Sunday, January 13, 2008

Jalan Simpang bagi Tuhan!


Pengantar

Bisakah kita hidup tanpa agama? Dapatkah kita beretika tanpa Tuhan? Atau, adakah sesuatu yang disebut "spiritualitas ateis"?

Menurut Comte-Sponville,
Kita bisa saja memisahkan konsep spiritualitas dari agama dan Tuhan, dan pandangan ini tentu tidak mereduksi hakikat kehidupan spiritual yang sebenarnya. Kendati demikian, kita tidak perlu menolak nilai-nilai dan tradisi-tradisi kuno—semisal Islam, Kristen, dan Yahudi—yang jadi bagian dari warisan kita saat ini. Tetapi, kita mesti memikir ulang relasi kita dengan nilai-nilai tersebut serta bertanya apakah nilai-nilai itu signifikan bagi kebutuhan manusia untuk berhubungan antara satu dengan lainnya dan alam semesta.

"Tuhan, menurut logika, tidak selalu dibutuhkan. Namun demikian, kita tetap bisa memiliki cinta, perilaku etis, dan bahkan pengalaman abadi."—Publishers Weekly

***

Dalam Menerima dan menolak suatu kepercayaan, Sang Buddha, dihadapan para penduduk Suku Kalama pernah menyatakan sebagai berikut:
    Suku Kalama, memang sudah sewajarnya kalian bimbang dan bingung. Karena dengan kebimbangan dan kebingungan, tiada kebenaran, menjauhkan kita dari kebebasan (keselamatan). Maka itulah, suku Kalama,

    jangan semata-mata mempercayai meskipun hal itu tampak benar dan dianut oleh mayoritas,
    jangan semata-mata mempercayai meskipun suatu hal merupakan tradisi yang telah diwariskan turun temurun,
    jangan semata-mata mempercayai meskipun suatu hal tercantum dalam kitab-kitab suci,
    jangan semata-mata mempercayai meskipun suatu hal disampaikan oleh tokoh-tokoh agama ternama,

    tetapi suku Kalama,
    seandainya kalian sendiri telah menyadarinya, merenungkannya, berdasarkan akal sehat dan pengalaman sendiri, bahwa sesuatu hal itu memang patut diterima atau dipercayai, mengandung kebenaran, menuju kebahagiaan, maka sudah selayaknya, suku Kalama, untuk menerima, dan hidup berdasarkan hal-hal tersebut. (Kalama Sutta; Anguttara Nikaya 3.65)

Kumpulan Artikel Relevan:

[kembali ke Pengantar]

Ateisme

Penulis Perancis abad ke-18, Baron d'Holbach adalah salah seorang pertama yang menyebut dirinya ateis. Dalam buku The System of Nature (1770), ia melukiskan jagad raya dalam pengertian materialisme filsafat, determinisme yang sempit, dan ateisme. buku ini dan bukunya Common Sense (1772) dikutuk oleh Parlemen Paris, dan salinan-salinannya dibakar di depan umum.

Ateisme sebagai pandangan filosofi adalah posisi yang tidak mempercayai akan keberadaan tuhan dan dewa nonteisme atau menolak teisme sekaligus. Walapun ateisme seringkali di samakan ireligiusitas, beberapa filosofi religius seperti teologi sekuler dan beberapa macam dari Buddhisme Theravada tidak mempercayai akan tuhan pribadi.

Banyak ateis bersikap skeptis kepada keberadaan fenomena paranormal karena kurangnya bukti empiris. Yang lain memberikan argumen dengan dasar filosofis, sosial, atau sejarah. Walaupun banyak dari yang mendefinisikan dirinya sebagai ateis cenderung ke pada filosofi sekular seperti humanisme dan natiralisme, tidak ada ideologi atau perilaku spesifik yang dijunjung oleh semua ateis.

Asal Istilah
Kata ateisme berasal dari kata sifat dalam Bahasa Yunani Kuno yang berarti "tidak bertuhan". Pada awalnya ateisme digunakan sebagai julukan peyoratif yang di gunakan untuk menyebut orang-orang yang kepercayaannya bertentangan dengan agama yang sudah mapan di lingkungannya. Dengan menyebarnya pemikiran bebas, skeptisme ilmiah, dan kritik terhadap agama, istilah ateis mulai dispesifikasi untuk merujuk kepada mereka yang tidak percaya kepada tuhan.

Ateisme bukanlah percaya bahwa Tuhan tidak ada melainkan tidak percaya bahwa Tuhan ada. Dengan kata lain, atheisme bukan merupakan kepercayaan atau keyakinan melainkan sistem ketidakpercayaan atau ketidakyakinan. Ateisme bukan merupakan suatu agama, tidak memiliki ajaran resmi selayaknya agama pada umumnya, dan bukan merupakan suatu pemikiran 'anti-agama' atau 'anti-tuhan'. Ateisme bukanlah agama karena tidak punya ajaran tertentu, tidak punya kitab suci tertentu, dan tidak juga menyembah apapun.

Ateisme sama sekali berbeda dengan komunisme. Komunisme pada umumnya ateis, tetapi ateis tidak berarti komunis. Komunisme adalah sebuah sistem pemikiran yang dapat dikembangkan menjadi ideologi dan bahkan sistem pemerintahan, sementara ateisme merupakan sistem ke(tidak)percayaan.

Agnostisisme tidak sama dengan ateisme. Agnostisisme artinya tidak mengetahui apakah Tuhan ada atau tidak. Sementara ateisme tidak mempercayai keberadaan Tuhan.

Pemikiran bahwa Tuhan tidak ada tidak berarti juga berpikir bahwa manusia bebas melakukan apapun. Ateisme hanyalah suatu keadaan sebatas 'tidak percaya bahwa Tuhan ada', tidak lebih dari itu. Tidak ada jaminan bahwa seorang ateis akan berbuat semaunya, seperti juga tidak ada jaminan seorang beragama dan percaya pada Tuhan akan berbuat baik.

Seorang ateis juga dapat (dan umumnya) menjadi seorang humanis. Terdapat juga mereka yang menjadi sadis seperti Josef Stalin yang telah terbukti membunuh 30 juta jiwa rakyatnya sendiri (walaupun perlu ditekankan bahwa yang kekejaman yang dilakukan Stalin bukan semata karena ia tidak percaya kepada tuhan namun karena ideologi komunisme yang ia selewengkan), maupun menjadi seperti Voltaire yang memperjuangkan kebebasan rakyat jelata Prancis dari kungkungan penguasa pemerintahan dan penguasa agama yang absolut. [Sumber: wikipedia]

[kembali ke kumpulan artikel]

Ateisme dalam Dunia Islam

Pada abad ke-9, dua abad setelah Muhammad tiada, ateisme (zindiq) mulai muncul di dunia Islam. Tokohnya yang terkenal antara lain Abu Bakr Muhammad ibn-Zakariyya ar-Razi (865-925), Abu al-Husain Ahmad bin Yahya bin Ishaq ar-Rawandi dan Ibn al-Muqaffa'.

Abdurrahman Badawi (1945) dalam "Min-Tarik al-Ilhad fi al-Islam", yang sudah diterjemahkan oleh Khoiron Nahdiyyin dalam "Sejarah Ateis Islam" (LKis Jogjakarta, 2003) memaparkan berkembangnya zindiq di jazirah Arab dan Baghdad (Iraq) yang berpusat di Mekkah, Basra, Kufah dan Madinah. Badawi menukilkan beberapa pendapat para skeptis dalam karya mereka:

Kitab az-Zumurruz (Ibn ar-Rawandi)
Bab Burzawaih (Ibn al-Muqaffa')
Makhariq al-Anbiya (Ibn Zakariyya ar-Razi)

ar-Rawandi:
"Rasul mengajarkan sesuatu yang bertentangan dengan akal, seperti shalat, mandi besar, melempar batu (jumrah), tawaf di sekitar Ka'bah yang tidak dapat mendengar dan melihat, dan lari-lari di antara dua batu yang tidak dapat memberi kemanfaatan dan kemudharatan; semua ini tidak dapat diterima dengan akal. Safa dan Marwa tidak ada bedanya dengan gunung Abi Qubais dan Hara. Tawaf di sekeliling K'abah tidak ada bedanya dengan mengelilingi rumah-rumah lainnya" (Abu al-Husain Ahmad bin Yahya bin Ishaq ar-Rawandi, Kitab az-Zumurruz)

al-Muqaffa':
Ia menyebut jamaah yang sedang tawaf di Ka'bah sebagai binatang dan jembel!

Ibnu Abi al-Auja' dan Ibn al-Muqaffa' melihat sekumpulan manusia yang menjalankan tawaf di seputar Ka'bah. Ibn al-Muqaffa' mengatakan kepada para sahabatnya: "Tak seorang pun diantara mereka berhak mendapatkan sebutan manusia kecuali orang tua yang duduk itu (ia menunjuk pada Ja'far bin Muhammad), sementara yang lainnya hanyalah jembel-jembel dan binatang ternak" (Ibnu Babawaihi al-Qumi asy-Syi'i dalam Kitab al-Tauhid, Hajar (ed.) Bombay, 1321, hal. 114)

Muhammad Ibn Zakariya ar-Razi:
Ia mengejek ulama dan sufi sebagai kambing berjenggot.
"Mereka (manusia) sebenarnya tertipu oleh jenggot-jenggot panjang kambing hutan dan kain-kain putih yang dikenakan oleh mereka di sekelilingnya; laki-laki, perempuan dan anak-anak yang lemah. Kenyataan ini berjalan sekian lama sehingga menjadi kebiasaan" (Kitab fima Jara Bainahu wa Baina Sisan al-Mananiy dan ar-rad ala Sisan as-Tsanawiy dalam al-Fihrist, Mesir, 1929)

Pengajian disebutnya forum orang-orang bodoh.

"Mereka orang beragama menjadi demikian (taqlid buta)? karena mereka dibiasakan dengan kebiasaan dan adat mereka di sepanjang zaman dan ditipu oleh manusia-manusia bodoh yang berani mengadakan majelis pengajian. Mulut mereka dicekoki oleh kebohongan-kebohongan dan khayalan-khayalan..." (ar-Razi, idem) [Sumber: Indonesia.Faith Freedom]

[kembali ke kumpulan artikel]

Dari Resensi: Sejarah Ateisme Sejarah Islam

Penulis: Abdurrahman Badawi
Penerbit: LkiS
Cetakan I: Juni 2003
Tebal: xvi + 252 halaman

Ateis merupakan salah satu fenomena yang sangat penting dalam perkembangan kehidupan spiritual. Kemunculannya berbeda-beda--sesuai dengan spirit kebudayaan tempat fenomena tersebut muncul. Hal ini disebabkan karena ateis adalah konsekuensi logis dari kondisi kejiwaan yang telah menghabiskan seluruh potensi keagamaan. Ateis Barat dengan kecenderungan dinamisnya diekspresikan oleh Nietzsche: "Tuhan telah mati". Ateis Yunani mengatakan: "Dewa-dewa yang bersemayam di tempat keramat telah mati". Sedangkan ateis Arab, yang menjadi kajian buku ini mengatakan: "Pemikiran tentang kenabian dan para Nabi telah mati". Mengapa demikian? Karena ateis Arab, muncul dari spirit Arab dan yang terkait dengannya adalah model keberagamaannya yang unik yang mengaitkan antara Allah dan hamba. Dan para nabilah yang memainkan peran penting dalam kehidupan beragama dalam spirit Arab ini.

Dengan demikian, agama dan beragama secara umum hanya didasarkan pada ide tentang kenabian dan para nabi. Atas dasar ini ateis tentunya bergerak menghancurkan pikiran tersebut yang membentuk urat saraf dan esensi agama bagi spirit tersebut. Aspek inilah yang dapat menjelaskan kepada kita mengapa semua kaum ateis dalam spirit Islam mengarahkan serangannya pada ide tentang kenabian dan para nabi. Mereka mengabaikan masalah ketuhanan. Padahal, ateis dalam peradaban-peradaban lain langsung mengarahkan serangannya kepada Tuhan. Dalam kenyataannya, antara keduanya tidak ada perbedaan. Hasil akhir dari kedua sikap tersebut sama sebab masing-masing pada akhirnya mengarah pada penolakan terhadap agama.

Mengamati nama-nama yang dituduh sebagai ateis, terutama dalam hal ini adalah Jabir Ibn Hayyan dan Ar-Razi, ada sesuatu yang menarik apabila keberadaan keduanya dikaitkan dengan wacana Islam kontemporer. Dikatakan menarik karena tokoh ini di satu sisi dianggap sebagai tokoh Islam dalam bidang science, sehingga namanya dijunjung tinggi di dalam menghadapi ilmu pengetahuan Barat dewasa ini, namun ternyata mereka dimasukkan dalam kategori ateis. Konsekuensinya, apabila Barat dengan dominasi ilmu pengetahuannya dianggap sebagai dilandasi oleh semangat sekuler, bahkan ateis, artinya tidak banyak berbeda dalam hal ini antara ilmuwan Barat dan kedua tokoh tersebut. Sama-sama sekuler dan bahkan ateis.

Ateis (zindiq) dalam Islam memiliki sejarah yang mengasikkan. Para orientalis memberikan perhatian yang besar terhadap sejarah ini. Mereka menulis beberapa tulisan pendek maupun makalah panjang lebar yang secara terus-menerus dan umumnya senantiasa ada yang baru. Meskipun demikian, mereka belum sampai pada hasil yang memuaskan. Sampai kini mereka tidak mampu memberikan sorotan yang tajam terhadap banyak aspek yang berkaitan dengannya.

Mereka memberikan perhatian terhadap sejarah ini karena tanpa menjelaskan dan mendalaminya tidak akan dapat dipahami bagaimana sejumlah teori dalam ilmu kalam (teologi). Kebanyakan teori aliran Mu'tazilah tidak dapat dipahami tanpa mengetahui perseteruan yang sengit antara tokoh-tokoh Mu'tazilah dan kelompok zindiq, sebagai kelompok yang mengobarkan perseteruan.

Adanya perseteruan inilah yang mendesak kelompok Mu'tazilah untuk mengambil sikap dalam menghadapi kelompok tersebut. Bahkan, andaikata kita diberi kesempatan untuk mengkaji pembentukan berbagai teori yang dimiliki oleh aliran Mu'tazilah secara teliti dan cermat--mengamati perkembangannya dan menggambarkan kecenderungan yang diikutinya--pastilah kami menemukan bahwa zindiq memiliki pengaruh besar dalam pembentukannya.

Tulisan-tulisan yang ada sebenarnya merupakan kajian awal mengenai ateis dalam Islam sehingga tidak dapat dianggap sebagai kajian yang sangat komprehensif. Tulisan-tulisan asli dari kaum orientalis, Nallino dan Kraus, ditulis sekitar 1930-an. Tahun tersebut merupakan tahun-tahun awal ditemukannya tulisan-tulisan mengenai ateis dalam manuskrip-manuskrip yang masih dapat diselamatkan.

Adam kristian, pustakawan dan ketua Forum Komunikasi Lintas Agama dan Budaya "Pondok Wejangan" Jogjakarta. [Sumber: korantempo.com]

[kembali ke kumpulan artikel]

Sang Penyair

Penyair ulung ini namanya Abu Thayyib, lengkapnya Abu Thayyib Ahmad ibn Husayn. Tetapi ia lebih dikenal dengan sebutan al-Mutanabby. Ia hidup di Irak antara tahun 915 hingga 965 Masehi. Syair-syairnya jernih, jenius, dan dikemukakan secara jujur. Puisi, baginya, adalah suara hati. Ia hadir karena memang hadir, bukan dihadirkan. Substansi puisi bukanlah suatu yang diadakan atau diciptakan, melainkan memang ada.

Tetapi suara hati yang jujur itu justru menimbulkan malapetaka lahiriah seperti yang secara persis dialaminya selama menjadi penyair. Karena syair-syairnya yang kritis terhadap kenabian siapa pun, dan terhadap keberagamaan yang formalistis, Abu Thayyib dituduh sebagai “orang yang mengaku nabi” (al-mutanabby). Dan karena itu, darahnya pun menjadi dihalalkan.

Ana al-Haq (harfiah: aku adalah Tuhan), sebuah ‘kesaksian’ yang pertama kali dicuatkan dari Persia oleh al-Hallaj, menghiasi beberapa bait syairnya. Ia menjadi tertuduh sebagai penganut wihdatul wujud atau manunggaling kawula-gusti, penganut ajaran sesat dan menyesatkan, dlall-mudlill.

Karena itu, ia mengalami nasib amat tragis. Meski tidak setragis al-Hallaj yang harus mengakhiri nafasnya di tiang gantungan, Abu Thayib harus menerima di-kuyo-kuyo: dipukuli, dilempari batu, dan diusir dari suatu tempat ke tempat lain.

Abu Thayib, al-Hallaj, dan bahkan Siti Jenar, tidak mengerti mengapa ekspresi dan manifestasi keber-Tuhan-annya disalahkan. Persis seperti Abu Ishaq an-Nasibi, Muhammad Ibn Zakaria ar-Razi, Dawd Ibn Ali, dan Ya’qub Ibn al-Fadl yang tidak pernah tahu mengapa dituduh zindiq, dijatuhi hukuman mati, dan seluruh karya tulisnya dibakar di zaman al-Mahdi dan al-Hadi (Daulah Abbasiyah) hanya karena pikiran kritisnya terhadap kenabian siapa pun.

Mereka juga tidak merasa terbela ketika kemudian Tarikh al-Thabari, al-Wuzara wa al- Khutab, dan al-Aghani menyimpulkan bahwa tuduhan dan penghakiman terhadap kaum zindiq pada saat itu sebenarnya bukanlah persoalan agama atau ke-zindiq-an itu sendiri, tetapi hampir murni persoalan politik. Para khalifah, demikian beberapa kitab itu menyatakan, memanfaatkan ke-zindiq-an tersebut sebagai sarana untuk membasmi musuh-musuh atau lawan-lawan politik mereka, terutama dari kalangan Hasyimi.

Soal ekspresi dan artikulasi keberagamaan, termasuk keber-Tuhan-an, memang sering menjadi sorotan tajam para ulama formalis yang suka bilang: nahkum bizhawâhir (kami menetapkan hukum dari apa yang terlihat). Mereka tidak [mau] tahu mengapa seorang Rabi’ah Adawiyah lebih memilih buta ketimbang harus mencintai seorang makhluk.

Mereka juga tidak [mau] mengerti mengapa seorang hamba seperti halnya al-Hallaj atau Abu Thayib, karena masyghul fi Allah-nya, karena kedekatannya dengan Tuhan, merasa tak menemukan jarak sedikit pun antara diri dan Tuhannya.

Ekspresi maupun artikulasi adalah perkara subjektivitas diri yang dijamin sah dari sudut apa pun. Ia merupakan pengalaman dan kesaksian seorang hamba di hadapan Penciptanya. Seberapa jauh sebuah kedekatan dicapai dan dengan simbol apa kedekatan itu diartikulasikan hanyalah seorang diri yang tahu secara persis.

