatz mengklaim bahwa sutra ini mempunyai basis asal dari India dari abad ke-1 M. [Sumber: An Introduction to Buddhist Ethics: Foundations, Values and Issues, Oleh Peter Harvey, hal.135, catatan kaki no.11]. Tentu saja ini bukanlah rujukan anjuran melakukan pembunuhan karena jelas melanggar sila ke-1 apapun motif kesengajaannya untuk membunuh.

  8. Avatamsaka sutra (Buddhavatamsaka-namamahavaipulya-sutra, Dalam bahasa Inggris: Flower Garland), dibuat pada abad ke-3 atau 4 M [Macmillan Encyclopedia of Buddhism, 2004, Vol. 1, hal.341]

  9. Karandavyuha Sutra, dibuat pada akhir abad ke-4 M atau awal abad ke-5 M [Alexander Studholme, The Origins of Om Manipadme Hum: A Study of the Karandavyuha Sutra, State University of New York Press, Albany, 2002, p. 17]

  10. Jaring Brahma Sutra [Brahmajala SUTRA, versi Mahayana, tidak sama dengan Brahmajala sutta], dibuat abad ke-5 M, disini ada konsep DHAMMAKAYA versi Mahayana [Cho, Eunsu. Fanwang jing in Macmillan Encyclopedia of Buddhism, 2004, Vol. 1, hal.281-282]

  11. Shurangama Sutra, Ditranslasi ke Chinese tahun 709 M oleh Biksu India: Po-la-mi-ti, [di sini] dan sutra yang berjudul mirip namun beda: Shuragama samädhi sutra (translasi ke Chinsese oleh Kumarajiva abad ke-5 M).

    Shuragama samädhi sutra mengajarkan:
    Setelah Buddha Pusya masuk nirvana dan parinirvana, Bodhisatva Manjusri menjelma berpura-pura menjadi banyak Patryekabuddha yang kemudian berpura-pura lagi masuk nirwana dan parinirvana namun menjelma lagi menjadi banyak Pratreyaka buddha di tempat-tempat lainnya yang juga kemudian berpura-pura lagi masuk nirvana dan parinirvana. Dikatakan bahwa Bodhisattva yang mengambil kendaraan Pratreyaka takkan parinirvana selamanya.

    Ajaran ini bertabrakan dengan sila ke-4: Musavada + mengajarkan jiwa yang kekal + pandangan salah bahwa nirwana adalah semacam alam.

  12. Apocrypal sutra (sutra-sutra yang sudah banyak tambal sulam, dikompilasi di China bukan di India):

    1. Sutra ajaran warisan (the Bequeathed Teaching Sutra, Fo chui ban nie pan liao shuo jiao jiejing, Yijiaojing for short), ditranslasi ke China oleh kumarajiva, tahun 400 M
    2. Ullambana Sutra (Yulanpenjing), Secara tradisi dianggap sutra ini ditranslasikan ke china oleh biksu Dharmarakṣa pada 266 - 313 M, jaman dinasti Jin Barat, NAMUN para ahli kemudian tahu bahwa sutra ini tidak diGUBAH di INDIA namun di CHINA pada pertengahan abad ke-6 M. Terminologi Sanskrit "ullambana" (vu-lan-bồn) secara literal berarti "baki/dulang/nampan". Beberapa ahli mengatakan ini berasal dari pemujaan Urvan, Zoroastrian, Iran yang lazim dilakukan pada perayaan Fravardigan, dilakukan dengan membakar ranting cemara, yang wanginya dipercayai akan menarik "jiwa" para leluhur sehingga turunannya bisa mengundang pulang leluhurnya ke rumah untuk menerima persembahan. Tradisi ini serupa dengan tradisi urabon, di Jepang atau juga disebut perayaan obon atau bon (Nihonshoki, Nhật Bản thư kỉ), tahun ke-14 dinasti Suiko (Suy Cổ) 606 Mi. Di tahun ke-5 dinasti Tempyō (Thiên Bình) 733 M
    3. Sutra 42 bagian (Sishierzhangjing), dianggap sebagai sutra pertama yang ditranslasi ke Cina oleh bhikkhu dari barat, Kāśyapa Mātaṅga dan Gobharana, di jaman kerajaan Xiaoming, dinasti Han terakhir (58 – 75 M). Menurut catatan koleksi translasi tripitaka (Chu san cang zhiji), translasi sutra ini dilakukan di biara Kuda putih (Baimasi), Luoyang, yang merupakan biara Buddha pertama di China. Para ahli modern seperti Liang Qichao, Yin Shun, dan Donald S. Lopez, berpendapat bahwa ini adalah text buatan yang diilhami doktrin Mahayana dan Tao. Kemiripan antara sutra 42 bagian dan kitab kebaikan anak perempuan (Xiangjing) diragukan keaslian sanskritnya. Catatan sejarahwan Tang Yongtong, menyatakan edisi awalnya tidak mengandung konsep Mahayana dan Tao. Teks ini sering ditulis ulang dan di revisi oleh para peng-copy dan pengkompilasi dan pengutipnya dengan menambahkan opini pribadinya. Ragam edisi sutra 42 bagian dibagi 3 kategori. Pertama, termasuk edisi korea, dinasti Song dan Yuan, yang hampir mirip satu sama lainnya. Kedua, edisi dengan komentar oleh Zhenzong dari jaman dinasti Song (998 –1023 M). Edisi ini digunakan oleh Nancang dari Dinasti Ming. Ke-3, Edisi dengan komentar dari Shousui, seorang biksu Chan sekte Caodong, yang berkembang di awal abad ke-12
    4. Sutra pencerahan sempurna (Dafangguangyuanjuexiuduoluoliaoyijing, Yuanjuejing), sejumlah komentar ditulis di jaman dinasti Tang (618–907), Song (960–1279), Ming (1368–1644), dan Qing (1644–1912). Diragukan keasliannya dan ajarannya. Meskipun ditranslasikan ke China oleh Buddhatrāta pada 693 M, namun bukan dari teks India, melainkan dari gubahan China yang berasal dari sekitar abad ke-7 atau awal 8 M.
    5. Sutra kedalaman cinta seorang anak (Fumuenzhongjing; Jepang: Bumoon - jū gyō atau Fuboonjūkyō) adalah kitab buatan yang berasal dari China, ketika Buddhism mulai diperkenalkan ke China dari India. Catatan awal teks ini ditemukan di jaman dinasti Zhou (Dazhoukan ding zhongjingmulu), yang diedit di 695 M, jaman ratu Zetianwuhou. Catatan ini hanya ada diedisi dinasti Zhou. Tradisi Tripitaka korea (Gaolidazangjing) menyatakan sutra ini adalah tambahan belakangan dan unsur pembuatannya telah dilakukan sejak awal di kompilasi dan tidak pernah dianggap sebagai kitab asli buddhis yang berasal dari India. Sumber lain, catatan ajaran Sakyamuni yang dikompilasi pada era Kaiyuan (Kaiyuanshijiaolu) kompilasinya tahun 730 M jaman dinasti Tang, menyampaikan catatan bahwa sutra ini adalah teks buatan China karena terdapat nama 3 anak berbakti China: Dinglan, Dongan dan Guoju. Namun ketika diketahui kitab ini adalah buatan, kemudian direvisi dan nama-nama Chinanya dihapus. sejak itu terdapat beberapa versi revisi termasuk versi yang ditulis ulang seluruhnya seperti kisah Buddha Sakyamuni yang menemukan setumpukan tulang dan Ia kemudian menyembahnya, juga kisah pertumbuhan embrionya ketika di rahim ibunya adalah juga tambahan

    [Sumber:APOCRYPHAL SCRIPTURES, Numata Center for Buddhist Translation and Research, 2005] [↑] [↑]

[11] Milanda Panha[13] dan kitab komentar: Orang yang dikebiri dan hemaprodite tidak bisa mencapai kemajuan dalam samadhi maupun kesucian ["Visuddhimagga", Buddhaghosa, ed.4, hal.168. Juga Milanda Panha Bab.15 no.78]. Statement ini tidaklah benar karena mengenal Dhamma dan pencapaian tingkat kesucian tidak membedakan RAS, SUKU, UMUR, PEKERJAAN dan JENIS KELAMIN.

Kata Homo seksual, Lesbian, banci, kasim dan/atau transgender dalam Buddhisme adalah Pandaka dan Ubhatobyanjanaka, [Lihat: ini dan ini]. Bunmi Methangkun, kepala yayasan Abhidhamma tradisionalist, yang membagi 2 tipe ubhatobyanjanaka/hermaphrodite: jenis wanita (itthi-ubhatobyanjanaka) dan pria (purisa-ubhatobyanjanaka) dan mengatakan jenis pria tidak bisa hamil. [note: Zwilling (1992:206), mengutip Buddhaghosa menyajikan pengertian ubhatobyanjanaka dalam Abhidharmakosa yang hampir identik dengan pendapat Bunmi]. Pendapat ini keliru karena seorang lelaki [secara hukum] bernama Thomas Beati (berisitrikan Nancy) tercatat 2x hamil [womenissues.about.com dan science20.com]

Pandaka dan Ubhobyantojanaka juga MAMPU dan DAPAT mencapai tingkatan samadhi manapun SELAMA mereka dapat mengatasi 5 rintangan dan kitab komentar sendiri menyampaikan bahwa di jaman sang Buddha, Soreyya [Ubhobyantojanaka] dan Vakkali [Pandaka] dapat mencapai kesucian arahat.

Contoh ke-1:
Soreyya (Pria) yang pikirannya muncul hasrat seksual pada Mahakaccayana Thera menyebabkan Ia berganti kelamin menjadi perempuan. Ia kemudian menikah dan punya anak. Setelah bertemu kenalan lamanya dan mengungkapkan jati dirinya, Ia disarankan meminta maaf pada Maha Kaccayana thera dan dilakukannya, segera setelahnya, Ia berubah menjadi Pria kembali
    [..]Soreyya kemudian merenungkan bagaimana Ia telah berubah kelamin, melahirkan anak-anaknya. Ia merasa cemas dan jijik terhadap itu dan kemudian menjadi Bhikkhu di bawah bimbingan Mahakaccayana Thera.

