Sunday, January 2, 2011

Menunggangi Samsara: "Aku yang Mulai..Aku yang Mengakhiri.."


Terdapat satu pemikiran yang diterima secara umum yaitu segala sesuatu tidak terjadi dengan sendirinya namun ada awalannya atau dengan kata lain ada yang tercipta pertama kalinya.

Pemikiran "segala sesuatu tidak terjadi dengan sendirinya namun ada awalannya atau dengan kata lain ada yang tercipta pertama kalinya" merupakan suatu pemikiran yang logis yang berasal dari hasil rangkaian pembuktian empiris [kbbi: Berdasarkan pengalaman] masing-masing individu ketika mengamati beberapa hal yang telah mereka ketahui sendiri bagaimana hal itu berawal dan kemudian ditarik satu kesimpulan bahwa segala sesuatunya pasti ada awalnya.

Sedemikian logisnya pemikiran tersebut, sehingga seharusnya pemikiran tersebut digunakan pada apa yang di yakini terlebih dahulu sebelum mempertanyakan keyakinan lain ajaran, bukan?!

Kata “segala sesatunya” artinya juga mencakup definisi yang disebut sebagai tuhan, yang keberadaannya-pun harus mengindikasikan adanya sesuatu alasan mengapa ia perlu ada dan melakukan penciptaan, bukan?!

cilakanya setelah di uji, bahkan Alasan kitab2 bertuhanpun gagal membuktikan sesesuaian dengan logika yang baik itu!

Baiklah kita tinggalkan sejenak pertanyaan ttg tuhan tersebut karena telah banyak dibahas di artikel lainnya di blog saya, sekarang mari kita pakai logika berpikir itu pada aliran Buddhisme.

Bertentangan dengan pemikiran tersebut, Sang Buddha kerap menyatakan kepada beberapa Brahmana2 dari berbagai aliran dan para muridnya sendiri:

    "Anamataggoyaṃ, bhikkhave, saṃsāro. Pubbā koṭi na paññāyati avijjā­nīvara­ṇā­naṃ sattānaṃ taṇhā­saṃ­yoja­nā­naṃ sandhāvataṃ saṃsarataṃ. [Tak berkesudahan, Para Bhikkhu, samsara (kelahiran kembali). Titik pertama tak terlihat karena terhalang kebodohan para makhluk yang terbelenggu gerak keinginan yang terus menerus"] [misal di: SN 15.1/Tiṇa­kaṭṭha­sutta, SN 22.9: Gaddulabaddha Sutta, SN 56.35/Sattisata Sutta, dll]
Apakah Sang Buddha memang tidak dapat menentukan titik awalnya sehingga berkata demikian ataukah mencoba "menghindar" untuk menjawab? Ataukah beliau hanya mampu menjawab dengan perumpamaan sebagaimana yang disampaikannya kepada Malunkyaputta?

    Ini sama seperti ketika seseorang terluka terkena panah beracun. Teman-teman & sahabat-sahabatnya, sanak saudara & kerabat hendak mencabut dan mengobati dirinya namun orang itu berkata,

    "Aku tidak akan mencabut panah ini hingga aku tahu orang yang melukaiku ini apakah Ia seorang ksatria terhormat, pendeta, pedagang atau pekerja..hingga aku tahu namanya dan marga orang yang melukaiku ini..hingga Aku tahu apakah Ia tinggi, sedang atau pendek..hingga aku tahu apakah Ia berkulit hitam, sawo matang atau keemas-emasan..hingga aku tau kampung halamannya, kabupatennya atau kotanya..hingga Aku tau apakah tali busur yang melukaiku ini dari serat, benang bambu, otot, rami, kulit..hingga Aku tahu apakah bulu pada batang anak panah yang melukaiku ini berasal dari burung manyar, bangau, elang, merak atau burung lainnya..hingga aku tahu apakah batang panah yang melukaiku ini dibalut dengan urat sapi, kerbau, lutung atau monyet..hingga aku tahu apakah batang panah ini merupakan panah biasa, panah berlengkung, berduri, bergerigi, mengecil di ujung atau panah oleander"

    Orang itu akan keburu mati dan hal-hal yang hendak diketahuinya akan tetap tak diketahuinya.
Mari kita mencari tahu dengan beberapa petunjuk sutta dari aliran Theravada. Kenapa harus Aliran Theravada? Untuk jelasnya silakan buka: Ringkasan Ajaran Buddha

Berdasarkan Sutta berikut ini [dan juga ada di sutta lainnya], beliau telah melakukan penelusuran dan penyelidikan sebagaimana tertuang di Mahasaccaka Sutta, yang menceritakan saat-saat Sidartha Gautama mencapai Buddha [pengetahuan sempurna] ketika melakukan Meditasi dan telah memasuki keadaan jhana ke-4 pada tahapan meditasinya, dituturkan sebagai berikut:

    "[..] Aku mengingat banyak ragam kelahiran dikehidupan lampauKu sebagai berikut: mula-mula 1 kelahiran, 2, 5, 10, 50, 100, 1000, 100.000, banyak Kappa kontraksi kosmis, banyak Kappa kosmis mengembang, banyak Kappa dari kontraksi dan mengembangnya kosmis (anekepi saṃvaṭṭakappe anekepi vivaṭṭakappe anekepi saṃvaṭṭavivaṭṭakappe)[..] Pengetahuan pertama ini didapat pada malam hari di waktu jaga ke-1 (rattiyā paṭhame yāme: 18.00 s/d 22.00);

    Pengetahuan ke-2 didapat pada malam hari di waktu jaga ke-2 [rattiyā majjhime yāme: 22.00 s/d 02.00] melalui mata batinnya melihat mahluk-mahluk wafat dan muncul kembali di bermacam alam [baik (misalnya: dewa dan buruk(misalnya neraka)], terhubung dengan karma mereka sendiri hingga dibedakan menjadi inferior/superior, penampilannya baik/buruk, beruntung/sial;

    Pengetahuan ke-3 didapat pada malam hari di waktu jaga ke-3 [rattiyā pacchime yāme: 02.00 s/d 06.00] berupa penyebab, cara penghancuran noda (asavakkhaya ñãna) dan mengakhir kelahiran kembali"

    [Sumber: Majjhima Nikaya, Mahasaccaka Sutta No. 36, I.248]
Kemudian, setelah mencapai ke-Buddhaan, Ia kumandangkan pekik kemenangan:

    Anekajāti samsāraṃ sandhāvissaṃ
    anibbisaṃ 'Gahakāraṃ' gavesanto
    dukkhā jāti punappunaṃ
    Gahakāraka diṭṭhosi
    puna gehaṃ na kāhasi
    Sabbā te phāsukā bhaggā
    gahakūṭaṃ visaṅkhataṃ
    Visaṅ­khā­ra­gataṃ cittaṃ
    taṇhānaṃ khayamajjhagā
    Lari berputar diragam lingkaran kelahiran
    Sia-sia mencari 'Pembuat Rumah'
    Menyakitkan, kelahiran yang tiada akhir
    Pembuat Rumah, telah diketahui
    Tak lagi dapat membuat rumah
    Semua sendi telah dibongkar
    atap telah dirobohkan
    Macam bentukan pikiran telah dicabuti
    Belitan keinginan telah dihancurkan
    [Dhammapada syair 153-154]
[Note:
Versi-versi terjemahan lainnya baca di sini. Pembahasan mengenai "si pembuat rumah" ini apakah merujuk pada definisi tuhan/tidak, seberapa valid kebenaran adanya kelahiran kembali dan apakah kelahiran kembali memerlukan adanya jiwa/tidak, silakan lihat di artikel ini]

Dari Mahasaccaka Sutta di atas,
Tampak bahwa beliau telah melakukan penyelidikan banyak kelahiran sebelumnya, baik itu kelahiran dirinya sendiri maupun kelahiran dari mahluk lainnya

Seberapa "banyak" yang beliau jangkau?

Di ajaran Abrahamic, panjangnya masa/tahun kebelakang tidak lebih dari 50.000 tahun [itupun sudah amat sangat kepanjangan. Detail mengapa ini sudah sangat kepanjangan, silakan lihat di sini atau di sini], namun dalam tradisi India, panjang tahun kebelakang itu bahkan mencapai MILIARAN TAHUN!

Pada Sutta tersebut terdapat kata "banyak Kappa kontraksi kosmis, banyak Kappa kosmis mengembang, banyak Kappa dari kontraksi dan mengembangnya kosmis [..]"

Apa yang dimaksud dengan Kappa?

Kata 'kappa' salah satu artinya adalah "endless long period" [waktu yg panjang sekali]. Jika kata 'kappa' berdiri sendiri maka yang dimaksudkan adalah Maha Kappa.

Buddha tidak pernah menyatakan lamanya 1 kappa itu dalam satuan tahun.

Namun demikian,
Beliau memberikan 2 perumpamaan untuk dapat memahami betapa lamanya panjang 1 Kappa itu, yaitu ketika menjawab pertanyaan 2 orang bikkhu berbeda sebagaimana tercantum di SN 15.5 & 15.6. Semua jawaban dari Beliau di akhiri dengan kalimat, "bahkan 1 kappa belumlah sampai dan berakhir",

Kita lihat bagaimana perkiraannya di Pabbatasuttaṃ [Gunung Batu, SN 15.5]:

    Di Sąvatthi.
    Seorang bhikkhu mendekati Sang Bhagavą, memberi hormat kepada Beliau, duduk di satu sisi, dan berkata kepada Beliau: "Yang Mulia, berapa lamakah satu kappa?"

    "Satu kappa adalah sangat lama, bhikkhu. Tidaklah mudah menghitungnya dan menyebutkannya dalam berapa tahun, atau berapa ratus tahun, atau berapa ribu tahun, atau berapa ratus ribu tahun."

    "Kalau begitu mungkinkah dengan memberikan perumpamaan, Yang Mulia?"

    "Mungkin saja, bhikkhu," Sang Bhagavą berkata. "Misalnya, bhikkhu, terdapat gunung batu dengan panjang satu yojana, lebar satu yojana, dan tingginya satu yojana, tanpa lubang atau celah, batu padat yang besar. Di akhir setiap seratus tahun seseorang akan menggosoknya dengan secarik kain Kąsi. Dengan usaha ini gunung batu itu lama-kelamaan akan terkikis habis tetapi kappa itu masih belum berakhir. Demikian lamanya satu kappa itu, bhikkhu.

    Dan dari kappa-kappa yang selama itu, kita telah mengembara melalui begitu banyak kappa, ratusan kappa, ribuan kappa, ratusan ribu kappa.

    Karena alasan apakah?

    Karena, bhikkhu, saüsąra ini adalah tanpa awal yang dapat ditemukan..[..]


    Note:
    Terdapat variasi berapa ukuran '1 yojana', variasi pendapat tersebut ada di kisaran antara 7mil - 14mil

    Mari kita coba hitung berapa lama waktu yang di butuhkan agar gunung Batu dengan dimensi 1 yojana³ yang digosok dengan kāsikena vatthena [kain yg sangat halus] dan setiap seratus tahun dapat terkikis sedikit demi sedikit hingga habis.

    • Hitungan yang saya pinjam dari blog ini:
      Asumsi 1 yojana = 15 km (estimasi), sehingga densitas (d) batu cadas = 3203.7kg/m³, batu cadas tsb terbuat dari silikat, s = ± 100g/mol. Estimasi jumlah molekul dalam kikisan oleh kain adalah 1, hitungannya menjadi:

      1 kappa = 100 x (y³)x d/(0.001s x NA )= 6.5 x 1042 tahun. di mana NA = Angka avogrado.

      Terlalu tinggi dalam mengestimasikan molekul?

      Jika dikurangi menjadi 1017, molekul silikat yg terkikis kain menjadi, 1.66 x 10-8kg. Jadi nilai 1 Kappa = adalah hingga 1017..tetapi kappa itu masih belum berakhir

    • variasi hitungan lainnya:
      Karena variasi '1 yojana' = 7 mil s/d 14 Mil; 1 mil = 1.6 km, jadi 1 yojana setara antara 11.2 km s/d 22.4 km. Anggap saja per 100 tahun dapat 1 mm³, sehingga:

      1 kappa = (11.2)³ x (106)³ mm x 100 tahun = 1.41 x 1023 s/d 1.1 x 1024..tetapi kappa itu masih belum berakhir
contoh lainnya di Sāsapasuttaṃ [Biji Sawi, SN 15.6]:

    Di Sąvatthi.
    Seorang bhikkhu mendekati Sang Bhagavą, memberi hormat kepada Beliau, duduk di satu sisi, dan berkata kepada Beliau: "Yang Mulia, berapa lamakah satu kappa?"

    "Satu kappa adalah sangat lama, bhikkhu. Tidaklah mudah menghitungnya dan menyebutkannya dalam berapa tahun, atau berapa ratus tahun, atau berapa ribu tahun, atau berapa ratus ribu tahun."

    "Kalau begitu mungkinkah dengan memberikan perumpamaan, Yang Mulia?"

    "Mungkin saja, bhikkhu," Sang Bhagavą berkata. “Misalnya, bhikkhu, terdapat satu kota dengan tembok besi satu yojana panjangnya, satu yojana lebarnya, dan satu yojana tingginya, diisi penuh dengan biji sawi hingga sepadat rambut yang terikat. Di akhir setiap seratus tahun seseorang mengambil sebutir biji sawi dari sana. Dengan usaha ini tumpukan biji sawi itu lama-kelamaan akan habis tetapi kappa itu masih belum berakhir. Demikian lamanya satu kappa itu, bhikkhu.

    Dan dari kappa-kappa yang selama itu, kita telah mengembara melalui begitu banyak kappa, ratusan kappa, ribuan kappa, ratusan ribu kappa.

    Karena alasan apakah?

    Karena, bhikkhu, saüsąra ini adalah tanpa awal yang dapat ditemukan.. [..]


    Note:
    Terdapat variasi berapa ukuran '1 yojana', variasi pendapat tersebut ada di kisaran antara 7mil - 14mil

    Mari kita coba hitung berapa lama waktu yang di butuhkan agar Dinding besi dengan dimensi 1 yojana³ di isi dengan 1 biji mustard setiap seratus tahun hingga penuh

    • Hitungan yang saya pinjam dari blog ini:
      Asumsi 1 yojana = 15 km(estimasi); Diameter sebiji mustard (m) = 0.15875 cm, dengan asumsi berbentuk bulat, dan di isi penuh tanpa ada lagi udara di dalamnya

      1 kappa = 100 x (y³)/(4π x(0.01m/2)³)= 5.37 x 1022 tahun..tetapi kappa itu masih belum berakhir

    • variasi hitungan lainnya:
      '1 yojana' = 7 mil s/d 14 Mil; 1 mil = 1.6 km, jadi 1 yojana setara antara 11.2 km s/d 22.4 km, utk menjadi mm = 1.41 x 1021 mm³ s/d 1.1 x 1022 mm³

      Anggap saja ukuran biji mustard adalah 2mm x 2mm x 2mm = 8mm³, Jadi, 1.41 x 1021 mm³ / 8 mm³ = 1.76 x 1020 butir s/d 1.4 x 1021 butir. Bila diambil satu butir setiap setiap seratus tahun maka

      1 kappa = 1.76 x 1020 butir x 100 tahun = 1.76 x 1022 tahun s/d 1.4 x 1023 tahun..tetapi kappa itu masih belum berakhir

    Dalam kokkalika sutta [AN (Theravaggo); SN (Mahavaggo); SN (Sagātha, Brahma Saṃyutta)] ada satu contoh menghitung panjangnya waktu di neraka Panduma:

      "[..]Yang Mulia, berapa lama waktu kehidupan di neraka Paduma?

      Bhikkhu, Umur kehidupan di Neraka Paduma adalah panjang, Bhikkhu, tidaklah mudah menghitungnya dan menyebutkannya dalam tahun, atau ratusan tahun, atau ribuan tahun, atau ratusan ribu tahun.

      Yang mulia, apakah dapat diberikan perumpamaan?

      Mungkin, Bhikkhu.

      1. Misalkan, Bhikkhu, terdapat satu kereta dari Kosala berukuran dua puluh yang penuh dengan biji wijen. Di akhir setiap seratus tahun, seseorang akan mengambil sebutir dari sana. Kereta dari Kosala berukuran dua puluh yang penuh dengan biji wijen itu kosong lebih cepat daripada satu Neraka Abbuda dilalui;
      2. 20 Neraka Abbuda = dengan 1 Neraka Nirabbuda;
      3. 20 Neraka Nirabbuda = dengan 1 Neraka Ababa;
      4. 20 Neraka Ababa = dengan 1 Neraka Añaña;
      5. 20 Neraka Añaña = dengan 1 Neraka Ahaha;
      6. 20 Neraka Ahaha = dengan 1 Neraka Kumuda;
      7. 20 Neraka Kumuda = dengan 1 Neraka Soghandika;
      8. 20 Neraka Soghandika = dengan 1 Neraka Uppala;
      9. 20 Neraka Uppala = dengan 1 Neraka Pundarika; dan
      10. 20 Neraka Pundarika = dengan 1 Neraka Paduma.[..]"

      Ukuran kaum Kosala, dari Pattha ke atas, 4x dari yang digunakan di Magadha: 20 khaari = 1 khaarika ( = 1 gerobak/kereta)

      Di mana,
      1 biji gandum/wijen (Yavodara/barley corn) = 1/6 Inch (0.166667 Inch)
      1 Angula = 8 x Yavodara (biji gandum/wijen = 1.333333 Inch)
      1 Hasta = 4 x 6 Angula [= 32 Inch]

      1 Magadha Karika = 1 cubic Hasta = [32 inci]3= 32,768 inci3

      Perhitungan jumlah gandum/wijen-nya saya ambil dari di sini atau di sini:

      1 sendok makan (besar) = 2,865 wijen/gandum
      1 sendok makan = 1/16 cangkir/mangkok
      1 cangkir/mangkok = 45,840 wijen/gandum
      1 cangkir/mangkok = 14,4375 inci3
      1 Inci3 = 3,175 biji wijen/gandum

      1 Magadha karika = 32,768 x 3,175 wijen = 104,038,400 wijen/gandum
      1 abbuda niraya = Setiap 100 tahun, 1 wijen dari 1 Magadha karika dibuang,

      Lamanya waktu di abbuda niraya = 104,038,400 wijen/gandum x 100 tahun = 10.403.840.000 tahun, “itu kosong lebih cepat daripada satu Neraka Abbuda dilalui”, jadi, lamanya 1 Abbudda jauh melebihi angka itu.

        Note:
        Dipavamsa 3.10-13 (Abad ke-4 M) dan kitab komentar untuk Jataka no.405 karangan Buddhaghosa (Abad ke-5 M) menerangkan besaran angka hingga ke abbuda:

        Divampasa:
        Dasadasakaṃ sataṃca sataṃ dasa sahassiyo, Dasa sahassaṃ nahutaṃ dasa nahutaṃ satasahassiyo, Dasasatasahassaṃ koṭi dasa koṭi pakoṭiyo, Tathā koṭippakoṭī ca nahutaṃ ninnahutaṃ pica, Akkhohiṇī bidūca abbudo” (10 x 10 = 102; 10 x 100 = 103; 10 x 1000 = 104; 10 x 10.000 = 105; 10 x 100.000 = 106; koti (107); 10 x koti (108); pakoti (107 x 107 = 1014); kotipakoti (1021); nahuta (1028); ninnahuta (1035); abbuda (1042)
        "..Nirabbuda..Paduma. Ettaka ganita savkhya gananaganita tahim, Tato uparimabhumi asamkheyya’ti vuccati" (..Nirabbuda..Paduma. Seluruh angka ini dapat di-angka-kan dengan dibuat hitungannya; lebih dari jumlah ini disebut asamkkheyya/tak terhitung)

        Komentar Jataka dari Buddhaghosa:
        dasadasakaṃ sataṃ, dasa satānaṃ sahassaṃ, sataṃ sahassānaṃ satasahassaṃ, sataṃ satasahassānaṃ koṭi nāma” (10 x 10 = 102; 10 x 100 = 103; 100 x 1000 = 105; 100 x 100.000 = 107 = 1 koti)
        sataṃ koṭisatasahassānaṃ pakoṭi nāma, sataṃ pakoṭisatasahassānaṃ koṭipakoṭi nāma, sataṃ koṭipakoṭisatasahassānaṃ ekaṃ nahutaṃ nāma, sataṃ nahutasatasahassānaṃ ekaṃ ninnahutaṃ nāma.. sataṃ ninnahutasatasahassānaṃ ekaṃ abbudaṃ“ (koti (107) x koti = pakoti (1014); koti x pakoti = kotipakoti (1021); koti x kotipakoti = 1 nahutam (1028); koti x nahutam = 1 ninnahutam (107 x 1028) = 1035; koti x ninnahutam (107 x 1035 = 1042) = 1 Abudda)

        Kemudian,
        di Kathavatthu, Vibhanga 18 (Setelah konsili ke-3, abad ke-3 SM), ada jumlah 1200, 28 koti dan 5 juta tahun (1,228.5 koti) [Dvādasa koṭisataṃ tesaṃ, aṭṭhavīsañca koṭiyo; Paññāsa satasahassāni], yaitu total seluruh umur kehidupan alam catumaharajika s.d alam Paranimmitavasavattī: catumaharajika (9 x 106) + tavatimsa (36 x 106) + Yama (144 x 106) + Tusita (576 x 106) + Nimmānaratī (2,304 x 106) + Paranimmitavasavattī (9,216 x 106) = 12,285,000,000 (1,228.5 x 107). Jadi di abad ke-3 SM, 1 koti juga = 107

        Untuk itu, 1 abbuda = 1042

      1 Nirabbudda = 20 Abbuda = 20 x 1042 = 2 x 1043
      1 Ababa = 20 x 2 x 1043 = 4 x 1044
      1 Añaña = 20 x 4 x 1044 = 8 x 1045
      1 Ahaha = 20 x 8 x 1045 = 1.6 x 1047
      1 Kumuda = 20 x 1.6 x 1047 = 3.2 x 1048
      1 Soghandika = 20 x 3.2 x 1048 =6. 4 x 1049
      1 Uppala = 20 x 6.4 x 1049 = 1.28 x 1051
      1 Pundarika = 20 x 1.28 x 1051 = 2.56 x 1052
      1 Paduma = 20 x 2.56 x 1052 = 5.12 x 1053 tahun
Kemudian,
terdapat juga istilah lagi yaitu dengan menggunakan interval perubahan umur: Maha Kappa; Asankheyya/Asankhya-kappa (asankhya berarti "tak terhitung banyaknya") dan Antara kappa [Cakkavati Sihananda Sutta: Interval meningkat/menurunnya umur kehidupan manusia: 10 thn -> 1 asankhyeyya -> 10 tahun].

