Wednesday, September 19, 2007

Artikel Bhikkhu Mettanando dari aliran Dhammakaya: BAGAIMANA SANG BUDDHA WAFAT ?


Pengantar

Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa Buddha mencapai penerangan sempurna di usia 35 tahun dan selama 45 tahun menyebarkan Dharma tanpa setetes pertumpahan darah. Bertemu dengan Mara di sebelum menjadi Buddha, saat menjadi Buddha dan di menjelang wafatNya. Sebelum wafatnya, Beliau memberitahu murid-muridnya bahwa 3 bulan kemudian beliau Parinibanna dan disaat terakhirnya, sambil terbaring di antara dua pohon sala di Kusinagara, memberikan nasehat terakhir: "Para bhikkhu, perhatikanlah nasehat ini: 'Segala sesuatu adalah tidak kekal. Berusahalah dengan sungguh-sungguh.' (Vaya dhamma sankhara, appamadena sampadetha)" [DN16/Mahaparinibanna sutta].

Mungkin juga tidak banyak yang tahu bahwa siapapun dia, bahkan juga bagi seorang Buddha sekalipun, maka akan tetap merasakan hasil perbuatan yang pernah dilakukannya pada kehidupan-kehidupan sebelumnya,
    "Para bhikkhu, seorang yang menyatakan, 'Seperti apapun Kamma yang diperbuat seseorang, Demikian pula yang akan dialaminya, Jika demikian para bhikkhu, kehidupan suci tidak ada, tidak ada jalan mengakhiri Dukkha. TAPI para bhikkhu, seseorang yang menyatakan 'seperti apapun perasaan atas kamma yang diperbuat seseorang, Demikian pula hasil yang akan dialaminya, Jika demikian para bhikkhu, Kehidupan suci ada, ada jalan diberakhirnya Dukkha" [AN 3.99/lonapala Sutta]

    Aku tidak katakan, Para Bhikkhu, bahwa perbuatan disengaja selesai akumulasinya tanpa dialami penjelmaan menjadi berakhir baik itu di kehidupan saat ini, atau berikutnya, atau perjalanan kehidupan-kehidupan selanjutnya. JUGA tidak aku katakan, para bhikkhu, bahwa perbuatan disengaja selesai akumulasinya tanpa dialami diberakhirnya Dukkha. [AN 10.206/Sancetanika sutta]
Di bawah ini,
terdapat sebuah artikel karangan seorang Bhikkhu aliran Dhammakaya yang juga ahli medis. Ia mengulas dari sisi ajaran dan medis mengenai dugaan-dugaan penyakit yang melanda Buddha Gautama yang dikaitkan dengan wafatnya. [Tulisan beliau, saya sajikan dalam garis miring dan warna biru].

Artikel ini menjadi subyek bahasan saya kali ini dan disela-sela tulisan beliau, saya sisipkan komentar saya.

Sebelumnya ada baiknya kita ketahui sekilas mengenai Dr Bhikkhu Mettanando:
Lahir di Bangkok, 17 May 1956, pada usia 26 tahun ditahbiskan menjadi Bhikkhu aliran Dhammakaya, di Wat Paknam Bhasecharoen, Bangkok (8 April 1982). Selama hampir 20 tahun (9 Juni 2531 BE/1988 M - 10 Oktober 2550 BE/2007 M) menjadi anggota Wat Phra Dhammakāya, Palang Tham Party dan menjadi orang lingkaran dalam aliran Dhammakaya, sebuah sekte yang menyimpang dari DhammaVinaya Buddhisme*) dan Ia merupakan satu diantara pemimpin utama sekte Dhammakaya. Ia juga pernah menjabat kepala Wat Dhammakaya California, USA yang pada tahun 1991-1994 aktif menggalang dana dan bantuan pembelaan untuk Johnathan Doody, yang membunuh 9 orang (6 bhikhu, 1 samanera, 1 biarawati, 1 umat awam di Wat Promkunaram Phoenix, 10 Aug 1991). Alasannya membela Doody pun unik: "Tidak ada saksi dari komunitas Thailand yang menceritakan di pengadilan aspek kultural dari fakta-fakta. Tidak terbayangkan bahwa seorang yang lahir dari orang tua Thailand mampu melakukan suatu tindak kejahatan seperti itu terhadap Bhikkhu", demikian dikatakannya saat itu. Setelah 25 tahun menjadi Bhikkhu, pada tahun 2007, Ia berhenti menjadi Bhikkhu dan berusaha berkarir seorang politikus namun gagal terpilih. Nama umat awamnya adalah Mano Laohavanich.

Bhagavant.com dalam catatan kakinya:
telah mengajar meditasi selama lebih dari tiga puluh tahun. Beliau mendapatkan gelar untuk sains dan gelar untuk dokter dari Universitas Chulalongkorn, Thailand, dan menguasai bahasa Sanskerta dan kebudayaan agama India kuno berkat gelas Master yang diperolehnya dari Universitas Oxford. Gelar Master Theologi dari Havard Divinity School dan PhD. dari Universitas Hamburg, Jerman. Tesisnya difokuskan pada Meditasi dan Penyembuhan dari Tradisi Theravada di Thailand dan Laos. Saat ini (mengajar Agama Buddha dan Meditasi di Universitas Chulalongkorn dan Universitas Assumption, juga aktif di bidang pengobatan alternatif dalam hospice and palliative care, dan mengajar etika medis pada dokter dan perawat Thailand maupun secara internasional.

*) Contoh ajaran menyimpang aliran Dhammakaya misalnya tujuan buddhism bukan nibanna, deskripsi Nibanna sebagai tempat alam tertentu, terdapat mahluk pencipta Nibanna, dst :). Nah dari situlah sang Mantan Bhikkhu Mettanando mendapatkan ajarannya, ditahbiskan dan berdiam selama puluhan tahun :)

Selamat Membaca.

BAGAIMANA SANG BUDDHA WAFAT

Judul asli: How The Buddha Died ? (Bangkok Post, May 15, 2001).
Terjemahan Indonesia: Bhagavant.com [
atau di sini]
Oleh: Dr. Bhikkhu Mettanando
-----

Selama hari Vesak, kita telah diberitahukan bahwa hari itu juga merupakan hari dimana Sang Buddha mencapai Parinibbana. Tetapi tidak banyak orang mengetahui bagaimana Sang Buddha wafat. Teks-teks kuno menampilkan dua kisah tentang wafatnya Sang Buddha. Apakah wafatnya Sang Buddha direncanakan dan merupakan kehendak Sang Buddha, atau apakah karena keracunan makanan, atau ada hal lain yang berkaitan satu sama dengan yang lain? Inilah jawabannya.

***

Mahaparinibbana Sutta, yang merupakan kotbah panjang dalam Tipitaka Pali, tidak diragukan lagi merupakan sumber yang paling dapat dipercaya untuk perincian atas wafatnya Siddhattha Gotama (563-483 SM), Sang Buddha.Mahaparinibbana Sutta disusun dalam bentuk naratif yang membiarkan para pembaca untuk mengikuti kisah hari-hari terakhir Sang Buddha, yang dimulai dari beberapa bulan sebelum Beliau wafat.

Walaupun demikian, untuk memahami apa yang sesungguhnya terjadi terhadap Sang Buddha adalah suatu hal yang tidak sederhana. Sutta, atau kotbah, melukiskan dua kepribadian Sang Buddha yang saling bertolak belakang, yang satu mengesampingkan yang lainnya.

Kepribadian Sang Buddha yang pertama adalah sebagai pembuat keajaiban yang menyeberangkan diriNya dan rombongan para bhikkhu ke seberang Sungai Gangga (D II, 89), Yang dengan mata batin melihat keberadaan para dewa di atas bumi (D II, 87), Yang dapat hidup sampai akhir dunia dengan syarat seseorang mengundangNya untuk melakukan hal itu ( D II, 103), Yang menentukan waktu kemangkatanNya ( D II, 105), dan Yang kemangkatanNya dimuliakan dengan hujan bunga surgawi, serbuk kayu cendana dan musik surgawi (D II, 138).

Kepribadian Sang Buddha yang lainnya adalah sebagai layaknya makhluk berusia lanjut yang jatuh sakit (D II, 120), Yang hampir kehilangan hidupNya karena sakit yang teramat sangat selama masa vassaNya (retreat musim hujan) yang terakhir di Vesali (D II, 100), dan yang harus menghadapi penyakit dan kemangkatanNya yang tak didugaNya setelah mengkonsumsi hidangan khusus yang ditawarkan oleh penjamuNya yang dermawan.

    Note:
    Informasi yang disampaikan sang mantan bhikkhu ini kurang akurat.

    Yang pertama,
    Masa Vassa terakhir beliau dilaksanakan di desa Beluva, Desa ini terletak di luar kota Vesali di kaki lereng sebuah bukit (MA 3:12; cf DA 2:546). Di desa itu terdapat sejumlah penduduk yang mampu menunjang kehidupan banyak bhikkhu selama muslim Vassa (hujan). Di musim ini, para petapa aliran manapun tidak berkeliaran mengembara namun menetap di suatu daerah.

    Vassa adalah satu periode musim di India dan Asia tenggara dan berasal dari kata Vassāna. Musim yang ada di India terbagi menjadi 3 Musim (Ti-Uttu, per 4 bulan namun terkadang satu musim lebih pendek dari lainnya yaitu 3 bulan). Ti Uttu, detailnya dibagi menjadi 6 musim (Cha Uttu, per 2 bulan), sebagai berikut:

    • Vassāna/Musim Hujan (Jul-Nov). Musim ini dibagi dua, yaitu:

      1. Musim Hujan/Vassāna (Juli-Sept), yaitu Bulan Savana/Nikkhamanīya [nikkhamati = pergi/keluar/berangkat pergi + niyata = terkendali/terkungkung] (Juli-Aug) dan Bulan Pottapada (Aug-Sept). Di India utara, reda di awal Oktober
      2. Musim Gugur/Sarada (Sept-Nov), yaitu Bulan Assayujja/Pubba kattika [pubba = awal] (Sept-Oct) dan Bulan Kattika/Paccima Kattika [Paccima = terakhir, belakangan] (Oct-Nov)

    • Hemanta/Musim Salju (Nov-Mar). Musim ini dibagi dua, yaitu:

      1. Musim Salju/Hemanta, yaitu Bulan Māgasira (Nov-Des) dan Bulan Phussa (Des-Jan). Yang terdingin adalah December dan January.
      2. Musim Dingin/
        Sisira, yaitu di Bulan Māgha (Jan-Feb) dan Bulan Phagguṇa (Feb-Mar)

    • Musim Panas/Gimhāna (Mar-Juli). Musim ini di bagi dua, yaitu:

      1. Musim Semi/Vasanta, yaitu Bulan Citta/Rammaka (Mar-Apr) dan Bulan Vesākha (Apr-May)
      2. Musim Panas/Gimha [Uṇha, Nidāgha = Panas], yaitu bulan Jettha (May-Jun) dan Bulan Asaḷha (Jun-Jul). Yang terpanas di utara adalah bulan May

    Mahavagga 3.1, Vin. Pitaka:
    Ketika masa Vassa belum ditetapkan, Sang Buddha bertempat tinggal di Veluvana, Râgagaha. Para Bhikkhu sering mengadakan perjalanan selama musim dingin, hujan dan panas. Perjalanan mereka sering melalui sawah, kebun dan ladang milik para petani akibatnya timbul keluhan bahwa tumbuh-tumbuhan yang ditanam oleh petani menjadi rusak dan banyak binatang yang mati. Sehingga masyarakat mencela para bhikkhu dan membandingkan dengan pertapa-pertapa lain [Aliran Titthiya), yang menetap disuatu tempat ketika musim hujan tiba. Celaan dan kritikan dari masyarakat, disampaikan oleh beberapa bhikkhu yang menghadap Sang Buddha dan melaporkan kejadian ini.

    Ketika kemudian beliau bepergian berpindapata ke Vesali (di luar desa Beluva), maka peristiwa itu terjadi setelah 3 s.d 4 bulan kemudian.

    Yang kedua,
    sutta, tidak menyebutkan penyakit yang melanda beliau selama musim vassa adalah karena makan sesuatu pemberian seorang dermawan.

      Mahaparinibbana Sutta:
      [..] 21. Setelah Sang Bhagava tinggal lama di taman Ambapali, beliau berkata kepada Ananda: "Ananda, marilah kita pergi ke desa Beluva."

      "Baiklah, bhante," jawab Ananda.

      Demikianlah, Sang Bhagava bersama sejumlah besar bhikkhu tinggal di desa Beluva.

      PENYAKIT SANG BHAGAVA YANG SANGAT PARAH [Juga di: SN 47.9/Gilāna Sutta]
      22. Ketika itu Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu: "Sekarang pergilah, para bhikkhu, dan carilah tempat bervassa di mana saja di sekitar Vesali ini di mana kalian dapat diterima dengan baik oleh para kenalan dan sahabat dan tinggallah di sana selama musim hujan ini. Aku akan vassa di tempat ini juga selama musim hujan di dusun Beluva."

      "Baiklah, bhante," kata para bhikkhu.

      23. Dan Sang Bhagava di masa Vassa (Atha kho bhagavā vassūpagatassa) sakit keras melandanya (kharo ābādho uppajji), Sakit yang keras dirasakan terus menerus/ditusuk-tusuk yang dapat mematikan (bāḷhā vedanā vattanti māraṇantikā). Tetapi Sang Bhagava membawanya dengan penuh perhatian dan kesadaran tanpa terganggu (Tā sudaṃ bhagavā sato sampajāno adhivāsesi avihaññamāno)

      Kemudian terlintaslah pada pikiran Sang Bhagava: "Tidaklah wajar, sebelum parinibbana aku tidak memberitahukan pada mereka yang menaruh perhatian selama ini kepadaku, dan tidak memberi kata-kata terakhir kepada para bhikkhu. Karena itu biarlah aku menekan penyakit ini dengan kekuatan batinku, berteguh hati untuk mempertahankan kelangsungan hidup ini, dan meneruskan hidupku untuk sementara waktu."

      Sang Bhagava berhasil melawan sakit dengan kekuatan kemauan yang gigih, dengan teguh hati mempertahankan kelangsungan hidup dan meneruskan kehidupan Beliau. Demikianlah akhirnya rasa sakit dapat diatasinya.

    Yang ketiga,
    Kejadian sakit di masa vassa ini diketahui beliau yaitu karena usia tua dan tidak seprima sebelumnya melalui perumpamaan tentang badannya "seperti sebuah kereta tua, yang mengalami berbagai kerusakan dan perbaikan" dan bahkan beliau sendiri mampu menekannya dan menetapkan untuk melangsungkan kehidupannya.
      Mahaparinibbana Sutta:
      24. Kemudian, setelah Sang Bhagava sembuh dari sakitnya segera Beliau keluar dari kamar tempat pembaringannya, lalu duduk di bawah naungan bangunan itu, di tempat yang telah disediakan untuk beliau. Kemudian datanglah Ananda menemui Sang Bhagava, dan memberi hormat dengan sangat hidmat kepada beliau, lalu duduk pada salah satu sisi, kemudian ia berkata kepada Sang Bhagava: "Alangkah bahagianya kami ini, karena nampaknya bhante telah sembuh dan sehat kembali. Karena, ketika kami mengetahui bhante sakit, badan saya sendiri seolah-olah ikut lemah bagaikan lumpuh, segala sesuatu di sekitar kami menjadi gelap, dan perasaan kami sangat lesu. Tetapi walaupun demikian, ada sedikit hiburan bagi kami, karena bhante tak akan meninggalkan kami tanpa memberi beberapa petunjuk yang terakhir kepada kami para bhikkhu."

      25. Demikianlah kata Ananda, tetapi Sang Bhagava memberi jawaban sebagai berikut: "Apalagi yang dapat diharapkan oleh para bhikkhu dariku ? Aku telah mengutarakan Dharma, tanpa membeda-bedakan pelajaran yang bersifat khusus maupun yang umum. Tidak ada apa-apa lagi, yang berkenaan dengan Dharma, yang Sang Tathagata pegang sampai akhir, seperti seorang guru yang menggenggam tangannya, seolah-olah menyimpan sesuatu. Barang siapa yang berpendapat, bahwa dia memimpin para bhikkhu atau bahwa para bhikkhu harus tergantung kepadanya, orang seperti itu biasanya memberikan ajaran terakhir yang berkenaan dengan dirinya. Tetapi, Sang Tathagata tidak mempunyai angan-angan seperti itu, yang ingin memimpin para bhikkhu supaya para bhikkhu terus tergantung padaku.

      Maka dari itu, wejangan-wejangan apa yang perlu kami berikan lagi kepada para bhikkhu itu?

