Tuesday, September 23, 2008

Selain Khadijah, Semua Istri Nabi berusia Muda dan Ranum


Para Ulama kerap menyatakan bahwa Nabi Muhamamd SAW menikahi banyak wanita adalah untuk menolong para wanita yang telah menjadi janda dan bukan untuk pemuas Syahwat Nabi. Oleh karenanya kecuali Aisyah maka para wanita yang dinikahinya adalah janda-janda tua renta yang tidak berparas cantik.
    Rasulullah SAW menikahi 11 orang wanita. Tentu saja hal itu Nabi lakukan bukan untuk menyalurkan nafsu seks, sebab sepuluh diantara sebelas wanita itu nabi nikahi ketika mereka sudah menjanda dan telah tua renta [Buku Pintar Agama Islam, Syamsul Rijal Hamid, Penebar Salam, Bogor, 2002, hal. 99]

    Padahal semua wanita yang beliau nikahi tidak lain adalah para janda, yang tidak bisa dikatakan muda, apalagi cantik. Satu-satunya isteri yang dinikahi dalam keadaan perawan hanyalah Aisyah. Meski pada usia yang masih muda, tapi ukuran usia nikah di semua peradaban dunia ini tidak bisa disamakan. [Ahmad Sarwat, Lc., Eramuslim]
Benarkah demikian?

Klaim-klaim di atas sebenarnya sudah terjawab karena bertentangan dengan riwayat hadis sebagai berikut:
    Diriwayatkan Abu Huraira:
    Nabi berkata, "Seorang wanita dikawini karena empat hal yaitu karena kekayaannya, status keluarganya, kecantikannya dan agamanya. Jadi, engkau seharusnya menikahi wanita yang religius (kalau tidak) engkau akan menjadi seorang pecundang.[Bukhari 7.62.27]

    Nabi berkata, "Wanita dapat dikawini karena agamanya, kekayaannya, atau kecantikannya. Jadi kawini satu untuk agama [Abu Issa al-Tarmidi, Sunan al-Tarmidi, Medina n.d., p.275, B:4, H:1092]

    Riwayat Ishaq bin Ibrahim - Jarir dari Al Mughirah - Asy-Sya'biy - Jabir bin 'Abdullah:
    Aku ikut dalam penyerbuan Ghazwa dengan Rasul...Jabir berkata: "Wahai Rasulullah, aku mau nikah". Lalu aku meminta izin dan Beliau mengizinkanku"... Jabir berkata: "Rasulullah SAW berkata kepadaku ketika aku meminta izin untuk menikah: "Kamu menikahi seorang gadis atau janda?" Aku jawab; "Aku menikahi janda". Nabi berkata, "Mengapa kamu tidak menikahi gadis saja sehingga kamu bisa bermain dengannya dan ia bisa bermain denganmu" (aku berkata:) “Nabi! Ayahku dibunuh dan aku punya beberapa adik perempuan kecil, Jadi aku merasa tidak pantas menikahi gadis yang semuda mereka yang tidak dapat membimbing dan merawat mereka. Jadi, Aku harus mengawini janda yang dapat merawat dan membimbing mereka" [Bukhari no.2745/4.52.211, no.5908, 4690. Muslim no.2662, 2663]
Tidak ada satupun riwayat di atas yang mendukung bahwa alasan pernikahan di Islam adalah untuk menolong para janda, karena mencintai/dicintai dan/atau untuk menyambung garis keturunan! Kata "nikah" dalam persepektif bahasa arab artinya adalah bersetubuh atau berhubungan seksual. Ini penting sekali untuk kita ketahui agar tidak keliru dalam memahami ajaran rahmat semesta ini.
    Kamus ungkapan Al-Quran dan maknanya, Sheik Mousa Ben Mohammed Al Kaleeby, Kairo, Maktabat Al Adab, 2002:
    Definisi "Nikah" adalah penetrasi satu hal dengan yang lain. Contohnya seperti mengatakan benih di dalam tanah. Ini juga dapat berarti dua benda melilit satu dengan yang lain. Sebuah contoh mengatakan pohon (berangkulan) satu sama lainnya, berarti mereka terjalin satu sama lain.

    Kitab Al Nikah. Komentar Imam Ahmed Ben Ali Ben Hagar Al Askalani, Beirut, Dar Al Balaghah, 1986:
    Secara linguistik, "Nikah" berarti berangkulan atau penetrasi. Jika dilafalkan "Nokh" ini berarti vagina wanita. Hal ini terutama digunakan dalam konteks "melakukan hubungan seksual." Ketika itu digunakan dalam referensi mengawini itu karena seks diperlukan dalam perkawinan. Al Fassi berkata, "Jika seseorang mengatakan seorang lelaki tertentu (N) seorang wanita tertentu, itu berarti dia mengawininya, dan jika ia mengatakan seorang pria (N) istrinya, itu berarti dia telah berhubungan seksual dengannya." Kata ini juga dapat digunakan secara metaforis sebagai dengan ekspresi: hujan (N) tanah, atau, tidur (N) mata, atau, benih (N) tanah, atau, kerikil (N) kuku unta. Ketika itu digunakan dalam konteks perkawinan itu karena hubungan seksual adalah tujuan pernikahan. Hal ini diperlukan dalam pernikahan untuk "mencicipi madu" (ekspresi Islam berarti hubungan literal). Ini adalah bagaimana kata ini umumnya digunakan dalam Qur'an kecuali di ayat yang mengatakan, "Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur (N)" Sura 4: 6. Dalam hal yang berkaitan dengan usia pubertas. Mazhab yurisprudensi Shafia dan Hanafi menegaskan bahwa kata Nikah digunakan sebagai fakta menyampaikan bahwa hubungan seksual telah terjadi. Dan bila digunakan pembicaraan itu menandakan perkawinan. Alasan variasi ini karena kasar menyebutkan kata "hubungan seksual," jadi kata kiasan digunakan untuk menggantikannya. [Dua definisi di atas diambil dari: Islam Watch - "The meaning of Nikah" by Mohammad Asghar]

    Jrists are in unanimous agreement on the fact that nikah means SEXUAL INTERCOURSE and that it is used to denote the marriage contract as a figure of speech because the marriage contract is the legal means for having intercourse. Nikah is permissible only after the marriage contract, concluded between the bridegroom and the bride (al-`aqidan), and the bride's guardian in the presence of at least two witnesses. [The Position of Women in Islam, Hamdun Dagher, ch.4, Marriage]

    Kata (nikah) berasal dari bahasa Arab نكح - ينكح - نكاحا, yang secara etimologi berarti: التزوج (menikah); الاختلاط (bercampur); dalam bahasa Arab, lafaz “nikah” bermakna العقد (berakad), الوطء (bersetubuh) dan الاستمتاع (bersenang-senang) [Mustafa al-Khin, dkk, Al-Fiqh al-Manhaji, IV:11]

    Al-Qur’an menggunakan kata "nika'h" yang mempunyai makna "perkawinan", disamping -secara majazi (metaphoric)- diartikan dengan "hubungan seks". Selain itu juga menggunakan kata زوج dari asal kata ﺍﻟﺰﻭﺝ, yang berarti "pasangan" untuk makna nikah. Ini karena pernikahan menjadikan seseorang memiliki pasangan. [M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat, Cetakan ke-6, Bandung: Mizan, 1997., Hal. 191]

    Secara lugawi, nikah berarti bersenggama atau bercampur, sehingga dapat dikatakan terjadi perkawinan antara kayu-kayu apabila kayu-kayu itu saling condong dan bercampur antara yang satu dengan yang lain. Dalam pengertian majazi, nikah disebutkan untuk arti akad, karena akad merupakan landasan bolehnya melakukan persetubuhan. Dengan akad nikah suami memiliki hak untuk memiliki. Namun hak milik itu hanya bersifat milk al-Intifa’(hak milik untuk menggunakan), bukan milk al-muqarabah (hak milik yang bisa dipindahtangankan seperti kepemilikan benda) dan bukan pula milk al-manfa’ah (kepemilikan manfaat yang bisa dipindahkan) [Mutawally, Abdul Basit, Muhadarah fi al-Fiqh al-Muqaran, Mesir: t.p.,t.t., Hal. 120]
Yang sekarang tinggal kita buktikan adalah apakah Nabi adalah seorang pecundang sesuai ucapan yang diriwayatkan Abu Huraira atau tidak [Mengawini wanita yang religius/tidak] dan apakah para istri nabi selain Khadijah [benarkah Saudah berusia di atas 50 saat dikawini nabi) adalah para sudah tua renta yang tidak berparas cantik?

Nabi mengawini 15 Perempuan dan yang ‘dituntaskan’ pernikahannya adalah 13 perempuan [Tabari vol 9 p.126-127 dan catatan kaki no.871, Riwayat Al harith - Ibn Sa'd - Hisham bin Muhammad - Ayahnya. Juga di Ibn Al-Athir (kamil II, 207, pada otoritas ibn Al-Kalbi)]. Juga di satu ketika Nabi mempunyai sembilan Istri [Bukhari vol.1:282 (p.172-173)] termasuk Safiya binti Huyay [Sahih Muslim 2.3455-3456 p.749, di link yang atas disebutkan bahwa ini merupakan upaya justifikasi para penulis belakangan]

Ketetapan Allah jelas sekali di sampaikan,
    "Diharamkan atas kamu..dan wanita yang bersuami, kecuali ma malakat aymanukum (apa yang tangan kananmu miliki).." [An Nisa 4:24]

    Ayat ini diturunkan Allah untuk memberi ijin bagi para pejuang muslim memperkosa dengan lega para tawanan wanita walaupun mereka telah bersuami dan tidak perlu lagi menunggu waktu iddah (biasanya 3-4 bulan sebelum mengawini seseorang)

    Imam Ahmad mengkolesi bahwa Abu Sa`id Al-Khudri berkata, "Kami TANGKAP BEBERAPA PEREMPUAN di area Awtas yang TELAH MENIKAH dan kami TIDAK SUKA melakukan SEKS dengan mereka karena mereka TELAH MEMPUNYAI SUAMI. Jadi KAMI TANYA pada NABi tentang hal ini, DAN AYAH INI DITURUNKAN, "وَالْمُحْصَنَـتُ مِنَ النِّسَآءِ إِلاَّ مَا مَلَكْتَ أَيْمَـنُكُمْ". Konsekuensinya, KAMI MELAKUKAN HUBUNGAN SEKS dengan wanita2 ini. Kalimat ini ada di koleksi At-Tirmidhi An-Nasa'i, Ibn Jarir dan Muslim di sahihnya. [Tafsir Ibn Kathir utk ayat ini]

    "Hai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu istri-istrimu yang telah kamu berikan mas kawinnya dan apa yang tangan kananmu punyai (wa ma malakat yamiinuka) yang termasuk apa yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu..sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mukmin. Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang Kami wajibkan kepada mereka tentang istri-istri mereka dan apa yang tangan kananmu miliki (wa ma malakat aymaanuhum) supaya tidak menjadi kesempitan bagimu" [Al Azhab 33:50]
Frase "ma" [apa] malakat [kepunyaan] aymankum [tangan kananmu] artinya adalah "apa tangan kananmu punyai". Menarik untuk diperhatikan adalah penggunaan kata "ma" bukan kata "min". Dalam Arab, ketika merujuk pada mahluk yang berpikir (contoh: manusia), kata yang digunakan adalah "min", artinya: "siapa (pun)" sedangkan "ma" lazimnya digunakan untuk menyebutkan benda-benda misal: pohon, binatang, batu. Serupa dengan penggunaan kata ganti orang ketiga dalam bahasa inggris "it", sehingga jika memang dimaksudkan hanya manusia, maka bahasa arab yang digunakan seharusnya adalah min malakat aymankum atau "Siapa (pun) tangan kananmu punyai".

Al-Qurtubi (w.1273) juga memperhatikan hal ini di tafsir Qur'annya di vol. 5, p.12. Ia nyatakan bahwa anggota ras manusia seharusnya di rujuk dengan "min" (siapa), di mana hanya "benda tak bergerak" atau "binatang buas" di rujuk dengan "ma" (apa). Sejumlah hadis menempatkan wanita dan binatang pada kategori yang sama. Musnad Ibn Hanbal (vol. 2, p. 2992), sebagai contoh, merekam Nabi mengatakan "Wanita, Anjing, dan keledai membatalkan Pria yang shalat" Malahan dalam Tafsir Qurtubi yang sama (vol.15, p.172), setelah meneliti hadis-hadis, Ia menulis, "Seorang wanita persamaannya adalah seperti domba-bahkan sapi atau unta-yang merupakan tunggangan" [Di sarikan dari tulisan Raymond Ibrahim, "Are Slave-Girls in Islam Equivalent to Animals?". Raymond Ibrahim adalah seoang imigran Koptik Mesir, yang fasih Arab dan Inggris, Spesialis bahasa Arab untuk Seksi Timur jauh pada "the Library of Congress"].

Jadi dalam ayat di atas, "kepunyaannya mereka" adalah merujuk bahwa menggauli wanita hasil tangkapannya yang resmi dengan hak kepemilikannya sebagai budak.
    Nabi tidak menyarankan coitus interruptus [Mencabut penis sebelum ejakulasi, untuk mencegah kehamilan], ketika menggauli budak hasil perang, karena tidak ada jiwa yg ditakdirkan ada kecuali Allah yang ciptakan [Bukhari 8.77.600, 7.62.137]. Nabi memperbolehkan melakukan hubungan badan dengan tawanan tanpa coitus interruptus [Muslim 8.3371]. Nabi memperbolehkan menggauli tawanan hasil perang jika telah selesai mens atau melahirkan [Muslim 8.3432-33].

    Dari hasil perolehan di Hunayn, Nabi membagikan Menantunya Ali seorang Budak Wanita bernama Baytab dan Nabi juga membagikan Usman seorang budak wanita bernama Zaynab dan juga Umar [Ishaq:593]

    ‘Aku memasuki Mesjid, melihat Abu, duduk disebelahnya dan berbincang mengenai Sex. Abu Said berkata ‘Kami pergi bersama Nabi dan kami memperoleh budak-budak wanita diantara hasil tangkapan/jarahan. Kami mengiginkan wanita-wanita itu dan kami suka sekali menyetubuhi mereka.[Bukhari 5.59.459]

    Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri, Ia berkata:
    Kami berperang bersama Rasulullah saw. melawan Bani Musthaliq lalu kami berhasil menawan beberapa wanita Arab yang cantik. Kami sudah lama tidak berhubungan dengan istri, maka kami ingin sekali menebus mereka sehingga kami dapat menikahi mereka secara mut`ah dan melakukan `azal (mengeluarkan sperma di luar kemaluan untuk menghindari kehamilan). Kami berkata: Kami melakukan demikian sedang Rasulullah berada di tengah-tengah kami tanpa kami tanyakan tentang hal tersebut. Lalu kami tanyakan juga kepada beliau dan beliau bersabda: Tidak apa-apa untuk tidak melakukan itu karena tidak ada satu jiwa pun yang telah Allah tentukan untuk tercipta sampai hari kiamat kecuali pasti akan terjadi. [Sahih Muslim No.2599]

    Jabir berkata:
    Kami melakukan 'azl pada zaman Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam dan al-Qur'an masih diturunkan, jika ia merupakan sesuatu yang dilarang, niscaya al-Qur'an melarangnya pada kami. Muttafaq Alaihi (Bukhari dan Muslim). Menurut riwayat Muslim: Hal itu sampai kepada Nabi SAW dan beliau tidak melarangnya pada kami.

    Hadis riwayat Jabir ra., ia berkata:
    Kami tetap melakukan `azl di lakukan saat Alquran masih turun. Ishaq menambahkan: Sufyan berkata: Kalau ada sesuatu yang terlarang pasti Alquran telah melarang hal tersebut. [Sahih Muslim No.2608]
Keistimewaan yang diberikan Allah SWT kepada hambanya yang saleh adalah menyetubuhi yang dapat dilakukan dengan cara apapun yang mereka sukai bahkan di dubur sekalipun (bukan dalam artian doggy style). .
    Riwayat Abu Nu'aim - Sufyan - Ibnu Al Munkadir - Jabir berkata:
    Orang Yahudi berkata apabila seorang menggauli istri di belakang nya (مِنْ وَرَائِهَا, min waraa'ihaa), maka anaknya akan bermata juling. Lalu turunlah ayat ‘Isteri-isterimu adalah tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki' (Al Baqarah 2:223) [Bukhari 4.60.51/no.4164]. (kemungkinan kisah dan turunnya ayat adalah disekitar permulaan tahun Hijriah)

    Riwayat Qutaibah bin Sa'id dan Abu Bakar bin Abi Syaibah serta Amru An Naqid, lafazhnya dari Abu Bakar - Sufyan - Ibnu Al Munkadir - Jabir berkata:
    Orang-orang yahudi berkata Jika seorang lelaki menyetubuhi isteri di terima dari/di anus (مِنْ دُبُرِهَا فِي قُبُلِهَا, Min Duburiha Fii Qubuliha), maka anaknya akan terlahir cacat matanya (juling). Lalu turunlah ayat: Istri-istrimu adalah..tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. [Muslim no. 2592. Juga di Darimi no. 2117 (riwayat Khalid bin Makhlad- Malik dari Muhammad bin Al Munkadir - Jabir bin Abdullah).

    Note:

    Arti dubur = belakang, anus. Qubul = depan, masuk/terima. Contoh: min duburin = di belakang (AQ 12.25, 12.27), min qubulin = di depan (AQ 12.26), contoh lain terjemahan qubul dalam fiqh muamalah tentang makna al wadiaah: "memberikan harta untuk di jaganya dan pada/di penerimanya" (itha’u al-mal liyahfadzahu wa fi qubuliha). Penis = zakar, Vagina = Fajr. contoh: dari depan (muqbilatan ) dan dari belakang (wa mudbiraatin) di vagina (fi al fajr)]

    Riwayat Muhammad bin Rumh bin Al Muhajir - Al Laits - Ibnu Al Hadi - Abu Hazim - Muhammad bin Al Munkadir - Jabir bin Abdullah:
    Orang-orang yahudi berkata Jika pria mengauli istri di terima dari/di anus (مِنْ دُبُرِهَا فِي قُبُلِهَا, Min Duburiha Fii Qubuliha), saat melahirkan, anaknya juling. (Jabir) berkata; Maka turunlah ayat; "Isteri-isteri kalian adalah tempat bercocok tanam bagi kalian, maka datangilah tempat bercocok tanam kalian dari mana saja kalian kehendaki." Riwayat Qutaibah bin Sa'id - Abu 'Awanah. Riwayat Abdul Warits bin Abdush Shamad - ayahku - kakekku - Ayyub. Riwayat Muhammad bin Al Mutsanna - Wahb bin Jarir - Syu'bah. Riwayat Muhammad bin Al Mutsanna -Abdurrahman - Sufyan. Riwayat'Ubaidullah bin Sa'id - Harun bin Abdullah serta Abu Ma'n Ar Raqasyi - Wahb bin Jarir - ayahku - Nu'man bin Rasyid - Az Zuhri. Riwayat Sulaiman bin Ma'bad - Mu'alla bin Asad - Abdul Aziz (dia adalah Ibnu Muhtar) - Suhail bin Abi Shalih, mereka semua ini dari Muhammad bin Al Munkadir - Jabir dengan hadits ini, dan di hadisnya Nu'man ada tambahan dari Az Zuhri; "Jika ia kehendaki dari belakang dan jika ia kehendaki dari depan namun pada satu lubang (in shaa'a mujabbiyatan wa-in shaa'a ghayr mujabbiyatan, ghayr anna dhaalika fii simaam waahid)" [muslim no.2593]

    Riwayat Ibnu Abu Umar - Sufyan - Ibnu Al Munkadir - Jabir:
    Orang-orang Yahudi berkata "Barangsiapa menggauli istri di terima dari/di anus (مِنْ دُبُرِهَا فِي قُبُلِهَا, Min Duburiha Fii Qubuliha), maka anaknya akan juling. Lalu turunlah ayat: "Isteri-isterimu adalah...kalian kehendaki(AQ 2.223). Abu Isa berkata; Hadits ini hasan shahih.[Tirmidhi no. 2904. Juga di Ibn Majjah no. 1915 (riwayat Sahl bin Abu Sahl dan Jamil bin Al Hasan - Sufyan bin Uyainah - Muhammad bin Al Munkadir - Jabir bin Abdullah). Di Tirmidhi no.2905 (riwayat Muhammad bin Basyar - Abdurrahman bin Mahdi - Sufyan - Ibnu Khutsaim - Ibnu Sabith - Hafshah binti Abdurrahman - Ummu Salamah dari Nabi SAW tentang firman Allah: "Isteri-isterimu adalah..kamu kehendaki." (AQ 2.223) yaitu shimam waahid (satu lubang)." Abu Isa: Hadits ini hasan shahih. (tidak ada kata vagina ataupun anus sebagai penegasan kalimat satu lubang yang dimaksud)].

    Riwayat Affan - Wuhaib - Abdullah bin Utsman bin Khutsaim - Abdurrahman bin Sabit: saya menemui Hafshah binti Abdurrahman, saya berkata; "Sesungguhnya aku ingin bertanya kepadamu mengenai suatu perkara, tapi aku malu untuk menanyakannya kepadamu." Ia berkata; "Wahai keponakanku! jangan engkau malu." Ia bertanya; "Mengenai menggauli wanita dari dubur-dubur mereka (fii adbaarihinna)" Ia menjawab; "Telah menceritakan kepadaku Ummu Salamah bahwa orang-orang Anshar tidak suka menggauli isterinya dari belakang. Orang-orang Yahudi mengatakan; 'Sesungguhnya orang yang menggauli isterinya dari belakangnya maka anaknya akan juling. Lalu tatkala orang-orang Muhajirin datang ke Madinah dan mereka menikahi wanita-wanita Anshar, mereka ingin menggauli para isterinya dari belakang, tapi isterinya menolak untuk mentaati suaminya. Lantas ia berkata kepada suaminya; 'Engkau jangan melakukan hal itu hingga aku datang kepada Rasulullah SAW.' Ia pun lantas menemui Ummu Salamah dan menceritakan hal itu kepadanya.ia berkata; 'Duduklah hingga Rasulullah SAW datang.' Ketika Rasulullah SAW datang, wanita anshar tersebut malu untuk bertanya kepadanya. ia pun lantas keluar dan Ummu Salamah menceritakannya kepada Rasulullah SAW. Beliau lantas bersabda: "Panggilkan wanita Anshar tersebut." Ia pun dipanggil dan beliau membacakan kepadanya ayat berikut ini: NISA UKUM HARTSUL LAKUM FA'TU HARTSAKUM ANNA SYI'TUM (Para isteri kalian adalah lahan-lahan kalian, maka datangilah lahan kalian sesuka kalian) tapi dari lobang yang satu." [Ahmad no.25387]

    Riwayat Ishaq - An Nadlr bin Syumail - Ibnu Aun - Nafi':
    kapanpun Ibn 'Umar melafalkan Qur'an, dia tidak berbicara kepada siapapun sampai selesai melafalkan. Suatu saat dia memegang Qur'an dan melafalkan Surat al-Baqara dari ingatannya dan kemudian berhenti pada ayat tertentu dan berkata, "Apakah kau tahu dalam hubungan apa ayat ini diturunkan?". Aku menjawab, "Tidak". Ia berkata, "Ini turun berkenaan dengan ini dan itu." kemudian dia pergi. Dan dari Abdus Shamad - ayahku - Ayyub - Nafi - Ibnu Umar mengenai ayat: "maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki" (AQ 2.223) Ibn 'Umar berkata, "Ini berarti suami harusnya melakukan seks dengan istri-istrinya melalui..." (وَعَنْ عَبْدِ الصَّمَدِ، حَدَّثَنِي أَبِي، حَدَّثَنِي أَيُّوبُ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، ‏{‏فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ‏}‏ قَالَ يَأْتِيهَا فِي‏.‏). Riwayat Muhammad bin Yahyan bin Sa'id - Bapaknya - Ubaidullah - Nafi - Ibnu Umar. [Bukhari 6.60.50/no. 4163 (Terjemahan indonesia di kitab 9 hadis, menambahkan kata "kemaluan", padahal kata itu tidak ada pada kalimat arab di dalam kurung di atas)]

    Mengapa kalimat di atas bukan "doggy style" namun "anal seks"?

    TABARI merekam apa "ini dan itu" yang tertulis di hadis bukhari diatas, yaitu "ini turun berkenaan dengan melakukan hubungan seksual dengan para wanita melalui anus (nazalatfi ityan al—nisa' fi adharihinna)"

    Di tafsirnya untuk AQ 2.223, Tabari menyatakan sebagai berikut:

    3464 - حَدَّثَنِي يَعْقُوب , قَالَ : ثنا هُشَيْم , قَالَ : أَخْبَرَنَا ابْن عَوْن , عَنْ نَافِع , قَالَ : كَانَ ابْن عُمَر إذَا قُرِئَ الْقُرْآن لَمْ يَتَكَلَّم , قَالَ : فَقَرَأَتْ ذَات يَوْم هَذِهِ الْآيَة : { نِسَاؤُكُمْ حَرْث لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ } فَقَالَ : أَتَدْرِي فِيمَنْ نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَة ؟ قُلْت : لَا , قَالَ : نَزَلَتْ فِي إتْيَان النِّسَاء فِي أَدْبَارهنَّ .
    [Yaqub - Hushaym - Ibn A’wn - Nafi’ menyampaikan kapanpun Ibn 'Umar melafalkan Qur'an, dia tidak berbicara kepada siapapun, tapi suatu hari aku lafalkan ayat ini, "Isteri-isterimu adalah tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki" (Sura 2:223). Maka Ia (Umar) berkata, "Apakah kau tahu dalam hubungan apa ayat ini diturunkan?". Aku menjawab, "Tidak". Ia berkata, "Ayat ini turun tentang menggauli perempuan di dubur ("فِي أَدْبَارهنَّ", fii ad-baarihinna) mereka"]

    * - حَدَّثَنِي إبْرَاهِيم بْن عَبْد اللَّه بْن مُسْلِم أَبُو مُسْلِم , قَالَ : ثنا أَبُو عُمَر الضَّرِير , قَالَ : ثنا إسْمَاعِيل بْن إبْرَاهِيم , صَاحِب الْكَرَابِيسِيّ , عَنْ ابْن عَوْن , عَنْ نَافِع , قَالَ : كُنْت أُمْسِك عَلَى ابْن عُمَر الْمُصْحَف , إذْ تَلَا هَذِهِ الْآيَة : { نِسَاؤُكُمْ حَرْث لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ } فَقَالَ : أَنْ يَأْتِيهَا فِي دُبُرهَا . [Ibrahim bin Abdullah bin Muslim Abu Muslim - Abu Umar Al-Dariri - Ismail bin Ibrahim (pemilik dari) Al-Karabisi - Ibn A’wn - Nafi’ berkata, “Aku sering bertanya pada Ibn Umar setiap kali dia membaca ayat Qur’an yang berbunyi, "Isteri-isterimu adalah tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki" (Sura 2:223). Katanya: ‘menggauli perempuan di dubur nya ("فِي دُبُرهَا", fii duburihaa).”]

    3465 - حَدَّثَنِي عَبْد الرَّحْمَن بْن عَبْد اللَّه بْن عَبْد الْحَكَم , قَالَ : ثنا عَبْد الْمَلِك بْن مَسْلَمَةَ , قَالَ : ثنا الدَّرَاوَرْدِيّ , قَالَ : قِيلَ لِزَيْدِ بْن أَسْلَم : إنَّ مُحَمَّد بْن الْمُنْكَدِر يَنْهَى عَنْ إتْيَان النِّسَاء فِي أَدْبَارهنَّ فَقَالَ زَيْد : أَشْهَد عَلَى مُحَمَّد لَأَخْبَرَنِي أَنَّهُ يَفْعَلهُ .
    [Abdur-Rahman bin Abdullah bin Abdul-Hakam - Abdul-Malik bin Maslama - Al Darawardi yang berkata bahwa ini sehubungan dengan Zayd bin Aslam yang menyatakan bahwa Muhammad bin Al-Munkadir sering melarang menggauli perempuan pada anusnya. Zayd menjawab, "Aku bersaksi terhadap Muhammad Ia menyatakan padaku bahwa Ia melakukan itu"]

    3466 - حَدَّثَنِي عَبْد الرَّحْمَن بْن عَبْد اللَّه بْن عَبْد الْحَكَم , قَالَ : ثنا أَبُو زَيْد عَبْد الرَّحْمَن بْن أَحْمَد بْن أَبِي الْغِمْر , قَالَ : ثني عَبْد الرَّحْمَن بْن الْقَاسِم , عَنْ مَالِك بْن أَنَس , أَنَّهُ قِيلَ لَهُ : يَا أَبَا عَبْد اللَّه إنَّ النَّاس يَرْوُونَ عَنْ سَالِم : " وَكَذَبَ الْعَبْد أَوْ الْعِلْج عَلَى أَبِي " , فَقَالَ مَالِك : أَشْهَد عَلَى يَزِيد بْن رُومَان أَنَّهُ أَخْبَرَنِي , عَنْ سَالِم بْن عَبْد اللَّه , عَنْ ابْن عُمَر مِثْل مَا قَالَ نَافِع .
    [Abdur-Rahman bin Abdullah bin Abd al-Hakam - Abu Zaid Abdul-Rahman bin Ahmad - Abdur-Rahman bin Qasim, Malik bin Anas berkata kepadanya: Wahai Abu Abdullah bahwa orang-orang berkata tentang Salim: "budak mereka dusta atau therapi pada ayahku" kata pemilik (Malik): "Aku bersaksi bahwa Yazid bin Roman meriwayatkan padaku, Salim bin Abdullah dari Ibn Umar seperti yang nafi riwayatkan"].

    فَقِيلَ لَهُ : إنَّ الْحَارِث بْن يَعْقُوب يَرْوِي عَنْ أَبِي الْحُبَابِ سَعِيد بْن يَسَار أَنَّهُ سَأَلَ ابْن عُمَر , فَقَالَ لَهُ : يَا أَبَا عَبْد الرَّحْمَن إنَّا نَشْتَرِي الْجَوَارِي , فَنُحَمِّض لَهُنَّ ؟ فَقَالَ : وَمَا التَّحْمِيض ؟ قَالَ : الدُّبُر فَقَالَ ابْن عُمَر : أُفّ أُفّ , يَفْعَل ذَلِكَ مُؤْمِن ؟ أَوْ قَالَ مُسْلِم . فَقَالَ مَالِك : أَشْهَد عَلَى رَبِيعَة لَأَخْبَرَنِي عَنْ أَبِي الْحُبَابِ عَنْ ابْن عُمَر مِثْل مَا قَالَ نَافِع
    [Al-Harith ibn Yaqub - Abu Hubab Sa’id ibn Yassar bahwa ia bertanya pada Ibn Umar, "Hai Abu Abdul Rahman! Kita membeli budak wanita muda, sehingga kita boleh melakukan "tahmidh/Nahmid' dengan mereka?”. Ibn Umar menjawab, "Apa maksudnya dengan ‘tamidh/Nahmid'?". Ia menjawab, "menggauli di dubur.". Ibn Umar menjawab, "Wow, wow! Apakah Muslim lakukan itu?". Malik mengatakan: "Aku bersaksi bahwa Rabia meriwayatkan padaku dari Abi al-Habaab dari Ibn Umar seperti yang nafi riwayatkan”]

    3468 - حَدَّثَنِي أَبُو قِلَابَةَ قَالَ : ثنا عَبْد الصَّمَد , قَالَ : ثني أَبِي , عَنْ أَيُّوب , عَنْ نَافِع , عَنْ ابْن عُمَر : { فَأْتُوا حَرْثكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ } قَالَ : فِي الدُّبُر
    [Abu Kilaba - Abdel Samad - ayahnya - Ayub - Nafi’ - Ibn Umar berkata bahwa "Isteri-isterimu adalah tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki" (Sura 2:223). Berkata: sehubungan dengan dubur ("فِي الدُّبُر", fii aldubur)]
Ibn kathir dalam tafsirnya di AQ 2.223 termasuk yang tidak mendukung anal seks dengan istri. Beliau juga menyajikan hadis riwayat Abu Hubab Sa’id ibn Yassar (seperti hadis TABARI di atas, namun berhenti sampai pada kalimat "Wow, wow! Apakah Muslim lakukan itu?"), Ia menyatakan hadis ini punya rantai perawi yang otentik dan merupakan penolakan eksplisit anal seks oleh Ibn `Umar.

Namun masalahnya,
Pendapat Ibn kathir yang mengatakan Ibn Umar menolak anal seks adalah KELIRU karena bahkan Ibn Abbas saja secara eksplisit menyatakan Ibn Umar pendukung anal seks dan malah Ibn Abbas sendiri menuduh Ibn Umar sudah keliru menafsirkan:
    Riwayat Abdul Aziz bin Yahya Abu Al Ashbagh - Muhammad bin Salamah - Muhammad bin Ishaq - Aban bin Shalih bin 'Umair bin 'Ubaid - Mujahid - Ibnu Abbas: sesungguhnya Ibnu Umar telah melakukan suatu kesalahan... Sesungguhnya terdapat sebuah kampung anshar yang merupakan para penyembah berhala, hidup bersama kampung yahudi yang merupakan ahli kitab. Dan mereka memandang bahwa orang-orang yahudi memiliki keutamaan atas mereka dalam hal ilmu. Dan mereka mengikuti kebanyakan perbuatan orang-orang yahudi. Diantara keadaan ahli kitab adalah bahwa mereka tidak menggauli isteri mereka kecuali dengan satu cara, dan hal tersebut lebih menjaga rasa malu seorang wanita. Dan orang-orang anshar ini mengikuti perbuatan mereka dalam hal tersebut. Sementara orang-orang Quraisy menggauli isteri-isteri mereka dengan cara yang mereka ingkari, orang-orang Quraisy menggauli dalam keadaan menghadap dan membelakangi serta dalam keadaan terlentang. Kemudian tatkala orang-orang muhajirin datang ke Madinah, seorang diantara mereka menikahi seorang wanita anshar. Kemudian melakukan hal tersebut. Wanita anshar tersebut mengingkarinya dan berkata; sesungguhnya kami didatangi dengan satu cara, maka lakukan hal tersebut, jika tidak maka jauhilah aku! Hingga tersebar permasalahan mereka, dan hal tersebut sampai kepada Rasulullah SAW. kemudian Allah 'azza wajalla menurunkan AQ 2.223 Yakni dalam keadaan menghadap, membelakangi dan terlentang, yaitu pada tempat diperolehnya anak (farj). [Abu Dawud no. 1849]
Hadis ini menunjukan beberapa hal:
  • Ibn Umar terlihat jelas Ia tidak menolak anal seks.
  • Ini membuktikan juga bahwa Nafi memang tidak berdusta meriwayatkan di hadisnya
  • Kalimat setelah quran 2.223, yang menggunakan kata "farj" merupakan pendapat pribadi Ibn Abbas dan bukan perkataan Muhammad SAW dan/atau Allah SWT.
  • Ibn Kathir jelas terbukti keliru pada pendapat tentang Ibn Umar.
  • Sayangnya hadis Abu Dawud no.1849 ini terdapat perawi bermasalah yaitu Aban bin Shalih bin 'Umair bin 'Ubaid. Ibnu Abdil Barr mengatakan bahwa ia: Dhaif. Ibnu Hajar al 'Asqalani menyatakan: walau ditsiqahkan para ulama, Ibnu Hazm ragu-ragu sehingga memajhulkannya, dan Ibnu abdil Barr mendla'ifkannya"
Kemudian,
Beberapa kitab pengumpul hadis mencantumkan hadis tentang larangan anal seks namun jika diperhatikan lebih detail ternyata larangan tersebut adalah lemah. Misalnya ini diulas di "Narratives on the Prohibition of Anal Sex" dan tafsir Durre Mansoor, Jalaluddin Al-Suyuti, Jild 1, hal 684-692, yang menyampaikan bahwa sekurangnya 20 hadis larangn anal sex adalah lemah. Mari kita coba elaborasi kelemahan narasi dan perawi hadis-hadis yang memuat larangan anal sex:
  • Riwayat 'Abd bin Humaid - Al Hasan bin Musa - Ya'qub bin Abdullah Al Asy'ari (Ya'qub Al Qummi) - Ja'far bin Abu Al Mughirah - Sa'id bin Jubair - Ibnu Abbas:
    "Umar datang menemui Rasulullah SAW, berkata; "Wahai Rasulullah, binasalah aku." Beliau bertanya: "Apa yang membinasakanmu?" Umar berkata; "Aku mengalihkan tungganganku tadi malam." Namun Rasulullah SAW tidak menanggapi apa pun, kemudian turunlah ayat (AQ 2.223), menghadaplah ke depan atau belakang, dan jauhi dubur dan haid." Abu Isa berkata; Hadits ini hasan gharib.

    [Tirmidhi no. 2906. Juga Ahmad no.2569 (Riwayat Ya'qub Al Qummi - Ja'far - Sa'id bin Jubair - Ibnu Abbas)]

    -> Perawi yang bermasalah di hadis ini adalah Ya'qub bin Abdullah Al Asy'ari (Ya'qub Al Qummi), Al Zahabiy di "Meezaan al-Ai`tidaal" mengutip Al-Darqutniy, yang berkata: Ia PERAWI yang TIDAK KUAT (dalam hal reliabilitas atau laisa bi qowi').

    Untuk perawi Ja`far bin abu al Mughirah meriwayatkan dari Sa`id bin Jubair",
    Al-Zahabiy mengutip Ibn Mundah yang berkata: Ia bukan perawi yang kuat (dalam hal realibilitas) jika menyangkut Sa'id Ibn Jubair.

  • Riwayat Ahmad bin Mani' dan Hannad - Abu Mu'awiyah - 'Ashim Al Ahwal (`Asim bin Sulaiman) - Isa bin Hithan - Muslim bin Sallam - Ali bin Thalq:
    "..Rasulullah SAW bersabda: 'Jika salah seorang dari kalian membuang angin, maka berwudlu'lah. Janganlah kalian menyetubuhi wanita melalui duburnya. Allah tidak malu terhadap yang haq'."

    Abu Isa berkata; "Hadits semakna diriwayatkan dari Umar, Khuzaimah bin Tsabit, Ibnu Abbas dan Abu Hurairah." Dia menambahkan; "Ini adalah hadits hasan. Saya mendengar Muhammad berkata; 'Aku tidak mengetahui hadits ini dari Ali bin Thalq - Nabi SAW. Aku juga tidak mengetahui hadits ini termasuk dari hadits Thalq bin Ali As Suhaimi. Muhammad melihat bahwa orang yang dimaksud adalah orang lain, yang termasuk sahabat Nabi SAW. Waki' juga meriwayatkan hadits ini."

    [Timirdhi no.1084, juga di Darimi no.1121 ('Ashim Al Ahwal - 'Isa bin Hiththan - Muslim bin sallam - Ali bin Thalq - Muhammad SAW). Juga di Ahmad no.620 (Riwayat Waki' - Abdul Malik Bin Muslim - bapaknya (Muslim bin Salam) - Ali). Juga di Ibn Majjah no.1914 (riwayat Ahmad bin Abdah - Abdul Wahid bin Ziyad dari Hajjaj bin Arthah dari Amru bin Syu'aib - Abdullah bin Harami - Khuzaimah bin Tsabit - Rasulullah SAW).

    Narasi:
    "Allah tidak malu dari kebenaran, janganlah kalian menggauli istri-istri didubur mereka" dari riwayat dari Khuzaimah bin tsabit, di record imam Ahmad di 4 hadis, yaitu:

    Ahmad no.20852 (Riwayat Abu Mu'awiyah - Hajjaj bin Arthah bin Tsaur dari Amru bin Syu'aib - Harami bin Abdullah - Khuzaimah bin Tsabit Al Absi - Rasulullah SAW);
    Ahmad no. 20855 (Riwayat Sufyan bin Uyainah - Yazid bin Abdullah bin Al Had - Umarah bin Khuzaimah - ayahnya (Khuzaimah bin Tsabit) - Rasulullah SAW);
    Ahmad no. 20848 (Riwayat 'Abdur Rahman - Sufyan bin Sa'id bin Masruq - Abdullah bin Syaddad Al A'raj - seseorang - Khuzaimah bin Tsabit - Rasulullah SAW)) dan
    Ahmad no.20869 (Riwayat Ya'qub bin Ibrahim bin Sa'ad - Bapakku (Ibrahim bin Sa'ad bin Ibrahim bin 'Abdur Rahman) - Yazid bin Adullah bin Al Had - Ubaidillah bin Al Husain - Harami bin Abdullah - Khuzaimah bin Tsabit - Rasulullah SAW). Juga di Darimi no.2116 (Riwayat Ubaidullah bin Al Husain - Abdul Malik bin 'Amr bin Qais Al Khathmi - Harami bin Abdullah - Khuzaimah bin Tsabit - Rasulullah SAW).]

    -> Di samping laporan Abu Isa di atas,
    Perawi yang bermasalah adalah Abu Mu'awiyah yang menyampaikan dari `Asim Al-Ahwal. Al-Zahabiy di "Meezaan al-Ai`tidaal" menuliskan Ibn Kharraash berkata: Ketika Abu Mu`awiyah menyampaikan dari Al-A`mash, Ia dapat dipercaya dan ketika ia menyampaikan dari yang lain selain Al- A' Mash, ia tidak terlalu dapat dipercaya. Dalam cara yang sama, Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata bahwa ia mendengar ayahnya (Ahmad bin Hanbal) berkata: Abu Mu`awiyah tidak dapat dipercaya jika menyampaikan dari orang selain Al-A`mash. Ia tidak mengingat penyampaian ini dengan baik.

    Untuk perawi 'Ashim Al Ahwal (`Asim bin Sulaiman).
    Al-Zahabiy, di bukunya menuliskan Hammad berkata: Aku diberitahu Humaid bahw `Asim menyampaikan dari Humaid dengan narasi ini dan itu. Humaid bahkan TIDAK TAHU/TIDAK KENAL dengan `Asim. Yahya al-Qattaan berkata: `Asim bukan seorang haafiz. Abd al-Rahmaan ibn al-Mubarak - ibn `ulayyah berkata: Setiap orang dengan nama `Ashim [perawi-perawi dari hadis] punya masalah dengan ingatannya. Abu Ahmad Al-Haakim berkata bahwa dalam pandangannya 'Ashim bukan seorang haafiz dan Ibn Idris TIDAK MENERIMA narasinya karena lemah ingatannya dan karena apapun menjadi salah dengan karakternya.

    Untuk perawi Hajjaj bin Arthah.
    Yahya bin Ma'in menyatakan ia: Shadug, laisa bi qowi (tidak kuat/tidak dapat di andalkan) dan Mudallis (sering/pernah melakukan tadlis (penipuan) termasuk kategori mengelabui, di hadis ini ia tidak mendengar (sima) tapi "An" (dari)). Abu Zur'ah Arrazy dan Abu Hatim Ar Rozy menyataan ia Shaduuq, Yudallis (sering melakukan tadlis). Ibnu Hajar al 'Asqalani menyatakan ia Shaddug banyak salah, yudalis (sering melakukan tadlis) dan ahli fiqh. Al-Zahabiy, di "Meezaan al-Ai`tidaal" mengutip Ibn Mu`in mengatakan Ia tidak tidak terlalu kuat [dalam reliabilitas] Ia tulus namun kerap keliru mengalamatkan narasi pada orang. Yahya ibn Ya`laa pernah berkata bahwa Zayidah memerintahkan kami untuk mengabaikan narasi dari Hajjaj ibn Artaah. Al-Nassai berkata Ia lemah [dalam reliabilitas]. Al-Darqutniy berkata bahwa Ia BUKAN digunakan sebagai BUKTI [perkataan Nabi].

    Untuk perawi Amru bin Syu'aib.
    Al-Zahabiy di "Meezaan al-Ai`tidaal" menuliskan `Ubaid al-Aajiriy mengatakan bahwa Abu Dawud pernah ditanya apakah narasi dari Amru bin Syu`aib yang menyampaikan dari ayahnya dari kakeknya dapat digunakan sebagai bukti [Perkataan Nabi]. Ia [Abu Dawud] menjawab: TIDAK, bahkan tidak untuk 1/2nya. Ali berkata bahwa Yahya al-Qattaan berkata bahwa kami berpendirian hadis yang disampaikan Amru bi Syu'aib TIDAK PENTING.

    Untuk perawi Abdul Malik bin Muslim.
    Ibn Hajar di "Tehzeeb al-Tehzeeb" mengutip Ibn Abd al-Burr di buku "al-Istee`aab", komentar Amr bin Maimun al-Awadiy berkata: Abdul Malik bin Muslim dan `Isa bin Hittaan adalah BUKAN termasuk mereka yang narasinya dapat dijadikan BUKTI [perkataan aktual Nabi].

    Untuk perawi Abdullah bin Harami,
    Ibn Hajar, di "Tehzeeb al-Tehzeeb" menuliskan: Abdullah bin Harami menyampaikan 1 hadis dari Khuzaimah bin Thabit tentang larangan memasuki anus perempuan. Dan disitu banyak kelemahan dari rantai perawi hadis ini

    Hadis dari Khuzaimah di koleksi Imam Ahmad,
    Seharusnya merupakan hadis yang baik jika hanya ada di jalur perawi (Sufyan bin Uyainah - Yazid bin Abdullah bin Al Had), namun tampaknya Yazid tidak benar menerima langsung dari Umarah bin khuzaimah tapi dari (Ubaidillah bin Al Husain - Harami bin Abdullah) (lihat perbandingan dua jalur dari perawi dari Yazid bin Abdullah bin Al Had di atas). Posisi ini meragukan, untuk itu mari kita tinjau lebih lanjut.

    Untuk perawi Ubaidillah bin Al Husain,
    Ibn Hajjar mengatakan: fihi layyin (lemah). Al Bukhari menyatakan: fi haditsihi naadlr.

    Ibnu Hajar mengutip Al-Bazzaar bahwa ia tidak tahu di bab ini hadis sahih baik itu pelarangannya maupun kemutlakannya, dan hadits Khuzaimah bin Tsabit tidaklah sahih [At-Talkhiish al-Habiir Fii Takhriij Ahaadiits ar-Raafi’iy al-Kabiir, 3/387-388]. Asy-Syafi’: Sufyan keliru pada hadis bin al-Had [As-Sunan Al-Kubra, 7/197. Juga: At-Talkhish, 3/387]. Abu Hatim: Ibnu Uyainah keliru menyampaikan sanad hadis, yang benar adalah bin Al Had - ‘Ali bin ‘Abdilah bin As-Saa’ib - Harami - Khuzaimah - Nabi SAW [Al-‘Ilal, 1/403].

    Untuk perawi Abdullah bin Syaddad Al A'raj
    Ibnul Qaththan menyatakan:  majhulul hal (Tidak dikenal, tidak diketahui sifat dan latar belakang, baik ketaqwaan dan pengetahuannya)

  • Riwayat Qutaibah dan yang lainnya - Waki' - Abdul Malik bin Muslim yaitu Ibnu Sallam - Bapaknya - Ali (Ibn Isa: Ali bin Thalq): Rasulullah SAW bersabda:
    "Jika salah seorang dari kalian buang angin (kentut), maka berwudhulah, dan janganlah kalian menggauli isteri kalian dari dubur mereka." [Timirdhi no.1085]

    -> Perawi yang bermasalah di hadis itu adalah Abdul Malik bin Muslim, tentangnya lihat di atas.