1 Maha Kappa/Satu periode Kontraksi dan mengembang kosmis [MK] = 4 Assankhyya Kappa [AK]. Terbagi menjadi:

  • Samvatta-Kehancuran mulai hingga menjadi elemen dasar/habis = kontraksi kosmis;
  • Samvattatthdyi-tidak ada apapun = final kontraksi kosmis;
  • Vivatta-renovasi hingga komplit = kosmis mengembang;
  • Vivattatthayi-kestabilan = final kosmis mengembang
  • [sumber: Anguttara, II, 142]
Ada dua model perhitungan 1 Maha kappa:

  1. Perhitungan menurut umur di neraka Avici: 1 MK = 4 x 20 antara kappa [penghuni neraka avici] = 80 antara kappa [penghuni neraka Avici] [Terasakandaa tika, Subkomentar dari Vinaya]. Kitab komentar untuk Anguttara menyebutkan bahwa 10 neraka yang telah kita hitung di atas adalah periode kesengsaraan tertentu di neraka Avici dan tidak menyebutkan adanya hubungan persamaan matematis dengan neraka Avici. Sehingga hitungan tentang lama di masing2 10 neraka di atas tidak dapat lagi diteruskan persamaannya untuk mendapatkan 1 MK.
  2. perhitungan menurut alam manusia: 1 MK = 4 x 64 antara kappa [umur manusia naik - turun - naik] = 256 antara kappa [Visuddhimagga Mahà-Tikà, Abhidhammàttha-vibhàvani Tika]. Diantara 256 antara kappa ini, hanya 64 antara kappa saja ada kehidupan manusia. Dalam Bhadda Kappa ini, Kappa yang terdapat 5 Buddha, jumlahnya 64 antara Kappa [RAPB buku ke-1, hal.363].

    Hubungan antara kappa neraka avici vs alam manusia adalah 1 antara kappa neraka avici = 256/80 = 3.2 antara kappa alam manusia.
Pendekatan lain dalam menghitung Maha Kappa
Petunjuk matematis bagaimana penurunan/kenaikan rata-rata umur manusia kita temukan juga di sutta aliran Mahayana: Avatamsaka Sutra [Sutra Karangan Bunga], yang menyatakan saat kebaikan meningkat umur manusia bisa mencapai rata-rata 84.000 tahun dan kemudian menurun 1 tahun per 100 tahunnya hingga umur manusia mencapai rata-rata 10 tahun dan kemudian meningkat setahun untuk setiap 100 tahun.

[Note:
Cakkavati-Sihananda Sutta, tidak pernah memberikan petunjuk model matematik penurunan seperti apapun dan juga tidak pernah menganjurkan perhitungan mulai/berakhir di 100.000 tahun atau 84.000 tahun atau 80.000 namun. Sutta itu hanya memberikan petunjuk, kalimat berulang, "Setelah beberapa ratus tahun dan beberapa ribu tahun" yang justu merujuk pada definisi assankhya ("tak terhitung banyaknya"). Baru pada syair ke-14 tertera kata "80.000 tahun" namun tetap tidak terdapat pentunjuk sistimatika bentuk matematis bagaimana penurunan umur hingga ke 40.000 tahun dan seterusnya.

Dalam Riwayat Agung Para Buddha, disebutkan adanya hubungan pola kenaikan umur - penurunan umur di maha kappa ini dengan kemunculan 4 Buddha yaitu: Kakusandha, Konàgamana, Kassapa dan Gotama yang rata-rata berselisih 1 antara kappa lebih:

    Ketika umur kehidupan manusia perlahan-lahan turun dari asankhyeyya hingga menjadi 40.000 tahun, Bodhisatta Kakusandha terlahir kembali dari Surga Tusita ke alam manusia [hal.364].

    Setelah Buddha Kakusandha Parinibbàna, dalam bhadda kappa ini, umur kehidupan manusia perlahan-lahan menurun dari 40.000 tahun menjadi -> 10 tahun -> naik menjadi asankhyeyya -> turun lagi hingga 30.000 tahun, Bodhisatta Konàgamana, terlahir kembali dari Surga Tusita ke alam manusia [hal.369]

    Setelah Buddha Konàgamana Parinibbàna, dalam bhadda kappa ini, umur kehidupan manusia perlahan-lahan menurun dari 30.000 tahun menjadi -> 10 tahun -> naik menjadi asankhyeyya -> turun lagi hingga 20.000 tahun, Bodhisatta Kassapa, terlahir kembali dari Surga Tusita ke alam manusia [hal.374]

    Setelah munculnya Buddha Kassapa sewaktu umur kehidupan manusia adalah 20.000 tahun, kemudian turun menjadi -> 10 tahun -> naik menjadi asankhyeyya -> turun lagi menjadi 100 tahun di mana Buddha Gotama muncul [hal.547, 835].
Dari 3 pola sebelumnya, seharusnya kemunculan Buddha Gautama terjadi di umur manusia 10.000 tahun, namun tidak. Beliau juga tidak muncul di 5000 tahun, 1000 tahun, 500 tahun. Ini mengindikasikan bahwa parami (kesempurnaan) merupakan pola final kemunculan seorang SammasamBuddha.

Pola per 1 antara kappa, telah terjadi di 4 Buddha sebelumnya, seharusnya pola ini juga berlaku pada periode antara Buddha Gautama - Buddha Metteya. Masalahnya, TIDAK ADA pernyataan Buddha Gautama atau para sepuh arahat lain bahwa Buddha Metteya akan muncul setelah 1 antara kappa berikutnya atau di antara kappa terakhir Maha kappa ini.

Hanya di Sutta mahayana Avatamsaka Sutra, sistimatika dan nilai tahun disebutkan. Jika kita perhatikan maka seharusnya terdapat perbedaan perlakuan perubahan penurunan/kenaikan umur sehingga tidak statis di angka per 100 tahun, misalnya utk kenaikan umur yg mulai dari 10 tahun, maka setelah terjadi 9 x usia 10 tahun maka baru 10 tahun berikutnya terdapat kenaikan umur 1 tahun. Untuk penurunan umur yg mulai dari 84.000 tahun, maka setelah terjadi 83.799 x usia 84.000 tahun maka di 84.000 tahun berikutnya terdapat pengurangan umur 1 tahun dan seterusnya].

Dengan merujuk model perhitungan dari Suta Mahayana maka:

  • Dengan mengabaikan perubahan dari 84.000 menjadi 83.7999 memerlukan berapa lama hingga kemudian wajar terjadi pengurangan per 100 tahun berkurang 1 tahun, maka dengan rumus jumlah deret ukur sederhana, S =(F+L)(T)/ 2; di mana S = Jumlah total tahun; F = angka pertama dalam deret angka; L = Angka terakhir dalam deret angka; T = Jumlah unit dalam urutan. Maka:

    1 antara kappa, = 2 x (10 + 84000)x(83991)/2 + (2 x 100 x(83991-1)) = 7,072,881,910 tahun atau 7.1 x 109.
    1 AK = 64 x 7.1 x 109 = 4.52 x 1011.
    1 MK = 4 x 4.52 x 1011 = 1.8 x 1012

    Ini baru kita hitung dari umur 84.000 tahun, sementara rujukan di atas ada yang mensyaratkan umur = assankhyeya [belum jelas artinya untuk nominal umur berapa]

    Dari beberapa hasil model perhitungan sebelumnya, angka dari perhitungan ini jelas terlalu kecil atau nilai ini, masih terlalu jauh untuk dapat dikatakan mendekati definisi lammanya 1 Kappa

  • Variasi lainnya didapat dari link ini dengan summary sbb:

    • Kalpa biasa adalah sekitar 16 juta tahun.
    • Kalpa kecil adalah 1000 kalpa biasa atau 16 Milyar tahun.
    • Medium kalpa adalah 20 kalpa kecil atau 320 Milyar tahun
    • Kalpa besar adalah 4 medium kalpa atau 1.28 Triliun tahun [1.28 x 1012]. Namun, dari beberapa hasil model perhitungan sebelumnya, angka dari perhitungan ini jelas terlalu kecil atau nilai ini, masih terlalu jauh untuk dapat dikatakan mendekati definisi lammanya 1 Kappa.

    Apa yang dimaksudkan oleh Sang Buddha dengan menggunakan kata "asankheyya"/tak terhitung?

    Di Situs ini dan ini, anda masih akan temukan penamaan bilangan super besar dalam kitab2 suci tradisi India [Veda dan Jainism] yaitu penamaan bilangan hingga pangkat 1053 = Tallakshanaam dan di kitab Jainism, Anuyogadwar Sutra [penulisan 100 SM] terdapat penulisan angka 10140.

    Juga di dalam Buku Grammar-pali, misal. Kaccāyana-vyākaraṇa [James D'alwis: Grammar ini di tulis pada akhir paruh kedua abad ke-6 SM oleh Maha kaccayana], Angka-angka besar diberikan seperti: koti (107), pakoti (1014), koti-pakoti (1021), nahuta (1028), ninnahuta (1035),..., asamkheyya (10140) [sumber: di sini]

    Angka 10140, mari kita aplikasikan untuk menghitung lamanya 1 Maha kappa

    1 Maha Kappa = 4 Assankheyya, yaitu 4 x 10140, di mana 1 antarakappa = 1/64 x 10140 = 1.563 x 10138, Ini juga berarti umur dunia saat manusia-manusia pertama hingga terakhir ada untuk 1 x siklus!
Nah, kira-kira demikianlah lama ukuran panjang dari 1 Kappa tersebut.

Kemudian untuk "banyak kappa" dari potongan kalimat:

    "[..] kontraksi kosmis, [..] kosmis mengembang, [..]dari kontraksi dan mengembangnya kosmis"
Kappa yang dimaksud di sini bukan lagi tahun melainkan angka.

Untuk pertanyaan ini, Sang Buddha menyampaikan perumpamaannya di 2 Sutta lainnya yaitu di 15.7 dan 15.8, Sāvakasuttaṃ dan Gaṅgāsuttaṃ:

Sāvakasuttaṃ [Para Siswa, 15.7]

    Di Sąvatthi.
    Sejumlah bhikkhu mendekati Sang Bhagavą, memberi hormat kepada Beliau, duduk di satu sisi, dan berkata kepada Beliau: "Yang Mulia, berapa banyakkah kappa yang telah lewat dan berlalu?"

    "Para bhikkhu, banyak kappa telah lewat dan berlalu. Tidaklah mudah menghitungnya dan menyebutkannya dalam berapa kappa, atau berapa ratus kappa, atau berapa ribu kappa, atau berapa ratus ribu kappa."

    "Kalau begitu mungkinkah dengan memberikan perumpamaan, Yang Mulia?"

    "Mungkin saja, bhikkhu," Sang Bhagavą berkata. "Misalnya, bhikkhu, terdapat empat siswa di sini yang masing-masing memiliki umur kehidupan selama seratus tahun, hidup selama seratus tahun, dan setiap hari mereka masing-masing mengingat seratus ribu kappa.

    Masih ada banyak kappa yang belum teringat oleh mereka ketika empat siswa tersebut yang masing-masing memiliki umur kehidupan seratus tahun, hidup selama seratus tahun, meninggal dunia di akhir seratus tahun itu.

    Tidaklah mudah menghitungnya dan menyebutkannya dalam berapa kappa, atau berapa ratus kappa, atau berapa ribu kappa, atau berapa ratus ribu kappa.

    Karena alasan apakah?

    Karena, para bhikkhu, saüsąra ini adalah tanpa awal yang dapat ditemukan.. [..]
    "

    Mari kita coba hitung permisalan ini:
    4 bikkhu, hidup dan mencapai umur 100 tahun serta setiap hari masing-masing dari mereka dimisalkan dapat mengingat 100.000 Kappa, jadi Jumlah Kappa yang diingat dan telah berlalu = 4 x 100 tahun x 365 hari x 100.000 Kappa = 14.6 Milyard Kappa..dan masih ada banyak kappa yang belum teringat dan telah berlalu!
dan juga di Gaṅgāsuttaṃ [Sungai Gangga, 15.8]

    Pada suatu ketika Sang Bhagavą sedang berdiam di Rąjagaha di Hutan Bambu, Taman Suaka Tupai. Kemudian seorang brahmana mendekati Sang Bhagavą dan saling bertukar sapa dengan Beliau. Ketika mereka mengakhiri ucapan ramah-tamah, ia duduk di satu sisi dan berkata kepada Beliau:

    "Guru Gotama, berapa banyakkah kappa yang telah lewat dan berlalu?"

    "Brahmana, berapa banyak kappa yang telah lewat dan berlalu. Tidaklah mudah menghitungnya dan menyebutkannya dalam berapa kappa, atau berapa ratus kappa, atau berapa ribu kappa, atau berapa ratus ribu kappa."

    "Kalau begitu mungkinkah dengan memberikan perumpamaan, Guru Gotama?"

    "Mungkin saja, brahmana," Sang Bhagavą berkata. "Misalnya, brahmana, butiran pasir dari mulai Sungai Gangga ini bersumber hingga tempat sungai ini memasuki samudra raya; tidaklah mudah menghitungnya dan menyebutkannya dalam berapa butir, atau berapa ratus butir, atau berapa ribu butir, atau berapa ratus ribu butir. Brahmana, kappa-kappa yang telah lewat dan berlalu adalah jauh lebih banyak dari butiran pasir itu.

    Tidaklah mudah menghitungnya dan menyebutkannya dalam berapa kappa, atau berapa ratus kappa, atau berapa ribu kappa, atau berapa ratus ribu kappa.

    Karena alasan apakah?

    Karena, brahmana, samsąra ini adalah tanpa awal yang dapat ditemukan.. [..]"

    Ketika hal ini dikatakan, brahmana itu berkata kepada Sang Bhagavą:

    "Mengagumkan, Guru Gotama! Mengagumkan, Guru Gotama!

    … Sejak hari ini, sudilah Guru Gotama mengingatku sebagai seorang pengikut awam yang telah berlindung seumur hidupku."


    Mari kita coba hitung:
    Di hadapan seorang Brahmin, menghitung jumlah pasir di sungai Gangga dari hulu hingga mencapai Lautan, walaupun sulit, bahkan jika terkumpulpun hingga habis maka jummlah Kappa yang telah berlalu bahkan lebih banyak daripada itu.

    Dari situs ini, didapat perkiraan panjang sungai gangga yaitu 1557 mil (2506 km), panjang deltanya saja adalah: 200 mil (322 km), luas Delta gangga (A) saja adalah 105000 km2, Estimasi dalamnya pasir d = 1 m, volume (s) = 1/16 mm dalam diameter, sehingga

    Jumlah Maha Kappa yg telah berlalu =(1000)2 x A x d/(4π x (0.001s/2)³)= 2.7 x 1023 Maha Kappa dan tentunya hasilnya bertambah lebih banyak lagi jika di hitung hingga sepanjang 1557 mil namun apapun hasil perhitungannya [karena tertulis harusnya dari hulu ke hilir], maka tetap saja masih lebih banyak kappa lagi yg telah berlalu
Bisakah anda bayangkan sekarang bahwa untuk dunia dimana kita saat ini terlahir saja, yang dikatakan umurnya 1 Maha kappa, maka jumlah tahun untuk mencapai 1 Maha Kappa saja sudah tak terhitung lagi lamanya. Namun ternyata bahkan jumlah Maha kappa yang sebenarnya TELAH BERLALU lebih tak terukur lagi jumlahnya!

Mengerikan sekali lamanya waktu yang telah di lalui oleh kita semua, bukan?!

Dari perhitungan di atas, maka sudah dapat anda bayangkan dan ketahui sendiri betapa panjangnya rentang waktu yang telah diselidiki oleh sang Buddha untuk kelahiran kembalinya dan mahluk-mahluk lain yang dikatakannya hingga "banyak Kappa kontraksi kosmis, banyak Kappa kosmis mengembang, banyak Kappa dari kontraksi dan mengembangnya kosmis". Setelah selesai semua penyelidikan itu hingga kebelakang, Beliau akhirnya memekikan ungkapan kesia-sian mencari pembuat rumah ini!

Ini adalah indikasi bahwa beliau telah meneliti sampai ke ujung-ujungnya namun memang tidak mudah untuk menyatakannya dalam satuan tahun.

Sang Buddha menjelaskan perumpamaan yang berbeda-beda ini dengan memperhatikan kemampuan dari masing-masing para penanya yang berasal dari berbagai kalangan dimaksudkan agar para penanyanya mampu untuk memahami dan mengukurnya sendiri betapa panjangnya ukuran tersebut.

Di bawah ini, Silahkan simak "sekelumit" dari kelahiran kembali beliau, yang kita ambil mulai dari 20 Assankhye Kappa (20 x 10140) + 300.000 Maha Kappa (3 x 4 x 10140 x 100.000) hingga beliau menjadi Buddha.

Apakah ada Buddha lain selain Buddha Gautama?

Aliran Theravada mengatakan, tak terhitung Banyaknya Buddha lainnya sebelum dan Sesudah Buddha Gautama [Di sutta Mahayana, dikatakan jumlah Buddha yang telah berlalu melebihi pasir di sungai gangga], Buddha-Buddha tersebut merupakan Pribadi yang unik atau Mahluk yang sama sekali berbeda namun masing-masing dari mereka mampu mencapai Ke-Buddha-an seperti Buddha Gautama. Dalam Kelahiran kembali Sang Buddha Gautama sebelumnya sebagaimana tercatat di berbagai Sutta dan Jataka, terekam banyak pertemuan Beliau ketika merintis jalan ke-Buddha-an dengan para Buddha sebelumnya dan bahkan dengan calon Buddha Metteya [setelah Buddha Gautama].

    Note:
    Dari seluruh Buddha-Buddha yang disebutkan dibawah ini HANYA 7 Buddha yang ada tercantum dalam DN 14/Mahapadana sutta: Buddha Vipassi (91 Maha kappa yang lalu), Buddha Sikhi (31 Maha Kappa), Buddha Vesabbhu (31 Maha kappa yang lalu), Buddha Kakusandha (Kappa yang sama dengan Buddha Gautama), Buddha Konagama, Buddha Kassapa dan Buddha Gautama.

    Buddha masa depan, yaitu Buddha Metteya, disebutkan di DN 26/Cakkavati Sihanada Sutta, sedangkan nama-nama Buddha selain itu, disebutkan di kitab Budhavamsa yang merupakan bagian dari Khuddaka Nikaya.

    Menurut J.S Walters dan B.M Barua: Cariyapitaka, Buddhavamsa dan Apadana dibuat SETELAH jaman raja asoka. Sementara A.K Warder: Patisambhidamagga dan Buddhavamsa dibuat paling awal pada akhir abad ke-2 SM dan Apadana dibuat paling awal pada abad ke-1 SM ["Journal pali text society", Vol.20, hal.32]. Jadi Buddhavamsa baru ada belakangan.

    Buddhism aliran Mahayana menciptakan jenis dan nama Buddha lain yang tidak dikenal aliran Theravada, diantaranya adalah Amitabha yang dikisahkan masih hidup sebelum jaman Buddha Gautama hingga saat ini. Figur Amitabha tidak dikenal di awal literatur Buddhisme India, namun di sekitar awal abad masehi muncul sebagai Buddha dari Barat. Pemujaan Amitabha, pengembangan dan bagian dari praktek awal mahayana melalui permohonan dan pemujaan pada semua Buddha dan berharap agar terlahir di tanah suci. Mitos sumpah dan tanah sucinya mirip atau bersaing dengan kepercayaan tentang Buddha lainnya seperti Aksobhya [Encyclopedia of Buddhism©2004 by Macmillan, hal.15]. Kemunculan aliran ini terjadi dikisaran kemunculan kitab-kitab komentar awal.

