Thursday, September 29, 2011

Tabib Jivaka, Para Pelacur, Kathina dan Ayur-Veda!


Di Vesali, hiduplah seorang wanita penghibur bernama Ambapäli. Wanita ini begitu indah, enak dilihat mata, pandai menari, menyanyi dan mahir memetik kecapi. Ambapali menjadi minat terbesar masyarakat Vesali saat itu. Mereka yang rindu bersamanya, haruslah puas untuk merogoh kocek 50 kahapana/malamnya. Vesali menjadi semakin bersinar bersama kehadirannya.

[(klik!) Kisah Ambhapali]
    Ediso ahu ayaṃ samussayo, Jajjaro bahu­duk­khā­namālayo; Sopalepapatito jarāgharo, sacca­vādi­vacanaṃ anaññathā
    Demikianlah tubuh ini. dipenuhi keriput, sarang berbagai penyakit; rumah tua dengan dinding mengelupas, ucapan pembabar kebenaran tidaklah salah.


    Di jaman Buddha Phussa, Buddha ke-21, Buddha di 91 Maha Kappa sebelum Buddha Gautama, ia terlahir dari keluarga ksatriya dan melakukan banyak kebajikan berdana yang menyebabkan ia kelak terlahir selalu cantik. [Ap.ii.613ff; ThigA.213f]

    Di jaman Buddha Buddha Sikhī, Buddha ke-23, Buddha di 31 Maha Kappa sebelum Buddha Gautama, ia terlahir menjadi Bhikkuni. Ketika ia masih menjadi Samaneri (calon Bhikkhuni), Ia ikut bagian pada sebuah upacara penasbihan Bhikkhuni. Ketika ia hendak memberikan penghormatan di tempat suci, seorang Bhikkhuni arahat di depannya membuang ludah di halaman tempat suci tersebut dan tanpa mengetahui siapa yang meludah ia mencela, "pelacur macam mana yang meludah disini?"[ThigA.206-7]

    Sebagai hasil dari pelecehannya pada Bhikhhuni arahat tersebut, Ia terlahir di neraka dan kemudian selama 10.000 kehidupan kemudian terlahir menjadi seorang pelacur.

    Di jaman Buddha Kassapa Buddha ke-27, di Maha Kappa yang sama dengan Buddha Gautama, Ia terlahir dan menjadi Bhikkhuni.(Ap.ii.613ff; ThigA.213f)

    Di jaman Buddha Gautama, di Maha Kappa ini, di suatu pagi, seorang tukang kebun dari Kerajaan Licchavi di Vaseli, menemukan seorang bayi perempuan terbaring di bawah pohon mangga dan memberikannya nama Ambapali, yang berasal dari kata amba (mangga) dan pali (garis atau batang).

    Kemudian Ambapali tumbuh dan berkembang menjadi seorang gadis yang cantik dan anggun.

    Banyak pangeran dari Licchavi ingin menikahinya. Mereka saling bertengkar ingin menjadikan Ambapali sebagai isteri. Untuk menyelesaikan pertengkaran tersebut, mereka berdiskusi dan sepakat memutuskan, “Biarlah Ambapali menjadi milik semua orang.”

    Dengan demikian, Ambapali menjadi wanita penghibur. Dengan sifatnya yang baik, dia melatih ketenangan dan kemuliaan. Ambapali sering memberikan dana dalam jumlah besar dalam setiap kegiatan amal. Walaupun Ambapali seorang wanita penghibur, namun dia terlihat seperti ratu yang tak bermahkota di Kerajaan Licchavi itu.

    Ketenaran Ambapali menyebar dan terdengar oleh raja Bimbisara dari Magadha. Kemudian Raja Bimbisara menemuinya, Beliau sangat terpesona akan kecantikannya. Terjalinlah hubungan diantara Raja Bimbisara dengan Ambapali, dari hubungan tersebut lahirlah seorang anak laki-laki bernama Vimala.

    Di satu waktu ketika Buddha berkunjung ke Vesali, Vimala sangat terkesan pada beliau kemudian memutuskan menjadi Bhikkhu dan bernama Vimala Kondanna. Taklama setelah menjadi Bhikku, Vimala Kondanna mencapai tingkat kesucian Arahat.

    Pada masa vasa ke-45 atau terakhir dari Sang Buddha, setelah tinggal beberapa saat di desa Nàtika, beliau kemudian mengajak Ananda dan 500 Bhikkhu muda yang baru bergabung dengan sangha untuk menuju Vesali kemudian menetap di hutan mangga milik Ambapàli.

    Ketika Ambapàli, mengetahui sang Bhagavà menetap di hutan mangga miliknya, dengan mengendarai kereta terbaiknya, Ia pergi dari vesali dan menuju hutan mangga miliknya. Setelah mengendarai kereta sejauh yang dapat dicapai kereta itu, ia turun dari keretanya dan mendekati Bhagavà berjalan kaki. Ia bersujud kepada Bhagavà dan duduk di tempat yang semestinya.

    Setelah Bhagavà membabarkan manfaat-manfaat ajaran, Ambapàli berkata kepada Bhagavà, “Yang Mulia, sudilah Bhagavà menerima persembahan makanan dariku besok, bersama dengan para bhikkhu.”

    Bhagavà menerimanya dengan berdiam diri.

    Setelah mengetahui bahwa Bhagavà telah menerima undangannya, Ia bangkit dari duduknya, bersujud kepada Bhagavà dan pergi dari sana dengan penuh hormat.

    Ketika itu para pangeran Licchavi dari Vesali mengetahui pula akan kehadiran Sang Buddha dan mereka lalu berkata: “Sang Bhagava, katanya telah tiba di Vesali dan tinggal di kebun Ambapali.”

    Mereka pun menyediakan sejumlah kereta yang indah dan setiap orang mengendarai sebuah kereta, keluar dari Vesali. Di antara orang-orang Licchavi itu ada beberapa yang berpakaian biru dengan hiasan-hiasan yang biru pula, sedangkan yang lainnya memakai pakaian kuning, merah dan putih.

    Demikianlah di tengah jalan kereta-kereta Ambapali berpapasan dengan kereta-kereta pemuda Licchavi itu. Kereta-kereta itu saling bergeseran antara poros dengan poros, roda dengan roda dan gandar dengan gandar. Oleh karena itu orang-orang Licchavi bertanya: “Mengapa kamu berkendaraan menentang kami Ambapali?”

    “O pangeranku! Itu karena aku baru saja mengundang Bhagavà beserta para bhikkhu untuk menerima persembahan makanan dariku besok.”

    “Sekarang, Ambapàli, berikanlah kepada kami (dengan menukar) dengan seratus ribu (kesempatan untuk mempersembahkan)makanan itu (kepada Bhagavà)!”

    “O pangeranku, bahkan jika kalian memberikan kepadaku Vesàli bersama seluruh wilayah jajahannya, aku tidak akan menyerahkan (kesempatan untuk mempersembahkan) makanan ini.”

    Mendengar kata-kata tegas dari Ambapàli itu, para pengaran Licchavi melambaikan tangannya penuh kekaguman, mereka berseru, “Oh teman, kita telah dikalahkan oleh perempuan itu! Kita telah dikalahkan oleh perempuan itu!”

    Tetapi meski pun demikian mereka meneruskan perjalanan ke kebun mangga.

    Dari kejauhan Sang Bhagava melihat orang-orang Licchavi yang sedang mengendarai kereta mereka. Kemudian beliau berkata kepada para bhikkhu: “Siapa di antara para bhikkhu yang belum pernah melihat para dewa (surga) Tavatimsa? Sekarang kamu sekalian dapat melihat para Licchavi ini dan dapat memandangi mereka sebab mereka itu nampak seperti para dewa dari alam surga Tavatimsa.”

    [Kata-kata itu disampaikan Bhagava adalah untuk membangkitkan semangat dan juga kepentingan para bhikkhu muda tersebut agar lebih giat lagi berlatih seperti paparan khotbah-khotbah yang telah mereka terima selama ini, yaitu manfaat memberikan persembahan, dàna kathà, manfaat menjalani moralitas, sila kathà, yang dapat mengakibatkan terlahir di alam deva dan juga sagga kathà] seperti yang dilakukan kepada Bhikkhu Nanda dengan pancingan indriya namun juga ada alasan lainnya yaitu tentang ketidak kekalan, karena beberapa tahun kedepan para Licchavi itu akhirnya jugaakan mengalami kehancuran di tangan Raja Ajàtasattu. Saat itu banyak dari mereka akan memperoleh Pandangan Cerah dalam hal ketidakkekalan makhluk-makhluk hidup, yang menghasilkan Kearahattaan yang lengkap dengan Empat Pengetahuan Analitis].

    Kemudian para pangeran Licchavi mengendarai kereta mereka sejauh yang dapat dicapai oleh kereta, kemudian mereka turun dari kereta dan berjalan kaki ke arah Bhagavà. Mereka bersujud kepada Bhagavà dan duduk di tempat yang semestinya.

    Setelah Bhagavà membabarkan manfaat-manfaat ajaran, para pangeran Licchavi berkata kepada Bhagavà, “Yang Mulia, sudilah Bhagavà bersama para bhikkhu menerima persembahan makanan dari kami besok.” Kemudian Bhagavà menjawab, “O Pangeran Licchavi, Aku sudah menerima persembahan makanan dari Ambapàli besok.” Selanjutnya para pangeran Licchavi, melambaikan tangan mereka (ungkapan kagum), berseru, “Oh teman, kita telah dikalahkan oleh perempuan itu! Kita telah dikalahkan oleh perempuan itu!”

    Kemudian para pangeran Licchavi mengungkapkan penghargaan dan kegembiraan mereka atas khotbah yang dibabarkan oleh Bhagavà, mereka bangkit dari duduknya, bersujud kepada Bhagavà dan dengan hormat meninggalkan tempat itu.

    Keesokan harinya, setelah Ambapali menyiapkan makanan terpilih, lunak dan keras, di tamannya, ia memberitahukan kepada Sang Bhagava: “Bhante, telah waktunya untuk makan, makanan telah siap.” Sang Bhagava mempersiapkan diri, sambil membawa patta dan jubah, pergi bersama para bhikkhu ke tempat Ambapali. Sang Bhagava duduk di tempat yang telah disediakan. Ambapali sendiri yang melayani Sang Bhagava dan para bhikkhu, menyuguhi mereka dengan makanan terpilih, lunak dan keras.

    Setelah selesai makan, Sang Bhagava meletakkan patta, Ambapali duduk di tempat yang lebih rendah dan menempatkan dirinya pada salah satu sisi, lalu berkata kepada Sang Bhagava: “Bhante, taman ini saya persembahkan kepada bhikkhu sangha yang dipimpin oleh Sang Bhagava.”

    Sang Bhagava menerima taman itu, kemudian beliau membabarkan dhamma kepada Ambapali, menyadarkan, menyenangkan dan menggembirakan hatinya. Sesudah itu Sang Bhagava bangkit dari duduknya dan meninggalkan tempat itu.

    (Bhesajjakkhandhaka dari Vinaya Mahà Vagga juga menyebutkan hal ini; tertulis ‘bahwa Ambapàli, mempersembahkan makanan kepada Bhagavà beserta para bhikkhu di rumah peristirahatannya di hutannya, dan mempersembahkan hutan mangga miliknya kepada Sangha yang dipimpin oleh Bhagavà.’)

    Pada suatu hari, Bhikkhu Vimana Kondanna, memberikan khotbah Dhamma. Setelah mendengar khotbah dari anaknya tersebut, Ambapali meninggalkan kehidupan duniawi, menjadi anggota Sangha Bhikkhuni. Beliau menggunakan tubuhnya sebagai obyek meditasi, merefleksikan sifat-sifat ketidakkekalan, dengan melatih meditasi dengan giat, Beliau akhirnya mencapai Tingkat Kesucian Arahat.

    Dalam versi Therighata, disaat Beliau tua, Beliau membandingkan kecantikannya dahulu dengan keadaan sekarang :

    Rambutku hitam, bagai warna kumbang,
    dengan ujung berikal
    karena usia tua, kini bagai serat kayu rami
    ucapan pembabar kebenaran tidaklah salah.

    Ditutupi bunga, rambutku,
    wangi bagai kotak parfum,
    karena usia tua, kini baunya bagai bulu anjing
    ucapan pembabar kebenaran tidaklah salah.

    alisku nampak demikian indah,
    bagai indahnya lukisan bulan sabit,
    karena usia tua, kini tergantung ke bawah oleh kerutan.
    ucapan pembabar kebenaran tidaklah salah.

    Mataku berbinar, bercahaya bak permata,
    Berwarna biru gelap berbentuk panjang,
    karena usia tua, kini tak lagi tampak cantik
    ucapan pembabar kebenaran tidaklah salah.

    gigiku nampak demikian indah,
    bagai warna kuncup tanaman muda.
    karena usia tua, kini hancur menghitam.
    ucapan pembabar kebenaran tidaklah salah.

    kedua dadaku nampak demikian indah,
    menggembung bundar, berdekatan, menjulang,
    kini keduanya turun bagai kantung air kosong
    ucapan pembabar kebenaran tidaklah salah.

    tubuhku nampak demikian indah,
    bagai lembaran emas yang digosok.
    kini dipenuhi kerutan halus
    ucapan pembabar kebenaran tidaklah salah.

    kedua kakiku nampak demikian indah,
    bagai dilingkupi kapas,
    karena usia tua, kini menjadi retak berkeriput.
    ucapan pembabar kebenaran tidaklah salah.

    Demikianlah tubuh ini,
    dipenuhi keriput, sarang berbagai penyakit,
    rumah tua dengan dinding yang mengelupas.
    ucapan pembabar kebenaran tidaklah salah.


    [Samagi-phala, Ambapali, Therigatha 13.1, RAPB buku ke-2, hal 2089-2092, Maha Parinibanna Sutta]

Sejumlah pedagang yang tergabung dalam serikat pedagang Rajagaha dan juga Dewan kota Rajagraha (Bihar, ± 100km dari Tenggara Patna) melakukan sebuah kunjungan bisnis ke Vesali. Mereka sangat terkesan dengan kesemarakan Vesali karena kehadiran Ambhapali sehingga mereka putuskan melakukan yang sama di kota mereka. Sekembalinya dari Vesali, mereka menghadap Raja Bimbisara dan membicarakan hal ini. Raja-pun menyetujuinya.

[(klik!) Wanita Penghibur dalam kebudayaan India kuno]
    Wanita penghibur dalam bahasa pali dibedakan dalam 3 konteks terminologi,yaitu:

    1. Ganika dan/atau Sobhina ato nagarasobhini (misal: Gundik, Geisha, dll), merupakan kelas tinggi dan dihormati
    2. Vesiya/vestya [kata umum yang digunakan yang berarti pelacur]
    3. Rupajiva [lebih tinggi dari kumbadasis]
    4. Kumbadasis/Bandhaki (pelacur jalanan)

    Ya tentu saja, model bhandhaka lebih banyak apesnya daripada dihormati.

    Di jaman dinasti Maurya (321 SM - 185 SM). Para Ganika berada di bawah kontrol Kementrian Prostitusi, Mereka dikenai pajak pendapatan dan merupakan milik negara. Para Ganika [hingga ke kumbadasis] diberikan perlindungan hukum oleh negara. Jika ada yang memaksa melakukan hubungan seksual pada ganika maka itu adalah pelanggaran hukum. Demikian pula sebaliknya, jika Ganika menolak melayani tamu raja/negara, maka, di samping terkena hukuman denda 5x penghasilan juga dihukum cambuk. Pasca dinasti Maurya, para wanita dengan berpendidikan tinggi dan serbabisa diijinkan memasuki dunia ini [Persepsi India di jaman itu tentang wanita penghibur lihat: di sini dan disini. Pandangan Buddhisme tentang wanita penghibur, salah satunya lihat: di sini]

Saat itu di Rajagraha, hiduplah seorang perempuan bernama Sālavati, Ia amatlah cantik, menawan, enak dilihat mata dan memiliki semua kecantikan yang diperlukan seorang wanita. Dewan kota, kemudian menetapkan Sālavati sebagai wanita penghibur di Rajagaha. Sālavati dengan cepat mahir menari, menyanyi dan memetik kecapi. Ia segera menjadi minat terbesar masyarakat Rajagaha. Mereka yang merindukannya harus puas untuk merogoh kocek 100 kahapana/malamnya.

[(klik!) Arti Kahapana]
    Pembayaran 100 Kahapana, kepada Sālavati adalah sebanding dengan 50 Kahapana kepada Ambhapali [Vinaya II 172, VA.1114].

    10 Kahapana/karshapana = 1 ons Emas/Perak (31 gram), sebagai perbandingan, DD Kosambi mengutip Arthasastra [Periode Chadragupta, 321 SM -297 SM] bahwa bayaran normal/tahun:

    • Pendeta kepala, Permaisuri, Ibu suri, Putera Mahkota dan Kepala angkata bersenjata adalah 48,000 Kahapana/tahun (360 hari) = 133.3 kahapana/hari
    • Penambang ahli/Insinyur/Mata2 dll 1,000 kahapana/tahun = 2.7 kahapana/hari
    • Serdadu terlatih/akuntan 500 Kahapana/tahun
    • Carpenters and Craftsmen 120 Kahapana/tahun
    • Buruh biasa 60 Kahapana/tahun
    • Kepala Arsitek dari Mahaseya di bayar 12,000/tahun atau 33 kahapana seharinya [Mahavansa-Chap XXX]

Pada suatu hari, Sālavati hamil. Ia kemudian berpikir, "Para lelaki, tidak menyukai wanita hamil, jika mereka mengetahui bahwa 'Salavati, si wanita penghibur ini hamil', maka semua penghormatan dan kekaguman orang padaku akan menurun. Apakah sekarang saatnya mereka tahu aku tengah kurang sehat badan?". Kemudian, iapun berpesan pada penjaga tempat tinggalnya, “Penjaga yang baik, Jangan biarkan siapapun masuk dan jika mereka bertanya tentang aku, katakanlah bahwa aku sedang sakit"

Laki-laki penjaga pintu pun menjawab: "Baiklah, Nona",

Akhirnya, Salavati, melahirkan seorang bayi lelaki. Ia kemudian meminta pelayan wanitanya untuk menaruh bayi lelakinya tersebut pada sebuah keranjang dan membuangnya ke tempat pembuangan sampah.

Di suatu Pagi, salah seorang anak raja Bimbisara, yaitu pangeran Abhaya, ketika itu tengah berjalan-jalan, Ia tertarik pada segerombolan orang yang mengerumuni sesuatu. Iapun menghampirinya dan melihat sebuah keranjang yang dikerumuni burung-burung gagak. Pangeran pun berkata pada mereka, "Tuan-tuan yang baik, apakah yang dikerumuni burung2 gagak itu?"

"Seorang anak lelaki, tuan"?

"Masih hidupkah dia, tuan-tuan?"

"Masih hidup, tuan"

“Jika demikian, tuan-tuan yang baik, bawalah bayi itu ke kediaman pangeran Abhaya, berikan pada ibu pengasuh dan katakan, "rawatlah dia". Karena mereka menyebutkan kata "Masih hidup", maka anak itu diberi nama, "Jīvaka" (berasal dari kata, "Jivati"); karena pangeran (kumara) yang merawatnya, maka diberi nama belakang Komārabhacca (di asuh oleh pangeran).

Pada jaman Buddha Padumuttara (Buddha ke-11, untuk list daftar nama Buddha lainnya lihat: di sini), bakal Jivaka ini, terlahir di sebuah keluarga kaya di Kota Hamsàvati. Ketika mendengarkan khotbah Buddha, Ia menyaksikan seorang siswa awam dinyatakan sebagai yang terbaik di antara mereka yang penuh pengabdian terhadap Buddha. Ia terkesan dan bercita-cita untuk mencapai posisi tersebut di masa depan. Setelah memberikan sebuah persembahan besar pada Buddha Padumuttara, ia mengungkapkan cita-citanya di hadapan Buddha dan Buddha meramalkan pencapaiannya. Setelah wafat, selama seratus ribu siklus dunia, Ia terlahir di alam dewa dan alam manusia. Di Jaman Buddha Gotama, ia terlahir kemballi dengan nama Jivaka.

[(klik!) Ayah kandung Jivaka]
    Vinaya, ii. 174: Nama belakang, Komarabhacca juga berarti "ahli ilmu bayi" (kaumarabhrtya); AA.i.398 f, DA.133: Ia dinamakan juga Komarabhanda; Di.vy.506B: KumBrabhüta. A.i.26 dan M.Sta.55: Pemimpin para Upasika yang sangat disukai orang.

    Di RAPB buku ke-3, hal. 2996 dan di komentar untuk Anguttara (i.216), dikatakan ayah biologis Jivaka adalah pangeran Abhaya. [juga di Taiso Tripitaka(T. 1428 (851a22–23)]

    Sebuah buku Tibet yang bersumber dari India, menyatakan kisah seperti ini:

      Raja Bimbisara pernah ke Vesali, Pada suatu kejadian berbahaya, Ia diberikan perlindungan di rumah seorang wanita penghibur dari Vesali yang bernama Amravali. Ia tinggal di rumah itu selama 7 hari. Ia menghabiskan waktunya dengan bersenang-senang dengan Amravali. Kejadian ini, membuat Amravali hamil dan kemudian melahirkan seorang Putera. Karena takut, puteranya dibunuh para pangeran Licciavi, kota Vesali, maka ia titipkan anaknya pada para pedagang yang hendak ke Rajagaha untuk dipertemukan dengan ayahnya, raja Bimbisara. Raja menaamakan anak itu dengan nama Abhaya (tanpa takut).

      Di buku itu, Raja Bimbisara, di kisahkan sebagai Raja yang gatelan dan suka iseng berkeliaran.

      Suatu ketika, Raja berjalan-jalan diputaran Rajagaha, lewat di kediaman seorang pedagang yang amat kaya yang tengah bepergian untuk urusan bisnis. Sepeninggalan suaminya, Istri pedagang itu merasa kesepian. Ketika itu, raja Bimbisara lewat depan rumahnya dan ia undang sang raja masuk. Mereka kemudian bersenang-senang yang mengakibatkan Istri pedagang ini hamil.

      Suatu hari, suami wanita ini mengirim pesan bahwa urusannya telah selesai dan ia hendak pulang kerumah.

      Takut diketahui atas perbuatan yang telah dilakukannya, Ia kemudian bersiasat dengan cara meminta dicarikan suatu permata tertentu. Permintaan ini dikabulkan sang suami yang mengakibatkan kepulangannya tertunda lama.

      Beberapa bulan kemudian lahirlah seorang bayi lelaki. Bayi itu kemudian diletakan dalam satu keranjang, diselimuti dan diberikan tanda pengenal tertentu. Kemudian, Ia minta pembantunya mengirimkan anak itu ke istana Raja. Pembantunya melaksanakan perintah itu dan meletakan di depan pagar istana dengan memasangkan lampu-lampu di sekeliling keranjang.

      Raja dan pangeran Abhaya kebetulan ada di sekitar itu, mereka tertarik pada kerlipan lampu, Raja kemudian meminta untuk mencari tahu. Pangeran Abhaya kemudian menuju pagar istana, mengambil keranjang tersebut dan meletakannya di hadapan raja, ketika keranjang tersebut disingkap, isinya ternyata seorang bayi lelaki. Raja mengenali tanda pengenal itu dan kemudian bertanya, "Apakah bayi itu masih hidup?"

      "Masih Hidup, Yang mulia"

      Anak itu kemudian dinamakan Jivaka Komarabhanda [Tibetan Tales Derived from Indian Sources,F von Schiefner, hal.75-92]

    Pangeran Abhaya adalah pengikut Nigantha Nataputta. Ia kemudian beralih menjadi pengikut Sang Buddha setelah pembabaran Abhayarājakumāra Sutta (M.i.392ff ).