  • Riwayat Abu Sa'id Al Asyaj - Abu Khalid Al Ahmar (Sulaiman bin Hayyan) - Al Dhahhaak bin 'Utsman bin Abdullah bin Khalid - Makhramah bin Sulaiman - Kuraib - Ibnu Abbas: Rasulullah SAW bersabda:
    "Allah tidak akan melihat seorang lelaki yang menyetubuhi lelaki lain atau wanita dari duburnya." Abu Isa berkata; "Ini merupakan hadits hasan gharib."

    [Tirmidhi no.1086. Juga hadis yang diriwayatkan dari jalur Suhail bin Abu Shalih - Ibnul Harits bin Makhlad - Abu Hurairah - Nabi SAW di Ibn Majjah no.1913, Ahmad no. 7359, 8176, Darimi no. 1120, dll]

    -> Perawi yang bermasalah di hadis itu adalah Abu Khalid Al Ahmar (Sulaiman bin Hayyan). Ibn Hajar, di "Tehzeeb al-Tehzeeb" menuliskan Ibn `Adiy berkata bahwa Abu Khalid al-Ahmar menyampaikan sejumlah hadis baik dan karena ingatannya lemah ia juga melakukan banyak kesalahan dan kekeliruan. Ia sebenarnya, seperti Ibn Mu`in katakan, seorang yang tulus namun ia BUKAN sebuah BUKTI [perkataan dari nabi].

    Untuk perawi Al Dhahhaak bin 'Utsman bin Abdullah bin Khalid.
    Ibn Hajar: Ibn Abd al-Burr berkata ia sering membuat kesalahan, ia BUKAN bukti [dari perkataan nabi] dan Abu Zur`ah berkata Ia bukan perawi yang dapat dipercaya dan Abu Haatim berkata: Laporannya bukan BUKTI (perkataan dari nabi)

    Untuk perawi Suhail bin Abu Shalih.
    Al-Zahabiy di "Meezaan al-Ai`tidaal" mengutip Abbas yang mengatakan bahwa Yahya berkata Suhail tidak dapat dipercaya untuk hadis dan hadis yang dinarasikan olehnya tidak cukup dapat diandalkan sebagai bukti (perkataan Nabi). Ibn Abu Khaithamah berkata: Aku mendengar Ibn Muin berkata bahwa para ulama hadis menjauhi narasi Suhail. Di suatu waktu ia berkata: Suhail Narator yang LEMAH.

    Untuk perawi Ibnul Harits bin Makhlad.
    Al-Zahabiy di "Meezaan al-Ai`tidaal" menyampakan Al Bazzar menyatakan: ia tidak dikenal. Ibnu Hajar al 'Asqalani dan Ibnul Qaththan menyatakan: Majhulul hal (Tidak dikenal, tidak diketahui sifat dan latar belakang, baik ketaqwaan dan pengetahuannya) meski Ibn Hibban memasukannya diantara orang yang dipercaya.

  • Riwayat Muhammad bin Basysyar bin 'Utsman - (Yahya bin Sa'id dan Abdurrahman bin Mahdi dan Bahza bin Asad) - Hammad bin Salamah - Hakim Al Atsram - Abu Tamimah Al Hujaimi - Abu Hurairah - Nabi SAW bersabda:
    "Barangsiapa menggauli wanita haid, atau menggauli wanita dari dubur, atau mendatangi dukun maka ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad SAW."

    Abu Isa berkata; "Kami tidak tahu hadits ini kecuali dari hadits Hakim Al Atsram - Abu Tamimah Al Hujaimi - Abu Hurairah. Dan hanyasanya makna hadits ini menurut ahli ilmu adalah sebagai pemberat saja. Telah diriwayatkan dari Nabi SAW bersabda: "Barangsiapa mensetubuhi wanita haid, hendaklah bersedekah dengan 1 dinar." Jika menyetubuhi wanita haid sebuah kekufuran, maka tidak akan diperintahkan bersedekah sebagai kafarahnya! Muhammad melemahkan hadits ini dari sisi sanadnya. Dan Abu Tamimah Al Hujaimi namanya adalah Tharif bin Mujalid."

    [Tirmidhi no.125. Narasi seperti ini dan dari jalur perawi Hakim Al atsram - Abu Tamimah Al Hujaima juga terdapat dalam kumpulan: Abu Dawud no.3405 (3904); An-Nasa-i al- Kubra (X/124); Ibnu Majah no.631 (639), Ahmad no.8922, 9779 (11/408, 476), Ibnul Jaaruud (107), al-Baihaqi (VI1/ 198), Darimi no.1116 dan lainnya]

    -> Selain dari Laporan Ibn Isa,
    Perawi yang bermasalah di sini adalah Hammad bin Salamah. Ibn Hajar di "Tehzeeb al-Tehzeeb" menuliskan Abu Bakar al-Bazzar berkata bahwa Hammad meriwayatkan dari Hakim al-Athram adalah hadis munkar.

    Untuk prawi Hakim Al Atsram, tabiin yang tidak bertemu sahabat nabi.
    Ibnu Hajar al 'Asqalani + Ibnul Qaththan mengatakan dirinya: Fiihi Layyin (lemah). Ibn Hajar di "Tehzeeb al-Tehzeeb" mengutip Bukhari yang berkata bahwa terdapat banyak ketidaksesuaian pada satu hadis Hakim al-Athram, yaitu satu riwayat dari abu Tamimah - Abu Hurairah. Kami tidak mengingat bahwa Abu Tamimah pernah mendengar apapun dari Abu Hurairah.

  • Riwayat Hannad - Waki' - Sufyan, - Suhail bin Abu Shalih - Al Harits bin Makhlad - Abu Hurairah - Rasulullah SAW bersabda:
    "Terlaknatlah (Terkutuklah), orang yang menggauli isterinya pada duburnya." [Abu Dawud no. 1847. Juga di Ahmad no. 9356, 9816]

    -> Perawi bermasalah dari hadis ini adalah Suhail bin Abu Shalih dan Al Harits bin Makhlad uraian tentang mereka lihat di atas.

  • Riwayat (Abdurrahman juga Abdush Shomad juga Abdullah - Hudbah) - Hammam - Qotadah - 'Amru bin Syu'aib - bapaknya - kakeknya - Nabi SAW bersabda: "Itu adalah luthiyah Shugro (liwat kecil, nisbah ke perbuatan kaum Luth)" yakni seorang lelaki yang menyetubuhi isterinya dari dubur." [Ahmad no. 6419, 6672, untuk no. 6673 terdapat tambahan kalimat: Hudbah bin Khalid bin Al Aswad bin Hudbah - Qotadah - 'Uqbah bin Wassaj - Abu Darda: "Tidak ada yang melakukannya kecuali orang kafir"]

    ->Perawi yang bermasalah di hadis ini adalah 'Amru bin Syu'aib uraian tentangnya lihat di atas. Perawi bermasalah lainnya adalah Hudbah bin Khalid bin Al Aswad bin Hudbah. Nasa'i menyatakan dirinya: Dhla'if (lemah)

  • Abu Nu'aim - Al Hasan bin Shalih - Laits - Mujahid: "Suami boleh mencumbui isteri dari depan atau belakang kecuali dubur dan tempat keluarnya darah haid". [Darimi no. 1025]. Prolemnya di hadis ini adalah pada perawi Laits bin Abi Sulaim bin Zunaim. Abu Zur'ah mengatakan: layyinul hadits. Abu Hatim Ar Rozy: mengatakan dla'iful hadits. Ahmad bin Hambal mengatakan: Mudoribul Hadits.

    Riwayat Al Mu'alla bin Asad - Abdul Wahid - Khushaif - Mujahid: "Dahulu mereka menjauhi para wanita di saat haid, dan menggauli mereka pada dubur-dubur mereka, lalu mereka bertanya kepada Rasulullah SAW, maka Allah SWT menurunkan ayat:: (AQ 2.222), yakni pada lubang kemaluannya dan janganlah kalian menyimpang darinya. [Darimi no. 1124]. Problemnya pada hadis ini adaah pada perawi Khushaif bin 'Abdur Rahman, Ahmad bin Hanbal mengatakan: dla'iful hadits. Ibnu Hajar al 'Asqalani + Adz Dzahabi mengatakan: shaduuq, jelek hafalannya.
Dari tinjauan di atas, tampak jelas hadis-hadis larangan anal seks adalah lemah dan bukan merupakan bukti perkataan dari Nabi dan Allah. [Untuk detail lainnya Lihat: "Preservation of Hadith: Salute to the Courage of Imam Tabari and Tirmidhi", "Analysis of Sahih Bukhari Narration on Anal Sex Permissibility" juga lihat: sodomi anal sex-dalam islam dan Ch 13: Nasibi propaganda relating to sexual ethics].

Perlu diketahui,
Quran menyampaikan dengan jelas bahwa Nabi Luth tahu persis bahwa kaumnya tidak menyukai perempuan dan senang melakukan sodomi dengan dubur (lelaki), sehingga dalam suatu kejadian mencegah bencana, Ia tawarkan anak-anak perempuannya untuk digunakan duburnya:
    Dan datanglah kepadanya kaumnya dengan bergegas-gegas. Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji. Luth berkata: "Hai kaumku, inilah puteri-puteriku, mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan ku terhadap tamuku ini. Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal?". Mereka menjawab: "Sesungguhnya kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan terhadap puteri-puterimu; dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki." [AQ 11.78-79]
Mengapa?

Karena di samping mempunyai vagina, para wanita juga mempunyai dubur, sehingga maksud luth menjadi sejalan dengan AQ 2.223, "Isteri-isterimu adalah tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki". Dalam Islam, Istri tidaklah boleh menolak ketika hendak digauli:
    Riwayat abu huraira:
    Rasul Allah berkata, "Jika seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidurnya (yaitu untuk berhubungan seksual) dan dia menolak dan menyebabkan suaminya tidur dalam kemarahan, para malaikat akan mengutukinya sampai pagi." [Bukhari 4.54.460]
Hal ini adalah senada sebagaimana disampaikan kaum syiah sebagaimana diriwayatkan Al-Hussain bin Ali bin Yaqteen:
    Aku bertanya pada Abul-Hassan tentang bolehnya pria menyodomi wanita², dia berkata: Sodomi itu halal dalam buku Allâh, ketika Nabi Lot berkata di 11:78 "Inilah putri²ku, mereka murni bagimu dan dia tahu bukan vagina putri²nya yang mereka kehendaki." [Tafseer al-Ayyashi, vol.1, p.157; Bihaar al-Anwaar vol.21, p.98; Tafseer al-Burhaan vol.2, p.230]
Setelah membaca semua yang di atas, maka anda pun akan sampai pada kesimpulan yang sama bahwa Islam tidak mempermasalahkan menggauli dubur wanita ketika bersetubuh.

Untuk mengetahui pandangan Islam terhadap ZINA, hukumannya, homoseksual, bestiality [persetubuhan dengan binatang], inses, perbandingan hukuman antara Zina VS Bestiality, perbedaan antara [Nikah Misyar dan Mut'ah] vs Zina, silakan lihat di artikel dengan judul, "SELANGKANGAN".

Kemudian,
terdapat hal menarik tentang ide tentang pembatasan jumlah istri sebagaimana tercantum di surat An Nisaa 4.3 [Pembatasan jumlah Istri = 4), yang harusnya ini akan dipatuhi oleh Nabi, Para Rashidun, Imam Hasan dan Husain:
    Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.
Beberapa riwayat menunjukan nabi aktif mengkampanyekan pembatasan jumlah istri diantaranya:
    Salim berkata bahwa Ayahnya berkata bahwa Ghilan bin Salamah ath-Thaqafi memiliki 10 Istri ketika Ia menjadi Muslim dan Nabi berkata padanya, ‘Pilih empat diantaranya (dan ceraikan sisanya)’ [Tafsir Ibn Kathir, berdasarkan hadis dari Ash-Shafi`i, At-Tirmidhi, Ibn Majah, Ad-Daraqutni and Al-Bayhaqi]. Di tafsir disampaikan bahwa Ahmad memberikan detail lanjutan yaitu Ghilan tidak mematuhi perintah Nabi dan tetap beristri 10 hingga kemudian di jaman Khalifah Umar, ia menceraikan beberapa istrinya dan Umar malah mengancamnya untuk rujuk kembali atau jika tidak mau hartanya akan disita. [Musnad Ahmad no.4403 atau Tirmidhi no. 1047]

    Riwayat Al-Harith ibn Qays al-Asadi:
    Aku memeluk Islam ketika telah beristri delapan. Aku memberitahu Nabi (saw). Nabi(saw) berkata: Pilih empat di antara mereka. [Sunan Abu Dawud 12.2233]
Pertanyaannya adalah lantas mengapa Nabi tidak melakukan hal yang sama?

Kebanyakan ulama mengatakan surat di atas diperuntukan untuk semua orang dan Nabi Muhammad dikecualikan dalam hal ini, mereka menerangkan pengecualiannya di surat Al Azhab 33.50-52 di bawah ini:
    Hai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu istri-istrimu yang telah kamu berikan mas kawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki yang termasuk apa yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu, dan (demikian pula) anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu yang turut hijrah bersama kamu dan perempuan mukmin yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau mengawininya, sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mukmin. Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang Kami wajibkan kepada mereka tentang istri-istri mereka dan hamba sahaya yang mereka miliki supaya tidak menjadi kesempitan bagimu.
Namun ternyata tidak ada satupun kata dari surat itu yang bunyinya menyatakan bahwa pengkhususan yang diberikan Allah untuk melewati batasan jumlah istri 4 juga tidak berlaku bagi MUHAMMAD! maupun pada ayat lanjutannya dibawah ini
    Kamu boleh menangguhkan menggauli siapa yang kamu kehendaki di antara mereka (isteri-isterimu) dan (boleh pula) menggauli siapa yang kamu kehendaki. Dan siapa-siapa yang kamu ingini untuk menggaulinya kembali dari perempuan yang telah kamu cerai, maka tidak ada dosa bagimu. Yang demikian itu adalah lebih dekat untuk ketenangan hati mereka, dan mereka tidak merasa sedih, dan semuanya rela dengan apa yang telah kamu berikan kepada mereka. Dan Allah mengetahui apa yang (tersimpan) dalam hatimu. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun

    Tidak halal bagimu mengawini perempuan-perempuan sesudah itu dan tidak boleh (pula) mengganti mereka dengan isteri-isteri (yang lain), meskipun kecantikannya menarik hatimu kecuali perempuan- perempuan (hamba sahaya) yang kamu miliki. Dan adalah Allah Maha Mengawasi segala sesuatu. [lihat juga surat 66.1-5 diatas]
Lanjutan surat di atas tidak juga menunjukan adanya satu kekhususan bahwa nabi dapat mengawini lebih dari 4 wanita. Satu lagi alasan bahwa pembatasan itu JUGA berlaku kepada Nabi adalah berkenaan dengan konfirmasi Allah bahwa ‘kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara Istri-istrimu’. seperti dikatakan di

An Nisa 4.129,
    Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung..."
Ini juga dijelaskan dengan gamblang pada hadis di bawah ini:
    Diriwayatkan Aisha:
    Aku biasa memandang rendah setiap wanita yang menawarian dirinya kepada Rasullulah SAW dan pernah berkata, ‘Dapatkan seorang wanita menawarkan dirinya (kepada lelaki)?” Namun ketika Allah menyatakan : Kamu ( O Muhammad) dapat menangguhkan (giliran) siapa yang kamu kehendaki (isteri-isterimu) dan Kamu boleh menggauli siapa yang kamu kehendaki. Dan tidak ada dosa bagimu jika kamu mengundang siapa giliran yang engkau tetapkan (sementara)” [AQ 33.51. Aku berkata (kepada Nabi ) “Aku rasa Tuhan Mu bergegas memenuhi keinginan dan hasratmu”[Bukhari 6.60.311 dan Muslim 8.3453]
Sehingga apabila benar bahwa Allah memerintahkan untuk mengawini perempuan-perempuan mana saja maka sudah sewajarnya ada pembuktian mengenai kerukunan hubungan suami istri dan antar istri namun dari riwayat diketahui bahwa hubungan suami istri dan antar istripun terbukti tidak akur:
    Para istri terbagi dalam dua grup yang kerap bertentangan [Grup Aisah (Aisah, Hafsah, Saffiya, Saudah) VS Grup Umm Salama (Um Salama & sisanya] mengeluh pada Nabi karena diperlakukan tidak adil, sehingga menimbulkan cekcok mulut antara Zainab binti Jash dan Aisha [Bukhari 3.47.755].
Nabi juga ternyata melakukan KDRT terhadap Istrinya, ini terekam ketika ia memukul Istri kesayangannya Aisa’ di dadanya hingga kesakitan [Muslim 4.2127]

Baiklah, sekarang, mari kita uji dasar pembelaan bahwa pengecualian jumlah Istri dengan memakai ayat 33:50-52 dilihat dari urutan saat ayat AQ 4.3 vs AQ 33.50-52 diturunkan.

Surat An Nisa diturunkan di sekitar perang Hunain (631 M) atau jika menurut hadis Abu dawud 18.2885 menunjukan bahwa bagian dari surat an Nisa, yaitu AQ 4.7-11, yang walaupun tidak dinyatakan kapan tepatnya namun jelas setelah perang Uhud (3 AH), dengan merujuk pada anak-anak perempuan Thabit ibn Qays yang terlantar setelah wafatnya (Abu Dawud menyatakan bahwa anak-anak perempuan itu bukan anaknya Thabit melainkan anak-anak dari Sa'd b. al-Rabi' karena Sa'd yang wafat di perang Uhud sementara Thabit wafat di Perang Yamana (632 Masehi). Hadis itu menginformasikan Harta warisan mereka diambil paman pihak ibu mereka sehingga anak-anak perempuan tersebut tidak bisa menikah jika tidak mempunyai harta.

Informasi ini juga menunjukan indikasi bahwa surat An Nisa jelas tidak turun sekaligus namun bertahap dan beda tahun turunnya sehingga pada kurun waktu tertentu dan benar telah diberlakukan pembatasan jumlah istri.

Kapan Muhammad beristri 4?

Muhammad mengawini Hafsa sebagai istri ke-3 adalah di bulan shabaan 30 bulan setelah Hijra sebelum perang Uhud [Tabari, Vol. 39, hal.174]. Istri ke-4 adalah Zaynab bint khuzaimah yang dikawini di bulan Ramadhan awal 31 bulan setelah Hijrah (3 AH), namun Zaynab wafat 8 bulan kemudian di akhir Rabiul akhir di awal 39 bulan setelah hijrah [Tabaqat, Ibn Sa'd, vol.8 atau diberi judul "The Women of Medina" ketika diterjemahkan Aisha Bewley, London: Ta-Ha Publishers, 1995, hal.82]. Pengganti Istri ke-4 adalah Umm Salama yang di kawini pada 4 H di bulan syawal [Sa'd/Bewley, vol 8. hal.61].

Kapan Muhammad beristri yang ke-5?

Yaitu ketika ia naksir dengan Zaynab bin Jash, istri anak angkatnya sendiri yang ia kawini di bulan awal Dhu’l-Qada 5AH [Tabari, Vol. 39, hal. 182.]
    Setelah pindah ke Medina, Di usia 54 tahun, di tahun ke-2 Hijrah, Aisha datang ke rumah Muhammad sebagai Istri, Ia mengawini Hafsa 1 tahun kemudian dan Zaynab bin Khuzaymah beberapa hari setelahnya, yang wafat beberapa bulan kemudian. Ia menikahi Umm Salama, janda dengan anak-anak, di tahun ke-4 Hijriah. Di tahun ke-5 ketika ia berusia 58 tahun. Ia mengawini Zaynab bin Jash atas perintah Allah..Sisa istri lainnya memasuki rumahnya di 5 tahun terakhir [Maariful Quran, Vol 7, hal. 191-192, 197-198]
Praktis umur aturan ber Istri tidak lebih dari 4 hanya bertahan 1 atau 2 tahun! Sehingga tidak mengherankan Ghilan tidak menceraikan istri-istrinya seperti perintah nabi, bukan?! Karena bisa Ghilan menjadi bingung berapa jumlah tepatnya yang ia harus ceraikan karena setelah itu bertumpuk-tumpuk jumlah Istri muhammad bahkan melebih jumlah istri Ghilan sendiri.

Bagaimana dengan Surat Al Azhab AQ 33.50-52?

Surat Al Azhab juga sama tidak turun sekaligus, tapi bertahap dan juga beda tahun. Berapa tahun perbedaannya? Ada yang turun di sekitar 5 AH (627 M) yaitu di sekitar perang Khandaq seputaran pernikahan Zaynab bin Jash dan Muhammad juga perceraian Zaynab bin Jash dengan zaid bin Muhammad anak angkat Muhammad (misal: AQ 33.5, 40 dan AQ 33.53) atau jika merujuk pada asbabun nuzul suyuti untuk ayat 33.47 menyatakan turun sekitar setelah hudaybiyyah (Dhul Qaidah 6 AH) karena di kaitkan dengan AQ 48.5.

Selain daripada itu, maka waktu turunnya ayat tidak dapat diketahui. Di abad ini, muncul 2 pendapat mengenai kapan turunnya AQ 33.52:
    Maududi:
    Surat Al Azhab turun di 5 AH. Dengan argument sebelum mengawini Zainab, Ia telah punya 4 Istri (Saudah, Aishah, Hafsah, dan Umm Salamah). Zainab adalah istri yg ke-5. Atas ini muncul keberatan dari para penentangnya dan para muslim yang mulai ragu, yaitu untuk orang lain dilarang memelihara lebih dari 4 Istri saat itu, namun Nabi mengambil istri yang ke-5.

    Penterjemah quran abad ini:

    • Asad [catatan kaki: 65] menyatakan:
      Beberapa penafsir (misal., Tabari) beranggapan bahwa pembatasan ini berhubungan dengan 4 kategoru wanita dari ayat 33.50: Demikian, namun lebih mungkin bahwa ini adalah pembatasan untuk nabi mengawini wanita mana aja sebagai tambahan dari yang ia telah kawini(Baghawi, Zamakhshari). Beberapa kalangan awal yang mumpuni dalam qur'an, seperti Ibn 'Abbas, Mujahid, Ad-Dahhak, Qatadah, Ibn Zayd (semuanya di kutip oleh Ibn Kathir), atau Al-Hasan al-Basri (yang di kutip Tabari untuk ayat 28-29), menghubungkan pembatasan mengawini lebih lanjut pada pilihan yang dikonfrontasikan antara kenikmatan kehidupan duniawi dan kebaikan kehidupan selanjutnya pada ayat AQ 33.28-29, dan opsi emphatik untuk "Allah dan rasulnya). Mereka dari kalangan awal menggambarkan turunnya ayat 52 - dan kepastian yang di maksudkan kepatuhan istri nabi - sebagai pahala dari Allah, di dunia ini, atas keyakinan dan kesetiaannya. Karena tak dapat dipahami bahwa nabi akan mengabaikan perintah kategorial, "Tidak (ada) perempuan lagi yang halal untuk mu", Kalimat dipertanyakan tidak mungkin diturunkan lebih muda dari 7 AH., Yaitu, tahun penaklukan Khaybar dan Nabi mengawini Safiyyah - perkawinan terakhirnya - tempat kejadiannya. Konsenskuensinya, ayat 28-29 (yang mana dengan, sebagaimana telah kita lihat, ayat 52 berhubungan dekat) harus turun di periode belakangan, dan tidak, sebagaimana beberapa penafsir pikir, di tahun ke-5 AH. (misal, pada waktu Muhammad mengawini Zaynab), dan
    • Yusuf Ali[Catatan kaki no.3754) menyatakan:
      Ayat ini turun di 7 AH. Setelah itu, Nabi tidak kawin lagi, KECUALI dengan budak wanita Mary, yang dikirim sebagai hadia dari muwaqis kristen dari Mesir..
Mari kita nilai patutkah AQ 33.52 dikatakan turun di 7 AH?

Asad mengkaitnyannya dengan AQ 33.28-29, namun dalam asbabunuzul dari Jalaluddin Suyuti untuk ayat tersebut hanya menyebutkan Aisyah dan Hafsa saja yang meminta belanja dan tidak menyebutkan adanya istri ke-4 dan seterusnya. Ini juga disebutkan oleh ibn kathir. Dalam komentar ayat ini, Ibn Kathir menyampaikan ucapan `Ikrimah yang mengatakan: "Pada saat itu, Ia menikah dengan 9 wanita, 5 dari quraish (`A'ishah, Hafsah. Umm Habibah, Sawdah dan Umm Salamah). Dan juga menikah dengan Safiyyah bint Huyay An-Nadariyyah, Maymunah bint Al-Harith Al-Hilaliyyah, Zaynab bint Jahsh Al-Asadiyyah dan Juwayriyyah bint Al-Harith Al-Mustalaqiyyah). Ikrimah tidak menyatakan adanya Zaynab bint Khuzaimah (yang meninggal di 4 AH), tidak menyatakan adanya Maria (sebagai gundik, yang di katakan dihadirkan di 6 AH) dan juga tidak menyebutkan adanya Ramlah abu Sufyan (Umm Habibah) yang Ibn kathir sendiri katakan ia dikawini Muhammad di 1 AH dan baru bersama muhammad di 7 AH (Ibn Kathir, “Umm Habiba” in The Wives of the Prophet) serta TIDAK JUGA menyatakan mereka semua ada pada saat kejadian istri-istri nabi meminta uang belanja.

Di samping itu,
Dalam asbabun Nuzul ini malah mengkaitkan dengan surat Al Imran yang berhubungan dengan Umm Salama.
    Imam Tirmizi mengetengahkan sebuah hadis melalui jalur Ikrimah yang bersumber dari Umu Ammarah Al Anshari, menurut penilaiannya hadis itu berpredikat hasan, bahwasanya pada suatu hari ia datang kepada Nabi saw. lalu berkata kepadanya, "Aku tidak pernah melihat segala sesuatu (di dalam) Alquran melainkan hanya untuk kaum laki-laki dan aku belum pernah melihat kaum wanita disebut-sebut (di dalamnya) barang sedikit pun", maka turunlah firman-Nya, "Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim..." (Q.S. Al Ahzab, 35) Imam Thabrani mengetengahkan sebuah hadis dengan sanad yang boleh diandalkan bersumber dari Ibnu Abbas r.a. yang menceritakan, bahwa kaum wanita mengajukan pertanyaan kepada Nabi saw., "Wahai Rasulullah! Mengapa Alquran itu selalu menyebut-nyebut kaum laki-laki saja, belum pernah menyebut-nyebut kaum wanita?", maka turunlah firman-Nya, "Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim..." (Q.S. Al Ahzab, 35). Pada akhir surah Ali lmran telah kami sebutkan tentang hadis yang menyangkut Umu Salamah. Ibnu Saad mengetengahkan sebuah hadis melalui Qatadah yang menceritakan, bahwa ketika disebutkan di dalam Alquran istri-istri Nabi saw. maka kaum wanita muslim mengatakan, "Seandainya di dalam diri kita ada kebaikan, niscaya kita pun akan disebutkan pula (di dalam Alquran)". Maka Allah menurunkan firman-Nya, "Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim..." (Q.S. Al Ahzab, 35).
Sampai sejauh ini bukti langsung yang terkait AQ 33.28-29 tidak pernah menyebutkan istri setelah umm Salamah (yang ke-4 di kawini 4 AH). Berdasarkan ini, maka ini juga merupakan bukti sangat kuat bahwa surat Al Azhab turun di tahun ke-5 Hijriah dan menggugurkan seluruh argument penterjemah modern di atas bahwa surat ini turun di 7 AH. Kemudian, Oleh karena surat AQ 33.50-52 di apit dua ayat tadi maka sangatlah wajar jika turunnya ayat tersebut di tahun antara 5 AH dan 6 AH.

Mengapa waktu turunnya surat ini penting? Alasannya adalah:
  1. Nabi terlihat tidak konsisten dengan jumlah Istri, karena ia sendiri melanggar bahkan SEBELUM tahun ke-6. yaitu dengan menikahi Zainab bin Jash!
  2. Perlu diketahui bahkan untuk meredam nafsu Nabi, Saudah sendiri merelakan jatahnya dan mewakilkan pada Aisyah ini agar nabi tidak menceraikannya dan juga membuat nabi tidak beristri lagi sebagaimana di sampaikan bahwa Ketika saudah menua, ia memberikan jatah harinya dengan Rasulullah kepada Aisha [..][Muslim 8.3451, ibn Sa'd/Aisha Bewley vol.8 hal.40].
Sehingga,
ketika surat ini turun, istri-istri muhammad saat itu BELUM TERMASUK perolehan penyerangan mendadak misalnya ke bani mustaliq pada bulan Shaaban 6 AH (Guillaume/Ishaq: 490), yaitu Juwariyah; Dari Khaibar pada setelah Muharam 6 AH, yaitu Safiyya dan bahkan Mariyah qatibiya (Satu di antara 4 budak wanita yang di tiduri Muhammad) baru hadir setelah perjanjian hudabiyya setelah 6 Ah (ada yg mengatakan di 8 AH).

4 Budak wanita yang biasa dipakai bersenang-senang melepas hasrat birahi Nabi:
    ..Namun jika ia maksudkan budak-budak yang Rasullullah biasa bersenang-senang (ya ta sarra behina), artinya meniduri mereka karena hak kepemilikan tangan kanannya? Dikatakan empat: Mariyah al-Qibtiyah, dan Rayhanah dari Bani Qurayza, dan yang ke-3 yang tidurinya selama ia diperbudak dan yg ke-4 diberikan oleh Zaynab bint Jahsh (Fatwa: 20780]

    ..Rasulullah SAW juga mempunyai 4 budak wanita. Hazrat Maria Qibtiyya..yang lainnya adalah, Hazrat Rayhaan binti Samoon; Hazrat Nafisa dan yang ke-4, namanya tidak tercatat dalam sejarah [Mufti Ebrahim Desai, Pertanyaan 17298 dari Afrika selatan: "what is the Islamic law with regard to slave-women? Was It permissible to have relations with these slave-women without a formal marriage ceremony?"]

    Di samping ini, Ia punya dua budak seksual. Pertama adalah Mariyah..Yang kedua adalah Raihanah bint Zaid An-Nadriyah atau Quraziyah..Abu 'Ubaidah membicarakan dua lagi budak, Jameelah, tawanan, dan seorang lagi..diberikan oleh Zainab bint Jahsh. [Za'd Al-Ma'ad 1/29] (Ar-Raheeq Al-Makhtum (THE SEALED NECTAR), Biography of the Noble Prophet, Saif-ur-Rahman al-Mubarakpuri [Maktaba Dar-us-Salam Publishers & Distributors, First Edition 1995], "The Prophetic Household", hal. 485]
Berdasarkan tahun kejadian tersebut maka semakin jelas bahwa Nabi sendiri tidak mematuhi pembantasan jumlah istri dan menunjukan inkonsistesi parah dalam quran.

Di bawah ini akan lebih jelas lagi bahwa ide pengecualian itu sangat tidak berdasar dan hanya akal-akalan dan sangat kacau balau jika dikaitkan dengan urutan ayat dalam satu surat sekalipun.

Kemudian Qur’an juga mengenal ‘Nasikh Mansukh’ yang kurang lebih berarti ‘ayat yang menggantikan/menghapus ayat yang digantikan/dihapus’
    Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tiadakah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu? [AQ 2.106]

    Dan apabila Kami letakkan suatu ayat di tempat ayat yang lain sebagai penggantinya padahal Allah lebih mengetahui apa yang diturunkan-Nya, mereka berkata: "Sesungguhnya kamu adalah orang yang mengada-adakan saja". Bahkan kebanyakan mereka tiada mengetahui. [AQ 16.101]

    Dari reaksi perkataan orang-orang itu jelas bahwa banyak yang berkeberatan atas keputusan Allah dan bisa juga di artikan bahwa mereka yang berkeberatan sudah menikmati beberapa keuntungan sebelumnya dan kemudian Allah mengubahnya! Allah menegaskan bahwa Ia lebih mengetahui apa yang diturunkannya

    Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul kitab (Lohmahfuz). [AQ 13.39]

    Dan sesungguhnya jika Kami menghendaki, niscaya Kami lenyapkan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, dan dengan pelenyapan itu, kamu tidak akan mendapatkan seorang pembela pun terhadap Kami, [AQ 17.86]

    Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasul pun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, setan pun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh setan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana [AQ  22.52]. Tafsir Jalalain untuk ayat ini:

    (Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasul pun) rasul adalah seorang nabi yang diperintahkan untuk menyampaikan wahyu (dan tidak pula seorang nabi) yaitu orang yang diberi wahyu akan tetapi tidak diperintahkan untuk menyampaikannya (melainkan apabila ia membaca) membacakan Alquran (setan pun, memasukkan godaan-godaan terhadap bacaannya itu) membisikkan apa-apa yang bukan Alquran dan disukai oleh orang-orang yang ia diutus kepada mereka.

    Sehubungan dengan hal ini Nabi saw. pernah mengatakan setelah beliau membacakan surah An-Najm, yaitu sesudah firman-Nya, "Maka apakah patut kalian (hai orang-orang musyrik) menganggap Lata, Uzza dan Manat yang ketiganya ..." [AQ 19-20] lalu beliau mengatakan, "Bintang-bintang yang ada di langit yang tinggi itu, sesungguhnya manfaatnya dapat diharapkan".

    Orang-orang musyrik yang ada di hadapan Nabi saw. kala itu merasa gembira mendengarnya. Hal ini dilakukan oleh Nabi saw. di hadapan mereka, dan sewaktu Nabi saw. membacakan ayat di atas lalu setan meniupkan godaan kepada lisan Nabi saw. tanpa ia sadari, sehingga keluarlah perkataan itu dari lisannya.

    Maka malaikat Jibril memberitahukan kepadanya apa yang telah ditiupkan oleh setan terhadap lisannya itu, lalu Nabi saw. merasa berduka cita atas peristiwa itu. Hati Nabi saw. menjadi terhibur kembali setelah turunnya ayat berikut ini, ("Allah menghilangkan) membatalkan (apa yang ditiupkan oleh setan itu, dan Dia menguatkan ayat-ayat-Nya) memantapkannya. (Dan Allah Maha Mengetahui) apa yang telah dilancarkan oleh setan tadi (lagi Maha Bijaksana) di dalam memberikan kesempatan kepada setan untuk dapat meniupkan godaannya kepada Nabi saw. Dia berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya.
Diriwayatkan bahwa Nabi lupa ayat-ayat Quran dan Allah membuat Nabi lupa ayat-ayat yang diturunkanNya:
    ‘Nabi mendengar seseoarang mengucapkan/melantunkan Quran di mesjid dan berkata, “Semoga Allah melimpahkan rahmatNya padanya, karena dia telah mengingatkan saya ayat-ayat ini-dan itu dalam suatu surat.” Diriwayatkan Aisha dan Hisham (hadisnya sama kecuali kata ‘ayat-ayat’ diganti dengan kata ‘yang saya lupa’ [Bukhari 6.61.556, 557, 558, 562; Muslim 4.1720,1721,1724,1726]

    Dinarasikan oleh Abdullah: Nabi berkata,”Mengapa seseorang dari orang-orang itu berkata, “Saya lupa ayat ini-dan-itu (dari Quran)” Dia, sebenarnya, dibuat (oleh Allah) untuk melupakannya.” [Bukhari 6.61.559]
Dari uraian diatas, seharusnya sudah dapat kita buktikan bahwa tidak pernah ada satu kekhususan untuk nabi agar dapat mengawini lebih dari 4 wanita. Allah menggetahui yang terbaik atas apa yang diturunkanNya dan memberikan ayat-ayat yang lebih baik dari yang diturunkan sebelumnya sehingga menjadi berlaku untuk siapapun. Namun tentu saja mereka dapat saja berkata bahwa pembatasan tersebut telah gugur dengan sendirinya pada kasus Ghilan, dan jumlah istri nabi yang banyak itu.

Saya jamin kalimat saya ini akan ditentang habis-habisan dengan mengatakan pendapat saya tidak mengikuti kaidah keilmuan Islam-lah, asbabun nuzul-lah, dan seterusnya.

Sebelum berkata demikian,

janganlah dilupakan bahwa Qur’an yang sekarang disusun adalah mengikuti Mushaf Usman bukan mengikuti turunnya ayat! Kemudian lihat sebentar surat Al Hijr 15:9 yang menyatakan:
    Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya
Tafsir Ibn kathir untuk surat 15:6-9, ‘Mujahid berkata tentang Ayat ini :(Kami tidak menurunkan malaikat melainkan dengan benar [15:8]) '[contoh:] untuk membawa Pesan dan Hukuman' ' Kemudian Allah menyatakan, Ia adalah yang menurunkan Dikr kepada nya, yakni Alqur'an dan Ia yang menjaganya dari diganti ataupun diubah'

Berikut dibawah ini adalah kumpulan pendapat yang telak-telah membuktikan bahwa kalimat Allah telah mengalami abrogasi bahkan sebelum di Mushafkan!

Pertama,
    Penjagaan Allah tersebut patah sudah sejak 127 ayat di gondol kambing:

      Ibnu Majah meriwayatkan dari A'isyah, yang mengatakan bahwa ayat rajam dan ayat Radha'ah yang ia simpan di bawah ranjang telah dimakan kambing dan tidak ada lagi dalam Al-Qur'an. ["Ta'wil Mukhtalaf Al-hadits", Ibn Qutaibah, hal. 310.; Musnad Ahmad, jilid 6, hal. 269. dll.]

      Aisyah mengatakan : "Pada masa Nabi, Surat Al-Ahzab dibaca sebanyak 200 ayat, tetapi ketika Utsman menulis mushaf ia tidak bisa mendapatkannya kecuali yang ada sekarang" [ahlusunnah: Suyuthi, dalam "Al-Itqan", jilid 2, hal. 25.; Muntakhab Kanzul Ummal pada Musnad Ahmad, jilid 2, hal. 1.; Musnad Ahmad, jilid 5, hal. 132. dll.]

    Teori Penjagaan dan Kesempurnaan itu ternyata DONGENG belaka karena telah berkurang dan Hilang bahkan sebelum di Mushafkan:

      Anas b. Malik mengingat satu ayat yang turun saat beberapa muslim terbunuh dalam perang, tetapi kemudian hilang [Muhasibi, Fahm al Quran an wa manih , p 399, Tabari, Jami al Bayan, vol 2 p 479]

      Abdullah ibn Umar menyatakan banyak bagian qur'an yang telah hilang.[Suyuthi, al Itqan fi ulum al Quran, vol 3 p 81-82]

      dan beberapa pakar yang kemudian menyatakan bahwa banyak bagian qur'an telah hilang sebelum dikumpulkan.[Ibn Abi Dawud, Kitab al Masahif, p 23 (mengutip pendapat Ibn Shihab (al Zuhri); Suyuthi, al Itqan fi ulum al Quran, vol 5 p 179, mengutip Sufyan al Thawri; Ibn Qutaybah, Tawil, p 313; Ibn Lubb, Falh al bab, p 92]

    Atau ‘dinashkan’ untuk ‘kepentingan’ tertentu setelah meninggalnya Nabi yaitu berdasarkan tanggapan atas Mushaf usman baik itu berupa tidak diketemukan ayat-ayat yang mereka dengar langsung ataupun menjadi berbeda setelah di Mushaf Usman:

      Ubay b. Ka'b, sebagai contoh, menuliskan sura 98 (Al Bayyinah) berbeda dimana Ubay mengklaim versi dia adalah dia dengar langsung dari nabi SAW. Termasuk 2 surah yang tidak dimasukkan dalam mushaf Usman [Ahmad b. Hanbal, vol 5 p 132; Tirmidhi, Sunan, vol 5 p 370; Al Hakim al Naysaburi, al Mustadrak, vol 2 p 224; Suyuthi, al Itqan fi ulum al Quran, vol 3 p 83]

      Ubay juga berpendapat bahwa sura 33 (al-Ahzab) seharusnya lebih panjang, dimana yang dia yakin ingat adalah ayat-ayat rajam yang tidak tertulis dalam mushaf Usman.Aisha menyatakan bahwa saat Nabi Muhammad SAW masih hidup surat Al-Ahzab 3 kali lebih panjang dari yang ada di Mushaf Usman [Ahmad b. HAnbal, vol 5 p 132; Muhasibi, Fahm al Quran an wa manih , p 405; Bayhaqi, al Sunan al Kubra, vol 8 p 211; Al Hakim al Naysaburi, al Mustadrak, vol 2 p 415; Suyuthi, al Itqan fi ulum al Quran, vol 3 p 82, vol 1 P.226; Al Raghib al Isfahani, Muhadarat al Udaba, vol 4 p 434]

      Kesaksian Hudhayfa b. al-Yaman yang menemukan sekitar 70 ayat tidak tercantum dalam mushaf Usman. Hudhayfa juga meyakini bahwa Sura 9 (al-Bara'a) dalam mushaf Usman hanyalah ¼ dari yang biasa dibacakan saat nabi SAW masih hidup.[Suyuti, al Durre Manthur, vol 5 p 180, mengutip dari Bukhari, Kitab at Tarikh; Al Hakim al Naysaburi, al Mustadrak, vol 2 p 331; Haytami, Majam al Zawaid, vol 7 p 28-29; Suyuthi, al Itqan fi ulum al Quran, vol 3 p 84]

      Bahwa Suras 15 (al-Hijr) and 24 (al-Nur) seharusnya lebih panjang dari yang tercantum dalam mushaf Usman. [Sulaym b. Qays al Hilali, Kitab Sulaymn b. Qays, p 108; Abu Mansur al Tabrisi, al Intijaj, vol 1 p 222, 286; Zarkashi, al Burhan fi ulum al Quran, vol 2 p 35]

      Abu Musa al-Ash'ari mengingat keberadaan 2 sura yang panjang dimana hanya satu ayat dari 2 sura itu yang dia masih ingat. Namun 2 sura itu tidak ada dalam mushaf Usman [Muslim, vol 2 p 726; Muhasibi, Fahm al Quran an wa manih , p 405; Abu Nuaym, Hilyat al Awliya, vol 1 p 257; Bayhaqi, Dalai, vol 7 p 156; Suyuthi, al Itqan fi ulum al Quran, vol 3 p 83]
Kedua,
    Hadis Sahih Syi’ah (berani jamin ini tidak diakui sah oleh Sunni) mengatakan seperti ini:

      Dari Hisyam bin Salim, ia menerimanya dari Abu 'Abdullah 'alaihissalam yang mengatakan: "Al Qur'an yang dibawa malaikat Jibril kepada Muhammad saw terdiri dari tujuh belas ribu ayat." ["Al Kafiy Fil Ushul" Kitab Fadhul Qur'an, Bab Nawadir, hal. 634 Jilid II, Cetakan Teheran 1381H]

    Dari sini wajar kalau klaim Syi’ah mengatakan Mushaf Fatima 3 x Mushaf Usman (6000-an ayat):

      Abu Basir seorang kepercayaan Imam Jaafar telah datang berjumpa dengan Imam Jaafar. Abu Basir bertanya kepada Imam Jaafar berhubungan dengan ilmu dan kelebihan Saidina Ali dan imam imam syiah… didalam buku tulisan Al Kualaini tersebut Imam Jaafar telah dikatakan menjawab sedemikian.. “Kita juga ada Mushaf Fatimah dan apakah yang orang ramai tahu tentang Mushaf Fatimah ? Ianya adalah sebuah Mushaf yang tiga kali lebih besar dari Al Quraan dan tidak ada satu ayat Al Quraan mereka didalam nya. [Usul al-Kafi oleh al-Kulaini ms 146]

    Orang Sunni berpendapat bahwa ‘mana mungkin wong si fatima mate 6 Bulan setelah Muhammad’

    konyol!...

    • Lha, Wong nabi saja punya sekretaris Zaid dan tulisan2 itu banyak tercatat masa nunggu nabi wafat baru dituliskan
    • Lha, wong ayat rajam yang tertulis dan tersimpan dibawah ranjang saja sdh membuktikan bahwa ada tercatat ucapan2 tersebut
    • Lha, kalo nunggu mate baru dituliskan maka dasarnya Mushaf Usman dari mana?

    Disamping itu, Fatima itu adalah wanita istimewa:

    kemudian Imam Jaafar ketika ditanya lagi oleh Abu Basir berhubung dengan Mushaf Fatima , Abu Basir menyatakan Imam Jaafar menyebut :

      Apabila Allah menaikkan Rasul Nya dari dunia (wafat) … Fatimah menjadi terlalu sedih yang teramat sangat dan berduka cita yang hanya diketahui oleh Allah saja. Allah kemudian menurunkan malaikat untuk membujuknya semasa kesedihan tersebut dan malaikat tersebut telah berbicara dengan Fatimah. Fatimah menceritakan peristiwa tersebut kepada Ali dan Ali meminta Fatimah memberitahunya apabila malaikat tersebut datang. Setiap kali malaikat datang Ali telah mencatatkan segala yang disebut oleh malaikat tersebut… dan Inilah yang di panggil mushaf Fatimah..[Usul al-Kafi oleh al-Kulaini ms 147]
Ulasan di atas makin membuat kita paham bahwa quran dibukukan dalam urutan yang kacau balau, TIDAK SEMPURNA dan Klaim Terjaga Keasliannya [dan juga oleh Allah] adalah jelas TIDAK BENAR!

