Friday, November 14, 2008

Cape dan Bingung?..Mana Komentar yang Benar?


Beratus-ratus tahun bahkan beribu-ribu tahun ajaran2 agama dibacakan dan/atau diajarkan secara turun temurun. Padahal mereka yang mengajarkan tidaklah mengikuti proses, tidaklah ada di saat ajaran-ajaran itu diturunkan namun demikian banyak orang menjadi pemeluknya dan terdoktrinasi dengan baik mempercayai kebenarannya.

Begitupula dengan jurnal-jurnal sains.

Pembaca awam non bidangnya tidaklah mengikuti proses itu, tidaklah ikut mengumpulkan, tidaklah ikut menghitung namun demikian banyaknya orang yang terdoktrinasi dengan baik dan mempercayai kebenarannya.

Kitab-kitab suci dan juga jurnal-jurnal sains memberikan suatu informasi kepada umum tentang sesuatu kebenaran tertentu

Sebagai contoh adalah menjelaskan bentuk BUMI.

Masing-masing pihak dengan kemampuan terbaiknya berusaha menjelaskan. Penjelasan tersebut disertai dengan rujukan-rujukan tertentu [baik di ajaran agama ataupun jurnal-jurnal sains] dan juga reputasi manusia yang mengemukakan sehingga didapat suatu pernyataan bagaimana bentuk bumi itu, apakah datar ataupun bulatan.

Masing-masing jawaban tersebut dipegang erat oleh para pemeluknya sebagai suatu keping kebenaran mutlak walaupun mereka sendiri TIDAKLAH PERNAH pergi keluar angkasa untuk menyaksikan sendiri bagaimana bentuk Bumi yang sebenarnya.

Jadi, baik agama dan sains, ternyata menggunakan model jualan kecap dan dasar penyelidikan/pembuktian yang kurang lebih sama, yang berasal dari orang-orang dengan kualifikasi khusus dan/atau diakui menurut kesepakatan tertentu.

Para pengguna lanjutan dan pembuat produk yang lebih belakangan selalu punya klaim bahwa produknya adalah KECAP no.1 di DUNIA dan yang lainnya adalah KECAP BUSUK.

***

Akhir-akhir ini, mungkin beberapa dari anda sudah merasa muak, capek dan bingung terhadap komentar-komentar mengenai keimanan dan keagamaan.

Kalo itu karena beda keyakinan sih masih bisa dimaklumi, bahkan sering kali kita merasa kasihan, terheran-heran sambil berkata dalam hati dengan kening berkerut, "kesambet kali niee orang...Kesian amat..deh luu!! ".

Padahal saat yang sama mereka juga berpikir, "Ah...niee orang sesat!!"

Tapi, jika pandangan-pandangan tersebut berasal dari satu Iman/agama yang sama namun ternyata bertolak belakang, maka ini benar-benar membuat bingung!

Komentar-komentar itu terkadang membuat kening berkerut, bikin ngga sreg, sangat membingungkan..padahal pendapat itu datang dari mereka yang mempunyai reputasi terkenal, terhormat dan dianggap sangat mumpuni mengenai keagamaan.

Sebelumnya, hal-hal semacam itu sering ku alami hingga suatu ketika aku membaca sebuah kisah kebingungan yang sama namun kali ini bukan masalah kebingungan satu orang saja namun kebingungan sekelompok masyarakat sebuah kota terhadap beragam doktrin, yang beredar, saling bertentangan satu dengan lainnya, juga pembabarnya meremehkan, menjelek-jelekkan, mencemooh, dan mencela doktrin lainnya sehingga menimbulkan keraguan dan kebingungan dalam masyarakat mengenai mana yang benar dan mana yang bohong di antara itu.

Nah, artikel di bawah ini melukiskan keadaan tersebut dan bagaimana kemudian mereka menyikapinya. Semoga bermanfaat.

