Tuesday, March 10, 2009

Bhagavad Gita bukan Pancama Veda [Veda Ke-5]!


Pengantar
Konon katanya, Pesamuan Campuan Ubud-Bali entah tahun yang mana [mungkin pada 17-23 November 1961] menghasilkan piagam Tjampuhan, salah satu hasilnya adalah menetapkan Bhagavad Gita sebagai pancama Veda. Karena itu sudah merupakan keputusan, maka marilah kita uji benarkah Bhagavad Gita merupakan Pancama Veda [Veda yang ke-5].

Umumnya kita mengenal bahwa Bhagavad Gita merupakan bagian dari Kitab sejarah [Itihasa] MahaBharata, tepatnya di bagian Bhisma Parwa. Pada literatur religius Hindu India, kisah-kisah digolongkan menjadi:
  • Kavya (isinya bisa jadi tidak benar namun dituliskan dengan cara yang sungguh Indah),
  • Purana (Cerita-cerita yang tidak sungguh-sungguh terjadi namun memiliki nilai pendidikan, tujuannya agar orang mengerti bahwa dengan berbuat baik akan mendapat pahala baik),
  • Itikatha merupakan kejadian-kejadian yang disusun secara kronologis ataupun kejadian-kejadian yang berbeda-beda dan
  • Itihasa berasal dari kata ‘hasati’ = tertawa, merupakan bagian Itikata yang mempunyai nilai pendidikkan
MahaBharata sebagai Itihasa diyakini umum dituliskan oleh Begawan Byasa atau Vyasa.

Benarkah Vyasa merupakan pengarang Veda?

Vyasa lahir dari keluarga Nelayan yang hidup disuatu tempat di pertemuan sungai Gangga dan Yamuna dekat Prayaga karena warna tanah tempat Vyasa lahir adalah kehitam-hitaman (Sanskrit = Krsna; Pali = Kanha] maka beliau juga disebut Krsna Dwipa. Anak yang lahir ditempat itu disebut Krsna Dwipayana [Pali: Kanha Dipayana]. Literatur Veda di bawah ini menjelaskan arti dan tugas serta jumlah Vyasa bukan hanya 1 (satu) orang:

"Oh para Bramana, Megetahui bahwa Purana secara perlahan akan dilupakan, disetiap Yuga, Aku akan hadir dalam bentuk Vyasa dan menyusunnya" [Matsya Purana 53.8-9]

Dalam setiap zaman ketiga (Dwapara), Vishnu, dalam diri Wyasa, untuk menjaga kualitas umat manusia, membagi Veda, yang seharusnya satu, menjadi beberapa bagian. Mengamati terbatasnya ketekunan, energi, dan dengan wujud yang tak kekal, ia membuat Veda empat bagian, sesuai kapasitasnya; dan raga yang dipakainya, dalam menjalankan tugas untuk mengklasifikasi, dikenal dengan nama Wedawyasa. Di Manuantara saat ini, 28 kali Veda akan di susun oleh Resi-resi besar di Vaivasvata Manuantara..dan aka nada 28 Vyasa yang berlalu; Olehnya di periode tertentu Veda akan dibagi menjadi empat. Yang pertama…Pembagian dilakukan oleh Svayambu [Brahma] sendiri, kedua, penyusn Veda adalah Prajapati (dan seterusnya hingga 28) [Visnu Purana 3.3]

Berdasarkan Purana di atas maka kita ketahui bahwa Vyasa bukanlah pengarang namun penyusun kitab Veda. Arti Vyasa adalah Pembagi/Pembelah/penyusun

Pada Literatur Buddhis, di Suttpitaka, Jataka [Kehidupan sebelumnya sang Buddha] disebutkan setidaknya ada 2 (dua) Kanha-Dipayana/Krisna-Dwipayana yang berbeda:
  • Jataka no 444, Kanha-Dipayana Jataka, dinyatakan bahwa Sang Buddha dan Sariputta [muridNya] masing-masing menjadi Pertapa Kakak adik, yaitu Pertapa Kanha-Dipayana dan Adiknya Pertapa Ani-Mandaviya
  • Jataka no 454, Gatha Jataka, Sang Buddha dan Sariputra [muridNya], juga menjadi kakak adik, namun kali ini Sariputra yang menjadi kakak tertua. Kisah ini adalah kisah mengenai 10 saudara yang bernama Vasudeva [kesava; Kanha = krisna = hitam], Baladeva, Ajjuna, GathaPandita dan 6 Saudara lainnya. Sang Buddha menjadi sang Adik, yaitu Gathapandita, sedangkan Sariputra menjadi sang kakak, yaitu Vasudeva [kesava] Raja dari kerajaan Drawaka akhirnya meninggal di panah seorang pemburu bernama Jara. Sedangkan Pertapa Kanha-Dipayana di jataka no 454 ini bukan kelahiran sebelumnya sang Buddha.
Kedudukan Itihasa [MahaBharata & Ramayana] dan Purana-purana adalah juga Veda. Hal ini tegas di sebutkan di Atharva Veda, Kauthumiya Chandogya Upanisad, Madhyandina-sruti, Brhad-aranyaka Upanisad dan Taittiriya Aranyaka:

"Rig, Sama, Yajur dan Atharva adalah manifestasi dari Tuhan [Vyasa dianggap reinkarnasi Visnu] bersama dengan purana-purana dan para Deva yang berstana di Surga" [Atharva Veda 11.7.24]

"He approached the brhati meter, and thus the Itihasas, Puranas, Gathas and Narasamsis became favorable to him. One who knows this verily becomes the beloved abode of the Itihasas, Puranas, Gathas and Narasamsis." [Atharva Veda 15.6.10–12]

"Sebagaimana Rg, Yajur, Sama dan Atharva adalah nama-nama dari 4 Veda. Para Itihasa dan purana adalah Veda yang ke 5" [Kauthumiya Chandogya Upanisad 7.1.4]

"O Maitreya, Rg, Yajur, Sama dan Atharva Vedas sama seperti para Itihasa and the Purana semua merupakan manifestasi dari nafas Tuhan" [Madhyandina-sruti, Brhad-aranyaka Upanisad 2.4.10]

"Para Itihasa dan Purana adalah Veda-veda" [Taittiriya Aranyaka 2.9]

Kutipan diatas, membantu kita untuk mengetahui secara pasti bahwa Itihasa dan Purana adalah termasuk kedalam Veda dan dinamakan Veda ke-5.

Kutipan Atharva Veda di atas, disamping memberikan informasi kedudukan Itihasa, Purana, dan yang lainnya, juga menjadi penegasan kapan Atharveda di buat yaitu setelah adanya Itihasa, purana, Gatha dan Narasamsi. Untuk contoh pembanding kita ambil YajurVeda. Ia disebut Veda ke-tiga karena memang dua Veda sebelumnya disebutkan di dalam YajurVeda:

Dari Tuhan Yang Maha Agung dan kepadanya umat manusia mempersembahkan berbagai yadnya dan daripadanya muncul Rgveda dan Sama veda. Daripadanya muncul yajurveda dan Samaveda. [Yajurveda 30.7]

Literature Buddhis [Pali Canonical Teks] juga menyebutkan bahwa di jaman kehidupan Buddha, yang ada hanya 3 veda [“Tevijja”/TriVeda/Tiga Veda]. Saat Buddha berumur 8 tahun Ia berguru pada satu brahmana terkenal yang bernama Visvamitra, Pada umur 12 tahun, Pangeran Sidharta telah menguasai berbagai ilmu pengetahuan, ilmu taktik perang, sejarah dan Pancavidya, yaitu: sabda (bahasa dan sastra); Silpakarmasthana (ilmu dan matematika); Cikitsa (ramuan obat-obatan); Hatri (logika); Adhyatma (filsafat agama). Dia juga menguasai Tevijja [3 Veda: Irubbeda/Iruveda=Rg; yaju & sāma(Miln 178; DA i.247; SnA 447). Selama perjalanan hidup beliau hingga wafat 80 tahun kemudian tidak ada kitab Veda lain yang disebutkan ada selain tevijja.
.
Atharva veda merupakan teks India pertama yang menyinggung kata “syama ayas" [Besi hitam]. Para ahli secara konsensus menyatakan bahwa Veda ke-empat ini ada di periode jaman Besi India atau abad ke 12 -10 SM.

Ada satu persoalan disini, yaitu anggapan umum yang beredar menyatakan bahwa Buddha hidup di sekitar abad ke 5/6 SM, semua literature Buddhis menyatakan hanya ada 3 Veda dan pernyataan itu tidak berubah ribuan tahun kemudian. Apakah semua literatur Buddhis itu salah? dan/atau Apakah tahun Atharva veda yang ada di abad ke 12 - 10 SM tidak salah?

Atharva Veda diturunkan dari generasi ke generasi tidak melalui tulisan namun melalui Hafalan/ingatan. Bentuk tulisan Sanskrit baru selesai disusun pada abad ke 5, jadi semua Veda yang dituliskan dalam bahasa Sanskrit baru dilakukan setelah di abad ke 5.

Kemudian beberapa pakar astronomi dan sejarah, serta berdasarkan tulisan Stephen Knapp menyatakan bahwa abad ke 5-6 SM sebagai tahun kehidupan Sang Buddha adalah tidak tepat:

P. N Oak [di ambil dari ‘Some Blunder of Indian Historical Research, P.189] menyatakan bahwa Purana-purana menyinggung kronologis para pemimpin Magadha. Pada saat perang MahaBharata terjadi, Somadhi (Marjari) adalah raja yang memerintah kerajaan Maghada, ia mengawali diinasti bersama 22 raja berikutnya selama 1006 tahun, kemudian di ikuti 5 orang raja dari dinasti Pradyota untuk 138 tahun, kemudian 10 Raja dari keluarga Shishunag untuk 360 tahun. Kshemajit (memerintah 1892 – 1852 SM) merupakan raja ke 4 dari dinasti Shishunag. Pada saat itu yang memerintah kerajaan kapilavastu adalah raja Suddodana, ayah dari Sidharta Gautama. Juga ia lahir di jaman itu. Pada jaman raja ke 5 keluarga Shishunag, yaitu raja Bimbisara, Sidharta Gautama mencapai penerangan sempurna mencapai Buddha. Pada jaman raja Ajatashatru (1814-1787 SM) Buddha wafat. Jadi ia lahir di 1887 SM, Meninggal di 1807 SM

Bukti lebih lanjut yang menguatkan ada di jaman Buddha Milinda dan raja Amtiyoka dan Yuga Purana oleh Pandit kota Venkatachalam yaitu Purana-purana terutama Bhagavad Purana dan di Kaliyurajavruttanta, menggambarkan kronologis dinasti2 Maghada yang dapat dipakai menentukan tanggal kehidupan Buddha. Buddha adalah silsilah ke 23 dari Ikshvaku, dan ada jaman2 raja2 Kshemajita, Bimbisara, and Ajatashatru, seperti tertulis di atas. Buddha berusia 72 years pada tahun 1814 B.C. ketika raja Ajatashatru di mahkotai. Jadi kelahiran Buddha ada di sekitar 1887 SM. dan wafatnya adalah 80 tahun kemudian yaitu 1807 SM.

Professor K. Srinivasaraghavan juga menghubungkannya di bukunya, Chronology of Ancient Bharat (bag ke-4, bab 2), yaitu tahun kehidupan Buddha seharusnya terjadi di 1259 tahun setelah perang MahaBharata, jika perang terjadi di 3138 SM maka Buddha lahir di tahun 1880 SM. Lebihlanjut lagi yaitu berdasarkan Kalkulasi astronomi oleh astronomer, Swami Sakhyananda, Ia menyatakan bahwa jaman Buddha berada di periode Kruttika, yaitu antara 2621-1661 SM.

B. N. Narahari Achar, memberikan bukti yang ia ambil di Sammyuta Nikaya, Sagatha Vagga, Devaputta, 9.Candima dan 10.Suriya, yaitu mengenai gerhana Bulan yang di ikuti gerhana Matahari. Pada saat itu, Buddha ada di savatthi, tiga bulan menjelang wafat beliau. Berdasarkan petunjuk tersebut menghasilkan perhitungan bahwa Bulan Purnama, saat Wafatnya sang Buddha jatuh pada tanggal 27 Maret 1807 SM. Dalam artikel ini, di sebutkan juga bahwa Professor Sengupta mencoba menghitung hal yang sama, yaitu gerhana bulan dan matahari yang berurutan terjadi di tahun 560 SM. Sehingga dengan memakai perhitungan astronomi berdasarkan petunjuk adanya gerhana maka tahun 483 SM and 544 SM, tidak memenuhi petunjuk yang tercantum di Samyuta Nikaya[Benarkah Kehidupan Buddha Gautama di kisaran 560 M?, Reestablishing the Date of Lord Buddha by Stephen Knapp, The Date of Buddha, Reclaiming the chronology of Bharatam: Narahari Achar (July 2006)]

Veda adalah dasar dari Hinduism dan hampir semua naskah autoritatif Hindu; Veda dibagi menjadi 2 grup.
  • Grup pertama disebut Sruti, yang berarti didengar, dan
  • Grup kedua disebut Smrti yang berarti diingat.
Dalam artian luas, Veda, Brahmana, Aranyaka dan Upanisad digolongkan ke dalam Sruti, namun dalam artian yang lebih konsevatif, hanya Veda yang termasuk Sruti. Naskah di luar itu termasuk di dalamnya Dharma Sastra, Itihasa dan Purana digolongkan ke dalam Smrti.

Untuk mempertahankan pengetahuan Veda, komentar dan catatan atas Veda mulai ditulis. Inilah yang disebut Brahmana, dan yang paling komprehensif adalah Satapatha Brahmana. Untuk menyelamatkan struktur Veda, ditulislah Pratisakhya, Siksa dan Anukramanika. Semua Brahmana berkaitan dengan Veda.
  • Aitareya Brahmana dan Kausitaki Brahmana berkaitan dengan Rgveda.
  • Brahmana dari cabang Taittiriya dari Yajurveda hitam disebut Taittiriya Brahmana. Satapatha Brahmana adalah Brahmana dari Yajurveda putih.
  • Jaiminiya Brahmana adalah Brahmana besar yang berkaitan dengan Samaveda, Brahmana kecilnya disebut Samavidhana,
  • Devatadhyayi, Vamsa, and Samhitopanisada Brahmana. Gopatha Brahmana berhubungan dengan Atharva veda.
Satapatha Brahmana adalah salah satu tonggak dalam perkembangan literatur dalam Veda. Beberapa abad mesti dilalui semenjak Perang MahaBharata sampai pada penulisan Satapatha Brahmana ini, karena Satapatha Brahmana menunjukkan kehilangan yang luar biasa saina dalam Veda. Ada beberapa ide baru dalam Satapatha Brahmana yang tidak terdapat dalam Veda.Hampir tidak ada legenda tentang penciptaan dunia kuno yang sumbernya tidak bisa dilihat di Satapatha Brahmana.

Gelombang kedua emigrasi dari India terjadi setelah penulisan Satapatha Brahmana, dan sekelompok dari mereka tinggal di Yunani. Mitologi Yunani meminjam langsung dari Satapatha Brahmana. Banyak legenda Yunani tidak akan ditemukan dalam Veda tapi bisa dilihat di Satapatha Brahmana, dan makna inilah yang menunjukkan lubang besar dalam teori Veda berasal dari luar India. Jika semua ras Indo-Eropa punya asal lain darimana mereka tersebar, maka legenda Yunani seharusnya sama dengan Veda bukan dengan Satapatha Brahmnana. Paling tidak ada tiga emigrasi besar dari India yang terjadi dalam tiga kurun waktu,
  • pertama setelah Perang MahaBharata,
  • kedua setelah penulisan Satapatha Brahmana dan
  • ketiga setelah penyusunan Purana yang pertama.
Dewa-dewa adalah sama antara Veda dan Brahmana. Satu dewa baru Prajapati mulai muncul pada Brahmana. Semua dewa dikisahkan lahir dari Prajapati. Sehingga perjalanan waktu penyusunan Veda mengungkapkan munculnya beberapa Deva baru.

Aranyaka mempunyai arti yang berkaitan dengan hutan dan Upanisad berarti duduk dengan dekat. Seperti Brahmana, Aranyaka dan Upanisad juga berkaitan dengan Veda.

Aranyaka:
  • Aitareya dan Sankhyayana Aranyaka berhubungan dengan Rgveda,
  • Tavalkara dan Chandogya Aranyaka dengan Samaveda,
  • Taittiriya dan Maitrayani Aranyaka dengan Yajurveda hitam dan
  • Brhadranyaka dengan Yajurveda putih.
Upanisad:
  • Aiteriya dan Kausitaki Upanisad berkaitan dengan Rgveda,
  • Chandogya Upanisad dan Kenopanisad dengan Samaveda
  • Kathpanisad, Taittiriya, Maitri dan Svetsvatara Upanisad dengan Yajurveda hitam,
  • Brhadaranyaka dan Isa Upanisad dengan Yajurveda putih
  • serta Mundaka, Mandukya dan Prasna Upanisad dengan Atharvaveda.
Sebagai catatan, Brahmana dan Upanisad keduanya berdasarkan Veda jadi Upanisad bukanlah produk pemberontakan dari ritualisme Brahmana. Upanisad mengandung ungkapan paling indah dari pemikiran manusia.

Periode Sutra diperkirakan lebih belakangan dibanding periode Brahmana. Gaya Sutra bertolak belakang dengan Brahmana. Jika Brahmana sangat detail dan rumit dalam pembahasan subyeknya, Sutra mengambil jalan yang sangat langsung ke topik. Kitab Sutra ada tiga macam yaitu:
  • Kalpasutra atau Srautasutra,
  • Grhyasutra dan
  • Dharmasutra.
Srautasutra:
  • Sankhyana dan Asvalayana Srautasutra berhubungan dengan Rgveda,
  • Masaka, Latyayana, dan Drahyayana Srautasutra dengan Samaveda,
  • Katyayana Srautasutra dengan Yajurveda putih,
  • Apastamba, Hiranyakesina dan Baudhayana Srautasutra dengan Yajurveda hitam, dan
  • Vaitana Srautasutra dengan Atharvaveda.
Srautasutra menjelaskan ritual yang berkaitan dengan yajna.

Ghryasutra:
  • Sankhayana dan Asvalayana Ghryasutra berhubungan dengan Rgveda,
  • Gobhila Grhyasutra dengan Samaveda, Paraskara Grhyasutra dengan Yajurveda putih,
  • Apastamba Grhyasutra dengan Yajurveda hitam, dan
  • Kausika Grhyasutra dengan Atharvaveda.
Grhyasutra menjelaskan ritual menjelaskan ritual yang mesti dijalankan seorang Hindu dari lahir sampai meninggal.

Dharmasutra tidak secara spesifik berkaitan dengan Veda secara individu. Dharmasutra dari Apastamba, Hiranyakesina dan Baudhayana sampai sekarang masih ada. Dharmasutra mendiskusikan tingkah laku seorang Hindu dalam hidup sehari-hari.

Purana adalah naskah yang dianggap hadir paling belakang dalam Hindu. Apa yang tampak sebagai benih dalam Veda, tampil dalam pohon besar dalam Purana. Ada delapan belas Purana utama yang disebut Mahapurana. Ada delapan belas Purana kecil yang disebut Upapurana.

Purana sangat banyak volumenya. Srimadbhagavata Mahapurana terdiri dari delapan belas ribu sloka. Purana menyangkut lima subyek yakni
  • Sarga (penciptaan semesta),
  • Pratisarga (akhir semesta),
  • Vamsa (asal-usul),
  • Manvantara (epos), dan
  • Vamsanucarita (sejarah).
Kebanyakan pemeluk Hindu mendapatkan pengetahuan dari Purana, yang merepresentasikan bentuk populer dari Hinduisme.

Dari Veda sampai Purana kita mendapatkan catatan lengkap sejarah perkembangan masyarakat Hindu. Veda menyediakan dasar yang kokoh yang menjadi dasar pembangunan istana Hinduisme. Namun, Veda sejauh ini telah dijauhkan dari kita, kita hanya mengingat saja bahwa Veda telah mendasari kita tapi lupa sama sekali apa sebenarnya yang terkandung dalam Veda.

Berdasarkan uraian diatas, maka dapat kita urutkan kronologis India Teks Relijius, yaitu Sebelum jaman Buddha ada 3 Veda dan setelah jaman Buddha ada Atharva veda. Begitu pula Brahmana, Aranyaka dan Upanisad yang menjadi kesatuan untuk menjelaskan Veda, ada yang disusun sebelum jaman Buddha dan ada yang disusun setelah jaman Buddha. Sebagai contoh Upanisad Chandogya dan Brhadaranyaka ia berkaitan dengan Yajur Veda namun dituliskan setelah jaman Buddha yaitu abad ke 8 SM hingga abad ke 5 SM [beberapa literatur malah dituliskan di abad ke-3 SM]. Itihasa disusun sebelum jaman Buddha [Ramayana dan MahaBharata] karena literature kehidupan beberapa tokoh ada disebutkan di literature Buddhis dan bekembang lebih luas dari inti yang ada setelah jaman Buddha. Purana-purana jelas disusun setelah jaman Buddha.

Dengan kata yang lebih simple, Semua Veda dan kaitannya [penjelasan] yang menyebutkan ada kata Purana maka dapat dipastikan di buat setelah jaman Buddha.

Bhagavad Gita bukan Pancama Veda
Kembali pada topic awal kita, Upanisad-upanisad di atas sudah sangat jelas menunjukan bahwa yang dimaksud dengan Pancama Veda adalah Itihasa dan Purana dan bukan Bhagavad Gita.