Siapakah yang bisa mengukur ketakwaan seseorang, dan apa pula tolok ukurnya adalah pertanyaan-pertanyaan substansial yang tidak pernah menemukan jawaban dari ilmu-ilmu sosial-humaniora maupun agama. Setiap khatib Jumat yang selalu menganjurkannya justru menjawabnya lebih abstrak: “melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya”.

Mungkin kita percaya al-zhâhir yadullu ala al-bâthin, yang tampak menunjukkan yang tak terlihat. Tetapi, nahkum bizhawahir selalu hanya pas untuk menghakimi perkara kasat-mata, korupsi atau pencuri, misalnya, dan tak mungkin untuk perkara seperti kedekatan dengan Tuhan yang oleh Nabi sendiri ditunjukkan hahuna, di sini, di dalam dada.

Karena, al-ahkam al-zhawâhir seperti halnya fikih syariat, karena keterbatasannya, seringkali justru sarat dengan subjektivitas individu maupun kelompok yang merasa punya otoritas keagamaan. Bisa celaka ketika hukum dijatuhkan atas dasar subjektivitas itu.

Agama bagi Abu Thayib—seperti umumnya penyair memandang—adalah kesaksian dan pengalaman. Dan bunyi kalimat syahadah adalah asyhadu, bukanlah nasyhadu, sebuah kesaksian dan klaim individu, bukan kolektif.

Itulah sebabnya, tak sedikit penyair Arab yang kritis terhadap klaim kolektivitas dalam soal agama. Mereka yakin justru klaim seperti itulah yang menyebabkan agama menjadi tak berbeda dari lembaga politik, atau bahkan lembaga politik itu sendiri, yang hanya berfungsi sebagai pengontrol apa pun yang dianggap menyimpang.

Persis seperti penyair Arab, sejumlah penyair kita juga mempunyai kesaksian dan pengalaman religiusitas yang sama. Tuhan bagi mereka memang tempat bersimpuh yang paling teduh, tempat gelora rindu berlabuh, dan teman bercanda yang tak pernah dendam, tetapi juga sasaran kegalauan, umpatan, dan kritik. “cinta-Mu pada Muhammad adalah cinta tanpa proses, cinta kampungan, dan absurd” (Ainun Najib, Haihata).

Bahkan, Tuhan bisa bagaikan gadis pecemburu yang merepotkan sekaligus harimau buas yang menerkam (Amir Hamzah, Padamu Jua), atau kekuasan-Nya bagaikan kobaran api yang tak terpadamkan (Chairil Anwar, Doa).

Akankah kita marah dan menghakiminya sebagai musyrik, karena Tuhan dan kekuasaan-Nya tak mungkin disamakan dengan ‘yang lain’? Bagaimana jika ternyata puisi-puisi kritis itu justru wujud dari sebuah ‘keakraban’ teologis atau manifestasi religiusitas yang terdalam—seperti hasil telaah Romo Mangunwijaya dalam Religiusitas dalam Sastra?

Bukankah para penyair pula yang konsisten menyikapi bahwa dalam setiap makhluk dan kejadian terdapat dimensi Ilahiah, selaras inna fi khalqis-samawât wal-ardli wakh-tilâfil layli wan-nahâri la ayatin li ulil albab, sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang bernalar?

Sayangnya, kita telanjur terampil memandang ‘yang lain’ dari sudut kebenaran kita, bukan dari kebenaran ‘yang lain’ itu sendiri. Kita juga terlalu fasih bertanya tentang ‘kebenaran’ dan sama sekali tak tahu betapa pentingnya bertanya bagaimana dan mengapa sesuatu ber[di]proses menjadi kebenaran. Sayangnya pula, kita telanjur ‘sadar’ bahwa klaim kolektivitas dalam kesaksian dan pengalaman beragama menguntungkan karena otoritas absolut yang dilahirkannya. [Sumber: Bisri Effendy, Majalah Syir’ah edisi 44/Juli 2005, klipingagama.blogspot]

[kembali ke kumpulan artikel]

Syaikh Siti Jenar, Seorang Korban Perbedaan Sudut Pandang!

Syaikh Siti Jenar atau Syaikh Lemah Abang cukup popular di dalam cerita-cerita walisongo, dia sangat dikenal terutama oleh kaum abangan di Jawa. Syaikh Siti Jenar ini berseberangan jalan dengan para wali lainnya, karena dia ini meninggalkan ijma’,qiyas, dalil Al Qur’an dan hadits.

Para ahli (peneliti) sejarah walisongo menyimpulkan bahwa paham-paham ajaran Syaikh Siti Jenar menjadi ajaran zindiq, gerakan politik yang menentang atau melemahkan kekuasaan dan potensi kaum muslimin yang dipimpin oleh walisongo. Agama Budha dan golongan lainnya tidak rela melihat Majapahit jatuh. Hal ini terlhat dalam naskah kumpulan Dr.Rinkes, yang membuktikan sikap ingin mempertahankan agama lama (Hindu dan Buhdha) pada Siti Jenar dan murid-muridnya. Bahkan menurut peneliti Dr.H.Kreamer, ajaran Siti Jenar ini berhubungan dengan panteisme dan ateisme.

Seringkali dari balik pikiran panteisme berkedok istilah islam, dan berbuat seolah-olah ajaran islam. Terasa adanya polemik tajam yang menyerang islam secara diam-diam, dalam bentuk kegemaran mendurhakai dan melawan Islam. Hal ini tersembunyi dalam batin kebanyakan orang jawa (pada saat itu), misalnya dalam “Babad Kediri” disebutkan bahwa semua itu berasal dari paham agama Budha.

Kalau walisongo berpendapat, bahwa tak mungkin mencapai butir-butir mutiara di dasar lautan tanpa menggunakan perahu, sebagaimana mereka berpendapat tak mungkin mencapai maqam tertinggi (makrifat) tanpa melalui maqam terendah (syariat). Namun Siti Jenar dengan ajaran-ajarannya hendak membuang, bahkan keluar dari syariat, yakni kemurtadan. Siti Jenar mengajarkan ilmu sasahidan (ilmu persaksian) yang berpaham mistis, yang dilukiskan sebagai ilmu bidangat, yakni ilmu bid’ah (culas, mengada-ada) bertentangan dengan Al Qur’an. Sasahidan adalah kependekan dari Syahadah Muta’awwilah (La ilaha illa huwa).,dalam ajaran ini diri pribadi itulah wujud yang abadi dan uluhiyahnya (men-Tuhan), biasanya diistilahkan “Ora ana Pangeran anging Angsun” (Tidak ada Tuhan kecuali Aku).

Istilah ini adalah kutipan QS. Tha Ha : 14, lengkapnya ayat ini berbunyi “Innani anallahu la ilaha illa ana fa’buduni” (Sesungguhnya Aku adalah Allah, tiada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku). Identifikasi Aku (Tuhan) dalam ayat ini diterjemahkan langsung dengan gesang kita pribadi atau hidup kita sendiri. Allah adalah Badan Ingsun (badan saya), Muhammad adalah Cahya Ingsun (cahaya saya). Sholat dan dzikir menurut Siti Jenar bukan perintah Allah, tetapi semata keluar dari dasar kesimpulan yang dibuat manusia. Setiap tarikan nafas merupakan sholat untuk diri sendiri, yang berarti juga untuk Tuhan semata, karena itu manusia boleh menjadikan ibadah sholat sendiri sebagai isyarat atau sindiran saja.

Siti jenar memang suka bermain takwil ayat-ayat Al Qur’an. Misalnya pada ayat “Hayyun da’imun la yamutu adaban (hidup kekal tidak mati selamanya) dijadikan sandaran pendapat, bahwa di dunia ini orang bukan hidup, tetapi mati. Di dunia tidaklah abadi, sedang dalam mati itulah orang sedang hidup, karena sesudah itu akan ada kekekalan di akherat. Dr.Zoetmulder,PJ (dalam bukunya Pantheisme en Monisme in de Javaansche Soeloek Literatuur, Widya Pustaka, hal.346-347) mengemukakan syair-syair ajaran yang diberikan oleh Siti Jenar sendiri saat bertemu dengan Kebo Kenongo. Melalui syair itulah terlihat jelas bahwa ajaran Siti Jenar itu dinilai mulhid (atheis) dan mengandung wihdatul adyan (penyatuan segala agama). Ajaran tersebut dapat membawa seseorang kepada kekafiran dan mengingkari adanya Allah, adanya akherat, hari pembalasan, surga dan neraka.

Surga dan neraka menurut Siti Jenar tidak lain hanyalah kebahagiaan dan kesengsaraan di dunia ini saja. Masih menurut Dr.Zoetmulder, dalam bidang moral, ajaraan Siti Jenar amat menyimpang dari kaidah akhlaq pada umumnya. Ajarannya terlihat sangat tidak bermoral, anarkhis dan merusak tatanan masyarakat. Ajaran tersebut tidak lain adalah praktek upacara agama Budha Bhairawa, yaitu agama Budha yang mengalami sinkretisasi dengan unsur-unsur asli Indonesia, Jawa dann Cina. Bermula dari paham dan praktek keagamaan yang dimodifikasi dan diberi label kedok Islam lengkap dengan pengucapan lafal Arab. Maka terciptalah tata cara ibadah, kaedah moral syariat yang bersifat amoral, anarkhis dan zindiq. Lebih khusus lagi dalam bidang seksual sangat bebas, tidak ada haram dan batal. Meskipun bukan suami istri. Mereka boleh saja sesukanya mengadakan hubungan intim di luar nikah.

Atas dasar pertimbangan akibat buruk dan menyeleweng yang ditimbulkan Siti Jenar itu, maka walisongo dalam salah satu sidangnya memutuskan akan halalnya darah Siti Jenar untuk dijatuhi hukum qishash. Walisongo memutuskan, bahwa Siti Jenar adalah ahli bid’ah, sesat dan murtad, pengikut Jabariyah dengan kesesatan yang nyata. Bahkan dalam primbon “Babad Tanah Jawa, karya Poerworedjo” disebutkan, bahwa selain Jabariyah , Siti Jenar juga Qadariyah, yang mengaku dirinya adalah tuhan, dan akal budi yang suci juga tuhan dan nabi. Kemudiaan walisongo mengirim dua orang utusan untuk mengundang Siti Jenar guna memusyawarahkan masalah ‘ngelmu’. Ketika dua utusan ini sampai di hadapan Siti Jenar, mereka memperoleh tanggapan yang menunjukkan bahwa Siti Jenar bersikap menentang terhadap walisongo, bahkan dia menunjukkan pula bagaimana ajaran-ajarannya. Siti Jenar bertanya kepada kedua utusan tersebut :”Mereka (walisongo) menyebut dirinya apa dalam undangan tersebut ?”. “Syaikh Lemah Abang”, kata utusan.

Maka Siti Jenar menjawab :”Syaikh Lemah Abang tidak ada disini,yang ada adalah Pangeran sejati (Allah)”. Dengan kesal kedua utusan itu kembali dengan tangan hampa tanpa Siti Jenar ikut serta. Ketika mendengar laporan tersebut, bukan main marahnya Sunan Giri (salah satu dari walisongo), tetapi masih dapat disabarkan oleh para wali lainnya. Lalu kembali beliau menyuruh kedua utusan itu untuk mengundang “Pangeran Sejati” itu. Utusan tiba di hadapan Siti Jenar dan menyampaikan undangan bagi “Pangeran Sejati”.

Dipanggil dengan sebutan itu Siti Jenar menyarankan agar kedua utusan kembali ke Giri, karena pada panggilan itu tidak ada sebutan Pangeran Sejati, yang ada hanya Syaikh Lemah Abang. Utusan kembali lagi dengan tangan hampa dan kesal. Sesampai di Giri, utusan disuruh kembali mengundang kedatangan Pangeran Sejati” alias Syaikh Lemah Abang. Dengan panggilan diri seperti itu, barulah Syaikh Lemah Abang mau memenuhi undangan Sunan Giri atas nama walisongo itu. Setelah walisongo berkumpul semua, maka terjadi perdebatan sengit. Setelah nyata dan yakin bahwa Siti Jenar telah tersesat dalam bid’ah, maka walisongo berusaha menginsyafkan. Siti jenar diajak kembali ke jalan sunnah dan meninggalkan bid’ah. Tetapi ajakan itu justru ditolak. (lihat : Langgam Asmaradana, pupuh XXXII, bait 2220-21, Walisana).

Dinyatakan, Siti Jenar berkata, bahwa walisongo tidak usah berpanjang lebar bicara, dia itu adalah Allah, bergelar Prabu Satmata. Mendengar jawaban itu, maka perdebatan menemui jalan buntu. Sunan Giri memberikan peringatan terakhir dengan pernyataan bahwa bila Siti Jenar tidak mau bertobat, maka akan ditimbang dengan hukuman syariat. Dalam syariat terdapat ketetapan bagi orang yang mengaku dirinya Allah, yaitu darahnya halal, dibunuh dan dikisas. Mendengar peringatan ini, Siti Jenar justru meradang dan menantang walisongo hingga kembali terjadi perdebatan, bahkan lebih sengit. Namun meskipun segala upaya telah ditempuh walisongo untuk menginsyafkan Siti Jenar agar tidak mengaku sebagai Allah, tapi Siti Jenar tdk pernah bergeming dari pendiriannya. Akhirnya sidang walisongo sepakat untuk menetapkan hukuman kisas bagi Siti Jenar berdasarkan pertimbangan dan dasar hukum yang pernah terjadi pada zaman rasulullah saw.

Meski hukum kisas telah diputuskan, namun pelaksanaannya masih ditunda sampai berdirinya pemerintahan atau kerajaraan Islam di Demak. Menurut walisongo, masalah eksekusi hukuman mati sebagai perkara pidana adalah hak penguasa Negara Islam yang sah, bukan hak perorangan. Maka setelah walisongo berhasil mendirikan kerajaan Demak, dipanggillah Siti Jenar ke sidang walisongo. Walisongo sebagai tim hakim dan jaksa yang mendapat kuasa dari kerajaan atau sultan, berhadapan dengan Syaikh Lemah Abang sebagai terdakwa. Dalam sidang pengadilan ini, sekali lagi Sunan Giri memeriksa bagimana sikap dan pendapat Siti Jenar, masihkan dia berbuat bid’ah dan syirik dengan mendakwahkan diri sebagai Allah, atau sudah berubah dan bertobat. Rupanya pendirian Siti Jenar tetap sebagaimana semula, tidak berubah sedikit pun. Akibatnya Siti Jenar mengalami nasib menyedihkan, dia bersama 7 muridnya dikisas oleh walisongo. Eksekusi dilakukan tanpa ada penjara atau siksaan, tetapi langsung sekali pancung, terpisah antara kepala dari badan. [sumber: Mengislamkan Tanah Jawa – Telaah Atas Metode Dakwah Walisongo, Widji Saksono, cet.III, sya’ban 1416H/1996M, penerbit Mizan), note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 023/th.02/Jumada Al Awwal-Jumada Al Tsani 1427H/2006, labbaik.wordpress.com]

[kembali ke kumpulan artikel]

Aku Bersaksi Tiada Tuhan Selain Darwin

Serangan Balik Kaum Ateis
Luthfi Assyaukanie
Disampaikan dalam diskusi buku “Bangkitnya Ateisme,” di Freedom Institute, Jakarta, 20 September 2007.

Christopher Hitchens. God is Not Great: How Religion Poisons Everything. New York: Twelve, 2007.
Daniel C. Dennett. Breaking the Spell: Religion as a Natural Phenomenon. New York: Viking, 2006.
Richard Dawkins. The God Delusion. London: Bantam, 2006.
Sam Harris. The End of Faith: Religion, Terror, and the Future of Reason. New York: Norton, 2005.

Para pendukung Ateisme mestinya berterimakasih kepada Osama bin Laden dan Jerry Falwell yang menjadikan agama begitu agresif dan garang. Aksi-aksi kekerasan dan teror yang mengatasnamakan Tuhan sejak beberapa tahun terakhir adalah puncak dari kebangkitan agama dan sekaligus krisis bagi keberadaannya. Sejak awal tahun 1970an, kaum Ateis dan sekular meratapi mandeknya proses sekularisasi.

Agama yang sejak abad ke-19 diramalkan bakal punah malah bangkit dan mengisi ruang-ruang publik umat manusia. Kecuali di Eropa Barat, hampir semua agama di dunia mengalami kebangkitannya. Jurnal-jurnal sosiologi selama dasawarsa 1980an dipenuhi dengan perdebatan matinya sekularisme (dan juga sekularisasi). August Comte, Charles Darwin, Sigmund Freud, Emile Durkheim, Karl Marx, dan para ilmuwan sosial besar lainnya dianggap keliru karena telah meramal bahwa masa depan umat manusia adalah masa depan sekular yang bersih dari mitos-mitos agama. Kenyataannya, sejak 1970an, agama bangkit dan tokoh-tokoh seperti Ayatullah Khomeini, Paus Yohannes Paulus, Desmond Tutu, dan Dalai Lama, menggantikan nama-nama secular abad ke-19 dan awal abad ke-20.

Kebangkitan agama telah memasuki dekade keempatnya ketika pada tanggal 11 September 2001, sekelompok kaum beriman menabrakkan dua pesawat yang ditumpanginya ke gedung WTC di Amerika Serikat. Peristiwa yang kemudian dikenal sebagai peristiwa 9/11 itu menjadi kulminasi bagi kebangkitan agama di dunia modern dan sekaligus menjadi titik rawan keberadaannya. Kaum sekular dan pendukung Ateis yang selama ini tenggelam dalam kekecewaan seakan mendapatkan amunisi baru untuk menyerang agama.

Sekularisme tidak mati. Ateisme bangkit lagi. Justru agamalah yang kini berada di ambang kebangkrutan. Bukan Charles Darwin yang berbahaya bagi kemanusiaan dan peradaban manusia, tapi para tokoh agama yang tak henti-hentinya mengkampanyekan pandangan-pandangan obskurantis yang anti kemajuan dan peradaban. Darwin tak pernah menyuruh manusia membunuh orang. Tapi, Osama bin Laden dan Imam Khomeini jelas-jelas melakukannya. Agama bangkit bukan untuk menebar kedamaian, tapi untuk menyeru kekerasan dan permusuhan. Jerry Falwell, Pat Robertson, dan Billy Grahama memiliki segudang dalil dan argumen untuk merekrut kaum Kristen menjadi tentara Tuhan.

Kemunculan buku-buku tentang Ateisme belakangan ini dipicu oleh berbagai peristiwa kekerasan dan kebencian yang mengatasnamakan agama. Horor 9/11, peledakan stasiun kereta di Madrid dan London, bom bunuh diri di Timur Tengah, dan aksi-aksi kekerasan dan kebringasan lainnya mengusik kaum Ateis untuk kembali menyuarakan keyakinan lama mereka bahwa agama memang buruk, agama hanya menyengsarakan manusia, dan tak ada lagi alasan manusia untuk beragama.

