Sunday, December 7, 2008

Kisah Wafatnya dan Pesan Terakhir: Krisna, Buddha, Yesus & Muhammad


Sri Krisna, Sang Buddha, Yesus dan Muhammad adalah para orang besar! Mereka merupakan sedikit dari Individu yang berpengaruh besar terhadap kehidupan manusia di muka bumi ini. Untuk itu artikel ini saya sajikan untuk mengenal bagaimana mereka wafat dan apa pesan/perintah di menjelang wafatnya

Infomasi mengenai ini saya lengkapi dengan Peta dijaman mereka masing-masing. Selekasnya anda menyelesaikan artikel ini, Anda akan dapat menimbang sendiri karasteristik dari masing2 manusia basar yang pernah ada di muka bumi ini


Krisna

Beliau meninggal di usia 125 tahun, 7 Bulan, 6 hari, pada jam 14:27:30 tanggal 18 Februari 3102 SM, di tepi sungai Hiran, Prabahs Patan (Gujarat). Perhitungan ini dinyatakan berdasarkan petunjuk dari kitab-kitab kuno dengan perincian: Visnu Purana dan Bhagavad Gita menyatakan Ia "meninggalkan" Dwaraka 36 tahun setelah perang Mahabharata. Matsya Purana menyatakan ketika perang Mahabharata, Ia berusia 89 tahun [The Times Of India: "Lord Krishna Lived for 125 Years", Wednesday September 08, 2004 10:07:31 PM]:

  • Mahabharata Adiparva bab-2: Perang Kurawa-Pandawa terjadi di interval antara Dwapara Yuga - Kali Yuga. [Jadi pendapat yang mengatakan Kaliyuga mulai ketika Bima menjatuhkan Duryudana di hari ke-18 perang Kurukhsetra adalah tidak valid]
  • Vishnu Purana 4.24 dan 5.38 juga Srimad Bhagavata/Bhagavata Purana 1.18.6 menyatakan bahwa era Kaliyuga mulai bertepatan dengan wafatnya Krisna.
  • Usia Krisna saat perang kurusetra adalah 89 tahun [Yudistira yang saat Perang di kurustra berusia 91 tahun dan Krishna lebih muda 2 tahun dari Yudistira]
  • Stri Parva 11.25: Gandhari, di saat prosesi upacara penyelesaian kematian bangsa kuru setelah perang di kurusetra, menyampaikan kutukan pada Krisna bahwa 36 tahun kemudian bangsa Yadawa akan musnah, tahun ini juga yang akan menjadi akhir kehidupan Krisna.
  • Srimad Bhagavata 11.6.25: Brahma mengatakan telah 125 musim gugur berlalu sejak krisna lahir yang diucapkan di menjelang hancurnya bangsa Yadawa.
Jadi, untuk mengetahui kapan kaliyuga/wafatnya Krisna, maka harus diketahui terlebih dahulu kapan perang di kurusetra terjadi.

Dari 18 Parva di Mahabharata, hanya 4 Parva (ke-10, 11, 17 dan 18) yang tidak berisi petunjuk-petunjuk astronomi berupa: Posisi konstalasi bintang, bintang, Matahari, bulan, planet, lintasan komet, gerhana matahari dan/atau gerhana bulan dan posisi/lintasan relatif mereka apakah di area utara/meninggi (rahu) atau selatan/menurun (ketu) yang orang-orang saat itu gunakan dalam penanggalan sejak jaman dulu, misal pada sample percakapan Skanda dan Indra di Vana Parva, menunjukan observasi bergesernya bintang telah dilakukan jauh sejak 23.000 SM-an (dari lama lintasannya).

Dalam melakukan perhitungan kapan terjadinya perang di Kurusetra, tidak semua ahli mengikuti petunjuk-petunjuk astronomi di atas. Di antara mereka, yang menggunakan petunjuk itu, beberapa akhirnya mengabaikannya, misal: posisi Shani (Saturnus) di Rohini (Aldebaran); Mangala (Mars) di Jayestha (Antares) di perang 18 hari dengan 2 gerhana kembar (gerhana bulan di Krutika dan gerhana matahari di Jayestha) yang terjadi dalam kurun waktu 13 hari. Diantara yang menghitung dengan petunjuk itu, mereka membatasi observasinya pada interval 600 SM s.d 3500SM dan tidak sebelumnya.

Berikut di bawah ini adalah beberapa variasi tahun kapan perang Kurusetra terjadi:

  • Prof. I.N. Iyengar yakin perang tersebut terjadi tahun 1478 SM
  • Dr. S. Balakrishna yakin perang tersebut terjadi tahun 2559 SM. [Atau di sini]. Juga disampaikannya bahwa Aryabhatta menyatakan Kaliyuga di mulai pada 3102 SM [Aryabhateeya by Brahmagupta, S.Shukla,New Delhi, INSA 1976]. Kitab Surya Siddhanta [Translation of an Ancient Indian Astronomical Text. Translation by Bapudeva, Varanasi, 1860] menyatakan matahari 54 derajat dari vernal equinox di Ujjain (75deg 47minE, 23deg 15min N) untuk Kaliyuga (yang dalam kalendar Julian: 17/18 February 3102 SM). Varaha Mihira menyatakan 2526 tahun sebelum tahun saka (entah: Shalivahana saka/79 M atau Vikrama Saka/57 SM) [Brihat Samhita]
  • Dr. B.N. Achar yakin perang tersebut terjadi di 22 Nov - 12 Des 3067 SM [Atau di sini].
  • Dr. P.V. Holay yakin perang tersebut terjadi mulai 13 Nov 3143 SM [Atau di sini]
  • Dr. P.V.Vartak yakin perang tersebut terjadi mulai 6 Okt - 2 Nov 5561 SM [Atau di sini]
Balakrisna (dan banyak lagi) memberikan kita petunjuk bagaimana, darimana/siapa tahun Kaliyuga: 17/18 February 3012 berasal. Bahkan lebih lanjutnya disebutkan pada tengah malam (17/18 February) dan/atau Matahari terbit (18 February) ["Ancient Indian Leaps into Mathematics", B.S. Yadav, Man Mohanref, hal.90 mengutip: "Pancasiddhantika", Varahamihira: 28.XV.20, 29 dan 25. Kemudian, untuk analisa sinkronisasi perbedaan postulat tersebut, lihat: "Critical evidence to fix the native place of Aryabhata-I", HISTORICAL NOTES, CURRENT SCIENCE, VOL. 93, NO. 8, 25 OCTOBER 2007, hal.1184].

Di Aryabhatiya Ch.3.10 ("Aryabhatiya", leiden 10 Juli 1874, H. Kern), Aryabhatta menyampaikan lamanya waktu Kaliyuga yang telah berjalan hingga Ia berusia 23 tahun, ketika menyelesaikan karyanya:


    Kata di dalam kotak adalah "sasti" ("षष्टि", enam puluh), berikut sample terjemahan:

    Sanskrit:
    षष्टि-अब्दानाम् षष्टिस् यदा व्यतीतास् त्रयस् च युग-पादास्/
    त्रि-अधिका विंशतिस् अब्दास् तदा इह मम जन्मनस् अतीतास्//

    [Roman:
    ՙṣaṣṭi-abdānām ՙṣaṣṭis yadā vyatītās trayas ca yuga-pādās
    ՙtri-adʰikā ՙviṃśatis abdās tadā iha mama janmanas atītās
    ]

    [Indonesia:
    Sekarang 60 x 60 tahun dan 3/4 yuga berlalu,
    23 tahun sejak kelahiranku]

    Sehingga,
    3600 tahun - 3101 tahun = 499 Masehi - 23 tahun = 476 masehi. Tahun ini oleh mayoritas para ahli ditetapkan sebagai tahun kehidupan Aryabhatta.

    Kemudian dari Aryabhatiya I.3:

    ka-ahas manavas ՚ḍʰa manu-yugās ՚śkʰa gatās te ca manu-yugās ՚cʰnā ca
    kalpa-ādes yuga-ʰpādās ՚ga ca guru-divasāt ca bʰāratāt pūrvam


    Terjemahan:
    14 Manu dalam 1 Kalpa dan 1 manu berisi 72 yuga.
    Sejak kamis 6 Manu dan 27 ¾ yuga berlalu dari jaman Bhaarata



    Gambar di atas ini berasal dari "The Aryabhatiya of Aryabhata", Walter Eugeune Clark, 1930, hal.12 yang mengutip Brahmagupta bahwa yugapada yang dimaksud adalah kaliyuga. Kemudian, karena 1 yuga = 4.320.000 tahun, maka tahun berlalu sejak permulaan Yuga adalah:

    (6 x 72) x 4.320.000 + (27.75 x 4.320.000) = 1,866,240,000 + 119,880,000 = 1,986,120,000 tahun berlalu.

    Baskarachariya I juga menyampaikan tahun beliau menyelesaikan komenar "Aryabhattiyam" di Ch.I.9:

    Kalpadherabdhnirodhadhayam abdharashiritiritaha:
    khagnyadhriramarkarasavasurandhrenadhavaha: te cangkkairapi 1986123730


    Terjemahan:
    Sejak dimulainya kalpa, tahun yang berlalu adalah: 0, 3, 7, 3, 12, 6, 8, 9, 1 tahun (1986123730 tahun)], atau:

    Kalpadherabdhanirodha gatakalaha:
    khagnyadhriramarkarasavasurandhrenadhavaha: te ca 1986123730


    Terjemahan:
    waktu berlalu dalam tahun, sejak berjalannya kalpa ini adalah: 0, 3, 7, 3, 12, 6, 8, 9, 1 (1986123730)]

    Sehingga,
    1,986,120,000 - 1,986,123,730 = 3730. Kemudian 3730 - 3101 = 629 Masehi. Para ahli modern kemudian menyatakan tahun itu sebagai tahun Bhaskaracharya menuliskan komentarnya.

    Terakhir,
    Sloka dibawah ini memberikan petunjuk jelas bahwa penetapan tahun 3012 SM telah dikenal sejak jaman Aryabhata dan sebelumnya, yaitu berdasarkan tulisan Bhaskaracharya dan juga Lalla mengenai cara mengkonversi tahun Saka:


      "Tahun saka tambahkan dengan 3179 untuk mendapatkan tahun kalender matahari yang berjalan sejak dimulainya Kaliyuga" (Sisyadhivrddhida Tantra, Lalla.I.12)

    Angka 3179 [tahun 3101 SM + 78 Masehi] telah disebutkan jelas untuk mendapatkan jumlah tahun yang berlalu setelah KALIYUGA dan TAHUN SAKA (78 Masehi).
Demikianlah perjalanan asal usul tahun 3102 SM sebagai awal jaman Kaliyuga dengan sejarah panjangnya.

Bagaimana wafatnya Krisna dan apa pesan terakhirnya?

Sebab awal wafatnya Krisna di sampaikan Itihasa Mahabharata, di Striparwa (bagian ke-11) dan puncak kejadian wafatnya disampaikan di Mosala parwa (bagian ke-16):

Striparva
Ketika dilangsungkan upacara pembakaran mayat, semua anak menantu Gandari telah menjadi janda dan menangis sedih di hadapan mayat-mayat suami yang telah tewas. Gandari juga ada di tempat itu. Para Pandawa dengan ditemani oleh Kunti dan Sri Krisna juga hadir di iringi oleh rakyat yang merasa sangat sedih karena kehilangan sanak saudara mereka. krisna menghibur Gandari, dan berkara, ‘ Mengapa Ibunda menangis? Inilah dunia Ibupun pada suatu ketika akan meninggalkan dunia ini. lalu mengapa menangis?’. Gandari menjawab, ‘Kalau saja anda tidak merencanakan hal ini maka semua anak-anak-ku akan hidup, tidak terbunuh seperti ini. Krisna menjawab, ‘Perang untuk menegakan Dharma tidak dapat dicegah. Apa yang dapat kuperbuat, aku hanya suatu alat’. Lalu Gandari berkata, ‘Paduka ini Taraka Brahma. Apabila paduka menghendaki, paduka bisa mengubah pikiran mereka tanpa perlu melakukan pertempuran’.

Biarlah seluruh dunia melihat dan menarik pelajaran.

Selanjutnya Gandari mengucapkan sumpah, ‘Seperti halnya anggauta keluargaku mengalami kehancuran dihadapan mataku sendiri demikianlah hendaknya anggauta keluarga paduka mengalami kehancuran dihadapan mata paduka sendiri’

Krisna tersenyum dan menjawab, ‘Semoga demikian’. Krisna menerima sumpah itu. Ia ingin menunjukkan bahwa kekuatan moral itu mempunyai nilai dalam kehidupan dan kekuatan itu harus diakui adanya [Di atas ini versi: AnandaMarga, oleh: Srii Srii Anandamurti]

Kutukan Gandhari menurut terjemahan dari Kisari Mohan Ganguli, tr (Striparva, Bab ke-25):

    ..."Gandhari berkata, O Krishna, baik ‘Pandawa dan Dhartarashtra, keduanya telah terbakar. keduanya terbasmi, O Janardana, mengapa engkau abaikan mereka? Engkau sangat kompenten mencegah pembantaian ini, Engkau punya sejumlah besar pengikut dan berkekuatan besar. Engkau sangat fasih berbicara, dan engkau punya kekuatan (untuk mewujudkan perdamaian). Karena dengan sengaja, O pembunuh dari Madhu, engkau acuh tak acuh terhadap pembantaian massal ini, oleh karenanya, O Senjata yang paling perkasa, engkau seharusnya menuai buah tindakan ini. Dengan kebaikan kecil yang telah aku dapatkan dari kepatuhanku melaksanakan kewajiban pada suamiku, dengan pahala itu yang begitu sulit diperoleh, aku akan mengutuk engkau, O pemilik cakram dan gada! Karena engkau telah mengabaikan para Kuru dan Pandawa sehingga saling membunuh satu sama lainnya, oleh karenanya, O Govinda, engkau akan menjadi pembunuh sanak-Mu sendiri! Pada tahun ke 36 sejak sekarang, O pembunuh dari Madhu, engkau, setelah menyebabkan pembantaian kerabatMu, teman-temanMu dan anak-anakMu, binasa dengan cara menjijikkan di padang gurun. Para wanita dari ras-Mu, kehilangan anak, sanak saudara, dan teman-teman, akan meratap dan menangis seperti para wanita dari ras Bharata ini!'"

    Vaishampayana melanjutkan, "Mendengar kata-kata ini, Vasudeva Sang Jiwa utama, kepada Gandhari, mengatakan kepadanya kata-kata ini, dengan senyum tipis,"Tidak ada di dunia, yang menyelamatkan diri, yang mampu membasmi bangsa Vrishni. Aku tau ini dengan pasti. Aku akan wujudkan. Dalam mengucapkan kutukan ini, O ini kaulmu yang sangat baik, Engkau telah membantu aku menyelesaikannya. Bangsa Vrishni tidak mampu dibunuh oleh yang lainnya, baik itu para manusia atau dewa atau Danava. Bangsa Yadawa, karenanya akan musnah oleh tangan mereka sendiri." Setelah Ia dari ras Dasharha mengatakan ini, Pandawa menjadi terheran-heran. Dipenuhi dengan kecemasan, mereka semua menjadi hidup tersia-sia!
Mosalaparwa
Mosalaparwa atau Mausalaparwa mengisahkan musnahnya para Wresni, Andhaka dan Yadawa, sebuah kaum di Mathura-Dwaraka (Dwarawati) tempat Sang Kresna memerintah. Kisah ini juga menceritakan wafatnya Raja Kresna dan saudaranya, Raja Baladewa.

Diceritakan bahwa pada saat Yudistira naik tahta, dunia telah memasuki zaman Kali Yuga atau zaman kegelapan. Beliau telah melihat tanda-tanda alam yang mengerikan, yang seolah-olah memberitahu bahwa sesuatu yang mengenaskan akan terjadi. Hal yang sama dirasakan oleh Kresna. Ia merasa bahwa kejayaan bangsanya akan berakhir, sebab ia melihat bahwa banyak pemuda Wresni, Yadawa, dan Andhaka yang telah menjadi sombong, takabur, dan senang minum minuman keras sampai mabuk.

Pada suatu hari, Narada beserta beberapa resi berkunjung ke Dwaraka. Beberapa pemuda yang jahil merencanakan sesuatu untuk mempermainkan para resi. Mereka mendandani Samba (putera Kresna dan Jembawati) dengan busana wanita dan diarak keliling kota lalu dihadapkan kepada para resi yang mengunjungi Dwaraka. Kemudian salah satu dari mereka berkata, "Orang ini adalah permaisuri Sang Babhru yang terkenal dengan kesaktiannya. Kalian adalah para resi yang pintar dan memiliki pengetahuan tinggi. Dapatkah kalian mengetahui, apa yang akan dilahirkannya? Bayi laki-laki atau perempuan?". Para resi yang tahu sedang dipermainkan menjadi marah dan berkata, "Orang ini adalah Sang Samba, keturunan Basudewa. Ia tidak akan melahirkan bayi laki-laki ataupun perempuan, melainkan senjata mosala yang akan memusnahkan kamu semua!" (mosala = gada)

Kutukan tersebut menjadi kenyataan. Sang Samba melahirkan gada besi dari dalam perutnya. Atas perintah Raja Ugrasena, senjata itu kemudian dihancurkan sampai menjadi serbuk. Beberapa bagian dari senjata tersebut sulit dihancurkan sehingga menyisakan sepotong besi kecil. Setelah senjata tersebut dihancurkan, serbuk dan serpihannya dibuang ke laut. Lalu Sang Baladewa dan Sang Kresna melarang orang minum arak. Legenda mengatakan bahwa serbuk-serbuk tersebut kembali ke pantai, dan dari serbuk tersebut tumbuhlah tanaman seperti rumput namun memiliki daun yang amat tajam bagaikan pedang. Potongan kecil yang sukar dihancurkan akhirnya ditelan oleh seekor ikan. Ikan tersebut ditangkap oleh nelayan lalu dijual kepada seorang pemburu. Pemburu yang membeli ikan itu menemukan potongan besi kecil dari dalam perut ikan yang dibelinya. Potongan besi itu lalu ditempa menjadi anak panah.

Setelah senjata yang dilahirkan oleh Sang Samba dihancurkan, datanglah Batara Kala, Dewa Maut, dan ini adalah pertanda buruk. Atas saran Kresna, para Wresni, Yadawa dan Andhaka melakukan perjalanan suci menuju Prabhastirtha, dan mereka melangsungkan upacara di pinggir pantai. Di pantai, para Wresni, Andhaka dan Yadawa tidak bisa menghilangkan kebiasaan buruk mereka, yaitu minum arak sampai mabuk. Dalam keadaan mabuk, Satyaki berkata, "Kertawarma, kesatria macam apa kau ini? Dalam Bharatayuddha dahulu, engkau telah membunuh para putera Dropadi, termasuk Drestadyumna dan Srikandi dalam keadaan tidur. Perbuatan macam apa yang kau lakukan?". Ucapan tersebut disambut oleh tepuk tangan dari Pradyumna, yang artinya bahwa ia mendukung pendapat Satyaki. Kertawarma marah dan berkata, "Kau juga kejam, membunuh Burisrawa yang tak bersenjata, yang sedang meninggalkan medan laga untuk memulihkan tenaga".

Setelah saling melontarkan ejekan, mereka bertengkar ramai. Satyaki mengambil pedang lalu memenggal kepala Kertawarma di hadapan Kresna. Melihat hal itu, para Wresni marah lalu menyerang Satyaki. Putera Rukmini menjadi garang, kemudian membantu Satyaki. Setelah beberapa lama, kedua kesatria perkasa tersebut tewas di hadapan Kresna. Kemudian setiap orang berkelahi satu sama lain, dengan menggunakan apapun sebagai senjata, termasuk tanaman eruka yang tumbuh di sekitar tempat tersebut. Ketika dicabut, daun tanaman tersebut berubah menjadi senjata setajam pedang. Dengan memakai senjata tersebut, para keturunan Wresni, Andhaka, dan Yadu saling membunuh sesama. Tidak peduli kawan atau lawan, bahkan ayah dan anak saling bunuh. Anehnya, tak seorang pun yang berniat untuk meninggalkan tempat itu. Dengan mata kepalanya sendiri, Kresna memperhatikan dan menyaksikan rakyatnya digerakkan oleh takdir kehancuran mereka. Dengan menahan kepedihan, ia mencabut segenggam rumput eraka dan mengubahnya menjadi senjata yang dapat meledak kapan saja. Setelah putera dan kerabat-kerabatnya tewas, ia melemparkan senjata di tangannya ke arah para Wresni dan Yadawa yang sedang berkelahi. Senjata tersebut meledak dan mengakhiri riwayat mereka semua.

Akhirnya para keturunan Wresni, Andhaka dan Yadu tewas semua di Prabhasatirtha, dan disaksikan oleh Kresna. Hanya para wanita dan beberapa kesatria yang masih hidup, seperti misalnya Babhru dan Bajra. Kresna mampu menyingkirkan kutukan brahmana yang mengakibatkan bangsanya hancur, namun ia tidak mau mengubah kutukan Gandari, Ia mengetahui bahwa tidak ada yang mampu mengalahkan bangsa Wresni, Yadawa dan Andhaka kecuali diri mereka sendiri. Bangsa itu mulai senang bermabuk-mabukan sehingga berpotensi besar mengacaukan Bharatavarsa yang sudah berdiri kokoh. Setelah menyaksikan kehancuran bangsa Wresni, Yadawa, dan Andhaka dengan mata kepalanya sendiri. Kemudian Balarama pergi ke hutan, sedangkan Kresna mengirim utusan ke kota para Kuru, untuk menempatkan wanita dan kota Dwaraka di bawah perlindungan Pandawa; Babhru disuruh untuk melindungi para wanita yang masih hidup sedangkan Daruka disuruh untuk memberi tahu para keturunan Kuru bahwa Wangsa Wresni, Andhaka, dan Yadawa telah hancur. ke hadapan Raja Yudistira di Hastinapura.

Sri Krisna kemudian pergi ke hutan tempat dimana Balarama menunggunya. Kresna menemukan kakaknya duduk di bawah pohon besar di tepi hutan; ia duduk seperti seorang yogi. Kemudian ia melihat seekor ular besar keluar dari mulut kakaknya, yaitu naga berkepala seribu bernama Ananta, dan melayang menuju lautan yang di mana naga dan para Dewa datang berkumpul untuk bertemu dengannya.

Dalam Bhagawatapurana dikisahkan setelah Baladewa ambil bagian dalam pertempuran yang menyebabkan kehancuran Dinasti Yadu Setelah itu Ia duduk bermeditasi di bawah pohon dan meninggalkan dunia dengan mengeluarkan ular putih besar dari mulutnya, kemudian diangkut oleh ular tersebut, yaitu Sesa.

Setelah menyaksikan kepergian kakaknya, Kresna kemudian duduk disebuah batu dibawah pohon di Prabhasa Tirta, mengenang segala peristiwa Ia tahu bahwa sudah saatnya ia ‘kembali’. Kemudian ia memulai menutup panca indrianya melakukan yoga dengan sikap Lalita Mudra. Bagian dibawah kakinya berwarna kemerah-merahan.

Saat itu ada seorang Vyadha (pemburu) bernama Jara, setelah seharian tidak mendapat buruan, melihat sesuatu berwarna kerah-merahan, Ia pikir, ‘Ah, akhirnya kutemukan juga buruanku’, Ia memanahnya dengan panah yang berasal dari sepotong besi yang berasal dari senjata mosala yang telah dihancurkan kemudian panah itu diberi racun. Ia memanah dan panah itu tepat mengenai benda kemerah-merahan itu. Jara, sang Pemburu segera berlari ketempat itu untuk menangkap mangsanya dan dilihatnya Shri Krisna yang berjubah kuning sedang melakukan Yoga namun dengan tubuh kebiru-biruan akibat menyebarnya racun panah itu. Jara kemudian meminta ma'af atas kesalahannya itu. Sri Kresna tersenyum dan berkata, ‘Kesalahan-kesalahan sedemikian ini jamak dilakukan manusia. Seandainya aku adalah engkau tentu akupun melakukan kesalahan itu. Kamu tidak dengan sengaja melakukannya. Jangan di pikir. Kamu tidak tahu sebelumnya aku berada di tempat ini. Kamu tidak dapat dihukum secara hukum maupun moral, Aku mengampunimu. Aku sudah menyelesaikan hidupku’.

Ketika Daruka tiba di Hastinapura, ia segera memberitahu para keturunan Kuru bahwa keturunan Yadu di Kerajaan Dwaraka telah binasa karena perang saudara. Beberapa di antaranya masih bertahan hidup. Setelah mendengar kabar sedih tersebut, Arjuna mohon pamit demi menjenguk Basudewa (Sri Krisna). Dengan diantar oleh Daruka, ia pergi menuju Dwaraka.

Setibanya di Dwaraka, Arjuna mengamati bahwa kota tersebut telah sepi. Ia juga berjumpa dengan Orang-orang tua, anak-anak, janda-janda yang ditinggalkan mati oleh para suaminya di dalam peperangan, Istri-istri Krisna sejumlah 16.000 (Dalam Bhagavata Purana 10.59.33 dan Visnu Purana 5.29 disebutkan 16.100 atau di Bhagavata Purana 10.61.18, yaitu 8 istri utama + 16.100 = 16.108). Arjuna bersama para ksatria yang tersisa kemudian membawa pergi para Brahmana, Ksatria, waisya, sudra, wanita dan anak-anak Wangsa Wresni, untuk menyebarkannya di sekitar Kurukshetra. Kemudian Arjuna bertemu dengan Basudewa yang sedang lunglai. Setelah menceritakan beberapa pesan kepada Arjuna, Basudewa mangkat.

Sesuai dengan amanat yang diberikan kepadanya, Arjuna mengajak para wanita dan beberapa kesatria untuk mengungsi ke Kurukshetra. Sebab menurut pesan terakhir dari Sri Kresna, kota Dwaraka akan disapu oleh gelombang samudra, 7 hari setelah wafatnya.

Dalam perjalanan menuju Kurukshetra, tibalah mereka di negara 5 air dan rombongan Arjuna dihadang oleh ribuan ksatria Abhira dari negara 5 Sungai yang mengetahui kedatangan rombongan tersebut. Para ksatria abhira tersebut melihat bahwa yang mengawal hanya Arjuna, sedangkan ksatria wresni telah kehilangan energinya. Saat mereka berperang, kekuatan Arjuna tidak berfungsi seperti biasanya dan menjadi lenyap, busurnya tidak dapat direntangkan, panah-panah saktinya tidak dapat dikeluarkan. Tidak banyak yang bisa dilakukan ksatria hebat tersebut.

Takdir kehancuran berjalan menurut aturannya, Para penyerang berhasil membawa kabur sebagian besar para wanita. Ia sadar bahwa takdir kemusnahan sedang bergerak. Akhirnya beberapa orang berhasil diselamatkan namun banyak harta dan wanita yang hilang. Arjuna menempatkan yang selamat bersama dengan sisa keturunan Kresna di kota yang baru, merekalah yang meneruskan tradisi pemujaan terhadap Hari (Krisna); Rukmini dan 7 Istri Kresna yang lainnya melakukan Sati (satya), membakar dirinya sendiri ke dalam api, dan yang lainnya menjadi pertapa atau pendeta. Di Kurukshetra, para Yadawa dipimpin oleh Bajra. Tepat Tujuh hari sesuai yang dikatakan Krisna, air lautan menyerbu dan membanjiri Dwaraka sehingga tidak ada lagi jejak-jejak yang ditinggalkan [Juga lihat di Visnu Purana, Section 5; Srimad Bhagavatam Canto 11, Chapter 30, ayat 28-50]

    Versi Buddhis: Jataka no.454, Ghaṭapaṇḍitajātakavaṇṇanā
    ..Demikian caranya mereka menaklukkan seluruh India, tiga ratus enam puluh ribukota mereka bunuh para rajanya dengan senjata cakra dan Akhirnya mereka tinggal di Dvaravati. Nama Kesepuluh bersaudara kandung itu adalah yang sulung Vāsu-deva, yang kedua Baladeva, ketiga Canda-deva, keempat Suriya-deva, kelima Aggi-deva, keenam Varuṇa-deva, ketujuh Ajjuna, kedelapan Pajjuna, kesembilan Ghata-paṇḍita, dan yang kesepuluh Aṁkura.

    Seiring dengan berjalannya waktu, mereka dikaruniai dengan putra dan putri.

    Setelah waktu yang lama berlalu, di saat ia memerintah kerajaannya, putra dari Sepuluh Saudara tersebut berpikir: “Katanya, Kaṇhadīpāyana [Seorang Pertapa sakti] memiliki mata dewa. Mari kita mengujinya.”

    Maka mereka mencari seorang pemuda dan memakaikan pakaian wanita kepadanya dengan mengikat sebuah bantal di perutnya, membuatnya kelihatan seolah-olah seperti ia sedang hamil. Kemudian mereka membawanya ke hadapan Kaṇha dan bertanya kepadanya, “Tuan, kapankah waktunya wanita ini melahirkan?”

    Petapa Itu mengetahui bahwa waktunya telah tiba bagi kehancuran Sepuluh Saudara tersebut; kemudian dengan melihat batas waktu bagi kehidupannya sendiri, ia mengetahui bahwa ia akan meninggal hari itu juga.

    Kemudian ia berkata, “Anak muda, apa hubungan pemuda ini dengan kalian?” “Jawab kami terlebih dahulu,” desak mereka.

    Ia menjawab, “Pemuda ini di hari ketujuh dari sekarang akan mengeluarkan sejenis kayu akasia. Dengan itu, ia akan menghancurkan garis keturunan dari Vāsudeva walaupun kalian mengambil batang kayu itu dan membakarnya serta membuang abunya ke dalam sungai.”

    “Ah, petapa gadungan!” kata mereka, “Seorang laki-laki tidak akan pernah dapat melahirkan anak!” dan mereka melakukan pekerjaan dengan tali dan benang tersebut, mereka membunuhnya dengan segera.

    Raja memanggil keempat pemuda tersebut dan menanyakan mengapa mereka membunuh petapa itu. Ketika mereka mendengar semuanya, mereka menjadi ketakutan. Mereka melakukan penjagaan terhadap pemuda tersebut. Dan di hari ketujuh ketika ia mengeluarkan sejenis kayu akasia dari dalam perutnya, mereka membakarnya dan membuang abunya ke dalam sungai. Abu itu terapung-apung di air sungai dan tersangkut di satu sisi dekat pintu gerbang rahasia; dari sana muncullah tanaman eraka.

    Suatu hari para raja tersebut mengusulkan agar mereka pergi bersenang-senang dan bermain-main dengan air. Maka mereka datang ke pintu gerbang rahasia tersebut, sebelumnya mereka telah menyuruh orang untuk membangun sebuah paviliun yang megah. Di dalam paviliun ini mereka makan dan minum. Kemudian dengan bercanda mereka mulai main tangan dan kaki, dan terbagi menjadi dua kelompok, yang akhirnya menjadi perkelahian.

    Salah satu dari mereka, yang tidak dapat menemukan benda yang lebih baik lagi untuk dijadikan pemukul, mengambil sehelai daun dari tanaman eraka itu, yang sewaktu dicabut langsung berubah menjadi batang kayu akasia di tangannya. Ia kemudian menggunakannya untuk memukul banyak orang. Yang lainnya pun mengikuti tindakan yang satu ini, dan benda itu sewaktu mereka mencabutnya tetap langsung berubah menjadi batang kayu akasia. Dengan kayu itu, mereka saling memukul sampai akhirnya mereka terbunuh.

    Di saat mereka ini sedang menghancurkan satu sama lain, hanya empat yang melarikan diri dengan naik ke dalam kereta kuda—Vāsudeva, Baladeva, adik perempuan mereka Putri Añjanā, dan pendeta kerajaan, yang lain semuanya hancur.

    Keempat orang tersebut melarikan diri dengan kereta itu ke hutan Kāḷamattikā. Di sana pegulat Muṭṭhika telah mengalami tumimbal lahir menjadi yakkha, seperti yang dimintanya. Ketika mengetahui kedatangan Baladeva, ia menciptakan sebuah desa di tempat itu. Kemudian dengan mengubah wujudnya menjadi seorang pegulat, ia berkeliaran di sekitar sana dan melompat- lompat sambil meneriakkan, “Siapa yang mau bertarung denganku?” dan membunyikan jari jemarinya.

    Sewaktu Baladeva melihatnya, ia berkata, “Saudaraku, saya akan mencoba satu pertarungan dengan orang ini.”

    Vāsudeva berusaha dengan segala daya upaya untuk mencegahnya melakukan hal itu, tetapi ia tidak mendengarkannya, turun dari kereta dan mendekati pegulat itu sembari membunyikan jari jemarinya juga. Pegulat itu langsung memiting kepalanya dan kemudian melahapnya seperti memakan lobak. Vāsudeva yang mengetahui bahwa ia telah mati, langsung pergi dengan adik dan pendeta tersebut, sampai matahari terbit mereka tiba di sebuah desa perbatasan.

    Ia kemudian berbaring di semak-semak pepohonan, sementara ia menyuruh adik dan petapa itu masuk ke dalam desa, mencari dan membawa makanan kepadanya. Seorang pemburu (namanya adalah Jarā, atau Usia Tua) melihat semak-semak itu bergoyang.

    “Kemungkinan besar itu adalah babi,” pikirnya.

    Ia melempar tombaknya dan itu menusuk kaki Vāsudeva. “Siapa yang telah melukaiku?” teriak Vāsudeva.

    Pemburu tersebut yang baru mengetahui bahwa ia telah melukai seseorang, langsung berusaha untuk lari karena ketakutan. Raja yang mengetahui siapa pelakunya, bangkit dan memanggil pemburu tersebut, “Paman, kemarilah, jangan takut!”

    Ketika ia kembali. “Anda siapa?” tanya Vāsudeva.

    “Namaku adalah Jāra, Tuan.” Raja berpikir, “Ah, Luka yang disebabkan oleh Usia Tua akan mengakibatkan kematian, demikian yang dikatakan pepatah kuno. Tidak diragukan lagi saya akan meninggal hari ini.”

    Kemudian ia berkata, “Jangan takut, Paman. Mari tutup lukaku ini.”

    Luka tersebut kemudian diikat dan ditutup olehnya dan raja membolehkan ia pergi. Rasa sakit yang amat sangat mulai menyerang dirinya. Ia tidak bisa memakan makanan yang dibawakan oleh kedua orang tersebut. Kemudian Vāsudeva berkata kepada mereka: “Hari ini saya akan meninggal. Kalian adalah makhluk yang lembut dan tidak akan pernah dapat mempelajari apapun untuk bertahan hidup; jadi belajar dariku tentang ilmu pengetahuan alam ini.”

    Setelah berkata demikian, ia mengajarkan ilmu pengetahuan alamnya kepada mereka dan menyuruh mereka pergi. Kemudian ia pun menemui ajalnya. Demikianlah satu per satu dari mereka meninggal, kecuali Putri Añjanā. [Note: Jataka di Khuddaka Nikaya hanya berisi syair, sedangkan narasi berasal dari atthakata]
Yang menarik dari beberapa versi catatan kematian Krisna adalah:

  • Bangsa Yadawa terkenal tidak terkalahkan sehingga menjadi sombong, arogan kasar dan gemar mabuk-mabukan dan di sekitar hutan saat itu, justru sedang terjadi perang dashyat yang berujung musnahnya bangsa Yadawa, maka bagaimana mungkin ada seorang Pemburu yang begitu santainya tak terusik dan masih berburu?
  • Sebagai seorang pemburu rusa, tentunya ia mengerti prilaku rusa yang sangat waspada dan gampang terkejut, maka bagaimana mungkin masih terdapat rusa disekitar perang besar bangsa Yadawa tersebut?.
  • Satu kebetulan menarik lainnya adalah arti nama Jara adalah usia tua, Sehingga ada pendapat juga bahwa kematian Krisna yang di panah pemburu bernama Jara adalah sebuah metaphora? yaitu wafat karena usia tua [125 tahun]. Namun demikian, terdapat teori lain mengenai Jara, panah, kaki dan juga Krishna, yaitu

      Dalam Mahâbhârata-tâtparya-nirnaya (karangan Ananda Tirta atau Purnaprajna atau Sri Madhvâcârya), Sri Madhvâcârya (1238-1317 Masehi) menuliskan bahwa Sang Tuhan dalam misinya telah menciptakan tubuh dari energi material tempat panah tersebut menancap. Namun sang Tuhan dalam bentuk asli 4 lengan tidak pernah tersentuh panah jara, yang kelahiran sebelumnya adalah Rsi/Muni Bhrigu (Salah seorang dari Sapta rsi, anak tertua dari Brahma). Di masa lampau, Muni Bhrigu secara vulgar meletakan kakinya di dada tuhan Visnu (ketika menguji mana di antara Brahma, Vishnu dan Siva yang terbesar. Sebagai akibatnya ia terlahir kembali menjadi orang biasa, seorang pemburu bernama Jara). [Catatan kaki Srimad Bhagavatam 11.30.37 atau di sini]
Berdasarkan kisah-kisah di atas, maka terdapat 3 alternatif pesan terakhir Krishna yaitu:

  • Kematian Krisna adalah benar karena usia tua, sehingga percakapan antara Krishna dan Jara merupakan tambahan dan bukan yang sebenarnya, maka pesan terakhir dari Krisna hanyalah kepada Arjuna untuk menyelamatkan sisa-sisa penduduk bangsa Yadawa yang tidak mati akibat perang saudara dan tenggelamnya Drawaka
  • Apabila Pemburu itu ada maka pesan terakhir krisna ada dua yaitu menenangkan Jara dari perasaan bersalah dan kepada Arjuna untuk menyelamatkan sisa2 penduduk Yadawa yang tidak mati akibat perang saudara dan tenggelamnya Drawaka
  • Menurut versi Buddhis, pesan terakhir dari Krishna adalah ilmu pengetahuan yang diajarkannya sesaat sebelum wafat.
Klaim bukti keberadaan Dwaraka: Dwaraka city recovered, The Scientific Dating of the Mahabharat War,dan Dating the Kurukshetra War []


Buddha

Umumnya dikatakan bahwa Buddha [Sang Sujata, Sang Bhagava, Sang Tathagata] lahir di antara tahun 560 s/d 550 SM. Journal of Indian History, vols. LXXVI-LXXVIII, 1997-1999 (March 2004), pp. 1-6, mencoba menetapkan tahun kehidupan Buddha dengan menghitung berdasarkan tahun pemerintahan raja Asoka (268-232 SM), kemudian dihitung mundur dengan melihat catatan yang ada di tradisi Sinhalese (218 tahun), Sarvaastivaadin (116 tahun) dan Tibetan (160 tahun) yaitu lama tahun wafatnya Buddha wafat ketika raja Asoka mulai memerintah dan dengan menambah umur kehidupan Buddha (80 tahun), misalnya:

Tradisi Sinhalese:
"Dua ratus dan delapan belas tahun setelah wafatnya Tathaagata (Buddha), Seorang raja (asoka) memerintah seluruh Jambudwipa (India) (Tathaagatassa parinibbaanato dvinna.m vassasataana.m upari a.t.thaarasame vasse sakala-Jambudiipe ekarajjaabhiseka.m paapu.ni)."[kitab komentar Vinaya Pali di abad ke 5 M, Samantapaasaadikaa, I, pp. 41-42 (cf. Taisho edition of Chinese Tripi.taka (abbreviated T) vol. 24, No. 1462, p. 679c); Diipava.msa, VI, pp. 1, 19-20; Mahaava.msa, V, p. 21]

Jadi Buddha meninggal, 268+218=486 SM dan lahir, 486+80=566 SM

Tradisi Sarvaastivaada:
Mencatatnya di dua teks yang ditulis oleh Vasumitra (100-200 M), diterjemahkan oleh Paramaartha (499-569 M): Shibabu-lun [Risalah 18 sekte] dan Buzhiyi-lun [Risalah sekte]. Menurut tradisi ini [di catat di versi Taisho, Tripitaka Tiongkok] Asoka menjadi raja 116 tahun setelah wafatnya Buddha, Buzhiyi-lun menyatakan:

"Seratus dan enambelas tahun setelah wafatnya Bhagawan Buddha ... Terdapat sebuah negara yang besar bernama Paataliputra yang rajanya bernama A"soka memerintah Jambudviipa."[T 49 No. 2033, hal. 20a.]

Jadi, Buddha meninggal 268 + 116 = 384 SM dan lahir, 384+80= 464 SM.

Tradisi Tibetan:
Pada jaman Dinasti Song, Yuan, Ming, and Qing dynasty, berdasarkan Tripitaka versi tiongkok, Buzhiyi-lun menyatakan penobatan asoka menjadi raja adalah 160 tahun setelah meninggalnya Buddha [E.g. T 49, No. 2033, p. 20, note 7; Qian-long (Qing dynasty) vol. 102, No. 14, p. 468.] namun Shibabu-lun pada edisi yang sama menyatakan 116 tahun, yang artinya sepakat dengan versi Taisho.

Ketidakkonsistenan tahun juga ditemukan di Sde-pa tha-dad-par byed-pa da'nrnam-par b'sad-pa, translasi bahasa Tibet untuk BHAVYA, Nikaayabheda-vibha'nga-vyaakhyaa [kurang lebih artinya adalah risalah pecahan, kompilasi di lakukan pada abad ke-6] menyatakan bahwa Buddha telah wafat 160 tahun [dan juga 116 tahun di edisi lainnya] sewaktu Asoka memerintah. Contoh: menurut translasi dari BAREAU, versi Narthang (1741-42 CE) dan Peking (1724 CE) tercatat:

"seratus dan enampuluh tahun (lo-brgya-drug-cu) berlalu sejak parinibbana sang Buddha, [Peking (Beijing) ed. Untuk Tripitaka Tibetan, vol. 127, No. 5640, p. 253, leaf 1, line 3] pada saat raja bernama Dharmaa’soka memerintah di kota Kusumapura.. "

Menurut translasi Watanabe, versi Derge (1744 CE) disebutkan angka 116 tahun. [Watanabe Zuigan, versi Tripitaka Jepang, Osaki Gakuho, No. 94 (July 1939), p. 71, note 1]

untuk angka 160 tahun, maka tahun meninggalnya Buddha adalah di 428 SM dan lahir, 508 SM

Dengan memakai masa pemerintahan Asoka sebagai dasar perhitungan, maka terdapat tiga kemungkinan tahun kehidupan Buddha yaitu 566-486 SM; 464-384 SM; dan 508-428 SM.

Permasalahan utama penentuan tahun kehidupan Buddha gautama dengan cara tersebut diatas adalah SAMA SEKALI tidak menyinggung raja dan kerajaan yang ada di jaman Buddha!

Untuk itu, mari kita lihat dari sudut pandang yang sama sekali berbeda yaitu dari sudut catatan dalam tradisi Veda. Berdasarkan catatan P. N Oak [di ambil dari ‘Some Blunder of Indian Historical Research, P.189] dinyatakan bahwa Purana-purana menyinggung juga kronologis para pemimpin Magadha.

Pada saat perang Mahabharata terjadi, Somadhi (Marjari) adalah raja yang memerintah kerajaan Maghada, ia mengawali dinasti bersama 22 raja berikutnya selama 1006 tahun, kemudian di ikuti 5 orang raja dari dinasti Pradyota untuk 138 tahun, kemudian 10 Raja dari keluarga Shishunag untuk 360 tahun. Kshemajit (memerintah 1892 – 1852 SM) merupakan raja ke 4 dari dinasti Shishunag. Pada saat itu yang memerintah kerajaan kapilavastu adalah raja Suddodana, ayah dari Sidharta Gautama. Juga ia lahir di jaman itu. Pada jaman raja ke 5 keluarga Shishunag, yaitu raja Bimbisara, Sidharta Gautama mencapai penerangan sempurna mencapai Buddha. Pada jaman raja Ajatashatru (1814-1787 SM) Buddha wafat. Jadi ia lahir di 1887 SM, Meninggal di 1807 SM

Bukti lebih lanjut yang menguatkan ada di jaman Buddha Milinda dan raja Amtiyoka dan Yuga Purana oleh Pandit kota Venkatachalam yaitu Purana-purana terutama Bhagavad Purana dan di Kaliyurajavruttanta, menggambarkan kronologis dinasti2 Maghada yang dapat dipakai menentukan tahun kehidupan Buddha. Buddha adalah silsilah ke 23 dari Ikshvaku, dan ada di jaman raja2 Kshemajita, Bimbisara, dan Ajatashatru, seperti tertulis di atas. Buddha berusia 72 tahun pada tahun 1814 B.C. ketika raja Ajatashatru di mahkotai. Jadi kelahiran Buddha ada di sekitar 1887 SM. dan wafatnya adalah 80 tahun kemudian yaitu 1807 SM.

Professor K. Srinivasaraghavan dalam bukunya yaitu Chronology of Ancient Bharat (bag ke-4, bab 2), menyatakan bahwa tahun kehidupan Buddha seharusnya 1259 tahun setelah perang Mahabharata, jika perang terjadi di 3138 SM maka Buddha lahir di tahun 1880 SM. Lebih lanjut lagi Kalkulasi astronomi oleh astronomer, Swami Sakhyananda, menyatakan bahwa jaman Buddha berada di periode Kruttika, yaitu antara 2621-1661 SM.

B. N. Narahari Achar, memberikan bukti yang ia ambil di Sammyuta Nikaya, Sagatha Vagga, Devaputta, 9.Candima dan 10.Suriya, yaitu mengenai gerhana Bulan yang di ikuti gerhana Matahari. Pada saat itu, Buddha ada di savatthi, tiga bulan menjelang wafat beliau. Berdasarkan petunjuk tersebut menghasilkan perhitungan bahwa Bulan Purnama, saat Wafatnya sang Buddha jatuh pada tanggal 27 Maret 1807 SM. Dalam artikel ini, di sebutkan juga bahwa Professor Sengupta mencoba menghitung hal yang sama, yaitu gerhana bulan dan matahari yang berurutan terjadi di tahun 560 SM. Sehingga dengan memakai perhitungan astronomi berdasarkan petunjuk adanya gerhana maka tahun 483 SM and 544 SM, tidak memenuhi petunjuk yang tercantum di Samyuta Nikaya [Reclaiming the chronology of Bharatam: Narahari Achar (July 2006)]

Empat sumber terakhir yang disebutkan di atas menunjukan suatu pola hasil tahun yang konsisten. Di samping itu, Penyimpang ritual veda berupa pengorbanan2 binatang untuk keperluan upacara meluas terjadi di India pada jauh2 abad sebelum abad ke-5 SM [versi perhitungan menurut Max Muller, General A. Cunningham, Oldenberg, Heinz BECHERT dll]

[Daftar Pustaka: Benarkah Kehidupan Buddha Gautama di kisaran 560 M?, Reestablishing the Date of Lord Buddha by Stephen Knapp, The Date of Buddha ]
________________________________________
Peta Jaman Buddha Gautama

Beberapa penemuan arkeologi seperti penemuan situs Lumbini pada tahun 1896 oleh para arkeolog Nepal, penemuan situs Kapilavatthu (Kapilavastu) di Tilaurakot, Nepal pada abad ke-19, serta penemuan situs Nigrodharama yang juga berada di Nepal, memperkuat fakta bahwa kisah mengenai Pangeran Sidharta bukanlah fiksi. Ia adalah tokoh sejarah.

Dammapada memberikan bulan meninggalnya Buddha
Kira-kira sepuluh bulan sebelum Sang Buddha merealisasi kebebasan akhir (parinibbana), Beliau melaksanakan masa vassa di Veluva, sebuah desa dekat Vesali. Ketika bertempat tinggal di sana, Beliau mengalami sakit disentri. Ketika Dewa Sakka mengetahui Sang Buddha sakit, dia datang ke desa Veluva untuk merawat Sang Buddha selama sakit. Sang Buddha berkata kepadanya agar jangan mengkhawatirkan perihal kesehatan Beliau karena terdapat banyak bhikkhu di dekat Beliau. Tetapi Sakka tidak mendengarkan-Nya dan tetap merawat Sang Buddha hingga sembuh. [Dhammapada, Sukkha Vagga, Bab 15, Syair 206, 207, dan 208 Kisah Sakka]

Apa itu Masa Vassa?

Vassa adalah satu periode musim di India dan Asia tenggara dan berasal dari kata Vassāna. Musim yang ada di India terbagi menjadi 3 Musim (Ti-Uttu, per 4 bulan namun terkadang satu musim lebih pendek dari lainnya yaitu 3 bulan). Ti Uttu, detailnya dibagi menjadi 6 musim (Cha Uttu, per 2 bulan), sebagai berikut:

  • Vassāna/Musim Hujan (Jul-Nov). Musim ini dibagi dua, yaitu:

    1. Musim Hujan/Vassāna (Juli-Sept), yaitu Bulan Savana/Nikkhamanīya [nikkhamati = pergi/keluar/berangkat pergi + niyata = terkendali/terkungkung] (Juli-Aug) dan Bulan Pottapada (Aug-Sept). Di India utara, reda di awal Oktober
    2. Musim Gugur/Sarada (Sept-Nov), yaitu Bulan Assayujja/Pubba kattika [pubba = awal] (Sept-Oct) dan Bulan Kattika/Paccima Kattika [Paccima = terakhir, belakangan] (Oct-Nov)

  • Hemanta/Musim Salju (Nov-Mar). Musim ini dibagi dua, yaitu:

    1. Musim Salju/Hemanta, yaitu Bulan Māgasira (Nov-Des) dan Bulan Phussa (Des-Jan). Yang terdingin adalah December dan January.
    2. Musim Dingin/
      Sisira, yaitu di Bulan Māgha (Jan-Feb) dan Bulan Phagguṇa (Feb-Mar)

  • Musim Panas/Gimhāna (Mar-Juli). Musim ini di bagi dua, yaitu:

    1. Musim Semi/Vasanta, yaitu Bulan Citta/Rammaka (Mar-Apr) dan Bulan Vesākha (Apr-May)
    2. Musim Panas/Gimha [Uṇha, Nidāgha = Panas], yaitu bulan Jettha (May-Jun) dan Bulan Asaḷha (Jun-Jul). Yang terpanas di utara adalah bulan May
Mahavagga 3.1, Vin. Pitaka:
Ketika masa Vassa belum ditetapkan, Sang Buddha bertempat tinggal di Veluvana, Râgagaha. Para Bhikkhu*) sering mengadakan perjalanan selama musim dingin, hujan dan panas. Perjalanan mereka sering melalui sawah, kebun dan ladang milik para petani akibatnya timbul keluhan bahwa tumbuh-tumbuhan yang ditanam oleh petani menjadi rusak dan banyak binatang yang mati. Sehingga masyarakat mencela para bhikkhu dan membandingkan dengan pertapa-pertapa lain [Aliran Titthiya), yang menetap disuatu tempat ketika musim hujan tiba. Celaan dan kritikan dari masyarakat, disampaikan oleh beberapa bhikkhu menghadap Sang Buddha dan melaporkan kejadian ini.