      Sekarang kami telah menjadi lemah, kami sudah tua, hidup kami sudah lama berlangsung, sampai puluhan tahun. Kini umurku yang ke delapan puluh dan hidupku telah cukup lama. Seperti halnya dengan sebuah kereta tua, yang mengalami berbagai kerusakan dan perbaikan, demikian pula badan Sang Tathagata ini dapat terus berlangsung hanya dengan dukungan-dukungan. Hanya, apabila Sang Tathagata, tak menghiraukan obyek-obyek yang berada di luar, pikiran-pikiran yang mengandung keserakahan, benci dan lain-lainnya dengan melenyapkan perasaan-perasaan keduniawian tertentu, berpegang pada pemusatan pikiran (ceto samadhi) berkenaan dengan tanpa gambaran (animitta), maka badan ini lebih ringan bebannya."

      26. "Ananda, oleh karena itu, hendaknya kamu menjadi sebuah pulau sebagai tempat perlindungan bagimu sendiri. Jangan mencari perlindungan yang lain. Hanya Dhammalah sebagai pulaumu, dan kau tiada mencari perlindungan lain. Bagaimana seorang bhikkhu adalah sebagai pulau baginya, sebagai suatu perlindungan bagi dirinya sendiri, tidak mencari perlindungan dari yang lain, dan hanya Dhamma sebagai pulaunya, hanya Dhamma sebagai pelindungnya, dan tiada mencari perlindungan lain?

      Apabila ia merenungkan proses tubuh dalam tubuhnya dengan sungguh-sungguh, dengan pengertian benar dan sadar, ia akan dapat mengatasi keinginan duniawi, ketidaksenangan dan penderitaan batin. Atau apabila ia merenungkan segala bentuk perasaan (vedana), pikiran (citta), atau obyek-obyek pikiran (dhamma), dengan sungguh-sungguh, dengan pengertian benar dan sadar, ia akan dapat mengatasi keinginan duniawi, ketidaksenangan dan penderitaan batin, maka sesungguhnya ia membuat suatu pulau bagi dirinya sendiri, suatu perlindungan bagi dirinya sendiri, tiada mencari perlindungan lain, memiliki Dhamma sebagai pulau dan perlindungannya, tiada mencari perlindungan yang lain.

      Para bhikkhu berpegang teguh pada pulau bagi diri mereka sendiri, perlindungan bagi diri mereka sendiri, tiada mencari lain perlindungan di luar karena telah memiliki Dhamma sebagai pulau dan perlindungan bagi mereka, tiada mencari perlindungan lain. Mereka akan mencapai kesempurnaan dan kesucian, apabila mereka mempunyai keinginan untuk menempuhnya."

      BAB III
      1. Pada pagi hari, kemudian Sang Bhagava mengambil patta (tempat makan) serta jubahnya, lalu pergi ke Vesali untuk pindapatta (menerima dana makanan). Sesudah mendapat makanan Sang Bhagava makan. Kemudian Sang Bhagava pulang, dan ketika tiba di tempat peristirahatannya, beliau berkata kepada Ananda: "Ambillah sebuah tikar, dan marilah kita ke cetiya Capala."

      "Baiklah, bhante," jawab Ananda.

      Demikianlah, Ananda mengambil sehelai tikar, lalu mengikuti Sang Bhagava. [..]

    Demikianlah, Maha Parinibanna sutta di atas, menginformasikan bahwa beliau tahu pasti tubuhnya sudah melapuk dan tidak lagi dapat menunjang kehidupannya seperti dulu namun beliau telah bertekad meneruskan hidup sementara waktu agar dapat memberitahukan pada para muridnya dan memberi kata-kata terakhir kepada para bhikkhu
Dua kepribadian ini bergantian muncul dalam bagian-bagian yang berbeda dari cerita naratif tersebut. Lebih dari itu, di dalamnya juga nampak dua penjelasan mengenai penyebab mangkatnya Sang Buddha:

Yang pertama,
kemangkatan Sang Buddha disebabkan oleh pengiringNya, Ananda, yang gagal mengundang Sang Buddha untuk tetap hidup sampai akhir dunia atau bahkan lebih lama dari itu
(D II, 117).

    Note:
    Disamping kurang akurat dalam menyampaikan informasi, sang mantan Bhikkhu ini juga keliru memahami apa yang sutta maksudkan, yaitu kemangkatan BUKAN karena kegagalan Ananda mengundang Sang Buddha tetap hidup, namun karena kemelekatan Ananda pada sang Buddha sehingga Ananda TIDAK BERPIKIR bahwa BAHKAN seorang Buddhapun TIDAK AKAN HIDUP SELAMANYA.

    Pun ketika kemudian Ananda memohon agar beliau memperpanjang kehidupannya, penyampaiannya  pun dilakukan di saat yang TIDAK TEPAT. Kenapa? Karena sang Buddha sendiri telah menetapkan waktu terbaik untuk Parinibanna yaitu di 3 bulan kemudian dan ini didengar sendiri oleh Mara.

    Seorang Buddha dan atau mereka yang melakukan kehidupan bebas dari kemelakatan tidak akan menyatakan yang tidak benar dan/atau melakukan hal yang tidak patut melalui pikiran, ucapan dan perbuatan.

    Walaupun Mara tampaknya mengerti bahwa bahkan seorang Buddhapun cepat atau lambat akan wafat juga, namun penetapan waktu parinibanna bukanlah akibat bujukan Mara namun karena Sang Buddha sendiri yang menetapkan demikian.

    Waktu penetapan parinibananya, beliau lakukan di bulan Magga (Bulan Februari), yaitu di Cetiya Capala, Saat itu, beliau gunakan iddhipada sebagai dasar untuk mempertahankan kehidupannya selama 3 bulan saja, karena menunggu masaknya kamma baik dari Subhadda, murid terakhir beliau:

      Mahaparinibbana Sutta:
      2. Ketika Sang Bhagava tiba di cetiya Capala beliau duduk di tempat yang telah disediakan.

      Setelah Ananda duduk di salah satu sisi beliau lalu memberi hormat dengan hidmat. Sang Buddha bersabda kepadanya: "Sungguh menyenangkan Vesali ini Ananda karena banyak cetiyanya, yaitu Udana, Catamala, Sattamabaka, Bahuputta, Sarandada dan Capala."

      3. Sang Bhagava berkata: "Ananda, barang siapa yang telah mengembangkan, mempraktekkan, mempergunakan, mempertahankan, menyelidiki dengan seksama kesempurnaan keempat dasar kekuatan batin, apabila ia menghendakinya maka ia akan dapat hidup selama satu kappa atau sampai akhir dari kappa ini. Sang Tathagata, juga dapat hidup sepanjang kappa atau sampai pada akhir dari kappa ini, jika beliau menghendakinya."

      4. Tetapi Ananda tidak dapat memahami makna dari kata-kata yang diucapkan Sang Bhagava. Karena perhatiannya seakan-akan dipengaruhi oleh Mara, sehingga ia tidak memohon kepada Sang Bhagava dan tidak berkata: "Semoga Sang Bhagava hidup satu kappa, Semoga Sang Tathagata tetap ada di sini sepanjang satu kappa, demi kesejahteraan dan kebahagiaan manusia, demi kasih sayang pada seluruh manusia di dunia, bagi kebaikan mahluk-mahluk dan kebahagiaan para dewa dan manusia."

      5. Namun ketika untuk kedua kali dan ketiga kalinya Sang Bhagava mengulangi ucapannya itu, Ananda tetap diam saja.

      6. Kemudian Sang Bhagava berkata kepada Ananda: "Ananda, pergilah dan berbuatlah sesuai dengan kehendakmu."

      "Baiklah, bhante," jawab Ananda dan bangkit dari duduknya, memberi hormat dengan penuh hidmat kepada Sang Bhagava, lalu mengundurkan diri. Kemudian Ananda duduk di bawah sebatang pohon yang letaknya tidak begitu jauh dari tempat tinggalnya.

      PERMOHONAN SI JAHAT MARA
      7. Setelah Ananda pergi, tiba-tiba Mara muncul dan mendekati Sang Bhagava. Sambil berdiri, Mara berkata kepada Sang Bhagava: "Bhante, sekarang telah tiba saatnya bagi Sang Bhagava mengakhiri kehidupannya, karena itu biarlah Sang Sugata parinibbana (meninggal). Sesungguhnya saat parinibbana Sang Tathagata telah tiba. Untuk hal ini, Sang Bhagava telah berkata kepada kami: 'Mara, kami tidak akan memenuhi ajakanmu, sebelum para bhikkhu, bhikkhuni, upasaka dan upasika yang menjadi siswa-siswaku yang benar-benar bijaksana dalam melaksanakan peraturan yang benar, cakap dan terpelajar, memelihara dhamma, hidup sesuai dengan dhamma, berpegang teguh pada pimpinan yang telah ditetapkan, dan telah mempelajari kata-kata Sang Guru, dapat menerangkannya, mengkhotbahkannya, mengumumkannya, menyusunnya, mengartikannya, menerangkannya secara seksama, dan membuatnya menjadi jelas, sehingga apabila timbul kemudian pendapat-pendapat yang bertentangan dengan mereka, mereka dapat memberi penjelasan dengan sempurna sehingga dapat menimbulkan keyakinan pada setiap orang bahwa dhamma ini memberikan kebebasan terakhir.'

      8. Sekarang, para bhikkhu dan bhikkhuni, upasaka dan upasika yang menjadi siswa-siswa Sang Bhagava telah melaksanakan hal itu. Maka sudah waktunya Sang Bhagava mengakhiri kehidupan ini. Sang Sugata dapat dengan bebas meninggalkan dunia ini. Telah tiba saatnya bagi Sang Bhagava parinibbana. Walaupun sama dengan kata-katanya ketika ia berkata: 'Kami tidak akan memenuhi ajakanmu Mara, sebelum kehidupan suci yang kami ajarkan memperoleh hasil yang baik, tersebar luas dan dihayati dengan benar oleh para dewa dan manusia. Hal ini juga telah berlangsung tepat seperti yang dicita-citakan itu. Maka sudah waktunya Sang Bhagava mengakhiri kehidupan ini. Sang Sugata dapat dengan bebas meninggalkan dunia ini. Telah tiba saatnya bagi Sang Bhagava parinibbana.'

      SANG BHAGAVA MELANJUTKAN KEHIDUPANNYA
      9. Setelah hal ini diucapkan, Sang Bhagava berkata kepada Mara: "Mara, jangan kau menyusahkan dirimu. Saat parinibbana Sang Tathagata belum tiba, tiga bulan lagi Sang Tathagata akan mangkat, parinibbana.

      10. Demikianlah di cetiya Capala, Sang Bhagava dengan penuh perhatian dan pengertian yang benar melepaskan bentukan vitalitas [āyusaṅkhāraṁ ossaji]. Pelepasan sang Buddha di bentukan vitalitasnya menimbulkan gempa bumi (Ossaṭṭhe ca Bhagavatā āyusaṅkhāre mahābhūmicālo ahosi) yang menakutkan, sangat dahsyat dan menyeramkan, serta halilintar menyambar-nyambar. Sang Bhagava, memandangnya dengan penuh pengertian serta mengucapkan kata-kata ini:

      "Penyebab kehidupan yang kecil maupun yang tak terbatas dari lingkaran kehidupan telah diputuskan oleh pertapa. Dengan kegembiraan dan ketenangan, ia terbebas dari penyebab kelahirannya, bagaikan ia merobek sampul surat."


      11. Lalu terlintaslah pada pikiran Ananda: "Benar-benar mengherankan, dan sangat luar biasa. Bumi bergetar begitu hebatnya sungguh sangat menakutkan, dahsyat dan menyeramkan. Apakah sebabnya dan apa alasannya sehingga gempa bumi yang dahsyat terjadi ?"

      DELAPAN SEBAB GEMPA BUMI
      12. Kemudian Ananda mendekati Sang Bhagava, lulu duduk pada tempat yang telah tersedia, kemudian ia berkata kepada Sang Buddha: "Bhante, mengherankan dan sangat luar biasa, bumi bergetar begitu hebatnya dan sangat menakutkan. Apakah sebabnya dan alasannya sehingga gempa bumi yang dahsyat itu dapat terjadi? Mohon kami diberi penjelasan."

      13. Kemudian Sang Bhagava berkata: "Ananda, ada delapan sebab atau ada delapan alasan sampai terjadinya suatu gempa bumi yang dahsyat itu. Apakah delapan sebab musabab itu?

      "Begini Ananda [Ayaṃ, ānanda], Daratan Bumi yang besar [mahāpathavī] di sokong cairan [udake patiṭṭhitā], cairan disokong gas/aliran udara/tekanan [vāte patiṭṭhitā], dan tekanan udara antar rongga [vāto ākāsaṭṭho]. Dan kemudian, Ananda [Hoti kho so, ānanda], ketika terjadi pergerakan tekanan yang dahsyat [samayo yaṃ mahāvātā vāyanti], pergerakan tekanan menjadikan cairan bergoncang [Mahāvātā vāyantā udakaṃ kampenti]. Dengan bergoncangnya cairan, daratan bumi bergoncang [Udakaṃ kampitaṃ pathaviṃ kampeti]. Inilah alasan pertama [Ayaṃ paṭhamo], sebab pertama terjadinya gempa bumi yang dahsyat.[hetu paṭhamo paccayo mahato bhūmicālassa pātubhāvāya]

      14. Demikian pula Ananda, apabila seorang pertapa atau brahmana yang memiliki kekuatan batin maha besar, seseorang yang telah memperoleh kekuatan untuk mengendalikan pikirannya, atau sesosok dewata yang maha kuasa, yang maha tahu, mengembangkan pemusatan pikirannya yang hebat pada unsur tanah, dan sampai derajat tak terhingga pada unsur cair, ia pun menyebabkan bumi bergetar, bergoyang, dan bergoncang. Inilah sebab yang kedua sampai timbulnya gempa bumi yang maha dahsyat itu.

      15-20. Ananda, apabila Sang Bodhisattva meninggalkan alam surga Tusita dan lahir melalui rahim (kandungan) seorang ibu yang penuh pengertian dan perhatiannya yang benar. Apabila Sang Tathagata mencapai kesempurnaan yang maha sempurna yang tak ada yang menyamainya, sungguh luar biasa sempurnanya atau apabila Sang Tathagata dengan penuh perhatian dan pengertian yang benar melepaskan bentukan vitalitas (sato sampajāno āyusaṅkhāraṁ ossajati) atau - apabila Sang Tathagata telah tiba saatnya mangkat, parinibbana, di mana tiada tersisa suatu unsur keinginan, maka semuanya ini akan menyebabkan bumi yang besar ini bergetar, goyah dan bergoncang.

      Inilah delapan alasan atau sebab musabab bagi terjadinya suatu gempa bumi.".. [..]

      GODAAN MARA PADA WAKTU YANG LALU
      34. "Ananda, pada suatu waktu ketika kami berdiam di Uruvela, di tepi sungai Neranjara, di bawah pohon beringin, sejenak sesudah aku mencapai Penerangan Sempurna, Mara si jahat, telah datang mendekati aku dan berdiri pada salah satu sisi, lalu berkata kepadaku: 'Kini, bhante, kiranya Sang Bhagava sudah sampai saatnya untuk mengakhiri kehidupannya, kiranya Sang Sugata akan segera wafat. Sebenarnya saatnya telah tiba untuk Tathagata parinibbana.'

      35. Kemudian aku menjawab demikian: 'Aku tak akan mengakhiri hidupku, Mara, sebelum para bhikkhu dan bhikkhuni, para umat pria serta wanita, telah menjadi siswa-siswaku yang baik, yang sejati dan bijaksana, berdisiplin dan tertib, cerdas dan terpelajar, sanggup memelihara ajaran dhamma, hidup sesuai dengan dhamma, taat pada pimpinan yang baik dan mengerti ucapan Sang Guru, dapat menerangkan, mengkhotbahkan, mengumumkan, menyusun, menafsirkannya, membahas dengan teliti dan menjelaskannya, sehingga mereka semuanya dapat memberikan sanggahan apabila timbul pendapat-pendapat yang keliru, dapat memberi penjelasan dengan baik dan bijaksana, dan dapat menyampaikan dhamma yang penuh dengan keyakinan serta memberi kebebasan.

      Mara, aku tak akan mengakhiri hidupku, sebelum kehidupan suci yang akan kuajarkan dapat berhasil dengan baik dan sejahtera, terkenal, dan tersebar luas, sebelum ini diketahui dengan benar-benar oleh para dewa dan manusia.'