    [Pada abad ke-5 SM, di India, terdapat satu negara bernama Kosala dan di negara itu terdapat sebuah kota bernama Kesaputta [Bihar, Uttar Pradesh, India, lihat: peta] tempat tinggal masyarakat suku Kalama. Kota itu kerap dikunjungi berbagai kelompok petapa dan pengelana]

    Pada suatu ketika Sang Buddha yang sedang mengembara di Negara Kosala bersama dengan sejumlah besar Saṅgha para bhikkhu tiba di pemukiman para penduduk Kālāma di Kesaputta. Ketika mengetahui bahwa kota mereka disinggahi Buddha Gotama, penduduk suku Kalama datang menemui Sang Buddha:

    • Beberapa bertukar salam dengan Beliau dan setelah bertegur sapa, duduk di satu sisi;
    • Beberapa dari mereka memberi hormat dan duduk di satu sisi.
    • Beberapa memberikan penghormatan yang tinggi kepada Beliau dan duduk di satu sisi;
    • beberapa tetap diam dan duduk di satu sisi.

    Kemudian, Suku Kalama berkata kepada Sang Buddha:
    "Guru, ada beberapa petapa dan brahmana yang datang ke Kesaputta. Mereka menjelaskan dan menguraikan doktrin-doktrin mereka sendiri, dan menjelekkan, merendahkan, mencaci, serta mencemarkan doktrin yang lain...

    Kemudian beberapa petapa dan brahmana lain datang ke Kesaputta, dan mereka juga menjelaskan dan menguraikan doktrin mereka sendiri, dan menjelekkan, merendahkan, mencaci, serta mencemarkan doktrin yang lain...

    Guru, kami merasa bingung dan ragu. Dari antara petapa-petapa yang baik ini, yang manakah yang berbicara benar dan yang manakah yang berbicara salah?"

    Sang Buddha: "Memang pantas bagi kalian untuk bingung, O suku Kalama, memang pantas bagi kalian untuk ragu. Keraguan telah muncul di dalam diri kalian tentang masalah yang membingungkan.

    Wahai, suku Kalama..Jangan serta merta mengikuti:

    1. Tradisi: lisan/penyampaian berulang [anussavena/itihitihaṃ = tradisi]
    2. Tradisi: turun-temurun [paramparāya]
    3. Tradisi: kabar angin/gossip/kata orang/desas-desus [itikirāya]
    4. Tradisi: kumpulan teks tertulis [piṭakasampadānena]
    5. Penalaran: berdasarkan kesangsian/logika [takkahetu]
    6. Penalaran: berdasarkan makna/tindak-tanduk [nayahetu]
    7. Penalaran: berdasarkan sifatnya atau lewat analogi [kbbi: persamaan/persesuaian 2 hal yang berlainan/ākāraparivitakkena]
    8. Penalaran: berdasarkan spekulasi pandangan yang disetujui/opini yang dianggap beralasan [diṭṭhinijjhānakkhantiyā]
    9. Pembabarnya: tampak meyakinkan [bhabbarūpatāya], atau
    10. Pembabarnya: Petapa yang tidak lain adalah gurunya [samaṇo no garūti]

    Tetapi setelah mengetahui sendiri [attanāva jāneyyātha], bahwa hal-hal ini [dhammā]:

    • tidak bermanfaat [akusalā],
    • tercela [sāvajjā];
    • dihindari para bijaksana [viññugarahitā];
    • jika dilaksanakan/dipraktekkan, menuju pada kerugian dan penderitaan [ahitāya dukkhāya saṃvattantīti]',

    maka kalian harus meninggalkannya [pajaheyyātha]

    Bagaimana pendapatmu, suku Kalama? Bila keserakahan [lobha], kebencian [dosa] dan kekeliruan tahu [moha] muncul di dalam diri seseorang, apakah hal itu menyebabkan kesejahteraannya [hitāya] atau kerugiannya [ahitāya]?"

    Suku Kalama: "Kerugiannya, Guru."

