Tuesday, June 3, 2008

FPI Jempol! Menghajar ngga tanggung2: Ambulan, Kyai, anak2, perempuan s/d orang cacat!


Minggu, 1 Juni 2008, adalah hari Kesaktian Pancasila. Ketika tengah menonton TV..tiba-tiba aku terpaku..terhenyak pada satu tayangan keberingasan..yang sangat ku kenal! De Javu! Akhirnya Itu terjadi kembali! Dilakukan terhadap sesama anak bangsa, satu tanah air, satu negara, satu bahasa dan...kemungkinan besar, banyak dari mereka beragama sama dengan penyerangannya!

Ya!..hari itu, sekali lagi Kesaktian Pancasila mengalami ujian! Ia diuji dengan dahsyat! Mari kita simak potongan-potongan berita berkenaan dengan hal itu:


http://www.vhrmedia.com/vhr-news/berita,FPI-Serbu-Aksi-Peringatan-Kelahiran-Pancasila-1809.html

Salah satu tokoh korban yang terkena pukulan adalah Suaedi, Direktur Eksekutif Wahid Institute. Ketika penyerangan terjadi, dia berada di tengah-tengah massa yang sedang mempersiapkan aksi. "Mereka (massa FPI) datang dari arah kanan. Saya tidak lari, karena ada istri saya dan beberapa orang tua yang menggunakan kursi roda. Dia juga tak luput dari hajaran pasukan berjubah itu," kata Suaedi.

* * *

01/06/2008 13:46 WIB
Rusuh Monas, FPI Kejar Ambulans yang Bawa Korban
Moksa Hutasoit – detikcom

Jakarta - Korban akibat amukan massa yang mengenakan atribut FPI terus berjatuhan. Upaya pertolongan oleh petugas medis dihalangi orang-orang yang bertindak brutal itu.

Pantauan detikcom Minggu (1.6.2008) pukul 13.30 WIB, 3 ambulans yang hendak membawa para korban ke rumah sakit terdekat malah dikejar oleh massa.

Mereka tampak memukul-mukulkan kayu ke badan mobil berwarna putih itu. Untung saja, ketiga ambulans itu dapat selamat dari amukan massa.

Pukul 13.40 WIB, aksi pemukulan berhasil dihentikan oleh polisi. Massa yang berjumlah sekitar 500 orang itu kini dihadang oleh polisi. ( ken / iy )

* * *

http://www.waspada.co.id/Berita/Nasional/FPI-Bubarkan-Apel-Massa-AKK.html

Kiai Maman Imanulhaq mengaku diinjak dan dipukuli dengan bambu oleh massa FPI. "Ketika itu antara pukul satu dan setengah dua siang. Kita di Monas untuk aksi damai memperingati Hari Kelahiran Pancasila. Tiba-tiba massa FPI sambil berteriak bubarkan Ahmadiyah, bubarkan kafir sambil membawa bambu," kata Maman, yang ditemui di RS Mitra Internasional, Jatinegara, Jakarta Timur, Minggu (1/6).

Setelah itu, kata Maman, ada 10 orang dari massa FPI yang mengeroyoknya. "Mereka memukul muka dan menendang. Setelah itu, saya jatuh diinjak-injak dan dipukuli pakai bambu," ujar Maman.

Akibatnya, dagu Maman mengeluarkan darah. Setelah kejadian itu dirinya tidak sadarkan diri. Maman lalu dibawa ke RS Mitra dengan menggunakan taksi. Dagu Maman yang luka dijahit 5 jahitan.

* * *

http://news.okezone.com/index.php/ReadStory/2008/06/02/1/114777

JAKARTA - Korban kekerasan yang dilakukan Front Pembela Islam (FPI) terhadap Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB), total 41 orang dari pengikut Ahmadiyah.

Korban yang terdiri dari orangtua dan anak-anak, umumnya menderita luka akibat pukulan.

"Semua korban akibat serangan FPI terdiri dari anak-anak, ibu-ibu, dan orangtua," ujar Humas Ahmadiyah Yendra Budiyana kepada okezone, di Jakarta, Senin (2/6/2008).



Aku paham bahwa TV biasanya lebih bernuansa komersil daripada menyuarakan kebenaran pemberitaan...

Namun, kalau ucapan dan keadaan yang diderita oleh Kyai tersebut dimuat oleh banyak media bahwa ia digebuki oleh orang-orang dengan atribut agama yang sama...itu bukan lagi berita komersil namun sungguh keterlaluan!

Namun, kalau pembicaraan dan derita kesakitan seseorang yang tengah melindungi wanita dan seorang cacatdikursi roda dimuat banyak media (dagunya benjol) setelah ikut pula digebuki bersama orang yang ia lindunginya oleh orang-orang yang membawa atribut-atribut islam yang dongengnya adalah agama cinta damai...maka itu sungguh biadab!

Namun, kalau pembicaraan itu dilakukan oleh beberapa wanita, dimuat di banyak media bahwa mereka diberangus hak berkumpul, hak menyuarakan pendapat...apapun alasannya digebuki oleh sekelompok orang-orang yang membawa atribut-atribut islam yang dongengnya adalah agama yang paling melindungi wanita...maka itu sungguh munafik!

Atas nama Islam...mereka telah melakukan sendiri PENODAAN ajaran yang mereka mendongengkan kepada pihak lain dan menuduhkan bahwa oranglain-lah yang melakukan penodaan agama! Mereka menghajar tanpa pandang bulu dengan TONGKAT dan KEROYOKAN kepada Kyai mereka sendiri, orang-orang tua, wanita dan penyandang cacat...yang saat itu sama sekali tidak tengah mempersenjatai diri?

Tidakkah anda merasa terenyuh, betapa tersia-sianya saat-saat akhir Sang Nabi Besar disakratul maut, beliau merintih dengan penuh penderitaan...pun masih menyuarakan luapan rasa yang sarat kepedihan dan kecemasan:

"Umat..ku.. Um..at..ku.. U..m..a..t..k..u"

* * *

Bisa jadi, FPI merasa sangat terhormat dapat menghajar dan mengeroyok para anak-anak, ibu-ibu dan orang-orang tua yang tidak berdaya! dan Kelihatannya....kalau orang-orang FPI di suruh untuk memilih mana yang dihajar duluan antara orang-orang Ahmadiyah dan anjing, maka yang duluan di HAJAR adalah orang-orang Ahmadiyah!

Pikiran itu memang berkelebat sejenak dalam benakku. Namun, meluap sudah rasa penasaranku dibuatnya! Benarkah mereka akan memilih pilihan itu???? Saat itu juga, segera aku adakan survey terhadap 25 orang yang aku kenal (pria, muslim dan berkeluarga) dengan pertanyaan sebagai berikut:

'Kalau kamu bertemu dengan FPI (Front Pembela Islam), Ahmadiyah dan Anjing...mana di antara ketiganya yang akan kamu hajar habis-habisan terlebih dahulu??'

Menariknya adalah 21 orang menjawab sesuai dugaan ku, "AHMADIYAH!!!!!"

Pertanyaanku yang berikutnya, "Lantas yang lainnya diapain???"

Jawab mereka, "Ya sama-sama ngga diapa-apain..."

Luar biasa bukan? proses belajar mengajar, doktrinasi yang diterima, bahwa atas nama agama bisa menumbuhkan kebencian dan rasa permusuhan yang dalam serta meniadakan rasa kemanusian??!!

Tapi, paling tidak aku mengetahui satu hal dan menurutku ini adalah kenyataan yang lucu, ternyata pada akhirnya mereka toh mengelompokkan FPI dan ANJING pada kelompok yang sama!



Lampiran:


Tanggal 04 Juni 2008, 14:11 WIB melalui detik.com, aku mendapat satu kepastian paling gila!!!!! yaitu INTELKAM MABES POLRI SUDAH TAHU bakal ada penyerangan FPI itu!!!!

Sekjen PDIP Pramono Anung bersyukur mendapat telepon dari Kabag Intelkam Mabes Polri Irjen Saleh Saaf. Karena telepon itulah PDIP tidak ikut tercoreng kerusuhan Monas 1 Juni lalu.
...
"30 Menit sebelum kejadian (kerusuhan), saya ditelepon oleh mantan Kadiv Humas Polri Saleh Saaf (kini Kabag Intelkam-red) . Katanya meminta saya agar massa PDIP ditarik. Akan ada kelompok lain yang datang. Akan ada kejadian. Kalau ada kejadian, PDIP akan tercoreng," cerita Pram
...
Dari informasi itu, Pram menyadari bahwa polisi sejatinya sudah mengetahui akan ada dua massa yang berhadapan. Pram menyesalkan polisi tidak mengantisipasi serangan massa FPI pada massa AKKBB.
...

Sumber:
http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/06/tgl/04/time/141106/idnews/950355/idkanal/10/idpartner/

Wow!!!! SULIT untuk percaya bahwa Penyerangan FPI di MONAS tanggal 1 Juni 2008 BUKAN merupakan TAKTIK PEMERINTAH untuk mengalihkan ISU kenaikan harga BBM!!! Seperti bantahan Andi Malarangeng di ANTARANEWS,
03/06/08, 19:02: "Malarangeng: Penanganan Bentrokan di Monas Bukan Pengalihan Isu"

[Kembali]


FPI sudah menghancurkan wajah Islam yang kukenal - 2008/06/04 12:52
di ambil dari Hidayatulah. com dan merupakan tulisan
Muslihah Razak sendiri di milis mediacare


Namaku Muslihah Razak, lahir dari keluarga kyai di sebuah desa yang di Kabupaten Cirebon. Dari kecil aku sudah bersekolah di sekolah agama. Pada sore harinya, aku juga ikut belajar kitab dan tata bahasa Arab, juga sekolah malam hari yang khusus mengkaji kitab-kitab kuning.

Selesai Tsanawiyah aku langsung memasuki pesantren selama 4 tahun, dan kemudian melanjutkan ke IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang kini sudah berganti nama menjadi UIN, dengan mengambil Fakultas Syariah.

Aku bangga dengan keislamanku, dengan panutan suri tauladan Nabi Muhammad. Beliau adalah seorang revolusioner, seorang yang lembut dan penuh kasih. Ajarannya begitu luhur, mampu merangkul dan melindungi semua kelompok apapun agamanya.

Bagiku Muhammad bukan hanya sebuah nama atau pribadi tapi dia adalah akidah yang hidup. Raganya sudah meninggalkan kita tapi ajarannya akan hidup sepanjang jaman. Muhammad adalah kita semua, cerminan sikap yang lembut dan penuh kasih, anti kekerasan, pemaaf dan cinta damai.

Aku bangga dengan keislamanku sampai ada peristiwa yang begitu menamparku dan membuatku merasa sangat terhina dan malu. Pada peringatan 63 tahun Hari Kelahiran Pancasila, 1 Juni 2008 di Lapangan Monas yang lalu, sekelompok orang dengan memakai kaos FPI berbendera hijau bertuliskan La Ilaha Ilallah, menyerang kami sambil mengumandangkan Allahu Akbar.

Tatapan mereka sangat beringas. Teriakan ibu-ibu, suara tangisan anak kecil, jeritan perempuan-perempuan tidak membuat hati mereka luluh.

Tidak ada satupun dari kami yang melakukan perlawanan. Kami hanya menghindar sampai terpojok didepan tugu yang di kanan kirinya ada pembatas. Kami masih tetap diburu walaupun sudah terpojok.

Dari atas tugu mereka bahkan melempari kami dengan batu-batu besar yang pasti sudah dipersiapkan sebelumnya, karena batu sebesar itu tidak ada di taman Monas.

Mereka memakai pentungan dan bambu berpaku untuk memukul teman-teman yang tidak bisa menaiki tembok pembatas taman. Teman-teman yang sudah jatuh tersungkur pun, masih ditendang dan diinjak-injak.

Mereka menyerang siapa saja, tidak peduli orang Kristen, Hindu, Budha, Konghucu. Ibu-ibu yang memakai pakaian muslim pun mereka pukuli. Aku bahkan melihat ada anak kecil yang kepalanya dibenturkan ke tembok.

Teman-teman kami banyak yang terluka. Tidak sedikit yang harus di rawat di rumah sakit, karena gegar otak, kepalanya bocor, atau memar. Luka fisik dapat kami obati, tapi luka batin begitu dalam.

Secara pribadi sebagai muslimah aku begitu shock melihat bangsaku begitu beringas. Saat ini aku masih trauma mendengar kalimat Allahu Akbar, tulisan syahadat, dan semua panji-panji Islam. Semua nilai-nilai Islam yang kuyakini dari kecil seperti hancur berantakan.

Aku marah dan tidak rela FPI mewakili Islam. Islam yang mereka bawa sama sekali tidak mencerminkan Islam yang lembut yang aku kenal. Islam tidak perlu pembela seperti mereka yang tidak punya hati, mereka yang tidak mampu mendengar jeritan dan tangisan saudara sebangsanya sendiri.

Kata "maaf" terbersit dalam hatiku karena saat mereka meneriakkan yel-yel Islam, aku sempat menjawab dalam hati, kalau kalian Islam biarkan aku menjadi kafir karena aku tidak mau menjadi bagian dari kalian.

Aku yakin lebih bangak muslim yang waras daripada mereka yang tidak waras. Namun suara mereka terlalu keras karena hanya itu yang mereka punya untuk menutupi kekerdilan hati mereka.

Karena itu, mari teman-temanku kita saling bergandengan tangan. Mari kita membuat Nabi Muhammad terlahir setiap hari dengan perbuatan kita yang mencerminkan ahlak beliau yang penuh kasih.

Kami yakin darah dan air mata teman-teman tidak sia-sia karena begitu banyak mata melihat kebrutalan FPI. Tidak ada satupun ummat islam yang mau kalian wakili, kecuali orang-orang yang hatinya keras seperti batu.

Aku mencintai kalian semua teman-temanku di FPI. Aku yakin kalian hanya kurang memahami. Tidak usahlah berbicara tentang agama yang jelas-jelas melarang kekerasan. Tapi bicara dengan kemanusiaan pasti kalian masih terketuk hatinya untuk tidak lagi menyakiti dan melakukan tindakan anarkis.

Aku akan bergabung dengan kalian mencintai Nabi Muhammad sebagai uswatun hasanah. Dan seperti Nabi Muhammad, mari kita menciptakan perdamaian di manapun kaki kita berpijak.

[Kembali]


03/06/2008 04:03 WIB
Kronologi Rusuh Monas Versi FPI
Irwan Nugroho - detikcom

Jakarta - Front Pembela Islam (FPI) mengklaim tindakannya terhadap aktivis Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKK-BB) bukan tanpa alasan. Tindakan itu akibat provokasi yang dilakukan AKK-BB saat mereka secara bersamaan menggelar aksi di Monas.

Berikut kronologi rusuh di Monas versi FPI seperti yang disampaikan kepada detikcom, Selasa (3/6/2008). Kronologi ini dapat dilihat di blog FPI dengan alamat http://fpipetamburan.blogspot.com.

Pada Minggu 1 Juni itu, massa Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) menggelar aksi menolak kenaikan harga BBM menuju Istana Negara yang diikuti perwakilan Serikat Kerja PLN, FPI, dan sebagainya.

Demo itu telah mendapatkan izin dari aparat kepolisian setempat dengan pengawalan yang rapi dan ketat. Sehingga dapat dikatakan demo itu adalah kegiatan resmi dan legal berdasarkan UU.

Pada saat yang bersamaan, muncul kelompok yang menamakan diri Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan berkeyakinan (AKK-BB), yang notabene pro Ahmadiyah.

Seperti dilansir dalam siaran TV, kegiatan AKK-BB di Monas tidak diperkenankan oleh Kepolisian, karena akan berbenturan dengan pihak yang tidak mendukung acara mereka. Dengan kata lain, kegiatan AKK-BB tidak mendapat izin polisi.

Melihat gelagat negatif itu, FPI menginstruksikan beberapa personelnya untuk mengetahui apa yang dilakukan AKK-BB di wilayah aksi HTI. Ternyata, AKK-BB melakukan orasi yang menjelekkan FPI dengan mengatakan, "Laskar Setan" dan sebagainya.

Mendengar orasi tersebut, personel FPI melaporkan kepada Laskar FPI. Laskar FPI pun lantas meminta klarifikasi AKK-BB. Namun, AKK-BB mengelak dan menjawab dengan sikap yang arogan sehingga membuat Laskar FPI kesal.

Arogansi AKK-BB makin menjadi dengan mengeluarkan sepucuk senjata api dan menembakkannya ke udara sebanyak 1 kali. Mendengar letusan itu, laskar FPI berusaha mencegah, namun justru ditanggapi dengan tembakan ke udara kembali hingga 4 kali.

Laskar FPI yang makin kesal langsung memukul provokator. Tidak ada anak-anak dan wanita yang menjadi sasaran amarah FPI. Hanya oknum yang sok jagoan dan arogan yang telah mengejek dan menghina kafir kepada laskar FPI yang menjadi sasaran empuk.

FPI menduga AKK-BB adalah kelompok bersenjata yang sengaja disusupkan ke dalam kegiatan demo BBM tersebut. Dengan menyertakan anak kecil dan wanita, mereka berniat mengalihkan isu BBM menjadi pembubaran FPI dengan memprovokasikan sebutan laskar kafir dan tembakan senjata api.

FPI kini menjadi obyek makian masyarakat dan intimidasi oleh Nahdlatul Ulama (NU) berserta elemen-elemennya. Sehingga, makin terbukti bahwa dakwah di jalah Allah SWT akan ditebus oleh fitnah, intimidasi, makian, dari kafirun dan munafikun. Itu semua kronologi versi FPI.
( irw / irw )

[Kembali]



Kronologi Penyerbuan FPI (versi AKKBB)

Ditulis pada oleh sumardiono

Ada kronologi penyerbuan FPI di Monas versi FPI ada kronologi penyerbuan versi AKKBB. Karena kronologi versi FPI sudah dimuat di DetikCom, berikut ini kronologi versi AKKBB yang aku dapat.

Silakan masyarakat menilai sendiri.

Kronologi Tragedi Pancasila Berdarah
Aksi 63 tahun Pancasila; “Satu Indonesia untuk Semua”
Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB)
Pelataran Monas, 1 Juni 2008

12.45
Massa AKKBB mulai berdatangan ke belakang Stasiun Gambir, bercampur dengan massa gerak jalan sehat PDIP. Ada 3-4 polisi yang mengatur lalu lintas dan mengatur massa PDIP yang menuju pulang

12.55
Massa AKKBB yang lain berdatangan ke dalam Pelataran Monas, berkumpul di satu titik untuk konsolidasi.

13.10
Massa AKKBB yang berada di belakang Stasiun Gambir berjalan menuju ke dalam Monas untuk merapatkan barisan dengan massa yang lain, untuk memberi kesempatan kepada massa PDIP membubarkan diri dari tempat parkir di belakang Stasiun. Ada seorang polisi berpakaian preman yang berkumpul di lokasi ini, dan 2 polisi berseragam agak jauh dari lokasi.

13.20
500-an massa FPI-HTI berjalan dari arah utara selayaknya orang baris berbaris.

13.25
Massa FPI-HTI sampai di depan massa AKKBB yang sedang mengatur barisan, dan tanpa basa basi langsung memukuli massa AKKBB yang sebagian duduk-duduk di aspal, tanpa perlawanan. Mereka memukuli membabi buta sambil berteriak: “Kamu Ahmadiyah ya”. “Allahu Akbar”. Tidak ada seorang aparat pun yang menolong. FPI-HTI sudah menyiapkan laskarnya dalam 4 lapis dan lapis terakhir laskar memakai baju hitam hitam, tutup muka dan senjata tajam seperti pedang, sejenis samurai, kayu seperti tombak. Juga pasir pedas yang dilemparkan ke mata.

13.30
Lapisan pertama membubarkan diri namun datang lapisan kedua sambil berteriak Allah Akbar dan minta lapisan pertama kembali menyerang, sehingga bertambah rombongan FPI-HTI yang menyerang teman teman AKKBB. Seorang polisi dengan mobil patroli datang menghampiri namun mobil nya ditendang beberapa orang FPI-HTI sehingga polisi itupun lari. Beberapa anggota AKKBB mencoba minta polisi berbuat sesuatu tapi polisi itu malah pergi. Mereka sempat dihampiri seorang anggota FPI-HTI dengan mengatakan,”Pergi lu, gue tahu lu Ahmadyah, pergi lu, mau mampus lu”.

13.35
Massa AKKBB sudah lari tunggang langgang menyelamatkan diri. Serombongan polisi bermotor datang ke lokasi, melokalisir massa FPI-HTI. Massa FPI-HTI menghancurkan mobil dan soundsystem di dalamnya, kemudian membakarnya, di depan para polisi yang mengelilingi mereka.

14.00
Tim AKKBB menyisir seluruh lokasi, dan ada beberapa massa AKKBB yang masih tersisa di dalam dan tak berani keluar. Mereka memilih berdampur dengan pengunjung umum Monas, menunggu massa FPI-HTI bubar.

14.15
Massa FPI-HTI berjalan ke arah istana, bergabung dengan aksi HTI yang lain di depan istana.

14.28
AKKBB membuat konferensi pers dadakan di pelataran Galeri Nasional. Polisi mengingatkan massa AKKBB untuk tidak berlama-lama di Galeri Nasional, karena ada kemungkinan massa FPI-HTI masih akan mengejar.

15.00
Massa AKKBB bubar dari Pelataran Galeri Nasional

16.00
8 Sepeda motor berbendera FPI berhenti di depan Galeri Nasional dan melakukan pengamatan. Hanya tersisa beberapa orang di Pelataran Galeri Nasional.

Daftar korban menurut blog ini adalah 42 orang tapi menurut yang ini mencapai 70 orang.

[Kembali]



Kronologi Penyerbuan FPI Versi Salah Satu Korban FPI

Berita ini tidak saya dapatkan dari media massa manapun atau blog manapun. Berita ini langsung saya dapatkan dari salah satu korban FPI yang kebetulan adalah kerabatku.

Sebelum lebih lanjut, perlu dicatat bahwa AKK-BB bukanlah sebuah kelompok tunggal melainkan gabungan dari berbagai kelompok yang resah dengan aksi-aksi memaksakan keyakinan yang terjadi akhir-akhir ini.

Korban FPI berasal dari BKOK (Badan Kerjasama Organisasi Kepercayaan2 --- kumpulan dari aliran kepercayaan) yang juga mendukung AKK-BB. Pada tanggal 1 Juni kemarin, korban beserta kawan-kawannya berniat melakukan demonstrasi damai.

Dari BKOK, tidak ada orang yang dibayar untuk demonstrasi karena demonstrasi ini menyangkut hidup mereka.

Korban dan seorang kawannya dari BKOK, sebelum peristiwa diminta melihat situasi di Monas untuk melihat apakah AKK-BB sudah ada sementara kawan-kawannya menunggu di Gambir. Di tangga monas, korban dan kawannya menemukan ibu-ibu dari NU yang akan ikut aksi AKK-BB sudah berada di tempat. Benar ada beberapa dari Ahmadiyah tetapi lebih banyak dari NU.

Sudah tampak FPI di jalan di arah Masjid Istiqlal. Tidak ada satupun dari mereka yang menyangka bahwa kelompok FPI yang diam saja dari tadi kelak akan menyerang mereka.

Kelompok pertama AKK-BB yang sudah berada di lokasi tidak membawa atribut apapun.

Kemudian muncul kelompok AKK-BB lain yang akan bergabung dengan kelompok pertama. Kelompok kedua ini membawa beberapa atribut.

Perlu dicatat bahwa pada saat itu, AKK-BB belum memulai demonstrasi. Masih akan ada rombongan-rombongan lain yang ditunggu.

Selain itu, baik kelompok pertama maupun kelompok kedua, sebagian besar terdiri dari ibu-ibu dan anak-anak. Jumlah pemuda laki-laki dan bapak-bapak hanya sedikit.

Begitu kelompok pendatang AKK-BB bergabung dengan kelompok yang sudah ada di Monas, FPI mulai bergerak sambil meneriakkan "Allahu Akbar".

Para pemuda mulai menarik tali untuk menjaga agar tidak ada dari AKK-BB yang terprovokasi untuk menyerang FPI. Hingga detik tersebut, tidak ada satupun dari AKK-BB yang menyangka bahwa FPI berniat menyerang mereka. Mereka membayangkan, paling banter FPI hanya melakukan provokasi namun sambil lewat. Bahkan hingga FPI mendekat, tidak ada prasangka di antara AKK-BB rencana FPI menyerang mereka.

Tiba-tiba FPI mendesak maju sambil membawa panji-panji bendera dari bambu sambil berteriak "Bubar! Bubar!". Para pemuda AKK-BB berusaha menenangkan tetapi FPI malah mendesak maju dan menggunakan tongkat-tongkat bambu untuk memukuli AKK-BB.

FPI lebih mendesak masuk di bagian yang belum sempat dijaga dengan tali dan langsung menyerbu belakang yang sebagian besar berisi ibu-ibu termasuk ibu-ibu NU yang sudah datang lebih dahulu.

Adalah dusta bila FPI mengatakan tidak menganiaya wanita dan anak-anak karena korban melihat ibu-ibu NU yang tadi berbicara dengannya sebelum tragedi berlangsung ikut terkena pukulan.

Beberapa orang dari AKK-BB yang sudah lari ke Taman Monas tetap dikejar oleh FPI. Sementara korban yang juga kerabat saya, yang tadinya melawan akhirnya mengikuti kawannya lari sambil memberi peringatan melalui ponsel pada kawan-kawan BKOK yang masih di Gambir untuk tidak ke Monas.

Pada saat peristiwa, beberapa simpatisan AKK-BB baru tiba di sekitar Monas, namun langsung diarahkan oleh kawan-kawannya untuk segera pergi agar tidak terjadi kerusakan lebih lanjut. Apalagi sebagian besar simpatisan AKK-BB yang baru datang adalah wanita.

Korban tidak melihat lagi peristiwa-peristiwa yang lebih buruk yang terjadi setelahnya tetapi sebelum pergi, korban hanya melihat kurang dari 10 polisi yang berada di tempat kejadian tanpa bisa berbuat apa-apa. Beberapa anggota keamanan yang dipersiapkan oleh AKK-BB masih berusaha bertahan untuk menyelamatkan anggota AKK-BB yang lain.


Dengan kata lain,
dari kesaksian korban,
FPI memiliki waktu lama melihat siapa saja anggota AKK-BB,
dan mereka pasti sangat menyadari bahwa
kelompok yang mereka serang sebagian besar terdiri dari wanita
dan mereka berani menyangkal,
memutarbalikkan fakta,
mengalihkan perhatian dari tindakan kriminal yang mereka lakukan.



Klaim FPI: Pistol Diacungkan Pihak AKK-BB

Bukti yang di serahkan FPI:


Penjelasan Panitia dan Komentar:

TEMPO Interaktif, Jakarta :
Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) menilai pengamanan oleh polisi sangat lemah sehingga penyerangan brutal oleh laskar Front Pembela Islam (FPI) pada Ahad lalu terjadi.

Koordinator AKKBB Anik mengatakan hanya melihat tiga polisi ketika terjadi penyerangan di lapangan Monumen Nasional, Jakarta, lalu. "Dua berpakaian polisi, satunya preman," katanya kepada Tempo setelah kejadian. "Saya tak tahu polisi menjaga kami atau kegiatan PDIP (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan)."

Koordinator Media AKKBB, Budi Kurniawan, mengaku hanya melihat seorang polisi ketika penyerangan terjadi sekitar 13.30 WIB. "Berpakaian preman menggengam pistol berusaha mencegah aksi brutal FPI," katanya di Galeri Nasional setelah kejadian.
....

Menurut GP Ansor :
Oleh : Sugeng Riyadi, SE
....
Benarkah demikian? Ini masih misteri. (namun herannya ketika saya melihat siaran langsung di televisi mengenai pencidukan anggota Front Komando Islam di Petamburan, di sana kita dapat melihat jelas bahwa para polisi yang berpakaian preman semuanya menyematkan pita merah putih dilengan kirinya.
....

Menurut Saya:
Tidak ada suara letusan pestol ke udara. Monas merupakan ring 1 dan saat itu, tanggal 1 Juni 2008, yang ber-acara bukan saja cuma AKK-BB namun juga PDIP, dimana ada MANTAN Presiden Megawati Sukarnoputri, beberapa Pejabat penting dan juga Wapres ada disekitar lokasi (Sudirman). Letusan Pistol akan memancing banyak aparat untuk segera mendekati lokasi.

Orang yang memegang pistol (dilengan kirinya ada pita merah putih!) berusaha menghalangi gerak maju massa FPI dan melindungi seorang anak remaja yang tengah ketakutan! Di belakang mereka, tampak orang yang memakai Tag pengenal yang digantungkan di leher.

Pita merah putih! itu menunjukan ciri-ciri keorganisasian..Ada perencanaan, ada saksi..ada gambar video, ada wajah yang dikenali...masa iya, polisi tak dapat menangkap (sesuai permintaan FPI)!

Orang tersebut adalah angggota Polisi berpakaian preman yang bertugas di sana dan saat itu Ia sedang berusaha mencegah AKSI BRUTAL berkelanjutan dari massa FPI.

[Kembali]

6 comments:

  1. selamat siang,

    saya rasa tidak ada yang lucu dengan asumsi subjektif responden mengelompokkan FPI dengan anjing. Hanya penanya yang mencari celah untuk membuat masalah dengan memancing di air keruh lantas lepas tangan yang akan membuat pertanyaan seperti itu.
    Kenapa tidak membuat pengandaian antara FPI, Ahmadiyah, Hindu, Budha, Protestan, katolik, Kepercayaan, Polisi, dan sebagainya? Hanya yang tidak berpendidikan atau mencari keuntungan yang membuat pilihan seperti anda dan menyimpulkannya. kecuali bila anda adalah ANJING nya bila bukan FPI nya.

    saya yakin, anda tidak mengerti akar permasalahannya, yang jelas anda bukan Islam.
    Mungkin dalam keyakinan anda, ada kitab baru atau tuhan baru pun anda tidak akan mempermasalahkannya.
    jangan memandang dari persamaan kata "Islam". Ahmadiyah bukanlah masalah perbedaan dalam Islam, namun sudah pada PENYIMPANGAN. Dan bila menyimpang, berarti sudah bukan Islam. Jadi tidak sama antara FPI dengan Ahamdiyah.

    Dalam Kristen, bila tidak yakin dengan katolik, maka keluar dari katolik dan membentuk protestan.

    Dalam Islam, semua jelas bahwa hanya ada Allah dan Rasul, dengan Rasul terakhir adalah Muhamad SAW. Dan itu juga tertulis dalam Al-Qur'an.
    Diluar itu berarti bukan Islam, kafir.

    Dalam Islam, memang cinta damai, bahkan menghindari perang (namun tidak lari dari perang). Masalah duniawi, umat harus sabar, bahkan ketika Nabi dilempari kotoran manusia oleh kaum kafir, Nabi hanya bersabar serta memohon do'a pada Allah semoga mereka dimaafkan serta diberi petunjuk-Nya. Namun bila dalam hal Aqidah, jangan main-main, karena berarti telah menghina Allah, Nabi, beserta ajarannya. Itu memang cobaan umat Islam sejak jaman Nabi baik dari orang yang tidak suka kepada Islam, tergoda syaitan, ataupun mencari sensasi seperti anda dengan quesionernya.

    Bila Ahmadiyah mau, silahkan mereka menggunakan nama lain selain Islam, "Ahma" misalnya serta jangan menyalahgunakan Al-Qur'an.

    Islam tidak menghalangi kebebasan beragama dan kehidupan berbeda agama, namun Islam tidak akan mentolerir penistaan terhadapnya.
    Sejak jaman Nabi, Islam tidak mengganggu Nasrani selama mereka tidak mengganggu, demikian juga dengan keyakinan lain, bahkan Islam tidak perlu dakwah dengan segala bentuk kedok, apakah kemanusiaan ataupun sumbangan, apalagi iming-iming uang&harta bila mengikuti keyakinan tertentu.

    Saya setuju dengan semangat Pancasila, yang menjamin keberagaman. Namun coba perhatikan, sila pertama-Ketuhanan YME. Rakyat Indonesia dijamin untuk kebebasan beragama serta menjalankannya seperti yang tertera pada butir sila pertaa pasal 29 UUD'45. Saya yakin banyak orang yang setuju, namun apakah banyak orang yang paham dengan ketentuan dari setiap agama? Apakah juga disebut bahwa setiap warga negara tidak bisa disalahkan bila "menyelewengkan agama tertentu"?

    Bila Indonesia ini berlandaskan Pancasila dan menempatkan KETUHANAN YANG MAHA ESA sebagai dasar, sudah sepatutnya negara melindungi penganut agama sebagaimana ketentuan dari setiap agama.
    Bahkan, jelas Esa itu berarti SATU! bagaimana bila ada keyakinan yang meyakini lebih dari 1 Tuhan?

    Sudahkah anda pilih? FPI atau ANJING?

    Saya mengakui, tindakan FPI tidak 100% tepat. Islam melarang tidakan kekerasan yang mebabi buta, terutama pada wanita dan anak-anak. Dalam standart perang Islam, dilarang keras menyakiti wanita&anak-anak. Untuk orang cacat, bila laki&pelaku perang maka sah dianggap pelaku peperangan.
    Perang tidak harus berarti adu otot, saat ini perang dalam Islam telah lama berlangsung, terhadap ajakan keluar dari Islam (pemurtadan)maupun bentuk penyimpangan seperti Ahmadiyah serta penistaan seperti Denmark.

    Anda bila diludahi orang lain maka akan marah, kalau perlu sampai adu otot atau bahkan lapor polisi dengan tuduhan perbuatan tidak menyenangkan. Namun apakah anda akan diam saja ketika keyakinan anda dihina, yang bagi anda akan membuat anda masuk surga nantinya.

    Bila jawaban anda "saya tidak akan marah", maka sebaiknya anda mencari keyakinan lain yang memang membuat anda tenang&bahagia, tidak hanya karena ikut orang tua, bisa hidup bebas, ataupun ikut tetangga, apalagi dengan alasan tempat ibadahnya keren.

    kalau anda pemimpin suatu kelompok, apakah anda akan tenang-tenang saja melihat anggota anda diam saja ketika kelompok anda dijelek-jelekkan bahkan nama kelompok anda disalahgunakan?

    Sebebasnya hidup, selalu ada aturannya, anda memiliki keyakinan hanya sebagai hiasan KTP ataukah PANDUAN dalam menjalani hidup?

    anda merasa hidup harus bebas! coba belanja dan bayar pake Pizza yang masih hangat yang mungkin berharga lebih mahal. bisa?

    coba makan di warung dan bayar dengan meninggalkan kartu atm tanpa pin. bisa?

    anda bisa mengendarai kendaraan? dibenarkankah bila mengendarai honda jazz atau yamaha jupiter MXLC tanpa sim yang jelas jauh lebih murah dari harga kendarannya. bisa?

    anda ingin sekolah, tapi tidak mau bayar, masuk sesukanya, tanpa seragam, masuk ruang ajar semaunya. bisa?

    anda ingin keyakinan yang anda anut akan membuat kehidupan duniawi dan akhirat lebih baik.Namun dengan alasan kebebasan, anda langgar larangan keyakinan anda. jadi masuk surga?

    saran saya, sebelum terjadi keadaan yang lebih kacau, sebaiknya jangan terlalu mengomentari bahkan mengambil keputusan, bahkan sampai membuat pooling yang menjebak. anda sungguh keterlaluan, tidak berpendidikan.

    tidak ada bedanya berarti antara anda dengan "FPI versi anda".

    FPI?

    ANJING?

    Sejak dahulu, banyak orang mengakui dan sudah terbukti bahwa ekonomi Islam mampu membawa segala kebaikan untuk manusia, karena memang Islam diturunkan Allah untuk segenap manusia, bukan untuk kaum tertentu ataupun pada masa tertentu. hanya banyak orang merasa bahwa yang selanjtnya terjadi adalah semua dipaksa masuk Islam, atau bila Islam diberi kemudahan. Tidak ada tindakan yang sepeti itu dalam Islam, jelas akan anda temui dala keyakinan lain yang juga berkembang di Indonesia. Mungkin anda salah satu penganutnya?

    Anda hanya bisa berpendapat tanpa dasar, semoga tidak tong kosong nyaring bunyinya, terlebih bila ternyata juga fals.

    Terlebih kutipan anda tentang direktur Wahid Center, Suaeby. Anda tau, di TV-1 beliau mengatakan Islam hanyalah politik Arab agar tidak kehilangan pengaruh, serta mengatakan kenapa Nabi harus dari Arab.
    Hanya Allah yang tau mengapa Nabi berasal dari Arab, manusia tidak selalu mengetahui segala hal.

    Anda tahu segala hal?

    berapa banyak yang anda tahu?

    anda tahu batu karang itu flora atau fauna atau bukan keduanya?
    jawabnya : fauna

    anda tahu kalau arus air laut di belahan bumi utara berbeda arah dengan arus air laut di belahan bumi selatan?

    mungkin yang ini pun anda tidak tahu. berapa jumlah baut roda mobil anda? bila punyanya motor, anda tahu berapa ukuran bannya baik ataupun belakang? bila tidak punya juga, anda tahu berapa jumlah rambut anda?


    Anda tahu kalau gunung itu berjalan?
    bila tidak, tanya ahli geografi, apakah posisi suatu gunung selalu sama setiap tahun secara koordinat?

    setiap tahun, posisi gunung secara koordinat bergeser 2 cm, dan pernyataan gunung berjalan telah ada dalam Al-Qur'an. Apakah jaman Al-Qur'an diturunkan telah ada alat GPS?

    Pernyataan itu pula yang membuat FPI marah pada Gus Dur. sebagai orang yang terpandang dalam NU, walaupun DO dari Universitas Islam Kairo - kampus yang jelas maju dalam mempelajari&penerapan kajian Islam-, sebagai orang yang taat namun mengakui Ahmadiyah yang jelas menyimpang&menghina Islam.

    Memang kita hidup di dunia dengan segala macam manusia, namun semua akan dipertanggung jawabkan di hari akhir.

    jangn katakan tidak adanya saling kait antara duniawi dan surgawi!!

    bila anda berpendapat begitu, maka saya pertanyakan, apa gunanya anda berdo'a saat sembahyang bila tidak ada pengaruhnya pada duniawi? jelas hanya buang waktu dan tenaga.

    buat apa Islam berpuasa bila hanya untuk memperkecil pengeluaran uang makan?

    buat apa Kristen hari minggu ke gereja bila hanya untuk agar bisa keluar dari rumah?

    untuk apa Hindu merayakan nyepi dengan tiada aktifitas listrik bila hanya untuk menghemat pengeluaran biaya listrik.

    Dalam Islam, minuman keras hukumnya haram. Namun hukum tersebut tidak saja berlaku pada umat yang meminumnya, namun juga kepada umat lainnya bila terlibat dalam membuat,mengemas,menjual,memasarkan,bahkan sampai yang mensuplai botolnya.
    haram karena selain memabukkan juga membuat hilang kesadaran disamping lebih banyak keburukannya daripada kebaikannya.

    semua saling terkait. dan menurut saya, membela keyakinan surgawi adalah hal yang paling patut diperjuangkan.

    berikut penjelasan seputar Ahmadiyah bila anda tertarik dan berniat mengoreksi diri serta pendapat anda. Kecuali anda tergolong kepada orang-orang yang mencari kesempatan tanpa perlu pemahamaman.

    sebagai umat Islam,saya sangat malu dengan tindakan yang dilakukan FPI. Namun dilain sisi saya tidak menghalangi tindakan FPI terhadap pihak yang menghina Islam. Namun harus digaris bawahi bahwa sudah sepatutnya FPI bertindak dalam koridor ajaran Islam serta tidak mencelakai umat yang berbeda keyakinan selama mereka tidak menistakan Islam.

    terlebih dengan sikap pemerintah yang tidak mampu bersikap.
    .,.,.,.,.,.,.,.,,,.,.,.,.,.,.,.,.,.



    "Islam Menjawab Ahmadiyah"



    Senin, 02 Juni 2008

    Di zaman yang penuh dengan fitnah saat ini, permainan media sangat canggihbisa menjadi fitnah bagi umat Islam. Baca Catatan Akhir Pekan [CAP] Adianke-236

    Oleh: Adian Husaini

    Harian Republika (23 Mei 2008) menurunkan artikel berjudul "Ahmadiyah Menjawab", karya MB Shamsir Ali SH SHD, Plt. Sekretaris Media dan Informasi Jemaat Ahmadiyah Indonesia. Isinya berupa penegasan bahwa Ahmadiyah adalah satu Jamaah Islam. Sejak keluarnya artikel tersebut, saya menerima sejumlah SMS yang meminta agar artikel tersebut dijawab.

    Syukurlah, pada 26 Mei 2008, Republika menurunkan artikel Dr. Syamsuddin Arif yang berjudul "Solusi Masalah Ahmadiyah". Artikel ini dengan sangat gamblang menjelaskan apa dan bagaimana Ahmadiyah dan mengapa para cendekiawan dan ulama besar di dunia Islam sudah menegaskan bahwa Ahmadiyahadalah aliran di luar Islam. Catatan berikut ini akan lebih memperjelas bagaimana sebenarnya posisi Ahmadiyah dan Islam, khsusunya dari sisi pandang Ahmadiyah sendiri.

    Dalam berbagai artikel dan dialog di media massa Indonesia, para tokoh Ahmadiyah dan pendukungnya - yang biasanya mengaku bukan pengikut Ahmadiyah - sering mengangkat "logika persamaan". Bahwa, Ahmadiyah adalah bagian dari Islam, karena banyak persamaannya. Al-Quran-nya sama, syahadatnya sama, shalatnya sama, dan hal-hal yang sama lainnya. Maka, kata mereka, demi keharmonisan hidup dan kerukunan masyarakat, mengapa Ahmadiyah tidak diakui saja sebagai bagian dari Islam.

    Benarkah logika semacam ini?

    Penyair dan cendekiawan Muslim terkenal asal Pakistan, Dr. Muhammad Iqbal (1873-1938), pernah menulis sebuah buku berjudul "Islam and Ahmadism" (Tahun 1991 di-Indonesiakan oleh Makhnun Husein dengan judul "Islam dan Ahmadiyah". Terhadap klaim Mirza Ghulam Ahmad bahwa dia adalah nabi dan penerima wahyu, Iqbal mencatat: "Orang yang mengakui mendapatkan wahyu seperti itu adalahorang yang tidak patuh kepada Islam. Karena kelompok Qadiani mempercayaipendiri gerakan Ahmadiyah sebagai penerima wahyu semacam itu, berarti mereka menyatakan bahwa seluruh dunia Islam adalah kafir."

    Lebih jauh Iqbal menyatakan: "Setiap kelompok masyarakat keagamaan yang secara historik timbul dari Islam, yang mengakui kenabian baru sebagailandasannya dan menyatakan semua ummat Muslim yang tidak mengakui kebenaran wahyunya itu sebagai orang-orang kafir, sudah semestinya dianggap oleh
    setiap Muslim sebagai bahaya besar terhadap solidaritas Islam. Hal itu memang sudah semestinya, karena integritas ummat Islam dijamin oleh Gagasan Kenabian Terakhir (Khatamun Nabiyyin) itu sendiri."

    Dalam menilai Ahmadiyah, Iqbal tidak terjebak kepada retorika logika persamaan. Iqbal mengacu pada inti persoalan, bahwa Ahmadiyah berbeda dengan Islam, sehingga dengan tegas ia menulis judul bukunya, Islam and Ahmadism. Titik pokok perbedaan utama antara Islam dan Ahmadiyah adalah pada status kenabian Mirza Ghulam Ahmad; apakah dia nabi atau bukan? Itulah pokok persoalannya.

    Umat Islam yakin, setelah nabi Muhammad saw, tidak ada lagi manusia yang diangkat oleh Allah sebagai nabi dan mendapatkan wahyu. Tidak ada! Secara tegas, utusan Allah itu sendiri (Muhamamd saw) yang menegaskan:"Sesungguhnya akan ada pada umatku tiga puluh orang pendusta. Masing-masing
    mengaku sebagai nabi. Padahal, akulah penutup para nabi, tidak ada lagi nabi sesudahku." (HR Abu Dawud).

    Jadi, umat Islam yakin, siapa pun yang mengaku sebagai nabi dan mendapat wahyu setelah nabi Muhammad saw - apakah Musailamah al-Kazzab, Lia Eden, atau Mirza Ghulam Ahmad - pasti bohong. Itu pasti! Inilah keyakinan Islam. Karena itu, pada 7 September 1974, Majelis Nasional Pakistan menetapkan dalam Konstitusi Pakistan, bahwa semua orang yang tidak percaya kepada Nabi Terakhir Muhammad secara mutlak dan tanpa syarat telah keluar dari kelompok umat Islam.

    Sikap umat Islam terhadap Ahmadiyah sebenarnya juga dilakukan berbagai agama lain. Protestan harus menjadi agama baru karena menolak otoritas Gereja Katolik dalam penafsiran Bibel, meskipun antara kedua agama ini banyak sekali persamaannya. Tahun 2007, sebagian umat Hindu di Bali membentuk agama baru bernama agama Hindu Bali, yang berbeda dengan Hindu lainnya. Agama Kristen dan Yahudi mempunyai banyak persamaan. Bibel Yahudi juga dipakai oleh kaum Kristen sebagai kitab suci mereka (Perjanjian Lama). Tapi, karena Yahudi menolak posisi Yesus sebagai juru selamat, maka keduanya menjadi agama yang berbeda.

    Logika persamaan harus diikuti dengan logika perbedaan, sebab "sesuatu" menjadi "dirinya" justru karena adanya perbedaan dengan yang lain. Meskipun banyak persamaannya, manusia dan monyet tetap dua spesies yang berbeda. Akal-lah yang menjadi pembeda utama antara manusia dengan monyet. Setampan apa pun seekor monyet, dia tidak akan pernah bisa menjadi seorang manusia.

    Jika umat Islam bersikap tegas dalam soal kenabian Mirza Ghulam Ahmad, pihakAhmadiyah juga bersikap senada. Siapa pun yang tidak beriman kepada kenabian Ghulam Ahmad, dicap sebagai sesat, kafir, atau belum beriman. Itu bisa dilihat dalam berbagai literatur yang diterbitkan Ahmadiyah.

    Pada tahun 1989, Yayasan Wisma Damai - sebuah penerbit buku Ahmadiyah - menerjemahkan buku berjudul Da'watul Amir: Surat Kepada Kebenaran, karya Hazrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad r.a. Oleh pengikut Ahmadiyah, penulis buku ini diimani sebagai Khalifah Masih II/Imam Jemaat Ahmadiyah
    (1914-1965). Buku ini aslinya ditulis dalam bahasa Urdu, dan pada tahun 1961, terbit edisi Inggrisnya dengan judul "Invitation to Ahmadiyyat".

    Para pendukung Ahmadiyah - dari kalangan non-Ahmadiyah - baiknya membaca buku ini, sebelum bicara kepada masyarakat tentang Ahmadiyah. Ditegaskan di sini: "Kami dengan bersungguh-sungguh mengatakan bahwa orang tidak dapat menjumpai Allah Ta'ala di luar Ahmadiyah." (hal. 377).

    Mirza Ghulam Ahmad yang mengaku sebagai Masih al-Mau'ud mewajibkan umat Islam untuk mengimaninya. Kata Bashiruddin Mahmud Ahmad: "Kami sungguh mengharapkan kepada Anda agar tidak menangguh-nangguh waktu lagi untuk menyongsong dengan baik utusan Allah Ta'ala yang datang guna menzahirkan kebenaran Rasulullah saw. Sebab, menyambut baik kehendak Allah Taala dan beramal sesuai dengan rencana-Nya merupakan wahana untuk memperoleh banyak keberkatan. Kebalikannya, menentang kehendak-Nya sekali-kali tidak akan mendatangkan keberkatan." (hal. 372).

    Menurut Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad - yang oleh kaum Ahmadiyah juga diberi gelar r.a. (radhiyallahu 'anhu), setingkat para nabi -- bukti-bukti kenabian Mirza Ghulam Ahmad lebih kuat daripada dalil-dalil kenabian semua nabi selain Nabi Muhammad saw. Sehingga, kata dia: "Apabila iman bukan semata-mata karena mengikuti dengaran dari tuturan ibu-bapak, melainkan hasil penyelidikan dan pengamatan, niscaya kita mengambil salah satu dari kedua hal yaitu mengingkari semua nabi atau menerima pengakuan Hadhrat Masih Mau'ud a.s." (hal. 372).

    Jadi, oleh kaum Ahmadiyah, umat Islam diultimatum: iman kepada Ghulam Ahmad atau ingkar kepada semua nabi? Bandingkan logika kaum Ahmadiyah ini dengan ultimatum Presiden George W. Bush: "You are with us or with the terrorists". Oleh Ahmadiyah, umat Islam dipojokkan pada posisi yang tidak ada pilihan lain kecuali memilih beriman kepada para nabi dan menolak klaim kenabian
    Mirza Ghulam Ahmad.

    Masih belum puas! Umat Islam diultimatum lagi oleh pemimpin Ahmadiyah ini: "Jadi, sesudah Masih Mau'ud turun, orang yang tidak beriman kepada beliau akan berada di luar pengayoman Allah Taala. Barangsiapa yang menjadi penghalang di jalan Masih Mau'ud a.s, ia sebenarnya musuh Islam dan ia tidak menginginkan adanya Islam." (hal. 374).

    Jadi, begitulah pandangan dan sikap resmi Ahmadiyah terhadap Islam dan umat Islam. Dan itu tidak aneh, sebab Mirza Ghulam Ahmad sendiri mengaku pernah mendapat wahyu seperti ini: Anta imaamun mubaarakun, la'natullahi 'alalladzii kafara (Kamu - Mirza Ghulam Ahmad - adalah imam yang diberkahi dan laknat Allah atas orang yang ingkar/Tadzkirah hal. 749). Ada lagi wahyu versi dia: "Anta minniy bimanzilati waladiy, anta minniy bimanzilatin laa ya'lamuha al-khalqu. (Kamu bagiku berkedudukan seperti anak-Ku, dan kamu bagiku berada dalam kedudukan yang tidak diketahui semua makhluk/Tadzkirah, hal. 236).

    Itulah Ahmadiyah, yang katanya bersemboyan: "Love for all. Hatred for None". Namanya juga slogan! Zionis Israel pun juga mengusung slogan "menebar perdamaian, memerangi terorisme". Kaum Ahmadiyah pun terus-menerus menteror kaum Muslim dengan penyebaran pahamnya. Dalam Surat Edaran Jemaat Ahmadiyah Indonesia tanggal 25 Ihsan 1362/25 Juni 1983 M, No. 583/DP83, perihal Petunjuk-petunjuk Huzur tentang Tabligh dan Tarbiyah Jama'ah, dinyatakan:
    "Harus dicari pendekatan langsung dalam pertablighan. Hendaknya diberitahukan dengan tegas dan jelas bahwa sekarang dunia tidak dapat selamat tanpa menerima Ahmadiyah. Dunia akan terpaksa menerima Pimpinan Ahmadiyah. Tanpa Ahmadiyah dunia akan dihimpit oleh musibah dan kesusahan dan jika tidak mau juga menerima Ahmadiyah, tentu akan mengalami kehancuran."

    Umat Islam sangat cinta damai. Tetapi, umat Islam tentunya lebih cinta kepada kebenaran. Demi cintanya kepada kebenaran dan juga pada ayahnya, maka Nabi Ibrahim a.s. berkata kepada ayahnya, "Aku melihatmu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata!"

    Nabi Ibrahim a.s. dan semua Nabi adalah para pecinta perdamaian. Rasulullah saw juga pecinta damai. Tetapi, dalam masalah aqidah, kebenaran lebih diutamakan. Nabi Ibrahim harus mengorbankan kehidupannya yang harmonis dengan keluarga dan kaumnya, karena beliau menegakkan kalimah tauhid. Beliau menentang praktik penyembahan berhala oleh kaumnya, meskipun beliau harus dihukum dan diusir dari negerinya.

    Dalam kasus Nabi palsu, misalnya, Nabi Muhammad saw dan juga sahabat Abu Bakar ash-Shiddiq lebih memilih mengambil sikap yang tegas, sebab ini sudah menyangkut soal aqidah, soal keimanan. Jangankan dalam soal kenabian. Dalam masalah kenegaraan saja, orang yang membuat gerakan separatis atau merusak dasar negara juga dikenai tuntutan hukum. Kaum separatis, meskipun melakukan aksi damai, berkampanye secara damai untuk mendukung aksi separatisme, tetap tidak dapat dibenarkan. Jadi, kalau orang berkampanye merusak Islam, seperti yang dilakukan oleh Ahmadiyah dan para pendukungnya, tetap tidak dapat dibenarkan dalam ajaran Islam.

    Masalah aqidah, masalah iman, inilah yang jarang dipahami, atau sengaja diketepikan dalam berbagai diskusi tentang Ahmadiyah. Padahal, Ahmadiyah eksis adalah karena iman. Berbagai kelompok yang mendukung Ahmadiyah di Indonesia sebenarnya sudah sangat keterlaluan, karena mencoba untuk menafikan masalah iman ini. Bahkan tindakan-tindakan mereka - apalagi yang
    mengatasnamakan Islam dan menggunakan dalil-dalil Al-Quran -- lebih merusak Islam ketimbang Ahmadiyah itu sendiri.

    Umat Islam Indonesia memang sedang menghadapi ujian berat. Hal-hal yang jelas-jelas bathil malah dipromosikan. Lihatlah TV-TV kita saat ini, begitu gencarnya menyiarkan aksi-aksi kaum homo dan lesbi, seolah-olah mereka tidak takut pada azab Allah yang telah ditimpakan kepada kaum Luth. Bahkan, para aktivis Liberal seperti Guntur Romli, pada salah satu tulisannya di Jurnal
    Perempuan, dengan sangat beraninya memutarbalikkan penafsiran ayat-ayat Al-Quran, sehingga akhirnya menghalalkan perkawinan sesama jenis.

    Aktivis liberal yang satu ini juga sudah sangat keterlaluan dalam menghina Al-Quran. Dia menulis dalam salah satu artikelnya (Koran Tempo, 4 Mei 2007), yang berjudul "Pewahyuan Al-Quran: Antara Budaya dan Sejarah" bahwa:
    "Al-Quran adalah "suntingan" dari "kitab-kitab" sebelumnya, yang disesuaikan dengan "kepentingan penyuntingnya". Al-Quran tidak bisa melintasi "konteks" dan "sejarah", karena ia adalah "wahyu" budaya dan sejarah." Kita juga tidak mudah memahami pemikiran dan kiprah tokoh liberal lain
    seperti Prof. Dr. Siti Musdah Mulia, dosen UIN Jakarta, yang begitu beraninya membuat-buat hukum baru yang menghalalkan perkawinan muslimah dengan laki-laki non-Muslim dan perkawinan manusia sesama jenis. Meskipun sudah mendapat kritikan dari berbagai pihak, tetap saja dia tidak peduli.
    Bahkan, di Jurnal Perempuan edisi khusus tentang Seksualitas Lesbian, dia memberikan wawancara yang sangat panjang. Judul wawancara itu pun sangat provokatif: "Allah Hanya Melihat Taqwa, bukan Orientasi Seksual Manusia."

    Di zaman yang penuh dengan fitnah saat ini, karena permainan media yang yang sangat canggih, berbagai fitnah dapat menimpa umat Islam. Orang-orang yang jelas-jelas merusak Islam ditampilkan sebagai pahlawan kemanusiaan. Sedangkan yang membela Islam tidak jarang justru dicitrakan sebagai
    "penjahat" kemanusiaan. Dalam situasi seperti ini, disamping terus-menerus berusaha menjelaskan, mana yang haq dan mana yang bathil, kita juga diwajibkan untuk berserah diri kepada Allah SWT. Kita yakin, dan tidak pernah berputus asa, bahwa Allah adalah hakim Yang Maha Adil. [Depok, 25 Mei 2008/ www.hidayatullah. com

    ReplyDelete
  2. Halo lingga,

    seperti saya duga response para pendukung FPI adalah sama...jengkel

    Pendapat saya mengenai Ahmadiyah silakan baca di:

    http://wirajhana-eka.blogspot.com/2008/04/ahamdiyah-bukan-islam-dan-sesat-ah-masa.html

    mengenai,
    karang itu flora atau fauna saya tahu,
    beberapa yang lain saya tidak tahu..tapi itu gampanglah...selama ilmu yang dicatat, bisa di baca dan ada kemauan membaca..untuk mengerti apa sih susahnya

    dulu juga saya tk, ningkat jadi SD, terus smp, terus sma, dll...
    jadi itu bukan suatu yang hebat...cuma siapa yang duluan baca..dan kemampuan untuk menganalisa saja.

    Mengenai "saya marah atau tidak apabila keyakinan saya di hina?
    Kalau maksud dari kata keyakinan adalah Agama/Tuhan/Nabi yang di hina..

    Wah, saya sama sekali tidak marah, tuh!

    ngapain juga membela ia yang sudah mengaku2 maha kuasa/maha hebat maha..maha yang lain di bela...sok sekalee!
    sungguh tidak tahu diri sekalee!

    Kalo kelompok saya di hina...
    ya saya mungkin marah..

    tapi misalkan kalau kelompok saya sudah mencederai anak2, wanita, Kyai (yang menyatakan 2 kalimat ikrar (baca: syahadat) yang sama) dan juga orang2 cacat yang datang tidak dalam keadaan bersenjata/perang (kalau perang harus ada permakluman dan kejelasan mengenai apa) namun di hajar habis2an seolah2 maling jemuran yang ketangkap basah!

    maka PASTILAH saya tidak akan marah dan MALAH menyatakan keluar/membubarkan diri dari kelompok murahan ini!

    simple aja koq.

    ReplyDelete
  3. salam,
    sungguh sedih ketika melihat saudara2 saling memperebutkan hak berkeyakinan, se akan hanya ada satu yg benar dan laen salah. padahal sesuatu yg berbeda adalah hal yg wajar, tdk selalu harus sama. mari kita tengok kembali history of religion, bgm agama terbentuk karena keinginan utk mencari sebuah keselamatan, kedamaian, dan bgm mengatur manusia agar menjadi lebih bijak. bukan saling menghancurkan, 'emang siapa yg mau sengsara?'ketika semua sama2 percaya akan ke ilahian "tuhan" dan menjadi tumpuan keselamatan manusia.
    apakah karena sebuah keyakinan menghancurkan kemanusiaan? seharusnya dengan keyakinan itulah dibangun sebuah kemanusiaan.
    seharusnya semua org saling memahami, saling mengerti dan menghormati, sehingga dengan begitu qta akan hidup harmoni dalam perbedaan. bagaikan rangkaian bunga yg tidak indah kalo hanya terdiri dari satu bunga saja.
    bahkan ketika mengatasnamakan agama dgn melakukan kekerasan adalah satu hal yg patut dipertanyakan kesahihan dan kebenarannya, apakah benar2 pure dalam tindakannya. ketika byk tindakan2 kekerasan akan hilang klo ditutup dg lembaran2 berharga. mgkn masih ingat berita2 pada masa lalu ketika terjadi aksi penutupan tempat maksiat, yg hanya menuntut ditutup, tapi ndak ada solusi. atau mgkn sdh ndak ada kepedulian dalam nurani bangsa kita. mari kita tanyakan pada hati nurani kita masing2 ... may all being be happy.

    ReplyDelete
  4. Pak dunia butuh kasih Pak. 5000 tahun yang lalu, Tuhan meminta Abraham mengorbankan Ishak anaknya. Tetapi melihat ketulusan hati Abraham, Tuhan mencegahnya mengayunkan pisaunya pada Ishak dan sebagai gantinya Tuhan menyediakan domba. Ini merupakan metafora penebusan Pak. Apabila umat manusia sekarang tidak menerima pengorbanan Kristus, maka kita akan terus menerus mengorbankan anak-anak kita.. Kisah ini saya kutip dari karya Ravi Zacharias. Bagaimana pendapat Bapak?

    Tuhan memberkatimu,

    Alex

    ReplyDelete
  5. Batin Bapak sudah damai belum Pak? Saya kenal DAMAI SEJAHTERA itu. Bapak mau menerimaNya?

    ReplyDelete
  6. AS,
    lho pak..Abraham itu lagi mimpi..masa bapak percaya mimpi sih..aneh2 aja bapak ini..

    lho koq di sambung2in sama kristus sih pak?

    orang2 yahudi ngga terima dia makanya di tangkap dan diadili...kan spt kata ulangan 18:20,

    Tetapi seorang nabi, yang terlalu berani untuk mengucapkan demi nama-Ku perkataan yang tidak Kuperintahkan untuk dikatakan olehnya, atau yang berkata demi nama allah lain, nabi itu harus mati. [Ulangan 18:20]

    kalo di terima..ya seluruh israel sekarang Kresten dong pak..gimana sih bapak ini.

    ReplyDelete