Pada 2005, Sam Harris, seorang mahasiswa filsafat yang tengah merampungkan PhD-nya dalam bidang neuroscience (penelitiannya tentang “saraf iman” dan “saraf kafir”) menerbitkan The End of Faith, sebuah reaksi penulisnya terhadap berbagai peristiwa teror dan kekerasan yang mengatasnamakan agama. Pesan utama buku ini adalah bahwa agama adalah sesuatu yang terbuka untuk didiskusikan. Agama bukanlah sesuatu yang bisa mendapat perlakuan khusus. Kekeliruan kita selama ini adalah menganggap agama sebagai sesuatu yang istimewa sehingga selalu ada keraguan setiap kali hendak masuk ke wilayah ini. Harris menekankan kembali poin ini pada bukunya yang terbaru, Letter to a Christian Nation (2006).

Pada 2006, Daniel C. Dennet menerbitkan karyanya, Breaking the Spell: Religion as a Natural Phenomenon, sebuah buku yang berusaha menegaskan bahwa agama adalah fenomena alam belaka. Sama seperti Harris, Dennet berpendapat bahwa tak ada yang suci dari agama. Ia hanyalah sebuah produk ciptaan manusia, sebagaimana manusia menciptakan bidang ekonomi, politik, teknologi, dan bidang-bidang kehidupan lainnya. Pada tahun yang sama, Richard Dawkins menerbitkan The God Delusion. Di antara buku-buku sejenis, karya Dawkins ini barangkali adalah buku yang paling menggemparkan publik pembaca. Dalam buku ini, Dawkins berperan lebih sebagai filsuf ketimbang seorang saintis. Dia berusaha mengerahkan seluruh energi intelektualnya untuk membuktikan bahwa Tuhan tidak ada dan berusaha meyakinkan kita bahwa mengajarkan agama kepada anak-anak adalah sebentuk pelecehan (child abuse). Pada pertengahan 2007, Christopher Hitchens menerbitkan God is not Great, sebuah buku yang memaparkan bukti-bukti tentang ketiadaan Tuhan. Lewat pendekatan jurnalistik dan populer, Hitchens mengajak kita bahwa hidup tanpa agama lebih sehat ketimbang hidup dengan agama.

Teodisi dan Problem Kejahatan
Munculnya buku-buku tentang Ateisme merupakan reaksi dari persoalan lama dalam dunia filsafat, khususnya menyangkut pembahasan tentang eksistensi Tuhan. Jika Tuhan ada, mengapa Dia membiarkan kejahatan terus terjadi? Jika agama baik mengapa perilaku para pemeluknya begitu biadab? Jika Tuhan ikut campur dalam kehidupan kita mengapa Dia berdiam diri menyaksikan kecelakaan, kemelaratan, bencana, dan pembunuhan? Dalam filsafat, pertanyaan-pertanyaan semacam ini dikumpulkan menjadi sebuah argumen yang secara luas dikenal sebagai “teodisi.” Secara sederhana dalil teodisi bisa dijelaskan sebagai berikut: Kaum agamawan sepakat bahwa Tuhan Maha Kuasa. Dengan kekuasaan-Nya, Dia bisa melakukan apa saja, termasuk mencegah sesuatu yang buruk. Kenyataannya, hal-hal buruk selalu ada dan menimpa manusia di dunia. Ada dua kemungkinan:

pertama, Dia mampu melakukan itu tapi tidak mau melakukannya;
kedua Dia memang tidak mampu.

Kemungkinan pertama mendorong kita berkesimpulan bahwa Tuhan mendukung kejahatan atau Tuhan adalah kejahatan itu sendiri. Kesimpulan kedua menegaskan kelemahan Tuhan; konsekwensinya, jika Dia lemah, mengapa harus disebut Tuhan Yang Maha Kuasa? Sepanjang sejarah, para filsuf dan teolog disibukkan oleh persoalan teodisi itu. Kaum Ateis memiliki jalan keluar sederhana dengan menggunakan “pisau cukur Occam”: Tuhan Tidak Ada. Namun para teolog dan filsuf beriman mencoba mencari penjelasan yang tidak sederhana. Gottfried Leibniz, filsuf Jerman pemilik hak cipta untuk segala penjelasan tentang teodisi di dunia modern, menjelaskan bahwa adanya kejahatan dan kemalangan di dunia ini tidak bertentangan dengan kebaikan Tuhan. Menurut Leibniz, dunia yang didiami manusia adalah dunia yang terbaik yang mungkin ada (the best of all possible worlds). Kaedah ontologis menegaskan bahwa ada lebih sempurna dari tiada. Dengan demikian, dunia yang ada, yang didiami manusia dengan segala dinamikanya, adalah dunia yang baik. Penjelasan Leibniz itu kemudian menginspirasikan para teolog untuk memberikan justifikasi pada kejahatan dan kemalangan yang ada di dunia in. Salah satunya dengan menegaskan bahwa apa yang dipersepsi sebagai kejahatan dan kemalangan oleh manusia sebenarnya hanyalah ilusi dan sesuatu yang tidak penting. Kejahatan dan kemalangan adalah bagian dari kehendak Tuhan Yang Maha Baik. Tuhan merencanakan sesuatu yang tidak diketahui manusia. Pada dasarnya, apa yang dianggap manusia sebagai kejahatan sebenarnya bukanlah kejahatan, tapi merupakan rancangan Tuhan untuk kebaikan manusia secara umum. Keterbatasan ilmu yang dimiliki manusia menghalangi mereka untuk melihat gambar besar yang sebenarnya.

Dengan kata lain, kebaikan Tuhan dan kebaikan di dunia adalah nyata, sementara kejahatan dan kemalangan adalah ilusi dan delusi manusia. Alih-alih menganggap kejahatan dan penderitaan sebagai delusi manusia, Richard Dawkin menyatakann sebaliknya, yakni Tuhanlah yang merupakan delusi. Kejahatan di dunia adalah riil. Pembunuhan, pemerkosaan, mutilasi, pembakaran, penyiksaan, pengeboman, bencana alam, gempa bumi, tsunami, banjir, gunung meletus, dan lain-lain adalah berbagai kemalangan yang nyata; Tuhanlah yang tidak nyata, karena membiarkan semua itu terjadi. Logikanya, jika Tuhan Maha Kuasa dan Maha Baik, mengapa dia membiarkan saja semua ketidakbaikan itu terjadi. Hanya ada dua pilihan dalam menyikapi persoalan ini: (i) Tuhan sebenarnya tidak ada; (ii) Tuhan ada namun tak mampu melakukan apa-apa. Dawkins dan kaum Ateis memilih jawaban pertama dan menolak kesimpulan self-contradictory yang kedua.

Dalil-Dalil Ketiadaan Tuhan
Penolakan Dawkins tentang keberadaan Tuhan sebenarnya bukan berangkat dari argumen teodisi, tapi dari bukti-bukti ilmiah yang ditemukannya. Dawkins adalah seorang ahli biologi evolusioner dan pengikut setia Darwinisme. Baginya sangat jelas bahwa bukti-bukti ilmiah menunjukkan ketiadaan Tuhan. Yang dia maksud dengan “Tuhan” bukanlah Tuhan seperti yang digambarkan Einstein dan pengikut Deisme lainnya (Tuhan dengan katagori kedua dalam kesimpulan di atas), tapi Tuhan personal yang disembah sebagian besar pengikut agama, khususnya Yahudi, Kristen, dan Islam. Dalam Bab 4 bukunya, Dawkins menguraikan enam argumen mengapa Tuhan tidak ada atau hampir pasti tidak ada (why there almost certainly is no God?).

Pertama,
argumen yang ia beri nama “the Ultimate Boeing 747.” Argumen ini dipinjam dari Fred Hoyle, astronom Inggris, yang pernah mengatakan bahwa probabilitas kehidupan di Bumi [tanpa campur tangan Tuhan] lebih kecil daripada kemungkinan badai menyapu potongan-potongan besi dan merangkai sebuah Boeing 747. Hoyle adalah seorang Ateis, tapi pernyataannya itu sering dikutip kaum kreasionis untuk mendukung teori desain. Dawkins mengutip ungkapan Hoyle untuk menegaskan bahwa menerima keberadaan Tuhan sama sulitnya dengan menerima keberadaan badai yang mampu merangkai Boeing 747. Dawkins menggunakan argumen ini untuk menyerang kaum kreasionis yang menganggap Tuhan ikut campur dalam penciptaan alam. Keberatan Dawkins dengan argumen desain adalah meletakkan Tuhan sebagai “penumpang gelap” yang “ingin makan siang gratis” di tengan jerih payah ilmuwan mencari jawaban terhadap problem penciptaan. Kemungkinan Tuhan ada, menurut Dawkins, sangat kecil. Jika Tuhan ada, maka dia mestilah sangat-sangat kompleks; semakin kompleks sesuatu, maka semakin sulit untuk ada. “Serumit apapun entitas yang Anda cari untuk menjelaskan munculnya desainer,” tulis Dawkins, “maka desainer itu haruslah sama rumitnya [atau lebih rumit]. Tuhan adalah Boing 747 itu sendiri.”

Kedua,
argumen “Seleksi Alam sebagai Pembangkit Kesadaran” (Natural Selection as a Consciousness-Raiser). Tuhan tidak ada. Keberadaan alam raya dan isinya bisa dijelaskan dengan teori evolusi dan seleksi alam yang diperkenalkan Charles Darwin. Dawkins menganggap seleksi alam bukan hanya sebagai penjelas asal-usul kehidupan, tapi juga sebagai pembangkit kesadaran manusia akan digdaya sains dalam menjelaskan bagaimana sebuah kompleksitas yang rapi muncul dari awal yang sederhana tanpa petunjuk apapun. Jika kita memahami dengan baik teori seleksi alam, maka kita tak perlu repot-repot melibatkan unsur luar yang hanya akan menjadi problem baru. Semuanya bisa dijelaskan lewat teori seleksi alam tanpa melibatkan Tuhan di dalamnya. Sebelum Darwin menemukan teori evolusi, Tuhan dan kegaiban menjadi pelarian manusia untuk menjelaskan fenomena alam raya, tapi setelah Darwin menemukan teori itu, bukan hanya dunia biologis, dunia astronomi, geologi, dan cabang ilmu lainnya, menganggap evolusi dan seleksi alam sebagai penjelas yang paling memuaskan.

Ketiga,
argumen “kompleksitas takterkurangi” (irreducible complexity). Argumen ini pertama kali diperkenalkan oleh Michael Behe dalam bukunya, Darwin’s Black Box (1996). Argumen ini menegaskan bahwa beberapa sistem biologis terlalu sederhana untuk berevolusi menjadi sesuatu yang kompleks, tapi pada saat yang sama terlalu kompleks untuk bermutasi secara alamiah. Argumen ini dipakai kaum kreasionis untuk menyanggah bahwa teori evolusi tidak bisa menjelaskan seluruh proses penciptaan. Dawkins menganggap Behe dan pendukung argumen ini telah keliru memahami pernyataan Darwin soal “organ-organ dalam tubuh manusia yang sangat kompleks.” Darwin mencontohkan mata sebagai organ kompleks yang hampir mustahil dibentuk dari proses seleksi alam. Kaum kreasionis, menurut Dawkins, bersorak-sorai dengan disclaimer Darwin itu tanpa tahu duduk-persoalannya. Mereka menganggap mata sebagai salah satu contoh kompleksitas takterkurangi, padahal menurut temuan-temuan terbaru ilmu biologi, tidak ada yang selamat dari jaring evolusi. Tuhan dicoba dilibatkan dalam kompleksitas takterkurangi, tapi teori evolusi lagi-lagi berhasil mengusirNya.

Keempat,
argumen “Penyembahan Celah” (the Worship of Gaps). Ini adalah argumen yang sangat populer di kalangan filsuf dan saintis. Kaum Ateis biasa menyebut Tuhan yang dihasilkan dari argumen ini sebagai “Tuhan celah” (God of the Gaps, GoG). Kaum kreasionis sepanjang sejarah begitu rajin mencari celah dalam kehidupan ini untuk memasukkan Tuhan di dalamnya. Setiap ada celah yang tak bisa dijelaskan sains, mereka mengisinya dengan Tuhan. Namun, persoalan besar dari GoG adalah, seperti dicemaskan Dietrich Bonhoeffer, teolog Jerman, setiap kali ada kemajuan dalam sains, celah itu menyusut. Dulu, manusia percaya bahwa Tuhan menciptakan Bumi dan planet-planet, tapi sains mengungkapkan bahwa itu merupakan proses pembentukan materi alam sepanjang jutaan tahun; dulu manusia percaya bahwa penyakit kusta, lepra, dan cacar merupakan kutukan Tuhan, tapi ilmu kedokteran membuktikan bahwa penyakit-penyakit itu disebabkan bakteri dan kuman. Sains dan Ilmu pengetahuan selalu berhasil menutup celah yang dicoba-masuki Tuhan.

Kelima,
argumen Prinsip Antropi: Versi Planet (the Anthropic Principle: Planetary Version). Menurut Dawkins, celah dalam biologi semakin lama semakin menyusut sehingga menyulitkan kaum agamawan menemukan Tuhan di dalamnya. Tapi mereka tak berputus asa. Celah untuk Tuhan masih sangat luas di wilayah astronomi dan kosmologi. Salah satunya adalah dengan mempertanyakan asal-usul kehidupan. Ada celah yang begitu luas untuk mengundang Tuhan berperan di sana. Tapi, para ilmuwan tak kalah hebat. Mereka memiliki penjelasan ilmiah tentang asal-usul kehidupan, yakni lewat prinsip antropi. Prinsip antropi mengatakan bahwa kehidupan terjadi karena ada dukungan konstanta fisika dan kimia yang pas. Bumi berada tepat dalam konstanta yang memungkinkan kehidupan itu. Meski kondisi semacam ini sangat jarang terjadi, bukan tidak mungkin ada kehidupan lain yang mirip dengan Bumi. Dengan kata lain, bukan Tuhan yang menyebabkan Bumi menjadi hidup, tapi prinsip antropi itu.

Keenam,
argumen Prinsip Antropi: Versi Kosmologi (the Anthropic Principle: Cosmological Version). Prinsip antropi digunakan Dawkins bukan hanya untuk mengusir Tuhan dari Bumi, tapi juga dari jagat raya. “Kita hidup bukan hanya di planet yang bersahabat, tapi juga di alam raya yang bersahabat,” tulis Dawkins. Hukum fisika yang bekerja di alam ini sangat mendukung munculnya kehidupan. Keberadaan bintang-bintang adalah penjelas utama mengapa ada kehidupan. Bintang-bintang adalah bahan dasar bagi elemen-elemen kimia. Tanpa bintang, tak ada kimia, tanpa kimia, tak ada kehidupan. Para fisikawan secara cermat telah menghitung bahwa sedikit saja hukum dan konstanta fisika berbeda, maka jagat raya akan berkembang secara berbeda yang tak memungkinkan kehidupan muncul. Prinsip antropi sekali lagi menunjukkan bahwa pembentukan kosmos tidak memerlukan campur-tangan Tuhan, tapi lewat evolusi dan proses seleksi alam yang lama.

Agama Sebagai Fenomena Alam
Teori evolusi dan seleksi alam tak hanya dipakai untuk menjelaskan asal-usul jagat raya, keberadaan Bumi, dan kompleksitas makhluk hidup, tapi juga menjelaskan sejarah dan perkembangan agama. Jika Dawkins menggunakan teori evolusi untuk menjelaskan bahwa alam raya dan seluruh isinya merupakan proses panjang yang terus-menerus, Daniel Dennett menggunakan kerangka evolusi untuk menjelaskan keberadaan agama. Yang menjadi perhatian Dennett bukanlah keberadaan Tuhan, tapi keberadaan agama sebagai lembaga yang bertanggungjawab menciptakan konsep-konsep gaib, termasuk Tuhan. Sebagai seorang Darwinian sejati, Dennett menganggap bahwa agama yang dipeluk manusia sekarang ini merupakan bentuk evolusi terkini dari agama-agama primitif yang pernah ada. Dennet tentu saja bukan orang pertama yang menganggap agama sebagai produk manusia (bukan Tuhan). Dua setengah abad sebelumnya, David Hume pernah melontarkan gagasan serupa dalam dua buah bukunya: The Natural History of Religion (1757) dan Dialogues concerning Natural Religion (1779). Hume menyimpulkan bahwa agama-agama monoteis (Yahudi, Kristen, Islam, dll) merupakan hasil evolusi panjang dari keyakinan politeisme yang sangat tua. Hume menganggap politeisme sebagai agama paling primitif yang pernah dikenal manusia.

Menurut Dennett agama bukanlah artefak atau produk hasil aktivitas intelektual manusia. Agama merupakan fenomena alam yang berkembang dan menular bukan lewat gen, tapi lewat bahasa dan simbol. Seseorang bisa mewarisi bentuk hidung atau talenta musik dari orang tuanya, lewat gen; tapi jika dia beragama yang sama dengan orang tuanya, dia memperolehnya bukan lewat gen, tapi lewat bahasa dan asuhan yang diberikan kepadanya.

Agama adalah fenomena yang muncul dalam alam (natural) dan bukan dari luar alam (supernatural). Dennett tidak terlalu peduli apakah Tuhan ada atau tidak, karena keberadaannya atau ketiadaannya tidak mengganggu status agama sebagai fenomena alam. Tuhan adalah sesuatu yang supernatural, tapi agama adalah sesuatu yang natural. Kita tak bisa membicarakan Tuhan secara ilmiah (scientific), tapi bisa melakukannya kepada agama. Hanya sesuatu yang alamiah yang bisa dibuktikan secara ilmiah. Dengan proposisi ini, Dennett ingin mengatakan bahwa mempelajari agama secara ilmiah adalah mungkin. Ilmu pengetahuan modern dengan segala disiplinnya mampu menjelaskan fenomena agama. Ada ilmu sejarah, arkeologi, sosiologi, ekonomi, hingga psikologi yang mampu mengungkap dimensi-dimensi terdalam perilaku keberagamaan manusia.

Agama tidak datang sekali jadi, tapi berevolusi, sesuai dengan tingkat kecerdasan manusia. Peradaban manusia berkembang, begitu juga agama. Pada masa silam, ketika manusia masih primitif, bentuk agama juga sangat primitif. Bahasa lebih dulu dikenal manusia ketimbang agama. Ketika manusia modern (homo sapient) pertama kali muncul sekitar 195.000 tahun silam, mereka menggunakan bahasa sangat sederhana untuk berkomunikasi. Dengan kosakata yang terbatas, agama adalah sebuah kemewahan. Agama muncul jauh setelah manusia mengembangkan sistem berbahasa yang kompleks. Bukti-bukti arkeologi paling awal menyebutkan bahwa “praktik agama” tertua baru terjadi sekitar 25,000 tahun silam. Data ini diambil berdasarkan temuan situs makam Cro-Magnon di Ceko. Agama yang dipraktikkan pada masa ini tentu sangat sederhana dan umumnya hanya terkait dengan upacara penguburan mayat.