    Selain Amitabha dan Asobhya, Aliran Mahayana juga menciptakan Buddha 5 arah mata angin yang hidup di jaman Buddha Gautama, yaitu Vairocana, Amoghasiddhi dan Ratnasambhava. Disamping itu, mereka juga menciptakan mitos para Bodhisatva dan Mahasatvanya (di antaranya adalah Avalokitesvara dan lainnya).

    Konteks keberadaan mitos Buddha aliran Mahayana dan tanah sucinya menjadi bertentangan dengan "Aṭṭhānametaṃ anavakāso yaṃ ekissā lokadhātuyā dve arahanto sammāsambuddhā apubbaṃ acarimaṃ uppajjeyyuṃ" [Tidak mungkin ada 2 sammasambuddha muncul bersamaan di satu kesatuan dunia]. Mengapa? Triliunan alam (jambudipa..Brahma) seluruhnya berada di bawah alam ābhassarā devā. Keseluruhan struktur ini adalah satu kesatuan dunia (ekissā lokadhātuyā) sehingga tidak pernah dimungkinkan seorang sammabuddha muncul lagi ketika saat itu sedang ada samma sambuddha di suatu tempat tertentu di jagad yang luas ini
Berikut dibawah ini kronologis kehidupan lalu Sidartha Gautama ketika bertemu para Buddha lainnya, yang dibagi dalam beberapa kejadian yaitu: Periode Sebelum menjadi Boddhisatta (calon Buddha), yaitu: ketika baru mendapat Ide menjadi Buddha, ketika mulai bertekad jadi Buddha, ketika mulai mengucapkan tekad menjadi Buddha; Periode menjadi Boddhisatta yaitu ketika tekad yang di ucapkan mendapatkan konfirmasi dari Buddha Dipankara.

Periode SEBELUM menjadi BODHISATTA

  • Dari sekian banyak Kappa kelahiran-kelahiran kembali yang di ingat dan telah dijalankannya oleh Sang Buddha, maka di 20 Assankhye Kappa (20 x 10140) + 300.000 Maha Kappa (3 x 4 x 10140 x 100.000) yang lalu, untuk pertama kalinya beliau mulai memikirkan dan terinspirasi untuk menjadi seorang Buddha setelah mendengar harapan dan ucapan terima kasih dari ibunya sendiri

  • Saat itu, calon Boddhisatta Gautama terlahir sebagai seorang miskin bernama Matuposaka [Hanya ada di buku kuno Sinhalese]. Setelah kematian ayahnya, Ia mensupport Ibunya, kemudian pada suatu hari Ia memutuskan untuk mencari penghidupan lebih baik dengan berlayar dan Ibunya diajak serta. Kapal yang mereka tumpangi tenggelam dan Selama 3 hari Ia berenang dengan menggendong ibunya di punggungya hingga mendarat dengan selamat di satu daratan. Ibunya kemudian memberkati dia dengan kalimat, "Semoga dikemudian hari engkau dapat menyelamatkan para mahluk dari penderitaan". Ia menjadi terinspirasi perkataan ibunya dan berpikir, "semoga saya kelak dapat membebaskan semua mahluk dari penderitaan".

    Selama periode ini,terdapat banyak lagi kelahiran Sang Buddha Gautama sebelumnya, berikut ini 2 (dua) sample kelahiran kembali yang sangat menarik, yaitu:

    • Ketika terlahir sebagai pangeran Sattupata, anak raja dari Benares. Setelah meninggal Ayahnya Ia kemudian menjadi Raja. Ia punya peliharaan se ekor Gajah. ketika satu tamannya di rusak oleh Gajah liar [betina] ia kemudian meminta Pelatih gajah untuk mendidik Gajahnya agar dapat mengenali bau betina namun gajah itu kemudian kabur kehutan mengejar betina tersebut. Beberapa hari kemudian gajah itu kembali. Ketika melihat dan mendengar dari pelatih gajah betapa nafsu dapat membuat kepatuhan hilang, maka Raja itu menjadi muak dan ingin menjadi pertapa. Ia kemudian menyerahkan kerajaannya dan menjadi pertapa.
    • Ketika beliau terlahir kembali sebagai seorang Brahmana muda bernama Brahma kumara, setelah berumur 16 tahun dan selesai pendidikan ia menjadi Pertapa. Salah satu muridnya kelak akan menjadi Buddha berikutnya setelah Gautama yaitu Buddha Maitreya. Di kehidupan itu, dengan penuh kesadaran, Ia mengorbankan dirinya untuk menjadi santapan singa betina yang akan menyantap anak singa yang baru saja dilahirkannya [VYAGHRI JATAKA]

  • Periode Mano-Panidhi (Ikrar di benak) untuk menjadi Buddha yang terjadi selama 7 Assankhya Kappa + 100.000 Maha Kappa:

    • Ketika terlahir sebagai seorang raja bernama Atideva di jaman Buddha Brahma-Deva. Raja Atideva saat itu berada di atas balkon, beliau terkesan melihat Buddha Brahma-Deva sehinggga beliau kemudian bergegas turun memberikan penghormatan dengan mempersembahkan untaian bunga melati sambil mengungkapkan tekad untuk menjadi Buddha di benaknya [Mano Panidhi]. Raja Atideva, kemudian mempersembahkan biara pada Buddha Brahma-deva dan pengikutnya serta mensupport kehidupan mereka. Sejak di jaman Buddha Brahma-Deva s/d 125.000 Buddha berikutnya, yaitu selama 7 Assankhya Kappa + 100.000 Maha Kappa, di setiap kelahiran kembali bertemu dengan Buddha, beliau mengucapkan tekad yang sama.

  • Periode Vaci-Panidhi [pengucapan Ikrar] yang terjadi selama 9 Assankhya kappa + 100.000 maha Kappa:

    • Mulai di jaman Buddha Purana Gotama, setelah melepaskan haknya sebagai raja, beliau mencapai kesempurnaan dalam 14 hari dan kemudian dinamakan Gautama Buddha kemudian di jaman ini dinamakan Purana [yg juga berarti lebih tua] Gautama Buddha. Ayahanda Buddha Purana Gotama adalah Yasanivasa dan Ibunya adalah Vimala, kerajaannya bernama sirinivasa. Di jaman Purana Gautama ini, Buddha kita saat ini terlahir sebagai seorang pangeran bernama Sagara di kota Dhannavati.
[Sumber: Practising the Dhamma with a View to Nibbana oleh:Radhika Abeysekera; Beyond the tipitaka oleh: John Bullitt, The life of Buddha (Jinakalamali, Ratanapañña; Thai; abad ke-16), The Four Ways To [Attain] Psychic Power( Iddhi pada), THE BODHISATTA IDEAL, by BHIKKHU NARADA THERO, The Buddha A Great Teacher of Gods and Men ]

Periode menjelang menjadi Bodhisatta [Calon Buddha]:
Sebelum bertemu dengan Buddha Dipankara, Calon Boddhisatta Gotama masih bertemu dengan 3 (tiga) orang Buddha, Ia saat itu juga mengucapkan Ikrar untuk menjadi Buddha namun belum cukup kualifikasi sehingga BELUM mendapatkan konfirmasi:

  1. Buddha Tanhankara, Calon Bodhisatta Gautama terlahir sebagai raja bernama Sudassana di kota Surindavati, Setelah ia bertemu Buddha Tanhankara ia kemudian menyampaikan keinginannya menjadi Buddha, namun belum cukup kualifikasi dan tidak mendapat konfirmasi dari Buddha Tanhankara. Ia kemudian menjadi Murid Beliau.

  2. Buddha Medhankara, Calon Bodhisatta Gautama terlahir sebagai Pertapa Somanassa, beliau mengucapkan Ikrar namun belum juga mendapat konfirmasi. Ia kemudian menjadi Murid Beliau.

  3. Buddha Saranankara, Calon Bodhisatta Gautama terlahir sebagai Pertapa Yasavanta, beliau mengucapkan Ikrar namun belum juga mendapat konfirmasi. Menjadi Bikkhu sangha mencapai Jhana

  4. [Sumber: BuddhaVamsa 27: 1, "Di kurun waktu lalu yang tak dapat dihitung terdapat empat pembimbing: Para penakluk ini adalah Tanhankara, Medhankara, Saranankara dan Dipankara yang telah tersadar di 1 Kappa yang sama" (Horner, 2000, p. 96), juga di Jātaka, ed. Fausboll, 5 vols, i.44 dan Papañca Sūdanī, Majjhima Commentary, 2 vols. (Aluvihāa Series, Colombo), i.188, Dreamland And Somnambulism]
Periode Resmi menjadi Boddhisatta [Calon Buddha]
  1. Buddha Dipankara [BuddhaVamsa (BV).ii.207ff; Buddhavamsa Commentary (BuA).104f; Jataka.i.29; Mahavamsa (Mhv).i.5; Divapamsa (Dpv).iii.31; DhA.i.69; namun lihat MahaVastu (Mtu).i.193ff], Calon Boddhisatta terlahir menjadi seorang Pemuda bernama Sumedha, yang pada satu kesempatan ia mengucapkan Ikrar untuk menjadi Buddha dan MENDAPAT konfirmasi dari Buddha Dipankara!.

    Karena Buddha Dipankara adalah Buddha yang pertama yang memberikan konfirmasi atas ucapan tekad yang disampaikan Bodhisatta Gautama, itulah sebabnya mengapa di daftar Buddha-Buddha sebelumnya, Buddha Dipankara diletakan di urutan ke-1!

    Dijaman Buddha Dipankara, maka perjalanan selama 16 Assankhya Kappa dan 200.000 Maha kappa akhirnya terwujud, Beliau menjadi Bodhisatta dan masih panjang jalan yang ditempunya untuk menjadi seorang Buddha. Sejak saat itu hingga 24 Buddha berikutnya, pada setiap kelahiran kembalinya, ketika ia mengucapkan tekad itu maka konfirmasi atas tekad tersebut selalu diberikan.

    Buddha Dipankara merupakan Buddha terakhir dari rangkaian 1 Kappa yang sama di akhir Semesta saat itu. Ini merupakan saat 4 Assankheya + 100.000 Maha Kappa sebelum Buddha Gautama. Setelah Buddha Dipankara wafat maka tidak ada Buddha hingga kurun 1 Assankheya berikutnya.

  2. Buddha Kondanna, Bodhisatta Gautama terlahir sebagai raja Vijitavi. Kemudian berlalu 1 Assankheya Kappa

  3. Buddha Mangala, Bodhisatta Gautama terlahir sebagai Brahmin Suruci

  4. Buddha Sumana, Bodhisatta Gautama terlahir sebagai Raja Naga Atula, raja nàga yang sakti. Mengetahui bahwa seorang Buddha telah muncul di tiga alam dan dengan disertai dengan sanak saudaranya dan teman-temannya, ia keluar darikediamannya dan melakukan dàna kepada Buddha dan seratus ribu crore bhikkhu dengan cara memainkan musik surgawi sebagai penghormatan, dan dengan memberi dàna dalam bentuk makanan dan minuman; ia juga mendanakan satu perangkat jubah kepada tiap-tiap bhikkhu kemudian menyatakan berlindung kepada Tiga Perlidungan.
    Kemudian Buddha Sumanà meramalkan, "Raja nàga ini akan menjadi Buddha Gotama pada masa depan."

  5. Buddha Revata, Bodhisatta Gautama terlahir sebagai Brahmin Atideva

  6. Buddha Sobhita, Bodhisatta Gautama terlahir sebagai Brahmin Ajita. Kemudian berlalu lagi 1 Assankyeya Kappa.

  7. Buddha Anomadassi, Bodhisatta Gautama terlahir di alam Asura sebagai Jenderal Yakkha yang membawahi beberapa crore yakkha sakti; mendengar bahwa 'Buddha telah muncul di dunia' Beliau mengunjungi Buddha dan menciptakan sebuah aula yang besar dan megah berhiaskan berbagai macam permata sebagai tempat Beliau memberikan persembahan makanan, minuman, dan lain-lain kepada Saÿgha yang dipimpin oleh Buddha selama tujuh hari.

    Sewaktu Jenderal Yakkha mendengarkan khotbah yang dibabarkan oleh Buddha sebagai penghargaan atas persembahannya, Buddha mengucapkan ramalan, "Satu asaïkhyeyya dan seratus ribu kappa dari kappa sekarang, Jenderal Yakkha ini pasti akan menjadi Buddha bernama Gotama."

  8. Buddha Paduma, Sewaktu berdiam di dalam hutan, Bodhisatta Gautama terlahir sebagai seekor raja singa. Menyaksikan Buddha sedang berada dalam Nirodhasamàpatti, ‘mencapai penghentian’, raja singa berkeyakinan terhadap Buddha, memberi hormat dengan cara mengelilingi Buddha. Dengan penuh kegembiraan, ia mengaum tiga kali dan tetap berada di sana selama tujuh hari tanpa sedetik pun kehilangan kebahagiaannya yang diperoleh dari melihat Buddha. Tanpa pergi mencari makan, ia tinggal di dekat Buddha dengan penuh hormat, meskipun dengan risiko kelaparan.

    Setelah lewat tujuh hari, setelah keluar dari Nirodhasamàpatti, Buddha Paduma melihat singa dan berkata, "Semoga singa ini berkeyakinan terhadap Sangha juga" pada waktu yang sama Ia memutuskan untuk mendatangkan para anggota Saÿgha di dekat-Nya, "Semoga para bhikkhu datang ke sini." Saat itu juga, beberapa crore bhikkhu sampai di tempat itu. Bodhisatta berkeyakinan terhadap Sangha juga. Setelah melihat pikiran Bodhisatta, Buddha Paduma mengucapkan ramalan, "Pada masa depan singa ini akan menjadi Buddha, bernama Gotama."

  9. Buddha Narada, Bodhisatta Gautama terlahir sebagai Pertapa yang membangun pertapaan di Pegunungan Himalaya dan tinggal di sana setelah menguasai lima Abhi¤¤à dan delapan Samàpatti. Karena welas asihnya kepada Bodhisatta petapa ini, Buddha Nàrada mengunjungi pertapaan tersebut diiringi oleh delapan puluh crore umat awam yang semuanya telah mencapai tingkat kesucian Anàgàmã.

    Petapa yang mulia ini sangat gembira dapat bertemu dengan Buddha; kemudian Beliau menciptakan tempat tinggal untuk Buddha dan para pengikut-Nya. Semalam suntuk, Sang petapa memuji kemuliaan Buddha dan mendengarkan khotbah-Nya. Esok paginya Beliau pergi ke benua utara (dengan kesaktian-Nya) dan kembali membawa nasi dan makanan-makanan lain untuk dipersembahkan kepada Buddha dan para pengikut-Nya, bhikkhu, dan umat awam.

    Demikianlah Bodhisatta mempersembahkan makanan selama tujuh hari, setelah itu Beliau memberi hormat kepada Buddha dengan kayu cendana merah yang sangat mahal dari Pegunungan Himalaya. Kemudian Buddha Nàrada setelah memberikan khotbah, meramalkan, "Engkau pasti akan menjadi Buddha pada masa depan.". Kemudian berlalu 1 Assankheya Kappa

  10. Buddha Padumuttara, Bodhisatta Gautama menjadi pemuda bernama Jatila (periode ini adalah 100.000 Maha Kappa sebelum menjadi Buddha Gotama). Kemudian berlalu 70.000 Maha Kappa

  11. Buddha Sumedha, Bodhisatta Gautama terlahir sebagai pemuda bernama Uttara, yang artinya seorang yang melebihi siapa pun dalam hal kebajikan; ia mempersembahkan harta kekayaan-Nya yang bernilai delapan puluh crore yang dikumpulkan di rumahnya kepada Saÿgha yang dipimpin oleh Buddha. Setelah mendengarkan khotbah dari Buddha, Beliau menyatakan berlindung kepada Tiga Perlindungan dan menjadi bhikkhu di bawah bimbingan Buddha. Pada akhir khotbah-Nya yang disampaikan sebagai ungkapan terima kasih atas persembahan yang diterima, Buddha menyampaikan ramalan, "Pemuda ini yang bernama Uttara, akan menjadi Buddha pada masa depan, bernama Gotama". Kemudian 12.000 Maha Kappa berlalu

  12. Buddha Sujata, Bodhisatta Gautama terlahir sebagai Raja Chakkavatti (periode ini adalah 18.000 Maha Kapa sebelum Buddha Gautama)

  13. Buddha Piyadassi, Bodhisatta Gautama terlahir sebagai Brahmin Kassapa

  14. Buddha Atthadassi, Bodhisatta Gautama terlahir sebagai Pertapa Susima

  15. Buddha Dhammadassi, Bodhisatta Gautama terlahir sebagai raja Alam 33 Deva, yaitu Sakka

  16. Buddha Siddhatta, Bodhisatta Gautama terlahir sebagai Petapa Mangala

  17. Buddha Tissa, Bodhisatta Gautama terlahir sebagai Raja dan pertapa Sujata (Periode ini 92 Maha Kappa sebelum Buddha Gautama)

  18. Buddha Phussa, Bodhisatta Gautama terlahir sebagai Raja Vijitavi

  19. Buddha Vipassi, Boddhisata Gautama terlahir menjadi Raja naga Atula yang sangat sakti. Disertai beberapa crore nàga yang memainkan musik surgawi, Beliau mendekati Buddha Vipassã, Raja Tiga Alam. Untuk menghormati Buddha, Beliau mengundang Saÿgha yang dipimpin oleh Buddha (ke tempatnya). Beliau membangun paviliun besar yang terbuat dari tujuh jenis permata yang indah bagaikan lingkaran bulan purnama. Beliau melayani Buddha dan Saÿgha di dalam paviliun tersebut dan memberikan persembahan besar kepada mereka selama tujuh hari. Beliau juga mempersembahkan sebuah bangku emas yang dihias indah kepada Buddha.
    Duduk di tengah-tengah Saÿgha, Buddha memberikan khotbah Dhamma sebagai ungkapan terima kasih atas persembahan itu, dan pada akhir khotbah, Buddha mengucapkan ramalan, "Sembilan puluh satu kappa dari sekarang, Raja Nàga Atula ini pasti akan menjadi Buddha."

  20. Buddha Sikhi, Bodhisatta Gautama terlahir sebagai raja Arindama (Periode ini 31 Maha Kappa sebelum Buddha Gautama)

  21. Buddha Vessabhu, Bodhisatta Gautama terlahir sebagai Raja Sudassana (Periode ini 31 Maha Kappa sebelum Buddha Gautama)

  22. Buddha Kakusandha, Bodhisatta Gautama terlahir sebagai raja Sema (Periode Kappa yang sama dengan Buddha Gautama)

  23. Buddha Konagamana, Bodhisatta Gautama terlahir sebagai Raja Pabbata (Periode Kappa yang sama dengan Buddha Gautama)

  24. Buddha Kassapa, Bodhisatta Gautama terlahir sebagai Brahmin Jotipala (Periode Kappa yang sama dengan Buddha Gautama)

  25. Buddha Saat ini: Buddha Gautama, Bodhisatta Gautama terlahir sebagai Sidharta Gautama anak Raja kaphilavastu
[Sumber: Digha Nikaya, ii.5f.; Samyutta Nikaya, ii.5f.; Theragāthā, 491; Jataka, ii.147; Vinaya Pitaka, ii.110, Sayambhū Purāna (Mitra, Skt. Buddhist Lit. of Nepal, p. 249), Buddhavamsa, Riwayat Agung Para Buddha]

Buddha setelah Era Buddha Gotama, di antaranya:
  1. Buddha Metteya, DN.26/Cakkavatti sīhanāda-sutta menceritakan kemunculan Buddha Metteya, diawali dengan kemunculan Cakkavatin bernama Daḷhanemi dan berlanjut dengan penurunan umur dan kenaikan umur serta kemunculan raja Cakkavatin bernama Sankha.

    Raja Cakkavatin Dalhanemi dan 5 keturunannya hidup lebih dari 80,000an tahun. Turunan ke-7, memecahkan tradisi yaitu turun tahta sebelum waktunya, menyerahkan tahta pada anaknya dan menjadi śamaṇa. Kemiskinan meningkat, pencurian mulai, institusi hukuman menjadi ada, pembunuhan dan kejahatan merajalela. Umur manusia menjadi berkurang dari 80,000an menjadi 100 tahun. Setiap generasi terjadi peningkatan kejahatan, kemerosotan moral, penipuan, pelecehan, penyesatan kotbah, keserakahan, kebencian, berpandangan salah, kegiatan seksual dengan saudara kandung dan abnormal lainnya, tidak menghormati orang tua dan tetua.

