Saturday, September 15, 2007

Kentut dan Seni


BANTUL MON AMOUR

Saut Situmorang, republika.co.id

TENTANG MEMBACA PUISI

Wirajhana eka,

di antara reruntuhan
tembok tembok rumah, di ujung
malam yang hampir sudah, kita hanyut
dipacu selingkuh kata kata, seperti bulan
yang melayari tepi purnama
di atas kepala. rambut kita
menari sepi di angin perbukitan
yang menyimpan sisa amis darah
dan airmata.

lalu laut menyapa
dengan pasir pantai dan cemburu
matahari pagi. tak ada suara
burung laut, para pelacur pun
masih di kamarnya bergelut. dalam kabut
alkohol aku biarkan kata kata
menjebakku dalam birahi
rima metafora. kemulusan kulit
kupu kupumu dan garis payudaramu
yang remaja membuatku cemburu
pada para dewa yang, bisikmu,
menggilirmu di altar pura mereka.

aku menciummu
karena para dewa tidak
memberimu cinta sementara aku
cuma punya kata kata
yang berusaha melahirkan makna.

Yogkartaa 2007

Ah, besar kali gonggongannya..

saat melepas hak berkentut dan seni...
tegang dan girang bukan kepalang..
karena baunya mengusik surga..

banyaklah sudah yang menggeleng takjub
bahwa dubur dan mulut dapat berbau sama..
padahal sudah tercipta untuk berjauhan
diletakan berlawanan dipisahkan hati...

Bah, apa pedulinya..
mungkin inilah inti dari ilmu seberang itu..
letak bolehlah berjauhan.....
yang penting baunya sama.....
maka sibuklah ia menjelaskan....
dengan bahasanya....
gong...gongg...gongg..
gong...gongg...gong..

yang kurang lebih artinya:
apapun cerita kalian..
aku-lah yang benar..

2007


Maka, kentut-lah dengan tenang


_______________________________________

http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/message/64569
From: radityo djadjoeri

Horas bah! - Re: Sajak di Kompas Minggu

Bagus, bagus sekali Mas Anton. Saya suka alurnya, dan enak dibaca pula. Tak perlu dahi berkernyit. Yang jelas, lebih bagus daripada puisinya Saut Situmorang yang lagi bermasalah dengan umat Hindu karena mengejek Dewa dan pura mereka....:))


Anda layak dapat bintang!

Horas bah! Tak ada se(h)onggok beras, makanlah itu gabah!

-----
anton_djakarta <anton_djakarta@...> wrote:

Kok sastrawan pada berantem ya....mbok baca puisi sama-sama saja, sambil tertawa, toh dunia ini terlalu singkat untuk berjalan dalam api kemarahan....

Puisi Amatiran

Ketika kubuka pintumu
hanya api yang kau punya
ketika kubuka isi kepalamu
hanya dendam kau sisa
mana lagi kau simpan buat dunia
untuk sekedar kau guratkan satu garis lurus warna biru
Agar tenang lautmu
agar tak bergelombang baramu


(ANTON)
...keren nggak ya...hehehehe

_______________________________________

http://finance.groups.yahoo.com/group/mediacare/message/57777
From: radityo djadjoeri

TANGGAPAN

From: Bujang Kelana
E-mail: bujangkelanatua@...

Untuk seorang penulis pemula, bumbu-bumbu seks memang mujarab untuk mendongkrak popularitasnya. Mutu mungkin tak teraih darinya, tapi rumus semacam ini sering diresepkan. Hanya memang disayangkan jika redaktur koran/majalah juga kurang luas wawasannya maka loloslah sampah sampah demikian di halamannya.

Salam ......
Bujang Kelana

_______________________________________

From: Ahmad Su'ad, Jakarta
E-mail: ahmadsuad@...


Sebagai pembaca setia harian Republika saya amat sedih dengan termuatnya sajak porno yang murahan seperti itu. Apalagi dimuat menjelang Bulan Ramadhan yang bisa mengganggu ketenangan umat. Ditambah lagi, sajak tersebut mengganggu perasaan pemeluk agama lain. Semoga redaksi pengasuh rubrik tersebut cepat insyaf dan meminta maaf secara terbuka kepada para pembacanya. Ingat, Republika adalah bacaan umat bukan koran murahan.

Wassalam,
Ahmad Suad

____________________________________

From: Satrya Wibawa
E-mail: ketutsatrya@...

