Friday, March 18, 2016

Terbentuknya Tipitaka dan Perpecahan Buddhisme Menjadi Banyak Aliran


Bahasa dan pengertian manusia tidaklah terbentuk dengan sendirinya, ini membutuhkan pengajaran agar dapat membentuk suatu ingatan berbahasa dan pengertian lainnya. Beberapa percobaan telah dilakukan untuk membuktikan hal ini, dengan mengisolasi sejumlah bayi selama jangka waktu tertentu untuk diketahui kata pertama apa yang diucapkannya:
  1. Dalam catatan Sejarah Herodotus. Ia mencatat raja Mesir, Psamtik 1 (664 SM – 610 SM) mengasingkan 2 bayi selama 2 tahun untuk diketahui apa kata pertama yang diucapkannya
  2. Raja frederik II abad ke-13, melakukan percobaan yang sama untuk diketahui bahasa apa yang keluar dari mulut mereka apakah Ibrani, Yunani, Latin, Arab atau bahasa ibu yang melahirkan mereka, namun percobaannya gagal
  3. Di abad ke 14/15, James IV dari Skotland, mengasingkan 2 bayi yang diasuh oleh orang bisu
  4. Di Abad ke-15/16, Akbar, raja mughal melakukan percobaan, dengan asumsi bahwa kemampuan berbicara muncul dari pendengaran, jadi manusia yang dibesarkan tanpa pernah mendengar suara manusia akan tuli. Hasilnya, anak-anak itu tidak tuli, namun tidak satupun dari mereka yang dapat berbicara jelas [Lihat juga: ini dan ini]
Demikian pula, dengan proses terjadinya suatu ajaran, ini memerlukan peran aktif para pengajar, institusi (organisasi/negara) dan juga pengulangan yang dilakukan secara masif, sistimatis dan intensif. Pelestarian Buddhisme, dilakukan dengan menghafal. Tercatat, dalam inskripsi Bharbut dari abad 3-2 SM, beberapa penghafal super pria/wanita yang digelari: Bhanaka atau Dhammakathika (penguncar Dhamma) atau Petakin (penguncar keranjang) atau Suttantika (penguncar sutta) atau Pancanekayika (penguncar 5 nikaya) [misal: "A History of Indian Literature: Buddhist literature and Jaina literature", Moriz Winternitz, hal.18]. Bahkan sampai sekarang, kegiatan menghafal ini masih dilakukan, Guiness Book of record, tahun 1985, mencatat nama Sayadaw Mingun, seorang Bikkhu dari desa Mingun, Myanmar. Bertempat di Rangoon, Burma pada bulan May 1954, beliau berhasil mengalunkan 16,000 halaman kanon teks Buddhist dan ketika dibandingkan dengan teks tertulis Tipitaka, hasilnya adalah tanpa salah satu huruf-pun. Ia dianugerahi gelar Tipitakadhara Dhammabhandagarika (Pembaca TiPitaka dan penjaga Dhamma). Tercatat 11 Bikkhu saat itu yang berkemampuan sepertinya.

Bagaimana Tipitaka terbentuk?

