Saturday, September 15, 2007

Ringkasan Ajaran Buddha


Beberapa tahun yang lalu ketika mulai membaca Buddhisme, saya mengalami kesulitan untuk membedakan antara Buddhisme VS Atheisme[1], Buddhisme VS Aliran lain yang berasal dari India atau Tiongkok serta banyak pengertian lainnya. Sekarang, hasil pemahaman ini, saya sampaikan ringkasannya untuk dapat mengenali:
  1. Inti Ajaran Buddha, Tiga akar kejahatan, Ajaran jika tak ada 8 Jalan mulia di dalamnya maka takkan ada orang sucinya [↓]
  2. Definisi mahluk suci di Buddhism [↓] dan 8 Jalan Utama [↓]
  3. Tidak ada: Tuhan dan Ketuhanan, Adi Buddha, Tanah Buddha dalam Buddhism. Pengertian Nibanna dan Dhamma-Kaya [↓]
  4. Semesta Buddhism: Vertikal (31 struktur Alam kediaman para Mahluk: Para Brahma, Para Deva, Manusia (termasuk Bumi dan Manusia-manusia Pertama), Binatang, Mahluk Halus dan Neraka) [↓] dan Horizontal (milyaran Tata Surya) [↓]. Siklus Berulang: Hancur dan Terbentuknya Semesta [↓]. Definisi Mahluk Apapun yang disebut: PancaKhanda dan NamaRupa [↓]. Perbedaan Deva vs Malaikat [↓].
  5. Jalan Keselamatan atau Kebebasan dalam Buddhism: Dana, Sila [↓] dan Samadhi: Tujuan meditasi dan Cara melatih meditasi dengan 16 Langkahnya) [↓].
  6. Samatha vs Vipassana [↓]
  7. JHANA (Pencapaian Jhana ke-1 s.d 9) [↓]
  8. Tidak ada pencapaian Arahat tanpa melalui Jhana [↓]
  9. Attha loka-Dhamma: Pasang surut Kehidupan duniawi dan cara menyikapinya [↓]
  10. Paritta, Doa, Puja Bakti, Menyembah dan Berlindung [↓]
  11. Terbentuknya Kitab Suci Tipitaka dan Kemunculan Banyak Aliran di Buddhisme: Konsili ke-1 s.d 4. Apakah Abhidhamma benar termasuk sabda sang Buddha? [↓]. Bagaimana Proses Lenyapnya Dhamma Sejati? [↓]
  12. Hari Raya Keagamaan: Waisak, kathina, Magha-puja, Asadha [↓]. Lain-lain: Perabuan Jenazah, Meninggalkan Keluarga [↓]
  13. Pattidana: Arti dan Definisi, Landasan Sutta dan Polemik dengan tradisi apakah Bisa/tidak mempersembahkan langsung pada yang tak tampak atau via yang membutuhkan (tampak)? [↓]
  14. Download TIPITAKA bahasa Indonesia (28.4 MB): Digha Nikaya (PDF: 34 Sutta), Anggutara Nikaya (Word: buku ke-1 s.d ke-11), Majjhima Nikaya (Word: 152 Sutta), Samyutta Nikaya (Word dan PDF: Buku ke-1 s.d Ke-5), Dhammapada Atthakata (Word: Bab ke-1 s.d Bab ke-26) dan Vinaya Pitaka (PDF: Vol 1 dan Vol.IV)
Selamat membaca dan semoga berguna.
-------

Inti dari ajaran Buddha adalah seperti ini[2]:
    Sabbe sankhärä aniccä,
    Sabbe sankhärä dukkha,
    Sabbe Dhammä Anattä
    Segala yang berkondisi tidak kekal,
    Segala yang berkondisi tidak memuaskan,
    Segala yang berubah bukanlah diri (bukan nyata, hanya fenomena)
Tiga hal diatas itu merupakan pengejawantahan kalimat ini[3]:
    Sabbapāpassa akaraṇaṃ (1)
    kusalassa upasampadā (2)
    Sa-citta-pariyodapanaṃ (3)
    etaṃ buddhānasāsanaṃ
    Segala hal buruk tidak dilakukan (1)
    Perbanyak hal yang bermanfaat (2)
    Sertai dengan pikiran murni (3)
    Itulah ajaran para Buddha
Sekelompok orang jika diminta menguraikan poin no.(1) dan no.(2), maka akan terdapat perbedaan list dari setiap orangnya. Pedoman suatu perbuatan dikatakan buruk/tidak adalah jika Ia mengetahui sendiri [attanāva jāneyyātha], bahwa hal-hal tersebut
  1. Memberikan MANFAAT atau TIDAK? [KUSALA/A-KUSALA];
  2. Mengundang CELAAN atau TIDAK? [anavajjā/sāvajjā];
  3. DIPUJIKAN atau DIHINDARI para bijaksana? [viññuppasatthā/viññugarahitā];
  4. MENUJU atau TIDAK pada: kerugian/penderitaan? [hitāya sukhāya/A-hitāya dukkhāya saṃvattantīti]
Sehingga tergairahkan, terbanjiri dan tertaklukkan atau TIDAK oleh 3 akar kejahatan[4] penyebab penderitaan, yaitu:
  • Lobha, PERHATIAN yang TIDAK BENAR [ayoniso manasikāro] terhadap objek menarik, maka nafsu yang tadinya belum muncul akan muncul dan nafsu yang telah muncul akan meningkat dan menjadi kuat.’. [Nafsu inilah kemudian di sebut dengan kemelekatan/keserakahan].
  • Dosa, PERHATIAN yang TIDAK BENAR terhadap objek tidak menarik, maka Penolakan yang tadinya belum muncul akan muncul dan Penolakan yang telah muncul akan meningkat dan menjadi kuat. [Penolakan inilah yang kemudian disebut dengan kebencian/Ketidaknyamanan].
  • Moha, PERHATIAN yang TIDAK BENAR, maka kekeliruan tahu/kebodohan batin yang tadinya belum muncul akan muncul dan kekeliruan tahu/kebodohan batin yang telah muncul akan meningkat dan menjadi kuat [atau MEMPERHATIKAN hal-hal yang TIDAK LAYAK diperhatikan dan TIDAK MEMPERHATIKAN hal-hal YANG LAYAK diperhatikan.]
Jalan menuju lenyapnya penderitaan oleh tiga akar kejahatan inilah yang membedakan Buddhism dengan ajaran lainnya sebagaimana tertulis di DN16/Mahaparinibana Sutta[5a]:
    23. Ketika itu seorang petapa pengembara bernama Subhadda sedang berdiam di Kusinara. Subhadda, petapa yang pengembara itu mendengar kabar: "Hari ini, pada jam ke-3 (02.00-06.00) malam ini, petapa Gotama akan Parinibanna"

    Karena itu timbullah pikirannya: "Aku pernah mendengar dari para petapa yang tua-tua dan mulia, dari para guru, bahwa munculnya para Tathagata Arahat Samma Sambuddha, adalah kejadian yang jarang sekali di dunia. Pada hari ini, pada jam ke-3 malam ini petapa Gotama akan Parinibanna. Kini pada diriku ada suatu keragu-raguan dan dalam hal ini aku mempunyai kepercayaan pada petapa Gautama itu, ia akan dapat mengajarkan Dhamma kepadaku untuk menghilangkan keraguan-raguanku."

    24. Kemudian petapa pengembara Subhadda menuju ke Hutan Sala, taman hiburan milik Suku Malla itu, dan menemui Ananda, lalu menceritakan maksudnya kepada Ananda. Ia berkata kepada Ananda: "Kawan Ananda, alangkah baiknya bagi saya diperbolehkan menghadap petapa Gautama." Tetapi Ananda menjawab; "Cukuplah kawan Subhadda, janganlah mengganggu Sang Tathagata. Sang Bhagava sedang sakit payah."

    Meskipun begitu sampai pada permintaan ketiga kalinya petapa pengembara itu mengulangi lagi permohonannya, untuk kedua dan ketiga kalinya Ananda tetap menolaknya.

    25. Sang Bhagava mendengar percakapan antara kedua orang itu, lalu Beliau memanggil Ananda dan berkata: "Ananda, jangan menolak Subhadda. Perbolehkanlah ia menghadap Sang Tathagata, karena apa saja yang akan ditanyakan kepadaku hal itu demi kepentingan pengetahuan dan bukan sebagai suatu pelanggaran. Jawaban yang akan aku berikan kepadanya, ia siap untuk memahaminya."

    Oleh karena itu Ananda berkata kepada petapa pengembara Subhadda: "Silahkanlah, kawan Subhadda, Sang Bhagava memperbolehkan saudara menghadap."

    26. Kemudian petapa pengembara Subhadda itu, mendekati Sang Bhagava dan menghormat dengan sopan santun dan setelah itu, petapa pengembara Subhadda, duduk di salah satu sisi lalu berkata kepada Sang Bhagava: "Yang Mulia Gautama, ada para petapa dan brahmana yang memimpin sejumlah besar siswa yang mempunyai banyak pengiring, yang memimpin perguruan-perguruan yang terkenal dan termasyur dan mendapat penghormatan yang tinggi oleh khalayak ramai, guru-guru demikian itu adalah seperti: Purana Kassapa, Makkhali Gosala, Ajita Kesakambali, Pakudha Kaccayana, Sanjaya Belatthiputta, Nigantha-Nataputta [dan perguruan [ajaran] apapun hingga jaman kedepan]. Apakah mereka itu semuanya telah mencapai kebebasan, seperti yang dikatakan oleh orang-orang itu, atau apakah tak seorang dari mereka yang mencapai kebebasan atau apakah hanya beberapa saja telah mencapai, dan yang lainnya tidak?"

    "Cukuplah Subhadda. Biarkanlah apa yang dikatakan mereka, apakah semua dari mereka itu telah mencapai pembebasan, seperti yang disiarkan orang-orang itu, atau tidak ada seorangpun dari mereka itu yang mencapai kebebasan, atau hanya beberapa saja dari mereka itu yang mencapai kebebasan yang lain tidak. Hal itu tidak perlu dirundingkan. Kini, aku akan mengajarkan kebenaran kepadamu, Subhadda, dengar dan perhatikanlah benar-benar, aku akan berbicara."

    "Baiklah, bhante," jawab Subhadda.

    Kemudian Sang Bhagava berkata:
    27. "Subhadda, dalam dhamma dan vinaya mana pun, jika tidak terdapat Jalan Mulia Berunsur Delapan, maka di sana pun tidak akan terdapat seorang petapa sejati yang telah mencapai tingkat ke-1, ke-2, ke-3 atau ke-4. Tetapi dalam dhamma dan vinaya yang mana pun, jika terdapat Jalan Mulia Berunsur Delapan, maka di sana pun akan terdapat petapa yang sejati yang telah mencapai tingkat ke-1, ke-2, ke-3 atau ke-4. Kini, dalam dhamma dan vinaya yang kami ajarkan terdapat Jalan Mulia Berunsur Delapan itu, maka dengan sendirinya juga terdapat petapa-petapa sejati yang telah mencapai tingkat ke-1, ke-2, ke-3 atau ke-4.

    Ajaran guru-guru lainnya yang tidak memiliki Jalan Mulia Berunsur Delapan adalah kosong dan bukan petapa yang sejati. Subhadda, jika para bhikkhu ini hidup dengan baik menurut dhamma dan vinaya, maka dunia ini tidak akan kekosongan Arahat.

    Pada saat usia-Ku 29 tahun
    Ketika Aku pergi mencari kebaikan.
    Sekarang lebih 50 tahun telah berlalu
    Sejak hari Aku meninggalkan keduniawian
    Berkelana di alam hukum kebijaksanaan
    Yang di luarnya tidak ada petapa


    [ke-1, ke-2, ke-3 atau ke-4].
    Aliran-aliran lainnya adalah mandul,
    Tetapi jika para bhikkhu menjalani kesempurnaan,
    Dunia ini tidak akan kekurangan Arahant
    .[5b]

    [..]

    Demikianlah telah terjadi, bahwa pertapa pengembara Subhadda telah diterima dan ditabiskan menjadi bhikkhu, di hadapan Sang Bhagava sendiri. Ia pun tekun, rajin dan sungguh-sungguh. Maka ia mencapai tujuan, sebagai orang yang dihormati, yang hidup berkelana, meninggalkan keduniawian, menuju kehidupan yang suci, dan setelah capai kebijaksanaan yang tinggi, ia hidup di dalam kesucian. Hancurlah belengu-belengu kelahiran, kehidupan suci telah tercapai, tak ada lagi sesuatu yang harus dikerjakan, dan dalam kehidupan ini tak ada lagi sesuatu yang tertinggal."

    Demikianlah ia telah menyadarinya.

    Bhikkhu Subhadda menjadi salah seorang di antara para Arahat dan ia adalah siswa terakhir yang diterima Sang Bhagava.
Sekarang, mari kita gali lebih rinci lagi tentang apa yang dimaksud dengan "petapa sejati yang telah mencapai tingkat ke-1, ke-2, ke-3 atau ke-4 [Tingkat Kesucian]" dan caranya hanya dengan Dhamma dan Vinaya yang mengandung "Jalan Mulia Berunsur Delapan" atau DELAPAN JALAN UTAMA

[Kembali (↑)]
---------------

Petapa sejati yang telah mencapai tingkat ke-1, ke-2, ke-3 atau ke-4 [Tingkat Kesucian]

Dalam tingkat kesucian, Mahluk dibagi kedalam dua golongan:
  • Puttujhana, Individu [Manusia dan BUKAN Manusia: Penghuni Neraka, Mahluk halus, Binatang, Deva dan Brahma] yang belum mencapai tingkat kesucian

  • Ariya-puggalä, Individu [Manusia dan BUKAN manusia: Deva dan Brahma] yang telah mencapai kesucian atau sekurangnya telah mematahkan 3 belenggu dari 10 belenggu[7]. Mereka yang telah mematahkan 3 belenggu disebut SOTAPANNA, Berikutnya adalah Sakadagami, Anagami dan Arahat
Belenggu yang harus dipatahkan pada setiap tingkatan kesucian di Buddhisme/para Ariya[8]:
  1. Sotapanna, Sota = Magga = Arus; Apanna = Telah sampai; Telah masuk di 8 Jalan Utama; tak terlahir di 3 alam Apaya [Alam Menderita: Alam Binatang, Peta, neraka]. Untuk mencapai level kesucian ini maka ada 3 belenggu yang harus di hancurkan:

    1. Sakkäya-ditthi = Pandangan tentang adanya -> Pribadi/identitas [sakkaya] atau diri/jiwa (atta):

      • Ini adalah AKU -> Urusannya dengan pandangan terhadap Identitas
      • Ini adalah Milik-KU -> urusannya dgn Tanha [nafsu keinginan]
      • Ini adalah diriKU -> urusannya dengan "keangkuhan" ketika membandingkan dengan pihak lain

      Untuk urusan "IDENTITAS", MN 44/Cūḷavedalla Sutta menyatakan sebagai berikut:

      Apa itu Sakkaya (Identitas, Pribadi)?

      Lima [panca], kelompok unsur kehidupan [Kkhandha] (yang terpengaruh) kemelekatan [upadana] disebut sebagai identitas (Sakkaya), yaitu:

      1. kelompok materi yang terpengaruh oleh kemelekatan [rūpupādānakkhandho],
      2. kelompok perasaan yang terpengaruh oleh kemelekatan [vedanupādānakkhandho],
      3. kelompok persepsi yang terpengaruh oleh kemelekatan [saññupādānakkhandho],
      4. kelompok bentukan-bentukan yang terpengaruh oleh kemelekatan [saṅkhārupādānakkhandho] dan
      5. kelompok kesadaran yang terpengaruh oleh kemelekatan [viññāṇupādānakkhandho]

      Kelima kelompok unsur kehidupan yang terpengaruh kemelekatan [Pancupadanakkhandha] ini disebut identitas [sakkaya].

      Asal mula Sakkaya:
      Keinginan mengarahkan pada penjelmaan baru [tanha ponobbhavika], disertai dengan kesenangan pada nafsu [nandi-rāga-sahagata] dan tenggelam dalam kesenangan disana sini [tatratatrābhinandinī], yaitu [Seyyatidam]: keinginan akan kenikmatan indria [kamatanha], Keinginan untuk menjelma menjadi hal tertentu [bhavatanha] dan keinginan untuk tidak menjelma menjadi hal tertentu [vibhavatanha].

      Lenyapnya Sakkaya:
      Pelenyapan tanpa sisa dan lenyapnya keinginan, menghentikan, melepaskan, melewatkan dan penolakan atas keinginan yang sama.

      Jalan menuju lenyapnya Sakkaya:
      8 jalan utama.

      Perhatikan:
      Kemelekatan [upadana] tidak sama dengan Pancakandha yang terpengaruh oleh kemelekatan [Pancupadanakhanda] JUGA Kemelekatan tidak terpisah dari pancakandha yang terpengaruh oleh kemelekatan. Adalah Keinginan dan nafsu sehubungan dengan pancakandha yang terpengaruh oleh kemelekatan yang menjadi kemelekatan di sana.

      Munculnya Pandangan Identitas [Sakkaya-Dhitti]:
      Ia menganggap:

      1. materi sebagai diri[rūpaṃ attato], atau
      2. diri memiliki materi [rūpavantaṃ vā attānaṃ], atau
      3. materi di dalam diri [attani vā rūpaṃ], atau
      4. diri di dalam materi [rūpasmiṃ vā attānaṃ]

      Ia menganggap perasaan sebagai diri,..
      Persepsi sebagai diri,..
      bentukan sebagai diri,..
      Kesadaran sebagai diri,.. [Total jumlahnya adalah 20 pandangan identitas]

      [Juga ada di MN 109/mahapunnama Sutta; MN131-132/Bhaddekaratta Sutta; SN 22.1/Nakulapitu Sutta, dll]

      Tidak munculnya padangan tentang identitas jika, ia TIDAK menganggap materi sebagai diri..
      Perasaan sebagai diri..
      Persepsi sebagai diri..
      Bentukan sebagai diri..
      Kesadaran sebagai diri..

      Kemudian,
      Di MN.2/Sabbāsava Sutta [segala noda], disampaikan bahwa hancurnya noda-noda adalah untuk seorang yang mengetahui [Jānato] dan melihat [passato], bukan untuk seorang yang tidak mengetahui dan tidak melihat.

      mengetahui dan melihat apakah?

      • Ketika seseorang memperhatikan dengan TIDAK semestinya [Ayoniso ca manasikāraṃ], noda-noda yang belum muncul menjadi muncul dan noda-noda yang telah muncul menjadi bertambah.
      • Ketika seseorang memperhatikan dengan semestinya [Yoniso ca manasikāraṃ], noda-noda yang belum muncul tidak akan muncul dan noda-noda yang telah muncul ditinggalkan.

      Noda-noda yang harus ditinggalkan dengan melihat [dassanā].

      Dalam kitab komentar sabbasava sutta, dikatakan bahwa kata “melihat” (dassanā) di sini merujuk pada jalan memasuki-arus (sotāpattimagga) – disebut demikian karena memberikan penglihatan sepintas pada Nibbāna.

      Ketika Ia MEMPERHATIKAN hal-hal yang TIDAK LAYAK diperhatikan:

      1. noda-noda [KEINGINAN INDRIA juga KEBODOHAN] yang belum muncul menjadi muncul dalam dirinya dan
      2. noda-noda [KEINGINAN INDRIA juga KEBODOHAN] yang telah muncul menjadi bertambah,
      3. noda-noda penjelmaan yang belum muncul menjadi muncul dalam dirinya dan
      4. noda-noda penjelmaan yang telah muncul menjadi bertambah,

      Ketika Ia Memperhatikan Hal-hal YANG LAYAK diperhatikan:

      1. noda-noda [KEINGINAN INDRIA juga KEBODOHAN] yang belum muncul tidak muncul dalam dirinya dan
      2. noda-noda [KEINGINAN INDRIA juga KEBODOHAN] yang telah muncul ditinggalkan, noda-noda penjelmaan yang belum muncul tidak muncul dalam dirinya dan
      3. noda-noda penjelmaan yang belum muncul tidak muncul dalam dirinya
      4. noda-noda penjelmaan yang telah muncul ditinggalkan

      Dengan MEMPERHATIKAN hal-hal yang TIDAK LAYAK diperhatikan dan TIDAK MEMPERHATIKAN hal-hal YANG LAYAK diperhatikan, maka noda-noda yang belum muncul menjadi muncul dan noda-noda yang telah muncul menjadi bertambah.

      Bagaimana Ia memperhatikan dengan TIDAK semestinya [ayoniso manasi karoti]?

      Masa lalu:

      1. Apakah aku ada di masa lampau?
      2. Apakah aku tidak ada di masa lampau?
      3. (Menjadi) apakah aku di masa lampau?
      4. Bagaimanakah aku di masa lampau?
      5. Setelah menjadi apa, kemudian menjadi apakah aku di masa lampau?

      Masa Depan:

      1. Apakah aku ada di masa depan?
      2. Apakah aku tidak ada di masa depan?
      3. Menjadi apakah aku di masa depan?
      4. Bagaimanakah aku di masa depan?
      5. Setelah menjadi apa, kemudian menjadi apakah aku di di masa depan?

      Atau kalau tidak demikian, ia kebingungan sehubungan dengan masa sekarang:

      1. Apakah aku ada?
      2. Apakah aku tidak ada?
      3. apakah aku?
      4. Bagaimanakah aku?
      5. Dari manakah makhluk ini datang?
      6. Kemanakah akan menjelma?

      Ketika ia memperhatikan dengan TIDAK semestinya, satu dari enam pandangan muncul dalam dirinya sebagai benar dan kokoh:

      1. Aku MEMILIKI diri [Atthi me attā]
      2. Aku TIDAK MEMILIKI diri [Natthi me attā]
      3. MENGANGGAP diri sebagai diri [attanāva attānaṃ sañjānāmī]
      4. MENGANGGAP bukan-diri sebagai diri [attanāva ANattānaṃ sañjānām]
      5. MENGANGGAP diri sebagai bukan-diri [ANattanāva attānaṃ sañjānāmī]; atau
      6. adalah diriku yang berbicara dan merasakan dan mengalami di sana-sini akibat dari perbuatan baik dan buruk; tetapi diriku ini adalah kekal, tetap ada, abadi, tidak tunduk pada perubahan, dan akan bertahan selamanya.

      Pandangan spekulatif ini, disebut rimba pandangan, belantara pandangan, pemutar-balikan pandangan, kebingungan pandangan, belenggu pandangan. Terbelenggu oleh belenggu pandangan, seorang biasa yang tidak terlatih tidak terbebas dari kelahiran, penuaan, dan kematian, dari dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan; ia tidak terbebas dari penderitaan.

      Namun,
      jika Ia memperhatikan dengan semestinya:

      ‘Ini adalah penderitaan’;
      ‘Ini adalah asal-mula penderitaan’;
      ‘Ini adalah lenyapnya penderitaan’;
      ‘Ini adalah jalan menuju lenyapnya penderitaan.’

      Ketika ia memperhatikan dengan semestinya seperti ini, maka tiga belenggu, yaitu: pandangan akan diri [identitas, sakkāyadiṭṭhi], keragu-raguan [vicikicchā], dan keterikatan pada peraturan dan upacara [sīlabbataparāmāso] menjadi ditinggalkan.

      Ini disebut noda-noda yang harus ditinggalkan dengan melihat [dassana].

    2. Vicikicchä = Ketidakteguhan pada Buddha, ajaranNya [Dhamma] dan Sangha [kumpulan para bhikkhu, mereka yang menempuh jalan pembebasan, yang tidak lagi melekat pada konsepsi "aku" atau "milikku", pada NAMARUPA, tak bersedih pada apa yang tak dimilikinya-DHAMMAPADA, Syair 367].

    3. Sīlabbataparāmāsa (Sīla + bbata (vata)+ parāmāsa/parāmasa)
      Sīla = sifat, karakter, kebiasaan, perilaku. Praktek moralitas.
      vata = pasti, tentu, memang, sayangnya! kewajiban agama, ketaatan, ritual, praktik, kebiasaan
      parāmāsa = menyentuh, kontak, yang melekat, tergantung pada, berada di bawah pengaruh, penyakit menular
      Silabbata [= vata2] pekerjaan baik dan ketaatan pada ritual/upacara [Dh 271, A i.225, S iv.118, Ud 71, Sn 231]
      silabbataparāmāsa = terpengaruh/melekat hanya pada aturan dan ritual, kemelekatan pada pekerjaan baik, delusi bahwa hal-hal tersebut adalah cukup [Vin i.184, M i.433, Dhs 1.005, A iii.377, iv.144]

      Jadi,
      silabbataparāmāsa = Kepercayaan/keterikatan bahwa upacara/peraturan [agama] dapat membebaskan manusia dari dukkha.

      Kategori ini dalam buddhism termasuk mereka yang belajar sutta dan praktek moralitas (sila dan meditasi). Yang belajar sutta lupa bahwa tujuan mereka membaca, mendengar, menghafal, mengurai makna dan berdiskusi adalah untuk melenyapkan penderitaan bukan menjadi ahli philosopi. Dalam praktek, mereka malah melakukan upacara/ritual embersihkan dosa (sin), menghindari kematian, atau menghindarkan diri/meringankan dari terkena variasi penderitaan. Ketika bermeditasi mereka tujuan mereka tidak pada pemahaman anicca, dukkha dan anatta.

    Berikut di bawah ini adalah ukuran/standard tercapai atau tidaknya: Tingkatan Sotapanna[9]:

    “Para bhikkhu,

    1. Mata [Cakkhu], Telinga [sota], Hidung [ghana], Lidah [jivha], Badan [kayo], Pikiran [mano] adalah.. [SN 25.1/Cakhhu sutta]
    2. Bentuk2 [rupa], Suara2 [sadda], Bau2an [gandha], kecapan [rasa], Objek2 sentuhan [photthabba], Fenomena2 [dhamma] (pikiran) adalah.. [SN 25.2/Rupa Sutta]
    3. Kesadaran dari (mata, telinga, hidung, lidah, badan, pikiran) adalah.. [SN 25.3/Vinanna sutta]
    4. Kontak dari (mata, telinga, hidung, lidah, badan, pikiran) adalah.. [SN 25.4/Phassa Sutta]
    5. Perasaan yang muncul dari kontak (mata, telinga, hidung, lidah, badan, pikiran) adalah.. [SN 25.5/Vedana Sutta]
    6. Persepsi/ingatan akan (Bentuk, Suara, Bau, kecapan, Objek2 sentuhan, Fenomena) adalah.. [SN 25.6/Sanna Sutta]
    7. Kehendak sehubungan dengan (Bentuk2, Suara2, Bau2an, kecap2an, Objek2 sentuhan, Fenomena2) adalah.. [SN 25.7/Cetana Sutta]
    8. Nafsu keinginan akan (bentuk, Suara, Bau, kecapan, Objek2 sentuhan, Fenomena) adalah.. [SN 25.8/Tanha Sutta]
    9. Landasan/unsur/senyawa: Padat/penyokong/pijakan [pathavi], Cair/perekat [Apo], panas/umur/habis/terbakar/gelombang partikel [Tejo], gerak/getar/tekanan [Vayo], ruang/jarak [akasa], kesadaran [vinanna] adalah.. [SN 25.9/Dhatu Sutta]
    10. Kelompok: materi [Rupa], Perasaan [Vedana], Persepsi [Sanna], Bentukan-betukan pikiran [samkhara], Kesadaran [Vinnana] adalah.. [SN 25.10/Khandha Sutta]

    [Semua yang di atas] adalah tidak kekal [anica], menjadi berubah [annathabhavi] melapuk [viparinami]

    1. Seorang yang BERKEYAKINAN TAK GOYAH [saddahati adhimuccati] dan memahaminya demikian disebut Penganut karena keyakinan [saddhā-nusārī] atau
    2. Seseorang yang setelah melakukan sejumlah perenungan dengan kebijaksanaan [paññāya mattaso nijjhānaṃ khamanti] dan memahaminya demikian disebut Penganut karena Dhamma[dhammā-nusārī]

    [Mereka di atas ini] memasuki [okkanto] jalan pasti kebenaran [sammattaniyāmaṃ], memasuki [okkanto] wilayah orang-orang mulia, melampaui [vītivatto] wilayah kaum duniawi [puttujhana]; tidak mampu [abhabbo] melakukan perbuatan yang berakibat terlahir kembali di alam: neraka, binatang, mahluk halus; IA TIDAK AKAN WAFAT tanpa menembus buah Memasuki-arus [sotāpattiphala].

    Seorang yang MENGETAHUI dan MELIHAT [pajānāti evaṃ passati] secara demikian disebut Pemasuk-arus [Sotapanna], Ia tidak akan lagi terlahir di alam rendah, pasti mencapai tujuan, dengan penerangan sebagai tujuannya[10].

  2. Sakadägämi (Sanskrit: Sakṛdāgāmin), yang berarti "Seseorang yang lahir/datang (āgacchati) satu kali (sakṛt)", akan dilahirkan kembali satu kali saja di alam manusia dan kemudian akan mencapai Arahat.

    • Disamping telah mematahkan belenggu Sotapanna (Sajjayaditthi, Vicikiccha dan Silabbataparamasa)
    • Ia juga telah melemahkan belenggu-belenggu Anagami [Kämaräga = Nafsu Indriya; Vyäpäda = Benci/keinginan tidak baik.])
    • Maksimum kelahiran adalah 1 kali.

  3. Anägämi (Sanskrit: Anāgāmin), yang berarti "seseorang yang tidak lahir/datang (āgacchati)". Ia Mematahkan 5 Belenggu terendah(Orambhãgiya-samyojana), sehingga SETELAH mematahkan 3 belenggu sebelumnya, Ia juga harus mematahkan 2 Belenggu lagi yaitu:

    1. Kämaräga = Nafsu Indriya
    2. Vyäpäda = Benci/keinginan tidak baik.

    Para anagami, setelah wafatnya akan terlahir kembali di alam Rūpadhātu [Alam materi], yaitu alam-alam Śuddhāvāsa. Ia tidak akan terlahir di luar alam tersebut. Di alam itulah mereka akan mencapai Nibanna/Arahat dan kemudian parinibbana (wafat dalam keadaan nibanna)

  4. Arahat, Setelah mematahkan 5 belenggu terendah (Orambhãgiya-samyojana) sebelumnya, Ia juga harus mematahkan 5 belenggu tertinggi (Uddhambhãgiya-samyojana) sisanya, yaitu:

    1. Ruparäga = Kemelekatan atau kehausan untuk terlahir di alam bentuk. (rüpa-rãga)
    2. Aruparäga = Kemelekatan atau kehausan untuk terlahir di alam tanpa Materi [a rupa][11]
    3. Mäna, merupakan bagian dari permasalahan an-atta, yaitu berkenaan dengan:

      • Ini adalah AKU -> urusannya dengan pandangan terhadap Identitas
      • Ini adalah Milik-KU -> urusannya dgn Tanha [nafsu keinginan]
      • Ini adalah diriKU -> urusannya dengan "keangkuhan" ketika membandingkan dengan pihak lain

      Mana adalah kegiatan MEMBANDINGKAN diri sendiri VS pihak lainnya [bentuk, perasaan, persepsi, dll], yaitu: lebih baik/tinggi dari pihak lainnya, atau merasa sama dengan pihak lainnya atau merasa lebih rendah/rendah diri dari pihak lainnya.
    4. Uddhacca = Mental yang belum seimbang benar, yaitu gelisah, khawatir, bingung, menyesal, gelora, misal karena hal di masa depan [resah, gelisah], akibat yg telah berlalu [penyesalan]
    5. Avijjä = Kegelapan Mental atau Kebodohan atau ketidak-tahuan. Perbedaan antara Avijjä dan Moha.

      • Avijjä = Kebodohan/kegelapan Mental, karena tidak dapat menembus arti dari Empat Kesunyataan Mulia, Hukum Tilakkhana Hukum Paticca-Samuppada, Hukum Kamma.
      • Moha = Kebodohan/kegelapan mental, karena tidak dapat membedakan apa yang baik dan apa yang tidak baik.
Penting untuk di ketahui,
Saat ini dan ke depan, TIDAK AKAN ADA orang yang MAMPU mencapai tingkatan SOTAPANNA. Sang Buddha Gautama menyatakan bahwa SadDhamma [Dhamma sejati: Adanya ajaran dan orang yang mencapai kesucian dengan ajaran] HANYA akan bertahan hingga 500 tahun DARI SETELAH BERDIRINYA Sangha Bhikkhuni[12]

Dengan kemunculan dhamma palsu, maka Dhamma sejati lenyap. Saat ini ajarannya masih ada, namun diselewengkan dan kemudian perlahan lenyap dan dalam waktu yang lama sekali hingga muncul Buddha Metteya (Maitreya).

Untuk mengetahui telah ada berapa BUDDHA SEBELUMNYA, silakan buka: "Menunggangi Samsara: "Aku yang Mulai..Aku yang Mengakhiri.."

[Kembali (↑)]
---------------

Jalan Mulia Berunsur Delapan atau Delapan Jalan Utama[13]:

Delapan Jalan Mulia, Empat kesunyataan Mulia dan "Jangan berbuat tidak baik, perbanyak kebajikan dan murnikan mentalitas", disampaikan oleh seluruh Buddha manapun [DN14/Mahapadana sutta]

Pengelompokan 8 jalan utama dalam kelompok Panna, Sila dan Samadhi disebutkan salah satunya di MN.44/Cūḷavedalla Sutta:
  1. PANNA: PANDANGAN BENAR (sammä-ditthi):

  2. Sang Buddha menyampaikan bahayanya berpandangan salah:

      "Para bhikkhu,..DENGAN MEMILIKI PANDANGAN SALAH, MAKA DENGAN HANCURNYA JASMANI, SETELAH KEMATIAN, MAHLUK-MAHLUK TERLAHIR KEMBALI DI KEADAAN SENGSARA/MERUGI MENDERITA MENUJU KEHANCURAN BAHKAN NERAKA" [AN.1.312/Ekadhamma Sutta]

      "Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu hal pun yang begitu tercela seperti halnya pandangan salah. PANDANGAN SALAH ADALAH HAL TERBURUK YANG TERCELA" [AN.1.318/Ekadhamma Sutta]

      "Para bhikkhu, ada satu orang yang muncul di dunia ini demi bahaya banyak orang, demi ketidak-bahagiaan banyak orang, demi kehancuran, bahaya, dan penderitaan banyak orang, para deva dan manusia. Siapakah satu orang itu? YAITU SEORANG YANG MENGANUT PANDANGAN SALAH DAN MEMILIKI PERSFEKTIF KELIRU. IA MENGALIHKAN BANYAK ORANG DARI DHAMMA SEJATI DAN MENEGAKKAN DHAMMA YANG BURUK PADA MEREKA. Ini adalah satu orang yang muncul di dunia ini demi bahaya banyak orang, demi ketidak-bahagiaan banyak orang, demi kehancuran, bahaya, dan penderitaan banyak orang, para deva dan manusia" [AN 1.316/Ekadhamma sutta]

      Para Bhikkhu, 4 hal yang dengannya seperti menuju keneraka yaitu: memiliki pandangan salah (attanā ca micchādiṭṭhiko hoti), mendorong orang lain berpandangan salah (parañca micchādiṭṭhiyā samādapeti), menyetujui pandangan salah (micchādiṭṭhiyā ca samanuñño hoti) dan memuji pandangan salah (vaṇṇaṃ bhāsati) [AN 4.273/Micchā­diṭṭhi­sutta]

    Sang Buddha menyampaikan “Seseorang memahami:

    • Micchaditthi (pandangan yang salah, yaitu 10 pandangan salah[↓]) sebagai pandangan salah..kehendak salah sebagai kehendak salah..ucapan salah sebagai ucapan salah..perbuatan salah sebagai perbuatan salah..pencaharian/penghidupan salah sebagai pencaharian/penghidupan salah, dan
    • pandangan benar sebagai pandangan benar..kehendak benar sebagai kehendak benar..ucapan benar sebagai ucapan benar..perbuatan benar sebagai perbuatan bener..pencaharian/penghidupan benar sebagai penghidupan benar

    ini adalah pandangan benar seseorang.

    Pandangan benar ada dua:

    1. Pandangan benar (sammādiṭṭhi) dengan noda-noda (sāsavā) berhubungan dengan jasa kebajikan (puññabhāgiyā) dan kematangan dalam dasar/hasil (upadhivepakkā), yaitu: Lawan dari 10 pandangan salah
    2. Pandangan benar (sammādiṭṭhi) mulia tanpa noda (ariyā anāsavā) melampaui duniawi (lokuttarā) dan faktor dari sang jalan (maggaṅgā): Kebijaksanaan (paññā), indria kebijaksanaan (pañña-indriya), kekuatan kebijaksanaan(paññā-bala), faktor pencerahan ketajaman dhamma/penyelidikan kondisi-kondisi (dhamma-vicaya-sambojjhaṅga), faktor sang jalan pandangan benar (sammādiṭṭhi maggaṅga) dalam diri seseorang yang pikirannya mulia, yang pikirannya tanpa noda, yang memiliki jalan mulia dan yang mengembangkan jalan mulia

    Seseorang berusaha untuk meninggalkan pandangan salah dan memasuki pandangan benar: ini adalah usaha benar seseorang.

    Dengan penuh perhatian meninggalkan pandangan salah, dengan penuh perhatian memasuki dan berdiam dalam pandangan benar: ini adalah perhatian benar seseorang.

    Demikianlah ketiga kondisi ini berlangsung dan berputar di sekeliling pandangan benar, yaitu, pandangan benar, usaha benar, dan perhatian benar"

    "Apakah, para bhikkhu, konsentrasi benar yang mulia dengan pendukung serta perlengkapannya, yaitu pandangan benar, kehendak benar, ucapan benar, perbuatan benar, penghidupan benar, usaha benar, dan perhatian benar? Keterpusatan pikiran yang dilengkapi dengan ketujuh faktor ini disebut konsentrasi benar yang mulia dengan pendukung serta perlengkapannya.

    [..] Bagaimanakah pandangan benar muncul dalam urutan pertama?

    Pada seorang yang memiliki pandangan benar, muncul kehendak benar; pada seorang yang memiliki kehendak benar, muncul ucapan benar; pada seorang yang memiliki ucapan benar, muncul perbuatan benar; pada seorang yang memiliki perbuatan benar, muncul penghidupan benar; pada seorang yang memiliki penghidupan benar, muncul usaha benar; pada seorang yang memiliki usaha benar, muncul perhatian benar; pada seorang yang memiliki perhatian benar, muncul konsentrasi benar; pada seorang yang memiliki konsentrasi benar, muncul pengetahuan benar [sammā-ñāṇa]; pada seorang yang memiliki pengetahuan benar, muncul pembebasan benar [sammā-vimutti]. Demikianlah, para bhikkhu, jalan dari siswa yang dalam latihan lebih tinggi memiliki delapan faktor, Arahant memiliki sepuluh faktor.

    “[..] bagaimanakah pandangan benar muncul dalam urutan pertama?

    Pada seorang yang memiliki pandangan benar, pandangan salah dilenyapkan, dan banyak kondisi tidak bermanfaat yang berasal-mula dengan pandangan salah sebagai kondisi juga dilenyapkan, dan banyak kondisi bermanfaat yang berasal-mula dengan pandangan benar sebagai kondisi menjadi terpenuhi melalui pengembangan [bhāvanā pāripūriṃ gacchanti].

    “Pada seorang yang memiliki kehendak benar, kehendak salah dilenyapkan, dan banyak kondisi tidak bermanfaat yang berasal-mula dengan kehendak salah sebagai kondisi juga dilenyapkan, dan banyak kondisi bermanfaat yang berasal-mula dengan kehendak benar sebagai kondisi menjadi terpenuhi melalui pengembangan.

    “Pada seorang yang memiliki ucapan benar, ucapan salah dilenyapkan … Pada seorang yang memiliki perbuatan benar, perbuatan salah dilenyapkan … Pada seorang yang memiliki penghidupan benar, penghidupan salah dilenyapkan … Pada seorang yang memiliki usaha benar, usaha salah dilenyapkan … Pada seorang yang memiliki perhatian benar, perhatian salah dilenyapkan … Pada seorang yang memiliki konsentrasi benar, konsentrasi salah dilenyapkan … Pada seorang yang memiliki pengetahuan benar, pengetahuan salah dilenyapkan … Pada seorang yang memiliki pembebasan benar, pembebasan salah dilenyapkan, dan banyak kondisi tidak bermanfaat yang berasal-mula dengan pembebasan salah sebagai kondisi juga dilenyapkan, dan banyak kondisi bermanfaat yang berasal-mula dengan pembebasan benar sebagai kondisi menjadi terpenuhi melalui pengembangan.[MN117/Mahācattārīsakasutta]

    Pandangan benar dibantu 5 Faktor agar berbuah dan bermanfaat Cetovimutti [kebebasan pikiran] dan pannavimutti [kebebasan kebijaksanaan], yaitu: Moralitas [sīlā]; mendengar/belajar [sutā]; Dibahas/didiskusikan [sākacchā]; ketenangan/peredaan/pengendapan [samathā] dan Mengamati secara khusus [vipassanā] [MN.43/Mahāvedalla Sutta]

    • (KLIK!) Empat Kesunyataan Mulia

      Kita kenali dulu perbedaan antara KESUNYATAAN DAN KENYATAAN

      • Paramatha-sacca [Kebenaran mutlak], harus memenuhi syarat:

        • Harus benar.
        • Tidak terikat oleh waktu, sehingga [dulu, sekarang dan akan datang] akan sama saja
        • Tidak terikat oleh tempat; di sini, di Amerika ataupun di bulan sama saja.

      • Sammuti-sacca [Kebenaran relatif], sesuatu itu benar, tetapi masih terikat oleh waktu dan tempat.

      EMPAT KESUNYATAAN/KEBENARAN MULIA [Cattari Ariya Saccani],
      Merupakan kebenaran mutlak (Paramatha-sacca) yang berlaku bagi siapa saja tanpa membeda-bedakan suku, ras, budaya, maupun agama. Mengakui atau tidak mengakui, suka atau tidak suka, setiap manusia mengalami dan diliputi oleh hukum kebenaran ini.

      Empat Kebenaran Mulia ditemukan ulang di periode ini oleh Buddha Gautama dan diajarkan pertama kalinya kepada 5 pertapa. Kejadian ini merupakan bagian dari pemutaran roda dhamma [diperingati sebagai hari ASADHA]. Muncul/tidaknya seorang Buddha di dunia, kebenaran itu akan tetap ada dan berlaku secara universal.

      1. Kesunyataan Mulia: memahami Dukkha
        [Du = tidak menyenangkan, sulit dipertahankan, sulit dipikul; kha artinya kosong]. Hidup dalam bentuk apa pun adalah dukkha (Penderitaan/tidak memuaskan):

        • dilahirkan, usia tua, sakit, mati adalah penderitaan.
        • berhubungan dengan orang yang tidak disukai adalah penderitaan.
        • ditinggalkan oleh orang yang dicintai adalah penderitaan.
        • tidak memperoleh yang dicita-citakan adalah penderitaan.
        • masih memiliki lima khanda adalah penderitaan.
        • penjelmaan; kemelekatan; keinginan; perasaan; kontak [phassa]; 6 landasan; Mental-Materi; kesadaran; bentukan2; kebodohan; noda-noda adalah penderitaan
        • Ahara [makanan fisik, kontak [phassa], kehendak pikiran [manosañcetanā] dan kesadaran(viññāṇa)] adalah penderitaan

        Pemahaman Dukkha di terangkan dengan kalimat sederhana "sabbe sankhara dukkha" [semua bentukan (berkondisi) adalah tidak memuaskan], kondisi adalah ketidakkekalan, dapat berubah, sehingga bukanlah diri [bukan nyata, hanya fenomena] tidak dapat digenggam atau bergantung sebagai penunjang/landasan/sokongan

        Dukkha dapat juga dibagi sbb. :

        • dukkha-dukkha: penderitaan yang nyata, yang benar dirasakan sebagai penderitaan raga dan mental, misalnya sakit kepala, sakit gigi, susah hati dll.
        • viparinäma-dukkha: fakta bahwa semua perasaan senang dan bahagia [sifat ketidakkekalan], di dalamnya ada benih kekecewaan, kekesalan dll.
        • sankhärä-dukkha: lima khanda adalah penderitaan; selama masih ada lima khanda tak mungkin terbebas dari sakit fisik.

      2. Kesunyataan Mulia: Asal mula Dukkha
        Sumber dari dukkha adalah tanhä [nafsu keinginan yang tiaada habis-habisnya]. Semakin diumbar semakin mencengkeram, bagai orang kehausan yang minum air asin, rasa haus bukannya menghilang namun malah bertambah. Tiga macam tanhä:

        • Kämatanhä: kesenangan/kesedihan dan/atau perasaan biasa-biasa saja berasal dari 6 indra:

          • bentuk-bentuk (indah)
          • suara-suara (merdu)
          • wangi-wangian
          • rasa-rasa (nikmat)
          • sentuhan-sentuhan (lembut)
          • bentuk-bentuk pikiran

        • Bhavatanhä: Keinginan untuk menjelma menjadi hal tertentu [berdasarkan pada kesukaan setelah kontak dari 6 Indra]

        • Vibhavatanhä: Keinginan untuk tidak menjelma menjadi hal tertentu [berdasarkan pada ketidaksukaan setelah kontak dari 6 Indria]

        Untuk menjelaskan kaitan ini, berikut dibawah ini adalah perumpamaan 6 binatang (SN 35.247/Chappana sutta/enam binatang):

          Suatu ketika Sang Buddha tinggal diantara para Sakya di Vihara Gosita, Kapilavastu, beliau menyampaikan: "Para bikkhu, misalkan terdapat seseorang dengan badan terluka dan bernanah memasuki hutan yang penuh buluh dan duri. Duri kusa menusuk kakinya dan buluh menyayat tubuhnya, karena itu orang tersebut mengalami perasaan tidak menyenangkan yang menyakitkan (dukkhaṃ domanassaṃ paṭisaṃvediyetha). Demikian pula, para bhikkhu, beberapa bhikkhu, di sini, pergi ke desa atau hutan, bertemu orang yang berkata:, 'Yang mulia ini, berbuat ini, berprilaku ini, Ia duri yang mencemari desa.' Setelah memahami ini sebagai 'duri', maka pengendalian (saṃvaro) dan bukan pengendalian (asaṃvaro) seharusnya Ia pahami"

          Dan bagaimanakah, para bhikkhu, bukan pengendalian itu?

          Di sini setelah melihat bentuk dengan mata, seorang Bhikkhu terpikat bentuk menyenangkan dan terganggu bentuk memuakkan/menyakitkan. Dengan tidak menegakkan perhatian pada Jasmani, pikirannya menjadi lemah/terbatas (parittacetaso), Ia tidak memahami kebebasan melalui pikiran/mental (cetovimutti) dan kebebasan melalui kebijaksanaan (paññāvimutti), di mana kondisi-kondisi buruk yang tidak bermanfaat lenyap tanpa sisa.

          Setelah mendengar suara dengan telinga, seorang bhikkhu...
          Setelah merasakan sentuhan dengan kulit..
          Setelah mencicipi rasa dengan lidah..
          Setelah mencium aroma dengan hidung..
          Setelah mengenali suatu bentukan pikiran dengan pikiran..

          [dan diteruskan kalimat yang sama]

          Misalkan, Para Bhikkhu seorang menangkap 6 binatang dari habitat berbeda dan mengikat kuat mereka dengan tali . Ia menangkap Ular, buaya, burung, anjing, srigala dan monyet. Masing-masing diikatnya dengan tali menjadi satu simpul ditengahnya dan kemudian dilepaskan.

          Ke-6 binatang dari habitat berbeda itu akan menariknya ke wilayah mereka. Ular akan menarik ke satu arah dan berpikir, "aku akan menuju sarang semut". Buaya akan menarik kearah lain dan berpikir, "aku akan masuk ke air". Burung akan menarik ke arah lainnya dan berpikir, "aku akan terbang ke angkasa". Anjing akan menarik ke arah lain dengan berpikir, "aku akan memasuki desa". Serigala akan menarik ke arah lain dan berpikir, "Aku akan pergi ke kuburan". Monyet akan menarik ke arah lain dan berpikir, "aku akan memasuki hutan"

          Ketika ke enam binatang itu menjadi letih dan lelah, mereka dikuasai satu diantara yang terkuat dan berada di bawah kendalinya

          Demikian pula, para bhikkhu, ketika perhatian pada jasmani [kāyagatāsati] tidak dikembangkan (abhāvitā) dan tidak dilatihnya (abahulīka), maka mata ke arah bentuk-bentuk menyenangkan atau ke arah lain dari bentuk-bentuk memuakkan/menyakitkan.

          Telinga..
          Kulit..
          Lidah..
          Hidung..
          Pikiran..

          [dan diteruskan kalimat yang sama]

          Demikianlah bukan pengendalian itu.

          Dan bagaimanakah, para bhikkhu, pengendalian itu?

          Di sini setelah melihat bentuk dengan mata, seorang Bhikkhu tidak terpikat bentuk menyenangkan dan tidak terganggu bentuk memuakkan/menyakitkan. Dengan menegakkan perhatian pada Jasmani, pikirannya menjadi tak terbatas (appamāṇacetaso), Ia memahami kebebasan melalui pikiran/mental dan kebebasan melalui kebijaksanaan, di mana kondisi-kondisi buruk yang tidak bermanfaat lenyap tanpa sisa.

          Setelah mendengar suara dengan telinga, seorang bhikkhu...
          Setelah merasakan sentuhan dengan kulit..
          Setelah mencicipi rasa dengan lidah..
          Setelah mencium aroma dengan hidung..
          Setelah mengenali suatu bentukan pikiran dengan pikiran..

          [dan diteruskan kalimat yang sama]

          Misalkan, Para Bhikkhu seorang menangkap 6 binatang dari habitat berbeda dan mengikat kuat mereka dengan tali. Ia menangkap Ular, buaya, burung, anjing, srigala dan monyet. Masing-masing diikatnya dengan tali DAN SETELAH MELAKUKAN ITU, IA IKAT DI SEBUAH TIANG/PILAR.

          Ke-6 binatang dari habitat berbeda itu akan menariknya ke wilayah mereka. Ular akan menarik ke satu arah dan berpikir, "aku akan menuju sarang semut"....[sama seperti di atas]

          Ketika ke enam binatang itu menjadi letih dan lelah, mereka akan BERADA DI DEKAT TIANG, AKAN DUDUK/BERBARING DISANA

          Demikian pula, para bhikkhu, ketika perhatian pada jasmani [kāyagatāsati] dikembangkan (bhāvitā) dan dilatih (abahulīka), maka mata tidak ke arah bentuk-bentuk menyenangkan atau tidak ke arah lain dari bentuk-bentuk memuakan/menyakitkan. Telinga..Kulit..lidah..hidung..pikiran [dan diteruskan kalimat yang sama]

          Demikianlah pengendalian itu.

          Tiang/pilar yang kuat" adalah perhatian pada jasmani. Karena itu, para bhikkhu, kalian harus berlatih: Perhatian pada Jasmani akan kami kembangkan dan latih, menjadikannya kendaraan, menjadikannya landasan, menstabilkannya, mengerahkan usaha kami dan menyempurnakannya. Demikianlah kalian harus melatihnya

      3. Kesunyataan Mulia: Lenyapnya Dukkha
        melenyapkan/memadamkan tanhä akan membebaskan dari Dukkha, Keadaan ini disebut sebagai Nibanna:

        1. Sa-upadisesa-Nibbana = Nibbana dengan 'sisa' [lima khanda masih ada, mahluk itu masih hidup]
        2. An-upadisesa-Nibbana = Nibanna dan meninggal dunia, seorang Arahat akan mencapai anupadisesa-nibbana [Pari-Nibbana]. Misalnya, api padam, kejurusan mana api itu pergi? jawabannya adalah 'tidak relevan' Sebab api padam karena habisnya penyokong/bahan bakar [ahara].

        Arti Nibbana [Pali]; Sanskerta= Nirvana-s [nir; nis = "tidak ada, lenyap, habis'; + va = "meniup"] = "Musnah, Lenyap, Padam, memadamkan". Merupakan suatu keadaan/kondisi padamnya nafsu keinginan dan tidak pernah diartikan sebagai Alam atau tempat atau Tuhan.

      4. Kesunyataan Mulia: Jalan mengakhiri Dukkha, yaitu melalui Delapan Jalan Utama (Ariya Atthangiko Magga):

        1. Pandangan Benar (sammä-ditthi)
        2. Pikiran Benar (sammä-sankappa)
        3. Ucapan Benar (sammä-väcä)
        4. Perbuatan Benar (sammä-kammanta)
        5. Pencaharian Benar (sammä-ajiva)
        6. Daya-upaya Benar (sammä-väyäma)
        7. Perhatian Benar (sammä-sati)
        8. Konsentrasi Benar (sammä-samädhi)

    • (KLIK!) Hukum Tilakkhana (Tiga Corak Umum)
      Hukum Tilakkhana[2] termasuk hukum Kesunyataan; sehingga hukum ini berlaku di mana-mana dan setiap waktu atau dengan kata lain tidak terikat oleh waktu dan tempat.

      • Sabbe sankhärä aniccä, Segala yang berkondisi tidak kekal.

      • Sabbe sankhärä dukkha, Segala yang berkondisi tidak memuaskan.

      • Kondisi-kondisi itu sendiri merupakan sebuah rangkaian proses terus menerus: Uppada (timbul) -- à Thiti (berlangsung) -- à Bhanga (berakhir/lenyap)

      • Sabbe Dhammä Anattä, Segala yang berubah bukan diri (bukan nyata, hanya fenomena)

      • Selain paham Anatta, terdapat dua paham lain yang tidak dibenarkan Sang Buddha:

        • Attaväda - Paham bahwa atma (roh) adalah kekal-abadi dan akan berlangsung sepanjang masa.
        • Ucchedaväda - Paham bahwa setelah mati atma (roh) itu pun akan turut lenyap, atau tidak ada apapun lagi.

        Contoh paham anattä:
        Roti merupakan paduan dari tepung, ragi, gula, garam, mentega, susu, air, api, tenaga kerja dll. Setelah ia menjadi roti, maka tidak bisa lagi kita tunjuk satu bagian tertentu dan mengatakan: ini adalah tepungnya dan/atau ini garamnya dan/atau ini menteganya, dan/atau ini airnya dan/atau ini apinya dan/atau ini tenaga kerjanya dst. Karena setelah bahan-bahan itu diaduk menjadi satu dan dibakar di oven, maka bahan-bahan itu telah berubah sama sekali.

    • (KLIK!) Hukum Paticca-Samuppäda
      Paham anattä dapat pula diterangkan melalui cara sintesa, yaitu melalui Hukum Paticca-Samuppada (sebab-sebab yang saling bergantungan). Prinsip dari Hukum ini diberikan dalam empat formula pendek, yaitu :

      • Imasmiṃ sati idaṃ hoti, Dengan adanya ini, maka terjadilah itu.
      • Imassuppādā idaṃ uppajjati, Dengan timbulnya ini, maka timbullah itu.
      • Imasmiṃ asati idaṃ na hoti, Dengan tidak adanya ini, maka tidak adalah itu.
      • Imassa nirodhā idaṃ nirujjhati, Dengan terhentinya ini, maka terhentilah juga itu.[14]

      Berdasarkan prinsip dari saling menjadikan, relatifitas dan saling bergantungan ini, maka seluruh kelangsungan dan kelanjutan hidup dan juga berhentinya hidup dapat diterangkan dalam formula dari duabelas nidana (sebabmusabab):

        i–iiAvijjä Paccayä Sankhära: Karena ketidaktahuan (Avidya/Avijja) = moha (kebodohan mental) = annana (tidak berpengetahuan), timbullah bentuk–bentuk karma (Samskaras/Samkhara). Istilah "sankhara" digunakan untuk segala sesuatu yang merupakan paduan unsur dan terkondisi [paccaya], misal semua makhluk sebagai akibat dari sebab dan kondisi [paccaya], dan apa yang mereka lakukan sebagai sebab dan kondisi berputar kembali untuk menghasilkan akibat yang lain.
        ii–iiiSankhära Paccayä Viññäna: Karena bentuk – bentuk karma (Samskaras/Samkhara), timbullah kesadaran (viññāṇa).
        iii–ivViññäna Paccayä Namarupa: Karena kesadaran (viññāṇa), timbullah Mental-Materi (nama-rupa).
        iv–vNamarupa Paccayä Saläyatana: Karena mental-Materi (nama–rupa), timbullah enam landasan indra (Sad-ayatana/Salayatana).
        v–viSaläyatana Paccayä Phassa: Karena enam landasan indra (Sad-ayatana/Salayatana), timbullah kontak (Sparsa/Phassa).
        vi–viiPhassa Paccayä Vedanä: Karena kontak (Sparsa/Phassa), timbullah perasaan (Vedana/Vadana).
        vii–viiiVedanä Paccayä Tanhä: Karena perasaan (Vedana/Vadana), timbullah keinginan (Trsna/Tanha).
        viii–ixTanhä Paccayä Upädäna: Karena keinginan (Trsna/Tanha), timbullah kemelekatan (upadana).
        ix–xUpädäna Paccayä Bhavo: Karena kemelekatan (upadana), timbullah penjelmaan (bhava).
        x– xiBhava Paccayä Jati: Karena penjelmaan (bhava), timbullah kelahiran (jati). Kelahiran disini bukan berarti benar – benar peristiwa melahirkan, melainkan kemunculan Panca Skanda (Lima kelompok) atau Nama - Rupa atau Nama/Citta/Kesadaran dan Rupa.
        xi–xiiJati Paccayä Jaramarana: Karena kelahiran (jati), timbullah kelapukan dan kematian (jara – marana), serta kesedihan, keluh kesah, sakit, penderitaan, dan keputusasaan.

      Untuk menghentikan proses kelahiran kembali [samsara] yang merupakan Dukkha, maka lakukan proses sebaliknya, yang dimulai dengan menghentikan kegelapan/ketidaktahuan (kebodohan), maka terhenti pula bentuk-bentuk karma; dengan terhentinya bentuk-bentuk karma, maka terhenti pulalah kesadaran..dan seterusnya.

        i–iiDengan berhentinya seluruh ketidaktahuan, maka bentuk – bentuk karma berhenti.
        ii–iiiDengan berhentinya bentuk – bentuk karma, maka kesadaran berhenti.
        iii–ivDengan berhentinya kesadaran, maka MentalMateri berhenti.
        iv–vDengan berhentinya MentalMateri, maka enam landasan indra berhenti.
        v–viDengan berhentinya enam landasan indra, maka kontak berhenti.
        vi–viiDengan berhentinya kontak, maka perasaan berhenti.
        vii–viiiDengan berhentinya perasaan, maka nafsu keinginan berhenti.
        viii–ixDengan berhentinya nafsu keinginan, maka kemelekatan berhenti.
        ix–xDengan berhentinya kemelekatan, maka penjelmaan berhenti.
        x–xiDengan berhentinya penjelmaan, maka kelahiran berhenti.
        xi–xiiDengan berhentinya kelahiran, maka pelapukan dan kematian dan kesedihan, keluh-kesah, Kesakitan, penderitaan dan keputusasaan berhenti.

      Demikianlah berhentinya seluruh bentuk Penderitaan.

    • (KLIK!) Hukum Kamma

      Sulit untuk memberikan suatu penjelasan memuaskan untuk menggambarkan arti dan maksud dari Kamma, misalnya terlahir sebagai manusia:

      Dari 31 alam kehidupan, terlahir sebagai manusia seharusnya merupakan hasil dari kamma baik. Sang buddha memberikan gambaran betapa sulitnya terlahir sebagai manusia dengan perumpamaan: Misal di suatu lautan terdapat sebuah RING BULAT yg BOLONG tengahnya sedang terapung-apung..BELUM TENTU dalam 100 tahun terdapat 1 KURA-KURA yang kepalanya masuk ke tengah-tengah bolongan ring tersebut.

      Perumpamaan yang diberikan sang Buddha ini menjelaskan betapa sulitnya terlahir sbg manusia. Sehingga seharusnya, jangankan terlahir sebagai manusia normal, bahkan terlahir sebagai manusia cacat pun adalah karena seseorang tersebut mempunyai HASIL/BUAH karma baik sebelumnya.

      Kondisi lengkap tidak dipunyai oleh seorang yg cacat kaki dan tubuh -> Kamma buruk.

      Namun walaupun anggota tubuh tidak lengkap, ia kaya, terkenal dan mendapatkan Istri yang cantik -> Kamma baik

      Cacat anggota tubuh seseorang, adalah keunggulan, jika digunakan mengemis. Ia akan memperoleh cukup uang dan makanan dari kekurangannya -> Kamma baik.

      Nick Vujicic, keturunan serbia australlia, tidak mempunyai kaki dan tangan, Ia memiliki kehidupan luar biasa dan tidak mengatakan hidupnya adalah buah dari kamma buruk :)

      Pelacur yang menurut pandangan umum -> Kamma buruk

      Agar orang mau membayar untuk menyetubuhinya, sekurangnya ia dianggap menarik. Penampilan FISIK MENARIK -> Kamma baik.

      Pelacur sangat jarang kekurangan makan dan mampu memilih menu yang ia makan padahal, tidak banyak orang di muka bumi ini yang cukup makan dan masih bisa memilih menu -> Kamma baik.

      Pelacur memiliki pakaian yang baik, terlindungi dari kedinginan, memiliki perhiasan karena dan untuk menambah dayatariknya, bertempat tinggal cukup nyaman dan terhindar dari hujan dan terik matahari -> Kamma baik

      Ilustrasi di atas menunjukan bahwa KAMMA dalam artian vipaka (hasil) maka BAIK atau BURUK adalah RELATIF menurut sudut pandang. Namun itu baru satu arti cakupan kata Kamma.

      Apa arti Kamma?

      Kamma [artinya: perbuatan], meliputi semua jenis kehendak/maksud perbuatan baik/buruk yang dilakukan melalui: pikiran, kata, atau tindakan:

        "O, bhikkhu, kehendak [cetana] untuk berbuat itulah yang Kunamakan Kamma. Sesudah berkehendak orang lantas berbuat dengan badan, perkataan atau pikiran." [AN 6.63, Nibbedhika Sutta]

      APA ITU CETANA?

      Cetana adalah apa dikehendaki/diniatkan [ceteti], diatur/dipikirkan ulang [pakappeti] dan kecenderungan/dilekati [anuseti] -> menyokong kesadaran -> menjadikan sesuatu di kemudian hari [yg terlahir,tua, mati, dll = Dukkha] [SN 12.38/Cetana Sutta]

      Apa yang menjadi penyebab Kamma?

      Kontak/Indra [Phassa], terdapat dua tipe Kamma:

        Kamma lama [Purana]:
        Yang telah dilakukan [abhisaṅkhataṃ], dikehendaki [abhisañcetayitaṃ] dan dirasakan [vedayitaṃ] karena/beraal dari Mata atau telinga atau hidung atau lidah atau tubuh atau pikiran

        Kamma Baru [Nava]:
        Perbuatan sekarang yang dilakukan melalui pikiran, ucapan perbuatan

      Cara memadamkannya:
      8 Jalan utama. [SN 35.146/kamanirodha sutta]

      Bagaimana aplikasi Kamma dan Buahnya?

      Berikut beberapa variasi ucapan sang Buddha pada variasi kelompok (orang) yang berada di tingkatan kesiapan mental berbeda saat kotbah tentang kamma di sampaikan:

        "Sesuai dengan benih yang ditanam, demikian pula buah yang akan dipetik, pelaku kebaikan memetik kebaikan, pelaku kejahatan memetik kejahatan. Olehmu, teman, benih telah di tanam, Kelak kau akan rasakan buahnya".[SN 11.10/Isayosamuddaka Sutta; kalimat yang kurang lebih sama ada di jataka no.222 dan 353. Kalimat di atas ini adalah kalimat para petapa kepada Raja Asura, Sambara, di peristiwa menjelang perselisihan antara deva vs Asura. Kalimat di atas ini, mirip dengan ucapan Yājñavalkya kepada Jāratkārava Ārtabhāga di Brihad-Āranyaka Upanishad 3.2.13: "Seseorang menjadi baik karena perbuatan baik, menjadi jahat karena perbuatan jahat"].

        Kepada Raja Pasenadi, kosala:
        Semua mahluk akan mati, karena kehidupan berakhir pada kematian, mereka akan mengembara sesuai dengan perbuatan mereka, memetik buah dari kebajikan dan kejahatan mereka: Pelaku kejahatan menuju neraka, pelaku kebajikan menuju alam bahagia [SN 3.22/ayyaka sutta]

        Selama buah dari suatu perbuatan jahat belum masak, maka orang bodoh akan menganggapnya manis seperti madu; tetapi apabila buah perbuatan itu telah masak, maka ia akan merasakan pahitnya penderitaan. [Dhammapada Bab 5, syair 69]

        Makhluk-makhluk adalah pemilik perbuatan mereka, pewaris perbuatan mereka, mereka berasal-mula dari perbuatan mereka, terhubung dengan perbuatan mereka, memiliki perbuatan mereka sebagai perlindungan mereka. Adalah perbuatan yang membedakan makhluk-makhluk sebagai hina dan mulia.[MN 135/Cula Kamma Vibhanga Sutta]

        "Aku adalah pemilik dari perbuatanku, pewaris perbuatanku, berasal dari perbuatanku, terkait dengan perbuatanku, dan memiliki perbutanku sebagai pelindungku. Apapun yang ku lakukan, baik atau buruk, akulah pewarisnya. [AN 5.57, Upajjhatthana Sutta]

        "Para bhikkhu, seorang yang menyatakan (Yo, bhikkhave, evaṃ vadeyya), 'Seperti apapun kamma yang diperbuatnya (yathā yathāyaṃ puriso kammaṃ karoti), Demikian pula yang akan dialaminya (tathā tathā taṃ paṭisaṃvediyatī’ti)', Jika demikian para bhikkhu (evaṃ santaṃ, bhikkhave), kehidupan suci tidak ada (brahmacariyavāso na hoti), tidak ada jalan mengakhiri Dukkha (okāso na paññāyati sammā dukkhassa antakiriyāya). TAPI para bhikkhu, seorang yang menyatakan 'seperti apapun perasaan atas kamma yang diperbuatnya (yathā yathā vedanīyaṃ ayaṃ puriso kammaṃ karoti), Demikian pula hasil yang akan dialaminya (tathā tathāssa vipākaṃ paṭisaṃvediyatī’ti)', Jika demikian para bhikkhu (evaṃ santaṃ, bhikkhave), Kehidupan suci ada (brahmacariyavāso hoti), ada jalan benar diberakhirnya Dukkha (okāso paññāyati sammā dukkhassa antakiriyāya)" [AN 3.99/lonapala Sutta]

        Aku tidak katakan (Nāhaṃ..vadāmi), Para Bhikkhu (bhikkhave), bahwa perbuatan disengaja (sañcetanikānaṃ kammānaṃ) selesai (katānaṃ) akumulasinya (upacitānaṃ) tanpa sepenuhnya dialami (appaṭisaṃveditvā) penjelmaan menjadi berakhir (byantībhāvaṃ) baik itu (Tañca kho) sekarang atau di kehidupan ini (diṭṭheva dhamme), berikutnya atau (upapajje vā), lain periode atau beberapa periode berkelanjutan tertentu (apare vā pariyāye). Juga tidak aku katakan (Na tvevāhaṃ..vadāmi), para bhikkhu, bahwa perbuatan disengaja selesai akumulasinya tanpa sepenuhnya dialami diberakhirnya Dukkha (dukkhassantakiriyaṃ). [AN 10.206/Sancetanika sutta]

      Cara/bentuk hasil Kamma berbuah:

      terdapat 3 (tiga) cara/bentuk [ti-vidhā] kamma dirasakan (vedaniya kamma), yaitu (1) sekarang ini atau di kehidupan ini [diṭṭhe va dhamme/dittheva dhamme vedaniya kamma] atau (2) berikutnya [upapajja vedaniya kamma] atau (3) lain periode atau beberapa periode berkelanjutan lainnya (apare vā pariyāye vedaniya kamma) [MN.136/Maha kamma vibhangga sutta; AN 3.34/NIDANA SUTTA; AN.10.217/Paṭhamasañcetanikasutta; AN 6.63/Nibbe Dihika (pariyaya) sutta].

      Atau juga kamma dirasakan (vedaniya kamma) dalam 2 (dua) cara/bentuk yaitu: (1) ditthe va dhamme (sekarang ini atau kehidupan ini) dan (2) samparaya (beberapa periode ke depan) vedaniya [MN 101/Devadaha Sutta]

      Sejak/Mulai pada tingkat kesucian anagami, hasil kamma yang dirasakannya adalah pada saat ini di kehidupan ini:

        Seharusnya dikembangkan dengan baik (Bhāvetabbā kho panāyaṃ), Para Bhikkhu (bhikkhave), pembebasan pikiran dengan cinta kasih (mettācetovimutti) / ..dengan karuna (Karuṇācetovimutti) / ..dengan mudita (muditācetovimutti) / ..dengan upekkhā (upekkhācetovimutti) oleh pria atau wanita (itthiyā vā purisena vā). Wanita atau para bhikkhu atau Pria (Itthiyā vā bhikkhave purisassa vā) tidak membawa tubuhnya ketika pergi (nāyaṃ kāyo ādāya gamanīyo); Pikiran/kesadaran rantai antara dirinya, para bikkhu (Cittantaro ayaṃ, bhikkhave, macco).’

        “Kemudian Ia (so evam) [ariyasāvako/pencapai kesucian] mengetahui (pajānāti): ‘Apapun Perbuatan jahat lampau yang kulakukan melalui tubuh (yaṃ kho me idaṃ kiñci pubbe iminā karajakāyena pāpakammaṃ kataṃ. "Karaja-kayena" meliputi: perbuatan dari 6 kontak Indriya yaitu dari Pikiran, Ucapan dan Perbuatan), seluruh hasil akan dirasakan di saat ini/di kehidupan ini (sabbaṃ taṃ idha vedanīyaṃ) Tidak lagi menjadi mengikuti ku (na taṃ anugaṃ bhavissatī’ti).’

        jika dikembangkan sedemikian rupa, para Bhikkhu (Evaṃ bhāvitā kho, bhikkhave). Pembebasan pikiran dengan metta .. karuna .. mudita .. upekkha (metta ..karuna .. mudita .. upekkha cetovimutti), akan membawa menuju keadaan Yang-Tidak-Kembali-Lagi (anāgāmitāya saṃvattati), bagi bhikkhu yang telah mantap dalam kebijaksanaan yang terdapat di dalam Ajaran ini tetapi masih belum menembus pembebasan yang lebih tinggi (idha paññassa bhikkhuno uttari vimuttiṃ appaṭivijjhato) [AN 10.208/Karajakaya Brahma Vihara Sutta. Jika mencapai arahat di kehidupan ini juga maka terhenti di saat parinibanna, jika tidak, Ia terlahir di alam anagami dan terhenti ketka parinibanna]

        Atau seperti pada syair yang disampaikan oleh seorang Arahat:

        Apapun perbuatan jahat yang ku lakukan di kehidupan-kehidupan sebelumnya (Yaṁ mayā pakataṁ pāpaṁ pubbe aññāsu jātisu) Akan dirasakan di saat ini/di kehidupan ini [idhe va taṁ vedaniyaṁ], Sebab lain keberadaan tidak ada lagi [vatthu aññaṁ na vijjati] [Samiti Gutta Thera Gatha 81]

      Akibat dari perbuatan-perbuatan yang dilakukan:

      manusia terlihat atau menjadi: hina/mulia, berumur pendek/panjang, berpenyakit/sehat, cantik/buruk rupa, berpengaruh/tidak, miskin/kaya, berkelahiran rendah/tinggi, bodoh/bijaksana.

      Contoh:

      1. Seseorang membunuh makhluk-makhluk hidup [ato terbiasa memukul dan bertindak dengan kekerasan, tanpa belas kasihan pada makhluk-makhluk hidup] -> Karena melakukan dan menjalankan perbuatan-perbuatan demikian -> bersamaan hancurnya tubuh setelah kematian terlahir di keadaan sengsara/merugi menderita menuju kehancuran bahkan neraka, sebaliknya jika tidak, Ia muncul di alam manusia dan akan berumur pendek.

      2. Seseorang melukai makhluk-makhluk dengan tangan, dengan bongkahan tanah, dengan tongkat, atau dengan pisau -> Karena melakukan dan menjalankan perbuatan-perbuatan demikian -> bersamaan hancurnya tubuh setelah kematian terlahir di keadaan sengsara/merugi menderita menuju kehancuran bahkan neraka, sebaliknya jika tidak, Ia muncul di alam manusia dan akan berpenyakit.

      3. Seseorang memiliki karakter pemarah dan mudah tersinggung; bahkan jika dikritik sedikit, ia menjadi tersinggung, menjadi marah, bermusuhan, dan membenci, dan menunjukkan kemarahan, kebencian, dan dendam -> Karena melakukan dan menjalankan perbuatan-perbuatan demikian -> bersamaan hancurnya tubuh setelah kematian terlahir di keadaan sengsara/merugi menderita menuju kehancuran bahkan neraka, sebaliknya jika tidak, Ia muncul di alam manusia dan rupa yang buruk.

      4. Seseorang bersifat iri, seorang yang iri-hati, sakit hati, dan iri akan perolehan, pujian, penghargaan, penghormatan, salam, dan pemujaan yang diterima oleh orang lain-> Karena melakukan dan menjalankan perbuatan-perbuatan demikian -> bersamaan hancurnya tubuh setelah kematian terlahir di keadaan sengsara/merugi menderita menuju kehancuran bahkan neraka, sebaliknya jika tidak, Ia muncul di alam manusia dan akan tidak akan memiliki pengaruh.

      5. Seseorang yang tidak memberikan makanan, minuman, pakaian, kereta, kalung bunga, wangi-wangian, salep, tempat tidur, tempat tinggal, dan pelita kepada para petapa atau para brahmana [ato sesuai MN142/dakkhinaVibhanga sutta] -> Karena melakukan dan menjalankan perbuatan-perbuatan demikian -> bersamaan hancurnya tubuh setelah kematian terlahir di keadaan sengsara/merugi menderita menuju kehancuran bahkan neraka, sebaliknya jika tidak, Ia muncul di alam manusia dan akan menjadi miskin.

      6. Seseorang yang keras kepala dan sombong; ia tidak memberi hormat kepada seorang yang selayaknya menerima penghormatan, tidak bangkit berdiri untuk seseorang yang karena kehadirannya seharusnya ia bangkit berdiri, tidak memberikan tempat duduk kepada ia yang layak menerima tempat duduk, tidak memberi jalan untuk seseorang yang seharusnya ia beri jalan, dan tidak memghormati, menghargai, memuja, dan memuliakan seseorang yang seharusnya dihormati, dihargai, dipuja, dan dimuliakan -> Karena melakukan dan menjalankan perbuatan-perbuatan demikian -> bersamaan hancurnya tubuh setelah kematian terlahir di keadaan sengsara/merugi menderita menuju kehancuran bahkan neraka, sebaliknya jika tidak, Ia muncul di alam manusia dan akan berkelahiran rendah.

      7. Seseorang yang tidak mengunjungi seorang petapa atau seorang brahmana dan bertanya: ‘Yang Mulia, apakah yang bermanfaat/tidak? Apakah yang tercela/tidak? Apakah yang harus/tidak boleh dilatih? Perbuatan apakah yang mengarah pada kerugian dan penderitaanku untuk waktu yang lama? Perbuatan apakah yang mengarah pada kesejahteraan dan kebahagiaanku untuk waktu yang lama? Karena melakukan dan menjalankan perbuatan-perbuatan demikian -> bersamaan hancurnya tubuh setelah kematian terlahir di keadaan sengsara/merugi menderita menuju kehancuran bahkan neraka, sebaliknya jika tidak, Ia muncul di alam manusia dan akan menjadi bodoh. [Cula Kammavibhangga Sutta]

      Rumusan hasil tidaklah harus: Jika melakukan A, maka akan mendapat A, sebagaimana tercantum di MN 3.136/Maha kammavibhanga sutta, sang Buddha mengkategorikan 4 (empat) jenis orang yaitu:

      1. Orang yang [membunuhi makhluk hidup/pāṇātipātī; mengambil yang tidak diberikan/adinnādāyī; berperilaku salah dalam kenikmatan indria/kāmesumicchācārī; mengucapkan yang tidak benar/musāvādī; mengucapkan fitnah/pisuṇavāco, mengucapkan kata-kata kasar/pharusavāco; bergosip/berkata yang tak perlu/samphappalāpī; tamak/irihati/abhijjhā; pikiran berniat buruk/byāpannacitto: berharap ada yg terbunuh, ditangkap, dimusnahkan, tidak ada sama sekali; dan menganut pandangan salah/micchādiṭṭhi]. bersamaan hancurnya tubuh setelah kematian terlahir di:

        1. keadaan sengsara/merugi menderita menuju kehancuran bahkan neraka [jika jadi manusia dalam keadaan mengenaskan, Alam: binatang, Mahluk halus dan bahkan neraka]
        2. keadaan bahagia di alam surga [jika jadi manusia dalam keadaan menyenangkan dan/atau di atas alam manusia]

      2. Orang yang TIDAK [membunuhi makhluk hidup, mengambil yang bukan haknya, berperilaku salah dalam kenikmatan indria, mengucapkan kebohongan, mengucapkan kata-kata jahat, mengucapkan kata-kata kasar, bergosip; tamak, pikiran berniat buruk, dan menganut pandangan salah]. bersamaan hancurnya tubuh setelah kematian terlahir di:

        1. keadaan sengsara/merugi menderita menuju kehancuran bahkan neraka [jika jadi manusia dalam keadaan mengenaskan, Alam: binatang, Mahluk halus dan bahkan neraka]
        2. keadaan bahagia di alam surga [jika jadi manusia dalam keadaan menyenangkan dan/atau di atas alam manusia]

      Kejadian-kejadian tersebut di atas SANGAT MEMUNGKINKAN, sehingga pendapat-pendapat yang menyatakan bahwa:

      • Melakukan perbuatan salah PASTI terlahir alam menderita bahkan neraka, atau
      • Tidak ada akibat dari perbuatan salah, atau
      • Melakukan perbuatan benar PASTI terlahir di Alam bahagia, atau
      • Tidak ada akibat dari perbuatan baik

      TIDAKLAH dibenarkan oleh sang Buddha.

      Sang Buddha mengatakan seperti ini:

      1. sehubungan dengan orang yang membunuh makhluk-makhluk hidup … dan menganut pandangan salah, bersamaan hancurnya tubuh setelah kematian terlahir di:

        • keadaan sengsara/merugi menderita menuju kehancuran bahkan neraka:

          sebelumnya telah melakukan perbuatan jahat yang dirasakan sebagai menyakitkan, atau belakangan ia melakukan perbuatan jahat yang dirasakan sebagai menyakitkan, atau pada saat kematian ia memperoleh dan menganut pandangan salah.

          Karena hal itu, bersamaan hancurnya tubuh setelah kematian terlahir di keadaan sengsara/merugi menderita menuju kehancuran bahkan neraka.

          Dan karena ia di sini telah membunuh makhluk-makhluk hidup … dan menganut pandangan salah, ia akan mengalami akibat dari perbuatan itu di sini dan saat ini, atau dalam kelahiran kembali berikutnya, atau dalam beberapa kelahiran setelahnya.

        • di alam bahagia, bahkan di alam Deva:

          sebelumnya telah melakukan perbuatan baik yang dirasakan sebagai menyenangkan, atau belakangan ia melakukan perbuatan baik yang dirasakan sebagai menyenangkan, atau pada saat kematian ia memperoleh dan menganut pandangan benar.

          Karena hal itu, bersamaan hancurnya tubuh setelah kematian terlahir di keadaan bahagia di alam Deva.

          Dan karena ia di sini telah membunuh makhluk-makhluk hidup … dan menganut pandangan salah, ia akan mengalami akibat dari perbuatan itu di sini dan saat ini, atau dalam kelahiran kembali berikutnya, atau dalam beberapa kelahiran setelahnya.

      2. sehubungan dengan orang yang menghindari membunuh makhluk-makhluk hidup … dan menganut pandangan benar, bersamaan hancurnya tubuh setelah kematian terlahir di:

        • keadaan bahagia di alam Deva:

          sebelumnya telah melakukan perbuatan baik yang dirasakan sebagai menyenangkan, atau belakangan ia melakukan perbuatan baik yang dirasakan sebagai menyenangkan, atau pada saat kematian ia memperoleh dan menganut pandangan benar.

          Karena hal itu, bersamaan hancurnya tubuh setelah kematian terlahir di keadaan bahagia di alam Deva.

          Dan karena ia di sini telah menghindari membunuh makhluk-makhluk hidup … dan menganut pandangan benar, ia akan mengalami akibat dari perbuatan itu di sini dan saat ini, atau dalam kelahiran kembali berikutnya, atau dalam beberapa kelahiran setelahnya.

        • dalam kondisi menderita … bahkan di neraka:

          sebelumnya telah melakukan perbuatan jahat yang dirasakan sebagai menyakitkan, atau belakangan ia melakukan perbuatan jahat yang dirasakan sebagai menyakitkan, atau pada saat kematian ia memperoleh dan menganut pandangan salah.

          Karena hal itu, bersamaan hancurnya tubuh setelah kematian terlahir di keadaan sengsara/merugi menderita menuju kehancuran bahkan neraka.

          Dan karena ia di sini telah menghindari membunuh makhluk-makhluk hidup … dan menganut pandangan benar, ia akan mengalami akibat dari perbuatan itu di sini dan saat ini, atau dalam kelahiran kembali berikutnya, atau dalam beberapa kelahiran setelahnya.

      ADA 5 BENTUK KAMMA BURUK BERAT yang berakibat MENUNDA SEMUA perbuatan baik yang dilakukan dan mengakibatkan terlahir di neraka:

      1. Membunuh ibu.
      2. Membunuh ayah.
      3. Membunuh seorang Arahat
      4. Melukai seorang Buddha
      5. Menyebabkan perpecahan dalam Sangha. [AN 5.129 (parikuppa sutta)]

      Sebagai kesimpulan tentang hukum kamma ini, maka saya kutip apa yang tercantum pada MN 57/Kukkuravatika Sutta:

        Terdapat empat jenis perbuatan yang dinyatakan oleh Sang Buddha, setelah menembusnya untuk diriNya sendiri dengan pengetahuan langsung:

        1. Ada perbuatan gelap dengan akibat gelap:

          Seseorang menghasilkan bentukan: jasmani, ucapan, pikiran yang menyakitkan -> menghasilkan bentukan: jasmani, ucapan, dan bentukan pikiran yang menyakitkan -> muncul kembali di alam sengsara -> kontak yang menyakitkan menyentuhnya -> merasakan perasaan yang menyakitkan, sangat menyakitkan, seperti pada makhluk-makhluk di neraka

        2. Ada perbuatan terang dengan akibat terang:

          Seseorang menghasilkan bentukan: jasmani, ucapan, pikiran yang menyenangkan -> menghasilkan bentukan: jasmani, ucapan, dan bentukan pikiran yang menyenangkan -> muncul kembali di alam bahagia -> kontak yang menyenangkan menyentuhnya -> merasakan perasaan yang menyenangkan, sangat menyenangkan, seperti pada para dewa dengan Keagungan Gemilang

        3. Ada perbuatan gelap-dan-terang dengan akibat gelap-dan-terang:

          Seseorang menghasilkan bentukan: jasmani, ucapan, pikiran yang menyakitkan juga menyenangkan -> menghasilkan bentukan: jasmani, ucapan, dan bentukan pikiran yang menyakitkan juga menyenangkan -> muncul kembali di alam bahagia -> muncul kembali di alam sengsara juga bahagia -> kontak yang menyakitkan maupun menyenangkan menyentuhnya -> merasakan perasaan yang menyakitkan juga menyenangkan, campuran kenikmatan dan kesakitan, seperti pada manusia dan beberapa dewa di alam yang lebih rendah

        Demikianlah kemunculan kembali suatu makhluk adalah karena suatu makhluk; seorang yang muncul kembali melalui perbuatan yang telah ia lakukan. Ketika ia telah muncul kembali, kontak menyentuhnya. Demikianlah Aku katakan bahwa makhluk-makhluk adalah pewaris perbuatan mereka.

        1. ada perbuatan yang bukan gelap juga bukan terang dengan akibat yang bukan gelap juga bukan terang, perbuatan yang mengarah menuju hancurnya perbuatan.

          Di sini, kehendak untuk meninggalkan jenis:

          1. perbuatan gelap dengan akibat gelap, dan
          2. perbuatan terang dengan akibat terang dan
          3. perbuatan gelap-dan-terang dengan akibat gelap-dan-terang

          Ini disebut perbuatan bukan gelap juga bukan terang dengan akibat bukan gelap juga bukan terang yang mengarah menuju hancurnya perbuatan [Nibanna]
  1. PANNA: PIKIRAN/KEHENDAK BENAR (sammä-sankappa)

  2. “Seseorang memahami kehendak salah sebagai kehendak salah dan kehendak benar sebagai kehendak benar: ini adalah pandangan benar seseorang. Seseorang berusaha untuk meninggalkan kehendak salah dan memasuki kehendak benar: ini adalah usaha benar seseorang. Dengan penuh perhatian meninggalkan kehendak salah, dengan penuh perhatian memasuki dan berdiam dalam kehendak benar: ini adalah perhatian benar seseorang. Demikianlah ketiga kondisi ini berlangsung dan berputar di sekeliling kehendak benar, yaitu, pandangan benar, usaha benar, dan perhatian benar." [MN117/Mahācattarisaka Sutta]

      Mano-pubbaṅgamā dhammā (Pikiran pelopor segala sesuatu/fenomena), mano-seṭṭhā manomayā (pikiran pemimpin mentalitas); Manasā ce paduṭṭhena (bila dengan pikiran menyeleweng), bhāsati vā karoti vā (berkata atau berbuat); Tato naṃ dukkhamanveti (penderitaan mengikutinya), cakkaṃva vahato padaṃ (bagai jejak roda angkutan)...Manasā ce pasannena (bila dengan pikiran murni), bhāsati vā karoti vā (berkata atau berbuat);Tato naṃ sukhamanveti (kebahagiaan mengikutinya), chāyāva anapāyinī (bagai bayang-bayang yang tak pernah meninggalkannya) [Dhammapada Bab I, syair 1-2]

    kehendak salah (micchāsaṅkappo) vs Kehendak benar (sammāsaṅkappo), yaitu:

    • Kāmasaṅkappo (Kehendak keinginan indria) vs Nekkhammasaṅkappo (Kehendak meninggalkan keduniawian)
    • byāpādasaṅkappo (niat buruk) vs a-byāpādasaṅkappo (tanpa niat buruk)
    • vihiṃsāsaṅkappo (kekejaman) vs a-vihiṃsāsaṅkappo (tanpa kekejaman)
    • [SN 45.8/Vibhaṅga Sutta dan DN 22/Mahāsatipaṭṭhāna Sutta]

    Kehendak benar ada dua:

    1. Kehendak benar lawan dari kehendak salah di atas adalah kehendak benar dengan noda-noda (sāsavā) berhubungan dengan jasa kebajikan (puññabhāgiyā) dan kematangan dalam dasar/hasil (upadhivepakkā)
    2. Kehendak benar berikutnya adalah kehendak benar mulia tanpa noda (ariyā anāsavā) melampaui duniawi (lokuttarā) dan faktor dari sang jalan (maggaṅgā): Pemikiran (takka), pikiran (vitakka), kehendak (saṅkappa), pencerapan pikiran/pencerapan jhana (appanā), ketetapan pikiran/fokus (byappanā), pengarahan pikiran (cetaso abhiniropanā), bentukan ucapan pikiran (vacī-saṅkhāra) dalam diri seseorang yang pikirannya mulia, yang pikirannya tanpa noda, yang memiliki jalan mulia dan yang mengembangkan jalan mulia

    Elaborasi kehendak benar dengan cara lainnya menurut AN 10.176/Cunda Sutta kepada perumah tangga Cunda; MN 41/Sāleyyaka Sutta & MN 42/Verañjaka Sutta kepada Brahmana perumahtangga sala dan veranja:

    • abhijjhālu: Irihati/tamak: menginginkan kekayaan dan harta benda orang lain. Dia berpikir: “O, apa yang dia miliki itu seharusnya kumiliki!”
    • Byāpannacitto: memiliki niat buruk di pikirannya: memiliki pikiran yang keji, seperti misalnya: “Biarlah makhluk-makhluk ini dibantai! Biarlah mereka dibunuh dan dihancurkan! Semoga mereka musnah dan tidak ada lagi!”
    • Micchaditthi (pandangan yang salah, yaitu 10 pandangan salah[↓])

  3. SILA: UCAPAN BENAR (sammä-väcä)

  4. “Seseorang memahami ucapan salah sebagai ucapan salah dan ucapan benar sebagai ucapan benar: ini adalah pandangan benar seseorang. Seseorang berusaha untuk meninggalkan ucapan salah dan memasuki ucapan benar: ini adalah usaha benar seseorang. Dengan penuh perhatian meninggalkan ucapan salah, dengan penuh perhatian memasuki dan berdiam dalam ucapan benar: ini adalah perhatian benar seseorang. Demikianlah ketiga kondisi ini berlangsung dan berputar di sekeliling ucapan benar, yaitu, pandangan benar, usaha benar, dan perhatian benar." [MN117/Mahācattarisaka Sutta]

    Ucapan salah (micchāvācā) vs Ucapan Benar (sammāvācā), yaitu:

    • musāvādā (berdusta)[23d] VS menghindari berdusta (Musāvādā veramaṇī)
    • Pisuṇavāco (ucapan memecah belah) VS menghindari ucapan memecah belah (pisuṇāya vācāya veramaṇī)
    • Pharusavāco (ucapan kasar) VS menghindari ucapan kasar (pharusāya vācāya veramaṇī)
    • Samphappalāpī (ucapan tidak penting) VS menghindari ucapan tidak penting (Samphappalāpī veramaṇī)

    Ucapan benar ada dua:

    1. Ucapan benar lawan dari ucapan salah di atas adalah ucapan benar dengan noda-noda (sāsavā) berhubungan dengan jasa kebajikan (puññabhāgiyā) dan kematangan dalam dasar/hasil (upadhivepakkā)
    2. Ucapan benar berikutnya adalah ucapan benar mulia tanpa noda (ariyā anāsavā) melampaui duniawi (lokuttarā) dan faktor dari sang jalan (maggaṅgā): berhenti dari empat ucapan buruk (catūhi vacīduccaritehi) di atas, menjauhinya, menahan diri, dan menghidarinya ada dalam diri seseorang yang pikirannya mulia, yang pikirannya tanpa noda, yang memiliki jalan mulia dan yang mengembangkan jalan mulia


  5. SILA: PERBUATAN BENAR (sammä-kammanta)

  6. “Seseorang memahami perbuatan salah sebagai perbuatan salah dan perbuatan benar sebagai perbuatan benar: ini adalah pandangan benar seseorang. Seseorang berusaha untuk meninggalkan perbuatan salah dan memasuki perbuatan benar: ini adalah usaha benar seseorang. Dengan penuh perhatian meninggalkan perbuatan salah, dengan penuh perhatian memasuki dan berdiam dalam perbuatan benar: ini adalah perhatian benar seseorang. Demikianlah ketiga kondisi ini berlangsung dan berputar di sekeliling perbuatan benar, yaitu, pandangan benar, usaha benar, dan perhatian benar." [MN117/Mahācattarisaka Sutta]

    Perbuatan salah (Micchākammanta) vs Perbuatan Benar (Sammākammanta), yaitu:

    • pāṇātipāta (menghancurkan kehidupan/menyakiti)[23a] VS Pāṇātipātā veramaṇī (Menghindari menghancurkan kehidupan/menyakiti)
    • adinnādānā (mengambil yang tidak diberikan)[23b] VS adinnādānā veramaṇī (Menghindari mengambil yang tidak diberikan)
    • kāmesumicchācāra (Perbuatan indriya dengan cara yang salah)[23c] [↓] VS kāmesumicchācāra veramaṇī (menghindari perbuatan indriya dengan cara yang salah)
    • Surāmerayamajjappamādaṭṭhānā (Mengkonsumsi asupan yang memabukan dan membuat lengah/sembrono)[23e] VS Surämeraya-majjapamädatthänä veramani [Perbuatan salah ini TIDAK tercantum dalam MN 117, namun tercantum di sutta-sutta lainnya, misal di SN 55.37/Mahanama Sutta, DN 31/Sigalovada sutta, DN 33, DN 34, AN 7.6, AN 8.39-43, 45, dst: -> "Surāmeraya.." tercantum bersama sila lainnya]

    Perbuatan benar ada dua:

    1. Perbuatan benar lawan dari perbuatan salah di atas adalah perbuatan benar dengan noda-noda (sāsavā) berhubungan dengan jasa kebajikan (puññabhāgiyā) dan kematangan dalam dasar/hasil (upadhivepakkā)
    2. Perbuatan benar berikutnya adalah perbuatan benar mulia tanpa noda (ariyā anāsavā) melampaui duniawi (lokuttarā) dan faktor dari sang jalan (maggaṅgā): berhenti dari tiga perbuatan buruk (tīhi kāyaduccaritehi) di atas, menjauhinya, menahan diri, dan menghindarinya ada dalam diri seseorang yang pikirannya mulia, yang pikirannya tanpa noda, yang memiliki jalan mulia dan yang mengembangkan jalan mulia


  7. SILA: BERPENCAHARIAN/BERPENGHIDUPAN BENAR (sammä-ajiva)

  8. “Seseorang memahami penghidupan salah sebagai penghidupan salah dan penghidupan benar sebagai penghidupan benar: ini adalah pandangan benar seseorang. Seseorang berusaha untuk meninggalkan penghidupan salah dan memasuki penghidupan benar: ini adalah usaha benar seseorang. Dengan penuh perhatian meninggalkan penghidupan salah, dengan penuh perhatian memasuki dan berdiam dalam penghidupan benar: ini adalah perhatian benar seseorang. Demikianlah ketiga kondisi ini berlangsung dan berputar di sekeliling penghidupan benar, yaitu, pandangan benar, usaha benar, dan perhatian benar." [MN117/Mahācattarisaka Sutta]

    Dalam sutta yang sama disebutkan lima pencaharian salah harus dihindari, yaitu:

    kuhanā lapanā nemittikatā nippesikatā lābhena lābhaṃ nijigiṃsanātā1 ayaṃ bhikkhave, micchāājīvo

      kuhanā lapanā = Penipuan / tidak jujur / bohong [berhubungan dengan kata2];
      nemittikatā = Penujuman / kemelitan / tuduhan tak langsung / sindiran;
      nippesikatā = jugglery / penyulapan, trickery / penipuan / tipudaya;
      lābhena = taking/mengambil alih, receiving/menerima, gift/memberi hadiah/bingkisan, acquisition/perolehan, tindakan memperoleh / tindakan mendapatkan / tindakan mendapatkan kepemilikan;
      lābhaṃ = dengan cara;
      nijigiṃsanātā = serakah/tamak

    Ramuan arti kata tersebut di atas, dalam banyak terjemahkan, kemudian diartikan:

    1. penipuan;
    2. ketidaksetiaan;
    3. penujuman;
    4. kecurangan;
    5. memungut bunga yang tinggi (lintah darat)

    Di samping itu seorang siswa harus pula menghindari lima macam perdagangan [AN 5.177/Vanijja Sutta dan DN 22/Mahāsatipaṭṭhāna Sutta], yaitu:

    1. Berdagang alat senjata [Sattha, yang padanan sanskritnya adalah śastra, bukan -śāstra [guru,ilmu] atau juga bukan sa+attha (sartha, caravan), juga bukan sasati (menceritakan) atau bukan juga śvasta (bernafas)]
    2. Berdagang mahluk hidup [note: Satta, artinya bukan cuma manusia, namun mahluk hidup, beberapa menterjemahkan ini hanya manusia karena mengikuti penjelasan penjualan manusia di kitab komentar, yaitu:""sattavaṇijjā" ti manussavikkayo" (Berdagang manusia juga berdagang makhluk hidup), "sattavaṇijjā abhujissabhāvakaraṇato" (Menjadi hilang kemerdekaannya karena perdagangan mahluk hidup]
    3. Berdagang daging [Mamsa] (atau segala sesuatu yang berasal dari penganiayaan mahluk-mahluk hidup)
    4. Berdagang segala yang dapat memabukkan [majja] atau yang dapat menimbulkan ketagihan
    5. Berdagang racun (visa).

    Penghidupan benar ada dua:

    1. Penghidupan benar lawan dari penghidupan salah di atas adalah penghidupan benar dengan noda-noda (sāsavā) berhubungan dengan jasa kebajikan (puññabhāgiyā) dan kematangan dalam dasar/hasil (upadhivepakkā)
    2. Penghidupan benar berikutnya adalah penghidupan benar mulia tanpa noda (ariyā anāsavā) melampaui duniawi (lokuttarā) dan faktor dari sang jalan (maggaṅgā): berhenti dari penghidupan salah di atas, menjauhinya, menahan diri, dan menghidarinya ada dalam diri seseorang yang pikirannya mulia, yang pikirannya tanpa noda, yang memiliki jalan mulia dan yang mengembangkan jalan mulia
  1. SAMADHI: Daya upaya benar, Perhatian benar dan konsentrasi benar

    Jangan tinggal di masa lalu [Atītaṃ nānvāgameyya]
    Jangan membangunkan hasrat di masa depan [Nappaṭikaṅkhe anāgataṃ]
    Karena masa lalu sudah berlalu [Yadatītaṃ pahīnaṃ taṃ]
    Dan masa depan belumlah datang [Appattañca anāgataṃ]
    yang ada hanya keadaan di saat ini [Paccuppannañca yo dhammaṃ]
    Amati dengan seksama di sana sini [Tattha tattha vipassati]
    dengan gigih tak tergoyahkan [Asaṃhīraṃ asaṃkuppaṃ]
    Temukan dengan mengembangkanya [Taṃ vidvā manubrūhaye]
    Sekaranglah, usaha harus dilakukan [Ajjeva kiccamātappaṃ]
    Siapa tahu esok kematian menjelang [Ko jaññā maraṇaṃ suve]
    Tanpa tawar menawar [Na hi no saṅgaraṃ tena]
    Kematian hadir dengan banyak cara [Mahāsenena maccunā]
    Tetapi seseorang yang berdiam dengan tekunnya [Evaṃvihāriṃ ātāpiṃ]
    Tanpa kendur siang dan malam [Ahorattamatanditaṃ]
    Adalah, Ia, sang beruntung [Taṃ ve bhaddekarattoti]
    Sebagaimana Orang bijak agung sampaikan [Santo ācikkhate muni]
    ~ [MN. 131-134/Bhaddekaratta Sutta]

    Bagaimana hubungan dengan masa lalu, saat ini dan masa depan, serta berdiam gigih tak tergoyahkan adalah sebagai berikut:

    1. Dengan mata [cakkhu] dan bentuk-bentuk [rupa] sebagai kondisi, maka timbul kesadaran-mata [cakkhuviññāṇa]. Pertemuan ketiganya [tiṇṇaṃ saṅgati] adalah kontak [phassa].
    2. Dengan kontak sebagai kondisi, maka ada perasaan[vedana].
    3. Apa yang ia rasakan, itulah yang ia kenali [sañjānāti].
    4. Apa yang ia kenali, itulah yang ia pikirkan [vitakketi].
    5. Apa yang ia pikirkan, itulah yang dikembangbiakkan [papañceti] oleh pikiran.
    6. Dengan apa yang ia kembangbiakkan di pikirannya sebagai sumber, persepsi dan gagasan [papañca-saññā-saṅkhā], melanda seseorang melalui bentuk-bentuk masa lalu, masa depan dan masa sekarang yang dikenali mata.

    Dengan telinga [sota] dan suara-suara [sadde] sebagai kondisi, maka munculah kesadaran telinga [sotaviññāṇa]..
    Dengan hidung [ghāna] dan bau-bauan [gandhe] sebagai kondisi, maka munculah kesadaran hidung [ghānaviññāṇa]..
    Dengan lidah [jivha] dan kecapan [rase] sebagai kondisi, maka munculah kesadaran lidah [jivhaviññāṇa]..
    Dengan tubuh/jasmani [kaya] dan sentuhan-sentuhan [phoṭṭhabbe] sebagai kondisi, maka munculah kesadaran tubuh/jasmani [kayaviññāṇa]..
    Dengan pikiran [mana] dan obyek-obyek pikiran [dhamma] sebagai kondisi, maka munculah kesadaran pikiran [manoviññāṇa]..[MN 18/Madhupiṇḍikasutta]

      note:
      terdapat 6 Indriya (mata...pikiran) x 3 perasaan (menyenangkan, menyakitkan dan bukan keduanya) x 3 pesepsi waktu (Masa lalu/ingatan, kini, depan/khayalan) x 2 kondisi (kusala/akusala) = 108 Kesadaran PERASAAN aktivitas manusia atau per indriya adalah 18 Kesadaran perasaan (1 indriya x 3 perasaan x 3 persepsi waktu x 2 kondisi). Sehingga, seseorang yang sedang melakukan perenungan dan meditasi, melakukan kultivasi hanya pada 1 Indriya, Ia mengistirahatkan 5 Indriya lainnya (5 x 18 = 90 Kesadarannya x waktu melakukan). Ketika Ia berada di persepsi waktu saat ini, berpikir tentang saat ini dan berusaha tidak memunculkan persepsi masa lalu dan masa depan sehingga, Ia berusaha mengistirahatkan lagi 12 item (persepsi masa lalu/ingatan dan persepsi masa depan/khayalan baik itu kusala maupun akusala, pada perasaan menyenangkan, menyakitkan dan bukan keduanya) dan tersisa 6 item saja (saat ini, perasaan menyakitkan, menyenangkan dan bukan keduanya, kusala dan akusala). Itulah mengapa melakukan perenungan dan meditasi SANGAT dianjurkan Buddhism, karena semakin mengenal cara memadamkan keinginan dan mengenal jalan menuju nibanna.

    Jadi,
    Seseorang dikatakan "tinggal di masa lalu" ketika Ia mengingat kembali apa yang terekam melalui Indera dan bentuk-bentukan yang terlihat di masa lalu, melekat padanya disertai hasrat dan keinginan.

    Seseorang dikatakan "membangunkan hasrat di masa depan" ketika ingatan yang terekam melalui mata dan bentukan-bentukannya, Ia kembangbiakan di pikiran dan membayangkan sesuatu di masa yang belum lagi terjadi.

    Seseorang yang berwaspada pada ingatan yang telah terjadi dan tidak mengembangbiakannya kemudian adalah orang yang "tidak tinggal di masa lalu atau membangunkan hasrat di masa depan"

    Demikian pula, mereka yang pikirannya terpengaruh keinginan melalui indera dan objek-objeknya pada saat ini disebut "yang terseret pada keadaan yang muncul di saat ini," sedangkan mereka yang pikiran tidak lagi terikat pada nafsu disebut sebagai “yang gigih tak tergoyahkan pada keadaan yang muncul di saat ini"

  2. SAMADHI: DAYA-UPAYA BENAR (sammä-väyäma)
    Seseorang berusaha untuk meninggalkan Pandangan salah dan memasuki penghidupan benar; Pikiran/kehendak salah dan memasuki pikiran/kehendak benar; Ucapan salah dan memasuki ucapan benar; Perbuatan salah dan memasuki perbuatan benar; Penghidupan salah dan memasuki Penghidupan benar: ini adalah usaha benar seseorang. [MN117/Mahacattarisakasutta]

    • Dengan sekuat tenaga mencegah munculnya hal tidak bermanfaat dan ketidakbaikan di dalam mental.
    • Dengan sekuat tenaga berusaha untuk memusnahkan hal tidak bermanfaat dan ketidakbaikan di dalam mental.
    • Dengan sekuat tenaga berusaha untuk membangkitkan kebaikan dan bermanfaat di dalam mental.
    • Berusaha keras untuk mempernyata, mengembangkan dan memperkuat kebaikan dan bermanfaat di dalam mental.

  3. SAMADHI: PERHATIAN BENAR (sammä-sati)

  4. Dengan penuh perhatian meninggalkan Pandangan salah, Pikiran/kehendak salah, ucapan salah, perbuatan salah, penghidupan salah; dengan penuh perhatian memasuki dan berdiam dalam pandangan benar, pikiran/kehendak benar, ucapan benar, perbuatan benar penghidupan benar: ini adalah perhatian benar seseorang.

    3 akar kejahatan muncul dan meningkat adalah akibat dari perhatian tidak benar

    • Lobha, PERHATIAN yang TIDAK BENAR [ayoniso manasikāro] terhadap objek menarik, maka nafsu yang tadinya belum muncul akan muncul dan nafsu yang telah muncul akan meningkat dan menjadi kuat.’. [Nafsu inilah kemudian di sebut dengan kemelekatan/keserakahan].
    • Dosa, PERHATIAN yang TIDAK BENAR terhadap objek tidak menarik, maka Penolakan yang tadinya belum muncul akan muncul dan Penolakan yang telah muncul akan meningkat dan menjadi kuat. [Penolakan inilah yang kemudian disebut dengan kebencian/Ketidaknyamanan].
    • Moha, PERHATIAN yang TIDAK BENAR, maka kekeliruan tahu/kebodohan batin yang tadinya belum muncul akan muncul dan kekeliruan tahu/kebodohan batin yang telah muncul akan meningkat dan menjadi kuat [atau MEMPERHATIKAN hal-hal yang TIDAK LAYAK diperhatikan dan TIDAK MEMPERHATIKAN hal-hal YANG LAYAK diperhatikan.]

    Terlihat terdapat kata "menarik" dan "tidak menarik" pada obyek. Ini mengindikasikan bahwa aktifitas perhatian terhadap hal tersebut merupakan "AREA KERJA" bagi siapapun, baik itu puttujhana maupun bukan, agar tidak dilekati ataupun dibenci.

    Mengapa?

      vedanā yā ca saññā yañca viññāṇaṃ – ime dhammā saṃsaṭṭhā, no visaṃsaṭṭhā". (Perasaan, persepsi dan kesadaran, kondisi ini tergabung, bukan terpisah). "Na ca labbhā imesaṃ dhammānaṃ vinibbhujitvā vinibbhujitvā nānākaraṇaṃ paññāpetuṃ (tidak dapat memisahkan kondisi-kondisi ini satu sama lainnya untuk menggambarkan perbedaan antaranya). vedeti taṃ sañjānāti, yaṃ sañjānāti taṃ vijānāti. (Karena yang dirasakan, itu yang dipersepsikannya; yang dipersepsikan, itu yang dikenalinya) [MN.43/Mahāvedalla Sutta]

      Saññā ca vedanā ca cetasikā ete dhammā cittapaṭibaddhā (Persepsi dan perasaan menyertai pikiran, kondisi ini terikat dengan pikiran). Tasmā saññā ca vedanā ca cittasaṅkhāroti (Itulah mengapa persepsi dan perasaan adalah bentukan pikiran) [MN.44/Cūḷavedalla Sutta]

    Siapapun dia, baik itu puttujhana, siswa dengan latihan tinggi atau bahkan arahat, maka Indriya tetap aktif dan pikirannya TIDAKLAH PASIF

      [..]“Dan bagaimanakah, Ānanda, seseorang mulia dengan indria-indria terkembang?

      Di sini, Ānanda, ketika seorang bhikkhu melihat/mendengar..[aktifitas dari 6 indriya] suatu bentuk [yang dikenali 6 Indriya]

      Di sana MUNCUL dalam dirinya apa yang:

      1. menyenangkan [manāpaṃ]
      2. tidak menyenangkan [amanāpaṃ],
      3. menyenangkan dan tidak menyenangkan [manāpāmanāpaṃ]

      Jika ia berkehendak:
      ‘Semoga aku berdiam dengan persepsi ketidakjenuhan [appaṭikūla-saññī] dalam kejenuhan [paṭikūla],’ maka ia berdiam dengan persepsi ketidakjenuhan dalam kejenuhan.

      Jika ia berkehendak:
      ‘Semoga aku berdiam dengan persepsi kejenuhan [paṭikūla-saññī] dalam ketidakjenuhan [appaṭikūla],’ maka ia berdiam dengan persepsi kejenuhan dalam ketidakjenuhan.

      Jika ia berkehendak:
      ‘Semoga aku berdiam dengan persepsi ketidakjenuhan dalam kejenuhan dan ketidakjenuhan [paṭikūle ca appaṭikūle],’ maka ia berdiam dengan persepsi ketidakjenuhan dalam hal itu.

      Jika ia berkehendak:
      ‘Semoga aku berdiam dengan persepsi kejenuhan dalam ketidakjenuhan dan kejenuhan [appaṭikūle ca paṭikūle],’ maka ia berdiam dengan persepsi kejenuhan dalam hal itu.

      Jika ia berkehendak:
      ‘Semoga aku, dengan menghindari [abhinivajjetvā] kejenuhan dan ketidakjenuhan kedua-duanya, berdiam dalam keseimbangan, penuh perhatian dan penuh kewaspadaan,’ maka ia berdiam dalam keseimbangan, penuh perhatian dan penuh kewaspadaan.

      Itu adalah bagaimana seseorang mulia dengan indria-indria terkembang.

      Demikianlah, Ānanda, pengembangan indria-indria yang tertinggi dalam Disiplin Para Mulia telah diajarkan olehKu, siswa dalam latihan yang lebih tinggi yang telah memasuki sang jalan telah diajarkan olehKu, dan seorang mulia dengan indria-indria terkembang telah diajarkan olehKu. [MN 152/Indriyabhāvanā Sutta][29]

    Itulah mengapa PERHATIAN BENAR bersifat aktif dan harus dikembangkan terus menerus.

  5. SAMADHI: KONSENTRASI BENAR (sammä-samädhi)

  6. “Apakah, para bhikkhu, konsentrasi benar yang mulia dengan pendukung serta perlengkapannya, yaitu, pandangan benar, kehendak benar, ucapan benar, perbuatan benar, penghidupan benar, usaha benar, dan perhatian benar? Keterpusatan pikiran yang dilengkapi dengan ketujuh faktor ini disebut konsentrasi benar yang mulia dengan pendukung serta perlengkapannya

    [..]

    Di sana, para bhikkhu, pandangan benar muncul dalam urutan pertama. Dan bagaimanakah pandangan benar muncul dalam urutan pertama?

    Pada seorang yang memiliki pandangan benar, muncul kehendak benar; pada seorang yang memiliki kehendak benar, muncul ucapan benar; pada seorang yang memiliki ucapan benar, muncul perbuatan benar; pada seorang yang memiliki perbuatan benar, muncul penghidupan benar; pada seorang yang memiliki penghidupan benar, muncul usaha benar; pada seorang yang memiliki usaha benar, muncul perhatian benar; pada seorang yang memiliki perhatian benar, muncul konsentrasi benar; pada seorang yang memiliki konsentrasi benar, muncul pengetahuan benar; pada seorang yang memiliki pengetahuan benar, muncul pembebasan benar. Demikianlah, para bhikkhu, jalan dari siswa yang dalam latihan lebih tinggi memiliki delapan faktor, Arahant memiliki sepuluh faktor.

    Dan bagaimanakah pandangan benar muncul dalam urutan pertama?

    Pada seorang yang memiliki pandangan benar, pandangan salah dilenyapkan..Pada seorang yang memiliki kehendak benar, kehendak salah dilenyapkan..Pada seorang yang memiliki ucapan benar, ucapan salah dilenyapkan … Pada seorang yang memiliki perbuatan benar, perbuatan salah dilenyapkan … Pada seorang yang memiliki penghidupan benar, penghidupan salah dilenyapkan… Pada seorang yang memiliki usaha benar, usaha salah dilenyapkan … Pada seorang yang memiliki perhatian benar, perhatian salah dilenyapkan … Pada seorang yang memiliki konsentrasi benar, konsentrasi salah dilenyapkan … Pada seorang yang memiliki pengetahuan benar, pengetahuan salah dilenyapkan … Pada seorang yang memiliki pembebasan benar, pembebasan salah dilenyapkan, dan banyak kondisi tidak bermanfaat yang berasal-mula dengan pembebasan salah sebagai kondisi juga dilenyapkan, dan banyak kondisi bermanfaat yang berasal-mula dengan pembebasan benar sebagai kondisi menjadi terpenuhi melalui pengembangan. [MN117/Mahacattarisaka sutta]

      “Yang Mulia, apakah konsentrasi? Apakah landasan konsentrasi? Apakah perlengkapan konsentrasi? Apakah pengembangan konsentrasi?”

      “Keterpusatan pikiran, teman Visākha, adalah konsentrasi; Empat Landasan Perhatian adalah landasan konsentrasi; Empat Usaha Benar adalah perlengkapan konsentrasi; pengulangan, pengembangan, dan pelatihan atas hal-hal ini adalah kondisi yang sama dengan pengembangan konsentrasi.” [MN44/Cūḷavedalla Sutta]

    Salah satu ciri dari berhasilnya latihan meditasi [jhayata] adalah tercapainya Jhäna [Arti: keterpusatan pikiran/konsentrasi namun juga dapat berarti terbakar, terpesona, luapan kegembiraan, tercerap].

    Perhatian benar [no.7] dan konsentrasi benar [no.8] dapat dilakukan dalam posisi/sikap/postur (Iriyapatha): berbaring (sayano), berdiri (caram/ṭhito), duduk (nissino) atau berjalan (gacchanto atau cankama/AN 5.29) sehingga dengan berdiam demikian dengan rajin, tekun, bersungguh-sungguh, ingatan-ingatan dan kehendak-kehendaknya dari kehidupan rumah tangga ditinggalkan; dengan ditinggalkannya hal-hal itu pikirannya menjadi kokoh ke dalam, tenang, manunggal dan terpusat/terkonsentrasi [ajjhattameva cittaṃ santiṭṭhati, sannisīdati, ekodi hoti, samādhiyati]

    Dalam DN16/Mahaparinibanna sutta disampaikan dalam memperhatikan..seorang ..berdiam mengetahui sepenuhnya..

    • kāye kāyānupassī viharati (berdiam dalam perenungan jasmani sebagai jasmani), ātāpī sampajāno satimā (tekun mengetahui sepenuhnya dalam memperhatikan) vineyya loke abhij­jhā­do­manas­saṃ (setelah menyingkirkan ketamakan dan kesuraman akan dunia)
    • Vedanāsu vedanānupassī viharati (merenungkan perasaan sebagai perasaan)..,
    • citte cittānupassī viharati (pikiran sebagai pikiran)...
    • dhammesu dhammānupassī viharati (objek-objek pikiran sebagai objek-objek pikiran)...

    seorang yang mengetahui sepenuhnya (sampajāno)

    • abhikkante paṭikkante (berjalan maju atau mundur), sampajānakārī hoti (mengetahui sepenuhnya yang dilakukan)
    • ālokite vilokite (melihat ke depan atau ke sekitar), sampajānakārī hoti (mengetahui sepenuhnya yang dilakukan)
    • samiñjite pasārite (membungkuk dan menegakkan badan), sampajānakārī hoti (mengetahui sepenuhnya yang dilakukan)
    • saṅghā­ṭi­patta­cīvara­dhāraṇe (membawa jubah dan mangkuknya), sampajānakārī hoti (mengetahui sepenuhnya yang dilakukan)
    • asite pīte khāyite sāyite (memakan, meminum, mengunyah, dan mengecap/menelan), sampajānakārī hoti (mengetahui sepenuhnya yang dilakukan)
    • uccāra­passā­va­kamme (membuang air besar), sampajānakārī hoti (mengetahui sepenuhnya yang dilakukan)
    • gate ṭhite nisinne sutte jāgarite bhāsite tuṇhībhāve (berjalan, berdiri, duduk, atau berbaring, terjaga, berbicara, atau berdiam diri), sampajānakārī hoti (mengetahui sepenuhnya yang dilakukan)
Delapan jalan di atas ini bukanlah jalan terpisah namun jalan yang saling bertautan karena diberbagai kota/tempat yang dikunjunginya, sang Buddha menyatakan:
    iti sīlaṃ, iti samādhi, iti paññā (Ini adalah moralitas, ini adalah meditasi, ini adalah kebijaksanaan). Sīla­pari­bhāvito samādhi mahapphalo hoti mahānisaṃso (Samadhi yang dilandasi sila akan menghasilkan buah dan manfaat yang besar). Samā­dhi­pari­bhāvitā paññā mahapphalā hoti mahānisaṃsā (Kebijaksanaan yang dilandasi Samadhi akan menghasilkan buah dan manfaat yang Besar). Paññā­pari­bhāvi­taṃ cittaṃ sammadeva āsavehi vimuccati, seyyathidaṃ kāmāsavā, bhavāsavā, avijjāsavā”ti (Pikiran yang dilandasi kebijaksanaan akan sepenuhnya terbebas dari kekotoran/noda, yaitu, indria, penjelmaan, ketidaktahuan] [DN16/Mahaparinibanna sutta]
Dan Sang Buddha menyampaikan bahwa kematian tidaklah akan menjadi sesuatu yang buruk ketika: dīgharattaṃ saddhā­pari­bhāvi­taṃ cittaṃ sīla­pari­bhāvi­taṃ cittaṃ suta­pari­bhāvi­taṃ cittaṃ cāga­pari­bhāvi­taṃ cittaṃ paññā­pari­bhāvi­taṃ cittaṃ (dalam suatu waktu yang lama pikiran seseorang telah diperkuat/dilandasai dengan keyakinan, moralitas, pembelajaran, kedermawanan, dan kebijaksanaan) taṃ uddhagāmi hoti visesagāmi (maka ini hanya akan mengarahkannya menuju keluhuran) [SN 55.21/Mahanama Sutta]

[Kembali (↑)]
---------------

KETUHANAN

Ketuhanan adalah sifat keadaan Tuhan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan Tuhan, kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa (arti: satu, semata, hanya. Berasal dari kata sanskrit "ãsa" (bukan Eka): "lord, iva").

Tuhan dalam pandangan agama samawi (dan non samawi) baik itu dipersonifikasi (berbentuk, digambarkan menyerupai manusia) maupun bukan (berbentuk lainnya: tidak menyerupai manusia, berubah bentuk ataupun tidak berbentuk) sebagai sesuatu yang disembah, kekal, maha kuasa, maha pencipta. Alam semesta diciptakan olehnya, pemilik Surga dan Neraka yang kekal. Tujuan akhir manusia adalah kembali ke surga yang kekal ciptaan Tuhan yang kekal. Tuhan seperti ini dalam bahasa pali disebut issara (sanskrit: īśvara).

Pandangan ini ditolak Buddhism. Ide adanya sesuatu yang kekal bertolak belakang dengan Tilakkhana (Anicca, Dukkha dan Anatta). Salah kaprah tentang ini masih melanda buddhism Indonesia dengan menyatakan Buddha adalah tuhan dan/atau Nibanna adalah tuhan dan bahkan tuhan dan ketuhanan adalah Nibanna.

Kongres pertama dari Dewan Sangha Buddhis Dunia (WBSC: World Buddhist Sangha Council), Colombo, Sri Lanka, pada 27 Januari 1967 secara bulat menyepakati 9 point. Di point no. 3 adalah tidak meyakini bahwa dunia ini diciptakan dan diatur oleh tuhan.

Sehingga, Buddha bukanlah Tuhan, Nibanna bukanlah: Tuhan/ketuhanan, surga atau tempat.

Biasanya yang dianggap sebagai konsep ketuhanan Buddhisme Indonesia adalah sepotong pernyataan Sang Buddha di Udana 8.3,
    "atthi bhikkhave, ajātaṃ abhūtaṃ akataṃ asaṅkhataṃ. No ce taṃ bhikkhave, abhavissā ajātaṃ abūtaṃ akataṃ asaṅkhataṃ, nayidha jātassa bhūtassa katassa saṅkhatassa nissaraṇaṃ paññāyetha. yasmā ca kho bhikkhave, atthi ajātaṃ abhūtaṃ akataṃ asaṅkhataṃ, tasmā jātassa bhūtassa katassa saṅkhatassa nissaraṇaṃ paññāyatī"ti."O. bhikkhu, ada yang tidak dilahirkan, tidak menjelma, tidak tercipta, tidak berkondisi. Jika seandainya saja, O, bhikkhu, tidak ada yang tidak dilahirkan, tidak-menjelma, tidak tercipta, tidak berkondisi; maka tidak akan ada jalan keluar kebebasan kelahiran, penjelmaan, pembentukan, kemunculan dari sebab yang lalu. Tetapi karena ada yang tidak dilahirkan, tidak-menjelma, tidak tercipta, tidak berkondisi; maka ada jalan keluar kebebasan kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu.
Syair diatas ini adalah tentang Nibanna, BUKAN tentang konsep ketuhanan Buddhisme dan BUKAN "sosok" tertentu yang terkadang disambungkan pula dengan "Pembuat Rumah", yaitu potongan kata di pekik kemenangan sang Buddha ketika mencapai Penerangan sempurna.

Beberapa kalangan Buddhisme terutama di Indonesia, baik karena motif POLITIK (sehubungan dengan dasar negara pancasila, namun ternyata penggali pancasila, Ir. Soekarno, sudah tahu bahwa Buddhism tidak kenal Ketuhanan) atau pun karena masih menggantungkan dirinya terhadap kata “pencipta”, sudah memaksakan diri dengan menyampaikan bahwa Ketuhanan Yang Mahaesa dalam bahasa Pali adalah "Atthi Ajatang Abhutang Akatang Asamkhatang" yang artinya "Suatu Yang Tidak Dilahirkan, Tidak Dijelmakan, Tidak Diciptakan dan Yang Mutlak".

Mereka menganggap bahwa sifat tuhan dalam ketuhanan telah terwakili dengan sifat nibanna, karena menurut mereka, Ketuhanan Yang Maha Esa adalah suatu yang tanpa aku (anatta), yang tidak dapat dipersonifikasikan dan yang tidak dapat digambarkan dalam bentuk apa pun. Tetapi dengan adanya Yang Mutlak, yang tidak berkondisi (asamkhata) maka manusia yang berkondisi (samkhata) dapat mencapai kebebasan dari lingkaran kehidupan (samsara) dengan cara bermeditasi.

Disamping argument mereka diatas ini salah kaprah dan keliru, mereka ini telah SENGAJA memotong dan memperkosa bagian syair dari salah satu Udana VIII di atas, yang menyebabkan maksud syair melenceng jauh. Untuk memahami bahwa pemotongan akan menghasilkan arti yang nyeleneh, maka saya sampaikan ilustrasi seperti ini:
    sebut saja si x, yang pada suatu ketika berkata, "Hoy! Semua yang di Universitas Katolik Parahyangan!", kemudian, 1 (satu) orang dengan sengaja telah memotong ucapan si x menjadi seperti ini, "Hoy! Semua yang di Universitas Katolik Parah!"
Lihat! Besar sekali perbedaan arti ketika kalimat tersebut di potong-potong seenaknya, bukan?!

Kemdian, untuk mengetahui mengapa hal ini salah kaprah dan keliru, mari kita lihat lengkapnya syair Udana 8.1-4 (di Khuddaka-Nikaya dalam Sutta Pitaka), yang menjelaskan Nibanna:
    “Atthi, bhikkhave, tadāyatanaṃ, yattha neva pathavī, na āpo, na tejo, na vāyo, na ākāsānañcāyatanaṃ, na viññāṇañcāyatanaṃ, na ākiñcaññāyatanaṃ, na nevasaññānāsaññāyatanaṃ, nāyaṃ loko, na paraloko, na ubho candimasūriyā. Tatrāpāhaṃ, bhikkhave, neva āgatiṃ vadāmi, na gatiṃ, na ṭhitiṃ, na cutiṃ, na upapattiṃ; appatiṭṭhaṃ, appavattaṃ, anārammaṇamevetaṃ. Esevanto dukkhassā”tiO, bhikkhu, ada situasi[15a] bukan padat/landasan/sokongan; bukan cair/rekat, bukan suhu/temperatur/gelombang partikel/umur/habis, dan bukan getar/gerak/tekanan; bukan dimensi ruang tak terbatas, bukan dimensi kesadaran tak terbatas, bukan dimensi dari kekosongan, bukan dimensi dari presepsi dan juga bukan-bukan presepsi; bukan dunia ini atau dunia lain; bukan matahari rembulan[15b]. Di sini, O, bhikkhu, bukan kedatangan, bukan kepergian, bukan yang tinggal, bukan kematian, bukan kemunculan; tanpa fondasi pijakan, tanpa kelanjutan, tanpa kondisi penyebab kemunculan [tanpa penyebab landasan indrawi][15c]. Inilah akhir dari penderitaan.
    Duddasaṃ anataṃ nāma, na hi saccaṃ sudassanaṃ; Paṭividdhā taṇhā jānato, passato natthi kiñcanan”ti.Yang tidak terpengaruh[15d] sulit untuk diketahui, Kebenaran tidak mudah dilihat; Nafsu keinginan akan ditembus oleh orang yang tahu, Tidak ada penghalang bagi orang yang melihat.
    "atthi bhikkhave, ajātaṃ abhūtaṃ akataṃ asaṅkhataṃ. No ce taṃ bhikkhave, abhavissā ajātaṃ abūtaṃ akataṃ asaṅkhataṃ, nayidha jātassa bhūtassa katassa saṅkhatassa nissaraṇaṃ paññāyetha. yasmā ca kho bhikkhave, atthi ajātaṃ abhūtaṃ akataṃ asaṅkhataṃ, tasmā jātassa bhūtassa katassa saṅkhatassa nissaraṇaṃ paññāyatī"ti."O, bhikkhu, ada yang tidak dilahirkan, tidak menjelma, tidak tercipta, tidak berkondisi. Jika seandainya saja, O, bhikkhu, tidak ada yang tidak dilahirkan, tidak-menjelma, tidak tercipta, tidak berkondisi; maka tidak akan ada jalan keluar kebebasan kelahiran, penjelmaan, pembentukan, kemunculan dari sebab yang lalu. Tetapi karena ada yang tidak dilahirkan, tidak-menjelma, tidak tercipta, tidak berkondisi; maka ada jalan keluar kebebasan kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu.
    Nissitassa calitaṃ, anissitassa calitaṃ natthi. Calite asati passaddhi, passaddhiyā sati nati na hoti. Natiyā asati āgatigati na hoti. Āgatigatiyā asati cutūpapāto na hoti. Cutūpapāte asati nevidha na huraṃ na ubhayamantarena. Esevanto dukkhassā”tiBagi yang ditopang, ada ketidakstabilan, bagi yang tidak ditopang, tidak ada ketidak-stabilan, bila tidak ada ketidakstabilan ada ketenangan; bila ada ketenangan tidak ada hasrat; bila tidak ada hasrat tidak ada datang-dan-pergi; dan bila tidak ada datang-dan-pergi tidak ada kematian dan kemunculan; bila tidak ada kematian-dan-kemeunculan, tidak ada “di sini” atau “diluar sana” ataupun “di antara keduanya”. Inilah akhir dari penderitaan.
Kata-kata di Udena 8.3 mulai dengan kata "atthi", Para penterjemah biasanya mengartikan sebagai "THERE IS" sehingga artinya menjadi "ADA SESUATU" yang merujuk pada benda. Padahal tidak demikian dimaksudkan. Untuk mengartikan kata ini bagusnya dengan memperhatikan bentuk negativenya yaitu NATTHI, yang artinya "There is not" alias BUKAN atau TIDAK

Begitupula dengan kata "a-saṅkhataṃ" yang diterjemahkan menjadi "MUTLAK". Penterjemahan ini sangatlah menyesatkan, karena "a-saṅkhataṃ", adalah bentuk negatif dari "saṅkhataṃ" (menjadi satu, gabungan, berkondisi, muncul karena kombinasi sebab, terjadi sebagai akibat perbuatan di kehidupan-kehidupan sebelumnya) dan bukanlah dimaksudkan sebagai yang ABSOLUT namun sebagai TIDAK BERKONDISI yang merujuk pada pengertian "semua yang berkondisi adalah tidaklah memuaskan"

Sebagaimana dijelaskan seorang budak perempuan Ratu Samavati, yang bernama Khujjuttara (mencapai sotapanna. Ia membuat ratu samavati dan 500 budak perempuannya juga mencapai sotapanna), Salah satu kupasan Khujjuttara ketika mendengar kotbah Sang Buddha adalah berhubungan dengan Udana 8.3:
    Demikian dari Sang Buddha yang kudengar (Vuttañhetaṃ bhagavatā ­vuttama­rahatāti me sutaṃ):

    Para Bhikkhu, terdapat yang tidak dilahirkan, tidak dijelmakan, tidak diciptakan, dan tidak dibentuk (Atthi, bhikkhave, ajātaṃ abhūtaṃ akataṃ asaṅkhataṃ)

    Para bhikkhu, seandainya tidak ada yang tidak dilahirkan, tidak dijelmakan, tidak diciptakan, dan tidak dibentuk (No cetaṃ, bhikkhave, abhavissa ajātaṃ abhūtaṃ akataṃ asaṅkhataṃ), maka tidak ada jalan keluar yang dapat dilihat dari apa yang dilahirkan, dijelmakan, diciptakan, dan dibentuk (nayidha jātassa bhūtassa katassa saṅkhatassa nissaraṇaṃ paññāyetha)

    Para Bhikku, karena terdapat yang tidak dilahirkan, tidak dijelmakan, tidak diciptakan, dan tidak dibentuk (Yasmā ca kho, bhikkhave, atthi ajātaṃ abhūtaṃ akataṃ asaṅkhataṃ), maka terlihat jalan keluar dari apa yang dilahirkan, dijelmakan, diciptakan, dan dibentuk (tasmā jātassa bhūtassa katassa saṅkhatassa nissaraṇaṃ paññāyatī”ti)

    Yang dilahirkan, dijelmakan, dihasilkan (Jātaṃ bhūtaṃ samuppannaṃ)
    Yang diciptakan, dibentuk, yang tidak kekal (kataṃ saṅ­kha­ta­mad­dhuvaṃ),
    Bersatu dengan kelapukan dan kematian (Jarāma­raṇa­saṅghā­ṭaṃ),
    Sarang bagi penyakit, dapat hancur (roganīḷaṃ pabhaṅguraṃ),

    Yang muncul dari makanan dan tali nafsu- (Āhāra­nettip­pabha­vaṃ)
    Tidak sesuai dijadikan kegembiraan (nālaṃ tada­bhinan­di­tuṃ)
    Jalan keluar dari itu, yang damai (Tassa nissaraṇaṃ santaṃ)
    selalu ada di luar penalaran (atakkāvacaraṃ dhuvaṃ),

    Yang tidak dilahirkan, tidak dihasilkan (Ajātaṃ asamuppannaṃ),
    Keadaan tanpa duka yang bebas dari noda (asokaṃ virajaṃ padaṃ)
    Berhentinya segala keadaan yang menyengsarakan (Nirodho duk­kha­dhammānaṃ),
    Berhentinya yang berkondisi - sukacita (saṅkhārūpasamo sukho”ti).

    [Itivuttaka 43, ajatasutta: Yang Tidak Dilahirkan]
Jelas sekali, Sang Buddha bermaksud mengajarkan bahwa tujuan dari pembebasan adalah Nibana. Arti Nibbana [Pali]; Sanskerta= Nirvana [nir; nis = "tidak ada, lenyap, habis'; + va = "meniup"] = "Musnah, Lenyap, Padam, memadamkan".

Sehingga ketika nafsu keinginan padam, maka tidak ada lagi yang "membakar" kesadaran (pertemuan antara indriya dan objeknya). Inilah yang disebut Nibanna.

Kemudian,
Ketika namarupa/penjelmaan/pancakhanda (tempat penyokong indriya) yang ada saat ini menjadi lapuk/mati. maka dengan matinya namarupa, berakhir pula indriya. Dengan berakhirnya indriya, maka berakhir pula kesadaran (pertemuan antara indria dan objeknya). Keadaan Inilah yang disebut sebagai Parinibanna. Untuk jelasnya, mari kita simak penjelasan Sang Buddha kepada petapa pengembara VacchaGotta[28]:
    “Bagaimana menurutmu, Vaccha? Misalkan terdapat api yang membakar di depanmu. Apakah engkau mengetahui: ‘Api ini membakar di depanku’?”

    “Aku mengetahuinya, Guru Gotama.”

    “Jika seseorang bertanya kepadamu, Vaccha: ‘Bergantung pada apakah api yang membakar di depanmu ini?’ – jika ditanya demikian, bagaimanakah engkau menjawab?”

    “Jika ditanya demikian, Guru Gotama, aku akan menjawab: ‘Api ini membakar dengan bergantung pada bahan bakar rumput dan kayu.’”

    “Jika api di depanmu itu padam, apakah engkau mengetahui: ‘Api di depanku ini telah padam’?”

    “Aku mengetahuinya, Guru Gotama.”

    “Jika seseorang bertanya kepadamu, Vaccha: ‘Ketika api di depanmu itu padam, ke arah manakah perginya: ke timur, ke barat, ke utara, atau ke selaatan?’ - jika ditanya demikian, bagaimanakah engkau menjawab?”

    “Itu tidak berlaku, Guru Gotama. Api itu membakar dengan bergantung pada bahan bakar rumput dan kayu. Ketika bahan bakar itu habis, jika tidak mendapatkan tambahan bahan bakar, karena tanpa bahan bakar, maka itu dikatakan sebagai padam.”
Jadi, Nibanna/Parinibanna jelas BUKANLAH alam/tempat atau Tuhan/ketuhanan.