      36. Ananda, dalam waktu enam hari ini di cetiya Capala, si jahat Mara, mendekati aku, berdiri pada salah satu sisi, dan berkata kepadaku demikian: 'Kini, bhante, para bhikkhu dan bhikkhuni, para umat pria dan wanita, telah menjadi siswa yang sejati Sang Bhagava, bijaksana, teratur baik, cerdas dan terpelajar, memelihara Dhamma hidup sesuai dengan Dhamma, taat pada pimpinan yang baik, dan telah mempelajari ucapan-ucapan Sang Guru, telah dapat menerangkan, mengkotbahkan, mengumumkan, menyusun, menerangkan dengan seksama dan menjelaskan sehingga bila nanti ada pendapat yang keliru mereka akan dapat menyanggahnya dengan baik dan bijaksana dan mereka telah dapat mengkotbahkan Dhamma yang meyakinkan serta memberi mereka kebebasan.

      Kini kehidupan suci yang diajarkan Sang Bhagava telah berhasil dengan baik, terkenal dan tersebar luas. Juga telah dibabarkan dengan baik kepada para dewa dan manusia. Oleh karena itu, telah tiba saatnya bagi Sang Bhagava untuk mengakhiri hidupnya. Biarlah Sang Bhagava segera wafat, karena sebenarnya telah tiba saatnya Yang Mulia parinibbana.'

      37. 'Ananda, kemudian aku menjawab kepada si jahat Mara itu demikian: 'Janganlah kau sulitkan dirimu, Mara, saat parinibbana Sang Tathagata pasti akan tiba. Ketahuilah bahwa tiga bulan lagi, Sang Tathagata akan mangkat-sirna-wafat.'

      Ananda, di hari ini, di cetiya capala, Sang Tathagata telah melepaskan bentukan vitalitas.'

      PERMOHONAN ANANDA
      38. Mendengar ucapan-ucapan tersebut, Ananda lalu berkata kepada Sang Bhagava: "Bhante, semoga Sang Bhagava selalu berada di dunia ini; Semogalah Yang Berbahagia tetap di sini sepanjang masa, demi kesejahteraan dan kebahagiaan manusia. Kasihanilah dunia demi kebaikan mahluk-mahluk semuanya dan demi kebahagiaan para dewa serta manusia."

      39. Sang Bhagava lalu menjawab demikian: "Cukuplah Ananda, janganlah menahan Sang Tathagata, karena waktunya sudahlah terlambat, untuk permintaan semacam itu."

      Tapi untuk kedua dan ketiga kalinya, Ananda memohon kepada Sang Bhagava: "Bhante, semoga Sang Bhagava tetap berada di dunia ini, semoga Yang Berbahagia tetap di sini sepanjang masa; demi kesejahteraan dan kebahagiaan manusia. Kasihanilah dunia, demi kebaikan semua mahluk dan kebahagiaan para dewa serta manusia."

      Sang Bhagava lalu berkata: "Ananda, apakah kamu mempunyai keyakinan terhadap buah hasil Penerangan sejati dari Sang Tathagata?"

      Ananda menjawab: "Bhante, kami sangat yakin."

      "Ananda, kalau begitu, mengapa kamu mengganggu Sang Tathagata sampai tiga kali?"

      40. Ananda menjawab: "Dari mulut Sang Tathagata sendiri kami telah mendengar: 'Barang siapa yang telah mengembangkan, mempraktekkan, menggunakan, memelihara, menyelidiki dengan seksama dan menguasai empat iddhipada (dasar kekuatan batin), maka ia dapat menggunakan iddhipada itu sebagai alat dan dasar dan bila ia ingin, ia dapat mempertahankan kehidupannya selama satu kappa atau selama sebagian kappa yang masih berlangsung.' Sekarang Sang Tathagata telah mempraktekkan dan mengembangkan iddhipada itu dengan sempurna, maka ia dapat dan bila ia ingin, ia dapat hidup selama satu kappa atau selama bagian dari kappa yang masih berlangsung."

      "Ananda, apakah kamu mempercayainya?"

      "Ya, kami mempercayainya, bhante," jawab Ananda.

      "Ananda, dengan demikian engkau telah salah bertindak, engkau telah keliru bertindak ("tuyhevetaṃ dukkaṭaṃ, tuyhevetaṃ aparaddhaṃ", juga di DN 11/Kevaddha sutta) dalam memahami saran yang sederhana dan bermakna serta dorongan yang berarti yang diberikan oleh Sang Tathagata", maka seharusnya kamu tidak memohon beliau untuk tetap berada di sini.

      Jika pada waktu yang lalu kamu memohon seperti itu, untuk kedua kali Sang Tathagata mungkin menolaknya, tetapi untuk yang ketiga kalinya mungkinkan menyetujuinya. Ananda, oleh karena itu, engkau telah salah bertindak, engkau telah keliru bertindak, maka permohonanmu sekarang adalah sia-sia."

      41. "Ananda, di Rajagaha, ketika kita sedang berdiam di puncak Gijjhakuta, kami telah berkata kepadamu: 'Ananda, menyenangkan Rajagaha ini, menyenangkan pula puncak Gijjhakuta ini.

      Barang siapa yang telah mengembangkan, mempraktekkan, menggunakan, memelihara, menyelidiki dengan seksama dan menguasai empat iddhipada (dasar kekuatan batin), maka ia dapat menggunakan iddhipada itu sebagai alas dan dasar, bila ia ingin, ia dapat mempertahankan kehidupannya selama satu kappa atau selama bagian dari kappa yang masih berlangsung. Tapi kamu tidak dapat memahami saran yang sederhana dan bermakna serta dorongan yang berarti yang diberikan oleh Sang Tathagata .... Ananda, oleh karena itu, engkau telah salah bertindak, engkau telah keliru bertindak, maka permohonanmu sekarang adalah sia-sia."

      42. "Begitu pula ketika kami berdiam di Gotama Nigrodha, Rajagaha ... di Corapapato, Rajagaha ... di goa Sattapanni pada lereng gunung Vebhara, Rajagaha ... di Kalasila pada lereng gunung Isigali, Rajagaha ... di hutan Sitavana dalam goa gung Sappasondika, rajagaha ... di Tapodarama, Rajagaha ... di Veluvana Kalandaka, Rajagaha ... di Ambavana milik Jivaka, Rajagaha ... dan di taman rusa Maddakucchi, Rajagaha.

      43. Ananda, pada tempat-tempat itu kami mengatakan: 'Menyenangkan Rajagaha ini .... dan menyenangkan semua tempat ini.

      44. Barang siapa yang telah mengembangkan, mempraktekkan, menggunakan, memelihara, menyelidiki dengan seksama dan menguasai empat iddhipada (dasar kekuatan batin), maka ia dapat menggunakan iddhipada itu sebagai alat dan dasar, bila ia ingin, ia dapat mempertahankan kehidupannya selama satu kappa atau selama bagian dari kappa yang masih berlangsung. Tapi, kamu tidak memahami saran yang sederhana dan bermakna serta dorongan yang berarti yang diberikan oleh Sang Tathagata .... Ananda, oleh karena itu, engkau telah salah bertindak, engkau telah keliru bertindak, maka permohonanmu sekarang adalah sia-sia."

      45-47. "Demikian pula di Vesali, pada waktu tertentu Sang Tathagata telah berkata kepadamu: 'Ananda, menyenangkan sekali Vesali ini, menyenangkan Cetiya Udena, Gotamaka, Sattamba, Bakuputta, Sarandada dan Capala.'

      'Barang siapa yang telah mengembangkan, mempraktekkan, mempergunakan, meneguhkan, memelihara, menyelidiki dan menyempurnakan empat dasar kekuatan batin, jika ia menghendaki, ia dapat tetap hidup di sini sepanjang masa, atau sampai akhir dunia ini.'

      Sang Tathagata telah melakukan hal itu. Oleh karena itu Sang Tathagata, apabila menghendakinya, dapatlah tetap berada di sini sepanjang masa atau sampai di akhir dunia ini."

      Ananda, tapi kau tak dapat memahami saran yang sederhana dan bermakna serta dorongan yang berarti yang diberikan oleh Sang Tathagata, maka seharusnya kau tidak memohon beliau untuk tetap berada di sini. Jika pada waktu yang lalu kamu memohon seperti itu, untuk kedua kali Sang Tathagata mungkin menolaknya, tetapi untuk ketiga kalinya mungkin akan menyetujuinya. Ananda, oleh karena itu engkau telah salah bertindak, engkau telah keliru bertindak", maka permohonanmu sekarang adalah sia-sia."

      48. "Ananda, lagi pula apakah kami belum pernah mengajarkan bahwa sejak permulaan bahwa segala sesuatu yang disenangi atau dicintai mesti akan berubah, berpisah dan berjauhan? Segala sesuatu yang timbul menjadi atau lahir terwujud di dalam perpaduan, dicengkeram oleh kelapukan, bagaimana orang akan dapat berkata: 'Semoga ini tidak menjadi hancur.' Hal itu tak mungkin dapat terjadi. Dalam hal ini, yang telah diselesaikan oleh Sang Tathagata, dan hal ini yang telah dilepaskan, dibuang, ditinggalkan dan ditolak beliau, menanggalkan lagi, melepas bentukan vitalitas (paṭinissaṭṭhaṁ ossaṭṭho āyusaṅkhāro). Ini satu pernyataan Sang Tathagata: 'tak lama lagi adalah parinibananya sang Tathagata, Setelah tiga bulan, Sang Tathagata akan mencapai Parinibbana, bahwa Sang Tathagata akan menarik kata-kata demi meneruskan kehidupannya adalah hal yang tidak mungkin.'

      "Ananda, marilah kita pergi ke Kutagara Sala di Mahavana."

      "Baiklah, bhante," jawab Ananda [..].
Yang kedua adalah bahwa Sang Buddha mangkat karena sakit yang mendadak yang dimulai setelah Beliau makan makanan yang dikenal sebagai "Sukara maddava" (D II, 127-157).
    Note:
    Kalimat yang di garis bawahi di atas yaitu: "kemangkatanNya yang tak didugaNya" dan "sakit yang mendadak" merupakan kalimat yang tidak berdasar dan spekulatif:

      23. Ketika musim hujan telah tiba Beliau merasa sakitnya semakin parah, badannya terasa ditusuk-tusuk sehingga beliau merasa kesakitan sekali. Tetapi Sang Bhagava menghadapinya dengan penuh kesadaran, pengertian yang benar dan tenang.

      Kemudian terlintaslah pada pikiran Sang Bhagava: "Tidaklah wajar, sebelum parinibbana aku tidak memberitahukan pada mereka yang menaruh perhatian selama ini kepadaku, dan tidak memberi kata-kata terakhir kepada para bhikkhu. Karena itu biarlah aku menekan penyakit ini dengan kekuatan batinku, berteguh hati untuk mempertahankan kelangsungan hidup ini, dan meneruskan hidupku untuk sementara waktu."

      Sang Bhagava berhasil melawan sakit dengan kekuatan kemauan yang gigih, dengan teguh hati mempertahankan kelangsungan hidup dan meneruskan kehidupan Beliau. Demikianlah akhirnya rasa sakit dapat diatasinya.[..]

    Beliau tetapkan waktu kemangkatannya di 3 bulan kemudian, ini adalah hal yang terencana, dan persis 3 bulan kemudian adalah saat PURNAMA VAISAK, sehingga 3 hal terjadi, yaitu lahir, menjadi Buddha dan wafatnya:

      9. Setelah hal ini diucapkan, Sang Bhagava berkata kepada Mara: "Mara, jangan kau menyusahkan dirimu. Saat parinibbana Sang Tathagata belum tiba, tiga bulan lagi Sang Tathagata akan mangkat, parinibbana.[..]

    Padahal Penulis di awal menggunaan kalimat 'Parinibanna Sutta merupakan sumber yang paling dapat dipercaya' dan menuju pada kalimat 'dua kepribadian Sang Buddha yang saling bertolak belakang, yang satu mengesampingkan yang lainnya'. Dua kalimat ini merupakan situasi kontradiftif dari tulisan Penulisnya.
Kisah yang pertama mungkin suatu legenda, atau hasil dari suatu pergumulan politik di dalam komunitas Buddhist selama tahap transisi, sedangkan kisah yang terakhir terdengar lebih realistis dan akurat dalam menggambarkan situasi kehidupan nyata yang terjadi di dalam hari-hari terakhir Sang Buddha.
    Note:
    Sang sulit membuatnya menjadi sebuah kebetulan semata ketika di 3 waktu purnama pada bulan yang sama pula yaitu bulan vesak dapat terjadi 3 peristiwa besar namun itulah fakta yang terjadi, malah kekuatan dasabala seorang Buddha bekerja baik, beliau memahami kapan masaknya kamma seseorang, sehingga bahkan bepergian jauhpun beliau lakukan hanya demi membuat seseorang terbebas dari samsara dan 3 bulan kemudian adalah saat kamma Subhadda. Itulah alasan terutama mengapa seorang Buddha menetapkan batas waktu 3 bulannya.
Sejumlah studi telah memusatkan perhatian pada asal-muasal hidangan khusus yang dimakan oleh Sang Buddha selama makanan terakhirNya sebagai penyebab kemangkatanNya. Bagaimanapun juga, ada pendekatan lain yang didasarkan pada deskripsi tentang gejala-gejala dan tanda- tanda yang diberikan dalam Sutta, yang bisa dijelaskan oleh pengetahuan medis modern.

Dalam salah satu lukisan dinding yang berada di Wat (Vihara) Ratchasittharam, Sang Buddha dalam keadaan mendekati ajalNya, tetapi Beliau masih menyempatkan diri untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh petapa Subhadda, yang menjadi siswa terakhirNya, yang setelah ditahbis menjadi anggota sangha, kemudian menjadi seorang Arahat.


Apa yang kita ketahui

Dalam Mahaparinibbana Sutta, kita diberitahukan bahwa Sang Buddha menderita sakit secara tiba-tiba setelah Beliau memakan suatu hidangan khusus yang lezat, Sukaramaddava, yang secara harafiah diterjemahkan sebagai "daging babi lunak", yang telah disiapkan oleh penjamu dermawanNya, Cunda Kammaraputta. Nama dari hidangan tersebut menarik perhatian dari banyak sarjana, dan hal itu menjadi fokus dari riset akademis terhadap asal muasal makanan hidangan atau bahan baku yang digunakan di dalam memasak hidangan khusus ini. 
Dalam Sutta sendiri selain menyediakan detil-detil yang berkaitan dengan tanda-tanda dan gejala-gejala dari penyakit Sang Buddha, juga menyertakan beberapa informasi yang dapat diandalkan mengenai keadaan Sang Buddha selama empat bulan sebelumnya, dan uraian ini juga sangat berarti secara medis.

    Note:
    Mari kita lihat rekaman dari Mahaparinibbana Sutta saat beliau makan sukaramaddava:

      13. Setelah Sang Bhagava lama berdiam di Bhoganagara, beliau berkata kepada Ananda : "Ananda, marilah kita pergi ke Pava."

      "Baiklah, bhante," jawab Ananda.

      Demikian Sang Bhagava tinggal di Pava bersama sejumlah besar bhikkhu dan tinggal di Ambavana milik Cunda, pandai besi.

      SANTAPAN SANG BHAGAVA YANG TERAKHIR
      14. Cunda pandai-besi, setelah mengetahui bahwa Sang Bhagava telah tiba lalu berkata: "Sang Bhagava, telah tiba di Pava dan berdiam di Ambavana milikku." Cunda lalu menghadap Sang Bhagava, sesudah memberi hormat dengan khidmat kepada beliau, kemudian duduklah ia pada salah satu sisi. Sang Bhagava mengajarkan Cunda, pandai-besi, tentang dhamma yang telah membangkitkan semangatnya dan menyebabkan hatinya sangat gembira.

      15. Kemudian Cunda berkata kepada Sang Bhagava: "Dapatkah kiranya Sang Bhagava menerima undangan kami untuk makan esok pagi bersama dengan para bhikkhu?" Sang Buddha bersikap diam. Dengan sikapnya yang diam itu berarti Sang Bhagava menyetujui permohonan Cunda.

      16. Karena telah yakin akan persetujuan Sang Bhagava itu. Maka Cunda, pandai-besi, berdiri dari tempat duduknya. Menghormat dengan khidmat kepada Sang Bhagava lalu mengundurkan diri meninggalkan beliau.

      17. Cunda pandai-besi, sejak semalam telah membuat makanan yang keras serta yang lunak dan makanan yang terdiri dari Sūkara-maddava. Kemudian ia memberitahukan kepada kepada Sang Bhagava: "Bhante, silahkan. Makanan telah siap."