    Sutta ini dibabarkan berkenaan dengan Devadatta wafat di telan bumi. Pangeran Abhaya, diminta gurunya, Nigaṇṭha Nātaputta, untuk berdebat dengan sang Buddha dengan menyiapkan pertanyaan "bertanduk ganda". Untuk isinya, silakan lihat: Abhayarājakumāra Sutta

    Di kemudian hari, pangeran itu menjadi bhikku. Ketika, pembabaran kotbah Tālacchiggalūpama Sutta (mungkin juga sama dengan di S.v.455 dan M.iii.169), Ia mencapai Sotapanna dan kemudian mencapai arahat (Thag.26; ThagA.i.83-4 juga di ThagA.39)

Salavati, di kemudian hari juga melahirkan seorang bayi, kali ini adalah perempuan dan dinamakan Sirima [SNA.i.244f, 253f]. Ia merupakan adik bungsu Jivaka. Buddhaghosa memberikan keterangan mengapa Sirima tidak mengalami nasib di buang oleh ibunya seperti ini, "nagarasobhiniyo (kira) hi dhitaram patijagganti na puttam, dhitara hi tasam paveni ghatiyati

artinya:
"Wanita penghibur merawat putri dan bukan putera mereka karena anak perempuan mereka dapat mewarisi profesi mereka". [kitab komentar Silakkhandhavagga-abhinavatika: jaliyasuttavannana, Dvapabhajitavatthuvannana, no. 378]

Setelah Sàlavati, wafat, Sirima mewarisi pekerjaan ibunya dan diakui raja sebagai wanita penghibur kota Rajagaha. Mereka yang merindukan Sirima, harus merogoh kocek tidak kurang dari 1000 Kahapana/malamnya.

Pada suatu ketika, sorang wanita dari keluarga kaya raya bernama Uttara datang dan menyewa jasa pelayanan Sirima. Tugas yang harus diemabankan Sirima adalah menjadi istri pengganti dirinya selama 2 Minggu penuh!

Suami Uttara, tentunya bagai dapat durian runtuh, bukan?!

[(klik!) Kisah Sirima mengembankan tugas]
    Bakal Uttara di jaman Buddha Padumuttara (Buddha ke-11), ia mendengarkan khotbah yang disampaikan oleh Buddha dan menyaksikan seorang siswi awam yang dinyatakan sebagai yang terbaik di antara mereka yang berdiam di dalam jhànà.Ia berkeinginan kuat untuk menjadi seperti siswa tersebut pada masa depan, dan setelah memberikan persembahan besar ia mengungkapkan cita-citanya. Buddha meramalkan bahwa cita-citanya akan tercapai.

    Di jaman sang Buddha, Uttara terlahir sebagai putri dari Punna, seorang buruh tani yang bekerja pada pria kaya bernama Sumana di Rajagaha. Suatu hari, Punna dan istrinya berdana makanan kepada Sariputta Thera di saat beliau baru saja mencapai keadaan pencerapan mental yang dalam (nirodha samapatti). Sebagai akibat dari perbuatan baik itu mereka mendadak menjadi kaya. Punna menemukan emas di tanah yang ia bajak, dan secara resmi raja menyatakan Punna sebagai seorang bankir yang besar.

    Pada suatu kesempatan, Punna sekeluarga berdana makanan kepada Sang Buddha dan para bhikkhu selama tujuh hari, dan pada hari ke tujuh, setelah mendengarkan khotbah Sang Buddha, mereka sekeluarga mencapai tingkat kesucian sotapatti.

    Kemudian Uttara, putri Punna, menikah dengan anak dari Sumana. Keluarga Sumana bukan keluarga Buddhis, sehingga Uttara tidak merasa bahagia di rumah suaminya. Ia pun bercerita kepada ayahnya, Punna, "Ayah, mengapa ayah mengurung saya di kandang ini? Di sini saya tidak melihat para bhikkhu dan saya tidak memiliki kesempatan berdana kepada para bhikkhu."

    Punna menjadi menyesal dan ia segera memberi uang sebesar 15.000 kepada Uttara. Setelah mendapat izin dari suaminya, Uttara menggunakan uangnya untuk menyewa seorang wanita untuk menggantikan dirinya memenuhi kebutuhan suaminya. Akhirnya ditetapkan bahwa Sirima, seorang pelacur yang sangat cantik dan terkenal, menggantikannya sebagai seorang istri selama 15 hari.

    [Saat ini adalah tahun ke-17 Sang Buddha mencapai penerangan Sempurna dan beliau bervassa [musim hujan] di Vihara Veluvana dekat Rajagaha] Selama waktu itu, Uttara memberikan dana makanan kepada Sang Buddha dan para bhikkhu. Pada hari kelima belas saat ia sibuk menyiapkan makanan di dapur, suaminya melihat dari balik jendela kamar dan tersenyum seraya bergumam pada dirinya sendiri, "Betapa bodohnya ia. Dia tak tahu cara bersenang-senang. Dia selalu menyibukkan diri dengan upacara pemberian dana."

    Sirima melihat suami Uttara tersenyum pada Uttara, ia menjadi sangat cemburu pada Uttara, ia lupa bahwa dirinya hanya sebagai istri pengganti yang dibayar. Menjadi tak terkendali, segera Sirima pegi ke dapur dan mengambil sesendok besar mentega panas dengan maksud mengguyurkannya di kepala Uttara. Uttara melihatnya datang, namun ia tidak memiliki maksud buruk pada Sirima. Ia menyadari, berkat Sirima lah ia dapat mendengarkan Dhamma, berdana makanan, dan berbuat kebaikan lainnya, sehingga ia merasa berterima kasih pada Sirima.

    Tiba-tiba ia menyadari bahwa Sirima datang mendekat dan hendak menuangkan mentega panas ke arahnya, ia pun berseru, "Bila aku memiliki maksud buruk terhadap Sirima, biarlah mentega panas ini melukaiku, tapi bila aku tidak memiliki maksud buruk padanya, mentega panas ini tak akan melukaiku."

    Karena Uttara tidak memiliki maksud buruk terhadap Sirima, mentega panas yang dituang di kepalanya hanya terasa bagai air dingin. Sirima berpikir pasti mentega itu telah menjadi dingin saat dituangkan, maka ia bermaksud mengambil mentega panas yang lain. Saat hendak menuangkan mentega panas tersebut, pelayan-pelayan Uttara menyerang dan memukulnya keras-keras. Uttara menghentikan para pelayannya dan menyuruh mereka mengobati luka Sirima dengan balsam.

    Akhirnya Sirima teringat akan kedudukannya yang sebenarnya, dan ia menyesal bahwa ia telah melakukan kesalahan terhadap Uttara, dan meminta Uttara mengampuninya. Uttara pun menjawab, "Aku memiliki seorang ayah. Aku harus bertanya kepadanya apakah aku harus menerima permintaan maafmu." Sirima berkata bahwa ia siap pergi memohon pengampunan pada Punna, ayah Uttara.

    Uttara menjelaskan padanya, "Sirima, saat aku mengatakan ‘ayahku’, maksud saya bukan ayahku yang sebenarnya, yang membawaku pada rantai kelahiran kembali ini. Yang kumaksud ‘ayahku’ adalah Sang Buddha, yang telah menolongku memotong rantai kelahiran kembali, yang telah mengajariku Dhamma, Kebenaran Sejati."

    Sirima pun memohon untuk bertemu dengan Sang Buddha. Sehingga pada hari berikutnya direncanakan Sirima akan menyerahkan dana makanan kepada Sang Buddha dan para bhikkhu.

    Setelah bersantap, Sang Buddha diberitahu perihal Sirima dan Uttara. Kemudian Sirima mengakui bahwa ia telah berbuat kesalahan terhadap Uttara dan memohon Sang Buddha apakah ia dapat dimaafkan, karena jika tidak, Uttara tidak akan memaafkannya. Kemudian Sang Buddha bertanya kepada Uttara bagaimana perasaannya saat Sirima menyiramkan mentega panas ke arahnya.

    Uttara pun menjawab, "Bhante, karena saya telah berhutang budi pada Sirima, saya tetap tidak naik darah, tidak memiliki maksud buruk padanya. Saya selalu memancarkan cinta saya kepadanya."

    Lalu Sang Buddha berkata, "Bagus, bagus, Uttara ! Dengan tidak memiliki maksud jahat, kau telah mengatasi mereka yang berbuat kesalahan padamu. Dengan tidak melukai, kau dapat mengatasi mereka yang melukaimu. Dengan bermurah hati kau dapat mengatasi orang kikir, dengan berbicara benar kau dapat mengatasi mereka yang berbohong."

    Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 223 berikut :

    Kalahkan kemarahan dengan cinta kasih dan kalahkan kejahatan dengan kebajikan. Kalahkan kekikiran dengan kemurahan hati, dan kalahkan kebohongan dengan kejujuran.

    Sirima dan lima ratus wanita mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma itu berakhir. Dalam komentar Vimānavatthu (pp.631ff; Vv.11f) and komentar Dhammapada (iii.302ff; iii.104) Selain Sirimā mencapai sotapanna, Uttara-pun menjadi Sakadāgāmī, Suaminya dan ayah mertuanya menjadi Sotapanna. Setelah wafat Uttara terlahir di surga Tavatimsa (tempatnya sakka) [Kisah Uttara, terdapat juga di RAPB buku ke-3, hal 3057 - 3061]

    Setelah Sirima menjadi Sottapatti, Ia dan Uttara menjadi penderma utama di rajagaha. Seorang Bhikku muda sampai jatuh cinta tak bisa maka melihat sirima, berikut kisahnya:

    Saat itu di Rajagaha tinggal seorang pelacur yang sangat cantik bernama Sirima. Setiap hari Sirima berdana makanan kepada delapan bhikkhu. Suatu ketika, salah seorang dari bhikkhu-bhikkhu itu mengatakan kepada bhikkhu-bhikkhu lain betapa cantiknya Sirima dan setiap hari ia mempersembahkan dana makanan kepada para bhikkhu.

    Mendengar hal ini, seorang bhikkhu muda langsung jatuh cinta pada Sirima meskipun belum pernah melihat Sirima. Hari berikutnya bhikkhu muda itu bersama dengan para bhikkhu yang lain pergi ke rumah Sirima untuk menerima dana makanan, pada hari itu Sirima sedang sakit. Tetapi karena Sirima ingin berdana makanan maka ia menerima kehadiran para bhikkhu. Begitu bhikkhu muda tersebut melihat Sirima lalu bhikkhu muda berpikir,

    "Meskipun ia sedang sakit, ia sangat cantik!"

    Bhikkhu muda tersebut memiliki hawa nafsu yang kuat terhadapnya.

    Larut malam itu, Sirima meninggal dunia.

    Raja Bimbisara pergi menghadap Sang Buddha dan memberitahukan bahwa Sirima, saudara perempuan Jivaka, telah meninggal dunia. Sang Buddha menyuruh Raja Bimbisara membawa jenazah Sirima ke kuburan dan menyimpannya di sana selama 3 hari tanpa dikubur, tetapi hendaknya dilindungi dari burung gagak dan burung hering.

    Raja melakukan perintah Sang Buddha. Pada hari ke empat jenazah Sirima yang cantik sudah tidak lagi cantik dan menarik. Jenazah itu mulai membengkak dan mengeluarkan cairan dari enam lubang.

    Hari itu Sang Buddha bersama para bhikkhu pergi ke kuburan untuk melihat jenazah Sirima. Raja Bimbisara dan pengawal kerajaan juga pergi ke kuburan untuk melihat jenazah Sirima. Bhikkhu muda yang telah tergila-gila kepada Sirima tidak mengetahui bahwa Sirima telah meninggal dunia.

    Ketika ia mengetahui perihal itu dari Sang Buddha dan para bhikkhu yang pergi melihat jenazah Sirima, maka iapun turut serta bersama mereka. Setelah mereka tiba di makam, Sang Buddha, para bhikkhu, raja, dan pengawalnya mengelilingi jenazah Sirima.

    Kemudian Sang Buddha meminta kepada Raja Bimbisara untuk mengumumkan kepada penduduk yang hadir, siapa yang menginginkan tubuh Sirima satu malam boleh membayar 1.000 tail, akan tetapi tak seorang pun yang bersedia mengambilnya dengan membayar seharga 1.000 tail, atau 500, atau 250, ataupun cuma-cuma. Kemudian Sang Buddha berkata,

    "Para bhikkhu, lihat Sirima! Ketika ia masih hidup, banyak sekali orang yang ingin membayar seribu tail untuk menghabiskan satu malam bersamanya, tetapi sekarang tak seorangpun yang ingin mengambil tubuhnya walaupun dengan cuma-cuma. Tubuh manusia sesungguhnya subyek dari kelapukan dan kehancuran."

    Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 147 berikut :

    Pandanglah tubuh yang indah ini, penuh luka, terdiri dari rangkaian tulang, berpenyakit serta memerlukan banyak perawatan. Ia tidak kekal serta tidak tetap keadaannya.

    Bhikkhu muda itu mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma berakhir.

    [Buddhagosha: Setelah wafat, Sirimā terlahir kembali di alam Yāma sebagai istri dari Suyāma. Sirima hadir mendengarkan kotbah itu di pemakamannya sendiri!. Pembabaran itu ada di Sutta Kāyavicchandanika (klik !)

      Selagi berjalan, berdiri; duduk maupun berbaring, siapa pun juga akan mengerutkan atau meregangkan tubuhnya. Demikianlah gerakan tubuh.

      Tubuh disatukan dengan tulang dan otot, direkat dengan kulit dan daging, sehingga sifatnya yang sejati tidak dipahami.

      Tubuh berisi usus di rongga perut, gumpalan hati di dalam perut, kandung kencing, jantung, paru-paru, ginjal dan limpa;

      Dengan lendir, air liur, keringat, getah bening, darah, cairan selaput, empedu dan lemak.

      Lewat sembilan aliran, kekotoran terus menerus mendesak keluar –dari mata keluar kotoran mata, dari telinga keluar kotoran telinga;

      Dari hidung keluar ingus; kadang-kadang tubuh mengeluarkan muntahan lewat mulut dan mengeluarkan cairan empedu serta lendir; dari tubuh keluar keringat dan kotoran.

      Rongga di kepala dipenuhi otak; tetapi orang tolol –karena ketidaktahuannya– menganggapnya sebagai benda yang bagus;

      Ketika tubuh terbaring mati –dalam keadaan bengkak dan pucat kebiru-biruan– lalu disingkirkan ke tanah pekuburan, tidak lagi ada sanak saudara yang menginginkannya.

      Anjing, serigala, cacing, gagak dan burung nasar, serta makhluk-makhluk lain memakan bangkainya.

      Di dunia ini, bhikkhu yang bijaksana, yang mendengarkan kata-kata Sang Buddha, akan memahami tubuh ini sepenuhnya serta melihatnya dengan pandangan benar.

      Dia membandingkan tubuhnya dengan mayat, dan karena berpikir bahwa tubuh ini sama seperti mayat dan mayat sama dengan tubuh ini, dia menghapus nafsu terhadap tubuhnya sendiri.

      Di dunia ini, bhikkhu yang bijaksana seperti itu, yang terbebas dari nafsu keinginan dan kemelekatan, akan mencapai keadaan Nibbana yang kekal, yang hening dan tanpa kematian.

      Tubuh ini bersifat tidak murni, berbau busuk dan penuh dengan berbagai kebusukan yang menetes di sana sini.

      Jika orang yang memiliki tubuh seperti ini menyombongkan dirinya sendiri dan merendahkan yang lain — hal itu semata-mata disebabkan karena kurangnya pandangan terang pada dirinya. [Snp 1.11 Vijaya Sutta (nama lainnya)]
    . Ia mencapai Anagami setelahnya. di Vimānavatthu, Sirima terlahir di Nimmānarati, di ketika itu Sirima juga hadir dengan di kelilingi lima ratus putri-dewa dengan lima ratus kereta, Sirima tiba dalam bentuknya yang dapat dilihat, Ia kemudian di tanya oleh YM Vangisa asalnya dari mana dan bagaimana masa lalunya setelah dijawab, Ia kemudian menjalankan penghormatan pada Buddha dan kembali kembali alamnya. Sang Buddha kemudian memberikan kotbah lanjutan dan bhikku yg telah sotapanna itu akhirnya mencapai araha di akhir kotbah namun di sini tidak dinyatakan Sirima mencapai Anagami]

    [Dhammapada, RAPB buku ke-2 hal. 1583-1607, Pali canon, name: Sirima dan Vimanavatthu]

Mari Kita kembali pada Jivaka.

Ketika Jivaka berumur 16 tahun, Ia tahu bahwa Ia hanyalah seorang anak angkat dan kemudian bertanya pada Pangeran Abhaya, "Siapakah Ayah dan Ibuku, Ayahanda?". Pangeran menjawab, "Bahkan aku pun tak tahu siapa Ibumu, Jivaka yang baik, Namun aku adalah ayah yang merawatmu"

Muncul di pikiran Jivaka seperti ini, "Tanpa kepandaian, tidak mudah aku bergantung pada keluarga kerajaan ini. Haruskah, aku belajar kepandaian?. Aku hanyalah anak angkat. Tak selayaknya aku hanya menggantungkan hidupku pada keluarga ini. Aku ingin membalas budi beliau. Karenanya, aku harus belajar ilmu pengobatan agar segera bisa membalas budi."

[(klik!) Catatan]
    RAPB buku ke-3, hal 2996 dikatakan usianya saat belajar adalah 16 tahun, ia tidak melarikan diri namun dikirim oleh pangeran Abhaya.

    V A. II 14: Ia berpikir bahwa pengetahuan pengobatan barguna untuk masyarakat dan juga kesejahteraan mereka, dimana termasuk pengetahuan tentang Gajah, kuda dan cedera dan sakit yang terkait dengannya

Pada suatu hari, dengan tanpa sepengetahuan Pangeran Abhaya, pergilah Jivaka ke Taxila.

[(klik!) Taxila]
    Terdapat 105 rujukan di Jataka tentang Taxila, sekarang di Pakistan, 35 km, barat laut Rawalpindi. Kota ini dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan tinggi bahkan universitas tertua di dunia. Mereka mempelajari Vedic, mantra, pengobatan, militer, hukum, musik, tari, drama, gulat pedang dll.

    Dari mulai jaman sebelum Sang Buddha s/d Abad 460-470, Taxila merupakan pusat study Veda [dan juga Buddhis]. Suku Huna (suku nomaden dari asia tengah) kemudian membumi hanguskan Vihara, Stupa dan sejarah Taxila pun berakhir.

    Tahun 1980, UNESCO menyatakan Taxila sebagai warisan dunia.[komik bodhi ke-4, "Pukkusati pelepas Takhta", hal.31-34, cetakan ke-1 April 2009, Ehipassiko Foundation]. Silakan lihat juga: raja Pukkusati

    [Bacaan lanjutan Taxila]

Pada masa itu, di Taxila hiduplah seorang ahli pengobatan yang sangattermasyur di dunia (kata pali: "Disāpāmokkha" artinya: Termasyur di dunia]. Jivaka berhasil menemui Tabib termashyur di dunia itu. Walaupun tanpa sponsor, Ia diterima untuk belajar disana.

[(klik!) Siapakah Guru Disapamokha?]
    Menurut sumber Sanskrit-Tibet, Guru Disapamokkha yang mengajari Jivaka bernama Atreya [Stürner (2001)Nuad. Die traditionelle Thai Massage. München 2001., p. 26].

    Ilmu pengobatan di India menunjuk pada frase 'Tradisi Atreya' (Atreya-sampradaya). Ada ketika, semua ahli pengobatan dinamakan sebagai Atreya. Ahli bedah disebut Dhanvantaris. Dalam literatur India yang berhubungan dengan pengobatan, sekurangnya terdapat 3 nama Atreya:

    1. Atreya-Punarvasu. Arti Punarvasu adalah karena Ia dilahirkan di bulan Gemini. Atreya dikatakan sebagai manusia pertama yang diajari ilmu pengobatan oleh Deva Indra dan Asvin [Rg Veda I.139.9, Silakan dicheck, karena ternyata tidak ada hubungan langsung yang terlihat di link itu]
    2. Kresna-Atreya, berasal dari perguruan Kresna YajurVeda
    3. Bhikshu-Atreya

    Mereka ini kemungkinannya adalah orang yang berbeda.

    Versi lain adalah sebagai berikut:

    Sakkha/Indra -> Guru Disapamok -> Jivaka.

    Dikatakan ketika Sakka (Indra), Raja dewa Alam 33 Dewa, tengah mengobservasi dunia dan menyadari bahwa sekarang merupakan masa waktu bagi Jivaka yang dikehidupan lalunya pernah beraspirasi untuk menjadi tabib bagi Buddha. Sakka ingin memastikan bahwa Jivaka akan mendapatkan lebih dari sekedar pendidikan obat2an terbaik. Ia kemudian turut campur dengan merasuki badan guru disapamok dan mengajarkan ilmu pengetahuan deva tentang pengobatan.

    Namun Disapamok mengetahui bahwa pendidikan yang diberikannya dipengaruhi mahluk deva. Pengetahuan yang ia sampaikan jauh melebih dari apa yang ia sendiri tahu. Jivaka menyelesaikan pendidikan itu hanya 7 tahun yang seharusnya diselesaikan secara normal selama 11 tahun :)

    [Kecuali tidak ada di Canon Pali, maka kisah di atas ini ada di versi Sanskrit-Tibetan dan juga versi "Taiso Tripitaka" (abad ke-5 M, T.553 (898a05), T.1428 (851b01), yang memberikan identifikasi dalam bahasa china, "Atili Binjialuo", sebagai Atreya. Lihat: Zysk, "Asceticism and Healing", 55, of the text also names Jivaka’s teacher as Atreya]

    Versi canon pali hanya menyebutkan dengan sebutan Guru Disapamokha "Tabib termasyhur di dunia” [Horner, "Book of the Discipline", 4:381).

    Atreya, biasanya dianggap sebagai pengarang dari "CarakaSamhita", (Abad 3 SM) dan di kutip secara meluas di literatur Sanksrit lain hingga abad ke 4/5 Masehi [Detail: Dominik Wujastyk, "The Roots of Ayurveda" (London: Penguin, 2003), 3ff.; G. Jan Meulenbeld, "A History of Indian Medical Literature" (Groningen: Egbert Forsten, 1999–2001)].

    ["THE BUDDHIST MEDICINE KING, "Encyclopaedia of Indian medicine: historical perspective", Vol.1, Ramachandra S.K. Rao, hal 29-31, usamyanmar: Jivaka kaumara dan Relatives_and_Disciples_of_the_Buddha, no.34, Radhika Abeysekera]

Jivaka kemudian belajar banyak di sana. Ia seorang yang cerdas, cepat dalam belajar dan apa yang telah dipelajarinya tidak lagi Ia lupakan.

Kisah di bawah ini ada di versi Sanskrit-Tibet namun tidak ada di Canon Pali:
    Kemanapun Atreya pergi mengunjungi pasiennya, Ia membawa Jivaka bersamanya. Di suatu hari, Ia memberikan arahan resep obat. Jivaka menerima resep ini, ketika membacanya, Ia lihat ada yang kurang tepat pada resep tersebut dan dapat mengakibatkan sang pasien tewas.

    Sebuah pikiran muncul di dirinya, Kemudian Ia keluar dari rumah dan kembali tidak berapa lama kemudian.

    Ia katakan pada pasiennya bahwa ia tadi sudah bertemu lagi dengan gurunya dan menyarankan untuk mengganti resep tersebut dengan yang lainnya. Pasien tersebut dirawat dengan memakai resep ke-2 dan hasilnya membaik.

    Kapan waktu kemudian, Atreya mampir ke rumah sang pasien, menanyakan keadaannya dan di jawab bahwa ia telah membaik. Atreya menyarankan dirinya agar meneruskan obatnya. Pasien itu bertanya, "Memakai resep yang mana, guru? resep yang ke-1 atau yang ke-2?"

    Kebingunan dengan pertanyaan itu, atreya balik bertanya, "Apa yang aku resepkan sebelumnya dan apa yang aku resepkan kemudian?".

    "Engkau resepkan yg pertama ketika engkau ada di sini, dan yang kedua kau lakukan dengan memerintahkan pada muridmu, Jivaka".

    Atreya kemudian melihat kedua resep itu dan kemudian memeriksanya.

    Atreya menyadari bahwa Ia telah melakukan kekeliruan dan Jivaka telah memperbaiknya. Ia meminta sang pasien untuk melanjutkan apa yang telah diresepkan oleh jivaka. Atreya merasa senang pada Jivaka dan sejak itu, kemanapun atreya pergi, Ia mengajak jivaka.

