Minggu, 07 Desember 2008

Kisah Wafatnya dan Pesan Terakhir: Krisna, Buddha, Yesus & Muhammad


Sri Krishna, Sang Buddha, Yesus dan Muhammad adalah para orang besar! Mereka merupakan sedikit dari Individu yang berpengaruh besar terhadap kehidupan manusia di muka bumi ini. Untuk itu artikel ini saya sajikan untuk mengenal bagaimana mereka wafat dan apa pesan/perintah di menjelang wafatnya
  1. Krishna
  2. Buddha
  3. Yesus
  4. Muhammad
Infomasi mengenai ini saya lengkapi dengan Peta dijaman mereka masing-masing. Selekasnya anda menyelesaikan artikel ini, Anda akan dapat menimbang sendiri karasteristik dari masing2 manusia basar yang pernah ada di muka bumi ini.


Krishna

Beliau meninggal di usia 125 tahun, 7 Bulan, 6 hari, pada jam 14:27:30 tanggal 18 Februari 3102 SM, di tepi sungai Hiran, Prabahs Patan (Gujarat). Perhitungan ini dinyatakan berdasarkan petunjuk dari kitab-kitab kuno dengan perincian: Visnu Purana dan Bhagavad Gita menyatakan Ia "meninggalkan" Dwaraka 36 tahun setelah perang Mahabharata. Matsya Purana menyatakan ketika perang Mahabharata, Ia berusia 89 tahun [The Times Of India: "Lord Krishna Lived for 125 Years", Wednesday September 08, 2004 10:07:31 PM]:
  1. Mahabharata Adiparva bab-2: Perang Kurawa-Pandawa terjadi di interval antara Dwapara Yuga - Kali Yuga. [Jadi pendapat yang mengatakan Kaliyuga mulai ketika Bima menjatuhkan Duryudana di hari ke-18 perang Kurukhsetra adalah tidak valid]
  2. Vishnu Purana 4.24 dan 5.38 juga Srimad Bhagavata/Bhagavata Purana 1.18.6 menyatakan bahwa era Kaliyuga mulai bertepatan dengan wafatnya Krishna.
  3. Usia Krishna saat perang kurukhshetra adalah 89 tahun [Yudistira yang saat Perang di kurukhshetra berusia 91 tahun dan Krishna lebih muda 2 tahun dari Yudistira]
  4. Stri Parva 11.25: Gandhari, di saat prosesi upacara penyelesaian kematian bangsa kuru setelah perang di kurukhshetra, menyampaikan kutukan pada Krishna bahwa 36 tahun kemudian bangsa Yadawa akan musnah, tahun ini juga yang akan menjadi akhir kehidupan Krishna.
  5. Srimad Bhagavata 11.6.25: Brahma mengatakan telah 125 musim gugur berlalu sejak krishna lahir yang diucapkan di menjelang hancurnya bangsa Yadawa.
Jadi, untuk mengetahui kapan kaliyuga/wafatnya Krishna, maka harus diketahui terlebih dahulu kapan perang di kurukhshetra terjadi.

Dari 18 Parva di Mahabharata, hanya 4 Parva (ke-10, 11, 17 dan 18) yang tidak berisi petunjuk-petunjuk astronomi berupa: Posisi konstalasi bintang, bintang, Matahari, bulan, planet, lintasan komet, gerhana matahari dan/atau gerhana bulan dan posisi/lintasan relatif mereka apakah di area Utara/meninggi (rahu) atau Selatan/menurun (ketu) yang orang-orang saat itu gunakan dalam penanggalan sejak jaman dulu, misal pada sample percakapan Skanda dan Indra di Vana Parva, menunjukan observasi bergesernya bintang telah dilakukan jauh sejak 23.000 SM-an (dari lama lintasannya).

Dalam melakukan perhitungan kapan terjadinya perang di Kurukhshetra, tidak semua ahli mengikuti petunjuk-petunjuk astronomi di atas. Di antara mereka, yang menggunakan petunjuk itu, beberapa akhirnya mengabaikannya, misal: posisi Shani (Saturnus) di Rohini (Aldebaran); Mangala (Mars) di Jayestha (Antares) di perang 18 hari dengan 2 gerhana kembar (gerhana bulan di Krutika dan gerhana matahari di Jayestha) yang terjadi dalam kurun waktu 13 hari. Diantara yang menghitung dengan petunjuk itu, mereka membatasi observasinya pada interval 600 SM s.d 3500SM dan tidak sebelumnya.

Berikut di bawah ini adalah beberapa variasi tahun kapan perang Kurukhshetra terjadi:
  1. Prof. I.N. Iyengar yakin perang tersebut terjadi tahun 1478 SM
  2. Dr. S. Balakrishna yakin perang tersebut terjadi tahun 2559 SM. [Atau di sini]. Juga disampaikannya bahwa Aryabhatta menyatakan Kaliyuga di mulai pada 3102 SM [Aryabhateeya by Brahmagupta, S.Shukla, New Delhi, INSA 1976]. Kitab Surya Siddhanta [Translation of an Ancient Indian Astronomical Text. Translation by Bapudeva, Varanasi, 1860] menyatakan matahari 54 derajat dari vernal equinox di Ujjain (75deg 47minE, 23deg 15min N) untuk Kaliyuga (yang dalam kalendar Julian: 17/18 February 3102 SM). Varaha Mihira menyatakan 2526 tahun sebelum tahun saka (entah: Shalivahana saka/79 M atau Vikrama Saka/57 SM) [Brihat Samhita]
  3. Dr. B.N. Achar yakin perang tersebut terjadi di 22 Nov - 12 Des 3067 SM [Atau di sini].
  4. Dr. P.V. Holay yakin perang tersebut terjadi mulai 13 Nov 3143 SM
  5. Dr. P.V.Vartak yakin perang tersebut terjadi mulai 6 Okt - 2 Nov 5561 SM
  6. Tahun Perang Kurukshetra
Balakrishna (dan banyak lagi) memberikan kita petunjuk bagaimana, darimana/siapa tahun Kaliyuga: 17/18 Februari 3012 berasal. Bahkan lebih lanjutnya disebutkan pada tengah malam (17/18 Februari) dan/atau Matahari terbit (18 Februari) ["Ancient Indian Leaps into Mathematics", B.S. Yadav, Man Mohanref, hal.90 mengutip: "Pancasiddhantika", Varahamihira: 28.XV.20, 29 dan 25. Kemudian, untuk analisa sinkronisasi perbedaan postulat tersebut, lihat: "Critical evidence to fix the native place of Aryabhata-I", HISTORICAL NOTES, CURRENT SCIENCE, VOL. 93, NO. 8, 25 OCTOBER 2007, hal.1184].

Di Aryabhatiya Ch.3.10 ("Aryabhatiya", leiden 10 Juli 1874, H. Kern), Aryabhatta menyampaikan lamanya waktu Kaliyuga yang telah berjalan hingga Ia berusia 23 tahun, ketika menyelesaikan karyanya:


    Kata di dalam kotak adalah "sasti" ("षष्टि", enam puluh), berikut sample terjemahan:

    Sanskrit:
    षष्टि-अब्दानाम् षष्टिस् यदा व्यतीतास् त्रयस् च युग-पादास्/
    त्रि-अधिका विंशतिस् अब्दास् तदा इह मम जन्मनस् अतीतास्//

    [Roman:
    ՙṣaṣṭi-abdānām ՙṣaṣṭis yadā vyatītās trayas ca yuga-pādās
    ՙtri-adʰikā ՙviṃśatis abdās tadā iha mama janmanas atītās
    ]

    [Indonesia:
    Sekarang 60 x 60 tahun dan 3/4 yuga berlalu,
    23 tahun sejak kelahiranku]

    Sehingga,
    3600 tahun - 3101 tahun = 499 Masehi - 23 tahun = 476 masehi. Tahun ini oleh mayoritas para ahli ditetapkan sebagai tahun kehidupan Aryabhatta.

    Kemudian dari Aryabhatiya I.3:

    ka-ahas manavas ՚ḍʰa manu-yugās ՚śkʰa gatās te ca manu-yugās ՚cʰnā ca
    kalpa-ādes yuga-ʰpādās ՚ga ca guru-divasāt ca bʰāratāt pūrvam


    Terjemahan:
    14 Manu dalam 1 Kalpa dan 1 manu berisi 72 yuga.
    Sejak kamis 6 Manu dan 27 ¾ yuga berlalu dari jaman Bhaarata



    Gambar di atas ini berasal dari "The Aryabhatiya of Aryabhata", Walter Eugeune Clark, 1930, hal.12 yang mengutip Brahmagupta bahwa yugapada yang dimaksud adalah kaliyuga. Kemudian, karena 1 yuga = 4.320.000 tahun, maka tahun berlalu sejak permulaan Yuga adalah:

    (6 x 72) x 4.320.000 + (27.75 x 4.320.000) = 1,866,240,000 + 119,880,000 = 1,986,120,000 tahun berlalu.

    Baskarachariya I juga menyampaikan tahun beliau menyelesaikan komenar "Aryabhattiyam" di Ch.I.9:

    Kalpadherabdhnirodhadhayam abdharashiritiritaha:
    khagnyadhriramarkarasavasurandhrenadhavaha: te cangkkairapi


    Terjemahan:
    Sejak dimulainya kalpa, tahun yang berlalu adalah 1986123730 tahun (kha=0 agny=3 adhri=7 rama=3 arka=12 rasa=6 vasu=8 randhra=9 indu=1), atau:

    Kalpadherabdhanirodha gatakalaha:
    khagnyadhriramarkarasavasurandhrenadhavaha: te ca


    Terjemahan:
    waktu berlalu dalam tahun, sejak berjalannya kalpa ini adalah 0, 3, 7, 3, 12, 6, 8, 9, 1 (1986123730)

    Sehingga,
    1,986,120,000 - 1,986,123,730 = 3730. Kemudian 3730 - 3101 = 629 Masehi. Para ahli modern kemudian menyatakan tahun itu sebagai tahun Bhaskaracharya menuliskan komentarnya. [Tabel III dari: Journal of Indian Philosophy (2006) 34: 143–160, "ORAL AND WRITTEN TRANSMISSION OF THE EXACT SCIENCES IN SANSKRIT", Michio Yano, hal.151]

    Terakhir,
    Sloka dibawah ini memberikan petunjuk jelas bahwa penetapan tahun 3012 SM telah dikenal sejak jaman Aryabhata dan sebelumnya, yaitu berdasarkan tulisan Bhaskaracharya dan juga Lalla mengenai cara mengkonversi tahun Saka:


    "Tahun saka tambahkan dengan 3179 untuk mendapatkan tahun kalender matahari yang berjalan sejak dimulainya Kaliyuga" (Sisyadhivrddhida Tantra, Lalla.I.12)

    Angka 3179 [tahun 3101 SM + 78 Masehi] telah disebutkan jelas untuk mendapatkan jumlah tahun yang berlalu setelah KALIYUGA dan TAHUN SAKA (78 Masehi).
Demikianlah perjalanan asal usul tahun 3102 SM sebagai awal jaman Kaliyuga


Bagaimana wafatnya Krishna dan apa pesan terakhirnya?

Sebab dan alasan wafatnya Krishna disampaikan Itihasa Mahabharata, yaitu di Anusasanaparwa (bagian ke-13), Striparwa (bagian ke-11) dan puncak kejadian wafatnya disampaikan di Mosalaparwa (bagian ke-16), juga dalam Visnu Purana dan Bhagavata Purana:

AnusasanaParva
Krisna menceritakan kisah kilas balik kepada Yudistira, yang terjadi jauh sebelum Perang besar di Kurukhshetra. Suatu ketika Rsi Durvasa yang pemarah ini dijamu Krishna di Drawaka, puas dengan pelayanan Krishna, Rsi Durvawa meminta Krishna melaburi tubuhnya sendiri dengan bekas-bekas makanan yang dikeluarkan dari mulut Rsi Durvasa agar tubuh Krishna tidak mempan terkena apapun. Makanan ini juga hasil persembahan Krisna kepadanya, yaitu berupa bubur kental dari olahan biji-bijian. Walaupun Krishna mematuhinya, tapi tidak mengolesinya ke seluruh tubuh, Ia kecualikan pada bagian kakinya, ini membuat Rsi Durvasa marah dan mengatakan bahwa Krishna akan wafat karena terluka di bagian kakinya.

Striparva
Pasca Perang besar di Kurukhshetra, dilangsungkan upacara pembakaran mayat, semua anak menantu Gandari yang menjadi janda karenanya, menangis sedih di hadapan mayat-mayat suami mereka. Gandari juga ada di tempat itu. Para Pandawa dengan ditemani oleh Kunti dan Sri Krishna juga hadir diiringi rakyat yang merasa sangat sedih karena kehilangan sanak saudara mereka. Krishna menghibur Gandari dan berkata, ‘Mengapa Ibunda menangis? Inilah dunia Ibupun pada suatu ketika akan meninggalkan dunia ini. lalu mengapa menangis?’. Gandari menjawab, ‘Kalau saja anda tidak merencanakan hal ini maka semua anak-anak-ku akan hidup, tidak terbunuh seperti ini. Krishna menjawab, ‘Perang untuk menegakan Dharma tidak dapat dicegah. Apa yang dapat kuperbuat, aku hanya suatu alat’. Lalu Gandari berkata, ‘Paduka ini Taraka Brahma. Apabila paduka menghendaki, paduka bisa mengubah pikiran mereka tanpa perlu melakukan pertempuran’.

Biarlah seluruh dunia melihat dan menarik pelajaran.

Selanjutnya Gandari mengucapkan sumpah, ‘Seperti halnya anggauta keluargaku mengalami kehancuran dihadapan mataku sendiri demikianlah hendaknya anggauta keluarga paduka mengalami kehancuran dihadapan mata paduka sendiri’

Krishna tersenyum dan menerima sumpah itu. Ia ingin menunjukkan bahwa kekuatan moral itu mempunyai nilai dalam kehidupan dan kekuatan itu harus diakui adanya [Di atas ini versi: AnandaMarga, oleh: Srii Srii Anandamurti]

Kutukan Gandhari menurut terjemahan dari Kisari Mohan Ganguli (Striparva, Bab ke-25):
    ..."Gandhari berkata, O Krishna, baik ‘Pandawa dan Dhartarashtra, keduanya telah terbakar. keduanya terbasmi, O Janardana, mengapa engkau abaikan mereka? Engkau sangat kompenten mencegah pembantaian ini, Engkau punya sejumlah besar pengikut dan berkekuatan besar. Engkau sangat fasih berbicara, dan engkau punya kekuatan (untuk mewujudkan perdamaian). Karena dengan sengaja, O pembunuh dari Madhu, engkau acuh tak acuh terhadap pembantaian massal ini, oleh karenanya, O Senjata yang paling perkasa, engkau seharusnya menuai buah tindakan ini. Dengan kebaikan kecil yang telah aku dapatkan dari kepatuhanku melaksanakan kewajiban pada suamiku, dengan pahala itu yang begitu sulit diperoleh, aku akan mengutuk engkau, O pemilik cakram dan gada! Karena engkau telah mengabaikan para Kuru dan Pandawa sehingga saling membunuh satu sama lainnya, oleh karenanya, O Govinda, engkau akan menjadi pembunuh sanak-Mu sendiri! Pada tahun ke 36 sejak sekarang, O pembunuh dari Madhu, engkau, setelah menyebabkan pembantaian kerabatMu, teman-temanMu dan anak-anakMu, binasa dengan cara menjijikkan di padang gurun. Para wanita dari ras-Mu, kehilangan anak, sanak saudara, dan teman-teman, akan meratap dan menangis seperti para wanita dari ras Bharata ini!'"

    Vaishampayana melanjutkan, "Mendengar kata-kata ini, Vasudeva Sang Jiwa utama, kepada Gandhari, mengatakan kepadanya kata-kata ini, dengan senyum tipis,"Tidak ada di dunia, yang menyelamatkan diri, yang mampu membasmi bangsa Vrishni. Aku tau ini dengan pasti. Aku akan wujudkan. Dalam mengucapkan kutukan ini, O ini kaulmu yang sangat baik, Engkau telah membantu aku menyelesaikannya. Bangsa Vrishni tidak mampu dibunuh oleh yang lainnya, baik itu para manusia atau dewa atau Danava. Bangsa Yadawa, karenanya akan musnah oleh tangan mereka sendiri." Setelah Ia dari ras Dasharha mengatakan ini, Pandawa menjadi terheran-heran. Dipenuhi dengan kecemasan, mereka semua menjadi hidup tersia-sia!
Mosalaparwa
Mosalaparwa atau Mausalaparwa mengisahkan kejadian 36 tahun pasca Perang besar di Kurukhshetra, tentang musnahnya para Wresni, Andhaka dan Yadawa, yang tinggal di Mathura-Dwaraka (Dwarawati) tempat Kresna memerintah. Kisah ini juga tentang wafatnya Kresna dan Baladewa.

Diceritakan bahwa pada saat Yudistira naik tahta, dunia telah memasuki zaman Kali Yuga/zaman kegelapan. Beliau melihat tanda-tanda alam yang mengerikan, yang seolah-olah memberitahu bahwa sesuatu yang mengenaskan akan terjadi. Hal yang sama dirasakan Kresna. Ia merasa bahwa kejayaan bangsanya akan berakhir, sebab ia melihat bahwa banyak pemuda Wresni, Yadawa, dan Andhaka yang menjadi sombong, takabur dan senang minum minuman keras sampai mabuk.

Pada suatu hari, Rsi Narada beserta beberapa resi berkunjung ke Dwaraka. Beberapa pemuda jahil merencanakan sesuatu untuk mempermainkan para resi. Mereka mendandani Samba (putera Kresna dan Jembawati) dengan busana wanita dan diarak keliling kota, sampai dihadapkan kepada para resi yang mengunjungi Dwaraka, salah satunya berkata, "Orang ini adalah permaisuri Sang Babhru yang terkenal dengan kesaktiannya. Kalian adalah para resi yang pintar dan berpengetahuan tinggi. Dapatkah kalian mengetahui, apa yang akan dilahirkannya? Bayi laki-laki atau perempuan?". Para resi yang tahu sedang dipermainkan mereka, marah dan berkata, "Orang ini adalah Samba, keturunan Basudewa. Ia tidak akan melahirkan bayi laki-laki ataupun perempuan, melainkan senjata mosala yang akan memusnahkan kamu semua!" (mosala = gada)

Kutukan tersebut menjadi kenyataan. Samba melahirkan gada besi. Atas perintah Raja Ugrasena, senjata itu kemudian dihancurkan sampai menjadi serbuk. Beberapa bagian dari senjata tersebut sulit dihancurkan sehingga menyisakan sepotong besi kecil. Setelah senjata tersebut dihancurkan, serbuk dan serpihannya dibuang ke laut. Lalu Baladewa dan Kresna melarang orang minum arak. Serbuk-serbuk tersebut kembali ke pantai, dan dari serbuk tersebut tumbuhlah tanaman seperti rumput namun memiliki daun yang amat tajam bagai pedang. Potongan kecil yang sukar dihancurkan akhirnya ditelan oleh seekor ikan. Ikan tersebut ditangkap nelayan lalu dijual kepada seorang pemburu. Pemburu pembeli ikan itu menemukan potongan besi kecil dari perut ikan, yang kemudian ditempanya menjadi anak panah.

Kemudian, datanglah Batara Kala, Dewa Maut dan pertanda lainnya sebagai waktunya terjadi hal buruk. Kresna kemudian memerintahkan para Wresni, Yadawa dan Andhaka untuk melakukan perjalanan suci ke Prabhastirtha, mereka berangkat dan berhenti sejenak, untuk menempatkan para istri di sana, kemudian mereka melanjutkan perjalananan, sesampainya di pinggiran pantai dilangsungkan upacara mandi air laut, Tempat itu menjadi ramai meriah. Dihadapan Krishna, Balarama mulai minum minuman keras, ini kemudian diikuti para Wresni, Andhaka dan Yadawa, mereka minum sampai mabuk dan dalam keadaan mabuk, Yuyudana atau Satyaki berkata, "Kertawarma, kesatria macam apa kau ini? Di Bharatayuddha dahulu, engkau telah membunuh para putera Dropadi, termasuk Drestadyumna dan Srikandi yang sedang tidur. Perbuatan macam apa yang kau lakukan?". Ucapan tersebut disambut riuh tepuk tangan dari Pradyumna, yang artinya mendukung pendapat Satyaki. Kertawarma marah dan berkata, "Kau juga kejam, membunuh Burisrawa yang telah melepaskan senjata, meninggalkan permusuhan dan duduk di Praya", mendengar ini Krishna memberikan lirikan marah, yang memberikan jalan kemurkaan berlanjut

Setelah saling melontarkan ejekan, Satyaki mengambil pedang dan memenggal kepala Kertawarma di hadapan Kresna dan mulai menyerang orang lain yang ada di sana, melihat ini, para Wresni marah dan menyerang Satyaki. Pradyumna, putera Rukmini maju membantu Satyaki namun keduanya tewas di hadapan Kresna. melihat putranya sendiri dan putra Sini tewas dihadapannya, Krishna dengan murka mengambil segenggam rumput Eraka yang tumbuh di sana yang kemudian menjadi sambaran besi mengerikan dengan energi petir. Dengan itu Krishna membunuh semua yang datang sebelum dia. Kemudian setiap orang berkelahi satu sama lainnya, dalam kemarahan, meraih rumput eruka yang tumbuh di sekitarnya yang ketika dicabut menjadi sambaran besi mengerikan dengan energi petir, ketika dilemparkan menembus bahkan hal-hal yang tidak bisa ditembus. Para keturunan Wresni, Bhoja, Saeniya dan Andhaka saling bunuh satu sama lainnya, tidak peduli kawan atau lawan, bahkan ayah dan anak saling bunuh. Tak seorang pun berniat melarikan diri dari tempat itu. Keshava yang bersenjata berdiri di sana, mengamati segalanya, berdiri sambil mengangkat gerendel besi yang dibentuknya dari rerumputan (eruka), menyadari semua kerabatnya telah tewas, Ia menjadi penuh amarah, melemparkan Sarnga, cakra dan gada memusnahkan mereka semua yang sedang berkelahi di sana, yang tersisa hanya Vabhru dan Daruka, kemudian mereka mengajak Krishna menuju tempat Balarama pergi.

Sesampainya disana, Krishna duduk, memerintahkan Daruka pergi ke wangsa kuru memberitahu Partha/Arjuna tentang musnahnya wangsa Yadu melalui kutukan para Rsi, agar Arjuna datang secepatnya. Ia memerintah Vabru untuk melindungi para wanita agar para perampok tidak melukai mereka. Vabru yang masih mabuk anggur dan sedih atas terbantai seluruh sanaknya, setelah beristirahat di samping kesava, melangkah pergi, namun tiba-tiba muncul seorang ras Yadawa yang belum mati, dengan besi rumput eruka menempel di palu, ia membunuh Vabru.

Kemudian, Krisha meminta Balarama menunggunya sampai Ia menempatkan para wanita di bawah perawatan keluarga. Setelah memasuki Dwaravati, Janardana/Kesava/Krishna bertemu ayahnya, menitipkan sementara para wanita sampai kedatangan Dhananjaya/Arjuna dan menyatakan, Ia akan ke hutan tempat Balarama menunggunya, setelah Krishna menyentuh dengan kepala kaki ayahnya, Ia pergi, saat pergi, ramai suara ratapan para para wanita dan anak-anak di rumahnya, Krishna berkata bahwa Arjuna akan datang melindungi mereka. Sesampainya di hutan, Kresna melihat kakaknya duduk di bawah pohon dalam posisi yoga, dari mulut Balarama, keluar seekor naga sebesar gunung berwarna putih berkepala seribu, bernama Sesa (Bhagavata Purana 10.2.8. Naga ini juga disebut Anantasesha, di BhagavadGita 10.29, dinyatakan, "anantaś ca asmi nāgānāṁ"/dari seluruh Naga, aku adalah Ananta), kemudian raja Naga ini menuju lautan di mana para naga dan Dewa datang berkumpul menyambutnya. Setelah menyaksikan kepergian kakaknya, Ia berjalan beberapa waktu di hutan, duduk di atas gundukan, (di sebuah batu di bawah pohon di Prabhasa Tirta, di Bhagavata Purana 11.30.27, nama pohon itu adalah Pippala), mengenang peristiwa yang telah lewat, kata-kata Gandhari, kata-kata Durvasa saat tubuhnya diolesi sisa-sisa Payasa, kehancuran para Vrishni dan Andhaka, Ia tahu bahwa sudah saatnya 'kembali’. Kemudian Ia menutup indrianya melakukan yoga dengan sikap Lalita Mudra, di bagian bawah kakinya berwarna kemerahan. (Bhagavata Purana 11.30.32: Kaki kanannya berwarna kemerahan, berbentuk rusa).

Saat itu seorang Vyadha/pemburu bernama Jara, setelah seharian tidak mendapat buruan, melihat sesuatu berwarna kemerahan, Ia pikir itu seekor rusa, Ia membidikan panahnya yang berasal dari sepotong besi dari mosala yang telah dihancurkan (Beberapa misal: 1 dan 2, menyatakan panah itu beracun. BP 11.30.33 dan juga Mosala Parwa menyebutkan bagian panah berasal dari besi yang dilahirkan Samba untuk menghancurkan ras Yadawa), panah itu mengenainya. Jara segera menuju ke buruannya dan dilihatnya Krishna yang berjubah kuning sedang melakukan Yoga, kemudian Jara meminta ma'af atas pelanggarannya. Sri Kresna berkata, ‘Kesalahan-kesalahan demikian jamak dilakukan manusia. Seandainya aku adalah engkau tentu akupun melakukan kesalahan itu. Kau tidak dengan sengaja melakukannya. Jangan di pikir. Kau sebelumnya tidak tahu aku berada di tempat ini. Kau tidak dapat dihukum secara hukum maupun moral, Aku mengampunimu. Aku telah menyelesaikan hidupku’, kemudian Pemburu itu naik ke surga
    Note:
    Visnu Purana V.37: ...Menghormati kata-kata Brahman, kutukan Durvása, Krishńa duduk merenung, meletakkan kaki di atas lututnya. Kemudian datang pemburu bernama Jará..melihat dari kejauhan kaki Krishńa yang dikiranya bagian tubuh Rusa, Ia lepaskan panahnya dan mengenainya. Ia dekati buruannya dan melihat Krishna, Ia menjatuhkan diri di kakinya berulang memohon ampunan, "Aku melakukan tanpa menyadarinya, aku kira aku sedang membidik rusa! Kasihanilah aku, yang termakan kejahatanku; karena kau mampu menghancurkanku!" Bhagavat menjawab, "Janganlah takut. Pergilah, pemburu, dengan bantuanku, ke surga, ke tempat para dewa.", kemudian sebuah kereta surgawi muncul, membawa Jara ke surga..
    Bhagavata Purana 11.30.34-40 (setelah Jara memanah): Ketika Jarâ melihat, Ia takut melakukan pelanggaran, bersujud dengan kepala di kaki Krishna, memohon maaf atas ketidaktahuannya, perbuatan orang berdosa ini...memohon Krishna membunuhnya agar Ia tidak lagi melakukan pelanggaran kepada orang suci. Krisna berkata agar Jara tidak takut, memintanya bangun, karena yang dilakukan Jara adalah keinginan Krishna, Jara diberikan izin ke Surga, Jara mengelilinginya 3x dan dibawa pergi kendaraan surgawi menuju Surga.
Daruka tiba di Hastinapura menceritakan kemusnahan bangsa Yadawa di Drawaka kepara turunan Kuru dan pesan Krishna agar Arjuna datang untuk melindungi yang tersisa. Arjuna kemudian menuju Dwaraka, setibanya di sana, Ia amati kota tersebut telah sepi, Ia berjumpa para orang tua, anak-anak, para janda yang ditinggalkan mati suami dan para istri Krishna sejumlah 16.000 (Di Bhagavata Purana 10.59.33 dan Visnu Purana 5.29 disebutkan 16.100 atau Bhagavata Purana 10.61.18, yaitu 8 istri utama + 16.100 = 16.108). Dengan diantar Daruka, Arjuna bertemu Basudewa yang sedang lunglai yang berkata padanya bahwa kemusnahan turunan Yadawa sebagai suatu keniscayaan, menitipkan yang tersisa dan Drawaka akan ditelan lautan. Sesuai amanat, Di hadapan yang tersisa, Arjuna menyampaikan agar para Brahmana, Ksatria, Waisya, Sudra, wanita dan turunan Wresni bersama kekayaan mereka, sementara ke Indraprastha, kemudian Vajra (cucu Krishna) akan menjadi Raja mereka di Shakraprastha, karena kota Dwaraka akan ditelan samudra, 7 hari setelah wafatnya Krishna. Kemudian Basudewa mangkat menuju tujuan tertinggi, setelah dilakukan upacara terakhir, Mereka menuju tempat perang saudara untuk upacara terakhir, kemudian mereka meninggalkan Drawaka dan melihat tenggelamnya Drawaka. Sesampainya di negara 5 air, rombongan dihadang ribuan ksatria Abhira yang tahu rombongan ini hanya dikawal Arjuna, sedangkan ksatria Wresni kehilangan energinya, saat mempertahankan rombongan, kekuatan Arjuna tidak berfungsi seperti biasanya, busurnya tidak dapat direntangkan, panah-panah saktinya tidak dapat dikeluarkan. Tidak banyak yang bisa dilakukan ksatria hebat tersebut.

Para penyerang berhasil membawa kabur sebagian besar para wanita dan harta. Akhirnya dengan beberapa harta dan wanita yang berhasil dipertahankan, mereka sampai ke Kurukshetra. Arjuna menempatkan mereka di tempat berbeda, putra Kritavarma dengan sisa-sisa wanita raja Bhoja ke kota Marttikavat, putra Yuyudhana dan sekelompok pria tua, anak-anak dan wanita, ke tepi Sarasvati. mengawal sisanya, ke Indraprastha, aturan Indraprastha diberikan kepada Vajra. Kemudian Rukmini, putri Gandhara, Saivya, Haimavati, dan ratu Jamvabati naik ke tumpukan kayu melakukan Sati (membakar diri), sedangkan Satyabhama dan istri-istri Krsna lainnya memasuki hutan menyepi. Air lautan yang menyerbu Dwaraka, menyapu semua jejak yang ditinggalkan. [Juga Visnu Purana, Section 5; Srimad Bhagavatam Canto 11, Chapter 30, ayat 28-50]
    Versi Buddhis: Jataka no.454, Ghaṭapaṇḍitajātakavaṇṇanā
    ..Demikian caranya mereka menaklukkan seluruh India, tiga ratus enam puluh ribukota mereka bunuh para rajanya dengan senjata cakra dan Akhirnya mereka tinggal di Dvaravati. Nama Kesepuluh bersaudara kandung itu adalah yang sulung Vāsu-deva (kelahiran lampaunya Sariputta, Murid utama Sang Buddha), yang kedua Bala-deva, ketiga Canda-deva, keempat Suriya-deva, kelima Aggi-deva, keenam Varuṇa-deva, ketujuh Ajjuna, kedelapan Pajjuna, kesembilan Ghata-paṇḍita (kelahiran lampaunya Siddharta Gautama), dan yang kesepuluh Aṁkura.

    Seiring dengan berjalannya waktu, mereka dikaruniai dengan putra dan putri. Setelah waktu yang lama berlalu, di saat ia memerintah kerajaannya, putra dari Sepuluh Saudara tersebut berpikir: “Katanya, Kaṇhadīpāyana [Seorang Pertapa sakti] memiliki mata dewa. Mari kita mengujinya.”

    Maka mereka mencari seorang pemuda dan memakaikan pakaian wanita kepadanya dengan mengikat sebuah bantal di perutnya, membuatnya kelihatan seolah-olah seperti ia sedang hamil. Kemudian mereka membawanya ke hadapan Kaṇha dan bertanya kepadanya, “Tuan, kapankah waktunya wanita ini melahirkan?”

    Petapa Itu mengetahui bahwa waktunya telah tiba bagi kehancuran Sepuluh Saudara tersebut; kemudian dengan melihat batas waktu bagi kehidupannya sendiri, ia mengetahui bahwa ia akan meninggal hari itu juga.

    Kemudian ia berkata, “Anak muda, apa hubungan pemuda ini dengan kalian?” “Jawab kami terlebih dahulu,” desak mereka.

    Ia menjawab, “Pemuda ini di hari ketujuh dari sekarang akan mengeluarkan sejenis kayu akasia. Dengan itu, ia akan menghancurkan garis keturunan dari Vāsudeva walaupun kalian mengambil batang kayu itu dan membakarnya serta membuang abunya ke dalam sungai.”

    “Ah, petapa gadungan!” kata mereka, “Seorang laki-laki tidak akan pernah dapat melahirkan anak!” dan mereka melakukan pekerjaan dengan tali dan benang tersebut, mereka membunuhnya dengan segera.

    Raja memanggil keempat pemuda tersebut dan menanyakan mengapa mereka membunuh petapa itu. Ketika mereka mendengar semuanya, mereka menjadi ketakutan. Mereka melakukan penjagaan terhadap pemuda tersebut. Dan di hari ketujuh ketika ia mengeluarkan sejenis kayu akasia dari dalam perutnya, mereka membakarnya dan membuang abunya ke dalam sungai. Abu itu terapung-apung di air sungai dan tersangkut di satu sisi dekat pintu gerbang rahasia; dari sana muncullah tanaman eraka.

    Suatu hari para raja tersebut mengusulkan agar mereka pergi bersenang-senang dan bermain-main dengan air. Maka mereka datang ke pintu gerbang rahasia tersebut, sebelumnya mereka telah menyuruh orang untuk membangun sebuah paviliun yang megah. Di dalam paviliun ini mereka makan dan minum. Kemudian dengan bercanda mereka mulai main tangan dan kaki, dan terbagi menjadi dua kelompok, yang akhirnya menjadi perkelahian.

    Salah satu dari mereka, yang tidak dapat menemukan benda yang lebih baik lagi untuk dijadikan pemukul, mengambil sehelai daun dari tanaman eraka itu, yang sewaktu dicabut langsung berubah menjadi batang kayu akasia di tangannya. Ia kemudian menggunakannya untuk memukul banyak orang. Yang lainnya pun mengikuti tindakan yang satu ini, dan benda itu sewaktu mereka mencabutnya tetap langsung berubah menjadi batang kayu akasia. Dengan kayu itu, mereka saling memukul sampai akhirnya mereka terbunuh.

    Di saat mereka ini sedang menghancurkan satu sama lain, hanya empat yang melarikan diri dengan naik ke dalam kereta kuda—Vāsudeva, Baladeva, adik perempuan mereka Putri Añjanā, dan pendeta kerajaan, yang lain semuanya hancur.

    Keempat orang tersebut melarikan diri dengan kereta itu ke hutan Kāḷamattikā. Di sana pegulat Muṭṭhika telah mengalami tumimbal lahir menjadi yakkha, seperti yang dimintanya. Ketika mengetahui kedatangan Baladeva, ia menciptakan sebuah desa di tempat itu. Kemudian dengan mengubah wujudnya menjadi seorang pegulat, ia berkeliaran di sekitar sana dan melompat- lompat sambil meneriakkan, “Siapa yang mau bertarung denganku?” dan membunyikan jari jemarinya.

    Sewaktu Baladeva melihatnya, ia berkata, “Saudaraku, saya akan mencoba satu pertarungan dengan orang ini.”

    Vāsudeva berusaha dengan segala daya upaya untuk mencegahnya melakukan hal itu, tetapi ia tidak mendengarkannya, turun dari kereta dan mendekati pegulat itu sembari membunyikan jari jemarinya juga. Pegulat itu langsung memiting kepalanya dan kemudian melahapnya seperti memakan lobak. Vāsudeva yang mengetahui bahwa ia telah mati, langsung pergi dengan adik dan pendeta tersebut, sampai matahari terbit mereka tiba di sebuah desa perbatasan.

    Ia kemudian berbaring di semak-semak pepohonan, sementara ia menyuruh adik dan petapa itu masuk ke dalam desa, mencari dan membawa makanan kepadanya. Seorang pemburu (namanya adalah Jarā, atau Usia Tua) melihat semak-semak itu bergoyang.

    “Kemungkinan besar itu adalah babi,” pikirnya.

    Ia melempar tombaknya dan itu menusuk kaki Vāsudeva. “Siapa yang telah melukaiku?” teriak Vāsudeva.

    Pemburu tersebut yang baru mengetahui bahwa ia telah melukai seseorang, langsung berusaha untuk lari karena ketakutan. Raja yang mengetahui siapa pelakunya, bangkit dan memanggil pemburu tersebut, “Paman, kemarilah, jangan takut!”

    Ketika ia kembali. “Anda siapa?” tanya Vāsudeva.

    “Namaku adalah Jāra, Tuan.” Raja berpikir, “Ah, Luka yang disebabkan oleh Usia Tua akan mengakibatkan kematian, demikian yang dikatakan pepatah kuno. Tidak diragukan lagi saya akan meninggal hari ini.”

    Kemudian ia berkata, “Jangan takut, Paman. Mari tutup lukaku ini.”

    Luka tersebut kemudian diikat dan ditutup olehnya dan raja membolehkan ia pergi. Rasa sakit yang amat sangat mulai menyerang dirinya. Ia tidak bisa memakan makanan yang dibawakan oleh kedua orang tersebut. Kemudian Vāsudeva berkata kepada mereka: “Hari ini saya akan meninggal. Kalian adalah makhluk yang lembut dan tidak akan pernah dapat mempelajari apapun untuk bertahan hidup; jadi belajar dariku tentang ilmu pengetahuan alam ini.”

    Setelah berkata demikian, ia mengajarkan ilmu pengetahuan alamnya kepada mereka dan menyuruh mereka pergi. Kemudian ia pun menemui ajalnya. Demikianlah satu per satu dari mereka meninggal, kecuali Putri Añjanā. [Note: Jataka di Khuddaka Nikaya hanya berisi syair, sedangkan narasi dari atthakata]

    Note:
    Di Mahabharata, Vasudeva/Baladeva dan Arjuna putra ke-3 Pandu yang dengan 4 saudaranya menikahi Drupadi BERADA 1 JAMAN, namun Versi Buddhis, yaitu Jataka (no.536), 5 putra Pandu yang nama-namanya sama dengan yang ada di Mahabharata, yang juga mengawini Drupadi, TIDAK 1 JAMAN dengan Vasudeva.

    Di Jataka no.454: Vasudeva punya adik 9 orang: no.7 adalah Arjjuna dan no 9 adalah Gatha-Pandita. Vasudeva adalah kelahiran lampaunya Sariputta, murid Buddha Gautama, sedangkan adik no.9, Ghata-paṇḍita adalah kelahiran lampaunya Siddharta Gautama. Sementara di Jataka no.536, Siddharta Gautama dulunya lahir sebagai burung bernama Kunala, Kunala dulunya lahir sebagai Ajjuna putera tertua Pandu (Siddharta Gautama = Kunala = Arjjuna)
Yang menarik dari beberapa versi catatan kematian Krishna adalah:
  1. Bangsa Yadawa terkenal tidak terkalahkan sehingga menjadi sombong, arogan kasar dan gemar mabuk-mabukan dan di sekitar hutan saat itu, justru sedang terjadi perang dashyat yang berujung musnahnya bangsa Yadawa, maka bagaimana mungkin ada seorang Pemburu yang begitu santainya tak terusik dan masih berburu?

  2. Sebagai seorang pemburu rusa, tentunya ia mengerti prilaku rusa yang sangat waspada dan gampang terkejut, maka bagaimana mungkin masih terdapat rusa disekitar perang besar bangsa Yadawa tersebut?.

  3. Satu kebetulan menarik lainnya adalah arti nama Jara adalah usia tua, Sehingga ada pendapat juga bahwa kematian Krishna yang di panah pemburu bernama Jara adalah sebuah metaphora? yaitu wafat karena usia tua [125 tahun]. Namun demikian, terdapat teori lain mengenai Jara, panah, kaki dan juga Krishna, yaitu

    Dalam Mahâbhârata-tâtparya-nirnaya (karangan Ananda Tirta atau Purnaprajna atau Sri Madhvâcârya), Sri Madhvâcârya (1238-1317 Masehi) menuliskan bahwa Sang Tuhan dalam misinya telah menciptakan tubuh dari energi material tempat panah tersebut menancap. Namun sang Tuhan dalam bentuk asli 4 lengan tidak pernah tersentuh panah jara, yang kelahiran sebelumnya adalah Rsi/Muni Bhrigu (Salah seorang dari Sapta rsi, anak tertua dari Brahma). Di masa lampau, Muni Bhrigu secara vulgar meletakan kakinya di dada tuhan Visnu (ketika menguji mana di antara Brahma, Vishnu dan Siva yang terbesar. Sebagai akibatnya ia terlahir kembali menjadi orang biasa, seorang pemburu bernama Jara). [Catatan kaki Srimad Bhagavatam 11.30.37 atau di sini]
Berdasarkan kisah-kisah di atas, maka terdapat 3 alternatif pesan terakhir Krishna yaitu:
  1. Kematian Krishna adalah benar karena usia tua, sehingga percakapan antara Krishna dan Jara merupakan tambahan dan bukan yang sebenarnya, maka pesan terakhir dari Krishna hanyalah kepada Arjuna untuk menyelamatkan sisa-sisa penduduk bangsa Yadawa yang tidak mati akibat perang saudara dan tenggelamnya Drawaka
  2. Apabila Pemburu itu ada maka pesan terakhir krishna ada dua yaitu menenangkan Jara dari perasaan bersalah dan kepada Arjuna untuk menyelamatkan sisa2 penduduk Yadawa yang tidak mati akibat perang saudara dan tenggelamnya Drawaka
  3. Menurut versi Buddhis, pesan terakhir dari Krishna adalah ilmu pengetahuan yang diajarkannya sesaat sebelum wafat.
Klaim bukti keberadaan Dwaraka: Dwaraka city recovered, The Scientific Dating of the Mahabharat War,dan Dating the Kurukshetra War []


Buddha

Penetapan kapan tahun kehidupan sang Buddha salah satunya berdasarkan kapan masa pemerintahan raja Asoka dan kemudian dihitung mundur ke belakang

Tradisi Buddhis aliran Selatan:
"Genap 218 tahun setelah wafatnya Tathagata (= tahun ke-219), Seorang raja memerintah seluruh Jambudwipa (Tathaagatassa parinibbaanato dvinnam vassasataanam upari athaarasame vasse sakala-Jambudiipe ekarajjaabhisekam paapuni)." [Dipavamsa, VI, pp. 1, 19-20; Mahavamsa, V, p. 21; kitab komentar Vinaya Pali karya Buddhaghosa abad ke 5 M, Samantapasadika, I, pp. 41-42 (cf. Taisho, Tripitaka edisi china (ringkasan T) vol. 24, No. 1462, p. 679c)].

Menurut Mahavamsa, kronologi Dinasti dan Raja yang memerintah mulai dari wafatnya Sang Buddha sampai dengan pemerintahan raja Asoka ["The Cambridge History of India", hal.189 "Mahavamsa: Great Chronicle of Ceylon", Wilhelm Geiger, hal. xlvi] adalah:
    Ajatasattu (32 tahun, Sang Buddha wafat di tahun ke-8 pemerintahannya = 24 tahun) + Udayin-Bhadda (16 tahun) + Anuruddha dan Munda (8 tahun) + Nagadasaka (24 tahun) + Shisunaga (18 tahun) + Kalasoka (28 tahun) + keturunan Kalasoka (22 tahun) + Nanda dan Keturunannya (22 tahun) + Candragupta (24 tahun) + Bindusara (28 Tahun) + Asoka dinobatkan (tahun ke-5 setelah bindusara wafat)
Jadi total 24 + 16 + 8 + 24 + 18 + 28 + 22 + 22 + 24 + 28 + 5 = 219 tahun setelah parinibannanya sang Buddha, adalah tahun ketika Asoka menjadi raja. Asoka wafat setelah memerintah 37 tahun lamanya, sehingga 256 tahun telah berlalu sejak parinibannanya sang Budha

Penemuan arkeologi Inskripsi-Inskripsi di atas batu tentang Devanampiya piyadasi raja Magadha, Asoka:
terdapat sekurangnya 19 inskripsi berupa pilar batu dengan tinggi ± 12 – 15 Meter dan berat: ± 50 ton, 14 inskripsi pada batu yang besar dan beratnya bervariasi [“Asoka Maurya - His attitudes towards reformist sects of Jainas, Ajivikas and Buddhist as reflected in his Dhamma Edict?”, Bipin Shah].
  1. Inskripsi maklumat batu di Maski, tahun 1915, di baris pertama, tertulis "Devanampiya asokasa", dilanjutkan dengan kalimat, "Selama 2.5 tahun Saya sebagai umat awam.....Aku menemui (upagate)...Sangha...jambudwipa". pada Inskripsi Bhabru/Bairat, tertulis kalimat "Piyadasi laja magadhe sangham abhivademanam" (Raja Magadha yang ramah menyampaikan hormat pada Sangha'). Kata “Piyadassi” yang merujuk pada Asoka, tercantum dalam text Dipavamsa 6.1-18. Seluruh rangkaian ini, menegaskan bahwa Inkripsi-inkripsi yang ditemukan dengan memuat kata devanampiya dan piyadasi adalah memang merujuk pada Asoka, sehingga keberadaan Asoka adalah nyata

  2. Maklumat kecil batu I, yang ditemukan di 3 tempat (Brahmagiri, Rupanath dan Sahasram) terdapat tulisan angka "256":

    Brahmagiri: Iyam cha savan(e) sav(a)p(i)te vyuthena 200 50 6
    Rupnath: V(y)uthena savane kate 200 50 6 sata vivasa ta (atau ti)
    Sahasram: Iyam (cha savane v)ivuthena duve sapamnalatisata (atau dve satpancasaratrisate?) vivutha ti 200 50 6

    Tentang arti angka 256 yang tidak berisi petunjuk apakah itu sebagai tahun, hari atau orang:

    Geiger menuliskan bahwa Buhller dan fleet menyatakan sebagai “tahun” (256 tahun berlalu sejak nirwana), F.W Thomas menyatakan sebagai "hari” (256 hari), dengan mengartikan "lati" = "ratri" = malam. Geiger (dan bisa jadi, seluruh para ahli bahasa serupa) menyatakan: Fleet dan Buhler pastinya tahu ada kata “lati” dan mereka temukan bahwa konteknya tidak tepat untuk diterjemahkan demikian (Mahavamsa, Geiger, introduction, xxvii-xxviii. Sample ahli yang juga menolak ide bahwa kata lati = ratri, misal: ”Asoka”, Mookerji Radhakumud, hal. 114-115, cat kaki 3).

    Fleet menyampaikan: Nama-nama ahli-ahli bahasa, selain Buhller yang mengartikan sebagai “256 tahun”, nama para ahli lain yang menterjemahkan sebagai “256 hari” atau “256 orang” atau “256 kali”. Ia memahami bahwa tidak ada kata “tahun” (juga tidak ada kata hari atau orang atau kali) di inkripsi-inkripsi tersebut, namun kemudian, Ia menjadi bersepakat penuh dengan Buhller, dengan alasan bahwa penulisan angkat tahun namun tidak menyebutkan kata “tahun” adalah lazim dilakukan para ahli pali ketika menuliskan tahun karya mereka, Ia mengambil contoh Pannasami (seorang ahli pali dan buddhis dari Burma, tahun 1861), dalam karyanya “Sasanavamsa” atau “Sasanavamsappadipika”, menuliskan tanggal selesai karyanya dengan kalimat, “Dvi-sate cha sahasse cha tevis-adhike gate punnayam Migasirassa nittham gata va sabbaso (Ini telah diselesaikan dalam menghormati purnama bulan Migasira, yang telah berlalu 1223) tanpa menambahkan kata “tahun” namun jelas yang dimaksudkan adalah “1223 tahun” dan bukan hari atau lainnya [“The Date of Buddha's Death, as Determined By a Record of Asoka”, J.F. Fleet, I.C.S.(Retd.), Ph.D., C.I.E. Journal of The Royal Asiatic Society, hal. 1-26, 1904].

    Kata 256 ini menjadi bahan kontroversi menarik karena 219 (tahun penobatan) + 37 (lamanya memerintah) = 256 tahun berlalu sejak parinibannya sang Buddha

  3. Kemudian, Inskripsi maklumat Asoka pada pilar batu ke-13 (girnar dan kalsi), tertulis, “Yatra Aṃtiyoko nāma Y[o]na-raja paraṃ ca tena Atiyok[e]na cature 4 rajani Turamaye nama Aṃtikini nama Maka nama Alikasudaro nama” (Disana ada Yunani, rajanya bernama Antiochos, lebih jauh lagi ada 4 raja yang bernama Ptolemy, Antigonos, Maga dan Alexander)

    Antiochos II Theos (261 - 246 SM), Ptolemy II Philadelphos (285 - 247 SM), Antigonos Gonatos (278(1)/276(2) SM - 239 SM), Maga (300 - 258/wafat sebelum 250(2)(3) SM) dan Alexander of Epirus (272 - 258/255(2) SM) atau Alexander of Corinth (252 - 244 SM)

    [(1)”The Edicts of King Asoka an English rendering“,Ven. S. Dhammika, 1994; (2) “Early Buddhist Transmission and Trade Networks: Mobility and Exchange Within and Beyond the Northwestern Borderlands of South Asia”, Jason Neelis , hal .82, cat kaki no.52; (3) Magas of Cyrene, cat kaki no.7]

    Irisan tahun kehidupan 4 raja tersebut berada pada dikisaran 260 SM s.d 256 SM. Pilar ini dinyatakan buatan tahun 256 SM (catatan kaki no.25), yaitu tahun pemerintahan Asoka ke-12 (“The Past Before Us”, Romila Thapar, hal.390, cat kaki no.14) atau ke-13 (“Early Buddhist Transmission and Trade Networks:..”, Jason Neelis, hal.82, Cat kaki no.52)

    Jadi, setelah 37 tahun memerintah, Asoka wafat di ± tahun 232 SM atau 256 tahun setelah parinibananya sang Buddha
Purana Hindu:
List raja dalam dinasti Shishunaga - Nanda - Maurya (Asoka, di dinasti Maurya) - Pusyamitra, menurut Bhavishya (juga melihat Visnu Purana dan Matsya Purana):

Bhavishya Purana, Dinasti Shishunaga:
Dinasti Shishunaga (40 tahun) + Kakavarna (Geiger dan Jacobi menyatakan kakavarna (warna gagak) dan kalasoka (asoka hitam) orang yang sama tapi beda nama: 36/26 tahun) + Ksemadharman (20/36 tahun) Ksemajit/Ksatraujas (40/24 tahun) + Bimbisara (28 tahun) + Ajatashatru (25/27) + Darsaka (22/24 tahun) + Udayin (33 tahun) + Nandiwardana (40 tahun) + Mahanandin/Mahananda (43 tahun) = 328 tahun(1) atau 321 tahun(2)

Mulai Ajatasatru (setelah dikurangi 8 tahun saat wafatnya Buddha) s.d akhir dinasti = 155 tahun(1)/159 tahun(2)

Dinasti Nanda:
Mahapadma Nanda (Visnu Purana: 28 Tahun/Matsya dan Bhavishya Purana: 88 Tahun) + ke-3 anaknya (12 tahun) = 40/100 tahun. (Ada GAP 60 Tahun, Sumber Visnu Purana, lebih dekat ke versi Buddhis/Jain)

Dinasti Maurya:
Chandragupta (24 tahun) + Bindusara (25 tahun) + Asoka (36 tahun) + Kunala (8 Tahun) + Bandupalita (8 Tahun) + Indrapalita (10 Tahun) + Devavarmana (7 tahun) + Shatadanu (7 Tahun) + Brihadratha (12 tahun) = 137 tahun (berganti dengan dinasti Shunga, Pusyamitra, ex-jendralnya Brihadratha, memerintah 36 tahun).
Sampai Asoka = 24+24 = 49 Tahun
Ajatasatru - Asoka = 155/159+40/100+ 49 = 244/308 Tahun.
    Note:
    (1) "Bhavishya Purana", B.K. Chaturvedi, hal.65
    (2) "History of Ancient India", Rama Shankar Tripathi, hal.113.
    Tentang Darsaka,
    Bhasvishya Purana dan Chaturvedi TIDAK menyebutkan berapa lama pemerintahannya namun Chaturvedi menuliskan mulai dari Ajatasatru s.d berakhirnya dinasti = 163 tahun, sehingga Ia memerintah selama 22 tahun. Rama Shankar juga TIDAK menyebutkan lama pemerintahan Darsaka. Literature belakangan, yang menyebutkan adanya pemerintahan Darsaka adalah di Vasavadattanya-nya Bhasa (abad ke-3 M), namun tidak menyebutkan berapa lama Ia memerintah dan diambil dari purana mana. Jadi angka 24 tahun adalah hasil perkiraan para Pengarangnya. Baik literature Buddhism dan Jain, TIDAK menyatakan Darsaka memerintah setelah Ajatasatu.
Karena di Buddhis dan Jain tidak ada nama Darsaka setelah Ajatasatru dan TIDAK semua Purana memuat nama Darsaka, juga nama dan tahun kehidupannya berasal dari literature belakangan, juga 2 litratur purana (Bhavisya/Matsya vs Vayu) untuk Mahapadma Nanda, berselisih 60 tahun, jika ini dikoreksi 22/24 tahun + 60 tahun = 82/84 tahun, maka jumlah tahun wafatnya Buddha sampai Asoka menjadi raja = 222 tahun /224 tahun. Purana juga menyatakan bahwa Asoka memerintah 36 tahun, maka total jumlah tahun berlalu hingga wafatnya Asoka adalah 258 - 260 tahun.

