Friday, March 28, 2008

Benarkah Yesus pergi Ke India?


Yesus pernah ada di india! Itulah yang tersirat dari buku "La Vida Secreta De Jesus/The Secret Life of Jesus",yaitu di kehidupan Yesus saat Ia berusia 12-30 tahun:
    Manuskrip tersebut terus menceriterakan kehidupan Yesus dengan mengatakan, bahwa pada usia empatbelas tahun beliau melintasi Sind dan menetapkan dirinya untuk memilih daerah ber-Tuhan. Kemasyhuran beliau tersebar luas ke seluruh daerah utara Sind, dan, ketika beliau menjelajahi Ainjab, suatu daerah yang mempunyai lima sungai, para penyembah Tuhan Jaina memohon dengan sangat kepada beliau untuk tinggal bersama mereka. Tetapi beliau meninggalkan mereka dan berjalan terus menuju Jagannath di negeri Orissa, di sana telah tinggal Vyasa-Krishna. Di sana beliau diterima dengan suka-cita oleh para pendeta Brahma, kemudian mengajarkan beliau untuk membaca dan mempelajari Kitab Weda, untuk menyelamatkan dirinya langsung dengan sembahyang, untuk menerangkan Kitab Suci kepada orang-orang dan untuk mengusir roh jahat dari jasad manusia dan mengembalikannya kepada bentuk wujud manusia yang seutuhnya. Yesus tinggal di Jagannath, Rajagriba, Benares dan di kota-kota suci lainnya selama enam tahun; setiap orang menyukai beliau, dan beliau tinggal dalam kedamaian bersama para Waisya dan Sudra, beliau mengajarkan Kitab Suci kepada mereka.

    Yesus membuat musuh pertamanya ketika beliau membicarakan masalah persamaan umat manusia, karena para Brahmana menganggap bahwa para Sudra itu sebagai budak dan menetapkan bahwa hanya kematianlah yang akan membebaskan mereka. Para Brahmana mengajak beliau untuk meninggalkan para Sudra itu dan memeluk agama Brahmin, tetapi Yesus menolak dan bahkan mengajarkan kepada para Sudra untuk menentang para Brahmin dan Kesatria, memberantas penyembahan berhala dan membicarakan ketauhidan dan segala kemaha-kuasaan Tuhan. Beliau dengan keras sekali mengutuk ajaran yang memberikan kekuasaan kepada orang untuk merampok orang lain yang baik, dan bahkan mengajarkan bahwa Tuhan tidak mengajarkan perbedaan di antara anak-anak-Nya, semua sama-sama dicintai. Karenanya para pendeta Brahmin membencinya dan berniat untuk menangkap dan membunuhnya, mereka mengirim para tukang jagal mereka untuk mencarinya. Tetapi Yesus telah diperingatkan oleh para Sudra akan bahaya yang mengancam itu. Beliau meninggalkan Jagannath di waktu malam, maka akhirnya sampailah di pegunungan dan menetapkan dirinya untuk pergi ke negeri Gautama, di mana di sana Sanghiyang Buddha dilahirkan, di antara para penyembah Tuhan Yang Maha Esa yakni Sang Brahma.
Adalah sangat janggal ketika, Yesus, seorang asing, yang berusia sangat muda (14 tahun) dapat diterima sangat baik oleh para Brahmin di India, di ajari bahasa Sangsekerta dan Veda di zaman awal tahun Masehi (lihat: Kapan Yesus lahir).

Zaman itu, Para Brahmin sangat ketat dan tegas memegang aturan Dharmasastra dan tentunya tidak akan sembarangan mengajarkan Veda apalagi terhadap orang yang asing sama sekali.

Yesus, dikatakan mempelajari Veda dengan hanya membutuhkan waktu selama 6 tahun saja dan kemudian mengajarkan Veda kepada orang-orang lainnya.

Yang dimaksud dengan Veda, adalah:
Saṃhitās/mantras (Rig-Veda, Sama-Veda, Yajur-Veda, dan Atharva-Veda, dengan 89,000 padas (metric feet), di mana 72,000 ada dalam 4 Samhitas), Brahmanas (Instruksi tatacara melakukan ritual dan performance yang terdiri dari 24 kitab), Aranyakas (Philosopi dan interpretasi yang terdiri dari 11 buah), dan Upanishads (antara 108-300 Upanisad mengenai diskusi Philosopi, meditasi dan Dewa). Juga literatur lain seperti Shrautasutras dan Grhyasutras. 6 (enam) vedanga [Phonetics (Śikṣā), Meter (Chandas), Grammar (Vyākaraṇa), Etymology (Nirukta), Astronomy (Jyotiṣa), Ritual (Kalpa)], Purana (18 kitab Maha Purana) dan 2 Itihasa (sejarah)

Nah, semua yang di atas itu belum termasuk bahwa Ia datang ke India tanpa berbekal pengetahuan bahasa Sansekerta! dan tentunya Ia harus belajar dahulu.

Oke, Mungkin ada yang berpendapat: "Kan, Yesus adalah anak Tuhan, jadi tidak ada yang tidak mungkin bagiNya!"

Apabila alasan itu yang dikemukakan, maka untuk ukuran Ia sebagai Tuhan, waktu selama 6 (enam) tahun malah justru menjadi terlalu lama!

***

Setelah ia mempelajari Veda, maka Ia tahu mengenai ketuhanan Hindu. Ia akan fasih menyebut Indra, Surya, Agni Brahma, dan Visnu sebagai Nama Tuhan dan/atau sebagai dewa

Namun, entah mengapa, bagaikan terkena amnesia berat! Pengetahuan dan Pengalaman Yesus selama 6 Tahun tersebut tidak pernah muncul di Alkitab!

Ia bahkan tidak pernah menyebut TuhanNya sebagai Brahma atau Agni atau Surya dll.

Atau, jika Ia tidak mempercayai mahluk2 yang disebutkan diatas sebagai Tuhan atau Mahluk suci, Ia pun tidak pernah menyatakan bahwa nama-nama diatas adalah Setan atau Iblis!

Hikayat mengatakan bahwa Ia begitu getol memperjuangkan kesetaraan umat manusia dengan “nekad” mengajarkan Veda kepada kaum sudra, anehnya justru saat ia kembali ke Israel, Ia malah kembali menjadi "bodoh" dengan tegas-tegasan menyatakan bahwa Ia datang hanya untuk umat Israel!

Jadi, apabila hikayat itu benar, bukankah ini merupakan suatu amnesia yang sangat Parah?