    Ia sering ditanya, "Siapa yang lebih dicintainya, 2 anaknya saat sebagai pria atau 2 anak lainnya saat sebagai isteri?", Ia jawab bahwa lebih mencintai mereka yang lahir dari rahimnya. Pertanyaan ini membuatnya merasa terganggu dan malu. Ia kemudian dengan rajin merenungkan penghancuran dan akhirnya mencapai arahat. Ketika pertanyaan lama ditanyakan kembali, Ia jawab bahwa ia tidak lagi menyayangi sesuatu secara khusus. Bhikkhu-bhikkhu yang mendengarnya tidak mempercayai jawabannya dan melaporkan 2 jawaban berbeda ini pada Sang Buddha. Sang Buddha: "Anak-Ku berkata benar..Jawabannya sekarang lain karena ia sekarang telah mencapai arahat sehingga tidak lagi menyayangi sesuatu yang khusus. Dengan pikiran terarah benar anak-Ku telah membuat dirinya berada pada suatu kehidupan baik, yang bukan diberikan oleh ayah maupun ibu"
Contoh ke-2:
Kitab komentar Dhammapada syair no.381 (dibuat setelah abad masehi), menceritakan kisah Vakkali yang sangat berbeda dengan sutta SN 22.87 di atas
    Sebagai seorang bhikkhu, Vakkali selalu dekat dengan Sang Buddha dan Ia tidak lagi memperhatikan tugasnya sebagai bhikkhu juga tidak melatih samadhi.

    Karena itu Sang Buddha berkata padanya, "Vakkali, takkan bermanfaat bagimu untuk selalu dekat dengan-Ku, memperhatikan wajah-Ku. Kamu harus berlatih samadhi, sebab hanya Ia yang melihat Dhamma akan melihat-Ku. Ia yang tidak melihat Dhamma takkan melihat-Ku”

    Ketika mendengar kata-kata itu, Vakkali sangat tertekan. Ia meninggalkan Sang Buddha, menuju bukit Gijjhakuta untuk bunuh diri dengan melompat dari puncak bukit.

    Sang Buddha mengetahui keadaan ini, yang akan membuatnya melepaskan kesempatan mencapai kesucian.

    Oleh karenanya, Sang Buddha, membuat "bayangan" seolah-olah berada di hadapannya. Ketika Sang Buddha berada dekatnya, segera Vakkali melupakan kesedihannya dan menjadi sangat gembira[..]

    Ketika ia menjadi arahat ia dianugerahi gelar etadaggam saddha’dhimuttanam, Ia berkeyakinan paling kuat diantara para Bhikkhu
VINAYA memuat 2 aturan tentang orientasi, perubahan gender:
  1. Jika seorang Pandaka telah menjadi Bhikkhu, maka ia harus lepas jubah.

    Peraturan ini muncul karena seorang Pandaka tidak mampu mengendalikan hasrat seksualnya, merayu para Bhikkhu, Samanera dan beberapa umat awam, maka munculah aturan diatas. Di Thailand, mereka yang kemayu masih diperbolehkan menjadi samanera

  2. Jika seseorang berubah kelamin, jika menjadi wanita ia menjadi bhikkuni dan berlaku sebaiknya. [↑]

[12] Kata "Ekodakībhūtaṃ":
    Ekadā = once, at one time, at the same time, at one time, once upon a time; Ekodibhāva = onepointedness; concentration;
    Ekodi= [Ekodi] (adj.) [most likely eka + odi for odhi, see avadhi2 & cp. avadahati, avadahana, lit. of one attention, limited to one point. Thus also suggested by Morris J.P.T.S. 1885, 32 sq. The word was Sanskritised into ekoti, e. g. at M Vastu iii.212, 213; Lal. Vist. 147, 439] concentrated, attentive, fixed A iii.354; Nd1 478. Usually in compn. with kṛ & bhū (which points however to a form ekoda° with the regular change of a to i in connection with these roots!), as ekodi-karoti to concentrate M i.116; S iv. 263; °bhavati to become settled S iv.196; v.144; °bhūta concentrated Sn 975; °bhāva concentration, fixing one's mind on one point D i.37; iii.78, 131; A i.254; iii.24; Vism 156 (expld. as eko udeti); Dhs 161 (cp. Dhs trsln. 46); DhsA 169; Nett 89.
    Mungkinkah “Ekodakībhūtaṃ” berasal dari Eka + odaka + bhuta? Yang digunakan bukan “odaka” (= udaka = cairan/air) namun “odaki”. Kata odakī/udakī tidak ditemukan artinya; bhūta = dari bhavati, Vedic etc. bhūta, grown, become; born, produced; nature as the result of becoming, being, that which is, i. e. natural, genuine, true; nt. truth; all that exists, physical existence in general. → sehingga artinya dipaksakan menjadi "satu bentukan cair"?
Untuk itu arti yang digunakan sebaiknya "materi terkonsentrasi".

Arti yang berhubungan dengan "cairan" pada permulaan dunia mempunyai kemiripan dengan Rig Veda dan Brihadâranyaka Upanishad. Berikut dari Rgveda 10.129. [Orang suci: Prajapati Paramesthi; Dewa: Bhavavrtta; Metre: Tristupa]:
  1. Tiada yang termanifestasikan atau tak termanifestasikan. Sehingga tiada debu dan tiada langit di luarnya. Apa yang melingkupinya, di mana naungannya? Apa suara yang dalam dan tak-terjelaskan itu?
  2. Tiada kematian atau keabadian. Tiada perbedaan antara siang dan malam. Hanya Ia atas kehendakNya sendiri tanpa udara. Tiada apapun selain itu.
  3. Sebelumnya hanya ada kegelapan, semuanya ditutupi kegelapan. Semuanya hanya cairan yang tak terpisahkan (Salila). Apapun itu, ditutupi dengan kekosongan. Yang satu lahir dari panas.
  4. Sebelum itu (sebelum penciptaan) keinginan (untuk mencipta) bangkit dari diriNya, lalu dari pikiranNya bibit pertama lahir. Manusia yang bijak dalam berpikir menemukan yang termanifestasikan terikat dengan yang tak-termanifestasikan.
  5. Cahayanya menyebar menyamping, ke atas dan bawah. Ia menjadi pencipta. Ia menjadi besar atas kehendaknya sendiri ke bawah dan atas.
  6. Siapa yang tahu, siapa yang akan memberitahu dari mana dan mengapa penciptaan ini lahir, karena dewa-dewa lahir setelah penciptaan ini. Sehingga, siapa yang tahu dari siapa semesta ini dilahirkan.
  7. Dari siapa penciptaan ini dilahirkan, Ia mendukung atau tidak. Ia bertahta di langit tertinggi, mungkin Ia tahu atau mungkin tidak.
Keadaan sebelum penciptaan hanya kosong. Belum ada ruang maupun waktu.
    "Pada mulanya sama sekali tiada apapun. Tiada surga, tiada bumi dan atmosfer." -Taittiriya Brahmana 2.2.9.1
Evolusi semesta dimulai dengan naiknya temperatur. Mantra ke-3, penyebab semesta adalah tapa. Tapa berarti memanaskan, membuat panas.

Yang ada hanya kegelapan dan Salila (Rgveda 10.129.3). Salila berarti air. Dalam mantranya, Salila didahului oleh "apraketa" yang berarti tak terdiferensiasi. Salila merupakan istilah teknis dijelaskan dengan baik dalam sebuah mantra di Satapatha Brahmana. Mantra 11.1.6.1 menyatakan bahwa Apah sebelumnya adalah Salila. Sehingga Apah dan Salila berarti air. Jika maksudnya adalah air, mantra ini menjadi tidak masuk akal sama sekali. Jelaslah bahwa Apah dan Salila merupakan istilah teknis dan tidak dapat ditukar pemakaiannya. Salila adalah keadaan pertama dari semesta, ketika tak ada apapun. [Dikutip dari, "Vedic Physic-Scientific Origin of Hinduism", Oleh: Raja Ram Mohan Roy] [↑]

[13] Milanda Panha, bukanlah kanon pali konsili ke-1 s/d konsili ke-4. Diakui menjadi bagian tipitaka di konsili ke-5 [tahun 1871 M] hanya oleh Myanmar sementara Thailand dan Srilanka tidak mengakuinya. Milanda Panha ditulis dalam bahasa Gandhari/sanskrit, dikompilasi pada 100 SM s.d 200 M ["A Handbook of Pāli Literature", Hinüber, Oskar von (1996/2000), Berlin: Walter de Gruyter. hal.83-86], mengapa ini meragukan, kita ambil contoh Bab II, Kelahiran kembali no.7, dalam buku, "PERDEBATAN RAJA MILINDA - Ringkasan Milinda Panha, BHIKKHU PESALA:
    Raja Milanda: "Apakah Anda, Nagasena, akan terlahir kembali?"/ Bhikkhu Nagasena: "Apa gunanya menanyakan hal itu lagi? Bukankah telah saya katakan bahwa jika saya mati dengan nafsu keinginan di pikiran saya, maka saya akan terlahir kembali? Jika tidak, ya tidak."
TIDAK ADA jawaban tegas: "Ya" atau "Tidak" atau "terlahir beberapa kali karena saya telah mencapai tingkat kesucian tertentu" atau kalimat lain yang mengindikaskan dirinya bukan puthujjana.

Mengapa ini menarik?

Di bagian pembukaan buku tersebut terdapat kalimat, "Sebagai hasil dari percakapan ini, baik si wanita maupun Nagasena mencapai dhammacakkhu: pengetahuan bahwa apa pun yang mempunyai awal juga pasti bersifat mempunyai akhir (sotāpanna). Assagutta kemudian mengirim Nagasena pada Dhammarakkhita di Taman Asoka di Pataliputta. Di sana, dalam waktu 3 bulan, Nagasena telah menguasai kitab-kitab Tipitaka lainnya. Dhammarakkhita mengingatkan muridnya agar tidak hanya puas dengan pengetahuan dari buku saja. Pada malam hari itu juga, Nagasena -si murid yang rajin itu- mencapai tingkat Arahat. Kemudian dia pergi bergabung dengan para Arahat lainnya yang masih tinggal di Himalaya. Setelah menyelesaikan pendidikannya, Nagasena siap untuk berdebat dengan siapa pun."