Tidak semua purana ada di sebelum tahun Masehi, salah satunya adalah Bhagavata purana atau yang dikenal sebagai Srimad Bhagavata, yang dibuat sekitar tahun 13 Masehi oleh Bopadeva [abad ke 13, Jaman raja Ramachandra, the Yadava king of Devagiri [1271 M - 1309 M]. Perdana mentrinya adalah Hemadri, dalam satu bukunya Bopadeva menuliskan sang perdana mentri itu:

srimadbhagavata-skandhadhyayarthadi nirupyate
vidusha bopadevena mantrihemadritushtaye

Itulah mengapa tahun penyusunan Srimad Bhagavatam/Bhagavata Purana disebutkan di abad ke 13, namun Al-Beruni yang pernah datang ke india abad ke 10 Masehi dalam Tahqiq-i-Hind menyebutkan Bhagavata yang dihubungkan dengan Vasudeva. VyasaDeva di nyatakan menyelesaikan canto ke 12 Srimad bhagavatam pada tahun 900 Masehi. Para ahli sejarah berpendapat bahwa penulisan Srimad Bhagavatam dituliskan antara 650 - 1000 Masehi

Banyak yang mengatakan bahwa membaca Bhagavad Gita, memerlukan Srimad bhagavatam. Sebelum kita masuk lagi ke topik Bhagavad Gita, maka sebagai selingan, kita coba uji keakuratan purana ini:

tatah kalau sampravritte
sammohaya sura-dvisham
buddho namnanjana-sutah
kikateshu bhavishyati

tataù--sesudah itu; kalau—zaman Kali; sampravåtte—setelah terjadi; sammohäya—dengan maksud untuk mengelabui; sura—orang yang percaya kepada Tuhan; dviñäm—orang yang iri; buddhaù—Sang Buddha; nämnä—yang bernama; aïjana-sutaù—yang ibunya bernama Aïjanä; kékaöeñu—di Propinsi Gayä (Bihar); bhaviñyati—akan terjadi

Kemudian, pada awal Kaliyuga, Tuhan akan muncul sebagai Sang Buddha, putra Anjana, di Propinsi Gaya, hanya dengan maksud mengelabui orang yang iri kepada orang yang setia dan percaya kepada Tuhan. [Srimad Bhagavatam/Bhagavata Purana, 1.3.24]

Benarkah demikian?

Pertama-tama,
Secara tradisi arti avatara itu adalah tuhan yang menjelma kedunia dan tugasnya adalah menegakkan kebenaran, sekarang bagaimana logikanya bahwa Tuhan turun ke dunia namun justru menghalangi manusia menyembah TUHAN?

Kedua,
Srimad Bhagavatam adalah purana, melihat derajatnya maka levelnya ada di bawah Itihasa [kitab sejarah]. Purana tidak bernilai kebenaran sejarah.

Secara konteks kata, maka kata lahir berhubungan dengan masa kecil dan siapa yang melahirkan. Benarkah ia lahir di gaya?

Ibu Sidartha Gautama bernama mahamaya [bukan Anjana/Anjina], Ia putri raja Koliya, Mahasuppabuddha [Therigatha Atthakatha: 141] yang permaisurinya bernama Sulakkhana [Apadana, ii.538]. Setelah kematian ibunya [Mahamaya], Sidharta Gautama tidak pernah dibesarkan oleh neneknya [beberapa situs latah, menyebutkan nama neneknya adalah Anjana dan itu sama sekali tidak benar], Ia dibesarkan oleh ibu tirinya [yang juga tidak bernama anjana/anjina namun Maha Prajapati gotami].

Nama anjana memang muncul dalam literature buddhis yaitu di suttapitaka, Jataka [kisah-kisah kehidupan masa lalu Sang Buddha], no. 454, Gatha Jataka disebutkan bahwa Anjana adalah adik perempuan dari Vasudeva [kesawa] Ia bersaudara 10 orang. Salah satu adik Vasudeva lainnya adalah Gatha Pandita, yang merupakan nama Sang Buddha di kehidupan sebelumnya. Sedangkan Vasudeva Krisna [kanha=hitam, Kesawa] adalah nama Sariputtra [murid utama sang Buddha] di kehidupan lampaunya

Sidharta Gautama, keturunan Dinasti Sakya [arti sakya adalah surya, mampu dan bukan ksatria]. Ia tidak dilahirkan di Gaya tapi di Devadaha, taman lumbini [Rumminde di Pejwar, Nepal] Bukti kelahiran ini adalah dengan dibangunnya pilar oleh raja asoka.

Kikateshu di terjemahkan sebagai gaya [bihar] benarkah itu adalah nama lama dari gaya? kata gaya = kikateshu, adalah berdasarkan komentar dari Sri Visvanatha Cakravarti Öhakura, disamping itu, lokasi dimana sang Buddha mencapai penerangan sempurna adalah 7 km di selatan gaya, 105 km dari patna [bihar]. Jadi, klaim ini juga sangat keliru, jika memang artinya adalah Gaya tidak perlu ditulis bodhi kikateshu namun Bodhi Gaya.

Kapan awal kali yuga?

Jaman Kali yuga dihitung setelah meninggalnya Krishna pada 3102 SM atau dihitung saat Pemerintahan Yudistira atau dihitung saat Bima berhasil menumpas raja Duryodana.

Jadi, Srimad Bhagavatam atau Bhagavata Purana yang baru dibuat pada abad ke 10 ini, telah keliru menyatakan tentang kelahiran sang Buddha dan keliru menyatakan ini sebagai ramalan karena yang diramalkan telah wafat ribuan tahun sebelumnya.

Darimana muncul Klaim bahwa Bhagavad Gita adalah Pancama Veda?

Pendapat bahwa Bhagavad Gita adalah Pancama Veda muncul karena MahaBharata adalah salah satu diantara dua Itihasa [satunya lagi adalah Ramayana] dan kemudian Bhagavad Gita ada didalamnya, maka beberapa kelompok mengklaim bahwa Bhagavad Gita adalah juga Pancama Veda dan pada perkembangannya kata “juga” menjadi hilang sehingga Bhagavad Gita adalah Pancama Veda!

Marilah kita uji lebih dalam lagi keabsahan klaim tersebut.

Para ahli sejarah [India dan barat], melalui uji analisis MahaBharata menemukan perbedaan gaya, bahasa dan tingkat kepelikannya di MahaBharata sehingga mereka berkesimpulan bahwa penyusunan dilakukan pada masa yang berbeda dan dilakukan oleh tangan-tangan yang bebeda. Misalnya, Adiparwa bab 1 menunjukan banyak episode telah ditambahkan. MahaBharata saat ini merupakan edisi ketiga dan telah memperluas inti dari sejarah tersebut. [C. Jinarajadasa, R.G Bhandarkar, analisis lebih lanjut: L.Von Schroeder] A.l Basham, mengatakan bahwa setidaknya 3 orang yang menulis Bhagavd Gita.

Untuk menentukan kapan periode penyusunan Gita, maka perlu juga kita ketahui kapan Ide Avatar [Tuhan yang turun kedunia] mulai ada.

Krisna dinyatakan sebagai avatar terakhir Visnu dan Gita adalah dialog antara Visnu dalam Wujud Krishna dan Arjuna [yang juga diyakini sebagai bagian penjelmaan visnu juga]. Semua Narasi Budhisme pada periode ini menunjukan bahwa Raja para Deva yang dipuja luas saat itu adalah Brahma, Fakta di MahaBharata menyatakan bahwa pada periode ini, para pemuja Brahma tidaklah dikenal luas. Deva-deva yang dikenal luas saat itu adalah seperti yang tercantum dalam Rig Veda, yaitu Mitra, Varuna, Savita, Aditya, Indra dan semuanya dapat diartikan sebagai matahari [Surya] walaupun dalam Rgveda mereka mempunyai arti berbeda.

Pemujaan terhadap avatar Visnu belumlah ada hingga saat Buddha wafat [Abad ke-6 SM menurut anggapan umum atau Abad ke-18 SM, menurut perhitungan para Ahli sejarah India]. Di beberapa komentar Veda yaitu Brahmana yang disusun tidak jauh dari bangkitkan aliran Buddhisme, penjelmaan Avatar memang popular namun bukanlah avatar Visnu.

Pada Brahmajala Sutta disebutkan tidak kurang 62 cabang utama teori Filsafat yang ada di masyarakat saat itu dan tidak ada 1 (satu) pun doktrin yang meyerupai karasteristik teori fisafat pemujaan terhadap Visnu.

Pada literature Buddhisme, tidak ditemukan adanya pemujaan terhadap Krisna sebagai dewa diantara orang-orang pada jaman itu [Burnouf, Introduction à I’histoire du Bouddhisme Indien: page 121, second edition], Teks Buddhism hanya menyinggun Visnu dan Siva namun bukan sebagai Deva yang menonjol [Rhys Davids, Buddhist India, Hal 236]. Keberadaan Visnu [Vennu/Venhu] dan Siva ada pada Suta pitaka, Devaputtasamyutta [2:12 dan 2:21], yang merupakan teks berisi kumpulan para Deva yang baru lahir di alam Indra, Ini mungkin merupakan prototipe awal dewa India yaitu Visnu dan Siva sebelum mereka menjadi dewa utama dalam Hinduisme bakti yang theistic. Keberadaan Vasudeva kesava disebutkan di Gatha Jataka, Kanhapetavatthuvannana dan Ankurapetavatthuvannana. Ia dikenal sebagai raja Dvaraka yang berhasil menaklukan seluruh India dan mempunyai 10 saudara.

Pada Jaman Buddhis ide mengenai adanya avatara-avatara belumlah ada. Brahmana-brahmana yang berkaitan dengan Veda yang disusun tidak berapa lama sebelum jaman Buddha kisah-kisah avatar mencul sebagai legenda yang popular dimasyarakat namun tidak ada Avatar Vishnu disebutkan disana [The Bhagavad Gita, C. Jinarajadasa, From the Proceedings of the Federation of European Sections of the Theosophical Society, Amsterdam 1904, Theosophical Publishing House, Adyar, Madras. India, November 1915]

Shatapatha Brahmana, yang memuat kisah tentang Ikan, kura2 dan babi hutan sebagai avatara yang menyelamatkan manu saat banjir besar hanya menyatakan bentuk ikan dan bukan tuhan dalam bentuk ikan [I. 8. I. I. This and the following reference to the Brãhmanas are cited by Macdonell in his article on Vedic Mythology, Journal of the R.A.S. 1895]

Kemudian di MahaBharata, disebutkan bahwa ikan, Kura-kura dan Babi hutan bukan sebagai avatara Visnu namun sebagai avatara Brahma atau Prajapati [Vanaparva, Markandeya samasya 7.5.15], Babi hutan di Taittiriya Brahmana adalah Prajapati [Taittiriya Brahmana I.i. 3. 5, ff]. Shatapatha Brahmana juga mengangkat legenda yang sama dan tidak menyebutnya sebagai Manifestasi tuhan [XIV.i 2. 11] dimana Ramayana yang disusun belakangan menjadikan Brahma [II. 110. Monier Williams, Indian Wisdom, page 330]. Deva dengan bentuk rupa srigala wanita, memenangkan dunia untuk para Dewa, mengelilingi dunia hanya dengan tiga langkah adalah Indra bukan Vishnu [Taittiriya Samhita 7.2.4] Dan Purana-purana yang terakhir-terakhir disusun menyebutkan semuanya adalah reinkarnasi hanya dari Visnu dan juga legenda2 avatara visnu bervariasi jumlahnya dari 9 menjadi 28!! [Barth, Religions of India, Hal. 171]

Note:
Walaupun Jaman Ramayana lebih tua dari Jaman Mahabharata namun penulisan Ramayana muncul/disusun lebih belakangan daripada MahaBharata!

Fakta-fakta diatas menggambarkan dengan jelas bahwa hingga wafatnya sang Buddha, Pemujaan terhadap Brahma lazim dimasyarakat dan pemujaan terhadap Visnu baru saja di mulai dan tentu saja Pemujaan terhadap Krisna belumlah ada.

Berdasarkan catatan dari duta besar Yunani, Megasthenes, yang tinggal di India pada tahun 311 SM - 302 SM Pada jaman itu [Abad ke-3 SM] pemujaan terhadap Krisna sudah popular dan berjalan seiring kepopulerannya dengan pemujaan terhadap Siva [Barth, Religions of India, Hal. 163 and168]; Di jaman Ahli tatabahasa Patanjali [Ada yang mengatakan di Abad 4 SM, ada yang mengatakan di abad 2 SM, ada yang menyatakan di tahun 250 SM] pemujaan terhadap Krishna sangat lah populer [Macdonell, op cit, Hal. 414]

Buddhisme juga menyatakan bahwa Brahma bukanlah Maha Pencipta.
Terdapat satu klaim bahwa Brahma tidaklah identik dengan brahman! sehingga Brahma di Hindu tidak sama dengan Brahma di Buddhisme, sehingga Visnu/Krisna merupakan Brahman dan bukan Brahma

Taittiriya Upanisad memberikan sebuah pengertian tunggal tentang istilah Brahman. Sebagai jawaban atas permintaan dari Bhrgu kepada ayahnya Varuna agar mengajarkan kepadanya tentang Brahman, Varuna menawarkan pengertian sebagai berikut, "Yang daripada-Nya segala mahluk dilahirkan, Yang oleh-Nya dan kepada-Nya mereka"[Ajaran Pokok Dalam Upanisad,S.M. Smnivasa Chan, PHDI]

Benarkah Brahma tidak sama dengan Brahman?

Masih mengutip Ajaran Pokok dalam Upanisad yang sama, SM Smnivasa Chan meyatakan bahwa:

Akar kata kerja brh yang artinya ‘tumbuh’ (brhati) dan menyebabkan tumbuh (brhmayati). Dalam Atharvairas Upanisad, "brhati, bhmayati tasmad ucyate parabrahma" artinya "Itu disebut Brahman karena itu bertumbuh dan menyebabkan tumbuh”.

Terlihat dengan jelas kata sanskrit yang digunakan adalah Brahma bukan Brahman! Untuk lebih memastikannya, marilah kita intip beberapa Upanisad tertua:
  • Terjemahan Taittiriya Upanishad di atas berasal dari Taittiriya Upanishad 3.1.1, "atra visaya-vakyam ca bhrgur vai varunir varunam pitaram upasasara. adhihi bho bhagavo brahma ity arabhya yato va imani bhutani jayante. yena jatani jivanti. yat prayanty abhisamvisanti tad vijijnasasva tad brahma iti. tat tejo 'srjata ity adi ca." artinya Yang daripada-Nya segala mahluk dilahirkan, Yang oleh-Nya dan kepada-Nya mereka
  • Untuk lebih memastikan, kita ambil juga Taittiriya Upanishad 2.1.1, "Brahmavid apnoti param tad esa bhyukta, Satyam jnanam anantam Brahma Veda, Nihitam guhayah parame vyman so’ snute, Kaman vipascita iti" artinya Ia yang mengetahui Brahman sebagai kebenaran, pengetahuan dan tidak terbatas, Ia yang bersembunyi di dalam rongga hati dan Ia yang sangat jauh di angkasa. Ia yang terpenuhi segala keinginannya dalam kesatuan dengan Brahman, Ia yang maha mengetahui. [Teja surya.com: Sloka Mantra]
  • Aitareya Upanishad 3.3, "prajnānam brahma" artinya Brahman adalah Pengetahuan
  • Brihadaranyaka Upanishad 4.4.5, "ayam ātmā brahma" artinya Atma adalah Brahma atau Atman adalah Brahman!
  • Brihadaranyaka Upanishad 1.4.10, "aham brahmāsmi" artinya aku adalah Brahman
  • Chhāndogya Upanishad 3.14.1-2, "sarvam khalv idam brahma, tajjalaniti santa upasita" artinya Semua yang ada di dunia adalah Brahman, menurut Ramanuja, kalimat "tajjalan iti" (akar: tat + ja = lahir + la = larut/lebur), tidak berarti bahwa Jagadraya adalah Brahman namun Jagadraya diliputi, lahir dari dan lebur ke dalam Brahman, Ini di analogikan seperti ikan lahir di air, hidup di air dan berakhir di air tapi ikan bukanlah air
  • Mandukya Upanisad ayat 2, "sarvam hyetad brahmāyamātmā brahma soyamātmā chatushpāt" artinya sarvam - Seluruh/Semua/setiap; hi – sesungguhnya/sebenarnya; etad – ini/disini; brahma - Brahma/Brahman; ayam – ini/disini; ātmā- atma/atman; sah- Ia; ayam – ini/disini; chatus- empat; pāt- langkah/kaki/bagian, Semua adalah Brahman; Ia adalah Atman; Ia mempunyai 4 bagian [Wikipedia:Brahman]
Jika di perhatikan maka seluruh Upanisad tertua di atas menggunakan kata Sanskrit Brahma bukan Brahman! Atau dengan kata lain, Jika Atma = Atman, maka Brahma = Brahman!
  • Dalam Teks Veda awal-awal, Brahma (Tunggal nominatif), brahman (bukan laki/perempuan) artinya Jiwa Cosmis yang agung, akar kata dari brha (tumbuh, berkembang, meluas, membesar)
  • Brahmānda (Tunggal nominatif), dari akar kata brha (meluas) + anda (telur), artinya perluasan jagad raya
  • Dalam teks Veda belakangan, Brahma (Tunggal nominatif), brahman (tidak laki dan perempuan) Artinya konsep Tuhan tertinggi yang kekal; Perlu diketahui bahwa kata Brahman Brahman dalam kondisi tertentu diperlakukan sebagai “Pria” (lihat Merrill-Webster Sanskrit Dictionary). Brahm, juga merupakan variasi dari Brahman.
  • Brahmā (Tunggal nominatif), Brahman (Jenis lelaki) artinya adalah Prajpati Brahma [Pencipta], anggota Trimurti
Jadi, Brahmanisme yang ada di dalam teks-teks Buddhisme adalah sama dengan Brahman yang tercantum dalam teks-teks Upanisad tertua yang ada di sebelum jaman Buddhis maupun di setelah jaman Buddhisme.

Bhagavad Gita dan Penyusunan Bahasa Sanskrit
“..dari paduan kata-kata, Aku adalah kata majemuk..” [Bhagavad Gita, 10.33]

Setelah "kematian" bahasa Vaedika, didataran india [Termasuk Afganistan, Pakistan dan selatan rusia] masyarakat menggunakan satu diantara 7 jenis bahasa prakrta, yaitu Magadhii Prakrta; shaorasenii Prakrta, paeshacii Prakrta, Pashcatya Parakrta; pahlavii Prakta; Maharastrii. Bahasa ibu yang digunakan Krishna adalah Shaorasenii Prakrta.

Pada perkembangannya bahasa prakrta kemudian dibentuk kembali dan direformasi. Bentuk reformasinya menjadi bahasa Samskerta [artinya adalah direformasikan, dibentuk kembali]. Tulisan yang digunakan di india saat itu adalah Brahmii dan Khrosthii. Jadi mereka yang menulis bahasa Vaedika menggunakan tulisan Brahmii dan Kharosthii, karena tulisan dan Bahasa Vaedika tidak mempunyai huruf-huruf sendiri karena merupakan bahasa lisan. Jaman itu seorang murid mendengarkan dari guru berbicara, menghafalkan yang dikatakan gurunya, mereka mengingat-ingat apa yang diucapkan. Oleh sebab itu Veda disebut Shruti, yang artinya telinga, yang berarti mendengarkan.

System pendidikan di India tidak lah berubah dari sebelumnya. Mereka yang mencari ilmu selalu tinggal bersama gurunya [catuspathiis/pasraman]. Kehidupan mereka ditanggung oleh pemerintah yang berkuasa/kepala daerah dan/atau masyarakat umum. Hampir setiap Pendeta/brahmana mumpuni mempunyai pasraman sendiri. Saat itu tidak ada standarisasai kurikulum, jadi masing-masing dari mereka menciptakan kurikulumnya sendiri sesuai keinginannya dan pelajaran yang diberikan sehingga pengajaran satu Brahmana berbeda dengan Brahmana lainnya. Murid-murid yang belajar pada pendeta yang berbeda pengetahuannya-pun berbeda-beda pula. Ini menghasilkan keragaman interpretasi dan juga berbegai pertentangan pendapat di antara satu pasraman dengan pasrama lainnya. Inilah yang memberikan sumbangan utama bagi keragaman interpretasi kupasan-kupasan Veda dari jaman ke jaman.

Suku tatabahasa Sanskrit yang kuat disusun oleh Panini, seorang yang berasal dari Pakhtoon dari wilayah Peshawar [ada yangmengatakan wilayah gandhara, Pakistan sekarang]. Tulisan Brahmmi dan kharosthuu juga berubah menjadi huruf-huruf sarada yang ada di khasmir sekarang. Setelah itu muncul huruf-huruf Guru mukhii, nagrii dan Naungala. Tulisan yang ada sekarang ini tercipta kira2 10 -12 abad yang lalu. [Kuliah tentang MahaBharata, Shrii Shrii Anandamurti, penerbit Ananda marga, PT Adi Murti,Denpasar, Hal 10-15, 23].

Penulisan Bhagavad Gita sangat erat kaitannya dengan penyusunan grammatical bahasa Sanskrit oleh seorang yang berasal dari Shalatula [pakistan], yaitu Panini [520SM-460SM], karyanya yang terkenal adalah Aṣṭādhyāyī [artinya Delapan Bab, merupakan karya sekurangnya 3 orang, yaitu sebelum Panini, Panini dan sesudah Panini] banyak yang memperkirakan karya ini berasal dari abad ke 5 SM.