    Para anak Brahmin lain menjadi iri karenanya. Mereka mendekati gurunya dan berkata, " Guru, anda merasa senang dengannya apakah karena ia merupakan anak raja dan memberikan limpahan perintah padanya namun tidak satupun pada kami"

    Guru mereka menjawab, "bukan karena itu, Jivaka mempunyai kecerdasan bagus dan Ia mampu memahami serta berintuisi atas apapun yang telah ku tunjukan padanya"

    "Bagaimana engkau bisa tahu, guru?"

    Aku akan memberikan contoh pada kalian. Ia menuliskan beberapa barang, kemudian meminta para anak brahmin untuk ke pasar dan mencari tahu harganya masing-masing barang tersebut. Ia juga memanggil jivaka dan memberikan perintah yang sama yaitu pergi ke pasar untuk menanyakan harga, namun untuk 1 macam barang saja.

    Mereka semua melakukan tugasnya.

    Ketika di pasar, Jivaka berpikir, alangkah baiknya Ia mencari tau juga harga barang-barang lain, kalau-kalau ditanyakan gurunya.

    Ketika mereka semua telah pulang, Atreya bertanya pada para anak brahmin itu berbagai macam harga barang yang ia telah tuliskan pada mereka dan juga beberapa barang yang tidak ia tuliskan dan tidak ia perintahkan untuk mencari tahu. Para anak Brahmin itu tidak dapat menjawabnya. Namun ketika pertanyaan yang sama di tanyakan kepada Jivaka, Ia mampu menjawabnya.

    Atreya kemudian berkata pada para anak Brahmin itu, "Apakah engkau telah dengar, anak2 brahmin? Inilah yang saya katakan bahwa Jivaka mempunyai kecerdasan dan intuisi.."[Di ambil dari buku: "Encyclopedia of Professional Education", Vol.7, B.R. Sinha, hal 7-8. dan Tibetan Tales Derived from Indian Sources,F von Schiefner, hal.93-95]
Di akhir tahun ke-7 masa belajarnya, Jivaka berpikir bahwa ia telah mempelajari semuanya dan belum terlihat kapan dapat dinyatakan tamat belajar. Ia Kemudian menghampiri gurunya dan berkata, "Saya belajar dan menguasai mata pelajaran dengan cepatnya serta tidak melupakan lagi, Kini sudah 7 tahun berlalu kapankah akhir dari pembelajaran ini dapat dinyatakan selesai, Guru?"

Gurunya berkata, "Jivaka yg baik, ambilah sebuah skop, jelajahi sekeliling Taxila sejauh 1 yojana, bawalah kemari yang engkau anggap tidak dapat dijadikan obat."

"Baiklah, guru".

Dengan membawa sekop, Jivaka komarabhacca menjelajah sekeliling taxila sejauh 1 Yojana, setelah lama berselang, Ia tidak menemukan sesuatupun yang tidak dapat dijadikan obat. Ia kemudian kembali dan berkata pada gurunya, "Guru, Sekeliling Taxilla sejauh 1 Yojana telah kujelajahi namun tidak berhasil kutemukan yang tidak dapat dijadikan obat"

Gurunya menjawab, "Engkau telah berhasil, Jivaka yang baik".

Kemudian gurunya memberikan alakadarnya sebagai bekal dalam perjalanan kembali. Jivaka menerima pemberian itu untuk kembali ke Rajagaha.

[(klik!) AyurVeda BUKAN bagian dari AtharvaVeda atau Veda manapun]
    Pengobatan India dinamakan Ayurveda, kata ini tidak ditemukan di Veda, Upanisad, epos Mahabharata & Ramayana maupun di Canon Pali[4]. Ayur Veda, berasal dari kata: Ayuh/Ayus -Umur / kehidupan / panjang umur dan kata: Veda - Pengetahuan. Jadi, Ayurvedic artinya adalah pengetahuan tentang kesehatan dan umur panjang. Masing-masing aliran spritual di India dalam banyak abad berkontribusi aktif memperkaya khazanah ayur vedic India.

    Tibet:
    Buddha kasyapha (budha ke-27 di kappa ini) -> Brahma -> Asvin -> Atreya -> Murid-muridnya termasuk Jivaka. [Tibetan Buddhist Medicine and Psychiatry: The diamond healing, Terry Clifford,hal 47-48].

    Hinduism:
    Brahma -> Prajapati (Daksa) -> Aswin -> Indra dan dari sini pecah dua:

    1. Garis Caraka samhita [Sutrasthana 1.2-40]: [Bradvadja ->] atreya punarvasu -> 6 muridnya (Agnivesa, Bheda/bhela, Jatukarna, Parasara, Harita, dan Ksarapani/Ksirapani)

      Atreya dikatakan murid lain dari Bharadvaja yg belajar dari Indra. [Caraka Samhita I.19-31]. Di Caraka samhita, tidak dijelaskan apakah Atreya mendapatkan langsung dari Indra atau via Bharadvaja, namun di nyatakan bahwa Indra mengajarkan pada:

      • Beberapa Rsi, diantaranya adalah Bharadvaja dan Atri, kemudian Atri mengajarkan pada anaknya yaitu Atreya [Astangahrdaya Samhita disusun Vagbhata, Abad ke-7 Masehi]

      • Beberapa Rsi, diantaranya adalah Dhanvantari, Bharadvaja, Nimi, Kasyapa, dan Kasyapa. Mereka kemudian menunjuk Atreya punarvasu menjadi pemimpin mereka. mereka menghadap Indra dan di resitalkan pengetahuan yg diketahui sebagai Upaveda dari Atharvaveda. Kemudian mereka menyusunnya kepada dunia dan mengajarkan pada murid2 mereka termasuk diantranya adalah Agnivesa, Harita, Bheda, Mandavya, dan Susruta. [Astangasamgraha, di susun oleh Vagbhata (yang tua-an), Abad ke-7 Masehi, namun kitab ini dianggap lebih muda sedikit dari Astangahrdaya Samhita] [1]

      Bharadvaja dan Atreya adalah nama keluarga [panini, GANA-PATHA, 15,61 dan 62]

      Bhava-Prakasa, di tulis oleh Bhavamishra, thn 1596 Masehi, menyatakan Bharadvaja dan Atreya sama-sama belajar dari Indra [Cakrapanidatta (11 Masehi), komentator dari caraka samhita] dan juga dikatakan bahwa Bharadvaja murid dari Atreya.

    2. garis Susruta Samhita [Sutrasthana 1.1-21]: Divodasa Dhanvantari -> Sushtruta -> dan yang lainnya[1]

      Asvin mengajarkan ilmu pengobatan pada Khakshivan [RV.I.116.7]. Dhanvantari dikatakan anak dari Dirgatamas [Visnu Purana IV 8.2]. Konon, Rg Veda menyebutkan bahwa Khaksivan adalah salah satu anak Dirgatamas (yg berasal dari seorang budaknya Ratu Angga)[2], yang mengindikasikan adanya kesamaan individu antara Khakshivan dan Dhanvantari. Namun keterangan hubungan itu belum mampu saya temukan buktinya di Rg Veda. Kecuali jika diidentifikasi sama, maka walaupun berasal dari ayah yg sama namun bisa saja individu yang berbeda.

      Bhagavata purana 9.17.4-5: Divodasa adalah turunan dari Dhanvantari [Reinkarnasi Visnu/Vasudeva]. Dhanvantari dikenal juga sebagai tabib para deva. Jadi ternyata deva juga bisa sakit menurut mitos ini:). Tabib para Deva di Rig veda banyak misalnya Asvin [Rv.1.116-119], juga Rudra [RV.II.33.4. Rudra dikatakan sebagai Prototipe Siva di tradisibelakangan][3]

      Komentator Sushruta Samhita, yaitu Dalhana (abad ke 12 M,pengarang kitab pengobatan:Nibandha-Sangraha) menyatakan bahwa Ayurvedic merupakan bagian dari Atharvaveda, yaitu veda ke-4 yang ternyata baru ada di abad ke-4 Masehi. Proses Brahmanisasi ayurvedic dilakukan selama masa Gupta (4-7M), yaitu periode yang sama ketika Atharva veda pertama kali dikenal dan di ungkap serta dikaitkan paksa menjadi bagian dari 4 veda [+ Rg, Sama dan Yajur]. Juga periode yg sama dengan banyak purana2 utama di susun.[1]

    Bukti lain bahwa Ayurveda BUKAN bagian dari ATHARVA VEDA, saya ambil dari buku "Studies in the medicine of ancient India: Part I. Osteology, Or The Bones of the Human Body", August Friedrich Rudolf Hoernle. Buku itu membahas tentang tulang dengan mengutip dari 4 kitab yaitu Caraka Samhita, Sustruta Samhita, Satapatha Brahmana dan Atharva Veda.

    Secara ringkas, Susruta mengatakan banyaknya tulang manusia itu adalah 300, sementara Caraka Samhita [CM] mengatakan 360. Hubungan antara ke-4 kitab tersebut adalah sebagai berikut:

    1. Susruta Samhita, menjelaskan perbedaan antara system Atreya-Caraka dan miliknya[5]. Ini mengindikasikan bahwa Sustruta Samhita LEBIH MUDA dari CARAKA SAMHITA.
    2. SATAPATHA brahmana [Khanda 10-12], mengenal doktrin SUSRUTA[6]. Ini mengindikasikan bahwa Satapahta Brahmana LEBIH MUDA dari SUSRUTHA SAMHITA.
    3. Atharvaveda, pd buku ke-10, sloka tentang "penciptaan manusia", familiar dengan system Atreya-Caraka dan Susruta[7]. Ini mengindikasikan bahwa Atharva Veda lebih Muda dari SUSRUTA SAMHITA
    4. Sang Buddha selalu mengatakan tevija [3 veda, Rg, Sama, Yajur]. Jadi jelas Atharveda MUNCUL SETELAH jaman Buddha Gautama [lihat di sini].

    Sekarang kita bisa membuat kronologisnya:

    AyurVeda -> Disapamokha/Jivaka -> Caraka -> Susruta -> Satapatha Brahmana/Atharveda.

    Beberapa lainnya yang belum disebutkan di atas dan memperkaya sejarah panjang Ayur Vedic India diantaranya adalah:

    1. Rahvana, tokoh yang sering digambarkan keji dalam "epos" ramayana NAMUN TIDAKLAH BENAR!, Ia menghasilkan 7 Buku yang kemudian diterjemahkan ke bahasa sankskit, yaitu: Nadi Pariksha, Arka Prakashata, Uddisa Chiktsaya, Oddiya Chikitsa, Kumara Tantraya dan Vatina Prakaranaya [The Sri Lankan Ayurvedic Tradition, P.L.N. de Silva - Former Chairman, Sri Lanka Ayurvedic Drugs Corporation; SriLankan Ramayana issue, dan Ayurveda - Ayurveda: Ageless Remedies]
    2. Jainisme dengan tegas melarang penggunaan alkohol, madu dan daging. Sehingga eksplorasi herbal dan mineral di gunakan dalam pengobatan. Buku Jainism yang memuat itu diantaranya: Acarangasutra [Salah satu buku tertua Jainm, +/- abad ke-5 SM], Uttaradhyayana Sutra [Abad ke-3 SM], Sustra-krtanga, Kalyanakaraka [815-877 Masehi][8]
    ------
    Sumber:
    [1] Mythology and the brahmanization of Indian medicine: transforming heterodoxy into orthodoxy, Kenneth Zysk
    [2] Gods, sages and kings: Vedic secrets of ancient civilization, David Frawley, hal 336-337
    [3] Utk detail lainnya: di sini dan di sini
    [4] Encyclopaedia of Indian medicine: historical perspective, Vol.1, Ramachandra S.K. Rao, hal 29-31
    [5] Studies in the medicine of ancient India:, hal 70
    [6] Studies in the medicine of ancient India:, hal 107
    [7] Studies in the medicine of ancient India:, hal 111
    [8] Medicine in Buddhist and Jaina Traditions

Di tengah perjalanan, sesampainya di Saketa (dekat Faizabad, Uttar Paradsh), Jivaka telah kehabisan bekalnya. Ia kemudian berpikir, "Belantara jalanan ini memiliki sedikit air dan makanan, tidak mudah untuk meneruskan perjalanan tanpa perbekalan. Baiknya aku mencari perbekalan di kota ini agar dapat meneruskan perjalanan pulang"

Di Saketa ketika itu ada seorang istri Pedagang yang telah menderita sakit kepala selama 7 tahun. Ttelah banyak tabib terkenal seluruh dunia diundang datang untuk mengobati dirinya, telah menghabiskan banyak emas, mereka pergi begitu saja tanpa bisa menyembukannya.

Ketika Jivaka memasuki Saketa, Ia bertanya pada masyarakat, "Adakah di sini yang sakit? dan kemana saya mesti datang?"

Penduduk menyampaikan bahwa seorang Istri pedagang telah menderita sakit kepala selama 7 tahun. Mereka menyarankannya untuk datang ke sana. Sesampainya di rumah pedagang tersebut, Ia meminta penjaga pintu untuk menyampaikan kepada nyonya rumah bahwa seorang tabib hendak menemuinya. Penjaga pintu itu kemudian menyampaikan pada nyonya rumah bahwa ada tabib yang hendak menemuinya.

Istri pedagang itu bertanya, "Bagaimana kelihatannya tabib itu, penjaga pintu?"

"Seorang yang masih Muda, Nyonya"

"Cukuplah, penjaga pintu, Apalagi yang dapat diperbuat oleh seorang tabib muda, ketika telah banyak tabib terkenal di dunia ini saja setelah menghabiskan banyak emas, namun tetap saja tidak mampu menyembuhkanku"

Kemudian penjaga pintu itu menemui Jivaka dan berkata, "Guru, Nyonya berkata seperti ini, 'Cukuplah, penjaga pintu, Apalagi yang dapat diperbuat oleh seorang tabib muda, ketika telah banyak tabib terkenal di dunia ini saja setelah menghabiskan banyak emas, namun tetap saja tidak mampu menyembuhkanku'"

Jivaka kemudian berkata, "Mohon pergi dan katakan pada Nyonyamu seperti ini, "Jangan berikan apapun dulu padaku, Ketika engkau telah sembuh, maka engkau boleh berikan apapun yang engkau ingin berikan'"

"Baiklah, guru," Dan penjaga itupun kembali menghadap nyonyanya dan menyampaikan kembali apa yang Jivaka katakan.

"Baguslah jika demikian, Penjaga, biarkan tabib itu masuk" kata nyonya rumah itu.

Penjaga mempersilakan Jivaka masuk dan menemui istri pedangang tersebut. Setelah memeriksa keadaannya, Ia sampaikan padanya bahwa ia memerlukan segenggenggam penuh ghee (keju). Ghee itu kemudian dipanaskannya dan diberi campuran berbagai ramuan obat. Ia meminta nyonya itu berbaring di kursi dipan dan menuangkan ghee campuran itu melalui hidungnya. Kemudian ghee itu mengalir masuk ke hidung dan keluar melalui mulut. [Pengobatan melalui hidung itu dinamakan nutthukamma. Kelak juga digunakan untuk para Bhikkhu [Vin. i.204, Cf.Vi*.iii.83 dan B.D.i.143, n.2]

Kemudian, sang nyonya rumah meminta pelayan wanitanya menampung keju cair yang telah dipakai mengobatinya tersebut dengan segumpal kapas. Melihat kelakuan si nyonya pedagang itu, Jīvaka berpikir, "Sunguh mengherankan! Betapa kikirnya nyonya rumah ini. Ghee bekas ini seharusnya di buang namun malah ditampung dengan kapas padahal banyak obat2an berhargaku juga tercampur di situ. Bagaimana nantinya ketika ia membayarku?".

Kemudian, nyonya rumah itu melihat perubahan muka Jivaka dan berkata, "Apa yang mengganggu pikiranmu, guru?"

Jivaka kemudian menyampaikan apa yang dipikirkannya tadi.

“Guru, kami para ibu rumah tangga harus tau cara berhemat, Ghee ini masih sangat baik untuk dipakai oleh para pelayan2 dan pekerja menggosok kaki mereka atau sebagai bahan buat lampu. Janganlah engkau khawatir, guru, bayaran padamu tidaklah kurang".

Jivaka berhasil menyembuhkan penyakit kepala yang telah 7 tahun di derita nyonya pedagang itu hanya dengan 1 kali pengobatan melalui hidung.

Istri pedagang itu kemudian memberikan 4 ribu [mungkin maksudnya dalam satuan kahapana] kepada Jivaka. Anak lelaki dan menantu perempuannya berpikir, "Ibuku/mertua sembuh", mereka masing-masing memberikan 4000. Tuan rumah, si Pedagang itu berpikir, "Istriku sembuh" Ia memberikan 4000 Kahapana, budak laki dan perempuan serta kereta kuda.

Jivaka kemudian berpamitan dan berangkat ke rajagaha. Sesampainya di Rajagaha, Ia menghadap Pangeran Abhaya dan berkata, "Mohon yang mulia berkenan menerima uang hasil kerja pertamaku sebesar 16.000 kahapana, sepasang budak dan kereta kuda yang kupersembahkan sebagai persembahan karena telah merawatku."

“Janganlah demikian, Jīvaka yang baik, biarlah itu tetap menjadi milikmu dan bangunlah tempat tinggal bagi dirimu di lingkungan istana ini”

"baiklah Ayahanda.” dan Jivakapun membangun tempat tinggalnya di lingkungan Istana.

Saat itu, Rāja Bimbisāra, menderita wasir (fistula) sehingga pakaian luarnya sering basah karena bercak darah. Para selir sering menjadikannya sebagai bahan olok-olok, “Wah sekarang Bagindapun mengalami datang bulan. kelak Baginda akan melahirkan bayi.”. Karena itu Raja menjadi malu dan berkeluh kesah pada pangeran Abhaya mengenai keadaan itu dan meminta ia mencarikan tabib untuk menyembuhkan penyakitnya

“Baginda, ada Jivaka kita, tabib muda yang bereputasi tinggi, biar Ia menghadap pada baginda"

"Baguslah jika demikian, suruh ia menghadapku"

Kemudian Pangeran Abhaya memerintahkan Jivaka menghadap Raja. Jivaka kemudian datang menghadap dengan obat yg diletakan di bawah kukunya dan berkata, "Yang mulia, mari kita lihat penyakitnya" dan kemudian dengan satu olesan salepnya ia sembuhkan penyakit wasir sang Raja. Setelah sembuh, Raja Seniya Bimbisara memberikan Jivaka 500 wanita yang didandani lengkap dengan segala perhiasannya, namun Jivaka menolaknya dan memohon raja menerimanya sebagai tabib Istana. Raja menerima permohonanannya dan meminta Jivaka untuk merawat Raja, permaisuri, selir dan Sangha dimana sang Buddha sebagai pemimpinnya.

Saat itu di Rajagaha ada seorang hartawan yang telah menderita sakit di kepalanya selama 7 tahun. telah banyak Tabib terkenal diundang untuk mengobati sakitnya, telah banyak emasnya habis, namun mereka pergi begitu saja tanpa bisa menyembukannya dan lebih jauh lagi mereka angkat tangan. Beberapa meramalkan bahwa umur sang hartawan ini tinggal 5 hari lagi, beberapa lagi meramalkan umurnya tinggal 7 hari lagi.

Para dewan kota berpikir seperti ini, "Hartawan ini sangat berarti bagi Raja dan Dewan kota, namun Ia telah di buat putus asa oleh para tabib itu, karena beberapa mengatakan umurnya tinggal 5 hari lagi, beberapa lainnya mengatakan bahwa umurnya tinggal 7 hari lagi. Sekarang, kerajaan kita telah punya tabib, Jivaka, yang muda dan bereputasi tinggi. Sebaiknya kita mohon, Jivaka untuk mengunjungi sang hartawan"

Mereka kemudian menghadap raja Bimbisara dan menceritakan hal tersebut, kemudian mereka memohon Raja agar dapat memerintahkan Jivaka datang ke rumah hartawan tersebut. Raja mengabulkan dan memerintahkan Jivaka ke tempat hartawan tersebut. Sesampainya Jivaka di rumah sang hartawan, ia berkata pada sang hartawan, "Jika aku berhasil menyembuhkanmu, apa yang akan engkau berikan sebagai pembayaran, tuan?"

"Seluruh hartaku akan menjadi milikmu dan aku akan menjadi budakmu, Guru"

"Sekarang, tuan, apakah engkau mampu berbaring miring pada satu sisi selama 7 bulan?"

"Dapat, guru"

"Sekarang, tuan, apakah engkau mampu berbaring miring di satu sisi lainnya selama 7 bulan?"

"Dapat, guru"

"Sekarang, tuan, apakah engkau mampu tidur bersandar punggung selama 7 bulan?"

"Dapat, guru"

Kemudian Jivaka meminta sang hartawan untuk berbaring di dipannya, Ia mengikat erat sang hartawan di dipannya, Ia kemudian membuat irisan untuk membuka kepala [vinametva, VI.117 menerangkan dengan vivaritva], membuka sambungan tempurung [subbini,cf Ja. Vi.339, Sibbni (jamak), craniotomy(?)], menarik keluar dua mahluk hidup [panaka], memperlihatkannya pada mereka dan berkata, "Anda lihat, tuan, dua mahluk hidup ini, yang satu kecil dan yang satunya lagi besar? Yang besaran inilah yang dilihat para tabib yang berkata, 'hartawan ini akan wafat pada hari ke-5, di hari ke-5 ia telah melumat habis otak sang hartawan, dan ketika otaknya telah rusak maka hartawan itu akan wafat. Itulah yang sebenarnya dilihat para tabib tersebut, Kemudian yang kecilan, itu yang dilihat oleh para tabib yang mengatakan yang berkata,'hartawan ini akan wafat pada hari ke-7, di hari ke-7 ia telah melumat habis otak sang hartawan, dan ketika otaknya telah rusak maka hartawan itu akan wafat. Itu yg sebenernya dilihat para tabib tersebut" Setelah itu, Ia menyambungkan lagi tempurung, menjahitnya dan kemudian membubuhkan salep.

Setelah tujuh hari berlalu, sang hartawan berkata pada Jivaka, "saya ngga mampu berbaring di satu sisi selama 7 bulan, Guru"

"Bukankah engkau mengatakan, 'saya mampu berbaring di satu sisi selama 7 bulanan?"

“Benar, Guru, tapi rasanya saya akan mati bila terus berbaring di satu sisi selama 7 bulanan” keluh hartawan lagi.

"Jika demikian, berbaringlah dengan punggungmu selama 7 bulan"

Kemudian, setelah tujuh hari berlalu lagi, sang hartawan berkata pada Jivaka, "saya ngga mampu berbaring dengan punggung selama 7 bulan, Guru"

"Bukankah engkau mengatakan, 'saya mampu berbaring dengan punggung selama 7 bulanan?"

“Benar, Guru, tapi rasanya saya akan mati bila terus berbaring dengan punggung selama 7 bulanan” keluh hartawan lagi.

"Jika aku tidak mengatakan demikian, maka engkau tidak akan berbaring selama ini, namun aku tau sebelumnya bahwa engkau akan telah menjadi sehat dalam 3 x 7 hari. bangunlah, tuan, engkau telah sembuh, bayarkan saja apa yang menjadi upahku"

"Semua hartaku menjadi milikmu, Guru. Dan aku menjadi budakmu"

"Jangan demikian, tuan, jangan berikan seluruh hartamu dan janganlah menjadi budakku, berikanlah 100 ribu kahapana pada raja dan 100 ribu padaku". Demikianlah sang hartawan yang telah sehat itu melakukan yang diminta.

Ketika itu, seorang anak hartawan dari benares [kasi], ketika bermain jungkir balik [mokkhacikaya kilantassa] isi perutnya terpelintir, sehingga ia tidak dapat mencerna makanan dan minuman dengan wajar atau buang air besar dengan teratur. Ini mengakibatkan ia menjadi kurus, menggenaskan, kulitnya buruk, menguning, urat-uratnya terlihat diseluruh tubuhnya. Sang Hartawan memikirkan keadaan anaknya dan berpikir sebaiknya Ia menemui Raja Bimbisara dan memohon agar Jivaka dapat datang ke rumahnya.