Jadi, bagaimana mungkin seorang yang dikatakan telah mencapai tingkat ARAHAT masih tidak tahu apakah dirinya masih terlahir kembali atau tidak?! Bahkan, di Sutta saja seorang sotāpanna sekalipun MAMPU dan dapat MENGUMUMKAN dirinya telah mencapai tingkat kesucian sotāpanna [AN 10.92/vera sutta]

Mungkin saja, ada yang menyikapi keanehan ini dengan dalih aturan vinaya parajika ke-4 dan paccittiya no.8:
    Parajika ke-4:
    Bhikkhu siapa saja, apabila tanpa pengetahuan mendalam, membual tentang pencapaian daya supramanusia —— dengan merujuk ke dirinya —— pengetahuan dan penglihatan yang hanya dimiliki kaum Ariya, ’Saya mengetahui seperti ini, saya melihat seperti ini’ ; suatu ketika setelah itu, apakah saat sedang disidik, atau saat tidak disidik, ia yang telah melakukan pelanggaran, ingin membersihkan diri dengan berkata demikian, ’Awuso, saya berkata 'Saya mengetahui', padahal tidak mengetahui, 'Saya melihat', padahal tidak melihat; saya telah bercakap kosong, berdusta,’ (maka ia) pun telah takluk (parajika), tak lagi sepepersekutuan." [Vinaya pitaka, suttavibhanga vol.1, terjemahan YM Bhikkhu Thitayanno, cetakan 2006, hal 214-215]

    Paccittiya no.8:
    Bhikkhu mana saja yang menyampaikan pencapaian daya supramanusianya, meskipun itu kenyataaan, pada orang awam, maka ia melanggar Paccittiya

    Pencapaian daya supramanusia:
    Jhāna [1 s.d 4], kebebasan [kekosongan, tanpa atribut, tanpa pengharapan], samādhi [kekosongan, tanpa atribut, tanpa pengharapan), pencapaian [kekosongan, tanpa atribut, tanpa pengharapan], pengetahuan [3 pengetahuan], dan penglihatan, pengembangan Magga [4 landasan sati, 4 daya-upaya benar, 4 sarana keberhasilan, 5 kecakapan, 5 kekuatan, 7 faktor pencerahan, 8 jalan mulia]; perwujudan phala (Sotapatti, Sakadagami, Anagami, Arahatta]; penanggalan kotoran mental [nafsu, kebencian, kegelapan]; mental yang terbebas dari rintangan [nafsu, kegelapan mental]; kesukaan di tempat sepi [dengan jhana 1 s.d 4] [Ibid. hal. 211-221]

    Perbedaan hukuman antara Parajika vs paccittiya:

    • Parajika, kalah, lepas jubah tidak lagi sebagai bhikkhu, tidak dapat lagi menjadi bhikkhu hingga wafatnya.
    • Paccittiya [pacinati, "untuk mengetahui" dan artinya "agar diketahui", sehingga ia mengakui apa yang dilakukan dihadapan bhikkhu tertentu [atau ketika pembacaan patimokkha, ia ingat, saat itulah ia memberitahu bhikkhu sebelahnya, kemudian berjanji setelah pembacaan patimokkha selesai, ia akan mengakui. Namun, jika janji tersebut tidak ditepati, maka hal tersebut berubah menjadi dukkata]

      Bentuk pengakuannya, misalnya seperti tercantum di Cullavagga IV.14.30:

      Yang melakukan: Ahaṃ āvuso itthannāmaṃ āpattiṃ āpanno. Taṃ paṭidesemi [Kawan, Saya telah melakukan ...., saya akui itu]
      Yang menerima: Passasi? ["apakah telah kawan lihat?"]
      Yang melakukan: Āma, passāmi, [ya, saya telah melihatnya]
      yang menerima: Āyatiṃ saṃvareyyāsi [engkau seharusnya lebih melatih dirimu kelak]

      Pada MN 104, terdapat beberapa variasi formulasinya, jika bhikkhu yang mengakui itu adalah junior, maka, pertama-tama Ia atur bagian atas jubahnya terbuka di satu bahu, melakukan namakkāra/namaskara pada senior, duduk bersimpuh dan beranjali, melakukan pengakuan, pada akhir pengakuan bhikkhu senior menyarankan agar melatih diri dengan mengatakan: Āyatiṃ saṃvaraṃ āpajjeyyāsi. [Engkau seharusnya mampu mengendalikan diri kelak]
      Yang melakukan: Saṃvaraṃ āpajjissāmi. [saya akan lebih dapat mengendalikan diri]
Melihat aturan di atas, tampak masuk akal mengapa Bhikkhu nagasena berkelit tidak tegas, bukan?! Namun masalahnya, sutta juga mencatat beberapa Bhikkhu Arahat secara terbuka menyampaikan pencapaian SUPRAMANUSIAnya, misal:
    MN.124/Bakkula Sutta: Antara YM Bakkula dan Acella Kassapa (kalangan awam, bukan Buddhis), YM Bakkula mengaku: " dalam 80 tahun sejak aku meninggalkan keduniawian aku tidak ingat ada persepsi keinginan indria..aku tidak ingat ada persepsi kehendak buruk/permusuhan ... persepsi kekejaman..pikiran keinginan indria..pikiran kehendak buruk ... pikiran kekejaman yang pernah muncul padaku."
    [..]
    "Teman, selama 7 hari setelah meninggalkan keduniawian aku memakan dana makanan dari desa sebagai seorang penghutang; pada hari ke-8 pengetahuan akhir muncul."

    → YM Bakkula menyampaikan bahwa Ia telah mencapai berbagai tingkat pencapaian supramanusia dan arahat.

    MN.44/Cūḷavedalla Sutta, antara YM Bhikkhunī Dhammadinnā dan Visakha (anagami, dulunya suami Dhammadina), YM Dhammadinna: "Teman Visākha, engkau melewati batas mengajukan pertanyaan terlalu jauh, engkau tidak mampu menangkap batasan pertanyaan-pertanyaan. Karena kehidupan suci, teman Visākha, berlandaskan pada Nibbāna, memuncak dalam Nibbāna, berakhir dalam Nibbāna.[..]"

    → YM Dhammadinna menyampaikan bahwa tingkat pencapaiannya melebihi Visakha
Jika ini melanggar, mengapa mereka secara terbuka menyampaikan?

Menggunakan alasan dengan aturan Parajika ke-4 dan paccittiya no.8 TIDAKLAH TEPAT, karena aturan ini terkait PELANGGARAN dalam BERBERPENGHIDUPAN BENAR sebagai BHIKKHU, yaitu ketika itu di daerah Vajji terjadi kesulitan pangan dan agar mendapatkan kemudahan dalam memperoleh kebutuhan para Bhikkhu tertentu melakukan cara tidak terpuji mengaku-ngaku telah mencapai berbagai tingkat pencapaian. Alhasil, karena “Pencapaian” itu, di musim sulit itu, mereka mendapatkan banyak kemudahan dan penghormatan.

Sementara di MN no. 124 dan no.44, para Bhikkhu/ni Arahat yang secara terbuka menyampaikan pencapaiannya TIDAK BERKAITAN dengan tujuan agar mendapatkan kemudahan mendapatkan kebutuhan para bhikkhu. Lebih lanjut lagi, Vinaya Pitaka, Suttavibhangga vol.1, di dalam Vinītavatthu, beberapa bhikkhu mengakui pencapaian di hadapan umat awam dan TIDAK TERKAIT urusan berpenghidupan benar dan tidak berkoar, TIDAKLAH MELANGGAR, misal:
    Ketika itu, sanak famili seseorang bhikkhu berkata padanya, "Datanglah, Bhante, nikmatilah kesenangan indriawi." "Saya, Awuso, sudah kedap terhadap kesenangan indriawi." Muncul penyesalan.… "Bhikkhu, bukanlah suatu pelanggaran bagi dia yang tidak bermaksud untuk berkoar."

    Ketika itu, sanak famili seseorang bhikkhu berkata padanya, "Bersenang-senanglah, Bhante." "Saya, Awuso, bersenang-senang dalam kesenangan tertinggi." Muncul penyesalan pada dirinya. "Mereka yang betul-betul siswa Sang Bhagawan boleh berkata demikian. Tetapi, saya bukanlah siswa Sang Bhagawa. Jangan-jangan saya telah melakukan pelanggaran parajika?" Ia melaporkan kejadian ini pada Sang Bhagawan. "Bhikkhu, apa yang ada dalam benak Anda?" "Saya tidak bermaksud untuk berkoar, Bhagawan." "Bhikkhu, bukanlah suatu pelanggaran bagi dia yang tidak bermaksud untuk berkoar."
Lantas bagaimana dengan Bhikkhu Nagasena, dalam kasus di atas?