Di samping Panini, ada pula ahli tatabahasa lainnya yaitu Patanjali yang hidup di abad ke-2 SM [Radhakrishnan, and C.A. Moore, (1957). A Source Book in Indian Philosophy. Princeton, New Jersey: Princeton University, ch. XIII, Yoga, p.453]. Patanjali disamping ahli Yoga iapun merupakan pakar tata bahasa Sanskrit. Patanjali pernah mengatakan bahwa Dvandva adalah yang paling paduan kata-kara yang superior di Sanksrit. Kalimat tersebut secara mengherankan sama dengan kalimat ini:

“..dari paduan kata-kata, Aku adalah kata majemuk [Dvandva]..” [Bhagavad Gita, 10.33].

Dari 6 kelas paduan kata di tatabahasa Sanskrit kelas “Dvandva” memiliki nilai gramatikar tertingi, doktrin superioritas Dvandan dibadingkan paduan lainnya pertama kali dinyatakan oleh ahli tatabahasa Patanjali [Pat. I. p 392, cited in Speijer, Sanskrit Syntax, page 151, note]. Disamping ahli bahasan Sanskrit ia pula ahli Yoga, dan di Bhagavad Gita kita kenal merupakan paduan Upanisad [Vedanta], Samkhya, dan Yoga.

Bagaimanakah mungkin kalimat itu benar diucapkan oleh Krisna, mengingat penyusunan Sanskrit baru ada setelah Panini [abad ke 5 SM] terlebih lagi Panini menolak ide superiotas kelas dalam bahasa Sanskrit?. Jawaban terbaiknya adalah Patanjali, yang mengucapkan itu juga ikut menyusun Bhagavad Gita!

Bhagavad Gita dan Aliran Samkhya
Veda itu setidaknya terbagi dua bagian, yaitu Karma kanda dan Jnanakanda. Bagian Jnanakanda itu menjadi Aranyaka dan upanisad. Filsafat yang tertua di India salah satunya adalah Samkhya yang disusun oleh Resi Kapila dan resi Kapila hidup di setelah jaman MahaBharata. Arti Kapila adalah “orang pandai pertama”. Pengaruh Upanisad pada Gita adalah samkhya. [Kuliah tentang MahaBharata, Shrii Shrii Anandamurti, penerbit Ananda marga, PT Adi Murti,Denpasar, Hal 10-15, 23]

Menurut A. C. B. Swami Prabhupada [Pendiri aliran Hare Kresna], ada 2 [dua] orang Kapila yang berbeda, yang menyusun ajaran Samkhya, yaitu filsafat Samkhya Theisme [muncul duluan] dan Atheisme [Muncul belakangan]. Samkhya yang diuraikan dalam Bhagawadgita adalah berbeda dengan filsafat Samkhya yang berisi filsafat ateisme.

Sekilas mengenal aliran Hare kresna [Kutipan dari: iloveblue]:

A.C. Bhaktivedanta Swami Prabupadha, dalam kesempatan lain mengatakan bahwa Hare kresna itu bukan Hindu dan bahkan bukan agama apapun. Dalam ceramah dan wawancaranya Prabupadha bahkan menghujat Hindu sebagai sumber keruntuhan moral. Berikut ini adalah pernyataan Srila Prabupada mengenai Hare Krishna dan hubungannya dengan agama Hindu. Tulisan di bawah ini bersumber dari "Can it Be That the Hare Krishnas Are Not Hindu? ISKCON's Srila Prabhupada's edicts on religion are clear" yang dimuat dalam majalah Hinduism Today edisi Oktober 1998.

"Ada satu salah pengertian," tulis His Divine Grace A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupada tahun 1977 dalam Science of Self Realization, "bahwa gerakan kesadaran Krishna ( the Krishna consciousness movement) mewakili agama Hindu. Sering kali orang-orang India baik di dalam maupun di luar India mengira bahwa kita mengajarkan agama Hindu, tapi sesunguhnya kita tidak mengajarkan agama Hindu."

Srila Prabhupada seringkali dengan tegas menolak eksistensi dari satu agama yang disebut "Hinduisme." Dia mengasalkan nama yang tidak pantas ini kepada "foreign invaders (para penyerbu asing)."

Pada kesempatan lain ia mengakui keberadaan agama Hindu, tapi menganggapnya sebagai kemerosotan yang tak tertolongkan dari bentuk asli Sanatana Dharma Veda. Pada ceramah-ceramahnya tahun 1967, di New York dia berkata, "Sekalipun memunculkan para sarjana, sanyasin, grihasta dan swami besar, apa yang disebut pengikut agama Hindu semuanya tidak berguna, cabang-cabang kering dari agama Veda." Hare Krisnha, katanya, adalah satu-satunya eksponen dari agama Veda dewasa ini. Dalam satu wawancara yang diberikan untuk Bhavan's Journal tanggal 28 Juni, 1976, dia berkata, "India, mereka telah membuang sistem agama yang sesungguhnya, Sanatana Dharma. Secara takhyul, mereka menerima satu agama campur aduk (a hodgepodge thing) yang disebut Hinduisme. Karena itulah muncul kekacauan."

Sang Guru sering menjelaskan sikapnya, dan bertindak berdasarkan keyakinannya dalam membangun organisasinya yang dinamis. Pada kuliah 1974 di Mumbai (Bombai), dia menyatakan, "Kita tidak mengkotbahkan agama Hindu. Ketika mendaftarkan assosiasi ini, saya dengan sengaja memakai nama ini, 'Krishna Consciousness,' bukan agama Hindu bukan Kristen bukan Buddha."

Srila Prabhupada menyadari bahwa masyarakat India memiliki kesan yang keliru mengenai kehinduannya. Dalam satu surat tahun 1970 kepada pengurus sebuah pura di Los Angeles, dia menulis, "Masyarakat Hindu di Barat mendapat perasaan baik untuk saya karena secara dangkal mereka melihat bahwa saya menyebarkan agama Hindu, tapi nyatanya gerakan Kesadaran Krishna ini bukan agama Hindu bukan pula agama apapun." Hal itu tetap berlaku sampai dewasa ini, karena Srila Prabhupada tidak meninggalkan pengganti dengan wewenang untuk mengubah ‘edict’ atau bhisama spiritual ini.

Jadi kenapa masyarakat Hindu umumnya secara keliru percaya bahwa Hare Krishna adalah sebuah organisasi Hindu, ketika mereka tidak pernah menyatakan dirinya sebagai Hindu?

Kadang-kadang mereka sengaja menimbulkan kesan itu. Selama pembukaan temple mereka di New Delhi dan Bangalore, di mana berita-berita surat kabar sering mengidentifikasikan temple-temple besar ini sebagai Hindu, siaran press dari Hare Krishna, seperti yang dikeluarkan pada tanggal 15 April 1998, tidak pernah menggunakan kata Hindu. Namun, ketika para pengikut mereka dari India yang melayani kedua temple ini ditanya oleh wartawan pada akhir bulan Juli untuk tulisan ini, mereka bilang ini adalah pura Hindu.

Ketimpangan antara persepsi publik dengan kebijakan internal mereka lebih dibingungkan lagi dengan pengecualian resmi dari kelompok ini berkaitan dengan posisi mereka terhadap non-Hindu. Bila menghadapi kesulitan, para pemimpin Hare Krishna memohon kepada masyarakat Hindu untuk membantu mereka, misalnya ketika menghadapi perkara atas gedung ‘Bhaktivedanta Manor’ di Inggris atau ketika dituntut oleh orang Kristen di Russia dan Polandia (yang menganggap Hare Krishna hanyalah gerakan ‘cult’ dan meminta agar pemerintah melarang mereka). Dalam permohonan kepada hakim dan pemerintah, kata Hindu dipergunakan secara terbuka. Dalam kasus-kasus hukum yang lain, termasuk kasus di Mahkamah Agung Amerika Serikat, Hare Krishna berusaha menangkis label "cult" dengan menyatakan dirinya sebagai satu sampradaya Hindu tradisional, dan meminta orang-orang Hindu yang lain untuk menguatkan hal ini di pengadilan. Organisasi-organisasi lain yang berpisah dari agama Hindu, seperti Transcendental Meditation dan Brahma Kumaris, tidak pernah mengkompromikan sikap mereka dalam keadaan apapun.

Yang juga memisahkan Hare Krishna adalah penolakan dan kritiknya terhadap agama Hindu, khususnya di antara anggota mereka sendiri. Ada banyak laporan mengenai orang-orang Hindu yang bergabung dengan Hare Krishna yang hanya diajarkan untuk menolak agama keluarga mereka. "Sebelumnya kita adalah Hindu. Sekarang kita adalah Hare Krishna," demikian dikatakan oleh beberapa orang. Pada saat yang sama, organisasi ini sering mengajukan permohonan kepada masyarakat dan pengusaha Hindu untuk bantuan keuangan bagi program sosial dan politik mereka untuk melidungi Hare Krishna dari pelecehan dan tuntutan.

Melihat pada penampilan Hare Krishna -- pakaian para anggota, nama, bhajana, perayaan, pemujaan, kitab suci, ziarah, bentuk bangunan temple dan lain-lain – tidaklah mengherankan banyak orang menganggap mereka adalah Hindu. Bahwa nyata mereka bukan Hindu tentu akan mengagetkan banyak orang — baik Hindu maupun non-Hindu.

Prof. Surendranath Dasgupta menyatakan bahwa menurut Shankara dalam komentarnya di Brahma Sutra setidaknya ada 3 Kapila, yaitu Kapila pertama disebutkan di MahaBharata, yaitu Kapila yang mengubah anak-anak Sagara menjadi debu, yang juga merupakan reinkarnasi Visnu [MahaBharata: 3, 47,18; 3, 107, 31; BG: 10.26], Kapila kedua adalah yang terlahir dari api [MahaBharata, 3, 220, 21], inilah yang diduga sebagai pengarang atheistic samkya, dan Kapila yang ketiga muncul di Upanisad [Upanisad Svetasvatara Upanisad 5.2]. Upanisad Shvetãshvatara, berisikan personifikasi Rûdra melalui pemujaan dan Cinta yang hikmat padanya sebagai “Pribadi Tuhan”

Das Gupta menyatakan bahwa filsafat samkhya telah banyak di gubah dari waktu ke waktu dan oleh banyak penulis. [A History of Indian Philosophy, Cambridge 1922 on, reprinted Motilal Banarsidas, Delhi, 1975, hal.36 ,38]. Professor Das Gupta, menyatakan bahwa:
  • Saamkhya kaarikaa of Ishvara Krishna (iishvara krshhNa) which Das Gupta assigns to about 200 CE
  • Saamkhya pravacana sutra, yang memuat nama Kapila ada di setelah abad ke 9 dan kitab komentar pertamanya di abad ke 15 M, sedangkan Radhakrishnan menyatakan ajaran itu ada di abad ke 14;
  • Bahwa banyak referensi yang lebih awal terutama tulisan yang berhubungan dengan Caraka dan di MahaBharata, tidak mencerminkan pilosofi samkhya yang dikenal sekarang. Ia berpendapat bahwa di tradisi aliran samkhya yang lebih tua, Caraka samkhya tidak menyebut adanya Tanmatra.
  • Di buku 12. MahaBharata, disinggung mengenai pandangan Samkhya, tatva yang ke 24 s.d 26. Ia memberikan dugaan bahwa itulah Caraka saamkhya, dari teks klasik Samkhya dan saamkhya dari tradisi yoga.
Mengapa penting untuk melihat Samkhya ini?

Samkhya Yoga disebutkan di Bhagavad Gita bab 2.54-64, membicarakan tentang hasil Samkhya, yaitu kecerdasan mantap/seimbang, menjadi seorang muni yang teguh iman, berhasil menghayati yang tertinggi, yang memiliki cirri-ciri:
  1. telah dapat menyingkirkan segala keinginannya,
  2. pikirannya tak terusik di tengah-tengah kesenangan; yang nafsu, rasa takut dan kemarahannya telah lenyap,tanpa rasa keterikatan lagi,
  3. yang tiada bersenang hati maupun bersedih dalam perolehan yang baik maupun yang buruk,
  4. menarik semua indra dari obyek-obyeknya, seperti kura-kura yang menarik anggota badannya masuk ke dalam cangkangnya
Membicarakan ini, maka kita harus melihat pada Krisna, yang dianggap sebagai pembawa ujaran ini kepada arjuna. “fakta” yang ada di Itihasa menyatakan bahwa 13/14 tahun sebelum perang kuruksetra [sebelum peluncuran ajaran Gita] yaitu saat upacara rajasurya di Indraprasta, Sisupala, sepupu Sri Kresna, menghina Sri Kresna di depan umum. Penghinaan itu diterima Sri Kresna bertubi-tubi hingga melewati penghinaan ke-100 maka Kemarahan Sri Kresna memuncak, mengeluarkan Cakra Sudarsana dan memenggal kepala Sisupala di depan umum.

Di 13/14 tahun kemudian, setelah ujaran Bhagavad Gita disampaikan pada Arjuna di Hari pertama [H1] perang kurukhsetra.

Pada hari ke-3, Arjuna dan saisnya Kresna bertempur melawan Bhishma. Arjuna masih merasa tega dan segan untuk melawan kakeknya. Kresna menjadi sangat marah, ia mengambil chakra-nya dan berlari ke arah Bisma sambil berkata "Aku sudah tak bisa bersabar lagi, Aku akan membunuh Bisma dengan tanganku sendiri,". Arjuna berlari mengejarnya dan mencegah Kresna untuk melakukannya. Arjuna memegang kaki Kresna. Pada langkah yang kesepuluh, Kresna berhenti. Arjuna berkata, “O junjunganku, padamkanlah kemarahan ini. Paduka tempat kami berlindung. Baiklah, hari ini hamba bersumpah, atas nama dan saudara-saudara hamba, bahwa hamba tidak akan menarik diri dari sumpah yang hamba ucapkan. O Kesawa, O adik Dewa Indra, atas perintah paduka, baiklah, hamba yang akan memusnahkan bangsa Kuru!”. Mendengar sumpah tersebut, Kemarahan Kresna mereda namun masih tetap memegang senjata chakra. Kemudian mereka berdua melanjutkan peperangan di hari itu.

Pada hari ke-9, Arjuna dan Bisma saling bertempur, Bisma masih tidak terkalahkan dan Arjuna bertarung dengan setengah hati. Melihat itu, sekali lagi Kresna menjadi marah. Ia ingin mengakhiri riwayat Bisma dengan tangannya sendiri. Dengan mata merah menyala tanda kemarahan memuncak, Ia meloncat turun dari kereta Arjuna bergerak berjalan menghampiri Bisma dengan senjata Chakra di tangan, Kresna membidik Bisma. Melihat hal itu, Arjuna menyusul Kresna dan berusaha menarik kaki Kresna untuk menghentikan langkahnya. Dengan sedih dan suara tersendat-sendat, Arjuna berkata, “O Kesawa (Kresna), janganlah paduka memalsukan kata-kata yang telah paduka ucapkan sebelumnya! Paduka telah mengucapkan janji bahwa tidak akan ikut berperang. O Madhawa (Kresna), apabila paduka melanjutkan niat paduka, orang-orang akan mengatakan bahwa paduka pembohong. Semua penderitaan akibat perang ini, hambalah yang harus menanggungnya! Hambalah yang akan membunuh kakek yang terhormat itu!...” Kresna tidak menjawab setelah mendengar kata-kata Arjuna, tetapi dengan menahan kemarahan ia naik kembali ke atas keretanya. Kedua pasukan tersebut melanjutkan kembali pertarungannya sampai berakhirnya hari itu.

Krisna pada saat perang Kurukhsetra berumur 80 tahun dan 45 tahun kemudian, yaitu menjelang wafatnya krisna [125 tahun], terjadi peristiwa musnahnya wangsa Wresni akibat saling membunuh satu sama lainnya. Krisna dengan senjata cakra ditangan juga ada dalam peristiwa itu.

Memperhatikan fakta dan ajaran di atas, maka terlihat jelas bahkan Krisna-pun tidak berhasil menjalankan ajaran Samkya Yoga. Untuk itu dua kemungkinan yang terjadi

Penjelasan pertama, Ada dua Krisna yang berbeda dalam sejarah! [Adolf Holtzman, Arjuna, a contribution to the reconstruction of the Mahãbhãrata, p 61, cited by Muir, op.cit page xxiii. See also Lassen, Indische Altherthumskunde, vol I, page 488]

Penjelasan berikutnya, Krisna yang tertulis di MahaBharata saat ini, tidak mengajarkan Bhagavad Gita di H1 kepada arjuna. Artinya, benar pula bahwa Bhagavad Gita telah diselipkan dalam Itihasa susunan Vyasa. Holtzmann bahkan menyatakan bahwa di susunan itihasa sebelumnya [artinya sudah mengalami beberapa pengembangan], ujaran ini merupakan diskusi philosophis yang terjadi sebelum perang, mengenai Jiwa yang abadi antara Drona and Duryodhana dan bukan antara Krishna and Arjuna [Muir, op.cit, p xxii]

Literatur Buddhis pada Sutta Pitaka, Gatha Jataka Vol 454, mencatat satu kejadian penting yang berhubungan dengan penyampaian pengetahuan dari Vasudeva [Kesava]:

Setelah waktu yang lama berlalu, di saat Ia [Vasudewa/Kesava, sulung dan 9 saudara lelakinya] memerintah kerajaannya, putra dari sepuluh saudara tersebut berpikir: “Katanya, Kaṇha-dīpāyana [Kresna Dwipayana/Vyasa] memiliki mata dewa. Mari kita mengujinya.”

Maka mereka mencari seorang pemuda dan memakaikan pakaian wanita kepadanya dengan mengikat sebuah bantal di perutnya, membuatnya kelihatan seolah-olah seperti ia sedang hamil. Kemudian mereka membawanya ke hadapan Kaṇha dan bertanya kepadanya, “Tuan, kapankah waktunya wanita ini melahirkan?”

Petapa Itu mengetahui bahwa waktunya telah tiba bagi kehancuran Sepuluh Saudara tersebut; kemudian dengan melihat batas waktu bagi kehidupannya sendiri, ia mengetahui bahwa ia akan meninggal hari itu juga.

Kemudian ia berkata, “Anak muda, apa hubungan pemuda ini dengan kalian?” “Jawab kami terlebih dahulu,” desak mereka.

Ia menjawab, “Pemuda ini di hari ketujuh dari sekarang akan mengeluarkan sejenis kayu akasia. Dengan itu, ia akan menghancurkan garis keturunan dari Vāsudeva walaupun kalian mengambil batang kayu itu dan membakarnya serta membuang abunya ke dalam sungai.”

“Ah, petapa gadungan!” kata mereka, “Seorang laki-laki tidak akan pernah dapat melahirkan anak!” dan mereka melakukan pekerjaan dengan tali dan benang tersebut, mereka membunuhnya dengan segera.

Raja memanggil keempat pemuda tersebut dan menanyakan mengapa mereka membunuh petapa itu. Ketika mereka mendengar semuanya, mereka menjadi ketakutan. Mereka melakukan penjagaan terhadap pemuda tersebut. Dan di hari ketujuh ketika ia mengeluarkan sejenis kayu akasia dari dalam perutnya, mereka membakarnya dan membuang abunya ke dalam sungai. Abu itu terapung-apung di air sungai dan tersangkut di satu sisi dekat pintu gerbang rahasia; dari sana muncullah tanaman eraka.

Suatu hari para raja tersebut mengusulkan agar mereka pergi bersenang-senang dan bermain-main dengan air. Maka mereka datang ke pintu gerbang rahasia tersebut, sebelumnya mereka telah menyuruh orang untuk membangun sebuah paviliun yang megah. Di dalam paviliun ini mereka makan dan minum. Kemudian dengan bercanda mereka mulai main tangan dan kaki, dan terbagi menjadi dua kelompok, yang akhirnya menjadi perkelahian.

Salah satu dari mereka, yang tidak dapat menemukan benda yang lebih baik lagi untuk dijadikan pemukul, mengambil sehelai daun dari tanaman eraka itu, yang sewaktu dicabut langsung berubah menjadi batang kayu akasia di tangannya. Ia kemudian menggunakannya untuk memukul banyak orang. Yang lainnya pun mengikuti tindakan yang satu ini, dan benda itu sewaktu mereka mencabutnya tetap langsung berubah menjadi batang kayu akasia. Dengan kayu itu, mereka saling memukul sampai akhirnya mereka terbunuh.

Di saat mereka ini sedang menghancurkan satu sama lain, hanya empat yang melarikan diri dengan naik ke dalam kereta kuda—Vāsudeva, Baladeva [adik keduanya], adik perempuan mereka Putri Añjanā, dan pendeta kerajaan [Gatha pandita, adik ke 8], yang lain semuanya hancur.

Keempat orang tersebut melarikan diri dengan kereta itu ke hutan Kāḷamattikā. Di sana pegulat Muṭṭhika telah mengalami tumimbal lahir menjadi yakkha, seperti yang dimintanya. Ketika mengetahui kedatangan Baladeva, ia menciptakan sebuah desa di tempat itu. Kemudian dengan mengubah wujudnya menjadi seorang pegulat, ia berkeliaran di sekitar sana dan melompat- lompat sambil meneriakkan, “Siapa yang mau bertarung denganku?” dan membunyikan jari jemarinya.

Sewaktu Baladeva melihatnya, ia berkata, “Saudaraku, saya akan mencoba satu pertarungan dengan orang ini.”