      18. Pada waktu pagi Sang Bhagava menyiapkan diri, membawa patta dan jubah, pergi dengan para bhikkhu ke rumah Cunda. Di sana beliau duduk di tempat yang telah disediakan, dan berkata kepada Cunda: "Hidangan Sūkara-maddava yang telah saudara sediakan, hidangkanlah itu untukku. Sedangkan makanan lain yang keras dan lunak, saudara dapat hidangkan kepada para bhikkhu."

      "Baiklah, bhante," jawab Cunda.

      Sūkara-maddava yang telah disediakannya, dihidangkannya untuk Sang Bhagava, sedangkan makanan keras dan lunak lainnya dihidangkannya kepada para bhikkhu.

    Apa arti Sūkara-maddava?

    Kata Sūkara-Maddava ini muncul di Mahaparinibbana Sutta dan juga Milinda Panha (buku abad ke-1 SM). Kemudian, kitab komentar menyampaikan:

    Sūkaramaddava adalah yang tidak terlalu muda dan tua dari seekor babi/bagian kepala babi yaitu dagingnya (Sūkaramaddavanti nātitaruṇassa nātijiṇṇassa ekajeṭṭhakasūkarassa pavattamaṃsaṃ), empuk (mudu) dan lembut/lentur adanya (Taṃ kira mudu ceva siniddhañca hoti), disiapkan dan dimasak dengan baik (taṃ paṭiyādāpetvā sādhukaṃ pacāpetvāti attho). Ada yang mengatakan 'Sūkaramaddava adalah nasi lembut yang diproses dengan kuah campuran lima produk dari sapi, ini semacam nama sebuah masakan' (Eke bhaṇanti – ‘sūkaramaddavanti pana muduodanassa pañcagorasayūsapācanavidhānassa nāmetaṃ, yathā gavapānaṃ nāma pākanāma’’nti). Lainnya mengatakan 'Sūkaramaddava adalah nama teknik (vidhi) membuat senang (rasāyana). Jadi, didatangkanlah guru rasāyana, kemudian Cunda 'Parinibanna Sang Bhagawa buatlah tidak jadi, aturlah rasāyana.' (Keci bhaṇanti – ‘sūkaramaddavaṃ nāma rasāyanavidhi, taṃ pana rasāyanasatthe āgacchati, taṃ cundena – ‘bhagavato parinibbānaṃ na bhaveyyā’ti rasāyanaṃ paṭiyatta’’nti). Di sana para deva empat benua besar (mahādīpa) dan dua ribu pengiring memasukkan nutrisi (oja) (Tattha pana dvisahassadīpaparivāresu catūsu mahādīpesu devatā ojaṃ pakkhipiṃsu.) [Mahāparinibbānasuttavaṇṇanā: Kammāraputtacundavatthuvaṇṇanā dan variasi lainnya juga ada di: Udāna-aṭṭhakathā, Pāṭaligāmiyavaggo: Cundasuttavaṇṇanā]

    Prof. Rhys Davids dan juga Buddhagosha (abad ke-5 M) menterjemahkannya sebagai `bagian daging babi yang empuk’. Namun I.B. Horner, di Milinda Panha, dan juga tipitaka bahasa Vietnam menterjemahkannya menjadi `truffle' atau sejenis jamur.

    Kamus mengartikan arti "sūkara" adalah babi. Sedangkan Maddava/Madhava adalah lembut, empuk, halus, atau kering/panggang/layu (T.W.Rhys Davids & William Stede pp.721; 518-19) dan tidak pernah diartikan jamur.

    Contoh aplikasi kata 'sūkara' + kata lain yang berhubungan dengan makanan, misalnya: sūkarapotaka (babi muda), sūkarasāli (arti kata sāli adalah beras/nasi, jadi ini adalah sejenis nasi, mungkin sejenis nasi-bhoonja, nasi yang populer di area Bihar dan Uttara Pradesh timur. untuk jelasnya lihat makanan khas Gaya, yaitu semacam snack kering, "Sabudana-Badam Bhoonja")

    Terjemahan kata 'sūkara-Maddava', akhirnya terpusat pada dua macam arti saja, yaitu:

    1. Daging babi yang berusia muda (ada yang mengatakan berusia setahun)
    2. Sejenis jamur dan kemudian diartikan sebagai jamur babi

    Para Kelompok vegetarian cenderung mengartikan kata ini sebagai jamur, namun terdapat beberapa alasan dan kelemahannya:

    • Terdapat banyak rujukan di Tipitaka bahwa Buddha sendiri makan daging dan mengijinkan mengkonsumsi daging selama memenuhi 3 syarat (Melihat secara langsung pada saat binatang tersebut dibunuh, Mendengar secara langsung suara binatang tersebut pada saat dibunuh dan Mengetahui bahwa binatang tersebut dibunuh khusus untuk dirinya - MN 55/Jivaka sutta) dan bukan 10 macam daging yang tidak diperkenankan dikonsumsi para Bikkhu (daging manusia, daging gajah, daging kuda, daging anjing, daging ular, daging singa, daging harimau, daging macan tutul, daging beruang, dan daging serigala atau hyena - Mahavagga Pali, Vinaya Pitaka, Vol.3.58). Juga di AN 5.44/Manāpadāyī sutta, seorang perumah tangga dari Vesali bernama Ugga yang menyajikan daging babi kepada Sang Buddha dan beliau baik-baik saja,

      "Di hadapan Guru, aku mendengar dan tahu dari Sang Bhagava sendiri bahwa seseorang yang memberikan hal menyenangkan, akan menerima kegembiraan, aku menyenangi masakan daging babi (sūkaramaṃsaṃ) dengan sari buah jujube. Semoga sang Bhagava menerimanya dengan perasaan kasih. Dengan perasaan kasihnya Sang Buddha menerima" (Sammukhā metaṃ, bhante, bhagavato sutaṃ sammukhā paṭiggahitaṃ: ‘manāpadāyī labhate manāpan’ti. Manāpaṃ me, bhante, sampannakolakaṃ sūkaramaṃsaṃ; taṃ me bhagavā paṭiggaṇhātu anukampaṃ upādāyā”ti. Paṭiggahesi bhagavā anukampaṃ upādāya).

      Sutta juga menyampaikan bahwa tidak lama setelahnya, Ugga wafat dan terlahir di Alam deva manomaya (Alam deva yang dapat menciptakan sesuai pikirannya), datang memberi hormat dihadapan Sang Buddha di Savatthi, vihara jetavana persembahan dari Anāthapiṇḍika.

      Dari contoh-contoh diatas sisi saja, para pendapat yang menyatakan bahwa Buddhism tidak makan daging dan sang Buddha tidak makan daging babi, sudah gugur dengan sendirinya.
    • Dalam Buddhavamsa: Buddhapakiṇṇakakathā, tentang: Sabbabuddhānaṃ samattiṃsavidhā dhammatā (30 hal yang selalu terjadi pada para Buddha), di no.29 ada kalimat, parinibbānadivase maṃsarasabhojanaṃ (Di hari Parinibannanya makan makanan yang mengandung daging). Arti kata "maṃsa" adalah daging.
    • Tidak ada jamur yang bernama jamur Babi, bahkan sampai ada yang beralasan bahwa jenis jamur ini hidup di tempat2 dimana ada banyak babi,
    • Alasan lainnya karena babi kerap digunakan untuk mendapatkan jamur. [Di artikel kompas: "Mengenal Jamur Pencabut Nyawa" sub: Babi pelacak, Rabu, 05 April 2006, 20:24 WIB: ‘[..] Kalau jenis jamur beracun dikerat, kemudian dilekatkan pada benda yang terbuat dari perak asli (misal pisau, sendok, garpu, atau cincin), maka pada permukaan benda tersebut akan ada warna hitam (karena xulfida) atau kebiruan (karena cianida)..para pemburu jamur di beberapa negara Eropa, terutama tradisi-tradisi di negara-negara Skandinavia (Swedia, Norwegia, Denmark, dan sebagainya)...biasanya akan membawa binatang "pelacak jamur" andalan. Bukan anjing, tapi babi yang sebelumnya sudah diberi latihan khusus...membedakan mana jamur yang bisa dimakan/tidak.’. Atau Cara Menghindari Kematian karena Makan Jamur Liar", H Unus Suriawiria, Senin, 31 Januari 2005: '(4) Kalau jenis jamur beracun dimasak/dipepes bersama nasi putih, nasi tersebut akan berubah warna menjadi coklat, kuning, merah, atau hitam...Bagi pemburu jamur di beberapa negara Eropa-misalnya, acara tradisi di negara-negara Skandinavia (Sweden, Norwegia, dan sebagainya)-kalau musimnya berburu jamur selalu akan membawa babi yang sudah terlatih, yang dapat membedakan mana jamur beracun dan mana yang tidak.']. Masalahnya babi itu digunakan untuk MEMBEDAKAN mana jamur beracun dan bukan.
    • Menurut ahli botani, komposisi jamur adalah 90% air, kurang dari 3% adalah protein, urang dari 5 % adalah carbohidrat, kurang dari 1% adalah lemak, 1 % adalah mineral, garam dan vitamin, jadi TIDAK COCOK disajikan pada Buddha yang berada pada kondisi kurang sehat
    • Kata umum dalam bahasa pali untuk menyebut jamur adalah "ahihattaka/ahichattaka": jamur ‘payung ular’. Bahasa modern Hindi adalah 'sarpchatr' yang mempunyai arti jug sama, bahasa Bengalinya 'byaner chata' atau ‘payung katak’ dan bukan Maddava.

    Sehingga alasan mengartikan sūkara-madavva sebagai jamur adalah tidak berdasar, kata yang lebih tepat ini adalah daging babi yang empuk.

    Cunda dan semua mengetahui bahwa Sang Buddha sudah tua dan di kondisi lemah, dari sisi pandangan awam makanan yang bernutrisi dan lembut adalah sangat tepat disajikan, untuk itu, daging babi muda sangatlah memenuhi kreteria ini.

    Mari kita lanjutkan detail Mahaparinibbana Sutta:

      [..]19. Sesudah itu Sang Bhagava berkata kepada Cunda: "Cunda, sisa-sisa sūkara-madavva yang masih tertinggal, tanamkanlah dalam sebuah lobang, karena kami lihat di dunia ini di antara para dewa, Mara, Brahmana, para samana atau Brahma, atau pun manusia, tidak ada seorang pun yang sanggup memakannya atau mencernakannya, kecuali Sang Tathagata sendiri."

      Cunda menjawab: "Baiklah, bhante."

      Demikianlah sisa sūkara-madavva yang tertinggal itu ditanamkannya dalam sebuah lobang. [..]

    Mengapa sisa sūkara-madavva perlu di tanam dalam sebuah lubang?

    Kejadian mengapa perlakuan makanan yang tidak dimakan oleh Buddha ini harus di kubur, terdapat padanan penjelasannya di sutta nipata: Sn 1.4/KASIBHARADVAJA SUTTA, (tahun ke-11 kebuddhaan):

      [..]Kemudian Kasibharadvaja mengisikan nasi-susu ke dalam mangkuk emas yang besar dan mempersembahkannya kepada Sang Buddha sambil berkata: 'Silakan Yang Mulia Gotama menyantap nasi susu ini. Engkau memang petani karena alasan pembajakan itu; memang hal itu memberikan buah kekekalan.'

      'Apa yang diperoleh lewat pembacaan mantra-mantra bukanlah makananku. O, brahmana, ini bukanlah praktek bagi mereka yang melihat dengan benar. Para Buddha menolak apa yang diperoleh lewat pembacaan mantra.'

      'Engkau harus mempersembahkan makanan dan minuman lain kepada pertapa agung yang telah mantap, yang telah bebas dari kekotoran mental dan penyesalan. Itu merupakan ladang bagi dia yang mencari jasa kebajikan.'

      'Kalau demikian, Yang Mulia Gotama, kepada siapakah saya harus memberikan nasi-susu ini?'

      O, brahmana, di dunia termasuk para dewa, Mara, Brahma, serta di antara para brahmana dan manusia, aku tidak melihat siapa pun kecuali Sang Tathagata

      Karena itu, O brahmana, sebaiknya engkau membuang nasi-susu ini di suatu tempat yang tidak ada rumputnya, atau membuangnya ke air di mana tidak ada makhluk hidupnya.'

      Maka Kasibharadvaja membuang nasi susu itu ke dalam air yang tidak mengandung kehidupan. Pada saat itu terdengar bunyi mendesis disertai banyak uap dan asap dari semua sisi, persis seperti mata bajak yang telah dipanaskan sepanjang hari lalu dicelupkan ke dalam air menghasilkan bunyi desis dan mengeluarkan uap serta asap di semua sisi.

      Kemudian Kasibharadvaja, dengan perasaan amat terpukau dan bulu kuduk berdiri, mendekati Sang Buddha dan meletakkan kepalanya di kaki Sang Buddha. Dia berkata: 'Sungguh menakjubkan, Yang Mulia Gotama, sungguh luar biasa, Yang Mulia Gotama![..]

    Juga di Samyutta nikaya SN 7.9/Sundarika Sutta atau di Sagatha-Vagga 7.1.9, yaitu makanan yang telah didanakan khusus kepada seorang Samma Sambuddha, tidak dapat dimakan oleh mahluk lain dan jika bersisa maka dibuang di tempat yang tidak ada rumputnya atau membuangnya ke air dimana tidak ada mahluk hidupnya. Salah satu alasan mengapa makanan tersebut tidak dapat dimakan mahluk lain, kitab komentar menyampaikan bahwa para deva ikut berpartisipasi pada dana makanan dengan memberikan nutrisi.

    Di Mahaparinibanna sutta, kita ketahui letak nyeri yang dialami sang Buddha berada di pakkha (pectus, atau area antara leher dan abdominal) yang memerah (lohita) tanpa adanya muntah-muntah dan/atau tanpa adanya mencret darah.

      Setelah itu ia kembali kepada Sang Bhagava memberi hormat dengan khidmat kepada beliau dan duduk pada salah satu sisi. Kemudian Sang Bhagava mengajarkan Cunda pandai-besi itu mengenai pelajaran yang membangkitkan semangat, yang berisi penerangan yang menggembirakan hatinya. Sesudah itu beliau bangun dari tempat duduknya pergi meninggalkan Cunda.

      20. Sesudah Sang Bhagava menyantap santapan yang dihidangkan oleh Cunda, pandai-besi itu, sakit keras melandanya (kharo ābādho uppajji), Area antara dada - diagframa/abdomen memerah (lohitapakkhandikā) Sakit keras terasa terus menerus/ditusuk-tusuk yang dapat mematikan (pabāḷhā vedanā vattanti māraṇantikā). Tetapi Sang Bhagava membawanya dengan penuh perhatian dan kesadaran tanpa terganggu (Tā sudaṃ bhagavā sato sampajāno adhivāsesi avihaññamāno). Kemudian Sang Bhagava berkata kepada Ananda: "Ananda, marilah kita ke Kusinara."

      Ananda menjawab: "Baiklah, bhante."

      "Kami telah mendengar: 'Ketika Sang Bhagava makan hidangan yang dihidangkan oleh Cunda, dengan ketabahan hati dan ketenangan beliau menahan penderitaan yang hebat.' Hal ini terjadi karena Sang Bhagava makan Sukaramaddava yang dihidangkan oleh Cunda. Tetapi dengan tenang dan tabah beliau berhasil menahan rasa sakit yang datang sekonyong-konyong itu. 'Marilah kita ke Kusinara,' kata beliau dengan penuh kesabaran."  [..]

      [Kata "kami telah mendengar", adalah para pembicara lainnya, yaitu mereka yang berada di konsili ke-1, yang terjadi 3 bulan setelah wafatnya sang Buddha.]