Beberapa penulis [16] rupanya tidak memahami mengapa sang Buddha menolak konsep Issara/Isvara (tuhan), yang berasal dari pernyataan Mahabrahma di DN.1/Brahmajala Sutta[17], yang isinya diantaranya adalah:
  • Sikap yang seharusnya sebagai penganut Buddhisme ketika ada yang memuji/menghina Buddha, Dhamma dan Sangha[17a]
  • 62 PANDANGAN SALAH[17b]
Salah satu pandangan salah no.5[17c] berkenaan dengan statement MAHA BRAHMA yang menyatakan diri dan/atau dinyatakan (oleh Brahma lainnya) sebagai Issara/Sivara (Tuhan)

"..mahābrahmā (Brahma yang Agung) abhibhū (penakluk) anabhibhūto (yang tak tertaklukan) aññadatthudaso (melihat segalanya) vasavattī (maha menguasai/maha sakti) issaro (Tuhan/yang termulia) kattā (pembuat) nimmātā (pencipta) seṭṭho (pemilik/terbesar) sajitā (pemberi perintah) vasī (paling awal) pitā bhūtabhabyānaṃ (Ayah dari segala yang ada dan akan ada)" [DN1/Brahmajala sutta, MN49/Brahma­niman­tanika­sutta, dll].
    Note:
    Mahluk halus tidak bisa di scan keberadaannya oleh seluruh indera (6 indera). Memang banyak yang mengklaim mampu melihatnya dan para ilmuwan pun sudah mampu mendeteksi keberadaannya. Mereka memang tidak mendefinisikannya tapi memberitahu bahwa ada sesuatu.

    Ketika bicara tentang TUHAN, di samping, ilmuwan tidak mampu membuktikan keberadaannya, 5 Indra dan alat bantunya dan juga tambahan Indera pikiran pun tidak mampu men-scan keberadaannya.

    Perasaan nyaman/tidak nyaman (selain halus, kasar, panas, dingin) tidak bisa di scan oleh mata, telinga, lidah, hidung dan kulit tapi nyata adanya bukan karena diberitahu oleh buku-buku yang dibaca dan ceramah-ceramah yang didengar, tapi diketahui oleh indera pikiran. Seluruh manusia TAHU itu NYATA ADANYA karena mengalaminya sendiri.

    Sementara itu, pencapaian nibanna merupakan "pengalaman" yang di alami sendiri oleh mereka yang telah berhasil menyelesaikan latihan sesuai arahan/Metoda yang disampaikan sang Buddha.
Sang Buddha, dalam AN 3.61/Tittha sutta, menolak pandangan bahwa semua perbuatan (baik dan/atau buruk) dan yang dialami seseorang dengan perasaan: menyenangkan, menyakitkan atau perasaan bukan menyenangkan bukan menyakitkan [a-dukkham a-sukhaṁ] adalah karena kuasa/kehendak TUHAN [Issaranimmānahetū]
    "Issaranimmānahetū’ ti issaranimmānakāraṇā, issarena nimmitattā paṭisaṁvedetī ti attho" [artinya: "Disebabkan kuasa Tuhan, Karena kuasa Tuhan, Dirinya mengalami dari kuasa tuhan". Ini adalah pola pandangan sekte-sekte tertentu India di jaman dulu; jika jaman sekarang, termasuk ajaran Islam, Nasrani dan Hindu, serta ajaran lainnya yang menyandarkan pada paham ketuhanan]
Buddha menolak tegas akan hal itu, karena semua perbuatan dan yang dialami seseorang BUKANLAH kehendak tuhan, yang berakibat seseorang TIDAK memiliki kehendak bebas hanya ”boneka” yang tidak bisa membebaskan diri dari penderitaan serta akan menjadi seseorang yang tidak memiliki kewaspadaan dan pengendalian diri.[18a]

yang juga disebutkan di Mahabodhi Jataka (no.528), Sang Bodhisatta berkata:
    "Jika Tuhan sekalian alam, yang menentukan bagi seluruh ciptaanya, kebahagiaan atau penderitaan, perbuatan baik maupun jahat, maka manusia hanya menjalankan perintahnya saja, Sedangkan Tuhan itu yang diliputi dosa" (issaro sabbalokassa, sace kappeti jīvitaṃ, Iddhiṃ bya­sa­nabhā­vañca, kammaṃ kalyāṇapāpakaṃ; Niddesakārī puriso, issaro tena lippati)
Kemudian kotbah Boddhisatta dalam Bhuridatta Jataka [no.543], terdapat kalimat berulang, "Sace hi so issaro sabbaloke" (Sebab jika Ia Tuhan sekalian alam):
    ”Dengan mata, seseorang dapat melihat pandangan memilukan; Mengapa Brahma itu tidak menciptakan secara baik? Bila kekuatannya demikian tak terbatas, mengapa tangannya begitu jarang memberkati? Mengapa dia tidak memberi kebahagiaan semata? Mengapa kejahatan, kebohongan dan ketidak-tahuan merajalela? Mengapa memenangkan kepalsuan, sedangkan kebenaran dan keadilan gagal? Saya menganggap, Brahma adalah ketak-adilan. Yang membuat dunia yang diatur keliru"
AdiBuddha BUKANLAH TUHAN atau KETUHANAN
Jika mau meneliti seluruh sumber pada konsili ke-1 s.d 6 [juga dari kalangan MAHAYANA awal, yaitu pada teks-teks Samyutta Agama], maka TIDAK JUGA AKAN anda temukan adanya doktrin ADI BUDDHA atau bahkan kata "sanghyang adi buddha"[18b]. Juga, tidak pernah ada pengukuhan adanya Buddha pertama atau Buddha yang lebih Buddha dari Buddha lainnya sebagai yang Maha Buddha yang kemudian disebut sebagai tuhan atau untuk ketuhanan dalam Buddhisme.

Perlu diketahui, untuk menjadi seorang Buddha maka, Ia HARUS SELALU:
  1. Manusia
  2. Mempunyai lengkap 32 tanda-tanda tubuh seorang maha-purisa/Manusia agung[24] yang tidak boleh kurang satupun
  3. pernah dalam satu kehidupan sebelumnya TELAH menyatakan tekad untuk menjadi Buddha DIHADAPAN seorang Buddha dan HARUS MENDAPATKAN Konfirmasi kepastian dari Buddha tersebut bahwa tekadnya pasti terlaksana.
Sehingga ADI BUDDHA/MAHA BUDDHA adalah tidak ada. Kemudian, jika kita baca buku abad ke-10, karangan empu-Sindok, yaitu Sanghyang Kahamayanikam (yang dirujuk oleh pemegang paham tuhan adalah sanghyang adi-buddha), maka kita akan temukan bahwa adi-Buddha yang dimaksud BUKANLAH Tuhan namun nama dari seorang raja saja.

Samsara itu, titik pertamanya tidak terlihat karena terhalang ketidaktahuan para mahluk yang terbelenggu gerak keinginan yang terus menerus.
    "Anamataggoyaṃ, bhikkhave, saṃsāro. Pubbā koṭi na paññāyati avijjā­nīvara­ṇā­naṃ sattānaṃ taṇhā­saṃ­yoja­nā­naṃ sandhāvataṃ saṃsarataṃ." [Tak berkesudahan, Para Bhikkhu, samsara (kelahiran kembali). Titik pertama tak terlihat karena terhalang kebodohan para makhluk yang terbelenggu gerak keinginan yang terus menerus"] [SN 15.1/Tiṇa­kaṭṭha­sutta, SN 22.9: Gaddulabaddha Sutta, SN 56.35/Sattisata Sutta, dll]
Bagaimana menemukan titik pertama? Yaitu, dengan menemukan titik terakhirnya maka itulah titik awalnya. Apa titik terakhirnya? Padamnya nafsu keinginan.

Padamnya nafsu keinginan menyebabkan tidak ada lagi kelahiran (namarupa/penjelmaan/pancakhanda baru), yang tersisa hanyalah namarupa/penjelmaan/panca khanda (tempat indriya) saat ini hingga itu lapuk/mati. Dengan matinya namarupa/penjelmaan/pancakhanda (mahluk hidup yang berindriyanya), maka berakhir pula indriya. Dengan berakhirnya indriya, maka berakhir pula kesadaran (pertemuan antara indria dan objeknya inilah yang memunculkan kesadaran), berakhirlah kondisi-kondisi yang memunculkan kesadaran.

Jadi, titik awalnya adalah nafsu keinginan sebagai kondisi penerusan kesadaran. Tidak adanya penerusan kesadaran maka tidak ada lagi namarupa [mahluk], tidak ada lagi pengelanaan dalam roda samsara.

Dhamma-Kaya BUKANLAH TUHAN atau KETUHANAN
Konsep AdiBuddha dan/atau juga konsep khayal lainnya seperti 5 Buddha di 5 (lima) arah mata angin yang punya tanah suci, sebagai tuhan dan/atau tuhan terlahir dari hasil pengertian yang salah tentang DHAMMA-KAYA/Tubuh Dhamma [Konsep Dhammakaya disebutkan salah satunya di SN 22.87/Vakkali sutta, tentang Vakkali, Kisahnya disampaikan pula di kitab komentar: Apadana, Theragata dan Dhammapada syair 381. Vakkali adalah seorang yg "berbakat HOMOSEKSUAL[20]", orang ini begitu terpesonanya pada sang Buddha sehingga ia hanya terpaku dan terpesona pada sang Buddha dan mengabaikan latihannya.]
    Sebagai seorang bhikkhu, Vakkali selalu dekat dengan Sang Buddha, ia tidak memperhatikan tugas kewajibannya sebagai bhikkhu lagi, dan tidak berlatih meditasi.

    Karena itu Sang Buddha berkata kepadanya, "Vakkali, tidak akan bermanfaat bagimu yang selalu dekat dengan-Ku, memperhatikan wajah-Ku. Kamu harus berlatih meditasi, sebab hanya ia yang melihat Dhamma akan melihat Saya. Ia yang tidak melihat Dhamma tidak akan melihat Saya. [Yo kho Vakkali dhammam passati so mam passati; yo mma passati so dhammam passati)."

    [note: dalam komentar samyutta SA 2:314,dikatakan Tathagatha, raja agung adalah tubuh-Dharma]

    Ketika mendengar kata-kata itu Vakkali sangat tertekan. Ia meninggalkan Sang Buddha dan memanjat bukit Gijjhakuta untuk melakukan bunuh diri dengan cara melompat dari puncak bukit.

    Sang Buddha mengetahui kesedihan dan keputusasaan Vakkali. Karena sedih dan putus asa itu Vakkali akan melepaskan kesempatan memperoleh tingkat kesucian.

    Oleh karena itu, dengan kekuatan mentalnya, Sang Buddha, membuat "bayangan" Beliau di hadapan Vakkali yang membuat seolah-olah Beliau berada di hadapannya. Ketika Sang Buddha berada dekat dengannya, segera Vakkali melupakan segala kesedihannya, ia menjadi sangat gembira[..]

    Ketika ia menjadi arahat ia dianugerahi gelar etadaggam saddha’dhimuttanam, Ia yg memiliki keyakinan paling kuat diantara para Bhikkhu
Kisah di atas memuat mengenai pemaknaan sebuah kata yakin versi Buddhisme. Keyakinan dalam Buddhism itu ada 2:
  1. Tanpa dasar: [amulaka saddha]
  2. Atas dasar yg beralasan [akaravati saddha]. Keyakinan yg timbul dari melihat disebut avecca-ppasada,dimana avecca (aveti = mencapai, memahami, menembus)+ pasāda [jelas]
Terlihat bahwa Ref SA 2.314 [di atas] adalah kekeliruan pemikiran tentang tubuh dhamma, karena pengertian tubuh Dhamma adalah seperti yang dimaksud dalam DN.27/agganna sutta:
    [..]Ia yang berkeyakinan di dalam Sang Tathāgata, teguh, berakar, kokoh, padat, tidak tergoyahkan oleh petapa dan Brāhmaṇa mana pun juga, dewa atau māra atau Brahmā atau siapa pun di dunia ini, dapat dengan benar mengatakan:

    “Aku adalah putra sejati Sang Bhagavā, lahir dari mulut-Nya, lahir dari Dhamma, diciptakan oleh Dhamma, seorang keturunan Dhamma.”

    Mengapa demikian?

    Karena, Vāseṭṭha (salah satu dari keluarga Brahmana terpandang), ini menunjuk pada Sang Tathāgata: “Tubuh Dhamma”, yaitu, “Tubuh Brahmā”, atau “Menjadi Dhamma”, yaitu “Menjadi Brahmā”.’
Tubuh brahma adalah karena brahma berarti berkembang, sempuna, kesucian, bersifat baik [lihat penggnaannya dalah brahmacariya, brahma vihara, brahmajala. Namun, keterangan detail apa yang dimaksud tentang tubuh Dhamma, Tubuh Brahma, menjadi Dhamma dan menjadi Brahma, di jelaskan pada sloka sebelumnya:
    ‘Sekarang karena kualitas-kualitas cerah dan gelap, yang dicela dan dipuji oleh para bijaksana, keduanya tersebar tanpa membeda-bedakan di seluruh empat kasta, para bijaksana tidak mengakui anggapan bahwa kasta Brāhmaṇa adalah yang tertinggi. Mengapa demikian? Karena, Vāseṭṭha, siapa pun di antara empat kasta yang menjadi seorang bhikkhu, seorang Arahant yang telah menghancurkan kekotoran, yang telah menjalani kehidupan, telah melakukan apa yang harus dilakukan, melepaskan beban, mencapai tujuan tertinggi, menghancurkan belenggu penjelmaan, dan menjadi terbebaskan melalui pengetahuan-super – ia dinyatakan tertinggi oleh keluhuran Dhamma dan bukan oleh non-Dhamma.

    Dhamma adalah yang terbaik, bagi manusia
    Dalam kehidupan ini maupun kehidupan berikutnya.’
Nah itulah konsep dhamma-kaya yg dimaksud dan sama sekali tidak merujuk konsep adanya Buddha yang lain atau mahluk super tertentu.

[Kembali (↑)]
---------------

Tumimbal Lahir, Manusia Pertama, Bumi dan Semesta

Dalam Buddhisme, manusia pertama[↓] TIDAKLAH ADA karena kemunculan manusia di alam ini bukan cuma 1 atau 2 orang namun BANYAK dan merupakan hasil PROSES PANJANG EVOLUSI mahluk-mahluk deva. Kejadian penciptaan BUMI dan MANUSIA-MANUSIA pertama diuraikan di DN 27/Agganna Sutta dan DN 1/Brahmajala Sutta.

Menurut Buddhisme, para mahluk (Brahma, deva, manusia, binatang, peta/mahluk halus, neraka) dan juga ALAM KEHIDUPAN tempat mereka terlahir pun (baik itu VERTIKAL maupun HORIZONTAL) telah berulang terbentuk/lahir dan hancur.

Vertikal: 31 Alam Kehidupan

Terdapat 31 Alam kelahiran kembali para mahluk yang MASIH belum NIBANNA (padam) yang terbagi menjadi alam Rupa dan Arupa. Alam Rupa terdiri dari kamaloka dan Rupaloka. Alam manusia ada di Kamaloka, Alam manusia ke atas disebut alam bahagia. Kemunculan di alam Rupa berkaitan erat dengan pencapaian Jhana ke-1 s/d ke-4 dan kemunculan di alam arupa berkaitan dengan padamnya persepsi tertentu di setelah jhana ke-4.
  1. Arupa Loka (Alam tanpa materi),
    Penghuninya tetap mempunyai NAMARUPA dan setelah habisnya umur kehidupan di alam ini, ia akan jatuh ke alam-alam di bawahnya (tidak harus berurutan, namun dapat terjun bebas jatuh ke alam apaya). Kemunculan di alam arupa ini adalah karena ada kondisi [sankhara] sebelumnya yang memunculkan kesadaran dan kesadaran tersebut memunculkan namarupa (pancakhanda):

    1. PancaKhanda: viññāṇa (kesadaran) berasal dari kesadaran akibat cuti citta (pikiran menjelang kematian) sebelumnya yang kemudian kesadaran ini memunculkan nama rupa

    2. PancaKhanda: Namarupa: Vedana (perasaan) yang tergabung (kesadaran + persepsi, diteruskan dari yang sebelumnya: keseimbangan (upekkhā), perasaan bukan kesakitan bukan kenikmatan (adukkhamasukhā vedanā)

    3. PancaKhanda: Namarupa: sañña yang tergabung (kesadaran+perasaan) diteruskan dari yang sebelumnya, karena perasaan dan persepsi belum lenyap (contoh persepsi yang diteruskan dari cuti citta sebelumnya, misal: nevasaññānāsaññāyatanasañña). Gabungan persepsi dan perasaan menunjukan bahwa yang juga diteruskan adalah citta dan cittasaṅkhāroti.

    4. Pancakhanda: Namarupa -> Sankhara: Phasa sebagai landasan dari kesadaran, sehingga pikiran juga ada

    5. PancaKhanda: Namarupa -> Sankhara:CETANA dalam meneruskan, mempertahankan dan di posisi itu tetap ada

    6. PancaKhanda: Namarupa -> Sankhara:Manosikhara, karena kontaknya ada

    7. Pancakhanda:Namarupa ->RUPA:

      1. Pathavi (landasan), berupa: Kesadaran dan kondisi penerusan sebagai landasannya;
      2. Apo (merekat), berbaurnya NamaRupa;
      3. Vayo [tekanan, aksi mempertahankan perekatan tsb), kekuatan mempertahankan bentukan;
      4. Tejo: habisnya umur bentukan karena habisnya kamma

    Itulah sebabnya di alam a-rupa, namarupa tetap saja ada.

    1. neva-saññā-na-a-saññā-āyatana,"Landasan bukan persepsi bukan-tanpa persepsi". Salah satu penghuninya adalah Uddaka Rāmaputta (Salah satu guru Sidhartha Gautama). Cara mencapai alam ini dan juga deskripsinya lihat pencapaian landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi[↓].

    2. ākiñcañña-āyatana, "Landasan tidak ada apa-apapun". Salah satu penghuninya adalah Āḷāra Kālāma (Salah satu guru Sidhartha Gautama). Cara mencapai alam ini dan juga deskripsinya lihat pencapaian landasan tidak ada apa-apapun[↓].

    3. viññāṇañca-āyatana,"Landasan kesadaran adalah tak berbatas”. Cara mencapai alam ini dan juga deskripsinya lihat pencapaian landasan kesadaran tak berbatas[↓].

    4. ākāsānañca-āyatana, "Landasan ruang adalah tak berbatas". Cara mencapai alam ini dan juga deskripsinya lihat pencapaian landasan ruang tak berbatas[↓].

  2. Dewa alam Rūpadhātu
    Dewa-dewa ini memiliki bentuk fisik, namun tanpa jenis kelamin dan tanpa kebutuhan hawa nafsu

    Alam Śuddhāvāsa,"Kediaman Murni"
    Hanya para anagami (an+āgāmin, "yang tidak pernah kembali") yang terlahir di alam ini untuk melanjutkan latihannya hingga mencapai Arahat Tidak pernah ada 1 mahluk non anagami yang akan terlahir di alam ini.

    DN 14/Mahapadana Sutta, menginformasikan bahwa Para brahma alam Suddhavasa juga disebut sebagai Maha brahma. Jadi, terminologi "Maha Brahma" selain merujuk pada 1 sosok Brahma yang muncul kembali di alam Jhana ke-1, yang menandai awal mulainya 1 Maha Kappa (Brahmajala sutta dan juga Aggana Sutta) juga merujuk pada para Brahma alam Suddhavasa ini.

    DN 14/Mahapadana Sutta juga memberikan informasi:

      Ketika sang Buddha menetap di Ukkhaṭṭha, Beliau berkunjung ke alam kediaman murni Aviha ("Tidak akan Jatuh". Alam ini merupakan alam no.9 dan juga alam terendah dari kelompok alam Suddhavasa). Di alam aviha ini,
      Sang Buddha bertemu ribuan deva alam itu yang terlahir menjadi anagami setelah menjalani kehidupan suci di jaman Buddha Vipassi (91 Maha kappa yang lalu)..kemudian, bertemu ribuan deva alam itu yang terlahir menjadi anagami setelah menjalani kehidupan suci di jaman Buddha Sikhi (31 Maha Kappa).. Vesabbhu (31 Maha kappa yang lalu).. Kakusandha (Kappa yang sama dengan Buddha Gautama).. Konagama.. Kassapa.. dan Gautama..

      Kemudian,
      Bersama ribuan deva alam murni Aviha, mereka berkunjung ke alam murni Atapa ("tenang". Ini merupakan alam no.8). Di alam ini, Sang Buddha bertemu ribuan deva alam itu yang terlahir menjadi anagami setelah menjalani kehidupan suci di jaman Buddha Vipassi..Sikki.. dan juga Buddha Gautama..

      Kemudian,
      Mereka semua berkunjung ke alam murni, Suddhasa ("Indah". Ini merupakan alam no.7). Di alam ini, Sang Buddha bertemu ribuan deva alam itu yang terlahir menjadi anagami setelah menjalani kehidupan suci di jaman Buddha Vipassi..Sikki.. dan juga Buddha Gautama..

      Kemudian,
      Mereka semua berkunjung ke alam murni Suddhasi ("Penglihatan jelas". Ini merupakan alam no.6).Di alam ini, Sang Buddha bertemu ribuan deva alam itu yang terlahir menjadi anagami setelah menjalani kehidupan suci di jaman Buddha Vipassi..Sikki.. dan juga Buddha Gautama..

      Kemudian,
      Mereka semua berkunjung ke alam murni Akanittha ("tidak rendah/muda". Alam ini merupakan alam no.5 dan alam tertinggi dari Alam suddhavasa. Sakka, saat menjadi anagami akan muncul di alam ini hingga mencapai arahat). Di alam ini, Sang Buddha bertemu ribuan deva alam itu yang terlahir menjadi anagami setelah menjalani kehidupan suci di jaman Buddha Vipassi..Sikki.. dan juga Buddha Gautama...

    Di seluruh tingkatan alam murni di Suddhavasa (5 tingkat),
    para penghuni tertua masing-masing alam tersebut, seluruhnya menyatakan bahwa mereka menjadi anagami di jaman Buddha Vipassi dan melihat Buddha Vipassi berkunjung ke alam mereka. Tidak satupun dari mereka menyatakan bahwa mereka mencapai anagami di jaman Buddha-Buddha sebelum Vipassi, misalnya: Buddha Phusa, muncul 92 Kappa sebelum Buddha Gautama (atau 1 Kappa sebelum Buddha Vipassi)

    Sehingga berdasarkan fakta ini,

    1. dapat kita ketahui bahwa waktu MAKSIMUM tercapainya kesucian arahat di alam Suddhavasa TIDAK AKAN MELEBIHI 91/92 Kappa dan juga,
    2. karena sutta juga mencatat sejarah masa lalu 7 Buddha ini, di mana, para Bodhisatta setelah berhasil mencapai Buddha, dikunjungi Brahma Anagami tertentu dari alam ini, maka dapat pula kita ketahui bahwa WAKTU TERLAMA KEKOSONGAN untuk kemunculan seorang sammasambuddha TIDAK AKAN melebihi 91/92 Kappa pula
    3. Tidak 1 anagami-pun dari 5 alam Suddhavasa yang menyatakan sebagai murid Buddha tertentu dari system dunia berbeda pada kurun waktu yang sama di kemunculan Buddha-buddha tersebut (Sutta ini membantah pandangan salah beberapa sutra Mahayana, yang ditulis ratusan tahun setelah Parinibanna Sang Buddha. Theravada menyatakan tidak mungkin ada dua buddha muncul bersamaan pada system dunia ini)

    Di AN 3.86/87 Sikkha Sutta (Sekhin Sutta) dan SN 48.15-17/Vitthara sutta 1-3, terdapat 5 Tipe Anagami, yaitu: antarāparinibbāyī, upahaccaparinibbāyī, asaṅkhāraparinibbāyī, sasaṅkhāraparinibbāyī dan uddhaṃsoto akaniṭṭhagāmī. Penjelasan kitab komentar dan Abhidhamma pitaka (Puggalapannati) hal. 42-46 mengenai maksud kata pali tersebut adalah:

    • uddhaṃsoto akaniṭṭhagāmī: ketika para anagami terlahir salah satu alam suddhavasa mana saja selain akkanittha namun hingga berakhir kehidupannya belum juga mencapai arahat, maka ia akan terlahir kembali di alam atasnya, secara berurutan hingga kemudian ia akan terlahir alam akkhanittha (jika tetap masih belum mencapai arahat ketika berakhir kehidupannya) dan di alam ini, ia akan mencapai arahat. ini dikatakan sebagai "berenang ke atas (uddhaṃsoto), hingga akanittha".
    • Kemudian, definisi antara (segera setelah terlahir s.d setengah kehidupannya Ia mencapai arahat), upahacca (di atas 1/2 kehidupan hingga hampir wafatnya ia mencapai arahat), Ia mencapai arahat dengan tanpa melalui usaha atau tanpa keruwetan (asankhara) atau dengan penuh usaha (Sasankhara)

    Di DN 14.mahapadana sutta, menyampaikan para penghuni alam rendah dapat berkunjung ke alam yang lebih tinggi (tanpa perlu wafat terlebih dahulu) ke semua tingkatan alam di suddhavasa (masing-masing alam juga memiliki para penghuni yang berumur sangat tua, yaitu murid Buddha Vipassi dan juga sangat muda, yaitu murid Buddha Gautama).

    Definsi 5 tipe anagami di atas menurut SN 48.15-17 adalah berhubungan dengan kelengkapan 5 indriya [Keyakinan, kegigihan, perhatian, konsentrasi dan kebijaksanaan] pada Arahat. Faktor-faktornya adalah:

    1. Indriya keyakinan (Saddhindriya) terlihat dalam 4 faktor pemasuk arus (Catūsu sotāpattiyaṅgesu), yaitu: (1) Keyakinan pada Buddha, (2) Dhamma, (3) sangha dan (4) moralitas yang disenangi para mulia -tidak rusak, robek, tanpa noda, tanpa bercak, membebaskan, dipuji oleh para mulia, tidak digenggam, menuntun pada konsentrasi. [SN 55.1,2]. Pengelompokan bentuk lainnya 4 faktor pemasuk arus sebagaimana disampaikan sariputta yaitu: (1) Pergaulan dengan orang Mulia, (2) mendengarkan dhamma, (3) perhatian waspada dan (4) pratek sesuai dhamma. Arus adalah 8 jalan utama. Pemasuk arus adalah yang memiliki 8 jalan Utama [SN 55.5]

    2. Indriya kegigihan (vīriyindriya) dengan 4 faktor usaha benar (Catūsu sammappadhānesu), yaitu: (1) Dengan sekuat tenaga mencegah munculnya hal tidak bermanfaat dan ketidakbaikan di dalam mental. (2) Dengan sekuat tenaga berusaha untuk memusnahkan hal tidak bermanfaat dan ketidakbaikan di dalam mental. (3)Dengan sekuat tenaga berusaha untuk membangkitkan kebaikan dan bermanfaat di dalam mental. (4) Berusaha keras untuk mempernyata, mengembangkan dan memperkuat kebaikan dan bermanfaat di dalam mental.

    3. Indriya Perhatian (satindriya) dengan 4 landasan perhatian (Catūsu satipaṭṭhānesu), yaitu: (1) merenungkan Jasmani sebagai jasmani. (2) merenungkan perasaan sebagai perasaan. (3)Pikiran sebagai pikiran (4) sankhara (fenomena) sebagai fenomena).

    4. Indriya konsentrasi/samādhindriya dengan 4 jhana (Catūsu jhānesu), yaitu: jhana ke-1 s.d ke-4.

    5. Indriya kebijaksanaan (paññindriya) dengan 4 kebenaran mulia (Catūsu ariyasaccesu), yaitu: Dukkha, asal mula, lenyapnya dan jalan lenyapnya dukkha

    Jika ke-5 Indriya ini terpenuhi ia kemudian mencapai Arahat di salah satu alam suddhavasa. Bagaimana terpenuhinya kelengkapan hingga mencapai arahat inilah yang menjadikan para anagami dalam 5 tipe yaitu: (1) Antara (awal kehidupan s.d sebelum wafat) atau (2) upahacca (di saat menjelang akhir kehidupan, mendekati cuti citta) ia mencapai nibanna (arahat tercapai) atau (3) asaṅkhāra (tanpa usaha) atau (4) sasaṅkhāra (dengan usaha) mencapai nibanna atau (5) uddhaṃsoto akaniṭṭhagāmī (menuju ke atas dalam arus kehidupan deva tertinggi dan tak kembali lagi).

    Untuk membantu memperjelas, di SN 55.25/Sarakani sutta (ketika menjelasan pada Mahanama), menyebutkan 5 tipe Anagami: tanpa mengkaitkan dengan 5 Indriya di atas dan mengkaitkan dengan keyakinan pada Buddha, dhamma dan sangha: Maka Ia adalah mahluk yang memiliki hāsapañño (kebijasanaan yang membuatnya bergembira) dan javanapañño (kebijaksanaan tangkas dan cepat) namun ia belum mencapai kebebasan dan dengan hancurnya 5 belenggu lebih rendah (anagami), ia mencapai pengetahuan akhir (nibanna) di: Masa antara (awal kehidupan s.d sebelum kematian) atau; di menjelang wafat atau; Tanpa usaha (seperti kisah samanera berusia 7 tahun, yang mencapai arahat bersamaan dengan selesai rambutnya di potong (Dhammapada syair 96, atau kisah yasa yang mendengarkan sang Buddha berkotbah pada ayahnya dan banyak lainnya) atau; Dengan usaha (melalui latihan-latihan bertahap) atau: uddhaṃsoto akaniṭṭhagāmī,

    Tipe uddhaṃsoto akaniṭṭhagāmī ini seperti kisah Deva Sakka:
    Berawal sebagai Dewa putthujhana (bukan mahluk suci), menjadi Dewa sotapanna (wafat dan langsung terlahir kembali menjadi Sakka lagi), kemudian menjadi anagami di alam Sudhavasa yaitu alam Aviha s.d terakhir di alam Akanittha (DN 21/Sakka panha sutta: Te paṇītatarā devā, akaniṭṭhā yasassino; Antime vattamānamhi, so nivāso bhavissati yang terbaik dari para deva, akanittha yang tersohor, penjelmaanku terakhir, yang menjadi alamku).

    Dalam kitab komentar karangan Buddhaghosa:
    Visākhā, Sakka dan Anāthapindika adalah uddhaṃsoto akaniṭṭhagāmī yang menikmati 31.000 Kappa kebahagian alam Brahma sebelum akhirnya Nibanna, yaitu di alam Avihā: 1000 kappa, Atappa: 2000 kappa, Sudassa: 4000 kappa, suddassi: 8000 kappa dan Akanittha: 16.000 kappa, setelah 31.000 kappa kebahagian brahma akhirnya Nibanna. (DA.iii.740: ..avihesu kappasahassaṃ vasissati, atappesu dve kappasahassāni, sudassesu cattāri kappasahassāni, sudassīsu aṭṭha, akaniṭṭhesu soḷasāti ekatiṃsa kappasahassāni brahmaāyuṃ anubhavissati. Sakko devarājā anāthapiṇḍiko gahapati visākhā mahāupāsikāti tayopi hi ime ekappamāṇaāyukā eva..)

    1. Asaññasatta
      Mahluk alam ini tidak mempunyai persepsi [ingatan/cerapan] tertentu. Umur di alam itu dibatasi oleh satu KONDISI yaitu ketika PERSEPSI/sañña/ingatan muncul maka Ia jatuh dari alam itu dan persepsi tersebut yang menyambung kesadarannya terlahir di alam berikutnya.

      Patika sutta: "Santāvuso, asaññasattā nāma devā. Saññuppādā ca pana te devā tamhā kāyā cavanti." [“Tuan-tuan, para dewa tanpa persepsi. Selekas ada landasan persepsi muncul, para dewa itu jatuh dari alam itu"]

      Brahmajala sutta: ‘‘Santi, bhikkhave, asaññasattā nāma devā. Saññuppādā ca pana te devā tamhā kāyā cavanti.

      Ṭhānaṃ kho panetaṃ, bhikkhave, vijjati, yaṃ aññataro satto tamhā kāyā cavitvā itthattaṃ āgacchati. Itthattaṃ āgato samāno agārasmā anagāriyaṃ pabbajati. Agārasmā anagāriyaṃ pabbajito samāno ātappamanvāya padhānamanvāya anuyogamanvāya appamādamanvāya sammāmanasikāramanvāya tathārūpaṃ cetosamādhiṃ phusati, yathāsamāhite citte saññuppādaṃ anussarati, tato paraṃ nānussarati. So evamāha – ‘adhiccasamuppanno attā ca loko ca.

      Taṃ kissa hetu?

      Ahañhi pubbe nāhosiṃ, somhi etarahi ahutvā santatāya pariṇato’ti.

      [Ada, para bhikkhu, para dewa tertentu yang disebut tanpa persepsi. Segera setelah suatu persepsi muncul dalam diri mereka, para dewa itu jatuh dari alam tersebut. Dan dapat terjadi bahwa suatu makhluk jatuh dari alam tersebut dan muncul di alam ini. Ia ... mengingat kehidupan sebelumnya, tetapi tidak mengingat yang sebelum itu. Ia berpikir: “Diri dan dunia muncul secara kebetulan. Bagaimanakah demikian? Sebelum ini, aku tidak ada. Sekarang dari tidak ada, aku menjadi ada...’]

      Contoh di Dhammapada:

        Suatu kesempatan, ketika Sang Buddha sedang berpindapatta di Rajagaha, ia melihat seekor induk babi muda yang kotor dan beliau tersenyum. Ketika ditanya oleh Ananda, Sang Buddha menjawab,

        "Ananda, babi ini dulunya adalah seekor ayam betina di masa Buddha Kakusandha. Karena ia tinggal di dekat ruang makan di suatu vihara, ia biasa mendengar pengulangan teks suci dan khotbah Dhamma. Ketika ia mati, ia dilahirkan kembali sebagai seorang putri.

        Suatu ketika, saat putri pergi ke kakus, sang putri melihat belatung dan ia menjadi sadar akan sifat yang "menjijikkan"/tidak menarik dari tubuh. Ketika ia meninggal dunia, ia dilahirkan kembali di alam Brahma sebagai brahma puthujjana; tetapi kemudian karena beberapa perbuatan buruknya, ia dilahirkan kembali sebagai seekor babi betina. Ananda! Lihat, karena perbuatan baik dan perbuatan buruk tidak ada akhir dari lingkaran kehidupan." [..][Dhammapada, Kisah Seekor Induk Babi Muda, syair 338-343]

        Lanjutan di Kitab komentar lainnya:Babi betina muda tersebut, setelah meninggal terlahir di Suvannabhumi di keluarga bangsawan. Kemudian secara berturut-berturut setelah meninggal, ia terlahir di Baranasi, di pelabuhan Suppara di keluarga pedagang kuda, di pelabuhan Kavira di kelurga pelaut, di Anuradhapura di keluarga pemimpin, di lahirkan lagi di desa Bhokkanta, utaranya Anuradhapura sebagai putri seorang kaya dan dinamai Sumana. Bersama ayahnya, ia pergi ke Dighavapi dan tinggal di desa Mahamuni.

        Suatu kali, salah seorang menteri raja dutthagamini [161 SM - 137SM] bernama Lakundakatimbara datang melihatnya dan menjadikannya sbagai istri dan mereka tinggal di desa Mahapunnama.

        Suatu kali, ketika berpindapata, seorang bhikkhu bernama Maha Anuruddha thera dari Kotitapabbata vihara melihatnya tengah berdiri di depan pintu. Melihatnya, ia berkata ke bhikkhu lain, "kawan, sungguh mengagumkan..babi muda betina tersebut sekarang telah menjadi istri menteri Lakundakatimbara".

        Wanita (Sumana) mendengar pembicaraan tersebut, dan ia mengingat kembali kehidupan lampaunya. Saat itu juga, ia memperoleh self-urgency (samvega). Setelah memasak untuk suaminya, ia ditahbis oleh para bhikkhuni yang dikenal pañcabalaka dengan upacara besar.

        Setelah mendengar khotbah Mahāsatipaṭṭhāna di vihara Tissamahavihara, ia mencapai kesucian sotapanna. Ketika ada kerusuhan yang disebabkan oleh orang2 Damila (tamil), ia pergi ke desa Bhokkanta di rumah kerabatnya. Ia hidup di sana. Suatu saat ia mendengarkan khotbah Asivisopama di vihara Kallamahavihara dan mencapai kesucian arahat.

      vedanā yā ca saññā yañca viññāṇaṃ – ime dhammā saṃsaṭṭhā, no visaṃsaṭṭhā. (Perasaan, persepsi dan kesadaran, kondisi ini tergabung, bukan terpisah). Na ca labbhā imesaṃ dhammānaṃ vinibbhujitvā vinibbhujitvā nānākaraṇaṃ paññāpetuṃ (tidak dapat memisahkan kondisi-kondisi ini satu sama lainnya untuk menggambarkan perbedaan antaranya). vedeti taṃ sañjānāti, yaṃ sañjānāti taṃ vijānāti. (Karena yang dirasakan, itu yang dipersepsikannya; yang dipersepsikan, itu yang dikenalinya) [MN.43/Mahāvedalla Sutta] -> Sutta ini memberikan informasi ada hal lain pada kata "a-sañña" pada mahluk ini, karena sañña tergabung dengan perasaan dan kesadaran..

      Saññā ca vedanā ca cetasikā ete dhammā cittapaṭibaddhā (Persepsi dan perasaan menyertai pikiran, kondisi ini terikat dengan pikiran). Tasmā saññā ca vedanā ca cittasaṅkhāroti (Itulah mengapa persepsi dan perasaan adalah bentukan pikiran) [MN.44/Cūḷavedalla Sutta]-> Sutta ini menginformasikan bahwa mahluk asaññā seharusnya mempunyai pikiran dan bentukan pikiran

      Kita ketahui bahwa "Namarupa (MentalMateri) mengondisikan kesadaran dan kesadaran mengondisikan Namarupa, Namarupa mengondisikan kontak" [DN 15/Mahānidāna Sutta]. Sehingga asaññāsatta juga mempunyai namarupa dan kesadaran.

      Sementara Landasan kesadaran adalah kontak (phassa) -> Indriya [utk manusia: mata, telinga,.., pikiran] + objek-objeknya [bentukan, suara,.., (Pikiran: ingatan, sumber, persepsi, gagasan, yang dicerap)] sebagai kondisi -> muncul kesadaran [mata, teling,..]. Pertemuan ketiganya disebut kontak. Sehingga asaññāsatta juga memiliki Indria (entah yang mana, namun indranya tersebut mampu men-scan objek yang menkondisikan kesadaran)

      Lebih lanjut dalam MN 18/Madhupiṇḍika sutta dikatakan:
      Dengan kontak sebagai kondisi, muncul perasaan[vedana] -> Sehingga asaññāsatta juga memiliki Perasaan;
      Apa yang dirasakan, itulah yang dikenali [sañjānāti]-> Sehingga asaññāsatta juga memiliki saññā tertentu;
      Apa yang dikenali, itulah yang dipikirkan [vitakketi];
      Apa yang dipikirkan, itulah yang dikembangbiakkan [papañceti] pikiran -> Sehingga asaññāsatta juga memiliki pikiran dan bentukan pikiran;
      Dengan apa yang dikembangbiakkan dipikirannya sebagai: sumber, persepsi dan gagasan [papañca-saññā-saṅkhā], melanda seseorang melalui objek-objek [bentukan, suara,..] dalam bentuk masa: lalu, sekarang dan depan yang dikenali 6 Indriya [mata, telinga,.., pikiran].

      Bagaimana memahami mahluk asaññā satta?

      Dalam beberapa sutta (mis: DN 33/Sangīti Sutta dan Sattavasa Sutta dikatakan, "sattā (mahluk) asaññino (tidak mengingat, mencerap, mengenali) appaṭisaṃvedino". Kata "patisamvedi" = pati (kembali/lagi) + sam (sepenuhnya/kumplit) + vedi/vedeti (menikmati, merasakan, menjalani, melalui, mengalami). Kata "vedi" berhubungan dengan perasaan maka appatisamvedin berarti "perasaan (suka, duka dan/atau bukan keduanya) tidak sepenuhnya/dalam teralami/dirasakan/dilalui" oleh mahluk asaññā.

      Selekasnya persepsi tertentu muncul kembali, maka umurnya berakhir dan berdasarkan sankhara terakhir sebelum wafat, Ia terlahir kembali di alam tertentu. [kembali]

    2. Vehapphala, "Yang mendapatkan Hasil/buah yang baik"
    3. Menurut kitab komentar Sammohavinodanī utk vibhanga (Karya Buddhaghosa, Abad ke 5 M) bahwa beberapa Anāgāmi terlahir di alam ini. Kalimat ini kurang tepat, karena sutta menyatakan Para Ariyasavaka yang berlatih (tidak harus anagami) dapat mencapai nibanna di alam ini dan yang mengembangkan Anicca, Dukkha dan Anatta dapat mencapai arahat di alam ini atau terlahir jika tidak ia akan terlahir sebagai anagami di alam sudhavassa.

      Cara mencapai alam ini dan juga deskripsinya lihat Jhana ke-4[↓].

    4. Śubhakiṇha, "Keagungan Gemilang"
    5. Appamāṇasubha, "Keagungan Tanpa Batas" [MN 120/Sankhārupapatti Sutta]
    6. Parittasubha, "Keagungan Terbatas" [MN 120]

    7. Cara mencapai 3 alam ini (no. 12, 13, 14) dan juga deskripsinya lihat Jhana ke-3[↓]. Di sutta, hanya menyebutkan batasan umur kehidupan Śubhakiṇha, sementara 2 alam lebih rendah lainnya tidak ada. Penyebutan umur 2 alam lainnya hanya ada di kitab non kanon pali, yaitu di Patisandhicatukka, Abhidhammattha-sangaha, karya anuruddha, abad ke-10 Masehi

    8. Alam Ābhassara, "Cahaya Gemilang"
    9. Appamāṇābha, "Cahaya tak terbatas " [MN 120]
    10. Parittābha, "Cahaya terbatas " [MN 120]

    11. Deva-deva alam Ābhassara dikatakan sering melontarkan kenikmatan mereka, aho sukham! ("Oh Nikmat!"). [DN 31/Sangiti Sutta dan AN 5.170/Bhaddaji Sutta]. Tubuh mereka seragam namun persepsinya yang berbeda-beda (ekattakāyā nānat-tasaññino)

      Cara mencapai 3 alam ini (no. 15, 16, 17) dan juga deskripsinya lihat Jhana ke-2[↓]. Di sutta, hanya menyebutkan batasan umur kehidupan Ābhassara, sementara 2 alam lebih rendah lainnya tidak ada. Penyebutan umur 2 alam lainnya hanya ada di kitab non kanon pali, yaitu di Patisandhicatukka, Abhidhammattha-sangaha, karya anuruddha, abad ke-10 Masehi

      Pencapaian jhana bukan monopoli ajaran Buddha.
      Di jaman Sidhartha Gotama belum mencapai pencerahan terdapat cara mencapai alam-alam jhana, bahkan beliau sendiripun di sebelum pencerahannya belajar pada beberapa guru (hingga beliau pernah mengetahui dan mencapai cara mencapai alam bukan persepsi bukan tanpa persepsi).

      Di beberapa jaman lampau yang berbeda terdapat 7 guru (Sunetta, Mūgapakkha, Aranemi, Kuddālaka, Hatthipala, Jotipāla dan Araka) yang bebas dari nafsu indriawi mengajarkan pada muridnya untuk terlahir kembali di alam Brahma. Mereka masing-masing mempunyai murid ratusan tak terhitung banyaknya.[AN 6.54/Dhammika Sutta, AN 7.66/Satasuriya sutta, AN 7.73/Suneta Sutta, AN 7.74/Araka Sutta]

      Mereka yang mengetahui secara menyeluruh pembebasan dari ajaran guru-guru ini, bersamaan dengan hancurnya jasmani setelah kematian terlahir dalam keadaan BAHAGIA di ALAM Brahma. beberapa yang tidak mengetahui secaramenyeluruh, setelah kematian terlahir di alam paranimmitavasavattīnaṃ.. nimmānaratīnaṃ.. tusitānaṃ.. yāmānaṃ.. tāvatiṃsānaṃ.. cātumahārājikānaṃ.. terlahir sebagai Ksatria, Brahma dan perumah tangga [AN 7.66]. NAMUN mereka yang tidak mengetahui dan tidak menjalankan ajarannya mempunyai keyakinan pada ajaran guru-guru ini, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, muncul di keadaan sengsara/merugi menderita menuju kehancuran bahkan neraka [apāyaṃ duggatiṃ vinipātaṃ nirayaṃ][AN 6.54, AN 7.73, AN 7.74].

      Kemudian Guru-guru ini berpikir tidak pas jika Ia terlahir di alam yang sama dengan murid-muridnya, Ia kemudian kembangkan pikiran penuh Metta selama 7 tahun. Setelah 7 tahun mengembangkan pikiran yang penuh cinta-kasih, selama tujuh kalpa menyusut dan mengembang, tidak pernah kembali ke dunia ini. Bila kappa menyusut, muncul di alam brahma yang bercahaya gemilang [ābhassara]. Ketika kappa mengembang, muncul di alam brahma yang kosong [suññaṃ brahmavimānaṃ] menjadi Brahma, Brahma Agung [mahābrahmā], Pemenang Yang Tak Terkalahkan, Yang Maha Tahu, Yang Maha Kuasa.” 36 x menjadi Sakka, raja para dewa. Dan ratusan x terlahir sebagai Penguasa Pemutar-Roda yang berbudi, raja keluhuran, penakluk empat penjuru dunia [cakkavattī dhammiko dhammarājā], yang mempertahankan stabilitas di negeri itu, pemilik tujuh perhiasan.

      Namun guru Sunetta ini walau hidup panjang dan bertahan tetap tidak terlepas dari kelahiran, pelakukan, kematian, duka, lara, ketidakpuasan dan penderitaan. Hal ini terjadi karena ia tidak menjalankan moralitas, samadhi, kebijaksanaan dan pembebasan yang mulia [AN 7.66]

    12. Mahābrahmā, "Brahmā yang Besar", dipercaya oleh kebanyakan mahluk sebagai pencipta dunia, dan mempunyai gelar "Brahmā, Brahmā yang agung, sang Penakluk, Yang tak tertaklukan, Yang maha melihat, Maha Kuasa, Tuan dari semua pembuat dan pencipta, Pengatur, Menugaskan/menempatkan dan yang memerintah, Bapak dari semua yang telah ada dan akan ada. Menurut DN.1/Brahmajāla Sutta, Mahluk Mahābrahmā adalah mahluk yang awalnya berasal dari alam Ābhāsara yang kemudian terlahir kembali ke alam-alam lebih rendah karena habisnya karmanya dan terlahir sendirian (paling dulu) di alam Brahma; lupa dengan kehidupannya dulu, kemudian berpikir bahwa dirinya ada tanpa sebab2 yang mendahului. Perlu dicatat bahwa bahkan Deva-deva tingkat tingi tidak mempunyai pengetahuan hakiki mengenai realitas alam-alam yang berada di tingkat atasnya. Alam brahma, bersama dengan seluruh alam-alam di bawahnya mengalami kehancuran di penghujung mahākalpa. MahaBrahma adalah pemimpin dari 1000 Dunia Brahma dan seribu Alam-alam deva dibawahnya, seribu matahari, bintang dan bulan [Sahassilokadatu, AN 10.29/Kosala Sutta].

    13. Brahmapurohita – "Pelayan/Mentri dari Brahmā" [MN 120] adalah mahluk-mahluk yang juga berasal dari alam Ābhāsara, yang kemudian terlahir menemani Mahābrahmā setelah mengalami kesendirian selama suatu periode yang sangat lama. Karena mereka-mereka ini terlahir setelah keinginan pikiran Mahabrahma yang menginginkan adanya penghuni lain yang menemaninya, itulah yang menyebabkan mengapa Mahabrahma sangat yakinnya bahwa ialah Pencipta mereka, dan karena juga tidak mempunyai/melupakan kehidupannya dahulu maka mahluk2 berikutnya ini mempercayai Mahabrahma adalah Tuan/Tuhan dan pencipta mereka. Ketika mereka terlahir di alam yang lebih rendah, mereka membawa sebagian dari kehidupan terakhirnya, yang menyebabkan mereka-lah yang mengajarkan ajaran tentang “ketuhanan” atau Brahma sang pencipta, sebagai kebenaran yang tertinggi.

    14. Brahmapāriṣadya atau Brahmapārisajja – "Para Penasehat/Para anggota dewan dari Brahmā". [MN 120]

    15. Cara mencapai 3 alam ini (no. 18, 19, 20) dan juga deskripsinya lihat Jhana ke-1[↓]. Di sutta, hanya menyebutkan batasan umur kehidupan Mahābrahmā dan Brahma Baka, yang umurnya di bawah Maha Brahma. Sementara 2 alam lebih rendah lainnya tidak ada. Penyebutan umur 2 alam lainnya hanya ada di kitab non kanon pali, yaitu di Patisandhicatukka, Abhidhammattha-sangaha, karya anuruddha, abad ke-10 Masehi

      Beberapa Nama dan Gelar Brahma
      Paling tidak ada empat arti untuk menginterpretasikan Istilah Brahmā:

      • Setiap Mahluk suci penghuni Alam Ārūpyadhātu atau Rūpadhātu [Rupa Brahma berarti Brahma bermateri yaitu Brahma yg mempunyai pancakhanda. Sedangkan Arupa Brahma berarti Brahma tak bermateri yaitu Brahma yg hanya mempunyai Nama Khanda (mental), tidak mempunyai Rupa Khanda (jasmani)]
      • Setiap Mahluk suci dari 9 alam terendah Rūpadhātu, dari Śubhakṛtsna s/d Brahmapāriṣadya.
      • Setiap Mahluk suci dari 3 Alam paling rendah di Rūpadhātu
      • Mahābrahmā, satu Mahluk suci dari yang tertinggi dan yang yang paling awal

      Brahmā Sahampati
      sebelumnya adalah Bikkhu bernama Sahaka, anggota Saṅgha jaman Buddha Kasyapa, pada suatu kejadian, Ia menasehati seorang perempuan yang punya anak Biksu bernama BrahmaDewa agar tidak memberikan Sesaji dan permohonan kepada Brahma namun agar memberikan punia (Sedekah) kepada anaknya yang Bikkhu itu.

      Brahmā Sanatkumāra
      Brahmā Sanatkumāra (Sanskrit) atau Brahmā Sanaṅkumāra (Pāli), “Yang selalu muda” muncul pada Janavasabha-sutta (DN.18), ketika Ia hadir dihadapan Dewa2 alam Trāyastriṃśa. Ia hadir bagai sebuah bayangan yang kemudian membuat dirinya terlihat sangat gemilang melebihi kegemilangan Śakra dan dewa lainnya. Ia berbicara kepada semua Dewa di alam itu seperti Ia sendiri berbicara dengan masing2 dari mereka berupa nasehat agar mengikuti ajaran Buddha dan melatihnya serta menjelaskan buah dari hasil latihan tersebut

      Julukan “Yang selalu Muda”, adalah penampilan yang dipilih sebagai anak kecil yang rambutnya masih di Ikat, sekitan 5-11 tahunan.

      Baka Brahmā
      Suatu ketika ia berpikir bahwa dunia-nya adalah kekal tidak akan hancur, tidak ada alam yang lebih tinggi dari alammnya. Buddha kemudian membuktikan pandangan salah dari Baka Brahma yang berhubungan dengan konsep anica (anitya) (ketidakkekalan/fana). Kemudian Māra mempengaruhi salah satu pelayannya Brahma Baka dengan menyatakan bahwa Baka adalah Pecipta, dan barang siapa yang memujanya akan mendapatkan pahala dan mereka yang menyangkal/tidak mengakui kekuasaannya (Murtad/Kafir) maka akan mendapatkan balasan yang mengerikan. Buddha mengetahui bahwa yang sebenarnya mempengaruhi adalah Mara dan menyatakan pada Baka bahwa Ia (Buddha) tidak terpengaruh dan tergantung pada kekuasaan Brahma.

      Baka kemudian menyatakan bahwa sia-sia untuk lolos dari kekuasaannya (ia bayangkan sebagai Jagat ini), dan menyatakan bahwa Buddha tergantung pada setiap hal dalam kekuasaannya. Ia berada didalam alamnya dan Baka dapat bertindak yang ia mau. Buddha merespon bahwa Baka tidak mempunyai kekuasaan/kekuatan sebesar itu dan ada alam-alam dimana Baka sama sekali tidak mengetahui sama sekali dan Pengetahuan Buddha melampaui kemampuan Baka. Kemudian Buddha membuat dirinya menghilang dari alam Brahma dan Brahma sama sekali tidak dapat menemukan Buddha. Baka mengakui kekurangannya dan kemampuan Buddha ketika Buddha menerangkan kehidupan lalu Baka.

      Sebelumnya Baka terlahir sebagai seorang Petapa bernama Kesava, dengan berbagai cara ia menyelamatkan banyak manusia dari kehancuran. Atas kekuatan dan kehaliannya dalam perenunganya(meditative) Ia kemudian terlahir di alam Vehappla dan secara bertingkat terlahir kembali ke tingkat alam yang lebih rendah lagi di kelompok alam Rupadhatu hingga kemudian menjadi Brahma biasa.

      Dalam satu kejadian, Baka yakin bahwa tidak ada satu bikkhu atau petapa dapat memasuki alamnya, namun Buddha sendiri dan juga beberapa muridnya mengunjungi untuk membuktikan pandangan salahnya.

      Jumlah Baka brahma termasuk dirinya adalah 72. Umur Baka Brahma adalah seratus ribu nirabbuda [Berdasarkan perhitungan neraka di bawah, sekurangnya umur kehidupannya adalah: 10.403.840.000 tahun x 20 x 100.000 = 2.08 x 1016]. Ia berkuasa ’Sejauh bulan dan matahari berputar, Bersinar dan bercahaya di langit, Lebih dari seribu dunia (sahassadhā loko)" [MN.49/Brahmanimantanika Sutta dan SN 6.4/BakaBrahma sutta]. Yang lebih berkuasa lagi di atasnya masih ada brahma-brahma lain penguasa misal: dvisahasso, tisahasso,.., pañcasahassilokadhātu, dasasahasso.., dasasahassilokadhātu, satasahassilokadhātu [MN 120]

      Mahābrahmā
      Nama Mahābrahmā lebih merupakan sebagai sebuah gelar daripada sebuah Nama. Muncul dibeberapa sutta yang merupakan mahluk suci dari alam ke tiga dari kelompok alam rupadhatu, namun juga digunakan pada mahluk suci yang lebih tinggi lagi tingkatannya. Gelar dari MahaBrahma adalah:

      "Brahma, Brahma yang Agung, Sang Penakluk, Yang taktertaklukan, Yang maha melihat, Maha kuasa, Yang maha kuasa, Maha pencipta, Maha memerintah, Maha menempatkan, Bapak dari semua yang ada dan akan ada"

      Berdasarkan Brahmajāla Sutta (DN.1), maka Mahabrahma berasal dari alam Ābhāsvara yang kemudian lahir kembali kealam yang lebih rendah karena habisnya pahala yang telah diperolehnya dan terlahir sendiri (tidak ada kawan) ke alam brahma. Ia lupa atas kelahirannya yang sebelumnya dan mengidentifikasikan dirinya sebagai yang hadir tanpa sebab musabab. Kemudian dalam satu masa yang sangat panjang, Ia menjadi kesepian dan timbul dalam pikirannya agar ada mahluk yang terlahir di alam nya. Kemudian benarlah ada Mahluk yang lahir di alammnya (dan inilah sebab mengapa ia juga mendefinisikan dirinya sebagai Maha Pencipta). Kemudian Mahluk2 yang terlahir di alamnya karena habisnya pahala karma, terlahir di alam yang lebih rendah sampai akhirnya alam Manusia, melalui Memori ingatan sebelumnya tentang Maha Brahmana sebagai Maha pencipta (ada beberapa Petapa, mampu mengingat kelahiran kembalinya sampaui berates, ribu kelahiran sebelumnya). Di Kevaddha-sutta (DN.11), terdapat satu kejadian dimana sesosok mahluk Mahabrahma, tidak dapat menjawab pertanyaan philosopis yang ditujuakn kepadanya oleh seorang Bikkhu. Namun untuk menutupi fakta dari sekumpulan mahluk suci brahma lainnya yang selama ini meng-anggap ia sebagai Maha pencipta dan Maha Mengetahui, Ia kemudian berkata kepada bikkhu itu untuk bertanya pada Buddha.

      Pandangan Hinduisme mengenai Brahma dan Brahman.
      Buddhisme, menyatakan terdapat banyak Brahma dan berbeda di rentang waktu yang berbeda. Brahma diidentifikasikan sebagai pujaan di agama Brahmins dan Ia adalah Brahman. Ini adalah salah satu pandangan salah yang tercantum dalam Brahmajala Sutta (DN.1).

      Hinduisme hanya mengenal satu Brahma, mahluk maha pencipta dan Hinduism menganggap Brahma tidak identik dengan Brahman.

      Benarkah demikian?

      Mengutip Ajaran Pokok dalam Upanisad, SM Smnivasa Chan meyatakan bahwa akar kata kerja brh yang artinya ‘tumbuh’ (brhati) dan menyebabkan tumbuh (brhmayati).

      • Dalam Atharvairas Upanisad, “brhati, bhmayati tasmad ucyate parabrahma” artinya “ Itu disebut Brahman karena itu bertumbuh dan menyebabkan tumbuh”

      • Taittiriya Upanisad memberikan sebuah pengertian tunggal tentang istilah Brahman. Sebagai jawaban atas permintaan dari Bhrgu kepada ayahnya Varuna agar mengajarkan kepadanya tentang Brahman, Varuna menawarkan pengertian sebagai berikut, “Yang daripada-Nya segala mahiuk dilahirkan, Yang oleh-Nya dan kepada-Nya mereka [Ajaran Pokok Dalam Upanisad, oleh: S.M. Smnivasa Chan, PHDI]

      • Taittiriya Upanisad 2.1.1, “Brahmavid apnoti param tad esa bhyukta, Satyam jnanam anantam Brahma Veda, Nihitam guhayah parame vyman so’ snute, Kaman vipascita iti” artinya Ia yang mengetahui Brahman sebagai kebenaran, pengetahuan dan tidak terbatas, Ia yang bersembunyi di dalam rongga hati dan Ia yang sangat jauh di angkasa. Ia yang terpenuhi segala keinginannya dalam kesatuan dengan Brahman, Ia yang maha mengetahui. [TejaSurya.com]

      • Aitareya Upanishad 3.3, “prajnānam brahma” artinya "Brahman adalah Pengetahuan”

      • Brihadaranyaka Upanishad 4.4.5, “ayam ātmā brahma " artinya “Atma adalah Brahma” atau Atman adalah Brahman”

      • Brihadaranyaka Upanishad 1.4.10, “aham brahmāsmi " artinya “aku adalah Brahman"

      • Chhāndogya Upanishad 3.14.1-2, “sarvam khalv idam brahma, tajjalaniti santa upasita” artinya "Semua yang ada di dunia adalah Brahman”, menurut Ramanuja, pada kalimat "tajjalan iti" (akar: tat + ja = lahir + la = larut/lebur), tidak berarti Jagadraya adalah Brahman tap diliputi oleh; lahir dari; dan lebur ke dalam Brahman, seperti analogi ikan lahir di air, hidup di air dan berakhir di air tapi ikan bukanlah air

      • Mandukya Upanisad ayat 2, “sarvam hyetad brahmāyamātmā brahma soyamātmā chatushpāt” artinya sarvam - Seluruh/Semua/setiap; hi – sesungguhnya/sebenarnya; etad – ini/disini; brahma - Brahma/Brahman; ayam – ini/disini; ātmā- atma/atman; sah- Ia; ayam – ini/disini; chatus- empat; pāt- langkah/kaki/bagian, Semua adalah Brahman; Ia adalah Atman; Ia mempunyai 4 bagian [Wikipedia: Brahman]

      Jika di perhatikan maka seluruh Upanisad tertua di atas menggunakan kata Sanskrit Brahma bukan Brahman dan penggunaan huruf “n” adalah mengikuti semua kata berakhiran “n” serupa dalam syair! Atma = Atman, maka Brahma seharusnya sama dengan Brahman,sehingga memang tidak ada perbedaan antara Brahma dan Brahman!

      • Brahma (Tunggal nominatif), brahman (bukan laki/perempuan) artinya Jiwa Cosmis yang agung, akar kata dari brha (tumbuh, berkembang, meluas, membesar)

      • Brahmānda (Tunggal nominatif), dari akar kata brha (meluas) + anda (telur), artinya perluasan jagad raya

      • Brahma (Tunggal nominatif), brahman (tidak laki dan perempuan) Artinya konsep Tuhan tertinggi yang kekal; Perlu diketahui bahwa kata Brahman Brahman dalam kondisi tertentu diperlakukan sebagai “Pria” (lihat Merrill-Webster Sanskrit Dictionary). Brahm, juga merupakan variasi dari Brahman.
      • Brahmā (Tunggal nominatif), Brahman (Jenis lelaki) artinya adalah Prajpati Brahma [Pencipta], anggota Trimurti

  3. Dewa di alam Kāmadhātu mempunyai bentuk yang sama/mirip namun lebih besar dan hidup lebih panjang dari manusia. Mereka terbenam dalam kesenangan. Ini merupakan alam dimana Māra sangat mempunyai pengaruh atas mereka. [ref untuk umur kehidupan: AN.8.41/Uposatha sutta; AN 8.43/VisakhUposatha sutta; AN 3.71/Uposatha sutta]

    Dewa-dewa yang kelas tertinggi hidup dalam 4 alam Deva dan menjauhkan/melepaskan mereka dari kontak konflik dan pertengkaran di alam yang lebih rendah.

    Bagaimana Cara terlahir Di alam-alam deva ini?
    Brahma Sanankumāra menyampaikan, "siapa pun itu, yang telah berlindung pada Buddha (1), Dhamma (2), dan Sangha (3) dan telah melaksanakan peraturan moral (4), saat hancurnya jasmani, muncul kembali dalam kelompok: para dewa Paranimmita-Vasavatti, atau para dewa Nimmānaratti, atau para dewa Tusita, atau para dewa Yāma, atau dalam kelompok pengikut Tiga-Puluh-Tiga Dewa, atau Empat Raja Dewa – atau yang paling rendah dalam kelompok para gandhabba.’” [DN.18/Janavasabha_Sutta].

      note:
      Ketika no.(1), (2), (3) adalah KEYAKINANNYA adalah TIDAK TERGOYAHKAN, maka itu merupakan PENCAPAIAN KESUCIAN. Ketika moralitas (4) adalah moralitas yang disenangi para mulia -tidak rusak, robek, tanpa noda, tanpa bercak, membebaskan, dipuji oleh para mulia, tidak digenggam, menuntun pada konsentrasi, Maka itu syarat lengkap minimum pencapaian kesucian. [SN 55.34-35]. Dalam SN 55.36 disampaikan ketika seorang siswa mulia memiliki 4 hal di atas maka para deva bersukacita dan membicarakan kemiripannya dengan mereka para deva yaitu ketika mereka wafat di alam manusia terlahir kembali di alam deva, maka Ia akan datang ke hadapan para Deva.

    Ada tiga gerbang menuju kebahagiaan (Alam Jhana dan gerbang Pencapai kesucian)

    Pertama,
    seseorang berdiam dalam kenikmatan-indria, dengan kondisi-kondisi jahat. Suatu ketika, ia mendengarkan Dhamma Ariya, ia memerhatikan dengan saksama dan berlatih sesuai dengan Dhamma. Dengan melakukan hal itu, ia kemudian menjauhi kenikmatan-indria dan kondisi-kondisi jahat demikian. Sebagai akibat dari tindakan menjauhi ini, perasaan menyenangkan muncul, dan apalagi, Kegembiraan, seperti halnya kenikmatan akan memunculkan kegirangan, demikian pula dari perasaan menyenangkan, ia mengalami kegembiraan.

    Kedua,
    ada seseorang yang kecenderungan kasar dari jasmani, ucapan, dan pikirannya belum ditenangkan. Pada suatu ketika, ia mendengarkan Dhamma Ariya, ... dan kecenderungan kasar jasmani, ucapan dan pikirannya ditenangkan. Sebagai akibat dari tindakan menenangkan ini, perasaan menyenangkan muncul, dan apalagi, Kegembiraan....

    Ke tiga,
    ada seseorang yang benar-benar tidak mengetahui apa yang benar dan apa yang salah, apa yang patut dicela dan apa yang tidak patut dicela, apa yang harus dilatih dan apa yang tidak perlu dilatih, apa yang rendah dan apa yang mulia, dan apa yang busuk, indah, atau campuran dalam hal kualitas. Suatu ketika, ia mendengarkan Dhamma Ariya, ia memerhatikan dengan saksama dan berlatih sesuai dengan Dhamma. Sebagai akibatnya, ia menjadi mengetahui apa yang benar dan apa yang salah, apa yang patut dicela dan apa yang tidak patut dicela, apa yang harus dilatih dan apa yang tidak perlu dilatih, apa yang rendah dan apa yang mulia, dan apa yang busuk, indah, atau campuran dalam hal kualitas. Dalam diri seorang yang mengetahui dan melihat demikian, kebodohan tersingkirkan dan muncul pengetahuan. Dengan memudarnya kebodohan dan munculnya pengetahuan, perasaan menyenangkan muncul, dan apalagi, Kegembiraan, seperti halnya kenikmatan akan memunculkan kegirangan, demikian pula dari perasaan menyenangkan, ia mengalami kegembiraan. Ini adalah tiga gerbang menuju kebahagiaan [DN 18/Janavasabha Sutta]

    atau

    Dengan menjalani: keyakinan (1), moralitas (2), pembelajaran (3), kedermawanan (4), dan kebijaksanaan (5) dalam Dhamma dan Disiplin [salah satu contoh adalah suppabuddha di SN 11.14/Dalidda Sutta]

    atau

    Seperti Sakka di kehidupan sebelumnya dengan melakukan sumpah 7 latihan dan berhasil dilakukan seumur hidupnya: 'Aku bersumpah, seumur hidup akan:

    1. menyokong orang tua
    2. menghormati saudara-saudara yang tua
    3. berbicara dengan lembut/tidak kasar
    4. tidak berbicara yang bersifat memecah-belah
    5. berdiam di rumah dengan pikiran yang tanpa-kekikiran, bersikap dermawan, tangan-terbuka, gembira dalam pelepasan, bermurah-hati, gembira dalam memberi dan berbagi
    6. membicarakan kebenaran
    7. berharap agar terbebas dari kemarahan, dan jika kemarahan muncul, segera melenyapkannya [SN 11.10-11/Sattavatapada]

    atau

    mengutip kisah yang membungkus syair Dhammapadda no.224:

      Ketika Maha Moggallana Thera mengunjungi alam surga..Beliau bertanya kepada mereka, perbuatan baik apa yang menyebabkan mereka terlahir di alam surga, dan mereka pun memberikan jawaban yang berbeda-beda. Dewa ke-1 mengatakan: Ia terlahir di alam surga bukan karena ia banyak berdana atau sering mendengarkan Dhamma, tetapi hanya karena ia selalu berbicara benar. Dewa ke-2, dewa wanita, terlahir di alam surga karena ia tidak pernah marah pada tuannya dan tidak memiliki maksud buruk padanya meskipun tuannya sering memukul dan menyiksanya. Dengan meredam kemarahan dan menghindari kebencian, ia terlahir di alam surga. Selanjutnya, ada yang terlahir di alam surga karena sedikit berdana seperti mendanakan sebatang gula tebu, buah, atau beberapa sayuran kepada seorang bhikkhu atau pada orang lain

    Terlahir kembali di alam Deva adalah merupakan buah dari pencapaian perbuatan baik, Kecuali jika mereka telah mencapai kesucian, maka ketika umur kehidupannya sebagai deva habis, Ia dapat terlahir merosot terjun bebas kebawah sampai alam neraka (akibat buah perbuatan buruk sebelumnya (atau sebelumnya lagi)), seperti contoh berikut dari Devaputta samyutta 2:17, yaitu kisah Deva Subrahma:

      Dewa muda ini sedang bermain-main di Hutan Nandana bersama dengan kelompok pengikutnya yaitu seribu peri. Lima ratus peri naik ke pohon dan sedang bernyanyi-nyanyi serta melempar-lemparkan bunga ke bawah ketika mereka tiba-tiba meninggal dan segera terlahir kembali di neraka Avici [Perasaan menyakitkan luarbiasa yang dideritanya tidak terputus di rasakan dan tidak membuatnya dapat mati walaupun mengalami penderitaan tersebut]. Ketika dewa muda itu menyadari bahwa lima ratus pengikutnya telah hilang dan mendapati mereka telah terlahir kembali di neraka, dia memeriksa kekuatan kehidupannya sendiri dan melihat bahwa dia sendiri serta liam ratus peri lainnya akan meninggal tujuh hari lagi dan akan terlahir kembali di neraka. Maka, dengan ketakutan yang mencekam, dia datang kepada Sang Buddha untuk mencari penghiburan.

    Dalam MN.90/Kaṇṇakatthala Sutta terdapat 2 pertanyaan Raja Pasenadi dari Kosala, yang dijawab dengan jawaban yang sama oleh sang Buddha:

    • Raja: “Yang Mulia, aku menanyakan apakah para dewa itu kembali di alam ini atau tidak.” (alam ini yang dimaksud adalah alam manusia, utk jelasnya lihat suttanya pada jawaban tambahan Ananda pada Jendral Viḍūḍabha)

      Sang Buddha: “Baginda, para dewa yang masih tunduk pada niat buruk [sabyābajjhā] akan kembali ke alam ini [itthatta], para dewa yang tidak lagi tunduk pada niat buruk [abyābajjho] tidak akan kembali ke alam ini.”

    • Raja: “Yang Mulia, aku menanyakan apakah Brahmā itu kembali di alam ini atau tidak.”

      Sang Buddha: “Baginda, Brahmā yang masih tunduk pada niat buruk akan kembali ke alam ini, Brahmā yang tidak lagi tunduk pada niat buruk tidak akan kembali ke alam ini.”

    Kemudian,
    Meningkat dari alam Deva Kamaloka menuju ke alam Brahma TIDAK HARUS menunggu sampai HABISNYA UMUR kehidupannya di alam deva, namun dapat terjadi seketika setelah Ia berhasil melatih 4 landasan perhatian dan mencapai pencapaian Jhana, sebagaimana disampaikan Deva Sakka:

      Sesungguhnya aku telah menyaksikannya sendiri. Ada, Bhagavā, di sini, di Kapilavatthu, seorang gadis Sakya bernama Gopikā yang berkeyakinan terhadap Buddha (1), Dhamma (2), dan Sangha (3), dan yang melaksanakan peraturan sīla dengan saksama (4)..Kemudian, setelah kematiannya, saat hancurnya jasmani, ia terlahir kembali di alam bahagia, di alam Tiga-Puluh-Tiga Dewa, sebagai salah satu dari putra kami (Deva yang terlahir kembali di Alam deva manapun disebut Putra deva penguasa alam tersebut), dan dikenal dengan nama Gopaka, putra para dewa.

      Juga, ada tiga bhikkhu yang, setelah menjalani kehidupan suci di bawah Bhagavā, terlahir kembali di alam yang lebih rendah di antara para gandhabba (Alam Catumaharajika). Mereka menikmati kenikmatan lima indria, sebagai pelayan atau pembantu kami.

      Mengetahui ini, Gopaka "memarahi" mereka dengan mengatakan:

      Siswa dari Ia-Yang-Melihat (Ex 3 Bhikkhu),
      Namaku saat itu adalah Gopikā.
      Berkeyakinan kuat di dalam Buddha, Dhamma
      Dengan gembira aku melayani Sangha.
      Berkat pengabdian setia kepada-Nya
      Lihatlah aku sekarang, seorang putra-Sakka,
      Berkuasa, di tiga alam surga,
      Gilang-gemilang, Gopaka namaku.
      Aku melihat, yang dulunya adalah para bhikkhu,
      Mencapai tidak lebih dari peringkat gandhabba,
      Yang sebelumnya terlahir sebagai manusia
      Dan menjalani kehidupan yang diajarkan Sang Buddha.
      Kami mempersembahkan makanan dan minuman untuk mereka
      Dan melayani mereka di rumah-rumah kami.
      Mereka tidak menggunakan telinga, yang mereka miliki,
      Masih tidak dapat menangkap ajaran Buddha?
      Masing-masing harus memahami untuk dirinya sendiri
      Dhamma yang diajarkan oleh Ia-Yang-Melihat,
      Dan telah dibabarkan dengan sempurna.
      Aku, melayani kalian, Mendengarkan kata-kata baik dari Para Mulia,
      Dan karenanya, aku terlahir menjadi seorang putra Sakka
      Berkuasa, di tiga alam surga,
      Dan gilang-gemilang, sedangkan kalian,
      Walaupun kalian melayani Pangeran Manusia
      Dan menjalani kehidupan tanpa tandingan yang Beliau ajarkan,
      Telah muncul dalam kondisi rendah,
      Dan tidak mencapai peringkat yang seharusnya,
      Pemandangan menyedihkan untuk dilihat
      Teman-teman dalam Dhamma tenggelam begitu rendah
      Menjadi, para gandhabba, kalian
      Datang untuk melayani para dewa,
      Sedangkan aku – aku berubah!
      Dari kehidupan rumah tangga, dan seorang perempuan,
      aku, sekarang terlahir kembali sebagai laki-laki, dewa,
      Bergembira dalam kebahagiaan surgawi!”

      Ketika dikecam demikian oleh Gopaka,
      Siswa sejati Gotama,
      Dengan sedih mereka menjawab:
      “Aduh, marilah kita pergi, dan berusaha keras,
      Dan jangan lagi menjadi budak yang lain!

      Dan dari tiga itu, dua berusaha keras,
      Dan mengingat-ingat kata-kata Sang Guru.
      Mereka memurnikan hati mereka dari nafsu (Caranya melalui: mengembangkan satipatthana (4 landasan perhatian): Jasmani sebagai jasmani, perasaan sebagai Perasan, Pikiran sebagai pikiran dan Bentukan pikiran sebagai bentukan pikiran),
      Melihat bahaya dalam keinginan,
      Dan bagaikan gajah yang mengamuk
      Semua belenggu yang mengikat, mereka patahkan
      Belenggu dan ikatan nafsu,
      Belenggu-belenggu jahat itu
      Begitu sulit diatasi – dan demikianlah
      Para dewa, Tiga-Puluh-Tiga,
      Dengan Indra dan Pajāpati,
      Yang duduk di singgasana dalam Aula Pertemuan,
      Kedua pahlawan ini, dengan nafsu tersingkirkan,
      Melampaui, dan meninggalkan mereka jauh di belakang.

      Melihat hal ini, Vasavā (raja Gandhabba), terkejut,
      Pemimpin di tengah-tengah kerumunan para dewa,
      Berteriak: “Lihat bagaimana mereka yang rendah ini
      Melampaui para dewa, Tiga-Puluh-Tiga Dewa!”
      Kemudian mendengar ketakutan pemimpinnya,
      Gopaka berkata kepada Vasava:

      "Tuan Indra, di alam manusia
      Seorang Buddha, yang disebut Sang Bijaksana Sakya,
      Telah menguasai nafsu
      Dan para siswa ini, yang telah gagal
      Dalam perhatian, ketika meninggal dunia,
      Sekarang telah mendapatkannya kembali dengan bantuanku.
      Walaupun satu dari mereka tertinggal di belakang
      Dan masih bersama para gandhabba,
      Dua ini, dengan mengerahkan kebijaksanaan tertinggi,
      Dalam pencerapan mendalam menolak alam dewa!
      Jangan ada siswa yang ragu
      Bahwa kebenaran dapat dicapai
      Oleh mereka yang berada di alam ini.
      Bagi ia yang menyeberangi banjir dan
      mengakhiri keraguan, hormat yang selayaknya kepada,
      Sang Buddha, Pemenang, Bhagavā, kita persembahkan."

      Bahkan di sini, mereka mencapai kebenaran, dan dengan demikian
      Telah melewati melampaui kemuliaan yang lebih tinggi.
      Dua itu telah mencapai alam yang lebih tinggi daripada yang ini,
      Alam Pengikut Brahmā.(Alam Jhana)
      [DN.21/Sakkapanha Sutta]

    Alam-Alam Kamaloka itu adalah:

    1. Paranimmita-vasavatti (Para: meliputi, melebihi; Nimmita: tanda, ciptaan; Vasavatti: maha menguasai/mahasakti; "Menguasai melebihi dari ciptaan mahluk lainya"). Para deva alam Paranimmitavasavatti, kesenangan sensualnya terpenuhi ketika para mahluk lainnya berada dalam cengkraman kesenangan sensual ulahnya sendiri. Keberadaan alam ini disebutkan dalam beberapa Sutta, diantaranya:

      • ..ada delapan macam perhimpunan, yaitu Perhimpunan para kesatriya, para brahmana, orang-orang berumah tangga, para pertapa, para dewa Catummaharajika, para dewa Tavatimsa, para Mara dan para dewa Brahma.. [DN 16/Mahaparainibanna Suta, DN 33/Sangiti Sutta]
      • ..di tengah-tengah para dewa di alam surga Empat Raja Dewa! ... di tengah-tengah para dewa di alam surga Tiga Puluh Tiga ... para dewa Yāma ... para dewa di alam surga Tusita ... para dewa Nimmānarati ... para dewa ParanimmitaVasavatti ... para dewa pengikut Brahmā ...[MN 41/ Sāleyyaka Sutta]
      • DN 11/Kevaddha sutta menyatakan bahwa penguasa alam Paranimimitavasavati adalah Vasavatti. Dalam kitab komentar untuk MN dikatakan bahwa Vasavatti adalah raja alam paranimmitavasavatti, Māra memerintah di area tersendiri seperti pangeran bandel di pinggiran kerajaan [Paranimmitavasavattidevaloke. Tatra hi vasavattirājā rajjaṃ kāreti. Māro ekasmiṃ padese attano parisāya issariyaṃ pavattento rajjapaccante dāmarikarājaputto viya vasatīti vadanti] dan di kitab komentar untuk SN dan AN dikatakan bahwa nama Mara adalah Vassavati yang berkuasa atas semuanya [māro nāma vasavattī sabbesaṃ upari vasaṃ vatteti]

      Umur kehidupan alam paranimmitavasavatti adalah: 1 hari + 1 malam di alam ini (24 jam) = 1600 tahun manusia (1 bulan = 30 hari, 1 tahun = 12 bulan = 360 hari). Lama Umur Deva adalah 16000 tahun deva (9.216.000.000 tahun manusia), 1 jam di alam ini = 66.67 tahun manusia [AN 3.70/1, Uposatha sutta]

      Kitab komentar menyatakan bahwa Mara Vasavatti berada di alam ini namun ini tidak sertamerta berarti bahwa Mara berasal dan/atau hanya ada di alam ini.

      Dalam MN 49/Brahmanimantanika Sutta disampaikan bahwa Brahma Baka yang berada 1 alam di atas alam paranimmitavasavatti terkena pengaruhi Mara (juga di komentar Dhammapada, Bab 3, Pikiran/Citta Vagga, Syair 57, Kisah Godhika Thera, Mara berkemampuan mendeteksi kelahiran kembali para mahluk yang belum padam). Ini menunjukan bahwa seluruh alam (termasuk alam Brahma dan juga alam brahma lain di atasnya) tidak luput dari cengkraman Mara, sehingga wajar saja jika di bagian awal SN 3.2/Padhana sutta, Mara disebut juga dengan gelar Namuci (na+muc/muccati = tidak+lepas/bebas, "tak ada yang lolos darinya").

      Mengenai Namuci,
      Di Mahasamaya Sutta, ketika para dewa dari sepuluh alam-semesta datang menemui Sang Buddha dan para Bhikkhu, di antara para yang hadir terdapat mahluk Asura yang bernama namuci:

        [setelah menyebutkan kedatangan para deva catumaharajika]..Yang dikalahkan si pemegang halilintar (vajirahatthena = Indra = Sakka), para Asura penguasa Samudra, saudara dari Vāsava (raja para Asura) berkuasa, gemilang, Para Kālakañja (Asura tingkatan terendah, bentuknya menyerupai peta) yang menyeramkan dilihat, Para Dānaveghasa, Vepacitti, Sucitti dan Pahāradha (Raja asura penguasa lautan) bersama Namucī, ratusan putra Bali yang semuanya bernama Veroca, pasukan Bali yang gagah, bergabung dengan Rāhu yang beruntung: Sekarang saatnya, yang mulia, pertemuan para Bhikkhu di hutan"..

        ..Para Khemiya, Tusita dan Yāma, Para Kaṭṭhaka dengan kereta, para Lambītaka, Para pemimpin Lāma, dan para Āsava, para dewa Nimmānarati dan Paranimmitavasavatti. mereka dalam sepuluh kelompok dalam bentuk berbeda, sakti perkasa dan gemilang, datang melihat para bhikkhu dan Sang Buddha"..

        ..Dan ketika semua telah hadir dalam barisan besar bersama Indra dan kelompok Brahmā, Datanglah pasukan Māra (Mārasenā), Si dungu gelap berkata: "Ayo tangkap dan ikat mereka dalam jeratan nafsu indriya, Kepung dari segala penjuru jangan sampai siapapun lolos"..kemudian Ia mundur dengan gusar dan tak berkekuatan lagi (Tadā so paccudāvatti, saṅkuddho asayaṃvase): 'Semua berjaya, melampaui rasa takut, mereka menang: Para pengikutNya bergembira bersama seluruh dunia!' (Sabbe vijitasaṅgāmā, bhayātītā yasassino; Modanti saha bhūtehi, sāvakā te janesutā’’ti).

        Kitab komentar di RAPB buku ke-1, hal 1106-1122, Cetakan I, Mei 2008, hal. 1117, menyatakan maksud dari kalimat terakhir adalah: "Pada akhir khotbah Mahàsamaya Sutta, seratus ribu crore (100.000 x 10.000.000 = 1012) dewa dan brahmà berhasil mencapai kesucian Arahatta, dan mereka yang mencapai kesucian Sotàpanna tidak terhitung banyaknya (lihat juga di: kitab komentar untuk MahàVagga)"

      Sutta di atas ini memberikan kita 3 informasi, yaitu:

      • Tidak semua penghuni alam Paramanimmitavasavatti dikuasai Mara
      • Di alam Paranimmitavasavatti-pun, para penghuninya dapat mencapai kesucian, dan
      • Namuci Asura adalah BUKAN Mara vasavatti, Namuci Asura tidak dikuasai Mara dan Namuci di sini BUKANLAH julukan lain dari Mara.

      Mengenai Mārasenā/Mahasena (memiliki tentara yang besar),
      SN 3.2/Padhana Sutta menyampaikan 10 pasukan Namuci/Mara yaitu berupa kecenderungan kegemaran atau kekotoran batin (kilesa):

      1. Kesenangan indriawi (Kāmā),
      2. Tidak menyukai kehidupan suci (arati),
      3. Lapar dan haus (khuppipāsā),
      4. Ketagihan (taṇhā),
      5. Kemalasan dan kelambanan (thinamidha),
      6. Ketakutan (bhīrū/bhaya),
      7. Keraguan (vicikicchā),
      8. Mencela dan membandel (Makkho thambho),
      9. Pendapatan (Lābha), pujian (siloka), penghormatan (sakkāra), ketenaran (yasa) dan status yang di raih dengan cara keliru (Micchāladdho),
      10. Memuji diri sendiri dan merendahkan yang lain (cattānaṃ samukkaṃse, pare ca avajānati / atukhamsana paravambhana).

      Di bagian akhir SN 3.2/Padhana sutta, terdapat kata "dummano yakkho" ("mahluk halus yang merana"). Kata "yakkha" menurut kamus Pali, Thomas William Rhys Davids, ‎William Stede juga berarti: "sinar cahaya yang cepat atau bergerak dengan cepatnya, mungkin: mahluk yang cepat, berubah tempat tinggalnya dengan cepat dan sesukanya - menurut adat kebiasaan populer dari asal katanya". Sehingga kata yakkha adalah kata umum dalam mendefinisikan semua jenis mahluk halus/tak tampak dan dapat berarti ada mahluk yakkha berjenis namuci yang dikuasai 10 kecenderungan batin (terkena cengkraman Mara).

      Memperhatikan pasukan mara di atas, bisa dimengerti mengapa Mara disebut namuci atau "tak ada yang lolos darinya". Hanya mereka yang telah membuang 10 kekotoran batin saja, yaitu para arahat, yang bebas dari jeratan mara.

      Selain Namuci,
      Mara juga dijuluki pāpimā (artinya: penghasut, namun lebih sering diterjemahkan sebagai si jahat). Terjemahan menjadi "si jahat" ini tidaklah tepat mengingat mara adalah jelas mahluk dewa yang bahkan derajat kedewaannya jauh lebih tinggi lagi dari Sakka (raja para deva alam sumeru) dan seluruh deva alam Tusita. Hanya mereka yang melakukan banyak perbuatan baik dan saat kematiannya sedang dalam pikiran kusala yang dapat terlahir di alam bahagia sebagai Deva, bukan?! Sehingga, kata "pāpimā" ini adalah sebagai nama, seperti kata Ananda, yang punya arti literalnya "gembira", "senang" namun juga nama dari sekretaris tetap sang Buddha.

      Julukan Mara, selain Vasavatti, Namuci dan Papima adalah juga:

        MaccuMāra/MaccuRaja (Raja Kematian, Mara si kematian), Antaka (kematian, batas akhir), Pajāpati (tuan dari awal mula), DevaputtaMara (Mara, deva yang baru terlahir), Pamattabandhu (sahabat dari yang tidak perhatian, lalai, lengah, ceroboh), Kaṇha (hitam, gelap), (panca)KhandaMāra (Mara si (lima) kelompok kemelekatan), AbhisankharaMara (Mara si bentukan karma), kilesaMara (Mara si noda)

      Semua ini merupakan julukan lain Māra (pembunuh, kematian).

      Dalam literatur yang berumur jauh lebih muda,
      julukan Mara juga bertambah, misalnya dari Buddhacarita-nya Asvaghosa (abad ke-2 Masehi) mara disebutkan yang sehubungan dengan cinta/nafsu sehingga disebut juga: Kamadeva (deva cinta), Manmatha (Pengganggu pikiran), Ananga (ranga) (Tak bertubuh), Kusumayudha (Senjata bunga), Pancabana (lima anak panah) dan Makara/Matsya-dhvaja (Tanda/karakter/seperti Buaya/Ikan)

      Sebagai penggoda,
      Mara sendiripun tak luput dari jeratan sensualnya sendiri, keasikkannya menggoda itu bagaikan memakan cabe yang kelimpungan tersiksa pedasnya sendiri. Keasikannya menggoda menjerumuskannya terlahir di alam Neraka sebagaimana disampaikan dalam MN 50/Maratajjaniya Sutta yang memuat kisah Y.M. Maha Moggallana yang pernah terlahir sebagai Mara yang bernama Dusi dan saat itu Mara Vasavatti adalah ponakan lelakinya (anak dari Kali). Perbuatan Mara Dusi yang menggoda seorang Arahat dengan sangat keterlaluannya mengakibatkan Mara Dusi terlahir di neraka Avici selama 10 ribu tahun. Neraka Avici adalah alam Neraka ying takterputus siksaannya.

      Mara Dusi, Sang penggoda, termakan godaaanya sendiri, senjata makan tuan, bermain api dan terbakar api, terlempar masuk ke Neraka:

        Apabila orang bodoh melakukan kejahatan, ia tak mengerti akan akibat perbuatannya. Orang bodoh akan tersiksa oleh perbuatannya sendiri, seperti orang yang terbakar oleh api

        Bagaikan karat yang timbul dari besi, bila telah timbul akan menghancurkan besi itu sendiri, begitu pula perbuatan-perbuatan sendiri yang buruk akan menjerumuskan pelakunya ke alam kehidupan yang menyedihkan.[Dhamapada syair 136 dan 240]

      Namun demikian,
      Dalam kasus Mara Vasavatti, Deva yang satu ini tampaknya benar-benar dipenuhi keberuntungan.

      Di Udana 1.1 (Bodhi Sutta), dikatakan bahwa selama 7 tahun, Mara mengikuti/memperhatikan dan menggoda Sidharta Gautama, dari sebelum pencerahan hingga ketika mencapai penerangan sempurna dan juga dalam literatur lainnya kita temukan Mara juga gemar sekali menggoda Buddha dan murid-muridnya dan bahkan Ia pula-lah yang memohon pada Sang Buddha untuk selekasnya Parinibanna, namun dari keseluruhan tingkah pola Dewa Mara Vasavatti, tidak satu literatur Buddhispun yang menyatakan bahwa Dewa Mara Vasavatti layak untuk terlempar ke dalam Neraka

      Jadi kesimpulan yang kita dapat mengenai Mara vs Paranimmitavasavatti adalah:

      • Ketika mahluk masih memiliki 1 diantara 10 kilesa, maka ia dapat berada dalam jeratan Mara. Kebebasan sepenuhnya dari jeratan HANYA pada level kesucian arahat, tingkat kesucian di bawahnya masih terkena terjerat mara. Terdapat cara lain yang bersifat sementara agar terlepas dari jangkauan mara, yaitu melalui pencapaian Jhana ke-1 meditasi karena 5 nivarana telah di hancurkan (MN 25, AN 9.39)
      • Tidak semua penghuni alam Paranimittavasavatti adalah Mara
      • Para penghuni 31 Alam, menjadi terjerat mara melalui pasukan kilesanya

    2. Nimmānaratī – Alam dari deva-deva yang senang dalam mencipta, dapat mengubah bentuk sesuka mereka. Penguasa alam ini adalah Sunimmita (DN 11/kevaddha sutta); Kitab komentar untuk viharavatthu menceritakan pertemuan YM Anuruddha dengan seorang devi dari alam 33 dewa, yang dulunya adalah teman Visakha (Seorang umat awam wanita/Upasikha). Temannya ini wafat dalam keadaan bersukacita melihat vihara yang telah selesai dibangun Visakha dan terlahir kembali di alam 33 Dewa. Devi itu berkata bahwa Visākhā terlahir di alam Nimmānaratī menjadi pendamping Sunimmita (Vva.189).

        Sāvatthiyaṃ mayhaṃ sakhī bhadante,Saṃghassa kāresi mahāvihāraṃ (Di Savatthi, Bhante yang terhormat, seorang temanku membangun vihara besar bagi Sangha).. Yā sā ahu mayhaṃ sakhī bhadante, Saṃghassa kāresi mahāvihāraṃ; Viññātadhammā sā adāsi dānaṃ, Uppannā nimmānaratīsu devesu. Pajāpatī tassa sunimmitassa (wanita temanku itu, Bhante yang terhormat,..memahami Dhamma dan memberikan dana itu telah muncul di antara para Dewa Yang Bergembira Dalam Mencipta. Dia ratu utama Sunimmita) [Khuddaka Nikaya: vimanavathu no.44]

      Buddha Gautama, bervassa untuk pertama kalinya di Savatthi adalah di Jetavana (tahun ke-14 kebuddhaan/di usia ke-50an), Setelah masa Vassa, beliau bisa jadi pergi menuju daerah Bhaddiya, kerajaan Anga dan menetap 3 bulan di Jatiyavana, kemudian bertemu Brahmana Sela (1 minggu setelah bertemu, menjadi Arahat), Bhaddaji (menjadi Arahat setelah mendengarkan Kotbah), dan juga Visakha (saat bertemu Sang Buddha, ia masih berumur 7 tahun dan menjadi sotapanna setelah kotbah).

      Saat Buddha Gautama Parinibanna di usia 80 tahun, Visakha berusia 37 Tahun. Kitab komentar juga menyampaikan bahwa Visakha wafat di usia 120 tahun (83-an tahun setelah wafatnya Buddha Gautama dan 48-an tahun setelah wafatnya YM Anuruddha).

      Jika teman Devi ini adalah Visakha (yang membangun vihara Pubbarama di Savatthi dan Sang Buddha bervassa di Pubbarama mulai tahun ke-39 s/d tahun ke-44), maka mengenai hal ini, sekurangnya terdapat dua kemungkinan:

      Vimanavatthu no.44 ini baru muncul sekurangnya 83-an tahun setelah Buddha parinibanna dan YM Anuruddha yang ada di komentar viharavatthu BUKANLAH YM Anuruddha sepupu sang Buddha (wafat di usia 115 tahun, 35 tahunan setelah Buddha Parinibanna).

      atau

      Tidak seluruh bagian syair dalam Vimanavatthu no.44 (saat ini) disampaikan oleh YM Anurudha (sepupu sang Buddha), khususnya syair ke-16 s.d syair ke-18 adalah TAMBAHAN BELAKANGAN yang hanya terjadi di setelah wafatnya Visakha.

      Umur kehidupan di alam ini:
      1 hari + 1 malam di alam ini (24 jam) = 800 tahun manusia (1 bulan = 30 hari, 1 tahun = 12 bulan = 360 hari). Lama Umur Deva adalah 8000 tahun deva (2.304.000.000 tahun manusia), 1 jam di alam ini = 33.33 tahun manusia [AN 3.70/1, Uposatha sutta]

    3. Tuṣita – Alam Deva yang "penuh kegembiraan".
      Alam ini merupakan tempat seluruh Bodhisatta sebelum terlahir kembali untuk terakhir kalinya di alam manusia dan Menjadi Sammasambuddha. Kelak, tempat ini akan menjadi tempat bersemayamnya Bodhisatta Nātha (atau Nāthadeva) yang akan terlahir sebagai Ajita dan kemudian akan menjadi Buddha Metteyya. Penguasa alam ini adalah deva Santusita (DN 11/Kevaddha Sutta).

      DN14/Mahapanada sutta, menyampaikan Dhammatā (hal-hal yang hanya terjadi) pada setiap sammasambuddha, yaitu:

      1. Para Bodhisatta akan turun dari alam surga Tusita, dengan penuh perhatian dan berkesadaran jernih, masuk ke dalam rahim ibu-Nya
      2. Para Bodhisatta akan berada 10 bulan penuh dalam kandungan ibu-Nya
      3. Tidak ada seorang pun, manusia atau bukan yang dapat mencelakai (membunuh) Bodhisatta atau ibu-Nya'
      4. Para Ibunda Boddhisatta akan menjalankan sila, yaitu: tidak membunuh/menyakiti mahluk hidup, tidak mengambil yang tidak diberikan..sang ibu menikmati lima kenikmatan indria dan bergembira, karena memilikinya, mengendalikan inderanya dari perbuatan yang tidak patut..tidak memiliki pikiran indriawi sehubungan dengan laki-laki, dan ia tidak dapat dikuasai oleh laki-laki mana pun yang berpikiran penuh nafsu, tidak menyatakan yang tidak benar, tidak makan/minum yang dapat melemahkan kesadarannya
      5. Para Ibunda Boddhisatta tidak akan mengalami penyakit apa pun, ia selalu merasa nyaman dan tidak merasakan keletihan pada tubuhnya, dan ia dapat melihat Sang Bodhisatta di dalam rahimnya, lengkap dengan seluruh anggota tubuh dan indria-Nya
      6. Para Ibunda Boddhisatta akan melahirkan dalam posisi berdiri
      7. Ketika Sang Bodhisatta keluar dari rahim: ia keluar tanpa noda, tidak dikotori oleh air, lendir, darah, atau kotoran apa pun, murni, dan tanpa noda; Dua pancuran air muncul dari angkasa, yang satu dingin dan yang lainnya hangat, yang kemudian memandikan Sang Bodhisatta dan ibu-Nya; Para dewa adalah yang pertama menyambut-Nya, dan kemudian manusia; Kaki sang Bodhisatta tidak menginjak tanah; Empat dewa menerima-Nya dan meletakkan-Nya di depan ibu-Nya; segera setelah lahir, Sang Bodhisatta berdiri tegak menghadap ke utara, kemudian berjalan 7 langkah, di bawah payung putih, ia menatap ke 4 penjuru kemudian menyatakan dengan suara menyerupai banteng: “Aku adalah pemimpin dunia, yang tertinggi di dunia, yang tertua di dunia. Ini adalah kelahiran-Ku yang terakhir, tidak ada kelahiran lagi bagi-Ku.”
      8. Para Ibunda Boddhisatta akan meninggal dunia tujuh hari setelah melahirkan Sang Bodhisatta dan terlahir kembali di alam surga Tusita

      Umur kehidupan:
      1 hari + 1 malam di alam ini (24 jam) = 400 tahun manusia (1 bulan = 30 hari, 1 tahun = 12 bulan = 360 hari). Lama Umur Deva adalah 4000 tahun deva (576.000.000 tahun manusia), 1 jam di alam ini = 16.67 tahun manusia [AN 3.70/1, Uposatha sutta]

    4. Yāma (mengekang, menyaksikan, gabungan/pasangan)– kadang disebut "Alam Deva tanpa peperangan" karena terpisah dari kekusutan alam-alam mahameru. Penguasa alam ini adalah deva Suyama [Kevadda Sutta]. Menurut kitab komentar karangan Buddhaghosa: Sirimā, yang saat hidup pernah menjadi pelacur di Rājagṛha, terlahir kembali menjadi pendamping Suyama (SNA.i.244f, 253f) namun dalam Vimanavatthu (Khuddaka Nikaya Vimannavatthu no.16), Sirima mencapai sotapanna dan terlahir di alam Nimmānarati

        Kāmag­ga­pattā­naṃ yamāhunuttaraṃ, Nimmāya nimmāya ramanti devatām Tasmā kāyā accharā kāmavaṇṇinī (melampaui kesenangan sensual tertinggi dengan pengekangan diri, devata yang mendapatkan kegembiraan dengan mencipta, Mahluk dari kelompok yang dapat mengubah bentuk semaunya).. Evaṃ ahaṃ amatadasamhi devatā, Tathā­gatas­sa­nadhi­varassa sāvikā; Dhammaddasā paṭhamaphale patiṭṭhitā, Sotāpannā na ca pana matthi duggati (Demikianlah saya adalah devata yang mengetahui tanpa-kematian, siswa perempuan sang Tathagata yang tiada bandingnya, telah melihat Dhamma mantap dalam buah pertama, Pemasuk-Arus dan tidak ada lagi menuju alam menderita)

      Umur kehidupan:
      1 hari + 1 malam di alam ini (24 jam) = 200 tahun manusia (1 bulan = 30 hari, 1 tahun = 12 bulan = 360 hari). Lama Umur Deva adalah 2000 tahun deva (144.000.000 tahun manusia), 1 jam di alam ini = 8.33 tahun manusia [AN 3.70/1, Uposatha sutta]

      Mulai di bawah ini disebut alam KAMA LOKA.

      KAMALOKA (juga disebut alam Kamadhatu), strukturnya menyerupai "meru" [kutub, gunung]. Struktur ini disebut Sumeru [su = baik; meru = gunung/kutub yg bertingkat] ato juga Sineru/mahaneru/mahameru (artinya: tinggi sekali)].

      Bentuknya menyerupai jam gelas pasir, di mana bagian tengahnya menyempit dan melebar di bagian ujung. Bentukan ini merupakan gambaran kondisi mental yang saling berlawanan yang dialami para mahluk yang terlahir di alam ini. Pada bagian atas adalah para penghuni yang mengalami perasaan bahagia, makin ke bawah kondisi perasaan bahagianya makin berkurang. Bagian tengah merupakan kondisi campuran keadaan bahagia (sugati) dan menderita (duggati). Kemudian di pisahkan oleh "lautan".

      Saintis jaman sekarang membicarakan alam sebagai 11 dimensi ruang dan waktu :). Di mana ruang adalah hubungan antar benda [baca: MATERI] dan ketika berhubungan dengan kata "ukur" maka ada definisi:

      • Besaran [relatif antar objek]
      • jarak [relatif posisi terhadap ruang] dan
      • waktu [pengukuran relatif terhadap perbedaan keserempakan terhadap koordinat ruang]

      Ruang dan waktu 4 dimensi adalah:

      ke-1 = garis (1 sisi)
      ke-2 = bidang (2 sisi)
      ke-3 = volume [3 sisi, P x l x t]
      ke-4 = waktu

      Dari 4 dimensi digutak gatuk menjadi 11 dimensi:

      ke-5 = pergerakan 1 sisi;
      ke-6 = pergerakan 2 sisi;
      ke-7 = pergerakan 3 sisi;
      ke-8 = denyut dari waktu [kontraksi/ekspansi waktu];
      ke-9 = getar/goyang 1 sisi;
      ke-10= getar/goyang 2 sisi;
      ke-11= getar/goyang 3 sisi

      Singkatnya:
      11 dimensi ruang dan waktu mestinya di baca: 4 dimensi + 7 dimensi yg tak jelas :).

      Saintis mengalami perubahan dalam mendefinisikan materi berubah-ubah dari waktu ke waktu, dahulu materi adalah massa, kemudian berubah menjadi volume, dan kemudian ditemukan ada materi yang tidak memiliki massa [leptons dan quarks].

      [Jadi,
      Suara adalah perambatan dari partikel. dalam quantum mekanik getaran atom dan molekul adalah phonon atau quata atau paket energi atau juga partikel yang merupakan materi. Cahaya disamping gelombang elektromagnetik adalah juga materi [photon]. Artinya bagi mereka yg percaya ada Roh/Jiwa/Atma seharusnya ini adalah materi, alasannya ya sederhana, karena ia terperangkap didalam tubuh materi. Sesuatu yg terperangkap dalam materi ya materi juga, lah.. :)]

      Deva yang hidup di Struktur meru ini lebih memiliki hasrat dan nafsu jika dibandingkan dengan Dewa yang terlahir di atas struktur meru ini bahkan disamping menikmati perasaan menyenangkan, juga terlibat dalam pertengkaran dan konflik antar sesamanya.

    1. Tāvatiṃsa
      (tāva/tavat = "sebanding/sebagus"; Timsa/Trimsat = "tiga puluh". Namun dalam terjemahan Inggris/Indonesia/dan lainnya, diterjemahkan Surga 33 dewa.) Alam ini berada di puncak Sineru atau su-meru "tingkatan yang baik" atau su-dassana "pandangan yang jelas".

      Tentang 33 deva
      Beberapa tradisi ajaran yang menyebutkan kata "33 deva", diantaranya:

      • Zoroastrian (Zend Avesta), terdapat frase: "33 ratu (hakim, deva)" [Yas 1.10].

      • Literatur Veda (Brahmanisme), mendetailkan jumlah 33 deva: 11 deva di langit + 11 deva di bumi + 11 Deva di perairan [Yajurveda 7.19], atau juga dikelompokan menjadi: 8 Vasu + 11 Rudra + 12 Aditya + 2 deva lainnya (nama 33 devanya bervariasi, tidak harus seperti bawah ini):

        • 8 Vasu: Pṛthivī, Agni, Antarikṣa, Vāyu, Dyauṣ/dyo, Sūrya/Adiya, Nakṣatra, Somacandrama [Brihadaranyak Upanishad 3.9.2]
        • 11 Rudra: Ānanda, Vijñāna, Mana, Prāṇa, Vāc, Śiva – Īśāna, Tatpuruṣa, Aghora, Vāmadeva, Sadyojāta, , Ātmā) +
        • 12 Aditya: Mitra, Aryaman, Bhaga, Varuṇa, Dakṣa/Dhâtâ, Aṃśa, Tvāṣṭṛ/Tvashthâ, Pūṣan/Pusha, Vivasvan, Savitṛ/Savitâ, Śakra/S'atru, Viṣṇu/vaman.
        • 2 deva lainnya: Dyaus dan Prthivi (Satapatha Brahmana 4. 5.7. Indra tidak termasuk di 33 deva) atau Indra dan Prajapati (Satapatha Brahmana II. 6. 3; Brihadaranyaka Upanisad 3.9.2) atau Vasapkara dan Prajapati (Aitareya Brahmana 2. 18. 8. Di mana Indra termasuk di 33 deva). Menurut Monier-Williams: Deva kembar aswin.

        • Walaupun penamaan alamnya tetap 33 deva, namun jumlahnya jelas jauh melebihi (3.33 juta deva dalam Brihadaranyaka Upanishad 3.9)

      • Buddhism: Sebelumnya alam itu sudah ada para Deva lainnya dan belum terpisah menjadi jenis asura dan bukan asura. Kemudian setelah Magha terlahir kembali menjadi Deva Sakka, raja Para deva (dan 29 rekannya) di sebut sebagai Tavatimsa. Sehingga, Tavatimsa artinya 30 Deva bukan 33 deva. Jumlah itu adalah: Magha + 29 temannya. Penduduk kampung Magha saat itu berisi 30 keluarga [Jataka no. 31/kulavaka].

        Jumlah itu, jika di tambah 3 perempuan lainnya yang juga hidup di jaman Magha dan terlahir kembali menjadi pelayan sakkha, yaitu: Sudhama, Nanda dan Citta, maka akan menjadi 33 Deva. Seharusnya ada 1 nama lagi, yaitu: Suja, namun Suja kemudian terlahir menjadi anak perempuan raja Asura (Vepaciti) dan menjadi pendamping Sakka.[Jataka no. 31/kulavaka].

        Jumlah Deva di alam itu jelas melebih 33 Deva, yaitu sebelum kemunculan Sakka dan kawan-kawanya, telah ada banyak deva-deva lain, setelah berubah nama menjadi Tavatimsa, masa Pra Buddhism bermunculan juga deva-deva lainnya dan di setelah buddhism, bertambah lagi dengan para deva baru misalnya: Kassapa, Magha, Magadha, Damali, Kamada, Pancalacanda, Tayana, Candima [candra], Suriya [surya], Candimasa, Venhu [Visnu], Siva, Dighalatthi, Nandana, Candana, Vasudatta, Subrahma, Kakudha, Uttara, Anathapindika, Khema, Seri, Ghatikara, Jantu, Rohitassa, Nanda, Nandivisala, Susima dan masih banyak lagi [Devaputtasamyutta dan Catatannya, serta lihat juga: Devatasamyutta dan Catatannya ].

      Umur kehidupan:
      1 hari + 1 malam di alam ini (24 jam) = 100 tahun manusia (1 bulan = 30 hari, 1 tahun = 12 bulan = 360 hari). Lama Umur Deva adalah 1000 tahun deva (36.000.000 tahun manusia), 1 jam di alam ini = 4.17 tahun manusia [AN 3.70/1, Uposatha sutta]

      Peperangan deva dan asura:
      SEBELUM suja (anak perempuan Vepacitti) mendampingi sakka [ini menyebabkan sakka juga digelari sujampati], sudah sejak lama terjadi perang antara para Asura dan Deva [SN 11.1-20]

      Penguasa Asura sebelum Vepacitti adalah sambara, setelah di kutuk para pertapa yang ketika meminta perlindungan pada sambara, namun ia menolaknya dan kemudian ia sakit karena ketakutan atas kutukan tersebut [SN 11.10. Rig veda menyatakan Sambara di taklukan Indra]. Setelah Sambara, pemimpin Asura berganti menjadi vepacitti [SN 11.10/23. Sutta ini menceritakan di tengah sakitnya Vepacitti, Deva Sakka memohon diajari ilmu sambari namun vepacitti menolaknya]. Sakit sambara terjadi karena Ia mengalami ketakutan akan kutukan para petapa. Frase itu ditulis: "citam vepati", diduga dari frase inilah asal usul nama vepacitti berasal.

      Masing-masing dari para Deva dan juga Asura, 3x memenangkan pertikaian [AN 3.39/Devasurasangama Sutta]. Kisah kekalahan Deva dan kemudian menang kembali tercatat seperti ini:

        Di Sāvatthī. “Para bhikkhu, Di masa lampau (Bhūtapubbaṃ), para deva dan para asura kerap dalam pertikaian. Kemudian, Para Bhikkhu, Dalam pertikaian itu, para asura unggul [jiniṃsu] dan para deva merosot [parājiniṃsu]. Dalam kekalahan, para deva merosot dalam ketinggian [apāyaṃsveva uttarenamukhā], dihadapan asura [abhiyaṃsveva ne asurā]. Kemudian, Para bhikkhu, Sakka raja deva menyampaikan syair pada matali pelayannya:

        kesia-sian, matali, simbali (mitologi pohon tinggi besar dengan duri terbakar berpijar) [Kulāvakā mātali simbalismiṃ];
        arah kereta menjauh [Īsāmukhena parivajjayassu];
        hasrat sensual (kāmaṃ) memancar (cajāmana) rasa ini dan itu (asu-rasa) kehidupan (pāṇa) [Kāmaṃ cajāma asuresu pāṇaṃ];
        kami (māyime) brahmana (dijā) sia-sia (vikulāva-ka) jadinya (ahesu) [māyime dijā vikulāvakā ahesu'nti]

        ‘Demikian yang mulia, para bhikkhu, matali pelayan Sakka raja deva, mengikuti [paṭissutvā], kumpulan ribuan [sahassayuttaṃ] turunan murni dalam kebahagiaan [ājañña-rathaṃ] balik kembali [paccudāvattesi]. Dan kemudian, Para bhikkhu, asurānaṃ etadahosi [asura berpikir] – balik kembali sekarang Sakka raja para deva bersama ribuan turunan murni dalam kebahagiaan [‘paccudāvatto kho dāni sakkassa devānamindassa sahassayutto ājaññaratho]. Kedua kali, para deva dan asura tenang dalam pertikaian ketakutan kota asura dimasuki [Dutiyampi kho devā asurehi saṅgāmessantīti bhītā asurapurameva pāvisiṃsu]. Demikianlah para bhikkhu, sakka Raja deva, telah memenangkan rintangan [dhammena jayo ahosī’ti]. [SN 11.6/Kulāvaka Sutta]

        Note:
        Sutta ini diterjemahkan dengan sangat berbeda di berbagai terjemahan lainnya (inggris dan Indonesia).

      Di Jataka (kisah yang membalut syair adalah TIDAK TERMASUK canon pali, hanya syairnya yang termasuk canon pali. Kisah yang membalut syair berasal di abad setelah 3-2 SM], perang antara para deva dan asura dikisahkan terjadi secara fisik namun tidaklah demikian. Juga, ketika kalah dituliskan dalam terjemahan bahwa Vepacitti (Raja asura) "terikat keempat anggota tubuh dan lehernya" [SN 11.4/Vepacitti Sutta]. Kitab komentar menyatakan frase "terikat ke-empat anggota tubuh dan leher" adalah KIASAN. Keterangan kitab komentar ini sejalan dengan SN.7/Nadubbhiya Sutta, yaitu ketika Sakka "menangkap" vepacitti:

        “Para bhikkhu, suatu ketika di masa lampau, ketika Sakka, raja para deva, sedang sendirian dalam keheningan, perenungan berikut ini muncul dalam pikirannya: ‘Walaupun seseorang adalah musuhku, aku tidak boleh melawannya.’

        “Kemudian, Para bhikkhu, Vepacitti, raja para asura, setelah dengan pikirannya mengetahui perenungan dalam pikiran Sakka, mendekati Sakka, raja para deva. Dari jauh, Sakka melihat kedatangan Vepacitti dan berkata kepadanya: ‘Berhenti, Vepaciti, engkau tertangkap! (gahitosī)’

        ‘Tuan, jangan abaikan gagasan yang baru saja muncul dalam benakmu.’

        ‘Bersumpahlah, Vepacitti, bahwa engkau tidak akan melawanku.’

        [Vepacitti:]
        ‘“Kejahatan apa pun yang muncul dalam diri seorang pembohong,
        Kejahatan apa pun yang muncul dalam diri seorang penghina para mulia,
        Kejahatan apa pun yang muncul dalam diri seorang pengkhianat para sahabat,
        Kejahatan apa pun yang muncul dalam diri seseorang yang tidak tahu berterima kasih:
        Kejahatan yang sama akan menghampirinya
        Siapakah yang melawanmu, Suami Sujā.

      Sutta di atas menunjukan kata "tertangkap" tidaklah dalam keadaan terikat di leher dan tubuh. Disamping itu, peperangan yang terjadi antara para deva dan asura, sebagaimana disampaikan SN 11.5/Subhasitajaya Sutta adalah bukan perang secara fisik namun adu syair nasihat:

        "Vepacitti, raja para asura, berkata kepada Sakka, raja para deva: ‘Raja deva, biarlah kemenangan ditentukan oleh nasihat yang diucapkan dengan baik.’

        [Dan Sakka menjawab]:
        ‘Vepacitti, biarlah kemenangan ditentukan oleh nasihat yang diucapkan dengan baik.’”

        “Kemudian, Para bhikkhu, para deva dan para asura menunjuk suatu panel hakim, dan berkata: ‘orang-orang ini akan memastikan apa yang diucapkan dengan baik dan apa yang diucapkan dengan buruk oleh kita...

        [terjadi adu syair]

        ...Kemudian panel hakim yang ditunjuk oleh para deva dan para asura berkata: ‘Syair-syair yang diucapkan oleh Vepacitti, raja para asura, adalah dalam lingkup hukuman dan kekerasan; karenanya [menyebabkan] konflik, perdebatan, dan perselisihan. Tetapi syair-syair yang diucapkan oleh Sakka, raja para deva, adalah dalam lingkup bukan-hukuman dan bukan-kekerasan; karenanya [menyebabkan] kebebasan dari konflik, kebebasan dari perdebatan, dan kebebasan dari perselisihan. Sakka, raja para deva, telah menang dengan nasihat yang diucapkan dengan baik.’

        “Demikianlah, Para bhikkhu, Sakka, raja para deva, menang dengan nasihat yang diucapkan dengan baik.”

      Sang Buddha di Tavatimsa:
      Pembabaran Dhamma sang Buddha di Tavatimsa tercatat sekurangnya dalam 4 sutta:

      • DN 21/Sankapanha sutta, yaitu di jawaban Bhadda suriyavaccasa (anak perempuan gandhabba timbaru) pada Pancasikha:

        “..Tuan, aku belum pernah melihat Sang Bhagavā secara pribadi, meskipun aku telah mendengar-Nya saat aku pergi ke Aula Sudhamma Tiga-Puluh-Tiga Dewa untuk menari (ca sutoyeva me so bhagavā devānaṃ tāvatiṃsānaṃ sudhammāyaṃ sabhāyaṃ upanaccantiyā). Dan karena, Tuan, engkau memuji Sang Bhagavā begitu tinggi, marilah kita bertemu hari ini. Dan demikianlah, Bhagavā. Aku bertemu nona itu, bukan saat itu, tapi setelah itu..’

        Dalam DN 21/Sankhapanha, Sakka, raja para deva, menggunakan kata, "bhante" bukan "marissa" [sama seperti tuan, bho, avuso, pada yg sederajat] oleh sakka pada sang Buddha, maka di waktu penyampaian sutta ini, Sakka telah menjadi pengikut sang Buddha.

      • DN 16/Mahaparinibanna sutta:

        [Aṭṭhaparisā] DELAPAN MACAM PERHIMPUNAN
        21. "Ananda, ada delapan macam perhimpunan, yaitu Perhimpunan para kesatriya, para brahmana, orang-orang berumah tangga, para pertapa, para dewa Catummaharajika, para dewa Tavatimsa, para Mara dan para dewa Brahma.

        22-23. Ananda, kini kami ingat bagaimana kami telah pernah menghadiri undangan dari kedelapan persidangan yang masing-masing dihadiri oleh beratus-ratus individu. Sebelum dimulai percakapan atau pembahasan, kami membuat wajahku mirip dengan wajah mereka, suaraku menyerupai suara mereka. Demikianlah kami mengajarkan mereka mengenai Dhamma, dan hal ini memberikan manfaat dan kegembiraan kepada mereka. Meskipun demikian, tatkala kami sedang memberikan Dhamma kepada mereka, mereka tak mengetahui siapa sebenarnya kami ini, dan mereka saling bertanya pada kawan-kawannya, "Siapa gerangan yang sedang berbicara kepada kita? Apakah gerangan ia seorang manusia atau dewa?" tanya mereka.

        Sesudah Sang Bhagava mengajarkan Dhamma dan telah membimbing mereka, mereka menyadari manfaatnya dan gembira, lalu kami pergi. Setelah kami meninggalkan mereka, mereka belum juga mengetahui tentang kami, mereka saling bertanya: "Siapakah gerangan dia yang telah pergi itu? Apakah dia manusia atau dewa?" Ananda, begitulah delapan macam perhimpunan itu.

      • MN 134/Lomasakangiyabhaddekaratta Sutta, yaitu dari pernyataan Deva Candana:

        "Bhikkhu, suatu ketika Sang Bhagavā sedang berdiam di antara para dewa di alam surga Tiga Puluh Tiga, di atas batu pualam merah di bawah pohon Pāricchattaka. Di sana Sang Bhagavā membabarkan ringkasan dan penjelasan dari ‘Seorang yang telah melewatkan satu malam keramat’ kepada para dewa di alam surga Tiga Puluh Tiga" [Ekamidaṃ, bhikkhu, samayaṃ bhagavā devesu tāvatiṃsesu viharati pāricchattakamūle paṇḍukambalasilāyaṃ. Tatra bhagavā devānaṃ tāvatiṃsānaṃ bhaddekarattassa uddesañca vibhaṅgañca abhāsi]

      • Di SN 55.20. Dari hutan Jeta mengunjungi Alam 33 deva dan menyampaikan 4 faktor pemasuk arus melalui Indera keyakinan, yaitu keyakinan pada Buddha (1), dhamma (2), sangha (3) dan moralitas yang disenangi para mulia dan menuntun pada konsentrasi (4).

      Dari hal di atas, kita ketahui bahwa kunjungan beliau ke Tavatimsa terjadi berulang kali. Kemudian, terdapat pula kisah sang Buddha ke Tavatimsa yang membalut syair Dhammapada no.181, kisah tersebut seharusnya tidaklah terjadi di tahun ke-7 namun di tahun ke-37[↓] kebuddhaan. Kitab komentar menyatakan bahwa di saat itu, Sang Buddha menyampaikan abhidhamma (bukan 7 kitab abhidhama, namun abhi=dalam atau Dhamma yang dalam) kepada para deva. Salah satu pesertanya adalah mantan Ibunda beliau (yang terlahir kira-kira baru 4.32 jam menurut waktu alam surga Tusita. Nama devanya adalah Santusita namun menurut Thag.vss.533f, ThagA.i.502, nama devanya adalah Māyādevaputta) dan saat pembabaran itu, mantan Ibunda beliau mencapai tingkatan Sotapanna[↓].

      Di Vimana vatthu, terdapat 85 bentukan Istana yang muncul di alam "33 Deva":

      • PEMBAGIAN PERTAMA: ISTANA-ISTANA PARA PEREMPUAN [Istana Tempat Duduk, Istana Tempat Duduk, Kedua, Istana Tempat Duduk, Ketiga, Istana Tempat Duduk, Keempat, Istana Gajah, Istana Perahu, Istana Perahu. Kedua, Istana Perahu, Ketiga, Istana Lampu, Istana Dana Wijen, Istana Perempuan Setia, Istana Perempuan Setia, Kedua, Istana Menantu Perempuan, Istana Menantu Perempuan, kedua, Istana Uttara, Istana Sirima, Istana Kesakari]

      • PEMBAGIAN KEDUA: CITTA LATA [Istana Pelayan Perempuan,Istana Lakhuma, Istana Pemberi Kerak Nasi , Istana Candali, Istana Perempuan Elok ,Istana Sonadinna , Istana Uposatha , Istana Nidda & Sunidda , Istana Pemberi Dana Makanan , Istana Pemberi Dana Makanan, Kedua]

      • PEMBAGIAN KETIGA: PARICCHATTAKA [Istana Elok ,Istana Tebu,Istana Dipan,Istana Lata, Istana Guttila, Istana yang Kemilau, Istana Sesavati, Istana Mallika, Istana Visalakkhi, Istana Pohon Koral]

      • PEMBAGIAN KEEMPAT: MERAH TUA [Istana Merah Tua, Istana yang Bersinar, Istana Gajah, Istana Aloma, Istana Pemberi Bubur Nasi, Istana Vihara, Istana Empat Perempuan, Istana Mangga, Istana Kuning, Istana Tebu, Istana Penghormatan, Istana Rajjumala]

      • PEMBAGIAN KELIMA: KERETA KENCANA BESAR [Istana Dewa Katak, Istana Revati, Istana Chatta, Seorang Pemuda Brahmana, Istana Pemberi Sup Kepiting, Istana Penjaga Pintu, Istana Yang Harus Dikerjakan, Istana Yang Harus Dikerjakan, Kedua , Istana Jarum, Istana Jarum, Kedua, Istana Gajah, Istana Gajah, Kedua, Istana Gajah, Ketiga, Istana Kereta Kencana Kecil, Istana Kereta Kencana Besar]

      • PEMBAGIAN KEENAM: PAYASI [Istana Rumah, Istana Rumah, Kedua, Istana Pemberi Buah, Istana Pemberi Tempat Bernaung, Istana Pemberi Tempat Bernaung, Kedua, Istana Pemberi Dana Makanan, Istana Penjaga Barli, Istana Pemakai Anting, Istana Pemakai Anting, Kedua, Istana Uttara]

      • PEMBAGIAN KETUJUH: SUNIKKHITTA [Istana Cittalata, Istana Nandana, Istana Tugu Permata, Istana Emas ,Hutan Mangga, Istana Penggembala Sapi, Istana Kanthaka, Istana Berbagai Warna, Istana Mattakundalin, Istana Serissaka, Istana Sunikkhitta]

    2. Asura
      Sakka/Sakra/Indra di juluki Asurinda [J.i.66: "Asurindena pavitthadevanagaram viya"]. Pendamping Sakka adalah Suja (anak perempuan Raja Asura, vepacitti) sehingga Sakka juga dijuluki Sujampati. Para asura juga dijuluki Pubbadeva ["Dewa yang lebih awal/senior/tua, SnA.484]. Alam Deva, tempat Magha terlahir menjadi Sakka (dan temannya), saat itu BELUM bernama Tavatimsa dan alam itu adalah alam para Asura. (lihat: di sini). Sekelompok deva di alam itu rupanya punya kegemaran "Gandapāna/gandhāpana" (gandha + apana, wewangian yang memabukan atau mungkin ini berhubungan dengan ajaran tertentu dari Sambara/Vepacitti, dimana Sakka sempat memohon Vepacitti untuk mengajarinya namun ditolak). Kejadian gandhapana ini, tidak disukai Sakka, mengakibatkan kelompok tersebut berada di area selatan/bawah Sumeru dan para deva lainnya di area utara/tinggi sumeru. [Jataka no.31]

      Menurut Hinduism awal:
      Asura dalam RIG VEDA bukan bentuk negatif dari sura, melainkan berasal dari asu+ra, Asu = udara,nafas,kekuatan. Sementara Ra= mengontrol, Seseorang yang menguasai/mempunyai. sehingga artinya adalah kekuatan. Asura yg dimaksud di Rig Veda adalah Varuna disebut raja para Deva [RV 1.24.4], Savitur [RV 1.35.9], Rudra [Penguasa nafas, penguasa Surga yang perkasa RV 2.1.6], Mitra [bersama Varuna sebagai asura di RV 5.63.3; sebagai Deva di RV 7.60.12], Indra [RV 1.174.1], Agni [RV 5.12.1] Soma [RV 9.72.1]

      Dalam Aiteya brahmanas [yg berkaitan dgn Rig Veda, yaitu AB 4.5] penguasa siang disebut Sura, Deva penguasa malam di sebut Asura

      Pembimbing Asura [termasuk Deva] adalah Bhrgu dan Brhaspati!

      Satu lagi arti asura, yaitu 1 dari 8 jenis perkawinan yang dimaksudkan dalam manusmrt 3:31, yaitu mempelai pria memberikan uang pada ibu mempelai wanita, ayahnya, kakak/adiknya ato sodaranya ato bahkan pada mempelai wanita dalam perkawinan dan juga ada sanksinya berkenaan dengan hal tersebut

      Rg Veda mengenal dua kekuatan itu saling tarik menarik, saling kerjasama dan saling berlawanan, seperti tangan kanan dan tangan kiri.

      Terdapat satu lagi pendapat mengapa terjadi pergeseran makna asura yang berhubungan dengan pertentangan keluarga kaum Aryan di Iran yang kemudian pecah dua yaitu Vedic Aryan dan Iranic Aryan, dimana DEVA bagi kaum Vedic aryan adalah berarti SETAN, KOTOR, JELEK bagi kaum Iranic Aryan dan demikian juga sebaliknya.

      Itulah mengapa teks2 hindu belakangan (dan juga Buddhis) setelah jaman Rg vedic (terutama abad setelah ke-3 SM), menyebutkan asura sebagai sesuatu yang bersifat tidak baik.

      Menurut Buddhism:
      Literatur belakangan Buddhism [sekitar abad ke: 3-2 SM] mengelompokan ASURA pada ALAM MENDERITA, namun literatur awal Buddhisme TIDAK mengelompokannya pada ALAM MENDERITA.

      Di DN 33/Sangiti Sutta dan DN34/Dasuttara Sutta terdapat frase "akkhaṇā asamayā brahmacariya-vāsāya" (waktu yang tidak tepat untuk menjalankan kehidupan brahmacariya). DN 33 dibabarkan setelah wafatnya Nigantha Nātaputta.

      Kronologis sutta yang berhubungan Nigantha Nataputta adalah sebagai berikut:

      • MN 56/Upali sutta, lokasi: Nalanda, di hutan mangga milik pavarika (orang kaya dekat rajagraha), di sutta itu, Nigaṇṭha Nātaputta mengetahui bahwa upali (penyokong dan pengikutnya) beralih menjadi pengikut Buddha. Setelah kalah berdebat dengan mantan penyokong dan pengikutnya, ia muntah darah.

      • DN 29/Pāsādika Sutta, lokasi di Samanagama, disampaikan bahwa Nigantha barus saja wafat di Pava dan pengikutnya terbagi dua bertengkar dan berselisih. Pemberitahuan ini disampaikan oleh samanera cunda.

      • DN 33/Sangiti Sutta. lokasi, Mala, Sang Buddha tinggal di kebun mangga milik cunda si pandai besi (bukan samanera cunda), Beliau berkotbah sampai malam ketika meresmikan aula pertemuan baru milik kaum Mala di Pava. Malam harinya sang Buddha meminta Sariputta memberikan kotbah pada para bhikkhu. Kejadian ini juga terjadi sewaktu Nigantha barus saja wafat di Pava dan pengikutnya terbagi dua bertengkar dan berselisih. Dalam sutta ini disebutkan "akkhaṇā asamayā brahmacariya-vāsāya" (waktu yang tidak tepat untuk menjalankan kehidupan brahmacariya), yaitu: 9 waktu:

        • ketika seorang Buddha muncul di dunia namun mahluk tersebut terlahir di: Niraya (1), peta (2), Binatang (3), asurakaya (4), Deva tertentu yang hidupnya panjang sekali (5) atau Mahluk tersebut terlahir (paccājāto):

          • di negeri yang jauh di wilayah kaum asing (tak beradab) yang tidak berpengetahuan [berpemahamaan] dan di sana tidak terdapat cara hidup sebagai [yattha natthi gati] bhikkhu/bhikkhunī atau umat awam pria/wanita (6),
          • di tengah-tengah negeri, namun memiliki 10 pandangan salah (7)[↓],
          • di tengah-tengah negeri, namun ia tidak punya kebijaksanaan, bodoh, atau tuli atau bisu dan tidak mampu mengetahui apakah sesuatu hal telah dinyatakan dengan benar atau salah.(8)

        • ketika TIDAK ADA seorang Buddha muncul di dunia dan mahluk tersebut terlahir di tengah-tengah negeri, cerdas, TIDAK (bodoh, atau tuli atau bisu), dan mengetahui dengan baik apakah sesuatu hal telah dinyatakan dengan benar atau salah (9)

      • DN34/Dasuttara Sutta, lokasi di Campa. Sutta ini tidak menyebutkan dibabarkan setelah atau sebelum wafatnya Nigatha nataputta. Di sutta ini, Sariputta menerangkan kepada para bhikkhu 8 hal (attha dhamma) yang banyak membantu (bahukara), yang harus dikembangkan (bhavetabba), yang harus diketahui (parinneyya), yang harus disingkirkan (pahatabba), yang membawa kemerosotan (hanabhagiya), yang membawa kemuliaan (visesabhagiya) yang sulit ditembus (duppativijjha), yang harus ditimbulkan (uppadetabba), yang harus dimengerti sepenuhnya (abhinneyya), dan yang harus direalisasi (sacchikatabba).

        Ketika membabarkan hal yang sulit ditembus untuk menjalani kehidupan suci pada waktu ada atau tidaknya seorang Buddha di dunia, maka para Asurakaya TIDAK TERMASUK di dalamnya.

      Kemudian,
      Para asura juga kerap berkunjung pada sang Buddha, diantaranya: Raja para asura (verovana) dan raja para deva (sakka) [SN 11.8/Verocanasurinda sutta] atau raja asura Paharada yang menjawab sang Buddha mengenai 8 hal yang menyenangkan dan baik dari Samudra, kemudian sang Buddha menyampaikan 8 hal menyenangkan hidup sebagai bhikkhu [AN 8.19, 20, Ud 5.5].

      Hal terjelas yang menunjukan level Asura adalah sebagaimana disampaikan dalam DN 20/Mahāsamaya, yaitu ketika para Brahma dan Deva berkunjung pada sang Buddha. Di sutta tersebut, sang Buddha menyebutkan kedatangan para deva dan para brahma dari urutan terendah hingga tertinggi. Dari cara penyebutannya, maka kita ketahui bahwa kedudukan para deva tavatimsa dan para asura adalah LEBIH TINGGI dari kedudukan deva catumaharajajika (para naga, yakkha dan gandhabba, dll).

        [setelah menyebutkan kedatangan para deva catumaharajika]..Yang dikalahkan si pemegang halilintar (vajirahatthena = Indra = Sakka), para Asura penguasa Samudra, saudara dari Vāsava (raja para Asura) berkuasa, gemilang, Para Kālakañja (Asura tingkatan terendah, bentuknya menyerupai peta) yang menyeramkan dilihat, Para Dānaveghasa, Vepacitti, Sucitti dan Pahāradha (Raja asura penguasa lautan) bersama Namucī, ratusan putra Bali yang semuanya bernama Veroca, pasukan Bali yang gagah, bergabung dengan Rāhu yang beruntung: Sekarang saatnya, yang mulia, pertemuan para Bhikkhu di hutan"..[dilanjutkan menyebutkan kedatangan deva tavatimsa dan Deva lainnya]" [DN 20/Mahasamaya sutta]

      Pada bagian akhir sutta

        "..Dan ketika semua telah hadir dalam barisan besar bersama Indra dan kelompok Brahmā, Datanglah pasukan Māra (Mārasenā), Si dungu gelap berkata: "Ayo tangkap dan ikat mereka dalam jeratan nafsu indriya, Kepung dari segala penjuru jangan sampai siapapun lolos"..kemudian Ia mundur dengan gusar dan tak berkekuatan lagi (Tadā so paccudāvatti, saṅkuddho asayaṃvase): 'Semua berjaya, melampaui rasa takut, mereka menang: Para pengikutNya bergembira bersama seluruh dunia!' (Sabbe vijitasaṅgāmā, bhayātītā yasassino; Modanti saha bhūtehi, sāvakā te janesutā’’ti).

        Kitab komentar di RAPB buku ke-1, hal 1106-1122, Cetakan I, Mei 2008, hal. 1117, menyatakan maksud dari kalimat terakhir adalah: "Pada akhir khotbah Mahàsamaya Sutta, seratus ribu crore (100.000 x 10.000.000 = 1012) dewa dan brahmà berhasil mencapai kesucian Arahatta, dan mereka yang mencapai kesucian Sotàpanna tidak terhitung banyaknya (lihat juga di: kitab komentar untuk MahàVagga)"

      Indikasi dari Sutta tersebut, beberapa sutta sebelumnya dan kitab komentar di atas menunjukan dengan jelas bahwa para Asura TIDAK TERMASUK dalam "apāyaṃ duggatiṃ vinipātaṃ" walaupun mereka terlahir pada kelompok waktu yang tidak menguntungkan namun TIDAK termasuk kelompok "yang sulit menembus Dhamma" dan itu terjadi ketika pertemuan MahaSamaya bahkan Mara pun menyerah ketika menaklukan mereka.

    3. Cātummahārājika
      Alam "Empat raja Besar ", mereka menempati lereng Sumeru. DN20/Maha samaya sutta, menyatakan bahwa tingkatan mereka di atas alam manusia dan di bawah alam Deva tavatimsa. Pada bagian akhir Sutta tersebut disebutkan para mahluk catumaharajika (sampai alam brahma) yang berada di pertemuan tersebut mendapatkan tingkat pencapaian kesucian tertentu, yang dicirikan dengan kalimat, "(mara) mundur dengan gusar, tetapi tidak berkekuatan...kelompok Māra mundur dari sana dari mana nafsu dan rasa takut tidak mendapatkan tempat. ‘Berjaya, melampaui rasa takut, mereka menang: Para pengikutnya bergembira bersama seluruh dunia!”

      Umur kehidupan:
      1 hari + 1 malam di alam ini (24 jam) = 50 tahun manusia (1 bulan = 30 hari, 1 tahun = 12 bulan = 360 hari). Lama Umur Deva adalah 500 tahun deva (9.000.000 tahun manusia), 1 jam di alam ini = 2.08 tahun manusia [AN 3.70/1, Uposatha sutta]

      Empat raja
      Dalam DN 32/Āṭānāṭiya Sutta disebutkan 4 raja alam Cātummahārājikā:

      • Penguasa timur,penguasa gandhaba yaitu: Dhatarattha ("Ia yang memelihara keadaan " atau “Pengawas dunia”);
      • Peguasa selatan penguasa kumbhanda, yaitu Virulhaka (“Ia yang membesar” atau “Penyokong kehidupan”);
      • Penguasa barat penguasa naga yaitu:Virupakkha ("Ia yang melihat segalanya ");
      • Penguasa utara, penguasa yakkha yaitu kuwera [Vessavana (“Ia yang mendengar semuanya”), Pemimpin Catumaharajika]

      Semua dari mereka berputera Delapan puluh, sepuluh, dan satu. Mereka semua hanya dipanggil dengan satu nama saja yaitu: Indra, raja dari kekuatan

      Di alam tersebut, terdapat beberapa mahluk alam itu yang dapat di mintai tolong saat diganggu para Yakha yang ganas, nama-nama mereka yaitu:

        Inda, Soma, Varuna, Bharadvaja, Pajapati, Candana, Kamasettha, Kinnughandu, Nighandu, Panada, Opamanna, Devasuta, Matali, Cittasena (sang gandhabba), Nala, Raja, Janesabha, Satagira, Hemavata, Punnaka, Karatiya, Gula, Sivaka, Mucalinda, Vessamitta, Yugandhara, Gopala,Suppagedha, Hiri, Netti, Mandiya, Pancalacanda, Alavaka, Pajunna, Sumana, Sumukha, Dadimukha, Mani, Manicara, Digha, dan Serissaka.