Vāsudeva berusaha dengan segala daya upaya untuk mencegahnya melakukan hal itu, tetapi ia tidak mendengarkannya, turun dari kereta dan mendekati pegulat itu sembari membunyikan jari jemarinya juga. Pegulat itu langsung memiting kepalanya dan kemudian melahapnya seperti memakan lobak. Vāsudeva yang mengetahui bahwa ia telah mati, langsung pergi dengan adik dan pendeta tersebut, sampai matahari terbit mereka tiba di sebuah desa perbatasan. Ia kemudian berbaring di semak-semak pepohonan, sementara ia menyuruh adik dan pendeta masuk ke dalam desa, mencari dan membawa makanan kepadanya.

Seorang pemburu (namanya adalah Jarā, atau Usia Tua) melihat semak-semak itu bergoyang.

“Kemungkinan besar itu adalah babi,” pikirnya.

Ia melempar tombaknya dan itu menusuk kaki Vāsudeva. “Siapa yang telah melukaiku?” teriak Vāsudeva.

Pemburu tersebut yang baru mengetahui bahwa ia telah melukai seseorang, langsung berusaha untuk lari karena ketakutan. Raja yang mengetahui siapa pelakunya, bangkit dan memanggil pemburu tersebut, “Paman, kemarilah, jangan takut!”

Ketika ia kembali. “Anda siapa?” tanya Vāsudeva.

“Namaku adalah Jāra, Tuan.” Raja berpikir, “Ah, Luka yang disebabkan oleh Usia Tua akan mengakibatkan kematian, demikian yang dikatakan pepatah kuno. Tidak diragukan lagi saya akan meninggal hari ini.”

Kemudian ia berkata, “Jangan takut, Paman. Mari tutup lukaku ini.”

Luka tersebut kemudian diikat dan ditutup olehnya dan raja membolehkan ia pergi. Rasa sakit yang amat sangat mulai menyerang dirinya. Ia tidak bisa memakan makanan yang dibawakan oleh kedua orang tersebut. Kemudian Vāsudeva berkata kepada mereka: “Hari ini saya akan meninggal. Kalian adalah makhluk yang lembut dan tidak akan pernah dapat mempelajari apapun untuk bertahan hidup; jadi belajar dariku tentang ilmu pengetahuan alam ini.”

Setelah berkata demikian, ia mengajarkan ilmu pengetahuan alamnya kepada mereka dan menyuruh mereka pergi. Kemudian ia pun menemui ajalnya. Demikianlah satu per satu dari mereka meninggal, kecuali Putri Añjanā.

Pada pendapat kedua di atas, kita temukan satu titik terang bahwa ajaran Vasudeva [kesava] diturunkan saat menjelang wafatnya beliau, namun demikian petunjuk tersebut tetap tidak menunjukan bukti adanya: pemujaan krisna, Ide Avatar Visnu dan pemujaan terhadap Visnu di jaman sebelum Buddha hingga Buddha Wafat.

Paling tidak, ada satu hal yang dapat dianggap sudah terjawab, yaitu Ketidaksesuaian antara karakter Krisna sebagai seorang Yogi dan ujarannya di Bhagavad Gita adalah wajar karena kesadaran Yogi mungkin saja muncul di menjelang wafatnya beliau [itupun dengan catatan bahwa Pengetahuan alam yang diajarkannya adalah berupa Upanisad dan Samkhya]

Alasan lain yang mendukung pendapat bahwa Krisna tidak mengajarkan Bhagavad Gita kepada arjuna di H1, Medan perang Kurukhsetra adalah mengenai jumlah waktu yang digunakan untuk menyampaikan ujaran dihadapan dua pasukan yang sudah tidak sabar untuk saling menghabisi!

Mari kita hitung bersama perkiraan waktu yang dibutuhkan!

Bhagavad Gita yang kita kenal saat ini terdiri dari 700 syair, andaikata satu syair disampaikan 10 detik hingga 20 detik, ditambah dengan waktu tempuh pulang dan pergi ke tengah lapangan kurukhsetra dan kembali [misal: 10 menit] maka diperkirakan ada 7000 hingga 14000 detik yang diperlukan! atau setara dengan 2 – 4 Jam penyampaian!

Waktu sepanjang ini merupakan penantian waktu yang sangat lama bagi para pihak yang sedang berhadapan di medan perang berikut kelengkapan perang dan strategi masing-masing untuk mengalahkan musuh!

Para saksi di lapangan tempur jelas tidak mendengar percakapan itu. Namun di satu tempat lainnya yaitu di Hastina Pura, Sanjaya, yang telah menerima “berkah” dari Vyasa untuk dapat melihat kejadian perang besar tersebut menyampaikan seluruh kejadian dihadapan Drestarasta dan Istri [Gandari] serta Kunti. Ia jelas memerlukan waktu untuk menyampaikannya. Disamping itu tidak ada catatan sejarah selanjutnya yang menyatakan bahwa Sanjaya, Kunti, Drestarasta dan Istri [Gandari] pernah menyampaikan ujaran itu kepada orang lainnya.

Jadi, adalah tidaklah wajar jika penyampaian ujaran dilakukan saat itu juga.

Dari tulisan diatas, dapat kita ringkas bahwa:
  1. Literature Buddha menyatakan hanya Tri veda bukan Catur Veda. Literatur hindu menyatakan catur veda namun 3 Veda disusun banyak tahun mendahului Atharva veda.
  2. Upanisad yang termasuk golongan sruti menyatakan Veda ke 5 adalah Itihasa dan Purana
  3. Catur Veda [Atharva veda] menyatakan bahwa Itihasa dan Purana termasuk Veda, ini juga menunjukan secara tersurat bahwa Atharva Veda disusun setelah Itihasa dan purana ada.
  4. Matsya purana, Visnu purana menyatakan Vyasa adalah penyusun Veda.
  5. Matsya purana, Visnu purana, KanhaDipayana, serta Gatha jataka menyatakan Vysa bukan satu orang, bukan orang yang sama, ada banyak Vyasa dan hidup di setiapYuga.
  6. Karena Veda "harus" disusun oleh Vyasa dan dinyatakan ada lebih dari 1 (satu) Vyasa, maka setelah jaman Buddha sekurang-kurangnya ada satu Vyasa lagi yang menyusun Atharva Veda dan purana-purana
  7. Gatha jataka, Ankurapetavatthuvannana dan Kanhapetavatthuvannana menyatakan ada nama Vasudeva [kesawa], baladeva, ajjuna dan 7 saudara yang lain menaklukan kerajaan-kerajaan di India dan yang menyatukannya, serta kematian Vasudeva akibat terkena panah Jara. Jadi Itihasa MahaBharata adalah nyata namun demikan terdapat perbedaan besar kisah Vasudeva [kesava] dan Ajjuna antara yang ada diliteratur Buddha dan literatur Hindu. Didalam literatur Hindu sendiri. terdapat banyak variasi Mahabharata, ini mengindikasikan telah terjadi perubahan dan pengembangan terhadap kisah Mahabharata.
  8. Di Jaman Buddha yang ada hanyalah Pemujaan terhadap Brahma. Ide mengenai Avatar tidak ada dijaman itu, tidak ada pemujaan Visnu dan tidak ada pemujaan terhadap Krishna saat itu. 64 cabang philosopi yang ada di jaman Buddha tidak ada dan tidak mengenal pemujaan terhadap Visnu.
  9. Pengarang Philosophy samkhya adalah Kapila, sekurang-kurangnya ada 3 Kapila yang dikenal yang berhubungan dengan penyusunan filsafat Samkhya, dua kapila disebutkan dijaman MahaBharata. satu Kapila hidup di abad ke 5 bersamaan jaman dengan Panini. Das Gupta juga menyatakan bahwa tulisan-tulisan samkhya telah mengalami perubahan dari jaman ke jaman.
  10. Kalimat sloka Bhagavad gita yang menyatakan adanya keunggulan “Dvandva” diantara 6 kelas paduan kata-kata dalam tatabahasa Sanskrit, membuktikan bahwa Bhagavad Gita di susun setelah adanya bahasa Sanskrit. Panini tidak pernah menyatakan 1 (satu) paduan kata-kata lebih unggul dari 5 paduan kata lainnya, ucapan itu pertama kalinya dinyatakan oleh Patanjali.
  11. Dua pasukan yang saling berhadapan dan siap saling menghabisi di hari pertama perang besar, terutama dari pihak Kurawa, tidak akan membiarkan siang hari berakhir percuma dengan membiarkan Arjuna dan Krisna menghabiskan waktu antara 2 jam hingga 4 jam di hari itu dan di tengah lapangan pertempuran.
Sekarang, tanpa diragukan lagi, kita dapat menyatakan bahwa Bhagavad Gita ada setelah jaman Buddhis, yaitu di kisaran 300 SM -200 SM. Mendiang K. T. Telang, Seorang Hindu ahli, yang penuh dengan kritikan tajam, setelah menganalisa Gita dengan teliti, menetapkan tahun kepastian kapan Gita itu dibuat yaitu sebelum Abad ke 2 hingga abad ke 5 SM [Sacred Books of the East, Volume 7 page18] dan tak diragukan lagi banyak dari argumennya sangat telak dan meyakinkan misalnya buku ini ada di abad ke 3 SM, Nãgãrjuna, seorang Biksu Buddhis aliran Mahayana, yang lahir di sekitar Konsili Buddhis ke 3 [242 B.C] dikatakan mempunyai mata seperti Brahman [Kern, Manual of Buddhism, page 122 gives references on this to A. Schiefner’s works on Tibetan Buddhism]

Kita mungkin tidak pernah tahu siapakah pengarang Gita yang sebenarnya, namun siapapun mereka ini, haruslah seorang yang multi talenta dengan kualitas dan kombinasi kapabilitas yang super, yaitu: Penyair, Filsuf, Ahli bahasa, Mistiskus, dan Ahli cabang-cabang ilmu lainnya. Dari beberapa orang yang pantas menyusun dan mengembangkan Bhagavad Gita [dan MahaBharata] maka salah satunya adalah Patanjali.

Jelas sudah bahwa Bhagavad Gita tidaklah pernah dapat di sebut sebagai Pancama Veda.



Pustaka:
  • R.G Bhandarkar Journal of Bombay Branch R.A.S, vol 10 p 85, cited in Muir’s Metrical Translations from Sanskrit Writer’s, Page xxxv; A.A. Macdonell, Sanskrit Literature, pp 283 et seq. For the results of a careful analysis of the whole epic, see L. von Schroeder, Indiens Literatur and Kultur
  • C. Jinarajadasa (1915). "The Bhagavad Gita". Theosophical Publishing House, Adyar, Madras. India. http://www.theosophical.ca/BhagavadGitaCJ.htm. Retrieved on 2008-09-24. "…an analysis of the epic shows at once by differences of style and by linguistic and other peculiarities, that it was composed at different times and by different hands"
  • Zaehner, Robert Charles (1973). The Bhagavad-Gita. Oxford University Press. p. 7. "As with almost every major religious text in India no firm date can be assigned to the Gītā. It seems certain, however, that it was written later than the 'classical' Upanishads with the possible exception of the Maitrī which was post-Buddhistic. One would probably not be going far wrong if one dated it at some time between the fifth and the second centuries B. C."
  • Raja Ram Mohan Roy, Vedic Physic-Scientific Origin of Hinduism, Alih bahasa: Gede Manggala, Posted by Ketut Adi on 2003-09-22 di http://www.iloveblue.com/
  • http://www.levir.com.br/theotext.php?cod=0066
  • http://www.samaggi-phala.or.id/tipitaka/sutta/digha/tevijja.html
  • http://www.indianetzone.com/39/origin_indian_puranas.htm
  • http://www.mypurohith.com/encyclopedia/EnclopA6.asp
  • http://www.samaggi-phala.or.id/tipitaka_dtl.php?cont_id=1263
  • http://indianethos.mill3.com/history/i_history.htm
  • http://en.wikipedia.org/wiki/Vyasa
  • http://en.wikipedia.org/wiki/Samkhya
  • http://web.archive.org/web/20041023062627/http://www.philo.demon.co.uk/enumerat.htm
  • http://books.google.co.id/books?id=Ml2H_z0E7bAC&pg=PA38&lpg=PA38&dq=who+is+kapila&source=bl&ots=nXFMTg9Zjz&sig=l5TdBgy6ojVF_ahXu8KLAkKAKJ4&hl=id&ei=b6SzSaq4NdXLkAXJ4t20BA&sa=X&oi=book_result&resnum=3&ct=result#PPA38,M1
  • http://www.indopedia.org/Sanskrit.html
  • http://www.gosai.com/dvaita/madhvacarya/srimad-bhagavatam.html
  • http://www.harekrsna.com/sun/features/07-08/features1072.htm
  • http://www.cyberdharma.net/v1/about-cdi/58-purana-pancama-veda-part-1.html
  • http://72.14.235.132/search?q=cache:OPlclhD51ZAJ:www.archive.org/stream/classicaldiction014376mbp/classicaldiction014376mbp_djvu.txt+she-jackal,+Taittiriya,+Indra&hl=id&ct=clnk&cd=6&gl=id&client=firefox-a
  • http://www-history.mcs.st-andrews.ac.uk/Biographies/Panini.html
  • http://www.mahabharataonline.com/stories/mahabharata_characters.php

34 comments:

  1. Hasil dari tulisan di atas bagi orang Hindu di milis Hindu-Dharma Net adalah ini:

    ----- Forwarded Message ----
    From: Made Gede Mahardhika, "mg_mahardhika@yahoo.co.id"
    To: HDNet "hindu-dharma@itb.ac.id"
    Sent: Wednesday, March 11, 2009 9:22:24 PM
    Subject: [hindu] Banned untuk member yang tidak Santun

    Om Svastyastu,

    Setelah diskusi beberapa kali, kami administrator dengan sangat menyesal mencekal anggota (bp.Wirajhana) yang secara sengaja menulis dengan kata2 yang tidak santun dan menghina. Apalagi secara sengaja dan berkali2 menghina kitab yang dianggap suci oleh umat hindu pada umumnya (seperti Veda dan Bhagawadgita) . Jadi bagi rekan2 lainnya, tolong tetap dijaga sopan santun dalam berdiskusi.

    Selamat melanjutkan diskusi,
    Namaste,
    MG Mahardhika
    --------------------------------------------------------

    ReplyDelete
  2. ini xenocross
    bro, kalau mau liat pandangan buddhis terhadap samkhya, ada lho. Disusun oleh Buddhis yg waktu itu sezaman dengan samkhya. Isinya pertama ngejelasin, lalu ngebantah.
    Tulisan anda disini bisa dipakai untuk membantah pernyataan bahwa Buddha adalah avatar visnu lho
    hohohohoho

    ReplyDelete
  3. Xeno,
    Bisa ngga potingkan Samkhya versi Buddhis di comment topik ini...

    tujuan saya biar semua orang jelas bedanya..note tolong kalo yang diposting adalah kanonik pali teks dan bukan komentar canon pali.

    Alasannya adalah, kanonikal pali teks tipitaka masih merupakan ucapan Buddha [atau murid Buddha yang arahat dan sejaman dengan Beliau], namun kitab2 komentar dibuat di setelah masehi [rata2] dan itu merupakan pengaruh debat dengan Adi Shankara seorang ahli Samkhya juga

    tks a lot

    note:
    kalo bisa kasih linknya juga agar masing2 pihak yang baca bisa saling cross check

    Menurut beberapa Waisnawa dan Sivaism..Buddha adalah avatara visnu setelah Krisna

    Menurut beberapa Vaisnava, avatara visnu terakhir adalah Krishna

    menurut beberapa situs, yang tertulis di Srimad Bhagavatam di atas adalah bukan Buddha Gautama namun Buddha yang lain, masalahnya mereka yang berpendapat itu juga tidak mempunyai pijakan yang kuat karena tidak ada lagi yang bernama Buddha lain yang berhubungan dengan Buddha Gaya.

    ReplyDelete
  4. Ini bisa untuk bahan skripsi bli wirajhana

    ReplyDelete
  5. Machali,
    silakan...dan mohon croscheck juga linknya...

    Fyi, anggota di milis diatas itu termasuk orang-orang hindu "terpelajar"..bisa jadi salah satu diantara mereka ngajar juga di sekolah anda maka..Siap2lah terima perasaan ngga senang dari Dosenmu..dan juga berpotensi ngga lulus ato di Keluarin dari sekolah!


    Note:
    mmhhh...Bisa jadi, beberapa orang dari milis itu masih mau baca ulang tulisan2 topik ini juga comment2 dibawahnya..mungkin beberapa dari mereka yang KONTRA akan memberanikan diri untuk memberikan tambahan2 penjelasan mengapa saya dikategorikan menghina.
    ----

    Untuk membaca comment2 lain yang berkaitan dengan topik ini silakan buka Face book ku di:

    http://www.facebook.com/home.php?ref=home#/note.php?note_id=69791952360

    ReplyDelete
  6. Pak eka sorry punyeng aku bacanya.....
    singkat aja aku mau koment itu yg kamu tulis referensinya dapet dari mana jek or itu hasil analisis bapak aja or apa ya......yah ujung-2nya apapun yang bapak denger baca liat dan bapak tulis semua adalah ujung-2nya ada pada tingkat spiritual kita masing-2. bagi yang marah/jengkel/iri or yang menerima pendapat tulisan bapak, kita bisa kliat kok tingkatan mereka ,......semoga pikiran baik datang dari segala penjuru........IN

    ReplyDelete
  7. dari: Introduction to the Middle Way
    Chandrakirti’s Madhyamakavatara
    With commentary by Dzongsar Jamyang Khyentse Rinpoche


    (a) Autogenesis (Self-Arising)
    Here our symbolic opponents are the Samkhya school, which was founded by Kapila, who is thought to have lived in the 7th century BC. It advocates a quite complicated dualistic vision of the universe, starting with the old question, what is the universe made of. It leads on to questions about the true self or, more accurately, telling the true self from that which appears to be self.
    According to the Samkhyas, there are two basic categories in the universe: purusha and prakriti.
    They say that the history of the world is the history of these two fundamental constituents, which is quite different from Upanishad thought. From this simple dualism develops a very complex set of interrelations between purusha, which is like the spirit of atman, and prakriti, which is like the matter of original nature. The nature of purusha is spirit; it is many spirits. It is being, consciousness. It is limitless, untainted awareness.

    The Samkhyas argue that the world is formed as purusha infuses prakriti, and thereby stimulates the three states of prakriti, which are called the three gunas. These are activity (rajas in Sanskrit), inactivity (tamas) and transparency (sattva). This is a very interesting theory – it is the highest Hindu philosophy. If you are not careful when explaining the Buddha nature, you might end up talking about something more like purusha.
    The gunas interact and play different parts in the development of prakriti. As prakriti is
    activated, it becomes buddhi, or intellect, out of which individual egos evolve. Individuals often confuse their ego with their true self, and liberation can only happen when the true distinction is understood. The true liberation is obtained at death, when the bonds between purusha and prakriti are dissolved.
    The Samkhya school also believes strongly in causation. This part is important. They argue for cause, effect and the indestructibility of matter. Scientists say something quite like this. It is known as the theory of existent effect, which means that the effect already exists in the cause of all things. So, in some mysterious way, the cause of something pre-exists its effect, although they are distinct. Consider a jar of clay, for example. The jar is the clay, but it is not the lump of clay.
    The basic idea is that what already exists cannot change, and what is not existent cannot be born.
    This is a very good idea! What is there cannot be changed into something else, what is not there cannot be born. In a way, it is a dualistic view, and they accept that. They are saying that in that clay, the vase is already there. It is not as though it was clay before and then becomes, or changes into, a vase. They are saying that the pot is in the clay: the effect exists at the same time as the cause. I am sure that if I prepare for a few days and then take the side of the Samkhyas, most of you will end up fumbling with words as you try to attack me. The Samkhyas are a great school, not just a stupid bunch of people!

    [Q]: What happens if the pot breaks?
    [A]: Which pot? If you are making another pot with the broken clay, then the other pot already
    exists there. Cause and effect exist at the same time. It is known as the theory of the
    existent effect. Water has the effect of quenching our thirst. This effect is there, which is
    why we drink water. If it did not have the effect of quenching thirst, then no matter how
    much water we might drink, it would never quench our thirst. This logic is incredible!
    [Q]: Is there a substance that is underneath all this?
    [A]: Yes – prakriti, in its three states of rajas, tamas and sattva.
    [Q]: But this makes no sense.
    [A]: That is good! Because that is exactly what Chandrakirti is saying. You do not need to know
    everything about the Samkhya school here; all you need to know is that one of their
    essential theories is that the cause already contains the result. Their logic is that what is existent cannot be changed, and what is not existent cannot be born. So, within the clay,there must be a pot. If the pot does not already exist there, then it cannot be born. So, no matter how a potter might try to make a pot, he could never create one.
    [Q]: If the effect already exists in the cause, we cannot speak of the theory of causality.
    [A]: I am not defending them! We will come to all this shortly.

    (i) Reasoning from the commentary (Madhyamakavatara)
    [H16] (a) Autogenesis refuted by suchness
    [H17] (i) Untenable consequences explicit in the opponent’s statement

    I do not know how you are finding things like these syllogisms. You might think that we are
    learning new things here, but we are not. We are learning something that we have always done,

    but in order to study a philosophy, we have to learn about our normal habits using words and categories. This is why you might find it difficult.
    Even when a cook boils an egg, there is a complete syllogism and a complete inferential logic. If you have this much water, this much heat and this much fire in the stove, the egg will be cooked around this time. So now you might ask, why do we need to study this? We need to study this because we are trying to prove something that cannot be directly cognised, like the fire on the hill. That is not an object of direct cognition. But if you can see the smoke, then you can say that there must be fire. This is the syllogism, the inferential logic, and we have drawn conclusions this way for many centuries. It is similar in this case, when we talk about the refutation of ‘born from the self’, or autogenesis. However, the root text is very condensed, and you may find it hard to follow, so I will explain it briefly and then we should have a discussion.