Konsili ke-1,
Di menjelang Parinibbananya, yaitu di Rajagaha, Sang Buddha menyampaikan 7 faktor kemajuan bukan kemunduran (Aparihāniyā dhammā), yaitu selama para Bhikkhu:
  1. sering mengadakan pertemuan rutin,
  2. bertemu dalam damai, berpisah dalam damai, dan melakukan tugas-tugas mereka dalam damai,
  3. tidak menetapkan apa yang belum ditetapkan sebelumnya, dan tidak meniadakan apa yang telah ditetapkan, melainkan meneruskan apa yang telah ditetapkan,
  4. menghormati para senior yang lebih dulu ditahbiskan, ayah dan pemimpin dari Sangha/kumpulan Bhikkhu,
  5. tidak menjadi mangsa dari keinginan yang muncul dalam diri mereka dan mengarah menuju kelahiran kembali,
  6. setia menjalani kehidupan dalam kesunyian hutan dan
  7. menjaga perhatian mereka masing-masing [DN 16/MahaParinibbana sutta]
Selama hal di atas dilakukan maka yang terjadi adalah kemajuan dan bukan kemunduran. Kemudian, ketika di Bhojanegara, beliau menyampaikan cara menyikapi klaim-klaim bahwa itu adalah ajaran sang Buddha atau bukan, yaitu dengan membandingkan klaim-klaim itu dengan sutta-sutta dan vinaya:
  1. Buddha. ..“Di hadapan Sang Bhagavā aku mendengar hal ini; di hadapan Beliau aku mempelajari hal ini: inilah Dhamma/Sutta, inilah Vinaya/Patimokha/disiplin, inilah Ajaran Sang Guru (ayaṃ dhammo, ayaṃ vinayo, idaṃ satthusāsana)” maka, kalian tidak boleh menerima atau menolak kata-katanya. Kemudian tanpa menerima atau menolak, kata-kata dan frasenya harus dengan baik dipelajari (padabyañjanāni sādhukaṁ uggahetvā), dibandingkan dengan sutta-sutta dan dilihat di vinaya (sutte otāretabbāni, vinaye sandassetabbāni), Jika telah dibandingkan dengan sutta-sutta dan telah dilihat di vinaya, tidak selaras dengan sutta-sutta dan tidak ada di vinaya (na ceva sutte otaranti na vinaye sandissanti), maka “Pasti ini bukan kata-kata Sang Buddha, hal ini telah keliru dipahami bhikkhu ini,” dan kata-katanya harus ditolak. Jika telah dibandingkan dengan sutta-sutta dan telah dilihat di vinaya, selaras dengan sutta-sutta dan ada di vinaya, maka “Pasti ini adalah kata-kata Sang Buddha, hal ini telah dengan benar dipahami bhikkhu ini.” Ini adalah kriteria ke-1.
  2. Sangha. ..“dihadapan sangha itu, Aku mendengar, mempelajari hal ini: inilah Dhamma, inilah disiplin, inilah Ajaran Sang Guru,” maka, kalian tidak boleh menerima atau menolak kata-katanya ... (seperti di atas). Ini adalah kriteria ke-2.’
  3. Para Bhikkhu Senior. ..“di hadapan beberapa bhikkhu senior terpelajar yang menguasai ajaran, ahli dalam Dhamma, vinaya dan kerangka ajaran itu, Aku mendengar, mempelajari hal ini: inilah Dhamma, inilah disiplin, inilah Ajaran Sang Guru,” ... (seperti di atas). Ini adalah kriteria ke-3.’
  4. Seorang Bhikkhu Senior. ..“ di hadapan seorang bhikkhu senior terpelajar yang menguasai ajaran, ahli dalam Dhamma, vinaya dan kerangka ajaran, Aku mendengar, mempelajari hal ini: inilah Dhamma, inilah disiplin, inilah Ajaran Sang Guru,” ... (seperti di atas). Ini adalah kriteria ke-4' [DN 16/MahaParinibbana sutta dan AN 4.180/Maha Padesa Sutta]
Kemudian di 1 minggu setelah Sang Buddha Parinibbana:
    duduk dalam kumpulan bhikkhu di sana, Subhadda, seorang yang menempuh kehidupan kesucian di usia tua, berkata kepada para bhikkhu yang menangis: ‘Cukup, teman-teman, jangan menangis dan meratap! Kita telah bebas dari Sang Petapa Agung. Kita selalu disibukkan dengan nasihatnya: “Ini baik untukmu, ini tidak baik bagimu melakukan hal itu!” Sekarang kita dapat melakukan apa yang kita inginkan, dan tidak melakukan apa yang tidak kita inginkan! [DN 16/MahaParinibbana Sutta, Vinaya: Cullavaga XI]
Mengetahui ini, YM Kassapa kemudian mengajak para Bhikkhu untuk mengumpulkan Dhamma dan Vinaya Sang Buddha, berikut ini narasi dari Cullavagga XI:
    Marilah, para Yang Mulia, kita mengulangi dhamma dan disiplin, sebelum APA YANG BUKAN dhamma dan APA YANG BUKAN disiplin menjadi bersinar dan apa yang merupakan Dhamma dan disiplin menjadi tersembunyi, sebelum mereka yang mangatakan APA YANG BUKAN dhamma dan APA YANG BUKAN disiplin menjadi kuat dan mereka yang mengatakan dhamma dan disiplin menjadi lemah

    Kemudian Para Bhikkhu sepuh meminta YM Kassapa untuk memilih para Bhikkhu dan YM Kassapa memilih 500 Arahat namun kurang 1. Para Bhikkhu berkata pada YM Kassapa bahwa YM Ānanda walaupun masih dalam tahap berlatih, tidak mungkin mengikuti jalan salah melalui nafsu, kemarahan, kebodohan, ketakutan; dan Iapun telah menguasai banyak dhamma dan disiplin dari sang Buddha oleh karenanya mereka meminta YM Kassapa untuk memilih YM Ānanda juga.

    YM Kassapa kemudian memilih YM Ānanda.

    Kemudian Para sesepuh berpikir untuk memilih Rājagaha sebagai tempat bervassa/melewati musim hujan, juga sebagai tempat untuk membacakan dhamma dan disiplin dan bahwa TIDAK ADA BHIKKHU LAIN yang akan bervassa di Rājagaha selama musim hujan ini.

    YM Kassapa kemudian menyampaikan kepada Sangha agar menyetujui penunjukan 500 bhikkhu ini untuk membacakan dhamma dan disiplin selagi menjalani masa musim hujan di Rājagaha, dan agar selama musim vassa itu TIDAK ADA BHIKKHU LAINNYA yang bervassa di Rājagaha. Saṅgha menyetujui dengan berdiam diri.

    Kemudian di awal masa vassa (paṭhama māsa), di Rājagaha, para Bhikkhu sepuh memperbaiki bagian-bagian yang rusak dan dipertengahan masa vassa (majjhima māsa) mereka membacakan Dhamma dan Disiplin.