      Mereka semua disebut sebagai kerabat dari Deva mentari, putera dari ADITI, yang terkadang juga disebut surya. Nama-nama mereka itu juga disebutkan di Rg Veda dan BUKAN untuk DISEMBAH namun untuk di UNDANG saat diganggu, seperti bunyi di cuplikan syair pada sutta tersebut:

        "Kini bila ada yakkha..gandhabba..yang mendatangi para bhikkhu dan umat awam dengan sikap bermusuhan, maka orang itu harus waspada. Mereka hendaknya berseru memohon pertolongan para para yakkha, yakkha terkemuka, beserta pemimpin mereka.
        Katakanlah, "Makhluk halus jahat ini telah menyerangku, melukaiku, membahayakanku, dan tidak membiarkanku pergi!"

      Sebagaimana semua deva-deva, maka "Vessavaṇa" juga merupakan sebuah gelar dan bukan individunya. Setiap kematian dari Vessavaṇa, maka saat itu juga ia digantikan oleh Vessavaṇa baru. Pada masa-masa awal Buddhism, Vessavaṇa dipuja sebagai yang bertempat dinggal di pepohonan oleh orang-orang yang ingin diberkahi anak.

      Vesanna dinamakan "Kuvera" karena di kehidupannya sebelumnya ia merupakan seorang Brahmin pemilik penggilingan gandum/beras yang bernama Kuvera. Di kehidupan lampaunya ia menyumbangkan semua hasil 7 pabrik penggilingannya, yang setara dengan sedekah kepada orang miskin selama 20,000 tahun. Karena inilah ia terlahir di alam Cātummahārājikā. Pendamping Vessavaṇa adalah Bhuñjatī (muncul di DN 21) dan mempunyai 5 anak wanita, Latā, Sajjā, Pavarā, Acchimatī, dan Sutā. Ponakannya bernama Puṇṇaka, yakkha, suami dari naga wanita, Irandatī. Keretanya dinamakan Nārīvāhana. Senjatanya adalah gadāvudha (Sanskrit: gadāyudha), namun Ia menggunakan itu sebelum menjadi pengikut Buddha. Ketika Buddha muncul di dunia, Vessavaṇa menjadi pengikutnya dan mencapai tingkatan sotāpanna.

      Gandhabba
      Gandhabba berada di bawah Dhṛtarāṣṭra, penguasa area timur. Definisi dari Gandhabba, Kumbanda dan Yakkha terkadang sama; Yakkha merupakan nama generik dari semua bentuk2 deva tingkat rendah. Terlahir kembali sebagai Gandhabba merupakan salah satu konsekuensi hasil dari melakukan praktek kebajikan paling dasar (Janavasabha-sutta, DN.18). Bagi para Bikkhu, situasi kelahiran ini dianggap “memalukan” [DN 21/Sakka Panha Sutta: 3 bhikkhu yang terlahir kembali sebagai Gandhabba terbangkitkan semangatnya karena sindiran gopaka (umat awam yang terlahir sebagai deva di tavatimsa), seketika mereka mengembangkan perhatian menghancurkan kama samyojana, dua diantaranya terlahir sebagai Pengikut Brahmā.]

      Beberapa Gandhabba yang disebut di DN.20 dan DN.32, antara lain: Panāda, Opamañña, Naḷa, Cittasena, Rājā. Mātali.

      Gandhabba bernama Pañcasikha jatuh cinta pada Bhaddā Suriyavaccasā (Putri Timbarū, pemimpin para Gandhabba) ketika melihatnya menari Tavatimsa, namun ketika itu, Bhadda tengah menjalin cinta dengan Sikhandī (atau Sikhaddi), anak dari Mātali. Pañcasikha kemudian mendatangi tempat tinggal Timbarū dan memainkan kecapinya (dari kayu beluva), Ia sangat mahir bermain kecapi, dan menyanyikan lagu cinta dan dikombinasikan dengan kisah tentang Buddha dan para Arhat-nya. Bhadda, tersanjung dan menyukai Pancasikka

      Di DN 21/Sakkapanha sutta, Dalam kegirangannya mencapai Sotapanna setelah bertemu sang Buddha dan merasa Pancasikha berjasa besar karena ini, Sakka kemudian menyatakan Pancasikka akan menjadi raja para Gandhabba dan Bhaddā Suriyavaccasā akan diberikan kepadanya

      Gandhabba juga mempunyai arti lain yang merupakan bagian proses kesadaran di ketika kelahiran dan kematian.

      Yakṣas/Yakka/Yakha
      Para Yakkha di bawah kekuasaan Vaiśravaṇa/Vessavana, penguasa area utara, diberi nama berdasarkan asal dan fungsi mereka:

      • Penampilan (Kuvannā, Khara, Kharaloma, Kharadāthika, Citta, Cittarāja, Silesaloma, Sūciloma dan Harita)
      • Tempat tinggal/menetap/menungganginya atau atribut alam mereka, hewan, tumbuhan, manusia, dll (Ajakalāpaka, Alavaka (penghuni hutan), Uppala, Kakudha (nama tumbuhan), Kumbhīra, Gumbiya, Disāmukha, Yamamoli, Vajira, Vajirapāni atau Vajirabāhu, Sātāgira, Serīsaka). Salah satu contoh menarik misalnya dalam kehidupannya, mereka menunggangi binatang dan manusia sebagaimana disebutkan dalam DN 32/Atanatiya sutta:

          ..Sapi dengan satu sadel terpasang,
          Demikianlah mereka menunggang berkeliling,
          Menggunakan perempuan sebagai tunggangan,
          Demikianlah mereka menunggang berkeliling;
          Menggunakan laki-laki sebagai tunggangan,
          Demikianlah mereka menunggang berkeliling;
          Menggunakan gadis perawan sebagai tunggangan,
          Demikianlah mereka menunggang berkeliling;
          Menggunakan anak-anak laki-laki sebagai tunggangan,
          Demikianlah mereka menunggang berkeliling
          ;..

      • Kualitas karakter, dll (Adhamma, Katattha , Dhamma, Punnaka, Mara, Sakata)
      • Perwujudan berdasarkan kelahiran sebelumnya (Janavasabha "penguasa laki-laki" = Bimbisara Raja Magada, di DN 20/Maha samaya sutta, terdapat nama Janesabhā, mungkin ini nama yang sama dengan Janavasabha), Digha, NaraDeva, Pandaka, Sīvaka, seri). [Lanjutan: DPPN]

      Di Alavaka Sutta (SN 10.12 dan SNP 1.10) terdapat kisah pertemuan sang Buddha dengan Yakkha Alavaka, yang memintanya untuk masuk dan keluar sebanyak 3x dan yang terakhir sang Buddha tidak pergi. sang Yakkha kemudian meminta Sang Buddha untuk menjawab pertanyaannya, jika Sang Buddha menolak atau tidak dapat menjawab, maka Yakkha tersebut mengancam akan membuatnya gila atau memecahkan jantungnya atau mencengkram kakinya atau melemparkannya ke sungai Gangga. [Ancaman ini juga dilakukan Yakkha suciloma di SN 10.3], menanggapi ancaman ini, Sang Buddha sampaikan bahwa tidak ada 1 pun mahluk di semesta ini yang mampu melakukan itu pada seorang Buddha dan beliaupun tetap menjawab pertanyaan sang Yakkha. Setelah tanya jawab selesai, Yakkha alavaka berlindung pada Buddha, Dhamma dan sangha.

      Kitab komentar (Spk) menyampaikan rekonstruksi kejadian pada sutta tersebut yang di awali dengan kisah Raja Alavi pernah ditangkap Yakkha ini dan kemudian dilepaskan setelah sang Raja berjanji bahwa Ia akan membawakan korban manusia dan makanan 1 mangkuk makanan setiap hari. Pada awalnya, korban manusia di ambil dari para kriminal, setelah para kriminal habis, Raja meminta penduduk untuk mengirimkan anaknya. Para penduduk, ketika pada giliran mereka daripada menyerahkan anaknya, mereka kabur dari kerajaan. Selama 12 tahun keadaan tersebut berlangsung dan anak yang tersisa adalah anak sang Raja alavi yaitu Hatthaka. Ketika raja mengetahui ini, ia perintahkan anak itu di siapkan dengan segala kemegahan dan dibawa kehadapan Sang Yakkha. Sang Buddha dengan mata belaskasihnya melihat apa yang akan terjadi dan menuju ke kediaman sang Yakkha. Demikian reka konstruksi kejadian menurut kitab komentar, namun konstruksi kejadian versi kitab komentar ini justru kental nuansa hoaxnya karena:

      1. 2 Sutta di atas, tidak memuat informasi mengenai Yakkha alavaka gemar kurban manusia. Jika ancaman kepada sang buddha dianggap pemicu ide bahwa yakkha itu buas dan gemar memangsa manusia, maka yakkha suciloma yang tinggal di gaya (15 Yojana (105 Km) dari benares) juga menyampaikan ancaman serupa, namun tidak terdapat kisah "bombastis" sebagai reka konstruksi kejadian pertemuan sang Buddha dan Yakkha suciloma.
      2. Jika reka konstruksi itu benar, maka bagaimana mungkin Kota terdekat lainnya (misalnya benares (jaraknya 12 Yojana atau 84 Km), tidak resah atas kejadian menghebohkan ini selama 12 tahun? kebuasan Yakkha itu tidak dikenali oleh Yakkha lainnya? atau kisah ini mampu dipendam selama 12 tahun, seolah-olah sama sekali tidak ada sanak saudara lain di kota-kota lainnya?
      3. 4320 orang telah menjadi korban selama 12 tahun (360 hari x 12). Bagaimana mungkin tempat ini pantas disebut sebuah kerajaan jika jumlah anak di lingkungan kerajaaan itu kurang dari 4320 orang (Setelah di potong para kriminal)! Ketika 1 orang calon korban kabur di bawa ibunya (dan keluarga), maka seharusnya akan ada yang menggantikan, si pengganti akan tau kenapa saat itu tiba-tiba berubah menjadi gilirannya dan ini akan menjadi pemicu yang berakibat dalam 1 harian itu (atau beberapa hari) terjadi pindahan masal penduduk ke luar kota (di setelah pengumuman raja ataupun di saat kejadian)! Bagaimana mungkin pindahan ini tidak menghebohkan kota-kota terdekat lainnya dan malah tetap terpendam selama 12 tahun?
      4. Bagaimana mungkin, perlu waktu 12 tahun lamanya bagi seorang Buddha untuk terbesit rasa belas kasihnya? Belas kasihnya itupun baru muncul ketika anak raja alavi yang akan jadi korbannya. Padahal di kisah lain dalam kitab komentar, misalnya ketika beliau belum mencapai pencerahan, Sidartha Gautama, bahkan menggendong anak kambing yang tidak bisa berjalan? maka bagaimana mungkin perlu waktu 12 tahun bagi seorang Buddha untuk baru tergugah?

      Demikianlah kira-kira, mengapa kitab-kitab komentar abad ke-5 Masehi karya Buddhaghosa, tidak dapat dianggap serius ketika menuliskan banyak rekontruksi, karena beberapa kejadian rekontruksi bukan berdasarkan sutta namun rekayasa sang pengarang belaka.

      Kumbhāṇḍa
      Kumbhāṇḍa merupakan bentuk dialektika untuk kata "Labu", penamaan mereka mungkin karena menyerupai labu, misalnya memiliki perut yang besar. Namun kumbhāṇḍa dapat di diartikan sebagai kantung telur (bentuk sopan dari testis), kumbhāṇḍa digambarkan sebagai mahluk yang memiliki testis yang besar.

      Para kumbhāṇḍa berada di bawah kekuasaan Virūḷhaka, Penguasa arah selatan.

      nāga
      Naga dalam Buddhism umumnya berbentuk Kobra besar, biasanya kepalanya satu, namun terkadang banyak. Beberapa nāga mempunyai kemampuan mengubah bentuknya menjadi Manusia. Satu nāga, yang kecewa hidup tidak sebagai manusia, Ia kemudian mengubah bentuknya menjadi manusia dan memohon pentahbisan menjadi Bhikkhu. Ketika hidup bersama mereka, Bhikkhu jadi-jadian ini tertidur dan bentuknya kembali seperti semula yaitu sebagai Naga dan badanya memenuhi seantero vihara, ketika seorang bhikkhu melihatnya ia kemudian ketakutan. Para bhikkhu bertanya kepada sang naga, siapa dan apa tujuannya. Sang naga menyatakan jati dirinya dan menyampaikan tujuan menjadi Bhikkhu. Para bhikkhu bertanya pada sang Buddha dan sang Buddha mengatakan naga ini tidak dapat maju dalam dhamma dan vinaya sehingga tidak dapat menjalani kehidupan brahmacariya (menjadi Bhikkhu, karena ia berubah bentuk kembali ketika ia jatuh tertidur atau ketika sedang terangsang), Sang Naga kemudian disarankan melakukan atthasila/Uposatha[↓] agar dapat terlahir sebagai manusia dan menjadi bhikkhu saat itu. [Mahavagga I.63]. Pendapat komentator kemudian berkembang bahwa para naga tidak akan dapat mencapai kesucian, pendapat ini jelas tidak sesuai dengan mahasamaya sutta, karena di sutta itu disebutkan bahwa naga hadir dipertemuan dan juga mereka mengalami keadaan bebas dari pengaruh cengkraman Mara.

      Para Naga di bawah kekuasaan Virūpakkha, penguasa area Barat. Diantara naga yang disebutkan dalam tradisi Buddhist adalah Mucalinda, sang pelindung Buddha.

      Garuda atau Garula (Supanna)
      Kisah di Jataka (Kanon pali Jataka hanya berisi syair. Kisah yang menyelimuti syair tidak termasuk kanon pali dan baru ada mulai di abad ke-3 SM) menyampaikan banyak informasi mengenai Garuda, diantaranya Garuda merupakan burung mitos yang biasanya di barengkan dengan Nāga (misal, J.iv.181, 202). Mereka hidup di area hutan yang sedikit pepohonan di Simbali (misal, J.i.202) dan biasanya memiliki tubuh yang besar kurang lebih 150 leagues dari sayap ke sayap (J.iii.397). Kepakan sayapnya dapat mendatangkan badai, yang dikenal dengan pusaran Garuda (J.v.77). Pusaran ini dapat menjadikan satu kota dalam kegelapan dan menerbangkan rumah (J.iii.188).

      Garuda cukup kuat untuk mengkut seluruh pohon beringin mencabut dari akarnya (J.vi.177). Garuda merupakan musuh abadi para Naga (J.ii.13; iii.103) dan tinggal di tempat seperti pulau Seruma (J.iii.187), di mana banyak naga yang juga tinggal di sana. Kebahagian para naga adalah apabila bebas dari serangan para Garuda (J.iv.463). Bulu Garuda begitu tebalnya hingga manusia bisa bersembunyi diantaranya tanpa diketahui contoh, Natakuvera (J.iii.91). Kadang Garuda memakai bentuk manusia; Dua raja Garuda dikatakan sedang bermain dadu dengan para raja2 di Benares dan kemudian mejadi jatuh cinta dengan ratu2 mereka, yang mereka bawa ke kota para Garuda – yaitu Sussondī (J.iii.187) dan Kākātī (J.iii.91). di setiap kisahnya, ratu2 itu, diketemukan tidak setia pada Garuda, dan dikembalikan kepada suaminya. Garuda mengetahui mantra ālambāyana, yang mana tidak satu nagapun dapat melawannya (J.vi.178, 184). Di kisahkan pada suatu masa yang telah lama, suatu ketika Garuda-garuda tidak mengetahui bagaimana menangkap Nāga dengan efektif; Garuda menangkap Nāga yang baru saja menelan batu2 besar menjadi terlalu berat diangkat keudara; akhirnya Garuda menjadi mati kecapaian. Kemudian Garuda belajar rahasia ini dengan menghianati seorang petapa Karambiya, (Pandara Jātaka (J.vi.175f)).

      Garuda kadang2 dikisahkan hidup dalam kebajikan, berpuasa dan mengikuti perintah dan larangan. Misalnya Raja Garuda dalam Pandara Jātaka, dan lainnya, Anak dari Vināta, yang berkunjung ke taman milik Dhanañjaya Koravya dan memberikan karangan bunga keemasan setelah mendengarkan ceramah dari Vidhura pandita (J.vi.261f).

      Satu dari 5 pengawal Sakka adalah Garuda untuk melindungi Tāvatimsa dari Asura (J.i.204).

      Bodhisatta (J.iii.187) dan Sāriputta (J.iii.400) keduanya, pada kesempatan berbeda pernah terlahir sebagai Raja Garuda. Simbalī adalah sebuah pohon yang sangat khusus di dunia Garuda (Vsm.i.206). Garuda juga disebut sebagai Supanna (Suvannas, VvA.9).

    4. Alam Manussa
      Semua Buddha (Sammasambuddha dan Pacekka Buddha) harus terlahir sebagai manusia namun untuk menjadi arahat dan mahluk suci lainnya tidak perlu harus terlahir sebagai manusia.

      Alam Manusia berada di antara dua ekstrim keadaan perasaan yaitu Bahagia dan menderita. Alam Deva ke atas adalah alam Bahagia, sedangkan Alam Binatang kebawah adalah Alam menderita. Sang Buddha menyampaikan sebuah perumpamaan betapa sulitnya terlahir di alam binatang dalam MN 129/Balapandita sutta [dan SN 56.47-48/Chigala Sutta]:

        “Para bhikkhu, Aku dapat menjelaskan dalam banyak cara tentang alam binatang. Begitu banyak sehingga sulit menyelesaikan penjelasan terhadap penderitaan di alam binatang.

        “Misalkan seseorang melemparkan sebuah gandar berlubang satu ke laut, dan angin timur meniupnya ke barat, dan angin barat meniupnya ke timur, dan angin utara meniupnya ke selatan, dan angin selatan meniupnya ke utara. Misalkan ada seekor kura-kura buta yang muncul ke permukaan setiap satu abad sekali. Bagaimana menurutmu, Para bhikkhu? Dapatkah kura-kura buta itu memasukkan lehernya ke dalam gandar berlubang satu itu?”

        “Dapat, Yang Mulia, pada suatu saat atau diakhir suatu masa yang lama.”

        “Para bhikkhu, kura-kura buta itu dapat memasukkan lehernya ke dalam gandar berlubang satu itu lebih cepat daripada seorang dungu, yang begitu terlahir di alam sengsara, dapat memperoleh kondisi manusianya kembali, Aku katakan.

        Mengapakah?

        Karena tidak ada praktik Dhamma di sana, tidak ada praktik kebenaran, tidak melakukan apa yang bermanfaat, tidak ada pelaksanaan kebajikan. Di sana hanya ada saling memangsa, dan pembantaian pada yang lemah.

      Bumi dan Manusia-Manusia Pertama
      Menurut DN.27/Aggañña Sutta, Manusia di awal Maha kappa ini berasal dari para dewa yang wafat dari alam Ābhāssara.

        ‘Akan tiba waktunya, Vāseṭṭha, cepat atau lambat setelah rentang waktu yang panjang, ketika dunia ini menyusut/penghancuran [samvattati]. Pada saat penyusutan/penghancuran, sebagian besar [Yebhuyyena] makhluk terlahir di alam Brahmā Ābhassara. Dan di sana mereka berdiam, dengan ciptaan-pikiran [Mano mayo], dengan kegembiraan [Piti], bukan merupakan bagian dari vedana, namun keadaan pencerapan dalam kondisi Jhana] sebagai penunjang, mereka hidup demikian selama waktu yang sangat lama. Akan tiba saatnya, cepat atau lambat setelah rentang waktu yang panjang, ketika dunia ini mulai mengembang [vivattati].

        Pada saat mengembang ini, makhluk-makhluk dari alam Brahmā Ābhassara, setelah meninggal dunia dari sana, sebagian besar terlahir kembali di alam ini. Dan di sana ia berdiam, dengan ciptaan-pikiran, dengan kegembiraan sebagai penunjang/makanan, bercahaya, melayang diantara batasan [antalikkha -> sankrit: antar/diantara + īkṣa/tampak/batasan], agung – dan mereka hidup demikian selama waktu yang sangat lama.’

        Pada waktu itu, Ekodakībhūtaṃ[21], Vassettha (dan Bharadvadja), diselimuti kegelapan, kegelapan yang membutakan, tidak ada bulan dan tidak ada matahari yang muncul, tidak ada bintang, siang dan malam tidak dapat dibedakan, tidak juga bulan dan minggu, tidak juga tahun atau musim, dan tidak ada laki-laki dan perempuan, makhluk-makhluk hanya dikenal sebagai makhluk-makhluk.

        Vasettha, cepat atau lambat setelah suatu masa yang lama sekali bagi mahluk-mahluk tersebut, tanah dengan sarinya muncul keluar dari dalam air. Sama seperti bentuk-bentuk buih (busa) di permukaan nasi susu masak yang mendingin, demikianlah munculnya tanah itu. Tanah itu memiliki warna, bau dan rasa. Sama seperti dadi susu atau mentega murni, demikianlah warna tanah itu; sama seperti madu tawon murni, demikianlah manis tanah itu.

        Kemudian Vasettha, di antara mahluk-mahluk yang memiliki sifat serakah (lolajatiko) berkata : 'O apakah ini? Dan mencicipi sari tanah itu dengan jarinya. Dengan mencicipinya, maka ia diliputi oleh sari itu, dan nafsu keinginan masuk dalam dirinya Mahluk-mahluk lainnya mengikuti contoh perbuatannya, mencicipi sari tanah itu dengan jari-jari .....mahluk-mahluk itu mulai makan sari tanah, memecahkan gumpalan-gumpalan sari tanah tersebut dengan tangan mereka. Dan akibat dari perbuatan ini adalah cahaya tubuh mereka lenyap. Dan sebagai akibat dari lenyapnya cahaya tubuh mereka, bulan dan matahari muncul, malam dan siang dapat dibedakan, bulan dan minggu muncul, dan tahun dan musim. Sampai sejauh itu, dunia berevolusi.’

        Vasettha, selanjutnya mahluk-mahluk itu menikmati sari tanah, memakannya, hidup dengannya, dan berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali. Berdasarkan atas takaran yang mereka makan itu, maka tubuh mereka menjadi padat, dan terwujudlah berbagai macam bentuk tubuh. Sebagian mahluk memiliki bentuk tubuh yang indah dan sebagian mahluk memiliki tubuh yang buruk. Dan karena keadaan ini, mereka yang memiliki bentuk tubuh yang indah memandang rendah mereka yang memiliki bentuk tubuh yang buruk ..... maka sari tanah itupun lenyap ..... ketika sari tanah lenyap .....muncullah tumbuhan dari tanah (bhumipappatiko).

        Cara tumbuhnya seperti cendawan ..... Mereka menikmati, mendapatkan makanan, hidup dengan tumbuhan yang muncul dari tanah tersebut, dan hal ini berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali ..... (seperti di atas). Sementara mereka bangga akan keindahan diri mereka, mereka menjadi sombong dan congkak, maka tumbuhan yang muncul dari tanah itu pun lenyap.

        Selanjutnya tumbuhan menjalar (badalata) muncul ..... warnanya seperti dadi susu atau mentega murni, manisnya seperti madu tawon murni .....Mereka menikmati, mendapatkan makanan dan hidup dengan tumbuhan menjalar itu ..... maka tubuh mereka menjadi lebih padat; dan perbedaan bentuk tubuh mereka nampak lebih jelas; sebagian nampak indah dan sebagian nampak buruk.

        Dan karena keadaan ini, maka mereka yang memiliki bentuk tubuh indah memandang rendah mereka yang memiliki bentuk tubuh buruk ..... Sementara mereka bangga akan keindahan tubuh mereka sehingga menjadi sombong dan congkak, maka tumbuhan menjalar itu pun lenyap.

        Kemudian, Vasettha, ketika tumbuhan menjalar lenyap ..... muncullah tumbuhan padi (sali) yang masak di alam terbuka, tanpa dedak dan sekam, harum, dengan bulir-bulir yang bersih. Pada sore hari mereka mengumpulkan dan membawanya untuk makan malam, pada keesokkan paginya padi itu telah tumbuh dan masak kembali. Bila pada pagi hari mereka mengumpulkan dan membawanya untuk makan siang, maka pada sore hari padi tersebut telah tumbuh dan masak kembali, demikian terus menerus padi itu muncul.

        Vasettha, selanjutnya mahluk-mahluk itu menikmati padi (masak) dari alam terbuka, mendapatkan makanan dan hidup dengan tumbuhan padi tersebut, dan hal ini berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali. Berdasarkan atas takaran yang mereka nikmati dan makan itu, maka tubuh mereka tumbuh lebih padat, dan perbedaan bentuk mereka nampak lebih jelas. Bagi wanita nampak jelas kewanitaannya (itthilinga) dan bagi laki-laki nampak jelas kelaki-lakiannya (purisalinga).

        Kemudian wanita sangat memperhatikan tentang keadaan laki-laki, dan laki-laki pun sangat memperhatikan keadaan wanita. Karena mereka saling memperhatikan keadaan diri satu sama lain terlalu banyak, maka timbullah nafsu indriya yang membakar tubuh mereka. Dan sebagai akibat adanya nafsu indriya tersebut, mereka melakukan hubungan kelamin.

        Vasettha, ketika mahluk-mahluk lain melihat mereka melakukan hubungan kelamin Mereka yang melihat perbuatan itu melemparkan debu, abu, atau kotoran sapi kepada mereka, meneriakkan: “Matilah, engkau binatang kotor! Bagaimana mungkin seseorang melakukan hal demikian terhadap orang lain!” seperti di masa kini, ketika seorang menantu perempuan di bawa keluar, beberapa orang melemparkan kotoran padanya, beberapa melemparkan abu, dan beberapa melemparkan kotoran-sapi, tanpa menyadari bahwa mereka mengulangi perilaku masa lampau. Apa yang dianggap bentuk yang buruk di masa itu, sekarang dianggap bentuk yang baik[↑].

      Penggunaan kata MANUSIA muncul di setelah terbentuknya kelamin dan setelah ada persetubuhan diantara mereka dan saat itu telah muncul pula mahluk-mahluk di Alam Binatang.

      Gelar dan arti 4 Warna/Kasta
      Agganna Sutta memberikan informasi asal mula penyebutan gelar dan juga arti 4 Warna (pekerjaan) yang kemudian di bengkokan menjadi 4 penggolongan manusia (Kasta)

        Kemudian di waktu yang lama setelahnya mereka mereka memutuskan untuk memilih satu diantara mereka yang paling tampan, paling menarik, paling menyenangkan dan mampu, dan memintanya untuk menegakan aturan dan melaksanakannya dan sebagai imbalan mereka memberikan kepadanya sebagian beras mereka.

        • “Pilihan penduduk” adalah arti dari Mahā-Sammata, yang merupakan gelar pertama yang diperkenalkan.
        • “Tuan tanah” adalah arti dari Khattiya, gelar ke dua. Dan
        • “Ia menggembirakan orang lain dengan Dhamma” adalah arti dari Rājā, gelar ke tiga yang diperkenalkan

        Inilah asal-usul dari kasta Khattiya, sesuai dengan gelar masa lampau yang diperkenalkan untuk menyebut mereka. Mereka berasal dari makhluk-makhluk yang sama, seperti kita juga, tidak ada perbedaan, dan sesuai dengan Dhamma, bukan sebaliknya.

        Kemudian beberapa makhluk ini berpikir: “Hal-hal jahat telah muncul di tengah-tengah para makhluk, seperti mengambil apa yang tidak diberikan, dan mencela, dan berbohong, hukuman, dan pengusiran. Kita harus menyingkirkan hal-hal jahat dan tidak bermanfaat.” Dan mereka melakukan hal itu. “Mereka menyingkirkan hal-hal jahat dan tidak bermanfaat” adalah arti dari Brāhmaṇa, yang merupakan gelar pertama yang diperkenalkan untuk orang-orang demikian.

        Mereka mendirikan gubuk-gubuk daun di tempat-tempat di dalam hutan dan bermeditasi di dalamnya. Dengan api dipadamkan, dengan penumbuk padi disingkirkan, mengumpulkan makanan untuk makan pagi dan malam mereka, mereka pergi ke desa, kota, atau ibu kota untuk mencari makanan, dan kemudian kembali ke gubuk daun mereka untuk bermeditasi. Orang-orang melihat hal ini dan memerhatikan bagaimana mereka bermeditasi. “Mereka bermeditasi” adalah arti dari Jhāyaka, yang adalah gelar ke dua yang diperkenalkan.’

        ‘Akan tetapi, beberapa makhluk, tidak mampu bermeditasi di gubuk daun, mereka bertempat tinggal di dekat desa dan kota dan menyusun buku. Orang-orang melihat mereka melihat hal ini dan tidak bermeditasi. “Sekarang orang-orang ini tidak bermeditasi” adalah arti dari Ajjhāyaka, yang adalah gelar ke tiga yang diperkenalkan. Pada masa itu, ini dianggap sebutan yang rendah, tetapi sekarang sebutan ini menjadi lebih tinggi. Inilah kemudian, yang menjadi asal-usul dari kasta Brāhmaṇa, sesuai dengan gelar masa lampau yang diperkenalkan..

        ‘Dan kemudian, beberapa dari makhluk-makhluk itu, setelah berpasangan, melakukan berbagai jenis perdagangan, dan kata “Berbagai” ini adalah arti dari Vessa, yang menjadi gelar biasa bagi orang-orang demikian. Inilah kemudian, yang menjadi asal-usul dari kasta Vessa..

        Dan kemudian, makhluk-makhluk itu yang tetap melakukan perburuan. “Mereka yang rendah yang hidup dari perburuan”, dan ini adalah arti dari Sudda, yang menjadi gelar biasa bagi orang-orang demikian. Inilah kemudian, yang menjadi asal-usul dari kasta Sudda

        ‘Dan kemudian, beberapa Khattiya tidak puas dengan Dhamma-nya sendiri, meninggalkan kehidupan rumah tangga untuk menjalani kehidupan tanpa rumah, berpikir: “Aku akan menjadi seorang petapa.” Dan seorang Brāhmaṇa melakukan hal yang sama, seorang Vessa juga melakukan hal yang sama, dan juga seorang Sudda. Dari empat kasta ini, muncullah kasta petapa.

        Mereka berasal dari makhluk-makhluk yang sama seperti mereka, tidak ada perbedaan, dan sesuai dengan Dhamma, bukan sebaliknya.

    5. Tiryagyoni-loka atau Tiracchāna-yoni – merupakan alam para binatang yang berkemampuan merasakan hal yang menyenangkan dan menyakitkan, namun mereka dilanda perasaan menyakitkan lebih banyak daripada menyenangkan yang dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu: tak berkaki, berkaki 2, 4 dan banyak.

      Bagaimana dengan tumbuhan? Apakah Mahluk hidup yang mempunyai kesadaran?

      Dalam Sutta Nipata, SNP 3.9/Vasettha Sutta dan MN 98/Vasettha Sutta, Sang Buddha berkata pada Vasettha sebagai berikut:

      "Akan kujelaskan kepadamu - ragam tingkatan (anupubbaṃ yathātathaṃ) – klasifikasi keberadaan kehidupan (Jātivibhaṅgaṃ pāṇānaṃ) karena satu sama lainnya punya kekhususan (aññamaññā hi jātiyo)."

      “perhatikanlah pohon dan rumput (Tiṇa-rukkhepi jānātha), tidak mempunyai kesadaran (na cāpi paṭijānare), bermacam karasteristik kemunculan/kelahiran (Liṅgaṃ jāti-mayaṃ tesaṃ) karena satu sama lainnya punya kekhususan (aññamaññā hi jātiyo)"

      "Berikutnya serangga, bersayap dan (Tato kīṭe paṭaṅge ca) seterusnya semacam semutrayap (yāva kunthakipillike), bermacam karasteristik kemunculan/kelahiran (Liṅgaṃ jāti-mayaṃ tesaṃ) karena satu sama lainnya punya kekhususan (aññamaññā hi jātiyo)"

      Kemudian ketahuilah jenis-jenis binatang kaki empat baik kecil maupun besar..
      Ketahuilah binatang-binatang yang perutnya adalah kakinya, Yaitu, kelompok ular berbadan panjang..
      Ketahui juga ikan-ikan yang berdiam di air, Habitatnya adalah alam cair..
      Berikutnya ketahuilah burung-burung yang mengepakkan sayapnya, Ketika terbang di angkasa raya.."
      "Di antara manusia......"


      Dalam Vasettha Sutta, tumbuhan adalah bentuk kehidupan ["pāṇā", kehidupan, nafas, bentuk kehidupan/living thing] dan tidak memiliki kesadaran.

      Satta/Sattva atau pancakhanda atau namarupa adalah mahluk hidup/sentient beings karena mereka memiliki kesadaran. Sesuatu yang bukan termasuk satta karena tidak memiliki kesadaran maka ketika mati, tidak terlahir kembali. Kelompok pana dan satta ada yang berespirasi ada yang tidak

      Apa beda Satta dan Pana?
      Bedanya adalah apakah ia mempunyai kesadaran atau tidaknya. Dalam Buddhism, kesadaran didefinisikan berkaitan erat dengan kemunculan perasaan, persepsi, bentukan pikiran dan material tertentu [MN 18/Madhupiṇḍikasutta]

      Kemudian,
      Perasaan, persepsi dan kesadaran, kondisi ini tergabung, bukan terpisah (vedanā yā ca saññā yañca viññāṇaṃ – ime dhammā saṃsaṭṭhā, no visaṃsaṭṭhā), tidak dapat memisahkan kondisi-kondisi ini satu sama lainnya untuk menggambarkan perbedaan antaranya (Na ca labbhā imesaṃ dhammānaṃ vinibbhujitvā vinibbhujitvā nānākaraṇaṃ paññāpetuṃ), karena yang dirasakan, itu yang dipersepsikannya; yang dipersepsikan, itu yang dikenalinya (vedeti taṃ sañjānāti, yaṃ sañjānāti taṃ vijānāti) [MN.43/Mahāvedalla Sutta]

      Persepsi dan perasaan menyertai pikiran, kondisi ini terikat dengan pikiran (Saññā ca vedanā ca cetasikā ete dhammā cittapaṭibaddhā),itulah mengapa persepsi dan perasaan adalah bentukan pikiran (Tasmā saññā ca vedanā ca cittasaṅkhāroti) [MN.44/Cūḷavedalla Sutta].

      Tumbuhan tidak mempunyai kesadaran, perasaan, persepsi dan juga bentukan pikiran maka tidak dapat digolongkan sebagai pancakhanda.

      Sehingga,
      Mahluk hidup (sentinent being)/satta disebut pancakhanda karena memiliki: NAMA (kesadaran + perasaan + persepsi + bentukan pikiran) dan RUPA (padat/landasan; rekat/cair/cairan; tekanan/getar/gerak; umur/habis/panas/gelombang partikel + turunannya).

      Sementara tumbuhan tidak memiliki kesadaran (NAMA) dan hanya mempunyai RUPA (padat/landasan; rekat/cair/cairan; tekanan/getar/gerak; umur/habis/panas/gelombang partikel + turunannya) [Lihat juga: Uraian mengenai tumbuhan]

      Kemudian,
      Penelitian modern yang mengatakan bahwa tumbuhan dapat berkomunikasi terhadap sesamanya adalah tidak benar, karena testing gelombang suara tersebut merupakan pergerakan cairan kimiawi melalui pembuluh, penghantar (tanah) atau daun, bunga dan batang yang beberapa diantaranya berfungsi sebagai mekanisme pertahanan diri (DI SINI, DI SINI dan DI SINI).

    6. Alam Peta – Lokasinya juga di Kamaloka, yang merupakan keadaan mental menyakitkan. Keberadaan mereka dalam kitab-kitab budhism, yaitu di area padang pasir, buangan air dan banyak tempat lainnya. Penderitaan beberapa dari mereka dikatakan susah mendapatkan makanan atau minuman, beberapa dinyatakan menemukan makanan/minuman tapi tidak bisa memakannya dan lain sebagainya sehingga mereka selalu kelaparan kepanasan dan kedinginan baik dimusim panas maupun dingin.

      Beberapa Peta yang di sebutkan di Buddhism misalnya PETA 4 (Petavatthu-Atthakatha, oleh Dhammapala; Abad ke-6 Masehi) menyampaikan sebagai berikut: Paradattupajivika-Peta: Mahluk halus yang memelihara hidupnya dengan memakan makanan yang disuguhkan orang dalam upacara sembahyang; Khupapipasika-Peta: Mahluk halus yang selalu lapar dan haus; Nijjhamatanhika-Peta: Mahluk halus yang selalu kepanasan; dan Kalakancika-Peta: Mahluk halus yang sejenis Asura. Hanya Paradattupajivika-Peta saja yang dapat menerima makanan yang diberikan orang dalam upacara sembahyang serta kiriman jasa dari keluarga. Para Bodhisattva, jika terlahir menjadi mahluk halus, akan menjadi Paradattupajivika-Peta, dan tidak akan menjadi mahluk halus/peta yang lain.

      Namun dalam AN 10.177/Janussonin sutta, dinyatakan bahwa diantara alam Peta yang dapat menerima persembahan (akibat dari perbuatan baiknya dahulu) yaitu hanya alam Peta yang kelaparan saja. Dalam sutta-suta lainnya (Brahmadeva,nandamata,tirokudda sutta. Persembahan itu hanya dapat diterima jika di sampaikan kepada yang dapat memanfaatkan/mahluk yang tampak dan kemudian disampaikan mereka juga mempunyai andil dalam jasa kebajikan ini (lihat: Pattidana[↓])

      PETA 12 (terdapat dalam Kitab Gambhilokapannatti, dikompilasi/disusun di Burma setelah abad ke-11 Masehi. Nama lainnya adalah Traibhumikatha oleh penguasa Sukhothaim Lu'Tai (1347 M- 1374 M)) diantaranya, yaitu: Vantasa-Peta: Mahluk halus yang makan air ludah, dahak dan muntah; Kunapasa-Peta: Mahluk halus yang makan mayat manusia dan binatang; Guthakhadaka-Peta: Mahluk halus yang makan berbagai kotoran; Aggijalamukha-Peta: Mahluk halus yang dimulutnya selalu ada api; Sucimuja-Peta: Mahluk halus yang mulutnya sekecil lobang jarum; Tanhattika-Peta: Mahluk halus yang dikendalikan oleh napsu keinginan rendah sehingga lapar dan haus; Sunijjhamaka-Peta: Mahluk halus yang berbulu hitam seperti arang; Suttanga-Peta: Mahluk halus yang mempunyai kuku tangan kaki yang panjang dan tajam seperti pisau; Pabbatanga-Peta: Mahluk halus yang bertubuh setinggi gunung; Ajagaranga-Peta: Mahluk halus yang bertubuh seperti ular; Vemanika-Peta: Mahluk halus yang menderita pada waktu siang, dan senang pada waktu malam dalam kahyangan; Mahidadhika-Peta: Mahluk halus yang mempunyai ilmu gaib.

      PETA 21 (Vinaya Pitaka dalam vinnivatthu, bagian dari suttavibhanga (lihat vol.1 cetakan Des 2006, hal.237 - 253 dan Lakkhanasamyutta):

      1. Attisankhasika-Peta: Mahluk halus yang mempunyai tulang bersambungan, tetapi tidak mempunyai daging.
      2. Mansapesika-Peta: Mahluk halus yang mempunyai daging terpecah-pecah, tetapi tidak mempunyai tulang.
      3. Mansapinada-Peta: Mahluk halus yang mempunyai daging berkeping-keping.
      4. Nicachaviparisa-Peta: Mahluk halus yang tidak mempunyai kulit.
      5. Asiloma-Peta: Mahluk halus yang berbulu tajam.
      6. Sattiloma-Peta: Mahluk halus yang berbulu seperti tombak.
      7. Usuloma-Peta: Mahluk halus yang berbulu panjang seperti anak panah.
      8. Suciloma-Peta: Mahluk halus yang berbulu seperti jarum.
      9. Dutiyasuciloma-Peta: Mahluk halus yang berbulu seperti jarum kedua (lebih tajam).
      10. Kumabhanda-Peta: Mahluk halus yang mempunyai kemaluan sangat besar.
      11. Guthakupanimugga-Peta : Mahluk halus yang bergelimangan dengan tinja.
      12. Guthakhadaka-Peta: Mahluk halus yang tangannya sendiri memasukan tinja kemulutnya.
      13. Nicachavitaka-Peta: Mahluk halus perempuan yang tidak mempunyai kulit.
      14. Dugagandha-Peta: Mahluk halus yang baunya sangat busuk.
      15. Ogilini-Peta: Mahluk halus yang badannya seperti bara api.
      16. Asisa-Peta: Mahluk halus yang tidak mempunyai kepala.
      17. Bhikkhu dan Bhikkhuni Peta: Mahluk halus yang berbadan seperti bhikkhu dan Bhikhuni
      18. Samanera dan Samaneri Peta: Mahluk halus yang berbadan seperti samanera dan samaneri

    7. NIRAYA
    8. Niraya (nir-aya "tanpa/tak dapat: kegembiraan/ keuntungan/pergi" atau "menuju kehancuran/remuk" atau nir-raya "Tidak: mengalir/longgar") adalah kondisi mental/keadaan ketakutan ekstrim dan/atau ketidakberdayaan mengalami perasaan menyakitkan luarbiasa. Neraka/Niraya ajaran Trah India (Buddhis, Hinduism, Jainsm, dll) berbeda dengan ajaran trah Abrahamic. Neraka Buddhism TIDAK ABADI dan BUKAN hasil penilaian mahluk ADI DAYA tertentu untuk menerima hukuman. Dalam "Buddhist philosophy: a historical analysis Oleh David J. Kalupahana, hal.66:

        "Penelitian yang cermat tentang konsep-konsep surga dan neraka, deva-deva dan mahluk-mahluk halus jahat, mengungkapkan bahwa mereka diterima dalam Buddhisme sebagai ide regulatif atau konsep semata. Fakta bahwa mereka hanyalah teori-teori berdasarkan spekulasi disampaikan dengan baik dalam suatu pernyataan Sang Buddha. Untuk seorang Brahman yang bertanya pada Buddha, apakah ada dewa, Jawabannya, "Tidaklah demikian". Ketika ditanya apakah tidak ada dewa, jawaban Buddha adalah sama, "Tidaklah demikian"" Dan akhirnya untuk Brahman yang kebingungan dengan jawaban-jawaban ini, Sang Buddha berkata, "Alam, O Brahma, adalah kental dalam kesepakatan bahwa dewa-dewa ada" (ucce sammatam Etam kho Brahmana lokasmin yadidam atthi devati)[MN 2.213]. Sikap yang sama dari sang Buddha berkaitan dengan konsep neraka. Dalam Samyutta Nikaya [S 4,206 & TD2.119c] Neraka di representasikan dalam ucapan yang hanya manusia biasa tidak terdidik (assutava puthujjano) yang percaya bahwa ada Neraka di bawah Lautan yang luas. Menurut Padangan Buddha, neraka [Niraya] adalah nama lain dari perasaan yang tidak menyenangkan (dukkha vedana)."

      Dalam 2 sutta di bawah ini, Sang Buddha, memberikan perumpamaan-perumpamaan kejadian untuk menggambarkan betapa menyakitkan dan beratnya yang melanda mereka di neraka, yaitu: MN.129/Balapandita-sutta dan MN.130/Devaduta-sutta.

      Di MN.130, syair no.2:

        2. “Para bhikkhu, misalkan terdapat dua rumah berpintu dan seseorang yang berpenglihatan baik berdiri di antara kedua rumah itu melihat orang-orang masuk dan keluar dan berlalu-lalang. Demikian pula, dengan mata dewa, yang murni dan melampaui manusia, Aku melihat makhluk-makhluk meninggal dunia dan muncul kembali, hina dan mulia, cantik dan buruk rupa, kaya dan miskin. Aku memahami bagaimana makhluk-makhluk berlanjut sesuai dengan perbuatan mereka: ‘Makhluk-makhluk ini, yang berperilaku baik dalam jasmani, ucapan, dan pikiran, bukan pencela para mulia, berpandangan benar, memberikan dampak pandangan benar dalam perbuatan mereka, bersamaan hancurnya tubuh setelah kematian terlahir di keadaan bahagia di alam Deva. Atau Makhluk-makhluk mulia ini, yang berperilaku baik dalam jasmani, ucapan, dan pikiran, bukan pencela para mulia, berpandangan benar, memberikan dampak pandangan benar dalam perbuatan mereka, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, telah muncul kembali di alam manusia. Tetapi makhluk-makhluk ini yang berperilaku buruk dalam jasmani, ucapan, dan pikiran, pencela para mulia, keliru dalam pandangan, memberikan dampak pandangan salah dalam perbuatan mereka, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, telah muncul kembali di alam hantu. Atau makhluk-makhluk ini yang berperilaku buruk … ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, telah muncul kembali di alam binatang. Atau makhluk-makhluk ini yang berperilaku buruk … bersamaan hancurnya tubuh setelah kematian terlahir di keadaan sengsara/merugi menderita menuju kehancuran bahkan neraka.’

      Beliau, menyatakan bahwa apa yang beliau pahami dan lihat ini bukanlah sebagai sesuatu yang beliau dengar dari petapa atau brahmana lain melainkan sebagai sesuatu yang diketahui, dilihat, dan ditemukan oleh beliau sendiri [MN.130, sloka ke-29].

      Di MN. 129 disampaikan tiga karakteristik dari seorang dungu ini, tanda-tanda seorang dungu, sifat-sifat seorang dungu, yaitu seorang yang memikirkan pikiran-pikiran buruk, mengucapkan kata-kata buruk, dan melakukan perbuatan-perbuatan buruk.

        3. “Seorang dungu merasakan kesakitan dan kesedihan di sini dan asat ini dalam tiga cara. Jika seorang dungu duduk dalam suatu pertemuan atau berada di jalan atau di suatu lapangan dan orang-orang di sana sedang mendiskusikan persoalan-persoalan yang berhubungan dan berkaitan, maka, jika si dungu itu adalah seorang yang membunuh makhluk-makhluk hidup, mengambil apa yang tidak diberikan, berperilaku salah dalan kenikmatan indria, mengucapkan kebohongan, meminum anggur, minuman keras, dan minuman memabukkan, yang menjadi dasar bagi kelengahan, ia berpikir: “Orang-orang ini sedang mendiskusikan persoalan-persoalan yang berhubungan dan berkaitan; hal-hal ini terdapat dalam diriku, dan aku terlihat sedang melakukan hal-hal tersebut.’ Ini adalah jenis pertama kesakitan dan kesedihan yang dirasakan oleh seorang dungu di sini dan saat ini.

        4. “Kemudian, seorang penjahat perampok tertangkap, seorang dungu menyaksikan raja-raja menjatuhkan berbagai jenis hukuman padanya: setelah menderanya dengan cambukan, memukulnya dengan rotan, memukulnya dengan pemukul; setelah memotong tangannya, memotong kakinya, memotong tangan dan kakinya; memotong telinganya, memotong hidungnya, memotong telinga dan hidungnya; dikenai siksaan ‘panci bubur,’ ‘bentuk kulit kerang yang halus,’ ‘mulut Rāhu,’ ‘lingkaran api,’ ‘ tangan menyala,’ ‘helai rumput,’ ‘pakaian kulit kayu,’ ‘kijang,’ ‘kail daging,’ ‘kepingan uang,’ ‘cairan asin,’ ‘tusukan berporos’, ‘gulungan jerami’; dan mereka disiram dengan minyak mendidih, danm mereka dibuang agar dimangsa oleh anjing-anjing, dan mereka dalam keadaan hidup ditusuk dengan kayu pancang, dan kepalanya dipenggal dengan pedang. Kemudian si dungu berpikir: ‘Karena perbuatan-perbuatan jahat demikian, ketika seorang penjahat perampok tertangkap, raja-raja menjatuhkan berbagai jenis hukuman padanya: mereka menderanya dengan cambukan ... dan memenggal kepalanya dengan pedang. hal-hal ini terdapat dalam diriku, dan aku terlihat sedang melakukan hal-hal tersebut.’ Ini adalah jenis ke dua kesakitan dan kesedihan yang dirasakan oleh seorang dungu di sini dan saat ini.

        5. “Kemudian, ketika seorang dungu sedang berada di atas kursinya atau di atas ranjangnya atau sedang beristirahat di atas tanah, kemudian perbuatan-perbuatan jahat yang ia lakukan di masa lalu – perilaku salah secara jasmani, ucapan dan pikiran – meliputinya, menyelimutinya, dan membungkusnya. Bagaikan bayangan sebuah puncak gunung besar di malam hari meliputi, menyelimuti, dan membungkus bumi ini, demikian pula, ketika seorang dungu sedang berada di atas kursinya atau di atas ranjangnya atau sedang beristirahat di atas tanah, kemudian perbuatan-perbuatan jahat yang ia lakukan di masa lalu – perilaku salah secara jasmani, ucapan dan pikiran – meliputinya, menyelimutinya, dan membungkusnya. Kemudian si dungu berpikir: ‘Aku tidak pernah melakukan apa yang baik, aku tidak pernah melakukan apa yang bermanfaat, aku tidak pernah menjadikan diriku sebagai perlindungan dari penderitaan. Aku telah melakukan apa yang buruk, aku telah melakukan apa yang kejam, aku telah melakukan apa yang jahat.’ Ia berdukacita, sedih, dan meratap, ia menangis dengan memukul dadanya dan menjadi putus-asa. Ini adalah jenis ke tiga kesakitan dan kesedihan yang dirasakan oleh seorang dungu di sini dan saat ini.

        6. “Seorang dungu yang telah menyerahkan diri kepada perilaku salah dalam jasmani, ucapan, dan pikiran, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, akan muncul kembali dalam kondisi kesengsaraan, di alam tujuan kelahiran yang tidak bahagia, bahkan di neraka.

        7. “Jika dengan benar mengatakan tentang sesuatu: ‘Sungguh tidak diharapkan, sungguh tidak diinginkan, sungguh tidak menyenangkan,’ adalah tentang neraka yang, dengan benar dikatakan ini, sedemikian sehingga sulit menemukan perumpamaan bagi penderitaan di neraka.[..]”

      Kemudian di MN.129 yaitu sloka ke 8 s/d 17, telah disampaikan sekurangnya dengan 3 (tiga) perumpamaan penjelasan.

        [..]Ketika hal ini dikatakan, seorang bhikkhu bertanya kepada Sang Bhagavā: “Tetapi, Yang Mulia, dapatkah suatu perumpamaan diberikan?

        8. “Dapat, Bhikkhu” Sang Bhagavā berkata. “Para bhikkhu, misalkan beberapa orang menangkap seorang penjahat perampok dan membawanya ke hadapan raja, dengan berkata: ‘Baginda, ini adalah seorang penjahat perampok. Perintahkanlah hukuman apapun yang engkau inginkan atas dirinya.’ Kemudian raja berkata: ‘Pergilah dan tusuk orang ini di pagi hari dengan seratus tombak.’ Dan mereka menusuknya di pagi hari dengan seratus tombak. Kemudian di siang hari raja bertanya: ‘Bagaimana orang itu?’ – ‘Baginda, ia masih hidup.’ Kemudian ia berkata: ‘Pergilah dan tusuk orang ini di siang hari dengan seratus tombak.’ Dan mereka menusuknya di siang hari dengan seratus tombak. Kemudian di malam hari raja bertanya: ‘Bagaimana orang itu?’ – ‘Baginda, ia masih hidup.’ Kemudian ia berkata: ‘Pergilah dan tusuk orang ini di malam hari dengan seratus tombak.’ Dan mereka menusuknya di malam hari dengan seratus tombak. Bagaimana menurut kalian, para bhikkhu? Apakah orang itu mengalami kesakitan dan kesedihan karena ditusuk dengan tiga ratus tombak?”

        “Yang Mulia, orang itu akan mengalami kesakitan dan kesedihan karena ditusuk bahkan hanya dengan satu tombak, apa lagi tiga ratus.”

        9. Kemudian, dengan mengambil sebutir batu berukuran sekepalan tanganNya, Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Bagaimana menurut kalian, para bhikkhu? Manakah yang lebih besar, batu kecil yang kuambil ini, yang berukuran sekepalan tanganKu, atau Himalaya, raja pegunungan?”

        “Yang Mulia, batu kecil yang telah Sang Bhagavā ambil itu, yang berukuran sekepalan tangan Beliau, tidak berarti dibandingkan Himalaya, raja pegunungan; bahkan tidak ada sebagian kecilnya, tidak dapat dibandingkan.”

        “Demikian pula, para bhikkhu, kesakitan dan kesedihan yang orang itu alami karena ditusuk dengan tiga ratus tombak adalah tidak berarti dibandingkan penderitaan neraka; bahkan tidak ada sebagian kecilnya, tidak dapat dibandingkan.

        10. “Kemudian para penjaga neraka menyiksanya dengan lima tusukan.[..]

      Perumpamaan ke-3, yaitu ttg di neraka berikut penjaga neraka disampaikan di MN 129 sloka 10-16.

      Setelah memberikan 3 (tiga) buah perumpamaan, Sang Buddha memberikan pengertian bahwa perumpamaan yang telah disampaikan beliau belumlah menjelaskan bagaimana PENDERITAAN yang sesungguhnya terjadi di alam NERAKA, sebagaimana beliau sampaikan di sloka ke-17,

        17. “Para bhikkhu, Aku dapat menjelaskan dalam banyak cara tentang neraka. Begitu banyak sehingga sulit menyelesaikan penjelasan terhadap penderitaan di neraka.

      Untuk itu,
      Perumpamaan tentang Penjahat yang ditangkap dan diserahkan di hadapan raja untuk menerima hukuman dan juga tindakan para penjaga di MN.129 sloka ke 8 s.d sloka ke-16 di ulangi penyampaiannya di MN.130 sloka ke-8 s/d seloka ke-10 berupa kepercayaan populer masyarakat saat itu yaitu raja neraka Yama dan para pengawalnya serta disampaikan bahwa perasaan yang sangat menyakitkan tidaklah terjadi jika memahami bahwa di kehidupannya mereka telah bertemu 5 Duta Deva, yaitu: kelahiran (1), tua (2), sakit (3), pelaku kejahatan mengalami siksaan di kehidupannya saat itu (4) dan Kematian (5).

      Demikian pula dengan perumpamaan MN.129 sloka ke-10 s.d sloka ke-16 tentang Penjaga neraka dan siksaan yang dirasakan, di ulangi penyampaiannya di MN.130 sloka ke-9 s.d sloka ke-27, dengan variasi perumpamaan agar makin mendekati kejadian sesungguhnya bahwa PENDERITAAN di NERAKA adalah SANGAT BERAT. "Daftar nama" dari Niraya/neraka di Buddhisme:

      • SN 6.7-10, AN 10.89 dan SuttaNipata 3.10 sehubungan dengan bikkhu Kokalika: Abbuda, Nirabbuda, Ababa, Atata, Ahaha, Kumuda, Sogandhika, Uppalaka, Pundarīka, Paduma (lihat juga Dvy. 67). J.v.266, 271; nama listnya sama dengan di Dvy.67, kecuali Neraka Raurava di ganti dengan Neraka Jalaroruva dan Mahāraurava di ganti dengan Dhūmaroruva.

      • Dalam MN.50/Māratajjanīya Sutta, YM Maha Moggallana menyampaikan ada tiga sebutan bagi Neraka Besar: (1) neraka enam landasan kontak indriya, (2) neraka tusukan tombak, dan (3) neraka yang dirasakan untuk diri sendiri.

      • Devadūta Sutta (MN.130): Gūtha, Kukkula, Simbalivana, Asipattavana, dan Khārodakanadī. Nama lainnya secara acak (misal Khuradhāra (J.v.269), Kākola (J.vi.247), Sataporisa (J.v.269), dan Sattisūla (J.v.143).

      • Dari kisah yang membungkus syair-syair di Jātaka: Sañjīva, Kālasutta, Sanghāta, Jālaroruva, Dhūmaroruva, Mahāvīci, Tapana, Patāpana.

      • Kitab komentar [misal. AA.ii.853], menyatakan bahwa neraka ini BUKAN neraka dengan tempat terpisah dengan atau dari neraka Avici, namun lamanya waktu keberadaan mahluk di alam itu yang berbeda-beda.

      Pada abad-abad selanjutnya mulai abad ke-1 SM dan setelah masehi, perumpamaan-perumpamaan yang disampaikan sang buddha untuk menggambarkan beratnya penyiksaan, TIDAK LAGI dianggap perumpamaan malah berkembang bervariasi berupa nama dan juga bentukan fisik dengan pembagian-pembagian neraka-neraka seperti misalnya:

      • Neraka Panas: Sanjiva (hidup lagi), Kalasuta (benang hitam), Sanghata (neraka penghancur), Roruva (daerah tertarus), Maha roruva (daerah tartarus yang besar), Tapana (pembakar), Pratāpana (pembakaran yang hebat), Avici (tanpa henti, merasakan perasaan menyakitkan tanpa henti).

      • Neraka dingin: yang konon lamanya waktu (bukan dari sutta) adalah seperti mengosongkan se-drum biji Wijen yang tiap 100 tahun di ambil 1 biji. Makin ke bawah maka lamanya 2 x sebelumnya, yaitu: Aruba, Nirarbuda, Atata, Hahava (Apapa), Huhuva (Hahadhara), Utpala (Nilotpala), Padma dan Mahapadma. Juga terdapat Neraka Tambahan / Neraka sampingan dan Lokantarika (Neraka terpencil, SA.ii.442f.; DhsA.297f, Lokasi neraka ini ada di gunung, hutan, angkasa atau di atas bumi dan sebagainya yang muncul karena perbuatan masing-masing yang mengakibatkannya demikian. Neraka-neraka ini tidak seperti 8 neraka panas dan 8 neraka dingin yang mempunyai tempat tertentu.)

      LAMA WAKTU di NIRAYA
      Dalam kokkalika sutta [misal: AN, Sn, SN] disampaikan perumpamaan untuk menghitung panjangnya waktu di neraka Paduma:

        "[..]Yang Mulia, berapa lama waktu kehidupan di neraka Paduma?

        Bhikkhu, Umur kehidupan di Neraka Paduma adalah panjang, Bhikkhu, tidaklah mudah menghitungnya dan menyebutkannya dalam tahun, atau ratusan tahun, atau ribuan tahun, atau ratusan ribu tahun.

        Yang mulia, apakah dapat diberikan perumpamaan?

        Mungkin, Bhikkhu.

        1. Misalkan, Bhikkhu, terdapat satu kereta dari Kosala berukuran dua puluh yang penuh dengan biji wijen. Di akhir setiap seratus tahun, seseorang akan mengambil sebutir dari sana. Kereta dari Kosala berukuran dua puluh yang penuh dengan biji wijen itu kosong lebih cepat daripada satu Neraka Abbuda dilalui;
        2. 20 Neraka Abbuda = dengan 1 Neraka Nirabbuda;
        3. 20 Neraka Nirabbuda = dengan 1 Neraka Ababa;
        4. 20 Neraka Ababa = dengan 1 Neraka Atata;
        5. 20 Neraka Atata = dengan 1 Neraka Ahaha;
        6. 20 Neraka Ahaha = dengan 1 Neraka Kumuda;
        7. 20 Neraka Kumuda = dengan 1 Neraka Soghandika;
        8. 20 Neraka Soghandika = dengan 1 Neraka Uppalaka;
        9. 20 Neraka Uppalaka = dengan 1 Neraka Pundarika; dan
        10. 20 Neraka Pundarika = dengan 1 Neraka Paduma.[..]"

        Ukuran Kaum Kosala, dari Pattha ke atas, 4x dari yg digunakakan di Magadha: 20 khaari = 1 khaarika, atau 1 gerobak/kereka dari biji wijen.

        Dimana,
        1 biji gandum/wijen (Yavodara, barley corn) = 1/6 Inch (0.166667 Inch)
        1 Angula = 8 x Yavodara (semacam biji gandum = 1.333333 Inch)
        1 Hasta = 4 x 6 Angula [= 32 Inch]

        1 Magadha Karika = 1 cubic Hasta = [32 inci]3= 32768 inci3

        Perhitungan jumlah wijennya saya ambil dari sini atau di sini:

        1 sendok makan (besar) = 2865 wijen/gandum
        1 sendok makan = 1/16 cangkir/mangkok
        1 cangkir/mangkok = 45840 wijen/gandum
        1 cangkir/mangkok = 14,4375 inci3
        1 Inci3 = 3175 biji wijen/gandum

        1 Magadha karika = 32768 x 3175 wijen = 104,038,400 wijen/gandum
        1 abbuda niraya = Setiap seratus tahun 1 wijen dari 1 Magadha karika dibuang,

        Lamanya waktu di abbuda niraya = 104,038,400 wijen/gandum x 100 tahun = 10.403.840.000 tahun

        Paduma niraya = 20 x [Abbuda] x 20 [nirabbuda] x 20 [ababa] x 20 [Atata] x 20 [ahaha] x 20 [kumuda] x 20 [sogandika] x 20 [Uppalaka] x 20 [Pundarika]

        Lamanya waktu di Paduma niraya = 209 x [10.403.840.000] = 5.327 x 1021 tahun

      AVICI
      avici (a-vīci "bersambungan atau tidak terputus"). Jika memperhatikan penggunaan kata "avici" dalam sutta dan kitab komentar:

      • kata "Avici" yang berhubungan dengan neraka (Avīcinirayaṃ) ada di sutta (Itivuttaka no.89) dan vinaya (Culavagga 7.3), yaitu sehubungan dengan Devadatta yang mengalami neraka selama 1 Kappa. Baik di Itivutakka, culavagga maupun kokalika Sutta di atas, TIDAK ADA yang menyebutkan berapa lama 1 Kappa NERAKA AVICI yang dimaksud. Namun kitab-kitab komentar memberikan perkiraan hitungan 1 Maha Kappa:

        1. menurut umur keadaan di neraka Avici: 1 Maha Kappa = 4 x 20 antara kappa [umur kehidupan di neraka avici] = 80 antara kappa [Terasakandaa tika, Subkomentar dari Vinaya].
        2. menurut perubahan umur manusia: 1 MK = 4 x 64 antara kappa [umur kehidupan di alam manusia di umur 84.000 tahun - turun menjadi 10 tahun - naik menjadi 84.000 tahun] = 256 antara kappa [Visuddhimagga Mahà-Tikà, Abhidhammàttha-vibhàvani Tika]. Diantara 256 antara kappa, hanya 64 antara kappa saja terdapat kehidupan manusia.[RAPB buku ke-1, hal.363].

        Sehingga, hubungan antara kappa neraka avici vs alam manusia: 1 antara kappa neraka avici = 256/80 = 3.2 antara kappa alam manusia.

        Detail lanjutan perhitungan lamanya 1 Maha Kappa dalam berbagai variasi hitungan silakan lihat di: Menunggangi Samsara: "Aku yang Mulai..Aku yang Mengakhiri.."

      • kata "Avici" yang TIDAK berhubungan dengan neraka ada di DN.26/Cakkavati Sihanada Sutta, "jarak antar desa dan kota hanya sejauh jarak terbang ayam antara satu sama lainnya. Jambudīpa ini seperti Avīci [avīci maññe], ramai oleh manusia bagaikan hutan belantara yang dipenuhi tanaman merambat dan semak belukar." (juga di AN 3.56, "avīci maññe").

      Maka maksud dari neraka "avici" BUKANLAH nama atau jenis neraka lainnya, namun keadaan menyakitkan yang terjadi adalah bersambungan dan tak putus serta Ia tidak dapat mati saat menjalani itu, selama akibat dari perbuatan jahatnya belum habis. Keadaan ini adalah sebagaimana kejadian pada perumpamaan yang diberikan sang Buddha di MN.130 syair 9 s.d 27.
[Kembali (↑)]
---------------

Tumimbal Lahir di Samsara: PancaKhanda dan NamaRupa

Di Semesta vertikal dan Horisontal (triliunan tatasurya/semesta horisontal, mencakup di dalamnya: alam Brahma, Deva, manusia, Binatang, Mahluk halus dan Neraka) ini, semua mahluk terlahir/terbentuk dan Hancur/mati berulang-ulang tak berkesudahan.

Tumimbal lahir adalah kemunculan suatu mahluk hidup di alam kehidupan yang sama atau berbeda.

Arus kesadaran itu tidaklah terputus [tanpa jeda], Sang Buddha menyampaikannya seperti ini,

"[..]arus kesadaran manusia yang tidak terputus yang ada di alam ini maupun di alam berikutnya" ["Purisassa ca viññāṇasotaṃ pajānāti, ubhayato abbocchinnaṃ idha loke appatiṭṭhitañca paraloke appatiṭṭhitañca", DN 28, Sampasādanīya Sutta].

Sutta di atas, menegaskan TIDAK BENAR ada alam Bardo (ANTARABHAVA: Jeda waktu antar kelahiran kembali atau keadaan antara setelah meninggal sebelum MENJADI MAHLUK lainnya. di mana, lamanya waktu dalam keadaan antara/waktu tunggu menurut Mahāvibhāṣa/150 Masehi dan Abhidharmakośa/abad ke-5 Masehi adalah hingga "tujuh x tujuh hari" = 49 hari).

Bardo/antarabhava BERBEDA MAKSUD dengan antarāparinibbāyī.

Jika Bardo berbicara kondisi antara hendak menjadi mahluk, sedangkan antarapariibayyi berbicara kondisi antara para mahluk anagami di alam suddhāvāsa (Sudha: menjadi bersih dari, Avasa: kekotoran batin) ketika hendak menjadi padam sepenuhnya.

Kemudian,
Definisi tidak terputusnya arus kesadaran TIDAK DAPAT DIARTIKAN bahwa, "kesadaran yang sama ini yang berlanjut dan mengembara di sepanjang lingkaran kelahiran".

Buddhisme TIDAK MENGAJARKAN seperti itu.

Yang diajarkan Buddhisme adalah spt ini: "Kesadaran itu muncul bergantungan, jika tanpa suatu kondisi, maka tidak ada asal-mula kesadaran." [MN 38, Mahātaṇhāsankhaya Sutta]

Skemanya kurang lebih seperti ini:
Dengan 6 Indriya [mata, telinga,.., pikiran] dan objeknya [bentukan, suara,.., ingatan/persepsi] sebagai kondisi, muncul kesadaran [mata, telinga,.., pikiran]. Pertemuan ketiganya disebut Kontak. -> [juga dapat seperti ini: "MentalMateri mengondisikan kesadaran dan kesadaran mengondisikan MentalMateri, MentalMateri mengondisikan kontak" [DN 15/Mahānidāna Sutta];

Dengan kontak sebagai kondisi, muncul perasaan [vedana];
-> [perasaan itu ada 3: Dukkha, Sukkha, a-dukkham a-sukkam; atau dengan kata lain: SUKACITA [somanassaṭṭhāniyaṁ], DUKACITA [domanassaṭṭhāniyaṁ], NETRAL [upekkhaṭṭhāniyaṁ]; ato kata lain lagi: menyenangkan [manāpaṃ], tidak menyenangkan [amanāpaṃ], menyenangkan dan tidak menyenangkan [manāpāmanāpaṃ] -> masing-masing dari 3 perasaan dibagi menjadi 2 lagi yaitu perasaan: "tertentu" dan "yang lain" (MN.70/Kīṭāgiri Sutta] maksudnya: perasaan-perasan yang menambah kusala = "yang lain"; yang menambah akusala = "tertentu". Jika muncul perasaan-perasan jenis "yang lain" ->‘Masuk dan berdiamlah dalam perasaan itu', jika muncul perasaan jenis "tertentu" -> ‘Tinggalkan perasaan itu']

Apa yang dirasakan, itulah yang dikenali [sañjānāti];
Apa yang dikenali, itulah yang dipikirkan [vitakketi];
Apa yang dipikirkan, itulah yang dikembangbiakkan [papañceti] pikiran;
Dengan apa yang dikembangbiakkan dipikirannya sebagai: sumber, persepsi dan gagasan [papañca-saññā-saṅkhā], melanda seseorang melalui objek-objek [bentukan, suara,..] masa: lalu, sekarang dan depan yang dikenali 6 Indriya [mata, telinga,..]. [MN 18/Madhupiṇḍikasutta]

Menjelang kematian, ketika jantung berhenti, masih ada selisih sekitar 7 menit sebelum mati otak karena kekurangan oksigen. karena tidak ada aliran darah, maka maka tidak ada sinyal syaraf dari/ke Indriya. Dari 6 Indria, 5 Indria tidak berfungsi (mata, telinga, penciuman, pencicipan dan rabaan) namun Indria pikiran masih berfugsi, objeknya adalah Ingatan. Ingatan tersebut berisi rekanan perasaan (Menyenangkan, menyakitkan, bukan keduanya) dan PERSEPSI dari PERBUATAN-PERBUATAN yang: BARU DILAKUKAN, PERNAH DILAKUKAN dan/atau TERBIASA DILAKUKAN melalui pikiran, ucapan, perbuatan.

Pertemuan antara INDERA PIKIRAN dan OBJEKNYA (Ingatan, perasaan dan Persespi) memunculkan KESADARAN. Keadaan ini disebut CUTI CITTA (Kesadaran kematian atau momont pikiran menjelang kematian). Pertemuan ini SANGAT DERAS karena tidak ada HAMBATAN LAGI dari 5 INDRIYA LAINNYA.

Ketiganya (Indera+Objek+Kesadaran) disebut KONTAK.

Dengan munculnya kesadaran (viññāṇa) maka muncul pula mentalmateri [namarupa]. Dengan lenyapnya kesadaran (viññāṇa) maka lenyap pula mentalmateri [namarupa, nama: vedana/perasaan, saññā/persepsi, cetana/kehendak, phassa/kontak, manosikaro/bentuk pikiran dan rupa: catumahabhuta dan turunannya]. [MN.9 Sammādiṭṭhi Sutta]

Kontak memunculkan perasaan. Apa yang dirasakan itu yang dikenali, apa yang dikenali itu yang dipikirkan, apa yang dipikiran, itulah yang dikembangbiakkan pikiran melalui objek2nya (tentang masa lalu, masa sekarang dan/atau asa depan) yang dikenali oleh Indriya

PERASAAN dan PERSEPSI terikat dengan PIKIRAN/CITTA, maka terjadi BENTUKAN-BENTUKAN PIKIRAN (Citta/Mano Sankhara). Akan ada satu yang DOMINAN yang memuncukan KEINGINAN [Untuk Menjadi/Tidak ingin menjadi sesuatu] karena ada keinginan maka ada kemelekatan dan inilah yang memunculkan namarupa (vedana, saññā, cetana, phassa, manosikaro dan rupa).

Kesadaran yang tidak tercantum dalam uraian namarupa di atas ada di mana? Ada di kontak. Inilah yang menjadi landasan kesadaran.

Sang Buddha menyatakan ini pada Ananda, "Kesadaran mengondisikan MentalMateri.” ...jika kesadaran, Ananda [Viññāṇañca hi, ānanda] di dalam rahim ibu [mātukucchismiṃ] tidak muncul berbaur [na okkamissatha], akankah MentalMateri di rahim ibu berkembang?’ ‘Tidak, Bhagavā.’ ‘Atau jika kesadaran, Ananda [Viññāṇañca hi, ānanda] di dalam rahim ibu, setelah muncul [okkamitvā] gagal terbaur [vokkamissatha], akankah MentalMateri dilahirkan dalam kehidupan ini?’ ‘Tidak Bhagavā.’ ‘Dan jika kesadaran, Ananda dari makhluk muda tersebut, laki-laki atau perempuan, dipotong, akankah MentalMateri tumbuh, berkembang dan dewasa?’ ‘Tidak, Bhagavā.’ [DN 15/Mahānidānasutta sutta]
    [..]Sang Buddha/petapa Asita Devala:
    Tuan-tuan, tahukah kalian bagaimana kehamilan terjadi [gabbhassa avakkanti]?’

    7 Brahmana:
    “’Tuan, kami mengetahui bagaimana kehamilan terjadi. Di sini, penyatuan ibu dan ayah, dan ibu sedang dalam masa subur, dan gandhabba hadir. Demikianlah kehamilan terjadi terjadi melalui perpaduan ketiga hal ini.’

    Sang Buddha/petapa Asita Devala:
    “Kalau begitu, Tuan-tuan, apakah kalian mengetahui dengan pasti apakah gandhabba itu seorang mulia, atau seorang brahmana, atau seorang pedagang, atau seorang pekerja?’

    7 Brahmana:
    “Tuan, kami tidak mengetahui dengan pasti apakah gandhabba itu seorang mulia, atau seorang brahmana, atau seorang pedagang, atau seorang pekerja.’

    Sang Buddha/petapa Asita Devala:
    “’Kalau begitu, Tuan-tuan, jadi siapakah kalian?’

    7 Brahmana:
    “’Kalau begitu, Tuan, kami tidak mengetahui siapa kami ini.’[MN 93/assalayana sutta]
Di sutta lainnya sang Buddha memberikan penegasan:
“Tiga hal, Para bhikkhu, perpaduan kehamilan terjadi [sannipātā gabbhassāvakkanti]. Di sini, ada perpaduan ibu dan ayah, tetapi bukan musim kesuburan ibu, dan tidak ada kehadiran gandhabba - dalam kasus ini Kehamilan tidak terjadi.

Di sini, ada perpaduan ibu dan ayah, dan musim kesuburan ibu, tetapi tidak ada kehadiran gandhabba - dalam kasus ini Kehamilan tidak terjadi.

Tetapi jika ada perpaduan ibu dan ayah, dan musim kesuburan ibu, dan ada kehadiran gandhabba, melalui perpaduan ketiga hal ini maka kehamilan janin terjadi.[MN 38/Mahātaṇhāsankhaya Sutta]

Jadi,
sekarang kita ketahui pasti bahwa ada 2 proses berlainan pada kelahiran [misal: melalui kandungan] yaitu:
  1. Proses kesadaran itu sendiri merupakan 1 hal.
  2. Proses awal terbentuknya janin dalam kandungan merupakan hal lain lagi.
yang kemudian menyatu

Terdapat statement di kitab komentar [> abad ke 5 masehi] yang menyatakan tentang patisandhi [penyambungan kembali, penyambung, penyambungan kesadaran] seperti ini:
    "Kelahiran adalah kemunculan/penjelmaan di waktu kemudian (patisandhiti ayatim uppatti), penerusan kemunculan kehidupan baru dari kehidupan lama (bhavantara patisandhanato patisandhiti vuccati). Penggabungan satu kehidupan dan kehidupan lainnya (bhavato bhavassa patisandhanam patisandhi kiccam)".
Statement abad ke-5 ini 100% keliru. Kenapa?

kemunculan KEHIDUPAN BARU JUSTRU terjadi akibat kemunculan kesadaran. Kemunculan kesadaran terjadi akibat dari adanya kondisi dan BUKAN sebagai penyambungan namarupa lama dan baru dan juga BUKAN karena kesadarannya yang berpindah.

Demikianlah mahluk itu kemudian disebut.

Kemunculan ini [tumimbal lahir] BERBEDA MAKSUD dan ARTI dengan konsep Reinkarnasi.

Reinkarnasi sebenarnya berasal dari terminologi Nasrani [latin: in carne] yang berasal dari bahasa yunani [en sarki, artinya "menjadi daging", Penggunaannya di AL KITAB yaitu pada 1 Tim 3:16; Yehezkiel 37:1-14; Yohanes 3:3-12]. Reinkarnasi dalam Hinduism, merujuk adanya terminologi jiwa yang kekal yang setelah mati, meninggalkan badan lama dan mencari badan yang baru.

Konsep reinkarnasi adalah bukan konsep Buddhism.

Note:
Detail lebih lanjut silakan buka: From Hero To Zero: Pengakuan Sain, Agama Langit dan Bumi terhadap Kelahiran Kembali/Reinkarnasi!


LIMA KHANDHA
Dalam Agama Buddha, SEMUA mahluk [termasuk manusia] adalah gabungan dari PancaKhanda[SN.22.56 Parivatta Sutta juga di DN.33 sanghiti Sutta, [Panca = lima + khanda = kumpulan, gugus, faktor/unsur pembentuk; agregat, kelompok (kehidupan)]. Makhluk, orang atau "aku" merupakan sebutan [pe-nama-an] dari definisi Pañcakkhandhā dan juga merupakan dukkha (sankharadukkha). Pañcakkhandhā (citta dan cetasika), terdiri dari :

Citta:
  1. Viññāṇakkhandho, Pertemuan antara Indriya dan objel-objeknya memunculkan kesadaran. ketiganya (Indriya+objek+Kesadaran) disebut kontak/Phassa. Viññāṇa-ṭṭhitiyo [viññāṇa = kesadaran, semangat, gelora + ṭṭhitiyo = stages of sentient beings], kesadaran ini berlandaskan pada 4 (empat)[DN.33, sanghiti Sutta]:

    1. Materi [rupayam] sebagai objek, atau
    2. Vedanā [vedanupayam], atau
    3. Saññā [sannupayam], atau
    4. Saṅkhāra [sankharupayam]
Cetasika:
"vedanā yā ca saññā yañca viññāṇaṃ – ime dhammā saṃsaṭṭhā, no visaṃsaṭṭhā". (Perasaan, persepsi dan kesadaran, kondisi ini tergabung, bukan terpisah). "Na ca labbhā imesaṃ dhammānaṃ vinibbhujitvā vinibbhujitvā nānākaraṇaṃ paññāpetuṃ (tidak dapat memisahkan kondisi-kondisi ini satu sama lainnya untuk menggambarkan perbedaan antaranya). vedeti taṃ sañjānāti, yaṃ sañjānāti taṃ vijānāti. (Karena yang dirasakan, itu yang dipersepsikannya; yang dipersepsikan, itu yang dikenalinya)" [MN.43/Mahāvedalla Sutta]

Saññā ca vedanā ca cetasikā ete dhammā cittapaṭibaddhā (Persepsi dan perasaan menyertai pikiran, kondisi ini terikat dengan pikiran). Tasmā saññā ca vedanā ca cittasaṅkhāroti (Itulah mengapa persepsi dan perasaan adalah bentukan pikiran)[MN.44/Cūḷavedalla Sutta]
  1. (a) Vedanākkhandho, (Vedanā = perasaan, sensasi), yang muncul sebagai reaksi kontak, berupa menyenangkan, menyakitkan dan bukan keduanya (dalam bentuk masa lalu, sekarang dan masa depan)

  2. (b) Saññākkhandho, (Saññā = Perekaman, pengertian, kesadaran, pencerapan, persepsi, pengenalan, penyadaran; konsepsi, ide, gagasan, pikiran, tanda, isyarat, kesan, ingatan) yang muncul bersamaan dengan perasaan).

  3. Saṅkhārakkhandho: semua yang berkondisi; aniccā vata saṅkhārā; atau niat, sañcetanā, abhisaṅkhara, kamma, sebagai faktor kedua dalam dua belas mata rantai paṭicca-samuppāda; faktor penggerak; pendorong; kekuatan (gaya); faktor pembentuk. Sehingga Saṅkhāra, adalah: cetanā (niat, pikiran, tujuan, kehendak), phasso (kontak, sentuhan) dan manasikāro (perhatian, pemikiran)

  4. (f) Rūpakkhandho, "Cattāri ca mahābhūtāni catunnañca mahābhūtānaṃ upādāya", catu maha bhuta/Elemen. Catu mahaBhuta ini merupakan no-upada [tidak dapat diuraikan lagi], yaitu:

    1. Elemen/keadaan Padat/landasan/penyokong [Pathavi dhatu], yang memberikan sifat kaku atau mempertahankan posisi;
    2. elemen/keadaan cair/rekatan (Apo-Dhatu) yang bersifat memberi rekatan;
    3. elemen Gerak/Getar/tekanan (Vayo-Dhatu) yang bersifat memelihara
    4. elemen umur/habis/gelombang partikel/temperatur (panas/dingin) / energi (Tejo-Dhatu), yang bersifat menggelembungkan

    "Empat unsur dasar ini merupakan elemen materi fundamental yang hadir bersama dan tidak terpisahkan. Setiap substansi, apakah itu Pathavi, Apo, Tejo ato Vayo dalam kisaran kecil ato sangat besar terbuat dari empat elemen ini yang memiliki karekteristik spesifik" [Abhidhamma ch.6]

    Hubungan kondisi dari empat unsur dasar satu sama lainnya adalah: Unsur Pathavi bertindak seperti dasar/penyokong dari unsur Apo, Tejo dan Vayo; Unsur Apo bertindak seperti perekat bagi tiga unsur dasar lainnya; Unsur Tejo bertindak seperti memelihara/menegakan tiga unsur lainnya. Unsur Vayu bertindak seperti penggelembungan dari tiga unsur lainnya. [Visudhi magga XI, 109]

    Terdapat lagi istilah yaitu "upada", yaitu turunan dan/atau dikatakan tidak dapat berdiri sendiri atau tergantung pada CATUMAHABHUTA. Sehingga terkadang disebutkan bukan cuma 4 elemen/dhatu namun:

    • 5 elemen (Akasa = Ruang, area kosong/hampa antar/batas yang memisahkan objek dan grup/gugus fenomena materi,[..]" [Bodhi, Bhikkhu, A Comprehensive Manual of Abhidhamma, p. 241] dan juga lihat penggunaan akasa di DN 33, MN 140 SN 27.9) atau
    • 6 elemen (viññāṇa, yang menghasilkan rasa nyaman, tidak nyaman & netral) atau
    • 10 elemen [sense/indera: 5 objek dan 5 pisik] atau 23 [Dhammasangani. 596], atau bahkan
    • hingga 24 [Visuddhimagga XIV, 36 ff]

    Sammaditthi Sutta sloka ke 54, "Empat unsur utama dan bentuk materi yang diturunkan adalah dari empat unsur utama" [lihat detail di sini]

    Menurut kamus tidak lengkap pali disebutkan:
    upādā adv. bergantung pada sesuatu; bukan asli, turunan, wujud sekunder (dari rūpa).
    upādāya adv. berdasarkan atas, dibandingkan dengan, dengan mengacu pada, menurut, demi, selaras dengan; karena, disebabkan oleh; bergantung pada, dengan melekat pada, dengan berpegangan pada; turunan, wujud sekunder (dari rūpa).

    Berbicara tentang A-RUPA,
    rupa kerap diterjemahkan "form" (inggris) dan kata "form" diterjemahkan sebagai "bentuk" (Indonesia), sehingga a-rupa diartikan tanpa bentuk. Penterjemahan ini kurang tepat, karena rupa adalah elemen/keadaan/materi mahabhuta (dan turunannya) maka seharusnya diterjemahkan: Tidak-catumahabhuta atau tanpa materi. Kemudian, Catumahabhua adalah no-upada dan terdapat upada (turunan-turunan) dari no-upada, misal akasa (ruang antara elemen), maka A-RUPA = A-catumahabhuta (dan turunannya).

    Termasuk juga kelompok Rupa-khanda adalah turunan atau variasi empat mahabhuta yaitu mencakup organ-organ indera (pasada-rupa) beserta objek-objeknya (arammana) misalnya

    • bentuk dan warna sebagai objek penglihatan oleh mata;
    • bunyi dan suara sebagai objek pendengaran telinga;
    • bau-bauan sebagai objek penciuman oleh indera penghidu;
    • cita rasa sebagai objek pengecapan oleh lidah;
    • benda-benda dengan berbagai variasi bentuk, temperatur, permukaan kasar atau licin, keras atau lembut, sebagai objek perabaan oleh indera peraba; dan
    • objek- objek mental seperti pikiran, ingatan, konsep dan ide-ide sebagai objek pemikiran oleh indera mental kita.

    Jadi Rupa-khanda mencakup obyek-obyek di dalam maupun luar diri kita beserta indera-indera yang dapat berkontak dengannya.
Menurut Buddhism, manusia merupakan bauran lima khandha sehingga tidak ada suatu atma/anatta/roh yang kekal abadi dan/atau sebagai inti mahluk hidup. Lebih lanjut mengenai tidak adanya roh/jiwa silakan baca: di sini, di sini dan di sini.

[Kembali (↑)]
---------------

Horizontal: tri-sahasra-mahasahasra-dhatu (Tiga lipat semesta dari Ribuan Tata Surya)

Menurut Buddhism, system galaxy triliunan jumlahnya, AN 3.80/culanika sutta:
    “Bhante, di hadapan Sang Bhagavā aku mendengar ini; di hadapan Beliau aku mempelajari ini: ‘Abhibhū, seorang siswa Sang Bhagavā Sikhī, sewaktu sedang menetap di alam brahmā, menyampaikan suaranya ke seribu sistem dunia (sahas­siloka­dhātuṃ).’ Berapa jauhkah, Bhante, Sang Bhagavā, Sang Arahant, Yang Tercerahkan Sempurna, dapat menyampaikan suaraNya?”

    “Ia adalah seorang siswa, Ānanda. Para Tathāgata adalah tidak terukur (appameyyā)

    ...Ananda, sejauh matahari dan rembulan meliputi dengan cahaya ke segala arah sejauh seribu dunia. Dalam seribu dunia terdapat seribu rembulan, seribu matahari, seribu raja pegunungan Sineru, seribu Jambudīpa, seribu Aparagoyāna, seribu Uttarakuru, seribu Pubbavideha, dan seribu empat samudra raya (alam asura); seribu empat raja dewa, seribu para deva yang dipimpin oleh empat raja dewa, seribu Tāvatiṃsa, seribu Yāma, seribu Tusita, seribu para deva yang bersenang-senang dalam penciptaan, seribu para deva yang mengendalikan ciptaan para deva lain, seribu alam brahmā. Inilah Ananda yang disebut seribu dunia kecil (sahassī cūḷanikā lokadhātu)

    Ananda, seribu kali sahassi culanika lokadhatu dinamakan "dvisahassī majjhimikā lokadhātu".

    Ananda, seribu kali Dvisahassi majjhimanika lokadhatu dinamakan "tisahassī mahāsahassī lokadhātu".

    Ananda, bilamana Sang Tathagata mau, maka ia dapat menyampaikan suara-Nya (saranena) hingga di Tisahassi mahasahassi lokadhatu
    [AN 3.81]

    Note:
    1. Dvisahassi Majjhimanika lokadhatu adalah 1000 x 1000 = 1.000.000 tata surya. Sedangkan dalam Tisahassi Mahasahassi lokadhatu: 1.000.000 x 1000 = 1.000.000.000 tata surya dan tidak terbatas pada sejumlah itu saja namun masih melampauinya lagi.

      Mengapa? adapula pengertian "Dasasahassilokadhātuṃ" dalam MN123/Acchariya-abbhūta Sutta, "Dan 10.000 sistem dunia ini bergoyang dan bergoncang dan bergetar, dan di sana juga muncul cahaya terang yang tidak terukur melampaui kemegahan para dewa."

      Dalam sutta MN.120/Sankhārupapatti Sutta, bukan hanya Dasasahassasilokadhātuṃ namun juga satasahassasilokadhātuṃ [ratusan ribu system dunia]. Alam-alam itu semua ada di bawah alam ābhassarā devā; di bawah subhakiṇhā devā; ..vehapphalā devā; ..avihā devā; ..atappā devā; ..sudassā devā; ..sudassī devā; ..akaniṭṭhā devā, dst yang kesemuanya dalam satu kesatuan dunia (ekissā lokadhātuyā) pada 31 Alam Buddhism.

    2. Pengertian lokadhatuya melingkupi: sahassada loka, cakkavala, sahassi-lokadhatuya [culanika, majjhimanika, mahasahassi, dasa-sahassi, sata-sahassi-lokadhatuya]. yang merupakan bagian kecil dari "ekissā lokadhātuyā", sebagaimana yang tercantum dalam kalimat "Aṭṭhānametaṃ anavakāso yaṃ ekissā lokadhātuyā dve arahanto sammāsambuddhā apubbaṃ acarimaṃ uppajjeyyuṃ" [Tidak mungkin ada 2 sammasambuddha muncul bersamaan di satu kesatuan dunia].

      Aliran Mahayana menyatakan adanya definisi tentang ruang lingkup Buddha, yang disebut Buddha-kheta, yaitu Jati-khetta [lingkup kelahiran]; lingkup kewenangan/kemampuan [Ana-kheta] dan juga visaya-kheta [Jinalankara Tika dan kitab komentar Parajika].

      Pengertian ini muncul dari sutra-sutra Mahayana yang hadir belakangan (yang didalamnya menyatakan Ananda adalah arahat di saat sang Buddha masih hidup) yang menyatakan adanya Buddha lain di kurun waktu kehidupan Buddha Gautama di system dunia lainnya).

      Pengertian ini keliru, karena sutta telak menunjukan bahwa seluruh system dunia yang tak hingga banyaknya ini berada dalam kesatuan yang disebut ekissa lokadhatuya yaitu 31 Alam Buddhism. Seluruh Sutra yang menyatakan Ananda adalah Arahat selagi Sang Buddha masih hidup adalah kesalahan fatal, TIDAK KREDIBEL dan patut diabaikan, sample sutranya:

      SUKHĀVATĪVYŪHAḤ (SAṂKṢIPTAMĀTṚKĀ)/Amitabha Sutra
      evaṁ mayā śrutam | ekasmin samaye bhagavān śrāvastyāṁ viharati sma jetavane’nāthapiṇḍadasyārāme mahatā bhikṣusaṁghena sārdhamardhatrayodaśabhirbhikṣuśatairabhijñātābhijñātaiḥ sthavirairmahāśrāvakaiḥ sarvairarhadbhiḥ | tadyathā-sthavireṇa ca śāriputreṇa, mahāmaudgalyāyanena ca mahākāśyapena ca mahākapphiṇena ca mahākātyāyanena ca mahākauṣṭhilena ca revatena ca śuddhipanthakena ca nandena ca ānandena ca rāhulena ca gavāṁpatinā ca bharadvājena ca kālodayinā ca vakkulena ca aniruddhena ca |
      etaiścānyaiśca saṁbahulairmahāśrāvakaiḥ | saṁbahulaiśca bodhisattvairmahāsattvaiḥ | [..]

      Terjemahan: Demikianlah telah kudengar: Pada suatu ketika Sang Buddha berdiam di Sravasti pertapaan Jeta Taman Anthapindaka bersama serombongan Biksu yang berjumlah 1250 semuanya Arahat yang namanya telah dikenal semua orang seperti: Sariputra, Mahamaudgalyayana, Mahakasyapa, Mahakatyayana, Mahakausthila, Revata, Suddhipanthaka, Nanda, Ananda, Rahula, Gavampati, Pindolabharadvaja, Kalodayin, Mahakaphina, Vakula, Aniruddha
      dan beserta Siswa-siswa terkemuka lainnya; dan para Bodhisattva Mahasattva [..]

      Dan masih banyak lagi tertera di sutra mahayana lainnya. Terkadang, sutra-sutra tertentu, bahkan sampai menambahkan keterangan: "YM Ananda adalah siswa" (di antaranya dengan cara/kalimat: "- āyuṣmatā ca ānandena śaikṣeṇa") yang tampaknya bermaksud untuk mengaburkan pembaca dari ketidakvalidannya, yang telah berbohong dengan mengalamatkan sutra ini sebagai ucapan sang Buddha (via Ananda).

    3. Detail lebih lanjut: "Agama Langit? Agama Bumi? Mmmhh..ato..Agama Kosmis, Aja!" dan "Agama Langit Bilang Kaya Gini: Matahari Yang Beredar Bukannya Bumi!..Mmmhh Trus, Bumi Itu Datar!"
[Kembali (↑)]
---------------

Siklus Berulang: Hancur dan Terbentuknya Semesta

Sang Buddha, juga disebut sebagai ‘Pengenal alam semesta (Lokavidu) [Majjhima Nikaya, I:337]. Hancur leburnya bumi kita ini tercatat dalam AN 7.66(7.62)/Sattasuriya Sutta, yang disampaikan di Vesali di hutan mangga milik Ambhapali:
    Bhikkhu, akan tiba suatu masa setelah bertahun-tahun, ratusan tahun, ribuan tahun, atau ratusan ribu tahun, tidak ada hujan. Ketika tidak ada hujan, maka semua bibit tanaman seperti bibit sayuran, pohon penghasil obat-obatan, pohon-pohon palem dan pohon-pohon besar di hutan menjadi layu, kering dan mati ....

    Para bhikkhu, selanjutnya akan tiba suatu masa, suatu waktu di akhir masa yang lama, matahari kedua muncul. Ketika matahari kedua muncul, maka semua sungai kecil dan danau kecil surut, kering dan tiada .....

    Para bhikkhu, selanjutnya akan tiba suatu masa, suatu waktu di akhir masa yang lama, matahari ketiga muncul. Ketika matahari ketiga muncul, maka semua sungai besar, yaitu sungai Gangga, Yamuna, Aciravati, Sarabhu dan Mahi surut, kering dan tiada .....

    Para bhikkhu, selanjutnya akan tiba suatu masa, suatu waktu di akhir masa yang lama, matahari keempat muncul. Ketika matahari keempat muncul, maka semua danau besar tempat bermuaranya sungai-sungai besar, yaitu danau Anotatta, Sihapapata, Rathakara, Kannamunda, Kunala, Chaddanta, dan Mandakini surut, kering dan tiada .....

    Para bhikkhu, selanjutnya akan tiba suatu masa, suatu waktu di akhir masa yang lama, matahari kelima muncul. Ketika matahari kelima muncul, maka air maha samudra surut 100 yojana lalu surut 200 yojana, 300 yojana, 400 yojana, 500 yojana, 600 yojana dan surut 700 yojana. Air maha samudra tersisa sedalam tujuh pohon palem, enam, lima, empat, tiga, dua pohon palem, dan hanya sedalam sebatang pohon palem. Selanjutnya, air maha samudra tersisa sedalam tinggi tujuh orang, enam, lima, empat, tiga, dua dan hanya sedalam tinggi seorang saja, lalu dalam airnya setinggi pinggang, setinggi lutut, hingga airnya surut sampai sedalam tinggi mata kaki.

    Para bhikkhu, bagaikan di musim rontok, ketika terjadi hujan dengan tetes air hujan yang besar, mengakibatkan ada lumpur di bekas tapak-tapak kaki sapi, demikianlah dimana-mana air yang tersisa dari maha samudra hanya bagaikan lumpur yang ada di bekas tapak-tapak kaki sapi.

    Para bhikkhu, selanjutnya akan tiba suatu masa, suatu waktu di akhir masa yang lama, matahari keenam muncul. Ketika matahari keenam muncul, maka bumi ini dengan gunung Sineru sebagai raja gunung-gunung, mengeluarkan, memuntahkan dan menyemburkan asap.

    Para bhikkhu, bagaikan tungku pembakaran periuk yang mengeluarkan, memuntahkan dan menyemburkan asap, begitulah yang terjadi dengan bumi ini. Demikianlah, para bhikkhu, semua bentuk (sangkhara) apa pun adalah tidak kekal, tidak abadi atau tidak tetap. Janganlah kamu merasa puas dengan semua bentuk itu, itu "menjijikkan"/tidak menarik, bebaskanlah diri kamu dari semua hal.

    Para bhikkhu, selanjutnya akan tiba suatu masa, suatu waktu di akhir masa yang lama, matahari ketujuh muncul. Ketika matahari ketujuh muncul, maka bumi ini dengan gunung Sineru sebagai raja gunung-gunung mengalami pemaparan, menyala berkobar-kobar, dan menjadi seperti bola api yang berpijar. Cahaya nyala kebakaran sampai terlihat di alam Brahma, demikian pula dengan debu asap dari bumi dengan gunung Sineru terpapar hingga ke alam Brahma. Bagian-bagian dari puncak gunung Sineru setinggi 1, 2, 3, 4, 5 ratus yojana terbakar dan menyala ditaklukkan oleh amukan nyala yang berkobar-kobar, hancur lebur. Disebabkan oleh nyala yang berkobar-kobar bumi dengan gunung Sineru hangus total tanpa ada bara maupun abu yang tersisa. Bagaikan mentega atau minyak yang terbakar hangus tanpa sisa. Demikian pula bumi maupun debu tidak tersisa sama sekali.
Matahari kita dan beberapa matahari lain ada yang berjarak di bawah 9 tahun cahaya, lihat: di sini dan di sini. Kemudian, jarak matahari kita di bandingkan: (1) Proxima Centauri – 4.22 tahun cahaya; (2) Alpha Centauri A dan B – 4.37 Tahun Cahaya; (3) Barnard Star – 5.96 Tahun cahaya; (4) Wolf 359 – 7.78 Tahun Cahaya; (5) Sirius A dan b – 8.58 tahun Cahaya; (6) Luyten-8 A dan B – 8.73 Tahun Cahaya. [note: 1 tahun cahaya = 9,46 x 1012 KM, sementara itu, jarak untuk Matahari-Bumi rata-rata adalah 1.5 x 108 KM]

Siklus evolusi semesta dalam hitungan Maha kappa terbagi dalam 4 Proses:
  1. Vivartakappa, Periode dimulainya kembali keberadaan semesta yang ditandai dengan kematian mahluk alam Ābhassara dan terlahir kembali di alam Brahma menjadi MahaBrahma, selama beberapa waktu, tidak terdapat kelahiran mahluk lainnya.
  2. Vivartasthāyikappa, Periode kemunculan mahluk-mahluk lain ke alam Brahma dan juga alam-alam di bawahnya yang puncaknya ditandai dengan kemunculan mahluk di alam Neraka.
  3. Saṃvartakappa, Periode kehancuran semesta yang diawali dengan tidak adanya mahluk yang muncul kembali di neraka, berlanjut dengan tidak adanya mahluk yang muncul kembali di alam-alam di atasnya hingga kamaloka.
  4. Saṃvartasthāyikappa, Periode tidak adanya mahluk yang muncul kembali di kamaloka, berlanjut hingga alam atasnya dan puncaknya ditandai dengan berakhirnya umur kehidupan MahaBrahma di alam brahma dan berada dalam keaadaan kosong selama beberapa waktu.
Awal antara kappa pada periode periode ke-2 di atas adalah ketika beberapa deva wafat dari alam Abhassara terlahir di berbagai alam di bawahnya [DN.27/Agganna Sutta] hingga ke alam neraka. Ketika manusia-manusia pertama muncul, mereka kemudian mengangkat seorang untuk menegakan dan melaksanakan aturan, orang tersebut adalah raja pertama, Raja pemutar roda atau raja dunia. Mereka hidup di bawah pemerintahan ‘raja putaran roda’ (cakkavatin) [DN.17/Mahāsudassana-sutta]. Sang Buddha di DN 17 mengingat ia pernah wafat 6x di kusinara sebelumnya. Salah kisah yang beliau ingat adalah sebagai Raja Mahāsudassana yang hidup selama 336,000 tahun.
    ‘Raja Mahāsudassana menikmati masa kanak-kanak selama 84.000 tahun, selama 84.000 tahun menjadi raja muda, selama 84.000 tahun sebagai raja, dan selama 84.000 tahun sebagai seorang umat-awam, ia menjalani kehidupan suci di dalam Istana Dhamma. Dan, setelah melatih empat kediaman luhur, saat hancurnya jasmani, ia terlahir kembali di alam Brahmā
Kalimat terlahir kembali di alam Brahma (karena melatih dan menguasai jhana s.d Jhana ke-4), maka MahaSudassana di atas ini bukanlah raja pertama pada Maha Kappa ini. Sutta dan Vinaya tidak pernah menyebutkan siapa nama mahasammata/raja pertama pada maha kappa ini, namun Kitab komentar vimanavatthu menyatakan raja pertama maha Kappa ini bernama Manu [Lihat: DPPN].

Selama Maha Kappa ini, telah muncul 4 Buddha: (1) Kakusandha Buddha (berumur hingga 40,000 tahun); (2) Konāgamana Buddha (berumur hingga 30,000 tahun); dan (3) Kassapa Buddha (berumur hingga 20,000 tahun) [DN .14/Mahāpadāna-sutta] dan Buddha (4) Śākyamuni Buddha (berumur hingga 80 tahun).

Dari buku Riwayat Agung Para Buddha yang bersumber dari kitab komentar (Kitab komentar sendiri BUKANLAH kanon pali, sehingga tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya) menyampaikan hubungan pola kenaikan umur - penurunan umur di maha kappa ini dengan kemunculan 4 Buddha yaitu: Kakusandha, Konàgamana, Kassapa dan Gotama yang rata-rata berselisih 1 antara kappa lebih:
    Dalam antara kappa ke-8 menurut Mahà Rajavaÿsa atau antara kappa ke-1 menurut Hmannan Rajavaÿsa [hal.363], yaitu umur kehidupan manusia perlahan-lahan turun dari asankhyeyya hingga menjadi 40.000 tahun, Bodhisatta Kakusandha terlahir kembali dari Surga Tusita ke alam manusia [hal.364].

    Setelah Buddha Kakusandha Parinibbàna, dalam bhadda kappa ini, umur kehidupan manusia perlahan-lahan menurun dari 40.000 tahun menjadi -> 10 tahun -> naik menjadi asankhyeyya -> turun lagi hingga 30.000 tahun, Bodhisatta Konàgamana, terlahir kembali dari Surga Tusita ke alam manusia [hal.369]

    Setelah Buddha Konàgamana Parinibbàna, dalam bhadda kappa ini, umur kehidupan manusia perlahan-lahan menurun dari 30.000 tahun menjadi -> 10 tahun -> naik menjadi asankhyeyya -> turun lagi hingga 20.000 tahun, Bodhisatta Kassapa, terlahir kembali dari Surga Tusita ke alam manusia [hal.374]

    Setelah munculnya Buddha Kassapa sewaktu umur kehidupan manusia adalah 20.000 tahun, kemudian turun menjadi -> 10 tahun -> naik menjadi asankhyeyya -> turun lagi menjadi 100 tahun di mana Buddha Gotama muncul [hal.547, 835].
Dari 3 pola sebelumnya, seharusnya kemunculan Buddha Gautama terjadi di umur manusia 10.000 tahun, namun tidak. Beliau juga tidak muncul di 5000 tahun, 1000 tahun, 500 tahun. Ini mengindikasikan bahwa parami (kesempurnaan) merupakan pola final kemunculan seorang SammasamBuddha.

Yang belum muncul di Maha Kappa ini adalah Buddha Metteya.

Pola per 1 antara kappa, telah terjadi di 4 Buddha sebelumnya. Bisa jadi pola ini berlaku juga pada periode antara Buddha Gautama - Buddha Metteya namun masalahnya, tidak ada pernyataan Buddha Gautama bahwa Buddha Metteya akan muncul setelah di 1 antara kappa sehingga bisa terjadi kemunculan Buddha Metteya terjadi lebih lama daripada pola 4 Buddha sebelumnya!

DN.26/Cakkavatti sīhanāda-sutta menceritakan kemunculan Buddha Metteya, diawali dengan kemunculan Cakkavatin bernama Daḷhanemi dan berlanjut dengan penurunan umur dan kenaikan umur serta kemunculan raja Cakkavatin bernama Sankha.

Raja Cakkavatin Dalhanemi dan 5 keturunannya yang hidup lebih dari 80,000an tahun. Turunan ke 7, memecahkan tradisi dengan turun tahta sebelum waktunya, menyerahkan tahta pada anaknya dan menjadi śamaṇa. Kemiskinan meningkat, pencurian mulai, institusi hukuman menjadi ada, pembunuhan dan kejahatan merajalela. Umur manusia menjadi semakin berkurang dari 80,000an menjadi 100 tahun. Setiap generasi banyak kejahatan meningkat dan kemerosotan moral, penipuan, pelecehan, aktivitas kotbah penyesatan, keserakahan, kebencian, berpandangan salah, kawin dengan saudara kandung dan kegiatan seksual abnormal lainnya, tidak menghormati orang tua dan tetua.

Kemudian Kejahatan dan kemerosotan moral akan mencapai puncak kerusakannya, umur hidup semakin berkurang hingga tidak lebih dari 10 tahun, menikah di usia 5 tahun; Makanan lebih buruk dan kurang lezat; Bentuk moralitas akan tidak dikenali. Orang yang keji dan tidak bermoral akan menjadi pemimpin. Perkawinan antar saudara kandung merajalela. Kebencian antar masyarakat, sesama anggota keluarga tumbuh hingga masing-masing orang saling ‘memangsa’.

Selekasnya perang besar terjadi, semakin beringas, kejam dan biadab. Yang kurang agresif akan bersembunyi di hutan dan beberapa tempat rahasia.,akan terjadi banyak perang
    Di antara mereka yang memiliki umur kehidupan sepuluh tahun, tidak ada yang dianggap ibu atau bibi, saudara ibu, istri guru, atau istri ayah dan lain-lain – semua dianggap sama di dunia ini seperti kambing dan domba, unggas dan babi, anjing dan serigala. Di antara mereka, permusuhan sengit akan terjadi satu sama lain, kebencian hebat, kemarahan besar, dan pikiran membunuh, antara ibu melawan anak dan anak melawan ibu, ayah melawan anak dan anak melawan ayah, saudara laki-laki melawan saudara laki-laki, saudara laki-laki melawan saudara perempuan, bagaikan pemburu yang merasakan kebencian terhadap binatang yang ia buru ....
Di akhir peperangan, yang selama keluar dari persembunyiannya dan menyesali perbuatannya, Mereka mulai berkelakuan baik, umur mereka meningkat, kesehatan dan kesejahteraan meningkat. Umur ras manusia juga meningkat. Hingga waktu yang kemudian, keturunan-keturunan mereka yang berumur rata-rata 10 tahunan akan meningkat menjadi 80.000an tahun,

Saat itulah muncul raja Cakravartin bernama Saṅkha dan Bodhisatva yang ketika itu ada di alam deva Tuṣita muncul kembali ke alam manusia dengan nama Ajita yang kemudian akan hidup sebagai Samana dan mencapai penerangan sempurna sebagai Buddha Metteyya.

Setelah jaman Metteyya, TIDAK ADA informasi lain di sutta-sutta apakah kelahirannya berada di antara kappa yang terakhir atau tidak. Jika beliau berada di antara kappa terakhir maka usia 80.000an tahun tidak akan ada penurunan umur lagi sehingga tidak ada kemunculan mahluk di neraka, tidak ada kemunculan mahluk di alam peta, binatang, dilanjutkan dengan kepunahan manusia, berlanjut kepunahan deva-dewa kamaloka, alam brahma dan puncak berakhirnya Maha Kappa ini ditandai dengan wafatnya maha brahma.

[Kembali (↑)]
---------------

Dewa vs Malaikat

Meskipun istilah Dewa, secara umum diterjemahkan sebagai malaikat, namun berbeda:
  • Dewa-dewa ajaran Buddha, tidak abadi, mereka hidup panjang umur namun memiliki batasan waktu hidup(dari ribuan s/d sedikitnya milyar tahun). Saat umur mereka habis, mereka terlahir kembali menjadi Dewa yang sama, lebih tinggi atau lebih rendah atau jenis manusia atau bentuk2 lainnya
  • Dewa-dewa Buddhist tidak menciptakan atau membentuk dunia. Mereka ada Karena berdasarkan karma masa kehidupan sebelumnya, dan mereka tunduk pada hukum2 alam sebab dan akibat seperti mahluk-mahluk jagad lainnya. Mereka tidak mempunyai peran dalam peleburan/kiamat dunia-dunia.
  • Dewa-dewa Buddhist bukan penjelmaan/titisan dari beberapa mahluk suci/ manifestasi yang merupakan kepercayaan para pemeluk pantheisme dan juga bukan merupakan perlambang/tafsir. Mereka dinyatakan menyerupai manusia namun berbeda secara individu dengan personality sendiri dan pola dalam hidup.
  • Dewa-dewa Buddhist tidak Maha tahu. Pengetahuan mereka lebih rendah dari para Buddha(Buddha yang sebelumnya, sekarang dan akan datang) dan Mereka kurang dalam hal kesadaran dan pengetahuan atas duniaalam lain yang lebih tinggi dari mereka.
  • Dewa-dewa Buddhist tidak Maha kuasa. Kekuatan mereka terbatas pada alamnya (dan juga pada alam yang rendah). Mereka juga sangat jarang campur tangan dengan persoalan2 alam manusia. Kalaupun ia, dilakukan melalui nasihat/petunjuk daripada campur tangan secara fisik
  • Dewa-dewa Buddhist secara moral tidaklah sempurna. Dewa2 alam Rupadhatu tidak memiliki gairah, nafsu dan keinginan, namun beberapa dari mereka dapat tidak berpengetahuan, sok dan angkuh. Dewa2 dari tingkat alam yang lebih rendah di kelompok alam Kamadhatu mempunyai mengalami hasrat yang dimiliki manusia, termasuk (pada alam dewa kelas terbawah) nafsu birahi, cemburu, marah. Dan tentunya kekurangan sempurnaan akan ketahanan mental dan moral itulah yang menyebabkan mereka terlahir di alam2 seperti ini.
  • Dewa-dewa Buddhist tidak sebagai objek untuk dipuja/disembah. Walaupun beberapa mahluk diantara para dewa itu memiliki penguasaan moral yang tinggi dan bermartabat yang patut untuk dihormati, Tidak ada dewa yang dapat dijadikan sandaran/tempat berlindung agar terbebas dari saṃsāra atau mempunyai kekuasaan atas lahir kembalinya suatu mahluk. Perlindungan tertinggi disandarkan kepada tri ratna (tiga permata) Buddha, Dhamma (kebaikan/kebenaran) dan Sangha (kelompok para Bikkhu, mereka yang menempuh jalan untuk melatih diri menuju kesucian).
[Kembali (↑)]
---------------


KESELAMATAN ATAU KEBEBASAN

Keselamatan atau kebebasan merupakan tujuan dari semua agama. Ada agama yang menjanjikan:
  1. Tidak peduli apapun perbuatannya, selama sebelum wafat menyembah Sosok tertentu [dan juga nabinya][25a]
  2. Menerima Sosok tertentu sebagai juru selamatnya pun pada menjelang ajalnya tiba, karena dosa sudah ada yang mencucinya[25b]
  3. Melakukan perbuatan baik selama hidup
bila pengikut itu meninggal dunia maka di akhirat, akan mendapat pahala hidup di alam surga untuk selama-lamanya dan menikmati kebahagiaan yang tiada taranya. Kealikannya adalah bila orang melakukan perbuatan-perbuatan yang salah, buruk dan tidak terpuji, maka sesudah meninggal, akan mendapat ganjaran yang menyedihkan di dalam neraka.

Pengecualian untuk no.1 dan 2 adalah jangankan perbuatan salah, bahkan bila selama hidup sudah melakukan perbuatan baik namun selama sebelum wafat TETAP tidak MENYEMBAH sosok tertentu, maka akan tetap masuk neraka.

Khusus di point ke-1 dan 2, maka jika kalimat itu benar adanya, tentunya telah ada yg kembali dari surga dan menyampaikan bahwa itu bukan bualan, bukan?!. Faktanya adalah tidak ada pengikut ajaran dan juga bahkan sang penyampai sendiri yang pernah ke surga. Mereka semua tidak mengetahui apa isi surga yang dimaksud dan benarkah akan terjadi seperti itu. Jadi itu merupakan pandangan yang sangat spekulatif dan melecehkan rasionalitas.

Menurut Buddhism,
Keselamatan atau kebebasan dapat dicapai dalam masa kehidupan kita sebagai manusia, dan kebebasan ini pun diketahui oleh orang bersangkutan pula, seperti apa yang disabdakan oleh Sang Buddha dalam MN 7/Vatthūpama Sutta:
    Dan Brahmana Sundarika Bhāradvāja menerima pelepasan keduniawian di bawah Sang Bhagavā, dan ia menerima penahbisan penuh. dan segera, tidak lama setelah ia menerima penahbisan penuh, dengan berdiam sendirian, mengasingkan diri, rajin, tekun, dan bersungguh-sungguh, Yang Mulia Bhāradvāja, dengan menembus bagi dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung, di sini dan saat ini memasuki dan berdiam dalam tujuan tertinggi kehidupan suci yang dicari oleh para anggota keluarga yang meninggalkan kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah.

    Ia secara langsung mengetahui: “Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak akan ada lagi penjelmaan menjadi kondisi makhluk apapun.” Dan Yang Mulia Bhāradvāja menjadi satu di antara para Arahant.
    [juga di: MN 1/ Mulapariyaya sutta, MN39/Mahā-Assapura Sutta. Bahkan jika ia mencapai tingkat kesucian terendah sekalipun, yaitu sotapanna lihat di: AN 10.92/vera sutta]
Untuk mencapai kebebasan atau keselamatan, Sang Buddha telah menunjukkan jalan yang dapat dilaksanakan oleh setiap orang. Dengan mengikuti jalan yang telah ditunjukkan ini kita dapat mencapai kesucian pada kehidupan sekarang ini juga di MN 10/Satipaṭṭhāna Sutta dan DN 22/Mahāsatipaṭṭhāna Sutta:
    Ada, para bhikkhu, satu jalan untuk memurnikan makhluk-makhluk; mengatasi dukacita dan kesusahan; melenyapkan kesakitan dan kesedihan; memperoleh jalan benar; mencapai Nibbāna: yaitu, empat landasan perhatian.’

    ‘Apakah empat itu?

    Di sini, para bhikkhu, seorang bhikkhu berdiam merenungkan:
    1. jasmani sebagai jasmani,..
    2. perasaan sebagai perasaan,..
    3. pikiran sebagai pikiran,..
    4. objek-pikiran sebagai objek-pikiran,
    tekun, dengan kesadaran jernih dan penuh perhatian, setelah menyingkirkan keinginan dan belenggu dunia.’

    [..]

    “'Siapa pun [Yo hi Koci], para bhikkhu, yang mempraktikkan Empat Landasan Perhatian ini selama 7 tahun dapat mengharapkan satu dari dua hasil ini: mencapai kesucian Arahant DALAM KEHIDUPAN INI [diṭṭheva dhamme aññā] atau, jika masih ada beberapa kekotoran tersisa, mencapai kondisi Yang-Tidak-Kembali. Jangankan 7 tahun – siapa pun yang mempraktikkannya selama 6 tahun.., 5 tahun.., 4 tahun.., 3 tahun.., 2 tahun.., 1 tahun dapat mengharapkan satu dari dua hasil..; jangankan 1 tahun-siapa pun yang mempraktikkannya selama 7 bulan.., 6 bulan.., 5 bulan.., 4 bulan.., 3 bulan.., 2 bulan.., 1 bulan.., 1/2 bulan dapat mengharapkan satu dari dua hasil..; jangankan 1/2-siapa pun yang mempraktikkan Empat Landasan Perhatian ini selama 7 hari dapat mengharapkan satu dari dua hasil ini: mencapai kesucian Arahant dalam kehidupan ini atau, jika masih ada beberapa kekotoran tersisa, mencapai kondisi Yang-Tidak-Kembali.’
Namun, secara realita, di jaman sekarang ini, dapat mencapai tingkat kesucian tingkat terendah apalagi hingga arahat adalah SUDAH TIDAK MUNGKIN LAGI.

Alasannya?

Umur DHAMMA SEJATI telah berakhir, yaitu hingga 500 tahun sejak berdirinya Sangha Bhikkhuni[12]

Suka/tidak, demikianlah kenyataan yang terjadi! Dan tidak perlu juga menyesali yang telah berlalu dan meratapi telah lewatnya masa itu. Tidak akan juga berguna.

Namun demikian,
remah-remah yang tersisa dari ajaran ini masihlah sangat bermanfaat besar bagi kita semua, yaitu dalam mengasah parami [kata Pali, yang berarti completeness, keadaan tertingi atau kesempurnaan: dalam hal melakukan perbuatan (karma) baik].

Maksudnya?

Tingkat kesucian adalah sebuah proses panjang terasahnya parami mahluk ketika mengarungi samsara, dengan parami maka cepat atau lambat tingkat kesucianpun dapat tercapai!

Dalam Buddhisme, hubungan antara parami (kesempurnaan dalam kebajikan) dan tingkat kesucian merupakan sebuah hubungan positif. Semakin terasah parami, semakin cepat tingkat kesucian tercapai. BUDDHISME sangat menghargai usaha dan kerja keras, untuk memutuskan rantai itu anda sendiri yang harus berusaha dan kemudian bekerja keras untuk mencapainya!
    Bagaikan sebuah tempayan akan terisi penuh oleh air yang dijatuhkan setetes demi setetes, demikian pula orang bijaksana sedikit demi sedikit memenuhi dirinya dengan kebajikan. [Dhammapada bab 9, Syair 122]
Sang Buddha, di AN 3.99/Lonaphala Sutta memberikan perumpamaan perbandingan dengan garam yang ditaburkan di dua tempat air berbeda. Garam diibaratkan sebagai kamma buruk dan air adalah kamma baik, kemudian sejumlah garam yang sama banyaknya, yang satu, ditaburkan pada secangkir air dan yang lain ke dalam sungai Gangga.
    "Misalkan, seseorang menaburkan sejumlah garam ke dalam secangkir air. Bagaimana menurutmu? Apakah air dalam cangkir itu akan menjadi asin karena garam itu?"

    "Ya, guru."

    "Mengapa?"

    "karena hanya ada sedikit air dalam cangkir dan air akan menjadi asin karena garam itu"

    "Sekarang, misalkan seseorang menaburkan sejumlah garam yang sama ke dalam sungai Gangga. Bagaimana menurutmu? Apakah air di sungai gangga itu akan menjadi asin karena garam?"

    "Tidak, guru"

    "Mengapa?"

    karena ada sejumlah besar massa air di sungai Gangga dan air tidak akan menjadi asin karena taburan garam itu."
Jadi kamma buruk yang telah dilakukan sebelumnya akan tetap ada dan akan tetap berbuah pada saatnya, namun dengan semakin melimpahnya kamma baik yang dilakukan maka dampak kamma buruk akan semakin tidak terasa oleh dampak kamma baiknya.

Apa kerugiannya jika tidak melakukan ini?

Ada/tidak Buddhism, percaya/tidak dengan Buddhism, maka anda akan tetap terlahir kembali.

Bedanya dengan mengetahui caranya, akan memperbesar peluang terhindar terlahir di alam-alam yang tidak berbahagia! Kelahiran di alam-alam tidak berbahagia membuat perjalanan samsara menjadi runyam dan tidak menyenangkan. Dengan mengetahui cara dan melakukannya, maka perjalanan samsara dan juga terasahnya parami menjadi lebih menyenangkan hingga tiba saatnya Padam.

Secara objektif, langkah menuju KESELAMATAN dan KEBEBASAN di Ajaran Buddha ini ringkas menjadi:
    SabbapapassaAkaranam (1)
    Kusalassupasampada (2)
    Sacittapariyodapanam (3)
    Etam Buddhana Sasanam
    Tidak melakukan hal buruk (1)
    Perbanyak kebajikan/hal bermanfaat (2)
    sertai dengan pikiran murni (3)
    Itulah ajaran para Buddha
    [Dhammapada syair 183]
Dengan tidak berbuat buruk saja, maka sebenarnya kita telah melakukan perbuatan BAIK! Sambil menghindari diri dari perbuatan yang tidak baik, maka lakukanlah banyak perbuatan baik. Dari semua cara berbuat baik dalam mengasah Parami, maka cara yang termudah adalah dengan Berdana!

Siapapun anda, anak kecil atau orang dewasa, Bermoral atau bahkan penjahat kelas berat, Pemuja Tuhan manapun maupun tidak satupun, kaya atau miskin, cacat atau normal maka anda semua mampu untuk berdana!

Jika kita melihat teks Tipitaka, maka Dana selalu ditempatkan di tempat pertama dalam (KLIK!) Dasa Paramita (10 Kesempurnaan)
untuk menjadi Buddha:
  1. Däna = Dermawan, gemar menolong orang lain.
  2. Sila = Bersih dalam ucapan dan perbuatan.
  3. Nekkhamma = Melepaskan ikatan keduniawian.
  4. Pañña = Kebijaksanaan
  5. Viriya = Tekun, bersemangat, ulet.
  6. Khanti = Sabar, dapat memaafkan kesalahan orang lain.
  7. Sacca = Mencintai kebenaran.
  8. Adithäna = Teguh dalam tekad, tak tergoyahkan.
  9. Metta = Cinta kasih luhur, mencintai semua mahluk tanpa perbedaan.
  10. Upekkhä = Keseimbangan Mental, tak terpengaruh lagi oleh perasaan sukha dan dukkha.
List 10 parami di atas ini hanya ada dalam teks belakangan [Buddhavamsa: bagian Sumedha, Komentar Cariyapitaka, Dasa Punnakiriyavatthu (DA 3:999; Compendium 146), Jataka 1. no.173, Dhammapada atthakata 1.84, dll]. Namun jika tidak harus dalam 10 list sekaligus, maka dapat ditemukan dalam banyak sutta diantaranya dalam 4 sarana yang memberikan manfaat bagi makhluk lain: "Dānaṃ/dana, peyyavajjaṃ/ucapan ramah, atthacariyā/bantuan bermanfaat, samānattatā/Jujur, adil, tidak memihak dalam bergaul" [AN 4.32/Saṅgahavatthu] atau juga di MN 111/Anupada Sutta: "Para bhikkhu, jika menyatakan dengan benar mengenai siapa pun (sammā vadamāno vadeyya): ‘Ia telah mencapai kemahiran (vasippatto) dan kesempurnaan (pāramippatto) dalam: moralitas (sīlasmiṃ) mulia, konsentrasi mulia (samādhismiṃ), kebijaksanaan (paññāya/sannaya) mulia, kebebasan (vimuttiyāti) mulia,’ adalah sehubungan dengan Sāriputta sesungguhnya kata-kata benar itu diucapkan..", dan banyak lagi sutta.

Bukan cuma itu saja, bahkan Sang Buddhapun menegaskan bahwa ADA PERBEDAAN di antara dua orang, yang walaupun sama-sama memiliki keyakinan, keluhuran dan kebijaksanaan, namun yang satunya adalah pemberi dana dan yang lainnya bukan dalam AN 5.31/Sumana Sutta:
    Pada suatu ketika Sang Bhagava sedang berdiam di dekat Savatthi di Hutan Jeta, di Vihara Anathapindika. Pada saat itu Putri Sumana -diikuti lima ratus wanita kerajaan di dalam lima ratus kereta- datang mengunjungi Sang Bhagava. Setelah tiba, dia memberikan hormat, duduk di satu sisi dan berkata:

    “Bhante, seandainya ada dua siswa Bhante yang setara keyakinannya, setara keluhurannya, dan setara kebijaksanaannya. Tetapi yang satu adalah pemberi dana dan yang lain bukan. Maka keduanya ini, bersamaan hancurnya tubuh setelah kematian terlahir di keadaan bahagia di alam surgawi. Setelah menjadi dewa demikian, O Bhante, adakah perbedaan atau ketidaksamaan di antara keduanya?”

    “Ada, Sumana,” kata Yang Terberkahi. “Si pemberi dana, sesudah menjadi dewa, akan melampaui yang bukan pemberi dana di dalam lima hal di dalam: kehidupan/jangka waktu (āyunā), kelas/kualitas/keindahan (vaṇṇena), kebahagiaan (sukhena), keagungan/kemasyhuran (yasena) dan pengaruh/kekuatan (ādhipateyyena) surgawi"

    “Tetapi, Bhante, jika keduanya ini kemudian meninggal dari sana dan kembali ke dunia ini di sini, apakah masih ada perbedaan atau ketidaksamaan di antara mereka ketika mereka menjadi manusia lagi?”

    “Ada, Sumana,” kata Yang Terberkahi. “Si pemberi dana, setelah menjadi manusia, akan melampaui yang bukan-pemberi dana di dalam lima hal di dalam: kehidupan/jangka waktu (āyunā), kelas/kualitas/keindahan (vaṇṇena), kebahagiaan (sukhena), keagungan/kemasyhuran (yasena) dan pengaruh/kekuatan (ādhipateyyena) manusiawi.”

    “Tetapi, Bhante, jika keduanya ini akan meninggalkan kehidupan perumah-tangga menuju kehidupan tak-berumah sebagai bhikkhu, apakah masih akan ada perbedaan atau ketidaksamaan di antara mereka ketika mereka menjadi bhikkhu?”

    “Ada, Sumana,” kata Yang Terberkahi. “Si pemberi dana, sesudah menjadi bhikkhu, akan melampaui yang bukan-pemberi dana di dalam lima hal: dia sering diminta untuk menerima jubah, dan jarang dia tidak diminta; dia sering diminta untuk menerima dana makanan … tempat tinggal … dan obat-obatan, dan jarang dia tidak diminta. Selanjutnya, sesama bhikkhu biasanya ramah terhadapnya lewat perbuatan, kata-kata dan pikiran; jarang mereka tidak ramah. Pemberian-pemberian yang mereka bawa kepadanya kebanyakan menyenangkan. Jarang pemberian-pemberian itu tidak menyenangkan.”

    “Tetapi, Bhante, jika keduanya mencapai tingkat Arahat, apakah masih akan ada perbedaan dan ketidaksamaan di antara keduanya?”

    “Di dalam hal itu, Sumana, kunyatakan tidak akan ada perbedaan antara satu pembebasan dan pembebasan lain.”

    “Luar biasa, Bhante, indah sekali! Sungguh orang mempunyai alasan yang baik untuk memberikan dana, alasan yang baik untuk melakukan tindakan-tindakan yang berjasa, jika tindakan-tindakan itu akan membantu seseorang sebagai dewa, membantu sebagai manusia, dan membantu sebagai bhikkhu.”
Berdana dapat berupa apa saja! baik itu memberikan materi, tenaga, pelayanan atau apapun yang kita punyai. Karena setiap Dana ditujukan untuk membawa/memberi kebahagiaan, tergantung pengertian yang menyertai pada saat berdana.

Dengan berdana maka kita akan otomatis dan berusaha memastikan yang kita danakan ini selalu berasal dari hal yang baik! Yaitu didapat tidak dengan jalan menyakiti mahluk hidup, atau tidak dari mengambil hal orang lain, tidak dari hasil menjual orang lain [memperbudak], tidak dari hasil menipu dan tidak didapat dari hasil menjual hal-hal yang dapat membuat hilangnya kesadaran!

Dengan berdana, kita aktif ikut menurunkan tingkat kemiskinan yang pada gilirannya dapat mengurangi niat jahat, mengurangi perampokan, pencurian, korupsi dll sehingga ini akan meningkatkan keamanan dan kenyamanan hidup seiring berkurangnya nyawa dan harta yang hilang percuma!

Mudah sekali, bukan?

Disamping kemudahan itu, yang TIDAK KALAH PENTINGNYA dalam mengasah parami adalah mendapatkan MANFAAT MAKSIMUM bagi kepentingan kita sendiri!

Sulit sekali menerima pernyataan "MEMBERILAH TANPA PAMRIH!", karena JIKA benar tanpa PAMRIH, maka tidaklah perlu memilih lagi, tidak juga perlu bekerja mencari penghasilan dan bahkan cukup BUANG SAJA HARTA/DANA tersebut ke tempat sampah dan tidak perlu di tengok lagi.

MAMPU?

JIKA TIDAK maka apapun itu toh akan tetap dilakukan dengan PAMRIH! Untuk itu kelolalah PAMRIH ITU agar BERGUNA MAKSIMUM bagi diri sendiri.

Lakukanlah MANAJEMEN HASIL.

Sang Buddha mengatakan bahwa ada perbedaan buah dari pemberian dalam AN 3.57/Vaccagottha sutta:
    Suatu ketika Vacchagotta si kelana menghampiri Sang Buddha dan berkata demikian:

    “Telah saya dengar, Guru Gotama, bahwa Petapa Gotama berkata: ‘Hadiah harus diberikan hanya kepadaku dan bukan kepada yang lain; hadiah harus diberikan hanya kepada siswa-siswaku dan bukan kepada siswa-siswa yang lain. Hanya apa yang diberikan kepadaku saja yang memberikan buah yang besar, bukan apa yang diberikan kepada yang lain; hanya apa yang diberikan kepada siswa-siswaku saja yang memberikan buah yang besar, bukan apa yang diberikan kepada siswa-siswa yang lain.’ Guru Gotama, apakah mereka yang mengatakan demikian itu benar-benar menyampaikan kata-kata Guru Gotama dan tidak salah mewakili Beliau? Apakah mereka menyatakan hal ini sesuai dengan ajaran-ajaran Guru? Apakah pernyataan mereka itu tidak menimbulkan alasan untuk dicela? Kami tentu saja tidak ingin salah mewakili Guru Gotama.”

    “Mereka yang mengatakan demikian, Vacca, tidak melaporkan kata-kataku dengan benar, melainkan salah mewakiliku. Pernyataan mereka tidak sesuai dengan ajaran-ajaranku dan pernyataan mereka yang salah tentu saja akan menimbulkan penyebab celaan.

    “Vacca, siapapun yang mencegah orang lain agar tidak memberikan dana berarti menyebabkan penghalang dan kesukaran bagi tiga orang:

    1. dia menghalangi si pemberi untuk melakukan suatu tindakan yang berjasa,
    2. dia menghalangi si penerima untuk menerima pemberian itu, dan sebelum itu,
    3. dia merendahkan dan merugikan wataknya sendiri.

    Inilah, Vacca, apa yang sesungguhnya kuajarkan: bahkan seandainya seseorang melempar air bekas cucian mangkuk atau cangkir ke kolam desa, dengan harapan bahwa makhluk-makhluk hidup di sana bisa memperoleh makanan dari itu – bahkan perbuatan ini pun akan menjadi sumber perbuatan jasa, apalagi memberikan sesuatu kepada manusia.

    “Tetapi aku memang menyatakan bahwa persembahan yang diberikan kepada mereka yang luhur akan memberikan buah yang kaya, dan buah persembahan tidak akan sebanyak itu bila diberikan kepada mereka yang tidak luhur.

    Orang yang luhur telah meninggalkan [vippahinani] lima sifat dan memiliki lima sifat upaya pembebasan diri [samanagato].

    Apakah lima sifat yang telah dia tinggalkan itu?

    Hasrat sensualitas indriya (kamacchanda. Kama: sensualitas Indriya. Chanda: heboh/terangsang, kehendak, hasrat untuk), niat buruk (byapada), kemalasan dan kelambanan (thina-midha), kegelisahan dan kecemasan (uddhaca-kukkukcha), dan keraguan (vicikicha): inilah lima sifat yang telah dia tinggalkan [Orang-orang yang mencapai jhana).

    Dan apakah lima sifat upaya pembebasan diri yang dia miliki?

    Dia memiliki keluhuran moralitas (sīla-kkhandhe), konsentrasi (samādhi-kkhandhe), kebijaksanaan (paññā-kkhandhe), pembebasan (vimutti-kkhandhe), dan pengetahuan melihat pembebasan (vimutti-ñāṇa-dassana-kkhandhe) dari orang yang telah sempurna latihannya. Inilah lima sifat yang dimilikinya.

    “Memberi kepada orang yang telah meninggalkan lima sifat itu dan yang memiliki lima sifat ini – inilah yang kunyatakan akan memberikan buah yang kaya.”
Lebih detail lagi perbedaan tersebut di ulas rinci pada MN 142/Dakkhiṇāvibhanga Sutta, menyatakan sebagai berikut:
    ketika seseorang, berkat orang lain, Ia menjadi:

    1. berlindung pada Sang Buddha, Dhamma, dan Sangha [dan/atau]..
    2. menjalankan pancasila[dan/atau]..
    3. memiliki keyakinan yang tak tergoyahkan pada Buddha, Dhamma, dan Sangha, dan memiliki moralitas [sila] yang disenangi oleh para mulia[dan/atau]..
    4. terbebas dari keragu-raguan terhadap EMPAT KESUNYATAAN/KEBENARAN MULIA [Cattari Ariya Saccani]

    5. maka, tidak mudah bagi orang pertama itu membalas orang ke dua dengan cara memberikan penghormatan, bangkit untuknya, memberikan salam penghormatan dan pelayanan sopan., dan dengan memberikan jubah, makanan, tempat tinggal, dan obat-obatan.