Kisah pada bagian pengantar buku, yang menyatakan Bhikkhu Nagasena adalah arahat, jelas 100% keliru karena BUKU ke-1: Pubba Yoga, hal.6, disebutkan time frame kejadiannya ada di 500 tahun setelah parinibannanya sang Buddha (Atha amhākaṃ bhagavatāpi..evametepi dissanti mama parinibbānato pañcavassasate atikkante). Malah, di jaman itu, bahkan untuk Sotapannapun, sudah tidak lagi ada. Alasan lainnya ada di Bab.VIII no.7, Raja Milanda bertanya tentang hal yang dianggapnya bertentangan yaitu pernyataan sang Buddha pada Subbadha "Selama para bhikkhu Sangha masih menjalani kehidupan suci yang sempurna maka dunia ini takkan kekurangan Arahat"[↑] VS "Setelah pentahbisan para wanita, Sang Buddha berkata bahwa ajaran yang murni itu hanya akan bertahan selama 500 tahun"

Pertanyaan ini, takkan ditanyakan jika MEREKA hidup di kisaran 500 tahun batasan umur Dhamma sejati, bukan?!
--------
Catatan tentang Bakkula Sutta:
  1. Ada 4 sutta tentang para petapa Acela/petapa telanjang bernama Kassapa, yaitu: (1) DN 8/Mahasihanada sutta, lokasi: taman rusa, Kosala, ditahbiskan Sang Buddha. (2) SN 12.17/Acela Kassapa Sutta, Lokasi: Hutan bambu, taman Tupai, Rajagaha, Maghada, ditahbiskan Sang Buddha. (3) MN 124/Bakkula Sutta, Lokasi: Hutan bambu, taman Tupai, Rajagaha, Maghada, ditahbiskan Bakkula dan (4) SN 41.9/Acela Kassapa Sutta, lokasi: Macchikasanda, Kosala, diajak Citta ke suatu tempat menemui Bhikkhu senior untuk ditahbiskan. Tampaknya, MN 124 dan SN 41 mempunyai benang merah penahbisan walaupun nama bhikkhu senior tidak disebutkan, namun ada kemungkinan ini adalah Bakkula

  2. Kalimat: Kīvaciraṃ pabbajitosi, āvuso bākulā”ti? “Asīti me, āvuso, vassāni pabbajitassā”ti ("Sudah berapa lama engkau meninggalkan keduniawian, Teman Bakkula?” “Sudah 80 tahun aku meninggalkan keduniawian, Teman”), menurut Papañca Sūdanī [karangan Buddhaghosa]:

    • YM. Bakkula menjadi bhikkhu diusia 80 dan berumur 160 saat sutta ini. Ia dinyatakan Sang Buddha sebagai siswa terunggul dalam kesehatan.
    • Paragraf yang diapit tanda kurung pada sutta ditambahkan para sesepuh konsili ke-2 (100 tahun setelah Sang Buddha Parinibbāna).

    "Pabbajitta" (Meninggalkan keduniawian) adalah kata umum untuk petapa/yang meninggalkan keduniawian di ajaran India (Buddhis atau bukan), misal SN 41.9/Acela kassapa sutta, Citta (umat awam penganut Buddhism) bertanya pada Petapa telanjang (Acela) Kassapa (aliran Jainism), "kīvaciraṃ pabbajitassa, bhante kassapā”ti? “Tiṃsamattāni kho me, gahapati, vassāni pabbajitassā”ti (Sudah berapa lama engkau meninggalkan keduniawian, YM Kassapa? "Sudah 30 tahun, aku meninggalkan keduniawian, perumah tangga").

    Jadi 80 tahun meninggalkan keduniawian termasuk ketika Ia menjadi petapa aliran lain saat bersama Kassapa yang diajaknya bicara.

    Kalimat awal di MN 124/Bakkula sutta, yaitu "Evaṃ me sutaṃ" (demikian yang kudengar), adalah ciri sutta dari YM Ananda (wafat banyak tahun SEBELUM konsili ke-2).

    Kemudian,
    kalimat "tidak ingat ada persepsi keinginan indria [kāmasaññā] ..pikiran kekejaman [vihiṃsāvitakka] pernah muncul padaku" bukan hanya terjadi pada arahat namun juga pada yang mencapai Jhana ke-1 (AN 6.74) [↑] [↑] [↑, Dhamma-kaya]

[14] 32 Ciri-ciri manusia agung, di DN.30/lakkhana sutta, DN.14/Mahapadana Sutta dan MN 91/Brahmāyu Sutta [Disamping 32 ciri, juga cara berdiri, berjalan, duduk, makan, minum, mencuci dan lainnya. Ini diamati Uttara, Murid Brahmayu selama 7 bulan]:
  1. bertelapak kaki rata [suppatiṭṭhita pāda]
  2. Di telapak kaki terdapat gambar roda-roda dengan seribu jeruji, lengkap dengan lingkar dan sumbunya [heṭṭhā, pāda, talesu cakkāni jātānihonti sahassārānisa, nemikāni sa, nābhikāni sabbākāra paripūrāni]
  3. Tumit menonjol [āyata paṇhi]
  4. Jemari tangan dan kaki panjang [dīgh’aṅguli]
  5. Tangan dan kaki lunak dan lembut [mudutaluna hatthapāda]
  6. Tangan dan kaki menyerupai jarring [jāla hatthapāda]
  7. Pergelangan kaki agak lebih tinggi [ussaṅkha pāda]
  8. Kaki menyerupai kaki rusa [eṇi jaṅgha]
  9. Berdiri tanpa membungkuk, dapat menyentuh lutut dengan tangan [ṭhitako’va anonamanto ubhohi pāṇitalehi]

    note:
    Ketika berjalan, kaki kanan melangkah terlebih dulu, langkah kaki tidak terlalu jauh atau dekat, tidak terlalu cepat atau lambat, tanpa kedua lutut beradu. tanpa mengangkat atau menurunkan paha dan tanpa merapatkan atau merenggangkannya. Hanya bagian bawah tubuh yang bergerak, dan berjalan tidak dengan usaha tubuhnya. [MN 91]

  10. Kelamin yang terbungkus kain ['kosohita vatthaguyha': kosohita = tersembunyi, terselubung, terbungkus; vatthaguyham = tertutup kain]

    note:
    "32 tanda yang kupelajari
    adalah tanda-tanda Manusia Luar Biasa –
    Aku masih belum melihat 2 tanda
    Pada tubuhMu, Gotama.

    Apa yang terbungkus kain
    Terselubung dalam lapisan penutup
    , manusia utama?
    sehubungan dengan jenis perempuan,

    Lidah yang tidak terlihat?
    Mungkinkah lidahmu lebar,

    Sesuai dengan apa yang telah kami pelajari?
    Sudilah memperlihatkannya sedikit
    Dan dengan demikian, O Yang Bijaksana, mengobati keragu-raguan kami
    Demi kesejahteraan dalam kehidupan ini
    Dan kebahagiaan dalam kehidupan mendatang
    Dan sekarang kami memohon izin untuk bertanya
    Tentang hal yang sangat ingin kami ketahui." [MN 91]

  11. Kulit cerah, berwarna keemasan [suvaṇṇavaṇṇo hoti kañcana sannibhattaca]
  12. Kulit halus, dan karena halusnya, debu dan kotoran tak menempel di tubuhnya [sukhumacchavi hoti sukhumattā chaviyā rajo jallaṁ kāye na upalimpati]
  13. Bulu-bulu badan terpisah, satu untuk masing-masing pori-pori [ekeka lomo hoti ekekāni lomāni loma kūpesu jātāni]
  14. Ujung bulu badan menghadap ke atas; bulu badan yang menghadap ke atas berwarna hitam-kebiruan, keriting dan melingkar ke kanan [uddhaggalomo hoti uddhaggāni lomāni jātāni nīlāni añjana,vaṇṇāni kuṇḍalā vaṭṭāni dakkhiṇā vaṭṭaka jātāni]
  15. Tubuh tegak [brahmuju gatta]
  16. Memiliki 7 bagian yang menggembung [sattussada]
  17. Bagian depan tubuh bagaikan bagian depan tubuh singa [sīha pubbaddhakāya]
  18. Tidak ada cekungan antara bahu-bahu [citantaraṁsa]
  19. memiliki rentangan pohon banyan; rentang kedua lengan sama dengan tinggi badan, dan tinggi badan sama dengan rentang kedua lengan [nigrodhaparimaṇ-ḍalo hoti, yāvatakvassa kāyotāvatakvassa byāmo yāvatakvassa byāmo tāvatakvassa kāyo]
  20. lengkungan bahu bundar [samavaṭṭakkhandha]
  21. Indria pengecap yang sempurna [rasaggasaggī]
  22. Rahang seperti rahang singa [sīhahanu]
  23. Memiliki 40 gigi [cattālīsa danta]
  24. Gigi rata [sama danta]
  25. Tidak ada celah antara gigi. [aviraḷa danta]
  26. Gigi putih cemerlang [susukka dāṭha]
  27. Lidah panjang dan lebar [pahūta jivha]
  28. Memiliki suara menyerupai Brahmā, seperti suara burung karavīka [brahmassaro hoti karavīkabhāṇī]
  29. Mata biru gelap [abhinīla-netta]
  30. Bulu mata menyerupai bulu mata sapi [gopakhuma]
  31. Rambut di antara alis berwarna putih dan lembut seperti kapas [uṇṇā bhamukantare jātā hoti odātā mudu tūla sannibhā]
  32. Bentuk kepala menyerupai turban [uṇhīsasīsa]
Jika 32 tanda fisik itu satu persatu, maka ini akan tampak aneh dan tidak normal, padahal sutta-sutta juga menyatakan penampilan Buddha Gautama adalah seperti para Bhikkhu lainnya, misalnya Pangeran Ajjasattu tidak mengenali Sang Buddha dalam kumpulan Bhikkhu yang sedang bersila [DN.2/Samaññaphala Sutta]; Penjaga taman hutan bambu taman rusa tidak mengenali sang Buddha [MN 128/Upakkilesa Sutta] dan Pukkhusati, raja kerajaan Gandhara yang menjadi Bhikkhu dan hendak bertemu Sang Buddha, ketika bertemu, TIDAK MENGENALI beliau adalah Buddha [MN 140/Dhatu Vibhangga sutta]. Ini mengindikasikan perawakan dan penampilan beliau tidak berbeda dengan bhikkhu lainnya

Apakah seorang Sammasambuddha HARUS laki-laki? Ya.
    Aṭṭhānametaṃ anavakāso yaṃ itthī arahaṃ assa sammāsambuddho. Netaṃ ṭhānaṃ vijjati.. [Adalah mustahil tidak mungkin arahat perempuan adalah sammasambuddha. Itu tidak dapat terjadi..]. Ṭhānañca kho etaṃ.. vijjati yaṃ puriso arahaṃ assa sammāsambuddho. Ṭhānametaṃ vijjatī.. [Dapat sekali terjadi arahat pria adalah Sammasambuddha. Itu dapat terjadi..]