[Note:
*) Di Mahavagga 3.3 di sebut khabbaggiya Bhikkhu. Muncul kata 'khabbaggiya' pertama kali di Mahavagga I, 56-60, yang artinya adalah:

1. rekan 'enam bhikkhu,' dan pembantu mereka,
2. Antagonis, konstan & tak kenal lelah sebagai pengacau di seluruh Vinaya-Pitaka.

Buddhaghosa (pada cullavagga I, i) mengatakan bahwa Paòàuka dan Lohitaka termasuk di sini dan juga Assagi dan Punabbasu disebutkan sebagai Kabbaggiya (Childers: sv khabbaggiyo)

Pengantar cerita di atas ini saya sangsikan kebenarannya, karena:

  1. Sejak di tahun pertama kebuddhaannya saja sang buddha sudah menjalankan masa vassa:

    1. Sewaktu Buddha sedang menetap di Taman Rusa Isipatana dekat Vàrànasi, selama masa vassa setelah membabarkan Dhammacakkappavattana Sutta dan Anattalakkhaõa Sutta[..] (di RAPB buku ke-1 hal.757)
      Buddha menjalani masa vassa setelah mencapai Kebuddhaan di Isipatana Migadàya. Selagi berdiam di sana hingga malam purnama di bulan Assayuja, suatu hari Buddha mengirim enam puluh Arahanta dan menyuruh mereka pergi dalam tugas membabarkan Dhamma [..]"(RAPB buku ke-1, hal.779)

      Lokasi vassa ke-1 adalah di kerajaan Kasi, yaitu setelah 7 minggu pencerahan, menemui 5 orang rekan beliau dulu di taman rusa pada bulan Asalha. Masih di taman rusa yang sama s/d Bulan assayujja beliau bertemu dengan Yasa + ayahnya + 4 sahabat Yasa + 50 orang teman Yasa yang lain = 61 orang araha..Di Vassa ke-1 saja tidak kemana2 dan tetao bervasa di taman rusa.

    2. Masa vassa ke-2,
      Tathàgata, diiringi oleh lebih dari dua puluh ribu bhikkhu, meninggalkan hutan mangga Anupiya dekat Desa Anupiya di kerajaan Malla dan menuju Vihàra Veluvana, Ràjagaha (Kerajaan Maghada) di mana Ia menjalani masa vassa kedua, bersama-sama dengan dua puluh ribu bhikkhu. (RAPB buku ke-1 hal 949)

    3. Masa vassa ke 3 s/d 44:
      lihat di di RAPB buku ke-1 hal.949 s/d 953.

    4. Semua Buddha dijaman lalu juga melakukan masa vassa.

    Lagian, di Mahavagga 3.4, disebutkan tidak melakukan masa Vassa adalah pelanggaran bagi para bhikku, sehingga lebih tepatnya kejadian tersebut adalah penetapan pelanggaran yang tidak melaksanakan masa Vassa.

  2. Ada aturan, di Buddhis untuk tidak membunuh mahluk hidup, Para Bikkhu berjalan dengan menunduk sambil mempraktekan Vipassana, sehingga mereka akan melihat binatang (yang bukan piaraan)
  3. Umat awam di India, sangat menghormati para Brahmana, jadi kecil kemungkinan mereka marah2 atau mencela kaum Brahmanam karena dianggap karma buruk oleh ajaran2 saat itu
  4. Jaman itu, banyak para pendeta Brahmana yang iri dengan kemajuan pengikut Buddha sehingga membuat mereka kehilangan pengikut]
Mendengar laporan tersebut, Sang Buddha membuat aturan, “Para Bhikkhu, saya ijinkan kalian untuk melaksanakan masa Vassa”. “Oh para bhikkhu ada dua periode dalam menjalankan masa vassa. Periode pertama dilakukan setelah bulan purnama pertama dibulan juli/asalha[Asadha], jenis vassa ini disebut Purimikavassupannayika. Dan vassa jenis kedua dilakukan satu hari setelah bulan purnama kedua atau satu bulan setelah bulan asalha[Agustus/Sravana], jenis vassa ini disebut Pacchimikkavassupanayika.

Perhitungan kalender Buddhis mengikuti perhitungan Luni solar (bulan dan matahari), biasanya jatuh pada hari setelah bulan purnama dibulan ke-7. Akhir dari vassa disebut pavarana, dilanjutkan dengan hari kathina yang berlangsung selama satu bulan antara bulan Assayuja-Kattika (Oktober-November), periode itu para Bikkhu mendapat persembahan Jubah, obat2an, makanan dan tempat untuk tinggal. Setelah masa pavarana usai maka para bhikkhu bisa melakukan pengembaraan kembali seperti biasa. Para bhikkhu mendapatkankan hak istimewa selama empat bulan setelah pavarana

Informasi ini memberitahukan kita bahwa
Apabila Musim Vassa jatuh di bulan Juli/Agustus maka sepuluh bulan berikutnya adalah bulan April/May, Menjelang di akhir kehidupannya, Buddha mulai sakit keras

Bagaimana kematian Sang Buddha?

Mahaparinibbana Sutta memberikan informasi sebagai berikut:

    PENYAKIT SANG BHAGAVA YANG SANGAT PARAH [Juga di: SN 47.9/Gilāna Sutta]
    22. Ketika itu Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu: "Sekarang pergilah, para bhikkhu, dan carilah tempat bervassa di mana saja di sekitar Vesali ini di mana kalian dapat diterima dengan baik oleh para kenalan dan sahabat dan tinggallah di sana selama musim hujan ini. Aku akan vassa di tempat ini juga selama musim hujan di dusun Beluva." "Baiklah, bhante," kata para bhikkhu.

    23. Atha kho bhagavā vassūpagatassa (Dan Sang Bhagava dalam masa Vassa) kharo ābādho uppajji (dilanda sakit keras), bāḷhā vedanā vattanti māraṇantikā (rasa sakit menusuk/terus menerus sangat mematikan). Tā sudaṃ bhagavā sato sampajāno adhivāsesi avihaññamāno (Sang Bhagava mengetahui sepenuhnya dalam memperhatikan selama kejadian tanpa mengeluh)

    Atha kho bhagavato etadahosi (Kemudian terjadi pada Sang Bhagava): na kho metaṃ patirūpaṃ, yvāhaṃ anāmantetvā upaṭṭhāke anapaloketvā bhikkhusaṃghaṃ pari­nib­bā­yey­yaṃ (Tidak tepat bagiku parinibanna tanpa memberitahukan pengikutku dan tanpa memberikan nasehat kepada bhikkhuSangha). Yannūnāhaṃ imaṃ ābādhaṃ vīriyena paṭipaṇāmetvā jīvita­saṅ­khā­raṃ adhiṭṭhāya vihareyyan (Mengendalikan penyakit ini dan melanjutkan hidupan setelah menentukan batas umur). Atha kho bhagavā taṃ ābādhaṃ vīriyena paṭipaṇāmetvā jīvita­saṅ­khā­raṃ adhiṭṭhāya vihāsi. Atha kho bhagavato so ābādho paṭippassambhi (Kemudian Sang Bhagava melakukan itu dan penyakit Sang Bhagava mereda)
Kejadian sakit di masa vassa ini diketahui beliau yaitu karena usia tua dan tidak se-prima sebelumnya dengan memberikan perumpamaan tentang badannya seperti sebuah kereta tua, yang mengalami berbagai kerusakan dan perbaikan dan bahkan beliau sendiri menekannya dan menetapkan untuk melangsungkan kehidupannya

    Mahaparinibbana Sutta:
    24. Kemudian, setelah Sang Bhagava sembuh dari sakitnya segera Beliau keluar dari kamar tempat pembaringannya, lalu duduk di bawah naungan bangunan itu, di tempat yang telah disediakan untuk beliau. Kemudian datanglah Ananda menemui Sang Bhagava, dan memberi hormat dengan sangat hidmat kepada beliau, lalu duduk pada salah satu sisi, kemudian ia berkata kepada Sang Bhagava: "Alangkah bahagianya kami ini, karena nampaknya bhante telah sembuh dan sehat kembali. Karena, ketika kami mengetahui bhante sakit, badan saya sendiri seolah-olah ikut lemah bagaikan lumpuh, segala sesuatu di sekitar kami menjadi gelap, dan perasaan kami sangat lesu. Tetapi walaupun demikian, ada sedikit hiburan bagi kami, karena bhante tak akan meninggalkan kami tanpa memberi beberapa petunjuk yang terakhir kepada kami para bhikkhu."

    25. Demikianlah kata Ananda, tetapi Sang Bhagava memberi jawaban sebagai berikut: "Apalagi yang dapat diharapkan oleh para bhikkhu dariku? Aku telah mengutarakan Dharma, tanpa membeda-bedakan pelajaran yang bersifat khusus maupun yang umum. Tidak ada apa-apa lagi, yang berkenaan dengan Dharma, yang Sang Tathagata pegang sampai akhir, seperti seorang guru yang menggenggam tangannya, seolah-olah menyimpan sesuatu. Barang siapa yang berpendapat, bahwa dia memimpin para bhikkhu atau bahwa para bhikkhu harus tergantung kepadanya, orang seperti itu biasanya memberikan ajaran terakhir yang berkenaan dengan dirinya. Tetapi, Sang Tathagata tidak mempunyai angan-angan seperti itu, yang ingin memimpin para bhikkhu supaya para bhikkhu terus tergantung padaku.

    Maka dari itu, wejangan-wejangan apa yang perlu kami berikan lagi kepada para bhikkhu itu?

    Sekarang Aku telah menjadi lemah, tua, seorang yang melintasi kehidupan, mencapai batas tahun. di umur ke-80. Seperti halnya sebuah kereta tua, yang mengalami berbagai kerusakan dan perbaikan, demikian pula badan Sang Tathagata ini berlangsung dengan dukungan-dukungan. Yasmiṃ, ānanda, samaye tathāgato sabba­nimittā­naṃ amanasikārā ekaccānaṃ vedanānaṃ nirodhā animittaṃ cetosamādhiṃ upasampajja viharati(Ananda, ketika Sang Tathāgata menarik perhatiannya dari gambaran-gambaran dan dengan lenyapnya perasaan-perasaan tertentu, berdiam dalam konsentrasi pikiran tanpa gambaran), phāsutaro, ānanda, tasmiṃ samaye tathāgatassa kāyo hoti. (maka Ananda, ketika itu tubuh Sang Tathāgata dalam keadaan baik)

    26. Oleh karena itu, Ānanda, engkau harus hidup bagaikan pulau bagi dirimu sendiri, menjadi pelindungmu sendiri, tidak berlindung pada orang lain, dengan Dhamma sebagai pulau, dengan Dhamma sebagai pelindungmu, tidak ada perlindungan lain. Dan bagaimanakah seorang bhikkhu hidup sebagai pulau bagi diri sendiri, menjadi pelindungmu sendiri, tidak berlindung pada orang lain dengan Dhamma sebagai pulau, dengan Dhamma sebagai pelindungmu, tidak ada perlindungan lain?

    Di sini, seorang bhikkhu:

    • kāye kāyānupassī viharati (berdiam merenungkan jasmani sebagai jasmani), ātāpī sampajāno satimā (tekun mengetahui sepenuhnya dalam memperhatikan) vineyya loke abhij­jhā­do­manas­saṃ(setelah menyingkirkan ketamakan dan kesuraman akan dunia).
    • Vedanāsu vedanānupassī viharati (merenungkan perasaan sebagai perasaan)..,
    • citte cittānupassī viharati (pikiran sebagai pikiran)...
    • dhammesu dhammānupassī viharati (objek-objek pikiran sebagai objek-objek pikiran)...

    Itu, Ānanda, adalah bagaimana seorang bhikkhu hidup sebagai pulau bagi dirinya sendiri, ... tidak ada perlindungan lain. Dan mereka yang hidup saat ini pada masa-Ku atau setelahnya menjalani kehidupan demikian, mereka akan menjadi yang tertinggi, jika mereka ingin belajar
SETELAH LEWAT musim Vassa: (Juli - Nov), yaitu di setelah bulan baru, yaitu bulan Khatika (November), Para umat yang areanya mendapatkan keberuntungan dijadikan tempat berdiam para petapa/Bhikkhu selama musim Vassa, maka setelah berakhir massa Vassa mereka berbondong-bondong memberikan 4 kebutuhan pokok bhikkhu. Peristiwa ini dlakukan selama bulan Khatika, yaitu 1 bulan. Nah setelah peristiwa ini, barulah para petapa yang ingin mengembara melakukan perjalanannya.

Sang Buddha selama 3 bulan kemudian masih berada di area Vesali dan di bulan February berada di Cetiya (semacam vihara) Capala dan disaat itu pula ia tetapkan dirinya akan Wafat di 3 bulan kemudian, yaitu pada bulan Vesak (May)

    Mahaparinibbana Sutta
    1. Pada pagi hari, kemudian Sang Bhagava mengambil patta (tempat makan) serta jubahnya, lalu pergi ke Vesali untuk pindapatta (menerima dana makanan). Sesudah mendapat makanan Sang Bhagava makan. Kemudian Sang Bhagava pulang, dan ketika tiba di tempat peristirahatannya, beliau berkata kepada Ananda:

    "Ambillah sebuah tikar, dan marilah kita ke cetiya Capala." "Baiklah, bhante," jawab Ananda. Demikianlah, Ananda mengambil sehelai tikar, lalu mengikuti Sang Bhagava.

    2. Ketika Sang Bhagava tiba di cetiya Capala beliau duduk di tempat yang telah disediakan. Setelah Ananda duduk di salah satu sisi beliau lalu memberi hormat dengan hidmat. Sang Buddha bersabda kepadanya: "Sungguh menyenangkan Vesali ini Ananda karena banyak cetiyanya, yaitu Udana, Catamala, Sattamabaka, Bahuputta, Sarandada dan Capala."

    3. Yassa kassaci, ānanda (Siapapun, Ananda) cattāro iddhipādā bhāvitā bahulīkatā yānīkatā vatthukatā anuṭṭhitā paricitā susamāraddhā (yang telah mengembangkan empat landasan kekuatan, sering, membiasakannya, sebagai landasan latihan dan dilaksanakan dengan benar), so ākaṅkhamāno kappaṃ vā tiṭṭheyya kappāvasesaṃ vā (tidak ragu untuk (hidup) satu kappa atau berhenti (hidup) di sisa kappa). Tathāgatassa kho, ānanda, cattāro iddhipādā bhāvitā bahulīkatā yānīkatā vatthukatā anuṭṭhitā paricitā susamāraddhā (Sang Tathagata Ananda, telah mengembangkan empat landasan kekuatan, sering, membiasakannya, sebagai landasan latihan dan dilaksanakan dengan benar), so ākaṅkhamāno, ānanda, tathāgato kappaṃ vā tiṭṭheyya kappāvasesaṃ vā”ti (tidak ragu ananda, untuk sang Thatagatha (hidup) satu kappa atau berhenti (hidup) di sisa kappa)

    4. Tetapi Yang Mulia Ānanda, karena tidak mampu menangkap petunjuk jelas ini, isyarat jelas ini, tidak memohon kepada Sang Bhagavā dengan mengatakan: ‘Bhagavā, sudilah Bhagavā hidup selama satu Kappa, sudilah Yang Sempurna menempuh Sang Jalan tinggal selama satu kappa demi manfaat dan kebahagiaan banyak makhluk, demi belas kasih terhadap dunia, demi manfaat dan kebahagiaan para dewa dan manusia,’ yathā taṃ mārena pari­yuṭ­ṭhi­ta­citto (Seperti pikirannya teralihkan) [Note: Marenena, berarti tergoda/teralihkan)

    5. Dan untuk ke dua kalinya ..., dan ke tiga kalinya ....

    6. Kemudian Sang Bhagavā berkata: ‘Ānanda, pergilah, dan lakukanlah apa yang menurutmu baik.’ ‘Baiklah, Bhagavā,’ Ānanda menjawab dan, bangkit dari duduknya. Ia memberi hormat kepada Sang Bhagavā, berbalik dengan sisi kanan menghadap Sang Bhagavā dan duduk di bawah sebatang pohon yang agak jauh

    [Māra­yācana­ka­thā] PERMOHONAN MARA
    7-8. Segera setelah Ānanda pergi, māro pāpimā (Māra penggoda) mendatangi Sang Bhagavā, berdiri di satu sisi, dan berkata: ‘Bhagavā, sudilah Yang Terberkahi sekarang mencapai Nibbāna akhir, sudilah Yang Sempurna menempuh Sang jalan sekarang mencapai Nibbāna akhir. Sekarang adalah waktunya bagi Sang Bhagavā untuk mencapai Nibbāna akhir. Karena Bhagavā pernah berkata:

    “pāpima, Aku tak akan mengakhiri hidupku, sebelum para [bhikkhu, bhikkhuni, Upasaka/umat awam pria dan Upasika/umat awam wanita] menjadi siswa yang sempurna, terlatih, terampil, menguasai Dhamma, terlatih dalam keselarasan dengan Dhamma, terlatih dengan baik dan berjalan di jalan Dhamma, yang telah lulus dari apa yang mereka terima dari Guru mereka, mengajarkan, menyatakan, mengukuhkan, membabarkan, menganalisa, menjelaskan; hingga mereka mampu menggunakan Dhamma untuk membantah ajaran-ajaran salah yang telah muncul, dan mengajarkan Dhamma yang memiliki hasil yang menakjubkan.

    'Dan sekarang, Bhagavā telah memiliki para [para bhikkhu, bhikkhuni, Upasaka/umat awam pria dan Upasika/umat awam wanita] menjadi siswa yang sempurna, terlatih, ...

    Sudilah Yang Terberkahi sekarang mencapai Nibbāna akhir, sudilah Yang Sempurna menempuh Sang Jalan sekarang mencapai Nibbāna akhir. Sekarang adalah waktunya bagi Sang Bhagavā untuk mencapai Nibbāna akhir

    Dan Sang Bhagavā menjawab: “pāpima, Aku tidak akan mencapai Nibbāna akhir sampai kehidupan suci telah mantap dan berkembang, menyebar, dikenal luas, diajarkan baik di antara para deva dan manusia di mana-mana.”

    Dan semua ini telah terjadi. kehidupan suci telah mantap dan berkembang...

    Sudilah Yang Terberkahi sekarang mencapai Nibbāna akhir, sudilah Yang Sempurna menempuh Sang Jalan sekarang mencapai Nibbāna akhir. Sekarang adalah waktunya bagi Sang Bhagavā untuk mencapai Nibbāna akhir.'

    9. Setelah hal ini diucapkan, Sang Bhagava berkata kepada māraṃ pāpimantaṃ (Mara papima): "Pāpima, jangan kau menyusahkan dirimu. Saat parinibbana Sang Tathagata belum tiba, tiṇṇaṃ māsānaṃ accayena (tiga bulan lagi) Sang Tathagata akan Parinibbana.

      [Note:
      Seperti kata Ananda yang juga adalah nama orang (arti: "gembira", "senang") maka begitu pula dengan Mara dan papima yang juga adalah nama. Kemudian, arti Māra yang diterjemahkan sebagai si jahat (evil/wicked] sangat tidak tepat karena mara adalah juga dewa yang derajat tingkat kedewaannya lebih tinggi dari Sakka (raja para deva alam sumeru) dan juga bahkan lebih tinggi dari dewa alam Tusita. Hanya mereka yang melakukan banyak perbuatan baik dan saat kematiannya sedang dalam pikiran kusala yang dapat terlahir di alam bahagia sebagai Deva.

      Nama lain mara, atau mungkin persamaan katanya yaitu: Antaka (kematian, batas akhir), Vasavattī (penguasa), Pāpimā (penghasut/pemitnah), Pajāpati (tuan dari awal mula), Pamattabandhu (tidak perhatian), Kaṇha (hitam), Māra (pembunuh, kematian) dan Namuci (pengikat). Atau semua kilesa (noda) adalah mara karena bersifat penghancur, pengikat terlahir kembali. Jadi arti mara ini bisa sebagai nama mahluk, bisa juga kiaasan dari hal yang buruk/akusala]

    [Āyu­saṅ­khā­ra­os­saj­jana] SANG BHAGAVA MELANJUTKAN KEHIDUPANNYA

    10. Demikianlah di cetiya Capala, Sang Bhagava sato sampajāno āyusaṅkhāraṁ ossaji (mengetahui sepenuhnya dalam memperhatikan, melepas bentukan vitalitas). Ossaṭṭhe ca Bhagavatā āyusaṅkhāre mahābhūmicālo ahosi (Pelepasan bentukan vitalitas sang Bhagava menimbulkan gempa bumi) yang menakutkan, sangat dahsyat dan menyeramkan, serta halilintar menyambar-nyambar. Sang Bhagava, memandangnya dengan penuh pengertian serta mengucapkan kata-kata ini:

    "Penyebab kehidupan yang kecil maupun yang tak terbatas dari lingkaran kehidupan telah diputuskan oleh pertapa. Dengan kegembiraan dan ketenangan, ia terbebas dari penyebab kelahirannya, bagaikan ia merobek sampul surat."

    11. Lalu terlintaslah pada pikiran Ananda: "Benar-benar mengherankan, dan sangat luar biasa. Bumi bergetar begitu hebatnya sungguh sangat menakutkan, dahsyat dan menyeramkan. Apakah sebabnya dan apa alasannya sehingga gempa bumi yang dahsyat terjadi?"

    (Mahā­bhūmi­cāla­hetu) DELAPAN SEBAB GEMPA BUMI
    12. Kemudian Ananda mendekati Sang Bhagava, lulu duduk pada tempat yang telah tersedia, kemudian ia berkata kepada Sang Buddha: "Bhante, mengherankan dan sangat luar biasa, bumi bergetar begitu hebatnya dan sangat menakutkan. Apakah sebabnya dan alasannya sehingga gempa bumi dahsyat terjadi? Mohon kami diberi penjelasan."

    13. Kemudian Sang Bhagava berkata: Aṭṭha kho ime, ānanda, hetū, aṭṭha paccayā mahato bhūmicālassa pātubhāvāya. Katame aṭṭha? (Adalah Delapan, Ananda, sebab, delapan alasan gempa bumi dahsyat terjadi. Apakah delapan itu?)

    Ayaṃ, ānanda (Begini Ananda) mahāpathavī (Daratan yang besar) udake patiṭṭhitā (disokong cairan), vāte patiṭṭhitā (cairan disokong gas/aliran udara/tekanan), vāto ākāsaṭṭho (dan tekanan udara antar rongga). Hoti kho so, ānanda (Dan kemudian, Ananda), samayo yaṃ mahāvātā vāyanti (ketika terjadi pergerakan tekanan yang dahsyat), Mahāvātā vāyantā udakaṃ kampenti (pergerakan tekanan menjadikan cairan bergoncang). Udakaṃ kampitaṃ pathaviṃ kampeti (Dengan bergoncangnya cairan, daratan bergoncang). Ayaṃ paṭhamo (Ini yang pertama), hetu paṭhamo paccayo mahato bhūmicālassa pātubhāvāya (sebab pertama alasan gempa bumi dahsyat)

    14. Kemudian juga Ananda, samaṇo vā hoti brāhmaṇo vā iddhimā cetovasippatto (seorang pertapa atau brahmana yang kekuatan supranatural pikirannya terlatih baik), devo vā mahiddhiko mahānubhāvo (atau sesosok dewata sakti maha kuasa), tassa parittā pathavīsaññā bhāvitā hoti, appamāṇā āposaññā (mengembangkan secara terbatas/sedikit pada persepsi padat namun secara tak terukur pada persepsi rekatan), ini menyebabkan daratan bergetar, bergoyang, dan keras bergoncang. Inilah sebab yang kedua alasan gempa bumi dahsyat.

    15-20. Kemudian juga Ananda, (3) Sang Bodhisatta meninggalkan alam surga Tusita mengetahui sepenuhnya dalam memperhatikan memasuki rahim seorang ibu.. (4) Sang Bodhisatta mengetahui sepenuhnya dalam memperhatikan keluar dari rahim seorang Ibu..(5) Sang Tathagata mencapai penerangan sempurna yang tanpa bandingnya.. (6) Sang Tathāgata memutar Roda Dhamma.. (7)Sang Tathagata mengetahui sepenuhnya dalam memperhatikan melepaskan bentukan vitalitas atau (8) Sang Tathagata mencapai unsur Nibbāna tanpa sisa. Semua ini, Ānanda, adalah delapan alasan, delapan penyebab gempa bumi dahsyat.. [..]

    GODAAN MARA PADA WAKTU YANG LALU
    34. Ānanda, suatu ketika, Aku menetap di Uruvela, di tepi Sungai Nerañjarā, di bawah pohon Banyan Penggembala kambing, ketika Aku baru saja mencapai Penerangan Sempurna, Mara pāpimā mendatangi-Ku, berdiri di satu sisi, dan berkata: ‘Bhagavā, sudilah Yang Terberkahi sekarang mencapai Nibbāna akhir, sudilah Yang Sempurna menempuh Sang jalan sekarang mencapai Nibbāna akhir. Sekarang adalah waktunya bagi Sang Bhagavā untuk mencapai Nibbāna akhir. Kemudian, Aku berkata kepada Mara pāpimā:

    “pāpima, Aku tak akan mengakhiri hidupku, sebelum para [bhikkhu, bhikkhuni, Upasaka/umat awam pria dan Upasika/umat awam wanita] menjadi siswa yang sempurna, terlatih, terampil, menguasai Dhamma, terlatih dalam keselarasan dengan Dhamma, terlatih dengan baik dan berjalan di jalan Dhamma, yang telah lulus dari apa yang mereka terima dari Guru mereka, mengajarkan, menyatakan, mengukuhkan, membabarkan, menganalisa, menjelaskan; hingga mereka mampu menggunakan Dhamma untuk membantah ajaran-ajaran salah yang telah muncul, dan mengajarkan Dhamma yang memiliki hasil yang menakjubkan.

    “pāpima, Aku tidak akan mencapai Nibbāna akhir sampai kehidupan suci telah mantap dan berkembang, menyebar, dikenal luas, diajarkan baik di antara para deva dan manusia di mana-mana.”

    36. Ananda, hari ini di cetiya Capala, Mara pāpimā, mendekati aku, berdiri pada salah satu sisi, dan berkata kepadaku:

    ‘Bhagavā, sudilah Yang Terberkahi sekarang mencapai Nibbāna akhir, sudilah Yang Sempurna menempuh Sang jalan sekarang mencapai Nibbāna akhir. Sekarang adalah waktunya bagi Sang Bhagavā untuk mencapai Nibbāna akhir. Karena Bhagavā pernah berkata:

    “pāpima, Aku tak akan mengakhiri hidupku, sebelum para [bhikkhu, bhikkhuni, Upasaka/umat awam pria dan Upasika/umat awam wanita] menjadi siswa yang sempurna, terlatih,...'Dan sekarang, Bhagavā telah memiliki para [para bhikkhu, bhikkhuni, Upasaka/umat awam pria dan Upasika/umat awam wanita] menjadi siswa yang sempurna, terlatih, ...Sudilah Yang Terberkahi sekarang mencapai Nibbāna akhir,...Dan Sang Bhagavā menjawab: “pāpima, Aku tidak akan mencapai Nibbāna akhir sampai kehidupan suci telah mantap dan berkembang,... Dan semua ini telah terjadi. kehidupan suci telah mantap dan berkembang...Sudilah Yang Terberkahi sekarang mencapai Nibbāna akhir, sudilah Yang Sempurna menempuh Sang Jalan sekarang mencapai Nibbāna akhir. Sekarang adalah waktunya bagi Sang Bhagavā untuk mencapai Nibbāna akhir.'

    'Ananda, kepada Mara papima aku menjawab: "Pāpima, jangan kau menyusahkan dirimu. Saat parinibbana Sang Tathagata belum tiba, tiṇṇaṃ māsānaṃ accayena (tiga bulan lagi) Sang Tathagata akan Parinibbana. Idāneva kho, ānanda, ajja cāpāle cetiye tathāgatena satena sampajānena āyusaṅkhāro ossaṭṭho (Jadi, Ānanda, Hari ini di Kuil Cāpāla, Tathāgata dalam memperhatikan mengetahui sepenuhnya melepas bentukan vitalitas)

    [Ānanda­yācana­ka­thā] PERMOHONAN ANANDA
    38. Mendengar ucapan-ucapan tersebut, Ananda lalu berkata kepada Sang Bhagava: "Bhante, semoga Sang Bhagava selalu berada di dunia ini; Semogalah Yang Berbahagia tetap di sini sepanjang masa, demi kesejahteraan dan kebahagiaan manusia. Kasihanilah dunia demi kebaikan mahluk-mahluk semuanya dan demi kebahagiaan para dewa serta manusia."

    39. Sang Bhagava lalu menjawab demikian: "Cukuplah Ananda, janganlah menahan Sang Tathagata, karena waktunya sudahlah terlambat, untuk permintaan semacam itu." Tapi untuk kedua dan ketiga kalinya, Ananda memohon kepada Sang Bhagava: "Bhante, semoga Sang Bhagava tetap berada di dunia ini, semoga Yang Berbahagia tetap di sini sepanjang masa; demi kesejahteraan dan kebahagiaan manusia. Kasihanilah dunia, demi kebaikan semua mahluk dan kebahagiaan para dewa serta manusia."

    Sang Bhagava lalu berkata: "Ananda, apakah kamu mempunyai keyakinan terhadap buah hasil Penerangan sejati dari Sang Tathagata?"

    Ananda menjawab: "Bhante, kami sangat yakin."

    "Ananda, kalau begitu, mengapa kamu mengganggu Sang Tathagata sampai tiga kali?"

    40. Ananda menjawab: "Dari mulut Sang Tathagata sendiri kami telah mendengar:

    'Yassa kassaci, ānanda (Siapapun, Ananda) cattāro iddhipādā bhāvitā bahulīkatā yānīkatā vatthukatā anuṭṭhitā paricitā susamāraddhā (yang telah mengembangkan empat landasan kekuatan, sering, membiasakannya, sebagai landasan latihan dan dilaksanakan dengan benar), so ākaṅkhamāno kappaṃ vā tiṭṭheyya kappāvasesaṃ vā (tidak ragu untuk (hidup) satu kappa atau berhenti (hidup) di sisa kappa). Tathāgatassa kho, ānanda, cattāro iddhipādā bhāvitā bahulīkatā yānīkatā vatthukatā anuṭṭhitā paricitā susamāraddhā (Sang Tathagata Ananda, telah mengembangkan empat landasan kekuatan, sering, membiasakannya, sebagai landasan latihan dan dilaksanakan dengan benar), so ākaṅkhamāno, ānanda, tathāgato kappaṃ vā tiṭṭheyya kappāvasesaṃ vā”ti (tidak ragu ananda, untuk sang Thatagatha (hidup) satu kappa atau berhenti (hidup) di sisa kappa)'"

    "Ananda, apakah kamu mempercayainya?"

    "Ya, kami mempercayainya, bhante," jawab Ananda.

    "Ananda, dengan demikian tuyhevetaṃ dukkaṭaṃ, tuyhevetaṃ aparaddhaṃ (engkau telah salah bertindak, engkau telah keliru bertindak) dalam memahami saran yang sederhana dan bermakna serta dorongan yang berarti yang diberikan oleh Sang Tathagata", maka seharusnya kamu tidak memohon beliau untuk tetap berada di sini.

    Jika pada waktu yang lalu kamu memohon seperti itu, untuk kedua kali Sang Tathagata mungkin menolaknya, tetapi untuk yang ketiga kalinya ia mungkinkan menyetujuinya. Ananda, oleh karena itu, engkau telah salah bertindak, engkau telah keliru bertindak, maka permohonanmu sekarang adalah sia-sia."

    41. "Ananda, di Rajagaha, ketika kita sedang berdiam di puncak Gijjhakuta, kami telah berkata kepadamu: 'Ananda, menyenangkan Rajagaha ini, menyenangkan pula puncak Gijjhakuta ini. Yassa kassaci, ānanda (Siapapun, Ananda) cattāro iddhipādā bhāvitā bahulīkatā yānīkatā vatthukatā anuṭṭhitā paricitā susamāraddhā (yang telah mengembangkan empat landasan kekuatan, sering, membiasakannya, sebagai landasan latihan dan dilaksanakan dengan benar), so ākaṅkhamāno kappaṃ vā tiṭṭheyya kappāvasesaṃ vā (tidak ragu untuk (hidup) satu kappa atau berhenti (hidup) di sisa kappa). Tathāgatassa kho, ānanda, cattāro iddhipādā bhāvitā bahulīkatā yānīkatā vatthukatā anuṭṭhitā paricitā susamāraddhā (Sang Tathagata Ananda, telah mengembangkan empat landasan kekuatan, sering, membiasakannya, sebagai landasan latihan dan dilaksanakan dengan benar), so ākaṅkhamāno, ānanda, tathāgato kappaṃ vā tiṭṭheyya kappāvasesaṃ vā”ti (tidak ragu ananda, untuk sang Thatagatha (hidup) satu kappa atau berhenti (hidup) di sisa kappa). Tapi kamu tidak dapat memahami saran yang sederhana dan bermakna serta dorongan yang berarti yang diberikan oleh Sang Tathagata .... Ananda, oleh karena itu, engkau telah salah bertindak, engkau telah keliru bertindak, maka permohonanmu sekarang adalah sia-sia."

    42. "Begitu pula ketika kami berdiam di Gotama Nigrodha, Rajagaha ... di Corapapato, Rajagaha ... di goa Sattapanni pada lereng gunung Vebhara, Rajagaha ... di Kalasila pada lereng gunung Isigali, Rajagaha ... di hutan Sitavana dalam goa gung Sappasondika, rajagaha ... di Tapodarama, Rajagaha ... di Veluvana Kalandaka, Rajagaha ... di Ambavana milik Jivaka, Rajagaha ... dan di taman rusa Maddakucchi, Rajagaha.

    43-44. Ananda, pada tempat-tempat itu kami mengatakan: 'Menyenangkan Rajagaha ini .... dan menyenangkan semua tempat ini.Yassa kassaci, ānanda (Siapapun, Ananda) cattāro iddhipādā bhāvitā bahulīkatā yānīkatā vatthukatā anuṭṭhitā paricitā susamāraddhā (yang telah mengembangkan empat landasan kekuatan, sering, membiasakannya, sebagai landasan latihan dan dilaksanakan dengan benar), so ākaṅkhamāno kappaṃ vā tiṭṭheyya kappāvasesaṃ vā (tidak ragu untuk (hidup) satu kappa atau berhenti (hidup) di sisa kappa). Tathāgatassa kho, ānanda, cattāro iddhipādā bhāvitā bahulīkatā yānīkatā vatthukatā anuṭṭhitā paricitā susamāraddhā (Sang Tathagata Ananda, telah mengembangkan empat landasan kekuatan, sering, membiasakannya, sebagai landasan latihan dan dilaksanakan dengan benar), so ākaṅkhamāno, ānanda, tathāgato kappaṃ vā tiṭṭheyya kappāvasesaṃ vā”ti (tidak ragu ananda, untuk sang Thatagatha (hidup) satu kappa atau berhenti (hidup) di sisa kappa). Tapi, kamu tidak memahami saran yang sederhana dan bermakna serta dorongan yang berarti yang diberikan oleh Sang Tathagata .... Ananda, oleh karena itu, engkau telah salah bertindak, engkau telah keliru bertindak, maka permohonanmu sekarang adalah sia-sia."

    45-47. "Demikian pula di Vesali, pada waktu tertentu Sang Tathagata telah berkata kepadamu: 'Ananda, menyenangkan sekali Vesali ini, menyenangkan Cetiya Udena, Gotamaka, Sattamba, Bakuputta,Sarandada dan Capala.' Yassa kassaci, ānanda (Siapapun, Ananda) cattāro iddhipādā bhāvitā bahulīkatā yānīkatā vatthukatā anuṭṭhitā paricitā susamāraddhā (yang telah mengembangkan empat landasan kekuatan, sering, membiasakannya, sebagai landasan latihan dan dilaksanakan dengan benar), so ākaṅkhamāno kappaṃ vā tiṭṭheyya kappāvasesaṃ vā (tidak ragu untuk (hidup) satu kappa atau berhenti (hidup) di sisa kappa). Tathāgatassa kho, ānanda, cattāro iddhipādā bhāvitā bahulīkatā yānīkatā vatthukatā anuṭṭhitā paricitā susamāraddhā (Sang Tathagata Ananda, telah mengembangkan empat landasan kekuatan, sering, membiasakannya, sebagai landasan latihan dan dilaksanakan dengan benar), so ākaṅkhamāno, ānanda, tathāgato kappaṃ vā tiṭṭheyya kappāvasesaṃ vā”ti (tidak ragu ananda, untuk sang Thatagatha (hidup) satu kappa atau berhenti (hidup) di sisa kappa)

    Ananda, tapi kau tak dapat memahami saran yang sederhana dan bermakna serta dorongan yang berarti yang diberikan oleh Sang Tathagata, maka seharusnya kau tidak memohon beliau untuk tetap berada di sini. Jika pada waktu yang lalu kamu memohon seperti itu, untuk kedua kali Sang Tathagata mungkin menolaknya, tetapi untuk ketiga kalinya mungkin akan menyetujuinya. Ananda, oleh karena itu engkau telah salah bertindak, engkau telah keliru bertindak", maka permohonanmu sekarang adalah sia-sia."

    48. "Ananda, lagi pula apakah kami belum pernah mengajarkan bahwa sejak permulaan bahwa segala sesuatu yang disenangi atau dicintai mesti akan berubah, berpisah dan berjauhan? Segala sesuatu yang timbul menjadi atau lahir terwujud di dalam perpaduan, dicengkeram oleh kelapukan, bagaimana orang akan dapat berkata: 'Semoga ini tidak menjadi hancur.' Hal itu tak mungkin dapat terjadi. Dalam hal ini, yang telah diselesaikan oleh Sang Tathagata, dan hal ini yang telah dilepaskan, dibuang, ditinggalkan dan ditolak beliau, menanggalkan lagi, melepas bentukan vitalitas (paṭinissaṭṭhaṁ ossaṭṭho āyusaṅkhāro). Ini satu pernyataan Sang Tathagata: 'tak lama lagi adalah parinibananya sang Tathagata, Setelah tiga bulan, Sang Tathagata akan mencapai Parinibbana, Bahwa Sang Tathagata akan menarik kata-kata demi meneruskan kehidupannya adalah hal yang tidak mungkin.'

    "Ananda, marilah kita pergi ke Kutagara Sala di Mahavana." "Baiklah, bhante," jawab Ananda. [..].
Di Kutagara, di hadapan Para Bhikkhu yang berkumpul di Bulan Magha, sang Buddha menyampaikan Nasehat terakhir pada mereka dan menyatakan bahwa 3 bulan lagi beliau Parinibanna.

    NASEHAT YANG TERAKHIR
    49. Kemudian Sang Bhagava dengan diiringi oleh Ananda pergi ke Kutagara Sala, di Mahavana. Di sana beliau berkata kepada Ananda: "Ananda, sekarang pergilah dan himpunlah para bhikkhu yang tinggal di sekitar Vesali di ruang dhammasala."

    "Baiklah, bhante," jawab Ananda dan ia memanggil para bhikkhu yang berdiam di sekitar Vesali dan menghimpun mereka di ruangan Dhammasala. Kemudian, Sang Bhagava sambil berkata: "Bhante, bhikkhu Sangha telah berkumpul. Sekarang terserah kepada Sang Bhagava."

    50. Demikianlah Sang Bhagava memasuki ruangan Dhammasala dan duduk pada tempat yang telah disediakan, lalu beliau menasehati para bhikkhu demikian: "Kini, para bhikkhu, kami katakan kepada kalian bahwa dhamma ini merupakan pengetahuan yang langsung, yang telah kuajarkan kepada kalian semuanya. Seharusnya kalian mempelajari benar-benar, pelihara, kembangkan dan praktekkan, dengan berulang-ulang. Dengan demikian kehidupan yang suci akan terwujud, dan semoga dapat berlangsung lama demi kesejahteraan dan kebahagiaan umat manusia, demi welas asih pada dunia ini, untuk kebahagiaan semua, kemakmuran dan kesejahteraan para dewa dan manusia

    Para bhikkhu apakah sesungguhnya dhamma yang telah kuajarkan?

    Pelajaran itu meliputi (note: 37 Boddhipakkhiyadhamma/Sattatiṁsā Bodhipakkhiyadhammā):

    • cattāro satipaṭṭhānā (4 landasan perhatian: perenungan pada Jasmani/Kāyānupassanā, Perasaan/Vedanānupassanā, Pikiran/Cittānupassanā, & Bentukan pikiran/Dhammānupassanā)

    • cattāro sammappadhānā (4 usaha benar: anuppannānaṃ pāpakānaṃ akusalānaṃ dhammānaṃ anuppādāya chandaṃ janeti (memunculkan keinginan untuk tidak memunculkan kondisi-kondisi tidak bermanfaat yang belum muncul); Uppannānaṃ pāpakānaṃ akusalānaṃ dhammānaṃ pahānāya chandaṃ janeti (memunculkan keinginan untuk meninggalkan kondisi kondisi tidak bermanfaat yang telah muncul); Anuppannānaṃ kusalānaṃ dhammānaṃ uppādāya chandaṃ janeti (memunculkan keinginan untuk memunculkan kondisi-kondisi bermanfaat yang belum muncul) dan; Uppannānaṃ kusalānaṃ dhammānaṃ ṭhitiyā asammosāya bhiyyobhāvāya vepullāya bhāvanāya pāripūriyā chandaṃ janeti (memunculkan keinginan untuk mempertahankan kondisi-kondisi bermanfaat yang telah muncul, untuk ketidakmundurannya, untuk meningkatkannya, untuk memperluasnya, dan memenuhinya melalui pengembangan)

    • cattāro iddhipādā (4 landasan kekuatan: Chanda samādhi padhāna saṅkhāra samannāgataṁ (konsentrasi dari keinginan disertai bentukan kerja keras); Viriya samādhi padhāna saṅkhāra samannāgataṁ (konsentrasi dari tenaga/ketekunan disertai bentukan kerja keras); Citta samādhi padhāna saṅkhāra samannāgataṁ (konsentrasi dari pikiran disertai bentukan kerja keras) dan; Vimaṁsa samādhi padhāna saṅkhāra samannāgataṁ (konsentrasi dari penyelidikan pikiran disertai bentukan kerja keras)

    • pañcindriyāni (5 Indria spiritual: keyakinan/saddhā), usaha/viriya, perhatian/sati, konsentrasi/samādhi dan kebijaksanaan/paññā)

    • pañca balāni (5 Kekuatan: Keyakinan/Saddhā; ketekukan usaha/Viriya; Perhatian/Sati; Konsentrasi/Samādhi dan kebijaksanaan/Paññā)

    • satta bojjhaṅgā (7 faktor penerangan sejati: perhatian/Sati; Penyelidikan keadaan/Dhammavicaya; ketekunan usaha/Viriya; Semangat kegembiraan/Pīti; Ketenangan/Passaddhi; Konsentrasi/Samādhi dan Kesimbangan perasaan/Upekkhā)

    • Ariyo Aṭṭhaṅgiko Maggo (8 jalan mulia: Pandangan benar/Sammādiṭṭhi; Kehendak benar/Sammāsaṅkappo; Ucapan benar/Sammāvācā; Perbuatan benar/Sammākammanto; Pencaharian benar/Sammā-Ājīvo; Usaha benar/Sammāvāyāmo; Perhatian benar/Sammāsati dan Konsentrasi benar/Sammāsamādhi)

    Para bhikkhu, semua ini adalah dhamma yang merupakan pengetahuan yang langsung yang telah kuajarkan kepada kalian yang seharusnya pelajari dengan saksama, dipraktikkan, dikembangkan dan dilatih berulang kali. Dengan demikian kehidupan suci itu akan dapat diwujudkan dan semoga hal itu semua berlangsung lama demi kesejahteraan dan kebahagiaan umat manusia berdasarkan kasih sayang pada dunia ini, untuk kebaikan mahluk-mahluk dan kebahagiaan para dewa dan manusia.

    51. Lalu Sang Bhagava bersabda kepada para bhikkhu:
    "handa dāni (dan sekarang) bhikkhave (Para Bhikkhu) āmantayāmi vo (Aku nasehati kalian): vayadhammā saṅkhārā (Bentukan adalah tidak memuaskan) appamādena (dengan kewaspadaan) sampādetha (kalian akan berhasil). Naciraṃ tathāgatassa parinibbānaṃ bhavissati (Tak lama lagi Sang tathagatha akan paranibanna). Ito tiṇṇaṃ māsānaṃ accayena tathāgato pari­nib­bā­yis­satī (3 bulan dari sekarang berlalu sang Tathagata akan Paranibanna)"

    Setelah selesai mengucapkan kata-kata ini, Sang Sugata berkata lagi:
    "Paripakko vayo mayhaṃ (Diriku telah matang dalam usia); parittaṃ mama jīvitaṃ (sedikit kehidupanku tersisa); Pahāya vo gamissāmi (Aku pergi meninggalkan kalian), kataṃ me saraṇamattano (setelah menjadikan diri-Ku sebagai perlindungan). Appamattā satīmanto (Dengan kewaspadaan, perhatian) susīlā hotha bhikkhavo (menjadi bermoral luhur, Para Bhikku). Susa­māhi­ta­saṅkappā, sacitta­ma­nurak­kha­tha (kendalikan kehendak disertai pikiran yang terjaga). Yo imasmiṃ dhammavinaye (Siapapun dengan Ajaran dan disiplin), appamatto vihassati (Hidup dalam kewaspadaan), Pahāya jātisaṃsāraṃ dukkhassantaṃ karissatī (Ia akan meninggalkan penderitaan lingkaran kelahiran)"
Walaupun lama waktu sang Buddha menetap di tempat tersebut tidak diketahui, namun waktu pasti kejadian pemberian amanat terakhir dan pemberitahuan 3 bulan lagi parinibanna disampaikan jelas di sutta, yaitu terjadi di 3 bulan setelah musim Hujan.

    Mahaparinibbana Sutta:
    KECEMASAN HATI ANANDA
    7. "Dahulu tiga bulan sesudah musim hujan para bhikkhu datang mengunjungi Sang Tathagata. Hal itu sungguh sangat menguntungkan dan berguna dapat diterima dan berkenalan dengan para bhikkhu yang terhormat itu. Bhikkhu itu datang untuk mendengarkan amanat Sang Tathagata dan untuk mengunjungi Beliau. Tetapi kalau nanti Sang Bhagava mangkat, kami tak akan memperoleh manfaat dan kegembiraan serupa itu lagi."
Tiga bulan setelah musim Hujan adalah bulan February, yaitu di bulan Magha! Sehingga 3 bulan kemudian sejak bulan Magha jatuh pada bulam Vaisak!.

Ini adalah hal yang menarik dan wajar mengingat di bulan Magha adalah peringatan Magha Puja, yaitu ketika puluhan tahun sebelumnya terdapat kejadian 1.250 orang bhikkhu arahat, yang ditahbiskan dengan ehi bhikkhu, semua memiliki abhinna (Kekuatan supranatura), datang bersamaan, berkumpul di Rajagaha tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

Setelah pemberitahuan amanat terakhir, beliau meninggalkan Vesali dan berdiam di Bagadagama

    Mahaparinibbana Sutta:
    "Ananda inilah yang terakhir kalinya Sang Tathagata meninjau Vesali. Marilah Ananda kita pergi ke Bhadagama."

    "Baiklah,bhante," jawab Ananda. Demikianlah Sang Bhagava bersama sejumlah bhikkhu berdiam di Bhadagama.".
Tidak diketahui berapa lama beliau berdiam di Bhadagama, Mahaparinibbana Sutta hanya menyampaikan beliau cukup lama berada di tempat itu dan juga berdiam lama di beberapa tempat lainnya:

    5-6. Setelah Sang Bhagava cukup lama berada di Bhadagama, Beliau bersabda kepada Ananda: "Marilah Ananda, kita pergi ke Hattigama bersama-sama dengan para bhikkhu." Demikianlah Sang Bhagava lama berdiam di Hattigama. Beliau lalu pergi ke Ambagama, kemudian ke Jambagama. Di setiap tempat ini Sang Bhagava sering memberi nasehat kepada para bhikkhu: "Ini adalah kebajikan moral (sila), ini adalah meditasi (samadhi) dan ini adalah kebijaksanaan (panna). Besar sekali pahala dan kemajuan bila meditasi dikembangkan berdasarkan sila yang baik. Besar sekali pahala dan kemajuan bila kebijaksanaan dikembangkan berdasarkan meditasi (samadhi) yang baik. Batin yang dikembangkan berdasarkan pada kebijaksanaan yang baik akan bebas dari kotoran batin seperti nafsu indera (kamasava), nafsu untuk 'menjadi' (bhavasava) dan pandangan salah (ditthasava)."

    Setelah Sang Bhagava lama berdiam di Jambagama, beliau berkata kepada Ananda : "Ananda, marilah kita pergi ke Bhoganagara."

    "Baiklah, bhante," jawab Ananda. Demikianlah Sang Bhagava bersama sejumlah bhikkhu tinggal di cetiya Ananda, di Bhoganagara....

    13. Setelah Sang Bhagava lama berdiam di Bhoganagara, beliau berkata kepada Ananda : "Ananda, marilah kita pergi ke Pava."

    "Baiklah, bhante," jawab Ananda. Demikian Sang Bhagava tinggal di Pava bersama sejumlah besar bhikkhu dan tinggal di Ambavana milik Cunda, pandai besi.
Demikianlah 6 bulan terakhir waktu pengembaraan Sang Buddha dan rombongannya yang dilakukan setelah musim Vassa dan hari terakhirnya beliau ada di Pava ditempat Cunda sebelum parinibanna di Kusinara.