Seiring dengan perkembangan zaman, bertambahnya jumlah manusia dan semakin tingginya mobilitas mereka, agama dalam bentuknya yang lebih terorganisir mulai menampakkan wujudnya. Menurut Dennett, setidaknya ada tiga alasan mengapa manusia memerlukan agama:

Pertama, untuk mengatasi penderitaan dan ketakutan akan kematian
Kedua, untuk menjelaskan hal-hal yang mereka tidak mengerti
Ketiga, mendorong terciptanya kelompok, untuk menghadapi musuh

Hingga kini, ketiga alasan itu masih terus digunakan manusia. Tidak ada pegangan yang paling ampuh bagi seseorang yang mengalami penderitaan berat selain agama; orang-orang miskin yang sengsara perlu agama; orang-orang kaya yang stress perlu agama; dan orang-orang yang merasa terancam nyawanya juga perlu agama. Bagi banyak orang, gunung meletus, banjir, tsunami, dan bencana alam lainnya adalah fenomena yang sulit dijelaskan; ketidakmengertian membuat mereka lari kepada agama, sebagai satu-satunya penjelasan yang masuk akal. Manusia membenci kesendirian, karena itu mereka membuat kelompok. Ada banyak ikatan untuk menyatukan mereka, tapi ikatan agama adalah semen yang paling kokoh.

Anak-anak Ibrahim berkumpul, membentengi diri dari penguasa yang lalim, jadilah Yahudi.
Sekelompok orang di Nazareth berkumpul, mencoba melawan kuasa Romawi, lahirlah Kristen.
Di Mekah, Muhammad diam-diam mengumpulkan orang-orang tertindas, muncullah Islam.

Seperti juga peradaban, agama memiliki usia; ada yang bertahan lama dan ada yang sebentar. Menurut Dennett, bertahan tidaknya agama sama seperti spesies pada makhluk-hidup, yakni sejauh mana ia bisa bertahan menghadapi proses seleksi alam yang brutal.

"Setiap hari ada dua atau tiga agama yang muncul," tulis Dennett, "tapi lifespan mereka tak sampai satu dekade."

Ada agama yang berusia ribuan tahun, tapi ada yang hanya belasan tahun. Seleksi alam menentukan hidup-matinya mereka. Agama Mesir kuno bertahan lebih dari 2000 tahun, tapi kemudian punah tanpa bekas. Tradisi Yahudi sudah ada sejak 2500 tahun silam, tapi karakter agama ini sudah sangat berbeda dari pertama kali ia muncul. Agama berevolusi dan bertarung terus untuk memperjuangkan siapa yang paling pas (struggle of the fittest). Agama yang tidak cocok dengan perubahan zaman akan tergilas dan mati; yang cocok akan menang dan terus hidup.

Kesimpulan
Sebagai penutup, saya ingin mengutip Freeman Dyson dalam resensinya terhadap buku Breaking the Spell yang dimuat The New York Review of Books. Menurutnya, ada dua jenis Ateis:

pertama, Ateis biasa yang tak percaya Tuhan;
kedua, Ateis sejati yang menganggap Tuhan sebagai musuh besarnya.

Kaum Ateis biasa menjalani hidup secara rileks, karena mereka begitu meyakini bahwa dunia ini berjalan sepenuhnya tanpa Tuhan. Tuhan tidak ada; mengapa kita harus membicarakan sesuatu yang tidak ada? Sementara itu, kaum Ateis sejati selalu gelisah karena dihantui tanggungjawab untuk mengusir Tuhan dari dunia ini. Tuhan tidak ada, tapi ada banyak sekali manusia yang berusaha menghadirkannya. Jika hal ini terus dibiarkan, dunia terancam bahaya: kemasukan setan gampang disembuhkan, tapi kemasukan Tuhan, sulit dicari obatnya. Orang yang kerasukan setan paling-paling hanya meresahkan tetangga, tapi orang yang kerasukan Tuhan bisa mengganggu ketentraman hidup, meledakkan pesawat, menghancurkan gedung, stasiun kereta api, kafe, dan membunuh ribuan orang tak berdosa.

Singapura, 10 September 2007

[kembali ke kumpulan artikel]

Tuhan Yang Diciptakan dan Tuhan Yang Sebenarnya

PADA suatu hari di penghujung 1970-an (saya tidak ingat lagi tahun berapa persisnya) di Direktorat Urusan Agama Hindu dan Buddha, Departemen Agama Republik Indonesia, yang pada waktu itu berlokasi di Jl. M.H. Thamrin, Jakarta, seorang pegawai Direktorat itu yang menganut Buddhisme dan saya sempat berdiskusi secara singkat sekitar konsep tentang Tuhan. Saya memulai diskusi itu dengan mengkritik ketidakjelasan konsep Buddhis tentang Tuhan. Saya mengatakan kepadanya bahwa konsep Buddhis tentang Tuhan tidak jelas. Buku-buku tentang Buddhisme, pada umumnya, tidak memuat uraian dan pembahasan tentang Tuhan. Siddharta Gautama tidak memberikan penjelasan dan doktrin tentang Tuhan. Penolakan Gautama terhadap pembicaraan tentang Tuhan telah "memiskinkan" Buddhisme dalam pembicaraan tentang Tuhan. Buddisme tidak mempunyai konsep yang jelas tentang Tuhan.

Pegawai yang cerdas itu berbalik mengkritik konsep Islam (atau orang-orang Muslim). tentang Tuhan. Ia mengatakan bahwa orang-orang Muslim membuat suatu kesalahan besar dalam memahami Tuhan. Kesalahan itu, menurutnya, terletak pada pemahaman dan kepercayaan orang-orang Muslim bahwa Tuhan adalah "begini" dan "begitu". Orang-orang Muslim mengatakan bahwa Tuhan mempunyai 20 sifat, atau mempunyai 99 nama. Tuhan adalah Maha Pengasih, Maha Penyayang, Raja, Maha Suci, Pemberi bentuk, Pencipta, Maha Mengetahui, Maha Mendengar, Maha Melihat, dan banyak lagi nama-nama atau sifat-sifat lain. Ini berarti bahwa orang-orang Muslim membuat konsep, ide, atau gagasan tentang Tuhan. Mereka mengungkapkan Tuhan yang tidak terbatas dengan kata-kata dan bahasa manusia yang terbatas.

Pegawai itu mengatakan bahwa Tuhan dalam konsep, ide, atau gagasan bukanlah Tuhan yang sebenarnya karena Tuhan yang sebenarnya di luar konsep, ide, atau gagasan. Tuhan seperti itu adalah Tuhan yang diciptakan oleh manusia, bukan Tuhan yang sebenarnya. Tuhan tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata dan bahasa. Tuhan adalah misteri yang tidak dapat diketahui, tidak dapat dipahami, dan tidak dapat dipikirkan oleh akal manusia. Karena itu, Tuhan tidak dapat dikatakan "begini" dan "begitu".

Mendengar kritiknya itu, saya terdiam karena saya tidak dapat membantahnya. Waktu itu saya memang masih menjadi mahasiswa S1 yang sedang merampungkan penulisan skripsi tentang konsep monoteisme dalam agama-agama besar (Yudaisme, Kristen, Islam, Hinduisme, dan Buddhisme), belum menjadi sarjana. Tetapi itu tidak boleh menjadi alasan. Pokoknya, saya tidak berkutik terhadap "pukulan keras" itu. Saya hanya dapat berharap agar saya dapat lebih banyak lagi mempelajari dan memahami persoalan yang saya diskusikan dengan orang itu.

Tulisan yang Anda baca ini ingin mendiskusikan kembali persoalan tersebut. Maka pertanyaan-pertanyaan yang perlu diajukan di sini adalah; Sejauh mana manusia dapat mengetahui Tuhan yang transenden dan absolut itu? Bagaimana pengetahuan manusia yang benar tentang Tuhan? Jika Tuhan tidak dapat dinamai, dibicarakan, dan diungkapkan, bagaimana mungkin manusia dapat mengetahui dan berhubungan dengan-Nya?

A. Tuhan yang Diciptakan
Ibn al-'Arabi (560-638/1165-1240), salah seorang Sufi terbesar, mengkritik orang yang memutlakkan, atau, jika boleh, "menuhankan", kepercayaannya kepada Tuhan, yang menganggap kepercayaannya itu sebagai satu-satunya yang benar dan menyalahkan kepercayaan orang lain. Orang seperti itu memandang bahwa Tuhan yang dipercayainya itu adalah Tuhan yang sebenarnya, yang berbeda dengan Tuhan yang dipercayai oleh orang lain yang dianggapnya salah. Ibn al-'Arabi menyebut Tuhan yang dipercayai manusia

"Tuhan kepercayaan" (ilah al-mu'taqad), "Tuhan yang dipercayai" (al-ilah al-mu'taqad), "Tuhan dalam kepercayaan" (al-ilah fi al-i'tiqad), "Tuhan kepercayaan" (al-haqq al-i'tiqadi), "Tuhan yang dalam kepercayaan" (al-haqq al-ladzi fi al-mu'taqad), dan "Tuhan yang diciptakan dalam kepercayaan" (al-haqq al-makhluq fi al-i'tiqad).

Kata i'tiqad data mu'taqad, yang dalam tulisan ini diterjemahkan dengan "kepercayaan", berasal dari akar '-q-d, yang berarti merajut, membuhul, mengikat; mengikatkan dengan sebuah buhul; memasang, mengumpulkan, menggabungkan, mengunci; mengecilkan, menyempitkan, mengerutkan; mengarahkan, memusatkan; melengkungkan, melekukkan; bertemu, berkumpul; mengadakan pertemuan, mengadakan rapat, mengumpulkan; membuat perjanjian, mengikat kontrak. Kata i'tiqad sendiri, secara literal (harfiah) atau figuratif (majazi), berarti menjadi terikat atau tersusun dengan kuat. Maka i'tiqad, "kepercayaan", adalah suatu "ikatan" yang diikat dengan kuat dalam kalbu atau pikiran, sebuah keyakinan bahwa sesuatu adalah benar. Bagi Ibn al-'Arabi, "kepercayaan" adalah sebuah (peng)ikatan (binding) dan (pem)batasan (delimitation) Wujud Yang Tak Terbatas, Wujud Absolut (al-wujud al-muthlaq), yang dilakukan oleh dan berlangsung dalam subyek manusiawi.

Kepercayaan seorang hamba kepada Tuhannya ditentukan dan diwarnai oleh kapasitas pengetahuan sang hamba. Kapasitas pengetahuan itu tergantung kepada "kesiapan partikular" (al-isti'dad al-juz'i) masing-masing individu hamba sebagai bentuk penampakan "kesiapan universal" (al-isti'dad al-kulli) atau "kesiapan azali" (al-isti'dad al-azali) yang telah ada sejak azali dalam "entitas-entitas permanen" (al-a'yan al-tsabitah), yang merupakan bentuk penampakan diri (tajalli) al-Haqq (yaitu Tuhan). Tuhan menampakkan diri-Nya kepada hamba-Nya sesuai dengan kesiapan sang hamba untuk mencapai pengetahuan tentang Tuhan yang akhirnya "diikat" atau "dibatasi" oleh dan dalam kepercayaannya sesuai dengan pengetahuan yang dicapainya. Dengan demikian, Tuhan yang diketahui oleh sang hamba adalah identik dengan Tuhan dalam kepercayaannya. Dapat pula dikatakan bahwa Tuhan yang diketahuinya adalah identik dengan kepercayaannya.

Tuhan memberikan kesiapan (al-isti'dad), sesuai dengan firman-Nya, "Dia memberi segala sesuatu ciptaannya" [Q. s.Thaha/20:50]. Maka Dia mengangkat hijab antara Dia dan hamba-Nya. Sang hamba melihat-Nya dalam bentuk kepercayaannya; jadi Tuhan adalah identik dengan kepercayaannya sendiri. Baik kalbu maupun mata tidak pernah melihat sesuatu kecuali bentuk kepercayaannya tentang Tuhan. Tuhan yang ada dalam kepercayaan itu adalah Tuhan yang bentuk-Nya diliputi oleh kalbu; itulah Tuhan yang menampakkan diri-Nya kepada kalbu sehingga Dia dikenal. Maka mata tidak melihat selain Tuhan kepercayaan.163

"Tuhan kepercayaan" adalah gambar atau bentuk Tuhan, atau pemikiran, konsep, ide, atau gagasan tentang Tuhan yang diciptakan oleh akal manusia atau taklidnya. Tuhan seperti itu bukanlah Tuhan sebagaimana Dia sebenarnya, Tuhan pada diri-Nya, Zat-Nya, tetapi adalah Tuhan yang diciptakan oleh manusia sesuai dengan kemampuan, pengetahuan, penangkapan, dan persepsinya. Tuhan seperti itu adalah Tuhan yang "ditempatkan" oleh manusia dalam pemikiran, konsep, ide, atau gagasannya dan "diikat"-nya dalam dan dengan kepercayaannya. "Bentuk", "gambar", atau "wajah" Tuhan seperti itu ditentukan atau diwarnai oleh pengetahuan, penangkapan, dan persepsi manusia yang mempunyai kepercayaan kepada-Nya. Apa yang diketahui diwarnai oleh apa yang mengetahui. Dengan mengutip perkataan al-Junayd, Ibn al-'Arabi berkata: "Warna air adalah warna bejana yang ditempatinya" (Lawn al ma' lawn ina'ihi). Itulah sebabnya mengapa Tuhan melalui sebuah hadits qudsi berkata: "Aku adalah dalam sangkaan hamba-Ku tentang Aku" (Ana 'inda zhann 'abdi bi).164 Tuhan disangka, bukan diketahui. Dengan kata lain, Tuhan hanya dalam sangkaan manusia, bukan dalam pengetahuannya. Tuhan tidak diketahui dan tidak dapat diketahui.

Menarik untuk memperhatikan lanjutan firman Tuhan dalam hadits qudsi yang dikutip ini, yaitu: "Maka hendaklah ia [sang hamba] bersangka baik tentang Aku" (Fal-yazhunn bi khayran).

Tuhan menyuruh agar kita bersangka baik tentang Dia dalam setiap keadaan dan melarang kita bersangka buruk tentang Dia.165 Kita harus menjadikan sangkaan kita sebagai pengetahuan bahwa Tuhan adalah Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Penolong, dan Maha Pengampun. Kita tidak boleh bersangka bahwa Tuhan adalah "pengawas yang selalu mencari kesalahan", "petugas keamanan yang kasar dan galak", atau "tuan besar yang bengis". Sangkaan baik tentang Tuhan mendorong kita untuk mendekati dan mencintai-Nya agar kita mendapat rahmat-Nya. Nabi s.a.w. berkata: "Rahmat Tuhan mendahului (mengalahkan) murka-Nya". Sangkaan buruk tentang Tuhan membuat kita jauh dari-Nya, menyalahkan-Nya, dan akhirnya berputus asa. Tuhan tidak menyenangi orang-orang yang berputus asa.

Kritik Ibn al-'Arabi terhadap orang yang memutlakkan Tuhan dalam kepercayaannya, Tuhan yang diciptakannya dalam kepercayaannya, mengikatkan kita kepada kritik Xenophanes (kira-kira 570-480 SM), seorang filsuf Yunani, terhadap antropomorfisme Tuhan, atau tuhan-tuhan. Kritik tokoh dari Kolophon, Asia Kecil, ini berbunyi sebagai berikut:
    Seandainya sapi, kuda, dan singa mempunyai tangan dan pandai menggambar seperti manusia, tentu kuda akan menggambarkan tuhan-tuhan menyerupai kuda, sapi akan menggambarkan tuhan-tuhan menyerupai sapi, dan dengan demikian mereka akan mengenakan rupa yang sama kepada tuhan-tuhan seperti terdapat pada mereka sendiri. Orang Etiopia mempunyai tuhan-tuhan hitam dan berhidung pesek, sedangkan orang Trasia mengatakan bahwa tuhan-tuhan mereka bermata biru dan berambut merah.166
Sebagaimana dikatakan di atas, "Tuhan kepercayaan" adalah Tuhan ciptaan manusia. Barangsiapa yang memuji ciptaannya memuji dirinya sendiri. Ibn al-'Arabi berkata:
    Tuhan kepercayaan adalah ciptaan bagi yang mempersepsinya. Dia adalah ciptaannya. Karena itu, pujiannya kepada apa yang dipercayainya adalah pujiannya kepada dirinya sendiri. Itulah sebabnya mengapa ia mencela kepercayaan orang lain. Jika ia menyadari [persoalan yang sebenarnya], tentu ia tidak akan berbuat demikian itu. Tidak diragukan bahwa pemilik obyek penyembahan khusus itu adalah bodoh tentang itu karena penolakannya terhadap apa yang dipercayai oleh orang lain tentang Allah. Jika ia mengetahui apa yang dikatakan oleh al-Junayd, "Warna air adalah warna bejana yang ditempatinya", ia akan memperkenankan apa yang dipercayai setiap orang yang mempunyai kepercayaan dan mengakui Tuhan dalam setiap bentuk dan dalam setiap kepercayaan.167
Teori Ibn al-'Arabi tentang "Tuhan kepercayaan" didasarkan pula kepada sebuah hadits Nabi s.a.w. tentang penampakan diri Tuhan (tajalli al-haqq) pada hari kiamat.168 Nabi menceritakan bahwa pada hari kiamat, Tuhan akan menampakkan diri-Nya kepada umat manusia dalam berbagai bentuk, yang tiap-tiap bentuk akan ditolak oleh setiap orang yang tidak mengenalnya dan akan diterima oleh setiap orang yang mengenalnya. Akhirnya, semua orang atau kelompok akan menyadari bahwa sebenarnya Tuhan yang menampakkan diri-Nya dalam berbagai bentuk itu adalah satu dan sama; itu juga, tidak lain.

Pandangan Ibn al-'Arabi ini sesuai dengan larangan Nabi s.a.w. agar para sahabatnya tidak menyalahkan seorang awam yang pernah mengatakan kepada beliau di hadapan mereka bahwa Tuhan berada di langit, nun jauh di atas. Para sahabat mempersoalkan kepercayaan orang awam itu karena Tuhan berada di mana saja, tidak terikat oleh ruang dan waktu, dan tidak berbentuk. Tetapi Nabi memandang bahwa "sangkaan" orang awam itu tentang Tuhan sudah memadai baginya. Nabi sendiri pernah berkata: "Kasihilah siapa yang di bumi, niscaya engkau akan dikasihi oleh siapa yang di langit" (Irham man fi al-ardi, yarham-ka man fi al-sama'). Yang dimaksud dengan "siapayang di langit" dalam hadits ini adalah Tuhan. Tuhan berada di langit. Dengan alasan ini, dapat dikatakan bahwa Tuhan dalam kepercayaan Islam adalah "Tuhan Langit" ("the Sky God"), "Tuhan Surgawi" [karena surga berada di langit] ("the Heavenly God"), atau "Wujud Tertinggi Samawi" ("the Celestial Supreme Being"). Langit adalah simbol ketinggian, keagungan, keindahan, dan keabadian. Karena itu, langit dijadikan simbol Tuhan. Simbol bukan menunjukkan dirinya sendiri, tetapi menunjukkan sesuatu yang lain di luar dirinya. Simbol Tuhan bukanlah Tuhan, tetapi menunjukkan Tuhan.