Ia kemudian menghadap raja Bimbisara dan menceritakan kesusahannya, memohon Raja agar dapat mengijinkan Jivaka datang ke rumahnya untuk memeriksa keadaan anaknya. Raja mengabulkan dan memerintahkan Jivaka ketempat hartawan tersebut.

Sesampainya Jivaka di rumah sang hartawan, Ia kemudian memeriksa keadaannya dan memutuskan akan melakukan operasi abdominal, Ia kemudian mengusir keluar orang-orang yang tidak berkepentingan, mengelilingi anak itu dengan tirai [Tirokarani, Vin II.152], mengikatnya di satu tonggak dan meminta istri dari anak muda itu agar berada di depannya. Ia kemudian membuat irisan untuk membuka perut [laparotomy(?)], menarik keluar isi perut yang terbelit-belit tersebut, memperlihatkan pada istri anak hartawan itu dan berkata, "lihat inilah yang menyebabkan penderitaannya yang menyebabkan dirinya tidak bisa mencerna makanan dan minuman serta tidak mampu buang air seperti seharusnya yang menyebabkan Ia menjadi kurus mengenaskan, warna kulitnya memburuk kekuning-kuningan dan urat nadinya terlihat di seluruh tubuh"

Setelah meluruskan kembali isiperut yang berbelit2 tersebut, mengembalikannya ketempatnya, menjahitnya dan memberikannya salep. Kemudian anak hartawan itupun menjadi makin membaik. Sang Hartawan kemudian berkata, "anakku telah sembuh" Ia memberikan Jivaka 16.000 Kahapana dan Jivakapun kembali ke Rajagaha.

Ketika itu Raja Pajjota dari Avanti dengan ibukotanya Ujjeni [Dha.i.192] menderita penyakit kuning [jaundice, Pandurogabhada Cf. Vin 1.206, Satu bhikku juga menderita penyakit ini, pengobatan berbeda dengan yang diresepkan pada Pajjota]. Telah banyak Tabib terkenal diundang untuk menyembuhkannya, telah banyak uang emas dihabiskan namun mereka pergi begitu saja tanpa bisa menyembuhkannya.

Kemudian raja Pajotta mengirim utusan kepada raja Seniya Bimbisara, yang berkata: "Saya mengidap semacam penyakit, alangkah baiknya bila yang mulia berkenan mengijinkan Jivaka memeriksaku" Raja kemudian memerintahkan Jivaka untuk ke Ujjeni (Madhya Paradesh) memeriksa penyakit raja Pajjota".

Jivaka mematuhinya dan pergi ke Ujjeni dan setelah memeriksa keadaanya ia berkata pada raja Pajjota, "Yang mulia, Aku akan memasakan ghee, dan yang mulia akan meminumnya"

"O, Tidak bisa, jivaka yang baik, lakukan apapun yang dapat menyembuhkanku namun jangan dengan ghee karena ghee menjijikkan bagiku dan membuatku mual"

Kemudian Jivaka berpikir, "Penyakit raja ini adalah jenis yang tidak mungkin disembuhkan tanpa ghee. Aku sebaiknya tetap memasak ghee yg diberikan ramuan untuk menyamarkan warna, bau dan rasanya"

Ia kemudian melakukan itu dan juga membubuhkan berbagai macam obat-obatan kedalamnya.

Kemudian Jivaka berpikir, "Ketika raja kemudian meminum dan mencernanya ini akan membuatnya mual, Ia akan marah besar [canda = bengis; kasar. Nama lengkap raja Avanti adalah CandaPajjota]. Ia akan membunuhku. Sebaiknya aku bersiap dengan mendapatkan ijin meninggalkan tempat dari raja."

Kemudian Ia menghadap raja dan berkata, "Yang mulia, kami para tabib di waktu-waktu seperti ini terkadang mesti mengumpulkan akar-akaran dan obat-obatan. Alangkah baiknya jika yang mulia dapat memerintahkan parapenjaga kuda dan juga pintu gerbang, "biarkan Jivaka pergi kemanapun dan kapanpun waktu yang ia inginkan untuk datang dan pergi"

Raja mengabulkan dan memerintahkan pada para penjaga kandang dan gerbang kota. Ketika itu raja Pajjota memiliki gajah betina bernama Bhaddavatika, yang dapat menempuh 50 Yojana dalam sehari.

Kemudian Jivaka memberikan ghee itu pada raja pajjota dan berkata, "ayo minumlah ramuan obat ini, yang mulia" Setelah itu, Jivaka bergegas ke kandang gajah dan secepatnya keluar dari kota bersama gajah betina Bhaddavatika.

Ketika raja Pajjota, meminum dan mencerna ghee itu ia kemudian menjadi mual. Raja kemudian berkata pada para pengawalnya, "Pengawal, Jivaka yang keji ini membuatku meminum ghee. Sekarang cepat cari, Jivaka"

"Yang mulia, Ia telah keluar kota dengan menunggangi gajah betina, Bhaddavatika"

Di samping Gajah, Raja pajjota juga mempunyai seorang budak bernama Kaka, yang dapat menempuh jarak 60 Yojana dalam sehari, Ia dikatakan merupakan hasil peranakan campuran dengan makhuk bukan manusia. Kaka, diperintahkan untuk membuat Jivaka kembali dengan mengatakan, "Raja memintamu kembali, Guru" dan berpesan padanya, "Kaka yang baik, para tabib ini penuh kelicikan, jadi jangan terima apapun darinya"

Kaka, kemudian memergoki Jivaka sedang sarapan di jalanan pada arah menuju Kosambi. Ia kemudian berkata, "Yang mulia raja memerintahkanmu kembali, Guru"

"Sabarlah sebentar, kaka yang baik, biarkan aku selesaikan sarapanku. Mari, kaka yang baik, kita sarapan bersama"

"Tidak, Guru, Aku telah dipesankan raja dengan berkata, "Kaka yang baik para tabib ini penuh kelicikan, jangan terima apapun darinya"

Ketika itu Jivaka telah melepaskan kotak obatnya, memakan emblica myrobalan [Phyllanthus emblica L.: buah persik, amalaka, kimalaka, kemloko] dan minum air. Kemudian Jivaka berkata pada Kaka, "Kemari, Kaka yang baik, makanlah buah amalaka ini dan minumlah air"

Kemudian kaka berpikir, "Ttabib ini makan buah amalaka dan minum air, seharusnya tidak ada bahaya apapun padaku". Iapun mau dan memakannya. Setelah makan setengah dari buah itu dan minum air, Ia merasakan yang tidak enak dan segara membuang apapun yang tengah dimakannya dan berkata pada Jivaka, "Apakah aku akan hidup, Guru?".

"Jangan takut, Kaka yang baik, engkau akan segera membaik, namun Raja pajjota bengis, Aku mungkin akan dibunuhnya, jadi aku tidak akan kembali" Setelah menyerahkan bhaddavatika kepada Kaka, ia kemudian menuju Rajagaha dan segera menemui raja menceritakan apa yang terjadi. Raja kemudian mengatakan, "Engkau berlaku tepat untuk tidak kembali, Jivaka yang baik, Raja itu bengis, Ia mungkin akan membunuhmu"

Raja Pajjota kemudian sembuh dari sakitnya, ia mengirim kurir kepada Jivaka, "Kemarilah Jivaka, aku akan memberimu hadiah"

"Tidak, tuanku, biarlah yang mulia mengingat tempatku saja"

Pajjota memiliki sepasang kain [Siveyyaka dussaywga] yang merupakan kain terbaik dari semua kain yang pernah ada dan memberikannya pada Jivaka. Jivaka kemudian berpikir tidak ada yang lebih tepat mendapatkan kain sebagus ini selain dari Sang Buddha dan juga Raja bimbisara.

Saat itu adalah tahun ke-20, setelah Buddha mencapai penerangan sempurna. Sang Bhagavà sedang menetap di vihàra gunung di lerang Bukit Gijjhakuta di dekat Ràjagaha. Ketika itu, beliau mengalami gangguan tubuh pada cairan dasar [sembelit kronis], Ia kemudian meminta kepada Ananda untuk mencarikan obat pencahar. Ananda kemudian pergi menemui Jivaka. Jivaka meminta Ananda untuk meminyaki tubuh Sang Buddha selama beberapa hari.

Setelah beberapa hari, Ananda bertanya apakah sudah saatnya untuk memberikan pencahar pada sang Buddha, Jivaka menjawab, "tidak tepat untuk memberikan pencahar pada beliau di kondisinya seperti ini".

Dalam perjalanan kembali, Jivaka bertanya banyak mengenai Buddha Gautama kepada Ananda. [Kalimat ini tidak ada di Maha Vagga]

Kemudian Ia membawakan 3 tangkai lotus yang telah campur dengan obat2an Ia mendekati sang Buddha dan meminta beliau untuk menghirup sebanyak 10x masing-masing. Setelah itu ia berpamitan, namun di tengah jalan terpikir dalam benaknya bahwa karena ada gangguan cairan tubuh dasar, maka hanya akan terjadi 29x pembersihan usus yg hebat, namun jika dilakukan ketika mandi, sang Buddha akan muntah 1x dan di ikuti buang air yang hebat sebanyak 29x. Untuk itu ia kembali. Sang Buddha mengetahui apa yang dipikirkannya, Ia meminta Ananda untuk menyiapkan air panas dan melakukan yang dipikirkan Jivaka. Jivaka datang dan mengemukakan hal tersebut dan terjadi seperti yang Jivaka pikirkan. Jivaka menyatakan agar Sang Buddha sebaiknya melakukan diet jus hingga kesehatan pulih kembali.

Kemudian kesehatan sang Buddhapun membaik.

Setelah itu Jivaka datang untuk mempersembahkan kain terbaik yang ia dapatkan dari Raja pajjota, Ia pun mengajukan permohonan pada sang buddha yaitu agar umat awam diperbolehkan mempersembahkan kain/jubah kepada Sangha. Buddha mengabulkannya. Kemudian dalam satu kotbah, Sang Buddha menyatakan membolehkan para Bhikkhu menerima jubah dari umat awam.

kabar ini menggembirakan penduduk Rajagaha, dalam 1 hari, ribuan jubah dihasilkan di Rajagaha dan dipersembahkan pada Sangha. Ketika penduduk negeri juga mendengar hal ini, maka seharinya ribuan jubah diproduksi dan dipersembahkan kepada Sangha.

[(klik!) Catatan]
    Dalam: "The Buddhist Monastic Code II", The Khandhaka Rules Translated and Explained, oleh Thanissaro Bhikkhu, dinyatakan bahwa Jivaka merupakan umat awam pertama yang memberikan jubah pada sang Buddha. Saya berpendapat:

    • Saat itu merupakan tonggak awal yang sebenarnya dari asal-usul perayaan KATHINA,

    • Saat itu, Jivaka belum lah menjadi umat awam namun ia masih pengikut Jainsm (seperti ayahnya Pangeran Abhaya). Namun demikian, ada kemungkinan ia telah menjadi umat awam sewaktu Sang Buddha sakit di Rajagaha, yaitu sehubungan dengan 2(dua) Sutta bernama sama "Jivaka Sutta" yang dibabarkan sehubungan dengan Jivaka:

      1. Jivaka sutta [M.II.55]. Sutta ini penting dan mempunyai alasan kepindahan kepercayaan dari Jivaka, karena pengikut Jainism tidak diperkenankan makan daging dan madu sama sekali. Profesi dirinya sebagai tabib membuatnya memahami bahwa apapun dapat digunakan sebagai obat. Puas dengan jawaban itu, Jivaka kemudian menyatakan dirinya sebagai umat awam dengan berlindung pada Buddha, Dhamma dan Sangha

      2. Jvaka sutta [AN 8.26], Ia mempertanyakan sejauh mana yang disebut umat awam, umat awam yang baik, umat awam yang berbuat bagi kepentingan diri sendiri namun tidak bagi orang lain dan umat awam yang berbuat bagi diri sendiri dan orang lain. Ada kemungkinan setelah pembabaran sutta ini, ia mengajukan permohonan agar umat awam diperkenankan untuk menerima persembahan jubah.

Dalam Jivaka Sutta [M.II.55], disampaikan pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Rājagaha di Hutan Mangga milik Jivāka Komārabhacca. Jivaka mendatangi Sang Bhagavā, dan setelah bersujud kepada Beliau, ia duduk di satu sisi dan berkata kepada Sang Bhagavā:

“Yang Mulia, aku telah mendengar ini: ‘Mereka menyembelih makhluk-makhluk hidup untuk Petapa Gotama; Petapa Gotama dengan sadar memakan daging yang dipersiapkan untukNya dari binatang-binatang yang dibunuh demi Beliau.’ Yang Mulia, apakah mereka yang mengatakan sebagaimana sesuai dengan yang sampaikan Sang Bhagavā; tidak salah memahami dan berlawanan dengan fakta? Apakah mereka menjelaskan sesuai dengan Dhamma?”

Sang Buddha menjelaskan, "Jivaka, ada tiga kasus daging seharusnya tidak dimakan; jika melihat (Adittha) seseorang menyembelihnya, mendengar (Asuta) jeritannya ketika ia di bunuh sebagai konsumsinya, atau ada keraguan dalam pikirannya (Aparisamkita) bahwa makhluk hidup itu disembelih untuk dirinya. Aku katakan bahwa daging seharusnya tidak dimakan dalam ketiga kasus ini. Aku katakan bahwa ada tiga kasus yang mana daging boleh dimakan; jika tidak terlihat, tidak terdengar, dan tidak dicurigai [bahwa makhluk hidup itu disembelih untuk dirinya]. Aku katakan bahwa daging boleh dimakan dalam ketiga kasus ini"

Sang Buddha juga menyatakan bahwa para Bhikku menerima makanan dan memakan makanan itu tanpa terikat pada makanan itu, tanpa tergila-gila pada makanan itu, dan tanpa menyerah pada makanan itu, melihat bahaya di dalam makanan itu dan memahami jalan membebaskan diri dari makanan itu.

Sang Buddha menyatakan bahwa nafsu apapun juga, kebencian apapun juga, kebodohan apapun juga dapat menimbulkan niat buruk.

“Jika siapapun juga menyembelih makhluk hidup untuk Sang Tathāgata atau siswaNya, ia menimbun banyak keburukan dalam lima kasus.
  1. Ketika ia berkata: ‘Pergi dan tangkap makhluk hidup itu,’ ini adalah kasus pertama yang mana ia menimbun banyak keburukan.
  2. Ketika makhluk hidup itu mengalami kesakitan dan kesedihan karena ditarik dengan leher tercekik, ini adalah kasus ke dua yang mana ia menimbun banyak keburukan.
  3. Ketika ia berkata: ‘Pergi dan sembelilah makhluk hidup itu,’ ini adalah kasus ke tiga yang mana ia menimbun banyak keburukan.
  4. Ketika makhluk hidup itu mengalami kesakitan dan kesedihan karena disembelih, ini adalah kasus ke empat yang mana ia menimbun banyak keburukan.
  5. Ketika ia mempersembahkan makanan yang tidak diperbolehkan kepada Sang Tathāgata atau siswaNya, ini adalah kasus ke lima yang mana ia menimbun banyak keburukan.
Siapapun juga yang menyembelih makhluk hidup untuk Sang Tathāgata atau siswaNya, ia menimbun banyak keburukan dalam lima kasus ini.

Ketika hal ini dikatakan, Jivaka Komārabhacca berkata kepada Sang Bhagavā: "Sungguh mengagumkan, Yang Mulia, sungguh menakjubkan! Para bhikkhu memelihara diri mereka dengan makanan-makanan yang diperbolehkan. Para bhikkhu memelihara diri mereka dengan makanan-makanan yang tanpa cacat. Sungguh mengagumkan, Yang Mulia, sungguh menakjubkan!..Sjak hari ini sudilah Sang Bhagavā mengingatku sebagai seorang umat awam yang telah menerima perlindungan seumur hidup."

Sejak saat itulah, Jivaka menjadi tabib bagi Sang Buddha dan sangha sepanjang hidupnya.

[(klik!) Catatan]
    • Peraturan untuk umat awam Buddhis menghindari pembunuhan juga melarangnya membunuh demi makanan. Tetapi tidak melarang membeli daging yang berasal dari binatang yang telah mati. Untuk lebih jelas mengenai hal ini baca Vin Mv Kh 6/i.237-38, dan I.B. Horner, Early Buddhism and the Taking of Life, pp.20-26.

    • Terdapat komentar penterjemah di sutta ini, bahwa sebelum pembabaran sutta ini Jivaka telah sotapanna sehingga dianggap mengherankan mengapa baru saat itu berlindung pada Buddha dhamma dan sangha. Komentar itu jelas tidak benar, karena seorang yang telah mencapai Sotapanna, Ia telah menghancurkan 3 belenggu terendah:

      1. Sakkaya Ditthi = [Sa/santa- Keberadaan] + kaya- [nama & Rupa]
      2. Vicikiccha = keragu2an pada Buddha, Dhamma dan sangha
      3. Silabbataparamasa = Meyakini bahwa ada hal lain (upacara, bersembahyang, mengikuti kehendak mahluk tertentu, pantang makanan tertentu, dll) dapat membuat diri menjadi suci

      Point ke-1 adalah kunci.
      Seseorang yang telah hancur belenggu ke-1, Ia memahami [nama dan rupa] bukan sebagai diri dan tidak kekal, sehingga tidak lagi melihat ada sesuatu yang kekal (juga setelah mati), tidak melihat bahaw semua lenyap hilang setelah mati.

      Ia paham bahwa fenomena itu adalah muncul - bertahan - lenyap.

      untuk itu,
      Ia tidak akan pelit karena "punya ku" adalah tidak nyata.
      Ia tidak akan melanggar sila dengan sengaja.
      Tidak ada itikad dirinya untuk menyakiti, tidak ada itikad dirinya mengambil kepunyaan orang, berdusta dan memasukan makanan/minuman yg menghilangkan kesadaran.
      Tidak ada keragu2an bhw tidak ada tuhan dan roh. sehingga tidak ada keragguan akan Buddha.

      Tidak ada keraguan akan Buddha mengakibatkan dan karena tidak ada keraguan akan Dhamma [semua adalah fenomena tanpa adanya inti yg dapat di pegang dan tentu saja konseskuensinya ia menjalankan sila dan tidak pelit]

      Tidak ada keraguan akan Dhamma krn ia tau bahwa ini hanyalah FENOMENA gabungan/campuran, sehingga ia akan menghormat orang yg menempuh kesucian, berusaha mengingatkan mereka yg menempuh kesucian, menyokong mereka yang menempuh kesucian.

      Memahami hakekat fenomena, maka ia akan tau tanpa keraguan bahwa tidak ada hal lain/benda lain yang dapat membuat dirinya suci, tidak juga dengan upacara-upacara apapun selain dengan memperbaiki PRILAKU SENDIRI artinya Ia tau dan paham ada kegiatan yang benar/salah, Ia mengingatkan oranglain dan dirinya, ketika ada bagian dari kegiatan itu berpotensi melanggar 4 sila maka tidak lakukan sama sekali.

      Kenapa?

      Ia tidak pelit tidak lagi dan tertarik pada materi dan juga kebanggan/ketakutan akan ditingggal dan seterusnya

      Bacaan lebih lanjut: Samanupassana Sutta, Vina sutta dan vajra sutta.

Dalam Jivaka sutta [AN 8.26], Sang Buddha ketika itu ada di Rajagaha di hutan mangga milik jivaka. Jivaka bertanya, "Yang mulia, sampai sejauh manakah seseorang dinamakan sebagai pengikut awam?"

Sang Buddha menjawab, "Jivaka, ketika seseorang telah berlindung pada Buddha, Dhamma dan Sangha"

Jivaka bertanya, "Yang mulia, sampai sejauh manakah seseorang dinyatakan sebagai pengikut yang baik?"

Sang Buddha menjawab, "Jivaka, ketika seseorang tidak menyakiti mahluk hidup, tidak mengambil yang bukan hak-nya, menjaga indera-inderanya dari perbuatan tidak patut, tidak menyatakan yang tidak benar dan tidak memasukan sesuatu kedalam tubuh yang membuat lemah kesadarannya sehingga mengakibatkan kelalaian, sampai sejauh itulah seseorang dinyatakan sebagai umat awam yang baik"

Jivaka bertanya, "Yang mulia, sampai sejauh manakah seseorang dinyatakan sebagai umat awam yang melaksanakan praktek yang bermanfaat bagi dirinya sendiri namun tidak bagi yang lainnya?."

Sang Buddha menjawab, "Jivaka, ketika seorang pengikut awam sendiri:
  1. sempurna dalam keyakinan, namun tidak mendorong orang lain untuk menyempurnakan keyakinan
  2. sempurna dalam kebajikan tetapi tidak mendorong orang menyempurnakan kebajikan
  3. sempurna dalam kemurahan hati, tetapi tidak tidak mendorong orang lain menyempurnakan kemurahan hati
  4. keinginan untuk menemui bhikkhu tetapi tidak mendorong orang lain menemui bhikkhu
  5. ingin mendengar Dhamma yang benar tetapi tidak mendorong orang lain untuk mendengarkan Dhamma yang benar
  6. mempunyai kebiasaan mengingat Dhamma yang telah didengarnya namun tidak tidak mendorong orang lain berkebiasaan untuk mengingat Dhamma yang telah mereka dengar
  7. menggali makna Dhamma yang telah didengarnya namun ia tidak mendorong orang lain menggali makna Dhamma yang telah mereka dengar
  8. mengetahui Dhamma & artinya, melakukan praktek yang selaras namun tidak mendorong orang lain berlatih esuai dengan Dhamma
Sampai sejauh itulah disebut pengikut awam melaksanakan praktek yang bermanfaat bagi dirinya sendiri namun tidak bagi orang lain.

Jivaka kemudian bertanya, "Yang mulia, sampai sejauh manakah seseorang dinyatakan sebagai umat awam yang melaksanakan praktek yang bermanfaat bagi dirinya sendiri dan orang lain?"

Sang Buddha menjawab seperti di atas dan ditambahkan keterangan "mendorong orang lain"

Setelah itu, Ia merasakan bahwa jarak antara beliau tinggal dan dirinya terlalu jauh, sehingga ia mendirikan vihara di kebun mangganya kemudian menyerahkan Viharanya pada Sang Buddha dan sangha, Saat pembabaran Dhamma pada peresmian viharanya Ia mencapai sotapanna.

[(klik!) Catatan]
    • Ada yang mengatakan bahwa Ia mencapai sotapanna setelah kotbah yaitu ketika Ia memberikan jubah di hadapan sang Buddha [Misal: di sini dan di sini]

    • Ada yang mengatakan bahwa setelah beberapa kotbah ia mencapai sotapanna, baru kemudian ia membuat Vihara di kebun mangganya [Misal: di sini dan di sini]

    • sumber dari tulisan saya di atas adalah dari sini. Vihara Jivakarama, merupakan 1 dari 3 Vihara [Jivakarama, Jetavanarama (penyumbang: Anathapindika dari savathi Sang Buddha menghabiskan 19 Masa Vassa di sini) dan Ghositarama (penyumbang: Ghosita dari Kosambi)] yang ditemukan jejaknya oleh Arkeologis. Seluruhnya ada 8 Vihara yang disumbangkan oleh umat awam dan dinamakan sesuai nama penyumbangnya. Sisa 5 nama, lokasi dan penyumbang lainnya adalah:

      1. Veluvanarama, Rajagaha. Merupakan Vihara pertama yg dipersembahkan pada Buddha dan Sangha. Penyumbang: Raja Bimbisara. Sang Buddha menghabiskan 6 Masa Vassa disini
      2. Pubbarama. Penyumbang Visakha dari savatti. Sang Buddha menghabiskan 6 Masa Vassa disini
      3. Ambapali-vana, Penyumbang: Ambapali, seorang wanita penghibur kota Vesali
      4. Nigrodharama, Kapilavatthu.
      5. Kukkutarama, Pavarikambavana dan Badarikarama dari Kosambi

Di Vihara di hutan mangga, ada satu kejadian menarik ketika Jivaka mengundang Sang Buddha dan Sangha untuk berdana makan. Kisah ini dimulai seperti ini.