Angka ini TIDAK JAUH berbeda dengan kronologis tahun versi Buddhis aliran Selatan dan juga versi inkripsi-inkripsi yang ditemukan yang menyatakan kisaran 256 tahun berlalu sejak Parinibannanya sang Buddha

Tradisi Buddhis aliran Utara:
Aliran Sarvaastivaada, di 2 teks Vasumitra (100-200 M), Shibabu-lun [Risalah 18 sekte] dan Buzhiyi-lun [Risalah sekte-sekte]:
  1. Menurut translasi Paramaartha (499-569 M): "116 TAHUN setelah wafatnya Bhagawan Buddha ... Terdapat sebuah negara yang besar bernama Paataliputra yang rajanya bernama Asoka memerintah Jambudviipa" [T 49 No. 2033, hal. 20a. juga No. 2032, p. 18a]

  2. Menurut tripitaka versi Tiongkok, jaman dinasti Song, Yuan, Ming, dan Qing untuk Buzhiyi-lun: Penobatan Asoka menjadi raja adalah 160 TAHUN setelah wafatnya Buddha [misal: T 49, No. 2033, p. 20, note 7; Qian-long (Dinasti Qing) vol. 102, No. 14, p. 468], namun Shibabu-lun pada edisi yang sama: 116 TAHUN.
Menurut Bhavya (abad ke-6), di kanon Tibet, Sde-pa tha-dad-par byed-pa da"n rnam-par b"sad-pa/Nikaayabheda-vibha'nga-vyaakhyaa [risalah perpecahan aliran]: 160 TAHUN di beberapa edisi kanon Tibet dan juga: 116 TAHUN di edisi-edisi lainnya.

Contoh translasi BAREAU untuk versi Narthang (1741-42 M) dan Peking (1724 M): "160 TAHUN (lo-brgya-drug-cu, Edisi Peking Tripitaka Tibet, vol. 127, No. 5640, p. 253, lembar daun 1, baris ke-3) telah berlalu sejak parinibbana sang Buddha, pada waktu itu, ketika raja bernama Dharmaa’soka memerintah di kota bernama Kusumapura, di sana berkembang pertikaian hebat dalam sangha sebagai konsekuensi kemunculan variasi pokok-pokok kontroversi" [Andre BAREAU, "Trois traites sur les sectes bouddhiques attribues a Vasumitra, Bhavya et Vinitadeva: Deuxieme partie", Journal asiatique 244 (1956), hal. 167-8. Translansi ke Perancis. Cf. BECHERT (1989), hal. 107-8].

Menurut translasi Watanabe untuk versi tripitaka Tibet Derge (1744 M): 116 TAHUN. [Watanabe Zuigan, versi Tripitaka Jepang, Osaki Gakuho, No. 94 (July 1939), hal.71, note 1].

[Diringkas dari: "A Discussion on the Determination of the Date of the Historical Buddha", Choong, Mun-keat (Wei-keat), Journal of Indian History, Vol. LXXVI-LXXVIII, 1997-1999, March, 2004]

Jadi,
  1. Buddha meninggal, 232 +36/37 + 116 = 384/385 SM dan lahir, 384/385 + 80 = 464/465 SM, atau
  2. Buddha meninggal, 232 + 36/37 + 160 = 428/429 SM dan lahir, 428/429 + 80 = 508/509 SM
Juga terdapat sudut pandang lainnya,
mengkaitkan kehidupan Buddha melalui Mahabharata, Purana-purana hindu dan dinasti-dinasti sejak Mahabharata, misalnya dari tulisan Stephen Knapp, "Were There Two Buddhas?", Ia mulai dengan mengutip "Some Blunder of Indian Historical Research, P.189", yaitu P. N Oak menyatakan bahwa Purana-purana menyampaikan kronologi para pemimpin Magadha.

Pada saat perang Mahabharata terjadi, Somadhi (Marjari) adalah raja yang memerintah kerajaan Maghada, ia mengawali dinasti bersama 22 raja berikutnya selama 1006 tahun, kemudian diikuti 5 orang raja dari dinasti Pradyota selama 138 tahun, kemudian 10 Raja dari keluarga Shishunag selama 360 tahun. Kshemajit (memerintah 1892 – 1852 SM) adalah raja ke 4 dinasti Shishunaga hidup sejaman dengan raja Suddodana, ayah dari Sidharta Gautama. Raja ke 5 dinasti Shishunaga adalah sejama dengan raja Bimbisara, ketika Sidharta Gautama menjadi Buddha. dan wafat pada jaman raja Ajatashatru (1814-1787 SM). Jadi ia lahir di 1887 SM, Meninggal di 1807 SM

Lebih lanjut, Dalam "The Age of Buddha, Milinda and King Amtiyoka and Yuga Purana", Pandit Kota Venkatachalam, berdasarkan Purana-purana terutama dalam Bhagavad Purana dan Kaliyurajavruttanta, disampaikan kronologis dinasti kerajaan Maghada yang digunakan menentukan tahun kehidupan Buddha. Buddha adalah silsilah ke 23 dari dinasti Ikshvaku, hidup sejaman dengan raja Kshemajita, Bimbisara, dan Ajatashatru, Buddha berusia 72 tahun pada tahun 1814 B.C. ketika raja Ajatashatru di mahkotai. Jadi kelahiran Buddha ada di sekitar 1887 SM. dan wafatnya adalah 80 tahun kemudian yaitu 1807 SM.

Professor K. Srinivasaraghavan dalam "Chronology of Ancient Bharat" (bag ke-4, bab 2), menyatakan bahwa tahun kehidupan Buddha seharusnya 1259 tahun setelah perang Mahabharata, jika perang terjadi di 3138 SM maka Buddha lahir di tahun 1880 SM. Juga beberapa menggunakan kalkulasi astronomi, misal: Swami Sakhyananda, menyatakan bahwa jaman Buddha berada di periode Kruttika, yaitu antara 2621-1661 SM.
    Note:
    Kronologi versi ini membingungkan, karena ADANYA GAP RIBUAN tahun antara jaman: raja Bimbisara (yang sejaman dengan Sidharta Gautama) - Candragupta (yang sejaman dengan Alexsander Agung) - Asoka , padahal dari penelurusan beberapa purana, hanya berbeda berapa ratusan tahun saja dan BUKAN ribuan tahun!

    Untuk pengakuan terhadap Buddha, maka dikalangan Purana sendiri bervariasi. Ada yang bahkan TIDAK MENYEBUTKAN keberadaannya, misal Mahabharata dan beberapa Purana lain ("The Origins of Evil in Hindu Mythology", Wendy Doniger O'Flaherty, hal.200), juga beberapa malah TIDAK menyebutkan Buddha sebagai avatara, misal: Markandeya Purana, Vimana Purana ("Encyclopaedic Dictionary of Puranas", Vol.1, Swami Parmeshwaranand, hal.254) ataupun tidak mencantumkannya sebagai bagian dari DASAAVATARA, misal di Vishnu Purana, Buddha diganti dengan Balarama. Untuk nama Buddha yang disebutkan dalam Bhagavata purana seperti dikutip Stephen Knapp, silakan baca juga ini
Kemudian, dalam Reclaiming the chronology of Bharatam: Narahari Achar (July 2006), B. N. Narahari Achar, mengkalkulasi berdasarkan sumber dari Sammyuta Nikaya, Sagatha Vagga, Devaputta, 9.Candima dan 10.Suriya, merujuk adanya gerhana Bulan yang diikuti gerhana Matahari. Pada saat itu, Buddha ada di savatthi, tiga bulan menjelang wafat beliau. Berdasarkan petunjuk tersebut menghasilkan perhitungan bahwa bulan Purnama, saat Sang Buddha Wafat, jatuh pada tanggal 27 Maret 1807 SM.

Di artikel tersebut, Professor Sengupta dikatakan juga menghitung dengan mengkaitkan adanya gerhana bulan dan matahari yang terjadi berdekatan dan Ia temukan itu terjadi juga di tahun 560 SM

[Sebagian tulisan di atas adalah translasi dari, “A Discussion on the Determination of the Date of the Historical Buddha Choong, Mun-keat (Wei-keat)”, Journal of Indian History, Vol. LXXVI-LXXVIII, 1997-1999, March, 2004, Copyright 2004 by University of Kerala”]
    Note:
    Persoalan yang terjadi dari perhitungan astronomi menggunakan sumber Samyuta Nikaya ini (SN 2.9 dan SN 2.10) diantaranya adalah sumber Samyutta nikaya sendiri TIDAK MENYATAKAN itu sebagai konteks gerhana; TIDAK MENYATAKAN itu terjadi secara berurutan atau berdekatan dan juga TIDAK MENYATAKAN itu terjadi di sekitar 3 bulan menjelang wafatnya sang Buddha.
Karena, pada purana-purana hindu sendiri, kita dapatkan bukti bahwa tahun kehidupan Sang Buddha TIDAK sampai RIBUAN TAHUN, kemudian, hasil koreksi pada kronologis versi purana yang hasilnya ternyata tidak jauh berbeda dengan versi Mahavamsa, juga terdapat penemuan arkeologi inkripsi-inkripsi Asoka yang berkaitan dengan 4 raja dijamannya dan terakhir telah dilakukannya uji radioaktif karbon pada situs-situs yang diduga berhubungan dengan kehidupan sang Buddha dan menunjukan hasil berada pada kisaran abad ke-6 SM (sumber: Archaeological discoveries confirm early date of Buddha's life) maka klaim bahwa tahun kehidupan Sang Buddha ada dikisaran 1800an tahun SM, dapat kita abaikan.

Sekarang dapat kita simpulkan bahwa wafatnya Buddha Gautama terjadi dikisaran 488 SM (256+232) dan beliau lahir dikisaran tahun 568 SM (488+80)
________________________________________

Peta Jaman Buddha Gautama

Beberapa penemuan arkeologi seperti penemuan situs Lumbini pada tahun 1896 oleh para arkeolog Nepal, penemuan situs Kapilavatthu (Kapilavastu) di Tilaurakot, Nepal pada abad ke-19, serta penemuan situs Nigrodharama yang juga berada di Nepal, memperkuat fakta bahwa kisah mengenai Pangeran Sidharta bukanlah fiksi. Ia adalah tokoh sejarah.

Bulan Apa Sang Buddha Wafat?
Sutta dan Vinaya TIDAK MENCANTUMKAN bahwa bulan Sang Buddha Parinibbana adalah di bulan Vesakha, sementara kitab komentar memberikan petunjuk seperti ini:
    Kira-kira 10 bulan sebelum Sang Buddha parinibbana/padam sempurna, Beliau melaksanakan masa vassa terakhir di Veluva, sebuah desa dekat Vesali. Di sana, Beliau mengalami sakit..kemudian Sang Buddha sembuh. [Kitab Komentar: Dhammapada, Bab 15, Syair 206- 208. Buddhaghosa, abad ke-5 M, pada komentar untuk Digha Nikaya dan Samyutta Nikaya: "dasamāsamattaṃ ṭhatvā parinibbāyissāmi .. samāpattivikkhambhitā vedanā dasa māse na uppajjiyeva" (sekitar 10 bulan menjelang Parinibbana .. perasaan-perasaan yang ditekan melalui pencapaiannya itu tak muncul lagi selama 10 bulan)]
Apa itu Masa Vassa?
Vassa adalah musim hujan di India, berasal dari kata Vassāna. Musim di India terbagi 3 (Ti-Uttu, per 4 bulan namun terkadang satu musim lebih pendek dari lainnya yaitu 3 bulan). Ti Uttu dibagi lagi menjadi 6 musim (Cha Uttu, per 2 bulan):
  1. Vassāna/Musim Hujan (Jul-Nov):

    Musim Hujan/Vassāna (Juli-Sept): Bulan Savana/Nikkhamanīya [nikkhamati = pergi/keluar/berangkat pergi + niyata = terkendali/terkungkung] (Juli-Aug) dan Bulan Pottapada (Aug-Sept). Di India utara, reda di awal Oktober
    Musim Gugur/Sarada (Sept-Nov): Bulan Assayujja/Pubba Kattika [pubba = awal] (Sept-Oct) dan Bulan Kattika/Paccima Kattika [Paccima = terakhir, belakangan] (Oct-Nov)

  2. Musim Salju/Hemanta (Nov-Mar):

    Musim Salju/Hemanta (Nov-Jan): Bulan Māgasira (Nov-Des) dan Bulan Phussa (Des-Jan). Yang terdingin adalah Desember dan Januar.
    Musim Dingin/Sisira (Jan-Mar): Bulan Māgha (Jan-Feb) dan Bulan Phagguṇa (Feb-Mar)

  3. Musim Panas/Gimhāna (Mar-Juli):

    Musim Semi/Vasanta (Mar-May): Bulan Citta/Rammaka (Mar-Apr) dan Bulan Vesākha (Apr-May)
    Musim Panas/Gimha [Uṇha, Nidāgha = Panas] (May-Jul): Bulan Jettha (May-Jun) dan Bulan Asaḷha (Jun-Jul). Yang terpanas di utara adalah bulan May
Kenapa melakukan Vassa?
    Ketika masa Vassa belum ditetapkan dan ketika itu Sang Buddha sedang menatap di Veluvana, Râgagaha. Para Bhikkhu sering mengadakan perjalanan selama musim dingin, hujan dan panas. Perjalanan mereka sering melalui sawah, kebun dan ladang milik para petani akibatnya timbul keluhan bahwa tumbuh-tumbuhan yang ditanam oleh petani menjadi rusak dan banyak binatang yang mati. Sehingga masyarakat mencela para bhikkhu dan membandingkan dengan pertapa-pertapa lain (Aliran Titthiya), yang menetap disuatu tempat ketika musim hujan tiba. Celaan dan kritikan dari masyarakat, disampaikan beberapa bhikkhu, kemudian beberapa bhikkhu itu menghadap Sang Buddha dan melaporkan kejadian ini

    Mendengar laporan tersebut, Sang Buddha membuat aturan, “Para Bhikkhu, saya ijinkan kalian untuk melaksanakan masa Vassa”

    ”Oh para bhikkhu ada 2 periode masa vassa. Periode ke-1 dilakukan setelah bulan purnama ke-1 di bulan juli/asalha/Asadha, jenis vassa ini disebut Purimikavassupannayika. Dan vassa jenis ke-2 dilakukan satu hari setelah bulan purnama ke-2 atau 1 bulan setelah bulan asalha [Agustus/Sravana], jenis vassa ini disebut Pacchimikkavassupanayika [Vinaya: Mahavagga 3.1-2 ]

    Note:
    Di Mahavagga 3.3 kelompok 6 bhikku (chabbaggiya Bhikkhu = grup enam bhikkhu, yang belum mencapai kesucian, antagonis, tak kenal lelah sebagai pengacau di seluruh Vinaya-Pitaka) bepergian di musim Vassa atau tidak mau tinggal di musim vassa, maka muncul aturan larangan pergi di musim Vassa selama 3 bulan, dengan pengecualian tertentu)

    Sejak tahun pertama kebuddhaan, beliau konstan bervassa, demikian pula para murid-muridnya yang menekuni disiplin moralitas, pengendalian indriya dan perhatian karena salah satu praktek dasar moralitas yang dijalankan mayoritas petapa dan brahmana dari berbagai kalangan ajaran di jaman itu adalah menghindari merusak benih dan tanaman, sehingga itu adalah pelanggaran praktek pertapaan. Setelah tahun ke-20, murid-muridnya semakin banyak, muncul pelanggaran-pelanggaran, sehingga ditetapkanlah berbagai aturan dan disiplin berikut sangsi ringan sampai berat jika melanggar

    Perhitungan kalender Buddhis mengikuti perhitungan Luni solar (bulan dan matahari), biasanya jatuh pada hari setelah bulan purnama di bulan ke-7. Akhir dari vassa disebut pavarana (Bhikkhu mengundan rekannya untuk mengakhiri masa Vassa), dilanjutkan dengan hari kathina, hari yang diselenggarakan umat awam Buddhis untuk memberikan persembahan perlengkapan untuk para bhikkhu (jubah, obat2an, makanan, tempat tinggal). Kathina itu dapat berlangsung selama satu bulan antara bulan Assayuja-Kattika (Oktober-November). Setelah masa pavarana usai, para bhikkhu bisa melakukan pengembaraan kembali seperti biasa
Informasi di atas memberitahukan kita bahwa jika musim Vassa jatuh di bulan Juli/Agustus maka 10 bulan berikutnya adalah bulan April/May, Bulan Vesakha

Beberapa Penyakit Yang Diderita Sang Buddha
Sekurangnya di paruh ke-2 pencerahan (di atas tahun ke-20), sang Buddha terkena beberapa penyakit, di antaranya:
  1. Di Rajagaha: terkena sembelit (Vinaya: Civara)
  2. Di Kapilavatu, di Nalaka/Kosala. Di Pava/Malla: menderita sakit punggung (Thera Apadana no.292: piṭṭhidukkhaṃ dan MN 53/SN 35.243; AN 10.67,68; DN 33)
  3. Di perbatasan antara Kosala-Kapilavatthu terkena sakit kepala kronis (Thera Apadana no.292: sīsadukkhaṃ) karena 3x berdiri di bawah pohon yang tidak rindang untuk menunggu raja Kosala Vidudabha dan pasukannya agar membatalkan niatnya menghancurkan Kapilavatthu
  4. di Veluva/Vesali dan Pava/Malla: dilanda sakit keras dengan rasa sakit menusuk terus menerus yang sangat mematikan [DN 16/Maha Parinibbana sutta, Ud 8.5/Cunda Sutta, SN 47.9] untuk di Pava disebutkan area yang sakit: lohitapakkhandikā (antara dada-abdomen memerah)
Tahun Terakhir Sang Buddha
DN 16/Maha Parinibbana Sutta [Juga di: SN 47.9/Gilāna Sutta] memberikan informasi tentang bulan-bulan terakhir sang Buddha, vassa (tempat kediaman musim hujan) terakhir sang buddha di Veluva (sekitar Vesali), yang menderita sakit saat itu dan setelah sembuh melanjutkan perjalanan hingga hari H-nya:
    Setelah Sang Bhagava tinggal lama di taman Ambapali, beliau berkata kepada Ananda: "Ananda, marilah kita pergi ke desa Beluva." "Baiklah, bhante," jawab Ananda. Demikianlah, Sang Bhagava bersama sejumlah besar bhikkhu tinggal di desa Beluva.

    22. Ketika itu Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu: "Sekarang pergilah, para bhikkhu, dan carilah tempat mana saja di sekitar Vesali ini di mana kalian dapat diterima oleh para kenalan dan sahabat dan tinggallah di sana selama musim hujan ini. Aku akan vassa di tempat ini di dusun Beluva." "Baiklah, bhante," kata para bhikkhu, dan mereka melakukan demikian, dan Sang Bhagavā menjalani musim hujan di Beluva.

    23. Atha kho bhagavā vassūpagatassa (Dan Sang Bhagava selama menjalani musim hujan) kharo ābādho uppajji (dilanda sakit keras), bāḷhā vedanā vattanti māraṇantikā (dengan rasa sakit menusuk/terus menerus yang sangat mematikan). Tā sudaṃ bhagavā sato sampajāno adhivāsesi avihaññamāno (namun Sang Bhagava dengan mengetahui sepenuhnya dalam perhatian menerimanya tanpa mengeluh)

    Kemudian terjadi pada Sang Bhagava: Tidak tepat bagiku tanpa memberitahukan pengikutku dan tanpa memberikan nasehat kepada bhikkhuSangha untuk padam sempurna. Aku harus mengerahkan upaya menundukan penyakit ini yang mengarahkan pada berlanjutnya kehidupan. Demikianlah Sang Bhagava mengerahkan upaya menundukan penyakit ini yang mengarahkan pada berlanjutnya kehidupan. Penyakit sang Bhagavapun mereda …

    … Ananda, Aku sekarang ini, jiṇṇo vuḍḍho mahallako (menua semakin rapuh) addhagato vayo anuppatto(menua menjadi usang) asītiko me vayo vattati (Aku hampir mencapai 80 tahun). Seyyathāpi, ānanda, jajjarasakaṭaṃveṭhamissakena yāpeti (Ananda, bagai sebuah kereta tua yang dapat jalan dengan diikat), evameva kho, ānanda, veṭhamissakena maññe tathāgatassa kāyoyāpeti (demikian kira-kira tubuh Sang Tathāgata dapat hidup dengan disokong). Ananda, Hanya ketika Sang Tathāgata tidak memperhatikan gambaran-gambaran dan dengan lenyapnya perasaan-perasaan tertentu, pikiran berada terpusat tanpa gambaran, maka Ananda, ketika itulah tubuh Sang Tathāgata dalam keadaan baik

    26. Oleh karenanya, Ānanda, Jadikan dirimu sebagai pulau, menjadikan dirimu sebagai pelindung, tidak dengan perlindungan lain, dengan Dhamma sebagai pulau, dengan Dhamma sebagai pelindung, tidak dengan perlindungan lain [+ melakukan 4 landasan perhatian] [DN 16/Maha Parinibbana Sutta]
Seusai musim vassa, beliau masih menetap disekitar Vesali, yaitu diantaranya yaitu di Kūṭāgārasālā, Mahavana:
    Demikianlah yang kudengar. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Vesālī di kūṭā¬gāra¬sā, mahāvana. Kemudian, pada suatu pagi, Sang Bhagavā merapikan jubah dan, membawa mangkuk dan jubahNya, memasuki Vesālī untuk menerima dana makanan. Ketika Beliau telah berjalan menerima dana makanan di Vesālī dan telah kembali dari perjalanan itu, setelah makan Beliau berkata kepada Yang Mulia Ānanda: “Bawalah alas duduk, Ānanda. Mari kita pergi ke cetiya Cāpāla .. “

    … Sang Bhagava berkata kepada Mara papima: "Pāpima, jangan kau menyusahkan dirimu. Saat parinibbana Sang Tathagata belum tiba, tiga bulan lagi Sang Tathagata akan Parinibbana”
    [Udana 6.1, SN 51.10 dan AN 8.70]
Setelah menetap beberapa lama di Kūṭāgārasālā, Mahavana, kemudian beliau pergi ke cetiya/kuil Capala, Vesali dan disana beliau bertemu Mara yang memohonnya agar Parinibbana saat dan hari itu juga, namun beliau menolaknya karena belum waktunya, kemudian menetapkan sendiri kapan beliau akan parinibbana:
    … Kemudian Sang Bhagavā, setelah bangun pagi, merapikan jubah, mengambil jubah dan mangkukNya, dan memasuki Vesālī untuk menerima dana makanan. Setelah makan sekembalinya dari menerima dana makanan, Beliau berkata kepada Yang Mulia Ānanda:

    "Bawa alas duduk, Ānanda. Kita akan pergi ke cetiya Cāpāla … Segera setelah Ānanda pergi, māro pāpimā (Māra penggoda) mendatangi Sang Bhagavā, berdiri di satu sisi, dan berkata: ‘Bhagavā, sudilah Yang Terberkahi sekarang mencapai Nibbāna akhir, sudilah Yang Sempurna menempuh Sang jalan sekarang mencapai Nibbāna akhir. Sekarang adalah waktunya bagi Sang Bhagavā untuk mencapai Nibbāna akhir. Karena Bhagavā pernah berkata:

    “pāpima, Aku tak akan mengakhiri hidupku, sebelum para [bhikkhu, bhikkhuni, Upasaka/umat awam pria dan Upasika/umat awam wanita] menjadi siswa yang sempurna, terlatih, terampil, menguasai Dhamma, terlatih dalam keselarasan dengan Dhamma, terlatih dengan baik dan berjalan di jalan Dhamma, yang telah lulus dari apa yang mereka terima dari Guru mereka, mengajarkan, menyatakan, mengukuhkan, membabarkan, menganalisa, menjelaskan; hingga mereka mampu menggunakan Dhamma untuk membantah ajaran-ajaran salah yang telah muncul, dan mengajarkan Dhamma yang memiliki hasil yang menakjubkan.

    'Dan sekarang, Bhagavā telah memiliki para [para bhikkhu, bhikkhuni, Upasaka/umat awam pria dan Upasika/umat awam wanita] menjadi siswa yang sempurna, terlatih, ...

    Sudilah Yang Terberkahi sekarang mencapai Nibbāna akhir, sudilah Yang Sempurna menempuh Sang Jalan sekarang mencapai Nibbāna akhir. Sekarang adalah waktunya bagi Sang Bhagavā untuk mencapai Nibbāna akhir

    Dan Sang Bhagavā menjawab: “pāpima, Aku tidak akan mencapai Nibbāna akhir sampai kehidupan suci telah mantap dan berkembang, menyebar, dikenal luas, diajarkan baik di antara para deva dan manusia di mana-mana.”

    Dan semua ini telah terjadi. kehidupan suci telah mantap dan berkembang...

    Sudilah Yang Terberkahi sekarang mencapai Nibbāna akhir, sudilah Yang Sempurna menempuh Sang Jalan sekarang mencapai Nibbāna akhir. Sekarang adalah waktunya bagi Sang Bhagavā untuk mencapai Nibbāna akhir.'

    9. Sang Bhagava berkata kepada Mara papima: "Pāpima, jangan kau menyusahkan dirimu. Saat parinibbana Sang Tathagata belum tiba, tiṇṇaṃ māsānaṃ accayena (tiga bulan lagi) Sang Tathagata akan Parinibbana
Setelah itu, Sang Buddha dan rombongan para bhikkhunya melanjutkan perjalanan ke beberapa tempat dan menetap selama waktu yang beliau inginkan:
    Cetiya Capala … Ananda, marilah kita pergi ke Kutagara Sala di Mahavana … pagi hari pergi ke Vesali ... Beliau memandang Vesali dengan pandangan sebagai gajah dan berkata kepada Ananda : "Ananda inilah yang terakhir kalinya Sang Tathagata meninjau Vesali. Marilah Ananda kita pergi ke Bhadagama" … Setelah Sang Bhagava cukup lama berada di Bhadagama, … ke Hattigama … ke Jambagama … ke Bhoganagara ... ke Pava ... Demikian Sang Bhagava tinggal di Pava bersama sejumlah besar bhikkhu dan tinggal di Ambavana milik Cunda, pandai besi.. [DN 16/Maha Parinibbana Sutta]
Tidak diketahui berapa lama beliau menetap di Ambavana, Pava, namun di hari terakhir dari batas 3 Bulan, masih ada di Pava dan hari itu ke Kusinara dan Parinibbana di sana

Jarak Tempuh 3 bulan Terakhir
Rajagaha – Kusinara (25 Yojana);
Rajagaha – Sungai Ganga (5 Yojana); Sungai Ganga – Vesali (3 Yojana). Total Rajagaha – Vesali (8 Yojana), sehingga Vesali – Kusinara (17 Yojanna) [atau versi Xuangsang: 19 Yojana].
Jarak Pava – Kusinara (3 Gavuta. Di mana 1 Yojana = 4 Gavuta, jadi 3 Gavuta = ¾ Yojana atau 15 Km/9.3 Mil), sehingga Vesali – Pava (16 ¼ Yojana/18 ¼ Yojana)

Perjalanan ini terjadi dalam 3 bulan terahir, yaitu mulai dari cetiya Capala. Menurut kitab komentar Sang Buddha dan para bhikkhu biasanya berjalan 1 yojana/hari, jika Vesali-Pava ditempuh tanpa menetap akan tiba di hari ke-17/19 namun di sutta juga dikatakan bahwa beliau menetap di tempat-tempat yang beliau singgahi, dengan lama waktu, “yathābhirantaṃ (selama yang Beliau inginkan)”, sehingga tidak pasti lama waktunya.

Bulan apa Parinibbana?
Oleh karena Sutta dan Vinaya tidak menyatakan bulan Parinibbananya sang Buddha, maka terdapat beberapa variasi pendapat mengenai bulannya.
  1. Xuansang, seorang Biksu China abad ke-7 Masehi mencatat bahwa aliran Sarvastivada merayakan Parinibbana sang Buddha pada hari ke-8, minggu ke-2, di bulan Kattika (Oct-Nov). Pendapat ini beranggapan bahwa sang Buddha sakit di awal musim hujan dan sembuh tak lama kemudian, kemudian MASIH DI AWAL musim hujan, Sang Buddha pergi ke cetiya Capala (sutta TIDAK ADA menyebutkan ini terjadi di musim hujan), 3 bulan kemudian, beberapa hari setelah musim hujan berakhir, yaitu di buan Kattika, sang Buddha Parinibbana.

  2. Sang Buddha wafat 3 bulan setelah musim vassa usai, yaitu di bulan Magha (Jan-Feb). Pendapat ini beranggapan bahwa segera SETELAH masa vassa USAI, yaitu di bulan Kattika, sang Buddha pergi ke cetiya Capala (sutta juga TIDAK ADA menyebutkan ini terjadi di bulan Kattika), 3 bulan setelah bulan Kattika, yaitu bulan Magha, sang Buddha Parinibbana. Sample tradisi Mahayana Jepang, yaitu Nehan-e, di 15 Februari 468 SM (alasan penetapan tanggal ini bervariasi)

  3. Pendapat tradisional: Sang Buddha parinibbana 9 atau 10 bulan sejak dari permulaan vassa di Veluva, yaitu di bulan Vesakha (Apr-May). Pendapat ini tercantum dalam: Mahavamsa 3.2 (Buddha Parinibbana di bulan Vesakha). Mahavamsa 35.7 (Raja Vasabha/67 M – 111 M mengadakan 44x Festival Vesakha), Dipavamsa 1.24 dan 5.4 (Konsili ke-1 diadakan di bulan ke-2 musim Vassa, 4 bulan setelah Parinibbananya sang Buddha) juga Buddhaghosa dalam beberapa kitab komentarnya, (di antaranya dengan kalimat 10 bulan sebelum parinibbana bervasa di Beluva) dan lain sebagainya
Bulan mana yang benar?

Pertama-tama,
VInaya telah menetapkan: TIDAK BEPERGIAN selama musim Vassa [Vinaya, Mahavagga 3.1-selesai]. Oleh karenanya, perjalanan sang Buddha dan rombongan para bhikkhunya, TIDAK DAPAT dilakukan selama musim hujan, di samping ini akan mengundang celaan masyarakat dan para petapa aliran lain, juga menjadi TIDAK KONSISTEN dengan aturan yang ditetapkan sang Buddha sendiri

Sutta menyatakan di saat sang Buddha parinibbananya, pohon sala berbunga DILUAR MUSIMNYA
    ..pergi ke hutan Sala di daerah suku Malla, dekat Kusinara.. Setelah tiba, Sang Bhagava berkata kepada Ananda: "Ananda, tolong sediakan tempat berbaring di antara pohon-pohon Sala kembar itu, saya ingin berbaring."…Sang Bhagava membaring diri pada sisi kanan dengan sikap bagaikan singa, meletakkan salah satu kakinya pada kakinya yang lain..Pada saat itu tiba-tiba dua pohon Sala kembar itu berbunga walaupun BUKAN PADA MUSIMNYA untuk berbunga. Bunga-bunga itu jatuh bertaburan di atas tubuh Sang Tathagata … Kemudian Sang Bhagava berkata kepada Ananda: "Ananda, pohon Sala kembar ini berbunga semerbak, meskipun sekarang BUKAN MUSIMNYA BERBUNGA [DN 16/Maha Parinibbana Sutta]

    Pohon sala (Shorea robusta) mulai berbunga di MUSIM HUJAN [Juli - November] (Paradox of leaf phenology: Shorea robusta is a semi-evergreen species in tropical dry deciduous forests in India, hal, 1822). Pohon Sala sering keliru dianggap sebagai cannonball tree [termasuk kelompok Couroupita guianensis. Sering disebut Shiva linga dan Naga lingam. Pohon canonball mulai berbunga pada pertengahan musim panas (May-Juli) - sebelum musim hujan [Juli-Agustus], namun juga dikatakan pohon ini berbunga hampir di sepanjang tahun]
Dengan informasi ini, jika parnibanna terjadi beberapa hari setelah musim hujan usai TIDAK KONSISTEN dengan informasi sutta. Disamping itu, sutta juga TIDAK MENYEBUTKAN adanya pelaksaaan Kathina yang dilakukan penduduk Vesali. Ini karena sang Buddha MASIH MENETAP SEKIAN LAMA di sekitar Vesali walaupun musim hujan telah usai, yaitu di kūṭāgārasālā, Mahavana dan setelahnya baru beliau dan rombongan pergi ke cetiya Capala:
    Demikianlah yang kudengar. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Vesālī di Kūṭā¬gāra¬sā, Mahāvana. Kemudian, pada suatu pagi, Sang Bhagavā merapikan jubah dan, membawa mangkuk dan jubahNya, memasuki Vesālī untuk menerima dana makanan. Ketika Beliau telah berjalan menerima dana makanan di Vesālī dan telah kembali dari perjalanan itu, setelah makan Beliau berkata kepada Yang Mulia Ānanda: “Bawalah alas duduk, Ānanda. Mari kita pergi ke cetiya Cāpāla .. “

    … Sang Bhagava berkata kepada Mara papima: "Pāpima, jangan kau menyusahkan dirimu. Saat parinibbana Sang Tathagata belum tiba, tiga bulan lagi Sang Tathagata akan Parinibbana”
    [Udana 6.1, SN 51.10 dan AN 8.70]
Berdasarkan beberapa alasan ini, maka pendapat sang Buddha wafat di bulan Kattika adalah TIDAK TEPAT

Berapa lama sang Buddha di Kūṭāgārasālā, Mahavana sebelum ke cetiya Capala?
Walaupun Sutta TIDAK MENYEBUTKAN kata, “yathābhirantaṃ (selama yang Beliau inginkan)” namun hanya menggunakan kata “viharati” (menetap) ketika berada di Kūṭāgārasālā, Mahavana namun lamanya waktu menetap dapat diketahui karena sutta juga memberikan indikasi jelas bahwa saat sang Buddha parinibbana adalah saat MUSIM PANAS:

Ke-1,
Di hari terakhir, dalam perjalanan dari Pava ke Kusinara, Sang Bhagava berhenti di bawah sebatang pohon. Beliau kehausan (pipāsito) dan meminta Ananda untuk mengambil air di sungai agar dapat beliau minum
    Sang Buddha:
    "Ananda tolonglah bawakan aku sedikit air, aku haus dan ingin minum."

    Ananda:
    "Bhante, baru saja sejumlah 500 pedati telah menyeberangi cakkacchinna udaka paritta/nadī cakkacchinnā parittā (aliran air yang dangkal/sungai dengan air yang sedikit), dan roda-rodanya telah mengeruhkan air sungai ini. Sebaiknya kita pergi ke sungai Kakutha yang tidak jauh dari sini. Air sungai itu sangat jernih, sejuk dan bening. Sungai itu mudah dicapai dan letaknya sangat baik. Di sana bhante dapat menghilangkan rasa haus dan menyegarkan tubuh
Sungai dengan air yang sedikit hingga dapat diseberangi rombongan pedati sangat wajar terjadi di musim panas, bukan?

Ke-2,
Sang Buddha mandi 2x di sungai Kakhuda:
    .. Kemudian Sang Bhagava pergi ke sungai Kakuttha bersama dengan sekumpulan para bhikkhu. Setelah tiba di tepi sungai itu, Sang Bhagava mandi. Setelah Sang Bhagava mandi, Beliau pergi ke Ambavana. Di tempat ini Beliau berkata kepada Cundaka: "Cundaka tolonglah lipat jubah luarku, lipatlah dalam empat lipatan lalu letakkan di bawah tubuhku. Aku merasa lelah dan ingin beristirahat sebentar."… Kemudian setelah bangun, Sang Buddha pergi ke sungai Kakuttha yang airnya jernih sejuk menyegarkan. Beliau mandi untuk menyegarkan badannya yang lelah.. [DN 16/Maha Parinibbana Sutta]
Mandi sampai 2x sangat wajar jika terjadi di hari yang sangat panas, di musim panas, bukan?

Ke-3,
Bhikkhu Upavana mengipasi Sang Buddha
    Pada waktu itu Upavana sedang di hadapan Sang Bhagava, sambil mengipasi beliau.. [DN 16/Maha Parinibbana Sutta]
Mengipasi adalah kegiatan yang wajar terjadi di hari yang sangat panas, di musim panas, bukan?

Ke-4,
Di 1 minggu setelah wafatnya sang Buddha,
    "Pada saat itu seluruh Kusinara juga tumpukan sampah, tertutup bunga-bunga pohon koral (mandārava-puppha) hingga setinggi lutut." [DN 16] dan: "Saat itu seorang Ājīvaka (petapa telanjang) yang tengah memegang bunga pohon-koral berjalan dari Kusinārā menuju Pava. YM Kassapa melihatnya dari jauh dan ketika telah mendekat, beliau berkata kepadanya: ‘Sahabat, apakah engkau mengenal guru kami?’ ‘Ya, sahabat, aku mengenal Beliau. Hari ini adalah seminggu setelah Petapa Gotama Parinibbana. Oleh karenanya, Aku menggenggam bunga pohon-koral ini.’" [DN 16 dan Cullavaga Vinaya]
Pohon koral berbunga di bulan Maret-April [Erythrina variegata, Indian coral tree; "A Manual of Gardening for Western India". 2nd ed., hal.68, "Floriculture in India". hal.216 dan "FORTY COMMON INDIAN TREES and How to Know Them", hal.3]. Bulan Vesakha (Diawali dan diakhiri bulan mati) adalah di April-May.

Berdasarkan beberapa alasan ini, maka pendapat sang Buddha wafat di bulan Magha adalah TIDAK TEPAT, sehingga pendapat bahwa sang Buddha parinibbana di musim panas, di bulan Vesakha (April-May) sangat wajar untuk diterima.

Makanan Terakhir Sang Buddha: Sūkara-maddava
Salah satu kegiatan yang dilakukan sang Buddha pada hari terakhir sebelum parinibbana adalah menerima dana makanan terakhir. Kegiatan ini merupakan tradisi yang dilakukan para Buddha masa lalu maupun di masa depan sebelum parinibbana:
    13. Setelah Sang Bhagava lama berdiam di Bhoganagara, beliau berkata kepada Ananda : "Ananda, marilah kita pergi ke Pava." "Baiklah, bhante," jawab Ananda. Demikian Sang Bhagava tinggal di Pava bersama sejumlah besar bhikkhu dan tinggal di Ambavana milik Cunda, pandai besi.

    14. Cunda pandai-besi, setelah mengetahui bahwa Sang Bhagava telah tiba lalu berkata: "Sang Bhagava, telah tiba di Pava dan berdiam di Ambavana milikku." Cunda lalu menghadap Sang Bhagava, sesudah memberi hormat dengan khidmat kepada beliau, kemudian duduklah ia pada salah satu sisi. Sang Bhagava mengajarkan Cunda, pandai-besi, tentang dhamma yang telah membangkitkan semangatnya dan menyebabkan hatinya sangat gembira.

    15. Kemudian Cunda berkata kepada Sang Bhagava: "Dapatkah kiranya Sang Bhagava menerima undangan kami untuk makan esok pagi bersama dengan para bhikkhu?" Sang Buddha bersikap diam. Dengan sikapnya yang diam itu berarti Sang Bhagava menyetujui permohonan Cunda.

    16. Karena telah yakin akan persetujuan Sang Bhagava itu. Maka Cunda, pandai-besi, berdiri dari tempat duduknya. Menghormat dengan khidmat kepada Sang Bhagava lalu mengundurkan diri meninggalkan beliau.

    17. Cunda pandai-besi, sejak semalam telah membuat makanan yang keras serta yang lunak dan makanan yang terdiri dari Sūkara-maddava. Kemudian ia memberitahukan kepada kepada Sang Bhagava: "Bhante, silahkan. Makanan telah siap."

    18. Pada waktu pagi Sang Bhagava menyiapkan diri, membawa patta dan jubah, pergi dengan para bhikkhu ke rumah Cunda. Di sana beliau duduk di tempat yang telah disediakan, dan berkata kepada Cunda: "Hidangan Sūkara-maddava yang telah saudara sediakan, hidangkanlah itu untukku. Sedangkan makanan lain yang keras dan lunak, saudara dapat hidangkan kepada para bhikkhu."

    "Baiklah, bhante," jawab Cunda.

    Sūkara-maddava yang telah disediakannya, dihidangkannya untuk Sang Bhagava, sedangkan makanan keras dan lunak lainnya dihidangkannya kepada para bhikkhu [Mahaparinibbana Sutta]
Apa arti Sūkara-maddava?
Kata “Sūkara-Maddava” muncul di: DN 16/Mahaparinibbana Sutta, Ud 8.5/Cunda Sutta dan juga Milinda Panha. Kitab komentar menunjukan bahwa dikisaran abad ke-5 M, arti kata tersebut sudah bervariasi yaitu: daging, nasi campur, bambu, sejenis rasa, teknik membuat senang dan jamur:
    Sūkaramaddava adalah daging yang telah tersedia, yang tidak terlalu muda dan tua dari sebuah babi/kepala babi (Sūkaramaddavanti nātitaruṇassa nātijiṇṇassa ekajeṭṭhakasūkarassa pavattamaṃsaṃ), empuk (mudu) dan lembut/lentur adanya (Taṃ kira mudu ceva siniddhañca hoti), disiapkan dan dimasak dengan baik (taṃ paṭiyādāpetvā sādhukaṃ pacāpetvāti attho). Ada yang mengatakan 'Sūkaramaddava adalah nasi lembut yang diproses dengan kuah campuran lima produk dari sapi, ini semacam nama sebuah masakan' (Eke bhaṇanti – ‘sūkaramaddavanti pana muduodanassa pañcagorasayūsapācanavidhānassa nāmetaṃ, yathā gavapānaṃ nāma pākanāma’’nti). Lainnya mengatakan 'Sūkaramaddava adalah nama teknik (vidhi) untuk membuat senang (rasāyana). Jadi, didatangkan ahli pembuat senang (guru rasāyana), yaitu Cunda, 'agar membuat senang sehingga Parinibanna Sang Bhagawa tidak jadi' (Keci bhaṇanti – ‘sūkaramaddavaṃ nāma rasāyanavidhi, taṃ pana rasāyanasatthe āgacchati, taṃ cundena – ‘bhagavato parinibbānaṃ na bhaveyyā’ti rasāyanaṃ paṭiyatta’’nti). Di sana para deva empat benua besar (mahādīpa) dan dua ribu pengiring memasukkan nutrisi (oja) (Tattha pana dvisahassadīpaparivāresu catūsu mahādīpesu devatā ojaṃ pakkhipiṃsu.) [Mahāparinibbānasuttavaṇṇanā: Kammāraputtacundavatthuvaṇṇanā]

    Sukara maddava adalah bagian yang lunak dari daging babi yang sudah tersedia (Sūkaramaddavanti sūkarassa mudusiniddhaṃ pavattamaṃsa) seperti kata Maha-atthakata (mahāaṭṭhakathāyaṃ vuttaṃ). yang lain..katakan (Keci pana..vadanti) sukara maddava bukanlah daging babi, batang bambu yang telah diinjak-injak babi (sūkaramaddavanti na sūkaramaṃsaṃ, sūkarehi madditavaṃsakaḷīro). lainnya (Aññe) Jamur payung yang tumbuh dari gemburan tanah injakan babi (sūkarehi madditappadese jātaṃ ahichattaka), lainnya lagi..katakan (Apare pana..bhaṇiṃsu) Sukara maddava adalah nama suatu rasa (sūkaramaddavaṃ nāma ekaṃ rasāyana) [komentar dari Maha-atthakata (Dhammapala, 5 M) yang dikutip dalam Udāna-aṭṭhakathā, Pāṭaligāmiyavaggo: Cundasuttavaṇṇanā]
Menurut ahli botani, komposisi jamur: 90% air, kurang dari 3% protein, kurang dari 5 % karbohidrat, kurang dari 1% lemak dan 1 % mineral, garam dan vitamin, Komposisi ini KURANG COCOK untuk keperluan energi yang besar, untuk sekelompok orang yang makan hanya 1x, apalagi telah diketahui, bahwa beliau sendiri akan parinibbana.

Sangat mengherankan melihat hubungan yang dijelaskan di kitab komentar antara jamur dan binatang babi, tampaknya, alasan mengapa jamur menjadi terkait dengan binatang babi adalah karena untuk mendapatkan jamur tersebut, babi digunakan sebagai pelacaknya:
  1. Kompas, ”Mengenal Jamur Pencabut Nyawa" sub: Babi pelacak, Rabu, 05 April 2006, 20:24 WIB: ‘[..] Kalau jenis jamur beracun dikerat, kemudian dilekatkan pada benda yang terbuat dari perak asli (misal pisau, sendok, garpu, atau cincin), maka pada permukaan benda tersebut akan ada warna hitam (karena xulfida) atau kebiruan (karena cianida)..para pemburu jamur di beberapa negara Eropa, terutama tradisi-tradisi di negara-negara Skandinavia (Swedia, Norwegia, Denmark, dan sebagainya)...biasanya akan membawa binatang "pelacak jamur" andalan. Bukan anjing, tapi babi yang sebelumnya sudah diberi latihan khusus...membedakan mana jamur yang bisa dimakan/tidak.’.

  2. Cara Menghindari Kematian karena Makan Jamur Liar", H Unus Suriawiria, Senin, 31 Januari 2005: '(4) Kalau jenis jamur beracun dimasak/dipepes bersama nasi putih, nasi tersebut akan berubah warna menjadi coklat, kuning, merah, atau hitam...Bagi pemburu jamur di beberapa negara Eropa-misalnya, acara tradisi di negara-negara Skandinavia (Sweden, Norwegia, dan sebagainya)-kalau musimnya berburu jamur selalu akan membawa babi yang sudah terlatih, yang dapat membedakan mana jamur beracun dan mana yang tidak.'
Seorang yang sangat berbakti, yang sedang mengundang sekelompok tamu yang sangat agung untuk makan dirumahnya, bagaimana mungkin dalam event yang sepenting itu, Ia akan menghidangkan makanan yang sangat beresiko tinggi? Oleh karenanya, kata sukara-maddava yang diartikan sebagai jamur adalah sangatlah meragukan.

Disamping itu, di bahasa pali sendiri sudah ada kata tersendiri yang merujuk pada arti “jamur”, yaitu: "chattaka" atau "pappaṭaka". Sample: ahihattaka/ahichattaka" = jamur ‘payung ular’. Bahasa Hindi: 'sarpchatr'. Bahasa Bengali: 'byaner chata' atau ‘payung katak’ [lihat: Rhys Davis: hal.92, 274; Buddhadatta Mahatera: hal.45, 182]. Sementara kata “sūkara” = babi hutan/wild boar. Kata ini digunakan untuk membedakannya dengan babi/boar (varāha) [“Vedic Index of Names and Subjects”, Vol 2;Vol 5, Arthur Berriedale Keith, hal.461]. Kemudian kata “Maddava/Madhava” = lembut, empuk, halus.

Prof. Rhys Davids, ketika menterjemahkan teks-teks Buddhist dan Milianda Panha, Ia terjemahkan kata itu sebagai `bagian daging babi yang empuk’ (“Milianda Panha”, buku ke-5, bab 3, hal 244, cat kaki.1). Miss I.B. Horner dalam terjemahan “Madhuratthavilāsinī” menyatakan: “..Oleh karenanya, bagian ini memberikan bukti bahwa sukara-maddava, makanan terakhir sang Buddha, seharusnya TIDAK diterjemahkan seperti yang kadang sebagai "jamur", namun lebih sebagai bagian yang lembut, 'maddava', dari (daging) babi hutan..” (..Therefore, this passage provides evidence that suukara-maddava, the Buddha Gotama’s last meal, should not be translated as sometimes it has been as “truffles”, but rather as tender, ‘maddava’, (flesh or meat) from a boar..) [Introduction hal. xxxix]

Para kelompok vegetarian cenderung mengartikan kata ini sebagai jamur, namun sayangnya, Buddhisme BUKANLAH VEGETARIAN dan BOLEH makan daging, malah ada istilah sukaramamsa, yang berarti daging babi dan juga makanan terakhir semua Buddha dalam Buddhavamsa, jelas disebutkan makanan yang mengandung daging:
  1. Terdapat 3 syarat untuk dapat mengkonsumsi daging, yaitu: TIDAK melihat secara langsung pada saat binatang tersebut dibunuh, TIDAK Mendengar secara langsung suara binatang tersebut pada saat dibunuh dan Mengetahui bahwa hidangan daging itu, TIDAK KHUSUS dibunuh agar dapat diberikan padanya [MN 55/Jivaka sutta].

  2. Selain 3 syarat di atas, terdapat juga 10 macam daging yang tidak diperkenankan dikonsumsi oleh para bhikkhu, yaitu: daging manusia, daging gajah, daging kuda, daging anjing, daging ular, daging singa, daging harimau, daging macan tutul, daging beruang, dan daging serigala atau hyena [Mahavagga Pali, Vinaya Pitaka, Vol.3.58], sehingga selain 10 macam daging tersebut, boleh dikonsumsi para Bhikkhu

  3. Seorang perumah tangga dari Vesali bernama Ugga yang menyajikan daging babi kepada Sang Buddha: "Di hadapan Guru, aku mendengar dan tahu dari Sang Bhagava sendiri bahwa seseorang yang memberikan hal menyenangkan, akan menerima kegembiraan, aku menyenangi daging babi (sūkaramaṃsaṃ) dengan sari buah jujube. Semoga sang Bhagava menerimanya dengan perasaan kasih. Dengan perasaan kasihnya Sang Buddha menerima" (Sammukhā metaṃ, bhante, bhagavato sutaṃ sammukhā paṭiggahitaṃ: ‘manāpadāyī labhate manāpan’ti. Manāpaṃ me, bhante, sampannakolakaṃ sūkaramaṃsaṃ; taṃ me bhagavā paṭiggaṇhātu anukampaṃ upādāyā”ti. Paṭiggahesi bhagavā anukampaṃ upādāya) [AN 5.44/Manāpadāyī sutta]

  4. Buddhavamsa: Buddhapakiṇṇakakathā:
    Sabbabuddhānaṃ samattiṃsavidhā dhammatā (30 hal yang selalu terjadi pada para Buddha), di no.29 ada kalimat, parinibbānadivase maṃsarasabhojanaṃ (Di hari Parinibannanya makan makanan yang mengandung daging). Arti kata "maṃsa" adalah daging. [Detail lainnya, lihat: Vegetarian, Makanan Religius? Bukan! Ia Cuma Pilihan Selera Makan..Ngga Lebih Dari Itu!]
Sehingga sūkara-maddava TIDAK TEPAT diartikan jamur, seharusnya “daging babi yang empuk”

Cunda dan semua mengetahui bahwa Sang Buddha sudah tua dan di kondisi lemah, dari sisi pandangan awam makanan yang bernutrisi dan lembut adalah sangat tepat disajikan untuk itu daging babi muda sangatlah memenuhi kreteria ini.
    [..]19. Sesudah itu Sang Bhagava berkata kepada Cunda: "Cunda, sisa-sisa sūkara-maddava yang masih tertinggal, tanamkanlah dalam sebuah lobang, karena kami lihat di dunia ini di antara para dewa, Mara, Brahmana, para samana atau Brahma, atau pun manusia, tidak ada seorang pun yang sanggup memakannya atau mencernakannya, kecuali Sang Tathagata sendiri."

    Cunda menjawab: "Baiklah, bhante."

