Monday, December 29, 2008

Buddha ada di Neraka? Yesus di Nubuatkan di Kitab Buddhis?


Pengantar
Berawal dari kiriman seorang rekan, zebaoth Jehova, di salah satu milis yahoogroup yang berupa kutipan sebuah buku berjudul “Holy Life”, karangan Andrew Rankin, di edit oleh Steve Hyde.

Isi dari kutipan itu seharusnya “mencengangkan”. Andrew Rankin, mengklaim bahwa ciri-ciri orang suci sebagaimana disebutkan dalam kitab Buddha menunjuk kepada Yesus kristus. [untuk melompat ke artikel ini silakan klik di sini]

Kemudian, terdapat lagi sebuah klaim..sekali lagi..juga dari kalangan Nasrani, kali ini bawakan oleh Joe Van, yaitu klaim dari seorang bernama Athet Pyan Shinthaw Paulu setelah menjadi Biksu bergelar U Nata Pannita Ashinthuriya, Ia meninggal, menyatakan melihat Buddha di Neraka, Peter di Surga, Hidup dan pindah menjadi Nasrani. Mencengangkan, bukan?![untuk melompat ke artikel ini silakan klik di sini]

Untuk itu, kita mulai dengan melihat kebenaran klaim bahwa yesus di nubuatkan di kitab Buddha, kemudian selanjutnya melihat kebenaran klaim bahwa ada Biksu yang pindah menjadi Nasrani.

Silakan anda yang menilai derajat kebenaran dan kepatutannya. Sebagai bonusnya, anda akan merasa begitu beruntungnya karena tidak termasuk sebagai salah seorang dari mereka yang telah terpedaya dan terjerembab sedemikian dalamnya di jurang Kebodohan batin.


Benarkah Yesus Dinubuatkan Kitab-kitab Buddha

Kita mulai dengan kutipan buku ‘Holy Life”, karangan Andrew Rankin, yang di edit oleh Steve Hyde:

The Holy One who will keep the world in the future will be like this: in the palm of his hands and in the flat of his feet will be the design of a disk, in his side will be a stab wound; and his forehead will have many marks like scars. This Holy One will be the golden boat who will carry you over the cycle of rebirths all the way to the highest heaven (Nirvana). Do not look for salvation in the old way; there is no salvation in it for sure. Quit the old way. And there will be a new spirit like the light of a lightning bug which will come down from the sky above to live in all of your hearts and you will be victorious over all your enemies. Nobody will be able to destroy you. If you die, you will not come back to be born in this world again. You will go to the highest heaven (Nirvana).”

Yang oleh kalangan kristiani diartikan lebih dalam sebagai berikut:

About five hundred years after Buddha left this world, the prophecy was fulfilled. When Jesus Christ died on the cross to take away human sin, each hand and foot was pierced with a large nail leaving a disk shape (John 20:20), His side was pierced with a spear (John 19:34); and His forehead had many marks on it from the crown of thorns the Romans put on Him (John 19:2). Jesus Christ opened up a new way of faith to relate to God so that the old ways of merit could be left behind. Through Jesus alone, one can find escape from the impossibility of doing merit. Through Jesus alone, one can find perfect assurance that the highest heaven is opened by God’s grace.

Untuk membahas ini, maka kita perlu mengetahui, kitab yang dikutip (namun tidak saya temukan), detail ayat-ayat alkitab yang dikutip, dan ciri-ciri tentang “The Holy One” dari literature Buddha, kebenaran cirri-ciri itu dilihat dari Buddha dan Kristen sendiri dan setelah itu baru bisa kita tetapkan apakah kita sepakat atau tidak dengan isi kutipan tersebut.


Apa kata Alkitab

Yohanes 19 dan 20:



Pengetahuan umum yang beredar diseluruh dunia ini, Yesus, dinyatakan telah disalib, tangan kakinya telah dipaku, lambungnya ditusuk dan kepalanya diberikan Mahkota Duri.

Sementara itu dalam ajaran Hindu dan Buddha terdapat tanda-tanda fisik seseorang sehingga dapat dikatakan “The Holy One”. Tanda-tanda itu adalah 32 tanda kelahiran fisik, sebagaimana dicantumkan dalam Lakkhana Sutta, Digha Nikaya, Patika Vagga:

“Para bhikkhu, seorang Manusia Agung (Maha Purisa) memiliki 32 tanda (lakkhana)....... apakah 32 Maha Purisa Lakkhana yang menyebabkan hanya ada dua kemungkinan cara hidupnya dan tidak ada yang lain, jika ia hidup sebagai manusia biasa, maka ia akan menjadi raja dunia (cakkavati), ... maka ia akan menjadi Arahat Samma Sambuddha; yaitu:
  1. Telapak kaki rata (suppatitthita-pado). Ini merupakan satu lakkhana dari Maha Purissa.
  2. Pada telapak kakinya terdapat cakra dengan seribu ruji, lingkaran dan pusat dalam bentuk sempurna.
  3. Tumit yang bagus (ayatapanhi).
  4. Jari-jari panjang (digha-anguli)
  5. Tangan dan kaki yang lembut serta halus (mudutaluna).
  6. Tangan dan kaki bagaikan jala (jala-hattha-pado).
  7. Pergelangan kaki yang agak tinggi (ussankha-pado).
  8. Kaki yang bagaikan kaki kijang (enijanghi)
  9. Kedua tangan dapat menyentuh atau menggosok kedua lutut tanpa membungkukkan badan.
  10. Kemaluan terbungkus selaput (kosohitavattha-guyho).
  11. Kulitnya bagaikan perunggu berwarna emas (suvannavanno).
  12. Kulitnya sangat lembut dan halus / sehingga tidak ada debu yang dapat melekat pada kulit.
  13. Pada setiap pori kulit ditumbuhi sehelai bulu roma.
  14. Rambut yang tumbuh pada pori-pori berwarna biru-hitam.
  15. Potongan tubuh yang agung (brahmuiu-gatta).
  16. Tujuh tonjolan (sattussado), yaitu pada kedua tangan, kedua kaki, kedua bahu dan badan.
  17. Dada bagaikan dada singa (sihapubbaddha kayo).
  18. Pada kedua bahunya tak ada lekukan (citantaramso).
  19. Tinggi badan sama dengan panjang rentangan kedua tangan, bagaikan pohon (beringin), Nigroda.
  20. Dada yang sama lebarnya (samavattakkhandho).
  21. Indera perasa sangat peka (rasaggasaggi).
  22. Rahang bagaikan rahang singa (siha-banu).
  23. Empat puluh buah gigi (cattarisa-danto).
  24. Gigi-geligi rata (sama-danto).
  25. Antara gigi-gigi tak ada celah (avivara-danto).
  26. Gigi putih bersih (susukka-datho).
  27. Lidah panjang (pahuta-jivha).
  28. Suara bagaikan suara-brahma, seperti suara burung Karavika.
  29. Mata biru (abhinila netto).
  30. Bulu mata lentik, bagaikan bulu mata sapi (gopakhumo).
  31. Di antara alis-alis mata tumbuh sehelai rambut halus, putih bagaikan kapas yang lembut.
  32. .. Kepala bagaikan berserban (unhisasiso).


Bagian Pertama, Kutipan Tentang “The Holy One” Dibandingkan Dengan Lakkhana Sutta

Mari kita lihat bagian terjemahan yang menurut Andrew Rankin adalah dikutip dari salah satu kitab suci Buddha:

In the palm of his hands and in the flat of his feet will be the design of a disk, in his side will be a stab wound; and his forehead will have many marks like scars.

Pada kedua telapak tangan dan pada kakinya yang rata akan berbentuk seperti DISK(?), bagian di dirinya(?) akan terdapat sebuah luka tusukan; dan di dahinya akan terdapat banyak tanda-tanda seperti luka


Apakah semua yang disebutkan di Andrew Rankin merupakan tanda lahir? Tidak.

Terjemahan tersebut diatas, menunjukan tanda-tanda yang membekas akibat luka, tidak secara tegas menyatakan bahwa tangan dan kakiNya ada tanda-tanda di tusukan, juga tidak tertulis bahwa lambungNya tertusuk namun pada dahiNya saja yang terdapat tanda-tanda luka. Kata "in his side", tidak jelas merujuk kepada bagian mana apakah tangan dan kaki atau badan. Misalkan apabila yang dimaksudkan adalah kaki dan tangan, tentunya akan dijelaskan lebih detail juga dalam bentuk plural.

Kata-kata “flat dan disk” yang berarti rata dan berbetuk bundar rata seperti piringan, memang mendekati dengan yang tercantum pada Lakkhana Sutta, dimana telapak kakiNya rata, dan terdapat tanda Cakra dengan seribu ruji, lingkaran dan pusat dalam bentuk sempurna yang lebih menyerupai piringan. Kemudian bagian kepala bagaikan berserban

Namun, 32 tanda yang tercantum di Lakkhana Sutta merupakan 32 tanda lahir, jadi harus komplit tidak boleh kurang 1 pun dan bukan buatan atau bukan tanda akibat Luka!

Apakah ada kitab/Sutta Buddhis yang menyatakan bahwa Sidharta Gautama akan mengalami luka tusukan, di salib atau tangannya dipaku dan seterusnya seperti yesus? Tidak, tidak ada.


Bagian Kedua, “The holy One” Dilihat Dari Telaah Al-Kitab

Bagian yang menjadi “pengetahuan umum” adalah luka-luka yang diderita Yesus kristus akibat penyaliban seharusnya tercantum jelas dalam kitab Injil, untuk itu mari kita lihat tentang 4 injil pada perjanjian baru:

Yohanes:
Kepala Yesus dimahkotai duri(19:2), Yesus yang memikul Salib(19:17). Yesus disalib, kakinya tidak dipatahkan, lambungnya ditusuk(19:34), ada 2 maria, berdasarkan perkataan Thomas: Ia melihat kaki, tangan dan lambung Yesus terluka, Yesus memperlihatkan keadaannya dan tidak ada tanda luka apapun(20:20, 20:27),

Markus:
Yang memikul salib adalah Simon dari kerene(15:21), Yesus Disalib, tidak tertulis bahwa kaki dan tangannya dipaku, kepala Yesus dimahkotai duri (15:17), Pilatus heran mendengar yesus sudah mati(15:44), ada 2 maria(15:40), Yesus memperlihatkan diri dan tidak ada satukatapun yang merujuk bahwa ia memperlihatkan ada/tidaknya tusukan kepada 11 muridnya

Lukas:
Yang memikul salib adalah Yesus dari kirene(22:36), Yesus disalib, tidak tertulis kata-kata kaki dan tangannya dipaku, Tidak ada kata-kata dimahkotai, dipatahkan tulangnya ataupun ditusuk lambungnya, bahkan ia memperlihatkan dia baik2 saja dengan mempertontonkan tangan dan kakinya(24:39-40)

Matius:
Yang memikul salib adalah Simon dari kerene(27:32), Yesus disalib, tidak tertulis kata-kata kaki dan tangannya dipaku, Tertulis ada dua orang Yesus di Penjara, Yaitu Yesus Barnabas dan Yesus Kristus(27:16-17), Dimahkotai duri(27:24), kepala Yesus dipukul dengan buluh(27:30), Terjadi gempa bumi dan bukit-bukit batu terbelah(27:51), ada 2 maria yang menunggu(27:61), tidak ada memperlihatkan tubuhnya kepada semua muridnya

Kita review sekali lagi, Khusus untuk memastikan ada/tidaknya TANDA BEKAS LUKA!

Yohanes

20:4 Keduanya berlari bersama-sama, tetapi murid yang lain itu berlari lebih cepat dari pada Petrus sehingga lebih dahulu sampai di kubur.
20:5 Ia menjenguk ke dalam, dan melihat kain kapan terletak di tanah; akan tetapi ia tidak masuk ke dalam.
20:6 Maka datanglah Simon Petrus juga menyusul dia dan masuk ke dalam kubur itu. Ia melihat kain kapan terletak di tanah,
20:7 sedang kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kapan itu, tetapi agak di samping di tempat yang lain dan sudah tergulung
20:20 Dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan.
20:25 Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya: "Kami telah melihat Tuhan!" Tetapi Tomas berkata kepada mereka: "Sebelum aku melihat tupos [from, tanda di artikan secara konyol menjadi = bekas] helos [jamak dari helo, artinya KUKU JARI bukan PAKU] pada tangan-Nya dan sebelum aku ballo [artinya menaruh, meletakkan BUKAN mencucukkan] jariku ke dalam tupos [from, tanda di artikan secara konyol menjadi= bekas] helos [jamak dari helo, artinya KUKU JARI bukan PAKU] itu dan ballo [artinya menaruh BUKAN mencucukkan] tanganku ke dalam pleura, artinya sisi tubuh BUKAN lambung, BUKAN rusuk]-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya."
20:27 Kemudian Ia berkata kepada Tomas: "Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan ballo [artinya menaruh, meletakkan BUKAN mencucukkan] ke dalam pleura-Ku [artinya sisi tubuh BUKAN lambung, BUKAN rusuk] dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah."
20:28 Tomas menjawab Dia: "Ya Tuhanku dan Allahku!"

note:
Di blog ini, disampaikan bahwa arti kata "helo" bukanlah paku tapi kuku. Di alkitab tidak ada detail proses penyaliban. Tidak benar bahwa di ketika itu, paku telah di pakai dalam proses penyaliban. Para penulis ALKITAB bukanlah saksi mata kejadian. Tulisan mereka hanya merupakan reka-reka kejadian hasil inspirasi pada peristiwa penyaliban lain di tahun 70an masehi [kejadian di empat puluh tahunan setelah yesus wafat]. Sedangkan penulisannya sendiri baru dilakukan puluhan bahkan ratusan tahun lagi setelah tahun 70 masehi.

ADAKAH di sebutkan TANDA-TANDA BEKAS LUKA?
TIDAK ADA

Apakah kain dikepala Yesus disebutkan Berdarah?
TIDAK ADA

[Note:
Yesus dikatakan wafat jam 15.00. Jadi ada waktu kurang dari 3 jam sebelum jam 18.00, yaitu saat memasuki hari sabat, sebelum di kubur ia dikafani. Seharusnya bekas-bekas luka-luka itu belum sepenuhnya mengering, ada sisa-sisa darah yang menempel di kain


Perlu diperhatikan bahwa Pilatus sendiri heran bahwa Yesus dikatakan sudah Wafat! (Markus 15:44)]

Bagaimana dengan 3 Injil lainnya, adakah disebutkan bekas darah bekas luka?

Matius, 28:1 s/d 20
TIDAK ADA

Markus, 16: 1 s/d 20
TIDAK ADA

Lukas, SANG TABIB, 24: 1 s/d 53
24:39 Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku."
24:40 Sambil berkata demikian, Ia memperlihatkan tangan dan kaki-Nya kepada mereka.

Adakah tanda-tanda bekas luka yang diperlihatkan?
TIDAK ADA

Tadinya saya berharap petunjuk itu ada di INJIL LUKAS, buatan sang TABIB. Sebagai Tabib, SEHARUSNYA Ia yang sangat PERHATIAN dengan adanya LUKA-LUKA…tapi…TIDAK ADA.

Mengapa Sang Tabib tidak menulis ada luka pernah ada bekas luka? Apakah memang tidak pernah ada Luka…dilukai…atau bahkan disalib?

4 (Empat) Injil di atas sama sekali tidak meyebutkan adanya bekas LUKA!