    Sehari sebelum pertemuan, YM Ānanda berpikir: “Besok adalah hari pertemuan, tidak selayaknya bagiku, seorang yang masih berlatih, pergi ke pertemuan itu,”. Setelah melewatkan banyak waktu di malam itu dalam perhatian pada jasmani, ketika malam hampir berlalu, ia berpikir akan berbaring, ketika Ia sedang merebahkan tubuh, yaitu ketika kepala BELUM menyentuh alas tidur dan ketika kaki TELAH terangkat dari tanah. Di interval waktu itulah, pikirannya terbebaskan dari kekotoran mental (anupādāya āsavehi cittaṃ vimucci) dan keesokan harinya, YM Ānanda, pergi kepertemuan itu sebagai Arahat.

    Kemudian YM Kassapa memberitahu Sangha bahwa beliau akan menanyai YM Upāli tentang disiplin. YM Upāli memberitahukan Saṅgha bahwa Beliau akan menjawab pertanyaan tentang disiplin yang diajukan YM Kassapa yaitu dimulai dengan pelanggaran pertama parajika, latar belakangnya, pelakunya, apa yang ditetapkan, apa yang ditetapkan lebih lanjut, apa yang merupakan pelanggaran dan apa yang bukan merupakan pelanggaran.. parajika ke-2.. Parajika ke-3.. Parajika ke-4..

    Dengan cara yang sama, YM Kassapa terus menerus menanyai YM Upali tentang disiplin lainnya dan YM Upāli pun menjawabnya

    Kemudian YM Kassapa memberitahu Sangha bahwa beliau akan menanyai YM Ānanda tentang dhamma. YM Ānanda memberitahukan Saṅgha bahwa Beliau akan menjawab pertanyaan dhamma yang diajukan YM Kassapa yaitu dimulai dengan Brahmajāla, tempat pembabarannya, kepada siapa dan latar belakangnya..

    Dengan cara yang sama, YM Kassapa terus menerus menanyai YM Ananda tentang 5 Nikāya dan YM Ānanda pun menjawabnya

    Kemudian, di hadapan para bhikkhu sepuh, Ānanda menyampaikan pesan Sang Buddha yaitu setelah beliau wafat, jika Saṅgha menghendaki, peraturan-peraturan latihan yang kecil dan minor boleh dihapuskan. Para bhikkhu sepuh bertanya apakah YM Ananda juga menanyakan pada Sang Buddha mengenai peraturan-peraturan latihan yang kecil dan minor mana yang dimaksudkan? YM Ananda menjawab tidak dan bertanya kembali kepada Sangha, mengenai yang mana yang dimaksudkan sebagai peraturan-peraturan latihan yang kecil dan minor itu? Menanggapi ini, munculah ragam pendapat di antara para sepuh:

    • Beberapa sesepuh berkata: Kecuali 4 pārājikā (telah kalah karena melanggar kehidupan kesucian), maka selebihnya adalah peraturan-peraturan latihan yang kecil dan minor
    • Beberapa sesepuh berkata: Kecuali 4 pārājikā + 13 saṃghādisesa (pelanggaran yang keputusannya memerlukan sidang resmi Saṅgha), maka selebihnya adalah peraturan-peraturan latihan yang kecil..
    • Beberapa sesepuh berkata: Kecuali 4 pārājikā + 13 saṃghādisesa + 2 aniyata (memerlukan pengakuan bhikkhu/ni apakah Ia melanggar/tidak berduaan dengan lawan jenis ditempat sunyi/tertutup), maka selebihnya adalah..
    • Beberapa sesepuh berkata: Kecuali 4 pārājikā + 13 saṃghādisesa + 2 aniyata + 30 nissaggiya pācittiya (pelanggaran perolehan yang memerlukan pengakuan dan pelepasan benda yang diterimanya),...
    • Beberapa sesepuh berkata: Kecuali 4 pārājikā + 13 saṃghādisesa + 2 aniyata + 30 nissaggiya pācittiya + 92 pācittiya (pelanggaran moralitas yang memerlukan pengakuan),..
    • Beberapa sesepuh berkata: Kecuali 4 pārājikā + 13 saṃghādisesa + 2 aniyata + 30 nissaggiya pācittiya + 92 pācittiya + 4 pāṭidesanīya (pelanggaran tentang sikap yang harus diketahui dan diakui kesalahannya), selebihnya adalah peraturan-peraturan latihan yang kecil dan minor

    Kemudian YM Kassapa memberitahukan Saṅgha bahwa terdapat peraturan-peraturan latihan yang berpengaruh pada para perumah tangga dan juga pada petapa yang diketahui oleh perumah tangga: ‘Ini pasti tidak diperbolehkan bagi para petapa, ini pasti diperbolehkan.’ Jika hendak menghapuskan maka akan ada di antara mereka yang berkata: ‘Sewaktu Sang Guru masih berada bersama mereka, mereka berlatih dalam peraturan-peraturan itu, namun ketika Sang Guru telah wafat, mereka tidak lagi berlatih dalam peraturan-peraturan itu"

    Untuk itu Saṅgha tidak boleh menetapkan apa yang belum ditetapkan, juga tidak menghapuskan apa yang telah ditetapkan. Sangha menyetujui dengan berdiam diri.