    Sang Buddha: "Suku Kalama, orang yang digairahkan, dibanjiri dan tertaklukkan oleh: keserakahan, kebencian dan kekeliruan tahu, pikirannya dikendalikan [pariyādinnacitta] oleh hal-hal itu, akan:

    • menghancurkan kehidupan [pāṇampi hanati],
    • mengambil apa yang tidak diberikan [adinnampi ādiyati],
    • melakukan perilaku seksual dengan istri orang lain [paradārampi gacchati],
    • pembicaraan yang salah [musāpi bhaṇati], dan
    • mendorong orang lain untuk melakukan demikian pula [parampi tathattāya samādapeti].

    Apakah hal itu akan menyebabkan kerugian dan penderitaannya untuk masa yang lama?"

    Suku Kalama: "Ya, Guru."

    Sang Buddha:"Bagaimana pendapatmu, suku Kalama? Apakah hal-hal itu bermanfaat atau tidak bermanfaat?"

    Suku Kalama: "Tidak bermanfaat, Guru"

    Sang Buddha: "Tercela atau tidak tercela?"

    Suku Kalama: "Tercela, Guru

    Sang Buddha: "Dikecam atau dipuji oleh para bijaksana?"

    Suku Kalama: "Dikecam, Guru."

    Sang Buddha: "Jika dilaksanakan dan dipraktekkan, apakah hal-hal ini menyebabkan kerugian dan penderitaan atau tidak, atau bagaimana?"

    Suku Kalama: "Jika dilaksanakan dan dipraktekkan, hal-hal ini menuju ke kerugian dan penderitaan. Demikian tampaknya hal ini bagi kami."

    Sang Buddha: "Untuk alasan inilah, suku Kalama, maka kami mengatakan: Jangan serta merta mengikuti:

    1. Tradisi: lisan/penyampaian berulang [anussavena/itihitihaṃ = tradisi]
    2. Tradisi: turun-temurun [paramparāya]
    3. Tradisi: kabar angin/gossip/kata orang/desas-desus [itikirāya]
    4. Tradisi: kumpulan teks tertulis [piṭakasampadānena]
    5. Penalaran: berdasarkan kesangsian/logika [takkahetu]
    6. Penalaran: berdasarkan makna/tindak-tanduk [nayahetu]
    7. Penalaran: berdasarkan sifatnya atau lewat analogi [kbbi: persamaan/persesuaian 2 hal yang berlainan/ākāraparivitakkena]
    8. Penalaran: berdasarkan spekulasi pandangan yang disetujui/opini yang dianggap beralasan [diṭṭhinijjhānakkhantiyā]
    9. Pembabarnya: tampak meyakinkan [bhabbarūpatāya], atau
    10. Pembabarnya: Petapa yang tidak lain adalah gurunya [samaṇo no garūti]

    Tetapi setelah mengetahui sendiri [attanāva jāneyyātha], bahwa hal-hal ini [dhammā]:

    • bermanfaat,
    • tidak dicela;
    • dipujikan para bijaksana;
    • jika dilaksanakan dan dipraktekkan, menuju kesejahteraan dan kebahagiaan',

    maka kalian harus menjalankannya. [upasampajja vihareyyātha]

    Bagaimana pendapatmu, suku Kalama? Jika tanpa-keserakahan, tanpa-kebencian dan tanpa-kekeliruan tahu muncul di dalam diri seseorang, apakah itu membawa kesejahteraan atau kerugiannya?"

    Suku Kalama: "Kesejahteraannya, Guru."

    Sang Buddha: "Suku Kalama, orang yang tanpa keserakahan, tanpa kebencian, tanpa kekeliruan tahu, yang tidak dikuasai oleh keserakahan, kebencian dan kekeliruan tahu, yang pikirannya tidak dikendalikan oleh semua itu, Ia TIDAK AKAN:

    • menghancurkan kehidupan,
    • mengambil apa yang tidak diberikan,
    • melakukan perilaku seksual dengan istri orang lain,
    • pembicaraan yang salah, dan
    • mendorong orang lain untuk melakukan demikian pula.

    Maka apakah hal itu menopang kesejahteraan dan kebahagiaannya untuk masa yang lama?"

    Suku Kalama: "Ya, Guru."