    Aṭṭhānametaṃ, bhikkhave, anavakāso yaṃ itthī rājā assa cakkavattī. Netaṃ ṭhānaṃ vijjati. Ṭhānañca kho etaṃ, bhikkhave, vijjati yaṃ puriso rājā assa cakkavattī. Ṭhānametaṃ vijjatī
    [Adalah mustahil tidak mungkin raja perempuan adalah raja sejagat, itu tidak dapat terjadi. Yang dapat terjadi raja pria adalah raja sejagat, itu dapat terjadi]

    Aṭṭhānametaṃ, bhikkhave, anavakāso yaṃ itthī sakkattaṃ kāreyya ... mārattaṃ kāreyya ... brahmattaṃ kāreyya. Netaṃ ṭhānaṃ vijjati. Ṭhānañca kho etaṃ, bhikkhave, vijjati yaṃ puriso sakkattaṃ kāreyya ... mārattaṃ kāreyya ... brahmattaṃ kāreyya. Ṭhānametaṃ vijjati
    [Adalah mustahil tidak mungkin ke-sakka-an (pemimpin alam Tavatimsa) perempuan....ke-mara-an (salah satu raja alam vassavati) perempuan ... ke-brahma-an perempuan, itu tidak dapat terjadi. Yang dapat terjadi ke-sakka-an pria...ke-mara-an pria...ke-brahmaan pria, itu dapat terjadi]

    [MN 115/Bahudhatuka Sutta, juga AN.1.15 (279-283)/ Atthana Vagga]
    Note:
    Akhiran "+ttam" (di sakkhatam, marattam, brahmattam) artinya "berhubungan/sehubungan dengan". Arti Purisa: Pria, Individual, kata pali: 'itthi' dan 'Purisa' tidak selalu dalam konteks jenis kelamin namun juga sifat (kewanitaan, kepriaan, lihat: purisa dan Porisa; jugaItthi & Itthī).
TIDAK BERARTI mereka yang kelak menjadi sammasambuddha (atau cakkavatti raja, Sakka, Mara atau Brahma) pada kehidupan-kehidupan sebelumnya TIDAK PERNAH menjadi perempuan, mereka pernah terlahir sebagai perempuan, pria atau banci atau jenis lainnya, misal Sang Buddha Gautama pernah terlahir 2x sebagai wanita, 1x menjadi ibu angsa 1x. Boddhisatta/calon Buddha Maitreya pernah terlahir sebagai wanita [Lihat Jataka, translate ke India pada abad ke-3, vol.1 no. 19.71-73, tahun 1962]. Arahat lainnya, misal Ananda (sekretaris Sang Buddha) pernah terlahir sebagai perempuan dan juga sebagai pandaka [banci].

Walaupun Sammasambuddha harus laki-laki, namun pencapaian kesucian arahat tidak ada urusannya dengan GENDER, contohnya di nasehat Arahat Bhikkhuni Soma pada Mara:
    [Mara:]
    Yaṃ taṃ isīhi pattabbaṃ ṭhānaṃ durabhisambhavaṃ;
    Na taṃ dvaṅgulapaññāya sakkā pappotum itthiyā

    [Suatu keadaan sulit yang hanya dicapai para resi
    Tidak dicapai perempuan yang kebijaksanaanya hanya 2-jari saja]

    [Bhikkhuni Somā:]
    Itthibhāvo kiṃ kayirā cittamhi susamāhite;
    Ñāṇamhi vattamānamhi sammā dhammaṃ vipassato

    [Apa urusannya keperempuanan dengan pikiran yang terpusat,
    proses berlangsungnya pengetahuan dan terlihat jelasnya Dhamma dengan benar?]

    Yassa nūna siyā evaṃ Itthāhaṃ purisoti vā Kiñci vā pana aññasmi;
    Taṃ māro vattumarahatī

    [Siapapun yang berpikir ini, ‘Aku adalah perempuan atau laki-laki, atau aku lainnya’
    itu adalah pembicaraannya mara]. [SN 5.2/Soma Sutta]
Kemudian,
TIDAK BERARTI Brahma berjenis kelamin
Di DN27/agganna sutta: Setelah jatuh dari alam Brahma dan dalam kurun waktu yang lama sekali, barulah alat kelamin laki dan perempuan para mahluk ada. Di DN 13/Tevijja sutta walaupun dinyatakan para Brahma tidak terbebani istri dan kekayaan namun ini tidak berarti ini menunjukan adanya jenis kelamin, karena para mahluk brahma tidak tertarik sensualitas [pencapaian alam ini adalah mulai jhana ke-1, yaitu setelah melampaui rintangan sensualitas (kama), sehingga kelahiran menjadi mahluk itu tidak diperlukan bentuk seksual],

Mengenai wanita,
Sang Buddha menyampaikan pada raja Pasenadi, keunggulan anak wanita dibandingkan lelaki:
    “Seorang perempuan, O, Raja manusia. Dapat lebih baik daripada seorang lelaki: Ia mungkin menjadi bijaksana dan bermoral, Seorang istri yang baik, menghormati mertuanya bagai Deva. Putra yang ia lahirkan Mungkin menjadi seorang pahlawan, O, Raja manusia. Putra dari seorang perempuan yang terberkahi itu Mungkin bahkan akan memerintah wilayahnya” [SN 3.16/Mallika Sutta, Puteri]

    Note:
    Raja Pasenadi dari kerajaan Kosala, walaupun mempunyai beberapa istri namun tidak punya anak lelaki. Kemudian, agar dapat mempunyai hubungan kekerabatan dengan Sang Buddha, juga untuk mendapatkan anak lelaki, maka Raja Pasenadi mengirim utusan ke Kapilavatthu agar dapat menikahi seorang putri dari suku Sakya. Saat itu, posisi suku Sakya adalah pelayan raja Kosala [DN 27/Agganna Sutta]. Suku Sakya enggan mengabulkan permintaan ini, namun takut juga dengan kemarahan raja Kosala, jika menolaknya. Untuk itu, dalam suatu rapat suku Sakya, diputuskan untuk memberikan Vāsabhakhattiyā, putri raja Mahānāma yang lahir dari seorang budak wanita. Raja Pasenadi, mengangkat Vāsabhakhattiyā menjadi Permaisuri dan dari perkawinan ini, lahirlah seorang putera yang bernama Vidudabha. Ketika Vidudabha berusia 16 tahun, Ia berkunjung ke Kapilavatthu, di sana, ia mendengar perkataan seorang budak wanita bahwa Vidudabha cuma anak seorang budak. Raja Pasenadi akhirnya tahu bahwa wanita yang dinikahinya ternyata anak seorang budak wanita, Ia merasa tertipu dan marah besar, Ia cabut atribut kehormatan isteri dan putranya itu namun pada akhirnya, Raja Pasenadi memulihkan kembali status mereka. Vidudabha menjadi mendendam karena merasa terhina dan bersumpah akan menghancurkan suku Sākya.

    Ketika Pasenadi berusia 80 tahun, Sang Buddha juga berusia 80 tahun dan di tahun itu, Raja Pasenadi pergi berkunjung kepada Sang Buddha yang sedang berada di Medatalumpa/Ullumpa. [MN 89/Dhammacetiya]. Saat itulah Vidudabha merampas tahta Kosala. Mengetahui pemberontakan ini, raja Pasenadi bergegas menuju Rajagraha untuk meminta bantuan Ajātasattu (pernah dipulihkan tahtanya oleh Pasenadi, ketika Ajatasattu kalah darinya dan juga telah menjadi menantunya karena dinikahkan dengan anak perempuannya, Vajira). Namun ketika Pasenadi tiba di Rajagaha, hari sudah malam, gerbang kota telah ditutup. Kelelahan akibat perjalanan tersebut, malam itu juga, raja Pasenadi wafat

    Vidudabha, Raja baru Kosala, ingat akan sumpahnya untuk membalas suku Sakya. Ia kerahkan pasukan menuju Kapilavastu. Sang Buddha, mengetahui bencana ini sulit akibat masaknya kondisi kamma suku Sakya, yang di kehidupan lampau, mereka meracuni sungai untuk membunuh biota sungai.

    Sang Buddha berusaha mengurungkan niat Vidudabha. Untuk itu, beliau pergi menuju perbatasan Kapilavatthu-Kosala, berdiri menunggu di bawah sebuah pohon yang sangat tidak rindang. Pohon ini terletak di area kerajaan Kapilavatthu. Sementara tidak jauh dari situ, di area kerajaan Kosala, terdapat sebuah pohon beringin yang sangat rindangnya. Ketika Vidūdabha, melihat Sang Buddha, Ia memohon agar sang Buddha duduk di bawah pohon beringin yang rindang, sang Buddha mengatakan bahwa sanak keluarganya telah meneduhkannya (karena banyak dari mereka telah menjadi arahat). Mengetahui sang Buddha mencegahnya, Vidūdabha menarik mundur pasukannya. Paparan teriknya sinar matahari akibat menunggu, membuat Sang Buddha menderita sakit kepala yang berlangsung hingga akhir hidupnya (UdA.265; Ap.i.300).

    3x Vidudabha mencoba menyerang, 3x pula sang Buddha menantinya di bawah pohon yang sama, sehingga Vidudabha lagi-lagi menarik mundur pasukannya. Namun ini tetap tidak menghentikan Vidudabha, maka diupayanya yang ke-4x, rupanya Sang Buddha tidak lagi ada menunggu di bawah pohon. Vidūdabha kemudian memerintahkan menyerang dan membunuhi seluruh suku Sakya, termasuk bayi-bayi. Di perjalanan pulang, ketika Ia dan pasukannya beristirahat di tepian sungai, terjadi banjir besar yang menenggelamkan mereka. [kitab Komentar: Dhammapada no.47 dan Jataka no.465; Apadana no.392/Pubbakammapilotika, juga Pallava ke-11 dari Avadānakalpalatā] [↑]

[15] Al Quran:
”...Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat" [AQ 37.96]
"Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab sebelum Kami menciptakannya.." [AQ 57.22]
"Dan tiap-tiap manusia telah Kami tetapkan takdirnya di lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka" [AQ 17.13].