    Demikianlah sisa sūkara-maddava yang tertinggal itu ditanamkannya dalam sebuah lobang. [..] [Mahaparinibbana Sutta]
Mengapa sisa sūkara-maddava perlu di tanam dalam sebuah lubang?
Ini bukan tentang sūkara-maddava-nya, namun setiap makanan yang diperuntukan khusus kepada sang Buddha jika tidak habis adalah harus di kubur. Padanan tentang makanan yang diperuntukan khusus kepada sang Buddha jika tidak habis juga ada di Sn 1.4/KASIBHARADVAJA SUTTA, (tahun ke-11 kebuddhaan):
    [..]Kemudian Kasibharadvaja mengisikan nasi-susu ke dalam mangkuk emas yang besar dan mempersembahkannya kepada Sang Buddha sambil berkata: 'Silakan Yang Mulia Gotama menyantap nasi susu ini. Engkau memang petani karena alasan pembajakan itu; memang hal itu memberikan buah kekekalan.'

    'Apa yang diperoleh lewat pembacaan mantra-mantra bukanlah makananku. O, brahmana, ini bukanlah praktek bagi mereka yang melihat dengan benar. Para Buddha menolak apa yang diperoleh lewat pembacaan mantra.'

    'Engkau harus mempersembahkan makanan dan minuman lain kepada pertapa agung yang telah mantap, yang telah bebas dari kekotoran mental dan penyesalan. Itu merupakan ladang bagi dia yang mencari jasa kebajikan.'

    'Kalau demikian, Yang Mulia Gotama, kepada siapakah saya harus memberikan nasi-susu ini?'

    O, brahmana, di dunia termasuk para dewa, Mara, Brahma, serta di antara para brahmana dan manusia, aku tidak melihat siapa pun kecuali Sang Tathagata

    Karena itu, O brahmana, sebaiknya engkau membuang nasi-susu ini di suatu tempat yang tidak ada rumputnya, atau membuangnya ke air di mana tidak ada makhluk hidupnya.'

    Maka Kasibharadvaja membuang nasi susu itu ke dalam air yang tidak mengandung kehidupan. Pada saat itu terdengar bunyi mendesis disertai banyak uap dan asap dari semua sisi, persis seperti mata bajak yang telah dipanaskan sepanjang hari lalu dicelupkan ke dalam air menghasilkan bunyi desis dan mengeluarkan uap serta asap di semua sisi.

    Kemudian Kasibharadvaja, dengan perasaan amat terpukau dan bulu kuduk berdiri, mendekati Sang Buddha dan meletakkan kepalanya di kaki Sang Buddha. Dia berkata: 'Sungguh menakjubkan, Yang Mulia Gotama, sungguh luar biasa, Yang Mulia Gotama![..]
Juga di SN 7.9/Sundarika Sutta atau di Sagatha-Vagga 7.1.9, yaitu makanan yang telah didanakan khusus kepada seorang Samma Sambuddha, tidak dapat dimakan oleh mahluk lain dan jika bersisa maka dibuang di tempat yang tidak ada rumputnya atau membuangnya ke air dimana tidak ada mahluk hidupnya. Salah satu alasan mengapa makanan tersebut tidak dapat dimakan mahluk lain, kitab komentar menyampaikan bahwa para deva ikut berpartisipasi pada dana makanan dengan memberikan nutrisi.

Lokasi nyeri yang di alami sang Buddha adalah di pakkha (pectus, atau area antara leher dan abdominal) memerah (lohitapakhandika) tanpa adanya muntah-muntah dan/atau tanpa adanya mencret darah.
    [Setelah mengajarkan Dhamma pada Cunda] beliau bangun dari tempat duduknya pergi meninggalkan Cunda.

    20. Sesudah Sang Bhagava menyantap santapan yang dihidangkan oleh Cunda, pandai-besi itu, kharo ābādho uppajji (sakit keras melandanya), lohitapakkhandikā (Area antara dada - diagframa/abdomen memerah) pabāḷhā vedanā vattanti māraṇantikā (rasa sakit menusuk/terus menerus sangat mematikan). Tā sudaṃ bhagavā sato sampajāno adhivāsesi avihaññamāno (Sang Bhagava mengetahui sepenuhnya dalam memperhatikan selama kejadian tanpa mengeluh). Kemudian Sang Bhagava berkata kepada Ananda: "Ananda, marilah kita ke Kusinara."

    "Kami telah mendengar: 'Ketika Sang Bhagava makan hidangan yang dihidangkan oleh Cunda, dengan ketabahan hati dan ketenangan beliau menahan penderitaan yang hebat.' Hal ini terjadi karena Sang Bhagava makan Sukaramaddava (daging babi berusia muda) yang dihidangkan oleh Cunda. Tetapi dengan tenang dan tabah beliau berhasil menahan rasa sakit yang datang sekonyong-konyong itu. 'Marilah kita ke Kusinara,' kata beliau dengan penuh kesabaran." [..]

    [Kata "kami telah mendengar", adalah para pembicara lainnya, yaitu mereka yang berada di konsili ke-1, yang terjadi 3 bulan setelah wafatnya sang Buddha.] [Mahaparinibbana Sutta]
Kalimat: "Lohitapakkhandikā pabāḷhā vedanā vattanti māraṇantikā.", dalam terjemahan kata perkata:
    Lohita/rahita: merah/darah. Kata darah dalam pali adalah Pupphaka/puppha/pubbaka.
    Pakkha: pectus (The part of the human torso between the neck and the diaphragm or the corresponding part in other vertebrates). Perlu di ketahui, kamus menyampaikan arti Pakkhandaka / pakkhandin / pak-khandikā: diare/dysentri dengan tambahan kata lohita, namun arti itu tanpa referensi jelas, kamus menyampaikannya seperti ini: "Ved. (?) praskandikā, BR. without refs". Pabāḷhā: tajam, keras (untuk sakit).
    Vedana: Perasaan.
    Vattanti: berkelanjutan/terus menerus.
    māraṇa: mati. antika: hampir di akhir.

    Sedangkan dalam bahasa pali dan sanskrit terdapat kata yang digunakan untuk arti diare/disentri: atisara [diare, untuk yang berdarah adalah rattatisara]. Sanskrit: Jvaratisara (diare dengan demam). Untuk disentri, sanskritnya adalah pakvatisara: Disentri yang kronis. Kata-kata atisara/rattatisara tidak digunakan di mahaparinibanna sutta


Apa Nasehat Terakhir Sang Buddha?
Di setiap tempat beliau menetap, beliau memberikan wejangan-wejangan, berikut ini adalah wejangan-wejangan yang disampaikan dalam 10 bulan terakhirNya sebelum Parinibbana:

Di Beluva (Musim Vassa terakhir)
Ananda, Aku sekarang ini), menua semakin rapuh, menua menjadi usang, Aku hampir mencapai 80 tahun. Ananda, bagai sebuah kereta tua yang dapat jalan dengan diikat), demikian kira-kira tubuh Sang Tathāgata dapat hidup dengan disokong. Ananda, Hanya ketika Sang Tathāgata tidak memperhatikan gambaran-gambaran dan dengan lenyapnya perasaan-perasaan tertentu, pikiran berada terpusat tanpa gambaran), maka Ananda, ketika itulah tubuh Sang Tathāgata dalam keadaan baik

Oleh karenanya, Ānanda, Jadikan dirimu sebagai pulau, menjadikan dirimu sebagai pelindung, tidak dengan perlindungan lain, dengan Dhamma sebagai pulau, dengan Dhamma sebagai pelindung, tidak dengan perlindungan lain. Dan bagaimanakah seorang bhikkhu menjadikan dirinya sebagai pulau, menjadi dirinya sebagai pelindung, tidak dengan perlindungan lain, dengan Dhamma sebagai pulau, dengan Dhamma sebagai pelindung, tidak dengan perlindungan lain?

Di sini, seorang bhikkhu:
  1. kāye kāyānupassī (terkait jasmani merenungkan jasmani), virahati ātāpī sampajāno satimā (berada tekun dalam perhatian dengan sepenuhnya mengetahui) vineyya loke abhijjhādomanassaṃ (setelah menyingkirkan kerinduan dan kegundahan akan dunia).
  2. Vedanāsu vedanānupassī (terkait perasaan merenungkan perasaan)..,
  3. citte cittānupassī (terkait pikiran merenungkan pikiran)...
  4. dhammesu dhammānupassī (terkait objek pikiran merenungkan objek pikiran)...
Itu, Ānanda, adalah bagaimanakah seorang bhikkhu menjadikan dirinya sebagai pulau, ... tidak dengan perlindungan lain. Dan siapapun, yang hidup di masa-Ku atau setelahnya menjadikan dirinya sebagai pulau, ... tidak dengan perlindungan lain, tamatagge (akan menjadi yang tertinggi), yang menjadi para bhikkhuku itu, jika mereka mau berlatih

Di Kutagara Sala (3 bulan sebelum Parinibbana)
"Kini, para bhikkhu, kami katakan kepada kalian bahwa dhamma ini merupakan pengetahuan yang langsung, yang telah kuajarkan kepada kalian semuanya. Seharusnya kalian pelajari benar-benar, pelihara, kembangkan dan praktekkan berulang-ulang. Dengan demikian kehidupan yang suci akan terwujud, dan semoga dapat berlangsung lama demi manfaat dan kebahagiaan banyak makhluk, demi belas kasih terhadap dunia, demi manfaat dan kebahagiaan para dewa dan manusia

Para bhikkhu apakah sesungguhnya dhamma yang telah kuajarkan?

Pelajaran itu meliputi (Note: 37 Boddhipakkhiyadhamma/Sattatiṁsā Bodhipakkhiyadhammā):
  1. cattāro satipaṭṭhānā (4 landasan perhatian: perenungan pada Jasmani/Kāyānupassanā, Perasaan/Vedanānupassanā, Pikiran/Cittānupassanā, & Bentukan pikiran/Dhammānupassanā)

  2. cattāro sammappadhānā (4 usaha benar: anuppannānaṃ pāpakānaṃ akusalānaṃ dhammānaṃ anuppādāya chandaṃ janeti (memunculkan keinginan untuk tidak memunculkan kondisi-kondisi tidak bermanfaat yang belum muncul); Uppannānaṃ pāpakānaṃ akusalānaṃ dhammānaṃ pahānāya chandaṃ janeti (memunculkan keinginan untuk meninggalkan kondisi kondisi tidak bermanfaat yang telah muncul); Anuppannānaṃ kusalānaṃ dhammānaṃ uppādāya chandaṃ janeti (memunculkan keinginan untuk memunculkan kondisi-kondisi bermanfaat yang belum muncul) dan; Uppannānaṃ kusalānaṃ dhammānaṃ ṭhitiyā asammosāya bhiyyobhāvāya vepullāya bhāvanāya pāripūriyā chandaṃ janeti (memunculkan keinginan untuk mempertahankan kondisi-kondisi bermanfaat yang telah muncul, untuk ketidakmundurannya, untuk meningkatkannya, untuk memperluasnya, dan memenuhinya melalui pengembangan)

  3. cattāro iddhipādā (4 landasan kekuatan: Chanda samādhi padhāna saṅkhāra samannāgataṁ (Keterpusatan pikiran dari keinginan disertai kerja keras); Viriya samādhi padhāna saṅkhāra samannāgataṁ (Keterpusatan pikiran dari ketekunan disertai kerja keras); Citta samādhi padhāna saṅkhāra samannāgataṁ (Keterpusatan pikiran dari pikiran disertai kerja keras) dan; Vimaṁsa samādhi padhāna saṅkhāra samannāgataṁ (Keterpusatan pikiran dari penyelidikan pikiran disertai kerja keras)

  4. pañcindriyāni (5 Indria spiritual: keyakinan/saddhā), usaha/viriya, perhatian/sati, pikiran terpusat/samādhi dan kebijaksanaan/paññā)

  5. pañca balāni (5 Kekuatan: Keyakinan/Saddhā; ketekukan usaha/Viriya; Perhatian/Sati; Pikiran terpusat/Samādhi dan kebijaksanaan/Paññā)

  6. satta bojjhaṅgā (7 faktor penerangan sejati: perhatian/Sati; Penyelidikan keadaan/Dhammavicaya; ketekunan usaha/Viriya; Semangat kegembiraan/Pīti; Ketenangan/Passaddhi; Pikiran terpusat/Samādhi dan Kesimbangan perasaan/Upekkhā)

  7. Ariyo Aṭṭhaṅgiko Maggo (8 jalan mulia: Pandangan benar/Sammādiṭṭhi; Kehendak benar/Sammāsaṅkappo; Ucapan benar/Sammāvācā; Perbuatan benar/Sammākammanto; Pencaharian benar/Sammā-Ājīvo; Usaha benar/Sammāvāyāmo; Perhatian benar/Sammāsati dan Pikiran terpusat benar/Sammāsamādhi)
…Lalu Sang Bhagava bersabda kepada para bhikkhu:
"handa dāni (dan sekarang) bhikkhave (Para Bhikkhu) āmantayāmi vo (Aku nasehati kalian): "vayadhammā saṅkhārā (yang berkondisi tunduk pada kelapukan) appamādena sampādetha (dengan kewaspadaan capailah tujuan)". Naciraṃ tathāgatassa parinibbānaṃ bhavissati (Tak lama lagi Sang tathagatha akan paranibanna). Ito tiṇṇaṃ māsānaṃ accayena tathāgato parinibbāyissatī (3 bulan dari sekarang berlalu sang Tathagata akan Paranibanna)"

Setelah selesai mengucapkan kata-kata ini, Sang Sugata berkata lagi:
"Paripakko vayo mayhaṃ (Diriku telah matang dalam usia); parittaṃ mama jīvitaṃ (sedikit kehidupanku tersisa); Pahāya vo gamissāmi (Aku pergi meninggalkan kalian), kataṃ me saraṇamattano (setelah menjadikan diri-Ku sebagai perlindungan). Appamattā satīmanto (Dengan kewaspadaan, perhatian) susīlā hotha bhikkhavo (menjadi bermoral luhur, Para Bhikku). Susamāhitasaṅkappā, sacittamanurakkhatha (kendalikan kehendak disertai pikiran yang terjaga). Yo imasmiṃ dhammavinaye (Siapapun dengan Ajaran dan disiplin), appamatto vihassati (Hidup dalam kewaspadaan), Pahāya jātisaṃsāraṃ dukkhassantaṃ karissatī (Ia akan meninggalkan penderitaan lingkaran kelahiran)"

Di Bhadagama, di Hattigama, di Ambagama, di Jambagama (3 bulan sebelum parinibbana)
Di setiap tempat ini Sang Bhagava sering memberi nasehat kepada para bhikkhu:

Ini adalah moralitas, ini adalah meditasi, ini adalah kebijaksanaan. Samadhi yang dilandasi sila akan menghasilkan buah dan manfaat yang besar. Kebijaksanaan yang dilandasi Samadhi akan menghasilkan buah dan manfaat yang Besar. Pikiran yang dilandasi kebijaksanaan akan sepenuhnya terbebas dari kekotoran/noda, yaitu, indria, penjelmaan, ketidaktahuan

Di Bhoganagara
Sang Buddha menyampaikan cara menyikapi klaim bahwa itu adalah ucapan/ajaran sang Buddha atau bukan, yaitu dengan membandingkan klaim itu dengan sutta dan vinaya
  1. Buddha. ..“Di hadapan Sang Bhagavā aku mendengar hal ini; di hadapan Beliau aku mempelajari hal ini: inilah Dhamma/Sutta, inilah Vinaya/Patimokha/disiplin, inilah Ajaran Sang Guru” maka, kalian tidak boleh menerima atau menolak kata-katanya. Kemudian tanpa menerima atau menolak, kata-kata dan frasenya harus dengan baik dipelajari, dibandingkan dengan sutta-sutta dan dilihat di vinaya (sutte otāretabbāni, vinaye sandassetabbāni), Jika telah dibandingkan dengan sutta-sutta dan telah dilihat di vinaya, tidak selaras dengan sutta-sutta dan tidak ada di vinaya, maka “Pasti ini bukan kata-kata Sang Buddha, hal ini telah keliru dipahami bhikkhu ini,” dan kata-katanya harus ditolak. Jika telah dibandingkan dengan sutta-sutta dan telah dilihat di vinaya, selaras dengan sutta-sutta dan ada di vinaya, maka “Pasti ini adalah kata-kata Sang Buddha, hal ini telah dengan benar dipahami bhikkhu ini.” Ini adalah kriteria ke-1.
  2. Sangha. ..“dihadapan sangha itu, Aku mendengar, mempelajari hal ini: inilah Dhamma, inilah disiplin, inilah Ajaran Sang Guru,” maka, kalian tidak boleh menerima atau menolak kata-katanya ... (seperti di atas). Ini adalah kriteria ke-2.’
  3. Para Bhikkhu Senior. ..“di hadapan beberapa bhikkhu senior terpelajar yang menguasai ajaran, ahli dalam Dhamma, vinaya dan kerangka ajaran itu, Aku mendengar, mempelajari hal ini: inilah Dhamma, inilah disiplin, inilah Ajaran Sang Guru,” ... (seperti di atas). Ini adalah kriteria ke-3.’
  4. Seorang Bhikkhu Senior. ..“ di hadapan seorang bhikkhu senior terpelajar yang menguasai ajaran, ahli dalam Dhamma, vinaya dan kerangka ajaran, Aku mendengar, mempelajari hal ini: inilah Dhamma, inilah disiplin, inilah Ajaran Sang Guru,” ... (seperti di atas). Ini adalah kriteria ke-4' [DN 16/Maha Parinibbana Sutta dan AN 4.180/Maha Padesa Sutta]
Juga ditempat itu, lagi sang Buddha berpesan:
Ini adalah moralitas, ini adalah meditasi, ini adalah kebijaksanaan. Samadhi yang dilandasi sila akan menghasilkan buah dan manfaat yang besar. Kebijaksanaan yang dilandasi Samadhi akan menghasilkan buah dan manfaat yang Besar. Pikiran yang dilandasi kebijaksanaan akan sepenuhnya terbebas dari kekotoran/noda, yaitu, indria, penjelmaan, ketidaktahuan

Di sungai Khakuda (Sore hari menjelang parinibbana)
Sang Bhagava berkata kepada Ananda: "Ananda, kemungkinan ada orang akan menyesali dan menyalahkan Cunda, pandai besi, dengan berkata: "Sungguh sial kau Cunda, karena perbuatan kamu, Sang Tathagata telah makan santapan untuk terakhir kalinya." Dalam hubungan ini Ananda, tuduhan terhadap Cunda itu dapatlah dijelaskan sebagai berikut: "Suatu rahmat bagimu, Cunda dan ini benar-benar suatu berkah, bahwasanya karena kamulah Sang Tathagata memperoleh makanan sebagai dana yang terakhir dan setelah itu Beliau mangkat. Hal ini saudara, aku telah mendengar sendiri, langsung dari Sang Bhagava yang menyatakan:

"Ada dua macam makanan, yang mempunyai pahala, yang mempunyai nilai kebaikan yang sama, yang melebihi nilai dari semua dana makanan yang lainnya.
  1. Dana yang pertama adalah dana makanan yang pertama kalinya di makan oleh Sang Tathagata, setelah beliau mencapai penerangan sejati, dana ini tiada bandingannya.
  2. Dana yang kedua ialah dana makanan terakhir yang dimakan oleh Sang Tathagata sebelum beliau parinibbana, di mana semua unsur-unsur ikatan tidak akan timbul lagi.
Maka perbuatan yang telah dilakukan saudara Cunda adalah berkah yang mengakibatkan panjang umur, rupawan, kesejahteraan, kemuliaan, akan lahir di alam sorga dan mendapat kedudukan yang tinggi." Demikianlah Ananda, kau jelaskan tentang diri Cunda pandai besi itu.

Sang Bhagava, karena mengerti masalah tersebut, lalu mengucapkan syair:

Dengan memberi Jasa kebajikan bertambah;
Dengan mengendalikan diri, kebencian dihentikan;
Dengan yang bermanfaat kejahatan ditanggalkan;
Dengan menghancurkan nafsu, kebencian dan kebodohan Ia terbebaskan.

Di bawah pohon Sala Kembar, di Kusinara (Sore menjelang Parinibbana)
Ketika beliau berbaring, pohon Sala kembar berbunga diluar musimnya, bunga-bunga jatuh berhamburan, bunga surgawi, serbuk cendana surgawi bertaburan, nyanyian surgawi serta suara musik surgawi berkumandang sebagai tanda penghormatan pada beliau. Sang Buddha mengatakan pada Ananda:

Na kho Ānanda ettāvatā (Bukan dengan seperti ini, Ananda) Tathāgato sakkato vā hoti garukato vā mānito vā pūjito vā apacito vā (Sang Tathagata dihormati, dimuliakan, dihargai, dipuja dan dijunjung). Siapa saja, apakah Ia bhikkhu, bhikkhuni, umat awam pria dan wanita, jika Ia berpegang pada Dhamma, hidup sesuai Dhamma, berkelakuan sesuai Dhamma, dengan seperti ini, Ia menghormati, memuliakan, menghargai, memuja, menjunjung Sang Tathagata dengan pemujaan tertinggi. Oleh karenanya, Ananda, berpeganglah pada Dhamma, hidup sesuai Dhamma dan berkelakuan sesuai Dhamma. Demikianlah caranya kamu melatih diri

4 tempat baik untuk didatangi
Ananda:
"Guru, Dahulu, sesudah musim hujan para bhikkhu dari berbagai tempat biasanya datang menemui Sang Tathagata. Kami ini berkesempatan melihat para bikkhu yang layak dihormati, berkesempatan untuk menemuiMu. Namun setelah Sang Bhagava tiada, Tidak berkesempatan melihat para bhikkhu yang layak dihormati, tidak dapat datang untuk menemuimu"

Sang Buddha:
"Ada 4 tempat, Ananda, bagi seorang yang berkeyakinan mendatanginya (saddhassa kulaputtassadassanīyāni), bangkit ketergugahannya: haru atau antusias (saṃvejanīyāni ṭhānāni), yaitu tempat di mana Sang Tathagata:
  1. Dilahirkan
  2. Mencapai penerangan sempurna
  3. Memutar Roda Dhamma untuk kali pertama
  4. Parinibbana
Para: bhikkhu, bhikkhuni, upasaka atau upasika yang berkeyakinan (saddhā), datang dalam damai (āgamissanti) [merenungkan:] 'Di sinilah Sang Tathagata: dilahirkan. ..mencapai Penerangan Sempurna. ..memutarkan roda dhamma untuk pertama kali. ..parinibbana', pergi ke tempat-tempat itu (cetiyacārikaṃ āhiṇḍantā) wafat dengan pikiran yang berbahagia (pasannacittā kālaṃ karissanti), ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, akan terlahir bahagia di alam deva

Sikap Bhikkhu terhadap Wanita
Ananda: "Bhante, bagaimanakah seharusnya kita bersikap terhadap kaum wanita?"
Sang Buddha: "Jangan memandang mereka, Ananda."
Ananda: "Bhante, tetapi bagaimana kalau saya secara kebetulan memandang pada mereka?"
Sang Buddha:"Janganlah berbicara dengan mereka Ananda."
Ananda: "Bhante, tetapi bagaimana kalau mereka berbicara kepada kami?"
Sang Buddha: "Ananda, melayaninya dengan tetap menjaga perhatian"

4 jenis Orang yang Patut dibuatkan stupa
Siapapun yang dengan: rangkaian bunga (mālaṃ), dupa/serbuk wangi (gandhaṃ va cuṇṇakaṃ) mempersembahkannya dalam damai (āropessanti), memberikan penghormatan dalam damai (abhivādessanti), pikirannya damai bahagia (cittaṃ va pasādessanti) maka bahagia dan sejahtera akan menyertainya dalam waktu yang lama (tesaṃ taṃ bhavissati dīgharattaṃ hitāya sukhāya)

Ada 4 macam manusia, Ananda, yang sepantasnya dibuatkan stupa, yaitu seorang:
  1. Tathagata Arahat Samma Sambuddha
  2. Pacceka Buddha
  3. Siswa dari Tathagata dan
  4. Raja Dunia
Karena jika seseorang merenungkan: 'Ini adalah stupa Sang Bhagava Arahat Samma Sambuddha.. seorang raja dunia', pikirannya menjadi bahagia, maka dengan pikiran bahagia demikian, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, akan terlahir bahagia di alam deva "

Menghibur Ananda yang berduka
Sang Bhagava lalu berkata kepada Ananda: "Ananda, cukuplah jangan bersedih (mā soci), janganlah meratap (mā paridevi), Bukankah sudah kukatakan padamu bahwa segala sesuatu yang indah dan menyenangkan pasti mengalami perubahan, pasti berpisah dan menjadi yang lain. Jadi bagaimana mungkin, Ānanda—karena segala sesuatu yang dilahirkan, menjelma, tersusun pasti mengalami kerusakan—bagaimana mungkin hal itu tidak berlalu? Sejak lama, Ānanda, engkau telah berada di sisi Sang Tathāgata, memperlihatkan cinta-kasihdalam tindakan jasmani, ucapan dan pikiran, memberikan manfaat, menyenangkan, sepenuh hati dan tidak terbatas. Engkau telah mendapatkan banyak jasa. Berusahalah, dan dalam waktu singkat engkau akan terbebas dari kekotoran"

Kemudian sang Buddha berkata kepada para Bhikkhu memuji kualitas Anada:
  1. bahwa Para Buddha di waktu-waktu yang lampau, juga mempunyai bhikkhu sebagai pendamping yang sangat tekun dan berbakti, seperti Ananda. Demikian pula di masa yang akan datang.
  2. Ananda, cakap dan jujur, mengetahui waktu yang tepat untuk para bhikkhu, Bhikkhuni, para umat awam pria/wanita, para raja, patih negara dan para guru aliran lain serta pengikutnya ketika hendak menghadap Sang Buddha
  3. Kualitas menarik Ananda yaitu para bhikkhu/umat awam akan sangat bergembira bila dapat bertemu Anada, merasa senang jika membicarakan Dhamma dengan Ananda dan akan merasa kecewa jika Ananda berdiam diri
Membabarkan DN 17/Mahasudassana Sutta
Ketika Ananda memohon agar sang Buddha tidak parinibbana di Kusinara karena tempat ini sederhana, tidak ada peradaban di tengah belantara dan di luar perbatasan dan mohon agar ditempat lain seperti Rajagaha, Benares dll. Sang Buddha menerangkan bahwa Kusinara juga tempat berdiamnya raja dunia Maha Suddassana dan 6x kelahiran lampau beliau juga wafat di tempat ini.

Kedatangan Suku Mala memberikan penghormatan
Sang Buddha meminta Ananda pergi ke Kusinara menyampaikan pada suku Malla bahwa hari ini malam jam terakhir (Ajja..rattiyā pacchime yāme), Sang Tathagata akan Parinibbana, agar mereka tidak menyesali diri di belakang hari bahwa di daerah mereka Sang Buddha Parinibbana tetapi di saat terakhirnya, tidak melihat beliau. Ketika ini disampaikan, Para suku Malla, sedih, berduka cita dan bersusah hati, meratap, "Terlalu cepatlah Sang Tathagata Parinibbana. Terlalu cepatlah Sang Sugata Parinibbana. Terlalu cepatlah Sang Guru Jagat lenyap dari pandangan". Mereka kemudian datang memberikan pernghormatan, Ananda mengatur pembagian menurut golongan dan rombongan, agar tidak satupersatu yang akan memakan waktu panjang. Akhirnya, pada jam pertama (paṭhameneva yāmena) malam itu, semua mendapatkan kesempatannya.
    Note:
    Teks menyebutkan di malam hari, terdapat 3 yāma (atau prahara): (1) paṭhama/pertama [misal: DN 16, MN 36, dll] = purima/awal [Mnd 14, Mil 3.2.1]; (2) majjhima/tengah dan (3) pacchime [DN 16, MN 36, Mnd 14, dll]. Menurut aṭṭhakathā (Buddhaghosa, abad ke-5): Sammohavinodani 12/jhānavibhanga: "waktu siang-malam/rattindivassa dibagi 6 bagian/chaṭṭha-koṭṭhāsa", artinya lama waktu tersebut per ± 4 jam.

    Bhāskara I (matematikawan, abad ke-7, Āryabhaṭīya 3.2/Āryabhaṭīya 2.176) juga Śrīdhara Svāmin (abad ke-14, komentator Bhāgavata purana): Siang sampai malam (ahorātra) = 8 yāma/prahara (siang: 4, malam: 4). 1 yāma/prahara bergantung musim = 6 atau 7 ghaṭikā (misal: musim dingin, siang, 1 yāma = 6 ghaṭikā; malam, 1 yāma = 7 ghaṭikā). Bhaskara II (matematikawan, abad ke-12): 1 yāma = 7.5 ghaṭikā. Fajar dan Senja (karena bukan malam dan siang), masing-masingnya = 4 ghaṭikā (atau 2 muhūrta).

    India kuno menghitung 1 ahorātra = 30 muhūrta = 60 ghaṭi/ghaṭikā atau (nādī/nāḍikā; nāli/nālikā atau daṇḍa), dari habisnya air dalam wadah berbentuk mangkok (ghaṭikā) atau tabung silinder (nāḍikā/nālikā) [misal: Arthasāstra 2.20.35; Brahmavaivarta Purana, prakṛti-khaṇḍa 54.27-28 atau di Āryabhaṭa Siddhānta] atau di Srilanka jaman Buddhaghosa, dalam atthakatha Majjhima Nikaya (1.122): Bikkhu Kāḷadeva dari vihara Vajagara[giri], mengetahui waktu tanpa menggunakan yāmayantanāḷikaṃ (yanta = alat. nāḷika = tabung air). Dari hasil wadah air tersebut, 1 ghaṭi/ghaṭikā = 24 menit, 1 muhūrta = 2 ghaṭi/ghaṭikā (48 menit), 1 ahorātra = 30 x 48 = 1440 menit (= 24 jam waktu modern) dan 1 yāma = 7.5 ghaṭikā (7.5 x 24 = 180 menit).

    Karena sutta menyebutkan 3 yāma di malam hari, maka sisanya adalah 1 yāma di waktu fajar, 3 yāma di siang hari dan 1 yāma di waktu senja, totalnya 8 yāma. Jika senja adalah jam 18.00, maka 1 yāma terbagi di sebelum dan sesudahnya, masing-masing 90 menit, dari sisi ini, paṭhame/purime yāme: setelah 90 menit + 180 menit (19.30 - 22.30), majjhime yāme (22-30 - 01.30) dan pacchime yāme (sampai 01.30 - 04.30).
Menahbiskan Subhadda
Ketika itu seorang petapa pengembara, Subhadda, yang sedang di Kusinara mendengar kabar: "Hari ini malam jam terakhir, petapa Gotama akan Parinibbana"

Karenanya timbul dipikirannya: "Aku pernah mendengar dari para petapa senior dan mulia, para guru, bahwa kemunculan para Tathagata Arahat SammaSambuddha di dunia adalah jarang sekali. Pada hari ini malam jam terakhir, petapa Gotama akan Parinibbana. Pada diriku ada suatu keraguan dan aku yakin bahwa petapa Gautama, akan dapat mengajarkanku Dhamma yang menghilangkan keraguanku."

Kemudian petapa pengembara Subhadda mendekati Sang Bhagava menghormat dengan sopan, duduk di satu sisi, berkata: "Yang Mulia Gautama, ada para petapa dan brahmana pemimpin sejumlah besar siswa yang punya banyak pengiring, para pemimpin perguruan terkenal dan masyur yang mendapat penghormatan tinggi dari khalayak, seperti: Purana Kassapa, Makkhali Gosala, Ajita Kesakambali, Pakudha Kaccayana, Sanjaya Belatthiputta, Nigantha-Nataputta. Apakah mereka semua telah mencapai kebebasan, seperti yang dikatakan orang, atau apakah tak ada dari mereka yang mencapai kebebasan atau apakah hanya beberapa saja yang mencapai, dan yang lainnya tidak?"

"Cukuplah Subhadda. Biarkanlah apa yang dikatakan orang, apakah mereka semua telah mencapai pembebasan, seperti yang disiarkan, atau tak ada dari mereka yang mencapai kebebasan, atau hanya beberapa saja dari mereka yang mencapai kebebasan yang lain tidak. Hal itu tidak perlu dirundingkan. Kini, aku akan mengajarkan kebenaran padamu, Subhadda, dengar dan perhatikanlah dengan benar yang akan ku katakan"

"Baiklah, bhante," jawab Subhadda.

Kemudian Sang Bhagava berkata: "Subhadda, dalam dhamma dan vinaya mana pun, jika TIDAK TERDAPAT Jalan Mulia Berunsur 8, maka di sana pun TIDAK ADA seorang petapa sejati, juga TIDAK ADA petapa sejati ke-2, ke-3 atau ke-4. Tetapi dalam dhamma dan vinaya yang mana pun, jika terdapat Jalan Mulia Berunsur 8, maka di sana pun akan ada petapa sejati, juga ada petapa sejati ke-2, ke-3 atau ke-4. Kini, dalam dhamma dan vinaya yang kuajarkan terdapat Jalan Mulia Berunsur 8 itu, maka dengan sendirinya terdapat petapa-petapa sejati, juga petapa-petapa sejati ke-2, ke-3 atau ke-4

Ajaran guru-guru lainnya yang tidak memiliki Jalan Mulia Berunsur 8 adalah kosong dan bukan petapa yang sejati. Subhadda, jika para bhikkhu ini hidup dengan baik menurut dhamma dan vinaya, maka dunia ini takkan kekosongan Arahat

Usia-Ku 29 tahun, Subhadda)
ketika meninggalkan keduniawian mencari kebajikan
Sudah lebih dari 50 tahun
Sejak Aku meninggalkan keduniawian, Subadha
Bernaung di jalur Dhamma
Yang di luarnya TIDAK ADA Petapa

Petapa ke-2 .. ke-3 .. ke-4 TIDAK ADA
Aliran lainnya mandul Petapa, Subhadda
Tetapi jika para bhikkhu menjalani benar
Dunia ini tak kekosongan Arahat


[..]

Demikianlah, pertapa pengembara Subhadda diterima dan ditahbiskan menjadi bhikkhu oleh Sang Bhagava sendiri. Ia pun tekun, rajin dan sungguh-sungguh...Bhikkhu Subhadda menjadi salah seorang di antara para Arahat dan Ia adalah siswa terakhir yang diterima Sang Bhagava

Nasehat Terakhir Sang Buddha (jam terakhir malam itu)
    "Ānanda, engkau mungkin berpikir: “nasihat-nasihat Sang Guru telah tiada, sekarang kita tidak memiliki guru!” Jangan berpikiran seperti itu, Ānanda, karena apa yang telah Kuajarkan dan Kujelaskan kepada kalian sebagai Dhamma dan disiplin akan, saat Aku tiada, menjadi guru kalian"
    Ananda, sebagaimana pada saat ini para bhikkhu saling menegur satu dengan yang lainnya sebagai "Avuso" (sahabat), namun janganlah demikian apabila Aku telah tidak ada.
    Para bhikkhu yang lebih tua, bolehlah menegur kepada yang lebih muda dengan menyebut namanya, atau nama keluarganya, atau dengan sebutan avuso, sedangkan bhikkhu yang lebih muda seharusnya berkata kepada yang lebih tua dengan sebutan "Bhante".
    "Ananda, apabila dikehendaki Sangha dapat menghapus peraturan-peraturan kecil (Khuddaka sikkhapada) setelah Aku meninggal."
    "Ananda, untuk bhikkhu Channa, setelah Aku meninggal, kenakanlah hukuman brahma (brahma danda) kepadanya." "Bhante, tetapi apakah yang dimaksud dengan brahma danda itu?"
    “Ananda, bhikkhu Channa dapat berkata apa saja yang diinginkannya, tetapi para bhikkhu tidak perlu bercakap-cakap dengan dia, tidak perlu menegur atau pun memperingatkannya."
Kemudian sang Buddha bertanya jika ada dari para Bhikkhu yang masih memiliki keraguan atau ada yang hendak ditanyakan, namun para Bhikkhu berdiam diri, sampai 3x diulangi, para bhikkhu tetap berdiam diri. Sang Buddha berkata bahwa memang kumpulan dari 500 Bhikkhu ini, bahkan pencapaian yang terendah diantara mereka adalah sotapanna sehingga tidak ada yang memiliki keraguan terhadap Buddha, Dhamma dan sangha, tak mungkin terlahir kembali di alam penderitaan dan pasti akan mencapai penerangan sempurna di kemudian hari.

Kemudian Sang Buddha menyampaikan nasehat terakhirnya, "Para bhikkhu, perhatikanlah nasehat ini: 'yang berkondisi tunduk pada kelapukan, dengan kewaspadaan capailah tujuan'".

Inilah kata-kata terakhir Sang Tathagata

Sang Buddha Padam Sempurna
Mula-mula Sang Bhagava masuk Jhana ke-1.
Bangkit dari Jhana ke-1, masuk Jhana ke-2.
Bangkit dari Jhana ke-2, masuk Jhana ke-3.
Bangkit dari Jhana ke-3, masuk Jhana ke-4.
Bangkit dari Jhana ke-4, masuk landasan ruang tak berbatas.
Bangkit dari landasan ruang tak berbatas, masuk landasan kesadaran tak berbatas.
Bangkit dari landasan kesadaran tak berbatas, masuk landasan tak ada sesuatu apapun.
Bangkit dari landasan tak ada sesuatu apapun, masuk landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi.
Bangkit dari landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi, beliau masuk lenyapnya persepsi dan perasaan.

Kemudian Ananda berkata demikian: "Anuruddha kiranya Sang Bhagava telah padam sempurna"

"Tidak, Ananda, Sang Bhagava belum padam sempurna, Beliau masuk lenyapnya persepsi dan perasaan."

Kemudian Sang Bhagava,
bangkit dari lenyapnya persepsi dan perasaan, beliau masuk landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi.
Bangkit dari landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi, masuk landasan tak ada sesuatu apapun,
Bangkit dari landasan tak ada sesuatu apapun, masuk landasan kesadaran tak berbatas,
Bangkit dari landasan kesadaran tak berbatas, masuk landasan ruang tak berbatas.
Bangkit dari landasan ruang tak berbatas, masuk Jhana ke-4.
Bangkit dari Jhana ke-4, masuk Jhana ke-3.
Bangkit dari Jhana ke-3, masuk Jhana ke-2.
Bangkit dari Jhana ke-2, masuk Jhana ke-1.

Bangkit dari Jhana ke-1, masuk Jhana ke-2.
Bangkit dari Jhana ke-2, masuk Jhana ke-3.
Bangkit dari Jhana ke-3, masuk Jhana ke-4.
Dan bangkit dari Jhana ke-4, lalu padam sempurna-lah, Sang Bhagava.

Demikianlah ketika Sang Bhagava telah padam sempurna, tepat saat parinibbanaNya, terjadilah gempa bumi yang sangat dahsyat, menakutkan, mengerikan, dan mengejutkan disertai halilintar sambar-menyambar di angkasa.

Ketika Sang Bhagava padam sempurna,
dewa Brahma Sahampati mengucapkan syair ini:

Mahluk apapun di dunia, bentukannya akan-lah berakhir
Juga sang Guru, yang tiada banding di dunia,
Yang tercerahkan, sang pemilik kekuatan, maha tau, juga padam sempurna
.

dewa Sakka, raja para dewa, mengucapkan syair ini:

Bentukan benarlah tiada kekal adanya,
yang muncul akan-lah lenyap,
Setelah timbul akan-lah tenggelam,
padam adalah kebahagiaan

bhikkhu Anuruddha mengucapkan syair ini:

Tak ada lagi nafas, teguh pikiranNya
bebas nafsu, dalam kedamaian, demikian akhir sang Muni
PikiranNya tak tergoyahkan, dalam menahan rasa menyakitkan
Seperti padamnya nyala api, demikian pula pikiranNya terbebaskan padam


Ananda mengucapkan syair ini:

Demikian mengerikannya, Demikian merindingnya,
Ketika yang maha tahu, yang sempurna dalam kualitas mulia, padam sempurna


Setelah para suku Malla Kusinara melakukan penghormatan dengan nyanyian dan tarian selama 6 hari, yang juga dilakukan oleh para deva di hari ke-7, maka kemudian para pemimpin Malla, setelah mencuci kepala mereka dan mengenakan pakaian baru, mereka hendak menyulutkan api pemakaman Sang Bhagavā, tetapi mereka tidak dapat melakukannya. Mereka mendatangi YM Anuruddha dan menanyakan mengapa mereka tidak dapat menyalakan api. YM Anuruddha menyampaikan bahwa para deva sedang menantikan kedatangan YM MahaKassapa yang sedang dalam perjalanan dari Pāvā menuju Kusinārā bersama 500 bhikkhu. Api pemakaman Sang Bhagavā tidak akan menyala sampai YM MahaKassapa memberikan penghormatan dengan kepalanya di kaki Sang Bhagavā.

Demikianlah di hari ke-7, YM Kassapa tiba di cetiya suku Malla di Makuṭa-Bandhana menuju tempat pemakaman Sang Bhagavā. Beliau dengan menutupi satu bahunya dengan jubahnya, merangkapkan tangan memberikan penghormatan, mengelilingi tempat pemakaman 3x, membuka selubung kaki Sang Bhagavā, memberi hormat dengan kepalanya di kaki Sang Bhagavā, dan 500 bhikkhu juga melakukan hal yang sama. Dan ketika semua ini selesai, api pemakaman Sang Bhagavā menyala dengan sendirinya dan membakar seluruhnya

Kemudian suku Malla dari Kusinara, mengambil relik (sisa jasmani) Sang Bhagava, lalu ditempatkan di tengah-tengah ruangan sidang mereka, yang kemudian dipagari sekelilingnya dengan anyaman tombak-tombak, lalu dilapisi lagi dengan pagar dari panah dan busur-busur.

Di sanalah mereka mengadakan upacara puja bakti selama 7 hari

Kemudian Raja Magadha, Ajatasattu, putera Ratu Videhi, [demikian pula: Orang Licchavi dari Vesali, Suku Sakya dari Kapilavasthu, Suku Buli dari Allakappa, Suku Koli dari Ramagama, Brahmana Vethadipa dan Suku Malla, Brahmana Dona dan Suku Moriya dari Pipphalivana] mendengar bahwa Sang Bhagava telah mangkat di Kusinara. mengirim utusan pada suku Malla di Kusinara, menyatakan memerlukan sebagian relik Sang Bhagava untuk didirikan sebuah stupa; dan untuk menghormatiNya dan mengadakan perayaan…

Demikian maka terdapat delapan stupa untuk relik Sang Bhagava dan stupa yang kesembilan untuk tempayan dan stupa yang kesepuluh untuk abu Sang Bhagava.

Demikianlah telah terjadi pada waktu yang lalu.

Terbagi delapan relik Sang Bhagava:

Beliau Yang Maha Tahu, kembangnya manusia,
Tujuh bagian, di Jambudipa dipuja orang,
Satu bagian, di Ramagama,
Dipuja oleh raja naga,
Sebuah gigi dipuja di surga Tavatimsa.
Sebuah gigi lagi dipuja di Kalingga oleh raja naga.
Karena pancaran cinta kasih yang tak terbatas,
Tanah air ini mendapat berkah yang melimpah.
Karena itu relik-relik Beliau dijaga dengan baik,
oleh mereka yang turut memujanya, para dewa, para naga dan oleh manusia bijaksana.
Beliaulah yang paling tinggi dipuja.
Maka itu hormatilah Dia dengan anjali (mencakupkan kedua tangan depan dada),
karena sungguh sulit adanya,
mungkin ratusan Kappa belum tentu bertemu dengan seorang Buddha.


[Sumber: Mahaparinibanna sutta, CSI. The Kusinara File] []


Yesus

Kelahiran dan kematian Yesus tidak diketahui pasti baik itu tanggal, bulan dan tahunnya.

Mengapa?

Karena TIDAK DICATAT di Alkitab. Ini agak mengherankan, karena HAL SEPELE yang tidak terkait urusan ramalan/religi, misalnya JENIS KELAMIN keledai yang ditunggangi Yesus, yaitu BETINA (Mat 21.2,7) dicatat. Atau HAL SEPELE lain, seperti Yohanes pembaptis memakai baju bulu unta (Mat 3.4; Mark 1.6] dicatat. Juga misalnya JUMLAH ORANG makan roti, yaitu 5000 pria (Lukas 9.14; Mat 14.21; Mark 6.4; Yoh 6.10] dicatat.

Menghitung jumlah orang saja bisa iseng dilakukan, sementara, untuk sekedar mencatat tanggal, bulan dan tahun lahir untuk orang yang diagungkan sebagai Tuhan dan sangat penting bagi kehidupan mereka hingga rela berkorban kehidupan, TIDAK ADA SAMA SEKALI. Bahkan, untuk urusan TAHUN KELAHIRANNYA saja, versi injil MATIUS VS Injil LUKAS SUDAH BERSELISIH 12 TAHUN LAMANYA

Waktu wafatnya Yesus-pun bervariasi, rata-rata mengkaitkannya dengan tanggal 14 Nisan dan/atau hari Jum'at, misalnya:

Tertullian di ‘Adversus Marcionem’, menyatakan terjadi di tahun ke-20 Tiberius (Tiberius: 18 Sep 14 M - 16 Mar 37 M, 22 tahun), jadi tahun 35 M;
Quarterly Journal of Royal Astronomical Society 32", Sir Isaac Newton lebih menyukai tanggal 23 April 34 (Julian) sebagai waktu wafat Yesus,
"Paul's Early Period: Chronology, Mission Strategy, Theology", Rainer Riesner, hal. 50 (Tanggal 14 Nisan/Jum’at (Julian: 11 April 27, 07 April 30 dan 3 April 33); Tanggal 15 Nisan/Jum’at (Julian: 11 April 27 dan 23 April 34; Tanggal 11 April 27 namun Ia kesampingkan tahun 27 dan 34 sebagai tahun penyaliban).
Juga di buku yang sama hal.3-14 dan di "Pauline Chronlogy" hal 24, Riesner menyampaikan pendapat para ahli tentang rekaan tahun penyaliban Yesus:
  1. Tahun 27 (Hahn, Ludermann)
  2. Tahun 29 (Harnack, Plooij, Lake
  3. Tahun 30 (Bengel. Weiseler, Harnack, Ramsay, Bacon, Zahn, Hoennicke, Belser, Wiken, Georgi, Kum, Bruce, Gunther, Moody, Knox, Ludermann, Porter, Dunn, Reisner)
  4. Tahun 32 (Baronius, Eichhorn, Jewett)
  5. Tahun 33 (Ussher, Basnage, Hoennicke, Ogg, Bruggen, Porter)
  6. Tahun 36 (Barnikol)
Karena bervariasi, maka mari kita coba cari tahu kapan Yesus wafat dan untuk itu, kita perlu mengenal bagaimana tradisi Yahudi menyatakan tentang jam, mulainya hari, Sabat, kapan hari ke-1 dalam seminggu dan catatan kronologi wafatnya Yesus.

Kaum Yahudi membagi siang malam menjadi 24 bagian, yang masing-masing menjadi 12 bagian, ".."Bukankah ada 12 jam dalam satu hari?.. [Yohanes 11.9] yang lama perjamnya bervariasi, misal: Matahari terbit jam 5.00 dan tenggelam jam 19.30, maka panjang per-bagian siang = 72.5 menit, sehingga jam ke-3 = jam 8.37

Untuk permulaan hari, '...Jadilah petang...' [Kejadian 1.5, 8, 13; 19, 23, 31] , sehingga 1 hari penuh, '..mulai petang dari petang sampai petang..' [Imamat 23:32, saat menyatakan hari ke-9 bulan ke-7], ini ada di antara 2 petang ["me ereb ad ereb" = dari petang sampai petang]

Kalendar mengikuti siklus 7 harian, hari ke-1 adalah AHAD/Minggu dan hari ke-7 adalah Sabtu/SABAT. Nama-nama hari ada di Kejadian 1.5, 8, 13, 19, 23, 31 dan 2.2.

Jadi, Sabtu/SABAT mulai Sabtu Malam berakhir di Minggu Senja.

Hari ke-1 bagi kaum Yahudi, Kristen wilayah barat dan tradisi ortodok Yunani adalah Minggu, sehingga Minggu s.d Jum'at = 1 s.d 6; Dalam Latin Gerejawi/latin Liturgi (ritus Roma dan Latin dari Gereja Katolik, Anglikan, Lutheran dan Methodis, Ortodoks Timur), Senin s.d Jum'at = 2 s.d 6; di Yunani pertengahan dan Modern, Senin s.d Kamis = 2 s.d 5. [First day of the week].

Jadi, hari minggu sebagai hari pertama adalah Minggu malam - Senin senja

Hari Sabat kaum Yahudi ada banyak, di kitab Imamat 23:

Hari ke-7,
tidak bekerja (23:1-3), Pertemuan Kudus. Hari ke-7 untuk istirahat (keluaran 16:26, 20:9-10, 31:15, 35:2: 'tetapi pada hari yang ke-7 adalah hari sabat').
Ditegaskan permulaan hari paskah yaitu di ulangan 16:6, '..engkau harus mempersembahkan korban Paskah itu pada waktu senja, ketika matahari terbenam'

Bulan ke-1 (23:4-8)
23:4. Inilah hari-hari raya yang ditetapkan TUHAN, hari-hari pertemuan kudus, yang harus kamu maklumkan masing-masing pada waktunya yang tetap.
23:5 Dalam bulan ke-1, pada tanggal 14 bulan itu, pada waktu senja, ada Paskah bagi TUHAN.
23:6 Dan pada hari 15 bulan itu ada hari raya roti tidak beragi bagi TUHAN; 7 hari lamanya kamu harus makan roti yang tidak beragi. (Setiap hari, sejak tanggal 15, selama 1 minggu adalah PASKAH)
23:7 Pada hari ke-1 kamu harus mengadakan pertemuan kudus, janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan berat.
23:8 Kamu harus mempersembahkan korban api-apian kepada TUHAN 7 hari lamanya; pada hari yang ke-7 haruslah ada pertemuan kudus, janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan berat...(Bilangan 28.17-24). Kapan waktu pemotongan hewan kurban?
    Di abad ke-1 M: "..Para imam besar, saat datangnya pesta yang disebut Paskah,..mereka memotong kurban, mulai dari jam ke-9 hingga ke-11, tapi yang menemani tidak kurang dari 10 dari pemilik kurban.." ["Wars of the Jews", Bab 6.Ch.9]

    Persembahan harian dipotong 1/2 jam setelah jam ke-8, dan dipersembahkan 1/2 jam setelah jam ke-9; Untuk malam Paskah, dipotong 1/2 jam setelah jam ke-7, dan persembahkan 1/2 jam setelah jam ke-8, baik itu pada hari biasa atau Sabat. Jika malam Paskah hari Jum'at, dipotong 1/2 jam setelah jam ke-6 dan dipersembahkan setelah jam ke-7, dan persembahan paskah setelahnya [Mishanh Pesachim 5.1]

    Semua di atas ini TIDAK SAMA dengan yang tercantum di Taurat Musa, yaitu memotongnya pada waktu senja ['beyn ha arbaym' = pada (beyn) senja/petang (arba/ereb) dan ym = waktu, Keluaran 12.6] sehingga dikerjakannya di menjelang malam (bukan mulai lewat tengah hari ketika matahari condong ke barat).