    (a) Such genesis would be meaningless (Buddhapalita’s refutation),
    6:8.3-4
    There is no purpose in something already arisen arising again.
    What is already arisen cannot arise again.

    Chandrakirti starts to negate self-birth in the third line of the 8th sloka. The third and fourth lines of the 8th sloka are Buddhapalita’s refutation. He argues that if things are born from the self, then there is no purpose or benefit to the act of birth. The act of birth is not even necessary if things are born from the self, because they are already there. As we have seen, the Svatantrikas say that mental formations are not born from the self because they are existent. You can only have the idea of birth for something that does not already exist. There was no flower in your garden before, but now it is being born

    Do not think that this is complicated. It is very simple. If something is already there, then it cannot be produced, because it is already there. If something is born from the self, then there must already be a self there that is giving birth. And if the self is already there, then what is the point of being born? The whole purpose of so-called taking birth is that you do not have a child, so you produce a child. But here, the child is already there. If somebody walks into the tent and says she has come from the kitchen – that is our ordinary conception. But in this kind of analysis, she was already here. That coming from the kitchen does not exist. These are hidden simple aspects of life. They are very simple, but they usually remain hidden in our lives. The important thing to remember is that the Samkhyas say the result is already there.

    The Samkhyas are saying that cause and effect have one essence, and that the cause contains the result. In the ninth chapter of the Bodhicharyavatara, Shantideva negates this argument, saying that in this case, when you eat rice, you must be eating s**t (9:135.3-4). You might argue that there is a potential of s**t there, and that this is what you are eating. But because the Samkhyas believe in things being truly existent, they cannot use the word ‘potential’. They believe that purusha is truly existent, that prakriti is the wealth of the purusha, and that purusha enjoys the prakriti. Purusha, the atman, is truly and permanent existent, so they cannot even dream of talking about potential. Words like ‘potential’ belong to the dependent arising school, people like us.

    (b) No genesis would ever actually occur (Chandrakirti’s refutation),
    6:9.1-2
    If you truly believe something already created could recreate,
    Production such as germination could not occur in ordinary experience.

    The first two lines of the 9th sloka are a new negation by Chandrakirti. The Samkhyas say that cause and effect have one essence, so they are saying that the seed comes from the seed, because they are one essence. This is another Prasangika method of attack. Since the Samkhyas believe things have the same essence, they are saying that seed is producing seed. In this case, there will never be a time with a shoot. The occurrence of shoot can never exist at all, because the time is totally occupied by the seed.


    (ii) Conflicting consequences implicit in the opponent’s statement
    [H18] (a) Such genesis would be endless,
    6:9.3-4
    Or a seed would continue to recreate until the end of existence –
    What [sprout] would ever cause it to cease?

    The third line is very similar to the first two lines, but concentrating more on the seed. Here the Samkhyas will have the consequence that the seed will continue forever, so the shoot will not have a chance to arise. The fourth line is almost like an answer to a question, which is hidden here. The question, or objection, from the Samkhyas is that when a seed produces a shoot, the condition of the seed gradually changes because of things like water, earth, moisture and warmth and so the seed gradually becomes a shoot. Chandrakirti’s answers: how can it destroy itself, because according to the Samkhyas, the causes and conditions are not separate from the shoot. If they are separate, their theory is that phenomena are other-born, not self-born

    (b) The nature of cause and effect would be mixed up,
    6:10.1-2
    A sprout different from its instigating seed – with a distinct form,
    Colour, flavour, potency and ripening – could then not exist.

    The first and second lines of the 10th sloka say that for the Samkhyas who believe in the selfborn, a consequence will be that the cause and the result will become mixed up. In other words, he is saying you could never differentiate between the seed and the shoot, in terms of their colour, flavour, potency or ripening, because they are the same.

    (c) Cause and effect would be both different and the same,
    6:10.3-4
    If the self-substance of the previous vanishes,
    As it assumes another nature, what remains of its suchness?

    The two next lines are saying something like this. When you make yoghurt, you start with milk.
    But when the milk becomes yoghurt, you cannot say that the yoghurt is a different entity from
    the milk. You will not find a shoot that is a totally different entity from a seed. Another example is enlightenment. When you attain enlightenment, we Vajrayana people say things like this person gets enlightenment, this Buddha nature becomes awakened. The result is already there; all you need to do is realise this. But because you do not realise this, you create a separation between cause and effect. And that is delusion, which in turn creates all this illusion.
    Chandrakirti’s negation here is in the form of a question. He asks them: if the previous selfsubstance, such as the seed or milk, vanishes into another nature like yoghurt, then what remains of its reality or suchness? He is asking them, what remains of the thing that they call self-born?
    If something is self-born, then that same suchness must remain, but they have said that it is
    already transformed.

    6:11 If in ordinary experience seed is not different from sprout,
    You could have perception of neither seed nor sprout.
    And, if they were the same, when seeing the sprout,
    You should also see the seed. Thus, your thesis is unacceptable.

    If the seed is not different from the shoot, then the consequence for the Samkhyas is that in the same way that they cannot perceive the seed, they also will not see the shoot. Or because they are the same, then when they see the shoot, they should also see the seed. Now he negates selfborn even in the relative, conventional truth.

    (b) Autogenesis refuted by ordinary conventional experience,
    6:12.1-2
    Because a result is seen upon disappearance of the cause,
    To say they are the same is not accepted even in ordinary experience.

    Even in the ordinary experiences, although the cause such as milk exhausts, we can still see the result like yoghurt. That’s why even in ordinary experience, ordinary people would not say that cause and effect are one, because ordinary people would say that it was milk before and it has now become yoghurt. They would say that they are separate. This is why a thesis that believes in things being born from the self, such an imputation, cannot be accepted not only in the ultimate truth, but even in the conventional truth.

    [H16] (c) Concluding summary of these two,
    6:12.3-4
    So-called creation from a self, when properly investigated
    Is impossible, in suchness as well as ordinary experience.

    [H15] (ii) Reasoning from the commentary (Nagarjuna’s Mulamadhyamakakarikas),

    6:13
    If creation arises from a self, it follows that the created, the creator,
    The act and the agent all are the same.
    As these are not one, this ascertation is impossible,
    As there will follow the shortcomings already extensively explained.

    In conclusion, if one asserts that things are born from the self, then the one that is created, such as smoke or shoot, will become the same as the creator, like the fire or the seed. In addition, an act such as writing, and the agent, the writer, will also become the same. That is not possible, because there are so many shortcomings that we have already explained.

    [Q]: Can you summarise the problem with the Samkhyas?
    [A]: What Chandrakirti is unhappy about is that they are trying to establish a truly existent
    phenomenon here, purusha, and a prakriti which is like self-born. So, because you say they
    are truly existent phenomena, he refutes them with several different arguments. For
    example, they say that things are born from the self. Birth means that you produce
    something that you do not already have. Otherwise, what is the point of producing? What
    is produced? And if you do not have it already, how can it be born from something you do
    not have? If you separate these two words – born and self – there is a contradiction. It is
    not only a contradiction; it is meaningless. And it is not only meaningless; it is useless,
    because it is already there. But there is a big danger here, because we are trying to make it
    sound very simple to attack the Samkhyas, and I do not want to do this. They are very
    tough people. Actually, all we need to do is delete the word truly existing, and what they
    say makes a lot of sense. For example, they are saying that the conch has a sound. And this
    is true. But where they went wrong is that they said it is truly existent. If you were to ask
    Chandrakirti “Where does the nice sound of the conch come from?”, then conventionally
    speaking, he would say it is dependent arising. Mouth depends on the conch, conch
    depends on mouth and sound depends on conch and mouth: dependent arising. But the
    Samkhyas want to create a god, purusha, which is a truly existent creator. That is where
    they went wrong.
    [Q]: If we use ordinary conventional experience to refute the Samkhya argument, then why don’t
    we accept other-arising as true, since this is accepted by ordinary conventional experience?
    [A]: You will see when come to discuss the other-born. Today, our hero said that self-born is not
    accepted by ordinary people. But tomorrow, when we talk about other-born, he will say that
    ordinary people would say “I planted this tree”, “I planted this son in my wife’s womb”:
    they do not accept the other-born. He will slip to the other side again! Ordinary people are
    like Madhyamika people: they are flexible, and they do not analyse. The only difference is
    that ordinary people just accept a certain reality, but the Madhyamikas analyse and find out
    that things are dependent arising. Ordinary people do not have a path, but the Madhyamikas
    have a path.
    [Q]: I think we are misrepresenting the Samkhya position. We are analysing things that they say
    do not truly exist as if they truly exist. It seems to me that they are saying that Atman truly
    exists. When they say that all these phenomena are born from self, it is just a linguistic
    convention of theirs. What they mean is exactly what you mean. Things cannot actually be
    born from the self; they are an illusion. It seems as if they are born from the self, and it
    seems as if they have a separate nature, but in fact, they do not. They are all the Atman. So,
    we have separated their argument, and we are agreeing with them while also trying to show
    that they are absurd.
    [A]: The only trouble here is the truly existing. They believe in truly existent Atman, whereas
    we do not believe in truly existent emptiness or dependent arising.
    [Q]: But they say that atman is limitless. It has no beginning, so it was not born.
    [A]: But that is self-contradictory. They cannot both say that atman truly exists and that it is
    limitless.
    [Q]: Can you explain how they understand time?
    [A]: They say that time is illusion; it is maya. They are only slightly different from buddhism, I
    think. In the Vajrayana, the Samkhyas are so highly praised that their view actually
    qualifies as a defilement that needs to be purified by the first initiation, the vase initiation.
    They are very high.
    [Q]: Do the bodhisattvas have the view that we are trying to establish here?
    [A]: A bodhisattva on the sixth bhumi does not have the three fetters, and because of that, he
    does not have the clinging to the view of the Samkhya school. But nor does he have
    clinging to the view of the Madhyamika school, because he does not have clinging to any
    view. But right now, we are establishing a view for ordinary people like us. We are
    gradually beginning to establish a view by negating the four corners of birth from self,other, both, and neither. Today we are starting by negating the first corner, which is selfborn.
    [Q]: But what about when we talk about the bodhisattva seeing the gift, the giver and the
    recipient all as empty?
    [A]: That is totally different. The key here is truly existent. Bodhisattvas do not believe in truly
    existent emptiness. So, a bodhisattva understands the unity of these three by understanding
    that the three do not truly exist. This is why they cannot become one. For the Samkhyas,
    although they are also trying to say that they are all one, the difficulty is that they say they
    are based on truly existent purusha and prakriti. This is the problem.
    I think that the theory of self-born is actually quite difficult to communicate. Most of the time, if
    we are students of a philosophy, science, technology or whatever, we are usually more oriented
    towards the other-born. The self-born theory is almost something religious. I do not think that
    scientists talk about self-born, do they? Scientists do not have this problem of truly existent, do
    they? Of course, they still cling to truly existent emotions, but they do not try say that these are
    theoretically established.
    Let me give a simple example. I am. I have a clinging to a truly existent self. I am true. I am
    not like a rainbow; I feel pain when something hits me, I have emotions. Then I start a school,
    and after much analysis, I found that I am truly existent. That is a theory. It is the worst kind,
    because you already have your own share of problems, but now you are creating a new problem
    for yourself.
    Chandrakirti has compassion towards the kind of ignorance like feeling ‘I am truly existent’. He
    has very gentle compassion, and he gives us a path for this – compassion, bodhicitta and so on.
    But if I have created an idea or ideology of ‘I’, he has a very wrathful compassion. He does not
    teach me compassion or give me any meditation instructions. First, he will use my own logic
    and defeat me. He will show that my establishment of this self is wrong. Ordinary people do not
    share the ideas of the Samkhyas. Do you think that you are purusha? No, you think you are
    John, or whatever. Scientists fall into this second category.
    [Q]: But modern science is showing that the mind depends on the brain.
    [A]: If you say that brain is mind, I will accept that. Buddha also said it. Brain is part of the
    kamsum (khams gsum), the three realms. Buddha said everything is mind, so brain has to be
    mind! But mind is not brain; there is a difference. There is a problem if you think that
    mind is brain. Let us suppose that the brain presently sitting in your head, and all its brain
    cells, are all in good condition. And then I show you six objects in front of your head.
    There is no sickness and no dysfunction, and there are six objects, so the brain has to
    perceive all six objects simultaneously. But the brain chooses not to see all of them, and
    that choice comes from habitual patterns. This demonstrates that mind is not brain (see
    discussion starting on p.240).
    [Q]: The brain is a systemic organ. Science has shown that habitual patterns are created while
    young people are growing up, so what you are saying is not necessarily true.
    [A]: All right. We will come to this during other-production anyway. Debating with scientists is
    so difficult, because they do not have an established view! They are always changing their
    view, every century, every year, even every time they have a conference! When the Buddha
    taught the reality of the phenomena, he said that even before the Buddha came to this earth,
    it was like this. And even after all the buddhas have gone, it will still be like this. Even if
    buddhas are teaching something completely wrong, reality will never change. We do not
    need conferences; we do not need discussions. It is there, it has been like this, it is going to
    be like this and it is like this right now.
    [Q]: But who is there to say this?
    [A]: Nobody has to be there to say this. That reality is simply dependent arising.

    ReplyDelete
  8. Introduction to the Middle Way: Chandrakirti's Madhyamakavatara with commentary by Dzongsar Jamyang Khyentse Rinpoche, edited by Alex Trisoglio, Khyentse Foundation, 2003

    ReplyDelete
  9. saya ga ada samkhya yg dari pali teks... setau saya cuma yg ini yg menyinggung samkhya, dari candrakirti, filsuf buddhis yg merupakan murid nagarjuna

    ReplyDelete
  10. mungkin ini...
    http://www.accesstoinsight.org/tipitaka/mn/mn.001.than.html
    Mulapariyaya Sutta
    The Root Sequence

    Translator's Introduction

    The Buddha taught that clinging to views is one of the four forms of clinging that tie the mind to the processes of suffering. He thus recommended that his followers relinquish their clinging, not only to views in their full-blown form as specific positions, but also in their rudimentary form as the categories & relationships that the mind reads into experience. This is a point he makes in the following discourse, which is apparently his response to a particular school of Brahmanical thought that was developing in his time — the Samkhya, or classification school.

    This school had its beginnings in the thought of Uddalaka, a ninth-century B.C. philosopher who posited a "root": an abstract principle out of which all things emanated and which was immanent in all things. Philosophers who carried on this line of thinking offered a variety of theories, based on logic and meditative experience, about the nature of the ultimate root and about the hierarchy of the emanation. Many of their theories were recorded in the Upanishads and eventually developed into the classical Samkhya system around the time of the Buddha.

    Although the present discourse says nothing about the background of the monks listening to it, the Commentary states that before their ordination they were brahmans, and that even after their ordination they continued to interpret the Buddha's teachings in light of their previous training, which may well have been proto-Samkhya. If this is so, then the Buddha's opening lines — "I will teach you the sequence of the root of all phenomena" — would have them prepared to hear his contribution to their line of thinking. And, in fact, the list of topics he covers reads like a Buddhist Samkhya. Paralleling the classical Samkhya, it contains 24 items, begins with the physical world (here, the four physical properties), and leads back through ever more refined & inclusive levels of being & experience, culminating with the ultimate Buddhist concept: Unbinding (nibbana). In the pattern of Samkhya thought, Unbinding would thus be the ultimate "root" or ground of being immanent in all things and out of which they all emanate.

    However, instead of following this pattern of thinking, the Buddha attacks it at its very root: the notion of a principle in the abstract, the "in" (immanence) & "out of" (emanation) superimposed on experience. Only an uninstructed, run of the mill person, he says, would read experience in this way. In contrast, a person in training should look for a different kind of "root" — the root of suffering experienced in the present — and find it in the act of delight. Developing dispassion for that delight, the trainee can then comprehend the process of coming-into-being for what it is, drop all participation in it, and thus achieve true Awakening.

    If the listeners present at this discourse were indeed interested in fitting Buddhist teachings into a Samkhyan mold, then it's small wonder that they were displeased — one of the few places where we read of a negative reaction to the Buddha's words. They had hoped to hear his contribution to their project, but instead they hear their whole pattern of thinking & theorizing attacked as ignorant & ill-informed. The Commentary tells us, though, they were later able to overcome their displeasure and eventually attain Awakening on listening to the discourse reported in AN 3.123.



    MULAPARIYAYA SUTTA (1)

    Sumber : Sutta Pitaka Majjhima Nikaya I,
    Oleh : Tim Penterjemah Kitab Suci Agama Buddha,
    Penerbit Hanuman Sakti, Jakarta, 1996

    Demikianlah saya dengar:

    Pada suatu ketika Sang Bhagava berada di bawah pohon Sala-raja, di hutan Subhaga, Ukkhattha. Di tempat itu Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu: "Para bhikkhu."

    "Bhante," jawab para bhikkhu.

    Sang Bhagava berkata: "Para bhikkhu, saya akan mengajarkan dasar metode (mulapariyaya) semua dhamma, dengarkan, perhatikan dengan seksama, saya akan bicara."

    "Ya, bhante," jawab para bhikkhu menyetujuinya.

    Sang Bhagava berkata: "Para bhikkhu, dalam hal orang awam (puthujjana) yang tidak memperdulikan (assutava) para ariya, tidak melihat (adassavi) ariyadhamma, tidak mengetahui (akovido) ariyadhamma, tidak terlatih dalam ariyadhamma, tidak melihat orang-orang suci (sapurisa), tidak mengetahui dhamma orang-orang suci, tidak terlatih dalam dhamma orang-orang suci, namun mengetahui (sanjanati) 'pathavi' (padat) sebagai pathavi. Setelah mengetahui pathavi sebagai pathavi, ia berpikir tentang pathavi; ia memikirkan (dirinya) berhubungan dengan pathavi; ia memikirkan (dirinya) sebagai pathavi; ia berpikir bahwa 'pathavi milikku', ia gembira dalam pathavi. Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia tidak mengerti dengan baik.

    Ia mengetahui 'apo' (cairan) sebagai apo, setelah mengetahui apo sebagai apo, ia berpikir tentang apo; ia memikirkan (dirinya) berhubungan dengan apo; ia memikirkan (dirinya) sebagai apo; ia berpikir 'apo milikku', ia gembira dalam apo. Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia tidak mengerti dengan baik.

    Ia mengetahui 'tejo' (panas) sebagai tejo, setelah mengetahui tejo sebagai tejo, ia berpikir tentang tejo; ia memikirkan (dirinya) sebagai tejo, ... 'vayo' (angin) ... 'bhuta' (makhluk) ... 'deva' (dewa) ... 'Pajapati' ... Brahma (Dewa Brahma) ... Abhassara (Brahma Abhassara) ... Subhakinna (Brahma Subhakinna) ... Vehapphala (Brahma Vehapphala) ... Abhibhu (Abhibhu-brahma Asannasatta) ... Akasanancayatana..... Vinnanan-cayatana ... N'evasannanasannayatana ... 'dittha' (pandangan atau dilihat) ... 'suta' (didengar) ... 'muta' (dirasakan) ... 'vinnata' (diketahui) ... 'ekatta' (persatuan) ... nanatta (perbedaan) ... sabba (universal) ... 'nibbana' sebagai nibbana, setelah mengetahui nibbana sebagai nibbana, ia berpikir tentang nibbana; ia memikirkan (dirinya) berhubungan dengan nibbana; ia memikirkan dirinya sebagai nibbana; ia berpikir 'nibbana milikku', ia gembira dalam nibbana. Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia tidak mengerti dengan baik.

    Para bhikkhu, bagaimana pun seorang bhikkkhu siswa (sekha), yang belum mencapai kesempurnaan (appattamanasa), yang masih berusaha untuk mencapai pembebasan tertinggi (anuttara) dari ikatan, mengerti dengan baik tentang pathavi sebagai pathavi; karena mengetahui dengan baik tentang pathavi sebagai pathavi, maka ia tidak memikirkan tentang pathavi, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan pathavi; ia tidak memikirkan dirinya sebagai pathavi; ia tidak berpikir 'pathavi milikku', ia tidak gembira dalam pathavi. Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.

    Para bhikkhu, bagaimana pun seorang bhikkhu siswa yang belum mencapai kesempurnaan, yang masih berusaha untuk mencapai pembebasan tertinggi dari ikatan, mengerti dengan baik tentang 'apo' ... (penerjemah: seperti di atas, sampai dengan) ... 'sabba' ..., mengerti dengan baik tentang nibbana sebagai nibbana; karena mengetahui dengan baik nibbana sebagai nibbana, maka ia tidak memikirkan tentang nibbana, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan nibbana; ia tidak memikirkan dirinya sebagai nibbana; ia tidak berpikir 'nibbana milikku', ia tidak gembira dalam nibbana. Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.

    Para bhikkhu, bagaimana pun seorang bhikkhu arahat, yang telah melenyapkan semua kekotoran batin (asava), telah hidup dengan kehidupan (sempurna), telah melaksanakan tugas yang harus dikerjakan (katakaraniyo), telah melepaskan beban (ohitabharo), telah mencapai tujuannya (anuppattasadatto), telan melenyapkan semua belenggu (samyojana), yang terbebas (vimutti) dengan pengetahuan sempurna, ia pun mengerti dengan baik tentang 'pathavi' sebagai pathavi; karena mengerti dengan baik mengenai pathavi sebagai pathavi, maka ia tidak memikirkan tentang pathavi, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan pathavi; ia tidak memikirkan dirinya sebagai pathavi; ia tidak berpikir 'pathavi milikku', ia tidak gembira dalam pathavi. Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.