Kira-kira, apakah Republika akan memuat ini kalau kata-kata "pura" diganti "mesjid"?
Kemudian "dewa" diganti "malaikat" atau "nabi"?

_______________________________________

From: Halim HD, Solo (Jateng)
E-mail: halimhade@...

Saut, jangan tergoda dengan adu domba gaya spion Melayu yang pake segala cem-macem cara. Kasihan juga tuh 'minoritas' yang merasa 'dewa'-nya dituding oleh Saut. Tapi, yang paling kasihan adalah 'warga-minoritas' yang bisanya cuma terkaing-kaing
mengadu. Padahal 'dewa'-nya sendiri masa bodoh. Kenapa pula dia tak murka dengan penjualan 'patung-patung dewa' di negaranya, di Bali, yang kayak rombengan dan hanya sekedar untuk devisa.

hhd.
_______________________________________

From: Doel CP Allisah, Banda Aceh
E-mail: aliansisastrawan_aceh@...

Saudara Halim,
Kami sangat prihatin persoalan keyakinan menjadi suatu bahasa olok-olok, dan sangat tidak pantas kita bicara seperti itu. Kepada saudara-saudara di Bali khususnya, semoga tidak terpancing dengan suara-suara "asbun" tersebut!

Salam dari Aceh
Doel CP Allisah [kord-ASA]

_______________________________________

From: Halim HD, Solo (Jateng)
E-mail: halimhade@...

Silakan ajukan ke pengadilan jika memang saya menghina. Kenapa pula berbagai jenis patung dewa Bali dijual-perbelikan di art shop? Apa Anda buta? Atau Anda hanya ingin memanipulasi lantaran Anda tak mampu menghadapi saut situmorang yang seorang?

Apa Anda mau bikin forum publik secara langsung? Kapan saja, saya bersedia, bahkan di
Denpasar sekalipun.

hhd.
_______________________________________

From: Wayan Sunarta
E-mail: bukitvenus@...

Puisi Saut adalah parodi

Salam,
Masih saja ada orang-orang picik yang membela tuhannya dengan mengatasnamakan massa agama. Kalian, wahai orang-orang picik, ngerti puisi gak sih?

Puisi Saut itu yang kalian permasalahkan merupakan sebuah puisi plesetan atau parodi dari sebuah puisi berjudul �Aku Pelacur Para Dewa� karya Pranita Dewi (Ni Wayan Eka Pranita Dewi), seorang penyair Bali yang beragama Hindu asli dan cucu seorang pemangku di sebuah pura di desanya. Penyair itu telah menerbitkan buku puisinya berjudul �Pelacur Para Dewa�, silakan borong di toko-toko buku langganan kalian, kalo kalian memang suka dan mau baca puisi dengan benar!! Dan silakan simak puisi-puisinya yang lebih gila dan sadis ketimbang sajak Saut yang kalian tuding menghina agama Hindu-Bali itu!!!

Coba, bagian mananya sajak Saut menghina Hindu?? Apa karena ada kata �pura�? Atau kata �dewa�?? Kalian sama saja dengan kaum fundamentalis picik!!!

Memang di dunia ini ada saja oknum-oknum yang terjebak dalam pikiran picik fundamentalisme-agama.

Saya orang asli Bali dan merasa malu dengan tudingan-tudingan kalian pada karya sastra (puisi)!!!

Salam,
Wayan Sunarta

Tanya:
Apakah Bli Wayan Sunarta benar-benar asli Bali? Maaf saya kurang bergaul dengan para sastrawan asal Bali.

_______________________________________

From: TS Pinang
E-mail: tspinang@...

Wayan Sunarta adalah penyair muda dari Bali yang penting dalam sastra Indonesia mutakhir. Jika Anda tidak mengenal nama Wayan Sunarta, kelihatan sekali Anda tidak mengenal sastra (puisi) Indonesia. Dan Saut jelas bukan penulis pemula, kalau saja Anda memang mengikuti sastra Indonesia.

Kata "pura" dan "dewa" adalah kata-kata yang umum dan bukan monopoli agama tertentu. Juga kata "malaikat" dalam kasus di koran Pikiran Rakyat tempo hari.