    Mungkin saja ini efek dari kehancurannya kuil ke-1/Sulaiman, yang membuat praktek PASKAH tidak lagi dijalankan lama dan baru dijalankan lagi, secara ngawur, di jaman HIZKIA, dengan melakukan perayaan roti tidak beragi BUKAN di bulan ke-1 tapi di bulan ke-2 [2 Taw 30], juga lama kemudian, lagi dilakukan pada tahun ke-18 YOSIA yang walaupun melakukan di bulan ke-1, namun pemotongan hewan dilakukan sampai malam [2 taw 35], kemudian lama lagi tidak dilakukan hingga jaman EZRA (Ezra 6) yang jika melihat apa yang terjadi di jaman Josephus dan di Misnah, tampak telah terjadi pergeseran.
Hari ke-1 panen/hasil apapun (23:9-22)
Dilakukan satu hari setelah Sabat
Satu hari setelah sabat + 7 minggu/7 sabat (50 hari), diumumkan sebagai hari raya/sabat (Hari raya Panen), ada perjamuan kudus, Jangan melakukan pekerjaan berat-berat

Bulan ke-7 (23:9-44)
tanggal 1, hari serunai, Pertemuan Kudus, tidak boleh bekerja berat-berat
tanggal 9, malam sampai tanggal 10 Senja, tidak boleh bekerja dan harus puasa, melanggar akan dibinasakan, hari sabat
tanggal 10, hari pendamaian, ada pertemuan Kudus, tidak boleh bekerja apapun
tanggal 15, hari pondok daun dilaksanakan selama 7 hari, hari pertama ada pertemuan kudus tidak boleh bekerja apapun, harus tinggal dipondok daun untuk Israel asli selama 7 hari
tanggal 23, pertemuan kudus, tidak boleh bekerja apapun

(Juga disebutkan d Imamat 16:29-31, Bilangan 28:16-31, Yehezkiel 45:21-25), dan disingkat hari sabat dan 3 hari raya di II Tawarih 8:13 sesuai dengan apa yang menurut perintah Musa ditetapkan sebagai korban untuk setiap hari, yakni
  1. pada hari-hari Sabat,
  2. pada bulan-bulan baru,
  3. dan 3x setahun pada hari-hari raya:
  4. pada hari raya roti tidak beragi,
  5. pada hari raya 7 Minggu dan
  6. pada hari raya Pondok Daun.
Siapapun yang bekerja pada hari-hari Sabat/Paskah akan dihukum mati dilenyapkan dari bangsanya (Imamat 19:8, 23:29-30; Keluaran 31:14-16, 35:2, Bilangan 9:13, 15:32-36; Yeremia 17:21,27; Yehezkiel 20:21)

Pemotongan Domba untuk Paskah
ada 2 waktu pemotongan [Keluaran 29:38-39; bilangan 28.3-4], yaitu:

'Inilah yang harus kauolah di atas mezbah itu: dua anak domba berumur setahun, tetap tiap-tiap hari. Domba yang satu haruslah kauolah pada waktu pagi (boqer) dan domba yang lain kauolah antara senja (beyn ereb)'.

Semalam menjelang di salib
Yesus mengalami sedih, gentar dan takut pada satu hari sebelum salib:

Maka sampailah Yesus bersama-sama murid-murid-Nya ke suatu tempat yang bernama Getsemani. Lalu Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Duduklah di sini, sementara Aku pergi ke sana untuk berdoa." Dan Ia membawa Petrus dan kedua anak Zebedeus serta-Nya. Maka mulailah Ia merasa sedih dan gentar, lalu kata-Nya kepada mereka: "Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku." [Matius 26:37-38, Markus14:32-34]

"Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi." Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan kepada-Nya. Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah. [Lukas 22:42-44]


Kronologis wafat di hari ROTI TIDAK BERAGI dan sebelum Sabat Reguler

Injil MATIUS
Hari raya roti tidak beragi, Perjamuan Kudus
26:2 "Kamu tahu, bahwa 2 hari lagi akan dirayakan Paskah, maka Anak Manusia akan diserahkan untuk disalibkan."
26:17 PADA HARI PERTAMA DARI HARI RAYA ROTI TIDAK BERAGI datanglah murid-murid Yesus kepada-Nya dan berkata: "Di mana Engkau kehendaki kami mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?"
26:18 Jawab Yesus: "Pergilah ke kota kepada si Anu dan katakan kepadanya: Pesan Guru: waktu-Ku hampir tiba; di dalam rumahmulah Aku mau merayakan Paskah bersama-sama dengan murid-murid-Ku."
26:19 Lalu murid-murid-Nya melakukan seperti yang ditugaskan Yesus kepada mereka dan mempersiapkan Paskah.
26:20 SETELAH HARI MALAM, Yesus duduk makan bersama-sama dengan ke-12 murid itu

[Hari di Yahudi mulai MALAM sampai SENJA, para murid Yesus datang padanya di hari ke-1, hari roti raya roti tidak beragi, tanggal 15 Nisan (setiap hari selama 7 hari adalah Paskah). Ketika Ia merayakan paskah dan makan bersama 12 muridnya terjadi DI SETELAH MALAM, artinya sudah masuk pada hari ke-2 hari raya roti tidak beragi, tanggal 16 Nisan]

Yesus Diserahkan
26:34 Yesus berkata kepadanya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya malam ini, sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku 3x."
...
26:74 Maka mulailah Petrus mengutuk dan bersumpah: "Aku tidak kenal orang itu." Dan pada saat itu berkokoklah ayam.
26:75 Maka teringatlah Petrus akan apa yang dikatakan Yesus kepadanya: "Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku 3x." Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya.

[Kejadian ini di tanggal 16 Nisan malam s/d subuh]

27:1. KETIKA HARI MULAI SIANG, semua imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi berkumpul dan mengambil keputusan untuk membunuh Yesus.
27:2 Mereka membelenggu Dia, lalu membawa-Nya dan menyerahkan-Nya kepada Pilatus, wali negeri itu.
27:15 Telah menjadi kebiasaan bagi wali negeri untuk membebaskan satu orang hukuman pada tiap-tiap hari raya itu atas pilihan orang banyak.
27:45 Mulai dari JAM KE-6 (hora hektos, terjemahan: jam 12) kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai JAM KE-9 (hora ennatos, terjemahan: jam 3).
27:46 Kira-kira JAM KE-9 (hora ennatos, terjemahan: jam 3) berserulah Yesus dengan suara nyaring: "Eli, Eli, lama sabakhtani?" Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?
27:50. Yesus berseru pula dengan suara nyaring lalu menyerahkan nyawa-Nya.

[Note:
Menariknya, kejadian di tempat yang sama, orang yang sama, namun terdapat perbedaan waktu Yesus disalibkan: "hektos hora" (jam ke-6, Yohanes 19:14) VS "hora tritos" (jam ke-3, Markus 15:25).

Argumen yang biasa digunakan menanggapi perbedaan fatal ini adalah bahwa Injil Markus menggunakan waktu Yahudi sementara Injil Yohanes menggunakan waktu Romawi :)

Argument ini lemah, pertama, klaim domba paskah hanya masuk jika menggunakan tradisi waktu Yahudi, sehingga, perbedaan waktu antar injil ini melemahkan benar tidaknya terjadi penyaliban. Ke-2, JIKA BENAR ADA PENGHUKUMAN, maka saat itu yang TERHUKUM BUKAN CUMA YESUS, masih ada lainnya, maka metaphora domba paskah sudah kabur maknanya. Ke-3, Tradisi pemotongan dan persembahan HEWAN KURBAN, telah berjalan lama di SEBELUM dan SETELAH Yesus sehingga sangatlah aneh kaum Yahudi melakukan hal yang seharusnya bisa ditunda, tapi tidak ditunda mengingat karena hari itu adalah hari raya, yaitu di even paskah 7 hari ini.
]

27:57. MENJELANG MALAM datanglah seorang kaya, orang Arimatea, yang bernama Yusuf dan yang telah menjadi murid Yesus juga.
27:58 Ia pergi menghadap Pilatus dan meminta mayat Yesus. Pilatus memerintahkan untuk menyerahkannya kepadanya.
27:59 Dan Yusufpun mengambil mayat itu, mengapaninya dengan kain lenan yang putih bersih,
27:60 lalu membaringkannya di dalam kuburnya yang baru, yang digalinya di dalam bukit batu, dan sesudah menggulingkan sebuah batu besar ke pintu kubur itu, pergilah ia.
27:61 Tetapi Maria Magdalena dan Maria yang lain tinggal di situ duduk di depan kubur itu.

[semua peristiwa ini terjadi di hari ke-2 hari raya roti tidak beragi, tanggal 16 Nisan pagi s/d menjelang malam, akhir dari tanggal 16 Nisan]

27:62 KEESOKAN HARINYA, YAITU SESUDAH HARI PERSIAPAN, datanglah imam-imam kepala dan orang-orang Farisi bersama-sama menghadap Pilatus, dan mereka berkata: "Tuan, kami ingat, bahwa si penyesat itu sewaktu hidup-Nya berkata: SESUDAH 3 HARI AKU AKAN BANGKIT. Karena itu perintahkanlah untuk menjaga kubur itu sampai hari yang ke-3; jikalau tidak, murid-murid-Nya mungkin datang untuk mencuri Dia, lalu mengatakan kepada rakyat: Ia telah bangkit dari antara orang mati, sehingga penyesatan yang terakhir akan lebih buruk akibatnya dari pada yang pertama."

[Kata ‘keesokan harinya, yaitu setelah hari persiapan’ merupakan hari baru yang mulai pada malam hari, jadi sudah bukan tanggal 16 Nisan tapi tanggal 17 bulan ke-1, yaitu sabat regular (SABTU MALAM - MINGGU SENJA), jadi, Yesus wafat di SABTU SORE, di hari persiapan, tanggal 16 Nisan]

Hari pertama minggu itu setelah Sabat
28:1-2 SETELAH HARI SABAT LEWAT, MENJELANG MENYINGSINGNYA FAJAR PADA HARI PERTAMA MINGU ITU, pergilah Maria Magdalena dan Maria yang lain, menengok kubur itu. Maka terjadilah gempa bumi yang hebat sebab seorang malaikat Tuhan turun dari langit dan datang ke batu itu dan menggulingkannya lalu duduk di atasnya

[Sabat regular, tanggal 17 Nisan, SABTU MALAM - MINGGU SENJA, jadi, minggu pagi masih hari sabat. Hari pertama, tanggal 18 Nisan mulai MINGGU MALAM - SENIN SENJA, jadi, Maria menengok kubur di hari SENIN pagi]

Injil MARKUS
Hari raya roti tidak beragi, Perjamuan Kudus
14:1. Hari raya Paskah dan hari raya roti tidak beragi akan mulai 2 hari lagi...
14:12. PADA HARI PERTAMA DARI HARI RAYA ROTI TIDAK BERAGI, pada waktu orang menyembelih domba Paskah, murid-murid Yesus berkata kepada-Nya: "Ke tempat mana Engkau kehendaki kami pergi untuk mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?"...
14:16 Maka berangkatlah kedua murid itu dan setibanya di kota, didapati mereka semua seperti yang dikatakan Yesus kepada mereka. Lalu mereka mempersiapkan Paskah.
14:17-18 SETELAH HARI MALAM, datanglah Yesus bersama-sama dengan ke-12 murid itu. Ketika mereka duduk di situ dan sedang makan, Yesus berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku, yaitu dia yang makan dengan Aku."

[Hari di Yahudi mulai MALAM sampai SENJA, penyembelihan domba paskah dilakukan PAGI dan SORE, sehingga saat para murid Yesus berkata pada Yesus terjadi pada SIANGnya di hari ke-1, hari roti raya roti tidak beragi, tanggal 15 Nisan (setiap hari selama 7 hari adalah Paskah). Ketika mereka makan terjadi DI SETELAH MALAM, artinya sudah masuk pada hari ke-2 hari raya roti tidak beragi, tanggal 16 Nisan]

Hari persiapan Sabat
14:30 Lalu kata Yesus kepadanya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada hari ini, malam ini juga, sebelum ayam berkokok 2x, engkau telah menyangkal Aku 3x."
14:72 Dan pada saat itu berkokoklah ayam untuk ke-2xnya. Maka teringatlah Petrus, bahwa Yesus telah berkata kepadanya: "Sebelum ayam berkokok 2x, engkau telah menyangkal Aku 3x." Lalu menangislah ia tersedu-sedu.

[Kejadian ini di tanggal 16 Nisan malam s/d subuh]

15:1. PAGI-PAGI BENAR imam-imam kepala bersama tua-tua dan ahli-ahli Taurat dan seluruh anggota Sanhedrin/Mahkamah Agama sudah bulat mupakatnya. Mereka membelenggu Yesus lalu membawa-Nya dan menyerahkan-Nya kepada Pilatus.
15:6 Telah menjadi kebiasaan untuk membebaskan satu orang hukuman pada tiap-tiap hari raya itu menurut permintaan orang banyak.

Golgota
15:25 JAM KE-3 (hora tritos, terjemahan: jam 9) ketika Ia disalibkan.
15:33. Pada JAM KE-6 (hora hektos, terjemahan: jam 12), kegelapan meliputi seluruh daerah itu dan berlangsung sampai JAM KE-9 (hora ennatos, terjemahan: jam 3)
15:34 Pada JAM KE-9 (hora ennatos, terjemahan: jam 3), berserulah Yesus dengan suara nyaring: "Eloi, Eloi, lama sabakhtani?", yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?
15:37 Lalu berserulah Yesus dengan suara nyaring dan menyerahkan nyawa-Nya.

[Note:
Menariknya, kejadian ditempat yang sama, orang yang sama, namun terdapat perbedaan waktu Yesus disalibkan: "hektos hora" (jam ke-6, Yohanes 19:14) VS "hora tritos" (jam ke-3, Markus 15:25).

Argumen yang biasa digunakan menanggapi perbedaan fatal ini adalah bahwa Injil Markus menggunakan waktu Yahudi sementara Injil Yohanes menggunakan waktu Romawi :)

Argument ini lemah, pertama, klaim domba paskah hanya masuk jika menggunakan tradisi waktu Yahudi, sehingga, perbedaan waktu antar injil ini melemahkan benar tidaknya terjadi penyaliban. Ke-2, JIKA BENAR ADA PENGHUKUMAN, maka saat itu yang TERHUKUM BUKAN CUMA YESUS, masih ada lainnya, maka metaphora domba paskah sudah kabur maknanya. Ke-3, Tradisi pemotongan dan persembahan HEWAN KURBAN, telah berjalan lama di SEBELUM dan SETELAH Yesus sehingga sangatlah aneh kaum Yahudi melakukan hal yang seharusnya bisa ditunda, tapi tidak ditunda mengingat karena hari itu adalah hari raya, yaitu di even paskah 7 hari ini.
]

15:42. Sementara itu HARI MULAI MALAM, dan hari itu adalah HARI PERSIAPAN, YAITU HARI MENJELANG SABAT.
15:44 PILATUS HERAN waktu mendengar bahwa Yesus sudah mati. Maka ia memanggil kepala pasukan dan bertanya kepadanya apakah Yesus sudah mati.
15:45 Sesudah didengarnya keterangan kepala pasukan, ia berkenan memberikan mayat itu kepada Yusuf.

[Note:
perlu diperhatikan keheranan Pilatus, bahwa dalam kurun waktu 3 jam-an saja, di antara 3 penjahat yang dihukum, hanya yesus yang wafat sementara 2 lainnya tidak.

Penyaliban penjahat telah banyak dilakukan sebelumnya, tidak terjadi pada kasus ini saja, sehingga waktu rata-rata kematian akan diketahui yaitu BERJAM-JAM hingga beberapa hari, sebagaimana terungkap dalam laporan tentang hukuman penyaliban: "Penderitaan itu berlangsung setidaknya 12 jam, dalam beberapa kasus selama 3 hari. Untuk mempercepat kematian kaki dirusak, dan ini dianggap sebagai tindakan AMPUNAN (Cicero, "Phil." Xiii. 27)"]


15:46 Yusufpun membeli kain lenan, kemudian ia menurunkan mayat Yesus dari salib dan mengapaninya dengan kain lenan itu. Lalu ia membaringkan Dia di dalam kubur yang digali di dalam bukit batu. Kemudian digulingkannya sebuah batu ke pintu kubur itu.
15:47 Maria Magdalena dan Maria ibu Yoses melihat di mana Yesus dibaringkan.

[semua peristiwa ini terjadi pada hari ke-2 hari raya roti tidak beragi yaitu tanggal 16 Nisan pagi s/d menjelang malam, akhir dari tanggal 16 Nisan

Dikatakan ‘hari itu adalah hari persiapan, yaitu hari menjelang sabat’ artinya, tanggal 16 Nisan adalah hari persiapan yang berakhir senja, saat malam hari sudah masuk tanggal 17 Nisan, yaitu hari sabat, SABTU MALAM sampai MINGGU SENJA, jadi Yesus meninggal di hari SABTU SORE]

Hari pertama minggu itu setelah Sabat
16:1-2. SETELAH LEWAT HARI SABAT, Maria Magdalena dan Maria ibu Yakobus, serta Salome membeli rempah-rempah untuk pergi ke kubur dan meminyaki Yesus. Dan PAGI-PAGI BENAR PADA HARI PERTAMA MINGGU ITU, SETELAH MATAHARI TERBIT, pergilah mereka ke kubur.

[Sabat regular, tanggal 17 Nisan, SABTU MALAM - MINGGU SENJA, jadi, minggu pagi masih hari sabat. Hari pertama, tanggal 18 Nisan mulai MINGGU MALAM - SENIN SENJA, jadi, Maria menengok kubur di hari SENIN pagi]

Injil LUKAS
Hari raya roti tidak beragi, Perjamuan Kudus
22:7. MAKA TIBALAH HARI RAYA ROTI TIDAK BERAGI, yaitu hari di mana orang harus menyembelih domba Paskah. Lalu Yesus menyuruh Petrus dan Yohanes, kata-Nya: "Pergilah, persiapkanlah perjamuan Paskah bagi kita supaya kita makan."
22:14 Ketika tiba saatnya, Yesus duduk makan bersama-sama dengan rasul-rasul-Nya.
22:34 Tetapi Yesus berkata: "Aku berkata kepadamu, Petrus, hari ini ayam tidak akan berkokok, sebelum engkau 3x menyangkal, bahwa engkau mengenal Aku."
22:39. Lalu pergilah Yesus ke luar kota dan sebagaimana biasa Ia menuju Bukit Zaitun. Murid-murid-Nya juga mengikuti Dia.
22:46 Kata-Nya kepada mereka: "Mengapa kamu tidur? Bangunlah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan."
22:60 Tetapi Petrus berkata: "Bukan, aku tidak tahu apa yang engkau katakan." Seketika itu juga, sementara ia berkata, berkokoklah ayam.

[Hari di Yahudi mulai MALAM sampai SENJA, penyembelihan domba paskah dilakukan PAGI dan SORE, jadi saat Yesus menyuruh Petrus dan Yohanes, terjadi SIANG tanggal 15 Nisan (setiap hari selama 7 hari adalah Paskah), sehingga walaupun LUKAS tidak mengatakan perjamuan makan dilakukan SIANG atau MALAMNYA, namun jika merujuk pada injil MATIUS dan MARKUS, perjamuan terjadi di MALAH HARINYA, yaitu masuk pada hari ke-2, hari raya roti tidak beragi, tanggal 16 Nisan, dan kejadian ayam berkokok terjadi di tanggal 16 subuh]

Hari persiapan Sabat
22:66 DAN SETELAH HARI SIANG berkumpullah sidang para tua-tua bangsa Yahudi dan imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu mereka menghadapkan Dia ke Sanhedrin/Mahkamah Agama mereka,
23:44-45 Ketika sudah kira-kira JAM KE-6 (hora hektos, terjemahan: jam 12), lalu kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai JAM KE-9 (hora ennatos, terjemahan: jam 3), sebab matahari tidak bersinar……
23:46 Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: "Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku." Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya.

[Note:
Menariknya, kejadian ditempat yang sama, orang yang sama, namun terdapat perbedaan waktu Yesus disalibkan: "hektos hora" (jam ke-6, Yohanes 19:14) VS "hora tritos" (jam ke-3, Markus 15:25).

Argumen yang biasa digunakan menanggapi perbedaan fatal ini adalah bahwa Injil Markus menggunakan waktu Yahudi sementara Injil Yohanes menggunakan waktu Romawi :)

Argument ini lemah, pertama, klaim domba paskah hanya masuk jika menggunakan tradisi waktu Yahudi, sehingga, perbedaan waktu antar injil ini melemahkan benar tidaknya terjadi penyaliban. Ke-2, JIKA BENAR ADA PENGHUKUMAN, maka saat itu yang TERHUKUM BUKAN CUMA YESUS, masih ada lainnya, maka metaphora domba paskah sudah kabur maknanya. Ke-3, Tradisi pemotongan dan persembahan HEWAN KURBAN, telah berjalan lama di SEBELUM dan SETELAH Yesus sehingga sangatlah aneh kaum Yahudi melakukan hal yang seharusnya bisa ditunda, tapi tidak ditunda mengingat karena hari itu adalah hari raya, yaitu di even paskah 7 hari ini.
]

23:50. Adalah seorang yang bernama Yusuf. Ia anggota Majelis Besar, dan seorang yang baik lagi benar.
23:52 Ia pergi menghadap Pilatus dan meminta mayat Yesus.
23:53 Dan sesudah ia menurunkan mayat itu, ia mengapaninya dengan kain lenan, lalu membaringkannya di dalam kubur yang digali di dalam bukit batu, di mana belum pernah dibaringkan mayat.
23:54 HARI ITU ADALAH HARI PERSIAPAN DAN SABAT HAMPIR MULAI.
23:56 Dan setelah pulang, mereka menyediakan rempah-rempah dan minyak mur.
(23-56b) Dan PADA HARI SABAT mereka beristirahat menurut hukum Taurat,

[semua peristiwa ini terjadi pada hari ke-2 hari raya roti tidak beragi yaitu tanggal 16 pagi s/d menjelang malam, yang merupakan akhir dari tanggal 16 Nisan

Dikatakan ‘hari itu adalah hari persiapan, yaitu hari menjelang sabat’ artinya, tanggal 16 Nisan adalah hari persiapan yang berakhir senja, saat malam hari sudah masuk tanggal 17 Nisan, yaitu hari sabat, SABTU MALAM sampai MINGGU SENJA, jadi Yesus meninggal di hari SABTU SORE, sebelum SABAT MULAI, Yesus sudah selesai di kubur]

Hari pertama minggu itu setelah Sabat
24:1-2. tetapi PAGI-PAGI BENAR PADA HARI PERTAMA MINGGU ITU mereka pergi ke kubur membawa rempah-rempah yang telah disediakan mereka. Mereka mendapati batu sudah terguling dari kubur itu,

[Sabat regular, tanggal 17 Nisan, SABTU MALAM - MINGGU SENJA, jadi, minggu pagi masih hari sabat. Hari pertama, tanggal 18 Nisan mulai MINGGU MALAM - SENIN SENJA, jadi, Mereka ke kubur pada hari SENIN pagi]

Injil Yohanes
Sebelum Paskah, ada hari raya dan kemudian ada perjamuan
13:1. Sementara itu sebelum hari raya Paskah mulai, Yesus telah tahu, bahwa saat-Nya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa.
13:18 Bukan tentang kamu semua Aku berkata. Aku tahu, siapa yang telah Kupilih. Tetapi haruslah genap nas ini: ORANG YANG MAKAN ROTI-KU, telah mengangkat tumitnya terhadap Aku
13:26 Jawab Yesus: "Dialah itu, yang kepadanya AKU AKAN MEMBERIKAN ROTI, sesudah Aku mencelupkannya." Sesudah berkata demikian Ia mengambil roti, mencelupkannya dan memberikannya kepada Yudas, anak Simon Iskariot.
13:27 Dan sesudah YUDAS MENERIMA ROTI ITU, ia kerasukan Iblis. Maka Yesus berkata kepadanya: "Apa yang hendak kauperbuat, perbuatlah dengan segera."
13:29 Karena Yudas memegang kas ada yang menyangka, bahwa Yesus menyuruh dia membeli apa-apa yang perlu UNTUK PERAYAAN ITU, atau memberi apa-apa kepada orang miskin. 13:30 YUDAS MENERIMA ROTI ITU lalu segera pergi. PADA WAKTU ITU HARI SUDAH MALAM.
13:38 Jawab Yesus: "Nyawamu akan kauberikan bagi-Ku? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku 3x."
18:27 Maka Petrus menyangkalnya pula dan ketika itu berkokoklah ayam.

[Saat itu SEDANG dilakukan perayaan, dari kalimat "ORANG YANG MAKAN ROTI-KU", "AKU AKAN MEMBERIKAN ROTI", dan ROTI YANG DIBERIKAN YESUS DAN DIMAKAN YUDAS SEBELUM YUDAS PERGI MEMBELI APA-APA UNTUK PERAYAAN ITU, juga, merujuk Matius, Markus dan Lukas, maka perayaan itu adalah perayaan hari roti tidak beragi, tanggal 15 Nisan (setiap hari selama 7 hari adalah Paskah). Kemudian, karena disebutkan "PADA WAKTU ITU HARI SUDAH MALAM", maka ini tidak lagi di hari ke-1, namun masuk ke-2 hari raya roti tidak beragi, tanggal 16 Nisan, yang mulai pada malam hari]

Hari persiapan Sabat
18:28. Maka mereka membawa Yesus dari Kayafas ke gedung pengadilan. KETIKA ITU HARI MASIH PAGI. Mereka sendiri tidak masuk ke gedung pengadilan itu, supaya jangan menajiskan diri, sebab mereka hendak makan Paskah.
18:39 Tetapi pada kamu ada kebiasaan, bahwa pada Paskah aku membebaskan seorang bagimu. Maukah kamu, supaya aku membebaskan raja orang Yahudi bagimu?"
19:14 HARI ITU IALAH HARI PERSIAPAN PASKAH, kira-kira JAM KE-6 (Hora hektos). Kata Pilatus kepada orang-orang Yahudi itu: "Inilah rajamu!"
19:15 Maka berteriaklah mereka: "Enyahkan Dia! Enyahkan Dia! Salibkan Dia!"..

[Note:
Menariknya, kejadian ditempat yang sama, orang yang sama, namun terdapat perbedaan waktu Yesus disalibkan: "hektos hora" (jam ke-6, Yohanes 19:14) VS "hora tritos" (jam ke-3, Markus 15:25).

Argumen yang biasa digunakan menanggapi perbedaan fatal ini adalah bahwa Injil Markus menggunakan waktu Yahudi sementara Injil Yohanes menggunakan waktu Romawi :)

Argument ini lemah, pertama, klaim domba paskah hanya masuk jika menggunakan tradisi waktu Yahudi, sehingga, perbedaan waktu antar injil ini melemahkan benar tidaknya terjadi penyaliban. Ke-2, JIKA BENAR ADA PENGHUKUMAN, maka saat itu yang TERHUKUM BUKAN CUMA YESUS, masih ada lainnya, maka metaphora domba paskah sudah kabur maknanya. Ke-3, Tradisi pemotongan dan persembahan HEWAN KURBAN, telah berjalan lama di SEBELUM dan SETELAH Yesus sehingga sangatlah aneh kaum Yahudi melakukan hal yang seharusnya bisa ditunda, tapi tidak ditunda mengingat karena hari itu adalah hari raya, yaitu di even paskah 7 hari ini. Juga panjang waktu tiap hari tidak tetap 12 jam saja namun bervariasi sesuai posisi titik balik matahari di winter dan summer, misal: waktu summer untuk jam ke-9 adalah jam 02.31 dan waktu senja terakhir adalah 19.33, Jadi terdapat selisih waktu hingga 5 JAM sebelum mulainya Sabat
]



19:30 Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: "Sudah selesai." Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.
19:31. KARENA HARI ITU HARI PERSIAPAN DAN SUPAYA PADA HARI SABAT mayat-mayat itu tidak tinggal tergantung pada kayu salib -- sebab Sabat itu adalah hari yang besar -- maka datanglah orang-orang Yahudi kepada Pilatus dan meminta kepadanya supaya kaki orang-orang itu dipatahkan dan mayat-mayatnya diturunkan.
19:32 Maka datanglah prajurit-prajurit lalu mematahkan kaki orang yang pertama dan kaki orang yang lain yang disalibkan bersama-sama dengan Yesus;
19:33 tetapi ketika mereka sampai kepada Yesus dan melihat bahwa Ia telah mati, mereka tidak mematahkan kaki-Nya,
19:34 tetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air.

[Note:
Informasi di atas ini SUDAH MENJELASKAN DENGAN SANGAT bahwa ACARA PEMOTONGAN DOMBA PASKAH UNTUK SABAT BELUM DIMULAI dan Yesus sudah duluan wafat (Ia sudah wafat sebelum lambungnya ditikam tombak).

Mengapa hal ini diperlukan? Karena Ulangan 21.22-23 menyatakan:

Apabila seseorang berbuat dosa yang sepadan dengan hukuman mati, lalu ia dihukum mati, kemudian kaugantung dia pada kayu, maka janganlah mayatnya dibiarkan semalam-malaman pada tiang itu, tetapi haruslah engkau menguburkan dia pada hari itu juga, sebab seorang yang digantung terkutuk oleh Allah; janganlah engkau menajiskan tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu menjadi milik pusakamu

"sabat itu adalah hari yang besar" dalam kurung/"--" BUKANLAH Sabat Hagadol (Sabat yang terjadi SEBELUM Paskah) tapi ini adalah Sabat yang terjadi selama Paskah 7 hari. Menurut para komentator Alkitab, misalnya Matthew poole (1624-1679), John Wesly (1703-1791), Thomas coke (1801-1803) dan Heinrich Meyer (1819) hari sebelum Sabat ini terjadi di hari ke-2 Perayaan roti tidak beragi, atau tanggal 16 Nisan.

Tanggal 16 Nisan juga disebut hari ke-1 Omer atau penunjukan berkas pertama penuaian
]

19:38. Sesudah itu Yusuf dari Arimatea--ia murid Yesus, tetapi sembunyi-sembunyi karena takut kepada orang-orang Yahudi--meminta kepada Pilatus, supaya ia diperbolehkan menurunkan mayat Yesus. Dan Pilatus meluluskan permintaannya itu. Lalu datanglah ia dan menurunkan mayat itu.
19:41 Dekat tempat di mana Yesus disalibkan ada suatu taman dan dalam taman itu ada suatu kubur baru yang di dalamnya belum pernah dimakamkan seseorang.
19:42 KARENA HARI ITU HARI PERSIAPAN ORANG YAHUDI, sedang kubur itu tidak jauh letaknya, maka mereka meletakkan mayat Yesus ke situ.

[Di hari ke-2 hari raya roti tidak beragi yang juga hari persiapan SABAT, Yesus sudah di kubur sebelum SENJA, jadi Yesus meninggal SABTU SORE tanggal 16 Nisan.]

Hari pertama minggu itu setelah Sabat
20:1. PADA HARI PERTAMA MINGGU ITU, PAGI-PAGI BENAR KETIKA HARI MASIH GELAP, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu dan ia melihat bahwa batu telah diambil dari kubur.

[Sabat regular, tanggal 17 Nisan, SABTU MALAM - MINGGU SENJA, jadi, minggu pagi masih hari sabat. Hari pertama, tanggal 18 Nisan mulai MINGGU MALAM - SENIN SENJA, jadi, MARIA ke kubur pada hari SENIN pagi]

[Artikel kematian yesus di antara dua sabat yang berasal dari sumber kristen dapat anda lihat di sini]


Uraian Kematian di antara Dua sabat

Dari kronologis di atas, dapat diringkas sebagai berikut, Bulan ke-1 (Imamat 23.4-8):
  1. Tanggal 14, Rabu malam - Kamis senja, Paskah BULAN ke-1
  2. Tanggal 15, Kamis malam- Jum'at senja, Hari ke-1 hari raya roti tidak beragi [Imamat 23, Matius 26:2, 26:17-20; Markus 14:1, 14:12; Lukas 22:7-8, 22:39; Yohanes 12:20]
  3. Tanggal 16, Jum'at malam - Sabtu senja, Hari ke-2 hari raya roti tidak beragi, hari ke-1 Omer dan juga hari persiapan SABAT REGULER [Markus 15:33,42; Yohanes 18:28, 19:14, 31, 42; Lukas 23:14, 23:54; 56-56b; Matius 27 45, 51, 27:62-64], Yesus wafat di JAM ke-9, yaitu SABTU SORE, setelah seluruh mayat hukuman diturunkan, senja-nya barulah dilakukan pemotongan domba paskah.
  4. Tanggal 17, SABAT REGULER, Sabtu malam- Minggu senja, Hari ke-3 hari raya roti tidak beragi [Lukas 23:56;56b]
  5. Tanggal 18, Minggu malam - Senin senja, Hari ke-4 hari raya roti tidak beragi dan juga hari pertama setelah sabat regular [Matius 28:1-2; Markus 16:1-2; Lukas 24:1-2; Yohanes 20:1], pagi-pagi Magdalena pergi ke kubur Yesus, jadi ini adalah SENIN PAGI
Demikian kronologi wafatnya Yesus yang terjadi di perayaan roti tidak beragi dan sebelum sabat.


Kapan Yesus Wafat?
Alkitab menyampaikan beberapa peristiwa alam seputar wafatnya:
  1. Gerhana di Bulan pertama [Matius 27:45, Markus 15:33, Lukas 23:34-35] yang terjadi selama 3 (TIGA) jam dan
  2. Gempa bumi yang terjadi dua kali yaitu sebelum (mat 27:51) dan sesudah (Mat 28:2) Paskah!
Kejadian GERHANA MATAHARI selama 3 JAM dan GEMPA BUMI, terlalu aneh untuk dapat diabaikan para saksi namun anehnya hal ini hanya tercatat di Injil Matius dan TIDAK di Injil lainnya oleh karenanya, wajar saja kita abaikan.

Bagaimana dengan Gempa?

Berdasarkan situs ini, yang memuat rekaman data kejadian gempa antara tahun 0-100, TIDAK SATUPUN menyebutkan ada gempa di Yerusalem bahkan kemungkinan gempa terjadi sampai di laut mati-pun DIRAGUKAN, oleh karenanya, inipun wajar juga kita abaikan.

Pontius Pilate
4 Injil menyatakan Yesus wafat di era Pontius Pilate sebagai wali daerah Yudea, Injil Lukas menyatakan tentang masa pelayanan Yohanes pembaptis mulai di tahun ke 15 kaisar Tiberius (Lukas 3.1-2) dan Injil Yohanes menyatakan bahwa Yesus setidaknya mengikuti 3 Paskah, oleh karenanya, tahun kejadian tidak boleh kurang dari tahun 29 M dan tidak boleh lebih dari tahun 37 M.

Kapan masa Pontius menjabat Prokurator Yudea? Josephus dalam Antiquities of the Jews, bab 18:
    ..Tiberius .. sekarang adalah kaisar ke-3..mengirim Valerius Gratus untuk menjadi prokurator Yudea .... setelah Ia tinggal di Yudea selama 11 tahun, ketika Pontius Pilatus datang sebagai penggantikannya. [18.2.2] .. Pilatus melakukan pembangunan Aquaduct ke Yerusalem, dan melakukannya dengan uang suci/Corbonas..kaum Yahudi tidak senang..membuat keributan melawannya..ada sejumlah besar dari mereka terbunuh [Ch 18.3.2; The Jewih War 2.9.4], sekitar waktu ini Yesus,..Pilatus, atas saran para tetua kita..mengutuknya ke salib, [Ch.18.3.3]... Di samaritan...di desa Tirathaba..Pilatus mencegah mereka naik,..beberapa di antara mereka terbunuh [18.4.1].. Kemudian Vitellius mengirim Marcellus, seorang temannya, untuk mengurus urusan Yudea, dan memerintahkan Pilatus pergi ke Roma, untuk menjawab di hadapan kaisar atas tuduhan orang Yahudi. Kemudian Pilatus, ketika setelah Ia tinggal selama 10 tahun di Yudea, menjadi bergegas ke Roma, dan ini dalam rangka mematuhi perintah Vitellius, yang tidak ingin Ia bertentangan; tetapi sebelum Ia bisa ke Roma Tiberius sudah mati [Ch 18.4.2]. Tetapi Vitellius datang ke Yudea, dan tiba di Yerusalem; itu pada saat festival itu yang disebut Paskah. Vitellius di sana diterima dengan luar biasa (Ch 18.4.3)... Philip saudara Herodes wafat di tahun ke-20 Tiberius, karena tidak ada turunan, Tiberius mengambil daerah itu. [Ch.18.4.6], saat pasukan Aretas dan Herodes saling berhadapan, Ex orang Philip bergabung bersama Aretas mengalahkan Herod. Berang atas kekalahan Herod, Tiberius memerintahkan Vitelius memerangi Aretas [Ch 18.5.1]... Vitellius..bersama Herodes..pergi ke Yerusalem untuk mempersembahkan korban kepada Tuhan,..diterima secara terhormat oleh banyak orang Yahudi, dia tinggal di sana selama 3 hari,..Tetapi pada hari ke-4 datang surat bahwa Tiberius wafat [Ch 18.5.3]. Kaum Yahudi berkata kekalahan Herodes, sebagai balasan kematian Yohanes, yang dibunuhnya, karena takut pengaruh Yohanes dapat memicu pemberontakan. [Ch 18.5.2] Tiberius, .. karena meskipun dia adalah kaisar 22 tahun, Keseluruhannya Ia kirim hanya 2 prokurator untuk memerintah bangsa Yahudi, Gratus, dan penggantinya di pemerintah, Pilatus (18.6)
Dari Josephus kita ketahui:
  1. Pada tahun seputaran Yesus wafat, terdapat beberapa kerusuhan antara kaum Yahudi dan Romawi di wilayah Pilatus, diantaranya di Yerusalem dan di Samaritan.
  2. Kedatangan Vitellius ke Yerusalem, disamping karena tugas dari Tiberius untuk memerangi Aretas yang telah mengalahkan Herodes juga tentang permasalahan pembunuhan kaum Yahudi oleh Pilatus di Samaritan.
  3. Kemenangan Aretas terhadap Herodes juga mendapat bantuan ex orang Philip yang telah wafat di tahun ke-20 Tiberius dan karena jarak waktu antara kemarahan Tiberius atas berita ini dan Tiberius wafat berdekatan, maka peperangan ini juga terjadi juga di tahun ke-22 Tiberius
  4. Karena kaum Yahudi anggap kekalahan Herodes sebagai balasan dari kematian Yohanes Pembaptis yang injil katakan terjadi lebih dahulu dari wafatnya Yesus, maka wafatnya Yesus, bisa jadi juga terjadi di tahun ke-22 Tiberius
  5. Tahun ke-22 Tiberius mulai dari 18 Sep 37 M dan telah berjalan 6 bulan sampai wafatnya (18 Sep 14 M - 16 Maret 37 M).
  6. Di jaman Tiberius, Gratus telah 11 tahun dan Pilatus telah 10 tahun di Yudea, yang banyak ditafsirkan bahwa Pilatus menjabat dari tahun 26 s.d 36 M. Padahal ini tidak akurat, karena Josephus TIDAK menyatakan Gratus dicopot di tahun ke-11 dan Pilatus dicopot di tahun ke-10, tapi diganti SETELAH 11 tahun dan SETELAH 10 tahun di Yudea, ini artinya, total waktu keduanya bisa lebih dari akhir masa Tiberius memerintah. Oleh karenanya, uraian Josephus dapat juga diartikan, bahwa di tahun 37 Tiberitus, yaitu saat Paskah Roti tidak beragi, sewaktu Yesus disalibkan, Pilatus masih menjabat.
  7. Kedatangan utusan Vitellius yang membuat Pilatus harus ke Roma, namun sebelum ke Roma, Tiberius diketahuinya sudah wafat.
  8. Vitellius datang ke Yerusalem saat Paskah dan di hari ke-4, ia mendapat berita Tiberius telah wafat, maka bisa jadi Paskah saat kedatangan Vitellius adalah Paskah yang terjadi 1 bulan setelah paskah roti tidak beragi, yaitu Paskah Sheni
Dari kronologi kematian Yesus, yang terjadi SETELAH 14 Nisan/Rabu Malam di masa Pontius, maka tanggal 16 Nisan adalah tanggal
  1. Julian: 11 April 27 M (Panjang hari di kalender Yahudi: 383 hari), dan
  2. Julian: 22 Maret 37 M (panjang hari di kalender Yahudi: 355 hari)
Namun karena peristiwa ini harus terjadi setelah tahun ke-15 Tiberius/29 M, maka tanggal yang tersisa adalah 16 Nisan/22 Maret 37 M (1 Minggu setelah wafatnya Tiberius), pada jam ke-9/jam 15, sekitar 3 jam sebelum Sabat dimulai, saat itu, kaum Yahudi bahkan BELUM melakukan PEMOTONGAN HEWAN KURBAN, karena baru dilakukan Setelah semua mayat orang hukuman diturunkan agar tidak menajiskan tanah (Yohanes 19:31; Ulangan 21:22-23), jadi, Yesus bukanlah domba paskah.


Apa alasan menghukum Yesus?
Injil menyampaikan suatu plot kejadian yang memerlukan gabungan keterlibatan: Pontius Pilate (Gubernur Yudea) dan Herodes (Gubernur Gelilea), baik dalam nama jabatan sebagai prefect (pejabat militer: Inskripsi tahun 1961) atau procurator (pejabat keuangan) kekaisaran romawi bersama para anggota Sanhedrin (mahkamah agama) Yahudi dalam aksi melakukan hukuman mati bagi Yesus. [lihat juga: The responsibility for the death of Jesus]

Pengarang injil menjadikan plot kejadiannya justru di hari yang aneh, yaitu PASKAH, seolah seluruh anggota mahkamah Yahudi, TIDAK TAU kegunaan hari paskah bagi mereka dan TIDAK ADA hari lain untuk menjatuhkan hukuman

Baiklah,
mari kita lihat pelanggaran HUKUM TAURAT dan HUKUM KERAJAAN apa saja yang dilakukan oleh YESUS.
PELANGGARAN HUKUM TAURAT, diantaranya:

Pertama,
Melakukan Tindakan Pencurian di Hari Paskah dan Mengaku Diri sebagai: Anak Tuhan dan juga Tuhan:
    Pada suatu kali, PADA HARI SABAT, Yesus berjalan di ladang gandum, dan sementara berjalan murid-murid-Nya memetik bulir gandum [Mat 12:1 => Karena lapar, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya; Luk 6:1 => murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya]. Maka kata orang-orang Farisi kepada-Nya: "Lihat! Mengapa mereka berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?". Jawab-Nya kepada mereka: "Belum pernahkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya kekurangan dan kelaparan, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah waktu ABYATAR menjabat sebagai Imam Besar lalu makan roti sajian itu--yang tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam--dan memberinya juga kepada pengikut-pengikutnya. Lalu kata Yesus kepada mereka: "Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat, jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat" [Markus 2:23-28, Matius 12:1-9, Lukas 6:1-5]
Apakah Daud di kisah itu mencuri?
    Raja Saul marah...hendak membunuh Daud...Daud melarikan diri [1 Sam 20:30-33]. Sampailah Daud ke Nob KEPADA AHIMELEKH..Jawab Daud kepada imam Ahimelekh: "Raja menugaskan sesuatu kepadaku..Maka sekarang, apa yang ada padamu? Berikanlah kepadaku lima roti atau apapun yang ada" Lalu jawab imam itu kepada Daud: "Tidak ada roti biasa padaku, hanya roti kudus yang ada; asal saja orang-orangmu itu menjaga diri terhadap perempuan" Daud menjawab imam itu, katanya kepadanya: "Memang, kami tidak diperbolehkan bergaul dengan perempuan, seperti sediakala apabila aku maju berperang. Tubuh orang-orangku itu tahir, sekalipun pada perjalanan biasa, apalagi pada hari ini, masing-masing mereka tahir tubuhnya.". Lalu imam itu memberikan kepadanya roti kudus itu, karena tidak ada roti di sana kecuali roti sajian; roti itu biasa diangkat orang dari hadapan TUHAN, supaya pada hari roti itu diambil, ditaruh lagi roti baru. [1 Sam 21:1-5]
Apa yang keliru dari kisah Yesus di ladang Gandum ini?
  1. Dalam kasus Daud, DAUD DIBERI ROTI, BUKAN MENGAMBIL TANPA IJIN dan dalam keadaan tahir/tidak berhubungan badan dengan perempuan. Saat itu, Daud berada dalam bahaya kelaparan dan TERANCAM KESELAMATAN akibat hendak dibunuh Saul. Dengan diberikan roti, Daud tidak melanggar Sabat, apalagi, di kasus ini, nyawa terancam, maka sabat boleh dilanggar (1 Makabe 2:41), sedangkan Yesus dan muridnya, TIDAK SEDANG TERANCAM KESELAMATAN, mereka sedang jalan-jalan santai. Jadi berdalih dengan kasus Daud adalah tidak relevan.

  2. Dalam kasus Yesus:

    Jika beralasan sebagai jatah orang miskin dan orang asing dengan "Pada waktu kamu menuai hasil tanahmu, janganlah kausabit ladangmu habis-habis sampai ke tepinya, dan janganlah kaupungut apa yang ketinggalan dari penuaianmu..tetapi semuanya itu harus kautinggalkan bagi orang miskin dan bagi orang asing" [Imanat 19:9-10], MASALAHNYA, tidak disebutkan itu terjadi setelah masa panen yang tentunya kaum farisi juga tahu aturan ini sehingga tidaklah disebut melanggar sabat dan malah jadi mengada-ada membela diri dengan merujuk pada kisah Daud.

    Tuduhan dilontarkan adalah ketika melihat mereka memetik dan makan gandum, maka jika hari itu hari raya buah sulung, orang miskinpun tetap mengacu hukum Taurat, "Apabila kamu sampai ke negeri..dan kamu menuai hasilnya, maka kamu harus membawa seberkas hasil pertama dari penuaianmu kepada imam, dan imam itu haruslah mengunjukkan berkas itu di hadapan Tuhan..Pada hari kamu mengunjukkan berkas itu kamu..JANGANLAH KAMU MAKAN roti, atau gandum baru itu, baik mentah, dipanggang, sampai kamu telah membawa persembahan Allahmu;itulah suatu ketetapan untuk selama-lamanya bagi kamu turun-temurun [Imanat 2:10-14]. Inilah yang dilanggar, ketika mengutip Daud untuk membela diri, ini mengada-ada.

    Jika beralasan dengan "Apabila engkau melalui/berada (bow') ladang gandum sesamamu yang belum dituai, engkau boleh memetik bulir-bulirnya dengan tanganmu, tetapi sabit tidak boleh kauayunkan kepada gandum sesamamu itu" [Ulangan 23:26], MASALAHNYA, di Mishnah Bava Metziah 7:2 spesifik menyatakan bahwa ayat ulangan itu BERLAKU bagi para pekerja yang bekerja pada ladang majikannya BUKAN bagi YANG SEDANG MELINTAS, Sementara Yesus dan pengikutnya BUKANLAH PEKERJA LADANG TERSEBUT, JUGA TIDAK MEMINTA IJIN DAN TIDAK ADA YANG MEMBERIKAN PADA MEREKA. Mereka ini tertangkap tangan SEDANG MENCURI bulir Gandum. Jika sebagai pekerjapun konyol mengingat "6 hari lamanya engkau bekerja, tetapi pada hari yang ke-7 haruslah engkau berhenti, dan dalam musim membajak dan musim menuai haruslah engkau memelihara hari perhentian juga" [Keluaran 34:21]. Pencurian ini melanggar Sabat, menodai kekudusan Sabat

  3. Yesus juga salah menyebut nama Imam besar pada kisah Daud, yang harusnya BUKAN Abyatar, melainkan Ahimalek bin Ahtub [1 Sam 22:9], Ahimalek dari Nob punya anak bernama Abyatar [22.20] yang kelak ikut dengan Daud.

    Seorang yang diklaim Tuhan, tapi salah sebut nama, tentunya sangat tak elok, bukan? Juga, hal ngawur lain yang terkait Daud, misalnya:

    Ketika orang-orang Farisi sedang berkumpul, Yesus bertanya kepada mereka: "Apakah pendapatmu tentang Mesias (Christos)? Anak siapakah Dia?" Kata mereka: "Anak Daud." Kata-Nya kepada mereka: "Jika demikian, bagaimanakah Daud oleh pimpinan Roh (pneuma) dapat menyebut Dia Tuannya (kurios), ketika ia berkata: Tuhan (Kurios) telah berfirman kepada Tuanku (Kurios mou): duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai musuh-musuh-Mu Kutaruh di bawah kaki-Mu. Jadi jika Daud menyebut Dia Tuannya, bagaimana mungkin Ia anaknya pula?" [Matius 22.42-45, Lukas 20.41-44].

      Note:
      Mesias adalah orang yang dipilih (Yahudi/bukan) untuk (1) menolong/menyelamatkan bangsa ISRAEL dari: bangsa lain atau menyembah Tuhan lain dan menegakkan Taurat (sample: Musa, Samson dan Balaam) atau (2) terkait dengan kuil di Yerusalem (memerintahkan/membangun kuil agau memastikan KUIL TIDAK BERALIH FUNGSI untuk menyembah tuhan lain)

    Yesus saat itu, mengutip Mazmur 110.1, "Mazmur Daud. Demikianlah firman TUHAN (Yahova) kepada tuanku ('Adon): "Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuhmu menjadi tumpuan kakimu".

    Kaum Farisi sudah benar, karena tuanku (Adon/kurios) yang dimaksud memang merujuk pada SULAIMAN/SOLOMON, anaknya Daud sendiri, yang derajatnya menjadi tinggi karena Y@hova mengangkatnya menjadi anak, karena ditunjuk untuk membangun KUIL:

    "Sesungguhnya, seorang anak laki-laki akan lahir bagimu; AKAN MENJADI SEORANG YANG DIKARUNIA KEAMANAN (HAYAH 'IYSH M@NUCHAH). Aku akan mengaruniakan KEAMANAN kepadanya dari segala musuhnya di sekeliling. Ia akan bernama Salomo; SHALOM/DAMAI dan SHEQET/SEJAHTERA akan Kuberikan atas Israel pada zamannya. DIALAH YANG AKAN MENDIRIKAN RUMAH BAGI NAMA-KU dan DIALAH YANG AKAN MENJADI ANAK-KU dan AKU AKAN MENJADI BAPANYA; Aku akan mengokohkan takhta kerajaannya atas Israel sampai selama-lamanya [1 Taw 22.9-10]

    Dan dari antara anak-anakku sekalian--sebab banyak anak telah dikaruniakan TUHAN kepadaku--Ia telah memilih anakku Salomo untuk duduk di atas takhta pemerintahan TUHAN atas Israel. Ia telah berfirman kepadaku: Salomo, anakmu, dialah yang akan mendirikan rumah-Ku dan pelataran-Ku SEBAB AKU TELAH MEMILIH DIA MENJADI ANAK-KU dan AKU MENJADI BAPAKNYA. Dan Aku akan mengokohkan kerajaannya sampai selama-lamanya [1 Taw 28.5-7].

    Juga di setelah PENOBATAN SOLOMO (diurapi oleh IMAM ZADOK):

    "..pegawai-pegawai raja telah datang mengucap selamat kepada tuan kita raja Daud, dengan berkata: Kiranya Allahmu membuat nama Salomo lebih masyhur dari pada namamu dan takhtanya lebih agung dari pada takhtamu. DAN RAJAPUN TELAH SUJUD MENYEMBAH DI ATAS TEMPAT TIDURNYA, dan beginilah katanya: Terpujilah TUHAN, Allah Israel, yang pada hari ini telah memberi seorang duduk di atas takhtaku yang aku sendiri masih boleh saksikan." [1 Raja-raja 1.47-48]

    Alasan lain bahwa ini merujuk pada Solomo:
    "TUHAN telah bersumpah, dan Ia tidak akan menyesal: "Engkau adalah imam untuk selama-lamanya, menurut Melkisedek" (Mazmur 110.4). Anak-anak Daud menjadi Imam [2 Sam 8.18], Solomo, anak Daud, dipilih Yahova, jadi Shlomo imam yang diurapi/Mesias. Melkisedek juga sebutan, "Melkisedek, RAJA SALEM (MELEK SHALEM) [Kejadian 14.8], sebutan lainnya "AdoniZedek, raja Yerusalem" [Yosua 10.1]

    Di buku abad ke-19, buku yang dikategorikan Pseudopigraph, berjudul "Kitab Raja Solomo", pengarangnya bernama Ahimaaz (ini juga menarik karena nama anak Zadok adalah Ahimaaz), pada bab "Gua Waktu" yang bercerita tentang Imam bernama Melkisedek meminta Adam agar mememberikan 60 tahun umurnya pada Sulaiman, jika tidak maka Sulaiman tidak akan ada ["Book of King Solomon" (sefer ha-melekh shelomoh akhimaatz mazkir malkhuti), translator: Prof. Solomon, 2005, ch 9: "Cave of Ages", hal.42-47].