Bendahara Kerajaan di Rajagaha mempunyai dua orang cucu laki-laki bernama Mahapanthaka dan Culapanthaka. Mahapanthaka, yang tertua, selalu menemani kakeknya mendengarkan khotbah Dhamma. Kemudian Mahapanthaka bergabung menjadi murid Sang Buddha.

Ketika Culapanthaka berusia 18 tahun(Apadana i. 58f), Ia mengikuti jejak kakaknya menjadi bhikkhu pula. Saat itu, Mahapanthaka Thera telah menjadi seorang arahat ketika adiknya Culapanthaka masuk dalam pasamuan bhikkhu.

Pada masa Buddha Padumuttara (Buddha ke-11), Cūlapanthaka adalah seorang perumah tangga. Ketika itu, ia melihat seorang Bhikkhu dinobatkan sebagai yang terunggul dalam menciptakan bentuk atau adhiññhàna iddhi, adalah kekuatan tekad untuk memproyeksikan citra diri sendiri menjadi seratus atau seribu. Teraspirasi dengan kejadian itu ia berharap akan dapat seperti itu.

Tetapi, karena pada kehidupannya yang lampau pada masa keberadaan Buddha Kassapa, Culapanthaka adalah juga seorang bhikkhu dan melaksanakan praktek odātakasina selama 20.000 tahun (AA.i.119) Ia ketika itu telah menggoda seorang bhikkhu yang sangat bodoh, maka dia dilahirkan sebagai orang dungu pada kehidupannya saat ini. Dia tidak mampu mengingat meskipun hanya satu syair dalam empat bulan. Mahapanthaka menjadi kecewa dengan adiknya dan menyuruhnya untuk meninggalkan vihara karena ia tidak ada gunanya berada dalam pasamuan bhikkhu.

Berkaitan dengan hal tersebut, pada suatu kesempatan, para bhikkhu bertanya kepada Sang Buddha, mengapa meskipun ia seorang arahat, mengusir adik laki-lakinya dari vihara. Mereka juga menambahkan, "Apakah para arahat masih kehilangan kesabarannya ? Apakah mereka masih mempunyai kekotoran batin seperti keinginan jahat dalam diri mereka ?"

Kepada mereka Sang Buddha menjawab, "Para bhikkhu! Para arahat tidak mempunyai keinginan jahat seperti nafsu dan kebencian dalam diri mereka. Murid-Ku Mahapanthaka melakukan hal seperti itu dengan pengertian demi keuntungan saudaranya dan bukan karena keinginan jahat."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 407 berikut :
Seseorang yang nafsunya, kebenciannya, kesombongannya dan kemunafikannya telah gugur, seperti biji lada yang jatuh dari ujung jarum, maka ia Kusebut seorang 'brahmana'

Suatu waktu, Jivaka datang ke vihara mengundang Sang Buddha dan para bhikkhu yang ada, untuk berkunjung makan siang di rumahnya. Mahapanthaka, yang diberi tugas untuk memberitahu para bhikkhu tentang undangan akan siang tersebut, mencoret Culapanthaka dari daftar undangan. Ketika Culapanthaka mengetahui hal itu dia merasa sangat kecewa dan memutuskan untuk kembali hidup sebagai seorang perumah tangga.

Mengetahui keinginan tersebut, Sang Buddha membawanya dan menyuruhnya duduk di depan Gandhakuti. Kemudian Beliau memberikan selembar kain bersih kepada Culapanthaka dan menyuruhnya untuk duduk menghadap ke timur dan menggosok-gosok kain itu. Pada waktu bersamaan dia harus mengulang kata "Rajoharanam", yang berarti "kotor". Sang Buddha kemudian pergi ke tempat kediaman Jivaka, menemani para bhikkhu.

Culapanthaka mulai menggosok selembar kain tersebut, sambil mengucapkan "Rajoharanam". Berulang kali kain itu digosok dan berulang kali pula kata-kata rajoharanam meluncur dari mulutnya.

Berulang dan berulang kali.

Karena terus menerus digosok, kain tersebut menjadi kotor. Melihat perubahan yang terjadi pada kain tersebut, Culapanthaka tercenung. Ia segera menyadari ketidakkekalan segala sesuatu yang berkondisi.

Dari rumah Jivaka, Sang Buddha dengan kekuatan supranaturalnya mengetahui kemajuan Culapanthaka. Beliau dengan kekuatan supranaturalnya menemui Culapanthaka, sehingga seolah-olah Beliau tampak duduk di depan Culapanthaka, dan berkata :

"Tidak hanya selembar kain yang dikotori oleh debu; dalam diri seseorang ada debu hawa nafsu (raga), debu keinginan jahat (dosa), dan debu ketidaktahuan (moha), seperti ketidaktahuan akan empat kesunyataan mulia. Hanya dengan menghapuskan hal-hal tersebut seseorang dapat mencapai tujuannya dan mencapai arahat."

Culapanthaka mendengarkan pesan tersebut dan meneruskan bermeditasi. Dalam waktu yang singkat mata batinnya tebuka dan ia mencapai tingkat kesucian arahat, bersamaan dengan memiliki ‘Pandangan Terang Analitis? Maka Culapanthaka tidak lagi menjadi orang dungu.

Di rumah Jivaka, para umat akan menuang air sebagai tanda telah melakukan perbuatan dana; tetapi Sang Buddha menutup mangkoknya dengan tangan dan berkata bahwa masih ada bhikkhu yang ada di vihara. Semuanya mengatakan bahwa tidak ada bhikkhu yang tertinggal. Sang Buddha menjawab bahwa masih ada satu orang bhikkhu yang tertinggal dan memerintahkan untuk menjemput Culapanthaka di vihara.

Ketika pembawa pesan dari rumah Jivaka tiba di vihara, dia menemukan tidak hanya satu orang, tetapi ada seribu orang bhikkhu yang serupa. Mereka semua diciptakan oleh Culapanthaka, yang sekarang telah memiliki kekuatan supranatural. Utusan tersebut kagum dan dia pulang kembali dan melaporkan hal ini kepada Jivaka.

Utusan itu kembali diutus ke vihara untuk kedua kalinya dan diperintahkan untuk mengatakan bahwa Sang Buddha mengundang bhikkhu yang bernama Culapanthaka. Tetapi ketika dia menyampaikan pesan tersebut, seribu suara menjawab, " Saya adalah Culapanthaka." Dengan bingung, dia kembali ke rumah Jivaka untuk kedua kalinya.

Untuk ketiga kalinya dia disuruh kembali ke vihara. Kali ini, dia diperintahkan untuk menarik bhikkhu yang dilihatnya pertama kali mengatakan bahwa dia adalah Culapanthaka. Dengan cepat dia memegangnya dan semua bhikkhu yang lain menghilang, dan Culapanthaka menemani utusan tersebut ke rumah Jivaka.

Cūlapanthaka adalah seorang yang mahir rūpajjhāna dan samādhi, sementara kakaknya seorang yang mahir arūpajjhāna dan vipassanā. Ketika menciptakan bentukan, para bhikkhu lain hanya mampu menghasilkan 2 atau 3 bentuk, namun Cūlapanthaka mampu membuat ribuan banyaknya dalam waktu yang sama dan juga tidak sama satu dengan yang lainnya serta prilakunya(ThagA.ii.490; PsA.276).

Setelah makan siang, seperti yang diperintahkan oleh Sang Buddha, Culapanthaka menyampaikan khotbah Dhamma, khotbah tentang keyakinan dan keberanian, mengaum bagaikan raungan seekor singa muda. Ketika masalah Culapanthaka dibicarakan di antara para bhikkhu, Sang Buddha berkata bahwa seseorang yang rajin dan tetap pada perjuangannya akan mencapai tingkat kesucian arahat.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 25 berikut ini :

Dengan usaha yang tekun, semangat, disiplin, dan pengendalian diri, hendaklah orang bijaksana membuat pulau bagi dirinya sendiri yang tidak dapat ditenggelamkan oleh banjir.

Di katakan (Vin.iv.54f) suatu ketika adalah gilirannya untuk mengajari para Bhikkhuni di Sāvatthi, para Bhikkhuni tidak berharap banyak atas ceramahnya karena ia selalu mengulang-ulang syair yang sama. Suatu hari, di akhir pengajaran yang diberikannya, Ia mendengar bisik-bisik mengenai itu dan dengan tanpa menunda waktu lagi ia perlihatkan kebolehannya yang telah melegenda itu. Para Bhikkhuni berubah menjadi sangat perhatiannya pada pembabarannya hingga lewat senja. Sang Buddha mendengar hal ini dan mengingatkan Cūlapanthaka agar tidak lagi mengajarkan para Bhikkhuni hingga lewat senja.

Kisah lain yang berhubungan dengan Jivaka adalah jyotishka (Jotika), Kisah ini berada di kisaran waktu setelah Jivaka menjadi pengikut Buddha s/d Raja Bimbisara wafat [Di atas tahun ke-20 s/d tahun ke-38, Buddha Gautama mencapai penerangan sempurnanya].
    Seorang hartawan super kaya dari Rajagaha mempunyai istri yang tengah hamil. Kemudian, Kshapanaka [seorang dari aliran Titthiya] meramalkan bahwa anaknya adalah perempuan. Sang Buddha mengatakan bayinya adalah lelaki, akan bergabung dengan buddhisme, menjadi sangat termasyhur dan kemudian mencapai Arahat. Hartawan ini ternyata lebih condong pada kaum Titthiya, Ia membubuh istrinya dan membawanya ke kuburan untuk dikremasi. Ketika baru mulai di kremasi, sang Buddha kemudian meminta Jivaka untuk menuju ke api yang tengah membakar mayat tersebut dan menyelamatkan sang jabang bayi. Ternyata anak itu masihlah hidup!. Oleh karena sang ayah menolak mengakui anak itu, maka atas permintaan sang Buddha, anak itu kemudian di adopsi oleh raja Bimbisara. Sang Buddha memberikan nama anak itu Jyotishka, karena lolos dari api [Jyotis]. Di perjalanan waktu, anak tersebut di klaim oleh pihak keluarga ibunya dan dibesarkan menjadi seorang anak dan menjadi sangat kaya. Di kisahkan ketika Ajatasattu telah menjadi raja, Ia iri dengan kekayaan Jyotishka. Untuk menghindari bencana lebih lanjut Jyotishka kemudian menyumbangkan kekayaannya, menjadi Bhikkhu dan tak lama kemudian, Ia menjadi arahat
[Kisah yang di atas tidak ada di kanon pali namun ada di catatan perjalanan Yuan Chwang ke India [629 - 645 M],Thomas Watters, Vol.2, 1905, hal.163-164, untuk Jivaka di hal.151 atau juga artikel Jeevaka's surgical feats in Buddhist India, yang merujuk pada "Encyclopedia of Buddhism", II, plate XLI.].

Dalam versi Canon Pali, sama sekali tidak ada keterlibatan Jivaka.

Dalam versi Pali ini Jotika (bahasa Pali dari Jyotishka) juga merupakan anak seorang hartawan. Ketika dewasa, Jotika diberikan lahan untuk membangun rumahnya. Deva Sakka memberikan bantuan yang menyebabkan ia mempunyai kekayaan yang tidak pernah habis-habisnya dan juga tidak pula dapat di ambil secara menggelap tanpa se-izinnya.

Pada suatu ketika, Raja Bimbisara dan pangeran Ajatasattu datang berkunjung ke rumah Jotika, mereka sangat terpesona pada kekayaan dan rumahnya. Kekayaannya bahkan jauh melebih yang raja miliki. Saat itulah itikad jahat Ajatasattu muncul.

Ketika Ajatasattu menjadi Raja, Ia berusaha mencuri dan merampoknya rumah Jotika, namun tidak berhasil, Ia kemudian mencari Jotika hingga ke Vihara. Jotika tahu bahwa bencana akan menghampirinya. Setelah menjelaskan dengan mendemonstrasikan pada raja bahwa kekayaannya tidak akan bisa diambil tanpa izin dirinya. Maka, untuk menghindari bencana, Ia kemudian menjadi Bhikkhu. Segera setelah Ia menjadi Bhikkhu maka di saat itu pulalah seluruh kekayaannya lenyap menghilang [Kisah Jotika, "Riwayat Agung Para Buddha" (RAPB) buku ke-3, hal 3071-3090]

Di antara tahun ke-37 dan tahun ke-38 setelah Buddha mencapai penerangan sempurna, Devadatta di suatu kesempatan, mencoba untuk membunuh Sang Buddha dengan mendorong batu besar dari puncak bukit Gijjhakuta (Puncak Burung Nasar). Sewaktu batu itu bergulir turun, dua gundukan tanah muncul dengan sendirinya menahan laju batu itu. Serpihan batu itu melesat dan mengenai kaki Buddha hingga berdarah.

Para bhikkhu membawa Buddha ke vihàra di Taman Maddakucchi. Di sana Buddha mengungkapkan keinginan-Nya untuk pergi ke vihàra di hutan mangga Jivaka dan meminta para bhikkhu membawa Beliau ke sana. Para bhikkhu membawa Beliau ke sana sesuai instruksi-Nya.

Mendengar berita itu, Jivaka, si Tabib ahli mendatangi Buddha dan memberikan obat yang manjur untuk mengobati luka-Nya. Setelah membalut luka-Nya, ia memberitahu Buddha untuk tidak melepas perbannya hingga ia kembali dari kunjungannya ke pasien lainnya di kota. Setelah mengunjungi pasien lainnya dan melakukan apa yang perlu dilakukan atas pasiennya, Tabib tidak sempat kembali sebelum pintu gerbang kota ditutup.

Kemudian Tabib Jivaka berpikir, “Aku telah memberikan obat yang manjur kepada kaki Buddha dan membalut luka-Nya, memperlakukan-Nya seperti pasien biasa. Aku telah melakukan kesalahan besar. Sekarang waktunya untuk melepas perbannya. Jika perbannya tidak dilepas, Beliau akan menderita kesakitan sepanjang malam.” Dengan pikiran demikian, Jivaka menjadi sangat cemas. Pada waktu itu Buddha memanggil Ananda dan berkata, “Ananda, Tabib Jivaka kembali setelah gelap dan tidak sempat sampai di pintu gerbang kota sebelum ditutup. Ia merasa cemas karena sekarang adalah saatnya untuk melepas perban. Engkau lepaskanlah perban ini segera.” Yang Mulia Ananda melepas perban itu dan luka itu telah lenyap bagaikan kulit kayu yang dikelupas dari pohon.

Segera setelah pintu gerbang kota dibuka, Jivaka bergegas mendatangi Buddha bahkan sebelum fajar menyingsing dan menanyakan apakah Beliau menderita kesakitan. Buddha berkata, “Jivaka, Aku telah mengatasi semua rasa sakit sejak Aku mencapai Pencerahan Sempurna di bawah pohon Bodhi.” Dan kemudian Beliau mengucapkan syair berikut.

Gataddhino visokassa, vippamuttassa sabbadhi
Sabbagantha-pahinassa, parilàho na vijjati.

Orang yang telah menyelesaikan perjalanannya,
yang telah terbebas dari segala hal,
yang telah menghancurkan semua ikatan;
maka dalam dirinya tidak ada lagi demam nafsu.


“Jivaka! Sama sekali tidak ada dukacita, tidak ada penderitaan (batin) dalam diri seorang Arahanta yang telah terbebas dari samsàra yang telah mencapai pantai seberang dari samsàra, yang bebas dari segala kesedihan, yang tidak memiliki kemelekatan terhadap apa pun termasuk badan jasmani, dan lain-lain, yang telah menghancurkan semua belenggu.”

Pada akhir khotbah itu, banyak makhluk-makhluk yang mencapai Buah Sotàpatti dan seterusnya.

Sebelum peristiwa menjatuhkan batu, telah banyak upaya percobaan pembunuhan yang dilakukan oleh Devadatta. Semua Upaya pembunuhan itu dengan persetujuan dan sepengetahuan raja Ajatasattu. Raja Ajatasattu menjadi raja setelah melakukan percobaan pembunuhan pada Bimbisara, memenjarakannya, menyiksanya hingga Tewas.

Tindakan Durhaka itupun berawal dari hasutan Devadatta.

“Pangeran, orang-orang pada masa lampau berumur sangat panjang tetapi sekarang orang-orang berumur pendek. Ada kemungkinan engkau akan mati bahkan selagi masih menjadi seorang pangeran. Oleh karena itu, bunuhlah ayahmu dan jadilah raja. Aku akan membunuh Buddha dan menjadi seorang Buddha.”

Dengan membawa pisau ia kemudian hendak membunuh Ayahnya, namun gagal. Kemudian raja Bimbisara kemudian bertanya mengapa ia ingin membunuh ayahnya. Pangeran menjawab bahwa ia ingin menjadi raja. Raja Bimbisàra kemudian berkata, “Pangeran, jika engkau ingin menjadi seorang raja, maka kerajaan ini adalah milikmu,”.

Ia-pun menyerahkan secara penuh kerajaannya pada Pangeran Ajàtasattu.

Karena keinginannya telah terpenuhi, Pangeran Ajàtasattu merasa gembira dan memberitahu Devadatta mengenai hal itu. Tetapi Devadatta berkata, “Bagaikan seorang yang menutupi genderangnya yang berisi seekor rubah, engkau berpikir bahwa engkau telah mencapai tujuanmu. Setelah dua atau tiga hari, ayahmu akan berubah pikiran mengenai kelancanganmu dan akan kembali menjadi raja.”

Sang pangeran bertanya kepada gurunya apa yang harus ia lakukan. Devadatta dengan jahat memberikan nasihat agar ia membunuh ayahnya. Pangeran berkata bahwa ia tidak ingin membunuh ayahnya dengan senjata apa pun karena ia berdarah bangsawan. Kemudian Devadatta sekali lagi memberikan nasihat jahat bahwa pangeran dapat membiarkan ayahnya mati kelaparan.

Raja Ajàtasattu memerintahkan agar ayahnya, Raja Bimbisàra ditahan di dalam sebuah sel besi yang sangat panas. Ia tidak mengizinkan siapa pun untuk mengunjunginya kecuali ibunya.
  1. Ratu Vedehi membawa makanan di dalam mangkuk emas ke dalam sel besi. Raja memakan makanan itu untuk bertahan hidup. Raja Ajàtasattu bertanya bagaimana ayahnya dapat bertahan hidup dan ketika mendengar apa yang dilakukan oleh ibunya, ia memerintahkan para menteri agar jangan mengizinkan ibunya membawa makanan.
  2. Kemudian ratu menyembunyikan makanan di dalam gulungan rambutnya dan memasuki sel. Raja memakan makanan itu dan bertahan hidup. Ketika Raja Ajàtasattu mendengar tentang hal ini, ia melarang ratu memasuki sel dengan rambut tergelung.
  3. Kemudian ratu membawa makanan di dalam sepatu emas yang ia pakai. Raja bertahan hidup dengan memakan makanan yang dibawa oleh ratu di dalam sepatunya itu. Ketika Ajàtasattu mengetahui bagaimana ayahnya bertahan hidup, ia melarang ibunya mengunjungi raja dengan mengenakan sepatu.
  4. Sejak saat itu Ratu Vedehi mandi dengan air harum, melumuri badannya dengan makanan (yang terdiri dari minyak, madu, dan mentega) dan mengenakan jubah luarnya, kemudian ia memasuki sel. Raja bertahan hidup dengan menjilati badannya. Ketika si jahat Ajàtasattu mengetahui hal ini, ia dengan angkuh memerintahkan agar para menterinya jangan mengizinkan ibunya memasuki sel.
Dilarang memasuki sel, ratu berdiri di dekat pintu sel dan mengeluh, “O raja besar! Engkau sendiri yang tidak mengizinkan putra jahat Ajàtasattu dibunuh ketika ia masih muda. Engkau sendiri yang membesarkan musuhmu. Sekarang adalah terakhir kalinya aku melihatmu. Mulai saat ini aku tidak lagi berkesempatan melihatmu. Maafkan aku jika aku pernah berbuat salah terhadapmu.” Demikianlah ia mengeluh dan menangis, kemudian ia pulang ke tempat tinggalnya.

Sejak saat itu, raja tidak makan apa-apa. Berjalan mondar-mandir, ia bertahan hidup hanya dengan menikmati kebahagiaan Buah Sotàpatti yang telah ia capai. Pikirannya selalu tenggelam di dalam Buah itu, tubuh raja menjadi sangat anggun.

Si jahat Ajàtasattu bertanya kepada orang-orangnya bagaimana ayahnya dapat bertahan hidup. Orang-orangnya berkata bahwa raja bertahan hidup dengan cara berjalan mondar-mandir dan bahwa ia menjadi lebih anggun daripada sebelumnya dalam hal penampilan fisik. Kemudian Raja Ajàtasattu memutuskan untuk mengakhiri olahraga berjalan ayahnya. Ia memerintahkan para tukang cukur untuk melukai telapak kaki ayahnya, melumuri lukanya dengan minyak dan garam dan membakarnya di atas bara api yang menyala.

Ketika ia melihat para tukang cukur, Raja Bimbisàra berpikir bahwa seseorang telah menyadarkan putranya dan bahwa tukang cukur itu datang untuk mencukur janggutnya. Para tukang cukur itu mendekati raja dan berdiri memberi hormat kepadanya. Raja menanyakan tujuan dari kedatangan mereka, dan diberitahukan mengenai tujuan kedatangan mereka. Kemudian raja memberitahu mereka agar melakukan tugas mereka sesuai instruksi majikan mereka. Para tukang cukur meminta agar raja duduk dan setelah memberi hormat, mereka berkata, “O raja besar! Kami terpaksa melakukan perintah Raja Ajàtasattu. Jangan marah kepada kami. Apa yang harus kami lakukan sangat tidak tepat untuk seorang raja yang baik sepertimu.”

Kemudian dengan memegang telapak kaki dengan tangan kiri dan pisau cukur yang tajam di tangan kanan, mereka melukai telapak kaki, melumurinya dengan minyak dan garam dan kemudian membakarnya di atas bara api yang menyala.

Raja Bimbisàra harus menahan siksaan luar biasa itu. Tanpa merasa marah dan benci, ia merenungkan kemuliaan Buddha, Dhamma, dan Sangha. Kemudian ia menjadi lemah bagaikan sekuntum bunga yang dibuang di atap pagoda. Ia wafat dan terlahir sebagai seorang pelayan dari Raja Dewa Vessavana di Alam Dewa Catumahàràjika, dan menjadi jenderal tertinggi dari para dewa bernama Janavasabha.

Pada hari kematian Raja Bimbisàra, istri si dungu Raja Ajàtasattu melahirkan seorang putra, yang diberi nama Udayabhadda. Dua berita itu, satu melaporkan kelahiran putra dan yang lain melaporkan kematian Raja Bimbisàra sampai di istana pada waktu yang bersamaan.

Para menteri mempertimbangkan bahwa sebaiknya melaporkan kelahiran putranya terlebih dahulu. Segera setelah membaca pesan pertama tersebut, muncul dalam dirinya rasa cinta yang mendalam terhadap putranya yang membangkitkan gairah di seluruh tubuhnya hingga ke tulang sumsum. Pada waktu yang sama, ia menyadari rasa terima kasih terhadap ayahnya, ia berpikir bahwa pada saat kelahirannya, ayahnya pasti juga mengalami rasa cinta yang mendalam terhadap putranya.

Raja Ajàtasattu kemudian memerintahkan para menterinya untuk membebaskan ayahnya segera. Tetapi para menterinya mengatakan bahwa hal itu tidak mungkin dilaksanakan dan mereka menyampaikan berita kematian Raja Bimbisàra. Mendengar berita itu, Raja Ajàtasattu menangis sedih, mendatangi ibunya, dan bertanya kepadanya apakah ayahnya merasakan cinta yang mendalam pada saat kelahirannya.