Baiklah,
Saatnya kita uji kebenaran klaim bahwa Istri-istri nabi adalah sudah tua renta, tidak cantik saat dinikahi nabi dan alasan nabi mengawini bukan untuk melampiaskan nafsu seks. Periode dari monogami menjadi poligami secara ringkas adalah:
  • Periode sebelum kenabian dan sebelum hijrah ke Medina, selama 24 tahun (15 tahun sebelum menjadi nabi + 9 tahun setelah menjadi nabi), Muhammad hanya dengan 1 wanita, yaitu Khadijah.
  • Periode setelah meninggalnya Khadijah - Sebelum Hijrah ke Medina, Muhammad berhubungan intim tidak lazim dengan Umm Hani yang terekam dalam peristiwa Isra Miraj, beliau berada di rumah Umm Hani hingga jauh malam sebelum menuju ke langit ke-7. Muhammad menikah lagi dengan 2 wanita, yaitu Saudah dan Aisyah di setelah wafatnya Khadijah dan Abu Talib.
  • Periode setelah hijrah, di 1 AH, Muhammad berhubungan intim dengan Ramlah bint Abu Sufyan (namun tinggal bersama Muhammad pada 7 AH). Setelah tahun ke-3, menikah dengan Hafsa dan Zaynab bint Khuzaimah dan dengan Umm Salamah ketika Zaynab wafat. jumlah 4 ini bertahan beberapa bulan namun pecah menjadi 5 setelah mengawini Zaynab bint Jash dan banyak lagi wanita-wanita yang digaulinya seseudah itu
Berikut nama-nama mereka :
  1. Khadijah
  2. Saudah
  3. Aisyah/Umm Al-Mu’minin
  4. Hafsa/Hafsah
  5. Zainab binti Khuzaimah
  6. Hindun/Ummu Salamah
  7. Raihanah
  8. Juwariyah
  9. Syafiya/Syafiyah
  10. Mulaykah Binti Dawud Al-Laythiyyah
  11. Al-Shanba’ Binti ‘Amr
  12. Sana Binti Asma
  13. Zainab binti Jashy
  14. Maria Qibthiyyah
  15. Ramlah/Ummu Habibah
  16. Hend/Hind
  17. Maimunah binti Al-Harith
  18. Maymuna (kedua)
  19. Sharaf binti Khalifah
  20. “Al-Kilabiyyah”[Fatimah binti al-Dahhak bin Sufyan dan/atau
  21. ‘Aliyah binti Zabyan bin ‘Amr bin ‘Awf dan/atau
  22. Sana binti Sufyan bin ‘Awf]
  23. Fatimah binti Shurayh
  24. Alliyah
  25. Qutaylah
  26. Duba binti Amir
  27. Layla
  28. Khawla Binti Al-Hudayl
  29. Asma (dari Saba)
  30. Zainab (ketiga)
  31. Habla
  32. Asma binti Nu’man (Noman)
  33. Omm Sharik
  34. Amrah Binti Yazeed
  35. Menceraikan seseorang yang tidak dikenal namanya
  36. Beberapa wanita di lamar namun berakhir tidak dinikahi
  37. dan ummu’l Fadl (Ini yang paling menarik)
Di samping nama wanita-wanita di atas,
Hadis dan Tafsir Quran menginformasikan bahwa di surga kelak, Allah juga akan mengawinkan Nabi SAW dengan: Asiyah (istri Fir’aun), Maryam binti ‘Imran (ibunda ‘Isa AS/Yesus) dan Um khulthum (Adik Musa) [Lihat di: tafsir AQ 66.5 dari Samarqandi, Ibn kathir atau 4/495 pada surat at-Tahrim, Tafsiir al-Qurthubi 18/170, Fathul Qodir, 4/231; tafsir Shaukaani; juga di At-Tabaraani dari Abu Buraydah untuk AQ 66.5; Juga hadis dari Ibn 'Asakir dari Umar; juga dalam IslamQA; "Muḥammad in the Modern Egyptian Popular Ballad" oleh Kamal Abdel-Malek, hal.59, dll].

Sebelum kita sampai pada kesimpulan dan sumber artikel, Kita lihat sekilas pandang Istri-istri dari para Rashidun yaitu: Abubakar, Umar (kita juga lihat sekilas kontroversi saat umar mengawini Ummu khultum yang ketika itu berusia 4 tahun), Usman, dan Ali.

[kembali]


Khadijah binti Khuwaillid (Menikah 595 M, umur: 40 Tahun)

Nama Lengkap Khadijah:
Pihak Ayah:
Khadijah binti Khuwaylid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qusay [Tabari vol.39 hal.3]. Dari versi Ibn Isaq: Khadijah bint Khuwaylid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qusay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luai bin Ghalib bin Fihr.

Pihak Ibu (versi Ibn Ishaq):
Khadijjah binti Fathimah binti Zaidah bin Al-Asham bin Rawahah bin Hajar bin Abd bin Ma’ish bin Amir bin Luai bin Ghalib bin Fihr atau Khadijjah bint Halah binti Abdu Manaf bin Al-Harts bin Amr bin Munqidz bin Amr bin Ma’ish bin Amir bin Luai bin Ghalib bin Fihr atau Fathimah binti Qalabah binti Su’aid bin Sa’ad bin Sahm bin Amr bin Hushaish bin Ka’ab bin Luai bin Ghalib bin Fihr.

Khadijah lahir tahun 555 M dan wafat Desember 619 M di usia 64/65 tahun.

Jalur leluhur Muhammad menurut yang umum yakini (karena Muhammad diragukan sebagai anak Abdullah bin Abdul Muttalib): Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdul Manaf bin Qusay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib bin Firh

Pertemuan keduanya di mulai dari hubungan bisnis:
    Pada tahun 595 M, posisi keuangan pamannya Muhammad, Abu Thalib, menjadi sangat lemah karena pengeluaran Rifada dan siqaya setelah kerusakan Kabah akibat hujan deras. Ia menyarankan Muhammad bertindak sebagai agen untuk seorang wanita Khadijah binti Khuwaylid yang Silsilahnya bergabung di Qusay, karena itu adalah sepupu jauh dari Muhammad. Khadijah melalui temannya Khazimah bin Hakim, seorang kerabatnya, menawarkan 2x komisi. Muhammad, dengan persetujuan pamannya Abu Thalib, menerima tawarannya. ["Khadija Daughter of Khuwaylid", Yasin T. al-Jibouri]

    Khadijah adalah seorang janda yang kaya..beliau terkenal dengan nama Tahira. Menurut Tabaqot ibu Saad, beliau adalah wanita terkaya di Mekkah kala itu. Muhammad berniaga dan terkenal di seluruh Hijaz karena kejujuran, kesetiaan dan moralnya..beliau dijuluki "al-amin" (yang dapat dipercaya). Khadijah..menerimanya bekerja pada usaha dagangnya atas seorang perantara yang juga merupakan pegawai setia Khadijah. Muhammad dikirim ke Basrah membawa barang dagangan Khadijah. Setelah tiga bulan sekembalinya dari Basrah, Khadijah mengajukan lamaran untuk nikah. Waktu itu Muhammad berusia 25 tahun, dan Khadijah 40 tahun. Pada zaman itu wanita Arab bebas menentukan kehendaknya sendiri dalam hal pernikahan, oleh karena itu Khadijah langsung membicarakan lamarannya dengan Muhammad. ["Seratus Muslim Terkemuka" oleh Jamil Ahmad, dan dari: "Tokoh-tokoh Wanita di Sekitar Rasulullah saw", oleh Muhammad Ibrahim Saliim. Diketik oleh: Hanies Ambarsari]

    Note:
    Al-Amin bukanlah gelar khusus yang diperuntukkan hanya bagi Muhammad. Al Amin merupakan nama jabatan bagi mereka-mereka yang dipercaya mengelola "tanggungjawab keuangan" atau "representatif sah" atau "kepala dari serikat dagang". [Lihat Kamus: "The New Encyclopedia of Islam", Cyril Glassé, hal.48 atau "Encyclopaedia of Islam", Edited by: P. Bearman, Th. Bianquis, C.E. Bosworth, E. van Donzel, W.P. Heinrichs. hal.437]. Perlu di ketahui, Quran merekam pernyataaan pandangan kaum Quraish mekkah terhadap muhammad yaitu pendusta, misal di AQ 42.24,  "Dia (Muhammad) telah mengada-adakan dusta terhadap Allah."
Di sumber lainnya dinyatakan bahwa saat menikah dengan Khadijah, Muhammad tidak berusia 25 tahun namun baru berumur 21/30 tahun [Tabari vol.9 hal.127, catatan kaki no.872, juga disebutkan Khadijah wafat di 10 tahun masa kenabian, 3 tahun sebelum Hijrah (Ibn Sa'd, tabaqat vol.8, 7-27. Ibn kathir, Sirah, IV, 581)]

Muhammad dapat bekerja pada Khadijah adalah karena perantaraan dari Maisarah. Ia adalah seorang pegawai yang sangat di percaya oleh Khadijah. Maisarah mengajak Muhammad sejak Muhammad sejak berusia 15 tahun untuk menemaninya berdagang.
    Khadijah binti Khuwailid adalah seorang wanita pedagang yang mulia dan kaya raya…..Pernikahan itu berlangsung 2 bulan setelah kepulangan beliau dari Syam …. Ketika itu, Khadijah berusia 40 tahun dan ditengah-tengah kaumnya, Khadijah termasuk yang terbaik dari segi nasab, kekayaan dan pemikiran. [Sejarah Hidup Muhammad, Syaikh Shafiyyur Rahman Al-Mubarakfury, Robbani Press, Jakarta, 2002, Hal. 65 – 66]
    Khadijah mengirim pesan pada Muhammad, mengundangnya utk mengambil dia. Dia memanggil ayah utk datang kerumahnya, memberinya arak hingga mabuk, memberi parfum, memakaikan pakaian pesta padanya dan lalu memotong seekor sapi. Lalu dia undang Muhammad dan pamannya. Ketika mereka datang, ayahnya menikahkan Muhammad dengannya. Ketika dia sadar dari mabuknya, dia berkata, ”daging apa ini, parfum ini dan pakaian ini?”. Dia menjawab, “kau telah menikahkanku pada Muhammad bin Abdullah”. “Aku tidak melakukan itu”, katanya. “Akankah kulakukan ini ketika orang2 terhebat di Mekah memintamu dan aku tidak setuju, kenapa aku berikan kau pada seorang gelandangan?”

    Pihak Muhammad menjawab dengan marah bahwa persekutuan ini telah diatur oleh anak perempuannya sendiri. Orang tua itu marah dan menarik pedang dan kerabat Muhammad juga menarik pedang mereka. Darah akan mengalir jika saja Khadijah tidak menyatakan cintanya pada Muhammad agar diketahui banyak orang dan mengaku telah mengatur semua ini. Khuwaylid lalu menenangkan diri dan menyerah ketika semuanya telah terjadi. [Persian Tabari Vol. 3, hal.832]
Beberapa tahun kemudian Ayahnya terbunuh dalam peperangan.

Di beberapa website anda akan membaca kisah spt ini:
    Pada suatu hari, saat pagi buta, dengan penuh kegembiraan ia pergi ke rumah sepupunya, yaitu Waraqah bin Naufal. Ia berkata, “Tadi malam aku bermimpi sangat menakjubkan. Aku melihat matahari berputar-putar di atas kota Mekkah, lalu turun ke arah bumi. Ia semakin mendekat dan semakin mendekat. Aku terus memperhatikannya untuk melihat kemana ia turun. Ternyata ia turun dan memasuki rumahku. Cahayanya yang sangat agung itu membuatku tertegun. Lalu aku terbangun dari tidurku". Waraqah mengatakan, “Aku sampaikan berita gembira kepadamu, bahawa seorang lelaki agung dan mulia akan datang meminangmu. Ia memiliki kedudukan penting dan kemasyhuran yang semakin hari semakin meningkat"
Sumber dan asal usul "hadis" di atas jarang atau lebih tepatnya tidak disampaikan siapa penulisnya, namun demikian informasi "hadis" membuat kita tahu bahwa sejak Khadija muda, ia selalu meminta petunjuk Waraqa terutama jika mengalami satu hal yang menggangu pikirannya. Kegirangan yang terpancar dan berita gembira yang disampaikan di kisah tersebut tentang akan ada pinangan dari "lelaki agung" yang memiliki kedudukan penting serta kamasyurannya semakin hari semakin meningkat, logisnya merujuk pada suami yang pertama dan bukan suami kedua atau seterusnya.

Mengapa?

Suami pertamanya adalah [Amr khaled: Ateq Al-Makhzoomi; Yasin: Abu (ayah dari) Halah Hind ibn Zarah, suku 'Adiyy. Dari Suami pertamanya Khadija mewarisi kekayaan. Karena Khadijah adalah wanita yang pintar, warisan dari suami pertamanya berkembang pesat dalam bisnis perdagangan dan menjadi maju di Mekkah.

Suami keduanya adalah [Amr Khaled: Abu-Hala Al-Tamimi; Yasin: Ateeq ibn `Aaith]. Saat suami ke-2nya wafat, khadija berusia 37 tahun.

Baik suami ke-1 dan ke-2 berasal dari Banu Makhzoom. Di dua perkawinan ini, Khadija karuniai anak laki dan perempuan. Tiga dari anak-anaknya telah menikah kecuali anak lelaki terkecilnya, Hind. Ia ikut aktif di perang Badr dan Uhud serta akhirnya wafat di perang Unta. Ketika itu Hind berada di pihak Ali.

Kekayaan dan kecantikannya membuat dirinya banyak dilamar namun semua ditolaknya. Dikatakan juga itu karena ia takut menjanda ke-3 kalinya. Ia terus melajang hingga bertemu Muhammad tiga tahun kemudian. [Amr Khaled, Darussalam; juga di: Wikidlp, Yasin T. al-Jibouri]

Muhammad adalah suami khadijah yang ke-3 saat ia berusia 40 tahun. Pernikahan Khadijah dan Muhammad terjadi pada tahun 595 M. Khadijah hidup dalam perkawinan dengan Muhammad selama 24 tahun yaitu 15 tahun sebelum menjadi nabi dan 9 tahun setelah menjadi nabi. Selama 24 tahun perkawinan mereka hingga wafatnya Khadijah, Muhammad tidak melakukan poligami.

Rasulullah SAW bersabda :
    "Khadijah beriman kepadaku ketika orang- orang mengingkari. Dia membenarkan aku ketika orang-orang mendustakan. Dan dia memberikan hartanya kepadaku ketika orang-orang tidak memberiku apa-apa. Allah mengaruniai aku anak darinya dan mengharamkan bagiku anak dari selain dia." [Imam Ahmad dalam "Musnad"-nya, 6/118]
A’isha cemburu pada Khadijah.
    "Pada hal itu, Nabi teringat cara ketika Khadijah saat memohon izin, dan membuatnya sedih. Ia katakan, ‘O Allah Hala!’ Maka aku [Aisha] cemburu dan berkata, "apa yang membuat kamu teringat pada seorang wanita tua diantara wanita Quraish yang mana seorang wanita tua (dengan giginya yang ompong) dengan getah merah yang telah meninggal bertahun-tahun lalu, dan ditempat yang manakah Allah memberikanmu seseorang yang lebih baik darinya?" [Bukhari 5.58.168 hal.105]
‘Aisha mengatakan bahwa Khadijah membawa Muhammad bertemu dengan Waraqa bin Naufal, seorang Kristen yang biasa membaca Injil dalam bahasa Arab. [Bukhari 4.55.605, detail panjangnya di: 9.87.111; 1.1.3]

Informasi yang terdapat pada Bukhari 9.87.111 dan 1.1.3 menyebutkan bahwa Sebelum bertemu Jibril-pun, Muhammad kerap berada di gua hira untuk memuja Allah. Saat itu, Muhammad telah mempunyai pengetahuan tentang Allah, yaitu Allah yang sama yang dipuja seluruh Islam saat ini.

Di beberapa tahun kedepan, ketika jibril kerap memberikan petunjuk padanya, Muhammad pernah menyatakan sebagaimana diriwayatkan Abu dharr di bawah ini:
    Nabi berkata, Jibril datang padaku dan memberi aku kabar baik bahwa siapa saja yang mati tanpa menyembah apapun selain Allah akan masuk surga. Aku bertanya (pada Jibril), "Walaupun dia mencuri, walaupun dia berzinah?" Dia menjawab, " (Ya), "Walaupun dia mencuri, dan walaupun dia berzinah."[Bukhari 9.93.579; 7.72.717; Sahih Muslim:137]
Darimanakah pengetahuan Muhammad tentang Allah berasal padahal ketika itu beliau belumlah bertemu Jibril?

Quraish pagan bukan pemuja Allah. Kita juga tau bahwa Muhammad adalah seorang yatim piatu sebelum menikah dengan Khadijah sehingga pengetahuan Muhammad tentang Allah sebelum bertemu Jibril telah memuja Allah hanya terjadi sejak perkawinan Muhammad dan Khadijah:
  1. Ayahanda dan Ibunda Muhammad dinyatakan masuk Neraka krn tidak memuja Allah. Saat ibundanya wafat, Muhammad berumur 6 tahun:

    • "Dari Anas, bahwa seorang laki-laki pernah bertanya, "Ya Rasulullah ! Di manakah tempat ayahku ?" Jawab Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, "Di Neraka!"

      Maka tatkala orang itu berpaling hendak pergi, beliau memanggilnya, lalu beliau bersabda, "Sesungguhnya bapakku dan bapakmu tempatnya di neraka" [Hadits shahih Riwayat Muslim juz I halaman 132 dan 133. Periksa kitab Qaa'idatun Jalilah At-Tawassul wal Wasilah, halaman 8 cetakan tahun 1977 Lahore-Pakistan, oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah]

    • "Dari Abu Hurairah, ia berkata, "Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah ziarah ke kubur ibunya, lalu ia menangis yang menyebabkan orang-orang disekelilingnya (para shahabat) turut menangis.

      Lalu beliau bersabda, 'Aku meminta izin kepada Tuhanku supaya aku dibolehkan untuk memohonkan ampun baginya, tapi tidak diizinkan bagiku.

      Lalu aku meminta izin supaya aku dibolehkan menziarahi kuburnya, maka diizinkan bagiku. Oleh karena itu ziarahilah kubur-kubur itu, karena menziarahi kubur itu dapat mengingat mati" [Hadits shahih Riwayat Muslim (3/65), Abu Daud (no 3234), Nasa'i (2/72), Ibnu Majah (no. 1572), Baihaqi (4/76), Ahmad dan Thahawi (3/189), Periksalah kitab : Tafsir Ibnu Katsir jilid 2 halaman 393, 394 dan 395, Ahkamul Janaaiz halam 187, 188 masalah ke-121 oleh Muhaddits Syaikh Muhammadn Nashiruddin Al-Albani]

    • "Dari Buraidah, ia berkata, "Kami pernah bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam suatu perjalanan/safar, lalu beliau turun bersama kami, sedangkan kami pada waktu itu mendekati seribu orang.

      Kemudian beliau shalat dua rakaat (mengimami kami), setelah selesai beliau menghadapkan wajahnya kepada kami sedangkan kedua matanya mengalir air mata.

      Lalu bangkitlah Umar bin Khaththab menghampirinya dan berkata. 'Ya Rasulullah, mengapakah engkau (menangis)?'

      Beliau menjawab, 'Sesungguhnya aku telah meminta kepada Tuhanku Azza wa Jalla untuk memohon ampunan bagi ibuku, akan tetapi Ia tidak memberiku izin kepadaku, maka dari itulah mengalir air mataku karena kasihan kepadanya yang ia termasuk (penghuni) neraka". [Hadits shahih Riwayat Ahmad, Ibnu Abi Syaibah, Hakim (1/376), Ibnu Hibban (no. 791), Baihaqi (4/76) dan Tirmidzi]

  2. Pasca meninggal Ibunya, Muhammad dirawat Kakeknya, Abu Muttalib dan iapun wafat ketika Muhammad berusia 8 tahun. Sejak itu ia di rawat Pamannya, Abu Talib, yang juga nantinya menikahkannya dengan Khadijah.

    Abu Talib wafat tidak memeluk Islam, Hingga saat terakhirnya ia menolak menerima Allah dan tetap mengikuti agama Abu Muttalib [Riwayat Said bin Al-Musaiyab dari ayahnya, Sahih Bukhari Vol.2 Book 23 No.442 turunya At taubah 9:113; Riwayat Musaiyab Vol.5 Book 58 No.223, Vol.6 Book 60, No.295 dan riwayat said bin Al Musaiyab Hadis Muslim book 1 No.36 turunnya Attaubah 9:113 dan Al qasash 28:56; Riwayat Abu huraira Hadis Muslim book 1 No.37, No.38 turunnya Al Qasash 28:56]
Sebanyak apapun jasa Abdul Muttalib dan Abu Talib ia pun masuk neraka karena mereka menolak menyembah Allah.

Dari kisah mimpi Khadija sebelumnya kita ketahui bahwa Khadijah sangat mempercayai kemampuan Waraqa dalam ilmu agama, sehingga ketika ada kejadian di gua Hira, Ia dan Muhammad datang meminta petunjuk Waraqa sebagai penyembah Allah yang sama. Jelas sudah bahwa yang mengajarkan Muhammad mengenal dan menyembah Allah sebelum bertemu Jibril di gua Hira adalah Khadijah dan Waraqa. Mereka akhirnya menyembah Allah yang sama dengan Allah Waraqa dan menyebut Allah dalam bahasa Arab.

Bisa di duga bahwa Muhammad juga telah mempelajari buku-buku terjemahan Waraqa [atau dari Waraqa langsung] atau dari penuturan Khadijjah [atau Waraqa]. Setelah Muhammad bertemu jibril untuk kali pertamanya, Iapun meminta kejelasan kejadian ini pada Waraqa yang saat itu telah menjadi buta dan sudah tua.

Waraqa wafat beberapa hari kemudian dan sebelum wafat sempat berkata bahwa Orang-orang yang membawa sesuatu yang serupa seperti yang di bawa Muhammad akan dimusuhi dan mengalami pengusiran. Jika ia masih muda dan masih hidup saat Muhammad di usir kaumnya maka ia bisa memberikan dukungan sekuatnya pada Muhammad. Setelah Waraqa wafat, jibril juga absen muncul sementara dan kemudian baru muncul kembali di saat-saat tertentu dalam beberapa kejadian.

Tiga tahun pertama, aman-aman saja, namun meningkat "kekacauannya" sejak saat itu, sehingga kaum Quraish merasa perlu untuk bertemu dengan Muhammad yang terus menerus memaki sesembahan mereka:
    Ayat Al kafirun 109:1-6 turun berkenaan dengan peristiwa tawaran kaum quraish, "Inilah yang kami sediakan bagimu hai Muhammad, dengan syarat agar engkau jangan memaki-maki tuhan kami dan menjelekkannya, atau sembahlah tuhan-tuhan kami selama setahun." Nabi saw menjawab: "Aku akan menunggu wahyu dari Tuhanku." Dan turun pula Surat Az Zumar ayat 64 sebagai perintah untuk menolak ajakan yang menyembah tuhan lain. [oleh at-Thabarani dan Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu Abbas]
Kaum Quraish sangatlah menghormati perbedaan sesembahan dan tidak pernah menghina sesembahan lainnya, hal ini terekam lewat riwayat turunnya surat Al An'aam 6:108, yaitu ketika Allah Muslimin melarang kaum muslim memaki sembahan-sembahan pihak lain, karena mereka nanti akan memaki Allah.

Di tafsir Ibn Kathir, disampaikan Ali bin Abi Talhah tentang komentar Ibn `Abbas pada ayat [6:108]: "Mereka berkata, 'O Muhammad' Berhentilah menghina tuhan-tuhan kami, atau kami akan menghina tuhanmu". Juga , bagaimana kaum kafir menjadi terprovokasi ikut menghina gara-gara sesembahan mereka terus menerus dihina sebagaimana terekam di narasi `Abdur-Razzaq yang berasal dari Ma`mar bahwa Qatadah berkata, "Para Muslim biasa menghina sesembahan non muslim lainnya hingga akhirnya mereka balik membalas menghina Allah".

Note:
Berapa dari muslim akan berdalih bahwa ini lemah dan mursal, untuk itu silakan lihat dua link di sini dan di sini yang memberikan arahan dan alasan mengapa riwayat ini dapat diterima dan TETAP digunakan Ibn Kathir dalam menafsirkan

Kemudian, di hadis dan riwayat surat Al ruum 30:1-6, kita temukan bahwa kaum Quraish memang TIDAK-LAH PERNAH memusuhi/memerangi Muhammad dan pengikutnya:
  1. Hadis H.R. Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim dan Baihaqi:
    Diriwayatkan bahwa tatkala sampai berita kekalahan bangsa Romawi oleh bangsa Persia itu kepada Rasulullah saw dan para sahabatnya di Mekah, maka merekapun merasa sedih, karena kekalahan itu berarti kekalahan bangsa Romawi yang menganut agama Nasrani yang termasuk agama Samawi dan kemenangan bangsa Persia yang beragama Majusi yang termasuk agama syirik.

    Orang-orang musyrik Mekah yang dalam keadaan bergembira itu menemui para sahabat Nabi dan berkata: "Sesungguhnya kamu adalah ahli kitab dan orang Nasrani juga ahli kitab, sesungguhnya saudara kami bangsa Persia yang bersama-sama menyembah berhala dengan kami telah mengalahkan saudara kamu itu. Sesungguhnya jika kamu memerangi kami tentu kami akan mengalahkan kamu juga. Maka turunlah ayat ini.

    Maka keluarlah Abu Bakar menemui orang-orang musyrik, ia berkata: "Bergembirakah kamu karena kemenangan saudara-saudara kamu atas saudara saudara kami? Janganlah kamu terlalu bergembira, demi Allah bangsa Romawi benar-benar akan mengalahkan bangsa Persia, sebagaimana yang telah dikabarkan oleh Nabi kami".

    Maka berdirilah Ubay bin Khalaf menghadap Abu Bakar dan ia berkata: "Engkau berdusta".

    Abu Bakar menjawab: "Engkaulah yang paling berdusta hai musuh Allah. Maukah kamu bertaruh denganku sepuluh ekor unta muda. Jika bangsa Romawi menang dalam waktu tiga tahun yang akan datang, engkau berutang kepadaku sepuluh ekor unta muda, sebaliknya jika bangsa Romawi kalah, maka aku berutang kepadamu sebanyak itu pula".

    Tantangan bertaruh itu diterima oleh Ubay.

    Kemudian Abu Bakar menyampaikan hal tersebut kepada Rasulullah saw. Rasulullah saw menjawab : "Tambahlah jumlah taruhan itu dan perpanjanglah waktu menunggu".

    Maka Abu Bakarpun pergi, lalu bertemu dengan Ubay. Maka Ubay berkata kepadanya: "Barangkali engkau menyesal dengan taruhan itu".

    Abu Bakar menjawab: "Aku tidak menyesal sedikitpun, marilah kita tambah jumlahnya dan diperpanjang waktunya sehingga menjadi seratus ekor unta muda, dan waktunya sampai sembilan tahun".

    Ubay menerima tantangan Abu Bakar, sesuai dengan anjuran Rasulullah kepada Abu Bakar.

    Tatkala Abu Bakar akan hijrah ke Madinah, Ubay minta jaminan atas taruhan itu, seandainya bangsa Romawi dikalahkan nanti. Maka Abdurrahman putra Abu Bakar menjaminnya. Tatkala Ubay akan berangkat ke perang Uhud, Abdurrahman minta jaminan kepadanya, seandainya bangsa Persia dikalahkan nanti, maka Abdullah putra Ubay menjaminnya.

    Tujuh tahun setelah pertaruhan itu bangsa Romawi mengalahkan bangsa Persia dan Abu Bakar menerima kemenangan taruhannya dari ahli warisnya Ubay karena dia mati dalam peperangan Uhud tersebut. Kemudian beliau pergi menyampaikan hal itu kepada Rasulullah saw".

  2. Atau sebagaimana diriwayatkan Imam Tirmidzi dalam kitab sunan miliknya dari Ibnu Abbas ra tentang firman Allah yang berbunyi :

    "Aliif Laam Miim. Telah dikalahkan bangsa romawi di negeri yang dekat". (Ar-Ruum 1-3).

    Ibnu Abbas berkomentar tentang ayat ini yaitu: mengalahkan dan dikalahkan. Kaum musyrikin sangat senang dengan kemenangan bangsa Persia atas bangsa Romawi, karena mereka sama-sama menyembah berhala. Sedangkan kaum muslimin menyukai kemenangan Romawi karena mereka adalah ahli kitab. Dan oleh orang-orang musyrik hal itu diungkapkan kepada Abu Bakar ra, yang kemudian menyampaikannya kepada Rasulullah saw.

    Lalu beliau saw bersabda: "Adapun mereka bangsa Romawi akan memperoleh kemenangannya". Maka Abu Bakar ra pun balik menyampaikan hal itu kepada orang-orang musyrik dan mereka berkata: " Kalau demikian, maka tetapkan batasan waktunya. Jika kami menang kami akan mendapatkan ini dan itu, jika kalian menang akan mendapatkan ini dan itu". Kemudian Abu Bakar ra menetapkan batas waktu kepada mereka yakni lima tahun.

    Namun nyata bangsa Romawi belum mendapapat kemenangan.

    Kemudian Abu Bakar memberitahukan hal itu kepada Rasulullah saw dan bersabda: "Kenapa tidak engkau katakakan sampai dibawah?"

    Ibnu Abbas berkata: "Aku berpendapat bahwa apa yang dimaksud oleh beliau saw adalah di bawah sepuluh tahun".

      Note:
      Tahun 614 M-615 M, Persia menang melawan Romawi. Jadi turun surat Ar ruum 30:1-6, seharusnya di tahun 615 M [atau 616 M]

      Tahun 622 M/623 M, Perang Romawi/Persia mulai lagi.
      Tahun 622 M, Hijrah ke Medinnah
      Tahun 625, Perang Uhud
      Desember 627 M, Perang terakhir dan dimenangkan oleh Romawi namun belumlah tuntas.
      Maret 628 M, Surat permintaan damai dari persia dan Perayaan kemenangan.

      Perhitungan:
      628 M - 616/615 M = 12/13 tahun
      628 M - 614/615 M = 13/14 tahun

      Jadi, jangankan "lima tahun" sebagaimana di sebutkan di riwayat ke-1, yang sudah menunjukan bahwa kaum kafir memenangkan pertaruhan BAHKAN jika memakai ucapan Ibn Abbas sebagaimana disebutkan di riwayat ke-2, yaitu "dibawah sepuluh tahun"-pun telah terlewati!

      Sehingga seharusnya: Abu bakar kalah, Nabi Muhammad kalah dan Allah salah

      Namun jika kita gunakan selisih waktu 7 tahun antara pertaruhan dan kemenangan Romawi [628 M] sebagaimana yang disebutkan di riwayat ke-1, maka surat Ar Ruum 1-6 seharusnya turun pada 621 M atau 2 (dua)tahun SETELAH wafatnya Khadijah dan Abu Talib [619 M]!

      Artinya bahkan hingga 1 (satu) tahun SEBELUM Hijrah ke Medinnah-pun, TIDAK PERNAH kaum Quraish memusuhi Muhammad dan pengikutnya dan semuanya justru disebabkan oleh Muhammad dan pengikutnya sendiri!
Di atas, telah disampaikan hadis ketika menjelang wafatnya, Abu talib tidak mau menyembah Allah. Hadis itu sama sekali tidak menyinggung Abu Talib juga diminta bersaksi bahwa "Muhammad adalah Rasul Allah". Ini membuktikan bahwa hingga saat itu, kalimat Syahadat belumlah ada. Kalimat syahadat tidak pernah ada di Al Qur'an, Hadis Bukhari [ini dan ini] dan Muslim hanya menyebutkan kata "Rasulnya" tanpa menyebut nama Muhammad dan Syahadat hanya disebutkan di kumpulan 40 Hadis Nawawi [Abad ke-13], di hadis ke-2 dan ke-3 disebutkan "Muhammad/SAW adalah Rasulnya"

Sangat jelas, bahwa ajaran yang dibawa oleh Muhammad adalah ajaran yang sama yang dibawa oleh Waraqa. Mereka berdua [Waraqa dan Khadija] tidak pernah bersaksi untuk mengucapkan Muhammad adalah Utusan Allah. Waraqa hanya menyampaikan informasi dan dugaan tentang yang ia ketahui di ajaran yang diterimanya, Khadija mempercayai Muhammad sebagai suaminya sementara Ali bin Abu talib mempercayai Muhammad karena ia yang merawatnya sejak kecil.

Khadijah meninggal tiga tahun sebelum Aisha menikah dengan Muhammad. [Muslim 4.29.5971-5972 hal.1297, Bukhari 5.58.164,165 hal.103]. Setelah Khadija wafat, Istri kedua Muhammad adalah Saudah bin Zam’ah dan setelah itu beliau mempunyai istri lebih banyak lagi, sekurangnya tercatat sebanyak 15 istri, 2 dari istrinya diceraikan, itu belum termasuk budak atau "milik tangan kanan" nabi [Bukhari 5.524 – selir].
    Seandainya Rasulullah s.a.w berkehendak untuk memiliki ribuan budak perempuan dan selir, tentu saja Rasulullah s.a.w. tidak akan mengurangi haknya untuk mengambil hal tersebut. Apalagi….[Biografi Rasullulah, Dr. Mahdi Rizqullah Ahmad, Penerbit Qisthi press, Januari 2006, hal.887]
catatan: Perhatikan kalimat Rasulullah s.a.w berkehendak, sangat mendekati tuduhan Aisyah bahwa Allah bergegas ketika memenuhi hasratnya dan bukan karena ijin Allah.

[kembali]


Saudah Binti Zama (Menikah 620 M, umur 30 Tahun)

Setelah berpulangnya Khadijah yang menemaninya selama 24 Tahun anak-anak Muhammad yg masih kecil diurus oleh Saudah. Sebelumnya, Saudah telah menikah dengan As-Sukran ibn ‘Amr Al-‘Amiriy, Krsiten, tinggal dan meninggal di Abyssinia dan wafat disana. [Tabari vol.9 hal.128. Di catatan kaki no.878 (hal 129) dikatakan bhw saudah dan muhammad menikah di Ramadhan, tahun ke-10 kenabian. Di satu waktu di periode belakangan Medina, Saudah diceraikan Muhammad namun kemudian dikawini lagi.(Ibn Ishaq, Kitab Al-Mubtada',238. Ibn Sa'd, Tabaqat, vol.8, 35-39)]. .

Dua bulan setelah meninggalnya Khadijah, Muhammad (51 tahun) menikahi Saudah ditahun 620M. Saudah dikisahkan sebagai seorang janda dengan tinggi tubuhnya diatas rata-rata wanita, tidak menarik, berbadan besar/gemuk.
    Aisha melaporkan …….. Dia adalah wanita yang amat besar, lebih tinggi diantara wanita, dan dia tidak dapat menyembunyikan dirinya dari siapapun yang telah mengenalnya.[Muslim 26.5395]
Dia hidup hingga akhir masa kejayaan Kalifah Umar. Dikisahkan bahwa Saudah harus menyerahkan `jatah malam'nya bersama Muhammad utk diberikan pada Aisha, apabila Saudah menolak maka ia akan diceraikan. QS 4 : 128
    [..]Dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka)[..]
Berikut latar belakang ayat diatas sesuai tafsir Tafsir Ibn Kathir:
    (dan perdamaian itu lebih baik) …. Dan penyelesaian ini lebih baik dari perceraian. (dan membuat kedamaian adalah lebih baik).....dan keutuhan adalah lebih baik dari perceraian. Sebagai contoh, Rasulullah mempertahankan Saudah binti Zamah sebagai istrinya setelah Saudah menawarkan untuk memberikan jatah harinya kepada Aisha.

    Dengan mempertahankan Saudah sebagai istrinya, umatnya bisa mengikuti penyelesaian seperti ini. Karena penyelesaian dan perdamaian lebih baik bagi Allah dibandingkan perceraian.
Tafsir diatas tidak menuliskan kenapa Muhammad SAW mau menceraikan Saudah. Salah satu alasan handak menceraikan disebutkan di sahih Muslim berikut yaitu karena Saudah ‘sudah tua’.
    [..] Ketika dia (Saudah) menjadi tua, dia telah memberikan jatah harinya bersama Rasulullah kepada Aisha [..][Muslim 8.3451.]

    Diriwayatkan oleh Aisha:
    Manakala Rasulullah ingin berpergian, dia akan mengundi siapa isterinya yang akan menemani dia. Dia akan membawa isteri yang namanya terundi. Dia biasanya menetapkan kepada setiap dari mereka satu hari dan satu malam. Tetapi Sauda bint Zam'a melepaskan (gilirannya) siang dan malam kepada Aisha, isteri Nabi, demi untuk mencari kesenangan Rasulullah (dengan perbuatan demikian)[Bukhari 3.47.766]
Banyak pendapat menyatakan bahwa ketika Saudah menikah dengan Nabi, usia Saudah adalah 50 tahun s/d 70 tahun.

Benarkah demikian?

Saudah meninggal di 54 H [674 M]:
    Beliau wafat tahun 54 H yang berarti 44 tahun sudah nabi wafat dalam umur yang begitu lanjut [..] [Abbas Jamal, hal.18]Saudah masih hidup hingga jaman Muawiyah 1 (memerintah mulai tahun 661-29April/01 May 680). Muawiyah membeli rumah saudah seharga 180.000 dirham. Saudah wafat di pemerintahan muawiyah 1 pada bulan shawwal 54H/Oktober 674 Masehi (The Encylopedia of Islam (new edition), Vol.9, tahun 1995, hal.90)
Saudah dikawini Muhammad 2 tahun sebelum Hijrah. (620 masehi). jika kita percaya bahwa usianya saat dinikahi adalah 70 tahun maka saat wafat ia berusia 70+54H+2 = 126 tahun! Ini adalah pendapat yang paling tidak rasional mengenai umur Sauda saat dinikahi bahkan untuk usia 50 tahun saja (106 tahun) juga merupakan pendapat yang TIDAK RASIONAL

Kemudian,
Hindun/Ummu Salamah dinyatakan sebagai Istri nabi dengan usia terpanjang (84 tahun /59 H). Sementara mereka yang wafat di jaman Muawiyah 1 sekurangnya ada 5 (Safiyya, Saudah, Maymunah, Umm Salamah dan Aisyah)

Jika dianggap usia wafat saudah = usia wafatnya Hindun (84 tahun), Maka usia Saudah dinikahi: 84 - (674-620) = 30 tahun!
Jika usia 70 tahun yang dimaksud adalah umur wafatnya, maka usia Saudah dinikahi: 70-54 = 16 tahun!

[kembali]


Aisyah binti Abubakar Al Sidiq (Menikah 622/623M, Umur:Tunangan 6 th, Nikah: 9 tahun)

Ada kemungkinan ‘Aisha dinikahi sebelum Sauda, namun ‘Aisha memasuki Rumah Muhammad setelah Sauda dinikahi Muhammad [Muslim 8.3451 hal.747, Muslim 7.2958 p.651; Muslim vol.2 footnote 1918 hal.748; Bukhari 3.34.269 hal.154; Vol.3 no.853 hal.29]

Aisyah dinyatakan diperistri pada bulan syawal, tujuh bulan setelah hijrah dari mekah ke meddinah. Riwayat-riwayat banyak menuturkan bahwa Aisyah adalah istri kesayangan Nabi hingga Nabi wafat dipangkuannya. Ketika Muhammad wafat, dia berumur 18 tahun dan Aisah meninggal diumur 57 tahun.

Dalam Al-Kutub At-Tis’ah, riwayat Hadits yang disandarkan kepada ‘Âisyah berjumlah 5965. Hadits riwayat ‘Âisyah terdapat di semua kecuali di dua tema Sahih Al-Bukhari, di Sahih Muslim terdapat dalam 43 tema, di Sunan An-Nasaiy, terdapat dalam 41 tema, diAt-Tirmizi terdapat dalam 38 tema, di Ibn Majah terdapat 30 tema, di Abû Dawud terdapat 29 tema, di Ad-Darimiy terdapat dalam 20 tema dan di Al-Muwatta’ memuat 20 tema.

Dalam kalangan islam sendiri pendapat mengenai usia pernikahan Aisyah terbagi menjadi 3:
  1. Kelompok yang Mempercayai dan mengamini tindakan muhammad yang menikahi aisah pada usia 6 tahun dan mengaulinya pada usia 9 tahun
  2. Kelompok yang melakukan pembelaan bahwa aisah sudah haid dan boleh "digauli"
  3. Kelompok yang menganggap cerita itu hanya Dongeng belaka (tidak ada pernikahan antara aisah dan muhammad)
Bukti-Bukti Hadis SAHIH Bahwa Aisyah menikah umur 6/7 dan 9 Tahun:
    Bukhari:

    • Riwayat Farwah bin Abu Al Maghra- 'Ali bin Mushir - Hisyam bin Urwah - bapaknya - 'Aisyah: Nabi SAW menikahiku saat aku berusia 6 tahun..Akhirnya mereka menyerahkan aku kepada beliau dimana saat itu usiaku 9 tahun".[Bukhari no.3605]
    • Riwayat 'Ubaid bin Isma'il - Abu Usamah - Hisyam bin Urwah - bapaknya: "Khadijah wafat sebelum hijrah Nabi SAW ke Madinah selang 3 tahun. Lalu beliau tinggal di Madinah 2 tahun atau sekitar masa itu kemudian beliau menikahi 'Aisyah ketika dia berusia 6 tahun. Kemudian tinggal bersamanya ketika dia berusia 9 tahun". [Bukhari no.3607]
    • Riwayat Muhammad bin Yusuf - Sufyan - Hisyam bin Urwah - bapaknya - Aisyah: Nabi menikahinya ketika ia berusia 6 tahun dan berhubungan suami istri ketika dia berusia 9 tahun, dan dia tetap menjadi istrinya selama 9 tahun (yaitu sampai kematian nya (Nabi) [Bukkhari 6.62.64/4738]
    • Riwayat Mu'alla bin Asad - Wuhaib - Hisyam bin Urwah - bapaknya - Aisyah: Nabi menikahinya saat ia 6 tahun dan ia melaksanakan perkawinan saat ia 9 tahun. Hisham mengatakan: Saya diberitahu bahwa 'Aisha tinggal bersama nabi selama 9 tahun ...' [Bukkhari 6.62.65/4739]
    • Riwayat Qabishah bin Utbah - Sufyan - Hisyam bin Urwah - Urwah: Nabi menulis (perjanjian perkawinan) dengan 'Aisha saat ia 6 tahun dan melangsungkan perkawinan dengannya saat ia 9 tahun dan ia tinggal dengan nabi selama 9 tahun (hingga nabi wafat) [Bukkhari 6.62.88/4761]

    Muslim:

    • Riwayat (Abu Kuraib Muhammad bin Al 'Ala`- Abu Usamah dan Abu Bakar bin Abi Syaibah - Abu Usamah) - Hisyam - ayahnya - 'Aisyah: Rasullulah menikahiku ketika aku berumur 6 tahun dan ke rumahnya di usia 9....[Muslim 8.3309/2547]
    • Riwayat (Yahya bin Yahya - Abu Mu'awiyah - Hisyam bin 'Urwah dan Ibnu Numair - 'Abdah (Ibnu Sulaiman) - Hisyam - ayahnya - 'Aisyah): Rasulullah (saw) menikahi saya ketika saya berusia 6 tahun dan saya masuk rumahnya ketika saya berusia 9 tahun’.[Muslim 8.3310/2548]
    • Riwayat Abd bin Humaid - Abdur Razzaq - Ma'mar - Az Zuhri - 'Urwah - 'Aisyah: Nabi SAW menikahinya, ketika dia berusia 7 tahun, dan dia diantar ke kamar beliau ketika berusia 9 tahun, dan ketika itu dia sedang membawa bonekanya, sedangkan beliau wafat darinya ketika dia berusia 18 tahun.[Muslim 8.3311/2549]
    • Riwayat [Yahya bin Yahya, Ishaq bin Ibrahim (ke-2nya mengatakan: telah mengabarkan pada kami) dan Abu Bakar bin Abi Syaibah, Abu Kuraib (ke-2nya mengatakan: telah menceritakan pada kami)] - Abu Mu'awiyah - Al A'masy - Ibrahim - Al Aswad - 'Aisyah: Rasul menikahinya pada saat Aisha berumur 6 tahun dan tinggal bersamanya pada saat Aisha berumur 8 tahun dan meninggal pada saat Aisha berumur 18 tahun [Muslim 8.3311/2550, walaupun nomor sama namun ini dari jalur perawi yang berbeda]

    Abu Dawud:

    • Riwayat Sulaiman bin Harb, Abu Kamil - Hammad bin Zaid - Hisyam bin 'Urwah - ayahnya - Aisyah: Rasullulah mengawiniku saat usiaku 7 tahun” (Periwayat Sulaiman berkata: ‘atau 6 tahun’). Ia berhubungan badan dengan ku saat aku berusia 9 tahun’[Abu Dawud 11.2116/1811, Disahihkan Albani]
    • Riwayat (Musa bin Isma'il - Hammad) dan (Bisyr bin Khalid - Abu Usamah) - Hisyam bin Urwah - Bapaknya - 'Aisyah: Rasullullah mengawiniku ketika aku 7 atau 6 tahun. Ketika kami sampai Medina, beberapa perempuan datang. Menurut Versi Bishr: Umm Ruman datang padaku ketika aku sedang berayunan. Mereka membawaku, menyiapkanku dan menghiasku. Aku kemudian di bawa ke Rasullullah, dan Ia mengawiniku ketika aku berusia 9 tahun..[Abu Dawud 42.4915/4285. Hadis Abu Dawud 42.4916 dan Abu Dawud 42.4917, dikawini umur 9 tahun, tanpa menyebutkan ada usia 6 atau 7 tahun. Ketiga Hadis ini disahihkan oleh Albani ]

    Ibn Majjah:

    • Riwayat Suwaid bin Sa'id - Ali bin Mushir - Hisyam bin Urwah - Bapaknya - 'Aisyah: Rasulullah SAW menikahiku di saat umurku 6 tahun..Ibuku lantas menyerahkan aku kepada beliau, sementara umurku waktu itu masih 9 tahun." [Ibn Majjah no.1866]
    • Riwayat Ahmad bin Sinan - Abu Ahmad - Isra`il - Abu Ishaq - Abu 'Ubaidah - Abdullah: Nabi mengawini aisah ketika ia berusia 7 tahun dan menggaulinya dalam perkawinan ketika Ia berusia 9 tahun, dan Nabi wafat ketika Ia berusia 18 tahun [Ibn Majah 9.1877. Ibn Majah ada juga meriwayatkan dari Jalur Hisham dan juga sahih yaitu di 9.1876]

    Nasai:

    • Riwayat Ishaq bin Ibrahim - Abu Mu'awiyah - Hisyam bin 'Urwah - ayahnya - Aisyah: Rasulullah SAW menikahinya sedang ia berumur 6 tahun dan membangun rumah tangga dengannya sedang ia berumur 9 tahun [Nasai no.3203]
    • Riwayat Ahmad bin Sa'd bin Al Hakam bin Abu Maryam - pamanku (Sa'id bin Abi Maryam Al Hakam bin Muhammad bin Salim) - Yahya bin Ayyub - 'Ammarah bin Ghaziyyah - Muhammad bin Ibrahim - Abu Salamah bin Abdur Rahman - Aisyah: Rasulullah SAW menikahiku sedang saya adalah anak yang berumur 6 tahun, dan beliau berumahtangga denganku saat umurnya 9 tahun. [Nasai no.5122]
    • Riwayat Qutaibah - A’bthar - Mutarrif - Abu Ishaaq - Abu U’baidah - Aisha: Rasul menikahiku pada saat umur 9 tahun dan aku tinggal bersamanya selama 9 tahun [Sunan Nasai 4.26.3259, disahihkan oleh Albani]

    Ahmad:

    • Riwayat Sulaiman bin Daud - 'Abdurrahman - Hisyam bin 'Urwah - ayahnya - Aisyah: "Rasulullah SAW menikahiku di Mekah ketika saya berumur 6 tahun, yaitu setelah kewafatan Khadijah. Kemudian beliau mulai menggauliku ketika saya berumur 9 tahun di Madinah." [Ahmad no.23722]
    • Riwayat Muhammad bin Basyar - Muhammad bin Amru - Abu Salamah dan Yahya: ..Kemudian Abu Bakar berkata kepada Khaulah; 'Panggilkan Rasulullah kepadaku.' Lalu ia memanggilnya dan menikahkan Aisyah dengan beliau. Tatkala itu, Aisyah masih berumur 6 tahun.. Kemudian Khaulah binti Hakim pergi menemui Saudah binti Zam'ah..Dia (Ayah saudah) berkata; 'Panggilkan beliau untukku.' Lalu Rasulullah SAW datang kepadanya dan ia menikahkan Saudah dengannya..Aisyah berkata; "Lalu kami datang ke Madinah..Lalu ibuku mendudukkanku di pangkuannya (Muhammad)..Lalu para lelaki dan wanita segera beranjak pergi dan Rasulullah SAW mulai menggauliku di rumah kami..sementara aku ketika itu masih berumur sembilan tahun." [Ahmad no.24857]
    • Riwayat Abu Muawiyah - Al-A'masy - Ibrahim - Al-Aswad - Aisyah: "Rasulullah SAW menikahinya (Aisyah) ketika dia masih seorang gadis yang berumur sembilan tahun, dan beliau meninggal ketika ia berumur delapan belas tahun." [Ahmad no. 23023, juga di no.24587, semuanya bukan dari jalur perawi Hisyam.]
Pengarang Sejarah Kehidupan Muhammad:
    [..]Rasulullah … menikah dengan Aisyah ….. Ketika itu Aisyah berumur enam tahun. Kemudian pada bulan Syawal tahun pertama hijrah, beliau mulai menggaulinya, di Madinah. Ketika itu Aisyah berumur sembilan tahun. [Mubarakfury, halaman 185]
    Umur Aisyah waktu itu baru menginjak 7 tahun … tetapi beliau baru serumah dengan Aisyah sebagai suami istri setelah terjadinya hijrah ke Madinah kurang lebih tiga tahun kemudiannya. Bagi Aisyah puteri Abu Bakar yang masih lugu[..] [Abbas Jamal, halaman 21]
Nabi pun sempat memuji "legitnya" Aisha adalah seperti tharid (hidangan roti dan daging) yang tidak ada bandingannya.
    Riwayat Abu Musa:
    Rasullulah berkata: ’Banyak para lelaki mencapai (tingkat) kesempurnaannya namun tidak diantara para wanita mencapai tingkat itu kecuali Asia, Istri dari Pharaoh (Firaun) dan Mary anak dari Imran dan tidak diragukan lagi superioritas Aisah dari wanita-wanita lainnya ia bagaikan keunggulan rasa dari Tharid (sejenis daging dan roti) dibandingkan dengan makanan lainya. [Bukhari 4.55.623]
Aisah saat itu masih belum puber, masih main ayunan, main boneka:
    Ketika Nabi mengawini Aisha, ia sangatlah muda dan belum siap untuk melakukannya. [Tabari Vol.9, Hal.128]
    Diriwayatkan 'Aisha:
    Aku biasa bermain dengan boneka2 di depan sang Nabi, dan kawan2 perempuanku juga biasa bermain bersamaku. Kalau Rasul Allah biasanya masuk ke dalam (tempat tinggalku) mereka lalu bersembunyi, tapi sang Nabi lalu memanggil mereka untuk bergabung dan bermain bersamaku. (Bermain dengan boneka2 atau bentuk2 yang serupa itu dilarang, tapi dalam kasus ini diizinkan sebab Aisha saat itu masih anak kecil, belum mencapai usia pubertas) [Bukhari 8.73.151, Fateh-al-Bari, Vol. 13, hal.143]

    Diriwayatkan Aisha, Ummul Mu'minin:
    Rasul Allah menikahiku ketika aku berusia tujuh atau enam tahun. Ketika kami tiba di Medina, beberapa wanita datang, menurut versi Bishr: Umm Ruman datang padaku ketika saya sedang bermain ayunan. Mereka memandangku, mempersiapkanku, dan mendandaniku. Kemudian aku dibawa ke Rasul Allah, dan ia hidup bersamaku sebagai suami istri ketika aku berusia sembilan tahun. Ia (Umm Ruman) menghentikanku di pintu, dan aku meledak tertawa. Ia pun masih suka main boneka ketika Nabi pulang dari perang [Sunan Abu-Dawud 41.4915]

    Diriwayatkan oleh Aisha, Ummul Mukmin:
    ketika Rasullulah tiba dari ekspedisi ke Tabuk atau Khaibar (periwayat ragu), tirai lemari penyimpanan barang aisa terangkat dan terlihat beberapa boneka kepunyaannya Nabi berkata: Apa ini? Ia menjawab: bonekaku, diantaranya ada mainan kuda dengan sayap dari potongan kain, dan nabi berkata: Apa ini? Ia menjawab: kuda. Nabi berkata: apa yang ada padanya? Ia mejawab: dua sayap. Nabi bertanya: Kuda dengan dua sayap? Ia menjawab: Tidak engkau pernah mendengar bahwa Sulaiman mempunyai kuda bersayap? Ia berkata: Setelah itu Rasullulah tertawa begitu lebarnya sehingga kudapat melihat hingga gigi gerahamnya [Sunan Abu Dawud 36.4914.]
Terdapat Fatwa ulama, YAITU ketika Aisha masih belum menstruasi, cara Muhammad menggauli anak kecil itu dengan meletakkan PENISNYA di antara paha AISHA, seperti yang disampaian dalam islamic-fatwa.net, (juga ada di buku "The truth about Islam", Ibn el Nile, 2008, hal 104):

 

Sample lain arabic dari gambar di atas, Fatwa no.31409:

فتوى رقم [31409] تاريخ 7\5\1421ه
الحمد لله وحده والصلاة والسلام على من لا نبي بعده---وبعد:
فقد اطلعت اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والافتاء على ما ورد الى سماحة المفتي العام من المستفتي ابو عبدالله محمد الشمري والمحال الى اللجنة من الامانة العامة لهيئة كبار العلماء برقم 1809 وتاريخ 3\5\1421ه وقد سأل المستفتي سؤالا هذا نصه:
انتشرت في الاونة الاخيرة ,وبشكل كبير وخاصة في الاعراس عادة مفاخذة الاولاد الصغار ,ماحكم ذلك مع العلم ان رسول الله صلى الله عليه وسلم كان قد فاخذ سيدتنا عائشة رضي الله عنها

وبعد دراسة اللجنة للاستفتاء اجابت بمايلي:ليس من هدي المسلمين على مر القرون ان يلجأن الى استعمال هذه الوسائل الغير شرعية والتي وفدت الى بلادنا من الافلام الخلاعية التي يرسلها الكفار واعداء الاسلام ,اما من جهة مفاخذة رسول الله صلى الله عليه وسلم لخطيبته عائشة فقد كانت في سن السادسة من عمرها ولا يستطيع ان يجامعها لصغر سنها لذلك كان صلى الله عليه وسلم يضع اربه بين فخذيها ويدلكه دلكا خفيفا ,كما ان رسول الله يملك اربه على عكس المؤمنين
بناء على ذلك فلا يجوز التعامل بالمفاخذة لا في الاعراس ولا في المنازل ولا في المدارس ,لخطرها الفاحش ولعن الله الكفار ,الذين اتوا بهذه العادات الى بلادنا,

اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والافتاء
عضو:بكر بن عبد الله ابو زيد
عضو:صالح بن فوزان الفوزان
الرئيس عبد العزيز بن عبد الله بن محمد آل الشيخ

Terjemahannya kurang lebih sebagai berikut (saya gunakan arab yang bawah):
Fatwa No.31409 tanggal 7/5/1421 AH (8 Agustus 2000)
Puji syukur pada Allah dan shalawat kepada Nabi terakhir dari semua nabi.

Komite Tetap untuk Riset Ilmiah dan Ifta memperhatikan pada apa yang Mufti Besar Abu Abdullah Muhammad Al Shamry kirimkan ke SEKJEND Dewan Ulama Senior Komite no.1809 tanggal 3/5/1421, yang mengajukan pertanyaan sebagai berikut:

Akhir-akhir ini, yang mewabah dalam skala besar, terutama di pernikahan, kebiasaan mufa'khathah anak kecil; apa putusan quran tentang ini, terutama bahwa Rasullullah SAW telah melakukan mufaakhatha pada Aisyah, Panitia setelah mempelajari permintaan ini, memutuskan hal-hal berikut:


Ini bukan petunjuk yang benar untuk Muslim selama berabad-abad dalam melakukan praktek-praktek yang melanggar hukum, yang diimpor ke negara kita melalui video asusila kiriman orang-orang kafir dan musuh-musuh Islam. Adapun mufa'khata yang dilakukan rasullullah pada tunangannya Aisyah, ia berusia 6 tahun dan tidak dapat melakukan hubungan seksual dengannya karena usia yang masih kecil, Oleh karenanya, yang nabi lakukan adalah menempatkan penisnya di antara kedua pahanya dan mengosok-gosok lembut. Selain itu, Rasullullah memegang kendali penuh atas penisnya tidak seperti orang beriman lainnya. Oleh karena itu, tidak diizinkan untuk melatih mufakhata, baik di pernikahan, atau rumah atau sekolah, karena mengandung bahaya ahli kubur. Dan semoga Allah mengutuk orang-orang kafir yang membawa praktek-praktek ini kenegara kita.

Komite tetap untuk riset sains dan putusan agama adalah:
Ketua: Abdul Aziz bin Abdullah bin Muhammad Al Sheikh
Anggota: Bakr bin Abdullah Abu Zaid
Anggota: Saleh bin Fozan Al Fozan

sample lain yaitu Fatwa jaringan Islam, no.23672, yang berasal dari islamweb, dengan supervisi Dr Abdullah Al-Faqih, Professor ilmu politik sains universitas Sana'a:



رقم الفتوى 23672 حدود الاستمتاع بالزوجة الصغيرة
تاريخ الفتوى : 06 شعبان 1423
السؤال
أهلي زوجوني من الصغر صغيرة وقد حذروني من الاقتراب منها ماهو حكم الشرع بالنسبة لي مع زوجتي هذه وما هي حدود قضائي للشهوة منها وشكرا لكم؟
الفتوى
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أما بعد:
فإذا كانت هذه الفتاة لا تحتمل الوطء لصغرها، فلا يجوز وطؤها لأنه بذلك يضرها، وقد قال النبي صلى الله عليه وسلم " لا ضرر ولا ضرار " رواه أحمد وصححه الألباني.
وله أن يباشرها، ويضمها ويقبلها، وينزل بين فخذيها، ويجتنب الدبر لأن الوطء فيه حرام، وفاعله ملعون.
ولمزيد الفائدة تراجع الفتوى رقم 13190 والفتوى رقم 3907
والله أعلم.
المفتي: مركز الفتوى بإشراف د.عبدالله الفقيه
فتاوى ذات صلة
يجوز للزوج الاستمتاع بزوجته الحائض إلا الوطء
يجوز للرجل الاستمتاع بزوجته إلا الدبر وأوقات الحيض والنفاس
يحرم على الرجل إتيان زوجته في الدبر أو في حيضها ونفاسها
المزيد

Terjemahannya kurang lebih sebagai berikut:
Fatwa No 23672 tentang batas dalam menikmati istri yang berumur masih kecil
Fatwa Tanggal: 6 Agustus 1423
Pertanyaan: Orang tuaku mengawiniku dengan anak kecil yang belum puber. Bagaimana aku menikmati seksual bersamanya?
Jawab: ..Jangan sakiti dia jika ia belum dapat melakukan hubungan seks, namun engkau dapat memeluknya, menciumnya dan melakukan ejakulasilah diantara dua kakinya..[..]

Tafsir Quran untuk AQ 65.4 dari Ibn kathir, Jalalyn dan juga Ibn Abbas menyatakan bahkan pada anak kecil yang belum MENSTRUASI, batas waktu tunggu (idah) setelah anak kecil itu diceraikan suami sebelumnya agar dapat digauli secara seksual juga 3 bulan!

Di samping kalangan sunni, kalangan syiah juga mengijinkan menggauli bayi/anak kecil yang belum menstruasi dengan cara yang sama:
    "Adalah legal bagi pria dewasa untuk menggauli 'thigh' atau menikmati gadis kecil yang dalam masa menyusui; artinya meletakan penisnya diantara 'thighs' (paha), dan menciumnya" [Ayatollah Al Khomeini, "Tahrir Al wasila," hal. 241, issue no.12]. Juga silakan lihat youtube tentang "thigh"
Alasan Muhammad mengawini Aisha adalah untuk memperkuat tali persaudaraan dengan "saudara angkatnya" Abu Bakr.
    Muhammad Melamar Aisyah [..]Masa berkabung terhadap Khadijah itu pun sudah pula berlalu. Terpikir olehnya akan beristri, kalau-kalu istrinya itu kelak akan dapat juga menghiburnya, dalam mengobati luka dalam hatinya, seperti dilakukan Khadijah dulu. Tetapi dalam hal ini ia melihat pertaliannya dengan orang-orang Islam yang mula-mula itu harus makin dekat dan perlu dipererat lagi. Itu sebabnya ia segera melamar putri Abu Bakr, Aisyah. Oleh karena waktu itu ia masih gadis kecil yang baru berumur tujuh tahun, maka yang dilangsungkan baru akad nikah, sedang perkawinan berlangsung dua tahun kemudian, ketika usianya mencapai sembilan tahun. [Sejarah Hidup Muhammad, Muhammad Husain Haekal, diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah, Cetakan ke-18, Litera AntarNusa, ISBN:979-8100-02-6). Hal.151]

    Perkawinan Nabi dengan Aisyah: ...... Ketika itulah Muhammad menyelesaikan perkawinannya dengan Aisyah bt. Abu Bakr, yang waktu itu baru berusia sepuluh atau sebelas tahun [note: di hal 151, dikatakan berumur 9]. Ia adalah seorang gadis yang lemah-lembut dengan air muka yang manis dan sangat disukai dalam pergaulan. Ketika itu ia sedang menjenjang remaja putri, mempunyai kegemaran bermain-main dan bersukaria. Pertumbuhan badannya baik sekali. Pertama ia pindah ke tempatnya yang sekarang di samping tempat Sauda di sisi mesjid, ia melihat Muhammad adalah seorang ayah yang penuh kasih-sayang, seorang suami yang penuh cinta-kasih. Ia tidak keberatan ikut bermain-main dengan barang-barang mainannya itu.. [Hal. 206]
Alasan itu tidak valid karena Abu Bakar sebelumnya menyatakan keberatannya dengan pernikahan ini karena mereka adalah saudara angkat. Padahal Nabipun pernah menolak tawaran dari Hamza, ‘saudara angkatnya’ juga, untuk menikahi puterinya:
    Diriwayatkan 'Ursa:
    Nabi meminta Abu bakar untuk memperkenankan Ia menikahi Aisha. Abu bakar berkata ‘Namun Aku kakak mu’ Nabi menjawab.’ Kau kakakku di agama Allah dan di kitabnya, namun dia (aisah) diperkenankan bagiku untuk mengawininya’[Bukhari 7.62.18]
Abu Bakr sebenarnya tidak salah karena dalam tradisi bangsa Arab persaudaran walaupun saudara angkat sama artinya dengan saudara kandung. Demikian juga dengan anak angkat. Tabu untuk mengawini anak saudara angkat atau isteri anak angkat menurut moral bangsa2 Arab pada waktu itu. Namun Nabi Muhammad sendiri pun menolak saat di tawari untuk menikah dengan anak Hamza (yang juga adalah saudara angkat seperti halnya Abu Bakr) dengan alasan bahwa anak Hamza adalah keponakan angkatnya (Padahal Aisha juga adalah keponakannya)
    Diriwayatkan Ibn ‘Abbas:
    Di katakan kepada Nabi, ‘Kenapa tidak mengawini anaknya Hamza?’ Ia berkata, ‘Ia (anak perempuan Hamza) adalah keponakan angkatku.’[Bukhari 7.62.37]
Baik kalangan sunni maupun syi’ah menghalalkan anak kecil di nikahi. Ayatullah Rohullah Khomeini, dari negara iran (yang memberikan Fatwa Mati bagi penulis “ayat-ayat setan”, salman rusdie) membuat peraturan usia minimal pernikahan adalah 9 th.

Ketentuan RUU Perkawinan yang dipandang tidak sesuai dengan ajaran Islam, dengan fikih perkawinan dari IKADABANDUNG:
    [..]Ketiga,
    batas usia perkawinan. Jumhur ulama berpendapat bahwa perkawinan anak kecil dibolehkan 1).Abu Hanifah, Malik Ibn Anas, al-Syafi`i, dan Ahmad Ibn Hanbal membolehkan perkawinan anak kecil. Alasannya adalah karena Nabi Muahmmad Saw. menikah dengan Aisyah ra. ketika masih berumur 7 tahun dan tinggal bersama Nabi Saw. pada usia 9 tahun2) Oleh karena itu, ulama memandang bahwa penentuan batas usia perkawinan tidak sejalan dengan sunah Nabi Saw.
    1. Wahbah al-Zuhayli, al-Fiqh al-Islâmî wa Adillatuh, (Beirut: Dar al-Fikr, 1984), j. VII, h. 179-180; lihat pula Jaih Mubarok, Pemikiran al-Thahthawi tentang Ijtihad dan Perwujudannya dalam Fiqh, (Jakarta: PPs IAIN Syarif Hidayatullah, 1998), disertasi, h. 120, t.d.
    2. Hadits Nabi Saw. dibedakan menjadi tiga: perkataan (qawl), perbuatan (fi`l), dan ketetapan (taqrîr). Nabi Saw. menikah dengan Aisyah pada usia 9 tahun menunjukkan bahwa kawin dengan anak kecil dibolehkan karena Nabi Saw. telah melakukannya sebagai contoh (uswat) bagi umatnya. Riwayat tentang perkawinan Nabi Saw. dengan Aisyah Ra. antara lain dapat dilihat dalam Imam Bukhari, Shahîh Bukhârî, (Indonesia: Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah, 1981), j. VI, h. 134’ lihat pula Imam Muslim, Shahîh Muslim, (Bandung: Dahlan, t.th.), j. I, h.595.
Penentang Aisyah menikah umur 9 tahun
Kelompok mengatakan bahwa Aisyah sudah haid dan boleh "digauli", secara sepihak menganggap bahwa:
  1. Hisham ibnu `Urwah dikatakan mempunyai ingatan yang buruk dan tidak kredibel,

    Padahal para ulama-ulama berpengetahuan berpendapat sangat positif mengenai Hisham bin Urwah:

      Al-I’jli: "Ia adalah orang yang thiqah (dapat dipercaya)"

      Ibnu Hajar sendiri berpendapat bahwa Hisyam bin Urwah thiqah [At Taqrib 2/267] dan juga menyatakan Urwah bin Zubair seorang yang faqih yang thiqah [At Taqrib 1/671]

      Adz Dzahabi: Ia adalah seorang tokoh

      Muhammad ibn Sa’d: "Ia adalah narrator yang thiqah, yang menceritakan banyak Hadis dan Ia adalah hujjah (makna kata ini lebih kuat dari thiqah. Hujjah dapat diartikan bahwa sifat/karakter seseorang sudah cukup untuk dijadikan bukti)"

      Abu Hatim: "Ia adalah orang yang thiqah dan seorang iman (atau pemimpin) dari Hadis"

      Ya’qub ibn Shaibah: "Ia seorang yang bersungguh-sungguh terhadap apa yang diingatnya dan Ia seorang yang thiqah. Tak seorang pun menolak Hadis yang disampaikannya hingga suatu saat ia pergi ke Irak di mana ia mulai menceritakan Hadis dari ayahnya sementara pada kenyataannya Ia mendengar Hadis tersebut dari orang lain yang mendengarnya dari ayahnya."

      Abdur Rahman ibn Khirasj: "Maalik tidak senang dengan Hisham. Namun, Hisham adalah orang yang jujur dan cerita yang dikisahkannya dianggap sebagai Hadis yang paling otentik dibandingkan Hadis lain. Saya diberitahu bahwa Maalik tidak menyukainya dikarenakan kisah-kisah hadisnya kepada rakyat Irak. Hisham pergi ke Kufa 3 x. Suatu saat ia berkata 'Ayahku berkata kepadaku bahwa dia mendengar Aisha…' dan di lain waktu Hisham bercerita Hadits yang sama: 'Ayahku berkata kepadaku bahwa Aisha…' dan yang ke-3x Hisham bercerita: 'Ayahku menceritakan bahwa Aisha…'"

      Ibn Hibban menyebutkan Hisham dalam bukunya Thiqaat (buku yang berisi narrator-narator yang dapat dipercaya):
      Hisham ibn ‘Urwah ibn Az-Zubair ibn Al-A’wwam Al-Asdi adalah orang yang dikenal juga sebagai Abu Al-Mundhir. Hisham melihat Jabir ibn Abdullah dan Ibn ‘Umar dan menceritakan cerita Hadis tersebut dari Wahab ibn Kisan dan kalangan Tabi’in. Hisham meninggal setelah perang Al-Hazimah pada tahun 145 atau 146 AH dan Ia dilahirkan pada tahun 60 atau 61 AH. Dikatakan, Ia meninggal pada tahun 144 AH. Ia adalah seorang hafidz, luar biasa pengetahuan Hadisnya, saleh dan mulia.(Thiqaat Ibn Hibban tentang Hisham ibn ‘Urwah)

    Para ulama-ulama di atas ini jelas memahami betul tentang Hisham, sehingga tidaklah mengherankan mengapa para pengumpul hadis termasuk Bukhari, Muslim dan lainnya tetap saja menerima hadis dari Hisham ibn U’rwah, bukan?!.

  2. Menuduh bahwa Tabari dan Ibn Hajar tidak akurat mengenai umur Aisyah (Padahal: di samping mereka ini, tidak kurangnya banyak juga para pengumpul hadis dengan berbagai variasi para perawi tetap saja menyatakan umur Aisyah saat itu adalah 6/7 tahun)

  3. Mengkaitkan turunnya surat al Qamar yang di turunkan Mekkah dan mengklaim surat itu turun 9 tahun sebelum hijrah (tanpa sumber) serta mengkaitkan hadis bukhari bahwa Aisyah adalah gadis belia saat itu (jaariyah > 2 tahun. sedangkan Sibyah < 2 tahun)

      Maududi dalam Tahfim Al Quran AQ 54, mengutip para ulama tradisional menyatakan turunnya surat Al qamar di 5 tahun sebelum Hijrah.

      Namun itupun tampaknya tidak benar karena 2 ayat Al Qamar 54.44-45 turun saat perang badar (17 Ramadhan 2H/Maret 624 M) yaitu ketika menjawab pernyataan Abu Jahal di perang Badar, sebagaimana tercantum di AQ 54.44 ("Atau apakah mereka mengatakan: "Kami adalah satu golongan yang bersatu yang pasti menang.") maka turunlah AQ 54.45 (Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang) dan mungkin juga dilanjutkan dengan kalimat AQ 54.46 (Sebenarnya hari kiamat itulah hari yang dijanjikan kepada mereka dan kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit). [Lihat tafsir: Jalalayn, Tanwîr al-Miqbâs min Tafsîr Ibn ‘Abbâs dan Ibn Kathir]

      Tafsir Ibn Kathir menyatakan: ketika Muhammad mengucapkan kalimat AQ 54.45-46, Ia dalam keadaan mengenakan baju besi dan kemudian pergi keluar.

      Bukhari mengutip ucapan Aisyah menyatakan bagian surat AQ 54.46 di turunkan di Mekkah.

        Riwayat Ibrahim bin Musa - Hisyam bin Yusuf - Ibnu Juraij - Yusuf bin Mahik - Aisyah: (kepada seorang dari Irak) Ayat yang diturunkan pada Rasulullah SAW di Makkah yang pada saat itu aku masih anak-anak (jaariyah), adalah: 'BAL AS SAA'ATU MAU'IDUHUM WAS SAA'ATU ADHAA WA AMARR.(AQ 54.46).'[Bukhari 6.61.515]

      Kapan Hijrah terjadi? Kalangan Islampun beda pendapat:

      • Muhammad menjadi Nabi di umur 40 tahun, tinggal di Mekkah 10 tahun dan 10 tahunnya lagi di Medina (riwayat dari Rabia bin Abi Abdurrahman, Bukhari 4.56.747) Wafat diusia 60 tahun (riwayat Anas bin Malik: Bukhari 4.56.748, 7.22.787 dan Muslim 30.57.97; Riwayat Yahya - Malik - Rabia ibn Abi Abd arrahman - Anas pada Malik Muwatta 9.49.1.1).
      • Namun Ibn Abbas menyampaikan yang BERBEDA:
        Muhammad menjadi Nabi umur 40, tinggal di Mekkah 13 tahun, hijrah, tinggal di Medina 10 tahun dan wafat. (Bukhari 5.58.190) wafatnya umur 63 (Bukkhari 5.58.242) namun di kesempatan lain Ibn Abbas menyampaikan bahwa Muhammad di Mekkah selama 15 tahun, mendengar suara Jibril dan 7 tahun melihat gelombang cahaya jibril tapi tidak melihat bentuk, menerima wahyu 10 tahun dan tinggal di Mekkah selama 10 tahun (Muslim 30.5809) juga dari riwayat 'Ammar (mantan budak Bani Hashim), Ia bertanya ke Ibn Abbas, kemudian ibn Abbas bertanya ke banyak orang namun terdapat opini yang berbeda2, kemudian Ia sampaikan ke Ammar bhw Muhammad menjadi Nabi di usia 40, tinggal di Mekkah 15 tahun dan 10 tahun lagi di Medina (Muslim 30.5805).

      Jika kita ambil patokan 10 tahun adalah Hijriah, maka 5 tahun sebelum Hijrah. usia Aisyah > 2 tahun (Ia lahir 8 tahun sebelum Hijrah), ia bukan lagi sibyah namun sudah Jariyah.

      Penetapan tahun ke-5 sebagai tahun turunnya ayat itu adalah cukup tepat, mengingat pernah terjadi 40 pemimpin quraish mengambil satu keputusan bulat untuk memboikot mengucilkan bani Hasyim (dan bani Mutalib) baik mereka itu masih kafir maupun tidak akibat Abu Talib tidak mau ikut menegur dan menghentikan penghinaan muhammad dan pengikutnya yang dilakukan secara terus menerus terhadap sesembahan, adat istiadat suku quraish. Saat itu, Muhammad bahkan tidak di bunuh ataupun dilukai dan yang di hukum adalah pemimpin suku mereka sekaligus sukunya dengan cara di kucilkan agar menyadari tindakan tidak patutnya.

      Kejadian itu terjadi di tahun ke-7 kenabian atau tahun ke-5 kenabian, Sehingga kalimat, "kami adalah satu golongan yang bersatu yang pasti menang" sangat mungkin diucapkan di kejadian tersebut.

      kemudian, jika benar bagian ayat ini turun di Badr, yang tampaknya ini lebih masuk akal sebagai riwayat turunnya surat karena jika turun sebelum Hijrah (bahkan sampai 5 H) TIDAK ADA pernyataan perang apapun dari suku Quraish terhadap Muhammad dan kelompoknya.

      Kejadian di peristiwa badar ini merupakan akumulasi akibat perampokan-perampokan yang dilakukan Muhammad dan gerombolannya, Saat itu, karavan Abu Sufyan mengalami perampokan, namun kali ini sekumpulan kaum Quraish bangkit melakukan perlawanan mempertahankan diri dari para perampok jahanam. Di tahun peristiwa ini, Aisyah adalah jariyah (gadis belia) berusia dikisaran 10-12 tahun.

  4. Ibn Hajar, Tabari, Ibn Hisham, dan Ibn Hanbal kontradiksi satu sama lain (Padahal: riwayat yang menyangkut umur Aisyah menikah, mereka menyatakan di kisaran umur 6/7 tahun).

  5. Pembantah menggunakan hadis yang menyatakan orang-orang yang ikut perang harus di atas 15 tahun merujuk pada kejadian Ibn Umar yang tidak diijinkan ikut perang Uhud ketika usianya usia 14 tahun dan saat Perang Khandaq, ia berusia 15 tahun:

      Riwayat 'Ubaidullah bin Sa'id - Abu Usamah -'Ubaidullah - Nafi' - Ibnu'Umar:
      bahwa Ia pernah menawarkan diri pada Rasulullah SAW untuk ikut di perang Uhud (22 Maret 625 M), saat itu umurnya masih 14 tahun namun tidak diijinkan. Kemudian ia menawarkan lagi pada perang Khandaq (31 Maret + 27 hari, 627 M) saat itu usiaku 15 tahun dan Beliau mengijinkanku".

      Nafi' berkata; "Aku menemui 'Umar bin 'Abdul 'aziz saat itu dia adalah khalifah lalu aku menceritakan hadis ini, dia (Umar) berkata: "Ini adalah batas antara anak kecil dan orang dewasa". Maka kemudian Ia (Umar) MENETAPKAN pegawainya untuk MEWAJIBKAN kepada siapa saja yang telah berusia 15 tahun.

      [Bukhari no.2470 . Bukhari no.3788, "Nabi SAW pernah mendapatinya dalam barisan perang Uhud ketika berusia 14 tahun, namun beliau tidak mengizinkannya, dan kemudian beliau kembali menemukannya dalam barisan perang Khandaq, ketika ia berusia 15 tahun, beliau akhirnya mengizinkannya" Abu Dawud no.3827, "Nafi' berkata, "Aku telah menceritakan hadits ini kepada Umar bin Abdul Aziz, lalu ia berkata, "hadits ini adalah batas untuk membedakan anak kecil (ghulam, belum Baliqh) dengan orang dewasa")]

    Hadis-hadis di atas, Bukhari mengelompokkannya dalam bab: Balighnya anak kecil dan nilai persaksiannya sedangkan Abu Dawud mengelompokkannya dalam bab: Umur laki-laki yang diperbolehkan ikut perang. Namun demikian, bila hadis ini kemudian dimaknai sebagai pelarangan anak kecil ikut dalam perang, maka ini TIDAK BENAR. Hadis ini menginformsikan bahwa KHALIFAH UMAR menetapkan batas usia minimum anak agar dapat DIWAJIBKAN ikut dalam perang, yaitu mulai umur 15 tahun.

    Terdapat hadis-hadis yang mencatat keikutsertaaan aktif anak-anak kecil di medan perang, misal:

      Riwayat Ya'qub bin Ibrahim - Ibrahim bin Sa'ad - bapaknya - kakeknya - 'Abdur Rahman bin 'Auf:
      "Aku berada dalam barisan pasukan di perang Badar (17 Ramadhan 624 M) dan ketika aku menoleh ke samping kanan dan kiriku. Aku melihat dua anak lelaki kecil [ghulam, belum baliqh].
      Aku merasa heran dengan keberadaan keduanya ketika salah seorang dari keduanya berkata kepadaku secara pelan agar tidak didengar temannya; "Wahai paman, tunjukkan kepadaku Abu Jahal"
      Aku tanya; "Wahai anak saudaraku, apa yang akan kamu lakukan terhadapnya?"
      Jawabnya; "Aku telah berjanji kepada Allah. Jika aku melihatnya, aku akan membunuhnya". Anak yang satu lagi juga mengatakan hal yang sama kepadaku secara pelan pula.
      'Abdur Rahman bin 'Auf berkata; "Keberadaan keduanya sangat membahagiakan aku, lalu aku menunjukkan Abu Jahal kepada keduanya.
      Kedua anak itu melesat bagaikan dua ekor burung elang kemudian membunuh Abu Jahal. Kedua anak belia tersebut adalah dua putra 'Afra' [Bukhari no.6446].

      ***

      Riwayat Abdullah bin Muhammad - Mu'awiyah bin 'Amru - Abu Ishaq - Humaid - Anas bin Malik:
      "Pada perang Badar (17 Ramadhan 624), Haritsah mendapat luka padahal dia masih kecil (ghulam). Kemudian ibunya datang kepada Nabi SAW dan berkata; "Wahai Rasulullah, anda mengetahui kedudukan Haritsah di sisiku. Seandainya dia berada di surga aku akan sabar dan berharap memperoleh pahala.
      Namun kalau keadaannya lain, anda akan lihat apa yang aku lakukan".
      Maka beliau berkata: "Janganlah begitu. Atau apakah kamu merasa berat ditinggal oleh anakmu atau kamu kira surga itu hanya satu? Sesungguhnya surga itu banyak dan anakmu sekarang berada di dalam surga Firdaus".[Bukhari no.3683. Ahmad no.13287, 13368. Bukhari no.6082: Haritsah mati terluka terkena panah nyasar)]

      ***

      Riwayat Ahmad bin Muhammad - Abdullah - Hisyam bin 'Urwah - bapaknya ('Urwah bin Zubayr):
      bahwa para sahabat Nabi SAW berkata kepada Abdullah Az Zubair (kakaknya Urwah) dalam perang Yarmuk (Agustus 636 M); "Mengapa kamu tidak menerobos barisan musuh agar kami turut mererobos bersamamu?".
      Az Zubair berkata; "Jika aku merobos, kalian tentu akan berbohong". Mereka berkata; "Kami tidak akan melakukannya".
      Lantas Az Zubair menyerang musuh hingga dapat menerobos barisan mereka bahkan sampai mampu melewati mereka sementara tidak ada satu orangpun dari mereka yang mengikutinya untuk menyerang musuh. Kemudian dia kembali menghadap kepada musuh. Maka musuh itu mengambil tali kekang kudanya kemudian memukul Az Zubair dengan dua tusukan pada pundaknya.
      Diantara dua tusukan tersebut, satu tusukan dialaminya pada perang Badar (mungkin maksudnya perang badar ke-2 (626 M), setelah Uhud).'
      Urwah berkata; "Aku pernah memasukkan jariku pada (lubang) bekas tusukan itu untuk mempermainkannya, saat itu aku masih kecil  (berusia lebih kecil dari Az Zubair)".
      'Urwah melanjutkan; "Saat itu, Abdullah bin Az Zubair juga bersamanya dan Ia berusia 10 tahun. Az Zubayr membawanya di atas seekor kuda dan dijaga oleh beberapa laki-laki". [Bukhari no. 5.59.313/no.3678]

    Islam memang TIDAK MELARANG dan malah MENGANJURKAN untuk melibatkan anak-anak dalam pertempuran baik aktif bertempur ataupun hanya sebagai pelayan, sebagaimana disarankan Muhammad di Khaibar (7 May 628 M):

      Riwayat Qutaibah -Ya'qub - 'Amru - Anas bin Malik:
      Nabi SAW berkata pada Abu Thalhah: "Carilah seorang ghulam (anak kecil) sebagai pelayan dari ghulam milikmu untuk melayaniku selama keberangkatan ke Khaibar. Maka Abu Thalhah keluar bersamaku dengan memboncengku. Saat itu aku adalah seorang anak kecil yang hampir baligh. Aku melayani Rasulullah SAW saat Beliau singgah.." [Bukhari no.2679, dalam bab: Keutamaan orang yang mengajak anaknya dalam peperangan sebagai pelayan]

    Partisipasi Aisyah di perang Uhud (22 Maret 625 M):

    • Menemani Muhammad di tempat tidurnya di malam harinya
    • Di siang hari membantu keperluan minum pasukan.

      Riwayat Abu Ma'mar - 'Abdul Warits - 'Abdul 'Aziz - Anas bin Malik:
      Ketika perang Uhud berkecamuk, orang-orang melarikan diri dari Nabi SAW: "Sungguh aku melihat 'Aisyah binti Abu Bakar dan Ummu Sulaim berjalan dengan cepat hingga terlihat gelang kaki keduanya sambil membawa qirab (tempat ait terbuat dari kulit).

      Dan berkata perawi lain: mengangkut qirab, dengan selendang keduanya lalu menuangkan ke mulut para pasukan. Kemudian keduanya kembali untuk mengisi air kedalam qirab kemudian kembali datang menuangkan air ke mulut pasukan".[Bukhari no.2667/4.52.131. Muslim no.3376 ]

    Berdasarkan hadis-hadis diatas, karena anak-anak kecil juga dianjurkan ikut dalam peperangan sebagai pelayan dan malah banyak yang terlibat aktif dalam peperangan, maka klaim keberadaan Aisyah di perang Uhud dan Badar bahwa saat itu umur Aisyah adalah 15 tahun, sangatlah tidak berdasar.

    Keuntungan melibatkan anak-anak dalam perang utamanya karena pihak kafir tidak akan menyangka dan waspada pada anak-anak kecil itu, terbukti dengan terbunuhnya abu Jahal oleh anak-anak pada perang Badar!

    Itulah juga mengapa, Muhammad terpaksa membolehkan membunuhi anak kecil dan wanita dalam perang dan/atau jika dikhawatirkan anak kecil tersebut membuat seseorang menjadi kafir/murtad.

    • Quran:
      Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidhr membunuhnya. Musa berkata: "Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar".[AQ 18.74] Dan adapun anak muda itu, maka keduanya adalah orang-orang mu'min, dan kami KHAWATIR bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran.[AQ 18.80]

      Tafsir Ibn kathir:
      Ibn `Abbas meriwayatkan dari Ubayy bin Ka`b bahwa Nabi berkata: (Anak kecil yang Al-Khidr bunuh telah ditakdirkan menjadi kafir pada hari ia diciptakan.) Ini di riwayatkan olehh Ibn Jarir dari Ibn `Abbas. Ia berkata (Orang tuanya adalah mukmin, dan kami KHAWATIR Ia akan mendorong mereka menuju kesesatan dan kekafiran) Cinta mereka padanya mungkin membuat mereka mengikutinya dalam kekafiran. Qatadah berkata, "Orangtuanya bersukacita ketika ia lahir dan berduka ketika Ia terbunuh. Jika ia hidup, akan menjadi penyebab kehancuran mereka..

      Hadis:
      ..Ya'la bin Muslim berkata, Sa'id bin Jubair menyebutkan, "Keduanya bertemu dengan seorang anak kecil yang sedang bermain, dan ia adalah seorang yang kafir, Khidlir pun menangkap dan MENYEMBELIHNYA DENGAN PISAU. Musa berkata: "Mengapa kamu bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar."

      (Bukhari 4357:.. sedang anak kecil yang di bunuh namanya Jaisur..)

      (Muslim 4811: "Rasulullah SAW telah bersabda: 'Sesungguhnya anak laki-laki yang dibunuh oleh Nabi Khidhir itu telah ditakdirkan menjadi orang kafir. Seandainya anak laki-laki tersebut terus hidup, maka ia akan menyesatkan kedua orang tuanya untuk menjadi durhaka dan kafir.")

      (Bukhari 4358: Allah berfirman; “dan kedua orang tuanya adalah mu`min” sedang anaknya kafir, Allah berfirman ”maka kami khawatir dia akan memaksa kedua orang tuanya untuk berbuat kesesatan dan kekafiran.” Kecintaan kepadanya akan mendorong keduanya mengikuti anak tersebut pada agamanya. Allah berfirman: “maka kami ingin Rabb orang tuanya menggantikan anak tersebut dengan yang lebih baik dan lebih suci”..) [Ahmad no. 20199. Bukhari no. 4357, 4358. Muslim no.4811]

    • Islam memperkenankan membunuh anak kecil dan wanita dalam perang:

      Riwayat Yahya bin Yahya dan Sa'id bin Manshur dan Amru An Naqid - Ibnu 'Uyainah - Sufyan bin 'Uyainah - Az Zuhri - Ubaidullah - Ibnu Abbas - Ash Sha'b bin Jatsamah:

      "Nabi SAW pernah ditanya mengenai anak-anak dan wanita Musyrikin yang terbunuh ketika terjadi serangan malam." Beliau menjawab: "Mereka termasuk dari golongan musuh"

      [Muslim no.3281. Ahmad no.16075. Di Muslim no.3282, 3283: "Wahai Rasulullah, kami pernah menyerang musuh di malam hari, hingga kami membunuh para anak-anak dan kaum wanita dari orang-orang Musyrik!" Beliau bersabda: "Mereka termasuk dari golongan musuh"]

      ***

      Riwayat 'Ali bin 'Abdullah - Sufyan - Az Zuhriy - 'Ubaidullah - Ibnu 'Abbas - Ash Sha'b bin Jatsamah:

      Nabi SAW berjalan melewatiku di Al Abwa' atau di Waddan, Beliau ditanya tentang kaum musyrikin penduduk suatu negeri yang diserbu lalu para wanita dan anak keturunan mereka terbunuh. Beliau menjawab: "Mereka termasuk dari golongan mereka". Dan aku mendengar Beliau bersabda: "Tidak ada perlindungan kecuali milik Allah dan Rasul-Nya". [Bukhari no.2790]

  6. Mengkaitkannya dengan perbedaan Asma VS Aisyah yang dikatakan berselisih 10 tahun dan Asma wafat di usia ke-100 di 73 AH, sehingga umur Aisyah harusnya 18-20 tahun

    (Padahal: Perbedaan umur antara Asma dan Aisyah diriwayatkan hanya dari perkataan Ibn Abi Az-Zinad yang TIDAK HIDUP pada masa Asma dikarenakan ia berasal dari Atba’ at-Tabi'in/Tabi'ut tabi'in (Pengikut Tabi'in/Generasi ketiga: Tidak mengalami masa hidup Sahabat Nabi. Menurut banyak literatur Hadis: Tab'ut Tabi'in adalah muslim dewasa yang pernah bertemu atau berguru pada Tabi'in, sampai wafatnya beragama Islam. Tabi'in terakhir wafat sekitar 110-120 H). Ia dipercaya beberapa orang namun TIDAK dipercaya oleh banyak orang. Kebanyakan ulama yang menarasikan darinya juga tidak pernah melihat Asma. Riwayat tersebut TIDAK DAPAT diterima karena rantainya munqati (terputus)

    Dalam catatan lain, Jika kita hendak menerima narasi yang sangat lemah ini, maka kita juga harus mengetahui pernyataan yang disampaikan setelah kata-kata Ibn Abi Az-Zinad oleh sejarahwan yang menceritakan kisah ini. Imam Adh-Dhaabi:

    "Ibn Abi Az-Zinad berkata: Dia, Asma ibn Abu Bakr lebih tua 10 tahun dari Aisha”. Aku katakan: Jika ini benar, maka umur Asma ketika wafat seharusnya 91 tahun sementara di lain pihak, Hisham ibn ‘Urwah berkata: Ia hidup 100 tahun tanpa tanggal sebuah gigi. (Tarikh Al-Islam, 5/354).

    Umur Asma hanya diceritakan oleh Hisham Bin ‘Urwah di Irak, padahal sang penulisnya sendiri (para penentang Aisyah menikah umur 6/7 tahun) kan menyatakan menolak riwayat yang berasal dari Hisham. Rantai perawi riwayat yang menyebutkan umur Asma, ada perawi dari Iraq, SANGAT TERLIHAT TUJUAN sang Penulis mau menerima kisah ini HANYA SEMATA untuk kebutuhan ber-argumentasi)

  7. Mengutip hanya separuh dari riwayat dari Ahmad ibn Hanbal, yaitu bagian sesudah meninggalnya isteri pertama Rasulullah, Khadijah, Khaulah datang kepada Nabi dan menasehati Nabi untuk menikah lagi, Nabi bertanya kepada nya ttg pilihan yang ada di pikiran Khaulah. Khaulah berkata: “Anda dapat menikahi seorang gadis (bikr) atau seorang wanita yang pernah menikah (thayyib)”. Ketika Nabi bertanya tentang identitas gadis tersebut (Arab: bikr), Khaulah menyebutkan nama Aisyah. Argumentasi sang penulis (sang penentang): bahwa bikr tidak digunakan untuk gadis belia berusia 9 tahun. Kata yang tepat untuk gadis belia yang masih suka bermain-main adalah adalah jariyah. Bikr di sisi lain, digunakan untuk seorang wanita yang belum menikah serta belum punya pengalaman pernikahan atau “virgin/perawan”.

    (Padahal: Di Musnad Ahmad no. 24587: Riwayat Muhammad bin Basyar dia berkata; Riwayat Muhammad bin Amru dia berkata; Riwayat Abu Salamah dan Yahya keduanya berkata; "Tatkala Khadijah wafat, Khaulah binti Hakim isteri Utsman bin Mazh'un datang seraya berkata; 'Wahai Rasulullah! Tidakkah engkau akan menikah lagi? '...

    Kemudian, di Hadis yang panjang itu terdapat pula kalimat "..Lalu ia memanggilnya dan menikahkan Aisyah dengan beliau. Tatkala itu, AISYAH MASIH BERUMUR 6 TAHUN... ".

    Jelas sekali sang Penulis (para penentang) SENGAJA menyembunyikan/tidak menyebutkan bagian itu)
  8. dan lain-lain
Detil-detail klaim penentang vs bantahan terhadap klaim penentang:
Bagi yang tetap bekeberatan mengenai usia aisah saat dinikahi, maka perlu di ingat bahwa ‘nabi’ Muhammad dikatakan:
    "Ia mempuyai budipekerti yang agung (AQ 68:4). Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah (AQ 33:21). Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam(AQ 21:107)
Note:
Situs ini menjelaskan lebih rinci BUKTI-BUKTI pernikahan Aisah dan Muhammad

Aisyah adalah seorang kritikus berat Usman dan bahkan mendukung pembunuhan Usman. Kemudian setelah pembunuhan, Ia memilih untuk melawan Ali. Ia meninggalkan Mekah, memobilisasi oposisi dari Bashra. Kenapa Ia lakukan ini apakah ini karena ia menyukai Usman? TIDAK. Sejarah mencatat bahwa Ia mengatakan spt ini pada Utsman "Bunuh Orang tua bodoh ini (Na'thal), karena ia percaya", [Sejarah Ibn Atsir, vol.3, Hal,206 Lisan al-Arab, Vol.14, Hal.141, al-IQD al-Farid, vol.4, Hal.290 dan Syarah Ibnu Abi al-Hadid, Vol.16, hal.220-223]

Aisha adalah yang pertama-tama mendukung pembunuhan Usman. Ia menyatakan bahwa Usman telah menjadi orang kafir namun, setelah Usman terbunuh, ia berubah pikiran dan berkendak untuk menghukum orang-orang yang telah membunuh Usman [Tabari vol.17 hal.52-53]

Mu’awiyah menunjuk Muhammad bin Abu Bakar untuk dieksekusi karena pembunuhan Usman, tubuhnya ditaruh diatas keledai yang kemudian dibakar (38 H). Aisha sangat berduka atas kematian saudaranya itu, ia memanjatkan doa khusus untuknya. [Tabari vol.17 hal.158]

Aisyah wafat di tahun 58 H, usia 67 tahun pada jaman pemerintahan Mu'awiyah [Sunan Nasa'i, Translasi Inggris dengan teks arab, di kompilasi oleh Imam Abu Abd-ur-Rahman Ahmad Nasa'i, di alih bahasa inggriskan oleh Muhammad Iqbal Siddiqui, Kazi Publication, 121-Zulqarnain Chambers, Gampat Road, Lahore, Pakistan; first edition, 1994, Volume 1, p. 108]. Ia wafat malam itu, setelah dishalatkan kemudian dilanjutkan shalat tahajud dengan Abu Huraira sebagai pemimpin upacara dan di kubur di janat al-baqi' [al-Bidayah wa-al-Nihayah, Ibn Kathir, book 4, ch.7, page 97].

Umumnya dinyatakan Ia wafat di rumahnya karena sakit namun sumber di bawah ini menyatakan Ia wafat karena DI BUNUH Mu’awiyah.