    Kisah ini mengkaitkan Imam bernama Melkisedek dengan Solomo

      Apa maksud Melki/Adoni-Zedek?
      Sebelumnya, Yerusalem, tidak terkait kaum Yahudi, awalnya merupakan sentra budaya Kanaan kuno, kaum Yebusit, pemuja Dewa EL-LYON yang punya nama lain, SEDEK dan SALIM. Nama SALIM menjadi nama anaknya David, yaitu SHLOMO (Ibunya orang kanaan, Batsheba) dan juga nama kota itu. ["A History of Religion East and West: An Introduction and Interpretation", Trevor Ling, hal.45]. EL-SEDEK, dewa utama Kanaan kuno juga disebut MELCHI/MALKI/MALEK/ADONI-SEDEK atau "SEDEK adalah RAJAKU" ["Why Priests?: A Failed Tradition", Garry Wills]. Salem, Dewa Senja kaum Kanaan, adalah dewa Keteraturan dan KEADILAN. Baik David maupun Shlomo menghindari friksi, tidak hanya antar dua kebudayaan, yaitu Kanaan dan kaum pendatang baru Yahudi, namun juga antar Dewa SALEM dan Dewa YAHWE, Dewa perang kaum Yahudi. Untuk menghormati Salem, Shlomo mengubah kuil yang asalnya terbuka menjadi beratap dan mengayomi dua grup kepercayaan berbeda. Bernhard Lang, menambahkan dalam catatan kakinya, tulisan Keel, "Die Geschichte Yerusalem undi Entstehung des Monotheismus", vol. 1, hlm. 264-333: "bukti yang berasal dari nubuat alkitabiah yang kata-kata aslinya, meski dikaburkan dalam teks Ibrani, dapat direkonstruksi berdasarkan teks Septuagint/Yunani: 'Matahari tahu dari langit bahwa Yahweh akan tinggal dalam kegelapan. Jadi, bangunlah rumah bagiku, sebuah rumah yang agung sehingga aku dapat tinggal di dalamnya lagi '(direkonstruksi dari 1 Raja-raja 8:53 teks Yunani; bahasa Ibrani hanya memiliki fragmen yang diedit dalam 1 Raja-raja 8: 12-13). Implikasinya adalah Dewa matahari butuh sebuah kuil dengan ruang gelap untuk menampung tamunya, Yahweh" ["Hebrew Life and Literature: Selected Essays", Bernhard Lang]

    Sehingga bagi Daud, Shlomo, bukan cuma anaknya tapi juga tuannya.

    Mengherankan sekali, jika seorang yang diklaim sebagai Tuhan kaum Israel, namun justru buta tentang 2 raja Israel yang paling top dalam sejarah Yahudi.

  4. Setelah kedapatan mencuri bulir gandum dan melanggar taurat, Yesus berdalih sebagai Tuhan. Ini adalah pelecehan terhadap Tuhan.

    Pelecehan terhadap Tuhan, terekam juga di banyak kejadian, misalnya di suatu ayat, Ia mengajarkan bahwa tuhan TIDAKLAH satu: "..baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus" [Matius 28:19]" atau di ayat lainnya dengan mengklaim dirinya sama degan Tuhan: "Aku dan Bapa adalah sama/satu (hen)" [Yohanes 10:30]

    Saat dituduh melecehkan tuhan dengan menyatakan dirinya sama dengan tuhan, Yesus berdalih karena taurat mengatakan, "Aku telah berfirman: Kamu (eimy) adalah allah (theos, single)?" [Yoh 10:34], Kalimat yang diklaim Yesus ini, merupakan kutipan dari kitab Mazmur:

    Para Allah (Elohim) berdiri di persidangan Allah (El), di tengah-tengah (qereb) para allah (Elohim) menghakimi: "Berapa lama lagi kamu menghakimi dengan lalim dan memihak kepada orang fasik? Berilah keadilan kepada orang yang lemah dan kepada anak yatim, belalah hak orang sengsara dan orang yang kekurangan! Luputkanlah orang yang lemah dan yang miskin, lepaskanlah mereka dari tangan orang fasik!" Mereka tidak tahu dan tidak mengerti apa-apa, dalam kegelapan mereka berjalan; goyanglah segala dasar bumi. Kataku (aniy amar): "Kamu (attah) para allah (elohim) berada atas segalanya (ben elyown kol), Namun seperti manusia kamu akan mati dan seperti salah seorang pembesar kamu akan tewas." bangkitlah (quwm) para Allah (Elohim), hakimilah bumi, sebab milikmu segala (kol) bangsa (gowy: biasannya non Israel). [Masmur 82.1-8]

    Tampak jelas klaim Yesus salah alamat, karena Para Allah yang dimaksudkan dalam mazmur ini, TIDAK merujuk pada jenis manusia.

    Statement bahwa Allah TIDAK satu, sama dengan dirinya, MELANGGAR pengakuan Iman (Shema, arti literal: "dengarlah") ajaran Yahudi: "Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu SATU!" (Ulangan 6:4), Ini kemudian ditulis di atas kulit lembu (perkamen) dan disebut Mezuzah, ditempelkan di pintu rumah dan juga diletakan dalam kotak kulit berbentuk kubus cat hitam dengan ikat kulit hitam (Tefillin). Pengakuan iman ini diajarkan pertama kalinya ketika mereka masih kecil, diucapkan setiap hari, sampai menjelang wafat
Pada kasus ini,
Yesus telah melanggar 3 dari 10 Perintah Y@hova, yaitu larangan ke-1 [Pendakwah (Nabi, saudara laki-laki, anak ibu, anak sendiri: Pria/wanita, isteri atau sahabat karibmu) yang mengajak MURTAD dan/Atau menyembah Allah lain (Ulangan 13.5-10); larangan ke-3 [menghujat/mengutuki atau menyebut nama tuhan dengan kesia-siaan/sembarangan (Imamat 24.15-16) dan larangan ke-8, yaitu mencuri kekayaan fisik (Imamat 6.2,5)

Selain urusan bulir gandum, ada beberapa insiden lain yang menunjukan Yesus dan pengikutnya terbiasa merampas/mengambil barang tanpa ijin, misalnya:

Kasus 2 ekor keledai:
    Ketika Yesus dan murid-murid-Nya telah dekat Yerusalem dan tiba di Betfage yang terletak di Bukit Zaitun, Yesus menyuruh dua orang murid-Nya dengan pesan:

    "Pergilah ke kampung yang di depanmu itu, dan di situ kamu temukan (Heurisko) SEEKOR KELEDAI BETINA (ONOS) TERTAMBAT DAN ANAKNYA (POLOS) ada dekatnya (hanya di Matius disebutkan adanya 2 keledai). LEPASKANLAH/AMBIL/LANGGAR (Luo) keledai itu dan BAWALAH KEDUANYA kepada-Ku. (Di MARKUS 11.2 dan LUKAS 19.30: "..Pada waktu kamu masuk di situ, kamu akan segera HEURISKO SEEKOR KELEDAI MUDA (POLOS) TERTAMBAT, yang belum pernah ditunggangi orang. LUO keledai itu dan bawalah ke mari"). DAN JIKALAU ADA ORANG YANG MENEGOR KAMU, katakanlah: TUHAN (KURIOS) MEMERLUKANNYA. Ia akan segera mengembalikannya." (MARKUS 11.3: "...Mengapa kamu lakukan itu, jawablah: KURIOS MEMERLUKANNYA. Ia akan segera mengembalikannya ke sini. LUKAS 19.31: "...Mengapa kamu melepaskannya? jawablah begini: KURIOS MEMERLUKANNYA. YOHANES 12.4: YESUS MENEMUKAN (Heurisko) SEEKOR KELEDAI MUDA LALU NAIK KE ATASNYA,..).

    HAL ITU TERJADI SUPAYA GENAPLAH FIRMAH YANG DISAMPAIKAN OLEH NABI: "Katakanlah kepada puteri Sion: Lihat, Rajamu datang kepadamu, Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda." Maka pergilah murid-murid itu dan berbuat seperti yang ditugaskan Yesus kepada mereka. Mereka membawa keledai betina itu bersama anaknya, lalu mengalasinya dengan pakaian mereka dan Yesuspun naik ke atasnya. [Matius 21:2-7, Markus 11:2-7 dan Lukas 19:30-35. Juga Yohanes 12.12-16]
Bagaimana mungkin untuk kejadian penting ini, INGATAN MEREKA BERBEDA? 3 Injil sinoptik: Yesus menyuruh muridnya VS Yohanes: Yesus sendiri yang melakukannya (YESUS MENEMUKAN SEEKOR KELEDAI MUDA LALU NAIK KE ATASNYA), Matius 2 keledai VS 3 lainnya, 1 Keledai! Seluruh injil sepakat bahwa KELEDAI-KELEDAI itu diperoleh SECARA MENGGELAP (baik dilakukan sendiri atau menyuruh orang), padahal Keluaran 23.4 saja menyatakan, "Apabila engkau melihat lembu musuhmu atau keledainya yang sesat, maka segeralah kaukembalikan" Para Nabi lainnya misal: Abraham (Kej 22.3), Musa (Kel 4.20) mengajarkan TIDAK MENCURI.

Terjemahkan "kurios" = TUHAN bukan TUAN/PEMILIK, membuat Yesus, hanya di 3 tempat ini saja TAMPAK menyebut diri sebagai TUHAN, tapi TIDAK SINGKRON dengan ayat selanjutnya, karena PARA MURIDNYA sendiri TIDAK menyebutnya TUHAN tapi "RAJA.." [Lukas 19.38]. Anehnya, di YOHANES 12.13, yang berucap BUKAN MURIDNYA tapi KHALAYAK: "mereka .. berseru-seru: ...Raja Israel!" atau di MATIUS 21.11: "Dan orang banyak itu menyahut: "Inilah NABI.." atau di Markus 11. 9, "Dia yang datang.." Seluruh lanjutan ayat di 4 injil TIDAK ADA menyebutnya TUHAN.

Menterjemahkannya sebagai TUHAN, NAS tidak terpenuhi, karena ayatnya tertera RAJA bukan TUHAN/NABI yang datang: "Katakanlah kepada puteri Sion: Lihat, RAJAMU DATANG kepadamu". Namun, apapun terjemahannya, tetap aneh, karena BUAT APA Tuan/Pemiliknya PERLU BERJANJI AKAN MENGEMBALIKAN BARANGNYA SENDIRI?. Bahkan hingga Yesus wafat, TIDAK TERTULIS keledai itu dikembalikannya

Kalimat "HAL ITU TERJADI SUPAYA GENAPLAH FIRMAH YANG DISAMPAIKAN OLEH NABI.." ADALAH SALAH KONTEKS. Zakaria dalam kitabnya TIDAK BICARA tentang kedatangan Yesus, baik sebagai raja, tuhan atau apapun, ZAKARIA bicara KABAR GEMBIRA bahwa Kaum Yahudi, yang saat itu dalam PEMBUANGAN di BABILONIA selama 70 tahun, AKAN SEGERA PULANG KEMBALI KE YERUSALEM!
    Tadi malam aku mendapat suatu penglihatan.... Maka aku bertanya: Apakah arti semuanya ini, ya tuanku?....Berbicaralah Malaikat TUHAN: Ya TUHAN, berapa lama lagi Engkau tidak menyayangi Yerusalem dan kota-kota Yehuda YANG TELAH 70 TAHUN LAMANYA KAU MURKAI ITU?...Beginilah firman TUHAN: Sangat besar usaha-Ku untuk Yerusalem dan Sion,...Aku kembali lagi kepada Yerusalem dengan kasih [Zakaria 1.8-16]
Lagi pula keledai BUKAN representatif kerendahan hati ataupun kelemahlembutan, lihat saja Yair dan anak-anaknya:
    ..Yair, orang Gilead, yang memerintah sebagai hakim atas orang Israel 20 tahun lamanya punya 30 anak laki-laki, yang mengendarai 30 keledai jantan, dan mereka mempunyai 30 kota.. [Hakim 10.3-4]
Khalayak Yahudi abad ke-1 masehi itu tentu tahu maksud Zakaria, TIDAK AKAN anggap itu sebagai nubuatan kedatangan seorang raja, apalagi Yesus. Mereka tahu di zaman Zakaria kuil ke-2 sedang mulai dibangun di bawah kepemimpinan 3 nabi, salah satunya adalah Zakaria yang juga menyebutkan tentang batu pilihan Zerubabel untuk kuil tersebut (Zak 4.10). Penglihatan Zakaria telah terpenuhi, Para Yahudi telah kembali ke Yerusalem dan kuil ke-2 telah berdiri. Yesus saat itu jelas sedang terjepit, dengan memanipulasi penglihatan Zakaria, Ia perintahkan pencurian pula! Saat itu, SUDAH BANYAK yang marah padanya hingga sampai melemparinya dengan batu [Yoh 8:59, Yoh 10:31]. "Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah."[Yoh 10:33] demikian mereka katakan, menurut hukum taurat, mereka yang: menghujat Allah [Imanat 24:16], melanggar sabath [kel 31:14-15, 35:2] bagiannya adalah MATI. TUHAN akan membinasakannya [Imanat 23:30] dan memerintahkan untuk DIBINASAKAN [Bil 9:13].

Oleh karenanya, "Mulai dari hari itu mereka sepakat untuk membunuh Dia. Karena itu Yesus tidak tampil lagi di muka umum di antara orang-orang Yahudi, Ia berangkat dari situ ke daerah dekat padang gurun, ke sebuah kota yang bernama Efraim, dan di situ Ia tinggal bersama-sama murid-murid-Nya" [Yoh 11:53-54]. Hingga 2 hari menjelang paskah. Para Yahudipun mencarinya dan bertanya-tanya apakah di hari paskah Yesus akan ke Yerusalem, sementara itu imam-imam kepala dan orang-orang Farisi telah memberikan perintah supaya setiap orang yang tahu di mana Dia berada memberitahukannya, agar mereka dapat menangkap Dia.[Yoh 11:55-57].

Siapa tahu, kali ini manjur, karena untuk level tuhan, dilempari batu dan sembunyi tidaklah elok. Namun itu tetap tidak berhasil, Ia tetap di adili dan bahkan ketakutan dimenjelangnya: "..Ia berlutut dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi." Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan kepada-Nya. Ia SANGAT KETAKUTAN (Di matius 26.37, "..Maka mulailah Ia merasa sedih dan gentar") dan makin bersungguh-sungguh berdoa. PELUHNYA MENJADI SEPERTI TITIK-TITIK DARAH YANG BERTETESAN KE TANAH [Lukas 22.41-44]

Klaim Alkitab bahwa para khalayak mengelu-elukannya sebagai raja Israel JELAS TIDAK BENAR, sekurangnya 3 penulis lainnya menyampaikan bahwa di abad ke-1 MASEHI, yaitu puluhan tahun setelah Yesus wafat, Kaum Yahudi TIDAK PERNAH menganggap Mesiah sudah datang, mereka disaat itupun, masih terus menantikan kedatangannya:
    Di kisaran sebelum pemberontakan Yahudi ke-1 (66-70 M), di kalangan Yahudi beredar kepercayaan bahwa Mesias dari kalangan mereka, akan menjadi gubernur di muka bumi. ["The War of The Jews", Josephus, Ch.6.5 dan "Hitories", Tacitus 5.13.] Juga dalam "The Life of Vespasia", Suetonius, 4.5: "Telah tersebar di seluruh Timur Tengah kepercayaan kuno yang mapan, bahwa saat itu telah ditakdirkan, orang-orang yang datang dari Yudea akan memerintah dunia. Prediksi ini mengacu pada Kaisar Roma.."
Pemberotakan Yahudi ke-1 ini dipadamkan Titus dan berimbas pada hancurnya kuil ke-2/Kuil Herod (Pada bagian Barat kuil ini terdapat tembok yang kelak disebut TEMBOK RATAPAN). Ini di sebut kuil ke-2 karena dibangun setelah kuil ke-1/kuil Sulaiman dihancurkan Nebukadnesar II.

Memang BELUM TENTU para khalayak Yahudi itu benar, namun, apakah pertimbangan dan ramalan Yesus benar? SAMA SEKALI TIDAK.
    "Yesus keluar dari Bait Allah...datanglah murid-murid-Nya dan menunjuk kepada bangunan-bangunan Bait Allah (HIERON). Ia berkata kepada mereka: "Kamu melihat semuanya itu? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya TIDAK SATU BATUPUN DI SINI AKAN DIBIARKAN TERLETAK DI ATAS BATU YANG LAIN; SEMUANYA AKAN DIRUNTUHKAN" [Mat 24.1-2. Bait Allah yang sama di Yoh 2.19-20]
Yesus TELAH KELIRU, karena BAHKAN hingga kini, batu-batu yang terletak di atas batu lainnya, masih dapat kita lihat sebagai TEMBOK RATAPAN!

Kasus Pembantaian 2000 Babi:
    Setibanya di seberang, yaitu di daerah orang Gadara/Gerasa, datanglah dari pekuburan DUA ORANG YANG KERASUKAN SETAN [MARKUS 5.3 dan LUKAS 8.27 -> JUMLAH ORANG YG KERASUKAN = 1]...Tidak jauh dari mereka itu [LUKAS 8.32 dan MARKUS 5.11 -> LERENG GUNUNG/BUKIT] sejumlah besar babi sedang mencari makan. Maka setan-setan itu [MARKUS 5.9 -> Kawanan Setan itu bernama LEGION] meminta kepada-Nya, katanya: "Jika Engkau mengusir kami, SURUHLAH KAMI PINDAH KE DALAM SEKAWANAN BABI ITU." Yesus berkata kepada mereka: "Pergilah!" [LUKAS 8.32 dan MARKUS 5.13 -> Yesus mengabulkan permintaan mereka] Lalu keluarlah mereka dan masuk ke dalam babi-babi itu. Maka terjunlah seluruh kawanan babi itu [MARKUS 5.12 -> JUMLAH BABI =2000] dari tepi jurang ke dalam danau dan mati di dalam air. Maka larilah PENJAGA-PENJAGA BABI ITU dan setibanya di kota, diceriterakannyalah segala sesuatu, juga tentang orang-orang yang kerasukan setan itu. [Matius 8.28-34, Lukas 8.26-34, Markus 5.1-14]
Yesus tampaknya kurang berbakat dalam mengusir setan, karena para manusia lainnya bisa menyembuhkan kesurupan tanpa perlu membantai ribuan binatang yang tidak bersalah, Ribuan Tuhan lain, pastinya sangat mudah menaklukan setan, tidak perlu sampai membantai ribuan binatang pula.

Ditambah lagi aksi ngawurnya main hakim sendiri mengabulkan permintaan setan untuk menuju babi-babi itu sebagai sasaran, padahal babi-babi itu bukanlah miliknya atau milik kristen lainnya, juga babi-babi itupun bukan babi liar, ada pemiliknya, para penjaga babi. Ini jelas pencurian dengan pembantaian.

Ada hukum Taurat yang menyatakan "Apabila seseorang mencuri seekor lembu ATAU seekor domba DAN MEMBANTAINYA atau menjualnya, maka IA HARUS MEMBAYAR GANTINYA, yakni 5 ekor lembu ganti lembu itu dan 4 ekor domba ganti domba itu [Keluaran 22:1] namun ini hanya berlaku untuk lembu dan domba [Baba Kama 67b].

Apakah ada ganti rugi bagi pencuri dan pembantai babi?

Dalam Talmud Babilonia, hukum sipil (Traktat Baba Kamma), Gemara, Ch,6 dikatakan: "Terdapat lebih banyak kasus untuk ganti rugi 2x lipat daripada gantirugi 4x/5x lipat. Untuk ganti rugi 2x aplikasinya untuk sesuatu yang hidup dan tidak hidup, sementara 4x/5x lipat hanya pada kasus lembu dan domba". Hukum Taurat menegaskan bahwa seorang pencuri harus mengembalikan barang yang dicurinya dengan segala biayanya

Berapa besar kerugian para peternak akibat ulahnya?

Jika merujuk pada harga Babi antara bulan Jan-April 2008 yaitu Rp.3.5 jt/ekor, jadi, 2000 babi = Rp.7 Milyar (belum termasuk lainnya). maka biaya ganti rugi minimum 7 Milyar, apalagi jika di 2x-nya sesuai Gemara ch.6

Sehingga wajar saja jika beliau kemudian kabur meninggalkan kota. Untunglah beliau ini tidak terlahir di jaman ini, bisa-bisa diamuk masa dan dibakar hidup-hidup karenanya

Kedua,
Melanggar Ketentuan Puasa Sabat:

Yesus makan di rumah Matius..[Matius 9.10]..Kemudian datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata: "Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?" [Matius 9.14. Di Markus 2.18 -> Pada suatu kali ketika murid-murid Yohanes dan orang-orang Farisi sedang berpuasa, datanglah orang-orang dan mengatakan kepada Yesus: "Mengapa murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?". Di Lukas 5:33 -> Orang-orang Farisi itu berkata pula kepada Yesus: "Murid-murid Yohanes sering berpuasa dan sembahyang, demikian juga murid-murid orang Farisi, tetapi murid-murid-Mu makan dan minum"]

Jawab Yesus kepada mereka: "Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa [Matius 9.14, Lukas 5.34-35, Markus 2:19-20]

Hukum Taurat mana yang dilanggar Yesus?
Lukas 18.12 menyebutkan bahwa Orang Farisi berpuasa 2x seminggu, sementara itu, umat kristen awal juga diketahui melakukan puasa 2x seminggu, misalnya Didache (ajaran 12 rasul) 8.1 -> "Jangan kamu berpuasa bersama orang-orang yang munafik (Besar kemungkinan merujuk pada kaum Yahudi), karena mereka berpuasa pada hari ke-2 dan ke-5 setiap minggu. Adapun kamu, berpuasalah pada hari ke-4 dan hari persiapan (ke-6)".

Karena ada kalanya, ke-2 Golongan ini puasa bersama-sama, karena hari berpuasa mereka tidak sama, maka saat puasa bersama hanya terjadi di saat sabat tertentu saja [Imanat 23.14 dan 23.27], juga, Yesus menyampaikan bahwa murid-muridnya berpuasa saat ia diambil (untuk menebus dosa manusia), maka ini mengindikasikan hari itu adalah sehari sebelum hari raya Pendamaian.

Bagi kaum Yahudi, setiap bulan ke-7 hari ke-10 adalah hari raya pendamaian (kippurim = "menutupi", menutup dosa dengan memberikan pembayaran yang setara) untuk pengampunan dosa bangsa Israel. Kegiatan hari itu: Tidak bekerja, BERPUASA (mulai tanggal 9), mengadakan pertemuan untuk beribadat dan mempersembahkan kurban makanan kepada TUHAN. Barangsiapa makan sesuatu pada hari itu, tidak dianggap lagi anggota umat Allah [Imamat 23.26:32]
    "Apabila kamu dengan tidak sengaja melalaikan salah satu dari segala perintah ini, yang telah difirmankan TUHAN kepada Musa, yakni dari segala yang diperintahkan TUHAN kepadamu dengan perantaraan Musa, mulai dari hari TUHAN memberikan perintah-perintah-Nya dan seterusnya turun-temurun..maka haruslah ia mempersembahkan kambing betina berumur setahun sebagai korban penghapus dosa dan imam haruslah mengadakan pendamaian di hadapan TUHAN bagi orang yang dengan tidak sengaja berbuat dosa itu, sehingga orang itu beroleh pengampunan..Baik bagi orang Israel asli maupun bagi orang asing yang tinggal di tengah-tengah kamu, satu hukum saja berlaku bagi mereka berkenaan dengan orang yang berbuat dosa dengan tidak sengaja. TETAPI orang yang berbuat sesuatu dengan sengaja, baik orang Israel asli, baik orang asing, orang itu menjadi penista TUHAN, ia harus dilenyapkan dari tengah-tengah bangsanya, sebab ia telah memandang hina terhadap firman TUHAN dan merombak perintah-Nya; pastilah orang itu dilenyapkan, kesalahannya akan tertimpa atasnya."[Bilangan 15]
Ketiga,
Melanggar Batas Perjalanan Sabat (Keluaran 16.29)

Batasan perjalanan yang tidak boleh dilanggar menurut Bilangan 35.5 dan Yosua 3.4-5, yaitu 2000 hasta, (1 hasta: 45.72 cm atau 51.5 cm atau 55.6 cm). Jadi 2000 hasta = 0.9144 km s.d 1.112 km. Ini terjadi di tanggal 15 Nisan, yaitu setelah makan malam Paskah, Beliau pergi ke luar kota, ke seberang sungai Kidron menuju bukit Zaitun (Markus 14:17-26; Matius 26:17-30; Lukas 22:7-39; Yohanes 18.1).

Jarak kota - Bukit Zaitun: 3.5 km - 4 Km (Getsemani di kaki bukit Zaitun dan Bethani, di lereng bukit Zaitun). Pelanggaran mengadakan perjalanan melampau batas sabat dapat di hukum mati (Bilangan 15.30-36)

PELANGGARAN HUKUM KERAJAAN, di antaranya:

Pertama,
Melakukan Pemberontakan:
menyuruh menimbun persenjataan dan membiarkan terjadinya tindak kekerasan terhadap aparat kerajaan.

Sebelum ke luar kota menuju bukit Zaitun, Yesus perintahkan pengikutnya untuk membeli senjata: "sekarang ini, siapa yang mempunyai pundi-pundi, hendaklah ia membawanya, demikian juga yang mempunyai bekal; dan siapa yang tidak mempunyainya hendaklah ia menjual jubahnya dan membeli pedang".[Luk 22:36-38].

Saat di jemput di Getsemani:
Simon Petrus, yang membawa pedang, menghunus pedang itu, menetakkannya kepada hamba Imam Besar dan memutuskan telinga kanannya. Nama hamba itu Malkhus" [Yohanes 18:10-11. Juga lihat di Matius 26:51-52, Lukas 22: 52]

Dalih membeli pedang:
"Sebab Aku berkata kepada kamu, bahwa nas Kitab Suci ini harus digenapi pada-Ku: Ia akan terhitung di antara pemberontak-pemberontak" [Lukas 22:37]

Fakta:
Yesus menyuruh jemaatnya membeli SENJATA, tertangkap tangan dengan senjata dan menggunakan senjata serta mengakui sendiri agar dianggap sebagai pemberontak.

Kedua,
Melarang Membayar Pajak, Menghalangi Aparat Pajak Bekerja:
    "Telah kedapatan oleh kami, bahwa orang ini menyesatkan bangsa kami, dan melarang membayar pajak kepada Kaisar, dan tentang diri-Nya Ia mengatakan, bahwa Ia adalah Kristus, yaitu Raja." [Lukas 23.2]
Sebelum Yesus lahir,
Herodes yang agung (Ayah dari Herodes Antipas) berhasil melakukan hal-hal besar [Excavating Jesus, J D Crossan & J L Reed, SPCK, 2001], kerajaannya aman dari bandit dan invasi, pekerjaan umum terlaksana: Jalan dan pelabuhan laut dibangun memfasilitasi peningkatan besar dalam perdagangan dan produksi pertanian.

Keberhasilan pembangunan ini adalah atas pajak yang langsung diterima Herodes.

Setelah kematian Herodes,
perekonomian mengalami kemunduran,Yudea dan Samaria di bawah kekuasaan Romawi dan hasil pajak sekarang langsung menuju Roma tidak lagi via penguasa Herodian lokal. Pajak yang umum dipungut, diantaranya: (1) Pajak tanah, (2) Pajak kepala: dikenakan pada laki-laki oleh Kirenius berdasarkan daftar wajib pajak, (3) Pajak bea cukai atas barang melewati gerbang kota dan di pelabuhan (4) Pajak pembangunan KUIL dan bisnis lain yang berhubungan dengan kuil

Agama Yahudi sangat jelas mendefinisikan bahwa TIDAK ADA PAJAK untuk PENJAJAH KAFIR. Para fanatik agama yang secara konstan mengacaukan negara ini dapat dihancurkan.
    [Gamaliel, seorang Farisi di Sanhedrin/Mahkamah Agama]: Sebab dahulu telah muncul si Teudas, yang mengaku dirinya seorang istimewa dan ia mempunyai kira-kira empat ratus orang pengikut; tetapi ia dibunuh dan cerai-berailah seluruh pengikutnya dan lenyap.Sesudah dia, pada waktu sensus penduduk, muncullah si Yudas, seorang Galilea. Ia menyeret banyak orang dalam pemberontakannya, tetapi ia juga tewas dan cerai-berailah seluruh pengikutnya.[KPR 5.29,36-37]

    Note:
    Ini bukan sensus penduduk (juga di Lukas 2.1-2) namun pendaftaran pajak oleh Penguasa Syiria dan Judea, Quirinius (6 M) yang memicu pemberontakan, Judas dari Galilea. Kekacauan pajak berikutnya terjadi di Galilea tahun 44 dan kejadian terhebatnya di tahun 66-73 yang berakibat lenyapnya bait suci Jerusalem
Para telonai (petugas pajak) dikaryakan, mereka ini merupakan kontraktor sipil yang ditenderkan untuk mengumpulkan pajak di bawah pengawasan gubernur. Para petugas ini datang langsung menilai barang kena pajak dan sistem ini rentan penyalahgunaan sehingga tidak mengherankan para pemungut pajak dianggap sekelas kafir dan pendosa.
    "Apabila saudaramu berbuat dosa..jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut pajak. [Matius 18.15-18]
Yesus jelas tidak pro Romawi dan punya cara halus untuk menghambat aliran uang pajak sampai ke tangan pemerintahan kafir Romawi, di antaranya:
    "SELURUH (Pas) pemungut pajak (Telone)..biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia"[Lukas 15:1]
Karena seluruh pemungut pajak tidak ada yang bertugas maka pendapatan pajak kerajaan menjadi berkurang.

Setelah Romawi menduduki area Yerusalem sekitar,
Kaum agamawan Yahudi tidak lagi berkewenangan untuk mencetak mata uang sendiri dan berdampak pada pelaksanaan ibadah keagamaan, misalnya di aturan Taurat Musa bahwa setiap pria Yahudi diatas 20 tahun WAJIB memberikan uang perdamaian atau persembahan khusus kepada Tuhan untuk keperluan Ibadah, yaitu 1/2 Shekel (2 dirham)/tahun (Kel.30.13-16, 38.26) yang aplikasi pengumpulannya disebutkan dalam tract Shekalim Ch.1: "Tanggal 15 s.d 25 Adar, jatuh temponya kewajiban iuran 1/2 shekel, pengumpul dan/atau penukaran uang didirikan di luar Yerusalem. Mulai tanggal 25, semakin ramai pembayar dan kerumunan massa menuju Jerusalem, pengumpul/penukar uang juga duduk di pelataran kuil".

Peziarah yang datang dari berbagai penjuru, tidak semua siap dengan koin Shekel Yahudi dan karena Yerusalem berada dibawah pemerintahan Romawi, mereka bepergian enggan membawa koin romawi yang tidak berlaku untuk urusan ini (karena ada gambar raja dan tulisan anak tuhan dan juga karena beratnya tidak sama dengan aturan 1/2 shekel) sehingga perlu ditukar dengan shekel Yahudi, juga pada pajak-pajak lainnya yang menggunakan koin yang diserahkan/ dibawa ke tempat ibadah maupun koin halal untuk membeli bahan-bahan keperluan beribadah, misalnya, binatang sebagai kurban sesembahan.

Mengapa?

Koin Romawi dan koin lainnya dianggap melecehkan hukum ke-1 dan ke-2 dari 10 perintah Y@hova, karena terdapat gambar raja dan juga tulisan: "raja y anak tuhan x". Untuk mengatasi kendala ini, maka sebagai solusinya, Sanhedrin/mahkamah agama, bersepakat untuk menggunakan koin keluaran kota Tirus (gambar di bawah kanan). Sehingga ketika hendak beribadah, mereka dapat menukarkan koin tidak halal tersebut dengan koin halal keluaran kota Tirus.

Keadaan ini menjadi peluang bagi beberapa orang berupa menjamurnya usaha penukaran uang di sekitar tempat Ibadah [dan juga penyedia bahan-bahan ibadah lain di sekitar tempat ibadah, setelah mereka menukarkan koin tersebut] dan jenis usaha baru ini juga menjadi lahan barang kena pajak bagi pemerintahan Romawi. Hal ini men-tradisi selama bertahun-tahun hingga kemudian Yesus melakukan gebrakan untuk menghentikan pemanfaatan ibadah untuk kepentingan bisnis:
    Ia masuk ke Bait Allah dan mengusir semua orang yang berjual beli di halaman Bait Allah. Ia membalikkan meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati.. [Matius 21:12-14] dan Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar dihamburkan-Nya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkan-Nya. Kepada pedagang-pedagang merpati Ia berkata: "Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan." Maka teringatlah murid-murid-Nya, bahwa ada tertulis: "Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku." Orang-orang Yahudi menantang Yesus, katanya: "Tanda apakah dapat Engkau tunjukkan kepada kami, bahwa Engkau berhak bertindak demikian?" Jawab Yesus kepada mereka: "Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali." Lalu kata orang Yahudi kepada-Nya: "46 tahun orang mendirikan Bait Allah ini dan Engkau dapat membangunnya dalam tiga hari?" Tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri. [Yohanes 2.15-21]
Padahal mereka disana ini, disamping untuk pengumpulan dan/atau penukaran uang tebusan pendamaian, juga sesuai aturan Taurat Musa, "Persembahan KURBAN berupa lembu/sapi, kambing/domba,..harus membawanya ke pintu Kemah Pertemuan, supaya TUHAN berkenan..(lembu: disembelih di hadapan TUHAN; kambing: disembelih di sisi mezbah sebelah utara di hadapan TUHAN) ..menyiramkan darahnya pada mezbah sekelilingnya ..Jikalau persembahannya dari burung ..Imam harus membawanya ke mezbah ..Darahnya harus ditekan ke luar pada dinding mezbah ..Temboloknya serta dengan bulunya haruslah disisihkan dan dibuang ke samping mezbah sebelah timur, ke tempat abu" [Imanat Ch 1 dan Ch.12: perempuan habis melahirkan]

Jadi semua proses kurban persembahan tersebut HARUS DILAKUKAN DISEKITAR MEZBAH dan PINTU, maka wajar binatang kurban ada di area kuil. Juga, menjadi tidak praktis bagi peziarah jarak jauh membawa serta kurban persembahannya.

Sehingga aksinya ini malah mengacaukan hukum Taurat.

Seiring meningkatnya jumlah peziarah, harga kurban juga meningkat, sehingga pernah di misnah, yaitu kritut 1.7, mengisahkan bagaimana Rabi Simon bin Gamaliel, menyiasati tingginya harga burung dengan mengubah aturan kurban bagi orang miskin, yang asalnya 2 burung menjadi 1 burung saja.

Bayangkan, seorang biasa dan bukan diakui Tuhan saja malah jauh lebih bijaksana.

Yesus-pun mencoba memberikan solusi, yaitu:
    "Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat..Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. [Matius 6:5-6]

    Paulus:
    Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia, dan juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang. [KPR 17:25]
Solusi Yesus dan Paulus yang mengajak mereka berhenti mengunjungi bait Allah benar-benar buruk bagi para imam, penganut setia dan juga para pemerintahan romawi, karena:
  1. Pendapatan para imam menjadi menurun
  2. Perekonomian (misal: bisnis penukaran uang, penjual bahan-bahan ibadah dan juga perternakan, pertanian, buruh angkut, dan transportasi) menjadi berputar semakin lambat: melemahnya permintaan, maka supply-pun melemah
  3. Karena demand dan supply terganggu dan bahkan melemah, maka pendapatan kena pajak yang diterima pemerintah romawi dari tanah, pemanfaatan tanah, pajak perkepala, bea cukai barang masuk-keluar, pajak bisnis tukar menukar uang dan ritual menjadi semakin berkurang
  4. Orang yang menggadaikan tanahnya menjadi semakin tidak mampu membayar pajak, mereka menjadi budak, pekerjaan berkurang, kelaparan meningkat, mereka menjadi beban kerajaan dan membuat keadaan menjadi semakin rawan!
Singkat kata: Dengan tidak ada perdagangan -> tidak ada pajak, Dengan tidak ada pajak -> tidak ada perdagangan!

Jika apa yang dilakukan Yesus dan Paulus ini benar dan direstui Y@hova, maka kemana Y@hova pada tahun 70 Masehi? ketika jutaan umat pemuja Y@hova tewas dan ribuan orang menjadi budak, bait Allah lenyap SELAMA-LAMANYA dan para umat Y@hova terpencar keluar dari Yerusalem. Ini semua justru terjadi karena protes pajak!

Yesus dan para nabinya bahkan lupa bahwa mereka bisa mengajar dengan tenang, memprofokasi orang agar tidak ke kuil, dapat makan dengan tenang,dapat menikmati perjalanan mengajar dengan tenang adalah berkat PAJAK yang dikelola oleh pemerintahan KAFIR Romawi

Apakah Yesus membayar pajak dan menganjurkan membayar pajak?

Mari kita lihat Markus 12:13-17 di bawah ini:

Beberapa orang Farisi dan Herodian (bawahan gubernur Herodes) datang kepada Yesus..dan berkata kepada-Nya: "..Apakah boleh membayar pajak kepada Kaisar atau tidak? Haruskah kami bayar atau tidak?".
Yesus mengetahui kemunafikan mereka dan berkata: "Mengapa kamu mencobai Aku?.."
    Note:
    Ini pertanyaan dilematis, jika dijawab "tidak", maka dirinya akan ditahan atas dakwaan kejahatan melawan kaisar, namun jika dijawab "bayarlah", maka mereka ini akan menghakiminya dengan hukum ke-1 dari 10 Perintah Y@hova
..Bawalah kemari suatu dinar supaya Kulihat!" Lalu mereka bawa. Maka Ia bertanya kepada mereka: "Gambar dan tulisan siapakah ini?" Jawab mereka: "Gambar dan tulisan Kaisar."
    Note:
    Di koin tersebut (gambar bawah kiri) tercantum kalimat: kaisar Tiberius adalah anak tuhan Agustus!
Lalu Yesus berkata: "Berikan kepada Kaisar apa yang menjadi milik Kaisar dan kepada Allah apa yang menjadi milik Allah!".. [markus 12:13-17]
    Note:
    Yesus tidak menjawab langsung dengan: "boleh/tidak" atau "bayar/jangan" pada pertanyaan: "Boleh atau tidak membayar pajak pada Kaisar, orang yang tercantum di koin ini dan yang mengaku ANAK TUHAN, padahal HUKUM ke-1 menyatakan tidak boleh mempunyai TUHAN LAIN? dan HUKUM ke-2 menyatakan tidak boleh melayani Allah lain?".

    Sampai akhir hayatnya, tidak tertulis bahwa Yesus membayar pajak negara (bukan pajak agama/pajak bait Allah)

    Yesus hanya mengatakan mereka MUNAFIK, bahwa mereka sudah tahu, "Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya." [Mazmur 24.1] atau "bumi adalah milik TUHAN." [Keluaran 9:29]
Apakah Yesus tidak munafik?

Mari kita lihat Matius 17:24-27 dibawah ini:

..datanglah pemungut PAJAK BAIT ALLAH kepada Petrus dan berkata: "Apakah gurumu tidak membayar bea 2 Dirham itu?" Jawabnya: "Memang membayar"
    Note:
    Jawaban Petrus "Memang membayar" kurang tepat, seharusnya adalah "BELUM MEMBAYAR" yang akan terbukti kemunculannya di ayat-ayat selanjutnya
Dan ketika Petrus masuk rumah, Yesus mendahuluinya dengan pertanyaan: "Apakah pendapatmu, Simon? Dari siapakah raja-raja dunia ini memungut bea dan pajak? Dari rakyatnya atau dari orang asing?". Petrus: "Dari orang asing!" Yesus: "Jadi bebaslah rakyatnya.
    Note:
    Yang Ia ajarkan: Yang seharusnya bayar pajak adalah ORANG ASING (Orang asing adalah penjajah atau orang yang negerinya ditaklukan, ini semacam JIZYA!). Pemilik tidak seharusnya membayar pajak. Padahal pajak yang ditagihkan ini BUKANLAH pajak negara tapi pajak penebusan khusus bagi mereka yang kaum Yahudi untuk keperluan AGAMANYA SENDIRI dan ini telah berlangsung sejak jaman Musa.

    Tentang taat Pajak dan pemerintahan, Paulus punya pandangan berbeda dengan Yesus dan Petrus:

    Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah..sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah. Sebab itu barangsiapa melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah dan siapa yang melakukannya, akan mendatangkan hukuman atas dirinya. Sebab jika seorang berbuat baik, ia tidak usah takut kepada pemerintah, hanya jika ia berbuat jahat. Maukah kamu hidup tanpa takut terhadap pemerintah? Perbuatlah apa yang baik dan kamu akan beroleh pujian dari padanya. Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu. Tetapi jika engkau berbuat jahat, takutlah akan dia, karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang. Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat .. Itulah juga sebabnya maka kamu membayar pajak. Karena mereka yang mengurus hal itu adalah pelayan-pelayan Allah. Bayarlah kepada semua orang apa yang harus kamu bayar: pajak kepada orang yang berhak menerima pajak, cukai kepada orang yang berhak menerima cukai; rasa takut kepada orang yang berhak menerima rasa takut dan hormat kepada orang yang berhak menerima hormat. [Roma 13:1-7]

    Paulus memandang Petrus sebagai orang Munafik (Galatia 2.13-15) mereka berdua memang kurang akur
Tetapi supaya jangan kita menjadi batu sandungan..pergilah memancing ke danau. Dan ikan pertama yang kaupancing, tangkaplah dan bukalah mulutnya, maka engkau akan menemukan mata uang empat dirham di dalamnya. Ambillah itu dan bayarkanlah kepada mereka, bagi-Ku dan bagimu juga. Ambillah uang itu dan bayarlah kepada mereka pajak kita untuk Rumah Tuhan" [matius 17:24-27]

Apa sih beda koin dari mulut ikan vs koin dari Tiberius?

koin di mulut ikan adalah buatan kota Tirus (gambar kanan) dan tertera Baal (Tuhan) Melkqart (pemimpin Kota), dewa matahari bangsa Kanaan dan Punisia serta dibaliknya: Elang mesir dalam mitologi Yunani Heracle (Herkules)

Yesus menolak koin yang bergambar Tiberius, anak tuhan, namun Yesus menerima koin yang bergambar "BAAL" Malkqert, dewa matahari kaum Punisian.

Yesus harusnya tau persis bahwa ini juga tindakan MUNAFIK.

Alasan Yesus membayar ternyata juga bukan karena ini "persembahan khusus kepada TUHAN" (Keluaran 30.13), yaitu "memberikan kepada tuhan apa yang tuhan miliki", namun ternyata agar tidak tersandung dilaporkan! Padahal pajak ini perintah Taurat dan bahkan untuk membayarnyapun, tidak dari hasil jerih payahnya sendiri.

Pada peristiwa-peristiwa tersebut,
Yesus tidaklah menyimpan uang koin, karena Yudas muridnya, ditugasinya sebagai pemegang kas (Yohanes 12.6, 13.29). [Lebih lanjut: Who Would Jesus Tax?]

Tuduhan Raja orang Yahudi,
    Seluruh sidang itu berdiri, lalu membawa Yesus ke hadapan Pilatus. Mereka berkata, "Kami dapati Orang ini menyesatkan rakyat. Ia menghasut orang supaya jangan membayar pajak kepada Kaisar, sebab kata-Nya Ia adalah Kristus (krestos?), seorang Raja." [Lukas 23:1-2]

    Pilatus bertanya kepada-Nya: "Engkaukah raja orang Yahudi?" Jawab Yesus: "phemi su lego (seperti yang engkau katakan)" [Lukas 23:3, Matius 27:11, Markus 15:2]

    Pilatus masuk kembali ke istana dan memanggil Yesus, lalu bertanya, "Apakah Engkau raja orang Yahudi?" Yesus menjawab, "engkau sendiri atau ada orang lain yang memberitahukan kepadamu tentang Aku?"

    Pilatus menjawab, "Apakah aku ini orang Yahudi? Yang menyerahkan Engkau kepada saya adalah bangsa-Mu sendiri dan imam-imam kepala. Apa yang sudah Kaulakukan?"

    Yesus berkata, "Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini. Andaikata kerajaan-Ku dari dunia ini, orang-orang-Ku akan berjuang supaya Aku jangan diserahkan kepada para penguasa Yahudi. Tetapi memang kerajaan-Ku bukan dari dunia ini!"

    Lalu kata Pilatus kepada-Nya, "Engkau seorang rajakah juga?" Maka sahut Yesus, "Benar seperti kata Tuan bahwa Aku ini seorang raja..." [Yohanes 18:33-37]

    ..Orang-orang Yahudi itu menjawab, "Menurut hukum kami, Ia harus dihukum mati sebab Ia mengaku diri-Nya Anak Allah"

    Ketika Pilatus mendengar mereka berkata begitu, ia lebih takut lagi.. ia berusaha untuk melepaskan Yesus. Tetapi orang-orang Yahudi berteriak-teriak, "Kalau Tuan membebaskan Dia, Tuan bukan kawan Kaisar! Orang yang mengaku dirinya raja, adalah musuh Kaisar!"

    ..Pilatus berkata kepada orang-orang itu, "Ini rajamu!"

    ..Mereka berteriak-teriak, "Bunuh Dia! Bunuh Dia! Salibkan Dia!"

    Pilatus bertanya, "Haruskah saya menyalibkan rajamu?" Imam-imam kepala menjawab, "Hanya Kaisar satu-satunya raja kami!" Maka Pilatus menyerahkan Yesus kepada mereka untuk disalibkan.[Yohane 19:7-16]
Mengenai pemberontakan terhadap kaisar, ini juga disampaikan dari hasil riset Dr Barbara Thiering tentang naskah laut mati dan Nag Hammadi, dimana tertulis bahwa Maria Magdalena dulunya adalah seorang pejuang pembebasan penindasan Yahudi oleh Romawi., seorang militan yang setia dan bermusuhan dengan Roma hingga Yesus membujuknya untuk mengikutinya. Namun karena kejadian ini terjadi pada masa pemerintahan raja Caligula (37-41M) militerisme bangkit lagi. Kebutuhan akan kepahlawannan diperlukan untuk menghadapi tirani romawi. Mary kembali pada keadaan semua dan berteman dengan Helena dan Simon Magus di 44 M. Setelah melahirkan anak ke-3nya. Keretakan perkawinan ini berada di antara orang2 Kristen bersama Yesus dan pejuang pembebasan bersama Simon Magus. Mary meninggalkan perkawinan. Itu adalah saat dimana Paulus meletakan dasar praktek untuk bercerai di 1 Korintus 7:10-16


Ucapan/pesan terakhir Yesus pada dunia
  1. "Ελωι ελωι λαμμᾶ σαβαχθανι" (Eloi, eloi lammá savachtani) [Markus 15:34] atau "Ηλι ηλι λαμὰ σαβαχθανι" (Heli, heli, lamá savachtaní) [Matius 27.46] [menurut TR Scrivener 1894 dan Stephanus 1550]. Beberapa mengklaim kalimat ini adalah pemenuhan Nubuat: "אֵלִי אֵלִי מְטוּל מַה שְׁבַקְתַּנִי" (éli éli m'tul mah sh'vak-tani) [Aramaic Targum, Mazmur 22.1] atau "אלי אלי למה עזבתני" (eli eli lamah azab-tani) = "Tuhanku, tuhanku mengapa (kau) abaikanku" [Ibrani Mazmur 22.1], namun kalimat awalan Mazmur 22.1 telah menuliskan bahwa ini adalah lagu tentang Daud, tentang ketidakberdayaan Daud saat dikelilingi musuh dan juga, Taurat telah menyatakan bahwa dosa ditanggung sendiri-sendiri, tidak dapat diwakilkan: "Janganlah ayah dihukum mati karena anaknya, janganlah juga anak dihukum mati karena ayahnya; setiap orang harus dihukum mati karena dosanya sendiri" [Ulangan 24.16]. Kemudian, kalimat di Markus dan Matius tidak konsisten secara bahasa, jika Ibrani kata seharusnya adalah "lamah azabtani", jika Aramaik, kata seharusnya adalah "mtul mah savachtani", namun di Markus dan Matius 2 bahasa itu tercampur menjadi "lamah savaktani". Sedangkan 2 injil lainnya, tidak menyatakan ini sebagai ucapan Yesus
  2. "Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.".. (Lukas 23:46), tidak ada di 3 injil lainnya
  3. "Aku haus!"..Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: "Sudah selesai.".. (Yohanes 19:28-30), tidak ada di 3 injil lainnya
Juga,
Perlu diperhatikan keheranan Pilatus, bahwa hanya dalam kurun waktu 3 jam-an saja, di antara 3 penjahat yang dihukum, hanya yesus yang wafat sementara 2 lainnya tidak. [Markus 15:44]. Penyaliban penjahat telah banyak dilakukan sebelumnya, tidak terjadi pada kasus ini saja, sehingga waktu rata-rata kematian akan diketahui yaitu BERJAM-JAM hingga beberapa hari, sebagaimana terungkap dalam laporan tentang hukuman penyaliban: "Penderitaan itu berlangsung setidaknya 12 jam, dalam beberapa kasus selama 3 hari. Untuk mempercepat kematian kaki dirusak, dan ini dianggap sebagai tindakan AMPUNAN (Cicero, "Phil." Xiii. 27)"

Dan kemudian "bangkai" Yesus dibawa Yusuf, anggota majelis besar, orang kaya dari arimatea, di 'kafani' dan dikubur di dalam taman/Bukit batu yang ada suatu kubur baru yang di dalamnya belum pernah dimakamkan seseorang.

Teknis terkubur hidup-hidup dapat kila lihat pelaksanaannya lewat karya David Blaine, Criss angel dan Harry houdini. David Blaine, mendemostrasikan bagaimana 7 hari di kubur dalam tangki air dan masih hidup [klik di sini]. Namun demikian, Di kubur hidup-hidup merupakan 1 dari 10 trik ilusi yang paling susah! Terdapat satu artikel, yang mengungkapkan kejadian dikubur-hidup-hidup...ada yang selamat namun ada juga tidak...[klik di sini]

Berapa lama Yesus wafat s/d tidak ada di kuburnya?

Yohanes 11:9 Jawab Yesus: "Bukankah ada dua belas jam dalam satu hari?.."
Kitab wahyu 11:9, ‘...tiga setengah hari lamanyadan 11:11, ‘Tiga setengah hari kemudian...