Ratu Vedehi menjawab, “Engkau putra bodoh! Apa yang engkau katakan? Sewaktu engkau masih kanak-kanak, ada bisul di jarimu. Perawat istana tidak mampu membujukmu dan membuatmu berhenti menangis. Akhirnya mereka membawa engkau kepada ayahmu yang sedang duduk di tengah-tengah sidang. Ayahmu mengulum jarimu yang berbisul dan karena kehangatan mulutnya, bisul itu pecah. Karena cintanya kepadamu, ayahmu tidak meludahkan darah kotor bercampur nanah karena dapat membangunkan engkau, maka ia menelannya. Ayahmu sangat mencintaimu.”

Sang ratu memberitahukan secara panjang lebar tentang bagaimana ayahnya begitu melekat kepadanya. Raja Ajàtasattu menangis sedih dan melakukan upacara pemakaman ayahnya.

Kemudian Devadatta mendatangi Raja Ajàtasattu dan memintanya mengirimkan beberapa orang untuk membunuh Buddha. Raja mengirimkan beberapa orang pembunuh kepada Devadatta dengan pesan agar mematuhi instruksi gurunya.
  1. Devadatta memerintahkan orang pertama, “Orangku, pergilah ke tempat kediaman Bhikkhu Gotama. Bunuhlah Gotama dan kembalilah melalui jalan ini.”
  2. Kemudian ia memerintahkan dua orang lainnya untuk membunuh orang pertama dan kembali melalui jalan lain.
  3. Kemudian ia memerintahkan kelompok empat orang lainnya untuk membunuh dua orang (dari kelompok kedua) dan kembali melalui jalan lain.
  4. Kemudian ia memerintahkan kelompok delapan orang lainnya untuk membunuh empat orang (dari kelompok ketiga) dan kembali melalui jalan lain.
  5. Kemudian ia memerintahkan kelompok enam belas orang lainnya (kelompok kelima) untuk membunuh delapan orang (dari kelompok keempat) dan kembali melalui jalan lain.
Bersenjatakan pedang dan perisai, busur dan sarung anak panah, orang pertama mendatangi Buddha dan berdiri dengan tubuh kaku di dekat Beliau, gemetar ketakutan.

Melihatnya, Buddha berkata, “Sahabat, datanglah. Jangan takut.”

Kemudian orang itu menyingkirkan perasaan takutnya, menyimpan pedang dan perisai serta busur dan anak panahnya. Kemudian ia mendekati Buddha, membungkukkan kepalanya menyentuh kaki Buddha, ia mengakui kesalahannya dan meminta ampun kepada Buddha. Buddha memaafkannya dan memberikan serangkaian khotbah tentang kedermawanan, moralitas, dan perbuatan baik lainnya yang mengarahkannya menuju pencapaian Jalan dan Buahnya. Akibatnya, orang itu menjadi seorang Sotàpanna Ariya dan pada saat yang sama ia berlindung secara spiritual di dalam Tiga Permata.

Kemudian Buddha mempersilakan orang itu pergi dengan memberitahunya agar tidak melalui jalan yang diperintahkan oleh Devadatta tetapi melalui jalan lainnya.

Dua orang (dari kelompok kedua) menunggu orang pertama yang tak kunjung tiba. Kemudian mereka pergi ke arah yang berlawanan dan melihat Buddha duduk di bawah sebatang pohon. Mereka mendekati Buddha, memberi hormat dan duduk di tempat yang semestinya. Buddha membabarkan serangkaian khotbah Dhamma dan, menjelaskan Empat Kebenaran hingga mereka berhasil mencapai Buah Sotàpatti. Seperti halnya orang pertama, mereka juga menjadi Sotàpanna Ariya dan berlindung secara spiritual di dalam Tiga Permata.

Kemudian, Buddha mempersilakan mereka pergi, dan memberitahu mereka agar melalui jalan lain.

Kemudian empat orang (dari kelompok ketiga)…
Kemudian delapan orang (dari kelompok keempat)…
Enam belas orang (dari kelompok kelima) menunggu delapan orang dari kelompok sebelumnya yang tak kunjung tiba. Kemudian mereka pergi ke arah yang berlawanan dan melihat Guru seperti halnya orang sebelum mereka. Mereka memberi hormat kepada Buddha dan duduk di tempat yang semestinya. Buddha membabarkan serangkaian khotbah Dhamma yang menjelaskan Empat Kebenaran hingga mereka berhasil mencapai Buah Sotàpatti. Setelah mereka berlindung secara spiritual di dalam Tiga Permata, Buddha mempersilakan mereka pergi, dan memberitahu mereka agar melalui jalan lain.

Kemudian orang pertama mendatangi Devadatta dan berkata, “Tuan, aku tidak dapat membunuh Buddha Yang Agung, Beliau sangat sakti.” Devadatta berkata, “Cukup! Jangan membunuh Bhikkhu Gotama. Aku sendiri yang akan membunuh-Nya.” [RAPB buku ke-2 hal. 1790 - 1798]

Demikianlah Devadatta, akhirnya melakukan pekerjaan itu sendirian dengan menjatuhkan batu namun itupun gagal.

Namun itu belumlah selesai!

Karena pengobatan yang diberikan oleh Tabib Jivaka, Buddha pulih kembali dan seperti sebelumnya Buddha bepergian dalam keagungan seorang Buddha Mulia dikelilingi oleh para bhikkhu. Melihat Buddha, Devadatta berpikir, “Adalah mustahil bagi siapa pun untuk mendekati dan membunuh Bhikkhu Gotama saat mereka melihat Beliau dalam keagungan fisik-Nya. Tetapi Gajah Nalagiri milik Raja Ajàtasattu sangat ganas, liar, dan buas. Ia tidak mengetahui apa pun hal baik mengenai Buddha, Dhamma, dan Sangha. Hanya Nalagiri buas itu yang dapat membunuh Bhikkhu Gotama.”

Maka ia menghadap raja dan mengutarakan rencananya.

Raja Ajàtasattu menyetujui rencananya. Ia memanggil pengasuh gajah dan memerintahkannya untuk membuat Nalagiri, si gajah menjadi mabuk dan mengirimnya keesokan paginya ke jalan yang akan dilalui oleh Buddha. Devadatta menanyakan kepada si pengasuh gajah berapa banyak minuman keras yang diminum gajah itu setiap harinya, dan ketika ia mengetahui bahwa gajah itu meminum delapan kendi minuman keras, ia menginstruksikan agar memberikan enam belas kendi minuman keras kepada gajah itu keesokan paginya dan mengirimnya ke jalan yang akan dilalui Bhikkhu Gotama. Si pengasuh gajah berjanji akan melakukan instruksinya itu.

Raja Ajàtasattu membuat pengumuman diiringi tabuhan genderang di seluruh kota bahwa seluruh penduduk harus melakukan kegiatan mereka keesokan paginya dengan menghindari jalan-jalan, karena Nalagiri akan dibuat mabuk dan akan dikirim ke dalam kota.

Devadatta meninggalkan istana, mendatangi kandang gajah dan memberitahu di pengasuh gajah, “Teman, kami adalah guru raja yang dapat menaikkan dan menurunkan jabatan para pelayan raja. Jika engkau ingin jabatanmu dinaikkan, berilah gajah itu enam belas kendi minuman yang sangat keras besok pagi dan saat Bhikkhu Gotama memasuki kota, engkau harus membuat gajah itu marah dengan menusuknya menggunakan tongkat pengendali dan tombak. Biarkan gajah itu menghancurkan kandangnya, berlari ke arah Bhikkhu Gotama dan membunuh-Nya.” Si pengasuh gajah setuju untuk melaksanakan instruksinya.

Berita ini menyebar ke seluruh kota. Para umat yang memuja Tiga Permata mendatangi Buddha dan berkata, “Buddha Yang Mulia, dengan bersekongkol dengan raja, Devadatta akan mengirim gajah liar Nalagiri besok ke arah dari mana Engkau akan datang. Oleh karena itu, jangan datang ke kota untuk mengumpulkan dàna makanan, tetaplah tinggal di Vihàra Veluvana. Kami akan mempersembahkan makanan untuk-Mu dan para bhikkhu di vihàra.”

Buddha tidak mengatakan bahwa Beliau tidak akan pergi ke kota untuk mengumpulkan dàna makanan. Tetapi Beliau akan mengajar gajah liar itu besok, melakukan keajaiban (Pàtihàriya) dengan mengajar, menaklukkan para penganut pandangan salah, dan tanpa mengumpulkan dàna makanan di Ràjagaha, kemudian kembali ke Veluvana dari kota bersama para bhikkhu. Buddha mengetahui bahwa para umat awam di Ràjagaha akan membawa banyak makanan dan bahwa Beliau akan makan di vihàra. Untuk alasan itu, Buddha menerima undangan para umat awam itu.

[(klik!) Catatan]
    Pàtihàriya berarti melenyapkan perbuatan jahat. Ada tiga cara melenyapkan:

    1. melenyapkan dengan mengetahui kondisi batin batin pendengar (àdesanà pàtihàriya)
    2. melenyapkan dengan mendemonstrasikan kesaktian seperti menciptakan wujud-wujud yang berbeda (iddhi pàtihàriya)
    3. melenyapkan dengan membabarkan khotbah (anusàsani pàtihàriya).
    Dari ketiga cara ini, yang dimaksudkan di sini adalah yang ketiga. Yang kedua adalah yang dilakukan oleh Thera Moggallàna dan yang pertama dilakukan oleh Thera Sàriputta. Walaupun Buddha menggunakan cara ketiga, namun bisanya selalu diawali dengan dua cara yang pertama sesuai kecenderungan batin pendengar.

Mengetahui bahwa Buddha menerima undangan mereka, para umat awam itu memutuskan untuk membawa dan mempersembahkan makanan di vihàra, kemudian mereka pulang.

Buddha membabarkan khotbah kepada para bhikkhu selama jaga pertama malam itu [jam 18.00 - 22.00] dan menjawab pertanyaan para dewa dan brahmà selama jaga kedua [22.00 - 02.00]. Jaga ketiga [02.00-04.00]dibagi menjadi tiga periode. Periode pertama, Buddha berbaring di sisi kanan bagaikan seekor raja singa. Periode kedua, Beliau tenggelam dalam Buah Kearahattaan. Dan di periode ketiga, Beliau dipenuhi dengan welas asih tanpa batas dan setelah keluar dari sana, Beliau mengamati makhluk-makhluk, dan melihat Nalagiri.

Buddha melihat dengan jelas bahwa saat Beliau membabarkan khotbah kepada gajah itu, delapan puluh empat ribu makhluk akan menembus Empat Kebenaran dan mencapai kebebasan. Oleh karena itu, setelah mandi pagi Buddha memanggil Thera Ananda dan berkata, “Ananda, beritahu semua bhikkhu yang menetap di delapan belas vihàra di sekitar Ràjagaha untuk datang dan memasuki kota bersama-Ku.”

Yang Mulia Ananda melakukan perintah Buddha. Semua bhikkhu berkumpul di Vihàra Veluvana. Buddha memasuki Ràjagaha dikelilingi oleh banyak bhikkhu.

Kemudian si pengasuh gajah melaksanakan perintah Raja Ajàtasattu dan Devadatta. Banyak orang berkumpul di sana. Dalam kerumunan itu, mereka yang berkeyakinan terhadap Buddha berkata:

“Hari ini akan terjadi pertempuran antara dua ‘gajah’, Buddha dan Nalagiri. Kita akan menyaksikan ‘Gajah’ Buddha menjinakkan Gajah Nalagiri.” Sambil berkata demikian, mereka memanjat atap dan menara istana untuk menyaksikan pertempuran itu.

Tetapi, para penganut pandangan salah yang tidak berkeyakinan terhadap Buddha, berkata, “Gajah Nalagiri ini sangat ganas, liar, dan buas. Ia tidak mengetahui hal apa pun hal baik mengenai Buddha, Dhamma, dan Sangha. Hari ini ia akan menghancurkan tubuh Bhikkhu Gotama yang kuning keemasan dan mengakhiri hidup-Nya. Hari ini kita akan melihat dengan jelas kehancuran lawan kita.” Sambil berkata demikian, mereka memanjat atap dan menara istana untuk menyaksikan pertempuran itu.

Ketika Gajah Nalagiri melihat Buddha mendekat, ia berlari ke arah Buddha bagaikan gunung yang bergerak dengan belalai terangkat, kuping dan ekornya tegak, menakutkan orang-orang, menghancurkan rumah-rumah dan kereta menjadi berkeping-keping.

Pada saat itu seorang ibu melihat gajah itu dan karena takut mati, ia melarikan diri, melepaskan anaknya dari pangkuannya dan meletakkan anaknya di atas tanah di antara Buddha dan gajah itu.

Nalagiri mengejar perempuan itu tetapi karena tidak mampu mendapatkannya, ia berbalik dan mendekati si anak. Anak itu menggapai dan menangis keras-keras. Buddha memusatkan cinta kasih-Nya kepada gajah itu dan dengan suara merdu bagaikan raja brahmà, Beliau berkata:

“O Nalagiri, mereka memberikan enam belas kendi minuman keras kepadamu dan membuatmu mabuk bukan untuk menangkap makhluk lain tetapi untuk membunuh-Ku. Oleh karena itu, janganlah engkau mengganggu orang lain. Datanglah langsung kepada-Ku.”

Demikianlah Guru mengundang gajah itu.

Mendengar suara merdu Buddha, Nalagiri yang liar itu membuka kedua matanya dan melihat tubuh agung Buddha. Ia terkesima dan karena pengaruh kekuatan Buddha, ia menjadi tenang dan menurunkan belalainya dan mengepakkan telinganya, ia mendekati Guru dan menekuk kakinya berlutut.

Kemudian Buddha berkata, “Nalagiri, engkau adalah seekor binatang dan Aku adalah seorang Buddha. Mulai saat ini, janganlah ganas, liar, dan buas. Berusahalah mengembangkan cinta kasih kepada semua makhluk.” Buddha merentangkan lengan kanan-Nya, dan menepuk kepala gajah itu, Beliau mengucapkan dua bait syair berikut:

Mà kunjara nàgamàsado
dukkham hi kunjara nàgamàsado.
Na hi nàgahatassa kunjara
sugati hoti ito param yato.
Mà ca mado mà ca pamàdo
na hi pamattà sugatim vajanti te.
Tvann’eva tathà karissasi
yena tvam sugatim gamissasi.


O! Gajah Nalagiri, jangan datang dengan niat membunuh, dengan keinginan untuk membunuh Buddha yang tidak pernah melakukan kejahatan. Mendekati Buddha dengan niat membunuh adalah kejahatan yang akan membawa menuju penderitaan. Tidak mungkin dapat memperoleh kelahiran yang baik di alam manusia atau dewa setelah meninggal dunia bagi mereka yang berniat melukai atau membunuh Buddha.

O! Gajah Nàlagiri, jangan sombong. Jangan lengah akan Sepuluh Perbuatan Baik. Mereka yang lengah akan Sepuluh Perbuatan Baik tidak akan dapat memperoleh kelahiran yang baik di alam manusia dan dewa. Engkau harus melakukan perbuatan-perbuatan baik untuk memastikan kelahiran kembali yang baik. (Dengan kata lain, engkau hanya dapat memperoleh kelahiran kembali yang baik dengan berlandaskan perbuatan-perbuatan baik.)

Gajah Nalagiri diliputi oleh kegembiraan. Jika ia bukan seekor gajah, ia pasti sudah mencapai Buah Sotàpatti di tempat itu juga.

Melihat keajaiban itu, orang-orang bersorak. Mereka bertepuk tangan dan dengan gembira melempar-lemparkan berbagai perhiasan mereka ke arah gajah itu sebagai hadiah. Perhiasan-perhiasan itu menutupi hampir seluruh tubuh gajah itu dan sejak saat itu ia dikenal dengan nama Dhanapàla. Pada saat gajah Dhanapàla dijinakkan oleh Buddha, delapan puluh empat ribu makhluk berkesempatan mencicipi Dhamma, sari keabadian.

Buddha membuat gajah itu mematuhi Lima Sila (Panca Sila). Gajah itu dengan lembut mengumpulkan debu di kaki Guru, dan menebarkannya di atas kepalanya kemudian mundur sambil berlutut. Ia melangkah mundur hingga lenyap dari pandangan Buddha dan setelah memberi hormat, ia masuk ke kandangnya. Sejak saat itu, ia menjadi gajah yang jinak dan baik serta tidak pernah menyakiti makhluk lain hingga akhir hidupnya.

Setelah menaklukkan para penganut pandangan salah, ia keluar dari Kota Ràjagaha dan kembali ke Vihàra Veluvana, dikelilingi oleh para bhikkhu bagaikan seorang raja yang menang (pulang dari peperangan). Para penduduk mendatangi vihàra dengan membawa banyak makanan dan persembahan yang berlimpah. Mereka menyanyikan lagu berikut dengan gembira:

Dandeneke damayanti,
ankusehi kasàhi ca.
Adandena asatthena,
nàgo danto Mahesinà

“Para pelatih binatang melatih gajah-gajah, kuda dan sapi dengan memukul mereka keras-keras dengan menggunakan tongkat, tombak, gancu, dan rotan. Tetapi Buddha, menjinakkan Gajah Nalagiri tanpa menggunakan senjata yang menyakitkan dan melenyapkan kebuasannya dengan cinta kasih.”
[RAPB buku ke-2, hal.1801-1808]

Usaha Devadatta dalam membunuh Buddha menuai kecaman dari banyak orang. Mereka menyalahkan Raja Ajàtasattu, dengan berkata, “Devadatta yang menyebabkan kematian Raja Bimbisàra kita. Devadatta yang mengirim para pembunuh. Dialah yang menjatuhkan batu; dan sekarang ia mengirim Gajah Nalagiri untuk membunuh Guru. Namun penjahat begitu diangkat sebagai guru oleh Raja Ajàtasattu yang selalu bepergian bersamanya.”

Ketika Raja Ajàtasattu mendengar kecaman banyak orang itu, ia memerintahkan untuk menarik persembahan rutin lima ratus kendi makanan kepada Devadatta dan ia berhenti mengunjungi mantan gurunya itu. Para penduduk juga, berhenti mempersembahkan makanan kepada Devadatta yang mengunjungi rumah mereka untuk mengumpulkan makanan.

Kemudian Devadatta mencoba taktik lain. Kali ini ia datang ke hadapan Sang Buddha dan mengajukan lima peraturan untuk para bhikkhu untuk dilakukan sepanjang hidupnya. Ia mengajukan :
  1. Semua bhikkhu harus menetap di pertapaan di dalam hutan seumur hidup. Seorang bhikkhu yang menetap di vihàra di dekat sebuah desa adalah pelanggaran.
  2. Semua bhikkhu hanya boleh memakan makanan yang diperoleh dari berkeliling mengumpulkan dàna makanan. Seorang bhikkhu yang menerima makanan yang dipersembahkan oleh umat awam setelah diundang adalah pelanggaran.
  3. Semua bhikkhu hanya mengenakan jubah yang terbuat dari kain rombeng. Seorang bhikkhu yang menerima jubah yang dipersembahkan oleh umat awam adalah pelanggaran.
  4. Semua bhikkhu harus berdiam di bawah pohon. Seorang bhikkhu yang berdiam di dalam vihàra yang beratap adalah pelanggaran.
  5. Semua bhikkhu harus menghindari memakan daging dan ikan. Seorang bhikkhu yang memakan daging atau ikan adalah pelanggaran.
Kemudian Buddha berkata, “Devadatta, permohonanmu tidaklah tepat (tidak beralasan),
  1. Para bhikkhu boleh menetap di pertapaan di dalam hutan atau di vihàra di dekat desa
  2. Para bhikkhu boleh memakan makanan yang diperoleh dari berkeliling mengumpulkan dàna makanan atau makanan yang dipersembahkan oleh umat awam setelah diundang. Mereka boleh makan dengan kedua cara tersebut
  3. Para bhikkhu boleh memakai jubah yang terbuat dari kain rombeng atau jubah yang dipersembahkan oleh umat awam
  4. Devadatta, Aku mengizinkan para bhikkhu berdiam di bawah pohon selama delapan bulan. [Note: mungkin, sisa bulan lainnya berhubungan dengan menjalankan Vassa. Untuk masa Vassa, lihat: di sini]
  5. Aku mengizinkan para bhikkhu memakan daging atau ikan selama mereka tidak melihat atau mendengar atau mencurigai bahwa makhluk itu dibunuh untuk dijadikan makanan buat mereka.”
Sang Buddha tidak menolak terhadap peraturan tersebut dan tidak keberatan terhadap siapa yang sanggup melakukannya, tetapi dengan berbagai pertimbangan yang benar, Beliau tidak menetapkan peraturan itu untuk para bhikkhu secara keseluruhan.

Devadatta gembira ketika Buddha menolak lima permohonannya.

Bersama pengikutnya Kokàlika, Katamodaka Tissaka, putra Ratu Khanda, dan Samuddadatta, ia bangkit dan setelah memberi hormat kepada Buddha, mereka pergi. (Bhikkhu Kokàlika, putra Ratu Khanda Katamodaka Tissaka dan Bhikkhu Samuddadatta adalah kepercayaan Devadatta.)

Kemudian Devadatta pergi bersama para pengikutnya ke Ràjagaha menyebarkan ajarannya. Mereka mengatakan kepada para penduduk bahwa Guru telah menolak apa yang menurut mereka adalah permohonan yang sangat beralasan karena Lima Sila itu mengarah kepada ketidakmelekatan, dan seterusnya, dan mereka sebaliknya akan hidup dengan mematuhi Lima Sila itu.

Para penduduk yang tidak berkeyakinan dan kurang cerdas memuji Devadatta dan mencela Buddha. Mereka yang berkeyakinan dan cerdas mengkritik Devadatta karena berusaha menciptakan perpecahan di dalam Sangha dan melangkahi kekuasaan Guru. Para bhikkhu yang mendengar kata-kata para penduduk itu juga mengkritik Devadatta dan melaporkan hal itu kepada Buddha.

Kemudian Buddha melakukan sidang Sangha sehubungan dengan persoalan yang dilaporkan oleh para bhikkhu itu dan di hadapan para bhikkhu, Beliau bertanya, “Devadatta, benarkah bahwa engkau berusaha menciptakan perpecahan di dalam Sangha dan merusak kekuasaan Sangha?” Devadatta menjawab, “Benar, Yang Mulia!”

Kemudian Buddha menjawab: “Devadatta, apa yang engkau lakukan adalah tidak pantas. Jangan mengharapkan perselisihan di dalam Sangha. Seseorang yang menciptakan perpecahan di dalam Sangha memikul tanggung jawab yang serius. Seseorang yang menyebabkan perpecahan di dalam Sangha yang bersatu melakukan kejahatan yang akan berakibat selama satu kappa penuh. Ia akan menderita di neraka selama satu kappa penuh.”

“Devadatta, seseorang yang memulihkan persatuan Sangha yang terpecah melakukan perbuatan baik dan menikmati kehidupan di alam dewa selama satu kappa penuh. Devadatta, apa yang engkau lakukan adalah tidak pantas. Jangan mengharapkan perselisihan di dalam Sangha. Seseorang yang menciptakan perpecahan di dalam Sangha memikul tanggung jawab yang serius.”

Walaupun Buddha memperingatkannya demikian. Devadatta masih tidak menyerah dalam usahanya menciptakan perpecahan. Keesokan harinya ia memutuskan untuk melakukan upacara uposatha dan Tindakan Sangha (Sangha Kamma) secara terpisah. Pagi harinya ia mendekati Yang Mulia Ananda yang datang ke Ràjagaha untuk mengumpulkan dàna makanan, dan berkata, “Ananda, mulai hari ini, aku akan melakukan upacara uposatha dan Tindakan Sangha tanpa Buddha dan para bhikkhu-Nya.”

Ketika Yang Mulia Ananda melaporkan hal ini kepada Buddha, Buddha mengucapkan syair berikut:

Sukaram sàdhunà sàdhu
sàdhu pàpena dukkaram.
Pàpam pàpena sukaram
pàpa mariyehi dukkaram

”Adalah mudah bagi orang baik untuk melakukan kebajikan. Adalah sulit bagi orang jahat untuk melakukan kebajikan. Adalah mudah bagi orang jahat untuk melakukan kejahatan. Adalah sulit bagi orang baik untuk melakukan kejahatan.”