Ada cara lain untuk mengetahui bahwa peristiwa parinibanna terjadi BUKAN di pertengahan musim gugur atau dingin (Nov - Jan) namun di musim Panas, di antaranya di hari terakhirnya, beliau mandi 2x di sebuah sungai:

    Mahaparinibbana Sutta:
    DI TEPI SUNGAI KAKUTTHA
    39. Kemudian Sang Bhagava pergi ke sungai Kakuttha bersama dengan sekumpulan para bhikkhu. Setelah tiba di tepi sungai itu, Sang Bhagava mandi. Setelah Sang Bhagava mandi, Beliau pergi ke Ambavana. Di tempat ini Beliau berkata kepada Cundaka: "Cundaka tolonglah lipat jubah luarku, lipatlah dalam empat lipatan lalu letakkan di bawah tubuhku. Aku merasa lelah dan ingin beristirahat sebentar."..

    [..]

    41. Sang Buddha pergi ke sungai Kakuttha yang airnya jernih sejuk menyegarkan. Beliau mandi untuk menyegarkan badannya yang lelah. Sang Buddha yang dihormati dalam semua alam. Setelah selesai mandi dan minum, Sang Buddha lalu berjalan meliwati para bhikkhu yang kemudian mengiringnya.
Kegiatan mandi 2x sangat wajar jika dilakukan di hari yang sangat panas di musim panas, bukan?

Cara lainnya,
Di hari terakhirnya tercatat seorang Bhikkhu mengipasi beliau

    Mahaparinibbana Sutta:
    DUKA CITA PARA DEWA
    4. Pada waktu itu Upavana sedang di hadapan Sang Bhagava, sambil mengipasi beliau. [..]
Mengipasi seseorang adalah sangat wajar jika dilakukan di hari yang sangat panas, di musim panas, bukan?

Cara lainnya,
pada hari terakhirnya setelah dari Pava, yaitu dalam perjalananNya ke Kusinara, Ananda mengambil air di sungai yang dangkal yang baru saja diseberangi oleh 500 pedati. Dangkalnya sungai janggal sekali jika terjadi di musim gugur atau musim dingin atau bahkan di musim hujan namun jelas tidak janggal terjadi di musim panas.

    Mahaparinibbana Sutta:
    [..]'Marilah kita ke Kusinara,' kata beliau dengan penuh kesabaran."

    21. Kini, dalam perjalanan itu Sang Bhagava tidak melalui jalan raya dan kemudian berhenti di bawah sebatang pohon. Beliau bersabda kepada Ananda: "Lipatlah jubah luarku empat kali Ananda dan letakkan di bawahku. Aku sangat letih, aku mau beristirahat sebentar."

    "Baiklah, bhante," jawab Ananda dan melakukan apa yang diperintahkan oleh Sang Bhagava.

    22. Sang Buddha duduk pada tempat yang disediakan baginya dan bersabda kepada Ananda: "Ananda tolonglah bawakan aku sedikit air, aku haus dan ingin minum."

    Ananda menjawab: "Bhante, baru saja sejumlah lima ratus pedati telah menyeberangi sungai yang dangkal di bagian itu, dan roda-rodanya telah mengeruhkan air sungai ini. Sebaiknya kita pergi ke sungai Kakutha yang tidak jauh dari sini. Air sungai itu sangat jernih, sejuk dan bening. Sungai itu mudah dicapai dan letaknya sangat baik. Di sana bhante dapat menghilangkan rasa haus dan menyegarkan tubuh.

    23-24. Kemudian untuk kedua kalinya Sang Bhagava mengulangi permintaannya, tetapi Ananda menjawab seperti semula. Kemudian untuk ketiga kalinya Sang Bhagava bersabda: "Bawalah sedikit air, penuhi permintaanku Ananda, Aku amat haus dan ingin minum."

    Lalu Ananda menjawab demikian : "Baiklah, bhante."

    Ananda mengambil mangkok ke sungai itu. Air sungai yang dangkal yang telah dilalui oleh pedati-pedati sehingga airnya menjadi sangat keruh dan kotor. Tetapi sekonyong-konyong kotoran dalam air mengendap, air menjadi bening dan jernih. Dengan gembira Ananda lalu menghampirinya.

    25. Ananda berkata dalam hatinya : "Sungguh mengherankan dan luar biasa. Sebenarnya semua ini terjadi tidak lain karena kemuliaan dan kekuatan Sang Tathagata."

    Ananda lalu mengambil air itu dengan mangkok dan membawanya kepada Sang Bhagava sambil berkata: "Sungguh mengherankan dan luar biasa. Semuanya ini terjadi karena kekuatan dan kemuliaan Sang Tathagata. Air sungai yang dangkal itu yang telah dilalui oleh pedati-pedati, airnya menjadi keruh dan kotor. Tetapi ketika saya menghampirinya tiba-tiba kotorannya mengendap, menjadi bening dan sungguh menyenangkan. Bhante, silahkan minum." Sang Bhagava minum air itu.
Kemudian,
Sutta menginformasikan bahwa pohon sala ketika itu berbunga BUKAN di musimnya.
Pohon sala (Shorea robusta) mulai berbunga di MUSIM HUJAN [Juli -November] (Paradox of leaf phenology: Shorea robusta is a semi-evergreen species in tropical dry deciduous forests in India, hal, 1822). Maka ketika pohon ini berbunga di musim panas (Maret - Juli) adalah jelas belum waktunya.

Pohon Sala sering keliru di anggap sebagai cannonball tree [termasuk kelompok Couroupita guianensis. Sering disebut Shiva linga dan Naga lingam. Pohon canonball mulai berbunga pada pertengahan musim panas (May-Juli) - sebelum musim hujan [Juli-Agustus], namun juga dikatakan pohon ini berbunga hampir di sepanjang tahun]

    Mahaparinibbana Sutta:
    Demikianlah, Sang Bhagava bersama sejumlah besar bhikkhu menyeberang sungai, tiba di Hirannavati, pergi ke hutan Sala di daerah suku Malla, dekat Kusinara. Setelah tiba, Sang Bhagava berkata kepada Ananda: "Ananda, tolong sediakan tempat berbaring di antara pohon-pohon Sala kembar itu, saya ingin berbaring." "Baiklah, bhante," jawab Ananda. Ananda melaksanakan permintaan Sang Bhagava. Sang Bhagava membaring diri pada sisi kanan dengan sikap bagaikan singa, meletakkan salah satu kakinya pada kakinya yang lain. Dengan bersikap seperti ini, beliau tetap sadar dan waspada.

    Pada saat itu tiba-tiba dua pohon Sala kembar itu berbunga walaupun bukan pada musimnya untuk berbunga. Bunga-bunga itu jatuh bertaburan di atas tubuh Sang Tathagata, sebagai tanda penghormatan kepada beliau. Juga bunga surgawi serta serbuk cendana bertaburan dari angkasa ke tubuh Sang Bhagava. Bunga-bunga yang semerbak itu bertaburan di atas tubuh Sang Bhagava sebagai penghormatan kepada Sang Tathagata. Suara nyanyian surgawi serta suara musik surgawi dengan lagu sangat merdu terdengar di angkasa, juga sebagai penghormatan kepada Sang Tathagata.

    Kemudian Sang Bhagava berkata kepada Ananda: "Ananda, pohon Sala kembar ini berbunga semerbak, meskipun sekarang bukan musimnya berbunga. Bunga-bunga jatuh berhamburan di atas tubuh Sang Tathagata sebagai penghormatan kepada Sang Tathagata. Bunga surgawi serta serbuk cendana surgawi bertaburan dari angkasa ke tubuh Sang Bhagava sebagai penghormatan kepada Sang Tathagata. Suara nyanyian surgawi serta suara musik surgawi dengan lagu sangat merdu terdengar di angkasa, juga sebagai penghormatan kepada Sang Tathagata.

    Meskipun tidak mendapat penghormatan demikian, Sang Tathagata tetap dihormati, dimuliakan, dihargai, dipuja oleh semua orang dari semua tingkatan. Tetapi, siapa saja, apakah dia seorang bhikkhu, bhikkhuni, upasaka atau upasika yang berpegang pada Dhamma, hidup sesuai dengan Dhamma, berkelakuan baik sesuai dengan Dhamma, oleh mereka itu Sang Tathagata dihormati, dimuliakan, dihargai dan dipuja.

    Ananda, oleh karena itu, berpeganglah pada Dhamma, hidup sesuai dengan Dhamma dan berkelakuan baik sesuai dengan Dhamma. Demikianlah caranya kamu melatih diri."
Demikianlah beberapa cara untuk menentukan bulan wafatnya sang Buddha yaitu di bulan Vesak.
    Hari terakhir Sang Buddha
    13. Setelah Sang Bhagava lama berdiam di Bhoganagara, beliau berkata kepada Ananda : "Ananda, marilah kita pergi ke Pava."

    "Baiklah, bhante," jawab Ananda.

    Demikian Sang Bhagava tinggal di Pava bersama sejumlah besar bhikkhu dan tinggal di Ambavana milik Cunda, pandai besi.

    SANTAPAN SANG BHAGAVA YANG TERAKHIR
    14. Cunda pandai-besi, setelah mengetahui bahwa Sang Bhagava telah tiba lalu berkata: "Sang Bhagava, telah tiba di Pava dan berdiam di Ambavana milikku." Cunda lalu menghadap Sang Bhagava, sesudah memberi hormat dengan khidmat kepada beliau, kemudian duduklah ia pada salah satu sisi. Sang Bhagava mengajarkan Cunda, pandai-besi, tentang dhamma yang telah membangkitkan semangatnya dan menyebabkan hatinya sangat gembira.

    15. Kemudian Cunda berkata kepada Sang Bhagava: "Dapatkah kiranya Sang Bhagava menerima undangan kami untuk makan esok pagi bersama dengan para bhikkhu?" Sang Buddha bersikap diam. Dengan sikapnya yang diam itu berarti Sang Bhagava menyetujui permohonan Cunda.

    16. Karena telah yakin akan persetujuan Sang Bhagava itu. Maka Cunda, pandai-besi, berdiri dari tempat duduknya. Menghormat dengan khidmat kepada Sang Bhagava lalu mengundurkan diri meninggalkan beliau.

    17. Cunda pandai-besi, sejak semalam telah membuat makanan yang keras serta yang lunak dan makanan yang terdiri dari Sūkara-maddava. Kemudian ia memberitahukan kepada kepada Sang Bhagava: "Bhante, silahkan. Makanan telah siap."

    18. Pada waktu pagi Sang Bhagava menyiapkan diri, membawa patta dan jubah, pergi dengan para bhikkhu ke rumah Cunda. Di sana beliau duduk di tempat yang telah disediakan, dan berkata kepada Cunda: "Hidangan Sūkara-maddava yang telah saudara sediakan, hidangkanlah itu untukku. Sedangkan makanan lain yang keras dan lunak, saudara dapat hidangkan kepada para bhikkhu."

    "Baiklah, bhante," jawab Cunda.

    Sūkara-maddava yang telah disediakannya, dihidangkannya untuk Sang Bhagava, sedangkan makanan keras dan lunak lainnya dihidangkannya kepada para bhikkhu.
Apa arti Sūkara-maddava?

Kata Sūkara-Maddava ini muncul di Mahaparinibbana Sutta dan juga Milinda Panha. Kemudian, kitab komentar menyampaikan:

    Sūkaramaddava adalah yang tidak terlalu muda dan tua dari seekor babi/bagian kepala babi yaitu dagingnya (Sūkaramaddavanti nātitaruṇassa nātijiṇṇassa ekajeṭṭhakasūkarassa pavattamaṃsaṃ), empuk (mudu) dan lembut/lentur adanya (Taṃ kira mudu ceva siniddhañca hoti), disiapkan dan dimasak dengan baik (taṃ paṭiyādāpetvā sādhukaṃ pacāpetvāti attho). Ada yang mengatakan 'Sūkaramaddava adalah nasi lembut yang diproses dengan kuah campuran lima produk dari sapi, ini semacam nama sebuah masakan' (Eke bhaṇanti – ‘sūkaramaddavanti pana muduodanassa pañcagorasayūsapācanavidhānassa nāmetaṃ, yathā gavapānaṃ nāma pākanāma’’nti). Lainnya mengatakan 'Sūkaramaddava adalah nama teknik (vidhi) membuat senang (rasāyana). Jadi, didatangkanlah guru rasāyana, kemudian Cunda 'Parinibanna Sang Bhagawa buatlah tidak jadi, aturlah rasāyana.' (Keci bhaṇanti – ‘sūkaramaddavaṃ nāma rasāyanavidhi, taṃ pana rasāyanasatthe āgacchati, taṃ cundena – ‘bhagavato parinibbānaṃ na bhaveyyā’ti rasāyanaṃ paṭiyatta’’nti). Di sana para deva empat benua besar (mahādīpa) dan dua ribu pengiring memasukkan nutrisi (oja) (Tattha pana dvisahassadīpaparivāresu catūsu mahādīpesu devatā ojaṃ pakkhipiṃsu.) [Mahāparinibbānasuttavaṇṇanā: Kammāraputtacundavatthuvaṇṇanā dan variasi lainnya juga ada di: Udāna-aṭṭhakathā, Pāṭaligāmiyavaggo: Cundasuttavaṇṇanā]
Prof. Rhys Davids dan juga Buddhagosha (abad ke-5 M) menterjemahkannya sebagai `bagian daging babi yang empuk’. Namun I.B. Horner, di Milinda Panha, dan juga tipitaka bahasa Vietnam menterjemahkannya menjadi `truffle' atau sejenis jamur.

Kamus mengartikan arti "sūkara" adalah babi. Sedangkan Maddava/Madhava adalah lembut, empuk, halus, atau kering/panggang/layu (T.W.Rhys Davids & William Stede pp.721; 518-19) dan tidak pernah diartikan jamur.

Contoh aplikasi kata 'sūkara' + kata lain yang berhubungan dengan makanan, misalnya: sūkarapotaka (babi muda), sūkarasāli (arti kata sāli adalah beras/nasi, jadi ini adalah sejenis nasi, mungkin sejenis nasi-bhoonja, nasi yang populer di area Bihar dan Uttara Pradesh timur. untuk jelasnya lihat makanan khas Gaya, yaitu semacam snack kering, "Sabudana-Badam Bhoonja")

Terjemahan kata 'sūkara-Maddava', akhirnya terpusat pada dua macam arti saja, yaitu:

1. Daging babi yang berusia muda (ada yang mengatakan berusia setahun)
2. Sejenis jamur dan kemudian diartikan sebagai jamur babi

Para Kelompok vegetarian cenderung mengartikan kata ini sebagai jamur, namun terdapat beberapa alasan dan kelemahannya:

  • Terdapat banyak rujukan di Tipitaka bahwa Buddha sendiri makan daging dan mengijinkan mengkonsumsi daging selama memenuhi 3 syarat (Melihat secara langsung pada saat binatang tersebut dibunuh, Mendengar secara langsung suara binatang tersebut pada saat dibunuh dan Mengetahui bahwa binatang tersebut dibunuh khusus untuk dirinya - MN 55/Jivaka sutta) dan bukan 10 macam daging yang tidak diperkenankan dikonsumsi para Bikkhu (daging manusia, daging gajah, daging kuda, daging anjing, daging ular, daging singa, daging harimau, daging macan tutul, daging beruang, dan daging serigala atau hyena - Mahavagga Pali, Vinaya Pitaka, Vol.3.58). Juga di AN 5.44/Manāpadāyī sutta, seorang perumah tangga dari Vesali bernama Ugga yang menyajikan daging babi kepada Sang Buddha dan beliau baik-baik saja,

    "Di hadapan Guru, aku mendengar dan tahu dari Sang Bhagava sendiri bahwa seseorang yang memberikan hal menyenangkan, akan menerima kegembiraan, aku menyenangi masakan daging babi (sūkaramaṃsaṃ) dengan sari buah jujube. Semoga sang Bhagava menerimanya dengan perasaan kasih. Dengan perasaan kasihnya Sang Buddha menerima" (Sammukhā metaṃ, bhante, bhagavato sutaṃ sammukhā paṭiggahitaṃ: ‘manāpadāyī labhate manāpan’ti. Manāpaṃ me, bhante, sampannakolakaṃ sūkaramaṃsaṃ; taṃ me bhagavā paṭiggaṇhātu anukampaṃ upādāyā”ti. Paṭiggahesi bhagavā anukampaṃ upādāya).

    Sutta juga menyampaikan bahwa tidak lama setelahnya, Ugga wafat dan terlahir di Alam deva manomaya (Alam deva yang dapat menciptakan sesuai pikirannya), datang memberi hormat dihadapan Sang Buddha di Savatthi, vihara jetavana persembahan dari Anāthapiṇḍika.

    Dari contoh-contoh diatas sisi saja, para pendapat yang menyatakan bahwa Buddhism tidak makan daging dan sang Buddha tidak makan daging babi, sudah gugur dengan sendirinya.

  • Dalam Buddhavamsa: Buddhapakiṇṇakakathā, tentang: Sabbabuddhānaṃ samattiṃsavidhā dhammatā (30 hal yang selalu terjadi pada para Buddha), di no.29 ada kalimat, parinibbānadivase maṃsarasabhojanaṃ (Di hari Parinibannanya makan makanan yang mengandung daging). Arti kata "maṃsa" adalah daging.

  • Tidak ada jamur yang bernama jamur Babi, bahkan sampai ada yang beralasan bahwa jenis jamur ini hidup di tempat2 dimana ada banyak babi,

  • Alasan lainnya karena babi kerap digunakan untuk mendapatkan jamur. [Di artikel kompas: "Mengenal Jamur Pencabut Nyawa" sub: Babi pelacak, Rabu, 05 April 2006, 20:24 WIB: ‘[..] Kalau jenis jamur beracun dikerat, kemudian dilekatkan pada benda yang terbuat dari perak asli (misal pisau, sendok, garpu, atau cincin), maka pada permukaan benda tersebut akan ada warna hitam (karena xulfida) atau kebiruan (karena cianida)..para pemburu jamur di beberapa negara Eropa, terutama tradisi-tradisi di negara-negara Skandinavia (Swedia, Norwegia, Denmark, dan sebagainya)...biasanya akan membawa binatang "pelacak jamur" andalan. Bukan anjing, tapi babi yang sebelumnya sudah diberi latihan khusus...membedakan mana jamur yang bisa dimakan/tidak.’. Atau Cara Menghindari Kematian karena Makan Jamur Liar", H Unus Suriawiria, Senin, 31 Januari 2005: '(4) Kalau jenis jamur beracun dimasak/dipepes bersama nasi putih, nasi tersebut akan berubah warna menjadi coklat, kuning, merah, atau hitam...Bagi pemburu jamur di beberapa negara Eropa-misalnya, acara tradisi di negara-negara Skandinavia (Sweden, Norwegia, dan sebagainya)-kalau musimnya berburu jamur selalu akan membawa babi yang sudah terlatih, yang dapat membedakan mana jamur beracun dan mana yang tidak.']. Masalahnya babi itu digunakan untuk MEMBEDAKAN mana jamur beracun dan bukan.

  • Menurut ahli botani, komposisi jamur adalah 90% air, kurang dari 3% adalah protein, urang dari 5 % adalah carbohidrat, kurang dari 1% adalah lemak, 1 % adalah mineral, garam dan vitamin, jadi TIDAK COCOK disajikan pada Buddha yang berada pada kondisi kurang sehat

  • Kata umum dalam bahasa pali untuk menyebut jamur adalah "ahihattaka/ahichattaka": jamur ‘payung ular’. Bahasa modern Hindi adalah 'sarpchatr' yang mempunyai arti jug sama, bahasa Bengalinya 'byaner chata' atau ‘payung katak’ dan bukan Maddava.
Sehingga alasan mengartikan sūkara-maddava sebagai jamur adalah tidak berdasar, kata yang lebih tepat ini adalah daging babi yang empuk.

Cunda dan semua mengetahui bahwa Sang Buddha sudah tua dan di kondisi lemah, dari sisi pandangan awam makanan yang bernutrisi dan lembut adalah sangat tepat disajikan untuk itu daging babi muda sangatlah memenuhi kreteria ini.

Mari kita lanjutkan detail Mahaparinibbana Sutta:

    [..]19. Sesudah itu Sang Bhagava berkata kepada Cunda: "Cunda, sisa-sisa sūkara-madavva yang masih tertinggal, tanamkanlah dalam sebuah lobang, karena kami lihat di dunia ini di antara para dewa, Mara, Brahmana, para samana atau Brahma, atau pun manusia, tidak ada seorang pun yang sanggup memakannya atau mencernakannya, kecuali Sang Tathagata sendiri."

    Cunda menjawab: "Baiklah, bhante."

    Demikianlah sisa sūkara-madavva yang tertinggal itu ditanamkannya dalam sebuah lobang. [..]
Mengapa sisa sūkara-madavva perlu di tanam dalam sebuah lubang?

Kejadian mengapa perlakuan makanan yang tidak dimakan oleh Buddha ini harus di kubur, terdapat padanan penjelasannya di Sn 1.4/KASIBHARADVAJA SUTTA, (tahun ke-11 kebuddhaan):

    [..]Kemudian Kasibharadvaja mengisikan nasi-susu ke dalam mangkuk emas yang besar dan mempersembahkannya kepada Sang Buddha sambil berkata: 'Silakan Yang Mulia Gotama menyantap nasi susu ini. Engkau memang petani karena alasan pembajakan itu; memang hal itu memberikan buah kekekalan.'

    'Apa yang diperoleh lewat pembacaan mantra-mantra bukanlah makananku. O, brahmana, ini bukanlah praktek bagi mereka yang melihat dengan benar. Para Buddha menolak apa yang diperoleh lewat pembacaan mantra.'

    'Engkau harus mempersembahkan makanan dan minuman lain kepada pertapa agung yang telah mantap, yang telah bebas dari kekotoran mental dan penyesalan. Itu merupakan ladang bagi dia yang mencari jasa kebajikan.'

    'Kalau demikian, Yang Mulia Gotama, kepada siapakah saya harus memberikan nasi-susu ini?'

    O, brahmana, di dunia termasuk para dewa, Mara, Brahma, serta di antara para brahmana dan manusia, aku tidak melihat siapa pun kecuali Sang Tathagata

    Karena itu, O brahmana, sebaiknya engkau membuang nasi-susu ini di suatu tempat yang tidak ada rumputnya, atau membuangnya ke air di mana tidak ada makhluk hidupnya.'

    Maka Kasibharadvaja membuang nasi susu itu ke dalam air yang tidak mengandung kehidupan. Pada saat itu terdengar bunyi mendesis disertai banyak uap dan asap dari semua sisi, persis seperti mata bajak yang telah dipanaskan sepanjang hari lalu dicelupkan ke dalam air menghasilkan bunyi desis dan mengeluarkan uap serta asap di semua sisi.

    Kemudian Kasibharadvaja, dengan perasaan amat terpukau dan bulu kuduk berdiri, mendekati Sang Buddha dan meletakkan kepalanya di kaki Sang Buddha. Dia berkata: 'Sungguh menakjubkan, Yang Mulia Gotama, sungguh luar biasa, Yang Mulia Gotama![..]
Juga di Samyutta nikaya SN 7.9/Sundarika Sutta atau di Sagatha-Vagga 7.1.9, yaitu makanan yang telah didanakan khusus kepada seorang Samma Sambuddha, tidak dapat dimakan oleh mahluk lain dan jika bersisa maka dibuang di tempat yang tidak ada rumputnya atau membuangnya ke air dimana tidak ada mahluk hidupnya. Salah satu alasan mengapa makanan tersebut tidak dapat dimakan mahluk lain, kitab komentar menyampaikan bahwa para deva ikut berpartisipasi pada dana makanan dengan memberikan nutrisi.

Di Mahaparinibbana Sutta, kita ketahui letak nyeri yang di alami sang Buddha ternyata berada di pakkha (pectus, atau area antara leher dan abdominal) memerah (lohitapakhandika) tanpa adanya muntah-muntah dan/atau tanpa adanya mencret darah.

    Mahaparinibbana Sutta:
    Setelah itu ia kembali kepada Sang Bhagava memberi hormat dengan khidmat kepada beliau dan duduk pada salah satu sisi. Kemudian Sang Bhagava mengajarkan Cunda pandai-besi itu mengenai pelajaran yang membangkitkan semangat, yang berisi penerangan yang menggembirakan hatinya. Sesudah itu beliau bangun dari tempat duduknya pergi meninggalkan Cunda.

    20. Sesudah Sang Bhagava menyantap santapan yang dihidangkan oleh Cunda, pandai-besi itu, kharo ābādho uppajji (sakit keras melandanya), lohitapakkhandikā (Area antara dada - diagframa/abdomen memerah) pabāḷhā vedanā vattanti māraṇantikā (rasa sakit menusuk/terus menerus sangat mematikan). Tā sudaṃ bhagavā sato sampajāno adhivāsesi avihaññamāno (Sang Bhagava mengetahui sepenuhnya dalam memperhatikan selama kejadian tanpa mengeluh). Kemudian Sang Bhagava berkata kepada Ananda: "Ananda, marilah kita ke Kusinara."

    "Kami telah mendengar: 'Ketika Sang Bhagava makan hidangan yang dihidangkan oleh Cunda, dengan ketabahan hati dan ketenangan beliau menahan penderitaan yang hebat.' Hal ini terjadi karena Sang Bhagava makan Sukaramaddava (daging babi berusia muda) yang dihidangkan oleh Cunda. Tetapi dengan tenang dan tabah beliau berhasil menahan rasa sakit yang datang sekonyong-konyong itu. 'Marilah kita ke Kusinara,' kata beliau dengan penuh kesabaran." [..]

    [Kata "kami telah mendengar", adalah para pembicara lainnya, yaitu mereka yang berada di konsili ke-1, yang terjadi 3 bulan setelah wafatnya sang Buddha.]
Kalimat: "Lohitapakkhandikā pabāḷhā vedanā vattanti māraṇantikā.", dalam terjemahan kata perkata:

    Lohita/rahita: merah/darah. Kata darah dalam pali adalah Pupphaka/puppha/pubbaka.
    Pakkha: pectus (The part of the human torso between the neck and the diaphragm or the corresponding part in other vertebrates). Perlu di ketahui, kamus menyampaikan arti Pakkhandaka / pakkhandin / pak-khandikā: diare/dysentri dengan tambahan kata lohita, namun arti itu tanpa referensi jelas, kamus menyampaikannya seperti ini: "Ved. (?) praskandikā, BR. without refs". Pabāḷhā: tajam, keras (untuk sakit).
    Vedana: Perasaan.
    Vattanti: berkelanjutan/terus menerus.
    māraṇa: mati. antika: hampir di akhir.

    Sedangkan dalam bahasa pali dan sanskrit terdapat kata yang digunakan untuk arti diare/disentri: atisara [diare, untuk yang berdarah adalah rattatisara]. Sanskrit: Jvaratisara (diare dengan demam). Untuk disentri, sanskritnya adalah pakvatisara: Disentri yang kronis. Kata-kata atisara/rattatisara tidak digunakan di mahaparinibanna sutta
Lanjutan Paranibbana Sutta Dalam perjalanan dari Pava menuju Kusinara:
Kini, dalam perjalanan itu Sang Bhagava tidak melalui jalan raya dan kemudian berhenti di bawah sebatang pohon. Beliau bersabda kepada Ananda: "Lipatlah jubah luarku empat kali Ananda dan letakkan di bawahku. Aku sangat letih, aku mau beristirahat sebentar." "Baiklah, bhante," jawab Ananda dan melakukan apa yang diperintahkan oleh Sang Bhagava.

Sang Buddha duduk pada tempat yang disediakan baginya dan bersabda kepada Ananda: "Ananda tolonglah bawakan aku sedikit air, aku haus dan ingin minum."

Ananda menjawab: "Bhante, baru saja sejumlah lima ratus pedati telah menyeberangi sungai yang dangkal di bagian itu, dan roda-rodanya telah mengeruhkan air sungai ini. Sebaiknya kita pergi ke sungai Kakutha yang tidak jauh dari sini. Air sungai itu sangat jernih, sejuk dan bening. Sungai itu mudah dicapai dan letaknya sangat baik. Di sana bhante dapat menghilangkan rasa haus dan menyegarkan tubuh. Kemudian untuk kedua kalinya Sang Bhagava mengulangi permintaannya, tetapi Ananda menjawab seperti semula. Kemudian untuk ketiga kalinya Sang Bhagava bersabda: "Bawalah sedikit air, penuhi permintaanku Ananda, Aku amat haus dan ingin minum."

Lalu Ananda menjawab demikian : "Baiklah, bhante." Ananda mengambil mangkok ke sungai itu.

Air sungai yang dangkal yang telah dilalui oleh pedati-pedati sehingga airnya menjadi sangat keruh dan kotor. Tetapi sekonyong-konyong kotoran dalam air mengendap, air menjadi bening dan jernih. Dengan gembira Ananda lalu menghampirinya.

Ananda lalu mengambil air itu dengan mangkok dan membawanya kepada Sang Bhagava sambil berkata: "Sungguh mengherankan dan luar biasa. Semuanya ini terjadi karena kekuatan dan kemuliaan Sang Tathagata. Air sungai yang dangkal itu yang telah dilalui oleh pedati-pedati, airnya menjadi keruh dan kotor. Tetapi ketika saya menghampirinya tiba-tiba kotorannya mengendap, menjadi bening dan sungguh menyenangkan. Bhante, silahkan minum." Sang Bhagava minum air itu.

Ada seorang bernama Pukkusa, dari suku Malla, siswa dari Alara Kalama, lewat di situ dalam perjalanannya dari Kusinara ke Pava. Ketika ia melihat Sang Bhagava sedang duduk di bawah sebatang pohon, ia menghampirinya sambil memberi hormat dengan hidmat dan duduk di salah satu sisi. Kemudian ia berkata kepada Sang Bhagava demikian: "Sungguh mengherankan dan sungguh luar biasa. Hanya dengan ketenangan batin bhante dapat melewati hidup di alam keduniawian ini."

Dikisahkan pada suatu ketika, Alara Kalama [Guru pertama Sidharta Gotama, ketika ia wafat ia berada di alam arupa yaitu alam Ākiṃcanyāyatana atau Ākiñcaññāyatana alam no 2 tertinggi dari 31 alam] sedang mengadakan perjalanan. Kemudian ia duduk di pinggir jalan, di bawah sebatang pohon, untuk menghindari terik sinar matahari. "Pada waktu itu kebetulan, bhante, sejumlah besar pedati bahkan lima ratus pedati, melewati tempat itu satu demi satu. Kemudian, seorang yang turut dalam iring-iringan pedati itu yang berada di belakang, menghampiri Alara Kalama yang sedang duduk itu dan berkata kepadanya demikian : "Apakah tuan melihat sejumlah besar pedati yang lewat tadi di sini?" Alara Kalama menjawabnya: "Saya tidak melihatnya sama sekali."

"Tetapi suaranya, tentu tuan mendengarnya bukan?" "Saya sama sekali tidak mendengarnya." Orang itu lalu bertanya kepadanya : "Kalau demikian barangkali tuan sedang tertidur?" "Tidak saudara, saya tidak tertidur."

"Apakah tuan dalam keadaan sadar?" "Demikianlah saudara." Kemudian orang itu berkata: "Jadi tuan sedang terjaga dan sadar, tetapi tuan tidak melihat sejumlah pedati, bahkan lima ratus pedati yang melewati tuan satu demi satu dan tuan juga tidak mendengar suaranya. Mengapa jubah tuan ini sangat kotor dikotori debu?" Alara Kalama menjawab demikian: "Demikianlah keadaannya saudara."

Setelah orang itu melihat kejadian tersebut lalu timbul pikirannya demikian: "Sungguh mengherankan dan sangat luar biasa ketenangan mereka yang telah dapat meninggalkan hidup keduniawian." Maka timbullah kepercayaannya yang besar terhadap Alara Kalama. Kemudian ia pergi melanjutkan perjalanannya.

Kemudian Sang Bhagava berkata: "Pukkusa, bagaimana pendapatmu? Yang mana yang lebih sukar untuk dikerjakan, yang lebih sukar untuk ditemui, seseorang yang sedang sadar dan terjaga yang tak melihat-sejumlah besar pedati, bahkan lima ratus pedati, yang melewatinya satu demi satu, dan yang juga tidak mendengar suaranya. Kalau hal ini dibandingkan dengan seseorang yang sadar dan terjaga yang duduk di tengah-tengah hujan yang lebat disertai guntur menggelegar, halilintar menyambar dan petir bergemuruh, tetapi orang itu tidak melihat maupun mendengar suara halilintar yang menggeletar itu, bagaimana pendapatmu?"

"Bhante, tentu tidak sebanding, kelima ratus pedati, atau enam, tujuh, delapan, sembilan atau seribu bahkan beratus atau beribu-ribu pedati, kalau dibandingkan dengan kejadian ini."

"Pernah terjadi pada suatu ketika, Pukkusa, tatkala aku sedang di Atuma dan duduk di dalam sebuah kandang sapi di sana. Pada waktu itu terjadilah hujan lebat dengan guntur menggelegar, halilintar dan petir menggemuruh. Atas kejadian itu dua orang petani bersaudara mati dekat kandang itu bersama dengan empat ekor sapinya. Kemudian sejumlah orang berdatangan dari Atuma di tempat kejadian itu."

"Pukkusa, pada saat itu, saya keluar kandang itu sambil berjalan di depan pintu saya merenungkan sesuatu. Tiba-tiba seorang dari mereka itu datang menghampiri aku, sambil memberi hormat dengan hidmat dan berdiri di samping."

Setelah itu aku bertanya kepadanya: "Mengapa banyak orang berkumpul ke mari?" Ia lalu menjawab: "Bhante, baru saja turun hujan yang sangat lebat dan guntur menggelegar, halilintar menyambar dan petir gemuruh. Dua orang petani bersaudara telah meninggal disambar petir di dekat kandang ini bersama empat ekor sapi. Sebab itulah orang-orang ini datang berkumpul ke mari, tetapi, di manakah Bhante berada tadi?" "Saya ada di sini, saudara." "Kalau demikian apakah Bhante tidak tahu kejadian tadi?" "Saya tak melihatnya, saudara." "Tetapi suaranya, Bhante tentu mendengarnya." "Saya juga tidak mendengarnya." Kemudian orang itu bertanya kepadaku: "Kalau demikian, Bhante barangkali sedang tidur?" "Tidak saudara, saya tidak tidur." "Lalu apakah Bhante pada saat itu dalam keadaan sadar?"

Demikianlah adanya saudara. Kemudian orang itu berkata: "Jadi Bhante pada saat itu berada dalam keadaan sadar dan terjaga di tengah-tengah hujan yang lebat, yang disertai guntur yang gemuruh suaranya. Sementara ada suara halilintar menyambar-nyambar dan suara petir menggelegar tetapi Bhante tidak melihat atau mendengarnya?" Saya menjawab: "Tidak saudara."

Pukkusa berkata dalam hatinya : "Sungguh mengherankan dan sangat luar biasa, ketenangan mereka yang telah dapat membebaskan diri dari keduniawian." Timbullah dalam dirinya kepercayaan yang amat besar kepadaku. Ia lalu menghormat dengan hidmat padaku dan kemudian ia mengundurkan diri.

Setelah beliau berkata demikian, Pukkusa dari suku Mala itu berkata kepada Sang Bhagava : "Kepercayaan kami, terhadap Alara Kalama sekarang telah lenyap bagaikan ditiup angin topan yang maha besar. Biarlah kepercayaanku kepadanya terbawa pergi oleh angin yang bertiup kencang luar biasa ini.

Sesungguhnya, Bhante adalah orang yang telah menegakkan kembali apa yang pernah tumbang atau mengeluarkan apa yang pernah tenggelam, atau menunjukkan jalan kepada seseorang yang telah tersesat atau menyalakan sebuah lampu di dalam kegelapan, sehingga mereka mempunyai mata dapat melihat. Di samping itu, Sang Bhagava telah mengajarkan Dhamma dengan berbagai cara. Karena itu perkenankanlah saya berlindung kepada Sang Bhagava, Dhamma dan Sangha. Semoga Sang Bhagava menerima saya sebagai siswa. Saya menyatakan berlindung kepada Sang Tiratana sampai akhir hidup saya."

Kemudian Pukkusa berkata kepada seorang pembantunya: "Berikanlah saya, dua perangkat jubah berwarna keemasan yang berkilauan yang dapat dikenakan sekarang." Orang itu menjawab : "Baiklah tuan."

Setelah jubah itu diberikan kepadanya, Pukkusa mempersembahkanya kepada Sang Bhagava sambil berkata: "Semoga Sang Bhagava sudi menerima persembahan jubah ini." Sang Bhagava menjawab : "Kuterima jubah ini sebuah saja Pukkusa, dan yang lainnya berikanlah kepada Ananda." "Baiklah, bhante."

Kemudian ia menyerahkan jubah itu sebuah kepada Sang Bhagava dan sebuah lagi kepada Ananda.

Setelah itu Sang Bhagava mengajarkan Dhamma kepada Pukkusa yang telah membangunkan semangatnya untuk mencapai penerangan dan yang sangat menggembirakan hatinya. Sesudah itu Pukkusa lalu bangun dari tempat duduknya dan memberi hormat dengan hidmat kepada Sang Bhagava lalu mengundurkan diri.

Segera setelah Pukkusa pergi Ananda lalu mengatur seperangkat jubah berwarna keemasan, yang berkilauan cahayanya dan kemudian mengenakannya, di badan Sang Bhagava. Tetapi ketika jubah itu telah dikenakan di badan Sang Bhagava, tiba-tiba jubah tersebut menjadi pudar warnanya dan sirna keindahannya.

Ananda lalu berkata kepada Sang Bhagava: "Bhante, sungguh mengherankan dan sangat luar biasa. Alangkah terang dan indah cahaya kulit tubuh Sang Tathagata. Jubah yang berwarna keemasan ini, yang berkilauan cahayanya, setelah bhante kenakan, cahayanya menjadi suram dan keindahannya sirna."

"Ananda, memang demikianlah. Ada dua kejadian di mana tubuh Sang Tathagata nampak luar biasa terangnya dan bercahaya.

  • Pada, malam Sang Tathagata mencapai Penerangan Sempurna yang tidak ada bandingannya dan
  • Pada malam Sang Tathagata sampai pada akhir kehidupannya, parinibbana, di mana tidak ada lagi unsur-unsur dan sisa keinginan.
"Ananda, malam ini pada saat-saat terakhir di kebun Sala milik suku Mala, di dekat Kusinara, di antara dua pohon Sala, Sang Tathagata akan mangkat, parinibbna. Karena itu marilah kita pergi ke sungai Kakuttha. Ananda menjawab : "Baiklah, bhante."

Kemudian Sang Bhagava pergi ke sungai Kakuttha bersama dengan sekumpulan para bhikkhu. Setelah tiba di tepi sungai itu, Sang Bhagava mandi. Setelah Sang Bhagava mandi, Beliau pergi ke Ambavana. Di tempat ini Beliau berkata kepada Cundaka: "Cundaka (Cunda) tolonglah lipat jubah luarku, lipatlah dalam empat lipatan lalu letakkan di bawah tubuhku. Aku merasa lelah dan ingin beristirahat sebentar." "Baiklah, bhante." Cundaka pun melipat jubah itu dalam empat kali lipatan dan meletakkannya di bawah tubuh Sang Buddha.

Sang Bhagava membaringkan tubuhnya pada sisi kanannya, dengan sikap seperti singa, dan meletakkan salah satu kakinya di atas kakinya yang satu lagi, dengan sikap demikian Beliau selalu tetap sadar, penuh perhatian dan setiap saat dapat bangun dengan mudah. Cundaka menempatkan dirinya di depan Sang Bhagava.

[Buddha mandi ke dua kalinya hari itu isi nya seperti dua pragraf di atas]

Kemudian Sang Bhagava berkata kepada Ananda: "Ananda, kemungkinan ada orang akan menyesali dan menyalahkan Cunda, pandai besi, dengan berkata: "Sungguh sial kau Cunda, karena perbuatan kamu, Sang Tathagata telah makan santapan untuk terakhir kalinya." Dalam hubungan ini Ananda, tuduhan terhadap Cunda itu dapatlah dijelaskan sebagai berikut: "Suatu rahmat bagimu, Cunda dan ini benar-benar suatu berkah, bahwasanya karena kamulah Sang Tathagata memperoleh makanan sebagai dana yang terakhir dan setelah itu Beliau mangkat. Hal ini saudara, aku telah mendengar sendiri, langsung dari Sang Bhagava yang menyatakan:

"Ada dua macam makanan, yang mempunyai pahala, yang mempunyai nilai kebaikan yang sama, yang melebihi nilai dari semua dana makanan yang lainnya.

  • Dana yang pertama adalah dana makanan yang pertama kalinya di makan oleh Sang Tathagata, setelah beliau mencapai penerangan sejati, dana ini tiada bandingannya.
  • Dana yang kedua ialah dana makanan terakhir yang dimakan oleh Sang Tathagata sebelum beliau parinibbana, di mana semua unsur-unsur ikatan tidak akan timbul lagi.
Maka perbuatan yang telah dilakukan saudara Cunda adalah berkah yang mengakibatkan panjang umur, rupawan, kesejahteraan, kemuliaan, akan lahir di alam sorga dan mendapat kedudukan yang tinggi." Demikianlah Ananda, kau jelaskan tentang diri Cunda pandai besi itu.

Sang Bhagava, karena mengerti masalah tersebut, lalu mengucapkan syair:

Dengan memberi Jasa kebajikan bertambah;
Dengan mengendalikan diri, kebencian dihentikan;
Dengan yang bermanfaat kejahatan ditanggalkan;
Dengan menghancurkan nafsu, kebencian dan kebodohan Ia terbebaskan.

Kemudian Sang Bhagava mengajak Ananda dengan berkata: "Ananda, marilah kita menyeberangi sungai ini dan bila kita tiba di Hirannavati, kita pergi ke hutan Sala di daerah suku Malla, dekat Kusinara."

"Baiklah, bhante," jawab Ananda.

Demikianlah, Sang Bhagava bersama sejumlah besar bhikkhu menyeberang sungai, tiba di Hirannavati, pergi ke hutan Sala di daerah suku Malla, dekat Kusinara. Setelah tiba, Sang Bhagava berkata kepada Ananda: "Ananda, tolong sediakan tempat berbaring di antara pohon-pohon Sala kembar itu, saya ingin berbaring."

"Baiklah, bhante," jawab Ananda. Ananda melaksanakan permintaan Sang Bhagava. Sang Bhagava membaring diri pada sisi kanan dengan sikap bagaikan singa, meletakkan salah satu kakinya pada kakinya yang lain. Dengan bersikap seperti ini, beliau tetap sadar dan waspada.

Pada saat itu tiba-tiba dua pohon Sala kembar itu berbunga walaupun bukan pada musimnya untuk berbunga. Bunga-bunga itu jatuh bertaburan di atas tubuh Sang Tathagata, sebagai tanda penghormatan kepada beliau. Juga bunga surgawi serta serbuk cendana bertaburan dari angkasa ke tubuh Sang Bhagava. Bunga-bunga yang semerbak itu bertaburan di atas tubuh Sang Bhagava sebagai penghormatan kepada Sang Tathagata. Suara nyanyian surgawi serta suara musik surgawi dengan lagu sangat merdu terdengar di angkasa, juga sebagai penghormatan kepada Sang Tathagata.

Kemudian Sang Bhagava berkata kepada Ananda: "Ananda, pohon Sala kembar ini berbunga semerbak, meskipun sekarang bukan musimnya berbunga. Bunga-bunga jatuh berhamburan di atas tubuh Sang Tathagata sebagai penghormatan kepada Sang Tathagata. Bunga surgawi serta serbuk cendana surgawi bertaburan dari angkasa ke tubuh Sang Bhagava sebagai penghormatan kepada Sang Tathagata. Suara nyanyian surgawi serta suara musik surgawi dengan lagu sangat merdu terdengar di angkasa, juga sebagai penghormatan kepada Sang Tathagata.

Meskipun tidak mendapat penghormatan demikian, Sang Tathagata tetap dihormati, dimuliakan, dihargai, dipuja oleh semua orang dari semua tingkatan. Tetapi, siapa saja, apakah dia seorang bhikkhu, bhikkhuni, upasaka atau upasika yang berpegang pada Dhamma, hidup sesuai dengan Dhamma, berkelakuan baik sesuai dengan Dhamma, oleh mereka itu Sang Tathagata dihormati, dimuliakan, dihargai dan dipuja.

Ananda, oleh karena itu, berpeganglah pada Dhamma, hidup sesuai dengan Dhamma dan berkelakuan baik sesuai dengan Dhamma. Demikianlah caranya kamu melatih diri."

Pada waktu itu Upavana sedang di hadapan Sang Bhagava, sambil mengipasi beliau. Kemudian Sang Bhagava menegurnya: "Bhikkhu, minggirlah, jangan berdiri di depan saya."

Ananda berpikir: "Upavana telah biasa melayani Sang Bhagava, sudah lama dan akrab dengan beliau. Akan tetapi pada saat terakhir ini Sang Bhagava menegurnya. Apakah sebabnya, apakah alasannya sehingga Sang Bhagava menegur Upavana dengan berkata: "Bhikkhu, minggirlah, jangan berdiri di depan saya."

Ananda, kemudian menyatakan pendapatnya kepada Sang Bhagava. Sang Bhagava menjawab: "Ananda para dewa dari sepuluh ribu tata surya, hampir tidak ada yang ketinggalan, datang bersama-sama berkumpul di sini untuk menghadap Sang Tathagata. Sampai pada jarak duabelas yojana di sekeliling hutan Sala milik Suku Malla di daerah Kusinara ini tak ada tempat seujung rambut pun yang kosong, semuanya terisi, penuh sesak ditempati oleh para dewa perkasa dan para dewa agung, semuanya mengeluh: 'Dari jauh datang kemari untuk menghadap Sang Tathagata. Karena jarang sekali di dunia ini muncul para Tathagata Arahat Samma Sambuddha. Sekarang pada hari ini, pada saat-saat terakhir dari malam ini, parinibbana Sang Tathagata akan segera tiba. Tetapi, pada saat ini, seorang bhikkhu yang berkekuatan besar, telah berdiri di muka Sang Bhagava, menghalangi pandangan kami, sehingga kami sekarang tak dapat melihat Sang Bhagava. Demikianlah Ananda, keluhan para dewa itu."

"Bhante, para dewa manakah yang dimaksudkan oleh Sang Bhagava?" tanya Ananda.

"Ananda, para dewa angkasa dan para dewa bumi yang masih cenderung pada kesenangan nafsu, dengan rambut kusut sambil mengangkat tangan, mereka menangis, membanting diri di tanah sambil berguling-guling kian ke mari. Mereka meratap sambil berkata: Terlalu cepat Sang Tathagata parinibbana, terlalu cepat Sang Sugata parinibbana, terlalu cepat Sang Guru jagat parinibbana dan akan lenyap dari pandangan."

Tetapi para dewa yang telah terbebas-dari hawa nafsu dengan penuh kesadaran dan pengertian yang benar, merenung: "Segala sesuatu adalah tidak kekal, bersifat sementara. Bagaimanakah yang akan terjadi, jika tidak terjadi demikian?"

Ananda merasa cemas, "Dahulu tiga bulan sesudah musim hujan para bhikkhu datang mengunjungi Sang Tathagata. Hal itu sungguh sangat menguntungkan dan berguna dapat diterima dan berkenalan dengan para bhikkhu yang terhormat itu. Bhikkhu itu datang untuk mendengarkan amanat Sang Tathagata dan untuk mengunjungi Beliau. Tetapi kalau nanti Sang Bhagava mangkat, kami tak akan memperoleh manfaat dan kegembiraan serupa itu lagi."

"Ananda, ada empat tempat bagi seorang berbakti seharusnya pergi berziarah, menyatakan sujudnya dengan perasaan hormat.

  • Ananda, tempat di mana Sang Tathagata dilahirkan, adalah tempat bagi seorang berbakti seharusnya berziarah, menyatakan sujudnya dengan perasaan hormat.
  • Tempat di mana Sang Tathagata mencapai Penerangan Sempurna yang tiada taranya, adalah tempat bagi seorang berbakti seharusnya berziarah, menyatakan sujudnya dengan perasaan hormat.
  • Tempat di mana Sang Tathagata memutarkan roda dhamma untuk pertama kali, adalah tempat bagi seorang berbakti seharusnya berziarah, menyatakan sujudnya dengan perasaan hormat.
  • Tempat di mana Sang Tathagata meninggal (parinibbana), adalah tempat bagi seorang berbakti seharusnya berziarah, menyatakan sujudnya dengan perasaan hormat.
Mereka yang berziarah ke tempat-tempat itu, apakah mereka itu para bhikkhu, para bhikkhuni, para upasaka atau para upasika merenungkan : "Di sinilah Sang Tathagata dilahirkan. Di sinilah Sang Tathagata mencapai Penerangan Sempurna. Di sinilah Sang Tathagata memutarkan roda dhamma untuk pertama kali. Di sinilah Sang Tathagata meninggal (parinibbana)."

"Ananda, bagi mereka yang dengan keyakinan yang kuat melakukan ziarah ke tempat-tempat itu, maka setelah mereka meninggal dunia, mereka akan terlahir kembali di alam surga (sagga loka)."

Kemudian Ananda bertanya kepada Sang Bhagava: "Bhante, bagaimanakah seharusnya kita bersikap terhadap kaum wanita?" "Jangan memandang pada mereka, Ananda." "Bhante, tetapi bagaimana kalau saya secara kebetulan memandang pada mereka?" "Janganlah berbicara dengan mereka Ananda."

"Bhante,tetapi bagaimana kalau mereka berbicara kepada kami?"

"Ananda, seharusnya dalam menghadapi mereka, kamu selalu sadar dan terus memusatkan pikiranmu."

Ananda berkata: "Bhante, bagaimana caranya kami menghormati badan wadag Sang Tathagata?"

Janganlah menyusahkan dirimu Ananda, dengan menghormati badan wadag Sang Tathagata. Lebih baik kamu terus berjuang dan selalu belajar untuk kepentinganmu, untuk kebaikanmu. Janganlah mundur, rajin-rajinlah berlatih dan dengan keteguhan hati kembangkanlah kesadaranmu untuk kebaikanmu. Karena Ananda, terdapat banyak muliawan bijaksana, Brahmana bijaksana, orang berkeluarga yang berbudi luhur, yang telah berbakti kepada Sang Tathagata. Merekalah yang akan menyatakan rasa hormatnya dengan sewajarnya kepada badan wadag Sang Tathagata."