    Kemerosotan mencapai puncak kerusakannya, umur hidup semakin berkurang hingga tidak lebih dari 10 tahun, menikah di usia 5 tahun; Makanan lebih buruk dan kurang lezat; Bentuk moralitas akan tidak dikenali. Orang yang keji dan tidak bermoral akan menjadi pemimpin. Perkawinan antar saudara kandung merajalela. Kebencian antar masyarakat, sesama anggota keluarga tumbuh hingga masing-masing orang saling ‘memangsa’.

    Selekasnya perang besar terjadi, semakin beringas, kejam dan biadab. Yang kurang agresif akan bersembunyi di hutan dan beberapa tempat rahasia.,akan terjadi banyak perang

      Di antara yang berumur 10 tahun, tidak ada yang dianggap ibu atau bibi, saudara ibu, istri guru, atau istri ayah dan lain-lain – semua dianggap sama di dunia ini seperti kambing dan domba, unggas dan babi, anjing dan serigala. Di antara mereka, permusuhan sengit akan terjadi satu sama lain, kebencian hebat, kemarahan besar, dan pikiran membunuh, antara ibu melawan anak dan anak melawan ibu, ayah melawan anak dan anak melawan ayah, saudara laki-laki melawan saudara laki-laki, saudara laki-laki melawan saudara perempuan, bagaikan pemburu yang merasakan kebencian terhadap binatang yang ia buru ....

    Di akhir peperangan, yang selama keluar dari persembunyiannya dan menyesali perbuatannya, Mereka mulai berkelakuan baik, umur mereka meningkat, kesehatan dan kesejahteraan meningkat. Umur ras manusia juga meningkat. Hingga waktu yang kemudian, keturunan-keturunan mereka yang berumur rata-rata 10 tahunan akan meningkat hingga menjadi 80.000an tahun,

    Saat itulah muncul raja Cakravartin bernama Saṅkha dan Bodhisatva yang ketika itu ada di alam deva Tuṣita muncul kembali ke alam manusia dengan nama Ajita yang kemudian akan hidup sebagai Samana dan mencapai penerangan sempurna sebagai Buddha Metteyya.

    Bisa jadi kemunculannya akan lebih lama lagi dari 4 Buddha sebelumnya karena DN 16/Mahaparinibanna sutta, ketika usai pembagian relik Buddha Gautama, para sepuh konsili ke-1 telah menyatakan, "ratusan kappa belum tentu ada seorang Buddha" (Buddho have kappasatehi dullabhoti)

  2. Uttama
  3. Raja Rama
  4. Raja Pasenadi dari kerajaan Kosala,
  5. Deva bernama Abhibhu
  6. Asura: Dighasoni
  7. Brahmana Candani
  8. Pemuda: Subha
  9. Brahmana Todeyya
  10. Gajah: Nalagiri
  11. Gajah: Palaleya
[Sumber: Anagatavamsa, MSS. (Journal of the Pali Text Society, 1886, p. 37); Untuk situs: ini, ini dan ini; Malalasekera, G. P. [1899 - 1973]: Dictionary of Pāli proper names. -- Nachdruck der Ausgabe 1938. -- London : Pali Text Society, 1974. -- 2 vol. -- 1163, 1370 S. -- ISBN 0860132692. -- s.v.]

Menurut Samyutta Nikaya Atthakatha (arti atthakatha: kitab komentar, muncul lebih belakangan lagi), Waktu yang diperlukan oleh seorang Maha Bodhisatta untuk menjadi SammaSambuddha dibedakan atas tiga jenis:
  • Jalur kebijaksanaan (panna), disebut Pannadhika Bodhisatta. Sekurang-kurangnya diperlukan waktu empat asankheyya dan seratus ribu kappa untuk menjadi Sammasambuddha.
  • Jalur keyakinan (saddha), disebut Saddhadhika Bodhisatta. Sekurang-kurangnya diperlukan waktu delapan asankheyya dan seratus ribu kappa untuk menjadi Sammasambuddha.
  • Jalur semangat (viriya), disebut Viriyadhika Bodhisatta. Sekurang-kurangnya diperlukan waktu enam belas asankheyya dan seratus ribu kappa untuk menjadi Sammasambuddha.
Buddha Gotama merupakan jenis Pannadhika Bodhisatta, Buddha Metteya merupakan jenis Viriyadhika Bodhisatta.

Bisakah anda bayangkan, sebegitu puuaanjannggnya lama waktu yang ditempuh oleh seseorang ketika hendak menjadi Buddha?! Padahal Buddha Gautama saja di katakan sebagai salah satu dari beberapa yang tercepat menjadi Buddha!

Bagaimana dengan mahluk-mahluk yang memang tidak bertekad menjadi Buddha?! atau memang tidak mau/tidak tertarik untuk tahu?! Seberapa puuaannjanngg lagikah jalan kelahiran-kelahiran kembali yang telah dan akan mereka jalani itu?!

Membaca semua uraian di atas,
Ketika Sains mengatakan dengan ragu-ragu bahwa umur semesta berada di kisaran 5 x 109 tahun maka besaran angka tahun itu pun masih sangat jauh keliru dan tentunya jauh lebih keliru lagi ketika mempercayai bahwa semesta ini baru berumur < 10.000 tahun.

Ketika sains masih terpaku bahwa penciptaan semesta mengikuti asumsi usang dentuman yang selama 78 tahunan ini [sejak friedman mengatakannya, 1922] atau big bang [yang diucapkan Fred Hoyle sebagai ejekan di siaran radio tahun 1949] maka asumsi itu sungguhlah gegabah, namun tidak semua ilmuwan tertidur selama 78 tahunan ini! Mereka mulai menyadari adanya kontinuitas penciptaan dan menyajikan asumsi baru, misalnya di tahun 2002, Steinhardt dari Princeton University dan Turok dari Cambridge University mengatakan pengembangan dan penyusutan semesta terjadi secara terus-menerus, berlangsung bukan dalam miliar tapi triliunan tahun, Proses pembentukan semesta yang tidak memiliki awal dan akhir dan bahkan steinhard menyatakan "Waktu tidak mesti memiliki awal," dan semesta sudah ada sebelum dentuman itu terjadi [Sumber: Fisika Net; Asumsi lainnya sebagai pengganti asumsi usang big bang silakan lihat juga di: Is the Big-Bang a Religious Hoax?, Why the Big Bang is Wrong, Big bang or Big Hoax, BIG BANG? Hah!, False vs. True science: Mini Big-bangs in a Fractal Universe, fractal universe, Fractal cosmology]

Atau dengan kalimat lain yang lebih sederhana: "ketika penemuan Sains belum sependapat dengan yang diucapkan Sang Buddha ribuan tahun yang lalu, maka sains masihlah belum final".

Masih ingat kisah mengenai seseorang yang terkena panah di atas?

Baik, Mari kita lupakan sejenak kebodohan yg telah kita lakukan dengan meyakini ajaran yang mengagungkan satu mahluk adidaya tertentu sebagai maha pencipta dan maha tahu namun bahkan menyatakan rentang waktu untuk penciptaan dan bentuk bumi saja masih keliru.

Ada hal yang lebih krusial yang perlu kita lakukan setelah menyadari begitu panjangnya waktu dan buanyaknya kelahiran kembali yang telah dijalani semua mahluk [baca: Saya & Kamu], yaitu:

Bagaimana cara mengakhiri ini dan apa yang perlu di akhiri?

Samsara [lingkaran kelahiran kembali] sebagai mahluk hidup di berbagai alam yang perlu kita akhiri.

Apa sih mahluk hidup itu?
    "Radha [nama seorang Brahmin], napsu keinginan, kegemaran, atau kehausan apapun terhadap rupa, viññana, sañña, sankhära, vedanä. Ketika sesuatu terperangkap di sana, terikat di sana, maka sesuatu itu disebut sebagai makhluk hidup." [Satta Sutta; Radha Samyutta; Samyutta Nikaya 23.2 (S 3.189)]
Buddha menjelaskan, bagaimana TERJADINYA serta PADAMNYA peristiwa kelahiran kembali melalui hukum sebab akibat yang saling bergantungan (patticca samuppada):
    Tidak terdapat suatu kondisi yang timbul tanpa adanya suatu sebab, ‘Dengan adanya ini, adalah itu; dengan timbulnya ini, timbullah itu; dengan tidak adanya ini, tidak adalah itu; dengan lenyapnya ini, lenyaplah itu’-[Udana. 1]
Berikut dibawah ini, hubungan sebab akibat yang saling bergantungan:
    i–iiKarena ketidaktahuan (Avidya/Avijja) = moha (kebodohan batin) = annana (tidak berpengetahuan), timbullah bentuk–bentuk karma (Samskaras/Samkhara). Istilah "sankhara" digunakan untuk segala sesuatu yang merupakan paduan unsur dan terkondisi, misal semua makhluk sebagai akibat dari sebab dan kondisi, dan apa yang mereka lakukan sebagai sebab dan kondisi berputar kembali untuk menghasilkan akibat yang lain.
    ii–iiiKarena bentuk – bentuk karma (Samskaras/Samkhara), timbullah kesadaran (Vijnana/Vinnana).
    iii–ivKarena kesadaran (Vijnana/Vinnana), timbullah batin dan jasmani (nama – rupa).
    iv–vkarena batin dan jasmani (nama – rupa), timbullah enam landasan indra (Sad-ayatana/Salayatana).
    v–viKarena enam landasan indra (Sad-ayatana/Salayatana), timbullah kontak (Sparsa/Phassa).
    vi–viiKarena kontak (Sparsa/Phassa), timbullah perasaan (Vedana/Vadana).
    vii–viiiKarena perasaan (Vedana/Vadana), timbullah keinginan (Trsna/Tanha).
    viii–ixKarena keinginan (Trsna/Tanha), timbullah kemelekatan (upadana).
    ix–xKarena kemelekatan (upadana), timbullah penjelmaan (bhava).
    x– xiKarena penjelmaan (bhava), timbullah kelahiran (jati). Kelahiran disini bukan berarti benar – benar peristiwa melahirkan, melainkan kemunculan Panca Skanda (Lima kelompok) atau Nama - Rupa atau Nama/Citta/Kesadaran dan Rupa.
    xi–xiiKarena kelahiran (jati), timbullah kelapukan dan kematian (jara – marana), serta kesedihan, keluh kesah, kesakitan, penderitaan, dan keputusasaan.
Demikianlah kemunculan dari seluruh bentuk – bentuk penderitaan. Ketidaktahuan juga terjadi akibat adanya kelahiran (jati). Kelahiran terjadi akibat dari kemelekatan dan seterusnya bergantungan menjadi sebab dan akibat. Tidak ada sebab tunggal, beberapa faktor merupakan sebab merupakan akibat itulah mengapa disebut sebagai ‘sebab akibat yang saling bergantungan’ (patticca samuppada )

oke...lantas cara mengakhirnya bagaimana?

Untuk mengakhiri ini, Sang Buddha menawarkan satu konsep sederhana saja, yaitu:
    Yamkiñci Samudayadhammam Sabbam Tam Nirodhadhammam
    Di dalam segala sesuatu yang timbul karena suatu sebab terdapat sebab yang membuatnya musnah kembali, atau "Apapun yang memiliki sifat dasar berupa kemunculan, disana juga terdapat sifat dasar penghentian [Samyutta Nikaya IV: 47]
Bagaimana untuk menghentikan/memusnahkan Proses ini?

Seluruh bagian dari ajaran Buddha diperuntukan untuk memusnahkan ketidaktahuan atau kebodohan batin atau tidakberpengetahuan.
    " ..O para siswa, seorang bhikkhu harus memandang semua rupa (bentuk jasmani), vedana (perasaan), sanna (pencerapan/persepsi), sankhara (dorongan pikiran/bentuk-bentuk mental), dan vinnana (kesadaran), tidak peduli dari jaman lampau, dari jaman sekarang atau pun dari jaman yang akan datang, jauh atau dekat. Dan ia mengamat-amatinya dan menelitinya secara cermat, dan setelah diteliti dengan cermat, semua itu tertampak kepadanya sebagai sesuatu yang kosong, hampa dan tanpa diri." -[Samyutta Nikaya 21.5-6]
Pengetahuan mengenai karmalah dan kamma vipaka, hukum sebab akibat, atau akibat moral, yang mendorong seorang Buddhis sejati untuk menahan diri dari kejahatan dan berbuat baik. Ia yang mengerti sebab dan akibat memahami dengan baik bahwa perbuatannya sendirilah dan bukan hal lain yang membuat hidupnya sengsara ataupun sebaliknya. Ia memahami bahwa sebab langsung dari perbedaan dan ketidaksamaan kelahiran di kehidupan sekarang adalah perbuatan baik dan jahat dari setiap individu di kehidupan lampau dan kehidupan sekarang.

Dalam semua perbuatan baik ataupun jahat, pikiran merupakan unsur yang terpenting.
    "Seluruh keadaan batin memiliki pikiran sebagai pemimpin; pikiran yang menguasai, segala sesuatu dihasilkan oleh pikiran. Jika seseorang berkata atau bertindak dengan pikiran yang kotor maka penderitaan akan mengikutinya seperti roda pedati yang mengikuti langkah kaki lembu yang menariknya “. Dalam pandangan yang sama, “ sebagai akibat yang dihasilkan oleh pikiran, kata – kata yang diucapkan dan perbuatan yang dilakukan dengan pikiran suci, maka kebahagiaan akan selalu mengikutinya bagaikan bayang – bayang yang tak pernah meninggalkan dirinya “- [Dhp. 1, 2]
Bagaimanapun, harus diingat, menurut agama Buddha tidak semuanya yang terjadi disebabkan oleh perbuatan di masa lampau. Pada jaman Buddha orang – orang sektarian seperti Nigantha Nataputta, Makkhali Gosala dan lain – lain, memiliki pandangan bahwa apa pun yang dialami individu, baik kenikmatan atau penderitaan atau bukan keduanya, semuanya timbul dari perbuatan sebelumnya, atau karma di masa lampau. [M. 101 ; D. 2. Pandangan ini diuji dalam A. i, 137]

Bagaimanapun, Buddha menolak teori mengenai takdir yang eksklusif ditentukan oleh masa lampau (pubbekatahetu) ini yang dipandangNya tak masuk akal. Banyak hal merupakan hasil dari perbuatan kita sendiri yang dilakukan dalam kehidupan sekarang, dan sebab – sebab eksternal. Karena itulah, tidaklah benar untuk mengatakan bahwa segala hal yang terjadi disebabkan oleh karma atau perbuatan lampau.

Bukankah tidak masuk akal jika seorang murid yang gagal dalam ujian karena kelalaiannya, menghubungkan kegagalan ini dengan karmanya di masa lampau? Apakah tidak menggelikan jika seseorang yang terburu – buru dengan cerobohnya, membentur sebuah batu atau benda yang sejenis, menganggap kecelakaan itu sebagai akibat perbuatan atau karmanya di masa lalu? Seseorang dapat memberi contoh seperti itu lebih banyak untuk menunjukkan bahwa segalanya tidak terjadi karena perbuatannya yang dilakukan di masa lampau.

Tetapi pada saat sebab dan kondisi dari sesuatu hal dilenyapkan, dengan sendirinya akibatnya juga lenyap. Kesedihan akan lenyap jika akar penyebab kesedihan yang beraneka ragam itu dilenyapkan. Seorang manusia, contohnya, yang membakar habis sebutir biji mangga, mengakhiri kekuatan tumbuh dari tanaman itu dan biji itu tidak akan pernah menghasilkan pohon mangga. Hal ini serupa dengan segala sesuatu yang terdiri dari paduan unsur (sankhara), yang hidup ataupun tak hidup. Dengan karma sebagai penghasil, kita memiliki kekuatan untuk memutuskan rantai yang tak berakhir, roda kehidupan ini (bhava cakka). Mengenai mereka yang telah mencapai penerangan, yang telah menakhlukkan dirinya dengan menumbangkan kotoran batin, Buddha berkata dalam Ratana Sutta.[Sn. 235]

Karma lampau mereka telah habis, karma baru mereka tidak lagi muncul, pikiran mereka ke arah penjelmaan di kemudian hari telah di lenyapkan. Bibitnya (yang melahirkan kesadaran) telah musnah, mereka tidak memiliki keinginan untuk hidup kembali. Mereka yang bijaksana (yang mantap) telah lenyap (kehidupannya) seperti api dari lampu ini. Dikatakan bahwa ketika Buddha mengucapkan kata – kata ini Beliau melihat api dari sebuah lampu yang padam.
    i–iiDengan berhentinya seluruh ketidaktahuan, maka bentuk – bentuk karma berhenti.
    ii–iiiDengan berhentinya bentuk – bentuk karma, maka kesadaran berhenti.
    iii–ivDengan berhentinya kesadaran, maka batin dan jasmani berhenti.
    iv–vDengan berhentinya batin dan jasmani, maka enam landasan indra berhenti.
    v–viDengan berhentinya enam landasan indra, maka kontak berhenti.
    vi–viiDengan berhentinya kontak, maka perasaan berhenti.
    vii–viiiDengan berhentinya perasaan, maka nafsu keinginan berhenti.
    viii–ixDengan berhentinya nafsu keinginan, maka kemelekatan berhenti.
    ix–xDengan berhentinya kemelekatan, maka penjelmaan berhenti.
    x–xiDengan berhentinya penjelmaan, maka kelahiran berhenti.
    xi–xiiDengan berhentinya kelahiran, maka pelapukan dan kematian dan kesedihan, keluh-kesah, Kesakitan, penderitaan dan keputusasaan berhenti.
Demikianlah berhentinya seluruh bentuk Penderitaan.[Sumber: SEBAB MUSABAB YANG SALING BERGANTUNGAN; SPEKTRUM AJARAN BUDDHA, Kumpulan Tulisan Mahathera Piyadassi, Penerbit: Yayasan Pendidikan Buddhis TriRatna]

Membaca uraian di atas tentunya mudah dicerna dan dipahami, namun apakah semudah itu dijalankan?

Tidak mudah, kawan!

Jika memang semudah itu, maka mahluk-mahluk di seluruh semesta alam ini semua sudah mencapai Nibanna bahkan sebelum para Buddha hadir!

Adakah jalan pintas tercepat?

TIDAK ADA!

Atau dengan kata lain: Tunggang-tungging menyembah Buddha, memuja, mempersembahkan bunga, buah dan dupa serta berKTP Buddha (kolom Agama) pun TIDAK serta merta selamat dan bebas dari samsara!

Ada satu kisah yang cukup dekat menggambarkan hal ini:
    Ketika Sang Buddha mengumumkan bahwa sekian bulan lagi beliau akan mangkat, maka di beberapa waktu kemudian segerombolan Bikkhu berusaha mengadili beberapa bikkhu [Attadattha, Dhammarama dan Tissa Thera] yang malah pergi menyendiri, tidak berada dekat-dekat beliau dan memuja Beliau seperti yang dilakukan oleh segerombolan Bikkhu lainnya setelah pengumuman tersebut,

    "Bhante, bhikkhu ini tidak terlihat mencintai, memuja-Mu, tidak menghargai, tidak mau peduli, tidak menghormat, dan tidak berbakti kepada Bhante [seperti yang kami lakukan]. Ia terlihat menyendiri pada saat para bhikkhu lain sedang berada di dekat Bhante."

    Masing-masing tertuduh [Atthadata, Tissa Thera dan Dhammarama] menjelaskan bahwa dia berusaha keras untuk mencapai tingkat kesucian arahat sebelum Sang Buddha mangkat (parinibbana) dengan memperaktekan salah satu Bhavana, dan itulah alasannya mengapa dia tidak datang mendekat Sang Buddha.

    Sang Buddha sangat puas dan menghargai apa yang telah diungkapkan dan dilakukan oleh Bhikkhu Dhammarama, kemudian berkata, "Anak-Ku Dhammarama, engkau telah berperilaku sangat baik. Seorang bhikkhu yang mencintai dan menghormat kepada-Ku hendaknya berkelakuan seperti engkau. Mereka yang mempersembahkan bunga, pelita, dan dupa kepada-Ku tidaklah benar-benar memberi hormat kepada-Ku. Hanya mereka yang melaksanakan Dhamma, ajaran-Ku, adalah benar-benar seseorang yang memberikan hormat kepada-Ku." [Dhammapada bab 12, bab 15 dan bab 25]
Jadi, Jangan heran mendapatkan seseorang berKTP Buddhis, rajin ke vihara, tunggang-tungging tiap saat di depan patung Buddha namun tetep melakukan pembunuhan, Pencurian, memperkosa, melecehkan, menipu, korupsi dan mabuk-mabukan itu karena mereka tidak sepenuhnya serius mempraktekan Dhamma yang diajarkan oleh sang Buddha.
    Oleh diri sendiri kejahatan dilakukan, oleh diri sendiri pula seseorang menjadi suci. Suci atau tidak suci tergantung pada diri sendiri.Tak seorangpun yang dapat mensucikan orang lain.[Dhammapada Bab 12 Syair ke-165]
Prinsip dasar Buddhisme adalah tidak menggantungkan diri pada sosok antah berantah manapun agar dapat selamat.