Sastra, khususnya puisi, memiliki kode pemaknaannya sendiri yang tidak bisa begitu saja dihakimi secara harfiah, apalagi dengan hukum agama tertentu. Sayangnya, oknum-oknum yang mengatas namakan agama itu saya yakin belum mengetahui hakikat ajaran agama yang dibelanya. Sungguh memprihatinkan. Jangan sampai agama-agama yang mulia menjadi kering karena kepicikan penganutnya sendiri. Semoga Tuhan mencerahkan kalbu kita semua.
_______________________________________

Posted by: Hendi 004
E-mail: hendi0042000@...

Wah....wah....wah.... kok di Indonesia ini masih juga ada orang yang seperti HALIM HD ya? Kenapa gak mau menyadari dan introspeksi bahwa apa yang dikatakannya penuh muatan yang sifatnya mendiskreditkan kaum minoritas.............

Tolong bung, Anda berpikir bahwa di Indonesia ini ada 5 agama dan juga ada beberapa aliran. Tolong ya hargai mereka, jangan kayak pikiran picikmu.... yang mengatakan diadu domba itu. OK?

Belajarlah berpikir rasional saja, dan hargai orang lain.

_______________________________________

Posted by: Adi Djoko
E-mail: masadidjoko@...

Untuk Bung Halim HD, kehendak menjadi populer boleh saja, asal tidak saling menyinggung perasaan orang dan kelompok lain

_______________________________________

From: I Gede Junidwaja
E-mail: igjuni@...

OM Svastyastu,
Saya bisa melihatnya dari 2 sisi:

  1. Bahasa Sanskerta atau Budaya Hindu adalah bahasa terbaik untuk ekspresi seni. Sampai hari ini sulit dibantah, silakan hitung dengan word counter jumlah kosa kata terpakai dalam karya sastra.
  2. Sisi negatif: ternyata ada saja pihak luar yang sibuk mencari cara-cara mendiskreditkan Hindu. Bagi saya pribadi Hindu tidak memerlukan demo dan pembelaan jalanan, dia lebih memerlukan bukti dan karya nyata bagi penganutnya sendiri dan juga kemanusiaan.

_______________________________________

From: Ketut
E-mail: ketut@...


OM Svastyastu,
Pak De Juni, saya setuju kita tidak perlu demo atau pembelaan jalanan, apalagi bakar-bakar segala :).

Bekerja, menyumbangkan potensi terbaik bagi dunia dan kemanusiaan, adalah hal mulia dan sangat penting. Tetapi diam membisu ketika tetangga mengatakan dewa yang kita puja bercumbu dengan pelacur di altar pura, yang notabene tempat suci kita, juga rasanya terlau pasif. Lalu kapan kita akan mulai mengatakan "tidak?". Apakah menunggu telinga kita bengkak, atau menunggu mereka membawa berkarung-karung batu untuk menghancurkan pura kita?

santih,
_______________________________________

From: Satrya Wibawa
E-mail: ketutsatrya@...

Dan kenapa menyuarakan itu menjadi penting? Barangkali itu refleksi kelelahan untuk berdiam atau berdiri di balik kata toleransi. Boleh dong sesekali bersuara. Maaf. Cukup panjang. Sekadar keluh kesah.

satrya
_______________________________________

From: Ging Ginanjar
E-mail: ging.ginanjar@...

Saya mengerti kalau sejumlah orang Hindu merasa tersinggung. Lebih-lebih sajak itu ditulis bukan oleh orang Hindu sendiri.

Tidak sedikit memang penyair yang membutuhkan "setrum" puitisnya dari nada "keras" dan "radikal". Sebagaimana sajak Saut ini berkaitan kepercayaan Hindu. Atau sajak "Malaikat" karya Syaiful Badri yang sebetulnya lincah, jenaka dan jahil (Syaiful Bahri sendiri adalah seorang Muslim sangat salih, jadi ia bukan "orang luar")

Namun saya menjunjung hak kebebasan penyair. Kendati itu menyakitkan. Yang harus ditolak adalah jika misalnya saja penyair itu menyerukan hasutan kekerasan. Saya juga menyesalkan kalau misalnya ada Dewan Dakwah Hindu Dharma --misalnya, lho-- menuntut Republika dan penyairnya untuk minta maaf.

Biar sajalah. Hindu tak akan hancur oleh sebuah sajak Saut Situmorang. Para Dewa tak akan tercoreng martabatnya. Sebagaimana sebetulnya Islam tak akan tercoreng oleh sajak Malaikat dari Syaiful Bahri (sekali lagi: umatnya sendiri) atau Salman Rushdie
atau siapapun.