Kemudian pada hari uposatha, Devadatta bangkit dari tempat duduknya di antara para bhikkhu dan berkata bahwa Bhikkhu Gotama telah menolak lima permohonannya yang mengarah kepada ketidakmelekatan, dan seterusnya, bahwa mereka akan tetap menjalani Lima Sila itu dan bahwa mereka yang menyukai sila itu harus memihak kepada mereka. Pemungutan suara dilakukan dan lima ratus muda dari Negeri Vajji yang menetap di Vesàli, yang tidak memahami ajaran Vinaya memilih untuk menjalani sila itu karena mereka berpikir bahwa sila itu sesuai dengan Dhamma, Vinaya, dan ajaran Buddha. Devadatta membawa lima ratus bhikkhu itu dan pergi ke Gayàsisa.

Sariputta dan Maha Moggallana pergi menemui para bhikkhu pengikut Devadatta dan pada saat itu Devadatta sedang duduk membabarkan khotbah di tengah-tengah banyak pengikutnya. Ketika ia melihat kedua Thera mendekat dari jauh, ia berkata kepada para bhikkhu muda, “Para bhikkhu, lihatlah ke sana! Aku telah mengajarkan ajaranku dengan baik. Bahkan Siswa Utama Bhikkhu Gotama, Sàriputta dan Moggallàna lebih menyukai ajaranku dan mereka sekarang datang untuk bergabung denganku.”

Kemudian Bhikkhu Kokàlika (salah satu pemimpin kelompoknya) menperingatkan Devadatta, “Temanku Devadatta, jangan bergaul dengan Sàriputta dan Moggallàna. Mereka memiliki keinginan jahat dan mereka menuruti keinginan jahat mereka.” Tetapi Devadatta berkata, “Temanku, engkau tidak boleh berkata begitu. Kedatangan mereka adalah baik karena terdorong oleh penghargaan mereka atas ajaranku.”

Ketika kedua Thera itu sampai, Devadatta berkata, “Marilah Sàriputta, duduk di sini,” dan memberikan tempat duduknya kepada Thera itu. Tetapi Thera menolaknya dan duduk di tempat yang layak. Demikian pula dengan Thera Moggallàna.

Setelah membabarkan khotbah kepada para bhikkhu semalam suntuk, Devadatta berkata kepada Thera Sàriputta, “Temanku Sàriputta, para bhikkhu bebas dari kemalasan dan kelambanan. Engkau lanjutkanlah dengan khotbahmu tentang Dhamma. Leherku kaku dan kejang. Izinkan aku meluruskan punggungku.” (Di sini ia meniru Buddha dalam hal menyuruh Thera Sàriputta.) Thera Sàriputta menyetujui dan setelah menghamparkan jubah luarnya yang lebar dan berlapis empat, Devadatta berbaring di sisi kanan.

Karena ia kelelahan, tidak waspada dan tidak cerdas, ia segera terlelap.

Kemudian Thera Sàriputta mengajar lima ratus bhikkhu muda itu pertama-tama dengan membuat mereka menyadari keadaan batin mereka sendiri (âdesanàpàtihàriya). Kemudian dilanjutkan dengan menunjukkan Dhamma yang harus mereka hindari dan Dhamma yang harus mereka latih (Anusàsani-pàtihàriya). Kemudian Thera Moggallàna mengajarkan pertama dengan memperlihatkan kesaktian (Iddhipàtihàriya) dan kemudian memberitahukan kepada mereka apa yang harus dihindari dan apa yang harus diikuti. Lima ratus bhikkhu muda itu akhirnya berhasil mencapai Buah Sotàpatti di tempat itu juga dan menjadi Sotàpanna Ariya.

Setelah lima ratus bhikkhu muda itu menjadi Ariya dalam Jalan Sotàpatti, Yang Mulia Sàriputta memberitahu mereka agar mereka kembali kepada Buddha dan mereka yang menyukai ajaran Guru boleh kembali bersama kedua Thera itu. Semua bhikkhu mengikuti kedua Thera dan melakukan perjalanan melalui angkasa, mereka sampai di Veluvana.

Setelah kedua Siswa Utama itu pergi bersama lima ratus bhikkhu muda, Kokàlika, guru salah satu aliran, membangunkan Devadatta dengan cara menendang dadanya dengan lututnya dan berkata, “Bangunlah Devadatta! Sàriputta dan Moggallàna telah mengambil alih para bhikkhu muda. Bukankah aku telah mengatakan kepadamu untuk tidak bergaul dengan Sàriputta dan Moggallàna, bahwa mereka memiliki keinginan jahat dan bahwa mereka menuruti keinginan jahat mereka?” Devadatta memuntahkan darah panas di tempat itu juga.

Setelah menderita sakit selama sembilan bulan, Devadatta berkeinginan menjumpai Buddha di saat-saat terakhir. Ia meminta murid-muridnya membawanya menjumpai Buddha. Tetapi murid-muridnya berkata, “Engkau memusuhi Buddha saat engkau masih sehat. Kami tidak berani membawamu menjumpai-Nya sekarang.” Kemudian Devadatta berkata, “Murid-muridku, jangan menghancurkan aku. Sebenarnya, akulah yang benci dan dendam kepada Buddha. Beliau tidak sedikit pun membenciku.”

Vadhake Devadattamhi,
core Angulimàlake.
Dhanapàle Ràhule ca,
sabbattha samamànaso.

Saudara (sepupu)-ku Buddha selalu baik terhadap saudara ipar-Nya Devadatta yang berniat membunuh-Nya, terhadap Aïgulimàla, si perampok yang menghias dirinya dengan seribu jari tangan, terhadap Nalagiri, si gajah buas, yang kemudian bernama Dhanapàla, terhadap putranya sendiri Ràhula, dan terhadap semua makhluk.


“Bawalah aku sekarang ke saudaraku, Buddha Yang Mulia.”

Demikianlah Devadatta terus-menerus memohon kepada mereka agar dibawa menjumpai Guru. Kemudian murid-muridnya membaringkannya di atas sebuah dipan dan membawanya ke Sàvatthã tempat Buddha menetap.

Ketika para bhikkhu mendengar berita kedatangan Devadatta, mereka melaporkannya kepada Buddha. Buddha berkata, “Para bhikkhu, Devadatta tidak akan berkesempatan menjumpai-Ku dalam kehidupan ini.”

Di mata para bhikkhu biasa, Devadatta sedang dalam perjalanan menuju Sàvatthi untuk menjumpai Buddha. Buddha berkata, “Devadatta tidak akan dapat menjumpai-Ku dalam kehidupan ini dalam keadaan apa pun walaupun Aku tetap di sini.” Para bhikkhu terheran dan mereka tidak mengetahui apa yang mendasari kata-kata Buddha itu. Oleh karena itu mereka terus-menerus memberitahukan kepada Buddha mengenai kedatangan Devadatta pada setiap tempat. Tetapi Buddha tetap menegaskan bahwa apa pun yang dilakukan oleh Devadatta, “Bagaimanapun juga ia tidak akan dapat menjumpai-Ku.”

Tetapi dari waktu ke waktu para bhikkhu melaporkan perkembangan perjalanan Devadatta dengan mengatakan bahwa Devadatta sekarang berada satu yojanà jauhnya dari Sàvatthi. Bahwa ia sekarang berada satu gàvuta jauhnya, bahwa ia berada di dekat kolam di dekat Vihàra Jetavana. Akhirnya Buddha berkata, “Devadatta tidak akan dapat menjumpai-Ku bahkan jika ia masuk ke dalam Vihàra Jetavana.”

Murid-murid yang membawa Devadatta meletakkan dipan itu di tepi kolam di dekat Vihàra Jetavana dan masuk ke dalam kolam untuk mandi. Devadatta duduk di atas dipan dan meletakkan kakinya di atas tanah. Kemudian kakinya terbenam tanpa dapat dicegah. Ia terus terbenam, bagian-bagian tubuhnya terbenam satu demi satu, mata kaki, lutut, pinggang, dada, dan leher, dan bumi ini menelannya dengan rakus hingga ke rahangnya saat ia mengucapkan syair berikut:

Imehi atthihi tamaggapuggalam
devàtidevam naradammasàrathim.
Samantacakkhum satapunnalakkhanam
pànehi Buddham saranam upemi.

“Aku, Devadatta, di atas dipan kematianku berlindung di dalam Buddha Yang Mulia dengan tulang-belulang dan daya hidup ini yang hampir habis. Dengan kesadaran, batin yang gembira dan mulia yang terdorong oleh tiga kondisi akar mulia (aku berlindung di dalam Buddha Yang Mahatahu, makhluk teragung di dunia, Guru Yang Maha Melihat yang mampu menertibkan makhluk-makhluk dan yang memiliki tiga puluh dua tanda-tanda mulia seorang manusia luar biasa karena kebajikannya yang tidak terhitung.”)
[RAPB buku ke-2 hal. 1809-1820]

[(klik!) Catatan]

    Buddha mengetahui setelah di tasbihkan menjadi Bhikkhu, Devadatta akan melakukan dua kejahatan besar, yaitu menyebabkan tumpahnya darah Buddha dan menciptakan perpecahan di dalam Sangha namun terakhirnya Ia akan melakukan kebajikan yang akan membebaskannya dari samsàra. Maka Buddha menahbiskannya. Sesungguhnya karena kebajikannya ini, Devadatta akan menjadi seorang Pacceka Buddha bernama Atthissara setelah seratus ribu kappa.

Sejak hari ia memerintahkan agar ayahnya dibunuh, Raja Ajàtasattu tidak dapat tidur lelap. Segera setelah ia memejamkan matanya, ia merasa seakan-akan ditusuk oleh ratusan tombak dan mengalami halusinasi tentang nasibnya yang membuatnya selalu gemetar dan mengigau. (Hal ini menunjukkan bahwa mereka yang melakukan kejahatan akan melihat gambaran kelahiran berikut mereka di alam rendah tidak hanya di saat-saat berada di ranjang kematian mereka, tetapi juga jauh sebelum kematian mereka.) Para pengawal bertanya kepada raja, penyakit apa yang ia derita tetapi ia hanya berkata, “Tidak apa-apa.” Halusinasi dan mimpi buruk ini sangat mengganggu raja dan menyebabkannya enggan pergi tidur. Oleh karena itu setiap malam ia memberikan audisi hingga larut malam agar ia tetap terjaga. (Digha Nikàya, Vol. 1)

Raja Ajàtasattu memuja Devadatta yang merupakan duri bagi Buddha dan ia memberikan persembahan yang berlimpah dan membangun sebuah vihàra di Gayàsisa untuk Devadatta, dan atas bujukan gurunya, ia membunuh ayahnya yang adalah seorang Sotàpanna. Dengan demikian ia telah menghilangkan kesempatan untuk menanam kebajikan yang dapat membantunya mencapai Jalan Sotàpatti, ia menghancurkan dirinya sendiri.

Mendengar bahwa Devadatta ditelan bumi, Raja Ajàtasattu menjadi ketakutan kalau-kalau ia juga akan bernasib sama dengan mantan gurunya itu. Ia tidak lagi dapat menikmati kemewahan istana, bahkan tidak dapat tidur dengan damai. Ia menjadi gemetar, gelisah dan gugup bagaikan seekor anak gajah yang ditusuk dengan tongkat besi yang tajam. Ia melihat gambaran bumi yang terbelah, api dari Neraka Avici yang berkobar, bumi mengancam akan menelannya dan penjaga neraka membaringkannya di atas lantai besi yang panas menyala dan menusuknya dengan tongkat besi. Gemetar bagaikan burung yang dipukul, Raja Ajàtasattu tidak memperoleh dukungan dari mana pun, bahkan ia tidak dapat berdiri tegak dan kokoh meski untuk sesaat pun.

Ia ingin menjumpai Buddha, memberi hormat dan menanyakan mengenai persoalannya tetapi karena perbuatan jahatnya, ia tidak berani menjumpai Buddha.

Kemudian ketika festival Kattikà sedang berlangsung di Ràjagaha pada malam purnama di bulan Kattikà (November), seluruh kota dihias bagaikan kota surgawi dan diterangi oleh nyala api dan obor. Sewaktu duduk di tengah-tengah para menterinya di atas singgasana emas di dalam aula, Raja Ajàtasattu melihat Tabib Jivaka dan berpikir, “Aku akan mengajak Jivaka sebagai pemanduku dan mengunjungi Buddha. Tetapi aku tidak boleh berterus terang bahwa aku tidak berani menjumpai Buddha dan meminta ia (Jivaka) untuk mengantarkan aku ke sana. Aku akan berpura-pura mengagumi malam ini dan kemudian bertanya kepada para menteri mengenai samaõa atau bràhmana mana yang membangkitkan keyakinan dan semangat kita. Saat para menteri mendengar kata-kataku, mereka akan mengagungkan gurunya masing-masing dan Tabib Jivaka akan mengagungkan gurunya, Buddha. Kemudian aku akan pergi menjumpai Buddha dengan Jivaka sebagai pemanduku.”

Setelah menyusun rencana, Raja Ajàtasattu berkata: “(a)Para menteriku, malam ini sungguh indah, bebas dari salju, embun, awan, Asurinda (makhluk raksasa yang dianggap sebagai penyebab gerhana bulan) dan asap, lima hal yang mengganggu keindahan malam terang bulan, mengotori udara; (b) Para menteriku, malam ini sungguh indah, bebas dari lima unsur; (c) Para menteriku, malam ini sungguh indah, bebas dari lima unsur pengganggu; (d) Para menteriku, malam ini pikiran kita tenang dan damai karena malam ini bebas dari lima unsur pengganggu; (e) Para menteriku, malam ini patut dikenang karena bebas dari lima unsur pengganggu.”

Setelah mengagumi malam terang bulan, raja menambahkan, “Samana dan bràhmana mana yang harus kita jumpai malam ini, yang dapat membangkitkan keyakinan dan semangat kita?”

Dengan berkata demikian, raja memberikan isyarat kepada Tabib Jivaka. (a) Raja telah melakukan kejahatan berat yaitu membunuh ayahnya, seorang penyokong Buddha dan seorang Sotàpanna Ariya, dan (b) menyokong Devadatta yang telah melakukan banyak kesalahan terhadap Buddha. Oleh karena itu ia sendirian tidak berani menjumpai Buddha. Ia menyadari bahwa keinginannya untuk menjumpai Buddha bergantung pada Jivaka yang telah membangun sebuah vihàra untuk Buddha dan yang melayani kebutuhan fisik Buddha.

Jivaka dapat menangkap isyarat dari Raja. Ia mengetahuinya, tetapi karena di sana ada banyak pengikut para guru berpandangan salah. Jivaka berpikir, “Sebagai pengikut para guru yang bodoh, mereka sendiri juga pasti bodoh, dan mereka tidak memahami peraturan yang harus dipatuhi dalam suatu pertemuan. Jika aku memulai menjelaskan sifat-sifat mulia Buddha, mereka, satu demi satu akan memuji guru mereka dan aku tidak akan dapat menjelaskan kemuliaan Buddha sampai selesai. Karena ajaran enam guru berpandangan salah itu tidak memiliki pokok atau sesuatu yang berharga, raja tidak akan senang dengan apa yang mereka katakan dan ia akan bertanya secara langsung kepadaku. Kemudian tanpa disela, aku akan memberitahukan kepada raja tentang kemuliaan Buddha dan mengajaknya untuk menjumpai Guru.” Dengan pikiran demikian, Jivaka tidak berkata apa-apa walaupun raja memberikan isyarat dan hanya duduk diam.

Para menteri yang merupakan murid dari enam guru berpandangan salah itu berpikir, “Hari ini raja mengagumi keindahan malam purnama bulan Kattikà. Ia pasti berkeinginan untuk menjumpai salah satu samana atau bràhmana, untuk mengajukan pertanyaan atau mendengarkan khotbah. Raja akan sangat menghormati guru yang ia kagumi, yang khotbahnya ia dengarkan. Hal ini akan memberikan keuntungan bagi menteri yang memiliki guru yang juga menjadi guru raja.” Maka masing-masing dari mereka memuji guru mereka dan mengajak raja untuk bertemu dengan guru mereka. Dengan niat demikian, para menteri yang merupakan murid Purana Kassapa, Makkhali Gosàla, Ajita Nàtaputta, Pakudha Kaccàyana, Sanjaya, dan Nigantha Nàtaputta memuji guru mereka masing-masing. (Baca Sàmanna-phala Sutta untuk mengetahui kata-kata pujian mereka.)

Raja Ajàtasattu telah bertemu dengan guru-guru berpandangan salah sebelumnya. Saat pertama berjumpa dengan mereka, ia tidak sedikit pun terkesan dengan penampilan fisik mereka. Sebaliknya, ia merasa sangat kecewa. Sekarang, ketika ia mendengar kata-kata para menterinya, ia merasa seperti seorang yang melihat buah yang sangat asam yang diserahkan kepadanya saat ia ingin memakan buah mangga yang matang, manis, lezat berwarna keemasan. Ia ingin mendengarkan Dhamma yang indah sehubungan dengan Jhàna, kekuatan adialami, tiga corak kehidupan, dan lain-lain, dan oleh karena itu ketika ia (yang telah kecewa dengan penampilan fisik para guru berpandangan salah tersebut) mendengar kata-kata pujian para pengikut mereka, ia menjadi semakin kecewa dan tidak berkata apa-apa.

Walaupun ia tidak senang dengan kata-kata mereka, Raja Ajàtasattu berpikir, “Jika aku menunjukkan kemarahanku dan mencengkeram leher para menteri ini dan melempar mereka keluar aula istana ini, orang-orang lain akan menjadi tidak berani berbicara, takut jika raja akan memperlakukan mereka dengan cara yang sama.” Maka meskipun ia tidak menyukai kata-kata mereka, raja tidak memarahi mereka dan tetap diam.

Raja Ajàtasattu berpikir, “Hanya para menteri yang tidak ingin kudengarkan yang berbicara. Tabib Jivaka yang ingin kudengarkan justru berdiam diri bagaikan burung garuda yang menelan otak nàga. Aku sungguh tidak beruntung!” Kemudian ia berpikir lebih lanjut, “Jivaka adalah seorang siswa, seorang pelayan Buddha yang tenang. Maka ia sendiri juga tenang dan hidup dalam kesunyian bagaikan seorang petapa yang disiplin. Ia tidak akan berbicara jika aku tidak bertanya kepadanya. Oleh karena itu aku harus bersikap seperti seorang yang terinjak oleh seekor gajah yang harus menangkap kaki binatang itu.”

Dengan pikiran demikian, raja berkata secara langsung, “Teman Jivaka, mengapa engkau hanya berdiam diri? Para menteri ini tidak bosan-bosannya mengagung-agungkan guru mereka. Apakah engkau tidak memiliki guru seperti para menteri ini? Apakah engkau tidak memiliki guru karena engkau hanyalah seorang biasa tanpa jabatan atau wewenang yang diberikan oleh ayahku? Atau apakah engkau tidak memiliki guru karena tidak memiliki keyakinan?”

Demikianlah raja bertanya kepada Jivaka mengenai alasannya berdiam diri.

Jivaka berpikir, “Sang raja ingin agar aku membicarakan kemuliaan guruku. Sekarang bukanlah saatnya bagiku untuk berdiam diri. Tetapi tidaklah tepat jika aku menjelaskan kemuliaan Buddha seperti halnya para menteri ini memuji guru-guru mereka dalam posisi menghormat kepada raja.” Oleh karena itu Jivaka bangkit, bersujud ke arah kediaman gurunya di hutan mangga Jivaka, merangkapkan tangannya di atas kepala dan berkata.

“Raja besar! Jangan menganggapku sebagai seorang murid dari seorang yang mengaku sebagai samana dengan ciri-ciri yang meragukan. Pada saat guruku masuk ke dalam rahim ibunya, pada saat kelahirannya, pada saat ia pergi melepaskan keduniawian, saat mencapai Pencerahan Sempurna dan saat membabarkan Dhammacakka Sutta, sepuluh ribu alam semesta berguncang. Dengan salah satu cara Buddha melakukan keajaiban air dan api. Dengan salah satu cara Beliau turun dari Alam Dewa Tàvatimsa. Aku akan memberitahukan kepadamu semampuku tentang kemuliaan Buddha. Dengarkanlah aku.”

Dengan kata-kata pembuka ini Jivaka kemudian melanjutkan penjelasannya tentang Buddha.

“Raja besar, dewa di antara manusia! Guruku, pemilik ciri-ciri seperti Araham, dan Sammàsambuddha sekarang menetap bersama seribu dua ratus lima puluh bhikkhu di vihàra hutan mangga yang telah kami sumbangkan kepadanya.”

“Guru kami, Buddha, adalah seorang Arahaÿ karena Beliau memiliki ciri-ciri kemuliaan moral (Sila-guna), konsentrasi pikiran (Samàdhi-guna), kebijaksanaan (Pannà-guna), kebebasan (Vimutti-guna), dan Pengetahuan Pandangan Cerah atas kebebasan (Vimutti nàna Dassana-guna) yang membuat-Nya layak menerima penghormatan dari umat manusia, dewa dan brahmà.... Beliau adalah Yang Teragung (Bhagavà) karena Ia memiliki enam keagungan. Demikianlah reputasi baik guru kami, Yang Teragung telah dikenal hingga ke alam tertinggi Bhavagga (alam Arupa atau tanpa materi).

“Aku ingin agar engkau, Raja besar, bertemu dengan guru kami, Buddha. Jika engkau bertemu dengan Beliau, batinmu akan menjadi tenang dan damai.”

Bahkan pada saat ia mendengar ciri-ciri mulia Buddha, Raja Ajàtasattu diliputi oleh lima jenis kegembiraan. Oleh karena itu ia seketika ingin pergi menjumpai Buddha dan mengetahui bahwa tak seorang pun selain Jivaka yang dapat mengatur transportasi baginya untuk mengunjungi Buddha pada saat itu, ia menyuruh Jivaka untuk mempersiapkan transportasi gajah.

Setelah melakukan semua hal-hal yang diperlukan, Jivaka melaporkan kepada raja bahwa gajah-gajah telah siap dan terserah raja menentukan waktu keberangkatan.

Kemudian Raja Ajàtasattu naik ke atas gajah istana dan dengan para pengawal perempuan yang berpakaian seperti laki-laki dan duduk di atas lima ratus gajah betina, dan dengan nyala obor, ia berangkat dari Kota Ràjagaha dengan penuh kemegahan dan keagungan menuju hutan mangga Jivaka yang merupakan kediaman Buddha.

Raja Ajàtasattu keluar dari kota dan saat ia mendekati hutan mangga, ia menjadi ketakutan. Ia gemetar ketakutan dan bulu badannya berdiri.

Ia ketakutan karena kesunyian vihàra itu menimbulkan keraguan atas ketulusan Jivaka. Jivaka telah memberitahunya bahwa ia harus mendekati Buddha dengan tenang. Oleh karena itu raja telah memerintahkan agar musik dihentikan dan para musisi hanya memainkan alat musik mereka selama perjalanan. Mereka tidak berbicara dalam suara keras dan mereka hanya berkomunikasi melalui isyarat tangan jika diperlukan.

Sekarang di hutan itu bahkan tidak terdengar suara bhikkhu yang sedang bersin, dan raja-raja biasanya menyukai tempat yang ramai.

Raja Ajàtasattu menjadi letih dan bosan dengan kesunyian itu dan curiga terhadap Jivaka. Ia berpikir, “Jivaka berkata bahwa terdapat seribu dua ratus lima puluh bhikkhu di hutan ini. Tetapi aku bahkan tidak mendengar suara bersin dari seorang pun di tempat ini. Jivaka mungkin berkata bohong. Mungkin ia menipuku agar dapat membawaku keluar dari kota. Mungkin ia mau menangkapku dan merampas tahtaku dengan bantuan para pasukan. Jivaka tentu cukup kuat untuk melawan lima ekor gajah. Ia juga berada di dekatku dan tidak ada pengawal bersenjata di dekatku. Oh! Tamatlah aku!”

Demikianlah ia merasa ketakutan, Raja Ajàtasattu tidak dapat menyembunyikan ketakutannya dan dengan jujur ia mengungkapkannya kepada Jivaka dengan bertanya, “Jivaka! Engkau tidak menipuku, kan? Engkau tidak menyerahkan aku kepada musuhku, kan? Mengapa di antara begitu banyak bhikkhu yang berjumlah seribu dua ratus lima puluh orang, tidak terdengar suara bersin, batuk, dan suara orang yang sedang berbicara?”