Kesucian, keselamatan dan terbebas dari Samsara tidak tergantung dari tunggang-tungging menyembah mahluk Adidaya, mempersembahkan sesuatu bagi mahluk Adi daya sebelum memakannya, Mengikuti perintah dan/atau menyerahkan segala sesuaunya pada Mahluk Adi daya, makan/minum mandi pada sesuatu yang dianggap suci, memotong hewan agar suci, memberikan puja-puji pada mahluk Adi daya, berteriak-teriak menyebutkan nama Mahluk Adi daya sambil membunuh, merampok dan memperkosa atas nama mahluk adi daya.

Cara-cara tersebut tidak akan membebaskan diri anda dari samsara malah berpontesi membuat anda terjerembab di alam-alam menyedihkan.
    Diri sendiri sesungguhnya adalah pelindung bagi diri sendiri. Karena siapa pula yang dapat menjadi pelindung bagi dirinya. Setelah dapat mengendalikan dirinya sendiri dengan baik, ia akan memperoleh perlindungan yang sungguh amat sukar dicari.[Dhammapada bab-12, syair ke-160]
Terdapat satu kisah menarik yang berisi sindiran dari seorang rendahan kepada seorang Brahmana yang tengah mandi di sungai yang dianggap sungai suci di India:
    Punna (Punika), Budak wanita rumah Anathapindika, mencapai buah kesucian ke-1 [Sotapanna: Telah mematahkan 3 belenggu dan melemahkan 2 belenggu lainnya] saat mendengarkan khotbah "Raungan Singa" [Sihanada Suttanta] di rumah majikannya.

    Suatu hari Ia pergi ke sungai, mengambil air utk rumah tangga. Di sana, Ia bertemu brahmana Udakasuddhika, yang tengah masuk ke dalam air, menyanyikan hymne-hymne Veda.

    "Brahmana, siapakah yg amat sangat kau takuti sehingga dengan bibir yang bergetar dan gigi yang gemeletuk kau melantunkan mantra di air sedingin es?"

    "Punna, betapa anehnya kau, Tidak kau tau bahwa orang bijak manapun dapat membersihkan dosa-dosanya, di air suci ini?"

    Punna pun tertawa - "Oh brahmana tolol! Jika dongengmu benar, yang pertama masuk ke surgamu adalah para buaya, kepiting dan ikan. Kemudian diikuti para nelayan, Pemburu rusa-rusa yang tak-berdaya, mereka yang menyiksa babi-babi di tiang - Yang bersumpah palsu, para pembunuh dan pencuri-pencuri kecil

    Apakah engkau sudah lupa, brahmana, mereka jg mandi di sungai ini? Lagi pula, Brahmana tolol, dengan berendam di dalam sungai Engkau menyingkirkan baik dosa maupun kesalehanmu juga dan engkau terserobot dari keduanya.

    Sebagai ganti berendam tiap pagi, mengapa kau tidak berpikir baru? Jika kau telah berdosa dan kau percaya penebusan air membeku ini akan membebaskanmu; mengapa kau tidak membebaskan diri dari dosa saja?"

    Brahmana itu akhirnya melihat penalaran.

    "Punna, oh bijak," katanya,

    "Kau telah membebaskanku dari ilusi, terimalah selendang ini - kekayaanku satu-satunya."

    Punna: "Saya tdk membutuhkan selendangmu, tetapi saya masih akan membantumu. Jika kesedihan kau takuti, janganlah berdosa dalam tindakan, pemikiran atau tujuan. Dengarkanlah Bhagava [Buddha] dan beliau akan meredakan rasa sakitmu."

    Brahmana: "Dengan ini, Punna, dulu saya adalah brahmana melalui kelahiran, kini melalui tindakan juga Vedaku sekarang adalah Jalan Berunsur-Empat, Tiga Pengetahuan [Tevijja] - Pandangan-terang masa-lampau, pandangan-terang masa-kini dan berhentinya kelahiran. Saya yang dulu membersihkan diri di air, kini telah membersihkan diri dari dosa.

    Saya telah tersingkir dari kesedihan; Brahmana Sejati, sekarang saya berdiri, akhirnya terbebas dari rasa takut."

    Punna si bijak masih seorang budak yang menebus kesalahannya di kelahiran lampau berbentuk kesombongan. Anathapindika, kemudian membebaskan belenggu-belenggunya dan Ia melatih dirinya hingga mencapai buah akhir kesucian [araha-phala], terbebas dari kelahiran kembali disertai kemampuan analitis (Patisambhida)

    [Sumber: "Punna Theri", Kidung Para Theri; oleh: Usula P.Wejisuriya; terjemahan: Wena Cintiawati & Lanny Anggawati + Kitab Komentar pp, 199f]
Prinsip dasar Buddhisme adalah DIRI SENDIRI-lah yang merupakan sandaran terbaik dan membebaskan diri dari Samsara sepenuhnya bergantung pada diri sendiri.

BUDDHISME sangat menghargai usaha dan kerja keras, untuk memutuskan rantai itu anda sendiri yang harus berusaha dan kemudian bekerja keras untuk mencapai itu!

Saya juga hampir putus asa ketika tau bahwa memutuskan rantai kelahiran kembali [samsara] ternyata begitu luar biasa sulitnya namun berdasarkan dari beberapa yang saya baca, yang saya dengarkan dan kemudian yang saya renungkan, ternyata untuk menuju kearah sana malah sangat sederhana dan MUDAH sekali, ini yang menyebabkan saya sekarang menjadi bersemangat kembali.

Caranya?
    Sabbapāpassa akaraṇaṃ (1)
    kusalassa upasampadā (2)
    Sa-citta-pariyodapanaṃ (3)
    etaṃ buddhānasāsanaṃ
    Segala hal buruk tidak dilakukan (1)
    Perbanyak yang bermanfaat (2)
    Disertai pikiran yang murni (3)
    Itulah ajaran para Buddha
    [Dhammapada syair 183]
BUDDHISME sangat menghargai usaha dan kerja keras, kesempurnaan (parami) dan tingkat kesucian merupakan hubungan positif, semakin terasah parami, semakin cepat tercapainya kesucian, untuk itu pupuklah kesempurnaan dalam kebajikan sambil menunggangi Samsara.

Untuk melepaskan diri dari samsara, TIDAKLAH HARUS menjadi Bikkhu. Di Tipitaka, banyak kita temukan mereka yang sudah menjadi Bikkhu tetap saja tidak dapat lepas dari Samsara, bahkan Sidhartha Gautama di banyak kehidupan lampaunya, 9 x pernah menjadi Bikkhu!

Di jaman Sang Buddha hidup, banyak yang hidup bertahun-tahun sebagai Bikkhu namun hingga sang Budha wafat tetap tidak mampu lepas dari samsara, misal: Channa, mantan kusir Sidharta Gautama, setelah wafatnya Sang Buddha, Ia menerima hukuman, menyesal atas kelakuan sendiri, berlatih dengan tekun hingga mencapai araha. Juga banyak yang telah menjadi bikkhu, setelah mereka wafat malah terlahir di alam binatang [misal: Tissa] atau di neraka [misal: Devadatta]. Hal ini tidakkah mengherankan, karena sang Buddha sendiri telah menyatakan:
    Bila seseorang menjadi bhikkhu dengan mengenakan jubah kuning tetapi masih berkelakuan buruk dan tidak terkendali, maka akibat perbuatan-perbuatan jahatnya sendiri, ia akan masuk ke alam neraka [Dhammapada bab 22, syair ke-307]
Melepaskan diri dari samsara tidaklah tergantung umur, beberapa malah terbebas dalam usia 7 tahunan! [samanera Pandita, Seorang samanera dari Kosambi, Revata, dll]

Namun demikian menjadi Bikkhu merupakan opsi terbaik dan tercepat dalam mengasah Parami/kesempurnaan. Mengapa? Karena mereka melatih diri dengan 227 bentuk latihan sehingga merupakan ladang terbaik dalam menanam kebajikan dengan berdana!

Adakah orang yang tidak menjadi Bikkhu namun dengan kumpulan kebajikan yang besar dapat menjadi orang Suci?

Banyak!

Ayahanda Sidharta Gautama salah satunya, Punna [punika] pembantu Ananthapindika, Menteri dari raja Pasenadi, yaitu Menteri Santati yang mencapai tingkat kesucian tertinggi arahat tanpa menjadi Bikkhu atau seperti kisah dibawah ini mengenai seorang Gadis penenun yang mencapai tingkat kesucian Sotapanna:
    Pada akhir upacara pemberian dana makanan di Alavi, Sang Buddha memberikan khotbah tentang ketidak-kekalan dari kumpulan-kumpulan kehidupan (khandha). Pada hari itu Sang Buddha menekankan hal utama yang dapat dijelaskan seperti di bawah ini:

    "Hidup-Ku adalah tidak pasti; bagi-Ku, hanya kematianlah satu-satunya yang pasti. Aku pasti mati; hidup-Ku berakhir dengan kematian. Hidup tidaklah pasti; kematian adalah pasti."

    Sang Buddha juga menasehati orang-orang yang mendengarkan Beliau agar selalu sadar dan berusaha untuk memahami kesunyataan tentang kelompok kehidupan (Khandha). Beliau juga berkata,

    "Seperti seseorang yang bersenjatakan tongkat atau tombak telah bersiap untuk bertemu dengan musuh (misal seekor ular berbisa), demikian pula halnya seseorang yang selalu sadar terhadap kematian akan menghadapi kematian dengan penuh kesadaran.Kemudian ia akan meninggalkan dunia ini untuk mencapai tujuan kebahagiaan (sugati)."

    Banyak orang yang tidak memperhatikan penjelasan di atas dengan serius, tetapi seorang gadis penenun muda berusia enam belas tahun mengerti makna penjelasan tersebut. Setelah memberikan khotbah, Sang Buddha kembali ke Vihara Jetavana.

    Selang tiga tahun kemudian, ketika Sang Buddha melihat dunia kehidupan, Beliau melihat penenun muda, dan mengetahui bahwa sudah saatnya bagi gadis itu untuk mencapai tingkat kesucian sotapatti. Sehingga Sang Buddha datang ke negara Alavi untuk menjelaskan Dhamma untuk kedua kalinya.

    Ketika sang gadis mendengar bahwa Sang Buddha telah tiba beserta lima ratus bhikkhu, dia ingin pergi dan mendengarkan khotbah yang akan diberikan oleh Sang Buddha.

    Tetapi, ayahnya juga meminta kepadanya untuk menggulung beberapa gulungan benang yang dibutuhkan dengan segera, sehingga dia dengan cepat menggulung beberapa gulungan dan membawanya kepada ayahnya.

    Dalam perjalanan menuju ke tempat ayahnya berada, dia berhenti untuk sementara di samping orang-orang yang telah tiba untuk mendengarkan khotbah Sang Buddha.

    Ketika itu Sang Buddha mengetahui bahwa gadis penenun muda akan datang untuk mendengarkan khotbah-Nya; Beliau juga mengetahui bahwa sang gadis akan meninggal pada saat dia pergi ke tempat penenunan.

    Oleh karena itu, sangatlah penting baginya untuk mendengarkan Dhamma dalam perjalanan menuju ke tempat penenunan dan bukan pada saat dia kembali. Jadi, ketika gadis penenun muda itu muncul dalam kumpulan orang-orang, Sang Buddha melihatnya.

    Ketika dia melihat Sang Buddha menatapnya, dia menjatuhkan keranjangnya dan dengan penuh hormat mendekati Sang Buddha. Kemudian, Sang Buddha memberikan empat pertanyaan kepadanya dan dia menjawab semua pertanyaan tersebut. Pertanyaan dan jawaban diberikan seperti di bawah ini:

    Pertanyaan 1, Dari mana asalmu ?
    Jawaban 1, Saya tidak tahu.

    Pertanyaan 2, Ke mana kamu akan pergi ?
    Jawaban 2, Saya tidak tahu.

    Pertanyaan 3, Tidakkah kau tahu ?
    Jawaban 3, Ya, saya tahu.

    Pertanyaan 4, Tahukah kamu ?
    Jawaban 4, Saya tidak tahu, Bhante.

    Mendengar jawaban itu, orang-orang berpikir bahwa gadis penenun muda sangat tidak hormat. Kemudian, Sang Buddha meminta untuk menjelaskan apa maksud jawabannya, dan diapun menjelaskan.

    "Bhante! Engkau tahu bahwa saya datang dari rumah saya; saya mengartikan pertanyaan pertama anda, anda bermaksud untuk menanyakan dari kehidupan yang lampau manakah saya datang. Karena itu jawaban saya, "Saya tidak tahu."

    Maksud pertanyaan kedua, pada kehidupan yang akan datang manakah akan saya tempuh setelah ini; oleh karena itu jawaban saya, "Saya tidak tahu."

    Maksud pertanyaan ketiga, apakah saya tidak tahu bahwa suatu hari saya akan meninggal dunia; oleh karena itu jawaban saya, "Ya, saya tahu."

    Maksud pertanyaan terakhir apakah saya tahu kapan saya akan meninggal dunia; oleh karena itu jawaban saya, "Saya tidak tahu."

    Sang Buddha sangat puas dengan penjelasannya dan berkata kepada orang-orang hadir,

    "Banyak dari kalian yang mungkin tidak mengerti dengan jelas maksud dari jawaban yang diberikan oleh gadis penenun muda. Mereka yang bodoh berada dalam kegelapan, seperti orang buta."

    Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 174 berikut :

    Dunia ini terselubung kegelapan, dan hanya sedikit orang yang dapat melihat dengan jelas. Bagaikan burung-burung kena jerat, hanya sedikit yang dapat melepaskan diri; demikian pula hanya sedikit orang yang dapat pergi ke alam surga.

    Gadis penenun muda mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma itu berakhir.

    Kemudian, dia melanjutkan perjalanannya menuju tempat penenunan. Ketika dia sampai di sana, ayahnya tertidur di atas kursi peralatan tenun.

    Saat ayahnya terbangun dengan tiba-tiba, dia dengan tidak sengaja menarik gulungan dan ujung gulungan menusuk tepat di dada sang gadis. Gadis penenun muda meninggal dunia di tempat itu juga, dan ayahnya sangat sedih.

    Dengan berlinangan air mata ayah gadis itu pergi menghadap Sang Buddha dan memohon agar Sang Buddha menerimanya sebagai bhikkhu. Kemudian, ia menjadi seorang bhikkhu, dan tidak lama setelah itu mencapai tingkat kesucian arahat. [Dhammapada bab 13, syair 174]
Keberhasilan mereka semua di atas terwujud berkat terasahnya parami dalam perjalanan panjang mengarungi Samsara! Caranya bagimana?!

Langkah ke-1,
Kenali dulu definisi perbuatan baik vs tidak baik itu apa? Buddha meringkasnya menjadi 3 hal dan dinamakan 3 akar kejahatan:
  • Lobha [kemelekatan terhadap sesuatu -> tidak puas, irihati, dengki, serakah, kekurangan, mengingikan sesuatu dengan sangat(semua indera)], Perhatian terhadap objek yang menarik dilakukan secara tidak benar, maka nafsu yang tadinya belum muncul akan muncul dan nafsu yang telah muncul akan meningkat dan menjadi kuat.’. Nafsu inilah kemudian di sebut dengan kemelekatan/keserakahan.
  • Dosa [dalam kelompok ini adalah ketidaknyamanan -> tidak suka/tidak puas -> jengkel/marah -> membenci, meludah, mencaci, berteriak, menampar/menedang/memukul dan bahkan membunuh], Perhatian terhadap objek yang tidak menarik dilakukan secara tidak benar, maka Penolakan yang tadinya belum muncul akan muncul dan Penolakan yang telah muncul akan meningkat dan menjadi kuat. Penolakan inilah yang kemudian disebut dengan kebencian/Ketidaknyamanan.
  • Moha [Kekeliruan tau,ini agak rumit karena aspeknya luas dan halus, yang mudah misalnya kekeliruan tau akan: bahwa ada maha pencipta tunggal maupun jamak, bahwa hidup hanya 1x, bahwa tidak ada Surga/neraka, bahwa dengan membunuh utk mempersembahkan/memperingati, bahwa membunuh/menyakiti demi kejayaan ajaran/pendiri agama/Tuhan, bahwa menyembah sesuatu bakal selamat atau masuk surga, mempersembahkan sesuatu maka dosa tidak terkena, mengambil milik perusahaan alasannya karena sakit keras, dipinjam dulu toh dikembalikan dls], Perhatian terhadap hal-hal dilakukan secara tidak benar, sehingga kekeliruan tahu/kebodohan batin yang tadinya belum muncul akan muncul dan kekeliruan tahu/kebodohan batin yang telah muncul akan meningkat dan menjadi kuat ATAU MEMPERHATIKAN hal-hal yang TIDAK LAYAK diperhatikan dan TIDAK MEMPERHATIKAN hal-hal YANG LAYAK diperhatikan.
Jadi kenali dahulu akar-akar kejahatan ini agar kita senantiasa ingat untuk TIDAK berbuat buruk. Dengan tidak berbuat buruk saja, maka sebenarnya kita sudah melakukan perbuatan BAIK!

Langkah ke-2,
Lakukan tekad dan melatih memperkokoh moralitas di bawah ini secara KONSISTEN:
  1. Pänätipätä veramani sikkhäpadam samädiyämi (Aku bertekad menghindari diri dari pembunuhan dan menyakiti mahluk hidup)
  2. Adinnädāna veramani sikkhäpadam samädiyämi (Aku bertekad menghindari diri dari mengambil yang tidak diberikan)
  3. Sila ke-3:

    • Kämesu micchäcärä veramani sikkhäpadam samädiyämi (Aku bertekad menghindari diri melakukan kenikmatan indriya (jamak) dengan cara yang salah) atau versi Atthasila:
    • abrahmacariyaṃ pahāya brahmacārino ārācārino viratā methunā gāmadhammā, (Meninggalkan kehidupan tidak murni, menjalani kehidupan brahma, hidup terpisah, menghindari hubungan seksual prilaku umat awam)

  4. Musävädä veramani sikkhäpadam samädiyämi (Aku bertekad menghindari diri dari menyatakan yang tidak benar), degan detail:k

    • musāvāda (berdusta): ketika dia berada dikomunitasnya atau di kelompoknya atau di sanak saudaranya, teman sekerjanya, di pengadilan negara, atau ketika dipanggil sebagai saksi dan diminta mengatakan apa yang diketahuinya. meski tidak tahu, dia berkata, “Saya tahu”; meski tahu, dia berkata “Saya tidak tahu”; meski tidak melihat, dia berkata, “Saya telah melihat”; dan meski telah melihat, dia berkata, “Saya tidak melihat”. Dengan cara itu dia mengucapkan kebohongan yang disengaja, baik demi dirinya sendiri, demi orang lain, atau demi keuntungan materi.
    • Pisuṇavāco (ucapan memecah belah): apa yang didengarnya di sini dilaporkannya di sana untuk menimbulkan konflik di sana; dan apa yang didengarnya di sana dilaporkannya di sini untuk menimbulkan konflik di sini. Dengan demikian dia menciptakan perselisihan di antara mereka yang rukun, dan dia masih juga menghasut lagi mereka yang sedang berselisih. Dia menikmati perselisihan, bergembira dan bersukacita di dalamnya, pengucap kata-kata yang menyebabkan perselisihan
    • Pharusavāco (ucapan kasar): kata-kata yang kasar, keras, menyakiti orang lain, menghina orang lain, berbatasan dengan kemarahan, tidak menunjang konsentrasi
    • Samphappalāpī (ucapan tidak penting): berbicara tidak pada waktu yang tepat, tidak beralasan dan tidak bermanfaat, berlawanan dengan Dhamma atau Vinaya: tidak layak untuk disimpan, melampaui batas, mencelakakan.

  5. Surämeraya-majjapamädatthänä veramani sikkhäpadam samädiyämi (Aku bertekad menghindari diri dari mengkonsumsi asupan yang memabukan dan membuat lengah/sembrono)
Di hari tertentu (misal: ulang tahun, perayaan keberhasilan, saat sedih, hari besar, kelulusan, dll) latihan moralitas yang 5 sila ini tingkatkan menjadi 8 sila, yaitu:
  1. ekabhattikā rattūparatā viratā vikālabhojanā, (makan 1x sehari, menahan diri makan pada malam hari dan di luar waktu (waktu yang benar: sejak matahari terbit s.d sebelum tengah hari))
  2. naccagītavāditavisūkadassana mālāgandhavilepanadhāraṇamaṇḍanavibhūsanaṭṭhānā paṭiviratā, (menghindari menari, menyanyi, bermain musik, melihat tontonan, memakai bunga, wewangian, kosmetik, perhiasan/kalung, berdandan, untuk memperindah diri)
  3. uccāsayanamahāsayanaṃ pahāya uccāsayanamahāsayanā paṭiviratā, (Meninggalkan dan menghindari pembaringan (untuk keperluan duduk/tidur) yang tinggi/mewah dan lebar/besar)
Dengan menjalankan tekad [sila] di atas, sekaligus kita telah melakukan 2 (dua) hal yaitu tidak melakukan perbuatan buruk dan memperbanyak kebajikan sehingga kita menjadi seimbangan dan tenang!