    Kemudian, terdapat manfaat (yang berbeda) untuk pemberian secara Pribadi, yang jika dilakukan disertai pikiran yang murni kepada:

    1. Seorang Sammasambuddha (Sudah tidak bisa), dapat berbuah tidak terukur x lipat
    2. Seorang Paccekabuddha (Sudah tidak bisa), dapat berbuah tidak terukur x lipat
    3. Seorang Arahat (Sudah tidak bisa), dapat berbuah tidak terukur x lipat
    4. Seorang yang sedang berusaha menjadi Arahat (Sudah tidak bisa), dapat berbuah tidak terukur x lipat
    5. Seorang Anagami (Sudah tidak bisa), dapat berbuah tidak terukur x lipat
    6. Seorang yang sedang berusaha menjadi Anagami (Sudah tidak bisa), dapat berbuah tidak terukur x lipat
    7. Seorang Sakadagami (Sudah tidak bisa), dapat berbuah tidak terukur x lipat
    8. Seorang yang sedang berusaha menjadi Sakadagami (Sudah tidak bisa), dapat berbuah tidak terukur x lipat
    9. Seorang Sotapanna (Sudah tidak bisa), dapat berbuah tidak terukur x lipat
    10. Seorang yang sedang berusaha menjadi Sotapanna, dapat berbuah tidak terukur x lipat
    11. Seorang yang di luar ajaran namun bebas dari nafsu akan kenikmatan indria [Bāhirake kāmesu vītarāge, yang di maksud adalah mereka yang telah mencapai Jhana], dapat berbuah 100.000 x 100.000 lipat
    12. Seorang biasa yang bermoral, dapat berbuah 100.000x lipat
    13. Seorang biasa yang tidak bermoral, dapat berbuah 1000x lipat
    14. Kepada hewan, dapat berbuah 100x lipat

    Tujuh Jenis Pemberian kepada Sangha (SanghikaDāna):

    1. Kepada Sangha Bhikkhu dan Bhikkhuni dipimpin oleh Buddha (Sudah tidak bisa)
    2. Kepada Sangha Bhikkhu dan Bhikkhuni setelah Buddha mencapai Parinibnibbāna (Sudah tidak bisa)
    3. Kepada Sangha bhikkhu
    4. Kepada Sangha dari bhikkhuni
      Seseorang memberikan dana dan mengatakan: "Tunjuklah untukku sejumlah tertentu para bhikkhu dan bhikkhunī dari Sangha”
    5. Seseorang memberikan dana dan mengatakan: "Tunjuklah untukku sejumlah tertentu para bhikkhu dari Sangha”
    6. Seseorang memberikan dana dan mengatakan: "Tunjuklah untukku sejumlah tertentu para bhikkhunī dari Sangha”.

    Patut di ingat:

      “Di masa depan, Ānanda, akan ada anggota-anggota kelompok yang, ‘berleher-kuning,’ tidak bermoral, dan berkarakter jahat. Orang-orang akan memberikan pemberian kepada orang-orang tidak bermoral itu demi Sangha. Bahkan meskipun begitu, Aku katakan, suatu persembahan yang diberikan kepada Sangha adalah TIDAK TERHITUNG dan TIDAK TERUKUR.

      Dan Aku katakan bahwa TIDAK MUNGKIN suatu persembahan yang diberikan kepada seorang individu AKAN LEBIH berbuah daripada persembahan yang diberikan kepada Sangha.

      note:
      Bhikkhu leher kuning [kāsāva kaṇṭha] "Anggota-anggota kelompok” (gotrabhuno) adalah mereka yang menjadi bhikkhu hanya secara nama. Mereka bepergian dengan sehelai kain kuning yang diikatkan di leher atau di lengan mereka, dan masih menyokong anak dan istri mereka dengan melibatkan diri dalam perdagangan dan pertanian, dan sebagainya [Papañca Sūdanī, Majjhima Commentar(MA) 5:74 f]

    Empat jenis pemurnian persembahan:

    1. Dimurnikan oleh si pemberi, bukan oleh si penerima.
    2. Dimurnikan oleh si penerima, bukan oleh si pemberi.
    3. Dimurnikan bukan oleh si pemberi juga bukan oleh si penerima.
    4. Dimurnikan si pemberi & si penerima akan berbuah sepenuhnya
    5. Pemurnian adalah oleh orang yg bermoral, berkarakter baik.

      "Ketika seorang bermoral memberi kepada seorang yang tidak bermoral Suatu pemberian yang diperoleh dengan benar dengan penuh keyakinan, Meyakini bahwa buah perbuatan itu adalah besar, Moralitas si pemberi memurnikan persembahan itu.

      Ketika seorang tidak bermoral memberi kepada seorang yang bermoral Suatu pemberian yang diperoleh dengan tidak benar dengan tanpa keyakinan, Juga tidak meyakini bahwa buah perbuatan itu adalah besar, Moralitas si penerima memurnikan persembahan itu.

      Ketika seorang tidak bermoral memberi kepada seorang yang tidak bermoral Suatu pemberian yang diperoleh dengan tidak benar dengan tanpa keyakinan, Juga tidak meyakini bahwa buah perbuatan itu adalah besar, Moralitas keduanya tidak memurnikan persembahan itu.

      Ketika seorang bermoral memberi kepada seorang yang bermoral Suatu pemberian yang diperoleh dengan benar dengan penuh keyakinan, Meyakini bahwa buah perbuatan itu adalah besar, Pemberian itu, akan berbuah sepenuhnya.

      Ketika seorang yang tanpa nafsu memberi kepada seorang yang tanpa nafsu. Suatu pemberian yang diperoleh dengan benar dengan penuh keyakinan, Meyakini bahwa buah perbuatan itu adalah besar, Pemberian itu, yang terbaik di antara pemberian-pemberian duniawi.”
Yang di atas itu adalah bagaimana memilah manfaat secara maksimum dalam kesempatan berdana, namun juga sang Buddha mengatakan idealnya adalah seseorang dengan tipe, "Hujan di mana-mana":
    “Wahai para bhikkhu, ada tiga macam orang di dunia sini.”

    “Apakah tiga macam itu?”

    “Orang yang bagaikan awan tanpa hujan, orang yang bagaikan hujan lokal, dan orang yang bagaikan hujan di mana-mana.”

    “Seperti apakah orang yang bagaikan awan tanpa hujan?”

    “Dalam hal ini, orang itu tidak memberi kepada siapa pun. Dia tidak memberi makanan, minuman, pakaian, kendaraan, bunga-bungaan, pengharum, minyak, tempat tidur, tempat bernaung, dan lampu kepada para pertapa dan brahmana, kepada orang yang miskin, kepada orang yang terlantar dan membutuhkan. Orang semacam ini bagaikan awan tanpa hujan.”

    “Wahai para bhikkhu, seperti apakah orang yang bagaikan hujan lokal?”

    “Dalam hal ini, orang itu memberi kepada beberapa orang tetapi tidak memberi kepada yang lain. Dia hanya memberikan makanan, minuman, pakaian, kendaraan, bunga-bungaan, pengharum, minyak, tempat tidur, tempat bernaung, dan lampu kepada beberapa pertapa dan brahmana, kepada beberapa orang yang miskin, kepada beberapa orang yang terlantar dan membutuhkan, tetapi tidak memberikannya kepada yang lain. Inilah orang bagaikan hujan lokal.”

    “Wahai para bhikkhu, seperti apakah orang yang bagaikan hujan di mana-mana?”

    “Dalam hal ini, orang itu memberi kepada semuanya. Dia memberikan makanan, minuman, pakaian, kendaraan, bunga-bungaan, pengharum, minyak, tempat tidur, tempat bernaung, dan lampu kepada semua pertapa dan brahmana, kepada orang yang miskin, kepada orang yang terlantar dan yang membutuhkan. Inilah orang yang bagaikan hujan di mana-mana.”

    “Wahai para bhikkhu, demikianlah tiga macam orang yang ada di dunia ini.”

    Tidak kepada para pertapa maupun brahmana, Tidak juga kepada yang miskin dan terlantar, Dia membagikan simpanan, Makanan, minuman dan barang-barangnya; Orang yang dasarnya seperti itu disebut‘Orang yang bagaikan awan tanpa hujan’.

    Kepada beberapa orang dia tidak memberi, Kepada beberapa orang dia menawarkan dana makanan; Oleh para bijaksana orang seperti itu disebut‘Orang yang bagaikan hujan lokal’.

    Orang yang dikenal karena kebesaran hatinya, Yang mengasihi semua makhluk, Membagikan dana dengan senang hati.‘Beri! Beri!’ katanya.

    Bagaikan awan yang tebal Yang menggelegar mencurahkan hujan Mengisi bagian yang rata dan cekung, Membasahi bumi dengan air, Seperti itulah orang ini.

    Setelah dengan benar mengumpulkan kekayaan Yang dia peroleh dengan usahanya sendiri, Dia memberikan cukup makanan dan minuman Pada makhluk apa pun yang membutuhkan
    [Itivuttaka 75]
Jika kita merasa mempunyai keterbatasan dalam memberi sehingga belum mampu mencapai tataran ideal "hujan di mana-mana", maka kita dapat menggunakan pedoman sederhana sebagaimana sang Buddha sampaikan pada Brahmana Esukari di MN96/Esukārī Sutta:
    Sang Buddha TIDAK mengatakan SEMUA harus dilayani, atau TIDAK ADA yang harus dilayani. Namun, jika karena pelayanan itu:

    1. IA menjadi lebih buruk dan tidak lebih baik, maka IA seharusnya TIDAK dilayani.
    2. IA menjadi lebih baik dan tidak lebih buruk, maka IA seharusnya dilayani.
    3. AKU menjadi lebih buruk dan tidak lebih baik, maka AKU seharusnya TIDAK melayaninya.
    4. AKU menjadi lebih baik dan tidak lebih buruk, maka AKU seharusnya melayaninya.

    Ketika melayani seseorang: (1) keyakinan (saddhā), (2) moralitas (sīla), (3) pembelajaran (suta), (4) kedermawanan (cāga), dan (5) kebijaksanaannya (paññā) BERTAMBAH, maka seseorang SEHARUSNYA dilayani
Di samping itu, jangan pernah lupa bahwa memberi dan merawat orang tua juga merupakan ladang yang subur, karena hutang budi kita sangatlah besar, sebagaimana yang Sang Buddha nasehatkan dalam AN 2.32(II.4)/Samacittavaggo:
    Kunyatakan, O para bhikkhu, ada dua orang yang tidak pernah dapat dibalas budinya oleh seseorang. Apakah yang dua itu? Ibu dan ayah.

    Bahkan seandainya saja seseorang memikul ibunya ke mana-mana di satu bahunya dan memikul ayahnya di bahu yang lain, dan ketika melakukan ini dia hidup seratus tahun, mencapai usia seratus tahun; dan seandainya saja dia melayani ibu dan ayahnya dengan meminyaki mereka, memijit, memandikan, dan menggosok kaki tangan mereka, serta membersihkan kotoran mereka di sana bahkan – perbuatan itupun belum cukup, dia belum dapat membalas budi ibu dan ayahnya.

    Bahkan seandainya saja dia mengangkat orang tuanya sebagai raja dan penguasa besar di bumi ini, yang sangat kaya dalam tujuh macam harta, dia belum berbuat cukup untuk mereka, dia belum dapat membalas budi mereka.

    Apakah alasan untuk hal ini?

    Orang tua berbuat banyak untuk anak mereka: mereka membesarkannya, memberi makan dan membimbingnya melalui dunia ini.

    Tetapi, O para bhikkhu, seseorang yang mendorong orang tuanya yang tadinya tidak percaya, membiasakan dan mengukuhkan mereka di dalam keyakinan; yang mendorong orang tuanya yang tadinya tidak bermoral, membiasakan dan mengukuhkan mereka di dalam moralitas; yang mendorong orang tuanya yang tadinya kikir, membiasakan dan mengukuhkan mereka di dalam kedermawanan; yang mendorong orang tuanya yang tadinya bodoh batinnya, membiasakan dan mengukuhkan mereka di dalam kebijaksanaan – orang seperti itu, O para bhikkhu, telah berbuat cukup untuk ibu dan ayahnya: dia telah membalas budi mereka dan lebih dari membalas budi atas apa yang telah mereka lakukan.
Nah,
Sekarang anda bisa memutuskan sendiri SEMURNI APA, SEPENUH APA dan bagaimana MEMURNIKANNYA atau MEMANAGE PEMURNIAN ketika anda TIDAK SEPENUHNYA YAKIN bermoral dan berkarakter baik dan yang terpenting KEPADA SANGHA SELALU lebih BESAR daripada KEPADA individu.

Tentu saja,
ajaran Buddha tidak mengajarkan untuk bergantung pada pihak lain. Untuk itu, KITAPUN HARUS MAMPU menjadi pihak yang MEMURNIKAN dan menjadikan diri kita BERMORAL. Ketika berbicara mengenai PEMURNIAN dan MORALITAS, maka itu erat kaitannya dengan pelaksanaan SILA.

Terdapat dua ciri atau sifat yang perlu dipupuk untuk dapat membantu kita sendiri dan dunia dari kekacauan. Ini disebut dengan HIRI dan OTTAPA:
    "Para bhikkhu, dua prinsip yang terang ini melindungi dunia."

    “Apakah dua hal itu?”

    “Malu melakukan hal-hal yang tidak baik [hiri] dan takut akan akibat yang timbul dari perbuatan yang tidak baik [ottapa]”

    “Para bhikkhu, seandainya dua prinsip ini tidak melindungi dunia, maka tidak ada penghormatan yang selayaknya terhadap ibu dan saudara wanita ibu atau ipar wanita ibu, atau pada istri guru atau istri orang-orang terhormat lainnya.”

    “Maka dunia akan jatuh ke dalam kekacauan, seperti domba dengan kambing, ayam dengan babi, anjing dengan serigala. Tetapi karena dua prinsip ini yang melindungi dunia, maka ada penghormatan yang selayaknya terhadap ibu … dan istri orang-orang terhormat lainnya.” [AN 2.9]

    Mereka yang di dalam dirinya tidak dapat ditemukan
    Malu berbuat yang tidak baik dan takut akibat dari perbuatan tidak baik,
    Telah menyimpang dari sumber yang terang,
    Dan akan terseret kembali pada kelahiran dan kematian.

    Namun mereka yang di dalam dirinya selalu ada
    Malu berbuat yang tidak baik dan takut akibat dari perbuatan tidak baik,
    Yang damai, mantap dalam kehidupan suci,
    Mereka dapat mengakhiri kelahiran kembali
    . [AN 2.9, Lokapala Sutta dan Itivuttaka (iti).42][↑]
Langkah ke-2,
dibantu dua sifat di atas [Hiri dan Otappa] maka kita lakukan dengan konsisten Pancasila[23]. jika konsisten melaksanakan langkah-langkah sesuai 5 sila di atas, maka kedamaian dan ketenangan sudah menjadi milik anda dan simak JAMINAN yang diberikan sang Buddha dihadapan SUKU KALAMA:
    "Suku Kalama, bila orang yang menempuh kehidupan agung ini telah membuat pikirannya bebas dari rasa permusuhan, bebas dari niat jahat, murni dan tidak kotor, dia telah memenangkan empat jaminan dalam kehidupan ini juga.

    • Inilah jaminan pertama yang telah dimenangkannya: 'Seandainya ada alam lain, dan seandainya perilaku yang baik dan buruk memang memberikan buah dan menghasilkan akibat, maka ada kemungkinan bersamaan hancurnya tubuh setelah kematian terlahir di keadaan bahagia di alam Deva.'
    • Inilah jaminan kedua yang telah dimenangkannya: 'Seandainya tidak ada alam lain, dan seandainya tindakan baik dan buruk memang tidak memberikan buah dan menghasilkan akibat, tetap saja di sini, di dalam kehidupan ini juga, aku hidup dengan bahagia, bebas dari rasa permusuhan dan niat jahat.'
    • Inilah jaminan ketiga yang telah dimenangkannya: 'Seandainya kejahatan menimpa si pelaku kejahatan, maka karena aku tidak berniat jahat kepada siapapun, bagaimana mungkin penderitaan menyerangku, orang yang tidak melakukan kejahatan?'
    • Inilah jaminan keempat yang telah dimenangkannya: 'Seandainya kejahatan tidak menimpa pelaku kejahatan, maka di sini juga aku melihat diriku sendiri termurnikan di dalam dua hal [dia tidak melakukan kejahatan dan tidak ada kejahatan yang akan menimpanya]'

    "Suku Kalama, bila orang yang menempuh kehidupan agung ini telah membuat pikirannya bebas dari permusuhan, bebas dari niat jahat, murni dan tidak kotor, maka dia telah memenangkan empat jaminan ini di dalam kehidupan ini juga." [Kalama sutta]
Perlu juga saya perjelas di sini bahwa melaksanakan PANCASILA bukan hanya bermanfaat sebagai PEMURNI dari DANA yang diberikan namun manfaatnya adalah jauh lebih besar lagi daripada mempersembahkan DANA kepada mereka yang tercantum dalam MN 142!

Konfirmasi ini disampaikan sang Buddha kepada Anāthapindika.

Anathapindika, seorang seorang Sotapanna yang kaya raya, kemudian, karena kemurahan hatinya yang tanpa akhir dan karena tidak menjalankan usahanya, pendapatan saudagar itupun menjadi berkurang, kekayaannya juga semakin berkurang dan berkurang; akhirnya menjadi orang miskin; makanan, pakaian, tempat tinggal dan keadaannya tidak lagi seperti yang mereka miliki di waktu jayanya. Walaupun keadaannya telah berubah sedemikian rupa, ia masih saja menjamu para bhikkhu, meskipun tidak mampu mengadakan perjamuan besar lagi. Berikut Cuplikan dari AN 9.20/Velamaka Sutta:
    Suatu hari, setelah ia memberikan hormat dan mengambil tempat duduk, Sang Guru bertanya kepadanya, “Tuan (perumah tangga), apakah dana makanan masih dilakukan di rumahmu?”

    “Masih, Bhante, namun hanya sedikit bubur sekam yang agak asam, sisa semalam.”

    Sang Buddha, "Jika seseorang memberikan persembahan yg baik ataupun tidak namun persembahan itu TIDAK dilakukan dengan:

    1. penuh kewaspadaan,
    2. penuh perhatian,
    3. tangan sendiri,
    4. bagaikan persembahan itu dilemparkan jauh kepada si penerima, dan
    5. pandangan bahwa itu akan berbuah baik

    Maka di manapun persembahan itu kemudian berbuah, pikirannya tidak akan menikmati makanan, pakaian dan kekayaan; kenikmatan 5 indriya tidak diperoleh; Keluarganya, pembantu atau pekerjanya tidak akan mendengarkannya atau bahkan tidak mau mengerti padanya.

    Mengapa?

    Demikianlah hasil perbuatan yang dilakukan secara serampangan.

    [Juga berlaku sebaliknya]

    Perumah tangga, di jaman dulu, Aku adalah seorang Brahmana Velama, Aku memberikan persembahan:84.000 mangkuk dari emas yang penuh dengan perak; 84.000 mangkuk dari perak yang penuh dengan emas; 84.000 mangkuk dari perunggu yang penuh dengan emas dan perak; 84.000 gajah dengan dekorasi bendera emas dan emas dan ditutup dengan jaring emas; 84.000 kereta dengan aksesoris dari kulit singa, kulit harimau, kulit rusa, selimut oranye dihiasi dengan emas dan bendera emas yang ditutup dengan jaring emas; 84.000 sapi di tutupi kain halus dengan ember perunggu untuk susu mereka; 84.000 gadis yang berhias anting-anting permata; 84.000 bantal, yang berlapis kulit rusa, karpet kulit rusa, kanopi dengan bantal merah di kedua sisi; 84.000 scrore pakaian dari kain: linen halus, sutra halus, wol halus; makanan, minuman, makanan keras dan manisan penutup yang disampaikan bagaikan sungai mengalir.

    Namun persembahan tersebut tak dapat Aku sampaikan pada seseorang yang berlindung kepada Ti Ratana atau yang menjalankan 5 (lima) latihan moralitas (Pancasila); karena orang-orang yang pantas menerima pemberian itu sangatlah langka ditemukan ketika itu. (ini adalah jaman dimana ajaran Buddha telah lenyap sama sekali).

    Perumah tangga, Jika saja Brahmana Velama, yang memberikan seluruh persembahan di atas, dapat memberikan makan kepada hanya 1 orang yang ber-pandangan benar [dithi sampanna, atau seorang sotapanna) maka memberikan makan 1 orang Sotapanna itulah yang akan lebih memberi manfaat besar;
    Jika Brahmana itu bahkan memberikan makanan pada 100 orang Sotapanna maka memberikan makanan pada 1 orang Sakadagami itulah yang akan memberikan manfaat lebih besar;
    ..100 Sakadagami..1 orang Anagami itulah yang akan memberikan manfaat lebih besar;
    ..100 Anagami..1 orang Arahat itulah yang akan memberikan manfaat lebih besar;
    ..100 Arahat..1 orang Pacceka Buddha itulah yang akan memberikan manfaat lebih besar;
    ..100 Pacceka Buddha..1 orang Sammasambbuddha itulah yang akan memberikan manfaat lebih besar;
    ..lebih besar manfaatnya lagi jika Brahmana Velama tersebut berdana pada 1 komunitas sangha yang dipimpin Sang Buddha;
    ..lebih besar lagi manfaatnya lagi jika Brahmana Velama tersebut membangun vihara untuk Saṅgha dari empat penjuru;
    ..lebih besar manfaatnya lagi jika Brahmana Velama tersebut berlindung pada Buddha, Dhamma dan Sangha;
    ..lebih besar manfaatnya lagi jika Brahmana Velama tersebut melakukan PANCASILA;
    ..lebih besar manfaatnya lagi jika Brahmana Velama tersebut mengembangkan METTA BHAVANA [mettacittaṃ] selama satu hirupan bebauan [antamaso gandhohanamattampi];
    ..lebih besar manfaatnya lagi jika Brahmana Velama tersebut mengembangkan PERSEPSI KETIDAK-KEKALAN [anicca saññaṃ] selama satu jentikan jari [accharāsaṅghātamattampi]
Jelas tertera bahwa selain berdana dan berlindung pada Buddha, Dhamma dan Sangha maka menjalankan PANCASILA adalah jauh lebih bermanfaat, bukan?!

Siapapun anda, anak kecil atau orang dewasa, kaya atau miskin, cacat atau normal, Bermoral baik atau bahkan penjahat kelas berat, Pemuja Tuhan manapun atau tidak satupun atau bahkan TIDAK MEMPERCAYAI APAPUN, jika anda melakukan Praktek BERDANA dan juga MENJALANKAN 5 SILA, toh tetap TIDAK AKAN MERUGIKAN aqidah anda dan/atau membuat anda menjadi TIDAK BERBAHAGIA.

Berita baiknya, Anda bahkan TIDAK PERLU menjadi seorang ber-KTP Buddha untuk mempraktekan kebajikan-kebajikan di atas!

Tunggu apa lagi?

Tentu saja, menjalankan moralitas [sila] haruslah penuh kesungguhan, sehingga kemurnian dari praktek moralitas ini menjadi terpenuhi.

Bisa jadi anda menganggap bahwa Langkah-langkah di atas, hanyalah akan membuat anda terlahir ditempat BAIK (Alam Deva hingga alam Brahma) atau kemungkinan terburuknya adalah terlahir kembali di alam manussa dengan penampilan fisik sangat menawan, cerdas, punya banyak pengikut, banyak sahabat, keturunan2 yang baik, materi berlimpah dan sangat beruntung MASIHLAH TIDAK MENARIK karena MASIH MEMBUAT anda terlahir kembali dan TIDAK TERLEPAS dari LINGKARAN KELAHIRAN KEMBALI [SAMSARA].

Ya! tidak lah keliru jika anda berpikir demikian!

Dalam MN 79/Culasakuludayi Sutta (Sutta ini disampaikan kepada Sakuludāyin petapa murid dari Vekkhanassa/kaccana. Di akhir sutta, Sakuludayi berlindung pada Tiratana dan ingin menerima penahbisan penuh sebagai Bhikkhu)
    Udayin: “Yang Mulia, telah diajarkan dalam doktrin guru-guru kami: ‘Ada suatu alam yang sungguh-sungguh menyenangkan; ada cara praktis untuk mencapai alam yang sungguh-sungguh menyenangkan itu.’”

    Sang Buddha: “Tetapi, Udāyin, bagaimanakah cara praktis untuk mencapai alam yang sungguh-sungguh menyenangkan itu?”

    Udayin: “Di sini, Yang Mulia:

    1. dengan meninggalkan membunuh makhluk-makhluk hidup, seseorang menghindari membunuh makhluk-makhluk hidup;
    2. dengan meninggalkan mengambil apa yang tidak diberikan, ia menghindari mengambil apa yang tidak diberikan;
    3. dengan meninggalkan melakukan hubungan seksual yang salah, ia menghindari melakukan hubungan seksual yang salah;
    4. dengan meninggalkan ucapan salah, ia menghindari ucapan salah;
    5. atau kalau tidak, ia menjalani beberapa jenis praktik pertapaan.

    Ini adalah cara praktis untuk mencapai alam yang sungguh-sungguh menyenangkan itu.”

      [Note:
      Perhatikan kesamaan praktik 4 sila umat awam yang dilakukan baik oleh penganut NON Buddhism dan juga Buddhism. Ini adalah FAKTA bahwa SILA( dan juga DANA) merupakan praktek dasar UMUM moralitas di ajaran trah India dalam melatih diri menuju pemurnian]

    Sang Buddha: Bagaimana menurutmu, Udāyin? Pada saat ia meninggalkan membunuh makhluk-makhluk hidup dan menghindari makhluk-makhluk hidup..beberapa jenis praktik pertapaan, apakah dirinya merasakan hanya kenikmatan atau merasakan baik kenikmatan maupun kesakitan?”

    Udayin: “Kenikmatan dan kesakitan, Yang Mulia.”

    Sang Buddha: Apakah pencapaian alam yang sungguh-sungguh menyenangkan itu terjadi dengan mengikuti jalan yang bercampur antara kenikmatan dan kesakitan?”

    Udayin kemudian bersepakat bahwa bahwa cara itu belum dapat mencapai alam yang sungguh menyenangkan, kemudian ia bertanya: “Yang Mulia, bagaimanakah cara praktis untuk mencapai alam yang sungguh-sungguh menyenangkan itu?”

    Sang Buddha: “Di sini, Udāyin, dengan cukup terasing dari kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna ke-1 … Dengan menenangkan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, ia masuk dan berdiam dalam jhāna ke-2 … dalam jhāna ke-3 … ini adalah cara praktis untuk mencapai alam yang sungguh-sungguh menyenangkan itu.”

    Udayin: “Yang Mulia, itu bukan cara praktis untuk mencapai alam yang sungguh-sungguh menyenangkan itu; pada titik itu alam yang sungguh-sungguh menyenangkan itu telah tercapai.”

    Sang Buddha: “Udāyin, pada titik itu alam yang sungguh-sungguh menyenangkan itu belum tercapai; itu hanyalah cara praktis untuk mencapai alam yang sungguh-sungguh menyenangkan itu.”

    Udayin: “Yang Mulia, pada titik manakah alam yang sungguh-sungguh menyenangkan itu tercapai?”

    Sang Buddha: “Di sini, Udāyin, dengan meninggalkan kenikmatan dan kesakitan, dan dengan pelenyapan sebelumnya kegembiraan dan kesedihan, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna ke-4, yang tanpa kesakitan juga tanpa kenikmatan dan kemurnian perhatian karena keseimbangan. Ia berdiam bersama dengan para dewa yang telah muncul dalam alam yang sepenuhnya nikmat dan ia berbicara kepada mereka dan berbincang-bincang dengan mereka. Pada titik ini alam yang sungguh-sungguh menyenangkan itu telah tercapai.”

      [Note:
      Buah kemahiran dari Praktek meditasi adalah jhana ke-1 s.d ke-8. Seorang yang belum Nibanna, setelah keluar dari meditasi kemelekatan dan penolakan pada perasaan kenikmatan, kesakitan dan/atau bukan keduanya masih tetap menyertainya. Inilah yang membedakan Nibanna vs bukan]

    Udayin: “Yang Mulia, tentu adalah demi mencapai alam yang sungguh-sungguh menyenangkan itu maka para bhikkhu menjalani kehidupan suci di bawah Sang Bhagavā.”

    Sang Buddha: “Bukan demi mencapai alam yang sungguh-sungguh menyenangkan itu maka para bhikkhu menjalani kehidupan suci di bawahKu. Ada kondisi-kondisi lain, Udāyin, yang lebih tinggi dan lebih mulia [daripada itu] dan adalah demi mencapai itu maka para bhikkhu menjalani kehidupan suci di bawahKu”.

      [Note:
      Anggapan bahwa pencapaian Jhana ke-1 s.d 8 = Nibanna memang merupakan pandangan salah yang umum di anut di sebelum kemunculan sang Buddha. Untuk detail lanjutannya apa yang lebih tinggi daripada itu, silakan baca suttanya untuk mengetahuinya]
Pikiran yang diarahkan (vimuttaṁ) pada tingkat yang tidak tinggi dan tidak dikembangkan pada tingkat yang lebih tinggi (uttariṁ abhāvitaṁ), maka akan menuju pada kelahiran kembali di alam-alam tersebut. Demikian yang dinyatakan juga dalam DN 33/Sangiti Sutta [juga AN 8.35/Dānūpapatti]:
    Delapan jenis kelahiran kembali karena kedermawanan: Di sini, seseorang memberikan kepada seorang petapa atau Brāhmaṇa, makanan, minuman, pakaian, transportasi (yānaṁ), karangan bunga, wangi-wangian, dan salep, akomodasi untuk tidur, tempat tinggal, atau cahaya, dan ia mengharapkan imbalan atas pemberiannya itu.

    (a) Ia melihat seorang Khattiya atau Brāhmaṇa atau perumah tangga kaya yang hidup dipenuhi dengan kenikmatan lima indria, dan ia berpikir: “Seandainya ketika aku meninggal dunia, aku bisa terlahir kembali seperti salah satu dari orang kaya itu!” atau..(b) setelah mendengar bahwa para dewa di alam Empat Raja Dewa berumur panjang, berpenampilan rupawan, dan menikmati kehidupan bahagia, ia berpikir: “Seandainya aku bisa terlahir di sana!” Atau ia bercita-cita untuk terlahir kembali di alam (c) Tiga-Puluh-Tiga Dewa, (d) Dewa Yama, (e) Dewa Tusita, (f) Dewa Nimmānarati, (g) Dewa Paranimmita-vasavatti,

    ia memantapkan pikirannya pada pikiran itu, memusatkan dan mengembangkannya (bhāveti). Dan pikiran ini, karena diluncurkan (vimuttaṁ) pada tingkat yang rendah (hīne), dan tidak dikembangkan pada tingkat yang lebih tinggi (uttariṁ abhāvitaṁ), maka mengarah menuju kelahiran kembali di sana. Tetapi aku mengatakan ini dalam hal seorang yang benar-benar bermoral [silavato], bukan seorang yang tidak bermoral [dussīlassa]. Cita-cita [cetopaṇidhi] dari seorang yang sungguh bermoral murni [sīlavato cetopaṇidhi visuddhattā].

    (h) Atau ia bercita-cita untuk terlahir kembali di alam Brahmā rupa [brahmakāyikānaṃ]..Ia memantapkan pikirannya pada pikiran itu, memusatkan dan mengembangkannya (bhāveti). Dan pikiran ini, karena diluncurkan (vimuttaṁ) pada tingkat yang rendah (hīne), dan tidak dikembangkan pada tingkat yang lebih tinggi (uttariṁ abhāvitaṁ), maka mengarah menuju kelahiran kembali di sana. Tetapi aku mengatakan ini dalam hal seorang yang sungguh bermoral, bukan seorang yang tidak bermoral, seorang yang terbebas dari nafsu (vītarāgassa), bukan seorang yang masih terombang-ambing oleh nafsu [sarāgassa]. Cita-cita dari seorang yang sungguh bermoral bebas dari nafsu [sīlavato cetopaṇidhi vītarāgattā]’
Pengelolaan kelahiran kembali menjadi esensi terpenting di jaman Non Dhamma sejati ini!
    Demikian telah dikatakan oleh Sang Buddha:
    “Para bhikkhu, apapun dasar untuk melakukan jasa yang menghasilkan kelahiran kembali di masa depan, semua ini tidak sebanding dengan seperenam-belas bagian dari kebebasan pikiran melalui cinta-kasih [mettāya cetovimuttiyā]. Penyebaran pikiran cinta kasih melampaui semuanya itu, dan bersinar cerah, terang serta benderang. [Itivuttaka 27]
AN 9.20/Velamaka Sutta di atas, juga telah memberikan informasi mengenai METTA BHAVANA dan ANICCA SANNA yang memberikan manfaat lebih besar lagi daripada DANA-SILA! Berikut Informasi dari Itivuttaka:
    Demikian telah dikatakan oleh Sang Buddha

    “Wahai para bhikkhu, janganlah takut melakukan perbuatan yang bermanfaat. ‘Perbuatan yang bermanfaat’ merupakan ungkapan yang menunjukkan kebahagiaan, apa yang pantas dilakukan, yang diinginkan, diharapkan, berharga, dan menyenangkan.”

    “Karena telah kuketahui dengan pasti, wahai para bhikkhu, bahwa sudah lama aku mengalami buah-buah yang diinginkan, diharapkan, berharga, dan menyenangkan, karena seringnya melakukan perbuatan yang bermanfaat.”

    “Setelah selama 7 tahun mengembangkan pikiran yang penuh cinta-kasih, selama 7 kalpa yang menyusut dan mengembang, aku tidak pernah kembali ke dunia ini. Bilamana kalpa menyusut, aku mencapai alam brahma yang bercahaya gilang-gemilang. Ketika kalpa mengembang, aku muncul di alam brahma yang kosong. Di sana aku pernah menjadi Brahma, Brahma Agung [mahābrahmā], Pemenang Yang Tak Terkalahkan, Yang Maha Tahu, Yang Maha Kuasa.”

    “36 x aku menjadi Sakka, raja para dewa. Dan beratus-ratus kali aku lahir sebagai Penguasa Pemutar-Roda yang berbudi, raja keluhuran, penakluk 4 penjuru dunia [cakkavattī dhammiko dhammarājā], yang mempertahankan stabilitas di negeri itu, pemilik tujuh perhiasan. Maka apa gunanya berbicara perihal menjadi raja setempat saja?”

    “Wahai para bhikkhu, aku pernah bertanya-tanya dalam hati: Tindakanku yang bagaimanakah yang memberikan buah ini? Tindakan manakah yang masak sehingga aku sekarang dapat memiliki pencapaian dan kekuatan yang sedemikian besar ini?”

    Dan kemudian muncul dalam diriku: “Adalah karena pahala tiga jenis tindakanku, matangnya tiga jenis perbuatanku inilah yang membuat aku sekarang memiliki pencapaian dan kekuatan yang sedemikian besar, yaitu: perbuatan memberi [dānassa], menguasai diri [damassa], dan menahan diri [saññamassā].”

    Orang harus berlatih melakukan perbuatan yang bermanfaat Yang menghasilkan kebahagiaan yang berlangsung lama:
    Dermawan [Dānañca], hidup seimbang [samacariyañca], Mengembangkan pikiran yang penuh cinta kasih [Mettacittañca bhāvaye].

    Dengan mengembangkan tiga perbuatan ini, Yaitu perbuatan yang membuahkan kebahagiaan,Orang bijaksana terlahir kembali dalam kebahagiaan, Dalam alam bahagia yang tidak terganggu.
    [Itivuttaka 22]
Perbuatan baik berdana disamping memerlukan materi juga memerlukan keberadaan PIHAK LAIN. Perbuatan baik melakukan moralitas (Sila) memerlukan upaya menahan diri atas lingkungan luar dan dalam. Perbuatan baik melakukan SAMADHI/Meditasi, tidak memerlukan materi dan orang lain, GRATIS dan dapat dilakukan setiap orang memerlukan upaya, perhatian dan pengendalian diri.

Ukuran keberhasilan diantaranya adalah tercapainya JHANA (keterpusatan pikiran) atau juga kemampuan memperhatian kehendak sebelum bertindak.

Apapun perbuatan baik yang dilakukan, sertai dengan pikiran yang murni, maka inilah jalan PARAMI (kesempurnaan) yang buahnya adalah tak terukur!

Kebiasaan melakukan perbuatan baik, jikapun tidak mencapai kesempurnaan, maka akan berakibat terlahir di alam bahagia dan bagi mereka yang tidak mencapai kesempurnaan namun mencapai jhana maka akan berakibat terlahir di alam Brahma.

Lantas apa keuntungan terlahir di alam BRAHMA sebagai tempat menunggu?
  1. Baik di alam kamaloka maupun alam brahma, tetap saja akan mengalami: LAHIR dan MATI Namun perbedaannya, di alam BRAHMA, tidak akan mengalami SAKIT FISIK.

  2. Umur kehidupan di alam BRAHMA RUPA adalah tak terhitung lamanya. Yang terendah di alam Jhana ke-1, alam Brahma-pārisajjā, berumur 1/3 Asankheyya Kappa (AK) s.d 500 MAHA KAPPA (Alam Brahma jhana ke-4). Keuntungan terlahir di alam brahma rupa ini, bisa belajar mencapai kesucian dari mereka, rekan sesama Brahma Rupa yang telah mencapai kesucian di alam tersebut. Jika berhasil maka tidak perlu menunggu seorang Buddha berikutnya.

  3. Jika anda gagal mencapai kesucian setelah mencoba belajar dari para rekan sesama Brahma rupa maka karena kelahiran di alam tersebut adalah kelahiran spontan, anda akan mengingat sebab anda terlahir di alam tersebut, sehingga anda MEMPUNYAI KESEMPATAN LEBIH BESAR LAGI untuk mengulang kejadian SERUPA dengan meneruskan latihan meditasi/perenungan yang telah anda lakukan di kehidupan sebelumnya. Ini memperbesar peluang anda untuk belajar lagi dari rekan sesama brahma di alam itu atau pun juga untuk menunggu bertemu BUDDHA berikutnya

  4. Untuk memperjelas maksud saya, di bawah ini adalah Tabel persamaan BERAPA KALI harus terlahir secara bersambung di alam2 deva KAMALOKA tertentu [Alam terendah dan Alam tertinggi di kamaloka] AGAR DAPAT MENYAMAI 1 x umur kehidupan alam Brahma terendah, yaitu: Brahma-pārisajjā.

    Alam DevaUmur DevaJumlah Harus Terlahir Berulang, agar = 1 x umur Brahma-pārisajjā?
    Catumaharajika 9 x 106 tahun3.95 x 1015 Kali
    Mara9.2 x 109 tahun3.85 x 1012 Kali
    Note:
    • Nilai Kappa yang saya gunakan adalah lamanya waktu kehidupan di neraka Paduma, yaitu: 5.327 x 1021 tahun [Utk perhitungannya lihat: BLOG INI]
    • Umur kehidupan di neraka Paduma JAUH LEBIH KECIL dibandingkan lama 1 antara kappa di neraka Avici yang sesungguhnya
    • Dalam perhitungan perkiraan ini, umur kehidupan di neraka Paduma DIASUMSIKAN SAMA dengan 1 antara kappa neraka Avici.
    • 1 MK = 80 antara kappa neraka avici; 1 MK = 4 Asenkkheyya Kappa (AK); 1 AK = 20 antara kappa, sehingga 1/3 AK = 3.6 x 1021
Dengan mencapai Jhana, sekurangnya problem antara yang terjadinya di sela kelahiran berulang menjadi jauh berkurang, resiko terjatuh di alam bawah ketika cuti citta (pikiran menjelang kematian) lebih diminimalisir dan meneruskan latihan di alam jhana adalah lebih kondusif.

Tentunya sekarang, anda semakin mendapatkan gambaran mengenai betapa pentingnya MENCAPAI JHANA dikehidupan ini agar dapat terlahir di alam Brahma, bukan?

Nah, itulah salah satu MANFAAT TERKECIL dari pencapaian MEDITASI!

Di atas kita telah mengenal DANA dan SILA. Objek tersebut SANGAT BERGUNA sebagai OBJEK MEDITASI untuk mencapai ALAM BRAHMA [alam Jhana ke-1 s.d 4]. Disamping, KONSISTEN MELAKUKAN DANA dan SILA, maka barengilah dengan perenungan, CAGANUSATI dan SILANUSATI [perenungan terhadap kemurahan hati dan sila] serta RAILAH JHANA dengan melakukannya.

Caranya?

Perhatikan no.4 [Silanussati] dan no.5 [Caganussati] yang merupakan bagian dari 6 perenungan sebagaimana tercantum di AN 6.10/mahanama sutta, sebagai langkah melakukannya:
    1. ..Siswa mulia merenungkan moralitasnya yang utuh, tak robek, tak bernoda, tak bercela, membebaskan, dipujikan para bijaksana tak melekati, mengarah pada konsentrasi

    2. ..siswa mulia merenungkan kemurahan hatinya: "keberuntungan bagiku, bermanfaat besar bagiku, di antara mereka yang tergairahkan noda ketamakan, Aku berdiam dengan pikiran bebas dari noda ketamakan, melepas dengan kemurahan hati, murni dengan tangan terbuka tanpa mencela, selalu siap bagi yang membutuhkan, bergembira karena berkesempatan dapat memberi"

    ..ketika siswa mulia mengingat kembali KEBAJIKAN MORALNYA/KEMURAHAN HATINYA sendiri dengan cara demikian, pikirannya tidak terobsesi oleh nafsu [raga], kebencian[dosa], kekeliruan tahu [moha]. Pada saat itu, pikirannya menjadi terarah pada: KEBAJIKAN MORALNYA/KEMURAHAN HATINYA sendiri. Dengan terarahnya pikiran..siswa mulia memperoleh: pemahaman makna, pemahaman ajaran, sukacita sehubungan dengan pemahaman ajaran. sukacita memunculkan kegembiraan, kegembiraan di pikiran menenangkan jasmani, tenangnya jasmani kebahagiaan dirasakan, bahagia menjadikan pikiran terkonsentrasi
So,Tidak ada yang terbuang percuma, Bukan?!

[Kembali (↑)]
---------------

SAMADHI dan PANNA

TUJUAN UTAMA MEDITASI
Sang Buddha kerap menginstruksikan, "Jhāyatha!" [Bermeditasilah/capailah Jhana -> lihat: MN.152/Indriyabhāvanā Sutta;MN 19/Dvedhāvitakka Sutta; SN 35.146/Kamma nirodha sutta; SN 43/Asaṅkhatasaṃyutta, dll]. Meditasi/Samadhi merupakan 1 dari tiga latihan (lainnya adalah dana dan sila) untuk mengasah parami (kesempurnaan) agar mengetahui dan melihat apapun itu adalah Anicca, Dukkha dan Anatta.

Meditasi atau bhavana ('pengembangan mental’) berkaitan dengan Jhana (sukhavihārā atau "kediaman yang menyenangkan") dan pemurniannya [sallekho karaṇīyo] [MN.8/Sallekha Sutta]. Pemurnian ini mengarah pada Nibanna sehingga disebut sebagai Samma samadhi [sama (rata, seimbang) + adhi (lebih, di atas) yang benar].

Kesempurnaan samadhi adalah tercapainya jhana (keterpusatan pikiran/konsentrasi. kadang juga diartikan diri dalam keadaan terbakar, cemerlang atau terpesona atau keadaan tercerap).

Berikut ini adalah dari MN.44/Mahavedalla sutta:
    “Yang Mulia, apakah konsentrasi (samādhi)? Apakah landasan konsentrasi (dhammā samādhinimittā)? Apakah perlengkapan konsentrasi (dhammā samādhiparikkhārā)? Apakah pengembangan konsentrasi (samādhibhāvanā)?”

    “Keterpusatan pikiran (cittassa ekaggatā)..adalah samadhi; Empat Landasan Perhatian (cattāro satipaṭṭhānā) adalah landasan samadhi; Empat Usaha Benar (cattāro sammappadhānā) adalah perlengkapan konsentrasi; pengulangan (dhammāna āsevanā), Pengembangan (bhavana), keterbiasaan (bahulīkammaṃ) adalah pengembangan konsentrasi.”
OBJEK MEDITASI
Objek dari Samatha (tenang, diam, hening, reda, damai, berhenti) sebenarnya lebih dari 40 [40 Kammathana, atau 40 "tempat/objek kerja" adalah hasil elaborasi Buddhaghosa][26]. Apapun objek yang dipilih, tujuan utamanya adalah tercapainya sammasamadhi yaitu keterpusatan pikiran/konsentrasi [Jhana]. Jadi, pilihlah salah satu objek tersebut dan tekuni dengan baik.

Di sini, saya hanya membahas objek bernafas [ānāpā­na]. Alasannya?

Nafas merupakan kondisi alami yang ada pada kita dan ānāpā­nasati [perhatian pada nafas yang keluar/masuk] adalah objek meditasi yang digunakan oleh seluruh Buddha dari jaman dahulu termasuk Buddha Gotama.

Walaupun demikian alur kerja, gejala/kisi-kisinya dapat diaplikasikan oleh para penekun objek meditasi lainnya.
    [Note:
    Gambaran secara kasar cara "membaca" objek yang dipilih, misalnya objek nafas, ini artinya: Indriya (perasa) dan objeknya (udara/tekanan) terjadi pesentuhan (di sekitar hidung, perut atau dada). Persentuhan ini memunculkan kesadaran, ketiganya (Indra perasa, udara/tekanan dan Kesadaran) disebut kontak (Mengetahui, mengalami sepenuhnya). Kontak memuncukan perasaan (menyenangkan, menyakitkan, bukan keduanya). Apa yang dirasakan itu yang dipikirkan. Apa yang dipikirkan itu berkembang biak dalam pikiran berupa: sumber, persepsi, gagasan dalam bentuk masa lalu (ingatan), sekarang dan masa depan (nafas: panjang, pendek, cepat, lambat, halus, kasar, menyenangkan, menyakitkan, biasa-biasa saja, dll) yang dikenali oleh indera perasa -> Pertemuan ketiganya disebut kontak, dst, Kemudian dikenali polanya yaitu muncul-lenyap, dipahami bahwa ini terkondisi. Dipahami sepenuhnya bahwa semua yang berkondisi adalah tidak memuaskan, bukanlah landasan yang dapat digenggam dan munculah pengetahuan pembebasan]
CARA MELATIH MEDITASI
Persiapan [misal: MN 119/Kayagatasati Sutta]:
posisi/sikap/postur (Iriyapatha) dalam bermeditasi dapat dilakukan dalam 4 sikap/postur (cattaro iriyapatha), yaitu: berbaring (sayano), berdiri (caram/ṭhito), duduk (nissino) atau berjalan (gacchanto atau cankama/AN 5.29). Apapun sikap yang dipilih, berdiam demikian dengan rajin, tekun, bersungguh-sungguh, ingatan-ingatan dan kehendak-kehendaknya dari kehidupan rumah tangga ditinggalkan; dengan ditinggalkannya hal-hal itu pikirannya menjadi kokoh ke dalam, tenang, manunggal dan terpusat/terkonsentrasi [ajjhattameva cittaṃ santiṭṭhati, sannisīdati, ekodi hoti, samādhiyati]

Saya hanya memfokuskan pada postur duduk.

Duduklah tegak lurus dengan kaki bersila [atau duduk di kursi dengan sandaran yang ditegakkan]. Tulang belakang badan dan kepala harus tegak, seimbang dan lurus namun tidak kaku. Kedua tangan diletakkan lemas/tanpa tenaga di atas paha. Tenangkanlah diri, tinggalkan dunia yang penuh ketegangan.

Pastikan badan tidak bergerak. Kenyamanan duduk adalah upaya diri sendiri untuk menerima kondisi. Perubahan apapun untuk memperbaiki kenyamanan dalam duduk, akan berhasil sementara, namun lambat laun posisi itupun akan menjadi tidak nyaman pula.

Kenapa?

Sabbe sankhara anicca dan dukkha..Semua yang berkondisi adalah tidak kekal dan tidak memuaskan.

Jadi, tugas permulaannya adalah melatih diri membiasakan tubuh terlebih dahulu dalam menerima posisi tersebut dan berusaha untuk tidak bergerak atau merubah posisi.

Caranya?

Dengan mengalihkan perhatian dari mengawasi kapan ketidaknyamanan itu mulai muncul (karena tidak terbiasa) menjadi HANYA memfokuskan pikiran pada nafas!

Bagaimana jika merasa gatal?

Sama. tidak meladeninya dan membiarkannya saja. Bertahanlah sekuatnya untuk tidak meladeni dan fokus pada tugas utama yaitu: HANYA berfokus pada nafas.

Jika anda mengalami gangguan untuk menetapkan perhatian pada napas, salah satu cara yang dapat dipakai adalah dengan menghitung.
  • Hitunglah ‘satu’ pada saat masuknya napas dan ‘dua’ pada saat napas keluar, catatlah ‘satu’ pada akhir masuknya napas dan ‘dua’ pada akhir hembusan dan keluarnya napas dan begitu pula seterusnya. Hentikanlah menghitung, jika sudah tertuju hanya pada napas, atau
  • Tarik nafas masuk hingga nafas keluar, jika perhatian berhasil dilakukan hanya pada nafas, catat ‘satu’ di akhir hembusan nafas keluar. Lakukan cara yang sama dan catat 'dua', demikian seterusnya hingga 'lima'. Namun, di HITUNGAN MANAPUN, terjadi kegagalan memperhatikan hanya pada nafas, maka HITUNGAN DIULANG KEMBALI dari 'satu'. Hentikanlah menghitung, jika sudah tertuju hanya pada napas.
Cara inipun akan membuyarkan perhatian lagi. Namun tidaklah mengapa, karena ini adalah cara melatih pembuyaran pikiran-pikiran lain dan hanya berkonsentrasi pada nafas masuk dan nafas keluar, ketika telah terbiasa, maka cara menghitung pun dengan sendirinya akan tinggalkan

So,
Tariklah nafas dan hembuskan nafas, tegakkan perhatian dihadapan[27] [parimukhaṃ satiṃ upaṭṭhapetvā], ingatkan lagi diri sendiri pada tujuan anda di saat ini.

Perhatikanlah bagaimana napas itu sedang keluar dan masuk sehingga nafas akhirnya menjadi tanpa usaha sama sekali, pada temponya napas bisa menjadi amat lembut dan halus hingga tidak terasa, tetaplah perhatian pada gerak napas.

Jika pikiran berkeliaran menuju bentuk-bentuk pikiran (Pikiran apa saja: baik, buruk, indah, jahat, erotis, berguna/tidak) datang dan bertindak seperti pemain di atas pentas, maka jangan senang dengan pikiran baik dan jangan murung dengan pikiran jahat, cukup disadari/diketahui, tidak melibatkan diri secara emosi maupun akal; tidak mengomentari, menyalahkan, menilai maupun memuji dan segera kembalikan perhatian pada gerak napas

Jika anda mendengar suara, disadari/diketahui dan kembalikan perhatian pada napas. Begitu pula dengan bau, rasa, sentuhan, rasa sakit, bahagia dan sebagainya. Perhatikanlah pikiran dengan tenang dan tidak terikat dan segera kembalikan perhatian pada gerak napas

Bisa juga akan muncul bayangan yang dihasilkan dari ingatan dan khayalan, seperti cahaya, warna, bentuk dan sebagainya. Jangan terpengaruh dengan mengira bahwa inilah kehebatan mental. Jauh dari itu. Semua ini adalah rintangan yang menghambat kemajuan. Waspadalah terhadap semua bayangan ini tanpa mental harus terlibat, kembalikan segera perhatian pada pernapasan.

Perhatian benar berarti mengamati apapun yang terjadi di dalam diri dan kebiasaan diri, tanpa menilai baik/buruknya, sekedar mengawasi dan menyadarinya/mengetahui kemunculannya dan membiarkannya berlalu saja

Yang perlu diperhatikan hanyalah TUBUH NAFAS ITU SENDIRI [MN10/Satipatthana sutta, maupun DN 22/Mahāsatipaṭṭhāna Sutta dan MN119/Kayagatasati Sutta]:
    Dan bagaimanakah, para bhikkhu, seorang bhikkhu berdiam merenungkan jasmani sebagai jasmani [kāye kāyānupassī viharati]? Di sini, seorang bhikkhu, pergi ke hutan atau ke bawah pohon atau ke sebuah gubuk kosong, duduk; setelah duduk bersila, menegakkan tubuhnya, dan menegakkan perhatian di depannya[27] [parimukhaṃ satiṃ upaṭṭhapetvā]

    Ia dengan penuh perhatian menarik nafas [So sato+va assasati], dengan penuh perhatian mengembuskan nafas [satova passasati]:

    1. Nafas panjang/dalam [dīgha], Ia mengetahui [pajānāti: tahu, mengerti/memahami, 'melihat' dengan jelas]:
      ‘Aku menarik nafas panjang’; atau
      ‘Aku mengembuskan nafas panjang'

    2. Nafas pendek [rassa], Ia mengetahui [pajānāti]:
      ‘Aku menarik nafas pendek’; atau
      ‘Aku mengembuskan nafas pendek

    3. Ia berlatih [sikkhati] mengalami [paṭisaṃvedī]:
      ‘Aku menarik nafas merasakan keseluruhan tubuh nafas [sabbakāya]'; atau
      ‘Aku mengembuskan nafas merasakan keseluruhan tubuh nafas’

      • note:
        Sabbakāya [keseluruhan tubuh nafas]: masing-masing terdapat 3 fase dalam setiap [tarikan atau hembusan] nafas, yaitu: awal-kelangsungan-akhir. "Paṭisaṃvedī": pati (kembali/lagi) + sam (sepenuhnya/kumplit) + vedi/vedeti (menikmati, merasakan, menjalani, melalui, mengalami. Kata "vedi" berhubungan dengan perasaan)

    4. Ia berlatih [sikkhati], menenangnya [Passambhaya: tenang, reda, hening, diam, berhenti, lenyap]:
      ‘menenangnya bentukan tubuh nafas [kāyasaṅkhāraṃ], aku menarik nafas'; atau
      ‘menenangnya 'bentukan tubuh nafas, aku menghembuskan nafas’

      • note:
        Ada tiga bentukan-bentukan [sankhara] dalam konteks samadhi:

        1. Bentukan jasmani/kaya sankhara -> Tubuh nafas: Nafas masuk dan keluar. Disebut kaya sankara, karena kondisi-kondisi ini terikat dengan jasmani
        2. bentukan ucapan (vaci sankhara): usaha menggenggam obyek [vitakka] dan kelangsungan pikiran[vicara]. Disebut vaci sankara karena pertama-tama mulai berpikir dan mempertahankan pikiran selanjutnya mengungkapkannya [membatin dan juga verbal, namun dalam meditasi adalah membatin]
        3. bentukan pikiran/citta sankhara: persepsi dan perasaan. Disebut Citta sankhara karena Persepsi dan perasaan adalah pikiran, kondisi-kondisi ini terikat dengan pikiran. [MN 44/Cūḷavedalla Sutta]

    Bagaikan seorang pekerja bubut yang terampil [atau muridnya], ketika melakukan putaran panjang, memahami: ‘Aku melakukan putaran panjang’; atau ketika melakukan putaran pendek, memahami: ‘Aku melakukan putaran pendek’

      note:
      Ketika menarik nafas ia akan memahami bahwa jika nafas di tarik secara perlahan dengan perhatian, tidak berbunyi, nafas akan menjadi panjang. Demikian pula ia akan memahami, ketika menghembus nafas secara perlahan dengan perhatian, tidak perbunyi, nafas dihembuskan menjadi panjang. Karena ini bukan hembusan nafas yang biasa di lakukan, maka akan terjadi sejenak fase kekurangan oksigen, terjadi keinginan untuk cepat menarik nafas berikutnya (keinginan ini salah satu yang timbul dan tidak harus diikuti), ketika kemudian nafas di tarik, maka tarikan itu menjadi pendek dan ketika dihembuskan akan menjadi pendek. Ini adalah kondisi dan inilah mengapa menggunakan kata memahami.

      'mengenali (Pajānāti), mengenali (Pajānāti),’ teman (avuso), itulah mengapa (tasmā) disebut ‘memiliki kebijaksanaan" (paññavāti vuccati).’ Dan apakah yang dikenali? Ia mengenali: "ini tidak memuaskan (dukkha)", "ini asalmula (samudayo) tidak memuaskan", "ini lenyapnya (nirodho) tidak memuaskan" dan "ini jalan menuju lenyapnya (nirodhagāminī paṭipadā) tidak memuaskan" [MN.43]

      mengapa nafas dapat menjadi panjang dan/atau pendek dipahami terjadinya, sehingga ketika telah terbiasa, tidak ada keinginan yang terburu-buru dalam menarik dan menghembuskan nafas, maka tidak ada perbedaan putaran panjang dan pendek, serta di suatu saat, juga tidak ada perbedaan antara tarikan dan hembuskan nafas, seolah-olah sedang tercampur antara menarik nafas dan mengeluarkan nafas atau bahkan seolah-olah tidak lagi sedang bernafas.

      Kata terampil mengindikasikan bahwa HARUS ADA PENGULANGAN yang cukup di 4 langkah ke-1 agar dapat di sebut TERAMPIL. Terampil merupakan prasyarat terjadinya dan/atau SEBELUM masuk ke langkah 3 x 4 BERIKUTNYA. ATAU dari sejak awal mulai, RILEKSASI (segala bentukan pikiran dan/atau segala ketegangan tubuh) dikendorkan HANYA dengan PERHATIAN TUNGGAL pada GERAK NAFAS, yaitu SENGAJA MENGATUR NAFAS, melalui PENGULANGAN tarikan/keluaran nafas panjang kemudian PENDEK terus menerus: yaitu dari kasar menjadi halus, mengetahui: dari kasar menjadi halus, mengalami: dari kasar menjadi halus, dan mereda dalam kehalusan. Ini seperti seorang yang mulai belajar naik sepeda, permulaan sekali ia akan berusaha menggenggam erat (vitakha) stang dan mempertahankannya (vicara) sedemikian rupa hingga Ia dapat memahami teknik keseimbangan dalam bersepeda dan akan terus dilakukannya hingga ia mahir

    “Dengan cara ini ia berdiam merenungkan jasmani sebagai jasmani [kāye kāyānupassī] secara ke dalam, atau
    Ia berdiam merenungkan jasmani sebagai jasmani secara ke luar, atau
    Ia berdiam merenungkan jasmani sebagai jasmani secara ke luar dan ke dalam. Atau
    Ia berdiam merenungkan sifat munculnya dalam jasmani, atau
    Ia berdiam merenungkan sifat lenyapnya dalam jasmani, atau
    Ia berdiam merenungkan sifat muncul dan lenyapnya dalam jasmani. Atau
    Penuh perhatian bahwa “ada jasmani” muncul dalam dirinya hanya sejauh yang diperlukan bagi pengetahuan dan perhatian. Dan ia berdiam tanpa bergantung, tidak melekat pada apapun di dunia ini.

    Itu adalah bagaimana seorang bhikkhu berdiam merenungkan jasmani sebagai jasmani.
NASEHAT BAGI SISWA MEDITASI
Sang Buddha memberikan petunjuk pada Rahula sebagaimana di sampaikan di MN62/MahaRahulavada Sutta:
    Sang Buddha:“Rāhula, segala jenis bentuk materi apakah di masa lampau, di masa depan, atau di masa sekarang, masuk atau keluar, kasar atau halus, hina atau mulia, jauh atau dekat, semua bentuk materi harus dilihat sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar sebagai berikut: ‘Ini bukan milik-KU [Netaṁ mama], ini bukan AKU [nesoham-asmi], ini bukan diri-KU [na meso attā ti].’”

    Rahula: ‘Hanya bentuk materi [rupa], Sang Bhagavā? Hanya bentuk materi [Rupa], Yang Sempurna?’

    Sang Buddha: Bentuk materi [rupa], perasaan [vedanā], persepsi/ingatan [saññā], bentukan-bentukan [saṅkhārā], dan kesadaran [viññāṇa].” [= Pancakhanda]

    Demikianlah ia berbalik dan duduk di bawah sebatang pohon, duduk bersila, menegakkan badan, dan menegakkan perhatian di depannya[27] [parimukhaṃ satiṃ upaṭṭhapetvā]

    Yang Mulia Sāriputta melihatnya duduk di sana dan berkata kepadanya sebagai berikut: “Rāhula, kembangkanlah perhatian pada pernafasan. Ketika perhatian pada pernafasan dikembangkan dan dilatih, maka itu akan berbuah besar dan bermanfaat besar.”

    Kemudian, pada malam harinya, Yang Mulia Rahula bangkit dari meditasinya dan menghadap Sang Bhagavā. Setelah bersujud kepada Beliau, ia duduk di satu sisi dan bertanya kepada Sang Bhagavā, "Yang Mulia, bagaimanakah perhatian pada pernafasan dikembangkan dan dilatih, sehingga berbuah besar dan bermanfaat besar?”

    [..]

    Sang Buddha: “Di sini, Rāhula, seorang bhikkhu, pergi ke hutan atau ke bawah pohon atau ke gubuk kosong, duduk; setelah duduk bersila, menegakkan tubuhnya, dan menegakkan perhatian di depannya[27] [parimukhaṃ satiṃ upaṭṭhapetvā]
Nasehat beliau berupa 4 x 4 SET langkah meditasi nafas, di mana 4 set ke-1 tercantum seragam di: MN10/Satipatthana sutta maupun di DN.22/Mahāsatipaṭṭhāna Sutta, MN62/Mahārāhulovāda Sutta, MN118/ānāpā­nasati Sutta, MN119/Kayagatasati Sutta, SN 54.7/MahaKampina Sutta, SN 54.10/Kimbila Sutta, Kemudian, melanjutkan nasehat sang Bhagava di Maharahulovada sutta:

[Mengamati nafas dengan 16 langkah latihan, yang dibagi menjadi per 4 langkah latihan mengamati: (1) nafas, yaitu tubuh nafas (tarikan dan hembusan), (2) perasaan yang terjadi, (3) pikiran yang terjadi dan (4) perubahan-perubahan yang terjadi pada nafas dan/atau ketika bernafas]
    Ia dengan penuh perhatian menarik nafas [So sato+va assasati], dengan penuh perhatian mengembuskan nafas [satova passasati]:

    4 langkah ke-1:
    Mengamati/memperhatikan tubuh keseluruhan nafas:

    1. Nafas panjang/atau dalam, ia mengetahui (pajanati):
      ‘Aku menarik nafas panjang’; atau
      ‘Aku mengembuskan nafas panjang'

    2. Nafas pendek, ia mengetahui:
      ‘Aku menarik nafas pendek’; atau
      ‘Aku mengembuskan nafas pendek.

    3. Ia berlatih mengalami/merasakan (patisamvedi):
      ‘Aku menarik nafas merasakan keseluruhan tubuh nafas; atau
      ‘Aku mengembuskan nafas merasakan keseluruhan tubuh nafas’

    4. Ia berlatih menenangnya (passambhaya):
      menenangnya bentukan tubuh nafas, Aku menarik nafas’; atau
      menenangnya bentukan tubuh nafas, Aku mengembuskan nafas’

      note:
      4 langkah ke-1 tercantum sama di seluruh sutta di atas.

    Dalam MN 118/Ānāpānasati Sutta, di akhir 4 langkah ke-1 ini, sang Buddha mengatakan:

      Pada saat itu ia berdiam dengan merenungkan jasmani sebagai jasmani [kāye kāyānupassī], tekun, penuh kewaspadaan, dan penuh perhatian, setelah menyingkirkan ketamakan dan kesedihan sehubungan dengan dunia. Aku katakan bahwa ini adalah suatu tubuh tertentu di antara tubuh-tubuh, yaitu: nafas-masuk dan nafas-keluar. Itulah sebabnya maka pada saat itu seorang bhikkhu berdiam dengan merenungkan jasmani sebagai jasmani, tekun, penuh kewaspadaan, dan penuh perhatian, setelah menyingkirkan ketamakan dan kesedihan sehubungan dengan dunia.
Kemudian, 3 x 4 set langkah berikutnya melanjutkan MN 62/Maharahulovada sutta [juga ada di MN 118, SN 54.7 dan SN 54.10]:
    4 langkah ke-2:
    Mengamati/memperhatikan perasaan [vedana]:

    1. Ia berlatih:
      merasakan gembira (Pīti-paṭisaṃvedī), aku menarik nafas'; atau
      merasakan gembira, Aku mengembuskan nafas'

    2. Ia berlatih:
      merasakan bahagia (sukha-paṭisaṃvedī), aku menarik nafas'; atau
      merasakan bahagia, aku mengembuskan nafas'

    3. Ia berlatih:
      merasakan bentukan pikiran (citta-saṅkhāra-paṭisaṃvedī), aku menarik nafas'; atau
      merasakan bentukan pikiran, aku mengembuskan nafas'

    4. Ia berlatih:
      menenangnya bentukan pikiran (passambhaya-citta-saṅkhāra), aku menarik nafas'; atau
      menenangnya bentukan pikiran, aku mengembuskan nafas

      note:
      Piti = gembira/girang; sukha = bahagia/nikmat; patisamvedi = merasakan, mengalami perasaan; passambhaya = menenangnya

      Citta sankhara [bentukan pikiran] tentang pengalaman bahwa nafas adalah dhamma [berubah, sebagai objek pikiran]. Bentukan pikiran merujuk pada perasaan, persepsi dan yang menyertainya.

      Saññā ca vedanā ca cetasikā ete dhammā cittapaṭibaddhā (Persepsi dan perasaan menyertai pikiran, kondisi ini terikat dengan pikiran). Tasmā saññā ca vedanā ca cittasaṅkhāroti (Itulah mengapa persepsi dan perasaan adalah bentukan pikiran) MN.44]

      "vedanā yā ca saññā yañca viññāṇaṃ – ime dhammā saṃsaṭṭhā, no visaṃsaṭṭhā". (Perasaan, persepsi dan kesadaran, kondisi ini tergabung, bukan terpisah). "Na ca labbhā imesaṃ dhammānaṃ vinibbhujitvā vinibbhujitvā nānākaraṇaṃ paññāpetuṃ (tidak dapat memisahkan kondisi-kondisi ini satu sama lainnya untuk menggambarkan perbedaan antaranya) Yaṃ hāvuso vedeti taṃ sañjānāti, yaṃ sañjānāti taṃ vijānāti. (Karena apa yang seseorang rasakan, itulah yang dipersepsikannya; dan yang dipersepsikan, itulah yang dikenalinya) (MN 43)

      kemunculan piti dan sukha menunjukan ini telah memasuki faktor jhana, dimana bentukan pikiran akibat nivarana telah berlalu karena keterpusatan pikiran dari objek yang diambil dan juga tetap memperhatikan objeknya. Perasaan yang muncul dari perasaan menyakitkan (nivarana), kemudian mereda dan muncul kegembiraan karena lenyapnya berkurang dan lenyapnya kesakitan dan keterpusatan pikiran tanpa kesakitan ini menimbulkan kebahagiaan

    Dalam MN 118/Ānāpānasati Sutta, di akhir 4 langkah ke-2 ini, sang Buddha mengatakan:

      Pada saat itu ia berdiam dengan merenungkan perasaan sebagai perasaan [vedanāsu vedanānupassī], tekun, penuh kewaspadaan, dan penuh perhatian, setelah menyingkirkan ketamakan dan kesedihan sehubungan dengan dunia. Aku katakan bahwa ini adalah suatu perasaan tertentu di antara perasaan-perasaan, yaitu mengamati dengan saksama pada nafas-masuk dan nafas-keluar. Itulah sebabnya maka pada saat itu seorang bhikkhu berdiam dengan merenungkan perasaan sebagai perasaan, tekun, penuh kewaspadaan, dan penuh perhatian, setelah menyingkirkan ketamakan dan kesedihan sehubungan dengan dunia.

    4 langkah ke-3:
    Mengamati/memperhatikan pikiran [citta]:

    1. Ia berlatih:
      merasakan pikiran (citta-paṭisaṃvedī), aku menarik nafas; atau
      merasakan pikiran', aku menghembuskan nafas'

    2. Ia berlatih:
      bergembiranya pikiran (abhippamodaya citta), aku menarik nafas; atau
      bergembiranya pikiran', aku menghembuskan nafas'

    3. Ia berlatih:
      terpusatnya pikiran (samādaha citta), aku menarik nafas; atau
      terpusatnya pikiran', aku menghembuskan nafas'

    4. Ia berlatih:
      terlepasnya pikiran (vimocayaṃ citta), aku menarik nafas; atau
      terlepasnya pikiran', aku menghembuskan nafas'

      note:
      patisamvedi = merasakan, mengalami; abhippamodayam = menggembirakan menyenangkan; samadaham = pemusatan konsentrasi; vimocayam = terbebas, terlepas, longgar

      Dalam DN22 dan MN 10/Satipatthana sutta:

      mengenali (pajānāti):
      • pikiran yang terpengaruh nafsu (sa-rāga) sebagai pikiran yang terpengaruh nafsu dan pikiran yang tidak terpengaruh nafsu (vīta-rāga) sebagai pikiran yang tidak terpengaruh nafsu.
      • pikiran yang terpengaruh kebencian (sa-dosa) sebagai pikiran yang terpengaruh kebencian dan pikiran yang tidak terpengaruh kebencian (vīta-dosa) sebagai pikiran yang tidak terpengaruh kebencian.
      • pikiran yang terpengaruh kebodohan (sa-moha) sebagai pikiran yang terpengaruh kebodohan dan pikiran yang tidak terpengaruh kebodohan (vīta-moha) sebagai pikiran yang tidak terpengaruh kebodohan.
      • pikiran yang tersusun (saṅkhittaṃ) sebagai pikiran yang mengerut dan pikiran yang berserakan/kacau (vikkhittaṃ) sebagai pikiran yang berserakan/kacau
      • pikiran yang luhur (mahaggataṃ) sebagai pikiran yang luhur dan pikiran yang tidak luhur (a·mahaggataṃ) sebagai pikiran yang tidak luhur
      • pikiran yang melampaui (sa·uttaraṃ) sebagai pikiran yang melampaui dan pikiran yang unggul (anuttaraṃ) sebagai pikiran yang unggul
      • pikiran memperoleh pencapaian (samāhitaṃ) sebagai pikiran yang memperoleh pencapaian dan pikiran tidak memperoleh pencapaian (a-samāhitaṃ) sebagai pikiran tidak memperoleh pencapaian)
      • pikiran yang terbebaskan (vimuttaṃ) sebagai pikiran yang terbebaskan dan pikiran yang tidak terbebaskan (a-vimuttaṃ) sebagai pikiran yang tidak terbebaskan

      Kemudian:

      Ia berdiam merenungkan:
      pikiran sebagai pikiran secara: secara internal, atau secara eksternal, atau secara internal dan eksternal atau kemunculan hal itu di pikiran atau lenyapnya hal itu di pikiran, atau muncul dan lenyapnya hal itu di pikiran. Atau [mengenali: ] “ini adalah pikiran” kewaspadaan/perhatian hadir di dirinya sejauh yang diperlukan untuk tahu dan memperhatikannya. Ia berdiam tanpa bergantung, tidak melekat pada apapun di alam ini.

    Dalam MN 118/Ānāpānasati Sutta, di akhir 4 langkah ke-3 ini, sang Buddha mengatakan:

      Pada saat itu ia berdiam dengan merenungkan pikiran sebagai pikiran [citte cittānupassī], tekun, penuh kewaspadaan, dan penuh perhatian, setelah menyingkirkan ketamakan dan kesedihan sehubungan dengan dunia. Aku tidak mengatakan bahwa ada pengembangan perhatian pada pernafasan pada seseorang yang lengah, yang tidak penuh kewaspadaan. Itulah sebabnya maka pada saat itu seorang bhikkhu berdiam dengan merenungkan pikiran sebagai pikiran, tekun, penuh kewaspadaan, dan penuh perhatian, setelah menyingkirkan ketamakan dan kesedihan sehubungan dengan dunia.

    4 langkah ke-4:
    Mengamati/memperhatikan Dhamma [fenomena, objek pikiran]:

    1. Ia berlatih:
      'merenungkan ketidakkekalan (anicca-anupassī), aku menarik nafas'; atau
      'merenungkan ketidakkekalan, aku mengembuskan nafas'

    2. Ia berlatih:
      'merenungkan pelenyapan keinginan (virāgānupassī), aku menarik nafas'; atau
      'merenungkan pelenyapan keinginan, aku mengembuskan nafas'

    3. Ia berlatih:
      merenungkan ke-lenyap-an (nirodhānupassī), aku menarik nafas'; atau
      merenungkan ke-lenyap-an, aku mengembuskan nafas'

    4. Ia berlatih:
      merenungkan peng-abai-an/pe-lepas-an (paṭinissaggānupassī), aku menarik nafas'; atau
      merenungkan peng-abai-an/pe-lepas-an, aku mengembuskan nafas'

      note:
      Ia merenungkan objek pikiran:

      • 5 rintangan (panca nivarana: kāmacchanda..vicikiccha)
        jika muncul 5 rintangan (panca nivarana: kāmacchanda..vicikiccha) dalam dirinya, Ia mengenali: ‘ada 5 rintangan (panca nivarana: kāmacchanda..vicikiccha) dalam diriku’; atau jika tidak ada 5 rintangan (panca nivarana: kāmacchanda..vicikiccha) dalam dirinya, ia mengenali: ‘Tidak ada keinginan indria dalam diriku’;

        Ia merenungkan:
        kemunculan 5 rintangan (panca nivarana: kāmacchanda..vicikiccha) yang belum muncul, dan bagaimana meninggalkan yang telah muncul, dan bagaimana ketidak-munculan di masa depan dari 5 rintangan (panca nivarana: kāmacchanda..vicikiccha) yang telah ditinggalkan.

      • 5 Kelompok yang terpengaruh kemelekatan (Panca upādānakkhandha: rupa..viññāṇa): Demikianlah 5 Kelompok yang terpengaruh kemelekatan (Panca upādānakkhandha: rupa..viññāṇa), demikianlah asal mulanya, demikianlah lenyapnya

      • 6 landasan indriya (mata..pikiran)
        Ia mengenali mata, ia mengenali bentuk-bentuk, memahami telinga, ia memahami suara-suara,..memahami pikiran, ia memahami objek-objek pikiran.

        Ia mengenali:
        belenggu-belenggu yang muncul dengan bergantung pada keduanya; bagaimana munculnya belenggu yang belum muncul, dan bagaimana meninggalkan belenggu yang telah muncul, dan bagaimana ketidak-munculan di masa depan dari belenggu yang telah ditinggalkan.

      • 7 faktor pencerahan (perhatian, penyelidikan-penyelidikan kondisi, kegigihan, kegembiraan, ketenangan, konsentrasi dan keseimbangan)
        jika ada faktor pencerahan (perhatian, penyelidikan-penyelidikan kondisi, kegigihan, kegembiraan, ketenangan, konsentrasi dan keseimbangan) dalam dirinya, Ia mengenali: seorang bhikkhu memahami: ‘Ada faktor pencerahan (perhatian, penyelidikan-penyelidikan kondisi, kegigihan, kegembiraan, ketenangan, konsentrasi dan keseimbangan) dalam diriku’; atau jika tidak ada faktor pencerahan (perhatian, penyelidikan-penyelidikan kondisi, kegigihan, kegembiraan, ketenangan, konsentrasi dan keseimbangan) dalam dirinya, ia mengenali: ‘Tidak ada faktor pencerahan (perhatian, penyelidikan-penyelidikan kondisi, kegigihan, kegembiraan, ketenangan, konsentrasi dan keseimbangan) dalam diriku’; ’;

        Ia merenungkan:
        kemunculan faktor pencerahan (perhatian, penyelidikan-penyelidikan kondisi, kegigihan, kegembiraan, ketenangan, konsentrasi dan keseimbangan) yang belum muncul, dan bagaimana faktor pencerahan (perhatian, penyelidikan-penyelidikan kondisi, kegigihan, kegembiraan, ketenangan, konsentrasi dan keseimbangan) terpenuhi melalui pengembangan.

      • 4 Kebenaran Mulia.
        Ia mengenali sebagaimana adanya: ‘Ini adalah penderitaan’; ‘Ini adalah asal-mula penderitaan'; ‘Ini adalah lenyapnya penderitaan’; ‘Ini adalah jalan menuju lenyapnya penderitaan.’

      Dengan ini, Ia berdiam merenungkan: obyek-obyek pikiran sebagai obyek-obyek pikiran: secara internal, atau secara eksternal, atau secara internal dan eksternal atau munculnya obyek-obyek pikiran atau lenyapnya obyek-obyek pikiran, atau muncul dan lenyapnya obyek-obyek pikiran. Atau [mengenali: ] “ini adalah obyek-obyek pikiran” kewaspadaan/perhatian hadir di dirinya sejauh yang diperlukan untuk tahu dan memperhatikannya. Ia berdiam tanpa bergantung, tidak melekat pada apapun di alam ini.

    ‘Rāhula, itu adalah bagaimana perhatian pada pernafasan dikembangkan dan dilatih, sehingga berbuah besar dan bermanfaat besar. Ketika perhatian pada pernafasan dikembangkan dan dilatih dengan cara ini, maka bahkan nafas masuk dan nafas keluar terakhir dapat diketahui pada saat lenyapnya, bukan tidak diketahui.

    Dalam MN 118/Ānāpānasati Sutta, di akhir 4 langkah ke-4 ini, sang Buddha mengatakan:

      Pada saat itu ia berdiam dengan merenungkan obyek-obyek pikiran sebagai obyek-obyek pikiran [dhammesu dhammānupassī], tekun, penuh kewaspadaan, dan penuh perhatian, setelah menyingkirkan ketamakan dan kesedihan sehubungan dengan dunia. Setelah melihat dengan kebijaksanaan pada ditinggalkannya ketamakan dan kesedihan, ia mengamati secara saksama dengan keseimbangan. Itulah sebabnya maka pada saat itu seorang bhikkhu berdiam dengan merenungkan obyek-obyek pikiran sebagai obyek-obyek pikiran, tekun, penuh kewaspadaan, dan penuh perhatian, setelah menyingkirkan ketamakan dan kesedihan sehubungan dengan dunia.

LIMA RINTANGAN (PANCANIVARANA).
Secara bertahap pemusatan perhatian pada napas akan bertambah kuat dan akan sadar, bahwa sebenarnya hanya ada napas dan mental yang memperhatikannya, melulu penarikan dan pengeluaran napas yang seperti ombak laut. Dalam arti paling tinggi adalah: terdapatnya meditasi (tentang kesadaran dan perhatian), namun tidak ada pelaku di baliknya. Mencapai tingkatan pengertian ini pada pemusatan, berarti bahwa latihan pemusatan sudah sangat tinggi dan bersamaan dengan hal ini, muncullah kebahagiaan/kegirangan dan kenikmatan mental yang amat mengesankan, suatu pengalaman yang sebelumnya tak pernah dialami.

Mungkin keadaan seperti ini hanya sebentar dan pikiran ruwet kembali lagi. Ia akan berkelana pula, dan akan terasa sulit untuk berkonsentrasi, akan merasa malas atau ingin tidur, bosan dan gelisah, merasa jemu dengan latihan meditasi.

Tidak mengapa. Memang begitulah cara mental manusia bekerja.

Yang diperlukan adalah menumbuhkan kembali kemauan, menetapkan ketekunan, siap untuk bertempur. Lupakanlah diri sendiri dan suatu saat akan mencapai tingkat Jhana (dhyana) suatu pengalaman pencerapan penuh pada konsentrasi yang mendalam dan berhasil melenyapkan segala rintangan. Tahap pemusatan seperti itu, yang bersifat menenangkan (samatha bhavana) amat perlu dan penting sekali untuk menumbuhkan Pengertian Benar, penembusan dan memperoleh Pandangan Terang (Vipassana) untuk mencapai mental yang bersih -- Nibbana.

Banyak rintangan yang harus dihadapi siswa meditasi, namun ada lima rintangan [nivarana] khususnya dalam usaha membangun pemusatan mental dan pencapaian Jalan ke arah kebebasan. Ia disebut ‘Nivaranani’ sebab bersifat menutupi, memotong dan merusak. Ia menutup pintu kearah kebebasan.

Apakah lima rintangan [nivarana] ini?

Hasrat sensualitas indriya [Kamacchanda] yang menyenangkan seperti bentuk yang dapat dilihat (rupa) dan juga melalui indera lainnya; itikad buruk [byapada]; kemalasan [Thina] dan kelambanan [middha]; kegelisahan [Uddhacca] dan kekhawatiran [Uddhacca]; dan keragu-raguan [Vicikiccha].

Mental yang sudah terisi oleh sifat seperti itu tak akan bisa berhasil melakukan pemusatan pada objek apapun yang baik.

Berikut nasehat yang saya kutip dari TEVIJJA SUTTA:
    Di dahului/dibarengi:

    1. 'Setelah memiliki kelompok sila yang mulia ini,
    2. memiliki pengendalian terhadap indera-indera yang mulia ini,
    3. memiliki perhatian seksama dan pengertian jelas yang mulia ini,
    4. memiliki kepuasan yang mulia ini,

    ia memilih tempat-tempat sunyi..selesai makan; ia duduk bersila, badan tegak, sambil memusatkan perhatian di depannya[27] [parimukhaṃ satiṃ upaṭṭhapetvā]'.

    1. 'Dengan menyingkirkan kerinduan terhadap dunia, ia berdiam dalam pikiran yang bebas dari kerinduan, membersihkan pikirannya dari hasrat sensualitas indriya [Kamacchanda]
    2. Dengan menyingkirkan itikad jahat, ia berdiam dalam pikiran yang bebas dari itikad buruk [byapada], dengan pikiran bersahabat serta penuh kasih sayang terhadap semua makhluk, semua yang hidup, ia membersihkan pilkirannya dari itikad buruk.
    3. Dengan menyingkirkan kemalasan [Thina] dan kelambanan [middha], ia berdiam dalam keadaan bebas dari kemalasan dan kelambanan; dengan memusatkan perhatian pada aloka-sanni, ia membersihkan pikirannya dari kemalasan dan kelambanan.
      [note: aloka = cahaya, pemandangan, yang terlihat; Sanni = persepsi. Kitab komentar merujuk arti aloka-sanni adalah persepsi cahaya, dengan maksud ketika mengantuk agar memperhatikan cahaya, namun hal ini jelas tak akan terlaksana di keadaan yang gelap gulita. Sehingga yang dimaksudnya jelas bukan persepsi cahaya namun pemusatan perhatian pada yang tampak/muncul (bentukan materi, perasaan, persepsi, sankhara, kesadaran)]
    4. Dengan menyingkirkan kegelisahan [Uddhacca] dan kekhawatiran [Uddhacca], ia berdiam bebas dari kekacauan; dengan mental tenang, ia membersihkan pikirannya dari kegelisahan dan kekhawatiran.
    5. Dengan menyingkirkan keragu-raguan [Vicikiccha], ia berdiam mengatasi keragu-raguan; dengan tidak lagi ragu-ragu terhadap apa yang baik, ia membersihkan pikirannya dari keragu-raguan'.

    'Vasettha, sama halnya seperti seseorang, yang setelah berhutang, ia berdagang sampai berhasil, sehingga bukan saja ia mampu membayar kembali pinjaman hutangnya, tetapi masih ada kelebihan untuk merawat seorang istri. Lalu ia berpikir: "Dahulu aku berhutang dan berdagang sampai berhasil, sehingga bukan saja aku dapat membayar kembali pinjaman hutangku, tetapi masih ada kelebihan untuk merawat seorang istri".

    Dengan demikian ia merasa gembira, bersenang hati atas hal itu'.

    'Vasettha, sama halnya seperti seorang yang diserang penyakit, berada dalam kesakitan, amat parah keadaannya, tidak dapat mencerna makanannya, sehingga tidak ada lagi kekuatan dalam dirinya; namun setelah beberapa waktu ia sembuh dari penyakit itu, dapat mencerna makanannya sehingga kekuatannya pulih. Lalu ia berpikir: 'Dahulu aku diserang penyakit, berada dalam kesakitan, amat parah keadaanku, tidak dapat mencerna makananku, sehingga tidak ada lagi kekuatan dalam diriku; namun, sekarang aku telah sembuh dari penyakit itu, dapat mencerna makanan sehingga kekuatanku pulih'.

    Dengan demikian ia merasa gembira, bersenang hati atas hal itu'.

    'Vasettha, sama halnya seperti seorang yang ditahan dalam rumah penjara, dan setelah beberapa waktu ia dibebaskan dari tahanannya, aman dan sehat, barang-barangnya tidak ada yang dirampas. Lalu ia berpikir: 'Dahulu aku ditahan dalam rumah penjara, dan sekarang aku telah bebas dari tahanan, aman dan sehat, barang-barangku tidak ada yang dirampas'.

    Dengan demikian ia merasa gembira, bersenang hati atas hal itu'

    'Vasettha, sama halnya seperti seseorang yang menjadi budak, bukan tuan bagi dirinya sendiri, tunduk kepada orang lain, tidak dapat pergi ke mana ia suka; dan setelah beberapa waktu ia dibebaskan dari perbudakan itu, menjadi tuan bagi dirinya sendiri, tidak tunduk kepada orang lain, seorang yang bebas pergi ke mana ia suka. Lalu ia berpikir: 'Dahulu aku seorang budak, bukan tuan bagi diriku sendiri, tunduk kepada orang lain, tidak dapat pergi ke mana aku suka; dan sekarang aku telah bebas dari perbudakan, menjadi tuan bagi diriku sendiri, tidak tunduk kepada orang lain, seorang yang bebas, bebas ke mana aku suka'.

    Dengan demikian ia merasa gembira, bersenang hati atas hal itu'.

    'Vasettha, sama halnya seperti seorang yang dengan membawa kekayaan dan barang-barang, melakukan perjalanan di padang pasir, di mana tidak terdapat makanan melainkan banyak bahaya; dan setelah beberapa waktu ia berhasil keluar dari padang pasir itu, selamat tiba di perbatasan desanya, suatu tempat yang aman, tidak ada bahaya. Lalu ia berpikir: 'Dahulu, dengan membawa kekayaan dan barang-barang, aku melakukan perjalanan di padang pasir, di mana tidak terdapat makanan melainkan banyak bahaya; dan sekarang aku telah berhasil keluar dari padang pasir itu, selamat tiba di perbatasan desaku, suatu tempat yang aman, tidak ada bahaya'.

    Dengan demikian ia merasa gembira, bersenang hati atas hal itu'.

    'Vasettha, demikianlah selama lima rintangan-mental (panca nivarana) belum disingkirkan, seorang bhikkhu merasakan dirinya seperti orang yang berhutang, terserang penyakit, dipenjara, menjadi budak, melakukan perjalanan di padang pasir. Vasettha, tetapi setelah lima rintangan mental itu disingkirkan, maka seorang bhikkhu merasa dirinya seperti orang yang telah bebas dari hutang, bebas dari penyakit, keluar dari penjara, bebas dari perbudakan, sampai di tempat yang aman.

    'Apabila ia menyadari bahwa lima rintangan mental itu telah disingkirkan dari dalam dirinya, maka:

    1. timbullah kegembiraan, karena gembira maka
    2. timbullah kegirangan (piti), karena mental menjadi girang, maka
    3. seluruh tubuh menjadi nyaman, maka
    4. ia merasa bahagia, karena bahagia, maka
    5. pikirannya menjadi terpusat.

    Kemudian, setelah terpisah dari nafsu-nafsu, jauh dari kecenderungan-kecenderungan tidak baik, maka ia masuk dan berdiam dalam Jhana ke-1; suatu keadaan mental yang gembira/girang [piti] dan nikmat [sukha], yang timbul dari kebebasan, yang masih disertai dengan usaha pengarahan pikiran pada obyek (vitakka) dan mempertahankan pikiran pada obyek (vicara). Seluruh tubuhnya dipenuhi, digenangi, diresapi serta diliputi dengan perasaan tergiur dan bahagia, yang timbul dari kebebasan; dan tidak ada satu bagian pun dari tubuhnya yang tidak diliputi oleh perasaan tergiur dan bahagia itu, yang timbul dari kebebasan (viveka).

    'Kemudian ia berdiam dalam pikiran yang diliputi cinta kasih/kasih sayang (mettā) memancar ke 1/4 arah, Demikian pula ke: 1/2 arah, ke 3/4 arah dan 4/4 arah. Demikian ke: atas, bawah, bulak-balik dan kemana saja, ke mahluk apapun, ke seluruh alam, berdiam dalam pikiran yang diliputi cinta kasih/kasih sayang memancar melimpah, luhur tak berbatas tanpa kebencian atau permusuhan.

    'Vasettha, bagaikan seorang peniup trompet besar memperdengarkan suara tanpa kesulitan di semua empat arah; begitu pula semua bentuk dan berbagai ukuran makhluk, tanpa salah satunya dikecualikan, namun dengan memperhatikan mereka semua dikembangkannya pikiran yang bebas dan penuh cinta kasih/kasih sayang'.

    'Vasettha, inilah jalan untuk bersatu dengan Brahma'.

    "Kemudian Ia berdiam dalam pikiran yang di liputi welas asih/belas kasihan (karuṇā) ... namun dengan memperhatikan mereka semua dikembangkannya pikiran yang bebas dan penuh welas asih/belas kasihan' ... 'Vasettha, inilah jalan untuk bersatu dengan Brahma'.

    ...simpati/empati (muditā) ... namun dengan memperhatikan mereka semua dikembangkannya pikiran yang bebas dan penuh simpati/empati' ... 'Vasettha, inilah jalan untuk bersatu dengan Brahma'.

    ...tenang seimbang (upekkhā) ... namun dengan memperhatikan mereka semua dikembangkannya pikiran yang bebas dan penuh tenang seimbang' ... 'Vasettha, inilah jalan untuk bersatu dengan Brahma'. [..]
MENGHINDARI SESUATU YANG BERLEBIHAN
Mengembangkan mental dengan usaha sebesar itu bukanlah sesuatu yang dapat dicapai dalam satu malam. Keteraturan dan kesinambungan merupakan aturan yang harus ditaati.

Seluruh latihan mental harus dilaksanakan secara wajar disertai kesadaran yang mantap; sebab ‘berkobar-kobar saja tanpa kewaspadaan bagaikan berlari-lari di malam yang gelap gulita’.

Pelaku meditasi yang memperhatikan gerak-gerik jasmaninya akan selalu menyadari gerak-gerik ini; baik sewaktu berjalan, berdiri, duduk, maupun sedang merebahkan diri. Seluruh kegiatan diri secara jasmaniah dilakukannya dengan kesadaran penuh.

‘Sewaktu berjalan mondar-mandir, sewaktu memandang ke depan maupun ke samping, selalu disadarinya (sampajaññakari hoti); sedang berpakaian, makan, minum, mengunyah, menelan, melakukan hajat alamiah; ia selalu menyadarinya dengan penuh; baik ketika sedang berjalan, duduk, berdiri, berbaring, (sutte), sedang terjaga (jagarite), berbicara, berdiam diri, ia menyadari sepenuhnya. ‘Sutte’ termasuk ‘sedang berbaring’ namun tegasnya berarti: sedang memasuki keadaan tidur. Siswa meditasi berbaring dengan perhatiannya kepada Kammatthana [objek meditasinya], dengan cara itu ia tertidur dengan tidak terganggu.

‘Jagarite’, adalah sikap dalam keadaan terjaga, atau sedang bangun: sewaktu terjaga, pencerapan perhatian berarti langsung mengambil objek ‘kammatthana’, bahkan sebelum orang membuka mata. Ini berarti bahwa saat-saat lainnya seperti terjaga dalam keadaan berperhatian (dalam hal ini jangan sampai tidur), sewaktu kita akan melakukan perhatian dalam keadaan berbaring (karena sakit atau lain keadaan yang tidak memungkinkan bangkit dari posisi tidur) dan juga di saat susah tidur; perhatian dan kesadaran seperti ini membantu kita untuk menghadapinya dengan tenang dan penuh perhatian akan sebab dari ‘sulit tidur’ tersebut. Dengan ketenangan dan pengertian ini, pada suatu ketika, dengan sendirinya tidur itu akan terjadi.

Dalam arti luas, latihan sutte dan jagarite ini dilakukan pada sikap badan apapun, sebab bisa dilakukan sedang tidur di kursi atau pada saat dia berdiri. Dalam arti luas, orang tertidur bila tidak berada di bawah kekuasaan kekotoran mental (kilesa).

Pada pelaksanaan menyeluruh, ini meliputi kesadaran sepenuhnya yang menandai kekhasan appamada (selalu sadar). Seperti sabda Sang Buddha: ‘Kotoran mental akan musnah oleh kewaspadaan orang yang selalu melatih dirinya siang dan malam (ahorattanusikkhinam) dan yang sungguh-sungguh menginginkan Nibbana.’

Jadi setiap keadaan maupun saat siswa meditasi harus selalu sadar dan terjaga. Dalam hal ini bersabdalah Sang Buddha: ‘Wahai para Bhikkhu, Saya tekankan, hal ini amatlah penting dalam keadaan apapun dan dimanapun, bagaikan garam dalam masakan’ selanjutnya: Wahai para Bhikkhu, Saya tidak mengenal cara lain yang bermanfaat begitu besar seperti kesadaran yang membawa berkah luar biasa’.

Kisah menarik dari Maha Phussa Thera. Dengan melatih diri pada Pengertian Benar, beliau selalu mengawasi pikirannya. Sewaktu sedang berjalan, pikiran jahat muncul pada mentalnya, maka langsung beliau berhenti dan tidak melanjutkan jalannya sebelum pikiran jahat tersebut lenyap dari mental. Akhirnya, dengan melatih Kesadaran dan Perhatian Benar secara tetap, beliau mencapai apa yang diidamkannya, memperoleh kebersihan mental dan menjadi Arahat, yaitu orang yang tanpa noda lagi. Ini menunjukkan bahwa orang-orang dahulu selalu waspada dan selalu menyadari pikirannya, bukan saja sedang duduk dalam sikap tertentu pada saat tertentu untuk bermeditasi, namun untuk seterusnya tanpa putus.

SENI BERSANTAI (THE ART OF RELAXING)
Jika telah lama duduk bermeditasi, kita melakukan sikap untuk melemaskan otot-otot yang kaku. Tibalah saatnya untuk melakukan latihan meditasi dengan sikap berjalan. Lakukanlah dengan perlahan-lahan dan penuh perhatian terhadap gerakan. Pada saat ini kita tidak perlu untuk memperhatikan masuk dan keluarnya napas, namun menyadari gerak sedang berjalan itu. Apabila pikiran sedang berkelana, tujukanlah perhatian kepada gerak yang sedang dilakukan itu tanpa melibatkan perhatian pada pikiran tersebut. Jika Anda menghentikan gerak, putar balik atau memandang sekitar, sadarilah dan perhatikanlah. Jika kaki menyentuh pada tanah yang diinjak atau disentuh pada saat mana timbul sensasi pada mental, sadarilah itu. Berjalan-jalan merupakan latihan perhatian juga.

Jika kita sedang melakukan latihan meditasi, berusahalah sadar setiap saat dan di mana saja: baik sedang duduk, berdiri, berjalan, mengerjakan sesuatu, makan dan sebagainya selalu dengan perhatian penuh.

Jika kaki sudah atau sedang penat, bujurkanlah dan gosoklah bagian yang penat dengan penuh perhatian. Juga dapat beristirahat dengan merebahkan tubuh, dapat dilakukan akhir meditasi dalam sikap duduk. Baringkanlah tubuh di atas lantai atau permukaan yang rata dan sedapat mungkin jangan menggunakan bantal atau penunjang kepala. Lujurkanlah kaki dengan sedikit terbuka dan letakkanlah kedua lenganmu secara lemas dikedua sisi badan, tutup mata dan jangan membiarkan pikiran bekerja keras, namun biarkanlah gerak pikiran santai, tetapi tidak berkelana. Lemaskanlah otot pada seluruh tubuh selama beberapa menit. Dapat tertidur dengan tenang beberapa saat lamanya, akhirnya dari bersantai ini timbul kesegaran kembali.

Cara santai ini dapat dilakukan tidak saja pada latihan meditasi, tetapi juga setiap saat dirasa perlu dalam kegiatan yang lain.

Perlu di ingat bahwa AJARAN BUDDHA sangat menganjurkan untuk tidak percaya begitu saja namun perlu diselidiki secara empiris [KBBI: EMPIRIS adalah berdasarkan pengalaman] atau di Buddhis lebih dikenal sebagai EHIPASSIKO ["datang dan alamilah sendiri"]. Jadi, buktikan, tunjukan benar/tidaknya dengan mencoba dan mengalaminya sendiri. Inilah juga yang membedakan antara Buddhisme dan ajaran-ajaran lainnya.

[Kembali (↑)]
---------------

SAMATHA VS VIPASSANA

Banyak pengajar Meditasi menyatakan keunggulan salah satu metode [samatha atau vipassana] dan menepis manfaat metode lainnya disertai dengan berbagai argumentnya. Namun dengan berat hati saya sampaikan bahwa pendapat mereka jika masih seperti itu adalah 100% keliru.

Mengapa?

Ananda, menyampaikan dalam AN 4.170/Yuganaddha Sutta (berpasangan), mengenai jalan-jalan untuk menghancurkan asava:

"Saudara, siapapun dia, baik Bhikkhu ataupun Bhikkhuni telah menyatakan di hadapan saya bahwa mereka semua mencapai kearahatan melalui salah satu dari empat jalan ini. Apakah yang empat itu?"
  1. mengembangkan Vipassana yang didahului oleh Samatha [samathapubbaṅgamaṃ vipassanaṃ bhāveti]
  2. mengembangkan Samatha yang didahului oleh Vipassana [vipassanāpubbaṅgamaṃ samathaṃ bhāveti]
  3. mengembangkan gabungan Samatha dan Vipassana. [samathavipassanaṃ yuganaddhaṃ bhāveti]
  4. kegelisahan pikiran akan Dhamma (fenomena) makin terkendali [dhammuddhaccaviggahitaṃ mānasaṃ hoti..]. akan tiba saatnya ketika pikirannya menjadi kokoh ke dalam, tenang, manunggal dan terpusat/terkonsentrasi.[samayo yaṃ taṃ cittaṃ ajjhattaṃyeva santiṭṭhati sannisīdati ekodi hoti samādhiyati]

    note:
    perhatikan kata-kata: pikirannya menjadi kokoh seimbang, tenang, manunggal, dan terpusat/terkonsentrasi, ini adalah faktor-faktor jhana!
Kemudian,
Apa maksud dari point ke-4, dalam AN.4.170/Yuganaddha sutta, yaitu di kalimat: " cittaṃ ajjhattaṃyeva santiṭṭhati sannisīdati ekodi hoti samādhiyati"?
    “Oleh karena itu, Ānanda, jika seorang bhikkhu menghendaki: ‘Semoga aku masuk dan berdiam dalam kekosongan secara internal,’ maka ia harus mengokohkan pikiran ke dalam, tenang, manunggal dan terpusat/terkonsentrasi [ajjhattameva cittaṃ santiṭṭhati sannisīdati ekodi hoti samādhiyati].

    Dan bagaimanakah ia mengokohkan pikirannya secara internal, menenangkannya, memusatkannya, dan mengkonsentrasikannya?

    “Di sini, Ānanda, dengan cukup terasing dari kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna pertama … jhāna ke dua … jhāna ke tiga … jhāna ke empat, yang memiliki bukan-kesakitan-juga-bukan-kenikmatan dan kemurnian perhatian karena keseimbangan. Ini adalah bagaimana seorang bhikkhu mengokohkan pikirannya dalam dirinya, menenangkannya, memusatkannya, dan mengkonsentrasikannya. [ajjhattameva cittaṃ saṇṭhapetabbaṃ sannisādetabbaṃ ekodi kātabbaṃ samādahātabbaṃ] [MN 122/Mahasunnata sutta]
Sutta di atas, menekankan pentingnya peran Jhana yang berarti keterpusatan pikiran/konsentrasi.

Untuk membuat lebih jelas lagi, di bawah ini, saya kutipkan sebuah sutta lain yaitu AN 3.101/Pansadhovaka Sutta, yang lebih tegas menyampaikan pesan bahwa betapa pentingnya tercapainya keterpusatan pikiran/konsentrasi (Jhana):
    [..]Tetapi akan tiba saatnya ketika pikirannya menjadi kokoh ke dalam, tenang, terpusat, dan terkonsentrasi [ajjhattameva cittaṃ santiṭṭhati sannisīdati ekodi hoti samādhiyati]. Konsentrasi ini kemudian tenang dan halus; konsentrasi ini telah mencapai ketenangan penuh dan mencapai kesatuan mental; konsentrasi ini tidak dipertahankan dengan menekan kuat-kuat kekotoran batin itu.

    Kemudian, menuju keadaan mental apapun yang dapat direalisasikan lewat pengetahuan langsung (abhiññā), dia mengarahkan pikirannya ke sana, dia mencapai kemampuan merealisasikan keadaan itu lewat pengetahuan langsung (abhiññā), kapanpun kondisi-kondisi yang diperlukan didapat.

    Jika dia inginkan, Semoga aku:

    1. “disertai bermacam kekuatan spiritual (anekavihitaṃ iddhividhaṃ): satu menjadi banyak; banyak menjadi satu; muncul dan lenyap tak terhalang; menembus: dinding, benteng, gunung bagai melintasi ruang; masuk dan keluar bumi bagai menyelam di air; berjalan diatas air bagai di atas tanah; duduk bersila di udara bagai burung bersayap; bahkan bulan dan matahari yang kuat dan agung dapat disentuh dan di usap tangan; penguasaan atas tubuh bahkan sejauh alam Brahma" Ia dapat merealisasikannya, kapanpun kondisi yang diperlukan didapat.
    2. “berelemen telinga dewa (dibbāya sotadhātuyā), termurnikan melebihi manusia, dapat mendengar dua jenis bunyi, bersifat kedewaan atau manusia, jauh atau dekat” Ia dapat merealisasikannya, kapanpun kondisi yang diperlukan didapat.
    3. “memahami/membaca PIKIRAN [cetasā ceto paricca pajāneyyaṃ] makhluk lain, manusia lain, yaitu dikuasai/tidak oleh: nafsu, kebencian, kekeliruan tahu; atau pikirannya : kotor(licik)/tidak, terkembang (mental)/tidak, melampaui/tidak, terkonsentrasi/tidak, terbebas/tidak” Ia dapat merealisasikannya, kapanpun kondisi yang diperlukan didapat.
    4. “dapat mengingat banyak kehidupan lampau [anekavihitaṃ pubbenivāsaṃ anussareyyaṃ], yaitu di: 1 kelahiran, 2, 3, 4, 5, 10, 20, 30, 40, 50, 100, 1000, 10.000, berkalpa-kalpa: pengerutan-dunia, pengembangan-dunia, pengerutan dan pengembangan dunia, ‘bernama ini, dari suku ini, berpenampilan seperti ini, dengan makanan itu, mengalami rasa senang dan sakitku, seperti itulah masa hidupku; lenyap dari sana, terlahir lagi di tempat lain di sana bernama demikian, dari suku demikian, berpenampilan demikian, demikian makananku, seperti itu pengalaman rasa senang dan sakitku, seperti itu masa hidupku; lenyap dari sana, terlahir lagi di sini.’ demikian aku mengingat kembali tempat kediaman masa laluku dengan ciri dan detilnya” Ia dapat merealisasikannya, kapanpun kondisi yang diperlukan didapat.
    5. “memiliki mata dewa [dibbena cakkhunā], termurnikan melampaui manusia, melihat para mahkluk lenyap dan terlahir lagi, rendah/tinggi, rupawan/tidak, di keadaan bahagia/menderita, memahami bagaimana para makhluk menjalani kehidupan sesuai kamma mereka, demikian: ‘mahluk dengan perilaku buruk lewat: tubuh, ucapan, dan pikiran pada para samana dan orang suci, berpandangan salah, melakukan tindakan-tindakan berdasarkan pandangan salah, bersamaan hancurnya tubuh setelah kematian terlahir di keadaan sengsara/merugi menderita menuju kehancuran bahkan neraka. Namun makhluk dengan perilaku baik lewat: tubuh, ucapan, dan pikiran pada para samana dan orang suci, berpandangan benar, melakukan tindakan berdasarkan pandangan benar, bersamaan hancurnya tubuh setelah kematian terlahir di keadaan bahagia di alam surga.’ Demikian dengan mata dewa, termurnikan melampaui manusia, melihat para makhluk lenyap dan lahir kembali, rendah/tinggi, rupawan/tidak, di keadaan bahagia/menderita, dan memahami bagaimana para makhluk menjalani kehidupan sesuai kamma mereka” Ia dapat merealisasikannya, kapanpun kondisi yang diperlukan didapat.
    6. “Lewat hancurnya noda-noda (āsavakkhayañāna), di kehidupan ini juga masuk dan berdiam di pembebasan pikiran [Cetovimutti] yang tanpa noda, di pembebasan kebijaksanaan [pannavimutti], merealisasikannya untuk diriku sendiri lewat pengetahuan langsung” Ia dapat merealisasikannya, kapanpun kondisi yang diperlukan didapat. [↓]
Samatha atau ketenangan atau keheningan, artinya Menenangkan pikiran, memusatkan pikiran/konsentrasi [dilakukan dengan sebuah ojek]

"Vipassanā" diterjemahkan sebagai penembusan adalah tidak tepat karena kata Vipassanā terdiri dari dua kata yaitu: "vi (pemisahan/khusus)" dan "passana/passati (melihat, mengamati)". Sehingga artinya adalah "mengamati secara khusus"

Namun kemudian, diperjalanan waktu di sejarah Buddhisme, Vipassana berubah menjadi sebuah teknik konsentrasi bergerak: Pegangan awalnya sama dengan samatha [fokus pada 1 objek] namun itu bukan fokus utamanya. Teknik ini berfokus pada JIKA ADA objek dominan LAIN yang muncul, maka di setiap perubahan (fenomena) yang terjadi, tidak dilakukan penilaian (menerima/menolak) namun hanya mengamati/mencatat.

Baik samatha dan Vipassana, yang diperhatikan adalah: muncul, berlangsung dan lenyapnya fenomena dari objek yang dipilih (atau yang dominan muncul) bahwa apapun itu adalah anicca, dukkha dan anatta. Jika tekun menjalankan latihan mana saja (Dana, sila dan meditasi) Ia kemudian mengetahui [Jānato] dan melihat [passato] bahwa apapun juga yang terkondisi (abhisaṅkhato) dan dihasilkan melalui kehendak (ābhisañcetasiko) adalah tidak kekal (tad-aniccam) akan lenyap/berakhir/hancur (nirodha-dhamma), maka: Pikirannya terbebaskan (cittaṃ vimuccati) dari: noda keinginan indria (kāmāsavāpi), dari noda penjelmaan (Bhavāsavāpi), dan dari noda kebodohan (Avijjāsavāpi). Ketika terbebaskan muncul pengetahuan (ñāṇa): ‘Terbebaskan.’ Ia memahami: ‘Kelahiran telah dihancurkan (Khīṇā jāti), kehidupan suci telah dijalani (vusitaṃ brahmacariyaṃ), apa yang harus dilakukan telah dilakukan (kataṃ karaṇīyaṃ), tak ada kelanjutan menjadi mahluk apapun (nāparaṃ itthattāyāti)' ~ MN 121/Culasunnata sutta’

Samatha dan Vipassana bukan dua alternatif metoda yang terpisah, namun dua kualitas metoda yang harus dikembangkan bersama untuk mencapai ke-arahatan. [One tool among Many].

Sang Buddha menyatakan:

Ada dua hal yang mendukung kepada pengetahuan (vijjābhāgiyā), yaitu Samatha dan Vipassanā. Ketika samatha (ketenangan) dikembangkan, apa tujuannya? Citta (Pikiran) dikembangkan. Ketika pikiran dikembangkan, apa tujuannya? kemelekatan ditinggalkan.

Ketika vipassana (wawasan/perenungan) dikembangkan, apa tujuannya? Paññā dikembangkan. Ketika Paññā dikembangkan, apa tujuannya? avijjā (Ketidaktahuan) ditinggalkan.

Dikotori kemelekatan, pikiran tidak terbebaskan. Dikotori ketidaktahuan, Panna tidak berkembang. ketiadaan dari kemelekatan adalah cetovimutti (Kebebasan pikiran). Ketiadaan ketidaktahuan adalah Pannavimutti (kebebasan kebijaksanaan)[AN 2.30/Vijja-bhagiya Sutta].

Ada yang berpendapat bahwa puncak vipassana, wawasan mendalam dan realisasi Nibbana, dijelaskan sebagai:

"Ini adalah damai, ini adalah mulia 'sabbe sankhara samatha', Semua bentukan menjadi tenang"

Puncak samatha adalah berhentinya persepsi dan perasaan [Sannā vedayita nirodha atau nirodha samāpatti], pasti mengarah ke wawasan hasil tahap ketiga pencerahan [I Agam]. Buddha bahkan menyamakan jhana menuju pencerahan akhir [parinibbana, AN 4.453,4], menunjukkan keadaan berhentinya kerterlibatan. [A Honed and Heavy Ax]

Realisasi nibanna hanya terjadi jika metoda samatha dan vipassana tersebut menuju pada mengetahui dan melihat anicca, dukkha dan anatta.

[Kembali (↑)]
---------------

JHANA ke-1 s.d ke-9

Kesempurnaan samadhi ditandai dengan tercapainya jhana (keterpusatan pikiran/konsentrasi. yang terkadang juga diartikan: diri dalam keadaan terbakar, cemerlang atau terpesona atau tercerap).

Dalam AN 9.35/Gavi Sutta, sang buddha mengingatkan agar MENGUASAI dengan baik setiap pencapaian meditasinya SEBELUM berlanjut ke pencapaian berikutnya melalui perumpamaan sapi gunung yang bodoh, tidak berpengalaman, tidak terbiasa dengan padang rumputnya, tidak pula terampil menjelajah pegunungan terjal namun pergi ke daerah yang tak dikenal dan tak pernah didatanginya untuk mencoba rumput dan air yang tak pernah ia makan dan minum sebelumnya, sehingga ketika melangkah, Ia tidak dapat meletakan kakinya dengan baik dan membuatnya tak dapat maju maupun kembali.

Berikut di bawah ini adalah pencapaian keberhasian dari latihan meditasi:

Jhana ke-1,
Untuk mencapainya harus secara total melepas: Persepsi dan perhatian yang disertai sensualitas (kāmasahagatā saññāmanasikārā). Karena tiap momentnya, pikiran akan masih melekat atau teralihkan ketika berusaha untuk mencapainya, maka sang Buddha mengingatkan agar pikiran: dikokohkan, terpusat dan terkonsentrasi (Cittham: saṇṭhapehi, ekodiṃ karohi, samādahā) [SN 40.1/Paṭhamajhānapañhā sutta]

Deskripsi Jhana ke-1 (juga akan menjadi alam kelahiran berikutnya, jika kondisi cuti citta (pikiran menjelang kematian)-nya di jhana ke-1):
  • "vivicceva kāmehi vivicca akusalehi dhammehi sa·vitakkaṃ sa·vicāraṃ viveka·jaṃ pīti·sukhaṃ paṭhamaṃ jhānaṃ upasampajja viharati"

    [Setelah menanggalkan (vivicc·eva) sensualitas indriya (kāmehi), menanggalkan kondisi tidak bermanfaat (akusalehi dhammehi), dengan usaha awal (pikiran) menggenggam objek (sa·vitakka) (dan) dengan (pikiran) mempertahankan objek (sa·vicāra) dari keterasingan muncul (viveka·jaṃ) pīti-sukha, jhana ke-1 tercapai (upasampajja) keberadaannya (viharati)] [MN 111/Anupadasutta, AN 4.123, AN 9.31, 32, 33, 35, 36], atau

  • "ekacco puggalo mettāsahagatena cetasā ekaṃ disaṃ pharitvā viharati tathā dutiyaṃ tathā tatiyaṃ tathā catutthiṃ, iti uddhamadho tiriyaṃ sabbadhi sabbattatāya sabbāvantaṃ lokaṃ mettāsahagatena cetasā vipulena mahaggatena appamāṇena averena abyāpajjhena pharitvā viharati"

    [mahluk (puggala: orang/deva) tertentu (ekacco), berdiam di (viharati) pikiran (cetasā) yang diliputi (sahagata) cinta kasih/kasih sayang (mettā) memancar (pharitvā) ke 1/4 arah (eka disa), Demikian pula (tathā) ke: 1/2 arah (dutiya), ke 3/4 arah (tatiya) dan ke 4/4 arah (catutthi). Demikian (iti) ke: atas (uddham), bawah (adho), bulak-balik (tiriya) dan kemana saja (sabbadhi), kepada apapun mahluk (termasuk pada dirinya sendiri) (sabbattatāya), ke seluruh alam (sabbāvantaṃ loka), berdiam dalam pikiran yang diliputi cinta kasih/kasih sayang memancar melimpah (vipulena), luhur (mahaggata) tak berbatas (appamāṇa) tanpa kebencian (avera) atau permusuhan (abyāpajjha) [AN 4.125/Metta sutta (1) dan DN 13/Tevijja sutta (di DN13, kesempurnaan metta bhavana yang tanpa batasan terjadi di setelah jhana ke-1 atau melalui faktor jhana)].
"So tadassādeti taṃ nikāmeti tena ca vittiṃ āpajjati. Tattha ṭhito tadadhimutto tabbahulavihārī aparihīno kālaṃ kurumāno brahmakāyikānaṃ devānaṃ sahavyataṃ upapajjati. Brahmakāyikānaṃ bhikkhave devānaṃ kappo āyuppamāṇaṃ."

[Ia menikmati (So tadassādet), meminati (nikāmeti) dan karenanya (tena ca) menemukan (āpajjati) kebahagiaan (vitti). Kemudian mengakar (Tattha ṭhita) menjadi kebiasaan (adhimutta) kerap didalamnya (tabbahulavihārī) tanpa alpa (aparihīno) selalu melakukannya (kālaṃ kurumāno). Ia terlahir di antara Deva Brahmakayika. Deva Brahmakayika dengan batasan kehidupan 1 kappa] [AN 4.123, 125][alam ↑]

Saat mencapai Jhana ke-1:
Lima rintangan (nivarana) ditanggalkan dan lima faktor jhana diraih (MN 43)
    Sensualitas Indriya/Lima rintangan:
    Kamacchanda (hasrat sensualitas indriya) (1); Vyapada/byapada (itikad/kehendak/niat buruk) (2); Thina (kemalasan) + middha (kelambanan) (3); Uddhacca (kegelisahan) + kukkucca (kekhawatiran) (4) dan Vicikiccha (keraguan) (5)

    Lima Faktor Jhana:
    Vitakka (usaha awal [pikiran] menggenggam objek/awal pikiran) (1); Vicāra ([pikiran] mempertahankan objek / kelangsungan pikiran / [pikiran] berhasil memegang objek dengan kuat) (2); pīti (gembira/girang) (3); Sukha (bahagia/nikmat) (4) dan pikiran terpusat [cittekaggatā] (5) [MN 111/Anupadasutta, AN 9.31, 32, 33, 35, 36]
Lenyapnya kesakitan tubuh (SN 48.4.10)

Lenyapnya (berhentinya) "bicara" [vaca niruddha] (SN 36.11, SN 36.15) adalah lenyapnya kammasanna (DN 9, AN 9.31). Dalam konteks ini, vaca niruddha = kamasanna niruddha yaitu bentukan (san+khara) dari 5 nivarana: kāmacchanda..vicikicchā + akusala dhamehi

Keadaan ini berada di luar jangkauan Mara (MN 25, AN 9.39)

Persepsi kegembiraaan [Piti] dan kenikmatan [Sukha] yang halus tapi nyata muncul dari keterasingan membasahi dan meliputi tubuhnya sehingga tidak ada bagian tubuhnya yang tak tersentuh kegirangan dan kegembiraan yang muncul dari keterasingan itu. Ia tercerap dalam kegirangan dan kegembiraan ini.(DN 9, DN 2)
    Note:
    Pīti (gembira/girang) termasuk dalam Sankhara Khanda
    Sukha (bahagia/nikmat) termasuk dalam Vedana Khanda.

    Ilustrasi memahami beda antara pīti vs sukkha:

      Permumpamaan Padang pasir: Seseorang dalam perjalanan melewati padang pasir, mengalami kehabisan air, dilanda kehausan yang sangat, lemah dan pegal. Ketika sedang tertatih-tatih dalam berjalan, terlihat Oasis [sumber mata air segar di padang pasir] di kejauhan. Dari mulai melihat hingga yakin bahwa itu adalah oasis karena kemunculan perasaan gembira/girang yang menguat meliputi tubuhnya, membuat rasa haus dan payah seolah terlupakan, makin bersemangat menuju Oasis. Keadaan ini menyerupai PITI. Ketika kemudian, Ia meminum airnya, perasaan nikmat muncul dan rasa haus dan payahnya melenyap. Keadaan ini menyerupai SUKHA

      Perumpamaan kebelet ke kakus: Seseorang di tengah kemacetan lalulintas muncul keinginan buang air besar/kencing yang dahsyat. Pikirannya saat itu hanya terpusat mencari lokasi membuang hajat. Ketika ia menemukan sebuah kakus dengan pintu terbuka, perasaan girang yang muncul saat itu menyerupai Piti, kebahagiaan dan nikmat terasa ketika membuang hajat/kencing, menyerupai sukha
Kehendak-kehendak tidak bermanfaat [akusalānaṃ saṅkappānaṃ] lenyap tanpa sisa. (MN 78)
    Dan apakah kehendak-kehendak tidak bermanfaat?
    (5 nivarana) kehendak keinginan indria, kehendak niat buruk, dan kehendak kekejaman. Ini disebut kehendak-kehendak tidak bermanfaat.

    Dan dari manakah kehendak-kehendak tidak bermanfaat ini berasal-mula?
    Asal-mulanya disebutkan: kehendak-kehendak tidak bermanfaat ini harus dikatakan bermula dari persepsi.

    Persepsi apakah?
    Akan tetapi persepsi ada banyak, bervariasi, dan terdiri dari banyak aspek, ada persepsi keinginan indria, persepsi niat buruk, dan persepsi kekejaman. Kehendak-kehendak tidak bermanfaat berasal-mula dari ini.

    Dan di manakah kehendak-kehendak tidak bermanfaat ini lenyap tanpa sisa?
    Setelah menanggalkan sensualitas indriya, menanggalkan kondisi tidak bermanfaat, dengan usaha awal menggenggam objek (dan) dengan (pikiran) mempertahankan objek dari keterasingan muncul pīti-sukha, jhana ke-1 tercapai keberadaannya. Adalah di sini kehendak-kehendak tidak bermanfaat itu lenyap tanpa sisa

    Dan bagaimanakah ia mempraktikkan jalan menuju lenyapnya kehendak-kehendak tidak bermanfaat?
    Di sini seorang bhikkhu membangkitkan semangat: untuk tidak memunculkan kondisi-kondisi buruk yang tidak bermanfaat yang belum muncul … untuk mempertahankan kelangsungan, ketidak-lenyapan, memperkuat, meningkatkan, dan memenuhi dengan pengembangan kondisi-kondisi yang bermanfaat yang telah muncul, dan ia berusaha, membangkitkan kegigihan, mengerahkan pikirannya, dan berupaya.

    Seorang yang berlatih demikian mempraktikkan jalan menuju lenyapnya kehendak-kehendak tidak bermanfaat
Mengapa mettā dikaitkan dengan keadaan Jhana ke-1?

Seseorang HANYA bisa memancarkan Metta jika pada dirinya telah tumbuh perasaan menyenangkan: gembira dan/atau bahagia (pīti-sukha), maka "Apa yang Ia rasakan, itu yang Ia pikirkan, apa yang dipikirkannya berkembang biak dalam pikiran berupa sumber, gagasan, Ide yang telah berlalu, sekarang dan kedepan yang dikenali oleh inderanya (pikiran, mata, dll)". Perasan gembira/bahagia membuat reaksi kontak indria (Indria-Objeknya-Kesadaran)-nya memunculkan perasaan menyenangkan pula dan ingin melingkupi kebahagiaan ini ke segala arah, ke segala mahluk.


Jhana ke-2,
Untuk mencapainya harus secara total melepas: Persepsi dan perhatian terkait usaha awal (pikiran) menggenggam obyek (dan juga (pikiran) mempertahankan objek) (vitakkasahagatā saññāmanasikārā). Karena tiap momentnya, pikiran akan masih melekat atau teralihkan ketika berusaha untuk mencapainya, maka sang Buddha mengingatkan agar pikiran: dikokohkan, terpusat dan terkonsentrasi (Cittham: saṇṭhapehi, ekodiṃ karohi, samādahā) [SN 40.2/Dutiyajhānapañhā sutta, SN 21.1/Kolita Sutta].

Deskripsi Jhana ke-2 (juga akan menjadi alam kelahiran berikutnya, jika kondisi cuti citta (pikiran menjelang kematian)-nya di jhana ke-2):
  • "vitakkavicārānaṃ vūpasamā ajjhattaṃ sampasādanaṃ cetaso ekodibhāvaṃ avitakkaṃ avicāraṃ samādhijaṃ pītisukhaṃ dutiyaṃ jhānaṃ upasampajja viharati"

    [usaha menggenggam dan mempertahankan objek menjadi terbiasa/mereda [vitakkavicārānaṃ vūpasamā], kedamaian diri [ajjhattaṃ sampasādo] dari pikiran terpusat terjadi tanpa: usaha menggenggam dan mempertahankan objek [cetaso ekodibhāvaṃ avitakkaṃ avicāraṃ]. Gembira/girang (piti) dan nikmat (sukha) muncul dari konsentrasi [samādhijaṃ pītisukhaṃ]. Jhana ke-2 tercapai keberadaannya] [MN 111/Anupadasutta, AN 9.31, 32, 33, 35, 36], atau

  • "ekacco puggalo karuṇāsahagatena cetasā ekaṃ disaṃ pharitvā viharati, tathā dutiyaṃ tathā tatiyaṃ tathā catutthiṃ iti uddhamadho tiriyaṃ sabbadhi sabbattatāya sabbāvantaṃ lokaṃ karuṇāsahagatena cetasā vipulena mahaggatena appamāṇena averena abyāpajjhena pharitvā viharati."

    [mahluk tertentu, berdiam di pikiran yang diliputi welas asih/belas kasihan (karuṇā) memancar ke 1/4 arah, Demikian pula ke: 1/2 arah, ke 3/4 arah dan ke 4/4 arah. Demikian ke: atas, bawah, bulak-balik dan kemana saja, kepada apapun mahluk (termasuk pada dirinya sendiri), ke seluruh alam, berdiam dalam pikiran yang diliputi welas asih/belas kasihan memancar melimpah, luhur tak berbatas tanpa kebencian atau permusuhan [AN 4.125/Metta sutta (1) dan DN 13/Tevijja sutta (di DN 13, kesempurnaan karuna bhavana yang tanpa batasan terjadi di setelah jhana ke-1 atau melalui faktor jhana)].
"So tadassādeti taṃ nikāmeti tena ca vittiṃ āpajjati. Tattha ṭhito tadadhimutto tabbahulavihārī aparihīno kālaṃ kurumāno ābhassarānaṃ devānaṃ sahavyataṃ upapajjati. Ābhassarānaṃ bhikkhave devānaṃ dve kappā āyuppamāṇaṃ."

[Ia menikmati, meminati dan karenanya menemukan kebahagiaan. Kemudian mengakar menjadi kebiasaan kerap di dalamnya tanpa alpa selalu melakukannya. Ia terlahir di antara Deva ābhassarā. Deva ābhassarā dengan batasan kehidupan 2 kappa] [AN 4.123, 125][alam ↑]

Kondisi/faktor di Jhana ke-2 adalah Kedamaian diri, piti, dukha dan pikiran terpusat [cittekaggatā]

Saat mencapai jhana ke-2:
Persepsi kegirangan dan kenikmatan yang halus tapi nyata yang sebelumnya muncul dari keterasingan menjadi lenyap. Saat ini, persepsi kegirangan dan kegembiraan yang halus tapi nyata yang muncul dari konsentrasi meliputi seluruh tubuhnya sehingga tidak ada bagian yang tidak tersentuh. Ia tercerap dalam kegirangan dan kegembiraan ini. (DN 9, DN 2)

Tahap kesunyian Ariya (SN 21.1) atau lenyap (berhentinya, Niruddha): awal pikiran dan kelangsungan pikiran [vitakka-vicara ] (SN 36.11, 36.15, AN 9.31). vacīsaṅkhāra = vitakka-vicārā [MN 44, SN 41.6] itulah kenapa disebut tahap kesunyian ariya.

kehendak-kehendak bermanfaat (kusalā saṅkappā) lenyap tanpa sisa. (MN 78)
    Dan apakah kehendak-kehendak bermanfaat?
    kehendak pelepasan keduniawian (Nekkhammasaṅkappo), kehendak tanpa niat buruk (abyāpādasaṅkappo), dan kehendak tanpa-kekejaman (avihiṃsāsaṅkappo). Ini disebut kehendak-kehendak bermanfaat.

    Dan dari manakah kehendak-kehendak bermanfaat ini berasal-mula?
    Asal-mulanya disebutkan: kehendak-kehendak bermanfaat ini harus dikatakan bermula dari persepsi.

    Persepsi apakah?
    Akan tetapi persepsi ada banyak, bervariasi, dan terdiri dari banyak aspek, ada persepsi pelepasan keduniawian (Nekkhammasaññā), persepsi tanpa niat buruk (abyāpādasaññā), dan persepsi tanpa-kekejaman (avihiṃsāsaññā). Kehendak-kehendak bermanfaat berasal-mula dari ini.

    Dan di manakah kehendak-kehendak bermanfaat ini lenyap tanpa sisa?
    Usaha menggenggam dan mempertahankan objek menjadi terbiasa/mereda, kedamaian diri dari pikiran terpusat terjadi tanpa: usaha menggenggam dan mempertahankan objek. Gembira/girang dan nikmat muncul dari konsentrasi. Jhana ke-2 tercapai keberadaannya. Adalah di sini kehendak-kehendak bermanfaat itu lenyap tanpa sisa.

    Dan bagaimanakah ia mempraktikkan jalan menuju lenyapnya kehendak-kehendak bermanfaat?
    Di sini seorang bhikkhu membangkitkan semangat untuk tidak memunculkan kondisi-kondisi buruk yang tidak bermanfaat yang belum muncul … untuk mempertahankan kelangsungan, ketidak-lenyapan, memperkuat, meningkatkan, dan memenuhi dengan pengembangan kondisi-kondisi yang bermanfaat yang telah muncul, dan ia berusaha, membangkitkan kegigihan, mengerahkan pikirannya, dan berupaya. Seorang yang berlatih demikian mempraktikan jalan menuju lenyapnya kehendak-kehendak bermanfaat.
Mengapa karuṇā dikaitkan dengan keadaan Jhana ke-2?

Seseorang HANYA bisa memancarkan karuṇā jika pada dirinya perasaan menyenangkan: gembira/menyenangkan dan/atau bahagia (pīti-sukha) serta perasaan mettā telah terbiasa dirasakannya, maka "Apa yang Ia rasakan, itu yang Ia pikirkan, apa yang dipikirkannya berkembang biak dalam pikiran berupa sumber, gagasan, Ide yang telah berlalu, sekarang dan ke depan yang dikenali oleh inderanya (pikiran, mata, dll)". Perasan gembira/bahagia dan cintakasih yang telah terbiasa membuat reaksi kontak indria (Indria-Objeknya-Kesadaran)-nya memunculkan perasaan menyenangkan pula dan ingin melingkupi kebahagiaan ini ke segala arah, ke segala mahluk.


Jhana ke-3,
Untuk mencapainya harus secara total melepas: Persepsi dan perhatian yang terkait perasaan gembira/girang (pītisahagatā saññāmanasikārā). Karena tiap momentnya, pikiran akan masih melekat atau teralihkan ketika berusaha untuk mencapainya, maka sang Buddha mengingatkan agar pikiran: dikokohkan, terpusat dan terkonsentrasi (Cittham: saṇṭhapehi, ekodiṃ karohi, samādahā) [SN 40.3/Tatiyajhānapañhā sutta].

Deskripsi Jhana ke-3 (juga akan menjadi alam kelahiran berikutnya, jika kondisi cuti citta (pikiran menjelang kematian)-nya di jhana ke-3):
  • "pītiyā ca virāgā upekkhako ca viharati sato ca sampajāno, sukhañca kāyena paṭisaṃvedeti, yaṃ taṃ ariyā ācikkhanti – ‘‘upekkhako satimā sukhavihārī’’ti, tatiyaṃ jhānaṃ upasampajja viharati."

    [dan kegembiraan (piti) mereda (virāgā), tinggal dalam keseimbangan (upekkhako ca viharati) mengetahui sepenuhnya dalam memperhatikan (sato sampajāna), jasmani merasakan bahagia, yang para ariya katakan: “Seimbang perhatian dalam bahagia". Jhana ke-3 tercapai keberadaannya] [MN 111/Anupadasutta, AN 9.31, 32, 33, 35, 36], atau

  • "ekacco puggalo muditāsahagatena cetasā ekaṃ disaṃ pharitvā viharati, tathā dutiyaṃ tathā tatiyaṃ tathā catutthiṃ iti uddhamadho tiriyaṃ sabbadhi sabbattatāya sabbāvantaṃ lokaṃ muditāsahagatena cetasā vipulena mahaggatena appamāṇena averena abyāpajjhena pharitvā viharati."

    [mahluk tertentu, berdiam di pikiran yang diliputi simpati/empati (muditā) memancar ke 1/4 arah, Demikian pula ke: 1/2 arah, ke 3/4 arah dan ke 4/4 arah. Demikian ke: atas, bawah, bulak-balik dan kemana saja, kepada apapun mahluk (termasuk pada dirinya sendiri), ke seluruh alam, berdiam dalam pikiran yang diliputi simpati/empati memancar melimpah, luhur tak berbatas tanpa kebencian atau permusuhan [AN 4.125/Metta sutta (1) dan DN 13/Tevijja sutta (di DN 13, kesempurnaan mudita bhavana yang tanpa batasan terjadi di setelah jhana ke-1 atau melalui faktor jhana)].
"So tadassādeti taṃ nikāmeti tena ca vittiṃ āpajjati. Tattha ṭhito tadadhimutto tabbahulavihārī aparihīno kālaṃ kurumāno subhakiṇhānaṃ devānaṃ sahavyataṃ upapajjati. Subhakiṇhānaṃ bhikkhave devānaṃ cattāro kappā āyuppamāṇaṃ."

[Ia menikmati, meminati dan karenanya menemukan kebahagiaan. Kemudian mengakar menjadi kebiasaan kerap di dalamnya tanpa alpa selalu melakukannya. Ia terlahir di antara Deva subhakiṇhā. Deva subhakiṇhā dengan batasan kehidupan 4 kappa] [AN 4.123, 125][alam ↑]

Kondisi/faktor di Jhana ke-3 adalah sukha, sati, sampajāna dan cittekaggatā

Saat mencapai Jana ke-3:
Persepsi persepsi kegirangan dan kegembiraan yang halus tapi nyata yang sebelumnya muncul dari konsentrasi menjadi lenyap, saat ini, persepsi keseimbangan dan kebahagiaan yang halus tapi nyata yang muncul dari ketiadaan kegirangan meliputi seluruh tubuhnya sehingga tidak ada bagian yang tidak tersentuh. Ia tercerap dalam keseimbangan dan kegembiraan ini. [DN 9. DN 2]

Mengapa muditā dikaitkan dengan keadaan Jhana ke-3?

Seseorang HANYA bisa memancarkan muditā jika pada dirinya perasaan bahagia (sukha) telah terbiasa, halus, bebas dari lonjakan kegembiraaan dirasakannya, maka "Apa yang Ia rasakan, itu yang Ia pikirkan, apa yang dipikirkannya berkembang biak dalam pikiran berupa sumber, gagasan, Ide yang telah berlalu, sekarang dan ke depan yang dikenali oleh inderanya (pikiran, mata, dll)". Perasan bahagia, halus bebas dari lonjakan kegembiraan membuat reaksi kontak indria (Indria-Objeknya-Kesadaran)-nya memunculkan perasaan halus bebas dari lonjakan kegembiraan dan ingin melingkupi kebahagiaan ini ke segala arah, ke segala mahluk.


Jhana ke-4,
Untuk mencapainya harus secara total melepas: Persepsi dan perhatian yang terkait perasaan bahagia (sukhasahagatā saññāmanasikārā). Karena tiap momentnya, pikiran akan masih melekat atau teralihkan ketika berusaha untuk mencapainya, maka sang Buddha mengingatkan agar pikiran: dikokohkan, terpusat dan terkonsentrasi (Cittham: saṇṭhapehi, ekodiṃ karohi, samādahā) [SN 40.4/Catutthajhānapañhā sutta].

Deskripsi Jhana ke-4 (juga akan menjadi alam kelahiran berikutnya, jika kondisi cuti citta (pikiran menjelang kematian)-nya di jhana ke-4):
  • "sukhassa ca pahānā dukkhassa ca pahānā pubbeva somanassadomanassānaṃ atthaṅgamā adukkhamasukhaṃ upekkhāsatipārisuddhiṃ catutthaṃ jhānaṃ upasampajja viharati"

    [kebahagiaan ditanggalkan (sukhassa ca pahānā), penderitaan ditanggalkan (dukkhassa ca pahānā), kegembiraan-kesedihan yang sebelumnya (pubbeva somanassadomanassānaṃ) lenyap (atthaṅgamā), tanpa menyakitkan - tanpa menyenangkan (adukkhaṃ-asukhaṃ) keseimbangan perhatian murni (upekkhā-sati-pārisuddhiṃ), Jhana ke-4 tercapai keberadaannya] [MN 111/Anupadasutta, AN 9.31, 32, 33, 35, 36], atau

  • "ekacco puggalo upekkhāsahagatena cetasā ekaṃ disaṃ pharitvā viharati, tathā dutiyaṃ tathā tatiyaṃ tathā catutthiṃ iti uddhamadho tiriyaṃ sabbadhi sabbattatāya sabbāvantaṃ lokaṃ upekkhāsahagatena cetasā vipulena mahaggatena appamāṇena averena abyāpajjhena pharitvā viharati."

    [mahluk tertentu, berdiam di pikiran yang diliputi Tenang Seimbang (upekkhā) memancar ke 1/4 arah, Demikian pula ke: 1/2 arah, ke 3/4 arah dan ke 4/4 arah. Demikian ke: atas, bawah, bulak-balik dan kemana saja, kepada apapun mahluk (termasuk pada dirinya sendiri), ke seluruh alam, berdiam dalam pikiran yang diliputi Tenang Seimbang memancar melimpah, luhur tak berbatas tanpa kebencian atau permusuhan [AN 4.125/Metta sutta (1) dan DN 13/Tevijja sutta (di DN 13, kesempurnaan upekkhā bhavana yang tanpa batasan terjadi di setelah jhana ke-1 atau melalui faktor jhana)].
"So tadassādeti taṃ nikāmeti tena ca vittiṃ āpajjati. Tattha ṭhito tadadhimutto tabbahulavihārī aparihīno kālaṃ kurumāno vehapphalānaṃ devānaṃ sahavyataṃ upapajjati. Vehapphalānaṃ bhikkhave devānaṃ pañcakappasatāni āyuppamāṇaṃ."