Kemudian Ananda berkata: "Tetapi bagaimana Yang Mulia cara mereka menghormati jenazah Sang Tathagata?" "Persis atau sama Ananda, seperti kalian menghormati jenazah seorang raja Dunia (Cakkavati)." "Tetapi bagaimanakah, cara mereka untuk menghormati jenazah seorang raja Dunia?"

"Jenazah seorang Raja Dunia, mula-mula dibungkus dengan kain linen yang baru dan kemudian diikat dengan kain wool katun dan dengan begitu ia dibalut dengan lima ratus lapisan kain linen dan lima ratus lapisan kain katun wool. Apabila itu sudah dikerjakan, maka jenazah Sang Raja Dunia itu, ditempatkan dalam sebuah peti pembuluh yang dicat meni, yang dimasukkan pula dalam peti pembuluh yang lain, kemudian ditempatkan di pembakaran jenazah yang dibangun dengan beraneka macam kayu-kayu yang wangi, dan dengan demikian jenazah Sang Raja Jagat itu lalu dibakar. Di persimpangan empat (perempatan) lalu dirikan stupa untuk raja jagat itu.

Demikianlah Ananda, yang seharusnya dilakukan kepada jenazah seorang Raja Dunia. Selanjutnya Ananda, seperti halnya dengan jenazah dari Raja Dunia itu, demikian pula seharusnya dikerjakan terhadap badan wadag Sang Tathagata. Pada pertemuan empat jalan juga seharusnya didirikan stupa bagi Sang Tathagata.

Barang siapa yang membawa bunga-bunga, dupa kayu cendana, dan melakukan penghormatan di tempat itu pikiran mereka lalu menjadi tenang maka kebahagian dan kesenangan akan ada pada diri mereka dalam waktu yang lama."

"Ada empat macam manusia, Ananda, yang sepantasnya dibuatkan stupa. Yang manakah keempat macam manusia itu?" "Seorang Tathagata Arahat Samma Sambuddha pantas dibuatkan stupa, demikian pula seorang Pacceka Buddha, seorang siswa dari Tathagata dan seorang Raja Dunia.

Ananda, mengapa seorang Tathagata Arahat Samma Sambuddha itu pantas dibuatkan sebuah stupa? Sebab bilamana orang-orang melihat stupa dan merenung: 'Ini adalah stupa Sang Bhagava Arahat Samma Sambuddha ' Hati para penganut itu akan menjadi tenang dan berbahagia, dengan ketenangan yang demikian serta pikiran yang penuh dengan kepercayaan pada semua itu, mereka pada penghancuran jasmaninya sesudah kematian akan tumimbal lahir dalam suatu keadaan yang penuh dengan kebahagian Surga. [Demikian pula bila mereka merenungkan. "Ini adalah stupa dari Pacceka Buddha atau ini adalah stupa dari Siswa Sang Tathagata Arahat Samma Sambuddha, atau inilah stupa raja yang adil yang memerintah sesuai dengan Dhamma.] namun habis akta kebahagiaan tidak ada kata surga

Karena alasan-alasan ini keempat macam manusia itu pantas dibuatkan sebuah stupa."

Sementara itu Ananda menuju vihara dan bersandar pada tiang pintu, ia menangis dan berkata: "Saya masih seorang siswa (savaka) dan masih harus berjuang untuk mencapai kesempurnaan. Sungguh malang aku ini, Guru yang penuh kasih sayang padaku akan meninggal dunia."

Kemudian Sang Bhagava bertanya kepada para bhikkhu: "Para bhikkhu, di manakah Ananda?"

"Bhante, Ananda telah pergi ke vihara, bersandar pada tiang pintu, menangis dan berkata: 'Saya masih seorang siswa dan masih harus berjuang untuk mencapai kesempurnaan. Sungguh malang aku ini, Guru yang penuh kasih sayang padaku akan meninggal dunia.'"

Sang Bhagava menyuruh seorang bhikkhu untuk memanggil Ananda dengan berkata : "Bhikkhu, katakanlah kepada Ananda bahwa Sang Guru memanggilnya." "Baiklah bhante," jawab bhikkhu itu. Bhikkhu itu pergi menjumpai Ananda dan mengatakan apa yang diperintahkan oleh Sang Bhagava. Kemudian Ananda pergi menemui Sang Bhagava, bersujud kepada Sang Bhagava dan menempatkan diri pada tempat yang tersedia.

Sang Bhagava lalu berkata kepada Ananda: "Ananda, cukuplah jangan bersedih, janganlah meratap, karena .... apakah kami belum cukup mengajarkan pada waktu yang lalu bahwa sudah menjadi kodrat bahwa segala sesuatu yang dekat kita, yang kita cintai pada suatu saat tentu akan berpisah dengan kita. Segala sesuatu yang dilahirkan, menjadi makhluk, semua akan mengalami keadaan sama yang akhirnya akan dicengkram oleh kehancuran. Bagaimana kita dapat mengatakan, bahwa kita tidak akan berpisah? Sudah lama kamu melayani Sang Tathagata dengan cinta kasih dalam perbuatan, kata-kata dan pikiran, disertai dengan sopan santun serta, menyenangkan. Juga dengan hati yang tulus ikhlas yang tak ada taranya, sungguh suatu kebaikan yang sangat besar telah kamu kerjakan, Ananda. Sekarang kamu harus berjuang terus dengan giat, akhirnya dengan segera kamu akan menjadi seorang yang bebas dari segala penderitaan."

Kemudian Sang Bhagava mengatakan kepada para bhikkhu demikian : "Para Buddha yang suci, yang maha sempurna dari waktu-waktu yang lampau, beliau itu juga mempunyai bhikkhu sebagai pelayan yang sangat tekun dan berbakti, seperti yang terlihat pada diri Ananda. Para bhikkhu, demikian pula halnya dengan para makhluk yang suci, para yang maha sempurna dari waktu yang akan datang."

"Para bhikkhu, Ananda adalah cakap dan jujur, karena ia mengetahui waktu yang tepat untuk para bhikkhu menghadap Sang Tathagata, dan waktu yang tepat untuk para bhikkhuni, waktu bagi laki serta wanita biasa, waktu bagi para Raja serta para patih negara, waktu bagi para guru aliran-aliran lain serta para pengikutnya untuk menghadap beliau."

"Para bhikkhu, pada diri Ananda terdapatlah empat sifat yang luar biasa dan jarang kita temui pada orang lain. Apakah keempat sifat itu?

Apabila, serombongan bhikkhu/seorang laki2 serta wanita berkunjung pada Ananda, mereka akan menjadi sangat gembira dapat bertemu. Apabila ia kemudian bercakap-cakap dengan mereka mengenai Dhamma mereka akan menjadi senang akan pembicaraan itu, dan kalau ia berdiam diri maka mereka akan merasa kecewa.

"Para bhikkhu, pada diri seorang raja dunia terdapat sifat yang jarang ada dan utama. Apakah keempat sifat itu?

[sama dengan yang diatas, hanya diganti kata Bikkhu..menjadi orang mulia, brahmana, orang biasa atau pertapa]

"Para bhikkhu, demikian pula halnya pada diri Ananda, terdapat keempat sifat yang jarang ada dan utama itu."

[Ananda, akhirnya dapat merealisasikan tingkatan Arahat, persis di malam terakhir menjelang pertemuan 500 Bikkhu, tiga bulan setelah mangkatnya Sang Buddha]

Ananda berkata kepada Sang Bhagava: "Bhante, janganlah sampai terjadi, Sang Bhagava akan wafat di tempat ini, di daerah yang sederhana dan tidak ada peradabannya, di tengah belantara, hampir di luar perbatasan dari propinsi, banyak kota besar, seperti Champa, Rajagaha, Savathi, Saketa, Kosambi dan Benares. Sebaiknya Sang Bhagava mengakhiri hidup beliau di salah satu kota tersebut. Karena di dalam kota itu berdiam banyak muliawan yang kaya dan para brahmana serta para keluarga yang merupakan para pengikut yang sangat berbakti kepada Sang Tathagata; mereka akan melakukan penghormatannya sebagaimana mestinya kepada Sang Tathagata."

"Janganlah berkata demikian, Ananda. Janganlah berkata: 'Tempat ini, adalah daerah yang tidak ada peradabannya di tengah belantara hampir di luar perbatasan propinsi.'

Dahulu kala di tempat ini berdiam seorang Raja yang bernama Maha Sudassana, ia adalah seorang Raja seluruh dunia, seorang Raja yang adil, seorang Pemenang dari seluruh bumi ini yang kerajaannya didirikan dengan penuh kemegahan, aman dan sentausa serta diberkahi dengan tujuh permata.

Raja Sudassana mendirikan istana di Kusinara ini, yang kemudian dinamakan Kusavati yang luasnya dua belas yojana dari timur ke barat dan dari utara ke selatan tujuh yojana. Sangat luas istana itu.

Megah sekali Kusavati itu, ibukota yang makmur dan penduduknya sangat baik dan beradab. Penduduknya berkembang dengan cepat, dan berlimpah dengan bahan makanan. Persis sebagai istana para dewa, Alakamanda, yang luar biasa makmurnya dan penghuninya baik sekali serta beradab, disertai para dewa serta dilimpahi sejumlah besar makanan. Begitulah ibukota kerajaan Kusavati yang kuno itu.

Kota Kusavati, suasananya sangat ramai dan meriah, tiada hentinya siang dan malam orang bersuka ria, disertai sepuluh macam suara bunyi-bunyian, suara terompet, gajah, ringkikan kuda, gemerincingnya kereta-kereta, suara kendang-tambur dan rebana, serta irama lagu-lagu yang sangat merdu, diiringi tepuk tangan dan teriakan-teriakan yang nyaring, mengajak dengan berseru: "Mari makan, mari minum, mari bergembira, ayo makanlah minumlah mari bergembira."

"Pergilah sekarang, Ananda, ke Kusinara dan umumkanlah kepada suku Malla:

'Hari ini, para Vassetha, pada jam-jam terakhir malam ini, Parinibbana Sang Tathagata akan tiba. Kunjungilah, para Vassetha dan dekatilah beliau. Supaya jangan menyesal di belakang hari dan berkata dalam hati: 'Di daerah kamilah terjadi Parinibbana Sang Tathagata tetapi kami menyesal karena pada saat terakhir, tidak melihatnya.' "

"Baiklah, bhante" kemudian Ananda dengan membawa jubah serta patta, pergi ke Kusinara, dengan seorang kawannya.

Pada saat itu suku Malla sedang berkumpul dalam ruang persidangan, untuk merundingkan kepentingan umum. Ananda mendekati mereka lalu berkata:

"Para Vassetha, hari ini, pada jam-jam terakhir malam ini…."

Ketika mereka mendengar Ananda mengucapkan kata-kata itu, suku Malla beserta anak-anak, para isteri dan semua menantu-menantunya menjadi sangat sedih, berduka cita dan bersusah hati, ada di antaranya dengan rambut yang kusut, dan dengan menengadah menangis kesedihan sambil menyebut-nyebut Beliau. Ada pula yang mambanting dirinya di atas tanah dan berguling-guling kian kemari sambil meratap:

"Terlalu cepatlah Sang Tathagata Parinibbana. Terlalu cepatlah Sang Sugata Parinibbana. Terlalu cepatlah Sang Guru Jagat lenyap dari pandangan,"

Dengan sedih dan penuh duka cita pergilah suku Malla itu beserta anak-anak, isteri dan semua menantu menuju ke Hutan Sala, ke taman hiburan dari suku Malla itu, di mana bhikkhu Ananda berada.

Timbullah pikiran pada diri Ananda "Apabila saya mengijinkan suku Malla ini menyampaikan penghormatan kepada Sang Bhagava, satu demi satu, maka akan terlalu lama, waktu akan habis, dan malam akan menjadi fajar belum juga mereka semua dapat menghadap Sang Bhagava. Oleh karena itu biarlah aku membagi mereka menurut golongan-golongan, tiap keluarga dalam rombongan, dan dengan demikian mereka bersama-sama akan menghadap kepada Sang Bhagava. "Bhante, suku Malla dengan nama-nama ini beserta istri, anak-anak, para pelayan dan kawan-kawan, menghaturkan hormat mereka kepada Sang Bhagava."

Kemudian Ananda membagi-bagikan suku Malla itu menurut golongan, keluarga dijadikan satu rombongan, kemudian mereka dibawa menghadap kepada Sang Bhagava.

Dengan demikian maka Ananda telah dapat mengatur suku Malla dari Kusinara itu menghadap Sang Bhagava, dengan berombongan, tiap-tiap keluarga dalam satu rombongan, sehingga pada jam pertama dari malam itu, mereka dapat menghadap semuanya.

Ketika itu seorang petapa pengembara bernama Subhadda sedang berdiam di Kusinara. Subhadda, petapa yang pengembara itu mendengar kabar : "Hari ini, pada jam ketiga pada malam ini, Parinibbana Sang Gautama akan terjadi." Karena itu timbullah pikirannya: "Aku pernah mendengar dari para petapa yang tua-tua dan mulia, dari para guru, bahwa munculnya para Tathagata Arahat Samma Sambuddha, adalah kejadian yang jarang sekali di dunia. Pada hari ini, pada jam-jam terakhir malam ini juga Parinibbana Sang Gautama akan terjadi. Kini pada diriku ada suatu keragu-raguan dan dalam hal ini aku mempunyai kepercayaan pada petapa Gautama itu, ia akan dapat mengajarkan Dhamma kepadaku untuk menghilangkan keraguan-raguanku."

Kemudian petapa pengembara Subhadda menuju ke Hutan Sala, taman hiburan milik Suku Malla itu, dan menemui Ananda, lalu menceritakan maksudnya kepada Ananda. Ia berkata kepada Ananda: "Kawan Ananda, alangkah baiknya bagi saya diperbolehkan menghadap petapa Gautama." Tetapi Ananda menjawab; "Cukuplah kawan Subhadda, janganlah mengganggu Sang Tathagata. Sang Bhagava sedang payah."

Meskipun begitu sampai pada permintaan ketiga kalinya petapa pengembara itu mengulangi lagi permohonannya, untuk kedua dan ketiga kalinya Ananda tetap menolaknya.

Sang Bhagava mendengar percakapan antara kedua orang itu, lalu Beliau memanggil Ananda dan berkata: "Ananda, jangan menolak Subhadda. Perbolehkanlah ia menghadap Sang Tathagata, karena apa saja yang akan ditanyakan kepadaku hal itu demi kepentingan pengetahuan dan bukan sebagai suatu pelanggaran. Jawaban yang akan aku berikan kepadanya, ia siap untuk memahaminya."

Oleh karena itu Ananda berkata kepada petapa pengembara Subhadda: "Silahkanlah, kawan Subhadda, Sang Bhagava memperbolehkan saudara menghadap."

Kemudian petapa pengembara Subhadda itu, mendekati Sang Bhagava dan menghormat dengan sopan santun dan setelah itu, petapa pengembara Subhadda, duduk di salah satu sisi lalu berkata kepada Sang Bhagava: "Yang Mulia Gautama, ada para petapa dan brahmana yang memimpin sejumlah besar siswa yang mempunyai banyak pengiring, yang memimpin perguruan-perguruan yang terkenal dan termasyur dan mendapat penghormatan yang tinggi oleh khalayak ramai, guru-guru demikian itu adalah seperti: Purana Kassapa, Makkhali Gosala, Ajita Kesakambali, Pakudha Kaccayana, Sanjaya Belatthiputta, Nigantha-Nataputta. Apakah mereka itu semuanya telah mencapai kebebasan, seperti yang dikatakan oleh orang-orang itu, atau apakah tak seorang dari mereka yang mencapai kebebasan atau apakah hanya beberapa saja telah mencapai, dan yang lainnya tidak?"

"Cukuplah Subhadda. Biarkanlah apa yang dikatakan mereka, apakah semua dari mereka itu telah mencapai pembebasan, seperti yang disiarkan orang-orang itu, atau tidak ada seorangpun dari mereka itu yang mencapai kebebasan, atau hanya beberapa saja dari mereka itu yang mencapai kebebasan yang lain tidak. Hal itu tidak perlu dirundingkan. Kini, aku akan mengajarkan kebenaran kepadamu, Subhadda, dengar dan perhatikanlah benar-benar, aku akan berbicara."

"Baiklah, bhante," jawab Subhadda. Kemudian Sang Bhagava berkata:

"Subhadda, dalam dhamma dan vinaya mana pun, jika tidak terdapat Jalan Mulia Berunsur Delapan, maka di sana pun tidak akan terdapat seorang petapa sejati yang telah mencapai tingkat pertama, kedua, ketiga atau keempat. Tetapi dalam dhamma dan vinaya yang mana pun, jika terdapat Jalan Mulia Berunsur Delapan, maka di sana pun akan terdapat petapa yang sejati yang telah mencapai tingkat pertama, kedua, ketiga atau keempat. Kini, dalam dhamma dan vinaya yang kami ajarkan terdapat Jalan Mulia Berunsur Delapan itu, maka dengan sendirinya juga terdapat petapa-petapa sejati yang telah mencapai tingkat pertama, kedua, ketiga atau keempat.

Ajaran guru-guru lainnya yang tidak memiliki Jalan Mulia Berunsur Delapan adalah kosong dan bukan petapa yang sejati. Subhadda, jika para bhikkhu ini hidup dengan baik menurut dhamma dan vinaya, maka dunia ini tidak akan kekosongan Arahat.

Subhadda, sejak kami berumur duapuluh sembilan tahun, kami telah meninggalkan kehidupan duniawi untuk mencari kebaikan. Subhadda, kini telah lewat limapuluh satu tahun, dan sepanjang waktu itu, kami telah berkelana dalam suasana kebajikan dan kebenaran, waktu itu di luar tidak ada manusia suci. Juga tidak dari tingkat kedua, ketiga ataupun tingkat kesucian keempat. Ajaran guru-guru lainnya yang tidak memiliki Jalan Mulia Berunsur Delapan adalah kosong dan bukan petapa yang sejati. Subhadda, jika para bhikkhu ini hidup dengan baik menurut dhamma dan vinaya, maka dunia ini tidak akan kekosongan Arahat."

Ketika hal ini telah dikatakan oleh Sang Bhagava lalu petapa pengembara Subhadda, berkata kepada Sang Bhagava: "Bhante, luar biasa, sangat tepat dan sungguh luar biasa. Hal ini adalah ibarat orang yang menegakkan kembali sesuatu yang telah tumbang, atau memperlihatkan sesuatu yang telah tersembunyi, atau menunjukkan jalan kepada seseorang yang tersesat, atau menyalakan pelita dalam kegelapan, sehingga mereka yang mempunyai mata dapat melihat, di samping itu bahkan Sang Bhagava telah mengutarakan Dhammanya dalam berbagai cara. Maka dengan ini, saya mencari perlindungan pada Sang Bhagava, Dhamma dan Sangha. Semoga kiranya saya dapat diperkenankan oleh Sang Bhagava untuk memasuki Sangha, dan juga diperkenankan menerima penabisan kebhikkhuan."

Subhadda, siapa saja yang dahulunya telah menjadi pengikut suatu ajaran yang lain, kalau ingin masuk dan ditabiskan menjadi bhikkhu, di dalam dhamma vinaya yang kuajarkan ini, haruslah ia menempuh masa percobaan lebih dahulu selama empat bulan. Kemudian pada akhir bulan yang keempat itu, para mahatera akan berkenan menerimanya lalu ditabiskan menjadi seorang bhikkhu. Tetapi dalam hal ini aku sendiri dapat melihat perbedaan-perbedaan kesanggupan pribadi dari tiap-tiap orang."

"Bhante, kalau demikian, orang yang dahulunya telah menjadi pengikut suatu ajaran lain, kalau ingin masuk dan ditabiskan menjadi bhikkhu di dalam dhamma vinaya yang diajarkan oleh bhante ini, harus menempuh masa percobaan lebih dahulu selama empat bulan. Kemudian pada akhir bulan yang keempat itu, maka para mahathera berkenan akan menerimanya lalu ditabiskan menjadi seorang bhikkhu. Saya juga akan sanggup, menempuh masa percobaan yang empat bulan. Pada akhir bulan yang keempat itu, terserahlah pada kebijaksanaan para mahathera itu, berkenan menerima saya dan menabiskan menjadi seorang bhikkhu." Tetapi ketika itu, Sang Bhagava memanggil Ananda, dan berkata kepadanya: "Ananda, kalau demikian izinkanlah Subhadda ini memasuki persaudaraan sebagai anggota Sangha." Ananda menjawab: "Baiklah, Bhante."

Lalu petapa pengembara Subhadda itu berkata kepada Ananda: "Suatu keuntungan bagi Anda, sesungguhnya suatu berkah, bahwa di hadapan Sang Guru sendiri Anda telah diperkenankan menerima penabisan saya sebagai seorang siswa."

Demikianlah telah terjadi, bahwa pertapa pengembara Subhadda telah diterima dan ditabiskan menjadi bhikkhu, di hadapan Sang Bhagava sendiri. Ia pun tekun, rajin dan sungguh-sungguh. Maka ia mencapai tujuan, sebagai orang yang dihormati, yang hidup berkelana, meninggalkan keduniawian, menuju kehidupan yang suci, dan setelah capai kebijaksanaan yang tinggi, ia hidup di dalam kesucian. Hancurlah belengu-belengu kelahiran, kehidupan suci telah tercapai, tak ada lagi sesuatu yang harus dikerjakan, dan dalam kehidupan ini tak ada lagi sesuatu yang tertinggal." Demikianlah ia telah menyadarinya.

Bhikkhu Subhadda menjadi salah seorang di antara para Arahat dan ia adalah siswa terakhir yang diterima Sang Bhagava.

NASEHAT-NASEHAT TERAKHIR DARI SANG BHAGAVA
Kini Sang Bhagava berkata kepada Ananda:

  • "Ānanda, engkau mungkin berpikir: “nasihat-nasihat Sang Guru telah tiada, sekarang kita tidak memiliki guru!” Jangan berpikiran seperti itu, Ānanda, karena apa yang telah Kuajarkan dan Kujelaskan kepada kalian sebagai Dhamma dan disiplin akan, saat Aku tiada, menjadi guru kalian"
  • Ananda, sebagaimana pada saat ini para bhikkhu saling menegur satu dengan yang lainnya sebagai "Avuso" (sahabat), namun janganlah demikian apabila Aku telah tidak ada.
  • Para bhikkhu yang lebih tua, bolehlah menegur kepada yang lebih muda dengan menyebut namanya, atau nama keluarganya, atau dengan sebutan avuso, sedangkan bhikkhu yang lebih muda seharusnya berkata kepada yang lebih tua dengan sebutan "Bhante".
  • "Ananda, apabila dikehendaki Sangha dapat menghapus peraturan-peraturan kecil (Khuddaka sikkhapada) setelah Aku meninggal."
  • "Ananda, untuk bhikkhu Channa, setelah Aku meninggal, kenakanlah hukuman brahma (brahma danda) kepadanya." "Bhante, tetapi apakah yang dimaksud dengan brahma danda itu?"
  • “Ananda, bhikkhu Channa dapat berkata apa saja yang diinginkannya, tetapi para bhikkhu tidak perlu bercakap-cakap dengan dia, tidak perlu menegur atau pun memperingatkannya."
Kemudian Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu demikian:

"Para bhikkhu, ada kemungkinan bahwa salah seorang di antara kalian merasa ragu atau bimbang terhadap Sang Buddha, Dhamma dan Sangha, jalannya atau pelaksanaannya. Maka itu tanyakanlah sekarang, para bhikkhu. Janganlah sampai ada yang menyesal nanti di kemudian hari, dengan pikiran: "Tatkala Sang Guru berada di tengah-tengah kami, berhadap-hadapan dengan kami, tetapi kami tidak bertanya apa-apa kepada Beliau."

Walaupun hal ini telah dikatakan, tetapi para bhikkhu itu tetap diam saja.

Kemudian diulangi lagi untuk kedua kalinya dan ketiga kalinya Sang Bhagava berkata kepada mereka : "Ada kemungkinan, para bhikkhu, bahwa salah seorang di antara kalian merasa ragu-ragu…"

"Untuk kedua dan ketiga kalinya para bhikkhu, karena kalian merasa hormat atau segan kepada Sang Guru, maka kalian tidak mau mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Kalau begitu, baiklah kalian berunding bersama teman-teman lebih dulu, tentang apa yang akan ditanyakan dan kemudian salah satu di antaranya menjadi wakil untuk menanyakan pertanyaan itu kepadaKu."

Tetapi para bhikkhu itu masih tetap diam saja.

Akhirnya Ananda berkata kepada Sang Bhagava demikian "Bhante, sungguh mengherankan, sangat luar biasa. Kami mempunyai keyakinan yang besar terhadap persaudaraan para bhikkhu ini, bahwa tak seorang bhikkhu pun yang merasa ragu-ragu atau bimbang terhadap Sang Buddha, Dhamma, Sangha, jalannya atau pun pelaksanaannya."

"Karena keyakinanlah Ananda, kamu berbicara begitu. Dalam hal ini Sang Tathagata mengetahui dengan pasti bahwa di antara persaudaraan para bhikkhu ini tiada seorang bhikkhu pun yang merasa ragu-ragu dan bimbang terhadap Sang Buddha, Dhamma dan Sangha mengenai jalannya atau pelaksanaannya.

Ananda, karena di antara lima ratus bhikkhu ini, yang terendah pun adalah sotapanna, yang tak mungkin terlahir kembali di alam penderitaan, yang pasti akan mencapai penerangan sempurna (bodhi) di kemudian hari."

Kemudian Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu: Para bhikkhu, perhatikanlah nasehat ini: "vayadhammā saṅkhārā (Bentukan adalah tidak memuaskan) appamādena (dengan kewaspadaan) sampādetha (kalian akan berhasil)". Inilah kata-kata terakhir Sang Tathagata.

Mula-mula Sang Bhagava memasuki Jhana ke-1.
Bangkit dari Jhana ke-1, beliau memasuki Jhana ke-2.
Bangkit dari Jhana ke-2, beliau memasuki Jhana ke-3.
Bangkit dari Jhana ke-3, beliau memasuki Jhana ke-4.
Bangkit dari Jhana ke-4, beliau memasuki landasan ruang tak berbatas.
Bangkit dari landasan ruang tak berbatas, beliau memasuki landasan kesadaran tak berbatas.
Bangkit dari landasan kesadaran tak berbatas, beliau memasuki landasan tak ada sesuatu apapun.
Bangkit dari landasan tak ada sesuatu apapun, beliau memasuki landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi.
Bangkit dari landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi, beliau memasuki lenyapnya persepsi dan perasaan.

Kemudian Ananda berkata demikian: "Anuruddha kiranya Sang Bhagava telah mangkat."

"Tidak, saudara Ananda, Sang Bhagava belum mangkat, Beliau memasuki lenyapnya persepsi dan perasaan."

Kemudian Sang Bhagava,
bangkit dari lenyapnya persepsi dan perasaan, kembali lagi memasuki landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi.
Bangkit dari landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi, beliau memasuki landasan tak ada sesuatu apapun,
Bangkit dari landasan tak ada sesuatu apapun, beliau memasuki landasan kesadaran tak berbatas,
Bangkit dari landasan kesadaran tak berbatas, beliau memasuki landasan ruang tak berbatas.
Bangkit dari landasan ruang tak berbatas, beliau memasuki Jhana ke-4.
Bangkit dari Jhana ke-4, beliau memasuki Jhana ke-3.
Bangkit dari Jhana ke-3, beliau memasuki Jhana ke-2.
Bangkit dari Jhana ke-2, beliau memasuki Jhana ke-1.

Bangkit dari Jhana ke-1, beliau memasuki Jhana ke-2.
Bangkit dari Jhana ke-2, beliau memasuki Jhana ke-3.
Bangkit dari Jhana ke-3, beliau memasuki Jhana ke-4.
Dan bangkit dari Jhana ke-4, lalu mangkatlah, Sang Bhagava - Parinibbana.

Demikianlah ketika Sang Bhagava telah Parinibbana, tepat bersamaan dengan saat parinibbanaNya, maka terjadilah gempa bumi yang sangat dahsyat, menakutkan, mengerikan, dan mengejutkan disertai halilintar sambar-menyambar di angkasa.

Ketika Sang Bhagava parinibbana, pada saat parinibbana itu, dewa Brahma Sahampati mengucapkan syair ini:

Semua makhluk jasmani di dunia pasti hancur.
Bahkan Sang Guru, yang tiada bandingnya di dunia, Sambuddha Parinibbana juga.

Ketika Sang Bhagava parinibbana, pada saat parinibbana itu, dewa Sakka, raja para dewa, mengucapkan syair ini:

"Segala yang berbentuk tidak kekal adanya, bersifat timbul dan tenggelam, Setelah timbul akan hancur dan lenyap, Bahagia timbul setelah gelisah lenyap."

Ketika Sang Bhagava parinibbana, pada saat parinibbana itu, bhikkhu Anuruddha mengucapkan syair ini:

"Tanpa menggerakkan napas, namun dengan keteguhan batin, bebas dari keinginan dan segala ikatan, demikianlah Sang Bijaksana mengakhiri hidupnya. Walaupun menghadapi saat maut, Beliau tak gentar, batinnya tetap tenang. Bagaikan padamnya nyala lampu' Beliau mencapai kebebasan."

Ketika Sang Bhagava parinibbana, pada saat parinibbana itu, Ananda mengucapkan syair ini:

"Maka terjadilah kegemparan sehingga bulu roma berdiri, ketika Sang Buddha parinibbana."

Demikianlah, ketika Sang Bhagava meninggal, beberapa bhikkhu yang belum melenyapkan kesenangan napsu dengan mengangkat tangan mereka menangis, membanting diri di tanah sambil berguling-guling kian ke mari. Mereka meratap sambil berkata: "Terlalu cepat Sang Tathagata parinibbana, terlalu cepat Sang Guru jagad parinibbana dan lenyap dari pandangan."

Tetapi para bhikkhu yang telah bebas dari hawa nafsu dengan penuh kesadaran dan pengertian yang benar, merenung dalam batin: "Segala sesuatu adalah tidak kekal, bersifat sementara. Bagaimanakah yang akan terjadi, jika tidak terjadi demikian?"

Kemudian bhikkhu Anurudha berkata kepada para bhikkhu: "Cukuplah para avuso! Janganlah berduka cita, janganlah meratap! Karena bukankah Sang Bhagava dahulu telah menyatakan bahwa segala sesuatu yang disayangi dan yang dicintai itu tidaklah kekal, pastilah ada perobahan, pergeseran serta perpisahan ? Apa yang timbul dalam perwujudan, kelahiran sebagai makhluk dalam bentuk yang berpaduan itu, pasti akan mengalami kelapukan; maka hal ini tidak lenyap. Para dewa juga sangat berduka cita."

"Tetapi, para dewa manakah yang disadarkan oleh bhante?" tanya Ananda.

"Ananda, para dewa angkasa dan bumi yang masih cenderung pada kesenangan nafsu, dengan rambut kusut sambil mengangkat tangan, mereka menangis, membanting diri di tanah sambil berguling-guling kian ke mari. Mereka meratap sambil berkata : "Terlalu cepat Sang Tathagata parinibbana….”

Kini Anurudha dan Ananda selama satu malam suntuk memperbincangkan Dhamma. Kemudian Anurudha berkata kepada Ananda : "Ananda, sekarang pergilah ke Kusinara, umumkanlah kepada suku Malla: "Vasetha, ketahuilah bahwa Sang Bhagava telah mangkat. Sekarang terserahlah kepada saudara-saudara sekalian." "Baiklah bhante." Lalu Ananda dengan seorang kawannya mempersiapkan diri sebelum tengah hari dan sambil membawa patta serta jubahnya menuju ke Kusinara.

Pada saat itu suku Malla dari Kusinara sedang berkumpul dalam ruang persidangan untuk merundingkan soal itu juga. Takala Ananda menemui mereka, lalu mengumumkan: "Vasetha, ketahuilah bahwa Sang Bhagava telah mangkat. Sekarang terserahlah kepada saudara-saudara sekalian."

Demikianlah, ketika mereka mendengar kata-kata Ananda, suku Malla dengan semua anak, istri, menantu mereka menjadi sedih, berduka cita dan sangat susah kelihatannya, ada di antara mereka dengan rambut yang kusut serta mengangkat tangan mereka menangis, membanting diri di tanah sambil berguling-guling kian ke mari. Mereka meratap sambil berkata: "Terlalu cepat Sang Tathagata parinibbana, terlalu cepat Sang Sugata parinibbana, terlalu cepat Sang Guru Jagad parinibbana dan lenyap dari pandangan."

Kemudian suku Malla dari Kusinara itu memerintahkan kepada orang-orangnya demikian: "Kumpulkanlah sekarang semua wangi-wangian, bunga-bungaan dan para pemain musik dan apa saja yang ada di Kusinara ini." Suku Malla dengan wewangian, bunga-bungaan dan para pemain musik, dengan membawa lima ratus perangkat pakaian, pergi ke hutan Sala, ke taman hiburan suku Malla, menuju tempat jenasah Sang Bhagava.

Setelah sampai di sana, mereka lalu memberi hormat terhadap jenasah Sang Bhagava, serta menyajikan tari-tarian, nyanyi-nyanyian dan lagu kebaktian, serta mempersembahkan bunga-bungaan, wangi-wangian dan segala sesuatu yang dibawanya; lalu mereka mendirikan kemah-kemah dan kubu-kubu untuk bernaung selama mereka ada di sana, melakukan upacara penghormatan terhadap jenasah Sang Bhagava itu.

Kemudian mereka berunding: "Kini matahari sudah tinggi, hari sudah siang, sudah terlambat kiranya untuk memperabukan layon Sang Bhagava. Sebaiknya kita laksanakan pada hari-hari berikutnya saja."

Pada hari-hari yang kedua, ketiga, keempat, kelima dan keenam mereka terus menerus mengadakan kebaktian dan penghormatan kepada jenasah Sang Bhagava dengan bermacam tari-tarian lagu-lagu kebaktian disertai bunyi gamelan dengan musik dengan tak henti-hentinya; di samping itu mereka menyajikan bunga-bunga, kembang rampai, wangi-wangian yang baunya harum semerbak meliputi seluruh tempat tersebut.

Tetapi pada hari ketujuh mereka lalu berunding: "Kita telah melakukan upacara kebaktian dan penghormatan terhadap jenasah Sang Bhagava dengan tari-tarian, nyanyi-nyanyian, lagu-lagu kebaktian disertai gamelan dan musik keagamaan; menyajikan segala macam kembang serta wangi-wangian dan melakukan puja-bakti untuk menghormati jenasah Sang Bhagava. Sekarang marilah kita, mengangkat dan mengusung jenasah Beliau ke arah Selatan, dan di sana di sebelah Selatan kota kita melakukan perabuan jenasah Sang Bhagava."

Kemudian delapan orang suku Malla dari keluarga yang terkemuka, setelah mandi dan berkeramas dengan bersih serta mengenakan pakaian yang baru, dengan pikiran : "Kita akan mengangkat jenasah Sang Bhagava" mereka pun lalu berusaha mengerjakan hal itu, tetapi mereka tak dapat mengangkatnya.

Demikianlah diceritakan bahwa suku Malla itu bertanya kepada Anurudha demikian: "Bhante, karena apa dan apakah sebabnya, delapan orang dari suku Malla dari keluarga yang terkemuka ini, yang telah mandi dan berkeramas dengan bersih, serta mengenakan pakaian yang baru, dengan pikiran : "Kita akan mengangkat jenasah Sang Bhagava, lalu mereka berusaha melakukan hal itu tetapi mereka tidak dapat mengangkatnya?"

"Saudara-saudara Vasettha, ketahuilah bahwa kalian mempunyai sesuatu maksud tetapi para dewa pun mempunyai maksud yang lain."

"Bhante, apakah maksud para dewa itu?"

"Saudara-saudara Vasettha, maksud para dewa bahwa kalian telah melakukan upacara kebaktian penghormatan terhadap jenasah Sang Bhagava, dengan tari-tarian, nyanyi-nyanyian, lagu kebaktian disertai gamelan dan musik keagamaan; dan menyajikan segala macam kembang serta wangi-wangian dan melakukan puji-pujian untuk menghormati Sang Bhagava. Lalu berkata: "Marilah mengangkat dan mengusung jenasah Beliau ke arah Selatan; dan di sana, di sebelah Selatan kota kita melakukan perabuan jenasah Sang Bhagava."

Vasettha, sedangkan maksud Para dewa adalah: "Kita telah melakukan upacara kebaktian dan penghormatan terhadap jenasah Sang Bhagava dengan tari-tarian, nyanyi-nyanyian dan lagu dari surga serta musik dari surga; menyajikan segala macam kembang serta wangi-wangian dari surga, dan melakukan puja untuk menghormati jenasah Sang Bhagava. Sekarang marilah kita membawa jenasah Sang Bhagava ke arah Utara di sebelah Utara kota dan setelah sampai di sana, dengan melalui pintu gerbang kita lalu menuju ke pusat kota; dan dari situ kita lalu menuju ke Timur; dengan melalui pintu gerbang di Timur lalu kita menuju ke Cetiya dari suku Malla, Makutta Bhandana, dan di sanalah kita perabukan jenasah Sang Bhagava."

"Bhante, kalau begitu, baiklah apa yang dikehendaki oleh para dewa itu, kita lakukan."

Dengan demikian seluruh Kusinara, di segala pelosok ditimbuni penuh dengan bunga-bungaan Mandarawa; sampai setengah lutut. Demikian kebaktian dan penghormatan terhadap jenasah Sang Bhagava itu telah dilakukan oleh Para dewa dan oleh suku Malla dari Kusinara. Dengan tari-tarian, lagu-lagu, musik; bunga-bungaan dan wangi-wangian dari kedua pihak, dewa dan manusia, semuanya melakukan penghormatan, kebaktian serta pemujaan dengan hidmat tulus ikhlas. Dengan hidmat dan tertib mereka mengusung jenasah Sang Bhagava itu ke arah Utara, ke bagian Utara dari kota, dan sesudah melalui pintu gerbang Utara, lalu menuju ke pusat kota, dan sesudah melewati pintu gerbang sebelah Timur mereka menuju ke Cetiya dari suku Malla, Makuta-bhandhana, dan di sanalah jenasah Sang Bhagava dibaringkan.

Lalu suku Malla dari Kusinara itu berkata kepada Ananda demikian : "Bagaimana seharusnya kita melakukan penghormatan dalam memperabukan jenasah Sang Bhagava?"

"Vasetha, sama seperti cara menghormati jenasah seorang Raja Jagad."

"Tetapi bagaimanakah seharusnya kita berlaku untuk menghormati Raja Jagad itu?"

"Jenasah seorang Raja Jagad itu pertama-tama di bungkus seluruhnya dengan kain linen yang baru, dan kemudian dengan kain katun wool baru pula. Sesudah itu dibungkus lagi seluruhnya dengan kain linen yang baru, dan lagi dengan kain katun wool yang telah dipersiapkan. Dan begitulah selanjutnya dilakukan sampai lima ratus lapisan kain linen dan lima ratus kain katun wool. Setelah itu dikerjakan jenasah Raja Jagad dibaringkan dalam suatu peti dengan dicat meni, lalu dimasukkan lagi ke dalam peti dengan dicat meni, dan suatu Pancaka (tempat perabuan) didirikan dari berbagai macam kayu wangi-wangian; di situlah jenasah seorang Raja Jagad diperabukan, dan pada perempatan (pertemuan empat jalan) didirikan sebuah stupa bagi Raja Jagad itu. Demikianlah hal itu seharusnya dilaksanakan."

"Vasetha, demikianlah sama seperti halnya jenasah seorang Raja Jagad begitu pula harus dilakukan pada jenasah Sang Tathagata. Dan barang siapa yang datang ke tempat itu membawa bunga-bungaan, atau dupa, atau serbuk cendana dan melakukan kebaktian serta penghormatan di sana mereka akan memperoleh kebahagian, untuk suatu waktu yang lama."

Kemudian suku Malla memberi perintah kepada orang-orangnya demikian: "Kumpulkanlah sekarang segala kain katun wool yang baru dari suku Malla." Lalu suku Malla dari Kusinara itu membungkus jenasah Sang Bhagava seluruhnya dengan kain linen baru, lalu dengan kain katun wool yang telah disiapkan; dan demikian seterusnya sehingga lima ratus lapisan kain linen dan lima ratus lapisan kain katun wool. Setelah itu dikerjakan, mereka membaringkan jenasah Sang Bhagava di dalam sebuah peti dengan dicat meni yang ditaruh lagi di dalam sebuah peti yang dicat meni yang ditaruh lagi di dalam peti yang dicat meni lainnya, kemudian mereka mendirikan pancaka pembakaran yang dibuat dari segala macam kayu-kayuan wangi-wangian dan di atas pancaka itulah jenasah Sang Bhagava ditempatkan.

Ketika itu Maha Kassapa sedang dalam perjalanan dari Pava ke Kusinara, bersama serombongan besar para bhikkhu yang berjumlah sampai lima ratus orang. Dalam perjalanan itu, Maha Kassapa menepi dari jalan raya dan duduk di bawah sebatang pohon.

Demikian, suku Ajivaka telah datang di tempat itu, dalam perjalanan ke Pava; dan ia membawa setangkai bunga Mandarawa dari Kusinara. Maha Kassapa melihat Ajivaka itu datang; ketika ia sudah dekat maka beliau berkata kepadanya: "Apakah Anda mengetahui tentang Guru kita?"

"Ya, saya mengetahui bahwa hari ini adalah hari yang ketujuh dari wafatnya Pertapa Gotama. Di sana kami telah memungut bunga Mandarava ini."

Mendengar jawaban itu, beberapa bhikkhu yang belum melenyapkan kesenangan nafsu, mengangkat tangan mereka menangis, membanting diri di tanah sambil berguling-guling kian ke mari. Mereka meratap sambil berkata : "Terlalu cepat Sang Tathagata parinibbana, terlalu cepat …. "

Ketika itu, seorang bernama Subhadda, (bukan subhada yang baru ditasbihkan) yang telah mengundurkan diri dari keduniawian setelah umurnya lanjut. Ia pun terdapat di antara sekelompok bhikkhu itu, di mana ia berkata kepada mereka demikian : "Cukuplah saudara-saudara, janganlah berduka cita, janganlah meratap. Sekarang kita telah bebas dari Pertapa yang Maha Besar itu. Sudah terlalu lama, kita telah ditekan dengan kata-kata : 'Ini cocok bagimu, itu tidak baik bagimu.' Sekarang kita akan dapat berbuat apa saja yang kita kehendaki, dan melepaskan apa yang kita tidak senangi, tidak ada yang akan melarangnya."

Tetapi Maha Kassapa menegur para bhikkhu : "Cukuplah, saudara-saudara! Janganlah berduka cita, janganlah meratap! Karena bukankah Sang Bhagava dahulu telah mengatakan bahwa segala yang baik dan yang kita cintai pastilah akan mengalami perubahan, pergeseran, dan perpisahan?" Karena segala sesuatu yang timbul menjadi wujud, terlahir dalam perpaduan bentuk-bentuk tertentu akan mengalami kelapukan; bagaimana seseorang dapat berkata : "Semoga ia tidak sampai pada peleburannya."

Dikisahkan pada waktu itu, di tempat perabuan, tempat orang suku Malla asal dari keluarga yang terkemuka telah mandi dan berkemas dengan bersih lalu mengenakan pakaian-pakaian yang baru dengan pikiran: "Kita akan menyalakan api perabuan Sang Bhagava itu." Lalu mereka berusaha mengerjakan hal itu, tetapi mereka tak dapat. Setelah itu suku Malla berkata kepada Anuruddha demikian: "Bhante Anuruddha, mengapa keempat orang dari keluarga yang terkemuka, yang telah mandi dan berkeramas dengan bersih serta mengenakan pakaian-pakaian baru mempunyai pikiran: 'Kita akan menyalakan api perabuan Sang Bhagava.' Mereka berusaha melakukan hal itu, tetapi tak dapat."

"Vasettha, kamu mempunyai satu maksud tetapi para dewa mempunyai maksud lain." "Bhante, apakah maksud para dewa itu?"

"Maksud dari para dewa adalah demikian: "Bhikkhu Maha Kassapa sedang dalam perjalanan dari Pava ke Kusinara, bersama serombongan para bhikkhu yang berjumlah sampai lima ratus orang. Jangan nyalakan api perabuan Sang Bhagava itu, sebelum bhikkhu Maha Kassapa tiba untuk menghormati jenasah Sang Bhagava."

" Kalau demikian, apa yang dikehendaki para dewa itu, biarkanlah terlaksana."

Kemudian rombongan Maha Kassapa tiba di tempat pancaka Sang Bhagava di Cetiya dari suku Malla, Makuta-bandhana, di Kusinara. Beliau lalu mengatur jubahnya pada salah satu bahunya, dan dengan tangan tercakup di muka, beliau menghormat Sang Bhagava; beliau berjalan mengitari pancaka tiga kali, kemudian menghadap pada jenasah Sang Bhagava, lalu beliau berlutut menghormat pada jenasah Sang Bhagava. Hal yang serupa itu, juga dilakukan oleh kelima ratus bhikkhu itu.

Demikianlah setelah dilakukan penghormatan oleh Maha Kassapa beserta kelima ratus bhikkhu itu, maka di pancaka Sang Bhagava lalu terlihat api menyala dengan sendirinya dan membakar seluruhnya.

Demikanlah terjadi takkala jenasah Sang Bhagava mulai dibakar; yang mula-mula terbakar adalah kulitnya, jaringan daging, urat-urat dan cairan-cairan semua itu tiada yang nampak, abu maupun bagian-bagiannya, hanya tulang-tulanglah yang tertinggal. Tepat sama seperti lemak atau minyak kalau dibakar tidak meninggalkan bagian-bagiannya atau debu-debunya, demikian pula dengan jenazah Sang Bhagava setelah terbakar, apa yang dinamakan kulit, jaringan, daging, urat-uratan serta cairan, tiada nampak debunya atau bagian-bagiannya, hanya tulang-tulanglah yang tertinggal. Dari kelima ratus lapisan kain linen pembungkusnya, hanya dua yang tidak musnah, yaitu yang paling dalam dan yang paling luar.

Demikianlah ketika jenazah Sang Bhagava telah habis terbakar maka air seperti dicurahkan dari langit memadamkan api perabuan itu. Dari pohon Sala juga keluar air menyiramnya, suku Malla dari Kusinara juga membawa air yang telah diisi dengan berbagai wangi-wangian dan mereka juga menyirami api perabuan Sang Bhagava itu.

Kemudian suku Malla dari Kusinara, mengambil relik (sisa jasmani) Sang Bhagava, lalu ditempatkan di tengah-tengah ruangan sidang mereka, yang kemudian dipagari sekelilingnya dengan anyaman tombak-tombak, lalu dilapisi lagi dengan pagar dari panah dan busur-busur.

Di sanalah mereka mengadakan upacara puja bakti selama tujuh hari. Untuk menghormati relik Sang Bhagava dengan tari-tarian, nyanyian dan lagu-lagu kebaktian, serta mempersembahkan bunga-bungaan dan wangi-wangian, melakukan puja bakti terhadap relik Sang Bhagava.

Kemudian Raja Magadha, Ajatasattu, putera Ratu Videhi,[ [demikian pula Orang Licchavi dari Vesali, Suku Sakya dari Kapilavasthu, Suku Buli dari Allakappa, Suku Koli dari Ramagama, Brahmana Vethadipa dan Suku Malla] mendengar bahwa Sang Bhagava telah mangkat di Kusinara. Ia mengirim utusan pada suku Malla di Kusinara dan menyatakan: "Dari kesatria asal Sang Bhagava; demikianlah pula saya. Karena itu saya sangat perlu untuk menerima sebagian relik Sang Bhagava. Untuk relik Sang Bhagava itu saya akan dirikan sebuah stupa; dan untuk menghormatiNya, saya akan mengadakan suatu kebaktian dan perayaan."

Tetapi ketika mereka menerima pernyataan-pernyataan ini, suku Malla di Kusinara, mengadakan sidang dan menyatakan demikian: "Di kota kitalah Sang Bhagava telah wafat. Kita yang berhak atas semua relik dari Sang Bhagava." Kemudian Brahmana Dona berkata kepada sidang dengan rangkaian sajak sebagai berikut :

"Wahai saudara-saudara dengarlah sepatah kata dariku,
Sang Buddha, Maha Guru yang kita junjung tinggi,
Telah mengajarkan, agar kita selalu bersabar,
Sungguh tak layak, jika timbul ketegangan nanti,
Timbul perkelahian, peperangan karena
Relik Beliau, Manusia Agung yang tak ternilai,
Marilah kita bersama, wahai para hadirin,
Dalam suasana persaudaraan yang rukun dan damai,
Membagi menjadi delapan, peninggalan yang suci ini,
Sehingga setiap penjuru, jauh tersebar di sana sini,
Terdapat stupa-stupa yang megah menjulang tinggi,
Dan jika melihat semua itu, lalu timbul dalam sanubari,
suatu keyakinan yang teguh terhadap Beliau."


"Kalau begitu baiklah, Brahmana. Silahkan Brahmana membagi relik itu dalam ke delapan bagian." Brahmana Dona berkata kepada sidang: "Baiklah para hadirin."

Kemudian dia membagi dengan adil, dalam delapan bagian yang sama, semua peninggalan Sang Bhagava itu. Setelah selesai membagi itu, ia berkata kepada sidang demikian: "Biarlah tempayan ini, saudara-saudara berikan kepadaku. Untuk tempayan ini akan kudirikan sebuah stupa, dan sebagai penghormatan, aku akan mengadakan perayaan dan kebaktian." Tempayan itu lalu diberikan kepada Brahmana Dona.

Kemudian suku Moriya dari Pippalivana mengetahui bahwa Sang Bhagava telah wafat di Kusinara. Mereka mengirim suatu utusan pada kaum Malla dari Kusinara, dan menyatakan: "Dari Kesatria asalnya …."