Tuhan dalam kepercayaan Islam adalah seorang "laki-laki", atau, lebih tepatnya, disimbolkan dengan seorang "laki-laki". Tuhan dalam kepercayaan Islam, seperti Tuhan dalam kepercayaan-kepercayaan Yahudi dan Kristen, adalah Huwa ("He"), bukan Hiya ("She"). Tuhan dalam kepercayaan Islam selalu dipahami dengan kata-kata maskulin. (Pandangan yang menekankan aspek maskulin Tuhan atau memahami Tuhan sebagai "Tuhan Laki-Laki" seperti ini ditentang oleh teologi feminis radikal yang menekankan aspek feminin Tuhan atau memandang Tuhan sebagai "Tuhan Perempuan"). Dengan demikian, Tuhan dalam kepercayaan Islam, sebagaimana dalam kepercayaan-kepercayaan Yahudi dan Kristen, adalah seorang "person," seorang "pribadi". Itulah sebabnya mengapa dikatakan bahwa Tuhan agama-agama monoteistik atau teistik, termasuk Islam, adalah "personal", "berpribadi". Tuhan dalam arti ini bukan "impersonal", bukan "tak-berpribadi", dan, karena itu, Dia bukan "Itu" ("It").

Pengaruh kebudayaan terhadap bentuk atau tipe kepercayaan kepada Tuhan, terhadap "Tuhan kepercayaan", dibuktikan oleh sejarah agama agama. Tuhan dalam kepercayaan orang-orang yang berkebudayaan patriarkal pastoral, yang berkebudayaan perayahan yang hidup dengan menggembala, berbeda dengan Tuhan dalam kepercayaan orang-orang yang berkebudayaan matriarkal agrikultural, yang berkebudayaan peribuan yang hidup dengan bertani. Bapa Samawi atau Bapa Surgawi adalah Tuhan tipikal orang-orang nomad yang hidup dari hasil kawanan ternak mereka; kawanan ternak itu hidup di padang rumput, dan pada gilirannya padang rumput tergantung kepada hujan dari langit. Ibu Bumi atau Ibu Pertiwi adalah Tuhan tipikal para petani yang hidup dari hasil tanah atau bumi.169 Dalam kebudayaan patriarkal pastoral, biasanya bapa dan langit dijadikan sebagai simbol Tuhan. Dalam kebudayaan matriarkal agrikultural, ibu dan bumi sering dijadikan sebagai simbol Tuhan. Agama-agama Semitik lebih cenderung kepada kebudayaan tipe pertama. Bukankah agama-agama Semitik, karena diturunkan dari langit, sering disebut "agama-agama samawi", "agama-agama langit?" Dalam ketiga agama ini, karena "Tuhan berada di langit", maka ungkapan-ungkapan simbolis, seperti "turun dari langit", "naik ke langit", dan "berada di langit", lazim digunakan untuk melukiskan peristiwa-peristiwa sakral dan pengalaman-pengalaman spritual.

Sekali lagi, semua deskripsi dan ungkapan ini adalah simbol (yang menunjukkan) Tuhan, bukan Tuhan itu sendiri. Di mata kaum monoteis, kekeliruan kaum politeis terletak pada penuhanan mereka akan simbol-simbol seperti langit, matahari, bulan, dan bumi. Kaum politeis tidak lagi sepenuhnya bertuhan kepada Tuhan, tetapi telah bertuhan kepada simbol-simbol.

Di mata Ibn al-'Arabi, orang yang menyalahkan atau mencela kepercayaan-kepercayaan lain tentang Tuhan adalah orang yang bodoh karena Tuhan dalam kepercayaannya sendiri, sebagaimana dalam kepercayaan-kepercayaan yang disalahkannya itu, bukanlah Tuhan sebagaimana Dia sebenarnya, karena Tuhan sebagaimana Dia sebenarnya tidak dapat diketahui. Orang seperti itu mengakui hanya Tuhan dalam bentuk kepercayaannya atau kepercayaan kelompoknya sendiri dan mengingkari Tuhan dalam bentuk-bentuk berbagai kepercayaan lain. Padahal Tuhan yang menampakkan diri-Nya dalam semua bentuk kepercayaan-kepercayaan yang berbeda itu adalah satu dan sama. Kritik Ibn al-'Arabi ini, jika harus konsisten, tertuju kepada setiap orang yang mencela kepercayaan-kepercayaan lain yang berbeda dengan kepercayaannya tentang Tuhan, baik dalam lingkungan orang-orang yang seagama dengannya maupun dalam lingkungan orang-orang yang berbeda agama. Ibn al-'Arabi memperingatkan kita sebagai berikut:
    Maka berhati-hatilah agar anda tidak mengikatkan diri kepada ikatan ('aqd) [yaitu kepercayaan, doktrin, dogma, atau ajaran] tertentu dan mengingkari ikatan lain yang mana pun, karena dengan demikian itu anda akan kehilangan kebaikan yang banyak; sebenarnya anda akan kehilangan pengetahuan yang benar tentang apa itu yang sebenarnya. Karena itu, hendaklah anda menerima sepenuhnya semua bentuk kepercayaan-kepercayaan, karena Allah Ta'ala terlalu luas dan terlalu besar untuk dibatasi dalam satu ikatan tanpa ikatan lain, Dia berkata: "Kemana pun kamu berpaling, di situ ada wajah Allah", [Q 2:115] tanpa menyebutkan arah tertentu mana pun.170
Pengetahuan yang benar tentang Tuhan, menurut Sufi dari Andalusia ini, adalah pengetahuan yang tidak terikat oleh bentuk kepercayaan atau agama tertentu. Inilah pengetahuan yang dimiliki oleh "para gnostik" (al- 'arifun). Karena itu, "para gnostik", yaitu para Sufi, tidak pernah menolak Tuhan dalam kepercayaan, sekte, aliran, atau agama apa pun. Ini berarti bahwa Tuhan, bagi mereka, dalam semua kepercayaan, sekte, aliran, atau agama, adalah satu dan sama. Kata Ibn al-'Arabi, "Barangsiapa yang membebaskan-Nya [yaitu Tuhan] dari pembatasan tidak akan mengingkari-Nya dan mengakui-Nya dalam setiap bentuk tempat Dia mengubah diri-Nya."171

[Kembali]

B. Tuhan Yang Sebenarnya
Tuhan sebagaimana Dia sebenarnya, Tuhan pada diri-Nya, Zat Tuhan, tidak diketahui dan tidak dapat diketahui oleh akal manusia. Tuhan dalam arti ini oleh Ibn al-'Arabi disebut "Tuhan Yang Sebenarnya", "the Real God" (al-ilah al-haqq) "Tuhan Yang Absolut", "the Absolute God" (al-ilah al-muthlaq); dan "Tuhan Yang Tidak Diketahui", "the Unknown God" (al-ilah al-majhul). Tuhan dalam arti ini adalah munazzah (tidak dapat dibandingkan [dengan alam], sama sekali berbeda dengan alam, transenden terhadap alam. "Tidak sesuatu pun serupa dengan-Nya" (Q., s. al-Syura/42:11). "Penglihatan tidak dapat mempersepsi-Nya, tetapi Dia mempersepsi semua penglihatan" (Q., s. al-An'am/6: 103). Itulah Tuhan yang tidak bisa dipahami dan dihampiri secara absolut, yang sering disebut Dzat Tuhan. Itulah Yang Absolut dalam keabsolutan-Nya yang terlepas dari semua sifat dan relasi yang dapat dipahami manusia. Dia adalah "yang paling tidak tentu dari semua yang tidak tentu", "yang palingtidak diketahui dari semua yang tidak diketahui" (ankar al-nakirat). Dia adalah selama-lamanya suatu misteri, yang oleh Ibn al-'Arabi disebut "Misteri Yang Absolut" (al-ghayb al-muthlaq) atau "Misteri Yang Paling Suci" (al-ghayb al-aqdas). Dilihat dari sudut penampakan diri (tajalli) Tuhan, dikatakan bahwa Yang Absolut dalam keabsolutan-Nya adalah pada tingkat "keesaan" (ahadiyah).

Karena Tuhan, yaitu Dzat Tuhan, tidak dapat diketahui oleh siapa pun, maka Nabi s.a.w. melarang orang-orang beriman untuk memikirkan Tuhan. Beliau bersabda: "Berpikirlah, tentang ciptaan Allah, tetapi jangan berpikir tentang Dzat Allah." Hadits ini cukup terkenal di kalangan orang-orang yang mempelajari ilmu tawhid. Larangan ini diperkuat oleh Ibn al-'Arabi dengan firman Tuhan yang berbunyi: "Allah memperingatkan kamu tentang diri-Nya" (Q., s. Alu 'Imran/3:28). Ibn al-'Arabi menegaskan sebagai berikut:

Berpikir (fikr) tidak mempunyai hukum dan daerah kekuasaan dalam [mengetahui, atau memahami] Zat al-Haqq, baik secara rasional maupun menurut Syara'. Syara' telah melarang berpikir tentang Zat Allah. Inilah yang disinggung oleh firman-Nya, "Allah memperingatkan kamu tentang diri-Nya," [Q., s. Alu 'Imran/3: 28] yaitu "Jangan kamu berpikir tentang-Nya [Zat-Nya)!" Larangan ini ditetapkan karena tidak ada hubungan antara Zat al-Haqq dan zat al-khalq.172

Dari segi diri-Nya, Zat Tuhan tidak mempunyai nama, karena Dzat itu bukanlah lokus efek dan bukan pula diketahui oleh siapa pun. Tidak ada nama yang menunjukkannya yang terlepas dari hubungan dan bukan pula dengan pengukuhan. Nama-nama berfungsi untuk pemberitahuan dan pembedaan, tetapi pintu [untuk mengetahui Zat Tuhan] dilarang bagi siapa pun selain Allah, karena tidak ada yang mengetahui Allah kecuali Allah.173

Ibn al-'Arabi mengecam orang-orang yang melanggar larangan berpikir tentang Zat Tuhan dan menuduh mereka telah menambah kesalahan dengan al-khawdl (melakukan upaya spekulasi besar-besaran dan serampangan). Ia memandang bahwa upaya mereka itu adalah sia-sia.

Pandangan bahwa Tuhan tidak dapat diketahui ditemukan pula dalam Bibel. Salah satu bagian Kitab Suci ini mengatakan bahwa Tuhan, meskipun hadir dalam alam dan manusia, adalah misteri yang tidak dapat dipahami oleh akal manusia. Ketika Nabi Musa berada di Gunung Sinai, ia melihat dan menyaksikan dalam semak-semak yang menyala (tetapi tidak dimakan api) Kehadiran Tuhan yang memerintahkannya untuk menghadapi Fir'awn dan membebaskan bangsa Israel dari raja yang zalim itu. Lalu, Musa bertanya kepada Tuhan tentang nama-Nya untuk mengetahui siapa diri-Nya, Tuhan menjawab:

"Ehyeh asyer Ehyeh" (Keluaran 3:14). Terjemahan yang biasa dari ungkapan Ehyeh asyer Ehyeh adalah "Aku adalah Aku" ("I am that I am") atau "Aku akan jadi Aku" ("I will be that I will be"). Leo Schaya, seorang sarjana terkemuka tentang Kabbalisme (mistisisme Yahudi), menafsirkan bahwa Kehadiran Zat yang esa itu menyatakan diri-Nya kepada Musa sebagai Ehyeh, "Wujud ('Being') yang esa dan universal," sebagai "Wujud yang adalah Wujud" ("Being that is Being' (Ehyeh asyer Ehyeh), di luar dan di dalam seluruh eksistensi. Tetapi Ia juga menyatakan kepadanya [yaitu Musa] bahwa Ia bukan hanya Zat dan Prinsip eksistensi, tetapi secara serentak tetap dalam keadaan pada diri-Nya, dalam Supra-Wujud atau Bukan-Wujud Nya --yang dalam Kabbalah disebut Ain, "Ketiadaan" ilahi (the divine "Nothingness").174

Kaum Kabbalis, dalam keinginan besar mereka untuk menekankan ketakterpahaman (incomprehensibilty) Tuhan pergi begitu jauh sehingga mereka berbicara tentang Tuhan sebagai 'Ayn --"Dia Yang Bukanlah", "Dia Yang adalah Bukan" ("He Who is Not")-- yaitu untuk mengatakan bahwa sesungguhnya orang tidak dapat mengatakan bahwa Tuhan ada [dan tentu pula sebaliknya tidak dapat mengatakan bahwa Tuhan tidak ada], karena mengatakan demikian adalah juga suatu deskripsi tentang yang tidak dapat dideskripsikan.175

Jawaban Tuhan tersebut, Ehyeh asyer Ehyeh, menunjukkan bahwa diri-Nya tidak dapat dipahami oleh akal manusia. Karena itu, Musa diperingatkan oleh Tuhan agar tidak bertanya tentang diri-Nya, Dzat-Nya.

Yang diketahui oleh manusia adalah perbuatan-perbuatan atau karya-karya Tuhan, bukan Tuhan itu sendiri. Ini berarti bahwa Tuhan hanya bisa diketahui melalui perbuatan-perbuatan-Nya, tidak pernah diketahui sebagai Dia pada diri-Nya. Ketika Musa memohon kepada Tuhan agar memperlihatkan kemuliaanNya, Dia berfirman:

"Engkau tidak akan bisa memandang wajah-Ku, karena tidak ada orang yang bisa memandang wajah-Ku dan bisa hidup." Tuhan berfirman: "Ada suatu tempat dekat-Ku, tempat engkau dapat berdiri di atas batu. Apabila kemuliaanKu lewat, maka Aku akan menempatkan engkau dalam lekuk batu itu dan Aku akan menutupi engkau dengan tangan-Ku sehingga Aku lewat. Lalu, Aku akan menarik tangan-Ku, dan engkau akan melihat belakang-Ku, tetapi wajah-Ku tidak akan terlihat" (Keluaran 33:20-23).

Dalam Perjanjian Baru, tradisi mistis ini, meskipun tidak begitu tegas, mempunyai akar yang dapat tumbuh dengan subur dan kuat. St. Yohanes mengatakan: "Tidak seorang pun melihat Tuhan kapan saja" (Yohanes 1:18). Surat Paulus kepada Timotius membicarakan Tuhan "yang bersemayam dalam cahaya yang tak terhampiri. Tidak seorang pun pernah melihat-Nya; dan memang tidak seorang pun bisa pernah melihat-Nya" (1 Timotius 6:16). Ungkapan Paulus kepada Timotius ini, yang ditemukan menjelang akhir periode Perjanjian Baru dan menunjukkan pengaruh pemikiran Yunani, seperti dikatakan Bede Griffiths, menyatakan transendensi absolut Ketuhanan (Godhead). Ini telah dikembangkan oleh para bapa Yunani dalam konteks konsep tentang ketakterpahaman (incomprhensibility) Tuhan.176

Pandangan yang menekankan penegasian pengetahuan tentang Tuhan dikenal dalam, bahkan sangat akrab dengan, tradisi-tradisi keagamaan Timur, seperti Hinduisme dan Taoisme. Upanisad, Kitab Suci Hindu, mengatakan:

Dia yang tidak terlihat oleh mata, yang tidak terucapkan oleh lidah, dan yang tidak tertangkap oleh pikiran. Dia yang tidak kita ketahui, juga yang tidak mampu kita ajari. Berbedalah Dia dengan yang diketahui, dan berbedalah Dia dengan yang tidak diketahui. Demikian kita ketahui dari sang bijak. Yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata tetapi dengan-Nya lidah berbicara ketahuilah itu adalah Brahman. Brahman bukanlah wujud yang disembah manusia. Yang tidak dipahami oleh pikiran tetapi dengan-Nya pikiran memahami --ketahuilah itu adalah Brahman. Brahman bukanlah wujud yang disembah manusia. Yang tidak dilihat oleh mata tetapi dengan-Nya mata melihat --ketahuilah itu adalah Brahman. Brahman bukanlah wujud yang disembah manusia. Yang tidak didengar oleh telinga tetapi dengan-Nya telinga mendengar --ketahuilah itu adalah Brahman. Brahman bukanlah wujud yang disembah manusia. Yang tidak ditarik oleh nafas tetapi dengan-Nya nafas ditarik --ketahuilah itu adalah Brahman. Brahman bukanlah wujud yang disembah manusia. Jika engkau mengira bahwa engkau mengetahui dengan baik kebenaran Brahman, ketahuilah bahwa engkau mengetahui [hanya] sedikit. Apa yang anda kira sebagai Brahman pada diri anda, atau apa yang anda kira sebagai Brahman dalam tuhan-tuhan [atau dewa-dewa] --itu bukanlah Brahman" (Kena Upanisad).

Karena Brahman tidak dapat diungkapkan oleh apa pun dan selalu di luar kata-kata dan di luar pemikiran, maka Brihadaranyaka Upanisad mengatakan bahwa Brahman mustahil dibicarakan. Brahman adalah "bukan ini, bukan ini", "bukan ini, bukan itu" ("neti, neti"). Brahman tidak dapat dikatakan bagaimana, tidak bersifat ("nirguna"). Karena itu, Brahman pada tingkat ini disebut "nirguna Brahman". Pada tingkat ini Dia adalah Yang Absolut dalam keabsolutan-Nya.

Prolog Tao Te Ching, Kitab Suci Taois, yang biasanya dianggap ditulis oleh Lao-Tze, dibuka dengan kata-kata: "Tao yang dapat dibicarakan bukanlah Tao yang sebenarnya atau kekal. Nama-nama yang dapat disebutkan bukanlah nama yang sebenarnya atau kekal" (Tao Te Ching 1:1). Chuang-Tze, penulis Cina abad keempat SM, dengan nada yang sama mengatakan:

Tao Yang Agung tidak dinamai/dinamakan;
Diskriminasi-diskriminasi Yang Agung tidak dibicarakan;
Kemurahan Hati Yang Agung bukanlah murah hati;
Kerendahan Hati Yang Agung bukanlah rendah hati;
Keberanian Yang Agung bukanlah menyerang;
Jika Tao dijelaskan, itu bukanlah Tao.

(Chuang-Tze, Bab 2)

Kutipan-kutipan ini menunjukkan bahwa Tao tidak dapat diungkapkan dan dijelaskan dengan kata-kata; Ia adalah di luar bahasa. Itulah Tao yang sebenarnya, yang merupakan Yang Absolut dalam keabsolutan-Nya. Yang Absolut itu oleh Laot-Tze disebut "Misteri di belakang segala misteri" ("hsuan chih yu hsuan") dan oleh Chuang-Tze disebut "Tiada-Tiada-Tiada-Apa-apa", "No-No-Nothing", atau "Bukan-Bukan-Bukan-Wujud", "Non-Non-Non-Being" ("wu-wu-wu"). "Tiada-Tiada-Tiada-Apa-apa" adalah Tao atau "Tiada-Apa-apa metafisis yang bukan suatu 'tiada-apa-apa' yang sederhana, tetapi suatu TiadaApa-apa yang berada di seberang 'wujud' dan 'bukan-wujud' sebagaimana biasanya dipahami".177 Yang Absolut dalam kebsolutan-Nya seperti ini dalam Sufisme Ibn al-'Arabi disebut "Misteri Yang Absolut" dan "Misteri Yang Paling Suci", dalam mistisisme Kristen disebut "Ketuhanan", dan dalam tradisi Hindu disebut "nirguna Brahman".