    Sang Buddha: "Bagaimana pendapatmu, Kalama? Apakah hal-hal itu bermanfaat atau tidak bermanfaat?"

    Suku Kalama: "Bermanfaat, Guru."

    Sang Buddha: "Tercela atau tidak tercela?"

    Suku Kalama: "Tidak tercela, Guru."

    Sang Buddha: "Dikecam atau dipuji oleh para bijaksana?"

    Suku Kalama: "Dipuji, Guru."

    Sang Buddha: "Jika dilaksanakan dan dipraktekkan, apakah hal-hal ini menuju kesejahteraan dan kebahagiaan atau tidak, atau bagaimana?"

    Suku Kalama: "Jika dilaksanakan dan dipraktekkan, hal-hal ini menuju kesejahteraan dan kebahagiaan. Demikian tampaknya hal ini bagi kami."

    Sang Buddha: "Untuk alasan inilah, suku Kalama, maka kami mengatakan: Jangan serta merta mengikuti:

    1. Tradisi: lisan/penyampaian berulang [anussavena/itihitihaṃ = tradisi]
    2. Tradisi: turun-temurun [paramparāya]
    3. Tradisi: kabar angin/gossip/kata orang/desas-desus [itikirāya]
    4. Tradisi: kumpulan teks tertulis [piṭakasampadānena]
    5. Penalaran: berdasarkan kesangsian/logika [takkahetu]
    6. Penalaran: berdasarkan makna/tindak-tanduk [nayahetu]
    7. Penalaran: berdasarkan sifatnya atau lewat analogi [kbbi: persamaan/persesuaian 2 hal yang berlainan/ākāraparivitakkena]
    8. Penalaran: berdasarkan spekulasi pandangan yang disetujui/opini yang dianggap beralasan [diṭṭhinijjhānakkhantiyā]
    9. Pembabarnya: tampak meyakinkan [bhabbarūpatāya], atau
    10. Pembabarnya: Petapa yang tidak lain adalah gurunya [samaṇo no garūti]

    Tetapi setelah mengetahui sendiri [attanāva jāneyyātha], bahwa hal-hal ini [dhammā]:

    • bermanfaat,
    • tidak dicela;
    • dipujikan para bijaksana;
    • jika dilaksanakan dan dipraktekkan, menuju kesejahteraan dan kebahagiaan',

    maka kalian harus menjalankannya. Adalah karena alasan inilah maka hal ini dikatakan.

    Maka, suku Kalama, pengikut yang mulia yang meninggalkan ketamakan (vigatābhijjho), meninggalkan itikad buruk (vigatabyāpādo), tanpa kebingungan (asammūḷho), memahami sepenuhnya kemunculan-berlangsung-berakhirnya perasan, awal pemikiran dan persepsi (sampajāno) mengingat jelas hal-hal yang yang telah dilakukan dan dikatakannya (patissato)

    1. Pikiran cinta kasih-nya [metta] dipancarkan ke satu arah kemudian ke: 2 arah, 3 arah dan 4 arah, demikian ke: atas, bawah, bulak-balik, ke mana saja, pada mahluk alam apapun (termasuk dirinya) pikirannya yang disertai cinta kasih dipancarkannya: berlimpah, luhur, tak berbatas, lembut, tanpa halangrintang
    2. Pikiran welas asihnya [Karuṇā]...
    3. Pikiran simpatinya [muditā]...
    4. Pikiran tenang-seimbangnya [upekkhā] dipancarkan ke satu arah kemudian ke: 2 arah, 3 arah dan 4 arah, demikian ke: atas, bawah, bulak-balik, ke mana saja, pada mahluk alam apapun (termasuk dirinya) pikirannya yang tenang-seimbang dipancarkannya: berlimpah, luhur, tak berbatas, lembut, tanpa halangrintang

    Suku Kalama, pengikut yang mulia yang pikirannya bebas dari permusuhan, bebas dari niat jahat, murni dan tidak kotor, maka Ia memenangkan empat jaminan dalam kehidupan ini juga.