    Para bhikkhu, bagaimana pun seorang bhikkhu arahat, yang telah melenyapkan semua kekotoran batin, telah hidup dengan kehidupan sempurna, ... ia pun mengerti dengan baik tentang 'apo' ... ia pun mengerti dengan baik tentang 'nibbana' sebagai nibbana; karena mengerti dengan baik mengenai nibbana, ia tidak memikirkan dirinya sebagi nibbana; ia tidak berpikir 'nibbana milikku', ia tidak gembira dalam nibbana. Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.

    Para bhikkhu, bagaimana pun seorang bhikkhu arahat, yang telah melenyapkan semua kekotoran batin ... ia pun mengerti dengan baik tentang 'pathavi' ... 'nibbana' ... ia tidak gembira dalam nibbana. Mengapa begitu? Karena ia 'tanpa keinginan nafsu' (vitaragatta), sebab telah 'melenyapkan (semua) keinginan nafsu' (khaya ragassa).

    Para bhikkhu, bagaimana pun seorang bhikkhu arahat, yang telah melenyapkan semua kekotoran batin ... ia pun mengerti dengan baik tentang 'pathavi' ... 'nibbana' ... ia tidak gembira dalam nibbana. Mengapa begitu? Karena ia 'tanpa kebencian' (vitadosatta), sebab telah 'melenyapkan (semua) kebencian' (khaya dosassa) .... Mengapa begitu? Karena ia 'tanpa kebodohan' (vitamohatta), sebab telah 'melenyapkan (semua) kebodohan' (khaya mohassa).

    Para bhikkhu, juga Tathagata Arahat Sammasambuddha mengerti dengan baik tentang 'pathavi' ... 'nibbana' ... ia tidak gembira dalam nibbana. Mengapa begitu? Karena hal itu telah dimengerti dengan baik oleh Tathagata.

    Para bhikkhu, juga Tathagata Arahat Sammasambuddha mengerti dengan baik tentang 'pathavi' sebagai pathavi; karena mengerti dengan baik mengenai pathavi sebagai pathavi, maka ia tidak memikirkan tentang pathavi, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan pathavi; ia tidak memikirkan dirinya sebagai pathavi; ia tidak berpikir 'pathavi milikku', ia tidak gembira dalam pathavi. Mengapa begitu? Karena ia telah mengetahui dengan baik bahwa 'kenikmatan (nandi) dasarnya adalah pada dukkha', mengetahui bahwa karena adanya 'menjadi' (bhava) maka terjadilah 'kelahiran' (jati), maka muncullah 'usia tua dan kematian' (jaramarana) makhluk.

    Para bhikkhu itulah sebabnya maka saya nyatakan bahwa Tathagata karena telah melenyapkan, terbebas dan 'melenyapkan semua keinginan' (tanha khaya) dan 'tanpa nafsu' (viraga), sempurna kesadarannya dengan mencapai 'penerangan agung tertinggi' (anuttaram sammasambodhi).

    Para bhikkhu, juga Tathagata Arahat Sammasambuddha mengerti dengan baik tentang 'apo' ... 'nibbana' ... ia tidak gembira dalam 'nibbana' .... Para bhikkhu itulah sebabnya maka Saya nyatakan bahwa Tathagata karena telah melenyapkan, terbebas dan melenyapkan semua keinginan dan tanpa nafsu, sempurna kesadarannya dengan mencapai penerangan agung tertinggi.

    Itulah yang diuraikan oleh Sang Bhagava. Para bhikkhu senang dan gembira pada apa yang dikatakan Sang Bhagava.
    -----------------------------------------
    Tapi menurut terjemahan inggris:
    That is what the Blessed One said. Displeased, the monks did not delight in the Blessed One's words.
    ------------------------------------------------Gotamaka-cetiya Sutta
    At Gotamaka Shrine
    http://www.accesstoinsight.org/tipitaka/an/an03/an03.123.than.html
    On one occasion the Blessed One was staying near Vesali at Gotamaka Shrine. There he addressed the monks, "Monks!"

    "Yes, lord," the monks responded.

    The Blessed One said, "It's through direct knowledge that I teach the Dhamma, not without direct knowledge. It's with a cause that I teach the Dhamma, not without a cause. It's with marvels that I teach the Dhamma, not without marvels.1 Because I teach the Dhamma through direct knowledge and not without direct knowledge, because I teach the Dhamma with a cause and not without a cause, because I teach the Dhamma with marvels and not without marvels, there is good reason for my instruction, good reason for my admonition. And that is enough for you to be content, enough for you to be gratified, enough for you to take joy that the Blessed One is rightly self-awakened, the Dhamma is well-taught by the Blessed One, and the community has practiced rightly."

    That is what the Blessed One said. Gratified, the monks delighted in the Blessed One's words. And while this explanation was being given, the ten-thousand fold cosmos quaked.

    Note

    1. See DN 11.

    Editor's note: According to the Commentary, the audience for this sutta was the same group of monks who had been so displeased upon first hearing the Mulapariyaya Sutta (MN 1).

    ReplyDelete
  11. IN,
    ini campuran, antara pendapat yang ada di reference dan juga pendapat saya...[untuk itu saya tuliskan reference di pustaka dan dalam kurung, agar bisa saling cross check]

    saya juga setuju dengan pernyataan kamu yang ini:

    "bagi yang marah/jengkel/iri or yang menerima pendapat tulisan bapak, kita bisa kliat kok tingkatan mereka"

    Xeno,
    tks alot atas postingan kamu..kalo bisa pake yang berbahasa indonesia lah bos..

    [kalo kamu punya mulapariyaya dalam bahasa indonesia, silakan di tuliskan disini, dan aku mohon ijin hapus mulapariyaya dalam bahasa inggris, karena biar orang2 yang ngga terlalu ngerti inggris lebih mudah membacanya]

    sry ngerepotin lo lagi, man!

    ReplyDelete
  12. Orang di bawah ini, telah memanipulasi bagian dari tulisan saya dan menggunakannya sebagai alat pembenaran pribadi di Milis itu:
    ________________________________________
    From: Sanisca, Dewa (NSN - ID/Jakarta), "dewa.sanisca@nsn.com"
    To: "hindu-dharma@itb.ac.id"
    Sent: Wednesday, March 11, 2009 5:57:53 PM
    Subject: [hindu] BG berubah2 sesuai kokinya [was: Vyasa, TriVeda dan Kodifikasi [was: Untuk MadeNoni ]

    Om Svastyastu

    Kebetulan saya lagi home office skr, dan punya waktu luang untuk baca2 email dari HD Net.

    Kemarin saya menyempatkan membaca blog dibawah, dan secara garis besar saya setuju dengan endapat Pak Ketut. Alur dari blog tersebut
    melompat2, sesuai dari literatur yg dicomot dari sana-sini. Dan sayangnya pula, literatur yg di ambil, tidak dikaji secara mendalam.

    Agar tidak dibilang kecap, saya tulis contohnya:

    "Tidak semua purana ada di sebelum tahun Masehi, salah satunya adalah Bhagavata purana atau yang dikenal sebagai Srimad Bhagavata, yang dibuat sekitar tahun 13 Masehi oleh Bopadeva [abad ke 13, Jaman raja Ramachandra, the Yadava king of Devagiri [1271 M - 1309 M]. Perdana mentrinya adalah Hemadri, dalam satu bukunya Bopadeva menuliskan sang perdana mentri itu:"

    Dan ini diambil dari link:
    http://www.indiadivine.org/audarya/spiritual-discussions/28024-dating-srimad-bhagavatam.html
    ------------------------------------------------------------

    Kesimpulan awal saya : "Oke,SB dibuat sekitar abad 13 berdasarkan link tsb", baru kemudian saya masuk ke link tersebut.

    Ternyata link tersebut merupakan link diskusi, dan saya jumpai hal ini:

    "Some people believe the Srimad Bhagavatam, or Bhagavata Purana, was authored in the 13th century by Bopadeva. Some early indologists held this view, but later scholars have found it to be false for a number of reasons."

    Karena di sini tidak bisa diberi penekanan, maka saya cuplik ulang :

    "but later scholars have found it to be false for a number of reasons."

    Suatu keanehan, di mana penulis menulis referensi bahwa SB dibuat pada abad 13 berdasarkan informasi pada link tsb. Ironinya, link tsb jelas2 mengatakan salah !

    Jujur, blog ini susah saya mengerti, dan saya sampai 2x membaca ulang karena sangat membingungkan. Dan setelah saya membaca point diatas, saya tahu, saya harus berhenti membaca artikel tsb !

    Ini hanyalah masukan bagi penulis dan sameton lain yang tertarik membaca artikel tsb.

    Om Shanti
    Sanisca
    ________________________________________


    Berikut di bawah ini adalah tanggapan saya, sebenarnya sudah saya sent, namun mungkin karena di banned [Wednesday, March 11, 2009 9:22:24 PM] makanya tidak masuk ke milis itu:
    ---
    From: wirajhana eka, "wirajhana@yahoo.com"
    To: "hindu-dharma@itb.ac.id"
    Sent: Wednesday, March 11, 2009 9:19:41 PM
    Subject: Re: [hindu] BG berubah2 sesuai kokinya [was: Vyasa, TriVeda dan Kodifikasi [was: Untuk MadeNoni ]

    Osa,
    SD:
    Suatu keanehan, di mana penulis menulis referensi bahwa SB dibuat pada abad 13 berdasarkan informasi pada link tsb. Ironinya, link tsb jelas2 mengatakan salah !

    Jujur, blog ini susah saya mengerti, dan saya sampai 2x membaca ulang karena sangat membingungkan. Dan setelah saya membaca point diatas, saya tahu, saya harus berhenti membaca artikel tsb !
    --------

    Hahahahahaha...menarik cara anda baca pak..coba baca lanjutannya koq ngga ditulis disini...

    Nih lanjutannya dibawahnya:

    srimadbhagavata-skandhadhyayarthadi nirupyate
    vidusha bopadevena mantrihemadritushtaye
    ....

    Itulah mengapa disebutkan bahwa tahun penyusunan Srimad Bhagavatam/Bhagavata Purana adalah di abad ke 13, namun Al-Beruni yang pernah datang ke india abad ke 10 Masehi dalam Tahqiq-i-Hind menyebutkan Bhagavata yang dihubungkan dengan Vasudeva. VyasaDeva di nyatakan menyelesaikan canto ke 12 Srimad bhagavatam pada tahun 900 Masehi. Para ahli sejarah berpendapat bahwa penulisan Srimad Bhagavatam dituliskan antara 650 - 1000 Masehi [http://wirajhana-eka.blogspot.com/2009/03/bhagavad-gita-bukan-pancama-veda.html]

    Nah..itu bedanya saya membaca dengan anda membaca!

    ...dan itu juga gunanya rujukan [pustaka, dibagian bawah]..supaya anda juga bisa mengechek.

    darimana tahu abad ke 13...hehehe..masa masalah sepele ini juga harus saya ajari?!
    ----

    ReplyDelete
  13. Jadi, Srimad Bhagavatam atau Bhagavata Purana yang baru dibuat pada abad ke 10 ini, telah keliru menyatakan tentang kelahiran sang Buddha dan keliru menyatakan ini sebagai ramalan karena yang diramalkan telah wafat ribuan tahun sebelumnya.

    menurut logik saya benar adanya SB keliru, karena yang dimaksud SB. bukan Budha ini yang disponsori oleh kerajaan ayahnya. Budha yang dimaksud adalah yang muncul setelah krishna sebelum kalki.


    BG apakah veda kelima atau keenam tidaklah penting. isinya yang paling penting. ada ilmu tentang Tuhan (iswara) yang jelas dan gamblang, ilmu tentang waktu (Kala), ilmu tentang sang roh (Jiwa), ilmu tentang alam (Prakerti), ilmu tentag perbuatan (Karma) yang sangat diminati makhluk super cerdas yang pernah lahir didunia ini.

    ReplyDelete
  14. blog ini jelas memiliki maksud tersembunyi yang telah saya ketahui yaitu mengulang lagi promosi budha jaman dahulu dengan menolak/menjelekkan/menyalahkan kitab-kitab agama lain seperti yang dilakukan budha gautama jaman dahulu tapi jelas cara ini tidak akan pernah berhasil dan merupakan cara orang yang bersifat setan (asura sampad). oleh karenanya saya merekomendasikan blog ini tidak patut dibaca oleh umat selain pengikut ateis.

    ReplyDelete
  15. Dear Sarva,
    Makasi atas rekomendasinya, trus apa yang saya sembunyikan sih?..Toh, semua saya utarakan secara gamblang tanpa tendeng aling..dan bereferensi..tidak ada tipu menipu untuk melakukan penyesatan/pembodohan di tulisan ini.

    Anda:
    menurut logik saya benar adanya SB keliru, karena yang dimaksud SB. bukan Budha ini yang disponsori oleh kerajaan ayahnya. Budha yang dimaksud adalah yang muncul setelah krishna sebelum kalki.

    Saya:
    Mmmh..Buddha yang mana ya? Anda menulis saja tanpa dibekali reference..namun menurut versi DONGENG [PURANA] adalah sbb:

    Kemudian, pada awal Kaliyuga, Tuhan akan muncul sebagai Sang Buddha, putra Anjana, di Propinsi Gaya, hanya dengan maksud mengelabui orang yang iri kepada orang yang setia dan percaya kepada Tuhan. [SB/Bhagavata Purana, 1.3.24]

    When the atheists, after being well versed in the Vedic scientific knowledge, annihilate inhabitants of different planets, flying unseen in the sky on well-built rockets prepared by the great scientist Maya, the Lord will bewilder their minds by dressing Himself attractively as Buddha and will preach on subreligious principles.[SB 2.7.37]

    To diminish the burden of the earth, the unborn Lord will take birth in the Yadu dynasty and perform feats impossible even for the demigods. Propounding speculative philosophy, the Lord, as Buddha, will bewilder the unworthy performers of Vedic sacrifices. And as Kalki the Lord will kill all the low-class men posing as rulers at the end of the age of Kali.[SB 11.4.22]

    So, BUDDHA yang mana seehh yang dimaksud sbg TUHAN dan kemunculannya menghalangi pengorbanan binatang ala vedic, saat itu banyak atheis...dan ia muncul guna menyesatkan orang yang justru udah percaya pada tuhan?

    Dongeng lainnya sehubungan antara Buddhisme dan kalkisme:

    Detail kemunculan kalki adanya di Kalki Purana [Minor Purana}..dan di sebutkan di kalki purana menyebutkan ia berperang dengan PENGANUT BUDDHIS dan MEMBUNUHI mereka

    jadi, Kalki akan muncul setelah jutaan tahun lagi

    Faktanya:
    Simha itu artinya Singa, SAKYA SIMHA adalah Singa dari SAKYA..dan yang dimaksud selalu BUDDHA SAKYA MUNI..dan jelas TIDAK sesuai dgn SB kecuali bagian menolak pengorbanan BINATANG yang dilakukan penganut VEDIC saat itu dan juga ketika itu di India terdapat 64 Macam aliran dan bukan cuma Atheis..Buddha emang menyatakan MAHA BRAHMA bukan maha pencipta

    Buddhisme hilang di Tanah India bukan karena kemunculan KALKI..

    Dongeng dah menyatakan bahwa REINKARNASI TRIPUR ASURAlah yang menghancurkan Pemeluk ajaran2 VISNU dan SIVA..

    BHAVISHYA PURANA sudah menyebutkan reinkarnasi TRIPUR ASURA adalah MAHAMADA.

    Sementara Pembunuhan oleh Kalki pada semua pemeluk Buddhisme BELUM TERJADI [dan bisa jadi ngga akan terjadi karena Buddhisme tetep akan punah kelak setelah 5000 tahun sejak Buddha Sakyamuni WAFAT]

    Jadi,
    Kalo anda percaya dongeng [Purana] Bhagavata/SB sebagai ramalan Jelas kalimat di 1.3.24 keliru menyatakan itu adalah SAKYAMUNI [kecuali anda memegang ucapan Stephen Knapp, 1997, The Vedic Prophecies: A New Look Into The Future", hal. 4]

    Kesimpulan:
    Nah, pembodohan yang terbaik adalah spt ini:
    Buddha yang dimaksud oleh SB sebenarnya belum MUNCUL..masih jutaan tahun lagi..karena kemunculan KALKIpun masih LUAMMMMAAAAA..[menurut dongeng hindu]


    Kemudian anda katakan:
    BG apakah veda kelima atau keenam tidaklah penting.

    Saya:
    BG bukan Veda..karena TIDAK dikarang Vyasa Muni

    ReplyDelete
  16. Wah Bapak luar biasa, berhasil menggabungkan beberapa pendapat menjadi sebuah tulisan yang cukup panjang. Bapak mencoba menghubung-hubungkan. Usaha yang luar biasa. Tapi bagi saya, seribu pendapat pun kalau modelnya seperti itu belumlah menjadi otoritas. Mengenai BG, tidak ada yang begitu peduli dengan penyebutan Pancamo Veda, BG ya BG.
    Mengenai slokanya yang banyak itu, Bapak berpikir itu membutuhkan waktu yang panjang, jadi sabda-sabda Krishna tidak mungkin dilakukan saat itu juga. Wah, apa yang tidak mungkin bagi Tuhan Sri Krishna? Dalam cerita selanjutnya, untuk membantu penyembahNya (Arjuna), Beliau membuat matahari terbenam sebelum saatnya, kemudian memunculkannya kembali.
    Mengenai Budha, Anda meragukan ramalan Bhagavata Purana: Kemudian, pada awal Kaliyuga, Tuhan akan muncul sebagai Sang Buddha, putra Anjana, di Propinsi Gaya, hanya dengan maksud mengelabui orang yang iri kepada orang yang setia dan percaya kepada Tuhan. (Bhagavata Purana, 1.3.24)
    Anda berlogika: Secara tradisi arti avatara itu adalah tuhan yang menjelma kedunia dan tugasnya adalah menegakkan kebenaran, sekarang bagaimana logikanya bahwa Tuhan turun ke dunia namun justru menghalangi manusia menyembah TUHAN?
    Perhatikan: yang mana menghalangi manusia menyembah Tuhan? Apakah orang (asura) yang iri kepada mereka yang setia dan percaya kepada Tuhan itu penyembah Tuhan? Logika Bapak kok terbalik?

    ReplyDelete
  17. Pak Wirajhana, dua kali saya posting, google bilang error, komentarnya kepanjangan sehingga saya potong tulisannya. Ternyata tampil juga, walau akhirnya bapak hapus.

    Mengenai Bhg. Gita, Krishna sendiri sudah menyabdakannya jauh sebelum menyabdakannya
    kembali kepada Arjuna, seperti sloka berikut. Kapan BG pertama kali disabdakan?
    Bhagavad-gita 4.1
    4.1 Personalitas Tuhan Yang Maha Esa, Sri Krsna, bersabda; Aku telah mengajarkan ilmu pengetahuan yoga ini yang tidak dapat dimusnahkan kepada dewa matahari, vivasvan, kemudian vivasvan mengajarkan ilmu pengetahuan ini kepada Manu, ayah manusia, kemudian Manu mengajarkan ilmu pengetahuan itu kepada iksvaku.
    Bhagavad-gita 4.2
    4.2 Ilmu pengetahuan yang paling utama ini diterima dengan cara sedemikian rupa melalui rangkaian garis perguruan guru-guru kerohanian, dan para raja yang suci mengerti ilmu pengetahuan tersebut dengan cara seperti itu. Tetapi sesudah beberapa waktu, garis perguruan itu terputus; karena itu, rupanya ilmu pengetahuan yang asli itu sudah hilang.
    Bhagavad-gita 4.3
    4.3 Ilmu pengetahuan yang abadi tersebut mengenai hubungan dengan Yang Mahakuasa hari ini Kusampaikan kepadamu, sebab engkau adalah penyembah dan kawan-Ku; karena itulah engkau dapat mengerti rahasia rohani ilmu pengetahuan ini.
    Bhagavad-gita 4.4
    4.4 Arjuna berkata; vivasvan, dewa matahari, lebih tua daripada Anda menurut kelahiran. Bagaimana hamba dapat mengerti bahwa pada awal Anda mengajarkan ilmu pengetahuan ini kepada beliau?
    Bhagavad-gita 4.5
    4.5 Personalitas Tuhan Yang Maha Esa bersabda; Engkau dan Aku sudah dilahirkan berulangkali. Aku dapat ingat segala kelahiran itu, tetapi engkau tidak dapat ingat, Wahai penakluk musuh.
    Bhagavad-gita 4.6
    4.6 Walaupun Aku tidak dilahirkan dan badan rohani-Ku tidak pernah merosot, dan walaupun Aku penguasa semua makhluk hidup, Aku masih muncul pada setiap jaman dalam bentuk rohani-Ku yang asli.

    Anda katakan: Buddha sendiri tidak menyembah tuhan dan tidak menganjurkan menyembah tuhan. Ini benar, memang Beliau punya misi seperti itu. Alasannya ada di tulisan: http://ngarayana.web.ugm.ac.id/2009/03/budha-avatara

    Karena tujuan Budha adalah mengecoh mereka yang iri kepada penyembah Tuhan, maka siapa saja yang menerima ajarannya berarti masuk pada golongan "yang iri kepada penyembah Tuhan".

    Kenapa KTP Bapak Hindu, sementara Bapak mengikuti filsafat Budha? Apa supaya Bapak mudah memasukkan filsafat Budha ke orang-orang Hindu? Cara yang tidak elegan.