[Kembali]

C. Teologi Apofatik
Dalam konteks ini, salah satu persoalan teologis-mistis yang selalu menggoda untuk dijawab adalah cara mendekati dan mencintai Tuhan. Bagaimana mungkin kita dapat mendekati dan mencintai Tuhan yang tidak diketahui? Bagaimana mungkin Tuhan yang sama sekali berbeda dengan alam dan manusia dapat hadir dalam alam dan manusia? Bagimana mungkin Tuhan yang transenden terhadap alam dan manusia adalah immanen dalam alam dan manusia? Menurut Thomas Merton (1915-1968), seorang teolog dan mistikus Katolik Roma berkebangsaan Amerika, para teolog mistis menghadapi persoalan ini sebagai persoalan "mengatakan apa yang sesungguhnya tidak dapat dikatakan" ("saying what cannot really be said").178 Persoalan ini dapat pula dideskripsikan dengan ungkapan-ungkapan paradoksikal lain, seperti membicarakan yang tidak dapat dibicarakan" ("speaking of the unspeakable"),179 "mengetahui Tuhan Yang Tidak Dapat Diketahui" ("knowing the Unknowable God"),180 "menamai yang tidak dapat dinamai," "menamakan apa yang tidak dapat dinamakan" ("naming the unnamable"),181 "mengungkapkan yang tidak dapat diungkapkan" ("expressing the inexpressible"),182 "memikirkan yang tidak dapat dipikirkan" ("thinking of the unthinkable"), "memahami yang tidak dapat dipahami" ("comprehending the incomprehensible"), "membayangkan yang tidak dapat dibayangkan" ("conceiving the unconceivable"), dan "melukiskan yang tidak dapat dilukiskan" ("describing the indescribable").

Salah satu cara terbaik untuk memecahkan persoalan ini adalah dengan suatu teologi yang disebut "teologi apofatik" ("apophatic theology"), teologi "tidak mengetahui" (the theology of "unknowing"), yang melukiskan pengalaman transenden tentang Tuhan dalam cinta sebagai suatu "mengetahui dengan tidak mengetahui" ("knowing by unknowing") dan suatu "melihat yang bukan melihat" ("seeing that is not seeing").183

Seorang mistikus dan penulis spiritual Inggris abad keempatbelas, penulis anonim The Cloud of Unknowing, adalah salah satu contoh terbaik wakil teologi apofatik karena kecenderungan teologinya itu menekankan bahwa Tuhan paling baik diketahui dengan penegasian: "kita dapat mengetahui lebih banyak tentang apa yang bukan Tuhan ketimbang tentang apa yang adalah Dia" ("we can know much more about what God is not than about what He is").184 Penulis The Cloud of Unknowing itu dengan konstan menggunakan tema paradoksikal "mengetahui" dan "tidak mengetahui." Menjelang bagian akhir karyanya itu, ia menegaskan intisari pandangan apofatiknya dengan mengutip kata-kata Dionysius orang Areopagus (St. Denis), "Dan karena itu St. Denis berkata, 'Mengetahui yang paling saleh [paling tinggi] akan Tuhan adalah [mengetahui] yang dikenal dengan tidak mengetahui'" ("And therefore St. Denis said 'The most godly knowing of God is that which is known by unknowing'").185

William Johnston, seorang Yesuit, memberikan sebuah komentar yang menarik tentang tema paradoksikal ini. Ia berkata: "Kita mengetahui Tuhan, namun tidak mengetahui-Nya; kita mengetahui-Nya dengan tidak mengetahui; kita mengetahui-Nya dalam kegelapan; kita mengetahui-Nya dengan cinta".186 Bagi penulis The Cloud of the Unknowing, Tuhan dapat dicintai, tetapi tidak dapat dipikirkan. Meskipun jiwa manusia tidak dapat menembus misteri Tuhan dengan pemahaman rasional, ia dapat bersatu dengan-Nya dengan cinta. "Karena mengapa, Dia [yaitu Tuhan] dapat dicintai dengan baik, tetapi tidak dapat dipikirkan. Dengan cinta Dia dapat dicapai dan dipegang, tetapi dengan pikiran tidak".187 Menurut mistikus Inggris anonim ini, jika sang hamba mengosongkan pikirannya dari segala sesuatu dan segala gambaran, akan tumbuh dalam kalbunya "getaran buta dari cinta" ("the blind stirring of love") yang menembus "awan tidak mengetahui", "awan ketidaktahuan" ("The Cloud of Unknowing"), yang membawa sang hamba kepada suatu pengetahuan yang suprakonsepsual dan gelap; itulah kebijakan tertinggi.

Penulis The Cloud of Unknowing sangat dipengaruhi oleh Diosynisius orang Areopagus, yang menurut penelitian belakangan adalah seorang rahib Siria yang hidup pada ujung abad kelima dan permulaan abad keenam Masehi. Dionysius memandang bahwa pengetahuan rasional tentang Tuhan, baik dengan cara afirmatif maupun dengan cara negatif (meskipun yang terakhir ini ditekankannya karena ia menegaskan transendensi Tuhan), tidak memadai. Ia memilih pengetahuan mistis, yang menurut pandangannya lebih tinggi dari pengetahuan rasional yang diperoleh melalui spekulasi teologis dan filosofis dengan menggunakan akal. Pengetahuan mistis adalah pengetahuan yang diperoleh sebagai anugerah dari Tuhan. Pengetahuan mistis seperti ini tidak ditemukan dalam buku-buku, tidak juga diperoleh dengan usaha manusia, karena ia adalah suatu pemberian ilahi. Bagaimana pun, manusia dapat mempersiapkan diri menerimanya dengan doa dan penyucian.

Karena indera dan intelek manusia tidak mampu mencapai Tuhan, indera dan intelek harus "dikosongkan" dari semua makhluk dan disucikan supaya Tuhan dapat menuangkan cahaya-Nya ke dalam indera dan intelek itu. Dalam arti ini, indera dan intelek berada dalam kegelapan sempurna dalam hubungan dengan segala ciptaan tetapi pada saat yang sama dipenuhi dengan cahaya dari Tuhan. Karena itu, dapat dikatakan bahwa "Kegelapan Ilahi" (the "Divine Darkness') adalah cahaya yang tidak dapat dihampiri yang dikatakan di dalamnya Tuhan bersemayam". Ketika semua daya dikosongkan dari semua pengetahuan manusiawi, maka berkuasalah dalam jiwa suatu "keheningan mistik" ("mystic silence") yang membawanya kepada klimaks, yaitu kesatuan dengan Tuhan dan visi tentang Dia sebagai Dia pada diri-Nya".188 Pengetahuan seperti ini adalah pengetahuan ilahi tentang Tuhan yang berlangsung dengan "tidak mengetahui" ("unknowing") atau "ketidaktahuan" ("ignorance"), yang berarti bahwa sang hamba harus mencampakkan pengetahuan konsepsual manusiawi untuk menerima pengetahuan anugerah ilahi.

Bagi Dionysius, satu-satunya jalan mengetahui Tuhan adalah dengan "tidak mengetahui", dengan menyeberang di luar konsep, di luar pikiran rasional dan dengan menerima suatu sinar "kegelapan ilahi". Mistikus ini menyerukan agar sang pencari Tuhan melepaskan diri dari persepsi, imaginasi, dugaan, nama, pembahasan, pemahaman, pemikiran, dan segala sesuatu yang membelenggu dan menjauhkannya dari jalan menuju Tuhan, agar sang pencari memasuki "kegelapan ilahi" yang melebihi segala sesuatu dan "mengetahui dengan tidak mengetahui".

Teologi apofatik Dionysius ini menjadi dasar mistisisme apofatik Kristen di kemudian hari. Pengaruh mistikus ini dapat ditemukan, misalnya, pada Maximus Sang "Confessor", Yohanes Scotus Erigena, Thomas Aquinas, Bonaventura, Dante, dan Penulis The Cloud of Unknowing.

Bagaimana tradisi mistis Yahudi memecahkan persoalan teologis yang rumit ini? Kaum Kabbalis, seperti dikemukan di atas, memandang bahwa Tuhan adalah rahasia yang tidak dapat dipahami oleh manusia. Namun, roh manusia, atau wujud rohani manusia, mampu membenamkan dirinya dalam jurang yang dalam sekali tanpa alas dari "Ketiadaan" ilahi. Ketika Musa melihat Kehadiran Tuhan di Gunung Sinai, ia mencapai pengalaman rohani seperti itu; "ketika ia naik selangkah demi selangkah sehingga masuk ke dalam kegelapan awan Tuhan".189 Ketika itu Musa menutup matanya kepada semua pengetahuan positif, menyingkirkan semua pikiran dan penglihatan, karena ia sepenuhnya milik Dia yang tidak terjangkau oleh pikiran dan penglihatan, sehingga ia bersatu dengan Dia yang tidak dapat ditangkap oleh pengetahuan. Itulah yang oleh kaum Kabbalis disebut bittul ha-yesy, "kemusnahan eksistensi" dalam Ain, "Ketiadaan" ilahi, yang berarti kemusnahan pikiran manusiawi dan "kontemplasi tentang Ketiadaan"190 Pengalaman spiritual seperti itu tidak dapat diperoleh melalui pikiran, tetapi diperoleh melalui pertolongan Tuhan. Agar pertolongan itu diperoleh, seseorang harus memusnahkan pikiran dan pada saat yang sama harus melakukan kontemplasi tentang Ketiadaan.

Bahasa apofatisme yang jauh lebih tua dapat ditemukan dalam Upanisad. Suatu bagian Kitab Suci ini berbunyi: "Orang yang dengan benar mengetahui Brahman adalah orang yang mengetahui-Nya sebagai di luar pengetahuan; orang yang mengira bahwa ia mengetahui[-Nya], tidak mengetahui. Orang bodoh mengira bahwa Brahman diketahui, tetapi orang bijak mengetahui-Nya di seberang pengetahuan" (Kena). Ini berarti bahwa pengetahuan yang benar tentang Tuhan adalah pengetahuan negatif: "mengetahui Tuhan dengan tidak mengetahui-Nya."

Menurut Ibn al-'Arabi, pengetahuan tentang Tuhan sebagaimana Dia sebenarnya, Tuhan pada diri-Nya, Zat Tuhan, harus diperoleh dengan "peniadaan pengetahuan". Ini berarti bahwa mengetahui Tuhan dengan tidak mengetahui-Nya; pengetahuan positif tentang Tuhan adalah mustahil. Ia berkata: "Orang yang tidak mempunyai pengetahuan membayangkan bahwa ia mengetahui Tuhan, itu tidak betul", karena "pengetahuan kita tentang Tuhan adalah mustahil". "Orang yang mengetahui Tuhan tidak melampaui batas tingkatnya sendiri. Ia mengetahui apa yang ia ketahui bahwa ia adalah salah seorang di antara orang-orang yang tidak mengetahui".191

Dengan berkali-kali mengutip perkataan Abu Bakr r.a., Ibn al-'Arabi berkata: "Ketidakmampuan mencapai persepsi adalah persepsi" ["Ketidakmampuan mencapai pengetahuan adalah pengetahuan"] (Al-'ajz 'an dark al-idrak idrak).192 Ungkapan ini melukiskan tingkat tertinggi pengetahuan manusia tentang Tuhan dan segala sesuatu yang gaib yang tidak dapat diketahuinya. Orang yang mengetahui bahwa ia tidak dapat mengetahui Tuhan adalah orang yang secara benar mengetahui-Nya; itulah orang yang bijak. Orang yang menganggap bahwa ia mengetahui Tuhan adalah orang yang tidak mengetahui-Nya; itulah orang yang bodoh. Bukankah Tuhan telah berfirman: "Penglihatan tidak dapat mempersepsi-Nya [yaitu Tuhan], tetapi Dia mempersepsi semua penglihatan" (Q., s: al-An'am/6:103)?

[Kembali]

D. Catatan Akhir
Teologi apofatik menegaskan kemustahilan pengetahuan manusia tentang Tuhan sebagaimana Dia pada diri-Nya, Tuhan yang sebenarnya. Pengetahuan yang benar dan tertinggi tentang Tuhan adalah pengetahuan dengan "tidak mengetahui" atau "ketidaktahuan" karena Tuhan di luar jangkauan pengetahuan manusia dan tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata dan bahasa manusia. Pengetahuan seperti ini tidak dapat diperoleh dengan pikiran, tetapi adalah pemberian Tuhan kepada hamba-Nya yang telah mempersiapkan diri untuk menerimanya dengan doa dan penyucian. Seperti disebut di atas, penulis The Cloud of Unknowing mengatakan bahwa Tuhan dapat dicintai, tetapi tidak dapat dipikirkan. Dengan cinta Tuhan dapat dihampiri dan dipegang, tetapi dengan pikiran tidak. Tuhan bukan untuk dipikirkan dengan akal, tetapi untuk dicintai dan "dirasakan" dengan Kalbu (qalb).

Semua orang yang percaya kepada Tuhan tentu saja ingin mencintai Tuhan. Cinta seorang hamba kepada Tuhan pasti dibalas. Tuhan mencintai hamba yang mencintai-Nya. Jika sang hamba mencintai Tuhan, ia harus mengikuti Tuhan dan panutan yang diutus-Nya. Tuhan berfirman: "Katakanlah: 'Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, nicaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu'. Allah adalah Maha Pengampun dan Maya Penyayang." (Q. s. Alu 'Imran/3:31). "Aku menunjukkan cinta-Ku kepada beribu-ribu generasi, yaitu orang-orang yang mencintai-Ku dan mematuhi hukum-hukum-Ku." (Keluaran 20:6). Yesus menyerukan: "Jika kamu menuruti perintah-perintahku, kamu akan tetap dalam cintaku, seperti aku menuruti perintah-perintah Bapaku dan tetap dalam cinta-Nya" (Yohanes 15:10).

Cinta vertikal antara sang hamba dan Tuhannya tidak akan terwujud jika tidak disertai dengan cinta horisontal antara sang hamba dan sesamanya. Seperti disebutkan di atas, Nabi berkata: "Kasihilah siapa yang di bumi, niscaya engkau akan dikasihi oleh siapa yang di langit". Pada kesempatan lain beliau berkata: "Tidaklah beriman salah seorang di antara kamu hingga dia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri". Yesus membenarkan perkataan seorang ahli Taurat: "Cintailah tetanggamu seperti mencintai dirimu sendiri." (Lukas 10: 27).

Teologi apofatik, atau mistisisme apofatik, adalah suatu cara berpikir atau aktivitas mental yang digunakan oleh banyak mistikus atau Sufi untuk menempuh perjalanan menuju Tuhan dan sekaligus untuk menyuarakan protes keras terhadap kelancangan dan keangkuhan para teolog dan para filsuf yang menganggap bahwa mereka mempunyai konsep, ide, atau gagasan tentang Tuhan sebagaimana Dia pada diri-Nya. Teologi apofatik adalah peringatan bagi orang yang mereduksi Tuhan menjadi sesuatu yang rasional belaka.

Teologi apofatik menunjukkan bahwa orang yang memandang bahwa dengan nalarnya ia mempunyai pengetahuan yang memadai tentang Tuhan adalah orang yang membatasi Tuhan dalam bentuk khusus menurut pengertian yang ditentukan oleh akalnya. Padahal Tuhan tidak dapat dibatasi. Bentuk Tuhan yang ditangkapnya adalah bentuk yang dicocokkan dengan "kotak" akalnya. Ia menolak bentuk Tuhan yang tidak cocok dengan bentuk dan ukuran "kotak" akalnya. Ia menyalahkan orang lain yang mempercayai Tuhan dalam bentuk lain. Ia tidak menerima apa pun sebagai kebenaran jika bertentangan dengan akalnya. Ia telah mempertuhankan akalnya. Orang seperti ini, kata Ibn al-'Arabi, adalah "hamba nalar" ('abd nazhar), bukan "hamba Rabb" ('abd rabb).

Wa 'l-Lah-u a'lam-u bi 'l-shawab.

----------
Catatan kaki:
163 Ibn al-'Arabi, Fushush al-Hikam, diedit oleh Abu al-'Ali' Afifi, 2 bagian (Beirut: Dar al-Kitab al-'Arabi, 1980), 1:121.

164 Fushush, 1:225-226.

165 Ibn al-'Arabi, al-Futhuhat al-Makkiyah, 4 vol. (Beirut: Daral-Fikr, t.th.), 4:446.

166 H. Diels W. Kram, Die Fragmente der Vorsokratiker, Griechisch und Deutsch, 3 vol. (Berlin, 1934-1937), fr. 15-16. Kedua fragmen ini dikutip oleh K. Bertens, Sejarah Filsafat Yunani (Yogyakarta: Kanisius,1989), h. 40.

167 Fushush,1:226.

168 Lihat Muslim, al-Shahih, Kitab al-Imam, no. 302 (Kairo: Muhammad 'Ali Shabih,1334/1916), 1:114-117. Bandingkan dengan Ibn al-'Arabi, Futuhat, 1:314; 2:311; idem, Fushush, 1:184.

169 Raffaele Pettazzoni, "The Supreme Being: Phenomenological Structure and Historical Development," dalam Mircea Eliade and Joseph M. Kitagawa, eds.., The History of Religion: Essays in Methodology (Chicago & London: The University of Chicago Press, 1959, Seventh Impression, 1974), h. 64-65; Nico Syukur Dister, Pengalaman dan Motivasi Beragama: Pengantar Psikologi Agama (Jakarta: Leppenas,1982), h. 36-37; idem, Psikologi Agama: Bapa & Ibu sebagai Simbol Allah (Yogyakarta & Jakarta: Gunung Mulia & Kanisius,1983), h. 43-45.

170 Fushush,1:113.

171 Fushush, 1:121.

172 Futuhat, 2:30.

173 Futuhat, 2:69.

174 Leo Schaya, "Contemplation and Action in Judaism and Islam," dalam Yusuf Ibish and Ileana Marculescu, eds., Contemplation and Action in World Religions (Seattle and London: Rothko Chapel, 1978), h.165.

175 Rabbi Louis Jacobs, We Have Reason to Believe (London: Vallentine, Mitchell, 1965), h.14.

176 Bede Griffiths, A New Vision of Reality (Springfield, Illinois: Templegate,1990), h. 163-164.

177 Toshihiko Izutsu, Sufism and Taoism: A Comparative Study of Key Philosiphical Concepts (Los Angeles: University of California Press, 1983), 376, 379; idem, The Concept and Reality of Existence (Tokyo: The Keio Institute of Cultural and Linguistic Studies, 1971), h. 48-49.

178 Thomas Merton, "Foreword," dalam William Johnston, The Mysticism of The Cloud of Unknowing (Wheathampstead Hertfordshire, England: Anthony Clarke, 1978), h. viii.

179 Leszek Kolakowski, Religion (New York & Oxford: Oxford University Press, 1982), h. 161-206; James P. Carse, The Silence of God: Meditations on Prayer (New York: Macmillan, 1985), h. 9.

180 David B, Burrell, Knowing the Unknowable God: Ibn-Sina, Maimonides, Aquinas (Notre Dame, Indiana University of Notre Dame Press, 1986).

181 Samuel Rayan, "Naming the Unnamable," dalam Robert P. Scharlemann, ed., Naming God (New York: Paragon House, 1985), h. 3-28.