Tetapi oleh karena relik sudah habis terbagi, maka ia dianjurkan demikian: "Tidak ada bagian dari relik Sang Bhagava yang masih tertinggal lagi. Sudah terbagi habis relik Sang Bhagava itu. Tetapi saudara dapat mengambil abu-abu dari peninggalan Sang Bhagava." Mereka mengambil abu-abu dari Sang Bhagava, lalu dibawa pulang ke kotanya.

  • Kemudian raja dari Magadha, Ajatasattu, putera dari ratu Videhi, mendirikan sebuah stupa untuk relik Sang Bhagava, di Rajagaha,
  • Orang Licchavi dari Vesali mendirikan sebuah stupa untuk relik Sang Bhagava di Vesali,
  • Suku Sakya dari Kapilavasthu mendirikan sebuah stupa untuk relik Sang Bhagava di Kapilavasthu,
  • Suku Buli dari Allakappa mendirikan sebuah stupa untuk relik Sang Bhagava di Allakappa,
  • Suku Koli dari Ramagama telah mendirikan sebuah stupa untuk relik Sang Bhagava di Vethadipa,
  • Kaum Malla dari Pava telah mendirikan sebuah stupa untuk relik Sang Bhagava di Pava,
  • Brahmana Dona telah mendirikan sebuah stupa untuk Tempayan (bekas tempat relik Sang Bhagava), dan sebagai penghormatan diadakan suatu perayaan dan kebaktian,
  • Suku Moriya dari Pipphalivana mendirikan sebuah stupa untuk abu Sang Bhagava di Pipphalivana,
Demikian maka terdapat delapan stupa untuk relik Sang Bhagava dan stupa yang kesembilan untuk tempayan dan stupa yang kesepuluh untuk abu Sang Bhagava.

Demikianlah telah terjadi pada waktu yang lalu.

Terbagi delapan relik Sang Bhagava:

Beliau Yang Maha Tahu, kembangnya manusia,
Tujuh bagian, di Jambudipa dipuja orang,
Satu bagian, di Ramagama,
Dipuja oleh raja naga,
Sebuah gigi dipuja di surga Tavatimsa.
Sebuah gigi lagi dipuja di Kalingga oleh raja naga.
Karena pancaran cinta kasih yang tak terbatas,
Tanah air ini mendapat berkah yang melimpah.
Karena itu relik-relik Beliau dijaga dengan baik,
oleh mereka yang turut memujanya, para dewa, para naga dan oleh manusia bijaksana.
Beliaulah yang paling tinggi dipuja.
Maka itu hormatilah Dia dengan anjali,
karena sungguh sulit adanya,
mungkin ratusan Kappa belum tentu bertemu dengan seorang Buddha.


[Sumber: Mahaparinibanna sutta, CSI. The Kusinara File] []



Yesus

Walaupun hari kelahiran Yesus dan hari kematiannya tidak diketahui secara pasti namun paling tidak, ada beberapa tanggal yang kerap disebut sebagai tanggal wafatnya Yesus, yaitu: 11 April 27 atau 07 April 30 atau 03 april 33 atau 23 April 34 M.

Berdasarkan Quarterly Journal of Royal Astronomical Society 32, (Sept. 1991), 301-304. (Received 1991 February 19; in original form 1990 July 16), Si Isaac Newton lebih menyukai tanggal 23 April 34 dan kita sekarang akan memastikan tanggal kematian Yesus.
________________________________________

Peta Jaman Yesus

Untuk mengambil keputusan yang mana tanggal kematian Yesus, maka kita perlu catatan kronologis kematian Yesus dan mengenal bagaimana Kaum Yahudi menghitung dimulainya hari:

Definisi hari dalam tradisi Yahudi

Permulaan hari ke-1 s/d ke-6 [Kejadian 1: 5; 1:8; 1:13; 1:19; 1:23; 1:31]:

'...Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari ke...'

Sehingga mulainya hari adalah saat petang dan hitungan 1 hari penuh adalah dari petang hingga kembali ke-petang berikutnya:

'..Mulai pada malam..dari matahari terbenam sampai matahari terbenam..'[Imamat 23:32, saat menyatakan hari ke-9 bulan ke-7].

Jadi hari itu berjalan diantara 2 petang ["ereb ad ereb" = petang sampai petang yang hampir bersinonim dengan frase 'beyn ereb hayah" = antara (beyn) petang (ereb) hadir (hayah): Keluaran 12.6; bilangan 3.5]



Hari apa sih sabat reguler itu?

Alkitab tidak menyebutkan kepastian hari (misalnya selasa, minggu, dst) mengenai kapan hari sabat itu. Mayoritas orang menyatakan bahwa Sabat adalah hari Sabtu, alasannya adalah kesamaan S B T dan juga kata 'Sabtu' sangat dekat pengucapannya dengan kata 'Sabat'.

    Weeks
    The Hebrew calendar follows a seven-day weekly cycle, which runs concurrently but independently of the monthly and annual cycles. The names for the days of the week are simply the day number within the week. In Hebrew, these names may be abbreviated using the numerical value of the Hebrew letters, for example יום א׳ (Day 1, or Yom Rishon (Hebrew: יום ראשון‎):

    Yom Rishon (Hebrew: יום ראשון‎), abbreviated יום א׳ = "first day" = Sunday
    Yom Sheni (יום שני), abbr. יום ב׳ = "second day" = Monday
    Yom Shlishi (יום שלישי), abbr. יום ג׳ = "third day" = Tuesday
    Yom Reviʻi (יום רבעי), abbr. יום ד׳ = "fourth day" = Wednesday
    Yom Chamishi (יום חמישי), abbr. יום ה׳ = "fifth day" = Thursday
    Yom Shishi (יום ששי), abbr. יום ו׳ = "sixth day" = Friday
    Yom Shabbat (יום שבת or more usually שבת - Shabbat), abbr. יום ש׳ = "Sabbath day (Rest day)" = Saturday

    The names of the days of the week are modeled on the seven days mentioned in the Creation story. For example, Genesis 1:5 "... And there was evening and there was morning, one day". "One day" also translates to "first day" or "day one". Similarly, see Genesis 1:8, 1:13, 1:19, 1:23, 1:31 and 2.2. [lihat juga disini, di sini, disini, disini dan di sini]
Oke-lah, kalau itu dianggap benar maka Sabtu yang dimaksud seharusnya mulai dari Sabtu Malam - Minggu Senja!

    First day of the week
    In Jewish, Western Christian and Greek Orthodox tradition, the first day of the week is Sunday.

    The Hebrew, Ecclesiastical Latin and Medieval and Modern Greek languages number most of the days of the week. In Hebrew, Sunday through Friday are numbered one through six; in Ecclesiastical Latin, Monday through Friday are numbered the second through the sixth days of the week (feria); in Medieval and Modern Greek, Monday through Thursday are numbered the second through fifth.

    For many Western Christians and Jews, Sunday remains the first day of the week. Most, though not all, business and lamsocial calendars in North America mark Sunday as the first day of the week.
Sehingga hari minggu sebagai hari pertama seharusnya mulai dari Minggu malam - senin senja


Hari sabat kaum yahudi ada banyak, dinyatakan di kitab Imamat 23:

Hari ke-7,
tidak bekerja (23:1-3), Pertemuan Kudus. Hari ke-7 untuk istirahat (keluaran 16:26, 20:9-10, 31:15, 35:2: 'tetapi pada hari yang ke-7 adalah hari sabat').
Ditegaskan permulaan hari paskah yaitu di ulangan 16:6, '..engkau harus mempersembahkan korban Paskah itu pada waktu senja, ketika matahari terbenam'

Bulan ke-1 (23:4-8)
23:4. Inilah hari-hari raya yang ditetapkan TUHAN, hari-hari pertemuan kudus, yang harus kamu maklumkan masing-masing pada waktunya yang tetap.
23:5 Dalam bulan ke-1, pada tanggal 14 bulan itu, pada waktu senja, ada Paskah bagi TUHAN.
23:6 Dan pada hari 15 bulan itu ada hari raya Roti Tidak Beragi bagi TUHAN; 7 hari lamanya kamu harus makan roti yang tidak beragi.
23:7 Pada hari ke-1 kamu harus mengadakan pertemuan kudus, janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan berat.
23:8 Kamu harus mempersembahkan korban api-apian kepada TUHAN 7 hari lamanya; pada hari yang ke-7 haruslah ada pertemuan kudus, janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan berat.

Hari ke-1 panen/hasil apapun (23:9-22)
Dilakukan satu hari setelah Sabat
Satu hari setelah sabat + 7 minggu/7 sabat (50 hari), diumumkan sebagai hari raya/sabat (Hari raya Panen), ada perjamuan kudus, Jangan melakukan pekerjaan berat-berat

Bulan ke-7 (23:9-44)
tanggal 1, hari serunai, Pertemuan Kudus, tidak boleh bekerja berat-berat
tanggal 9, malam sampai tanggal 10 Senja, tidak boleh bekerja dan harus puasa, melanggar akan dibinasakan, hari sabat
tanggal 10, hari pendamaian, ada pertemuan Kudus, tidak boleh bekerja apapun
tanggal 15, hari pondok daun dilaksanakan selama 7 hari, hari pertama ada pertemuan kudus tidak boleh bekerja apapun, harus tinggal dipondok daun untuk Israel asli selama 7 hari
tanggal 23, pertemuan kudus, tidak boleh bekerja apapun

(Juga disebutkan d Imamat 16:29-31, Bilangan 28:16-31, Yehezkiel 45:21-25), dan disingkat hari sabat dan 3 hari raya di II Tawarih 8:13 sesuai dengan apa yang menurut perintah Musa ditetapkan sebagai korban untuk setiap hari, yakni

  • pada hari-hari Sabat,
  • pada bulan-bulan baru,
  • dan tiga kali setahun pada hari-hari raya:
  • pada hari raya Roti Tidak Beragi,
  • pada hari raya 7 Minggu dan
  • pada hari raya Pondok Daun.
Siapapun yang bekerja pada hari-hari Sabat/Paskah akan dihukum mati dilenyapkan dari bangsanya (Imamat 19:8, 23:29-30; Keluaran 31:14-16, 35:2, Bilangan 9:13, 15:32-36; Yeremia 17:21,27; Yehezkiel 20:21)


Pemotongan Domba untuk Paskah
ada 2 waktu pemotongan [Keluaran 29:38-39; bilangan 28.3-4], yaitu:

'Inilah yang harus kauolah di atas mezbah itu: dua anak domba berumur setahun, tetap tiap-tiap hari. Domba yang satu haruslah kauolah pada waktu pagi (boqer) dan domba yang lain kauolah antara senja (beyn ereb)'.


Semalam menjelang di salib
Yesus mengalami sedih, gentar dan takut pada satu hari sebelum salib:

Maka sampailah Yesus bersama-sama murid-murid-Nya ke suatu tempat yang bernama Getsemani. Lalu Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Duduklah di sini, sementara Aku pergi ke sana untuk berdoa." Dan Ia membawa Petrus dan kedua anak Zebedeus serta-Nya. Maka mulailah Ia merasa sedih dan gentar, lalu kata-Nya kepada mereka: "Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku." [Matius 26:37-38, Markus14:32-34]

"Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi." Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan kepada-Nya. Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah. [Lukas 22:42-44]


Kronologis Hari kematian Yesus

Injil Matius
Hari raya roti tak beragi, Perjamuan Kudus
26:2 "Kamu tahu, bahwa dua hari lagi akan dirayakan Paskah, maka Anak Manusia akan diserahkan untuk disalibkan."
26:17 Pada hari pertama dari hari raya Roti Tidak Beragi datanglah murid-murid Yesus kepada-Nya dan berkata: "Di mana Engkau kehendaki kami mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?"
26:18 Jawab Yesus: "Pergilah ke kota kepada si Anu dan katakan kepadanya: Pesan Guru: waktu-Ku hampir tiba; di dalam rumahmulah Aku mau merayakan Paskah bersama-sama dengan murid-murid-Ku."
26:19 Lalu murid-murid-Nya melakukan seperti yang ditugaskan Yesus kepada mereka dan mempersiapkan Paskah.
26:20 Setelah hari malam, Yesus duduk makan bersama-sama dengan kedua belas murid itu

[Hari Penanggalan yahudi di mulai pada malam hari s/d senja keesokan harinya, artinya murid-murid yesus datang kepadanya di keesokan harinya tapi masih di hari roti raya roti tak beragi, jadi saat ia merayakan paskah sudah masuk di hari kedua hari raya roti beragi, tanggal 16 nisan]

Hari persiapan Sabat sudah lewat dan Yesus sudah Meninggal
26:34 Yesus berkata kepadanya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya malam ini, sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku 3x."
26:74 Maka mulailah Petrus mengutuk dan bersumpah: "Aku tidak kenal orang itu." Dan pada saat itu berkokoklah ayam.
26:75 Maka teringatlah Petrus akan apa yang dikatakan Yesus kepadanya: "Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku 3x." Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya.

[Kejadian ini masih ada di tanggal 16, malam s/d subuh]

27:1. Ketika hari mulai siang, semua imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi berkumpul dan mengambil keputusan untuk membunuh Yesus.
27:2 Mereka membelenggu Dia, lalu membawa-Nya dan menyerahkan-Nya kepada Pilatus, wali negeri itu.
27:15 Telah menjadi kebiasaan bagi wali negeri untuk membebaskan satu orang hukuman pada tiap-tiap hari raya itu atas pilihan orang banyak.
27:45 Mulai dari jam ke-6 (hora hektos, terjemahan: jam 12) kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam ke-9 (hora ennatos, terjemahan: jam 3).
27:46 Kira-kira jam ke-9 (hora ennatos, terjemahan: jam 3) berserulah Yesus dengan suara nyaring: "Eli, Eli, lama sabakhtani?" Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?
27:50. Yesus berseru pula dengan suara nyaring lalu menyerahkan nyawa-Nya.
27:57. Menjelang malam datanglah seorang kaya, orang Arimatea, yang bernama Yusuf dan yang telah menjadi murid Yesus juga.
27:58 Ia pergi menghadap Pilatus dan meminta mayat Yesus. Pilatus memerintahkan untuk menyerahkannya kepadanya.
27:59 Dan Yusufpun mengambil mayat itu, mengapaninya dengan kain lenan yang putih bersih,
27:60 lalu membaringkannya di dalam kuburnya yang baru, yang digalinya di dalam bukit batu, dan sesudah menggulingkan sebuah batu besar ke pintu kubur itu, pergilah ia.
27:61 Tetapi Maria Magdalena dan Maria yang lain tinggal di situ duduk di depan kubur itu.

[semua peristiwa ini terjadi pada hari kedua hari raya roti beragi yaitu tanggal 16 pagi s/d menjelang malam, yang merupakan akhir dari tanggal 16 nisan]

27:62 Keesokan harinya, yaitu sesudah hari persiapan, datanglah imam-imam kepala dan orang-orang Farisi bersama-sama menghadap Pilatus, dan mereka berkata: "Tuan, kami ingat, bahwa si penyesat itu sewaktu hidup-Nya berkata: Sesudah 3 hari Aku akan bangkit. Karena itu perintahkanlah untuk menjaga kubur itu sampai hari yang ketiga; jikalau tidak, murid-murid-Nya mungkin datang untuk mencuri Dia, lalu mengatakan kepada rakyat: Ia telah bangkit dari antara orang mati, sehingga penyesatan yang terakhir akan lebih buruk akibatnya dari pada yang pertama."

[Kata ‘keesokan harinya, yaitu setelah hari persiapan’ merupakan hari baru yang di mulai pada malam hari, jadi bukan tanggal 16 nisan lagi namun sudah masuk pada tanggal 17 bulan ke-1, ini juga menandakan bahwa tanggal 16 merupakan hari persiapan untuk sabat regular

Jadi kata keesokan harinya merupakan malam hari, sudah masuk hari sabat dan sudah merupakan tanggal 17.

Hari sabat menurut penanggalan modern jatuh pada sabtu malam s/d minggu senja, jadi Yesus meninggal di hari Sabtu sore]

Hari pertama minggu itu setelah Sabat
28:1-2 Setelah hari Sabat lewat, menjelang menyingsingnya fajar pada hari pertama minggu itu, pergilah Maria Magdalena dan Maria yang lain, menengok kubur itu. Maka terjadilah gempa bumi yang hebat sebab seorang malaikat Tuhan turun dari langit dan datang ke batu itu dan menggulingkannya lalu duduk di atasnya

[Kalau mengikuti urutan, maka kata ‘yaitu, setelah hari persiapan’ = hari sabat regular, yaitu pada bulan ke-1, tanggal 17 nisan yang di mulai pada malam hari, Jadi tangal 17, malam sudah masuk hari sabat

Jika mengikuti penanggalan modern, maka hari raya sabat jatuh pada sabtu malam s/d minggu senja, sehingga minggu pagi masih masuk pada hari sabat.

Hari pertama, yaitu tanggal 18 Nisan dimulai minggu malam s/d senin senja, artinya maria menengok kubur adalah di hari SENIN pagi.]

Injil Markus
Hari raya roti tak beragi, Perjamuan Kudus
14:1. Hari raya Paskah dan hari raya Roti Tidak Beragi akan mulai dua hari lagi...
14:12. Pada hari pertama dari hari raya Roti Tidak Beragi, pada waktu orang menyembelih domba Paskah, murid-murid Yesus berkata kepada-Nya: "Ke tempat mana Engkau kehendaki kami pergi untuk mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?"...
14:16 Maka berangkatlah kedua murid itu dan setibanya di kota, didapati mereka semua seperti yang dikatakan Yesus kepada mereka. Lalu mereka mempersiapkan Paskah.
14:17 Setelah hari malam, datanglah Yesus bersama-sama dengan kedua belas murid itu.

[Hari Penanggalan yahudi di mulai pada malam hari s/d senja keesokan harinya, artinya murid-murid yesus datang kepadanya di keesokan harinya tapi masih di hari roti raya roti tak beragi, jadi saat ia merayakan paskah sudah masuk di hari kedua hari raya roti beragi, tanggal 16 nisan]

Hari persiapan Sabat
14:30 Lalu kata Yesus kepadanya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada hari ini, malam ini juga, sebelum ayam berkokok dua kali, engkau telah menyangkal Aku 3x."
14:72 Dan pada saat itu berkokoklah ayam untuk kedua kalinya. Maka teringatlah Petrus, bahwa Yesus telah berkata kepadanya: "Sebelum ayam berkokok dua kali, engkau telah menyangkal Aku 3x." Lalu menangislah ia tersedu-sedu.

[Kejadian ini masih ada di tanggal 16 nisan, malam s/d subuh]

15:1. Pagi-pagi benar imam-imam kepala bersama tua-tua dan ahli-ahli Taurat dan seluruh anggota Sanhedrin/Mahkamah Agama sudah bulat mupakatnya. Mereka membelenggu Yesus lalu membawa-Nya dan menyerahkan-Nya kepada Pilatus.
15:6 Telah menjadi kebiasaan untuk membebaskan satu orang hukuman pada tiap-tiap hari raya itu menurut permintaan orang banyak.

Golgota
15:25 Jam ke-3 (hora tritos, terjemahan: jam 9) ketika Ia disalibkan.
15:33. Pada jam ke-6 (hora hektos, terjemahan: jam 12), kegelapan meliputi seluruh daerah itu dan berlangsung sampai jam ke-9 (hora ennatos, terjemahan: jam 3)
15:34 Pada jam ke-9 (hora ennatos, terjemahan: jam 3), terjemahan: jam 3; berserulah Yesus dengan suara nyaring: "Eloi, Eloi, lama sabakhtani?", yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?

[Note:
Terdapat perbedaan waktu Yesus disalibkan: "hektos hora" (jam ke-6, Yohanes 19:14) VS "hora tritos" (jam ke-3, Markus 15:25).
Argumen yang biasa digunakan menanggapi perbedaan fatal ini adalah bahwa Markus menggunakan waktu Yahudi sementara Yohanes menggunakan waktu Romawi :)

Argument ini lemah karena klaim metaphora domba paskah hanya fit dengan tradisi waktu Yahudi dan juga panjang waktu tiap hari tidak tetap 12 jam saja namun bervariasi sesuai posisi titik balik matahari di winter dan summer, misal: waktu summer untuk jam ke-9 adalah jam 02.31 dan waktu senja terakhir adalah 19.33, Jadi terdapat selisih waktu hingga 5 JAM sebelum mulainya Sabat
]

15:37 Lalu berserulah Yesus dengan suara nyaring dan menyerahkan nyawa-Nya.
15:42. Sementara itu hari mulai malam, dan hari itu adalah hari persiapan, yaitu hari menjelang Sabat.
15:44 Pilatus heran waktu mendengar bahwa Yesus sudah mati. Maka ia memanggil kepala pasukan dan bertanya kepadanya apakah Yesus sudah mati.
15:45 Sesudah didengarnya keterangan kepala pasukan, ia berkenan memberikan mayat itu kepada Yusuf.

[Note:
perlu diperhatikan keheranan Pilatus, bahwa dalam kurun waktu 3 jam-an saja, di antara 3 penjahat yang dihukum, hanya yesus yang wafat sementara 2 lainnya tidak.

Penyaliban penjahat telah banyak dilakukan sebelumnya, tidak terjadi pada kasus ini saja, sehingga waktu rata-rata kematian akan diketahui yaitu BERJAM-JAM hingga beberapa hari, sebagaimana terungkap dalam laporan tentang hukuman penyaliban: "Penderitaan itu berlangsung setidaknya 12 jam, dalam beberapa kasus selama 3 hari. Untuk mempercepat kematian kaki dirusak, dan ini dianggap sebagai tindakan AMPUNAN (Cicero, "Phil." Xiii. 27)"]


15:46 Yusufpun membeli kain lenan, kemudian ia menurunkan mayat Yesus dari salib dan mengapaninya dengan kain lenan itu. Lalu ia membaringkan Dia di dalam kubur yang digali di dalam bukit batu. Kemudian digulingkannya sebuah batu ke pintu kubur itu.
15:47 Maria Magdalena dan Maria ibu Yoses melihat di mana Yesus dibaringkan.

[semua peristiwa ini terjadi pada hari kedua hari raya roti beragi yaitu tanggal 16 pagi s/d menjelang malam, yang merupakan akhir dari tanggal 16 nisan

Dikatakan ‘hari itu adalah hari persiapan, yaitu hari menjelang sabat’ artinya, tanggal 16 nisan adalah hari persiapan dan berakhir pada sore hari, jadi mulai dari malam hari sudah masuk tanggal 17 nisan, yaitu hari sabat

Hari sabat menurut penanggalan modern jatuh pada sabtu malam s/d minggu senja, jadi Yesus meninggal di hari Sabtu sore]

Hari pertama minggu itu setelah Sabat
16:1-2. Setelah lewat hari Sabat, Maria Magdalena dan Maria ibu Yakobus, serta Salome membeli rempah-rempah untuk pergi ke kubur dan meminyaki Yesus. Dan pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu, setelah matahari terbit, pergilah mereka ke kubur.

[Jika mengikuti penanggalan modern, maka hari sabat jatuh pada sabtu malam s/d minggu senja, sehingga minggu pagi masih masuk pada hari sabat, tanggal 17 nisan malam s/d senja esok hari adalah hari sabat.

Tanggal 18 nisan, di mulai dari malam hari, dan juga merupakan hari pertama, jadi jatuh pada minggu malam s/d senin senja, artinya maria menengok kubur adalah di hari SENIN pagi.]

Injil Lukas
Hari raya roti tak beragi, Perjamuan Kudus
22:7. Maka tibalah hari raya Roti Tidak Beragi, yaitu hari di mana orang harus menyembelih domba Paskah. Lalu Yesus menyuruh Petrus dan Yohanes, kata-Nya: "Pergilah, persiapkanlah perjamuan Paskah bagi kita supaya kita makan."
22:14 Ketika tiba saatnya, Yesus duduk makan bersama-sama dengan rasul-rasul-Nya.
22:34 Tetapi Yesus berkata: "Aku berkata kepadamu, Petrus, hari ini ayam tidak akan berkokok, sebelum engkau 3x menyangkal, bahwa engkau mengenal Aku."
22:39. Lalu pergilah Yesus ke luar kota dan sebagaimana biasa Ia menuju Bukit Zaitun. Murid-murid-Nya juga mengikuti Dia.
22:46 Kata-Nya kepada mereka: "Mengapa kamu tidur? Bangunlah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan."
22:60 Tetapi Petrus berkata: "Bukan, aku tidak tahu apa yang engkau katakan." Seketika itu juga, sementara ia berkata, berkokoklah ayam.

[Hari Penanggalan yahudi di mulai pada malam hari s/d senja keesokan harinya, artinya murid-murid yesus datang kepadanya di keesokan harinya tapi masih di hari roti raya roti tak beragi di tanggal 15, jadi saat ia merayakan paskah sudah masuk di hari kedua hari raya roti beragi yaitu, tanggal 16 nisan.

Lukas memang tidak menyatakan perjamuan itu dilakukan siang atau malam hari, namun dari urutan pasal dan juga merujuk pada injil matius dan markus maka dapat diduga terjadi pada tanggal 16 s/d subuh]

Hari persiapan Sabat
22:66 Dan setelah hari siang berkumpullah sidang para tua-tua bangsa Yahudi dan imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu mereka menghadapkan Dia ke Sanhedrin/Mahkamah Agama mereka,
23:44-45 Ketika sudah kira-kira jam ke-6 (hora hektos, terjemahan: jam 12), lalu kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam ke-9 (hora ennatos, terjemahan: jam 3), sebab matahari tidak bersinar……
23:46 Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: "Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku." Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya.
23:50. Adalah seorang yang bernama Yusuf. Ia anggota Majelis Besar, dan seorang yang baik lagi benar.
23:52 Ia pergi menghadap Pilatus dan meminta mayat Yesus.
23:53 Dan sesudah ia menurunkan mayat itu, ia mengapaninya dengan kain lenan, lalu membaringkannya di dalam kubur yang digali di dalam bukit batu, di mana belum pernah dibaringkan mayat.
23:54 Hari itu adalah hari persiapan dan sabat hampir mulai.
23:56 Dan setelah pulang, mereka menyediakan rempah-rempah dan minyak mur.
(23-56b) Dan pada hari Sabat mereka beristirahat menurut hukum Taurat,

[semua peristiwa ini terjadi pada hari kedua hari raya roti beragi yaitu tanggal 16 pagi s/d menjelang malam, yang merupakan akhir dari tanggal 16 nisan

Dikatakan ‘hari itu adalah hari persiapan, dan sabat hampir mulai’ artinya, tanggal 16 nisan adalah hari persiapan dan berakhir pada sore hari, jadi mulai dari malam hari sudah masuk tanggal 17 nisan, yaitu hari sabat

Hari sabat menurut penanggalan modern jatuh pada sabtu malam s/d minggu senja, jadi Yesus meninggal di hari Sabtu sore]

Hari pertama minggu itu setelah Sabat
24:1-2. tetapi pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu mereka pergi ke kubur membawa rempah-rempah yang telah disediakan mereka. Mereka mendapati batu sudah terguling dari kubur itu,

[Jika mengikuti penanggalan modern, maka hari sabat jatuh pada sabtu malam s/d minggu senja, sehingga minggu pagi masih masuk pada hari sabat, tanggal 17 nisan malam s/d senja esok hari adalah hari sabat.

Tanggal 18 nisan, di mulai dari malam hari, dan juga merupakan hari pertama, jadi jatuh pada minggu malam s/d senin senja, artinya maria menengok kubur adalah di hari SENIN pagi.]

Injil Yohanes
Sebelum Paskah, ada hari raya dan kemudian ada perjamuan
12:20. Di antara mereka yang berangkat untuk beribadah pada hari raya itu, terdapat beberapa orang Yunani.
13:1. Sementara itu sebelum hari raya Paskah mulai, Yesus telah tahu, bahwa saat-Nya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa.
13:29 Karena Yudas memegang kas ada yang menyangka, bahwa Yesus menyuruh dia membeli apa-apa yang perlu untuk perayaan itu, atau memberi apa-apa kepada orang miskin.
13:30 Yudas menerima roti itu lalu segera pergi. Pada waktu itu hari sudah malam.
13:38 Jawab Yesus: "Nyawamu akan kauberikan bagi-Ku? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku 3x."
18:27 Maka Petrus menyangkalnya pula dan ketika itu berkokoklah ayam.

[Tidak banyak informasi yang kita dapat kecuali malam itu dilakukan perayaan, namun merujuk pada Matius, Markus dan Lukas, dan roti yang dimakan sebelum yudas pergi, maka itu adalah perayaan hari roti beragi, tidak jelas kapan apakah hari ke 1 atau ke-2, namun perayaan itu dilakukan di antara hari ke 1-2]

Hari persiapan Sabat
18:28. Maka mereka membawa Yesus dari Kayafas ke gedung pengadilan. Ketika itu hari masih pagi. Mereka sendiri tidak masuk ke gedung pengadilan itu, supaya jangan menajiskan diri, sebab mereka hendak makan Paskah.
18:39 Tetapi pada kamu ada kebiasaan, bahwa pada Paskah aku membebaskan seorang bagimu. Maukah kamu, supaya aku membebaskan raja orang Yahudi bagimu?"
19:14 Hari itu ialah hari persiapan Paskah, kira-kira jam ke-6 (Hora hektos). Kata Pilatus kepada orang-orang Yahudi itu: "Inilah rajamu!"
19:15 Maka berteriaklah mereka: "Enyahkan Dia! Enyahkan Dia! Salibkan Dia!"..

[Note:
Terdapat perbedaan waktu Yesus disalibkan: "hektos hora" (jam ke-6, Yohanes 19:14) VS "hora tritos" (jam ke-3, Markus 15:25).
Argumen yang biasa digunakan menanggapi perbedaan fatal ini adalah bahwa Markus menggunakan waktu Yahudi sementara Yohanes menggunakan waktu Romawi :)

Argument ini lemah karena klaim metaphora domba paskah hanya fit dengan tradisi waktu Yahudi dan juga panjang waktu tiap hari tidak tetap 12 jam saja namun bervariasi sesuai posisi titik balik matahari di winter dan summer, misal: waktu summer untuk jam ke-9 adalah jam 02.31 dan waktu senja terakhir adalah 19.33, Jadi terdapat selisih waktu hingga 5 JAM sebelum mulainya Sabat
]



19:30 Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: "Sudah selesai." Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.
19:31. Karena hari itu hari persiapan dan supaya pada hari Sabat mayat-mayat itu tidak tinggal tergantung pada kayu salib maka datanglah orang-orang Yahudi kepada Pilatus dan meminta kepadanya supaya kaki orang-orang itu dipatahkan dan mayat-mayatnya diturunkan.

[Note:
Informasi di atas ini SUDAH MENJELASKAN DENGAN SANGAT bahwa ACARA PEMOTONGAN DOMBA PASKAH BELUMLAH DIMULAI dan Yesus sudah duluan wafat

Mengapa hal ini diperlukan? Karena Ulangan 21.22-23 menyatakan:

Apabila seseorang berbuat dosa yang sepadan dengan hukuman mati, lalu ia dihukum mati, kemudian kaugantung dia pada kayu, maka janganlah mayatnya dibiarkan semalam-malaman pada tiang itu, tetapi haruslah engkau menguburkan dia pada hari itu juga, sebab seorang yang digantung terkutuk oleh Allah; janganlah engkau menajiskan tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu menjadi milik pusakamu
]

19:38. Sesudah itu Yusuf dari Arimatea--ia murid Yesus, tetapi sembunyi-sembunyi karena takut kepada orang-orang Yahudi--meminta kepada Pilatus, supaya ia diperbolehkan menurunkan mayat Yesus. Dan Pilatus meluluskan permintaannya itu. Lalu datanglah ia dan menurunkan mayat itu.
19:41 Dekat tempat di mana Yesus disalibkan ada suatu taman dan dalam taman itu ada suatu kubur baru yang di dalamnya belum pernah dimakamkan seseorang.
19:42 Karena hari itu hari persiapan orang Yahudi, sedang kubur itu tidak jauh letaknya, maka mereka meletakkan mayat Yesus ke situ.

[Hari perayaan roti beragi di hari ke-1/ke 2 belum berakhir s/d malam menjelang, jadi pagi hari s/d menjelang malam masih merupakan hari raya dan juga hari persiapan paskah sedangkan sabat mulai di malam harinya

Menurut penanggalam modern sabtu adalah sabat, yang berlangsung sabtu malam s/d minggu senja, jadi Yesus meninggal di hari sabtu sore.]

Hari pertama minggu itu setelah Sabat
20:1. Pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu dan ia melihat bahwa batu telah diambil dari kubur.

[Jika mengikuti penanggalan modern, maka hari sabat jatuh pada sabtu malam s/d minggu senja, sehingga minggu pagi masih masuk pada hari sabat, tanggal 17 nisan malam s/d senja esok hari adalah hari sabat.

Tanggal 18 nisan, di mulai dari malam hari, dan juga merupakan hari pertama, jadi jatuh pada minggu malam s/d senin senja, artinya maria menengok kubur adalah di hari SENIN pagi.]

[Artikel kematian yesus di antara dua sabat yang berasal dari sumber kristen dapat anda lihat di sini]


Uraian Kematian di antara Dua sabat

Dari kronologis di atas, dapat diringkas sebagai berikut, Bulan ke-1 (Imamat 23.4-8):

  • Tanggal 14, Paskah BULAN ke-1
  • Tanggal 15, hari ke-1 hari raya roti tidak beragi [Imamat 23, Matius 26:2, 26:17-20; Markus 14:1, 14:12; Lukas 22:7-8, 22:39; Yohanes 12:20]
  • Tanggal 16, hari ke-2 hari raya roti tidak beragi dan juga hari persiapan sabat [Markus 15:33,42; Yohanes 18:28, 19:14, 31, 42; Lukas 23:14, 23:54; 56-56b; Matius 27 45, 51, 27:62-64]
  • Tanggal 17, hari ke-3 hari raya roti tidak beragi dan juga hari sabat regular [Lukas 23:56;56b]
  • Tanggal 18, hari ke-4 hari raya roti tidak beragi dan juga hari pertama setelah sabat regular [Matius 28:1-2; Markus 16:1-2; Lukas 24:1-2; Yohanes 20:1]
Sabat jatuh pada hari Sabtu, yaitu dari sabtu malam s/d minggu senja, sehingga:

  • Tanggal 18, Minggu malam - Senin senja, Hari pertama setelah Sabat, Pagi-pagi benar ketika hari masih gelap Magdalena pergi ke kubur dan Yesus sudah tidak ada, jadi saat itu SENIN PAGI.
  • Tanggal 17, Sabtu malam - Minggu senja, Hari Sabat
  • Tanggal 16, Jum’at malam - Sabtu senja, Yesus wafat jam ke-9, jadi saat itu SABTU SORE, setelah seluruh mayat hukuman diturunkan, baru dilakukan pemotongan domba paskah.
  • Tanggal 15, Kamis malam – jum’at senja, Hari ke-1 Hari raya roti tak Beragi,
  • Tanggal 14, Rabu malam – Kamis senja, Hari Paskah Bulan ke 1


Kapan Yesus Wafat?
Indikator alam seputar wafatnya:

  • Gerhana di Bulan pertama [Matius 27:45, Markus 15:33, Lukas 23:34-35] yang terjadi selama 3 (TIGA) jam dan
  • Gempa bumi yang terjadi dua kali yaitu sebelum (mat 27:51) dan sesudah (Mat 28:2) Paskah!
Kejadian GERHANA MATAHARI selama 3 JAM dan GEMPA BUMI, terlalu aneh untuk dapat diabaikan para saksi namun anehnya hal ini hanya tercatat di Injil Matius dan TIDAK di Injil lainnya.

Berdasarkan situs ini, yang memuat rekaman data kejadian gempa antara tahun 0-100, TIDAK SATUPUN menyebutkan ada gempa di Yerusalem bahkan kemungkinan gempa terjadi sampai di laut mati-pun DIRAGUKAN

Berdasarkan Paul's Early Period: Chronology, Mission Strategy, Theology; Oleh Rainer Riesner; Diterbitkan oleh Wm. B. Eerdmans Publishing, 1998, hal. 50 dinyatakan bahwa:

  • Untuk tanggal 14 Nisan adalah Jum’at maka menurut penanggalan Masehi jatuh pada: 11 April 27, 07 April 30 dan 3 april 33
  • Untuk tanggal 15 Nisan adalah hari jum’at maka jatuh di penanggalan masehi adalah tanggal: 11 April 27 dan 23 April 34
  • Khusus tanggal 11 April 27, tanggal 14 Nisan jatuh antara hari kamis dan Jum’at, sehingga belum tepat dikatakan Jum’at.
Informasi yang seragam yang di punyai ke 4 Injil (Matius, Markus, Lukas dan Yohanes adalah Yesus wafat di era Pontius Pilate sebagai wali daerah Yudea, yang memegang jabatan dari tahun 26 – 36 M.

Di Injil Lukas 3:1-2 menyatakan bahwa masa pelayanan Yohanes pembaptis terjadi di tahun ke 15 kaisar Tiberius. Kaisar ini memerintah setelah kematian kaisar Agustus pada tanggal 29 Agustus 14 M, sehingga pada tahun ke 15 kemudian adalah 29 M. Injil Yohanes menyatakan bahwa Yesus setidaknya mengikuti 3 Paskah, sehingga Yesus masih ada hingga tahun 32 M . Catatan dari Tertullian di ‘Adversus Marcionem’, menyatakan bahwa periode penyalipan ada di tahun ke-20 pada masa jabatan Tiberius, sehingga wafatnya yesus terjadi di tahun 33-34 M

Atas hal ini, sekarang kita bisa menggugurkan 2 pilihan tahun yaitu tahun 27 dan tahun 30

Jam berapa Yesus wafat?

Pada tahun 34, Vernal Equinox (posisi awal musim Semi) terjadi di 23 Maret 04. Dengan memperhatikan nilai waktu yang sama, yaitu 00:01 [LMT: Local Mean Time], itu juga terjadi di 21 Maret 1953. Kemudian dengan perbandingan jumlah tanggal yang telah berlalu hingga 15 Nisan/16 Nisan (yaitu minus 2 hari) kita dapatkan tanggal 21 April 1953. Panjang hari di Jerusalem pada tanggal 21 April 1953 adalah 13 Jam 07 Menit dan 33 Detik, Matahari terbit jam 6.04 dan terakhir terbenam jam 19.12. Dari perhitungan 1/12-nya kita ketahui penambahan waktu perjamnya adalah: 65 menit dan 37 detik.

Sehingga jam ke-9-nya:
Jam ke-1 (6.04) + (8 x 65 menit 37 detik) = Jam 6.04 + 8 jam 45 Menit = Jam 14.49

Ini juga berarti masih tersisa 4 Jam 23 Menit sebelum Sabat dimulai.

Setelah semua mayat orang hukuman diturunkan agar tidak menajiskan tanah (Yohanes 19:31; Ulangan 21:22-23), maka setelah itu barulah dilakukan pemotongan hewan paskah. Ini artinya Yesus bukanlah domba paskah.

Yesus wafat pada hari Sabtu, 16 Nisan atau 24 April 34 M, pada jam 14:49 dengan ucapan/pesan terakhirnya pada dunia adalah:

  • "Eli, Eli, lama sabakhtani?" (Allah, Allah, mengapa Engkau meninggalkan Aku?) (Matius 27:46, Markus 15:34)
  • "Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.".. (Lukas 23:46)
  • "Aku haus!"..Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: "Sudah selesai.".. (Yohanes 19:28-30)
O Ya,
Perlu diperhatikan keheranan Pilatus, bahwa hanya dalam kurun waktu 3 jam-an saja, di antara 3 penjahat yang dihukum, hanya yesus yang wafat sementara 2 lainnya tidak. [Markus 15:44]. Penyaliban penjahat telah banyak dilakukan sebelumnya, tidak terjadi pada kasus ini saja, sehingga waktu rata-rata kematian akan diketahui yaitu BERJAM-JAM hingga beberapa hari, sebagaimana terungkap dalam laporan tentang hukuman penyaliban: "Penderitaan itu berlangsung setidaknya 12 jam, dalam beberapa kasus selama 3 hari. Untuk mempercepat kematian kaki dirusak, dan ini dianggap sebagai tindakan AMPUNAN (Cicero, "Phil." Xiii. 27)"

Dan kemudian 'Bangkai' Yesus dibawa oleh Yusuf, Anggota majelis besar, orang kaya dari arimatea, di 'kafani' dan dikubur di dalam taman/Bukit batu yang ada suatu kubur baru yang di dalamnya belum pernah dimakamkan seseorang!

Teknis terkubur hidup-hidup dapat kila lihat pelaksanaannya lewat karya David Blaine, Criss angel dan Harry houdini. David Blaine, mendemostrasikan bagaimana 7 hari di kubur dalam tangki air dan masih hidup [klik di sini]. Namun demikian, Di kubur hidup-hidup merupakan 1 dari 10 trik ilusi yang paling susah! Terdapat satu artikel, yang mengungkapkan kejadian dikubur-hidup-hidup...ada yang selamat namun ada juga tidak...[klik di sini]

Berapa jumlah total hari dari mulai Yesus wafat s/d yesus tidak ada di kuburnya?
Alkitab mengenal perhitungan 1 hari = 12 jam dan tidak dilakukan pembulatan perhitungan hari menjadi 1 (satu Hari)

Yohanes 11:9 Jawab Yesus: "Bukankah ada dua belas jam dalam satu hari?.."

Kitab wahyu 11:9, ‘...tiga setengah hari lamanyadan 11:11, ‘Tiga setengah hari kemudian...

Kalimat ‘1/2 (setengah) hari’ yang muncul pada kitab wahyu diatas memberikan petunjuk pada kita bahwa tidak ada pembulatan menjadi 1 (satu) hari, namun sesuai dengan yang terpakai/dipakai, jadi perhitungan hari/jamnya adalah sebagai berikut

  • Tanggal 16, jam 14.49 sore s/d tanggal 17 jam 14.49 sore = 24 jam
  • Tanggal 17, jam 14.49 sore s/d tanggal 18, jam 02.49 pagi = 12 jam
  • Tanggal 18, jam 02.49 pagi s/d pagi-pagi (asumsi: jam 05.49 = 3 jam
Jadi total waktu kematian Yesus adalah 39 jam

Sementara tanda ke-mesias-an telah disampaikannya sendiri di Matius 12:38-40; Lukas 11:29-30; Markus 8:31, 9:31 yang merujuk Yunus 1:17, yaitu:

    Pada waktu itu berkatalah beberapa ahli Taurat dan orang Farisi kepada Yesus: "Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari pada-Mu...Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam
..dan fakta lapangan yang terjadi bahkan tidak sampai 2 hari penuh!


Apa alasan menghukum Yesus?
Injil menyampaikan suatu plot kejadian yang memerlukan gabungan keterlibatan: Pontius Pilate (Gubernur Yudea) dan Herodes (Gubernur Gelilea), baik dalam nama jabatan sebagai prefect (pejabat militer: Inskripsi tahun 1961) atau procurator (pejabat keuangan) kekaisaran romawi bersama para anggota Sanhedrin (mahkamah agama) Yahudi dalam aksi melakukan hukuman mati bagi Yesus. [lihat juga: The responsibility for the death of Jesus]

Pengarang injil menjadikan plot kejadiannya justru di hari yang aneh yaitu PASKAH, seolah-olah seluruh anggota mahkamah Yahudi, TIDAK TAU kegunaan hari paskah bagi mereka dan TIDAK ADA hari lain untuk menjatuhkan hukuman :)

Baiklah,
mari kita lihat pelanggaran HUKUM TAURAT dan HUKUM KERAJAAN apa saja yang dilakukan oleh YESUS.

Pelanggaran HUKUM TAURAT, diantaranya:
  • Melakukan tindak Pencurian pada hari Paskah dan Mengaku dirinya anak tuhan dan juga Tuhan:

      Pada suatu kali, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum, dan sementara berjalan murid-murid-Nya memetik bulir gandum. Maka kata orang-orang Farisi kepada-Nya: "Lihat! Mengapa mereka berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?". Jawab-Nya kepada mereka: "Belum pernahkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya kekurangan dan kelaparan, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah waktu Abyatar menjabat sebagai Imam Besar lalu makan roti sajian itu--yang tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam--dan memberinya juga kepada pengikut-pengikutnya. Lalu kata Yesus kepada mereka: "Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat, jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat" [Markus 2:23-28, Matius 12:1-9]

    Apakah Daud dalam kisah itu mencuri Roti?

      Sampailah Daud ke Nob kepada Ahimelekh..Jawab Daud kepada imam Ahimelekh: "Raja menugaskan sesuatu kepadaku..Maka sekarang, apa yang ada padamu? Berikanlah kepadaku lima roti atau apapun yang ada" Lalu jawab imam itu kepada Daud: "Tidak ada roti biasa padaku, hanya roti kudus yang ada; asal saja orang-orangmu itu menjaga diri terhadap perempuan" Daud menjawab imam itu, katanya kepadanya: "Memang, kami tidak diperbolehkan bergaul dengan perempuan, seperti sediakala apabila aku maju berperang. Tubuh orang-orangku itu tahir, sekalipun pada perjalanan biasa, apalagi pada hari ini, masing-masing mereka tahir tubuhnya.". Lalu imam itu memberikan kepadanya roti kudus itu, karena tidak ada roti di sana kecuali roti sajian; roti itu biasa diangkat orang dari hadapan TUHAN, supaya pada hari roti itu diambil, ditaruh lagi roti baru. [1 Sam 21:1-5]

    Mari kita lihat apa saja yang keliru dari kisah Yesus di ladang Gandum ini?

    • Imam besar saat itu BUKANLAH Abyatar, melainkan Ahimalek bin Ahtub [1 Sam 22:9], Ahimalek dari Nob punya anak bernama Abyatar [22.20] yang kelak ikut dengan Daud.
    • Dalam kasus Daud, Ia menemui Imam Ahimalek, memohon diberikan makanan apa saja yang dapat dimakan. Karena di kuil tidak ada makanan lain, kecuali roti sajian, Imam Ahimalek kemudian memutuskan memberikan roti sajian kepada Daud, hanya setelah syarat tertentu dipenuhi DAUD. Jadi Daud memang tidak mencuri dan juga tidak melanggar.

      Namun dalam kasus Yesus, malah terjadi 2 pelanggaran, yaitu:

      • TIDAK ADA yang MEMBERIKAN Gandum itu pada Yesus dan pengikutnya. Jadi mereka ini tertangkap tangan SEDANG MENCURI bulir Gandum
      • Melanggar sabat dan hukum Taurat: "Sebelum membawa persembahan itu kepada TUHAN, kamu tak boleh makan sedikit pun dari gandum baru itu, baik mentah, dipanggang atau dibakar menjadi roti, Peraturan itu harus ditaati oleh semua keturunanmu selama-lamanya" [Imanat 23:14].

    • Setelah kedapatan mencuri bulir gandum dan melanggar taurat, Yesus berdalih dengan mengklaim diri sebagai anak tuhan.

      Pelecehan terhadap Tuhan ini,
      terekam juga dalam banyak cara, misalnya di suatu ayat, Ia mengajarkan bahwa tuhan TIDAKLAH satu: "..baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus" [Matius 28:19]" atau di ayat lainnya dengan mengklaim dirinya sama degan Tuhan: "Aku dan Bapa adalah sama/satu (hen)" [Yohanes 10:30]

      Saat dituduh melecehkan tuhan dengan menyatakan dirinya sama dengan tuhan, Yesus berdalih karena taurat mengatakan, "Aku telah berfirman: Kamu (eimy) adalah allah (theos, single)?" [Yoh 10:34], Kalimat yang diklaim Yesus ini, merupakan kutipan dari kitab Mazmur:

        Para Allah (Elohim) berdiri di persidangan Allah (El), di tengah-tengah (qereb) para allah (Elohim) menghakimi: "Berapa lama lagi kamu menghakimi dengan lalim dan memihak kepada orang fasik? Berilah keadilan kepada orang yang lemah dan kepada anak yatim, belalah hak orang sengsara dan orang yang kekurangan! Luputkanlah orang yang lemah dan yang miskin, lepaskanlah mereka dari tangan orang fasik!" Mereka tidak tahu dan tidak mengerti apa-apa, dalam kegelapan mereka berjalan; goyanglah segala dasar bumi. Kataku (aniy amar): "Kamu (attah) para allah (elohim) berada atas segalanya (ben elyown kol), Namun seperti manusia kamu akan mati dan seperti salah seorang pembesar kamu akan tewas." bangkitlah (quwm) para Allah (Elohim), hakimilah bumi, sebab milikmu segala (kol) bangsa (gowy: biasannya non Israel). [Masmur 82.1-8]

      Tampak jelas klaim Yesus salah alamat, karena Para Allah yang dimaksudkan dalam mazmur ini, TIDAK merujuk pada jenis manusia.

      Statement bahwa Allah tidak satu, sama dengan dirinya, MELANGGAR pengakuan Iman (Shema, arti literal: "dengarlah") ajaran Yahudi: "Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu SATU!" (Ulangan 6:4), Ini kemudian ditulis di atas kulit lembu (perkamen) dan disebut Mezuzah, ditempelkan di pintu rumah dan juga diletakan dalam kotak kulit berbentuk kubus cat hitam dengan ikat kulit hitam (Tefillin). Pengakuan iman ini diajarkan pertama kalinya ketika mereka masih kecil, diucapkan setiap hari, sampai menjelang wafat

    Pada kasus ini,
    Yesus telah melanggar 3 dari 10 Perintah Y@hova, yaitu larangan ke-1 [Pendakwah (Nabi, saudara laki-laki, anak ibu, anak sendiri: Pria/wanita, isteri atau sahabat karibmu) yang mengajak MURTAD dan/Atau menyembah Allah lain (Ulangan 13.5-10); larangan ke-3 [menghujat/mengutuki atau menyebut nama tuhan dengan kesia-siaan/sembarangan (Imamat 24.15-16) dan larangan ke-8, yaitu mencuri kekayaan fisik (Imamat 6.2,5)

  • Melanggar ketentuan berpuasa saat Sabat:
    Yesus makan di rumah Matius..[Matius 9.10]..Kemudian datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata: "Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?" [Matius 9.14].

    Hukum Taurat mana yang dilanggar Yesus?