  • Tarikh al Islam, Najeeb Abadi, Vol 2. Hal.44

  • "Bibi Ayesha menjadi korban bagi Marwan dan keluarganya. Ia di undang makan malam dan sebuah lubang di gali yang berisi pedang pisau dan lainnya dan lubang itu ditutupi. Ketika Ia datang, dibuatnya agar duduk disana. Segera setelah ia duduk, lantai menjadi runtuh. Ia yang sudah tua ini tidak selamat.." [Tarikh of Ibne Khaldun, Ch.Khilfate Muwayia wa Marwan, hal.62,77]
  • Mu'awiya mengundang Aisyah untuk makan malam. Ia memerintahkan sebuah lubang di gali dan di isi dengan tombak-tombak dan pedang-pedang yang mengarah ke atas. Menurut Sejarah dari Allama ibn Khaldun, Mu'awiya menutupi sumur dalam ini dengan papan rapuh dan menutupinya dengan karpet. Ia menempatkan kursi kayu di atas jebakan ini untuk menghormati Aisyah. Segera setelah Aisyah duduk dikursi, Ia terjatuh kedalam sumur dan menderita luka parah dengan banyak patah tulang. Untuk menyembunyikan kejahatan ini, Mu'awiya memerintahkan untuk menutup sumur berikut Aisyah di dalamnya. [Musharaf al Mehboobeen, By Sheikh ul Tareeqat Hazrat Khwaja Mehboob Qasim Chishti Muhsarafee Qadiri, Page 616]
  • Simon Ockley. "The History of the Saracens", 6th Ed.. London: Henry G. Bohn. 1857, Ch. Dynasty of the Ommiades, hal.375,376
  • sementara itu beberapa sumber sunni lain, hanya menginformasikan Aisyah wafat dan juga di kubur malam itu juga tanpa menunggu siang.[al-Haakim in al-Mustadrak (4/6-7) and by Ibn Sa’d in al-Tabaqaat (8/76-77), and in Siyar A’laam al-Nubalaa’ (2/192)

[kembali]



Hafsah (Menikah: Shaban 3 H/625 M sebelum perang Uhud, Umur:18/19 Tahun)

Dalam Al-Kutub At-Tis’ah terdapat 147 Hadits yang diriwayatkannya, Musnad Ahmad ibn Hanbal (48 hadis), Shahih Al-Bukhari (15 Hadits), Shahih Muslim (14 Hadits), Sunan An-Nasai (40 Hadits), Sunan At-Tirmizi (3 Hadits), Sunan ibn Majah (6 Hadits), Sunan Abî Dawud (6 Hadits), Sunan Ad-Darimiy (4 Hadits) dan Al-Muwatta’ (9 Hadits).

  • Sebelum itu Hafsha adalah isteri Khunais – termasuk orang yang mula-mula dalam Islam - yang sudah meninggal tujuh bulan lebih dulu sebelum perkawinannya dengan Muhammad [Sejarah Hidup Muhammad, oleh Muhammad Husain Haekal, diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah, Penerbit PUSTAKA JAYA, Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat, Cetakan Kelima, 1980]
  • Khunais gugur sebagai pahlawan syuhada dalam perang Uhud, maka tinggallah Hafsah sebagai janda mujahidin dalam usia 18 tahun ["Latar Belakang Perkawinan Nabi SAW", Yayasan Emiliyyatil Abbasiah, Jakarta, 1999., hal.38]
  • Khunais ikut dalam perang Badar dan Uhud, cedera dan wafat dari perang terkahir, Hafsa berusia 18 tahun saat itu [Hafsah Bint ‘Umar: the Prophet’s wife in Paradise - I]
  • Nabi menikahi Hafsah pada bulan Shabaan, 30 bulan setelah Hijra dan sebelum Perang Uhud. Hafsa meninggal di usia 60 pada bulan Shabaan, 45 AH, masa pemerintahan Muawiya [Tabari, Vol. 39, hal. 174]
  • Umar berkata, “Ketika anak perempuanku Hafsa kehilangan suaminya dalam perang Badr, Rasul Allah melamarnya dan aku menikahkan dia kepadanya.” [Bukhari 5.59.342, Concise Encyclopedia of Islam, Cyril Glassé]
  • Umar mengatakan Muhammad menceraikan Hafsa lalu membawanya kembali [Abu Dawud vol.2 no.2276 hal.619]
  • Menurut Ibn Ishaq, Muhammad menceraikan Hafsa tapi membawanya kembali.[Tabari vol.9 catatan kaki 884 hal.131]
Terdapat satu insiden antara Muhammad vs (Hafsa dan Aisyah) yang berhubungan dengan Maria Qibtiyyah yang menyebabkan turunnya AQ 66.1-2. Nabi menggauli budaknya [Maria] di saat giliran salah satu istrinya (Hafsa/Aisya), dipergoki Hafsa dan Nabi bersumpah tidak akan lagi menyentuh Maria untuk selamanya serta meminta Hafsa merahasiakan ini. Hafsa kemudian menceritaka rahasia ini ke Aisyah, Allah kemudian membatalkan sumpah Nabi. [Peristiwa ini disinggung sedikit di Bukhari no.3.43.648, (Terjemahan ke-Inggris Dr. Muhammad Muhsin Khan menuliskan nama Maria di dalam kurung: "(for his oath that he would not approach Maria)"). Lihat juga Bukhari no.7.62.119 dan Muslim no.9.3511, dua hadis terakhir tidak menyebutkan nama Maria]

Tabaqat [Ibn Saad], Vol. 8, Hal. 223, Publisher Entesharat-e Farhang va Andisheh Tehran 1382 solar h (2003), Translator: Dr. Mohammad Mahdavi Damghani:
    Waqidi menginformasikan kita bahwa Abu Bakar meriwayatkan abhwa Nabi melakukan hubungan seksual dengan Maria di rumahnya Hafsa..Ia memberitahu Nabi, "O Nabi, Engkau melakukan ini di rumahku dan ketika giliranku?" Nabi berkata, "Kontrol dirimu dan biarkan aku pergi karena aku menjadikan ia haram bagiku". Hafsa berkata, "Saya tidak menerima, kecuali engkau bersumpah padaku" Nabi kemudian berkata, "Demi allah, Aku tidak akan menyentuhnya lagi"
Inilah rahasia yang dimaksud dalam tafsir surat AQ 66:1-5,
    Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu? [..]Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepadamu sekalian membebaskan diri dari sumpahmu [..] Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang isterinya (Hafsah) suatu peristiwa. Maka tatkala (Hafsah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Allah memberitahukan hal itu (pembicaraan Hafsah dan Aisyah) kepada Muhammad lalu Muhammad memberitahukan sebagian (yang diberitakan Allah kepadanya) dan menyembunyikan sebagian yang lain (kepada Hafsah). Maka tatkala (Muhammad) memberitahukan pembicaraan (antara Hafsah dan Aisyah) lalu (Hafsah) bertanya: "Siapakah yang telah memberitahukan hal ini kepadamu?" Nabi menjawab: "Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan); dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi [..]Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan isteri yang lebih baik daripada kamu [..]
Situasi insiden maria ini makin memburuk karena mulut Aisyah [Catatan kaki no.884. Tabari, Vol.9, hal 131. Menurut Ibn Ishaq: Muhammad pernah menceraikannya namun kemudian diambilnya kembali [Kitab Al-Mubtada, 240]. Ia wafat di Shaban 45 H [Ibn Sa'd, Tabaqat, vol 8,56-60 Tafsir Quran Ayat AQ 66.1-2:
    Dan dari riwayatnya pada otoritas Ibnu 'Abbas bahwa ia berkata tentang tafsir sabda Allah (Hai Nabi):' (Hai Nabi) yaitu Muhammad (saw). (mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu) yaitu menggauli Maria Koptik, Bundanya Ibrahim, yaitu melarang dirinya dari menggaulinya, (kamu menyenangkan hati isteri-isterimu) menyenangkan istri-istrimu Aishah dan Hafsah dengan melarang dirimu sendiri menggauli Maria Koptik? (Dan Allah Maha Pengampun) Dia mengampuni Anda, (Maha Penyayang) tentang sumpah itu. [Tanwîr al-Miqbâs min Tafsîr Ibn ‘Abbâs AQ 66.1]

    Muhammad ibn Mansur al-Tusi - 'Ali ibn 'Umar ibn Mahdi - al-Husayn ibn Isma'il al-Mahamili - 'Abd Allah ibn Shabib - Ishaq ibn Muhammad - 'Abd Allah ibn 'Umar - Abu'l-Nadr (klien dari 'Umar ibn 'Abd Allah) - 'Ali ibn 'Abbas - Ibn 'Abbas - 'Umar: "Rasullullah SAW, di masuk rumah Hafsa bersama Maria. Ketika Hafsa memergoki dia bersanya maria (dalam keadaan intim), Hafsa berkata: 'Kenapa kamu bawa dia dalam rumahku? Kau lakukan ini padaku, tidak pada seluruh istrimu, hanya karena aku tidak penting bagimu. Nabi berkata pada Hafsa: 'Jangan kasih tahu ini ke Aisyah; Ia terlarang bagiku (Maria) dan jika aku sampai menyentuhnya'. Hafsa berkata: 'Bagaimana mungkin dia terlarang bagimu padahal dia adalah budak perempuanmu?' Nabi bersumpah padanya bahwa ia tidak akan menyentuh Maria dan berkata: 'Jangan ceritakan ini pada siapapun'. Namun Hafsa langsung pergi dan memberitahukan Aisyah. Nabi SAW, memutuskan tidak pergi ke istrinya selama 1 bulan. Ia tinggal jauh dari mereka 29 hari ketika Allah yang maha mulia dan maha besar, menurunkan ayat, "Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu?" [Asbab Al-Nuzul by Al-Wahidi AQ 66.1]

    Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu, dalam hal budak perempuanmu, Mariya koptik - ketika Nabi meniduri Maria di rumah Hafsa, yang ketika Hafsa sedang pergi keluar, tapi ketika kembali [dan memergoki] menjadi marah karena ini dilakukan di rumahnya Hafsa dan di tempat tidur Hafsa - dengan mengatakan, "Ia (Maria) haram bagiku! ',berdalih, dengan membuatnya haram [bagimu], untuk menyenangkan hati istrimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, mengampunimu untuk larangan ini [Tafsir Jalalyn AQ 66.1]

    Berikut ini adalah dari "Tafsir Ath Thabari", Tahqiq/peneliti: Ahmad Abdurraziq Al Bakri dkk, sesuai masnuskrip asli dan revisi serta penyempurna atas naskah, Syaikh Ahmad Muhammad Syakir dan Syaikh Mahmud Muhammad Syakir, Vol. 25, hal. 216-219 untuk AQ 66.1-2:

      Muhammad bin Abdurrahim al Barqi - Ibnu Abi Maryam - Abu Ghassan - Zaid bin Aslam menceritakan padaku bahwa Rasullullah SAW menggauli Ummu Ibrahim (Maria) di rumah salah satu istri beliau sehingga istrinya berkata, "Wahai Rasullullah, Anda melakukan ini di rumah saya dan di ranjang saya!". Akhirnya Rasullullah mengharamkan Maria atas diri beliau. Istrinya tadi justru berkata,"Ya Rasullullah bagaimana mungkin kau mengharamkan sesuatu yang halal atas dirimu?". Rasullullah lalu bersumpah tidak akan menggauli Maria lagi. Lantaran itulah Allah menurunkan ayat "Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; kamu menyenangkan hati isteri-isterimu?" Zaid berkata, "kalimat, Kamu haram atas diriku" dianggap laghw (sumpah sia-sia)(Ibn Hajjar dalam Al Fath (9/376)dan Ibn katsir dalam tafsirnya (14/47,48) [Tabari 34511]

      Yunus - Ibn Wahb - Ibn Zaid - Malik - Zaid bin Aslam, (Rasullullah SAW) berkata pada Maria) Kamu haram bagiku, demi Allah aku tidak akan menggaulimu" (Ibn Athiyyah dalam Al Muharrar Al Wafiz (5/329) dan Ibnu Katsir dalam tafsirnya (14/47) [Tabari 34514]

      Bisyr - Yazid - Sa'id - Qatadah tentang firman ""Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; kamu menyenangkan hati isteri-isterimu?"

        Ia berkata, "Asy-Sya'bi berkata "Rasullullah SAW mengharamkan Maria atas diri beliau dan beliau bersumpah untuk tidak mendekatinya lagi, gara-gara pengharamannya itu beliau kemudian di kecam. kemudian diturunkan kaffarah untuk sumpah (Al Mawardi "An Nukat Wa Al 'Uyum (6/39)) [Tabari 34515]

        Ia berkata, "Rasullullah mengaramkan gadis muda (budak atau jariyah) miliknya yang berasal dari qibthi (mesir) itu, sekaligus ibu dari putra beliau, ibrahim, namanya Mariah, pada giliran Hafsah. Beliau meminta Hafsa merahasiakan hal itu kepada siapapun, tetapi dia justru menceritakannya kepada Aisyah. Keduanya adalah istri Nabi SAW yang paling dominan. Allah lalu menghalalkannya kembali apa yang sebelumnya diharamkan Nabi SAW untuk dirinya, dan meminta beliau menebus sumpahnya serta mengecam tindakan itu. Allah berfirman, "Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepadamu sekalian membebaskan diri dari sumpahmu dan Allah adalah Pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." Qatadah - Al Hasan: Beliau mengharamkannya atas diri beliau sendiri, lalu Allah mengharuskannya membayar Kaffarah sumpah (Al Mawardi "An Nukat Wa Al 'Uyum (6/39)) [Tabari 34524]

      Yunus - Ibnu Wahb - Ibnu Zaid berkata tentang "Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu", Ia berkata, Ayahku berkata, "Salah seorang istri Nabi SAW memergoki Rasullullah SAW bersama budak wanitanya dirumah sang istri tersebut, Maka dia berkata, "Wahai Rasulluah bagaimana ini bisa terjadi, padahal aku wanita paling lemah diantara istrimu? Rasullullah SAW lalu berkata padanya. 'Ssst, diamlah, Jangan beritahukan ini kepada siapapun. Dia haram bagiku bila aku mendekatinya lagi setelah ini untuk selamanya'. Istri beliau ini lalu berkata, "Wahai Rasullullah bagaimana bisa engkau haramkan sesuatu yang Allah halalkan untukmu dengan perkataan,"Dia haram bagiku untuk selamanya?". Rasullullah lalu berkata, "Demi Allah, Aku tidak akan menyentuhnya untuk selamanya" Allah kemudian berfirman, "Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu" Allah berfirman, "Aku (Allah) telah mengampuni dosamu dalam hal ini. Sedangkan perkataanmu yang ada kalimat sumpah "demi Allah" maka "Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepadamu sekalian membebaskan diri dari sumpahmu dan Allah adalah Pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (Ad-Daraquhtni dalam sunannya (4/41 no.112) dan Al qurthuby "Akham Al Quran (18/179)) [Tabari 34517]

      Hussain - Abu Mu'adz - Ubaid - Adh Dhahhak berkata tentang firman Allah "Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu", Ia berkata: Rasullullah SAW mempunyai seorang budak wanita dan beiiau menggaulinya. Lalu hal itu dilihat oleh Hafsah padahal hari itu giliran Aisyah. Kebetulan mereka berdua (Hafsa dan Aisya) bisa saling berterus terang. Rasullullah SAW lalu berkata pada Hafsa, "Sembunyikan hal ini jangan ceritakan pada Aisyah" tapi Hafsa mendesak Rasullullah sampai beliau bersumpah untuk tidak mendekati budak wanita itu lagi untuk selamanya. Akhirnya Allah menurunkan ayat tersebut dan memerintahkan Nabi SAW untuk membayat Kaffarah sumpahnya, serta kembali menggauli budak wanita tersebut (Ibn Zaid dalam takhjrij-nya, Ibnu Al Jauzi dalam Zad Al Masir (8/303)) [Tabari 34518]

      Ibnu Hummaid - Jarir - [Atha] - Amir tentang firman Allah, "Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu" Ini berkenaan dengan budak wanita Nabi SAW yang sedang beliau gauli lalu dipergoki Hafsa, sehingga Nabi SAW berkata, "Dia (budak itu) haram untukku, maka rahasiakanlah hal ini dan jangan ceritakan pada siapapun (Al Mawardi "An Nukat Wa Al 'Uyum (6/39) dan Ibnu Al Jauzi dalam Zad Al Masir (8/303)) [Tabari 34519]

      Muhammad bin Sa'd - Ayahnya dan pamannya - Kakeknya - Ibn Abbas tentang firman allah, "Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu" sampai dengan "Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana" Dia berkata, "Hafsa dan Aisyah" saling menyayangi dan beliau berdua Istri Nabi SAW. Hafsa pergi ke rumah Ayahnya dan berbincang-bincang disisi ayahya ini (bermalam di sana). Rasullullah SAW lalu meminta budak wanitanya untuk datang ke rumah Hafsa. Kebetulan pada malam itu giliran Aisyah. Hafsa lalu kembali ke rumahnya dan mendapati budah wanita itu ada di sana. Dia lalu menunggu mereka berdua keluar, dalam keadaan cemburu berat. Nabi kemudian menyuruh budak wanita ini keluar, kemudian masuklah Hafsa sambil berkata pada nabi, 'aku telah melihat perbuatan kalian, Demi Allah, kamu telah berbuat buruk padaku' Nabi kemudian berkata padanya, 'Baiklah aku akan membuat ridha kembali, aku akan mengucapkan satu rahasia dan peganglah rahasia ini' Hafsa lalu bertanya, 'Apa itu?' Beliau berkata, 'Sesungguhnya budakku itu haram bagiku demi memperoleh keridhaan-mu'. Hafsa dan Aisyah biasanya saling menceritakan rahasia yang terjadi diantara istri-istri Nabi. Hafsa kemudian pergi menemui Aisya dan menceritakan rahasia Nabi tersebut kepadanya, sambil berharap Aisyah menjaga rahasia ini, 'bergembiralah, karena nabi telah mengharamkan budak wanita itu atas dirinya' Ketika Ia membeberkan rahasia nabi ini, Allah membeberkan kepada Nabi dan menurunkan ayat. "Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; kamu menyenangkan hati isteri-isterimu?" sampai ayat "Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana" (Al Baihaqi dalam Al Sunan Al Kubra (7/352) [Tabari 34521]

      Ibnu Abdil - Al Mu'tamir - Ayahnya - Abu Usman memberitakan bahwa Nabi masuk ke rumah Hafsa, ternyata dia tidak ada di sana, sehingga datanglah jariyah beliau (maria). Rasullullah lalu membentangkan tirai dan datanglah Hafsa. Dia hanya duduk di depan pintu sampai Rasullah SAW selesai menjalankan hajatnya (kepada jariyah ini). Hafsa berkata, "demi Allah, kau telah berbuat buruk padaku, Kau menyetubuhinya di rumahku" Atau dengan kalimat yang dia katakan, Dia (perawi) berkata: Nabi SAW lalu mengharamkan Jariyah ini untuk diri beliau. Atau dengan redaksi sebagaimana dia katakan (Al Mawardi "An Nukat Wa Al 'Uyum (6/39) dan Ibn Katsir dalam tafsirnya (13/48) [Tabari 34523]

      Sa'id bin Yahya - Ayahnya - Muhammad bin Ishaq - Az-Zuhri - Ubaidullah bin Abdullah - Ibn Abbas: Aku berkata pada Umar bin Khathab, "Siapa dua wanita yang dimaksud itu?" Dia menjawab, "Aisyah dan Hafsa. Awal ceritanya adalah tentang ummu ibrahim (Maria) wanita qibthi (mesir). Nabi SAW menggaulinya di rumah Hafsa, pada hari yang menjadi giliran Hafsa, Hafsa memergoki hal itu, maka ia berkata, "Wahai Nabi Allah, Engkau telah melakukan padaku, apa yang belum pernah engkau lakukan pada Istri-istrimu yang lain pada hari giliranku, di rumahku, dan di ranjangku". Nabi SAW lalu berkata, "Apakah kamu ridha kalau aku mengharamkannya untukku?" Dia menjawab, "Ya, tentu". Nabi SAW lalu mengharamkan (Maria) untuk dirinya. Beliau lalu berkata, "Tapi jangan kau ceritakan pada siapapun". Ternyata Hafsa menceritakannya kepada Aisyah dan Allah memberitahukan itu kepada beliau. Allah lalu menurunkan ayat, "Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; kamu menyenangkan hati isteri-isterimu?.." Telah sampai informasi kepada kami bahwa Nabi SAW sudah menebus sumpahnya dan kembali menggauli jariyahnya (Ibn Katsir dalam tafsirnya (14/48) [Tabari 34526]
Banyak juga hadis yg menyebutkan tentang "madu", tidak masuk akal jika dikaitkan dengan AQ 66. lebih masuk akal jika itu adalah kiasan simak hadis abu dawud berikut ini:
    Riwayat Musaddad - Abu Mu'awiyah - Al A'masy - Ibrahim - Al Aswad - Aisyah - Rasulullah SAW ditanya mengenai seorang laki-laki yang mencerai isterinya 3x, kemudian wanita tersebut menikah dengan laki-laki yang lain dan bertemu muka dengannya kemudian ia mencerainya sebelum mencampuri, maka apakah ia halal bagi suaminya yang pertama? Aisyah berkata; tidak. Nabi SAW berkata: "Ia tidak halal bagi suaminya yang pertama hingga ia merasakan madu/manisnya suaminya yang lain, dan ia juga merasakan madu/manisnya." [Abu Dawud no.1965/12.2302]
[kembali]


Zainab binti Khuzaimah (Menikah: 625/626 M, Umur 30 tahun)
  • Pergaulan rumah tangga Rasulullah dengan Zainab tidaklah berlangsung lama. Setengah riwayat mengatakan hanya selama 8 bulan, ada pula yang menyampaikan sekitar 4 bulan saja [..] Para sejarawan mengatakan bahwa Zainab meninggal dalam usia 30 tahun pada tahun ke 4H [Abbas Jamal, hal. 43]
  • Aku bertanya, “Berapa umurnya ketika Ia wafat?” Ia menjawab, “30 Tahun atau sekitar itu” [Tabari Vol. 39, hal. 164]
  • Muhammad menikahi Zaynab di bulan ramadhan di awal 31 bulan setelah Hijrah. Ia tetap bersamanya selama 8 bulan dan wafat di akhir Rabi al-Akhir pada permulaan bulan ke-39 setelah Hijrah [Ibn Sa'd/Aisha Bewley vol.8. Hal. 82]
  • Zainab yang ini berasal dari suku Bani Hilal. Ia cerai dengan seorang Muslim bernama Tufayl, kemudian menikah dengan ‘Ubaydah, yang meninggal di perang Badar. Kemudian Nabi menikahinya. Ia lahir di 595 A.D. dan meninggal 626 A.D. di usia 31.[Tabari vol.7 hal.150 footnotes 215,216 dan Tabari vol.39 hal.163-164]
[kembali]


Hindun binti Abu Umayyah / Ummu Salamah (Menikah (?) 626 M, Umur: 29 Tahun)

Dalam Al-Kutub At-Tis’ah, Hadits Nabi yang riwayatnya disandarkan kepada Hindun sebanyak 622 Hadits, Ahmad ibn Hanbal (274 Hadits), Bukhari (49 Hadits), Muslim (42 Hadits), Sunan An-Nasai (68 Hadits), Sunan At-Tirmizi (44 Hadits), Sunan ibn Majah (52 Hadits), Sunan Abu Dawud (53 Hadits), Sunan Ad-Darimiy (19 Hadits), dan Al-Muwatta’ (15 Hadits).

Umm salam/Hind Bint Abi Umayya, Suami Pertamanya adalah Abdullab Bin Abdul Asad. Punya 4 anak dari pernikahan pertamanya (Salama, Umar, Zaynab, Darra). Abu Salamah wafat di Uhud pada 4 H. Sejak, itu Umm salamah disebut Ayyin al-Arab - Mata arabiya
    Umi Salama sedang hamil ketika Muhammad menikahinya dan anak perempuannya itu diberi nama Zainab binti Abu Salama [Sahih Muslim vol.2 catatan kaki 1218 hal.435]. Ini adalah gadis yang sama sebagai Zainab binti Umi Salama [Sahih Muslim vol.2 no. 3539-3544 hal.776-777]. Umi Salama tidak dikatakan menjadi seorang istri [Sahih Muslim vol.2 no.2992 hal.656; vol.2 no.3445 hal.746 ]. Namun ada riwayat mengatakannya sebagai istri [Bukhari vol.4 buku 53 bag.4 no.333 hal.216; Bukhari vol.7 buku 62 bag.34 no.56 hal.40, Ibn-i-Majah vol.2 no.1634 p.473; Abu Dawud vol.1 no.383 p.99]
Pernikahan dengan muhammad dilaksanakan tahun 4 H bulan Syawal, Hindun meninggal di Dhu’l-Qada 59 AH [Ibn Sa'd/Aisha Bewley Vol.8 Hal.61] dalam usia 84 tahun [Ibn Sa'd/Aisha Bewley Vol.8 Hal.67], Ia berumur lebih panjang dari semua istri2 muhammad. Umur Umm Salamah ketika menikah dengan Muhammad adalah 84-55 = 29 tahun. [Buku Abbas Jamal hal 47, mengatakan usianya sekitar 30 tahun]

[kembali]


Rahaina, Safiya

Raihana (lihat Bani Quraiza, Di ambil: 627 M, Umur: Tidak diketahui)

Untuk mengetahui bagaimana Safiya dan Rahaina menjadi Istri nabi, kita harus meruntut sejarah terlebih dahulu yang dimulai dari kisah pengusiran dan penghancuran suku-suku yahudi di Medina, yang menurut kaum muslim karena mereka adalah para penghianat terkutuk.

Terdapat tiga suku Yahudi di Medina, yakni Bani Qaynuqa, Bani Nadir, dan Bani Quraiza.

Setiap suku ini bersekutu dengan suku2 Arab lainnya dan jika ada pertempuran diantara suku Arab sekutunya dengan suku Yahudi lain, maka suku Yahudi ini akan memihak suku Arab sekutunya tersebut.

[kembali]


Bani Qaynuqa

Mereka hidup di dalam beberapa bagian kota Madinah. Sebagai mata pencaharian, mereka bekerja sebagai penambang emas, pandai besi dan pertukangan untuk membuat alat2 kebutuhan rumah tangga. Inilah sebabnya terdapat banyak peralatan perang di sebagian besar rumah2 mereka.
    "Suatu hari seorang pandai besi Yahudi membuat gusar seorang wanita Muslim karena [Pria Yahudi itu] mengikat ujung bajunya ke punggungnya sampai bagian kemaluannya tampak.

    Seorang pria Muslim kebetulan berada di situ dan dia lalu membunuh orang Yahudi itu; orang2 Yahudi membalas dengan membunuh pria Muslim itu.

    Keluarga pria tersebut memanggil orang2 Muslim untuk meminta tolong dan perang pun dimulai.”(2)
Dan di hari Sabut, 15 Shawwal, 2 A.H. (624 M) dia berangkat dengan para prajuritnya, dan mengepung benteng kaum Yahudi dalam waktu 15 hari. Tanpa air, Bani Qaynuqa terpaksa menyerah dan pasrah pada keputusan sang Nabi tentang hidup, kekayaan, wanita dan anak2 mereka.
    Maududi menulis,
    "Karena itu, Nabi menyerang tempat mereka di ujung Shawwal (dan menurut keterangan yang lain, di Dhi Qa’dah) A.H.2.

    Pengepungan berlangsung kurang dari dua minggu waktu orang2 Yahudi akhirnya menyerah dan semua pria yang bertempur diikat dan dijadikan tahanan. Sekarang Abdullah bin Ubayy datang untuk mendukung orang2 Yahudi dan memaksa bahwa mereka harus diampuni.

    Nabi setuju akan permintaannya dan mengambil keputusan bahwa Bani Qaynuqa harus mengasingkan diri dari Madinah dan meninggalkan semua harta benda, peralatan perang, dan perlengkapan berdagang. (Ibn Sa'd, Ibn Hisham, Tarikh Tabari). (3)
Rincian tentang campur tangan Ubayy dengan sang Nabi ditulis di buku sejarah Islam pertama, yakni Sirat.
    "Asim b. `Umar b. Qatada berkata bahwa Bani Qaynuqa adalah kelompok Yahudi pertama yang melanggar perjanjian dengan Nabi dan mau berperang di daerah antara Badr dan Uhud, dan sang Nabi mengepung mereka sampai mereka menyerah tanpa syarat.

    `Abdullah b. Ubayy b. Salul menghadap Nabi dan berkata,’O Muhammad, bersikaplah baik terhadap orang2 ini (orang2 Yahudi merupakan sekutu Khazraj), tapi ditolak oleh Nabi.

    Dia mengulangi perkataannya, tapi Nabi memalingkan tubuhnya, lalu dia memasukkan tangannya ke dalam kerah jubah Nabi; sang Nabi jadi begitu marah sampai mukanya tampak hampir hitam. Dia berkata, ‘Kurang ajar kamu, lepaskan aku.’ Dia menjawab, ‘Tidak, demi Tuhan, aku tidak akan melepaskanmu sampai kamu berlaku baik terhadap orang2 ini.

    Empat ratus orang tanpa pemberitahuan dan tiga ratus orang dengan pemberitahuan melindungiku dari seluruh musuhku; masakan engkau mau membunuh mereka semua dalam satu pagi? Demi Tuhan, aku takut keadaannya akan berubah.’ Sang Nabi menjawab, ’Engkau boleh memiliki mereka.’ [Sirat, hal. 363]

    Menurut keterangan al-Mubarakpuri
    "Bani Qainuqa menyerahkan segala barang2, kekayaan dan peralatan perang pada sang Nabi (damai menyertainya), yang lalu mengambil seperlima bagian dan membagi sisanya untuk orang2nya.

    Setelah itu Bani Qainuqa diusir dari seluruh tanah Arabia ke Azru’a di Syria di mana mereka tinggal sebentar dan lalu menghilang." (2)
Tidak seorang pun bertanya: mengapa?

Mengapa kecelakaan sepele dijadikan alasan bagi utusan Tuhan untuk membuang seluruh masyarakat dan merampas semua hartanya.

[kembali]


Bani Nadeer

Ketua Bani Nadeer, yakni Ka`b Ibn Ashraf, jadi khawatir akan keselamatan sukunya setelah menyaksikan nasib Bani Qaynuqa dan bagaimana sang Nabi mengusir mereka tanpa alasan sama sekali. Dia sadar bahwa Muhammad tidak akan berhenti untuk memusnahkan orang2 Yahudi.

Ka`b tahu dia harus berbuat sesuatu untuk melindungi rakyatnya. Karena inilah dia mulai berhubungan dengan orang2 Mekah dan mencari perlindungan dari mereka kalau2 orang2 Muslim berniat untuk menyerang rakyatnya.

Versi Ibn Sad, Ibn Hisam, dari Kitab Tabari:
    Ka`b bin Ashraf, ketua Bani an-Nadeer, "adalah orang yang kaya yang terkenal karena ketampanannya, dan seorang penyair, pergi ke Mekah" tulis Maududi,

    "dan membujuk orang2 untuk melakukan balas dendam dengan cara menulis dan membacakan syair sedih yang profokatif bagi pemimpin2 Quraish yang dibunuh di Badr.

    Lalu dia kembali ke Madinah dan menyusun ayat2 syair yang menghina keadaan wanita2 Muslim. Pada akhirnya, Nabi marah atas kelakuan Ka’b dan mengirim Muhammad bin Maslamah Ansari di bulan Rabi al-Awwal, A. H. 3, dan membunuh Ka` b."
[ingat peristiwa Pandai besi yang membuat gusar Wanita Muslim karena sengaja atau tidak kemaluan pandai besi itu terlihat saat menggulung baju?]

Ka`b bin Ashraf tidak punya pilihan selain pergi ke Mekah dan mencari bantuan untuk melindungi rakyatnya dengan mengambil contoh atas tindakan Muhammad pada Qaynuqa,

Apa yang dilakukan bin Ashraf bukanlah kejahatan. Dia adalah seorang pemimpin yang khawatir akan keselamatan rakyatnya sendiri. Kejahatannya adalah menulis puisi.

Nabi kemudian mensyahkan seseorang untuk membunuh pembuat puisi dan Ka’b padahal tidak ada satupun kejadia Ka’b bin Ashraf menghubungi orang2 Mekah atau karena puisinya menyindir Muhammad atau memuliakan kaum Quraish.

Tidak ada yang dapat disahkan untuk membunuh orang2 yang tidak setuju denganmu. Apologis Muslim tidak malu akan pembunuhan yang dilakukan Muhammad dan mensahkan semua. Mereka berkata bahwa dengan cara membunuh musuhnya, sebenarnya Muhammad menyelamatkan banyak nyawa.

Benarkah demikian?

Apa alasan para Muslim melakukan pembunuhan Abu Afak, seorang yang berusia 120 tahun, dan Asma bint Marwan, seorang penyair wanita dan ibu dari lima anak kecil yang hanya karena menyusun syair yang menyinggung sang Rasul Allah yang suci?

Kisah pembunuhan Ka`b ditulis di Hadis berikut.
    BUKHARI, VOLUME 5, #369
    Ditulis Jabir Abdullah:
    Rasul Allah berkata "Siapakah yang mau membunuh Ka`b bin al-Ashraf yang telah menyakiti Allah dan RasulNya?"

    Berdirilah Maslama dan berkata,”O Rasul Allah! Maukah kamu agar aku membunuhnya?” Sang Nabi berkata,”Iya”.

    Maslama berkata, “Maka izinkan saya untuk berkata sesuatu (yang menipu Ka`b).” Sang Nabi berkata, “Silakan katakan.”

    Maslama mengunjungi Ka`b dan berkata,”Orang itu (Muhammad) menuntut Sadaqa (zakat) darimu, dan dia telah menyusahkan kami, dan aku datang untuk meminjam sesuatu dari kamu.” Ka`b menjawab, “Demi Allah, engkau akan merasa lelah berhubungan dengan dia!”

    Maslama menjawab,”Sekarang karena kami sudah mengikuti dia, kami tidak mau meninggalkan dia kecuali dan sampai kami melihat bagaimana nasibnya akhirnya. Sekarang kami mau engkau meminjamkan dua ekor unta dengan satu atau dua buah bekal makanan.”

    Ka`b berkata, “Iya, tapi kalian harus menggadaikan sesuatu denganku.” Maslama dan kawannya berkata,”Apa yang kau inginkan?”

    Ka’ b menjawab, “Gadaikanlah istri2mu padaku.” Mereka menjawab, ”Bagaimana kami dapat menggadaikan istri2 kami padamu sedangkan kamu adalah orang yang paling tampan diantara orang2 Arab?”

    Ka`b berkata, "Kalau begitu gadaikan anak2 lakimu padaku.” Mereka berkata, “Bagaimana kami dapat menggadaikan anak2 laki kami padamu? Nanti mereka akan diejek orang2 yang mengatakan ini dan itu dan mereka telah digadaikan dengan seekor unta penuh bekal makanan. Ini akan membuat kami sangat malu, tapi kami mau menggadaikan senjata2 kami padamu.”

    Maslama dan kawannya berjanji pada Ka`b bahwa Maslama akan kembali padanya. Dia kembali pada Ka`b pala malam harinya bersama saudara angkat Ka`b, yakni Abu Na'ila. Ka`b mengajak mereka ke bentengnya dan dia pergi bersama mereka.

    Istrinya bertanya, "Hendak ke manakah kau selarut ini?" Ka`b menjawab,"Maslama dan saudara (angkat) ku Abu Na'ila telah datang." Istrinya menjawab, "Aku mendengar suara seperti darah mengucur dari dirinya."

    Ka`b menjawab, "Mereka tidak lain adalah saudaraku Maslama dan saudara angkatku Abu Na'ila. Orang dermawan seharusnya menjawab permintaan (untuk datang) di malam hari meskipun (permintaan itu) adalah undangan untuk dibunuh."

    Maslama pergi dengan dua orang dan berkata pada mereka, "Jika Ka`b datang, aku akan menyentuh rambutnya dan mengendusnya (menghirup bau rambutnya), dan jika kalian melihat aku telah mencengkeram kepalanya, tusuklah dia. Aku akan biarkan kalian mengendus kepalanya."

    Ka`b bin al-Ashraf datang pada mereka, pakaiannya membungkus badannya dan menebarkan bau parfum. Maslama berkata, "Aku belum pernah mencium bau yang lebih enak daripada ini."

    Ka`b menjawab, "Aku kenal wanita2 Arab yang tahu bagaimana menggunakan parfum kelas atas." Maslama minta pada ka`b, "Maukah engkau mengizinkanku mengendus kepalamu?" Ka`b menjawab, "Boleh." Maslama mengendusnya dan mengajak kawannya melakukan hal yang sama. Lalu ia minta pada Ka`b lagi, "Maukah engkau mengizinkanku mengendus kepalamu?" Ka`b berkata, "Ya".

    Ketika Maslama berhasil mencengkeram kepala Ka`b erat2, dia berkata (pada kawan2nya), "Bunuh dia!" Lalu mereka membunuhnya dan pergi melaporkan hal itu pada sang Nabi.
Maududi:
    "Beberapa saat setelah hukuman ini (yakni pengusiran Bani Qainuqa dan pembunuhan Ka`b bin Ashraf), orang2 Yahudi dicekam rasa takut yang hebat sehingga mereka tidak berani macem2 lagi.

    Tapi kemudian di bulan Syahwal, A.H.3, orang2 Quraish berusaha membalas dendam atas kekalahan mereka di Badr, dan mereka berbaris menuju Madinah dengan persiapan besar. Orang2 Yahudi melihat jumlah prajurit Nabi hanyalah kira2 1.000 orang melawan 3.000 orang Quraish. 300 prajurit munafik telah meninggalkan pasukan Nabi dan balik menyerang ke Madinah.

    Orang2 Yahudi duluan melanggar perjanjian dengan cara menolak untuk bergabung dengan Nabi untuk mempertahankan Madinah meskipun sebenarnya mereka telah terikat dengan perjanjian itu." [Perang Uhud, 625 M]
Bagimana mungkin mengharapkan bantuan dari Bani Nadeer setelah mereka membunuh pemimpinnya yang bijaksana dan mengusir suku Yahudi saudara mereka Bani Qaynuqa?.

Nabi, memerintahkan pembantaian atas musuh2nya dan besoknya muncul di mesjid mengucapkan doa2 se-akan2 tidak terjadi apa2 dan dia memuji pembantaian itu.

Dia tidak memberi ampun orangtua yang berusia 120 tahun dan ibu yang sedang menyusui bayinya dan punya lima anak kecil yang harus dipelihara.

Dia akan mencari alasan untuk menyerang seluruh masyarakat (yang memusuhinya), merampas semua harta-bendanya, dan mengusir mereka dari tempat tinggalnya. Jika tidak karena seseorang yang memohon pengampunan bagi orang2 ini, Muhammad tidak ragu lagi untuk membantai ribuan masyarakat Bani Qaynuqa. Orang2 Yahudi malang ini begitu ketakutan dan mereka tentunya bertanya kapan giliran mereka (dibantai)?

Meskipun begitu, orang2 Muslim tetap menyebut mereka pengkhianat karena tidak mau membantu bertempur bersama setelah ketua mereka dibunuh.

Maududi menceritakan pertemuan Muhammad dengan Bani Nadeer sebagai berikut:
    Menurut rincian kisahnya, setelah kecelakaan Bi'r Maunah (Safar, A. H. 4) Amr bin Umayyah Damri salah membunuh dua pria dari Bani Amir dalam sebuah usaha balas dendam.

    Dua orang dari Bani Amir sebenarnya merupakan sekutu orang2 Muslim, tapi Amr mengira mereka itu musuh. Karena kesalahan ini, orang2 Muslim berkewajiban mengganti rugi darah dua orang itu dengan sejumlah uang.

    Karena Bani an-Nadir merupakan sekutu Bani Amir, Nabi dan pasukannya menemui mereka (Bani an-Nadir) untuk minta tolong membayar uang darah tersebut.
Al-Mubarakpouri menceritakan pertemuan Muhammad dengan Bani Nadeer sebagai berikut:

Suatu ketika sang Nabi dan gerombolannya pergi menemui Bani Nadeer dan minta tolong mereka untuk mengumpulkan uang darah yang harus dibayar Muhammad pada Bani Amir karena ‘Amr bin Omaiyah Ad-Damari salah bunuh dua orang dari mereka (Bani Amir).

Semua ini sesuai dengan ketentuan perjanjian keduabelah pihak yang telah ditandatangani.Prajuritnya (Nabi) salah membunuh orang sendiri lalu Bani Nadeer yang tak bersalah apa2 harus bayar uang ganti ruginya.

Betapa Konyolnya!

Tentu saja Bani Nadeer adalah bagian dari perjanjian yang ditandatangi sang Nabi dengan orang2 Medina. Namun, perjanjian itu adalah untuk berperang melawan kaum Mekah jika mereka menyerang Medina (juga Yathrib) dan bukan termasuk membayar ganti rugi kekeliruan pembunuhan yang dilakukan oleh anak buah utusan Allah tidaklah termasuk dalam perjanjian itu.

Sang Nabi sudah melanggar perjanjian apapun waktu dia membunuh Ka`b bin Ashraf. Dia sudah melanggar semua perjanjian ketika dia merampas semua hartabenda Bani Qaynuqa dan membuang mereka

Orang2 Yahudi yang ketakutan ini tentu saja tahu bahwa perjanjian diantara mereka berdua tidak termasuk harus membayar uang ganti rugi darah atas kekeliruan kejahatan pembunuhan yang dilakukan anak buah Nabi.

Meskipun permintaan ini sangat tak berdasar dan meskipun sang Nabi telah membunuh pemimpin mereka, Bani Nadeer setuju untuk membayar uang darah itu.

Mereka tahu seperti apa Muhammad itu dan tidak mau memberinya alasan untuk mengenyahkan mereka seperti yang dilakukannya pada Bani Qaynuqa.

Mereka tahu segala macam penolakan akan berarti kematian mereka dan tidak ada pilihan selain menerima permintaan tak adil ini.

Bani Nadeer punya tanah yang paling terurus di Yathrib. Sang Nabi agaknya juga mengicar perkebunan dan pertanian mereka.

Bukhari Volume 9, Buku 92, Nomer 447
    Di riwayatkan Abu Huraira:
    Ketika kami di Masjid, Nabi keluar dan berkata, "mari kita lanjut ke kaum Yahudi". Jadi, kami keluar bersamanya hingga tiba di Bait-al-Midras. Nabi berdiri disana dan memanggil mereka, "O Kumpulan Yahudi, Tunduklah pada Allah maka engakau akan si selamatkan!".

    Mereka berkata, "Engkau sampaikan Pesan Allah, O Aba-al-Qasim" Nabi kemudian berkata pada mereka "Itu yang saya mau, Masuk Islam dan engkau akan selamat"

    Ini terulang hingga 3x dan menambahkan, "Ketahuilah bahwa Bumi ini adalah untuk Allah dan Aku ingin mengusirmu dari tanah ini.

    Jadi, Siapapun diantara kalian mempunyai harta Ia seharusnya menjualnya, jika tidak Ketahuilah tanah ini adalah untuk Allah dan rasulnya"
Al-Mubarakpuri menulis,
    “Masyarakat gurun pasir Bedouin hidup di tenda2 tak jauh dari daerah Madinah, … tergantung pada usaha perampasan dan penjarahan sebagai mata pencaharian.” Ini adalah kebiasaan orang2 Arab untuk hidup.

    Ketika Muhammad menggunakan cara2 yang sama untuk menimbun kekayaan dan membangun kerajaannya, tak seorang pun kaget. Cara2 ini lumrah dan semuanya melakukan hal itu.
Rupanya Permintaan Nabi dikabulkan sehingga harus ada alasan untuk berperang dengan mereka. Sang Rasul Allah tidak punya tujuan lain selain cari alasan untuk memusnahkan Bani Nadeer.

Maududi:
    Kelihatannya mereka setuju untuk menyumbang, seperti yang diharapkan Nabi, tapi diam2 mereka mengatur rencana mengirim seorang untuk naik ke atap rumah Nabi ke tembok di mana Nabi suci biasa duduk dan menjatuhkan batu untuk membunuhnya.

    Tapi sebelum mereka dapat melaksanakan rencana itu, Allah memberitahu dia tepat pada waktunya dan dia tiba2 berdiri dan kembali ke Madinah.”
Al-Mubarakpouri:
    Setelah mendengar cerita Muhammad, orang2 Yahudi setuju untuk membantu membayar uang darah dan minta Muhammad dan kawannya Abu Bakr, ‘Umar, `Ali dan lainnya untuk duduk di bawah tembok rumah mereka dan menunggu.

    Orang2 Yahudi mengadakan rapat dan berencana untuk membunuh sang Nabi. Yang terkejam dari mereka, `Amr bin Jahsh, bersedia untuk memanjat tembok dan menjatuhkan sebuah batu besar di kepalanya. Seorang dari mereka, Salam bin Mashkam, memperingati mereka untuk tidak melakukan hal itu, karena mengira Allah akan memberitahu Nabi tentang rencana mereka, dan menambahkan bahwa tindakan seperti itu akan melanggar perjanjian dengan orang2 Muslim.

    Pada kenyataannya, Jibril memang turun untuk memberitahu sang Nabi tentang rencana jahat itu, sehingga dia dengan gerombolannya cepat2 balik ke Madinah. Di tengah jalan, dia bilang pada orang2nya tentang Pemberitahuan Illahi itu.”
Kisah di atas menimbulkan beberapa pertanyaan:
  • Jika orang2 Yahudi ini memang benar2 ingin membunuh Muhammad, tidakkah mereka dengan mudah menangkap dan membunuhnya beserta gerombolannya?
  • Kenapa musti menjatuhkan batu segala waktu Muhammad dan gerombolannya sebenarnya sudah berada di tempat mereka?
  • Dan mengapa Tuhan yang dapat memperingatkan nabiNya yang tercinta tentang rencana pembunuhan terhadapnya ternyata tidak membuat `Amr bin Jahsh mati?

    Kalau ‘Amr bin Jahsh mati, seluruh orang2 Yahudi dan Nabi jadi selamat dari semua perkara ini.
  • Mengapa Allah dan Nabi tidak memberi ampunan terhadap ribuan orang yang tak berdosa dan membuat mereka semua membayar kesalahan yang dilakukan beberapa orang?
  • Jika Tuhan begitu marah pada orang2 Yahudi ini mengapa Dia tidak membunuh mereka sendiri dengan penyakit?
  • Kenapa Dia tidak memerintahkan bumi untuk membelah diri dan menelan orang2 Yahudi tersebut seperti yang ditulis di Alkitab? (Bilangan 16:30). Ini akan jauh lebih mudah bagi orang2 Yahudi dan orang2 Muslim.
Ini hanya menunjukan bahwa nabi Muhammad berencana untuk melanjutkan rencana2nya membersihkan dan menjarah ras Yahudi.