Kalimat ‘1/2 (setengah) hari’ menunjukan tidak dibulatkan menjadi 1 (satu) hari tapi sesuai dengan yang terpakai:
  1. Tanggal 16, jam 15 sore s/d tanggal 17 jam 15 sore = 24 jam
  2. Tanggal 17, jam 15 sore s/d tanggal 18, jam 3 pagi = 12 jam
  3. Tanggal 18, jam 3 pagi s/d pagi-pagi (jam 6) = 3 jam
Total waktu kematian Yesus adalah 39 jam

Sementara tanda ke-mesias-an telah disampaikannya sendiri di Matius 12:38-40; Lukas 11:29-30; Markus 8:31, 9:31 yang merujuk Yunus 1:17, yaitu:
    Pada waktu itu berkatalah beberapa ahli Taurat dan orang Farisi kepada Yesus: "Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari pada-Mu...Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan 3 hari 3 malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi 3 hari 3 malam
..dan fakta lapangan ternyata hanya: 1.25 hari 2 malam saja. []


Muhammad

    [Qur'an 69:44-47] Seandainya dia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya. Maka sekali-kali tidak ada seorangpun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami), dari pemotongan urat nadi itu.
Terdapat perbedaan pengakuan berapa umur Muhammad saat wafatnya, misal:

Usia wafat: 60 tahun:
  1. Riwayat [(Yahya bin Yahya - Malik) dan (Yahya bin Ayyub, Qutaibah bin Sa'id, 'Ali bin Hujr) dan (Al Qasim bin Zakaria - Khalid bin Makhlad - Sulaiman bin Bilal)] - Rabi'ah bin Abu 'Abdur Rahman - Anas bin Malik [Muslim no. 4330]
  2. Riwayat Ibnu Bukair - Al Laits - Khalid - Sa'id bin Abu Hilal - Rabi'ah bin Abu 'Abdur Rahman - Anas bin Malik [Bukhari no.3283, juga no 3284, 5449 dari Rabi'ah - Anas]
  3. Riwayat Ibn al Muthanna - Hajjaj n. al minhal - Hammad (Ibn Salamah) - Abu Jamrah - Amr b. Dinar - Urwah b. Zuhayr [Tabari vol.9 hal. 207-208]
  4. Riwayat Al Husyn b. Nasr - Ubaydallah - Shayban -Yahya b. Abi Kathir - Abu Salamah - [Aisyah dan Ibn Abbas] [Ibid, hal 208]
Usia wafat: 63 tahun:
  1. Riwayat Mathar bin Al Fadlal - Rauh bin 'Ubadah - Hisyam -'Ikrimah - Ibnu 'Abbas [Bukhari no. 3613]
  2. Riwayat Mathar bin Al Fadlal - Rauh bin 'Ubadah - Zakaria bin Ishaq - 'Amru bin Dinar - Ibnu 'Abbas [Bukhari no.3614]
  3. Riwayat 'Abdullah bin Yusuf - Al Laits - 'Uqail - Ibnu Syihab - ('Urwah bin Az Zubair dan Sa'id bin Al Musayyab) - 'Aisyah [Bukhari no.4106]
  4. Riwayat Rauh - Syu'bah - Abu Ishaq - 'Amir bin Sa'd - Jarir bin Abdullah - Mu'awiyah bin Abu Sufyan [Ahmad no. 16269]
  5. Riwayat Abu Nua'im - Yunus - Abu As-Safar - 'Amir - Jarir - Mu'awiyah [Ahmad no.16277]
  6. Riwayat Ibn al Muthanna - Hajjaj n. al minhal - Hammad - Abu Jamrah - Ibn Abbas [Tabari vol.9 hal. 206]
  7. Riwayat Ibn al Muthanna - Hajjaj - Hammad - Abu Jamrah - ayahnya [ibid, hal.206]
  8. Riwayat Ibn al Muthanna - Abd al wahhab - Yahya b. Sa'id -- Sa'id al Musayyib [Ibid, hal.206-207]
  9. Riwayat Muhammad b. khalaf al Aswalani - Adam - Hammad - Abu Jamrah al Dubaghi - Ibn Abbas [ibid. hal.207]
  10. Riwayat Ahmad b. Abd al Rahman b. wahb - Pamannya Abdallah - Yunus - al Zuhri - 'Urwah - 'Aisyah [Ibid]
Usia wafat: 65 tahun:
  1. Riwayat [(Ibnu Minhal Adh Dharir - Yazid bin Zurai') dan (Muhammad bin Rafi' - Syababah bin Sawwar - Syu'bah)] - Yunus bin 'Ubaid - 'Ammar - Ibnu Abbas: Menjadi Nabi di usia 40 tahun, di Mekkah 15 tahun, di Medinah 10 tahun [Muslim no.4339, juga di Ahmad no.2508]
  2. Riwayat [(Nashr bin 'Ali - Bisyr: Ibn MuFadhldlal) dan (Abu Bakr bin Abu Syaibah - Ibn 'Ulayyah)] - Khalid Al Hadzdza - 'Ammar - Ibnu 'Abbas [Muslim no.4340, juga Tirmizi no.3584]
  3. Riwayat [Ahmad bin Mani' dan Ya'qub bin Ibrahim Ad dauraqi] - Isma'il bin 'Ulayyah - Khalid Al Khaddza` - 'Ammar bekas budak Bani Hasyim - Ibn Abbas [Tirmizi no.3583, Ahmad no.1844, 3207]
  4. Riwayat Muhammad bin Isma'il - Muhammad bin Basyar - Ibnu Abu 'Adi - Hisyam - Ikrimah - Ibnu Abbas [Tirmizi no.3585]
  5. Riwayat Ziyad b. Ayyub - Hushaym - Ali b. Zayd - Yusuf b. Mihran - Ibn Abbas [Tabari Vol. 9, hal 207; Ahmad no.1749]
  6. Riwayat Ibn al Muthanna - Mu'adh b. Hisham - ayahnya - Qatadah - al Hasan - Daghfal (Ibn Hanzalah) - [Ibid, hal 207]
Perbedaan umur wafat, tampaknya terjadi karena perbedaan pengakuan lama tahun tinggal di Mekkah, misalnya:
  1. 10 tahun [Bukhari no.3283, 3284, 4105, Muslim no.4330, Tirmizi no.3556, dll] atau
  2. 13 tahun [Bukhari no.3613, 3614, 3562. Muslim no.4333, dll] atau
  3. 15 tahun [Muslim no.4339, Ahmad no.2508, dll].
Beliau dikatakan wafat di hari Senin, namun untuk kapan hari dikubur, tanggal dan bulan wafatnya, terdapat perbedaan, yaitu bulan Rabi I, tanggal 2/12 dan dikubur di hari Selasa atau Rabu [Tabari Vol.9 hal.183-184, 206, 209], namun kaum Syi'ah menyatakan wafat di bulan Safar, tanggal 28/29 dan untuk bulan Safar, Tabari menginformasikan riwayat Hisham b. Muhammad - Abu Mikhnaf - al Saq'ab b. Zuhayr - Para Hakim dari Hijaz: Sakitnya Muhammad yang mengambil kehidupannya terjadi di menjelang akhir Safar ketika berada di rumah Zaynab bt. Jahsh. [Ibid. hal.168]
    Nabi SAW dimakamkan 3 hari setelah wafat, kondisi tubuhnya mulai membusuk:
    Riwayat Sulaiman bin Harb - Hammad bin Zaid - Ayyub - 'Ikrimah: "Rasulullah SAW wafat pada hari senin namun jasad beliau belum juga dimakamkan hari itu, malamnya, dan hari esoknya, sehingga dimakamkan pada rabu malam, mereka berkata: "Rasulullah SAW belum wafat, hanya saja beliau naik dengan ruhnya sebagaimana Musa AS dinaikkan, Lalu Umar RA berdiri seraya berkata: "Sesungguhnya Rasulullah SAW belum wafat, akan tetapi beliau dinaikkan bersama ruhnya sebagaimana Musa AS dinaikkan. Demi Allah SWT, Rasulullah SAW tidak meninggal sampai ia memotong tangan serta lidah mereka. Umar RA terus berkata (demikian) sampai berbusa kedua sudut mulutnya sebab ancaman dan perkataannya. Kemudian Abbas RA berdiri seraya berkata: "Sungguh Rasulullah SAW telah meninggal dunia, karena beliau manusia biasa, dan beliau berubah sebagaimana berubahnya manusia, maka makamkanlah sahabat kalian (فقام العباس فقال إن رسول الله صلى الله عليه وسلم قد مات وإنه لبشر وإنه يأسن كما يأسن البشر أي قوم فادفنوا صاحبكم),... [Darimi no.83. Seluruh perawi Tsiqah. Tampaknya Umar berharap muncul tanda ke-nabi-an]

    Tarikh Dimashq Ibn 'Asaakir: Riwayat Ismail bin Abi Khalid - Al- Bahi: Nabi SAW tidak dikubur selama 3 hari, jari-jarinya tertekuk dan Ia menyebutkan kata-kata lainnya, yang menurutku tidak boleh kusebutkan.. Riwayat Ismail bin Abi Khalid - al-Bahi, bahwa ketika Rasulullah SAW wafat, beliau tidak dikuburkan sampai perutnya membengkak, jari-jarinya tertekuk (أن رسول الله (صلى الله عليه وسلم) لما مات لم يدفن حتى ربا بطنه وانثنت خنصرا).. [Hadis no.7988. Tentang Al-Bahi, Ibnu Hibban: "di antara perawi yang dapat dipercaya". Ibnu Saad: "Dia dapat dipercaya dan terkenal karena hadisnya". Abu Hatim: "Al-Bahi tidak dijadikan dalil, dan dia tertukar dalam hadisnya"]
Walaupun secara umum, tanggal masehi kewafatan beliau ditetapkan pada tanggal 7/8 Juni 632 Masehi, namun tanggal ini meragukan, karena ternyata terdapat variasi pengakuan tentang kapan beliau lahir dan keterkaitannya dengan tahun Gajah. Ini menyebabkan kapan tahun Hijriah dari Mekkah ke Medina pun menjadi berbeda (walaupun nyaris semua muslim sepakat bahwa beliau 10 tahun tinggal di Medina).
    Hisham Ibn Al Kalbi (w.204H/819 - 206/821M) menuliskan:
    Sebelum kronologi waktu dari Nabi, Kaum Quraish menghitung waktu dari waktu kejadian gajah. Antara peristiwa Gajah dan (perang) Fijar, mereka hitung 40 tahun. Antara Fijar dan wafatnya Hisham b. Al-Mughira, mereka hitung 6 tahun. Antara wafatnya Hisham dan pembangunan Ka'ba, mereka hitung 9 tahun. Antara pembangunan Ka'ba dan keberangkatan Nabi ke Medina, mereka hitung 15 tahun. (Scott Johnson, Hal 286: al-Zubayr b. Bakkar, Nasab Quraysh, 668 par.1649, kister 1965a, 427)
Tidak semua sepakat mengkaitkan antara tahun gajah dan kelahiran Muhammad, karena ada yang menyatakan bahwa kejadian gajah dan kekalahan Abraha adalah untuk nabi lainnya SEBELUM muhammad, diantaranya dalam "THE SONS OF KHADIJA", M.J. Kister, hal 83:
    Hubungan antara tanggal lahirnya nabi dan eskpedisi gajah, akan tetapi, DITOLAK oleh Mu'tazila: Tuhan penyebab keajaiban kejadian kekalahan Abraha adalah untuk NABI LAIN SEBELUM MUHAMAD seperti Khalid b. Sinaan atau Quss b. Saida103

    103 Al-Tabarsii, Majma' al-bayaan fii tafsiiri Al-qur'aan, XXX, 239: "... wa-kaana haadhaa min a'zami al-mu'jizaat al-qaahiraat wa-al-aayaati al-baahiraat fii dhaalika al-zamaan azharahu allaahu ta'aalaa li-yadulla 'ala wujuubi ma'rifatihi wa-fiihi irhaasun li-nubuwwaii nabiyyinaa $allaa allaahu 'alayhi wa-sallam li-annahu wulida fii dhaalika al-'aam; wa-qaala qaumun mina al-mu'taziIati annahu kaana mu'jizatan li-nabiyyin mina ai-anbiyaa'i fii dhaalika al-zamaani wa-rubbamaa qaaluu huwa khaalidu ibnu sinaanin.." dan lihat dengan penuh perhatian formulasi komentar dari 'Abd al-Jabbaar dalam Mutashaabih al-qur'aan-nya, ed. 'Adnaan Muhammad Zarzuur, Cairo 1969, II, 702: ".... fa-ammaa qauluhu ta'aalaa tarmiihim bi-hijaaratin min sijjiil fa-innahu 'indanaa laa budda min an yakuuna dhaalika mu'jizan li-ba'di al-anbiyaa'i fii dhaalika al-waqti li-anna fiihi naqda 'aadatin wa-dhaalika Laa yajuuzu iliaa fi azmaani ai-anbiyaa'i."
Bahkan di antara mereka yang mengkaitkan tahun kelahiran Muhammad dan tahun Gajah pun terdapat jurang perbedaan tahun yang sangat lebar:

DI TAHUN GAJAH:
    Riwayat Muhammad bin Basyar Al Abdi - Wahb bin Jarir - ayahku (Jarir bin Hazm bin Zayd) - Muhammad bin Ishaq - Al Mutthalib bin Abdullah bin Qais - ayahnya (Abdullah bin Qais bin Makhramah) - kakeknya (Qais bin Makhramah bin Al Muthallib):

    "Aku dan Rasulullah SAW dilahirkan PADA TAHUN GAJAH." Lalu Utsman bin 'Affan bertanya kepada Qubats bin Asyyam -saudaranya bani Ya'mar bin Laits- "Apakah anda lebih tua ataukah Rasulullah SAW?" dia menjawab; "Rasulullah SAW lebih dewasa segala-galanya dari padaku sekalipun dari sisi usia aku lebih dahulu dilahirkan dari pada beliau, Rasulullah SAW dilahirkan PADA TAHUN GAJAH, sedang ibuku melahirkanku pada waktu itu juga." dia berkata; "(Waktu itu) AKU JUGA SEMPAT MELIHAT KOTORAN BURUNG TELAH BERUBAH BERWARNA HIJAU." Abu Isa berkata; "Hadits ini derajatnya hasan gharib, kami tidak mengetahui (hadits tersebut) kecuali dari hadits Muhammad bin Ishaq." [Tirmidhi no.3552]

    Hadis yang melaporkan bahwa perawi melihat tahi burung ini sangat janggal mengingat Ibn Sa'd melaporkan ada BANJIR yang menyapu area tersebut atau bagaimana mungkin bayi/anak kecil baru lahir mampu mengingat warna kotoran burung? atau bagaimana mungkin tahi burung itu tetap ada utuh setelah bertahun-tahun kemudian dan hanya dirinya yang melihatnya?

    Riwayat Ya'qub - Bapakku (Ibrahim bin Sa'ad bin Ibrahim bin 'Abdur Rahman bin 'Auf) - Ibnu Ishaq - Al Muthallib bin Abdullah bin Qais - Bapaknya - kakeknya Qais bin Makhramah: "Saya dan Rasulullah SAW dilahirkan PADA TAHUN GAJAH. Dan kami adalah dua orang bayi yang dilahirkan dalam waktu yang sama." [Ahmad no.17218]

    Riwayat Ibn Sa`d - Muhammad Ibn `Umar Ibn Waqid al-Aslami - Abu Bakr Ibn 'Abd Allah Ibn Abi Sabrah - Ishaq Ibn `Abd Allah Ibn Abi Farwah - Abu Ja`far Muhammad Ibn `Ali: Rasullullah SAW lahir pada hari senin, 10 Rabiul Awwal dan INVASI KAUM BERGAJAH (ashab al-fiil) terjadi pada pertengahan Muharam, 55 HARI SEBELUM kejadian ini [Ibn Sa'd Tabaqat al-Kabir, Vol.1, bagian 1.24.1]

    Ibn Sa`d - Muhammad Ibn `Umar Ibn Waqid al-Aslami- Musa Ibn Shaybah - `Umayrah Bint `Ubayd Allah Ibn Ka'b Ibn Malik - Umm Sa'd Bint Sa`d Ibn al-Rabi' - Nafisah Bint Munyah:..Rasullullah SAW mengawini dia (Khadijah) saat berusia 25 tahun dan khadijah 40 tahun, karena ia lahir 15 tahun sebelum tahun gajah [Ibn Sa'd Tabaqat al-Kabir, Vol.1, bagian 1.35.1]

    Riwayat lbn Sa`d - Muhammad Ibn 'Umar - Hishàm Ibn Sa'd - Zayd Ibn Aslam - `Abd Allah Ibn 'Alqamah Ibn al-Faghwa (Jalur ke-1); Ibn Sa`d - Ishaq Ibn Yahya Ibn Talhah - Isa Ibn Talhah - Ibn `Abbas (Jalur ke-1); lbn Sa'd - Musa Ibn `Ubaydah - Muhámmad Ibn Ka`b (Jalur ke-3); Muhammad Ibn Sàlih - `lmran Ibn Mannah (Jalur ke-4); Ibn Sa`d - Qays Ibn al-Rabi' - Ibn Ishaq - Sa'id Ibn Jubayr (Jalur ke-5); Ibn Sa'd - `Abd Allah Ibn `Amir al-Aslami - anak perempuan dari Abu Tajrát (Jalur ke-6); Ibn Sa`d - Hukaym Ibn Muhammad - Ayahnya - Qays Ibn Makhramah (Jalur ke-7); mereka semua berkata: Rasullullah SAW lahir di tahun gajah [Ibn Sa'd Tabaqat al-Kabir, Vol.1, bagian 1.24.4]

    Riwayat Ibn Sa`d - Yahya Ibn Ma'in - Hajjaj Ibn Muhammad - Yunus Ibn Abi Ishaq - Sa'id Ibn Jubayr - lbn `Abbas: Rasullullah SAW lahir di hari gajah-gajah, yang mana maksudnya tahun gajah.[Ibn Sa'd Tabaqat al-Kabir, Vol.1, bagian 1.24.5].

    Tabari juga menyampaikannya klaim tentang kelahiran Muhammad di tahun gajah, di buku Vol.5 hal.268-269
SEBELUM VS SESUDAH TAHUN GAJAH: - 30 tahun s.d +70 tahun
    Muhammad ibn al-Sa'ib (w.726 M): Muhammad lahir 15 tahun SEBELUM "Tahun Gajah". Ja'far ibn Abi 'l-Mughira (wafat awal abad ke-8) menetapkan kelahiran Muhammad 10 tahun SETELAH "tahun Gajah", sementara Al-Kalbi: Shu'ayb ibn Ishaq (w. 805 M) berkata bahwa Muhammad terlahir 23 tahun SETELAH kejadian ini (Kisah penyerangan dengan gajah). Al-Zuhri (w. 742 M) yakin bahwa Muhammad lahir 30 tahun SETELAH "Tahun Gajah", sementara Musa ibn 'Uqba (w. 758 M) Yakin bahwa Muhammad lahir 70 tahun kemudian [Lawrence I. Conrad, "Abraha and Muhammad: Some Observations Apropos of Chronology and Literary "topoi" in the Early Arabic Historical Tradition", Bulletin of the School of Oriental and African Studies, University of London, Vol. 50, No. 2 (1987), Hal. 234.]

    Mughultaay, Talkhiis al-sira; MS. Shehid 'Ali 1878, fol.7a-b; dan lihat Mughultaay, al-Zahr al-baasim, MS.Leiden, atau 370, fol 71a-b: "Nabi lahir 10 tahun SETELAH 'gajah'", 23 tahun SETELAH 'gajah', 15 tahun SEBELUM 'gajah', 15 tahun SETELAH 'gajah', 1 bulan SETELAH hari kejadian gajah";

    Al-Zurqaani, Sharh al-mawaahib,I, 89; Al-Kalbi: "23 tahun SETELAH hari kejadian gajah"; Muqatil: "40 tahun"; lainnya: "30 atau 50 atau 70 tahun SETELAH 'gajah'";

    dan lihat perbedaan tanggal di tafsirnya Al-Qurtubi, XX, 194;

    Ibn Hajar al-Haytami, al-Ni'matu al-kubraa 'alaa al-'aalam bi-maulidi sayyidi banii aadam, MS. di kepunyaanku, fol 18a, ult-18b: "lahir di tahun gajah, 40 tahun SETELAHNYA, 30 tahun SETELAHNYA, 23 tahun SETELAHNYA, 15 tahun SEBELUMNYA, 3 tahun SETELAHNYA";

    Khalifa b. Khayyat Ta'rikh, ed. Akram Diyaa al-'Umarii, al-Najaf 1386/1967, hal. 9-10: "di tahun gajah, 40 tahun SETELAHNYA, 30 tahun SETELAHNYA atau 15 tahun SEBELUMNYA";

    dan lihat perbedaan tanggal di Muhammad b. Saalim al-Himawi, Ta'rikh al-saalihi, MS. Br. Mus., atau. 6657, fol 13Oa;

    dan lihat variasi tradisi: Ibn Kathir, al-Bidaaya; II, 262: "10 tahun SETELAH tahun gajah, 23 tahun SETELAHNYA, 30 tahun SETELAHNYA, 40 tahun SETELAHNYA dan 15 tahun SEBELUM hari dari kejadian gajah" (tradisi ini ditandai sebagai gharib, munkar dan da'if);

    dan lihat variasi tanggal di Al-Bayjuri Haashiyatun 'alaa maulidi abii al-barakaat: sayyidii ahmadi al-dardiir, Cairo 1294, hal 44-45; al-Sinjaarii, Manaa'ihu al-karam bi-akhbaari makkata wa-al-haram; MS. Leiden, atau. 7018,fol.58a: "lahir di tahun gajah, atau 50 tahun SETELAH serangan dari pasukan gajah, atau 30 tahun SETELAH tahun gajah, atau 40 tahun SETELAH tahun gajah".

    Banyak tradisi di Ibn Nasir al-Din Jami' al-athar, fols. 179b-180b: "Nabi lahir di tahun gajah, menerima wahyu 40 tahun SETELAH 'gajah' (peperangan di -K) 'Ukaaz terjadi 15 tahun SETELAH 'gajah' dan kabah dibangun 25 tahun setelah 'gajah'"; "Nabi lahir 30 hari SETELAH 'gajah', atau 15 hari, atau 55 hari atau 2 bulan 6 hari, atau 10 tahun; beberapa berkata 20 tahun, beberapa berkata 23 tahun, beberapa berkata 30 tahun, beberapa berkata Tuhan mengirim nabi dengan misinya 15 tahun SETELAH KABAH DI BANGUN sehingga menjadi 70 tahun antara 'gajah' dan kenabiannya (mab'ath)"; "beberapa berkata bahwa ia lahir 15 tahun SEBELUM 'gajah', beberapa berkata 40 hari atau 15 hari, beberapa berkata 30 tahun SEBELUM 'gajah', dan terakhir, beberapa berkata 10 tahun antara ekspedisi gajah dan kenabian, wa-bayna an bu'itha".

    Lihat al-Bayhaqi, Dalaa'il, I, 65: "Nabi di hari 'Ukaz beruisa 20 tahun"; hal. 67: "Kabah dibangun 15 tahun SETELAH tahun gajah dan Nabi menerima wahyu 40 tahun SETELAH 'gajah'. Menurut tradisi lainnya, nabi menerima misinya 15 tahun SETELAH dibangunnya kabah, misi nabi, al-mab'ath, terjadi 70 tahun SETELAH tahun gajah"; hal. 68: "Nabi lahir 10 tahun SETELAH tahun gajah" [Kutipan Mughultaay dan seterusnya berasal dari "THE SONS OF KHADIJA", M.J. Kister, hal 81-82, pada catatan kaki no.100]
Dengan lebar rentang tahun sampai 100 tahun seperti ini, kita tidak dapat tegas untuk dapat menyatakan kapan tahun kelahiran, tahun hijrah dan tahun kematian Muhammad SAW bahkan jika dikaitkan dengan tahun gajah sekalipun.
________________________________________

Peta Jaman Muhammad

Untuk kisah di bawah ini, kecuali disebutkan sumber yang berbeda, maka alur kisahnya mengikuti buku "Sejarah Hidup Muhammad", karangan Muhammad Muhammad Husain Haekal, yaitu mulai bab.30:

Selesai ibadah haji perpisahan di Mekah (Haji Wada, Dhul Hijjah 10 H/Maret 632 M), belum lama setelah kaum Muslimin tinggal di Medinah, Nabi mengeluarkan perintah supaya menyiapkan sebuah pasukan besar ke daerah Syam (Syira), dengan menyertakan kaum Muhajirin mula-mula, termasuk Abu Bakr dan Umar. Pasukan ini dipimpin oleh Usama bin Zaid bin Haritsah [Lahir 615 M, usianya saat diangkat sebagai panglima pasukan pada 27/28 Safar 11H / 28 May 632M adalah 17/18 tahun]

Pengangkatan Usama dimaksudkan untuk menempati tempat ayahnya (Zaid bin Haritsah) yang gugur di pertempuran Mu'ta (629 M) [Di perang Mut'ah, ikut pula Khalid bin Walid, sang Pedang Allah, Perang Mut'ah merupakan kekalahan pertama Khalid dalam sekian banyak perangnya, padahal sebelum masuk Islam, yaitu saat Ia berjuang bersama kaum Quraish (perang Uhud, 625 M), Ia mengalahkan Muhammad dan pasukannya].

Saat mereka sedang bersiap-siap itu tiba-tiba Rasulullah jatuh sakit, dan sakitnya makin keras juga, sehingga akhirnya tidak jadi mereka berangkat.

Keprihatinan mereka terhadap nabi adalah hal wajar karena Nabi tumben mengalami sakit, selama ini diketahui bahwa Nabi juga mengkonsumsi biji-bijian seperti yang diriwayatkan Anas bin Malik: Rasullullah, sebelum melaksanakan (shalat) pada Idul fitri, Ia makan sejumlah biji. Anas juga mengatakan ‘Nabi biasanya memakan biji-bijian itu dalam jumlah ganjil [Bukhari 2.15.73]. Mengenai biji-bijian yang nabi merekomendasikan adalah:

Habbatus sauda:
  1. Ibnu Abu Atiq: Hendaknya kalian memberinya habbatus sauda' (jintan hitam), ambillah 5 atau 7 biji, lalu tumbuklah hingga halus, setelah itu teteskanlah di hidungnya di sertai dengan tetesan minyak sebelah sini dan sebelah sini, karena sesungguhnya Aisyah pernah menceritakan kepadaku bahwa dia mendengar Nabi SAW bersabda: "Sesungguhnya habbatus sauda' ini adalah obat dari segala macam penyakit kecuali saam." Aku bertanya; "Apakah saam itu?" beliau menjawab: "Kematian.. [Bukhari no. 5255. Ibn Majjah no.3440]
  2. Rasulullah SAW: "Dalam habbatus sauda' (jintan hitam) terdapat obat dari segala penyakit kecuali kematian." Ibnu Syihab berkata; "Maksud dari kematian adalah maut sedangkan habbatus sauda' adalah pohon syuniz." [Bukhari no.5256. Muslim no.4104 4105. Ahmad no.23916, 10217, 10416, 9892, 9668, 9666, 9665, 9177, 9107. Tirmidhi no.1964. Ibn Majjah no.3438]
Kurma ‘ajwa:
  1. Nabi SAW: "Al 'Ajwah (kurma Nabi) beserta pohonnya [Ahmad no.14961, 19451] dan Syakhrah [Batu yang ada di Baitul Maqdis, Ahmad no.19455, 19729. Ibn Majjah no.3447] berasal dari surga. Rasullullah bersabda: Kam`ah (sejenis tumbuhan) adalah dari Al Manna dan Ajwah adalah (kurma) dari surga, ia merupakan penawar racun. [Ibn Majjah no.3446]. Rasullullah bersabda: Al 'Ajwah bersasal dari surga, di dalamnya mengandung kesembuhan untuk penyakit racun. Al Kam`ah dari Al Mann, airnya adalah kesembuhan bagi penyakit 'Ain [Tirmidhi no.1992, Ahmad no.9959]
  2. Rasulullah berkata: ‘Barangsiapa setiap pagi mengkonsumsi 7 butir kurma 'Ajwa, maka pada hari itu ia akan terhindar dari racun dan sihir. [Bukhari no.5025, 5326, 5327, 5334. Muslim no.3814. Ahmad no.1488, 1365. Abu Dawud no.3378]
Pasukan yang siap perang batal berangkat karena Nabi sakit, menimbulkan pertanyaan bagi banyak pihak, terdapat beberapa alternative perkiraan mengenai hal ini:
  1. Kecintaan mereka pada Nabi yang tumben sakit berat, namun ini tidak masuk akal, karena tujuan perang ini adalah untuk kemuliaan Islam dan atas perintah nabi.
  2. Di kisahkan bahwa Nabi pada malam pertama nabi menderita sakit, tidak bisa tidur dan minta diantar Abu Muwayhiba mengunjugi Baqi'l-Gharqad, kuburan Muslim dekat Medinnah dan memintakan ampun untuk penghuni kubur sebelum sakit dan ada pilihan yang diberikan Allah, "Abu Muwayhiba, aku telah diberi anak kunci isi dunia ini serta kekekalan hidup di dalamnya, sesudah itu surga. Aku disuruh memilih ini atau bertemu dengan Tuhan dan surga." Nabi memilih bertemu Tuhan di surga. Namun riwayat ini disangsikan banyak pihak.
  3. Gerutu para pihak yang hendak berperang karena pengangkatan Usama bin Zaid bin Haritsha, mengingat dipasukan banyak para senior namun mereka tidak diangkat, ini juga tidak masuk akal, meningat perintah nabi adalah final dan persiapan terus dilakukan
  4. Berhubungan dengan makanan beracun yang disajikan oleh seorang wanita yahudi sewaktu penaklukan Khaibar 3 tahun sebelumnya yang menyebabkan kematian Bishr yang saat itu makan makanan yang sama bersama Nabi
Di rumah Maimunah sakitnya terasa kambuh lagi, dan terasa lebih keras lagi. Ketika itu dipanggilnya isteri-isterinya ke rumah Maimunah. Dan mengatakan bahwa akan dirawat dirumah Aisyah.

Pada hari-hari pertama ia jatuh sakit, demamnya sudah terasa makin keras, sehingga ia merasa seolah seperti dibakar. Ketika reda, ia sembahyang dan memimpin Shalat, karena beberapa protes atas penunjukan Usama sampai ketelinga Nabi maka ia memutuskan untuk menenangkan mereka

Dalam hal ini ia berkata kepada isteri-isteri dan keluarganya: "Tuangkan kepadaku tujuh kirbat air dari pelbagai sumur, supaya aku dapat menemui mereka dan berpesan kepada mereka."

Lalu dibawakan air dari beberapa sumur, dan setelah oleh isteri-isterinya ia didudukkan di dalam pasu kepunyaan Hafsha, ketujuh kirbat air itu disiramkan kepadanya Kemudian katanya: ‘Cukup. Cukup’.

Setelah duduk di atas mimbar mesjid Ia berkata: "Saudara-saudara. Laksanakanlah keberangkatan Usama itu Demi hidupku. Kalau kamu telah banyak bicara tentang kepemimpinannya, tentang kepemimpinan ayahnya dulu pun juga kamu banyak bicara. Dia sudah pantas memegang pimpinan, seperti ayahnya dulu juga pantas memegang pimpinan."
    Nabi SAW mengutus satu pasukan dan mengangkat Usamah bin Zaid sebagai pemimpin mereka. Lalu sebagian orang ada yang mencela kepemimpinannya, maka Nabi SAW bersabda: "Kalian mencela kepemimpinannya?. Sungguh sebelum ini kalian pernah pula mencela kepemimpinan ayahnya. Demi Allah, sungguh dia patut memegang kepemimpinan karena dia adalah manusia yang paling aku cintai dan sekarang, (Usamah) adalah manusia yang paling aku cintai setelah (ayah) nya". [Bukhari no.3451, 3919, 4108, 4109, 6137, 6650. Muslim no.4452, 4453. Tirmidhi no.3752, Ahmad no.5622]
Ia kembali ke rumah Aisyah. sakitnya terasa lebih berat lagi, tatkala keesokan harinya ia berusaha hendak bangun memimpin sembahyang seperti biasanya, ternyata ia sudah tidak kuat lagi. Ketika itulah ia berkata: "Suruh Abu Bakr memimpin orang-orang sembahyang." Kemudian Abu Bakr datang memimpin sembahyang seperti diperintahkan oleh Nabi.

Tatkala sakitnya sudah makin keras, panas demamnya makin memuncak, isteri-isteri dan tamu-tamu yang datang menjenguknya, bila meletakkan tangan di atas selimut yang dipakainya, terasa sekali panas demam yang sangat meletihkan itu. Dan Fatimah puterinya, setiap hari datang menengok. Karena panas demam yang tinggi itu, sebuah bejana berisi air dingin diletakkan disampingnya. Sekali-sekali ia meletakkan tangan ke dalam air itu lalu mengusapkannya ke muka.

Suatu hari sahabat-sahabatnya berusaha hendak meringankan penderitaannya itu dengan mengingatkan kepada nasehat-nasehatnya, bahwa orang yang menderita sakit jangan mengeluh. Ia menjawab, bahwa apa yang dialaminya dalam hal ini lebih dari yang harus dipikul oleh dua orang. Dalam keadaan sakit keras serupa itu dan di dalam rumah banyak orang, ia berkata: "Bawakan dawat dan lembaran, akan ku tuliskan surat buat kamu, supaya sesudah itu kamu tidak lagi akan pernah sesat."

Dari orang-orang yang hadir ada yang berkata, bahwa sakit Rasulullah s.a.w. sudah sangat gawat; pada kita sudah ada Qur'an, maka sudah cukuplah dengan Kitabullah itu. Ada yang menyebutkan, bahwa Umarlah yang mengatakan itu. Di kalangan yang hadir itu terdapat perselisihan. Ada yang mengatakan: ‘Biar dituliskan, supaya sesudah itu kita tidak sesat. Ada pula yang keberatan karena sudah cukup dengan Kitabullah.’ Setelah melihat pertengkaran itu, Muhammad berkata: "Pergilah kamu sekalian! Tidak patut kamu berselisih di hadapan Nabi."

Tetapi Ibn 'Abbas masih berpendapat, bahwa mereka membuang waktu karena tidak segera menuliskan apa yang hendak dikatakan oleh Nabi. Sebaliknya Umar masih tetap dengan pendapatnya, bahwa dalam Kitab Suci Tuhan berfirman: "Tiada sesuatu yang Kami abaikan dalam Kitab itu." [Qur'an, 6:38]

Walaupun Haekal tidak menyebutkannya, namun hadis Bukhari dan Muslim dan banyak lagi, menyampaikan informasi akurat mengenai wasiat yang disampaikan nabi:
    Riwayatkan Said bin Jubair:
    Ibn 'Abbas: "Kamis! apakah yang terjadi di hari Kamis?" Kemudian dia menangis hingga air matanya membasahi pasir. Aku bertanya kepadanya..Dia berkata: "Pada Hari kamis, sakitnya Rasulullah SAW bertambah parah dan dia berkata: 'Ambilkan aku alat tulis, aku akan tuliskan pada kalian suatu ketetapan yang setelahnya kalian tak akan pernah". Kemudian orang-orang bertengkar padahal tidak sepatutnya mereka bertengkar di hadapan Nabi SAW. Mereka berkata, "Bagaimana keadaan beliau, apakah Rasullullah mengigau?". Nabi berkata, "Tinggalkan aku, keadaanku sekarang lebih baik dari pada apa yang kalian kira.". Lalu beliau berwasiat 3 hal:

    1. Usir orang-orang pagan/Musyrik/politeis dari jazirah arab; [Muslim 13.4014/no.3089; Abu Dawud 19.3023/no.2634; Bukhari: 4.52.288/no.2825; 4.53.393/no.2932; 5.59.716/no.4078]

      Namun di Muslim 19.4366/no.3313 dalam riwayat [(Zuhair bin Harb - Ad Dlahak bin Makhlad) dan (Muhammad bin Rafi' - Abdurrazaq)] - Ibnu Juraij - Abu Az Zubair - Jabir bin Abdullah - Umar bin Khattab:
      Rasulullah SAW bersabda: Aku akan usir para Nasrani dan yahudi dari Jazirah arab dan tidak akan meninggalkan satupun kecuali MUSLIM [Juga di Tirmidhi 3.19.1606/no.1531, 1607/no.1532. Ahmad no.196, 210, 214, 14189; Abu Dawud 19.3024/no.2635, 19.3025/no.2635]

    2. "Perlakukan utusan sebagaimana aku memperlakukan mereka" [Muslim 13.4014/no.3089; Abu Dawud 19.3023/no.2634; Bukhari: 4.52.288/no.2825; 4.53.393/no.2932; 5.59.716/no.4078]

    3. Said bin Jubair, yang meriwayatkan berkata bahwa Ibn Abbas diam mengenai perintah ketiga, atau ia katakan, ‘saya lupa' atau Sa'id tidak menyebutkan wasiat yang ketiga. [Muslim 13.4014/no.3089; Abu Dawud 19.3023/no.2634; Bukhari: 4.52.288/no.2825; 4.53.393/no.2932; 5.59.716/no.4078]

    Ya'qub bin Muhammad berkata, "Aku Tanya pada Al-Mughira bin 'Abdur-Rahman mengenai Jazirah arab dan ia berkata, 'Itu terdiri dari Mekkah, Medina, Al-Yama-ma dan Yaman." Ya'qub menambahkan, "dan Al-Arj, mulai dari Tihama." [Bukhari: 4.52.288/no.2825]
Berita sakitnya Nabi yang bertambah keras itu telah tersiar dari mulut ke mulut, sehingga akhirnya Usama dan anak buahnya yang ada di Jurf itu turun pulang ke Medinah. Bila Usama kemudian masuk menemui Nabi di rumah Aisyah, Nabi sudah tidak dapat berbicara. Tetapi setelah dilihatnya Usama, ia mengangkat tangan ke atas kemudian meletakkannya kepada Usama sebagai tanda mendoakan.

Melihat keadaannya yang demikian keluarganya berpendapat hendak membantunya dengan pengobatan. Asma' - salah seorang kerabat Maimunah - telah menyediakan semacam minuman, yang pernah dipelajari cara pembuatannya selama ia tinggal di Abisinia. Tatkala Nabi sedang dalam keadaan pingsan karena demamnya itu, mereka mengambil kesempatan menegukkan minuman itu ke mulutnya. Bila ia sadar kembali ia bertanya: "Siapa yang membuatkan ini? Mengapa kamu melakukan itu?"

"Kami kuatir Rasulullah menderita sakit radang selaput dada," kata 'Abbas pamannya.

"Allah tidak akan menimpakan penyakit yang demikian itu kepadaku."

Kemudian disuruhnya semua yang hadir dalam rumah - supaya meminum obat itu, tidak terkecuali Maimunah meskipun sedang berpuasa.

Malam itu Muhammad dalam keadaan tenang. Panas demamnya sudah mulai turun, sehingga seolah karena obat yang diberikan keluarganya itulah yang sudah mulai bekerja dan dapat melawan penyakitnya. Sampai-sampai karena itu ia dapat pula di waktu subuh keluar rumah pergi ke mesjid dengan berikat kepala dan bertopang kepada Ali b. Abi Talib dan Fadzl bin'l-'Abbas. Abu Bakr waktu itu sedang mengimami orang-orang bersembahyang. Setelah kaum Muslimin yang sedang melakukan salat itu melihat Nabi datang, karena rasa gembira yang luarbiasa, hampir-hampir mereka terpengaruh dalam sembahyang itu. Tetapi Nabi memberi isyarat supaya mereka meneruskan salatnya.

Selesai sembahyang ia menghadap kepada orang banyak, Melihat tanda-tanda kesehatan Nabi yang bertambah maju, bukan main gembiranya kaum Muslimin, Usama b. Zaid datang menghadap kepadanya dan minta ijin akan membawa pasukan ke Syam, Abu Bakr berangkat pergi ke Sunh di luar kota Medinah – memberi giliran kepada isterinya, Bint Kharija . Umar dan Ali pergi dengan urusannya masing-masing. Kaum Muslimin sudah mulai terpencar-pencar lagi.

Ia kembali pulang ke rumah Aisyah. Setelah memasuki rumah, tiap sebentar tenaganya bertambah lemah juga. Ia minta disediakan sebuah bejana berisi air dingin dan dengan meletakkan tangan ke dalam bejana itu ia mengusapkan air ke wajahnya; dan bahwa ada seorang laki-laki dari keluarga Abu Bakr datang ke tempat Aisyah dengan sebatang siwak di tangannya. Muhammad memandangnya demikian rupa, yang menunjukkan bahwa ia menginginkannya. Oleh Aisyah benda yang di tangan kerabatnya itu diambilnya, dan setelah dikunyah (ujungnya) sampai lunak diberikannya kepada Nabi. Kemudian dengan itu ia menggosok dan membersihkan giginya. Sementara ia sedang dalam sakratulmaut, ia menghadapkan diri kepada Allah sambil berdoa, "Allahumma ya Allah! Tolonglah aku dalam sakratulmaut ini."

Aisyah berkata - yang pada waktu itu kepala Nabi berada di pangkuannya, "Terasa olehku Rasulullah s.a.w. sudah memberat di pangkuanku. Kuperhatikan air mukanya, ternyata pandangannya menatap ke atas seraya berkata, "Ya Handai Tertinggi dari surga."

"Kataku, 'Engkau telah dipilih maka engkau pun telah memilih. Demi Yang mengutusmu dengan Kebenaran.' Maka Rasulullah pun berpulang sambil bersandar antara dada dan leherku dan dalam giliranku. Aku pun tiada menganiaya orang lain. Dalam kurangnya pengalamanku dan usiaku yang masih muda, Rasulullah s.a.w. berpulang ketika ia di pangkuanku. Kemudian kuletakkan kepalanya di atas bantal, aku berdiri dan bersama-sama wanita-wanita lain aku memukul-mukul mukaku."

Benarkah Muhammad sudah meninggal?

Itulah yang masih menjadi perselisihan orang ketika itu, sehingga hampir-hampir timbul fitnah di kalangan mereka dengan segala akibat yang akan menjurus kepada perang saudara.

Kisah meninggalnya Muhammad versi Husain Haekal tidak menyebutkan mengapa seseorang yang berusia 60-65 tahun, berbadan sehat, mempunyai lebih dari 20 wanita sebagai Istri/Gundik dan Budak, masih melakukan perang melawan pihak lain tiba-tiba jatuh sakit dan meninggal tidak lama kemudian.


Apakah penyebab meninggalnya Nabi?

Sumber Sunni menyatakan bahwa akibat terkena racun di Khaibar [7H/628 M, Jumadil]:
    Ketika Khaibar telah ditaklukan dan masyarakat sudah tenang, Zainab Bint al-Harith, Istri dari Salam Ibn Mishkam, bertanya pada beberapa orang mengenai bagian mana dari domba yang paling disukai nabi. Mereka memberitahukannya, ‘kaki depan, dan paha atas adalah bagian terbaiknya’. Ia kemudian menyembelih seekor domba dan memotong-motongnya. Kemudian Ia ambil racun mematikan yang dapat membunuh dengan seketika, membubuhkannya pada daging domba, dan membubuhkan lebih banyak lagi pada bagian kaki dan paha.

    Ketika Matahari terbenam, Muhammad memimpin Sholat. Setelah selesai sholat dan hendak pergi, Zainab berkata pada nabi, ‘ Oh Abu al-Qasim, aku punya hadiah untuk mu’. Nabi kemudian meminta beberapa sahabat mengambil persembahan itu dan diletakan dihadapan Muhammad dan para sahabat, diantaranya terdapat Bishr Ibn al-Bara' Ibn Ma'rur. Muhammad berkata pada mereka, ‘Ayo kemari dan duduklah’. Muhammad mengambil bagian kaki dan memakanya. Ketika Muhammad telah menelannya, Bishr juga telah menelannya dan para sahabat yang lain juga memakannya. Muhammad berkata, ‘Angkat tanganmu; Daging kaki dan paha ini berkata bahwa mereka telah dibubuhi racun. Bishr berkata, ‘Demi Allah yang menyayangimu, Aku pun merasakan yang sama. Tapi ngga ku muntahkan karena dapat mengacaukan selera makan anda

    Ketika engkau makanan itu ada di mulutmu, Aku juga tidak berharap engkau menelannya”. [Satu pendapat mengatakan] Bishr wafat kemudian di sana. Sisa daging itu dilemparkan kepada anjing, kemudian anjing itu mati. Pendapat lainnya mengatakan bahwa (bishr) warnanya berubah hitam setelah mengalami kesakitan selama dua tahun, ketika ia meninggal. Juga dikatakan bahwa Muhammad menggigit daging domba itu, mengunyahnya dan memuntahkannya kemudian sementara Bishr memakan bagiannya. Kemudian Muhammad mengirimkan yahudi2 dan bertanya pada Zainab, ‘Apa benar kau meracuni domba ini?’

    Ia berkata, ‘Engkau punya suatu kegemaran ketika engkau menghakimi mereka yang tidak setia padamu. Engkau bunuh Ayahku, pamanku dan saudaraku..jadi aku berkata, ‘Jika Ia adalah raja, maka aku akan membebaskan kami dari mu, dan jika Dia adalah Nabi, Ia tentu akan merasakannya’ Ada yang mengatakan bahwa Nabi memaafkannya sementara yang lainnya mengatakan bahwa Ia memerintahkan agar Zainab di hokum mati dan disalib. Ketika Muhammad sakit di menjelang wafatnya, Ia berkata pada Aisha, ‘Aisha, Aku masih merasakan effect makan beracun yang aku makan. Sekarang saat kematianku akibat racun itu’ ketika kakak Bishr hadir menjenguknya, Nabi mengatakan padanya, Ini adalah saat kematianku karena makanan yang aku makan bersama kakakmu di Khaybar’ [Abdallha Abd Al-Fadi, Is The Koran Infallible, Pg. 378-381, mengutip Al-Baidawi. Juga di "ISLAM MUHAMMAD AND THE Quran", Dr. Labib Mikhail, Bab.VI, juga Dictionary: Muhammad]

    Hadis dan Sirat:
    Riwayat Abdurrahman - Sufyan - Al A'masy - Abdullah bin Murrah - Abu Al Ahwash dari Abdullah bin Mas'ud:
    Sungguh aku bersumpah 9x bahwa Rasulullah SAW terbunuh, lebih aku sukai dari pada aku bersumpah 1x bahwa beliau tidak akan terbunuh. Hal itu karena Allah mengambilnya sebagai Nabi dan menjadikanya sebagai saksi. Lalu aku berkata; Lalu aku menyebutkan hal itu kepada Ibrahim, ia pun berkata; Mereka melihat dan mengatakan bahwa orang Yahudi pernah meracuni beliau beserta Abu Bakar [Ahmad no.3925, 3679 (Riwayat Abdurrazaq - Sufyan - Al A'masy - Abdullah bin Murrah - Abu Al Ahwash - Abdullah), 3435 (Riwayat Abu Mu'awiyah - Al A'masy - Abdullah bin Murrah - Abu Al Ahwash - Abdullah)]

    Riwayat Muhammad bin Basysyar - Abu Daud - Zuhair - Abu Ishaq - Sa'd bin 'Iyadl - Abdullah bin Mas'ud: "Nabi SAW menyukai paha kambing." Ia berkata, "Pernah paha kambing diberi racun, dan beliau melihat bahwa yang orang-orang Yahudi yang telah meracuninya." [Abu Dawud no.3287. Ahmad no.3545, 3546, 3589]

    Diriwayatkan 'Aisha:
    Nabi SAW ketika sakit yang menyababkan kematiannya, kerap berkata, "O Aisha! Aku masih merasakan sakit akibat makanan yang aku makan di Khaibar, dan sekarang ini Aku rasakan nadiku di iris racun itu" (وَقَالَ يُونُسُ عَنِ الزُّهْرِيِّ، قَالَ عُرْوَةُ قَالَتْ عَائِشَةُ رضى الله عنها كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ فِي مَرَضِهِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ ‏ "‏ يَا عَائِشَةُ مَا أَزَالُ أَجِدُ أَلَمَ الطَّعَامِ الَّذِي أَكَلْتُ بِخَيْبَرَ، فَهَذَا أَوَانُ وَجَدْتُ انْقِطَاعَ أَبْهَرِي مِنْ ذَلِكَ السَّمِّ) [Bukhari 5.59.713]

    Riwayat Qutaibah - Al Laits - Sa'id bin Abu Sa'id - Abu Hurairah:
    Ketika Khaibar ditaklukkan, Rasulullah SAW diberi hadiah seekor kambing beracun. Rasulullah SAW bersabda: 'Tolong kumpulkanlah orang-orang Yahudi yang ada di sini.' Maka mereka dikumpulkanlah di hadapan beliau. Lalu Rasulullah SAW bersabda: 'Saya akan bertanya kepada kalian tentang sesuatu, apakah kalian akan menjawab dengan jujur? ', mereka menjawab; 'Ya,..Rasulullah SAW: 'Siapakah penghuni neraka? ' Mereka menjawab; 'Kami berada di dalamnya sebentar dan kemudian baginda menggantikan kami di dalamnya.' Maka Rasulullah SAW berkata kepada mereka: Terhinalah kalian di dalamnya, demi Allah kami tidak akan menggantikan kalian di dalamnya selamanya."..Lalu Rasulullah SAW: "Apakah kalian membubuhi racun pada (daging) kambing tersebut?" Mereka menjawab; "Ya, " beliau bertanya: "Apa yang menyebabkan kalian berbuat demikian?" Mereka menjawab; "Kami ingin terbebas jika tuan seorang pembohong dan jika baginda benar seorang Nabi maka (racun itu) tidak bakalan mencelakai tuan" [Bukhari no.5332, 2933, 3918 atau Bukhari 4.53.394, 5.59.551, 7.71.669. Abu dawud no.3910]

    Riwayat Yahya bin Habib Al Haritsi - Khalid bin Al Harits - Syu'bah - Hisyam bin Zaid - Anas bin malik:
    Seorang perempuan Yahudi mengantarkan daging yang telah dibubuhi racun kepada Nabi SAW, lalu beliau makan sebagian. Kemudian perempuan itu dipanggil ke hadapan Rasulullah SAW, lalu beliau menanya kepadanya tentang racun itu. Jawabnya; 'Aku sengaja hendak membunuh Anda.' Sabda Nabi SAW: 'Tidak mungkin Allah akan memberi wewenang kepadamu untuk berbuat demikian.'..Kata Anas selanjutnya; 'Kami melihat jelas bekas racun itu kelihatan di leher Rasulullah SAW' [Muslim no.4060. Juga di Abu Dawud no.3090]

    Riwayat 'Abdullah bin 'Abdul Wahhab - Khalid bin Al Harits - Su'bah - Hisyam bin Zaid - Anas bin Malik:
    Ada wanita Yahudi yang datang menemui Nabi SAW dengan membawa seekor kambing yang telah diracun lalu Beliau memakannya. Kemudian wanita itu diringkus dengan bukti daging tersebut dan dikatakan; "Tidak sebaiknyakah kita bunuh saja?" Beliau menjawab: "Jangan". Sejak itu aku senantiasa aku melihat bekas racun tersebut pada anak lidah Rasulullah SAW. [Bukhari no.2424. namun di hadis-hadis lainnya dikatakan bahwa wanita Yahudi itu dibunuh, misal: Abu Dawud no.3911, dari riwayat Wahb bin Baqiyyah - Khalid dari Muhammad bin Amru - Abu Salamah: "..Rasulullah SAW kemudian memerintahkan supaya wanita itu dihukum, maka wanita itu pun dibunuh..". Juga Abu Dawud no.3912 dari jalur perawi Wahab bin Baqiyyah- Khalid - Muhammad bin Amru - Abu Salamah - Abu Hurairah: ..Rasulullah SAW lantas memerintahkan agar wanita itu dibunuh, maka ia pun dibunuh. Kemudian beliau berkata pada saat sakit yang membawanya kepada kematian: "Aku masih merasakan apa yang pernah aku makan di Khaibar, dan sekarang adalah waktu terputusnya punggungku (kematianku)". Juga Abu Dawud no.3913 dari jalur perawi Ahmad bin Hanbal - Ibrahim bin Khalid - Rabah - Ma'mar - Az Zuhri - 'Abdurrahman bin Abdullah bin ka'b bin malik - ibunya Ummu Mubasysyir. Abu Sa'id Ibnul A'rabi: ia berkata dari ibunya. Namun yang benar adalah dari bapaknya, dari Ummu Mubasysyir:..Rasulullah SAW lalu memerintahkan untuk menghukum wanita tersebut, maka wanita itu pun dibunuh]

    Riwayat Suraij -'Abbad - Hilal - Ikrimah - Ibnu Abbas:
    Seorang wanita dari kaum Yahudi memberi hadiah kepada Rasulullah SAW berupa (daging) kambing yang telah diracun. Lalu beliau mengirim utusan kepadanya, untuk menanyakan kepadanya; "Apa yang mendorongmu untuk melakukan apa yang telah engkau perbuat ini?" ia menjawab; "Aku mau." Atau ia berkata; "Aku ingin, bila engkau seorang nabi, maka Allah akan memberitahumu tentang itu, namun bila engkau bukan nabi, aku akan menentramkan manusia darimu." [Ahmad no.2648, 2649]

    Rasulullah berkata selama sakitnya yang mengakitkan kematiannya – ibu Bishr datang menjenguknya – "Umm Bishr, pada saat ini aku merasa aorta (urat nadi) ku dirobek akibat makanan yang kumakan bersama putramu di Kaibar. [Tabari, Vol.8, hal. 124]

    Umm Bishr, datang kepada Nabi sewaktu Nabi sedang menderita sakit dan berkata, ‘O Rasulullah! Aku tidak pernah melihat demam seperti ini.’ Nabi berkata padanya, Jika cobaan kita dua kali lipat beratnya, maka anugrah kita di surga pun jadi dua kali lipat pula. Apa yang orang2 katakan tentang penyakitku? Dia (Umm Bishr) berkata, ’Mereka bilang itu pleurisy.’ Karena itu Rasulullah berkata, ‘Allah tidak akan membuat RasulNya menderita seperti itu (pleurisy) karena itu tanda kemasukan Setan, tapi (rasa sakitku adalah akibat) daging yang kumakan bersama-sama dengan anak lakimu. Racun itu telah memotong urat merihku.’ [Kitab Al-tabaqat Al-Kabir, Muḥammad Ibn Saʻd, ‎Syed Moinul Haq, Vol.2, hal.294. Juga di: "The Life of Muhammad: al-Maghazi, Al-Waqidi, hal.679]

    Ibn Sa'd, Vol. 2, hal 251, 252:
    Ketika Rasulullah mengalahkan Khaibar dan dia merasa lapar, Zaynab Bint al-Harith (Bint al-Harith adalah saudara laki Marhab), yang merupakan istri dari Sallam Ibn Mishkam bertanya, ‘Bagian kambing manakah yang disukai Muhammad?’ Mereka berkata, ’Kaki depan.’ Maka dia pun memotong satu dari kambing2nya dan memasak (dagingnya). Lalu dia membubuhi racun yang sangat kuat. Rasulullah mengambil kaki depan kambing, dia memasukkan sepotong daging ke dalam mulutnya. Bishr mengambil sepotong tulang dan memasukannya ke dalam mulutnya. Ketika Rasulullah memakan sepotong daging, Bishr memakan daging kambingnya dan orang-orang lain pun makan daging kambing itu. Lalu Rasulullah berkata, ‘Tahan tangan2 kalian! Karena kaki depan kambing ini memberitahuku bahwa ia diracuni. Mendengar itu Bishr berkata, Demi Dia yang membuatmu besar! Aku ketahui akan hal itu dari daging yang kumakan. Tiada yang mencegahku untuk memuntahkannya, karena aku tidak mau membuat makananmu tampak tidak enak. Ketika kau memakan daging yang tadi ada di mulutmu, aku tidak mau hidup jika kau tidak selamat, dan kukira kau tidak akan memakannya jika memang ada sesuatu yang salah.