***

Dikatakan pada Hikayat diatas,

    Beliau meninggalkan Jagannath di waktu malam, maka akhirnya sampailah di pegunungan dan menetapkan dirinya untuk pergi ke negeri Gautama, di mana di sana Sanghiyang Buddha dilahirkan, di antara para penyembah Tuhan Yang Maha Esa yakni Sang Brahma.

    Setelah benar-benar mempelajari bahasa Pali, beliau mencurahkan waktunya untuk mempelajari gulungan-gulungan naskah kitab suci Sutra, dan dalam masa enam tahun beliau telah cakap menerangkan kitab suci tersebut. Kemudian beliau meninggalkan Nepal dan pegunungan Himalaya, turun ke lembah Rajputana dan pergi menuju arah Barat, kemudian mengajarkan keesaan dan hanya satu-satunya Tuhan serta menganjurkan orang-orang untuk membasmi perbudakan dan melarang menyembah berhala.
Bahasa Sansekerta adalah bahasa Veda, dan dipelajari hanya oleh kaum terpelajar dalam hal ini adalah Kaum Brahmana dan "hampir segelintir" kaum ksatria sedangkan bahasa Pali merupakan bahasa sehari-hari dan merupakan bahasa pergaulan.

Hikayat di atas sudah menyatakan bahwa Yesus rajin bergaul dengan kaum sudra. Kaum tersebut jelas tidak bisa berbahasa Sansekerta. Jadi, dengan bahasa apakah Yesus bercakap-cakap dan mengajari Veda kepada kaum sudra itu kalau bukan dengan bahasa Pali?

Dan, entah mengapa, bagaikan terkena amnesia berat! Tiba-tiba saja Ia tidak dapat lagi berbahasa Pali sehingga harus belajar!

***

Saat itu di Benares, semua yang menekuni ajaran Buddha mengetahui bahwa ajaran Buddha tidak akan membicarakan Tuhan sama sekali! Buddha menolak eksistensi Brahma sebagai Maha Pencipta dan Ia juga akan tahu bahwa upaya menuju pencerahan merupakan sebuah “usaha sendiri”, Ia akan mengetahui dan mengikuti apa kata ungkapan ajaran tersebut, yaitu "Apa yang di tanam, maka itu yang dipetik"

Sekembalinya Ia ke Israel, tentunya ia akan mengajarkan itu kepada orang-orang untuk tidak akan membicarakan Allah Bapa sama sekali, tidak akan meminta apapun kepada Allah Bapa.

Sehingga, saat Ia di salib, Ia pun tidak akan berteriak:

    “Tuhan..Tuhan mengapa kau tinggalkan aku!”.
Karena seharusnya Ia paham akan konsep Surga/Neraka, bahwa itu hanyalah sekedar kondisi masaknya buah karma [perbuatan] yang tidak permanen dan tak perlu menunggu kiamat dan dibangkitkan. Untuk memutuskan rantai tumimbal lahir (lahir kembali), maka Ia akan berupaya untuk mencapai Nibanna/Nirwana. Ia pun tidak akan pernah lagi berbicara mengenai adanya jiwa /roh yang kekal dan bahkan juga adanya Roh kudus!

Sekali lagi, entah mengapa, tidaklah ada “kabar baik” seperti di atas yang disampaikannya saat kembali ke Israel! Pengalaman dan Kehidupan selama 6 tahun di negeri Buddha, sama sekali tidak tercantum di Alkitab!

Ia malah mengajarkan untuk hidup bergantung pada Allah bapa, bahwa roh kudus itu ada, bahwa jiwa/roh itu adalah ada dan juga kekal. Bahwa kehidupan terjadi hanya satu kali saja dan tidak akan ada kelahiran kembali! dan Pada hari penghakiman nanti, Ia-lah yang menjadi Hakimnya untuk mendapatkan ganjaran surga atau neraka selamanya.

Jadi, Apabila hikayat itu benar, bukankah ini merupakan Amnesia yang sangat Parah?

***

Setelah puas “main-main” di Benares dan Himalaya, hikayat menyatakan lanjutan perjalanannya sebagai berikut:

    Ketika beliau memasuki negeri Persi, para pendeta di sana memperingatkan rakyat dan melarang mereka untuk mendengarkan ucapan-ucapan beliau; tetapi rakyat masih saja mendengarkan beliau, maka para pendeta menangkap beliau dan membawanya ke hadapan mereka. Kemudian mereka berbicara bersama beliau lama sekali, dan Yesus mencoba meyakinkan mereka agar tidak mendewakan matahari dan tidak mendewakan Tuhan yang Baik dan Tuhan yang Jahat, menjelaskan kepada mereka bahwa matahari itu hanyalah benda ciptaan Tuhan, dan Tuhan Yang Maha-kuasalah yang benar-benar Tuhan dan hanya satu-satunya dan tidak ada Tuhan yang jahat.

    Para pendeta mendengarkan beliau dan memutuskan untuk tidak menganiaya beliau; tetapi di waktu malam hari, sementara orang-orang sedang tidur nyenyak, mereka menangkap beliau dan membuangnya ke luar tembok kota, dan membiarkannya di sana dengan harapan supaya diterkam binatang-binatang buas. Tetapi Yesus melanjutkan perjalanannya dengan aman dan segar bugar, hingga akhirnya sampai kembali di Israel ketika beliau berusia duapuluh sembilan tahun.
***

Dari "The Unknown Life of Jesus Christ", by Nicolas Notovitch [1890], A FESTIVAL IN A GONPA, hal 142-148

    "In a visit which I recently made to a gonpa, one of the lamas told me of a prophet, or, as you call him, a buddha, by the name of Issa. Could you not tell me anything about him?" I asked my interlocutor, seizing this favorable moment to start the subject which interested me so greatly.

    "The name Issa is very much respected among the Buddhists," he replied, "but he is only known by the chief lamas, who have read the scrolls relating to his life. There have existed an infinite number of buddhas like Issa, and the 84,000 scrolls existing are filled brim full of details concerning each one of them. But very few persons have read the one-hundredth part of those memoirs. In conformity with established custom, every disciple or lama who visits Lhassa makes a gift of one or several copies, from the scrolls there, to the convent to which he belongs. Our gonpa, among others, possesses already a great number, which I read in my leisure hours. Among them are the memoirs of the life and acts of the Buddha Issa, who preached the same doctrine in India and among the sons of Israel, and who was put to death by the Pagans, whose descendants, later on, adopted the beliefs he spread,--and those beliefs are yours.