Banyak hal buruk yang mungkin telah kita lakukan selama ini, maka tidak ada gunanya lagi menyesali atau menangisi yang sudah dilakukan! Semua penyesalan dan tangisan tidak akan mengubah atas apa yang kita telah lakukan!
    "Sesuai dengan benih yang ditaburkan, demikianlah buah yang kau petik darinya. Pelaku kebaikan (akan mengumpulkan) kebaikan, Pelaku kejahatan (menuai) kejahatan. Taburlah benih dan tanamlah dengan baik, Maka kau akan menikmati buah darinya"-[S. I, 227, The Kindred Sayings, I, h. 293]
Jika memang saatnya harus berbuah maka yang menuainya adalah kita sendiri. Seharusnya konsekuensi ini harus kita terima dengan hati lapang sebagai bagian dari pertanggungjawaban kita. Sisanya yang bisa kita lakukan adalah melanjutkan hidup dengan tekad agar jangan sampai dilakukan lagi.

Namun, ketika kita terlahir kembali dan kemalangan melanda kita, kita merasa tidak melakukan suatu keburukan apapun yang pantas diganjar dengan kemalangan ini, maka ingatlah, bisa jadi itu adalah perbuatan itu di masa lalu yang memang saatnya untuk berbuah ATAU bisa jadi kita LUPA bahwa di kehidupan lalu, setelah menyesali perbuatan buruk yang kita lakukan dan menyatakan siap menerima konsekuensinya, seperti di saat ini misalnya!

Untuk itu, jika semua kemalangan melanda kita dengan ataupun tanpa sebab-sebab yang dapat kita ketahui, anggap saja kita tengah menuai "buah" dari sekelumit perbuatan-perbuatan buruk kita sebelumnya!

Dengan melakukan ini, dua hal telah kita lakukan sekaligus, yaitu tidak melakukan respon negatif yang artinya juga kita telah melaukan perberbuatan baik!

Walahhhh..repot amat ya...Mmmmhh..apakah ada cara yang lebih mudah lagi?

ADA!
    Bagaikan sebuah tempayan akan terisi penuh oleh air yang dijatuhkan setetes demi setetes, demikian pula orang bijaksana sedikit demi sedikit memenuhi dirinya dengan kebajikan. [Dhammapada bab 9, Syair 122]
Dari semua cara mengasah Parami, maka cara yang termudah adalah dengan Berdana!

Siapapun anda, anak kecil atau orang dewasa, Bermoral atau bahkan penjahat kelas berat, Pemuja Tuhan manapun maupun tidak satupun, kaya atau miskin, cacat atau normal maka anda semua mampu untuk berdana!

Dana merupakan pemimpin dari semua kebajikan, pintu yang memungkinkan tumbuhnya sifat-sifat baik lain yang mungkin belum muncul pada diri seseorang.

Jika kita melihat teks Tipitaka, maka Dana selalu ditempatkan di tempat pertama dalam (KLIK!) Dasa Paramita (10 Kesempurnaan)
untuk menjadi Buddha:
  1. Däna = Dermawan, gemar menolong orang lain.
  2. Sila = Bersih dalam ucapan dan perbuatan.
  3. Nekkhamma = Melepaskan ikatan keduniawian.
  4. Pañña = Kebijaksanaan
  5. Viriya = Tekun, bersemangat, ulet.
  6. Khanti = Sabar, dapat memaafkan kesalahan orang lain.
  7. Sacca = Mencintai kebenaran.
  8. Adithäna = Teguh dalam tekad, tak tergoyahkan.
  9. Metta = Cinta kasih luhur, mencintai semua mahluk tanpa perbedaan.
  10. Upekkhä = Keseimbangan Mental, tak terpengaruh lagi oleh perasaan sukha dan dukkha.
List 10 parami di atas ini hanya ada dalam teks belakangan [Buddhavamsa: bagian Sumedha, Komentar Cariyapitaka, Dasa Punnakiriyavatthu (DA 3:999; Compendium 146), Jataka 1. no.173, Dhammapada atthakata 1.84, dll]. Namun jika tidak harus dalam 10 list sekaligus, maka dapat ditemukan dalam banyak sutta diantaranya dalam 4 sarana yang memberikan manfaat bagi makhluk lain: "Dānaṃ/dana, peyyavajjaṃ/ucapan ramah, atthacariyā/bantuan bermanfaat, samānattatā/Jujur, adil, tidak memihak dalam bergaul" [AN 4.32/Saṅgahavatthu] atau juga di MN 111/Anupada Sutta: "Para bhikkhu, jika menyatakan dengan benar mengenai siapa pun (sammā vadamāno vadeyya): ‘Ia telah mencapai kemahiran (vasippatto) dan kesempurnaan (pāramippatto) dalam: moralitas (sīlasmiṃ) mulia, konsentrasi mulia (samādhismiṃ), kebijaksanaan (paññāya/sannaya) mulia, kebebasan (vimuttiyāti) mulia,’ adalah sehubungan dengan Sāriputta sesungguhnya kata-kata benar itu diucapkan..", dan banyak lagi sutta.

Sementara tidak semua orang bisa melakukan kebaikan yang disebut dengan Dana. Orang mungkin merasa sangat berat untuk memberikan dana. Seseorang berpandangan bahwa berdana itu berarti bekurang kekayaan, kebutuhan yang kita miliki akan menjadi berkurang dengan berdana. Tetapi suatu ketika perasaan berat buat berdana ini akan bisa diatasi dan disingkirkan kalau dia mau berjuang.
    Nidhiṃ nidheti puriso, gambhīre odakantike; Atthe kicce samuppanne, atthāya me bhavissati.Walaupun harta seseorang ditimbun dalam-dalam di dasar sumur, Dengan tujuan: bila suatu saat diperlukan untuk pertolongan, harta yang disimpan itu dapat digunakan
    Rājato vā duruttassa, corato pīḷitassa vā; Iṇassa vā pamokkhāya, dubbhikkhe āpadāsu vā; Etadatthāya lokasmiṃ, nidhi nāma nidhīyatiAtau ia berpikir : “Untuk pembebasan dari kemarahan raja, atau untuk uang tebusan bila aku ditahan sebagai sandera, atau untuk melunasi hutang-hutang bila keadaan sulit, atau mengalami musibah” Inilah alasan-alasan seseorang untuk menimbun harta.
    Tāvassunihito santo, gambhīre odakantike; Na sabbo sabbadā eva, tassa taṃ upakappatiMeskipun hartanya ditimbun dalam-dalam di dasar sumur, sama sekali tidak akan mencukupi semua kebutuhannya untuk selama-lamanya.
    Nidhi vā ṭhānā cavati, saññā vāssa vimuyhati; Nāgā vā apanāmenti, yakkhā vāpi haranti naṃJika timbunan harta itu berpindah tempat, atau ia lupa dengan tanda-tandanya, atau bila “Naga-Naga” mengambilnya, atau Yakkha-Yakkha mencurinya.
    Appiyā vāpi dāyādā, uddharanti apassato; Yadā puññakkhayo hoti, sabbametaṃ vinassati.Mungkin juga timbunan harta itu dicuri oleh sanak keluarganya, atau ia tidak menjaganya dengan baik, atau bila buah KAMMA baiknya telah habis, semua hartanyapun akan lenyap.
    Yassa dānena sīlena, saṃyamena damena ca; Nidhī sunihito hoti, itthiyā purisassa vā.Gemar berdana dan memiliki moral yang baik, dapat menahan nafsu serta mempunyai pengendalian diri, adalah timbunan “Harta” yang terbaik, bagi seorang wanita maupun pria.
    Cetiyamhi ca saṅghe vā, puggale atithīsu vā; Mātari pitari cāpi atho jeṭṭhamhi bhātari.“Harta” tersebut dapat diperoleh dengan berbuat kebajikan, kepada cetiya-cetiya atau Sangha, kepada orang lain atau para tamu, kepada Ibu dan Ayah, atau kepada orang yang lebih tua.
    Eso nidhi sunihito, ajeyyo anugāmiko; Pahāya gamanīyesu, etaṃ ādāya gacchati.Inilah “Harta” yang disimpan paling sempurna, tidak mungkin hilang, tidak mungkin ditinggalkan, walaupun suatu saat akan meninggal, ia tetap akan membawanya.
    Asādhāraṇamaññesaṃ, acorāharaṇo nidhi; Kayirātha dhīro puññāni, yo nidhi anugāmikoTak seorangpun yang dapat mengambil “Harta” itu, perampok-perampokpun tidak dapat merampasnya, oleh karena itu, lakukanlah perbuatan-perbuatan bajik, karena inilah “Harta” yang paling baik.
    Esa devamanussānaṃ, sabbakāmadado nidhi; Yaṃ yadevābhipatthenti, sabbametena labbhati.Inilah “Harta” yang sangat memuaskan, yang diinginkan para dewa dan manusia, dengan buah kebajikan yang ditimbunnya, apa yang diinginkan akan tercapai.
    Suvaṇṇatā susaratā, susaṇṭhānā surūpatā, Ādhipaccaparivāro, sabbametena labbhati.Wajah cantik dan suara merdu, kemolekan dan kejelitaan, kekuasaan dan pengikut, semua diperoleh berkat buah kebajikan itu.
    Padesarajjaṃ issariyaṃ, cakkavattisukhaṃ piyaṃ; Devarajjampi dibbesu, sabbametena labbhati.Kedaulatan dan kekuasaan kerajaan besar, kebahagiaan seorang raja Cakkhavati, atau kekuasaan dewa di alam surga, semuanya diperoleh berkat buah kebajikan itu.
    Mānussikā ca sampatti, devaloke ca yā rati; Yā ca nibbānasampatti, sabbametena labbhati.Setiap kejayaan manusia, setiap kebahagiaan surga, bahkan kesempurnaan Nibbana, semuanya diperoleh berkat buah kebajikan itu.
    Mittasampadamāgamma, yonisova payuñjato; Vijjā vimutti vasībhāvo, sabbametena labbhati.Memiliki sahabat-sahabat sejati, memiliki kebijaksanaan daan mencapai pembebasan, semuanya diperoleh berkat buah kebajikan itu.
    Paṭisambhidā vimokkhā ca, yā ca sāvakapāramī; Paccekabodhi buddhabhūmi, sabbametena labbhati.Memiliki pengetahuan untuk mencapai pembebasan, mencapai kesempurnaan sebagai seorang siswa, menjadi Pacceka Buddha atau Samma Sambuddha, semuanya diperoleh berkat buah kebajikaan itu.
    Evaṃ mahatthikā esā, yadidaṃ puññasampadā; Tasmā dhīrā pasaṃsanti, paṇḍitā katapuññatanti.Demikian besar hasil yang diperoleh dari buah kebajikan itu, oleh karenanya orang Bijaksana selalu bertekad untuk menimbun “Harta” kebajikan.

    [Khuddaka Nikaya Sutta, Khuddakapatha.8]
Seseorang kemudian mulai berdana.

Dana akan membawa kebahagiaan baginya. Kebahagiaan yang diperoleh dengan berdana akan maju sesuai dengan pengertian yang menyertainya pada saat berdana.

Seseorang yang baru mulai berdana akan merasa berdana merupakan perjuangan yang hebat antara memberi dan tidak memberi. Sementara orang akan berpikir berkali-kali: "Kalau saya memberi ini kemudian bagaimana kalau saya membutuhkan nanti? Ah, ini Kathina , kalau saya memberi Sangha, pos wesel belum datang. Padahal sudah tanggal pertengahan, ya nanti saja kalau berdana". Ada satu kisah Buddhis yang sangat menarik berkenaan dengan hal ini:
    Buddha Vipassã biasanya mengadakan pertemuan khusus setiap tujuh tahun sekali dan membabarkan khotbah. Beliau melakukannya sepanjang hari dan malam agar semua makhluk dapat menghadiri.

    Di kota itu ada seorang Brahmana (bakal Mahà Kassapa) dikenal dengan sebutan Brahmana Ekasàñaka, "Brahmana yang hanya memiliki satu jubah". Ini dikarenakan Brahmana ini dan istrinya yang juga seorang Brahmana hanya memiliki satu jubah. Sedangkan untuk jubah luar, pasangan itu hanya memiliki satu saja.

    Pada saat menghadiri pertemuan para brahmana untuk membicarakan suatu urusan, sang brahmana akan pergi sendirian meninggalkan istrinya di rumah; pada saat menghadiri pertemuan para brahmana perempuan, sang brahmana tinggal di rumah; si istri akan pergi sendirian mengenakan jubah luar satu-satunya itu.

    Pada hari Buddha akan mengadakan pertemuan, Ekasàñaka bertanya kepada istrinya, "O Istriku, bagaimanakah ini? Apakah engkau akan mendengarkan khotbah malam atau khotbah siang?"

    "Kami para perempuan tidak dapat mendengarkan khotbah pada malam hari. Aku akan menghadiri khotbah siang."

    Dengan berkata demikian ia (meninggalkan suaminya di rumah) pergi bersama umat-umat perempuan dan penyumbang lainnya untuk menghadiri khotbah siang, ia mengenakan jubah luar satu-satunya; sesampai di sana, ia bersujud kepada Buddha, duduk di tempat yang semestinya dan mendengarkan khotbah, kemudian ia pulang bersama para perempuan yang menyertainya.

    Setelah Istrinya pulang, giliran sang brahmana mengenakan jubah luar dan pergi ke vihàra pada malam harinya.

    Pada saat itu, Buddha Vipassã duduk dengan agung di atas Singgasana-Dhamma dan, sambil memegang kipas bundar, Beliau mengucapkan kata-kata Dhamma bagaikan seorang yang berenang di sungai di alam surga atau bagaikan seorang yang mengaduk lautan sekuat tenaga dengan Gunung Meru sebagai tongkat pengaduknya. Seluruh tubuh si Ekasàñaka, yang duduk di barisan belakang para hadirin dan mendengarkan, diliputi oleh lima jenis pãti yang sangat hebat, yang terjadi pada jaga pertama malam itu [rattiyā paṭhame yāme: 18.00-22.00]. Sang brahmana melipat jubah luarnya dan hendak mempersembahkannya kepada Buddha.

    Kemudian muncul keengganan untuk melakukannya karena kekikiran (macchariya) muncul dalam dirinya dan meningkat dalam bentuk pertimbangan akan seribu kerugian jika melepaskan jubah itu. Saat kekikiran muncul dalam dirinya, ia menjadi kehilangan minat untuk mempersembahkannya karena kekhawatiran yang meliputinya sebagai berikut, “Kami hanya memiliki satu jubah luar untuk istriku dan diriku. Kami tidak memiliki jubah pengganti. Dan kami tidak dapat pergi keluar tanpa jubah ini.”

    Pada jaga kedua malam itu [22.00-02.00], lima jenis pãti muncul lagi dalam batinnya, dan ia berkeinginan seperti sebelumnya. Pada jaga terakhir malam itu, sekali lagi ia mengalami kegembiraan yang sama. Namun kali ini, sang brahmana tidak membiarkan kekikiran muncul dalam dirinya dan memutuskan, “Hidup atau mati, aku akan memikirkan soal jubah nanti.”

    Dengan keputusan ini, ia melipat jubahnya, meletakkannya di kaki Buddha dan dengan sepenuh hati mempersembahkannya kepada Buddha. Kemudian ia menepuk lengan kirinya dengan tangan kanannya tiga kali dan tiga kali menyerukan, “Aku menang! Aku menang! Aku menang!”

    Pada saat itu Raja Bandhuma, duduk di balik tirai di belakang mimbar, sedang mendengarkan Dhamma. Sebagai seorang raja, dialah yang menginginkan kemenangan; karena itu, seruan “Aku menang!” tidak menyenangkannya. Maka ia mengutus seseorang untuk menyelidiki apa arti seruan itu. Ketika si penyelidik bertanya kepada Ekasàñaka, sang brahmana menjawab:

    “Sahabat, semua pangeran dan para prajurit, menunggang gajah, kuda dan membawa pedang, tombak, perisai dan pelindung, mengalahkan pasukan lawan. Kemenangan yang menggunakan pentungan memukul kepala seekor kerbau sehingga binatang itu lari, binatang itu mengikutinya dan menerkam untuk membunuhnya dari belakang, dan aku telah mengalahkan kekikiranku dan berhasil mempersembahkan jubah luarku kepada Buddha. Aku telah mengatasi kekikiran yang tidak terlihat oleh mata.”

    Si penyelidik kembali dan melaporkan hal itu kepada raja.

    Sang raja berkata, “Teman, kita tidak tahu apa yang seharusnya kita lakukan terhadap Buddha. Tetapi brahmana itu tahu.” Setelah mengatakan hal itu, raja mengirimkan satu perangkat jubah kepada brahmana itu. Sang brahmana berpikir, “Raja tidak memberikan apa pun kepadaku saat aku tidak mengatakan apa-apa. Hanya setelah aku mengucapkan kemuliaan Buddha, ia memberiku ini. Apa gunanya bagiku jubah ini yang muncul karena kemuliaan Buddha?” Dengan pikiran demikian, ia mempersembahkan jubah tersebut kepada Buddha.

    Sang raja menanyakan kepada pengawalnya apa yang dilakukan brahmana itu atas jubah yang ia berikan dan mengetahui bahwa orang miskin itu telah mempersembahkan jubah tersebut kepada Buddha. Maka raja memberikan dua perangkat jubah kepada brahmana itu. Sekali lagi brahmana itu mempersembahkannya kepada Buddha. Raja kemudian memberikan empat perangkat jubah kepada brahmana itu, yang mempersembahkannya kepada Buddha. Demikianlah raja menggandakan pemberiannya setiap kali dan akhirnya memberikan tiga puluh dua perangkat jubah kepada brahmana itu. Kali ini brahmana itu berpikir, “Mempersembahkan semuanya tanpa sisa hanya akan meningkatkan perolehanku atas jubah.” Karena itu, dari tiga puluh dua perangkat jubah itu, ia mengambil satu untuknya dan satu perangkat untuk istrinya dan mempersembahkan sisanya kepada Buddha. Sejak saat itu, sang brahmana bersahabat dengan Sang Buddha Vipassã.

    Kemudian pada suatu hari, pada malam yang sangat dingin, raja melihat brahmana sedang mendengarkan khotbah Dhamma di depan Buddha; raja memberikan selimut merah yang sedang ia pakai untuk menyelimutinya selama mendengarkan Dhamma. Tetapi sang brahmana merenungkan, “Apa gunanya menyelimuti tubuh busukku dengan selimut ini?” Karena itu ia membuat kanopi dengan selimut itu dan mempersembahkannya kepada Buddha setelah memasangnya di atas dipan Buddha di dalam Kuñã Harum. Tersentuh oleh sinar enam warna dari tubuh Buddha, selimut itu menjadi terlihat lebih indah. Melihat selimut itu, raja teringat akan selimut yang diberikan pada Brahmana itu dan berkata kepada Buddha, “Buddha Yang Agung, selimut itu dulu adalah milikku. Aku memberikannya kepada Brahmana Ekasàñaka untuk dikenakan sewaktu mendengarkan khotbah Dhamma-Mu.”

    Buddha menjawab, “Tuanku, engkau menghormati brahmana itu, dan brahmana itu menghormati-Ku.”

    Raja berpikir, “Brahmana itu tahu apa yang harus dilakukan terhadap Buddha tetapi kami tidak.” Berpikir demikian, ia memberikan segala jenis benda-benda berguna kepada sang brahmana, berjumlah enam puluh empat. Demikianlah ia melakukan persembahan yang disebut aññhaññhaka kepada sang brahmana dan juga mengangkatnya sebagai purohita (penasihat).

    Memahami bahwa aññhaññhaka, ‘delapan kali delapan’, yang artinya enam puluh empat, Purohita setiap harinya mempersembahkan enam puluh empat porsi makanan untuk dibagikan kepada para bhikkhu. Demikianlah ia melakukan dàna seumur hidupnya, dan saat meninggal dunia, ia terlahir kembali di alam dewa. [Dhammapada Bab IX, syair ke 116]
Dari kisah ini bisa dilihat bagaimana seseorang berjuang untuk bisa melepaskan miliknya untuk berdana.

Kalau latihan atau niat berdana meningkat, yang semula mereka berhitung di dalam berdana, sekarang dia berdana dengan satu langkah yang lebih baik. Tetapi dia berhitung dengan tujuan yang lebih halus. Ya, saya berdana ini mudah-mudahan citra saya naik di tengah-tengah masyarakat.

Setingkat lebih naik, orang tidak lagi berdana dengan tujuan supaya dikenal orang, tidak lagi berdana supaya dipandang. Tetapi orang berdana dengan tujuan yang lebih jauh. Supaya kehidupan saya tidak kekurangan. Supaya ekonomi saya tidak menjadi hancur. Semoga sesudah kematian saya bisa dilahirkan di alam sorga sebagai dewa. Contoh cerita Buddhis menarik berkenaan manfaat berdana misalnya:
    Seorang wanita yang miskin sekali yang tinggal di tepi ladang. Pada suatu hari wanita ini sedang menggoreng jagung.

    Suatu hari lewat Bhante Maha Kassapa yang baru selesai bermeditasi tujuh hari tujuh malam, memasuki Niroda Samapati. Maha Kassapa berjalan berpindapatta untuk menerima dana yang akan dipersembahkan oleh umat. Begitu melihat Bhante Maha Kassapa lewat, dia mengatakan "Bhante, berhenti dulu saya ingin berdana". Wanita ini yang bernama Upasika Laja mengambil segenggam jagung yang sudah digoreng, membungkusnya, dan memasukkannya ke dalam mangkok Bhante Maha Kassapa.

    Upasika ini mengatakan "Bhante, berikanlah berkahmu padaku." Maha Kassapa menyebutkan "Icchitam pattitam tumham. Kippameva samijhatu —Dengan kekuatan kebaikanmu semoga semua cita-citamu tercapai".

    Upasika Laja ini begitu bahagia pada waktu Bhante Maha Kassapa pulang ke vihara. Dia mengikuti Beliau dari belakang. Di tengah-tengah pematang sawah muncul seekor ular yang menggigit Bhante Maha Kassapa. Tetapi karena jubahnya turun sampai ke bawah, ular ini hanya berhasil menggigit kain jubah dan tidak berhasil menggigit Bhante Maha Kassapa. Upasika Laja yang mengikuti dari belakang kemudian dipatuk, digigit oleh ular yang berbisa itu.

    Sesampai di vihara, Laja kaku membiru kemudian meninggal. Karena Upasika Laja ini meninggal dengan pikiran yang amat bahagia, maka Upasika Laja ini dilahirkan di alam sorga dan menjadi DEVADHITA [Deva perempuan].

    Sesaat kemudian, Ia teringat sebab mengapa ia dilahirkan di alam itu dan Dia berpendirian, "Kalau saya berdana segenggam jagung goreng bisa menyebabkan saya dilahirkan di alam sorga, alangkah besar manfaatnya kalau saya berdana lebih daripada itu dan saya berdana setiap hari. Oleh karena itu meskipun saya sebagai dewa, saya tetap akan berdana dengan membersihkan pondok Bhante Maha Kassapa.

    Tiap-tiap pagi, sebagai dewa, Upasika Laja datang ke kuti Bhante Maha Kassapa. Dia menyapu, membersihkan kuti Bhante Maha Kassapa dan mengisi air di kolam yang sudah kosong.

    Tiap-tiap hari Bhante Maha Kassapa bangun dan membuka pintu, semua sudah bersih. Semua sudah teratur dengan baik. Bhante Maha Kassapa berpikir, "Siapakah yang mengerjakan ini?" Mungkin ada bhikkhu-bhikkhu muda yang membantu saya. Tetapi Bhante Maha Kassapa tidak berhasil menjumpai siapa yang membantu. Pada hari ke-3 Ia berhasil mengetahuinya dan kemudian bertanya, "Siapakah engkau?"

    Dewa wanita ini kemudian bercerita, "Aku adalah wanita miskin, Bhante. Yang hanya mampu berdana segenggam jagung goreng. Pada waktu itu aku digigit ular dan karena aku meninggal dengan perasaan bahagia dan kebaikan luar biasa, aku dilahirkan sebagai dewa. Sekarang aku ingin berbuat kebaikan yang lebih banyak. Kalau aku hanya berdana sekali dengan segenggam jagung goreng menyebabkan aku dilahirkan di alam dewa sorga, alangkah tinggi manfaatnya. Alangkah tinggi buahnya kalau aku berbuat baik setiap hari kepada Bhante".

    Begitu Thera mengetahui apa yang dilakukan Laja, Thera memberi tahu agar Laja tidak datang ke vihara karena orang-orang akan membicarakan hal-hal yang tidak baik berupa ketidakpantasan seorang gadis (dewi) yang setiap pagi-pagi buta datang sendirian ke tempat Mahakassapa thera.

    Mendengar hal itu Dewa ini pergi dengan menangis. Pada saat dia terbang untuk kembali ke alam dewa. Sang Buddha melihat peristiwa ini mencegat di tengah perjalanan. Betapa bahagianya dewa ini. Diusir oleh Bhante Maha Kassapa, murid Sang Buddha, sekarang Sang Buddha sendiri datang menemui dia. Sang Buddha mengatakan, "Devadhita, itu adalah tugas murid Ku Kassapa untuk melarangmu ke vihara, melakukan perbuatan baik adalah tugas seseorang yang berniat besar memperoleh buah perbuatan baik. Tetapi, sebagai seorang gadis, tidak patut untuk datang sendirian dan melakukan berbagai pekerjaan di vihara."

    Pada kejadian ini Sang Buddha membabarkan syair :
    Apabila seseorang berbuat bajik, hendaklah dia mengulangi perbuatannya itu dan bersuka cita dengan perbuatannya itu, sungguh membahagiakan akibat dari memupuk perbuatan bajik. [Dhapamada bab IX syair ke-118]

    Lajadevadhita mencapai tingkat kesucian Sotapatti setelah khotbah Dhamma itu berakhir.
Ada satu kisah menarik lainnya, Bahkan Si Penguasa Alam Devapun masih perlu untuk berdana untuk mengasah parami!
    Pada saat itu Yang Ariya Mahakassapa sedang berada di gua Pipphali, duduk bersila selama tujuh hari, Sesudah mencapai (keadaan) konsentrasi tertentu. Kemudian pada akhir tujuh hari itu Yang Ariya Mahakassapa keluar dari konsentrasi itu. Setelah itu Yang Ariya Mahakassapa berpikir: "Bagaimana jika saya masuk ke Rajagaha untuk mengumpulkan makanan?"

    Di saat itu muncul di diri 500 Deva wanita di alam Deva Sakka hasrat yang besar untuk memberikan dana makanann pada Maha Kassapa. Dengan makanan yang telah dipersiapkan ia kemudian mendekati Maha Kassapa dan memohon bantuan Beliau agar berkenan menerima persembahan mereka. Namun Ia menolak karena ingin membagi keberuntungan ini pada mereka yang mikin sehingga dapat mengambil manfaat atas perbuatan baik yang mereka lakukan sebagai hasil berdana kepada seseorang yang baru saja mencapai Nirodhasamapatti [Barang siapa mempersembahkan dana pada saat itu, maka akan mendapat berkah yang besarnya tak terhingga dan berbuah dikehidupan saat ini atau berikutnya]

    Ketika Sakka, raja para Deva mendengar kegagalan mereka, Muncul hasrat besar di dirinya untuk memberikan persembahan dana makanan pada Maha Kassapa. Menghidari agar tidak mengalami penolakan, Sakka kemudian merubah penampilannya sebagai tukang tenun yang sudah tua dan miskin dan datang ke Rajagaha dengan istrinya Sujata yang menyamar sebagai wanita tua.

    Ketika melihat Yang Ariya Mahakassapa datang dari jauh, Sakka penguasa para dewa keluar dari rumahnya dan pergi menjumpai beliau. Diambilnya mangkuk dari tangan Yang Ariya Mahakassapa dan dibawanya masuk ke dalam rumah, diambilnya nasi dari panci, diisinya mangkuk itu dan diberikannya kepada Yang Ariya Mahakassapa. Dan makanan ini mencakup berbagai macam kare, berbagai macam saos, kare dengan berbagai macam rasa dan aroma (yang lezat) dan harumnya kari tersebut menyebar ke seluruh kota.

    Kejadian ini menyadarkan Mahakassapa Thera bahwa orang tersebut bukan manusia biasa. Kemudian Yang Ariya Mahakassapa berpikir: "Siapakah mahluk yang mempunyai kekuatan dan kemampuan luar biasa seperti ini?". Kemudian Yang Ariya Mahakassapa berpikir : "Bukankah ini Sakka penguasa para dewa ?". Ketika menyadari itu dia berkata: "Ini adalah perbuatanmu, Kosiya [Nama marga Deva Sakka dikehidupan sebelumnya]; Jangan lakukan hal seperti ini lagi. "

    Sakka mengakui siapa dia sebenarnya dan menyatakan bahwa dia juga miskin, sebab dia jarang mempunyai kesempatan untuk mendanakan sesuatu kepada seseorang selama masa kehidupan para Buddha.

    "Kami juga butuh kebaikan, Yang Ariya Kassapa. Kami juga harus berbuat kebaikan."

    Kemudian Sakka penguasa para dewa, sesudah bersujud di hadapan Yang Ariya Mahakassapa, sambil tetap mengarahkan sebelah kanan tubuhnya pada beliau, naik ke langit.[Dhammapada Bab IV Syair ke-56 dan Udana 3:7]
Semua ini menunjukkan pengertian yang maju, pengertian yang meningkat dari masing-masing orang yang menginginkan untuk berdana. Akhirnya akan sampai pada suatu pikiran puncak. Seseorang berdana dengan tujuan, saya berdana supaya saya bisa membebaskan diri saya dari lingkaran samsara. Dia berdana dengan tidak berhitung. Dia berdana dengan tidak mempersoalkan apa yang akan dia capai. Tetapi dia berdana hanya dengan tujuan semoga saya bebas dari keterikatan.

Saya akan berdana apa saja yang saya bisa. Saya akan memberikan materi, tenaga, apapun yang saya punya. Karena setiap Dana membawa kebahagiaan, tergantung pengertian yang menyertai pada saat berdana. Apakah saya berdana dengan perhitungan? Apakah saya berdana untuk menaikkan citra di tengah-tengah masyarakat? Ataukah saya berdana dengan tanpa hitung-hitung, dengan satu tujuan untuk mencapai kebebasan.

Dengan berdana maka kita akan otomatis memastikan yang kita danakan ini selalu berasal dari hal yang baik! Yaitu didapat tidak dengan jalam menyakiti Mahluk Hidup, atau tidak dari mengambil hal orang lain, tidak dari hasil menjual orang lain [memperbudak], tidak dari hasil menipu dan tidak didapat dari hasil menjual hal-hal yang dapat membuat hilangnya kesadaran!

Dengan berdana, kita aktif ikut menurunkan tingkat kemiskinan yang pada gilirannya dapat mengurangi niat jahat, mengurangi perampokan, pencurian, korupsi dll sehingga ini akan meningkatkan keamanan dan kenyamanan hidup seiring berkurangnya nyawa dan harta yang hilang percuma!

Mudah sekali, bukan?

Oleh karena itu, cobalah hidup sederhana. Apa yang kita dapatkan gunakan untuk kepentingan orang banyak. Rela berjuang dan berkorban demi kepentingan orang lain. Karena perbuatan itu akan membawa kebahagiaan yang jauh lebih besar daripada kita mendapatkan keuntungan materi.

Kalau bisa menikmati kebahagiaan orang melepas, apapun ingin dilepas. Apapun ingin diberikan kepada orang lain. Karena dengan memberi akan memberikan kebahagiaan yang sangat hebat. Sungguh luar biasa, sulit dibayangkan dan kebahagiaan manapun juga.

Sang Buddha mengatakan,
"Pada saat engkau akan memberi kalau engkau berbahagia itulah yang dinamakan Pubba cetana. Pada saat engkau memberi kalau engkau berbahagia itulah Munca Cetana. Jauh sesudah engkau memberi kalau engkau masih merasa bahagia itulah yang dikatakan Aparapara Cetana".

Dari ketiga pikiran yang dikatakan permulaan, pertengahan dan sesudah berdana manakah yang paling penting? Yang paling penting justru sesudah berdana.

Kalau pada saat berdana perasaan kita kurang rela, tetapi sesudah berdana merasa bahagia dan kebahagiaan ini bisa berlangsung berhari-hari, maka pikiran bahagia sesudah berdana itu akan memberikan nilai tambah dari perbuatan baik yang dilakukan.

Tetapi, sebaliknya kalau pada waktu berdana perasaan kita antusias, sebelum berdana kita senang. Tetapi sesudah berdana kemudian menjadi kecewa. Pikiran ini akan merusak kebaikan kita. Pikiran baik, pikiran puas sesudah memberi itu justru akan memberikan nilai tambah pada saat melakukan kebaikan itu.

Ada alasan lain mengapa berdana disebut sebagai pemimpin kebajikan!

Berdana disamping mampu memupuk Kebajikan, menjadi pintu yang memungkinkan tumbuhnya sifat-sifat baik lain yang mungkin belum muncul pada diri seseorang dan melepaskan keterikatan maka alasan lainnya adalah Berdana juga mampu melepaskan sanak keluarga/leluhur kita yang MUNGKIN SAJA tengah terlahir di alam menderita [Mahluk Halus]!

Bagaimana caranya?

Berdanalah atas nama Leluhur! ATAU berdanalah dengan melimpahkan jasa ini pada para leluhur. Berikut di bawah ini salah satu kisah yang mengawali tradisi Pelimpahan Jasa:
    Pada suatu hari, Ketika Raja Bimbisara mempersembahkan dana pada hari pertama kepada Sang Buddha dan siswa-siswa Beliau. Tapi setelah berdana makan kepada Sang Buddha dan siswa-siswa Beliau, raja lupa melakukan pelimpahan jasa. Raja lupa melimpahkan jasa kebajikannya kepada sanak saudaranya leluhurnya sebanyak delapan puluh empat ribu mahluk halus/setan, yang menerima buah dari perilaku mereka yang buruk pada jaman Buddha Pussa sehingga mereka menjadi mahkluk peta selama 92 kalpa. Pada waktu itu raja sibuk memikirkan ”tempat” untuk Sang Buddha dan siswa-siswa-Nya, tempat untuk bervassa.

    Mereka menanti sampai tiba malam hari.

    Malam harinya, Raja Bimbisara tidak bisa tidur, beliau mendengar suara-suara jeritan yang mengerikan, teriakan-teriakan putus asa yang mengerikan. Sepanjang malam raja tidak bisa tidur hingga pagi hari.

    Pagi harinya, karena tidak bisa tidur semalam suntuk, maka wajah raja menjadi pucat pasi, beliau terganggu oleh jeritan-jeritan putus asa yang mengerikan, suara-suara jeritan dari alam peta.

    Ketika Raja mengunjungi Veluvana keesokan harinya, ia menceritakan apa yang terjadi semalam kepada Sang Buddha. Sang Guru Agung menjawab:

    “Raja Mulia, sembilan puluh dua putaran waktu di masa yang lampau, pada jaman kehidupan Buddha Pussa, para mahluk peta ini adalah leluhurmu. Mereka memakan makanan yang seharusnya mereka persembahkan kepada anggota Sangha, karena perbuatan buruk yang mereka lakukan itulah, yang menyebabkan mereka terlahir di Alam Peta (Alam Sengsara). Dengan melalui begitu panjang lingkaran-lingkaran kelahiran, mereka bertanya kepada Buddha Kakusandha, Buddha Konagamana, dan Buddha Kassapa kapan mereka akan memperoleh makanan, para Buddha itu berkata bahwa mereka tidak akan mendapat makanan pada jaman mereka, tetapi harus menunggu sampai Buddha yang akan datang muncul dan akan memperoleh jawaban dariNya. Mereka terus menunggu, dan ketika Buddha Kassapa muncul, mereka bertanya kepadaNya. Dan Sang Buddha Kassapa menjawab, “Kalian tidak akan mendapat makanan pada jamanKu ini; tetapi sesudah Aku, akan muncul Buddha Gotama. Pada saat itulah keturunan kalian yang bernama Bimbisara akan menjadi raja; ia akan mempersembahkan makanan kepada Buddha Gotama dan pada waktu itulah kalian akan memperoleh makanan.” Setelah menanti dalam waktu yang amat panjang mereka berharap dengan gembira akan dapat menerima pelimpahan jasa yang kamu lakukan; karena itulah mereka mengamuk dan bertindak seperti semalam karena dana yang kamu berikan tidak dilimpahkan kepada mereka, dan mereka gagal mendapatkan jasa buah kebajikan yang kamu lakukan.”

    ”Kalau demikian halnya, apakah mereka bisa mendapatkan pelimpahan jasa hari ini?” Raja bertanya kepada Sang Buddha. Sang Buddha memberikan jawaban bahwa: ”Hal itu bisa dilakukan hari ini.”

    Raja Bimbisara menjadi semangat dan mengundang Sang Buddha serta bhikkhu Saïgha untuk menerima dana makan di istana raja, Sang Buddha menyetujui dengan berdiam diri.

    “Tetapi, Yang Mulia, kalau saya mempersembahkan dana sekarang, apakah mereka akan memperoleh jasa kebajikan ini?”

    “Ya, Raja Mulia.”

    Raja kembali ke istana, memberi instruksi kepada pelayan istana untuk mempersiapkan dana makanan yang besar dan meriah kepada Sang Buddha dan siswa-siswa Beliau. Beraneka makanan dan minuman dipersiapkan oleh raja, juga kain jubah serta tempat tinggal untuk murid-murid-Nya. Setelah semuanya siap, raja mempersilahkan Sang Buddha dan siswa-siswa-Nya memasuki ruang istana.

    Ketika sampai di ruang istana raja, Sang Buddha dengan menggunakan kekuatan batin-Nya, mampu membuka tabir sehingga raja bisa melihat mahkluk peta yang jumlahnya ribuan, mereka berdiri berderet-deret dengan tubuh kurus kering tinggal kulit pembalut tulang, urat-urat nadinya menonjol keluar, rambut kusut seperti ijuk – sungguh suatu pemandangan yang mengerikan. Raja merasa kasihan dengan mahkluk-mahkluk peta tersebut.

    Oleh karena itu, raja mulai melayani Sang Buddha dengan mempersembahkan air, dengan pikeran: ”Semoga jasa dari mempersembahkan air ini, jasanya melimpah pada sanak saudaraku yang terlahir di alam peta. Ketika air itu disentuh dan diterima oleh Sang Buddha, saat itu juga muncul keajaiban: di alam peta muncul kolam-kolam air yang dalam, persegi empat, airnya jernih, dan di sana juga tumbuh bunga teratai. Raja bisa melihat semua kejadian di alam peta – sekarang mahkluk peta bisa minum sepuasnya dan mandi sepuasnya. Tubuh mahkluk peta sekarang menjadi segar.

    Raja menjadi semakin bersemangat, raja kemudian mempersembahkan bubur beras kepada Sang Buddha, ketika bubur beras itu disentuh dan diterima oleh Sang Buddha, maka di alam peta seketika muncul makanan-makanan surgawi yang lezat-lezat. Sehingga tubuh mahkluk peta berubah menjadi segar, sehat dan padat, berisi dan bercahaya.

    Pada keesokan harinya, para mahluk peta itu menampakkan dirinya dengan telanjang, tidak berpakaian. Raja berkata kepada Sang Buddha: “Hari ini, Yang Mulia, para mahkluk peta menampakkan dirinya dengan telanjang,” dan ia bertanya apa yang harus dilakukannya.

    Sang Guru Agung menjawab : “Raja Mulia, kamu memang belum memberikan mereka pakaian.”

    Pada keesokan harinya, Raja Bimbisara mempersembahkan jubah kepada Sang Buddha dan para muridNya, lalu berkata : “Semoga persembahan yang saya lakukan ini dapat diterima oleh para mahluk peta, berupa pakaian.”

    Dengan seketika itu pula, setelah mereka memperoleh kebajikan yang dilakukan oleh keturunannya ini, mereka langsung berpakaian indah, dan langsung pindah dari alam peta ke alam surga.

    Ketika Sang Buddha mengucapkan anumodana, Beliau lalu mengucapkan syair Tirokudda Sutta :

    Di luar dinding mereka berdiri dan menanti,
    di persimpangan-persimpangan jalan,
    mereka kembali ke rumah yang dulu dihuninya,
    dan menanti di muka pintu.
    Tetapi bila diadakan pesta yang meriah,
    dengan makanan dan minuman yang berlimpah,
    ternyata tidak seorang pun yang ingat kepada mahluk-mahluk itu,
    yang merupakan leluhur mereka.

    Hanya mereka yang hatinya penuh welas asih,
    memberikan persembahan kepada sanak keluarganya,
    berupa makanan dan minuman yang lezat,
    baik, dan disukai pada waktu mereka masih hidup.

    “Semoga buah jasa-jasa baik kita,
    melimpah kepada sanak keluarga yang telah meninggal.
    Semoga mereka berbahagia.”

    Sanak keluarga kita yang sedang berkumpul di tempat ini
    dengan gembira akan memberikan restu mereka
    karena diberi makanan dan minuman yang berlimpah.
    “Semoga sanak keluargaku berusia panjang
    sebab karena merekalah kami memperoleh sajian uang lezat ini.”

    “Karena kami diberi penghormatan yang tulus
    maka yang memberinya pasti akan memperoleh
    buah jasa yang setimpal
    Karena di sini tidak ada pertanian
    dan juga tidak ada peternakan
    tidak ada perdagangan
    juga tidak ada peredaran uang dan emas.”
    Sanak keluarga kita yang telah meninggal
    hidup di sana dari pemberian kita di sini.