    Kalimat: "Lohitapakkhandikā pabāḷhā vedanā vattanti māraṇantikā.", dalam terjemahan kata perkata:

      Lohita/rahita: merah/darah. Kata darah dalam pali adalah Pupphaka/puppha/pubbaka. Pakkha: pectus (The part of the human torso between the neck and the diaphragm or the corresponding part in other vertebrates). Perlu di ketahui, kamus menyampaikan arti Pakkhandaka / pakkhandin / pak-khandikā: diare/dysentri dengan tambahan kata lohita, namun arti itu tanpa referensi jelas, kamus menyampaikannya seperti ini: "Ved. (?) praskandikā, BR. without refs". Pabāḷhā: tajam, keras (untuk sakit). Vedana: Perasaan. Vattanti: berkelanjutan/terus menerus. māraṇa: mati. antika: hampir di akhir. Sedangkan dalam bahasa pali dan sanskrit terdapat kata yang digunakan untuk arti diare/disentri: atisara [diare, untuk yang berdarah adalah rattatisara]. Sanskrit: Jvaratisara (diare dengan demam). Untuk disentri, sanskritnya adalah pakvatisara: Disentri yang kronis. Kata-kata atisara/rattatisara tidak digunakan di mahaparinibanna sutta
Sutta di awali dengan rencana Raja Ajatasattu untuk menaklukkan negara saingannya, kerajaan Vajji. Sang Buddha melakukan perjalanan ke Vajji untuk memulai vasssa (retreat musim hujan) terakhirNya. Dalam masa vassa ini Beliau jatuh sakit. Gejala dari penyakitNya adalah tiba-tiba dan sakit yang teramat sangat. Walau demikian, di dalam Sutta tidak diuraikan tentang ciri-ciri dan letak penyakitNya. Sutta itu hanya menyinggung sekilas penyakit Beliau, dan dikatakan penyakitnya sangat keras, dan hampir membunuhNya.
    Note:
    Parinibanna Sutta hanya mencatat penyakitnya sangat keras namun tidak pernah dikatakan bahwa penyakit tersebut hampir membunuhnya, penulis melebih-lebihkan dari yang diketahuinya
Sesudah itu, Sang Buddha dikunjungi oleh Mara, Dewa Kematian, yang mengundang Beliau untuk mangkat. Sang Buddha tidak menerima undangan dengan segera. Hanya setelah Ananda, pengiringNya, gagal untuk mengenali isyarat yang diberikanNya mengenai kemangkatan Beliau.
    Note:
    Penulis keliru dalam mendeskripsikan Mara, walaupun arti mara juga berarti kematian dan Mara juga termasuk kelompok para Dewa namun Mara jelas bukan dewa kematian. Bahkan di hinduism saja Mara juga disebut sebagai Kama-Deva (RV 9.113.11), dewa nafsu keinginan. Terminologi deva kematian ini jelas salah kaprah karena penyebab kelahiran kembali adalah karea belum padamnya keinginan.

    Sang Buddha memang tidak menerima undangan Mara adalah karena beliau sendiri mempunyai alasan menetapkan sendiri waktunya yaitu disamping untuk memberitahukan juga karena memberikan nasehat terakhir kepada Subadda, orang terakhir yang di tahbiskan menjadi Bhikkhu dan menjadi arahat. Seorang Buddha dengan kemampuan DASA BALANYA sangat mahir mengenai kapan masaknya kamma seseorang sehingga ia dapat menerima ajaran dan menembusnya. Inilah mengapa Subadda mendapatkan kesempatannya hanya dengan sedikit nasihat. 
Sepotong pesan ini, meskipun terkait erat dengan mitos dan hal supernatural, memberikan kita beberapa informasi medis yang sangat berarti. Saat sutta ini disusun, penulisnya berada dalam keadaan terkesan bahwa Sang Buddha wafat bukan oleh karena makanan yang Beliau makan, tetapi dikarenakan Beliau telah memiliki penyakit yang serius dan akut serta memiliki gejala-gejala yang sama dengan penyakit yang pada akhirnya membuatNya mangkat.

Waktu Kejadian

Umat Buddha tradisi Theravada berpegang pada asumsi bahwa Buddha Historis wafat pada malam bulan purnama dalam penanggalan bulan di bulan Visakha (yang kadangkala jatuh pada bulan Mei sampai Juni). Tetapi waktu tersebut bertolak belakang dengan informasi yang terdapat dalam Sutta, dimana secara jelas bahwa Sang Buddha segera mangkat setelah masa vassa (retreat musim hujan), kemungkinan besar adalah pada musim gugur atau pertengahan musim dingin, yaitu antara bulan November hingga Januari.

Uraian tentang keajaiban akan mekarnya daun-daun dan bunga-bungapada pohon-pohon sala ketika Sang Buddha berbaring di antaranya, menunjukkan periode waktu yang diberikan dalam sutta.

    Note:
    Penulis jelas telah keliru menafsirkan waktu kejadian. Petunjuk-petunjuk waktu itu sangat jelas tertera di Mahaparinibbana Sutta

    Diatas telah disampaikan bahwa para pertapa aliran manapun di india hanya pergi mengembara SETELAH LEWAT musim Vassa: (Juli - Nov). Di setelah bulan baru, yaitu bulan Khatika (November), Para umat yang areanya mendapatkan keberuntungan dijadikan tempat berdiam para petapa/Bhikkhu selama musim Vassa, di setelah berakhir massa Vassa tmereka berbondong-bondong memberikan 4 kebutuhan pokok bhikkhu. Peristiwa ini dlakukan selama bulan Khatika, yaitu 1 bulan. Nah setelah peristiwa ini, barulah Para petapa yang ingin mengembara melakukan perjalanannya.

    Tidak diketahui berapa lama sang Buddha dan rombongannya, di setelah masa vassa, berada di desa Beluva. Setelah itu, beliau berpindapata di Vesali dan kemudian menuju Cetiya Capala.

    Walaupun berapa lama beliau menetap di cetiya ini tidak diketahui, namun pastinya lebih dari seminggu, petunjuk ini kita temukan dalam Mahaparinibanna sutta:

      "36. Ananda, dalam waktu enam hari ini di cetiya Capala, si jahat Mara, mendekati aku, berdiri pada salah satu sisi, dan berkata kepadaku demikian:..".

    Kemudian setelahnya,
    perjalanan dilanjutkan ke Kutagara Sala di Mahavana, Tidak ada informasi di sutta yang menyampaikan berapa lama beliau menetap disana, yang diketahui adalah di tempat ini, Sang Buddha memberikan amanat terakhirnya serta pemberitahuan kepada para Bhikkhu bahwa 3 bulan kemudian beliau akan parinibanna.

      [..]"Ananda, marilah kita pergi ke Kutagara Sala di Mahavana."

      "Baiklah, bhante," jawab Ananda.

      NASEHAT YANG TERAKHIR
      49. Kemudian Sang Bhagava dengan diiringi oleh Ananda pergi ke Kutagara Sala, di Mahavana. Di sana beliau berkata kepada Ananda: "Ananda, sekarang pergilah dan himpunlah para bhikkhu yang tinggal di sekitar Vesali di ruang dhammasala."

      "Baiklah, bhante," jawab Ananda dan ia memanggil para bhikkhu yang berdiam di sekitar Vesali dan menghimpun mereka di ruangan Dhammasala. Kemudian, Sang Bhagava sambil berkata: "Bhante, bhikkhu Sangha telah berkumpul. Sekarang terserah kepada Sang Bhagava."

      50. Demikianlah Sang Bhagava memasuki ruangan Dhammasala dan duduk pada tempat yang telah disediakan, lalu beliau menasehati para bhikkhu demikian: "Kini, para bhikkhu, kami katakan kepada kalian bahwa dhamma ini merupakan pengetahuan yang langsung, yang telah kuajarkan kepada kalian semuanya. Seharusnya kalian mempelajari benar-benar, pelihara, kembangkan dan praktekkan, dengan berulang-ulang. Dengan demikian kehidupan yang suci akan terwujud, dan semoga dapat berlangsung lama demi kesejahteraan dan kebahagiaan umat manusia, demi welas asih pada dunia ini, untuk kebahagiaan semua, kemakmuran dan kesejahteraan para dewa dan manusia.

      Para bhikkhu apakah sesungguhnya dhamma yang telah kuajarkan? Pelajaran itu meliputi keempat usaha yang benar, keempat dasar kekuatan batin, kelima bakat batin, keenam kekuatan, ketujuh faktor penerangan sejati, dan jalan mulia berunsur delapan. Para bhikkhu, semua ini adalah dhamma yang merupakan pengetahuan yang langsung yang telah kuajarkan kepada kalian yang seharusnya dipelajari sebaik-baiknya, dipelihara, dikembangkan, dan diamalkan berulang kali. Dengan demikian kehidupan suci itu akan dapat diwujudkan dan semoga hal itu semua berlangsung lama demi kesejahteraan dan kebahagiaan umat manusia berdasarkan kasih sayang pada dunia ini, untuk kebaikan mahluk-mahluk dan kebahagiaan para dewa dan manusia.

      51. Lalu Sang Bhagava bersabda kepada para bhikkhu: "Para bhikkhu, demikianlah, aku nasehati kalian bahwa segala sesuatu adalah mengalami perubahan dan kehancuran. Oleh karena itu berjuanglah dengan sungguh-sungguh. Saatnya Sang Tathagata parinibbana. Tiga bulan lagi Sang Tathagata akan wafat.

      Setelah selesai mengucapkan kata-kata ini, Sang Sugata berkata lagi demikian : "Umurku kini telah mencapai puncaknya, jangka waktu hidupku sudah sampai. Perpisahan akan terjadi, aku akan pergi meninggalkan kalian, aku akan pergi sendiri. Tekunlah dengan sungguh-sungguh, para bhikkhu, dan hiduplah selalu dengan sadar. Jalankan kebajikan dan kehidupan yang suci. Dengan keteguhan hati yang tak tergoyangkan, jagalah pikiranmu. Barang siapa yang dapat menghayati dan mengamalkan Dhamma-Vinaya tak mengenal lelah akan dapat mengatasi lingkaran tumimbal lahir ini dan akan dapat mengakhiri semua penderitaan."

    Walaupun lama waktu sang Buddha menetap di tempat tersebut tidak diketahui, namun waktu pasti kejadian pemberian amanat terakhir dan pemberitahuan 3 bulan lagi parinibanna disampaikan jelas di sutta, yaitu terjadi di 3 bulan setelah musim Hujan.

      KECEMASAN HATI ANANDA
      7. "Dahulu tiga bulan sesudah musim hujan para bhikkhu datang mengunjungi Sang Tathagata. Hal itu sungguh sangat menguntungkan dan berguna dapat diterima dan berkenalan dengan para bhikkhu yang terhormat itu. Bhikkhu itu datang untuk mendengarkan amanat Sang Tathagata dan untuk mengunjungi Beliau. Tetapi kalau nanti Sang Bhagava mangkat, kami tak akan memperoleh manfaat dan kegembiraan serupa itu lagi."

    Tiga bulan setelah musim Hujan adalah bulan February, yaitu di bulan Magha!  Sehingga 3 bulan kemudian setelah bulan Magha jatuh pada bulan Vaisak!.

    Ini adalah hal yang menarik dan wajar mengingat di bulan Magha adalah peringatan Magha Puja, yaitu ketika puluhan tahun sebelumnya terdapat kejadian 1.250 orang bhikkhu arahat, yang ditahbishkan dengan ehi bhikkhu, semua memiliki abhinna, datang bersamaan, berkumpul di Rajagaha tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

    Setelah pemberitahuan amanat terakhir, beliau meninggalkan Vesali dan berdiam di Bagadagama

      Mahaparinibbana Sutta:
      "Ananda inilah yang terakhir kalinya Sang Tathagata meninjau Vesali. Marilah Ananda kita pergi ke Bhadagama."

      "Baiklah,bhante," jawab Ananda. Demikianlah Sang Bhagava bersama sejumlah bhikkhu berdiam di Bhadagama.".

    Tidak diketahui berapa lama beliau berdiam di Bhadagama, Mahaparinibbana Sutta hanya menyampaikan beliau cukup lama berada di tempat itu dan juga berdiam lama di beberapa tempat lainnya:

      5-6. Setelah Sang Bhagava cukup lama berada di Bhadagama, Beliau bersabda kepada Ananda: "Marilah Ananda, kita pergi ke Hattigama bersama-sama dengan para bhikkhu." Demikianlah Sang Bhagava lama berdiam di Hattigama. Beliau lalu pergi ke Ambagama, kemudian ke Jambagama. Di setiap tempat ini Sang Bhagava sering memberi nasehat kepada para bhikkhu: "Ini adalah kebajikan moral (sila), ini adalah meditasi (samadhi) dan ini adalah kebijaksanaan (panna). Besar sekali pahala dan kemajuan bila meditasi dikembangkan berdasarkan sila yang baik. Besar sekali pahala dan kemajuan bila kebijaksanaan dikembangkan berdasarkan meditasi (samadhi) yang baik. Batin yang dikembangkan berdasarkan pada kebijaksanaan yang baik akan bebas dari kotoran batin seperti nafsu indera (kamasava), nafsu untuk 'menjadi' (bhavasava) dan pandangan salah (ditthasava)."

      Setelah Sang Bhagava lama berdiam di Jambagama, beliau berkata kepada Ananda : "Ananda, marilah kita pergi ke Bhoganagara."

      "Baiklah, bhante," jawab Ananda. Demikianlah Sang Bhagava bersama sejumlah bhikkhu tinggal di cetiya Ananda, di Bhoganagara....13. Setelah Sang Bhagava lama berdiam di Bhoganagara, beliau berkata kepada Ananda : "Ananda, marilah kita pergi ke Pava."

      "Baiklah, bhante," jawab Ananda. Demikian Sang Bhagava tinggal di Pava bersama sejumlah besar bhikkhu dan tinggal di Ambavana milik Cunda, pandai besi.

    Demikianlah 6 bulan terakhir waktu pengembaraan Sang Buddha dan rombongannya yang dilakukan setelah musim Vassa dan hari terakhirnya beliau ada di Pava ditempat Cunda sebelum parinibanna di Kusinara.

    Juga,
    Ada cara lain untuk mengetahui bahwa peristiwa parinibanna terjadi BUKAN di pertengahan musim gugur atau dingin (Nov - Jan) namun di musim Panas, di antaranya di hari terakhirnya, beliau mandi 2x di sebuah sungai:

      Mahaparinibbana Sutta:
      DI TEPI SUNGAI KAKUTTHA
      39. Kemudian Sang Bhagava pergi ke sungai Kakuttha bersama dengan sekumpulan para bhikkhu. Setelah tiba di tepi sungai itu, Sang Bhagava mandi. Setelah Sang Bhagava mandi, Beliau pergi ke Ambavana. Di tempat ini Beliau berkata kepada Cundaka: "Cundaka tolonglah lipat jubah luarku, lipatlah dalam empat lipatan lalu letakkan di bawah tubuhku. Aku merasa lelah dan ingin beristirahat sebentar."..

      [..]

      41. Sang Buddha pergi ke sungai Kakuttha yang airnya jernih sejuk menyegarkan. Beliau mandi untuk menyegarkan badannya yang lelah. Sang Buddha yang dihormati dalam semua alam. Setelah selesai mandi dan minum, Sang Buddha lalu berjalan meliwati para bhikkhu yang kemudian mengiringnya.

    Kegiatan mandi 2x sangat wajar jika dilakukan di hari yang sangat panas di musim panas, bukan?

    Cara lainnya,
    Di hari terakhirnya tercatat seorang Bhikkhu mengipasi beliau

      Mahaparinibbana Sutta:
      DUKA CITA PARA DEWA
      4. Pada waktu itu Upavana sedang di hadapan Sang Bhagava, sambil mengipasi beliau. [..]

    Mengipasi seseorang adalah sangat wajar jika dilakukan di hari yang sangat panas, di musim panas, bukan?

    Cara lainnya,
    pada hari terakhirnya setelah dari Pava, yaitu dalam perjalananNya ke Kusinara, Ananda mengambil air di sungai yang dangkal yang baru saja diseberangi oleh 500 pedati. Dangkalnya sungai janggal sekali jika terjadi di musim gugur atau musim dingin atau bahkan di musim hujan namun jelas tidak janggal terjadi di musim panas.

      [..]'Marilah kita ke Kusinara,' kata beliau dengan penuh kesabaran."

      21. Kini, dalam perjalanan itu Sang Bhagava tidak melalui jalan raya dan kemudian berhenti di bawah sebatang pohon. Beliau bersabda kepada Ananda: "Lipatlah jubah luarku empat kali Ananda dan letakkan di bawahku. Aku sangat letih, aku mau beristirahat sebentar."

      "Baiklah, bhante," jawab Ananda dan melakukan apa yang diperintahkan oleh Sang Bhagava.

      22. Sang Buddha duduk pada tempat yang disediakan baginya dan bersabda kepada Ananda: "Ananda tolonglah bawakan aku sedikit air, aku haus dan ingin minum."

      Ananda menjawab: "Bhante, baru saja sejumlah lima ratus pedati telah menyeberangi sungai yang dangkal di bagian itu, dan roda-rodanya telah mengeruhkan air sungai ini. Sebaiknya kita pergi ke sungai Kakutha yang tidak jauh dari sini. Air sungai itu sangat jernih, sejuk dan bening. Sungai itu mudah dicapai dan letaknya sangat baik. Di sana bhante dapat menghilangkan rasa haus dan menyegarkan tubuh.