[Ia menikmati, meminati dan karenanya menemukan kebahagiaan. Kemudian mengakar menjadi kebiasaan kerap di dalamnya tanpa alpa selalu melakukannya. Ia terlahir di antara Deva vehapphalā. Deva vehapphalā dengan batasan kehidupan 500 kappa] [AN 4.123, 125][alam ↑]

Kondisi/faktor di Jhana ke-4 adalah keseimbangan (upekkhā), perasaan tanpa menyakitkan tanpa menyenangkan (adukkhamasukhā vedanā), ketenangan karena ketidak-tertarikan pikiran, perhatian murni, pikiran terpusat (passaddhattā cetaso anābhogo satipārisuddhi cittekaggatā) [MN 111]

Persepsi keseimbangan dan kebahagiaan yang halus tapi nyata yang muncul sebelumnya dari ketiadaan kegirangan, menjadi lenyap, Saat itu, persepsi bukan menyakitkan dan bukan menyenangkan halus tapi nyata muncul keseimbangan dari perhatian murni meliputi seluruh tubuhnya sehingga tidak ada bagian yang tidak tersentuh.’ Ia tercerap dalam persepsi bukan menyakitkan dan bukan menyenangkan (DN 9, DN 2)

Ia berdiam bersama dengan para dewa yang telah muncul dalam alam yang sepenuhnya nikmat dan ia berbicara kepada mereka dan berbincang-bincang dengan mereka [Yā tā devatā ekantasukhaṃ lokaṃ upapannā tāhi devatāhi saddhiṃ santiṭṭhati sallapati sākacchaṃ samāpajjati]. Pada titik ini alam yang sungguh-sungguh menyenangkan itu telah tercapai (MN 79)

Berhentinya pernafasan (SN 36.11, 36.15, AN 9.31). Kayasankhara (semua formasi rupa/kaya [nafas keluar/masuk]) terhenti = ditenangkan sempurna. Ini mirip dengan orang yang tidak bernafas lagi, puncaknya kemiripan dengan mati adalah di lenyapnya persepsi dan persaan (no.9)

Keluar dari tahap ini, dia berjalan, berdiri dan seterusnya dengan kebahagiaan yang terlahir dari ketenangan (AN 3.63)

Pikiran terpusat (samāhite citte), dimurnikan (parisuddhe), dibersihkan (pariyodāte), tidak ternoda (an·aṅgaṇe), bebas dari·kekotoran (vigat·ūpakkilese), lentur (mudubhūte), mudah dibentuk (kammaniye), kokoh (ṭhite), setelah mendapatkan (pāpuṇāti) kondisi tanpa-gangguan/tenang sekali (āneñja)(āneñjappatte), diarahkan (abhinīharati) condong (abhininnāmeti) pikirannya untuk:
  1. pengetahuan melihat (ñāṇadassanāya) badan jasmani adalah materi catumahabutha, tidak kekal, dapat luka dan usang, rusak dan hancur, kesadaran melekat dan bergantung padanya,
  2. menghasilkan tubuh ciptaan-pikiran (manomayaṃ kāyaṃ abhinimmānāya) dari tubuhnya, menghasilkan tubuh yang lain, berbentuk, ciptaan-pikiran, lengkap dengan semua bagian tubuh dan indrianya,
  3. berbagai kekuatan supernormal (iddhividhāya),
  4. telinga dewa (dibbāya sotadhātuyā) mendengar suara alam dewa dan manusia jauh maupun dekat
  5. pengetahuan atas pikiran makhluk-makhluk lain (cetopariyañāṇāya),
  6. pengetahuan kehidupan lampau (pubbenivāsānussatiñāṇāya),
  7. pengetahuan lenyapnya dan munculnya makhluk-makhluk dengan mata dewa (sattānaṃ cutūpapātañāṇāya),
  8. pengetahuan hancurnya kekotoran (āsavānaṃ khayañāṇāya) [DN2, MN 76-79, dll]
Perlu diketahui sutta AN 9.35/Gavi sutta mengindikasikan bahwa 8 pengetahuan di atas (sutta ini hanya tercatat 6 abhinna), DAPAT MULAI di tiap tingkatan manapun:
    Setiap kali seorang bhikkhu mencapai ke pencapaian tersebut, atau muncul dari itu, pikirannya lentur dan mudah dibentuk [Yato kho bhikkhave bhikkhu taṁ tad eva samāpattiṁ samāpajjatipi vuṭṭhāti pi]. Dengan pikiran lentur dan mudah dibentuk, tak terbatas pengembangan dari pemusatan pikiran [Tassa muduṁ cittaṁ hoti kammaññaṁ, mudunā citte kammaññena, appamāṇo samādhi hoti subhāvito]. Dengan tak terbatas pengembangan dari pemusatan pikiran, apa pun pengetahuan tinggi yang seharusnya dengan mengarahkan pikirannya ia mendapatkannya [So appamāṇena samādhinā subhāvitena, yassa yassa abhiññā,sacchikaraṇīyassa, dhammassa cittaṁ abhininnāmeti, abhiññā,sacchikiriyāya]. Ia mengalami sendiri aspek di dalamnya, bila kondisinya tepat [Tatra tatr’eva sakkhi,bhabbataṁ pāpuṇāti sati sati āyatane]
Mengapa upekkhā dikaitkan dengan keadaan Jhana ke-4?

Seseorang HANYA bisa memancarkan upekkhā jika pada dirinya perasaan bahagia (sukha) telah menjadi tenang, maka "Apa yang Ia rasakan, itu yang Ia pikirkan, apa yang dipikirkannya berkembang biak dalam pikiran berupa sumber, gagasan, Ide yang telah berlalu, sekarang dan ke depan yang dikenali oleh inderanya (pikiran, mata, dll)". Perasaan tenang dalam keseimbangan membuat reaksi kontak indria (Indria-Objeknya-Kesadaran)-nya memunculkan perasaan tenang dalam keseimbangan pula dan ingin melingkupinya ke segala arah, ke segala mahluk.


Ke-5,
Landasan ruang tak berbatas (ākāsa·añanca·āyatana: ākāsa = ruang; ananca = tak berbatas, tanpa akhir; āyatana = landasan),

Untuk mencapainya harus secara total melepas: Persepsi dan perhatian yang terkait Jasmani atau materi (rūpasahagatā saññāmanasikārā). Karena tiap momentnya, pikiran akan masih melekat atau teralihkan ketika berusaha untuk mencapainya, maka sang Buddha mengingatkan agar pikiran: dikokohkan, terpusat dan terkonsentrasi (Cittham: saṇṭhapehi, ekodiṃ karohi, samādahā) [SN 40.5/Ākāsānañcāyatanapañhā sutta]

Deskripsi landasan ini (juga akan menjadi alam kelahiran berikutnya, jika kondisi cuti citta (pikiran menjelang kematian)-nya di landasan ini):

"sabbaso rūpasaññānaṃ samatikkamā paṭighasaññānaṃ atthaṅgamā nānattasaññānaṃ amanasikārā ‘ananto ākāso’ti ākāsānañcāyatanaṃ upasampajja viharati."

[sabbaso (Setelah sepenuhnya) rūpasaññā samatikkamā (melampaui persepsi materi) paṭigha (penolakan terhadap) sanna (persepsi) atthaṅgamā (mereda/lenyap) nānatta·saññānaṃ (beragam persepsi) amanasikara (tidak berkembang-biak) [Merasakan:] 'ākāso (ruang) ananto (tak berbatas)' ākāsa·anañca·āyatana (landasan ruang tak berbatas) upasampajja viharati (tercapai keberadaannya)] [MN 111/Anupadasutta, AN 9.31, 32, 33, 35, 36]

"So tadassādeti taṃ nikāmeti tena ca vittiṃ āpajjati, tatra ṭhito tadadhimutto tabbahulavihārī aparihīno kālaṃ kurumāno ākāsānañcāyatanūpagānaṃ devānaṃ sahabyataṃ upapajjati. Ākāsānañcāyatanūpagānaṃ, bhikkhave, devānaṃ vīsati kappasahassāni āyuppamāṇaṃ." [AN 3.117/Āneñja sutta]

[Ia menikmati, meminati dan karenanya menemukan kebahagiaan. Kemudian mengakar menjadi kebiasaan kerap di dalamnya tanpa alpa selalu melakukannya. Ia terlahir di antara Deva ākāsānañcāyatana. Deva ākāsānañcāyatana dengan batasan kehidupan 20.000 kappa] [AN 3.117/Āneñja sutta][alam ↑]

Kondisi/faktor di landasan ini adalah: Persepsi landasan ruang tak berbatas dan keterpusatan pikiran.
    note:
    Dalam brahmajala sutta disebutkan bahwa brahma-brahma itu melayang-layang di ruang antar batasan [antalikkhe], jadi ruang tanpa batas adalah bebas dari batas-batasan materi/fisikal
Pencapaian arupa di 4 Nikaya disebutkan sebagai pencapaian [samapatti: DN.3, MN.3, AN 1,4,5] atau keadaaan arupa [aruppa: MN1, It61, Kvu 325] atau alam dengan landasan citta [ayatana: DN2, MN2, AN4]


Ke-6,
Landasan Kesadaran tak berbatas (viññāṇa·añanca·āyatana)

Untuk mencapainya harus secara total melepas: Persepsi dan perhatian yang terkait landasan ruang tak berbatas (ākāsānañcāyatanasahagatā saññāmanasikārā). Karena tiap momentnya, pikiran akan masih melekat atau teralihkan ketika berusaha untuk mencapainya, maka sang Buddha mengingatkan agar pikiran: dikokohkan, terpusat dan terkonsentrasi (Cittham: saṇṭhapehi, ekodiṃ karohi, samādahā) [SN 40.6/Viññānañcāyatana sutta]

Deskripsi landasan ini (juga akan menjadi alam kelahiran berikutnya, jika kondisi cuti citta (pikiran menjelang kematian)-nya di landasan ini):

"sabbaso ākāsānañcāyatanaṃ samatikkamma ‘anantaṃ viññāṇa’nti viññāṇañcāyatanaṃ upasampajja viharati."

[sabbaso (Setelah sepenuhnya) ākāsa·anañca·āyatana samatikkamā (melampuai landasan ruang tak berbatas), [merasakan:] 'viññāṇa (Kesadaran) ananta (tak berbatas)', viññāṇa·anañca·āyatana (landasan kesadaran tak berbatas) upasampajja viharati (tercapai keberadaannya)] [MN 111/Anupadasutta, AN 9.31, 32, 33, 35, 36]

"So tadassādeti taṃ nikāmeti tena ca vittiṃ āpajjati, tatra ṭhito tadadhimutto tabbahulavihārī aparihīno kālaṃ kurumāno viññāṇañcāyatanūpagānaṃ devānaṃ sahabyataṃ upapajjati. Viññāṇañcāyatanūpagānaṃ, bhikkhave, devānaṃ cattārīsaṃ kappasahassāni āyuppamāṇaṃ." [AN 3.117/Āneñja sutta]

[Ia menikmati, meminati dan karenanya menemukan kebahagiaan. Kemudian mengakar menjadi kebiasaan kerap di dalamnya tanpa alpa selalu melakukannya. Ia terlahir di antara Deva viññāṇañcāyatana. Deva viññāṇañcāyatana dengan batasan kehidupan 40.000 kappa] [AN 3.117/Āneñja sutta][alam ↑]

Kondisi/faktor di landasan ini adalah: Persepsi landasan kesadaran tak berbatas dan keterpusatan pikiran


Ke-7,
Landasan tidak ada apa-apapun (Ākiñcana·añanca·āyatana. Ākiñcana = tidak ada sesuatu apapun)

Untuk mencapainya harus secara total melepas: Persepsi dan perhatian yang terkait landasan kesadaran tak berbatas (viññāṇañcāyatanasahagatā saññāmanasikārā). Karena tiap momentnya, pikiran akan masih melekat atau teralihkan ketika berusaha untuk mencapainya, maka sang Buddha mengingatkan agar pikiran: dikokohkan, terpusat dan terkonsentrasi (Cittham: saṇṭhapehi, ekodiṃ karohi, samādahā) [SN 40.7/Ākiñcaññāyatana sutta]

Deskripsi landasan ini (juga akan menjadi alam kelahiran berikutnya, jika kondisi cuti citta (pikiran menjelang kematian)-nya di landasan ini):

"sabbaso viññāṇañcāyatanaṃ samatikkamā, 'natthi kiñcī·ti ākiñcaññ·āyatanaṃ upasampajja viharati"

[sabbaso (Setelah sepenuhnya) viññāṇa·anañca·āyatana samatikkamā (melampaui landasan kesadaran tak berbatas), [merasakan:] 'natthi (tidak ada) kinci (sesuatu apapun)', ākiñcaññ·āyatanaṃ (landasan tak ada sesuatu apapun) upasampajja viharati (tercapai keberadaannya)] [MN 111/Anupadasutta, AN 9.31, 32, 33, 35, 36]

"So tadassādeti taṃ nikāmeti tena ca vittiṃ āpajjati, tatra ṭhito tadadhimutto tabbahulavihārī aparihīno kālaṃ kurumāno ākiñcaññāyatanūpagānaṃ devānaṃ sahabyataṃ upapajjati. Ākiñcaññāyatanūpagānaṃ, bhikkhave, devānaṃ saṭṭhi kappasahassāni āyuppamāṇaṃ." [AN 3.117/Āneñja sutta]

[Ia menikmati, meminati dan karenanya menemukan kebahagiaan. Kemudian mengakar menjadi kebiasaan kerap di dalamnya tanpa alpa selalu melakukannya. Ia terlahir di antara Deva ākiñcaññāyatana. Deva ākiñcaññāyatana dengan batasan kehidupan 60.000 kappa] [AN 3.117/Āneñja sutta][alam ↑]

Kondisi/faktor di landasan ini adalah: persepsi landasan tidak ada apa-apapun dan keterpusatan pikiran.


Ke-8,
Landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi (na·eva·saññā·na·a·saññā·āyatana. Sanna = Persepsi, sumber, gagasan, ide, cerapan, ingatan)

Untuk mencapainya harus secara total melepas: Persepsi dan perhatian yang terkait landasan tidak ada ada apa-apapun (ākiñcaññāyatanasahagatā saññāmanasikārā). Karena tiap momentnya, pikiran akan masih melekat atau teralihkan ketika berusaha untuk mencapainya, maka sang Buddha mengingatkan agar pikiran: dikokohkan, terpusat dan terkonsentrasi (Cittham: saṇṭhapehi, ekodiṃ karohi, samādahā) [SN 40.8/Nevasaññānāsaññāyatana sutta]

Deskripsi landasan ini (juga akan menjadi alam kelahiran berikutnya, jika kondisi cuti citta (pikiran menjelang kematian)-nya di landasan ini):
  • "Sabbaso ākiñcaññ·āyatanaṃ samatikkamā neva-saññā-na-a-sañña-ayatanaṃ upasampajja viharati"

    [sabbaso (Setelah sepenuhnya) ākiñcaññ·āyatanaṃ samatikkamā (melampaui landasan tak ada sesuatu apapun), neva-saññā (bukan persepsi) na-a-saññā (bukan tanpa perspsi) ayata­naṃ (landasan) upasampajja viharati (tercapai keberadaannya)] [MN 111/Anupadasutta, AN 9.31, 32, 33, 35, 36], atau

  • "amanasikaritvā viññāṇañcāyatanasaññaṃ, amanasikaritvā ākiñcaññāyatanasaññaṃ, nevasaññānāsaññāyatanasaññaṃ paṭicca manasi karoti ekattaṃ. Tassa nevasaññānāsaññāyatanasaññāya cittaṃ pakkhandati pasīdati santiṭṭhati adhimuccati"

    [Dengan tidak memperhatikan (amanasikaritvā) Persepsi pada: landasan kesadaran tidak berbatas dan landasan tidak ada apa-apapun, Perhatian hanya bergantung pada (paṭicca manasi karoti ekattaṃ) landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi (nevasaññānāsaññāyatanasañña). Pikirannya di persepsi landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi mendapatkan (pakkhandati) kejelasan (pasīdati), kokoh (santiṭṭhati), dan menetap (adhimuccati) [MN 121]
So tadassādeti. Tannikāmeti, tena ca vittiṃ āpajjati. Tattha ṭhito tadadhimutto tabbahulavihārī. Aparihīno kālaṃ kurumāno nevasaññānāsaññāyatanūpagānaṃ devānaṃ sahavyataṃ upapajjati.

[Ia menikmati, meminati dan karenanya menemukan kebahagiaan. Kemudian mengakar menjadi kebiasaan kerap di dalamnya tanpa alpa selalu melakukannya. Ia terlahir di antara Deva nevasaññānāsaññāyatana.] [AN 4.172/Sāriputtapaṭisambhidā [Vibhatti] sutta]

Di Sutta, tidak ditemukan panjang umur kehidupan deva ini, jika dilihat urutan logis sebelumnya, maka umur kehidupan deva ini seharusnya tidak lebih kurang dari deva ākiñcaññāyatana. Namun demikian, di kitab non kanon pali, yaitu di Patisandhicatukka, Abhidhammattha-sangaha, karya anuruddha, abad ke-10 Masehi, menuliskan umur kehidupan deva ini 84.000 Kappa. Walaupun kelihatannya mengikuti pola, namun ini bukanlah sabda sang buddha (Atau para arahat lain yang hidup di jaman Buddha), maka informasi ini harus kita abaikan.[alam ↑]

Kondisi/faktor di landasan ini adalah: persepsi landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi dan pikiran terpusat.


***

Sebelum melanjutkan ke pencapaian ke-9,
Perlu diketahui perbedaan lanjutan kehidupan mereka di alam-alam tersebut yaitu yang putthujhana (bukan orang suci) dan mereka yang menjadi siswa Buddha (orang suci), Jika:
  • Ia adalah makhluk putthujana (bukan mahluk suci), maka ia berada di sana satu masa kehidupan, setelah habis umurnya, Ia jatuh ke alam neraka atau ke alam binatang atau ke alam peta.
  • Ia adalah siswa dari Sang Buddha (yg menjalankan apa yang di nasehati sang Buddha), maka ia berada di sana selama satu masa kehidupan, dan habisnya umur, Ia mencapai Nibbana akhir [Bhagavato pana sāvako tattha yāvatāyukaṃ ṭhatvā yāvatakaṃ tesaṃ devānaṃ āyuppamāṇaṃ taṃ sabbaṃ khepetvā tasmiṃ yeva bhave parinibbāyati]
Para bhikkhu, inilah perbandingan, ketidaksamaan dan perbedaan antara siswa agung (ariyasāvakassa) yang berlatih (sutavato) dan Putthujhana yang tidak berlatih..[AN 4.123/Jhana sutta dan AN 4.125/Metta sutta (1), AN 3.117/Āneñja sutta dan AN 4.172/Sāriputtapaṭisambhidā (Vibhatti) sutta]

Mereka yang menjadi siswa sang Buddha,
Melihat kondisi-kondisi apapun (panca kandha) yang ada di sana yaitu: bentuk materi, perasaan, persepsi, bentukan-bentukan, dan kesadaran, sebagai: tidak kekal, tidak memuaskan, sebagai: penyakit, tumor, duri, bencana, malapetaka, sesuatu yang asing, kehancuran, kehampaan, bukan diri. [AN 124, 126, MN 64, AN 9.36]:
  • Ia mengalihkan pikirannya dari kondisi-kondisi tersebut dan mengarahkannya kepada unsur keabadian sebagai berikut: ‘ini damai, ini luhur, yaitu, tenangnya segala bentukan, lepasnya segala kemelekatan, hancurnya keinginan, kebosanan, lenyapnya, Nibbāna.’, Jika ia [MN 64, AN 9.36]:

    • kokoh di dalam itu, maka ia mencapai hancurnya noda-noda.
    • tidak mencapai hancurnya noda-noda karena keinginan akan Dhamma itu, kegembiraan dalam Dhamma itu, maka dengan hancurnya 5 belenggu yang lebih rendah, muncul kembali secara spontan dan di sana mencapai Nibbāna akhir tanpa pernah kembali ke alam ini. [MN 64, AN 9.36]
  • Ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, Ia muncul kembali di alam suddhavasa. [AN 124/Jhana Sutta dan AN 4.126/Metta sutta (2)]
------
Note:
  • Yang dimaksud dengan putthujhana adalah mereka yang belum mencapai kesucian (manusia, deva, bhikkhu dan bukan). Ketika mereka mencapai kesucian maka mereka disebut ariyasavaka.
  • AN 123, 125 untuk yang mencapai jhana ke-1 s.d ke-4 dan ketika tidak berhasil mencapai Nibanna di alam itu (Jhana ke-1 s.d ke-4), maka, selama telah menghancurkan 5 belenggu ia terlahir di alam Suddhavasa.
  • AN 3.117 untuk yang mencapai landasan: ruang tak berbatas, kesadaran tak berbatas dan tidak ada apa-apapun. Ia dapat mencapai nibanna di alam itu, Ketika tidak berhasil mencapai Nibanna di alam landasan tersebut, maka selama Ia telah menghancurkan 5 belenggu, ia terlahir spontan (tidak disebut di Suddhavasa, namun setiap mereka yang telah menghalau 5 belenggu dan terlahir kembali maka alam kelahiran berikutnya adalah suddhavasa)
  • AN 4.172 menyampaikan untuk mereka yang mencapai landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi. Di sutta ini, tidak disebutkan 5 belenggu, namun disebutkan yang menghancurkan belenggu lebih rendah ketika wafatnya tertulis kata anagami [ini merujuk bahwa Ia telah menghancurkan 5 belenggu], jika demikian, maka alam kelahiran spontan yang dimaksud adalah alam Suddhavasa.

      Mahluk tertentu (ekaccassa puggala) yang tidak menghancurkan (appahīṇā) belenggu (saññojanāni) lebih rendah (orambhāgiyāni, ini adalah alam sensual), Ia, sekarang dan saat ini (diṭṭheva dhamme) berdiam di landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi. Ia menikmati, meminati dan karenanya menemukan kebahagiaan. Kemudian mengakar menjadi kebiasaan kerap di dalamnya tanpa alpa selalu melakukannya. Ia terlahir di antara Deva nevasaññānāsaññāyatana. Ia dari sini [So tato] setelah wafat [cuto] menjadi kembali [āgāmī hoti] kembali ke alam ini [āgantā itthattaṃ].

      Mahluk tertentu yang menghancurkan (pahīṇā) belenggu lebih rendah yang mengikatnya di alam sensual, Ia, sekarang dan saat ini berdiam di landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi. Ia menikmati, meminati dan karenanya menemukan kebahagiaan. Kemudian mengakar menjadi kebiasaan kerap di dalamnya tanpa alpa selalu melakukannya. Ia terlahir di antara Deva nevasaññānāsaññāyatana. Ketika wafat ia TIDAK kembali lagi (āNAgāmī) tidak kembali ke alam ini [āgantā itthattaṃ]

    Kemudian di sutta MN 106/Āneñjasappāya Sutta[↓] tertulis latihan yang dilakukan oleh seorang bhikkhu (manusia) tidak tertulis apakah cara latihan itu dapat dilakukan ketika ia menjadi deva di alam bukan persepsi bukan tanpa persepsi. Juga tidak saya temukan sutta lainnya yang menjelaskan alam ini seperti penjelasan serupa seperti pada pencapaian-pencapaian landasan arupa yang sebelumnya.

    Oleh karenanya,
    para ariya yang menjadi deva bukan persepsi bukan tanpa persepsi dapat saja mencapai nibanna, yaitu di setelah kematiannya, Ia terlahir kembali di alam rupaloka, jika ia sudah menghancurkan 5 belenggu, maka sebagai anagami, ia terlahir kembali di alam Suddhavasa, jika Ia telah mencapai 3 s.d kurang dari 5 belenggu, ia terlahir kembali ke alam deva lainnya namun tidak di alam manusia (dan di bawahnya) hingga ia dapat menghancurkan seluruh belenggu dan mencapai nibanna.
***


Ke-9,
Konsentrasi tanpa bentukan/ciptaan pikiran (a·nimitta ceto·samādhi. Nimitta = ciptaan/buatan; hiasan; membangun; menghasilkan; penetapan ukuran; berencana; gambaran)

Untuk mencapai konsetrasi tanpa bentukan, maka harus lepas secara total: kesadaran mengikuti bentukan (nimittânusāri viññāṇaṁ). Karena tiap momentnya, pikiran akan masih melekat atau teralihkan ketika berusaha untuk mencapainya, maka sang Buddha mengingatkan agar pikiran: dikokohkan, terpusat dan terkonsentrasi (Cittham: saṇṭhapehi, ekodiṃ karohi, samādahā) [SN 40.9/Animitta sutta, MN 43, SN 41.7].

Deskripsi samadhi ini:

"sabbanimittānaṃ amanasikārā animittaṃ cetosamādhiṃ upasampajja viharati"

[Segala bentukan tidak diperhatikan; konsentrasi tanpa bentukan/ciptaan pikiran tercapai keberadaannya] [SN 40.9]

atau

Deskripsi lainnya tentang samadhi ini:

"amanasikaritvā ākiñcaññāyatanasaññaṃ, amanasikaritvā nevasaññānāsaññāyatanasaññaṃ, animittaṃ cetosamādhiṃ paṭicca manasi karoti ekattaṃ. Tassa animitte cetosamādhimhi cittaṃ pakkhandati pasīdati santiṭṭhati adhimuccati"

[Dengan tidak memperhatikan (amanasikaritvā):
  • Persepsi landasan tidak ada apa-apapun (ākiñcaññāyatanasañña),
  • Persepsi landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi (nevasaññānāsaññāyatanasañña)
Perhatian tunggal bergantung pada (paṭicca manasi karoti ekattaṃ) konsentrasi tanpa bentukan/ciptaan pikiran (animittaṃ cetosamādhiṃ). Ia memasuki konsentrasi tanpa bentukan/ciptaan pikiran mendapatkan (pakkhandati) kejelasan (pasīdati), kokoh (santiṭṭhati), dan menetap (adhimuccati)] [MN 121]

Ada dua kondisi bagi pencapaian kebebasan tanpa bentukan/ciptaan pikiran: (1) tanpa-perhatian pada segala bentukan/ciptaan dan (2) perhatian pada unsur tanpa bentukan/ciptaan.

Ada 3 kondisi bagi pencapaian kebebasan kebebasan tanpa bentukan/ciptaan pikiran yang terus-menerus, yaitu: (1) tanpa-perhatian pada segala bentukan/ciptaan dan (2) perhatian pada unsur tanpa bentukan/ciptaan dan dan tekad sebelumnya (pubbe ca abhisaṅkhāro) [MN 43]

Dalam SN 43.44 disebutkan bahwa: Suññato samādhi [konsentrasi kehampaan/kekosongan], animitto samādhi [konsentrasi tanpa bentukan/ciptaan pikiran, appaṇihito samādhi [konsentrasi tanpa tujuan/keinginan] disebut sebagai jalan yang tak terkondisi. [begitu pula dengan samatha dan vipassana, SN 43.2].

Pencapaian konsentrasi tanpa bentukan/ciptaan pikiran ini MUNGKIN identik dengan Lenyapnya persepsi dan perasaan (saññāvedayitanirodhaṃ)

Deskripsi samadhi saññāvedayitanirodhaṃ:

"Sabbaso neva-saññā-n·āsaññ·āyatanaṃ samatikkamā saññā·vedayita·nirodhaṃ upasampajja viharati."

[sabbaso (Setelah sepenuhnya) neva­saññā­nā­sañ­ñāyata­naṃ samatikkamma (melampaui landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi) [merasakan:] saññā­·ve­dayi­ta·­nirodhaṃ (lenyapnya persepsi dan perasaan) upasampajja viharati (tercapai keberadaannya)] [MN 111]

Yang berikut ini dari MN.44/Mahavedalla sutta [dan juga SN 41.7]
    Visakha: Yang Mulia, ada berapakah bentukan-bentukan [saṅkhārā] itu?”

    Dhammadinna: “Ada tiga bentukan: bentukan jasmani [kāyasaṅkhāro], bentukan ucapan [vacīsaṅkhāro], dan bentukan pikiran [cittasaṅkhāro].”

    Visakha: “..apakah: bentukan jasmani? bentukan ucapan? bentukan pikiran?”

    Dhammadinna: “Nafas masuk dan keluar [Assāsa-passāsā] adalah bentukan jasmani; vitakkavicārā adalah bentukan ucapan; persepsi dan perasaan [saññā ca vedanā ] adalah bentukan pikiran.”

    Visakha: “..mengapa: nafas-masuk dan nafas-keluar adalah bentukan jasmani? awal pikiran dan kelangsungan pikiran adalah bentukan ucapan? persepsi dan perasaan adalah bentukan pikiran?

    Dhammadinna: “nafas-masuk dan nafas-keluar adalah jasmani, kondisi-kondisi ini terikat dengan jasmani; itulah sebabnya mengapa nafas-masuk dan nafas-keluar adalah bentukan jasmani. Pertama-tama seseorang mulai berpikir dan mempertahankan pikiran, dan selanjutnya ia mengungkapkannya melalui ucapan; itulah sebabnya mengapa awal-pikiran dan kelangsungan pikiran adalah bentukan ucapan. Persepsi dan perasaan adalah pikiran, kondisi-kondisi ini terikat dengan pikiran; itulah sebabnya mengapa persepsi dan perasaan adalah bentukan pikiran.” ...

    Visakha: “..ketika..sedang mencapai lenyapnya persepsi dan perasaan [saññāvedayita-nirodha-samāpatti], kondisi manakah yang pertama lenyap dalam dirinya: bentukan jasmani, bentukan ucapan, atau bentukan pikiran?”

    Dhammadina: “.., pertama-tama bentukan ucapan lenyap [ini jhana ke-2], kemudian bentukan jasmani [ini jhana ke-4], kemudian bentukan pikiran [ini pencapaian ke-9].” ...

    Visakha: “..ketika..keluar dari pencapaian lenyapnya persepsi dan perasaan, kondisi manakah yang pertama muncul dalam dirinya: bentukan jasmani, bentukan ucapan, atau bentukan pikiran?”

    Dhammadina: “.., pertama-tama bentukan pikiran muncul, kemudian bentukan jasmani, kemudian bentukan ucapan

    Visakha: “..ketika..telah keluar dari pencapaian lenyapnya persepsi dan perasaan, ada berapakah kontak yang menyentuhnya?”

    Dhammadina: “..tiga jenis kontak menyentuhnya: kontak kehampaan/kekosongan [Suññato phasso], kontak tanpa bentukan/ciptaan pikiran [animitto phasso], appaṇihito phasso [kontak tanpa: mengarahkan, berkeinginan, mengarahkan, menuju]”

    Visakha: “..ketika..telah keluar (vuṭṭhita) dari pencapaian lenyapnya persepsi dan perasaan, kepada apakah (kiṃ) pikirannya: condong (ninna)?, bersandar (poṇa)?, mengarah (pabbhāra)?”

    Dhammadina: ".., pikirannya condong, bersandar, dan mengarah pada: keterasingan (viveka).”
Memperhatikan 3 kontak yang disentuh ketika keluar dari pencapaian ini, dapatlah dikatakan konsentrasi tanpa bentukan/ciptaan pikiran adalah nama generik dari samadhi lenyapnya persepsi dan perasaan.

Di pencapaian samadhi lenyapnya persepsi dan perasaan, kondisinya mirip orang mati. Hal ini disampaikan YM Sariputta ketika berbincang dengan YM Kotittha [MN 43] atau pada lain kesempatan ketika YM Kamabhu berbincang dengan Citta, seorang perumah tangga [SN 41.6]:
    Teman, dalam hal seorang yang mati, yang telah menyelesaikan waktunya, bentukan-bentukan jasmaninya [kaya sankhara] telah memudar dan sirna, bentukan-bentukan ucapannya [vici sankhara] telah memudar dan sirna; bentukan-bentukan pikirannya [citta sankhara] telah memudar dan sirna, vitalitasnya [ayu] padam, panasnya [usma] berhamburan, dan indria-indrianya hancur seluruhnya.

    Dalam hal seorang bhikkhu yang memasuki lenyapnya persepsi dan perasaan, bentukan-bentukan jasmaninya telah memudar dan sirna, bentukan-bentukan ucapannya telah memudar dan sirna, tetapi vitalitasnya tidak padam, panasnya tidak berhamburan, dan indria-indrianya menjadi sangat jernih.

    Ini adalah perbedaan antara seseorang yang mati, yang telah menyelesaikan waktunya, dan seorang bhikkhu yang memasuki lenyapnya persepsi dan perasaan.

[Kembali (↑)]
---------------

Tak ada kearahatan tanpa melalui Jhana

Kitab Visudhimagga (karya buddhaghosa abad ke-5 masehi, bukan kanon pali) menyatakan 4 tipe arahat yaitu: sukkhavipassako (Ini kemudian dikatakan sebagai pembebasan tanpa jhana), Abhina, tevijja dan patisambhiddha. Ia dan beberapa kalangan buddhis menyatakan pembebasan dapat dicapai tanpa jhana. Mereka yang berpendapat ini menyandarkan rujukannya pada MN 106/Āneñjasappāya Sutta[↓] dan terutama pada SN 12.70/Susima Sutta[↓] bahwa pannavimutti dilakukan tanpa melalui jhana

Namun, pendapat ini tidaklah benar.
    “Bhikkhu, Aku katakan penghancuran āsava didukung: Jhāna ke-1, ..jhana ke- 2, ..ke-3, ke-4, ..pada landasan persepsi: (5) ruang tidak berbatas; (6) Kesadaran tidak berbatas; (7) Tidak ada apa-apapun; (8) bukan persepsi bukan tanpa persepsi dan ... (9) berhentinya perasaan dan persepsi.

    “bhikkhu, aku katakan penghancuran noda-noda didukung jhana ke-1,”

    dengan alasan apa dikatakan demikian?

    Di sini, para bhikkhu,..[setelah mencapai jhana ke-1].. Ia melihat kondisi-kondisi apapun (panca kandha) yang ada di sana yaitu: bentuk materi, perasaan, persepsi, bentukan-bentukan, dan kesadaran, sebagai: tidak kekal, tidak memuaskan, sebagai: penyakit, tumor, duri, bencana, malapetaka, sesuatu yang asing, kehancuran, kehampaan, bukan diri.

    Ia mengalihkan pikirannya dari kondisi-kondisi tersebut dan mengarahkannya kepada unsur keabadian sebagai berikut: ‘ini damai, ini luhur, yaitu, tenangnya segala bentukan, lepasnya segala kemelekatan, hancurnya keinginan, kebosanan, lenyapnya, Nibbāna.”

    Jika ia kokoh di dalam itu, maka ia mencapai hancurnya noda-noda. Tetapi jika ia tidak mencapai hancurnya noda-noda karena keinginan akan Dhamma itu, kegembiraan dalam Dhamma itu, dengan hancurnya [parikkhayā] kelima belenggu yang lebih rendah [pañcannaṃ orambhāgiyānaṃ saṃyojanāna] ia muncul kembali secara spontan di sana mencapai Nibbāna akhir tanpa pernah kembali ke alam ini.

    Sama halnya, para bhikkhu, seorang pemanah atau muridnya yang berlatih dengan orang-orangan jerami atau seonggok tanah liat yang kemudian menjadi sasaran jarak jauh, seorang pembidik jitu yang bisa menjatuhkan sasaran yang besar, demikian pula halnya dengan seorang bhikkhu yang mencapai hancurnya noda-noda bergantung pada jhana ke-1.

    [kalimat yang sama seperti di atas di ulang untuk setelah pencapaian jhana ke-2, ke-3, ke-4 dan 3 pencapaian landasan a-rupa (non materi)]

    Demikian, para bhikkhu, penembusan pada pengetahuan akhir terjadi sampai pada tahap adanya pencapaian dengan persepsi. Tetapi mengenai dua landasan ini – pencapaian landasan bukan-persepsi-pun-bukan-tanpa-persepsi, dan berhentinya persepsi dan perasaan – kukatakan bahwa keduanya ini harus dijunjung tinggi oleh para bhikkhu yang bermeditasi, yang terampil dalam pencapaian dan terampil keluar dari pencapaian itu, setelah mereka mencapainya dan keluar darinya [AN 9.36/Jhana Sutta, juga di MN 64/Mahāmālunkya Sutta: jhana ke-1 s.d landasan tidak ada apa-apapun]
Juga
di sutta lainnya disebutkan pentingnya jhana untuk melihat/memperhatikan secara jelas/khusus kemunculan kondisi-kondisi satu demi satu [anupadadhammavipassanaṃ vipassati]:
    kondisi yang menyertai pencapaian (jhana ke-1 atau ke-2..atau ke-8):

    • Jhana ke-1: Vitakka (usaha memenggang objek), Vicara (berhasil mempertahankan objek), pīti (gembira/girang), sukha (bahagia/nikmat) dan cittekaggatā (pikiran terpusat), atau
    • Jhana ke-2: ajjhattaṃ sampasādo (kedamaian diri), pīti, sukha dan cittekaggatāIa, atau
    • Jhana ke-3: sukha, waspada/perhatian (sati), perhatian penuh (sampajāna) dan cittekaggatā, atau
    • Jhana ke-4: keseimbangan (upekkhā), perasaan bukan kesakitan bukan kenikmatan (adukkhamasukhā vedanā), ketidak-tertarikan pikiran karena ketenangan, kemurnian perhatian (passaddhattā cetaso anābhogo satipārisuddhi) dan cittekaggatā, atau
    • Landasan ruang tak berbatas: persepsi landasan ruang tak berbatas (ākāsānañcāyatanasaññā) dan cittekaggatā, atau
    • Landasan kesadaran tak berbatas: persepsi landasan kesadaran tak berbatas (viññāṇañcāyatanasaññā) dan cittekaggatā, atau
    • Landasan tidak ada apapun: persepsi landasan tidak ada apapun (ākiñcaññāyatanasaññā) dan cittekaggatā, atau
    • Landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi: (ini tidak disebutkan dalam sutta MN 111, namun ini adalah juga persepsi, maka saya tuliskan. konfirmasi bahwa ini adalah persepsi terdapat dalam MN 121/culasunna sutta)

    +

    kondisi lainnya:
    kontak [phasso] (1), perasaan [vedana] (2), persepsi [sanna] (3), kehendak [Cetana] (4), pikiran [cittam] (5); semangat [chando] (6), ketetapan [adhimokkho] (7), kegigihan [viriyam] (8), perhatian [sati] (9), keseimbangan [uppekha] (10), dan pengamatan/perhatian [manosikharo] (11)

      Tentang Chando, Viriya dan cittam:
      Chanda: dorongan hati, heboh/terangsang, kemauan untuk rajin, bersemangat, maksud, ketetapan hati, kehendak, hasrat untuk, berharap untuk, senang akan.
      Viriya: tenaga, kekuatan, usaha, pengerahan usaha dan kegigihan.
      Dalam SN 51.13/Chandasamādhi Sutta disampaikan konsentrasi ada dengan keinginan (chanda), usaha (viriya), pikiran (citmam) dan vimamsa (pemeriksaan, penyelidikan atau pertimbangan). Penyatuan pikiran (cittassa ekaggataṃ) dapat dengan konsetrasi melalui satu dari 4 cara tersebut.

    Kondisi-kondisi tersebut dikenali satu demi satu kemunculannya. kondisi-kondisi itu dikenali: saat muncul - berlangsung - lenyap -> sankhara anicca

    Mengenali [pajānāti]:
    ‘Demikianlah kondisi-kondisi ini sesungguhnya: dari tidak ada - menjadi ada - dari ada - menjadi lenyap.’ -> sankhara anicca, dukkha

    Sehubungan dengan kondisi-kondisi itu (dhamma), Pikiran/kehendaknya menjadi (cetasā viharati): tak tertarik (anupāyo), tidak menolak (anapāyo), tidak bergantung (anissito), tidak terhubung dengannya (appaṭibaddho), lepas/mengalir (vippamutto), longgar/bebas (visaṃyutto), bebas dari penghalang (vimariyādīkatena).-> bukan aku, bukan miliku, bukan diriku.

    [Untuk Jhana ke-1 s.d ke-8] Mengenali:
    ‘ada jalan keluar lanjutan' (So ‘atthi uttari nissaraṇa’nti pajānāti). Mengembangkan ini (Tabbahulīkārā), Ia tegaskan itu ada (atthi-ti-eva-assa) [MN.111/Anupada Sutta]

      Landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi:
      ... [setelah masuk landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi].. dari pencapaian itu (samāpattiyā), Ia keluar dengan penuh perhatian (sato vuṭṭhahati). Merenungkan (samanupassati) kondisi-kondisi (ye dhammā): yang telah berlalu (atītā), lenyap (niruddhā), dan berubah (dhamme ): ‘Demikianlah kondisi-kondisi ini sesungguhnya: dari tidak ada - menjadi ada - dari ada - menjadi lenyap.’ -> sankhara anicca, dukkha, anatta

      Sehubungan dengan kondisi-kondisi itu, Pikiran/kehendaknya menjadi: tak tertarik, tidak menolak, tidak bergantung, tidak terhubung dengannya, lepas/mengalir, longgar/bebas, bebas dari penghalang. -> bukan aku, bukan miliku, bukan diriku.

      Ia mengenali: ‘ada jalan keluar lanjutan' (So ‘atthi uttari nissaraṇa’nti pajānāti). mengembangkan ini (Tabbahulīkārā), Ia tegaskan itu ada (atthi-ti-eva-assa) [MN.111/Anupada Sutta]

    Pencapaian (samāpatti): saññāvedayitanirodha / animitta cetosamādhi:

    • ... .. [setelah masuk lenyapnya persepsi dan perasaan] ... Dari pencapaian itu, keluar dengan penuh perhatian. Merenungkan kondisi-kondisi: yang telah berlalu, lenyap, dan berubah: ‘Demikianlah kondisi-kondisi ini sesungguhnya: dari tidak ada - menjadi ada - dari ada - menjadi lenyap.’ -> sankhara anicca, dukkha, anatta

      Sehubungan dengan kondisi-kondisi itu, Pikiran/kehendaknya menjadi: tak tertarik, tidak menolak, tidak bergantung, tidak terhubung dengannya, lepas/mengalir, longgar/bebas, bebas dari penghalang. -> bukan aku, bukan miliku, bukan diriku.

      Ia mengenali:
      ‘Tidak ada jalan keluar lanjutan'. mengembangkan ini, Ia tegaskan tidak ada (na-atthi-ti-eva-assa) [MN.111/Anupada Sutta]

    • Untuk pencapaian animmitta cetosamadhi, di MN 121/Cūḷasuññata Sutta, disampaikan sebagai berikut:

      Dengan tidak memperhatikan: Persepsi landasan tidak ada apa-apapun (ākiñcaññāyatanasañña), Persepsi landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi (nevasaññānāsaññāyatanasañña). Perhatian tunggal bergantung pada (paṭicca manasi karoti ekattaṃ) konsentrasi tanpa bentukan/ciptaan pikiran (animittaṃ cetosamādhiṃ). Ia memasuki konsentrasi tanpa bentukan/ciptaan pikiran mendapatkan (pakkhandati) kejelasan (pasīdati), kokoh (santiṭṭhati), dan menetap (adhimuccati).

      • Ia mengenali (pajānāti):
        Kepedihan apapun (assu darathā) bergantung pada: Persepsi landasan tidak ada apa-apapun (ākiñcaññāyatanasañña), persepsi landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi (nevasaññānāsaññāyatanasañña)

        Tidak ada di sini.

        Hanya ada kepedihan yang berhubungan dengan enam landasan yang bergantung pada jasmani dan dikondisikan oleh kehidupan

        Ia mengenali (pajanati):
        ‘Bidang persepsi ini hampa/kosong (sunna) dari: Persepsi landasan tidak ada apa-apapun (ākiñcaññāyatanasañña), Persepsi landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi (nevasaññānāsaññāyatanasañña)

        Ketidakhampaan/Kekosongan ini (asunna) bergantung tunggal pada yang berhubungan dengan enam landasan yang bergantung pada jasmani dan dikondisikan oleh kehidupan.’

        Demikianlah ia melihat/menganggap hampa/kosong dari apa yang tidak ada di sana, tetapi sehubungan dengan apa yang ada di sana ia memahami apa yang ada di sana sebagai berikut: ‘Ini ada.’, atau

      • Ia mengenali (pajānāti):
        Konsentrasi tanpa bentukan/ciptaan pikiran adalah terkondisi (abhisaṅkhato), dihasilkan melalui kehendak (abhisañcetayito). Apapun yang terkondisi, dihasilkan melalui kehendak adalah tidak kekal, tunduk pada lenyapnya.’

        Ketika ia mengetahui dan melihat demikian, pikirannya terbebaskan dari noda keinginan indria, dari noda penjelmaan, dan dari noda kebodohan. Ketika terbebaskan muncullah pengetahuan: ‘Terbebaskan.’

        Ia mengenali (pajanati):
        ‘Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak akan ada lagi penjelmaan menjadi kondisi makhluk apapun
"Demikianlah, para bhikkhu; seorang bhikkhu tanpa ketenangan samadhi dan menghargainya (na santena samādhinā na paṇītena), tanpa meraih ketenangan (paṭippassaddhiladdhena), tanpa keterpusatan konsentrasi (na ekodibhāvādhigatena) tidak dapat memasuki dan berdiam dalam pembebasan pikiran atau pembebasan kebijaksanaan." [AN 6.70/Samadhi Sutta]

Bahkan,
Sang buddha di AN 9.44/Pannavimutti sutta menyampaikan bahwa cara mencapai kebebasan melalui kebijaksanaan (panna vimutti) adalah melalui jhana dan dapat dilakukan mulai dari jhana ke-1.

[Kembali (↑)]
---------------

ATTHA LOKA-DHAMMA (8 Kondisi Duniawi: AN 8.5, 8.6, DN 33, 34)

Semua makhluk dalam perjalanan samsaranya, tengah menjalani hasil (vipaka) perbuatannya (kamma) dan bereaksi pada apa yang melandanya. Mereka berada dalam putaran 8 (delapan) kondisi ini:

Lābha - alābha (untung – rugi)
yasa - ayasa (terkenal/sukses - gagal/terpuruk)
nindā - pasaṃsā (celaan – pujian)
sukha - dukkha (nikmat/senang - sedih/sakit)

Delapan kondisi duniawi ini silih berganti di dunia, dan dunia ini silih berganti dengan delapan kondisi duniawi [aṭṭha lokadhammā lokaṃ anuparivattanti, loko ca ime aṭṭha lokadhamme anuparivattati]. Kondisi ini tidak kekal (anicca) menimbulkan ketidakpuasan (dukkha) dan tunduk pada perubahan, sehingga wajar untuk tidak digenggam (anatta) dan tidak wajar untuk terikat/dikuasai pada apa yang menyenangkan atau meratapi/menolak pada apa yang menyakitkan. Berikut ini nasehat sang Buddha pada pemuda Sigala:

‘Ada enam bahaya yang terdapat dalam kemalasan: mengeluh: “Terlalu dingin” ia tidak bekerja; “Terlalu panas” ia tidak bekerja; “Terlalu pagi” ia tidak bekerja; “Terlalu larut” ia tidak bekerja; “Aku terlalu lapar” ia tidak bekerja; “Aku terlalu kenyang” ia tidak bekerja’ “Terlalu dingin! Terlalu panas! Terlalu larut!” mereka mengeluh, dan meninggalkan pekerjaan mereka, hingga setiap kesempatan untuk melakukan kebajikan terlepaskan. Tetapi ia yang menganggap dingin dan panas tidak berarti, bertindak sebagai lelaki yang melaksanakan tugas-tugasnya, kegembiraannya tidak akan berkurang. [DN.31/Sigalaka Sutta]

Memahami berharganya setiap kesempatan, maka ketika bereaksi atas vipaka (hasil), pastikan tidak berbuat yang tidak baik, berupaya sekuatnya mengembangkan dan melatih kebebasan pikiran (cetovimutti) melalui:
  1. cinta kasih (metta) yang jika ditekuni, dikembangkan, dilatih, dijadikan kendaraan dan landasan, dijalankan, dikokohkan dan dengan benar dilakukan maka tidak mungkin itikad buruk masih menguasai pikiran (byāpādo cittaṃ pariyādāya tiṭṭhatī) [AN 6.13/Nissāraṇīyasutta]. Akibat dari mengembangkan dan melatih cinta kasih, pun jika kebebasan pikiran masih tidak tercapai, maka sekurangnya sebelas manfaat menanti:

    (1) Tidur nyaman (Sukham supati); (2) terjaga nyaman (sukham paṭibujjhati); (3) tidak mimpi buruk (na pāpakaṃ supinaṃ passati); (4) disukai orang (manussānaṃ piyo hoti); (5) disukai makhluk bukan orang (amanussānaṃ piyo hoti); (6) Dilindungi Devata (Devata rakkhanti) (7) terhindar dari api, racun dan Senjata (Nassa Aggi VA Visam VA satthaṃ VA kamati); (8) pikirannya terkonsentrasi dengan cepat (tuvaṭaṃ cittam samādhiyati); (9) raut wajahnya tenang (mukhavaṇṇo vippasīdati); (10) meninggal tidak dalam kebingungan (asammūḷho Kalam karoti); dan (11) jika tidak menembus lebih jauh, Ia terlahir di alam brahmā (uttari appaṭivijjhanto brahmalokūpago hoti) [AN 8.1/AN 11.15/Mettânisaṁsa Sutta. Di AN 4.67/Ahina Sutta: memancarkan metta dapat menghindarkan diri dari kematian akibat digigit ular berbisa atau tetap digigit ular berbisa namun ular tersebut tidak menyuntikan bisanya ketika mengigit (lihat: gigitan kering atau ini)].

  2. welas asih/belas kasihan (karuna), yang jika ditekuni, dikembangkan, dilatih, dijadikan kendaraan dan landasan, dijalankan, dikokohkan dan dengan benar dilakukan maka tidak mungkin pikiran mencelakai masih menguasai pikiran (vihesā cittaṃ pariyādāya tiṭṭhatī) [AN 6.13/Nissāraṇīyasutta]. Jika tidak menembus namun: Ia menikmati, meminati dan karenanya menemukan kebahagiaan. Kemudian mengakar menjadi kebiasaan kerap di dalamnya tanpa alpa selalu melakukannya. Ia terlahir di antara Deva ābhassarā. Deva ābhassarā dengan batasan kehidupan 2 kappa [AN 4.123, 125]

  3. simpati/empati (mudita), yang jika ditekuni, dikembangkan, dilatih, dijadikan kendaraan dan landasan, dijalankan, dikokohkan dan dengan benar dilakukan maka tidak mungkin ketidak-puasan masih menguasai pikiran (arati cittaṃ pariyādāya tiṭṭhatī) [AN 6.13/Nissāraṇīyasutta]. Jika tidak menembus namun: Ia menikmati, meminati dan karenanya menemukan kebahagiaan. Kemudian mengakar menjadi kebiasaan kerap di dalamnya tanpa alpa selalu melakukannya. Ia terlahir di antara Deva subhakiṇhā. Deva subhakiṇhā dengan batasan kehidupan 4 kappa [AN 4.123, 125]

  4. keseimbangan mental (upekkha), yang jika ditekuni, dikembangkan, dilatih, dijadikan kendaraan dan landasan, dijalankan, dikokohkan dan dengan benar dilakukan maka tidak mungkin nafsu masih menguasai pikiran (rāgo cittaṃ pariyādāya tiṭṭhatī) [AN 6.13/Nissāraṇīyasutta]. Jika tidak menembus namun: Ia menikmati, meminati dan karenanya menemukan kebahagiaan. Kemudian mengakar menjadi kebiasaan kerap di dalamnya tanpa alpa selalu melakukannya. Ia terlahir di antara Deva vehapphalā. Deva vehapphalā dengan batasan kehidupan 500 kappa [AN 4.123, 125]
Mereka dengan mental seimbang tidaklah goyah, tidaklah bergetar dalam pujian/celaan, untung/rugi, suka/duka, seteguh batu karang.

Dikatakan bahwa 'mereka telah meninggalkan dan menanggalkan keinginan terhadap apapun. Mereka tidak lagi menghiraukan pikiran-pikiran untuk memiliki. Tidak disentuh oleh kesakitan (penderitaan) ataupun kebahagiaan, para Bijak tak menunjukkan kegairahan atau keputusan-asaan.'

'Dengan bebas dari ketakutan dan kegelisahan, ia mampu mengenali kerapuhan dari sesuatu yang tak kekal. mental yang tenang … maju terus, baik pada saat yang menguntungkan maupun merugikan, pada keteguhan langkah sendiri bagaikan lonceng yang berdetak terus di saat terjadi badai.'

[Kembali (↑)]
---------------

PARITTA, DOA, PUJA BAKTI, MENYEMBAH dan BERLINDUNG

Ketika berada di situasi sulit dan kebutuhan tertentu, banyak orang mengucapkan Doa, sebagai sarana untuk berhubungan dengan kekuatan tertentu yang diagungkan, entah itu sebagai pembimbing ataupun berharap mereka ikut intervensi membantu menyelesaikan.

Hasilnya: ada, tidak, atau berada di antara keduanya.

Doa (Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI): permohonan, harapan, permintaan, pujian) kepada Tuhan. Padahal konsep Ketuhanan dalam Buddhisme adalah berbeda dan tidak menggantungkan hidup atau tergantung pada belas kasihan sosok tertentu.

Oleh karena itu, umat Buddha tidak di biasakan untuk memohon atau meminta-minta pada sosok tertentu. Agama Buddha lebih menekankan pada perilaku diri sendiri agar dapat berbahagia dan diri sendiri yang menjadi perlindungan.

Sang Buddha adalah Kamma-vadin, yang mengajarkan kemanjuran dan pentingnya perbuatan. Di ajarannya, BUKAN dengan permohonan terhadap kekuatan/sosok tertentu yang tak tampak dan upacara tertentu akan memperoleh manfaat yang diinginkannya NAMUN melalui Penghidupan benar dan PERILAKU: pikiran, perkataan dan aktivitas jasmani yang benar.

Hal ini merupakan dasar ajaran Buddhism.

Kegiatan upacara dan permohonan-permohonan yang berhadap mendapatkan manfaat dan memperoleh kesucian, juga tercakup di dalamnya adalah persembahan dan pengorbanan kepada pada para dewa (yang ada di sebelum dan setelah kelahiran sang Buddha) yang dikenal dalam syair dan doa-doa merupakan kepercayaan dan kemelekatan pada ritual yang kosong.

Kemelekatan akan prilaku tersebut merupakan belenggu ketiga (Silabbataparamasa) dari sepuluh belenggu yang harus dihancurkan agar mencapai pembebasan dari kelahiran kembali.

Sang Buddha tahu jelas dan mengenal ritual tersebut dan menemukan bahwa itu merupakan kesia-siaan.
    Satu hari, ketika Sang Buddha berdialog dengan perumah tangga terkemuka bernama Anathapindika, beliau membuat komentar berikut ini terhadap penggunaan doa-doa:
    "O perumah tangga, terdapat lima hal yang diinginkan, menyenangkan dan disetujui yang jarang di dunia ini. Apakah kelima hal tersebut?

    Mereka adalah umur panjang, kecantikan (ketampanan), kegembiraan, nama baik (kemasyuran) dan (tumimbal lahir) di alam Deva.

    Namun, O perumah tangga, di antara kelima hal ini, saya tidak mengajarkan bahwa mereka diperoleh dengan doa (ayacana-hetu) atau bersumpah kaul (patthana-hetu). Apabila seseorang dapat memperoleh kelima hal itu hanya dengan doa atau kaul, siapakah yang tidak akan melakukannya?

    Bagi siswa yang mulia, O perumah tangga, yang berharap memiliki umur panjang, tidaklah tepat jika ia harus berdoa bagi umur panjang atau merasa senang melakukan hal itu. Ia seyogyanya lebih baik mengikuti satu jalan kehidupan (Dana, Sila, Bhavana) yang menunjang panjangnya umur. Dengan mengikuti jalan tersebut ia akan memperoleh umur panjang baik sebagai mahluk Devata maupun manusia.

    Bagi siswa yang mulia, O perumah tangga, yang berharap memiliki kecantikan..kegembiraan..kemasyuran.., (tumimbal lahir) di alam Deva, tidaklah tepat jika ia harus berdoa bagi hal itu atau merasa senang melakukan hal itu.

    Ia seyogyanya lebih baik mengikuti satu jalan kehidupan (Dana, Sila, Bhavana) yang menunjang kecantikan..kegembiraan..kemasyuran.., (tumimbal lahir) di alam Deva. Dengan mengikuti jalan tersebut ia akan (tumimbal lahir) di alam Deva." [Anguttara Nikaya, Pancaka Nipata No. 43, Pustaka acuan: Story, F. 1969. Prayer and Worship. Buddhist Publication Society, Sri Lanka.33p., Judul "DOA DAN UPACARA PEMUJAAN", Oleh Francis Story].
Juga simak kisah di bawah ini:
    Ketika Sang Buddha menetap di Nalanda di Kebun Mangga Pavarika, seorang kepala kampung putera Asibandhaka berkata kepada Sang Buddha bahwa para brahmana dari Barat, pembawa pot air, pemakai parfum lily, yang menyucikan menggunakan air, pemuja api, mengakhiri upacara kematian dengan cara mengangkat orang mati itu ke atas dan membawanya keluar, memanggil namanya dan hal ini dipercayai untuk mempercepat orang mati itu ke alam Deva.

    Atas pernyataan tersebut, Sang Buddha bertanya dengan mengemukakan dua buah perumpamaan yang patut kita renungkan setiap saat sehingga tidak tergoda oleh fasilitas maupun ancaman oknum penjual kepercayaan religius, sebagai berikut:

    1. Andaikata, seseorang melemparkan sebuah batu karang yang amat besar ke dalam sebuah kolam air yang sangat dalam; kemudian sejumlah besar orang berkumpul dan bergerombol bersama dan berdoa serta memujinya dan melakukannya dengan merangkapkan kedua tangan ke atas (beranjali), dan berkata:

      "Naiklah, batu karang yang baik! Mengambanglah, batu karang yang baik! Mengambanglah ke tepi, batu karang yang baik!"

      Mungkinkah karena doa-doa, pujian yang dilakukan dengan penuh hormat dengan merangkapkan kedua belah tangan ke atas menyebabkan batu karang yang amat besar itu naik ke atas dan mengambang ke tepi?'

      Asibandhaka menjawab bahwa hal itu tidak mungkin terjadi.

      Sang Buddha melanjutkan bahwa demikian pula halnya dengan siapa saja sebagai pengambil kehidupan mahluk lain, pengambil barang yang tidak diberikan, pelaku yang salah dalam bidang seksual, pembohong, penyebar fitnah, penguncar kata-kata kasar, pembicara hal yang tidak bermanfaat, orang yang serakah, orang yang mentalnya diliputi niat jahat dan yang mentalnya menganut pandangan keliru, betapapun besarnya kumpulan/gerombolan orang-orang yang berdoa bersama, melakukan pujian, penghormatan dengan merangkapkan kedua belah tangan ke atas dengan berkata:

      "Semoga orang ini, bersamaan hancurnya tubuh setelah kematian terlahir di keadaan bahagia di alam Deva."

      Orang tersebut, bersamaan hancurnya tubuh setelah kematian terlahir di keadaan sengsara/merugi menderita menuju kehancuran bahkan neraka.

    2. Andaikata, seseorang menyelam membawa guci berisi mentega atau minyak ke dalam sebuah kolam air yang sangat dalam, lalu memecahkan guci tersebut sehingga pecahan guci itu tenggelam sedangkan mentega atau minyaknya mengambang naik ke permukaan air; kemudian sejumlah besar orang berkumpul dan bergerombol bersama dan berdoa serta memujinya dan melakukannya dengan merangkapkan kedua tangan ke atas (beranjali), dan berkata:

      "Turunlah, mentega yang baik! Tenggelamlah ke dasar kolam, mentega yang baik! Pergilah ke dasar kolam, mentega dan minyak yang baik!"

      Mungkinkah karena doa-doa, pujian yang dilakukan dengan penuh hormat dengan merangkapkan kedua belah tangan ke atas menyebabkan mentega atau minyak itu turun ke bawah dan tenggelam ke dasar kolam ?'

      Asibandhaka menjawab bahwa hal itu tidak mungkin terjadi.

      Sang Buddha melanjutkan bahwa demikian pula halnya dengan siapa saja yang menghindari mengambil kehidupan mahluk lain, menghindari mengambil barang yang tidak diberikan, menghindari perilaku yang salah dalam bidang seksual, menghindari berbohong, menghindari memfitnah, menghindari menguncarkan kata-kata kasar, menghindari berbicara hal yang tidak bermanfaat, orang yang tidak serakah, orang yang mentalnya tidak diliputi niat jahat dan yang mentalnya menganut pandangan benar, betapapun besarnya kumpulan / gerombolan orang-orang yang berdoa bersama, melakukan pujian, penghormatan dengan merangkapkan kedua belah tangan ke atas dengan berkata:

      "Semoga orang ini, bersamaan hancurnya tubuh setelah kematian terlahir di keadaan sengsara/merugi menderita menuju kehancuran bahkan neraka"

      Orang tersebut, bersamaan hancurnya tubuh setelah kematian terlahir di keadaan berbahagia di alam Deva.

    Demikianlah perumpamaan yang dipergunakan oleh Sang Buddha yang menyebabkan putera Asibandhaka berkeyakinan kepada Tiratana. [SN 42.6/Asibandhakaputta Sutta]
Catatan:
Sutta tersebut menegaskan bahwa:
  1. Kamma mengkondisikan Vipaka yang selaras.
  2. 2.Harapan tidak akan terealisasi apabila tidak didukung oleh perbuatan yang tepat.
[sumber tulisan ini dari milis samagi-phala, yaitu: Leaflet Pannakatha: NO. 07 SEPTEMBER 1995 dan no. II-6 Agustus 1996]

Apa itu Parita?
Paritta (pari (segala arah) + tra/tara (perlindungan); mantra = mano (pikiran)+ tara). Ditekankan bahwa pembacaan-pembacaan yang bersifat melindungi adalah bukan karangan mistik yang berasal dari campuran kata-kata dan suara atau formula gaib atau jimat atau mantra-mantra pengusir setan.

Paritta isinya berupa sloka atau gatha dari berbagai ceramah Sang Buddha yang terdapat dalam Tipitaka pali untuk dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari agar mendapatkan kebahagiaan. Jadi Paritta bukanlah bentuk permohonan maupun permintaan tertentu. Adapun manfaat pembacaan paritta antara lain:
  • Kita membaca dan mengucapkan sesuatu yang baik, dengan demikian kita telah melakukan kamma baik melalui pikiran dan ucapan (untuk itu penting sekali untuk memahami arti/maksud sloka-sloka tersebut)
  • Membaca berarti berupaya untuk mencari tahu dan memahami. setelah tahu maka kita akan mengerti dengan sepenuhnya mengapa perlu di praktekan dalam kehidupan kita
  • Pengulangan pembacaan (walaupun tidak semua paritta berasal dari khotbah Buddha), berarti melestarikan ajaran para Buddha
Dengan demikian, setelah membaca paritta, umat hendaknya merenungkan arti paritta yang dibaca dan bertekad untuk melaksanakannya.

Tetapi menurut Milinda Panha[22], ada tiga alasan dimana paritta tidak bekerja:

1. Halangan karena kamma masa lalu.
2. Halangan karena kekotoran mental masa kini, dan
3. Halangan karena kurangnya keyakinan.

Paritta yang merupakan perlindungan bagi semua makluk akan kehilangan kekuatannya karena "cacat" yang berasal dari mereka sendiri.

Apa itu Puja Bakti?
Puja (penghormatan) + bakti (tunduk serta hormat). Puja bakti adalah kegiatan menghormati Sang Buddha dengan menjalankan ajaran Sang Buddha di kehidupan sehari-hari. [juga lihat di sini, di sini dan di sini]

Pemuja Berhala?
Orang-orang menganggap bahwa umat Buddha adalah pemuja berhala, padahal umat Buddha dan atau orang melakukan namakkara di hadapan Patung Sang Buddha:
  • Untuk menyatakan rasa hormat dan terima kasihnya kepada Sang Guru yang telah memberikan AjaranNya kepada umat manusia, seperti juga kita menghormat kepada bendera nasional kita.
  • Sebagai obyek dalam meditasi perenungan [Anusati]
Jadi, Namakkara artinya adalah penghormatan, Memuliakan, menundukan badan. Variasi bentuk penghormatan dalam tradisi india di antaranya adalah:
  1. Pradaksina [Pa+Dakkhina], Berjalan berkeliling dengan tetap menjaga objek di sebelah kanan, searah jarum jam. Beputar ke arah selatan, ini menunjukan juga arti bahwa arah mataangin pertama yg dikenal di jaman dulu adalah TIMUR! [Dilakukan oleh mereka yang mengerti arti seorang Mulia. Diantaranya adalah Raja Pasenadi dari kosala di Dhammapada Bab 13.6. Dalam Kutthi Sutta Udana 5.3, ttg kisah kehidupan lalu dari Suppabuddha di penderita kusta (Dhammapada Bab.V). Dahulu ia ketika melihat seorang Pacceka Buddha yg sakit kusta, Ia sambil meludah dan mengarahkan bagian kiri badannya lalu pergi.]
  2. Tengkurap dengan dada dan kepala menghadap tanah dan tangan sejajar
  3. Namakkara, [berlutut dan membungkuk hingga dahi menyentuh tanah]. Ini kadang di kenal dengan kata "menyembah"
  4. Berlutut namun tangan tercakup di dada. [seorang Bhikkhu. Lihat di Dhammapada syair ke-167]
  5. Berdiri membungkukan badan. [dilakukan oleh menteri santati, ketika beliau masih di pemerintahan, Suami dari Putri Suppavasa di dhammapada syair ke-414]
  6. Membungkukkan badan ke arah objek dan selalu tidur dengan kepala menghadap ke arah yang sama [Sariputta, Dhammapada syair ke-392]
  7. Anjali, tangan tercakup di dada.
  8. Berjalan mundur. [dilakukan oleh Uttari theri, ketika itu ia berusia 120 tahun. Lihat di syair Dhammapada no.148]
  9. Mempersembahkan Dupa, bunga dan wangi-wangian [dilakukan oleh Sakkha di Dhammapada syair ke-94, Culasubhadda dari Ugga di Dhammapada syair ke-304]
Berikut alasan pembuatan Stupa dalam Kisah Stupa Emas Buddha Kassapa
    Suatu saat, ketika Sang Buddha dan para pengikutnya sedang dalam perjalanan ke Baranasi mereka tiba di sebuah tanah lapang di mana terdapat sebuah stupa suci. Tidak jauh dari kuil tersebut, seorang brahmana sedang membajak ladang, melihat sang brahmana, Sang Buddha memanggilnya.

    Ketika ia tiba, sang brahmana memberi penghormatan kepada stupa tersebut tetapi bukan kepada Sang Buddha. Kepadanya Sang Buddha berkata,

    "Brahmana, dengan memberikan penghormatan kepada stupa tersebut engkau telah melakukan sebuah perbuatan yang terpuji."

    Hal itu membuat sang brahmana gembira. Setelah membuat keadaan mentalnya tenang, Sang Buddha dengan kemampuan mental luar biasa-Nya, memunculkan stupa emas Buddha Kassapa dan membuatnya tetap tampak di langit. Kemudian Sang Buddha menjelaskan kepada sang brahmana dan para bhikkhu yang hadir bahwa terdapat empat golongan orang yang patut dibuatkan stupa.

    Mereka adalah:
    Para Buddha (Tathagata) yang patut dihormati dan telah mencapai Penerangan Sempurna dengan usahanya sendiri. Para Paccekabuddha, Para Murid-murid Ariya, dan Raja Dunia.

    Beliau juga mengatakan kepada mereka tentang tiga macam stupa yang patut dibangun untuk menghormati empat golongan orang itu. yaitu Sarira-cetiya (sarira=bagian tubuh: rambut,dll); Uddissa-cetiya (uddissa: kisah, paritta, ciri-ciri); dan Paribhoga-cetiya (barang yang digunakan: mangkuk, jubah, Pohon Bodhi juga termasuk). Sang Buddha menekankan pentingnya memberi penghormatan kepada mereka yang patut dihormati.

    Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 195 dan 196 berikut ini :

    Ia yang menghormati mereka yang patut dihormati, yakni Para Buddha atau siswa-siswa-Nya yang telah dapat mengatasi rintangan-rintangan, akan bebas dari kesedihan dan ratap tangis.

    Ia yang menghormati orang-orang suci yang telah menemukan kedamaian dan telah bebas dari ketakutan; maka jasa perbuatannya tak dapat diukur dengan ukuran apapun.
    Sang brahmana mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma itu berakhir.

    Stupa Buddha Kassapa masih dengan jelas tertampak lebih dari tujuh hari, dan masyarakat tetap berdatangan ke stupa tersebut untuk memberikan penghormatan dan bersujud. Pada akhir hari ke tujuh, seperti yang telah dikatakan oleh Sang Buddha, stupa tersebut menghilang, dan di tempat di mana stupa tersebut tertampak dengan kekuatan mental, muncul keajaiban berupa sebuah stupa batu yang besar.
Terdapat 3 kalimat perlindungan dalam Buddhism, yaitu:
  • Buddham Sāranam Gacchāmi (sāra = sangat berharga, sarati = mengenang/merenung, sarana: pergi, berlindung pada. Gacchati = menuju, berjalan) = Aku mengikuti Buddha/Aku berlindung pada Buddha (yaitu mengikuti kualitas/sifat para Buddha).
  • Dhammam Sāranam Gacchāmi = Aku mengikuti Dhamma/Aku berlindung pada Dhamma (yaitu berupaya melaksanakan ajaran para Buddha, menghindari diri dari hal yang akusala/tidak bermanfaat).
  • Sangham Sāranam Gacchāmi = Aku mengikuti Sangha/Aku berlindung pada Sangha (yaitu KOMUNITAS yang menjalankan ajaran para Buddha yang melakukan latihan untuk membebaskan diri dari dosa, lobha dan moha). Dalam terminologi Buddhis, kelompok ini adalah:

    • Savaka Sangha [savaka = murid], artinya kumpulan dari Ariya [yang telah mencapai tingkat kesucian 1 s/d 4], baik mereka itu berjubah ato tidak, gundul ato tidak dan manusia ato bukan. Mereka inilah yang sebenarnya disebut para THERA.
    • Sammuti sangha [sammuti = tradisi, ungkapan yg populer] atau sangha konvensional [monastik], artinya kumpulan para Bhikkhu baik Putujhana [Orang biasa] ato bahkan Ariya yang melakukan praktek secara benar tentang ajaran Buddha

    Mereka yang mengetahui dan mengenal kualitas dari seorang Buddha dan manfaat ajarannya, akan menyerukan rasa hormat (Vandana) seperti ini:

      "Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma-Sambuddhassa" (artinya: Hormat kepada Sang Bhagavā, yang sempurna dan tercerahkan sempurna!) - [MN 27/Cūḷahatthipadopama Sutta]

    Pujian setinggi itu, disampaikan oleh Brahmana dan Brahmani yang diantaranya adalah Brahma Janussoni, Brahmana Karanapali dan Brahmani Dhananjani. Ketika mengucapkan pujian itu, mereka, belumlah menjadi pengikut Sang Buddha.
Di Indonesia ada kata "Kelenteng" yang asal muasal kata itu adalah karena bunyi lonceng. Itulah asal muasal arti dari kelenteng. Umumnya orang anggap kelenteng = vihara, padahal untuk disebut vihara haruslah ada:
  • STUPA/RUPANG [patung, foto, lukisan] dari sang Buddha dan diletakan di tempat yang terhormat.
  • Dhammasala (tempat untuk berkhotbah).
  • Kuti (tempat menginap untuk para bhikkhu/bhikkhuni)
Dan kebanyakan kelenteng tidak dapat disebut sebagai vihara, karena disamping tidak memuat Stupa/rupang, malah disandingkan dengan deva-deva yang bahkan di kitab2 tipitaka saja tidak ada.

Di samping itu ada kelenteng yang khusus digunakan untuk menyimpan abu leluhur dari suatu golongan masyarakat tertentu.

Apakah seorang pemeluk agama Buddha boleh tdk memasang hio, memberikan persembahan atau memuja Dewa Kwan Kong atau Dewi Kwan Im [atau memohon keselamatan dan rejeki pada mahluk tertentu]?

Yang perlu tekankan adalah Buddhisme tidak melarang orang untuk emasang hio atau memberikan persembahan ataupun memohon perlindungan berupa keselamatan dan/atau rejeki dimanapun [termasuk di kuburan, batu, pohon, kamar].

Pertanyaan seharusnya adalah apakah hal tersebut ada manfaatnya? apakah objeknya tapat? Caranya tepat? Berlindung pada yang tepat?

Apakah Kwan Kong dan Kwan Im adalah Deva?
    Guan Yu/ Kwan Kong (160 M - 219 M, 59 tahun), mempunyai 2 istri dan 3 anak (ping, suo dan xing-dari istri ke-2). Setelah kalah dalam perang, Ia kemudian dipenggal kepalanya, Karena marah dan penasaran, ia kemudian menjadi setan penasaran dan hendak membalas dendam. Konon kemudian ia bertemu Biksu Pu jing dan menjadi berlindung pada Tri Ratna

    Kwan Im,
    Legenda yg datang besama ajaran Buddha india di abad ke-1 SM, ia adalah pria, namun di jaman kerajaan sung [abad ke-10-13 Masehi] berubah jadi wanita. Pengaruh ini berhubungan dengan ajaran tao dan kong hucu dan juga legenda purba China tentang Dewi Niang-Niang dan juga legenda puteri Miao San [abad ke-3 SM]. Raja Miao Zhuang, punya 3 Puteri dan hanya puteri bungsunya yang tidak mau menikah2 dan hidup menyepi. Raja habis kesabarannya dan memerintahkan untuk menangkap dan menghukum mati sang puteri. Ia dikisahkan MASUK NERAKA dan karena ia sedih melihat mereka yang dineraka Ia berdoa agar mereka yang di neraka berbahagia. Secara ajaib doanya membuat dirinya kembali pada rupanya terdahulu.

    Di 9 Tahun kemudian, Raja sakit parah dan ia berniat mengobati sang raja, namun terlambat dan sang raja masuk neraka. Ia kemudian menolong sang raja dengan keluar dari neraka dan untuk umpan ia potong tangannya sendiri dan mereka selamat. Raja kembali menjadi rupanya sendiri. Sang Raja kemudian Insaf dan jadi pengikut buddha Amitabha. Rakyat terharu dan membuatkan banyak tangan palsu dan secara ajaib Miao san kemudian bertangan seribu banyaknya. Legenda lainnya mengatakan ketika ia bermeditasi ia menjadi sedih karena begitu banyaknya mahluk yang menderita kepalanya menjadi pecah berkeping-keping, karena "welas asihnya" kepalanya kembali utuh dan menjadi bermata seribu. Ada juga legenda yang menyatakan saat dia berperang lawan siluman-siluman saking banyaknya ia kemudian menggunakan kesaktian tangan dan matanya menjadi ribuan.

    Diantara banyak legenda, satu sutra Mahayana (Maha Karuna Dharani Sutra) yang menyampaikan legenda lebih ajaib lagi bahwa belau ini bahkan telah menjadi Buddha
    Problem besar dari legenda Kwan Im di atas adalah ajaran Buddha masuk China paling cepat terjadi di abad ke-1 SM, sementara wujud Avalokitesvara yang dimaksud adalah pria bukan wanita. Kisah tentang Dewi perempuan itu terjadi sekurangnya mulai abad 7 Masehi
Ajaran Buddhism menjelaskan dengan sederhana bahwa mereka yang menjelang wafatnya: penasaran, karena marah, kecewa, sedih, dendam dan/atau sakit hati maka kondisi perasaan negatif tersebut merupakan penyambung kesadaran yang menyebabkan kemunculan di alam-alam bawah dan tentu saja hal tersebut dan juga kisah di atas, jelas menunjukan mereka bukanlah Dewa.

Sebagai perbandingan di kisah berikut ini:
    Kisah ini mirip kisah dendam seorang pelacur tertentu di salah satu kehidupan masa lampaunya. Ketika itu, empat putra orang kaya menyewa seorang pelacur dan menikmatinya di suatu taman. Setelah selesai, salah satu dari mereka mengusulkan untuk merampok perhiasan dan seribu keping perak milik pelacur itu. Ketiga temannya setuju. Mereka menyerang gadis itu dengan brutal. Gadis itu marah dengan pikiran, "Orang-orang jahat dan tidak tahu malu ini memanfaatkan diriku dengan penuh nafsu dan sekarang berusaha membunuhku karena serakah. Aku tidak melakukan kesalahan apa pun terhadap mereka. Aku putus asa. Biarkan mereka membunuhku kali ini. Semoga aku terlahir menjadi asura di masa depan dan mampu membunuh orang-orang ini berkali-kali!"

    Pelacur itu wafat dengan menyimpan dendam itu dan terlahir berulang kali sebagai Yakkhini dan berulang kali juga menjadi pembunuh dalam wujud seekor Banteng/Sapi yang membuat tewas 4 (empat) korbannya, yaitu: Pukkhusati, Tambadatika, Suppabuda dan Bahiya Daruciriya.
Objek yang tidak tepat lainnya adalah berupa pemujaan/menyembah pada batu kotak, bukan kotak, terhadap mahluk2 halus tertentu baik yang menyerupai binatang atau binatang ataupun pada ritual-ritual mandi kembang.

Sang Buddha menyampaikan nasehat akibat perbuatan itu di MN 57/Kukkuravativa Sutta:
    Seseorang mengembangkan perilaku, kebiasaan, pikiran dan tingkah laku anjing/sapi sepenuhnya dan tanpa terputus. Setelah melakukan demikian, di setelah kematian muncul kembali di antara anjing-anjing [atau binatang lainnya]. NAMUN jika ia memiliki pandangan seperti ini: "Dengan moralitas atau pelaksanaan atau pertapaan atau kehidupan suci ini maka aku akan menjadi dewa [besar] atau dewa [kecil]" Ini adalah pandangan salah dalam kasusnya. Sekarang terdapat dua alam tujuan kelahiran bagi seseorang yang berpandangan salah, Aku katakan: neraka atau alam binatang. Jadi, jika perilaku-anjingnya berhasil, akan menuntunnya menuju kelahiran kembali di antara anjing-anjing; jika gagal, maka akan menuntunnya menuju neraka.
Jadi,
baik Kwan Kong maupun Kuan-im adalah leluhur dari keturunan-keturunan dari orang tertentu. Mereka yang hendak menghormati leluhurnya, tentu saja, sah-sah saja namun tetap tidak akan memberikan manfaat dengan memberikan sesembahan dan dupa atau pun bahkan sampai meminta perlindungan keselamatan dan rejeki.

Jika sudah tahu bahwa mereka ini sebenarnya bukanlah Deva, maka lakukanlah kemurahan hati [caga] ber-PATTIDANA[↓]. Namun tidak semua Peta/mahluk halus mendapatkan manfaat langsung dari tindakan pattidana[↓] tersebut namun hanya mahluk halus/peta tertentu seperti pada kisah raja Bimbisara yang disebutkan dalam Tirokudda Sutta.

Buddha juga menyatakan bahwa cara MENGHORMATI leluhur yang baik itu adalah seperi yang dinasehatkan Beliau kepada SIGALAKA, dimana Suatu ketika, Sang Bhagavā sedang menetap di Rājagaha, di Taman Suaka Tupai, di Hutan Bambu. Pada saat itu, Sigālaka putra seorang perumah tangga, setelah bangun pagi dan keluar dari Rājagaha, sedang menyembah, dengan pakaian dan rambut basah dan tangan dirangkapkan, ke arah yang berbeda-beda: ke timur, selatan, barat, dan utara, ke bawah dan ke atas. Beliau menyatakan bukan itu maksud dari leluhur Sigala. Apa nasehat BELIAU pada SIGALAKA? silakan lihat di: Sigalaka Sutta

Kemudian,
MEMBERIKAN sesuatu pada YAKKHA juga tidaklah berguna, NAMUN memohon bantuan pada YAKKHA disebutkan manfaatnya pada Sutta:
    ‘Ini, Yang Mulia, adalah syair-syair perlindungan Āṭānāṭā, yang dengannya para bhikkhu dan bhikkhunī, para umat awam laki-laki dan perempuan akan dikawal, dilindungi, tidak dicelakai, dan merasa nyaman.

    Dan jika bhikkhu atau bhikkhunī, umat awam laki-laki atau perempuan mana pun juga, mempelajari syair-syair ini dengan baik dan menghafalkannya dalam hati, maka jika makhluk bukan manusia mana pun juga, yakkha laki-laki atau perempuan atau anak-anak yakkha, atau pemimpin pelayan atau pelayan yakkha, gandhabba laki-laki atau perempuan, ... kumbhaṇḍa, ... nāga, ... mendatangi orang itu dengan niat jahat ketika ia sedang berjalan atau hendak berjalan, berdiri atau hendak berdiri, duduk atau hendak duduk, berbaring atau hendak berbaring, maka makhluk bukan manusia itu tidak akan dihormati dan disembah di desa dan kota. Makhluk itu tidak akan mendapatkan tempat tinggal di ibu kotaku Āḷakamandā, ia tidak akan diizinkan menghadiri pertemuan para yakkha, juga tidak diterima dalam suatu pernikahan. Dan semua makhluk bukan manusia, dengan kemarahan, akan mengecamnya. Kemudian mereka akan merenggut kepalanya seperti mangkuk kosong, dan mereka akan memecahkan kepalanya menjadi tujuh keping.’

    ‘Ada, Yang Mulia, beberapa makhluk bukan manusia, yang ganas, liar, dan mengerikan. Mereka tidak mematuhi para Raja Dewa, juga tidak kepada para menterinya, juga tidak kepada para pelayannya. Mereka dikatakan memberontak melawan Raja Dewa. Bagaikan pemimpin-penjahat yang ditaklukkan oleh Raja Magadha, tidak mematuhi Raja Magadha, atau menterinya atau pelayannya, demikian pula mereka bersikap. Sekarang jika ada yakkha atau anak-anak yakkha yang mana pun, ... gandhabba, ... mendatangi bhikkhu atau bhikkhunī, umat awam laki-laki atau perempuan mana pun juga, dengan niat jahat, maka orang itu harus waspada, memanggil dan meneriakkan nama para yakkha, yakkha sakti, para pemimpin dan jenderal mereka, dengan mengatakan: “Yakkha ini telah menangkapku, menyakitiku, mencelakaiku, melukaiku, dan tidak membebaskanku!” [Untuk nama2 Yakkha yg dapat dimanfaatkan jadi tukang pukul anda, silakan liat lanjutannya di: Āṭānāṭiya Sutta]
Sutta ini adalah JANJI raja catumaharajika kepada sang Buddha untuk melindungi para pengikut sang Buddha dari disakiti atau dicelakai oleh mahluk-mahluk non Deva

Persoalan yang kemudian timbul adalah APAKAH mereka berkata benar dan menepati janjinya?

Jawabannya tentu saja dapat.
    Maha Moggallana Thera kerap berkunjung ke alam Dewa dan mewawancarai para dewa sehubungan dengan perbuatan baik apa yang menyebabkan mereka terlahir di alam Dewa dan mereka memberikan jawaban yang berbeda-beda.

    • Dewa pertama mengatakan bukan karena banyak berdana atau sering mendengarkan Dhamma tetapi karena ia selalu berbicara benar.
    • Dewa wanita menyatakan karena tidak pernah marah pada tuannya dan tidak memiliki maksud buruk padanya meskipun tuannya sering memukul dan menyiksanya. Dengan meredam kemarahan dan menghindari kebencian, ia terlahir di alam Dewa.
    • Ada yang menyatakan karena sedikit berdana sebatang gula tebu, buah, atau beberapa sayuran kepada seorang bhikkhu atau pada orang lain.

    Setelah kembali dari alam Dewa, Maha Moggallana Thera bertanya kepada Sang Buddha, apakah mungkin meraih banyak keuntungan hanya dengan bicara benar, atau mengendalikan perbuatan atau dengan memberikan sedikit barang seperti buah dan sayuran.

    Sang Buddha menjawab, "Anak-Ku, mengapa kau bertanya hal itu ? Apakah kamu tidak melihat dan mendengar sendiri apa yang dewa-dewa itu katakan ? Seharusnya engkau tidak meragukannya.[..]" [Dhammapada Bab 15, syair 224]
Namun masih ada 1 persoalan lagi, yaitu SEBERAPA CEPAT REALISASI PEMENUHAN JANJINYA?

DI UPOSATHA SUTTA disebutkan bahwa 1 hari di alam TAVATIMSA = 100 tahun di alam Manusia; 1 hari di alam CATUMAHARAJIKA = 50 tahun tahun di alam manusia, Sehingga jika dihitung kurang lebih hasilanya menjadi seperti ini:
    1 detik di alam tavatimsa = 10 JAM di alam manusia
    1 detik di alam catumaharajika = 5 jam di alam manusia
    I jam alam Tavatimsa = 4 tahunan di alam manusia
    1 jam alam Catumaharajika = 2 tahunan di alam manusia
Dengan melihat persamaan tersebut di atas, maka ketika MEMINTA PERTOLONGAN kepada Yakkha/Deva yang disebutkan di atas, kehidupan kita bisa jadi sudah tidak sama lagi dan tidak lagi di alam yang sama, karena kedatangannya, terjadi SEKURANGNYA dalam 5 jam sejak saat kejadian!

Mengapa sekurangnya 5 Jam?

Karena itu adalah mahluk tertentu yang telah disebutkan di Atanatiya sutta dan akan menjadi lebih lama lagi jika bukan.

Mengapa?

Kita misalkan Leluhur kita setelah wafatnya muncul di alam Catumaharajika dan kemunculannya di alam tersebut akan tentunya akan segera MENGALIHKAN BANYAK PERHATIANNYA. Situasi/keadaan baru tersebut lebih menyenangkan dan lebih memenuhi minatnya untuk melakukan aktifitas barunya. Ia belum tentu akan segera merenungkan segera setelah kemunculannya, "Mengapa Aku berada di sini?, Siapa dan dimana aku sebelumnya?".

JIKA dan HANYA JIKA Ia tiba2 tersadar dan mulai merenungkan mengapa ada di keadaan tersebut barulah Ia akan berusaha mengingat masa lalunya sehingga lebih lama lagi waktu untuk mengharapkan kedatangannya.

Artinya?

Jika beliau tersebut tersadar dalam 1 harian saja maka itu sama dengan 50 tahun kemudian. Ia kemudian mungkin saja akan berusaha mencari turunannya dan itu terjadi di 50 tahun kemudian. Saat itu, kita bisa jadi telah wafat dan telah muncul kembali di keadaan yg berbeda.

Jadi apa objek yang tepat?

Buddha merupakan objek yang baik dan tepat namun tunggang-tungging menyembah, memuja, meminta, memohon keselamatan dan juga rejeki pada Buddha dengan mempersembahkan bunga, buah dan dupa serta berKTP Buddha (kolom Agama) pun TIDAK SERTA MERTA menjadikan anda terlahir di alam Deva dan terkabulkan!

Ada satu kisah yang cukup dekat menggambarkan hal ini:
    Ketika Sang Buddha mengumumkan bahwa sekian bulan lagi beliau akan mangkat, maka di beberapa waktu kemudian segerombolan Bikkhu berusaha mengadili beberapa bikkhu [Attadattha, Dhammarama dan Tissa Thera] yang malah pergi menyendiri, tidak berada dekat-dekat beliau dan memuja Beliau seperti yang dilakukan oleh segerombolan Bikkhu lainnya setelah pengumuman tersebut,

    "Bhante, bhikkhu ini tidak terlihat mencintai, memuja-Mu, tidak menghargai, tidak mau peduli, tidak menghormat, dan tidak berbakti kepada Bhante [seperti yang kami lakukan]. Ia terlihat menyendiri pada saat para bhikkhu lain sedang berada di dekat Bhante."

    Masing-masing tertuduh [Atthadata, Tissa Thera dan Dhammarama] menjelaskan bahwa dia berusaha keras untuk mencapai tingkat kesucian arahat sebelum Sang Buddha mangkat (parinibbana) dengan memperaktekan salah satu Bhavana, dan itulah alasannya mengapa dia tidak datang mendekat Sang Buddha.

    Sang Buddha sangat puas dan menghargai apa yang telah diungkapkan dan dilakukan oleh Bhikkhu Dhammarama, kemudian berkata, "Anak-Ku Dhammarama, engkau telah berperilaku sangat baik. Seorang bhikkhu yang mencintai dan menghormat kepada-Ku hendaknya berkelakuan seperti engkau. Mereka yang mempersembahkan bunga, pelita, dan dupa kepada-Ku tidaklah benar-benar memberi hormat kepada-Ku. Hanya mereka yang melaksanakan Dhamma, ajaran-Ku, adalah benar-benar seseorang yang memberikan hormat kepada-Ku." [Dhammapada bab 12, bab 15 dan bab 25]
Jadi, Jangan heran mendapatkan seseorang berKTP Buddhis, rajin ke vihara, tunggang-tungging tiap saat di depan patung Buddha namun tetep melakukan pembunuhan, Pencurian, memperkosa, melecehkan, menipu, korupsi dan mabuk-mabukan itu karena mereka tidak sepenuhnya serius mempraktekan Dhamma yang diajarkan oleh sang Buddha.

Walaupun objeknya sudah tepat, namun caranya yang kurang tepat. [Note: yang di maksud objek adalah kualitas seorang Buddha. Patung yang dianggap sebagai bentuk Buddha baru muncul disetelah 260 SM, yaitu setelah Raja Asoka menjadi Buddhis dan tergila-gila pada ajaran ini. Kemudian, patung Buddha dijadikan sarana penghormatan mulai dikisaran abad ke-2 SM - 1 SM. Jadi penghormatan dihadapan patung Buddha bukanlah asli Buddhism]

Jelas sekali bahwa Buddha bukanlah sesembahan untuk dipuja dan tempat meminta, namun merupakan objek perenungan dan salah satu objek perenungan Meditasi. Perenungan ini dikenal dengan nama Buddhanussati [Buddha + anussati (perenungan, mengarahkan pikiran pada)].

Dalam AN 6.10/Mahānāma Sutta (dan AN 3.70/Uposatha Silla) disampaikan 6 objek perenungan, yaitu: (1) Buddha, (2) Dhamma, (3) Sangha, (4) Sila, (5) Caga [Kedermawanan] dan (6) Devanussati. [juga lihat: BLOG INI]
    Satu waktu sang Bhagava sedang berdiam di vihara Nigrodha wilayah kaum Sakya. Kemudian Mahanama dari suku Sakya mendekati Sang Bhagava, memberikan penghormatan, duduk di satu sisi dan berkata pada sang Bhagava:

    Mahanama: Yang mulia guru, ketika siswa mulia yang telah mencapai hasil dan memahami pengajaran, apa yang terbiasa Ia lakukan dalam menjalani hidupnya?

    Buddha: Mahanama, siswa mulia yang telah mencapai hasil dan memahami pengajaran menjalani hidupnya dengan terbiasa melakukan:

    ATAU

    Mahanama: Yang mulia Guru, Kami tinggal pada banyak macam kediaman, Yang mana kediaman terbaik bagi kami berdiam?

    Buddha: Bagus, Bagus, Mahanama, Ini adalah baik Mahanama, keluarga perumah tangga sepertimu menemui sang Tathagata dan bertanya, "Yang mulia Guru, Kami tinggal di banyak macam kediaman, yang mana kediaman terbaik bagi kami berdiam?

    (1) Dengan keyakinan, Mahanama, kesuksesan terjadi, bukan tanpa keyakinan; (2) Dengan kegigihan kesuksesan terjadi, bukan dengan kemalasan; (3) Dengan perhatian penuh kesuksesan terjadi bukan dengan kekacauan perhatian; (4) Dengan keterpusatan konsentrasi kesuksesan terjadi bukan tanpa terpusatnya konsentrasi; (5) Dengan kebijaksanaan kesuksesan terjadi bukan tanpa kebijakan

    Setelah mengembangkan 5 hal ini, 6 hal menjadi kelanjutannya[↓], yaitu 6 (enam) Perenungan:

    • Buddhānussati (Perenungan tentang Buddha), 9 kualitas:
      Mahanama, dalam hal ini, siswa mulia merenungkan sang tathāgata: Demikianlah beliau (itipi so) Sang pembawa keberuntungan (Bhagava), yang telah terbebas dari samsara (1)(araham), yang tercerahkan sempurna dengan cara yang benar (2)(Sammasambuddho), sempurna pengetahuan dan prilaku (3)(vijjā•caraṇa•sampanno), dalam kebahagiaan sejati (4)(sugato), pengenal alam (5)(loka•vidū), Penunjuk jalan tiada tara bagi yang patut dijinakkan (6)(anuttaro purisa•damma•sārathi), guru para deva dan manusia (7)(satthā deva•manussānaṃ), yang tercerahkan sempurna (8)(Buddho) pembawa keberuntungan (9)(Bhagavā ti)[↓]

    • Dhammānussati (Perenungan tentang Dhamma), 6 kualitas:
      Kemudian, Mahanama, siswa mulia merenungkan Dhamma: Ajaran Sang Bhagava telah disampaikan dengan baik (1)(svakato), nyata manfaatnya di kehidupan ini juga (2)(sandiṭṭhiko), tak bebatas waktu (3)(akāliko), mengundang untuk dibuktikan sendiri (4)(ehipassiko), memberikan tuntunan (5)(opaneyyiko), secara pribadi dirasakan/dikenali oleh yang mengetahui/melakukannya (6)(paccattaṃ veditabbo viññūhī)[↓]

    • Saṅghānussati (perenungan tentang Sangha) 9 kualitas:
      Kemudian, Mahanama, siswa mulia merenungkan Sangha: Kumpulan siswa mulia sang Bhagava yang telah memasuki jalan: baik (1)(Su•paṭipanno), lurus (2)(uju•paṭipanno), benar (3)(ñāya•paṭipanno), terhormat (4)(sāmīci•paṭipanno), terdiri dari empat pasangan: (sotapanna/pemasuk arus/melaju, sakadagami/sekali lagi), anagami/tidak kembali lagi, arahat/padam, terbebas samsara), delapan individu (sotapanna magga (jalan) dan phala(buah/hasil), sakadagami magga dan phala, anagami magga dan phala, arahat magga dan phala), patut menerima: persembahan (5)(āhuneyyo), pelayanan (6)(pāhuneyyo), pemberian (7)(dakkhiṇeyyo), penghormatan (8)(añjali•karaṇīyo), ladang menanam kebajikan yang tiada banding di seluruh alam (9)(anuttaraṃ puñña'k'khettaṃ lokassā)[↓]

    Seseorang yang TIDAK PERNAH menerima pengajaran atau TIDAK mempelajari ajaran atau juga TIDAK mengalami sendiri hasil praktek ajaran ini (misal: perubahan sikap dan prilaku, pencapaian hasil meditasi), maka TIDAK MUNGKIN Ia dapat melihat keindahan 3 perenungan di atas, untuk itu, sebaiknya Ia lewati 3 perenungan di atas dan mencoba 3 PERENUNGAN berikutnya.

    Kemudian,Pencapaian sotapanna (sedang dan telah mencapai dan juga pencapaian-pencapaian selanjutnya) dapat dicapai melalui dua cara yaitu: Saddhanusari dan Dhammanusari.

    Saddha (keyakinan) adalah keyakinan yang kuat pada Buddha, dhamma dan sangha. Sehingga ketika membaca 3 perenungan diatas, namun tetap tidak dapat melihat keindahannya, maka ia belumlah dapat disebut Saddhanusari.

    Dhammanusari adalah mereka yang melihat dan mengetahui bahwa segala yang berkondisi tidak kekal (anicca). Tidak peduli apakah ADA atau TIDAK seorang Buddha di alam ini, maka anicca (tidak kekal), dukkha (tidak memuaskan) dan anatta (bukan diri/landasan/inti) tetaplah ada.

    Jika kemudian, anda merasa telah memahami anicca dan/atau dukkha dan/atau anatta dan/atau melakukan praktek anatta, namun masih tetap tidak dapat melihat keindahan 3 perenungan di atas, maka anda belumlah melihat dan mengetahui Dhamma. (Tentu saja tidak serta merta mereka yang dapat melihat keindahan 3 perenungan di atas, lantas dapat disebut saddhanusari atau dhammanusari, karena seorang yang benar-benar melihat keindahan 3 perenungan di atas, tidak akan ia melakukan perbuatan-perbuatan akusala/tidak bermanfaat)

    • Sīlānussati (Perenungan tentang moralitas):
      Kemudian, Mahanama, siswa mulia merenungkan moralitasnya sendiri yang: tak rusak, tak robek, tak bernoda, tak bercela, membebaskan, dipujikan para bijaksana tak digenggam, mengarah pada konsentrasi[↓]

      Note:
      Praktek yang dilakukan adalah dengan menjalankan 5 sila[↓] atau 8 sila atau 10 sila[↓]

    • Cāgānussati (Perenungan tentang kemurahan hati):
      Kemudian, Mahanama, siswa mulia merenungkan kemurahan hatinya sendiri sebagai berikut: keberuntungan bagiku, bermanfaat besar bagiku, di antara mereka yang tergairahkan noda ketamakan, Aku berdiam dalam pikiran bebas dari noda ketamakan, melepas dengan kemurahan hati, murni dengan tangan terbuka tanpa mencela, selalu siap bagi yang membutuhkan, bergembira karena berkesempatan dapat memberi

      Note:
      Ini adalah prilaku gemar memberi sedekah kepada apapun juga (Manusia, binatang dan non (dengan menyampaikan sedekah ini ada juga bagian mereka)

    • Devatānussati (Perenungan tentang para deva):
      Kemudian, Mahanama, siswa mulia mengembangkan perenungan para Deva: Kedamaian Deva: catumaharajika, Tavatimsa, Yama, Tusita, Nimmanarati, Paranimiitavasavatti, Para Dewa alam Brahma dan Para Deva lain yang lebih tinggi lagi

      Dengan keyakinan (saddhāya) yang dimiliki para dewa ini, mereka wafat dari sini, dan dilahirkan kembali di sana, Akupun memiliki keyakinan yang demikian pula

      Dengan moralitas (sīlena) yang dimiliki para dewa ini, mereka wafat dari sini, dan dilahirkan kembali di sana, Akupun memiliki moralitas yang demikian pula

      Dengan pemahaman pembelajaran (sutena) yang dimiliki para dewa ini, mereka wafat dari sini, dan dilahirkan kembali di sana, Akupun memiliki pemahaman pembelajaran yang demikian pula

      Dengan kemurahan hati (cāgena) yang dimiliki para dewa ini, mereka wafat dari sini, dan dilahirkan kembali di sana, Akupun memiliki kemurahan hati yang demikian pula

      Dengan kebijaksanaan (paññāya) yang dimiliki para dewa ini, mereka wafat dari sini, dan dilahirkan kembali di sana, Akupun memiliki kebijaksanaan yang demikian pula

      Note:
      Beberapa Deva terlahir di sana adalah karena menjalankan ajaran Sang Buddha. Beberapa lagi TIDAK, namun karena menjalankan praktek SAMADHI hingga mencapai jhana atau praktek MORALITAS atau praktek KEMURAHAN HATI atau praktek TIDAK MEMBENCI atau praktek TIDAK MUDAH MARAH atau praktek TIDAK MENYAKITI atau praktek MENYATAKAN YANG BENAR selama hidup.

      Itulah mengapa perenungan terakhir ini sungguhlah menarik, karena membuat kita dengan sekuat-kuatnya berusaha menjalankan PRAKTEK KEBAJIKAN selama hidup

    Kemudian, Mahanama, ketika siswa mulia merenungkan:

    (Sang Tathagata atau Dhamma atau Sangha atau moralitas atau kemurahan hati atau 'Keyakinan, moralitas, pemahaman pembelajaran, kemurahan hati dan kebijaksanaan dari para Deva')

    maka pikirannya tidak terobsesi oleh:
    nafsu (raga), kebencian (dosa), kekeliruan tahu (moha);

    Pikirannya menjadi terarah [Ujugatacitto] pada:
    (Sang Tathagata atau Dhamma atau Sangha atau moralitasmu sendiri atau kemurahan hatimu sendiri atau para Deva)

    Dengan terarahnya pikiran, mahanama, siswa mulia memperoleh (Labhati) pemahaman makna (Atthavedam), pemahaman ajaran (dhammavedam), sukacita sehubungan dengan pemahaman ajaran (dhammūpasaṃhitaṃ pāmojjaṃ). sukacita memunculkan kegembiraan (Pamuditassa pīti jāyati), kegembiraan di pikiran menenangkan jasmani (pītimanassa kāyo passambhati), tenangnya jasmani kebahagiaan dirasakan (passaddhakāyo sukhaṃ vediyati), bahagia menjadikan pikiran terkonsentrasi (sukhino cittaṃ samādhiyati)

    Ini dikatakan, Mahanama, Siswa mulia yang sukses berdiam dalam kumpulan yang tidak harmonis, hidup tidak bermasalah dalam kumpulan yang bermasalah, memasuki arus Dhamma dengan mengembangkan perenungan pada: (Buddha atau Dhamma atau Sangha atau moralitasmu sendiri atau kemurahan hatimu sendiri atau para Deva) [dhammasotaṃ samāpanno devatānussatiṃ bhāveti]

    Demikian Mahanama, seharusnya engkau kembangkan perenungan pada:
    (Sang Tathagata atau Dhamma atau Sangha atau moralitasmu sendiri atau kemurahan hatimu sendiri atau para Deva)

    ketika: berjalan, berdiri, duduk, berbaring, sibuk di pekerjaan, bersantai di rumah bersama anak-anakmu
Jadi,
Kecuali sebagai objek perenunangan maka praktis TIDAK ADA GUNANYA mencari PERLINDUNGAN pada para DEVA2 sekalipun. Perlindungan terbaik justru kepada diri sendiri.

Diatas,
telah disampaikan bahwa mereka-mereka yang muncul di alam Deva di antaranya karena melakukan beberapa latihan, Pengetahuan, kebijaksanaan misalnya dengan kesabaran, berkata benar, melakukan kemurahan hati dengan berdana, menjalankan sila, dan kebajikan lainnya. Sehingga dapat diketahui bahwa PERLINDUNGAN TERBAIK hanyalah menjalankan DANA-SILA-PANNA oleh diri kita sendiri. Kebiasaan baik itu akan sangat bermanfaat di saat kematian tiba [cuti citta]. Perasaan bahagia akan muncul dan kebahagiaan itulah yang akan menghantarkan kita muncul di antara para Deva.

Itulah perlindungan yang sesungguhnya.
    "Oleh diri sendiri kejahatan dilakukan; oleh diri sendiri seseorang menjadi tidak suci. Hanya oleh diri sendiri kejahatan dihentikan; hanya oleh diri sendiri seseorang menjadi suci. Suci dan tidak suci tergantung pada diri sendiri. Tak seorang pun dapat menyucikan orang lain." [Dhammapada, syair 165]
Mari, kita tinggalkan kebiasaan meminta-minta dan mulailah bergantung pada DIRI SENDIRI dengan menjalankan DANA, SILA dan MEDITASI!

[Kembali (↑)]
---------------

Terbentuknya Kitab Suci Tipitaka dan Kemunculan Banyak Aliran di Buddhisme


Bahasa dan pengertian manusia tidak dapat terbentuk tanpa di ajari oleh manusia lainnya. Berdasarkan sumber ini (dan juga ini), tercatat dalam sejarah beberapa percobaan terlarang dengan cara mengisolasi bayi-bayi dari kontak pergaulan manusia selama jangka waktu tertentu dan kemudian di lihat kemampuan berbahasa dan pengertian lainnya:
  1. Dalam catatan Sejarah Herodotus. Ia mencatat raja Mesir, Psammetichos (664 SM – 610 SM) mengasingkan 2 bayi dan di 2 tahun kemudian ditunggu kata pertama yang keluar apa.
  2. Raja frederik II abad ke-13, melakukan percobaan yang dicatat oleh Salimbene di Adam, namun percobaannya gagal
  3. Di abad ke 14/15, James IV dari Skotland, melakukan dengan 2 orang manusia yg diasuh oleh orang bisu
  4. Di Abad ke-15/16, Akbar, raja mughal melakukan percobaan, dengan asumsi bahwa kemampuan bercakap muncul dari pendengaran, jadi manusia yg dibesarkan tanpa pernah mendengar suara manusia akan tuli. Hasilnya, tidak ada satupun dari anak-anak yang dikurung tersebut dapat berbicara dengan jelas.
Setelah mengetahui betapa pentingnya sebuah pengajaran, maka saatnya kita ketahui sejarah terbentuknya kitab Buddhisme.

Setelah Buddha Gautama mencapai PariNibbana, Prosesi pembakaran jenasah dilakukan 1 (satu) minggu kemudian setelah kedatangan MahaKassapa.

Konsili ke-1,
3 bulan kemudian, yaitu pada musim Vassa [hujan], kurang lebih pada 543 SM, diadakan pertemuan Sidang Agung (Sanghasamaya) oleh 500 araha di Goa Satapani, Rajagraha yang dipimpin oleh Maha Kassapa. Pertemuan ini biasa disebut konsili ke-1 dan diselenggarakan selama 2 (dua) bulan. Selama sidang itu, mereka menghimpun Ajaran Sang Buddha yang diajarkan kepada orang yang berlainan, di tempat yang berlainan dan dalam waktu yang berlainan selama kurun waktu 45 tahun.

[Note: Terdapat variasi pandangan mengenai tahun kehidupan Sang Buddha, untuk detailnya lihat di sini]

Pada pertemuan besar itu, Culla Vagga XI, menyatakan bahwa selama 1 bulan, yaitu tepatnya di hari ke-2, di bulan ke-2, pada musim penghujan (Vassa), YM Upali yang mengulang kembali Vinaya (tata tertib) dan YM Ananda yang mengulang Dhamma/kotbah-kotbah yang terhimpun ke dalam 5 nikaya [Digha Nikaya (DN), Majjhima Nikaya (MN), Samyutta Nikaya (SN), Anguttara Nikaya (AN) dan Khuddaka Nikaya (KN)]. Kemudian selama 7 bulan, ke-500 arahat tersebut mengkompilasinya.

Jadi,
Kitab suci Buddhisme saat itu bukanlah Ti (tiga)- pitaka (keranjang) namun hanya Dhamma [berisi 5 nikaya/ajaran] dan Vinaya, sedangkan kitab Abhidhamma [hingga 7 kitab], saat itu belumlah ada dan belum menjadi kumpulan KITAB tersendiri.

Abhidhamma [Abhi = Unggul, utama, dalam, halus; Dhamma = Ajaran] seharusnya bukanlah merujuk pada kitab melainkan pada betapa dalam dan luasnya DHAMMA dan Disiplin (VINAYA) yang Sang Buddha babarkan. Tradisi Jataka no.483, kitab komentar dan dhammapada no. 181, menyatakan pembabaran "ajaran yang dalam" tersebut dilakukan di surga tavatimsa, selama musim vassa ke-7 (Pembabaran di Tavatimsa adalah BUKAN pembabaran kitab abhidhamma[↑] dan tahun kejadian SEHARUSNYA di tahun ke-37[12]). Ikhtisarnya kemudian, disampaikan kepada YM Sariputta. Berikut pujian Sang Buddha atas kepiawaian dari YM Sariputta dalam Dhamma, "Esensi Dhamma (dhammadhatu) telah begitu dipahami oleh Sarputta, O para bhikkhu, sehingga bila aku bertanya selama satu hari dalam kata-kata dan frase-frase berbeda, Sariputta akan membalas selama satu hari dalam kata-kata dan frase-franse. Dan bila aku bertanya padanya selama satu malam, atau satu hari-satu malam, atau dua hari-dua malam, atau bahkan hingga tujuh hari-tujuh malam, Sariputta akan menguraikan dengan rinci permasalah selama periode waktu yang sama, dalam berbagai kata-kata dan frase-frase."[Nidana-samyutta, no.32]

Apakah Dhamma itu?

Cakupan arti dhamma sangatlah luas dan dapat berupa apapun yaitu: apakah itu adalah ajaran, cara menjadi kaya, mengelola anak, membuat sepatu, meja, atau bahkan juga bendanya: kotak kayu, game online, rokok dan lainnya.

Jadi, apapun itu dapat disebut sebagai dhamma

Ketika hanya berbicara tentang ajaran, maka dhamma adalah jalan-jalan yang diajarkan untuk mencapai sesuatu.

Ketika berada di Hutan Siṃsapā, Kosambi, sang Buddha akui bahwa daun yang ada di hutan Siṃsapā adalah JAUH LEBIH BANYAK dari beberapa lembar daun yang ada ditelapak tangan beliau bahkan yang diajarkannya tidaklah lebih banyak dari beberapa lembar daun yang ada ditangannya!

Perumpamaan daun simsapa ini kemudian kerap dijadikan bahan argument bahwa "Ada banyak jalan menuju Roma" alias tidak hanya ajaran Buddha yang dapat digunakan untuk mencapai kesucian.

Argument tersebut sesungguhnya menyesatkan.

Mengapa?

Jika suttanya dibaca secara utuh maka akan tampak jelas alasan utamanya, yaitu yang beliau ajarkan hanya yang berhubungan dengan (1) Dukkha, (2) asal-muasalnya Dukkha, (3) lenyapnya Dukkha dan (4) jalan lenyapnya Dukkha: Jalan mulia berunsur 8. [Cattari Ariya Saccani, Empat kesunyataan mulia]

Mengapa?

Karena hal-hal tersebut berhubungan dengan tujuan [atthasaṃhitaṃ], prinsip kehidupan kesucian [ādibrahmacariyakam], dan membawa pada kejenuhan duniawi [nibbidāya], ketiadaan nafsu [virāgāya], penghentian [nirodhāya], ketenangan [upasamāya], pengetahuan langsung [abhiññā], pencerahan[sambodhāya], pemadaman [nibbānāya]. [SN 56.31/Siṃsapā Sutta atau Sīsapāvana Sutta]

Maksudnya?

Boleh jadi ada banyak Dhamma di belantara Dhamma, namun hanya Dhamma yang berhubungan dengan Cattari Ariya Saccani [Empat kesunyataan mulia] yang berguna untuk pembebasan sedangkan Dhamma-Dhamma lainnya tidak.

Itulah mengapa di bagian awal artikel ini, yaitu pada DN.16/MahaParinibanna sutta, disampaikan bahwa:
    "[..]dalam dhamma dan vinaya mana pun, jika tidak terdapat Jalan Mulia Berunsur Delapan, maka di sana pun tidak akan terdapat seorang petapa sejati yang telah mencapai tingkat pertama, kedua, ketiga atau keempat. Tetapi dalam dhamma dan vinaya yang mana pun, jika terdapat Jalan Mulia Berunsur Delapan, maka di sana pun akan terdapat petapa yang sejati yang telah mencapai tingkat pertama, kedua, ketiga atau keempat. Kini, dalam dhamma dan vinaya yang kami ajarkan terdapat Jalan Mulia Berunsur Delapan itu, maka dengan sendirinya juga terdapat petapa-petapa sejati yang telah mencapai tingkat pertama, kedua, ketiga atau keempat. Ajaran guru-guru lainnya yang tidak memiliki Jalan Mulia Berunsur Delapan adalah kosong dan bukan petapa yang sejati."
Seberapa banyak "daun sisampa dhamma" yang dibabarkan sang Buddha?
    Dvāsīti buddhato gaṇhiṃ, dve sahassāni bhikkhuto; Caturāsītisahassāni, ye me dhammā pavattino’.

    "Dari semua Dhamma yang Saya hafalkan, 82.000 Dhamma khandha Saya pelajari langsung dari Buddha sendiri; sedangkan 2.000 Dhamma khandha dari para bhikkhu, sehinga seluruhnya berjumlah 84.000 Dhammakhandha" [Khuddakanikāye; Theragāthāpāḷi; 17. Tiṃsanipāto; 3. Ānandattheragāthā 1027]
Kemudian,
Perumpamaan rakit yang sering di salah artikan bahwa Jika ingin pembebasan, maka sabbe dhamma [SEMUA AJARAN] bahkan itu termasuk AJARAN dari sang BUDDHA [Dhamma] harus di buang karena itu hanyalah konsep belaka atau dengan kata lain TINGGALKAN SEMUA KONSEP!

Mereka yang menyatakan itu TELAH SALAH mewakili Sang Buddha dalam perumpamaan rakit:
    Misalkan seseorang dalam suatu perjalanannya menjumpai hamparan air yang luas, dimana di areanya sekarang tempat itu berbahaya dan menakutkan sedangkan di pantai seberang aman dan bebas dari ketakutan, namun untuk menyeberang tidak ada perahu atau jembatan menuju pantai seberang. Kemudian orang itu mengumpulkan rerumputan, ranting, dahan, dan dedaunan, dan mengikatnya menjadi satu sehingga menjadi rakit, dan dengan didukung oleh rakit itu dan berusaha dengan tangan dan kaki, ia DENGAN SELAMAT MENYEBERANG ke pantai seberang.

    Kemudian, ketika ia TELAH MENYEBERANG dan TELAH SAMPAI di pantai seberang, ia mungkin berpikir sebagai berikut: ‘Rakit ini telah sangat berguna bagiku, karena dengan didukung oleh rakit ini dan berusaha dengan tangan dan kakiku, aku dapat DENGAN SELAMAT MENYEBERANG ke pantai seberang.

    Apa yang kemudian yang seharusnya dilakukan dengan rakit itu?

    Rakit itu TIDAK diangkat di atas kepala atau dipikul di bahu, dan kemudian pergi kemanapun yang diinginkan.’ Itu BUKAN yang seharusnya dilakukan.

    Namun, yang seharusnya dilakukan adalah menarik rakit itu ke daratan atau menghanyutkannya di air dan kemudian pergi kemanapun yang diinginkannya.

    Demikianlah sang Buddha menunjukkan bagaimana Dhamma itu serupa dengan rakit, karena berguna untuk menyeberang, bukan untuk dilekati/digenggam [gahaṇatthāya]. ketika mengetahui bahwa Dhamma serupa dengan rakit, maka Dhamma saja seharusnya ditanggalkan apalagi adhamma.[MN.22/Alagaddūpama Sutta]
Sangat jelas bahwa Rakit tersebut DI TINGGALKAN SETELAH MENYEBERANG, bukan dibawa setelah menyeberang apalagi SEBELUM MENYEBERANG.

Potongan KALAMA SUTTA [AN 3.65/Kesamutti sutta] juga sering di comot sebagai alasan pembenaran atau mempengaruhi dalam berpendapat, yaitu potongan nasehat sang Buddha agar tidak serta merta mengikuti:
  1. Tradisi: lisan/penyampaian berulang [anussavena/itihitihaṃ = tradisi]
  2. Tradisi: turun-temurun [paramparāya]
  3. Tradisi: kata orang/desas-desus [itikirāya]
  4. Tradisi: koleksi kitab suci [piṭakasampadāya]
  5. Penalaran: logis/beralasan [takkahetu]
  6. Penalaran: lewat kesimpulan [nayahetu]
  7. Penalaran: lewat analogi [kbbi: persamaan atau persesuaian antara dua hal yg berlainan [ākāraparivitakkena]
  8. Penalaran: Penerimaan [menjadi yakin akan] pandangan lewat pertimbangan/Opini yang beralasan [diṭṭhinijjhānakkhantiyā]
  9. Pembabarnya: Orangnya terlihat meyakinkan [bhabbarūpatāya], atau
  10. Pembabarnya: Petapa [orang yang dihormati] ini adalah guru kami [samaṇo no garūti]
Namun, Jika, setelah mengetahui sendiri [attanāva jāneyyātha], bahwa dhammā tersebut:
  1. BERMANFAAT atau TIDAK? [KUSALA/A-KUSALA];
  2. DAPAT di CELA atau TIDAK? [anavajjā/sāvajjā];
  3. DIPUJI atau DIHINDARI para bijaksana [viññuppasatthā/viññugarahitā];
  4. Jika dilaksanakan/dipraktekkan menuju pada: kerugian dan penderitaan atau TIDAK [hitāya sukhāya/A-hitāya dukkhāya saṃvattantīti]'
yang menyebabkan seseorang yang mengikuti itu menjadi atau TIDAK: tergairahkan, terbanjiri dan tertaklukkan oleh: keserakahan [lobha], kebencian/ketidaknyamanan [dosa] dan kekeliruan tahu/kebodohan batin [moha] yang kemudian mengakibatkan Ia:
  1. Menghancurkan atau TIDAK: kehidupan,
  2. Mengambil atau TIDAK: apa yang tidak diberikan,
  3. Melakukan atau TIDAK: perilaku seksual dengan istri orang lain,
  4. Melakukan atau TIDAK: Pembicaraan yang salah , dan
  5. Mendorong atau TIDAK: orang lain melakukan hal-hal tersebut.
Jika ajaran itu tidak menyebabkan hal-hal di atas, maka dapat tetap diikuti. Itulah mengapa, sang Buddha menasehati untuk TIDAK SERTAMERTA mengikuti sesuatu ajaran tanpa mengetahui sendiri dengan melalui 4 pertimbangan di atas.

Apakah ada kemungkinan ujaran-ujaran sang Buddha ada yang tertinggal dari Dhamma dan Vinaya?

Ananda, walaupun hanya 25 tahun menjadi sekretaris Sang Buddha, namun Sang Buddha sendiri telah menyetujui 8 Syarat yang diminta Ananda sebelum menjadi sekretaris/pembantu tetap sang Buddha, yaitu terutama pada syarat ke 7 dan 8, yang menjamin keutuhan penuh dari Dhamma yang di babarkan oleh sang Buddha:
  1. jika aku diperbolehkan untuk mendatangi-Mu untuk bertanya saat muncul keraguan dalam diriku
  2. jika Engkau mengulangi apa yang telah Engkau ajarkan sewaktu aku tidak hadir - [RAPB buku ke-2, cetakan ke-1, Mei 2008, hal.1642-1644]
Mari kita buktikan.

Sesuai "tradisi" semua yg disampaikan oleh YM Ananda diawali dengan kata, "Demikian yang ku dengar" [evam me Sutam]

Kapan YM Ananda menjadi Bhikkhu?

Ananda dan 5 Pangeran (Bhaddiya, Anuruddhà, Bhagu, Kimbila, Devadatta) bersama Upali (tukang cukur para pangeran) menjadi Bhikkhu di setelah massa vassa ke-1 dan sebelum masa vassa ke-2.

Beliau, saat itu belumlah menjadi sekretaris sang Buddha dan tidak ada ketika 2 (dua) sutta pertama, yaitu Dhammacakkappavattana Sutta Anatta-lakkhana Sutta [Pañcavaggi Sutta] dibabarkan kepada 5 petapa di Taman Rusa Isipatana.

Nah, di ke-2 sutta itu, pada permulaan kata-katanya diawali dengan kalimat, "demikian yang ku dengar".

Jadi, implementasi dari permohonan no.7 dan 8 di atas membuat TIDAK ADANYA kemungkinan bahwa kotbah dari Sang Buddha ada yang terlewatkan dari "pencatatan". Itulah juga sebabnya mengapa Ananda di sebut sebagai Bendahara Dhamma.

Terdapat juga pendapat bahwa saat konsili berlangsung tidak semua arahat datang dan/atau tidak diundang dan atau tertinggal datang dan/atau telat datang kemudian menolak hasil konsili dengan merujuk pada Bhikkhu Purana, yang tinggal di Dakkhinagiri.

Namun, hal itu tidaklah benar.

Ada beberapa alasan mengapa hal tersebut tidak benar,
Menilik pada sejarah lahirnya hari raya Buddhis, yaitu MAGHA PUJA. Ketika Sang Buddha berada di kota Rajagaha, 1250 orang Arahat datang berkumpul di Veluvanarama (hutan pohon bambu) di tengah hari pada saat purnama sidhi di bulan Magha. Pertemuan para Araha tersebut dinamakan Caturangasannipata atau Pertemuan Besar Yang Diberkahi dengan Empat Faktor yang salah satunya adalah karena Mereka berkumpul tanpa pemberitahuan terlebih dulu! Berdasarkan dari hal itu saja, maka mereka yang berkumpul di luar Goa Satapani dapat dipastikan bukan Araha

Alasan berikutnya adalah Bhikkhu purana sendiri tidak disebutkan sebagai Ariya/thera [Thera artinya panggilan pada Bhikkhu yg telah berusia lanjut atau jika mereka telah mencapai tingkat kesucian]. Ia juga bukan arahat. Vinaya menyatakannya kejadian saat itu sebagai berikut:
    11. Pada saat itu, Bhikku Purâna sedang berkelana melewati bukit selatan bersama 500 Bhikkhu. Dan ketika para Thera Bhikkhu telah selesai meresitalkan Dhamma dan Vinaya, Ia tinggal di perbukitan selatan selama waktu yang ia anggap cukup dan pergi ke Rajagaha menuju Veluvana ke Kalandaka Nivâpa, di mana para bhikkhu thera berada dan menyampaikan salam, serta duduk di satu sisi. ketika ia telah duduk, para Thera Bhikkhu berkata padanya, "Teman Purâna,Dhamma dan Vinaya telah selesai di resitalkan bersama oleh para Thera Bhikkhu. Apakah anda siap mengetahui teks yang dilatih oleh mereka? [Saṅgîtim upehi]"

    'Dhamma dan Vinaya, yang mulia, telah di sampaikan dengan sangat baiknya oleh para Thera.Namun demikian, bahkan dengan cara seperti itu yang telah ku dengar dan diterima dari sangat Sang Bhagava, dengan cara itu akan kusimpan dalam ingatanku.'
Di samping itu Buddha juga menyatakan agar Dhamma dan vinayanya disampaikan tidak dalam bahasa Sanskrit, sebagaimana Vinaya sampaikan di kisah Yemelu dan Tekula:
    Ada dua orang bhikkhu bersaudara bernama Yamelu dan Tekula di Savatti. Mereka adalah keturunan dari Brahmana, mereka mempunyai suara yang merdu dan pandai bicara. Mereka bertanya kepada Sang Bhagava :

    “Guru, Bkhikkhu-Bhikkhu sekarang ini terdiri dari berbagai nama, bangsa, keturunan dan keluarga. Mereka 'merusak' kata-kata Sang Bhagava ke saka nirutti [artinya adalah: 'bahasa Magadhi' (law)/'bahasa mereka sendiri' (Rhys Davids & Oldenberg]. Marilah kita jadikan kata-kata Sang Buddha ke khandaso âropema” [khandaso âropema berarti bahasa Sankrit, atau bentuk awal sanskrit, karena: kata "khandasi" di dalam panini, selalu diartikan dialek di veda, mereka adalah Brahmana dalam Jati [kelahiran] dan Buddhaghosa menyatakan, "khandaso âropemâ ti Vedam viya sakkata-bhâsâya vâkanâ-maggam âropema". Sakkata adalah Sankrit"]

    Sang Buddha mencela mereka, "Orang-orang bodoh, bagaimana engkau dapat berkata:' Marilah kita jadikan kata-kata Sang Buddha ke bahasa sanskrit?'. Hal ini tidak akan membangkitkan keyakinan bagi mereka yang tidak percaya dan meningkatkan keyakinan bagi mereka yang sudah yakin; bahkan hal ini akan membiarkan mereka yang tidak percaya untuk tetap tidak percaya, merusak sebagian dari mereka yang sudah yakin."

    Setelah memberikan teguran, Beliau memberikan wejangan Dhamma pada para Bhikkhus:

    "Para Bhikkhu, janganlah kalian menjadikan kata-kata Buddha ke bahasa Sanskrit. Siapa yang berbuat demikian berarti melakukan pelanggaran. Aku mengijinkan masing-masing orang mempelajari kata-kata Sang Buddha ke dalam saka nirutti [artinya adalah: 'bahasa Magadhi' (law)/'bahasa mereka sendiri' (Rhys Davids & Oldenberg]"
Jadi, tidaklah juga benar jika ada yang menyatakan ada beberapa kitab ditulis dalam bahasa sanskrit [kemudian diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa diantaranya Tibet dan aksara tiongkok] dan dikatakan merupakan sabda dari sang Buddha namun malah bertentangan dengan Dhamma dan Vinaya yang di ulang pada konsili ke-1.

Setelah Konsili ke-1, Konflik-konflik di aliran Buddhisme makin berkembang.

Konsili ke-2,
diadakan raja Kalasoka di Vesali (443 SM). Dalam Cūlavagga, Khandaka 12 dan mahavamsa, konsili ini terjadi karena akibat terjadinya 10 pelanggaran yang dilakukan oleh para Bhikkhu dari Vajji yang ditemukan oleh YM Yassa, terutama di saat berpindapatta, YM Yasa melihat para Bhiikhu Vajji meminta dan mengumpulkan uang [kahapana] dari para umat awam dan membagikannya diantara mereka [termasuk mereka menyisihkan bagian untuk YM Yasa, namun beliau menolak itu dan memprotes tindakan mereka], pertentangan ini menjadi meruncing dan setelah tidak dapat menasehati mereka, Ia kemudian mengundang YM Revata, yang saat itu dianggap sebagai ketua sangha hingga terjadinya konsili ke-2, yang dihadiri 700 Bhikkhu arahat, selama 8 Bulan.

Namun keputusan sidang itu tidaklah diindahkan oleh para Bhikkhu dari Vajji, tak lama kemudian mereka menyelenggarakan pertemuan yang di hadiri oleh 10.000 Bhikkhu dan mengadakan Mahasanghiti [137 tahun setelah Buddha parinibanna]. Dari situlah cikal bakal munculnya aliran Mahasanghika.

Pendiri dari Mahasanghika adalah Bhadra (Mahadeva). Ia kemudian menyampaikan 5 teori yang kemudian di beberapa dekade kemudian memicu pecahnya aliran di Buddhisme menjadi 18 aliran.

10 Pelanggaran Para Bhikkhu vajji:
  1. Singilona Kappa (Kappa=aturan): membawa garam (lona) yang tersimpan dalam tanduk (singi/shringi) yaitu untuk ditambahkan pada makanan yang tidak/kurang digarami. Ini melanggar: Pācittiya ke-38: menyimpan makanan yang telah diserahkan lebih dari 1 hari.
  2. Dvangula Kappa: makan ketika bayangan yang terkena sinar matahari lebih dari dua ruas jari (dvangula) (atau beranggapan masih boleh makan selama matahari tertutup awan). Ini melanggar: Pācittiya ke-37: Makan di waktu yang salah (lewat tengah hari).
  3. Gāmantara Kappa: Setelah menerima makanan dan selesai makan di satu desa, kemudian pergi ke desa (Gāma) lain dan makan ke-2 kalinya di hari yang sama. Ini melanggar: Pācittiya ke-35
  4. Avāsa Kappa: Sekelompok Bhikkhu tinggal di batas area yang sama namun melakukan uposatha secara terpisah. Ini pelanggaran Dukkaṭa: Maha Vagga (2,8,3)
  5. Anumati Kappa: Setelah memutuskan sesuatu tindakan di saat sangha tidak lengkap dan persetujuan mereka dimintakan kemudian atau Sangha tidak lengkap dalam membuat keputusan dan berpikir, “Kita akan dapatkan persetujuan dari bhikkhu yang tiba". Ini pelanggaran Dukkaṭa: Mahavagga (IX.3.5)
  6. Ācīṇṇa Kappa: Memutuskan tindakan atas dasar bahwa tindakan/hal tersebut telah dilakukan (biasa dilakukan) oleh penahbis/upajjhāya atau guru/ācariya. Praktek atas dasar kebiasaan kadang diizinkan kadang tidak: MahaVagga [1.25-35]
  7. Amathita Kappa: telah selesai makan (telah selesai waktu makan) minum susu yang tak dapat disebut susu tapi juga belum menjadi dadih/susu kental (Yoghurt). Ini melanggar: Pācittiya ke-35
  8. Jalogiṁ pātuṁ: minum air tuak yang belum berfermentasi/belum menjadi minuman keras. Ini melanggar: Pācittiya ke-51
  9. Adasakaṁ nisīdanaṁ: Duduk di atas alas yang tidak bertepi. Ini melanggar: Pācittiya ke-89: kain tempat duduk/nisidana dengan ukuran: panjang: 2 sugata, lebar: 1.5 sugata dan sisi sebagai batas 1 sugata, kain tersebut harus dipotong sesuai dengan ketentuan.
  10. Jātarūpa-rajataṁ: Menerima persembahan emas, perak dan uang:, Nissaggiya Pācittiya ke-18/19
5 Teori Mahadeva, bahwa arahat:
  1. masih bernafsu ketika mengalami mimpi erotis (Atthi arahato rago ti)
  2. sisa-sisa kebodohan mental. (Atthi arahato aññānanti)
  3. masih mempunyai keragu2an(Atthi arahato kankha ti)
  4. masih bisa di lampau karena masih membutuhkan bantuan orang lain (Atthi arahato paravitarana ti)
  5. Perolehan dalam Jalan,di ikuti dengan seruan (dengan ‘aho’)
Di Kathavatthu, buku ke-2: Arahat tidak lagi mempunyai nafsu, khayalan, ketidaktahuan, keragu-raguan skeptis dan seruan di pencapaian bukan bagian dari jalan pembebasan.
Mahadeva adalah anak dari Brahmana pedagang dari Mathura, yang di tahbiskan di Kukkutarama, Pataliputra. Di waktu mudanya ia melakukan inses dengan ibunya sendiri, kemudian ia membunuh ayahnya dan melarikan diri kesuatu daerah lain. Suatu ketika seorang tamu berkunjung kerumahnya dan ketika mulai bertanya-tanya kehidupannya ia kemudian membunuh tamunya seorang Arahat dengan racun. Kemudian ia menceritakan semua pembunuhan yg ia lakukan pada Ibunya. Ibunya ternyata mempunyai affair dengan lelaki lain sehingga ia membunuh Ibunya. Setelah itu ia yang hampir gila bertemu dengan sekelompok Bhikkhu yang sedang beristirahat dekat Patalliputra dan kemudian ditasbihkan menjadi Bhikkhu. [Sumber: di sini, di sini, di sini, di sini, di sini dan di sini].

Ke-18 aliran, yang berkembang hingga 100 tahun kemudian adalah:
  • 6 aliran berasal dari Mahasanghika/Mahayana (1) -> Ekavyoharika (2), Gokulika (3) -> [Pannatti (4), Bahulika/Bahussutiya (5) -> Cetiya (6)]

  • 12 aliran berasal dari Theravada (7):
    • Mahimsasaka (8) -> [Sabbathivada (14) -> Kassapiya (16)] dan [Dhammaguttika (15) -> Samkantika (17) -> Suttavada (18]
    • Vajjiputta (9) -> Dhammuttariya (10), Bhaddayanika (11), Channagarika (12) dan Sammitiya (13)
Namun pada perkembangannya beberapa dekade kemudian yaitu hingga abad ke-7 Masehi, yang menonjol hanyalah 5 aliran saja, yaitu: Theravada, Sabbathivada (Sarvativada), Mahasanghika (Mahayana), Sammitiya dan Lokottaravadin.

Konsili ke-3,
Terdapat dua klaim seputaran konsili ke-3 di jaman raja Asoka:
  1. Upagupta adalah guru Spiritual Asoka.
    Beliau adalah bhikkhu aliran (mula) sarvāstivāda. Pada teks mereka terdapat urutan perguruan sampai kepada Upagupta: MahaKassapa - Ananda - Majjahantika - sana(ka)vasin/Sonaka - Upagupta. Di buku "Sects & Sectarianism", Bhikkhu Sujato, hal 143, diketahui bahwa Sonaka/Sanasa adalah Sanavasin, beliau ada di jaman terjadinya konsili ke-2. Di buku "STATE OF MIND", Manu Rajnish, hal 26, menyatakan "Sarvastivada (yang telah ditolak konsili ke-3, menurut tradisi Theravada)..". Di buku "Buddhist Sects and Sectarianism", Bibhuti Baruah, hal. 51 menuliskan bahwa Upagupta merupakan kepala sangha di Mathura pada jaman Asoka. Di buku "Buddhism: A Modern Perspective", Charles Prebish, hal 42-43, disampaikan: kaum Sarvastivadin, di Mathura, didirikan oleh Upagupta. Mathura adalah daerah di area sungai Yamuna, anak sungai Gangga.
  2. Moggaliputta-Tissa adalah guru spiritual Asoka dan Mahinda (Anak Asoka, yang membawa Buddhism ke Srilangka) adalah pemimpin dari konsili ke-3
Klaim-klaim di atas menimbulkan beberapa pertanyaan, misalnya:
Pada klaim ke-1, jika Upagupta, guru spiritual Asoka, adalah orang Sartivadin yang turut mensukseskan konsili ke-3 dari gangguan mara, maka bagaimana mungkin alirannya menjadi ditolak di konsili ke-3?.
Apakah Upagupta dan Moggaliputta adalah orang yang sama? atau
Apakah Asoka punya dua guru Spiritual yang berbeda? atau
Apakah ada 2 Asoka yang berbeda di satu jaman? atau apakah ada 2 Upagupta yang berbeda? dan terakhir: Klaim mana yang benar?