Apakah di 4 Injil, tercatat adanya tanda-tanda KELAHIRAN Yesus yang jumlah sebanyak 32 Tanda?
TIDAK ADA

Dari ringkasan Alkitab tersebut terdapat beberapa hal serius yaitu:
  • Tidak ada Bukti rinci yang menyebutkan bagaimana kaki dan tangannya berdarah saat di salib, padahal untuk kepalanya dipukul(Mat) dan lambungnya ditusuk(Yoh) yang jarang diketahui saja bisa tercatat dengan teliti.
  • Luka kaki dan tangan adalah hanya berdasarkan keterangan dari Thomas dan itupun hanya muncul di 1 injil(Yoh) dan terbukti tidak ada sewaktu Thomas meraba Yesus!
  • Kejadian Gempa Bumi ternyata hanya muncul di satu injil (Mat)!. Bukankah ini sangat mengherankan! Mengingat kejadian ini menyangkut tuhan mereka, guru mereka yang disalib! suatu kejadian MAHA penting yang terlalu BESAR untuk tidak dicatat!.
  • Luka-luka akibat penganiayaan adalah peristiwa besar, Lukas adalah seorang TABIB namun ia tidak menyinggung sama sekali mengenai luka-luka akibat, pukulan, tusukan, bekas mahkota duri dikepala, maupun tanda2 luka penganiayaan lainnya. Kalau lah benar ada penganiayaan dan bekas-bekasnya adalah tidak lazim tidak tercatat oleh seorang yang mempunyai latarbelakang ke tabib-an tidak mencatat!.
  • Tidak adanya tanda2 luka tertulis disemua Injil dan BAHKAN Injil Markus dan Matius SAMA SEKALI tidak mencantumkan kejadian dimana Ia memperlihatkan tangan atau kaki atau lambungnya.
  • Tanda-tanda luka dikaki dan tangan sama sekali tidak disinggung pada ke 4 Injil.
  • Hanya 3 injil mengatakan dimahkotai(Mat,Luk, Yoh)
  • Hanya satu yang mengatakan ditikam(Yoh)
  • Hanya satu injil yang mengatakan Yesus memanggul salib sendirian(Yoh 19:17), 3 Injil(Mat 27:32, Mark 15:21, Luk 23:26) menyatakan bahwa yang memanggul salib adalah Simon dari kirene, Sebagai perbandingan, Kejadian Yesus naik keledai disebutkan di 4 (empat Injil), tidak ada perbedaan penulisan misalnya Yesus naik kuda atau biri-biri atau kambing atau domba, tetapi semua mengatakan naik Keledai! Sementara, Peristiwa pemanggulan salib adalah peristiwa penting yang menyangkut Yesus, tuhan Mereka, guru Mereka dan jelas bukan keledai, namun justru dituliskan berbeda-beda! Ada yang ganjil dengan hal ini.
Jadi pada telaah alkitab, apa yang telah kita temukan
  • Ada Indikasi kuat bahwa Yesus bukan orang yang sama yang disalib, atau
  • Tidak ada sama sekali penyaliban, atau
  • Ada Penyaliban namun satu atau keempat injil tersebut berbohong, karena Kejadian Gempa Bumi dan memanggul salib bukanlah peristiwa kecil
  • Tidak ada bekas luka apapun baik di kaki, tangan, lambung dan kepala

Kesimpulannya
  • Terbukti tidak ada tanda-tanda luka disebutkan di 4 INJIL di ALKITAB, Jadi Klaim tanda luka Yesus yang dimaksud pada buku 'The Holy One' karangan Andrew Rankin adalah tidak akurat dan tidak berdasar.

  • Terbukti pula, tidak ada catatan bahwa Yesus memiliki 32 Tanda Kelahiran Di ALKITAB, sehingga JELAS ia bukan 'The Holy One'

  • 32 Tanda sebagaimana yang dimaksudkan di Lakkhana Sutta HARUS MERUPAKAN tanda KELAHIRAN bukan tanda BUATAN.

  • Ciri-ciri yang disebutkan pada kutipan tersebut, merupakan sebagaian kecil dari ciri-ciri "The Holy One" di Lakkana Sutta dan sangat aneh apabila Buddha tidak menyebutkan secara lengkap ke 32 Ciri dari “the holy man” dihadapan seorang Brahmana tua yang sedang meminta penerangan mengenai “the holy man”. Berikut beberapa kemungkinan logisnya adalah bahwa Penulis:

    • Tidak menyadur secara lengkap atau
    • Tidak benar-benar menyadur dari kitab suci Buddha
    • Hanya membawa misi tertentu sejak awal, namun ternyata tidak didukung Fakta, mengubah Fakta untuk mendukung dan akhirnya dibuatkan kesimpulan.

  • Ajaran Kristen tidak akan pernah berbicara tentang Karmapala maupun Reinkarnasi, dimana hal tersebut adalah “wajib hukumnya” dalam ajaran-ajaran Buddha mana saja baik itu sebelum ataupun sesudah Buddha Gautama, bahkan Ajaran Hindu pun menggunakan kata “kunci” yang sama tersebut, ditambah pula arti dari dari kutipan kitab Buddha tentang pembicaraan antara Buddha dan Brahmana tua, jelas melenceng dari ajaran Hindu ataupun Buddha..

  • Jalan keselamatan di ajaran Buddha tidak akan pernah menyebutkan penebusan dosa, ini ditunjukan oleh kalimat sederhana bahwa setiap kebajikan yang diperoleh tidak akan menyudahi lingkaran karma, namun hanya memupuk karma baik dan tetap tidak akan menyudahi reinkarnasi

  • Disamping, Klaim Nubutan Yesus di Kitab Buddha TERBUKTI tidak Benar dan mengada-ada, malah dari hasil Telaah Al Kitab yang kita lakukan, yaitu Fakta-fakta pada Peristiwa Penyaliban, Kematian Yesus, Tanda-tanda akibat Penyaliban menunjukan banyak ke-TIDAK KONSISTEN-an Pelaporan, sehingga dapat disimpulkan bahwa Alkitab bukan merupakan KITAB SUCI.

Jalan Keselamatan Yang Ditegaskan Oleh Buddha

Buddha menjelaskan secara tegas bahwa tidak ada jalan lain lolos dari lingkaran kekusasan Karma dan Reinkarnasi, kecuali melalui Dhamma(diambil dari Dhammapada):

Syair 254 dan 255 Kisah Subhadda Si Pertapa Pengembara
Subhadda, si pertapa pengembara sedang menetap di Kusinara ketika ia mendengar bahwa Buddha Gotama akan mangkat, mencapai parinibbana pada waktu jaga terakhir malam itu. Subhadda mempunyai tiga pertanyaan yang telah lama membingungkannya. Ia telah menanyakan pertanyaan tersebut kepada guru-guru agama yang lain, misalnya Purana Kassapa, Makkhali Gosala, Ajita Kesakambala, Pakudha Kaccayana, Sancaya Belatthaputta, dan Nigantha Nataputta, tetapi jawaban mereka tidak memuaskan baginya. Ia belum bertanya kepada Buddha Gotama, dan ia merasa bahwa hanya Sang Buddha lah yang mampu menjawab pertanyaan-pertanyaannya.

Maka, ia bergegas pergi ke hutan pohon Sala, tetapi Y.A. Ananda tidak mengizinkannya bertemu dengan Sang Buddha, karena saat itu kondisi kesehatan Sang Buddha sangat lemah. Sang Buddha mendengar percakapan mereka dan Beliau berkenan untuk menemui Subhadda. Subhadda menanyakan tiga pertanyaan, yaitu:

Apakah ada jalan di langit?
Apakah ada bhikkhu-bhikkhu suci (samana) di luar ajaran Sang Buddha?, dan
Apakah ada suatu hal berkondisi (sankhara) yang abadi?

Jawaban Sang Buddha terhadap semua pertanyaan tersebut adalah ‘tidak ada’.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 254 dan 255 berikut ini :

Tidak ada jejak di angkasa, tidak ada orang suci di luar Dhamma. Umat manusia bergembira di dalam belenggu, tetapi Para Tathagata telah bebas dari semua itu.
Tidak ada jejak di angkasa, tidak ada orang suci di luar Dhamma. Tidak ada hal-hal berkondisi yang abadi. Tidak ada lagi keragu-raguan bagi Para Buddha.


Pada saat khotbah Dhamma itu berakhir, Subhadda mencapai tingkat kesucian anagami, dan atas permohonannya, Sang Buddha menerima Subhadda sebagai anggota Pasamuan Bhikkhu (Sangha).

Subhadda adalah orang terakhir yang menjadi bhikkhu pada masa kehidupan Sang Buddha Gotama. Akhirnya, Subhadda mencapai tingkat kesucian arahat [Tingkat kesucian, dimana tidak dilahirkan kembali, mencapai Nibanna (moksa, selagi hidup)].


Nubuat tentang Yesus Yang ternyata Bermasalah juga Dengan Kitab Serumpun

Apakah benar hanya 4 injil itu saja yang memberikan argumen yang lemah terhadap “pernubuatan” tentang Yesus?. Untuk itu pada kesempatan ini, saya akan tunjukan bagian-bagian yang diklaim sebagai “nubuat” yang diakui oleh KRISTEN dari kitab suci terdahulu (MAZMUR), Perlu saya tampilkan tidak lain hanya untuk menegaskan bahwa bahkan dalam satu rumpun ajaran saja, klaim Kristen tentang nubuat masih mempunyai problem yang sangat fundamental.
-------------

Mazmur (Psalms) 22:16, dalam Bahasa Inggris:
    "For Dogs have compassed me; the assembly of the wicked have enclosed me; they haved Pierced (karah) my hands and my feet."
    (Karena anjing-anjing telah disekelilingku, kumpulan jahat telah menempelku, mereka telah menusuk tangan dan kakiku).
Ayat ini sering dikutip untuk menimbulkan kesan seolah-olah ini adalah nubuatan perjanjian lama untuk adegan pemakuan tangan dan kaki Yesus. Apakah benar demikian?

Pertama-tama,
Kata "they" yang merujuk pada anjing itu ternyata dilakukan oleh serdadu Romawi dan BUKAN oleh kaum Yahudi (kaum yahudi, kerap dituduh membunuh para Nabi: Mat 23.30-31, 37; Lukas 11.47-48, 13.34; 1 Tesalonika 2.15; Roma 11:3; Wahyu 16:6; KPR 7:52).

Namun tentu saja bukan itu saja yang menjadi persoalan utamanya.

Yang jadi persoalan utama adalah terjemahkan kata "menusuk" ternyata terjemahan yang dibuat Translator King James Version berasal dari sumber antah berantah dan BUKAN dari kitab tulisan IBRANI (Masoretic).

Argument dibawah ini berasal dari "Psalm 22:16: A Prophecy of the Crucifixion?" dan "Messianic Prophecies":


Tampak jelas dari kata Ibrani, terjemahan seharusnya adalah "seperti singa" dan tidak dapat diterjemahkan dengan "menusuk", sehingga arti keseluruhannya menjadi, "karena Anjing ada disekelilingku; beserta kejahatan yang mengelilingku seperti singa. tangan dan kakiku".

Maka ini BUKANLAH nubuatan tentang Yesus.

Namun demikian,
ada satu nubuatan yang 100% terpenuhi ketika Yesus disalibkan di pohon, sebagaimana yang Paulus katakan:
    Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: "Terkutuklah orang yang digantung pada pohon (xulon)!" [Galatia 3.13]
..dan Kutuk hukum taurat apa yang dimaksudkan?
    "Apabila seseorang berbuat dosa yang sepadan dengan hukuman mati, lalu ia dihukum mati, kemudian kaugantung dia pada kayu, maka janganlah mayatnya dibiarkan semalam-malaman pada tiang itu, tetapi haruslah engkau menguburkan dia pada hari itu juga, sebab seorang yang digantung terkutuk oleh Allah; janganlah engkau menajiskan tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu menjadi milik pusakamu. [Ulangan 21.22-23]
Ia dihukum mati karena melanggar HUKUM TAURAT, yaitu berbuat dosa melecehkan tuhan
    Tetapi seorang nabi, yang terlalu berani untuk mengucapkan demi nama-Ku perkataan yang tidak Kuperintahkan untuk dikatakan olehnya, atau yang berkata demi nama allah lain, nabi itu harus mati. [Ulangan 18.20]
Jelas sudah bahwa orang ini BUKANLAH nabi..Apalagi TUHAN.

Jika masih bimbang bahwa orang adalah bukan nabi apalagi tuhan, bisa juga di check kronologi kematian Yesus yang berada diantara 2 sabat, di bulan ke-1, Nissan:
  • Tanggal 14, Rabu malam – Kamis senja, yaitu Paskah BULAN ke-1 [Imamat 23.4-8]
  • Tanggal 15, Kamis malam – jum’at senja, yaitu hari ke-1 hari raya roti tidak beragi [Imamat 23, Matius 26:2, 26:17-20; Markus 14:1, 14:12; Lukas 22:7-8, 22:39; Yohanes 12:20]
  • Tanggal 16, Jum’at malam - Sabtu senja, hari ke-2 hari raya roti tidak beragi dan juga hari persiapan sabat, Yesus wafat jam ke-9, SABTU SORE, setelah seluruh mayat hukuman diturunkan, barulah dilakukan pemotongan domba paskah (masih 4-5 JAM LAGI sebelum senja berakhir, jam ke-12 akhir, yaitu jam 19.30) [Markus 15:33,42; Yohanes 18:28, 19:14, 31, 42; Lukas 23:14, 23:54; 56-56b; Matius 27 45, 51, 27:62-64]
  • Tanggal 17, Sabtu malam - Minggu senja, hari ke-3 hari raya roti tidak beragi dan juga hari sabath regular [Imamat 23:1-3 (juga keluaran 16:26, 20:9-10, 31:15, 35:2); Lukas 23:56;56b]
  • Tanggal 18, Minggu malam - Senin senja, hari ke-4 hari raya roti tidak beragi dan juga hari pertama setelah sabath regular, Pagi-pagi benar ketika hari masih gelap Magdalena pergi ke kubur dan Yesus sudah tidak ada, jadi saat itu SENIN PAGI [Matius 28:1-2; Markus 16:1-2; Lukas 24:1-2; Yohanes 20:1]
Berapa jumlah total hari dari mulai Yesus wafat s/d yesus tidak ada di kuburnya?

Alkitab mengenal perhitungan 1 hari = 12 jam dan tidak dilakukan pembulatan perhitungan hari menjadi 1 (satu Hari)

Yohanes 11:9 Jawab Yesus: "Bukankah ada dua belas jam dalam satu hari?.."
Kitab wahyu 11:9, ‘...tiga setengah hari lamanyadan 11:11, ‘Tiga setengah hari kemudian...

Kalimat ‘1/2 (setengah) hari’ yang muncul pada kitab wahyu diatas memberikan petunjuk pada kita bahwa tidak ada pembulatan menjadi 1 (satu) hari, namun sesuai dengan yang terpakai/dipakai, jadi perhitungan hari/jamnya adalah sebagai berikut
  • Tanggal 16, jam 14.49 sore s/d tanggal 17 jam 14.49 sore = 24 jam
  • Tanggal 17, jam 14.49 sore s/d tanggal 18, jam 02.49 pagi = 12 jam
  • Tanggal 18, jam 02.49 pagi s/d pagi-pagi (asumsi: jam 05.49 = 3 jam
Jadi total waktu kematian Yesus adalah 39 jam. Sementara tanda ke-mesias telah disampaikannya sendiri di Matius 12:38-40; Lukas 11:29-30; Markus 8:31, 9:31 yang merujuk Yunus 1:17, yaitu:
    Pada waktu itu berkatalah beberapa ahli Taurat dan orang Farisi kepada Yesus: "Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari pada-Mu...Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam
..dan fakta lapangan yang terjadi bahkan tidak sampai 2 hari penuh!