      23-24. Kemudian untuk kedua kalinya Sang Bhagava mengulangi permintaannya, tetapi Ananda menjawab seperti semula. Kemudian untuk ketiga kalinya Sang Bhagava bersabda: "Bawalah sedikit air, penuhi permintaanku Ananda, Aku amat haus dan ingin minum."

      Lalu Ananda menjawab demikian : "Baiklah, bhante."

      Ananda mengambil mangkok ke sungai itu. Air sungai yang dangkal yang telah dilalui oleh pedati-pedati sehingga airnya menjadi sangat keruh dan kotor. Tetapi sekonyong-konyong kotoran dalam air mengendap, air menjadi bening dan jernih. Dengan gembira Ananda lalu menghampirinya.

      25. Ananda berkata dalam hatinya : "Sungguh mengherankan dan luar biasa. Sebenarnya semua ini terjadi tidak lain karena kemuliaan dan kekuatan Sang Tathagata."

      Ananda lalu mengambil air itu dengan mangkok dan membawanya kepada Sang Bhagava sambil berkata: "Sungguh mengherankan dan luar biasa. Semuanya ini terjadi karena kekuatan dan kemuliaan Sang Tathagata. Air sungai yang dangkal itu yang telah dilalui oleh pedati-pedati, airnya menjadi keruh dan kotor. Tetapi ketika saya menghampirinya tiba-tiba kotorannya mengendap, menjadi bening dan sungguh menyenangkan. Bhante, silahkan minum." Sang Bhagava minum air itu. [Silahkan baca juga: Pesan terakhir dan wafatnya Krishna, Buddha, Yesus dan Muhammad, anda akan temukan bahwa April/Mei tidak bertolak belakang dengan sutta.]

    Kemudian,
    Sutta menginformasikan bahwa pohon sala ketika itu berbunga BUKAN di musimnya.
    Pohon sala (Shorea robusta) mulai berbunga di MUSIM HUJAN [Juli -November] (Paradox of leaf phenology: Shorea robusta is a semi-evergreen species in tropical dry deciduous forests in India, hal, 1822). Maka ketika pohon ini berbunga di musim panas (Maret - Juli) adalah jelas belum waktunya.

    Pohon Sala sering keliru di anggap sebagai cannonball tree [termasuk kelompok Couroupita guianensis. Sering disebut Shiva linga dan Naga lingam. Pohon canonball mulai berbunga pada pertengahan musim panas (May-Juli) - sebelum musim hujan [Juli-Agustus], namun juga dikatakan pohon ini berbunga hampir di sepanjang tahun]

      Demikianlah, Sang Bhagava bersama sejumlah besar bhikkhu menyeberang sungai, tiba di Hirannavati, pergi ke hutan Sala di daerah suku Malla, dekat Kusinara. Setelah tiba, Sang Bhagava berkata kepada Ananda: "Ananda, tolong sediakan tempat berbaring di antara pohon-pohon Sala kembar itu, saya ingin berbaring."

      "Baiklah, bhante," jawab Ananda.

      Ananda melaksanakan permintaan Sang Bhagava. Sang Bhagava membaring diri pada sisi kanan dengan sikap bagaikan singa, meletakkan salah satu kakinya pada kakinya yang lain. Dengan bersikap seperti ini, beliau tetap sadar dan waspada.

      Pada saat itu tiba-tiba dua pohon Sala kembar itu berbunga walaupun bukan pada musimnya untuk berbunga. Bunga-bunga itu jatuh bertaburan di atas tubuh Sang Tathagata, sebagai tanda penghormatan kepada beliau. Juga bunga surgawi serta serbuk cendana bertaburan dari angkasa ke tubuh Sang Bhagava. Bunga-bunga yang semerbak itu bertaburan di atas tubuh Sang Bhagava sebagai penghormatan kepada Sang Tathagata. Suara nyanyian surgawi serta suara musik surgawi dengan lagu sangat merdu terdengar di angkasa, juga sebagai penghormatan kepada Sang Tathagata.

      Kemudian Sang Bhagava berkata kepada Ananda: "Ananda, pohon Sala kembar ini berbunga semerbak, meskipun sekarang bukan musimnya berbunga. Bunga-bunga jatuh berhamburan di atas tubuh Sang Tathagata sebagai penghormatan kepada Sang Tathagata. Bunga surgawi serta serbuk cendana surgawi bertaburan dari angkasa ke tubuh Sang Bhagava sebagai penghormatan kepada Sang Tathagata. Suara nyanyian surgawi serta suara musik surgawi dengan lagu sangat merdu terdengar di angkasa, juga sebagai penghormatan kepada Sang Tathagata.

      Meskipun tidak mendapat penghormatan demikian, Sang Tathagata tetap dihormati, dimuliakan, dihargai, dipuja oleh semua orang dari semua tingkatan. Tetapi, siapa saja, apakah dia seorang bhikkhu, bhikkhuni, upasaka atau upasika yang berpegang pada Dhamma, hidup sesuai dengan Dhamma, berkelakuan baik sesuai dengan Dhamma, oleh mereka itu Sang Tathagata dihormati, dimuliakan, dihargai dan dipuja.

      Ananda, oleh karena itu, berpeganglah pada Dhamma, hidup sesuai dengan Dhamma dan berkelakuan baik sesuai dengan Dhamma. Demikianlah caranya kamu melatih diri."

    Karena musim berbunga pohon sala mulai di musim hujan (Vassa), maka ketika pohon sala itu berbunga di bulan Vesak (musim panas baru kemudian musim hujan) maka belum musimnya pohon itu berbunga, bukan?

    Demikian beberapa petunjuk YANG SEHARUSNYA SANGAT  JELAS dikenali sang penulis yang juga pernah menjadi bhikkhu puluhan tahun dan juga akademisi. Namun tampaknya beliau ini tidak menguasai Dhamma yang seharusnya lebih ditekuninya sebagai bhikkhu daripada sibuk di pengetahuan-pengetahuan lain yang biasa dilakukan para umat awam lainnya.
Bagaimanapun juga, musim gugur dan musim dingin adalah musim yang tidak cocok untuk pertumbuhan jamur, yang menurut beberapa sarjana dipercaya sebagai sumber racun yang dimakan Sang Buddha selama memakan makanan terakhirNya.

Diagnosa

Sutta menceritakan kepada kita bahwa Sang Buddha jatuh sakit dengan seketika setelah menyantap sukaramaddava. Karena kita tidak mengetahui segalanya tentang sifat dasar makanan ini, menjadi sukar bagi kita untuk mengatakannya sebagai penyebab langsung dari penyakit Sang Buddha. Tetapi dari uraian yang diberikan, diketahui bahwa serangan penyakit tersebut berlangsung cepat.
    Note:
    Di atas telah kita bahas bahwa kejadian itu adalah HARI TERAKHIR di 3 bulan yang telah di TEKADKAN beliau sebelumnya, jadi wajar saja jika kesehatannya menurun dengan cepat di hari terakhir tersebut.
Ketika menyantap, Sang Buddha merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan makanan itu dan ia menyarankan penjamuNya untuk menguburkan makanan tersebut.
    Note:
    Kalimat ini sangat tendensius dan menyesatkan, karena di sutta lainnya, yang disampaikan di tahun ke-11 kebuddhaan (dari 45 tahun beliau menjadi Buddha) yaitu Sn 1.4/KASIBHARADVAJA SUTTA, telah disampaikan bagaimana perlakuan makanan yang tidak dimakan oleh Buddha. juga di Sagatha-Vagga 7.1.9, yaitu makanan yang telah didanakan khusus kepada seorang Samma Sambuddha, tidak dapat dimakan oleh mahluk lain. Para deva juga berpartisipasi pada dana makanan dengan memberikan nutrisi- tambahan.

    Kalimat "ada yang tidak beres dengan makanan itu" menggiring opini pembaca pada sesuatu yang berkonotasi racun.

      "Sesudah itu Sang Bhagava berkata kepada Cunda: "Cunda, sisa-sisa sūkara-maddava yang masih tertinggal, tanamkanlah dalam sebuah lobang, karena kami lihat di dunia ini di antara para dewa, Mara, Brahmana, para samana atau Brahma, atau pun manusia, tidak ada seorang pun yang sanggup memakannya atau mencernakannya, kecuali Sang Tathagata sendiri."

    Kemudian,
    Mahluk seperti MARA, BRAHMA, dan DEVA jelas tidak mempunyai rupa penceranaan. maka jika benar "ada sesuatu pada makanan itu" yang dekat dengan konotasi kata "racun", maka tentunya hal itupun tidak juga dapat dicerna mereka dan juga tidak dapat menyakiti mahluk-mahluk seperti itu.

    Alasan berikutnya,
    Jika benar ini beracun, maka tentunya Cunda diketahui telah melakukan GARUKA KAMMA [atau karma paling berat] yang berakibat di setelah meninggal akan muncul di alam neraka. Salah satu  Garuka Kamma diantaranya adalah membunuh Buddha, Orang tua, orang suci. Namun jelas tidak, karena sang Buddha sendiri menyampaikan di sutta seperti ini:

      MENGHILANGKAN PENYESALAN CUNDA
      42. Kemudian Sang Bhagava berkata kepada Ananda: "Ananda, kemungkinan ada orang akan menyesali dan menyalahkan Cunda, pandai besi, dengan berkata: "Sungguh sial kau Cunda, karena perbuatan kamu, Sang Tathagata telah makan santapan untuk terakhir kalinya." Dalam hubungan ini Ananda, tuduhan terhadap Cunda itu dapatlah dijelaskan sebagai berikut: "Suatu rahmat bagimu, Cunda dan ini benar-benar suatu berkah, bahwasanya karena kamulah Sang Tathagata memperoleh makanan sebagai dana yang terakhir dan setelah itu Beliau mangkat. Hal ini saudara, aku telah mendengar sendiri, langsung dari Sang Bhagava yang menyatakan: "Ada dua macam makanan, yang mempunyai pahala, yang mempunyai nilai kebaikan yang sama, yang melebihi nilai dari semua dana makanan yang lainnya.

      Dana manakah itu?

      Dana yang pertama adalah dana makanan yang pertama kalinya di makan oleh Sang Tathagata, setelah beliau mencapai penerangan sejati, dana ini tiada bandingannya.

      Dana yang kedua ialah dana makanan terakhir yang dimakan oleh Sang Tathagata sebelum beliau parinibbana, di mana semua unsur-unsur ikatan tidak akan timbul lagi. Maka perbuatan yang telah dilakukan saudara Cunda adalah berkah yang mengakibatkan panjang umur, rupawan, kesejahteraan, kemuliaan, akan lahir di alam sorga dan mendapat kedudukan yang tinggi." Demikianlah Ananda, kau jelaskan tentang diri Cunda pandai besi itu.

      43. Sang Bhagava, karena mengerti masalah tersebut, lalu mengucapkan syair dengan hidmat:

      Orang yang memberi kebajikannya berkahnya akan bertambah;
      Orang yang dapat mengendalikan diri, tidak akan membenci;
      Orang yang tekun dalam kebajikan terhindar dari kejahatan;
      Dengan membuang nafsu dan kebencian serta khayalan;
      Maka ia akan mencapai ketenangan.

    Jelas dan terang benderang, bahwa Buddha tahu pasti bahwa makanan itu 100% BERES!
Segera setelah itu, Sang Buddha menderita sakit perut yang parah dan mengeluarkan darah dari rektumNya.
    Note:
    Tidak ada satupun kalimat di sutta yang menyatakan bahwa Sang Buddha mengeluarkan darah dari rektumNya ataupun juga ada indikasi BAB. Bahkan sutta menyatakan letak sakitnya pada kata Pakkha artinya: pectus (bagian dari batang tubuh manusia antara leher dan diaphragma/abdomen) disebutkan memerah (lohitapakkhandika) dan bagian ini yang sakit terus-menerus. Sang Penulis ini sudah melebih-lebihkan dari yang ia ketahui dan memaksakan imajinasinya
Apakah makanan yang beracun sebagai penyebab dari penyakit itu? Sepertinya tidak demikian. Gejala-gejala yang diuraikan tidak mengindikasikan keracunan makanan, yang bisa sangat akut, tetapi dapat dipastikan menyebabkan diare dengan darah. Umumnya, makanan beracun disebabkan oleh bakteri yang tidak segera membelah diri, tetapi mengalami suatu masa inkubasi selama dua sampai 12 jam untuk membelah diri, umumnya disertai dengan diare dan muntah-muntah yang akut, bukan dengan pendarahan.
    Note:
    Sutta menyampaikan di setelah makan, Sang Buddha sudah mengalami sakit. Jadi spekulasi masa Inkubasi bisa di abaikan.
Kemungkinan yang lain adalah bahan kimia beracun, yang juga memiliki efek cepat, tetapi bukanlah hal yang biasa bagi bahan kimia beracun menjadi penyebab pendarahan usus yang sangat parah. Makanan yang beracun dengan pendarahan usus langsung hanya bisa disebabkan oleh bahan kimia yang bersifat menghancurkan (korosif) seperti asam cuka yang keras, yang dapat dengan mudah menimbulkan penyakit seketika. Tetapi bahan kimia yang bersifat menghancurkan tersebut sudah pasti akan menyebabkan pendarahan pada usus bagian atas, yang menimbulkan muntah darah. Tidak satupun tanda-tanda parah tersebut disebutkan dalam teks.
    Note:
    Suttapun TIDAK menginformasikan bahwa Sang Buddha muntah-muntah setelah makan. Jadi spekulasi itu dapat kita kesampingkan.
Penyakit-penyakit radang dinding lambung juga dapat diabaikan dari daftar penyakit tersebut. Kendati faktanya bahwa penyakit ini menyerang dengan cepat, penyakit ini jarang diikuti oleh kotoran (feces) berdarah. Radang lambung dengan pendarahan usus menghasilkan kotoran berwarna hitam ketika radang menembus suatu pembuluh darah. Tukak pada saluran pencernaan yang lebih atas akan lebih memungkinkan mengakibatkan muntah darah, bukan pendarahan melalui rektum.

Bukti lain yang menyangkal kemungkinan ini adalah seorang pasien dengan radang lambung yang besar pada umumnya tidak mempunyai selera makan. Dengan menerima undangan untuk makan siang bersama sang penjamu, kita dapat berasumsi bahwa Sang Buddha merasa sesehat yang dirasakan orang manapun yang berada di awal usia 80nya. Dengan usiaNya yang demikian, kita tidak bisa mengesampingkan kemungkinan bahwa Sang Buddha tidak mempunyai suatu penyakit kronis, seperti TBC atau kanker atau suatu infeksi/peradangan tropis seperti penyakit tipus atau disentri, yang sangat lazim di jamanNya. Penyakit-penyakit ini bisa mengakibatkan pendarahan usus bawah, tergantung pada letaknya.

    Note:
    Menerima undangan makan sama sekali tidak berhubungan dengan selera makan. Hal ini seharusnya diketahui oleh penulis yang pernah menjadi seorang Bhikkhu. Menerima dana makanan dan memakannya adalah dua hal berbeda. Menerima dana makanan, salah satu faktornya adalah untuk kesejahteraan pemberi derma, sementara makan berhubungan dengan kebutuhan tubuh, berhubungan dengan kebutuhan penunjang kehidupan.
Penyakit-penyakit ini juga sesuai dengan sejarah dari penyakit awal Sang Buddha sepanjang masa vassa (retreat musim hujan).Tetapi penyakit-penyakit ini dapat dikesampingkan,karena pada umumnya penyakit-penyakit ini diikuti oleh gejala lain, seperti kelesuan, hilangnya selera makan, penurunan berat badan, busung atau buncit pada perut bagian bawah (abdomen). Tidak satupun gejala tersebut di sebutkan dalam sutta.
    Note:
    Sayang sekali tidak ada catatan sutta yang menyatakan adanya pendarahan usus akut selama hidup sang Buddha. Malah selama masa Vassa walaupun sakit luarbiasa yang diderita sang Buddha, sama sekali tidak menyinggung adanya pendarahan usus, jadi selebihnya jelas merupakan imaginasi untuk kepentingan spekulatif penulis
Wasir besar dapat menyebabkan pendarahan parah pada daerah pembuangan, tetapi sepertinya wasir mustahil dapat menyebabkan sakit yang sangat parah pada perut bagian bawah (abdomen) kecuali jika tersumbat. Tetapi hal itu akan sangat mengganggu perjalanan Sang Buddha ke rumah penjamuNya, dan jarang sekali pendarahan wasir disebabkan oleh makanan.