    Bagaikan air mengalir dari atas bukit
    turun ke bawah untuk mencapai lembah yang kosong,
    demikian pula sesajian yang diberikan
    dapat menolong sanak keluarga kita yang telah meninggal
    Bagaikan sungai, bila airnya penuh
    akan mengalirkan airnya ke laut,
    demikian pula sesajian yang diberikan
    dapat menolong sanak keluarga kita yang telah meninggal,

    “Ia memberi kepadaku, ia bekerja untukku,
    ia sanak keluargaku, ia sahabatku, kerabatku.”
    Memberikan sesajian kepada mereka yang telah meninggal dunia
    dan mengingat kembali kepada apa yang biasa mereka lakukan.
    Bukan ratap tangis,
    bukan kesedihan hati,
    bukan berkabung dengan cara apapun juga
    untuk menolong mereka yang telah meninggal dunia
    yang dilakukan sanak keluarga yang telah ditinggalkan.

    Tetapi bila persembahan ini dengan penuh bakti
    diberikan kepada Sangha atas nama mereka
    dapat menolong mereka untuk waktu yang panjang
    di kemudian hari maupun pada saat ini.

    Telah diperlihatkan hakikat sesungguhnya
    dari sesajian bagi sanak keluarga
    dan bagaimana penghormatan yang lebih bernilai
    dapat diberikan kepada mereka
    serta bagaimana para bhikkhu mendapat kekuatan
    dan bagaimana Anda sendiri dapat menimbun
    buah karma yang baik.


    Pada saat Sang Buddha selesai mengucapkan syair ini, delapan puluh empat ribu mahluk memperoleh pengertian Dhamma Yang Mulia.

    [Sumber: Sammaggiphala, Tirokuddha Sutta, Juga bagaimana YM. Sariputta ketika menyelamatkan ibunya dari kehidupan lalunya yang terlahir menjadi Peta (mahluk Halus/setan) dan Beliau melakukan pelimpahan Jasa atas nama sang Ibu di: II. 2 PENJELASAN MENGENAI CERITA PETI (Peta wanita) IBU SARIPUTTA THERA (Sariputtattheramatupetivatthuvannana)]
Ada lagi jenis berdana yang juga memberikan manfaat sangat besar dalam upaya kita mengumpulkan kebajikan di kehidupan saat ini, yaitu dengan mempersembahkannya pada kumpulan para Bikkhu [Sangha], walaupun hal ini bisa dilakukan setiap saat, namun biasanya dilakukan di hari Kathina.

Kathina adalah dana kepada Sangha. Kathina bukan dana kepada pribadi bhikkhu. Tetapi dana yang harus dipersembahkan dengan pikiran dana kepada Sangha. Sang Buddha mengatakan,

"Tanah yang padat, lautan yang luas, gunung Maha meru yang sangat tinggi karena waktu yang berjalan terus. Karena ketidak-kekalan, itu pan akhirnya bisa habis. Lautan bisa kering, gunung bisa hancur, tanah yang padat bisa berhamburan. Tetapi kebaikan yang kamu lakukan kepada Sangha, seratus ribu kalpa tidak akan musnah".

Kalau berdana kepada Sangha sekarang ini dan Kita mempunyai Akusalakamma (perbuatan buruk) yang menunda, kamma baik itu tidak mungkin akan menjadi Ahosi (Karma yang tidak sempat berbuah karena telah kehabisan waktu). Kamma baik itu tidak mungkin lenyap, menjadi kadaluarsa. Meskipun nanti seratus ribu kalpa, dana kita kepada Sangha itu masih akan berbuah.

Satu kalpa bumi ini terbentuk, berlangsung, dan hancur kembali. Bumi ini muncul, hancur kembali, muncul hancur kembali, muncul hancur kembali.

Seratus ribu kalpa kebaikan yang dilakukan kepada Sangha tidak akan musnah. Apa sebab? Anda berdana kepada Sangha tidak mengenal favoritisme. Karena dana yang Anda tujukan kepada Sangha ini Anda tujukan kepada semua bhikkhu yang hadir maupun yang tidak hadir, yang sekarang ataupun yang akan datang.

Demikianlah hakekat yang bisa kita petik dari setiap masa Kathina. Kita tidak ragu-ragu berdana. Apapun hendaknya kita rela memberi. Apalagi kalau kita mengerti hidup ini adalah anatta, tidak ada aku, tidak ada yang menjadi milikku, dan tidak aku yang bisa memiliki. Semuanya adalah proses. Pada saat kematian kita akan meninggalkan semuanya. Apa perlunya kita menyimpan terlalu banyak. Kita hanya hidup secukupnya kemudian berikan semuanya untuk anak, keluarga, masyarakat dan yang lainnya. Para bhikkhupun sudah membuat perjanjian "Besok kalau saya mati cukillah mata saya ini dan pakailah, kepada siapa yang membutuhkan".

Apakah kita mau mengikuti jejak mereka? Membuat pernyataan, kalau mati ambillah mata saya ini, berikan kepada mereka yang membutuhkan. Saya lebih rela mendanakan mata saya daripada diberi mata oleh orang lain. Kami siap mendanakan darah kami. Bahkan ada orang yang menyatakan atau membuat wasiat: "Kalau saya mati, jangan kuburkan saya, jangan bakar saya, saya mendanakan jasmani saya ini. Apapun yang bisa diambil, ambillah! Ginjal mau diambil, ambillah! Mata mau diambil, ambillah!"

Betapa bahagianya orang yang berdana. Marilah kita bertekad, "Aku bertekad meskipun tidak mampu, aku rela memberikan apapun kepada siapapun yang membutuhkan". Sang Buddha mengatakan, "Apakah yang bisa diperoleh dari dana?" Nama harum, wajah cantik, usia panjang, kekayaan, pangkat, kekuasaan, pengaruh, raja besar, menjadi dewa, kehidupan di alam Brahma, mencapai Arahat, Pacceka Buddha, Samma Sambuddha semuanya itu adalah manfaat banyak Dana Punna, kekuatan baik, kekuatan bajik dari dana.

Jadilah orang yang bisa dicontoh oleh masyarakat dalam berdana. Jangan remehkan perbuatan baik. Meskipun kecil, kebaikan adalah kebaikan. Jangan meremehkan kebaikan. Seperti air yang menetes di tempayan, setetes demi setetes, akhirnya akan menjadi penuh.

[Note: Bagian tulisan tentang Dana sebagian besarnya merupakan kutipan dari tulisan Bhante Sri Paññavaro Thera,"Dana Membawa Kebahagiaan". Tulisan Bhante Sri Paññavaro Thera, di artikel ini, tidak lagi sama seperti yang beliau tulis karena telah saya ubah, tambahkan, kurangi dan sesuaikan dengan maksud artikel ini. Untuk melihat tulisan aslinya dapat di lihat dilink yang berasal dari: BUDDHA CAKKHU No.03/XVII/1995; Yayasan Dhammadipa Arama]

Penutup
Mengakhiri artikel ini, saya kutipkan sepenggal jaminan yang diucapkan oleh Sang Buddha di hadapan Suku kalama:
    "Suku Kalama, bila orang yang menempuh kehidupan agung ini telah membuat pikirannya bebas dari rasa permusuhan, bebas dari niat jahat, murni dan tidak kotor, dia telah memenangkan empat jaminan dalam kehidupan ini juga.

    • Inilah jaminan pertama yang telah dimenangkannya: 'Seandainya ada alam lain, dan seandainya perilaku yang baik dan buruk memang memberikan buah dan menghasilkan akibat, maka ada kemungkinan ketika tubuh hancur, setelah kematian, aku akan muncul di tempat yang baik, di suatu alam surgawi.'
    • Inilah jaminan kedua yang telah dimenangkannya: 'Seandainya tidak ada alam lain, dan seandainya tindakan baik dan buruk memang tidak memberikan buah dan menghasilkan akibat, tetap saja di sini, di dalam kehidupan ini juga, aku hidup dengan bahagia, bebas dari rasa permusuhan dan niat jahat.'
    • Inilah jaminan ketiga yang telah dimenangkannya: 'Seandainya kejahatan menimpa si pelaku kejahatan, maka karena aku tidak berniat jahat kepada siapapun, bagaimana mungkin penderitaan menyerangku, orang yang tidak melakukan kejahatan?'
    • Inilah jaminan keempat yang telah dimenangkannya: 'Seandainya kejahatan tidak menimpa pelaku kejahatan, maka di sini juga aku melihat diriku sendiri termurnikan di dalam dua hal [dia tidak melakukan kejahatan dan tidak ada kejahatan yang akan menimpanya]'

    "Suku Kalama, bila orang yang menempuh kehidupan agung ini telah membuat pikirannya bebas dari permusuhan, bebas dari niat jahat, murni dan tidak kotor, maka dia telah memenangkan empat jaminan ini di dalam kehidupan ini juga." [Kalama sutta]
Siapapun anda, anak kecil atau orang dewasa, kaya atau miskin, cacat atau normal, Bermoral baik atau bahkan penjahat kelas berat, Pemuja Tuhan manapun atau tidak satupun atau bahkan TIDAK MEMPERCAYAI APAPUN, jika anda melakukan Praktek BERDANA dan juga MENJALANKAN 5 SILA, toh tetap TIDAK AKAN MERUGIKAN aqidah anda dan/atau membuat anda menjadi TIDAK BERBAHAGIA.

Berita baiknya, Anda bahkan TIDAK PERLU menjadi seorang Buddhis untuk mempraktekan kebajikan-kebajikan di atas!

Tunggu apa lagi?


Artikel lainnya:


12 comments:

  1. Salam Pak,

    akhirnya ada artikel ini, padahal mau bertanya lebih lanjut melanjutkan pertanyaan saya yang lalu tapi sudah dijelaskan di artikel ini, :D

    trims pak saya baca-baca dulu dan mencoba memahaminya :)

    shanti....

    ReplyDelete
  2. ada 1 yg kurang
    berdana dengan motivasi untuk menjadi Buddha, dan membebaskan semua makhluk, bukan hanya diri sendiri dari samsara.
    Inilah yg motivasi tertinggi
    dari Mahayana sih

    ReplyDelete
  3. Pak: Ari dan WG, tks utk mampir.

    Utk WG, baca aja NidhikandaSutta, dah tercantum tuh..

    Bicara utk membebaskan diri sendiri, maka jika anda baca artikel saya diatas..kuncinya cuma ada 2 hal, yaitu:

    1. Diri sendiri dan
    2. Parami yang dikumpulkan.

    Jika benar dapat membebaskan semua mahluk tanpa perlu usaha dari mahluk yg mo dibebaskan itu sendiri dan juga kecukupan parami..maka bukankah di versi Mahayana, terdapat milyaran Buddha masa lampau, sedang dan akan ada di dunia ini dan dunia2 lain [termasuk yg ada di surga ttt di dunia ini?]

    tapi koq milyaran manusia + milyaran binatang milyaran mahluk lain masih juga mati dan terlahir kembali tanpa bisa nibanna?

    Menurut anda problemnya dimana kalo dikaitkan dengan statement anda diatas?

    salam

    ReplyDelete
  4. Dan cukup bermodalkan pertapaan di bawah pohon jengkol saya bisa menjadi buddha! buset gampang amat!

    ReplyDelete
  5. STT,
    Kalo kamu mampu tanpa bergerak apapun selama 1 jam dibawah pohon jengkol..baru pantas komentar..jangan membual banyak..nama aslimu saja kamu ngga berani kamu tonjolkan..belaga mengerti benar salah lagi..

    ReplyDelete
  6. nah budha uda brapa kali reinkarnasi tuh?
    lo dlu jadi apa bung WE?
    klo gw kayanya dulu jadi NAGA trus jadi andi lau di film 2 fast 4 curious deh hahaha

    ReplyDelete
  7. ...mas.bang.mbak butuh pemahaman dan pengertian,,bukan kebodohan batin kyk anda (dba38.....)
    comment anda memberi jawaban atas pertanyaan sndiri kan.... belum dipahami,,ataau baca udah nanya yg aneh2... kamu bertanya , tanyakan pada pertanyaanmu itu sendiri,,

    ReplyDelete
  8. koreksi bli, sumber sutta soal dana itu Nidhikanda Sutta, yang tertulis disitu---> [Khuddaka Nikaya Sutta, Khuddakapatha.8]
    trims.

    ReplyDelete
  9. Salam Bapak Wirajhana
    Mohon waktu anda kiranya untuk saya ajak diskusi sejenak (baca:saya ingin belajar) .
    Terlepas dari frame claiming ajaran karma phala, diantara Hindu dan Budha konsep ini sudah sangat melekat dalam ajarannya. Namun jika dikaitkan dgn artikel diatas, perbedaan yang saya tangkap adalah tentang awal mula (asal muasal). Budha tdk mendeskripsikan awal mula ini, sedangkan ajaran Hindu memilih dengan menjelaskan tentang Teologi.
    Ketertarikan saya muncul ketika anda baik secara langsung/tidak langsung menyampaikan tidak ada keterkaitan antara Karma Phala dan Tuhan (sesuai judul artikel). Hal ini menggelitik dan saya pun mencoba mempertanyakan hal ini pada perspektif Hindu (umat Hindu), “Ketika anda menanam bibit padi disawah dan saat panen pun tiba, apakah hasil itu karna Karma anda atau karena anugerah Tuhan?” (begitu kiranya pertanyaan saya). Mengesampingkan jawaban bingung, kecenderungan jawaban adalah : Keduanya.
    Ketika saya coba gali lagi, di Candogya Upanisad menyebutkan Tat Twam Asi (itu adalah kamu) dan sering di asumsikan (benar atau tidak?) menjadi Aku adalah kamu. Siapa kah “AKU” ? “siapakah “Kamu”? Brahd Aranyaka Upanisad menyatakan “Aham Brahma Asmi”. Hal ini coba saya kaitkan dengan konsep Tri Sarira (tiga lapis pembungkus badan manusia) : Badan Kasar, Badan Halus, Badan Penyebab (Atma?)
    Jawaban “keduanya” (Karma dan Tuhan) saya asumsikan korelasinya pada Aku adalah Atma adalah Brahman. Maka bisakah kita katakan bahwa aku yang berkarma itu tidak terlepas dari unsur aku yang menyebabkan (lebih dalam lg memandang “Aku”; perspektif Hindu), sehingga jawaban “KEDUANYA” itu bisa dimengerti?
    Mohon tanggapannya.
    Trims.

    ReplyDelete
  10. note: saya juga kesulitan memahami dan membedakan konsep Tri Sarira tersebut. Ada "aku" yg dibungkus 3 lapisan ? lalu faktor lapisan mana yang berkarma?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam,
      Saya menemukan sekurangnya 3 model penjelasan dalam hinduism:
      Ide dasarnya adalah Atman Kembali ke Brahman. Untuk kembali ternyata ada jarak diantaranya. Jarak itu, ada yang menamakan itu unsur, lapisan, ketidaktahuan/Awidya selubung atma, selubung Maya dan masih banyak lagi [Brhadaranyaka Upanishad IV.4.vi, Brhadaranyaka Upanishad,, IV.iii.9, Chandogya Upanisad, Taittiriya Upanisad, Bhagawad Gita, dll].

      Yang menghalangi Atman kembali ke Brahman adalah ketidaktahuan/Awidya sebagai selubung atma/selubung Maya, contoh penjelasannya:
      Zat Padat/Tanah, Zat cairan/perekat, Panas/api, Gerak/angin, angkasa/ruang, pikiran, kecerdasan dan keakuan palsu. Keseluruhan delapan unsur ini merupakan tenaga material yang terpisah dariku.-[Bhagavad Gita 7.4, Lima pertama disebut badan materi/ panca mahaButa/Stula sarira dan tiga terakhir disebut tripremana sebagai badan halus/sukma sarira, yaitu manah/pikiran, budhi/kecerdasan dan ahangkara/keakuan palsu. Tripremana-lah yang menyertai roh mengembara dari satu tubuh ke tubuh yang lain]

      Model penjelasan lain:
      mahluk itu terdiri dari 3 Lapisan: badan Materi disebut Stula Sarira, kemudian badan jiwa disebut sukma Sarira dan bagian di antaranya disebut Antakharana-Çarira (Lapisan badan Penyebab). Lapisan badan penyebab atau Antakharana-Çarira, inilah yang sebagai pembawa dari Karma (Karma-Wasana) makhluk sejak berbagai kelahirannya yang lampau.

      Model penjelasan lain:
      Adanya panca Maya kosa (lima selubung yang membelenggu atman):

      1. Annamaya Kosa = unsur dari sari makanan;
      2. Pranamaya Kosa = unsur dari sari nafas;
      3. Manomaya Kosa = unsur dari sari pikiran;
      4. Wijnanamaya Kosa = unsur dari sari pengetahuan;
      5. Anandamaya Kosa = unsur dari kebahagiaan.

      Nomor 3, 4, dan 5 yang dibawa Atman menuju pada kelahiran kembali. Lapisan belenggu/pembungkus yang paling didalam dan yang paling sulit dibuang adalah yang bernama Anandamaya, sehingga atman yang masih terbungkus oleh Anandamaya disebut sebagai Anandamaya atma. Anandamaya adalah kebahagian atau kesenangan hidup yang dialami ketika atman masih mempunyai stula sarira (tubuh) yakni ketika masih hidup di dunia ini contohnya: ketika masih hidup di dunia. Jadi kebahagian dan kesenangan itu sifatnya keduniawian yang dinikmati dari Panca Indria yaitu: pendengaran, penglihatan, penciuman, rasa lidah, dan rasa kulit (termasuk sex).

      Kelahiran kembali (Punarbhawa/Reinkarnasi) terjadi karena Ia harus menanggung hasil perbuatan pada kehidupannya yang terdahulu (karma) [Sisanya lihat di: From Hero To Zero: Pengakuan Sain, Agama Langit dan Bumi terhadap Kelahiran Kembali/Reinkarnasi!]

      Namun,
      apapun penjelasan itu, ada satu lagi penghalangnya, yaitu KEPUTUSAN TUHAN, jadi, walaupun telah melakukan perbuatan baik, namun jika tuhan berkehendak ia terlahir, maka ia (jiwa) tetap saja akan menjelma kembali (anda bisa lihat di pembukaan Mahabharata, ketika Wisnu hendak melakukan lila, ia meminta para deva/devi turun kedunia untuk ikut bermain).

      Dalam konsep karmaphala, perbuatan manusia itu sendiri yang akan membawanya terlahir kembali/tidak tidak memerlukan campurtangan pihak lain. Sementara dalam konsep ketuhanan, apapun perbuatan itu, tuhan sendiri yang punya kehendak, hendak dibawa ke mana jiwa itu.

      Jadi menurut saya,
      konsep karmaphala dan konsep ketuhanan menjadi tidak cocok untuk berjalan bersama. Konsep ketuhanan mengganggu jalannya konsep karmaphala atau dengan kata lain, konsep karmaphala tidak memerlukan kehadiran tuhan. Dalam konsep ketuhanan, kemauan tuhanlah yang utama dan tidak penting lagi hasil perbuatan itu baik atau buruknya semuanya tuhan yang punya keputusan.

      Salam.

      Delete
    2. Terima kasih tanggapannya Bapak Wirajhana.
      Dari paparan anda setidaknya memberikan sudut pandang yang baru buat saya. Memang pada awalnya saya pun berfikir bahwa kedua konsep ini (Karma Phala dan Tuhan) nampaknya terpisah, namun sampai saya bertemu dengan konsep "kembali ke asal" dalam Hinduism yg membuat saya kembali ingin menggali.

      Yang dapat saya tangkap dari uraian anda diatas, anda mencoba split ttg bagaimana konsep menyatunya Atman dengan Brahman (Hinduism); dan penyebab reinkarnasi (Budhism), dan saya sependapat (jika benar ini maksud anda).

      Saya juga sependapat bahwa reinkarnasi ada karena perbuatan manusia itu sendiri, saya juga tidak jarang mendengar istilah 'Karma Wesana'. Persamaan yang pasti dalam Hinduism dan Budhism tentang konsep karma phala sebagai penyebab punarbhawa adalah sama-sama memperhatikan karma kita agar terhindar dari punarbhawa/tidak lagi memiliki phala (anda sependapat?) . Konsep Budhism yg mengajarkan dengan bergerak kearah padamnya keinginan (Nibbana), dan konsep Hinduism yang mengajarkan lepas dari ikatan/Moksa (namun disini ditambahkan unsur Tuhan).

      Memang benar bahwa bahkan jika berbuat baik sekalipun akan tetap reinkarnasi (dalam Hinduism), karna (sejauh yang saya tau) untuk mencapai tujuan tertinggi (tdk reinkarnasi) tidak cukup hanya berbuat baik saja, namun benar2 bermanfaat positif bagi semua dan tidak terikat akan perbuatan itu. jadi memang betul kedua konsep itu (Karma Phala dan Tuhan) tidak cocok berjalan bersama karena berkarma untuk ber-phala bukanlah TUJUAN yang tertinggi.

      Conclusion (saya): Kita semua yang menentukan arah TUJUAN kita sendiri.

      Mohon tambahan (koreksi) jika terdapat kekeliruan dlm frame berfikir saya. Terima Kasih

      Salam,-


      Delete