Kemudian Tabib Jivaka berkata, “Raja besar, jangan takut. Aku tidak menipu engkau. Aku tidak akan menyerahkan engkau kepada musuhmu. Raja besar, berjalanlah terus. Di dalam aula bundar di sana ada lampu yang menyala terang.”

Kemudian Raja Ajàtasattu pergi sejauh mungkin dengan menunggangi gajah dan sesampainya di pintu gerbang vihàra, ia turun. Begitu ia menginjakkan kakinya di atas tanah, kekuatan dan kemuliaan Buddha meliputi seluruh tubuhnya. Keringatnya mengucur deras hingga ia nyaris mengganti pakaiannya. Ia teringat akan pembunuhan yang ia lakukan terhadap ayahnya dan menjadi ketakutan. Dan ia tidak berani mendatangi Buddha secara langsung.

Ia menarik tangan Jivaka dan bagaikan seorang pengunjung yang datang melihat-lihat vihàra itu, ia memuji Jivaka dengan berkata, “Engkau telah membangun sebuah vihàra yang indah! Engkau telah membangun sebuah vihàra yang indah!” ketika mereka tiba di pintu aula pertemuan bundar, raja bertanya kepada Jivaka mengenai keberadaan Buddha. Sebenarnya, itu hanyalah kebiasaan raja-raja untuk bersikap seolah-olah bodoh meskipun mereka mengetahui.

Kemudian Jivaka berpikir, “Raja ini seperti seorang yang menginjak bumi dan bertanya di manakah bumi itu, bagaikan seorang yang menatap langit dan bertanya di manakah matahari dan bulan berada, bagaikan seorang yang berdiri di kaki Gunung Meru dan bertanya di manakah Gunung Meru itu. Aku akan menunjukkan Buddha kepadanya.”

Kemudian Jivaka mengangkat kedua tangannya ke arah Guru dan berkata, “Raja besar, orang itu yang duduk di depan para bhikkhu, bersandar pada tiang tengah dan menghadap ke arah timur adalah Buddha.”

Kemudian Raja Ajàtasattu mendekati Buddha dan memberi hormat. Berdiri di satu tempat, ia menatap lagi dan lagi ke arah para bhikkhu yang tenang dan agung bagaikan danau yang jernih, sunyi senyap tanpa suara batuk atau bersin, mata mereka tenang terpusat pada Buddha tanpa melirik ke arah rombongan besar raja dan pengikutnya.

Sang raja terpesona dan berseru, “Sekarang para bhikkhu begitu tenteram. Semoga putraku, Pangeran Udayabhadda, memiliki ketenteraman ini!”

[(klik!) Catatan]
    Seruannya itu adalah akibat kekhawatirannya terhadap putranya dan keinginannya atas ketenteraman pangeran. Karena ia berpikir, “Suatu hari akan tiba saatnya putraku, melihat diriku yang masih muda, menanyakan tentang kakeknya. Jika ia mengetahui bahwa kakeknya dibunuh oleh ayahnya, ia akan mengingatnya dan membunuhku untuk menjadi raja.”

    Terlepas dari kekhawatirannya terhadap putranya dan keinginannya untuk memberikan ketenteraman kepada putranya, raja memang ditakdirkan untuk dibunuh oleh putranya sendiri. Dalam silsilah Raja Ajàtasattu terdapat lima kasus pembunuhan terhadap ayah:

    (1) Pangeran Ajàtasattu membunuh ayahnya Raja Bimbisàra;
    (2) Pangeran Udaya membunuh ayahnya Raja Ajàtasattu;
    (3) Pangeran Mahàmuõóika membunuh ayahnya Raja Udaya;
    (4) Pangeran Anuruddha membunuh ayahnya Mahàmundika; dan
    (5) Pangeran Nàgadàsa membunuh ayahnya Raja Anuruddha.

    Kemudian para penduduk kerajaan itu sepakat untuk memutuskan hubungan dengan raja yang telah menodai silsilah mereka dan meninggalkan Raja Nàgadàsa.

Sebelum raja mengucapkan seruannya, Buddha telah membaca pikiran Raja Ajàtasattu saat ia berdiri diam di depan Buddha. Buddha mengetahui bahwa raja tidak berani berbicara kepada-Nya, bahwa ia teringat kepada putranya saat ia melihat para bhikkhu dan jika Buddha tidak memecah es, ia tidak akan berani mengucapkan sepatah kata pun. Maka Beliau memutuskan untuk berbicara lebih dulu, Buddha berbicara setelah seruan sang raja.

“O Raja! Pikiranmu sekarang terarah kepada putra kesayanganmu.”

Kemudian Raja Ajàtasattu berpikir, “Oh! Sungguh menakjubkan kemuliaan Buddha! Tidak ada seorang pun yang dapat menyamaiku dalam berbuat kejahatan terhadap Buddha. Aku membunuh (ayahku) seorang penyokong utama yang juga adalah seorang Ariya, penyumbang Buddha. Bukan hanya itu. Terpengaruh oleh Devadatta, aku mengirimkan para pembunuh untuk membunuh Buddha. Mungkin Devadatta berpikir bahwa aku mendukungnya saat ia menjatuhkan batu besar dari Bukit Gijjhakåña untuk membunuh Buddha. Aku telah melakukan banyak kejahatan dan sekarang Buddha justru memulai percakapan denganku. Buddha sungguh memiliki sifat Tàdi sehubungan dengan lima ciri. Oleh karena itu kami seharusnya tidak mengabaikan orang mulia seperti Buddha dan tidak lagi mencari perlindungan (atau guru) di tempat lain.”

[(klik!) Catatan]
    Lima ciri Tàdi adalah:

    1. Keseimbangan, tanpa rasa cinta atau benci terhadap segala perubahan (Lokàdhamma) apakah yang disukai (ittha) ataupun tidak disukai (anittha).
    2. Penolakan atas kotoran batin.
    3. Telah menyeberangi lautan samsàra.
    4. Bebas dari nafsu, dan lain-lain.
    5. Memiliki moralitas, keyakinan, dan lain-lain yang membuatnya layak dianggap sebagai seorang yang memiliki integritas moral, keyakinan, dan lain-lain. (Penjelasan ini terdapat dalam Mahàniddesa)

    Penjelasan lain adalah:
    1. Kemampuan memiliki persepsi yang diinginkan (itthasannà) kapan saja dikehendaki sehubungan dengan makhluk-makhluk atau fenomena yang tidak diinginkan (anittha).
    2. Kemampuan memiliki persepsi yang tidak diinginkan (anitthasa¤¤à) kapan saja dikehendaki sehubungan dengan makhluk-makhluk atau fenomena yang diinginkan (ittha)
    3. Kemampuan memiliki persepsi yang diinginkan kapan saja dikehendaki sehubungan dengan makhluk-makhluk atau fenomena yang diinginkan maupun tidak diinginkan.
    4. Kemampuan memiliki persepsi yang tidak diinginkan kapan saja dikehendaki sehubungan dengan makhluk-makhluk atau fenomena yang diinginkan maupun tidak diinginkan.
    5. Kemampuan memiliki keseimbangan kapan saja dikehendaki sehubungan dengan makhluk-makhluk dan fenomena yang menyenangkan maupun tidak menyenangkan. Lima kekuatan mulia (Ariyiddha) adalah lima ciri Tàdi. (Dari Silakkhandha Abhinava Tikà, Vol. II)

Dengan pikiran demikian, ia merasa sangat gembira dan untuk menjawab kata-kata Buddha, ia berkata, “Buddha Yang Agung, aku mencintai putraku Pangeran Udayabhadda. Semoga putraku Pangeran Udayabhadda memiliki ketenteraman yang sama seperti yang dimiliki oleh para bhikkhu sekarang.”

Raja Ajàtasattu merenungkan, “Jika setelah memberi hormat kepada Buddha aku mendatangi para bhikkhu satu per satu untuk memberi hormat kepada mereka, aku selanjutnya harus kembali lagi kepada Buddha dan hal itu akan berarti tidak menghormati Beliau. Seperti halnya, seorang yang setelah memberi hormat kepada raja kemudian mendatangi pangeran mahkota untuk memberi hormat akan terkesan kurang menghormati raja.” Maka setelah memberi hormat kepada Buddha, ia kemudian memberi hormat kepada para bhikkhu dengan merangkapkan kedua tangannya dari tempatnya berdiri kemudian duduk di tempat yang semestinya.

Kemudian Raja Ajàtasattu berkata, “Buddha Yang Agung, jika Engkau mengizinkan aku mengajukan pertanyaan, aku ingin menanyakan beberapa pertanyaan mengenai suatu hal.”

Buddha berkata, “Raja Besar, engkau boleh menanyakan kepada-Ku mengenai apa saja yang engkau suka,” dengan demikian Beliau menyampaikan kepada raja undangan para Buddha Yang Mahatahu.

Setelah diundang oleh Buddha sesuai tradisi para Buddha Yang Mahatahu, Raja Ajàtasattu merasa gembira dan bersemangat, dan ia menanyakan pertanyaan berikut.

“Buddha Yang Agung, terdapat banyak jenis pekerjaan keterampilan bagi para ahli. Mereka adalah para prajurit penunggang gajah, prajurit penunggang kuda, prajurit pengendara kereta, pemanah, pengibar bendera, perencana militer, para komando yang menyusup ke belakang barisan lawan dan membunuh prajurit lawan, para pangeran yang ahli dalam bertempur, pasukan berani mati yang menyerang musuh secara cepat, para serdadu yang bersemangat bagaikan gajah perang, para pejuang yang gagah berani, para serdadu yang mengenakan baju besi, para pelayan yang dapat dipercaya, para koki, tukang cukur, pencuci baju, penenun, pembuat dinding anyaman, pembuat tembikar, ahli berhitung, dan mereka yang berhitung menggunakan jari-jemarinya, selain semua ini, masih ada banyak lagi orang-orang ahli. Dengan keahlian mereka, mereka berusaha dengan penuh semangat membuat agar mereka, orangtua mereka, istri dan anak mereka, teman-teman mereka dapat hidup dengan nyaman. Lebih jauh lagi, mereka memberikan persembahan kepada para bhikkhu dan brahmana agar dapat terlahir kembali di alam dewa setelah meninggal dunia.”

“Buddha Yang Agung, dapatkah seseorang menunjukkan manfaat hidup suci dibandingkan dengan pekerjaan keterampilan tadi, manfaat yang dapat diperoleh dalam kehidupan sekarang?”

Kemudian Buddha berpikir, “Sekarang di tempat ini banyak terdapat para pangeran dan menteri yang adalah pengikut para guru berpandangan salah, mereka yang berada di luar ajaran-Ku. Jika Aku membabarkan khotbah dalam dua bagian, yang menunjukkan noda-noda ajaran guru mereka (kanha-pakkha) di bagian pertama dan kemurnian ajaran-Ku (sukka-pakkha) di bagian kedua, orang-orang ini akan mencela-Ku, mengatakan bahwa Aku hanya membicarakan mengenai perbedaan ajaran sejak kedatangan raja mereka yang datang dengan susah payah untuk mendengarkan Dhamma. Mereka tidak akan mendengarkan Dhamma dengan penuh hormat. Jika raja yang membicarakan tentang ajaran para guru berpandangan salah, orang-orang ini tidak akan menyalahkan Aku. Mereka akan membiarkan Aku mengatakan apa pun. Adalah wajar jika rakyat mengikuti rajanya (issarànuvattako hi loko). Sekarang Aku akan memancing agar raja menjelaskan ajaran para guru berpandangan salah.” Kemudian Buddha bertanya apakah raja pernah mengajukan pertanyaan itu kepada bhikkhu atau brahmana lain.

Sang raja berkata bahwa ia pernah mengajukan pertanyaan itu kepada brahmana lain dan Buddha bertanya bagaimana jawaban mereka dan memintanya untuk menyebutkan jawaban mereka jika ia tidak keberatan. Raja berkata, “Yang Mulia! Aku tidak keberatan untuk menyebutkan jawaban mereka kepada Buddha atau seorang seperti Buddha.”

Kemudian Buddha membabarkan khotbah terperinci mengenai manfaat kebhikkhuan dalam kehidupan sekarang. Misalnya,
  1. Seorang budak akan dihormati oleh raja setelah ia ditahbiskan menjadi seorang bhikkhu,
  2. Seorang petani yang membayar pajak kepada raja akan dihormati oleh raja setelah ia menjadi bhikkhu.
  3. Untuk menjelaskan manfaat yang lebih tinggi dari kebhikkhuan, Buddha memberi contoh tentang seorang yang berasal dari kasta yang rendah ataupun tinggi yang mendengarkan ajaran-Nya, terdorong oleh keyakinan, ia menjadi bhikkhu dan melatih:

    (a) moralitas rendah,
    (b) moralitas menengah, dan
    (c) moralitas tinggi.

    Kemudian ia menjaga indrianya, mengembangkan perhatian, mudah puas, mematahkan rintangan, ia mencapai Jhàna Pertama,
  4. Jhàna Kedua,
  5. Jhàna Ketiga,
  6. Jhàna Keempat,
  7. - 14 kemudian ia mengembangkan lebih jauh lagi, ia mencapai Pengetahuan Pandangan Cerah (Vipassanà nàna), kekuatan batin (Manomayidhi nàna), kekuatan adialami (Iddhividha nàna), telinga dewa (Dibbasota nàna), pengetahuan penembusan atas pikiran makhluk lain (Cetopariya nàna), mengingat kehidupan masa lampau (Pubbenivàsànussati nàna), pengetahuan atas kematian dan kelahiran kembali makhluk-makhluk lain (Cutåpapàta nàna) dan pemadaman semua kotoran batin (âsavakkhaya nàna atau Arahatta-Magga nàna). Demikianlah seorang bhikkhu memperoleh manfaat dalam kehidupan sekarang dari kehidupan sucinya, delapan jenis kemajuan yang lebih tinggi, pengetahuan luar biasa hingga Kearahattaan. (Untuk penjelasan lengkap, baca Sàmanna-phala Sutta)
Ketika Buddha menjelaskan secara terperinci mengenai manfaat kebhikkhuan dengan Kearahattaan sebagai puncaknya, Raja Ajàtasattu mengikuti seluruh khotbah itu dengan penuh perhatian sambil terus-menerus mengungkapkan kekagumannya. Ia berpikir, “Pada masa lalu, aku bertanya kepada banyak petapa dan brahmana mengenai persoalan ini tetapi bagaikan seorang yang menumbuk kulit padi, aku tidak mendapatkan apa pun yang berguna. Sungguh menakjubkan kemuliaan Buddha! Beliau telah menjawab pertanyaan ini, mencerahkan aku seperti terangnya seribu lampu minyak. Sekian lama kebodohan menipuku, membutakanku akan kemuliaan dan kekuasaan Buddha.”

Diliputi oleh kegembiraan yang muncul dari merenungkan kemuliaan Buddha, raja dengan jelas memperlihatkan keyakinannya terhadap Buddha, Dhamma, dan Sangha dalam kata-kata berikut, “Yang Mulia, sungguh indah ajaran ini! Bagaikan membalikkan apa yang terbalik, bagaikan membuka apa yang tertutup, bagaikan seorang tersesat yang ditunjukkan arah yang benar, bagaikan obor dinyalakan agar mereka yang memiliki mata dapat melihat benda-benda di dalam gelap, demikian pula Engkau telah menjelaskan Dhamma dalam berbagai cara kepadaku. Yang Mulia! Aku berlindung di dalam Buddha, Dhamma, dan Sangha. Sudilah Buddha menganggapku sejak hari ini sebagai seorang umat awam di dalam Saraõàgamana seumur hidupku.”

“Yang Mulia! Aku diliputi oleh perasaan bersalah yang muncul dari kebodohan dan kebingungan. Demi kemewahan seorang raja aku membunuh ayahku, seorang raja besar yang mempraktikkan keadilan dan memerintah dengan baik. Sudilah Buddha memaafkanku atas kesalahan yang telah kulakukan, kesalahan yang akan mengingatkanku agar selalu penuh perhatian dan waspada pada masa mendatang.”

Demikianlah raja mencari perlindungan di dalam Buddha, Dhamma, dan Sangha, dan meminta maaf atas kesalahannya. Kemudian Buddha berkata, “O Raja! Engkau sungguh diliputi oleh kesalahan yang muncul akibat kebodohan dan kebingunganmu. Engkau telah membunuh ayahmu, seorang raja besar yang mempraktikkan keadilan dan memerintah dengan baik. Namun kami memaafkan engkau atas kesalahan itu karena engkau mengakuinya dan memperbaiknya. Jika seorang mengakui kesalahan yang ia lakukan, menebusnya dengan setimpal dan mengendalikan dirinya pada masa depan, maka penebusan dan pengendalian diri demikian merupakan kemajuan spiritual di dalam pengajaran-Ku.”

Kemudian Raja Ajàtasattu berkata, “Baiklah, Yang Mulia! Kami akan pergi sekarang. Kami harus melakukan banyak hal.” Buddha menjawab, “O Raja! Engkau boleh pergi jika engkau menginginkannya.”

Raja menerima ajaran Buddha dengan penuh kegembiraan, memujinya, kemudian ia bangkit dari duduknya, memberi hormat dan pergi.

Tak lama setelah Raja Ajàtasattu pergi, Buddha berkata kepada para bhikkhu, “Para bhikkhu, raja telah menghancurkan posisinya sendiri. Para bhikkhu, jika Raja Ajàtasattu tidak membunuh ayahnya, Raja Bimbisàra, seorang penguasa yang bajik, yang memerintah kerajaannya dengan adil, Kebijaksanaan Jalan Sotàpatti akan dapat dicapainya di tempat ini juga. (Ia akan menjadi seorang Sotàpanna Ariya.)”

Buddha menambahkan, “Para bhikkhu, jika ia tidak membunuh ayahnya, ia akan mencapai Jalan Sotàpatti selagi duduk di sini mendengarkan Sàmanna-phala Sutta. Tetapi karena ia bergaul dengan teman yang jahat, kesempatannya untuk mencapai Jalan menjadi rusak. Namun demikian, karena ia telah berlindung di dalam Tiga Permata dan karena perlindungannya yaitu tiga ajaran-Ku adalah yang tertinggi, ia dapat diumpamakan seperti seseorang yang divonis hukuman mati karena kasus pembunuhan tetapi dapat terhindar dari kematian karena mendapat dukungan dan dengan membayarkan segenggam bunga (sebagai denda ringan.) Meskipun ia seharusnya menderita di Neraka Avici karena kejahatan kejamnya membunuh ayah, ia hanya akan menderita di Neraka Lohakumbhi setelah meninggal dunia, karena ia memiliki pendukung di dalam ajaran-Ku. Ia akan terlahir kembali di neraka itu dan akan berada di sana selama tiga puluh ribu tahun kemudian keluar dan menetap di permukaan selama tiga puluh ribu tahun. Kemudian (setelah enam puluh ribu tahun) ia akan terbebas dari Lohakumbhi" [salah satu nama Neraka][RAPB buku ke-2 hal 1825-1857]

[(klik!) Catatan]
    Di sini, keuntungan yang diperoleh Ajàtasattu akan dijelaskan menurut Komentar. Pertanyaan, “Apakah ia mendapat keuntungan dari mendengarkan Sàmanna-phala Sutta?”

    Jawabannya adalah ya, dan keuntungannya sangat besar. Karena sejak saat ia membunuh ayahnya ia tidak dapat tidur, siang atau malam, karena ia selalu melihat gambaran kelahiran kembali yang menderita. Hanya setelah mendengarkan Sàmanna-phala Sutta yang lembut dan menyenangkan, ia dapat tidur nyenyak siang dan malam. Dan ia sangat menghormati Tiga Permata. Tidak ada umat awam lain yang memiliki keyakinan (puthujjanika-saddhà) yang menyamai Ajàtasattu. (Tidur nyenyak, kebajikan yang dihasilkan dari penghormatan kepada Tiga Permata, memiliki keyakinan istimewa sebagai seorang umat awam, dan lain-lain adalah keuntungan yang ia peroleh dalam kehidupan sekarang. Keuntungan dalam kehidupan selanjutnya adalah pencapaian Parinibbàna setelah menjadi seorang Pacceka Buddha, bernama Vijitàvi.

Demikianlah,
Dengan ketenarannya sebagai tabib, Jivaka sangat disibukkan oleh pekerjaannya, namun demikian, sesibuk apapun Jivaka, Ia tidaklah pernah mengabaikan "kewajibannya" pada Sangha. Banyak penderita penyakit tidak mampu membayar perawatan kesehatan yang dilakukan olehnya, mereka kemudian bergabung dengan sangha dengan tujuan agar dapat pengobatan gratis. Menemukan bahwa sangha kemudian digunakan sebagai sarana tersebut, Ia memohon Sang Buddha untuk menetapkan aturan bahwa laki-laki menderita penyakit tertentu tidak cocok untuk menjadi anggota sangha (Vin.i.71ff). Jivaka pula yang mengusulkan agar para bhikkhu diijinkan melakukan "olah raga" untuk kesehatan mereka:
    Pada saat itu di Vesālī sedang diadakan pengaturan iring-iringan persembahan makanan mewah. Para bhikkhu, setelah memakan makanan mewah menjadi sakit dengan tubuh penuh dengan cairan. Tabib Jīvaka Komārabaccha mengunjungi Vesālī..melihat para bhikkhu yang sakit dengan tubuh penuh dengan cairan;..ia mendekati Sang Bhagavā..berkata kepada Sang Bhagavā: "Saat ini, Bhagavā, para bhikkhu sakit dengan tubuh penuh dengan cairan. Baik sekali, Bhagavā, jika Bhagavā memperbolehkan suatu tempat untuk para bhikkhu berjalan mondar-mandir dan sebuah kamar mandi. Dengan demikian akan mengurangi penderitaan para bhikkhu"..Kemudian Sang Bhagavā..setelah membabarkan khotbah..berkata kepada para bhikkhu:"Aku mengizinkan, para bhikkhu, tempat untuk berjalan mondar-mandir, dan kamar mandi" [Cullavagga V/Khuddakavatthūni, Vin.ii.119)
Di suatu hari, ketika Buddha sedang berada di Vihàra Jetavana dan menganugerahkan gelar siswa awam terbaik, sang Bhagavà menyatakan: “Para bhikkhu, di antara para siswa awam-Ku yang penuh pengabdian, Jivaka, anak angkat Pangeran Abhaya adalah yang terbaik.”
----

Daftar Pustaka:

Mahavaga VIII, hal. 379-398, Riwayat Agung Para Buddha [RAPB] Buku ke-3, 2995-2997. Daftar nama di Pali canon.com: Devadatta, Jivaka, Sirima, Salavati, Ambhapali, Bimbisara, Ajàtasattu, dll

2 comments:

  1. Atharwa weda digolongkan ke dalam Weda Rajasika sehingga para maha rsi mengesampingkan weda ini, termasuk sang budha yang anda sebutkan diatas, didalam Kitab arthasastra disebutka bahwa weda terdiri dari 3 weda yang disebut weda trayi, sdangkan atharwa wea digolongkan kedalam Itihasa (dharmasastra,atharvaveda,ramayana,mahabharata, dll)

    ReplyDelete
  2. Pada mulanya, dikenal adanya Veda Trayi atau Tiga Veda, yaitu
    Rg
    Veda, Yajur Veda Sama Veda. Belakangan, Atharva Veda ditambahkan pada
    kumpulan Veda Trayi yang suci, disebut Catur Veda. Penafsiran terhadap
    Veda
    Trayi pun berbeda-beda. Selain penafsiran Veda disebut sebagai Trayi
    Veda
    disebabkan ia berjumlah tiga buah seperti tersebut diatas, terdapat
    pula
    tafsir yang mengatakan bahwa ia dinamakan Trayi Veda karena kumpulan
    Veda
    memuat tentang tiga step dan/atau jalan yang dapat ditempuh oleh umat
    manusia didalam menuju kepada tujuan akhir sebagai insan Tuhan, yaitu
    Moksa

    ReplyDelete