    "The great Buddha, the soul of the Universe, is the incarnation of Brahma. He, almost always, remains immobile, containing in himself all things, being in himself the origin of all and his breath vivifying the world. He has left man to the control of his own forces, but, at certain epochs, lays aside his inaction and puts on a human form that he may, as their teacher and guide, rescue his creatures from impending destruction. In the course of his terrestrial existence in the similitude of man, Buddha creates a new world in the hearts of erring men; then he leaves the earth, to become once more an invisible being and resume his condition of perfect bliss. Three thousand years ago, Buddha incarnated in the celebrated Prince Sakya-Muni, re-affirming and propagating the doctrines taught by him in his twenty preceding incarnations. Twenty-five hundred years ago, the Great Soul of the World incarnated anew in Gautama, laying the foundation of a new world in Burmah, Siam and different islands. Soon afterward, Buddhism began to penetrate China, through the persevering efforts of the sages, who devoted themselves to the propagation of the sacred doctrine, and under Ming-Ti, of the Honi dynasty, nearly 2,050 years ago, the teachings of Sakya-Muni were adopted by the people of that country. Simultaneously with the appearance of Buddhism in China, the same doctrines began to spread among the Israelites. It is about 2,000 years ago that the Perfect Being, awaking once more for a short time from his inaction, incarnated in the new-born child of a poor family. It was his will that this little child should enlighten the unhappy upon the life of the world to conic and bring erring men back into the path of truth; showing to them, by his own example, the way they could best return to the primitive morality and purity of our race. When this sacred child attained a certain age, he was brought to India, where, until he attained to manhood. he studied the laws of the great Buddha, who dwells eternally in heaven."

    "In what language are written the principal scrolls bearing upon the life of Issa?" I asked, rising from my seat, for I saw that my interesting interlocutor evidenced fatigue, and had just given a twirl to his prayer-wheel, as if to hint the closing of the conversation.

    "The original scrolls brought from India to Nepaul, and from Nepaul to Thibet, relating to the life of Issa, are written in the Pali language and are actually in Lhassa; but a copy in our language--I mean the Thibetan--is in this convent."

    "How is Issa looked upon in Thibet? Has he the repute of a saint?"

    "The people are not even aware that he ever existed. Only the principal lamas, who know of him through having studied the scrolls in which his life is related, are familiar with his name; but, as his doctrine does not constitute a canonical part of Buddhism, and the worshippers of Issa do not recognize the authority of the Dalai-Lama, the prophet Issa--with many others like him--is not recognized in Thibet as one of the principal saints."

    "Would you commit a sin in reciting your copy of the life of Issa to a stranger?" I asked him.

    "That which belongs to God," he answered me, "belongs also to man. Our duty requires us to cheerfully devote ourselves to the propagation of His doctrine. Only, I do not, at present, know where that manuscript is. If you ever visit our gonpa again, I shall take pleasure in showing it to you."

Terdapat satu permasalahan kecil mengenai kebenaran pernyataan di atas, yaitu Ajaran Buddha sampai di Tibet baru pada abad ke 5-6 Masehi dan Yesus pun sudah lama meninggal saat ajaran Buddha sampai di Tibet. Hal lainnya adalah kanon-kanon sutra Pali yang sejumlah 84.000 sutra itu sama sekali tidak pernah menyinggung adanya nama Issa, apalagi menyatakan Ia sebagai Buddha Issa. Jadi pernyataan mengenai adanya Buddha Issa sudah merupakan sesuatu yang aneh

Permasalahan berikutnya adalah Alfabet bahasa Tibet baru dikembangkan oleh raja yang memerintah Tibet pada abad ke 7, jadi semua tulisan berbahasa Tibet tidak pernah muncul sebelum abad ke 7 dan yang datang ke Tibet jelas bukanlah Issa!

***

notovich.htm:

    Kemudian pada tahun 1895, seorang bernama J.A. Douglas, professor pada Universitas milik pemerintah di Agra, India melakukan penyisiran jejak Notovitch's di Tibet. Ia mewawancarai kepala biara dimana Notovitch pernah mengklaim keberadaan naskah itu. Douglas akhirnya memperoleh pernyataan tertulis yang sah dari kepala biara yang menyatakan bahwa kisah Notovitch adalah bohong! Douglas memastikan bahwa tidak ada satupun naskah yang mengungkapkan keberadaan Issa atau Jesus di Tibet. Ia kemudian mempublikasikan penemuannya pada sebuah jurnal bulanan terkenal yaitu The Nineteenth Century (The Chief Lama of Himis on the Alleged Unknown Life of Christ April 1896).
***

Jesus_in_india.htm:

    Seorang peneliti India, Swami Abhenanda, mengujungi Himis dan memperoleh konfirmasi dari para Lhama bahwa biara ternyata mempunyai naskah yang menyinggung mengenai nama Issa, pengunjung lainnya yaitu Nicholas Roerich juga menyatakan cerita yang sama.

    Akhirnya Notovich mengklaim bahwa para pedagang yang berasal dari Isrel yang juga merupakan saksi dari peristiwa penyaliban Yesus-lah yang datang dan kemudian membawa cerita tentang yesus ke India bukan yesus pernah tinggal di India (halaman 32).

    Seorang bernama George, anak dari Nicholas Roerich, juga menyatakan membaca terjemahan naskah itu, dan mengungkapkan hal yang sama seperti dikemukakan Notovitch, namun itupun hanya muncul di satu naskah di Himis dan juga tidak menyatakan bahwa Issa sendiri pernah datang ke biara. Lebih jauh lagi satu-satunya naskah itu didasarkan pada cerita yang diperoleh dari pedagang yang kebetulan lewat dan tidak mewakili sama sekali sebagai saksi atas keberadaan Jesus di India dan Tibet
***

Perlu diketahui bahwa para missionaries portugis, menginjakan kaki untuk pertama kalinya di Tibet pada tahun 1624. Penguasa Tibet saat itu memperbolehkan mereka untuk membangun Gereja. Kemudian pada 1827-1831 datang seorang bernama Sándor Kőrösi Csoma, (Alexander Csoma de Kőrös), seorang philologist and orientologist, yang merupakan pengarang pertama kamus dan tata bahasa Tibetan-English. Pada tahun 1831 Csoma bergabung dengan Royal Asiatic Society of Bengal in Calcutta. The “Asiatic Society of Bengal” (Calcutta) didirikan pada tahun 1784 oleh Sir William Jones dibawah perlindungan Warren Hastings, Gubernur Jendral pertama Inggris di India. Pada bagian berikut akan dikemukakan salah satu fungsi “mengerikan” dari Asiatic society.