***

Mazmur/ Psalms 22:1, sering di bawa-bawa kalangan Kristen tentang nubuatan atau ramalan bahwa akan muncul perkataan Yesus di atas kayu salib, yang bunyinya:
    My God, my God, why hast thou forsaken me? why art thou so far from helping me, and from the words of my roaring?
    (Allahku, Allahku, mengapa Kau mengabaikanku? Mengapa Kau tak menolongku dan [tidak memperdulikan] kata-kata teriakanku?)
Ungkapan ini lebih terkenal dengan: "Eli, Eli Lamasabakhtani", dalam Bahasa Aram, bahasa yang dipakai Yesus.

Ayat di atas yang konon ditulis oleh Daud, adalah ketika mengungkapan kesesakannya, yang merasa ditinggal Eli (artinya Tuhan), itu adalah kata-kata umum yang diucapkan seseorang ketika "merasa" ditinggalkan Tuhan. Maka sebagai seorang yang mengaku sebagai "yang diberkati" dan “guru agama” Yahudi, Yesus seharusnya paham dari mana kata-kata tersebut berasal dan untuk yang mengaku nabi dan bahkan tuhan, “sangat lucu sekali” diteriakan atau diulangi lagi di kayu salib :)

***

Mazmur/ Psalms 34:20, sering diPERALAT sebagai alasan untuk menjelaskan terpenuhinya nubuatan pada peristiwa penyaliban Yesus, dimana kedua penjahat yang disalibkan bersama Yesus dipotong kakinya, sedangkan Yesus tidak, maka ini dianggap memenuhi nubuatan yang berbunyi sebagai berikut:
    "He keepeth all his bones: not one of them is broken"
    (Ia menjaga semua tulangnya, dan tidak ada satupun dari mereka yang dipatahkan)
Apakah ini benar Nubuat? Mari kita telaah lebih dalam. Ayat sebelumnya yakni ayat 19:
    "Many are the afflictions of the righteous: but the LORD delivereth him out of them all"
    (Banyaklah hambatan bagi orang yang benar, namun TUHAN membebaskan Nya dari semua hambatan)"
Dan jika ayat 19 dan 20 digabungkan dengan ayat-ayat lainnya digabungkan maka jelas ayat 20 adalah kata kiasan (menjaga tidak satupun tulang yang patah) yang menunjukkan janji Tuhan untuk melindungi/menjaga orang benar keluar dan selamat tanpa cacat dari semua hambatan/cobaan dan bencana.

Kemudian,
memaksakan diri dengan mengaggap bahwa yesus adalah domba paskah, juga tidak tepat, karena Yesus dihukum bersama para penjahat lainnya dan setelah mati, ia pun tidak dipanggang dan tidak disantap, padahal korban Paskah yang dipersembahkan itu harus tidak cacat dan dimakan pada akhirnya:
    ..dari kambing domba, baik dari domba, maupun dari kambing, haruslah ia mempersembahkan seekor jantan yang tidak bercela. [Imamat 1.10; 3:6l 4:32]..berumur setahun. [keluaran 29;38]. Paskah itu harus dimakan dalam satu rumah juga; tidak boleh kaubawa sedikitpun dari daging itu keluar rumah; satu tulangpun tidak boleh kamu patahkan. [Keluaran 12:46]..Janganlah mereka meninggalkan sebagian dari padanya sampai pagi, dan satu tulangpun tidak boleh dipatahkan mereka. [Bilangan 19:12]
Sangat tidak nyambung dengan kondisi Yesus dan ayat 20 bukan nubuatan tentang Yesus.

Disamping itu, wafatnya pun sebelum WAKTU penyembelihan domba paskah dan antar ayat dalam perjanjian baru sendiri kontroversi mengenai kapan waktu disalibnya sewaktu di Golgota pada
    Hari itu ialah hari persiapan Paskah, kira-kira jam ke-6 (Hora hektos)..Pilatus menyerahkan Yesus kepada mereka untuk disalibkan [Yohanes 19:14-16]

    VS

    Jam ke-3 (hora tritos) ketika Ia disalibkan [Markus 15:25]
Juga petunjuk menarik di Markus, Matius dan Lukas
    Pada jam ke-6 (hora hektos), kegelapan meliputi seluruh daerah itu dan berlangsung sampai jam ke-9 (hora ennatos). Dan pada jam ke-9 (hora ennatos) berserulah Yesus dengan suara nyaring..dan menyerahkan nyawa-Nya (Markus 15:33-34,37; Lukas 22:44-45; Matius 27:45-46)
Alasan yang biasa digunakan menanggapi perbedaan fatal waktu Yesus disalibkan antara "hektos hora" (Yohanes 19:14) VS "hora tritos" (Markus 15:25) adalah bahwa Markus menggunakan waktu Yahudi sementara Yohanes menggunakan waktu Romawi :). Argument ini lemah karena klaim metaphora domba paskah hanya fit dengan tradisi waktu Yahudi.


Di atas,
terlihat perbedaan panjang waktu pada periode titik balik matahari winter dan summer. Waktu Summer untuk jam ke-9 adalah jam 02.30 dan waktu senja terakhir adalah 19.30, Jadi terdapat selisih 5 JAM sebelum mulainya hari Sabat.

Pada tahun 34, Vernal Equinox (posisi awal musim Semi) terjadi di 23 Maret 04. Dengan memperhatikan nilai waktu yang sama, yaitu 00:01 [LMT: Local Mean Time], itu juga terjadi di 21 Maret 1953. Kemudian dengan perbandingan jumlah tanggal yang telah berlalu hingga 15 Nisan/16 Nisan (yaitu minus 2 hari) kita dapatkan tanggal 21 April 1953. Panjang hari di Jerusalem pada tanggal 21 April 1953 adalah 13 Jam 07 Menit dan 33 Detik, Matahari terbit jam 6.04 dan terakhir terbenam jam 19.12. Dari perhitungan 1/12-nya kita ketahui penambahan waktu perjamnya adalah: 65 menit dan 37 detik.

Sehingga jam ke-9-nya:
Jam ke-1 (6.04) + (8 x 65 menit 37 detik) = Jam 6.04 + 8 jam 45 Menit = Jam 14.49

Ini juga berarti masih tersisa 4 Jam 23 Menit sebelum Sabat dimulai.

Setelah semua mayat orang hukuman diturunkan agar tidak menajiskan tanah (Yohanes 19:31; Ulangan 21:22-23), maka setelah itu barulah dilakukan pemotongan hewan paskah. Ini artinya Yesus bukanlah domba paskah.
    Karena hari itu hari persiapan dan supaya pada hari Sabat mayat-mayat itu tidak tinggal tergantung pada kayu salib maka datanglah orang-orang Yahudi kepada Pilatus dan meminta kepadanya supaya kaki orang-orang itu dipatahkan dan mayat-mayatnya diturunkan. [Yohanes 19:31]
Informasi di atas ini SUDAH MENJELASKAN DENGAN SANGAT bahwa WAKTU PEMOTONGAN DOMBA BELUMLAH DIMULAI (masih berselisih 4-5 JAM sebelum sabat mulai) dan Yesus sudah wafat duluan. Ini juga membuktikan bahwa metapora Yesus domba paskah sangatlah tidak nyambung.

Disamping itu,
Perlu diperhatikan keheranan Pilatus, bahwa hanya dalam kurun waktu 3 jam-an saja, di antara 3 penjahat yang dihukum, hanya yesus yang wafat sementara 2 lainnya tidak. [Markus 15:44]. Penyaliban penjahat telah banyak dilakukan sebelumnya, tidak terjadi pada kasus ini saja, sehingga waktu rata-rata kematian akan diketahui yaitu BERJAM-JAM hingga beberapa hari, sebagaimana terungkap dalam laporan tentang hukuman penyaliban: "Penderitaan itu berlangsung setidaknya 12 jam, dalam beberapa kasus selama 3 hari. Untuk mempercepat kematian kaki dirusak, dan ini dianggap sebagai tindakan AMPUNAN (Cicero, "Phil." Xiii. 27)"

***

Yesaya 53:7 sering disebutkan sebagai nubuatan mengenai Yesus, yaitu penggambaran Yesus yang hanya akan berdiam diri saat diadili. Mari kita lihat ayat tersebut:
    "He was oppressed, and he was afflicted, yet he opened not his mouth: he is brought as a lamb to the slaughter, and as a sheep before her shearers is dumb, so he openeth not his mouth."
    (Ia ditekan dan ia dihambat, namun ia TIDAK MEMBUKA MULUTNYA, ia bagaikan seekor domba yang dibawa ke penjagal, dan seperti domba berdiam saja di hadapan pencukur bulunya).
Dari ke Empat Injil (Yohanes, Matius, Lukas dan Markus) sudah memberikan petunjuk bahwa Yesus ternyata tidak berdiam diri, ada perlawanan dan terutama adalah masih MENJAWAB pertanyaan Pilatus, sehingga apabila ini adalah sebagai nubuatan Tuhan untuk mengenapi, maka hal ini adalah tidak benar, sebab di ke empat Injil terbukti bahwa Yesus masih membuka mulutnya di hadapan Pilatus.

***

Atau juga Yesaya 7:14:
    Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda ('almah) mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel. Ia akan makan dadih dan madu sampai ia tahu menolak yang jahat dan memilih yang baik; sebab sebelum anak itu tahu menolak yang jahat dan memilih yang baik, maka negeri yang kedua rajanya engkau takuti akan ditinggalkan kosong. [Yesaya 7:14]
Matius mengklaim sebagai nubuatan dengan mengganti kata seorang perempuan muda menjadi seorang "PERAWAN":

Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus (Iesous), karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka." Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi "Sesungguhnya, PERAWAN (Parthenos) itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel" --yang berarti: Allah menyertai kita.

Kekonyolan ke-1,
nama anak yang disebutkan di Yesaya adalah "Imanuel", sementara nama anak yang disebutkan di Matius adalah "Iesous" bukan "Imanuel". Ini jelas merujuk ORANG yang BERBEDA, bukan?

Cilakanya lagi,
di ayat Yesaya 8.3-4, kita akan segera tahu bahkan kata IMANUEL pun hanya kiasan, karena nama anak itu adalah "Maher-Syalal Hash-Bas":
    Kemudian aku menghampiri isteriku; ia mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki. Lalu berfirmanlah TUHAN kepadaku: "Namailah dia: Maher-Syalal Hash-Bas, sebab sebelum anak itu tahu memanggil: Bapa! Ibu! maka kekayaan Damsyik dan jarahan Samaria akan diangkut di depan raja Asyur."
Kekonyolan ke-2,
padanan kata ibrani "'almah" (perempuan muda) dalam romawi/Yunani adalah " neanis", sementara padanan kata romawi "Parthnenos" (perawan) dalam Ibrani adalah "bethulah"

Apakah SELURUH perempuan muda = perawan? TIDAK.

Seorang perawan TIDAK SELALU berusia MUDA dan seorang perempuan muda TIDAK SELALU PERAWAN, contoh:
    Di depan berjalan penyanyi-penyanyi, di belakang pemetik-pemetik kecapi, di tengah-tengah dayang-dayang (Almah) yang memalu rebana [Mazmur 68.25]

    Permaisuri ada enam puluh, selir delapan puluh, dan perempuan muda tak terbilang banyaknya [Kidung agung 6.8], Ketentuan Harem tidak harus para perempuan muda itu perawan.

    alan rajawali di udara, jalan ular di atas cadas, jalan kapal di tengah-tengah laut, dan jalan seorang laki-laki dengan seorang perempuan. [Amsal 30.19]
Seperti anda lihat, penggunaan kata "'almah", tidaklah diartikan PERAWAN, namun cukup perempuan usia siap nikah, adi ini adalah perbuatan disengaja untuk MENYESATKAN, bukan?!

Kekonyolan ke-3,
Ayat itu ternyata difirmankan tuhan kepada Ahas adalah kejatuhan Damsyik sehubungan dengan raja Asyur! Sama sekali tidak berhubungan dengan urusan Yesus-yesusan!

Konyol sekali, bukan?

***

Kaum Yahudi kerap dituduh membunuh para Nabi, misalnya di Matius 23.30-31, 34-37; Lukas 11.47-51, 13.34; 1 Tesalonika 2.15; Roma 11:3; Wahyu 16:6; KPR 7:52, contohnya di tuduhan Paulus:
    'Bahkan orang-orang Yahudi itu telah membunuh Tuhan Yesus dan para nabi...'

    Note:
    Islam juga kerap melontarkan tuduhan serupa, misal: AQ 2.61, 87, 91; AQ 3.21, 112, 181, 183; AQ 4.155; AQ 5.70. Nabi yang disebut di quran dalam versi Islam: Adam, Idris (Enoch), Nuh, Hud(?), Saleh(?), Ibrahim, Lut, Isma'il, Ishaq, Ya'qub (Jacob), Yusuf, Ayyub (Job), Shu'aib (Jethro?), Musa, Harun, Daud, Sulaiman, Ilias (Elias), Al-Yasa (Elisha), Yunus, Dhu'l-kifl (Ezekiel?), Zakariyya, Yahya (John), 'Isa (Jesus), Muhammad. Untuk kata "kaum Israel", maka listnya harus mulai setelah jaman Musa, bukan? 
Jika Yesus juga mengucapkan tuduhan ini, maka listnya harus antara Musa s.d sebelum Yesus. Terdapat kurang lebih 30an nabi (termasuk yang dianggap minor), maka nabi mana sih yang dibunuh kaum Yahudi?
  • Yohanes Pembaptis, bukan nabi. Yohanes tidak dibunuh oleh orang Yahudi. Herodes Antipas yang memenggal Yohanes adalah keturunan Edom dan Samaria demikian pula Herodias yang meminta agar Yohanes di penggal juga bukan Yahudi.

  • Bileam dibunuh atas perintah tuhan kepada Musa. Bileam sendiri bukan Nabi [Bilangan 31:8. juga lihat: Bilangan 31:16; Wahyu 2:14, Yudas 11; 2 Petrus 2:15]

  • Uria dibunuh oleh Raja Yoyakim sendiri (Jeremia 26:20-23), yang dalam tradisi Yahudi, raja adalah Mesias juga. Jadi, Tuhan sendiri ingin dia mati.

  • Terdapat peristiwa saling bunuh nabi, yaitu Elia membunuh 450 nabi Baal (1 Raja-raja 18:40) vs Izebel, Istri Ahab, membunuh 100an Nabi Israel (1 Raja-raja 18:13). Izibel adalah putri Sidon (1 Raja-raja 16:31), orang Fenisia, bukan orang Yahudi.

  • Yeremia jelas-jelas mendapatkan perlindungan tuhan (Yer 1.8) tidak wafat di bunuh
  • Yesaya diisuekan di gergaji (oleh mesias raja Manasye), namun issue ini hanya muncul di kitab NON kanonik dan sejarah nabi versi Islam (Ibn kathir). Kitab kanonik TIDAK ADA menyatakan Yesaya mati digergaji

  • Lucunya, Yesus sendiri kebingungan membedakan: Zakharia bin Berekhya bin Ido, (Matius 23:35; Lukas 11.50-51) yang hidup di jaman Darius vs Zakharia Ben Yoyada (2 Taw. 24:20-22) yang hidup di jaman Nebudkanezar. Zakahria bin Berekhya, tidak wafat ditangan yahudi manapun, sementara Zakaria bin Yoyada (bukan nabi) tewas ditangan Raja Yoas (Raja adalah mesias) :).

    Urusan sepele gini aja salah, apalagi urusan surga/neraka..
Lantas nabi yang mana yang dimaksudkan? koq tidak ada? Jika tidak ada, lantas buat apa memfitnah kaum Yahudi?