    Pada hari ke-10 bulan ke-7 adalah upacara tahunan untuk pengampunan dosa bangsa Israel. Kegiatan hari itu: Tidak bekerja, berpuasa, mengadakan pertemuan untuk beribadat dan mempersembahkan kurban makanan kepada TUHAN. Barangsiapa makan sesuatu pada hari itu, tidak dianggap lagi anggota umat Allah [Imamat 23.26:32]

      "Apabila kamu dengan tidak sengaja melalaikan salah satu dari segala perintah ini, yang telah difirmankan TUHAN kepada Musa, yakni dari segala yang diperintahkan TUHAN kepadamu dengan perantaraan Musa, mulai dari hari TUHAN memberikan perintah-perintah-Nya dan seterusnya turun-temurun..maka haruslah ia mempersembahkan kambing betina berumur setahun sebagai korban penghapus dosa dan imam haruslah mengadakan pendamaian di hadapan TUHAN bagi orang yang dengan tidak sengaja berbuat dosa itu, sehingga orang itu beroleh pengampunan..Baik bagi orang Israel asli maupun bagi orang asing yang tinggal di tengah-tengah kamu, satu hukum saja berlaku bagi mereka berkenaan dengan orang yang berbuat dosa dengan tidak sengaja. TETAPI orang yang berbuat sesuatu dengan sengaja, baik orang Israel asli, baik orang asing, orang itu menjadi penista TUHAN, ia harus dilenyapkan dari tengah-tengah bangsanya, sebab ia telah memandang hina terhadap firman TUHAN dan merombak perintah-Nya; pastilah orang itu dilenyapkan, kesalahannya akan tertimpa atasnya."[Bilangan 15]

  • Melanggar batas perjalanan Sabat (Keluaran 16.29, bilangan 35.5) sejauh 2000 hasta (Yosua 3:4-5 : 2000 Hasta = 2000 x 45.72 cm = 0.9144 km), yaitu pada tanggal 15 Nisan, setelah makan malam Paskah, pergi ke luar kota, ke seberang sungai Kidron menuju bukit Zaitun (Markus 14:17-26; Matius 26:17-30; Lukas 22:7-39; Yohanes 18.1).

    Jarak kota - Bukit Zaitun: 3.5 km - 4 Km (Getsemani di kaki bukit Zaitun dan Bethany di Lereng bukit Zaitun). Pelanggaran mengadakan perjalanan melampau batas sabat dapat di hukum mati (Bilangan 15.30-36)
Pelanggaran HUKUM KERAJAAN, diantaranya:
  • Melakukan pemberontakan:
    menyuruh menimbun persenjataan dan membiarkan terjadinya tindak kekerasan terhadap aparat kerajaan.

    Sebelum ke luar kota menuju bukit Zaitun, Yesus perintahkan pengikutnya untuk membeli senjata: "sekarang ini, siapa yang mempunyai pundi-pundi, hendaklah ia membawanya, demikian juga yang mempunyai bekal; dan siapa yang tidak mempunyainya hendaklah ia menjual jubahnya dan membeli pedang".[Luk 22:36-38].

    Saat di jemput di Getsemani:
    Simon Petrus, yang membawa pedang, menghunus pedang itu, menetakkannya kepada hamba Imam Besar dan memutuskan telinga kanannya. Nama hamba itu Malkhus" [Yohanes 18:10-11. Juga lihat di Matius 26:51-52, Lukas 22: 52]

    Dalih membeli pedang:
    "Sebab Aku berkata kepada kamu, bahwa nas Kitab Suci ini harus digenapi pada-Ku: Ia akan terhitung di antara pemberontak-pemberontak" [Lukas 22:37]

    Fakta:
    Yesus menyuruh jemaatnya membeli SENJATA, tertangkap tangan dengan senjata dan menggunakan senjata serta mengakui sendiri agar dianggap sebagai pemberontak.

  • Melarang membayar pajak, menghalangi aparat pajak bekerja:

      "Telah kedapatan oleh kami, bahwa orang ini menyesatkan bangsa kami, dan melarang membayar pajak kepada Kaisar, dan tentang diri-Nya Ia mengatakan, bahwa Ia adalah Kristus, yaitu Raja." [Lukas 23.2]

    Sebelum Yesus lahir,
    Herodes yang agung (Ayah dari Herodes Antipas) berhasil melakukan hal-hal besar [Excavating Jesus, J D Crossan & J L Reed, SPCK, 2001], kerajaannya aman dari bandit dan invasi, pekerjaan umum terlaksana: Jalan dan pelabuhan laut dibangun memfasilitasi peningkatan besar dalam perdagangan dan produksi pertanian.

    Keberhasilan pembangunan ini adalah atas pajak yang langsung diterima Herodes.

    Setelah kematian Herodes,
    perekonomian mengalami kemunduran,Yudea dan Samaria di bawah kekuasaan Romawi dan hasil pajak sekarang langsung menuju Roma tidak lagi via penguasa Herodian lokal. Pajak yang umum dipungut, diantaranya: (1) Pajak tanah, (2) Pajak kepala: dikenakan pada laki-laki oleh Kirenius berdasarkan daftar wajib pajak, (3) Pajak bea cukai atas barang melewati gerbang kota dan di pelabuhan (4) Pajak pembangunan KUIL dan bisnis lain yang berhubungan dengan kuil

    Agama Yahudi sangat jelas mendefinisikan bahwa TIDAK ADA PAJAK untuk PENJAJAH KAFIR. Para fanatik agama yang secara konstan mengacaukan negara ini dapat dihancurkan.

      [Gamaliel, seorang Farisi di Sanhedrin/Mahkamah Agama]: Sebab dahulu telah muncul si Teudas, yang mengaku dirinya seorang istimewa dan ia mempunyai kira-kira empat ratus orang pengikut; tetapi ia dibunuh dan cerai-berailah seluruh pengikutnya dan lenyap.Sesudah dia, pada waktu sensus penduduk, muncullah si Yudas, seorang Galilea. Ia menyeret banyak orang dalam pemberontakannya, tetapi ia juga tewas dan cerai-berailah seluruh pengikutnya.[KPR 5.29,36-37]

      Note:
      Ini bukan sensus penduduk (juga di Lukas 2.1-2) namun pendaftaran wajib pajak yang digalakakn pada jaman Gubernur Syiria dan Judea, Quirinius (6 Masehi). Ini memicu pemberontakan, Judas dari Galilea. Kejadian atas keputusan pajak berikutnya kelak terjadi lagi di Galilea tahun 44 dan puncak terhebatnya adalah tahun 66-73 yang berakhir dengan lenyapnya bait suci dari Jerusalem dan hancurnya bangsa Yahudi di Yerusalem

    Para telonai (petugas pajak) dikaryakan, mereka ini merupakan kontraktor sipil yang ditenderkan untuk mengumpulkan pajak di bawah pengawasan gubernur. Para petugas ini datang langsung menilai barang kena pajak dan sistem ini rentan penyalahgunaan sehingga tidak mengherankan para pemungut pajak dianggap sekelas kafir dan pendosa.

      "Apabila saudaramu berbuat dosa..jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut pajak. [Matius 18.15-18]

    Yesus jelas tidak pro Romawi dan punya cara halus untuk menghambat aliran uang pajak sampai ke tangan pemerintahan kafir Romawi, di antaranya:

      "SELURUH (Pas) pemungut pajak (Telone)..biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia"[Lukas 15:1]

    Karena seluruh pemungut pajak tidak ada yang bertugas maka pendapatan pajak kerajaan menjadi berkurang.

    Setelah Romawi menduduki Israel,
    Israel tidak lagi berkewenangan untuk mencetak mata uang sendiri dan berdampak pada pelaksanaan ibadah keagamaan, misalnya pada pembayaran pajak tahunan sebesar 1/2 Shekel (2 dinar) tahunan bagi mereka yang berumur 20 tahun ke atas [Keluaran 30:11-16, 38:26], pajak-pajak lainnya yang menggunakan koin yang diserahkan/ dibawa ke tempat ibadah maupun koin halal untuk membeli bahan-bahan keperluan beribadah, misalnya, binatang sebagai kurban sesembahan.

    Mengapa?

    Koin Romawi dan koin lainnya dianggap melecehkan hukum ke-1 dan ke-2 dari 10 perintah Y@hova, karena misalnya di koin tersebut terdapat gambar raja dan juga tulisan: "raja y anak tuhan x". Untuk mengatasi kendala ini, maka sebagai solusinya, Sanhedrin/mahkamah agama, bersepakat untuk menggunakan koin keluaran kota Tirus (gambar di bawah kanan). Sehingga ketika hendak beribadah, mereka dapat menukarkan koin tidak halal tersebut dengan koin halal keluaran kota tirus.

    Keadaan ini menjadi peluang bagi beberapa orang berupa menjamurnya usaha penukaran uang di sekitar tempat Ibadah [dan juga penyedia bahan-bahan ibadah lain di sekitar tempat ibadah, setelah mereka menukarkan koin tersebut] dan jenis usaha baru ini juga menjadi lahan barang kena pajak bagi pemerintahan Romawi. Hal ini men-tradisi selama bertahun-tahun hingga kemudian Yesus melakukan gebrakan untuk menghentikan pemanfaatan ibadah untuk kepentingan bisnis

      Ia masuk ke Bait Allah dan mengusir semua orang yang berjual beli di halaman Bait Allah. Ia membalikkan meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati.. [Matius 21:12-14] dan Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar dihamburkan-Nya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkan-Nya. Kepada pedagang-pedagang merpati Ia berkata: "Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan." Maka teringatlah murid-murid-Nya, bahwa ada tertulis: "Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku." Orang-orang Yahudi menantang Yesus, katanya: "Tanda apakah dapat Engkau tunjukkan kepada kami, bahwa Engkau berhak bertindak demikian?" Jawab Yesus kepada mereka: "Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali." Lalu kata orang Yahudi kepada-Nya: "46 tahun orang mendirikan Bait Allah ini dan Engkau dapat membangunnya dalam tiga hari?" Tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri. [Yohanes 2.15-21]

    Yesus-pun memberikan solusinya, yaitu:

      "Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat..Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. [Matius 6:5-6]

      Paulus:
      Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia, dan juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang. [KPR 17:25]

    Solusi Yesus dan Paulus yang mengajak mereka berhenti mengunjungi bait Allah benar-benar buruk bagi para imam, penganut setia dan juga para pemerintahan romawi, karena:

    • Pendapatan para imam menjadi menurun
    • Perekonomian (misal: bisnis penukaran uang, penjual bahan-bahan ibadah dan juga perternakan, pertanian, buruh angkut, dan transportasi) menjadi berputar semakin lambat: melemahnya permintaan, maka supply-pun melemah
    • Karena demand dan supply terganggu dan bahkan melemah, maka pendapatan kena pajak yang diterima pemerintah romawi dari tanah, pemanfaatan tanah, pajak perkepala, bea cukai barang masuk-keluar, pajak bisnis tukar menukar uang dan ritual menjadi semakin berkurang
    • Orang yang menggadaikan tanahnya menjadi semakin tidak mampu membayar pajak, mereka menjadi budak, pekerjaan berkurang, kelaparan meningkat, mereka menjadi beban kerajaan dan membuat keadaan menjadi semakin rawan!

    Singkat kata: Dengan tidak ada perdagangan -> tidak ada pajak, Dengan tidak ada pajak -> tidak ada perdagangan!

    Jika apa yang dilakukan Yesus dan Paulus ini benar dan direstui Y@hova, maka kemana Y@hova pada tahun 70 Masehi? ketika jutaan umat pemuja Y@hova tewas dan ribuan orang menjadi budak, bait Allah lenyap SELAMA-LAMANYA dan para umat Y@hova terpencar keluar dari Yerusalem. Ini semua justru terjadi karena protes pajak!

    Yesus dan para nabinya bahkan lupa bahwa mereka bisa mengajar dengan tenang, memprofokasi orang agar tidak ke kuil, dapat makan dengan tenang,dapat menikmati perjalanan mengajar dengan tenang adalah berkat PAJAK yang dikelola oleh pemerintahan KAFIR Romawi

    Apakah Yesus membayar pajak dan menganjurkan membayar pajak?

    Mari kita lihat Markus 12:13-17 di bawah ini:

      Beberapa orang Farisi dan Herodian (bawahan gubernur Herodes) datang kepada Yesus..dan berkata kepada-Nya: "..Apakah boleh membayar pajak kepada Kaisar atau tidak? Haruskah kami bayar atau tidak?".
      Yesus mengetahui kemunafikan mereka dan berkata: "Mengapa kamu mencobai Aku?.."

        Note:
        Ini pertanyaan dilematis, jika dijawab "tidak", maka dirinya akan ditahan atas dakwaan kejahatan melawan kaisar, namun jika dijawab "bayarlah", maka mereka ini akan menghakiminya dengan hukum ke-1 dari 10 Perintah Y@hova.

      ..Bawalah kemari suatu dinar supaya Kulihat!" Lalu mereka bawa. Maka Ia bertanya kepada mereka: "Gambar dan tulisan siapakah ini?" Jawab mereka: "Gambar dan tulisan Kaisar."

        Note:
        Di koin tersebut (gambar bawah kiri) tercantum kalimat: kaisar Tiberius adalah anak tuhan Agustus!

      Lalu Yesus berkata: "Berikan kepada Kaisar apa yang menjadi milik Kaisar dan kepada Allah apa yang menjadi milik Allah!".. [markus 12:13-17]

        Note:
        Perhatikan! Yesus tidak menjawab langsung dengan: "boleh/tidak" atau "bayar/jangan" pada pertanyaan: "Boleh atau tidak membayar pajak pada Kaisar, orang yang tercantum di koin ini dan yang mengaku ANAK TUHAN, padahal HUKUM ke-1 menyatakan tidak boleh mempunyai TUHAN LAIN? dan HUKUM ke-2 menyatakan tidak boleh melayani Allah lain?".

        Yesus hanya mengatakan mereka MUNAFIK, bahwa mereka sudah tahu, "Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya." [Mazmur 24.1] atau "bumi adalah milik TUHAN." [Keluaran 9:29]

    Apakah Yesus tidak munafik?

    Mari kita lihat Matius 17:24-27 dibawah ini:

      ..datanglah pemungut PAJAK BAIT ALLAH kepada Petrus dan berkata: "Apakah gurumu tidak membayar bea 2 Dirham itu?" Jawabnya: "Memang membayar"

        note:
        Pertanyaan ini mengindikasikan bahwa Yesus tidak tercatat pernah membayar pajak dan jawaban Petrus "Memang membayar" kurang tepat, seharusnya adalah "BELUM MEMBAYAR" yang akan terbukti kemunculannya di ayat-ayat selanjutnya

      Dan ketika Petrus masuk rumah, Yesus mendahuluinya dengan pertanyaan: "Apakah pendapatmu, Simon? Dari siapakah raja-raja dunia ini memungut bea dan pajak? Dari rakyatnya atau dari orang asing?". Petrus: "Dari orang asing!" Yesus: "Jadi bebaslah rakyatnya.

        note:
        Perhatikan! Yang ia ajarkan: Yang seharusnya bayar pajak adalah ORANG ASING (Orang asing adalah penjajah atau orang yang negerinya ditaklukan, ini semacam JIZYA!). Pemilik tidak seharusnya membayar pajak

        Tentang taat Pajak dan pemerintahan, Paulus punya pandangan berbeda dengan Yesus dan Petrus:

          Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah..sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah. Sebab itu barangsiapa melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah dan siapa yang melakukannya, akan mendatangkan hukuman atas dirinya. Sebab jika seorang berbuat baik, ia tidak usah takut kepada pemerintah, hanya jika ia berbuat jahat. Maukah kamu hidup tanpa takut terhadap pemerintah? Perbuatlah apa yang baik dan kamu akan beroleh pujian dari padanya. Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu. Tetapi jika engkau berbuat jahat, takutlah akan dia, karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang. Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat .. Itulah juga sebabnya maka kamu membayar pajak. Karena mereka yang mengurus hal itu adalah pelayan-pelayan Allah. Bayarlah kepada semua orang apa yang harus kamu bayar: pajak kepada orang yang berhak menerima pajak, cukai kepada orang yang berhak menerima cukai; rasa takut kepada orang yang berhak menerima rasa takut dan hormat kepada orang yang berhak menerima hormat. [Roma 13:1-7]

        Paulus memandang Petrus sebagai orang Munafik (Galatia 2.13-15) mereka berdua memang kurang akur

      Tetapi supaya jangan kita menjadi batu sandungan..pergilah memancing ke danau. Dan ikan pertama yang kaupancing, tangkaplah dan bukalah mulutnya, maka engkau akan menemukan mata uang empat dirham di dalamnya. Ambillah itu dan bayarkanlah kepada mereka, bagi-Ku dan bagimu juga. Ambillah uang itu dan bayarlah kepada mereka pajak kita untuk Rumah Tuhan" [matius 17:24-27]

        note:
        Apa sih beda koin dari mulut ikan vs koin dari Tiberius?

        koin di mulut ikan adalah buatan kota Tirus (gambar kanan) dan tertera Baal (Tuhan) Melkqart (pemimpin Kota), dewa matahari bangsa Kanaan dan Punisia serta dibaliknya: Elang mesir dalam mitologi Yunani Heracle (Herkules)

        Yesus menolak koin yang bergambar Tiberius, anak tuhan, namun Yesus menerima koin yang bergambar "BAAL" Malkqert, dewa matahari kaum Punisian.

        Yesus harusnya tau persis bahwa ini juga tindakan MUNAFIK.

        Alasan Yesus membayar ternyata juga bukan karena ini "persembahan khusus kepada TUHAN" (Keluaran 30.13), yaitu "memberikan kepada tuhan apa yang tuhan miliki", namun ternyata agar tidak tersandung dilaporkan! Padahal pajak yang dipungut di rumah tuhan ini juga merupakan perintah Taurat dan bahkan untuk membayar inipun, Ia tidak lakukan dari hasil jerih payahnya sendiri.

    Di kedua peristiwa di atas ini,
    Yesus tidaklah menyimpan uang koin, karena Yudas muridnya, ditugasinya sebagai pemegang kas (Yohanes 12.6, 13.29). [Lebih lanjut: Who Would Jesus Tax?]

    Tuduhan Raja orang Yahudi,

      Seluruh sidang itu berdiri, lalu membawa Yesus ke hadapan Pilatus. Mereka berkata, "Kami dapati Orang ini menyesatkan rakyat. Ia menghasut orang supaya jangan membayar pajak kepada Kaisar, sebab kata-Nya Ia adalah Kristus (krestos?), seorang Raja." [Lukas 23:1-2]

      Pilatus bertanya kepada-Nya: "Engkaukah raja orang Yahudi?" Jawab Yesus: "phemi su lego (seperti yang engkau katakan)" [Lukas 23:3, Matius 27:11, Markus 15:2]

      Pilatus masuk kembali ke istana dan memanggil Yesus, lalu bertanya, "Apakah Engkau raja orang Yahudi?" Yesus menjawab, "engkau sendiri atau ada orang lain yang memberitahukan kepadamu tentang Aku?"

      Pilatus menjawab, "Apakah aku ini orang Yahudi? Yang menyerahkan Engkau kepada saya adalah bangsa-Mu sendiri dan imam-imam kepala. Apa yang sudah Kaulakukan?"

      Yesus berkata, "Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini. Andaikata kerajaan-Ku dari dunia ini, orang-orang-Ku akan berjuang supaya Aku jangan diserahkan kepada para penguasa Yahudi. Tetapi memang kerajaan-Ku bukan dari dunia ini!"

      Lalu kata Pilatus kepada-Nya, "Engkau seorang rajakah juga?" Maka sahut Yesus, "Benar seperti kata Tuan bahwa Aku ini seorang raja..." [Yohanes 18:33-37]

      ..Orang-orang Yahudi itu menjawab, "Menurut hukum kami, Ia harus dihukum mati sebab Ia mengaku diri-Nya Anak Allah"

      Ketika Pilatus mendengar mereka berkata begitu, ia lebih takut lagi.. ia berusaha untuk melepaskan Yesus. Tetapi orang-orang Yahudi berteriak-teriak, "Kalau Tuan membebaskan Dia, Tuan bukan kawan Kaisar! Orang yang mengaku dirinya raja, adalah musuh Kaisar!"

      ..Pilatus berkata kepada orang-orang itu, "Ini rajamu!"

      ..Mereka berteriak-teriak, "Bunuh Dia! Bunuh Dia! Salibkan Dia!"

      Pilatus bertanya, "Haruskah saya menyalibkan rajamu?" Imam-imam kepala menjawab, "Hanya Kaisar satu-satunya raja kami!" Maka Pilatus menyerahkan Yesus kepada mereka untuk disalibkan.[Yohane 19:7-16]

    Mengenai pemberontakan terhadap kaisar, ini juga disampaikan dari hasil riset Dr Barbara Thiering tentang naskah laut mati dan Nag Hammadi, dimana tertulis bahwa Maria Magdalena dulunya adalah seorang pejuang pembebasan penindasan Yahudi oleh Romawi., seorang militan yang setia dan bermusuhan dengan Roma hingga Yesus membujuknya untuk mengikutinya. Namun karena kejadian ini terjadi pada masa pemerintahan raja Caligula (37-41M) militerisme bangkit lagi. Kebutuhan akan kepahlawannan diperlukan untuk menghadapi tirani romawi. Mary kembali pada keadaan semua dan berteman dengan Helena dan Simon Magus di 44 M. Setelah melahirkan anak ke-3nya. Keretakan perkawinan ini berada di antara orang2 Kristen bersama Yesus dan pejuang pembebasan bersama Simon Magus. Mary meninggalkan perkawinan. Itu adalah saat dimana Paulus meletakan dasar praktek untuk bercerai di 1 Korintus 7:10-16 []



Muhammad

[Qur'an 69:44-47] Seandainya dia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya. Maka sekali-kali tidak ada seorangpun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami), dari pemotongan urat nadi itu.

Ia dinyatakan meninggal pada 8 Juni 632 di Madinah. Kedua kota tersebut terletak di daerah Hejaz (Arab Saudi saat ini).
________________________________________

Peta Jaman Muhammad

Selesai ibadah haji perpisahan di Mekah (Haji Wada, Dhul Hijjah 10 H/Maret 632 M), belum lama setelah kaum Muslimin tinggal di Medinah, Nabi mengeluarkan perintah supaya menyiapkan sebuah pasukan besar ke daerah Syam (Syira), dengan menyertakan kaum Muhajirin mula-mula, termasuk Abu Bakr dan Umar. Pasukan ini dipimpin oleh Usama bin Zaid bin Haritsah [Lahir 615 M, usianya saat diangkat sebagai panglima pasukan pada 27/28 Safar 11H / 28 May 632M adalah 17/18 tahun]

Pengangkatan Usama dimaksudkan untuk menempati tempat ayahnya (Zaid bin Haritsah) yang gugur di pertempuran Mu'ta (629 M) [Di perang Mut'ah, ikut pula Khalid bin Walid, sang Pedang Allah, Perang Mut'ah merupakan kekalahan pertama Khalid dalam sekian banyak perangnya, padahal sebelum masuk Islam, yaitu saat Ia berjuang bersama kaum Quraish (perang Uhud, 625 M), Ia mengalahkan Muhammad dan pasukannya].

Saat mereka sedang bersiap-siap itu tiba-tiba Rasulullah jatuh sakit, dan sakitnya makin keras juga, sehingga akhirnya tidak jadi mereka berangkat.

Keprihatinan mereka terhadap nabi adalah hal wajar karena Nabi tumben mengalami sakit, selama ini diketahui bahwa Nabi juga mengkonsumsi biji-bijian seperti yang diriwayatkan Anas bin Malik:

Rasullullah, sebelum melaksanakan (shalat) pada Idul fitri, Ia makan sejumlah biji. Anas juga mengatakan ‘Nabi biasanya memakan biji-bijian itu dalam jumlah ganjil [Bukhari 2.15.73]. Mengenai biji-bijian yang nabi merekomendasikan adalah:

Habbatus sauda:

  • Ibnu Abu Atiq: Hendaknya kalian memberinya habbatus sauda' (jintan hitam), ambillah 5 atau 7 biji, lalu tumbuklah hingga halus, setelah itu teteskanlah di hidungnya di sertai dengan tetesan minyak sebelah sini dan sebelah sini, karena sesungguhnya Aisyah pernah menceritakan kepadaku bahwa dia mendengar Nabi SAW bersabda: "Sesungguhnya habbatus sauda' ini adalah obat dari segala macam penyakit kecuali saam." Aku bertanya; "Apakah saam itu?" beliau menjawab: "Kematian.. [Bukhari no. 5255. Ibn Majjah no.3440]
  • Rasulullah SAW: "Dalam habbatus sauda' (jintan hitam) terdapat obat dari segala penyakit kecuali kematian." Ibnu Syihab berkata; "Maksud dari kematian adalah maut sedangkan habbatus sauda' adalah pohon syuniz." [Bukhari no.5256. Muslim no.4104 4105. Ahmad no.23916, 10217, 10416, 9892, 9668, 9666, 9665, 9177, 9107. Tirmidhi no.1964. Ibn Majjah no.3438]
Dan satunya lagi adalah Kurma ‘ajwa:

  • Nabi SAW: "Al 'Ajwah (kurma Nabi) beserta pohonnya [Ahmad no.14961, 19451] dan Syakhrah [Batu yang ada di Baitul Maqdis, Ahmad no.19455, 19729. Ibn Majjah no.3447] berasal dari surga. Rasullullah bersabda: Kam`ah (sejenis tumbuhan) adalah dari Al Manna dan Ajwah adalah (kurma) dari surga, ia merupakan penawar racun. [Ibn Majjah no.3446]. Rasullullah bersabda: Al 'Ajwah bersasal dari surga, di dalamnya mengandung kesembuhan untuk penyakit racun. Al Kam`ah dari Al Mann, airnya adalah kesembuhan bagi penyakit 'Ain [Tirmidhi no.1992, Ahmad no.9959]
  • Rasulullah berkata: ‘Barangsiapa setiap pagi mengkonsumsi 7 butir kurma 'Ajwa, maka pada hari itu ia akan terhindar dari racun dan sihir. [Bukhari no.5025, 5326, 5327, 5334. Muslim no.3814. Ahmad no.1488, 1365. Abu Dawud no.3378]
Pasukan yang siap perang batal berangkat karena Nabi sakit, menimbulkan pertanyaan bagi banyak pihak, terdapat beberapa alternative perkiraan mengenai hal ini:

  1. Kecintaan mereka pada Nabi yang tumben sakit berat, namun ini tidak masuk akal, karena tujuan perang ini adalah untuk kemuliaan Islam dan atas perintah nabi.
  2. Di kisahkan bahwa Nabi pada malam pertama nabi menderita sakit, tidak bisa tidur dan minta diantar Abu Muwayhiba mengunjugi Baqi'l-Gharqad, kuburan Muslim dekat Medinnah dan memintakan ampun untuk penghuni kubur sebelum sakit dan ada pilihan yang diberikan Allah, "Abu Muwayhiba, aku telah diberi anak kunci isi dunia ini serta kekekalan hidup di dalamnya, sesudah itu surga. Aku disuruh memilih ini atau bertemu dengan Tuhan dan surga." Nabi memilih bertemu Tuhan di surga. Namun riwayat ini disangsikan banyak pihak.
  3. Gerutu para pihak yang hendak berperang karena pengangkatan Usama bin Zaid bin Haritsha, mengingat dipasukan banyak para senior namun mereka tidak diangkat, ini juga tidak masuk akal, meningat perintah nabi adalah final dan persiapan terus dilakukan
  4. Berhubungan dengan makanan beracun yang disajikan oleh seorang wanita yahudi sewaktu penaklukan Khaibar 3 tahun sebelumnya yang menyebabkan kematian Bishr yang saat itu makan makanan yang sama bersama Nabi
Di rumah Maimunah sakitnya terasa kambuh lagi, dan terasa lebih keras lagi. Ketika itu dipanggilnya isteri-isterinya ke rumah Maimunah. Dan mengatakan bahwa akan dirawat dirumah Aisyah.

Pada hari-hari pertama ia jatuh sakit, demamnya sudah terasa makin keras, sehingga ia merasa seolah seperti dibakar. Ketika reda, ia sembahyang dan memimpin Shalat, karena beberapa protes atas penunjukan Usama sampai ketelinga Nabi maka ia memutuskan untuk menenangkan mereka

Dalam hal ini ia berkata kepada isteri-isteri dan keluarganya: "Tuangkan kepadaku tujuh kirbat air dari pelbagai sumur, supaya aku dapat menemui mereka dan berpesan kepada mereka."

Lalu dibawakan air dari beberapa sumur, dan setelah oleh isteri-isterinya ia didudukkan di dalam pasu kepunyaan Hafsha, ketujuh kirbat air itu disiramkan kepadanya Kemudian katanya: ‘Cukup. Cukup’.

Setelah duduk di atas mimbar mesjid Ia berkata: "Saudara-saudara. Laksanakanlah keberangkatan Usama itu Demi hidupku. Kalau kamu telah banyak bicara tentang kepemimpinannya, tentang kepemimpinan ayahnya dulu pun juga kamu banyak bicara. Dia sudah pantas memegang pimpinan, seperti ayahnya dulu juga pantas memegang pimpinan."

    Nabi SAW mengutus satu pasukan dan mengangkat Usamah bin Zaid sebagai pemimpin mereka. Lalu sebagian orang ada yang mencela kepemimpinannya, maka Nabi SAW bersabda: "Kalian mencela kepemimpinannya?. Sungguh sebelum ini kalian pernah pula mencela kepemimpinan ayahnya. Demi Allah, sungguh dia patut memegang kepemimpinan karena dia adalah manusia yang paling aku cintai dan sekarang, (Usamah) adalah manusia yang paling aku cintai setelah (ayah) nya". [Bukhari no.3451, 3919, 4108, 4109, 6137, 6650. Muslim no.4452, 4453. Tirmidhi no.3752, Ahmad no.5622]
Ia kembali ke rumah Aisyah. sakitnya terasa lebih berat lagi, tatkala keesokan harinya ia berusaha hendak bangun memimpin sembahyang seperti biasanya, ternyata ia sudah tidak kuat lagi. Ketika itulah ia berkata: "Suruh Abu Bakr memimpin orang-orang sembahyang." Kemudian Abu Bakr datang memimpin sembahyang seperti diperintahkan oleh Nabi.

Tatkala sakitnya sudah makin keras, panas demamnya makin memuncak, isteri-isteri dan tamu-tamu yang datang menjenguknya, bila meletakkan tangan di atas selimut yang dipakainya, terasa sekali panas demam yang sangat meletihkan itu. Dan Fatimah puterinya, setiap hari datang menengok. Karena panas demam yang tinggi itu, sebuah bejana berisi air dingin diletakkan disampingnya. Sekali-sekali ia meletakkan tangan ke dalam air itu lalu mengusapkannya ke muka.

Suatu hari sahabat-sahabatnya berusaha hendak meringankan penderitaannya itu dengan mengingatkan kepada nasehat-nasehatnya, bahwa orang yang menderita sakit jangan mengeluh. Ia menjawab, bahwa apa yang dialaminya dalam hal ini lebih dari yang harus dipikul oleh dua orang. Dalam keadaan sakit keras serupa itu dan di dalam rumah banyak orang, ia berkata: "Bawakan dawat dan lembaran, akan ku tuliskan surat buat kamu, supaya sesudah itu kamu tidak lagi akan pernah sesat."

Dari orang-orang yang hadir ada yang berkata, bahwa sakit Rasulullah s.a.w. sudah sangat gawat; pada kita sudah ada Qur'an, maka sudah cukuplah dengan Kitabullah itu. Ada yang menyebutkan, bahwa Umarlah yang mengatakan itu. Di kalangan yang hadir itu terdapat perselisihan. Ada yang mengatakan: ‘Biar dituliskan, supaya sesudah itu kita tidak sesat. Ada pula yang keberatan karena sudah cukup dengan Kitabullah.’ Setelah melihat pertengkaran itu, Muhammad berkata: "Pergilah kamu sekalian! Tidak patut kamu berselisih di hadapan Nabi."

Tetapi Ibn 'Abbas masih berpendapat, bahwa mereka membuang waktu karena tidak segera menuliskan apa yang hendak dikatakan oleh Nabi. Sebaliknya Umar masih tetap dengan pendapatnya, bahwa dalam Kitab Suci Tuhan berfirman: "Tiada sesuatu yang Kami abaikan dalam Kitab itu." [Qur'an, 6:38]

Walaupun Haekal tidak menyebutkannya, namun hadis Bukhari dan Muslim dan banyak lagi, menyampaikan informasi akurat mengenai wasiat yang disampaikan nabi:

    Riwayatkan Said bin Jubair:
    Ibn 'Abbas: "Kamis! apakah yang terjadi di hari Kamis?" Kemudian dia menangis hingga air matanya membasahi pasir. Aku bertanya kepadanya..Dia berkata: "Pada Hari kamis, sakitnya Rasulullah SAW bertambah parah dan dia berkata: 'Ambilkan aku alat tulis, aku akan tuliskan pada kalian suatu ketetapan yang setelahnya kalian tak akan pernah". Kemudian orang-orang bertengkar padahal tidak sepatutnya mereka bertengkar di hadapan Nabi SAW. Mereka berkata, "Bagaimana keadaan beliau, apakah Rasullullah mengigau?". Nabi berkata, "Tinggalkan aku, keadaanku sekarang lebih baik dari pada apa yang kalian kira.". Lalu beliau berwasiat 3 hal:

    1. Usir orang-orang pagan/Musyrik/politeis dari jazirah arab; [Muslim 13.4014/no.3089; Abu Dawud 19.3023/no.2634; Bukhari: 4.52.288/no.2825; 4.53.393/no.2932; 5.59.716/no.4078]

      Namun di Muslim 19.4366/no.3313 dalam riwayat [(Zuhair bin Harb - Ad Dlahak bin Makhlad) dan (Muhammad bin Rafi' - Abdurrazaq)] - Ibnu Juraij - Abu Az Zubair - Jabir bin Abdullah - Umar bin Khattab:
      Rasulullah SAW bersabda: Aku akan usir para Nasrani dan yahudi dari Jazirah arab dan tidak akan meninggalkan satupun kecuali MUSLIM [Juga di Tirmidhi 3.19.1606/no.1531, 1607/no.1532. Ahmad no.196, 210, 214, 14189; Abu Dawud 19.3024/no.2635, 19.3025/no.2635]

    2. "Perlakukan utusan sebagaimana aku memperlakukan mereka" [Muslim 13.4014/no.3089; Abu Dawud 19.3023/no.2634; Bukhari: 4.52.288/no.2825; 4.53.393/no.2932; 5.59.716/no.4078]

    3. Said bin Jubair, yang meriwayatkan berkata bahwa Ibn Abbas diam mengenai perintah ketiga, atau ia katakan, ‘saya lupa' atau Sa'id tidak menyebutkan wasiat yang ketiga. [Muslim 13.4014/no.3089; Abu Dawud 19.3023/no.2634; Bukhari: 4.52.288/no.2825; 4.53.393/no.2932; 5.59.716/no.4078]

    Ya'qub bin Muhammad berkata, "Aku Tanya pada Al-Mughira bin 'Abdur-Rahman mengenai Jazirah arab dan ia berkata, 'Itu terdiri dari Mekkah, Medina, Al-Yama-ma dan Yaman." Ya'qub menambahkan, "dan Al-Arj, mulai dari Tihama." [Bukhari: 4.52.288/no.2825]
Berita sakitnya Nabi yang bertambah keras itu telah tersiar dari mulut ke mulut, sehingga akhirnya Usama dan anak buahnya yang ada di Jurf itu turun pulang ke Medinah. Bila Usama kemudian masuk menemui Nabi di rumah Aisyah, Nabi sudah tidak dapat berbicara. Tetapi setelah dilihatnya Usama, ia mengangkat tangan ke atas kemudian meletakkannya kepada Usama sebagai tanda mendoakan.

Melihat keadaannya yang demikian keluarganya berpendapat hendak membantunya dengan pengobatan. Asma' - salah seorang kerabat Maimunah - telah menyediakan semacam minuman, yang pernah dipelajari cara pembuatannya selama ia tinggal di Abisinia. Tatkala Nabi sedang dalam keadaan pingsan karena demamnya itu, mereka mengambil kesempatan menegukkan minuman itu ke mulutnya. Bila ia sadar kembali ia bertanya: "Siapa yang membuatkan ini? Mengapa kamu melakukan itu?"

"Kami kuatir Rasulullah menderita sakit radang selaput dada," kata 'Abbas pamannya.

"Allah tidak akan menimpakan penyakit yang demikian itu kepadaku."

Kemudian disuruhnya semua yang hadir dalam rumah - supaya meminum obat itu, tidak terkecuali Maimunah meskipun sedang berpuasa.

Malam itu Muhammad dalam keadaan tenang. Panas demamnya sudah mulai turun, sehingga seolah karena obat yang diberikan keluarganya itulah yang sudah mulai bekerja dan dapat melawan penyakitnya. Sampai-sampai karena itu ia dapat pula di waktu subuh keluar rumah pergi ke mesjid dengan berikat kepala dan bertopang kepada Ali b. Abi Talib dan Fadzl bin'l-'Abbas. Abu Bakr waktu itu sedang mengimami orang-orang bersembahyang. Setelah kaum Muslimin yang sedang melakukan salat itu melihat Nabi datang, karena rasa gembira yang luarbiasa, hampir-hampir mereka terpengaruh dalam sembahyang itu. Tetapi Nabi memberi isyarat supaya mereka meneruskan salatnya.

Selesai sembahyang ia menghadap kepada orang banyak, Melihat tanda-tanda kesehatan Nabi yang bertambah maju, bukan main gembiranya kaum Muslimin, Usama b. Zaid datang menghadap kepadanya dan minta ijin akan membawa pasukan ke Syam, Abu Bakr berangkat pergi ke Sunh di luar kota Medinah – memberi giliran kepada isterinya, Bint Kharija . Umar dan Ali pergi dengan urusannya masing-masing. Kaum Muslimin sudah mulai terpencar-pencar lagi.

Ia kembali pulang ke rumah Aisyah. Setelah memasuki rumah, tiap sebentar tenaganya bertambah lemah juga. Ia minta disediakan sebuah bejana berisi air dingin dan dengan meletakkan tangan ke dalam bejana itu ia mengusapkan air ke wajahnya; dan bahwa ada seorang laki-laki dari keluarga Abu Bakr datang ke tempat Aisyah dengan sebatang siwak di tangannya. Muhammad memandangnya demikian rupa, yang menunjukkan bahwa ia menginginkannya. Oleh Aisyah benda yang di tangan kerabatnya itu diambilnya, dan setelah dikunyah (ujungnya) sampai lunak diberikannya kepada Nabi. Kemudian dengan itu ia menggosok dan membersihkan giginya. Sementara ia sedang dalam sakratulmaut, ia menghadapkan diri kepada Allah sambil berdoa, "Allahumma ya Allah! Tolonglah aku dalam sakratulmaut ini."

Aisyah berkata - yang pada waktu itu kepala Nabi berada di pangkuannya, "Terasa olehku Rasulullah s.a.w. sudah memberat di pangkuanku. Kuperhatikan air mukanya, ternyata pandangannya menatap ke atas seraya berkata, "Ya Handai Tertinggi dari surga."

"Kataku, 'Engkau telah dipilih maka engkau pun telah memilih. Demi Yang mengutusmu dengan Kebenaran.' Maka Rasulullah pun berpulang sambil bersandar antara dada dan leherku dan dalam giliranku. Aku pun tiada menganiaya orang lain. Dalam kurangnya pengalamanku dan usiaku yang masih muda, Rasulullah s.a.w. berpulang ketika ia di pangkuanku. Kemudian kuletakkan kepalanya di atas bantal, aku berdiri dan bersama-sama wanita-wanita lain aku memukul-mukul mukaku."

Benarkah Muhammad sudah meninggal?

Itulah yang masih menjadi perselisihan orang ketika itu, sehingga hampir-hampir timbul fitnah di kalangan mereka dengan segala akibat yang akan menjurus kepada perang saudara.

Kisah meninggalnya Muhammad versi Husain Haekal tidak menyebutkan mengapa seseorang yang berusia 62/63 tahun, berbadan sehat, mempunyai lebih dari 20 Wanita sebagai Istri/Gundik dan Budak, tidak pernah menderita sakit dan masih melakukan perang melawan Negara lain tiba-tiba jatuh sakit dan meninggal tidak lama kemudian.

Apakah penyebab meninggalnya Nabi?

Penelusuran berdasarkan sirat, tulisan kalangan Muslim dan juga Hadis Sahih aliran sunni mengungkapkan cukup fakta bahwa Nabi diracun di Khaibar [tahun 628 M/7 H] dan 3 tahun empat bulan kemudian wafat:

    Ketika kaybar telah ditaklukan dan masyarakat sudah tenang, Zainab Bint al-Harith, Istri dari Salam Ibn Mishkam, bertanya pada beberapa orang mengenai bagian mana dari domba yang paling disukai nabi. Mereka memberitahukannya, ‘kaki depan, dan paha atas adalah bagian terbaiknya’. Ia kemudian menyembelih seekor domba dan memotong-motongnya. Kemudian Ia ambil racun mematikan yang dapat membunuh dengan seketika, membubuhkannya pada daging domba, dan membubuhkan lebih banyak lagi pada bagian kaki dan paha.

    Ketika Matahari terbenam, Muhammad memimpin Sholat. Setelah selesai sholat dan hendak pergi, Zainab berkata pada nabi, ‘ Oh Abu al-Qasim, aku punya hadiah untuk mu’. Nabi kemudian meminta beberapa sahabat mengambil persembahan itu dan diletakan dihadapan Muhammad dan para sahabat, diantaranya terdapat Bishr Ibn al-Bara' Ibn Ma'rur. Muhammad berkata pada mereka, ‘Ayo kemari dan duduklah’. Muhammad mengambil bagian kaki dan memakanya. Ketika Muhammad telah menelannya, Bishr juga telah menelannya dan para sahabat yang lain juga memakannya. Muhammad berkata, ‘Angkat tanganmu; Daging kaki dan paha ini berkata bahwa mereka telah dibubuhi racun. Bishr berkata, ‘Demi Allah yang menyayangimu, Aku pun merasakan yang sama. Tapi ngga ku muntahkan karena dapat mengacaukan selera makan anda

    Ketika engkau makanan itu ada di mulutmu, Aku juga tidak berharap engkau menelannya”. [Satu pendapat mengatakan] Bishr wafat kemudian di sana. Sisa daging itu dilemparkan kepada anjing, kemudian anjing itu mati. Pendapat lainnya mengatakan bahwa (bishr) warnanya berubah hitam setelah mengalami kesakitan selama dua tahun, ketika ia meninggal. Juga dikatakan bahwa Muhammad menggigit daging domba itu, mengunyahnya dan memuntahkannya kemudian sementara Bishr memakan bagiannya. Kemudian Muhammad mengirimkan yahudi2 dan bertanya pada Zainab, ‘Apa benar kau meracuni domba ini?’

    Ia berkata, ‘Engkau punya suatu kegemaran ketika engkau menghakimi mereka yang tidak setia padamu. Engkau bunuh Ayahku, pamanku dan saudaraku..jadi aku berkata, ‘Jika Ia adalah raja, maka aku akan membebaskan kami dari mu, dan jika Dia adalah Nabi, Ia tentu akan merasakannya’ Ada yang mengatakan bahwa Nabi memaafkannya sementara yang lainnya mengatakan bahwa Ia memerintahkan agar Zainab di hokum mati dan disalib. Ketika Muhammad sakit di menjelang wafatnya, Ia berkata pada Aisha, ‘Aisha, Aku masih merasakan effect makan beracun yang aku makan. Sekarang saat kematianku akibat racun itu’ ketika kakak Bishr hadir menjenguknya, Nabi mengatakan padanya, Ini adalah saat kematianku karena makanan yang aku makan bersama kakakmu di Khaybar’ [Abdallha Abd Al-Fadi, Is The Koran Infallible, Pg. 378-381, mengutip Al-Baidawi. Juga di "ISLAM MUHAMMAD AND THE Quran", Dr. Labib Mikhail, Bab.VI]
Hadis dan Sirat:
Riwayat Abdurrahman - Sufyan - Al A'masy - Abdullah bin Murrah - Abu Al Ahwash dari Abdullah bin Mas'ud:
Sungguh aku bersumpah 9x bahwa Rasulullah SAW terbunuh, lebih aku sukai dari pada aku bersumpah 1x bahwa beliau tidak akan terbunuh. Hal itu karena Allah mengambilnya sebagai Nabi dan menjadikanya sebagai saksi. Lalu aku berkata; Lalu aku menyebutkan hal itu kepada Ibrahim, ia pun berkata; Mereka melihat dan mengatakan bahwa orang yahudi pernah meracuni beliau beserta Abu Bakar [Ahmad no.3925, 3679 (Riwayat Abdurrazaq - Sufyan - Al A'masy - Abdullah bin Murrah - Abu Al Ahwash - Abdullah), 3435 (Riwayat Abu Mu'awiyah - Al A'masy - Abdullah bin Murrah - Abu Al Ahwash - Abdullah)]

Riwayat Muhammad bin Basysyar - Abu Daud - Zuhair - Abu Ishaq - Sa'd bin 'Iyadl - Abdullah bin Mas'ud:
"Nabi SAW menyukai paha kambing." Ia berkata, "Pernah paha kambing diberi racun, dan beliau melihat bahwa yang orang-orang Yahudi yang telah meracuninya." [Abu Dawud no.3287. Ahmad no.3545, 3546, 3589]

Diriwayatkan 'Aisha:
Nabi SAW ketika sakit yang menyababkan kematiannya, kerap berkata, "O Aisha! Aku masih merasakan sakit akibat makanan yang aku makan di Khaibar, dan sekarang ini Aku rasakan nadiku di iris racun itu" (وَقَالَ يُونُسُ عَنِ الزُّهْرِيِّ، قَالَ عُرْوَةُ قَالَتْ عَائِشَةُ ـ رضى الله عنها ـ كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ فِي مَرَضِهِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ ‏ "‏ يَا عَائِشَةُ مَا أَزَالُ أَجِدُ أَلَمَ الطَّعَامِ الَّذِي أَكَلْتُ بِخَيْبَرَ، فَهَذَا أَوَانُ وَجَدْتُ انْقِطَاعَ أَبْهَرِي مِنْ ذَلِكَ السَّمِّ) [Bukhari 5.59.713]

Riwayat Qutaibah - Al Laits - Sa'id bin Abu Sa'id - Abu Hurairah:
Ketika Khaibar ditaklukkan, Rasulullah SAW diberi hadiah seekor kambing beracun. Rasulullah SAW bersabda: 'Tolong kumpulkanlah orang-orang Yahudi yang ada di sini.' Maka mereka dikumpulkanlah di hadapan beliau. Lalu Rasulullah SAW bersabda: 'Saya akan bertanya kepada kalian tentang sesuatu, apakah kalian akan menjawab dengan jujur? ', mereka menjawab; 'Ya,..Rasulullah SAW: 'Siapakah penghuni neraka? ' Mereka menjawab; 'Kami berada di dalamnya sebentar dan kemudian baginda menggantikan kami di dalamnya.' Maka Rasulullah SAW berkata kepada mereka: Terhinalah kalian di dalamnya, demi Allah kami tidak akan menggantikan kalian di dalamnya selamanya."..Lalu Rasulullah SAW: "Apakah kalian membubuhi racun pada (daging) kambing tersebut?" Mereka menjawab; "Ya, " beliau bertanya: "Apa yang menyebabkan kalian berbuat demikian?" Mereka menjawab; "Kami ingin terbebas jika tuan seorang pembohong dan jika baginda benar seorang Nabi maka (racun itu) tidak bakalan mencelakai tuan" [Bukhari no.5332, 2933, 3918 atau Bukhari 4.53.394, 5.59.551, 7.71.669. Abu dawud no.3910]

Riwayat Yahya bin Habib Al Haritsi - Khalid bin Al Harits - Syu'bah - Hisyam bin Zaid - Anas bin malik:
Seorang perempuan Yahudi mengantarkan daging yang telah dibubuhi racun kepada Nabi SAW, lalu beliau makan sebagian. Kemudian perempuan itu dipanggil ke hadapan Rasulullah SAW, lalu beliau menanya kepadanya tentang racun itu. Jawabnya; 'Aku sengaja hendak membunuh Anda.' Sabda Nabi SAW: 'Tidak mungkin Allah akan memberi wewenang kepadamu untuk berbuat demikian.'..Kata Anas selanjutnya; 'Kami melihat jelas bekas racun itu kelihatan di leher Rasulullah SAW' [Muslim no.4060. Juga di Abu Dawud no.3090]

Riwayat 'Abdullah bin 'Abdul Wahhab - Khalid bin Al Harits - Su'bah - Hisyam bin Zaid - Anas bin Malik:
Ada wanita Yahudi yang datang menemui Nabi SAW dengan membawa seekor kambing yang telah diracun lalu Beliau memakannya. Kemudian wanita itu diringkus dengan bukti daging tersebut dan dikatakan; "Tidak sebaiknyakah kita bunuh saja?" Beliau menjawab: "Jangan". Sejak itu aku senantiasa aku melihat bekas racun tersebut pada anak lidah Rasulullah SAW. [Bukhari no.2424. namun di hadis-hadis lainnya dikatakan bahwa wanita Yahudi itu dibunuh, misal: Abu Dawud no.3911, dari riwayat Wahb bin Baqiyyah - Khalid dari Muhammad bin Amru - Abu Salamah: "..Rasulullah SAW kemudian memerintahkan supaya wanita itu dihukum, maka wanita itu pun dibunuh..". Juga Abu Dawud no.3912 dari jalur perawi Wahab bin Baqiyyah- Khalid - Muhammad bin Amru - Abu Salamah - Abu Hurairah: ..Rasulullah SAW lantas memerintahkan agar wanita itu dibunuh, maka ia pun dibunuh. Kemudian beliau berkata pada saat sakit yang membawanya kepada kematian: "Aku masih merasakan apa yang pernah aku makan di Khaibar, dan sekarang adalah waktu terputusnya punggungku (kematianku)". Juga Abu Dawud no.3913 dari jalur perawi Ahmad bin Hanbal - Ibrahim bin Khalid - Rabah - Ma'mar - Az Zuhri - 'Abdurrahman bin Abdullah bin ka'b bin malik - ibunya Ummu Mubasysyir. Abu Sa'id Ibnul A'rabi: ia berkata dari ibunya. Namun yang benar adalah dari bapaknya, dari Ummu Mubasysyir:..Rasulullah SAW lalu memerintahkan untuk menghukum wanita tersebut, maka wanita itu pun dibunuh]

Riwayat Suraij -'Abbad - Hilal - Ikrimah - Ibnu Abbas:
Seorang wanita dari kaum Yahudi memberi hadiah kepada Rasulullah SAW berupa (daging) kambing yang telah diracun. Lalu beliau mengirim utusan kepadanya, untuk menanyakan kepadanya; "Apa yang mendorongmu untuk melakukan apa yang telah engkau perbuat ini?" ia menjawab; "Aku mau." Atau ia berkata; "Aku ingin, bila engkau seorang nabi, maka Allah akan memberitahumu tentang itu, namun bila engkau bukan nabi, aku akan menentramkan manusia darimu." [Ahmad no.2648, 2649]

Rasullullah berkata selama sakitnya yang mengakitkan kematiannya – ibu Bishr datang menjenguknya – "Umm Bishr, pada saat ini aku merasa aorta (urat nadi) ku dirobek akibat makanan yang kumakan bersama putramu di Kaibar. [Tabari, Vol.8, hal. 124]

Ibn Sa'd biography, the "Kitab al-Tabaqat al-Kabir" (Book of the Major Classes), Volume 2:
Umm Bishr, datang kepada sang Nabi waktu Nabi sedang menderita sakit dan berkata, ‘O Rasul Allah! Aku tidak pernah melihat demam seperti ini.’ Sang Nabi berkata padanya, Jika cobaan kita dua kali lipat beratnya, maka anugrah kita di surga pun jadi dua kali lipat pula. Apa yang orang2 katakan tentang penyakitku? Dia (Umm Bishr) berkata, ’Mereka bilang itu pleurisy.’ Karena itu sang Rasul berkata, ‘Allah tidak akan membuat RasulNya menderita seperti itu (pleurisy) karena itu tanda kemasukan Setan, tapi (rasa sakitku adalah akibat) daging yang kumakan bersama-sama dengan anak lakimu. Racun itu telah memotong urat merihku.’ [Juga di: "The Life of Muhammad: al-Maghazi, Al-Waqidi, hal.679]

Ibn Sa'd, Vol. 2, hal 251, 252:
Ketika Rasul Allah mengalahkan Khaibar dan dia merasa lapar, Zaynab Bint al-Harith (Bint al-Harith adalah saudara laki Marhab), yang merupakan istri dari Sallam Ibn Mishkam bertanya, ‘Bagian kambing manakah yang disukai Muhammad?’ Mereka berkata, ’Kaki depan.’ Maka dia pun memotong satu dari kambing2nya dan memasak (dagingnya). Lalu dia membubuhi racun yang sangat kuat. Rasul Allah mengambil kaki depan kambing, dia memasukkan sepotong daging ke dalam mulutnya. Bishr mengambil sepotong tulang dan memasukannya ke dalam mulutnya. Ketika Rasul Allah memakan sepotong daging, Bishr memakan daging kambingnya dan orang-orang lain pun makan daging kambing itu. Lalu Rasul Allah berkata, ‘Tahan tangan2 kalian! Karena kaki depan kambing ini memberitahuku bahwa ia diracuni. Mendengar itu Bishr berkata, Demi Dia yang membuatmu besar! Aku ketahui akan hal itu dari daging yang kumakan. Tiada yang mencegahku untuk memuntahkannya, karena aku tidak mau membuat makananmu tampak tidak enak. Ketika kau memakan daging yang tadi ada di mulutmu, aku tidak mau hidup jika kau tidak selamat, dan kukira kau tidak akan memakannya jika memang ada sesuatu yang salah.

Bishr tidak beranjak dari tempat duduknya tapi warna kulitnya berubah jadi ‘taylsan’ (warna kain hijau). Sakit dideritanya selama 1 tahun membuatnya tidak dapat menggerakan badan mengubah posisi kecuali dibantu orang lain dan Ia kemudian wafat. Menurut versi lainnya, ia wafat tidak beranjak dari kursinya. Ia (Ibn Sa'ad) berkata: Sebelumnya sepotong (daging) jatuh, seekor anjing memakannya dan kemudian mati tidak dapat menggerakan kaki depan.

Rasul Allah menyuruh memanggil Zaynab binti Al Harith dan berkata padanya, ‘Apa yang membuatmu melakukan apa yang telah kau lakukan?’ Dia menjawab, ‘Kau telah lakukan pada masyarakatku apa yang telah kau lakukan. Kau telah membunuh ayahku, pamanku, suamiku, aku berkata pada diriku sendiri, ‘Jika kau adalah seorang nabi, kaki depan itu akan memberitahumu, dan yang telah berkata, ‘Jika kau seorang raja, kami akan mengenyahkanmu.’ Perempuan yahudi itu dikembalikan ketempatnya. Ia (Ibn Sa'd) berkata: Rasullullah SAW, menyerahkannya pada keturunan Bishr Ibn Al-Bara yang kemudian membunuhnya. [Kisah yang mirip dengan yang disampaikan Ibn Sa'd, juga ada di "The Life of Muhammad: al-Maghazi, Al-Waqidi, hal.677-679:..Bishr tidak beranjak dari tempat duduknya tapi warna kulitnya berubah jadi ‘taylsan’ (warna kain hijau). Rasa sakit yang dideritanya tidak berakhir setahun..kemudian wafat..Ia tidak keluar rumah hingga wafat. Rasullulah hidup hingga 3 tahun lagi. Rasullulah memanggil Zaynab..Ada perbedaan pendapat mengenai perempuan ini..Muhammad memerintahkan membunuhnya, dan disalibkan. Pendapat lainnya menyatakan ia di ampuni..]

Kalau benar Nabi keracunan, maka mengapa baru wafat di tahun ke-4 dan mengapa beliau wafat lebih lama dari Bishr?

Ada beberapa hal yang patut diketahui:

  • Bishr-pun tidak mati seketika, namun di tahun ke-2 setelah kejadian [Riwayat lain menyampaikan bahwa Bishr mengalami kesakitan selama 1 tahunan dahulu sebelum kemudian wafat].
  • Nabi diriwayatkan mempunyai kebiasaan makan madu, 7 butir ‘Ajwa [dan Habbatus sauda], inilah yang membuat daya tahan tubuhnya lebih kuat dari Bishr. Di samping itu, setelah peristiwa keracunan di khaibar, Beliau juga berbekam [Abu dawud no. 3911]. Kebiasaan berbekam dilakukan 3x sebulan, yaitu tanggal 10, 19, 21 [Tirmidhi no.1976] dan berbekam tetap dilakukannya di saat puasa maupun ihram [Bukhari no.1802,1803]
Kemudian,
terdapat juga pendapat dari kalangan Syiah bahwa nabi wafat karena diracun (lagi) setelah kejadian di Khaibar. Namun kali ini pelakunya BUKAN LAGI Zainab Binti Al-Harith [karena Ia sudah dibunuh sekurangnya 2 tahun setelah kejadian Khaibar]. Pelakunya kali ini justru istri-istri Nabi sendiri yaitu: Aisyah dan Hafsa! (dengan memunculkan keterlibatan Abu bakar dan Umar (bapak mereka berdua) yang bermotifkan perebutan kekuasaan. Alasan kaum Syiah untuk ini cukup berdasar, karena hadis muslim sendiri menyampaikan potensi motif tersebut di 5 hari menjelang wafatnya:
    Riwayat (Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Ishaq bin Ibrahim) - Zakariya' bin 'Adi - Ubaidullah bin Amru - Zaid bin Abi Unaisah - Amru bin Murrah - Abdullah bin al-Harits an-Najrani - Jundab: "5 hari menjelang Rasulullah SAW wafat, aku mendengar beliau bersabda, 'Aku berlepas diri kepada Allah dari mengambil salah seorang di antara kalian sebagai kekasih, karena Allah Ta'ala telah menjadikanku sebagai kekasih sebagaimana Dia menjadikan Ibrahim sebagai kekasih. Dan kalaupun seandainya aku mengambil salah seorang dari umatku sebagai kekasih, niscaya aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai kekasih..."[Muslim no.827])
Pembunuhan Nabi Muhammad (SAW)

[..]

Ada sejumlah tradisi dari sumber Syiah dan Bakri tentang keterlibatan Aisyah dan Hafsah dalam pembunuhan Nabi Muhammad (SAW) seperti yang sebelumnya dinyatakan oleh Syekh dalam banyak ceramah. Namun, agar kita mengutip sumber-sumber tradisi-tradisi ini, Adalah mungkin lebih baik melihat ayat berikut ini dahulu.

"Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau (aw) dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (AQ Al-Imran 3:144).

Jika kita perhatian bagian ini: "Jika Ia wafat atau dibunuh" Kami temukan bahwa itu menegaskan bahwa Nabi (SAW) tidak wafat alami. Sebaliknya, itu menegaskan bahwa ia dibunuh. Alasannya bahwa kata penghubung (aw) di ayat ini berarti "bahkan (rather)" Dalam bahasa Arab, terkadang (aw) menunjukkan ketidakpastian dan probabilitas. Dalam konteks lain, menyatakan koreksi.

Karena mustahil bahwa setiap orang harus mencurigai firman Allah, karena Dia memiliki wawasan yang tidak diketahui, Allah pastinya bermaksud untuk memberikan arti lain. Dengan demikian, makna ayat adalah: "Jika dia meninggal, bahkan, ia dibunuh, kamu berbalik ke belakang."

Kami dengan ini mengerti bahwa Nabi telah dibunuh dan pembunuhannya itu diikuti berbalik kembali dan kemurtadan. Ini benar-benar terjadi, dan berbalik mendukung para pemberontak yang merebut kekuasaan, yaitu Abu Bakar dan Umar. Jadi, ini khususnya tertuju pada para pengikut Islam di jaman Nabi dan bukan untuk orang-orang Yahudi yang bukan lagi merupakan ancaman di Madinah sebagaimana yang Bakrie percayai.

Bagaimana nabi dibunuh? Dan Siapa-siapa yang terlibat dalam kejahatan keji? Apakah benar-benar, seperti Aisyah kisahkan, wanita Yahudi, Zainab Binti Al-Harith yang mengundang pesta Nabi (SAW) dan para sahabatnya setelah kemenangan atas orang-orang Yahudi di pertempuran Khaibar, ketika dia meracuni daging yang dimasak menyebabkan Nabi wafat empat tahun kemudian!

Mengabaikan fakta bahwa Pertempuran Khaibar terjadi di tahun ketujuh Hijrah, sementara Nabi (SAW) meninggal pada tahun kesebelas. Apakah mungkin seseorang mati keracunan dari makanan yang dikonsumsi empat tahun lalu! Terlepas dari fakta bahwa efek racun langsung dan bahkan perlu waktu yang tidak lebih dari beberapa bulan di mana kondisi kesehatan memburuk secara bertahap; Di samping fakta bahwa nabi tidak memiliki keluhan kesehatan yang tidak biasa dan berpartisipasi bertempur di seluruh periode intervensi!

Atau lebih tepatnya adalah nabi diracuni oleh Aisyah dan Hafsa atas perintah ayah mereka Abu Bakar dan Omar, yang dibuktikan dalam Bakrie 'serta buku-buku hadis Syiah'? Jika kita lihat hadits berikut yang dilaporkan Bukhari dari Aisyah tentang kematian nabi, Dia menceritakan: "Rasullulah mengatakan kepadaku di tempat tidurnya saat dekat kematiannya, 'Aisyah, sejak Aku makan makanan beracun setelah Pertempuran Khaibar, Aku kesakitan. Sekarang waktunya jantungku berhenti berdetak karena racun itu." (Sahih Al-Bukhari, Vol V, Halaman 137).

Terlepas dari fakta bahwa Quran mengambarkan bahwa Aisyah dan Hafsah sebagai pelanggar berdosa yang hatinya menyimpang dari jalan yang benar [(Klik!) AQ At Tahrim 66:04

  1. Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang
  2. Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepadamu sekalian membebaskan diri dari sumpahmu dan Allah adalah Pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
  3. Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang isterinya (Hafsah) suatu peristiwa. Maka tatkala (Hafsah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Allah memberitahukan hal itu (pembicaraan Hafsah dan Aisyah) kepada Muhammad lalu Muhammad memberitahukan sebagian (yang diberitakan Allah kepadanya) dan menyembunyikan sebagian yang lain (kepada Hafsah). Maka tatkala (Muhammad) memberitahukan pembicaraan (antara Hafsah dan Aisyah) lalu (Hafsah) bertanya: "Siapakah yang telah memberitahukan hal ini kepadamu?" Nabi menjawab: "Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."
  4. Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong, dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula.
], kita tidak bisa mempercayai tradisi Aisyah tentang keracunan Nabi karena tiga alasan penting.

Yang pertama adalah karena Aisyah adalah seorang pembohong terkenal. Al-Bukhari melaporkan Aisyah berkata: "Nabi makan madu di tempat Zainab Binti Jahsh Jadi Hafsa dan saya sepakat memberitahunya, sekembalinya bahwa ia berbau Maghafeer". (Sahih Al-Bukhari, Vol 6, Hal. 68. Maghafeer adalah substansi yang diekstrak dari sebuah pohon. Punya rasa manis tapi baunya sangat busuk)

Aisyah tahu bahwa Nabi (SAW) mendapat kan madu dari istrinya yang lain, Zainab Binti Jahsh. Menjadi cemburu, Ia bersekongkol dengan temannya, Hafsa, menyakiti Nabi dengan mengklaim bahwa ia berbau busuk setelah mengkonsumsi madu itu. Sehingga, ia berhenti makan itu, dan akibatnya berhenti mengunjungi istrinya, Zainab. Itu adalah bohong. Seorang wanita, yang tidak menahan diri berbohong pada nabi termulia, akan juga tidak menahan diri berbohong pada orang-orang biasa. Oleh karena itu, Hadis yang dilaporkan olehnya tak dapat dipercaya.

Yang kedua adalah karena Nabi (SAW) telah menggambarkan Aisyah sebagai "ujung tombak ketidakpercayaan dan tanduk setan" Ahmad Ibn Hanbal dan ulama terkenal lainnya dari Sekte Bakrit "Nabi, (SAW), muncul dari kamar Aisyah mengatakan ini merupakan ujung tombak ketidakpercayaan! Dari sini tanduk setan muncul "! (Musnad Ahmad, Vol II, Halaman 23). Oleh karenanya, kita tidak bisa mempercayai Hadis darinya.

Alasan ketiga dan yang paling penting mengapa kita tidak harus percaya Hadis Aisyah tentang keracunan Nabi (SAW) adalah karena Aisyah bertentangan dirinya sendiri dalam Hadis lain. Dia menyatakan bahwa Nabi tidak mati karena racun wanita Yahudi. Melainkan, penyebab kematiannya adalah karena penyakit lain! Menurut Abu Yoalla, Aisyah juga mengatakan bahwa: "Nabi Allah, (SAW), meninggal karena penyakit Dhatul Janb"! (Musnad Abu Yoalla, Vol. VIII, Halaman 258. Dhadul Janb adalah tumor yang tumbuh pada manusia. Ini menyebabkan kematian ketika meledak)

Imam kami menegaskan bahwa kakek mereka, Nabi (SAW), telah diracuni di hari-hari terakhirnya oleh Aisyah dan Hafsa, atas perintah ayah mereka, Abu Bakar dan Umar. Salah satu penafsir klasik Quran dari Syiah yang terkenal bernama Ali bin Ibrahim Al-Qummi, yang hidup di jaman Imam al-Hassan al-Askry (SAW), menceritakan sebuah hadis seperti yang dilaporkan oleh Imam tentang pembunuhan Nabi (SAW).

"Nabi berkata pada Hafsa:" Aku akan memberitahumu sebuah rahasia. Jika kamu ungkapkan ini, Allah, Malaikat-Nya dan orang-orang akan mengutukmu" "Jadi, apa itu?" Hafsa bertanya-tanya Nabi berkata: "Abu Bakar akan dapat merebut kekhalifahan dan kekuasaan setelah aku, dan akan digantikan oleh ayahmu, Umar. Hafsa bertanya-tanya: "Siapa yang memberitahumu tentang ini?" 'Allah, Maha Mengetahui memberitahuku"

"Pada hari yang sama, Hafsa membocorkan rahasia pada temannya, Aisyah. Kemudian, Aisyah membocorkan rahasia pada ayahnya, Abu Bakar. Jadi, Abu Bakar datang pada Umar dan berkata: "Putriku Aisyah menceritakan rahasia yg sampaikan Hafsa, tapi aku tak dapat selalu percaya apa yang dikatakan Aisyah Jadi, Engkau tanya putrimu Hafsa, pastikan dan ceritakan padaku"

"Umar mendatangi Hafsa dan bertanya. Awalnya, ia terkejut dan membantah. Tapi, Umar berkata padanya:.."Jika kau sudah dengar rahasia ini, maka beritahukan kami sehingga kami dapat segera merebut kekuasaan dan menyingkirkan Muhammad". Kemudian, Hafsa berkata: 'ya, Ia katakan demikian padaku'. Pada titik ini, keempatnya berkumpul dan bersekongkol meracuni Nabi "(Tafsir al-Qommi, Vol. II, Hal.367, Bihar-ul-Anwar oleh Allamah al-Majlisi, Vol. XXII, Halaman 239).

Ada lagi Ulama besar klasik dari Quran, Muhammad bin al-Ayashi Massoud yang juga berasal dari suku Bakri, namun kemudian mendapat panduan ilahi beriman pada yang benar dan beralih menjadi Syiah.

Dia bercerita bahwa: "Imam al-Shadiq (SAW) duduk bersama para pengikutnya, dan bertanya pada mereka: "Apakah kalian tahu apakah Nabi wafat alami atau dibunuh? Allah SWT berkata: "Jika kemudian ia mati atau dibunuh ". Yang benar adalah Sebelum wafat, Nabi telah diracun di hari-hari terakhirnya. Aisyah dan Hafsa memberikan racun dalam makanannya". Setelah mendengar hal ini, pengikut Imam Sadiq mengatakan bahwa mereka dan ayah mereka di antara penjahat terkeji yang pernah diciptakan Allah. " (Tafsir al-Ayashi, Jilid I, Halaman 200; Bihar-ul-Anwar, oleh Allamah Al-Majlisi, Vol XXII, Halaman 516)

Al-Ayshi sehubungan dengan Hadis lainnya yang merujuk pada Imam Al-Shadiq di mana Ia berkata: "Al-Hussein Ibn Munther meminta Imam Al-Shadiq tentang kata-kata Allah "jika kemudian dia wafat atau dibunuh akan kah kalian berbalik ke belakang". Apakah ini berarti bahwa Nabi wafat alami atau dibunuh?. Imam Al-Shadiq berkata: Di ayat ini, Allah merujuk kepada para sahabat Nabi yang melakukan perbuatan keji". (Tafsir Al Ayash, Jilid I, Halaman 200; Bihar-ul-Anwar, Oleh Allamah Al-Majlisi, Vol XX, Halaman 91)

Hadis-hadis ini memberikan penegasan tanpa keraguan bahwa Nabi Agung (SAW) dibunuh oleh racun yang diberikan di hari-hari akhirnya dan BUKAN yang diduga diberikan pada empat tahun sebelum kematiannya. Mereka juga menegaskan bahwa kejahatan adalah tindakan pengkhianatan oleh dua istri dan ayah mereka. Yang artinya bahwa TIDAK ADA keterlibatan orang Yahudi.

Terdapat juga bukti-bukti dari kitab-kitab hadisnya Bakrie, yang mendukung hadis-hadis Syiah' dan mendemonstrasikan keterlibatan dua istri Nabi dalam kejahatan tersebut. Salah satunya adalah dilaporkan di hadis Sahih al-Bukhari, Muslim dan lainnya dari Aisyah yang mengakui bahwa ketika Nabi tidur selama sakitnya ia meletakkan zat aneh kemulut nabi dengan bantuan istri-istri lainnya.

Aisyah lakukan itu dengan sengaja meskipun ada larangan Nabi. Ketika Nabi bangun, ia lihat sisa zat yang telah mereka masukkan ke mulutnya. Dengan marahnya Ia bertanya apa itu dan siapa yang telah tidak mematuhi perintah-perintahnya. Aisyah dan kolaborator-nya membenarkan aksi mereka engan mengatakan bahwa itu hanyalah obat.

Setelah itu, mereka menuduh paman Nabi, Al-Abbas Ibnu Abdul Muthalib. Namun, Nabi bebaskan pamannya dan memerintahkan bahwa mereka yang bersamanya di dalam ruangan harus dihukum dengan zat yang sama juga dimasukkan ke mulut mereka. Aisyah meriwayatkan:

"Ketika Nabi Allah sakit, ia mengatakan kepada kami: 'Jangan bubuhkan obat ke dalam mulutku" Tapi kami tidak taat dia di tanah bahwa pada dasarnya setiap pasien tidak menyukai pengobatan! Jadi, kami masukan zat ke dalam mulutnya. Ketika ia mermperoleh kesadarannya kembali, ia bertanya-tanya: "Siapa yang melakukan itu? Bukankah Aku telah peringatkan dirimu untuk tidak melakukan itu?"

"Jadi, kami berkata: "Adalah pamanmu Al-Abbas yang berpikir bahwa Engkau mungkin terjangkit tumor lateralis!". Nabi berkata: "Penyakit ini disebabkan oleh Iblis. Aku tidak mengidap itu.". Nabi perintahkan bahwa setiap orang yang di rumah harus memasukan obat yang sama ke mulut mereka, kecuali Al-Abbas, sebagaimana Nabi katakan: Ia tidak bersamamu". (Sahih Al-Bukhari, Vol VIII, Halaman 42; Sahih Muslim, Vol VII, halaman 42; Masnad Ahmed Ibn Hanbal, Vol VI, Halaman 53;. Biografi Nabi oleh Ibn Kathier, Vol IV, Halaman 446).

Seperti yang telah saya sampaikan sebelumnya, Quran meramalkan, seperti yang dinyatakan oleh Imam al-Shadiq, bahwa para sahabat Nabi akan berbalik melawannya. Nabi juga diprediksikan di beberapa Hadis bahwa sebagian besar sahabatnya akan masuk neraka. Salah satunya adalah sebuah hadis yang dilaporkan oleh Bukhari meriwayatkan bahwa Nabi (SAW) berkata:

"Pada hari kiamat, ketika aku akan di kolam air memberikan air pada orang-orang yang kehausan diantara para pengikutku, sekelompok pengikutku akan datang untuk minum tetapi para malaikat akan mengusir mereka dan membawa mereka ke Neraka! Dan aku akan berkata: Oh, Tuhan Mereka adalah para sahabatku! Namun Tuhan akan berkata padaku: "Kau tak tahu apa yang telah mereka lakukan setelah kematianmu. Mereka menjatuhkan dirinya dalam kemurtadan ....Dengan demikian, hanya sejumlah kecil para sahabatku akan lolos seperti unta yang lolos di padang di pasir" (Sahih Al-Bukhari, Vol VII, halaman 206).

Tak seorangpun dapat mengklaim bahwa Abu Bakar misalnya tak berada di antara mereka yang dicemplungkan ke neraka, karena Nabi sendiri tidak mengecualikan dirinya dari itu. Malik Ibn Anas, menceritakan bahwa Nabi bernubuat untuk para martir Muslim Uhud bahwa mereka akan pergi ke Surga.

"Jadi, Abu Bakar bertanya-tanya: "Bukankah kami para saudara mereka yang telah masuk Islam seperti mereka, dan berjuang dalam jihad seperti mereka, maka, mengapa engkau tidak menyatakan kabar baik bahwa kita akan ke surga? Nabi berkata: "Hal ini adalah benar bahwa engkau adalah saudara mereka, tapi Aku tidak tau apa yang akan engkau lakukan setelah aku mati". (Al Muatta Malik Ibn Anas, Vol II, Halaman 642).

Oleh karena itu, kita seharusnya tidak mengecualikan Abu Bakr dan Umar untuk kejahatan mengambil nyawa Nabi, terutama ketika mereka telah mencobanya sekali sebelumnya ketika Nabi di perjalanan kembali dari kota Tabuk. (Lihat Al Mohalla Ibnu Hazm, Vol. IX, Halaman 224).

Kesimpulannya kita katakan bahwa kita sekarang yakin bahwa Abu Bakar dan Umar memang ingin membunuh Nabi (SAW). Melalui, rencana mereka setelah gagal di Tabuk, rencana berikutnya mereka berhasil dengan berkolusi bersama putri mereka, Aisyah dan Hafsa yang memberikan racun pada Nabi ditidurnya untuk mempercepat perebutan kekuasaan ke tangan ayah mereka, sambil mengusir penerus yang sah, Imam Ali bin Abi Thalib (SAW).

26 Rajab 1431
Kantor Syekh al-Habib di London
----

Setelah menderita kesakitan yang berulang akibat diracun di Khaibar, maka pada menjelang wafatnya, Muhammad menjadi tampak lebih emosional terhadap Yahudi dan Kristen dan kaum Pagan:

    Riwayat Abu Al Yaman - Syu'aib - Az Zuhri- Ubaidullah bin 'Abdullah bin 'Utbah - [Aisyah dan 'Abdullah bin 'Abbas] berkata: "Ketika sakit Rasulullah SAW semakin parah, beliau memegang bajunya dan ditutupkan pada mukanya. Bila telah terasa sesak, beliau lepaskan dari mukanya. Ketika keadaannya seperti itu beliau bersabda: 'Semoga laknat Allah tertimpa kepada orang-orang Yahudi dan Nashara, mereka menjadikan kuburan para Nabi mereka sebagai masjid.' [Bukhari no.417. Juga di Bukari no. 1244 ('Ubaidullah bin Musa - Syaiban - Hilal (Al Wazzan) - 'Urwah - 'Aisyah - Nabi SAW bersabda ketika Beliau sakit yang membawa kepada kematiannya: "Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nashrani..".). Juga di Bukhari no.3195 (Bisyir bin Muhammad - 'Abdullah - (Ma'mar dan Yunus) - Az Zuhriy - 'Ubaidullah bin 'Abdullah - ('Aisyah dan Ibnu 'Abbas). Juga di Muslim no.823].

    Di hari-hari menjelang wafatnya, Beliau perintahkan untuk mengusir orang-orang pagan/Musyrik/politeis dari jazirah arab; [Muslim 13.4014/no.3089; Abu dawud 19.3023/no.2634; Bukhari: 4.52.288/no.2825; 4.53.393/no.2932; 5.59.716/no.4078]

    atau pada hadis lain dari riwayat [(Zuhair bin Harb - Ad Dlahak bin Makhlad) dan (Muhammad bin Rafi' - Abdurrazaq)] - Ibnu Juraij - Abu Az Zubair - Jabir bin Abdullah - Umar bin Khattab: Rasulullah SAW bersabda: Aku akan usir para Nasrani dan yahudi dari Jazirah arab dan tidak akan meninggalkan satupun kecuali MUSLIM [Muslim 19.4366/no.3313; Tirmidhi 3.19.1606/no.1531, 1607/no.1532. Ahmad no.196, 210, 214, 14189; Abu Dawud 19.3024/no.2635, 19.3025/no.2635]
Terakhir,
Hadis Bukhari, Muslim, Ahmad, Malik dan Tirmidhi mencatat ucapan Muhammad pada detik terakhirnya:

    Riwayat Mu'alla bin Asad - Abdul 'Azid bin Mukhtar - Hisyam bin Urwah - Abbad bin Abdullah bin Zubair - Aisyah:

    Rasulullah SAW berkata sebelum beliau wafat di pangkuan Aisyah..; "Ya Allah, Ampunilah aku, berikanlah rahmat kepadaku dan pertemukanlah aku dengan kekasihku!" [Bukhari no. 4086, 5242. Muslim no. 4474, Ahmad no.24757. Malik no.501. Tirmidhi no.3418]
Saat dipenghujung nafasnya... MALAH JUSTRU Muhammad sendiri yang menjadi tidak yakin pada janji ALLAHNYA SEBAGAIMANA yang kerap diajarkannya selama ini.

Bukankah Muhammad sendiri yang menyampaikan bahwa dari sejak awal mula Allah telah menetapkan dan mencatat jumlah orang yang masuk surga/neraka, takdir apapun yang diperbuatnya yang menyebabkan mereka berakhir di neraka atau surga?

    Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti.[AQ 19.94, turun di urutan ke-44]

    Dan tiap-tiap manusia telah Kami tetapkan takdirnya (thaa-irahu) di lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka.[AQ 17.13, turun di urutan ke-50]

    ...Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat [AQ 37.96, turun di urutan ke-56]

    ...sesungguhnya kitab para durhaka (alfujjaari) dalam (lafii) sijjin. ...kitab para orang benar (al-abraari) dalam (lafii) illiyiina [AQ 83.7,18. Turun di urutan ke-83]

    Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab sebelum Kami menciptakannya..[AQ 57.22, turun di urutan ke-94]
Bukankah Muhammad sendiri dengan yakinnya menyatakan bahwa:

  • masuk/tidaknya para manusia ke SURGA telah ditetapkan sejak awal yaitu tidak lama setelah ADAM DICIPTAKAN!

    Riwayat Abu Bakr bin Abu Syaibah - Waki' - Thalhah bin Yahya - bibinya, 'Aisyah binti Thalhah - 'Aisyah ummul Mu'minin:

    "Pada suatu ketika, Rasulullah SAW pernah diundang untuk melayat jenazah seorang bayi dari kaum Anshar. Kemudian saya (Aisyah) berkata kepada beliau; 'Ya Rasulullah, sungguh berbahagia bayi kecil ini! Ia seperti seekor burung dari sekian burung surga yang belum pernah berbuat dosa dan belum pernah ternodai oleh dosa.'

    Rasulullah SAW bersabda: 'hai Aisyah bahwa Allah telah menciptakan orang-orang yang akan menjadi penghuni surga ketika mereka masih berada dalam tulang rusuk (sulbi) bapak-bapak mereka (قَالَ أَوَ غَيْرَ ذَلِكَ يَا عَائِشَةُ إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ لِلْجَنَّةِ أَهْلًا خَلَقَهُمْ لَهَا وَهُمْ فِي أَصْلَابِ آبَائِهِمْ ).

    Allah pun telah menciptakan orang-orang yang akan menjadi penghuni neraka ketika mereka masih berada dalam tulang rusuk bapak-bapak mereka.'

    Riwayat Muhammad bin Ash Shabbah - Isma'il bin Zakaria - Thalhah bin Yahya. Riwayat Sulaiman bin Ma'bad - Al Husain bin Hafsh. Riwayat Ishaq bin Manshur - Muhammad bin Yusuf keduanya dari Sufyan Ats Tsauri - Thalhah bin Yahya dengan sanad Waki' seperti haditsnya. [Muslim 33.6436/no.4813, juga di no. 4812. Juga di Abu dawud no.4090]

    ***

    Riwayat Qa'nabi - Malik - Zaid bin Unaisah - Abdul Hamid bin 'Abdurrahman bin Zaid Ibnul Khaththab - Muslim bin Yasar Al Juhani - Umar Ibnul Khaththab pernah ditanya tentang ayat ini:

    (Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka) -Qs. Al A'raf: 172- Al Qa'nabi membaca ayat tersebut, lalu Umar berkata, "Aku juga pernah mendengar Rasulullah SAW ditanya tentang ayat itu, lalu beliau menjawab; "Sesungguhnya Allah menciptakan Adam,

    lalu ALLAH MENGUSAP PUNGGUNGNYA (sulbi) DENGAN TANGAN KANAN-Nya hingga keluarlah keturunan Adam dari punggungnya. Kemudian Allah berfirman: "AKU MENCIPTAKAN MEREKA UNTUK MASUK SURGA, dan mereka akan beramal dengan amalan-amalan penduduk surga."

    kemudian ALLAH KEMBALI MENGUSAP PUNGGUNG ADAM hingga keluarlah keturunan Adam dari punggungnya. Setelah itu Allah berfirman: "AKU MENCIPTAKAN MEREKA UNTUK MASUK NERAKA, dan mereka akan beramal dengan amalan-amalan penduduk neraka."

    Seorang laki-laki bertanya, "Wahai Rasulullah, lalu untuk apa gunanya beramal?"

    Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya jika Allah menciptakan seorang hamba untuk masuk ke dalam surga maka Ia akan menjadikannya beramal dengan amalan penduduk surga, sehingga ia mati dengan amalan penduduk surga lalu memasukkannya ke dalam surga.

    Dan jika Allah menciptakan seorang hamba untuk masuk ke dalam neraka maka Ia akan menjadikannya beramal dengan amalan penduduk neraka, sehingga ia mati dengan amalan penduduk neraka lalu memasukkannya ke dalam neraka."

    Riwayat Muhammad Ibnul Mushaffa - Baqiyyah - Umar bin Ju'tsum Al Qurasyi - Zaid bin Abu Unaisah - Abdul Hamid bin 'Abdurrahman - Muslim bin Yasar - Nu'iam bin Rabi'ah: "Aku sependapat dengan Umar Ibnul Khaththab dengan hadits ini, namun hadits Malik lebih lengkap."

    [Abu Dawud no.4081, Juga di Tirmidhi no.3001 (Hadis Hasan), 3002 (Hadis Hasan sahih). Malik no.1395. Ahmad no. 294, 2157, 17000. Kemudian di hadis Ahmad no. 26216, Riwayat Haitsam - Abu Ar Rabi' - Yunus - Abu Idris - Abu Darda' - Nabi SAW bersabda: "Ketika Allah menciptakan Adam, Allah memukul bahu kanan Adam, maka keluarlah keturunan berkulit putih seperti molekul, dan memukul bahu kirinya keluar keturunan berkulit hitam seperti arang, Allah berkata pada yang di bagian kanannya, 'Masuklah ke Surga dan Aku tidak perduli'. berkata pada yang di bagian kirinya, 'Masuklah ke dalam Neraka dan Aku tidak perduli'"]

    ***

    Riwayat (Abu Bakr bin Abu Syaibah - Abu Mu'awiyah dan Waki' atau dari jalur lainnya riwayat Muhammad bin 'Abdullah bin Numair Al Mahdani - Bapakku dan Abu Mu'awiyah dan Waki') - Al A'masy - Zaid bin Wahb - 'Abdullah - Rasulullah SAW (Ash Shadiq Al Mashduq, seorang yang jujur menyampaikan dan berita yang disampaikannya adalah benar):

    'seorang manusia mulai diciptakan dalam perut ibunya selama 40 hari. Kemudian menjadi segumpal daging pada 40 hari berikutnya. Lalu menjadi segumpal daging pada 40 hari berikutnya. Setelah 40 hari berikutnya, Allah pun mengutus seorang malaikat untuk menghembuskan ruh ke dalam dirinya dan diperintahkan untuk menulis empat hal: rezekinya, ajalnya, amalnya, dan sengsara atau bahagianya.'

    ..seseorang darimu yang mengerjakan amal perbuatan ahli surga, hingga jarak antara dirinya dan surga hanyalah satu hasta, namun SURATAN TAKDIR rupanya ditetapkan baginya hingga ia mengerjakan amal perbuatan ahli neraka dan akhirnya ia pun masuk neraka.

    Ada pula orang yang mengerjakan amal perbuatan ahli neraka, hingga jarak antara ia dan neraka hanya satu hasta, namun SURATAN TAKDIR rupanya ditetapkan baginya hingga kemudian ia mengerjakan amal perbuatan ahli surga dan akhirnya ia pun masuk surga.' [Muslim no.4781. Bukhari no.3085]

    ***

    Riwayat [Qutaibah atau Hasyim bin Qasim] - [Al Laits atau Bakr bin Mudhar] - Abu Qabil/Huyaiy bin Hani - Syufayyi bin Mati' - 'Abdullah bin 'Amr bin Al 'Ash:

    Rasulullah SAW keluar menemui kami sementara di tangan beliau terdapat dua kitab. Kemudian beliau pun bertanya: "Apakah kalian tahu kitab apakah kedua kitab ini?" Maka kami pun menjawab: "Tidak wahai Rasulullah, kecuali Anda mengabarkannya pada kami."

    Akhirnya beliau pun bersabda terkait dengan kitab yang berada pada tangan kanannya:
    "Ini adalah kitab yang berasal dari Rabb semesta alam. Di dalamnya terdapat nama-nama penduduk surga dan juga nama-nama orang tua serta kabilah mereka. Jumlahnya telah ditutup dengan orang yang terakhir dari mereka, dan tidak akan ditambah dan jumlah mereka tidak pula dikurangi lagi."

    Kemudian beliau bersabda terkait dengan kitab yang berada di tangan kirinya: "Adapun ini, ia adalah kitab yang juga berasal dari Rabb semesta alam. Di dalamnya telah tercantum nama-nama penghuni neraka, dan juga nama-nama bapak mereka serta kabilah mereka, dan telah dijumlah dengan orang yang terakhir dari mereka. Sehingga jumlah mereka tidak lagi akan bertambah dan tidak pula akan berkurang selama-lamanya."

    Kemudian para sahabat pun berkata, "Kalau begitu, dimanakah letaknya amalan wahai Rasulullah jika memang perkara sudah habis?" beliau menjawab: "Berusahalah dan mendekatlah, karena sesungguhnya penduduk surga akan ditutup dengan amalan penduduk ahli surga, meskipun ia mengamalkan amalan apa saja. Dan sesungguhnya penduduk neraka akan ditutup pula dengan amalan penduduk neraka, meskipun ia mengerjakan amalan apa saja." Kemudian Rasulullah SAW bersabda dengan kedua tangannya lalu menghempaskannya dan bersabda: "Sesungguhnya Allah telah selesai terhadap urusan para hamba-Nya. Satu golongan di dalam surga dan satu kelompok pula di dalam neraka.". Abu Isa berkata; Hadits semakna juga diriwayatkan dari Ibnu Umar. Dan hadits ini adalah Hasan Shahih Gharib. [Tirmidhi no. 2067/4.6.2141. Ahmad no.6275]
Bukankah Muhammad sendiri yang mengatakan bahwa Ia ADALAH PEMIMPIN SELURUH MANUSIA PADA HARI KIAMAT, PARA NABI LAIN TIDAK ADA YANG MAMPU MEMBERIKAN SYAFAAT KECUALI DIRINYA SEORANG DAN BAHKAN PARA NABI INI SAJA MASIH BUTUH SYAFAAT KECUALI DIRINYA SEORANG sebagaimana disampaikan oleh hadis Bukhari no.4343. Muslim no.284, 287 dan Tirmidhi no. 2358 di bawah ini?

    Riwayat Abu Kamil Fudlail bin Husain al-Jahdari dan Muhammad bin Ubaid al-Ghubari (lafazh milik Abu Kamil) - Abu 'Awanah - Qatadah - Anas bin Malik - Rasulullah SAW bersabda:

      [Bukhari no. 4343. Muslim no.287 dan Tirmidhi no.2358:
      Riwayat Abu Bakar bin Abu Syaibah dan Muhammad bin Abdullah bin Numair - Muhammad bin Bisyr - Abu Hayyan - Abu Zur'ah - Abu Hurairah: Rasullullah bersabda: "Aku PEMIMPIN MANUSIA PADA HARI KIAMAT, TAHUKAH KALIAN KENAPA?]

    "Allah akan mengumpulkan manusia pada Hari Kiamat. Ketika itu mereka memandang penting masalah syafaat." Ibnu Ubaid menyebutkan, "Mereka diberi ilham untuk menanyakan hal itu. Mereka berkata, 'Sekiranya saja kita dapat memohon syafaat kepada Tuhan, agar Dia mengizinkan kita beristirahat dari keadaan kita ini.

    Lalu mereka pergi kepada Nabi Adam AS, lalu berkata, 'Wahai Adam! Kamu adalah bapak semua manusia. Allah telah menciptakanmu dengan tangan-Nya dan meniupkan roh ke dalam badanmu serta telah memerintahkan para malaikat supaya sujud kepadamu. Syafaatilah kami di hadapan Tuhanmu, agar mengizinkan kami beristirahat dari keadaan begini'.

    Adam menjawab, 'Aku bukan pemilik hak memberikan syafa'at -Adam lalu menyebut kesalahan yang pernah dilakukannya, sehingga membuatnya merasa malu kepada Tuhan karena kesalahan tersebut-, akan tetapi datanglah kepada Nuh, Rasul pertama yang diutus oleh Allah'.

      [Muslim no.287:
      ..Diriku sendiri butuh syafa'at, silahkan pergi menemui selainku, pergilah menemui Nuh.']

    Lantas mereka pergi menemui Nabi Nuh AS, namun beliau berkata, 'Aku bukanlah orang yang bias memberikan syafa'at -lalu menyebut kesalahan yang pernah dilakukannya hingga membuatkannya merasa malu kepada Tuhan karena kesalahan tersebut-, akan tetapi datanglah menemui Nabi Ibrahim AS, yang telah dianggap sebagai kekasih Allah.'

      [Muslim no.287:
      ..Diriku sendiri butuh syafa'at, silahkan pergi menemui selainku, pergilah menemui Ibrahim.']

    Mereka pun pergi menemui Nabi Ibrahim AS, ia juga berkata, 'Aku bukanlah orang yang berhak memberikan syafa'at -lalu dia menyebutkan kesalahan yang pernah dilakukannya, hingga membuatnya merasa malu kepada Tuhan karena kesalahan tersebut- akan tetapi datanglah menemui Nabi Musa AS, yang pernah diajak bicara oleh Allah dan diberi Kitab Taurat.'

      [Muslim no.287:
      ..Diriku sendiri butuh syafa'at, silahkan pergi menemui selainku, pergilah menemui Musa.']

    Mereka pun pergi menemui Nabi Musa AS, namun ia juga berkata, 'Aku bukanlah orang yang berhak memberikan syafa'at -lalu dia menyebut kesalahan yang pernah dilakukannya, hngga membuatnya merasa malu kepada Tuhan karena kesalahan tersebut- akan tetapi kalian datanglah menemui Nabi Isa AS, ruh Allah dan Kalimat-Nya.'

      [Muslim no.287:
      ..Diriku sendiri butuh syafa'at, silahkan pergi menemui selainku, pergilah menemui Isa.']

    Mereka pun pergi menemui Nabi Isa AS, ruh Allah dan Kalimat-Nya. Namun ia juga berkata, 'Aku bukanlah orang yang berhak memberikan syafa'at, tetapi pergilah kamu semua kepada Muhammad SAW, hamba Allah yang telah diampuni dosanya yang terdahulu dan yang terkemudian'."

      [Muslim no.287:
      ..Diriku sendiri butuh syafa'at, silahkan pergi menemui selainku, pergilah menemui Muhammad.']

    Rasulullah SAW meneruskan sabdanya: 'Mereka datang kepadaku, lalu aku meminta izin kepada Tuhan. Aku pun diberi izin.

    Ketika aku melihat-Nya, aku menyungkurkan diri dalam keadaan bersujud.

      [Bukhari no.4343. Muslim no.287 dan Tirmidhi no.2358Lalu aku pergi hingga sampai di bawah 'arsy, aku tersungkur sujud pada Rabbku LALU ALLAH MEMULAI DENGAN PUJIAN DAN SANJUNGAN UNTUKKU YANG BELUM PERNAH DISAMPAIKAN PADA SEORANGPUN SEBELUMKU, lalu ada suara: Hai Muhammad, angkatlah kepalamu, mintalah pasti kau diberi, berilah syafaat nicaya kau diizinkan untuk memberi syafaat.

      Lalu aku mengangkat kepalaku, aku berkata: Wahai Rabb, ummatku, wahai Rabb, ummatku, wahai Rabb, ummatku.

      Ia berkata: Hai Muhammad, masukkan orang yang tidak dihisab dari ummatmu melalui pintu-pintu surga sebelah kanan dan mereka adalah sekutu semua manusia selain pintu-pintu itu."]

    Dia memanggil-manggilku, kemudian berfirman kepadaku: 'Angkatlah kepalamu wahai Muhammad! Katakanlah sesuatu, niscaya kamu akan didengar. Mohonlah, niscaya kamu akan diberi. Syafaatilah, niscaya Aku akan terima syafaat yang kamu pinta.

    Aku mengangkat kepalaku dan memuji Tuhan dengan pujian yang telah diajarkan oleh Allah kepadaku. Kemudian aku memberi syafa'at.

    Lalu Allah memberikan kriteria (orang yang berhak mendapatkan syafa'at) kepadaku. Lalu aku mengeluarkan lagi orang-orang dari Neraka dan memasukkan mereka ke dalam Surga.

    Kemudian aku kembali jatuh bersujud.

    Maka Allah memanggilku sebagaimana Dia kehendaki kemudian berfirman kepadaku: 'Angkatlah kepalamu wahai Muhammad! Katakanlah, niscaya kamu akan didengar. Mohonlah, niscaya kamu akan diberi. Syafaatilah, niscaya Aku akan terima Syafaat yang kamu pinta."

    Perawi Hadits berkata, "Aku tidak mengetahui secara pasti pada kali yang ketiga atau kali yang keempat.

    Beliau bersabda: "Wahai Tuhanku! Yang masih ada di dalam Neraka hanyalah orang-orang yang ditahan oleh al-Qur'an, yaitu orang yang memang seharusnya kekal di dalam Neraka'."

    Ibnu Ubaid menyebutkan dalam riwayatnya, 'Qatadah berkata, "Maksudnya wajib kekal di dalamnya." ...[Muslim no.284]
Jika PENDIRI AJARANNYA SAJA berada pada KONDISI MENYEDIHKAN DISEBELUM WAFATNYA dan malah MENGEMIS MINTA AMPUNAN dan SURGA, Maka buat apa lagi mempercayai ajarannya?

[Pustaka: SEJARAH HIDUP MUHAMMAD, MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL, terjemahan: Ali Audah, Penerbit PUSTAKA JAYA, Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat, Cetakan Kelima, 1980, Seri PUSTAKA ISLAM No.1, Sahih Bukhari, Sahih Muslim, tabari, Abu Daud, Ibn Sad, Silas, Sam shamoun, Dictionary: Muhammad] []


55 comments:

  1. Total lamanya waktu mulai Yesus Kristus wafat sampai kebangkitan ialh 3 hari, 3 malam.
    Urutannya sbb.:

    Tuesday:
    Jesus Christ ate an evening Passover meal with His disciples (at the beginning of Nisan 14, biblical reckoning) and instituted the New Covenant symbols (Matthew 26:26-28). Jesus was then betrayed by Judas, arrested and during the night brought before the high priest.

    Wednesday:
    Jesus was crucified and died around 3 p.m. (Matthew 27:46-50). This was the preparation day for the annual, not weekly, Sabbath, which began at sunset (Mark 15:42; Luke 23:54; John 19:31). Jesus' body was placed in the tomb just before sunset (Matthew 27:57-60).

    Thursday:
    This was the high-day Sabbath, the first day of Unleavened Bread (John 19:31; Leviticus 23:4-7). It is described as the day after the "Day of Preparation" (Matthew 27:62).

    Friday:
    The high-day Sabbath now past, the women bought and prepared spices for anointing Jesus' body before resting on the weekly Sabbath day, which began at Friday sunset (Mark 16:1; Luke 23:56).

    Saturday:
    The women rested on the weekly Sabbath, according to the Fourth Commandment (Luke 23:56; Exodus 20:8-11). Jesus rose near sunset, exactly three days and three nights after burial, fulfilling the sign of Jonah and authenticating the sign He gave of His messiah-ship.

    Sunday:
    The women brought the prepared spices early in the morning while it was still dark (Luke 24:1; John 20:1), finding that Jesus had already risen (Matthew 28:1-6; Mark 16:2-6; Luke 24:2-3; John 20:1). He did not rise on Sunday morning, but near sunset the day before.
    http://www.gnmagazine.org/issues/gn63/jesus_chronology.htm

    ReplyDelete
  2. Penjelasan :

    Jesus crucified on Wednesday, not Friday

    Several computer software programs exist that enable us to calculate when the Passover and God's other festivals fall in any given year. Those programs show that in A.D. 31, the year of these events, the Passover meal was eaten on Tuesday night and Wednesday sundown marked the beginning of the "high day," the first day of the Feast of Unleavened Bread.

    Jesus, then, was crucified and entombed on a Wednesday afternoon, not on Friday.

    Can we find further proof of this in the Gospels? Yes, indeed we can!

    Let's turn to a seldom-noticed detail in Mark 16:1: "Now when the Sabbath was past, Mary Magdalene, Mary the mother of James, and Salome bought spices, that they might come and anoint Him."

    In that time, if the body of a loved one was placed in a tomb rather than being buried directly in the ground, friends and family would commonly place aromatic spices in the tomb alongside the body to reduce the smell as the remains decayed.

    Since Jesus' body was placed in the tomb just before that high-day Sabbath began, the women had no time to buy those spices before the Sabbath. Also, they could not have purchased them on the Sabbath day, as shops were closed. Thus, Mark says, they bought the spices after the Sabbath— "when the Sabbath was past."

    But notice another revealing detail in Luke 23:55-56: "And the women who had come with [Christ] from Galilee followed after, and they observed the tomb and how His body was laid. Then they returned and prepared spices and fragrant oils. And they rested on the Sabbath according to the commandment."

    Do you see a problem here? Mark clearly states that the women bought the spices after the Sabbath—"when the Sabbath was past." Luke tells us that the women prepared the spices and fragrant oils, after which "they rested on the Sabbath according to the commandment."

    So they bought the spices after the Sabbath, and then they prepared the spices before resting on the Sabbath. This is a clear contradiction between these two Gospel accounts—unless two Sabbaths were involved!

    Indeed when we understand that two different Sabbaths are mentioned, the problem goes away.

    Mark tells us that after the "high day" Sabbath, which began Wednesday evening at sundown and ended Thursday evening at sundown, the women bought the spices to anoint Jesus' body. Luke then tells us that the women prepared the spices—activity which would have taken place on Friday—and that afterward "they rested on the Sabbath [the normal weekly Sabbath day, observed Friday sunset to Saturday sunset] according to the commandment."

    By comparing details in both accounts, we can clearly see that two different Sabbaths are mentioned along with a workday in between. The first Sabbath was a "high day"—the first day of the Feast of Unleavened Bread, which fell on a Thursday. The second was the weekly seventh-day Sabbath. (To see these events spelled out in day-by-day detail, see the chart above.)