***

Cerita mengenai Yesus juga tercantum dalam kitab suci hindu yaitu Bhasvishya Purana: Pratisarga Parva, Chaturyuga Khanda Dvitiyadhyayah, 19th Chapter, Texts 17 to 32:

Texts 17 - 22
vikramaditya-pautrasca
pitr-rajyam grhitavan
jitva sakanduradharsams
cina-taittiridesajan

bahlikankamarupasca
romajankhurajanchhatan
tesam kosan-grhitva ca
danda-yogyanakarayat

sthapita tena maryada

mleccharyanam prthak-prthak
sindhusthanam iti jneyam
rastramaryasya cottamam

mlecchasthanam param sindhoh
krtam tena mahatmana
ekada tu sakadiso
himatungam samayayau

ekadaa tu shakadhisho
himatungari samaayayau
hunadeshasya madhye vai
giristhan purusam shubhano
dadarsha balaram raajaa

    "Ruling over the Aryans was a king called Salivahana, the grandson of Vikramaditya, who occupied the throne of his father. He defeated the Shakas who were very difficult to subdue, the Cinas, the people from Tittiri and Bahikaus who could assume any form at will. He also defeated the people from Rome and the descendants of Khuru, who were deceitful and wicked. He punished them severely and took their wealth. Salivahana thus established the boundaries dividing the separate countries of the Mlecchas and the Aryans. In this way Sindusthan came to be known as the greatest country. That personality appointed the abode of the Mlecchas beyond the Sindhu River and to the west. Once upon a time the subduer of the Sakas went towards Himatunga and in the middle of the Huna country (Hunadesh - the area near Manasa Sarovara or Kailash mountain in Western Tibet), the powerful king saw an auspicious man who was living on a mountain. The man's complexion was golden and his clothes were white.
Saat di mana Raja Shalivahana menaklukan saka (Vikramaditya) adalah saat dimulainya tahun saka, yaitu tahun 78 M dan raja Shalivahana adalah mutlak bukan cucu Vikramaditya melainkan seterunya! Apabila Yesus lahir di antara 8-4 SM, maka saat Ia bertemu dan mempersona raja Shalivahana, usianya berada dikisaran 82 - 86 tahun. Bhasvisya Purana ini, entah mengapa, sama sekali tidak menyinggung bahwa Yesus (Issa) adalah seorang yang sudah lanjut usia. Untuk masalah ini, kaum kresten/nasarani dihadapkan pada dua pilihan untuk mempercayai:
Pilihan yang cukup alot, bukan?!

Text 23
ko bharam iti tam praaha
su hovacha mudanvitah
iishaa purtagm maam viddhi
kumaarigarbha sambhavam

    "The king asked, 'Who are you sir?' 'You should know that I am Isha Putra, the Son of God'. he replied blissfully, and 'am born of a virgin.' "
Kumaari Garbha artinya Perawan! Ide bahwa Maria adalah Perawan bukan berasal dari masa-masa awal Kristen melainkan jauh sesudahnya.
    Yesaya 7:14
    Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel (allah beserta kita).

    American Standard Version:
    Therefore the Lord himself will give you a sign: behold, a virgin shall conceive, and bear a son, and shall call his name Immanuel

    Matius 1:23
    Behold, a virgin shall be with child, and shall bring forth a son, and they shall call his name Emmanuel, which being interpreted is, God with us.
Dalam bahasa Hebrew (Yesaya 7:14):
    hinneh ha-almah harah ve-yeldeth ben ve-karath shem-o immanuel
Perawan dalam bahasa Hebrew lebih dikenal dengan kata 'betulah'. Kata itu tidak muncul di ayat ini, sedangkan 'almah' berarti 'perempuan muda'. Di dalam kitab yesaya kata almah digunakan 1 kali dan kata betulah digunakan 5 kali, jadi secara signifikan dapat diartikan bahwa terdapat perbedaan arti yang jelas di antara keduanya. Pengarang Injil Matius kemudian mengartikannya dengan Perawan sebagai "pemenuhan ramalan" Yesaya 7:14.

Text 24
mleccha dharmasya vaktaram
satyavata paraayanam
iti srutva nrpa praaha
dharmah ko bhavato matah

    " 'I am the expounder of the religion of the Mlecchas and I strictly adhere to the Absolute Truth.' Hearing this the king enquired, 'What are religious principles according to you opinion?'

Texts 25 - 26
shruto vaaca mahaaraaja
praapte satyasya samkshaye
nirmaaryaade mlechadeshe
masiiho 'ham samagatah

iishaamasii ca dasyuunaa
praadurbhuutaa bhayankarii
taamaham mlecchataah praapya
masiihatva mupaagatah

    "Hearing this questions of Salivahara, Isha putra said, 'O king, when the destruction of the truth occurred, I, Masiha the prophet, came to this country of degraded people where there are no rules and regulations. Finding that fearful irreligious condition of the barbarians spreading from Mleccha-Desha, I have taken to prophethood'."

Texts 27 - 29
mlecchasa sthaapito dharmo
mayaa tacchrnu bhuupate
maanasam nirmalam krtva
malam dehe subhaasbham

naiganam apamasthaya
japeta nirmalam param
nyayena satyavacasaa
manasyai kena manavah

dhyayena pujayedisham
suurya-mandala-samsthitam
acaloyam prabhuh sakshat-
athaa suuryacalah sada

    "Please hear Oh king which religious principles I have established among the mlecchas. The living entity is subject to good and bad contaminations. The mind should be purified by taking recourse of proper conduct and performance of japa. By chanting the holy names one attains the highest purity. Just as the immovable sun attracts, from all directions, the elements of all living beings, the Lord of the solar region, who is fixed and all-attractive, attracts the hearts of all living creatures. Thus by following rules, speaking truthful words, by mental harmony and by meditation, Oh descendant of Manu, one should worship that immovable Lord'."

Text 30
isha muurtirt-dradi praptaa
nityashuddha sivamkari
ishamasihah iti ca
mama nama pratishthitam

    "Having placed the eternally pure and auspicious form of the Supreme Lord in my heart, O protector of the earth planet, I preached these principles through the Mlecchas' own faith and thus my name became 'isha-masiha' (Jesus the Messiah)."

Text 31
iti shrutra sa bhuupale
natraa tam mlecchapujaam
sthaapayaamaasa tam tutra
mlecchasthaane hi daarune

    "After hearing these words and paying obeisances to that person who is worshipped by the wicked, the king humbly requested him to stay there in the dreadful land of Mlecchas."