Mesenteric infarction
Penyakit yang sesuai dengan gejala-gejala yang yang telah dideskripsikan, yang disertai rasa sakit hebat pada perut bagian bawah (abdominal) dan mencret darah, umumnya ditemukan pada orang-orang usia lanjut, dan dipicu oleh makanan adalah mesenteric infarction (terganggunya jaringan pembuluh darah sekitar usus), yang disebabkan oleh tersumbatnya pembuluh darah di mesentery. Hal ini sangat mematikan. Ischaemia Mesenteric akut (berkurangnya suplai darah ke mesentery) adalah suatu kondisi yang parah dengan resiko kematian yang tinggi.

    Note:
    Entah darimana asalmuasal dugaan sang "ahli medis" ini. Karena tidak ada tercatat adanya penderitaan bagian bawah perut dan bahkan mencret darah. Gangguan sakit yang dirasakan adalah di area antara leher dan atas perut dan tanpa mencret darah. 
Mesentery adalah bagian dari dinding usus yang mengikat keseluruhan bidang usus sampai rongga abdominal. Terhambatnya suplai darah di sekitar usus biasanya menyebabkan kematian pada jaringan tisu di bagian besar dari saluran usus bagian akhir (intestinal tract), yang akan mengakibatkan luka sayatan pada dinding saluran usus bagian akhir.

Secara normal hal ini menghasilkan sakit yang teramat sangat pada perut bagian atas (abdomen) dan mencret darah. Pasien pada umumnya meninggal karena kekurangan darah yang sangat parah. Kondisi ini sesuai dengan informasi yang diberikan dalam sutta.

    Note:
    MahaParinibanna sutta, sama sekali tidak memberikan informasi adanya mencret darah (yang seharusnya muncul pada mysentery ishemik), Lokasi nyeri disampaikan sutta dengan sangat jelas yaitu di bagian antara leher dan diaphragma/abdomen (pakkha) dan dibagian tersebut dikatakan memerah (lohita) dan dirasakan teramat sakit yang terus menerus. 
Hal ini juga dikuatkan kemudiannya ketika Sang Buddha meminta Ananda untuk mengambil sedikit air untukNya untuk diminum, yang menandakan Beliau sangat haus. Seperti yang dikisahkan, Ananda menolak, karena Ananda tidak menemukan sumber air bersih. Ananda berargumen dengan Sang Buddha bahwa aliran sungai yang terdekat telah dikeruhkan oleh rombongan kereta besar. Tetapi Sang Buddha meminta Ananda dengan tegas untuk mengambil air bagaimanapun juga. Sebuah pertanyaan muncul pada poin ini: Mengapa Sang Buddha tidak pergi sendiri saja ke sumber air, daripada mendesak Ananda yang enggan untuk melakukannya? Jawabannya sederhana. Sang Buddha sedang menderita shock yang disebabkan oleh kehilangan banyak darah. Beliau tidak mampu berjalan lagi, dan dari saat itu sampai ke tempat peristirahatan terakhirNya Beliau hampir dapat dipastikan berada dalam tandu.
    Note:
    Jarak Dari Pava - Kusinara adalah 3 gavuta (15 km/9.3 Mil). Seorang sehat dapat berjalan 3.6km/jam, namun di kondisi sakit seharusnya tidak secepat itu dan akan lebih mudah lelah sehingga wajar saja dalam perjalanan 15 km memerlukan istirahat.

      21. Kini, dalam perjalanan itu Sang Bhagava tidak melalui jalan raya dan kemudian berhenti di bawah sebatang pohon. Beliau bersabda kepada Ananda: "Lipatlah jubah luarku empat kali Ananda dan letakkan di bawahku. Aku sangat letih, aku mau beristirahat sebentar."

      "Baiklah, bhante," jawab Ananda dan melakukan apa yang diperintahkan oleh Sang Bhagava.

    Di tandu? Bagaimana mungkin perjalanan 15 km yang menyatakan keletihan adalah orang yang di tandu bukan yang menggotong tandu ? :)

    Kehausan sebagai bagian dari penyakit? Bukankah sangat janggal rombongan yang bepergian tanpa berbekal air minum? Bukankah sangat janggal, jika beliau tau sakitnya karena makanan dan masih mau minum air "keruh" di sana?

    Sang Buddha bisa berhenti dimana saja diantara perjalanan Pava-Kusinara, namun ia memilih berhenti di sana dan tidak di area sungai kakhuta seperti saran Ananda.

      22. Sang Buddha duduk pada tempat yang disediakan baginya dan bersabda kepada Ananda: "Ananda tolonglah bawakan aku sedikit air, aku haus dan ingin minum." Ananda menjawab: "Bhante, baru saja sejumlah lima ratus pedati telah menyeberangi sungai yang dangkal di bagian itu, dan roda-rodanya telah mengeruhkan air sungai ini. Sebaiknya kita pergi ke sungai Kakutha yang tidak jauh dari sini. Air sungai itu sangat jernih, sejuk dan bening. Sungai itu mudah dicapai dan letaknya sangat baik. Di sana bhante dapat menghilangkan rasa haus dan menyegarkan tubuh.

    Walaupun 2 kali Ananda menyarankan, Sang Buddha tetap saja menyampaikan hal yang sama

    Mengapa?

    Ini karena bagian penting di saat itu adalah lewatnya Pukussa dari desa Mala bersama rombongan dan akibat dari ini mereka berkesempatan mendengarkan Dhamma. Pada beberapa Sutta, dinyatakan, selalu ada alasan mengapa Buddha melakukan sesuatu dan berkunjung ke suatu tempat, yaitu membabarkan Dhamma kepada mereka yang mempunyai telah siap menerimannya
    Alasan kehilangan banyak darah adalah spekulatif. Alasan yang disampaikan disuta sangatlah sederhana beliau sedang kelelahan sebagaimana disebutkan di bagian terdahulu. Namun, jika dikatakan tidak mampu berjalan lagi dan perlu di tandu, maka sang penulis telah keliru. Setelah kepergian Pukussa, mereka meneruskan perjalanan hingga sampai disungai kakhuta dan tercatat 2x sang Buddha turun ke sungai untuk mandi.

      41. Sang Buddha pergi ke sungai Kakuttha yang airnya jernih sejuk menyegarkan. Beliau mandi untuk menyegarkan badannya yang lelah. Sang Buddha yang dihormati dalam semua alam. Setelah selesai mandi dan minum, Sang Buddha lalu berjalan meliwati para bhikkhu yang kemudian mengiringnya. Sang Guru Jagat kemudian pergi ke Ambavana untuk membicarakan dhamma.
Jika situasinya memang demikian, sutta tidak mengisahkan tentang perjalanan Sang Buddha ke peristirahatan terakhirnya, kemungkinannya karena si penulis merasa bahwa hal itu akan memalukan Sang Buddha. Secara geografis, kita mengetahui bahwa jarak antara tempat yang di percaya sebagai rumah Cunda dengan tempat dimana Sang Buddha mangkat adalah sekitar 15 sampai 20 kilometer. Tidaklah mungkin bagi seorang pasien penderita penyakit yang mematikan seperti itu untuk berjalan kaki dengan jarak seperti itu.

Lebih memungkinkan, apa yang terjadi adalah Sang Buddha dibawa dalam sebuah tandu oleh sekelompok bhikkhu ke Kusinara (Kushinagara).

    Note:
    Memalukan? Perasaan bhikkhu jaman sekarang, yang ternyata pada akhirnya lepas jubah, kalah dalam menjalankan Dhamma dan vinaya apakah masih pantas? Sang penulis bahkan tidak punya kepantasan menilai integritas seorang Buddha.

    Tidak ada petunjuk apapun tentang Sang Buddha naik tandu ke Kusinara, kecuali fakta yang terulis bahwa ia menolak disuguhi kereta oleh Ayahnya, ketika ia mengunjungi kapilavastu, Ia selalu berjalan kemanapun, Ia berjalan kaki menuju Kusinara, dan Parinibanna Sutta juga mencatat bahwa ia berjalan menuju sungai, mandi, naik kesungai, menuju keperistirahatannya di ambavana. Ini adalah bukti bahwa keadaan 'berjalan kaki' tidak cocok dengan spekulasi penulis bahwa Buddha perlu memakai tandu.

    Alasan tandu dari penulis ini mengada-ada, jika memang beliau di tandu lantas mengapa perlu beristirahat lagi jika hanya berjalan sejauh 15 km? adalah janggal seorang bhikkhu yang bepergian jauh sampe tidak membawa tempat minum :)
Yang menjadi point perdebatan adalah apakah Sang Buddha benar-benar bertekad untuk mangkat di kota ini (Kusinara), mengingat bahwa kota ini diperkirakan tidak lebih besar dari dari sebuah kota kecil. Dari arah perjalanan Sang Buddha yang diberikan dalam sutta, Beliau menuju ke utara dari Rajagaha. Ada kemungkinan Beliau tidak berniat untuk mangkat di sana, tetapi di kota tempat kelahiranNya dimana membutuhkan waktu tiga bulan untuk sampai ke sana.

Dari sutta, sudah jelas bahwa Sang Buddha tidak mengantisipasi penyakit mendadakNya, jika tidak, Beliau tidak akan menerima undangan penjamuNya. Kusinara mungkin merupakan kota yang terdekat dimana Beliau bisa menemukan seorang dokter untuk merawat diriNya. Tidaklah sukar untuk membayangkan sekelompok bhikkhu dengan terburu-buru membawa Sang Buddha di atas sebuah tandu menuju ke kota yang terdekat untuk menyelamatkan hidupNya.
    Note:
    Parinibanna sutta, telah menyampaikan alasan mengapa beliau sakit dan juga alasan beliau perlu menetapkan secara terbuka kapan beliau wafat dan menyampaikan pengumuman secara terbuka bahwa beliau akan mangkat 3 Bulan lagi dihadapan para Bikkhu maupun kepada Mara. Jadi kalimat penulis yang mengatakan’ tidak mengantisipasi’ jelas hanya spekulatif belaka.

    Parinibanna sutta, telah menyampaikan mengapa kebesaran kusinara di jaman lampau. Namun ada hal penting lain mengapa harus di Kusinara.

      23. Ketika itu seorang petapa pengembara bernama Subhadda sedang berdiam di Kusinara. Subhadda, petapa yang pengembara itu mendengar kabar : "Hari ini, pada jam ketiga pada malam ini, Parinibbana Sang Gautama akan terjadi." Karena itu timbullah pikirannya: "Aku pernah mendengar dari para petapa yang tua-tua dan mulia, dari para guru, bahwa munculnya para Tathagata Arahat Samma Sambuddha, adalah kejadian yang jarang sekali di dunia. Pada hari ini, pada jam-jam terakhir malam ini juga Parinibbana Sang Gautama akan terjadi. Kini pada diriku ada suatu keragu-raguan dan dalam hal ini aku mempunyai kepercayaan pada petapa Gautama itu, ia akan dapat mengajarkan Dhamma kepadaku untuk menghilangkan keraguan-raguanku."

    Ya. Karena Subhadda saat itu ada di Kusinara. Inilah alasan terpenting, karena Beliaulah maka Sang Buddha perlu ke Kusinara dan menunggu 3 bulan lamanya agar dapat menghantarkan Subhada memotong kelahiran kembali.

    Terus-terang kalimat-kalimat penulis ini malah mengundang banyak tanda tanya, Jika benarkah penulis ini seorang bhikkhu yang baik, namun mengapa pengetahuannya mengenai mahaparinibanna sutta sangat mengecewakan? atau benarkah ia tamat membaca parinibanna sutta?
Sebelum mangkat, Sang Buddha menjelaskan kepada Ananda untuk tidak menyalahkan Cunda atas kemangkatanNya dan Beliau mangkat bukan disebabkan memakan Sukaramaddava. Pernyataan ini sangat penting. Makanan tersebut bukanlah penyebab secara langsung atas kemangkatanNya. Sang Buddha mengetahui bahwa gejala penyakit yang muncul merupakan gejala yang pernah Beliau alami beberapa bulan lebih awal, yang telah hampir membunuhNya.

Sukaramaddava, apapun bahannya ataupun cara memasaknya, bukanlah penyebab langsung dari penyakit mendadakNya.


Tahapan perkembangan penyakit

Mesenteric infarction adalah suatu penyakit yang biasanya ditemukan di antara orang lanjut usia, disebabkan oleh penyumbatan pada pembuluh darah utama yang menyuplai bagian tengah dinding saluran usus kecil bagian akhir dengan darah. Penyebab yang paling umum dari penyumbatan ini adalah melemahnya dinding pembuluh darah (vessel), pembuluh darah besar mesenteric, yang menyebabkan sakit yang teramat sangat pada perut bagian atas (abdomen), yang juga dikenal sebagai abdominal angina (keram perut).

Secara normal, rasa sakit dipicu oleh makanan yang berat (besar), yang memerlukan aliran darah lebih tinggi ke saluran pencernaan. Ketika penyumbatan terjadi, saluran usus kecil kehilangan persediaan darah nya, yang kemudian terjadi hambatan suplai darah, atau mati rasa setempat (gangrene), pada bagian saluran usus akhir (intestinal tract). Hal ini pada gilirannya mengakibatkan luka sayatan pada dinding saluran usus akhir, pendarahan yang sangat dalam pada saluran usus akhir, dan kemudian diare berdarah.

Penyakit menjadi tambah parah ketika cairan dan isi usus mengalir ke luar melalui rongga peritoneal, sehingga menyebabkan radang selaput perut atau radang dinding abdominal.

Ini sudah merupakan kondisi yang mematikan bagi si pasien, yang sering kali meninggal karena kehilangan darah dan cairan tubuh lainnya. Jika tidak diperbaikan dengan pembedahan, penyakit ini sering berkembang menjadi septic shock karena masuknya racun-racun bakteri ke dalam aliran darah.



Analisa Retrospektif (kebelakang)

Dari hasil diagnosa tersebut di atas, kita dapat lebih memastikan bahwa Sang Buddha menderita mesenteric infarction yang disebabkan oleh penyumbatan pada superior mesenteric artery. Inilah penyebab rasa sakit yang hampir saja merenggut ajal Beliau beberapa bulan lalu saat vassa (retret) musim hujan terakhirNya.
    Note:
    Mengerikan sekali cara penulis yang juga dokter ini dalam melakukan diagnosa yaitu hanya dari membaca sutta (yang itupun terbukti dalam beberapa tulisan tidak akurat dalam membaca), bahkan tanpa bertemu langsung dan tanpa hasil tes lab.

    Cilakanya lagi,
    sutta sendiri tidak menyampaikan nama penyakit dan lokasi penyakitnya yang di alami beliau di massa vassa. Hanya di Pava, di hari wafatnya beliau, sutta, menyampaikan dengan jelas letak nyeri yang di alami sang Buddha yaitu di pakkha (pectus, atau area antara leher dan abdominal) memerah (lohitapakhandika) tanpa adanya muntah-muntah dan/atau tanpa adanya mencret darah.
Dengan berkembangnya penyakit itu, sebagian dari selaput lender usus Beliau terkelupas, dan di sinilah yang menjadi menjadi asal muasal pendarahan tersebut. Arteriosclerosis, pengerasan dinding pembuluh darah akibat penuaan, merupakan penyebab dari tersumbatnya pembuluh darah, penyumbatan kecil yang tidak akan mengakibatkan diare berdarah, tapi merupakan gejala, yang juga kita kenal sebagai abdominal angina (keram perut).

Beliau mendapat serangan kedua ketika sedangan makan Sukaramaddava. Pada awalnya rasa sakit itu tidak begitu hebat, tapi membuat Beliau merasa ada yang sesuatu yang tidak beres. Mempertanyakan akan makanan itu, Beliau lalu meminta tuan rumah untuk menguburkan makanan itu sehingga yang lain tidak akan menderita karenanya.