Al Kitab, Ternyata Kitab bermasalah sejak dari awal pembuatannya
Karena terlalu banyak item yang perlu di baca, silakan copy, sebarluaskan dan baca di:
[Kembali]


Klaim Hoax: Biksu Buddhis yang pindah ke Nasrani

Sebagai pemanasan, saya cuplikan potongan dari Klaim Athet Pyan Shinthaw Paulu, seorang Biksu yang pindah agama menjadi Nasrani, Dibawah cuplikan kisah dia, saya cuplikan pula Fakta yang sebenarnya:

When I turned 19 years and 3 months old (in 1977), I became a normal monk. The senior monk at my monastery gave me a new Buddhist name, which is the custom in our country. I was now called U Nata Pannita Ashinthuriya. When we become a monk we no longer use the name given to us at birth by our parents. The name of the monastery I lived at is called Mandalay Kyaikasan Kyaing. The senior monk's name was called U Zadila Kyar Ni Kan Sayadaw [U Zadila is his title]. He was the most famous Buddhist monk in all of Myanmar at the time. Everyone knew who he was. He was widely honored by the people and respected as a great teacher. I say he "was" because in 1983 he suddenly died when he was involved in a fatal car accident. His death shocked everyone. At the time I had been a monk for six years.

[Ketika aku berusia 19 tahun dan 3 bulan 9 (1977), Aku menjadi Biksu biasa. Biksu senior di biaraku memberikan-ku nama Buddhis baru, Itu adalah hal biasa di Negaraku. aku dinamai U Nata Pannita Ashinthuriya. Saat menjadi Biksu kita tidak lagi memakai nama yang diberikan orang tua saat kita lahir. Biara dimana aku tinggal bernama Mandalay Kyaikasan Kyaing. Dahulu Biksu senior disitu bernama U Zadila Kyar Ni Kan Sayadaw [U Zadila adalah gelarnya]. Dahulu ia merupakan Biksu yang ternama di seluruh Myanmar. Semua mengenalnya dulu. Ia dihormati oleh masyarakat dan Guru besar yang sangat di segani. Aku katakana “Dahulu” karena di tahun 1983 Ia tiba-tiba wafat karena kecelakaan mobil yang fatal. Kematiannya mengejutkan semua orang. Saat itu aku telah menjadi biksu selama 6 tahun]


Sekarang mari kita lihat Faktanya:

(6) The monk said 'Kyar Ni Kan Sayadaw' died in a car crash in 1983 . In fact Sayadaw died in Myanmar Era 1339 = about 1977. There was a 6 years discrepancy which is unacceptable as the monk said he studied under him. He should know the exact year when his teacher died. And that 1977 was also the year when he became a monk. This fact alone is enough to brand the story as a fake or invention.

(7) He said he was given a new name of 'U Nata Pannita Ashinthuriya' when he entered the monastery. In Burma, the title 'shin' was used for the novice. 'U' was never used for a novice.

[(6) Biksu ‘Kyar ni Kan Sayadaw’ dikatakan wafat karena kecelakaan mobil di tahun 1983. Padahal Biksu wafat di tahun 1977. Ada 6 Tahun perbedaan yang sangat tidak dapat diterima, karena ia mengatakan ia belajar dari nya. Ia seharusnya mengetahui dengan TEPAT tahun dimana gurunya wafat! Padahal tahun 1977, Ia katakan menjadi biksu! Fakta ini saja sudah dapat menunjukan bahwa cerita ini adalah PALSU dan dibuat-buat

(7) Ia katakan ia diberi nama baru U Nata Pannita Ashinthuriya, ketika ia masuk biara (menjadi biksu). Di Burma (Myanmar), Gelar ‘Shin’ digunakan untuk orang baru (Biksu baru). ‘U’ Tidak pernah diberikan untuk orang baru (biksu baru)]


Bagaimana? Apakah Anda penasaran dengan kelanjutannya?

Jika demikian, silakan lihat klaim hoax itu di sini, kemudian untuk tanggapannya ada dua, yaitu:
  • Dari organisasi Nasrani di Australia [klik di sini] yang menyelidiki peristiwa ini dan menyimpulkan bahwa klaim itu adalah Hoax dan menyayangkan terjadinya pengedaran berita hoax itu oleh institusi Nasrani sendiri. [Saya menduga, bukan karena penyelidikan, namun karena bolong ceritanya begitu besar]
  • Dari organisasi Buddhis di Myanmar [klik di sini], yang menyelidiki kebenaran orang dan Peristiwanya
Klaim hoax tersebut diatas, membuat anda semakin mengerti hakekat sesungguhnya para pengikut Nasrani, sebagai penjelmaan hidup dari kata-kata Paulus di suratnya Roma 3:7,

..jika kebenaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliaan-Nya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang berdosa?


Penutup

Upaya untuk melakukan upaya promosi agama adalah upaya yang baik dan terpuji, namun apabila dimaksudkan untuk menyesatkan dan membingungkan umat beragama lainnya melalui manipulasi ajaran agama lain yang digunakan untuk keuntungan pertambahan "domba" Kristen sungguh merupakan tindakan yang tidak bermatabat dan sangat rendah.

[Kembali]


From: zebaoth jehova:
Berikut ini adalah kutipan yang dibicarakan diatas:

Buddhism.
Buddhists believe that one must do “merit” in order to better one’s life. They know that people have sin, so each person tries to do “merits” to cover over their sins. But they know that theirs sins are too great. This is especially difficult on poor people, because they know that to do “merit,” one needs money. The way to get money is to be a powerful person, but many powerful people steal and are not just. Often they are corrupt and abuse their power. Money received by doing sin to others is not acceptable merit money. So sins continue because no one is able to have enough merit to take away sin . . . unless someone was perfect He could have enough merit for Himself and others. It is interesting that in the Buddhist Scriptures of Cambodia, a prophecy regarding a “Holy One” would come, One who would lead people away from the old way and introduce a new way.

“When Buddha was traveling and living in this world, there was an old Brahman priest who wore white robes who asked the Buddha, “How will all men and all Brahman continue in their merit-making so as to escape the results of sin?” The Buddha answered, “Enough though all of you give alms according to the 5 precepts, the 8 precepts, the 10 precepts or the 227 precepts for 9 trillion years and you raise your hands and offer yourselves as a burnt offering, or you pray 5 times a day, you will still not escape the results of your sins. If you do this every day, your merit gained will only be equal to the smallest strand of hair of an unborn infant extremely small. You shall not enter heaven’s doors.”

The old Brahman priest asked further, “What are we going to do to be saved?” The Buddha answered the old Brahman priest, “The results of sins and Karma are very great, heavier than the sky, thicker than the earth; and so high that it would be like an angel dusting the corner—posts at the temple compound with a cloth-post that are worn down, that’s how long it would take to end your sins.” The Buddha said further, “I have given up my high position and entered the priesthood. I considered that even though I am good, I would have only a very small amount of merit at the end of the year. If I was given this same amount of merit for 100,000 epochs and live 10 more lifetimes, I would not be saved from sin’s results even once.”

The old Brahman priest asked further. “So what should we all do?” The Buddha answered, “Keep on making merit and looking for another Holy One who will come and help the world and all of you in the future.”

Then the old Brahman priest asked. “What will the characteristics of the Holy One be like?” The Buddha answered him, “The Holy One who will keep the world in the future will be like this: in the palm of his hands and in the flat of his feet will be the design of a disk, in his side will be a stab wound; and his forehead will have many marks like scars. This Holy One will be the golden boat who will carry you over the cycle of rebirths all the way to the highest heaven (Nirvana). Do not look for salvation in the old way; there is no salvation in it for sure. Quit the old way. And there will be a new spirit like the light of a lightning bug which will come down from the sky above to live in all of your hearts and you will be victorious over all your enemies. Nobody will be able to destroy you. If you die, you will not come back to be born in this world again. You will go to the highest heaven (Nirvana).”

Permission was granted to copy these Buddhist Scriptures from Wat Phra Sing in Chiang Mai Province. The person who gave permission was Phra Sriwisutthiwong in Bangkok. It is guaranteed that this copy is accurate according to the original, that there is no error in transmission, which is in the book of the district headman, the religious encyclopedia volume 23, book #29. This inquiry was made on October 13, 1954 A.D. (Buddhist era 2497).

Buddha was correct about the uselessness of trying to earn merit. It is impossible. The Holy One Buddha said would come has come. About five hundred years after Buddha left this world, the prophecy was fulfilled. When Jesus Christ died on the cross to take away human sin, each hand and foot was pierced with a large nail leaving a disk shape (John 20:20), His side was pierced with a spear (John 19:34); and His forehead had many marks on it from the crown of thorns the Romans put on Him (John 19:2). Jesus Christ opened up a new way of faith to relate to God so that the old ways of merit could be left behind. Through Jesus alone, one can find escape from the impossibility of doing merit. Through Jesus alone, one can find perfect assurance that the highest heaven is opened by God’s grace.
_________
Definitions:
- Karma (1): eastern religion Eastern philosophy: the Hindu and Buddhist philosophy according to which the quality of people’s current and future lives is determined by their behavior in this and in previous lives.
- Karma (2): destiny: destiny or fate in general.
- Epoch: start of a historically significant period: the beginning of a long period of history considered particularly significant.
- Nirvana: religion spiritual enlightenment: in Hinduism, Buddhism, and Jainism, the attainment of enlightenment and freeing of the spiritual self from attachment to worldly things, ending the cycle of birth and rebirth. [Kembali]


Resurrected Burmese Monk Story Revisited
http://www.ccgm.org.au/Articles/ARTICLE-0102.htm
Contents of this site is Copyright 1999 - 2007 CCG Ministries - W.A. van Leen, Director.
Untuk Cros check, silakan sent email ke alamat ini: ccgm@ccgm.org.au
    During the year 2000, numerous emails circulated on the Internet passing on the dramatic story: ‘BACK FROM THE DEAD The Remarkable Testimony of a Buddhist monk in Myanmar (Burma) who came back to life a changed man!’

    With CCG Ministries’ involvement in Asia, including Myanmar, we were very interested in this story and its authenticity.

    It was brought to ‘life’ on the Internet through the promotion of a Christian missionary organization then called, Asian Minorities Outreach, later changing its name to: Asia Harvest, headquartered in Texas, USA, and operating from Thailand. Its Director, Paul Hatthaway, has written several books, including ‘The Heavenly Man’.

    For quite some time the ‘resurrected Buddhist monk’ story appeared on the front page of the organisation’s website. Then the actual story was removed from their website, but a remaining reference to it encouraged people to request a copy of the story by email. The following explanation for the change, was given by the group at the time:

    ‘A Quick Note: We have been asked by many people why this testimony is no longer available on our website. We were ordered to remove the story by the government of Singapore, who had apparently received complaints from Buddhists. As our website is housed in Singapore at the moment, we didn’t have much choice.’

    AMO/Asia Harvest introduced the story with the following introduction:
    ‘The story that follows is simply a translation of a taped testimony from a man with a life-changing story. It is not an interview or a biography, but simply the words from the man himself. Different people react in different ways when they hear this story. Some are inspired, some skeptical, a few will mock and ridicule, while some others have even been filled with rage and anger, convinced these words are the ravings of a mad man or an elaborate deception. Some Christians have opposed the story simply because the radical and miraculous events described herein do not fit their feeble image of an Almighty God.’

    We were concerned with the above wording and commented in our 2001 report that it was interesting to note the approach they took in the introduction. Anyone who questioned the story would immediately be labelled as a sceptic, a mocker or ridiculer, someone filled with rage and anger, or worse a Christian whose concept of God is feeble and who does not believe that an Almighty God can be radical and perform miracles.

    This could be seen by some as a form of bullying and intimidation to dismiss any form of thought and questioning of the story. It is not a healthy or biblical approach to dealing with questions about such a dramatic story, nor does it encourage people to use their minds.

    The resurrected monk’s story was quite a dramatic tale and it has impressed many people. It was even reported in the well-known Christian Singaporean magazine: IMPACT (June/July 2000, p.45). It continued to be circulated and passed on through emails for some time.

    But was it true? If it was, it SHOULD be circulated - whatever the consequences. But what if it was NOT true? Should it then continue to be circulated never-the-less? We believe not! It should be noted that there have been several versions of the story circulating. One version, which was circulating in March and April of 2000, began with an ‘Extract’:

    ‘Myanmar: Buddhist monk raised from the dead - 300 monks turn to Jesus. “In 1998, a Buddhist monk died. A few days later, his funeral was held, at which he was to be cremated. From the smell, it was obvious that his body had started to decompose - he was very clearly dead!” according to the report from missions agency Asian Minorities Outreach. “We have attempted to verify this report which reached us from a number of sources, and are now convinced that it is accurate,” they write.

    Hundreds of monks and relatives of the dead man attended the funeral. Just as the body was about to be burned, the dead monk suddenly sat up, shouting ‘It’s a lie! I saw our ancestors burning and being tortured in some sort of fire. I also saw Buddha and many other Buddhist holy men. They were all in a sea of fire!’ ‘We must listen to the Christians,’ he continued emphatically, ‘they’re the only ones who know the truth!’

    The events shocked the whole region. Over 300 monks became Christians and started to study the Bible. The resurrected man continued to warn everyone to believe in Jesus, because he is the only true God. Tapes of the monk’s report were distributed throughout Myanmar. The Buddhist hierarchy and the government were soon alarmed, and they arrested the monk. He has not been seen since and it is feared that he was killed to keep him silent. It is now a serious crime to listen to the tapes, because the government wants to dampen the sensation.’

    On Sunday 19th November 2000, CCG Ministries’ Director, Adrian van Leen, interviewed and spoke with a man who claimed to be the ‘resurrected’ Paul in a hotel function room in Yangon in the company of four Myanmar Christian leaders.

    That interview raised serious questions as to the authenticity of the story under consideration.

    Our detailed review of the interview with the man claiming to be Paul, the ‘resurrected’ monk, was published as a report, sent to Asia Harvest, and placed on our website. After emailing a copy of the report, we also sent a ‘hard’ copy of the TACL containing the printed article, to Asia Harvest. In the latter part of 2003 we received the following email from Asia Harvest:
      Greetings!
      I’m sure you will remember our communications a year or two back regarding the story of the Buddhist monk in Myanmar who came back to life. We were the ones who first had his testimony translated and published on our website.

      Then you travelled to Myanmar and met with a man regarding this story. Your graphic report of that interview, his seemingly unstable mind and completely inconsistent testimony left us with no option but to withdraw the story from our website and offer our deep apologies. The last thing we want to do is discredit the name of our Lord Jesus by publishing any story that is untrue. I wrote to you of our intentions and you accurately reported,

      [After Asia Harvest received a copy of this report they removed all references to the story from their website and stopped sending out email transcripts of the claimed resurrection account. They will be making some statement regarding their initial endorsement of the story. When this is available we will gladly append it to this report.]However, when we received your magazine article which carried a picture of the man you interviewed, we showed it to two Burmese pastors who met the original 'Paul' in Myanmar and they immediately said this was the wrong man! Later a missionary who lives here in Thailand but who works in Myanmar also said the man you interviewed looks nothing like the monk, being much younger.

      More information since has revealed that there are actually three or four different people in Myanmar who claim they were monks who rose from the dead! Our contacts in Yangon (Rangoon) say that two of these are completely untrustworthy men, with little evidence of a genuine conversion to Christ. One of these is the young man you interviewed. No wonder his birth-date and other key facts were different from the testimony we published - it was not the same person! It almost seems that Satan sent along these counterfeits with false testimonies and a poor witness in order to discredit the original testimony.