    1. Inilah jaminan pertama yang dimenangkannya: 'Seandainya ada alam lain, dan seandainya perilaku yang baik dan buruk memang memberikan buah dan menghasilkan akibat, maka ada kemungkinan ketika tubuh hancur, setelah kematian, aku akan muncul di tempat yang baik, di suatu alam surgawi.'
    2. Inilah jaminan kedua yang dimenangkannya: 'Seandainya tidak ada alam lain, dan seandainya tindakan baik dan buruk memang tidak memberikan buah dan menghasilkan akibat, tetap saja di sini, di dalam kehidupan ini juga, aku hidup dengan bahagia, bebas dari rasa permusuhan dan niat jahat.'
    3. Inilah jaminan ketiga yang dimenangkannya: 'Seandainya kejahatan menimpa si pelaku kejahatan, maka karena aku tidak berniat jahat kepada siapapun, bagaimana mungkin penderitaan menyerangku, orang yang tidak melakukan kejahatan?'
    4. Inilah jaminan keempat yang dimenangkannya: 'Seandainya kejahatan tidak menimpa pelaku kejahatan, maka di sini juga aku melihat diriku sendiri termurnikan di dalam dua hal [dia tidak melakukan kejahatan dan tidak ada kejahatan yang akan menimpanya]'

    Suku Kalama, pengikut yang mulia yang pikirannya bebas dari permusuhan, bebas dari niat jahat, murni dan tidak kotor, maka Ia memenangkan empat jaminan ini di dalam kehidupan ini juga."

    Mendengar uraian tersebut, Suku Kalama menjawab dengan kegembiraan:

    "Ya demikianlah (evametaṃ), Yang Terberkati! Ya demikianlah, Yang Sempurna! Pengikut yang mulia yang pikirannya bebas dari permusuhan, bebas dari niat jahat, murni dan tidak kotor, maka Ia memenangkan empat jaminan ini di kehidupan ini juga

    Luar biasa, Guru! ... Biarlah Yang Terberkati menerima kami sebagai pengikut awam yang telah pergi untuk berlindung sejak hari ini sampai akhir hayat."

    [AN 3.65/Kesamutti sutta atau KALAMA SUTTA; Sutta lain yang memiliki isi yang kurang lebih sama di antaranya: AN 3.66/Sāḷha sutta; AN 4.193/Bhaddiya sutta. Pada MAHANIDESA (Tuvaṭakasuttaniddesa) dan CULLA NIDESA (Mettagūmāṇavapucchāniddesa), kata: "anussavena" di ganti kata: "itihitihaṃ" yang artinya kurang lebih sama, namun tidak semua listing saran "jangan serta merta mengikuti" ada]

Artikel tentang ada/tidaknya: kehidupan kembali setelah kematian dan ada/tidaknya akibat dari perbuatan, baca: PAYASI SUTTA

13 comments:

  1. Apakah Sang Budha bingung menerangkan kepada umatnya bahwa setiap kebaikan dan kejahatan akan dibalas sesuai dengan kadarnya.Apakah Sang Budha ragu-ragi dengan surga (nirwana). Dimanakah Sang Budha kini? Di surga atau hilang setelah kematiannya.
    Bagaimana Sang Budha menjelaskan bila seorang bayi yang dibunuh oleh ibunya sesaat setelah dilahirkan,kebaikan atau kejahatan apa yang telah diperbuatnya?Jaminan apa yang didapatkannya dari Sang Budha?
    Apakah ajaran Sang Budha hanya untuk Sang Budha sendiri? Karena dari empat jaminan tersebut Sang Budha hanya menyebut (aku)untuk Sang Budha sendiri, bukan untuk kita, bukan untuk kami bukan untuk kita semua.

    ReplyDelete
  2. Jawaban pertanyaan:

    1 Apakah sang buddha bingung?
    Kalau Anda baca kalama sutta ini baik-baik, maka anda tahu bahwa mereka itu bukan umat Sang Buddha dan mereka sudah muak dengan doktrinasi
    Apakah sang buddha ragu2 lagi dengan nirwana?
    bacalah cerita kalama sutta diatas baek2...dan anda akan ngerti kebingungan dan keragu2an siapa...