Saya mengerti kejengkelan Anda, Syatria, dan kaum Hindu. Namun santai sajalah. Santai.
_______________________________________

Posted by: Satrya Wibawa
E-mail: ketutsatrya@...

Mas Ging,
Ukuran ketersinggungan akan mejadi relatif. Saya pribadi tidak merasa tersinggung. Beberapa kawan lain juga mungkin berpendapat sama.

Tapi, persoalannya bagi saya, sama seperti isi email saya sebelumnya, apakah Republika akan memuat puisi yang sama jika kata-katanya diganti "mesjid", "nabi", atau "malaikat"?

Tat twam asi. Aku adalah kamu. Kamu melukai orang lain sama artinya dengan kamu melukai dirimu sendiri. Hormati dan hargai orang lain jika ingin dihormati dan dihargai orang lain. Sesimpel itu. Tapi mungkin Republika punya pemikiran dan konsep lain. Yah, mungkin Republika memang pantas dihargai seperti halnya cara mereka menghargai orang lain.

Kawan-kawan Hindu yang saya tahu memang terbelah dua, tersinggung dan tidak. Tapi merujuk pada satu pemahaman, ketersinggungan itu disuarakan. Apalagi yang memuatnya adalah media Islam.

Caranya bagaimana? cukup dengan surat pembaca. Saya kutipkan isi surat pembaca yang dikirim salah satu kawan ke Republika, entah dimuat apa tidak: Saya juga akan mengirim surat yang bernada sama.

Mencermati puisi BANTUL MON AMOUR yang dimuat Harian Republika Minggu, 26 Agustus 2007, khususnya bagian "para pelacur pun masih di kamarnya bergelut. dalam kabut alkohol aku biarkan kata kata menjebakku dalam birahi rima metafora. kemulusan kulit kupu kupumu dan garis payudaramu yang remaja membuatku cemburu pada para dewa yang, bisikmu, menggilirmu di altar pura mereka", saya menyatakan protes dan keberatan atas dimuatnya puisi tersebut.

Sebagai Umat Hindu saya menghargai karya-karya seni yang disampaikan dalam bahasa kesopanan dan kearifan, dan bahkan mengakui bahwa karya seni adalah salah satu barometer budaya manusia. Namun, membaca puisi tersebut yang secara jelas tersirat mengatakan "para dewa menggilir pelacur di altar pura" adalah sebuah penghinaan yang teramat dalam terhadap keyakinan saya. Apakah puisi ini sesuai dengan standar kualitas, moral, etika, dan standar nilai yang dianut oleh Republika sehingga dapat dimuat dalam salah satu halamannya?

Apakah menurut Republika, puisi-puisi semacam ini berguna dan berharga sebagai karya seni, sehingga dengan demikian, dapat dijadikan barometer kemajuan budaya manusia? Dan lebih lagi, apakah puisi ini berguna dalam memberikan sebuah nilai kepada masyarakat indonesia dalam kondisi bangsa yang carut marut seperti saat ini ?

Protes dan keberatan ini saya sampaikan sebagai pembaca, Umat Hindu, yang merasa keyakinannya dilecehkan oleh puisi tersebut. Semoga dapat dimuat sebagaimana Republika memberikan ruang pada puisi tersebut di salah satu halamannya.

_______________________________________

From: Nugraha Adijaya
E-mail: nugradi@...

Sudah sepantasnya pihak Pemda Bali mencekal Saut Situmorang yang berotak kotor agar tidak menginjakkan kaki di Pulau Dewata. Lewat tulisannya yang penuh penghinaan kepada umat Hindu, ia jelas-jelas ingin memancing di air keruh. Apalagi baca komentar Halim HD di berbagai milis yang semakin mengukuhkan bahwa ia piaraan Saut Situmorang. Bisanya cuma membebek saja seperti kerbau dicucuk hidungnya.

Hai kalian berdua, kalau ingin namanya jadi populer, tolong jangan menginjak kaki orang lain dong. Berkaryalah dengan benar dan santun.

Yang juga amat sayangkan, kenapa sajak murahan itu dimuat di koran Republika yang katanya Islami? Kalau dimuat di koran Pos Kota, saya masih bisa memaklumi. Adakah agenda tersembunyi dari mereka?