    ReplyDelete
  18. Putera,
    3 Komentar anda kurang lebih sama di artikel ini maka saya asumsikan komentar jam paling terakhir merupakan komentar final anda..mungkin karena anda tidak merasa punya blog ini, maka anda malas menghapusnya..jadi saya hapus 2 yang sebelumnya.

    Mengenai BG, selama bukan karangan Vyasa Muni maka ia bukan Veda..itu adalah final.

    mahabharata dan Ramayana merupakan karya tambal sulam..yang ditulis berabad2..jadi cerita ini merupakan cerita buatan dan bukan itihasa [sejarah] yang sebenarnya..dan saya lebih menyukai versi Buddhisme [note: KTP saya adalah HINDU]

    mengenai logika terbalik..

    Buddha tidak mengakui adanya Tuhan penciptaan..Beliau sendiri tidak pernah menyatakan dirinya sebagai reinkarnasi Vishnu bahkan dikitab2 buddhisme teks2 awal dinyatakan beliau pernah jadi: Dewa, anjing, burung nuri, pendeta di jaman krishna [sehingga Krishna pun bukan kelahirannya sebelumnya], naga, dll namun tidak pernah disebutkan sebagai reinkarnasi Visnu..sehingga alangkah konyolnya penganut aliran pengaggum Visnu dan Siva menyatakan Beliau sbg reinkarnasi Visnu.

    Buddha sendiri tidak menyembah tuhan dan tidak menganjurkan menyembah tuhan sebagai cara utk masuk alam surga [visnu, dalam teks buddhis visnu dan siva ada di alam 33 dewa, yang cuma 2 tingkat di atas alam manusia]..juga tidak menganjurkan mempersembahkan makanan kepada tuhan terlebih dahulu sebelum di embat.

    Buddha sendiri menyatakan Menyembah tuhan agar mencapai kesucian atau pembebasan atau agar berkarma baik merupakan tindakan MOHA [kebodohan batin]..Terlahir di alam2 baik, buruk maupun mencapai tingkat kesucian sehingga tidak terlahir kembali murni merupakan hasil tindakan manusia itu sendiri dan tidak ada campur tangan tuhan dalam hal itu.

    Lha tentunya sangat konyol, jika Beliau adalah tuhan yang turun ke dunia namun malah menyatakan menyembah tuhan merupakan tindakan MOHA

    SB juga telah keliru mengidentifikasi siapa ibu dari Buddha. Contoh mudah: sikembar nakula-sadewa dikatakan madrim putra; arjuna dan kakaknya dinyatakan kunti putera..dan tradisi india tidak pernah menyatakan mereka sebagai anak/putera dari neneknya

    jelas?

    terakhir anda katakan:
    Kenapa KTP Bapak Hindu, sementara Bapak mengikuti filsafat Budha? Apa supaya Bapak mudah memasukkan filsafat Budha ke orang-orang Hindu? Cara yang tidak elegan.

    Saya:
    Apakah menganjurkan untuk:
    tidak menyakiti mahluk hidup; tidak mengambil barang yang bukan miliknya; tidak melakukan tindakan seksual ilegal [salah satunya]; tidak berkata bohong; tidak minum minuman keras merupakan tidakan tidak elegan?

    Apakah mengajak berdana dan melepaskan kemelekatan merupakan tindakan tidak elegan?

    Apakah menuliskan sesuai dengan rujukan [dan juga rujukan yang ada pada hindu sendiri] merupakan tindakan yang tidak elegan?

    jika itu adalah tidak elegan..wah parah sekali anda..kebencian dan irihati anda rupanya telah merasuk sedemikian jauh..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dari perkataan olah pemikiran anda :Selalu mengatakan bahwa kitab suci Hindu adalah karangan atau karang mengarang tapi kitab anda sendiri tidak pernah anda katakan karangan,
      PEMIKIRAN ANDA BERKATA: Kita mungkin tidak pernah tahu siapakah pengarang Gita yang sebenarnya, namun siapapun mereka ini, haruslah seorang yang multi talenta dengan kualitas dan kombinasi kapabilitas yang super, yaitu: Penyair, Filsuf, Ahli bahasa, Mistiskus, dan Ahli cabang-cabang ilmu lainnya.
      SAYA : Kita...? Apakah anda HINDU...? sedangkang anda sendiri pengikut Budha..? mengangung agungkan BUDHA ya..? yang jelas secara tidak sengaja anda telah mengakui kapabilitas Super siapa kalau bukan Beliaulah yang bersabda ..sudah pasti kombinasi kapabilitas yang super, yaitu: Penyair, Filsuf, Ahli bahasa, Mistiskus, dan Ahli cabang-cabang ilmu lainnya adalah kepribadian Tuhan/KRISHNA dan pengetahuan BUdha pun masih kalah jauh karena hanya merupakan ilmu pengetahuan kebodohan yang di ciptakan untuk orang2 yang iri kepada kepribadian KHRISNA. so anda berbicara melalui pikiran ..nice..good job brot..pintar ..
      PEMIKIRAN ANDA BERKATA : Dua pasukan yang saling berhadapan dan siap saling menghabisi di hari pertama perang besar, terutama dari pihak Kurawa, tidak akan membiarkan siang hari berakhir percuma dengan membiarkan Arjuna dan Krisna menghabiskan waktu antara 2 jam hingga 4 jam di hari itu dan di tengah lapangan pertempuran.
      Saya: Apa yang tidak mungkin di dunia ini.bagi Sri KHRISNA tidak ada yang mungkin..besipun bisa terbang,komputer pun mengolah data dengan cepat, besi pun bisa mengambang,komunikasipun dengan jarak jauh, apa yang ada akan ada, apa yang tidak ada akan tidak pernah ada.percakapan antara KHRISNA dan Arjuna merupakan hal yang dlm srpiritual sangatlah mungkin dengan waktu terbatas.TIdak heran kami Hindu percaya adanya TUhan dan keajaiban2nya makanya gak heran juga kalau berbicara dengan hasil pemikiran anda yang Atheis alias gak bakal pernah nyambung dengan yang bukan Atheis.
      TUHAN Krishna adalah nirguna [melampaui semua sifat alam], niranjana [murni], nirvikalpa [melampaui semua penjelasan] dan acintya [tidak terpikirkan]. Karena tidak ada kata-kata maupun pemikiran yang bisa menjelaskan Tuhan. Yang ada maupun yang tidak ada adalah manifestasi Tuhan,
      Segala yang ada di alam semesta ini adalah manifestasi Krishna,Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, Bukankah beliau NIRGUNA /melampaui sifat Alam dan tidak terikat waktu..INGAT WAKTUPUN BISA DI ATASI SRI KRIHNA MELAMPAUI WAKTU ? jadi pikiran dan kepintaran anda hanya bisa di kalahkan dengan kecerdasan ... banyak orang pintar seperti anda di tv2 atau mimbar2 mereka akan selalu menggurui dan merasa benar..dan bukan menggunakan hati terdalamnya, pikiran seperti ular kadang menipu dan selalu menganggap Aku ini badan, kadang orang2 ingin membuat suatu usaha, ingin ke suatu yang di tuju tapi tanpa di sadari ke kiri, besok saya mau ke denpasar ternyata tidak jadi..pikiran sudah membayangkan bagaimana bentuk dan keaadan kota denpasar padahal ke sana saja belom pernah tapi ketika di jalankan meleset dari perkiraan karena halangan akibat kebodohan mereka menganggap diri badan dan tidak mengetahui bahwa ada sesuatu yang menggerakan.. manusia di bumi bisa saja menciptakan dan membuat ratusan senjata2 perang dlm beberapa bulan sedangkan mahkluk yang lebih tinggi membuatnya hanya dlm hitungan detik di bumi ini..bicara dengan pemikiran, pikiran bahkan mengalahkan pesawat UFO ..

      Delete
  19. Anda mengatakan: Apakah menganjurkan untuk:
    tidak menyakiti mahluk hidup; tidak mengambil barang yang bukan miliknya; tidak melakukan tindakan seksual ilegal [salah satunya]; tidak berkata bohong; tidak minum minuman keras merupakan tidakan tidak elegan?

    Apakah mengajak berdana dan melepaskan kemelekatan merupakan tindakan tidak elegan?

    Apakah menuliskan sesuai dengan rujukan [dan juga rujukan yang ada pada hindu sendiri] merupakan tindakan yang tidak elegan?

    jika itu adalah tidak elegan..wah parah sekali anda..kebencian dan irihati anda rupanya telah merasuk sedemikian jauh...

    Saya: Tegaskan saja agama di KTP Bapak, supaya jelas kalau Bapak itu pengikut ajaran Budaha, jadi Bapak termasuk salah satu dari mereka yang dikelabui oleh sang Budha (orang yang iri terhadap penyembah Tuhan). Jadilah atheis yang tegas, tidak berkedok Hindu tapi menjelek-jelekkan Kitab Hindu.

    Anda menuliskan rujukan memang, tapi semangat merujuknya adalah semangat untuk melecehkan. Dan rujukan yang anda kumpulkan itu tadinya ibarat susu, tapi setelah tersentuh mulut2 ular, maka susu itu sudah mengandung racun. Hanya para ular yang akan meminumnya. Salam

    ReplyDelete
  20. Tambahan:

    Anda mengatakan: Apakah menganjurkan untuk:
    tidak menyakiti mahluk hidup; tidak mengambil barang yang bukan miliknya; tidak melakukan tindakan seksual ilegal [salah satunya]; tidak berkata bohong; tidak minum minuman keras merupakan tidakan tidak elegan?

    Apakah mengajak berdana dan melepaskan kemelekatan merupakan tindakan tidak elegan?

    Apakah menuliskan sesuai dengan rujukan [dan juga rujukan yang ada pada hindu sendiri] merupakan tindakan yang tidak elegan?

    Saya: Apa benar hanya ajaran Anda yang menganjurkan seperti itu? Jika benar, maka anda mestinya menganjurkan vegetarian, catur asrama, dan mengikuti parampara (menerima dan merujuk otoritas). Kalau tidak begitu berarti kodok ngorek...

    ReplyDelete
  21. Putera,
    Anda katakan:
    Tegaskan saja agama di KTP Bapak, supaya jelas kalau Bapak itu pengikut ajaran Budaha, jadi Bapak termasuk salah satu dari mereka yang dikelabui oleh sang Budha (orang yang iri terhadap penyembah Tuhan).

    Saya:
    Kamu ini lucu..Lha Hindu saja memaksakan bahwa Buddha sebagai Reikarnasi Visnu..koq malah KTP HINDU saya yg kamu permasalahkan.

    Kecuali,
    HINDU menghapus/membakar pembodohannya kepada masyarakat dunia dan menghilangkan semua strota, PURANA2 tambal sulam campur aduk dengan motif numpang beken, ingin ikut diakui, politik.etc [banyak motif dan yg pasti negatif] yang memaksakan Buddha tercantum di kitab Hindu sbg reinkarnasi Visnu, diantaranya:

    Gita Govinda; Dasavatara, Sri Jayadeva Goswani [12 atau 13 Masehi], Orissa, translasi:P. R. Ramachander; syair ke-9 asthapadi:
    Nindasi yajna-vidher ahaha shruti-jatam
    Sadaya-hrdaya darsita-pasu-ghatham
    Keshava dhruta-buddha-sarira jaya jagadisa hare

    artinya kurang lebih:
    O kesava, penguasa jagad yang hadir sebagai Buddha yang tercerahkan dengan hati penuh kasih yang mengutuk pengorbanan binatang di Sruti

    [Buddha disebutkan djuga di Dasavathara Bhujanga Sthavam ke-9, Dasavatara Stotram ke-11..NAMUN coba bandingkan dengan Dasavatara-vedantadesika [1269 M-1370 M] dan Dasavatara (malayalam) 1 dan 2, ini malah sudah tepat karena dengan jantan tidak memasukan Buddha sebagai objek reinkarnasi ke dalamnya]

    Bhagavata Purana/Srimad Bhagavatam [1.3.24 (sbg avatar ke-21), 2.7.37, 10.40.22, 11.4.23] ..yang konyol purana ini memasukan paksa sekaligus Sri balaram dan Krishna sebagai avatar..[1.3.23]..padahal Strotam Vedanta Desika dan malayam hanya menyebut BALARAM saja..hehehehe;
    Harivamsha [1.41];
    Vishnu Purana [3.17-18, sebagai Mayamoha];
    Garuda Purana, namun yang aneh di Purana ini Buddha di sebut sbg avatara ke-9 [1.86.10-11, 2.20.31-32 atau 8.10-11, http://www.sacred-texts.com/hin/gpu/gpu10.htm#fr_68 atau ke-21, di: http://www.dharmakshetra.com/literature/puranas/garuda.html atau salah satunya di: 1.1, 2.30.37, 3.15.26]..Garuda Purana ini adalah karya abad Medieval.
    Agni Purana [16];
    Narada Purana [2.72];
    Linga Purana [2.71 atau 2.48.30-32, sbg avatar ke-9];
    Padma Purana [3.252 atau 6.31.15 sbg Buddhadeva];
    Brahmanda Purana [1.3.28]; Brahma Purana [122.69 sbg Buddharupa];
    Matsya Purana [47.247 sbg avatar ke-9; 271.12, sbg ramalan turun temurun raja2 di masa datang: Siddartha];
    Bhavishya purana [Pratisarga Parva ch.29 atau di 4.63.23, 4.190.6-7];
    Narasimha Purana [36.29];
    siva purana [2.4.9.25, sbg ava ke-9]
    skanda reva [151.21]

    dan bahkan secara konyol di ITIHASA Ramayana Valmiki [Ayodhya khandha 109.33-34, menyebutkan kata yatha dan tatha serta Buddha..hehehe]

    Ah udahlah capek, masih buaanyak purana yang campuraduk jadi ngga jelas dibuat dan ditambal sulam setelah beberapa abad Buddhisme berkembang..makin ngga karuan2 juntrungnya maunya mengajarkan apa? Pembodohan? Penipuan? ketidakjujuran? Irihati? ketakutan akan tunjangan umat?..kesian amat ya..

    ref:
    http://books.google.com/books?id=UG9-HZ5icQ4C&pg=PA260&hl=en#v=onepage&q&f=false
    http://dhammacitta.org/forum/index.php?topic=3947.0
    http://www.celextel.org/stotras/vishnu/dasavatharabhujangasthavam.html
    http://www.sub.uni-goettingen.de/ebene_1/fiindolo/gretil/1_sanskr/3_purana/garup1_u.htm
    http://en.wikipedia.org/wiki/Gautama_Buddha_in_world_religions
    http://mysticbanana.com/what-is-the-concept-of-buddha-or-the-place-of-buddha-in-hinduism.html
    dll

    Jadi, keliru besar komplain kamu ttg KTP saya..lebih tepatnya kamu tujukan ke kalanganmu sendiri..

    Lanjut..

    ReplyDelete
  22. lanjutan..
    kemudian anda mengatakan:
    "Anda menuliskan rujukan memang, tapi semangat merujuknya adalah semangat untuk melecehkan. Dan rujukan yang anda kumpulkan itu tadinya ibarat susu, tapi setelah tersentuh mulut2 ular, maka susu itu sudah mengandung racun. Hanya para ular yang akan meminumnya."


    Saya:
    Kesian amat..Bagusnya pelajari agama sendiri dulu dengan sebaik2nya..agar tdk jadi katak dalam tempurung..

    bicara ttg BISA, lebih tepat kamu tujukan ke kalanganmu sendiri...Purana campuraduk ngga jelas telah MELECEHKAN DEVA dengan menggambarkan hal-hal yg tidak tepat spt seksual massal dst..JElas2 itu adalah PELECEHAN bagi DEVA..Saya hanya mengutip & menunjukan ke khalayak umum bagaimana tingkah BRAHMANA yg mengaku2 hindu malah merusak agamanya sendiri..

    Konyolnya brahmana2 campur aduk ngga jelas ini malah dihormati, dijadikan guru, dianggap suci dan objek puja-puji..bener2 para manusia bodoh yg tidak tau diri..Mahluk Devanya dihina, di rendahkan oleh mereka..eh pelakunya malah di puja-puji..sementara orang yg bermaksud baik mempublikasikan agar berhati2 dan tidak tersesat jalan..malah di curigai dan dianggap melecehkan..salah alamat, bung!

    disamping itu,
    di atas udah saya sampaikan beberapa BISA yg berasal stlh jaman Rig Veda & bbrp abad stlh Wafatnya Buddha Gautama [+/- dikisaran 300 an SM dst], dimana Brahmana2 campur aduk ngga jelas melakukan ini yg justru merusak ajaran Hindu, melecehkan Jainism dan Buddhism sekaligus.

    Jadi lebih cocok kamu tujukan pd kalangan SENDIRI

    Anda katakan:
    Apa benar hanya ajaran Anda yang menganjurkan seperti itu? [ttg 5 sila, dana, dll]

    Saya:
    Ya, Buddhisme menganjurkan umat awam melakukan 5 Sila, Biksunya hrs menjalankan 227 sila [pria], jg dianjurkan melepaskan kemelekatan, dgn banyak ber-DANA [sedekah] pada orang sejenis Buddha s/d binatang..kemudian ada PELIMPAHAN JASA agar semua leluhur yg berada di alam atas dan bawah iktu mendapatkan berkahnya/ikut berbahagia, kemudian dianjurkan lakukan MEDITASI agar konsetrasi, kebijakan lebih meningkat

    Anda:
    Jika benar, maka anda mestinya menganjurkan vegetarian,

    Saya:
    Ah ini lagi campur aduk ngga jelas lha kamu baca aja disini:

    http://wirajhana-eka.blogspot.com/2010/05/vegetarian-makanan-religius-bukan-ia.html

    silaprabu aja plin-plan..membolehkan jg makan sapi [daging] asal udah mati.

    Bahkan banyak vegetarian wataknya BENGIS dan keji diantaranya [POLPOT, ADOLF HITLER, Charles mansion,Volkert van der Graafspt dll]..Ini mengindikasikan bhw vegetarian tidak membawa manusia menjadi suci..justru pengendalian diri yang membuat manusia menjadi suci..

    Masalah sepele ini aja kamu keliru..bener2 katak dalam tempurung.

    Anda katakan:
    Catur asrama?

    saya:
    4 Jenjang kehidupan itu ngga WAJIB berjalan seperti itu..bisa di loncati contoh: beberapa dijaman sang Buddha dari umur 7 tahunan telah menjadi calon Yogi dan Ia di tasbihkan jadi Biksu saat berumur 20 tahun..jadi ini tergantung pada kesiapan mental dan kumpulan karmanya sendiri..buat apa menyia2kan waktu kalo siap, bukan?!..

    Nah, yg tidak siap dapat lakukan dengan banyak2 berbuat karma baik sbg orang biasa dgn berdana, dan melakukan 5 sila di atas!..

    Anda katakan:
    mengikuti parampara (menerima dan merujuk otoritas).

    saya:
    aduh..ngga penting banget..yang penting itu MENELITI apakah bermanfaat bagi diri sendiri/orang lain..tidak merugikan diri sendiri/orang lain..mengajak menuju kebahagiaan dan menghindari LOBHA, MOHA dan DOSA..ya ikuti..kalo yang dikuti jelas buta..ngapain ngikutin orang buta..mo nyemplung ke jurang?

    Anda:
    Kalau tidak begitu berarti kodok ngorek...

    saya:
    salah alamat lagi..makanya jangan jadi orang buta dan atau kodok dalam tempurung..baca yang banyak ya biar punya pengetahuan dan mampu memisahkan mana dharma mana campuraduk..

    Pikiran itu bekerja seperti parasut..makin terbuka makin baik..

    ReplyDelete
  23. Anda: Kamu ini lucu..Lha Hindu saja memaksakan bahwa Buddha sebagai Reikarnasi Visnu..koq malah KTP HINDU saya yg kamu permasalahkan.

    Kecuali,
    HINDU menghapus/membakar pembodohannya kepada masyarakat dunia dan menghilangkan semua strota, PURANA2 tambal sulam campur aduk dengan motif numpang beken, ingin ikut diakui, politik.etc [banyak motif dan yg pasti negatif] yang memaksakan Buddha tercantum di kitab Hindu sbg reinkarnasi Visnu, diantaranya:
    SAYA: Oh begitu, jadi anda masih senang ber KTP Hindu ya… saya pikir Bapak lebih bangga ber KTP Budha. Silakan pak, saya tidak mempermasalahkannya. Hanya saya pikir Bapak tidak suka jadi orang palsu sehingga saya sarankan itu (bukan komplain kok). Mengenai banyaknya Budha disinggung dalam Purana, ya wajar saja karena memang itu kenyataannya. Bapak mau membantah bagaimana caranya? Tulisan Bapak dan mungkin tokoh-tokoh agama Budha yang lain tidak akan mampu membantah otoritas. Mencak-mencak mengatakan kitab Purana campur aduk, yah buang-buang energi saja. Bapak akan lemas sendiri. Pikiran material yang “samben” tidak akan mampu mengurai percampuran rasa lila dalam purana-purana. Otak kusut dan lemah hanya akan berspekulasi dan sesat dalam menangkap apa yang diuraikan dalam Purana yang merupakan Lila Tuhan dan rekan-rekanNya.
    Anda: Ah udahlah capek, masih buaanyak purana yang campuraduk jadi ngga jelas dibuat dan ditambal sulam setelah beberapa abad Buddhisme berkembang..makin ngga karuan2 juntrungnya maunya mengajarkan apa? Pembodohan? Penipuan? ketidakjujuran? Irihati? ketakutan akan tunjangan umat?..kesian amat ya..
    SAYA: Siapa yang patut dikasihani? Filsafat Budha yang seperti interpretasi Bapak tidak akan bertahan. Begitu juga yang lain. Hanya gerakan Harinama Sankirtanlah yang akan membahana di seluruh dunia. Inkarnasi keemasan dari Krishna yakni Sri Chaitanya Mahaprabhu lebih dari 500 Tahun yang lalu sudah meramalkan akan hal itu.