    2. Dimana sang buddha saat ini?
    mencapai Nibanna, hilang/musnah.

    3. Bagimana sang buddha menjelaskan..dst..?
    kata 'nya' dalam pertanyaan kamu, '..diperbuatnya?' itu dimaksudkan untuk siapa? Bayi ato ibunya?
    Note:
    Hukum karmaphala mengatakan bahwa karma itu dapat dinikmati sekarang atau kemudian, ada bagian karmaphala yang berjalan di kehidupan sebelumnya
    Jaminan apa yang didapat? lihat di jaminan no.3 dan 4

    4. Apakah empat jaminan itu hanya untuk sang buddha sendiri?

    Jaminan itu bukan untuk Sang Buddha, juga bukan untuk kita, juga bukan untuk kami dan juga bukan untuk kita semua...

    Jaminan itu hanya untuk mereka yang mempunyai keinginan dan tekad yang kuat untuk menang melawan keserakahan, kebencian dan kebodohan batin..

    Untuk itu kalau anda tertarik...maka berhentilah berolok-olok!

    Buktikan bahwa anda mampu berbuat baik dan mengurangi kejahatan..bukan cuma teori mengulas saja

    kalau anda tanya lagi 'bagaimana kalau ternyata jaminan itu omong kosong!'

    Jawaban saya simple saja: 'ruginya apa berbuat baik dan mengurangi kejahatan?'

    ReplyDelete
  3. pak, lagunya tolong dimatiin... aduh.. pusing dengernya.. ngabis2in bandwidth pula.. tolong dong pak.. saya kan juga pingin baca langsung dari sini, masa perlu aku copy paste ke notepad dulu

    ReplyDelete
  4. Namo Buddhaya... ,

    Salam Damai dan Cinta Kasih... ,

    Salam kenal dari saya, Upasaka Ratana Kumaro / Ratna Kumara... ,

    Blog ini sangat menarik... , banyak informasi yang saya dapatkan pula dari sini... .

    Saya juga punya blog yang saya maksudkan untuk mengkomunikasikan Buddhisme kepada semua orang yang berminat..., alamatnya :

    http://ratnakumara.wordpress.com

    Kalau sempat berkunjung ya!

    Mettacitena... ,
    "Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta!"

    ReplyDelete
  5. Janganlah terlibat dengan konsep benar dan salah... Tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah.... Semua tergantung sudut pandangnya masing-masing... Sudahkah kita yang beragama menjadi lebih baik? Sebuah agama di pilih karena kecocokan.... bukan karena benar dan salah... Ketika seorang memeluk suatu agama menjadi manusia yang lebih baik maka dapat di katakan bahwa dia cocok memeluk agama tersebut. Janganlah mewarisi agama.. warisilah perilaku yuang baik, ketika kita mewarisi agama maka akan muncul kekejaman dan peperangan, tetapi apabila kita mewarisi perilaku baik dan di contoh banyak orang maka dunia ini akan muncul kedamaian dan kebahagiaan. Semua adalah konsep.... di dalam buku kitab sucinya masing-masing, semua katanya kitab sucinya masing-masing, jika tidak setuju maka bukan kita yang harus berdebat... Tanyakanlah dan berdebatlah kepada yang membuat buku kitab suci itu masing-masing yaitu para nabi, para mesias, para pendiri-pendiri agama. Kedamaian hanya akan di capai bila setiap orang berperilaku baik, tidak masalah dia agamanya apa... kita berkumpul karena antar pribadi, bukan karena agama yang di anutnya. Ketika seseorang yang beragama sama dengan kita tapi perilakunya meresahkan masyarakat dan menimbulkan penderitaan mahluk lain kitapun dengan mudah menyatakan dia tidak beragama, tetapi ketika kita bertemu dengan orang yang berbeda agama tetapi prilakunya baik dan penuh cinta kasih maka kita harus mengakui bahwa dia orang yang beragama. Tidak usah pusing dia menggunakan konsepnya apa.... karena semua pasti di nilai dari perilakunya... Dan semua agama ketika seseorang meninggal yang menentukan dia terlahir dimana adalah Perbuatannya.... bukan di tanya wkt hidup agamanya apa?? Kalo tergantung dari agama yang di anutnya maka kita kalo mati harus di bawain KTP atau sertifikat dari lembaga keagamaannya....