      Can we absolutely guarantee the story we published is true - of course not. Only God and the person involved can know what happened in such a story. We stated this when we first released the transcript of his testimony. But as far as can be verified, we have yet to be convinced that this testimony is false. We have been told it now seems likely that the monk Paul was killed. He was in hiding for more than 12 months and has not been heard of since. Another ex-monk who lives in Shan State, who also converted to Christ through miraculous circumstances is also being hunted by the authorities in a bid to silence him.

      In the interests of fairness, would you be willing to publish our comments in this email with the story that is on your website?

      God bless you,
      Asia Harvest

    Unfortunately, this update from Asia Harvest still fails to answer many of the questions and issues CCG Ministries raised in our report initially.

    Our report had already acknowledged that there were several people in Myanmar (Burma) claiming to be the ‘resurrected’ monk: Further complications have arisen with this whole saga. According to the beliefs of some people in Myanmar (or some with friends and/or relatives in Myanmar), several different people supposedly, or apparently, are claiming to be the resurrected Buddhist monk - at least an older man and a not-so-balanced young man.

    Even if we completely remove the questionable ‘Paul’ interviewed by CCG Ministries’ Director and several Myanmar Pastors, we are still left with serious questions about the whole story anyway. These were made clear in our 2001 report and remain unanswered by the recent comments from Asia harvest.

    Apart from the contradictions made by [the suspect] Paul in front of witnesses, there are still serious questions about the content of his [the ‘original Paul’] supposed visions or visit to hell and heaven, as well as questions about editorial comments made by Asian Minorities Outreach/Asia Harvest.

    AMO/Asia Harvest has made statements about Paul being radically transformed and having a 180-degree shift in his life, and him continuing to be a fearless witness for Christ, of him being persecuted, scorned by family, friends and colleagues, and facing death for his unwillingness to compromise. But some Myanmar Christian leaders have asked (as we do also) on what do they base this, apart from his say so [or the say-so of unnamed pastors whose comments seem in clear conflict with that of the majority of pastors – especially from known established churches and denominations]? what evidence do they have?

    Statements that [the ‘original’] Paul had been arrested and imprisoned - probably several times, not seen since, and that it was feared that he had been killed to keep him silent - are all highly emotive. While claims of imprisonment in such a situation are plausible and even probable, they remain unsubstantiated.AMO/Asia Harvest has stated that the story was first told them by several Burmese church leaders, and that since being initially told they ‘have attempted to verify this report which reached us from a number of sources, and are now convinced that it is accurate.’ IMPACT Magazine reported that a spokesman for AMO/Asia Harvest stated: ‘We believe it to be true as there are many witnesses to these events.’

    CCG Ministries’ Director, Adrian van Leen, before, especially during, and after his visit to Myanmar in November 2000, [and subsequent visits in 2001 and 2002] has spoken to a number of [numerous] Myanmar Christian leaders - including a number who are involved in inter-church/inter-denominational work, as well as leaders of several denominations. He spoke with leaders from Yangon and across Myanmar who attended a conference in Bago, and also Christian leaders in Mandalay and a regional township. Many of these leaders from across varying denominations had contact with other Christian leaders across the country.

    No one was able to give ANY form of authentication to the story. A number of leaders, including those who had been in Christian leadership in Mandalay, knew of no evidence to confirm any part of the story. Some of the Myanmar Christian leaders would very much like to know who the ‘several Burmese church leaders’ are that AMO/Asia Harvest refers to as their sources for this story.

    In fact, it was pointed out very clearly that, had the story been true, especially had there been a number of Buddhist monks converted to Christianity - especially as many as 300 and very much so if there were as many as 7,000 - the news would have spread rapidly. While the government-controlled media might have tried to suppress such news - the Christians and churches (particularly in the Mandalay area) would not have been able - nor have wanted to - suppress such news. It would have spread rapidly and widely through the churches. The Buddhist community would also have spread the story - though for different reasons.

    The claim that ’there are many witnesses to these events’ is also disputed by Myanmar Christian leaders, who have stated that they had never met anyone who had been a direct primary witness - nor anyone who had personally met a direct witness to these events… The reality is that in Myanmar itself no one has been able to find any witnesses or any evidence whatever, to support the story of the resurrected Paul.

    It was also pointed out that [the ‘original’] Paul’s claim to have seen Aung San, the revolutionary leader of Myanmar (father of current opposition leader, Aung San Suu Kyi) in hell ‘because he persecuted and killed Christians, but mostly because he didn’t believe in Jesus Christ’ was completely without foundation. He is a well known figure in Burmese/Myanmar thinking and history - and there is no evidence at all that he persecuted any Christians, let alone killed any.

    AMO/Asia Harvest has invited ‘Christian believers to judge it [Paul’s resurrection story] according to Scripture.’

    As one senior Myanmar pastor pointed out, the story and description of hell given by Paul, is itself contrary to Scripture. Paul’s story is also in conflict with the story Jesus told in the account of the rich man and the beggar, Lazarus (Luke 16:19-31). When carefully examined it is also in conflict with the comments of the Apostle Paul in 1 Corinthians 15 - in particular where that Paul was able to name eye witnesses to the resurrection of Christ - and acknowledged at the time that some were still living - in other words, he was able to produce witnesses who could testify to the authenticity of his claims.

    Pastors in Myanmar are still asking for real evidence and living witnesses to the claimed miracle with whom they can discuss and verify the story. So far, the story’s authenticity remains with the claims made by Asia Harvest.

    The story of the ‘resurrected Paul’ is known throughout much of Myanmar - and his tape has circulated (in several versions). Hardly anyone in Myanmar - especially amongst Christian leaders - has accepted or believed the story. There is just nothing to back it up.

    Far from the ‘resurrected monk’ story providing a ‘fearless and faithful witness to Jesus Christ, whose testimony is converting Buddhists, strengthening the church or bringing glory to God’s name’, Myanmar pastor have told our Director that it has brought fear and suspicion to many Christians in the country. We concluded our 2001 report with the comment: Whatever the truth behind this sad saga, most Christians, and most pastors and church leaders in Myanmar, are not taking this story seriously and see little value in it for the growth of the Christian community in that country.

    From the evidence we have been able to examine, including the claims and content of the story itself, and all the discussions with Pastors and others in Myanmar, we believe it would have been wiser for the story not to have been published and circulated.

    We believe that ‘miracle stories’ which cannot be adequately substantiated ought to be treated with caution – especially if those stories, or significant parts of those stories, do not conform to Scripture. Lives continue to be changed by the resurrected and living Jesus Christ – sometimes dramatically, sometimes quietly – the substance of those changed lives are quiet miracles that are often clear and undisputed. They continue to honour Christ and encourage others.
[Kembali]


The Remarkable Testimony of a Buddhist monk in Myanmar (Burma) who came back to life a changed man!
Story told by Athet Pyan Shinthaw Paulu
http://bibleprobe.com/backfromthedead.htm
juga dimuat di EDISI DELAPAN Januari 2005 TABLOID KASIH, Halaman 5

Introduction
The story that follows is simply a translation of a taped testimony from a man with a life-changing story. It is not an interview or a biography, but simply the words from the man himself. Different people react in different ways when they hear this story. Some are inspired, some skeptical, a few will mock and ridicule, while some others have even been filled with rage and anger, convinced these words are the ravings of a mad man or an elaborate deception. Some Christians have opposed the story simply because the radical and miraculous events described herein do not fit their feeble image of an Almighty God.

We were first made aware of this story from several Burmese church leaders who shared it with us. These leaders had looked into the story and had not found any suggestion of it being a hoax. It was with this in mind that we decided to step out and circulate the story. We do not do so for any monetary gain, or with a motivation of self-promotion. We just want to let the story speak for itself, and invite Christian believers to judge it according to Scripture. If God wants any part of it to be intended for His glory or to encourage His people, then we pray His Spirit will work in the hearts of the readers in those ways.

Some people have told us they think the monk in this story never actually died, but that he just lapsed into unconsciousness, and the things he saw and heard were part of a fever-driven hallucination. Whatever you think, the simple fact remains that the events of this story so radically transformed this man that his life took on a complete 180-degree shift after the events described below. He has fearlessly and boldly told his story at great personal cost, including imprisonment. He has been scorned by his relatives, friends and colleagues, and faced death threats for his unwillingness to compromise his message. What motivated this man to be willing to risk everything? Whether we believe him or not, his story is surely worth listening to and considering. In the cynical West many people demand hard evidence of such things, evidence that would stand up in a court of law. Can we absolutely guarantee, beyond doubt, that all of these things happened? No, we cannot. But we feel it is worth repeating this man's story in his own words so that readers can judge for themselves.

My Early Years
Hello! My name is Athet Pyan Shinthaw Paulu. I am from the country of Myanmar. I would like to share with you my testimony of what happened to me, but first I would like to give some brief background information from my life growing up.

I was born in 1958 in the town of Bogale, on the Irrawaddy Delta area of southern Myanmar [formerly Burma]. My parents, who were devout Buddhists like most people in Myanmar, named me Thitpin [which means 'tree' in English]. Our lives were very simple where I grew up. At the age of 13 I left school and started working on a fishing boat. We caught fish and sometimes also shrimp from the numerous rivers and streams in the Irrawaddy area. At the age of 16 I became the leader of the boat. At this time I lived in Upper Mainmahlagyon Island [Mainmahlagyon means 'Beautiful Woman Island' in English], just north of Bogale where I was born. This place is about 100 miles southwest of Yangon [Rangoon], our nation's capitol city.

One day, when I was 17, we caught a large number of fish in our nets. Because of the many fish, a large crocodile was attracted to us. It followed our boat and tried to attack us. We were terrified so we frantically rowed our boats toward the riverbank as fast as we could. The crocodile followed us and smashed our boat with its tail. Although no one died in this incident, the attack greatly affected my life. I no longer wanted to fish. Our small boat sank because of the crocodile attack. We had to go home to our village that night on a passenger boat.

Not long after, his employers transferred my father to Yangon City [formerly spelt Rangoon]. At the age of 18 I was sent to a Buddhist monastery to be a novice monk. Most parents in Myanmar try to send their son into a Buddhist monastery, at least for a time, as it is considered a great honor to have a son serve in this way. We have been observing this custom for many hundreds of years.

A Zealous Disciple of Buddha
When I turned 19 years and 3 months old (in 1977), I became a normal monk. The senior monk at my monastery gave me a new Buddhist name, which is the custom in our country. I was now called U Nata Pannita Ashinthuriya. When we become a monk we no longer use the name given to us at birth by our parents. The name of the monastery I lived at is called Mandalay Kyaikasan Kyaing. The senior monk's name was called U Zadila Kyar Ni Kan Sayadaw [U Zadila is his title]. He was the most famous Buddhist monk in all of Myanmar at the time. Everyone knew who he was. He was widely honored by the people and respected as a great teacher. I say he "was" because in 1983 he suddenly died when he was involved in a fatal car accident. His death shocked everyone. At the time I had been a monk for six years.

I tried hard to be the best monk I could and to follow all the precepts of Buddhism. At one stage I moved to a cemetery where I lived and meditated continually. Some monks who really want to know the truths of Buddha do things like I did. Some move deep into the forests where they live a life of self-denial and poverty. I sought to deny my selfish thoughts and desires, to escape from sickness and suffering and to break free from the cycle of this world. At the cemetery I was not afraid of ghosts. I tried to attain such inner peace and self-realization that even when a mosquito landed on my arm I would let it bite me instead of brushing it off!

For years I strived to be the best monk I could and not to harm any living being. I studied the holy Buddhist teachings just like all my forefathers had done before me. My life proceeded as a monk until I got very, very sick. I was in Mandalay at the time and had to be taken to the hospital for treatment. The doctors did some tests on me and told me I had both Yellow Fever and malaria at the same time! After about one month in the hospital I was getting worse. The doctors told me there was no chance for me to recover and discharged me to make arrangements to die.

This is a brief description of my past. I would now like to tell you some of the remarkable things that happened to me after this time...

A Vision that Changed My Life Forever
After I was discharged from the hospital I went back to the monastery where other monks cared for me. I grew weaker and weaker and was lapsing into unconsciousness. I learned later that I actually died for three days. My body decayed and stunk of death, and my heart stopped beating. My body was prepared for cremation and was put through traditional Buddhist purification rites.

Although I faded away in my body I remember my mind and spirit were fully alert. I was in a very, very powerful storm. A tremendous wind flattened the whole landscape until there were no trees or anything else standing, just a flat plain. I walked very fast along this plain for some time. There were no other people anywhere, I was all alone. After some time I crossed a river. On the other side of the river I saw a terrible, terrible lake of fire. In Buddhism we do not have a concept of a place like this. At first I was confused and didn't know it was hell until I saw Yama, the king of hell [Yama is the name ascribed to the King of Hell in numerous cultures throughout Asia]. His face looked like the face of a lion, his body was like a lion, but his legs were like a naga [serpent spirit]. He had a number of horns on his head. His face was very fierce, and I was extremely afraid. Trembling, I asked him his name. He replied, "I am the king of hell, the Destroyer."

The terrible, terrible lake of fire
The king of hell told me to look into the lake of fire. I looked and I saw the saffron colored robes that Buddhist monks wear in Myanmar. I looked closer and saw the shaven head of a man. When I looked at the man's face I saw it was U Zadila Kyar Ni Kan Sayadaw [the famous monk who had died in a car accident in 1983]. I asked the king of hell why my former leader was confined to this lake of torment. I said, "Why is he in this lake of fire? He was a very good teacher. He even had a teaching tape called 'Are You a Man or a Dog?' which had helped thousands of people understand that their worth as humans is far greater than the animals." The king of hell replied, "Yes, he was a good teacher but he did not believe in Jesus Christ. That's why he is in hell."

I was told to look at another person who was in the fire. I saw a man with very long hair wrapped on the left hand side of his head. He was also wearing a robe. I asked the king of hell, "Who is this man?" He replied, "This is the one you worship: Gautama [Buddha]." I was very disturbed to see Gautama in hell. I protested, "Gautama had good ethnics and good moral character, why is he suffering in this lake of fire?" The king of hell answered me, "It doesn't matter how good he was. He is in this place because he did not believe in the Eternal God."

I then saw another man who looked like he was wearing a soldier's uniform. He had a large wound on his chest. I asked, "Who is this man?" The king of hell said, "This is Aung San, the revolutionary leader of Myanmar." I was told, "Aung San is here because he persecuted and killed Christians, but mostly because he didn't believe in Jesus Christ." In Myanmar the people have a common saying, "Soldiers never die, they live on." I was told that the legions of hell have a saying "Soldiers never die, but they go to hell forever."

I looked and saw another man in the lake of fire. He was a very tall man and he was dressed in military armor. He was also holding a sword and a shield. This man had a wound on his forehead. This man was taller than any person I have ever seen. He was six times the length between a man's elbow and the tips of his fingers when he stretches his arm out straight, plus one span of a man's fingers when he spreads out his hand. The king of hell said, "This man's name is Goliath. He is in hell because he blasphemed the Eternal God and His servant David." I was confused because I didn't know who either Goliath or David were. The king of hell said, "Goliath is recorded in the Christian Bible. You don't know him now, but when you become a Christian you will know who he is."

I was then taken to a place where I saw both rich and poor people preparing to eat their evening meals. I asked, "Who cooked the food for these people?" The king of hell replied, "The poor have to prepare their own food, but the rich people get others to cook for them." When the food had been prepared for the rich people they sat down to eat. As soon as they started a thick smoke came up. The rich people ate as fast as they could to ease their consciences. They were struggling to breath because of the smoke. They had to eat fast because they were fearful of losing their money. Their money is their god.