      Note:
      Tempat konsili di Gua Sattapani, Rajagraha tidak disebutkan di Cullavagga XI, namun ada di Mahavamsa 3.19 dan Dipavamsa 4.14. Lama waktu konsili adalah 7 bulan tidak ada di Cullavagga namun ada di Mhv 3.37 dan Dipv 5.5
      Kejadian adanya konsili ke-1, juga disebutkan dalam teks-teks tradisi Utara, misal: Mahavastu dan Dulva vinaya tibet, aliran Sarvastivada, catatan Fa-hian dan Fiuen Thsang, namun untuk jumlah arahatnya, Fiuen Thsang menyatakan 1000 bukan 500 [“Mahavamsa, Geiger, Introduction, hal. liv]
Setelah selesai konsili ke-1, kitab Buddhisme saat itu BUKANLAH Tipitaka/Tripitaka (3 keranjang) melainkan DvePitaka (2 keranjang): Dhamma/sutta-sutta [sebanyak 5 nikaya/agama. Arti Nikaya = Agama = Kumpulan] dan vinaya, sedangkan kitab Abhidhamma [yang sebanyak 7 kitab] BELUMLAH ADA.

Apakah Dhamma itu?

Cakupan artinya sangatlah luas, yaitu: ajaran, bentukan, tradisi, cara menjadi kaya, mengelola: perusahaan, hidup, anak, membuat sepatu, meja, atau bahkan juga bendanya: kotak kayu, game online, rokok dan lainnya. Jadi, apapun dapat disebut dhamma namun dalam konteks ini adalah ajaran.

Ketika berada di Hutan siṃsapā, Kosambi, sang Buddha menyampaikan bahwa daun Siṃsapā yang ada di telapak tanganNya jauh lebih sedikit dari daun yang ada di hutan siṃsapā dan apa yang beliau ajarkan bahkan tidak lebih banyak dari beberapa lembar daun yang ada ditangannya

Perumpamaan daun siṃsapā ini kerap digunakan sebagai dasar argument bahwa bukan hanya ajaran Buddha atau ajaran Theravada saja yang dapat digunakan untuk mencapai kesucian. Argumen ini salah alamat karena dalam sutta tersebut disampaikan juga alasannya, yaitu yang beliau ajarkan HANYALAH Cattari Ariya Saccani [4 kesunyataan mulia], yaitu hal-hal yang berhubungan dengan: (1) Dukkha, (2) asal-muasalnya, (3) lenyapnya dan (4) jalan menuju lenyapnya Dukkha, yaitu: Jalan mulia berunsur 8

Mengapa?

Karena hal-hal tersebut berhubungan dengan tujuan [atthasaṃhitaṃ], prinsip prilaku luhur menuju kesucian [ādibrahmacariyakam], dan membawa pada kejenuhan duniawi [nibbidāya], ketiadaan nafsu [virāgāya], penghentian [nirodhāya], ketenangan [upasamāya], pengetahuan langsung [abhiññā], pencerahan [sambodhāya], pemadaman [nibbānāya]. [SN 56.31/Siṃsapā/Sīsapāvana Sutta]
    "[..]dalam dhamma dan vinaya mana pun, jika tidak terdapat Jalan Mulia Berunsur 8, maka di sana pun takkan terdapat seorang petapa sejati yang telah mencapai tingkat ke-1, ke-2, ke-3 atau ke-4. Tetapi dalam dhamma dan vinaya yang mana pun, jika terdapat Jalan Mulia Berunsur 8, maka di sana pun akan terdapat petapa yang sejati yang telah mencapai tingkat ke-1, ke-2, ke-3 atau ke-4. Kini, dalam dhamma dan vinaya yang kami ajarkan terdapat Jalan Mulia Berunsur 8 itu, maka dengan sendirinya juga terdapat petapa-petapa sejati yang telah mencapai tingkat ke-1, ke-2, ke-3 atau ke-4. Ajaran guru-guru lainnya yang tidak memiliki Jalan Mulia Berunsur 8 adalah kosong dan bukan petapa yang sejati" [DN.16/MahaParinibbana sutta]
Seberapa banyak "daun siṃsapā dhamma" yang dibabarkan sang Buddha?
    Dvāsīti buddhato gaṇhiṃ, dve sahassāni bhikkhuto; Caturāsītisahassāni, ye me dhammā pavattino’.