    ReplyDelete
  6. Saya telah banyak baca tulisan anda, dan kagum atas niat anda membandingkan berbagai aliran kepercayaan. Selain dibutuhkan keberanian juga dibutuhkan keuletan menyimak satu satu kitab-kitab yang ada. Saya sendiri sebagai pembaca tidak bisa membaca tulisan secara 100%. Apakah ini sebagai profesi Anda, sebagai pengamat agama??

    ReplyDelete
  7. Salam..

    Apakah ini profesi saya?
    sama sekali bukan...


    Pengamat agama?
    Kalo anda tinggal di daerah multiagama..dan beberapa agama berteriak kami adalah kecap no.1..serta dibarengi dengan melakukan marketing jalanan, hadiah2 dan/atau kepalan..

    maka suka atau tidak anda ingin tahu kebenaran klaim kecap no.1


    Apakah saya terima uang?
    Sampai saat ini, saya tidak menerima uang bahkan 1 rupiahpun untuk semua tulisan2 di blog.,


    Kalo tidak terima uang malah keluar uang, Lantas motivasinya apa?
    Saya punya anak dan keluarga besar...saya telah melihat akibat2 dari jualan kecap no.1

    Saya tulis ini semua..hanya dengan satu tujuan...

    Di suatu masa nanti...ada kemungkinan anak2 saya atau keluarga saya..sedang berada di keadaan terombang ambing atau di simpangan jalan..mengalami kebingungan..

    maka, dia bisa baca tulisan-tulisan ini..

    Paling tidak, tugas saya untuk mengingatkan sudah saya jalankan..

    sejak itu...keputusan yang ia ambil..sudah bukan tanggung jawab saya lagi..

    ReplyDelete
  8. damai... damai... damai... hanya itu yg bisa kutelisik dari berbagai tulisanmu oom, meskipun blm baca semuanya. meskipun dari beberapa tulisan yg kubaca terkadang ada bahasa, kalimat atau kata yg mungkin kurang nyaman dibaca, tapi ahhhh.... kudamaikan hatiku mencari kenyamanan itu toh akhirnya tatkala di akhir tulisan kutemukan suatu pesan penting tentang senyum, semangat, perjuangan, pribadi yg bebas namun bertanggung jawab pd hati nurani dan implementasi pada perbuatan baik terhadap sesama dan berbagai makhluk yang ada.
    apapun pandangan religiusmu saat ini oom, daku yakin karmalah yg mempertemukan kita saat ini dan kita selalu berdampingan dalam memaknai perjalanan ini
    om sarvo prani hitangkarah
    sabe satta bavantu sukhitata

    ReplyDelete
  9. Apa yang dikatakan Bapak Wira adalah benar. Kita harus mengingatkan orang-orang dekat kita akan adanya pihak-pihak yang mengatakan mereka sebagai paling benar dan nomor satu sambil menjelekkan kepercayaan pihak lain. Dan kadang sesuatu ketidakbenaran sudah terpampang begitu jelas tetapi tetap tidak disadari oleh begitu banyak orang. Mengatakan diri yang paling benar sambil menjelekkan pihak lain adalah tindakan sombong, tidak toleransi, mau menang sendiri dan membuta. Bagaimana mereka bisa mengklaim sebagai paling benar dan penuh kasih dengan tidakannya tersebut. Kasih itu tidak membedakan!!!