Text 32
svaraajyam praaptavaan raajaa
hayamedhan ciikirat
raajyam kriitvaa sa shashthyabdam
svarga lokamu paayayau

    "King Salivahara, after leaving his kingdom performed an asvamedha yajna and after ruling for sixty years, went to heaven. Now please hear what happened when the king went to svargaloka."
Bhasvishya Purana setidaknya mempunyai 4 versi dan menariknya adalah semua versi tersebut baru muncul di 200 tahun belakangan ini, yaitu ketika Inggris menjajah India di abad ke 18. Pada literatur religius Hindu India, kisah-kisah digolongkan menjadi:
  • Kavya (isinya bisa jadi tidak benar namun dituliskan dengan cara yang sungguh Indah),
  • Purana (Cerita-cerita yang tidak sungguh-sungguh terjadi namun memiliki nilai pendidikan, tujuannya agar orang mengerti bahwa dengan berbuat baik akan mendapat pahala baik),
  • Itikatha merupakan kejadian-kejadian yang disusun secara kronologis ataupun kejadian-kejadian yang berbeda-beda dan
  • Itihasa berasal dari kata ‘hasati’ = tertawa, merupakan bagian Itikata yang mempunyai nilai pendidikkan
Dongeng Bhavishya, atau Bhasvisya purana disamping mengisahkan nama2 di atas, juga memuat ramalan mengenai kedatangan Inggris di India, di jaman pemerintahan ratu victoria (24 May 1819 – 22 January 1901), juga ramalan tentang Inggris yang membangun pabrik di kalkuta dan revolusi Industri di jaman Ratu Victoria. Jadi, di antara semua negara yang ada di dunia ini, Inggris tertulis sangat spesial hingga muncul di ramalan tersebut.

Menariknya, kitab ramalan tersebut, entah mengapa, semuanya terhenti di jaman ratu viktoria!

Setelah jaman Ratu Victoria, "Tuhan Hindu" tiba-tiba saja berubah menjadi pelit untuk memberikan ramalan tentang:
  • Penemuan Listrik [1879,Thomas Alfa Edison [1879], telepon [1876, Alezander Graham bell], Benyamin franklin, Komputer [1882, Charles Babbage; 1941 conrqd zuse], Micro Processor,dll
  • Perang dunia I [1914-1918, yang memakan korban 40 juta nyawa]
  • Lucunya lgi, tidak ada tulisan mengnenai Kemerdekaan India [1947]. India, koq bisa-bisanya, di anggap ngga penting untuk di munculkan di kitab asli tanah India sendri oleh Tuhannya Hindu!
  • Munculnya Hitler [1889-1945] dengan Nazi-nya yang mengambil korban 11-14 juta nyawa [termasuk 6 juta Yahudi] , Perang dunia II [1939-1949, yang memakan korban 50 juta nyawa], Jatuhnya bom atom [1945], di Hiroshima dan Nagasaki. Total nyawa hilang di 2 kota: 9-20% penduduk meninggal dan impact radiasi hingga hari ini, yaitu 220.000 nyawa, Krisis Ekonomi terburuk di tahun 1929/1930
  • Keganasan Biadab Komunisme [1917-1991]:

      • Vladimir Ilyich Lenin (1917-1923) membantai 500.000 rakyat Rusia yang menentang penerapan komunisme.
      • Joseph Stalin menghabisi 6 juta petani kulak yang rajin dan makmur. Stalin sangat kejam pada oposisi; dalam masa 28 tahun (1925-1953) ia membunuhi 40 juta rakyatnya sendiri.
      • Mao Ze-dong di RRC (1947-1976) membantai 50 juta bangsanya yang antikomunis.
      • Pol Pot, di kamboja (1975-1979) menghabisi hampir separuh rakyatnya sendiri [2,5 juta manusia].
      • Ketika perang Afghanistan (1978-1980-an), Afghan merah membantai sesama bangsanya sebanyak 1,2 juta orang.
      • Di Afrika tercatat angka 1,7 juta yang terbunuh,
      • Amerika Latin, terbunuh 150,000 orang, dan
      • Eropa Timur terdapat 1 juta korban terbunuh
      [Stephane Courtois, The Black Book of Communism-Crimes, Terror, Repression, Harvard University Press, 2000]
  • Manusia mejejakkan kaki untuk pertama kalinya di Bulan [1969, "satu langkah kecil bagi orang, satu lompatan raksasa bagi umat manusia."]
Pelitnya "Tuhan Hindu", baru bisa kita maklumi ketika membaca surat Sir William Jones kepada gubernur jendral India saat itu yaitu Sir Warren Hastings, yang mengupas upaya-upaya sistemik para misionaris dan Pemerintah penjajah Inggris untuk me-murtad-kan penduduk India menjadi Kristen yaitu mengubah2 terjemahan Sanskrit, memasukan terminologi nasrani, nabi ke dalam sanskrit dan menterjemahkannya lagi [Asiatic Researches Vol. 1. Published 1979, pages 234-235. First published 1788]:

    "As to the general extension [spreading] of our pure faith [Christianity] in Hindoostan [India] there are at present many sad obstacles to it... We may assure ourselves, that Hindoos will never be converted by any mission from the church of Rome, or from any other church; and the only human mode, perhaps, of causing so great a revolution, will be to translate into Sanscrit... such chapters of the Prophets, particularly of ISAIAH, as are indisputably evangelical, together with one of the gospels, and a plain prefatory discourse, containing full evidence of the very distant ages, in which the predictions themselves, and the history of the Divine Person (Jesus) is predicted, were severally made public and then quietly to disperse the work among the well-educated natives."

"The Life and Letters of Friedrich Max Müller." First published in 1902 (London and N.Y.). Reprint in 1976 (USA):
    "…I feel convinced, though I shall not live to see it, that this edition of mine and the translation of the Veda will hereafter tell to a great extent on the fate of India, and on the growth of millions of souls in that country. It is the root of their religion, and to show them what that root is, I feel sure, the only way of uprooting all that has sprung from it during the last 3,000 years." (to his wife, Oxford, December 9, 1867)

    "India has been conquered once, but India must be conquered again, and that second conquest should be a conquest by education. Much has been done for education of late, but if the funds were tripled and quadrupled, that would hardly be enough… A new national literature may spring up, impregnated with western ideas, yet retaining its native spirit and character… A new national literature will bring with it a new national life, and new moral vigour. As to religion, that will take care of itself. The missionaries have done far more than they themselves seem to be aware of."