    Dari semua Dhamma yang Saya hafalkan, 82.000 Dhamma khandha Saya pelajari langsung dari Buddha sendiri; sedangkan 2.000 Dhamma khandha dari para bhikkhu, sehinga seluruhnya berjumlah 84.000 Dhammakhandha" [Thag 17.3/Ananda]
Perumpamaan rakit sering digunakan untuk mengklaim bahwa jika ingin pembebasan, maka sabbe dhamma [SEMUA AJARAN] termasuk AJARAN dari sang BUDDHA [Dhamma] harus dibuang karena itu hanyalah konsep belaka atau dengan kata lain TINGGALKAN SEMUA KONSEP! Klaim ini akan menjadi benar JIKA Ia melekat/menggenggam [gahaṇatthāya] erat Dhamma itu dan BUKAN sebagai sarana untuk mencapai ke-padam-an

Juga, KALAMA SUTTA [AN 3.65/Kesamutti sutta] mengajarkan kita untuk berhati-hati TIDAK SERTA MERTA MENGIKUTI:
  1. Tradisi: lisan/penyampaian berulang [anussavena/itihitihaṃ = tradisi]
  2. Tradisi: turun-temurun [paramparāya]
  3. Tradisi: kabar angin/gossip/kata orang/desas-desus [itikirāya]
  4. Tradisi: kumpulan teks tertulis [piṭakasampadānena]
  5. Penalaran: berdasarkan kesangsian/logika [takkahetu]
  6. Penalaran: berdasarkan makna/tindak-tanduk [nayahetu]
  7. Penalaran: berdasarkan sifatnya atau lewat analogi [kbbi: persamaan/persesuaian 2 hal yang berlainan/ākāraparivitakkena]
  8. Penalaran: berdasarkan spekulasi pandangan yang disetujui/opini yang dianggap beralasan [diṭṭhinijjhānakkhantiyā]
  9. Pembabarnya: tampak meyakinkan [bhabbarūpatāya], atau
  10. Pembabarnya: Petapa yang tidak lain adalah gurunya [samaṇo no garūti]
Perlu disidik agar mengetahui sendiri [attanāva jāneyyātha], apakah dhammā tersebut:
  1. BERMANFAAT/TIDAK? [KUSALA/A-KUSALA];
  2. DICELA/TIDAK? [anavajjā/sāvajjā];
  3. DIPUJI/DIHINDARI para bijaksana? [viññuppasatthā/viññugarahitā];
  4. MENUJU: bahagia sejahtera/penderitaan? [hitāya sukhāya/ahitāya dukkhāya saṃvattantīti]'
yang jika dijalankan, membuat atau TIDAK dirinya: tergairahkan, terbanjiri dan tertaklukkan oleh keserakahan [lobha], kebencian [dosa] dan kekeliruan tahu [moha] melakukan:
  1. penghancuran kehidupan,
  2. pengambilan apa yang tidak diberikan,
  3. perilaku seksual dengan istri orang lain,
  4. pernyataan yang salah, dan
  5. mendorong orang lain ikut melakukan tersebut.
Jika TIDAK menyebabkan hal-hal tersebut, maka agar diikuti.

Apakah ada kemungkinan ujaran-ujaran sang Buddha ada yang luput tidak terhimpun?

Ananda dan 5 Pangeran (Bhaddiya, Anuruddhà, Bhagu, Kimbila, Devadatta) bersama Upali (tukang cukur para pangeran) menjadi Bhikkhu di hutan Anupiya, yaitu sebelum sang Buddha pergi ke Kosambi untuk kemudian menetap di Ghositārāma (Cullavagga, Sanghabheda: Oleh karenanya, ini terjadi sekurangnya di masa vassa ke-8. Lihat: Riwayat Buddha Gotama). Mulai tahun ke-20, Ananda menjadi upatthaka/pendamping Sang Buddha selama 25 tahun hingga parinibbananya sang Buddha. Kitab komentar menyampaikan bahwa Sang Buddha telah menyetujui 8 syarat yang diminta Ananda sebelum mendampingi beliau, utamanya di syarat ke-7 dan ke-8, yang menjamin keutuhan Dhamma yang dibabarkan sang Buddha:
  1. mendatangi beliau untuk bertanya saat muncul keraguan
  2. bersedia mengulangi dhamma yang diajarkanNya saat Ananda tidak hadir - [RAPB buku ke-2, cetakan ke-1, Mei 2008, hal.1642-1644 yang mengutip dari kitab komentar: (1) Jataka no.456/JunhaJataka atau (2) DN 14/Mahapadana Sutta]
Ini membuat TIDAK ADA kemungkinan kotbah Sang Buddha luput terlewatkan. Implementasinya, misal di 2 sutta pertama (Dhammacakkappavattana Sutta dan Anatta-lakkhana Sutta) yang dibabarkan kepada 5 petapa di Taman Rusa Isipatana. Saat itu, Ananda tidak ada di sana dan bahkan belum menjadi Bhikkhu. Di ke-2 sutta tersebut, diawali kalimat, "Hanya sebagaimana yang ku dengar" [evam me Sutam]. Kemudian, Itivuttaka, kumpulan 112 Dhamma yang diperoleh Khujjuttara, seorang pengikut awam wanita yang sangat dipujikan Sang Buddha (SN 17.24, AN 1.258-267, AN 4.176, Ud 7.10, yang tampaknya pencapaian kesucian beliau ini setara Nandamātā, Citta dan Hatthaka). Di kumpulan dhammanya, Khujjuttara, awali dengan kalimat, "vuttañhetaṃ bhagavatā, vuttamarahatāti me sutaṃ" [Ini diucapkan sang Buddha, para arahat dan yang didengar olehku], Kumpulan dhamma ini menjadi bagian dari 5 nikaya. Kekuatan ingatan Ananda akan Dhamma inilah yang juga menjadi alasan mengapa Ananda dijuluki sebagai Bendahara Dhamma
    Note:
    Terdapat satu "sutra", yaitu: Anagatavamsa, yang menyelipkan kalimat, "evam me suttam". Sutra ini bukanlah kanon pali, tidak berasal dari sang Buddha, Ananda atau dari arahat lainnya, bahkan inipun tidak ada di konsili ke-1 s.d 4, Para ahli menemukan bahwa kitab ini berasal dari abad 14 Masehi, yang merupakan produk tambal sulam
Terdapat juga pendapat bahwa saat konsili berlangsung tidak semua arahat datang dan/atau tidak diundang dan atau tertinggal datang dan/atau telat datang kemudian menolak hasil konsili dengan merujuk pada Bhikkhu Purana, yang tinggal di Dakkhinagiri.