    Bishr tidak beranjak dari tempat duduknya tapi warna kulitnya berubah jadi ‘taylsan’ (warna kain hijau). Sakit dideritanya selama 1 tahun membuatnya tidak dapat menggerakan badan mengubah posisi kecuali dibantu orang lain dan Ia kemudian wafat. Menurut versi lainnya, ia wafat tidak beranjak dari kursinya. Ia (Ibn Sa'ad) berkata: Sebelumnya sepotong (daging) jatuh, seekor anjing memakannya dan kemudian mati tidak dapat menggerakan kaki depan.

    Rasulullah menyuruh memanggil Zaynab binti Al Harith dan berkata padanya, ‘Apa yang membuatmu melakukan apa yang telah kau lakukan?’ Dia menjawab, ‘Kau telah lakukan pada masyarakatku apa yang telah kau lakukan. Kau telah membunuh ayahku, pamanku, suamiku, aku berkata pada diriku sendiri, ‘Jika kau adalah seorang nabi, kaki depan itu akan memberitahumu, dan yang telah berkata, ‘Jika kau seorang raja, kami akan mengenyahkanmu.’ Perempuan Yahudi itu dikembalikan ketempatnya. Ia (Ibn Sa'd) berkata: Rasullullah SAW, menyerahkannya pada keturunan Bishr Ibn Al-Bara yang kemudian membunuhnya. [Kisah yang mirip dengan yang disampaikan Ibn Sa'd, juga ada di "The Life of Muhammad: al-Maghazi, Al-Waqidi, hal.677-679:..Bishr tidak beranjak dari tempat duduknya tapi warna kulitnya berubah jadi ‘taylsan’ (warna kain hijau). Rasa sakit yang dideritanya tidak berakhir setahun..kemudian wafat..Ia tidak keluar rumah hingga wafat. Rasullulah hidup hingga 3 tahun lagi. Rasullulah memanggil Zaynab..Ada perbedaan pendapat mengenai perempuan ini..Muhammad memerintahkan membunuhnya, dan disalibkan. Pendapat lainnya menyatakan ia di ampuni..]


Apa motif Zaynab binti al-Harith meracuni Muhammad?

Kaum Arab di Medina (atau Ansar) berasal dari 2 suku Arab, yaitu suku Aws dan suku Khazraj yang masing-masing beraliansi dengan suku Yahudi berbeda: Bani Qaynuqa (Pengerajin Emas, Beraliansi dengan suku Arab Khazraj), Bani Nadir (Pemilik kebun Kurma, dengan suku Aws), dan Bani Qurayzah (dengan suku Aws) [Sirat Nabawiyah, Ibn Ishaq/Ibn Hisham, Jilid 1, Bab.101, hal.497]. Peperangan di antara suku Arab tersebut juga menyeret serta aliansi mereka akibatnya walau terjadi perdamaian tapi tetap tidaklah menghapus dendam atas kematian keluarga mereka dan saat ada kesempatan, terjadi pembalasan, misalnya: Di perang Hatshib, Suwaid bin Shamit/suku Aws dibunuh Al-Mujadzdzir/suku Khazraj, kelak, walaupun anak-anak Suwaid (Julas dan Al harits) dan Al-Mujadzdzir semuanya telah masuk Islam dan ikut Muhammad saat perang Uhud, Namun kemudian, Al Harits juga membunuh Al-Mujadzdzir [Ibid, Bab.53, hal.240], Muhammad lantas meminta Usman bin Affan (sahabat dari bin Tsabit, suku Khazraj) untuk membunuh Harist bin Suwaid/Suku Aws [Ibid, Jilid 2, Bab.140, hal.54]

Bagi Muhammad, suku Khazraj, lebih dekat secara kekerabatan, karena Ibunda Abdul Muthalib/Syaibah bin Hisyam (kakek Muhammad), berasal dari suku tersebut [Ibid, Jilid 1, Bab 15, hal.84] dan secara agama, karena sebelum Hijrah, 6 orang dari suku tersebut adalah kaum Anshar, Medina pertama yang masuk Islam [Ibid, Bab. 82, hal.390] malah ditahun berikutnya, 5 dari mereka membawa 7 orang (2 dari suku Aws) dan ke-12 orang ini (10 suku Khazraj) melakukan Baiat Aqaba ke-1 [Ibid, Bab.83, hal.391-92]. Tahun berikutnya, 73 orang (62 dari suku Khazraj) melakukan Baiat Aqaba ke-2 dan dari 12 pemimpinnya, 9 berasal dari suku Khazraj [Ibid, bab.85, hal.398-401]. Juga, ketika berlangsungnya perampokan di Badar terhadap karavan Quraish (Muir, Ch.12 dan Mubarakpuri, hal 251-278, menyatakan kejadian ini tanggal 17 Ramadhan 624 M), jumlah suku Khazraj paling mendominasi, yaitu 170 orang, sementara dari suku Aws 61 orang ["A Biography of the Prophet of Islam..", Mahdi Rizqullah Ahmad, Vol.1, hal.390].

Ibn Ishaq menyampaikan bahwa suku Aws dan suku Khazraj, saling bersaing untuk menyenangkan Muhammad [Ibid, Bab.160, hal.236], mengikuti teladan Muhammad, mereka tidak segan melakukan pembunuhan kepada yang tidak pro pada Nabi, apalagi jika bukan kerabat dan hanya kaum Yahudi yang menjadi aliansi mereka, oleh karenanya, di 5 hari sebelum berakhirnya Ramadhan, seorang wanita Yahudi, Asma binti Marwan (aliansi suku Aws), saat sedang tidur menyusui bayinya, dibunuh MANTAN suaminya, hanya karena Asma menyindir bangsanya sendiri yang mau saja menerima dan mempercayai Muhammad yang telah membantai para pemimpin sukunya sendiri (suku Quraish pada peristiwa perampokan di Badar), juga, di bulan Syawal, pembunuhan terhadap pria tua Yahudi, Abu Afak (aliansi suku Aws) oleh Salim bin Umair Al-Amr (dari suku Aws) karena menyampaikan ketidaksukaan pada agama baru dan para Muslim [Haekal di hal.261, Muir, Ch.13 dan Mahdi Rizqullah Ahmad, hal.431-433, menempatkan pembunuhan ini sebelum Bani Qaynuqa, sementara Ibn Ishaq, menempatkannya di setelah Uhud, yaitu karena protes pembunuhan Harist bin Suwaid/suku Aws: Jilid 1, bab.80, hal 386 dan Jilid 2, Bab.140, hal.54).

3 suku Yahudi yang menjadi aliansi mereka tidak ada yang ikut dalam perjanjian PIAGAM MEDINA, karena saat itu, perjanjian Medina belumlah ada, alasannya adalah di butir perjanjiannya, ada kalimat pembagian tebusan tawanan, sementara kejadian adanya tawanan, baru terjadi karena perampokan di Badar tanggal 17 Ramadhan dan pada saat itu tidak ada kaum Yahudi yang diikutsertakan, juga, penyerangan pada kaum Yahudi bani Qaynuqa baru akan terjadi 1 bulanan ke depan di bulan Syawal dan penyerangan pada kaum Yahudi lainnya (bani Nadir dan Quraza) baru akan terjadi 1 tahun ke depan, yang alasannya justru untuk memaksa mereka agar mau mengikat perjanjian:
    Rasullulah menyerbu Banu al Nadir dan berkata: “Aku tidak akan menjamin keselamatanmu kecuali jika kau membuat perjanjian dengan ku dan berjanji mematuhinya” Mereka menolak membuat sebuah perjanjian dengannya, Kemudian Rasullulah memimpin para muslim memerangi mereka seharian.

    Hari berikutnya ia tinggalkan Banu al Nadir dan menuju ke Banu Qurayzah dengan pasukan berkuda. Ia undang Banu Qurayzah untuk membuat perjanjian bersamanya; Mereka kemudian melakukan dan Ia tinggalkan mereka.

    Hari berikutnya Ia kembali ke Banu al Nadir dengan pasukannya, dan memerangi mereka hingga mereka bersedia menerima pengusiran, dengan kondisi yaitu apapun yang mereka bisa angkut dengan onta, kecuali persenjataan.

    Banu al Nadir membawa milik mereka sebanyak yang mereka bisa bawa dengan onta, termasuk pintu-pintu rumah mereka; mereka hancurkan rumah-rumah mereka sendiri dan ambil darinya kayu-kayu terbaik.[Abd al Razzaq. al Musannaf, 5/358-361; Abu Dawud, al Sunan, 3/404-7; al Bayhaqi, Dalail al Nubuwwah, 3/446-8; juga lihat Ibn Hajar, Fath al Bari, 7/331]
Hadis di atas membantah tuduhan Ashim bin Umar bin Qatadah bahwa Bani Qainuqa' adalah pemukim Yahudi pertama yang membatalkan perjanjiannya dengan Rasulullah SAW [Ibn Ishaq/Hisyam, jilid 2, Bab 133, Hal.6], malah, jika benar, ke-3 suku Yahudi telah terikat perjanjian (seperti klaim Ashim), maka Mahdi Rizqullah Ahmad, menyampaikan bahwa dokumen Madina memberikan hak pada kaum Yahudi untuk menjalankan agama mereka ["A Biography of the Prophet of Islam: In the Light of the Original..", vol.1, hal.436], sehingga justru Muhammad-lah yang melanggar perjanjian, karena di setelah peristiwa di Badar, Muhammad datang di Pasar suku Qaynuqa memaksa dengan ancaman, agar mereka masuk Islam, jika tidak mau mengalami seperti suku Quraish:
    "Ibnu Ishaq berkata, "Sesungguhnya Allah menimpakan hukuman kepada orang-orang Quraisy di Perang Badar, Rasulullah SAW mengumpulkan orang-orang Yahudi di Pasar Bani Qainuqa' setibanya beliau di Medinah. Beliau berkata kepada mereka, 'Hai orang-orang Yahudi, masuk Islamlah kalian sebelum Allah menimpakan hukuman seperti yang telah Dia timpakan kepada orang-orang Quraisy.' [Ibn Ishaq/Hisyam, jilid ke-1, Bab 102, Hal 514 dan Abu Dawud no.2607 (Riwayat Musharrif bin 'Amr Al Ayami - Yunus bin Bukair - Muhammad bin Ishaq - Muhammad bin Abu Muhammad (mantan budak Zaid bin Tsabit) - Sa'id bin Jubair - Ikrimah 0 Ibnu Abbas)]
Dengan contoh seperti ini, maka wajar saja, jika kemudian, suku Khazraj, mengorbankan aliansi mereka, yaitu Bani Qaynuqa, agar dapat unggul telak dari suku Aws, dalam perlombaan berbakti pada Muhammad SAW.
    Ubadah bin Ash-Shamit menghadap Rasulullah SAW..kemudian berkata, 'Wahai Rasulullah, aku berpihak kepada Allah, Rasul-Nya, kaum Mukminin, berlepas diri dari persekutuan mereka, dan tidak loyal kepada mereka.' [Ibid, jilid 2, Bab 133, Hal.9. Ubadah bin Ash-Shamit adalah warga Bani Auf, tokoh Suku Khazraj, yang hadir di Baiat Aqabah ke-1 dan ke-2 dan mempunyai persekutuan dengan orang-orang Yahudi Bani Qainuqa]
Kehancuran suku Yahudi Qaynuqa-pun, tinggal hitungan waktu dalam kepastian.
    Ibnu Hisyam - Abdullah bin Ja'far bin Al-Miswar bin Makhramah - Abu Aun: "..seorang wanita Arab datang berjualan di Pasar Bani Qainuqa' duduk bersebelahan dengan tukang emas dan perak. Orang-orang Yahudi memintanya membuka wajahnya, tapi ditolaknya. Tukang emas dan perak mendekat ke ujung pakaian wanita Arab tersebut dan mengikatkannya ke punggung wanita Arab tersebut. Ketika Ia berdiri, terbukalah auratnya dan orang-orang Yahudi pun tertawa terpingkal-pingkal karenanya. wanita Arab tersebut berteriak keras, kemudian salah seorang dari kaum Muslim meloncat ke tukang emas dan perak yang Yahudi itu dan membunuhnya. Orang-orang Yahudi lainnya tidak tinggal diam dan membunuh orang muslim tersebut. keluarga orang Muslim yang terbunuh berteriak memanggil kaum Muslimin sembari menyebutkan ulah orang-orang Yahudi. kemudian terjadilah perang antara mereka melawan orang-orang Yahudi. [Sirat Nabawiyah, Ibn Ishaq/Hisham, jilid 2, Bab 133, hal.7]
Jika ini perempuan Muslim, maka kewajiban HIJAB, belum ada, baru muncul 4 tahun kemudian, pada peristiwa perkawinan Zainab, Wanita Arab itu, bisa jadi bukan kelompok suku Arab aliansi mereka sehingga berani mereka goda dan jika benar kaum Qaynuqa ikut perjanjian, maka ada pasal tentang DIYAT dan juga perlindungan tidak diberikan kepada perempuan (dalam hal perkawinan) kecuali seijin sukunya.

Atas peristiwa itu, di hari Sabtu, 15 Shawwal, 2 H. (624 M) Nabi bersama pasukannya mengepung benteng kaum Yahudi Qaynuqa selama 15 hari, membiarkannya tanpa air ["Muslim Pertama: Melihat Muhammad Lebih Dekat", Lesley Hazleton", hal.251. juga, Muir, Ch.13] yang membuat mereka menyerah dengan tangan terikat:
    Maududi: "..Pengepungan berlangsung kurang dari dua minggu waktu orang2 Yahudi akhirnya menyerah dan semua pria yang bertempur diikat dan dijadikan tahanan..Bani Qaynuqa harus mengasingkan diri dari Madinah dan meninggalkan semua harta benda, peralatan perang, dan perlengkapan berdagang. (Ibn Sa'd, Ibn Hisham, Tarikh Tabari)

    Ibn Ishaq: Abdullah bin Ubai bin Salul menghadap Rasulullah SAW: 'Hai Muhammad, berbuat baiklah kepada para pengikutku --mereka adalah sekutu Al-Khazraj--. 'Rasulullah SAW diam tidak memberi jawaban, Ia berkata ke-2xnya, Rasulullah SAW memalingkan muka darinya, kemudian Abdullah bin Ubai bin Salul memasukkan tangannya ke saku baju besi Rasulullah SAW." [Tidak jelas apa ini artinya, "sogokan" atau bukan]..Rasulullah SAW marah hingga wajah beliau menghitam karena ucapan dan perbuatan Abdullah bin Ubai bin Salul. Rasulullah SAW: 'Celakalah engkau, kirim mereka kepadaku! Abdullah bin Ubai bin Salul: 'Tidak, demi Allah, aku tidak akan mengirimkan mereka kepadamu hingga engkau berbuat baik kepada para pengikutku, yaitu 400 tentara tanpa baju besi dan 300 tentara berbaju besi yang telah melindungiku dari orang-orang berkulit merah dan orang-orang negro, namun engkau bunuh mereka di satu pagi. Demi Allah, sungguh aku orang yang paling takut malapetaka.' Rasulullah SAW: 'Mereka menjadi milikmu'. [Ibid, jilid 2, Bab 133, Hal 8]

    Mubarakpuri: "Bani Qaynuqa menyerahkan segala barang, kekayaan dan peralatan perang pada Nabi, yang lalu mengambil 1/5 bagian dan membagi sisanya untuk orang-orangnya. Setelah itu Bani Qaynuqa diusir dari Arabia dan menuju Syria." (juga Muir, Ch 13)
Tidak seorang pun bertanya, mengapa QIYAS dan DIYAT (kebiasaan ganti rugi yang telah berjalan lama) tidak diberlakukan pada oknumnya dan menjadikan kejadian ini sebagai tanggungjawab kolektif suku, melakukan pengusiran pada mereka SETELAH merampas harta mereka?

Tetua Bani Nadir, Ka`b Ibn Ashraf, tahu apa yang melanda Suku Arab Quraish di Badar dan suku Yahudi Qaynuqa, karena ke-2nya terjadi dalam 1 bulan (17 Ramadhan dan Syawal). Ia menjadi berkhawatir pada nasib sukunya karena tahu bahwa Muhammad tidak akan berhenti sampai di situ dan akan berlanjut pada suku Yahudi lainnya.

Ketika Ia pergi ke Mekkah (Ada pasal di perjanjian Medina bahwa Para Yahudi tidak diperkenankan keluar dari Yatrib tanpa ijin dari Muhammad SAW), Ia singgah di rumah Al-Muththalib bin Abu Wada'ah Dhubairah As-Sahmi yang ayahnya menjadi tawanan Badar dan harus ditebus seharga 4000 Dirham [Ibid, Jilid 1, bab 119, hal.624-625]. Ini mengindikasikan kepergiannya terkait urusan penebusan tawanan yang memerlukan keterlibatan pihak ke-3, karena, jika kaum Arab muhajirin dan Medina sendiri yang datang, malah akan berbalik menjadi tertawan atau dibunuh, sehingga, bukan saja tidak mendapat uang, malah akan terjadi pertukaran tawanan atau mayat. Karena kejadian di Badar adalah peristiwa yang mendukakan dan sensitif, maka ketika di Mekkah, wajar saja Ka'b menyampaikan pujian pada kaum Quraish dan simpati atas para mayat pemimpin Quraish yang ada di sumur Badar, juga wajar para Quraish yang tengah berduka besar ini marah dan bercuriga pada kedatangan orang Medina, sebagai orangnya Muhammad, sehingga Ka'b sempat ditawan dan hampir dibunuh karenanya [Ibid, jilid 3, bab 135, hal 13-14] namun Ia selamat dan dapat pulang ke Medina.

Para penulis Islam, tentu saja punya versi tersendiri, dikatakan bahwa Ka'b di sana sibuk memprofokasi kaum Quraish, sample:
    Maududi: "..Ka`b bin Ashraf, ketua Bani an-Nadeer kemudian pergi ke Mekkah membujuk orang-orang untuk melakukan balas dendam dengan cara menulis dan membacakan syair sedih profokatif atas para pemimpin Quraish yang dibunuh di Badr..."

    Ibn Ishaq: Ka’ab bin Al-Asyraf memprovokasi orang-orang Quraisy untuk memerangi Rasulullah SAW, melantunkan syair-syair, dan menangisi penghuni Sumur Badar.. [Ibn Ishaq/Ibn Hisyam, Jilid 2, bab 135, hal.13-16]
Jika Provokasi sebagai alasan, maka para penulis muslim itu lupa satu fakta sederhana, bahwa saat itu telah terjadi 70 kerabat dekat suku Quraish Mekkah yang TERBUNUH dan 65 kerabat yang TERTAWAN ("Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad", K.H, Moenawar Chalil, Jilid 3, hal. 38-43). Ini membuat kota Mekkah, saat itu berubah menjadi kota yang diliputi KESEDIHAN dan KEMARAHAN MASSAL, sehingga tanpa Ka'b-pun, pembalasan pastilah terjadi.

Para Penulis juga berkata bahwa
    Maududi: "..Lalu dia kembali ke Madinah dan menyusun ayat2 syair yang menghina keadaan para perempuan Muslim, Ini membuat Nabi Marah dan mengirim Muhammad bin Maslamah Ansari di bulan Rabi al-Awwal, A. H. 3, dan membunuh Ka` b. (Ibn Sad, Ibn Hisham, Tabari)..."

    Ibn Ishaq:..Setelah itu, Ka’ab bin Al-Asyraf pulang ke Madinah dan memuji-muji istri-istri kaum Muslimin hingga mereka terganggu karenanya. Rasulullah SAW:..‘Siapa yang siap bertindak terhadap Ka’ab bin Al-Asyraf mewakiliku?’ .. [Ibn Ishaq/Ibn Hisyam, Jilid 2, bab 135, hal.13-16]
Apakah puisi Ka'ab adalah pujian atau hinaan atau sindiran, ini tergantung penulis, sample tulisan Ka'b diantaranya seperti ini:

"Tahanlah orang tidak waras dari kalian, agar kalian selamat dari perkataannya yang tidak baik, Apakah engkau mencelaku jika aku menangisi dengan air mata bercucuran, Terhadap kaum yang mencintaiku dengan hati yang tulus?, Aku pasti akan menangis selagi aku masih hidup, Dan selagi aku ingat amal mulia suatu kaum yang mulia di Al-Jabajib [Ibid hal.15]

atau jika merujuk pada Tabari vol.7, hal.94-95 (dan Muir, Ch.13, cat kaki no.26, hal 144-145), terdapat sebuah puisi cinta Ka'b untuk Umm Fadl binti Harith (yang kelak menjadi Istri Ibn Abbas), saudara Maymuna bint Harith dan Zainab binti Khuzaimah (keduanya kelak menjadi Istri Muhammad). Puisi itu pujian kecantikannya dan beberapa puisi cinta untuk beberapa perempuan muslim lainnya yang kemudian ini dianggap mengganggu (entah oleh kaum perempuannya atau oleh kaum Prianya)

Kemudian, vonis mati Ka'b diberikan Rasulullah SAW: "Siapakah yang mau membunuh Ka`b bin al-Ashraf yang telah menyakiti Allah dan RasulNya?" maka Maslama mengajukan diri dan setelah mendapat ijin rasul untuk berkata sesuatu yang dapat menipu Ka'ab, Ia bersama kawannya membunuh Ka'b [Bukhari no.3731 dan Muslim no.3359, juga Bukhari no.2237, 2806-07. Abu Dawud no.2387].

Sehari setelah Ka'b tewas, terjadi pembunuhan terhadap seorang pedagang Yahudi hanya karena Rasulullah SAW bersabda, "Siapa saja yang bisa mengalahkan Yahudi, bunuh dia!", maka Muhaishah/Muhaiyyishah dari suku Al-Aws menangkap Ibnu Sunainah/Ibnu Subainah kemudian membunuhnya.[Ibn Ishaq/Hisyam, jilid 2. Bab.135, hal.19-20. Juga di Abud Dawud no. 2608]

(Setelah pembunuhan Ka'b dan Ibnu Sunainah), kaum Yahudi hidup dalam ketakutan. Tak ada yang berani berkeliaran diluaran. Setiap keluarga hidup dalam ketakutan mengalami serangan malam, setiap orang takut mengalami nasib seperti Kab dan Ibnu Sanina. Seorang pria perwakilan mereka, datang kepada Muhammad mempertanyakan tentang dibunuhnya Ka'b yang dibunuh tanpa kesalahan dan sebab jelas, Muhammad jawab, "itu karena kelakuan Ka'b sendiri, Ia melakukan seperti kamu, Ia tidak akan digorok, tapi Ia melecehkanku dengan hasutan dan puisi jahatnya dan jika satu di antara kalian berbuat sama, pedang yang sama akan lagi terhunus". Pada saat yang bersamaan, Nabi minta mereka membuat perjanjian dan mereka menyetujuinya. Namun demikian, tambah Wackidi, sejak itu kaum Yahudi hidup depresi dalam ketakutan [Wackidi; 191; K. Wackidi 94 ½] [Muir, Ch.13, hal. 150]

Kemudian terjadilah pembalasan suku Quraish kepada kaum Arab Medina (Lokasi: Uhud)
    Maududi: "Beberapa saat setelah hukuman ini, orang-orang Yahudi dicekam rasa takut yang hebat sehingga mereka tidak berani macam-macam lagi. Tapi kemudian di bulan Syahwal, 3 H, orang-orang Quraish yang membalas dendam atas kekalahan mereka di Badr, menuju Madinah dengan persiapan besar. Orang-orang Yahudi melihat jumlah prajurit Nabi hanyalah sekitar 1000 orang melawan 3000 Quraish. 300 prajurit munafik meninggalkan pasukan Nabi balik ke Madinah. Para Yahudi duluan melanggar perjanjian dengan menolak bergabung dengan Nabi untuk mempertahankan Madinah meski mereka terikat perjanjian itu."
300 prajurit munafik yang balik itu, JUSTRU BERASAL DARI KAUM ARAB SUKU KHAZRAJ, pimpinan Abdullah bin Ubai bin Salul [Ibn Ishaq/Ibn Hisyam, Jilid 2, Bab 136, hal.26-27] dan Muhammad sendiri telah menyatakan TIDAK BUTUH BANTUAN YAHUDI
    Ibnu Hisyam berkata, selain Ziyad berkata dari Muhammad bin Ishaq dari Az-Zuhri bahwa orang-orang Anshar berkata kepada Rasulullah SAW MENJELANG PERANG UHUD, "Wahai Rasulullah, kenapa kita tidak meminta bantuan sekutu-sekutu kita dari orang-orang Yahudi?" Rasulullah SAW bersabda, "KITA TIDAK BUTUH MEREKA." [Ibid, hal.27]
Kekalahan Nabi di Uhud yang membuatnya sampai tunggang langgang ke atas gunung, BUKANLAH SALAH KAUM YAHUDI. Tapi masalahnya perang dan keseharian membutuhkan modal, maka itu akan didapat dari kaum YAHUDI, seperti misalnya emas dan harta setelah pengusiran kaum Qaynuqa, Muhammad tahu, bani Nadir adalah kaya, kebun kurma paling terurus yang ada di Yathrib adalah milik mereka [misal Bukhari no.2918, 2896] demikian juga Bani Qurayza, akibatnya mereka semua diincar untuk juga dusir
    Riwayat Qutaibah bin Sa'id - Laits - Sa'id bin Abu Sa'id - ayahnya - Abu Hurairah - Rasulullah SAW: "Mari kita pergi ke pemukiman orang-orang Yahudi." Lalu kami pergi bersama beliau, setelah kami sampai di pemukiman mereka, Rasulullah SAW di hadapan mereka berseru: "Wahai kaum Yahudi, masuk Islamlah kalian niscaya kalian akan selamat." Mereka lalu menjawab, "Wahai Abu Qasim, kamu telah sampaikan itu."..Beliau mengulang seruan tersebut sampai 3x kali. Sesudah itu, beliau bersabda: "Ketahuilah, sesungguhnya bumi ini kepunyaan Allah dan Rasul-Nya, oleh karena itu AKU MENGUSIR KALIAN DARI NEGERI INI, barangsiapa YANG MASIH MEMILIKI HARTA, hendaknya dijual, jika tidak maka ketahuilah, bahwa bumi ini adalah milik Allah dan Rasul-Nya." [Muslim no.3311, Bukhari no.2931, 6431, 6802]
Hadis ini juga membuktikan bahwa PERJANJIAN dengan 3 SUKU YAHUDI (Qaynuqa, Nadir dan Qurayza) TIDAK PERNAH ADA, karena JIKA ADA, maka TINDAKAN MUHAMMAD ini menjadi pihak pertama yang melanggar perjanjian, juga, tidakpeduli apapun caranya, yang penting dapat menguasai harta dan mengusir kaum Yahudi, misalnya:
    ..setelah kecelakaan Bi'r Maunah (Safar, 4H) Amr bin Umayyah Damri SALAH MEMBUNUH 2 PRIA BANI AMIR dalam usaha balas dendam. Dua orang dari Bani Amir ini adalah SEKUTU ORANG MUSLIM, tapi Amr mengira mereka itu musuh. Karena kesalahan ini, KAUM MUSLIM WAJIB MENGGANTI RUGI 2 ORANG ITU dengan sejumlah uang. Karena Bani an-Nadir merupakan sekutu Bani Amir, NABI DAN PASUKANNYA menemui mereka (Bani an-Nadir) UNTUK MINTA TOLONG MEMBAYARKAN UANG DARAH TERSEBUT. [Maududi, Ibn Ishaq/Ibn Hisyam, jilid 1, Bab 103, hal.530]
Tentu saja para Yahudi ini tahu bahwa mereka TIDAK BERKEWAJIBAN BANTU BAYAR, namun penolakan berarti bencana seketika, karena, jika urusan hanya sekedar itu saja, maka Muhammad cukup mengirim utusan, tapi beliau datang BERSAMA PASUKAN, ini jelas bukan sekedar urusan "permohonan bantuan uang diyat"
    Kelihatannya mereka setuju untuk menyumbang, seperti yang diharapkan Nabi [Maududi, Al Mubarakpuir, hal.302], meminta Muhammad dan kawannya Abu Bakr, ‘Umar, `Ali dan lainnya untuk duduk di bawah tembok rumah mereka dan menunggu [Mubarakpuri, hal.302]. Ketika orang-orang Yahudi duduk sesama mereka, sebagian dari mereka berkata, 'Kalian tidak melihat Muhammad lebih dekat dengan kalian kecuali sekarang. Maka siapa yang mau naik ke atas rumah, kemudian menjatuhkan batu kepadanya lalu kita tidak terganggu olehnya?' Amr bin Jihasy bin Ka'ab berkata, 'Saya siap melakukannya!' [Ibn Ishaq/Ibn Hisyam, jilid 1, Bab 103, hal.530, Maududi, Mubarakpuri, Muir, Ch.15, cat kaki.29 :Tradisi ini fiksi] Seorang dari mereka, Salam bin Mashkam, memperingatkan untuk tidak melakukannya, karena mengira Allah akan memberitahu Nabi tentang rencana mereka [Mubarakpuri, hal.302] Ketika Rasulullah SAW mengetahui rencana mereka, beliau segera pergi dari mereka. [Ibn Ishaq, hal.530, namun Mubarakpuri, hal 302: Jibril turun memberitahu Nabi tentang rencana mereka, Maududi: Allah memberitahunya tepat waktu. Muir, Ch.15. hal 209-210, catatan kaki no.29: tradisi ini adalah fiksi]
Klaim rencana pembunuhan di atas menimbulkan beberapa pertanyaan:
  1. Di luar atau dalam rumahkah Muhammad duduk sehingga tidak terdengar atau terlihat sekumpulan atau orang yang memanjat sambil membawa batu? Jika memang datang segelintir, maka, menangkap Muhammad dan rekannya jauh lebih mudah apalagi telah ada di tempat mereka, bukan?
  2. Akan lebih mudah bagi Jibril dan Allah, membuat celaka Amr bin Jash ketika memanjat, atau bahkan membuat bumi terbelah agar menelan mereka (bilangan 16.30), daripada hanya sekedar memberitahukan rencana mereka, bukan?
Kemudian Muhammad melakukan penyerangan pada kaum Yahudi bani Nadir:
    Maududi: "Sekarang tidak ada alasan lagi untuk memberikan kelonggaran. Nabi dengan seketika mengirim ancaman bahwa rencana pembunuhan yang mereka buat baginya sudah ketahuan; karena itu, mereka harus pergi dari Madinah dalam waktu 10 hari; jika masih ada yang tinggal setelah 10 hari, dia akan dibunuh dengan pedang.

    Nabipun membakar pohon kurma Bani Nadir:
    Riwayat Adam - Al Laits - An Nafi' - Ibnu Umar: "Rasulullah SAW pernah membakar kebun kurma Bani Nadlir dan memotongnya, yaitu yang ada di Buwairah. Kemudian turunlah ayat: '(Apa saja yang kamu tebang dari pohon kurma atau yang kamu biarkan berdiri di atas pokoknya. Maka adalah dengan izin Allah) ' (Qs. Al Hasyr: 5) [Bukhari no.3727-28, 4505 Muslim no.3284-86]

    Maududi: Abdullah bin Ubayy mengirim pesan pada mereka bahwa dia akan membantu mereka dengan 2000 orang dan bahwa Bani Quraizah dan Bani Ghatafan akan juga membantu; karena itu, mereka harus tetap berdiam diri dan jangan pergi. Karena janji ini, Bani Nadir menjawab sang Nabi bahwa mereka tidak akan meninggalkan Medina dan terserah dia mau apa. Di bulan Rabi' al-Awwal, 4 H, Nabi menyerang mereka, dan setelah dikepung beberapa hari (ada yang berkata 6 hari, yang lain berkata 15 hari), Bani Nadir setuju meninggalkan Madinah dengan sejumlah harta yang dapat diangkut oleh onta mereka, kecuali persenjataan"

    Mubarakpuri: "Rasulullah merampas persenjataan, tanah, rumah-rumah dan kekayaan. Di antara barang-barang rampasan yang berhasil diambilnya terdapat 50 baju baja, 50 pelindung kepala, dan 340 pedang. Semua ini milik Nabi karena tidak terjadi pertempuran saat penangkapan terjadi. Dia membagi barang rampasannya... Sisa seluruh jarahan diberikan kepada prajurit Muslim dengan persenjataan bagi peperangan mendatang dalam nama Allah."
Namun hadis justru mengungkapkan alasan penyerangan ini, yaitu UNTUK MEMAKSA MEREKA MEMBUAT PERJANJIAN:
    Rasullulah menyerbu Banu al Nadir dan berkata: “Aku tidak akan menjamin keselamatanmu kecuali jika kau membuat perjanjian dengan ku dan berjanji mematuhinya” Mereka menolak membuat sebuah perjanjian dengannya, Kemudian Rasullulah memimpin para muslim memerangi mereka seharian.

    Hari berikutnya ia tinggalkan Banu al Nadir dan menuju ke Banu Qurayzah dengan pasukan berkuda. Ia undang Banu Qurayzah untuk membuat perjanjian bersamanya; Mereka kemudian melakukan dan Ia tinggalkan mereka.

    Hari berikutnya Ia kembali ke Banu al Nadir dengan pasukannya, dan memerangi mereka hingga mereka bersedia menerima pengusiran, dengan kondisi yaitu apapun yang mereka bisa angkut dengan onta, kecuali persenjataan.

    Banu al Nadir membawa milik mereka sebanyak yang mereka bisa bawa dengan onta, termasuk pintu-pintu rumah mereka; mereka hancurkan rumah-rumah mereka sendiri dan ambil darinya kayu-kayu terbaik.[Abd al Razzaq. al Musannaf, 5/358-361; Abu Dawud, al Sunan, 3/404-7; al Bayhaqi, Dalail al Nubuwwah, 3/446-8; juga lihat Ibn Hajar, Fath al Bari, 7/331]
Jika waktu itu, mereka melawan, pembantaian pasti terjadi, karena Allah menyatakan di quran 59.3-4, yaitu "jika tidaklah karena Allah telah menetapkan pengusiran terhadap mereka, benar-benar Allah MENGAZAB MEREKA DI DUNIA. Dan bagi mereka di akhirat azab neraka. Yang demikian itu adalah karena Sesungguhnya mereka menentang Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa menentang Allah dan Rasul-Nya, SESUNGGUHNYA ALLAH SANGAT KERAS HUKUMAN-NYA"

Surat Al-Hashr (Bab 59 – Pertemuan) berisi kepastian bahwa Yahudi harus diusir, prilaku para munafik, membenarkan perampasan harta kafir dan pembagiannya, boleh memotong dan membakar lahan/pohon-pohon musuh, yang tindakan ini, BUKAN membuat kerusakan di muka bumi juga BUKAN tindakan munafik di AQ 2.205 (..berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak..), demikianlah Allah yang maha memutarbalikan apapun yang Ia mau.

Para suku Nadir yang terusir ini hijrah ke Khaybar, di antaranya ada Sallam, Kinana [Ibn Kathir, tafsir surat AQ 33.9]. Sallam ibn Mishkam bin Al-Hakam ibn Haritha bin Al-Khazraj ibn Kaab ibn Khazraj suku Nadir bersepupu dengan bendahara suku Nadir, Kinana bin al-Rabi' Abu'l-Huqayq dan juga bersepupu jauh dengan kepala suku Nadir, Huyayy ibn Akhtab (ayah Safiya). Rumah Sallam berbatasan dengan suku Qurayza. [Sirat Rasulullah Ibn Ishaq, Guillaume, hal. 361]. Sallam pernah menikah dengan Safiya binti Huyayy dan kemudian bercerai. [Tabari Vol.9, hal.134-135]. Ketika suku Nadir mengungsi ke Khaybar, Safiya menikah dengan Kinana, sementara Sallam menikah dengan Zaynab binti al-Harith [Sirat Rasulullah Ibn Ishaq, Guillaume, hal.516]

Setelah sukses dengan suku Nadir, maka giliran suku Quraizah:
    "Pada kenyataannya, kaum Yahudi layak dapat hukuman berat ini karena memendam pengkhianatan yang buruk mereka terhadap Islam, mereka telah mengumpulkan gudang senjata yang besar yang terdiri dari 1500 pedang, 2000 tombak, 300 pakaian perang dan 500 tameng, dan semua ini jatuh ke tangan para Muslim" [Mubarakpuri, hal. 323]
Tuduhan bahwa kaum Yahudi Qurayza "berkhianat" atau "menyebabkan perpecahan" atau “melawan Islam” adalah TIDAK TEPAT, karena:
  1. Di dekat pengusiran Bani Nadir, Allah telah menyampaikan bahwa "Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran yang pertama...maka Allah mendatangkan kepada mereka dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah melemparkan ketakutan dalam hati mereka; mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang mukmin.." [AQ 59.2], juga untuk mendapatkan harta, sebagaimana amanat AQ 59.6-10

  2. Muhammad TELAH MENETAPKAN pada kaum Yahudi, yaitu: masuk islam atau terusir dari negeri ini [Muslim no.3311, Bukhari no.2931, 6431, 6802]

  3. Sebelumnya, yaitu ketika Muhammad dan pasukannya menyerang Bani Nadir (4 Rabiul Awal 4 H), disaat yang bersamaan, juga menyerang Bani Qurayza untuk memaksa mereka MEMBUAT PERJANJIAN dengan kaum Muslim [Abd al Razzaq. al Musannaf, 5/358-361; Abu Dawud, al Sunan, 3/404-7; al Bayhaqi, Dalail al Nubuwwah, 3/446-8; juga lihat Ibn Hajar, Fath al Bari, 7/331] dan mereka mau

  4. Perintah malaikat Jibril dan Pasukan Malaikat Jibril:
    Ibnu Ishaq: "..pulang dari khandaq dengan tujuan Madinah dan meletakkan senjata (istirahat). Pada waktu dhuhur, Malaikat Jibril datang kepada Rasulullah SAW seperti dikatakan kepadaku oleh Az-Zuhri: Malaikat Jibril berkata kepada Rasulullah SAW: ‘Apakah engkau telah meletakkan senjata, wahai Rasulullah?’ Rasulullah SAW: ‘Ya’. Malaikat Jibri: ‘Para malaikat belum pernah meletakkan senjata. Mereka sekarang sedang mengejar kaum tersebut. Hai Muhammad, sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menyuruhmu berangkat ke Bani Qurayza [juga di Muslim no. 3315. Bukhari no. 3813, no.2602, no.3808. Musnad Ahmad no.23160]. Aku (Jibri) juga akan pergi untuk mengguncang mereka.’..dan memasukkan ketakutan ke hati mereka." [Ibn Ishaq/Ibn Hisyam, jilid 2, bab 158, hal.200-201 dan Mubarakpuri hal. 321]

    Tidak jelas mengapa Jibril perlu pertolongan Muslim untuk menghabisi kaum Yahudi padahal Ia sendiri punya “pasukan malaikat”

  5. Pihak-pihak yang bersekutu dengan kaum Quraish adalah bani: Ghatafan, Fazarah (cabang suku Ghatafan) [Mubarakpuri, p.363], Murrah dan Masud, Rukhaylah dari suku Ashja [Haykal, pada bab antara Badr and Uhud]. Tidak satu penulis BIOGRAPHY-pun yang menyatakan bahwa kaum Qurayza bergabung dengan kaum Quraish Mekkah melawan kaum Muslimin Medina

  6. Ketika Muhammad dan pasukannya membuat parit barikade untuk MEMBENDUNG serangan gabungan kaum Quraish [Bukkhari no. 2873]. Muhammad menyewa peralatan gali lubang dari kaum Yahudi Bani Qurayza. [Hamidullah, p71] -> Ini menunjukan kaum Qurayza tidak melawan atau memusuhi Muhammad.

    Parit digali di seluruh Yatrib KECUALI area suku Yahudi QURAYZA karena suku itu TIDAK MENGIJINKAN PIHAK Quraish lewat dan juga karena benteng Qurayza SULIT DITEMBUS pihak Quraish

  7. Jika kaum Yahudi Qurayza mau membantu kaum Quraish Mekkah, maka pihak Muhammad akan mengalami serangan 2 arah, yaitu arah: depan (Quraish) dan belakang, itulah sebabnya, kubu Muhammad maupun kubu Quraish berusaha membujuk bani Qurayza.

    Dari kubu Muhammad:
    melalui Nu'aim bin Masud (sudah masuk Islam namun Quraish dan kaum Yahudi belum tahu) datang ke Bani Qurayza mengingatkan bahwa jika Quraish dan kelompoknya kalah akan pulang ke daerahnya meninggalkan mereka yang akan menjadi makanan empuk Muhammad, untuk itu JANGAN MEMERANGI SEBELUM mendapatkan sandera dari Quraish sebagai jaminan (SARAN INI JUSTRU DITURUTI Kaum Yahudi Qurayzah). Kemudian, Nu'aim ke kubu Quraish Mekkah, kepada Abu Sufyan, membohonginya bahwa bani Qurayza telah membelot ke Muhammad dan akan berpura-pura meminta sandera seolah-olah sebagai jaminan kerjasama..untuk itu JANGAN MEMBERIKAN sandera. Nu'aim mengulangi pesan yang sama kepada suku lain dari pihak Gabungan Quraish [Ibn Ishaq/Ibn Hisyam, Jilid 2, bab 157, hal.195-197]

    Dari kubu Quraish Mekkah:
    melalui Huyayy b. Akhtab, ketua dari kaum Yahudi B. Nadir. Namun, kaum Qurayza TETAP TIDAK MAU MENGIRIMKAN PASUKAN bagi pihak Quraish Mekkah, kecuali hanya satu janji bahwa akan menerima Huayy bin Akhtab di bentengnya ketika kaum Quraish dan gabungannya kalah melawan Muhammad. [Ibid, hal.188-189, 198] ATAU Abu Sufyan mengirim Ikrimah b. Abi Jahl mendatangi B. Qurayzah MEMINTA KAUM YAHUDI BERPERANG bersama mereka besok. KAUM YAHUDI MENOLAK dengan alasan Kaum Yahudi TIDAK BERPERANG dan TIDAK BEKERJA di hari Sabat. Malah tidak juga akan berperang bersama Qurasih jika Sabat telah lewat KECUALI Quraish memberikan sandera sebagai jaminan agar Quraish tidak meninggalkan mereka ketika sedang berperang menghadapi Muhammad. Malah bani Qurayza takut jika Quraish kalah dan pulang ke Mekkah, meninggalkan mereka sendirian berhadapan dengan Muhammad, dan mereka tidak dapat mengatasinya..Ikrimah pulang dan menyampaikan pada Abu Sufyan bahwa berita dari Nu'aim adalah benar. ["The Life of Muhammad: Al-Waqidi's Kitab Al-Maghazi", hal.237]
Sehingga TIDAKLAH BENAR jika kaum Qurayza berkhianat, malah, Abu Sufyan, yang juga tahu posisi Bani Qurayza, telah membuat seruan yang mencelakakan kaum Yahudi Qurayza:
    Riwayat Ya'qub - Muhammad bin Ishaq - Yazid bin Ziyad - Muhammad bin Ka'ab Al Qurazhi - Hudzaifah bin Al Yaman: Hai keponakanku, demi Allah kami dulu bersama Rasulullah SAW di parit (Perang Khandaq)...Abu Sufyan berkata; Hai sekalian kaum Quraisy! Demi Allah kalian kini tidak ada lagi tempat bertahan bagi kalian, kawasan sudah hancur, Bani Quraizhah telah meninggalkan kami, dengan sesuatu yang tidak kami suka dari mereka, kita menghadapi angin ini seperti yang kalian lihat, demi Allah tidak ada satu tungku pun yang berdiri tegak, tidak ada satu perapian pun yang bertahan dan tidak ada satu bangunan pun yang bisa kita jadikan pegangan, karena itu hendaklah kalian pergi karena aku akan pergi. Lalu ia pergi menghampiri untanya yang terikat lalu ia duduk diatasnya, ia memukul untanya lalu meloncati tiga orang, ia tidak melepaskan ikatannya kecuali saat ia berdiri..Bani Ghatafan mendengar apa yang dilakukan kaum Quraisy, akhirnya mereka pulang ke kampung halaman mereka.[Musnad Ahmad no.22244]
Kemudian, Muhammad bersama 3000 orang dan 30 pasukan berkuda menuju benteng Bani Quraiza [Mubarakpuri, hal 321] mengepung mereka selama 25 hari [Ibid, hal.324]:
    Haykal: Mereka menyampaikan usulan untuk pergi ke adhirat namun ini ditolak muhammad yang tetep bersikeras hendak menghakimi mereka. Mereka kemudian minta pada bani Aws menolong mereka karena hubugan aliansi masa lalu ketika melawan bani Khazraj. Bani Aws kemudian menyampaikan pesan ini pada muhammad dan muhammad menyampaikan akan meminta 1 orang dari bani Aws yang mengambil keputusan. ini diterima mereka. [Sejarah Hidup Muhammad, hal 337]

    Ibnu Ishaq: “..Orang-orang Al-Aws berdiri dan berkata, ‘Wahai Rasulullah..mereka adalah keluarga kami dan belum lama ini engkau bertindak terhadap sekutu saudara-saudara Al-Khazraj seperti yang telah engkau ketahui.’..Sesudah orang-orang Al-Aws berkata seperti itu, beliau bersabda, ‘Hai semua orang-orang Al-Aws, tidakkah kalian senang kalau urusan kalian diputuskan salah seorang dari kalangan kalian sendiri?’ Orang-orang Al-Aws menjawab, ‘Ya.’ Rasulullah SAW bersabda, ‘Sa’ad bin Muadz (dari suku Aws) adalah orangnya [Ibn Ishaq/Ibn Hisyam, Jilid 2, Bab 158, hal.205. Mubarakpuri, hal.322. Muir. Ch.17, hal 273. Juga di Mohammed Abu-Nimer (2000-2001). "A Framework for Nonviolence and Peacebuilding in Islam". Journal of Law and Religion 15 (1-2): 247., Hashmi, Sohail H.; Buchanan, Allen E; Moore, Margaret (2003). States, Nations, and Borders: The Ethics of Making Boundaries. Cambridge University Press., Khadduri, Majid (1955). War And Peace in the Law of Islam. Baltimore: Johns Hopkins Press]
Apa alasan Muhammad menunjuk Sa'ad bin Muadz?

Dalam pertempuran sebelumnya (Pertempuran Sekutu/Perang Parit), Sa'd b Muadh MENDERITA LUKA parah di tangannya (atau bahunya menurut Muir) terkena panah. Ia SALAH SANGKA menganggap pelakunya adalah orang Yahudi B. QURAYZA sehingga bersumpah akan membalas pada mereka, padahal, pelakuknya salah seorang dari Suku ARAB Quraish Mekkah, yaitu:
  1. Riwayat Ibnu Ishaq..dari Abdullah bin Ka’ab bin Malik: "..adalah Abu Usamah Al-Jusyami sekutu Bani Makhsum.." [Ibn Ishaq, Jilid 2, Bab 157, hal.193-194] ATAU

  2. Riwayat Ibnu Ishaq: riwayat Abu Laila Abdullah bin Sahl - Aisyah - Ashim bin Umar bin Qatadah: "..oleh Hibban bin Qais bin Al-Ariqah salah seorang dari Bani Amir bin Luai.." [Ibn Ishaq, Jilid 2, Bab 157, hal.193-194. Juga Bukhari no.3813, 2816. Muslim no.3314. Musnad Ahmad no.23945]
Siapapun yang memutuskan, apakah Muhammad ataupun Sa'ad yang memutuskan, hasilnya akan sama: "Bani Qurayza akan disembelih".
    Ibnu Hisyam - Abu Ubaidah - Abu Amr Al-Madani: "Ketika Rasulullah SAW berhasil mengalahkan Bani Qurayzah, beliau menangkap sekitar 400 orang-orang Yahudi sekutu orang Al-Aws. RASULLULLAH SAW MEMERINTAHKAN KAUM AL-KHAZRAJ MEMENGGAL KE-400 KAUM YAHUDI TERSEBUT..RASULULLAH MELIHAT WAJAH KAUM AL-KHAZRAJ BERBINAR-BINAR BAHAGIA, SEMENTARA WAJAH KAUM AL-AWS TAMPAK KUSUT .. Sisa dari ke-400 adalah 18 orang, 12 ORANG DISERAHKANNYA PADA 2 ORANG AL-AWS. Rasulullah SAW: 'HENDAKLAH MUHIYYISHAH MEMUKUL KA'AB BIN YAHUDZA TIDAK SAMPAI MATI DAN HENDAKLAH ABU BURDAH MEMBUNUHNYA!' Huwaiyyishah yang ketika itu masih kafir berkata kepada saudaranya, Muhaiyyishah, '..Demi Allah, barangkali engkau membunuhnya karena lemak yang tumbuh di perutmu berasal dari hartanya? Engkau tercela, hai Muhaiyyishah.' Muhaiyyishah berkata, 'Aku diperintah membunuhnya oleh orang yang jika menyuruhku membunuhmu, aku pasti membunuhmu.' Huwaiyyishah menjadi kagum kepadanya. Para ulama menyebutkan bahwa pada malam harinya, Huwaiyyishah terbangun dari tidurnya karena kagum pada ucapan Muhaiyyishah. Esok paginya, Huwaiyyishah berkata, 'Demi Allah, inilah agama yang benar.' Setelah itu, ia menemui Rasulullah SAW, masuk Islam.." [Ibn Ishaq/Ibn Hisyam, Jilid 2, Bab 135, hal 20-21]

    Ibnu Ishaq: “..Rasulullah SAW..memerintahkan orang-orang Yahudi Bani Qurayzah dibawa ke parit dan memenggal kepala mereka..termasuk musuh Allah Huyai bin Akhtab, Ka’ab bin Asad bersama 600 atau 700 orang..Ada yang mengatakan bahwa jumlah mereka adalah 800 atau bahkan 900 orang [Ibid, bab 159, 207]. Di parit yang digali, sekitar 600 sampai 700 orang dipenggal kepalanya, Rasullullah mendapat bagian 1/5 dari harta yang didapat dan juga Raihana binti 'amr bin Qanaqah [Mubarapuri, hal.323]

    Diriwayatkan Atiyyah al-Qurazi: Aku adalah seorang dari Bani Quraisah yang tertangkap. Mereka (prajurit Muslim) memeriksa kami, dan siapa yang sudah mulai punya bulu kemaluan dibunuh, dan siapa yang belum tidak dibunuh. Aku adalah salah satu dari mereka yang belum punya bulu kemaluan..[Abu-Dawud 38.4390]

    Ibnu Ishaq: "Rasulullah SAW memilih salah seorang wanita Bani Quraidhah yang bernama Raihanah binti Amr bin Junafah untuk diri beliau sendiri [Ibn Ishaq/Ibn Hisyam, Jilid 2, Bab 135, hal. 210-211].