    "The ancient religion of India is doomed, and if Christianity does not step in, whose fault will it be?" (to the duke of Argyll. Oxford, December 16, 1868)

"The true histrory and the religion of India", dinyatakan sebagai berikut:
    So, chapter three discloses such secret evidences (related to the English people) that have never been brought into the light by any of the previous researchers and scholars. For example: the secret suggestion of Sir William Jones to Warren Hastings in 1784 that tells how to confidentially fabricate a false Sanskrit scripture and betray the Hindus (p. 245); the well planned mutilation of the prime Sanskrit dictionary "Vachaspatyam" through Pandit Taranath of Calcutta (this dictionary is still being used in the Sanskrit colleges of India); fabrications in the Bhavishya Puran; the disappearance of Narayana Sastry's research manuscripts of 20 years' of hard work; and so on. [The true history and the religion of India: a concise encyclopedia of authentic hinduism, P 39, Prakashanand Saraswati, Edisi: berilustrasi, Diterbitkan oleh Motilal Banarsidass Publ., 2001, ISBN 8120817893, 9788120817890]
Dalam satu tulisannya di tahun 1784, Jones berusaha mendangkalkan berbagai bentuk kesucian Tuhan-Tuhan Hindu. Ia berusaha penuh menghancurkan keyakinan religious mereka, seperti pidatonya pada tahun 1786 yang berkaitan mengenai bahasa sansekerta dan pada pidato kesepuluhnya di tahun 1793 yang berkaitan dengan Kitab Purana.

Juga anda dapat pernyataan yang kurang lebih sama, yaitu Purana-purana Hindu banyak yang sudah di ubah keasliannya selama penjajahan Inggris di India, A review of the translation of Vishnu Puran by H.H. Wilson (1786-1860):


    First published 1832. Printed in India by Nag Publishers, Delhi, in 1980, and reprinted in 1989. In the preface of the Vishnu Puran, written by Mr. Wilson:

    “The facility with which any tract may be thus attached to the nonexistent original, and the advantage that has been taken of its absence to compile a variety of unauthentic fragments, have given to the Brahmanda, Skanda, and Padma, according to Wilford, the character of being the Puranas of thieves or imposters. Original copies don’t exist, thus all of them are made up and unauthentic.”

    “There is nothing in all this to justify the application of the name. Whether a genuine Garuda Purana exists is doubtful.” (p. lii)

    “The documents (the manuscripts of the Puranas) to which Wilford trusted proved to be in great part fabrications, and where genuine, were mixed up with so much loose and unauthenticated matter, and so overwhelmed with extravagance of speculation, that his citations need to be carefully and skillfully sifted, before they can be serviceably employed… legends apparently invented for the occasion renders the publication worse than useless.” (p. lxx)

    “The Brahm Vaivart, as it now exists… the great mass of it is taken up with tiresome descriptions of Vrindavana and Goloka, the dwellings of Krshna on earth and in heaven; with endless repetitions of prayers and invocations addressed to him; and with insipid descriptions of his person and sports, and the love of the Gopis… the stories, absurd as they are, are much compressed to make room for the original matter, still more puerile and tiresome. The Brahmavaivartta has not the slightest title to be regarded as a Purana.” (p. xl, xli)

    Condemns the description of brahmand as detailed in the Bhagwatam.

    “Mount Meru, the seven circular continents, and their surrounding oceans, to the limits of the world; all of which are mythological fictions, in which there is little reason to imagine that any topographical truths are concealed.” (p. lx)

    Criticizes the supreme Divinity of Krishn.

    “The fifth book of the Vishnu Purana is exclusively occupied with the life of Krshna. They are the creations of a puerile taste, and grovelling imagination. These chapters of the Vishnu Purana offer some difficulties as to their originality.” (p. lxviii)

    History: On p. lxii he describes that only 1,100 years passed between the Great War and Chandragupt (Maurya) whereas in the same book (Volume No. IV pp. 643-646) he relates a difference of 1,600 years. Moreover, he randomly fixes the date of Mahabharat war at 1400 BC, disregards all of our Divine records by calling them absurd, and crushes the entire history of all the dynasties of this manvantar (which is 120.5331 million years) into a period of about 4,600 years (1200 + 1400 BC + 1999 AD).

    We will now take two verses, the very first one and the very last one, of the Vishnu Puran to show the shortcomings of Wilson’s translations.

    The first verse starts like this:

    Wilson translates it, “May that Vishnu, who is the existent, imperishable Brahm, who is Ishwar, who is spirit.” The actual meaning of the word puman is the personal form of God. Thus, the meaning of the above verse is, “The eternally existing absolute brahm Who is Ishwar (the creator and maintainer of the universe), has a personal form.” Wilson changed the meaning of the word puman from ‘personal form’ to ‘spirit,’ because the Bible describes God as ‘spirit.’

    A line of the last verse is:

    In this verse, roopam, prakritipar and atmmayam are the key words. Roopam means the form or the body of God. Prakritipar means beyond the realm and the effects of maya, the cosmic power. Atmmayam means that the form of God is the form of His own absolute Divine being. Material beings have soul and body configuration, not God. The body of the personal form of God is eternal (sanatan = eternal) and simultaneously omnipresent.

    Thus, the meaning of the above sentence is: “The personal form (the Divine body) of God, Hari, is eternal, is beyond maya and is the form of His own absolute Divine being.” But Wilson translates it as: “Eternal Hari, whose essence is composed of both nature and spirit.”

    How wrong and adverse these translations are, is an example in itself. These translations give the idea that God has no personal form and whatever God is, is only spirit and is of a mayic nature, which means fully materialistic. The God of Wilson, in the holy Bible, is said to be ‘spirit,’ and also it is said in the Revelation that God looks like ‘a jasper and sardine stone.’ Probably Wilson was trying to bring his ‘stone, and spirit’ God into the Puranas. That’s why he has translated the Vishnu Puran like this and has tried to destroy the Divine and the Gracious theme of the Vishnu Puran
***

Bagaimana menurut Alkitab? Apakah Alkitab juga sepakat bahwa Yesus pernah ke India dan Tibet serta mempelajari Buddha dan Hindu?

Injil ternyata memberikan isyarat mengenai keberadaan Yesus ketika ia berumur 12-30 tahun!

Umur 12: Ia Kembali ke Nazareth:

    Lukas 2:51-52
    Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya
    Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia
Ia Datang lagi disekitar umur 30-an:
    Markus 1:9, Matius 3:13
    Pada waktu itu datanglah Yesus dari Nazaret di tanah Galilea, dan Ia dibaptis di sungai Yordan oleh Yohanes.
Keberadaannya di kampung, tenyata dikenali lingkungan mereka juga:
    Menurut Yoh 6:42,
    Kata mereka: "Bukankah Ia ini Yesus, anak Yusuf, yang ibu bapanya kita kenal? Bagaimana Ia dapat berkata: Aku telah turun dari sorga?"

    Matius 13:55-57,
    Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas? Dan bukankah saudara-saudara-Nya perempuan semuanya ada bersama kita? Jadi dari mana diperoleh-Nya semuanya itu?" Lalu mereka kecewa dan menolak Dia. Maka Yesus berkata kepada mereka: "Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya."