Maududi menyelesaikan kisahnya dengan mengatakan,
    "Sekarang tidak ada alasan lagi untuk memberikan kelonggaran. Nabi dengan seketika mengirim ancaman bahwa rencana pembunuhan yang mereka buat baginya sudah ketahuan; karena itu, mereka harus pergi dari Madinah dalam waktu sepuluh hari; jika masih ada yang tinggal setelah sepuluh hari, dia akan dibunuh pakai pedang.

    Sementara itu Abdullah bin Ubayy mengirim pesan pada mereka bahwa dia akan membantu mereka dengan 2.000 orang dan bahwa Bani Quraizah dan Bani Ghatafan akan juga membantu; karena itu, mereka harus tetap berdiam diri dan jangan pergi. Karena janji ini, Bani Nadeer menjawab sang Nabi bahwa mereka tidak akan meninggalkan Medina dan terserah dia mau apa.

    Dengan sendirinya, di bulan Rabi' al-Awwal, A. H. 4, Nabi menyerang mereka, dan setelah dikepung beberapa hari (menurut keterangan2 tradisi pengepungan berlangsung 6 hari, yang lain berkata 15 hari), Bani Nadeer setuju untuk meninggalkan Madinah dengan syarat agar mereka dapat membawa semua harta bendanya yang dapat diangkut oleh onta2 mereka, kecuali persenjataan.

    Karena itu, Madinah dibersihkan dari suku pengacau Yahudi yang kedua. Hanya dua orang dari Bani an-Nadeer yang jadi Muslim dan tinggal di Madinah. Selebihnya pergi ke Syria dan Khaiber."
Nabi Muhammad tidak membantai Bani Nadeer, namun pikiran untuk melakukan pembantaian jelas muncul di kepalanya seperti yang bisa kita lihat di tulisan Sirat berikut.
    "Mengenai Bani al-Nadir, keluarlah Sura Pengasingan yang menunjukkan bagaimana Tuhan menjatuhkan pembalasan dendamNya pada mereka dan memberikan kekuatan pada NabiNya untuk mengatasi mereka dan bagaimana Dia bertindak pada mereka.

    Tuhan berkata: ‘Mereka yang tidak percaya pada Qur’an diasingkan dari rumah mereka … ‘Maka pikirkan ini, barangsiapa yang bijaksana. Jika Tuhan tidak menentukan pengasingan bagi mereka, ‘yang adalah pembalasan dari Tuhan,’ Dia sudah akan menghukum mereka di dunia ini,’ (Q. 59: 3) dengan pedang, ‘dan di dunia akherat mereka akan dihukum di neraka’ pula.” [Sirat, hal. 438]

    AQ 59:4,
    Yang demikian itu adalah karena Sesungguhnya mereka menentang Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa menentang Allah dan Rasul-Nya, Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.
Nabi dan kelompoknya "membunuh para pria dan membagi-bagi para wanita, anak2 dan harta benda diantara para Muslim, tapi beberapa datang pada sang Nabi dan diberinya pengampunan, dan mereka pun memeluk Islam. Dia mengasingkan semua orang Yahudi dari Medina."

[Padahal, ini semua bermula dari kesalahan tangan pengikut nabi yang membunuh rekannya sendiri]

Hampir semua ayat2 Sûrah Al-Hashr (Bab 59 – Pertemuan) menjabarkan pengusiran orang2 Yahudi dan memperlihatkan kelakuan rendah orang2 munafik. Ayat2 menunjukkan hukum2 yang sesuai dengan perampasan.

Di bagian ini, Allah, sang Maha Kuasa, memuji para Pendatang dan Pembantu. Di bagian ini ditunjukkan izin sah untuk memotong dan membakar lahan dan pohon2 musuh untuk keperluan militer. Perlakuan seperti tidak dianggap sebagai perusakan besar2an selama ini sesuai dengan jalan Allah.

“Wahai kamu (O orang2 Muslim) potonglah pohon2 palem (kepunyaan musuh), atau kamu biarkan mereka (pohon2) berdiri di tangkai2nya, itu diijinkan Allah.” [AQ 59:5] [Bukhari Volume 5, Buku 59, Nomer 362 menegaskan kisah ini]

Al-Mubarkpouri menulis,
    "Rasul Allah merampas senjata2, tanah, rumah2, dan kekayaan. Diantara barang2 rampasan yang berhasil diambilnya terdapat 50 baju baja, 50 pelindung kepala, dan 340 pedang. Semua ini milik sang Nabi karena tidak terjadi pertempuran saat penangkapan terjadi.

    Dia membagi barang rampasannya diantara para Pendatang dan dua Pembantu miskin Abu Dujana dan Suhail bin Haneef. Sisa bagian ini diberikannya pada keluarganya untuk hidup selama setahun. Sisa seluruh jarahan diberikan kepada prajurit Muslim dengan persenjataan bagi perang2 yang akan datang dalam nama Allah."
Bani Quraizah dan Bani Ghatafan tidak datang menolong Bani Nadeer dan mereka dipaksa menyerah dalam beberapa hari dan diasingkan dari Medina. Bani Nadir diusir oleh Nabi untuk meninggalkan tanah Arab. Sisa Bani Nadir dan keluarga Huyah ibn Akhtab melarikan diri ke tempat Bani Qurayza. Sebagian pergi ke Syria dan sebagian ke Khaibar.

[kembali]


Bani Quraiza (Nabi Mendapatkan Raihana sebagai Budak)

Kisah membantai dan memperbudak suku qurayza ini menurut versi muslim adalah: "Pada kenyataannya, orang2 Yahudi layak dapat hukuman berat itu karena pengkhianatan mereka terhadap Islam, dan banyaknya persenjataan yang mereka miliki yang terdiri dari 1.500 pedang, 2.000 tombak, 300 pakaian perang dan 500 tameng, dan semua ini jatuh ke tangan para Muslim.” (4). Alasan yang diberikan oleh para ahli sejarah Muslim: mereka tidak “patuh”, menyebabkan ‘perpecahan” atau jadi “pengkhianat” dan “melawan Islam”.

Untuk memahami ini, mari kita lihat alur kejadiannya:
  1. FAKTA SEDERHANA yang patut dicatat adalah 3 suku yahudi tidak terikat perjanjian dengan pihak muslimin, buktinya anda dapatkan dalam hadis dari Abd al Razzaq. al Musannaf, 5/358-361; Abu Dawud, al Sunan, 3/404-7; al Bayhaqi, Dalail al Nubuwwah, 3/446-8; juga lihat Ibn Hajar, Fath al Bari, 7/331, yang juga MENULISKAN bahwa NADIR dan QURAYZA saat diperangi adalah KARENA MENOLAK membuat perjanjian. Artinya mereka memang tidak terikat perjanjian apapun dengan Muhammad sebelumnya. Karena Bani Nabdir menolak, Ia kemudian diperangi dan di usir. Sementara, Bani qurayza karena mau menuruti paksaan untuk membuat perjanjian, mereka dilepaskan, jadi mereka aman untuk sementara waktu.
  2. Latar belakang peristiwa penyerbuan ini panjang sekali, bertahun-tahun setelah Muhammad Hijrah ke Medina, karavan kaum quraish kerap menjadi sasaran perampokan yang dilakukan kelompok Muslim, Selama ini kaum quraish tidak mengangkat senjata untuk ini. Kerugian terbesar kaum quraish terjadi di Badar. maka jika sebelumnya kaum quraish tidak pernah menyerang, Mereka kemudian menyerang dan terjadilah bentrokan pertama kali yang saling berhadap-hadapan di Uhud. Penyerangan kaum Quraish ini mengakibatkan kerusakan besar pada pihak Muhammad. Setelah itu peristiwa Uhud, pihak Quraish berusaha mengejar gerombolan Muhammad. Atas peristiwa ini, Muhammad dan pengikutnya membuat parit barikade yang tujuannya MEMBENDUNG kaum quraish [Bukkhari no. 2873]
  3. Muhammad menyewa peralatan gali lubang dari kaum Yahudi Bani Qurayzah. [Hamidullah, p71 ]

    -> Ini membuktikan baha kaum qurayza lebih memihak pada Muhammad dalam hal ini.
  4. Seluruh Yatrib di gali paritnya KECUALI area suku YAHUDI QURAYZA, yang alasannya adalah BENTENG QURAYZA sulit DITEMBUS pihak quraish KECUALI suku QURAYZA mengijinkannya.
  5. Saat itu, Kaum yahudi yang bersekutu dengan kaum quraish adalah bani: Ghatafan, Fazarah (cabang suku Ghatafan) [Mubarakpuri, p.363], Murrah dan Masud, Rukhaylah dari suku Ashja [Haykal, pada bab antara Badr and Uhud]. Para penulis BIOGRAPHY tidak ada satupun yang menyatakan Kaum qurayza ikut bergabung dan mengirimkan pasukan bersama kaum Quraish Mekkah.
  6. Jika kaum yahudi Qurayza mau membantu kaum Mekkah, maka muslim medina pastilah habis demikian pula sebaliknya. Mengetahui keadaan ini, kedua belah pihak berusaha melakukan bujukan. Bujukan dari kaum Quraish melalui perantara Huyayy b. Akhtab, ketua dari kaum Yahudi B. Nadir.

    Siasat dari kaum Qurayza adalah mengiyakan, namun TETAP TIDAK MENGIRIM PASUKAN.

    Dari kubu Muhammad, penjajagan dilakukan oleh Sa’d b. Muadh (salah seorang ketua dari bani Aus, yang di jaman dulu mereka beraliansi dengan suku Nadir dan Qurayza). Orang ini kemudian membawa berita FITNA kepada muhammad bahwa kaum qurayza mendukung kaum quraish. Tuduhan itu sama sekali tidak benar.

    buktinya?

    • Abu sufyan sendiri menyatakan "Wahai Quraisy, kita tidak berada di perjanjian permanen, kuda dan unta yang mati, Bani Qurayza TELAH MELANGGAR JANJI MEREKA KEPADA KITA dan KITA TELAH MENDENGAR berita meresahkan dari mereka. Kalian lihat betapa kerasnya angin yang membuat kita tidak dapat memasak atau membakar atau perjanjian yang dapat diandalkan, jadi aku akan berhenti" [Ibn Ishaq, 683]
    • Sa'd b Muadh, KELAK di perang parit ini menderita luka parah di tangannya (atau bahunya menurut Muir oleh panah. Dia bersumpah untuk membalas B. Qurayzah HANYA KARENA ORANG YANG MEMANAHNYA BERSAHABAT DEKAT dengan B. Qurayzah (Bani qurayza hingga DETIK ITU TIDAK MEMBANTU KAUM QURAISH MEKKAH)
    • PEMBASMIAN suku ini hanya karena MUHAMMAD mengatakan bahwa malaikat Jibril mengunjunginya untuk “meminta dia menghunus pedangnya dan berangkat ke tempat tinggal Bani Quraiza yang suka menghasut dan berperang melawan mereka. Jibril memberitahu bahwa dia dengan pasukan malaikat akan mengguncangkan benteng pertahanan mereka dan mengakibatkan ketakutan di hati mereka.” [Bukhari 5.59.443]
    • Nuaym b. Masud b. Amir (seorang yahudi yang memeluk islam dari suku ghatafan) mendatangi suku qurayza untuk membujuk untuk tidak membantu kaum mekkah Quraish dan saran ini justru di TURUTI OLEH SUKU QURAYZA.
    • Pada hari Sabbath petang (yakni malam Jum’at, Sabbath adalah Sabtu menurut tradisi Yahudi), Abu Sufyan mengirim Ikrimah b. Abi Jahl dan sekelompok orang mengunjungi B. Qurayzah UNTUK MEMINTA KAUM YAHUDI KELUAR DAN MELAKUKAN PERANG bersama keesokan harinya (hari Sabtu).
    • KAUM YAHUDI MENOLAK bertempur di hari Sabbath dengan mengatakan bahwa ketika mereka dulu melanggar tradisi larangan perang di hari Sabbath, mereka lalu dirubah jadi monyet dan babi.[Ibn Sa’d, vol.ii, p.85 ] Lagi pula, kaum Yahudi juga menuntut sandera dari kaum Quraish dan Ghatafan sebagai persyaratan untuk mau bersama-sama perang melawan Muhammad.
    • Sebuah badai pasir melanda daerah itu dan tentara Quraysh terpukul kembali, dan karena Bani Qurayza MENOLAK untuk membiarkan para QURAISH melewati benteng mereka, Jadi mereka tidak punya pilihan lain selain kembali [Musnad Ahmad - 22823] dan serangan pun berakhir.
Bukti-bukti di atas TELAK menunjukan bahwa TIDAK ADA PERBUATAN KHIANAT dari bani qurayza.

Kemudian,
Bagaimana bentuk terimakasih yang disampaikan Muhammad karena kaum yahudi Qurayza tidak membantu Quraish?

Hari itu, ketika, kaum muslimin hendak beristirahat pulang dari perang tersebu, Muhammad menyatakan bahwa malaikat Jibril mengunjunginya untuk “meminta dia menghunus pedangnya dan berangkat ke tempat tinggal Bani Quraiza yang suka menghasut dan berperang melawan mereka. Jibril memberitahu bahwa dia dengan pasukan malaikat akan mengguncangkan benteng pertahanan mereka dan mengakibatkan ketakutan di hati mereka.” [Bukhari 5.59.443]

Tidak jelas mengapa sang malaikat butuh pertolongan Muslim untuk menghabisi orang2 Yahudi jika dia sendiri punya “pasukan malaikat” yang akan menggoncangkan perbentengan orang2 Yahudi. Meskipun demikian, “Rasul Allah dengan seketika memanggil pembantunya dan menyuruhnya untuk mengumumkan permusuhan baru melawan Bani Qurayza.”

Muhammad mengepalai pasukan jalan kaki berjumlah 3.000 orang dan 30 pasukan berkuda Ansar (Pembantu) dan Muhajireen (Pendatang). Bani Quraiza diserang karena tidak membantu Muhammad ketika Quraish menyerang Medina. Ali bersumpah bahwa dia tidak akan berhenti sampai dia menghancurkan pasukan musuh atau mati terbunuh. Pertempuran ini berlangsung selama 25 hari. Akhirnya Bani Quraiza menyerah tanpa syarat.
    Haykal:
    Mereka menyampaikan proposal untuk pergi ke adhirat namun ini ditolak muhammad yg tetep bersikeras hendak menghakimi mereka. Mereka kemudian minta pada bani aws menolong mereka karena hubugan aliansi masa lalu ketika melaan bani jharaj. Bani awslah yg menyampaikan pada muhammad dan muhammad menyampaikan akan meminta 1 orang dari bani aws yg mengambil keputusan. ini diterima oleh bani aws. [Sejarah Hidup Muhammad, hal 337]

    Muir:
    mereka mau menyerah adalah dengan syarat bahwa nasib mereka agar BANI AWS yg tentukan. [Muir vol.3. ch 17. Hal 272]
Tidak ada mereka meminta sa'ad mu'adz, namun usulan Muhammad yang diterima oleh sekutu nya sendiri (kaum Aws ikut perjanjian Medina, di masa lampau kaum Aws dan kaum Qurayza pernah berada dalam satu aliansi)

Kemudian Beberapa anggota dari Bani Aus memohon kepada Nabi Muhammad menunjuk hakim dari Bani Aus untuk menghukum sekutu lama mereka Bani Quraizah, hingga Nabi Muhammad menunjuk Sa'ad bin Muadz atas keputusan itu Bani Quraizah juga menerima penunjukan itu [Mohammed Abu-Nimer (2000-2001). "A Framework for Nonviolence and Peacebuilding in Islam". Journal of Law and Religion 15 (1-2): 247., Hashmi, Sohail H.; Buchanan, Allen E; Moore, Margaret (2003). States, Nations, and Borders: The Ethics of Making Boundaries. Cambridge University Press., Khadduri, Majid (1955). War And Peace in the Law of Islam. Baltimore: Johns Hopkins Press.]

Sa‘d telah mengalami luka parah dalam pertempuran sebelumnya yang dikenal sebagai Pertempuran Sekutu. Dia memberi hukuman “semua pria yang sehat atau dapat bertempur dari Bani Qurayza harus dibunuh, para wanita dan anak2 dijadikan tawanan dan harta benda mereka dibagikan diantara pejuang2 Muslim.” [Bukhari 4.52.280]
    Di parit2 yang digali, sekitar 600 sampai 900 orang dipenggal kepalanya. Huyai, Ibn Akhtab, ketua Bani Nadeer dan dia adalah ayah dari Safiyah, tertangkap di penyergapan ini dan dibawa menghadap sang Nabi dengan tangan terikat di lehernya dengan seutas tali. Dengan berani dia menolak Muhammad dan memilih untuk dipenggal daripada masuk Islam. Dia diperintahkan duduk dan dipenggal saat itu juga. Untuk membedakan pria dengan anak laki, kaum muda diperiksa dan jika mereka sudah punya bulu kemaluan, maka mereka pun dipenggal.[Al-Bubarapouri]

    Diriwayatkan Atiyyah al-Qurazi:
    Aku adalah seorang dari Bani Quraisah yang tertangkap. Mereka (prajurit Muslim) memeriksa kami, dan siapa yang sudah mulai punya bulu kemaluan dibunuh, dan siapa yang belum tidak dibunuh. Aku adalah salah satu dari mereka yang belum punya bulu kemaluan.

    Dalam perang melawan kaum Yahudi bani Quraiza (Februari 627 M), pasukan Islam memancung sekitar 600-900 laki-laki dan membiarkan wanita dan anak-anak. Satu dari wanita tersebut adalah Raihana yang sangat cantik.[bu-Dawud 38.4390]

    Allah menghadiahkan Raihana yang berasal dari suku Yahudi Quraiza kepada Nabinya sebagai barang Rampasan [Ia dipaksa dulu untuk melihat ayah dan kakaknya di penggal, melihat ibunya ditarik paksa untuk diperkosa dan saudari-saudari kandungnya dijual untuk dijadikan budak] [Tabari Tabari Vo.9. Hal.137]

    Pagi harinya, Nabi memerintahkan agar menggali parit yang panjang, dalam dan sempit dilokas ipasar. Kaum pria, semuanya kira-kira 700 orang dibagi dalam beberapa kelompok kecil, dan setiap kelompok disuruh duduk disepanjang parit yang akan menjadi tempat pemakaman mereka. Kemudian Ali, Zubayr dan para sahabat lain yang lebih muda memenggal kepala mereka, masing-masing dengan sabetan pedang.

    …..Sedangkan wanita dan anak-anak lainnya, berikut harta bendanya dibagi-bagikan kepada setiap orang yang ikut serta dalam pengepungan itu. Sebagian besar tawanan ditebus oleh bani Nadhir di Khaybar. Sementara bagian nabi, beliau memilih Raihana, putrid Zayd dari Nadhir yang dinikahkan dengan lelaki Qurayzah. Ia sangat cantik dan tetap menjadi budak nabi sampai meninggal dunia lima tahun kemudian ….

    Setelah jelas bahwa Raihana tidak hamil, nabi menemuinya dan menawarinya untuk dibebaskan dan dijadikan sebagai istrinya. Namun ia menjawab, "Hai Rasulullah, biarkanlah aku berada dalam kekuasaannu. Itu akan lebih mudah bagiku dan bagimu." [Lings, hal. 373-374]
Saat meninggal Raihana tetap memilih status sebagai budak, dia menolak untuk dinikahi oleh Muhammad SAW. Bani Quraizha dimusnahkan oleh Muhammad SAW dengan membunuh seluruh kaum lelakinya, termasuk suami Raihana. Kemudian menggauli Raihana. Raihana tidak berusia panjang dimana dia meninggal 5 tahun setelah kejadian pemusnahan bani Quraizah.

Ada beberapa versi lain berkenaan dengan Raihana ini, yaitu:
  • Versi dari Ibn Ishaq: Ia dijadikan Gundik apabila ia menerima jadi Islam maka ia akan dikawini, namun ia menolaknya.
  • Versi dari Ibn Sa’d, di kutip Waqidi: Rahaina berkata bahwa ia dibebaskan dan menikah dengan Muhammad [Ibn Sa'd. Tabaqat, vol VIII, pg. 92–3]
  • Versi dari Al-Halabi: Muhammad mengawini dia dan memberikan mahar untuknya, namun ia menolak memakai Hijab, terdapat keributan namun kedua pasangan nantinya rujuk, kemudian Raihana meninggal ketika Muhammad melakukan Haji [al-Halabi, Nur al-Din. Sirat-i-Halbiyyah. Uttar Pradesh: Idarah Qasmiyyah Deoband, vol 2, part 12, pg. 90. Translated by Muhammad Aslam Qasmi]
  • Versi dari Hafiz Ibn Minda menulis bahwa Muhammad membebaskan Rayhana dan Ia kemudian kembali kepada sukunya. Versi terakhir ini di ‘sukai’ oleh para alim ulama modern ‘shibli nomani [Nomani, Shibli (1979). The Life of the Prophet. Vol. II, pg. 125–6]
Tidak dinyatakan beberapa umur Rayhana saat dijadikan budak seksual Muhamad, Ia merupakan 1 diantara 4 budak seks wanita muhammad dan karena ia merupakan pilihan muhammad diantara para tawanan wanita saat itu, maka umurnya pun tidak jauh dari usia Safiyya, Juwariyah dan Aisyah. [kembali]


Juwariya binti Harits (Menikah:628 M, Umur: 17 tahun atau 20 tahun)

Dalam Al-Kutub At-Tis’ah jumlahnya ada 17 buah. Ahmad ibn Hanbal (10 Hadits), Shahih Muslim (2 Hadits), dan masing-masing 1 Hadits dalam kitab Shahih Al-Bukhari, Sunan Al-Tirmizi, Sunan An-Nasaiy, Sunan Abî Dawud, dan Sunan Ibn Majah.

Pada 6 AH (628 Masehi), Pasukan Muslim mengalahkan suku Yahudi Mustaliq pimpinan Harits. Anak perempuannya, Juwariyah menjadi tawanan Thabit Ibn Qais.
    riwayat Abdullah bin Umar:
    Dari Nafik, ia berkata: Rasulullah saw. pernah menyerbu Bani Mushthaliq di saat mereka dalam keadaan terlena serta hewan-hewan ternak mereka sedang diminumkan dari sumber mata air. Lalu beliau membunuh pasukan perang mereka, menangkap tawanan mereka dan pada hari itulah Rasulullah mendapatkan Juwairiah binti Harits. Selanjutnya Nafik mengatakan: Abdullah bin Umar menceritakan hadis ini kepadaku karena termasuk anggota pasukan Islam pada saat itu [Hadis Sahih Muslim No. 3260]

    Juwairiya ditangkap dalam penyerangan terhadap bangsa Banu Mustaliq. Sebelumnya ia telah menikah dengan Musafi bin Safwan, yang terbunuh di perang tersebut [Sahih Muslim vol.3 no.4292 hal.942, Abu Dawud vol.2 no.227 hal.728 dan al-Tabari vol.39 hal.182-183]. Juwayriyyah dipilih Muhammad untuk dirinya sendiri di hari ketika Musthaliq di bantai untuk mendapatkan tawanan. Muhammad mengawini Umm, yang ketika itu masih Nasrani [Tabari Vol.9. Hal.133]

    Aisah yang membukakan pintu bagi Juwariya, yang setelah itu menuturkan, "Juwariya wanita yang sangat cantik. Siapapun lelaki yang melihatnya, pasti terpikat olehnya. Dan ketika aku melihatnya dipintu kamarku, aku diliputi perasaan was-was karena aku tahu, nabi akan melihat wanita ini seperti yang kulihat." Kekuatiran Aisah terwujud karena nabi Muhammad memang menawarkan untuk menikahinya, dikatakan oleh nabi Muhammad: "Aku akan menebus pembebasanmu dan menikahimu." Juwariya menerima pernikahan ini dengan senang hati. [Muhammad - Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik, oleh Martin Lings, Serambi Ilmu Semesta, Jakarta, 2002., hal. 386 – 387]

    Istri Muhammad dengan nama kecil Barrah adalah Juwairiyah [Abu Dawud vol.1 no.1498 p.392] Juga di katakan bahwa Zainab bernama Barrah [Sahih Bukhari vol.8 book 72 ch.107 no.212 p.137; Abu Dawud vol.3 no.4935 p.1377-1378]
Juwariyah Wafat pada:
  • Rabiul Awal 56 AH, 70 tahun [Abbas Jamal, hal.65], atau
  • 50 AH, 65 Tahun [Ibn Sa'd/Aisha Bewley vol.8. hal.85]
Saat menikah dengan Muhammad: 70 – (56 AH – 6 AH) = 20 tahun [Tabari vol.39 p.184] atau 65 - (50 AH – 6 AH) = 21 tahun

[kembali]


Safiyya (Menikah:628 M, Umur: 17 Tahun, wafat:50H/672 atau 52/672 (Ibn Sa'd, Tabaqat, vol.8, 85-92))

Dalam Al-Kutub At-Tis’ah, jumlah Hadits yang disandarkan kepadanya berjumlah 25 Hadits. Shahih Al-Bukhari (7 Hadits), Shahih Muslim (1 Hadits), Sunan At-Tirmizi (3 Hadits), Sunan Abî Dawud (3 Hadits), Sunan ibn Majah (2 Hadits), Musnad Ahmad (7 Hadits), dan Sunan Al-Darimiy (2 Hadits).

Di sekitar tahun perjanjian Hudabiyyah, sedang terjadi kemarau besar di Medinah, beberapa orang bani Aslam yang baru memeluk Islam minta bantuan Muhammad yg saat itu belum punya cara namun ia tau baha suku khaibar adalah kaya dengan tanah pertanian yang subur, “O Allah, Kau tahu keadaan mereka – bahwa mereka tidak punya kekuatan dan aku tak punya apapun bagi mereka. Bukalah bagi mereka (kesempatan menyerang) bagian terbesar perbentengan Khaybar, yang paling kaya akan makanan dan daging berlemak.” [Tabari, vol.8, Hal.117]

Terjadinya Perjanjian Hudabiyya membuat kaum muslim KECEWA dan MENGGERUTU, maka untuk menyenangkan dan menegakan kembali moral mereka, seperti biasanya, TURUNLAH AYAT (AQ 48.18-21), yaitu tujuan perjalanan selanjutnya setelah di TOLAK MASUK Mekkah adalah ke Khaibar.

Huyai Ibd Akhtab, ketua baru Bani Nadeer, adalah sebagian orang yang menuju Khaibar ketika pengusiran bani Nadir.

Muhammad dan pasukannya kemudian menyerbu saat mereka tidak ada kesiapan apapun pada penyerangan ini. Suami Safiyah (kinana) setelah di siksa ia dipancung, mereka membunuh para Pria dan membantai Anak keturunan mereka, para wanita dijadikan tawanan dan ketika Muhammad melihat Safiyah, Ia menggaulinya malam itu juga [tanpa perlu menunggu waktu Iddha yang 4 bulanan lagi].
    Dikisahkan oleh 'Abdul 'Aziz:
    Anas berkata, 'Ketika Rasul Allah menyerang Khaibar, kami melakukan sembahyang subuh ketika hari masih gelap. Sang Nabi berjalan menunggang kuda dan Abu Talha berjalan menunggang kuda pula dan aku menunggang kuda di belakang Abu Talha.

    Sang Nabi melewati jalan ke Khaibar dengan cepat dan lututku menyentuh paha sang Nabi. Dia lalu menyingkapkan pahanya dan kulihat warna putih di pahanya. Ketika dia memasuki kota, dia berkata, ‘Allahu Akbar! Khaibar telah hancur. Ketika kita mendekati suatu negara maka kemalangan menjadi pagi hari bagi mereka yang telah diperingatkan.’ Dia mengulangi kalimat ini tiga kali.

    Orang2 ke luar untuk bekerja dan beberapa berkata, ‘Muhammad (telah datang)’ (Beberapa kawan kami berkata, “Dengan tentaranya.”) Kami menaklukkan Khaibar, menangkap para tawanan, dan hartabenda rampasan dikumpulkan. Dihya datang dan berkata, ‘O Nabi Allah! Berikan aku seorang budak wanita dari para tawanan.’

    Sang Nabi berkata, ‘Pergilah dan ambil budak mana saja.’ Dia mengambil Safiya bint Huyai. Seorang datang pada sang Nabi dan berkata, ‘O Rasul Allah! Kauberikan Safiya bint Huyai pada Dihya dan dia adalah yang tercantik dari suku2 Quraiza dan An-Nadir dan dia layak bagimu seorang.’

    Maka sang Nabi berkata,’Bawa dia (Dihya) beserta Safiya.’ Lalu Dihya datang bersama Safiya dan ketika sang Nabi melihatnya (Safiya), dia berkata pada Dihya,’Ambil budak wanita mana saja lainnya dari para tawanan.’ Anas menambahkan: sang Nabi lalu membebaskannya dan mengawininya.” [Bukhari 7.71.58]

    Dinarasikan oleh 'Abdul 'Aziz:
    "Kata Anas, ketika nabi menyerbu Khaibar orang2 di kota berseru “Muhammad dan pasukannya datang”. Kami mengalahkan mereka semua, menjadikan mereka tawanan dan harta rampokan dikumpulkan. Nabi membunuh para pria yang melawan, membantai anak-anak keturunan mereka dan mengumpulkan para wanita menjadi tawanan [Bukhari 5.59.512]

    Abi Huqay mengetahui harta dari Bani Nadir. Ia dibawa dihadapan Nabi dan menanyainya. Namun Huqayq menolak memberitahu dimana. Kemudian Nabi menanyai yahudi lainnya.

    Satu mengatakan, ‘Aku melihat Kinana berjalan mengitari reruntuhan/’ Muhammad memerintahkan Kinana untuk dihadapkan padanya dan kemudian berkata,’ Kamu tahu kalau kami menemukannya, Aku akan membunuhmu’. ‘Ya,’ Kinana menjawab. Nabi memerintahkan untuk menggali reruntuhan itu. Beberapa harta terangkat.

    Kemudian Nabi menanyakan Kinana mengenai sisanya. Ia menolak untuk menyerahkan.

    Kemudian Nabi memerintahkan Zubayr,’ ‘SIKSA ia sampai kau memeras segala apa yg diketahuinya. Jadi Zubayr menempelkan besi panas pada dada Kinanah, (menekan besi itu) sambil memutar2nya sampai Kinanah hampir mati. Lalu Rasul memberikannya ke Maslamah, yg MEMENGGAL KEPALAnya. [Tabari Vol.8, Hal.122]

    'Kinanah b. al-Rabi b. al-Huqyaq yang memiliki harta karun B. Nadir dibawa menghadap Rasul Allah, yang menanyai dia, tapi dia membantah tahu akan hal itu. Lalu Rasul Allah membawa seorang Yahudi yang berkata padanya, “Aku telah melihat Kinanah berjalan di sekitar puing2 ini setiap pagi.” Rasul Allah berkata kepada Kinanah, “Apa yang kau lakukan? Jika kita temukan hartamu, aku bunuh kamu.” “Baiklah,” jawabnya. Rasul Allah memerintahkan agar puing2 itu digali dan beberapa harta ditemukan di dalamnya. Lalu dia tanya di mana sisa harta yang lain. Kinanah tidak bersedia menjawabnya, sehingga Rasul Allah memerintahkan al-Zubayr b. al-‘Awwam sambil berkata, “siksa dia sampai dia mengaku apa yang dia miliki.” al-Zubayr b. al-‘Awwam terus-menerus memutar tongkat berapinya di dada Kinanah sampai Kinanah hampir mati dan lalu Rasul Allah menyerahkan Kinanah kepada Muhammad b. Maslamah, yang kemudian memenggal Kinanah sebagai balas dendam kematian saudara lakinya yakni Mahmud b. Maslamah.’ [Tabari vol.7 hal.123]

    “...malam harinya, dia (Muhammad) memasuki tenda dan dia (Safiyyah) masuk bersamanya. Abu Ayyub datang ke sana dan berdiri di luar tenda dengan pedang dan kepalanya dekat pada tenda. Di pagi harinya, Rasul Allah melihat gerakan suatu tubuh dan berkata, “Siapa itu?” Dia menjawab,”Aku adalah Abu Ayub.” Dia (Muhammad) bertanya, “Mengapa kamu ada di sini?” Dia menjawab, “O Rasul Allah! Gadis ini baru saja dikawinkan (denganmu) dan kau telah lakukan apa yang kau telah lakukan pada suaminya yang terdahulu. Aku khawatir akan keselamatanmu, jadi aku ingin dekat berjaga bagimu.” Akan hal ini Rasul Allah berkata dua kali, “O Abu Ayub! Semoga Allah menunjukkanmu pengampunan.” [Ibn Sa'ad vol.II hal.145]

    "Ketika kami mencapai khaibar, Muhammad mengatakan bahwa Allah memberkatinya untuk menaklukan mereka. Itu adalah ketika kecantikan Safiya disampaikan kepadanya. Suaminya telah di bunuh, kemudian Nabi memilihnya sebagai bagian untuknya. Nabi membawa Safiya bersamanya hingga ketika kita mencapai satu tempat bernama Sad dimana Ia menstruasinya selesai dan Nabi menjadikannya sebagai Istrinya, menyetubuhinya dan memaksanya untuk memakai Kerudung” [Bukhari 4.52.143, 5.59.523]

    Dihya meminta Safiya pada Nabi ketika Nabi memilihnya sebagai jatahnya. Muhammad memberikan Dihyah dua sepupu Safiyah sebagai gantinya [Tabari Vol 8. Hal.117]

    ‘ketika Ia protes dan tetap menginginkan Safiya untuk dirinya, Nabi membarterkan untuk safiya dengan memberikan Dihya dua sepupu safiya. Para wanita dari khaibar di bagi-bagikan diantara muslim [Ishaq:511]

    Safiyya dibeli Nabi dengan menukarkan 7 Budak bagiannya [Abu Dawud vol.2, no. 2991 riwayat dari Anas, Ibn-i-Majah vol.3 no.2272]

    Para Muslim berkata diantara mereka,’ akankan Safiya menjadi satu dari Istri-istri Nabi atau sekedar perempuan rampasan dari satu koleksinya’[Bukhari 5.59.524]

    Ketika Abu Sufyan mendengar Nabi telah mengambil dia (Safiya), dia berkata, “Hidung kuda jantan itu tidak bisa dikontrol.”[Tabari Vol.8, Hal.110]

    Thabit bertanya pada Anas,”O Abu Hamza! Apa yang dibayar sang Nabi sebagai maharnya?” Dia menjawab, “Dirinya sendiri adalah maharnya karena dia telah membebaskannya (dari status budak) dan lalu mengawininya.” Anas menambahkan, “Di perjalanan, Um Sulaim mendandaninya untuk (upacara) pernikahan dan malam ini Um Sulaim mengantar Safiya sebagai pengantin sang Nabi..[Buhari 1.8.367]

    Aku bahkan belum berusia 17 tahun, atau baru saja 17 tahun, malam ketika digauli Nabi [Tabari vol.39 hal.185]

    Bukan wanita itu saja yang kehilangan ayah dan suaminya ditangan kaum muslim. Diantara para tawanan yang ditahan karena Kinanah menyembunyikan hartana itu ada seorang janda, Safiah putrid Huyay…. Janda itu berusia tujuh belas tahun dan baru menikah dengan Kinana satu dua bulan sebelum Nabi berangkat dari Madinah. ……
    Pusat keprihatinan istri-istri nabi adalah hadirnya sosok yang tidak diduga dirumah tangga mereka, Safiah yang belia dan cantik…….. Aisah menanyakan kepada Umm Salamah tentang teman baru mereka itu, "Ia memang benar-benar cantik", kata Umm Salamah, "dan Rasulullah sangat mencintainya" [Lings, hal. 427, 429]

    Dihyah bin Khalifah al Kalabi muncul dan berkata, "Wahai nabi Allah, berikanlah kepadaku satu tawanan wanita." Beliau berkata,"Pergilah dan ambil satu tawanan wanita." Dihyah kemudian mengambil Safiyah binti Huyay. Setelah itu datang seseorang kepada Nabi dan berkata, "Wahai Nabi Allah, apakah anda memberikan Safiyah putri pemimpin bani Quraizah dan bani Nadhir kepada Dihyay? Safiyah hanya pantas milik anda." "Panggil dia bersama Safiyah!" kata beliau. Dihyah datang bersama Safiyah. Setelah memandangi Safiyah, nabi berkata kepada Dihyah, "Ambillah tawanan wanita selainnya!" [Mubarakfury, hal.561 – 562]
[kembali]


Mulaykah Binti Dawud Al-Laythiyyah (Menikah: 627-628 M, Cerai)
  • Muhammad Mulaykah binti Dawud al-Laythiyyah,[al-Tabari vol.8 hal.189] atau Mulaykah binti Ka’b [Tabari vol.39 hal.165, Ibn Saad/Aisha Bewley Vol.8. Hal.106, 154]
  • "Nabi [62 tahun] mengawini Mulaykah. Ia adalah seorang Muda dan cantik. Satu dari istri-istri nabi datang padanya dan mengatakan,’apakah kamu tidak malu untuk nikah dengan lelaki yang membunuh Ayahmu saat penaklukan Mekkah?” Mulaykah kemudian memohon perlindungan allah dari Nabi [Tabari vol 8. hal.187]
  • Sukunya Mulaykah mendatangi Nabi dan berkata, “Badannya begitu kecil dan Ia tidak memahami tentang dirinya sendiri; Ia dibohongi” [Tabari, Vol. 39, Hal.165]
  • Muhammad menikahinya di 8 AH...Muhammad membunuh ayahnya dihari penaklukan Mekkah (14 January 630) [Tabari, Vol. 8, Hal. 187.]
Tidak memahami dirinya dan badannya kecil sekali mengindikasikan Mulaykah berusia 12-13 tahun.

[kembali]


Al-Shanba’ Binti ‘Amr (Menikah: 627-628 M, Cerai)

Nabi menikahi Al-Shanba’ binti Amr al-Ghifariyyah; Sukunya beraliansi dengan suku Bani Qurayza.

Ketika Ibrahim meninggal (anak dari Maria Qitibiya), Ia mengatakan bahwa Jika Ia (Muhammad) benar Nabi maka Anaknya tidak akan meninggal. Muhammad menceraikannya sebelum menyetubuhinya [al-Tabari vol.9 p.136]

Kemungkinan ia Menikah setelah Nabi menggauli Raihana [pemusnahan suku Qurayza] dan diceraikan setelah menikahi Maria Qitibiyyah yaitu setelah meninggalnya Ibrahim.

[kembali]


Sana Binti Asma’ / al-Nashat (menikah (?): 627-628 M, mati)

Muhammad menikahi al-Nashat binti Rifa’ah dari suku/Bani Kilab bin Rabi’ah yang bersekutu dengan Qurayzah. Beberapa memanggilnya sebagai Sana binti Asma’ bin al-Salt al-Sulamiyyah; sementara lainnya memanggilnya Sana binti Asma’ bin al-Salt of the Banu Harm.

Ia meninggal sebelum Nabi sempat menuntaskan pernikahannya. Ia juga disebut Sana.[Tabari vol.9 p.135-136. al-Tabari vol.39 p.166]

[kembali]


Zainab Binti Jahsh (Menikah: 627/628 M, Umur: 34/35 tahun)

Dalam Al-Kutub At-Tis’ah hanya terdapat 27 buah Hadits yang disandarkan kepadanya. Shahih Al-Bukhari (6 Hadits), Shahih Muslim (4 Hadits), Sunan At-Tirmizi (2 Hadits), Sunan An-Nasaiy (2 Hadits), Sunan Abî Dawud (2 Hadits), Sunan ibn Majah (2 Hadits), Musnad Ahmad (8 Hadits) dan Al-Muwattha (1 Hadits).

Nama aslinya adalah Barra. Sebelumnya dia menikah dg Zaid (Anak angkat Muhammad) dan Muhammad sendiri yg mengatur pernikahan mereka. Dia adalah sepupu Muhammad. Ibu Zainab, Umayma adalah anak dari Abdul Muttalib, kakek Muhammad.

Riwayat latar belakang perceraian Zaid bin Muhammad dengan Zainab binti Jash: ketika Nabi mencari Zaid hingga sampailah ia kerumahnya, Saat itu angin berhembus dan menyingkap cover pemisah ruangan dimana ainab berada.
    Tabari:
    Nabi melihat Zainab dalam keadaan tidak berbusana dan terucap pujian atas kecantikan Zainab. Zainab melihat dan menyadari kekaguman yang terpancar dimuka Muhammad tersebut dan memberitahukan hal itu kepada suaminya, maka Zaid bergegas menuju rumah Muhammad dan menawarkan istrinya kepada mertuanya.

    Muhammad semula menolaknya karena mengkhawatirkan mengenai kemungkinan omongan buruk diluaran. Zaid, seorang anak angkat yg berbakti kemudian menceraikan Zainab utk melapangkan jalan bagi sang nabi untuk menikahinya. [The History of al-Tabari, vol. 8, p. 4, diriwayatkan Yunis dan Ibn Wahab, Ibn Zaid, dalam tafsir Tabari AQ 33.37]

    Qurtuby:
    Muqatil meriwayatkan..Kemudian suatu hari, NABI datang mencari zaid namun ia melihat zainab berdiri; Zainab BERKULIT PUTIH DENGAN BENTUK MENAWAN dan 1 diantara WANITA PALING SEMPURNA di KAUM QURAISH. Jadi Ia MENGINGINKANNYA dan BERKATA, "Ajabibnya Allah yang mengubah hati". Ketika Zaynab mendengar nabi MEMUJINYA, ia sampaikan ini pada Zayd yang kemudian MENGERTI (apa yg harus dilakukan). Zaid katakan pada nabi, "Rasullullah ijinkan aku untuk menceraikannya, karena ia menjadi arogan; melihat dirinya lebih daripada ku dan menghinaku dengan lidahnya"

    Nabi menjawab, "Tetaplah dengan istri dan takutlah pada allah"

    Dikatakan bahwa Allah mengirimkan ANGIN yang MENGANGKAT KORDEN yang memperlihatkan ZAINAB di kamarnya. Ketika Nabi melihatnya dan itu menyenangkan Zainab bahwa Ia diinginkan oleh nabi. Ketika Zaid pulang kerumah, Zaynab menyampaikan apa yang terjadi dan Zaid memutuskan untuk menceraikannya (Tafsir Qurtuby, AQ 33.37)

    Jalalyn:
    Kemudian dalam satu kejadian Ia (Nabi) memandangnya dan JATUH CINTA padanya, kemudian (setelah ia menyadari ini) Zayd hilang gairah padanya dan ia berkata pada Nabi,"Aku ingin berpisah dengannya" (Tafsir Jalalyn AQ 33.36)

    Tanwir Ibn abbas:
    (sedang kamu menyembunyikan di dalam hatim) cintanyanya dan KEINGINAN untuk MENGAWININYA...(apa yang Allah akan menyatakannya) di quran, (dan kamu takut kepada manusia) dan kamu merasa malu pada masyarakat akan hal ini (sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti) seharusnya kamu lebih malu pada allah. (Tafsir Ibn Abbas AQ.33.37)

    Martin Lings:
    Suatu hari, nabi pergi kerumah Zaid …. Ketika beliau datang Zaid sedang tidak ada di rumah. Zainab, karena tidak menyangka akan ada tamu diwaktu-waktu tersebut, sedang berpakaian seadanya [..] Zainab lari kepintu tanpa mengenakan alas kaki untuk mempersilahkan nabi masuk dan menunggu hingga suaminya kembali. "Dia sedang tidak ada hai Rasulullah" katanya, tetapi demi bapak dan ibuku, silahkan masuk". Saat Zainab berdiri dipintu, ia tampak berseri-seri dan riang gembira, dan nabi kagum oleh kecantikannya'. [Lings, hal. 341 – 342]

    Abbas Jamal:
    Tapi apa lacur, sedang baginda nabi mengucapkan asalamu'alaikum sebagaimana lazimnya berliau bertamu, maka yang menjawab adalah Zainab istri Zaid yang dalam keadaan sedang terburu-buru membetulkan pakaiannya yang belum sempurna terpakai.

    Tentu saja hal ini berakibat tampaknya sebagian aurat Zainab oleh Rasulullah… Setengah riwayat menyatakan bahwa Zainab dalam keadaan berpakaian tipis [..] [Abbas Jamal, hal.55]

    Pernikahaannya terjadi di bulan Dul qaidah hari ke-1, 5 AH, di usia 35 tahub [Ibn Sa'd/Aisha Bewley Vol.8. Hal.81]
Tampaknya ucapan Nabi di bawah ini, juga tidak berlaku muhammad:
Riwayat Mahmud bin Ghailan - Abdurrazaq - Ma'mar dari Ibnu Thawus - ayahnya - Ibnu 'Abbas - Abu Hurairah - Nabi SAW: "..zina mata adalah memandang, zina lisan adalah bicara, jiwa mengkhayal dan kemaluan yang akan membenarkan itu atau mendustakannya". Riwayat Syababah - Warqa' - Ibnu Thawus -ayahnya - Abu Hurairah - Nabi SAW (Bukhari 8.77.609)

Para pengikut dan musuh nabi mempertanyakan mengapa Nabi mengharamkan menantu, sedangkan dia sendiri berbuat begitu?

Dan disampaikan bahwa sesungguhnya Nabi tidak mempunyai anak (laki-laki) siapapun dan adalah nabi terakhir. Artinya Zaid mulai saat itu tidak diakui sebagai anak angkat nabi atau istrinya bukan lagi menantu Nabi.

Bahkan ada wahyu Allah khusus yg diturunkan utk membenarkan hal ini [33:37,53], ayat itu menjelaskan bahwa muslim diijinkan utk menikahi istri dari anak angkatnya, setelah sebelumnya dalam wahyu lain menghapuskan adopsi, dan berdosa jika mengangkat anak dan menganggapnya anak sendiri serta memanggilnya tidak dengan nama ayah kandungnya [33:4,5] (yang mengherankan adalah mengapa perlu waktu yang begitu lama sekali bagi seorang rasul menyadari hal ini adalah dosa dan yang lebih menakjubkan lagi adalah ayat ini turun justru ketika Nabi bergairah melihat istri anak angkatnya sendiri).

Nabi mengatakan bahwa Allah sendiri yang memerintahkannya untuk mengawini Zainab. Wahyu agar Nabi mengambil Zainab sebagai istrinya [QS Al Ahzab 33:37, Bukhari 6.310, cerita pesta perkawinannya dalam bukhari 6.314-317, 7:84,95-100, 7:275, 8:256 dll].

Di hadis juga diceritakan bahwa siapa yang berani mengeritik Allah dan utusannya akan dikutuk, disalib, dihukum mati dan mendapat siksa neraka jahanam.

Nabi boleh mengawini saudara sepupu (keponakan dari ayah dan ibu), berhak atas para istri dan budak [Al Ahzab 33:50. juga di An-Nur 24:33].

Muhammad mengambil Zainab [menantunya] dan Allah tidak menemukan dosa apapun (inses) berhubungan dengannya dan memerintahkannya untuk mengawininya. [Tabari Vol.9. Hal.134]
Zainab pun resmi diambil jadi istri. Riwayat menuturkan bahwa Zainab begitu membanggakan kejadian pernikahannya di hadapan istri-istri nabi yang lain bahwa itu adalah perintah yang datang langsung dari Allah, Aisyah dan Zainab ini dua istri saling bersaing satu sama lain [Bukhari 3:829, 5:462].