_______________________________________

From: Dharsana Matratanaya
E-mail: dmatratanaya@...

Om Swastyastu
Saya pikir puisi semacam itu kita anggap sebagai angin lalu saja, tidak perlu direspons secara besar dan serius. Letakkan di parking lot. Tutup.

suksma,
dharsana
_______________________________________

From: I Gede Purwaka
E-mail: igdepurwa@...

Salam damai,

  1. Saudaraku Halim Hd. Saudaraku tidak dapat menyamakan atau men-setarakan tindakan menjual patung-patung dewa di artshop Bali dengan perbuatan menulis (dan menyebar luaskan) kata-kata yang memberi gambaran bahwa para dewa "menggilir" (meniduri perempuan secara bergiliran) di "altar pura". Menurut kenalan yang pernah berkunjung ke Jerusalam dan Lourdes, patung Yesus dan Bunda Maria juga dijual di toko-toko souvenir disana. Akan tetapi itu kan tidak berarti para pedagang dikedua tempat itu dapat disamakan dengan seorang yang mengatakan Yesus "menggilir" perempuan di Baitullah. Penjualan patung di toko souvenir itu malahan dapat dianggap sebagai usaha memperluas pengkhabaran iman Kristiani, yang dimanfaatkan oleh semangat perdagangan.
  1. Ada rekan yang mengatakan, sajak Saut Situmorang itu merupakan "plesetan" atau "parodi" terhadap sajak "Aku Pelacur Para Dewa" karya Pranita Dewi. Menurutku, alasan ini dicari-cari, sebab meskipun saya bukanlah pakar sastra, tetapi saya tahu harusnya di dalam parodi terdapat unsur humor dan ejekan terhadap yang diparodi. Sajak Saut Situmorang itu sama sekali tidak mengandung unsur humor dan tidak terdapat ejekan terhadap sajak Pranita Dewi tsb diatas. Sajak Saut Situmorang tersebut malahan cenderung bersifat jiplakan, atau percobaan meniru-niru akan tetapi hasilnya masih mentah seperti gerakan seorang penari yang masih ingusan. Dalam sajak "Aku Pelacur Para Dewa" kan terasa benar semangat "memberontak" berdasarkan pengalaman agamawi yang "authentic", akan tetapi dalam sajak Saut Situmorang pengalaman seperti itu tidak ada, mungkin karena pengarangnya bukan seoang Hindu, hanya terasa sebagai usaha mencari-cari efek keren, sok berani mengucapkan kata-kata kotor seperti yang biasa dilakukan anak puber.
  1. Saya tidak bermaksud mengatas-namakan umat Hindu Bali. Akan tetapi sejujurnya saya sebagai seorang Hindu Bali tersinggung. Saya jadi ingin bertanya: Apakah Harian Republika akan bersedia memuat sajak yang menyebut "Nabi Muhammad" atau bahkan "Allah" "menggilir" perempuan di mesjid? Mohon dijawab oleh redaktur budaya Republika.
  1. Meskipun saya tersinggung, tetapi saya tidak bemaksud me-somasi Saut Situmorang
    atau mendemonstrasi kantor Republika. Saya ingin bertanya kepada saudara Ging Ginanjar dan lain-lain dan juga para pembesar Republika, apa yang akan terjadi jikalau harian Bali Post memuat sajak yang mengatakan "Muhammad" berhubungan badan dengan "payudara" dan "kemulusan kulit"?
  1. Dalam bukan suci Ramadhan ini saya ingin mengucapkan selamat beribadah kepada umat Islam dan para pembesar Republika serta memohon maaf jika ada kata-kata saya yang menyinggung. Saya hanya memohon kejujuran dan "a sense of fairness" dari Anda.
  1. Kepada adikku Saut Situmorang saya dengan tulus menganjurkan agar supaya adikku sebagai penyair muda perlu belajar lebih banyak, supaya nanti dapat menghasilkan sajak-sajak yang bermutu. Kalau sudah sampai di taraf yang matang, adikku akan tidak perlu mencari sensasi dan gagah-gagahan seperti sekarang. Juga jikalau adikku tergoda untuk meniru, janganlah sampai memplagiat. Maju terus!

I.G. Purwaka

______________________________________

From: M. Sutjita
E-mail: msutjita@...