    Markus 6:3-4,
    Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita?" Lalu mereka kecewa dan menolak Dia. Maka Yesus berkata kepada mereka: "Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya."
***

Jadi, jadi umur 12-30 tahun ia hidup di Nazareth, Ia tidak pergi kemana2 Ia bekerja seperti ayahnya sebagai tukang kayu dan hidup bersama-sama dengan mereka, setelah berusia 12 tahun [13 th] melakukan bar Mitzvah (seperti juga Musa).

Yup! Kehidupannya selama kurun waktu itu SEHARUSNYA seperti tahapan umum yang gambarannya diberikan oleh Rabbi Jehudah, the son of Tema, Kohen Gadol (Rabbi tertinggi) Jerusalem [64 M],
    "At five years old one is fit for the Scripture, at ten years for the Mishnah, at thirteen for the fulfilling of the commandments, at fifteen for the Talmud, at eighteen for the bride-chamber, at twenty for pursuing a calling, at thirty for authority [..]"
[Note: Ratu Alexandra dari Jerusalem [139SM – 67SM], memerintahkan pentingnya pendidikan untuk anak2 muda. Pada 63SM, Rabbi Joshua ben Gamla menegaskan pendidikan mulai dari umur 6 tahun.

Namun demikian, ada kontroversi mengenai pendidikan Yesus:
    Ia dinyatakan tidak pernah bersekolah [Yohanes 7:15], Ia bisa menulis [Yohanes 8:6-8], Ia dapat membaca [Lukas 4:16-30], namun pada situasi yang sama, tidak ada keterangan bahwa Ia membaca sesuatu[Markus 6:1-6]
Namun, paling tidak, kita dapat pastikan bahwa pada waktu mudanya Ia dan saudara-saudaranya tidak kemana-mana! ada bersama mereka para penduduk di desa asalnya, hidup normal seperti layaknya anak-anak Yahudi lainnya, yaitu lahir, remaja dan besar sebagai seorang Yahudi!

***
Kapan Yesus Lahir?

    Tanggal 25 Desember bukanlah tanggal hari kelahiran Yesus. Pendapat ini diperkuat berdasarkan kenyataan bahwa pada malam tersebut para gembala masih menjaga dombanya dipadang rumput. (Lukas 2:8). Pada bulan Desember tidak mungkin para gembala masih bisa menjaga domba-dombanya di padang rumput sebab musim dingin pada saat tersebut telah tiba jadi sudah tidak ada rumput yang tumbuh lagi.

    Tanggal 25 Desember bukanlah tanggal hari kelahiran Yesus. Pendapat ini diperkuat berdasarkan kenyataan bahwa pada malam tersebut para gembala masih menjaga dombanya dipadang rumput. (Lukas 2:8). Pada bulan Desember tidak mungkin para gembala masih bisa menjaga domba-dombanya di padang rumput sebab musim dingin pada saat tersebut telah tiba jadi sudah tidak ada rumput yang tumbuh lagi.

    Dalam tradisi Romawi pra-Kristen, peringatan bagi dewa pertanian Saturnus jatuh pada suatu pekan di bulan Desember dengan puncak peringatannya pada hari titik balik musim dingin (winter solstice) yang jatuh pada tanggal 25 Desember dalam kalender Julian. Peringatan yang disebut Saturnalia tersebut merupakan tradisi sosial utama bagi bangsa Romawi. Agar orang-orang Romawi dapat menganut agama Kristen tanpa meninggalkan tradisi mereka sendiri, Paus Julius I memutuskan pada tahun 350 bahwa kelahiran Yesus diperingati pada tanggal yang sama.

    Pendapat lain mengatakan bahwa hari Natal ditetapkan jatuh pada tanggal 25 Desember pada abad ke 4 oleh kaisar Kristen pertama Romawi, Konstantin I. Tanggal 25 Desember tersebut dipilih sebagai Natal karena bertepatan dengan kelahiran Dewa Matahari (Natalis Solis Invicti atau Sol Invictus atau Saturnalia) yang disembah oleh bangsa Romawi. Perayaan Saturnalia sendiri dilakukan oleh orang Romawi kuno untuk memohon agar Matahari kembali kepada terangnya yang hangat(Posisi bumi pada bulan Desember menjauh dari matahari, seolah-olah mataharilah yang menjauh dari bumi).

    Oleh karena itu, ada dua aliran Kristen yang tidak merayakan tradisi Natal, yaitu aliran Advent dan Saksi-Saksi Yehuwa. Berkenaan Saksi-Saksi Yehuwa, mereka mulai tidak merayakan Natal sejak tahun 1926 ketika mereka mengetahui bahwa Natal mempunyai asal-usul Kafir, menurut buku Saksi-Saksi Yehuwa—Pemberita Kerajaan Allah, 1993, halaman 198-200.

    Tahun
    Tahun kalender Masehi diciptakan pada abad ke-6 oleh seorang biarawan yang bernama Dionysius Exignus. Tahun Masehi yang kita gunakan sekarang ini disebut juga anno Domini (Tahun Tuhan).

    Bagaimana ia bisa mengetahui bahwa Tuhan Yesus dilahirkan pada tahun 1 SM? Ia mengambil data dari catatan sejarah yang menyatakan bahwa pada tahun 754 kalender Romawi itu adalah tahun ke 15 dari pemerintahan Kaisar Tiberius seperti yang tercantum di Lukas 3:1-2. Data inilah yang dijadikan patokan olehnya untuk mengawali tahun 1 SM.

    Di samping itu ia juga mengambil data dari Lukas 2:1-2 yang menyatakan bahwa Kirenius (Gubenur dari Siria) pertama kali menjalankan program sensus.

    Walaupun demikian masih juga orang yang meragukannya, sebab menurut sejarahwan Yahudi yang bernama Flavius Josephus, raja Herodes meninggal dunia pada tahun 4 sebelum Masehi sehingga konsekuensinya tanggal lahir Yesus harus dimundurkan sebanyak empat tahun. Tapi teori ini pun tidak benar, sebab ia menganalisa tahun tersebut berdasaran adanya gerhana bulan pada tahun saat Herodes meninggal dunia yang terjadi di Yerusalem pada tanggal 13 Maret tahun 4 sebelum Masehi, tetapi para ilmuwan sekarang telah membuktikan bahwa gerhana bulan tersebut terjadi bukan pada tanggal tersebut diatas melainkan pada tanggal 9 Januari tahun 1 SM. [sumber: wikipedia.org:Natal]

    Scholars do not know the exact year or date of Jesus' birth or death. The Gospel of Matthew and the Gospel of Luke place Jesus' birth under the reign of Herod the Great, who died in 4 BC/BCE,[11] although the Gospel of Luke also describes the birth as taking place during the first census of the Roman provinces of Syria and Iudaea in 6 AD/CE.[12] Scholars generally assume a date of birth between 6 and 4 BC/BCE.[13] Jesus' ministry followed that of John the Baptist.[14] The Gospels name Pontius Pilate as the Roman prefect that had Jesus crucified, and Pilate was prefect of Iudea between 26 and 36 AD/CE.[15] [Sumber: wikipedia.org:Jesus]

    wikipedia.org: Chronology_of_Jesus:
[Kembali]

4 comments:

  1. http://groups.yahoo.com/group/BeCeKa/message/11034:
    Di' Wira yang telaten,

    Kontroversi ini memang sempat rame beberapa tahun yll. Saya tidak mau menduga-duga apa motifnya. Yang saya tahu memang ada yang berani mengklaim kalau beliau memang pernah dididik di India dan di pulangkan kembali sebelum pembaptisan di sungai Jordan itu, dan kembali ke India lagi setelah peristiwa 'kebangkitan' itu.