Kecemburuan tersebut berlanjut seperti diriwayatkan bahwa Hafsah dan Aisyah berkomplot menipu Nabi agar Nabi tidak minum madu lagi di tempatnya Zainab [Bukhari 6.434, 7.192, 8.682, dll, Di hadis lainnya disebutkan bukan menipu Nabi untuk tidak minum Madu akan tetapi Nabi bersumpah atas nama Allah dihadapan Hafsa untuk tidak menyentuh Maria (budaknya Hafsa) dan ini yang dibocorkan kepada Aisah].

Dalam pesta kawin itu, surah Al-Hijab (jilbab) [33:53-56] diturunkan setelah protes Umar pada nabi di suatu malam yang risih melihat istri nabi buang Hajat.
    Dikisahkan oleh 'Aisha:
    'Umar bin Al-Khattab berkata pada Rasul Allah, "Suruh istri2mu berkerudung. " Tapi sang Nabi tidak melakukan hal itu. Istri2 sang Nabi terbiasa buang hajat di malam hari di satu tempat yang bernama Al-Manasi'. Suatu saat, Saudah, anak perempuan Sam'a, istri nabi yang kedua, pergi buang hajat. Dia adalah wanita yang tinggi besar. `Umar bin Al-Khattab melihatnya saat Saodah buang hajat dan berkata, "Aku tahu itu engkau, wahai Saudah!" [Sahih Bukhari 8.74.257] (Lihat Hadis vol.1 no.148)

    Dikisahkan oleh 'Umar (bin Al-Khattab): Allah setuju denganku akan tiga hal dan Dia mewahyukan ayat2 tentang hal itu, satu diantaranya adalah ayat kerudung bagi wanita [Q 33:59] [Sahih Bukhari 1.8.395]
Sejak menjadi Nabi di tahun 610 M hingga 18 tahun kemudian, Muhammad tidak pernah menyatakan wahyu memakai Hijab (jilbab), Namun setelah perintah Umar pada nabi, maka sejak saat itulah titik tonggak resminya hijab menjadi busana muslim.

[kembali]


Mariyah Qibtiyah (Diambil: 629 M, Umur: ±20 tahun)

Tidak ada rujukan dengan sumber utama yang menyinggung berapa usia Maria ketika digauli Muhammad. Di buktu ini, dikatakan Maria saat itu berusia 20 tahun ["The Wives of the Prophet"]. Mariyah melahirkan anak laki-laki yang diberi nama Ibrahim dan wafat saat masih bayi berumur 18 bulan (ada yg bilang 10 bulan). Maria 3 tahun bersama Muhammad. dan wafat 5 tahun setelah kematian Muhammad. Status Maria adalah budak seksual dan bukan Istri
  • Nabi mengirim Hatib ke Muqawqis, penguasa Alexandria. Hatib mengirimkan surat Nabi, dan Muqawqis memberikan Rasullulah 4 budak wanita. [Tabari Vol.8. Hal.100]
  • Mariyah, seorang budak koptik, dihadiahkan pada Nabi. Ia diberikan padanya oleh Muqawqis, penguasa Alexandria [Tabari Vol.9, Hal.137]
  • Seorang Kasim bernama Mubur dihadiahkan pada Nabi bersamaan dengan dua budak wanita lainnya. Satunya dijadikan gundik (oleh Nabi), lainya diberikan pada Hasan [Tabari Vol.9, Hal.147]
  • Hatib B. Balta’ah, seorang utusan/duta Muslim, kembali dari Al-Muqawqis (Mesir) dengan Maria, adiknya Sirin, bagal betina, garment dan seorang kasim. Hatib mengajak mereka masuk Islam dan dua perempuan itu lakukan. Maria itu cantik,  dan Muhammad mengirim sirin pada Hasan B Thabit. Sirin dan Hassan adalah orang tua dari ‘Abd al-Rachman b. Hassan.[Tabari Vol.8 Hal.66,131]
  • "Nabi dihadiahi Penguasa Alexandria: Mariyah dan saudara wanitanya Sirin, Keledai dan Bagal ...Nabi menyukai Mariyah karena Putih mulus kulitnya, rambut kritingnya dan Cantik....Ia kemudian menyetubuhi maria sebagai budak pembantu dan mengirimnya properti yang ia dapat dari Banu al-Nadir." ["Kitab al-Tabaqat al-Kabir", Hal.151]. Note: Budak jika memiliki anak dinamakan "umm walad (ibu dari si anak)"
  • "Ia (Muhammad) biasa mengunjungi nya (Mariyam) di sana dan memerintahkannya untuk berkerudung, [tapi] Ia (Muhammad) bersetubuh dengannya karena ia budaknya". Note (845) pada hal ini dikatakan, "Bahwa Mariyah diperintahkan berkerudung seperti para Istri nabi, namun Nabi tidak mengawininya" [Tabari Vol.39 Hal.194]
  • Malik kepada ku dari Nafi dari Abdullah ibn Umar bahwa Umar ibn al-Khattab berkata, "Jika budak wanita melahirkan anak dari tuannya. Ia seharusnya tidak dijual, diberikan atau diwariskan. Ia dapat menikmati kesenangan bersamanya dan ketika tuannya wafat ia dapat dibebaskan" (Malik’s Muwatta, buku 38 no:38.5.6)
  • Mariah sebagai budak wanita. Dalam kasusnya tidak ada bukti bahwa Nabi membebaskannya dan mengawininya [Maududi, The Meaning of the Qur’an, English rendered by the Late Ch. Muhammad Akbar, edited by A.A. Kamal, M.A. [Islamic Publications (Pvt.) Ltd., Lahore Pakistan, 4th edition, August 2003], Vol.IV, fn. 88, p. 124]
  • Surat nabi kepada Muqawqis yang mengajaknya agar memeluk Islam ditolak, tetapi pemerintah Mesir membalas dengan mengirimkan hadiah yang banyak: seribu keeping emas, dua puluh jubha terbuat dari bahan yang bagus, seekor bagal, seekor keledai betina, dan hadiah persembahan dua budak Kristen Koptik Mesir yang dikawal oleh seorang pertapa tua.

    Kedua gadis itu bersaudara, Maria dan Sirin, dan keduanya sama-sama cantik, tapi Maria lebih cantik lagi dan nabi sangat mengaguminya. Sirin dinikahkan dengan Hassan ibn Tsabit dan Maria dinikahi nabi sendiri. Ia ditempatkan dirumah yang dahulu dihuni Safiah … Disanalah nabi mengunjunginya siang dan malam.

    Namun istri-istrinya menjadi cemburu secara terang-terangan hingga Maria menjadi tidak nyaman. Akhirnya ia ditempatkan di Madinah atas. Pada mulanya Aisah dan istri lainnya merasa lega, tapi mereka segera merasa sia-sia, karena nabi tetap saja berkunjung kepada Maria, dan bertambah jarak justru memperlama ketidakhadiran nabi dari sebelumnya [Lings, Hal. 439 – 440]
  • Tinggallah Maria hidup sendirian. Kehidupannya banyak menutup diri dari pergaulan. Hanya saja banyak berziarah ke makam suami dan anaknya, kadangkala berkunjung ke kediaman kakaknya Sirin. Lima tahun sesudah wafatnya Rasulullah disusul lagi dengan wafatnya Maria Kibtiah, tepatnya tahun ke 16 H. [Abbas Jamal, Hal.82]
Kisah dari sumber lainnya:
    Istri nabi yang kesekian, bernama Hafsah. Hafsah mempunyai seorang budak bernama Maria Qibtiyah. Suatu kali, ketika pulang, Hafsah menjumpai nabi sedang bergumul dengan budaknya itu di ranjang Hafsah. Saking jengkelnya Hafsah, ia mengadu pada Aisyah, istri Nabi yang lain dan yang juga mengakibatkan Nabi marah besar.

    Istri-istri nabi-pun tidak berkenan untuk di gauli Nabi selama sebulan. Permasalahan ini akhirnya didengar oleh Umar ibn Khattab, salah seorang sahabat dari Nabi yang mempunyai karakter sangat tegas, para istri nabi dinasehati dan diberikan ultimatum hingga akhirnya menurut. Nabi menyatakan bahwa bahwa Allah telah mengeluarkan wahyu kepada beliau, yang menyatakan bahwa budak itu sah bagi majikan seperti yang diriwayatkan Sahih Bukhari 3.648.

    QS At Tahriim 66: 3-5, mencatat bahwa Hafsah dan Aisyah ribut dan nabi yakin kalau mereka minta cerai, Allah akan menggantikan dengan istri2 yang muslimat, yang mukminat, yang taat, yang bertaubat, dan janda dan yang perawan. At Tahriim ayat satu menyatakan sudah dihalalkan Allah, bukan mengikuti kemauan para istri-istri.

    “Hai Nabi, mengapa engkau haramkan apa yang telah Allah menghalalkan bagimu (budak) karena engkau mencari kesenangan istri-isterimu?”

    QS 66.1
    Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu (Budak wanita Maria); kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu (Hafsa dan Aisha)?

    QS 66.2
    Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepadamu sekalian membebaskan diri dari sumpahmu (meniduri budak Hafsa)

    Mungkin inilah sebab mengapa Nabi itu tidak menyukai Hafsah (Muslim 2.3507) dan mungkin apabila Hafsah bukan anak Umar pasti sudah diceraikannya secara permanen.
Terdapat informasi menarik yaitu dugaan dan tuduhan yang beredar saat itu bahwa Ibrahim bukanlah anak Muhammad:
    Bihar Al-Anwar:
    العلامة المجلسي – بحار الأنوار – الجزء : ( 76 ) – رقم الصفحة : ( 103 )- حدثنا : محمد بن جعفر ، قال : ، حدثنا : محمد بن عيسى ، عن ، الحسن بن علي بن فضال قال : ، حدثني عبد الله بن بكير ، عن زرارة قال : سمعت أبا جعفر (ع) يقول : لما هلك إبراهيم بن رسول الله (ص) حزن عليه رسول الله (ص) حزناً شديداً ، فقالت عائشة : ما الذى يحزنك عليه ؟ فما هو إلاّ إبن جريج ، فبعث رسول الله (ص) علياًً (ع) وأمره بقتله ، فذهب علي (ع) إليه ومعه السيف وكان جريج القبطى في حائط فضرب علي (ع) باب البستان فأقبل إليه جريج ليفتح له الباب ، فلما رأى علياًً عرف في وجهه الشر فأدبر راجعاً ولم يفتح الباب ، فوثب علي (ع) على الحائط ونزل إلى البستان وأتبعه وولى جريح مدبراً ، فلما خشى أن يرهقه صعد في نخلة وصعد علي (ع) في إثره ، فلما دنا منه رمى جريج بنفسه من فوق النخلة فبدت عورته ، فإذا ليس له : ما للرجال ولا له : ما للنساء ، فإنصرف علي (ع) إلى النبي (ص) ، فقال : يا رسول الله إذا بعثتني في الأمر أكون فيه كالمسمار المحمى أم إثبت ؟ ، قال : لا بل إثبت ، قال : والذى بعثك بالحق ماله : ما للرجال وماله : ما للنساء ، فقال : الحمد لله الذى صرف عنا السوء أهل البيت.

    Dari otoritas: Majlisi di “Bihar Al-Anwar”, vol. 76, hal 103 – Muhammad Ibn Jaafar - Muhammad Ibn Isaa – Al-Hassan Ibn Ali Ibn Fadhl – Abdullah Ibn Bakeer – Zurarah [ زرارة شر من اليهود والنصارى ومن قال ان الله ثالث ثلاثة - كذب علي والله، لعن الله زرارة]: Aku mendengar Aba Ja’far (Al-Baqir) (ع) berkata: “Ketika Ibrahim Anak Rasullullah SAW (ص) wafat, Rasullah sangat bersedih dan Aisyah berkata: Apa yang membuat mu bersedih tentangnya? IA HANYALAH ANAK DARI JURAYH.

    Kemudian Rasullullah (ص) mengirim Ali (ع) untuk membunuhnya [Jurayh], Kemudian Ali (ع) memegang pedang pergi menujunya dan Jurayh dari Qibti (mesir) sedang di tamannya dan Ali mengedor pintu taman. Kemudian Jurayh hendak membukakan pintu membiarkannya masuk dan memeluknya.

    Ketika Jurayh melihat muka Ali yang buruk (marah) jadi dia berbalik dan tidak membukakan pintu, Kemudian Ali melompat melewati dinding dan memasuki kebun dan mengejarnya sementara Jurayh berlari dan ketakutan pada Ali yang membuatnya kecapaian dan ia putuskan memanjat pohon palem dan Ali mengikutinya ke atas. ketika Ali hendak menangkapnya, Jurayh meloncat dari pohon dan akibatnya Auratnya terlihat. [Ali melihat] bahwa dia [Jurayh] tidak mempunyai apa yg lelaki dan perempuan punyai [Mukhannath/hermaphrodite].

    Jadi Ali kembali pada Nabi dan bertanya padanya: “Wahai Rasullullah, jika engkau mengirimku sehubungan dengan satu persoalan, Aku harus menyelesaikannya tanpa keraguan atau aku harus terlebih dahulu memastikannya? Beliau berkata: "Tidak, Pastikan dulu". Jadi Ia berkata: "Oleh Ia yang mengirimmu dengan kebenaran, ia tidak mempunyai apa yang laki ataupun perempuan punyai" Beliau (Nabi) Berkata: "Segala puji untuk Allah, Yang menjaga Iblis menjauh dari kami Ahl Al-Bayt“

    Tafsir Al-Qummi:
    تفسير القمي – (ج 2 / ص 97) واما قوله : ( ان الذين جاؤا بالافك عصبة منكم لا تحسبوه شرا لكم بل هو خير لكم ) فان العامة رووا انها نزلت في عائشة وما رميت به في غزوة بني المصطلق من خزاعة واما الخاصة فانهم رووا انها نزلت في مارية القبطية وما رمتها به عائشة والمنافقات .

    حدثنا محمد بن جعفر قال: حدثنا محمد بن عيسى عن الحسن بن علي بن فضال قال: حدثنا عبد الله بن بكير عن زرارة، قال: سمعت أبا جعفر عليهما السلام يقول: لما مات إبراهيم ابن رسول الله صلى الله عليه وآله حزن عليه حزنا شديدا، فقالت عائشة: ما الذي يحزنك عليه؟ فما هو إلا ابن جُرَيْج. فبعث رسول الله صلى الله عليه وآله عليًّا وأمره بقتله، فذهب علي عليه السلام إليه ومعه السيف. وكان جريج القبطي في حائط، وضرب عليّ عليه السلام باب البستان، فأقبل إليه جريج ليفتح له الباب. فلما رأى عليا عليه السلام عرف في وجهه الغضب فأدبر راجعا ولم يفتح الباب. فوثب علي عليه السلام على الحائط ونزل إلى البستان واتبعه وولى جريج مدبرا.

    Tafsir Al-Qummi (vol. 2): “Allah bersabda: (Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu), Kemudian kaum ‘Aammah (‘awam’ misal: kaum Sunni) meriwayatkan tentang ayat ini berkenaan dengan Aisha, ketika ia di tuduh (zina) di peperangan bani Mustalaq dari Khazaa'ah. Kemudian Kaum Khaassah (‘Pilihan', Shia), mereka meriwayatkan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Maria orang mesir, ketika ia dituduh (zina) oleh Aisah dan para munafik. [Rantai perawi sampai ke Zurarah] Zurarah [ زرارة شر من اليهود والنصارى ومن قال ان الله ثالث ثلاثة - كذب علي والله، لعن الله زرارة]: Aku dengar Abu Ja’far (Al-Baqir) (ع) berkata:..sama seperti hadis di atas...“.

    Sumber: Al-Qummi Tafsir Al-Qummi, vol. 2, Hal. 99 (untuk tafsir AQ 24:11), Hadis ini Muwaththaq (hasan)
[kembali]


Ramlah binti Abu Sufyan / Ummu Habibah (Menikah: 629 M, Umur 29/30 Tahun)

Dalam Al-Kutub At-Tis’ah terdapat 144 Hadits yang disandarkan periwayatannya kepadanya. Ahmad ibn Hanbal (50 Hadis). Shahih Al-Bukhari (13 Hadits), Shahih Muslim (12 Hadits), Sunan An-Nasai (36 Hadits), Sunan At-Tirmizi (6 Hadits), Sunan ibn Majah (10 Hadits), Sunan Abu Dawud (8 Hadits), Sunan Ad-Darimiy (5 Hadits) dan Al-Muwatta’ (1 Hadits).
    Ramlah adalah anak Abu Sufyan yang dinikahkan dengan Abdullah bin Jahasy yang dikaruniai seorang anak perempuan. Mereka termasuk golongan yang ikut hijrah ke Habasyah(Ethiopia).

    Di Habasyah tersebut ia melahirkan seorang anak perempuan yang diberi nama Habibah dan dengan nama anaknya tersebut ia dijuluki Ummu Habibah. Namun di Habasyah Ubaydullah bin Jahsh (saudara dari Zainab Binti Jahsh) pindah agama menjadi Nasrani di Ethiopia dan jadilah Ramlah hidup sendiri.

    Raja Ethiopia, Negas menawarkannya pada Muhammad sebagai istri. Pernikahan dengan Muhamamad SAW sendiri terjadi ditahun 7 H, saat itu Ramlah telah berusia 40 tahun. [Abbas Jamal hal. 72 - 74]

    Umm habiba lebih muda 23 tahun dari Muhammad [Sunan Nasa’i vol.1 #60 Hal.127]

    Perkawinan Ramlah terjadi di tahun 7 AH. Ia berusia tepat 30 tahun (thirty odd years) ketika dibawa ke Medina [Tabari, Vol. 39, hal. 180]

    Ramlah kawin dengan Nabi di 1 AH, meskipun ia tidak benar-benar tinggal bersamanya hingga tahun 7 AH. Muhammad berumur 60 tahun dan Ia berusia 35 Tahun ["Wives of the Prophet Muhammad (SAW)", Ibn Kathir]
Saat di nikahi Muhammad di 1 AH, maka Umm Habibah berumur 29 tahun atau jika menggunakan Nasai, maka ketika Muhammad berumur 53 tahun di 1 AH, Umm Habibah berumur 30 tahun [seperti Tabari katakan]

Ibnu Abbas meriwayatkan firman Allah, “Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka. …“ (AQ 60.7). Ayat ini turun ketika Nabi SAW menikahi Ummu Habibah binti Abi Sufyan.

[kembali]


Hend/Hind (Janda Abu Sofyan)

Hend/Hind, adalah janda dari Abu Sufyan, disebutkan sebagai orang yang sangat pelit. [Sahih Muslim vol.3 no.4251-4254 hal.928-929]

[kembali]


Maimunah binti Al-Harith (Menikah: 629 M, Umur: 27 tahun)

Dalam Al-Kutub At-Tis’ah sebanyak 172 buah Hadits yang diriwayatkannya. Ahmad ibn Hanbal (60 Hadits). Shahih Al-Bukhari (22 Hadits), Shahih Muslim (20 Hadits), Sunan An-Nasai (27 Hadits), Sunan At-Tirmizi (6 Hadits), Sunan ibn Majah (11 Hadits), Sunan Abu Dawud (13 Hadits), Sunan Ad-Darimiy (12 Hadits) dan Al-Muwatta’ (1 Hadits).
    Maimunah dikatakan sebagai istri terakhir Muhammad SAW. Ia berasal dari keluarga bangsawan Quraish dan janda dari Abû Rahm ibn ‘Abd. Al-‘Uzza.

    Saat Muhammad SAW melakukan ibadah haji (Umrat Al Qada] di tahun 7 H (629 M), maka oleh pamannya yang bernama Abbas bin Abdul Muthalib diusulkan agar Muhammad (60 tahun) menikahi Maimunah yang akan menguatkan ikatan persaudaraan.

    Muhammad SAW setuju dan pernikahan dilakukan di Saraf sektiar 10 km dari Mekah. Usia Maimunah saat itu sekitar 30 tahun [Abbas Jamal, Halaman 84 - 86.. Usia itu juga disebutkan di Sunan Nasa’i vol.1 #43 p.120].

    Ibn Hisham: Dikatakan bahwa Ia adalah orang yang menyerahkan dirinya kepada Nabi, karena ia menerima lamaran Muhammad ketika sedang di atas unta. Maymunah berkata, "Unta dan apa yang ada di atasnya adalah kepunyaan Nabi" Kemudian allah menurunkan ayat, "dan perempuan mukmin yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau mengawininya" [AQ 33.50] [Catatan kaki no.900, Tabari, vol.9, hal.135]. Tambahan lain dalam catatan kaki yang sama: Di katakan Ia yang menyerahkan dirinya kepada nabi yang lain adalah Zainab Bint Jahsh atau Umm Sharik Ghaziyyah binti Jabir. Beberapa lagi mengatakan perempuan dari Bani Samah bin Lu'ayy namun Nabi menunda hal ini

    Maymunah wafat di 61 AH, jaman khalifah Yazid ibn Muawiya (23 AH - 61 AH) dan berusia 80 or 81. [Tabari, Vol. 39, hal. 186, juga di catatan kaki no.901 Tabari, Vol.9, hal.135: dikatakan Ia adalah janda nabi terakhir yang wafat]

    Maymunah setelah muhammad wafat hidup terus selama 40 tahun, wafat di usia 80 tahun di tahun 51 AH (Ibn Kathir, “Maymunah” in The Wives of the Prophet). Jika mempercayai catatan Ibn kathir ini maka problemnya adalah: Saudah, Aisah, Safiyya dan Umm Salamah masih hidup

    Ibnu Hajar mengutip tradisi menyiratkan bahwa Maymuna meninggal duluan daripada Aisha. "Kami berdiri di dinding Madinah, melihat keluar ... [Aisyah berkata]: 'Demi Allah Maymuna sudah pergi, dan kau dibiarkan bebas untuk melakukan apapun yang Kau suka Dia adalah yang paling saleh kita semua!!" [Al-Hakim al-Nishaburi, Mustadrak, vol.4, hal. 32 dan Ibn Hajar, Al-Isaba, vol.8, hal.192].

    Jika kutipan Ibn Hajar di atas adalah benar menyiratkan berita kematian Maymunah, maka sekurangnya tiga wanita harusnya wafat di tahun yang sama yaitu: Maymunah, Aisyah dan Umm Salamah, yaitu di kisaran tahun 58 H s.d 61 H
Umur ketika di Nikahi adalah 81 - 61 AH (Tabari) + 7 AH = 27 Tahun.

Maimunah Binti Al-Harith adalah saudara tiri Zainab Binti Khuzaima
.
[kembali]


Maymunah (kedua) [menyerahkan diri pada Nabi, tapi ditolak Nabi]

Maymunah yang ini dikisahkan sebagai seorang wanita yang menawarkan dirinya kepada Muhammad [Sahih Muslim vol.2 catatan kaki 1919].

Orang ini bisa jadi Maimuna yang sama dengan Maimunah binti Harith yang menikah pada tanggal 7 Hijriah namun, lebih besar kemungkinannya bahwa ini adalah orang yang sama sekali berbeda..

Seorang wanita yang tak dikenal mengatakan bahwa ia menyerahkan dirinya pada Muhamamd sebagai seorang istri. Muhammad tidak mau menerimanya dan kemudian memberikannya lagi pada orang Islam yang miskin. Orang miskin itu memberikan benda kenangan (mahar) sebuah Surat Qur’an. [Muwatta’ Malik 28.3.8]

[kembali]


Sharaf binti Khalifah

Muhammad menikahi Sharaf binti Khalifah, adik Dihya bin Khlifah al –Kalbi, namun ia meninggal ketika Muhammad masih hidup [Tabari vol.9 p.138]

Nabi meninggal 632 M, Apabila Dihya ini adalah orang yang sama di kisah Safiya setelah perang Khaibar (628 M) maka kemungkinan perkawinan adalah setelah tahun 629M – 631M

[kembali]


Fatimah [dinikahi sesaat saja]

Fatima yang ini disebutkan oleh Ali Dashti.
  • Dinyatakan bahwa Muhammad menikah sesaat dengan Fatimah binti al-Dahhak bin Sufyan (juga disebut al-Kilabiyyah) [al-Tabari vol.9 hal.39]
  • Disebutkan juga bahwa Muhammad menikahi Fatimah binti Shurayh.[al-Tabari vol.9 hal.139]
  • Jika Shuray dan al-Dahhak adalah dua orang yang berbeda, maka terdapat dua orang Fatima
  • Ada juga Fatimah bin al-Dahhabi, Aliya binti Zahyah, Sana binti Sufyan [al-Tabari vol.39 hal.186]
  • "Al-Kilabiyyah" bisa saja adalah Fatimah binti al-Dahhak binti Sufyan dan/atau ‘Aliyah binti Zabyan bin ‘Amr bin ‘Awf dan/atau Sana binti Sufyan bin ‘Awf. [al-Tabari vol.39 hal.187]
[kembali]


Aliyyah Binti Zabayan [menikahi sesaat]
[kembali]


Sana binti Sufyan [menikahi sesaat]
  • Disebutkan juga mengenai pernikahan sesaat Nabi dengan Sana binti Sufyan. [al-Tabari vol.39 p.188]
  • "Al-Kilabiyyah" bisa saja adalah Fatimah binti al-Dahhak bin Sufyan dan/atau ‘Aliyah binti Zabyan bin ‘Amr bin ‘Awf dan/atau Sana binti Sufyan bin ‘Awf. [al-Tabari vol.39 hal.187]
[kembali]


Alliyah dari Bakr (Menikahi dan menceraikannya)
    "The Prophet married Aliyyah, a Bakr woman. He gave her gifts for divorce and left her. Nabi mengawini Alliyah, seorang wanita dari Bakr. Nabi memberinya hadiah-hadiah untuk bercerai dan meninggalkannya. [Tabari Vol. 9, Hal.138]
[kembali]


Qutaylah (Menikah, namun meninggal berhubungan intim)
    Muhammad menikahi Qutaylah binti Qays namun wanita ini meninggal sebelum mereka berhubungan intim. Dikatakan juga bahwa Qutaylah dan saudara kandungnya murtad dari Islam. [Tabari vol.9 Hal.138-139]
    Apabila Ia Murtad, tentunya terjadi saat setelah menikah dan sebelum berhubungan intim. Tidak tertulis bahwa Nabi menceraikannya
[kembali]


Duba Binti Amir [tidak jadi menikahinya karena tua]

Dia salah satu wanita Arab yg paling cantik. Rambutnya sangat panjang, menutupi seluruh tubuhnya [Ibn Saad, al-Tabawat hal.153].

Muhammad tertarik padanya dan minta ijin anaknya utk menikahinya. Tapi kemudian Nabi menarik kembali tawaran nikahnya ketika mendengar bahwa Duba ternyata sudah tua.

Jika benar bahwa Allah-lah yang memerintahkan semua pernikahan Nabi, maka baru tahu belakangan bahwa Duba sudah tua adalah sungguh mengherankan!

[kembali]


Layla [Menawarkan dirinya pada Nabi, nabi menerima, Tidak di nikahi]
    Layla mendekati nabi sementara punggungnya menghadap matahari dan ia menepuk nabi di bahunya.

    Nabi menanyakan siapa dirinya dan Ia menjawab. ‘Aku adalah Anak dari seorang yang “berlawanan dengan arah angin’. Aku Layla. Aku datang untuk menawarkan diriku padamu.

    Nabi kemudian menjawab, ‘Aku terima’ [Layla kemudian menceritakan itu pada orang tuannya] Mereka berkata, ‘Sungguh buruk yang engkau telah lakukan.! Engkau adalah seorang gadis yang mempunyai reputasi, namun Nabi adalah seorang ‘mata keranjang/buaya’ [Tabari Vol. 9, Hal.139]
[kembali]


Khawla Binti Al-Hudayl

Nabi menikahi Khawlah bint al-Hudayl. [al-Tabari vol.9 hal.139, al-Tabari vol.39 hal.166]

Nama perempuan yaitu Asma (dari Saba) , Zainab (ketiga) dan Habla ada di dalam daftar Ali Dashti

[kembali]


Asma binti Nu’man (Noman)[membatalkan perkawinan, setelah ketahuan Kusta]
  • Asma binti Noman atau binti al-Nu’man bin Abi Al-Jawn, bangsa Kindah, menikah dengan Muhammad, namun pernikahan tidak pernah dilangsungkan [al-Tabari vol.10 hal.185 dan catatan kaki 1131 hal.185]   
  • Anak perempuan dari Al-Jaun/Al Jahal ini dinikahi oleh Muhammad hanya dalam waktu yang sangat singkat [Bukhari vol.7 buku 63 no.181 hal.131,132] Dikatakan bahwa Al-Nu’man al-Jahal menawarkan anak perempuannya pada Muhammad, tetapi Muhammad membatalkannya.  [Tabari vol.10 hal.190]. Ada pendapat mengatakan bahwa kata ‘Membatalkan’ adalah menceraikan sebelum ditiduri.  
  • Nabi menikahi Asma Binti Numan bin Al-Aswad bin Sharahill namun belakangan diketahui bahwa Asma mengidap Lepra, jadi Muhammad memberikan uang dan menceraikannya. [Tabari vol.9 hal.137].Mengenai penyakit Lepra, ada nama lain yang tercantum [Tabari vol.39 P.187] [lihat di Amra binti Yazeed]   
  • Asma binti al-Nu’man adalah janda ketika Muhammad menikah lagi, baik Hafsa maupun Aisah mengakali Asma dengan mengatakan bahwa Muhammad sangat senang jika Ia katakan bahwa Ia meminta perlindungan Allah dari Muhammad [Tabari Vol. 39. Hal. 188-190]
Jika benar bahwa Allah=lah yang memerintahkan semua perkawinan Muhammad, maka baru tahu belakangan bahwa ia mengidap sakit lepra adalah sungguh mengherankan!

[kembali]

Omm Sharik [Diceraikan karena Tua]

Umi Sharik adalah orang yang sama dengan Ghaziyyah binti Jabir. Ia disebut "Umi Sharik" karena merupakan ibu dari seorang anak laki-laki yang bernama Sharik yang didapat Ghaziyyah dari pernikahan sebelumnya. "Ketika Nabi bertemu dengannya, Nabi melihat bahwa Umi sarik sudah tua, maka ia pun menceraikannya". [al-Tabari vol.9 hal.139].

Catatan kaki 922 mengatakan Ibn Sa’d dalam Tabaqat, 8 hal.110-112 menyatakan bahwa Umi Sharik termasuk yang diinginkan oleh Nabi namun tidak dinikahinya. Ia juga dikatakan menyerahkan dirinya pada Nabi (refer: AQ 33:50)

Jika benar bahwa Allah-lah yang memerintahkan semua perkawinan Nabi, maka baru tahu setelah bertemu bahwa ia sudah tua dan juga berani menceraikannya adalah sungguh mengherankan!

[kembali]


Amrah Binti Yazeed [Tidak Dinikahi/diceraikan karena kusta, Nabi tersinggung]

Dia menjadi muslim hanya sebentar saja sebelum pernikahannya dg nabi. Ketika datang ke Medina dan melihat sang nabi, dia memohon Allah agar menyelamatkannya, karena ketakutan melihat sang Nabi. Sang Nabi tersinggung, tidak jadi menikahinya dan mengirimnya kembali kebangsanya setelah menikmatinya.

Muhammad menikahi ‘Amrah binti Yazid (tak disebutkan tentang perceraian) [al-Tabari vol.9 hal.139]

Muhammad bercerai dengan ‘Amra. [Ibn-i-Majah vol.3 no.2054 hal.233 vol.3 no.2030 hal.226 (daif [lemah], bukan Sahih)]

Muhammad menceraikan seorang wanita karena wanita itu menderita kusta. [al-Tabari vol.39 hal.187,188] [lihat di Asma binti Numan]

Muhammad tidak jadi menikahi seorang wanita bernama Alliyah dari Banu Ghifar tidak jadi dinikahi karena pinggulnya belang putih [dan atau kusta]:
    Dari Kitab Bulughul Maram Min Adillatil Ahkam Oleh Ibnu Hajar Al ‘Ashqalani, hadis ke-49:

    Zaid Ibnu Ka’ab dari Ujrah, dari ayahnya berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam kawin dengan Aliyah dari Banu Ghifar. Setelah ia masuk ke dalam kamar beliau dan menanggalkan pakaiannya, beliau melihat belang putih di pinggulnya. Lalu Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: "Pakailah pakaianmu dan pulanglah ke keluargamu."

    Beliau memerintahkan agar ia diberi maskawin.

    Riwayat Hakim dan dalam sanadnya ada seorang perawi yang tidak dikenal, yaitu Jamil Ibnu Zaid. Hadits ini masih sangat dipertentangkan.

    Dari Said Ibnu al-Musayyab bahwa Umar Ibnu al-Khaththab Radliyallaahu ‘anhu berkata: Laki-laki manapun yang menikah dengan perempuan dan setelah menggaulinya ia mendapatkan perempuan itu berkudis, gila, atau berpenyakit kusta, maka ia harus membayar maskawin karena telah menyentuhnya dan ia berhak mendapat gantinya dari orang yang menipunya. Riwayat Said Ibnu Manshur, Malik, dan Ibnu Abu Syaibah dengan perawi yang dapat dipercaya.

    Said juga meriwayatkan hadits serupa dari Ali dengan tambahan: Dan kemaluannya bertanduk, maka suaminya boleh menentukan pilihan, jika ia telah menyentuhnya maka ia wajib membayar maskawin kepadanya untuk menghalalkan kehormatannya.

    Dari jalan Said Ibnu al-Musayyab juga, ia berkata: Umar Radliyallaahu ‘anhu menetapkan bahwa orang yang mati kemaluannya (impoten) hendaknya ditunda (tidak dicerai) hingga setahun. Perawi-perawinya dapat dipercaya.
Jika benar bahwa Allah-lah yang memerintahkan semua perkawinan Nabi, maka baru tahu belakangan bahwa ia lepra/kusta adalah sungguh mengherankan!

[kembali]


Menceraikan seorang Wanita yang tidak dikenal

Muhammad diriwayatkan menceraikan seorang wanita yang namanya tidak dikenal, Hal ini dikarena wanita ini mengintip/melihat sejenak mereka yang meninggalkan mesjid [Tabari vol.39 p.187]

[kembali]


Beberapa wanita di lamar namun berakhir tidak dinikahi:

Tabari vol.9 p.140-141:
  1. Umm Hani’ bin Abi Talib [Hind] atau Fathiha merupakan sepupu Muhammad. Sebelum berangkat Isra Miraj, Muhammad berada di rumah Umm Hani hingga jauh malam.

      ..(Rantai perawi ke-4) Muhammad Ibn `Umar - Ishag Ibn Hazim - Wahb Ibn Kaysan - Abu Murrah wali dari `Aqil - Umm Hani anak perempuan Abu Talib..Umm Hani berkata: Ia dibawa dalam perjalanannya dari rumah kami. Ia tidur bersama kami malam itu;..[Tabaqat Al Kabir, Ibn Sa'd, Vol.1, Parts 1.56.1]

      Note:
      Beberapa hadis menyatakan bahwa muhammad sempat shalat subuh di sebelum Isra Mira'j. Riwayat yang menyatakan bahwa shalat subuh dan Ashar telah dilakukan sebelum peristiwa Isra Mi'raj adalah berasal dari riwayat Qatadah (murid dari Anas bin Malik):

      كان بدءُ الصيام أمِروا بثلاثة أيام من كل شهر ، وركعتين غدوة ، وركعتين عشية
      Puasa pertama kali yang diperintahkan adalah puasa 3 hari setiap bulan, dan shalat 2 rakaat di waktu subuh dan 2 rakaat di waktu ashar. (Tafsir At-Thabari, 3/501).

    Berikut ringkasan kehidupuan percintaan antara Umm Hani dengan Muhammad yang dihimpun dari Tabaqat, 8:151-153; Usd al-ghaba, 5:624[1]; Tabari, Musnad Ahmad, Hadis Muslim dan lainnya:

    Umm Hani 'Binti Abi Thalib: Ibnu Abbas meriwayatkan: "Nabi MEMOHON pada Abu Thalib untuk dapat mengawini putrinya, Umm Hani', DI JAMAN JAHILIYYA Tapi Hubaira melamar dan menikah dengannya. Nabi berkata," Pamanku, Engkau menikahkan Hubaira dan megabai kan ku! "Ia menjawab, 'Ponakanmu, kita telah menjadi kerabat karena perkawinan, dan orang terhormat mendapatkan [di hadiahi] orang terhormat.' [Tabari, vol. 39, Hal 196]

      Note:
      Jaman Jahiliyah artinya Jaman belum muncul Islam dan Muhammad belum menjadi Nabi. Kemungkinan ini terjadi SEBELUM menikahi KHADIJAH. Berikut petikan "The Prophet Muhammad: A Biography", Barnaby Rogerson, Bab 4 "Muhammad: Man Husband Father Seeker", Hal. 71:

      "Di tahun-tahun ini, Muhammad di usia 20-an..Muhammad jatuh cinta. Ia telah lama mengaggumi Fakhita..sepupunya..anak perempuan Abu Talib..hubungan ini tidak berlanjut..Ia memberanikan diri melamar, namun Fakhita telah dilamar oleh Hubayra dari bani Makzum"

      Saat dilamar Muhammad dan Hubaira, tidak diketahui statusnya Umm Hani apakah janda atau tidak.

    Akhirnya, [Hamdun Gagher: "Ia Masuk Islam dan Islam memisahkannya dari Hubaira". Tabari: "Ia masuk islam, sebuah fakta yang memisahkannya dari Hubaira"]. Kemudian Rasulullah melamarnya. Ia berkata, 'Demi Allah! Jika aku mencintaimu di jaman Jahiliyah, maka lebih banyak lagi sejak Islam!' [Hamdun: "Tapi aku seorang wanita dengan anak-anak". Tabari: "Tapi anak-anakku masih kecil"] dan aku tidak suka mereka akan [Hamdun: "menyakitimu". Tabari: "Mengganggumu"]. Rasulullah berkata, "Wanita-wanita terbaik yang menunggangi kuda adalah wanita kaum Quraisy, mereka lembut pada ANAK-ANAK KECIL mereka dan merawat harta suami mereka."

      Note:
      Tidak terdapat keterangan KAPAN lamaran di atas terjadi lagi, apakah SESUDAH/SEBELUM HIJRAH namun hadis berikut ini memberikan kejadian di setelah Hijrah dan merupakan asbabunuzul AQ 33.50

      Abu Kurayb [Muhammad b. Al-Ala] - Ubaydallah - Isra'il -Al Suddi [Ismail b. ABD. Al-Rachman] - Abu Salih [Badham] - Umm Hani: Nabi memintaku mengawininya, namun aku punya alasan menolaknya, Nabi menerima alasanku. Allah kemudian menurunkan: "Hai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu isteri- isterimu yang telah kamu berikan mas kawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki yang termasuk apa yang kamu peroleh dalam peperangan..yang turut hijrah bersama kamu"[AQ 33.50]. Jadi aku menjadi tidak halal karena aku tidak Hijrah bersamanya. Aku adalah satu dari mereka yang menjadi muslim bukan karena kehendak sendiri [Tulaqa merujuk pada mereka yang menjadi muslim SETELAH penaklukan kota Mekkah[2] (Catatan kaki Tabari no.857, hal 197)] [Tabari Vol.39.Hal 197]

      Riwayat Abu Hurairah: Bahwa Nabi SAW melamar Umma Hani binti Abi Thalib, Ummu Hani pun menjawab: "Wahai Rasulullah, AKU SUDAH TUA, selain itu aku mempunyai anak", Nabi SAW bersabda: "Sabaik-baik wanita yang menaiki unta adalah wanita Quraisy, yang paling sayang kepada anak pada masa kecilnya, dan yang paling memelihara hak-hak suaminya". (Musnad Imam Ahmad bin Hambal: 2/269)

      Dari Harmalah bin Yahya - Ibnu Wahb - Yunus - Ibnu Syihab - Sa'id bin Al Musayyab - Abu Hurairah berkata; 'Saya pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: 'Para wanita Quraisyy adalah sebaik-baik wanita dalam mengendarai unta, yang paling sayang kepada anak, dan paling setia kepada suaminya. Setelah itu Abu Hurairah berkata; "Maryam binti Imran tidak pernah mengendarai unta sama sekali." Driwayatkan Muhammad bin Rafi' dan Abad bin Humaid - Abad berkata; Diriwayatkan pada kami. Ibnu Rafi berkata Diriwayatkan pada kami dari Abdur razak - Ma'mar dari Az Zuhri - Ibnu Al Musayyab - Abu Hurairah bahwa Nabi SAW meminang Ummu Hani binti Abu Thalib. Lalu dia berkata; 'Ya Rasulullah, Sesungguhnya AKU SUDAH TUA dan aku sudah mempunyai beberapa anak.' Rasulullah SAW kemudian bersabda: Sebaik-baik wanita adalah yang mengendarai……-Lalu perawi menyebutkan Hadits yang serupa dengan Hadits Yunus.- Namun dia berkata; 'Yang paling sayang pada ANAKNYA KETIKA MASIH KECIL.' [Muslim no. 4590]

      Di dua Riwayat ini tidak dikatakan apakah HUBAIRA masih hidup atau telah wafat. Namun dari asbabumuzul versi lain AQ 33.50 berikut ini menunjukan alur PERIODE PANJANG kisah tersebut dan menegaskan bahwa UMM HANI memang PERNAH MENJANDA di TINGGAL MATI SUAMI:

      (Sura al-Ahzab 33:50. Kaum Ulama berbeda pendapat mengenai ayat ini mengenai kisah Umm Shuraik di bawah[1])

      Abu Shalih, WALI DARI (guardian of) Umm Hani' meriwayatkan: "Rasulullah MELAMAR Umm Hani', Putri Abu Thalib, mengatakan, 'Oh Rasulullah, SAYA ADALAH IBU DARI PARA ANAK YATIM [orphans] dan ANAK-ANAK SAYA MASIH MUDA/KECIL (young)'

        Note:
        Kata "WALI DARI" Umm Hani mengindikasikan ayahnya yaitu ABU TALIB, sudah tidak ada. Saat itu anak-anak Umm Hani masih kecil dan YATIM.

      Kemudian, KETIKA ANAK-ANAKNYA MENCAPAI MASA PUBER, IA TAWARKAN DIRINYA pada Nabi, namun Nabi berkata, "JANGAN, JANGAN SEKARANG" karena Allah telah menurunkan, "Hai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu.."[AQ 33.50]

        Note:
        Karena TABARI dalam catatan kaki menyatakan HUBAYRA masih hidup di penaklukan kota mekkah, pergi ke NAJRAN dan meninggal di sana sebagai KAFIR (Tabari Vol 39, Catatan kaki no.852, hal 196) serta ada JEDA WAKTU MENJANDA cukup panjang, yaitu usia anak belum puber (suami wafat) hingga puber (masih janda, yaitu saat Ia menawarkan diri dan surat AQ 33.50 telah turun), maka jika tradisi ini benar semua, alurnya ceritanya adalah Umm Hani, setelah menikah dengan Hubayra (suaminya di waktu muda), Ia menjanda, kemudian menikah lagi dengan seseorang namun suami barunya wafat, ia menjanda karena ditinggal mati.

        Alur di atas juga sekaligus menjadi penjelasan mengapa 3 referensi dibawah ini saling berlainan menyatakan berapa jumlah anak Hubayra:


        Rujukan pertama tidak menyebutkan nama 2 anak lainnya. Rujukan ke-2 tidak menyebutkan UMAR (amr) sebagai anak Hubayra. Sehingga jika ia kemudian di akui juga sebagai anak dari Hubayra adalah merujuk pada peristiwa Kakek muhammad (Mutallib) dan anaknya (abdullah bin mutalib) MENIKAH pada WAKTU YANG SAMA dengan kakak+adik (Hala dan Amina), Hala melahirkan Hamza, sedangkan Amina melahirkan Muhammad. Hamza lebih tua dari Muhammad dan perbedaan umur mereka adalah 4 tahun padahal Ayahanda MUHAMMAD, wafat, HANYA BEBERAPA BULAN SETELAH MENIKAH atau dengan kata lain: SIAPA AYAHNYA MUHAMMAD sehingga ia lahir 4 tahun SETELAH Abdullah meninggal?" [Detailnya kontroversi ini, lihat: di sini].

        Ini dapat terjadi karena di jaman jahiliyah (atau mungkin saja masih terjadi juga di jaman Islam baru muncul) tidak dipermasalahkan, para wanitanya, melakukan hubungan seksual dengan lebih dari 1 orang. Misalnya: "Al-Sirah Al-Halabiyah" menceritakan bahwa Amr Ibn al-As di Mekkah tidak tahu siapa ayahnya, karena empat pria memiliki hubungan seksual dengan ibunya. Ketika ia bertanya kepada ibunya siapa ayahnya, ia memilih al-As dan Amr Ibn al-As menganggapnya sebagai ayahnya.

        Merujuk pada hal ini maka bisa di maklumi jika ke-4 anaknya, menggunakan nasab Hubayra yang sama.
      ------
      referensi:

      [kembali]

  2. Duba’ah binti Amir, dinyatakan terlalu tua
  3. Dilaporkan bahwa Saffiyah binti Bashshamah, seorang tawanan. Wanita ini diperbolehkan memilih antara Muhammad dan Suaminya. Ia memilih suaminya.
  4. Umm Habib binti Al- ‘Abbas, namun karena Al-Abbas adalah kakak angkatnya [Lihat kembali kasus Hamza yang juga ditolak Nabi karena anak dari sahabatnya namun pada kasus Aisah (abubakar) Nabi tidak menolaknya]
  5. Jamrah binti Al-Harith. Ayahnya salahnya menyatakan bahwa ia menderita sesuatu (lepra/kusta). Sehingga ada empat wanita berbeda dengan satu alasan yang sama yaitu kusta/lepra:
[kembali]


Ummu’l Fadl

Sebelum menyatakan pandangan nabi tentang Perempuan, terdapat riwayat yang saya bingung mau meletakan moralitas nabi ini di kategori seperti apa lagi:
    Riwayat Ya'qub - Bapakku - Ibnu Ishaq - Husain bin Abdullah bin Abbas - Ikrimah bekas budak Ibnu Abbas - Abdullah bin Abbas - Ummu Fadll binti Harits bahwa Rasulullah SAW melihat Ummu Habibah binti Abbas berada dalam sapihan, Ummu Fadl berkata, "Beliau lalu bersabda: "Jika anak perempuan Abbas ini tumbuh dan aku masih hidup maka aku akan menikahinya."[Ahmad no.25636. Pendapat para lama tentang Husain bin Abdulllah: Laisa bi Tsiqah/tidak ada apa-apa dengannya, jujur (Abu Zur'ah, Yahya), Dlaif/lemah (Ibnu Hajar al 'Asqalani + Abu Hatim), Matruk/dituduh berdusta (An Nasa'i), Ditinggalkan hadisnya (Adz Dzahabi), Bukhari mengatakan: Ali meninggalkan hadisnya dan juga meninggalkan Ahmad.]