Ini tidak benar.

Wafatnya Sang Buddha adalah peristiwa penting bagi pengikutnya dan konsilipun baru terjadi di 3 bulan setelahnya. Jadi, tidak ada kemungkinannya ada Arahat yang tidak terundang, tertinggal, telat datang atau tidak mengetahui tentang ini. Apalagi, keputusan mengadakan konsili, memilih 500 arahat dan pengumpulan dhamma dan Vinaya merupakan keputusan Sangha yang lengkap bukan sangha yang tidak lengkap. Juga, merujuk pada kejadian MAGHAPUJA, ketika Sang Buddha di Rajagaha, 1250 Arahat datang berkumpul di Veluvanarama (hutan pohon bambu) memiliki 4 Faktor yang salah satunya adalah mereka berkumpul tanpa ada 1 pemberitahuan terlebih dulu Mereka yang TIDAK ADA di Rajagraha saat itu, tampaknya bukan Arahat. Kemudian, Bhikkhu Purana juga tidak disebutkan apakah sudah mencapai kesucian atau tidak. Vinaya mencatat Bhikkhu Purana menyatakan dhamma-vinaya yang dihimpun para Thera, sama dengan yang beliau ingat, dengar dan terima langsung dari sang Bhagava:
    11. Pada saat itu, Bhikku Purâna sedang berkelana melewati bukit selatan bersama 500 Bhikkhu. Dan ketika para Thera Bhikkhu telah selesai mengulang Dhamma dan Vinaya, Ia tinggal di perbukitan selatan selama waktu yang ia anggap cukup dan pergi ke Rajagaha menuju Veluvana ke Kalandaka Nivâpa, di mana para bhikkhu thera berada dan menyampaikan salam, serta duduk di satu sisi. ketika ia telah duduk, para Thera Bhikkhu berkata padanya, "Teman Purâna, Dhamma dan Vinaya telah selesai diulang bersama para Thera Bhikkhu. Apakah anda siap mengetahui teks yang dilatih mereka? [Saṅgîtim upehi]"

    'Dhamma dan Vinaya, telah Para Thera sampaikan dengan baik, kawan. Dan bahkan sama dengan yang seperti aku dengar dan terima langsung dari sang Bhagava, sebagaimana seperti yang aku ingat' [Susaṅgītāvuso, therehi dhammo ca vinayo ca. Api ca yatheva mayā bhagavato sammukhā sutaṃ, sammukhā paṭiggahitaṃ, tathevāhaṃ dhāressāmī”ti]
Di samping itu, Sang Buddha juga telah menyatakan bahwa Dhamma dan vinayanya agar TIDAK DISAMPAIKAN dalam bahasa Sanskrit:
    Pada saat itu, dua Bikkhu bersaudara, yaitu Yamelu dan Tekula. Keturunan Brahmana, bersuara merdu dengan pengucapan yang menyenangkan..Mereka bertanya pada Sang Buddha:

    ”Sekarang ini, Guru, Bkhikkhu-Bhikkhu dari berbagai nama, klan, kelompok dan strata sosial telah menempuh kehidupan tanpa keluarga. Mereka dengan “sakāya niruttiyā“ merusak sabda-sabda Buddha (Te sakāya niruttiyā buddhavacanaṃ dūsenti). Marilah, Guru, gunakan 'chandaso' pada sabda-sabda sang Buddha (Handa mayaṃ, bhante, buddhavacanaṃ chandaso āropemā”ti)

    Sang Buddha mencela mereka, "Orang-orang bodoh, bagaimana kalian dapat berkata: 'Marilah, guru, gunakan 'chandaso' pada sabda-sabda Sang Buddha?'. Ini tidaklah membangkitkan keyakinan yang tidak berkeyakinan dan tidak meningkatkan keyakinan yang telah berkeyakinan; bahkan akan membuat yang tidak berkeyakinan tetap tidak berkeyakinan, merusak sebagian dari yang telah berkeyakinan."