Hadis:
Riwayat Muhammad bin al-Mutsanna dan Ibnu Basysyar - Muhammad bin Ja'far - Syu'bah - Washil al-Ahdab - al-Ma'rur bin Suwaid - Abu Dzar - Nabi SAW:
    "Jibril mendatangiku lalu memberikan kabar gembira kepadaku, bahwa orang yang meninggal dari umatmu dalam keadaan tidak mensyirikkan Allah dengan sesuatu apa pun niscaya masuk surga." Maka aku bertanya: "Meskipun dia berzina dan mencuri?" Jibril menjawab, "Walaupun dia berzina dan mencuri." [Muslim: no.137/1.171, 138/1.172. Bukhari: no.1161, no.2983, no.5379/7.72.717, no.6933/9.93.579]
Riwayat Qa'nabi - Malik - Zaid bin Unaisah - Abdul Hamid bin 'Abdurrahman bin Zaid Ibnul Khaththab - Muslim bin Yasar Al Juhani - Umar Ibnul Khaththab pernah ditanya tentang ayat ini: (Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka) -Qs. Al A'raf: 172- Al Qa'nabi membaca ayat tersebut, lalu Umar berkata, "Aku juga pernah mendengar Rasulullah SAW ditanya tentang ayat itu, lalu beliau menjawab: "Sesungguhnya Allah menciptakan Adam, lalu:

ALLAH MENGUSAP PUNGGUNGNYA (sulbi) DENGAN TANGAN KANAN-Nya hingga keluarlah keturunan Adam dari punggungnya. Kemudian Allah berfirman: "AKU MENCIPTAKAN MEREKA UNTUK MASUK SURGA, dan mereka akan beramal dengan amalan-amalan penduduk surga"

kemudian ALLAH KEMBALI MENGUSAP PUNGGUNG ADAM hingga keluarlah keturunan Adam dari punggungnya. Setelah itu Allah berfirman: "AKU MENCIPTAKAN MEREKA UNTUK MASUK NERAKA, dan mereka akan beramal dengan amalan-amalan penduduk neraka"

Seorang laki-laki bertanya, "Wahai Rasulullah, lalu untuk apa gunanya beramal?"

Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya jika Allah menciptakan seorang hamba untuk masuk ke dalam surga maka Ia akan menjadikannya beramal dengan amalan penduduk surga, sehingga ia mati dengan amalan penduduk surga lalu memasukkannya ke dalam surga.

Dan jika Allah menciptakan seorang hamba untuk masuk ke dalam neraka maka Ia akan menjadikannya beramal dengan amalan penduduk neraka, sehingga ia mati dengan amalan penduduk neraka lalu memasukkannya ke dalam neraka." [Abu Dawud no.4081, Tirmidhi no.3001 (Hadis Hasan), 3002 (Hadis Hasan sahih). Malik no.1395. Ahmad no. 294, 2157, 17000]

Uji kebenaran dan klaim-nya lihat: [DI SINI, DI SINI, DI SINI, DI SINI, DI SINI, DI SINI, DI SINI, DI SINI, DI SINI, DI SINI dan DI SINI] [↑]

[16] Misal di Yohanes 1 Yoh 1:7-9 - "Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa. Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.";

Yesaya 1:18, "Marilah, baiklah kita berperkara! —firman TUHAN—Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba."

Bukan karena perbuatan baik mereka namun karena ketaatan pada allah mereka, Ulangan 9:4-5, “Janganlah engkau berkata dalam hatimu, apabila TUHAN, Allahmu, telah mengusir mereka dari hadapanmu: Karena jasa-jasakulah TUHAN memebawa aku masuk menduduki negeri ini; padahal karena kefasikan bangsa-bangsa itulah TUHAN menghalau mereka dari dari hadapanmu. Bukan karena jasa-jasamu atau karena kebenaran hatimuengkau masuk menduduki negeri mereka tetapi kefasikan bangsa-bangsa itulah, TUHAN, Allahmu menghalau mereka dari hadapanmu dan supaya TUHAN menepati janji yang diikrarkan-Nya dengan sumpah pada nenek moyangmu, yakni Abraham, Ishak dan Yakub.”.

Uji kebenaran dan klaim-nya silakan lihat: [DI SINI, DI SINI, DI SINI, DI SINI, DI SINI, DI SINI dan DI SINI] [↑]

[17] Dasa Paramita/10 Kesempurnaan:
  1. Däna = Dermawan, gemar menolong orang lain.
  2. Sila = Bersih dalam ucapan dan perbuatan.
  3. Nekkhamma = Melepaskan ikatan keduniawian.
  4. Pañña = Kebijaksanaan
  5. Viriya = Tekun, bersemangat, ulet.
  6. Khanti = Sabar, dapat memaafkan kesalahan orang lain.
  7. Sacca = Mencintai kebenaran.
  8. Adithäna = Teguh dalam tekad, tak tergoyahkan.
  9. Metta = Cinta kasih luhur, mencintai semua mahluk tanpa perbedaan.
  10. Upekkhä = Keseimbangan Mental, tak terpengaruh lagi oleh perasaan sukha dan dukkha.
List 10 parami di atas hanya ada di teks belakangan [Buddhavamsa: Sumedha, Komentar Cariyapitaka, Dasa Punnakiriyavatthu (DA 3:999; Compendium 146), Jataka no.173, Dhammapada atthakata 1.84, dll]. Jika tidak sekaligus 10, ada terpencar diberbagai sutta, misal: 4 sarana bermanfaat bagi makhluk lain: "Dāna, peyyavajjaṃ/ucapan ramah, atthacariyā/bantuan bermanfaat, samānattatā/Jujur, adil, tidak memihak dalam bergaul" [AN 4.32/Saṅgahavatthu]; atau di MN 111/Anupada Sutta: "Para bhikkhu, jika menyatakan dengan benar mengenai siapa pun (sammā vadamāno vadeyya): ‘Ia telah mencapai kemahiran (vasippatto) dan kesempurnaan (pāramippatto) dalam: moralitas (sīla) mulia, pikiran terpusat (samādhi), kebijaksanaan (paññāya/sannaya), kebebasan (vimuttiyāti),’..", dan banyak lagi sutta [↑]

[18] Visudhi Magga bab.3 [Karya Buddhaghosa, abad ke-5] memerinci 40 objek samadhi [Kammathana, atau "tempat/objek kerja"]:
  • 10 Kasina/wujud: 4 warna [nīla/biru, pīta/kuning, Lohita/merah, odāta/putih]; 4 bhuta [p athavī/bumi-tanah-landasan, āpo/cairan, vāyo/udara-angin, Tejo/panas] + ākāsa/ruang + viññāṇa/kesadaran

  • 10 Asubha [jelek/buruk], yaitu mayat dalam keadaan: membengkak/uddhumataka; membusuk-bernanah/vipubbaka; berwarna biru-lebam/vinilaka; berceceran setengahnya dalam pembusukan/vicchiddaka; digerogoti hewan/vikkhayittaka; berceceran tangan, kaki, kepala dan tubuh/vikkhitaka; hancur disayat-sayat (1-3 inci)/hatavikkhittaka; berdarah/lohitaka; berbelatung-cacing/puluvaka dan menjadi tengkorak/atthika

  • 10 Anusati:
    3 Tiratna (Buddha, Dhamma, Sangha); 3 Kebajikan (Moralitas/sila, kedermawanan/caga, Deva); Kaya/tubuh: 32 bagiannya; nafas/ānāpāna; kematian/marana dan kedamaian-sentausa/Upasama: mengenali 5 nivarana, hampir di jhana ke-1

  • 4 brahmavihara [cinta kasih-kasih sayang/Metta; welas asih-belas kasihan/Karuna; simpati-empati/Mudita; tenang-seimbang/Upekkha]

  • 4 arupajhana [ruang tak berbatas; kesadaran tak berbatas; tidak ada apa-apapun; bukan persepsi bukan tanpa persepsi]

  • ketidakmenarikan tentang makanan/aharapatikulasanna dan ketidakmenarikan tubuh dalam 4 elemen (padat, cair, panas, udara)/catudatuvavatthana
Di MN 62, dari 7 macam Samadhi, yaitu Brahmavihara (4), asubha, anicca sanna dan ānāpānasati, tampaknya anicca sanna tidak termasuk 40 listnya Buddhaghosa [↑]


[20] Vacchagotta adalah pengembara dari klan Vaccha. Di MN.71/TevijjaVacchagotta Sutta sebagai penganut aliran lain; MN.72/AggiVaccgotta-sutta, sebagai umat awam. Di MN.73/MahaVacchagotta-sutta, menjadi bhikkhu dan mencapai arahat. Ketika itu, ada aturan bagi mereka yang berasal dari aliran lain, harus melalui 4 bulan masa percobaan sebelum dapat ditahbiskan menjadi bhikkhu karena sebelumnya banyak dari aliran lain, setelah menjadi Bhikkhu, tidak beberapa lama kemudian, keluar/dikeluarkan dengan berbagai sebab. Vacchagotta tidak perlu melalui masa itu karena Sang Buddha mengenali perbedaan-perbedaan individual sehingga Ia saat itu pula ditahbiskan, 2 minggu kemudian Ia mencapai Anagami dan diberi arahan lanjutan, tidak lama setelahnya, Vacchagotta mencapai arahat. Berikut ringkasannya:

Sutta MN.71,
Vacchagotta:
“Guru Gotama, adakah perumah tangga yang, tanpa meninggalkan belenggu kerumahtanggaan, pada saat hancurnya jasmani telah mengakhiri penderitaan?”
    Sang Buddha:
    "Vaccha, tidak ada perumah tangga yang, tanpa meninggalkan belenggu kerumahtanggaan [gihisamyojana], pada saat saat hancurnya jasmani telah mengakhiri penderitaan [dukkhassantakaro]."
Kalimat, "tanpa meninggalkan belenggu kerumahtanggaan", banyak dijadikan maskot landasan berpendapat bahwa selagi menjadi perumah tangga, tidaklah mungkin mencapai Arahat.