Kehidupan raja Asoka tercantum dalam literatur Pali [Dipavamsa, abad 4 M; Mahavamsa, abad 5/6 M dan Samantapasadika, abad 5 M] dan juga di literatur Sanskrit [di antaranya Divyavadana bagian Asokavadana dan Asokarajavadana,Abad 4 M]. Terdapat beberapa perbedaan di antara dua sumber tersebut, diantaranya:
  • Penyelenggaraan konsili ke-3, di jaman Asoka, dan hubungannya dengan Moggaliputta Tissa [hanya ada di sumber Pali]
  • Upagupta ada pada jaman raja Asoka [tidak disebutkan di sumber Pali: Buddhist Saints in India: A Study in Buddhist Values and Orientations, Reginald A. Ray, hal. 119]
  • Hubungan antara Upagupta dengan Asoka tanpa menyinggung konsili ke-3 [hanya ada di sumber Sanskrit. Baru kemudian, di abad ke-11 M (beredar di Burma, Laos dan Thailand), muncul kitab lokadipani/lokappannatti yang menceritakan tentang Shin Upagutta yang menaklukan Mara yang hendak mengganggu jalannya konsili ke-3].
  • AsokaAvadana (sumber sankrit, bagian dari Divyavadana), tidak menyebutkan konsili ke-3 dan keberadaan Upagupta sehubungan dengan konsili ke-3. kitab Divyavadana menyatakan 100 tahun setelah Buddha parinibanna akan ada raja bernama Asoka dan bhikkhu bernama Upagupta.
  • Sumber Pali: Sanavasi (Sambhuta Sanavasi) adalah salah satu bhikkhu yang ikut di konsili ke-2 yang diselenggarakan Raja Kalasoka. Sementara itu, guru dari Bhikkhu Upagupta adalah Bhkkhu Sanavasi.
  • Kitab SamanthaPasadika 1.235 (sumber pali) menyampaikan hubungan perguruan Sanavasin dan Moggaliputta Tissa, yaitu: Sanavasin/sonaka - Siggava - Moggaliputta Tissa. (ini menunjukan bahwa murid sanavasin adalah Siggava (dan/atau) juga Upagupta.
  • Dalam "The Legend and Cult of Upagupta: Sanskrit Buddhism in North India and Southeast Asia", John Strong, hal.60, disampaikan bahwa Bhikkhu Sonaka lahir 45 tahun setelah Buddha parinirvana, Bhikkhu Siggava lahir 82 tahun setelah Buddha parininirvana.
  • Dalam "Mahavamsa: Great Chronicle of Ceylon", hal. XL1X, disampaikan bahwa: Sonaka menahbiskan Siggava (usia 18 tahun, menjadi samanera/calon bikkhu). Siggava (tahun ke-64 masa vassa/masa kebhikkhuan) menahbiskan Moggaliputta Tisa (menjadi bhikku). Moggaputta Tissa wafat pada tahun ke-80 masa vassa atau tahun ke 26 Asoka menjadi Raja. Ini menunjukan bahwa Upagupta - Asoka sangat tipis pernah bertemu dan menjelaskan mengapa sumber sanskrit membisu tentang konsili ke-3 yang dihubungkan dengan Upagupta.
  • Benang merah kedua sumber ini memberikan kesimpulan bahwa Upagupta bukan Moggalatissa Putta; Bhikkhu Upagupta hidup di jaman raja Kalasoka (konsili ke-2) dan bukan di konsili ke-3; Bhikkhu Moggalatissa Putta berada di jaman Asoka, menjadi pemimpin konsili ke-3 yang diselenggarakan di Pataliputta, tahun ke-17 pemerintahan Asoka, atau lebih kurang 236 tahun setelah Buddha Parinibanna.
Kejadian tentang konsili ke-3 adalah sebagai berikut:
Asoka di suatu ketika sangat mengagumi Buddhism sehingga Ia memberikan dukungan besar berupa makanan, pakaian, tempat tinggal dan obat-obatan kepada para bhikkhu.

Sejumlah besar orang mengambil keuntungan dari kemurahan hati raja, sehingga mereka yang tidak berkeyakinan, serakah dan menganut pandangan salah, bergabung dengan sangha untuk tujuan mereka sendiri. Mereka memakai jubah namun tidak ditahbiskan secara benar, menyampaikan doktrin-doktrin yang menyebabkan kebingungan dan juga tidak mematuhi Vinaya/aturan kebikkhuan.

Para biksu yang menjalankan vinaya tidak mau melakukan pemurnian diri (uposatha dan pavarana) bersama dengan para biksu pencuri/penggelap dan pelanggar vinaya

[mereka ini Bhikkhu palsu jadi tidak mungkin secara bersama beruposatha:
They­yasaṃ­vāsako, bhikkhave, anupasampanno na upasam­pā­detabbo, upasampanno nāsetabboti. ­Titthi­ya­pakkan­tako, bhikkhave, anupasampanno na upasam­pā­detabbo, upasampanno nāsetabbo (Para bhikkhu, Orang yang berada dipersekutuan dengan cara gelap tidak dengan penahbisan, tidak boleh ditahbiskan; jika ditahbiskan, ia harus dikeluarkan. Seorang yang pindah ke lain sekte tidak ditahbiskan, tidak boleh ditahbiskan; jika ditahbiskan, ia harus dikeluarkan) (Syarat Upasampada (tahbiskan): Mahavagga, They­yasaṃ­vāsa­ka­vatthu)
mereka yang tanpa upajayya, grup sebagai upajaya, sangha sebagai upajaya, Theyyasamvasako sebagai upajaya dan Tittiyapkkhantako sebagai upajaya tidak boleh ditahbiskan, yang menahbiskan mereka melakukan pelanggaran perbuatan salah/dukkhata (Syarat Upasampada (tahbiskan): Mahavagga, Anu­paj­jhā­ya­kā­divat­thu)
Pacittiya no. 68/69: Tidak melakukan Uposatha Sanghakamma bersama: penggelap (theyya) atau mereka yang menyampaikan kotbah bertentangan dengan Dhamma Sang Buddha dan walaupun bhikkhu lain melarangnya berbuat demikian tetapi ia tetap tidak memperdulikannya]

Tidak dilakukannya UPOSATHA dan PAVARANA (secara bersama oleh dua kelompok ini) berlangsung terjadi 7 tahun lamanya.

[Ini artinya uposatha hanya dijalankan oleh kelompok bhikkhu yang bukan pelanggar. Mengapa? karena saat uposatha, masing-masing bhikkhu membacakan patimokha dan vinaya, apa yang mereka langgar dan dilanjutkan memohon tuntunan/tindakan memurnikan diri jika itu dapat atau dikeluarkan jika berat]

Ketika Raja Asoka mengetahui ini (tidak dijalankannya uposatha),
beliau memerintahkan menterinya untuk menuju kepada para bhikkhu agar mereka melaksanakan pemurnian diri. Para Bhikkhu yang ditemui sang menteri tetap menolak melakukan pemurnian diri bersama para bhikkhu palsu (pelanggar vinaya).

Perintah raja Asoka kepada sang Mentri disampaikan tanpa memberikan rincian khusus tentang metoda apa yang digunakan kepada 2 kelompok bhikkhu agar mereka semua mau beruposatha secara bersama-sama.

[Perlu diketahui bahwa raja adalah umat awam, bhikkhu hanya tunduk pada aturan kebhikkhuan yang ditetapkan Sang Buddha dan bukan dengan aturan umat awam]

Untuk memaksa para bhikkhu,
Sang Menteri, kemudian menghunus pedangnya, menuju barisan para bhikkhu (yang menolak beruposatha dengan para bhikkhu pelanggar vinaya) memenggal kepala mereka satu demi satu hingga sampai pada giliran adik raja Asoka yang baru saja ditahbiskan yaitu Tissa. Menteri ini tidak berani meneruskan kekejamannya dan kemudian kembali kepada raja memberikan laporan.

Mendengarkan kejadian ini,
Asoka diliputi penyesalan dan terdapat hal mengganjal dalam benaknya yaitu apakah dirinya ikut bertanggung jawab atas kejahatan ini atau tidak

[Membunuh mereka yang berupaya menempuh kehidupan suci merupakan kamma buruk berat dalam Buddhism].

Untuk mengatasi ini,
Raja mengundang Moggaliputta Tissa yang tinggal menyendiri di gunung Ahoganga (area atas sungai gangga) namun undangan tersebut ditolaknya. Baru pada undangan yang ke-3x, Moggaliputta Tissa bersedia datang ke Pataliputra. Ia datang dengan menggunakan perahu dan tinggal di sana selama tujuh hari.

Kemudian ,
Raja mengundang para bhikkhu di Asokarama Pataliputta, dan Moggaliputta Tisa menguji pandangan para bhikkhu. Mereka yang berpandangan salah di keluarkan dari sangha.

[Pandangan mereka diuji berdasarkan kreteria Dhamma dan Vinaya. Pelanggaran aturan kebhikkhuan ditindak berdasarkan kreteria di vinaya itu sendiri: hukuman ringan sampai dengan berat, yaitu lepas jubah/dikeluarkan dari sangha].

Dikatakan 60.000 bikkhu berpandangan salah dikeluarkan dari persekutuan (sangha) dan setelahnya barulah dilakukan Uposatha.

Kemudian,
Moggaliputta Tisa memilih 1000 orang Bhikkhu untuk sebuah pertemuan yang berlangsung selama 9 bulan, di pertemuan ini Dhamma dan vinaya Sang Buddha diresitalkan kembali dan juga disusunlah vibhajjavada (ajaran analisis), point-point kontroversi atas doktrin dari berbagai sekte berserta sanggahannya (Kathavathu/Point-point Kontroversi) dalam 7 kitab yang kemudian dinamakan Abhidhamma. Sehingga sejak berakhirnya konsili ke-3, menjadi Ti-Pitaka (tiga keranjang) yaitu:
  • Vinaya Pitaka, kitab yang berisi aturan dan disiplin yang mengatur para Bhikkhu/Bhikkhuni dan Sangha
  • Sutta Pitaka, yang berisi pembabaran Dhamma yang disampaikan oleh Sang Buddha, dan Murid-muridnya
  • Abhidhamma Pitaka, kitab yang mengupas 4 hal utama yaitu tentang: Citta (kesadaran/pikiran, Cetasika (faktor-faktor mental/batin, Rupa (materi) dan Nibanna (pemadaman)
Apakah Kitab Abhidhamma merupakan Sabda dari Sang Buddha?

Beberapa abad ini (dan ke depan) masih berlangsung perdebatan panjang mengenai hal tersebut. Mereka yang Pro bahwa "Abhidhamma merupakan sabda sang Buddha", memberikan bukti-bukti tentang tercantumnya kata "abhidhamma" dalam Dhamma dan vinaya, misalnya:
  1. Vinaya Pitaka, Mahâvibhanga, Dabbamalaputta Thera-vatthu, "...YE TE BHIKKHÛ ABHIDHAMMIKÂ TESAM EKAJJHAM SENÂSANAM PAÑÑÂPETI TE AÑÑAMAÑÑAM ABHIDHAMMAM SÂKACCHISANTÎTI..."
  2. Vinaya Pitaka, Bhikkhuni Vibhanga, "…PAÑHAM PUCCHEYYÂTI SUTTANTE OKÂSAM KÂRÂPETVÂ VINAYAM VÂ ABHIDHAMMAM VÂ PUCCHATI ÂPATTI PÂCITTIYASSA, VINAYE OKÂSAM KÂRÂPETVA SUTTANTAM VÂ ABHIDHAMMAM VÂ PUCCHATI ÂPATTI PÂCITTIYASSA, ABHIDHAMME OKÂSAM KÂRÂPETVA SUTTANTAM VÂ VINAYAM VÂ PUCCHATI ÂPATTI PÂCITTIYASSA..."
  3. Sutta Pitaka, Anguttara Nikâya, "…TENA KHO PANA SAMAYENA SAMBAHULA THERÂ BHIKKHÛ PACCHÂBHATTAM PIÕÖAPÂTAPAÉIKKANTA MAÕÖALAMÂLE SANNISINNA SANNIPATITA ABHIDHAMMAM KATHENTI..."
  4. Sutta Pitaka, Khuddaka Nikâya, Theri-apadâna, "KUSALÂHAM VISUDDHÎSU KATHÂVATTHUVISÂRADÂ ABHIDHAMMANAYAÑÛÑCA VASI PATTÂMHI SÂSANE"

  5. Kutipan tersebut di atas, berasal juga dari athasalini, sebuah kitab komentar karya Buddhaghosa (abad ke-5 Masehi), BUKU ke-1 ABHIDHAMMA, yaitu dhammasangani. [Detail lengkapnya lihat di sini atau di sini]
Bantahan dari kelompok yang kontra bahwa "Abhidhamma BUKAN merupakan sabda sang Buddha" dapat dilihat dari hasil penelitian kanon pali yang dilakukan seorang wanita ahli bahasa Pali, I.B Horner. Ia menemukan bahwa kata "ABHIDHAMMA" muncul tidak lebih dari 10x, [3x ada di vinaya pitaka) dan frase tersebut dimaksudkan dalam konteks materi dan cara BUKAN dalam konteks kumpulan kitab, Misalnya di vinaya terdapat kata sutta, gatha (syair) dan abhidhamma sekaligus:
    "[Berkenaan dengan bhikkhu yang melakukan pelanggaran karena meremehkan pembelajaran vinaya] adalah bukan pelanggaran jika, tidak bermaksud untuk merendahkan, dia berkata, "dengar, apakah Anda mahir sutta, syair (Gatha) atau dhamma yg dalam [abhidhamma] dan setelah itu menguasai disiplin [vinaya, Vol. III p.42]".
Keberadaan kata syair (gatha) di situ, merupakan bukti yang lebih dari cukup untuk menunjukan bahwa kata "abhidhamma" BUKANLAH bagian yang terpisah sendiri, karena "gatha" tidak berarti gatha Pitaka maka "abhidhamma" tidaklah berarti Abhidhamma Pitaka.

Dalam beberapa sutta pitaka, terlihat beberapa diskusi logika analisis, misal di Mahaghosinga sutta [YM Moggalana dan YM Sariputta] juga dalam Mahavedalla sutta [YM Kotthita dan YM Sariputta] mendiskusikan tentang Dhamma yang lebih dalam [Abhidhamma]. Pembicaraan Dhamma yang dalam ini adalah bagian dari Dhamma itu sendiri. YM Sariputta, ‘Yang terunggul dalam Intuisi kebijaksanaan", menyatakan:

‘Yang Mulia, 2 minggu setelah saya di tahbiskan, saya memahami analisa: [atthapaṭisambhidā (pengertian secara luas dan mendalam); dhammapaṭisambhidā (hubungan kondisi dan sebab); niruttipaṭisambhidā (Tata bahasa asal usul interpretasi pengucapan dialek dan ekspresi); paṭibhānapaṭisambhidā (Penerangan, intelektual dan kefasihan penyampaian)] dan dengan rincian ciri dan kekhasannya (sacchikatā odhiso byañjanaso) Itu saya nyatakan, terangkan, perlihatkan dan tunjukan dalam dalam berbagai cara (AN 4.173/Vibhatti sutta atau di "Gradual Sayings", II, 159, Tr FL Woodward).

Berdasarkan alasan di atas dapat dinyatakan bahwa penempatan kata "abhi" di depan kata "dhamma" dimaksudkan BUKAN dalam konteks Abhidhamma pitaka. [Detail lanjutan baca: "Abhidhamma Abhivinaya in the first two of the Pāli Canon", I.B. Horner, The Indian Historical Quarterly, Vol.17:3, Sep.1941 dan "What did the Buddha mean by the word 'abhidhamma'?", Bhikkhu Varado]

Hasil lain dari sidang ke-3 ini adalah Raja Asoka kemudian mengirimkan 9 Misionaris ke 9 negara berbeda untuk menyebarkan ajaran Buddha.

Sekilas mengenai Petavathu dan vimanavathu yang merupakan bagian dari khuddaka nikaya. Beberapa Ahli pali menyatakan bahwa mereka masuk dalam tipitaka disetelah abad 3 SM. Misalnya 2(dua) sample di petavathu (bagian akhir dari Petavathu):
    Rājā piṅgalako nāma,
    Suraṭṭhānaṃ adhipati ahu;
    Moriyānaṃ upaṭṭhānaṃ gantvā,
    Suraṭṭhaṃ punarāgamā. [Petavathu 4.3.1]
Perhatikan kata Raja pingalako di atas.

T. W. Rhys (Thomas William Rhys) Davids dalam "Dialogues of the Buddha" di bagian pembuka mengatakan: "[..]tentang raja Pingalaka. DHAMMAPALA (abad ke-6 Masehi), dalam komentarnya, menyampakan..raja ini..hidup dua ratus tahun setelah Sang Buddha. Oleh karena itu, syair ini, dan juga cerita PETA VATTHU dan juga VIMANA VATTHU, selambat-lambatnya baru ada setelah tanggal Pingalaka. Dan tak ada alasan untuk percaya bahwa tanggal komentator, meskipun jelas hanya angka bulat, sangat jauh salah. Buku-buku ini jelas, dari isinya, komposisi adalah sangat terbaru di semua Lima Nikaya. Kemudian, di hal 30-31, Mr Rhys sampaikan bahwa raja itu baru ada di 300 Sebelum Masehi.
    “Ahaṃ bhadante petomhi,
    duggato yamalokiko;
    Pāpakammaṃ karitvāna,
    petalokaṃ ito gato”. [Petavatthu 4.8]
Perhatikan alam yama yang disebut sebagai alam menderita di atas. Sang Buddha, menyampaikan itu justru dalam bentuk perumpamaan untuk menggambarkan apa yang melanda mereka yang di alam Neraka, yaitu pada 2 sutta: MN.129/Balapandita-sutta [syair no.2 s.d no. 7, kemudian 3 perumpamaan di syair no.8 s/d no.17) dan MN 130/Devaduta-sutta [syair no.8 s/d no. 10 dan syair no.10 s/d no.27]

Tampak jelas bahwa bagian belakang di Petavatthu merupakan tambahan belakangan.

Konsili ke-4,
Sekitar 450 (Empat ratus lima puluh tahun) setelah Buddha parinibbana, yaitu di jaman pemerintahan Raja Vattagamini pada 89 SM (Versi Theravada), 500 sesepuh dalam satu pertemuan yang dipimpin oleh YM Rakkhita Mahathera yang ketika itu mempunyai pemikiran bahwa "Di masa depan, makhluk yang kurang kesadaran, kebijaksanaan dan konsentrasi, belum tentu mampu mengingat (teks-teks kanonik)secara lisan", Sehingga tiga Pitaka bersama dengan kitab komentar di tuliskan di atas daun Palem (semacam lontar). Lokasi pertemuan dilakukan di Vihara gua Aloka gua atau Aluvihara, di Matale, pulau Tambapanni, Srilangka.

Ajaran-ajaran dan khotbah-khotbah ini, sesuai dengan tradisi yang telah berlangsung ratusan ribu tahun di India, kemudian dihafalkan di luar kepala dan diajarkan lagi kepada orang lain dari mulut ke mulut.
Bukti valid terpeliharannya ajaran ini terekam pada catatan Guiness Book of record tahun 1985 atas nama Sayadaw Mingun, seorang Bikkhu dari Desa Mingun Myanmar (Burma) mengalunkan 16,000 halaman kanon teks Buddhist canonical di Rangoon, Burma pada Bulan May 1954. Ia di test secara oral dan tertulis dan hasilnya dibandingan dengan Tipitaka adalah tanpa salah satu huruf-pun! Ia dianugerahi gelar Tipitakadhara Dhammabhandagarika (Pembaca TiPitaka dan penjaga Dhamma). Tercatat 11 Bikkhu saat itu yang mampu melakukan seperti Y.M Mingun Sayadaw.

Sidang Agung ke-5 [tahun 1871 Masehi] dan ke-6 [tahun 1954 Masehi] tidak saya masukan karena sudah tidak relevan lagi. Alasan utamanya adalah karena Sang Buddha sendiri telah menyatakan bahwa Dhamma sejati [SadDhamma] hanya akan bertahan hingga 500 tahun saja [setelah berdirinya sangha Bhikkhuni]

[Kembali (↑)]
---------------

Bagaimana PROSES LENYAPNYA DHAMMA SEJATI?

Ajaran Buddha menyatakan bahwa segala sesuatu yang berkondisi adalah tidak kekal dan tidak memuaskan dan itu berlaku pada segala hal baik itu Alam, Mahluk dan Ajaran sehingga semua hal tersebut hanya merupakan fenomena ato perubahan yang tidak berinti/berlandaskan.

Untuk itu, simak pertanyaan menarik dari YM Maha Kassapa kepada Sang Buddha,
    "Apa alasan dan bergantung pada kondisi apa ketika sebelumnya sedikit aturan, banyak bhikkhu yang memperoleh pencerahan namun sekarang2 ini, lebih banyak aturan yg ditetapkan namun lebih sedikit bhikkhu yang mencapai pencerahan sempurna?"

    Sang Buddha menjawab bahwa ketika mahluk-mahluk merosot [sattesu hayamanesu], Dhamma sejati juga akan memudar, aturan ditetapkan semakin banyak, semakin sedikit bhikkhu yang mencapai pencerahan namun itu tidak membuat Dhamma sejati lenyap hingga kemudian dhamma tiruan bermunculan di dunia. Ketika Dhamma tiruan bermunculan di dunia maka dhamma sejati akan lenyap.

    Bagaikan, Kassapa, emas tidak akan lenyap selama tiruan emas tidak muncul di dunia ini, tetapi ketika tiruan emas muncul maka emas sejati lenyap, demikian pula, Dhamma sejati tidak akan lenyap selama tiruan dari Dhamma sejati tidak muncul. Tetapi ketika tiruan Dhamma sejati muncul di dunia ini, maka Dhamma sejati lenyap.

    Bukan karena unsur tanah, Kassapa, yang menyebabkan Dhamma sejati lenyap, juga bukan unsur air, juga bukan unsur panas, juga bukan unsur angin. Adalah orang yang kosong melompong spiritualitasnya (mogha purisa) yang bermunculan di sini yang menyebabkan Dhamma sejati melenyap.

    Dhamma sejati tidak lenyap seketika bagaikan kapal tenggelam. Terdapat 5 faktor yang menyebabkan menurunnya Dhamma sejati, yaitu Bhikkhu, Bhikkhuni dan umat awam bersikap tidak hormat dan melawan pada: Guru, dhamma, sangha, pelatihan dan meditasi [SN 16.13/Saddhamma Patirūpaka Sutta]
Di menjelang Parinibannanya,
bertempat di RajaGaha, Sang Buddha menyampaikan 7 faktor kemajuan bukan kemunduran (Aparihāniyā dhammā), yaitu selama para Bhikkhu:
  1. sering mengadakan pertemuan-pertemuan rutin,
  2. bertemu dalam damai, berpisah dalam damai, dan melakukan tugas-tugas mereka dalam damai,
  3. tidak menetapkan apa yang belum ditetapkan sebelumnya, dan tidak meniadakan apa yang telah ditetapkan, melainkan meneruskan apa yang telah ditetapkan,
  4. menghormati para senior yang lebih dulu ditahbiskan, ayah dan pemimpin dari Sangha,
  5. tidak menjadi mangsa dari keinginan yang muncul dalam diri mereka dan mengarah menuju kelahiran kembali,
  6. setia menjalani kehidupan dalam kesunyian hutan dan
  7. menjaga perhatian mereka masing-masing
Kemudian, ketika berada di Bhojanegara, Sang Buddha menyampaikan kreteria/standar (Maha Padesa) untuk menilai klaim suatu Dhamma dan dibandingkan dengan Dhamma sejati:
  1. Buddha. Seandainya seorang bhikkhu mengatakan: “Teman-teman, aku mendengar dan menerima ini dari mulut Sang Bhagavā sendiri: inilah Dhamma, inilah disiplin, inilah Ajaran Sang Guru,” maka, para bhikkhu, kalian tidak boleh menerima atau menolak kata-katanya. Kemudian, tanpa menerima atau menolak, kata-kata dan ungkapannya harus dengan teliti dicatat dan di bandingkan dengan Sutta-sutta dan dipelajari, Jika kata-katanya, dibandingkan terbukti tidak selaras dengan Sutta atau disiplin, maka kesimpulannya adalah: “Pasti ini bukan kata-kata Sang Buddha, hal ini telah keliru dipahami oleh bhikkhu ini,” dan kata-katanya itu harus ditolak. Tetapi jika saat dibandingkan dan dipelajari, terbukti selaras dengan Sutta atau disiplin, berarti kesimpulannya adalah: “Pasti ini adalah kata-kata Sang Buddha, hal ini telah dengan benar dipahami oleh bhikkhu ini.” Ini adalah kriteria pertama.
  2. Sangha. Seandainya seorang bhikkhu mengatakan: “Di tempat-tempat ini terdapat komunitas para bhikkhu dengan bhikkhu-bhikhu senior dan guru-guru terkemuka. Aku telah mendengar dan menerima ini dari komunitas tersebut,” maka, para bhikkhu, kalian tidak boleh menerima atau menolak kata-katanya ... (seperti di atas) Ini adalah kriteria ke dua.’
  3. Para Bhikkhu Senior. Seandainya seorang bhikkhu mengatakan: “Di tempat-tempat ini terdapat banyak bhikkhu senior yang terpelajar, pewaris tradisi, yang mengetahui Dhamma, disiplin, peraturan-peraturan ...” (seperti di atas). Ini adalah kriteria ke tiga.’
  4. Seorang Bhikkhu Senior. Seandainya seorang bhikkhu mengatakan: “Di tempat-tempat ini terdapat seorang bhikkhu senior yang terpelajar ... aku telah mendengar dan menerima ini dari bhikkhu senior tersebut ...” (seperti di atas). Ini adalah kriteria ke empat.'[MahaParinibanna sutta(DN 16) dan Maha Padesa Sutta]
Kemudian, di 3 (tiga) bulan setelah wafatnya beliau, 84.000 pokok Dhamma ajaran beliau di ulang kembali oleh 500 Arahat yang dipimpin oleh Maha Kassapa.

Itulah yang kemudian dikenal sebagai Dhamma dan Vinaya sebagai kelengkapan dari Dhamma sejati agar kehidupan kesucian ke-1 s.d ke-4 (arahat) menjadi memungkinkan hingga akhir 500 tahun dari setelah terbentuknya sangha Bhikkhuni.

Demikianlah upaya yang TELAH dilakukan agar Dhamma sejati berusia hingga 500 tahun lamanya [12]

Rupanya,
Komunitas buddhis di awal milenium pertama abad ini tersadar bahwa kisaran waktu 500 tahun sudah terlewatkan maka marak bermunculan tradisi-tradisi baru untuk memperpanjang sendiri batasan umur Dhamma sejati tersebut:
  1. Di peride SETELAH 500 tahun Parinibanyanya Sang Buddha ["paścimāyāṁ pańacaśatyām", Sūtra Intan, dan Sūtra Teratai]
  2. 700 tahun [Sūtra Mahāparinirvāṇa dan Sūtra 7 mimpi Ananda (Taisho 49, no. 2034, p. 116, c4)]
  3. 1000 tahun [Bhadrakalpika Sūtra dan komentar dari Prajńāpāramitā Sūtra, dibagi per 500 tahun]
  4. 1500 tahun [Candragarbha Sūtra, Mahāsaṃnipata Sūtra, Karunapundarīka Sutra, Mahāmāyā Sūtra]
  5. Setelah 2500 tahun yang dibagi per 500 tahun. [Mahāsaṃnipata Sūtra, dalam Abhidharma Mahāvibhāṣa Śāstra: dibagi per 500 tahun setelah parinibanna Sang Buddha terakhir 3500 tahun.]
  6. 5000 tahun [dengan tabel waktu dalam: Komentar Buddhagosa pada Aṅguttara Nikāya, juga di Maitreya Sūtra(sumber tibet)]
  7. 5104 tahun [Kalacakra tantra, tibetan]
  8. ≥ 10.000 tahun [translasi dari Samantapasadika ch. 18 merubah dari 5000 menjadi 10.000 dengan perincian 1000 tahun Saddharma, 5000 tahun mirip dhamma dan terus hingga batas 10.000 tahun juga di Ju She Lun Bao, ch.29 Shu ; juga ada yg menyatakan 11.500 tahun (Taisho no.1933, 46.786c4-6); kemudian 12000 tahun (Taisho T42, no. 1824,.p. 18, b2-5, T47, no. 1960, p. 48, c7-8 dan T35, no. 1709,p. 520, c10)], dll
  9. Kitab komentar Aliran Theravada abad ke-5 M, melakukan penciptaan sendiri perpanjangan batasan hingga 5000 tahun dengan urutan kelenyapannya: (1) Pencapaian Tingkat Kesucian; (2) Pelaksanaan-Benar (Jhana, pandangan terang, Jalan dan Buah (Magga dan Phala), empat kemurnian perilaku (Catuparisuddhi Sīla: Sila kebhikkhuan, indera, penghidupan dan yang berhubungan dengan empat kebutuhan pokok). Kemudian perlahan hanya menjaga diri dari 4 Parajika/pelanggaran berat, hingga Bhikkhu terakhir wafat dan lenyaplah pelaksanaan benar); (3) Ajaran (dengan urutan: Abhidhamma (dengan urutan: Patthana, Yamaka, Katha-vatthu, Pugala-pannatti, Dhatu-katha, dst), Sutta Pitaka (dengan urutan: AN, SN, MN, DN), Jataka (dengan urutan: Vessantara Jataka, Apannaka Jataka, dst), Vinaya Pitaka dan terakhir lenyap: 4 syair Dhammapada no.183); Simbol/Bentuk Luar (Berjubah, berjubah sepotong, berjubah dan menunjang anak Istri, tidak jubah dan berburu binatang) dan (5) Relik (mulai tahun ke-5000, sampai tidak menghormati relik sang Buddha, tidak ada penghormatan dan pemujaan terhadap relik)
Semakin lengkaplah terjadi! dengan kemunculan Dhamma tiruan [baik dari kalangan dalam maupun luar ajaran Buddha sendiri][18c].


[Kembali (↑)]
---------------

Hari Raya Keagamaan

Hari Waisak:
  1. Lahirnya Pangeran Siddharta di Taman Lumbini
  2. Pangeran Siddharta mencapai Penerangan Agung dan menjadi Buddha di Buddha-Gaya pada usia 35 tahun
  3. Buddha Gautama mangkat di Kusinara pada usia 80 tahun
Berikut di bawah ini adalah kilasan peristiwa betapa KERAS dan MENGHARUKANNYA perjuangan beliau selagi menjadi BODHISATTA, yaitu di periode umur 29 tahun + 6 tahun berikutnya SEBELUM beliau akhirnya mencapai PENERANGAN SEMPUNA, sebagaimana terekam dalam MN 12/MAHASIHANADA SUTTA:
    [..]“Sāriputta, Aku ingat telah menjalani kehidupan suci yang memiliki empat faktor. Aku telah:
    • mempraktikkan pertapaan – pertapaan sangat keras;

    • “Beginilah pertapaanKu, Sāriputta, bahwa Aku bepergian dengan telanjang, menolak kebiasaan-kebiasaan, menjilat tanganKu, tidak datang ketika dipanggil, tidak berhenti ketika diminta; Aku tidak menerima makanan yang dibawa atau makanan yang secara khusus dipersiapkan atau suatu undangan makan; Aku tidak menerima dari kendi, dari mangkuk, melintasi ambang pintu, terhalang tongkat kayu, terhalang alat penumbuk, dari dua orang yang sedang makan bersama, dari perempuan hamil, dari perempuan yang sedang menyusui, dari perempuan yang sedang berbaring bersama laki-laki, dari mana terdapat pengumuman pembagian makanan, dari mana seekor anjing sedang menunggu, dari mana lalat beterbangan; Aku tidak menerima ikan atau daging, Aku tidak meminum minuman keras, anggur, atau minuman fermentasi. Aku mendatangi satu rumah, satu suap; aku mendatangi dua rumah, dua suap; … Aku mendatangi tujuh rumah, tujuh suap. Aku makan satu mangkuk sehari, dua mangkuk sehari … tujuh mangkuk sehari; Aku makan sekali dalam sehari, sekali dalam dua hari … sekali dalam tujuh hari, dan seterusnya hingga sekali setiap dua minggu; aku berdiam menjalani praktik makan pada interval waktu yang telah ditentukan. Aku adalah pemakan sayur-sayuran dan padi-padian atau beras kasar atau kulit kupasan buah atau lumut atau kulit padi atau sekam atau tepung wijen atau rumput atau kotoran sapi. Aku hidup dari akar-akaran dan buah-buahan di hutan; Aku memakan buah-buahan yang jatuh. Aku mengenakan pakaian terbuat dari rami, dari rami dan kain, dari kain pembungkus mayat, dari selimut yang dibuang, dari kulit pohon, dari kulit rusa, dari cabikan kulit rusa, dari kain rumput kusa, dari kain kulit kayu, dari kain serutan kayu, dari kain rambut, dari kain bulu binatang, dari bulu sayap burung hantu. Aku adalah seorang yang mencabut rambut dan janggut, menjalani praktik mencabut rambut dan janggut. Aku adalah seorang yang berdiri terus-menerus, menolak tempat duduk. Aku adalah seorang yang berjongkok terus-menerus, senantiasa mempertahankan posisi jongkok. Aku adalah seorang yang menggunakan alas tidur paku; Aku menjadikan alas tidur paku sebagai tempat tidurKu. Aku berdiam dengan menjalani praktik mandi tiga kali sehari termasuk malam hari. Demikianlah dalam berbagai cara Aku berdiam dengan menjalani praktik menyiksa dan menghukum diri. Demikianlah pertapaanKu.

    • mempraktikkan kekasaran – sangat kasar;

    • “Beginilah kekasaranKu, Sāriputta, bagaikan batang pohon Tindukā, yang terkumpul selama bertahun-tahun, menempel dan mengelupas, demikian pula, debu dan daki, yang terkumpul selama bertahun-tahun, menempel di tubuhKu dan mengelupas. Tidak pernah terpikir olehKu: ‘Oh, Aku akan menggosok debu dan daki ini dengan tanganKu, atau membiarkan orang lain menggosok debu dan daki ini dengan tangannya’ – tidak pernah terpikirkan olehKu demikian. Demikianlah kekasaranKu.

    • mempraktikkan kehati-hatian – sangat hati-hati;

    • “Beginilah kehati-hatianKu, Sāriputta, bahwa Aku senantiasa penuh perhatian dalam melangkah maju dan melangkah mundur. Aku selalu berbelas kasihan bahkan pada [makhluk-makhluk] dalam setetes air sebagai berikut: ‘Semoga Aku tidak menyakiti makhluk-makhluk kecil dalam celah tanah ini.’ Demikianlah kehati-hatianKu.

    • mempraktikkan keterasingan – sangat terasing.

    • “Beginilah keterasinganKu, Sāriputta, bahwa Aku akan memasuki hutan dan berdiam di sana. Dan ketika Aku melihat seorang penggembala sapi atau seorang penggembala domba atau seseorang yang sedang mengumpulkan rumput atau kayu, atau seorang pekerja hutan, Aku akan pergi dari hutan ke hutan, dari belantara ke belantara, dari lembah ke lembah, dari bukit ke bukit. Mengapakah? Agar mereka tidak melihatKu atau agar Aku tidak melihat mereka. Bagaikan seekor rusa yang lahir di dalam hutan, ketika melihat manusia, akan lari dari hutan ke hutan, dari belantara ke belantara, dari lembah ke lembah, dari bukit ke bukit, demikian pula, ketika Aku melihat seorang penggembala sapi atau seorang penggembala domba … Demikianlah keterasinganKu.

    “Aku akan bepergian dengan keempat tangan dan kakiKu menuju kandang sapi ketika sapi-sapi telah pergi dan si penggembala meninggalkannya, dan Aku akan memakan kotoran sapi-sapi muda. Selama kotoran dan air kencingKu masih ada, Aku akan memakan kotoran dan air kencingKu sendiri. Demikianlah praktik kerasKu dalam hal memakan kotoran.

    “Aku akan pergi ke hutan-hutan yang menakutkan dan berdiam di sana – hutan yang begitu menakutkan sehingga umumnya akan membuat seseorang merinding jika ia tidak terbebas dari nafsu. Pada malam-malam musim dingin selama ‘delapan hari interval beku,’ Aku akan berdiam di ruang terbuka dan siang harinya di dalam hutan. Dalam bulan terakhir musim panas Aku akan berdiam di ruang terbuka pada siang hari dan di dalam hutan pada malam hari. Dan di sana secara spontan muncul dalam diriKu syair ini yang belum pernah terdengar sebelumnya:

    ‘Kedinginan di malam hari dan terpanggang di siang hari,
    Sendirian di dalam hutan yang menakutkan,
    Telanjang, tidak ada api untuk duduk di dekatnya,
    Namun Sang Petapa tetap melanjutkan pencariannya.’

    “Aku membuat tempat tidur di tanah pekuburan dengan tulang-belulang orang mati sebagai bantal. Dan anak-anak penggembala datang dan meludahiKu, mengencingiKu, melemparkan tanah kepadaKu, dan menusukkan kayu ke dalam telingaKu. Namun Aku tidak ingat bahwa Aku pernah membangkitkan pikiran jahat [kebencian] terhadap mereka. Demikianlah kediamanKu dalam keseimbangan.

    “Sāriputta, ada petapa dan brahmana tertentu yang doktrin dan pandangannya seperti ini: ‘Pemurnian muncul melalui makanan.’ Mereka mengatakan: ‘Ayo kita hidup dari memakan buah kola,’ dan mereka memakan buah kola, mereka memakan tepung kola, mereka meminum air buah kola, dan mereka membuat berbagai jenis ramuan buah kola. Sekarang Aku ingat pernah memakan satu buah kola sehari. Sāriputta, engkau mungkin berpikir bahwa buah kola pada masa itu lebih besar, namun engkau tidak boleh menganggapnya demikian; buah kola pada masa itu berukuran sama seperti sekarang. Karena memakan satu buah kola sehari, tubuhKu menjadi sangat kurus. Karena makan begitu sedikit anggota-anggota tubuhku menjadi seperti tanaman merambat atau batang bambu. Karena makan begitu sedikit punggungku menjadi seperti kuku unta. Karena makan begitu sedikit tonjolan tulang punggungku menonjol bagaikan untaian tasbih. Karena makan begitu sedikit tulang rusukKu menonjol karena kurus seperti kasau dari sebuah lumbung tanpa atap. Karena makan begitu sedikit bola mataKu masuk jauh ke dalam lubang mata, terlihat seperti kilauan air yang jauh di dalam sumur yang dalam. Karena makan begitu sedikit kulit kepalaKu mengerut dan layu bagaikan buah labu pahit yang mengerut dan layu oleh angin dan matahari. Karena makan begitu sedikit kulit perutku menempel pada tulang punggungKu; sedemikian sehingga jika Aku menyentuh kulit perutKu maka akan tersentuh tulang punggungKu, dan jika Aku menyentuh tulang punggungKu maka akan tersentuh kulit perutKu. Karena makan begitu sedikit, jika Aku mencoba menyamankan diriKu dengan memijat badanKu dengan tanganKu, maka bulunya, tercabut pada akarnya, berguguran dari badanKu ketika Aku menggosoknya.

    “Sāriputta, ada petapa dan brahmana tertentu yang doktrin dan pandangannya seperti ini: ‘Pemurnian muncul melalui makanan.’ Mereka mengatakan: ‘Ayo kita hidup dari memakan kacang,’ ... ‘Ayo kita hidup dari memakan wijen,’ ... ‘Ayo kita hidup dari memakan nasi,’ dan mereka memakan nasi, mereka memakan tepung beras, mereka meminum air beras, dan mereka membuat berbagai jenis ramuan beras. Sekarang Aku ingat pernah memakan satu butir nasi sehari. Sāriputta, engkau mungkin berpikir bahwa butiran beras pada masa itu lebih besar, namun engkau tidak boleh menganggapnya demikian; butiran beras pada masa itu berukuran sama seperti sekarang. Karena memakan satu butir nasi sehari, tubuhKu menjadi sangat kurus. Karena makan begitu sedikit ... maka bulunya, tercabut pada akarnya, berguguran dari badanKu ketika Aku menggosoknya.

    “Akan tetapi, Sāriputta, dengan melakukan demikian, dengan praktik demikian, dengan melakukan pertapaan keras demikian, Aku tidak mencapai kondisi yang melampaui manusia, keluhuran dalam pengetahuan dan penglihatan selayaknya para mulia. Mengapakah? Karena Aku belum mencapai kebijaksanaan mulia yang ketika tercapai maka menjadi mulia dan membebaskan dan menuntun seseorang yang mempraktikkannya menuju kehancuran total penderitaan.

    “Ada petapa dan brahmana tertentu yang doktrin dan pandangannya seperti ini: ‘Pemurnian muncul melalui lingkaran kelahiran kembali.’ Tetapi tidaklah mudah menemukan alam dalam lingkaran ini di mana Aku belum pernah melaluinya dalam perjalanan yang panjang ini, kecuali sebagai para dewa di Alam Murni; dan jika Aku terlahir kembali sebagai dewa di Alam Murni, maka Aku tidak akan kembali di dunia ini.

    “Ada petapa dan brahmana tertentu yang doktrin dan pandangannya seperti ini: ‘Pemurnian muncul melalui [beberapa jenis] kelahiran tertentu.’ Tetapi adalah tidak mungkin menemukan jenis kelahiran kembali yang mana Aku belum pernah terlahirkan kembali dalam perjalanan yang panjang ini, kecuali sebagai para dewa di Alam Murni ...

    “Ada petapa dan brahmana tertentu yang doktrin dan pandangannya seperti ini: ‘Pemurnian muncul melalui [beberapa jenis] alam kehidupan tertentu.’ Tetapi adalah tidak mungkin menemukan jenis alam di mana Aku belum pernah berdiam di dalamnya ... kecuali sebagai para dewa di alam murni ...

    “Ada petapa dan brahmana tertentu yang doktrin dan pandangannya seperti ini: ‘Pemurnian muncul melalui pengorbanan.’ Tetapi adalah tidak mungkin menemukan jenis pengorbanan yang belum pernah Kupersembahkan dalam perjalanan yang panjang ini, ketika aku menjadi seorang raja mulia atau seorang brahmana yang makmur.

    “Ada petapa dan brahmana tertentu yang doktrin dan pandangannya seperti ini: ‘Pemurnian muncul melalui pemujaan api.’ Tetapi adalah tidak mungkin menemukan jenis api yang belum pernah Kusembah dalam perjalanan yang panjang ini, ketika aku menjadi seorang raja mulia atau seorang brahmana yang makmur.

    “Sāriputta, ada petapa dan brahmana tertentu yang doktrin dan pandangannya seperti ini: ‘Selama orang baik ini masih muda, seorang pemuda berambut hitam dengan berkah kemudaannya, dalam tahap utama kehidupannya, maka selama itu ia sempurna dalam kebijaksanaan cerahnya. Tetapi ketika orang baik ini tua, berusia lanjut, terbebani tahun demi tahun, jompo, dan sampai pada tahap akhir, berumur delapan puluh, Sembilan puluh, atau seratus tahun, maka kecemerlangan kebijaksanaannya hilang.’

    Tetapi jangan beranggapan demikian.

    Aku sekarang sudah tua, berusia lanjut, terbebani tahun demi tahun, jompo, dan sampai pada tahap akhir: umurku sudah delapan puluh tahun. Misalkan Aku memiliki empat siswa dengan umur kehidupan seratus tahun, sempurna dalam perhatian, daya ingat, ingatan, dan kebijaksanaan cemerlang. Bagaikan seorang pemanah terampil, terpelajar, terlatih, dan teruji, mampu dengan mudah menembakkan anak panah menembus bayangan sebatang pohon palem, misalkan mereka sempurna dalam perhatian, memiliki daya ingat yang kuat, dan kebijaksanaan cemerlang. Misalkan mereka terus-menerus menanyakan kepadaKu tentang Empat Landasan Perhatian dan Aku menjawab mereka ketika ditanya dan bahwa mereka mengingat semua jawabanKu dan tidak pernah mengajukan pertanyaan lanjutan atau berhenti bertanya kecuali untuk makan, minum, mengunyah, mengecap, buang air, dan beristirahat untuk menghilangkan kantuk dan keletihan.

    Namun selagi pembabaran Dhamma oleh Sang Tathāgata, penjelasanNya tentang faktor-faktor Dhamma, dan jawabanNya atas pertanyaan-pertanyaan itu masih belum berakhir, tetapi sementara itu keempat siswaKu yang memiliki umur kehidupan seratus tahun akan meninggal dunia di akhir seratus tahun itu. Sāriputta, bahkan jika engkau harus membawaku pergi ke mana-mana di atas tempat tidur, namun tidak akan ada perubahan dalam kecerahan kebijaksanaan Sang Tathāgata.

    “Berbicara benar, jika dikatakan tentang seseorang: ‘Suatu makhluk yang tidak tunduk pada kebodohan telah muncul di dunia ini demi kesejahteraan dan kebahagiaan banyak makhluk, dan demi kebahagiaan para dewa dan manusia,’ Adalah padaKu ucapan benar itu seharusnya ditujukan.

    Pada saat itu Yang Mulia Nāgasamāla sedang berdiri di belakang Sang Bhagavā mengipasi Beliau. Kemudian ia berkata kepada Sang Bhagavā: “Sungguh mengagumkan, Yang Mulia, sungguh menakjubkan! Sewaktu aku mendengarkan khotbah Dhamma ini, bulu badanku berdiri. Yang Mulia, apakah nama dari khotbah Dhamma ini?”

    “Sehubungan dengan hal ini, engkau boleh mengingat khotbah Dhamma ini sebagai: ‘Khotbah yang menegakkan bulu badan.’”

Hari Asadha:
Dirayakan 2 (dua) bulan setelah Waisak, juga waktu terang bulan (purnama sidhi) di bulan Juli ; untuk memperingati Khotbah pertama di taman rusa Isipatana (dekat Benares) di hadapan 5 (lima) orang pertapa (Kondañña, Bodhiya, Vappa, Mahanama, Assaji). Khotbah pertama ini dikenal sebagai Dhammacakkapavatana-Sutta (Khotbah berputarnya roda Dhamma).

Hari Kathina:
Dirayakan 3 (tiga) bulan setelah hari Asadha. Perayaan Kathina dapat dilakukan dalam waktu 1 (satu) bulan, tidak ada hari-hari yang tertentu. Upacara Kathina dimaksudkan untuk memberikan keperluan hidup sehari-hari kepada para bhikkhu yang telah melaksanakan vassa selama 3 (tiga) bulan di suatu tempat tertentu. Senioritas seorang bhikkhu dihitung dari jumlah vassa yang telah dilaksanakannya.

Magha-Puja:
Dirayakan di bulan Magha (Februari / Maret) pada waktu terang bulan; untuk memperingati peristiwa berkumpulnya 4 (empat) faktor (caturrangga-sannipata) pada hari tersebut.:
  1. Purnama sidhi di bulan Magha.
  2. 1.250 orang bhikkhu arahat datang bersamaan, berkumpul di Rajagaha tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. 1250 itu terdiri dari: 1000 Bhikkhu, dipimpin Uruvela Kassapa bersaudara dan 250 bhikkhu yang menjadi pengikut Sariputta dan Moggalana ex pengikut Sanjaya.
  3. Semuanya Arahat dan memiliki 6 (enam) abhiññā
  4. Semuanya ditahbiskan dengan memakai ucapan 'Ehi-bhikkhu'.
Pada waktu itu Sang Buddha membacakan Ovada patimokkha [Ovada = Nasehat; Patimokkha= yang seharusnya dilakukan; aturan]. Ovada patimokkha juga disampaikan 91 Kappa lalu oleh Buddha Vippasi sebagaimana tercantum di DN 14/MahaPadana Sutta:
    Khantī paramaṃ tapo titikkhā, Nibbānaṃ paramaṃ vadanti buddhā; Na hi pabbajito parūpaghātī, Na samaṇo hoti paraṃ viheṭhayanto
    Kesabaran adalah moralitas utama. Sang Buddha bersabda: Nibbana utamakan. Bukanlah Petapa yang masih menyakiti, Bukanlah pula menjadi Petapa dengan menyusahkan sekitar [Dhammapada 184]

    Sabbapāpassa akaraṇaṃ, kusalassa upasampadā; Sacittapariyodapanaṃ, etaṃ buddhānasāsanaṃ
    Segala hal buruk tidak dilakukan, Perbanyak yang bermanfaat, Disertai pikiran yang murni, Itulah ajaran para Buddha [Dhammapada 183]

    Anūpavādo anūpaghāto, Pātimokkhe ca saṃvaro; Mattaññutā ca bhattasmiṃ, Pantañca sayanāsanaṃ; Adhicitte ca āyogo, Etaṃ buddhānasāsanan'ti
    Tidak menghina, tidak melukai, Mengendalikan diri sesuai dengan tata-tertib. Makanlah secukupnya, Hidup dengan menyepi. Dan senantiasalah berpikir luhur, Itulah Ajaran Semua Buddha [Dhamappada 185].
Ucapan-ucapan di atas, adalah juga jawaban atas pertanyaan Ananda pada Sang Buddha, yaitu, "Apakah pelajaran-pelajaran dasar yang diberikan kepada para bhikkhu oleh para Buddha terdahulu adalah sama seperti pelajaran Sang Buddha sendiri sekarang?" [Lihat di: Dhammapada, Bab 14, Budhha vagga syair 183, 184, 185].

Patimokkha ada dua, yaitu ovada patimokkha yang disampaikan langsung oleh sang Buddha dan Ana patimokkha yang disampaikan siswa-siswanya namun tidak oleh sang Buddha. Pembacaan Ana patimokkha dilakukan tiap 2 minggu.

Buddha Vipassi mengajarkan Ovàda Pàtimokkha sekali setiap 6 tahun. Para siswa bhikkhu-Nya tidak membacakan Pàtimokkha dalam wilayah vihàranya masing-masing. Semua bhikkhu dalam wilayah Jambådãpa berkumpul bersama-sama untuk mengadakan upacara uposatha hanya dalam lingkungan vihàra di mana Buddha Vipassi berada. Buddha Gotama, mengajarkan Ovàda Pàtimokkha hanya dalam 20 tahun pertama setelah mencapai Kebuddhaan [Patthama Bodhi]. (Buku pertama Komentar Vinaya dan juga RAPB buku ke-1, Cetakan May 2000, hal 856). Patimokkha di ijinkan di bacakan di saat ketidakhadiran beliau, disampaikan sang Buddha di vihara Pubbarama [DPPN].

[Kembali (↑)]
---------------

Lain-lain: Perabuan Jenazah, Meninggalkan Keluarga

Perabuan jenazah:
Seorang umat Buddha tidak mutlak harus diperabukan kalau meninggal dunia. Ia boleh dengan bebas menentukan sendiri, apakah kelak setelah meninggal dunia akan dikubur atau dibuang (dikubur) di laut atau ditinggal di hutan atau di goa tanpa ditanam.

Harus meninggalkan keluarga:
Ada anggapan bahwa untuk menjadi umat Buddha yang baik seseorang harus meninggalkan keluarganya untuk menjadi bhikkhu atau bhikkhuni, padahal sebenarnya tidak perlu meninggalkan keluarga. Terdapat banyak contoh bahwa orang-orang yang masih berkeluarga pun (para upasaka/upasika) sanggup mencapai tingkat-tingkat kesucian.

Dan kalau ada orang yang mau menjadi bhikkhu, terlebih dahulu ia harus mendapat ijin dari orang tuanya atau isterinya, dan harus memenuhi syarat lain lagi, misalnya isteri dan anak-anaknya tidak terlantar, berkelakuan baik dan tidak menderita penyakit yang menular atau penyakit jiwa.

[Kembali (↑)]
---------------

Pattidana

Kebiasaan mempersembahkan dan melimpahkan jasa perbuatan baik kepada pihak lainnya telah ada di sebelum jaman Sang Buddha, misalnya: di AN 10.177 menyampaikan rutinitas mempersembahkan dan ritual bagi yang telah mati dengan pikiran: ‘Semoga pemberian kami bermanfaat bagi sanak keluarga kami yang telah meninggal’

Atau di AN 5.41/Adiya, AN 4.61/Pattakamma, "Dengan kekayaan yang diperoleh melalui usaha keras penuh semangat, dikumpulkan melalui kekuatan tangannya, didapat melalui keringat di alis matanya, kekayaan benar yang diperoleh dengan benar, maka siswa mulia itu melakukan empat perbuatan yang layak...melakukan lima persembahan (panca bali): kepada sanak (nati), tamu (atithi), mendiang (pubbapeta), raja (rāja); dewata (devata). ini adalah manfaat keempat yang dapat diperoleh dari kekayaan..kekayaan digunakan dengan baik, yang telah dengan benar dimanfaatkan dan digunakan untuk sebab yang layak" [Note: Panca bali atau juga dikenal sebagai panca yadnya, yaitu: Deva, pitra (leluhur), Rsi (manusia yang dianggap suci), Manusia dan Butha (alam bawah)]

Ini adalah pattidana, namun apakah semua mahluk (deva bukan Deva) dapat menerima persembahan dan/atau dapat menerima andil jasa perbuatan tersebut?

Kata 'pattidana' arti literalnya adalah "mendapatkan pemberian/transfer jasa' yaitu kebajikan yang dilakukan seseorang dan mentransfernya kepada pihak lainnya [lihat: Milanda Panha untuk pertanyaan no.74. Juga: "Manual of Buddhist Terms and Doctrines", by NYANATILOKA MAHATHERA. "'Transference of Merit' in Ceylonese Buddhism", G. P. Malalasekera, Philosophy East and West, V. 17 (1967) pp. 85-90]. Secara kata perkata:

Patti:
    [fr. patti2] mempunyai bagian, perolehan atau keuntungan; partner, donor [Pali-english P.T.S]
    (f.) kedatangan; pencapaian; jasa; keuntungan; bagian. [Concise pali english]
Dana:
    hadiah; sumbangan; persembahan; pemberian derma. [concise pali-english]
Sehingga artinya adalah pihak lain dapat menerima andil dari perbuatan memberikan dana/jasa (punna) tersebut. Siapa saja?
  1. Jika kepada mahluk Brahma (dan juga Dewa), dalam kasus SN.6.3/Brahmadeva Sutta, yaitu ibu dari seorang brahmana (Brahmanadeva) yang secara rutin memberikan persembahan (Ahutiṃ niccaṃ paggaṇhāti, upacara lengkap dengan mempersembahkan nasi-susu yang manis, dengan ritual pemanggilan) kepada mahluk Brahmā, maka tindakan ini tidak ada manfaatnya, sebagaimana disampaikan Brahma Sahampati kepada ibu Brahmadeva: "Alam Brahmā, Nyonya, adalah jauh dari sini. Yang kepadanya engkau memberikan persembahan secara rutin. Brahmā tidak memakan makanan seperti itu, Ibu" dan Brahma Sahampati, mengajarkan cara melakukan persembahan makanan itu agar bermanfaat bagi pemberinya, yaitu dengan cara mempersembahkan makanan pada yang benar-benar bisa memakannya.

  2. Jika kepada Devata, dalam kasus AN 7.53/Nandamata sutta, hanya persembahan pemberian tertentu bermanfaat bagi devata:

    Ketika itu Deva bernama Vessavana (AA.ii.718, Ia seorang sotapanna), kebetulan lewat sekitar tempat tinggal nandamatta dan berhenti sejenak ketika Nandamata (AA.ii.718; SNA.i.370 Ia seorang Anagami) melantunkan pārāyana vagga.

    Sang deva memberikan pujian, Nandamata memberikan persembahan paritta (Āthitheyya: pemberian tradisional yang diberikan kepada tamu sebagai bentuk keramahan) tersebut pada Sang Deva.

      "..Maka biarlah pembabaran Dhamma yang baru saja kulafalkan menjadi hadiah untuk tamu bagimu.”

      Deva Vessavana:
      “Bagus, saudari! Dan biarlah ini juga menjadi hadiah untuk tamu bagiku. Besok, sebelum mereka sarapan pagi, Saṅgha para bhikkhu yang dipimpin oleh Sāriputta dan Moggallāna akan tiba di Veḷukaṇṭaka. Engkau harus melayani mereka dan mendedikasikan persembahan itu untukku. Itu akan menjadi hadiah untuk tamu darimu kepadaku.”

    Nandamatta melakukan permintaan tersebut dan menyampaikan pada sangha bahwa "biarlah, Bhante (guru), jasa apa pun yang kuperoleh dari pemberian ini didedikasikan demi kebahagiaan maharaja Vessavaṇa" [Yadidaṃ, bhante, dāne puññañca puññamahī ca taṃ vessavaṇassa mahārājassa sukhāya hotū]

    Di sini, kebajikan memberikan persembahan makanan kepada yang bisa memakannya (contoh di sini adalah kepada para bhikkhu), maka andil kebajikannya dapat dibagikan kepada pihak lainnya

  3. Kepada Peta [Alam mahluk halus], dalam kasus KN: khuddakapāṭha 7 (atau petavatthu, uragavagga 5 Tiro­kuṭ­ṭapeta­vatthu) Tirokudda sutta [kepada Peta], maka tindakan ini bermanfaat:

      Pada suatu hari, Ketika Raja Bimbisara (sotapanna) mempersembahkan dana pada hari pertama kepada Sang Buddha dan siswa-siswa Beliau. Tapi setelah berdana makan kepada Sang Buddha dan siswa-siswa Beliau, raja lupa melakukan pelimpahan jasa. Raja lupa melimpahkan jasa kebajikannya kepada sanak saudaranya leluhurnya sebanyak delapan puluh empat ribu mahluk halus/setan, yang menerima buah dari perilaku mereka yang buruk pada jaman Buddha Pussa sehingga mereka menjadi mahkluk peta selama 92 kalpa. Pada waktu itu raja sibuk memikirkan ”tempat” untuk Sang Buddha dan siswa-siswa-Nya, tempat untuk bervassa.

      Mereka menanti sampai tiba malam hari.

      Malam harinya, Raja Bimbisara tidak bisa tidur, beliau mendengar suara-suara jeritan yang mengerikan, teriakan-teriakan putus asa yang mengerikan. Sepanjang malam raja tidak bisa tidur hingga pagi hari.

      Pagi harinya, karena tidak bisa tidur semalam suntuk, maka wajah raja menjadi pucat pasi, beliau terganggu oleh jeritan-jeritan putus asa yang mengerikan, suara-suara jeritan dari alam peta.

      Ketika Raja mengunjungi Veluvana keesokan harinya, ia menceritakan apa yang terjadi semalam kepada Sang Buddha. Sang Guru Agung menjawab:

      “Raja Mulia, sembilan puluh dua putaran waktu di masa yang lampau, pada jaman kehidupan Buddha Pussa, para mahluk peta ini adalah leluhurmu. Mereka memakan makanan yang seharusnya mereka persembahkan kepada anggota Sangha, karena perbuatan buruk yang mereka lakukan itulah, yang menyebabkan mereka terlahir di Alam Peta (Alam Sengsara). Dengan melalui begitu panjang lingkaran-lingkaran kelahiran, mereka bertanya kepada Buddha Kakusandha, Buddha Konagamana, dan Buddha Kassapa kapan mereka akan memperoleh makanan, para Buddha itu berkata bahwa mereka tidak akan mendapat makanan pada jaman mereka, tetapi harus menunggu sampai Buddha yang akan datang muncul dan akan memperoleh jawaban dariNya. Mereka terus menunggu, dan ketika Buddha Kassapa muncul, mereka bertanya kepadaNya. Dan Sang Buddha Kassapa menjawab, “Kalian tidak akan mendapat makanan pada jamanKu ini; tetapi sesudah Aku, akan muncul Buddha Gotama. Pada saat itulah keturunan kalian yang bernama Bimbisara akan menjadi raja; ia akan mempersembahkan makanan kepada Buddha Gotama dan pada waktu itulah kalian akan memperoleh makanan.” Setelah menanti dalam waktu yang amat panjang mereka berharap dengan gembira akan dapat menerima pelimpahan jasa yang kamu lakukan; karena itulah mereka mengamuk dan bertindak seperti semalam karena dana yang kamu berikan tidak dilimpahkan kepada mereka, dan mereka gagal mendapatkan jasa buah kebajikan yang kamu lakukan.”

      ”Kalau demikian halnya, apakah mereka bisa mendapatkan pelimpahan jasa hari ini?” Raja bertanya kepada Sang Buddha. Sang Buddha memberikan jawaban bahwa: ”Hal itu bisa dilakukan hari ini.”

      Raja Bimbisara menjadi semangat dan mengundang Sang Buddha serta bhikkhu Saïgha untuk menerima dana makan di istana raja, Sang Buddha menyetujui dengan berdiam diri.

      “Tetapi, Yang Mulia, kalau saya mempersembahkan dana sekarang, apakah mereka akan memperoleh jasa kebajikan ini?”

      “Ya, Raja Mulia.”

      Raja kembali ke istana, memberi instruksi kepada pelayan istana untuk mempersiapkan dana makanan yang besar dan meriah kepada Sang Buddha dan siswa-siswa Beliau. Beraneka makanan dan minuman dipersiapkan oleh raja, juga kain jubah serta tempat tinggal untuk murid-murid-Nya. Setelah semuanya siap, raja mempersilahkan Sang Buddha dan siswa-siswa-Nya memasuki ruang istana.

      Ketika sampai di ruang istana raja, Sang Buddha dengan menggunakan kekuatan batin-Nya, mampu membuka tabir sehingga raja bisa melihat mahkluk peta yang jumlahnya ribuan, mereka berdiri berderet-deret dengan tubuh kurus kering tinggal kulit pembalut tulang, urat-urat nadinya menonjol keluar, rambut kusut seperti ijuk – sungguh suatu pemandangan yang mengerikan. Raja merasa kasihan dengan mahkluk-mahkluk peta tersebut.

      Oleh karena itu, raja mulai melayani Sang Buddha dengan mempersembahkan air, dengan pikeran: ”Semoga jasa dari mempersembahkan air ini, jasanya melimpah pada sanak saudaraku yang terlahir di alam peta. Ketika air itu disentuh dan diterima oleh Sang Buddha, saat itu juga muncul keajaiban: di alam peta muncul kolam-kolam air yang dalam, persegi empat, airnya jernih, dan di sana juga tumbuh bunga teratai. Raja bisa melihat semua kejadian di alam peta – sekarang mahkluk peta bisa minum sepuasnya dan mandi sepuasnya. Tubuh mahkluk peta sekarang menjadi segar.

      Raja menjadi semakin bersemangat, raja kemudian mempersembahkan bubur beras kepada Sang Buddha, ketika bubur beras itu disentuh dan diterima oleh Sang Buddha, maka di alam peta seketika muncul makanan-makanan surgawi yang lezat-lezat. Sehingga tubuh mahkluk peta berubah menjadi segar, sehat dan padat, berisi dan bercahaya.

      Pada keesokan harinya, para mahluk peta itu menampakkan dirinya dengan telanjang, tidak berpakaian. Raja berkata kepada Sang Buddha: “Hari ini, Yang Mulia, para mahkluk peta menampakkan dirinya dengan telanjang,” dan ia bertanya apa yang harus dilakukannya.

      Sang Guru Agung menjawab : “Raja Mulia, kamu memang belum memberikan mereka pakaian.”

      Pada keesokan harinya, Raja Bimbisara mempersembahkan jubah kepada Sang Buddha dan para muridNya, lalu berkata : “Semoga persembahan yang saya lakukan ini dapat diterima oleh para mahluk peta, berupa pakaian.”

      Dengan seketika itu pula, setelah mereka memperoleh kebajikan yang dilakukan oleh keturunannya ini, mereka langsung berpakaian indah, dan langsung pindah dari alam peta ke alam surga.

      Ketika Sang Buddha mengucapkan anumodana, Beliau lalu mengucapkan syair Tirokudda Sutta :

      Di luar dinding mereka berdiri dan menanti,
      di persimpangan-persimpangan jalan,
      mereka kembali ke rumah yang dulu dihuninya,
      dan menanti di muka pintu.
      Tetapi bila diadakan pesta yang meriah,
      dengan makanan dan minuman yang berlimpah,
      ternyata tidak seorang pun yang ingat kepada mahluk-mahluk itu,
      yang merupakan leluhur mereka.

      Hanya mereka yang hatinya penuh welas asih,
      memberikan persembahan kepada sanak keluarganya,
      berupa makanan dan minuman yang lezat,
      baik, dan disukai pada waktu mereka masih hidup.

      “Semoga buah jasa-jasa baik kita,
      melimpah kepada sanak keluarga yang telah meninggal.
      Semoga mereka berbahagia.”

      Sanak keluarga kita yang sedang berkumpul di tempat ini
      dengan gembira akan memberikan restu mereka
      karena diberi makanan dan minuman yang berlimpah.
      “Semoga sanak keluargaku berusia panjang
      sebab karena merekalah kami memperoleh sajian uang lezat ini.”

      “Karena kami diberi penghormatan yang tulus
      maka yang memberinya pasti akan memperoleh
      buah jasa yang setimpal
      Karena di sini tidak ada pertanian
      dan juga tidak ada peternakan
      tidak ada perdagangan
      juga tidak ada peredaran uang dan emas.”
      Sanak keluarga kita yang telah meninggal
      hidup di sana dari pemberian kita di sini.

      Bagaikan air mengalir dari atas bukit
      turun ke bawah untuk mencapai lembah yang kosong,
      demikian pula sesajian yang diberikan
      dapat menolong sanak keluarga kita yang telah meninggal
      Bagaikan sungai, bila airnya penuh
      akan mengalirkan airnya ke laut,
      demikian pula sesajian yang diberikan
      dapat menolong sanak keluarga kita yang telah meninggal,

      “Ia memberi kepadaku, ia bekerja untukku,
      ia sanak keluargaku, ia sahabatku, kerabatku.”
      Memberikan sesajian kepada mereka yang telah meninggal dunia
      dan mengingat kembali kepada apa yang biasa mereka lakukan.
      Bukan ratap tangis,
      bukan kesedihan hati,
      bukan berkabung dengan cara apapun juga
      untuk menolong mereka yang telah meninggal dunia
      yang dilakukan sanak keluarga yang telah ditinggalkan.

      Tetapi bila persembahan ini dengan penuh bakti
      diberikan kepada Sangha atas nama mereka
      dapat menolong mereka untuk waktu yang panjang
      di kemudian hari maupun pada saat ini.

      Telah diperlihatkan hakikat sesungguhnya
      dari sesajian bagi sanak keluarga
      dan bagaimana penghormatan yang lebih bernilai
      dapat diberikan kepada mereka
      serta bagaimana para bhikkhu mendapat kekuatan
      dan bagaimana Anda sendiri dapat menimbun
      buah karma yang baik.


      Pada saat Sang Buddha selesai mengucapkan syair ini, delapan puluh empat ribu mahluk memperoleh pengertian Dhamma Yang Mulia.

    Mahluk alam Peta tidaklah secara langsung menerima makanan, kecuali makanan tersebut telah dipersembahkan/diberikan kepada yang bisa memakannya (contoh: para brahmana/pertapa/bhikkhu, manusia, binatang) dan andil kebajikan tersebut disampaikan kepada mahluk peta, barulah mahluk alam peta tersebut dapat mendapatkan apa yang dapat mereka makan

  4. Kepada Manusia, dalam kasus Silanisamsa jataka no.190. Jataka harusnya hanya berupa syair saja tanpa ada ceritanya, jadi ceritanya adalah tambahan belakangan yang berasal dari abad ke-3 SM atau 2 SM, contoh cerita tambahan belakangan di jataka ini:

      Seorang sotapanna dijaman samasambuddha kassapa bepergian naik perahu dengan temannya dan ditengah jalan perahunya tenggelam, kemudian karena tidak ada pertolongan, sang sotapanna merenungkan kualitas 3 permata (Buddha, dhamma dan sangha) dan sesosok Deva laut kemudian merubah dirinya menjadi bentuk perahu dan menolongnya namun tidak temannya, untuk itu ia tanya, "Mengapa tidak boleh?”

      “Dia bukanlah seorang yang memiliki kualitas moral yang bagus, itulah alasannya,” katanya, “saya membawa kapal ini untuk dirimu, bukan untuk dirinya.”

      “Baiklah — semua derma yang telah kuberikan, kebajikan yang telah kulakukan, kekuatan yang telah kukembangkan — kuberikan kepadanya buah dari semua perbuatan baikku itu!” (Hotu, aham attana dinnadanena rakkhitasilena bhavitabhavanaya etassa pattim dammi”ti)

      “Terima kasih, Tuan!” kata tukang pangkas itu.

      “Sekarang,” kata dewa laut, “saya dapat membawamu ikut berlayar.”
Sutta-sutta telah mengajarkan bahwa perbuatan baik yang patut dilakukan, dapat dibagikan kepada pihak lainnya. Perbuatan baik yang patut dilakukan diantaranya adalah pembacaan sutta/dhamma, persembahan (makanan/minuman, pakaian, obat-obatan dan/atau tempat tinggal, lampu) pada yang dapat menerimanya. Untuk makan/obat/pakaian/tempat tinggal diberikan kepada manusia, hewan. [Note: Terdapat gradasi manfaat dari pemberian, seperti disampaikan dalam MN 142/Dakkhina Vibhanga sutta]

AN 10.177/Jāṇussoṇi Sutta, mengajarkan cara melakukannya:
    Brahmana Janussoni: "Guru Gotama, Anda tahu bahwa kita para brahmana memberikan hadiah, persembahan, [berkata:] 'Semoga karunia ini dinikmati oleh para mendiang [pubbapeta] sanak keluarga hubungaan darah [ñātisālohitā] kami. Semoga para mendiang sanak keluarga kami mengambil bagian menikmati (pari+bujanta) ini". Guru Gotama, apakah hadiah di nikmati oleh para mendiang sanak keluarga kami? Apakah para mendiang sanak keluarga kami mengambil bagian menikmati itu? "

    Sang Buddha menjawab: "..Pada kesempatan yang tepat, brahmana, pemberian itu dapat bermanfaat, bukan pada kesempatan yang tidak tepat".

    Kemudian sang Buddha menyampaikan:
    kesempatan yang tidak tepat, yaitu jika mereka terlahir di alam neraka, binatang, Manusia, Dewa, maka pemberian tidak bermanfaat bagi yang hidup di sana.

    Kesempatan yang tepat yaitu jika mereka terlahir di alam peta (pettivisaya) maka "yang teman/kenalan/tetangga (mittāmaccā) atau kerabat hubungan darah (ñātisālohitā) limpahkan (anupavecchati; hand over) bermanfaat bagi yang hidup di sana"

    Brahmana Jāṇussoṇi: "Bagaimana jika sanak keluarga yang telah meninggal dunia (petā ñātisālohitā) tidak ada yang terlahir kembali di tempat itu (alam peta)?".

    Sang Buddha: "Sanak keluarga yang telah meninggal dunia lainnya (Aññepissa petā ñātisālohitā) yang telah terlahir kembali di tempat itu akan menerima pemberian itu."

    Jāṇussoṇi: "Bagaimana jika tidak ada sanak keluarga yang telah meninggal dan tidak ada
    yang telah terlahir kembali di tempat itu"

    Sang Buddha: "Dalam rentang waktu yang panjang, brahmana, tidak mungkin dan tidak terbayangkan alam itu kosong dari sanak keluarga seseorang yang telah meninggal. Lebih jauh lagi, bagi si pemberi bukannya tidak berbuah ... karena Ia telah memberikan makanan dan minuman; pakaian dan kendaraan; kalung bunga, wangi-wangian, dan salep; tempat tidur, tempat tinggal, dan cahaya kepada seorang petapa atau brahmana ... maka ketika terlahir di alam binatang, Ia menerima makanan, minuman, kalungan bunga dan perhiasan ... maka ketika terlahir di alam manusia atau dewa, Ia menerima 5 kenikmatan indriawi manusia atau dewa
Sutta di atas mempertegas buah manfaat rajin memberi/mempersembahkan kepada para BRAHMANA/PERTAPA/BHIKKHU, yaitu ketika si pemberi terlahir BUKAN di alam neraka, dirinya mendapat sokongan dari perbuatan baiknya sendiri dan ketika si pemberi melimpahkan andil kebajikan kepada kerabat/kenalan yang telah wafat, maka kerabat/kenalan yang wafat di alam peta juga menerima sokongan. [↑] [↑ peta]

[Kembali (↑)]
---------------

Pustaka dan Catatan
[1] A-Gnostic [tanpa+pengetahuan], percaya adanya tuhan tidak namun tidak percaya adanya tuhan juga tidak..lebih tepat mereka ini adalah tipikal plin plan gitu deh.

A-theis [Theos, Theoi (yunani) [theein = memerintah], dewa; thea [dewi, feminim], Jadi artinya tidak mepercayai Dewa-Dewi sebagai sang penguasa/pencipta.

Setelah perkembangan nasrani, sebagaimana tercantum di Perjanjian Baru artinya berubah menjadi Tuhan [sang Penguasa/pencipta]. Pengertian ini dibuat untuk membedakan kedudukan dewa dan Tuhan, dimana kedudukan dewa di buat berderajat lebih rendah dari Tuhan maka arti A Theis pun berubah menjadi ngga percaya TUHAN.

Hindu dalam konteks tidak mempercayai Tuhan disebut sebagai Nastika [N+astika, (asti=ada), yaitu: Buddhism, Jainism, Cravaka & Ajiwika. Nastika, juga dapat diartikan mereka yang menolak otoritas Veda. Namun demikian tidak serta merta tidak mengakui otoritas Veda lantas berarti tidak mengakui Dewa-dewi

Jadi, Buddhism dan Jainism adalah a theis yang tidak mengakui adanya tuhan Pencipta, mengakui keberadaan dewa-dewi [bukan dalam konteks Pencipta], Surga, Neraka, Kamma dan kelahiran kembali
  • Cravaka, tidak mengakui adanya Tuhan, Deva, Surga, Neraka, kelahiran kembali. Buat mereka tidak ada kehidupan setelah mati.
  • Ajiwika, percaya ada jiwa, kelahiran kembali/reinkarnasi namun tidak percaya pada karma [↑]

[2] Dhammapada syair 277-279; AN 3.137/Uppādāsuttaṃ atau AN 3.134/DHAMMA-NIYĀMA SUTTA:
    ‘Uppādā vā, bhikkhave, tathāgatānaṃ anuppādā vā tathāgatānaṃ, ṭhitāva sā dhātu dhammaṭṭhitatā dhammaniyāmatā. Sabbe saṅkhārā aniccā. Taṃ tathāgato abhisambujjhati abhisameti. Abhisambujjhitvā abhisametvā ācikkhati deseti paññāpeti paṭṭhapeti vivarati vibhajati uttānīkaroti – ‘sabbe saṅkhārā aniccā’ti.

    [Artinya: "O, para bhikkhu, apakah para Tathāgata muncul/tidak di dunia, terdapat hukum yang tetap, yang pasti dari segala sesuatu, bahwa SEGALA YANG BERKONDISI adalah TIDAK KEKAL. Tathāgata mengetahui dan mengerti sepenuhnya hal itu, Setelah sepenuhnya mengetahui dan mengerti, Ia Memaklumkannya, Menunjukkannya, Menegaskan, Menandaskan, Menjelaskan, Menguraikan, dan Membentangkan bahwa: SEGALA YANG BERKONDISI adalah TIDAK KEKAL"]

    Uppādā vā, bhikkhave..dhammaniyāmatā. Sabbe saṅkhārā dukkhā. Taṃ tathāgato..– ‘sabbe saṅkhārā dukkhā’ti.

    [Artinya: "O, para bhikkhu..dari segala sesuatu, bahwa SEGALA YANG BERKONDISI adalah TIDAK MEMUASKAN. Tathāgata..bahwa: SEGALA YANG BERKONDISI adalah TIDAK MEMUASKAN"]

    Uppādā vā, bhikkhave..dhammaniyāmatā. Sabbe dhammā anattā. Taṃ tathāgato..– ‘sabbe dhammā anattā’ti.

    [Artinya: "O, para bhikkhu..dari segala sesuatu, bahwa: SEGALA YANG BERUBAH adalah BUKAN DIRI (bukan nyata, hanya fenomena). Tathāgata..bahwa: SEGALA YANG BERUBAH adalah BUKAN DIRI (bukan nyata, hanya fenomena)"]
Sutta di atas merupakan inti dari Buddhism.

Jika kita perhatikan kalimat yang di garisbawahi tentang "apakah para Tathāgata muncul/tidak di dunia..adalah Anicca", mmberikan petunjuk jelas bahwa pencapaian kesucian (Sotapanna s.d Arahat: Savaka Buddha, Pacceka Buddha, Sammasambuddha) hanya terjadi jika mengetahui [Jānato] dan melihat [passato] bahwa segala sesuatunya adalah Anicca.

Untuk mendapatkan pemahaman Tilakkhana (Anicca, Dukkha dan Anatta) adalah mengasah parami (kesempurnaan) dalam Ti-Sikkha (Tiga - Pelatihan: Sila, Samadhi dan Panna) melalui pariyati (mempelajari, mempersiapkan), patipatti (mempraktekan) dan Pativeda (memberikan hasil) yang membuatnya (dalam sutta disebutkan):
    mengetahui [Jānato] dan melihat [passato] bahwa apapun yang terkondisi (abhisaṅkhato) dan dihasilkan melalui kehendak (ābhisañcetasiko) adalah tidak kekal (tad-aniccam) akan berakhir/hancur/lenyap (nirodha-dhamma).

    Kemudian pikirannya menjadi terbebaskan (cittaṃ vimuccati) dari: noda keinginan indria (kāmāsavāpi), noda penjelmaan (Bhavāsavāpi), dan noda kebodohan (Avijjāsavāpi). Ketika terbebaskan muncul pengetahuan (ñāṇa): ‘Terbebaskan.’ Ia memahami: ‘Kelahiran telah dihancurkan (Khīṇā jāti), kehidupan suci telah dijalani (vusitaṃ brahmacariyaṃ), apa yang harus dilakukan telah dilakukan (kataṃ karaṇīyaṃ), tak lagi menjadi mahluk apapun (nāparaṃ itthattāyāti)' ~ MN 121/Culasunnata sutta’ [kembali ke: Hukum Tilakkhana] [↑]

[3] Dhammapada syair 183; DN 14/Mahāpadāna Sutta

Buddhism resmi muncul kembali di dunia ini adalah sejak dibabarkannya 2 (dua) sutta kepada 5 pertama, yaitu:
  1. SN 56.11 [Dhammacakkappavattana sutta, Pemutaran roda Dhamma] dan
  2. SN 22.59 [Anattalakhana sutta, Karakteristik Bukan-Diri/bukan inti, bukan landasan]
Setelah selesai pembabaran sutta ke-1, hanya KONDANNA yg mampu menembus tingkat kesucian Sotapanna [tk ke-1]. Barulah pada pembabaran sutta ke-2, ke-5 Pertapa mencapai tingkat Arahat. Berikut ini adalah kotbah sutta ke-2 yang saya kutip dari Utphala Dhamma:
    Demikian yang kudengar. Pada suatu waktu Yang Terberkahi sedang tinggal di Varanasi di dalam tempat peristirahatan perburuan di Isipatana. Beliau berbicara pada kelompok lima orang bhikkhu:

    "Jasmani, para bhikkhu, adalah bukan diri. JIKA JASMANI ADALAH DIRI, JASMANI INI TIDAK AKAN MENYEBABKAN KEKECEWAAN. Akan mungkin [untuk mengatakan] sehubungan dengan jasmani, 'Semoga jasmani ini menjadi demikian. Semoga jasmani ini tidak menjadi demikian.'

    TETAPI KARENA JASMANI BUKAN DIRI, MAKA JASMANI MENYEBABKAN KEKECEWAAN. Dan tidaklah mungkin [untuk mengatakan] sehubungan dengan jasmani, 'Semoga jasmani ini menjadi demikian. Semoga jasmani ini tidak menjadi demikian'

    "Perasaan (sensasi) bukanlah diri...
    "Persepsi bukanlah diri...
    "Bentukan [mental] bukanlah diri...

    "Kesadaran bukanlah diri. JIKA KESADARAN ADALAH DIRI, KESADARAN INI TIDAK AKAN MENYEBABKAN KEKECEWAAN. Adalah mungkin [untuk mengatakan] sehubungan dengan kesadaran, 'Semoga kesadaranku menjadi demikian. Semoga kesadaranku tidak menjadi demikian.'

    TETAPI KARENA KESADARAN BUKAN DIRI, KESADARAN MENYEBABKAN KEKECEWAAN. Dan tidaklah mungkin [untuk mengatakan] sehubungan dengan kesadaran, 'Semoga kesadaranku menjadi demikian. Semoga kesadaranku tidak menjadi demikian'

    Sang Buddha: "Bagaimana menurutmu, para bhikkhu — Apakah jasmani kekal atau tidak kekal?"

    Lima Pertapa: "Tidak kekal, Bhante."

    Sang Buddha: "Dan apakah hal yang tidak kekal itu memberikan kenyamanan (memuaskan) atau penderitaan (tidak memuaskan)?"

    Lima Pertapa: "Penderitaan (tidak memuaskan), Bhante."

    Sang Buddha: "Dan apakah tepat sesuatu yang tidak kekal, menyebabkan penderitaan, tunduk pada hukum perubahan sebagai: 'Ini milikku. Ini adalah diriku. Ini adalah aku'?"

    Lima Pertapa: Tidak, Bhante."

    Sang Buddha: "Apakah perasaan..., persepsi..., bentukan..., kesadaran kekal atau tidak kekal?"

    Lima Pertapa: "Tidak kekal, Bhante."

    Sang Buddha: "Bagaimana menurutmu, para bhikkhu — Apakah kesadaran kekal atau tidak kekal?"

    Lima Pertapa: "Tidak kekal, Bhante."

    Sang Buddha: "Dan apakah hal yang tidak kekal itu memberikan kenyamanan (memuaskan) atau penderitaan (tidak memuaskan) ?"

    Lima Pertapa: "Penderitaan (tidak memuaskan), Bhante."

    Sang Buddha: "Dan apakah tepat sesuatu yang tidak kekal, menyebabkan penderitaan, tunduk pada hukum perubahan sebagai: 'Ini milikku. Ini adalah diriku. Ini adalah aku'?"

    Lima Pertapa: "Tidak, Bhante."

    Sang Buddha: "Karena itu, para bhikkhu, apapun jasmani di masa lampau, masa depan, atau masa sekarang; di dalam atau di luar; kasar atau halus; rendah atau luhur; jauh atau dekat; apapun jasmani dilihat sebagaimana adanya dengan pemahaman benar sebagai: 'Ini BUKAN MILIKKU. Ini BUKAN DIRIKU. Ini BUKAN AKU.'

    "Perasaan (sensasi) apapun...Persepsi apapun... Bentukan [mental] apapun... Kesadaran apapun di masa lampau, masa depan, atau masa sekarang; di dalam atau di luar; kasar atau halus; rendah atau luhur; jauh atau dekat: apapun kesadaran dilihat sebagaimana adanya dengan pemahaman benar sebagai: 'Ini BUKAN MILIKKU. Ini BUKAN DIRIKU. Ini BUKAN AKU.'

    "Melihat demikian, siswa Ariya, yang telah memahaminya dengan baik, menjadi:

    TAK TERKESAN (hambar; tak terpesona) dengan jasmani,
    TAK TERKESAN dengan perasaan,
    TAK TERKESAN dengan persepsi,
    TAK TERKESAN dengan bentukan [mental],
    TAK TERKESAN dengan kesadaran.

    SETELAH menjadi TAK TERKESAN, hambar, tak terpesona [nibbida], PADAMLAH NAFSU KEINGINAN untuk menggenggam [viraga].

    SETELAH PADAMNYA NAFSU KEINGINAN untuk menggenggam [viraga], dia TERBEBAS SEPENUHNYA [vimutti].

    Dengan terbebas penuh [vimutti], disana ada pengetahuan [asavakkhayañana], 'Terbebas sepenuhnya.' Dia mengetahui bahwa 'Kelahiran telah berakhir, kehidupan suci telah terpenuhi, tugas telah selesai. Tidak ada lagi lebih jauh untuk dunia ini' (lingkaran samsara terpatahkan)."

    Demikian yang dikatakan Sang Bhagava. Berterimakasih, kelompok lima bhikkhu tersebut gembira atas kata-kata Beliau. Sewaktu penjelasan ini sedang diberikan, mental kelompok lima bhikkhu, melalui ketidakmelekatan, terbebas sepenuhnya dari kekotoran mental. [↑]

[4] Terdapat misalnya di: DN.33 [Sangiti Sutta]; DN 34 [Dasuttara sutta]; AN 3.33 [Nidana sutta]; AN 3.65 [Kalama sutta]; Itivuttaka 50; dll. Misalnya di AN 3.68 di bawah ini:
    “Para bhikkhu, petapa kelana dari kelompok lain mungkin bertanya kepada kalian demikian: ‘Sahabat, ada tiga sifat ini: nafsu [rāgo = lobha], kebencian/ketidaknyamanan [dosa] dan kekeliruan tahu/kebodohan batin [moha]. Sahabat, apakah perbedaan di antara tiga sifat ini, apakah ketidaksamaan dan kelainannya?’

    Jika ditanya demikian, para bhikkhu, bagaimanakah kalian akan menjawab petapa-petapa kelana dari sekte lain itu?”

    "Bagi kami, Bhante, akar ajaran ada pada Yang Terberkati, dan Bhantelah pembimbing serta sumbernya. Adalah baik jika Bhante sendiri mau menjelaskan arti dari pernyataan ini. Setelah mendengarkan Bhante, para bhikkhu akan menyimpannya di pikiran.”

    “Kalau demikian, para bhikkhu, dengarkanlah dengan seksama. Aku akan berbicara.”

    “Baik, Bhante,” jawab para bhikkhu.

    Sang Buddha mengatakan demikian:
    “Jika para petapa kelana dari sekte lain menanyakan tentang perbedaan, ketidaksamaan, dan kelainan di antara tiga sifat ini, demikian ini kalian harus menjawab:

    Nafsu tidak amat tercela tetapi sulit dihilangkan. Kebencian lebih tercela tetapi lebih mudah dihilangkan. Kebodohan batin sangat tercela dan sulit dihilangkan.

    “Jika mereka bertanya:
    ‘Sahabat, apakah penyebab dan alasan bagi munculnya nafsu yang tadinya belum muncul, dan bagi meningkat serta menguatnya nafsu yang telah muncul?’

    Kalian harus menjawab:
    Objek yang indah: bagi orang yang memperhatikan objek yang indah secara tidak benar, maka nafsu yang tadinya belum muncul akan muncul dan nafsu yang telah muncul akan meningkat dan menjadi kuat.’

    “Jika mereka bertanya:
    ‘Sahabat, apakah penyebab dan alasan bagi munculnya kebencian yang tadinya belum muncul, dan bagi meningkat serta menguatnya kebencian yang telah muncul?’

    Kalian harus menjawab:
    Objek yang tidak menarik: bagi orang yang memperhatikan objek yang tidak menarik secara tidak benar, maka kebencian yang tadinya belum muncul akan muncul dan kebencian yang telah muncul akan meningkat dan menjadi kuat.’

    “Jika mereka bertanya:
    ‘Sahabat, apakah penyebab dan alasan bagi munculnya kebodohan batin yang tadinya belum muncul, dan bagi meningkat serta menguatnya kebodohan batin yang telah muncul?’

    Kalian harus menjawab:
    Perhatian yang tidak benar: bagi orang yang memperhatikan hal-hal secara tidak benar, maka kebodohan batin yang tadinya belum muncul akan muncul dan kebodohan batin yang telah muncul akan meningkat dan menjadi kuat.’

    “Jika mereka bertanya:
    ‘Sahabat, apakah penyebab dan alasan bagi tidak munculnya nafsu yang belum muncul, dan bagi lenyapnya nafsu yang telah muncul?’

    Kalian harus menjawab:
    Objek yang tidak menarik: bagi orang yang memperhatikan objek yang tidak menarik secara benar, maka nafsu yang belum muncul tidak akan muncul dan nafsu yang telah muncul akan ditinggalkan.’

    “Jika mereka bertanya:
    ‘Sahabat, apakah penyebab dan alasan bagi tidak munculnya kebencian yang belum muncul, dan bagi lenyapnya kebencian yang telah muncul?’

    Kalian harus menjawab:
    ‘Pembebasan pikiran oleh cinta kasih: bagi orang yang memperhatikan secara benar kebebasan pikiran oleh cinta kasih, maka kebencian yang belum muncul tidak akan muncul dan kebencian yang telah muncul akan ditinggalkan.’

    “Jika mereka bertanya:
    ‘Sahabat, apakah penyebab dan alasan bagi tidak munculnya kebodohan batin yang belum muncul, dan bagi lenyapnya kebodohan batin yang telah muncul?’

    Kalian harus menjawab:
    Perhatian yang benar: bagi orang yang memperhatikan hal-hal secara benar, maka kebodohan batin yang belum muncul tidak akan muncul dan kebodohan batin yang telah muncul akan lenyap.”‘ [↑]

[5a] DN 16 [MAHA-PARINIBANNA SUTTA], syair 23-30. Penggalan sutta ini, KERAP DIGUNAKAN sebagai DASAR BERARGUMENTASI bahwa selama kita menjalani/mengikuti (ajaran yang mengandung) 8 Jalan utama maka PASTI AKAN [atau MASIH ADA yang] mencapai tingkat kesucian ke-1 s.d ke-4 atau dengan kata lain SEKARANG INIPUN masih ada ORANG suci.

Dalih/argumen ini TIDAK BENAR

Mengapa? Karena:
  • Syair ini menjelaskan keadaan dari ajaran 6 guru tersebut, tidak mengandung Jalan Mulia Berunsur Delapan
  • Bahkan di ajaran Buddha Gautama sekalipun, walaupun ajaran beliau mengandung Jalan Mulia Berunsur Delapan, namun di sutta lainnya disampaikan bahwa Sad Dhamma (Dhamma sejati)-nya, ADA BATASAN BERAKHIRNYA, yaitu: 500 tahun saja[12]
Dhamma sejati: (1) Ada ajaran; (2) Ada yang mencapai kesucian dengan ajaran, dan (3) Ada suciwan yang mengajarkannya. Setelah 500 tahun, yang tertinggal hanyalah ajaran yang tidak semurni sebelumnya (karena: Kemunculan dhamma tiruan; tercampur/bercampur ajaran lain, masalah penterjemahan, dll).

Malah karena AJARAN BUDDHA (walaupun tidak murni lagi) masih ada, tipe orang suci lainnya: PACCEKA BUDDHA BELUM SAATNYA muncul. Para Paccekka hanya muncul ketika AJARAN BUDDHA SUDAH LENYAP SEPENUHNYA [Serba-serbi Pacekka Buddha: DI SINI. Pacceka Buddha terakhir adalah Mātaṅga, Parinibanna ± 7 hari setelah lahirnya Sidharta Gautama, Nama beliau disebut di Isigli sutta; Kisahnya di sampaikan di KITAB KOMENTAR: ApA.i.107, ApA.i.170; SNA.i.128f; Mtu.i.357. Pacceka Buddha juga dapat mengajari orang tentang ‘Empat Kebenaran Mulia' sehingga mencapai ke-arahatan (Dhammapada Atthakatha, syair ke-290, tentang Brahmana Sankha dan Susima)].

Terdapat sutta/Syair lain yang juga kerap digunakan sebagai DASAR BERARGUMENTASI bahwa masih ada orang suci hingga saat ini, yaitu mengacu pada kata "siapa pun yang menjalankan Empat Landasan Perhatian akan memperoleh kesucian", sebagaimana tercantum seperti di bawah ini:
    'Siapa pun [Yo hi Koci], para bhikkhu, yang mempraktikkan Empat Landasan Perhatian ini selama 7 tahun dapat mengharapkan satu dari dua hasil ini: mencapai kesucian Arahant DALAM KEHIDUPAN INI [diṭṭheva dhamme aññā] atau, jika masih ada beberapa kekotoran tersisa, mencapai kondisi Yang-Tidak-Kembali. Jangankan 7 tahun – siapa pun yang mempraktikkannya selama 6 tahun.., 5 tahun.., 4 tahun.., 3 tahun.., 2 tahun.., 1 tahun dapat mengharapkan satu dari dua hasil..; jangankan 1 tahun-siapa pun yang mempraktikkannya selama 7 bulan.., 6 bulan.., 5 bulan.., 4 bulan.., 3 bulan.., 2 bulan.., 1 bulan.., 1/2 bulan dapat mengharapkan satu dari dua hasil..; jangankan 1/2-siapa pun yang mempraktikkan Empat Landasan Perhatian ini selama 7 hari dapat mengharapkan satu dari dua hasil ini: mencapai kesucian Arahant dalam kehidupan ini atau, jika masih ada beberapa kekotoran tersisa, mencapai kondisi Yang-Tidak-Kembali.’ [MN 10/Satipaṭṭhāna Sutta dan DN 22/Mahāsatipaṭṭhāna Sutta]
Sandaran yang sering digunakan adalah merujuk pada kata "siapa pun [Yo hi koci]", dengan mengutip pendapat Buddhaghosa [Abad ke-5 Masehi], yang di kitab komentarnya menafsirkan itu sebagai para Bhikkhu/bhikkhuni atau upasaka/upasika [umat awam laki/perempuan]

Jika ini benar, maka mengapa Buddhaghosa sendiri tidak menjadi arahat atau bahkan malah tidak mencapai tingkatan sotapanna sekalipun?
    Kutipan:
    Di akhir buku Visuddhimagga versi Sri Lanka, ada beberapa syair yang mengatakan bahwa melalui kebajikan yang muncul karena penulisan Visuddhimagga, bhikkhu Buddhaghosa bercita-cita untuk terlahir di alam Tavatimsa dan mencapai kesucian sotapanna di kehidupan Buddha Metteyya. Visuddhimagga versi Myanmar tidak memberikan pernyataan demikian.

    Namun, dalam Buddhaghosupatti, satu buku yang ditulis di Myanmar, ada beberapa fakta yang menyimpulkan bahwa Bhikkhu Buddhaghosa tidak mencapai kesucian..Berikut adalah pernyataan yang tertulis dalam bahasa Pāli dalam Buddhaghosuppatti:

    “Cintetvā ca pana maraṇadivase Buddhaguṇena saddhiṃ attano sīlaṃ anussaramāno kalaṃ katvā Tusitapure nibbattitvā dvādasayojanike kanakavimane devaccharasahassapirivārā saddhiṃ paṭivasati.

    Yadā Metteyyo bodhisatto idha manussaloke sabbaññūtapatto hessati tadā so ca tassa sāvako bhavissati aggo ca seṭṭho ca Metteyyassa Bhavagato sabbadhammesu appaṭihatena attano ñāṇavasena. So ca sattakkhattuṃ Metteyyena Bhagavatā etadagge ṭhapito bhavissati— ‘Mama sāvakānaṃ dhammavinayadharānaṃ bahussutānaṃ ñāṇagatīnaṃ ñāṇadharanaṃ yadidaṃ Buddhaghoso’ ti”.

    Yang bisa diterjemahkan sebagai berikut:“Setelah merenugkan hari kematiaanya, saat mengingat moralitasnya yang sesuai dengan kwalitas seorang Buddha, (Buddhaghosa) meninggal dan terlahir di alam Tusita di mana ia memiliki istana emas terbentang 12 yojana dan hidup dikelilingi seribu bidadari”

    Ketika Bodhisatta Metteyya mencapai kebuddhaan (sabbaññūta: all knowing) di alam manusia ini, ia (Buddhaghosa) akan menjadi murid yang tertinggi dan teragung, sempurna (appaṭihana: tanpa cacat) dan berpengetahuan dalam semua ajaran. Beliau akan dinyatakan oleh Sang Buddha Metteyyo sendiri: ‘Di antara para muridku yang ahli dalam Dhamma dan vinaya, terpelajar, telah menguasai pengetahuan dan menjaga pengetahuan, Buddhaghosa adalah (yang tertinggi).”

    Dua catatan di atas pun,..Sinhala Visuddhimagga mengatakan bahwa setelah meninggal, Bhikkhu Buddhaghosa bercita-cita untuk terlahir di alam Tavatiṃsa, sedangkan dalam Buddhaghosupatti, dikatakan ia terlahir di alam Tusita. Kedua pernyataan yang berbeda ini juga menimbulkan keraguan mengenai keabsahan cerita ini. [Dhammacitta: Critic About Buddhaghosa]
Bhikkhu S. Dhammika:
    Aku mendengar pandangan yang sama yang disampaikan ribuan kali di Sri Lanka. Bahkan Buddhaghosa tidak benar percaya bahwa Praktek Theravada menghantarkan ke nirvana. Buku Visuddhimagga-nya, seharusnya merupakan detail, step by step tuntunan menuju pencerahan. Dan tetap di dalam Naskah belakangan Ia berkata bahwa Ia berharap jasa kebaikannya menulis Visuddhimagga berbuah dengan membuatnya terlahir kembali di alam surga sampai kemunculan Buddha Metteya, mendengarkan ajarannya dan kemudian memperoleh pencerahan.

    Di Sri Lanka secara luas dipercaya bahwa adalah tidak mungkin mencapai pencerahan lagi dan ini dipercayai bukan oleh sekedar umat biasa. Saya suatu ketika datang bercakap dengan Narada Thera yang terkenal dari vihara Vajirarama, Colombo, Saat percakapan ia berkata bahwa bahkan tidak mungkin menjadi sotapanna sekaran ini. Richard Gombrich menemukan ide yang sama yang beredar luas di Sri Lanka. ["THE BROKEN BUDDHA", Critical Reflections on Theravada and a Plea for a New Buddhism, by S. Dhammika, hal.13]
Mengapa hal ini dapat terjadi? Sangat jelas karena umur dari jaman Dhamma sejati sendiri telah lewat lama!

Jika saja para pengkutip sutta itu mau menjelaskan tanpa disembunyikan untuk kepentingan "jualan" mereka, ada satu frase lain di syair itu yang sangat jelas merujuk pada keterangan waktu pembicaraan yaitu, "Siapa pun [Yo hi Koci]...DALAM KEHIDUPAN INI [diṭṭheva dhamme]"!!!

Kata "diṭṭheva dhamme", mempunyai 2 arti, yaitu "di sini dan sekarang" dan "di dalam kehidupan ini". Menurut kamus Pali-Inggris artinya sebagai berikut:
  • Concise Pali-English Dictionary by A.P. Buddhadatta Mahathera:
    Diṭṭhadhamma: [m.] this world. (adj.) one who has realised the final truth.Diṭṭhadhammika: [adj.] belonging to this world.

  • A Buddhist Dictionary A Manual of Pali Terms and Buddhist Doctrines By Nyanatiloka Mahathera:
    diṭṭha-dhamma-vedanīya-kamma: kamma bearing fruit in this present life; s.kamma.

  • PTS Pali-English dictionary (pub. in 1921),T.W. Rhys-Davies:
    Diṭṭha(1): in conn. with dhamma meaning: the visible order of things, the world of sensation, this world (opp. samparāyika dhamma the state after death, the beyond). Usually in cpds. ( —°): of this world, in this world. —diṭṭhadhamma Vin ii.188; D iii.222 sq.; A i.249; ii.61; Nd2 297 (=ñātadhamma); DA i.278; Sdhp 470. —Freq. in loc. diṭṭhe dhamme (in this world) It 17 (attha, opp. samparāyika attha), or diṭṭhe va dhamme (already or even in the present existence) D i.156, 167, 177, 196; iii.108; M i.341 sq., 485; ii.94, 103; A ii.155, 167; iii.429; Sn 141, 343, 1053; It 22, 23, etc. —In the same sense diṭṭhadhammika (adj.) belonging or referring to this world or the present existence, always contrasted with samparāyika belonging to a future state: Vin i.179; iii.21; D iii.130; A i.47, 98; Nd2 26; It 16; VvA 149; PvA 131, etc.
Sangatlah jelas bahwa "siapa pun" yang dimaksudkan di sana adalah para Bhikkhu yang ada di situ, yaitu ketika pembabaran Sutta itu disampaikan!

Perlu kiranya diketahui dengan 10 kekuatan [Dasabalā] sang Buddha, misalnya salah satunya adalah memahami sebagaimana adanya akibat-akibat dari perbuatan-perbuatan yang dilakukam, di masa lalu, di masa depan, dan di masa sekarang, dengan kemungkinan dan dengan penyebabnya menyebabkan ketika sang Buddha mengatakan batasan Dhamma sejati hanyalah 500 tahun saja, maka itu merupakan suatu batasan berdasarkan pertimbangan dari seorang Buddha!
    "Jika, Ānanda, perempuan tidak memperoleh pelepasan keduniawian dari kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah dalam dhamma dan disiplin yang dinyatakan oleh Sang Penemu-kebenaran, maka pengembaraan-Brahma, Ānanda, akan bertahan lama, dhamma sejati akan bertahan selama seribu tahun. Tetapi karena, Ānanda, perempuan telah memperoleh pelepasan keduniawian … dhamma dan disiplin yang dinyatakan oleh Sang Penemu-kebenaran, maka sekarang, Ānanda, pengembaraan-Brahma ini tidak akan bertahan lama, dhamma sejati hanya akan bertahan selama lima ratus tahun." [Culla Vagga x.1.6 dan AN 8.51]"
Ya Inilah kutipan syair yang menyatakan batasan umur sejati tersebut! Dan potongan kutipan ini pula yang oleh kalangan di dalam dan di luar ajaran Buddhism, di gunakan untuk menyatakan bahwa sang Buddha adalah sexist karena di anggap sudah TELAK menyatakan bahwa wanitalah sebagai biang keladi penyebab umur Dhamma sejati hanya 500 tahun saja!

Benarkah demikian?

Untuk menjelaskan ini saya memberikan ilustrasi contoh:
    Anggaplah saya seorang pimimpin SEKOCI yang lapuk, retak dan bocor di banyak tempat. Cepat atau lambat sekoci ini akan tenggelam. Tenggelamnya sekoci dapat semakin cepat terjadi diantaranya karena faktor lapuknya dek kapal, retakan yang membesar, pergerakan orang didalamnya [bisa karena badan, gesekan emosi, dan lain sebab], pergerakan angin, air, dll.

    Tiba-tiba di tengah perjalanan ada seorang wanita dan beberapa wanita lain meminta untuk ikut dalam sekoci yang hendak karam ini. Saya mengetahui tambahan muatan akan mempercepat tenggelamnya sekoci karena:

    • Tekanan ke bawah = tekanan ke atas, sehingga setiap pergerakan dan penambahan muatan, hanya akan mempercepat masuknya air kedalam sekoci.
    • Penambahan muatan memberikan tambahan pergerakan dan tekanan pada dek kapal. Akibatnya beberapa tempat terutama bagian yang lapuk menjadi mudah patah/retak, yang sudah retak akan menjadi membesar, berpotensi menambah bocoran dan pada gilirannya mempercepat laju air masuk
    • Laju sekoci menjadi melambat karena semakin berat

    Saya mengetahui ini sehingga permintaannya untuk ikut saya tolak hingga 3x. Salah satu penumpang di sekoci ini adalah keluarga wanita ini, Ia ikut membantu membujuk namun kemudian saya tolak juga 3x, kemudian Ia melakukan pendekatan dengan cara lain dengan memberikan alasan yang masuk akal dan benar, akhirnya dengan pertimbangan-pertimbagan tertentu dan pengetahuan yang saya miliki dan disertai beberapa syarat, maka saya terima permintaanya dan menyampaikan, "Jika, perempuan ini tidak naik, maka sekoci ini akan bertahan selama sepuluh hari. Tetapi karena, perempuan ini naik, maka sekoci ini bertahan hanya lima hari."
So, apakah karena saya menyebutkan kata "perempuan", maka ini lantas dapat dianggap menjadi penyebab sekoci itu tenggelam dan sexist? atau karena tambahan "faktor" sehinga mempercepat tenggelamnya sekoci?

Ilustrasi di atas, walaupun belum mampu menggambarkan cara berpikir seorang Buddha, namun dapat membantu mengenali permasalahan yang terjadi, yaitu:
  1. Batasan tenggelamya sekoci adalah 10 hari, sehingga ada/tidak perempuan itu, sekoci tetap saja tenggelam. Jadi tenggelam sekoci merupakan suatu hal yang pasti terjadi. Demikian pula dengan DHAMMA SEJATI, batasan kelenyapannya adalah 1000 tahun, sehingga ada/tidaknya Bhikkhuni maka kelenyapan Dhamma sejati sudah merupakan hal yang pasti terjadi
  2. Walaupun muatan baru, hadir belakangan, namun itu bukanlah satu-satunya faktor yang mempercepat tenggelamnya sekoci, karena SEBELUM itu, terdapat banyak faktor lain yang dapat mempercepat tenggelamnya sekoci, Demikian pula dengan Bhikkhuni, faktor yang hadir belakangan, bukanlah satu-satunya faktor yang mempercepat kelenyapan Dhamma sejati, karena SEBELUM ITU sudah ada faktor lainnya yang mempercepat kelenyapan Dhamma sejati. Sehingga dengan Bhikkhuni total terdapat 8 faktor yang menyebabkan menurunnya Dhamma sejati, yaitu Bhikkhu, Bhikkhuni, umat awam (Upasika/Upasaka) yang bersikap tidak hormat dan melawan pada: Guru, dhamma, sangha, pelatihan dan meditasi [SN 16.13].
Perlu di ketahui, umat awam terdiri dari laki-laki dan perempuan, jadi sangat jelas bahwa GENDER bukanlah issue utama di sini, namun terjadi "PENAMBAHAN MUATAN" dan "PERGESEKAN" yang terjadi di dalamnya sebagaimana tercatat dalam vinaya sendiri, yaitu permasalahan antara ke-dua sangha itu sendiri baik yang di picu dari internal maupun eksternal [pihak ajaran lain] dan juga antara ke dua sangha tersebut dengan umat awamnya. Ini jelas sesuai dengan maksud dari SN 16.13!

Sang Buddha sudah menekankan bahwa "human" bukan gender yang menjadi faktor utamanya di SN 16.13:

"ketika mahluk-mahluk merosot [sattesu hayamanesu], Dhamma sejati juga akan memudar, aturan ditetapkan semakin banyak, semakin sedikit bhikkhu yang mencapai pencerahan namun itu tidak membuat Dhamma sejati lenyap hingga kemudian dhamma tiruan bermunculan di dunia. Ketika Dhamma tiruan bermunculan di dunia maka dhamma sejati akan lenyap"

-> orangnya akan MEROSOT.

"Bukan karena unsur tanah, Kassapa, yang menyebabkan Dhamma sejati lenyap, juga bukan unsur air, juga bukan unsur panas, juga bukan unsur angin. Adalah orang yang kosong melompong spiritualitasnya (mogha purisa) yang bermunculan di sini yang menyebabkan Dhamma sejati melenyap."

-> perhatikan kata MOGHA PURISA...lagi-lagi disebutkan orang :)

Dhamma - yang menyampaikan: orang!, yang menterjemahkan: orang!, yang membuat merosot: lagi-lagi orang! [↑]


[5b] 10 baris syair ini adalah jawaban Sang Buddha kepada pertanyaan Subadda, tentang keadaan sebelum kemunculan Buddha Gautama dan ajaran 6 guru lain [Purana Kassapa, Makkhali Gosala, Ajita Kesakambali, Pakudha Kaccayana, Sanjaya Belatthiputta, Nigantha-Nataputta] yang sejaman dengan Sang Buddha:

"Apakah mereka itu semuanya telah mencapai kebebasan, seperti yang dikatakan oleh orang-orang itu, atau apakah tak seorang dari mereka yang mencapai kebebasan atau apakah hanya beberapa saja telah mencapai, dan yang lainnya tidak?"

Sang Buddha:
di ajaran mereka [tertulis di sana dengan kata "dhamma dan vinaya mana pun"] jika tidak terdapat Jalan Mulia Berunsur Delapan maka tidak ada orang sucinya, yaitu:
  • Sampai usia 29 tahun (+ 6 tahun kemudian) tidak ada Dhamma sejati hingga beliau menemukannya
  • Sejak beliau menemukan dhamma sejati hingga beliau parinibana, maka DI LUAR AJARANNYA, tidak beliau temukan ada petapa lain yang mencapai kesucian.
PTS Text menuliskan syair ini hanya sampai baris ke-6, dan ini diikuti oleh RD dan dalam LDB. Tetapi dalam tambahan atas edisi ke dua tahun 1938, syair ini terlihat sama seperti yang dituliskan di sini (kecuali, mungkin, untuk baris dalam kurung), dan menghilangkan nama Subhadda. [↑]

[7] 10 Belenggu:
"Terdapat sepuluh belenggu berikut. Apakah sepuluh itu? Lima belenggu rendah & lima belenggu tinggi. Dan apakah saja lima belenggu rendah itu? Pandangan tentang identitas-diri, keraguan, memegang erat aturan-aturan dan latihan-latihan, nafsu sensual, & keinginan buruk. Inilah lima belenggu rendah. Dan apakah lima belenggu tinggi itu? Keinginan terhadap bentuk, Keinginan terhadap yang tidak berbentuk, kesombongan, kegelisahan, & ketidaktahuan. Inilah lima belenggu tinggi. Dan inilah sepuluh belenggu." [AN 10.13, Saṃyojana Sutta] [↑]

[8] Apa saja persiapan menuju kesucian dan juga tingkatan pencapaian kesucian 1 s.d 4, beserta belenggu yang harus di hancurkan tercantum detailnya juga di MN 118 [ānāpā­nasati sutta] [↑]

[9] Type-Type Sotapana [e.g. Pug. 37-39; A. III, 87]:
  • Sattakkhattuparama-Sotapanna, Terlahir maksimum 7 kali [7 belenggu patah] - SNP 2.1/Ratana Sutta, syair ke-9: "Ye ariyasaccāni vibhāvayanti, gambhīrapaññena sudesitāni; Kiñcāpi te honti bhusaṃ pamattā, na te bhavaṃ aṭṭhamamādiyanti" ["Siapapun yang menembus kebenaran Mulia, kebijakan yang sangat dalam yang telah dibabarkan, meski masih banyak kealpaan, terlahir tidak lebih dari delapan kehidupan"]

  • Kolankola-Sotapanna, terlahir 2 atau 3 kali lagi (Ada juga yang mengutip Mahatika hal 564., dikatakan terlahir 2 s/d 6 kali lagi YAVA CHATTHABHAVA SAMSARANTOPI KOLAM KOLOVA HOTI "Akan dilahirkan dua sampai enam kali lagi")

  • Ekabiji-Sotapanna, hanya sekali terlahir dan dikehidupan itu ia mencapai nibbana [Sotāpatti-Samyutta, S.55]
Benarkah yang TELAH MENCAPAI Sotapanna dapat terlahir LAGI sebagai manusia?

Tidak. Alasannya adalah:

Pertama,
‘Yato kho, gahapatiputta, ariyasāvakassa cattāro kammakilesā pahīnā honti, catūhi ca ṭhānehi pāpakammaṃ na karoti, cha ca bhogānaṃ apāyamukhāni na sevati, so evaṃ cuddasa pāpakāpagato chaddisāpaṭicchādī [paṭicchādī hoti (syā.)] ubholokavijayāya paṭipanno hoti. Tassa ayañceva loko āraddho hoti paro ca loko. So kāyassa bhedā paraṃ maraṇā sugatiṃ saggaṃ lokaṃ upapajjati.

"Perumah tangga muda, siswa ariya dengan meninggalkan empat kekotoran perbuatan, dengan tidak melakukan kejahatan dari empat penyebab, dengan tidak mengikuti enam cara membuang-buang harta seseorang, dengan menghindari empat belas kejahatan ini – maka mencakup enam arah, MEMASUKI JALAN UNTUK MENAKLUKAN DUA ALAM, Semuanya berjalan lancar baginya, BAIK DI ALAM INI MAUPUN ALAM BERIKUTNYA, bersamaan dengan hancurnya jasmani setelah kematian terlahir dalam keadaan BAHAGIA (sugatiṃ) di ALAM SURGA (saggaṃ lokaṃ ).’[DN 31/Sigalaka sutta]

Dalam SN 55.34-35 dikatakan bahwa mereka yang memiliki: (1) Keyakinan pada Buddha, (2) Dhamma, (3) sangha dan (4) moralitas yang disenangi para mulia -tidak rusak, robek, tanpa noda, tanpa bercak, membebaskan, dipuji oleh para mulia, tidak digenggam, menuntun pada konsentrasi adalah lintasan para dewa. Bahkan dalam SN 55.36 disampaikan ketika seorang siswa mulia memiliki 4 hal di atas maka para deva bersukacita dan membicarakan kemiripannya dengan mereka para deva yaitu ketika mereka wafat di alam manusia terlahir kembali di alam deva, maka Ia akan datang ke hadapan para Deva.

Dalam MN.90/Kaṇṇakatthala Sutta terdapat 2 pertanyaan Raja Pasenadi dari Kosala, yang dijawab dengan jawaban yang sama oleh sang Buddha:
  • Raja: “Yang Mulia, aku menanyakan apakah para dewa itu kembali di alam ini atau tidak.” (alam ini yang dimaksud adalah alam manusia, utk jelasnya lihat suttanya pada jawaban tambahan Ananda pada Jendral Viḍūḍabha)

    Sang Buddha: “Baginda, para dewa yang masih tunduk pada niat buruk [sabyābajjhā] akan kembali ke alam ini [itthatta], para dewa yang tidak lagi tunduk pada niat buruk [abyābajjho] tidak akan kembali ke alam ini.”

  • Raja: “Yang Mulia, aku menanyakan apakah Brahmā itu kembali di alam ini atau tidak.”

    Sang Buddha: “Baginda, Brahmā yang masih tunduk pada niat buruk akan kembali ke alam ini, Brahmā yang tidak lagi tunduk pada niat buruk tidak akan kembali ke alam ini.”
Kedua,
YM Kumara Kassapa dalam perumpamaan orang yang terjatuh di lubang kotoran (Gūthakūpapurisa-upamā), mengatakan, "Demikianlah, Pangeran, manusia adalah kotor, berbau, mengerikan, menjijikkan, dan biasanya dianggap demikian oleh para dewa." [DN 23/Payasi Sutta]

Ketiga,
Sebelum pertemuan Sakka dan sang Buddha, Sakka mengetahui seorang umat awam wanita (gopaka) terlahir di surga tavatimsa, sementara 3 bhikkhu terlahir di alam catumaharajika sebagai pelayan deva (gandhabba). Setelah di marahi dan didorong, 2 diantara deva itu malu dan mengembangkan perhatian dan berhasil menghancurkan kama samyojana dan terlahir di alam brahma purohita. [DN 21/Sakka panha sutta]

Deva sakka kemudian bertemu dengan sang Buddha dan di saat berlangsungnya tanya jawab tersebut, Ia mencapai sotapanna. Kemudian muncul dalam pikiran Deva Sakkha 6 hal yang membuatnya gembira, diantaranya adalah point ke-1, 2, dan 5 :
  1. Idheva (idha_eva -> di sini) tiṭṭhamānassa (berada, berdiam), devabhūtassa (mahluk deva) me (aku) sato (sadar, kenali); Punarāyu (berlanjut lagi) ca (dan, ",") me (aku) laddho (mendapat, menerima, memperoleh), evaṃ (kemudian, dalam cara ini) jānāhi (ketahui) mārisa (tuan)

    → Berada di sini, aku sadari sebagai dewa, kehidupan dapat berlanjut lagi, kemudian ku ketahui tuan.

  2. Cutāhaṃ (cuta+aham, cuta=menjauh, mengilang, aham=amha=kami), diviyā (deva) kāyā (tubuh), āyuṃ (hidup) hitvā (menghindari, membuang) amānusaṃ (non manusia); Amūḷho (tidak bingung) gabbhamessāmi (akan di rahim), yattha (kemana saja, dimana) me (aku, punyaku) ramatī (kegembiraan) mano (pikiran)
    ----
    mūḷha
    [Vedic mūḍha, pp. of muh; cp. also muddha1= Vedic mugdha] 1. gone astray, erring, having lost one's way (magga°) D.I,85 ≒ (°ssa maggaṁ ācikkhati); Pv IV.148 (id. with pāvadati); PvA.112 (magga°). -- 2. confused, infatuated, blinded, erring, foolish D.I,59; Pv IV.334 (sa°, better to be written sam°).

    --gabbhā (f.) a woman whose 「fœtus in utero」 has gone astray, i. e. cannot be delivered properly, a woman difficult to be delivered J.I,407=DhA.IV,192; Miln.169; VbhA.96. --rūpa foolish Dh.268; DhA.III,395. (Page 540)

    → Kami menjauhi tubuh deva, menghindari kehidupan non manusia; tidak akan di rahim, kemana saja pikiranku gembira.
  1. Cutāhaṃ (cuta+aham, cuta=menjauh, menghilang aham=amha=kami) mānusā (manusia) kāyā (tubuh), āyuṃ (hidup) hitvāna (hitvana = jahati = membuang, menghindari) mānusaṃ; Puna (again) devo bhavissāmi (akan menjadi deva), devalokamhi uttamo (deva-loka-amhi-uttamo =aku di alam deva utama).

    → kami menjauhi tubuh manusia, menghindari kehidupan manusia; lagi akan menjadi deva aku di alam deva utama
Keempat,
Selama 45 tahun sang Buddha membabarkan dhamma hingga tahun terakhirnya tidak ditemukan 1 (satu) pun sotapanna dan sakadagami yang terlahir KEMBALI di alam manusia agar mencapai arahat di alam manusia dan malah disampaikan banyak contoh putthujhana ketika menjadi sotapanna dan sakadagami terlahir kembali di alam surgawi, misal:
  1. DN 16/Mahaparanibanna sutta:

      Kemudian Ananda mendekati Sang Bhagava dan setelah memberi hormat, duduk pada salah satu sisi. Kemudian Ananda berkata kepada Sang Bhagava: "Bhante, di Nadika ini bhikkhu Salha dan bhikkhu Nanda telah meninggal. Juga yang telah meninggal adalah upasaka Sudatta, upasika Sujata serta beberapa upasaka lain yaitu Kakhuda, Kalinga, Nikata, Katissabha, Tuttho, Santuttha, Bhadda dan Subhadda. Bagaimanakah nasib mereka? Bagaimanakah keadaan tumimbal lahir mereka?"

      "Ananda, mengenai bhikkhu Salha, ia dengan melenyapkan kekotoran-kekotoran bathinnya selama hidupnya itu, maka ia telah memperoleh kebebasan batiniah dari noda, telah mendapatkan kebebasan melalui kebijaksanaan, dan hal itu telah dipahami dan disadarinya sendiri.

      Mengenai bhikkhu Nanda, dengan menghancurkan lima belenggu yang lebih rendah (belenggu yang mengikat mahluk-mahluk di alam nafsu), dan menghancurkan keinginan untuk hidup di alam yang bermateri halus (alam dewa), ia telah mencapai perhentian yang terakhir dalam kehidupan yang sekarang ini dan tak akan kembali lagi di dunia ini.

      Mengenai upasaka Sudatta, ia telah menghancurkan tiga belenggu (pandangan salah adanya aku, keragu-raguan dan kepercayaan tentang upacara-upacara adalah dapat menyelamatkan), mengurangi hawa nafsu dan kebencian, telah menjadi seorang yang hanya dilahirkan sekali lagi; untuk mengakhiri penderitaannya, ia akan dilahirkan kembali sekali lagi di dunia ini. [sakadāgāmī sakideva imaṃ lokaṃ āgantvā dukkhassantaṃ karissati]

      Mengenai upasika Sujata, dengan menghancurkan Tiga Belenggu, ia telah mencapai tingkat Sotapanna, dan telah bebas dari bahaya jatuh ke dalam keadaan yang buruk, telah terjamin dan siap untuk mencapai kesempurnaan.

      Mengenai upasaka Kakhuda, dengan menghancurkan lima belenggu yang rendah (yang mengikat mahluk-mahluk di alam nafsu) dan telah menghancurkan keinginan untuk hidup di alam dewa (kama loka), tidak terlahir kembali di dunia ini dan pasti akan mencapai nibbana.

      Demikian pula halnya dengan Kalingga, Nikata, Katissabha, Tuttho, Santuttha, Bhadda dan Subhadda, beserta lebih dari lima puluh orang di Nadika. Lebih dari sembilan puluh orang telah wafat di Nadika, dengan menghancurkan Ketiga Belenggu dan pengurangan hawa nafsu, kebencian dan khayalan, telah menjadi seorang yang akan Dilahirkan Sekali lagi (Sakadagami) dan telah siap mencapai akhir dari penderitaannya dalam kelahirannya kembali yang sekali lagi di dunia ini. Lebih dari lima ratus orang yang telah wafat di Nadika, dengan melenyapkan tiga belenggu, mereka adalah para sotapanna dan telah bebas dari kelahiran kembali di alam penderitaan, yang pasti akan mencapai penerangan sempurna (bodhi)."

  2. DN 18/Janavasabha Sutta:

      Ananda: ‘Bhagavā, aku telah mendengar apa yang telah dinyatakan sehubungan dengan para penduduk Nādikā.’ ..‘Ada juga warga Magadha yang telah lama menjadi pengikut Buddha yang telah meninggal dunia. .. Raja Bimbisara, yang memuja Sang Bhagavā pada hari kematiannya, telah meninggal dunia!” .. Mengapa Bhagavā tidak memberikan pernyataan demikian?’ Kemudian, setelah berbicara dengan Sang Bhagavā mewakili para umat dari Magadha, ia bangkit dari duduknya, memberi hormat kepada Beliau, berjalan dengan sisi kanan menghadap Sang Bhagavā, dan pergi.’

      Segera setelah Ānanda pergi, Sang Bhagavā mengambil jubah dan mangkuk-Nya dan pergi ke Nādikā untuk menerima dana makanan. Kemudian, dalam perjalanan kembali, setelah makan, Beliau pergi ke Rumah Bata dan, setelah mencuci kaki-Nya, Beliau masuk dan, setelah memikirkan, merenungkan, dan mencurahkan pikiran-Nya pada pertanyaan tentang para umat dari Magadha, Beliau duduk di tempat yang telah dipersiapkan, dan berkata: ‘Aku akan mengetahui alam kelahiran kembali dan masa depan mereka, apa pun itu.’ Dan kemudian Beliau melihat alam kelahiran kembali dan takdir dari mereka semua.
      ...
      Brahma sanakumara: Mereka yang memiliki keyakinan tidak tergoyahkan terhadap Buddha, Dhamma, dan Sangha, dan memiliki moralitas-moralitas yang menyenangkan bagi Para Mulia, makhluk-makhluk yang telah muncul di sini karena latihan-Dhamma mereka, berjumlah lebih dari dua puluh empat ribu umat dari Magadha yang telah meninggal dunia, setelah menghancurkan tiga belenggu menjadi para Pemenang-Arus, tidak mungkin lagi terjatuh ke alam sengsara dan pasti mencapai Pencerahan, dan sesungguhnya juga ada Yang-Kembali-Sekali di sini...

    ex-Raja bimbisara yang terlahir di catumaharajika, hadir di hadapan Sang Buddha dan menyampaikan kemana nasib rakyat Maghada di sutta tersebut. Ketika ia bertemu dengan Sang Buddha ia adalah Yakkha Janavasabha, pengiring dari Raja alam deva catumaharajika, Vessavaṇa ketika itu ex raja bimbisara setelah mencapai sotapanna hendak menuju pada pencapaian SAKADAGAMI.

    Raja bimbisara wafat setelah mencapai sotapanna dan terlahir di alam catumaharajika. Ia wafat ketika Sang Buddha berumur 72 tahun. Saat sutta ini dibabarkan (yaitu setelah Mahaparinibanna sutta), ini mengindikasikan terjadi di tahun-tahun ke-45 (hampir 8 tahun setelah wafatnya raja bimbisara).

    1 Jam di alam catumaharajika = 2 tahun di alam manusia. 2 Jam di tavatimsa = 4 tahun di alam Manusia. Artinya ketika raja bimbisara menghadap 8 tahun kemudian maka itu hampir 4 jam menurut waktu di alam catumaharajika.
Terlahir kembali sebagai Deva adalah secara spontan. Keuntungan terlahir seperti ini adalah ia dapat MENGINGAT mengapa terlahir di alam barunya tersebut dan Iapun tak perlu lagi membuang waktu lagi untuk belajar ulang ajaran dan dapat meneruskan kembali apa yang telah di lakukannya dengan kendalanya pun semakin sedikit, sekurangnya ia telah mendapatkan bukti langsung kebenaran ajaran. Terdapat sutta yg menjelaskan bahwa dimungkinkan untuk menjadi brahma alam jhana ke-1 s.d ke -4. Jika ia putthujhana, setelah wafat ia dapat jatuh ke alam-alam rendah (sampai neraka) namun tidak jika ia seorang ariya dan dapat mencapai arahat di alam brahma jhana ke-1 s.d jhana ke-4 TANPA PERLU terlahir kembali di alam anagami Sudhavassa untuk mencapai arahat. (AN 4.123-126)

Kelima,
[..]memasuki [okkanto] jalan pasti kebenaran [sammattaniyāmaṃ], memasuki [okkanto] wilayah orang-orang mulia, melampaui [vītivatto] wilayah kaum duniawi [puttujhana]; TIDAK DAPAT [abhabbo] MELAKUKAN PERBUATAN YANG AKIBATNYA TERLAHIR KEMBALI DI ALAM: neraka, binatang, mahluk halus; Ia TIDAK DAPAT meninggal dunia tanpa menembus buah Memasuki-arus. [SN 25.1-10]

sahāvassa dassana sampadāya tayasu dhammā jahitā bhavanti sakkāya ditthi vicikicchitañca sīlabbatam vāpi yadatthi kiñci catūhapāyehi ca vippamutto cha cābhithānāni abhabbo kātum....kiñcapi so kammaṃ karoti pāpākaṃ, kāyena vācā uda cetasavā, abbhabbo so tassa paṭicchadaya abhabbatā dittha padassa vuttā

bersama dengan kemampuan melihatnya, Ia tinggalkan tiga keadaan mental, pandangan identitas keraguan dan kemelekatan aturan dan ritual yang keliru, bebas dari 4 kondisi merugi, tak dapat Ia lakukan 6 perbuatan buruk besar....Apapun perbuatan buruk yang ia lakukan lewat badan, ucapan dan pikiran tidak mungkin Ia sembunyikan. Sesuatu yang tidak mungkin bagi ia yang telah melihat jalan. [SN 2.1.10-11]

Kata 6 perbuatan tidak dijabarkan. Beberapa mendetailkan dengan pembunuhan (1) ayah, (2) ibu, (3) melukai arahat, (4) buddha dan (5) memecah belah sangha Namun beberapa menyatakan 5 sila dan untuk yg ke-6nya adalah tidak berguru atau mengajarkan ajaran guru lain. Pengumbaran indriya yang masih mungkin dilakukannya (sotapanna, non bhikkhu) adalah menonton hiburan, menyanyi, menari, memainkan musik, makan lebih dari 1x, masih berhubungan badan dan beberapa hal kecil lainnya.

Namun demikian,
Bagi mereka yang mempunyai pandangan benar adalah TIDAK MUNGKIN:
  1. BERPIKIR bhw sankhara adalah kekal, menyenangkan dan miliknya
  2. Membunuh: bapak, ibu, arahat, melukai sang buddha, memecahbelah sangha
  3. berguru pada orang lain
Namun MUNGKIN dilakukan para putthujhana. [AN 1.15.1−30]

TIDAK MUNGKIN bagi pemilik:
  • perbuatan buruk lewat [badan, ucapan dan pikiran] dengan perbuatannya setelah wafat lahir di keadaan bahagia di alam surga [sugatiṃ saggaṃ lokaṃ upapajjeyya]. Namun DIMUNGKINKAN di keadaan di keadaan keadaan sengsara/merugi menderita menuju kehancuran bahkan neraka [apāyaṃ duggatiṃ vinipātaṃ nirayaṃ upapajjeyya]
  • perbuatan baik lewat [badan, ucapan dan pikiran] dengan perbuatannya setelah wafat lahir dalam di keadaan keadaan sengsara/merugi menderita menuju kehancuran bahkan neraka namun DIMUNGKINKAN lahir di keadaan bahagia di alam surga [AN 1.15.1−30]
Terdapat 4 keadaan yang tidak akan terjadi pada sotapanna:
Atha kho so parimutto nirayā, parimutto tiracchānayoniyo, parimutto pettivisayā, parimutto apāyaduggativinipātā.

[kemudian Ia bebas dari: neraka; binatang; alam peta; bebas dari kerugian kesengsaraan kehancuran] [SN 55.1/Raja sutta]

Kalimat 'parimutto apāyaduggativinipātā (bebas dari kerugian kesengsaraan kehancuran)" menunjukan ia tidak dapat terlahir lagi di alam manusia.

Mengapa?

Terlahir kembali sebagai manusia, maka ia akan mengalami keadaan kerugian ketika masih sebagai janin dan bayi. Sebagai balita, maka Ia rentan terhadap potensi pelanggaran sila (misal: mengambil yang tidak diberikan). Bayi tidak memiliki gagasan tentang pandangan indentitas, ajaran dan keraguan terhadap ajaran serta tidak 'melihat dan mengetahui' anicca yang seharusnya merupakan syarat seorang sebagai sotapanna.

Dalam MN 64/ Mahāmālunkya Sutta dikatakan:
“Mālunkyāputta, dari siapakah engkau mengingat bahwa Aku telah mengajarkan kelima belenggu yang lebih rendah dalam cara itu? Tidakkah para pengembara sekte lain membantahmu dengan perumpamaan bayi? Karena:
  1. seorang bayi yang lembut yang berbaring telungkup bahkan tidak memiliki gagasan ‘identitas,’ jadi bagaimana mungkin pandangan identitas muncul dalam dirinya? namun kecenderungan tersembunyi pada pandangan identitas terdapat dalam dirinya.
  2. Seorang bayi yang lembut yang berbaring telungkup bahkan tidak memiliki gagasan ‘ajaran,’ jadi bagaimana mungkin keragu-raguan terhadap ajaran muncul dalam dirinya? namun kecenderungan tersembunyi pada keragu-raguan terdapat dalam dirinya.
  3. Seorang bayi yang lembut yang berbaring telungkup bahkan tidak memiliki gagasan ‘peraturan,’ jadi bagaimana mungkin keterikatan pada peraturan dan pelaksanaan muncul dalam dirinya? namun kecenderungan tersembunyi pada peraturan dan pelaksanaan terdapat dalam dirinya.
  4. Seorang bayi yang lembut yang berbaring telungkup bahkan tidak memiliki gagasan ‘kenikmatan indria,’ jadi bagaimana mungkin keterikatan pada keinginan indria muncul dalam dirinya? namun kecenderungan tersembunyi pada nafsu indria terdapat dalam dirinya.
  5. Seorang bayi yang lembut yang berbaring telungkup bahkan tidak memiliki gagasan ‘makhluk-makhluk,’ jadi bagaimana mungkin niat buruk terhadap makhluk-makhluk muncul dalam dirinya? namun kecenderungan tersembunyi pada niat buruk terdapat dalam dirinya. Tidakkah para pengembara sekte lain membantahmu dengan perumpamaan bayi?”
Itulah alasannya, mengapa kelahiran berikutnya mereka yang Sotapanna adalah dikelahiran spontan.

Sehingga ketika di AN 3.86-88/Sikkha sutta, terdapat kalimat:

"So tiṇṇaṃ saṃyojanānaṃ parikkhayā sattakkhattuparamo hoti. Sattakkhattuparamaṃ deve ca manusse ca sandhāvitvā saṃsaritvā dukkhassantaṃ karoti. So tiṇṇaṃ saṃyojanānaṃ parikkhayā kolaṃkolo hoti, dve vā tīṇi vā kulāni sandhāvitvā saṃsaritvā dukkhassantaṃ karoti. So tiṇṇaṃ saṃyojanānaṃ parikkhayā ekabījī hoti, ekaṃyeva mānusakaṃ bhavaṃ nibbattetvā dukkhassantaṃ karoti."

("Ia menghancurkan tiga belenggu paling banyak 7 x lahir. Paling banyak 7x berkelanjutan menjadi deva, manusia, untuk mengakhiri dukkha. Ia menghancurkan tiga belenggu, lahir dari keluarga ke keluarga, berkelanjutan lahir dua atau tiga keluarga untuk mengakhiri dukkha. Ia menghancurkan tiga belenggu hanya sekali lahir, sekali telah menjadi manusia untuk mengakhiri dukkha.")

kata terlahir kembali tidaklah selalu harus merujuk pada kejadian setelah terjadi kematian, sebagaimana bunyi sutta dibawah ini:
    “Kalau begitu, Angulimāla, pergilah ke Sāvatthī dan katakan kepada perempuan itu: ‘Saudari, SEJAK KELAHIRANKU (Since, My BIRTH, jātiyā jāto), aku tidak ingat bahwa aku pernah dengan sengaja membunuh makhluk hidup. Dengan kebenaran ini, semoga engkau sejahtera dan semoga bayimu sejahtera!’”

    “Yang Mulia, bukankah dengan demikian aku mengatakan kebohongan dengan sengaja, karena aku telah dengan sengaja membunuh banyak makhluk hidup?”

    “Kalau begitu, pergilah ke Sāvatthī dan katakan kepada perempuan itu: ‘Saudari, SEJAK KELAHIRANKU di kelahiran KEMULIAAN (When I was born IN THE NOBLE BIRTH, ariyāya jātiyā jāto), aku tidak ingat bahwa aku pernah dengan sengaja membunuh makhluk hidup. Dengan kebenaran ini, semoga engkau sejahtera dan semoga bayimu sejahtera!’" [MN 86/Angulimāla Sutta]
Sutta di atas menunjukan aplikasi dari "kondisi memunculkan kesadaran dan tanpa ada kondisi tidak mucul kesadaran", sehingga:
  • Ia mencapai sotapanna sebagai manusia, kemudian terlahir lagi sebagai deva-deva (keluarga deva tertentu putra deva/deva baru) dan mengakhiri dukkha di alam-alam tersebut. Contoh ini banyak di sutta-sutta, diantaranya adalah raja bimbisara, setelah mencapai sotapanna ia wafat dan terlahir di alam catumaharajika
  • Atau sebagai Deva mencapai sotapanna dan terlahir menjadi deva-deva lainnya baik yang sama dan atau berbeda (keluarga deva, putra deva/deva baru) kemudian mengakhiri dukkha di alam-alam tersebut. Contoh dari kejadian ini adalah deva sakka (Setelah mencapai sotapanna ia terlahir lagi menjadi deva sakka) dan juga para deva lainnya yang menjadi sotapanna dan terlahir di alam-alam deva lainnya.
  • Atau ia mencapai manusia biasa mencapai Sotapanna dan memutuskan menjadi bhikkhu dan menjadi arahat kemudian.