    The original Greek in which the Gospels were written also plainly tells us that two Sabbath days were involved in these accounts. In Matthew 28:1, where Matthew writes that the women went to the tomb "after the Sabbath," the word Sabbath here is actually plural and should be translated "Sabbaths." Bible versions such as Alfred Marshall's Interlinear Greek-English New Testament, Green's Literal Translation Young's Literal Translation and Ferrar Fenton's Translation make this clear.
    http://www.gnmagazine.org/issues/gn63/jesus.htm

    ReplyDelete
  3. Penjelasan lanjutan :

    When was Jesus resurrected?

    We have seen, then, that Jesus Christ was crucified and entombed on a Wednesday, just before an annual Sabbath began—not the weekly Sabbath. So when was He resurrected?

    John 20:1, as noted earlier, tells us that "on the first day of the week Mary Magdalene went to the tomb early, while it was still dark, and saw that the stone had been taken away from the tomb." The sun had not yet risen— "it was still dark," John tells us—when Mary found the tomb empty.

    Obviously, then, Jesus was not resurrected at sunrise on Sunday morning. So when did this take place? The answer is plain if we simply read the Gospels—and Jesus Christ's own words—and accept them for what they say.

    "For as Jonah was three days and three nights in the belly of the great fish, so will the Son of Man be three days and three nights in the heart of the earth," said Jesus (Matthew 12:40).

    As we have proven, Jesus was entombed —placed "in the heart of the earth"—just before sundown on a Wednesday. All we have to do is count forward. One day and one night brings us to Thursday at sundown. Another day and night brings us to Friday at sundown. A third day and night brings us to Saturday at sundown.

    According to Jesus Christ's own words He would have been resurrected three days and nights after He was entombed, at around the same time—near sunset. Does this fit with the Scriptures? Yes—as we have seen, He was already risen and the tomb empty when Mary arrived "while it was still dark" on Sunday morning.
    http://www.gnmagazine.org/issues/gn63/jesus.htm

    ReplyDelete
  4. Tks untuk commentnya dan juga second opinion mengenai hari kematian Jesus...

    Di atas telah saya cuplikan 4 injil yang berhubungan dengan kejadian itui, kemudian juga ada petunjuk ini:
    14:1. Hari raya Paskah dan hari raya Roti Tidak Beragi akan mulai dua hari lagi...

    sebagaimana dimaksud di Imanat 23, bulan ke 1 tanggal 14 ada Paskah tuhan dan dilanjutkan hari roti beragi (tgl 15)...

    kemudian setelah itu ternyata disebut2 ada paskah lagi yaitu paskah reguler.

    Jadi kalau jum'at malam adalah mulai paskah reguler maka tentunya jum'at sore masih termasuk hari persiapan..dan itu klop dengan petunjuk ini:
    Lukas
    23:54 Hari itu adalah hari persiapan dan sabat hampir mulai.
    23:56 Dan setelah pulang, mereka menyediakan rempah-rempah dan minyak mur. (23-56b) Dan pada hari Sabat mereka beristirahat menurut hukum Taurat,

    Di atas juga disebutkan bahwa di hari kematian jesus ada gerhana...nah hal itu sudah di hitung para ahli berdasarkan hitungan astronomi..munculah tanggal2 perkiraan dan Menurut Paul's Early Period: Chronology, Mission Strategy, Theology; Oleh Rainer Riesner; Diterbitkan oleh Wm. B. Eerdmans Publishing, 1998..jatuhnya sekitar kamis dan jum'at

    Hitungan Sir Isacc Newton juga demikian

    salam

    wirajhana

    N.b
    lebih seru pake nama..kan bisa dicantumkan di bawah tulisan seperti ini misalnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jika PENDIRI AJARANNYA SAJA berada pada KONDISI MENYEDIHKAN DISEBELUM WAFATNYA dan malah MENGEMIS MINTA AMPUNAN dan SURGA, Maka buat apa lagi mempercayai ajarannya?

      *inilah contoh tulisan orang2 yg belum bisa memahami agamany secara menyeluruh*

      Delete
  5. Mengapa terkadang pada gambar/lukisan Krisna, Buddha, dan Yesus terdapat gambar lingkaran cahaya / matahari dibelakang kepala mereka??? lingkaran cahaya ini juga terdapat di gambar Musa dan Zoroaster...
    Kesamaan gambar seperti ini akan menimbulkan pertanyaan bagi orang yang netral :
    1. Lambang apakah dibelakang gambar orang-orang ini jelas berbeda ini?
    2. Apa kesamaan lambang ini menunjukkan ajaran mereka sama?? (aneh kalo sama)
    3. Apakah ada oknum yang sengaja membuat gambaran seperti ini??? (oknum pemilik lambang matahari)

    KALO SAYA SENDIRI CURIGA INI ADA OKNUM YANG SAMA YANG MENYUSUP KE AJARAN ORANG-ORANG TERSEBUT DIATAS...

    ReplyDelete
  6. Fean,
    Gambaran itu dimaksudkan sebagai visualisasi lingkaran halo pada orang2/mahluk yg dikategorikan suci oleh masing2 aliran atau juga sebagai gambaran visual bahwa tubuh mereka memancarkan sinar..

    ada yg mengatakan halo = aura dan ada yg mengatakan gambaran aura itu keliru..mestinya keatas dari ubun2..bukan melingkar dan kalo dimaksudkan tubuh mereka memancarkan cahaya..maka mesti seluruh tubuhnya digambarkan memancarkan bukan kepalanya saja

    ttg aura, ilmu modern juga udah sampe taraf membuat alat yg dapat merekamnya:
    http://lkm.fri.uni-lj.si/xaigor/eng/kirlian.htm#KIRLIAN%20EFFECT:%20A%20SCIENTIFIC%20TOOL%20FOR%20STUDYING%20AURA
    http://www.paradigm-sys.com/ctt_articles2.cfm?id=28
    http://www.associatedcontent.com/article/863855/a_brief_scientific_look_at_the_human.html?cat=34

    ReplyDelete
  7. Mas Wira,
    Apa visualisasi lingkaran pada Krisna dan Buddha ada tersebut di Kitab Suci Buddha??? karena kalo hanya dikategorikan oleh masing-masing aliran dan bukan kitab suci maka ini menunjukkan adanya penyusupan ajaran dari pihak luar...

    Dan bisa dibilang penyusup ini hebat bisa menyusupkan ajaran yang sama di agama Buddha, Hindu, Kristen, Yahudi dan Majusi, dimana agama-agama ini beda lokasi dan beda jaman...

    ReplyDelete
  8. Fean,
    kalo tubuh bercahaya disebutkan dalam kitab suci Buddhis, terutama mereka yg mencapai buah jhana hasil meditasi..dan tidak dimaksudkan cuma dilingkaran kepala saja. Kemudian gambaran2 patung Buddha di thailand ujung kepalanya lancip..itu dimaksudkan sbg aura yg meninggi hingga keatas.

    ReplyDelete
  9. Jadi benarlah gambaran lingkaran dibelakang kepala dimaksud adalah tidak ada di ajaran Buddhis, sehingga terlihat nyata adanya upaya penyusupan / infiltrasi terhadap agama tersebut...

    ReplyDelete
  10. Fean,
    Penganut Aliran India [Buddhis, jain atau Hindu] tidak mempermasalahkan hasil visualisasi tokoh pujaan mereka padahal Aliran India mengetahui bahwa terdapat 32 tanda tubuh pada seorang manusia agung, kurang 1 saja diantaranya maka ia bukan manusia agung.

    Visualisasi yg dilakukan lebih banyak tidak sesuai dengan tanda2 itu, misalnya di gambarkan matanya jadi sipit, rambutnya jadi lurus, ujung rambut di atas kepalanya jadi bulat spt konde dst. Perbedaan yg sangat mendasar ini saja tidak pernah mengganggu atau menjadi hal penting yg dipermasalahkan oleh para penganut Aliran india.

    Biarpun demikian, banyak dari mereka memakai itu sebagai objek dalam meditasi atau cara memberikan penghormatan/berterima kasih atas ajaran yg diberikan, salah satunya dengan amisapuja dll

    kenapa? karena bukan bendanya yg di puja/disembah.

    Yang lebih diperlukan oleh ajaran ini adalah konteks Ajaran [Dhamma] karena bagian ini memberikan pengertian dasar benar salah sehingga mencapai tujuan yg diperlukan.

    ReplyDelete
  11. Kalo penganut aliran India tidak mempermasalahkan hasil visualisasi tersebut, maka saya bisa ambil kesimpulan bahwa IBLIS-lah yang menyusup/melakukan infiltrasi ke-5 agama ini, karena visualisasi sesat yang ditampilkan sama, dan ke-5 agama ini ada di jaman dan negeri yang berbeda yang tentu akan sulit bagi manusia biasa untuk melakukan penyusupan tersebut...
    Ini sudah janji IBLIS kepada ALLAH untuk menyesatkan manusia semuanya...
    Kesesatan pada visualisasi para tokoh tidak menutup kemungkinan juga terjadi di penyesatan isi kitab suci apalagi jika tidak ada klaim dari kitab suci tersebut yang menyatakan keterjagaannya dari campur tangan atau penyusupan...
    Bukti kesalahan sudah ada di satu kitab dan tidak menutup kemungkinan ada di kitab lainnya, kalau sudah begitu kitab tersebut tidak lagi dapat di bilang kitab suci....

    ReplyDelete
  12. Fean,
    Buddisme tidak pernah mengatakan uraian sang buddha itu sebagai uraian suci, mereka menyebutkan kumpulan kalimat Buddha itu dengan nama 3 keranjang [tipitaka]..membaca kitab tipitaka tidak lantas membuat diri jadi suci..kitab itu boleh2 saja dirobek, dibakar atau dijadikan tissue toilet..karena yg diperlukan adalah isi dari ajaran tersebut yang terangkum dalam kalimat:

    Kurangi Kejahatan,
    Perbanyak kebajikan,
    Sucikan Pikiran,
    Inilah ajaran Para Buddha
    (Dhammapada :183, http://wirajhana-eka.blogspot.com/2007/08/bab-14.html)

    Disamping itu, Allah dan iblis di ajaran Buddha tidak ada..lagi pula ajaran Buddha menyatakan semua mahluk di 31 alam akan terlahir berulang2..jadi Allah dan Iblis sama saja seperti anda dan saya akan terlahir kembali lagi dan lagi..bisa jadi juga Allah dan iblis itu dalam satu kelahiran2 terdahulu..mungkin pernah menjadi pembantu2 saya.

    ReplyDelete
  13. Hmm... saya tetep heran pada oknum penyusup ini, yang tak terpengaruh waktu dan jaman, tak terpengaruh oleh kelahiran berkali-kali dan tidak terpengaruh karma, karena sifatnya tetap selama kurun waktu di lima jaman agama tersebut yaitu melakukan penyesatan visualisasi yang sama... HERAN????

    ReplyDelete
  14. Shallom Bapak Wirajhana yang dikasihi Tuhan,
    Pada kesempatan yang diberkati Tuhan ini, marilah kita melanjutkan diskusi terdahulu kita. Manusia pada dasarnya sudah bobrok dan berdosa Pak. Ibaratnya seseorang yang terjatuh ke jurang yang dalam. Apakah ia dapat menyelamatkan dirinya sendiri? Jawabnya mustahil Pak. Harus ada orang yang mengulurkan tali dan mengangkatnya ke atas. Begitu pula manusia Pak. Firman Tuhan mengatakan “tak seorangpun manusia berbuat baik. Tak seorangpun tidak.” Dengan demikian, anggapan bahwa manusia yang memang sudah diliputi dosa dapat menyelamatkan atau menyucikan dirinya sendiri adalah sangat menggelikan. Kucingpun akan tertawa mendengarnya Pak. Mustahil ada yang sanggup karena hakekat manusia sudah buruk. Itulah sebabnya manusia perlu Yesus Kristus Pak. Tanpa Yesus tak akan ada seorangpun masuk surga. Darah Yesus membasuh dosa manusia. Jika benar ada manusia yang sanggup menyelamatkan dirinya sendiri, silakan Bapak Wirajhana yang pintar memberikan contohnya. Satu saja Pak beserta bukti2 yang akurat dan bukannya cuman dongeng yang hanya berdasarkan KATANYA. Bisa Pak?

    ReplyDelete
  15. Alexius,
    pertanyaan anda:
    Apakah ia dapat menyelamatkan dirinya sendiri?

    gw:
    maksudnya menyelamatkan dirinya sendiri apa?

    Anda:
    Firman Tuhan mengatakan “tak seorangpun manusia berbuat baik. Tak seorangpun tidak.”

    Gw:
    yah goblok aja anda percaya itu.

    Anda:
    Dengan demikian, anggapan bahwa manusia yang memang sudah diliputi dosa dapat menyelamatkan atau menyucikan dirinya sendiri adalah sangat menggelikan.

    Gw
    sama pertanyaannya: maksud anda ttg menyelamatkan diri ato menyucikan diri apa?

    Anda:
    Itulah sebabnya manusia perlu Yesus Kristus Pak. Tanpa Yesus tak akan ada seorangpun masuk surga. Darah Yesus membasuh dosa manusia.

    Gw:
    sebelum yesus muncul yang nyelametin sapa?
    tanpa yesus ngga masuk surga? aduh menggelikan..yg masuk itu..emangnya anda ngga baca http://wirajhana-eka.blogspot.com/2008/11/keselamatan-selalu-ada-di-luar-gereja-2.html#kisah

    dijamin tidak ngibul.

    Anda:
    Jika benar ada manusia yang sanggup menyelamatkan dirinya sendiri, silakan Bapak Wirajhana yang pintar memberikan contohnya.Satu saja Pak beserta bukti2 yang akurat dan bukannya cuman dongeng yang hanya berdasarkan KATANYA. Bisa Pak?

    gw:
    ya jawab dulu pertanyaan gw..maksud mu menyelamatkan dirinya itu apa?

    bicara ttg dongeng..ya alkitab lah jagonya..kalo kamu bisa terima dongeng yg itu..seharusnya kamu akan mudah terima dongeng yang lain..namun jangan khawatir..setelah kamu jawab..saya kasihkan sesuatu yg bukan dongeng.

    ReplyDelete
  16. Pak Wira yang super “pinter,”
    Coba pahami dahulu konsep-konsepnya.
    1.Allah itu maha suci
    2.Mahasuci artinya bebas dosa
    3.Surga itu mahasuci, sehingga dosa tak bisa masuk ke sana.
    4.Manusia telah jatuh ke dalam dosa.
    5.Manusia dengan demikian TIDAK BISA masuk surga.
    Manusia jatuh ke dalam dosa ibaratnya terjerumus ke jurang yang dalam. Ada keterpisahan yang tak terseberangi antara Tuhan dan manusia. Itulah sebabnya, Tuhanlah yang berinisiatif mengulurkan tanganNya dengan menjadi manusia, yakni Tuhan Yesus. Saya kira konsep ini sangat jelas Pak. Anak sekolah minggu saja bisa mengerti hal dengan baik. Masakan Bapak kalah dengan anak sekolah Minggu? Malu donk Pak. Jadi pengertian KESELAMATAN menurut ajaran Kristiani adalah kembalinya hubungan yang harmonis antara Tuhan dan Manusia. Agama Bapak saja mengakui kalau manusia diliputi dosa, yakni kebencian, amarah, dan lain-lain. Nah, bila manusia sudah dalam kondisi yang sebegitu bobroknya, bagaimana dia menyelamatkan dirinya sendiri? Pak ingat Pak, 2000 tahun yang lalu Yesus sudah bayar lunas semuanya di kayu salib. Bapak tinggal percaya dan bertobat saja. Apakah susahnya sih Pak. Janganlah pengetahuan Bapak yang banyak itu malah membuat Bapak jadi tersesat. Cobalah rasakan dengan hati Bapak. Betapa baiknya Tuhan itu. Segenap upaya manusia, baik bertapa, bersemedi, bahkan sampai jungkir balik tidak akan bisa mengenyahkan kejahatan dalam hati manusia. Kasih dalam diri manusia telah ternoda, sehingga ia tidak dapat mengasihi sesamanya dengan baik. Segenap kebaikan manusia adalah seperti KAIN KOTOR DI HADAPAN TUHAN. Tidak satupun upaya manusia dapat menjembatani hubungannya yang sudah rusak dengan Allah. Oleh karena itu, Tuhan perlu datang ke dunia ini Pak.
    Pertanyaan untuk Bapak. Apakah mungkin manusia menyucikan dirinya sendiri? Jawabnya TIDAK MUNGKIN. Kalau menjawab “mungkin,” berarti orang itu terlampau sombong, bodoh, atau mungkin sakit. Sesuatu yang sudah kotor jelas tak mungkin membersihkan dirinya sendiri. Tuhanlah yang telah menebus dosa manusia. Masa konsep seperti ini sulit dipahami Pak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bapak perlu belajar injil lagi, Injil itu kalau dalam Islam bentuknya seperti hadits yakni sebuah omongan atau berita atau tulisan yang ditulis oleh seseorang. sudah tentu riwayatnya antara injil yang satu dengan yang lainnya akan ada perbedaan dan manusia dari paulus maupun pendeta jika berkumpul pasti akan kebingungan untuk menetapkan yang benar itu yang mana. sehingga perlu ada campur tangan dari para penguasa untuk melegitimasi sebuah injil yang akan atau berlaku dalam masyarakat.
      Injil awalnya ada 12 injil dan faktanya sekarang injil hanya ada 4 yang lainnya dimana/ atau mungkin disembunyikan karena bertentangan dengan injil yang 4. Yang perlu diketahui Injil adalah sebuah kitab Suci umat Islam yakni yang ditulis oleh nabi Isa atau penulisnya. dan bukan injil yang 4 yang dipakai orang kristen jaman sekarang. dan tampaknya injil karangan barnabas adalah relevan dengan umat islam. Jika bapak menyatakan Yesus adalah tuhan itu adalah salah besar karena bertentangan dengan Injil karangan barnabas.

      Delete
  17. Bertobatlah Pak! Kerajaan surga sudah dekat.

    ReplyDelete
  18. Apa ga cape ya? Habis mati lahir lagi, mati lagi, lahir lagi. Syukur kepada Tuhan Yesus. Aku tak perlu lahir lagi. Langsung berada di surga bersama Tuhan Yesus Kristus. Alangkah indahnya. Sayangnya banyak orang lebih suka percaya pada dongeng tak masuk akal.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Capek pak low tiap lahir gk pernah sadar n slalu berbuat yg mnyimpang dari ajaran NYA!!

      Delete
  19. Alexius,
    Ttg kelahiran kembali,
    tdk perduli apakah anda [dan semua orang] percaya/tidak, tau/tidak, mau/tidak..maka kelahiran kembali itu telah, sedang & akan terjadi berulang2 tanpa batas. [bukti2 ttg kelahiran kembali, lihat di sini]

    tuhan anda [yesus, allah bpk & roh kudus]-pun [jika mereka bukan fiktif] tetap akan terlahir kembali berulang2.

    Utk semesta,
    Alkitab ngga nyampe utk ini. Umur bumi ini tidaklah seperti yg alkitab sampaikan. Umur bumi ini dah lebih milyaran tahun:

    "Reaktor Nuklir Pra Sejarah

    Pada tahun 1972, seorang ahli fisika Perancis, Francis Perrin menyatakan sebuah laporan yang mengejutkan, bahwa telah ditemukan reaktor nuklir tertua yang pernah dibuat di dunia, yang telah ada sejak 2.000.000.000 tahun yang lalu (jauh sebelum era jurassic) dan mampu dioperasionalkan selama beberapa ratus ribu tahun kemudian, dengan penggunaan daya rendah. Keseluruhan yang ditemukan ada 15 reaktor pada 3 deposit Uranium di area pertambangan Oklo, Republik Gabon. dan lalu dikenal sebagai fosil Reaktor-reaktor Oklo.

    Tanggal 2 Juni 1972, petugas analisis di Pierrelatte - Nuclear Fuel Processing Plant, Perancis (yang mengimpor kebutuhan Uraniumnya dari Gabon) ketika memeriksa massa beberapa contoh Uranium [235U] yang akan digunakan tersebut dengan Spektrometer didapat bukan yg biasanya dgn rasio 0,00720, namun ternyata mempunyai rasio 0,00717.

    Walaupun perbedaan yang ditemukan itu relatif kecil namun membuat para ahli dari Perancis lalu berdatangan langsung ke pertambangan Oklo dan di sana justru menemukan Uranium dengan rasio yg jauh lebih rendah lagi, mencapai 0,00440.

    Perbedaan rasio yang lebih rendah ini hanya akan terjadi jika 235U sebagai bahan bakar telah pernah digunakan untuk proses reaksi nuklir.

    Bahkan di lokasi yang sama juga ditemukan produk keluaran proses reaksi nuklir, yaitu Neodymium, sama dengan yang dihasilkan oleh reaktor nuklir masa kini.
    ".

    Perlu anda catat..Alexius,
    utk mendapatkan hasil tsb maka harus melalui proses yg memerlukan air yg bener2 murni [di dunia ini tidak ada air semurni ini kecuali di buat]. Per sekian juta saja tidak murni maka proses ini akan berhenti.

    So,
    kalimat anda "Bertobatlah pak! Kerajaan surga sudah dekat" & segala konsep2 kosong yg anda percayai jika di bandingkan fakta di atas, menjadi bener2 sangat menggelikan.

    Anda ibarat anak bayi yg tidak tau bahaya apa yg mengancam dengan pemikiran anda sprt itu.

    Jika PIKIRAN & PENGERTIAN ANDA tidak dipergunakan dgn baik, maka adalah wajar di kelahiran kembali berikutnya pikiran & pengertian anda menjadi tidak muncul ..sprti yg anda lihat pd binatang2..tanpa pengertian.

    Anda [& semua orang] yg mengajarkan tanpa di dasari pengetahuan yg benar dan memprovokasi orang2 menuju pd kesesatan, lebih mengerikan lagi akibatnya.

    Kebodohan & hal buruk yg TELAH anda lakukan tdk dapat diubah lagi krn SUDAH TERJADI, namun umur kehidupan anda masih ada, jadi masih ADA HAL BAIK yg BISA ANDA LAKUKAN

    Apakah itu?

    Pertama2,
    segera berhenti memperbodoh diri & orang lain.

    Kemudian,
    segeralah & secara konsisten melakukan tekad utk

    1. tidak membunuh,
    2. tidak mengambil yg bukan haknya,
    3. memelihara indera2 dari perbuatan yg tidak patut,
    4. TIDAK MENYAMPAIKAN hal-hal YG TIDAK BENAR dan
    5. tidak memasukan cairan kedalam tubuh yang mengakibatkan lemahnya kesadaran.

    Ini akan membantu diri anda sendiri dari kesia-sian hidup dari SISA waktu kehidupan anda saat ini krn memperoleh manfaat dgn melakukan kebajikan yg benar2 dibutuhkan.

    Semoga semua mahluk hidup berbahagia.

    ReplyDelete
    Replies
    1. This comment has been removed by the author.

      Delete
    2. kok pada ngomongin sejarah yg belum tentu kebenaranya.........yg terpenting adalah bagai mana kita meyakini agama,ato panutan URIPE AWAK E DEWE!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

      Delete
    3. ha ha bukan ilmuwan bicaranya seperti ilmuwan. dasar pembohong. bisa-bisanya berkata " menurut si A atau si B bahwa....ini...itu...dan seterusnya..." padahal hasil otak atik pikirnya sendiri..he he pembual

      Delete
  20. Lihat komen saya:

    Coba pahami dahulu konsep-konsepnya.
    1.Allah itu maha suci
    2.Mahasuci artinya bebas dosa

    Me:Dalam konsep Buddhism Allah itu adalah brahma

    3.Surga itu mahasuci, sehingga dosa tak bisa masuk ke sana.

    Me: Dalam konsep Buddhism Surga adalah bagian dari tingkatan alam. Ada banyak alam surga dalam Buddhism.

    4.Manusia telah jatuh ke dalam dosa.

    Me:Dalam konsep Buddhism, manusia/makhluk mewarisi karmanya sendiri, termasuk "dosa"

    5.Manusia dengan demikian TIDAK BISA masuk surga.

    Me:Manusia dapat dan sangat mudah masuk surga, cukup lakukan 5 hal diatas yang sudah disebutkan WE.

    Mau lebih gampang lagi, sewaktu mau mati, pikirkan saja hal2 indah, hal2 positif, niscaya akan terlahir dialam surga.

    Tetapi Buddhism sasaran yang ditargetkan, lebih dari sekedar surga, sasarannya sangat jauh, jauh, jauh, jauh, dan sangat jauh lebih tinggi dari surga.

    Kenapa demikian? Karena surga tidak MENYELAMATKAN manusia dari kelahiran yang berulang2, setelah masa hidupnya di surga selesai, manusia akan terlahir kembali. Sedangkan target Buddhism adalah SELAMAT dari kelahiran kembali.

    Selama manusia masih mengandalkan sesuatu diluar diri sendiri, maka manusia tidak akan BISA SELAMAT.

    ReplyDelete
  21. Kebetulan mampir ke blognya Bro Wira :)
    hehehe, Ane baca comment2 nya:
    @All: Yang kayak gini mah gak usah diperdebatkan deh, cara berpikir nya udah beda. ibarat air sama minyak gak nyampur
    Nanti liat sendiri aza hasilnya masing2, beres khan.

    @Wirajhana: Praktek Dhamma (Dana, Sila, Samadhi ,Panna) akan membawa manfaat bagi orang yang mempraktekannya, kenapa Saya bisa bilang begitu, karena Saya sudah merasakan sedikit manfaatnya :)

    ReplyDelete
  22. @Pak Wira & Ruby: Ternyata Mahabharata dan Ramayana bikin geger mereka yang lahir belakangan.............

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mengapa Tuhan Yesus harus lahir saat yang dipilihNya sendiri?
      Matius 1:17 Jadi seluruhnya ada: empat belas keturunan dari Abraham sampai Daud, empat belas keturunan dari Daud sampai pembuangan ke Babel, dan empat belas keturunan dari pembuangan ke Babel sampai Kristus.

      Kelahiran pendiri agama2 lain tidak pernah ada yang tahu sebelumnya & tidak pernah dijanjikan (ini terlalu biasa, semua orang juga begitu).
      Tapi kelahiran Tuhan Yesus Kristus sudah dijanjikan kepada wanita pertama yaitu Hawa, kepada Nuh, Abraham, dst.

      Tentang orang2 perkasa/raksasa & orang2 pintar zaman dulu kala, Alkitab menyebutnya sebagai orang2 sesat/jahat.
      Jadi yang lahir duluan jangan bangga, orang2 yang mempercayai kisah dewadewi mahabrata ramayana dll, adalah orang2 yang sesat.
      nah, sekarang pikirkanlah, mau terus sesat atau mau diselamatkan oleh Kebenaran Tuhan Yesus Kristus?

      bertobatlah & percayalah.. GBU

      Delete
    2. dalam agama satu degan yg laen mempunyai sejarah masing2, klo kau percaya degan sejarah agama u, ya udah jagan mencampuri urusan agama yg laen, biar g jadi masalah!

      Delete
  23. Kelahiran Yesus

    Digambarkan dalam kitab Matius, salahsatu Injil Kanonik Kristen sebagai berikut:

    Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem dan bertanya-tanya: "Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia." Ketika raja Herodes mendengar hal itu terkejutlah ia beserta seluruh Yerusalem.



    Maka dikumpulkannya semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, lalu dimintanya keterangan dari mereka, di mana Mesias akan dilahirkan. Mereka berkata kepadanya: "Di Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi: Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel."



    Lalu dengan diam-diam Herodes memanggil orang-orang majus itu dan dengan teliti bertanya kepada mereka, bilamana bintang itu nampak. Kemudian ia menyuruh mereka ke Betlehem, katanya: "Pergi dan selidikilah dengan seksama hal-hal mengenai Anak itu dan segera sesudah kamu menemukan Dia, kabarkanlah kepadaku supaya akupun datang menyembah Dia."



    Setelah mendengar kata-kata raja itu, berangkatlah mereka. Dan lihatlah, bintang yang mereka lihat di Timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat, di mana Anak itu berada.Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersukacitalah mereka. (MATIUS 2:1-10)



    Kelahiran Krishna

    Digambarkan dalam Athar Veda, salahsatu Kitab Suci Hindu sebagai berikut:

    Pada suatu malam, waktu raja Kansa tak dapat tidur, berdirilah baginda di teras istananya, digerakkan oleh suatu kekuatan gaib. Ia melihat bintang bergerak dan sinarnya jatuh ke Bumi. Ia bertanya kepada istrinya, Nysumba (seorang ahli sihir, pemuja Dewi Kali, yaitu dewi kerinduan dan kematian), tapi Nysumba tidak dapat menjawabnya. Maka dipanggillah Brahmana-Brahmana (Pendeta-Pendeta Hindu), untuk melihat bintang itu dan menceritakan kebenarannya.



    Pendeta-pendeta Hindu itu kemudian menjelaskan bahwa bintang tsb adalah pertanda turunnya Tuhan ke dalam tubuh seorang manusia yang dikandung oleh Devanaki, anak saudara perempuan baginda raja sendiri. Anak yang dikandung itulah yang akan menjadi Tuhan di dunia, atau Raja Dunia.



    Karena riwayat kelahiran Krishna jauh lebih tua dari riwayat kelahiran Yesus, sedangkan Injil yang berkembang adalah Injil berbahasa Yunani yang sangat dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu, maka apa yang dapat anda simpulkan dari cerita di atas?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Roma 1:25 Sebab mereka menggantikan kebenaran Allah dengan DUSTA dan memuja dan menyembah makhluk dengan melupakan Penciptanya (Tuhan Yesus Kristus-red) yang harus dipuji selama-lamanya.

      Kisah Para Rasul 4:12 Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia (Tuhan Yesus Kristus-red), sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.

      Dari keempat agama itu, hanya Kristen yang dapat membuktikan kebenaran nubuatnya.
      Kristus sudah dinubuatkan akan lahir sejak awal dunia.
      Kematian Tuhan Yesus sudah dinubuatkan sejak zaman Daud.

      TENTANG INKARNASI

      Tuhan Kristen hanya mengajar 3 inkarnasi:
      1. Anak Allah (Yesus Kristus) menjadi Anak Manusia untuk mati & bangkit menebus dosa2 manusia.
      2. Para manusia yang ditebus (orang Kristen) berinkarnasi menjadi anak-anak Allah.
      3. Manusia yang durhaka(orang nonKristen) berinkarnasi menjadi anak-anak binasa.

      Jadi manusia hanya bisa berinkarnasi HANYA 1 KALI SAJA setelah kematian.
      Inkarnasi anak-anak Allah disebut Hidup Kekal.
      Inkarnasi anak-anak binasa/iblis disebut Kematian Kekal/Kematian Kedua.

      Mengapa manusia yang tidak percaya kepada Tuhan Yesus disebut orang2 durhaka?
      Karena Tuhan Yesus adalah Pencipta & Penguasa Alam Semesta, tapi mereka tidak mau mendengar & menuruti Dia, sebab mereka lebih menuruti takhyul2 dalam dunia & agama2 dunia yang tidak pernah terbukti kebenarannya.
      Tuhan Yesus adalah Bapa sebab Ia mencipta manusia, tapi manusia yang tidak percaya kepada Dia adalah manusia yang durhaka.

      Semoga mencerahkan & menolong anda semua untuk menguji agama yang anda percaya, benar atau tidaknya. terima kasih. salam damai.

      Delete
  24. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  25. Tuhan itu imajiner. Dia lahir karena kebutuhan manusia dan kepentingan manusia. Jika ada bayi yang merasa nyaman dengan guling di sisinya maka guling adalah agama sedang imajinasi yang menyertainya sehingga dia nyaman adalah tuhan-nya. Tapi saya tidak sedang mengolok-olok tuhan dengan definisi imajiner karena semua adalah imajiner. Ketika kita membeli buku dengan harga Rp 5.000 apakah arti limaribu itu ? mengapa angka bisa di bisa punya nilai dan mengapa nilai bisa digunakan untuk memperoleh benda ? Saat ini saya nyaman dengan mendefinisikan tuhan sebagai semesta ide.

    ReplyDelete
  26. perdebatan sepertinya sudah sampai jauh sekali, tetapi sebenarnya hanya muter2 disitu2 juga... yakinlah... bahwa baik kitab katolik maupun kitab protestan telah banyak yang dirubah oleh pihak gereja yang berkuasa pada zamannya... setiap kekuasaan berpindah tangan selalu ada isinya yang dirubah...
    oleh karena itu... umat - umat generasi berikutnya tak akan pernah menemukan kunci jawaban untuk menyelesaikan perdebatan bahkan pertikaian yang semakin tajam...

    ga usah berdebat dulu dengan orang lain...
    jawab dengan jujur dalam hati pertanyaan2 dibawah ini... :

    1. apakah saya yakin bahwa kitab yang saya sucikan ini benar2 perkataan TUHAN?

    2. berdasarkan apa saya meyakini kitab yang saya sucikan ini benar?
    apakah hanya berdasar doktrin2 yang diterima sejak kecil? atau hanya doktrin yang setiap hari ditelan dari pendeta?

    3. saya sebagai manusia memiliki kemampuan berpikir yang tidak terbatas... mengapa saya dilarang mencari tahu tentang kebenaran kitab suci dan TUHAN?
    bahkan ketika saya menemukan ayat2 yang janggal dalam kitab suci, saya tidak boleh menganggapnya salah?

    4. saya selalu didoktrin untuk selalu yakin dan percaya akan TUHAN, bahkan saya tidak boleh memikirkan tentang keburukan TUHAN!!!
    apakah benar TUHAN melarang umatnya untuk berfikir demikian?
    ataukah ini hanya akal-akalan dari pihak penguasa agama untuk mendoktrin pengikutnya??? tentunya supaya kesalahan2 yang ada tidak terbongkar?

    5. TUHAN MAHA ADIL, tetapi mengapa adik saya terlahir berkelamin ganda? dengan bibir sumbing, jumlah jari tangan 14? dan dengan mental yang lemah?
    apakah ini cobaan yang diberikan oleh TUHAN kepada saya dan keluarga saya??? apakah ini dosa saya dan keluarga saya? apakah ini adil untuk adik saya??? selalu dihindari, dilecehkan, dan diludahi oleh teman2nya??? apakah ini cobaan untuk adik saya? mau sampai kapan cobaan itu diberikan??? boro2 bisa percaya dengan TUHAN, berpikir saja dia tidak mampu... apakah TUHAN benar-benar adil kepada saya sebagai umatnya???

    coba renungkan dan jawab dengan jujur dalam hati pertanyaan2 tersebut... jangan lari dari masalah!!! pikirkan dan jawab...!!!

    banyak2lah baca buku science... ensiklopedia, national geographic dan lain sebagainya.... itu adalah kemajuan teknologi dan science yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya... apakah sesuai dengan kitab suci saya???

    bagaimana jika ternyata matahari ada 2-3-4-...1000?
    bagaimana jika ternyata ada planet kehidupan 2-3-4-...1000?
    bagaimana jika terbukti bahwa kain kafan yang selama ini disucikan bukan asli?
    bagaimana jika ternyata Dia tidak wafat? dan berhasil melarikan diri(ditolong) pada hari ke-3?
    kemanakah perginya Dia pada saat tahun2 yang tidak diceritakan dengan jelas sejarahnya?

    saya harus mencari jawabannya diseluruh dunia...!!!
    saya tidak boleh percaya begitu saja dengan jawaban yang saya dapat dari mulut orang lain...!!!

    ReplyDelete
  27. Perdebatan ini baik untuk pengembangan pribadi dalam memahami kebenaran dari ajaran Tuhan sepanjang tidak memaksakan diri untuk mengatakan agamaku yang paling benar. Memahami ajaran Tuhan tidak cukup dengan membaca buku, tapa yoga semadi dan ilmu pengetahuan, tetapi hendaknya pula derngan cinta kasih sayang kepada sesama. Ingat Tuhan ada pada setiap makhluk hidup dalam wujudNYA sebagai ROH. Jika Tuhan ada pada setiap mahluk hidup, lalu mengapa kita saling mengejek, menghina, menyakiti, bahkan saling membunuh ?. Pernahkan kalian tahu jika TUHAN juga tidak mendapatkan keadilan dalam kehidupan manusia ? Pernahkan kalian berdoa dan memohon kepada TUHAN tentang sesuatu hal dan dikabulkan sehingga anda menjadi senang, bahagia, sukses, punya kedudukan tinggi serta kekayaana yang berlimpah ?. Setelah semuanya anda dapatkan, apakah anda pernah peduli pada sesama ( manusia, binatang ) dihadapan anda yang memerlukan pertolongan, karena sakit, kelaparan, disiksa oleh sesama padahal mereka semua adalah mahluk TUHAN. Jika belum, anda bukanlan mahluk TUHAN. jadi sebaiknya anda jangan berbicara banyak tentang TUHAN karena anda baru tahu kata dan tulisan TUHAN.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya....emang baik untuk ilmu pengetahuan kita, ato pemahaman kita tentang keyakinan kita, tp knapa harus d nodai perdebatan dengan saling menjatuhkan.....saling merendahkan.....marilah kita renungkan masing2, langkah apa yg terbaik untuk diri kita masing2, kanlebih enak, boleh kita berbeda keyakinan tp janganlah kita menjadi yg sok suci,sok benar!!!.....

      Delete
  28. Perdebatan ini baik untuk pengembangan pribadi dalam memahami kebenaran dari ajaran Tuhan sepanjang tidak memaksakan diri untuk mengatakan agamaku yang paling benar. Memahami ajaran Tuhan tidak cukup dengan membaca buku, tapa yoga semadi dan ilmu pengetahuan, tetapi hendaknya pula derngan cinta kasih sayang kepada sesama. Ingat Tuhan ada pada setiap makhluk hidup dalam wujudNYA sebagai ROH. Jika Tuhan ada pada setiap mahluk hidup, lalu mengapa kita saling mengejek, menghina, menyakiti, bahkan saling membunuh ?. Pernahkan kalian tahu jika TUHAN juga tidak mendapatkan keadilan dalam kehidupan manusia ? Pernahkan kalian berdoa dan memohon kepada TUHAN tentang sesuatu hal dan dikabulkan sehingga anda menjadi senang, bahagia, sukses, punya kedudukan tinggi serta kekayaana yang berlimpah ?. Setelah semuanya anda dapatkan, apakah anda pernah peduli pada sesama ( manusia, binatang ) dihadapan anda yang memerlukan pertolongan, karena sakit, kelaparan, disiksa oleh sesama padahal mereka semua adalah mahluk TUHAN. Jika belum, anda bukanlan mahluk TUHAN. jadi sebaiknya anda jangan berbicara banyak tentang TUHAN karena anda baru tahu kata dan tulisan TUHAN.

    ReplyDelete
  29. dari an-Nawwas Ibn Sam’an ra, dia berkata: “Saya mendengar
    Rasulullah saw bersabda: “Akan didatangkan pada hari kiamat al Qur’an
    dan orang-orangnya yaitu orang yang mengamalkannya didunia, ia akan
    didahului oleh surat al-Baqarah dan Ali Imran, keduanya akan berargumentasi
    untuk membela orang yang mengamalkannya.” (HR. Muslim) Riyadhus
    Shalihin Jilid 2 Page: 212. Dalam surah Ali Imran terdapat perintah untuk mengajak orang-orang ke
    dalam Islam, maka kaum Muslimin diharapkan dapat melaksanakan perintah
    tersebut. Nah, setelah berdakwah barualah kita dapat mengatakan: lakum
    dinukum waliyadin atau untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku. ->
    Harus ada usaha terlebih dahulu untuk mengajak orang lain memeluk Islam,
    setelah berusaha baru pasrah.

    ReplyDelete
  30. hahaha menarik sekali perdebatan ini klo menurut saya ada benernya sih ada lucunya juga wkwkwkwk, tp kalian benar2 tau gk siapa tuhan itu??. . . saya yakin kalian semua belum paham termasuk juga saya mungkin tp yg jelas suatu saat kita akan mengerti dan tau yg sesungguhnya. yakinnilah sesuatu yg kalian yakini. dan aq yakin dengan agamaq. dan aq yakin dengan agama kalian semua krena sudah terlanjur tertulis berputar dngan waktu dan nyata didunia ini. hidup sbnrnya sngat singkat dan aq takut kian hari umurq makin berkurang didunia saja aq sudah bnyak mengeluh karena kesusahan, kesakitan, kebingungan, kebodohan bagaimana di akherat kelak. para orang2 besar diatas saja blum bisa spenuhnya meyakinkan memantapkan mengajak antara satu dg lainya apalagi kalian. huhuu karena kenapa?? semua sudah tertulis bahkan superhero tak bisa mengubahnya, melainkan hanya menghalanghalangi dan memperlambat saja. surga dan neraka sudah dijanjikan berisi penuh dan seimbang diantara keduanya 50:50 jadi ini sudah jalanq semoga kalian beruntung salam.

    ReplyDelete
  31. islam sama sekali tidak seperti apa yang penulis paparkan.pahami lebih dalam sebelum anda mengambil kesimpulan.saya sangat priahatin,karena esensi artikel in yang harusnya menjadi sumber informasi malah dinodai dengan subjektifitas dan terlihat jelas sekali unsur provokasi anda..

    ReplyDelete
  32. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  33. hai anak anak manusia!
    Yesus Kristus diutus Allah kedunia ini, karena kita semua berdosa tidak ada seorang pun yang tidak berdosa baik siapun itu mau orang perkasa, orang raksasa juga mempunyai dosa.

    ReplyDelete
  34. Penulis sedang membahas 4 hal yang berbeda, KRISNA, BUDDHA, YESUS dan MUHAMMAD.
    pertanyaan saya, penulis meng-amin-i ajaran yang mana ?
    ketika penulis meng-amin-i 1 diantara 4 topik diatas, maka 3 topik yang lain sudah pasti akan dideskreditkan.
    alhasil semua comentator akan saling membela keyakinannya masing-masing.
    comment saya : imani dan buat lebih baik lagi apa yang kamu percayai sebagai aplikasi kamu di dunia ini.
    waktu dan kenyataan yang akan kita lihat semua di dunia ini, siapa yang benar-benar baik akan mengaplikasikan yang baik pula di dunia ini. dan selama kita menunggu final tentang siapa yang benar yaitu pada masa akhir zaman (kiamat) nanti, mari tunjukkan bahwa yang kamu imani itu baik dan membuat semua orang yang ada disekitar kamu itu tenang dan diberkati dengan apa yang kamu imani. ajaran harus selaras dengan kenyataan di dunia ini. mari berlomba menjadi berkat buat orang2 disekitar kita, bukan malah menjadi sok pahlawan yang membuat orang takut dan merasa tidak nyaman.
    semoga bermanfaat .....

    ReplyDelete
  35. Bagi saya Dosa itu tidak ada.
    Surga dan neraka setelah mati juga tidak ada.
    Surga dan neraka itu ciptaan kita sendiri.

    ReplyDelete
  36. LEMPAR BATU SEMBUNYI TANGAN,,,,, jika anda merasa benar coba muncul ke publik dengan ajaran anda,,, sebagaimana Nabi Muhammad ada di dunia mengjarkan kebenaran,,, jgn hanya berani berkata dalam dunia maya.... katakan pada dunia tentang kebenaran yang kau maksud,,,atau setidaknya di indonesia saja kalau kau bisa, tunjukkan siapa dirimu , paling juga pengecut mending juga tuh banci masih berani menunjukkan jati diri mereka di depan publik,,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Biasa Bung Bagus kerjaan orang-orang jahiliyah, kasihan mereka karena bagaimanapun hebatnya Tuhan mereka tapi tak mampu menghadapi kematian. Krisnha mati, Rama mati, Yesus mati, baru-baru ini Sai baba avatar siva mati. padahal Tuhan-Tuhan itu belum mampu menguasahi dunia! hal ini bertolak belakang dengan Nabi Muhammad SAW. seorang manusia biasa tapi mampu menguasahi dunia.

      Delete
  37. Kertawijaya Sasrabahu.
    ASSALAMU'ALAIKUM Wr. Wb. SALAM DAMAI DALAM TUHAN JESUS KRISTUS.
    OM SWASTI / AVIGNAM ASTU. NAMO BUDDHA.
    Saya menilai bahwa sangatlah konyol dan tidak bermanfaat membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan agama-agama di website/internet, karena setiap agama memiliki dan mempertahankan kebenaran masing-masing, yang sudah dijaga berabad-abad lamanya.
    Sebaiknya, komunikasi yang umum/general-lah yang harus dikembangkan oleh para penganut agama. Orang beragama Islam berusaha menghormati dan mencintai orang beragama Kristiani, Hindu, Buddha, demikian pula orang beragama Kristiani berusaha menghormati dan mencintai orang beragama Islam, Hindu, Buddha, dan seterusnya. Justru inilah yang sangat dinantikan oleh YANG MAHA KUASA (entah siapa pun namaNya menurut masing-masing agama), bukan saling membenarkan hal-hal tertentu, mempersalahkan hal-hal tertentu, dan seterusnya...dan seterusnya.
    Semoga saran saya ini dapat membuka hati dan mata para penganut agama di Indonesia dan jika bisa, dapat mempersatukan hati segenap penganut agama yang berbeda.
    AMIN. OM SHANTI SHANTI OM. NAMO BUDDHA.

    ReplyDelete
  38. haha ini blog tidak berimbang penyampaian nya. Kasihan, semoga di beri pencerahan yang buat blog ini(makanya baca dulu sejarah, jangan cuma asal copy paste dari tulisan lain) btw itu sumbernya muhammad kok ga bisa di buka ya :o "[Pustaka: SEJARAH HIDUP MUHAMMAD, MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL, terjemahan: Ali Audah, Penerbit PUSTAKA JAYA, Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat, Cetakan Kelima, 1980, Seri PUSTAKA ISLAM No.1, Sahih Bukhari, Sahih Muslim, tabari, Abu Daud, Ibn Sad, Silas, Sam shamoun,"

    ReplyDelete
  39. Hey Brow
    Mau Surga ??
    Caranya Simple :
    Sayangin Tuh anak Istrimu dan Keluarga serta Sesama
    Jaga Alam Ini
    Mari Bekerja

    Itulah SURGA kita....
    Mati ya Mati aja... Kgk ada Cerita.. FInish...
    tunjuk tangan.. siapa yg sudah pernah mati dan bisa bercerita tentang ALAM MATI ?? Semua itu TEORI

    yang Realita adalah MARI BEKERJA...
    yuk BEKERJA>>>>

    ReplyDelete
    Replies
    1. Si penulis Dalam blok ini ternyata masih bermain dengan otak-atik akal atau mengcopy paste yang jelas-jelas kepandaiannya amat diragukan. Jadi kalau mau memberitakan Nabi Muhammad SAW saya menyarankan belajarlah dahulu kepada umat Islam jangan belajar sendiri sehingga terjadilah copy paste. tapi tak mengapa karena saya menganggap Anda masih dalam kebodohan atau dalam islam dinamakan kejahiliyaan artinya manusia yang suka dengan kejahilan dalam berkehidupan di muka bumi ini.
      Sedikit saya menyanggah copi paste anda. Perlu diketahui kenapa sih Anda dan yang seperti anda itu kok menuhankan krishna?
      jawabnya karena Krishna itu avatar Visnu. dia mampu menghidupkan orang mati, mampu mengangkat bukit dengan jari kelingkingnya, semua dewa takluk padanya, dan sebagainya yang menurut anda adalah waaaaahhhhh...akan tetapi sayang Tuhan Anda tidak sanggup memimpin dan menguasahi dunia....Juga dengan Yesus yang juga digolongkan sebagai avatar dalam hindu, dia mampu menghidupkan orang mati, mampu meniup tanah menjadi burung, mampu mengobati penyakit buta dan sebagainya, tapi sayang sekali nasibnya amat tragis...dia dibunuh tentara romawi....juga gagal menguasahi dunia..padahal dia adalah tuhan kata anda dan orang kristen...
      kalau budha telah jelas dia menjadi pertapa dan sudah pasti tidak akan mampu menjadi pemimpin dunia...
      Anda membandingkan Muhammad dengan 3 tokoh yang sebetulnya tidak sebanding dan semestinya tidak perlu diperbandingkan...manusia jaman sekarang adalah manusia yang cerdas dan kritis..jika Anda misalkan mengkritisi seseorang maka anda akan dikritisi juga oleh orang tersebut.
      Jika Anda meneropong bahwa Muhammad SAW derajatnya lebih rendah dari krisnha/yesus/budha itu adalah kekeliruan yang besar akibat kebodohan Anda. dalam sejarah Islam tidak dibenarkan orang yang bukan islam atau orang islam yang akhlaknya masih dipertanyakan itu mengajar atau menulis/memberitakan tentang Islam dan sejarahnya. Anda perlu belajar Ilmu Hadits. sehingga tahu karakteristik sebuah hadits.
      Didalam sejarah Islam nabi Muhammad SAW itu adalah manusia biasa yang perjuangannya amat menakjubkan yang tidak ada satupun manusia yang ada di bumi ini dari dahulu sampai kiamat yang akan mampu menyamainya. DARI SEORANG DIRI berjuang menegakkan kalimat Allah dalam kurun waktu 23 tahun mampu menjungkirbalikkan kekuasaan pada jazirah arab dan mimpi buruk dari negara super power persia dan romawi sehingga kedua negara adi ada tersebut hancur sampai sekarang. dari satu sisi ini saja tuhan-tuhan Anda tidak sebanding dengan nabi muhammad SAW. belum dari sisi-sisi lainnya. untuk itu saya sarankan belajarlah atau bertanyalah pada umat islam sebelum Anda menulis tentang nabi Muhammad SAW. sehingga Anda tidak jadi bodoh seperti sekarang ini.

      Delete
  40. RANGKUMAN DARI AWAL SAMPAI AKHIR..........
    penganut agama apa pun? klo waktunya mati ya mati! klo mau masuk surga ya jangan saling menghina,

    ReplyDelete
  41. lalu saya harus pilih agama apa..???

    ReplyDelete
  42. sudah-sudah tidak usah mempeributkan sesuatu yang memang kalian yakini. apapun yang kita yakini sudah merupakan batasan pemikiran dan pengetahuan yang kita miliki, bukan dari kesadaran jiwa kita, namun hanyalah pem,ikiran kita yang penuh ilusi keegoan semata.

    ReplyDelete