Puisi ini betul-betul menyinggung dan menyepelekan agama Hindu. Tidak tahu saya, kemana
melancarkan protes dan melepaskan uneg-uneg ini?

MS

Jawab:
Bli Sutjita, kirimkan via email ke penulisnya: sautsitumorang@...
dan ke redaksi harian Republika di Jakarta: sekretariat@...
c/c ke mediacare@...

_______________________________________

From: TS Pinang
E-mail: tspinang@...

Pemeluk suatu agama yang gampang tersinggung biasanya masih menjalani agamanya sebatas kulit dan baju saja. sensitif dan tidak percaya diri dengan apa yang diyakininya, lalu mudah sekali menganggap apa yang tidak diketahuinya sebagai 'serangan' kepada keyakinannya itu.

Kata 'pura' dan 'dewa' bukan monopoli agama tertentu (Hindu), sebagaimana kata 'malaikat' dalam kasus Pikiran Rakyat kemarin juga bukan monopoli umat Islam. dan sungguh menyedihkan ketika oknum2 yang tidak mampu membaca teks sastra (puisi) dengan mudahnya menuding karya tersebut sebagai sebuah pelecehan agama.

Seperti kata gus dur, soal jorok dan porno itu ada di benak orang yang mempersepsikannya demikian.

Buat bli Wayan dan teman-teman penyair Hindu Bali, mari kita doakan agar kawan-kawan kita pemeluk Hindu tidak tejebak dalam kepicikan dan semoga selalu dicerahkan kalbunya oleh Hyang Widhi.

rahayu,

TS Pinang
(pemeluk agama puisi)

_______________________________________

http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/message/64846
From: Saut Situmorang
Email: sautsitumorang@yahoo.com

NAH, GIMANA DENGAN PUISI INI, SAYANG, MENGHINA AGAMA SIAPA YA?!

saut kecil bicara dengan tuhan

bocah laki laki itu
duduk sendiri
di tanah kering
di belakang rumah

diangkatnya wajahnya
yang kuning langsat
ke langit
yang kebiru biruan

matanya yang hitam
tak terpejam
asyik mengikuti gumpalan gumpalan awan
yang dihembus angin pelan pelan

dia tahu tuhan tinggal di situ
di langit biru di balik awan awan itu
karena begitulah kata Ibu
tiap kali dia bertanya ingin tahu

bocah kecil itu
masih terus memandangi langit biru
matanya yang hitam
masih terus tak terpejam

tapi dia tak mengerti
kenapa kadang kadang turun hujan ke bumi
membuat becek jalan di depan rumah
membuat dia tak boleh main di luar rumah

kalau di atas ada langit
apakah yang ada di bawah tanah ini
bocah kecil itu bertanya tanya dalam hati

mungkin di bawah tanah ini
sama seperti di atas sini, serunya dalam hati
ada pohon ada rumah rumah
ada tanah lapang di mana orang
main layang layang
dan tentu mereka mengira
di atas sini tinggal tuhan mereka!

dia mulai tersenyum
dia tahu sekarang kenapa kadang kadang turun hujan

tentu saja hujan turun dari langit
karena di atas sana tuhan sedang pesta
dan air hujan itu
tentu air yang dipakai mencuci piring gelas
sehabis pesta
sama seperti Ibu waktu cuci piring gelas
dan airnya hilang masuk ke dalam tanah

senyumnya makin lebar sekarang
dibayangkanNya anak anak mandi hujan
di bawah sana!


-Saut Situmorang

_______________________________________

http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/message/64848
From: Saut Situmorang
Email: sautsitumorang@yahoo.com

PUISI 101

PUISI HARUS DIHORMATI TERUTAMA OLEH ORANG YANG CUMA MAMPU MEMBACA PUISI. PUISI HARUS DIHORMATI DALAM PEMBACAANNYA SEPERTI ORANG MENGHORMATI TEKS AGAMA, TEKS HUKUM PERCERAIAN, ATAU TEKS PANCASILA. KARENA PUISI ITU BAGIAN DARI SASTRA DAN SASTRA ITU DIPELAJARI DENGAN SANGAT TERHORMAT DI UNIVERSITAS DI SELURUH PLANET INI DALAM SEBUAH STUDI BERNAMA "FAKULTAS SASTRA". BAHKAN ADA JUTAAN SARJANANYA!