INI KELIRU, Sang Buddha menyampaikan selagi menjadi umat awam dapat menjadi arahat
    Jika ia mengatakan: ‘Pikiranku telah ditarik dari alam brahmā; aku telah mengarahkan pikiranku pada lenyapnya identitas,’ maka, Mahānāma, aku katakan bahwa tidak ada perbedaan antara seorang umat awam yang terbebaskan dalam mental demikian dan seorang bhikkhu yang telah terbebaskan dalam batin selama seratus tahun, yaitu, antara kebebasan yang satu dan yang lainnya.” [SN 55.54]
Beberapa contoh mereka yang BELUM MENJADI BHIKKHU, namun telah menjadi ARAHAT:
  1. Yasa, arahat pertama kalangan umat awam [Vinaya, Mahakhandaka] dan ayahnya. Ketika muak dengan kenikmatan indriya, muncul Samvega (dorongan untuk menempuh kesucian), Yasa mengucapkan, “Upaddutam vata bho! upassattham vata bho!,” [Aku dalam bahaya, Aku dalam kesulitan besar]
  2. Menteri Santati [Dhammpada Bab.10, syair 142];
  3. Bahiya daruciriya;

    ketika itu sang Buddha tinggal di Jetavana Vihara Anathapindika, dekat Savatthi, Saat itu Bāhiya dārucīriya (yang berpakaian kulit kayu) tinggal di pantai Supparaka sebagai seorang yang dihormati, dipuja, dihargai, dimuliakan, disembah dan mendapat kebutuhan pakaian, makanan, tempat tinggal dan obat-obatan dari masyarakat sekitar

      Note:
      Kitab komentar Dhammapada untuk syair ke-101, memuat kisahnya, sebagai satu-satunya yang selamat ketika kapalnya diserang badai dan Ia terdampar di pelabuhan Supparaka.

    Ketika Bāhiya dārucīriya sedang sendirian dalam keterasingan (rahogatassa paṭisallīnassa), sebuah perenungan muncul di pikirannya (evaṃ cetaso parivitakko udapādi): "Apakah Aku salah satu Arahat di dunia ini, atau sudah memasuki jalan menuju Arahat (arahattamagga)?

      Note:
      Kalimat pali diatas merupakan kalimat standar dari mereka yang sedang menjalani samadhi dan muncul pemikiran dalam perenungannya. Ini dialami juga oleh YM Mahamoggalana (SN 40.1), YM Sariputta (SN 21.2) dan banyak lainnya. Sutta ini menunjukan bahwa di sebelum kemunculan ajaran Buddha, praktek (sila dan) pencapaian samadhi untuk mencapai Jhana dan pencapaian lainnya dilatih pula oleh para petapa lainnya, juga lihat di MN 79/Culasakuludayi Sutta

    Saat itu satu dewata yang pada kehidupan lampaunya adalah kerabat satu hubungan darah dengan Bahiya Daruciriya (purāṇasālohitā) memahami pikiran Bahiya. Karena kasihan dan ingin membantu, dewata itu datang dan berkata pada Bahiya bahwa Ia BUKAN Arahat, TIDAK sedang memasuki arahattamagga, TIDAK mengikuti praktek yang membawanya menjadi Arahat atau memasuki arahattamagga.

      Note:
      Kitab komentar abad ke-5 untuk syair no.101: dewa itu adalah Brahma anagami, sahabatnya dalam menjalani kehidupan pertapaan di kehidupan lampaunya

    Kalau demikian di dunia ini termasuk para dewa, siapakah yang menjadi Arahat atau sudah memasuki arahattamagga?”.

    Sang Dewata menyampaikan bahwa di negeri jauh di suatu kota yang disebut Savatthi ada seorang Arahat Sammasambuddha. Seorang yang benar-benar Arahat dan mengajarkan Dhamma untuk mencapai Arahat

    Kemudian Bāhiya dārucīriya, yang tergugah secara mendalam
    (saṃvejita) oleh kata-kata dewata itu, saat itu juga, berangkat dari Supparaka menuju Savatthi dalam total waktu 1 malam saja (Sabbattha ekarattiparivāsena) sampai ke tempat Sang Bhagava di hutan Jeta, di Vihara Anathapindika

      Note:
      Tampaknya, sebelumnya, Ia telah mempunyai pengetahuan dalam kadar tertentu tentang makna Arahat dan Arahatta magga dan sejak mendapat informasi dari sang Deva, bisa jadi, selama dalam perjalanannya, Ia berada dalam perenungan tentang araha, SammasamBuddha.

      Untuk kalimat "Sabbattha ekarattiparivāsena" (total waktu 1 malam)
      Sabbatthatā: the state of being everywhere; sabbatthatāya ON THE WHOLE D i.251; ii.187; M i.38; S iv.296; A iii.225; v.299, 344. Expld at Vism 308 (with tt). [Pali-English Dictionary, TW Rhys Davids, William Stede]

      eka ratti = 1 MALAM. Jika ada pendapat bahwa ini dalam ukuran waktu 24 jam, siang dan malam, maka untuk maksud itu ada kata pali yang lebih sesuai, yaitu "divā ca ratto" (siang dan malam: SN 1.47; SN 2.6; AN 4.60. SNP 2.1, KP 6)

      parivāsena = artinya: (1) singgah, tinggal (2) masa percobaan (3) PERIODE, WAKTU, INTERVAL, DURASI

      Jadi artinya: "total waktu 1 malam" BUKAN "menetap 1 malam di setiap tempat"

      Jarak Suparaka - Savatthi menurut google map = 1486 Km. Kitab komentar untuk Syair no.101: jaraknya 120 Yojana (di mana 1 Yojana = 7-9 Mil dan 1 Mil = 1.6 km) atau 1344 km - 1728 km. Karena dalam 1 malam saja (12 jam – 24 jam kurang), maka kecepatan rata-ratanya: 62 km/jam (untuk waktu 24 jam) s.d 124 km/jam (untuk waktu 12 jam) konstan tanpa henti! Manusia normal yang berjalan menempuh jarak itu perlu sedikitnya 300 Jam lamanya dan itu pun harus dengan kecepatan konstan 4.9 km/jam tanpa henti.

      Sutta TIDAK MENYATAKAN Ia dibantu sang Deva hanya kitab komentar abad ke-5 yang menyatakan ia dibantu sang deva. Oleh karena informasi sutta lebih patut kita terima dan ini menunjukan bahwa Ia adalah manusia super atau mempunyai abhinna (kekuatan mental tertentu) dari hasil pencapaian jhana hasil samadhinya

    Pada saat itu sejumlah bhikkhu sedang berjalan ke sana kemari di udara terbuka. Bāhiya dārucīriya mendekati para bhikkhu dan berkata: Tuan-tuan yang terhormat, di manakah Sang Bhagava Arahat Sammasambuddha berada? Kami ingin menjumpai Sang Bhagava, Arahat Sammasambuddha”.

    Sang Bhagava, Bahiya, sudah pergi untuk mengumpulkan makanan dari rumah ke rumah”.

    Kemudian Bahiya dengan bergegas meninggalkan hutan Jeta. Memasuki Savatthi, dia melihat Sang Bhagava sedang berjalan mengumpulkan makanan di Savatthi – menyenangkan, indah dipandang, dengan indria yang tenang dan pikiran yang tentram, telah mencapai sikap yang sempurna dan tenang, terkendali, seorang yang sempurna, waspada dengan indra yang terlatih. Ketika melihat Sang Bhagava, dia mendekat, bersujud dengan kepala di kaki Sang Bhagava dan berkata: Ajarilah aku Dhamma, Sang Bhagava; ajarilah aku Dhamma, Sugata, demi kebaikan dan kebahagiaanku sendiri untuk waktu yang lama”.

    Ketika diajak berbicara demikian, Sang Bhagava berkata kepada Bāhiya dārucīriya:Ini bukan waktu yang tepat, Bahiya, kami akan pergi mengumpulkan makanan”.

    Ke-2xnya Bahiya berkata kepada Sang Bhagava: Sulit untuk tahu dengan pasti, Sang Bhagava, berapa lama Sang Bhagava akan hidup atau berapa lama aku akan hidup. Ajarilah aku Dhamma, Sang Bhagava; ajarilah aku Dhamma, Sugata, demi untuk kebaikan dan kebahagiaanku sendiri untuk waktu yang lama”. Untuk ke-2xnya Sang Bhagava berkata kepada Bahiya:Ini bukan waktu yang tepat, Bahiya, kami akan pergi mengumpulkan makanan”. Ke-3xnya Bahiya berkata kepada Sang Bhagava: Sulit untuk tahu dengan pasti…..; ajarilah aku Dhamma, Sugata, demi kebaikan dan kebahagiaanku untuk waktu yang lama”.

      Note:
      "ini bukan waktu yang tepat": sekarang saat pengumpulan makanan, saat terbaik bagi penduduk untuk mendapatkan jasa kebajikan karena berdana pada seorang sammasambudda atau karena beliau tahu umur kehidupan Bahiya akan berakhir tak lama lagi di beberapa jam ke depan, sehingga waktu untuk membuat fisik dan mental Bahiya tenang: dari kecapaian menempuh perjalanan, dari kecemasan karena takut melewatkan kesempatan memperoleh dhamma dikehidupan itu dan dari perasaan sangat bergembira ketika akhirnya dapat bertemu seorang Buddha

    Dalam hal ini, Bahiya, kau harus melatih dirimu sendiri:

    Melihat sekedar yang terlihat
    (diṭṭhe diṭṭhamattaṃ bhavissati: Matta = sejumlah ukuran tertentu. Bhavissati (bentuk future tense) = objek diketahui setelah kontak indriya);
    mendengar sekedar yang terdengar (sute..);
    Merasakan sentuhan (yang teraba, tercium, tercicip) sekedar yang terasakan (mute..);
    mengetahui sekedar yang diketahui (viññāte..).

    Jika, Bahiya, melihat sekedar yang terlihat,….., mengetahui sekedar yang diketahui, maka Bahiya, kau takkan 'bersama itu';
    Jika Bahiya, kau tidak lagi 'bersama itu', kau takkan berada 'di situ';
    Jika, Bahiya, kau tidak ada 'di situ', maka Bahiya, kau takkan berada ‘di sini maupun di sana tidak juga di antara keduanya’
    Inilah akhir penderitaan


    Melalui ajaran Dhamma yang singkat dari Sang Bhagava ini, pikiran Bāhiya dārucīriya segera terbebas dari kekotoran tanpa kemelekatan (anupādāya āsavehi cittaṃ vimucci). Kemudian, sesudah mengajarkan Bahiya dengan petunjuk yang ringkas, Sang Bhagava pergi.