    ReplyDelete
  10. jANGAN JELEK2IN AGAMA ORANG TAI

    ReplyDelete
  11. om aq ngaku terus terang aq msih bego banget tentang masalah agama dsb. tapi di sela2 aq belajar kadang aq mikir, sebenarnya aq mau ngapain? menjalani hari - hari yang g jelas kaya gini . akhirnyaa aq sadar apa yang om bilang di manado itu BENAR. neXt time kalo aq ada kesempatan untuk menolak hal yang sama aq pasti nolak... paling ngga ada kedamaian dalam hati... mgkin cuma ini yang bisa aq resapi dari wejangannya om^^

    ReplyDelete
  12. Betul sekali tulisan om di atas.
    Tidaklah seharusnya sebuah keyakinan/agama itu 'diperjual-belikan'. Sehingga sampai ada yang melalukan 'promosi', dan ada yang 'membeli' karena kebodohan batin.
    Bahkan yang lebih buruknya lagi adalah hal tersebut berlanjut terus (yang terpedaya memperdayai) sampai pada generasi keturunan berikutnya, yang menyebabkan semakin susahnya untuk keluar dari belenggu kabut batin itu.
    Kita, sebagai manusia yang tidak lebih suci dari manusia mana pun, hanya bisa berusaha untuk tidak menambah akumulasi duka di dunia ini dengan cara membenahi kita sendiri, orang-orang terdekat kita, dan juga tidak menutup kemungkinan orang lain yang masih mau sadar, dengan pemikiran yang benar-benar matang mengenai suatu hal (baik buruknya, benar tidaknya, manfaat terhadap semua kehidupan, dll). Sehingga dia tidak lagi membeli kepercayaan/agama, melainkan menyakini dan menjalani kepercayaannya tersebut karena dia benar-benar mengerti dan sadar bahwa kepercayaannya tersebut akan membawa damai, kebahagiaan, dan kebaikan bagi diri sendiri, orang-orang sekitar, dan juga lingkungan hidupnya.
    Sama seperti dalam sejarah Buddha yang menawarkan (bukan memaksakan atapun menjual) ajaran yang ditemukannya, dan dalam blog ini Om Wira yang mengingatkan kembali ajaran tersebut.

    ReplyDelete
  13. Menarik sekali.
    Seperti slogan Gramedia: Enlightening Mind, Expanding Horizon.
    Pohon besar yang dibatasi akarnya, dibatasi lingkup tanahnya, dan dibatasi daunnya, menghasilkan pohon kerdil yg disebut bonsai. Apakah masih pohon? Ya, masih pohon. Apakah masih hidup? Ya, masih hidup. Apakah indah? Ya, indah. Tapi kerdil.
    Pohon yang dibiarkan bebas di tanah yang subur, menghadapi hujan, badai dan bahaya lain, namun dia bisa bertumbuh menjadi pohon yang sesungguhnya. Spiritualitas/keimanan pun seperti itu. Otak kita pun seperti itu.

    Laut kehilangan essensi kelautannya begitu kita ambil sejumput dalam ember atau baskom atau akuarium. Dia bukan lagi laut.
    Tuhan kehilangan keseluruhan makna ketuhanannya begitu direkam dalam kitab dan bahasa manusia.
    Bukankah kita tidak bisa menggambarkan dg kata-kata bagaimana aroma bunga mawar? Dan menggambarkan dengan jelas bedanya dg aroma bunga melati? Setiap orang harus membauinya sendiri, dan membiarkannya mengerti.

    Jika dg aroma saja kita tdk bisa menjabarkan dg kata-kata, bagaimana ketuhanan digambarkan dg kata-kata?

    Suatu saat seseorang pulang dari perjalanan wisata alam di pegunungan kilimanjaro. Dia menikmati di sana indahnya pemandangan fajar pagi, awan-awan keemasan, hawa yang segar, hamparan pepohonan hijau di bawah, air terjun yang menderu.
    Sepulangnya ia menceritakan pada kedua anaknya. Keduanya senang sekali dengan cerita yang sedemikian indahnya. Bertahun-tahun, cerita diteruskan. Ditambah dan dikurangi. Diperindah dan diperseru. Hingga keturunan mereka berdebat siapa yg benar dari penggambaran keindahan pemandangan itu, tapi tidak ada yang pergi dan menyaksikan sendiri.

    That's Life...

    ReplyDelete