TIDAK SETIAP ORANG BERHAK UNTUK "MEMBACA" PUISI, SAMA DENGAN TIDAK SETIAP ORANG BERHAK MENJADI POLISI, PENGACARA, EKONOM ATAU DOKTER GIGI. SASTRA ADALAH PROFESI, BUKAN HOBI, MAKA HARUS DIHORMATI SAMA SEPERTI ORANG MENGHORMATI DOKTER GIGI!

TIDAR BENAR BAHWA "PENGARANG" ITU MATI SETELAH MENULISKAN KARYA SASTRANYA! ITU NAMANYA SADOMASOKISME! ITU NAMANYA PEMBUNUHAN! ITU NAMANYA OMONG KOSONG ORANG YANG SOK SUDAH BACA ROLAND BARTHES! ALASANNYA! MAKANYA PLAGIAT ITU HARAM HUKUMNYA!

MAKANYA SETIAP PENGARANG YANG KARYANYA MUNCUL DI KOMPAS MINGGU, MISALNYA, DISEBUT NAMANYA DAN DIKASIH HONOR BANYAK PULA! MAKANYA KARYANYA, WALAU JELEK GAK KAYAK KARYA SAUT SITUMORANG, DIKASIH ILUSTRASI PARA PERUPA MEMBLE PULA!

TIDAK SETIAP ORANG BERHAK MENGOMENTARI AGAMA.

TIDAK SETIAP ORANG BERHAK KEPUTUSAN PENGADILAN.

TIDAK SETIAP ORANG BERHAK MENCABUT GIGI NASKELENG YANG SUDAH BUSUK DI MULUTNYA YANG SUDAH BUSUK.

TIDAK SETIAP ORANG BERHAK UNTUK MEMBERIKAN PENDAPATNYA DI BIDANG YANG BUKAN PROFESINYA. SETIAP ORANG HARUS PUNYA RASA RENDAH DIRI DAN MALU ATAS KAPASITAS PENGETAHUAN YANG TIDAK DIMILIKINYA.

MUNGKINKAH ADA ORANG AWAM SOK PINTAR MENGOMENTARI "SALAH" DAN "MENGHINA" INTERPRETASI SEORANG ULAMA ATAS TEKS KITAB SUCINYA? LANTAS KENAPA DENGAN PUISI/SASTRA SETIAP ORANG MERASA DIA BERHAK/PUNYA PENGETAHUAN CUMA KARENA DIA BISA MEMBACA ABJAD, KALIMAT YANG ADA DI DEPAN MONCONGNYA?

TIDAK SETIAP ORANG BERANI "MEMBACA" DAN MEMBERI PENAFSIRAN ATAS ATAS LUKISAN KONTEMPORER! LANTAS KENAPA BEGITU SEWENANG-WENANG DENGAN PUISI/SASTRA? !

TIDAK SETIAP ORANG BERANI MENGAKU SEBAGAI SENIMAN RUPA, WALO BIAS MENGGAMBAR ATAU MEMBENTUK PATUNG? LANTAS KENAPA BEGITU BERANI MENYEBUT DIRI "PENYAIR" ATAU "SENIMAN" SASTRA?!

SASTRA SUDAH SANGAT LAMA DIHINA DI NEGERI YANG MENGHORMATI PARA KORUPTOR DAN PENJUAL AGAMA INI! SASTRA SUDAH LAMA CUMA DIANGGAP SEKUMPULAN KATA-KATA YANG DIRANGKAI JADI TULISAN BELAKA, WALO RIBUAN ORANG JADI SARJANA DAN DOSEN KARENA SASTRA! SASTRA TIDAK DIANGGAP PROFESI DI NEGERI YANG KONON PUNYA BUDAYA ADILUHUNG INI!

TAIK KUCING SEMUANYA ITU!

SUDAH WAKTUNYA PARA SASTRAWAN MENUNTUT BALIK ORANG-ORANG NON- SASTRAWAN YANG MEN-CAPNYA MACAM-MACAM, TERUTAMA MEREKA YANG SELALU MENGATASNAMAKAN AGAMANYA, WALO KEJAHATAN MEREKA MUNGKIN SUDAH MEMBUAT AGAMA DAN TUHAN MEREKA TERHINA DAN MUNTAH-MUNTAH! BANGSA YANG BESAR (SEPERTI BANGSA-BANGSA DI PERADABAN BARAT SANA)

ADALAH BANGSA YANG MENGHARGAI SASTRANYA DAN YANG MALU PADA KEBODOHANNYA. BANGSA YANG BESAR (SEPERTI BANGSA-BANGSA DI PERADABAN BARAT SANA) BUKAN BANGSA YANG MEMUJA-MUJA OLIMPIADE FISIKA!!!