182 Martin Palmer, The Elements of Taoism (Brisbane Queensland: Element, 1993), h. 3; James P. Carse, The Silence of God, h. 9.

183 Thomas Merton, loc. cit. Kata "apofatik" ("apophatic") digunakan oleh Dionysius yang membicarakan "teologi negatif," sebagai lawan "teologi positif".

184 W. Johnston, op.cit., h.1.

185 The Cloud of Unknowing, edited by Justin McCann (London: Burns and Oates, Ltd., 1952), 125:11.

186 W. Johnston, op.cit, h.17.

187 The Cloud of Unknowing, 26;3.

188 W. Johnston, op.cit, h. 33-34.

189 Leo Schaya, op.cit, h.166.

190 Ibid.

191 Futuhat, 2:552.

192 Futuhat, 2:619; 3:132.


[Sumber: Kautsar Azhari Noer, Ketua Jurusan Perbandingan Agama, IAIN Jakarta, Pemimpin Redaksi Jurnal Pemikiran Islam Paramadina, Media.isnet.org: tuhan1 dan tuhan2]

[kembali ke kumpulan artikel]

Konsep Tuhan Yang Tidak diperlukan di Ajaran Buddha

Para bhikkhu, ada tiga pendapat sektarian yang, jika sepenuhnya diperiksa, diteliti dan dibahas, akan berakhir pada suatu doktrin tanpa tindakan, sekalipun sudah diterapkan karena tradisi. 36

Apakah tiga pendapat ini?

Para bhikkhu, ada beberapa petapa dan brahmana yang mengajar dan memegang pandangan ini: "Apapun yang dialami seseorang, apakah itu perasaan menyenangkan, menyakitkan atau perasaan netral, semua itu disebabkan oleh tindakan lampau." Ada lainnya yang mengajar dan memegang pandangan ini: "Apapun yang dialami seseorang... semua itu disebabkan oleh ciptaan Tuhan." Dan masih ada petapa dan brahmana lain yang mengajar dan memegang pandangan ini: "Apapun yang dialami seseorang... tidak ada sebabnya dan tidak dikondisikan."37

(1) Para bhikkhu, aku telah menemui para petapa dan brahmana ini (yang memegang pandangan pertama) dan berkata kepada mereka: "Apakah benar, seperti kata orang, bahwa yang mulia mengajar dan memegang pandangan bahwa apapun yang dialami seseorang... semua itu disebabkan oleh tindakan lampau?" Ketika mereka mengatakan "Ya", aku katakan kepada mereka: "Jika demikian halnya, yang mulia, maka tindakan masa lampau (yang dilakukan dalam suatu kehidupan lampau) itulah yang menyebabkan orang membunuh, mencuri, terlibat dalam perilaku seksual yang salah; yang membuat mereka berbohong, mengucapkan kata-kata yang jahat, berbicara kasar dan suka berbicara yang tak ada gunanya; yang menyebabkan mereka menginginkan milik orang lain, dengki, dan jahat serta memiliki pandangan salah.38 Maka mereka yang menganggap tindakan lampau sebagai faktor penentu tidak akan memiliki semangat dan usaha untuk melakukan ini atau tidak melakukan itu. Karena mereka tidak memiliki alasan yang cukup kuat untuk menyatakan bahwa ini atau itu harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan, istilah 'petapa' tidak sesuai untuk mereka, karena mereka hidup tanpa kewaspadaan dan pengendalian diri."

Para bhikkhu, inilah teguran pertamaku - yang diakui kebenarannya - kepada para petapa dan brahmana yang mengajarkan dan memegang pandangan seperti itu.

(2) Sekali lagi, para bhikkhu, aku menemui para petapa dan brahmana (yang memegang pandangan kedua) dan berkata kepada mereka: "Apakah benar, seperti kata orang, bahwa yang mulia mengajar dan memegang pandangan bahwa apapun yang dialami seseorang... semua itu disebabkan oleh ciptaan Tuhan?" Ketika mereka mengatakan "Ya", kukatakan kepada mereka: "Jika demikian halnya, yang mulia, maka ciptaan Tuhan itulah yang membuat orang-orang membunuh... dan memiliki pandangan salah. Maka mereka yang menganggap ciptaan Tuhan sebagai faktor penentu tidak akan memiliki semangat dan usaha untuk melakukan ini atau tidak melakukan itu. Karena mereka tidak memiliki alasan yang cukup kuat untuk menyatakan bahwa ini atau itu harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan, istilah 'petapa' tidak sesuai untuk mereka, karena mereka hidup tanpa kewaspadaan dan pengendalian diri."

Para bhikkhu, inilah teguran keduaku - yang diakui kebenarannya - kepada para petapa dan brahmana yang mengajar dan memegang pandangan seperti itu.

(3) Sekali lagi, para bhikkhu, aku menemui para petapa dan brahmana (yang memegang pandangan ketiga) dan berkata kepada mereka: "Apakah benar, seperti kata orang, bahwa yang mulia mengajarkan dan memegang pandangan bahwa apapun yang dialami seseorang... semua itu tidak ada sebabnya dan tidak dikondisikan?" Ketika mereka mengatakan "Ya", kukatakan pada mereka: "Jika demikian halnya, yang mulia, maka tidak ada sebab dan kondisi yang membuat orang membunuh... dan memiliki pandangan salah. Maka mereka yang menganggap bahwa (urutan peristiwa) yang tanpa sebab dan kondisi sebagai faktor penentu tidak akan memiliki semangat dan usaha untuk melakukan ini atau tidak melakukan itu. Karena mereka tidak memiliki alasan yang cukup kuat untuk menyatakan bahwa ini atau itu harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan, istilah 'petapa' tidak sesuai untuk mereka, karena mereka hidup tanpa kewaspadaan dan pengendalian diri."

Para bhikkhu, inilah teguran ketigaku - yang diakui kebenarannya - kepada para petapa dan brahmana yang mengajar dan memegang pandangan seperti itu.

Demikianlah, para bhikkhu, tiga pendapat sektarian yang, jika sepenuhnya diperiksa, diteliti dan dibahas, akan berakhir pada suatu doktrin tanpa-tindakan, sekalipun jika dipakai karena tradisi.

Para bhikkhu, Dhamma yang diajarkan olehku tidak dapat disangkal, tidak ternoda, tidak tercela, dan tidak dapat dikecam oleh petapa dan brahmana yang pandai.39

Dan apakah Dhamma itu?

"Inilah enam elemen" - itulah Dhamma yang diajarkan olehku, yang tidak dapat disangkal, yang... oleh petapa dan brahmana yang pandai.

"Inilah enam landasan kontak"... "Inilah delapan belas pemeriksaan mental"... "Inilah Empat Kebenaran Mulia" - itulah Dhamma yang diajarkan olehku, yang tidak dapat disangkal, tidak ternoda, tidak tercela, dan tidak dapat dikecam oleh petapa dan brahmana yang pandai.

Nah, karena apakah dikatakan bahwa enam elemen merupakan Dhamma yang diajarkan olehku? Inilah enam elemen itu: elemen tanah, air, panas, udara, ruang dan kesadaran.40

Karena apakah dikatakan bahwa enam landasan kontak merupakan Dhamma yang diajarkan olehku? Inilah enam landasan kontak itu: mata, telinga, hidung, lidah, tubuh dan pikiran sebagai landasan kontak.

Karena apakah dikatakan bahwa delapan belas pemeriksaan mental merupakan Dhamma yang diajarkan olehku?41 Inilah delapan belas pemeriksaan mental itu: Ketika melihat suatu bentuk dengan mata, orang memeriksa suatu bentuk yang mungkin menimbulkan sukacita, kesedihan atau ketidakpedulian. Ketika mendengarkan suatu suara dengan telinga... Ketika mencium suatu bau dengan hidung... Ketika mecicipi suatu citarasa dengan lidah... Ketika merasakan suatu objek dengan sentuhan pada tubuh... Ketika memahami suatu objek mental dengan pikiran, orang memeriksa suatu objek yang mungkin menimbulkan sukacita, kesedihan atau ketidakpedulian. Inilah delapan belas pemeriksaan mental.

Karena apakah dikatakan bahwa Empat Kebenaran Mulia itu merupakan Dhamma yang diajarkan olehku? Berdasarkan pada enam elemen ada yang turun ke dalam kandungan.42 Ketika hal itu terjadi, ada materi dan batin (nama-dan-rupa).43 Dengan materi dan batin sebagai kondisi, ada enam landasan indera; dengan enam landasan indera sebagai kondisi, ada kontak; dengan kontak sebagai kondisi, ada perasaan. Kepada orang yang merasakan inilah kuperkenalkan, "Inilah penderitaan", "Inilah asal mula penderitaan", "Inilah berhentinya penderitaan", "Inilah jalan menuju berhentinya penderitaan".44

Para bhikkhu, apakah kebenaran mulia tentang penderitaan? Kelahiran adalah penderitaan; menjadi tua adalah penderitaan; penyakit adalah penderitaan; kematian adalah penderitaan; kesedihan, ratap tangis, rasa sakit, kepedihan dan keputusasaan adalah penderitaan; berkumpul dengan yang tidak dicintai adalah penderitaan; berpisah dengan yang dicintai adalah penderitaan; tidak memperoleh apa yang diinginkan adalah penderitaan; singkatnya, lima kelompok khanda yang terkena kemelekatan adalah penderitaan.45

Para bhikkhu, apakah kebenaran mulia tentang asal mula penderitaan? Dengan kebodohan sebagai kondisi, muncullah bentukan-bentukan yang diniati.46 Dengan bentukan-bentukan yang diniati sebagai kondisi, kesadaran terjadi; dengan kesadaran sebagai kondisi, materi dan batin terjadi; dengan materi dan batin sebagai kondisi, enam landasan indera terjadi; dengan enam landasan indera sebagai kondisi, kontak terjadi; dengan kontak sebagai kondisi, perasaan terjadi; dengan perasaan sebagai kondisi, nafsu keinginan terjadi; dengan nafsu keinginan sebagai kondisi, kemelekatan terjadi; dengan kemelekatan sebagai kondisi, proses dumadi terjadi; dengan proses dumadi sebagai kondisi, kelahiran terjadi; dengan kelahiran sebagai kondisi, menjadi tua, kematian, kesedihan, ratap tangis, rasa sakit, kepedihan dan keputusasaan terjadi. Demikianlah asal mula seluruh massa penderitaan hidup ini. Para bhikkhu, inilah yang disebut kebenaran mulia tentang asal mula penderitaan.

Dan para bhikkhu, apakah kebenaran mulia tentang berhentinya penderitaan? Dengan pudar dan berhentinya kebodohan ini secara total, bentukan-bentukan yang diniati berhenti. Dengan berhentinya bentukan-bentukan yang diniati; kesadaran berhenti. Dengan berhentinya kesadaran, materi dan batin berhenti. Dengan berhentinya materi dan batin, enam landasan indera berhenti. Dengan berhentinya enam landasan indera, kontak berhenti. Dengan berhentinya kontak, perasaan berhenti. Dengan berhentinya perasaan, nafsu keinginan berhenti. Dengan berhentinya nafsu keinginan, kemelekatan berhenti. Dengan berhentinya kemelekatan, proses dumadi berhenti. Dengan berhentinya proses dumadi, kelahiran berhenti. Dengan berhentinya kelahiran, menjadi tua dan kematian, kesedihan, ratap tangis, rasa sakit, kepedihan dan keputusasaan berhenti. Demikianlah berhentinya seluruh massa penderitaan. Para bhikkhu, inilah yang disebut kebenaran mulia tentang berhentinya penderitaan.

Dan para bhikkhu, apakah kebenaran mulia tentang jalan menuju berhentinya penderitaan? Inilah Jalan Mulia Berunsur Delapan, yaitu: pandangan benar, niat benar, ucapan benar, tindakan benar, cara hidup benar, usaha benar, kewaspadaan benar dan konsentrasi benar. Para bhikkhu, inilah yang disebut Kebenaran Mulia tentang jalan yang menuju berhentinya penderitaan.

Empat Kebenaran Mulia inilah Dhamma yang diajarkan olehku, yang tidak dapat disangkal, tidak ternoda, tidak tercela, dan tidak dapat dikecam oleh petapa dan brahmana yang pandai.

---------
Catatan kaki:
36 Ungkapan titthayatana merupakan istilah figuratif untuk pandangan-pandangan spekulatif dari para pemikir non-Buddhis. Doktrin dari tanpa tindakan (akiriyavada) mengajarkan bahwa tindakan moral tidak berfaedah dan melibatkan penolakan kamma. Hal ini melemahkan motivasi bagi tindakan moral yang memiliki tujuan.

37 Pandangan pertama, bahwa semua pengalaman adalah akibat dari kamma lampau, oleh umat Buddha dianggap sebagai pandangan Jain. Pandangan ketiga, yang menolak peran usaha manusia, diajarkan oleh Makkhali Gosala, yang hidup pada zaman Sang Buddha. Dia memegang pandangan bahwa semua peristiwa ditentukan oleh nasib (lihat DN 2; MN 76). Doktrin ini, juga doktrin tanpa tindakan, termasuk "pandangan salah dengan tujuan yang sudah pasti" (niyata-miccha ditthi), yaitu pandangan-pandangan yang menuju pada kelahiran yang buruk.

38 Inilah sepuluh arah tindakan yang tidak baik. Di dalam Devadaha Sutta (MN 101), Sang Buddha menghadapi pengikut Jain dengan argumen-argumen lain melawan teori mereka bahwa apapun yang kita alami disebabkan oleh tindakan masa lampau.

39 AA: "Setelah menunjukkan bahwa tiga pandangan ini - yang menuju pada tanpa-tindakan (di dalam arti moral) adalah kosong, tidak tertopang dan tidak menuju ke pembebasan, Yang Terberkati sekarang mulai membabarkan ajaranNya sendiri, yang ditopang dengan baik dan menuju pembebasan. Karena tidak akan ada akhir dari apa yang bisa dibicarakan oleh orang-orang tak pandai tanpa pemahaman yang benar, hanya orang-orang pandailah yang dikhususkan di sini.

40 AA: "Di sini acuan dibuat untuk subjek meditasi yang berupa elemen (dhatu-kammatthana). Bila dilihat dari enam elemen, penjelasan ringkasnya adalah sebagai berikut: elemen tanah, air, api, dan udara merupakan empat elemen materi primer (maha-bhuta). Elemen ruang mewakili bentuk sekunder atau 'turunan' (upada-rupa). Ketika butir tunggal dari bentuk turunan ini disebutkan, jenis-jenis turunan lain (yaitu kemampuan indera dan objek-objeknya, dll.) dengan sendirinya tersirat. Elemen kesadaran (viññana-dhatu) adalah pikiran (citta) atau kelompok kesadaran (viññana-khandha). Perasaan yang menyertainya adalah kelompok perasaan, persepsi yang menyertainya adalah kelompok persepsi, kontak dan kehendak yang menyertainya adalah kelompok bentukan kehendak. Itulah empat kelompok mental; empat yang utama dan bentuk-bentuk turunannya merupakan kelompok bentuk. Empat kelompok mental merupakan "batin" ("mentalitas", nama) dan kelompok bentuk adalah "bentuk" (atau materi, rupa). Jadi hanya ada dua hal ini: nama dan bentuk, materi dan batin (namarupa). Di luar itu, tidak ada suatu inti (satta) maupun suatu jiwa (jiva). Dengan cara ini, orang harus memahami secara ringkas subjek meditasi dari enam elemen yang menuju ke tingkat arahat." Dengan cara yang mirip, pengelompokan-pengelompokan lain yang ada di dalam sutta dijelaskan secara mendetil di AA, sebagai persiapan untuk praktek pandangan terang analitis.

41 Istilah teknik yang digunakan di sini, manopavicara, menjelaskan aktivitas mental yang diniati, yang mampu menimbulkan jenis-jenis pengalaman tertentu yang berhubungan dengan perasaan.

42 Gabbhassavakkanti. Istilah figuratif untuk avakkanti (atau okkanti; turun) menurut AA berarti asal mula atau manifestasi. Apa yang ditunjuk oleh istilah ini adalah proses kelahiran kembali, atau lebih tepatnya, "rekonsepsi". Empat elemen materi dan ruang merupakan fondasi materi untuk kelahiran kembali, yang ditopang oleh ovum yang dibuahi. Tetapi untuk terjadi kelahiran kembali, diperlukan suatu komponen non-materi, yaitu arus kesadaran yang diberikan oleh suatu makhluk yang telah mati dari kehidupan sebelumnya. Arus kesadaran ini merupakan elemen keenam, yaitu "elemen kesadaran". Di dalam MN 38, elemen kesadaran diacu sebagai gandhabba, dan di sana dikatakan bahwa untuk terjadinya konsepsi diperlukan tiga faktor: persatuan seksual dari ibu dan ayah, kesuburan wanita, dan kesadaran, gandhabba dari makhluk yang akan dilahirkan kembali.

43 Okkantiya sati namarupam. Ini adalah variasi dari rantai "sebab-akibat yang saling bergantungan" (lihat nomor 46) yang biasanya diungkapkan demikian: "dengan kesadaran sebagai kondisi, batin dan materi terbentuk". Mata rantai "kesadaran" di sini digantikan oleh "turun ke dalam rahim" yaitu turunnya kesadaran ke dalam rahim. Di sana kesadaran itu memberikan kehidupan pada ovum yang telah dibuahi, dan hal ini mengaktifkan organisme berperasaan, yang diacu sebagai batin dan materi. Inilah salah satu sumber kitab yang membenarkan penjelasan komentar dari rantai "kesadaran" sebagai rantai kesadaran kelahiran kembali (patisandhi-viññana). Pada titik ini perumusan sebab-akibat yang saling bergantungan diberikan hanya sejauh mata rantai "perasaan", tetapi persis di bawah perumusan itu dijelaskan keseluruhannya.

44 Vediyamaanassa kho pan'aham bhikkhave 'idam dukkhan' ... ti paññapemi. AA mengatakan bahwa yang dimaksud dengan perasaan di sini bukanlah sensasi semata (anubhavanto) melainkan perasaan yang dihubungkan dengan pemahaman (jananto). Untuk itu, diberikan perenungan akan perasaan dari Satipatthana Sutta sebagai contohnya. Artinya, Empat Kebenaran Mulia terutama ditujukan kepada mereka yang memahami sifat sejati perasaan, ketika perasaan itu menampakkan diri dalam pengalaman nyata dan pengamatan yang penuh kewaspadaan.

45 "Lima kelompok yang terkena kemelekatan" (panc'upadanakkhandha) merupakan skema pengelompokan prinsip yang digunakan oleh Sang Buddha untuk menganalisis sifat pengalaman. Di antaranya, lima faktor ini membentuk pengalaman secara utuh: bentuk materi, perasaan, persepsi, bentukan yang berkehendak, dan kesadaran. Mereka juga merupakan "bahan bakar" atau penyangga bagi kemelekatan (upadana), yaitu penopang yang diambil pada saat mulainya kehidupan. Menurut ajaran Sang Buddha, tidak ada diri berinti di atas dan di luar lima kelompok ini yang berfungsi sebagai inti identitas pribadi. Lima kelompok ini termasuk di dalam kebenaran tentang penderitaan karena mereka semua bersifat tidak kekal dan merupakan landasan bagi rasa sakit dan penderitaan.