Another king of hell then came to me. I also saw a being whose job is to stoke the fires beneath the lake of fire, to keep it hot. This being asked me, "Are you going into the lake of fire too?" I replied, "No! I am only here to observe!" The appearance of this creature stoking the fire was very terrifying. He had ten horns on his head and a spear in his hand that had seven sharp blades coming from the end. The creature told me, "You are right. You came here just to observe. I cannot find your name here." He said, "You must now go back the way you came." He pointed me toward the desolate plain that I had first walked along before I came to the lake of fire.

The Road of Decision
I walked a long time, until I was bleeding. I was hot and in great pain. Finally, after walking for about three hours I came to a wide road. I walked along this road for some time until I came to a fork. One road, going off to the left, was wide. A smaller road went off to the right hand side. There was a signpost at the fork saying that the road to the left was for those who do not believe in the Lord Jesus Christ. The smaller road to the right was for believers in Jesus.

I was interested to see where the larger road led so I started down it. There were two men walking about 300 yards ahead of me. I tried to catch up with them so I could walk with them but no matter how hard I tried I couldn't catch them up, so I turned around and went back to the fork in the road. I continued to watch these two men as they walked down the road away from me. When they reached the end of the road they were suddenly stabbed. These two men cried out in great pain! I also cried out when I saw what happened to them! I realized the bigger road ended in great danger for those who traveled down it.

Looking into Heaven
I started walking down the believers' road instead. After traveling for about one hour the surface of the road turned to pure gold. It was so pure that when I looked down I could see my own reflection perfectly. I then saw a man standing in front of me. He was wearing a white robe. I also heard beautiful singing. Oh, it was so beautiful and pure! It was much better and more meaningful than the worship we have in churches here on the earth. The man in the white robe asked me to walk with him. I asked him, "What is your name?" but he did not answer. After I asked his name six times the man answered, "I am the one who holds the key to heaven. Heaven is a very, very beautiful place. You cannot go there now but if you follow Jesus Christ you can go there after your life has finished on the earth." The man's name was Peter.

Peter then asked me to sit down and he showed me a place to the north. Peter said, "Look to the north and see God create man." I saw the Eternal God from a distance. God spoke to an angel, "Let us make man." The angel pleaded with God and said, "Please don't make man. He will do wrong and will grieve you." [In Burmese literally: "He will make you lose face."]. But God created a man named anyway. God blew on the man and the man came to life. He gave him the name "Adam". [Note: Buddhists do not believe in the Creation of the world or of man, so this experience had a significant impact on the monk].

Sent Back with a New Name
Then Peter said, "Now get up and go back to where you came from. Speak to the people who worship Buddha and who worship idols. Tell them they must go to hell if they don't change. Those who build temples and idols will also have to go to hell. Those who give offerings to the monks to earn merit for themselves with go to hell. All those who pray to the monks and call them 'Pra' [respectful title for monks] will go to hell. Those who chant and 'give life' to idols will go to hell. All those who don't believe in Jesus Christ will go to hell." Peter told me to go back to the earth and testify about the things I had seen. He also said, "You must speak in your new name. From now on you are to be called Athet Pyan Shinthaw Paulu ["Paul who Came Back to Life."].

I didn't want to go back. I wanted to go to heaven. Angels opened a book. First they looked for my childhood name (Thitpin) in the book, but they could not find it. They then looked for the name I had been given when he entered the Buddhist monk hood (U Nata Pannita Ashinthuriya) but it wasn't written in the book either. Then Peter said, "Your name is not written here, you must return and testify about Jesus to the Buddhist people."

I walked back along the gold road. Again I heard beautiful singing, the kind of which I have never heard before or since. Peter walked with me until the time I returned to the earth. He showed me a ladder that reached down from the heaven to the sky. The ladder didn't reach to the earth, but stopped in mid-air. On the ladder I saw many angels, some going up to heaven and some going down the ladder. They were very busy. I asked Peter, "Who are they?" Peter answered, "They are messengers of God. They are reporting to heaven the names of all those who believe in Jesus Christ and the names of those who don't believe." Peter then told me it was time to go back.

It is a Ghost!
The next thing I was aware of was the sound of weeping. I heard my own mother cry out, "My son, why did you leave us now?" I also heard many other people weeping. I realized I was lying in a box. I started to move. My mother and father started shouting, "He is alive! He is alive!" Other people who were farther away did not believe my parents. I then placed my hands on the sides of the box and sat upright. Many people were struck with terror. They cried out, "It is a ghost!" and ran away as fast as their legs could carry them.

Those who remained were speechless and trembling. I noticed I was sitting in smelly liquid and body fluids, enough to fill about three and a half cups. This was liquid that had come out of my stomach and my insides while my body was lying in the coffin. This is why people knew I had indeed been dead. Inside the coffin there was a type of plastic sheet fixed to the wood. This sheet is placed there to retain a corpse's liquids, because many dead bodies release much fluid like mine did.

I learned later that I was just moments away from being cremated in the flames. In Myanmar people are placed in a coffin, the lid is then nailed shut, and the whole coffin is burned. When I came back to life my mother and father were being allowed to look at my body for the very last time. Moments later the lid of my coffin would have been nailed shut and I would have been cremated!

I immediately started to explain the things I had seen and heard. People were astonished. I told them about the men I had seen in the lake of fire, and told them that only the Christians know the truth, that our forefathers and us have been deceived for thousands of years! I told them everything we believe is a lie. The people were astonished because they knew what kind of a monk I had been and how zealous I had been for the teachings of Buddha.

In Myanmar when a person dies their name and age is written on the side of the coffin. When a monk dies, the monk's name, age and the number of years he has served as a monk are written on the side of the coffin. I had already been recorded as dead but as you can see, now I am alive!

Epilogue
Since 'Paul who came back to life' experienced the above story he has remained a faithful witness to the Lord Jesus Christ. Burmese pastors have told us that he had led hundreds of other monks to faith in Christ. His testimony is obviously very uncompromising. Because of that, his message has offended many people who cannot accept there is only one Way to Heaven, the Lord Jesus Christ. Despite great opposition, his experiences were so real to him that he has not wavered. After many years in the Buddhist monk hood, as a strict follower of Buddhist teachings, he immediately proclaimed the Gospel of Christ following his resurrection and exhorted other monks to forsake all false gods and follow Jesus Christ with all their hearts. Before the time of his sickness and death he had no exposure to Christianity at all. Everything he learned during those three days in the grave was new to his mind.

In a bid to get his message out to as many people as possible, this modern-day Lazarus began distributing audio and video cassette tapes with his story on them. The police and Buddhist authorities in Myanmar have done their utmost to gather these tapes up and destroy them. The testimony you have just read has been translated form one of those cassette tapes. We are told it is now quite dangerous for citizens of Myanmar to be in possession of these tapes.

His fearless testimony has landed him in prison at least once, where the authorities failed in their bid to silence him. Upon his release he continued to testify of the things he saw and heard. His current whereabouts are uncertain. One Burmese informant told us he is prison and may have been killed, while another informant was told he is now released from prison and is continuing his ministry.

[Kembali]


Dear Triplegem Members,
http://www.buddha.sg/htm/general/faq01.htm

The following message was posted to the NDE.com Website by someone called 'James' on 23rd July, 2000. (NDE = Near Death Experience). The Monk's story is identical. But the source is different. Details can be viewed at
 <>

The message began with: "Buddhist Monk visits Hell"
I believe this person died, body decay & rotten.
He was then brought to those places by the LORD to show him some
vision. <--------->

This is taken from a mission paper

"Northside Missions Update"
Northside Christian Centre
31-61 McLeans Road
Bundoora Victoria 3083
Australia


The same 'Monk's Story' followed.
 Then, exchange of interesting messages took place at the NDE.com
Bulletin Board among NDE regulars, some of them are Christians, and finally, someone called 'Melvin', 'a Myanmar Buddhist', posted the following message and the discussion came to a close.

The fact that the same story has re-surfaced in another form (cassette), perhaps in a another country is a bit disturbing!

Best wishes to all our Triplegem members,
MM Lwin
...................................................................

Dear All NDE Fans,
I was alerted and requested by someone in a responsible position to check for the authenticity of the story behind this posting. After speaking to and exchanging Emails with Myanmar (Burmese) monks as well as fellow Myanmar Buddhism experts in many countries, I am 100% confident that this NDE story is completely fictitious. The reasons are given below.

(1) All Burmese experts said they had never heard of the story about this Myanmar Buddhist monk before.

(2) There is also no reports either in Burma or outside Burma of mass defection of Myanmar Buddhist Monks to join the Christian Church.

(3) The monk in the story said he became a novice at the age of 18. It is rather unusual as most boys Burmese boys join the monastic life at younger age than 18.

(4) At the age of 19, he became a monk. This is also unusual as the entry age for becoming a fully ordained monk is 20. (There is one exception when one considers the foetal life while in the mother's womb)

(5) U Zadila, also known as 'Kyar Ni Kan Sayadaw' was described as probably the most famous Buddhist Teacher of the time. That is disputable. Venerable Kyar Ni Kan Sayadaw was indeed well known and very popular as public speaker and preacher. But he was not regarded as the most distinguished monk academically and intellectually.

(6) The monk said 'Kyar Ni Kan Sayadaw' died in a car crash in 1983 . In fact Sayadaw died in Myanmar Era 1339 = about 1977. There was a 6 years discrepancy which is unacceptable as the monk said he studied under him. He should know the exact year when his teacher died. And that 1977 was also the year when he became a monk. This fact alone is enough to brand the story as a fake or invention.

(7) He said he was given a new name of 'U Nata Pannita Ashinthuriya' when he entered the monastery. In Burma, the title 'shin' was used for the novice. 'U' was never used for a novice.

(8) The monk's new name itself was unusual nor unheard of, according to the monks I consulted.

(9) Doctors diagnosed Malaria and Yellow fever. Actually the Yellow Fever was not known to exist in Burma.

(10) To recover completely after very severe malaria is most unusual especially after being discharged to die.

(11) To regain Life after the body started to decay (decompose) is impossible according to conventional medical thinking.

There are other discrepancies regarding his actual NDE. But there is no need to dig deeper. It is a complete FICTION. It is very regrettable that a Christian Church was reported to be involved in creating this dishonest practice.

We expect 'James' to say something about our findings. He is the one who reported the story to the world media. After reading his various postings to this forum, I believe that he is either a priest or a serious Christian. We welcome his reply as well as the communication from the Church authorities who wrote the Introduction to this fictitious story and published in their regular bulletin.

Best wishes to all,

Melvin,
MyanmarBuddhist@n...

[Kembali]

44 comments:

  1. anti banget siih ma agama orang.....dasar org yang ga punya kebijaksanaan n toleransi....
    kmu hanya akan mengali dua kuburan dengan fanatikan kmu itu....yg pertama buat org yang km lukai kedua buat kmu sendiri....
    sudahkah kmu membaca semua alkitab...terus gimana kata muhamad tentang isa si pembawa keselamatan....
    dasar teroris....besok ketika dia datang kmu tidak akan ada dalam bagian itu jika kmu tidak sadar....
    tulang kristen,budha,islam,hindu,yahudi tidaklah berbeda mengapa kmu membedakan org dari pemahamam mu sendiri haaai org sesat...!!!!!!!!!!!!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. This comment has been removed by the author.

      Delete
    2. orang yang membenarkan semua agama, sama saja tidak membenarakan semua agama ( tak beragama). karna tak satupun agama yang membenarkan agama lain. dan smua agama meyakinkan jika agamanyalah yang paling benar.

      Delete
  2. Mas/Mbak Anonim,

    Komentar anda ini lucu..apakah anda tahu siapa yang memulai?

    Tentunya dengan membaca itu anda tahu bahwa itu dimulai oleh pihak Kresten

    Untuk itu juga, pada artikel ini saya sampaikan2 versi jawaban:
    dari versi Buddhisnya dan
    dari Organisasi kresten sendiri yang mengakui keburukan yang mereka perbuat!

    Sisanya adalah komentar saya yang kebetulan memahami dua agama itu

    gitu aja koq.

    Note:

    Saat saya menulis artikel diatas dan juga komentar...KTP saya adalah Hindu bukan Buddhis..

    Jadi ini 100% bukan jualan kecap no.1 tapi yang sebenar2nya mengenai 2 agama itu.

    ReplyDelete
  3. Segala sesuatunya akan terbukti nanti tapi yang saya tahu :

    Pembuat Kejahatan akan mendapat penderitaan,
    Pembuat Kebaikan akan mendapat kebahagiaan.

    Saya mantan kristen Katholik dan akhirnya menemukan Buddha Dhamma.

    Nama Buddhist saya Jaya Viriya nama Kristen saya Yacob seperti murid ke 12 Yesus.

    Yang saya lihat dalam agama Buddha adalah kebijaksananya yang tanpa batas.

    Ajaran Buddha mengundang untuk dibuktikan menuntun kedalam Bathin dapat diselami oleh para Bijaksana dalam bathin masing-masing.

    so Ajaran Buddha memang bukan untuk orang yang tidak bijaksana, yang membuta, atau orang yang suka memfitnah.

    Semua mahluk lahir, berhubungan dengan Karmanya sendiri-sendiri. So Save your breath stop.
    If you realy Love me so Leave Me Alone :)

    ReplyDelete
  4. Benar sekali apa yang telah dikatakan oleh Jaya Virya...

    semua bibit / benih yang telah kita tanam
    akan menghasilkan buah yang kita inginkan
    begitu juga dengan diri kita sndiri, smua yang telah kita perbuat maka diri kita sndiri yang akan menerima akibatnya

    so Come n See n Do It...

    ReplyDelete
  5. SAya percaya Buddha ada di neraka, karena telah menyelamatkan saya hingga saya terlahir sebagai manusia.

    Saya percaya kalau petrus ada di surga karena Buddha tidak mencari surga, Beliau hanya berkehendak untuk menolong mahkluk menderita (salah satunya adalah saya)melalui realisasi Nirvana/Nibbana

    ReplyDelete
    Replies
    1. anda sama saja dgn pengklaim omongkosong nasrani tdk beretika yg menyebarkan kebohongan.
      anda sama saja mendukung kebohongan tak berdasar dan berarti anda termasuk org yg bodoh dlm artian mengetahui suatu kesalahan tapi tidak berusaha memikir kearah yg baik.

      Delete
  6. Salut untuk "kepintaran" anda, sampai-sampai anda menjadi "Sesat". Apakah kepentingan anda menuangkan kesesatan anda dalam tulisan ini??
    Tulisan anda ini hanya menyakiti perasaan agama yg anda bahas!!

    Saya balik bertanya, apakah sebenernya agama yang anda yakini? bukankah kita sebagai umat beragama saling hargai apa yg kita yakini?

    note: kalau anda memang benar2 mendalami alkitab, sebaiknya anda membacanya juga dalam Holy Bible King james Version, karena memang ada beberapa arti /makna yg berbeda apabila ditranslate ke dalam bahasa indonesia.

    Doaku untuk Saudara, Smoga Tuhanku dan Tuhanmu mengampuni engkau..