    Tak lama setelahnya, seekor lembu dengan anaknya menyerang dan membunuh Bāhiya dārucīriya. Ketika Sang Bhagava sudah selesai mengumpulkan makanan di Savatthi, pulang dari mengumpulkan makanan dengan sejumlah bhikkhu, pada waktu meninggalkan kota tersebut, Beliau melihat bahwa Bāhiya dārucīriya sudah meninggal dunia

    Melihat hal itu beliau berkata kepada para bhikkhu:
    O, para bhikkhu, ambillah tubuh Bahiya, letakkan di atas tandu, bawalah pergi dan bakarlah, dan buatlah stupa untuk itu. Temanmu dalam kehidupan suci telah meninggal dunia”.

    Setelah melakukan seluruh instruksi Sang Bhagava, para Bhikkhu menghadap kepada Sang Bhagava, bersujud dan duduk di satu sisi dan berkata:Tubuh Bahiya telah dibakar, Sang Bhagava, dan sebuah stupa telah dibuat untuk itu. Bagaimanakah keadaannya dan kehidupannya yang akan datang?

    O, para bhikkhu, Bāhiya dārucīriya adalah seorang yang bijaksana. Dia berlatih menurut Dhamma dan tidak merepotkanKu dengan berselisih paham soal Dhamma. O, para bhikkhu, Bahiya telah mencapai Nibbana Akhir”.. [Udana 1.10, Di sutta lainnya, ada juga yang bernama Bahiya yang juga meminta dhamma secara ringkas yaitu di SN 35.89 dan SN 47.15 yang tampaknya ini 2 Bahiya yang berbeda. Kemudian di AN 16.216: Sang Buddha menyatakan bahwa Bahiya daruciriya adalah Khippa abhiññā/cepat dalam mencapai pengetahuan langsung]

  4. Suddhodana [menjadi sotāpanna dan Sakadagami: Dhammapada Bab.1 syair 13,14; Menjadi Anagami: Dhammapadda bab.13 syair 168,169; Menjadi Arahat: Dhammapada Bab.26 syair 391]
  5. Beberapa gelombang dari tim pengamat Suddhodana ketika mengirimkan mereka memantau anaknya sebelum dan setelah menjadi Buddha
Vacchagotta:
"Petapa Gotama diklaim seorang yang maha-tahu [sabbañu] dan maha-melihat [sabbadassaavi], memiliki pengetahuan dan penglihatan lengkap [aparisesa ñanadassana patijanati]: 'Apakah Aku berjalan atau berdiri atau tidur atau terjaga, pengetahuan dan penglihatan [ñanadassana] terus-menerus [satata] dan tanpa terputus [samitam] ada padaKu.'? Yang Mulia, apakah mereka yang mengatakan demikian telah mengatakan apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā, dan tidak salah memahamiNya dengan apa yang berlawanan dengan fakta? Apakah mereka menjelaskan sesuai dengan Dhamma sedemikian sehingga tidak memberikan landasan bagi celaan yang dapat ditarik dari pernyataan mereka?"
    Note:
    Klaim ini kerap diucapkan Nigatha nataputta/Mahavira [pendiri jainisme] di MN.14/Cūḷadukkhakkhandha Sutta dan MN.79/Cūḷasakuludāyi Sutta: "Teman, Nigaṇṭha Nātaputta maha tahu dan maha melihat dan mengaku memiliki pengetahuan dan penglihatan sempurna: 'Apakah aku sedang berjalan atau berdiri atau tertidur atau terjaga, pengetahuan dan penglihatan yang terus-menerus dan tanpa terputus hadir padaku'"
Sang Buddha:
"Vaccha, mereka yang mengatakan demikian tidak mengatakan apa yang dikatakan olehKu, melainkan salah memahamiKu dengan apa yang tidak benar dan berlawanan dengan fakta."

Lantas jenis Maha tahu dan Maha Melihat seperti apakah sang Buddha itu?
  • Beliau jenis Maha-tahu dan maha melihat sejauh yang Beliau kehendaki [atau atas apa yang ditanyakan pada beliau] [MN.71].
  • Beliau tidak dapat mengetahui segala sesuatu pada saat bersamaan dan harus mengarahkannya pada apapun yang Beliau ingin ketahui.[MN.90/Kaṇṇakatthala Sutta].
Beliau memiliki 10 Kekuatan [Dasabalā], yaitu:

3 Pengetahuan Sejati/Tevijja yaitu sejauh Beliau menghendaki:
  1. Beliau, mengingat banyak kehidupan lampau: 1 kelahiran, 2, 3, 4, 5, 10, 20, 30, 40, 50, 100, 1000, 10.000, berkalpa-kalpa: pengerutan, pengembangan, pengerutan dan pengembangan, ‘bernama ini, dari suku ini, berpenampilan ini, dengan makanan itu, mengalami rasa senang-sakit, seperti itulah masa hidupnya; lenyap dari sana, terlahir di tempat lain, di sana bernama ini, dari suku itu, berpenampilan ini, demikian makanannya, seperti itu pengalaman rasa senang-sakitnya, seperti itu masa hidupnya; lenyap dari sana, terlahir lagi di sini.’..

  2. Beliau, dengan mata-dewa, termurnikan melampaui manusia, melihat para mahkluk lenyap dan terlahir lagi, rendah/tinggi, rupawan/tidak, di keadaan bahagia/menderita, memahami bagaimana para makhluk menjalani kehidupan sesuai kamma mereka..

  3. Lewat hancurnya noda-noda, di kehidupan ini juga masuk dan berdiam di pembebasan pikiran [Cetovimutti] yang tanpa noda, di pembebasan kebijaksanaan [Paññāvimutti], merealisasikannya untuk diriku sendiri lewat pengetahuan langsung
7 kekuatan lainnya adalah memahami sebagaimana adanya:
  1. Yang mungkin sebagai yang mungkin dan yang tidak mungkin sebagai yang tidak mungkin.
  2. Akibat-akibat dari perbuatan-perbuatan yang dilakukam, di masa lalu, di masa depan, dan di masa sekarang, dengan kemungkinan dan dengan penyebabnya.
  3. Jalan yang mengarah menuju semua alam tujuan kelahiran kembali.
  4. Dunia dengan banyak unsur yang berbeda-beda.
  5. Bagaimana makhluk-makhluk memiliki kecenderungan yang berbeda-beda.
  6. Watak dari indria makhluk-makhluk lain, orang-orang lain.
  7. Kekotoran, pemurnian, dan kemunculan sehubungan dengan jhāna, kebebasan, pikiran terpusat dan pencapaian. [MN.12/Mahāsīhanāda Sutta]
***

Sutta MN.72,
Sutta ini berisi penegasan Sang Buddha bahwa ajarannya TIDAK DIDASARKAN pada pandangan spekulatif (Setelah parinibbana, orang yang sama yang tercerahkan, tidak mungkin muncul lagi di masa depan):
  1. Dunia itu apakah kekal/tidak/bukan ke-2nya/bukan tidak ke-2nya
  2. Dunia itu apakah terbatas/tidak/bukan ke-2nya/bukan tidak ke-2nya
  3. Jiwa dan badan itu apakah sesuatu yang sama atau berbeda atau bukan ke-2nya atau bukan tidak ke-2nya
  4. sang Tathagata apakah setelah parinibana ada/tidak/bukan ke-2nya/bukan tidak ke-2nya. [juga di SN.33/Vacchagotta Samyuta; SN.44/Ananda Sutta]
NAMUN PADA:

‘Demikianlah bentuk materi, asal-mulanya, lenyapnya; demikianlah perasaan, asal-mulanya, lenyapnya; demikianlah persepsi, asal-mulanya, lenyapnya; demikianlah bentukan-bentukan, asal-mulanya, lenyapnya; demikianlah kesadaran, asal-mulanya, lenyapnya. Oleh karena itu, Aku katakan, dengan hancurnya, meluruhnya, berhentinya, ditinggalkannya, dan dilepaskannya segala anggapan, segala pemikiran, segala pembentukan-aku, pembentukan-milikku, dan kecenderungan tersembunyi pada keangkuhan, Sang Tathāgata terbebaskan melalui ketidak-melekatan.”

[Jika ini ada, maka itu terjadi; dengan munculnya ini, maka muncul pula itu. Jika ini tidak ada, maka itu tidak terjadi; dengan lenyapnya ini, maka lenyap pula itu’]

Sehingga kata muncul kembali/tidak muncul kembali/bukan keduannya dan bukan tidak ke-2nya adalah TIDAK RELEVAN.

Lanjutan pertanyaan Vacchagotta:
Ketika seorang bhikkhu terbebaskan demikian, Guru Gotama, di manakah ia muncul kembali [setelah kematian]?”
    Sang Buddha:
    “Istilah ‘muncul kembali’ tidak berlaku, Vaccha.”
Vacchagotta:
“Jadi apakah ia tidak muncul kembali, Guru Gotama?”
    Sang Buddha:
    “Istilah ‘tidak muncul kembali’ tidak berlaku, Vaccha.”
Vacchagotta:
“Jadi apakah ia muncul kembali juga tidak muncul kembali, Guru Gotama?”
    Sang Buddha:
    “Istilah ‘muncul kembali dan juga tidak muncul kembali’ tidak berlaku, Vaccha.”
Vacchagotta:
“Jadi apakah ia bukan muncul kembali juga bukan tidak muncul kembali, Guru Gotama?”
    Sang Buddha:
    “Istilah ‘bukan muncul kembali dan juga bukan tidak muncul kembali’ tidak berlaku, Vaccha.”
Vacchagotta:
“Ketika Guru Gotama ditanya 4 pertanyaan ini, Beliau menjawab:

Istilah “muncul kembali” tidak berlaku, Vaccha;
istilah “tidak muncul kembali” tidak berlaku, Vaccha;
istilah ‘muncul kembali dan juga tidak muncul kembali’ tidak berlaku, Vaccha;
Istilah ‘bukan muncul kembali dan jug