      Vāseṭṭha, kalian semua, walaupun berasal dari kelahiran, nama, suku dan keluarga yang berbeda, yang telah meninggalkan kehidupan rumah tangga untuk menjalani kehidupan tanpa rumah, jika kalian ditanya siapakah kalian, maka kalian harus menjawab: “Kami adalah petapa, pengikut Sakya.." [DN 27/Aggana sutta]

      Gopaka menyebut dirinya sebagai putto sakka..kemudian di anatiya sutta anda temukan indra berputra banyak dan semua di panggil indra.

      "Ia memiliki banyak putra kuat
      Delapan puluh, sepuluh, dan satu, kata mereka
      Dan semuanya memiliki satu nama,
      Dipanggil Indra"

    Jadi makna klan, keluarga sebagai arti kola tidak harus merujuk pada keluarga kelahiran dari rahim.

  • Atau Sebagai manusia ia menjadi sotapanna dan dikehidupannya itu Ia merealisasikan Nibanna. Contoh terbaik ekabiji sotapanna adalah Sariputta, Maha Moggalana, Raja Sudoddanna, maha pajapati Gotami dan banyak lainnya
Demikianlah mengapa setelah mencapai sotapanna jika ia tidak menjadi arahat, maka setelah wafat, ia tidak terlahir lagi sebagai manusia namun meneruskan pencapaian arahatnya di alam-alam bahagia yaitu surga. [↑]

[10] Tulisan itu merupakan ringkasan dari isi SN 25:1-10 [Sutta okkanta, artinya: "memasuki"]. Okkanta Samyutta merupakan kumpulan dari sutta-sutta pendek yaitu: Cakkhu Sutta, Rūpa Sutta, Viññana Sutta, Phassa Sutta, Vedanā Sutta, Saññā Sutta, Cetanā Sutta, Tanhā Sutta, Dhātu Sutta dan Khanda Sutta]. [↑]

[11] Komentar menyatakan mereka yang telah menghancurkan belenggu no. 6 (ruparaga) dan/atau no.7 (a-ruparaga), apabila meninggal di keadaan samadhi [telah mencapai Jhãna ke-I, II, III atau ke-IV), Ia akan muncul di alam bentuk (rüpa-loka).

NAMUN saya tidak sepenuhnya sepakat dengan statement komentar tersebut di atas.

Alasannya?

Jika mereka dalam satu dan lain hal dapat menghancurkan satu/dua belenggu di atas namun BELUM menghancurkan 5 BELENGGU TERENDAH, maka mereka akan muncul kembali di antara dua alam tersebut, yaitu: Rupa atau Arupa dan tidak pernah di alam Suddhavasa.

Namun, mereka yang TELAH menghancurkan 5 belenggu terendah [belenggu no.1 s.d 5], maka setelah kematiannya, akan SELALU muncul kembali di alam Suddhavasa/alam para Anagami. Alam Suddhavasa merupakan alam dengan penunjang terbaik bagi mereka dalam meneruskan latihan menghancurkan belenggu-belenggu sisanya.
  1. Lima belenggu rendah [Orambhãgiya-samyojana] adalah belenggu Sotapanna [3], sakadagami [2] dan Anagami [3+2]
  2. Lima belenggu berikutnya [Uddhambhãgiya-samyojana/belenggu tinggi], merupakan 5 belenggu sisanya yang harus di hancurkan untuk menembus tingkat kesucian arahat.
Jhana artinya adalah Keterpusatan pikiran/konsentrasi atau kadang juga diartikan keadaan diri dalam keadaan terbakar, cemerlang atau terpesona atau juga diartikan keadaan diri dalam keadaan tercerap. [↑]

[12] AN 8.51-53/Gotami Sutta dan Vinaya Pitaka, Cullavagga X.1.6, berikut ini adalah dari CulaVagga (KLIK!):

    Pada suatu ketika Yang Tercerahkan, Sang Bhagavā, sedang menetap di antara penduduk Sakya di Kapilavatthu di vihara Banyan. Kemudian Gotamid, Pajāpatī yang Agung, menghadap Sang Bhagavā; setelah mendekat, setelah menyapa Sang Bhagavā, ia berdiri dalam jarak selayaknya. Setelah berdiri dalam jarak selayaknya, Gotamid, Pajāpati yang Agung, berkata kepada Sang Bhagavā sebagai berikut:

    “Yang Mulia, baik sekali jika perempuan boleh diperbolehkan meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah dalam dhamma dan disiplin yang dinyatakan oleh Sang Penemu-kebenaran ini.”

    “Hati-hati, Gotami, tentang pelepasan keduniawian perempuan dari kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah dalam dhamma dan disiplin yang dinyatakan oleh Sang Penemu-kebenaran ini.” Dan untuk ke dua kalinya … Dan untuk ke tiga kalinya Gotamid, Pajāpati yang Agung, berkata kepada Sang Bhagavā sebagai berikut: “Yang Mulia, baik sekali …”

    “Hati-hati, Gotami, tentang pelepasan keduniawian perempuan dari kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah dalam dhamma dan disiplin yang dinyatakan oleh Sang Penemu-kebenaran ini.”

    Kemudian Gotamid, Pajāpati yang Agung, karena berpikir: “Sang Bhagavā tidak memperbolehkan perempuan meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah dalam dhamma dan disiplin ini yang dinyatakan oleh Sang Penemu-kebenaran,” berduka, bersedih, dengan wajah basah oleh air mata dan menangis, setelah berpamitan dengan Sang Bhagavā, pergi dengan Beliau di sisi kanannya. ||1||

    Kemudian Sang Bhagavā setelah menetap di Kapilavatthu selama yang Beliau kehendaki, melakukan perjalanan menuju Vesālī. Secara bertahap, berjalan kaki dalam perjalanan itu, akhirnya Beliau tiba di Vesālī. Sang Bhagavā menetap di sana di Vesālī di Hutan Besar di Aula beratap segitiga. Kemudian Gotamidm Pajāpati yang Agung, setelah memotong rambutnya, setelah mengenakan jubah kuning, melakukan perjalanan menuju Vesālī bersama dengan beberapa perempuan Sakya, dan akhirnya mereka mendekati Vesālī, Hutan Besar, Aula beratap segitiga. Kemudian Gotamid, Pajāpati yang Agung, kakinya membengkak, tubuhnya tertutup debu, dengan wajah basah oleh air mata dan menangis, berdiri di luar teras utama. Yang Mulia Ānanda melihat Gotamid, Pajāpati yang Agung berdiri di luar teras utama, kakinya membengkak, tubuhnya tertutup debu, dengan wajah basah oleh air mata dan menangis; melihatnya, ia berkata kepada Gotamid, Pajāpati yang Agung sebagai berikut:

    “Mengapa engkau, Gotami, berdiri … dan menangis?”

    “Karena, Yang Mulia Ānanda, Sang Bhagavā tidak memperbolehkan perempuan meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah dalam dhamma dan disiplin ini yang dinyatakan oleh Sang Penemu-kebenaran.”

    “Baiklah, Gotami, tunggulah sebentar di sini, hingga aku memohon pada Sang Bhagavā atas pelepasan keduniawian bagi perempuan dari kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah dalam dhamma dan disiplin ini yang dinyatakan oleh Sang Penemu-kebenaran.” ||2||

    Kemudian Yang Mulia Ānanda menghadap Sang Bhagavā; setelah mendekat, setelah menyapa Sang Bhagavā, ia duduk dalam jarak selayaknya. Setelah duduk dalam jarak selayaknya, Yang Mulia Ānanda berkata kepada Sang Bhagavā sebagai berikut:

    “Yang Mulia, Gotamid, Pajāpati yang Agung, sedang berdiri di luar teras utama, kakinya membengkak, tubuhnya tertutup debu, dengan wajah basah oleh air mata dan menangis, dan mengatakan bahwa Sang Bhagavā tidak memperbolehkan perempuan meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah dalam dhamma dan disiplin ini yang dinyatakan oleh Sang Penemu-kebenaran. Baik sekali, Yang Mulia, jika perempuan diperbolehkan meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga … oleh Sang Penemu-kebenaran.”

    “Hati-hati, Ānanda, tentang pelepasan keduniawian perempuan dari kehidupan rumah tangga … oleh Sang Penemu-kebenaran ini.” Dan untuk ke dua kalinya … Dan untuk ke tiga kalinya Yang Mulia Ānanda berkata kepada Sang Bhagavā sebagai berikut: “Baik sekali, Yang Mulia, jika perempuan diperbolehkan meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga … yang dinyatakan oleh Sang Penemu-kebenaran.”

    “Hati-hati, Ānanda, tentang pelepasan keduniawian perempuan dari kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah dalam `dhamma dan disiplin ini yang dinyatakan oleh Sang Penemu-kebenaran ini.” Kemudian Yang Mulia Ānanda berpikir:

    “Sang Bhagavā tidak memperbolehkan pelepasan keduniawian bagi perempuan dari kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah dalam dhamma dan disiplin yang dinyatakan oleh Sang Penemu-kebenaran ini. Bagaimana jika aku, dengan cara lain, memohon kepada Sang Bhagavā untuk memperbolehkan pelepasan keduniawian bagi perempuan dari kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah dalam dhamma dan disiplin yang dinyatakan oleh Sang Penemu-kebenaran ini.” Kemudian Yang Mulia Ānanda berkata kepada Sang Bhagavā sebagai berikut:

    “Yang Mulia, apakah para perempuan, setelah meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah dalam dhamma dan disiplin yang dinyatakan oleh Sang Penemu-kebenaran ini, mampu mencapai buah pencapaian-arus atau buah yang-kembali-sekali atau buah yang-tidak-kembali atau kesempurnaan?”

    “Para perempuan, Ānanda, setelah meninggalkan keduniawian … mampu mencapai … kesempurnaan.”

    “Jika, Yang Mulia, setelah meninggalkan keduniawian … mampu mencapai … kesempurnaan – dan, Yang Mulia, Gotamid, Pajāpati yang Agung, telah sagat banyak membantu: ia adalah bibi Sang Bhagavā, ibu pengasuh, perawat, pemberi susu, karena ketika ibu Sang Bhagavā meninggal dunia ia menyusui Beliau - baik sekali, Yang Mulia, jika para perempuan diperbolehkan meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah dalam dhamma dan disiplin yang dinyatakan oleh Sang Penemu-kebenaran.” ||3||

    “Jika, Ānanda, Gotamid, Pajāpati yang Agung, menerima delapan peraturan penting, maka ia boleh ditahbiskan:

    1. “Seorang bhikkhunī yang telah ditahbiskan (bahkan) selama satu abad harus menyapa dengan hormat, bangkit dari duduknya, memberi hormat dengan merangkapkan tangan, memberikan penghormatan selayaknya kepada seorang bhikkhu bahkan yang baru ditahbiskan pada hari itu. Dan peraturan ini harus dihormati, dihargai, dijunjung, dimuliakan, tidak boleh dilanggar seumur hidupnya.

    2. “Seorang bhikkhunī tidak boleh melewatkan musim hujan di tempat tinggal di mana tidak terdapat bhikkhu. Peraturan ini juga harus dihormati … seumur hidupnya.

    3. “Setiap setengah bulan seorang bhikkhunī harus mengharapkan dua hal dari Saṅgha para bhikkhu: bertanya (sehubungan dengan tanggal) hari Uposatha, dan kedatangan untuk memberikan nasihat. Peraturan ini juga harus dihormati … seumur hidupnya.

    4. “Setelah musim hujan seorang bhikkhunī harus ‘melakukan undangan’ di hadapan kedua Saṅgha sehubungan dengan tiga hal: apa yang dilihat, apa yang didengar, apa yang dicurigai. Peraturan ini juga harus dihormati … seumur hidupnya.

    5. “Seorang bhikkhunī yang melanggar suatu peraturan penting, harus menjalani mānatta (disiplin) selama setengah bulan di hadapan kedua Saṅgha. Peraturan ini juga harus dihormati … seumur hidupnya.

    6. “Ketika, selagi menjalani masa percobaan, ia telah berlatih dalam enam peraturan selama dua tahun, maka ia harus memohon penahbisan dari kedua Saṅgha. Peraturan ini juga harus dihormati … seumur hidupnya.

    7. “Seorang bhikkhu tidak boleh dicela atau ditegur dalam cara apa pun oleh seorang bhikkhunī. Peraturan ini juga harus dihormati … seumur hidupnya.

    8. “Mulai hari ini pemberian nasihat kepada para bhikkhu oleh para bhikkhunī adalah terlarang, pemberian nasihat kepada para bhikkhunī oleh para bhikkhu diperbolehkan. Dan peraturan ini harus dihormati, dihargai, dijunjung, dimuliakan, tidak boleh dilanggar seumur hidupnya.

      [ ***Catatan penerjemah: kata "vacanapatha" di sini diartikan sebagai "pemberian nasihat" tetapi dalam sutta-sutta misalnya MN 2, MN 21, dan MN 119 kata ini bermakna "tidak berkata-kata kasar/menyakitkan"*** ]

    “Jika, Ānanda, Gotamid, Pajāpati yang Agung, menerima delapan peraturan penting, maka ia boleh ditahbiskan.” ||4||

    Kemudian Yang Mulia Ānanda, setelah menghafalkan delapan peraturan penting ini dari Sang Bhagavā, mendatangi Gotamid, Pajāpati yang Agung; setelah mendekat, ia berkata kepada Gotamid, Pajāpati yang Agung sebagai berikut:

    “Jika engkau, Gotami, sudi menerima delapan peraturan penting, maka engkau boleh ditahbiskan: Seorang bhikkhunī yang telah ditahbiskan (bahkan) selama satu abad … Mulai hari ini pemberian nasihat kepada para bhikkhu oleh para bhikkhunī adalah terlarang … tidak boleh dilanggar seumur hidupmu. Jika engkau, Gotami, sudi menerima delapan peraturan penting, maka engkau boleh ditahbiskan.”

    “Seperti halnya, Yang Mulia Ānanda, seorang perempuan atau laki-laki muda, berusia muda, dan menyukai perhiasan, setelah mencuci (badan dan) kepala(nya), setelah memperoleh kalung bunga teratai atau kalung bunga melati atau kalung bunga tanaman merambat yang harum, setelah memegangnya dengan kedua tangan akan meletakkan di atas kepalanya – demikian pula aku, menghormati, Ānanda, dan menerima kedelapan peraturan penting ini dan tidak akan pernah melanggarnya seumur hidupku.” ||5||

    Kemudian Yang Mulia Ānanda menghadap Sang Bhagavā; setelah mendekat, setelah menyapa Sang Bhagavā, ia duduk dalam jarak selayaknya. Setelah duduk dalam jarak selayaknya, Yang Mulia Ānanda berkata kepada Sang Bhagavā sebagai berikut: “Yang Mulia, delapan peraturan penting ini diterima Gotamid, Pajāpati yang Agung.”

    “Jika, Ānanda, perempuan tidak memperoleh pelepasan keduniawian dari kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah dalam dhamma dan disiplin yang dinyatakan oleh Sang Penemu-kebenaran, maka pengembaraan-Brahma, Ānanda, akan bertahan lama, dhamma sejati akan bertahan selama seribu tahun. Tetapi karena, Ānanda, perempuan telah memperoleh pelepasan keduniawian … dhamma dan disiplin yang dinyatakan oleh Sang Penemu-kebenaran, maka sekarang, Ānanda, pengembaraan-Brahma ini tidak akan bertahan lama, dhamma sejati hanya akan bertahan selama lima ratus tahun.

    “Seperti halnya, Ānanda, rumah tangga yang terdiri dari banyak perempuan dan sedikit laki-laki akan dengan mudah jatuh dimangsa oleh para perampok, pencuri-pot, demikian pula, Ānanda, dalam dhamma dan disiplin mana pun para perempuan memperoleh pelepasan keduniawian dari kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah, maka pengembaraan-Brahma itu tidak akan bertahan lama.

    “Seperti halnya, Ānanda, ketika hama yang dikenal sebagai jamur putih menyerang seluruh lahan padi hingga lahan padi tersebut tidak bertahan lama, demikian pula, Ānanda, dalam dhamma dan disiplin mana pun para perempuan memperoleh pelepasan keduniawian … maka pengembaraan-Brahma itu tidak akan bertahan lama.

    “Seperti halnya, Ānanda, ketika hama yang dikenal sebagai jamur merah menyerang seluruh lahan tebu hingga lahan tebu tersebut tidak bertahan lama, demikian pula, Ānanda, dalam dhamma dan disiplin mana pun para perempuan memperoleh pelepasan keduniawian … maka pengembaraan-Brahma itu tidak akan bertahan lama.

    “Seperti halnya, Ānanda, seseorang, berharap, akan membangun tanggul pada sebuah waduk agar air tidak meluap keluar, demikian pula, Ānanda, delapan peraturan penting bagi para bhikkhunī ini ditetapkan olehKu, berharap, agar tidak dilanggar seumur hidup mereka.”

----
KAPANKAH MahaPajapati Gotami menjadi Bhikkhuni dan Sangha Bhikkhuni terbentuk?

Untuk menjawab itu, silakan perhatikan terlebih dahulu peta masa Vassa sang Buddha:
  1. Mencapai KeBuddhaan, bervassa di Isipatana, Migadàya dekat Bàrànasi
  2. Masa Vassa ke-2, ke-3, ke-4, di Vihàra Veluvana, Ràjagaha, Kerajaan Magadha
  1. di vihàra yang memiliki menara dan kubah (Aula Kutagara), Hutan Mahàvana, dekat Vesàli, Raja-raja Licchavi
  2. di jalankan di:

    • vihàra di Hutan Khyaya di lereng Gunung Makula, Kosambi.; atau
    • Hutan Mahavana, Kūtāgārasālā, Vesali [Komentar Budhavamsa, oleh Buddhadatta. hal.3, lihat di: DPPN]

  3. di jalankan di singgasana batu zamrud Pandukambalà di bawah pohon Erythrina indica di Alam Surga Tàvatimsa, Berangkat dari Savatthi, Kerajaan Kosala
  4. di hutan kacang merpati, tempat perlindungan hewan [hutan area kekuasaan yakkha Bhesakala), di Kota Susumàragira, Kerajaan Bhagga [area antara Vesali/Licchavi - Savatthi/Kerajaan Kosala, komentar BuddhaVamsa.3]
  5. di Vihàra Ghositàràma, Kosambi
  6. di Hutan Pārileyyaka/Pàlileyyaka (palale), dekat Kosambi, di mana Raja Gajah Palale yang melayani Buddha
  7. di Vihàra Nàlikàràma, perkampungan Brahmana Nàla.[SN., p.12f.; S.i.172f]
  8. di dekat pohon tragacanth [area kekuasaan Yakkha Naleru], Veranjà [J.iii.494f]
  9. di Vihàra Gunung Càliya/calika, Desa Jantu, Càlika[A.iv.354; Ud.iv.1]
  10. di Vihàra Jetavana dengan Sàvatthi, Kerajaan Kosala [Thag. vs. 295f]
  11. di Vihàra Nigrodha, Kapilavatthu[DhA.iii.44]
  12. di Kuil Aggàlava (kuil para arwah), kerajaan âlavi
  13. di Vihàra Veluvana, Ràjagaha, Kerajaan Magadha [DhA.iii.262ff]
  14. Sang Buddha berjalan ke Alavi dari Jetavana, savatthi utk menemui seorang gadis penenun sebelum wafatnya dan membuatnya menjadi sotapanna, kemudian menjalankan masa vassanya di Gunung Càliya/calika, Desa Jantu, Càlika
  15. di jalankan di:

    • Gunung Càliya/calika, Desa Jantu, Càlika; atau
    • di Rajagaha, Kerajaan Magadha.
  1. di Vihàra Veluvana, Ràjagaha, Kerajaan Magadha
  2. Masa Vassa ke-21 s/d ke-44, di Vihàra Jetavana dan Vihàra Pubbàràma, Sàvatthi, Kerajaan Kosala [ref. Komentar Buddhavamsa]. Terdapat juga versi komentar yang menyatakan bahwa tahun ke-21 s.d 38 di Jetavana, 6 tahun sisanya di Pubbarama. Tahun ke-31, vihara Pubbarama selesai di buat dan Sang Buddha menetap bolak-balik selama masa vassa di 2 Vihara tersebut.
  1. di Desa Veluva, Kerajaan Vesàli menjelang Parinibbàna

  2. [sumber: RAPB buku ke-1, May 2000, hal.949-952 dan Buddhagautama.com. Peta perjalanan 8/9 bulanan yang dilakukan sang Buddha di 25 tahun terakhirnya, Berdasarkan penuturan pengurus rumah tangga Raja Pasenadi: Isaidatta dan Purana, sebagaimana tercantum di:SN, Parayana Vagga, Sutta Nipata, dan the Maha-parinirvana Sutta]
Kemudian,
Tradisi yang dipercaya turun temurun menyatakan bahwa di Vassa ke-5, yaitu di Vesali, Sang Bhagava mengizinkan Ratu Mahapajapati Gotami bersama ke-500 putri menjadi bhikkhuni; mendirikan Sangha bhikkhuni.

Sumber dari statement itu, berasal dari kitab-kitab komentar abad ke-5 Mesehi. Sementara, di vassa ke-5 itu merupakan kunjungan pertama sang Buddha ke Vesali. Jumlah kunjungan beliau dan menetap [tidak harus masa Vassa] di Vesali bukan hanya terjadi 1x saja namun berkali-kali. Beberapa aturan vinaya ditetapkan di Vesali [lihat: DPPN]

Reka rekonstruksi kronologis dari kitab komentar tersebut mempunyai banyak kontroversi. Misalnya:
  • Ketika YM Mahapajapati Gotami menjadi bhikkhuni bersama 500 wanita. Para wanita ini adalah mereka yang suaminya telah terlebih dahulu menjadi Bhikkhu setelah peristiwa hampir pecahnya perang antara suku SAKYA vs suku Koliya karena perebutan air untuk persawahan yang diakibatkan MENGERINGNYA sungai ROHINI.

    Mengeringnya sebuah sungai TIDAK MUNGKIN terjadi hanya beberapa bulan setelah masa Vassa [Musim Hujan] kecuali terdapat kondisi yang sangat khusus

  • Selisih umur saat kejadian menjadi Bhikkhu, menjadi arahat dan wafatnya menjadi terlalu banyak jika terjadi di tahun ke-5.

    Maha Pajapati Gotami adik dari Maha Maya. Mereka secara bersamaan di kawini oleh Raja Suddhodana di usia mudanya. Ketika Maha Maya melahirkan Sidharta Gautama, usianya adalah 40-50 tahun [versi DPPN]. Di mahavamsa dikatakan ia mengalami kehamilan di usia 45 tahun (Mahāvamsa ii.hal.15 - dst).

    Jadi, ketika sidhartha Gotama lahir ibunya berusia ± 46 tahun. Sekarang, saya asumsikan selisih Adik/Kakak itu hanya 1 tahun sehingga usia Maha Pajapati Gotami saat itu adalah ± 45 tahun.

    Jika benar bahwa beliau menjadi Bhikkhuni di tahun ke-5 ke Buddhaan, maka umur sang Buddha saat itu adalah: 29 tahun [sang Buddha memutuskan untuk menjadi Buddha] + 6 tahun [berjuang mencapai keBuddhaan]+ Tahun ke-5 = 40 tahun,

    Maka umur Maha Pajapati Gotami = ± 45 tahun + 40 tahun = ± 85 tahun.

    Maha Pajapati Gotami wafat di usia 120 tahun, Tidak lama setelah ditahbiskan menjadi arahat, kemudian setelah pengukuhan gelar "rattaññūnaṃ" di Jetavana, ia kemudian kembali ke Vesali dan wafat disana. [lihat: DPPN]. Pertama kalinya sang Buddha bervassa di Jetavana adalah tahun ke-14, dengan kronologis tahun ke-5 ada selisih waktu 9 tahun sementara dari hitungan kita terdapat selisih waktu umur wafatnya adalah ± 35 tahun

  • Kejadian YM Ananda yang meneruskan penyampaian 8 Garudhamma atas perintah sang Buddha juga membingungkan karena YM Ananda baru menjadi pembantu tetap di tahun ke-20. [RAPB buku ke-3, Cetakan ke- I, May 2008, hal. 2721]

  • Ketika penyampaian 8 Garudhamma tersebut Patimokha dan Vinaya belumlah di tetapkan. Jadi bagaimana bisa 8 Garudhamma disampaikan sekaligus?!
Kapankah penetapan aturan-aturan akibat pelanggaran para Bhikkhu dan laporan masyarakat dilakukan?

Hingga 20 tahun pertama ke-Buddha-an, kecuali beberapa aturan yang disebutkan oleh sang Buddha sendiri yang bukan karena pelanggaran oleh Bhikkhu atau karena laporan pelanggaran Bhikkhu dari masyarakat, maka hingga tahun ke-5 BELUMLAH dilakukan penetapan vinaya karena adanya pelanggaran oleh Bhikkhu.

Salah satu alasan terkuat belum adanya penetapan vinaya karena pelanggaran oleh Bhikkhu karena seluruh murid sang Buddha di masa-masa itu telah mencapai kesucian dan yang terendah adalah SOTAPANNA. Baru setelah ada banyak murid yg bukan sotapanna, ada penetapan aturan-aturan.
    Pada suatu hari di kota Veranja, yaitu di tahun ke-12 masa keBuddhaan Beliau. YM Sariputta bertanya pada sang Buddha, "Pada Masa Buddha siapakah kehidupan suci bertahan lama dan masa Buddha siapakah tidak bertahan lama?”. Sang Buddha memberikan jawaban sebagai berikut:

    • Pada masa Buddha Vipassī, Sikhī and Vessabhū tidak membabarkan khotbah Dhamma secara terperinci, peraturan latihan bagi para siswa (vinaya) tidak dipermaklumkan dan kumpulan peraturan tidak dirumuskan (Pàtimokkha, inti peraturan). Setelah Para Buddha, generasi para siswanya parinibanna, ajaran itu lenyap dengan cepat.
    • Pada masa Buddha Kakusandha, Konāgamana and Kassapa membabarkan khotbah Mereka secara terperinci, menetapkan Vinaya dan Pàtimokkha. Setelah Mereka dan para siswa langsung Parinibanna, generasi-generasi berikutnya menjaga ajaran itu hingga bertahan.

    Ketika mendengar itu, YM Sariputta kemudian memohon kepada sang Buddha agar berkenan menetapkan vinaya dan patimokkha. Sang Buddha berkata padanya bahwa itu belumlah saatnya karena puluhan ribu anggota sangha yang ada saat itu, 500nya saja sudah mencapai sotapanna [Tingkat kesucian ke-1] dan kelak ketika jumlah anggota sangha semakin membesar maka akan terjadi kecenderungan berpikir, berucap dan berbuat yang mengakibatkan menjauh dari jalan kesucian, di saat itulah vinaya dan patimokkha baru dapat ditetapkan [Riwayat Agung Para Buddha (RAPB), buku ke-2, Cetakan I, Mei 2008. hal 1451 s/d. 1489 Juga di Suttavibhanga Vin.I.3, 2-4]
Terdapat statement sang Buddha di MN.21/Kakacūpama Sutta yang menggambarkan masa-masa menyenangkan itu, "ārādhayiṃsu vata me, bhikkhave, bhikkhū ekaṃ samayaṃ cittaṃ." [artinya: Para bhikkhu, pernah terjadi suatu peristiwa di mana para bhikkhu memuaskan pikiranKu]

Buddhagosha menjelaskan maksud kalimat itu dalam komentarnya di Vinaya, sub bagian parajikakhanda:
    "[..]Bhagavato kira paṭhamabodhiyaṃ vīsati vassāni bhikkhū cittaṃ ārādhayiṃsu, na evarūpaṃ ajjhācāramakaṃsu. Taṃ sandhāyeva idaṃ suttamāha –"ārādhayiṃsu vata me, bhikkhave, bhikkhū ekaṃ samayaṃ cittaṃ"(ma. ni. 1.225)." [artinya: Dalam 20 vassa [visati vassa] pertama dari kebuddhaan [pathamabodhiyam], Bhikkhu memuaskan pikiran Sang Buddha, tidaklah terjadi bentuk pelanggaran, sebagaimana disampaikan dalam sutta, "Para Bhkkhu, pernah terjadi..."]
Parajika ke-1 terjadi dalam kasus Bhikkhu Sudinna [BELUM SOTAPANNA] yang terjadi setelah MUSIM KEMARAU PANJANG di Vajji di tahun ke-20
    Pentahbisan Suddina menjadi Bhikkhu terjadi di setelah berakhirnya masa vassa ke-12 Sang Buddha di kota Veranja. Ketika itu Sang Buddha berada di Vesali. Setelah ditahbishkan, Sudinna menetap di Vajji selama 8 tahun. Pada tahun itu, Vajji mengalami paceklik besar sehingga sulit bagi bhikkhu untuk berpindapatta (mengumpulkan dàna makanan dengan mangkuk di tangan mereka). Oleh karena kejadian itu, Suddina bermaksud untuk menggantungkan hidup pada sanak keluarganya yang hidup makmur di Vesali. Alasan pembenaran untuk keputusannya itu adalah seperti ini, "Karena aku mereka dapat mempersembahkan dàna dan melakukan kebajikan. Dan para bhikkhu akan memperoleh keuntungan secara materi, dan aku tidak akan dipersulit dalam hal makanan”.

    Setelah di Vesali, keluarganya berusaha membujuknya dengan harta agar Ia kembali kepada kehidupan umat awam. Namun Ia tidak bergeming. Tidak mempan dengan dengan cara itu, Sang Ibu kemudian memintanya agar dapat memberikan keturunan sebagai pewaris harta keluarga agar kelak tidak direnggut oleh kaum licchavi. Permohonan sang ibu dikabulkannya dan Ia kemudian melakukan hubungan seksual dengan istrinya yang dulu. Atas kejadian itulah, kemudian Sang Buddha menetapkan aturan untuk pertama kalinya bahwa Barang siapa yang melakukan percabulan maka ia sudah kalah (parajika), tidak lagi dalam persekutuan (sangha) [Riwayat Agung Para Buddha (RAPB), buku ke-2, Cetakan I, Mei 2008. hal 1451 s/d. 1489 Juga di Suttavibhanga Vin.I.3, 2-4]
Satu persatu pelanggaran kemudian terjadi dan ditetapkanlah aturan untuk itu. Karena telah ditetapkan banyak aturan sebelumnya, maka sangat wajar jika 8 Garudhamma di sampaikan sekaligus.

Di atas, yaitu pada tahun ke-20, terdapat daerah yang mengalami musim kemarau panjang yaitu di Vajji:
  • Vesali terletak di wilayah Vajji [lihat: DPPN], maka wajar terjadi kemarau panjang yang berakibat gagal panen, kekurangan makanan, kelaparan, penyakit [penyakit kolera, ahivàta roga] dan kematian yang menyebabkan mayat berserakan di kota! Raja Vesali mengutus 2 pangeran Licchavi menemui sang Buddha yang saat itu menetap di Rajagaha. Sang Buddha kemudian membabarkan RATANA SUTTA pada YM ANANDA dan kemudian, YM Ananda berkeliling kota membacakan Ratana Sutta [Riwayat Agung Para Buddha (RAPB), buku ke-2, Cetakan I, Mei 2008. hal 1451 s/d. 1489]. YM Ananda saat itu jelas merupakan pembantu tetap Sang Buddha.

  • Letak negara Kapilavatthu dan Koliya berada di kedua sisi sungai rohini. Di jaman sekarang ini, panjang sungai rohini tinggal 122 KM. Jarak antara sungai Rohini - Vesali [Vajji] adalah 220 KM. Dekatnya jarak antara: Vajji - sungai rohini, musim kering yang terjadi di Vajji dan mengeringnya sungai rohini adalah wajar karena terkait kondisi musim kemarau panjang. Air sungai rohini digunakan untuk mengairi sawah kedua negara [Kappilavastu dan Koliya] dengan cara mengendalikan aliran air dari sebuah bendungan. Kemudian pada bulan Jetthamsa [May-Jun], ketinggian air di bendungan berada pada titik terendah. Para petani dari kedua kerajaan mengadakan rapat untuk mendiskusikan masalah pembagian air dari bendungan itu. Perembukan itu gagal dan membesar yang mengakibatkan akan terjadi perang di antara 2 negara tersebut. Pada waktu itu, Tathàgata sedang berdiam di Vihàra Jetavana di Sàvatthi. [RAPB buku ke-1, Cetakan ke-1, May 2008, hal. 1080]
Kita ketahui bahwa pertama kalinya beliau bervassa di Vihara Jetavana adalah di tahun ke-14 dan kemudian mulai di tahun ke-21 s/d tahun ke-44, secara bergantian beliau bervassa di Vihara Jetavana dan Vihara Pubbàràma [dibangun oleh Visakha].

Kemarau panjang tidak terjadi di tahun ke-14 namun di tahun ke-20!

Setelah mendamaikan suku Sakya dan Koliya, 250 orang pria dari masing-masing suku menjadi bhikkhu dan mencapai arahat. Para istri dari 500 orang Pria ini merasa hidupnya tidak sama seperti dulu lagi [penghasilan berkurang, kesepian dan tidak menikah lagi], sehingga secara berkelompok membujuk Mahàpajàpati Gotami agar berusaha ‘memperoleh izin dari Tathàgata untuk ditahbiskan sebagai bhikkhuni.

Mahapajapati Gotami, sebelumnya 3x mencoba untuk menjadi Bhikkhuni. Namun belum di ijinkan. Kemudian bersama dengan 500 orang ini mereka dari Kapilavastu berjalan kaki ke Vesali, di hutan mahavana untuk memohon agar di tahbiskan.

Tidak berapa lama setelah menjadi Bhikkhuni, YM Mahapajapati Gotami menjadi arahat. Pengukuhan gelar "rattaññūnaṃ" terjadi di Jetavana dan ia kembali ke Vesali. Tidak berapa lama kemudian beliau wafat [120 tahun] bersamaan dengan 500 wanita yang ikut menjadi bhikkhuni bersama beliau.
    Umur dari Mahapajapati gotami di kronologis ini adalah: ± 45 tahun [dari hitungan sebelumnya] + 29 tahun [sang Buddha memutuskan untuk menjadi Buddha] + 6 tahun [berjuang mencapai keBuddhaan] + 20 tahun [Masa kemarau panjang] = 100 tahun
    +
    Dibutuhkan masa kemarau yang sangat panjang hingga bertahun-tahun lamanya agar dapat mengakibatkan gagal panen, kelaparan, penyakit, kematian dan mayat berserakan di mana-mana [Saya asumsikan ± 5 tahun] = ± 105 tahun
    +
    Perang perebutan air di sungai rohini berhasil di gagalkan, 500 Suami menjadi Bhikkhu, 500 wanita itu merasa merasa hidupnya tidak sama seperti dulu lagi [penghasilan berkurang, kesepian dan tidak menikah lagi] (anggap saja ± 2 tahunan kemudian) = ± 107 tahunan.

    Selisih waktunya sekarang adalah ± 13 tahunan saja!
Gelar "rattaññūnaṃ" Hanya diberikan pada 2 (dua) orang, yaitu Annasi Kondanna dan Mahapajapati Gotami. Kondanna adalah savaka arahat pertama di era Buddha Gotama. Mahapajapati Gotami juga merupakan arahat pertama dari kalangan wanita. Tempat penyampaian gelarnya juga sama-sama di Jetavana.

Annasi Kondanna menjadi arahat di tahun ke-1 sang Buddha, kemudian di Rajagaha, yaitu pada tahun ke-2, Sang Buddha, Ia meminta ijin untuk menyepi. Pada 12 tahun kemudian, beliau bertemu sang Buddha untuk berpamitan parinibanna. Hal itu terjadi setelah penganugerahan gelar "rattaññūnaṃ", di Jetavana pada masa vassa ke-14. Setelah itu Annasi Kondanna parinibanna.

Bagaimana dengan Mahapajapati Gotami?

Dengan kronologis kita sekarang, maka waktu Maha Pajapati Gotami menjadi Bhikkhuni - Arahat - Pengukuhan gelar - Wafat menjadi tidak terlalu panjang dan pas, selisihnya dari mencapai arahat - wafat sekarang ± 13 tahun saja!

Kita ketahui bahwa tahun ke-21 s.d tahun ke-38 Sang Buddha bervassa di Jetavana. Jadi penganugerahan gelar di Jetavana terjadi di antara tahun tersebut dan kemudian wafat maksimum di tahun ke-40 masa ke Buddhaan.

Ini jelas lebih masuk akal daripada sisa umur wafatnya yang 35 tahun, bukan?!

Konsekuensi berikutnya adalah keberangkatan ke Tavamtisa tidak terjadi di tahun ke-7!

Kejadian ke surga Tavamtisa di awali dengan peristiwa penetapan larangan pertunjukan kesaktian dihadapan umat awam, yaitu ketika Pindola Bhâradvadja, di tegur sang Buddha, setelah ia menunjukan kesaktian di hari ke-7, yaitu setelah selama 6 hari 6 guru terkemuka gagal memberikan bukti pada seorang pedagang kaya rajagaha yang mempunyai pandangan, "Sekarang ini, banyak orang, yang mengaku sebagai Arahanta. Aku tidak tahu siapakah Arahanta yang sesungguhnya.". Kemudian ia membuat mangkuk dari cendana dan di gantung di atas rangkaian bambu sambung menyambung setinggi enam puluh lengan, dan mengumumkan, "Arahanta sejati boleh mengambil mangkuk ini dengan cara terbang ke angkasa".

Kejadian itu sangat menghebohkan penduduk Rajagaha sehingga banyak orang yang mengikutinya dengan gaduh sampai ke telinga sang Buddha. YM ANANDA menerangkan sebab musabab kegaduhan tersebut. Sang Buddha mengumpulkan anggota sangha dan setelah mendapat konfirmasi dari YM PINDOLA, beliau kemudian menetapkan larangan, "Para bhikkhu…seorang bhikkhu tidak memperlihatkan kesaktiannya di hadapan umat awam; dan ini adalah pelanggaran, 'Dukkata âpatti'/Pelanggaran minor".

Pertunjukan kesaktian dari YM Pindola Bharadvaja, tercantum dalam vinaya: [Theravada Pali V.5.8; Dharmaguptaka ch 51 1916: 235-238 (96-99); Mahīśāsaka ch 26 1916: 238-243 (99-103); Sarvâstivāda ch 37 1916: 243-246 (103-105); Mūla,sarvâstivāda Divy 256.25-257.21], Kitab komentar: [AA 1:196-199; SA 393; DhA 14.2.2/3:199-201; ThaA 2:4-6; UA 252; J 4:263; SnA 570; ApA 197. S].

Hanya kitab komentar yg mencantumkan tahun ke-6 masa Vassa untuk tahun kejadiannya.

Larangan tersebut menimbulkan kegembiraan para pengikut 6 Guru lainnya. Kemudian, Raja Bimbisara bertemu sang Buddha untuk menanyakan hal tersebut dan sang Buddha menyampaikan bahwa 4 bulan kemudian di Savatthi, beliau akan mempertunjukan beberapa keajaiban. [RAPB buku ke-1, hal 1187]

Peristiwa penting yang perlu diperhatikan adalah saat wafatnya Purana Kassapa, salah satu dari 6 guru. Wafatnya beliau ini berhubungan dengan kejadian di Savatthi, di 4 Bulan kemudian!
  1. YM Ananda menjadi pembantu tetap Sang Buddha adalah MULAI dari tahun ke-20. Saat penetapan larangan tersebut, beliau telah mendampingi sang Buddha
  2. Beberapa vinaya akibat pelanggaran Bhikkhu mulai ditetapkan di paruh ke-2 tahun ke-20
  3. Tidak mengherankan bahwa sejak penetapan larangan itu, kemudian ketika di Savatthi, ada samaneri bernama cirra yang berumur 7 tahun dan Bhikkhuni Uppavalavanna memohon ijin pada sang Buddha menggantikan beliau menunjukan kesaktian
  4. Raja Bimbisara wafat ketika Sang Buddha berusia 72 tahun [Lihat: DPPN]. Raja berikutnya yang memerintah adalah Ajjatasatu. Sang Buddha parinibanna di tahun ke-8 Masa pemerintahan Raja Ajjatasattu [lihat: DPPN]

    Di DN2/Sāmaññaphala Sutta, disampaikan bahwa Raja Ajjatasattu, sempat berkonsultasi dengan 6 guru terkemuka, satu diantara guru itu adalah Purana Kassapa. Di Savatthi, di dekat pertunjukan kesaktian sesuai janji sang Buddha pada 4 Bulan kemudian, Purana Kassapa, bunuh diri dengan menenggelamkan diri di sungai karena merasa malu akan kegagalannya.

    • Wafatnya Raja Bimbisara terjadi antara: Setelah Pindola Bhadvaraja menunjukan kesaktian - Sebelum 4 bulan pertunjukan kesaktian di Savatthi
    • Pertemuan Raja Ajjatasatu dan Purana Kassapa terjadi antara: Setelah wafatnya Raja Bimbisara - Sebelum Purana Kassapa bunuh diri, yaitu sebelum 4 Bulan pertunjukan kesaktian di Savatthi
Berdasarkan hal ini, maka Peristiwa ke surga Tavatimsa terjadi di tahun ke-37 Masa ke Buddhaan beliau.[↑] [↑] [↑] [↑, Tavatimsa]

[13] Tercantum di: SN 56.11 [Dhammacakkappavattana sutta, Pemutaran roda Dhamma]; MN. 117 [Maha-cattarisaka Sutta, Anupada Vagga] [↑]

[14] 4 (empat) formula pendek Hukum Paticca-Samuppada terdapat dalam:
  • Samyuta Nikaya (SN): 12.21 [DasaBala Sutta], 12.37[Natumha], 41 [Pañcabhayavera], 49-50 [Ariyasāvaka], 61-62 [Assutavantu];
  • Kemudian dari SamyuttaAgama (SA): 293, 296-302, 349-350, 358, 369. Namun dari kumpulan SA, hanya SA.358 yang tertulis persis sama
Sementara itu, untuk 12 nidana (sebabmusabab) Paticca-Samupadanya misalnya terdapat di SN 12.2 [Paticca-samuppada-vibhanga Sutta], 23[Upanisa Sutta], MN.9 [Samaditthi Sutta], MN 38 [Mahātaṇhāsankhaya Sutta] [↑]

[15] tadāyatanaṃ: Situasi, keadaan, dasar, lingkup, tempat, daerah, posisi, dsb. yang berarti Nibbana. Parinibbana berarti Nibbana "menyeluruh" atau "akhir".[↑]
Empat elemen itu adalah sifat utama secara literal maupun yang tersirat. Empat alam Arupa. Bulan dan matahari bentuk keberadaan fisik alam.[↑]
ārammaṇa: sense-object/Objek indrawi (A.P. Buddhadatta Mahathera, Concise Pali-English and English-Pali Dictionary). ārammaṇa: 'object' [terlihat, terdengar, tercium, tercicipi, teraba, pikiran]. Objek pikiran (dhammārammaṇa) bisa fisik maupun mental, telah berlalu, saat ini, mendatang, nyata, khayal. 5 objek Indrawi ini merupakan bagian dari rūpakkhandha. Merupakan fondasi exkternal untuk persepsi indrawi, tanpanya tidak ada persepsi indrawi atau kesadaran yang muncul. (NYANATILOKA MAHATHERA, Buddhist Dictionary, Manual of Buddhist Terms and Doctrines)Ārammaṇa: (1) support, help, footing, expedient, anything to be depended upon as a means of achieving what is desired, i. e. basis of operation. (2) condition, ground, cause, means, esp. a cause of desire or clinging to life, pl. ˚ā causes of rebirth (interpreted by taṇhā at Nd1 429). (3) a basis for the working of the mind & intellect; i. e. sense -- object, object of thought or consciousness, the outward constituent in the relation of subject & object, object in general. In this meaning of "relation" it is closely connected with āyatana (Pali-English Dictionary, TW Rhys Davids, William Stede)[↑]
Tidak terpengaruh oleh kemelekatan. Beberapa orang membaca amatam (mati) dan bukannya anatam (diterjemahkan sebagai "yang tidak terpengaruh"). Kata natam diterjemahkan di bawah (8.4) sebagai "sikap takluk." [↑]

[16] "Mereka" yang dimaksud di atas, di antaranya:
  1. Helmut von Glasenapp, Buddhism, A Non-Theistic Religion, lihat Bab II.
  2. Douglas M. Burns, M.D., Buddhism, Science and Atheism.
Kedua penulis ini menitikberatkan pengertian atau konsep Ketuhanan seperti konsep Ketuhanan yang ada pada agama lain di luar agama Buddha. Mereka menanggapi dengan serius tentang Maha Brahma sebagai pencipta yang ditolak oleh Sang Buddha. Bila Maha Brahma dilegitimasikan sebagai atau sama dengan Ketuhanan dalam agama tersebut, ini berarti bahwa Ketuhanan dalam agama tersebut pun turun derajatnya menjadi dewa atau manusia! Jelas pandangan seperti ini adalah keliru. Menurut pandangan Buddhis, Maha Brahma yang disebutkan dalam Brahmajala Sutta adalah mahluk yang belum mencapi tingkat kesucian, dan pada suatu waktu kelak bila karma baik Maha Brahma tersebut untuk hidup di alam Maha Brahma itu telah habis, maka Maha Brahma itu akan terlahir di alam yang lebih rendah yaitu di alam para dewa (devaloka) atau terlahir sebagai manusia. [↑]

[17] Ini adalah ringkasan isi dari DN.1 [Brahmajala sutta]:
  • Jika ada yang menghina/memuji Buddha, Dhamma dan Sangha:

    ‘Para bhikkhu, jika seseorang menghina-Ku, Dhamma, atau Sangha, kalian tidak boleh marah, tersinggung, atau terganggu akan hal itu. Jika kalian marah atau tidak senang akan penghinaan itu, maka itu akan menjadi rintangan bagi kalian. Karena jika orang lain menghina-Ku, Dhamma, atau Sangha, dan kalian marah atau tidak senang, dapatkah kalian mengetahui apakah yang mereka katakan itu benar atau salah?’ ‘Tidak, Bhagavā.’ ‘Jika orang lain menghina-Ku, Dhamma, atau Sangha, maka kalian harus menjelaskan apa yang tidak benar sebagai tidak benar, dengan mengatakan: “Itu tidak benar, itu salah, itu bukan jalan kami, itu tidak ada pada kami.”’

    Jika orang lain memuji-Ku, Dhamma, atau Sangha, kalian tidak boleh gembira, bahagia, atau senang akan hal itu. Jika kalian gembira, bahagia, atau senang akan pujian itu, maka itu akan menjadi rintangan bagi kalian. Jika orang lain memuji-Ku, Dhamma, atau Sangha, kalian harus mengakui kebenaran sebagai kebenaran, dengan mengatakan: “Itu benar, itu tepat sekali, itu adalah jalan kami, itu ada pada kami." [↑]
  • Moralitas dan juga Penghidupan ajaran Sang Buddha [lihat di Situs DhammaCitta: DN 1.7 s.d 1.27]
  • 62 (enampuluh dua) PANDANGAN SALAH [Juga ada list 10 Pandangan salah selain di Sutta ini[↓] [↑]]:

    Ada 18 macam pijakan pandangan/Ditthitthana, tentang masa lalu (Pubbanta kappa), yaitu:

    • 4 pandangan salah keabadian [sassata vada] tentang diri (atta) dan alam (loka), yaitu beberapa petapa yang dapat mengingat:

      1. sampai 100.000 kelahirannya atau
      2. sampai 10 kappa [20 Kappa -> di DN.28/Sampasādanīya_Sutta] kelahirannya atau
      3. sampai 40 kappa kelahirannya,

        Kemudian berdasarkan rincian ingatan dari berbagai kehidupan lampaunya tersebut, + [ia mengatakan: “Aku mengetahui masa lampau, apakah alam ini mengembang atau mengerut, tetapi aku tidak mengetahui apakah di masa depan alam ini akan mengembang atau mengerut.-> kalimat ini ada d DN 28, Sampasādanīya_Sutta]

      4. Ada pertapa yang menggunakan logika [Takkī], menguji dan menyelidiki [Vimamsi]. Mengembangkannya dengan alasan, menyidiki melalui pemikiran, mengikuti jalan pemikirannya sendiri

        ket:
        Takki hoti vimamasi mungkin bersinonim dengan "akara parivitakka"/(penyidikan dengan rasio, yang merupakan 1 dari 5 faktor Pengetahuan yaitu 1. Saddha (Keyakinan), 2.Ruci (persetujuan/kesepakatan), 3. anussaya (tradisi turun temurun), 4.akara parivitakka (Penyelidikan melalui rasio/penalaran), 5.ditthi nijjhanakkhanti (penerimaan pandangan melalui perenungan) [MN.95/Canki sutta]

      Dan berkata: “Diri dan dunia adalah abadi, tidak ada hal baru lagi, bagaikan puncak gunung, kokoh bagaikan tonggak. Makhluk-makhluk ini berkelana dan berputar dalam samsara [kelahiran kembali], meninggal dunia dan muncul kembali, namun diri [atta] dan alam [loka] tetap sama persis seperti keabadian.

      Sang Tathāgata memahami Sudut-sudut pandang ini yang digenggam secara demikian yang karenanya akan membawa menuju alam-alam kelahiran kembali.

      Sang Tathāgata mengetahui dan lebih jauh lagi, namun Beliau tidak melekat pada pengetahuan itu [Tan ca pajananam na paramasati, tidak melekatinya bahkan pada pandangan benar sekalipun].

      Dan karena tidak melekat, Beliau mengalami/mengetahui dari diri-Nya sendiri [paccattam] kedamaian sempurna, dan setelah memahami sepenuhnya muncul dan lenyapnya perasaan, keindahan dan bahayanya, dan kebebasan darinya, Sang Tathāgata terbebaskan tanpa sisa.

    • 4 pandangan salah sebagian keabadian dan sebagian lagi ketidakabadian [ekacca sassatika ekacca asassatika] tentang diri (atta) dan alam (loka):

      Akan tiba waktunya, cepat atau lambat setelah rentang waktu yang panjang, ketika dunia ini menyusut/penghancuran [samvattati]. Pada saat penyusutan/penghancuran, sebagian besar [Yebhuyyena] makhluk terlahir di alam Brahmā Ābhassara. Dan di sana mereka berdiam, dengan ciptaan-pikiran [Mano mayo], dengan kegembiraan [Piti, tidak merupakan bagian dari vedana, namun keadaan pencerapan dalam kondisi Jhana] sebagai penunjang, mereka hidup demikian selama waktu yang sangat lama. Akan tiba saatnya, cepat atau lambat setelah rentang waktu yang panjang, ketika dunia ini mulai mengembang [vivattati].

      1. Dalam dunia yang mengembang ini, sebuah tempat Brahmā [Brahma vimanam] muncul. Dan kemudian satu makhluk, karena habisnya masa kehidupannya atau jasa baiknya, jatuh dari alam Ābhassara dan muncul kembali dalam tempat Brahmā. Dan di sana ia berdiam, dengan ciptaan-pikiran, dengan kegembiraan sebagai penunjang/makanan, bercahaya, melayang diantara batasan [antalikkha -> sankrit: antar/diantara + īkṣa/tampak/batasan], agung – dan mereka hidup demikian selama waktu yang sangat lama.’

        Kemudian dalam diri makhluk ini yang telah menyendiri sekian lama, muncullah kegelisahan, ketidakpuasan, dan kekhawatiran, ia berpikir: “Oh, seandainya makhluk lainnya dapat datang ke sini!”

        dan makhluk-makhluk lain, karena habisnya masa kehidupan mereka atau jasa-jasa baik mereka, jatuh dari alam Ābhassara dan muncul kembali di dalam tempat Brahmā sebagai teman-teman bagi makhluk ini. Dan di sana ia berdiam, dengan ciptaan-pikiran, ... dan mereka hidup demikian selama waktu yang sangat lama.’

        Dan kemudian, makhluk yang pertama muncul di sana berpikir: “Aku adalah Brahmā, Mahā-Brahmā, sang penakluk, yang tidak tertaklukkan, maha melihat, mahasakti, yang termulia, pembuat dan pencipta, penguasa, pengambil keputusan dan pemberi perintah, Ayah dari semua yang telah ada dan yang akan ada. Makhluk-makhluk ini diciptakan olehku.

          Ket:
          Pengakuan sepihak ini lihat juga di DN.11/Kevaddha Sutta.

          Kitab komentar: Akulah maha pengatur, Akulah yang mengatur para mahluk di posisinya: kamu menjadi yg mulia [mis:Ksatria], kamu menjadi brahmana [pendeta, ulama], kamu menjadi pedagang, kamu menjadi pekerja kasar, kamu perumahtangga, kamu menjadi petapa, kamu menjadi unta, kamu menjadi sapi [DA 1:111 f]

        Mengapa demikian?

        Karena akulah yang pertama memiliki pikiran: ‘Oh, seandainya beberapa makhluk lain dapat datang ke sini!’ itu adalah keinginanku, dan kemudian makhluk-makhluk ini muncul!”

        Tetapi makhluk-makhluk lain yang muncul belakangan berpikir: “Ini, Teman-teman, adalah Brahmā, Mahā-Brahmā, sang penakluk, yang tidak tertaklukkan, maha melihat, mahasakti, yang termulia, pembuat dan pencipta, penguasa, pengambil keputusan dan pemberi perintah, Ayah dari semua yang telah ada dan yang akan ada.

        Mengapa demikian?

        Kita telah melihat bahwa dia adalah yang pertama di sini, dan bahwa kita muncul setelah dia.”’

        ‘Dan makhluk yang muncul pertama ini hidup lebih lama, lebih indah dan lebih sakti daripada makhluk lainnya. Dan akan terjadi bahwa beberapa makhluk jatuh dari alam itu dan muncul di dunia ini. Setelah muncul di dunia ini, ia pergi meninggalkan kehidupan rumah tangga untuk menjalani kehidupan tanpa rumah. Setelah pergi, ia melalui usaha, upaya, penerapan, ketekunan dan perhatian benar mencapai suatu kondisi tertentu dari konsentrasi pikiran hingga mampu mengingat kehidupan sebelumnya yang terakhir, tetapi tidak mampu mengingat yang sebelum itu.

        Dan ia berpikir: “Brahma pencipta itu [bhavaṃ brahmā mahābrahmā], ... ia menciptakan kami, dan ia kekal, stabil, abadi, tidak mengalami perubahan, sama selamanya. Tetapi kami yang diciptakan oleh Brahmā itu, kami tidak kekal, tidak stabil, berumur pendek, ditakdirkan terjatuh, dan kami datang ke dunia ini."[↑]

      2. Ada, dewa-dewa tertentu yang disebut:

      3. Rusak oleh Kenikmatan [Khidda Padosika]. Mereka menghabiskan waktu dalam kesenangan dan bersuka ria, sehingga perhatian mereka memudar, dan dengan memudarnya perhatian mereka, makhuk-makhluk itu jatuh dari kondisi tersebut.’
      4. Rusak dalam Pikiran [Mano Padosika]. Mereka menghabiskan waktu memerhatikan yang lainnya dengan iri hati. Karena pikiran mereka yang rusak, mereka menjadi lelah dalam jasmani dan pikiran. Dan mereka jatuh dari tempat itu.’

      5. 'Dan akan terjadi bahwa satu makhluk, setelah jatuh dari kondisi tersebut, muncul di dunia ini. Setelah muncul di dunia ini, ia pergi meninggalkan kehidupan rumah tangga untuk menjalani kehidupan tanpa rumah. Setelah pergi, ia melalui usaha, upaya, ... mengingat kehidupan sebelumnya yang terakhir, tetapi tidak mampu mengingat yang sebelum itu.’

        ‘Ia berpikir: “Para dewa mulia itu [bhonto], yang:
        • tidak rusak oleh kenikmatan, tidak menghabiskan waktu menikmati kesenangan, bermain dan bersuka ria. Karenanya, perhatian mereka tidak memudar
        • tidak rusak dalam pikiran, tidak menghabiskan banyak waktu memerhatikan yang lainnya dengan iri hati ... mereka tidak rusak dalam pikiran, atau lelah dalam jasmani dan pikiran

        dan karenanya mereka tidak jatuh dari kondisi tersebut. Mereka kekal, stabil, abadi, tidak mengalami perubahan, sama selamanya.

        Tetapi kami, yang rusak oleh:
        • kenikmatan, menghabiskan banyak waktu menikmati kesenangan, bermain dan bersuka ria
        • pikiran, ...

        karena itu, kami, dengan memudarnya perhatian, telah jatuh dari kondisi tersebut, kami tidak kekal, tidak stabil, berumur pendek, ditakdirkan terjatuh, dan kami datang ke dunia ini.
      6. Ada petapa atau Brāhmaṇa tertentu adalah menggunakan logika [Takkī], menguji dan menyelidiki [Vimamsi]. Mengembangkannya dengan alasan, menyidiki melalui pemikiran, mengikuti jalan pemikirannya sendiri: “Apa pun yang disebut mata atau telinga atau hidung atau lidah atau badan, adalah diri yg tidak kekal, tidak stabil, tidak abadi, mengalami perubahan. Tetapi apa yang disebut "pikiran" [citta] atau "pemikiran" [mano] atau kesadaran [viññāṇa], yaitu diri yang kekal, stabil, abadi, tidak mengalami perubahan, sama selamanya

      Sang Tathāgata memahami Sudut-sudut pandang ini yang digenggam secara demikian yang karenanya akan membawa menuju alam-alam kelahiran kembali.

      Sang Tathāgata mengetahui dan lebih jauh lagi, namun Beliau tidak melekat pada pengetahuan itu [Tan ca pajananam na paramasati, tidak melekatinya bahkan pada pandangan benar sekalipun].

      Dan karena tidak melekat, Beliau mengalami/mengetahui dari diri-Nya sendiri [paccattam] kedamaian sempurna, dan setelah memahami sepenuhnya muncul dan lenyapnya perasaan, keindahan dan bahayanya, dan kebebasan darinya, Sang Tathāgata terbebaskan tanpa sisa.

    • 4 pandangan salah dunia itu terbatas dan tidak terbatas [antanata vada]:

      Ada pertapa dengan melalui usaha, upaya, penerapan, ketekunan dan perhatian benar mencapai suatu kondisi tertentu dari konsentrasi pikiran bahwa ia merasa tinggal di dalam:

      1. Dunia ini sebagai terbatas. Ia berpikir: “Dunia ini adalah terbatas dan dibatasi oleh sebuah lingkaran".[Antava ayam loko parivatumo]
      2. tidak terbatas. Ia berpikir: “Dunia ini tidak terbatas dan tidak dibatasi [Ananto ayam loko aparivatumo]. Petapa dan Brāhmaṇa itu, yang mengatakan bahwa dunia ini terbatas dan dibatasi adalah keliru [tesam musa].
      3. terbatas dari atas-dan-bawah, dan tidak terbatas secara melintang. Ia berpikir: “Dunia adalah terbatas dan tidak terbatas [Antava ca ayam loko Ananto ca]. Para petapa dan Brāhmaṇa, itu yang mengatakan bahwa "dunia ini terbatas dan "dunia ini tidak terbatas" adalah keliru.
      1. Ada petapa atau Brāhmaṇa tertentu menggunakan logika [Takkī], menguji dan menyelidiki [Vimamsi]. Mengembangkannya dengan alasan, menyidiki melalui pemikiran, mengikuti jalan pemikirannya sendiri bahwa Dunia ini bukan terbatas juga bukan tidak terbatas [nevāyaṃ loko antavā, na panānanto]. Mereka yang mengatakan terbatas ato tidak terbatas ato yang mengatakan terbatas dan tidak terbatas adalah keliru

    • 4 pandangan salah dalam cara menggeliat bagaikan belut [amara vikhepa vada]:

      ada seorang petapa atau Brāhmaṇa yang tidak mengetahui yang sebenarnya apakah suatu hal baik atau buruk.

      1. Ia berpikir: “Aku tidak mengetahui sebenarnya apakah hal ini baik atau buruk. Tanpa mengetahui apakah ini benar, aku menyatakan: ‘Itu baik’, atau ‘Itu buruk’, dan hal itu mungkin suatu kebodohan, dan akan membuatku menderita. Dan jika aku menderita, itu akan menjadi rintangan bagiku.” Demikianlah karena takut berbohong, tidak suka berbohong, tetapi ketika ia ditanya tentang persoalan itu,
      2. Ia berpikir: “Aku akan menyatakan: ‘Itu baik’, atau ‘Itu buruk’, dan aku akan merasakan keinginan atau nafsu atau kebencian atau penolakan. Jika aku merasakan keinginan atau nafsu atau kebencian atau penolakan, itu akan menjadi kemelekatan bagiku. Jika aku merasakan kemelekatan, itu akan membuatku menderita, dan jika aku menderita, itu akan menjadi rintangan bagiku.” Demikianlah, karena takut akan kemelekatan, tidak menyukai kemelekatan,
      3. Ia berpikir: “Aku akan menyatakan: ‘Itu baik’, atau ‘Itu buruk’, tetapi ada para petapa dan Brāhmaṇa yang bijaksana, terampil, pendebat terlatih, bagaikan pemanah yang dapat membelah rambut, yang mengembara menghancurkan pandangan-pandangan orang lain dengan kebijaksanaan mereka, dan mereka akan menanyaiku, menuntut alasan-alasanku dan berdebat. Dan aku mungkin tidak mampu menjawab. Tidak mampu menjawab akan membuatku menderita, dan jika aku menderita, itu akan menjadi rintangan bagiku.” Demikianlah, karena takut berdebat, tidak suka berdebat,

      ia menghindar dan menggeliat seperti belut: “Aku tidak mengatakan ini, aku tidak mengatakan itu, aku tidak mengatakan sebaliknya. Aku tidak mengatakan tidak. Aku tidak tidak mengatakan tidak.”

      1. Di sini, seorang petapa atau Brāhmaṇa adalah tumpul dan bodoh. Karena ketumpulan dan kebodohannya, ketika ia ditanya, ia akan mengemukakan pernyataan menghindar dan menggeliat seperti belut: "Jika engkau bertanya kepadaku apakah:

        1. ada dunia lain?
        2. tidak ada..?
        3. ada dan juga tidak ada..?
        4. bukan ada dan juga bukan tidak ada..?
        5. ada makhluk-makhluk yang terlahir secara spontan?
        6. tidak ada..?
        7. ada dan juga tidak ada..?
        8. bukan ada dan juga bukan tidak ada..?
        9. Apakah perbuatan baik dan buruk berbuah dan berakibat?
        10. tidak ada..?
        11. ada dan juga tidak ada..?
        12. bukan ada dan juga bukan tidak ada..?
        13. Apakah Tathāgata ada setelah kematian?
        14. tidak ada..?
        15. ada dan juga tidak ada..?
        16. bukan ada dan juga bukan tidak ada..?

        jika aku berpikir demikian, aku akan mengatakan ada dunia lain. Tetapi aku tidak mengatakan demikian. Dan aku tidak mengatakan sebaliknya. Dan aku tidak mengatakan tidak ada, dan aku tidak tidak mengatakan tidak ada.

    • 2 pandangan asal-mula tentang diri (atta) dan alam (loka) adalah kebetulan semata (Adhicca samuppana Vada)

      1. ‘Ada, para bhikkhu, para dewa tertentu yang disebut tanpa persepsi (asannasatta, ada di alam rupa jhana ke-4). Segera setelah suatu persepsi (sanna) muncul dalam diri mereka, para dewa itu jatuh dari alam tersebut. Dan dapat terjadi bahwa suatu makhluk jatuh dari alam tersebut dan muncul di alam ini. Ia melalui usaha, upaya, penerapan, ketekunan, dan perhatian benar mencapai suatu kondisi tertentu dari konsentrasi pikiran hingga mampu mengingat kehidupan sebelumnya, tetapi tidak mengingat yang sebelum itu. Ia berpikir: “Diri dan dunia muncul secara kebetulan. Bagaimanakah demikian? Sebelum ini, aku tidak ada. Sekarang dari tidak ada, aku menjadi ada.”

        note:
        mahluk-mahluk ini juga memiliki namarupa, utk jelasnya lihat di sini
      2. Di sini seorang petapa atau Brāhmaṇa tertentu yang menggunakan logika [Takkī], menguji dan menyelidiki [Vimamsi]. Mengembangkannya dengan alasan, menyidiki melalui pemikiran, mengikuti jalan pemikirannya sendiri dan menyatakan: “Diri dan dunia muncul secara kebetulan.”

    Ada 44 macam pijakan pandangan/Ditthitthana, tentang masa depan (Aparanta kappa), yaitu:

    • 16 pandangan salah bahwa setelah kematian persepsi (atta = jiwa/atma, yang dalam hal ini adalah sanni = kemampuan mencerap / mengingat / tahu) bertahan [Udham aghatanikha sanni vada] tidak runtuh/hancur (aroga = nicca = kekal) dan:

      1. bermateri (Rūpī atta),
      2. tanpa materi (aRūpī atta),
      3. bermateri dan juga tanpa materi(Rūpī ca arūpī ca attā),
      4. bukan bermateri dan juga bukan tanpa materi(nevarūpī nārūpī attā),
      5. terbatas (antavā attā),
      6. tidak terbatas (anantavā attā),
      7. keduanya (antavā ca anantavā ca attā),
      8. bukan keduanya (nevantavā nānantavā attā),
      9. memiliki persepsi yang seragam (ekattasaññī attā),
      10. memiliki persepsi yang berbeda-beda (nānattasaññī attā),
      11. memiliki persepsi yang terbatas (parittasaññī attā),
      12. memiliki persepsi tidak terbatas (appamāṇasaññī attā),
      13. bahagia sepenuhnya (ekantasukhī attā, alam jhana 1 s/d 4),
      14. menderita sepenuhnya (ekantadukkhī attā, alam neraka),
      15. keduanya (Sukhadukkhī attā, alam manusia),
      16. bukan keduanya (Adukkhamasukhī, alam vehapphala, jhana ke-4)

      note:
      arogo paraṃ maraṇā saññī’ti, biasanya diterjemahkan dibanyak terjemahan = "setelah kematian adalah sehat dan sadar". Namun, sanni di sini bukanlah viññāṇa ataupun citta. Sanni adalah kemampuan menangkap/mencerap/mengingat sehingga jika diterjemahkan = sadar menjadi tidak cocok. Sanni (kemampuan mencerap/dapat menangkap dengan tepat) adalah persepsi (sanna) tentang sesuatu, walau demikian hal ini masih dapat dianggap = persepsi = sadar.

    • 8 pandangan salah bahwa setelah kematian bukan persepsi (atta = jiwa/atma, yang dalam hal ini adalah sanni = kemampuan mencerap / mengingat / tahu) bertahan [uddhamāghātanikā asaññīvādā] tidak runtuh/hancur (aroga = nicca = kekal) dan:

      1. bermateri (Rūpī atta),
      2. tanpa materi (aRūpī atta),
      3. bermateri dan juga tanpa materi(Rūpī ca arūpī ca attā),
      4. bukan bermateri dan juga bukan tanpa materi(nevarūpī nārūpī attā),
      5. terbatas (antavā attā),
      6. tidak terbatas (anantavā attā),
      7. keduanya (antavā ca anantavā ca attā),
      8. bukan keduanya (nevantavā nānantavā attā)

    • 8 pandangan salah bahwa setelah kematian bukan persepsi bukan-bukan persepsi (atta = jiwa/atma, yang dalam hal ini adalah sanni = kemampuan mencerap / mengingat / tahu) bertahan [uddhamāghātanikā nevasaññīnāsaññīvādā ] tidak runtuh/hancur (aroga = nicca = kekal) dan:

      1. bermateri (Rūpī atta),
      2. tanpa materi (aRūpī atta),
      3. bermateri dan juga tanpa materi(Rūpī ca arūpī ca attā),
      4. bukan bermateri dan juga bukan tanpa materi(nevarūpī nārūpī attā),
      5. terbatas (antavā attā),
      6. tidak terbatas (anantavā attā),
      7. keduanya (antavā ca anantavā ca attā),
      8. bukan keduanya (nevantavā nānantavā attā)

    • 7 Pandangan salah tentang pemusnahan bahwa pemusnahan, penghancuran, dan ke-tiada-an makhluk-makhluk (Uccheda vada), yaitu:

      Di sini, seorang petapa atau Brāhmaṇa tertentu menyatakan dan menganut pandangan: “Karena diri ini adalah materi (Rūpī) dan tersusun dari empat unsur (cātumahābhūtiko), produk dari ibu dan ayah (mātāpettikasambhavo),

      1. saat hancurnya jasmani, diri ini musnah dan binasa, dan tidak ada setelah kematian.

      2. yang lain berkata: aku tidak menyangkalnya, diri seperti yang engkau katakan. Namun diri itu tidak sepenuhnya musnah. Karena:

      3. ada diri yang lain (añño attā), dewa bermateri (dibbo rūpī), di alam-indria (kāmāvacaro), memakan makanan nyata (kabaḷīkārāhārabhakkho).
      4. ada diri yang lain, dewa bermateri, ciptaan-pikiran (manomayo) lengkap dengan semua bagian-bagian tubuhnya, tidak cacat dalam semua organ-indrianya (sabbaṅgapaccaṅgī ahīnindriyo)
      5. Ada diri yang lain yang dengan melewatkan seluruhnya melampaui sensasi jasmani, dengan lenyapnya semua penolakan dan dengan ketidaktertarikan pada persepsi yang beraneka-ragam, melihat bahwa ruang adalah tidak terbatas, telah mencapai alam ruang tak berbatas.
      6. Ada diri yang lain yang, dengan melewatkan seluruhnya melampaui alam ruang tanpa batas, melihat bahwa kesadaran adalah tanpa batas, telah mencapai alam kesadaran tak berbatas.
      7. Ada diri yang lain yang, dengan melewatkan seluruhnya melampaui alam kesadaran tanpa batas, melihat bahwa kesadaran adalah tidak ada apa pun, telah mencapai alam tidak ada apa-apapun.
      8. Ada diri yang lain, yang dengan melewatkan seluruhnya melampaui alam tak ada apa-apapun dan melihat bahwa: ‘Ini adalah kedamaian, ini adalah keluhuran’, telah mencapai alam bukan persepsi bukan tanpa persepsi.

      Engkau tidak mengetahuinya atau melihatnya, tetapi aku mengetahuinya dan melihatnya. Diri ini saat hancurnya jasmani, akan musnah dan binasa, dan tidak ada setelah kematian.

    • 5 pandangan salah bahwa Nibbāna di sini dan saat ini (diṭṭhadhammanibbānavādā), yaitu:

      ‘Di sini, seorang petapa atau Brāhmaṇa tertentu menyatakan:

      1. Dalam diri ini, yang dilengkapi/penuh (samappito) dan memiliki/berkah dengan (samaṅgībhūto) lima kenikmatan-indria (pañcahi kāmaguṇehi), menikmatinya (paricāreti), maka itulah saatnya diri mencapai Nibbāna tertinggi di sini dan saat ini.

      2. ‘Yang lain berkata kepadanya: “Tuan, ada diri seperti yang engkau katakan. Aku tidak menyangkalnya. Tetapi itu bukanlah di mana diri mencapai Nibbāna tertinggi di sini dan saat ini.

        Mengapa demikian? Karena:

      3. kenikmatan-indria tidak kekal (aniccā), penuh penderitaan (dukkhā), dan mengalami perubahan (vipariṇāmadhammā), dan dari perubahan dan transformasinya muncullah (tesaṃ vipariṇāmaññathābhāvā) kesedihan, ratapan, dukacita, dan kesusahan (uppajjanti sokaparidevadukkhadomanassupāyāsā). Tetapi ketika diri ini, tidak melekat (vivicca) pada kenikmatan-indria(kāmehi), tidak melekat (vivicca) pada kondisi jahat (akusalehi dhammehi), memasuki dan berdiam dalam jhāna ke-1, yang disertai oleh awal-pikiran dan kelangsungan-pikiran (Vitakka-vicāra), gembira/girang(Pīti) dan nikmat(Sukha) yang muncul dari ketidakmelekatan,
      4. dengan adanya awal-pikiran dan kelangsungan-pikiran, kondisi itu dianggap kasar. Tetapi ketika diri dengan melenyapkan awal-pikiran dan kelangsungan-pikiran memasuki dan berdiam dalam jhāna ke dua, dengan ketenangan dan keterpusatan pikiran, yang bebas dari awal-pikiran dan kelangsungan-pikiran dan yang muncul dari konsentrasi, dan disertai oleh kegirangan dan kegembiraan
      5. dengan adanya kebahagiaan, maka ada kegirangan mental, dan kondisi itu dianggap kasar. Tetapi ketika diri ini, dengan meluruhnya kegembiraan, berdiam dalam keseimbangan,penuh perhatian dan sadar dengan jelas, dalam tubuhnya sendiri mengalami kegembiraan itu, yang karenanya Para Mulia mengatakan: ‘Berbahagialah ia yang berdiam dalam keseimbangan dan perhatian’, dan dengan demikian memasuki dan berdiam dalam jhāna ke tiga,
      6. pikiran mengandung gagasan kegembiraan, dan kondisi itu dianggap kasar. Tetapi ketika, dengan meninggalkan kenikmatan dan kesakitan, dengan lenyapnya kegembiraan dan kesedihan sebelumnya, seseorang memasuki dan berdiam dalam kondisi yang melampaui kenikmatan dan kesakitan dalam jhāna ke empat, yang dimurnikan oleh keseimbangan dan perhatian,

      itulah saatnya diri mencapai Nibbāna tertinggi di sini dan saat ini.

    Sang Tathāgata memahami Sudut-sudut pandang ini yang digenggam secara demikian yang karenanya akan membawa menuju alam-alam kelahiran kembali.

    Sang Tathāgata mengetahui dan lebih jauh lagi, namun Beliau tidak melekat pada pengetahuan itu [Tan ca pajananam na paramasati, tidak melekatinya bahkan pada pandangan benar sekalipun].

    Dan karena tidak melekat, Beliau mengalami/mengetahui dari diri-Nya sendiri [paccattam] kedamaian sempurna, dan setelah memahami sepenuhnya muncul dan lenyapnya perasaan, keindahan dan bahayanya, dan kebebasan darinya, Sang Tathāgata terbebaskan tanpa sisa.[↑]

Pandangan salah, selain di Brahmajala sutta tersebut di atas, ada yg diuraikan secara singkat menjadi 10 pandangan saja yaitu di MN 114 [Sevitabbāsevitabba Sutta] dan MN 117 [Mahācattarisaka Sutta]:

“Dan apakah, para bhikkhu, pandangan salah?
  1. ‘Tidak ada yang diberikan [natthi dinnaṃ],
  2. tidak ada yang dipersembahkan [natthi yiṭṭhaṃ],
  3. tidak ada yang dikorbankan [natthi hutaṃ];
  4. tidak ada buah atau akibat dari perbuatan baik dan buruk [natthi sukaṭadukkaṭānaṃ kammānaṃ phalaṃ vipāko];
  5. tidak ada dunia ini [natthi ayaṃ loko],
  6. tidak ada dunia lain [natthi paro loko];
  7. tidak ada ibu [natthi mātā],
  8. tidak ada ayah[natthi pitā];
  9. tidak ada makhluk-makhluk yang terlahir kembali secara spontan [natthi sattā opapātikā];
  10. tidak ada para petapa dan brahmana yang baik dan mulia di dunia ini yang telah menembus oleh diri mereka sendiri dengan pengetahuan langsung dan menyatakan dunia ini dan dunia lain. [natthi loke samaṇabrāhmaṇā sammaggatā sammāpaṭipannā, ye imaṃ ca lokaṃ paraṃ ca lokaṃ sayaṃ abhiññā sacchikatvā pavedentīti.]’
Ini adalah juga pandangan salah.[↑ sammä-ditthi] [↑ sammä-sankappa] [↑] [↑ Asura]

[18a] AN 3.61/Titha Sutta, Sang Buddha menerangkan adanya Tiga Pandangan SEKTERIAN (termasuk pandangan tentang dosa warisan, ketuhanan) yang ada di jaman sang Buddha, bantahannya VS Ajaran Buddha, berikut ringkasan isi suttanya:

Para bhikkhu, ada tiga Pandangan (titthāyatanāni) yang, jika sepenuhnya disidik/periksa [samanuyuñjiyamānāni], diteliti [samanugāhiyamānāni] dan dibahas [samanubhāsiyamānāni], akan berakhir pada suatu doktrin tanpa tindakan, SEKALIPUN SUDAH DITERAPKAN KARENA TRADISI.

Apakah tiga pandangan ini ini?

Apapun yang dialami seseorang, apakah itu perasaan: menyenangkan, menyakitkan atau perasaan bukan menyenangkan bukan menyakitkan [a-dukkham a-sukhaṁ], semua itu:
  1. disebabkan oleh tindakan lampau [pubbekatahetū].
  2. disebabkan oleh kuasa TUHAN [Issaranimmānahetū]
    "Issaranimmānahetū’ ti issaranimmānakāraṇā, issarena nimmitattā paṭisaṁvedetī ti attho" (artinya: "Disebabkan kuasa tuhan, Karena kuasa TUHAN, Dirinya mengalami dari kuasa tuhan")
  3. tanpa penyebab dan tanpa kondisi [ahetu-appaccayā].
Para bhikkhu, aku telah menemui para petapa dan brahmana ini dan berkata kepada mereka:

PANDANGAN KE-1:
“Apakah benar, seperti kata orang, bahwa yang mulia mengajar dan memegang pandangan bahwa apapun yang dialami seseorang… semua itu disebabkan oleh tindakan lampau?”

Ketika mereka mengatakan “Ya”, aku katakan kepada mereka: “Jika demikian halnya, yang mulia, maka yang MEMBUAT orang:
  1. membunuh adalah karena tindakan masa lampau (yang dilakukan dalam suatu kehidupan lampau);
  2. mengambil yg tidak diberikan adalah karena tindakan masa lampau (yang dilakukan dalam suatu kehidupan lampau);
  3. berperilaku seksual yg salah adalah karena tindakan masa lampau (yang dilakukan dalam suatu kehidupan lampau);
  4. berbohong, mengucapkan kata2 jahat, berbicara kasar dan berbicara tak berguna adalah karena tindakan masa lampau (yang dilakukan dalam suatu kehidupan lampau);
  5. menginginkan milik orang lain, dengki, dan jahat adalah karena tindakan masa lampau (yang dilakukan dalam suatu kehidupan lampau);
  6. berpandangan salah adalah karena tindakan masa lampau (yang dilakukan dalam suatu kehidupan lampau).
Maka mereka yang menganggap tindakan lampau sebagai faktor penentu tidak memiliki semangat dan usaha bahwa ini seharusnya dilakukan, atau seharusnya tidak dilakukan. Karena mereka tidak memiliki kebenaran dan tidak dapat dipercaya bahwa bahwa ini atau itu harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan. Mereka hidup tanpa kewaspadaan dan tanpa pengendalian diri/perlindungan dari (6 indriyanya) dan Mereka ini tidak beralasan dikatakan sebagai ‘petapa’"

Para bhikkhu, inilah teguran ke-1 – yang diakui kebenarannya – kepada para petapa dan brahmana yang mengajarkan dan memegang pandangan seperti itu.

PANDANGAN KE-2:
“Apakah benar, seperti kata orang, bahwa yang mulia mengajar dan memegang pandangan bahwa apapun yang dialami seseorang… semua itu disebabkan oleh kuasa Tuhan?”

Ketika mereka mengatakan “Ya”, kukatakan kepada mereka: “Jika demikian halnya, yang mulia, maka yang MEMBUAT orang:
  1. membunuh adalah karena kuasa TUHAN;
  2. mengambil yg tidak diberikan adalah karena kuasa TUHAN;
  3. berperilaku seksual yg salah adalah karena kuasa TUHAN;
  4. berbohong, mengucapkan kata2 jahat, berbicara kasar dan berbicara tak berguna adalah karena kuasa TUHAN;
  5. menginginkan milik orang lain, dengki, dan jahat adalah karena kuasa TUHAN;
  6. berpandangan salah adalahkarena kuasa TUHAN.
Maka mereka yang menganggap ciptaan Tuhan sebagai faktor penentu tidak memiliki semangat dan usaha bahwa ini seharusnya dilakukan, atau seharusnya tidak dilakukan. Karena mereka tidak memiliki kebenaran dan tidak dapat dipercaya bahwa bahwa ini atau itu harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan. Mereka hidup tanpa kewaspadaan dan tanpa pengendalian diri/perlindungan dari (6 indriyanya) dan Mereka ini tidak beralasan dikatakan sebagai ‘petapa’"

Para bhikkhu, inilah teguran ke-2ku – yang diakui kebenarannya – kepada para petapa dan brahmana yang mengajarkan dan memegang pandangan seperti itu.

PANDANGAN KE-3:
“Apakah benar, seperti kata orang, bahwa yang mulia mengajarkan dan memegang pandangan bahwa apapun yang dialami seseorang… semua itu tidak ada sebabnya dan tidak dikondisikan?”

Ketika mereka mengatakan “Ya”, kukatakan pada mereka: “Jika demikian halnya, yang mulia, maka yang MEMBUAT orang:
  1. membunuh adalah tanpa penyebab dan tanpa kondisi;
  2. mengambil yg tidak diberikan adalah tanpa penyebab dan tanpa kondisi;
  3. berperilaku seksual yg salah adalah tanpa penyebab dan tanpa kondisi;
  4. berbohong, mengucapkan kata2 jahat, berbicara kasar dan berbicara tak berguna adalah tanpa penyebab dan tanpa kondisi;
  5. menginginkan milik orang lain, dengki, dan jahat adalah tanpa penyebab dan tanpa kondisi;
  6. berpandangan salah adalah tanpa penyebab dan tanpa kondisi.
Maka mereka yang menganggap bahwa (urutan peristiwa) yang tanpa sebab dan kondisi sebagai faktor penentu tidak memiliki semangat dan usaha bahwa ini seharusnya dilakukan, atau seharusnya tidak dilakukan. Karena mereka tidak memiliki kebenaran dan tidak dapat dipercaya bahwa bahwa ini atau itu harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan. Mereka hidup tanpa kewaspadaan dan tanpa pengendalian diri/perlindungan dari (6 indriyanya) dan Mereka ini tidak beralasan dikatakan sebagai ‘petapa’"

Para bhikkhu, inilah teguran ke-3ku – yang diakui kebenarannya – kepada para petapa dan brahmana yang mengajar dan memegang pandangan seperti itu.

Demikianlah, para bhikkhu, tiga pendapat sektarian yang, jika sepenuhnya diperiksa, diteliti dan dibahas, akan berakhir pada suatu doktrin tanpa-tindakan, sekalipun JIKA DIPAKAI KARENA TRADISI.

AJARAN BUDDHA:
Para bhikkhu, Dhamma yang diajarkan olehku tidak dapat disangkal, tidak ternoda, tidak tercela, dan tidak dapat dikecam oleh petapa dan brahmana yang pandai. Dan apakah Dhamma itu?
  1. enam unsur/element
    Unsur padat/tanah/landasan [paṭhavīdhātu]; Unsur cairan/perekat [āpodhātu]; Unsur panas/habis/gelompang partikel [tejodhātu]; Unsur Getar/gerak/tekanan [vāyodhātu]; Unsur Ruang (antara dua unsur) [ākāsadhātu]; Unsur kesadaran [viññāṇadhātu]

  2. enam landasan kontak
    mata, telinga, hidung, lidah, tubuh dan pikiran sebagai landasan kontak

  3. delapan belas pemeriksaan mental
    Ketika melihat/mendengar..memikirkan (kegiatan dari indriya) suatu OBJEK dengan Mata/telinga..pikiran (6 Indriya) yang mungkin memunculkan 3 perasaan: SUKACITA [somanassaṭṭhāniyaṁ], DUKACITA [domanassaṭṭhāniyaṁ] atau NETRAL [upekkhaṭṭhāniyaṁ]

  4. Empat Kebenaran Mulia
    Karena melekat pada enam unsur/elemen, kemudian menurun di kandungan. Ketika hal itu terjadi, ada MENTALMATERI (namarupa]
    Dengan MENTALMATERI sebagai kondisi, muncul enam landasan indera;
    dengan enam landasan indera sebagai kondisi muncul kontak;
    dengan kontak sebagai kondisi muncul perasaan.

    Kepada yang merasakan inilah kunyatakan bahwa:

    “Inilah penderitaan”,
    “Inilah asal mula penderitaan”,
    “Inilah berhentinya penderitaan”,
    “Inilah jalan menuju berhentinya penderitaan”

    Para bhikkhu, apakah kebenaran mulia tentang penderitaan?

    Kelahiran adalah penderitaan; menjadi tua adalah penderitaan; penyakit adalah penderitaan; kematian adalah penderitaan; kesedihan, ratap tangis, rasa sakit, kepedihan dan keputusasaan adalah penderitaan; berkumpul dengan yang tidak dicintai adalah penderitaan; berpisah dengan yang dicintai adalah penderitaan; tidak memperoleh apa yang diinginkan adalah penderitaan;

    singkatnya, lima kelompok khanda yang perngaruh kemelekatan adalah penderitaan.

    Para bhikkhu, apakah kebenaran mulia tentang asal mula penderitaan?

    Dengan Ketidaktahuan/kebodohan [avijja] sebagai kondisi [paccaya], muncullah bentukan2 [sankhara];
    Dengan bentukan-bentukan sebagai kondisi munculah kesadaran [viññāṇa];
    Dengan kesadaran sebagai kondisi munculkah MENTAL MATERI [namarupa];
    Dengan mental materi sebagai kondisi muncul enam landasan indera [saḷāyatana];
    Dengan enam landasan indera sebagai kondisi muncul kontak [phassa];
    Dengan kontak sebagai kondisi muncul perasaan [vedana];
    Dengan perasaan sebagai kondisi muncul nafsu keinginan [tanha];
    Dengan nafsu keinginan sebagai kondisi muncul kemelekatan [upadana];
    Dengan kemelekatan sebagai kondisi muncul proses dumadi/menjadi [bhava];
    Dengan proses dumadi sebagai kondisi muncul kelahiran [jāti];
    Dengan kelahiran sebagai kondisi, menjadi: tua [jara], kematian [marana], kesedihan, ratap tangis, rasa sakit, kepedihan dan keputusasaan [sokaparidevadukkhadomanassupāyāsā]. Demikianlah asal mula seluruh kelompok penderitaan hidup ini.

    Para bhikkhu, inilah yang disebut kebenaran mulia tentang asal mula penderitaan.

    Dan para bhikkhu, apakah kebenaran mulia tentang berhentinya penderitaan?

    Dengan pudar dan berhentinya avijja (ketidaktahuan/kebodohan) secara total, bentukan2 berhenti.
    Dengan berhentinya bentukan2; kesadaran berhenti.
    Dengan berhentinya kesadaran, MENTAL MATERI berhenti.
    Dengan berhentinya MENTAL materi, enam landasan indera berhenti.
    Dengan berhentinya enam landasan indera, kontak berhenti.
    Dengan berhentinya kontak, perasaan berhenti.
    Dengan berhentinya perasaan, nafsu keinginan berhenti.
    Dengan berhentinya nafsu keinginan, kemelekatan berhenti.
    Dengan berhentinya kemelekatan, proses dumadi berhenti.
    Dengan berhentinya proses dumadi, kelahiran berhenti.
    Dengan berhentinya kelahiran, menjadi tua dan kematian, kesedihan, ratap tangis, rasa sakit, kepedihan dan keputusasaan berhenti.

    Demikianlah berhentinya seluruh kelompok penderitaan. Para bhikkhu, inilah yang disebut kebenaran mulia tentang berhentinya penderitaan.

    Dan para bhikkhu, apakah kebenaran mulia tentang jalan menuju berhentinya penderitaan?

    Inilah Jalan Mulia Berunsur Delapan, yaitu:

    1. pandangan benar,
    2. pikiran/kehendak benar,
    3. ucapan benar,
    4. tindakan benar,
    5. penghidupan benar,
    6. usaha benar,
    7. perhatian benar dan
    8. konsentrasi benar.

    Para bhikkhu, inilah yang disebut Kebenaran Mulia tentang jalan yang menuju berhentinya penderitaan.
[..] inilah Dhamma yang diajarkan olehku, yang tidak dapat disangkal, tidak ternoda, tidak tercela, dan tidak dapat dikecam oleh petapa dan brahmana yang pandai. [Sumber: Tipitaka studies; Ancient-buddhist-texts dan Samaggi-phala [↑]

[18b] Kata Sanghyang merupakan gabungan dari kata sang + hyang. KBBI sendiri tidak terdapat arti/persamaan dari "hyang" dan juga "sanghyang".

"Sang" dalam KBBI dinyatakan sbg kata yg dipakai di depan nama orang, binatang, atau benda yg dianggap hidup atau dimuliakan dan kata yg dipakai di depan nama benda untuk berolok-olok.

"Hyang", berarti divinity [Deva, allah, tuhan], juga di ucapkan "hiang" yang artinya menghilang.[A dictionary of the Sunda language of Java, Jonathan Rigg.hal.147 dan 153]

Sanghyang menurut Platt artinya adalah deva yg dihormati [plates 23, 24, 25; Dance & drama in Bali, Walter Spies,Beryl De Zoete, hal.70.]

Adi-buddha (Sanskrit) Ādi-buddha [dari ādi pertama, asli + akar verbal budh sadar, tahu] Buddha yang pertama; Mahluk tertinggi diatas semua Buddha dan boddhisatva dalam Mahayana Buddhism of Tibet, Nepal, Jawa, dan Jepang. Dalam tulisan theosophy, Aspek tertinggi or kesatuan dari mahluk menakjubkan tertinggi dari jagat raya kita, hadir sebagai yang paling agung dalam kondisi dharmakaya.

Aisvarika (Sanskrit) Aiśvarika [dari īśvara raja/tuan/tuhan, pangeran, pemilik dari akar verbal īś menjadi sah, berkuasa, ahli dalam] Berkenaan dengan arti raja; Hirarkhi dari jiva tertinggi. Dalam aliran ini adi-buddha adalah individu sebagai jiva kosmis dari hirarkhi kita, perhatian mahluk pada terpusat pada pengindividuan ini menjadi tingkat yang luarbisa dalam Buddhim. isvara ato hirarkhi tertenggi dalam hirarkhi kosmis kita sendiri.

Avalokiteśvarā / Avalokita (ava = 'ava'/ke bawah + lokita/meihat + īśvara = tuhan, contoh yang mengawasi dunia). Translasi tibet: chenrezig (mengamati) wangchug (ishvara/tuhan). Dalam teks awal, Avalokitasvara adalah svara (suara). Jepang: Kannon; Di Chinese sering menyebutnya sebagai kwan im / Kwan Yin / Guān Yīn namun ini jelas bukan sosok yg sama yang dimaksud karena sosok kwan im dalam legenda mereka merupakan puteri Miao San.

Istilah Isvara merupakan pengaruh Hinduism dan terkait dengan doktrin adanya Buddha pertama atau maha buddha. Suatu doktrin yang bertentangan dengan kanon pali.

Kitab-kitab yang memuat kata AdiBuddha (juga Adideva) hanya ada di kitab aliran Mahayana[18c] dan Vajrayana yang keduanya buatan belakangan yaitu 1000an tahun lebih setelah Parinibana Buddha. Misalnya kitab Mahayana Karandavyuha Sutra, dibuat pada akhir abad ke-4 atau awal abad ke-5 Masehi ["The Concept Of Avalokitesvara and Buddhas ini The KĀRAṆḌAVYŪHA SŪTRA, Mingkwan Chaiyapong, hal.11], walaupun kitab ini tidak memuat kata adibuddha, namun menggunakan terminologi Ādideva yang mempunyai beberapa kesamaan karakteristik dengan Ādibuddha.

Dikisahkan Avalokitesvara (Asisten Amithabha) dari beberapa bagian tubuhnya lahir: Bulan dan Matahari, Mahesvara, Brahma, Varuna, Narayana, angin, Dharani dan Saraswati. Kemudian Mahesvara di jaman kaliyuga akan disebut Ādideva. Menariknya, Avalokitesvara disebut juga Mahesvara sebanyak 3x yaitu oleh Yama, Siva dan Uma.

Kemudian di kitab setelahnya yaitu Guṇakāraṇḍa-Vyūha (GKV) yang dibuat pada sekitar abad ke-7 Masehi (W.B Douglas menyebutkan kitab ini baru dibuat pada abad ke-15 Masehi. Ia mengulas "srhi Ghano Buddha"/julukan lain Adibuddha yang ada di GKV, Mañjuśrī-nāma-saṅgīti dan Svayambhupurana). Kitab Gunakaranda Vyuha menyebutkan bahwa Avalokitesvara terlahir dari adibuddha, sebagai anak pertama adi-buddha [Ibid, hal.14]. Dalam kitab Mañjuśrī-nāma-saṅgīti (MNS), yang dibuat pada sekitar abad ke-7 Masehi, dimana Manjusri adalah sinonim dari kebijaksanaam kolektif dari seluruh buddha, dan itu disebut Ādibuddha [Ibid, hal.15]

Kemudian di Indonesia terdapat kitab bernama "Sanghyang Kahamayanikam" (Kitab Siva-Buddha, abad ke-10 Masehi), Jaman raja Empu Sindok yang memuat nama adibuddha di sloka no 65:" [..]Dadi tang āmbek ādibuddha[..]". Terjemahan yang memuat sloka tersebut tertulis:

"bersikaplah seperti adhibuddha raja cakravati yang telah mengalahkan musuh sakti, dapat memberikan keinginan semua makhluk, sikap demikian, mahamunivara-cintamani-samadhi, namanya"

Adibuddha di kitab ini adalah nama seorang raja cakravati dan konsep maha yg mampu memberikan keinginan [cinta mani], sejalan dengan sekte Vaisnawa (Empu Sindok sendiri merupakan penganut Hindu, yang menuhankan Visnu). Pengertian cintamani:
  1. Dunia spiritual, dimana seluruhnya dibuat oleh batu sentuh (cintamani).
  2. Permata pengabul keinginan (RRV2-12b)
  3. Batu philosophi mistis, yang dapat membuat apapun yang seseorang inginkan. Tanah di Vaikuntha terbuat dari batu-batu cintamani. Di Brahma Samhita, sebuah kitab abad ke-15 [cintamani tercantum dalam syair 26, 29, 56], disebutkan untuk memenuhi nafsu keingingan indria dengan benda bernama cintamani yang dapat menciptakan apapun yang di inginkan.
  4. Permata yang dapat memberikan apapun yang dapat seseorang pikirkan
  5. chinthaa-mani, Permata pengabul keinginan yang mengabulkan semua keinginan pemiliknya
Perlu juga di ketahui, bahwa adalah tidak benar bahwa perkembangan Buddhisme Indonesia tidak akan mungkin bisa eksis di Indonesia jika tidak menggunakan doktrin PALSU dan salah adibuddha, sebagaimana yang sering di klaim aliran-aliran tertentu yang baru muncul di Indonesia. landasan pendapat mereka bukan pada doktrin namun berdasarkan kepatuhan pada undang-undang dan pancasila dan mengukuhkan sendiri kebenaran alirannya sendiri, namun landasan yang dipakainya, disamping bukan Buddhisme, pun tidak kokoh, karena:
  1. Agama Buddha sudah ada yaitu di sebelum Orde Baru ada, disebelum orde lama, di sebelum kemerdekaan, di sebelum INDONESIA ADA, di sebelum dijajah oleh Jepang, Belanda, VOC, tidaklah pernah PUNAH sejak keruntuhan MAJAPAHIT [sebagaimana banyak di klaim tentang adanya dongeng 500 tahun sejak keruntuhan majapahit aliran Buddhi akan bangkit kembali], disebelum Mahapahit ada, Disebelum wangsa Syailendra ada.

    Ada/tidak negara Indonesia, AGAMA BUDDHA teteplah ada di Nusantara ini. Sehingga sama sekali tidak ada gunanya menyelipkan SangHyang Adi Buddha [SAB].

  2. Kebangkitan Buddhi setelah 500 tahun runtuhnya Majapahit adalah dongeng. karena secara fakta tidak pernah agama Buddha, hindu, Animisme hilang dari Indonesia.

    Salah satu buktinya Vihara Setia Buddha di Binjai didirikan Tahun 1885.

    Di Vihara Bodhi Jl.Irian Barat Medan, seorang Bhiksuninya bernama Chuan Sim adalah seorang asli Indonesia yang ditahbiskan bahkan sebelum AJ ditahbiskan jadi Bhikkhu!.

    Tahun 1934,seorang bhikkhu Theravada Srilangka bernama Narada MahaThera [14 Juli 1898 – 2 Oktober 1983] datang di Indonesia, Dia 49x Bolak balik ke Indonesia [4 Maret 1934 - Maret 1982]


  3. Ada/tidak ada Ashin Jinarakkhita, BUDDHISM tetap merupakan AGAMA RESMI INDONESIA, seperti bukti yang terdapat dalam kronologis Indonesia sendiri, misalnya:

    • Sebelum kemerdekaan melalui transkrip Pidato Bung Karno di Sidang Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai, 1 Juni 1945: "orang Buddha menjalankan ibadatnya menurut kitab-kitab yang ada padanya." [lihat isi transrip lengkap di sini]
    • Pada, penetapan hari raya keagamaan no.2/oem tahun 1946, tanggal 18 Juni 1946, saja Agama konghucu mendapatkan persetujuan 4 tanggal sebagai hari raya, maka apalagi agama buddha.
    • Tahun 1951, di BUKU, "Filsafat Pancasila menurut Bung karno", Oleh Soekarno...dalam PENGUKUHAN HONORIS CAUSA ilmu HUKUM, tanggal 19 September 1951. Soekarno berpidato dan SFESIFIK menyebutkan kata "AGAMA BUDHA" sebanyak: 3 (tiga) kali, yaitu di hal.94, 156, 230.
    • Tahun 1958, dalam Dalam Pidato pada Peringatan Lahirnya Pancasila di Istana Negara, Tanggal 5 Juni 1958, Bung Karno berkata seperti ini:
      Bung Yamin mengemukakan beberapa bantahan. Sayapun ingin mengemukakan beberapa bantahan, antara lain bantahan: Pancasila adalah satu agama, katanya, agama baru. Bukan! Bukan! Pancasila bukan agama baru! Pancasila adalah Weltan-schauung, falsafah Negara Republik Indonesia, bukan satu agama baru. Bukan! Ada yang berkata: Pancasila itu sebetulnya adalah perasan daripada agama Budhisme. Bagaimana bisa mengatakan bahwa Pancasila itu adalah perasaan daripada agama Budhisme? Orang yang berkata begitu sebetulnya tidak tahu apa yang dinamakan Budhisme itu. Misalnya saja, saudara-saudara, Ketuhanan Yang Maha esa; BUDHISME TIDAK KENAL KETUHANAN. Coba tanya kepada prof. Muh. Yamin, tanya kepada prof. Hazairin; tanya kepada sarjana-sarjana yang duduk di sini. Budhisme tidak mengenal apa yang dinamakan Tuhan. Budhisme adalah satu levens beschou­wing, satu pandangan hidup, cara hidup agar supaya nanti bisa mencapai kesempurnaan nirwana. Budhisme tidak mengenal Al­lah. Budhisme tidak mengenal God, Budhisme tidak mengenal Jehovah. Budhisme tidak mengenal apa yang seperti kita artikan sebagai Tuhan. Jikalau engkau ingin hidup dikemudian hari, sem­purna, jikalau engkau ingin masuk nirwana, lakukanlah ini, lakukanlah ini. Delapan marga daripada Budha, jalan delapan macam, saudara-saudara. Jadi Budhisme adalah satu pandangan hidup, satu cara hidup, satu levensbeschouwing, bukan sebenarnya satu godsdienst.

      Kok lantas ada orang berkata: Pancasila yang dengan tegas mengatakan pada sila yang pertama Ketuhanan Yang Maha esa, bahwa Pancasila itu adalah perasaan daripada Budhisme. Tidak kena ini, saudara-saudara. Sama sekali tidak! Saya minta jangan­lah menaruhkan Pancasila ini secara antagonistis terhadap kepada misalnya agama Islam. dan janganlah pula meletakkan Pancasila ini secara congruentie yang sama dengan misalnya Agama Budha, janganlah ditaruhkan secara antagonistis kepada Agama Islam. jangan ditaruh secara congruent terhadap kepada Agama Budha. Jangan! Sebab Pancasila adalah falsafah bagi Negara Republik Indonesia, sebab Pancasila adalah satu dasar daripada Negara Republik Indonesia ini. Kita ingin kekal dan abadikan dan sebagai tadi sudah saya katakan, syarat mutlak bagi mengkekalabadikan Negara republik Indonesia, adalah persatuan daripada bangsa Indonesia.
    • Masih di tahun 1958, pada "PANCASILA SEBAGAI DASAR NEGARA", Kursus Presiden Soekarno Tentang Pancasila di Istana Negara, Tanggal 22 Juli 1958:
      Oleh karena itu tempo hari saya berkata di dalam salah satu pidato: agama budha tidak mengenal begrip Tuhan. Agama lain mempunyai begrip Tuhan: Ya Allah atau Ya Tuhan atau Ya God atau Yehova, mohon, mohon; ada tempat permohonan. Budha berkata tidak ada, tidak perlu engkau mohon-mohon, cukup engkau bersihkan engkau punya kalbu daripada nafsu dan dia sebut delapan nafsu...
    • Pada tahun 1960, dalam pidatonya di sidang umum PBB ke-15, 30 September 1960, dengan judul, "MEMBANGUN DUNIA KEMBALI", Bung Karno berkata:
      Bangsa saya meliputi orang-orang yang menganut berbagai macam agama: ada yang Islam, ada yang Kristen, dan ada yang Budha dan ada yang tidak menganut sesuatu agama. Meskipun demikian untuk delapan pu­luh lima persen dari sembilan puluh dua juta rakyat kami, bangsa Indonesia terdiri dari pengikut Islam. Berpangkal pada kenyataan ini dan mengingat akan berbeda-beda tetapi bersatunya bangsa kami, kami menempatkan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai yang paling utama dalam falsafah hidup kami. BAHKAN MEREKA YANG TIDAK PERCAYA KEPADA TUHAN PUN, karena toleransinya yang menjadi pembawaan, mengakui bahwa kepercayaan kepada Yang Maha Kuasa merupakan karakteristik dari bangsanya, sehingga mereka menerima Sila pertama ini.
    • PENJELASAN PENPRES 1/1965, sudah terang benderang menyatakan: "Agama-agama yang dipeluk oleh penduduk di Indonesia ialah Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan khong Cu (Confusius). Hal ini dapat dibuktikan dalam sejarah perkembangan Agama-agama di Indonesia."
    • Sejarah pembentukan dirjen hindu dan Buddha, terjadi sebelum diciptakannya istilah sanghyang adi buddha:

      KMA Nomor 47 Tahun 1963, Bagian Urusan Hindu Bali ditingkatkan menjadi Biro Urusan Hindu Bali. Kemudian pada tahun 1966 dikeluarkan Keputusan Presiden RI Nomor 170 Tahun 1966, Biro Urusan Hindu Bali ditingkatkan menjadi Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Beragama Hindu Bali dan Buddha, dan diikuti dengan perpindahan kantor ke Jl. MH. Thamrin Nomor 6 Jakarta. Sedangkan susunan organisasinya sebagaimana diatur dalam Keputusan Menteri Agama Nomor 56 Tahun 1967.

      Pada tahun 1969 dikeluarkan kembali KEPPRES RI Nomor 39 Tahun 1968, Direktorat Jenderal Bimas Beragama Hindu Bali dan Buddha berubah menjadi Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu dan Buddha, yang disertai dengan pengembangan struktur meliputi: Direktur Jenderal, Sekretaris Direktorat Jenderal, dan Direktorat Urusan Agama Hindu dan Buddha.
    • Jumlah Wihara di tahun 1968 adalah 520
    • Tempo, 26 FEBRUARI 1972: Fakta bhw pengaruh non tionghoa thd Buddhisme emang tinggi:

      Maka agama Budhapun memantjar kembali keseluruh pendjuru, setelah berabad hening bagai dalam samadi. Sudah tentu diluar kalangan Sam Kauw. dikalangan penduduk pribumi di Djawa atau Bali atau Nusa Tenggara, potensi-potensi kebangkitan, kembali Budhisme ini sudah bertumpuk. [↑]

[18c] List sutta dan sutra variasi berakhirnya dhamma sejati berasal dari: "An Analytical Study on Buddhist Eschatology" – Prophecy of Decline of Dharma Based on the Sūtra on the Seven Dreams of Ānanda, Shih You Zhi, Graduate School of Buddhist Studies, Fo Guang University, 2008] dan Macmillian-Encylopedia of Buddhism, Vol.1, A-L, Robert E. Buswell, Jr., Editor in Chief, 2004. hal.210-213

Berikut ini adalah tahun pembuatan kitab-kitab kalangan Mahayana:
  1. Prajñāpāramitā Sutra:

    • Aṣṭasāhasrikā Sutra(Kesempurnaan Kebijaksanaan dalam 8.000 baris, Para sejarahwan barat, yaitu menurut E.Conze, memperkirakan sutra ini dikompilasi pada abad ke-1 SM dan translasi ke Cina pada abad ke-2 M). Text (Prosa) sutra itu tergabung bersama sloka Ratnaguṇasaṁcaya Gāthā, yang diperkirakan ada sedikit lebih awal(1)
    • Vajracchedikā Sūtra (Sutra Intan, Sejarahwan Jepang menyatakan justru sutta ini yang lebih awal yaitu abad ke-1 SM)(2). Sejarahwan lain menyepakati bahwa Astasahasrika merupakan adaptasi dari Vajradika sutra(3)
    • Hṛdaya Sūtra (Sutera hati), Pembuatannya dilakukan pada abad ke-1 M, era kerajaan Kushan oleh mantan Biksu aliran Sarvastivada(4). Translasi ke Chinese paling awalnya pada 200 - 250 M oleh Bhikku Yuezhi (Zhi Qian). Namun E. Conze memberikan estimasi asal sutra ini ada ditahun 350 M, beberapa sejarahwan menganggap seharusnya 2 abad lebih lama lagi namun dibawah abad ke-7 M. Versi awal tibet muncul di 755-800 M(5)

    Para ahli barat berpendapat bahwa sutra-sutra ini, dengan mengabaikan sumber-sumbernya, dikompilasi dalam sanskrit pada 100 SM s/d 800 M. Dalam 4 phase pengembangan. Sutera intan dan sutera hati aslinya dikembangan dari tahun 300 s.d 500 M. Prof. Dr. Edward Conze:

    Prajnaparamita Sutra dapat dibagi dalam 3 fase masing-masing lamanya 2 abad dan 1 fase lamanya 5 atau 6 abad.

    1. Fase pertama (100 SM - 100 M) terdiri dari perluasan ajaran ke suatu teks dasar.
    2. Fase kedua (100 M - 300 M) perluasannya ke 3 atau 4 risalah yang sangat penting.
    3. Fase ketiga (300 M - 500 M) penyingkatannya ke sejumlah risalah yang lebih pendek.
    4. Fase keempat (500 M - 1200 M) penyingkatannya ke Dharani dan Mantra Tantra.(6).

    --------------
    Sumber:
      (1) Guang Xing. The Concept of the Buddha: Its Evolution from Early Buddhism to the Trikaya Theory. 2004. p. 66,
      (2) Williams, Paul. Mahāyāna Buddhism: the Doctrinal Foundations. London, UK: Routledge. ISBN 0-4150-2537-0. p.42
      (3) Schopen, Gregory. Figments and Fragments of Mahāyāna Buddhism in India. 2005. pp. 31-32
      (4) Pine, Red. The Heart Sutra: The Womb of the Buddhas (2004) Shoemaker 7 Hoard. ISBN 1-59376-009-4, hal.18-21
      (5) Lopez, Donald S., Jr. The Heart Sutra Explained: Indian and Tibetan Commentaries (1988) State Univ of New York Pr. ISBN 0-88706-589-9, hal.5
      (6) Conze, Edward. Prajnaparamita Literature (2000) Munshiram Manoharlal Publishers ISBN 81-215-0992-0, originally published 1960 by Mouton & Co.

  2. Sutra teratai (Saddharma Puṇḍarīka Sūtra) adalah bagian terbesar sutra Mahayana, para sejarahwan menyatakan sutra ini dikompilasi 4 fase ke Sanskrit, yaitu: Abad ke-1 s/d 150 M. Ditranslasi beberapa kali ke Cina yaitu abad ke-3 s.d 5 M salah satunya oleh Dharmarakṣa [Zhu Fahu, 286 M, di antaranya oleh Kumarajiva (w. 406 M). Dari Cina ke Jepang oleh Biksu bernama Dengyo (Saiyo di abad ke-8 M) [Paul Williams, Mahāyāna Buddhism: the doctrinal foundations. Routledge 1989, page 142]

  3. The Lalitavistara, [hadir belakangan, waktu tidak dapat dipastikan, sekitar 400 M], merupakan teks sanskrit yang berisi prosa dan sloka kehidupan sang Buddha mulai dari alam Tusita s.d pembabaran pertama di Sarnath. Aslinya tertulis dalam sanskrit, Adalah kaum Mahayana dalam pandangannya tentang Sakyamuni, menghiasi kisahnya dengan kisah ajaib dan supernatural [John Strong, diambil dari Encyclopedia of Buddhism©2004 by Macmillan, hal.450]

    Posisi Lalitavistara-sutra dalam hubungannya dengan kanon pali terdapat banyak pandangan, di antaranya Rhys Davids, "Prosa yang tidak diketahui tanggal pembuatannya dan anonim, namun kemungkinan dikompilasi di Nepal, oleh Penyair Buddhis yang hidup dikisaran 600 tahun s.d 1000 tahun setelah kelahiran Sang Buddha" [Hibbert Lectures, p. 197 --> p.239-240]

    Ketika text sanskrit pertamakalinya dipublikasikan [1877/1878] ditemukan banyak kandungan sloka yang dibalut prosa. Pertanyaannya mana yang lebih tua: prosanya atau slokanya? Kemudian dengan mengabaikan sumber slokanya, terlihat bahwa ini berasal dari Sarvastivadin, namun jika merujuk pada, "Sardulavikridita metre", ini ada diperiode belakangan. Namun tidak diragukan bahwa prosa dan slokanya berasal dari Sarvastivadin [Hibbert Lectures, p.241; The Lalitavistara and Sarvastivada, By Thomas, E. J. Indian Historical Quarterly 16:2 1940.06 p. 239-245]

  4. Menurut versi panjang SUKHAVATIVYUHA SUTRA, Buddha Amitabha dulunya adalah Biksu bernama Dharmakara yang melakukan sumpah sebagai bagian dari misinya sebagai BODHISATTVA, kemudian mencapai pencerahan penuh dan menyelesaikan sumpahnya menjadi Buddha Amitabha. Ia kini bersemayam di alam yang ia murnikan, yang disebut Sukhavati (penuh nikmat). Dari dunianya Ia akan mendatangi kita, dikelilingi banyak bodhisatta, menyambut yang wafat dan memimpin mereka pada kelahiran kembali di Tanah suci Buddha miliknya.

    Figur Amitabha tidak dikenal di awal literatur Buddhisme India, namun sekitar awal abad masehi ia muncul sebagai Buddha dari barat, bagian dari Buddha di 5 arah mata angin.

    Pemujaan Amitabha, pengembangan dan bagian dari praktek awal mahayana melalui permohonan dan pemujaan pada semua Buddha dan berharap agar terlahir di tanah yang dimurnikan. Biasanya dihubungkan dengan satu dari arah mata angin.

    Mitos sumpah dan tanah sucinya mirip atau bersaing dengan kepercayaan tentang Buddha lainnya seperti AKSOBHYA (Satu dari 5 Buddha 5 arah mata angin, dengan nama tanah sucinya adalah Abhirati).[..][Encyclopedia of Buddhism©2004 by Macmillan, hal.15]

    Bagian panjang SUKHAVATIVYUHA-SUTRA, teks utama dari aliran, telah diterjemahkan 2 kali dipertengahan abad ke-3 M, Di tahun 402 M Amitabha Sutra (Amida Sutra atau bagian pendek Sukhavativyuha-sutra) dan Dasabhumikavibhasa (Risalah tentang 10 tingkatan), karya NAGARJUNA (Abad ke-2 M), diterjemahkan KUMARAJIVA (350–409/413 M).

    Guan Wuliangshoujing (Sutra Kontemplasi Keabadian Buddha) diklaim alirannya sendiri diterjemahkan antara 424 dan 453 M, walaupun kemungkinan ini merupakan komposisi dari Chinese atau Asia tengah. Ketika 3 Sutra utama dan 1 sutra komentar dari sutra ini muncul, ajaran tanah suci dibuang dari Pratyutpannasamadhi-sutra. [Encyclopedia of Buddhism©2004 by Macmillan, hal.707]

  5. Mahayana Mahaparinirvana Sutra (Nirvana Sutra), kompilasinya menurut: Paul Williams: setelah abad ke-2 M; Stephen Hodge: 100 M s/d to 220 M ["On the Eschatology of the Mahaparinirvana Sutra and Related Matters", Hodge, Stephen (2006)]

    Untuk Mahayana Mahaparinivana sutra (Taisho Tripitaka, Vol.12, No.374, versi China, oleh Dharmakshema, translasi ke Inggris oleh Kosho Yamamoto) adalah buatan 422 Masehi. Di dalamnya terdapat tambahan material baru yang tidak ditemukan di versi sanskritnya. Tambahan ini mirip ajaran hinduism, misalnya pada kisah-kisah Mahabharata.

  6. Vimalakirti Sutra, dibuat pada 100 M [The Vimalakirti Sutra, Burton Watson, New York: Columbia University Press. hal.1–5,]

  7. Upaya-Kausalya Sutra (translasi dari tibet: Upaya-kausalya nama mahayana sutra, oleh Tatz, 1994. Atau dari china: Jnanottara Bodhisattva-Pariprccha, oleh Chang, 1983. ato Taisho 345). Salah satu isinya adalah kehidupan kelahiran sebelumnya bodhsattva, Ia membunuh penjahat untuk menyelamatkan 500 orang. Tatz mengklaim bahwa sutra ini mempunyai basis asal dari India dari abad ke-1 Masehi. [Sumber: An Introduction to Buddhist Ethics: Foundations, Values and Issues, Oleh Peter Harvey, hal.135, catatan kaki no.11]. Tentu saja ini bukanlah rujukan anjuran melakukan pembunuhan karena jelas melanggar sila ke-1 apapun motifnya.

  8. Avatamsaka sutra (singkatan dari Buddhavatamsaka-namamahavaipulya-sutra, Dalam bahasa Inggris: Flower Garland), dibuat pada abad ke-3 atau 4 M [Macmillan Encyclopedia of Buddhism, 2004, Vol. 1, hal.341]

  9. Karandavyuha Sutra, dibuat pada akhir abad ke-4 M atau awal abad ke-5 M [Alexander Studholme, The Origins of Om Manipadme Hum: A Study of the Karandavyuha Sutra, State University of New York Press, Albany, 2002, p. 17]

  10. Brahma's Net Sutra [Brahmajala SUTRA, versi Mahayana], dibuat abad ke-5, disini ada konsep DHAMMAKAYA versi Mahayana [Cho, Eunsu. Fanwang jing in Macmillan Encyclopedia of Buddhism, 2004, Vol. 1, hal.281-282]

  11. Shurangama Sutra, dianggap ditranslasikan ke Chinese di tahun 709 M oleh Biksu India bernama Po-la-mi-ti. [di sini]

  12. Apocrypal sutra (yang diragukan keasliannya, dikompilasi di China bukan di India):

    1. Sutra ajaran warisan (the Bequeathed Teaching Sutra, Fo chui ban nie pan liao shuo jiao jiejing, Yijiaojing for short), ditranslasi ke China oleh kumarajiva, tahun 400 M
    2. Ullambana Sutra (Yulanpenjing), di translasi ke China dipertengahan abad ke-6 M, Dharmarakṣa, pada tahun 266 s/d 313 M, jaman dinasti Jin Barat. Terminologi Sanskrit "ullambana" (vu-lan-bồn) secara literal berarti "baki/dulang/nampan". Beberapa ahli mengatakan ini berasal dari pemujaan Urvan, Zoroastrian, Iran yang lazim dilakukan pada perayaan Fravardigan, dilakukan dengan membakar ranting cemara, yang wanginya dipercayai akan menarik "jiwa" para leluhur dan para turunannya bisa mengundang leluhurnya pulang kerumahnya dan menerima persembahan. Tradisi ini serupa dengan tradisi urabon, di Jepang atau juga disebut perayaan obon atau bon, yang ditemukan di vol 22, sejarah Jepang (Nihonshoki, Nhật Bản thư kỉ), tahun ke-14 dinasti Suiko (Suy Cổ) 606 Mi. Di tahun ke-5 dinasti Tempyō (Thiên Bình) 733 M
    3. Sutra 42 bagian (Sishierzhangjing), dianggap sebagai sutra pertama yang ditranslasi ke Cina oleh bhikkhu dari barat Kāśyapa Mātaṅga dan Gobharana, di jaman kerajaan Xiaoming, dinasti Han terakhir (58 – 75 M). Menurut catatan koleksi translasi tripitaka (Chu san cang zhiji), translasi sutra ini dilakukan di biara Kuda putih (Baimasi), Luoyang, yang merupakan biara Buddha pertama di China. Para ahli modern spt Liang Qichao, Yin Shun, dan Donald S. Lopez, berpendapat bahwa text ini adalah buatan yang diilhami doktrin Mahayana dan Tao. Kemiripan antara sutra 42 bagian dan kitab kebaikan anak perempuan (Xiangjing) diragukan keaslian sanskritnya. Catatan sejarahwan Tang Yongtong, menyatakan edisi awalnya tidak mengandung konsep Mahayana dan Tao. Teks ini sering ditulis ulang dan di revisi oleh para peng-copy dan pengkompilasi dan pengutipnya dengan menambahkan opini pribadinya. Ragam edisi sutra 42 bagian dibagi 3 kategori. Pertama, termasuk edisi korea, dinasti Song dan Yuan, yang hampir mirip satu sama lainnya. Kedua, edisi dengan komentar oleh Zhenzong dari jaman dinasti Song (998 –1023 M). Edisi ini digunakan oleh Nancang dari Dinasti Ming. Ketiga, Edisi dengan komentar dari Shousui, seorang biksu Chan sekte Caodong, yang berkembang di awal abad ke-12
    4. Sutra pencerahan sempurna (Dafangguangyuanjuexiuduoluoliaoyijing, Yuanjuejing), sejumlah komentar ditulis di jaman dinasti Tang (618–907), Song (960–1279), Ming (1368–1644), dan Qing (1644–1912). Diragukan keasliannya dan ajarannya. Meskipun ditranslasikan ke China oleh Buddhatrāta pada 693 M, namun bukan dari teks India, melainkan dari gubahan China yang berasal dari sekitar abad ke-7 atau awal 8 M.
    5. Sutra kedalaman cinta seorang anak (Fumuenzhongjing; Jepang: Bumoon - jū gyō atau Fuboonjūkyō) adalah kitab buatan yang berasal dari China, ketika Buddhism mulai diperkenalkan ke China dari India. Catatan awal teks ini ditemukan di jaman dinasti Zhou (Dazhoukan ding zhongjingmulu), yang diedit di 695 M, jaman ratu Zetianwuhou. Catatan ini hanya ada diedisi dinasti Zhou. Tradisi Tripitaka korea (Gaolidazangjing) menyatakan sutra ini adalah tambahan belakangan dan unsur pembuatannya telah dilakukan sejak awal di kompilasi dan tidak pernah dianggap sebagai kitab asli buddhis yang berasal dari India. Sumber lain, catatan ajaran Sakyamuni yang dikompilasi pada era Kaiyuan (Kaiyuanshijiaolu) kompilasinya tahun 730 M jaman dinasti Tang, menyampaikan catatan bahwa sutra ini adalah teks buatan China karena terdapat nama 3 anak berbakti China: Dinglan, Dongan dan Guoju. Namun ketika diketahui kitab ini adalah buatan, kemudian direvisi dan nama-nama Chinanya dihapus. sejak itu terdapat beberapa versi revisi termasuk versi yang ditulis ulang seluruhnya seperti kisah Buddha Sakyamuni yang menemukan setumpukan tulang dan Ia kemudian menyembahnya, juga kisah pertumbuhan embrionya ketika dikandungan ibunya yang merupakan tambahan

    [Sumber:APOCRYPHAL SCRIPTURES, Numata Center for Buddhist Translation and Research, 2005] [↑] [↑]

[20] Terdapat statement dalam Milanda Panha[22] dan juga kitab komentar bahwa orang yang lahir dikebiri dan hemaprodite, tidak bisa mencapai kemajuan dalam pencerahan mental baik dalam meditasi maupun kesucian ["Visuddhimagga", Buddhagosha, terjemahan: Bhikkhu Ñánamoli, edisi ke.4, hal.168 dan juga di Milanda Panha Bab.15 no.78]

Statement di atas adalah tidaklah benar karena mengenal Dhamma dan mencapai berbagai tingkat kesucian tidaklah mengenal RAS, SUKU, UMUR, PEKERJAAN dan JENIS KELAMIN

Pengertian Homo seksual, Lesbian, banci, kasim dan/atau transgender menurut Buddhisme di kemas dalam kata Pandaka dan Ubhatobyanjanaka, untuk detailnya silakan buka artikel ini dan ini

Di dalam link di atas, ada reference pengertian ubhatobyanjanaka yg perlu di koreksi yaitu pengertian dari seorang bernama Bunmi Methangkun, kepala dari Yayasan Abhidhamma tradisionalist, yang membagi dua tipe hermaphrodite, yaitu jenis wanita (itthi-ubhatobyanjanaka) dan pria (purisa-ubhatobyanjanaka), dimana dikatakan yang jenis pria tidak bisa hamil. [note: Zwilling (1992:206), mengutip Buddhaghosa menyajikan pengertian ubhatobyanjanaka dalam Abhidharmakos'a karyanya yang juga hampir identik dengan yang disampaikan oleh Bunmi]

Ini keliru.

Di jaman modern ada seorang lelaki [secara hukum] bernama Thomas Beati berisitrikan Nancy, di mana Thomas tercatat mengalami 2 kali kehamilan. Ini jelas membuktikan bahwa lelakipun bisa hamil [sumber: womenissues.about.com dan science20.com]

Pandaka dan Ubhobyantojanaka MAMPU dan DAPAT mencapai tingkatan meditasi manapun SELAMA mereka dapat mengatasi 5 rintangan dan memegang konsentrasi bahkan tercatat dijaman sang Buddha sendiri beberapa dari mereka mencapai tingkat Arahat. Berikut dibawah ini saya sampaikan contoh mengenai Soreyya [Ubhobyantojanaka] dan Vakkali [Pandaka].

Contoh ke-1:
Soreyya yang begitu terkagum2nya pada Mahakaccayana Thera, ia kemudian berganti jenis kelamin dari laki -> perempuan.

Kemudian, ia menikah mempunyai anak..bertemu seorang kenalannya mengungkapkan jati dirinya, disarankan meminta maaf, Ia mengundang Maha Kaccayana thera, setelah itu meminta maaf dan segera setelah itu dari Perempuan -> laki:
    [..]Soreyya kemudian merenungkan bagaimana dengan satu keberadaan diri dan dengan satu keberadaan tubuh jasmani ia telah berubah kelamin, bagaimana anak-anak telah dilahirkannya. Merasa sangat cemas dan jijik terhadap segala hal itu, ia memutuskan untuk meninggalkan hidup berumahtangga dan memasuki Pasamuan Sangha di bawah bimbingan Mahakaccayana Thera.

    Sesudah itu ia sering ditanya,"Siapa yang kamu cintai, dua anak laki-laki pada saat ia sebagai seorang laki-laki atau dua anak lain pada saat ia sebagai seorang isteri ?" Terhadap hal itu ia menjawab bahwa cinta kepada mereka yang dilahirkan dari rahimnya adalah lebih besar. Pertanyaan ini sering kali muncul, ia merasa sangat terganggu dan malu. Kemudian ia menyendiri dan dengan rajin, merenungkan penghancuran dan proses tubuh jasmani.

    Tidak terlalu lama kemudian, ia mencapai tingkat kesucian arahat bersamaan dengan pandangan terang analitis. Ketika pertanyaan lama ditanyakan kepadanya, ia menjawab bahwa ia telah tidak mempunyai lagi kesayangan pada sesuatu yang khusus. Bhikkhu-bhikkhu lain yang mendengarnya berpikir bahwa ia pasti berkata tidak benar.

    Pada saat dilapori dua jawaban berbeda Soreyya itu, Sang Buddha berkata, "Anak-Ku berkata benar, ia telah berbicara benar. Jawabannya sekarang lain karena ia sekarang telah mencapai tingkat kesucian arahat sehingga ia tidak lagi menyayangi sesuatu yang khusus. Dengan pikiran terarah benar anak-Ku telah membuat dirinya berada pada suatu kehidupan baik, yang bukan diberikan oleh ayah maupun ibu."
    Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 43 berikut :

    Bukan dengan pertolongan ibu, ayah, ataupun sanak keluarga; namun pikiran yang diarahkan dengan baik yang akan membantu dan mengangkat derajat seseorang.
    Banyak bhikkhu mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma itu berakhir.
Contoh ke-2:
Vakkali begitu terpesona pada sang Buddha secara fisik dan gak mau melatih dhamma. Ia kemudian ditegur dan hampir bunuh diri dan kemudian menjadi arahat dengan gelar etadaggam saddha’dhimuttanam, Ia yg memiliki keyakinan paling kuat diantara para Bhikkhu dan juga kemampuan analitis [patisabhida]. Kisah ini ada di dhammapada syair ke-381 [di atas]

Kemudian,
VINAYA memuat 2 aturan yang berkaitan ttg orientasi, perubahan gender di kebhikkuan jaman Sang Buddha:
  1. Jika seorang Pandaka telah menjadi Bhikkhu, maka ia diharuskan lepas jubah.

    Peraturan ini hadir berkenaan dengan seorang yang menjadi Pandaka tidak mampu mengendalikan emosi seksualnya dan merayu para Bhikkhu, Samanera dan beberapa umat awam. Setelah mendapat laporan ini maka munculah aturan diatas. Di Thailand, sebagai bagian dari program pendidikan, mereka yg kemayu di perbolehkan menjadi samanera

  2. Jika seseorang berubah kelamin maka, jika menjadi wanita ia menjadi bhikkuni dan berlaku sebaiknya. [↑]

[21] Kata "Ekodakībhūtaṃ", banyak diterjemahkan menjadi "semuanya terdiri dari cairan", namun di kamus manapun tidak saya temukan arti katanya, yang ada adalah:
    Ekadā = once, at one time, at the same time, at one time, once upon a time; Ekodibhāva = onepointedness; concentration;
    Ekodi= [Ekodi] (adj.) [most likely eka + odi for odhi, see avadhi2 & cp. avadahati, avadahana, lit. of one attention, limited to one point. Thus also suggested by Morris J.P.T.S. 1885, 32 sq. The word was Sanskritised into ekoti, e. g. at M Vastu iii.212, 213; Lal. Vist. 147, 439] concentrated, attentive, fixed A iii.354; Nd1 478. Usually in compn. with kṛ & bhū (which points however to a form ekoda° with the regular change of a to i in connection with these roots!), as ekodi-karoti to concentrate M i.116; S iv. 263; °bhavati to become settled S iv.196; v.144; °bhūta concentrated Sn 975; °bhāva concentration, fixing one's mind on one point D i.37; iii.78, 131; A i.254; iii.24; Vism 156 (expld. as eko udeti); Dhs 161 (cp. Dhs trsln. 46); DhsA 169; Nett 89.
    Mungkinkah Eka + odaka + bhuta = Ekodakībhūtaṃ?, di mana odaka = udaka = cairan/air namun jelas bukan odakī/udakī [tidak ditemukan artinya]; dimana bhūta = dari bhavati, Vedic etc. bhūta, grown, become; born, produced; nature as the result of becoming, being, that which is, i. e. natural, genuine, true; nt. truth; all that exists, physical existence in general. -> sehingga artinya dipaksakan menjadi "satu bentukan cair"?
Jika benar artinya adalah "cairan", maka situasi cairan pada permulaan dunia ini mempunyai kemiripannya dengan Rig Veda dan di Brihadâranyaka Upanishad. Namun detail untuk ini saya ambil dari Rgveda 10.129. [Orang suci: Prajapati Paramesthi; Dewa: Bhavavrtta; Metre: Tristupa]:
  1. Tiada yang termanifestasikan atau tak termanifestasikan. Sehingga tiada debu dan tiada langit di luarnya. Apa yang melingkupinya, di mana naungannya? Apa suara yang dalam dan tak-terjelaskan itu?
  2. Tiada kematian atau keabadian. Tiada perbedaan antara siang dan malam. Hanya Ia atas kehendakNya sendiri tanpa udara. Tiada apapun selain itu.
  3. Sebelumnya hanya ada kegelapan, semuanya ditutupi kegelapan. Semuanya hanya cairan yang tak terpisahkan (Salila). Apapun itu, ditutupi dengan kekosongan. Yang satu lahir dari panas.
  4. Sebelum itu (sebelum penciptaan) keinginan (untuk mencipta) bangkit dari diriNya, lalu dari pikiranNya bibit pertama lahir. Manusia yang bijak dalam berpikir menemukan yang termanifestasikan terikat dengan yang tak-termanifestasikan.
  5. Cahayanya menyebar menyamping, ke atas dan bawah. Ia menjadi pencipta. Ia menjadi besar atas kehendaknya sendiri ke bawah dan atas.
  6. Siapa yang tahu, siapa yang akan memberitahu dari mana dan mengapa penciptaan ini lahir, karena dewa-dewa lahir setelah penciptaan ini. Sehingga, siapa yang tahu dari siapa semesta ini dilahirkan.
  7. Dari siapa penciptaan ini dilahirkan, Ia mendukung atau tidak. Ia bertahta di langit tertinggi, mungkin Ia tahu atau mungkin tidak.
Keadaan sebelum penciptaan jauh di luar jangkauan indra kita. Yang ada hanya kosong dan segala yang kita amati belum ada. Belum ada ruang maupun waktu. Tak ada materi dan energi. Ini konsep yang sangat penting dalam kosmologi Veda. Fisika modern mengatakan bahwa semua materi dan energi semesta terkonsentrasi dalam satu titik; namun, mantra satu sampai tiga dengan gamblang menyatakan semesta adalah sama sekali kosong pada awalnya.

Taittiriya Brahmana menjelaskan:
    "Pada mulanya sama sekali tiada apapun. Tiada surga, tiada bumi dan atmosfer." -Taittiriya Brahmana 2.2.9.1
Hal ini menunjukkan konsekuensi yang sangat penting pada evolusi semesta seperti yang akan kita lihat. Fisika modern menjelaskan pada kita bahwa alam semesta pada awalnya adalah panas, yang kemudian didinginkan secara cepat dengan mengembangnya semesta. Veda menjelaskan sebaliknya. Semesta pada mulanya sangat dingin. Evolusi semesta dimulai dengan naiknya temperatur. Mantra ketiga, penyebab semesta adalah tapa. Tapa merupakan konsep yang penting dalam Hinduisme.

Pada Hinduisme pos-Veda, Tapa menjadi diartikan laku yang keras di tengah rimba, yang akan menghasilkan kekuatan yang luar biasa. Tapa berarti memanaskan, membuat panas, dan inilah arti yang digunakan dalam Veda. Evolusi semesta dimulai dengan penciptaan materi, energi dan ruang yang efeknya akan memanaskan semesta. Dalam pengertian ini, seluruh semesta bisa dianggap lahir dari Tapa.

2.2 Air di mana-mana.
Yang ada hanya kegelapan sebelumnya dan hanya ada Salila (Rgveda 10.129.3 seperti dkutip sebelumnya). Salila berarti air, tapi dalam Rgveda itu berarti fluida asal yang tak terdiferensiasi. Dalam mantranya, Salila didahului oleh "apraketa" yang berarti tak terdiferensiasi, yang tanpa ragu lagi menjelaskan maksudnya. Rgveda adalah buku kosmologi kuno, yang menggunakan kata-kata yang umum digunakan masyarakat Lembah Indus, sehingga setiap orang akan mengerti sampai ke arti yang paling rumit.

Untuk kita, yang terpisah waktu yang panjang dari masyarakat tersebut, hanya Veda lah petunjuk untuk mengerti cara hidup mereka. Ini bukan cara yang gampang karena arti sebenarnya dari Veda sangat berbeda dari arti yang tersurat. Kita harus mengambil kata demi kata, berusaha mengurai artinya, dan melihat apakah itu sesuai dengan kerangka pikir Veda.

Bahwa Salila merupakan istilah teknis dijelaskan dengan baik dalam sebuah mantra di Satapatha Brahmana. Mantra 11.1.6.1 menyatakan bahwa Apah sebelumnya adalah Salila. Sehingga Apah dan Salila berarti air. Jika maksudnya adalah air, mantra ini menjadi tidak masuk akal sama sekali. Jelaslah bahwa Apah dan Salila merupakan istilah teknis dan tidak dapat ditukar pemakaiannya. Kita bisa menggunakan kata "speed" dan "velocity" dimana dalam percakapan sehari-hari keduanya sama tapi dalam ilmu Fisika keduanya berbeda karena yang satu besaran skalar dan lainnya besaran vektor.