    Namun demikian,
    A. Guillaume juga mengutip Al Suhayli, komentator abad ke-12, tentang Sirat Nabawiyah Ibn Ishaq, yaitu bagian dalam kurung: Suhayli, ii.79 dalam riwaya Yunus 1.1, tercatat bahwa Rasullullah SAW melihatnya (Ummu'l Fadl) merangkak di depannya dan berkata, "Jika ia besar nanti dan aku masih hidup Aku akan mengawininya" ["The Life of Muhammad" - A Translation of Ibn Ishaq's Sirat Rasul Allah, Alfred Guillaume, Oxford University Press, 2004, hal.311]

    video

    Video di atas ini dari Dr. Ahmad Al-Mub'i (Ulama Saudi yang bertugas menyelenggarakan perkawinan) menyatakan: TIDAK ADA batasan minimum mengawini, bahkan bayi perempuan berusia 1 tahun pun boleh dikawin kontrak (LBC TV (Libanon), 19 Juni 2008, menit: 00:35, di: memritv, youtube1, youtube2]
[kembali]


KESIMPULAN

Total yang dapat ditelusuri jejaknya adalah 35 orang wanita lebih.
  • Di atas 40 tahun? 1, Khadijah (40)
  • 30-35 tahun? 2, Ramlah (34), Zainab Binti Jashy (35)
  • 25-30 tahun? 4, Hindun (29), Saudah + Zainab binti Kuzaimah + Maimunah (30)
  • 17-20 tahun? 4, Safiya (17), Hafsa (18), Juwariyah + Maria (20)
  • 5-9?, 1, Aisya (6)
  • 0-4? 1, Ummu’ Fadl (di bawah 2 tahun)
  • Tidak diketahui umur tercatat sebanyak 22 wanita, namun kecenderungan umur dari wanita yang sudah dinikahi adalah beriksar antara 17-30 tahun yaitu kurang lebih setengah dari umur Nabi (Diatas 56 tahun) dan kecenderungan nabi adalah pada yang berusia SANGAT muda yaitu pada Aisa 6 tahun, Umm Fdl, Umm Habibah di usia menyusui
  • Belum termasuk para Budak dan/atau melakukan azl selama perang.
Bahwa Nabi hanya mengawini Janda-janda tua adalah TIDAK TERBUKTI karena terindikasi umur Nabi 2 x umur mempelai dan TERBUKTI menolak mengawini karena Alasan sudah TUA pada kasus Omm Sharik, Duba’ah.

Bahwa Nabi mengawini yang buruk rupa, maka kecuali saudah yang tercatat berbadan besar Saudah bukan buruk rupa adalah TIDAK TERBUKTI

Bahwa Paras menentukan TERBUKTI pada Riwayat Hadis alasan mengawini

Bahwa Nabi alasan mengawini karena Ukhuwah, GUGUR sejak menolak mengawini Anak Hamzah dan Anak Abbas dengan alasan karena mereka Keponakan angkatnya padahal ia mengawini ponakan angkatnya yang lain yaitu anak Abu Bakar (Aisah) dan anak Umar (Hafsa)

Bahwa Nabi mengawini BUKAN karena syahwat TIDAK TERBUKTI melihat kasus, Maria, Ummul Fadl, Aisyah, Safiya, Raihana dan saat menyetubuhi para tawanan wanita.

Rekor umur istri yang paling tua ternyata TETAP DIPEGANG Khadijah, sisanya berumur JAUH LEBIH MUDA dari KHADIJAH.

[kembali]


Sumber lain:
  • Biografi Rasullulah, Dr. Mahdi Rizqullah Ahmad, Penerbit Qisthi press, Januari 2006, hal 870-887)
  • Buku Pintar Agama Islam, oleh Syamsul Rijal Hamid, Penebar Salam, Bogor, 2002,
  • Muhammad - Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik, oleh Martin Lings, Serambi Ilmu Semesta, Jakarta, 2002.

    Pada Konferensi Sirah Nasional di Islamabad tahun 1983, buku ini mendapat penghargaan dari pemerintah Pakistan dan juga terpilih sebagai biografi Nabi Muhammad yang terbaik dalam bahasa Inggris, pengarangnya memperoleh bintang kehormatan dari Presiden Hosni Mubarak - Mesir

  • Sejarah Hidup Muhammad, oleh Syaikh Shafiyyur Rahman Al-Mubarakfury, Robbani Press, Jakarta, 2002

    Pada sayembara penulisan Sirah Nabawiyah yang diselenggarakan oleh Rabithah Alam Islami yang berkedudukan di Mekah, buku ini menjadi pemenang pertama.

  • Latar Belakang Perkawinan Nabi SAW, oleh Abbas Jamal, Yayasan Emiliyyatil Abbasiah, Jakarta, 1999
  • Dr. H. Agung Danarta, M.Ag (Perempuan Perawi Hadis)
  • Ayatollah Montazeri Vs Sina, Maududi
  • Wikipedia, Eramuslim, dan beberapa link lainya
[kembali]


Abu bakar

Abubakar lahir tahun 573 dan meninggal Agustus 22, 634. Dia berumur 63 ketika meninggal dan dikuburkan disamping sang nabi.

Dia menjadi Kalifah selama 2 tahun (632-634). Dia menetapkan 40 cambukan hukuman karena meminum minuman keras.

Banyak muslim mengatakan bahwa Ia sangat baik dan pengampun. Namun demikian, Ia yang mencetuskan perang Al-Riddah [setelah nabi Wafat]. Perang ini dilancarkan kepada mereka-mereka yang:

1. Melakukan shalat tapi ngga mau bayar Zakat atau
2. Murtad dan/atau berpaling ke nabi lain

[Al-Hikmah Fid Dakwah Ilallah, h.220]

Di Badar, satu dari anak Abu Bakar yg belum memeluk islam bertempur dipihak Mekah.

Sesudahnya, dia menjadi muslim, suatu hari dia berkata, "Ayah! Di Badar, dua kali kau ada diujung pedangku, tapi rasa cintaku padamu menahan tanganku." "Nak," jawab Abu bakar, "Jika aku punya satu saja kesempatan seperti itu, kau tidak akan ada disini." Ini perbedaan akhlak sebelum dan sesudah memeluk Islam pada satu garis keluarga yang sama.

Ia memiliki empat istri selama hidupnya.

Dibandingkan dengan para rashidun lainnya maka ia yang paling sedikit koleksi istri, Ia juga tidak melarang Nikah Mut’ah dan Ia juga yang paling patuh pada batasan 4 Istri di surat An Nisa 4:3:
  1. Qatilah Binti Abdul Aziz Dia ibu dari dua anaknya; Abdullah dan Asma (perempuan)
  2. Ummi Ruman Melahirkan dua anak; Ayesha (perempuan) dan Abdul Rahman. Muhammad menikahi Ayesha ketika ia berumur 6 th dan menggaulinya diumur 9 th. Muhammad ketika itu berumur 52 th
  3. Asma Abu Bakar punya satu anak darinya, Muhammad (dia terlibat dalam pembunuhan Usman Kalifah keempat Islam)
  4. Habiba, Ia punya Satu anak (perempuan): Dia adalah ibu dari ummi Kulthum (perempuan). Ummi Kulthum lahir setelah kematian Abu Bakar, dikabarkan bahwa Ummi menikah dg Umar, Kalifah kedua Islam ketika berumur 4 tahun [Lihat: Kontroversi Umm Khutum]
[kembali]


Umar

Umar adalah Kalifah kedua dalam islam, dia memimpin selama 10 tahun (634-644). Dia dibunuh oleh seorang budak ketika sholat. Di jaman Umar Kawin Mut’ah dinyatakan dilarang.
  1. Zainab
    Saudari dari Usman Bin Mazun
  2. Kareeba
    Anak dari Ibn Umaitul Makhzami dan saudari Ummi Salma, istri Muhammad. Dia tidak memeluk islam
  3. Maleka (juga dikenal sebagai Ummi Kulthum)
    Dia anak dari Jarul Khuzai. Dia tidak memeluk islam.
  4. Jameela
    Nama aslinya adalah Asiah binti Sabat Ansari. Dia seorang Ansa. Setelah menikah dg Umar mengganti nama menjadi Jameela
  5. Sabiha Binti Al-Haris
    Dia wanita muslim pertama yg kabur dari Quraish dan mencari perlindungan pada muslim setelah perjanjiah Hudaybiah. Nabi membuatnya menikah dg Umar
  6. Ateka Binti Zaid
    Dia sepupu dari Umar. Sebelumnya menikah dg Abdullan, anak Abu Bakar. Setelah abu Bakar mati, Umar menikahinya
  7. Umm Hakim
    Dia sebelumnya telah menikah 2 kali. Suami2 sebelumnya adalah Ikramah bin Abu Jaki dan Khalid bin Said. Ketika keduanya meninggal dalam peperangn, Umar menikahinya
  8. Fakiah Yamania, ia merupakan budak atau gundiknya Umar, melahirkan anak perempuan Zainab
  9. Laiyah, Ia merupakan budak atau gundiknya dari Umar, melahirkan anak
  10. Umme Kulthum
    Dibawah ini terdapat beberapa pandangan mengenai umur Umm Kulthum saat dikawini Umar (4/5 tahun atau 11 tahun) dan anak dari siapa (Abu bakar atau Ali)

    Umar punya 4 (empat ) istri yang bernama Umme Kalthum):

    Kalangan Syi’ah:

      Umar bin Adhina bertanya pada Imam Ja’far Sadiq ‘Orang-orang menyatakan bahwa Ali mengawini anaknya pada ‘orang itu’. Sang Imam, yang saat itu sedang duduk langsung berdiri dan dengan marah berkata, ‘Siapapun yang berpandangan itu adalah salah.’ Subhanallah! Imam Ali ngga bisa menyelamatkan anak perempuannya dari cengkraman mereka? Ia justru berdiri diantara mereka dan melindungi anak perempuannya, Mereka sudah melakukan dusta’ [Nasehkul Tawareekh Volume 3 page 408]

      Umm Kulthum binte Abu Bakr, lahir 13 A.H dan menikah 17 A.H (4 Tahun).
      Aisa adalah kakak tertua dari Umm Kulthum binte Abu Bakr, karena alasan ini maka Umar meminang Umm Kulthum hand's ke Aisha, dan Aisha menerimanya [Tareekhe Khamees Volume 2 page 267 - Tareekhe Kamil Volume 3 page 21 - Al Istiab by Ibn Abdul Barr Volume 2 page 795]

      ‘Orang-orang lebih berasumsi bahwa Umar mengawini Umm Kulthum binti Fatima daripada kawin dengan Umm Khultum binti Jarweela Khuzima’ [Tareekh al Qum Shaykh Saduq, by Muhammad Nishapur page 193, published in Tehran]

    Kalangan Sunni:

      Umm Kulthum, adalah anak kedua (ada yang mengatakan anak ke 4) dari Ali and Fatimah, yang merupakan anak terkecil mereka. Ia dilahirkan disekitar 6 H (628 M). Ia dinikahi khilafah of Umar ibn al-Khattab [Ibn Sa‘d, ‘At-Tabaqat al-Kubra’ (vol. 8 p. 338, ed. Muhammad 'Ab al-Qadir ‘Ata, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Beirut 1990]

      Umar menikahi Umm Kulthum sekitar th 623 M [Al Farooq vol. II by Shibli Numani p 539. History of Abul Fida, vol. I p 171].

      [note: dua Sumber Sunni tidak klop tahun lahir dan menikahnya]

    Umar lahir di tahun 583 M [13 tahun setelah Muhammad lahir, 570 M)]. Catatan lain menunjukkan bahwa Umar lahir sekitar th 580), sehingga saat Umm Khutum lahir, umar berusia 51 th (634 – 538).

    Ketika Menikahi Umum Khutum Umar paling sedikit berumur 56 tahun (639 – 583)

    Perbedaan antara Umm Khultum yang berusia 5 tahun, Umm Khultum yang dikawini Umar dan Umm Khultum binti Ali:

    Umm khultum yang dikawini Umar:

    1. pada 17 H, lahir 12 H (5 tahun), lebih tepatnya belum akil balig, menggunakan kata Sagheera/Sabeeya= di bawah umur, masih menyusui [Al Istiab Volume 2 page 772, Zakhair al Akba page 117, Seerath Umar, page 205 Ibn Jauzi , Asmaath Shameen page 257, Tabaqat Ibn Sa'd Volume 8 page 463, Nasab Quraysh Zubayri page 349, Al Ulum al Nisa Volume 4 page 256, Tareekh Ibn Asakir Volume 7 page 25, Al Isaba Volume 2 page 469, Al Mudhahib muwassal page 142, Tadhkira al Khawaas page 331, Al Hidayaath al Saud page 259, Sawaiqh al Muhriqa page 55]
    2. Meninggal bersama anak di medina pada jaman Mu'awiya [Hasan Qasim, Sayyida Zeyneb, hal 23]
    3. Amr bin Aas dan Mugheera bin Shuhba adalah yang mendampingi Nikahnya (Tabari)
    4. Punya anak [sumber: al Maarif]; Umar ngasih mahar sejumlah 40,000 dirhams
    5. Meninggal sekurangnya 7 tahun sebelum Kerbala
    6. Menikah berkali-kali

    Umm Khultum bint Ali:
    1. Ibunya bernama Fatima, Lahir 6 H sehingga pada 17 H berusia 11 tahun, lihat sumber di atas, [Tt-Tabaqat al-Kubra, Ibn Sa‘d, Vol. 8 p. 338, ed. Muhammad 'Ab al-Qadir ‘Ata, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Beirut 1990]
    2. Ada di saat peristiwa Kerbala, meninggal 62 Hijri, Dikubur di Baab Sagheer, Damascus, Syria [Hasan Qasim, Sayyida Zeyneb, hal 64]
    3. Imam 'Ali mengatur perkawinannya dengan [sumber: Aqd Al Fareed] Aun bin Ja'far
    4. 450 Dirhams diberikan sebagai mahar (sama denganyan diberikan ke Sayyida Fatima) [al Aqd al Mundhum]
    5. Tidak punya anak [Al Aqd al Mundhum]
    6. Saat di kerbala menjadi tawaan Ibn Ziyad,
    7. Hanya menikah dengan Aun, tidak pernah menikah dengan Umar bin Khatab

    Setelah kematian umar, Umm Khutum, Istri kesayangan umar ini menikah lagi sebanyak 3 kali dengan anak-anak pamannya (Ibn jafar) sehingga mereka masih sepupunya yaitu Awn Ibn Jafar, Muhammad ibn Jaffar dan Abdullah Ibn Jafar) Ia meninggal dan dikubur bersamaan setelah melahirkan anaknya Zaid [Ibn al-Jarud, al-Muntaqa [an entirely sahih book] (p. 142); al-Zubayr ibn Bakkar, al-Muntakhab min Azwaj al-Nabi SallAllahu `alayhi wa-Sallam (p. 30-31); al-Dulabi, al-Dhurriyat al-Tahira (p. 62); Ibn Sa`d, Tabaqat (8:337-340=8:463-464); al-Siyar wal-Maghazi (p. 248); Tarikh al-Ya`qubi (2:260); Ibn Shabba's Tarikh al-Madina (2:654); Nasab Quraysh (p. 352); `Abd al-Razzaq, Musannaf (3:465); al-Nasa'i, Sunan (4:71) and Sunan Kubra (1:641); al-Bukhari, Tarikh al-Saghir (1:102); dll]
    [kembali ke sebelumnya]

[kembali]


Usman

Usman termasuk klan Bani Umayyah. Dia menjadi Kalifah selama 12 tahun (644 – 656). Terbunuh ketika sholat. Istri2nya adalah:
  1. Rukaia
    Dia anak kedua dari nabi Muhammad. Asalnya rukaia menikah pada Utbah bin Abu Lahab. Utbah menceraikannya segera setelah menikahinya. Nabi kemudian menikahkannya pada Usman. Mereka pindah ke Abyssinia pada gelombang pertama kepindahan Muslim ke Abyssinia. Mereka punya anak bernama Abdullah yg lahir di Abyssinia dan mati diumur 6 th.
  2. Umme Kultum
    Anak ketiga dari Muhammad. Dia asalnya juga menikah pada Utaibah b Abu Lahab yg juga menceraikannya secepat mungkin. Kemudian nabi menikahkannya pada Usman. Mereka punya dua anak, keduanya meninggal waktu bayi. Jadi Usman menikahi dua anak perempuan Muhammad (Rukaia dan setelah kematian Rukaia menikahi Umme Kultum)
  3. Fakhta
  4. Fatema
  5. Ummul Banin
  6. Ramla
  7. Naela
Tidak banyak detail mengenai istri2 Usman ini.

[kembali]


Ali

Istri-Istri dari Ali:
  1. Fatema
    Anak termuda dari Muhammad. Ali adalah anak dari Abdul Mutalib, paman sang nabi. Jadi, Ali adalah sepupu pertama sang nabi. Ia menikahi Fatima ketika berumur 21 dan Fatimah berumur 15 th. Ali tidak menikahi wanita lain selama Fatima hidup. Setelah Fatima meninggal karena luka fatal ketika rumahnya terbakar, Ali mulai mengoleksi istri. Ali dan Fatima punya lima anak. Mereka adalah: Hasan, Husain, Zainab, Umm Kulthum dan Mohsin.
  2. Yamamah
    Dia adalah sepupu dari Fatima. Diceritakan bahwa ketika sekarat Fatima meminta Ali utk menikahinya. Ali mengabulkan permintaan ini.
  3. Hanafia
    Ali menikahi Hanafia setelah kematian Yamamah. Mereka punya satu anak.
  4. Ummul banin
  5. Laeela
  6. Asma
  7. Umama
    Anak Zainab (anak perempuan tertua sang nabi). Jadi dia adalah cucu dari nabi. Imam Ali menikahi cucu dari sepupunya (Muhammad)
  8. Khaola
  9. Umme Saeed
  10. Muh'aat
  11. Wanita yg tidak diketahui namanya siapa
[kembali]


Imam Hasan

Imam Hassan (putra tertua dari Ali dan kakak dari Imam husain) punya banyak sekali istri. Sekitar 70 hingga 300 istri dan selir. Ia terbunuh oleh racun dari salah satu istrinya. Dalam buku berjudul `'Quwwat al-Qulub [vol.2, p.246] karya Abu Talib Makki (meninggal th 380 A.H.) ditulis, "Hasan sering menikahi 4 istri sekaligus dan sambil menceraikan 4 istri lain dalam saat yg sama". Tidak ada catatan yg benar mengenai istri permanennya. Tapi Imam Hasan paling sedikit punya tiga istri di Kufa, mereka adalah :
  1. Khawal Fazariya
    Pernikahan ini terjadi di Medina. Dia ibu dari Hasan Muthana
  2. Umm Ishaq Binti Talha
    Pernikahan juga terjadi di Medina. Dia ibu dari Husain Athram, talha dan Fatima. Setelah kematian Imam Hasan, dia menikahi Imam Husain (Adik dari Imam Hasan).
  3. Ju'da Binti Ash-ath
    Imam Hasan menikahi wanita ini di Kufa. Dia meracuni Imam Hasan atas dorongan Mu'awiyah.
Bagaimana caranya mendapat 300 istri dalam satu kehidupan? Lakukanlah dengan Mut’ah dan/atau Misyar

[kembali]


Imam Husain Imam Husain menikah lima kali, istri2nya adalah
  1. Janabe Shahr Banu
    Anak dari Yazd Gurd, kaisar terakhir Iran. Dia melahirkan Imam Zaynul Abidin (imam keempat). Meninggal 10 hari setelah melahirkan.
  2. Janabe Rabab anak dari Imran Al Qays
    Dia melahirkan Sakinah dan Abdullah (Ali Asghar). Meninggal 1 tahun setelah tragedi Karbala
  3. Janabe Laila anak dari Abu Murra.
    Ibunya adalah Maymunah anak dari Abu Sufyan. Dg begitu dia adalah sepupu dari Yazid. Dia melahirkan Ali Akbar. Meninggal ketika terjadi tragedi Karbala.
  4. Janabe Qud'iyah
    Melahirkan anak lelaki Jaffor yg meninggal waktu bayi
  5. Janabe Umm Ishaq bin Talhah
    Melahirkan Fatema Kubra. Umm Ishaq Binti talha adalah janda dari kakaknya Imam Hasan
[kembali]

19 comments:

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. cieh, dari judulnya aja sudah salah, siapa yg ngomong kalau istri nabi itu semua janda tua, yang benar adalah janda TITIK, kecuali ada 1 yang gadis, yaitu Aisyah. Kamu sendiri yg menafsirkan sebagai janda tua! Ini jelas fitnah.
    Nabi menikahi janda tsb bukan sekedar krn cinta, tapi lebih untuk kepentingan dakwah dan menyelamatkan nyawa mreka, para janda yang masih muda itu adalah para tawanan perang, yg perlu diselamatkan agar tak dibunuh,krn mereka adalah anak kepala suku atau janda dari jendral perang, makanya harus dilindungi dengan status sbg istri/budak nabi, krn byk yg dendam dan ingin membunuhnya, selain juga atas keinginan para tawanan perang itu sendiri, meminta perlindungan kpd nabi.

    ReplyDelete
  3. Dear M oon,
    Mengartikan arti di judul aja kamu ngaco:

    Selain Khadijah, Semua Istri Nabi berusia Muda dan Ranum

    Ada tertulis semua istri nabi itu janda di judul itu?

    pantesan...mengartikan agama kamu sendiri oonnya ngga ketulungan:

    Cie menyelamatkan nyawa mereka ni ye..

    Bukhari Vol 4 Book 52 Number 211:

    Aku ikut dalam penyerbuan Ghazwa dengan Rasul. Aku berkata, “Nabi, aku seorang mempelai lelaki.” Nabi bertanya, “apakah aku menikahi seorang perawan atau seorang janda?”. Aku jawab, “Seorang janda.” Nabi berkata, “Mengapa tidak perawan saja yang bisa bermain denganmu? Lalu kamu bisa bermain dengannya” (aku berkata:) “Nabi! Ayahku dibunuh dan aku punya beberapa adik perempuan muda, jadi aku merasa tidak pantas menikahi seorang gadis muda semuda mereka.”

    Hahaha..ini baru keren berani negur nabi!

    Sahih Bukhari, Vol.3 Book 43 Number 648:

    Nabi melakukan hubungan badan dengan seorang budak [Maria] milik istrinya [Hafsah], dimana Allah membatalkan janji Nabi kepada Hafsa untuk tidak menyentuh Maria lagi.

    konfirmasi ini juga ada di Tabaqat [Ibn Saad] v. 8 p. 223 Publisher Entesharat-e Farhang va Andisheh Tehran 1382 solar h ( 2003) Translator Dr. Mohammad Mahdavi Damghani:

    Waqidi menginformasikan kita bahwa Abu Bakar meriwayatkan abhwa Nabi melakukan hubungan seksual dengan Maria di rumahnya Hafsa..Ia memberitahu Nabi, "O Nabi, Engkau melakukan ini di rumahku dan ketika giliranku?" Nabi berkata, "Kontrol dirimu dan biarkan aku pergi karena aku menjadikan ia haram bagiku". Hafsa berkata, "Saya tidak menerima, kecuali engkau bersumpah padaku" Nabi kemudian berkata, "Demi allah, Aku tidak akan menyentuhnya lagi"

    hehehe..menyelamatkan nyawa, ya.

    ReplyDelete
  4. http://answering-ff.org/board/hikmah-dibalik-setiap-pernikahan-nabi-t5176.html

    ReplyDelete
  5. Dari tulisan pak, dapat disimpulkan bahwa Nabi Muhhamad menikah dg Khadijah, umur 25Thn (ada yg bilang 20th). Lalu setelah 15 th pernikahan nya baru beliau jd Nabi, dan Khadijah meninggal pada 9Th kenabian beliau.

    ada yg menarik :
    ‘Aisha mengatakan bahwa Khadijah membawa Muhammad untuk menjadi orang Kristen yang biasa membaca Injil dalam bahasa Arab. [Bukhari vol.4 buku 55 bag.17 no.605 hal.395]

    Sebelumnya apakah betul informasi itu????? Klo betul, apakah khadijah seorang Kristen??? Bagaimana proses pemakaman nya Khadijah? Ala Islamkah? Alah Kristen kah, atau ala Pagan?

    Terus kira2 bagaimana sih ritual sholat sebelum Isra'Miraj? Sudah adakah ritual sholat pada saat itu? Atau jangan2 sebelum Isra'Miraj, Nabi Muhhamad dan pengikut2nya tidak sholat sama sekali???

    Lalu duluan mana peristiwa Isra'Miraj dengan Hijrah?

    Shg saya kok punya dugaan, bahwa 9th sebelum Kadijah meninggal, maka ayat2 yg disampaikan Nabi masih bersifat damai (tidak bersifat perang). Betulkah dugaan saya???

    Tolong dong ..berikan informasi yg valid. Jangan dipelintir2 u/ suatu tujuan tertentu.

    ReplyDelete
  6. Dear Adi,
    Tentang Bukhari vol.4 buku 55 bag.17 no.605 hal.395, yang anda kutip dari artikel ini..ternyata ada kalimat yg kurang sehingga seharusnya menjadi:

    ‘Aisha mengatakan bahwa Khadijah membawa Muhammad untuk bertemu dengan Waraqa bin Naufal, seorang Kristen yang biasa membaca Injil dalam bahasa Arab

    Sekarang udah saya koreksi. tks ya.

    Peristiwa tsb terjadi pd hari yg sama [atau sesudahnya] saat Muhammad bertemu jibril pertama kalinya di gua HIRA..SETELAH 15 thn kawin dgn KHADIJAH

    Lengkapnya di sini:

    Narrated 'Aisha:
    ..He used to go in seclusion (the cave of) Hira where he used to worship(Allah Alone) continuously for many (days) nights...till suddenly the Truth descended upon him while he was in the cave of Hira.

    The angel came to him in it and asked him to read. ..Thereupon he caught me for the third time and pressed me and then released me and said, "Read: In the Name of your Lord, Who has created (all that exists). Has created man from a clot. Read and Your Lord is Most Generous...up to..that which he knew not." (96.15)

    Then Allah's Apostle returned with the Inspirationered upon Khadija..Then he told her everything that had happened and said, 'I fear that something may happen to me." Khadija said, 'Never! But have the glad tidings, for by Allah, Allah will never disgrace you as you.."

    Khadija then accompanied him to (her cousin) Waraqa..was the son of her paternal uncle, i.e., her father's brother, who during the Pre-Islamic Period became a Christian and used to write the Arabic writing and used to write of the Gospels in Arabic as much as Allah wished him to write.

    He was an old man and had lost his eyesight.

    Khadija said to him, "O my cousin! Listen to the story of your nephew." Waraqa asked, "O my nephew! What have you seen?" The Prophet described whatever he had seen.

    Waraqa said, "This is the same Namus (i.e., Gabriel, the Angel who keeps the secrets) whom Allah had sent to Moses. I wish I were young and could live up to the time when your people would turn you out."..If I should remain alive till the day when you will be turned out then I would support you strongly."

    But after a few days Waraqa died and the Divine Inspiration was also paused for a while..[Volume 9, Book 87, Number 111: ]

    ***

    Jadi,
    Menurut Hadis di atas, terlihat bhw selama 15 tahun menikah dgn khadijah dan SEBELUM MENJADI NABI..Muhammad jg telah menyembah allah. Ini Allah yg sama dengan sesembahan Nasrani namun penyebutan dlm bahasa arab [krn di translasi]

    Konsekuensinya adalah Nasrani TERBUKTI tidak terkontaminasi karena SETELAH WARAQA jadi kristen ia menterjemahkan kitab2 itu ke dalam bahasa arab.

    15 tahunan ini, muhammad jelas sangat familiar dgn Waraqah dan kitab2 nasrani. Sehingga Khadijah, Muhammad dan Waraqa adalah 1 agama atau sama NASRANInya dgn Waraqah

    Ritual sembahyang Yahudi/Kristen bervariasi. Beberapa mirip Hindu dan Buddhis, yaitu ada yg tengkurep seluruh badan, bersujud, mencakupkan tangan..Setelah Isra Miraj berubah menjadi bentuk spt sekarang dan jumlahnya 5 x

    Pembacaan Kalimat Syahadat TERJADI setelah Hijrah, dibuktikan pada Hadis Bukhari dan muslim yg berasal dari Umar, dimana ada lima pilar Islam [note: Haji baru bisa setelah Ka'bah jatuh ketangan Muslim]

    Jadi hingga meninggalnya, Khadijah tidak Islam tapi nasrani. Ketika Ia percaya pada Muhammad adalah karena ia Istri dan kasihan melihat suaminya stress saat itu.

    Pemakamannya bisa dipastikan dilakukan secara Quraish Pra Islam dan bukan seperti tradisi Islam setelah Hijrah

    Sebelum Hijrah, dengan riwayat Al kafirun.6 dikatakan Muhammad sering menghina sesembahan Quraish lainnya..saat itu pengikutnya masih sedikiiittt...jadi ngga berani lebih keras.

    Salam

    ReplyDelete
  7. peperangan tersebut untuk mengambil kembali harta para sahabat yang dirampas, ditinggal semua rumah, bisnis, perhiasan, uang, simpanan-simpanan di mekah saat para sahabat mengikuti nabi berhijrah ke madinah, diusir dari mekah tanpa membawa sedikitpun harta. Rupanya harta para sahabat itu dipergunakan untuk maksiat oleh kafir mekah, untuk membeli minum mabuk-mabukan, membayar pelacur, bahkan untuk dana perang menyerang Madinah, sehingga dibolehkanlah perang untuk mempertahankan hak, mengambil kembali harta yang dijarah kafir di mekah.

    ReplyDelete
  8. Nabi menikah juga tak sembarangan, bukan seperti manusia biasa yang hanya berdasarkan syahwat, ada hikmah di setiap penikahan nabi. Ini beberapa:

    Hikmah pernikahan nabi Muhammad dengan ZAYNAB BINTI JAHSH

    1. untuk menunjukkan bahwa Allah mengabulkan doa orang yang dengan tekun beribadah dan bersedekah.
    Zaynab adalah putri Bibinya Nabi Muhammad SAW, Umamah binti Abdul Muthalib. Wanita ini sangat terkenal akan keteladannya dalam ketekunannya dalam beribadah dan sangat bermurah hati, ringan tangan, membantu mengurangi penderitaan sesama, rajin dalam bersedekah dan beribadah. Bahkan nabi pernah menemukan Zaynab sedang mengikatkan dirinya pada salah satu tiang di masjid pada saat beri'tikaf di bulan Ramadhan, pada saat ditanya rasulullah, ia menjawab agar ia tak jatuh tertidur saat sedang membaca bacaan qur'an sepanjang malam di masjid, hingga akhirnya rasul menuntunkan tidak perlunya berlebihan dalam beribadah. Namun pada dasarnya hal ini menunjukkan bahwa Zaynab memiliki ketekunan dalam beribadah dan keinginan keras untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah, sehingga Allah pun akhirnya mengabulkan doanya. Sejak masih gadis Zaynab sudah jatuh cinta dan sangat ingin menjadi istri nabi Muhammad. Namun Nabi Muhammad SAW menolaknya, mengingat perbedaan usia diantara mereka, kedekatan kekerabatan merekaju dan nabi juga sudah memiliki istri, bahkan nabi justru menjodohkannya dengan Zayed Ibn Hereathah Al Kalby, anak angkat nabi Muhammad. Tapi perkawinan ini kandas dalam waktu yang tak terlalu lama, dan Nabi menerima wahyu bahwa jika mereka bercerai nabi harus mengawini Zaynab (surat 33:37). Hal ini disamping karena akibat perbedaan latar belakang diantara Zaynab yg berasal dari kalangan ningrat dgn Zaid yg berasal dari kalangan budak hingga diangkat menjadi anak tiri kesayangan nabi Muhammad yg tak memiliki anak laki-laki dewasa, juga terjadi karena doa Zaynab secara tekun dan tak kenal putus asa, memohon kepada Allah agar menjadi istri nabi Muhammad. Karena cintanya dan doanya kepada Allah itulah maka akhirnya Allah menundukkan hati nabi Muhammad agar bersedia menerima cinta tulus yg sangat besar dari Zaynab, dgn menimbulkan rasa tertarik, sehingga disebutkan Allah lah yg membolak balik hati manusia, bahkan akhirnya Allah sendiri yang mengawinkan Zaynab dengan nabi Muhammad.

    ReplyDelete
  9. 2. untuk menunjukkan bahwa ajaran sesat nasrani yg mengharamkan perceraian dan menganggap zina duda/janda yang bercerai lalu menikah lagi secara sah adalah salah besar, keliru dan sesat, serta melawan kodrat manusia itu sendiri.
    3. untuk menunjukkan bahwa bagaimanapun seorang anak angkat adalah bukan anak kandung, sehingga menikahi mantan istri anak tiri bukanlah hal yg haram atau aib, melainkan diperbolehkan.
    4. ini jua untuk menyelamatkan silsilah kandung manusia, agar tidak terjadi tragedi kemanusiaan, terjadinya pernikahan incest (antara ayah/ibu kandung dgn anak kandung, dll) tanpa sengaja, akibat kaburnya identitas silsilah kandung si anak angkat. Karena dgn terjadinya peceraian antara Zaid, anak angkat nabi Muhammad, dgn Zaynab yg lalu dinikahi oleh nabi Muhammad, maka Zaid lantas mengganti nama belakangnya yg semula memakai nama ayah angkatnya, nabi Muhammad, menjadi memakai nama belakang ayah kandungnya sendiri. Sehingga hal ini lalu dicontoh, dilarang mengaburkan/menyembunyikan dan menggunakan nama belakang ayah angkat, harus sesuai dgn nama ayah kandungnya sendiri, sehingga terselamatkanlah dunia ini dari tragedi terjadinya pernikahan incest antara ayah/ibu kandung dengan anak kandungnya sendiri, atau cucu kandungnya sendiri dll tanpa sengaja akibat kaburnya identitas kandung manusia.

    ReplyDelete
  10. makna disebalik pernikahan nabi dengan Aisya adalah untuk menyelamatkan para istri dari kebiasaan kafir yang keji, menganggap istri yang sedang haid sebagai najis, melarangny amasuk rumah, tapi tetap menyetubuhinya di halaman rumah. Usia Aisya masih cukup panjang setelah nabi wafat, sehingga sempat menyampaikan hadist-hadistnya tersebut kepada seluruh umat manusia.


    imamat:
    15:19. Apabila seorang perempuan mengeluarkan lelehan, dan lelehannya itu adalah darah dari auratnya, ia harus tujuh hari lamanya dalam cemar kainnya, dan setiap orang yang kena kepadanya, menjadi najis sampai matahari terbenam.

    15:20 Segala sesuatu yang ditidurinya selama ia cemar kain menjadi najis. Dan segala sesuatu yang didudukinya menjadi najis juga.

    15:21 Setiap orang yang kena kepada tempat tidur perempuan itu haruslah mencuci pakaiannya, membasuh tubuhnya dengan air dan ia menjadi najis sampai matahari terbenam.

    15:22 Setiap orang yang kena kepada sesuatu barang yang diduduki perempuan itu haruslah mencuci pakaiannya, membasuh diri dengan air dan ia menjadi najis sampai matahari terbenam.

    15:23 Juga pada waktu ia kena kepada sesuatu yang ada di tempat tidur atau di atas barang yang diduduki perempuan itu, ia menjadi najis sampai matahari terbenam.

    ReplyDelete
  11. 15:24 Jikalau seorang laki-laki tidur dengan perempuan itu, dan ia kena cemar kain perempuan itu, maka ia menjadi najis selama tujuh hari, dan setiap tempat tidur yang ditidurinya menjadi najis juga.

    15:25 Apabila seorang perempuan berhari-hari lamanya mengeluarkan lelehan, yakni lelehan darah yang bukan pada waktu cemar kainnya, atau apabila ia mengeluarkan lelehan lebih lama dari waktu cemar kainnya, maka selama lelehannya yang najis itu perempuan itu adalah seperti pada hari-hari cemar kainnya, yakni ia najis.

    15:26 Setiap tempat tidur yang ditidurinya, selama ia mengeluarkan lelehan, haruslah baginya seperti tempat tidur pada waktu cemar kainnya dan setiap barang yang didudukinya menjadi najis sama seperti kenajisan cemar kainnya.

    15:27 Setiap orang yang kena kepada barang-barang itu menjadi najis, dan ia harus mencuci pakaiannya, membasuh tubuhnya dengan air, dan ia menjadi najis sampai matahari terbenam.

    15:28 Tetapi jikalau perempuan itu sudah tahir dari lelehannya, ia harus menghitung tujuh hari lagi, sesudah itu barulah ia menjadi tahir.

    15:29 Pada hari yang kedelapan ia harus mengambil dua ekor burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati dan membawanya kepada imam ke pintu Kemah Pertemuan.

    15:30 Imam harus mempersembahkan yang seekor sebagai korban penghapus dosa dan yang seekor lagi sebagai korban bakaran. Dengan demikian imam mengadakan pendamaian bagi orang itu di hadapan TUHAN, karena lelehannya yang najis itu. (imamat 15:19-30)

    Menurut ajaran kristen diatas, bahwa wanita haid adalah najis. Segala sesuatu yang dipegang, diduduki dan ditidurinya menjadi najis, dan harus segera dicuci. Dan setelah selesai haid harus mempersembahkan korban sebagai penghapus dosa. Ajaran diatas sangatlah melecehkan wanita. Ajaran diatas seharus harus tetap dijalankan oleh umat kristen. Kalau umat kristen menurut apa yang di ajarkan Yesus maka laksanakan hukum tentang wanita haid diatas. Sebab Yesus tidak akan menghilangkan satu huruf pun dair hukum Taurat.

    ReplyDelete
  12. lewat Hadist Aisyah nabi meluruskan penyimpangan itu:
    Menurut ajaran Islam, suami masih diperkenankan untuk mencintai dan bergandengan tangan dengan istrinya waktu datang bulan. Dan hal ini bukan merupakan suatu najis. Tidak seperti ajaran kristen yang mengajarkan bahwa segala sesuatu yang dipegang atau diduduki perempuan haid menjadi najis, ajaran Islam mengajarkan bahwa apapun yang dipegang wanita haid tidak akan menjadi najis. Rasulullah saw bersabda:

    Dari Aisyah ra, katanya : "Bersabda Rasulullah saw; "Tolong ambilkan aku tikar sembahyang dari masjid!" Jawabku: "Aku sedang haid." Rasulullah saw bersabda; "Haidmu bukan ditanganmu." (Terjemah shahih Muslim, kitab Al Haid).

    Diriwayatkan oleh Aisyah ra , katanya: "Pernah aku membasuh kepala Rasulullah saw diwaktu aku sedang haid". (Terjemah shahih Muslim , Kitab Haid).

    Sehingga seluruh umat manusia jadi tahu, bahwa wanita/istri haid itu BUKAN najis.

    ReplyDelete
  13. M-oon,
    Anda katakan, "peperangan tersebut untuk mengambil kembali harta para sahabat yang dirampas, ditinggal semua rumah, bisnis, perhiasan, uang, simpanan-simpanan di mekah saat para sahabat mengikuti nabi berhijrah ke madinah, diusir dari mekah tanpa membawa sedikitpun harta."

    Saya:
    Sampe 1 tahun sebelum Hijrah bahkan sampe WAFATNYA Khadijah, tidak ada itikad dari penduduk MEKKAH perang dengan MUHAMMAD, semua itu salah MUHAMMAD sendiri yang MEMAKI2 DULUAN tuhan2 mereka..dan itupun TIDAK DILAWAN, sebagaimana tertera di hadis dan asbabunuzul surat Al kafirun 1-6 dan surat Ar-Ruum 1-3!

    Tahun 614 M-615 M, Persia menang melawan Romawi. Jadi turun surat Ar ruum 30:1-6, seharusnya di tahun 615 M [atau 616 M]

    Tahun 622 M/623 M, Perang Romawi/Persia mulai lagi.
    Tahun 622 M, Hijrah ke Medinnah
    Tahun 625, Perang Uhud
    Desember 627 M, Perang terakhir dan dimenangkan oleh Romawi namun belumlah tuntas.
    Maret 628 M, Surat permintaan damai dari persia dan Perayaan kemenangan.

    Perhitungan:
    628 M - 616/615 M = 12/13 tahun
    628 M - 614/615 M = 13/14 tahun

    Jadi, jangankan "lima tahun" sebagaimana di sebutkan di riwayat ke-1, yang sudah menunjukan bahwa kaum kafir memenangkan pertaruhan BAHKAN jika memakai ucapan Ibn Abbas sebagaimana disebutkan di riwayat ke-2, yaitu "dibawah sepuluh tahun"-pun telah terlewati!

    Sehingga seharusnya: Abu bakar kalah, Nabi Muhammad kalah dan Allah salah

    Namun jika kita gunakan selisih waktu 7 tahun antara pertaruhan dan kemenangan Romawi [628 M] sebagaimana yang disebutkan di riwayat ke-1, maka surat Ar Ruum 1-6 seharusnya turun pada 621 M atau 2 (dua)tahun SETELAH wafatnya Khadijah dan Abu Talib [619 M]!

    Artinya bahkan hingga 1 (satu) tahun SEBELUM Hijrah ke Medinnah-pun, TIDAK PERNAH kaum Quraish memusuhi Muhammad dan pengikutnya dan semuanya justru disebabkan oleh Muhammad dan pengikutnya sendiri!

    disamping itu, perang yang dilakukan hingga ke suku2 jauh..

    Pada tahun setelah gencatan Hudaybiyya (628 M), Nabi Muhammad mengirimkan pasukan menghajar Khaybar(628 M) dan juga mengirimkan tentara ke kota Busra di Byzantine untuk membasmi kaum lokal arab disana(Pagan dan kristen). Namun mereka di cegat di Desa bernama Mu’tah dan akhirnya dikenal sebagai perang Mu'tah (629M).

    Strategi kaum muslim saat itu adalah melakukan serangan dadakan saat penduduk lokal Arab (pagan dan kristen) sedang menunaikan ibadah puasa keagamaannya, namun serangan itu berhasil dipukul mundur penduduk setempat. Zayd bin Harithah (anak angkat Nabi Nuhammad) dan Jafar ibn Abi Talib(Anak dari Paman Nabi) gugur di peperangan itu.

    Ini semakin MEMBUKTIKAN TIDAK BENARNYA ucapan ANDA, yaitu, "peperangan tersebut untuk mengambil kembali harta para sahabat yang dirampas.."

    karena QURAN menginformasikan sebaliknya, "Allah menjanjikan kepada kamu harta rampasan yang banyak yang dapat kamu ambil, maka disegerakan-Nya harta rampasan ini untukmu [1401] dan Dia menahan tangan manusia dari (membinasakan)mu (agar kamu mensyukuri-Nya) dan agar hal itu menjadi bukti bagi orang-orang mukmin dan agar Dia menunjuki kamu kepada jalan yang lurus. [AQ 48:20]

    [1401]. Maksudnya: Allah menjanjikan harta rampasan yang banyak kepada kaum muslimin, sebagai pendahuluan dari harta rampasan yang banyak yang dikaruniakan-Nya itu, Allah memberikan harta rampasan yang mereka peroleh pada perang Khaibar itu.

    Sudah saya buktikan bahwa TIDAK ADA harta MUSLIM yang dirampas atau DIPERANGI sebelumnya [terutama sebelum HIJRAH]..malahan TANPA HUJAN dan ANGIN..kaum PAGAN, KRISTEN dan YAHUDI di HAJAR dengan cara apapun, dirampas HARTA, ANAK dan ISTRINYA [dijadikan budak dan pemuas seks]

    ReplyDelete
  14. salam,,,
    hanya terdiam,terpaku
    menghindari pembicaraan yang sia2 adalah lebih baik daripada menjelaskan kepada orang yang "merasa tahu"
    salam
    Abu Hanan

    ReplyDelete
  15. wirajhana-eka;

    manusia goblog ya tetap goblog walau mengaku pinter.........

    ReplyDelete
  16. bukan kah dalam kalender gregorian yg merubah kalender julian ada tahun yg hilng ?? coba cek lagi perhitungan tahun hijriah dengan masehi.

    ReplyDelete
  17. @BTM,
    saya ngga pasti apa yg anda coba kemukakan. ttg penyesuaian gregorian dan julian anda bisa check sendiri disini sebagai permulaan:

    http://en.wikipedia.org/wiki/Gregorian_calendar

    Catatan sejarah yg dilakukan pencatat adalah berdasarkan tanggal berlaku saat itu, jadi tidaklah ada masalah utk hal tsb karena disesuaikan dengan perbedaan saat sekarang oleh para penggali sejarah saat ini.

    Utk perbedaan tahun hijriah dan masehi anda juga dapat check berdasarkan hitungan dari kalangan muslim sendiri misalnya:

    Ref: "Kisah-Kisah Al-Qur`An 2" [http://books.google.co.id/books?id=zK0jER5dmY8C&pg=PA100#v=onepage&q&f=false], Shalah Al-Khalidy, berdasarkan perhitungan dari Ahmad adil kamal, di bukunya,"Jadawil Aat-Taqwim Al-Miilaadi Al Muqaabil, Li At Taqwim Al Hijri":

    1 hari syamsiyah lebih lama 3 menit 59 detik.
    1 Hari bangsa arab = 1 hari terbenam s/d terbenam hari berikutnya.
    1 Bulan qamariah = 29,530588.
    1 Tahun qamariah = 354 hari, 8 jam, 48 menit, 36 detik sedangkan 1 tahun syamsiyah: 365, 6 jam, 9 menit, 9.5 detik.

    Imam Al-Alusi menyatakan perbedaan per 1 tahun syamsiah vs qomariah adalah 10 hari, 21 jam, 1 menit.

    contoh untuk 100 tahunnya adalah 1087 hari, 13 jam, 4 menit [3 tahun, 24 hari, 11 jam, 16 menit].

    ReplyDelete
  18. saya tahu mas wira punya tendensi tertentu dalam banyak tulisan (sejauh tingkat tertentu itu manusiawi). Tapi saya juga merasa bahwa kaum muslimin juga punya tendensi dalam banyak tulisannya. Saya muslim yang memilih menjadi muslim merdeka terus menyimak, meneliti, mencerna, mengoreksi ulang tiap-2 tulisan dari kedua pihak. Bagi saya kebenaran di atas sistem kepercayaan (agama). Saya banyak mendapat sesuatu yang baru dari mas wira tetapi saya tetap mewaspadai anda..... owakakakak...

    ReplyDelete
  19. Yang menulis artikel ini agamanya apa? Memangnya ada urusan apa sama Nabi Muhammad, penutup seluruh nabi dan rasul? Anda mencari-cari kesalahan pada manusia yang terbaik pilihan Allah. Ketahuilah Muhammad saw adalah contoh teladan bagi kita dalam setiap aspek kehidupan. Cobalah Anda membaca riwayat Nabi secara utuh sehingga tidak menilai negatif tentang pernikahan beliau. Tetapi saya rasa itu percuma saja sebab tampaknya Anda kecewa karena Nabi Muhammad ini punya banyak istri dan ternyata (menurut simpulan Anda)hanya Khadijah saja yang lebih tua dibanding beliau. Semoga Allah Swt. memberikan hidayahNya kepada Anda.

    ReplyDelete