BANGSA YANG BESAR ADALAH BANGSA YANG MENOLAK TAHYUL DALAM SEGALA BENTUKNYA. DENGAN SASTRA, BARU PENCERAHAN INI BISA DICAPAI. YANG TIDAK PERCAYA ADALAH ORANG-ORANG YANG AKAN MASUK NERAKA JAHANAM SELAMA-LAMANYA! !!

HAHAHA...

______________________________________

http://finance.groups.yahoo.com/group/mediacare/message/57878
From: I Gde Purwaka,
email: igdepurwa@...

Lanjutan perdebatan karya puisi Saut Situmorang yang mejeng di harian Republika


Saudara Saut,
Saudara ini rupanya meradang seperti anak kecil.

Saudara Saut menulis begini:

TIDAK SETIAP ORANG BERHAK UNTUK "MEMBACA" PUISI, SAMA DENGAN TIDAK SETIAP ORANG BERHAK MENJADI POLISI, PENGACARA, EKONOM ATAU DOKTER GIGI.

SASTRA ADALAH PROFESI, BUKAN HOBI, MAKA HARUS DIHORMATI SAMA SEPERTI ORANG MENGHORMATI DOKTER GIGI!

Saya akan bantah pendapat ini.

(1) -- “Membaca” puisi adalah hak setiap orang. Juga kalau mau menafsirkan puisi. Kakek saya yang petani suka membaca tembang yang merupakan puisi buah tangan peninggalan pujangga Bali. Lantas beliau mencoba menjelaskan artinya kepada teman-temannya di bale banjar apabila mereka sedang ngaso sehabis kerja

Apakah beliau dia tidak berhak? Kalau pendirian Saudara Saut seperti yang diumumkannya dengan huruf-huruf besar itu, maka ia pendukung kesusastraan yang jadi monopoli kelas elite.

Kalau dia berkuasa, dia akan jadi diktator, apalagi dia gemar menggunakan kata “harus”. Sastra “HARUS DIHORMATI”. Menurut pendapat saya, sastra boleh dihormati atau tidak, terserah kepada masyarakatnya. Sama halnya dengan dokter gigi.

Kalau dokter giginya serampangan mencabut gigi, ditambah dia suka marah-marah kalah bersaing dengan dokter gigi lain, mana mungkin dia akan dihormati?

Kalau karya sastranya dan tingkah laku sastrawannya seperti Saudara Saut, saya ragu apakah orang banyak dapat di-HARUS-kan menghormati.

(2) -- Logika Saudara Saut kacau sekali. Katanya,

TIDAK SETIAP ORANG BERHAK UNTUK "MEMBACA" PUISI, SAMA DENGAN TIDAK SETIAP ORANG BERHAK MENJADI POLISI, PENGACARA, EKONOM ATAU DOKTER GIGI.

Polisi, dokter gigi, pengacara, ekonom adalah profesi yang memakai syarat-syarat formal. Akan tetapi apakah syarat formal seorang pembaca puisi seperti kakek saya di desa? Ada ijazah atau sertifikatnya?

Bahkan sepanjang pengetahuan saya, kritikus sastra tidak perlu sertifikat.

Kalau dokter gigi dan pengacara, hasil keputusannya dapat diuji (gigi jadi sembuh atau tidak, pengacara diterima pembelaannya depan hakim atau tidak). Kalau “pembaca” puisi, misalnya kritikus?

Hasil pendapatnya diperdebatkan akan tetapi akhirnya tergantung kepada masing-masing. Kata pepatah, kepala sama berbulu pendapat berlainan. Kalau ada yang tidak menyukai mutu karya Saut Situmorang akan tetapi lebih menyukai karya Gunawan Mohammad, itu wajar saja. Saut tidak dapat iri hati dan Gunawan tidak dapat besar kepala.

Maka walaupun Saudara Saut tidak mau dinasihati, saya mau menyarankan supaya dia belajar memakai logika.

Damai,
I Gde Purwaka
igdepurwa@...

____________________________________________

0 KOMENTAR ANDA:

Post a Comment