46 Analisa umum dari Empat Kebenaran ini menyebutkan nafsu keinginan (tanha) semata sebagai asal mula penderitaan. Tetapi di sini perumusan asal mula yang saling bergantungan (paticca-samuppada) dimasukkan untuk memberikan penjelasan yang lebih lengkap. Demikian pula persis di bawahnya, berhentinya penderitaan tidak dijelaskan hanya sebagai akibat dari berhentinya nafsu keinginan. Di sini diberikan juga seluruh formula untuk pembalikan sebab-akibat yang saling bergantungan. [Sumber: Samaggi-phala.or.id]

Begitu juga dalam Devadaha Sutta, Majjhima Nikaya 101 yang mengatakan

Apabila, O para bhikkhu, makhluk-makhluk mengalami penderitaan dan kebahagiaan sebagai hasil atau sebab dari ciptaan Tuhan (Issaranimmanahetu), maka para petapa telanjang ini tentu juga diciptakan oleh satu Tuhan yang jahat/nakal (Papakena Issara), karena mereka kini mengalami penderitaan yang sangat mengerikan.

Kemudian dalam Bhuridatta Jataka, Jataka 543:

”Dengan mata, seseorang dapat melihat pandangan memilukan; Mengapa Brahma itu tidak menciptakan secara baik? Bila kekuatannya demikian tak terbatas, mengapa tangannya begitu jarang memberkati? Mengapa dia tidak memberi kebahagiaan semata? Mengapa kejahatan, kebohongan dan ketidak-tahuan merajalela? Mengapa memenangkan kepalsuan, sedangkan kebenaran dan keadilan gagal? Saya menganggap, Brahma adalah ketak-adilan. Yang membuat dunia yang diatur keliru.” [Sumber: Pojokan Wirajhana]

Kutipan Ucapan Buddha diatas menegaskan bahwa untuk mencapai Pencerahan dan hidup didunia ini Manusia harus mengandalkan diri sendiri dan semua usaha meminta kepada Tuhan adalah suatu yang tidak relevan!

Hal ini Ditegaskan Dalam Samyutta Nikaya I, 227, Sang Buddha bersabda “Sesuai dengan benih yang kita tabur, begitulah buah yang akan kita petik. Pembuat kebajikan akan memperoleh kebahagiaan dan pembuat kejahatan akan memperoleh penderitaan.”

Yang diatas itu adalah satu dari duapuluh empat hukum sebab, di dalam Abhidhamma Vatara 54, dan Digha Nikaya Atthakatha II-432 dijelaskan bahwa Hukum Kamma sendiri hanya merupakan satu dari dua puluh empat sebab (paccaya 24) atau salah satu dari Panca Niyama (Lima Hukum) yang bekerja di alam Semesta ini, dan masing-masing merupakan hukum sendiri yang saling berhubungan.

Beberapa kekeliruan pandang mengenai siapakah asal mula Maha Pencipta dijelaskan dalam Sutta Pitaka Digha Nikaya I:

“…Bhaggava ada petapa-petapa dan brahmana-brahmana tertentu yang menyatakan hal itu sebagai ajaran mereka karena asal mula segala sesuatu adalah diciptakan oleh maha kuasa, dewa Brahma? Saya telah menemui mereka dan bertanya: 'Apakah benar para guru yang mulia menyatakan tentang ajaran bahwa asal mula dari segala sesuatu adalah diciptakan oleh maha kuasa, dewa Brahma?' Dengan adanya pertanyaan itu mereka menjawab:

'Oh.'

Kemudian Saya berkata:

'Tetapi, bagaimana para guru yang mulia menyatakan dalam ajaran bahwa asal mula segala sesuatu diciptakan oleh maha kuasa, dewa Brahma, itu ditentukan?'

Mereka tak dapat menjawab pertanyaanku itu dan dalam kebingungan mereka menanyakan kembali hal itu kepada Saya. Karena ditanya maka Saya menjawab:
    'Saudara-saudara, akan tiba suatu saat, cepat atau lambat, setelah berakhirnya suatu masa yang lama, bumi (loka) ini hancur dan berevolusi (samvattati). Ketika hal ini terjadi, umumnya makhluk-makhluk terlahir kembali di alam Abhassara, mereka hidup di alam itu dengan kekuatan pikiran, hidup dengan kenikmatan-kenikmatan, memancarkan cahaya dari tubuh mereka, melayang-layang di angkasa, dan kehidupan ini berlangsung terus dalam keindahan. Begitulah mereka adanya, mereka hidup dalam suatu masa yang lama sekali.
Saudara-saudara, tiba juga suatu saat, cepat atau lambat, sistem bumi (loka) ini mulai berevolusi kembali (vivattati). Ketika hal ini terjadi alam dewa Brahma nampak, tetapi kosong. Ada sesosok makhluk yang karena masa hidupnya telah habis atau disebabkan oleh pahala (jasa karma baik)-nya telah habis, meninggal dari alam Abhassara dan terlahir kembali di alam Brahma. Di situ ia hidup dengan kekuatan pikiran, hidup dengan kenikmatan, memancarkan cahaya dari tubuhnya, melayang-layang di angkasa. Kehidupan ini berlangsung terus dalam keindahan, demikianlah ia adanya, hidup dalam suatu masa yang lama sekali. Karena ia tinggal di alam itu terlalu lama dan sendirian maka perasaan tidak puas dan kerinduan muncul dalam dirinya: 'Oh, semoga makhluk-makhluk lain pun datang menemani saya di tempat ini!' Pada saat itu ada makhluk-makhluk yang karena usia mereka telah habis atau karena pahala (karma baik) telah habis, meninggal dan lenyap dari alam Abhasara dan muncul di alam Brahma menjadi kawannya, dan dalam berbagai hal mereka hidup seperti dia.

Saudara-saudara, berdasarkan hal ini makhluk pertama yang terlahir dan muncul di alam dewa Brahma itu berpikir:
    'Saya Brahma, Maha Brahma, Maha Agung, Maha Kuasa, Penguasa, Tuan dari semua, Pembuat, Pencipta, Maha Tinggi, Penentu tempat bagi semua makhluk dan asal mula dari semua kehidupan. Saya yang menciptakan makhluk-makhluk ini. Mengapa demikian? Beberapa saat yang lalu saya berpikir: 'Oh, semoga makhluk-makhluk lain pun datang menemani saya di tempat ini!' Begitulah ide yang ada dalam pikiranku dan begitu pula yang terjadi, makhluk-makhluk ini muncul.'
Makhluk-makhluk yang muncul sesudah dia, juga berpikir:
    'Makhluk ini mesti Brahma, Maha Brahma, Maha Agung, Maha Kuasa, Penguasa, Tuan dari semua, Pembuat, Pencipta, Maha Tinggi, Penentu tempat bagi semua makhluk, asal mula kehidupan, ayah dari semua yang ada dan yang akan ada. Oleh Brahma ini kita semua diciptakan. Mengapa begitu? Karena seperti apa yang kita lihat, dia yang lebih dulu ada sedangkan kita muncul sesudahnya.'
Saudara-saudara, berdasarkan hal ini, makhluk yang muncul lebih dulu usianya lebih panjang, lebih cakap dan lebih berkuasa, sedangkan makhluk yang muncul sesudah dia nampak berusia pendek, tak terlalu cakap dan kurang berkuasa. Demikianlah ada makhluk-makhluk yang meninggal di alam itu dan terlahir kembali di alam ini (bumi). Karena telah berada di bumi, ia meninggalkan kehidupan berumah tangga menjadi petapa. Sebagai petapa ia berusaha sungguh-sungguh bermeditasi, bersemangat, bertekad, tekun dan dengan pengertian serta perhatian yang benar ia mencapai ketenangan batin. Dengan pikiran yang tenang ia dapat mengingat kembali kehidupannya yang lampau, tetapi yang diingatnya hanya sampai pada satu kehidupan yang lampau saja dan tak melampaui itu, ia berkata:
    'Brahma yang dipuja, adalah Maha Brahma, Maha Agung, Maha Kuasa, Penguasa, Tuan dari semua, Pembuat, Pencipta, MahaTinggi, Pencipta tempat bagi semua makhluk, asal mula kehidupan, Ayah dari semua yang ada dan yang akan ada. Oleh dialah maka kita diciptakan. la adalah kekal, tetap, eternal, tak berubah, dan ia akan tetap seperti itu untuk selama-lamanya. Tetapi kita yang diciptakan oleh Brahma itu, kita semua yang telah ke mari adalah tidak kekal, berubah-ubah, tidak permanen dan berusia pendek dan pasti mati.'
Saudara-saudara, demikianlah asal mula dari segala sesuatu yang kamu sekalian nyatakan sebagai ajaran kamu bahwa segala sesuatu diciptakan oleh maha kuasa Brahma.'

Begitu pula kesalahan persepsi mengenai pendapat2 bahwa Maha pencipta adalah mahluk kekal, abadi, eternal, tak berubah dan akan tetap selamanya seperti itu yang tidak mempunyai keinginan, ataupun kekuatan pikiran ataupun bahkan bahwa penciptaan 'Jiwa (atta) dan dunia (loka) terjadi secara kebetulan saja dijelaskan menurut Ajaran Buddha dalam Sutta Pitaka Digha Nikaya I [lihat: di sini]

Dalam Brahmajala Sutta yang merupakan sutta yang pertama dari 34 sutta Digha menguraikan tentang berbagai pandangan atau ajaran dari bermacam-macam aliran agama yang ada serta berkembang pada masa kehidupan Sang Buddha. Ada yang mengaturnya berdasarkan pada pengalaman, pengetahuan, pencapaian sehingga mereka mempunyai kemampuan untuk membuktikan kondisi dari pada yang diyakininya itu karena mereka dapat melihatnya sendiri. Namun ada juga yang menganut dan meyakini paham mereka hanya didasarkan pada spekulasi yang mereka sendiri tak dapat membuktikannya, karena mereka tidak memiliki kemampuan untuk mengalami atau melihatnya sendiri, paham ini mereka ketahui atau pelajari dari guru-guru mereka atau didasarkan pada spekulasi mereka sendiri. Bagi umat Buddha, walaupun diantara ditthi-ditthi itu ada yang perlu juga untuk diketahui dicapai dan dibuktikan sendiri, tetapi umat Buddha tidak boleh berhenti hanya pada tingkat pencapaian seperti itu saja.

Karena, walaupun ada beberapa ditthi atau pandangan serta pencapaiannya itu perlu pula dicapai oleh umat Buddha tetapi itu semua bukanlah merupakan tujuan akhir dari ajaran Sang Buddha. Pencapaian atau tingkat kemampuan yang dihasilkan oleh ditthi-ditthi itu adalah baik dan berguna, namun itu semua hanya merupakan titik tolak untuk dijadikan dasar yang bagus dalam pengembangan dan meningkatkan kemampuan batin demi tercapainya pembebasan batin (nibbana) dari semua kilesa (kekotoran batin). Sebab itulah umat Buddha tidak boleh terperangkap oleh ditthi-ditthi(pandangan-pandangan). Semua pandangan ini dibagi dalam dua kelompok, yaitu:
  • Pubbantanuditthino (Pandangan mengenai masa yang lampau), terdiri dari 18 ditthi yang diuraikan sebagai:

    1. Empat pandangan Sassatavada (eternalis) yang menyatakan bahwa atta (jiwa) dan loka (dunia) adalah kekal.
    2. Empat pandangan Sassata-asassatavada (semi eternalis) yang menyatakan bahwa atta dan loka adalah sebagian kekal dan sebagian tidak kekal.
    3. Empat pandangan Antanantika (ekstentionis) yang menyatakan bahwa atta dan loka adalah terbatas dan tak terbatas.
    4. Empat pandangan Amaravikkhepika (berbelit-belit), yang bilamana ada pertanyaan yang diajukan pada penganutnya, maka mereka akan memberikan jawaban yang berbelit-belit, sehingga membingungkan pendengarnya.
    5. Dua pandangan Adhiccasamuppanika (asal mula sesuatu terjadi secara kebetulan), yang menyatakan bahwa atta dan loka terjadi atau muncul tanpa adanya suatu sebab.

  • Aparantakappika (Pandangan mengenai masa yang akan datang), yang terdiri dari 44 ditthi yaitu:

    1. Enam belas pandangan Uddhamaghatanikasanavada (setelah meninggal kesadaran tetap ada, yang menyatakan bahwa atta tetap hidup terus setelah kita meninggal.
    2. Delapan pandangan Uddhamaghatanikasannivada (setelah meninggal kita tak memiliki kesadaran), yang menyatakan bahwa setelah kita meninggal atta adalah tanpa kesadaran.
    3. Delapan pandangan Uddhamaghatanika n'evasanni nasannivada (setelah meninggal ada kesadaran dan tanpa kesadaran), yang menyatakan bahwa setelah meninggal atta adalah memiliki kesadaran dan tanpa kesadaran.
    4. Tujuh pandangan Ucchedavada (annihilasi), yang menyatakan bahwa setelah kita meninggal kita hancur dan lenyap.
    5. Lima pandangan Ditthadhammanibbanavada (mencapai pembebasan mutlak dalam kehidupan sekarang ini), yang menyatakan bahwa nibbana dapat dicapai dalam kehidupan sekarang.
Diantara ditthi atau pandangan mengenai masa yang lampau, yaitu beberapa pandangan eternalis, menyatakan bahwa ada orang yang karena semangat, tekad, kesungguhan dan kewaspadaan bermeditasi, ia dapat memusatkan pikirannya, batinnya menjadi tenaga sehingga ia memiliki kemampuan batin (abhinna) untuk mengingat banyak kehidupan yang lampau yaitu:
  • Pada satu hingga puluhan ribu kehidupan yang lampau di bumi ini.
  • Pada satu hingga empat puluh kali masa bumi terjadi, hancur dan bumi terjadi kembali.
Pada uraian tentang ditthi-ditthi ini yang ditekankan adalah tentang keyakinan adanya jiwa yang kekal, yang selalu ada walaupun bumi-bumi yang kita diami selalu muncul silih berganti. Dengan demikian, paham ini menekankan pula pandangan bahwa bumi ini telah berkali-kali terjadi hancur dan muncul kembali hingga empat puluh kali bumi berevolusi. [lihat di sini dan di sini]

Sehingga dengan terjadinya pencerahan maka tujuan akhir dari ajaran Buddha ini bukanlah menuju Tuhan, atau menuju Buddha, atau mencapai surga namun untuk mencapai Nibanna dimana tidak terdapat lagi kelahiran kembali. Surga dan neraka menurut ajaran Buddha adalah merupakan sebagian dari 31 Alam yang merupakan tempat dimana Karma perbuatan itu dibayar dalam suatu kelahiran kembali. Definisi Nibanna adalah sebagai berikut:

8.1. Parinibbana (1)
O, bhikkhu, ada keadaan[1] dimana tidak ada tanah, tidak ada air, tidak ada api, dan tidak ada udara;
tidak ada dasar yang terdiri dari ketidak-terbatasan ruang, tidak ada dasar yang terdiri dari ketidak-terbatasan kesadaran, tidak ada dasar yang terdiri dari kekosongan, tidak ada dasar yang terdiri dari bukan persepsi dan tidak bukan persepsi;
tidak ada dunia ini atau dunia lain ataupun dua dunia itu; tidak ada matahari atau rembulan.[2]
Di sini, O, bhikkhu, saya katakan tidak ada kedatangan,
tidak ada kepergian, tidak ada yang tinggal, tidak ada kematian, tidak ada kemunculan.
Tidak terpasang, tidak dapat digerakkan tidak mempunyai penyangga.[3]
Inilah akhir dari penderitaan.


8.2. Parinibbana (2)
Yang tidak terpengaruh [4] sulit untuk diketahui, Kebenaran tidak mudah dilihat, Nafsu keinginan akan ditembus oleh orang yang tahu, Tidak ada penghalang bagi orang yang melihat.

8.3. Parinibbana (3)
O, bhikkhu, ada sesuatu yang tidak-dilahirkan, tidak-menjelma, tidak-tercipta, yang mutlak.
Jika seandainya saja, O, bhikkhu, tidak ada sesuatu yang tidak-dilahirkan, tidak-menjelma, tidak-tercipta, yang mutlak, maka tidak akan ada jalan keluar kebebasan dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu.
Tetapi karena ada sesuatu yang tidak-dilahirkan, tidak-menjelma, tidak-tercipta, yang mutlak, maka ada jalan keluar kebebasan dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu.


8.4. Parinibbana (4)
Bagi yang ditopang ada ketidak-stabilan,
bagi yang tidak ditopang tidak ada ketidak-stabilan;
bila tidak ada ketidak-stabilan, ada ketenangan;
bila ada ketenangan tidak ada sikap takluk;[5]
bila tidak ada sikap takluk tidak ada datang-dan pergi;
dan bila tidak ada datang-dan-pergi tidak ada kematian-dan-kemunculan;
bila tidak ada kematian-dan-kemunculan, tidak ada "di sini" atau "di luar sana" ataupun di antara keduanya.
Inilah akhir dari penderitaan.


-----
Catatan:
  1. Tadayatanam: keadaan, dasar, lingkup, tempat, daerah, posisi, dsb. yang berarti Nibbana. Parinibbana (dari judul itu) berarti Nibbana "lengkap" atau "akhir". (Lihat kesimpulan 8.4 di bawah). [kembali]
  2. Empat elemen itu adalah sifat utama dari hal itu. Empat "alam tak berbentuk," atau aspek persepsi yang paling halus, dialami dalam tingkat-tingkat meditasi ketenangan yang paling tinggi, tetapi masih "duniawi" dan "lain" daripada Nibbana. "Matahari dan bulan" mungkin berarti seluruh alam semesta secara fisik. [kembali]
  3. Itu tidak mempunyai penyangga, yaitu tidak berkondisi. Seluruh ucapan ini merupakan salah satu pernyataan paling lengkap mengenai Nibbana yang ditemukan dalam Pali Canon. [kembali]
  4. Tidak terpengaruh oleh kemelekatan. Beberapa orang membaca amatam (mati) dan bukannya anatam (diterjemahkan sebagai "yang tidak terpengaruh"). Kata natam diterjemahkan sebagai "sikap takluk." [kembali]
  5. Atau kecenderungan terhadap kemelekatan. [kembali]
[Sumber: KHUDDAKA-NIKÃYA, UDANA Pataligama]

[kembali ke kumpulan artikel]

Penutup

Dengan tidak bermaksud mempermudah anda dalam memahami maksud dan tujuan artikel ini, berikut penutup yang saya cuplik dari Anthony de Mello SJ:

Pada suatu hari setan berjalan-jalan dengan seorang temannya. Mereka melihat seseorang membungkuk dan memungut sesuatu dari jalan.

"Apa yang ditemukan orang itu?" tanya si teman.
"Sekeping kebenaran," jawab setan.
"Itu tidak merisaukanmu?" tanya si teman.
"Tidak," jawab setan.
"Aku akan membiarkan dia menjadikannya kepercayaan agama."

[kembali ke kumpulan artikel]

0 KOMENTAR ANDA:

Post a Comment