    ReplyDelete
    Replies
    1. kenapa anda marah2 dan mensesatkan org pula.
      sudahkah anda melihat bukti yg disertakan dlm artikel ini??
      jika anda ingin marah harusnya kpd pihak2 nasrani yg tidak bertanggungjawab itu yg menyatakan sesuatu dgn kebohongan. jgn hanya karena org menyinggung agama mu trus kamu marah membabi buta seperti ini. buka lah topeng agama mu untuk menilai sesuatu lebih bijak

      Delete
    2. Itukan bukan orang Kristen dan dia mau merusak agama orang kurang kerjaan ,,,,, pemahamannya kurang tentang agama kristen bikin saya ketawa membacanya karena saya rasa bodoh saat membacanya ,,,, apalagi ayat yang di tampilkan di potong2 ,,,,,, orang awam ,,,,,,,, saya nggak percaya :p ,,,, saya tetap beriman pada Tuhan Yesus dan nggk mempercayai musuh dan suka fitnah... kamu pernah di datangi oleh isa dan yesuskah ,,,,, kalau nggk pernah makanya sesat dan rugi ,,,,, kalau saya katakan ini nggk ada artinya bagi semua ORANG kalau saya pernah melihat ,,,,,,,,,,,,, 100% KEGONCANGAN IMAN KALAU ALAMI INI ,,,,,,, berbahagialah orang yang tidak melihat tetapi percaya...

      Delete
    3. Jangan Bodoh jadi orang nggak ada orang kristen menyerang agamanya ,,,,,, pikir pakai otak jadilah manusia berpikir sepikir isi al quran ,,,,,, ada aja kaum munafiq, musrik ini juga di pikir.... mana ada orang mau mengikuti muhammad yaitu ajaran penyempurna ,,,, tahii ,,,, coba kamu bandingi isi injil dan alquran ,,,, siapa aturan yang paling suci ,,,,, makanya kamu buta yang jelek dibilang suci kalau nggk bisa menilainya ,,,,,, sejelek-jeleknya isa tapi akhlaknya suci dan berguna untuk masa depan dari anak sampai dewasa ,,,,,, jangan iri brou dan jangan berperang brou sama saya untuk dapat pahala paling besar dari janji Allah dan yang tidak berperang dapat siksaan pedih dari janji Allah SWT,,,,,,,,,,, takut brouuu jangan bawa senjata ampun....

      Delete
  7. Anonim,

    anda anggap saya sesat? hahahaha tipikal seorang fundamentalis yang putus asa..yang saya tulis nyata sesuai alkitab..

    buat apa anda merajuk..tunjukan mana yang tidak benar..

    ReplyDelete
    Replies
    1. di ayat Yesaya 8.3-4, kita akan segera tahu bahkan kata IMANUEL pun hanya kiasan, karena nama anak itu adalah "Maher-Syalal Hash-Bas":
      Kemudian aku menghampiri isteriku; ia mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki. Lalu berfirmanlah TUHAN kepadaku: "Namailah dia: Maher-Syalal Hash-Bas, sebab sebelum anak itu tahu memanggil: Bapa! Ibu! maka kekayaan Damsyik dan jarahan Samaria akan diangkut di depan raja Asyur."

      maaf ayat ini bukan menuju pada kelahiran atau nama YESUS itu....mohon dibaca lagi ayat sebelmnya..(bukan kisah kelahiran Yesus)

      Delete
  8. WOI LU KIRA AGAMA JUALAN BARANG APA???

    ReplyDelete
  9. tulisan setan muncul di blog sesat ini..
    wahai engkau setan, klo mo terbitin blog jangan di dunia manusia donk..
    terbitin tuh di alam loe sendiri di NERAKA..
    tapi g bisa maklum, setan kerjanya emg mengganggu hidup manusia, membawa ajaran sesat dan g baru tau klo setan uda mulai maju teknologinya sampe2 menggunakan internet sebagai sarana penyebaran ajaran sesat..
    dasar setan, seperti apa sich tampang loe..
    apa dengan 2 tanduk di kepala n ekor yg panjang dengan warna kulit merah seperti kebanyakan di film, ato dengan wujud penyamaran yg sempurna sebagai manusia? klo emg loe mengambil wujud manusia pasti tampang loe hancur2an..
    wakakakakakak......

    ReplyDelete
  10. wooiii... setan..
    napa loe pk nama blog wirajhana-eka..
    nama itu ga cocok buat loe..
    seharusnya wirajhsatan-neraka aja..
    wakakakakakakakak...
    setan..setan.. aneh banget sich loe..

    ReplyDelete
  11. kayaknya yang setan itu kalian , mas Wira kyknya tenang2 aja, eh malah kalian kaya setan kepanasan,reaksi orang yang sudah putus asa memang sperti ini.ckckckck, -____-"

    ReplyDelete
    Replies
    1. sabar mas didi, omongan gak bermutu cuekin aja, krn mereka belum dewasa untuk menilai perkataan org lain.

      Delete
  12. ah.. g ga kepanasan koq..
    lagi sejuk2 adem di sini..
    komentar lu aja yang tenang, tapi di belakang uda pasti bagai seekor cacing kesepian di padang pasir yang panas, contoh orang yang putus asa adalah lu sendiri, menjadikan agama sebagai pelampiasan keputus asa-an untuk kesenangan pribadi adalah salah satu cara perbuatan setan untuk menggoda manusia, mengadu domba manusia..
    tapi g salut atas kinerja setan lu, sampe2 banyak yang terpengaruh, g sampe mengirim komentar pedas..
    silahkan lu lanjutin tugas lu, tapi perbuatan lu ini hanya menambah tingkatan neraka lu..
    g ga berani berkomentar lebih banyak, bisa2 g juga ikut2an terpengaruh lebih jauh..
    yang pastinya Agama bukan bahan permainan sesat lu..

    ReplyDelete
  13. Saya bingung dengan comment-comment yang muncul terhadap tulisan di blog ini, terutama comment-comment bantahan.
    Tulisan di blog ini ditulis berdasarkan sumber-sumber yang lengkap dan bisa dibilang sangat mendetil, yang kemudian baru ditarik kesimpulan oleh penulis sesuai dengan kumpulan data yang sangat banyak itu. (terlepas dari keabsahan sumbernya)

    Tapi lihat tanggapan-tanggapan yang muncul.
    Kalau ada yang merasa tidak setuju atau kalau ada yang sadar bahwa tulisan tersebut keliru kenapa tidak dibantah dengan referensi-referensi yang sesuai juga.
    Kalau dalam konteks keagamaan, bukankah kalian semua yang comment juga orang yang mendalami agamanya masing-masing, sehingga kalian lebih tau? Dan kalau kalian memang lebih tau, kenapa tidak bisa comment sesuai dengan pengetahuannya tersebut? (sesuai dengan refernsi yang ada) Melainkan kenapa dengan kata-kata orang kecil dan tuduhan-tuduhan yang sangat tidak mendasar?

    Dan kalau terlepas dari konteks keagamaan, bukankah kalian adalah manusia-manusia beradab yang tinggal di masa sekarang? Kalau ada timbul kecurigaan dari tulisan tersebut, dan kebetulan tidak begitu tau-menau mengenai ajaran agama tertentu tetapi tertarik untuk ikut memaparkan pikirannya, kenapa tidak cari tau dulu? Kenapa asal bunyi?
    Seperti di atas ada yang menyebutkan 'King James Version'. Kenapa tidak dipaparkan saja ada apa dengan versi itu?

    Semua comment bantahan di atas sama sekali tidak mendasar dan tidak sopan, baik dilihat dari segi ilmu pengetahuan maupun keagamaan. Terlebih lagi bagi orang-orang yang mengaku beragama, sangatlah tidak pantas dan memalukan.

    Kepada Om Wira, saya salut sekali dengan semua pemaparan Anda. Biarpun tidak jarang dijumpai kata-kata yang bersifat agak 'menekan' dalam kesimpulan-kesimpulannya, tapi kesemuanya itu merupakan kebenaran-kebenaran yang sulit dibantah kalau tidak ada klarifikasi sejarah yang jelas dan data-data otentik untuk mendukung bantahannya.
    Bahkan saya sendiri perlu waktu 3 hari lebih untuk sepenuhnya mempelajari tulisan di atas. Dan setelahnya pun saya hanya bisa menunggu orang-orang yang lebih bijak dari saya untuk mengomentarinya (mengingat saya sendiri juga masih belajar mencari kebenaran kehidupan).
    Tapi melihat dari comment-comment yang sudah ada, sangat disayangkan sekali dan memprihatinkan.

    Tetapi bagaimana pun kepada Om Wira, saya berterima kasih atas semua pembahasannya dalam blog ini. Saya harap suatu saat nanti (kalau saya tidak bodoh-bodoh bangat) saya juga bisa ikut serta dalam upaya mencari kebenaran kehidupan minimal untuk saya sendiri, dan maksimal tentunya untuk semua kehidupan.

    ReplyDelete
  14. waduh telat neh gw comment nya. moga admin msh buka ini blog

    pertama setelah gw baca2 gw punya kesimpulan sendiri
    kesimpulan gw, "apakah yesus benar meninggal disalib atau tidak"
    that`s it bro..

    BUAt comment yang gak enakin!!!

    gak da yg menghina2 agama di blog ini!!
    klo menurut gw yg ksh comment yg gak enakin yg tukang hina2 agama...
    emank agama u apa? agama u ajarin u buat hina ato maki2 orang?
    open your mind lah.. positive thinking.. kalau u emank agama kristen ya u buka alkitab u, u cocokin ama di blog ini bener to gak? klo salah ya udah u ceramahin...
    u jadi manusia bego amat.. ato u emank setan nya...
    dalam agama tidak diajarkan untuk menghina2 orang..
    baca dl baru bicara jgn bicara dl baru baca gede bacot otak kosong gak pantes u jd manusia

    ReplyDelete
    Replies
    1. YESUS MATI DISALIB DAN BANGKIT SETELAH itu...yesus mengalami kelahiran dgn roh kudus bukan hubungan jasmani spt manusia biasanya..dan mengalami wafat kematian disalib dan kebangkitan hidup kembali setelah itu dia terangkat disurga..hal tersebut sudah tertulis di matius dan yohanes serta nubuat perjanjian lama jaman nabi sebelum Yesus....

      dan diterangkan juga pada kitab aL-quran tentang kematiannya..

      “Idz qaalallahu yaa Isa, innii mutawafiika, wa raafi’uka ilayya, wa muthahhiruka minal ladzinaa kafaruu, wa jaa’ilul ladzina tabauka fauqal ladzina kafaruu ilaa yaumil qiyamati.”
       
      Ingatlah tatkala Allah berfirman; Hai Isa, sesungguhnya Aku akan mewafatkanMu, dan mengangkatMu depadaKu, dan akan menyucikan Engkau dari orang-orang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikutiMu diatas mereka yang kafir hingga hari kiamat.” (Al Imran, 3:55)
      “Idz qaalallahu yaa Isa, innii mutawafiika, wa raafi’uka ilayya, wa muthahhiruka minal ladzinaa kafaruu, wa jaa’ilul ladzina tabauka fauqal ladzina kafaruu ilaa yaumil qiyamati.”
       
      Ingatlah tatkala Allah berfirman; Hai Isa, sesungguhnya Aku akan mewafatkanMu, dan mengangkatMu depadaKu, dan akan menyucikan Engkau dari orang-orang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikutiMu diatas mereka yang kafir hingga hari kiamat.” (Al Imran, 3:55)

      ini kelahiranNYA

      “… arsalnaa ilaihaa ruuhanaa fa tamatstsala lahaa basyaran sawiyya.”
       
      …Kami mengutus Roh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya menjadi Manusia yang sempurna…
       
      (Maryam, 19:17)
      Idz qalatil malaikatu yaa Maryama innallaaha yubasyiruki bi kalimatim minhus muhul masihu ‘isabnu Maryama wajihan fiddun-yaa wal akhirati wa minal muqarrabiin.”
       
      Ketika malaikat berkata, hai Maryam sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan Kalimah daripadaNya namannya Al Masih putra Maryam, terkemuka di dunia dan di akhirat dan orang yang paling dekat pada Allah.
       
      (Al Imran, 3:45)

      YESUS MENALAMI KELAHIRAN ATAS ROH KUDUS DAN KEMATIAM DAN HIDUP KEMBALI DAN TERANGKAT DI SURGA

      “Wa salaamu ‘alayya yauma wulittu, wa yauma amuutu, wa yauma ub’atsu hayaa.”
       
      Dan sejahtera atasNya pada hari Dia dilahirkan, pada hari Dia wafat, dan pada hari Dia dibangkitkan hidup kembali.”
       
      (Maryam, 19:33)

      SEMUA AGAMA ADALAH BAIK...SEMUA BISA MASUK SURGA ASALKAN BERBUAT KEBAJIKKAN..
      KRISTEN KATHOLIK BUDDHA ISLAM HINDU jiKA BERBUAT BAIK SMASA HIDUP AKAN MASUK SURGA....

      salam KASIH DLM YESUS


      Delete
    2. hey, jangan asal2 mengutip ayat al-qur'an yang sementara kamu tidak meyakininya.

      orng islam sendiri di larang menafsirkan Al-qur'an kecuali berilmu.
      untuk menafsirkan al-qur'an itu minimal menguasai(bukan pernah belajar saja) minimal 8 disiplin ilmu (di antaranya ulumul qur'an, asbabun nuzul, hadis, diryah hadist, balaghoh, nahwu shorof, bhasa arb, dll).

      sekedar contoh sedikit penjelsan,
      Ali bin Abu Thalhah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, innii mutawaffiika; artinya: Aku mematikanmu. yang dimaksud dengan kematian tersebut adalah tidur, sebagaimana firman-Nya, wa Huwal ladzii yatawaffaakum bil laili (“Dan Dia-lah yang menidurkan kalian di malam hari.”) (QS. Al-An’aam: 60)(bukan mematikan di malam hari)

      Juga firman-Nya, AllaaHu yatawaffal anfusa hiina mautiHaa wal latii lam tamut fii manaamiHaa (“yang memegang jiwa [orang] ketika matinya dan [memegang] jiwa [orang] yang belum mati pada waktu tidurnya.”) (QS. Az-Zumar: 42)

      percuma juga saya jelaskan, anda takkan memahami/atau takkan mau memahami.

      gunakan kitab mu saja dalam berargument. karna kitabmu sendirilah kmu lebih memahami, dan km yakini kebenaranya.

      Delete
  15. jika kita ingin menilai sesuatu dgn bijak, pertama tama tinggalkan topeng kita dulu.
    cari tahu kebenaran sesuatu itu dulu , setelahnya baru kita menilai baik itu membenarkan atau menyangkal. jgn lah sampe kita menambah dosa hanya karena ego. jgn lah hanya karena tutur kata yg buruk membuat diri mu menderita

    ReplyDelete
  16. Budha itu disiksa di neraka kwkwkwkkww

    ReplyDelete
  17. Admin coba jawab pertanyaan saya :
    dngan apa kamu di selamatkan ? dengan perbuatan baik mu kah
    Jika hari di hari ini kamu diambil oleh Tuhan
    apakah kamu masuh Surga ?
    mana lebih banyak dosa mu,dan kebaikan mu ,dalam satu hari,dalam satu menit,dan satu detik
    mana lebih banyak kejahatan mu atau kebaikn mu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Definisi perbuatan baik dan dosa menggunakan landasan ajaran apa? Ajaranmu, kah?
      Tidak menyembah tuhanmu atau tidak mengakui tuhanmu merupakan PERBUATAN DOSA menurut ajaranmu NAMUN bagi ajaran lain ini merupakan PERBUATAN BAIK.

      Banyak artikel di blog ini menelusuri dogma2 ajaran abrahamik (kristen dan Islam) tentang landasan ketuhanan mereka. Hasilnya: kebenaran tuhan kaum abrahamik mana saja adalah NOL besar alias omong kosong belaka.

      Jadi,
      setiap kali kamu menyatakan tuhanmu ada, mempercayai keberadaannya dan ngotot bahwa dia ada, dengan bersyukur dan mohon ampun pada tuhanmu, maka kamu telah melakukan perbuatan dosa yaitu: menipu diri sendiri, menipu orang lain, menggiring sengaja orang lain ikut melakukan perbuatan dosa, menghalang2i orang lain terbebas dari perbuatan dosa..