Salila adalah keadaan pertama dari semesta, ketika tak ada apapun. Yang ada adalah kesetimbangan yang sempurna dan keseragaman. Ketika kesetimbangan ini pecah karena gaya fundamental alam, ketidakseragaman tercipta dan ketidakseragaman inilah yang disebut Apah.

Veda menyatakan bahwa pada awalnya semua adalah Salila, yang sepintas tampak berarti air di mana-mana. Konsep air di mana-mana ini tersebar ke seluruh dunia dan kemudian dipinjam oleh agama lain. Injil (Genesis 1.1-2 dan 1.6-7) dan Quran (21.30) menjelaskan bahwa pada mulanya alam hanya terdiri dari air. Mitos dari Quiches, suku Indian di Amerika Selatan, bisa ditemukan di Popol Vuh. Suku Quiches percaya bahwa pada mulanya adalah air dan ular berbulu. Kisah Veda ini tersebar ke segala penjuru, dan sains Veda telah memberikan dasar pada banyak sekali mitos populer.

2.3 Banjir yang tak pernah datang
Kepercayaan lain yang tersebar luas adalah tentang banjir di dunia kuno. Sungguh aneh kalau seluruh dunia percaya pada banjir karena banjir seperti itu belum pernah terjadi dalam sepuluh ribu tahun terakhir. Bagaimana mungkin ingatan manusia punya ingatan akan adanya banjir sebelum sepuluh milenium, dimana sejarah peradaban hanya baru belakangan ini. Penjelasan logisnya adalah karena mitos populer dicampuradukkan dengan kenyataan. Penyebab kebingungan ini adalah penggunaan Salila dan Apah dalam sains Veda. Cerita tentang banjir ini tidak ada dalam Veda.

Versi tertua dari banjir ini ditemukan dalam Satapatha Brahmana 1.8.1-6. Suatu ketika Manu, putra dari Vivasvana memegang air sedikit di tangannya untuk membersihkan mulut. Seekor ikan yang sangat kecil tertangkap juga ditangannya. Ikan itu berkata, lindungilah dia dan ikan itu akan melindungi Manu. Manu bertanya, bagaimana ikan itu akan melindunginya? Ikan itu mengatakan bahwa beberapa hari lagi akan ada banjir dashyat yang akan memusnahkan semuanya dan sang ikan akan melindungi Manu dari banjir tersebut. Manu lalu menanyakan bagaimana ia bisa menolong ikan itu. Ikan itu lalu menyuruh untuk menaruhnya dalam cawan, lalu ditaruh pada kolam lalu dihanyutkan ke laut. Sang ikan memberitahu kapan waktu banjir dan untuk menyiapkan perahu. Ketika banjir datang, Manu menaiki perahu tersebut. Sang ikan datang dalam wujud ikan yang sangat besar dengan sebuah cula. Manu mengikatkan perahunya pada cula sang ikan yang membawanya ke sebuah gunung. Sang ikan menyuruh Manu untuk tinggal di sana sampai banjir surut. Cerita ini ditransformasi dalam Purana pada kisah inkarnasi Dewa Wisnu sebagai ikan.

Mitos banjir ini juga ada pada suku-suku Indian di Amerika Utara. George Catlin, pengembara di abad 19 yang hidup bersama suku Indian, mengatakan ada cerita tentang mitos banjir di kalangan suku-suku di sekitar tepi barat Missouri di Amerika Serikat. Suku Mandan percaya bahwa manusia pernah dimusnahkan oleh banjir. Hanya ada satu orang selamat yang akhirnya mendaratkan kano-nya di gunung yang tinggi.

Bangsa Peru juga percaya pada mitos banjir ini. Hanya ada sepasang pria dan wanita selamat. Mereka berlayar dalam kotak yang membawa mereka ratusan mil dari Cuzco, Injil memberikan kisah banjir ini dalam Genesis 6.1 sampai 8.22. Kosmologi bangsa Semit memang meminjam langsung dari Veda. [Dikutip dari, "Vedic Physic-Scientific Origin of Hinduism", Oleh: Raja Ram Mohan Roy] [↑]

[22] Milanda Panha, bukan merupakan kanon pali konsili ke-1 s/d konsili ke-4. Ia baru diakui sebagai bagian tipitaka di konsili ke-5 [tahun 1871 Masehi]. Tradisi Buddhis yang mengakuipun tidak semua namun hanya Burma/Myanmar. Sementara Thailand dan Srilanka tidak mengakui Milanda Panha sebagai bagian dari kanon Pali. Milanda Panha, di tulis dalam bahasa Gandhari [sanskrit], dan di kompilasi pada 100 SM s.d 200 Masehi [Hinüber, Oskar von (1996/2000). A Handbook of Pāli Literature. Berlin: Walter de Gruyter. ISBN 3-11-016738-7. hal.83-86]

Saya akan berikan satu pengujian sederhana mengapa buku ini meragukan, yaitu mengambil contoh tanya jawab dari Raja Milanda VS Bhikkhu Nagasena pada Bab II, Kelahiran kembali no.7, dalam buku, "PERDEBATAN RAJA MILINDA - Ringkasan Milinda Panha, BHIKKHU PESALA:
    Raja Milanda: "Apakah Anda, Nagasena, akan terlahir kembali?"Bhikkhu Nagasena: "Apa gunanya menanyakan hal itu lagi? Bukankah telah saya katakan bahwa jika saya mati dengan nafsu keinginan di pikiran saya, maka saya akan terlahir kembali? Jika tidak, ya tidak."
Sepintas tidak ada yang aneh dengan jawaban dari Bhikkhu Nagasena, bukan?! Namun sebenarnya, jawaban tersebut adalah mencengangkan, karena Nagasena tidak tegas menjawab: "Ya" atau "Tidak" atau "terlahir beberapa kali karena saya telah mencapai tingkat kesucian tertentu" atau kalimat lain yang mengindikaskan dirinya bukan puttujhana.

Mengapa ini menjadi hal menarik?

Pada bagian pembukaan di buku tersebut terdapat informasi sebagai berikut, "Sebagai hasil dari percakapan ini, baik si wanita maupun Nagasena mencapai dhammacakkhu: pengetahuan bahwa apa pun yang mempunyai awal juga pasti bersifat mempunyai akhir (sotapanna). Assagutta kemudian mengirim Nagasena kepada Dhammarakkhita di Taman Asoka di Pataliputta. Di sana, dalam waktu tiga bulan, Nagasena telah menguasai kitab-kitab Tipitaka lainnya. Dhammarakkhita mengingatkan muridnya agar tidak hanya puas dengan pengetahuan dari buku saja. Pada malam hari itu juga, Nagasena -si murid yang rajin itu- mencapai tingkat Arahat. Kemudian dia pergi bergabung dengan para Arahat lainnya yang masih tinggal di Himalaya. Setelah menyelesaikan pendidikannya, Nagasena siap untuk berdebat dengan siapa pun."

So, Bagaimana mungkin seorang yang dikatakan telah mencapai tingkat ARAHAT namun masih tidak tahu apakah dirinya masih terlahir kembali atau tidak!!!

Keanehan ini juga bertentangan dengan bunyi sutta yang menyatakan bahkan seorang sotapanna sekalipun MAMPU tahu dan juga dapat MENGUMUMKAN bhw dirinya telah mencapai tingkat kesucian.
    [..] Ia secara langsung mengetahui: “Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak akan ada lagi penjelmaan menjadi kondisi makhluk apapun.” Dan Yang Mulia Bhāradvāja menjadi satu di antara para Arahant. [juga di: MN 1/ Mulapariyaya sutta, MN39/Mahā-Assapura Sutta. Bahkan jika ia mencapai tingkat kesucian terendah sekalipun, yaitu sotapanna lihat di: AN 10.92/vera sutta]
Mungkin saja, ada di antara mereka yang menyikapi keanehan ini kemudian menggunakan dalih ada aturan vinaya parajika ke-4 dan paccittiya no.8:
    Parajika ke-4:
    Bhikkhu siapa saja, apabila tanpa pengetahuan mendalam, membual tentang pencapaian daya supramanusia —— dengan merujuk ke dirinya —— pengetahuan dan penglihatan yang hanya dimiliki kaum Ariya, ’Saya mengetahui seperti ini, saya melihat seperti ini’ ; suatu ketika setelah itu, apakah saat sedang disidik, atau saat tidak disidik, ia yang telah melakukan pelanggaran, ingin membersihkan diri dengan berkata demikian, ’Awuso, saya berkata 'Saya mengetahui', padahal tidak mengetahui, 'Saya melihat', padahal tidak melihat; saya telah bercakap kosong, berdusta,’ (maka ia) pun telah takluk (parajika), tak lagi sepepersekutuan." [Vinaya pitaka, suttavibhanga vol.1, terjemahan YM Bhikkhu Thitayanno, cetakan 2006, hal 214-215]

    Paccittiya no.8:
    Bhikkhu mana saja yang menyampaikan pencapaian daya supramanusianya, meskipun hal itu adalah kenyatakaan, kepada orang diluar persekutuan yang belum ditahbiskan, Tindakan itu agar d [juga lihat: accesstoinsight: Pc 8]

    Pencapaian daya supramanusia:
    Jhāna [tingkat ke-1 s.d ke-4], kebebasan [kebebasan kekosongan, kebebasan tanpa atribut, kebebasan tanpa pengharapan] , samādhi [samādhi: kekosongan, tanpa atribut, tanpa pengharapan), pencapaian [pencapaian: kekosongan, tanpa atribut, tanpa pengharapan], pengetahuan [tiga pengetahuan], dan penglihatan, pengembangan Magga [4 landasan penghadiran sati, 4 daya-upaya benar, 4 sarana keberhasilan, 5 kecakapan, 5 kekuatan, 7 faktor pencerahan, 8 jalan mulia]; perwujudan Phala (Buah Kesucian: Sotapatti, Sakadagami, Anagami-phala, Arahatta-phala]; penanggalan kotoran batin [penanggalan: nafsu, kebencian, kegelapan batin]; batin terbebas dari rintangan [batin terbebas dari rintangan nafsu, kegelapan batin]; kesukaan di tempat sepi [kesukaan di tempat sepi dengan jhana ke-1 s.d ke-4] [Ibid. hal. 211-221]

    Perbedaan hukuman antara Parajika vs paccittiya:
    • Parajika, lepas jubah artinya yang bersangkutan tidak lagi sebagai bhikkhu dan tidak pernah dapat lagi menjadi bhikkhu hingga habis kehidupannya saat itu.
    • Paccittiya [pacinati, "untuk mengetahui" dan artinya "agar diketahui", sehingga ia mengakui apa yang dilakukan dihadapan bhikkhu tertentu [atau ketika pembacaan patimokkha, ia ingat, saat itulah ia memberitahu bhikkhu sebelahnya, kemudian berjanji setelah pembacaan patimokkha selesai, ia akan mengakui. Namun, jika janji tersebut tidak ditepati, maka hal tersebut berubah menjadi dukkata]

      Bentuk pengakuannya, misalnya seperti tercantum di Cullavagga IV.14.30:

      Yang melakukan: Ahaṃ āvuso itthannāmaṃ āpattiṃ āpanno. Taṃ paṭidesemi [Kawan, Saya telah melakukan ...., saya akui itu]
      Yang menerima: Passasi? ["apakah telah kawan lihat?"]
      Yang melakukan: Āma, passāmi, [ya, saya telah melihatnya]
      yang menerima: Āyatiṃ saṃvareyyāsi [engkau seharusnya lebih melatih dirimu kelak]

      Pada MN 104, terdapat beberapa variasi formulasinya, jika bhikkhu yang mengakui itu adalah junior, maka, pertama-tama Ia atur bagian atas jubahnya terbuka di satu bahu, melakukan namaskara pada senior, duduk bersimpuh dan beranjali, melakukan pengakuan, pada akhir pengakuan bhikkhu senior menyarankan agar melatih diri dengan mengatakan: Āyatiṃ saṃvaraṃ āpajjeyyāsi. [Engkau seharusnya mampu mengendalikan diri kelak]
      Yang melakukan: Saṃvaraṃ āpajjissāmi. [saya akan lebih dapat mengendalikan diri]
Melihat aturan di atas, maka tampak masuk akal mengapa Bhikkhu nagasena berkelit tidak tegas menjawab apakah ia terlahir kembali lagi atau tidak, bukan?!

Namun, hal tersebut tidaklah sepenuhnya tepat!!! Karena dalam sutta saja tercatat beberapa Bhikkhu arahat yang dengan terbuka menyampaikan pencapaian SUPRAMANUSIAnya, misalnya:
    MN.124/Bakkula Sutta, yaitu ketika tanya-jawab antara YM Bakkula dan Acella Kassapa:YM Bakkula mengakui pada Accela Kassapa sebagai berikut:"Teman Kassapa, dalam delapan puluh tahun sejak aku meninggalkan keduniawian aku tidak ingat ada persepsi keinginan indria..aku tidak ingat ada persepsi niat buruk ... persepsi kekejaman..pikiran keinginan indria..pikiran niat buruk ... pikiran kekejaman yang pernah muncul padaku."
    [..]
    "Teman, selama tujuh hari setelah meninggalkan keduniawian aku memakan dana makanan dari desa sebagai seorang penghutang; pada hari ke delapan pengetahuan akhir muncul."

    ---> YM Bakkula dengan gamblang menyampaikan bahwa beliau telah mencapai berbagai tingkat pencapaian supramanusia

    MN.44/Cūḷavedalla Sutta,yaitu antara YM Bhikkhunī Dhammadinnā dan Visakha, seorang anagami, dulunya adalah suami dari Dhammadina sebelum menjadi Bhikkhuni:

    YM Dhammadinna:"Teman Visākha, engkau melewati batas mengajukan pertanyaan terlalu jauh, engkau tidak mampu menangkap batasan pertanyaan-pertanyaan. Karena kehidupan suci, teman Visākha, berlandaskan dpada Nibbāna, memuncak dalam Nibbāna, berakhir dalam Nibbāna.[..]"

    ---> YM Dhammadinna, dengan gamblang menyampaikan bahwa tingkat pencapaian beliau melebih Visakha

    MN.84/Madhurā Sutta,yaitu antara YM Mahā Kaccāna dan Raja Avantiputta dari Madhurā:

    YM Maha Kaccana: “Bagaimana menurutmu, Baginda? Misalkan seorang mulia membunuh makhluk-makhluk hidup, mengambil apa yang tidak diberikan, berperilaku salah dalam kenikmatan indria, mengucapkan ucapan salah, mengucapkan ucapan jahat, bergosip, tamak, memiliki pikiran berniat-buruk, dan menganut pandangan salah bersamaan dengan hancurnya jasmani setelah kematian, apakah ia [sewajarnya] terlahir di keadaan keadaan sengsara/merugi menderita menuju kehancuran bahkan neraka, atau sebaliknya, atau bagaimanakah menurutmu mengenai hal ini?”

    Raja: “Jika seorang mulia demikian, Guru Kaccāna, maka ia akan [sewajarnya] muncul kembali di keadaan sengsara/merugi menderita menuju kehancuran bahkan neraka. Demikianlah menurutku mengenai hal ini, dan demikianlah yang kudengar dari para Arahant.”

    YM Maha Kaccana:“Bagus, bagus, Baginda! Apa yang engkau pikirkan adalah benar, Baginda, dan apa yang telah engkau dengar dari para Arahant adalah benar.

    ---> YM Kaccana, menegaskan bahwa Ia mempunyai pencapaian tevijja [tiga pengetahuan].

    MN.108/Gopakamoggallāna Sutta, YM Ānanda sedang menetap di Rājagaha di Hutan Bambu, Taman Suaka Tupai, tidak lama setelah Sang Bhagavā mencapai Nibbāna akhir, yaitu percakapan YM ANANDA dan Brahmana Brahmana Gopaka Moggallāna+Brahmana Vessakara:

    Brahmana Vessakara:“Adakah, Guru Ānanda, seorang bhikkhu yang sekarang kalian hormati, kalian hargai, kalian puja, dan kalian muliakan, dan yang kepadanya kalian hidup dengan bergantung dengan menghormati dan menghargainya?”

    YM Ananda: “Ada seorang bhikkhu, Brahmana, yang sekarang kami hormati, kami hargai, kami puja, dan kami muliakan, dan yang kepadanya kami hidup dengan bergantung dengan menghormati dan menghargainya.”..“Ada, Brahmana, sepuluh kualitas yang menginspirasi keyakinan yang telah dinyatakan oleh Sang Bhagavā yang mengetahui dan melihat, yang sempurna dan tercerahkan sempurna. Jika kesepuluh kualitas ini terdapat dalam diri salah satu di antara kami, maka kami menghormati, menghargai, memuja, dan memuliakannya, dan hidup dengan bergantung dengan menghormati dan menghargainya.

    ---> YM Ananda dengan terbuka menyampaikan pencapaian NANA-DASANA, sehingga dapat memberikan konfirmasi seseorang diantara mereka mempunyai 10 kualitas. [Ketika baru parinibannanya sang Buddha, YM Ananda masihlah sotapanna, Ia mencapai tingkat arahat di saat bertepatan dengan konsili ke-1, jadi ada kemungkinan beliau menyebutkan "ada", berdasarkan pernyataan dari sang Buddha mengenai beberapa di antara mereka yang telah memenuhi 10 kualitas tersebut, salah satu yang dihormati adalah YM Mahakassapa yang kemudian memimpin konsili ke-1, di 3 bulan setelah sang Buddha Parinibanna]
Wow, Ini baru dalam 1 nikaya, apalagi jika kita mau menelusuri seluruh nikaya, bukan?!

So, jika ini melanggar maka mengapa mereka justru secara terbuka menyampaikan? atau ada sebab lain yang mendasari kemunculan parajika ke-4 dan paccittiya no.8 ini sehingga pengakuan dalam tanya jawab ini bukanlah pelanggaran?

Asal-usul penetapan parajika 4 dan paccittiya ke-8, berhubungan dengan BERPENGHIDUPAN BENAR sebagai BHIKKHU! Ketika itu di Vajji terjadi kesulitan pangan, para Bhikkhu tertentu agar mendapatkan kemudahan dalam memperoleh kebutuhan [4 kebutuhan pokok bhikkhu], melakukan cara-cara tidak terpuji yaitu mengaku-ngaku telah mencapai berbagai tingkat pencapaian. Alhasil, selama musim sulit tersebut, mereka mendapatkan kemudahan dan penghormatan akibat "pencapaiannya" tersebut.

Pada MN no. 124/44/84/108, para Bhikkhu/ni Arahat, walaupun telah dengan terbuka menyampaikan pencapaiannya namun jelas tidak melanggar karena memang pengakuan mereka tersebut TIDAK BERHUBUNGAN dengan urusan mendapatkan kemudahan mendapatkan kebutuhan para bhikkhu!

Di samping itu, Vinaya Pitaka, Suttavibhangga vol.1, di dalam Vinītavatthu, menjelaskan pula contoh-contoh beberapa bhikkhu yang walaupun mengakui pencapaian di hadapan umat awam, tidak berhubungan dengan penghidupan benar dan tidak berkoar, dinyatakan tidak melanggar, misal:
    Ketika itu, sanak famili seseorang bhikkhu berkata kepadanya, "Datanglah, Bhante, nikmatilah kesenangan indriawi." "Saya, Awuso, sudah kedap terhadap kesenangan indriawi." Muncul penyesalan.… "Bhikkhu, bukanlah suatu pelanggaran bagi dia yang tidak bermaksud untuk berkoar."

    Ketika itu, sanak famili seseorang bhikkhu berkata kepadanya, "Bersenang-senanglah, Bhante." "Saya, Awuso, bersenang-senang dalam kesenangan tertinggi." Muncul penyesalan pada dirinya. "Mereka yang betul-betul siswa Sang Bhagawan boleh berkata demikian. Tetapi, saya bukanlah siswa Sang Bhagawan. Jangan-jangan saya telah melakukan pelanggaran parajika?" Ia melaporkan kejadian ini kepada Sang Bhagawan. "Bhikkhu, apa yang ada dalam benak Anda?" "Saya tidak bermaksud untuk berkoar, Bhagawan." "Bhikkhu, bukanlah suatu pelanggaran bagi dia yang tidak bermaksud untuk berkoar."
Setelah membaca ini, lantas bagaimana dengan Bhikkhu Nagasena, dalam kasus di atas?

Pertama-tama, kuncinya adalah mengetahui apakah Bhikkhu Nagasena hidup di setelah/sebelum batas 500 tahun umur DHAMMA SEJATI?

Jika beliau hidup pada masa diantara 500 tahun dhamma sejati, maka ketika beliau berbicara dengan raja MILANDA dapat dipastikan bahwa Nagasena belum mencapai tingkat arahat [atau bahkan tingkat kesucian apapun, karena misalkan saja ia telah mencapai sotapanna, maka ia bisa saja mengatakan, "saya mungkin terlahir kembali tidak lebih dari 7x", sebagai bagian dari tanya-jawab yang jelas bukan untuk berkoar.]

Jika beliau hidup SETELAH selesai batas umur Dhamma sejati, maka beliau jelas bukan orang suci sehingga kisah pada bagian pengantar di buku tersebut, yang menyatakan Bhikkhu Nagasena adalah arahat, jelas 100% keliru. Apalagi masih di bagian pendahuluan, telah juga disebutkan kalimat seperti ini: "di dalam Kitab Pali dikatakan bahwa percakapan antara Raja Milinda dengan Nagasena terjadi 500 tahun setelah Sang Buddha parinibbana". Alasan lainnya adalah di Bab.VIII no.7, Raja Milanda juga bertanya tentang hal yang dianggapnya bertentangan yaitu pernyataan sang Buddha pada Subbadha "Selama para bhikkhu Sangha masih menjalani kehidupan suci yang sempurna maka dunia ini tidak akan kekurangan Arahat"[↑] VS "Setelah pentahbisan para wanita, Sang Buddha berkata bahwa ajaran yang murni itu hanya akan bertahan selama lima ratus tahun"

Pertanyaan ini, tentunya tidak akan ditanyakan si penanya jika Ia hidup di kisaran 500 tahun batasan umur Dhamma sejati, bukan?!. Inilah juga sebabnya, mengapa, sangat beralasan dikatakan bahwa kisah ini terjadi di SETELAH 500 tahun parinibannanya sang Buddha.
--------
Catatan tentang Bakkula Sutta:
  1. Ada 4 sutta yang menyinggung keberadaaan para petapa Acela (petapa telanjang) bernama Kassapa, yaitu: (1) DN 8/Mahasihanada sutta, lokasi: taman rusa, Kosala, ia ditahbiskan oleh Sang Bhagava sendiri. (2) SN 12.17/Acela Kassapa Sutta, Lokasi: Hutan bambu, taman Tupai, Rajagaha, Maghada, ditahbiskan oleh Sang Buddha. (3) MN 124/Bakkula Sutta, Lokasi: Hutan bambu, taman Tupai, Rajagaha, Maghada. Bakkula menahbiskan Acela Kassapa (4) SN 41.9/Acela Kassapa Sutta, lokasi: Macchikasanda, Kosala. Ia diajak oleh Citta ke suatu tempat (tidak disebutkan dimana) menemui Bhikkhu senior untuk ditahbiskan.

    Di antara 4 sutta diatas, MN 124 dan SN 41 tampaknya mempunyai benang merah di penahbisan yang dilakukan oleh seorang Bhikkhu senior, walaupun tidak disebutkan namanya, namun membuka peluang bhikkhu senior ini adalah Bakkula.

  2. Kalimat: Kīvaciraṃ pabbajitosi, āvuso bākulā”ti? “Asīti me, āvuso, vassāni pabbajitassā”ti ("Sudah berapa lama engkau meninggalkan keduniawian, Teman Bakkula?” “Sudah 80 tahun aku meninggalkan keduniawian, Teman”), menurut Papañca Sūdanī [karangan Buddhagosha, 10 abad kemudian setelah parinibannanya sang Buddha]:

    • YM. Bakkula menjadi bhikkhu pada saat usianya 80, berumur 160 pada saat sutta ini terjadi. Ia dinyatakan oleh Sang Buddha sebagai siswa terunggul sehubungan dengan kesehatan.
    • paragraf yang diapit tanda kurung ditambahkan para sesepuh yang menyusun Dhamma ke dua, yang diadakan sekitar 100 tahun setelah Sang Buddha Parinibbāna.

    Namun,
    kalimat "Pabbajitta" (Meninggalkan keduniawian) tidak harus berarti menjadi petapa/bhikkhu aliran buddhism karena mereka yang hidup menjadi petapa disebut pabbajitta, seperti terekam dalam SN 41.9/Acela kassapa sutta yang memuat tanya jawab antara Citta (umat awam penganut Buddhism) dan Petapa telanjang (Acela) Kassapa (Aliran Jainism), "kīvaciraṃ pabbajitassa, bhante kassapā”ti? “Tiṃsamattāni kho me, gahapati, vassāni pabbajitassā”ti (Sudah berapa lama engkau meninggalkan keduniawian, yang mulia guru Kassapa? "Sudah 30 tahun, aku meninggalkan keduniawian, perumah tangga").

    Kassapa yang disebut yang mulia guru oleh Citta penganut Buddhism ini bahkan bukan petapa/bhikkhu Buddhism. Jadi 80 tahun meninggalkan keduniawian yang bakkula maksudkan ketika ditanya Acela Kassapa adalah sudah termasuk tahun-tahun ketika Bakkula menjadi petapa aliran lain saat bersama Kassapa yang diajaknya bicara ini.

    Kalimat kunci yang menunjukan MN 124/Bakkula sutta berasal dari konsili ke-1 adalah kalimat "Evaṃ me sutaṃ" (demikianlah yang ku Dengar) pada awal kalimat yang merupakan ciri sutta yang disampaikan oleh YM ANANDA (wafat banyak tahun SEBELUM terjadinya konsili ke-2). Jika bukan beliau, maka akan disampaikan dengan cara berbeda, misalnya YM Khujjuttara,seorang pengikut awam wanita mengucapkan, "vuttañhetaṃ bhagavatā, vuttamarahatāti me sutaṃ" [Ini di ucapkan oleh sang Buddha, para arahat dan yg didengar oleh ku].

    O ya,
    terdapat satu "sutta" dari abad ke-14 masehi yaitu: Anagatavamsa, yang menyelipkan kalimat, "evam me suttam" namun penelitian para ahli telah menunjukan kitab tersebut BUKAN kanon dan hasil dari tambal sulam.

    Kemudian,
    di Cullavagga xi, terdapat konfirmasi bahwa YM Ananda mengucapkan Dhamma hingga 5 nikaya: [..]Kemudian Yang Mulia Kassapa yang Agung memberitahukan kepada Saṅgha dengan mengatakan: “Yang Mulia, mohon Saṅgha mendengarkan saya. Jika baik menurut Saṅgha, maka saya akan menanyai Ānanda tentang DHAMMA.” Kemudian Yang Mulia Ānanda memberitahukan kepada Saṅgha dengan berkata: “Yang Mulia, mohon Saṅgha mendengarkan saya. Jika baik menurut Saṅgha, maka saya akan menjawab pertanyaan tentang dhamma yang diajukan oleh Yang Mulia Kassapa yang Agung.” Kemudian Yang Mulia Kassapa yang Agung berkata kepada Yang Mulia Ānanda sebagai berikut: [..] Kemudian Yang Mulia Kassapa yang Agung menanyai Yang Mulia Ānanda sehubungan dengan latar belakang Sāmaññaphala dan ia menanyainya sehubungan dengan orangnya. Dengan cara yang sama ini ia menanyainya tentang lima Nikāya. Secara terus-menerus ditanyai, Yang Mulia Ānanda menjawab

    Kemudian,
    kalimat "tidak ingat ada persepsi keinginan indria [kamma sanna] yang pernah muncul padaku" bukan merupakan bukti ciri yang hanya muncul pada arahat namun juga muncul pada tipe lainnya, misal dalam MN.142/dakkhina vibhangga sutta, "[..]Bāhirake kāmesu vītarāge ti kammavādikiriyavādimhi lokiyapañcābhiññe" (Seseorang memberikan suatu pemberian kepada seseorang di luar Pengajaran yang bebas dari nafsu akan kenikmatan indria; ini adalah persembahan pribadi jenis ke sebelas). Buddhagosha mengatakan: "to an outsider who is without passion for sensual desires means to one who holds the view of actions and results of actions, and has developed the five mundane deep knowledges" [↑]

[23] PANCA SILA adalah tekad melakukan latihan pengendalian diri [sīla nt. sifat, tabiat, perangai, watak, perilaku, tingkah laku; budi pekerti, akhlak, moralitas, tabiat baik, perangai baik] secara KONSISTEN

Sang Buddha menyampaikan, Para Bhikkhu, 4 hal yang dengannya seperti menuju ke neraka/surga, yaitu: melakukannya, mendorong orang lain melakukannya (parañca...samādapeti), menyetujuinya (samanuñño) dan memujinya (vaṇṇaṃ bhāsati) [AN 4.264-273]:
  1. Varitta Sila: Pänätipätä veramani sikkhäpadam samädiyämi (Aku bertekad menghindari diri dari pembunuhan dan menyakiti mahluk hidup)
    pāṇa+atipāta; pāṇa .m. napas, kehidupan, makhluk hidup; atipāta m. penyerangan, pembunuhan, penghancuran, pembinasaan; virati f. (= veramaṇī) hal menghindari, menahan diri dari, menjauhkan diri dari; sikkhāpadam langkah (padam), latihan (sikkhā); samādiyati mengambil untuk dijalankan, menjalankan, mematuhi, mengusung, mengamalkan, berikhtiar, berupaya.

    pāṇātipāta: menghancurkan kehidupan: dia kejam dan tangannya bernoda darah; dia cenderung melakukan pembantaian dan pembunuhan, karena tidak memiliki cinta kasih terhadap makhluk hidup. [AN 10.176/Cunda Sutta kepada perumah tangga Cunda; MN 41/Sāleyyaka Sutta & MN 42/Verañjaka Sutta kepada Brahmana perumahtangga sala dan veranja]

    Mengenai syarat boleh makan daging, sang buddha menyampaikan dalam MN 55/Jivaka Sutta: "ada tiga kasus yang mana daging boleh dimakan, jika: tidak terlihat (a-diṭṭhaṃ), tidak terdengar (a-sutaṃ), dan tidak dicurigai (a-parisaṅkitaṃ) - bahwa makhluk hidup itu disembelih untuk dirinya-". kondisi tiga ini disebut tikoṭiparisuddha (murni dalam tiga aspek), untuk menghindari pembunuhan, melarangnya membunuh demi makanan namun tidak melarang membeli daging yang berasal dari binatang yang telah mati.

    Ajakan vegetarian BUKAN BERASAL dari ajaran sang Buddha namun berasal dari ajaran Bhikkhu Devadatta (sepupu Sang Buddha, yang selalu menentang Sang Buddha), pada suatu ketika datang dan meminta Sang Buddha untuk tidak mengizinkan para bhikkhu mengkonsumsi daging dan ikan sepanjang hidup mereka, dan apabila hal itu dilanggar maka mereka dinyatakan bersalah. Dengan tegas Sang Buddha menolak permintaan Devadatta (Culavagga Pali, Vinaya Pitaka).

    Sehubungan dengan makan daging, di SNP 2.2/Amagandha Sutta (pertama kalinya dibabarkan oleh Buddha Kassapa dan kemudian dikatakan ulang oleh Buddha Gotama), disampaikan bahwa pada suatu ketika, seorang Brahmin (yang bernama Amagandha) bersama 500 muridnya yang menjalani praktek vegetarian mendatangi Sang Buddha menanyakan apakah Sang Buddha memakan/tidak amagandha (artinya makan daging. Amagandha secara harfiah berarti bau daging, dalam hal ini berkonotasi sesuatu yang busuk, menjijikkan, dan kotor. Karena itulah pertapa ini memakai istilah amagandha)?. Sang Buddha menjelaskan bahwa daging bukanlah amagandha, tetapi segala jenis kekotoran batin dan semua bentuk perbuatan jahatlah yang disebut amagandha.

    Jadi, umat Buddha TIDAK ADA KEWAJIBAN vegetarian, karena makan sayuranis dan/atau daging TIDAK BERDAMPAK/TIDAK BERPENGARUH pada kesucian seseorang. [detailnya lihat di: "Vegetarian, Makanan Religius? Bukan! Ia Cuma Pilihan Selera Makan..Ngga Lebih Dari Itu!"] [↑]

  2. Varitta Sila: Adinnädāna veramani sikkhäpadam samädiyämi (Aku bertekad menghindari diri dari mengambil yang tidak diberikan)
    a+dinnä+adana = a:Tidak + dinna: (pp dari dadāti) diberikan, dihadiahi; ādāna: nt. pengambilan, penggenggaman, kemelekatan (terhadap dunia), penyantapan (makanan).

    Adinnādāna: mengambil apa yang tidak diberikan kepadanya, didorong oleh niat mencuri barang-barang milik orang lain, baik di pemukiman maupun di hutan [AN 10.176/Cunda Sutta kepada perumah tangga Cunda; MN 41/Sāleyyaka Sutta & MN 42/Verañjaka Sutta kepada Brahmana perumahtangga sala dan veranja] [↑]

  3. Caritta Sila: Kämesu micchäcärä veramani sikkhäpadam samädiyämi (Aku bertekad menghindari diri melakukan kenikmatan indriya (jamak) dengan cara yang salah). Kata "Kamesu" itu memiliki arti yang sangat luas:

    • Arti dari Sanskrit [sumber: Vedabase]:kāmeṣu — in sense enjoyment;to material enjoyment; in the material world, where lusty desires predominate;in sense gratification; in objects of selfish desires;
    • Kamesu Satta Sutta [Ud.7.3 dan Ud.7.4] serta Mahādukkhakkhandha Sutta [MN13]: memuat cakupan arti "Kamesu" yang ternyata bukan sekedar seksual
    • Ulasan wisdomquartely, disebutkan bahwa pengertian fisik itu justru berasal dari ide a susila-nya nasrani

    "Kamesu" adalah jamak dari kama [single m], yang meliputi 6 kontak [mata, telinga, sentuh kulit, sentuh lidah, penciuman, pikiran]. Karena meliputi 6 Indriya, maka untuk manusia, obyeknya pun dari 6 indera. Perhatikan cakupan kamesu pada 2 sutta di bawah ini:

    sutta ke-1,
    1. Jika seseorang yang menginginkan kenikmatan indriah berhasil, ia tentu akan senang, mendapatkan apa yang diinginkan oleh manusia.

    2. Namun jika kenikmatan itu gagal didapatkan orang yang menginginkan dan mendambakannya, ia akan menderita, tertancap panah penderitaan.

    3. Dia yang menghindari kesenangan indriah sebagaimana ia menghindari menginjak kepala ular dengan kakinya, dengan penuh perhatian, akan menaklukkan keinginan.

    4. Ia yang mendambakan kesenangan demikian, ladang, harta, atau emas, sapi dan kuda, budak, wanita, kawan,

    5. kejahatan akan menaklukkannya, bahaya akan menghancurkannya, dan penderitaan akan mengikutinya bagaikan air yang masuk ke dalam kapal yang rusak.

    6. Oleh karena itu, biarlah seseorang selalu waspada dan menghindari kesenangan indriya; meninggalkannya, ia menyeberang arus, setelah meninggalkan kapal, dan pergi ke pantai seberang. [Kama Sutta, KN, Snp 4.1]

    Sutta ke-2,
      Para Bhikkhu, mahluk hidup menghabiskan waktunya dalam nafsu indriah. Para Bhikkhu, seorang perumah tangga, sepenuhnya terbakar oleh nafsu indriah, berpaling dari hidup berumah tangga dan menjadi petapa. Sungguh-sungguh seseorang menjalani kehidupan petapa lewat keyakinan. Mengapa demikian? Ketika muda, orang mendapatkan kesenangan indriah dalam satu cara atau cara lainnya. Ada kesenangan indriah yang rendah, menengah, dan mulia. Kesemuanya adalah berhubungan dengan nafsu indriah.

      Bagaikan seorang anak kecil, karena kelalaian perawat, memasukkan batu ke dalam mulut. Si perawat dengan cepat berpikir untuk mengeluarkannya. Jika tidak bisa, maka si perawat akan memegang kepala anak itu dengan tangan kiri dan memasukkan jari tangan kanan ke dalam mulut anak itu untuk mengeluarkan benda itu bersama dengan darah. Mengapa demikian? Ia mengetahui bahayanya dan melakukannya karena belas kasih kepada anak tersebut.

      Ketika ia telah tumbuh dewasa dan bijaksana, ia bisa melindungi dirinya dengan benar, tidak memerlukan perawat lagi.

      Para bhikkkhu, demikian halnya, selama seorang bhikkhu tidak melakukan hal-hal yang bermanfaat yang berdasarkan keyakinan, rasa malu, penyesalan, usaha dan kebijaksanaan, ia harus dilindungi olehku. Ketika seorang bhikkhu melakukan hal-hal bermanfaat yang berdasarkan keyakinan, rasa malu, penyesalan, usaha, dan kebijaksanaan, ia tidak lagi memerlukan perlindunganku. Demikianlah ia menjadi seorang bhikkhu. Tidaklah mungkin seorang bhikkhu yang melindungi dirinya sendiri menjadi lalai. [AN 5.7, Kāmesu palāḷita]

    Sangatlah jelas urusan sila ke-3 umum tidak MELULU urusan SEKSUAL dan dengan mengartikan serta mempublikasikan bahwa KAMESU MICCHACARA = METHUNA SAMMACARA [atau Ajjācāra; Aticara; Anācāra], maka itu adalah blunder besar dan sangat mengecilkan arti kamesu.

    [Methuna= hubungan kelamin; samācāra m. perilaku, tingkah laku, sepak terjang, kelakuan, tindak-tanduk; Ajjācāra prilaku salah secara seksual;Ajjācāra, m. 1. pelanggaran (hukum), yg berhubungan dengan prilaku salah secara seksual; Anācāra, m.kelakuan tidak senonoh]

    "micchacara" = dilakukan dengan cara keliru [micchā: salah, tidak benar, sesat, keliru; cāra: m. motion; action; process; going].

    Ada sila ke-3, lainnya yang lebih spesifik, yaitu "abrahmacariya", sila ke-3 ini menghindari diri dari perbuatan yang bukan cara penyucian diri. Perbuatan yang dimaksud adalah pikiran, ucapan perbuatan yang berkaitan dengan seksualitas: memikirkan cantik/ganteng, berkhayal tentang hubungan seksual, bermimpi, ucapan merayu, ajakan, perbuatan menyentuh dengan maksud seksual, berpegangan tangan, memeluk, berciuman dan melakukan perbuatan seksual aktifitas seksual terhadap siapapun (termasuk dengan yang sah dalam perkawinan sekalipun) dan terhadap apapun [SN 45.8/Vibhaṅga Sutta]

    Pelanggaran sila ke-3 (kamesu micchacara) terkait dengan ketidakpatutan. Contoh ketidakpatutan untuk urusan seksual dalam hubungan suami istri [sah menurut pandangan manusia], misalnya sang istri sedang tidak mau digauli namun dilakukan PEMAKSAAN digauli, Di sini terjadi pelanggaran SILA ke-3 dalam konteks perbuatan tidak patut dengan jalan pemaksaan walaupun terhadap istri sendiri.

    Contoh lainnya adalah perlindungan terhadap wanita, yaitu misalnya terdapat rangkaian wanita2 yg tidak PATUT digauli di atur dalam SUTTA dan VINAYA, ketika membicarakan sila KAMESU MICCHACARA, seperti yang tercantum dalam AN 10.176/Cunda Sutta , MN 114/Sevitabbāsevitabba Sutta dan MN.41/Sāleyyaka Sutta, yaitu wanita-wanita yg termasuk TIDAK PATUT DIGAULI karena:

    1. Berada dalam PERLINDUNGAN ibu (matu), ayah (pitu), Ayah dan Ibu (matapitu), Kakak/adik perempuan (bhagini), kakak/adik lelaki (bhatu), sanak keluarga (nati), orang sebangsanya (gotta), mengikuti ajaran (Dhamma), dalam lindungan hukum [saparidanda], oleh lelaki lain/Tuan/majikannya [Sassāmika], sudah berkalung bunga sebagai tanda pertunangan [mālāguḷaparikkhittāpi] (juga di vinaya III.1.139, Kemudian, utk pria yg tidak patut digauli spt diatas dan sila lain: AN.10.17.10; AN.10.17.[21,23,24,25], Karajakàyavaggo)
    2. SUDAH TERIKAT MENJADI ISTRI, apapun alasan ketika mereka menjadi istri, misalnya: krn di berikan mahar (Dhanakheta), krn kemauannya (chandavàsinã), karena mau harta kekayaan [Bhogavàsinã], mengharapkan barang sandang (Pañavàsinã), Odapattakinã [dikawini dengan cara menyentuh sebuah kendi air(odappatikà), “Perkawinan dgn upacara: mencelupkan kedua tangan ke dalam satu mangkuk air, berkata: menyatu seperti air ini, semoga tidak akan terpisahkan"], Dikawini karena diselamatkan dari Rampasan [Obhatacumbañà] dan tawanan [Dhajàbhata] [Tradisi masyarakat jaman itu, wanita yg telah ditawan dianggap tidak suci lagi], dikawini untuk bebas sbg budak [dasibhariya] & pekerja [kammabhariya] atau dalam jangka waktu tertentu [muhuttika]

    Ide dasar dari ketidakpatutan menggauli 20 wanita di atas adalah agar mereka TERLINDUNGI (rakkhita: dijaga, dilindungi, dikawal, di bawah pengawasan, diselamatkan). PELACUR sama sekali tidak termasuk di dalamnya karena dianggap MAMPU menjaga diri sendiri dan tidak tergantung pada SIAPAPUN.

    Salah satu aspek ketidakpatutan dalam seksual selain tidak dilakukan dengan cara pemaksaan, mengancam, kekerasan, mengkasari juga TIDAK dilakukan dengan cara menipu, mencurangi. Untuk itu patut juga diperhatikan Parabhava sutta [Penyebab keruntuhan/kemerosotan, Sutta Nipata I:91-115], yang intisarinya adalah:

    1. Menyukai orang-orang yang jahat, tidak menyenangi orang2 bajik, lebih suka cara2 orang jahat,
    2. Suka tidur, kumpul-kumpul, lamban, malas dan mudah marah
    3. Dalam keadaan sejahtera tidak mau menyokong ayah dan ibu yg udah tua dan lemah
    4. Menipu dgn kepalsuan pd pertapa, brahmana ato rahib lainnya
    5. Kekayaan, emas dan makanan berlimpah tapi hanya dinikmati sendiri
    6. Membangggakan keturunan, kekayaan atau kesukuan dan merendahkan keluarga sendiri
    7. Perisau, peminum, atau penjudi, memboroskan penghasilan
    8. "Sehi dārehi asantuṭṭho [dārehyasantuṭṭho (ka.)], vesiyāsu padussati [padissati (sī.)] Dussati [dissati (sī. pī.)] paradāresu[..]" [Tidakpuas dengan istri sendiri, mencurangi para pelacur, mengganggu istri2 orang lain]
    9. Berusia tua beristrikan wanita muda dan tak dapat tidur karena cemburu
    10. Membiarkan wanita/lelaki utk minum2 dan pemborosan
    11. Terlahir dalam keluarga ksatria ambisi besar kemampuan kurang dan memimpikan kekuasaan

    Di point no.8,
    ada "Sehi dārehi asantuṭṭho [dārehyasantuṭṭho (ka.)], vesiyāsu
    padussati [padissati (sī.)] Dussati [dissati (sī. pī.)] paradāresu[..]"

    arti kata perkata:

    sehi dārehi – Istri sendiri
    asantuṭṭho – tidak puas
    vesiyāsu – para Pelacur
    padussati – does wrong (bersalah), is corrupted (jahat, buruk, menipu, curang, merusak)
    padissati – is seen (terlihat)
    dussati – offends (menyakitkan hati, melukai hati/perasaan (a friend). 2 mengganggu (by smoking). -kki. melakukan kesalahan. -offending ks. yang bersalah)., becomes corrupted (menjadi jahat/curang/jahat/rusak)
    dissati – is seen (terlihat)
    paradāresu – dengan istri2 orang lain

    Kenapa ada 2 arti kata dalam kurung yaitu Padussati [Padissati] dan Dussati [Dissati]?

    "Padissati" dan "dissati", adalah berdasarkan naskah pada konsili burma tahun 1871 [juga terjemahan dari Max Müller dan Max Fausböl masih menggunakan kata "padissati" dan "dissati", utk jelasnya yang benar yang mana dan juga arti kata dalam kurung tersebut dapat di lihat di sini, di sini dan disini]. Namun World-Tipitaka merujuk bahwa kata yg benar adalah "Padussati"/"dussati" dan BUKANLAH "Padissati"/"dissati". [↑]

  4. Varitta Sila: Musävädä veramani sikkhäpadam samädiyämi (Aku bertekad menghindari diri dari menyatakan yang tidak benar)
    musā = adv. secara salah, tidak benar, tidak betul; vāda = m. perkataan, ucapan, pembicaraan, tuturan, ujaran, omongan, diskusi, perdebatan, perbantahan, pembahasan; doktrin, ajaran, paham.

    Ruang lingkup dari sila ke-4 ini adalah:
    • musāvāda (berdusta): ketika dia berada dikomunitasnya atau di kelompoknya atau di sanak saudaranya, teman sekerjanya, di pengadilan negara, atau ketika dipanggil sebagai saksi dan diminta mengatakan apa yang diketahuinya. meski tidak tahu, dia berkata, “Saya tahu”; meski tahu, dia berkata “Saya tidak tahu”; meski tidak melihat, dia berkata, “Saya telah melihat”; dan meski telah melihat, dia berkata, “Saya tidak melihat”. Dengan cara itu dia mengucapkan kebohongan yang disengaja, baik demi dirinya sendiri, demi orang lain, atau demi keuntungan materi. VS menghindari berdusta (Musāvādā veramaṇī), pisuṇāya vācāya veramaṇī, pharusāya vācāya veramaṇī
    • Pisuṇavāco (ucapan memecah belah): apa yang didengarnya di sini dilaporkannya di sana untuk menimbulkan konflik di sana; dan apa yang didengarnya di sana dilaporkannya di sini untuk menimbulkan konflik di sini. Dengan demikian dia menciptakan perselisihan di antara mereka yang rukun, dan dia masih juga menghasut lagi mereka yang sedang berselisih. Dia menikmati perselisihan, bergembira dan bersukacita di dalamnya, pengucap kata-kata yang menyebabkan perselisihan. VS menghindari ucapan memecah belah (pisuṇāya vācāya veramaṇī)
    • Pharusavāco (ucapan kasar): kata-kata yang kasar, keras, menyakiti orang lain, menghina orang lain, berbatasan dengan kemarahan, tidak menunjang konsentrasi. VS menghindari ucapan kasar (pharusāya vācāya veramaṇī)
    • Samphappalāpī (ucapan tidak penting): berbicara tidak pada waktu yang tepat, tidak beralasan dan tidak bermanfaat, berlawanan dengan Dhamma atau Vinaya: tidak layak untuk disimpan, melampaui batas, mencelakakan. VS menghindari ucapan tidak penting (Samphappalāpī veramaṇī)

    • [AN 10.176/Cunda Sutta kepada perumah tangga Cunda; MN 41/Sāleyyaka Sutta & MN 42/Verañjaka Sutta kepada Brahmana perumahtangga sala dan veranja] [↑]

  5. Varitta Sila: Surämeraya-majjapamädatthänä veramani sikkhäpadam samädiyämi (Aku bertekad menghindari diri dari mengkonsumsi asupan yang memabukan dan membuat lengah/sembrono)
    sura = cairan memabukan; meraya = cairan fermentasi; majja = memabukan; pamāda = kelengahan, kealpaan, kelalaian, kesembronoan, kelambanan, kekilesaan, ketidakcekatan.

    Beberapa makanan secara alami akan mengandung ethanol walaupun tidak diproses lanjutan misalnya nira, duren. Beberapa dengan proses fermentasi mempunyai kadar ethanol di bawah 4% (air tape/ketan) atau bahkan lebih jika di suling (miras). Beberapa daerah yang berkondisi dingin, mempunyai kebiasaan minum alkohol.

    Bagaimana mengukurnya agar sila ini terpenuhi? Dengan mengetahui dan memahami tujuannya:

      Merenungkan dengan bijaksana tujuan pemenuhan makanan (paṭisaṅkhā yoniso āhāraṃ āhāreti) – bukan untuk: kesenangan/lomba/hiburan (‘neva davāya), bukan untuk: memabukan (na madāya), bukan untuk: menimbun/menggemukan atau berlebihan (na maṇḍanāya), bukan untuk: keindahan diri/ornament/terlihat menarik (na vibhūsanāya), namun secukupnya untuk kelangsungan menyokong tubuh ini (yāvadeva imassa kāyassa ṭhitiyā yāpanāya), meredakan rasa tidak enak (mis: lapar) dan meneruskan kehidupan suci (vihiṃsūparatiyā brahmacariyānuggahāya), perasaan sebelumnya ini (misal: lapar) diredakan (iti purāṇañca vedanaṃ paṭihaṅkhāmi), dengan tanpa perasaan baru (misal: malas, kekenyangan) dimunculkan (navañca vedanaṃ na uppādessāmi), kehidupanku berlangsung (yātrā ca me bhavissati), bebas gangguan/celaan dan berdiam dalam kenyamanan/ketentraman (anavajjatā ca phāsuvihāro cā’ti) [AN 6.58/Asava Sutta, SN 35.20/Abhinanda Sutta, MN.107/Gaṇakamoggallāna Sutta, dst]
      [↑]
CARITA SILA [moral performa] ini berkaitan erat dengan HIRI dan OTAPPA[23d].

Dalam MN 13/Mahādukkhakkhandha Sutta, sang Buddha menjelaskan secara rinci bahayanya pemuasan kenikmatan indriya-indriya dan dibagian bawahnya dinyatakan:
    Dengan kenikmatan indria sebagai penyebab, kenikmatan indria sebagai sumber, kenikmatan indria sebagai dasar, penyebabnya hanyalah kenikmatan indria, orang-orang melakukan perilaku salah dalam perbuatan, ucapan, dan pikiran. Setelah melakukan demikian, bersamaan hancurnya tubuh setelah kematian terlahir di keadaan sengsara/merugi menderita menuju kehancuran bahkan neraka.
Meningkatnya HIRI dan OTAPPA membuat kita juga tidak melakukan pelanggaran ke-4 sila lainnya [Sila ke-1, 2, 4, 5]

Pada sila ke-5,
MELEMAHNYA KESADARAN terjadi karena dipicu oleh asupan [makanan dan minuman] yang memabukan. Keadaan itu membuat melemahnya HIRI dan OTAPPA, sehingga dapat menyebabkan terjadilah pelanggaran [sila ke-1, 2, 3, 4]

SNP 1.7/Jika kita buka VASALA SUTTA, akan kita temukan 1-20 list dari orang yang melakukan prilaku ini disebut MANUSIA HINA/sampah[23f]:
    sila ke-1 [no.2, 3, 6, 10]
    sila ke-2 [no.4, 5]
    sila ke-4 [no. 5, 7, 10,11,12,13,14,15,16,17,18,19,20]
Statistik kecil-kecilan di atas, menunjukan juaranya adalah sila ke-4. Ini seperti ucapan sang Buddha kepada YM Rahula di MN 61 [Ambalaṭṭhikārāhulovāda Sutta]:
    Demikian pula, Rāhula, jika seseorang tidak malu mengucapkan kebohongan yang disengaja, maka tidak ada kejahatan, Aku katakan, yang tidak akan ia lakukan. Oleh karena itu, Rāhula, engkau harus berlatih sebagai berikut: ‘Aku tidak akan mengucapkan kebohongan bahkan sebagai suatu gurauan.’
Bayangkan!
Gara-gara pelanggaran sila ke-4, Dhamma Sejati lenyap, banyak orang tergiring pada pertengkaran, pembunuhan/menyakiti, perampokan, pencurian, pemerkosaan, dan lainnya, karena ditipu ajaran-ajaran SALAH yang mengaku jalan keselamatan.

Selain pancasila,
Umat awam untuk meningkatkan latihan pemurniannya juga melakukan Atthasila [AN 3.70/Muluposatha Sutta; AN 8.41-45/Visākhā/Vāseṭṭha/Bojjhā_uposatha Sutta; Sn 2.14/Dhammika Sutta] atau delapan sila. Waktu pelaksanaannya dilakukan pada saat tertentu, misal: setiap awal minggu di tiap bulannya, dan/atau ditambah dengan bulan baru dan bulan purnama, dan/atau saat perayaan ulang tahun kelahiran, dan/atau 1 bulan sebelum waisak, maghapuja, asadha dan/atau perayaan-perayaan yang dianggap penting lainnya:
  1. pāṇātipātaṃ pahāya pāṇātipātā paṭiviratā, (Meninggalkan dan menghindari pembunuhan)
  2. adinnādānaṃ pahāya adinnādānā paṭiviratā, (Meninggalkan dan menghindari mengambil yang tidak diberikan)
  3. abrahmacariyaṃ pahāya brahmacārino ārācārino viratā methunā gāmadhammā, (Meninggalkan kehidupan tidak murni, menjalani kehidupan brahma, hidup terpisah, menghindari hubungan seksual prilaku umat awam)
  4. musāvādaṃ pahāya musāvādā paṭiviratā, (Meninggalkan dan menghindari menyatakan yang tidak benar)
  5. surāmerayamajjapamādaṭṭhānaṃ pahāya surāmeraya majjapamādaṭṭhānā paṭiviratā, (Meninggalkan dan menghindari mengkonsumsi yang memabukan dan membuat lengah/sembrono)
  6. ekabhattikā rattūparatā viratā vikālabhojanā, (makan 1x sehari, menahan diri makan pada malam hari dan di luar waktu (waktu yang benar: sejak matahari terbit s.d sebelum tengah hari))
  7. naccagītavāditavisūkadassana mālāgandhavilepanadhāraṇamaṇḍanavibhūsanaṭṭhānā paṭiviratā, (menghindari menari, menyanyi, bermain musik, melihat tontonan, memakai bunga, wewangian, kosmetik, perhiasan/kalung, berdandan, untuk memperindah diri)
  8. uccāsayanamahāsayanaṃ pahāya uccāsayanamahāsayanā paṭiviratā, (Meninggalkan dan menghindari pembaringan (untuk keperluan duduk/tidur) yang tinggi/mewah dan lebar/besar) [↑ atthasila]
Sepuluh Sila (KHP 2/Dasa Sikkhapada),
sila ke-1 s.d ke-6 sama seperti di atas. Sila ke-7: naccagītavāditavisūkadassana veramani (menahan diri dari menari, menyanyi, bermain musik, pergi melihat tontonan), sila ke-8: mālāgandhavilepanadhāraṇamaṇḍanavibhūsanaṭṭhānā veramani (menahan diri dari memakai bunga, wangi-wangian, kosmetik dengan tujuan menghias/memperindah diri), sila ke-9: uccāsayanamahāsayanā veramani, (menahan diri dari penggunaan tempat tidur dan tempat duduk yang tinggi dan lebar/besar) dan sila ke-10: Jātarūparajatapaṭiggahaṇā veramaṇī (Menahan diri dari menerima emas, perak dan uang) [↑ 6 Perenungan] [↑]

Sutta tentang 6 perenungan merupakan ringkasan dari 3 sutta dengan nama yang sama, yaitu "Mahanama Sutta" (AN 6.10, AN 11.12-13, kerangka utamanya saya gunakan AN 6.10)

Mahanama dalam sutta ini adalah sepupu dari Sidharta Gautama. Sidhartha Gautama melepaskan haknya sebagai pewaris tahta Kapilavatthu untuk menjadi petapa dan kemudian menjadi Buddha. Pangeran lainnya termasuk Rahula (Putera Sidharta Gautama) juga memilih menjadi petapa. Menjelang wafatnya raja Suddhodana, Mahanama ditunjuk menjadi pewaris tahta. Wafatnya Mahanama terjadi di banyak tahun kemudian, yaitu ketika raja baru Kosala, Vidudabha, menginvasi Kapilavasttu.

Dalam suttanya, setiap masing-masing dari 6 perenungan di atas, seharusnya dilanjutkan dengan kalimat "Kemudian, Mahanama, ketika siswa mulia merenungkan:..pikirannya tidak terobsesi oleh: nafsu (raga),..", namun untuk MENYINGKAT, saya letakkan bagian tersebut di akhir perenungan ke-6.

Perenungan ini mengindikasikan perlunya CHECK dan RE-CHECK antara KENYATAAN DIRI vs KONDISI PERENUNGAN. Ketika ada GAP, maka diperlukan UPAYA memperbaiki diri agar mernjadi SELARAS dengan perenungannya. Sehingga, perenungan ini juga merupakan ALAT UKUR untuk mengetahui seberapa jauh keberhasilan praktek diri dan menjadi arah menuju pemasuk arus (sotapanna)

Sutta ini memberikan konfirmasi bahwa:
Praktek DANA - SILA yang dilakukan dapat berbuah pencapaian kesucian jika ia melihat dan mengetahui anicca, dukkha dan anatta. Ini berlawanan dengan anggapan beberapa orang bahwa praktek DANA - SILA tidak dapat mencapai kesucian.

Pencapaian jhana ke-1 (vitakka, vicara, piti, sukha, keterpusatan konsentrasi) dapat dicapai melalui jalur perenungan.

Pun jika gagal menapak tingkat kesucian, perenungan ini membuka peluang besar bagi yang melakukannya untuk terlahir kembali di alam brahma dan meneruskan latihan di alam itu. Bahkan ketika gagal mencapai alam brahma sekalipun, perenungan ini pun masih memiliki kegunaan, CHECK dan RE-CHECK antara KENYATAAN DIRI vs KONDISI PERENUNGAN, mengakibatkan adanya upaya diri yang berakibat memperkecil peluang terlahir kembali di kondisi merugi bahkan menderita di alam bawah. [↑]

Idha mahānāma, ariyasāvako tathāgataṃ anussarati: itipi so (demikianlah beliau) Bhagavā (sang pembawa keberuntungan): (1) arahaṃ (padam, yang patut, telah memotong jeruji lingkaran, menjinakan kejahatan, terbebas dari samsara) (2) sammā•sambuddho (yang tercerahkan sempurna dengan cara yang benar), (3) vijjā•caraṇa•sampanno (Sempurna pengetahuan dan prilaku), (4) sugato (dalam kebahagiaan sejati), (5) loka•vidū (pengenal alam), (6) anuttaro purisa•damma•sārathi (Penunjuk jalan tiada banding bagi yang patut dijinakkan), (7) satthā deva•manussānaṃ (Guru para deva dan manusia), (8) Buddho (yang tercerahkan sempurna) (9) Bhagavā ti (pembawa keberuntungan) [AN 6.10, AN 11.12-13] [↑]

Puna caparaṃ, mahānāma, ariyasāvako dhammaṃ anussarati: (1) Svākkhāto (su-akkato, disampaikan dengan baik) bhagavatā (sang pembawa keberuntungan) dhammo (ajaran, perubahan yang berkondisi): (2) sandiṭṭhiko (Nyata manfaatnya di kehidupan ini juga) (3) akāliko (tak berbatas waktu) (4) ehipassiko (datanglah melihat sendiri, terbuka bagi semua orang) (5) opaneyyiko (memberikan tuntunan) (6) paccattaṃ veditabbo viññūhī ti. (Dapat dirasakan/dikenali sendiri oleh yang berpengetahuan/melakukannya) [↑]

Puna caparaṃ, mahānāma, ariyasāvako saṅghaṃ anussarati: (1) Su•paṭipanno (telah memasuki jalan baik) bhagavato sāvaka•saṅgho (Kumpulan siswa mulia Bhagava), (2) uju•paṭipanno (telah memasuki jalan lurus) bhagavato sāvaka•saṅgho, (3) ñāya•paṭipanno (telah memasuki jalan yang benar; 8 jalan utama) bhagavato sāvaka•saṅgho, (4) sāmīci•paṭipanno (telah memasuki jalan terhormat) bhagavato sāvaka•saṅgho, yadidaṃ (terdiri dari) cattāri (empat) purisa•yugāni (pasangan mahluk: sotapanna, sakadagami, anagami, arahat), aṭṭha purisa•puggalā (delapan individu: sotapanna magga dan phala,.., arahat magga dan phala), esa (ini) bhagavato sāvaka•saṅgho (5) āhuneyyo (patut menerima persembahan), (6) pāhuneyyo (patut dilayani), (7) dakkhiṇeyyo (patut menerima pemberian), (8) añjali•karaṇīyo (Patut diberikan penghormatan), (9) anuttaraṃ puñña'k'khettaṃ lokassā (Ladang menanamkan kebajikan tiada banding di seluruh alam) [AN 6.10, AN 11.12-13] [↑]

Puna caparaṃ, mahānāma, ariyasāvako attano sīlāni anussarati: akhaṇḍāni (tak rusak, utuh keseluruhan) acchiddāni (tak bolong, tak cacat, robek) asabalāni (tak bernoda) akammāsāni (cemar, cela, bercak) bhujissāni (membebaskan) viññu•p•pasatthāni (dipujikan para bijaksana) a•parāmaṭṭhāni (tak di genggam) samādhi•saṃvattanikāni (menuju pada pemusatan pikiran) [SN 48.15-17, MN 48, AN 6.10, AN 11.12-13] [↑]

[23f] SNP 1.7/VASALA SUTTA [Manusia Hina/Sampah] atau Aggika-Bhārādvāja Sutta

Demikian yang telah saya dengar: Pada saat itu Sang Buddha berdiam di dekat Savatthi di Hutan Jeta di vihara Anathapindika. Ketika hari menjelang siang[1], setelah mengenakan jubah dan mengambil mangkuk, Sang Buddha pergi ke Savatthi untuk mengumpulkan makanan. Pada waktu itu, di rumah brahmana pemuja-api yang bernama Aggika-Bhārādvāja[2], api dinyalakan dan benda-benda untuk kurban telah disiapkan. Kemudian Sang Buddha, yang berjalan dari rumah ke rumah, sampai ke tempat tinggal brahmana itu.

Melihat Sang Buddha mendekat, dia berteriak: ‘Berhentilah di situ, hai pertapa gundul[3]. Berhentilah di situ, hai pertapa. Berhentilah di situ, hai manusia sampah!’

Sang Buddha:
‘O, brahmana, dapatkah engkau mengenali manusia sampah? Dapatkah engkau mengetahui hal-hal yang membuat seseorang menjadi sampah?’

Aggika-Bhārādvāja:
‘Memang tidak, O Tuan Gotama, saya tidak dapat mengenali manusia sampah, dan saya tidak mengetahui hal-hal yang membuat seseorang menjadi sampah. Karena itu, Tuan Gotama, akan amat bagus bila engkau menjelaskan padaku mengenai hal ini.’

Sang Buddha:
‘Baiklah, wahai brahmana, dengarkan baik-baik dan camkanlah kata-kataku ini:
  1. Siapa pun yang marah, yang memiliki niat buruk, yang berpikiran jahat dan iri hati; yang berpandangan salah, yang penuh tipu muslihat, dialah yang disebut sampah.
  2. Siapa pun yang menghancurkan kehidupan, baik burung atau binatang, serangga atau ikan, yang tidak memiliki kasih sayang terhadap kehidupan, dialah yang disebut ….
  3. Siapa pun yang merusak atau agresif (suka menyerang) di kota dan di desa dan dikenal sebagai perusak atau penjahat yang kejam, dialah yang ….
  4. Siapapun yang mencuri apa yang dianggap milik orang lain, baik yang ada di desa atau hutan ….
  5. Siapapun yang setelah berhutang lalu menyangkal ketika ditagih, dan menjawab pedas: ‘Aku tidak berhutang padamu!’ ….
  6. Siapa pun yang berkeinginan mencuri walaupun benda tidak berharga, lalu mengambil barang itu setelah membunuh orang di jalan ….
  7. Siapapun yang memberikan sumpah palsu untuk kepentingannya sendiri, untuk kepentingan orang lain, atau untuk mendapat keuntungan ….
  8. Siapapun yang mempunyai hubungan gelap dengan istri famili atau temannya, baik dengan paksaan atau karena suka sama suka ….
  9. Siapapun yang tidak menyokong ayah atau ibunya, yang sudah tua dan lemah, padahal dia hidup dalam keadaan berkecukupan ….
  10. Siapa pun yang menyerang atau mencaci-maki ayah, ibu, saudara kandung, atau ibu mertua ….
  11. Siapapun yang dimintai nasihat yang baik tetapi malahan mengajarkan apa yang menyesatkan atau berbicara dengan tidak jelas ….
  12. Siapapun yang munafik, yang setelah melakukan pelanggaran kemudian ingin menyembunyikannya dari orang-orang lain ….
  13. Siapapun yang setelah berkunjung ke rumah orang lain dan menerima keramah-tamahan di sana, tidak membalasnya dengan sikap serupa ….
  14. Siapapun yang menipu pertapa, bhikkhu atau guru spiritual lain ….
  15. Siapapun yang mencaci-maki dan tidak melayani pertapa atau bhikkhu yang datang untuk makan ….
  16. Siapapun, yang karena terperangkap di dalam kebodohan, memberikan ramalan yang tidak benar demi keuntungan yang sebenarnya tak berharga ….
  17. Siapapun yang meninggikan dirinya sendiri dan merendahkan orang lain, pongah dalam kesombongannya ….
  18. Siapapun yang suka memicu pertengkaran, yang kikir, memiliki keinginan-keinginan jahat, iri hati, tidak tahu malu dan tidak menyesal kalau melakukan kejahatan ….
  19. Siapa pun yang menghina Sang Buddha atau siswa-siswanya, baik yang telah meninggalkan keduniawian maupun perumah-tangga biasa ….
  20. Siapa pun yang berpura-pura Arahat padahal sebenarnya bukan, dia benar-benar penipu hina terbesar di dunia ini, sampah terendah dari semuanya. Demikian telah kujelaskan siapa yang merupakan sampah.
  21. Bukan karena kelahiran orang menjadi sampah. Bukan karena kelahiran pula orang menjadi brahmana (mulia). Oleh karena perbuatanlah orang menjadi sampah. Oleh karena perbuatan pula orang menjadi brahmana.
  22. Kini dengarkanlah, akan kuberikan suatu contoh. Ada seorang anak laki-laki dari kasta rendah yang bernama Matanga dari kasta Sopaka.
  23. Dia mencapai puncak kejayaan. Dan sesudah itu, para ksatria, brahmana, dan orang-orang lain datang untuk melayaninya.
  24. Setelah menghancurkan nafsu-nafsu duniawi, dia memasuki Jalan Mulia dan mencapai alam Brahma. Kasta tidak dapat mencegahnya terlahir di alam surgawi.
  25. Para brahmana yang mengenal Veda dengan baik dan terlahir di keluarga yang hafal Kitab Veda, jika mereka kecanduan melakukan perbuatan-perbuatan jahat.
  26. Mereka bukan hanya ternoda di dalam kehidupan ini saja; di dalam kehidupan yang akan datang pun mereka akan terlahir di dalam keadaan yang menderita. Kasta tidak dapat mencegah mereka ternoda atau terlahir di dalam keadaan yang menderita.’
  27. (Di sini, bait 21 diulang)
Setelah Sang Buddha berbicara, brahmana Aggika Braradvaja berseru: ‘Sungguh menakjubkan, Yang Mulia Gotama, sungguh luar biasa, Yang Mulia Gotama! Sebagaimana orang menegakkan apa yang telah terjungkir balik, atau mengungkapkan apa yang tadinya tersembunyi, atau menunjukkan jalan kepada orang yang tersesat, atau memberikan sinar penerangan di dalam kegelapan, sehingga mereka yang memiliki mata dapat melihat benda-benda, demikian pula Kebenaran telah dijelaskan oleh Yang Mulia Gotama dengan berbagai cara.

‘Oleh karena itu, saya berlindung pada Beliau, pada Dhamma-Nya, dan Sangha-Nya. Saya mohon Yang Mulia Gotama berkenan menerima saya sebagai siswa awam yang sejak saat ini telah menyatakan berlindung pada-Nya seumur hidup!’

-----------
Note:


[1] Para Bhikkhu hanya makan 1x sehari [ekabhattikā; ekāsanabhojanaṃ] dan sebelum tengah hari. [lihat: MN65/Bhaddali sutta, MN21/Kakacūpama Sutta, AN 8.41/Uposatha Sutta, AN 3.70/Uposatha Sutta, AN 3.180/Gavesin Sutta, AN 5.228/Ussura-bhatta sutta]

[2] Bhārādvāja adalah nama Klan sementara Aggika (aggi + Ka) adalah Pemuja Agni. Simbol Agni adalah Api. Sebuah tradisi para penganut brahmanism, dalam hal ini adalah para pemuja agni, yang tengah melakukan agni hotra. [persembahan itu disampaikan pada dewa di penghuni alam 33 Deva, yaitu Agni, terkadang juga di sebut/disampaikan pada Rudra, Indra, dan lainnya. Pada perkembangan di abad-abad berikutnya Agni juga di sebut sebagai Siva].

[3] kata pali: muṇḍaka (rambutnya tercukur); Muṇḍana (bercukur/memotong, tindakan mencukur). Rambut pendek disebut juga telah di potong. Di vinaya culavagga V.2.2, disebutkan, "Tidak sepantasnya, o para Bhikkhu, berambut panjang, pelanggaran tentang itu adalah dukhata. Ku perkenankan, O para bhikkhu, panjangnya rambut hingga seumuran 2 bulan atau 2 anguli".

Ukuran ini merupakan indikasi bahwa rambut sang Buddha sendiri, yang Ia potong sendiri ketika bertekad untuk menempuh kehidupan pertapaan dan kemudian dikatakan tidak pernah tumbuh panjang lagi serta kemudian berbentuk melingkar2 kecil seperti siput, panjangnya tidak lebih dari 2 inchi/5.08 cm (2 anguli).

Rambut panjang adalah simbol kejayaan.

Tradisi jaman itu untuk pemotongan rambut ada dalam 3 kategori, yaitu terjadi pada kaum rendahan; Orang yg menerima hukuman; dan terakhir, dalam tradisi ajaran lain di India, seorang yang melakukan sumpah tertentu atau mulai menjadi seorang samana juga di cukur rambutnya alias TIDAK berambut PANJANG.

Tradisi brahmanism tertentu tidak melakukan potong rambut. Sang Buddha tidak dalam posisi telanjang seperti kaum tertentu dalam ajaran lainnya, bisa jadi, sang Brahmana itu permulaannya menganggap Sang Buddha adalah orang hukuman atau orang dari kelahiran rendahan. Bertemu kaum rendahan ketika mengadakan upacara dianggap membawa ketidakberuntungan.[↑]

[24] 32 Ciri-ciri manusia agung, di antaranya ada di DN.30/lakkhana sutta, DN.14/Mahapadana Sutta dan MN 91/Brahmāyu Sutta [yang berisi detail lebih banyak lagi, yaitu 32 ciri beliau, berdiri, Berjalan, duduk, makan, minum, mencuci, yang merupakan hasil pengamatan penuh selama 7 bulan yang dilakukan oleh murid Brahmayu, uttara dan setelah mendengar itu Brahmana Brahmayu, mengucapkan Vandana. Ketika, kemudian bertemu, di akhir kotbah sang Bhagava, beliau mencapai Anagami].

Terjemahan Inggris dan Indonesia untuk 32 tanda fisik ini, derajat ke-akuratannya adalah SANGAT MERAGUKAN, karena BEBERAPA dari terjemahan itu membuat fisik Sang Buddha tidak terlihat normal, padahal bukti di 3 suta menyatakan sebaliknya yaitu beliau terlihat serupa dengan para Bhikkhu lainnya, yaitu:
  1. DN.2/Samaññaphala Sutta [Pangeran Ajjasattu, tidak mampu mengenali perbedaan antara sang Buddha VS sekumpulan Bhikkhu yang ada disitu];
  2. MN 128/Upakkilesa Sutta [Penjaga taman hutan bambu timur taman rusa, tidak mengenali Sang Buddha dan menyetopnya]; dan
  3. MN 140/Dhatu Vibhangga sutta [Pukkhusati, raja kerajaan Gandhara yang menjadi Bhikkhu dan hendak bertemu langsung Sang Buddha. Diperjalanan ia bertemu, namun ia TIDAK MENGENALI beliau adalah Buddha, hanya setelah mendengarkan kotbah beliau dan tidak ketika sedang berbincang-bincang bersamanya
Ketiga,
sutta di atas, telak menyatakan bahwa secara FISIK tidak ada perbedaan antara beliau dengan para Bhikkhu lainnya. Berikut adalah TERJEMAHAN UMUM tentang 32 fisik Buddha:
  1. Beliau memiliki telapak kaki yang rata.[suppatiṭṭhita pāda]
  2. Di telapak kaki-Nya terdapat gambar roda-roda dengan seribu jeruji, lengkap dengan lingkar dan sumbunya. [heṭṭhā,pāda,talesu cakkāni jātānihonti sahassārānisa,nemikāni sa,nābhikāni sabbākāra paripūrāni]
  3. Tumit-Nya menonjol.[āyata paṇhi]
  4. Memiliki jari-jemari tangan dan kaki yang panjang.[dīgh’aṅguli]
  5. Memiliki tangan dan kaki yang lunak dan lembut.[(mudutaluna hatthapāda]
  6. Tangan dan kaki-Nya menyerupai jaring.[jāla hatthapāda]
  7. Pergelangan kaki-Nya agak lebih tinggi.[ussaṅkha pāda]
  8. Kaki-Nya menyerupai kaki rusa.[eṇi-jaṅgha]
  9. Berdiri tanpa membungkuk, Beliau dapat menyentuh lutut-Nya dengan tangan-Nya.[ṭhitako’va anonamanto ubhohi pāṇitalehi]

    note:
    Ketika Beliau berjalan, Beliau melangkahkan kaki kanan terlebih dulu. Beliau tidak melangkahkan kakiNya terlalu jauh atau terlalu dekat. Beliau tidak berjalan terlalu cepat juga tidak terlalu lambat. Beliau berjalan tanpa kedua lututnya saling beradu. Beliau berjalan tanpa mengangkat atau menurunkan pahanya, dan tanpa merapatkan atau merenggangkannya. Ketika Beliau berjalan, hanya bagian bawah tubuhNya yang bergerak, dan Beliau tidak berjalan dengan usaha tubuhNya. [MN 91]

  10. Kelamin-Nya terselubung.['kosohita vatthaguyha': kosohita = tersembunyi, terselubung, terbungkus; vatthaguyham = sesuatu yang disembunyikan/ditutupi kain. Sehingga maksudnya tidak diperlihatkann/tidak dalam keadaan telanjang]

    note:
    "Tiga puluh dua tanda yang kupelajari
    Yang merupakan tanda-tanda seorang Manusia Luar Biasa –
    Aku masih belum melihat dua tanda ini
    Pada tubuhMu, Gotama.

    Apakah yang seharusnya terbungkus kain
    Tersembunyi dalam lapisan penutup
    , manusia 'tertinggi'?
    Walaupun disebut dengan kata berjenis perempuan,

    Mungkinkah lidahmu adalah lidah laki-laki?
    Mungkinkah lidahmu juga lebar,

    Sesuai dengan apa yang telah kami pelajari?
    Sudilah memperlihatkannya sedikit
    Dan dengan demikian, O Yang Bijaksana, mengobati keragu-raguan kami
    Demi kesejahteraan dalam kehidupan ini
    Dan kebahagiaan dalam kehidupan mendatang
    Dan sekarang kami menginginkan izin untuk bertanya
    Tentang sesuatu yang sangat ingin kami ketahui." [MN 91]

  11. Kulit-Nya cerah, berwarna keemasan.[suvaṇṇavaṇṇo hoti kañcana sannibhattaca]
  12. Kulitnya halus, dan karena kehalusan kulitnya, debu dan kotoran tidak menempel di tubuhnya.[sukhumacchavi hoti sukhumattā chaviyā rajo jallaṁ kāye na upalimpati]
  13. Bulu-bulu badan-Nya terpisah, satu untuk masing-masing pori-pori.[ekeka lomo hoti ekekāni lomāni loma kūpesu jātāni]
  14. Ujung bulu badannya menghadap ke atas; bulu badannya yang menghadap ke atas itu berwarna hitam-kebiruan, berwarna collyrium, keriting dan melingkar ke kanan. [uddhaggalomo hoti uddhaggāni lomāni jātāni nīlāni añjana,vaṇṇāni kuṇḍalā vaṭṭāni dakkhiṇā vaṭṭaka jātāni]
  15. Tubuh-Nya tegak.[brahmuju gatta]
  16. Memiliki tujuh bagian yang menggembung.[sattussada]
  17. Bagian depan tubuh-Nya bagaikan bagian depan tubuh singa.[sīha pubbaddhakāya]
  18. Tidak ada cekungan antara bahu-bahu-Nya.[citantaraṁsa]
  19. Beliau memiliki rentangan pohon banyan; rentang kedua lengannya sama dengan tinggi badannya, dan tinggi badannya sama dengan rentang kedua lengannya. [nigrodhaparimaṇḍalo hoti yāvatakv-assa kāyo tāvatakv-assa vyāmo yāvatakv-assa vyāmo tāvatakv-assa kāyo]
  20. lengkungan bahu-Nya bundar. [samavaṭṭakkhandha]
  21. Memiliki indria pengecap yang sempurna.[rasaggasaggī]
  22. Rahang-Nya seperti rahang singa. [sīhahanu]
  23. Memiliki empat puluh gigi. [cattālīsa danta]
  24. Gigi-Nya rata. [sama danta]
  25. Tidak ada celah antara gigi-Nya. [aviraḷa danta]
  26. Gigi-Nya putih cemerlang. [susukka dāṭha]
  27. Lidah-Nya panjang dan lebar.[pahūta jivha]
  28. Memiliki suara menyerupai Brahmā, seperti suara burung karavīka. [brahmassaro hoti karavīkabhāṇī]
  29. Mata-Nya biru gelap. [abhinīla-netta]
  30. Bulu mata-Nya menyerupai bulu mata sapi.[gopakhuma]
  31. Rambut di antara alis mata-Nya berwarna putih dan lembut seperti kapas. [uṇṇā bhamukantare jātā hoti odātā mudu tūla sannibhā]
  32. Kepala-Nya menyerupai serban kerajaan. [uṇhīsasīsa]
So, apakah seorang Sammasambuddha HARUS laki-laki?

Ya, sebagaimana disampaikan MN 115/Bahudhatuka Sutta, juga AN.1.15 (279-283) Atthana Vagga:
    Aṭṭhānametaṃ .. anavakāso yaṃ itthī arahaṃ assa sammāsambuddho. Netaṃ ṭhānaṃ vijjati.. [Ini mustahil..tidak mungkin ada arahat perempuannya (adalah) sammasambuddha. Itu tidak dapat terjadi..]. Ṭhānañca kho etaṃ.. vijjati yaṃ puriso arahaṃ assa sammāsambuddho. Ṭhānametaṃ vijjatī.. [Dapat sekali terjadi ada arahat prianya (adalah) Sammasambuddha. Itu dapat terjadi..]

    Aṭṭhānametaṃ, bhikkhave, anavakāso yaṃ itthī rājā assa cakkavattī. Netaṃ ṭhānaṃ vijjati. Ṭhānañca kho etaṃ, bhikkhave, vijjati yaṃ puriso rājā assa cakkavattī. Ṭhānametaṃ vijjatī
    [Ini mustahil, tidak mungkin ada raja perempuannya (adalah) raja sejagat, itu tidak dapat terjadi. Dapat sekali terjadi ada raja prianya (adalah) raja sejagat, itu dapat terjadi]

    Aṭṭhānametaṃ, bhikkhave, anavakāso yaṃ itthī sakkattaṃ kāreyya ... mārattaṃ kāreyya ... brahmattaṃ kāreyya. Netaṃ ṭhānaṃ vijjati. Ṭhānañca kho etaṃ, bhikkhave, vijjati yaṃ puriso sakkattaṃ kāreyya ... mārattaṃ kāreyya ... brahmattaṃ kāreyya. Ṭhānametaṃ vijjati
    [Ini mustahil, tidak mungkin ada sakkanya (pemimpin alam 33 dewa) perempuan....mara-nya (salah satu raja alam vassavati) perempuan ... brahmanya perempuan, itu tidak dapat terjadi. Dapat sekali terjadi ada sakkanya pria...maranya pria...brahmanya pria, itu dapat terjadi]
Statement di atas tidaklah berarti bahwa seseorang perempuan (saat ini, dikehidupan ini) pada di kehidupan tertentu dikemudian waktu tidak dapat menjadi sammasambuddha (atau cakkavatti raja, Sakka, Mara atau Brahma), statement di atas hanya menyatakan bahwa ketika Ia terlahir di posisi-posisi tersebut, maka Ia tidak berjenis perempuan.

Kenapa?

Dhammamata (selalu yang terjadi) untuk jenis arahat Sammabuddha adalah selalu pria (mungkin ini juga berlaku untuk Pacceka Buddha, namun tidak ada sutta spesifik menyebutkan pacceka Buddha harus berjenis pria dan juga tidak ada contoh di sutta/komentar kisah pacceka Buddha, yang berjenis perempuan).
    Note:
    Selain itu Buddhavamsa 2.59, pada kisah sumedha - Buddha dipankara, menyampaikan kreteria diantaranya: 1. Manussatta (manussa + satta = Mahluk manusia); 2. Liṅgasampatti (lingga + sampatti = mempunyai kelamin yang jelas bukan diantara laki/perempuan], 3. Hetu; 4.Satthāradassana; 5.Pabbajjā; 6.Guṇasampatti; 7.Adhikāra dan 8.Chandatā.

    Para komentator (misal: Suttanipatta Atthakatha: uragavagga (SnA I.50f), Apadana-Atthakatha: Buddhavagga, Buddhaghosa, abad ke-5 masehi (Apadanaatthakata ini disebut juga Visuddhajanavilasini, tidak diketahui pengarangnya, disalin ulang: Nanabhivamsa, kepala buddhis di Burma tahun 1800); Prof. Bhkkhu Henpitagerada Nanavasa), Setelah bodhisatta membuat sumpah/resolusi (panidhana) untuk memenuhi 10 kesempurnaan (dasa parami) dan mendapatkan deklarasi kepastian (niyata vivarana) dari seorang Buddha, akan terdapat 18 (aṭṭhārasa) kondisi yang tidak dapat terjadi (abhabbaṭṭhāna) (atthārasa abhabbatthānāni) dari bodhisatta, yaitu terlahir:

    buta (Jaccandho), tuli (Jaccabadhira), gila (Ummattaka), cacat mental/bodoh (Elamūga), cacat (pīṭhasappī), orang barbar (milakkhūsu), budak/lahir dari rahim budak (dāsikucchiyā), punya pandangan salah (niyatamicchādiṭṭhi: 10 pandangan salah), berubah jenis kelamin/orientasi seksual (liṅgaṃ parivattati), tidak melakukan 5 kejahatan berat (pañcānantariyakammāni: membunuh ibu/bapak, dst), kusta/lepra (kuṭṭhī), di alam/kondisi binatang: tidak lebih kecil dari burung puyuh (vaṭṭaka) seukuran keranjang (pacchimattabhāvo) [na tiracchānayoniyaṃ vaṭṭakato pacchimattabhāvo], di kondisi/alam peta/mahluk halus: tidak sebagai peta haus dan lapar (khuppipāsika) dan peta yang haus (nijjhāmataṇhika), di kondisi/alam asura: tidak menjadi kālakañcika asura, di kondisi/alam niraya: tidak di neraka avici, juga tidak di Lokantarika, di alam kamaloka (kāmāvacare): tidak menjadi Mara, di alam rupa (rūpāvacara): tidak di assanasatta dan suddhavasa, tidak di alam arupa dan tidak di tatasurya lainnya (aññaṃ cakkavāḷaṃ saṅkamati).
Kehidupan lampau para Buddha mana saja (dan juga jenis arahat jenis mana saja), juga pernah terlahir sebagai perempuan atau laki atau banci atau jenis lainnya, misalnya kitab jataka menyatakan Buddha Gautama pernah terlahir sebagai wanita 2x dan pernah menjadi ibu angsa 1x. Calon Buddha Maitreya pernah terlahir sebagai wanita [translate india pada abad ke-3, vol.1 nos. 19.71-73, tahun 1962]. Untuk jenis arahat lainnya, misalnya Ananda (sekretaris Sang Buddha Gotama) pernah terlahir sebagai perempuan dan juga sebagai pandaka [kebanci-banciaan].

Pencapaian kesucian arahat dapat dicapai jenis kelamin apapun, salah satu sample adalah nasehat Arahat Bhikkhuni Soma kepada Mara:
    [Mara:]
    Yaṃ taṃ isīhi pattabbaṃ ṭhānaṃ dura­bhi­sam­bha­vaṃ;
    Na taṃ dvaṅ­gula­paññāya sakkā pappo­tu­m itthiyā

    [Suatu keadaan sulit yang hanya dicapai para resi
    Tidak dicapai perempuan yang kebijaksanaanya hanya dua-jari saja]

    [Bhikkhuni Somā:]
    Itthibhāvo kiṃ kayirā cittamhi susamāhite;
    Ñāṇamhi vattamānamhi sammā dhammaṃ vipassato

    [Apa urusannya keperempuanan dengan pikiran terkonsentrasi,
    proses berlangsungnya pengetahuan dan terlihat jelasnya Dhamma dengan benar?]

    Yassa nūna siyā evaṃ Itthāhaṃ purisoti vā Kiñci vā pana aññasmi;
    Taṃ māro vattumarahatī

    [Siapapun yang berpikir ini, ‘Aku adalah perempuan atau laki-laki, atau aku lainnya’
    itu adalah pembicaraannya mara ]. [SN 5.2/Soma Sutta]
Kemudian mengenai Brahma,
Di DN27/agganna sutta, dinyatakan dewa brahma tidak berjenis kelamin, juga di DN 13/tevijja sutta, para mahluk brahma tidak tertarik sensualitas [pencapaian alam ini adalah mulai jhana ke-1, tercapai setelah melampaui rintangan sensualitas (kama), sehingga tidak ada jenis kelamin], sehingga kata pali: 'itthi' dan 'Purisa' tidak harus selalu diartikan dalam konteks jenis kelamin (wanita/pria) karena dapat pula berarti tentang sifat (kewanitaan, kepriaan, lihat: purisa dan Porisa juga Itthi & Itthī).

Sang Buddha pernah menyampaikan kepada raja Pasenadi, keunggulan anak wanita dibandingkan lelaki, ketika raja kecewa saat ratunya tidak melahirkan anak lelaki:
    “Seorang perempuan, O, Raja manusia. Dapat lebih baik daripada seorang lelaki: Ia mungkin menjadi bijaksana dan bermoral, Seorang istri yang baik, menghormati mertuanya bagai Deva.

    “Putra yang ia lahirkan Mungkin menjadi seorang pahlawan, O, Raja manusia. Putra dari seorang perempuan yang terberkahi itu Mungkin bahkan akan memerintah wilayahnya. [SN 3.16/Mallika Sutta, Puteri]

Berapakah Tinggi Tubuh Sang Buddha?

Untuk mengetahui ini saya sampaikan dasar hitungnya terlebih dahulu:
  1. Tinggi Tubuh Sang Buddha adalah normal dan hampir tidak berbeda dengan tinggi Bhikkhu/manusia lainnya:

    • Sutta: DN.2/Samaññaphala Sutta [Ajjatasattu, mengenali sang Buddha vs bhikkhu ketika semua dalam posisi duduk bersila], MN 128/Upakkilesa Sutta [Penjaga taman] dan MN 140/Dhatu Vibhangga sutta [Pukkhusati] tidak mengenali beliau.
    • Vinaya Paticiya ke-92 ada tertulis: "Apabila seorang bhikkhu membuat jubah yang sama atau lebih besar dari ukuran jubah sugata, maka ia melanggar peraturan pacittiya dan kain tersebut terlebih harus dipotong. Ukuran jubah sugata adalah sebagai berikut: panjang 9 sugata dan lebar 6 sugata."

    Jadi disini dapat diketahui hanya SEDIKIT PERBEDAAN TINGGI BADAN sang Buddha dengan para manusia/Bhikkhu lainnya.

  2. Ukuran yg disampaikan di DN.14; DN.30; MN.91. kata pali di atas utk hatta [no.5 dan no.6] diterjemahkan sebagai tangan bukan lengan. Kemudian di no.19 menyebutkan, "rentang kedua lengannya sama dengan tinggi badannya, dan tinggi badannya sama dengan rentang kedua lengannya".
Perhitungannya:
"rentang kedua lengannya sama dengan tinggi badannya, dan tinggi badannya sama dengan rentang kedua lengannya". Lengan dibagian siku di tekuk dan ujung jari bertemu di depan dada, maka panjangnya = 4 x SIKU-UJUNG JARI (Hasta). Dimana, SIKU-UJUNG JARI = 2 JENGKAL tangan sendiri [vadatthi]. Jadi TOTAL PANJANG = 8 JENGKAL.

Semua manusia panjangnya = 8 jengkalnya sendiri.

Kemudian,
DN.2/Samaññaphala Sutta menyatakan Ajjatasattu, tidak mengenali sang Buddha vs bhikkhu yang dalam posisi duduk bersila]

PUSER - UBUN KEPALA = 3 JENGKAL;
PUSER - Tapak KAKI = 5 Jengkal.
Jika duduk bersila, LANTAI - UBUN KEPALA = 4 Jengkal

[Anda bisa buktikan sendiri kebenaran perhitungan ini]

Kesimpulannya 8 Jengkal sang Buddha adalah SEDIKIT SEKALI PERBEDAAN TINGGINYA dengan rata-rata Manusia.

1 Jengkal [vidatthi] = 8.5 inch s/d 9 inch.
1 Inchi = 2.54 CM
1 Jengkal = 21.59 CM - 22.86 CM
8 Jengkal = 172.72 CM - 182.88 CM. [6 kaki = 182.88 CM]

RAPB buku ke-1, hal 400-401, dikatakan tinggi Buddha Gautama adalah 16 hatta s/d 18 hatta [Di 32 ciri-ciri Buddha no.5 dan no.6 diterjemahkan sebagai tangan]

lebar tangan = 4 inch.
16 Hatta = 162.54 CM dan 18 Hatta = 182.88 CM

Berapa batasan MAKSIMUMNYA PERKIRAAN tinggi dari SANG BUDDHA?

Jubah:
"panjang 9 sugata dan lebar 6 sugata" dan ini menggunakan jengkal dari Sugata.

9 jengkal = 194.31 CM - 205.74 CM

Karena tinggi Beliau TIDAK BANYAK LEBIHNYA dari rata-rata orang, maka 8 JENGKAL beliau seharusnya TIDAK LEBIH dari 194.31 CM.

Untuk itu, range perkiraan tinggi beliau adalah 172.72 CM s.d 194.31 CM [↑]

[25a] AQ Al-An'am 88, "…seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan."

Az-Zumar 65, "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalamu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi."

Hadis:
3 Hadis dari Abu Dhar:
Rasul allah berkata, “Seseorang datang menghadap padaku dari Tuhanku dan memberi aku kabar baik bahwa jika seorang pengikutku mati tidak menyembah yang lain selain Allah, dia akan masuk surga.” Aku bertanya, “Walaupun dia telah berzinah dan mencuri?” Dia menjawab, “Bahkan jika dia telah berzina dan mencuri.” [Bukhari 2.23.329]

‘….Dia berkata, “Jibril datang dan berkata kepadaku, ‘Barangsiapa di antara pengikut anda meninggal, tidak menyembah apapun selain Allah, dia akan masuk surga.” “Saya berkata,” Bahkan jika ia melakukan hal-hal seperti ini dan itu (yaitu bahkan jika ia mencuri atau melakukan hubungan seksual di luar nikah) “Dia berkata, “Ya.” [Sahih Bukhari 3.41.573]

Aku mendengar Abu Dzar menceritakan hal itu dari Rasul (semoga damai besertanya) bahwa ia mengamati: Jibril datang kepadaku dan memberiku kabar: Sesungguhnya ia yang meninggal di antara umatnya tanpa menyekutukan Allah dengan sesuatu,maka ia akan masuk surga. aku (narator) berkata: Bahkan jika dia melakukan perzinahan dan pencurian. Dia (Nabi Suci) berkata: (Ya), bahkan jika dia melakukan perzinahan dan pencurian. [Sahih Muslim 1.1.171]

'Utbah, yang berkata: Rasulullah SAWW pernah bersabda:
"Tak seorang hamba pun datang — pada Hari Kiamat — dengan ucapan 'La ilaha illa Allah' semata-mata demi keridhaan Allah kecuali diharamkan atasnya api neraka." [Bukhari]

"[..]Bukankah ia bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa aku adalah utusan Allah?" Mereka menjawab: "Ya, memang ia mengucapkan hal itu, namun tidak disertai dengan ketulusan hatinya." Maka Rasulullah SAWW bersabda: "Tiada seorang pun bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan' bahwa aku adalah Rasul Allah akan dimasukkan ke dalam api neraka atau menjadi umpannya." Anas berkata: "Hadis ini betul-betul membuatku kagum sedemikian sehingga kusuruh anakku menulisnya." [Muslim]

Riwayat 'Utsman bin 'Affan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: "Barangsiapa meninggal dunia dalam keadaan mengetahui bahwasanya tiada Tuhan selain Allah, maka ia akan masuk surga." [Bukhari dan Muslim]

'lmran bin Hushain yang berkata: Rasulullah SAWW pemah bersabda: Barangsiapa mengetahui (menyadari) bahwa Allah adalah Tuhannya, dan bahwa aku adalah Nabi-Nya dengan disertai ketulusan hatinya, maka Allah akan mengharamkan tubuhnya dari jilatan api neraka.[Ath-Thabrani dalam kitab Al-Kabir]

Detail uji kebenaran dan kliam-nya silakan lihat: [DI SINI, DI SINI, DI SINI, DI SINI, DI SINI, DI SINI, DI SINI, DI SINI, DI SINI, DI SINI dan DI SINI] [↑]

[25b] Antara lain di Alkitab Yohanes 1 Yoh 1:7-9 - "Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa. Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.";

Yesaya 1:18, "Marilah, baiklah kita berperkara! —firman TUHAN—Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba."

Bukan karena perbuatan baik mereka namun karena ketaatan pada allah mereka, Ulangan 9:4-5, “Janganlah engkau berkata dalam hatimu, apabila TUHAN, Allahmu, telah mengusir mereka dari hadapanmu: Karena jasa-jasakulah TUHAN memebawa aku masuk menduduki negeri ini; padahal karena kefasikan bangsa-bangsa itulah TUHAN menghalau mereka dari dari hadapanmu. Bukan karena jasa-jasamu atau karena kebenaran hatimuengkau masuk menduduki negeri mereka tetapi kefasikan bangsa-bangsa itulah, TUHAN, Allahmu menghalau mereka dari hadapanmu dan supaya TUHAN menepati janji yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni Abraham, Ishak dan Yakub.”.

Detail uji kebenaran dan kliam-nya silakan lihat: [DI SINI, DI SINI, DI SINI, DI SINI, DI SINI, DI SINI dan DI SINI] [↑]

[26] Dalam Visudhi Magga bab.3 [Karya Buddhagosha abad ke-5], tercantum 40 objek Meditasi [Kammathana, atau "tempat/objek kerja"], yaitu:
  • Kasina/wujud objek: 10 macam [bumi/tanah/landasan, cairan, udara/angin, panas + akasa [tapi maksudnya ruang tertutup] + warna [biru/hijau, kuning, merah, putih] + cahaya terang]

  • Asubha [jelek/buruk/di tolak]: 10 macam [mayat: membengkak, bernanah, berwarna biru, tercabik, digerogoti, hancur berantakan, hancur membusuk, berdarah, dikerubungi belatung dan menjadi tengkorak]

  • Anusati:
    3 Tiratna, tiga perlindungan: Buddha, Dhamma, Sangha,
    3 Kebajikan: Moralitas/sila, kemurahan/caga, Deva
    4 Ingatan: Kaya/tubuh; ānāpā­na [bernafas]; kematian [Upajjatthana]; Ketentraman/kedamaian [nibanna]

  • 10 terakhir:
    4 brahmavihara [cinta kasih/kasih sayang (Metta); welas asih/belas kasihan (Karuna); simpati/empati/sukacita/bergembira (Mudita); tenang-seimbang [Upekkha],
    4 arupajhana [ruang tak berbatas; kesadaran tak berbatas; tidak ada apa-apapun; bukan persepsi bukan tanpa persepsi]
    2 lainnya:
    persepsi puas/cukup/[dalam konotasi negatif: spt jijik] akan makanan/aharepatikulasanna dan
    Analisis terhadap catudatu
Dalam MN 61 dan 62, terdapat nasehat Sang Buddha pada Rahula. Di MN.62, saat itu, Rahula baru berusia delapan belas tahun, Sang Buddha memberikan tujuh macam meditasi, sebagai berikut:
  1. Kembangkanlah meditasi cinta kasih/kasih sayang (metta), maka itikad jahat akan lenyap. [Usaha dalam tingkat permulaan untuk memegang obyek]
  2. Kembangkanlah meditasi welas asih/belas kasihan (karuna), maka kekejaman akan lenyap.
  3. Kembangkanlah meditasi simpati/empati (mudita), maka antipati (ketidak senangan terhadap keberhasilan orang lain) akan lenyap.
  4. Kembangkanlah meditasi tenang-seimbang (upekkha), maka kebencian akan lenyap.

    empat metode di atas ini kerap dinamakan Brahma-Vihära-bhävanä, yang biasanya digunakan untuk melemahkan kecenderungan - kecenderungan untuk melakukan perbuatan yang tidak baik.
  5. Kembangkanlah meditasi dengan objek yang "menjijikan"/tidak menarik (asubha), maka nafsu keinginan akan lenyap.
  6. Kembangkanlah meditasi pada objek ketidakkekalan (anicca sañña), Rahula; dengan demikian maka kesombongan diri atau ke-Akuan (asmi - mana) akan lenyap.
  7. Kembangkanlah meditasi pada bernafas (ānāpā­nasati), Rahula, perhatian pada keluar masuknya nafas ini bila dilatih dengan sungguh-sungguh dan teratur banyak memberi manfaat. [↑]

[27] Kata "Parimukham" arti literal/harfiahnya adalah "sekitar mulut/pintu masuk" sementara arti idiomatiknya adalah "di depan" [U Thittila->Vbh:T 319, 328; Maurice Walshe->D:W 1995:335; Soma Thera->1998:42 f digital ed.; d Ñānamoli & Bodhi ->M:ÑB 2001:527]. Ajahn Sujato menyatakan bahwa Sansekerta dari "pratimukha" memiliki banyak arti diantaranya yang sesuai dengan konteks meditasi adalah "Refleksi" dan "kehadiran." yang erat dengan arti dari kata pali "upatthana" yang juga berarti "kehadiran". kesinoniman ini, dapat di artikan "membangun perhatian".

Karena perbedaan pandangan di pengartian inilah yang kemudian melahirkan 2 metode teknik letak konsentrasi pada nafas di dalam meditasi:
  • Mereka yang mengikuti tradisi Abhidhamma dan kitab komentar, mengajarkan bahwa perhatian harus difokuskan pada lubang hidung atau bibir atas, di mana pun kontak nafas yang dirasakan paling jelas. Tradisi ini terutama didasarkan pada Patisambhidha Magga [Pm 1:171,19] dan vibhanga [Vbh 537/252], yang mengintepretasikan parimukkha sebagai, "di ujung hidung atau di tengah bibir atas".

    Pendapat ini mendapat dukungan dalam Samyuta Agama untuk MahaRahulavada Sutta, yaitu Ekottara Āgama [EĀ 17.1 = T2.582a15: frase ="繫意鼻頭" = "menjaga pikiran di ujung hidung"], yang secara eksplisit berbicara tentang "menjaga pikiran di ujung hidung".

    Namun, dalam deskripsi standar meditasi duduk ditemukan di lain Ekottara Āgama [Eg in EĀ 37.3 = T2.711c19: frase "念在前" = "parimukham satim upatthapetvā" ="menegakkan perhatian di depannya"] tidak berbicara tentang "ujung hidung", tetapi konsisten berbicara tentang "menempatkan perhatian di depan". Dimana frase, "念在前" sebagai standard deskripsi untuk duduk bermeditasi muncul 30x di Ekottara Āgama. Kontras dengan "繫意鼻頭 = "menjaga pikiran di ujung hidung" tidak tampak muncul di Ekottara Āgama atau di 3 sutra samyuta agama [Analayo, 2005.ad M 1:425].

    Konteks kata "parimukha", di MahaRahulavada Sutta, adalah ketika Rahula duduk UNTUK MERENUNGKAN 5 kelompok materi, artinya sangat jelas bahwa ini hanya membangun perenungan dan TIDAK BERHUBUNGAN dengan UJUNG HIDUNG. Disamping itu Versi Ekottara Agama [EĀ 17.1 = T2.582a12: 專精一心], juga tidak menyebutkan ujung hidung, melainkan berbicara hanya membangun penyatuan pikiran. [Analayo 2005 di M 1:425 n37].

    Analayo menyimpulkan, instruksi untuk menjaga pikiran pada ujung hidung di paralel Cina samyuta agama untuk MahaRahulavada Sutta mungkin bukan terjemahan dari apa yang di bahasa sanskrit asli yang berhubungan dengan "parimukha", namun bagian dari sejarah paling awal dari Pali Abhidhamma, yang Vibhaga [2005 di M 1:425]

  • Pendapat dari 3 Murid Ajahn Chah:

    Ajahn Brahmavamso:
    seorang bhikkhu dari tradisi hutan,mengajarkan bahwa orang seharusnya tidak melokasikan nafas di manapun pada tubuh, tetapi hanya simple memperhatikan apakah seseorang dapat menyadari napas atau tidak (1999:19).

    Instruksi ini juga ditemukan dalam versi Cina MahaRahulavada Sutta, yang menginstruksikan meditator untuk waspada jika nafas hadir atau jika tidak hadir:
    "pada saat ada nafas, dia sadar itu ada, pada saat ada napas tidak ada, ia sadar itu tidak ada" = "有時有息亦復知有, 又時無息亦復知" [EA = 17,1 T2.582a19]

    Ajahn Nyanadhammo:
    "Sering orang mengatakan ketika bermeditasi agar memperhatikan nafas di ujung hidung, namun sebenarnya banyak orang menemukan ini adalah pengalih perhatian. Jika Anda melihat sutta, Sang Buddha tidak pernah menyuruh kita untuk memperhatikan nafas dalam
    fisik tempat. Dia mengatakan untuk mengetahui bahwa Anda menarik nafas dan tahu bahwa Anda mengeluarkan nafas. Yang penting adalah mencatat apakah: Aku menghirup nafas saat ini, atau aku mengeluarkan nafas saat ini?" ("The Fakultas spiritual", 1999:3).

    Soma bhikkhu, pengajar pendekatan "tradisional":
    parimukha sebagai kontak udara entah itu di hidung atau bibir
Perbedaan pengertian teknik itu TIDAK PENTING! Karena utamanya adalah NAFAS! MEMPERHATIKAN TUBUH NAFAS ITU SENDIRI [Piya: MN10/Satipatthana sutta, MN62/Maharavhulovada sutta, MN118/ānāpā­nasati Sutta dan MN119/Kayagatasati Sutta][↑] [↑]


[28] Di jaman sang Buddha terdapat seorang petapa pengembara yang di panggil Vaccagotta, Gotta adalah klan, sedangkan Vacca adalah nama klannya, jadi ia adalah seorang pengembara dari klan Vacca. Kehadirannya ada di tiga sutta, yaitu di
  1. MN.71/TevijjaVaccagotta, ketika itu Sang Buddha ada di Vesālī di Hutan Besar di Aula Beratap Lancip;
  2. MN.72/AggiVaccgotta-sutta, ketika itu sang Buddha ada di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika dan
  3. MN.73/MahaVaccagotta-sutta ketika itu sang Buddha ada di Rājagaha di Hutan Bambu, Taman Suaka Tupai.
Sebelum dan setelah pembabaran MN.71, Vaccagotta masih menjadi penganut aliran lain. Setelah pembabaran MN72, ia menjadi pengikut awam. Setelah pembabaran MN 73, Ia memohon untuk ditahbiskan sebagai bhikkhu. Di saat itu, sebenarnya telah ada aturan adanya masa percobaan 4 bulan sebelum seseorang dapat ditahbiskan penuh sebagai bhikkhu. Aturan ini muncul karena disebelum-sebelumnya banyak yang memohon menjadi Bhikkhu, setelah ditahbiskan keluar dan dikeluarkan dengan berbagai macam alasan.

Namun, Vaccagotta, tidak perlu melalui masa itu karena Sang Buddha mengenali perbedaan-perbedaan individual sehingga saat itu pula Vacchagotta di tahbiskan. Benarlah, 2 minggu kemudian ia mencapai semua pencapaian NON arahat [Anagami]. Ia melaporkan pencapaiannya tersebut pada Sang Buddha, dan kemudian Ia diberikan pembekalan lanjutan berupa beberapa arahan diantaranya mengembangkan Samatha dan Vipassana. Tak berapa lama setelahnya Vaccagotta-pun mencapai tingkat arahat.

Ketiga sutta di atas menunjukan tahapan metamoforsis Vaccagotta, yaitu dari seorang penganut aliran lain [puttujhana], menjadi savaka (murid) yaitu umat awam dan bhikkhu (juga masih puttujhana) hingga mencapai arahat.

Berikut ringkasan dari masing-masing Sutta.

Sutta MN.71,
Sutta ini kerap dijadikan landasan argument banyak kalangan bahwa:
  1. Umat awam tidaklah mungkin menjadi arahat
  2. Buddha itu tidaklah benar-benar Mahatahu dan Maha Melihat.
Di Sutta ini, Vaccagotta masih merupakan penganut aliran lain, maka dapat kita ketahui bahwa pertanyaan2 Vaccagotta di atas, merupakan pertanyaan seorang Putujhana [umat awam] yang pemahaman dan pengetahuannya berasal dari ajaran yg dianut sebelumnya.

Pemikiran point. ke-1,
merujuk pada pertanyaan pengembara Vacchagotta kepada Sang Bhagavā: “Guru Gotama, adakah perumah tangga yang, tanpa meninggalkan belenggu kerumahtanggaan, pada saat hancurnya jasmani telah mengakhiri penderitaan?”
    Sang Buddha: "Vaccha, tidak ada perumah tangga yang, tanpa meninggalkan belenggu kerumahtanggaan [gihisamyojana], pada saat saat hancurnya jasmani telah mengakhiri penderitaan [dukkhassantakaro]."
Jadi, dengan MENGABAIKAN kalimat, "tanpa meninggalkan belenggu kerumahtanggaan", maka sutta ini kemudian banyak dijadikan maskot landasan berpendapat bahwa selagi seseorang menjadi perumah tangga maka tidaklah mungkin mencapai Arahat.

Padahal, contoh mereka yg ketika itu BELUM MENJADI BHIKKHU, banyak yang telah menjadi ARAHAT, diantaranya adalah:
  1. Yasa yang menjadi Arahat pertama dari kalangan umat awam sebelum menjadi Bhikkhu, yang kemudian di ikuti oleh Ayah dan 54 temannya yang setelah mencapai sotapanna menjadi Bhikkhu dan mencapai Arahat;
  2. Menteri santati [Dhammpada Bab.10, syair 142];
  3. Bahiya daruciriya [Dhammpada Bab.8], syair 101];
  4. Suddhodana [menjadi sotapanna dan Sakadagami di Dhammapada Bab.1 syair 13,14; Menjadi Anagami di Dhammapadda bab.13 syair 168,169; Menjadi Arahat di Dhammapada Bab.26 syair 391]
  5. Beberapa gelombang tim pengamat ketika Suddhodana mengirimkan mereka memantau Sidhartha Gautama dan setelah menjadi Buddha
Meraka yang mencapai arahat dari wakil kalangan perumahtangga, berada pada kondisi tidak melekati dan malah muak dengan kenikmatan indriya, contoh kondisi psikologis salah satunya misalnya Yasa sampai mengucapkan kalimat, “Upaddutam vata bho! upassattham vata bho!,” ["Saya dalam Bahaya, saya dalam tekanan besar"]

Ini adalah bentuk samvega! Urgensi mendesak terhadap keselamatan pembebasan!

Perumpamaan Samvega itu ibarat orang yang kebelet ke WC, apapun selain bergegas untuk buang hajat, tidak lagi menarik perhatiannya. Fokus pikirannya cuma pada 1 objek aja yaitu nyari WC, masa bodo apakah ketika menemukan WC apakah berisi air/tidak, bau, jelek dan kotor..TIDAKLAH PENTING LAGI! Karena Yang terpenting bagi mereka saat itu adalah buang hajat selekas mungkin!

Nah, kurang lebih demikian maksud dari SAMVEGA

Kondisi itulah yang melanda Yasa, Menteri Santati, Bahiya Daruciriya, Suddhodana, dll ditambah adanya seorang Buddha, maka mereka yang ketika hanya tinggal statusnya saja menjadi perumah tangga namun kondisi mentalnya justru telah meninggalkan belenggu kerumahtanggaan dan akhirnya menjadi ARAHAT!
    note:
    Samvega bisa karena adanya kematian [AN 5.77], di masa depan, kondisi/keadaan ketika melatih dhamma belum tentu lebih baik nantinya [AN 5.78], Belum tentu ada Guru Dhamma yang sempurna di kemudian hari [AN 5.79], atau karena Sangha menurun kualitasnya [AN 5.80].
Pemikiran point. ke-2,
merujuk pada pertanyaan pengembara Vacchagotta kepada Sang Bhagavā: "Petapa Gotama diklaim seorang yang maha-tahu [sabbañu] dan maha-melihat [sabbadassaavi], memiliki pengetahuan dan penglihatan lengkap [aparisesa ñanadassana patijanati] sebagai berikut: 'Apakah Aku berjalan atau berdiri atau tidur atau terjaga, pengetahuan dan penglihatan [ñanadassana] terus-menerus [satata] dan tanpa terputus [samitam] ada padaKu.'? Yang Mulia, apakah mereka yang mengatakan demikian telah mengatakan apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā, dan tidak salah memahamiNya dengan apa yang berlawanan dengan fakta? Apakah mereka menjelaskan sesuai dengan Dhamma sedemikian sehingga tidak memberikan landasan bagi celaan yang dapat ditarik dari pernyataan mereka?"
    Note:
    Klaim tersebut sering diucapkan oleh Nigatha nataputta/Mahavira [pendiri aliran jainsme] mengenai dirinya sendiri, di antaranya tercantum pada MN.14/Cūḷadukkhakkhandha Sutta dan MN.79/Cūḷasakuludāyi Sutta. Dengan kalimat, "Teman, Nigaṇṭha Nātaputta maha tahu dan maha melihat dan mengaku memiliki pengetahuan dan penglihatan sempurna sebagai berikut: 'Apakah aku sedang berjalan atau berdiri atau tertidur atau terjaga, [93] pengetahuan dan penglihatan yang terus-menerus dan tanpa terputus hadir padaku.'"
Sang Buddha: "Vaccha, mereka yang mengatakan demikian tidak mengatakan apa yang dikatakan olehKu, melainkan salah memahamiKu dengan apa yang tidak benar dan berlawanan dengan fakta."

Sutta ini merekam pernyataan sang Buddha bahwa Beliau sendiri BUKAN jenis yang seperti itu!

Lantas jenis Maha tahu dan Maha Melihat seperti apakah sang Buddha itu?
  • Beliau jenis Maha-tahu dan maha melihat sejauh yg Beliau kehendaki [atau atas apa yg ditanyakan pada beliau] [MN.71].
  • Beliau tidak dapat mengetahui segala sesuatu pada saat bersamaan dan harus mengarahkannya pada apapun yang Beliau ingin ketahui.[MN.90/Kaṇṇakatthala Sutta].
Beliau memiliki 10 Kekuatan [Dasabalā], yaitu:

Tiga Pengetahuan Sejati/Tevijja yaitu sejauh Beliau menghendaki:
  1. Beliau, mengingat banyak kehidupan lampau, yaitu: 1 kelahiran, 2, 3, 4, 5, 10, 20, 30, 40, 50, 100, 1000, 10.000, berkalpa-kalpa: pengerutan-dunia, pengembangan-dunia, pengerutan dan pengembangan dunia, ‘bernama ini, dari suku ini, berpenampilan seperti ini, dengan makanan itu, mengalami rasa senang dan sakit, seperti itulah masa hidupnya; lenyap dari sana, terlahir lagi di tempat lain di sana bernama demikian, dari suku demikian, berpenampilan demikian, demikian makanannya, seperti itu pengalaman rasa senang dan sakitnya, seperti itu masa hidupnya; lenyap dari sana, terlahir lagi di sini.’

    demikian beliau mengingat kembali kehidupan lampaunya berikut ciri dan detilnya

  2. Beliau, dengan mata-dewa, termurnikan melampaui manusia, melihat para mahkluk lenyap dan terlahir lagi, rendah/tinggi, rupawan/tidak, di keadaan bahagia/menderita, memahami bagaimana para makhluk menjalani kehidupan sesuai kamma mereka, demikian: ‘mahluk dengan perilaku buruk lewat: tubuh, ucapan, dan pikiran pada para samana dan orang suci, berpandangan salah, melakukan tindakan-tindakan berdasarkan pandangan salah, bersamaan hancurnya tubuh setelah kematian terlahir di keadaan sengsara/merugi menderita menuju kehancuran bahkan neraka. Namun makhluk dengan perilaku baik lewat: tubuh, ucapan, dan pikiran pada para samana dan orang suci, berpandangan benar, melakukan tindakan berdasarkan pandangan benar, bersamaan hancurnya tubuh setelah kematian terlahir di keadaan bahagia di alam surga.’ Demikian dengan mata dewa, termurnikan melampaui manusia, melihat para makhluk lenyap dan lahir kembali, rendah/tinggi, rupawan/tidak, di keadaan bahagia/menderita, dan memahami bagaimana para makhluk menjalani kehidupan sesuai kamma mereka

  3. Lewat hancurnya noda-noda, di kehidupan ini juga masuk dan berdiam di pembebasan pikiran [Cetovimutti] yang tanpa noda, di pembebasan kebijaksanaan [pannavimutti], merealisasikannya untuk diriku sendiri lewat pengetahuan langsung
7 (Tujuh) kekuatan lainnya adalah memahami sebagaimana adanya:
  1. Yang mungkin sebagai yang mungkin dan yang tidak mungkin sebagai yang tidak mungkin.
  2. Akibat-akibat dari perbuatan-perbuatan yang dilakukam, di masa lalu, di masa depan, dan di masa sekarang, dengan kemungkinan dan dengan penyebabnya.
  3. Jalan yang mengarah menuju semua alam tujuan kelahiran kembali.
  4. Dunia dengan banyak unsur yang berbeda-beda.
  5. Bagaimana makhluk-makhluk memiliki kecenderungan yang berbeda-beda.
  6. Watak dari indria makhluk-makhluk lain, orang-orang lain.
  7. Kekotoran, pemurnian, dan kemunculan sehubungan dengan jhāna, kebebasan, konsentrasim dan pencapaian. [MN.12/Mahāsīhanāda Sutta]
***

Sutta MN.72,
Sutta ini berisi penegasan Sang Buddha bahwa ajarannya TIDAK DIDASARKAN pada pandangan spekulatif (Setelah parinibanna, seorang yang tercerahkan, tidak mungkin muncul lagi di masa depan):
  1. Dunia itu apakah kekal/tidak/bukan keduanya/bukan tidak keduanya
  2. Dunia itu apakah terbatas/tidak/bukan keduanya/bukan tidak keduanya
  3. Jiwa dan badan itu apakah sesuatu yg sama/berbeda/bukan keduanya/bukan tidak keduanya
  4. sang Tathagata apakah setelah parinibana ada/tidak/bukan keduanya/bukan tidak keduanya. [juga di SN.33/Vaccagotta Samyuta; SN.44/Ananda Sutta]
NAMUN PADA:

‘Demikianlah bentuk materi, demikianlah asal-mulanya, demikianlah lenyapnya; demikianlah perasaan, demikianlah asal-mulanya, demikianlah lenyapnya; demikianlah persepsi, demikianlah asal-mulanya, demikianlah lenyapnya; demikianlah bentukan-bentukan, demikianlah asal-mulanya, demikianlah lenyapnya; demikianlah kesadaran, demikianlah asal-mulanya, demikianlah lenyapnya. Oleh karena itu, Aku katakan, dengan hancurnya, meluruhnya, berhentinya, ditinggalkannya, dan dilepaskannya segala anggapan, segala pemikiran, segala pembentukan-aku, pembentukan-milikku, dan kecenderungan tersembunyi pada keangkuhan, Sang Tathāgata terbebaskan melalui ketidak-melekatan.”

[Jika ini ada, maka itu terjadi; dengan munculnya ini, maka muncul pula itu. Jika ini tidak ada, maka itu tidak terjadi; dengan lenyapnya ini, maka lenyap pula itu’]

Sehingga kata muncul kembali/tidak muncul kembali/bukan keduannya dan bukan tidak keduanya adalah TIDAK RELEVAN.

Lanjutan pertanyaan Vaccagotta:
Ketika seorang bhikkhu terbebaskan demikian, Guru Gotama, di manakah ia muncul kembali [setelah kematian]?”
    Sang Buddha: “Istilah ‘muncul kembali’ tidak berlaku, Vaccha.”
Vacchagotta: “Jadi apakah ia tidak muncul kembali, Guru Gotama?”
    Sang Buddha: “Istilah ‘tidak muncul kembali’ tidak berlaku, Vaccha.”
Vacchagotta: “Jadi apakah ia muncul kembali juga tidak muncul kembali, Guru Gotama?”
    Sang Buddha: “Istilah ‘muncul kembali dan juga tidak muncul kembali’ tidak berlaku, Vaccha.”
Vacchagotta: “Jadi apakah ia bukan muncul kembali juga bukan tidak muncul kembali, Guru Gotama?”
    Sang Buddha: “Istilah ‘bukan muncul kembali dan juga bukan tidak muncul kembali’ tidak berlaku, Vaccha.”
Vacchagotta: “Ketika Guru Gotama ditanya empat pertanyaan ini, Beliau menjawab:

Istilah “muncul kembali” tidak berlaku, Vaccha;
istilah “tidak muncul kembali” tidak berlaku, Vaccha;
istilah ‘muncul kembali dan juga tidak muncul kembali’ tidak berlaku, Vaccha;
Istilah ‘bukan muncul kembali dan juga bukan tidak muncul kembali’ tidak berlaku, Vaccha.’

Di sini aku menjadi bingung, Guru Gotama, di sini aku menjadi bimbang, dan keyakinan yang telah kuperoleh melalui perbincangan sebelumnya dengan Guru Gotama sekarang telah lenyap.”
    Sang Buddha: “Ini memang cukup membuatmu bingung, Vaccha, cukup membuatmu bimbang. Karena Dhamma ini, Vaccha, adalah dalam, sulit dilihat dan sulit dipahami, damai dan mulia, tidak dapat dicapai hanya dengan logika, halus, untuk dialami oleh para bijaksana. Adalah sulit bagimu untuk memahaminya JIKA ENGKAU MENGANUT PANDANGAN LAIN, MENERIMA AJARAN LAIN, MENYETUJUI AJARAN LAIN, MENEKUNI LATIHAN YANG BERBEDA, MENGIKUTI GURU YANG BERBEDA.

    Aku akan mengajukan pertanyaan kepadamu sebagai balasan, Vacccha. Jawablah sesuai dengan apa yang menurutmu benar.

    “Bagaimana menurutmu, Vaccha? Misalkan terdapat api yang membakar di depanmu. Apakah engkau mengetahui: ‘Api ini membakar di depanku’?”
Vacchagotta: “Aku mengetahuinya, Guru Gotama.”
    Sang Buddha: “Jika seseorang bertanya kepadamu, Vaccha: ‘Bergantung pada apakah api yang membakar di depanmu ini?’ – jika ditanya demikian, bagaimanakah engkau menjawab?”
Vacchagotta: “Jika ditanya demikian, Guru Gotama, aku akan menjawab: ‘Api ini membakar dengan bergantung pada bahan bakar rumput dan kayu.’”
    Sang Buddha: “Jika api di depanmu itu padam, apakah engkau mengetahui: ‘Api di depanku ini telah padam’?”
Vacchagotta: “Aku mengetahuinya, Guru Gotama.”
    Sang Buddha: “Jika seseorang bertanya kepadamu, Vaccha: ‘Ketika api di depanmu itu padam, ke arah manakah perginya: ke timur, ke barat, ke utara, atau ke selaatan?’ - jika ditanya demikian, bagaimanakah engkau menjawab?”
Vacchagotta: “ITU TIDAK BERLAKU, Guru Gotama. Api itu membakar dengan bergantung pada bahan bakar rumput dan kayu. Ketika bahan bakar itu habis, jika tidak mendapatkan tambahan bahan bakar, karena tanpa bahan bakar, maka itu dikatakan sebagai padam.”
    Sang Buddha: “Demikian pula, Vaccha, Sang Tathāgata telah MENINGGALKAN BENTUK MATERI yang dengannya seseorang yang menggambarkan Sang Tathāgata dapat menggambarkannya; Beliau telah memotongnya pada akarnya, membuatnya menjadi seperti tunggul pohon palem, menyingkirkannya SEHINGGA TIDAK MUNGKIN MUNCUL LAGI DI MASA DEPAN.

    Sang Tathāgata terbebaskan dari penganggapan dalam hal bentuk materi, Vaccha, Beliau dalam, tidak terbatas, sulit diukur bagaikan samudera.

    ‘Beliau muncul kembali’ tidak berlaku; ‘
    ‘Beliau tidak muncul kembali’ tidak berlaku;
    ‘Beliau muncul kembali juga tidak muncul kembali’ tidak berlaku;
    ‘Beliau bukan muncul kembali juga bukan tidak muncul kembali’ tidak berlaku.

    Sang Tathāgata telah MENINGGALKAN PERASAAN yang dengannya seseorang yang menggambarkan Sang Tathāgata dapat menggambarkannya; Beliau telah memotongnya pada akarnya, membuatnya menjadi seperti tunggul pohon palem, menyingkirkannya SEHINGGA TIDAK MUNGKIN MUNCUL LAGI DI MASA DEPAN …

    Sang Tathāgata telah MENINGGALKAN PERSEPSI yang dengannya seseorang yang menggambarkan Sang Tathāgata dapat menggambarkannya; Beliau telah memotongnya pada akarnya, membuatnya menjadi seperti tunggul pohon palem, menyingkirkannya SEHINGGA TIDAK MUNGKIN MUNCUL LAGI DI MASA DEPAN …

    Sang Tathāgata telah MENINGGALKAN BENTUKAN-BENTUKAN yang dengannya seseorang yang menggambarkan Sang Tathāgata dapat menggambarkannya; Beliau telah memotongnya pada akarnya, membuatnya menjadi seperti tunggul pohon palem, menyingkirkannya SEHINGGA TIDAK MUNGKIN MUNCUL LAGI DI MASA DEPAN …

    Sang Tathāgata telah MENINGGALKAN KESADARAN yang dengannya seseorang yang menggambarkan Sang Tathāgata dapat menggambarkannya; Beliau telah memotongnya pada akarnya, membuatnya menjadi seperti tunggul pohon palem, menyingkirkannya SEHINGGA TIDAK MUNGKIN MUNCUL LAGI DI MASA DEPAN.

    Sang Tathāgata terbebaskan dari penganggapan dalam hal kesadaran, Vaccha, Beliau dalam, tidak terbatas, sulit diukur bagaikan samudera...
note:
Sutta ini telah membantah telak SELURUH SUTRA-SUTRA Mahayana buatan ABAD SETELAH MASEHI yang mengatakan Buddha2 dan para Arahat yang TELAH PARINIBANNA muncul lagi dimasa depan

***

Sutta MN.73,
Sang Buddha menjelaskan pada pengembara Vacchagotta diantaranya:
  1. Jawaban atas pertanyaan: "ringkasan tentang yang bermanfaat dan yang tidak bermanfaat" adalah keserakahan adalah tidak bermanfaat, ketidak-serakahan adalah bermanfaat; kebencian adalah tidak bermanfaat, ketidak-bencian adalah bermanfaat. kebodohan adalah tidak bermanfaat, ketidak-bodohan adalah bermanfaat.

  2. 10 pasang sila yg bermanfaat vs tidak bermanfaat [Tidak bermanfaat: 1.Membunuh, 2.mengambil yg bukan haki, 3.prilaku Indria,4.Ucapan salah, 5. Ucapan jahat. 6. Ucapan kasar 7.bergosip 8.ketamakan 9.niat buruk. 10 pandangan Salah. Lawannya yaitu bermanfaat adalah sebaliknya]

  3. Seorang bhikkhu telah meninggalkan keinginan, memotongnya pada akarnya, membuatnya menjadi seperti tunggul pohon palem, menyingkirkannya sehingga tidak dapat muncul lagi di masa depan, maka bhikkhu itu adalah arahat.

  4. Vaccagotta: "Apakah ada Bhikkhu/Bhikkhui yg mencapai arahat selain Guru Gotama?"

    • Sang Buddha: "Ada, Bukan hanya seratus, Vaccha, atau dua atau tiga atau empat atau lima ratus, melainkan jauh lebih banyak dari itu"
Vaccagotta, yang saat itu masih di pengertiannya sendiri berdasarkan pengetahuan yg dipunyai bhw umat awam laki/perempuan tidak bisa mencapai kesucian Arahat, Maka, Ia hanya bertanya:
  1. "Apakah ada Umat awam laki/perempuan yang telah mencapai anagami saja jika ia hiduo selibat?"

    • Sang Buddha: "Ada, Bukan hanya seratus, Vaccha, atau dua atau tiga atau empat atau lima ratus, melainkan jauh lebih banyak dari itu"

  2. Vaccagotta: "Apakah ada umat awam laki/perempuan yg tidak selibat, menikmati kenikmatan indria, yang menjalankan instruksi Beliau, menaati nasihat Beliau, telah melampaui keragu-raguan, menjadi terbebas dari kebingungan, memperoleh keberanian, dan menjadi tidak bergantung pada yang lain dalam Pengajaran Sang Guru?"

    • Sang Buddha: "Ada, Bukan hanya seratus, Vaccha, atau dua atau tiga atau empat atau lima ratus, melainkan jauh lebih banyak dari itu"

Puas dengan jawaban-jawaban atas pertanyaannya itu, Vaccagotta kemudian memohon menjadi Bhikkhu. Setelah menjadi Bhikkhu, 2 minggu kemudian, Ia mampu mencapai semua pencapaian non arahat! Ia, kemudian melaporkan hasilnya pada Sang Buddha dan memohon arahan lanjutan dari beliau, dan sang Buddhapun memberikan pembekalan lanjutan, yang menyebabkan Vaccagotta akhirnya mencapai arahat dengan 3 pengetahuan sejati dan memiliki kekuatan batin tinggi dan keperkasaan.

Runtutan alur kejadian di atas memperlihatkan dengan gamblangnya bahwa pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Vaccagottha adalah berdasarkan pengetahuannya sendiri yang kental dengan pengaruh pandangan ajaran lamanya.

So,
jika di satu ketika dalam suatu DISKUSI/PERDEBATAN tertentu ada yang melandaskan PENDAPATNYA pada ketiga atau salah satu di atas [MN 71 s/d 73] bahwa UMAT AWAM gak bisa jadi ARAHAT maka LANDASAN yg digunakan adalah TIDAKLAH RELEVAN

Kenapa?

Karena pemahaman itu merupakan pemahaman VACCAGOTTA yang ketika itu masihlah menjadi UMAT LAIN dan ketikapun kemudian menjadi UMAT BARU, Iapun masih dengan membawa pengetahuan yg berasal dari ajarannya yg terdahulu dan Sang BUDDHA pun hanya MERESPON dari apa yg DITANYAKAN. [↑]


[29] MN 152/Indriyabhāvanā Sutta
Bagaimanakah pengembangan indria-indria yang tertinggi dalam Disiplin Para Mulia?


Di sini, Ānanda, ketika seorang bhikkhu melihat/mendengar..[aktifitas dari 6 indriya] terhadap suatu bentuk [yang dikenali 6 Indriya], di sana muncul dalam dirinya apa yang:

1. menyenangkan [manāpaṃ]
2. tidak menyenangkan [amanāpaṃ],
3. menyenangkan dan tidak menyenangkan [manāpāmanāpaṃ]

Ia memahami sebagai berikut:

‘Di sana telah muncul padaku apa yang:

1. menyenangkan [manāpaṃ]
2. tidak menyenangkan [amanāpaṃ],
3. menyenangkan dan tidak menyenangkan [manāpāmanāpaṃ]

Tetapi hal itu adalah terkondisi [saṅkhataṃ], kasar [oḷārikaṃ], muncul bergantungan [paṭiccasamuppannaṃ];

Yang damai [santaṃ], dipujikan [paṇītaṃ], yaitu keseimbangan [upekkha].’

Apa yang:

1. menyenangkan [manāpaṃ]
2. tidak menyenangkan [amanāpaṃ],
3. menyenangkan dan tidak menyenangkan [manāpāmanāpaṃ]

muncul menjadi lenyap [nirujjhati] dengan cepat dan mudah dan keseimbangan [upekkha] ditegakkan..

Ini disebut pengembangan indria-indria yang tertinggi dalam Disiplin Para Mulia sehubungan dengan bentuk-bentuk yang dikenali oleh mata.

“Dan bagaimanakah, Ānanda, seseorang siswa dalam latihan yang lebih tinggi, yang telah memasuki sang jalan [sekha pāṭipada]?

Di sini, Ānanda, ketika seorang bhikkhu melihat/mendengar..[aktifitas dari 6 indriya] terhadap suatu bentuk [yang dikenali 6 Indriya]

di sana muncul dalam dirinya apa yang:

1. menyenangkan [manāpaṃ]
2. tidak menyenangkan [amanāpaṃ],
3. menyenangkan dan tidak menyenangkan [manāpāmanāpaṃ]

ia jenuh [aṭṭīyati], segan [harāyati], dan menghindarkan [jigucchati] dengan apa yang:

1. menyenangkan [manāpaṃ]
2. tidak menyenangkan [amanāpaṃ],
3. menyenangkan dan tidak menyenangkan [manāpāmanāpaṃ]

Itu adalah bagaimana seseorang siswa dalam latihan yang lebih tinggi, yang telah memasuki sang jalan [sekha pāṭipada].

“Dan bagaimanakah, Ānanda, seseorang mulia dengan indria-indria terkembang?

Di sini, Ānanda, ketika seorang bhikkhu melihat/mendengar..[aktifitas dari 6 indriya] suatu bentuk [yang dikenali 6 Indriya]

di sana muncul dalam dirinya apa yang:

1. menyenangkan [manāpaṃ]
2. tidak menyenangkan [amanāpaṃ],
3. menyenangkan dan tidak menyenangkan [manāpāmanāpaṃ]

Jika ia berkehendak:
‘Semoga aku berdiam dengan persepsi ketidakjenuhan [appaṭikūla-saññī] dalam kejenuhan [paṭikūla],’ maka ia berdiam dengan persepsi ketidakjenuhan dalam kejenuhan.

Jika ia berkehendak:
‘Semoga aku berdiam dengan persepsi kejenuhan [paṭikūla-saññī] dalam ketidakjenuhan [appaṭikūla],’ maka ia berdiam dengan persepsi kejenuhan dalam ketidakjenuhan.

Jika ia berkehendak:
‘Semoga aku berdiam dengan persepsi ketidakjenuhan dalam kejenuhan dan ketidakjenuhan [paṭikūle ca appaṭikūle],’ maka ia berdiam dengan persepsi ketidakjenuhan dalam hal itu.

Jika ia berkehendak:
‘Semoga aku berdiam dengan persepsi kejenuhan dalam ketidakjenuhan dan kejenuhan [appaṭikūle ca paṭikūle],’ maka ia berdiam dengan persepsi kejenuhan dalam hal itu.

Jika ia berkehendak:
‘Semoga aku, dengan menghindari [abhinivajjetvā] kejenuhan dan ketidakjenuhan kedua-duanya, berdiam dalam keseimbangan, penuh perhatian dan penuh kewaspadaan,’ maka ia berdiam dalam keseimbangan, penuh perhatian dan penuh kewaspadaan.

Itu adalah bagaimana seseorang mulia dengan indria-indria terkembang.

Demikianlah, Ānanda, pengembangan indria-indria yang tertinggi dalam Disiplin Para Mulia telah diajarkan olehKu, siswa dalam latihan yang lebih tinggi yang telah memasuki sang jalan telah diajarkan olehKu, dan seorang mulia dengan indria-indria terkembang telah diajarkan olehKu.

“Apa yang harus dilakukan untuk para siswaNya demi belas kasih seorang guru yang mengutamakan kesejahteraan mereka dan memiliki belas kasihan pada mereka, telah Aku lakukan untukmu, Ānanda.

Ada bawah pohon ini, gubuk kosong ini. Bermeditasilah/capailah jhana, Ānanda [jhāyatha+ananda], jangan menunda atau engkau akan menyesalinya kelak.

Ini adalah instruksi kami kepadamu.[↑]

Ringkasan MN 106/Āneñjasappāya Sutta:
    “Para bhikkhu, kāmā
    (1. kāmacchanda, 'hasrat sensualitas indriya', 1 dari 5 nivarana; kāma-rāga (nafsu sesual), 1 dari 10 belenggu (saṃyojana); kāma-taṇhā, 'nafsu keinginan', 1 dari nafsu kemelekatan; kāma-vitakka, 'Pikiran sensual', 1 dari 3 pikiran salah (micchā-saṅkappa; s. vitakka). Nafsu keinginan adalah 1 dari asava dan upadana). 2. sensual objek)
    adalah tidak kekal (anicca), hampa (tuccha), tipuan/palsu