    Note:
    Di Parinibanna sutta, tidak pernah beliau mempertanyakan makanannya itu. Bahkan beberapa sutta, misal di Sn 1.4/KASIBHARADVAJA SUTTA dan di Sagatha-Vagga 7.1.9, menyampaikan dengan jelas alasannya mengapa makanan yang telah didanakan khusus kepada seorang Samma Sambuddha, tidak dapat dimakan oleh mahluk lain. dan bagaimana penanganan jika tersisa yaitu dengan cara menguburnya di tempat tertentu. Jadi lagi-lagi diagnosa sang penulis tidak tepat. 
Segera, Sang Buddha menyadari bahwa penyakit itu serius, dengan adanya mencret darah yang disertai rasa sakit yang hebat pada bagian perut. Karena kehilangan banyak darah, Beliau mengalami shock. Tingkat dehidrasi atau kehilangan cairan darah sudah sedemikian parah sehingga Beliau tidak sanggup lagi mempertahankan diri dan harus berteduh di sebuah pohon di sekitar situ. Merasa sangat haus dan kelelahan, Beliau meminta Ananda untuk pergi mengambilkan air untuk diminumNya, walaupun Beliau mengetahui bahwa airnya keruh.
    Note:
    Sekali lagi, demonstrasi potongan syair di sutta sebelumnya TIDAK ADA menyatakan Sang Buddha mengalami mencret darah, jadi ini adalah imaginasi sepihak sang penulis. Alasan Buddha berteduh telah disebutkan di atas, yaitu keletihan dan terutama karena menunggu Pukkussa dari suku Mala lewat. Malah sangat lucu sekali jika seseorang yang sedang menderita sakit perut namun masih minum air yang keruh, bukan?! dan tidak ada 1 pun diantara rombongan membawa air minum untuk jarak hanya 15 km saja :)
Di sanalah Beliau pingsan sehingga rombongan pengiring Nya membawa Beliau ke kota terdekat, Kusinara, dimana ada peluang untuk menemukan dokter atau penginapan untuk memulihkan diriNya.
    Note:
    Pingsan? Parinibanna sutta tidak menyebutkan beliau pingsan, beliau malahan menyempatkan diri membabarkan Dhamma pada rombongan Pukkusa dari Malla, memberikan wejangan agar tidak menyalahkan Cunda, pemilihan kota kusinara juga disebutkan di Parinibbana sutta karena sejarah kota itu dimasa silam dan juga karena subhadda yang kammanya masak dan siap menerima pengajaran sedang ada di Kusinara.
Mungkin benar Sang Buddha menjadi lebih baik setelah minum untuk menggantikan cairan tubuhNya yang hilang, dan beristirahat di atas tandu. Pengalaman dengan gejala-gejala yang sama memberitahukan Beliau bahwa penyakitNya yang tiba-tiba itu adalah serangan kedua dari penyakit yang sudah ada. Beliau memberitahukan Ananda bahwa bukan makanan itu sebagai penyebab penyakitNya, dan Cunda jangan di salahkan
    Note:
    Di atas tandu? Tidak ada statement sutta berkenaan dengan imaginasi penulis tentang ini, dan bagaimana mungkin perjalanan 15 km tapi malah yang di tandu, yang kelelahan? bagaimana mungkin rombongan yang "membawa orang sedang sakit parah sampai tidak membawa air selama perjalanan? dan bagaimana mungkin seseorang dianggap sakit karena makanan, malah minum sembarangan air?  
Pasien yang mengalami shock, dehidrasi, dan kehilangan banyak darah biasanya merasa sangat dingin. Inilah sebabnya Beliau meminta pengiringNya untuk menyiapkan pembaringan yang dialasi dengan empat lembar Sanghati. Sesuai dengan disiplin monastic Buddhist (Vinaya), Sanghati adalah selembar kain panjang atau sprei, yang diijinkan oleh Sang Buddha untuk dipakai oleh para bhikkhu dan bhikkhuni pada musim dingin. Informasi ini mencerminkan betapa Sang Buddha merasa dingin karena kehilangan darahNya. Secara klinis, tidaklah memungkinkan bagi pasien yang sedang dalam keadaan shock dengan rasa sakit yang hebat di bagian perut, kemungkinan besar mengalami peritonitis atau peradangan pada dinding perut, pucat, dan sedang menggigil kedinginan, untuk bisa berjalan.
    Note:
    Informasi di atas menyesatkan, Buddha tidak menyatakan agar pembaringannya dialasi dengan ‘empat lembar sanghati’ namun Beliau meminta agar jubah luarnya ‘di lipat menjadi EMPAT LIPATAN’.

      Mahaparinibbana Sutta:
      DI TEPI SUNGAI KAKUTTHA
      39. Kemudian Sang Bhagava pergi ke sungai Kakuttha bersama dengan sekumpulan para bhikkhu. Setelah tiba di tepi sungai itu, Sang Bhagava mandi. Setelah Sang Bhagava mandi, Beliau pergi ke Ambavana. Di tempat ini Beliau berkata kepada Cundaka: "Cundaka tolonglah lipat jubah luarku, lipatlah dalam empat lipatan lalu letakkan di bawah tubuhku. Aku merasa lelah dan ingin beristirahat sebentar."

      "Baiklah, bhante." Cundaka pun melipat jubah itu dalam empat kali lipatan dan meletakkannya di bawah tubuh Sang Buddha.

      40. Sang Bhagava membaringkan tubuhnya pada sisi kanannya, dengan sikap seperti singa, dan meletakkan salah satu kakinya di atas kakinya yang satu lagi, dengan sikap demikian Beliau selalu tetap sadar, penuh perhatian dan setiap saat dapat bangun dengan mudah. Cundaka menempatkan dirinya di depan Sang Bhagava.

      41. Sang Buddha pergi ke sungai Kakuttha yang airnya jernih sejuk menyegarkan. Beliau mandi untuk menyegarkan badannya yang lelah. Sang Buddha yang dihormati dalam semua alam. Setelah selesai mandi dan minum, Sang Buddha lalu berjalan meliwati para bhikkhu yang kemudian mengiringnya. Sang Guru Jagat kemudian pergi ke Ambavana untuk membicarakan dhamma. Di sana Beliau berkata kepada Cundaka, tolonglah lipat jubah luarku dalam empat lipatan, kemudian letakkan di bawah tubuhku.

      Dengan segera Cundaka mengerjakannya dengan rapi. Sesuai dengan permintaan Sang Bhagava. Setelah itu Sang Bhagava berbaring di atas alas itu. Sedangkan Cundaka duduk di hadapannya.

    Penulis ini ternyata juga melupakan dengan spekulasi yang dibuatnya sendiri. Sebelumnya ia menyatakan bahwa Buddha, pingsan dan tidak mampu berjalan hingga harus di tandu, sekarang ia gunakan alasan dingin untuk ‘bisa berjalan’. Kalau Penulis lebih teliti lagi, di mahaparinibanna Sutta disebutkan dengan jelas bahwa Sang Buddha berjalan kaki dari hutan kecil [ambavana] turun ke sungai, mandi dan kembali ke ambavana. Disamping itu, setelah mandi, tentunya anda merasa lebih segar lagi dan rasa dingin tidak terasa di tubuh bukan sebaliknya. Bagaimana mungkin seorang yang sedang kedinginan dan "di musim dingin" perlu mandi 2x?  Lebih dari wajar jika ini dilakukan di musim panas, bukan?!
Kemungkinan terbesar Sang Buddha diistirahatkan di sebuah penginapan yang terletak di kota Kusinara, di mana Beliau dirawat dan diberi kehangatan. Pandangan ini juga sesuai dengan deskripsi tentang Ananda yang menangis, tidak sadarkan diri, dan berpegangan pada pintu penginapan setelah tahu Sang Buddha akan segera wafat.
    Note:
    Saat Buddha beristirahat, Ia meminta Cundaka melipat jubah luarnya menjadi 4 lipatan, letaknya di pinggiran sungai yang ada hutan kecil [Ambavana], jadi lokasi ini jelas bukan penginapan. Sebelum beristirahat dan sesudah beristirahat ia turun kesungai untuk mandi, jadi tidak benar bahwa beliau beristirahat di penginapan.

    Di Parinibanna sutta, Saat Ananda menangis tidak ada disampaikan ia tidak sadarkan diri. Disebutkan ananda pergi sendiri pergi menuju Vihara menyendiri, sementara sang Buddha sedang berbaring diantara dua pohon sala di hutan milik suku Malla.

      Mahaparinibbana Sutta:
      DUKA CITA ANANDA
      13. Sementara itu Ananda menuju vihara dan bersandar pada tiang pintu, ia menangis dan berkata: "Saya masih seorang siswa (savaka) dan masih harus berjuang untuk mencapai kesempurnaan. Sungguh malang aku ini, Guru yang penuh kasih sayang padaku akan meninggal dunia."

      Kemudian Sang Bhagava bertanya kepada para bhikkhu: "Para bhikkhu, di manakah Ananda?"

      "Bhante, Ananda telah pergi ke vihara, bersandar pada tiang pintu, menangis dan berkata: 'Saya masih seorang siswa dan masih harus berjuang untuk mencapai kesempurnaan. Sungguh malang aku ini, Guru yang penuh kasih sayang padaku akan meninggal dunia.'"

      Sang Bhagava menyuruh seorang bhikkhu untuk memanggil Ananda dengan berkata: "Bhikkhu, katakanlah kepada Ananda bahwa Sang Guru memanggilnya."

      "Baiklah bhante," jawab bhikkhu itu. Bhikkhu itu pergi menjumpai Ananda dan mengatakan apa yang diperintahkan oleh Sang Bhagava.

      Kemudian Ananda pergi menemui Sang Bhagava, bersujud kepada Sang Bhagava dan menempatkan diri pada tempat yang tersedia.

    Sutta itu 2 x menyebutkan kata kata ‘menuju vihara dan bersandar pada tiang pintu’. Jadi, lokasi Ananda bukan penginapan namun VIHARA dan Buddha tidak berada di penginapan dan juga tidak berada di penginapan tapi di hutan sala.
Secara normal, pasien yang menderita mesenteric infarction dapat hidup 10 sampai dengan 20 jam. Dari sutta kita tahu Sang Buddha wafat sekitar 15 sampai 18 jam setelah serangan itu. Selama jangka waktu itu, para pengiringNya telah mengusahakan upaya terbaik mereka untuk menyamankan Beliau, misalnya, dengan menghangatkan kamar istirahatNya, atau dengan meneteskan beberapa tetes air ke mulut Beliau untuk menghilangkan rasa hausNya yang terus-menerus, atau dengan memberikan Beliau minuman herbal. Namun kecil sekali kemungkinannya pasien yang sedang mengigil kedinginan akan membutuhkan seseorang untuk mengipasi diriNya sebagaimana yang dideskripsikan dalam sutta.
    Note:
    Spekulasi penulis ini saling bertolak belakang. Parinibanna Sutta, jelas menyebutkan bahwa Bikkhu Upavana tengah mengipasi Sang Buddha. Jadi, alangkah lucunya seorang yang menggigil kedinginan malah di kipasi, bukan? Malah.

      Mahaparinibbana Sutta:
      DUKA CITA PARA DEWA
      4. Pada waktu itu Upavana sedang di hadapan Sang Bhagava, sambil mengipasi beliau. Kemudian Sang Bhagava menegurnya: "Bhikkhu, minggirlah, jangan berdiri di depan saya."

      Ananda berpikir: "Upavana telah biasa melayani Sang Bhagava, sudah lama dan akrab dengan beliau. Akan tetapi pada saat terakhir ini Sang Bhagava menegurnya. Apakah sebabnya, apakah alasannya sehingga Sang Bhagava menegur Upavana dengan berkata: "Bhikkhu, minggirlah, jangan berdiri di depan saya."

      5. Ananda, kemudian menyatakan pendapatnya kepada Sang Bhagava.

      Sang Bhagava menjawab: "Ananda para dewa dari sepuluh ribu tata surya, hampir tidak ada yang ketinggalan, datang bersama-sama berkumpul di sini untuk menghadap Sang Tathagata. Sampai pada jarak duabelas yojana di sekeliling hutan Sala milik Suku Malla di daerah Kusinara ini tak ada tempat seujung rambut pun yang kosong, semuanya terisi, penuh sesak ditempati oleh para dewa perkasa dan para dewa agung, semuanya mengeluh: 'Dari jauh datang kemari untuk menghadap Sang Tathagata. Karena jarang sekali di dunia ini muncul para Tathagata Arahat Samma Sambuddha. Sekarang pada hari ini, pada saat-saat terakhir dari malam ini, parinibbana Sang Tathagata akan segera tiba. Tetapi, pada saat ini, seorang bhikkhu yang berkekuatan besar, telah berdiri di muka Sang Bhagava, menghalangi pandangan kami, sehingga kami sekarang tak dapat melihat Sang Bhagava. Demikianlah Ananda, keluhan para dewa itu." [..]
Beliau mungkin silih berganti pulih dari kondisi kelelahan sehingga memungkinkan diriNya untuk melanjutkan pembicaraan dengan beberapa orang. Kebanyakan kata-kata terakhir Beliau kemungkinan benar adanya, dan kata-kata tersebut dihafal dari satu generasi bhikkhu ke generasi bhikkhu lainnya hingga ditranskripkan. Tapi pada akhirnya,di malam yang semakin larut, Sang Buddha wafat saat septic shock kedua menyerang. Penyakit Beliau berasal dari sebab-sebab yang alami ditambah usia lanjut, sebagaimana yang bisa menimpa siapa saja.
    Note:
    Spekulasi penulis semakin berlebihan, jelas-jelas tidak ada pernyataan dari Parinibanna sutta yang menyatakan bahwa Sang Buddha Pingsan, mengeluarkan Darah, tidak mampu berjalan, di tandu, diam di penginapan, shock, menggigil kedinginan.

    Aktifitas yang dilakukan untuk orang sakit berusia 80 tahun ini sangat luar biasa, yaitu disamping, menceritakan kebesaran Kusinara dimasa lalu, menenangkan Ananda, menerima semua orang dari suku Malla hingga jam pertama malam itu, menabiskan Subhadda sebagai Bikhhu terakhir, yang kelak menjadi Arahat, memberikan wejangan kepada para Bikkhu disana, menanti dengan sabar hingga 3 kali pertanyaan, apabila ada yang ditanyakan, pada detik-detik menjelang Parinibanna, sang Buddha sempat memberikan pesan, terakhir yaitu "Segala sesuatu adalah tidak kekal. Berusahalah dengan sungguh-sungguh.' (Vaya dhamma sankhara, appamadena sampadetha). " dan kemudian, memasuki Jhana pertama dan seterusnya, serta Bikkhu Anuruddha membantu Ananda mengetahui tahapan-tahapan naik dan turun hingga parinibanna di jhana IV

Kesimpulan

Hipotesisa yang secara garis besar di uraikan di atas menjelaskan beberapa kejadian dari kisah di dalam sutta, sebut saja, desakan agar Ananda pergi mengambilkan air, permintaan Sang Buddha agar tempat tidurnya dilapisi empat lembar kain, permintaan agar makanan itu dikubur, dan lain sebagainya.

Hipotesa ini juga menyingkap kemungkinan lain yaitu sarana transportasi yang digunakan oleh Sang Buddha untuk pergi ke Kusinara dan ranjang kemangkatanNya. Sukaramaddava, apapun sifat dasarnya, sepertinya bukanlah penyebab langsung dari penyakit Beliau. Sang Buddha wafat bukan karena keracunan mankanan. Melainkan, karena porsi makan, yang relatif terlalu besar untuk saluran pencernaanNya yang sudah bermasalah. Porsi makan inilah yang memicu serangan mesenteric infarction kedua yang mengakhiri hidupNya.
    Note:
    Spekulasi penulis jelas-jelas tidak sesuai dan juga tidak mendekati keadaan yang disebutkan di Parinibanna sutta dengan menyatakan bahwa Sang Buddha pingsan, mengeluarkan darah, tidak mampu berjalan di tandu, diam di penginapan, shock, menggigil kedinginan dan tidak memakai alas 4 kain.

    Karena semua imaginasi penulis bertetangan satu sama lain, terutama tidak mungkin orang mengigil kedinginan di kipasi, tidak mampu berjalan dan ditandu namun terbukti Beliau berjalan dan turun ke sungai untuk mandi, Lelah namun mampu memberikan penerangan pada Pukkusa, Subhada, melenyapkan kecurigaan pada cunda, menenangkan ananda dan yan luar biasa adalah menemui seluruh suku Malla hingga jam pertama malam itu!

    Kecuali satu hal yang benar, yaitu: Sukaramaddava bukan penyebab kematian Sang Buddha. Karena Buddha sendiri mengatakan bahwa bukan cunda dan masakannya yang menyebabkan parinibanna Buddha, akan tetapi waktunya sudah tepat, yaitu 3 bulan sejak ia mengumumkan kepada para Bikkhu dan mara.

    Porsi makanan, juga merupakan spekulasi penulis, karena jelas disebutkan hidangan tersebut tidak sempat dihabiskan oleh sang Buddha

    Jadi,
    jelas sudah bahwa sang penulis artikel yang pernah menjadi bhikkhu puluhan tahun itu memang tidak menguasai Sutta dimaksud dan memang tidak memahami apa yang dibicarakannya dan terbukti bahkan sang penulis sendiri saja kalah dalam menjalankan kehidupan kebhikkuan dengan lepas jubahnya dan kembali menjadi umat awam. Gelar bertumpuk dan klaim tahunan mengajar meditasi jelas bukan jaminan kebenaran suatu pernyataan, bukan?!

Artikel Berkaitan Lainnya:


0 KOMENTAR ANDA:

Post a Comment