    Anda: Kesian amat..Bagusnya pelajari agama sendiri dulu dengan sebaik2nya..agar tdk jadi katak dalam tempurung..
    SAYA: Terimakasih sarannya, saya memang harus terus belajar supaya tidak jadi katak dalam sumur. Kalau sudah belajar, semoga tidak menjadi kodok ngorek yang banyak membual.

    Anda: bicara ttg BISA, lebih tepat kamu tujukan ke kalanganmu sendiri...Purana campuraduk ngga jelas telah MELECEHKAN DEVA dengan menggambarkan hal-hal yg tidak tepat spt seksual massal dst..JElas2 itu adalah PELECEHAN bagi DEVA..Saya hanya mengutip & menunjukan ke khalayak umum bagaimana tingkah BRAHMANA yg mengaku2 hindu malah merusak agamanya sendiri…
    SAYA: Inilah kalau otak settingnya butek mau mencoba memahami cerita tentang rasa lila dalam Purana, yang pasti dapatnya hanya erotik. Tapi kalau guru-guru yang kualifaid Beliau akan menikmati kisah itu dengan rasa rohani, bukan nafsu material seperti dalam otak butek itu. Para senior sering menasihati agar hati-hati dalam membaca Purana. harus perlahan-lahan dari awal, sambil tetap melakukan disiplin rohani. Hanya karunia Guru dan Krishna yang akan membuat seseorang bisa memahami isi Purana dengan rasa Rohani. Tanpa itu, seseorang akan terbawa rasa erotic dan mendapatkan ego palsu atau kesesatan.
    BERSAMBUNG

    ReplyDelete
  24. Anda: Konyolnya brahmana2 campur aduk ngga jelas ini malah dihormati, dijadikan guru, dianggap suci dan objek puja-puji..bener2 para manusia bodoh yg tidak tau diri..Mahluk Devanya dihina, di rendahkan oleh mereka..eh pelakunya malah di puja-puji..sementara orang yg bermaksud baik mempublikasikan agar berhati2 dan tidak tersesat jalan..malah di curigai dan dianggap melecehkan..salah alamat, bung!
    SAYA: Bedanya, Rsi2 itu berkualifikasi untuk menguraikan Lila Tuhan dan rekan-rekanNya, sedangkan Bapak tidak mampu memahami secuilpun Lila dari kisah-kisah itu. Hanya para acarya agung dan penyembah murni yang bisa menguraikan kisah seperti itu. Mereka mampu terserap dalam rasa Lila. Kalau pikiran butek hanya akan memikirkan hal2 yang erotisnya saja.

    Anda: disamping itu, di atas udah saya sampaikan beberapa BISA yg berasal stlh jaman Rig Veda & bbrp abad stlh Wafatnya Buddha Gautama [+/- dikisaran 300 an SM dst], dimana Brahmana2 campur aduk ngga jelas melakukan ini yg justru merusak ajaran Hindu, melecehkan Jainism dan Buddhism sekaligus.

    Jadi lebih cocok kamu tujukan pd kalangan SENDIRI
    SAYA: Tentang campur aduk yang bapak maksudkan kelihatannya memang seperti itu, karena Pustaka Veda diperuntukkan tidak hanya untuk satu golongan saja. Ada banyak orang yang menempuh jalan yang berbeda. Secara garis besar ada Pravrti Marga dan Nirvrti Marga.

    Anda: Ya, Buddhisme menganjurkan umat awam melakukan 5 Sila, Biksunya hrs menjalankan 227 sila [pria], jg dianjurkan melepaskan kemelekatan, dgn banyak ber-DANA [sedekah] pada orang sejenis Buddha s/d binatang..kemudian ada PELIMPAHAN JASA agar semua leluhur yg berada di alam atas dan bawah iktu mendapatkan berkahnya/ikut berbahagia, kemudian dianjurkan lakukan MEDITASI agar konsetrasi, kebijakan lebih meningkat.
    SAYA: Oh ya itu bagus: Pelimpahan jasa seperti apa? Meditasi kepada siapa? Siapa objek meditasinya?


    Anda: Ah ini lagi campur aduk ngga jelas lha kamu baca aja disini:
    http://wirajhana-eka.blogspot.com/2010/05/vegetarian-makanan-religius-bukan-ia.html
    silaprabu aja plin-plan..membolehkan jg makan sapi [daging] asal udah mati.
    Bahkan banyak vegetarian wataknya BENGIS dan keji diantaranya [POLPOT, ADOLF HITLER, Charles mansion,Volkert van der Graafspt dll]..Ini mengindikasikan bhw vegetarian tidak membawa manusia menjadi suci..justru pengendalian diri yang membuat manusia menjadi suci..
    Masalah sepele ini aja kamu keliru..bener2 katak dalam tempurung.
    SAYA: Makanan vegetarian juga masih mengandung reaksi dosa. Kalau Cuma vegetarian kambing dan unta juga vegetarian Pak. Jadi kalau sekedar vegetarian apa bedanya dengan kedua binatang itu? Veda menjelaskan supaya tidak terkena reaksi dosa, maka makanan vegetarian itu harus dipersembahkan dulu kepada Tuhan. Setelah itu, barulah makanan itu dimakan.

    Anda: 4 Jenjang kehidupan itu ngga WAJIB berjalan seperti itu..bisa di loncati contoh: beberapa dijaman sang Buddha dari umur 7 tahunan telah menjadi calon Yogi dan Ia di tasbihkan jadi Biksu saat berumur 20 tahun..jadi ini tergantung pada kesiapan mental dan kumpulan karmanya sendiri..buat apa menyia2kan waktu kalo siap, bukan?!..
    Nah, yg tidak siap dapat lakukan dengan banyak2 berbuat karma baik sbg orang biasa dgn berdana, dan melakukan 5 sila di atas!.
    SAYA: Saya setuju tahapan itu bisa diloncati, bahkan mungkin seseorang tidak akan mampu menerapkan keempat tahap itu. Anda mencontohkan Budha, tapi sebenarnya banyak yang bisa loncat kayak itu. Sankaracharya, Sri Chaitanya, dan keperibadian-keperibadian agung yang lain. Ya, berkarma baik tentu saja akan mengantarkan orang menjadi saleh. Kesalehan ini akan mengantarkan dia mencapai surga. Tapi, surga hanya sementara. Mereka harus lahir kembali setelah menikmati pahala dari karma baiknya di surga. Hanya bhakti yang murni kepada Tuhan Yang Maha esa yang akan memotong rantai kelahiran dan kematian dan menempatkan seseorang menjadi pelayan kekal Tuhan Yang Maha Esa. Untuk zaman kaliyuga ini tidak ada cara lain yang lebih baik daripada sankirtan maha yadnya.
    BERSAMBUNG

    ReplyDelete
  25. Anda: aduh..ngga penting banget..yang penting itu MENELITI apakah bermanfaat bagi diri sendiri/orang lain..tidak merugikan diri sendiri/orang lain..mengajak menuju kebahagiaan dan menghindari LOBHA, MOHA dan DOSA..ya ikuti..kalo yang dikuti jelas buta..ngapain ngikutin orang buta..mo nyemplung ke jurang?
    SAYA: Loba, moha dan dosa? Ya ketiganya memang harus dihindari supaya masuk surga. Tapi bagi bhakta sejati Tuhan, ketiganya itu sudah tidak perlu digembar-gemborkan. Kalau hanya menghindari itu hanya karena takut neraka, dan ingin surga, maka itu adalah kekanak-kanakan. Mestinya bagi orang yang beragama secara dewasa, tidak perlu lagi menggembar-gemborkan untuk menghindari tiga hal itu. Pelajaran TK.

    Anda: salah alamat lagi..makanya jangan jadi orang buta dan atau kodok dalam tempurung..baca yang banyak ya biar punya pengetahuan dan mampu memisahkan mana dharma mana campuraduk..
    Pikiran itu bekerja seperti parasut..makin terbuka makin baik..
    SAYA: Mengembangkan parasut juga harus cerdas. Tidak setiap saat parasut dikembangkan. Perlu saat yang tepat. Pikiran itu kalau tidak diarahkan ke jalan bhakti akan menjadi liar. Keliaran pikiran akan membuat seseorang bingung. Kebingungan akan membuat seseorang lupa akan jati dirinya sebagai pelayan Tuhan. Keliaran yang paling liar adalah menganggap Tuhan tidak ada. Puncak dari keliaran pikiran adalah atheis. Salam…..

    ReplyDelete
  26. Putera,
    Purana2 yg memasukan Buddha jadi reinkarnasi Vishnu emang merupakan purana TAMBAL SULAM dan ia di buat RATUSAN tahun setelah Buddha wafat..hingga abad SETELAH masehi..dan yang buat itu emang BRAHMANA campur aduk ngga karuan2 juntrungnya maunya mengajarkan apa..yang jelas pendangkalan pemikiran, pembodohan, penipuan, ketidakjujuran, irihati, motif sokongan uang..intinya itikad kotor..Nah itulah guru2 yang kamu puja sebagai guru yang kualified dan bonafit..diantara mereka juga menuliskan kebohongan lain dengan penghinaan terhadap DEVA dengan kisah2 erotisnya..bahkan kekotoran pikiran..cilakanya itupun menurun pada kamu spt yang kamu demonstrasikan di artikel saya yang ini:

    http://wirajhana-eka.blogspot.com/2010/06/rahwana-lebih-patut-di-idola-kan.html?showComment=1289803482483#c5057433888913168731

    dari ribuan kata dan ratusan kalimat pada artikel itu..kamu ternyata emang tertarik pada masalah seksnya aja..

    Kamu berargumentasi bhw yg membedakan vegetarian kambing dan kelompokmu adalah karena mempersembahkan makanannya pada tuhan..hehehehe..ngga ngaruhhhhh,tuh.. BUANYAKKKKKKKK guru2 aliran HARE KRESNA malah berkelakuan BINATANG..nih saya kasih bacaannya biar kamu sadar..apa itu MOHA [kekeliruan tahu]:

    1. Gauri Das, terbukti melakukan kekerasan pemukulan pada anak didik tahun 1991-2001 [Borehamwood & Elstree Times, UK/January 5, 2009]
    2. Kirtananda Swami Bhaktipada, yang dihukum karena terbukti melakukan Racketeering [pemerasan, pencucian uang, ngijon] dan perintah pembunuhan pada 2 devotee [The New York Times/July 11, 2004; Charleston Daily Mail/June 17, 2004]
    3. child Abuse [pelecehan termasuk, pemerkosaan di: http://www.rickross.com/reference/krishna/krishna25.html]
    4. dll, baca aja sendiri..

    hehehehe..Mempersembahkan makanan sebelum makan kepada tuhan ANTAH BERANTAH manapun TERBUKTI tetep aja bertingkah laku bak binatang vegetarian, bukan?

    Ya persis spt yg dikatakan Buddha, mempersembahkan makanan pada tuhan, menyembah tuhan, tunggang tungging sembahyang, teriak2 nyanyi..ngga membuat diri jadi suci..namun justru pengendalian diri sendiri yang buat diri menjadi suci/tidak!

    O ya kebetulan Buddha udah bilang kalo ajarannya cuma bertahan 5000an tahun..jadi jangan khawatir..ajaran ini akan lenyap dengan sendirinya..dan cilakanya ini kelihatanya satu2nya ajaran dimuka bumi yang mengatakan dengan tegas bahwa ajarannya tidak kekal dan akan lenyap dari muka bumi..sementara ajaran lainnya sibuk menyatakan ajarannya akan kekal dan malah memberikan penyesatan..hehehehe

    Mmhhh..dulu saya kaya kamu..terjebak di iskcon..ajaran ini lumayan bagus..sama2 lumayan bagusnya dengan jainism dan beberapa aliran india lainnya dan jika dibandingkan aliran abrahamic manapun jauh lebih bagus-lah..namun buat saya itu ajaran2 itu masih kurang bagus..

    Jadi pikiran itu bekerja seperti parasut..ngga perlu cerdas..banyak aja membaca..lama2 kamu juga tau bermutu atau tidaknya ajaran itu dan ngga dibodoh2i lagi..

    ReplyDelete
  27. Pak Wirajhana, saya tidak tahu apakah tulisan tentang kejahatan yang dilakukan oleh guru2 Hare Krishna benar atau tidak. Di antara guru-guru kerohanian di ISKCON, saya lihat tidak ada nama itu. Juga tidak ada nama Anand Krishna he he he... ini daftar guru-guru ISKCON


    1. A. C. Bhaktivaibhava Swami
    2. Amiyavilasa Swami
    3. Atmanivedana Swami
    4. Bhanu Swami
    5. Bhakti Bhusana Swami
    6. Bhakti-Bhrnga Govinda Swami
    7. Bhakti Caitanya Swami
    8. Bhakti Caru Swami
    9. Bhakti Dhira Damodara Swami
    10. Bhakti Gaurava Narayan Swami
    11. Bhaktimarg Swami
    12. Bhakti Narasimha Swami
    13. Bhakti Pursottama Swami
    14. Bhakti Raghava Swami
    15. Bhaktisiddhanta Swami
    16. Bhakti Sharan Shanta Swami
    17. Bhakti Vidya Purna Swami
    18. Bhakti Vijnana Goswami
    19. Bhakti Vijaya Parivarjak Swami
    20. Bhakti Vikash Swami
    21. Bhakti Vishramba Madhava Swami
    22. Bhakti Vrajendranandana Swami
    23. Bhakti Vyasa Tirtha Swami
    24. Bharati Swami
    25. Bir Krsna Goswami
    26. BVV Nrsimha Swami
    27. Candra Mauli Swami
    28. Candra Mukha Swami
    29. Candra Sekhara Swami
    30. Danavir Goswami
    31. Devamrta Swami
    32. Dhanvantari Swami
    33. Ganapati Swami
    34. Gauranga Prema Swami
    35. Giridhari Swami
    36. Giriraja Swami
    37. Gopala Krsna Goswami
    38. Gunagrahi Goswami
    39. Guru Prasada Swami
    40. Hanumat Presaka Swami
    41. Hrdayananda Goswami
    42. Indradyumna Goswami
    43. Janananda Goswami
    44. Jayadvaita Swami
    45. Jayapataka Swami
    46. Kadamba Kanana Swami
    47. Kavicandra Swami
    48. Kesava Bharati Goswami
    49. Krsna dasa Swami
    50. Lokanatha Swami
    51. Maha Visnu Goswami (Indian)
    52. Maha Visnu Swami (English)
    53. Mahanidhi Swami
    54. Mukunda Goswami
    55. Niranjana Swami
    56. Navayogendra Swami
    57. Paramgati Swami
    58. Partha Sartha Goswami
    59. Prabhavisnu Swami
    60. Prabhodananda Sarasvati Swami
    61. Prahladananda Swami
    62. Purnacandra Goswami
    63. Purusatraya Swami
    64. Radha Govinda Swami
    65. Radha Ramana Swami
    66. Radhanatha Swami
    67. Ramai Swami
    68. Romapada Swami
    69. Rtadhvaja Swami
    70. Sacinandana Swami
    71. Satsvarupa dasa Goswami
    72. Sivarama Swami
    73. Smita Krsna Swami
    74. Subhag Swami
    75. Sukadeva Swami
    76. Svayambhu Swami
    77. Tatpara Swami
    78. Trivikrama Swami
    79. Umapati Swami
    80. Varsana Swami
    81. Vedavyasa Priya Swami

    Pak Wirajhana, saya tidak mengatakan bahwa guru-guru Hare Krishna tidak mungkin bisa jatuh. Kemungkinan jatuhnya tetap ada walau dia sudah sangat maju di bidang kerohanian. Makanya semuanya disarankan untuk tetap waspada terhadap godaan maya. Di antara godaan itu, nafsu birahi yang paling hebat. Karena itulah mereka yang total di bidang kerohanian harus menjaga jarak dengan yang namanya perempuan. Inilah etikanya.

    Ya, tentu saja ajaran Budha memang tidak kekal, karena sifatnya temporer. Missi Budha sudah selesai, bahkan udah tamat sebelum Sri Sankaracharya muncul untuk menghancurkan filsafat Budha ini. Lucunya orang-orang yang tertipu sampai sekarang masih banyak. Dari ketidak kekalan ajaran ini saja sudah jelas seperti apa ajarannya. Lalu kalau menurut Anda ini ajaran yang paling baik, setelah 5000 an tahun ajaran apa yang akan menyelamatkan roh-roh setelah kurun waktu itu? Tolong jawabannya Pak....

    ReplyDelete
  28. Wow, jika benar saya terjebak di ISKCON alangkah beruntungnya. Dari beberapa tahun saya memang berusaha menjebakkan diri di ISKCON. Saya bercita-cita menjadi penyembah pelayan dari pelayannya Tuhan. Intelektual saya mengatakan inilah yang terbaik! Btw, Saya tidak percaya kalau Bapak pernah terjebak di ISKCON, sebab jika benar, pastilah ada cerita menarik dari Bapak yang sudah pasti bapak ekspos di blog ini. Dan Bapak akan menikmati testimoni bapak ketika dibaca orang, Bapak kan tipe orang yang mengagumi kecerdasan diri sendiri he he he....

    ReplyDelete
  29. Putera,
    Dari statement terakhir anda saya baru tau kalo menjadi pengikut HARE KRESHNA mungkin jidadnya ada tatonya sehingga akan ketahuan pasti ia itu pengikut ato bukan...

    Di komentar2 sebelumnya, telah kita buktikan bersama Vegetarian cuma pola makan..ngga ada urusannya dengan kesucian

    Telah kita buktikan juga mempersembahkan makanan bahkan pada tuhan antah berantah tidak juga membuat manusia mencapai kesucian

    Telah kamu sampaikan juga bahwa kewaspadaan dan pengendalian diri adalah MUTLAK untuk mencapai kesucian..dan semua nama2 yang kamu sebutkan beberapa nama YANG TEBUKTI BERSALAH telah dikeluarkan dari ISKCON..

    Penjahat adalah penjahat..berjubah maupun tidak.

    Perlu kamu ketahui..bahkan sebelum KRISHNA wafat saja kejahatan masih menumpuk tuh..sebelum Sankararcharya wafat aja kejahatan masih menumpuk tuh..

    Siapapun Bos ajarannya..KEJAHATAN tetep masih menumpuk..setelah mereka wafat kejahatan masih menumpuk..

    Ngga ada cara lain untuk menyelamatkan diri anda sendiri kecuali melakukan perbuatan2 baik yang kamu lakukan sendiri..

    Saat ini ajaran Buddha belumlah hilang..buktinya masih terdapat kumpulan kitab yang bernama TIPITAKA..para BIKSU Buddhis yang menjalankan 227 sila BELUM TENTU orang SUCI. Yang pasti benar adalah mereka sedang menuju kekehidupan SUCI..

    Utk umat awam cukup jalankan saja 5 sila, RAJIN BERDANA dan sukur2 ditambah dengan MEDITASI...dengan dasar tersebut ia telah memupuk KARMA BAIK atau PARAMI..

    Setelah ajaran BUDDHA tidak ada, sama saja cara terbaiknya adalah menjalankan 5 sila dan BERDANA..

    sesederhana itu..utk lebih jelasnya anda bisa buka situs2 Buddhis, baca, bandingkan dan buktikan sendiri..

    ngga rumit koq.

    ReplyDelete
  30. Pak Wirajhana, terimakasih atas jawabannya. Maafkan saya yang sudah ikut mengotori blog bapak. Dan maafkan juga kalau ada kata-kata saya yang salah. Selamat beraktivitas Pak... Salam

    ReplyDelete
  31. Wirajhana:
    "Sementara Pembunuhan oleh Kalki pada semua pemeluk Buddhisme BELUM TERJADI [dan bisa jadi ngga akan terjadi karena Buddhisme tetep akan punah kelak setelah 5000 tahun sejak Buddha Sakyamuni WAFAT]"

    Bang, Buddhisme tetep akan punah kelak setelah 5000 tahun sejak Buddha Sakyamuni WAFAT, dasar perhitungannya apa?
    Sebelumnya Ane juga pernah denger "pernyataan ini" dari orang-orang di tempat ibadah, tapi ketika ane tanya dasar perhitungannya apa, mereka engga tahu. Barangkali Bang Wirajhana bisa memberikan penjelasan diatas.

    mohon pencerahannya,
    Salam,
    DWD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ditthi Wirya Dharma:
      Bang, Buddhisme tetep akan punah kelak setelah 5000 tahun sejak Buddha Sakyamuni WAFAT, dasar perhitungannya apa?

      GW:
      Saya juga mo koreksi yg saya tulis..yaitu LENYAPNYA/PUNAHNYA BUKAN 5000 tahun TAPI HANYA SAMPAI 500 TAHUN saja setelah wafatnya sang Buddha.

      Bagaimana cara kelenyapannya?

      Baca di: Ringkasan Ajaran Buddha, kemudian cari: "Bagaimana PROSES LENYAPNYA DHAMMA SEJATI?" + CATATAN KAKINYA.

      Perlu anda ketahui,
      sampe detik ini..masih banyak Buddhis (termasuk para biksu) yg tidak dapat menerima atau bahkan menolak kenyataan pait ini.

      Delete
    2. Bang Wirajhana Eka:
      Oh, maksud abang yang lenyap itu "Dhamma Sejati", ane baru paham.
      Trims, udah memberikan sedikit pencerahan.

      Salam,
      DWD

      Delete