    Allah menghadiahkan Raihana yang berasal dari suku Yahudi Quraiza kepada Nabinya bagian dari harta Rampasan [Tabari Tabari Vo.9. Hal.137]
Setelahnya, Muhammad dan pasukannya sibuk dengan beberapa penyerbuan ke suku Arab lainnya di seputaran Medina (termasuk suku Arab bani Mustaliq yang diserangnya secara tiba-tiba), hingga kemudian tiba bulan DulQaidah 6 H, Muhammad besama 1400 kaum muslim (Bukhari no.3312, 4463, Muslim no.3449) dengan dalih hendak umrah dan membawa hewan kurban, mereka berangkat dari Medinah menuju Mekkah dan siap berperang (Bukhari no.2945, 3868, 4466). Karena datang dengan membawa persenjataan. Mereka terhenti di sebuah sumur di daerah Hudaibiyah (sekitar 22 km di Barat Daya luar kota Mekah). Di tempat itu, itu kaum muslim berbaiat (di bawah sebuah pohon) untuk menyongsong kematian (Bukhari no.2740, 6666, Muslim 3462, Tirmidhi no.1518) dan ditempat itu juga dilakukan perjanjian dengan kaum Quraish.
    Bapak dari Abdullah bin Abu Qatadah spesifik menyatakan peristiwa terhenti di Hudabiyah dari Medinah menuju Mekkah adalah "غَزْوَةَ الْحُدَيْبِيَةِ" (gẖaz̊waẗa Al-Hudaibiyah = perang Hudaibiyah, di hadis Muslim no.2066, Nasai no.2776). Abdullah bin Mas'ud juga menyatakannya sebagai "غَزْوَةِ الْحُدَيْبِيَةِ" (gẖaz̊waẗi ạl̊ḥudaẙbīaẗi = Perang Hudaibiyyah, di Ahmad no.3526)
Sebagai orang yang di klaim sebagai Nabi dan juga asli Arab, seharusnya beliau tahu syarat UMROH/HAJI karena itu kebiasaan turun temurun sebelumnya.
    (Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats (sehubungan dengan seksual), berbuat fasik (dosa) dan BERBANTAH BANTAH di dalam masa mengerjakan haji (AQ 2.197)
Kaum muslim datang TIDAK MEMAKAI PAKAIAN IHRAM MALAH MEMAKAI BAJU BESI (Al Mughira bin Syu'bah di Bukhari no.2529. Umar di Muslim no.3866 minta dibawakan kuda untuk berperang), TAMENG dan PERISAI (misal Muhammad memberikannya ke Salamah di Muslim no.3372) dan juga membawa:
  1. Panah-panah (Bukhari no.2529),
  2. Pedang terhunus tidak dalam sarung (Bukhari no.2529)
  3. Tameng dan Perisai (Muslim no. 3372)
  4. Senjata-senjata (Bukhari no.3868)
  5. Beberapa datang tidak untuk umroh malah berburu dan membunuh keledai buruannya (misal Bapaknya Abu Qatadah di Bukhari no.1693, Muslim no.2066).
Jelas sekali mereka tidak bertujuan umroh. Kaum Quraish pun tahu, sehingga tidak dibolehkan masuk kota dan ditahan di sebuah sumur di HUDAIBIYYAH. Walaupun kaum Quraish unggul jumlah, tapi karena saat itu bulan HARAM, mereka lah yang justru menawarkan perdamaian kepada kaum Muslim
    "..orang-orang Quraisy mengutus Suhail bin Amr saudara Bani Amr bin Luai kepada Rasulullah SAW. Mereka berkata kepada Suhail bin Amr, ‘Pergilah kepada Muhammad, berdamailah dengannya, dan isi perdamaian ialah bahwa ia harus pergi dari tempat kita tahun ini. Demi Allah, orang-orang Arab tidak boleh memperbincangkan kita bahwa ia datang kepada kami dengan kekerasan [Ibn Ishaq, bab 169,hal 282]
Kaum Muslim diikat perjanjian yang diantaranya: tahun depan kaum Muslim dapat melakukan umrah selama 3 hari tapi pedang-pedangnya disarungkan (Buhari no.2500) dan mereka pun pulang ke Medina. Kemudian tejadi kemarau besar di Medinah, beberapa orang bani Aslam yang baru memeluk Islam minta bantuan Muhammad, namun beliau tidak dapat membantu tapi tahu bahwa suku khaibar kaya dengan tanah pertanian yang subur: “O Allah, Kau tahu keadaan mereka – bahwa mereka tidak punya kekuatan dan aku tak punya apapun bagi mereka. Bukalah bagi mereka (kesempatan menyerang) bagian terbesar perbentengan Khaybar, yang paling kaya akan makanan dan daging berlemak.” [Tabari, vol.8, Hal.117]. Sungguh sebuah solusi yang mencelakakan orang lain, bukan?

Perjanjian Hudabiyya telah membuat para muslim KECEWA dan MENGGERUTU, maka untuk menyenangkan dan menegakan kembali moral mereka, TURUNLAH AYAT (AQ 48.18-21), maka Khaibar pun celaka karenanya.

Muhammad dan pasukannya menyerbu Khaibar, disaat kaum Yahudi tidak bersiap. Suami Zaynab (Sallam) yang saat itu sedang sakit bergegas sebisanya mengatur pertahanan dan berseru untuk melawan dengan gagah berani daripada meratap dalam kehinaan saat tertawan ["Life of the Prophet", Numani, vol.2, 1995, hal.16; "The Life of Muhammad", Al-Faruqi, I. R. Translasi buku Haykal, Vol.2, hal.369]. Suami Safiyah (kinana) yang menjadi bendahara kaum Nadir disiksa agar memberitahu di mana disimpan harta bani Nadir kemudian setelahnya dipancung, harta kaum Khaibar menjadi rampasan, para pria dan keturunannya dibantai dan para wanitanya ditawan. Ketika Muhammad melihat Safiyah, beliau memilihnya, menggaulinya malam itu juga tanpa menunggu lagi penerapan aturan masa iddha yang lamanya 4 bulan itu.
    Dikisahkan oleh 'Abdul 'Aziz:
    Anas berkata, 'Ketika Rasul Allah menyerang Khaibar.., kami melakukan sembahyang subuh ketika hari masih gelap..Ketika dia memasuki kota, dia berkata, ‘Allahu Akbar! Khaibar telah hancur. Ketika kita mendekati suatu negara maka kemalangan menjadi pagi hari bagi mereka yang telah diperingatkan.’ Dia mengulangi kalimat ini tiga kali.

    Orang-orang ke luar untuk bekerja dan beberapa berkata, ‘Muhammad (telah datang)’ (Beberapa kawan kami berkata, “Dengan tentaranya.”) Kami menaklukkan Khaibar, menangkap para tawanan, dan hartabenda rampasan dikumpulkan. Dihya datang dan berkata, ‘O Nabi Allah! Berikan aku seorang budak wanita dari para tawanan.’

    Sang Nabi berkata, ‘Pergilah dan ambil budak mana saja.’ Dia mengambil Safiya bint Huyai. Seorang datang pada sang Nabi dan berkata, ‘O Rasul Allah! Kauberikan Safiya bint Huyai pada Dihya dan dia adalah yang tercantik dari suku2 Quraiza dan An-Nadir dan dia layak bagimu seorang.’

    Maka sang Nabi berkata,’Bawa dia (Dihya) beserta Safiya.’ Lalu Dihya datang bersama Safiya dan ketika sang Nabi melihatnya (Safiya), dia berkata pada Dihya,’Ambil budak wanita mana saja lainnya dari para tawanan.’ Anas menambahkan: sang Nabi lalu membebaskannya dan mengawininya.” [Bukhari 7.71.58]

    Dinarasikan oleh 'Abdul 'Aziz:
    "Kata Anas, ketika nabi menyerbu Khaibar orang2 di kota berseru “Muhammad dan pasukannya datang”. Kami mengalahkan mereka semua, menjadikan mereka tawanan dan harta rampokan dikumpulkan. Nabi membunuh para pria yang melawan, membantai anak-anak keturunan mereka dan mengumpulkan para wanita menjadi tawanan [Bukhari 5.59.512]

    Kinana b. Al-Rabi b. al Huqyaq yang tahu di mana harta Bani Nadir berada, dibawa menghadap Nabi dan ditanya. Huqyaq menolak memberitahukan. Nabi menanyai Yahudi lainnya dan salah satu mengatakan, ‘Aku melihat Kinana berjalan mengitari reruntuhan setiap pagi’ Muhammad memerintahkan Kinana untuk dihadapkan padanya dan kemudian berkata,’ Kamu tahu kalau kami menemukannya, Aku akan membunuhmu’. ‘Ya,’ Kinana menjawab. Nabi memerintahkan untuk menggali reruntuhan itu. Beberapa harta terangkat dan menanyakan Kinana mengenai sisanya namun Ia tetap menolak bicara.

    Kemudian Nabi memerintahkan Zubayr b. al-Awwam, ‘SIKSA dia sampai kau memeras segala apa yg diketahuinya. Jadi Zubayr menempelkan besi panas pada dada Kinanah, (menekan besi itu) sambil memutar2nya sampai Kinanah hampir mati. Setelahnya Rasul memberikannya ke Maslamah, yang kemudian MEMENGGALnya sebagai balas kematian saudara lelakinya, Mahmud b. Maslamah. [Tabari Vol.8, Hal.122-123]

    “...malam harinya, dia (Muhammad) memasuki tenda dan dia (Safiyyah) masuk bersamanya. Abu Ayyub datang ke sana dan berdiri di luar tenda dengan pedang dan kepalanya dekat pada tenda. Di pagi harinya, Rasul Allah melihat gerakan suatu tubuh dan berkata, “Siapa itu?” Dia menjawab,”Aku adalah Abu Ayub.” Dia (Muhammad) bertanya, “Mengapa kamu ada di sini?” Dia menjawab, “O Rasul Allah! Gadis ini baru saja dikawinkan (denganmu) dan kau telah lakukan apa yang kau telah lakukan pada suaminya yang terdahulu. Aku khawatir akan keselamatanmu, jadi aku ingin dekat berjaga bagimu.” Akan hal ini Rasul Allah berkata dua kali, “O Abu Ayub! Semoga Allah menunjukkanmu pengampunan.” [Ibn Sa'ad vol.II hal.145]

    "Ketika kami mencapai khaibar, Muhammad mengatakan bahwa Allah memberkatinya untuk menaklukan mereka. Itu adalah ketika kecantikan Safiya disampaikan kepadanya. Suaminya telah di bunuh, kemudian Nabi memilihnya sebagai bagian untuknya. Nabi membawa Safiya bersamanya hingga ketika kita mencapai satu tempat bernama Sad dimana Ia menstruasinya selesai dan Nabi menjadikannya sebagai Istrinya, menyetubuhinya dan memaksanya untuk memakai Kerudung” [Bukhari 4.52.143, 5.59.523]

    Dihya meminta Safiya pada Nabi ketika Nabi memilihnya sebagai jatahnya. Muhammad memberikan Dihyah dua sepupu Safiyah sebagai gantinya [Tabari Vol 8. Hal.117]. ketika Ia protes dan tetap menginginkan Safiya untuk dirinya, Nabi membarterkan Safiya dengan dua sepupu Safiya. Para wanita dari khaibar dibagi-bagikan di antara muslim [Ishaq:511]. Safiyya dibeli Nabi dengan menukarkan 7 Budak bagiannya [Abu Dawud vol.2, no. 2991 riwayat dari Anas, Ibn-i-Majah vol.3 no.2272]. Para Muslim berkata,’ akankah Safiya menjadi satu dari Istri-istri Nabi atau sekedar perempuan rampasan dari satu koleksinya’[Bukhari 5.59.524]. Ketika Abu Sufyan mendengar Nabi telah mengambil dia (Safiya), dia berkata, “Hidung kuda jantan itu tidak bisa dikontrol.”[Tabari Vol.8, Hal.110]

    Thabit bertanya pada Anas,”O Abu Hamza! Apa yang dibayar sang Nabi sebagai maharnya?” Dia menjawab, “Dirinya sendiri adalah maharnya karena dia telah membebaskannya (dari status budak) dan lalu mengawininya.” Anas menambahkan, “Di perjalanan, Um Sulaim mendandaninya untuk (upacara) pernikahan dan malam ini Um Sulaim mengantar Safiya sebagai pengantin sang Nabi..[Buhari 1.8.367]

    Aku bahkan belum berusia 17 tahun, atau baru saja 17 tahun, malam ketika digauli Nabi [Tabari vol.39 hal.185]

    Bukan wanita itu saja yang kehilangan ayah dan suaminya ditangan kaum muslim. Diantara para tawanan yang ditahan karena Kinanah menyembunyikan hartana itu ada seorang janda, Safiah putrid Huyay…. Janda itu berusia tujuh belas tahun dan baru menikah dengan Kinana satu dua bulan sebelum Nabi berangkat dari Madinah. ……
    Pusat keprihatinan istri-istri nabi adalah hadirnya sosok yang tidak diduga dirumah tangga mereka, Safiah yang belia dan cantik…….. Aisah menanyakan kepada Umm Salamah tentang teman baru mereka itu, "Ia memang benar-benar cantik", kata Umm Salamah, "dan Rasulullah sangat mencintainya" [Lings, hal. 427, 429]
Membaca ini semua, kita menjadi tahu apa motif Zaenab binti al Harith meracuni Muhammad SAW dan kawanannya.


Kalau benar Nabi keracunan, maka mengapa baru wafat 3 tahun kemudian dan mengapa beliau wafat lebih lama dari Bishr?
  1. Yang dimakan Bishr lebih banyak dari beliau, juga tidak mau dimuntahkannya, pun demikian, Bishr tidak mati seketika, tapi di tahun ke-2 setelah kejadian [ref. Ibn Sa'd dan Waqidi, juga di Willian Muir, catatan kaki "life of Mohamet", Vol.4, Ch.21, hal 71].
  2. Nabi juga mempunyai kebiasaan makan madu, 7 butir ‘Ajwa [dan Habbatus sauda], inilah juga yang membuat daya tahan tubuhnya lebih kuat dari Bishr. Di samping itu, setelah peristiwa keracunan di khaibar, Beliau juga berbekam [Abu dawud no. 3911] 3x sebulan, di tanggal 10, 19, 21 [Tirmidhi no.1976] dan dilakukan di saat puasa maupun ihram [Bukhari no.1802,1803]
Kompilasi hal di atas membuat Nabi tidak cepat wafat seperti Bishr.

Kemudian,
terdapat juga pendapat dari kalangan Syiah bahwa nabi wafat karena diracun (lagi) setelah kejadian di Khaibar. Kali ini pelakunya BUKAN Zainab Binti Al-Harith [karena Ia sudah dibunuh sekurangnya 2 tahun setelah kejadian Khaibar] namun para istri Nabi sendiri, Aisyah dan Hafsa, untuk kepentingan ayahanda mereka masing-masing (Abu bakar dan Umar) dalam perebutan kekuasaan. Alasan kaum Syiah cukup berdasar, karena hadis muslim sendiri menyampaikan potensi motif tersebut di 5 hari menjelang wafatnya:
    Riwayat (Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Ishaq bin Ibrahim) - Zakariya' bin 'Adi - Ubaidullah bin Amru - Zaid bin Abi Unaisah - Amru bin Murrah - Abdullah bin al-Harits an-Najrani - Jundab: "5 hari menjelang Rasulullah SAW wafat, aku mendengar beliau bersabda, 'Aku berlepas diri kepada Allah dari mengambil salah seorang di antara kalian sebagai kekasih, karena Allah Ta'ala telah menjadikanku sebagai kekasih sebagaimana Dia menjadikan Ibrahim sebagai kekasih. Dan kalaupun seandainya aku mengambil salah seorang dari umatku sebagai kekasih, niscaya aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai kekasih..."[Muslim no.827]
Pembunuhan Nabi Muhammad (SAW)

[..]

Ada sejumlah tradisi dari sumber Syiah dan Bakri tentang keterlibatan Aisyah dan Hafsah dalam pembunuhan Nabi Muhammad (SAW) seperti yang sebelumnya dinyatakan oleh Syekh dalam banyak ceramah. Namun, agar kita mengutip sumber-sumber tradisi-tradisi ini, Adalah mungkin lebih baik melihat ayat berikut ini dahulu.

"Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau (aw) dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (AQ Al-Imran 3:144).

Jika kita perhatian bagian ini: "Jika Ia wafat atau dibunuh" Kami temukan bahwa itu menegaskan bahwa Nabi (SAW) tidak wafat alami. Sebaliknya, itu menegaskan bahwa ia dibunuh. Alasannya bahwa kata penghubung (aw) di ayat ini berarti "bahkan (rather)" Dalam bahasa Arab, terkadang (aw) menunjukkan ketidakpastian dan probabilitas. Dalam konteks lain, menyatakan koreksi.

Karena mustahil bahwa setiap orang harus mencurigai firman Allah, karena Dia memiliki wawasan yang tidak diketahui, Allah pastinya bermaksud untuk memberikan arti lain. Dengan demikian, makna ayat adalah: "Jika dia meninggal, bahkan, ia dibunuh, kamu berbalik ke belakang."

Kami dengan ini mengerti bahwa Nabi telah dibunuh dan pembunuhannya itu diikuti berbalik kembali dan kemurtadan. Ini benar-benar terjadi, dan berbalik mendukung para pemberontak yang merebut kekuasaan, yaitu Abu Bakar dan Umar. Jadi, ini khususnya tertuju pada para pengikut Islam di jaman Nabi dan bukan untuk orang-orang Yahudi yang bukan lagi merupakan ancaman di Madinah sebagaimana yang Bakrie percayai.

Bagaimana nabi dibunuh? Dan Siapa-siapa yang terlibat dalam kejahatan keji? Apakah benar-benar, seperti Aisyah kisahkan, wanita Yahudi, Zainab Binti Al-Harith yang mengundang pesta Nabi (SAW) dan para sahabatnya setelah kemenangan atas orang-orang Yahudi di pertempuran Khaibar, ketika dia meracuni daging yang dimasak menyebabkan Nabi wafat empat tahun kemudian!

Mengabaikan fakta bahwa Pertempuran Khaibar terjadi di tahun ketujuh Hijrah, sementara Nabi (SAW) meninggal pada tahun kesebelas. Apakah mungkin seseorang mati keracunan dari makanan yang dikonsumsi empat tahun lalu! Terlepas dari fakta bahwa efek racun langsung dan bahkan perlu waktu yang tidak lebih dari beberapa bulan di mana kondisi kesehatan memburuk secara bertahap; Di samping fakta bahwa nabi tidak memiliki keluhan kesehatan yang tidak biasa dan berpartisipasi bertempur di seluruh periode intervensi!

Atau lebih tepatnya adalah nabi diracuni oleh Aisyah dan Hafsa atas perintah ayah mereka Abu Bakar dan Omar, yang dibuktikan dalam Bakrie 'serta buku-buku hadis Syiah'? Jika kita lihat hadits berikut yang dilaporkan Bukhari dari Aisyah tentang kematian nabi, Dia menceritakan: "Rasullulah mengatakan kepadaku di tempat tidurnya saat dekat kematiannya, 'Aisyah, sejak Aku makan makanan beracun setelah Pertempuran Khaibar, Aku kesakitan. Sekarang waktunya jantungku berhenti berdetak karena racun itu." (Sahih Al-Bukhari, Vol V, Halaman 137).

Terlepas dari fakta bahwa Quran mengambarkan bahwa Aisyah dan Hafsah sebagai pelanggar berdosa yang hatinya menyimpang dari jalan yang benar [(Klik!) AQ At Tahrim 66:04
  1. Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang
  2. Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepadamu sekalian membebaskan diri dari sumpahmu dan Allah adalah Pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
  3. Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang isterinya (Hafsah) suatu peristiwa. Maka tatkala (Hafsah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Allah memberitahukan hal itu (pembicaraan Hafsah dan Aisyah) kepada Muhammad lalu Muhammad memberitahukan sebagian (yang diberitakan Allah kepadanya) dan menyembunyikan sebagian yang lain (kepada Hafsah). Maka tatkala (Muhammad) memberitahukan pembicaraan (antara Hafsah dan Aisyah) lalu (Hafsah) bertanya: "Siapakah yang telah memberitahukan hal ini kepadamu?" Nabi menjawab: "Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."
  4. Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong, dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula.
], kita tidak bisa mempercayai tradisi Aisyah tentang keracunan Nabi karena tiga alasan penting.

Yang pertama adalah karena Aisyah adalah seorang pembohong terkenal. Al-Bukhari melaporkan Aisyah berkata: "Nabi makan madu di tempat Zainab Binti Jahsh Jadi Hafsa dan saya sepakat memberitahunya, sekembalinya bahwa ia berbau Maghafeer". (Sahih Al-Bukhari, Vol 6, Hal. 68. Maghafeer adalah substansi yang diekstrak dari sebuah pohon. Punya rasa manis tapi baunya sangat busuk)

Aisyah tahu bahwa Nabi (SAW) mendapat kan madu dari istrinya yang lain, Zainab Binti Jahsh. Menjadi cemburu, Ia bersekongkol dengan temannya, Hafsa, menyakiti Nabi dengan mengklaim bahwa ia berbau busuk setelah mengkonsumsi madu itu. Sehingga, ia berhenti makan itu, dan akibatnya berhenti mengunjungi istrinya, Zainab. Itu adalah bohong. Seorang wanita, yang tidak menahan diri berbohong pada nabi termulia, akan juga tidak menahan diri berbohong pada orang-orang biasa. Oleh karena itu, Hadis yang dilaporkan olehnya tak dapat dipercaya.

Yang kedua adalah karena Nabi (SAW) telah menggambarkan Aisyah sebagai "ujung tombak ketidakpercayaan dan tanduk setan" Ahmad Ibn Hanbal dan ulama terkenal lainnya dari Sekte Bakrit "Nabi, (SAW), muncul dari kamar Aisyah mengatakan ini merupakan ujung tombak ketidakpercayaan! Dari sini tanduk setan muncul "! (Musnad Ahmad, Vol II, Halaman 23). Oleh karenanya, kita tidak bisa mempercayai Hadis darinya.

Alasan ketiga dan yang paling penting mengapa kita tidak harus percaya Hadis Aisyah tentang keracunan Nabi (SAW) adalah karena Aisyah bertentangan dirinya sendiri dalam Hadis lain. Dia menyatakan bahwa Nabi tidak mati karena racun wanita Yahudi. Melainkan, penyebab kematiannya adalah karena penyakit lain! Menurut Abu Yoalla, Aisyah juga mengatakan bahwa: "Nabi Allah, (SAW), meninggal karena penyakit Dhatul Janb"! (Musnad Abu Yoalla, Vol. VIII, Halaman 258. Dhadul Janb adalah tumor yang tumbuh pada manusia. Ini menyebabkan kematian ketika meledak)

Imam kami menegaskan bahwa kakek mereka, Nabi (SAW), telah diracuni di hari-hari terakhirnya oleh Aisyah dan Hafsa, atas perintah ayah mereka, Abu Bakar dan Umar. Salah satu penafsir klasik Quran dari Syiah yang terkenal bernama Ali bin Ibrahim Al-Qummi, yang hidup di jaman Imam al-Hassan al-Askry (SAW), menceritakan sebuah hadis seperti yang dilaporkan oleh Imam tentang pembunuhan Nabi (SAW).

"Nabi berkata pada Hafsa:" Aku akan memberitahumu sebuah rahasia. Jika kamu ungkapkan ini, Allah, Malaikat-Nya dan orang-orang akan mengutukmu" "Jadi, apa itu?" Hafsa bertanya-tanya Nabi berkata: "Abu Bakar akan dapat merebut kekhalifahan dan kekuasaan setelah aku, dan akan digantikan oleh ayahmu, Umar. Hafsa bertanya-tanya: "Siapa yang memberitahumu tentang ini?" 'Allah, Maha Mengetahui memberitahuku"

"Pada hari yang sama, Hafsa membocorkan rahasia pada temannya, Aisyah. Kemudian, Aisyah membocorkan rahasia pada ayahnya, Abu Bakar. Jadi, Abu Bakar datang pada Umar dan berkata: "Putriku Aisyah menceritakan rahasia yg sampaikan Hafsa, tapi aku tak dapat selalu percaya apa yang dikatakan Aisyah Jadi, Engkau tanya putrimu Hafsa, pastikan dan ceritakan padaku"

"Umar mendatangi Hafsa dan bertanya. Awalnya, ia terkejut dan membantah. Tapi, Umar berkata padanya:.."Jika kau sudah dengar rahasia ini, maka beritahukan kami sehingga kami dapat segera merebut kekuasaan dan menyingkirkan Muhammad". Kemudian, Hafsa berkata: 'ya, Ia katakan demikian padaku'. Pada titik ini, keempatnya berkumpul dan bersekongkol meracuni Nabi "(Tafsir al-Qommi, Vol. II, Hal.367, Bihar-ul-Anwar oleh Allamah al-Majlisi, Vol. XXII, Halaman 239).

Ada lagi Ulama besar klasik dari Quran, Muhammad bin al-Ayashi Massoud yang juga berasal dari suku Bakri, namun kemudian mendapat panduan ilahi beriman pada yang benar dan beralih menjadi Syiah.

Dia bercerita bahwa: "Imam al-Shadiq (SAW) duduk bersama para pengikutnya, dan bertanya pada mereka: "Apakah kalian tahu apakah Nabi wafat alami atau dibunuh? Allah SWT berkata: "Jika kemudian ia mati atau dibunuh ". Yang benar adalah Sebelum wafat, Nabi telah diracun di hari-hari terakhirnya. Aisyah dan Hafsa memberikan racun dalam makanannya". Setelah mendengar hal ini, pengikut Imam Sadiq mengatakan bahwa mereka dan ayah mereka di antara penjahat terkeji yang pernah diciptakan Allah. " (Tafsir al-Ayashi, Jilid I, Halaman 200; Bihar-ul-Anwar, oleh Allamah Al-Majlisi, Vol XXII, Halaman 516)

Al-Ayshi sehubungan dengan Hadis lainnya yang merujuk pada Imam Al-Shadiq di mana Ia berkata: "Al-Hussein Ibn Munther meminta Imam Al-Shadiq tentang kata-kata Allah "jika kemudian dia wafat atau dibunuh akan kah kalian berbalik ke belakang". Apakah ini berarti bahwa Nabi wafat alami atau dibunuh?. Imam Al-Shadiq berkata: Di ayat ini, Allah merujuk kepada para sahabat Nabi yang melakukan perbuatan keji". (Tafsir Al Ayash, Jilid I, Halaman 200; Bihar-ul-Anwar, Oleh Allamah Al-Majlisi, Vol XX, Halaman 91)

Hadis-hadis ini memberikan penegasan tanpa keraguan bahwa Nabi Agung (SAW) dibunuh oleh racun yang diberikan di hari-hari akhirnya dan BUKAN yang diduga diberikan pada empat tahun sebelum kematiannya. Mereka juga menegaskan bahwa kejahatan adalah tindakan pengkhianatan oleh dua istri dan ayah mereka. Yang artinya bahwa TIDAK ADA keterlibatan orang Yahudi.

Terdapat juga bukti-bukti dari kitab-kitab hadisnya Bakrie, yang mendukung hadis-hadis Syiah' dan mendemonstrasikan keterlibatan dua istri Nabi dalam kejahatan tersebut. Salah satunya adalah dilaporkan di hadis Sahih al-Bukhari, Muslim dan lainnya dari Aisyah yang mengakui bahwa ketika Nabi tidur selama sakitnya ia meletakkan zat aneh kemulut nabi dengan bantuan istri-istri lainnya.

Aisyah lakukan itu dengan sengaja meskipun ada larangan Nabi. Ketika Nabi bangun, ia lihat sisa zat yang telah mereka masukkan ke mulutnya. Dengan marahnya Ia bertanya apa itu dan siapa yang telah tidak mematuhi perintah-perintahnya. Aisyah dan kolaborator-nya membenarkan aksi mereka engan mengatakan bahwa itu hanyalah obat.

Setelah itu, mereka menuduh paman Nabi, Al-Abbas Ibnu Abdul Muthalib. Namun, Nabi bebaskan pamannya dan memerintahkan bahwa mereka yang bersamanya di dalam ruangan harus dihukum dengan zat yang sama juga dimasukkan ke mulut mereka. Aisyah meriwayatkan:

"Ketika Nabi Allah sakit, ia mengatakan kepada kami: 'Jangan bubuhkan obat ke dalam mulutku" Tapi kami tidak taat dia di tanah bahwa pada dasarnya setiap pasien tidak menyukai pengobatan! Jadi, kami masukan zat ke dalam mulutnya. Ketika ia mermperoleh kesadarannya kembali, ia bertanya-tanya: "Siapa yang melakukan itu? Bukankah Aku telah peringatkan dirimu untuk tidak melakukan itu?"

"Jadi, kami berkata: "Adalah pamanmu Al-Abbas yang berpikir bahwa Engkau mungkin terjangkit tumor lateralis!". Nabi berkata: "Penyakit ini disebabkan oleh Iblis. Aku tidak mengidap itu.". Nabi perintahkan bahwa setiap orang yang di rumah harus memasukan obat yang sama ke mulut mereka, kecuali Al-Abbas, sebagaimana Nabi katakan: Ia tidak bersamamu". (Sahih Al-Bukhari, Vol VIII, Halaman 42; Sahih Muslim, Vol VII, halaman 42; Masnad Ahmed Ibn Hanbal, Vol VI, Halaman 53;. Biografi Nabi oleh Ibn Kathier, Vol IV, Halaman 446).

Seperti yang telah saya sampaikan sebelumnya, Quran meramalkan, seperti yang dinyatakan oleh Imam al-Shadiq, bahwa para sahabat Nabi akan berbalik melawannya. Nabi juga diprediksikan di beberapa Hadis bahwa sebagian besar sahabatnya akan masuk neraka. Salah satunya adalah sebuah hadis yang dilaporkan oleh Bukhari meriwayatkan bahwa Nabi (SAW) berkata:

"Pada hari kiamat, ketika aku akan di kolam air memberikan air pada orang-orang yang kehausan diantara para pengikutku, sekelompok pengikutku akan datang untuk minum tetapi para malaikat akan mengusir mereka dan membawa mereka ke Neraka! Dan aku akan berkata: Oh, Tuhan Mereka adalah para sahabatku! Namun Tuhan akan berkata padaku: "Kau tak tahu apa yang telah mereka lakukan setelah kematianmu. Mereka menjatuhkan dirinya dalam kemurtadan ....Dengan demikian, hanya sejumlah kecil para sahabatku akan lolos seperti unta yang lolos di padang di pasir" (Sahih Al-Bukhari, Vol VII, halaman 206).

Tak seorangpun dapat mengklaim bahwa Abu Bakar misalnya tak berada di antara mereka yang dicemplungkan ke neraka, karena Nabi sendiri tidak mengecualikan dirinya dari itu. Malik Ibn Anas, menceritakan bahwa Nabi bernubuat untuk para martir Muslim Uhud bahwa mereka akan pergi ke Surga.

"Jadi, Abu Bakar bertanya-tanya: "Bukankah kami para saudara mereka yang telah masuk Islam seperti mereka, dan berjuang dalam jihad seperti mereka, maka, mengapa engkau tidak menyatakan kabar baik bahwa kita akan ke surga? Nabi berkata: "Hal ini adalah benar bahwa engkau adalah saudara mereka, tapi Aku tidak tau apa yang akan engkau lakukan setelah aku mati". (Al Muatta Malik Ibn Anas, Vol II, Halaman 642).

Oleh karena itu, kita seharusnya tidak mengecualikan Abu Bakr dan Umar untuk kejahatan mengambil nyawa Nabi, terutama ketika mereka telah mencobanya sekali sebelumnya ketika Nabi di perjalanan kembali dari kota Tabuk. (Lihat Al Mohalla Ibnu Hazm, Vol. IX, Halaman 224).

Kesimpulannya kita katakan bahwa kita sekarang yakin bahwa Abu Bakar dan Umar memang ingin membunuh Nabi (SAW). Melalui, rencana mereka setelah gagal di Tabuk, rencana berikutnya mereka berhasil dengan berkolusi bersama putri mereka, Aisyah dan Hafsa yang memberikan racun pada Nabi ditidurnya untuk mempercepat perebutan kekuasaan ke tangan ayah mereka, sambil mengusir penerus yang sah, Imam Ali bin Abi Thalib (SAW).

26 Rajab 1431
Kantor Syekh al-Habib di London
----

Setelah menderita kesakitan yang berulang akibat diracun di Khaibar, maka pada menjelang wafatnya, Muhammad menjadi tampak lebih emosional terhadap Yahudi dan Kristen dan kaum Pagan:
    Riwayat Abu Al Yaman - Syu'aib - Az Zuhri- Ubaidullah bin 'Abdullah bin 'Utbah - [Aisyah dan 'Abdullah bin 'Abbas] berkata: "Ketika sakit Rasulullah SAW semakin parah, beliau memegang bajunya dan ditutupkan pada mukanya. Bila telah terasa sesak, beliau lepaskan dari mukanya. Ketika keadaannya seperti itu beliau bersabda: 'Semoga laknat Allah tertimpa kepada orang-orang Yahudi dan Nashara, mereka menjadikan kuburan para Nabi mereka sebagai masjid.' [Bukhari no.417. Juga di Bukari no. 1244 ('Ubaidullah bin Musa - Syaiban - Hilal (Al Wazzan) - 'Urwah - 'Aisyah - Nabi SAW bersabda ketika Beliau sakit yang membawa kepada kematiannya: "Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nashrani..".). Juga di Bukhari no.3195 (Bisyir bin Muhammad - 'Abdullah - (Ma'mar dan Yunus) - Az Zuhriy - 'Ubaidullah bin 'Abdullah - ('Aisyah dan Ibnu 'Abbas). Juga di Muslim no.823].

    Di hari-hari menjelang wafatnya, Beliau perintahkan untuk mengusir orang-orang pagan/Musyrik/politeis dari jazirah arab; [Muslim 13.4014/no.3089; Abu dawud 19.3023/no.2634; Bukhari: 4.52.288/no.2825; 4.53.393/no.2932; 5.59.716/no.4078]

    atau pada hadis lain dari riwayat [(Zuhair bin Harb - Ad Dlahak bin Makhlad) dan (Muhammad bin Rafi' - Abdurrazaq)] - Ibnu Juraij - Abu Az Zubair - Jabir bin Abdullah - Umar bin Khattab: Rasulullah SAW bersabda: Aku akan usir para Nasrani dan yahudi dari Jazirah arab dan tidak akan meninggalkan satupun kecuali MUSLIM [Muslim 19.4366/no.3313; Tirmidhi 3.19.1606/no.1531, 1607/no.1532. Ahmad no.196, 210, 214, 14189; Abu Dawud 19.3024/no.2635, 19.3025/no.2635]
Terakhir,
Hadis Bukhari, Muslim, Ahmad, Malik dan Tirmidhi mencatat ucapan Muhammad pada detik terakhirnya:
    Riwayat Mu'alla bin Asad - Abdul 'Azid bin Mukhtar - Hisyam bin Urwah - Abbad bin Abdullah bin Zubair - Aisyah:

    Rasulullah SAW berkata sebelum beliau wafat di pangkuan Aisyah..; "Ya Allah, Ampunilah aku, berikanlah rahmat kepadaku dan pertemukanlah aku dengan kekasihku!" [Bukhari no. 4086, 5242. Muslim no. 4474, Ahmad no.24757. Malik no.501. Tirmidhi no.3418]
Saat dipenghujung nafasnya... MALAH JUSTRU Muhammad sendiri yang tidak yakin janji ALLAHNYA SEBAGAIMANA kerap diajarkannya.

Bukankah Muhammad sendiri yang menyampaikan bahwa dari sejak awal mula Allah telah menetapkan dan mencatat jumlah orang yang masuk surga/neraka, takdir apapun yang diperbuatnya yang menyebabkan mereka berakhir di neraka atau surga?
    Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti.[AQ 19.94, turun di urutan ke-44]

    Dan tiap-tiap manusia telah Kami tetapkan takdirnya (thaa-irahu) di lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka.[AQ 17.13, turun di urutan ke-50]

    ...Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat [AQ 37.96, turun di urutan ke-56]

    ...sesungguhnya kitab para durhaka (alfujjaari) dalam (lafii) sijjin. ...kitab para orang benar (al-abraari) dalam (lafii) illiyiina [AQ 83.7,18. Turun di urutan ke-83]

    Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab sebelum Kami menciptakannya..[AQ 57.22, turun di urutan ke-94]
Bukankah Muhammad sendiri dengan yakinnya menyatakan bahwa:
  1. masuk/tidaknya para manusia ke SURGA telah ditetapkan sejak awal yaitu tidak lama setelah ADAM DICIPTAKAN!

    Riwayat Abu Bakr bin Abu Syaibah - Waki' - Thalhah bin Yahya - bibinya, 'Aisyah binti Thalhah - 'Aisyah ummul Mu'minin:

    "Pada suatu ketika, Rasulullah SAW pernah diundang untuk melayat jenazah seorang bayi dari kaum Anshar. Kemudian saya (Aisyah) berkata kepada beliau; 'Ya Rasulullah, sungguh berbahagia bayi kecil ini! Ia seperti seekor burung dari sekian burung surga yang belum pernah berbuat dosa dan belum pernah ternodai oleh dosa.'

    Rasulullah SAW bersabda: 'hai Aisyah bahwa Allah telah menciptakan orang-orang yang akan menjadi penghuni surga ketika mereka masih berada dalam tulang rusuk (sulbi) bapak-bapak mereka (قَالَ أَوَ غَيْرَ ذَلِكَ يَا عَائِشَةُ إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ لِلْجَنَّةِ أَهْلًا خَلَقَهُمْ لَهَا وَهُمْ فِي أَصْلَابِ آبَائِهِمْ ).

    Allah pun telah menciptakan orang-orang yang akan menjadi penghuni neraka ketika mereka masih berada dalam tulang rusuk bapak-bapak mereka.'

    Riwayat Muhammad bin Ash Shabbah - Isma'il bin Zakaria - Thalhah bin Yahya. Riwayat Sulaiman bin Ma'bad - Al Husain bin Hafsh. Riwayat Ishaq bin Manshur - Muhammad bin Yusuf keduanya dari Sufyan Ats Tsauri - Thalhah bin Yahya dengan sanad Waki' seperti haditsnya. [Muslim 33.6436/no.4813, juga di no. 4812. Juga di Abu dawud no.4090]

    ***

    Riwayat Qa'nabi - Malik - Zaid bin Unaisah - Abdul Hamid bin 'Abdurrahman bin Zaid Ibnul Khaththab - Muslim bin Yasar Al Juhani - Umar Ibnul Khaththab pernah ditanya tentang ayat ini:

    (Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka) -Qs. Al A'raf: 172- Al Qa'nabi membaca ayat tersebut, lalu Umar berkata, "Aku juga pernah mendengar Rasulullah SAW ditanya tentang ayat itu, lalu beliau menjawab; "Sesungguhnya Allah menciptakan Adam,

    lalu ALLAH MENGUSAP PUNGGUNGNYA (sulbi) DENGAN TANGAN KANAN-Nya hingga keluarlah keturunan Adam dari punggungnya. Kemudian Allah berfirman: "AKU MENCIPTAKAN MEREKA UNTUK MASUK SURGA, dan mereka akan beramal dengan amalan-amalan penduduk surga."

    kemudian ALLAH KEMBALI MENGUSAP PUNGGUNG ADAM hingga keluarlah keturunan Adam dari punggungnya. Setelah itu Allah berfirman: "AKU MENCIPTAKAN MEREKA UNTUK MASUK NERAKA, dan mereka akan beramal dengan amalan-amalan penduduk neraka."

    Seorang laki-laki bertanya, "Wahai Rasulullah, lalu untuk apa gunanya beramal?"

    Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya jika Allah menciptakan seorang hamba untuk masuk ke dalam surga maka Ia akan menjadikannya beramal dengan amalan penduduk surga, sehingga ia mati dengan amalan penduduk surga lalu memasukkannya ke dalam surga.

    Dan jika Allah menciptakan seorang hamba untuk masuk ke dalam neraka maka Ia akan menjadikannya beramal dengan amalan penduduk neraka, sehingga ia mati dengan amalan penduduk neraka lalu memasukkannya ke dalam neraka."

    Riwayat Muhammad Ibnul Mushaffa - Baqiyyah - Umar bin Ju'tsum Al Qurasyi - Zaid bin Abu Unaisah - Abdul Hamid bin 'Abdurrahman - Muslim bin Yasar - Nu'iam bin Rabi'ah: "Aku sependapat dengan Umar Ibnul Khaththab dengan hadits ini, namun hadits Malik lebih lengkap."

    [Abu Dawud no.4081, Juga di Tirmidhi no.3001 (Hadis Hasan), 3002 (Hadis Hasan sahih). Malik no.1395. Ahmad no. 294, 2157, 17000. Kemudian di hadis Ahmad no. 26216, Riwayat Haitsam - Abu Ar Rabi' - Yunus - Abu Idris - Abu Darda' - Nabi SAW bersabda: "Ketika Allah menciptakan Adam, Allah memukul bahu kanan Adam, maka keluarlah keturunan berkulit putih seperti molekul, dan memukul bahu kirinya keluar keturunan berkulit hitam seperti arang, Allah berkata pada yang di bagian kanannya, 'Masuklah ke Surga dan Aku tidak perduli'. berkata pada yang di bagian kirinya, 'Masuklah ke dalam Neraka dan Aku tidak perduli'"]

    ***

    Riwayat (Abu Bakr bin Abu Syaibah - Abu Mu'awiyah dan Waki' atau dari jalur lainnya riwayat Muhammad bin 'Abdullah bin Numair Al Mahdani - Bapakku dan Abu Mu'awiyah dan Waki') - Al A'masy - Zaid bin Wahb - 'Abdullah - Rasulullah SAW (Ash Shadiq Al Mashduq, seorang yang jujur menyampaikan dan berita yang disampaikannya adalah benar):

    'seorang manusia mulai diciptakan dalam perut ibunya selama 40 hari. Kemudian menjadi segumpal daging pada 40 hari berikutnya. Lalu menjadi segumpal daging pada 40 hari berikutnya. Setelah 40 hari berikutnya, Allah pun mengutus seorang malaikat untuk menghembuskan ruh ke dalam dirinya dan diperintahkan untuk menulis empat hal: rezekinya, ajalnya, amalnya, dan sengsara atau bahagianya.'

    ..seseorang darimu yang mengerjakan amal perbuatan ahli surga, hingga jarak antara dirinya dan surga hanyalah satu hasta, namun SURATAN TAKDIR rupanya ditetapkan baginya hingga ia mengerjakan amal perbuatan ahli neraka dan akhirnya ia pun masuk neraka.

    Ada pula orang yang mengerjakan amal perbuatan ahli neraka, hingga jarak antara ia dan neraka hanya satu hasta, namun SURATAN TAKDIR rupanya ditetapkan baginya hingga kemudian ia mengerjakan amal perbuatan ahli surga dan akhirnya ia pun masuk surga.' [Muslim no.4781. Bukhari no.3085]

    ***

    Riwayat [Qutaibah atau Hasyim bin Qasim] - [Al Laits atau Bakr bin Mudhar] - Abu Qabil/Huyaiy bin Hani - Syufayyi bin Mati' - 'Abdullah bin 'Amr bin Al 'Ash:

    Rasulullah SAW keluar menemui kami sementara di tangan beliau terdapat dua kitab. Kemudian beliau pun bertanya: "Apakah kalian tahu kitab apakah kedua kitab ini?" Maka kami pun menjawab: "Tidak wahai Rasulullah, kecuali Anda mengabarkannya pada kami."

    Akhirnya beliau pun bersabda terkait dengan kitab yang berada pada tangan kanannya:
    "Ini adalah kitab yang berasal dari Rabb semesta alam. Di dalamnya terdapat nama-nama penduduk surga dan juga nama-nama orang tua serta kabilah mereka. Jumlahnya telah ditutup dengan orang yang terakhir dari mereka, dan tidak akan ditambah dan jumlah mereka tidak pula dikurangi lagi."

    Kemudian beliau bersabda terkait dengan kitab yang berada di tangan kirinya: "Adapun ini, ia adalah kitab yang juga berasal dari Rabb semesta alam. Di dalamnya telah tercantum nama-nama penghuni neraka, dan juga nama-nama bapak mereka serta kabilah mereka, dan telah dijumlah dengan orang yang terakhir dari mereka. Sehingga jumlah mereka tidak lagi akan bertambah dan tidak pula akan berkurang selama-lamanya."

    Kemudian para sahabat pun berkata, "Kalau begitu, dimanakah letaknya amalan wahai Rasulullah jika memang perkara sudah habis?" beliau menjawab: "Berusahalah dan mendekatlah, karena sesungguhnya penduduk surga akan ditutup dengan amalan penduduk ahli surga, meskipun ia mengamalkan amalan apa saja. Dan sesungguhnya penduduk neraka akan ditutup pula dengan amalan penduduk neraka, meskipun ia mengerjakan amalan apa saja." Kemudian Rasulullah SAW bersabda dengan kedua tangannya lalu menghempaskannya dan bersabda: "Sesungguhnya Allah telah selesai terhadap urusan para hamba-Nya. Satu golongan di dalam surga dan satu kelompok pula di dalam neraka.". Abu Isa berkata; Hadits semakna juga diriwayatkan dari Ibnu Umar. Dan hadits ini adalah Hasan Shahih Gharib. [Tirmidhi no. 2067/4.6.2141. Ahmad no.6275]
Bukankah Muhammad sendiri yang mengatakan bahwa Ia ADALAH PEMIMPIN SELURUH MANUSIA PADA HARI KIAMAT, PARA NABI LAIN TIDAK ADA YANG MAMPU MEMBERIKAN SYAFAAT KECUALI DIRINYA SEORANG DAN BAHKAN PARA NABI INI SAJA MASIH BUTUH SYAFAAT KECUALI DIRINYA SEORANG sebagaimana disampaikan oleh hadis Bukhari no.4343. Muslim no.284, 287 dan Tirmidhi no. 2358 di bawah ini?
    Riwayat Abu Kamil Fudlail bin Husain al-Jahdari dan Muhammad bin Ubaid al-Ghubari (lafazh milik Abu Kamil) - Abu 'Awanah - Qatadah - Anas bin Malik - Rasulullah SAW bersabda:

      [Bukhari no. 4343. Muslim no.287 dan Tirmidhi no.2358:
      Riwayat Abu Bakar bin Abu Syaibah dan Muhammad bin Abdullah bin Numair - Muhammad bin Bisyr - Abu Hayyan - Abu Zur'ah - Abu Hurairah: Rasullullah bersabda: "Aku PEMIMPIN MANUSIA PADA HARI KIAMAT, TAHUKAH KALIAN KENAPA?]

    "Allah akan mengumpulkan manusia pada Hari Kiamat. Ketika itu mereka memandang penting masalah syafaat." Ibnu Ubaid menyebutkan, "Mereka diberi ilham untuk menanyakan hal itu. Mereka berkata, 'Sekiranya saja kita dapat memohon syafaat kepada Tuhan, agar Dia mengizinkan kita beristirahat dari keadaan kita ini.

    Lalu mereka pergi kepada Nabi Adam AS, lalu berkata, 'Wahai Adam! Kamu adalah bapak semua manusia. Allah telah menciptakanmu dengan tangan-Nya dan meniupkan roh ke dalam badanmu serta telah memerintahkan para malaikat supaya sujud kepadamu. Syafaatilah kami di hadapan Tuhanmu, agar mengizinkan kami beristirahat dari keadaan begini'.

    Adam menjawab, 'Aku bukan pemilik hak memberikan syafa'at -Adam lalu menyebut kesalahan yang pernah dilakukannya, sehingga membuatnya merasa malu kepada Tuhan karena kesalahan tersebut-, akan tetapi datanglah kepada Nuh, Rasul pertama yang diutus oleh Allah'.

      [Muslim no.287:
      ..Diriku sendiri butuh syafa'at, silahkan pergi menemui selainku, pergilah menemui Nuh.']

    Lantas mereka pergi menemui Nabi Nuh AS, namun beliau berkata, 'Aku bukanlah orang yang bias memberikan syafa'at -lalu menyebut kesalahan yang pernah dilakukannya hingga membuatkannya merasa malu kepada Tuhan karena kesalahan tersebut-, akan tetapi datanglah menemui Nabi Ibrahim AS, yang telah dianggap sebagai kekasih Allah.'

      [Muslim no.287:
      ..Diriku sendiri butuh syafa'at, silahkan pergi menemui selainku, pergilah menemui Ibrahim.']

    Mereka pun pergi menemui Nabi Ibrahim AS, ia juga berkata, 'Aku bukanlah orang yang berhak memberikan syafa'at -lalu dia menyebutkan kesalahan yang pernah dilakukannya, hingga membuatnya merasa malu kepada Tuhan karena kesalahan tersebut- akan tetapi datanglah menemui Nabi Musa AS, yang pernah diajak bicara oleh Allah dan diberi Kitab Taurat.'

      [Muslim no.287:
      ..Diriku sendiri butuh syafa'at, silahkan pergi menemui selainku, pergilah menemui Musa.']

    Mereka pun pergi menemui Nabi Musa AS, namun ia juga berkata, 'Aku bukanlah orang yang berhak memberikan syafa'at -lalu dia menyebut kesalahan yang pernah dilakukannya, hngga membuatnya merasa malu kepada Tuhan karena kesalahan tersebut- akan tetapi kalian datanglah menemui Nabi Isa AS, ruh Allah dan Kalimat-Nya.'

      [Muslim no.287:
      ..Diriku sendiri butuh syafa'at, silahkan pergi menemui selainku, pergilah menemui Isa.']

    Mereka pun pergi menemui Nabi Isa AS, ruh Allah dan Kalimat-Nya. Namun ia juga berkata, 'Aku bukanlah orang yang berhak memberikan syafa'at, tetapi pergilah kamu semua kepada Muhammad SAW, hamba Allah yang telah diampuni dosanya yang terdahulu dan yang terkemudian'."

      [Muslim no.287:
      ..Diriku sendiri butuh syafa'at, silahkan pergi menemui selainku, pergilah menemui Muhammad.']

    Rasulullah SAW meneruskan sabdanya: 'Mereka datang kepadaku, lalu aku meminta izin kepada Tuhan. Aku pun diberi izin.

    Ketika aku melihat-Nya, aku menyungkurkan diri dalam keadaan bersujud.

      [Bukhari no.4343. Muslim no.287 dan Tirmidhi no.2358Lalu aku pergi hingga sampai di bawah 'arsy, aku tersungkur sujud pada Rabbku LALU ALLAH MEMULAI DENGAN PUJIAN DAN SANJUNGAN UNTUKKU YANG BELUM PERNAH DISAMPAIKAN PADA SEORANGPUN SEBELUMKU, lalu ada suara: Hai Muhammad, angkatlah kepalamu, mintalah pasti kau diberi, berilah syafaat nicaya kau diizinkan untuk memberi syafaat.

      Lalu aku mengangkat kepalaku, aku berkata: Wahai Rabb, ummatku, wahai Rabb, ummatku, wahai Rabb, ummatku.

      Ia berkata: Hai Muhammad, masukkan orang yang tidak dihisab dari ummatmu melalui pintu-pintu surga sebelah kanan dan mereka adalah sekutu semua manusia selain pintu-pintu itu."]

    Dia memanggil-manggilku, kemudian berfirman kepadaku: 'Angkatlah kepalamu wahai Muhammad! Katakanlah sesuatu, niscaya kamu akan didengar. Mohonlah, niscaya kamu akan diberi. Syafaatilah, niscaya Aku akan terima syafaat yang kamu pinta.

    Aku mengangkat kepalaku dan memuji Tuhan dengan pujian yang telah diajarkan oleh Allah kepadaku. Kemudian aku memberi syafa'at.

    Lalu Allah memberikan kriteria (orang yang berhak mendapatkan syafa'at) kepadaku. Lalu aku mengeluarkan lagi orang-orang dari Neraka dan memasukkan mereka ke dalam Surga.

    Kemudian aku kembali jatuh bersujud.

    Maka Allah memanggilku sebagaimana Dia kehendaki kemudian berfirman kepadaku: 'Angkatlah kepalamu wahai Muhammad! Katakanlah, niscaya kamu akan didengar. Mohonlah, niscaya kamu akan diberi. Syafaatilah, niscaya Aku akan terima Syafaat yang kamu pinta."

    Perawi Hadits berkata, "Aku tidak mengetahui secara pasti pada kali yang ketiga atau kali yang keempat.

    Beliau bersabda: "Wahai Tuhanku! Yang masih ada di dalam Neraka hanyalah orang-orang yang ditahan oleh al-Qur'an, yaitu orang yang memang seharusnya kekal di dalam Neraka'."

    Ibnu Ubaid menyebutkan dalam riwayatnya, 'Qatadah berkata, "Maksudnya wajib kekal di dalamnya." ...[Muslim no.284]
Tapi mengapa ketika dalam keadaan sekarat hingga wafat, masih MENGEMIS MINTA AMPUNAN dan SURGA lagi? Kemanakah gerangan JIBRIL, mengapa tidak kunjung datang memberikan konfirmasi atas apa yang dimintanya? []