      ...ini hanya karena kamu telah ikut BERDUSTA dengan menganggap tuhanmu itu benar ada dan valid.

      Jika kamu percaya surga (BUKAN milik tuhanmu tapi MILIK SETIAP orang yg melakukan perbuatan baik melalui PIKIRAN, UCAPAN dan PERBUATAN), maka langkah yang benar adalah TETAP berbuat baik dan mengurangi perbuatan buruk dengan jalan MEMBUANG BUALAN ttg tuhanmu (termasuk bualan tuhanmu menjadi hakim)

      Dengan jalan ini, kemungkinan kamu masuk surga malah semakin terbuka LEBAR dan BESAR. Dan kalo kamu mati sekarang dengan masih memegang paham keliru ttg kebenaran tuhanmu, maka kamu sedang menutup kemungkinanmu masuk surga.

      Paham?

      Delete
  18. Yesus tidak ada di kitab agama Budha dan Hindu TITIK ,,,,,, enak aja mau mengklaim Isa (Yesus) ,,,,,, enak aja ,,,,,,,,,,,,,,,, saya beriman pada kitab Taurat, Mazmur, dan Injil dan kitab nabi2 Ibrani bukan nabi Arab enak saja dan menjauhi Kitab Sesat di dunia ini maupun menjauhi Tuhan sembahan orang sesat ,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,, Agamamu untukmu Agamaku untukku ,,,,, Tuhanmu punyamu Tuhanku Punyaku ,,,,, baca brou

    ReplyDelete
  19. Semua ayat2 al maaidah kluaran Al Quran, mengakui bahawa Allah Swt itu menurunkan ujian keatas semua manusia kerana Allah SWT ingin tahu.....apakah manusia itu sabar dgn ujian yg Allah SWT...berikan itu??????

    Ia secara langsung memberitahu kita bahawa ( ALLAH SWT ) BUKANLAH TUHAN YANG MAHA MENGETAHU'i kerana menguji manusia untuk mengetahu'i...........

    ReplyDelete
    Replies
    1. lho piye toh?
      Ia secara langsung memberitahu kita bahawa ( ALLAH SWT ) BUKANLAH TUHAN YANG MAHA MENGETAHU'i kerana menguji manusia untuk mengetahu'i...........
      apakah manusia itu sabar dgn ujian yg Allah SWT...berikan itu??????

      bagaimana memberikan ujian? jk tuhan tidak maha mengetahui?

      Delete
  20. Blog taikkk,sesattt...knp tulisan klaim lu ini ga di masukin aza kedlm kitab suci dr jaman dulu? ini namax Cocokmologi.... :P

    ReplyDelete
  21. Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan MEMALINGKAN TELINGANYA DARI KEBENARAN dan membukanya bagi DONGENG. 2 Timotius 4:3-4

    Semua orang yang beribadah kepada patung akan mendapat malu, orang yang memegahkan diri karena berhala-berhala; segala allah sujud menyembah kepada-Nya. Mazmur 97:7

    Sebab yang disegani bangsa-bangsa adalah kesia-siaan. Bukankah berhala itu pohon kayu yang ditebang orang dari hutan, yang dikerjakan dengan pahat oleh tangan tukang kayu? Berhala itu sama seperti orang-orangan di kebun mentimun, tidak dapat berbicara; orang harus mengangkatnya, sebab tidak dapat melangkah. Janganlah takut kepadanya, sebab berhala itu tidak dapat berbuat jahat, dan berbuat baikpun tidak dapat. Berhala itu semuanya bodoh dan dungu; petunjuk dewa itu sia-sia, karena ia hanya kayu belaka. -- Perak kepingan dibawa dari Tarsis, dan emas dari Ufas; berhala itu buatan tukang dan buatan tangan pandai emas. Pakaiannya dari kain ungu tua dan kain ungu muda, semuanya buatan orang-orang ahli. -- Tetapi TUHAN adalah Allah yang benar, Dialah Allah yang hidup dan Raja yang kekal. Bumi goncang karena murka-Nya, dan bangsa-bangsa tidak tahan akan geram-Nya. Yeremia 10:3-10,

    Jesus bless you.

    ReplyDelete
  22. "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.
    Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa,
    kalau tidak melalui Aku”
    Yohanes 14:6

    Artinya tidak ada satupun jalan keselamatan, jika tidak melalui Yesus Kristus. Amal dan pahala tidak akan membawa anda kepada keselamatan. Hanya melalui Yesuslah Keselamatan manusia. Walaupun banyak orang yang tidak mengenal Dia hanya mengakuiNya sebagai nabi. Namun, tidak dapat disangkal hanya Yesuslah kunci yang membawa mereka kepada Surga. Umat Islam mengakui mengimani Yesus, namun mereka tidak percaya Penebusan dosa. Padahal justru hal inilah yang membuat Yesus menjadi kunci manusia ke Surga. Waspadalah dan bertobatlah sebelum terlambat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. dongeng ini selalu didengungkan kaum kristen, ini hampir mirip dengan membeli kucing dalam karung..paling engga saat membeli "kucing dalam karung", karungnya kamu liat ada isi dalemnya...kalo tertipu sekalipun, paling engga kamu dapet karung dan sampah di dalamnya....namun mengimani yang kamu sendiri saja tidak tau bentuknya dan cuma katanya-katanya...ini lebih parah dari membeli kucing dalam karung...

      Delete
    2. matius 7:22 Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?
      7:23 Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu 2 ! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!

      walau percaya YESUS tp berbuat jahat..bukan jalan ke surga...

      AMAL dan perbuatan dan pahala merupakan jalan dan cara ke surga..BUKANKAH ALLAH ITU KASIH?

      1 yohanes 4:8
      barangsiapa tidak mengasihi ia tidak mengenal ALLAH,sebab ALLAH adalah kasih........

      amal merupakan perbuatan dalam kasih memberi mengasihi itulah yg diajarkanNya...

      agama buddha jika smasa hidupnya berbuat baik akan masuk surga..
      sebab ia sama saja menjalankan kehendan Yesus maupun buddha itu sendiri

      inti dari semuanya PERBUATAN DAN KEBAJIKKAN DAN KASIH YG MENUNTUN KITA KE SURGA ATAU KEHIDUPAN YG BAHAGIA...BUKAN AGAMA MELAINKAN PERBUATAN SEMASA HIDUP..

      saya org katholik percaya yesus..tp kita harus logika banayk percaya Yesus tp berbuat jahat adalah sia2 matius 7:22....

      KASIH TANPA PERBUATAN ADALAH SIA SIA...

      SALAM DAMAI DLM KASIH YESUS

      Delete
  23. Bagi orang Kristen, Yesus merupakan satu-satunya solusi untuk selamat dari hukuman kekal. Bagi orang Buddha, yang menjadi concern mereka hanya sebatas hidup secara etis dan bermeditasi dengan harapan dapat memperoleh pencerahan dan Nirvana.

    Mungkin sekali, seseorang harus mengalami sejumlah reinkarnasi untuk melunasi hutang karma yang begitu bertumpuk. Untuk pengikut Buddhisme sejati, agama itu merupakan sebuah filsafat moral dan etis, yang dibungkus dalam penyangkalan terhadap diri sendiri seumur hidup.

    Dalam Buddhisme, realitas tidak bersifat pribadi dan tidak berdasarkan hubungan; karena itu, tidak dikerjakan dalam kasih.

    Allah dipandang sebagai ilusi. Dengan menganggap dosa sebagai kekeliruan, bukannya urusan moral, dan menganggap semua realitas materi sebagai hal yang maya (“ilusi”), diri manusia pun jadi kehilangan “diri.” Kepribadian menjadi ilusi.

    Ketika ditanya bagaimana asal mula dunia, siapa/apa yang menciptakan alam semesta, dicatatkan bahwa Buddha tetap diam tidak menjawab, karena di dalam Buddhisme tidak ada awal dan akhir.

    Sebaliknya, yang ada hanyalah siklus lahir dan mati yang tidak berkesudahan. Sebenarnya, seseorang bisa bertanya, Tuhan seperti apa yang menciptakan manusia untuk hidup dan mengalami penderitaan serta kepahitan yang begitu luar biasa, tapi kemudian mati berulang-ulang? Hal itu hendaknya membuat ia merenung, apa artinya, mengapa harus peduli?

    Orang Kristen tahu bahwa Allah mengutus anak-Nya untuk mati bagi umat manusia, supaya kita tidak perlu menderita secara kekal. Dia mengutus Anak-Nya supaya kita sadar bahwa kita tidak sendiri dan dikasihi.

    Kekristenan mengetahui bahwa hidup itu bukan hanya penderitaan dan kemudian mati, “… dan yang sekarang dinyatakan oleh kedatangan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang oleh Injil telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa” (2Tim 1:10).

    Buddhisme mengajarkan bahwa Nirvana merupakan keberadaan tertinggi, suatu kondisi yang murni, dan itu dicapai dengan cara yang relatif terhadap orang itu. Nirvana tidak masuk akal dan tidak sesuai dengan tatanan logis dan karena itu tidak dapat diajarkan, hanya bisa direalisasikan.

    Sebaliknya, pengajaran Yesus mengenai surga amat jelas. Dia mengajarkan bahwa tubuh fisik kita akan mati, namun roh kita akan bersama dengan Dia di surga (Markus 12: 25).

    Buddha mengajarkan bahwa orang tidak memiliki jiwa yang melekat pada pribadinya, karena diri sendiri atau ego hanyalah ilusi belaka. Bagi seorang Buddhis, tidak ada Bapa surgawi yang berbelas kasihan yang mengutus Anak-Nya untuk mati bagi kita, untuk keselamatan kita, untuk menyediakan jalan bagi kita mencapai kemuliaan-Nya.

    Itulah sebabnya Buddhisme haruslah ditolak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Uraianmu ttg Buddhism menunjukan rendahnya pengetahuanmu tentang buddhism, untuk itu, jika kamu merasa bahwa KEIMANANMU terhadap Allah dan/atau Yesus memang TIDAK AKAN LAGI TERGOYAHKAN, silakan buka: Ringkasan Ajaran Buddha, bacalah dengan santai dan buktikan sendiri kebenarannya

      Selamat membaca, semoga berguna.

      Delete
    2. sya lebih tertarik berdiskusi. karna kalau membaca, akan tetap lebih di pengarui perspektif. yang mana perspektif bias dari latarbelakang (di antaranya, pengetahuan sebelumnya)

      Delete
    3. dalam ajaran budha, benar g yang terahir patrica ke 28. atau ke 6 di cina? maf bla slah tulis gelar.

      Delete
  24. buddha adalah org suci yg mencapai pencererahan sempurna,mengajarkan tentang kebajikkan karma renkarnasi dan alam dan sesama akan kehidupan ini..stiap perbuatan akan menimbulkan karma di kehidupan berikutnya...saya mengakui buddha ajaran sangat benar dan logika thd kehidupan ini..saya org katolik saya percaya yesus adalah inkarnasi allah untuk menyampaikan ajaran baik dan benar..tp saya juga percaya trhadap buddha akan ajaran kebajikkannya....surga bukan masalah agama apa yg kau anut..melainkan dari perbuatannmu smasa hidup..apapun agama kita jika kita hidup berdosa dan tidak mau bertaubat atau merubahnya kita akan dihukum neraka,,,jika smasa hidup kita baik thd alam makluk hidup dan sesama kita akan mendapat surga..lakukan lah sgala firman yg ada jalani maka hidup akan berubah.....

    tidak ada agama dlm hidup bagi saya..cukup menjalani firman yg baik..spt Yesus,buddha..

    smg kita akan mengerti apa kehidupan itu..

    ReplyDelete
  25. tidaklah SURGA hanya untuk org kristen/katolik saja...
    tidaklah SURGA hanya untuk org budha saja..
    tidaklah SURGA hanya untuk org islam saja...

    ALLAH menciptakan milyaran manusia dibumi apakah hanya dipilih2 berdasarkan agama????

    jika kamu kristen percaya Yesus tp perbuatanmu selama hidup membunuh ,mencuri dan tidak mau berubah/bertaubat apakah kau masuk surga ?????

    TIDAK jawabnya

    memang Yesus mengatakan AKUlah jalan kebenaran dan hidup...tp jika kau tak bersamaNya melakukan firmanNya atau hidup sesuai kehendakNya ..apakah kamu mengeklem masuk surga krn percaya Yesus ???

    saya org katholik percaya Yesus , secarah sejarah memang yesus ada dan kematian disalib dan memang ada pemerintahan jaman yesus dulu yaitu raja herodes,ponsius pilatus semua sejarah dunia menyatakan kebenaran tempat dan pemerintahan ada...

    jika ingin masuk SURGA lakukan apa yg Tuhan kehendaki , semua ajaran Yesus,Buddha baik dan benar..didalam itu ada ajaran kasih,kebajikkan welas asih....

    PERBUATAN KEBAJIKAN KASIH YG MENGANTARMU KE SURGA BUKAN AGAMA.....

    ReplyDelete
    Replies
    1. OMEGA ALFA,
      anda yakin mengatakan itu?

      "PERBUATAN KEBAJIKAN KASIH YG MENGANTARMU KE SURGA BUKAN AGAMA....."

      agama katholik tak mengatakan seperti itu lho! janagan-jangan anda bukan ornga katholik? atau anda pengikut yang meragukan kebenaran agama katholik?

      kalau saya sendiri di ajari gini,
      agar q menghargai orang yang beragama lain.

      "saya sekarang tlah beragama yang benar (berdasar yang sya yakini), tp belum tentu di akhir hayatku nanti mati dalam keadaan beragama yang salah (menrut yang sya yakini). belum tentu juga mereka yang bergama "sesat" di akhir hayat mereka meninggal dalam keadaan beragama yang benar"

      agama yang mengantarkan ke surga, tp bagi yang menjalani agamanya dg baik dan benar. karena agamalah yang mengajarkan kebajikan! andai anda tahu, ada banyak kebaiakan dan keburukan yang manusia tak mampu memahami/membedakan jika hanya mengandalakn naluri kebaikan (apalagi qt masih bodoh). dimana qta memiliki dua alat penimbang itu, akal dan perasaan. terimakasih, dn mohon ma'af sebelumnya.

      Delete
  26. ma'af, numpang lewat+coment

    semua orang haruslah mencari kebenaran agama yang di anutnya masing-masing. sampai tidak ada ruang untuk keraguan (kebenaran adalah tidak adanya ruang untuk keraguan). jika agama yang di anutnya ternyata menuai bnyak keraguan. maka sayogyanya mencari kebenaran di agama lain. "carilah kebenaran didalam sebelum kkeluar"

    tapi dalam mencari kebenaran itu, gunakan akal dan hati. mempelajari hal yang nyata (dapat di tangkap oleh indra jasad) maka dengan akal, untuk mempelajari yang tak mampu di tangkap oleh indra maka dengan hati (hati yng tulus).

    aq yakin, dan munkin juga kalian semua. jika semua manusia bernaluri bertuhan. budhis dan hindu jelas sangat faham dengan ini.

    oh ya, dalam pencarian. haruslah dalam keadaan suci, karna jika tidak! sanagat munkin. air jernih yang kita gayuh menjadi keruh karna gayung kita ternyata dalam keadaan kotor.

    itu saja terimakasih. oh, ya! jujur aq tertarik pingin sharing2 ma budhis dan hindu.
    "siapa yang mengenal budi/bodhi nya akan menjadi BUDHA"

    ReplyDelete