    Tapi yang saya sisakan di atas Wira... Di dalamnya saya tidak melihat satupun ayat-ayat Alkitab itu sendiri yang bisa mengantarkan pada kesimpulan di bawahnya: jadi umur 12-30 tahun ia hidup di Nazareth, Ia tidak pergi kemana2 , padahal sudah saya baca berulang-ulang. Apalagi yang bisa mengindikasikan usia, kecuali penjelasan di bawahnya. Jadi terkesan adanya sejenis 'pemaksaan intelek' disini.:-/

    Bisa beri saya kejelasan akan hal itu?

    Nah ...ttg. Jesus sebagai Avatara Vishnu saya sendiri memang tidak menyetujuinya. Kalau seorang Raja Yogi, Rshi atau Bodhisattva saya malah teramat sangat setuju. Sebab, jangankan seorang Raja Yogi, mereka yang sudah sedemikian terlatihnya di dalam Pranayama [Hatha Yoga] saja bisa mati suri dan dikubur berhari-hari, atau menyelam tanpa alat-bantu pernafasan di sungai, danau, atau laut berhari-hari sebelum nyembul kembali, kayak 'atlantis-man' yang punya insang itu:)

    Jadi di kalangan yogi yang seperti sama-sekali tidak aneh.

    Suksme,

    NR.

    ReplyDelete
  2. http://groups.yahoo.com/group/BeCeKa/message/11038:

    Dear All dan Pak NR,

    NR:
    "Tapi yang saya sisakan di atas Wira... Di dalamnya saya tidak melihat satupun ayat-ayat Alkitab itu sendiri yang bisa mengantarkan pada kesimpulan di bawahnya: jadi umur 12-30 tahun ia hidup di Nazareth, Ia tidak pergi kemana2 , padahal sudah saya baca berulang-ulang. Apalagi yang bisa mengindikasikan usia, kecuali penjelasan di bawahnya. Jadi terkesan adanya sejenis 'pemaksaan intelek' disini.:-/
    Bisa beri saya kejelasan akan hal itu?"
    ----
    Menurut saya:
    lukas 2:42:
    Ketika Yesus telah berumur dua belas tahun pergilah mereka ke Yerusalem seperti yang lazim pada hari raya itu.
    Lukas 2:51:
    Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya.
    Lukas 2:52:
    Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.
    -----
    Jadi, sejak 12 tahun, dijelaskan sepulangnya dari yerusalem, Ia kembali ke Nazareth dan tetap hidup dalam asuhan mereka (bapak dan Ibu) di Nazareth sampai makin besar.
    sampai seberapa Besar?
    ----
    Lukas 3:1
    Dalam tahun kelima belas dari pemerintahan Kaisar Tiberius, ketika Pontius Pilatus menjadi wali negeri Yudea, dan Herodes raja wilayah Galilea, Filipus, saudaranya, raja wilayah Iturea dan Trakhonitis, dan Lisanias raja wilayah Abilene,
    Lukas 3:3
    Maka datanglah Yohanes ke seluruh daerah Yordan dan menyerukan: "Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu,
    Lukas 3:21
    Ketika seluruh orang banyak itu telah dibaptis dan ketika Yesus juga dibaptis dan sedang berdoa, terbukalah langit
    Lukas 3:23
    Ketika Yesus memulai pekerjaan-Nya, Ia berumur kira-kira tiga puluh tahun dan menurut anggapan orang, Ia adalah anak Yusuf, anak Eli,
    -----
    Pernyataan "Yesus makin bertambah besar" dan akhir dari masa "asuhan mereka" disebutkan dengan kalimat bahwa ia mulai pekerjaannya di umur 30 tahun.
    Apabila statemen dari lukas adalah benar dan konsisten, yaitu "Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka", maka harus ada rekam jejak yang konsisten pula yang menyatakan bahwa setelah cukup diasuh maka kedatangannya pun harus dari Nazareth.
    Untuk itu mengutip beberapa ayat yang dikarang oleh pengarang injil lainnya dibawah ini, dapat dianggap sebagai konfirmasi yang konsisten dengan Luk 2:51 bahwa Ia memang tetap di Nazareth sampai berumur 30 tahun.
    ---
    Mat 3:13
    Maka datanglah Yesus dari Galilea ke Yordan kepada Yohanes untuk dibaptis olehnya.
    mark 1:9
    Pada waktu itu datanglah Yesus dari Nazaret di tanah Galilea, dan Ia dibaptis di sungai Yordan oleh Yohanes.
    ----
    Jadi 12 tahun ia kembali ke nazareth dan menjalani kehidupan Yahudi lainnya dan 30 tahun ia datang dari nazareth.
    Dan semua Informasi yang menyatakan Ia traveling ke India sebelum usia 30 tahun tidak menyatakan konsistensi kebenaran.
    ---

    Penjelasan ini, mudah2an memuaskan. Tks to tanggapan dan pertanyaan penting dari Pak NR, maka tambahkan informasi ini juga saya tambahkan kedalam artikel di Blog.

    tks.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wir,
      1. Di BBC dokumenter, dibilang bahwa ajaran "kasihilah musuhmu" gak pernah ada di Yahudi. Dari situ ditarik ide kalo yesus dapet pengaruh dari somewhere in india. Bukti keberadaannya di india saat usia 14-29 emang ga terlalu kuat, tapi bukti kalo dia stay home juga ga terlalu kuat.

      2. Di veda ada paham inkarnasi & ini mirip ama "putra tuhan" atau "putra sorga". apa mungkin dia hanya mempelajari veda sepotong2, dan tidak menyetujui semua isi veda alias "pilih2" ajaran yg bisa dibawa pulkam?

      Delete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete