Wednesday, December 5, 2007

Bangsa Kasihan dan Hidup Kasihan


Bangsa Kasihan

Kasihan bangsa yang mengenakan pakaian yang tidak ditenunnya, memakan roti dari gandum yang tidak dipanen, dan meminum anggur yang tidak memerasnya.

Kasihan bangsa yang menjadikan orang dungu sebagai pahlawan, dan menganggap penindasan penjajah sebagai hadiah.

Kasihan bangsa yang meremehkan nafsu dalam mimpi-mimpinya ketika tidur, sementara menyerah padanya ketika bangun.

Kasihan bangsa yang tidak pernah mengangkat suara kecuali jika sedang berjalan diatas kuburan, tidak sesumbar kecuali direruntuhan, dan tidak memberontak kecuali ketika lehernya sudah berada di antara pedang dan landasan.

Kasihan bangsa yang negarawannya serigala, filosofnya gentong nasi, dan senimannya tukang tambal dan tukang tiru.

Kasihan bangsa yang menyambut penguasa barunya dengan terompet kehormatan namun melepasnya dengan cacian, hanya untuk menyambut penguasa baru lain dengan terompet lagi.

Kasihan bangsa yang orang sucinya dungu menghitung tahun-tahun berlalu dan orang kuatnya masih dalam gendongan.

Kasihan bangsa yang terpecah-pecah, dan masing-masing pecahan menganggap dirinya sebagai bangsa.



'Khalil Gibran
cinta, keindahan kesunyian
yayasan bentang budaya
cetakan ke 7 oktober 1999


Hidup kasihan

Kasihan hidup, ketika saat pertolongan yang dibutuhkan, namun alasan-alasan yang diberikan.

Kasihan hidup ketika cinta dan persahabatan hanya sebatas kata tanpa makna.

Kasihan hidup, ketika raga berada ditengah khalayak namun saat kesesakan menghimpit dada tidak seorangpun yang bersedia.

Kasihan hidup, ketika kedekatan hanyalah eforia meminta dan berhitung namun menolak untuk memberi disaat genting.

Kasihan hidup, ketika berseru atas nama cinta untuk kebersamaan dalam senang, nilai tukar dan makanan namun membisu dan menjauh ketika satu kesetiaan dan kepedulian dibutuhkan

Kasihan hidup, ketika berada digaris depan hanya untuk sekumpulan ular, kalajengking, serigala dan burung pemakan bangkai.

Kasihan hidup, ketika menonton, terbahak, menusuk, mengigit, membuka kulit domba, membuang muka dan menutup hati justru saat berada diujung tanduk.

kasihan hidup, ketika habis manis sepah dibuang bukan eforia idiom namun nyata dalam hidup.


'Kamis, 05 Desember 2007
dikeramaian sunyi kesetiaan kumpulan serigala
[ludah yang kering dalam kisah membunuh angan]


0 KOMENTAR ANDA:

Post a Comment