    Setelah memberikan teguran, Beliau memberikan wejangan pada para Bhikkhu:

    "Para Bhikkhu, janganlah gunakan 'chandaso' pada sabda-sabda Sang Buddha. Siapapun yang melakukannya telah berbuat salah (āpatti dukkaṭa). Aku ijinkan, para bhikkhu, dengan 'sakāya niruttiyā' menguasai sepenuhnya sabda-sabda sang Buddha"

    Note:
    sakāya nirutti: sakāya = sendiri; nirutti = penjelasan, bahasa, pengucapan, dialek. Jadi artinya: dengan bahasanya sendiri. Chandaso: matra/ukuran metrik bahasa seperti di Veda dan BUKAN dalam artian irama/intonasi. Jika maksudnya sekedar irama, maka kata yang lebih tepat ada di AN 5.209, yaitu gāyanti/nyanyian, āyatakena gitasara/lantunan nyanyian yang panjang. Jadi chandaso adalah standarisasi aturan berbahasa yang lazim digunakan para brahmana dalam keagamaan, entah itu dalam bahasa prakrit ataupun sanskrit

    Menurut Bimala C. Law: Kata ‘nirutti’ = bahasa, sementara kata “sakāya” bahasa ‘asal’ atau bahasa ‘ibu’ (History of Buddha’s Religion, 1952). Norman: Kebanyakan ahli menyatakan maksudnya adalah bahasa ‘Māgadha’. (Pāli and the Language of Early Buddhism, 2002, hal 135-150) Buddhaghosa: sakaya niruttiya ti ettha saka nirutti nama sammāsambuddhena vuttappakaro māghadhako vohāra (Sakaya nirutti adalah bahasa Māgadha yang digunakan Sammsambuddha) (Komentar vinaya 1214). Rhys Davids dan Oldenberg: maksudnya adalah ‘dialek masing-masing’.

    Kata Âropema = menggunakan, Chandaso = sanskrit atau bentuk awal sanskrit. Alasannya:

    (1) kata "Chandasi" oleh Panini selalu diartikan dialek yang ada di Veda,
    (2) mereka yang meminta ini adalah dari turunan Brahmana,
    (3) maksud kata ini telah disampaikan di antara para Bhikkhu dan
    (4) Buddhaghosa menyatakan, "chandaso âropemâ ti Vedam viya sakkata-bhâsâya vâkanâ-maggam âropema" (Chandaso aropema adalah menggunakan bahasa samkrta/sakkata yang digunakan veda) (Samantapāsādikā 306) dan Buddha mempercayakan sabdanya hanya dalam bahasa Māgadhi (VibA 388).

    Kerajaan Magadha, di jaman Bimbisara, meliputi sebagian besar area masa kebuddhaan dan area sentral aktivitas Buddhisme setelah wafatnya beliau. Di Jaman Asoka, abad ke-3 SM, Mahinda membawa Tipiṭaka dan kitab komentarnya ke Srilanka. Abad ke-5 M, Buddhaghosa, diminta gurunya menterjemahkan kembali sabda Sang Buddha ke bahasa Māgadha.

    Abad ke-12, Magadhi adalah bahasa yang dimengerti 2 negara: Burma dan Srilanka. Di Srilanka, Bhikkhu Dhammakitti (pengarang Duthavamsa) dan Vacissara (pengarang Thupavamsa) menuliskan karyanya dalam bahasa Magadha dan raja Srilanka Vijayabāhu II (1186-87 M) menulis surat dengan bahasa Magadha untuk dikirim ke Burma (Cūlavaṃsa 86.6-7). Di Burma, bhikkhu Aggavaṁsa, mengarang Saddanīti (grammar Pali terlengkap, di mana di bagian ke-3 bukunya berdasarkan tatabahasa pali karya Kaccāyana). Ini artinya Pālibhāsā dan magadhībhāsā adalah sama.

    Francis Mason (“A Pali grammar on the basis of Kachchayano”, tahun 1868, Introduction, hal.i-ii) menyampaikan: “Dr E. Buhler menunjukan sebuah naskah bahwa Panini, “Bapak tatabahasa Sanksrit” mengutip dari Kaccayana, pendahulunya dan banyak meminjam istilah tatabahasa darinya”. Kemudian, di hal. 7, dinyatakan: “bentukan alpabhet Pali telah ada selambatnya SEBELUM abad ke-6 SM

    Sutta/Vinaya menunjukkan bahwa di sebelum jaman Buddha Gotama-pun telah ada angka, aksara dan tulisan:

    • DN 1, 2,3, 4, 5, 6, 7, 8, 10, 13: "..akkharika..” (bermain menerka huruf yang ditulis di udara atau punggung seseorang)
    • AN 3.65/Kalama Sutta: "..Marilah, para penduduk Kālāma,..., jangan karena kumpulan teks tertulis (mā piṭakasampadānena), .."
    • Udana 3.39/Sippa Sutta: “..beberapa bhikkhu: “Keahlian naik gajah adalah yang utama”;.. berkuda.. berkereta.. Memanah.. Bermain pedang, .. Berkomunikasi lewat gerak.. Menghitung angka.. menulis (lekhā).. puisi.. berdebat.. Ilmu politik adalah keahlian utama”
    • Vinaya, Mahakhanda: "Sekarang, seorang tertentu, setelah mencuri, setelah melarikan diri, Ia ditahbiskan dalam kehidupan suci. Di pengumuman kerajaan, tertulis, "Dimanapun orang ini terlihat, Ia dihukum mati" Orang melihatnya dan berkata, "Ini dia pencuri dalam tulisan itu. Mari kita hukum mati dia".. Menyebarlah desas desus, "..mengapa mereka menahbiskan pencuri yang ada dalam tulisan itu?".. Sang Buddha, berkata, "Para Bhikkhu, seorang pencuri dalam pengumuman tertulis, tidak boleh ditahbiskan, siapapun yang menahbiskannya melakukan pelanggaran dukkata"
    • Vinaya, Parajika ke-3: "..memuji melalui tulisan: Ia menulis (lekhaṃ), "Siapapun yang mati, akan mendapatkan kekayaan, kemashyuran dan menuju surga". Pelanggaran Dukkata untuk setiap huruf (akkhara) yang ditulisnya. Setelah melihat tulisannya, orang menjadi berpikir, "Aku ingin Mati", Ia menyakiti dirinya, maka pelanggaran Thullaccaya terjadi, jika Ia mati, maka pelanggaran parajika terjadi"
    • Vinaya, Pacittiya no.49: "..Bukan pelanggaran jika (bhikkhuni) belajar menulis.." (Anāpatti—lekhaṃ pariyāpuṇāti)
    • Vinaya, Pacittiya no.65: “..Jika Upāli belajar menulis (lekha)...jika Upāli belajar menulis, jari-jarinya akan sakit.."
    • Juga dalam kehidupan lampau Sang Buddha, di kitab komentar jataka, misal:

      no.159: "..Raja sangat gusar..Dia memerintahkan agar sebuah pesan ditulis di atas papan emas: 'Di antara pegunungan Himalaya terdapat sebuah bukit emas di Gunung Daṇḍaka..'"
      no. 181: "..kemudian menggores sebuah pesan di panahnya dengan tulisan: 'Saya, Asadisa, telah kembali. Saya bertekad untuk membunuh kalian semua dengan satu panah yang akan saya tembakkan kepada kalian. Bagi mereka yang masih mau hidup, silakan pergi.'"
      no.214: "...Maka, dia menulis bait berikut di atas daun: 'Apakah yang dapat minum ketika sungai banjir;…Teka-teki saya dibaca dengan benar..'"
      no.276: "..Kemudian raja berkata, “..kembalikan kepada rajanya. Tulislah di atas sebuah papan emas norma Kuru yang dijalankannya dan bawalah itu ke sini.”
Jadi, mereka yang menyatakan kotbah-kotbah telah disampaikan/ditulis dalam sanskrit [kemudian diterjemahkan ke berbagai bahasa di antaranya Tibet dan Tiongkok] dan mengklaimnya sebagai sabda sang Buddha NAMUN bertentangan dengan Dhamma dan Vinaya konsili ke-1 dan ke-2, maka itu JELAS BUKAN ajaran sang Buddha

Setelah Konsili ke-1, konflik-konflik aliran Buddhisme makin berkembang.

Konsili ke-2,
Diselenggarakan di Vesali pada tahun ke-10 pemerintahan raja Kalasoka [Dipavamsa 4.44.47; Mahavamsa 4.8] karena dasa vatthuni (10 poin/hal, detailnya ada di bawah) dilakukan oleh para Vajjiputtaka. Terdapat 5 teks tradisi Utara yang mencatat keberadaan konsili ke-2 di Vesali ini, yaitu:
  • Mahisāsaka nikāya pancavarga vinaya 30, (T.E.T.22, P.192a-b), 100 tahun setelah parinirvana.
  • Mahāsangika vinaya 32, (T.E.T.22, P.493a-b), tanpa tahun.
  • Dharmagupta vinaya 54, (T.E.T.22, P.96Sc), 100 tahun setelah Parinirvana
  • Sarvāstivāda Vinaya 60, (T.E.T.23, P.449b-c). 110 tahun setelah parinirvana.
  • Sudarsana Vibhāsā Vinaya I, (T.E.T.24.P677c), 100 tahun setelah parinirvana

  • dari 5 ini, 4 Vinaya menuliskan karena dasa vathuni, sedangkan Vinaya Mahisangika hanya menuliskan karena menerima emas dan perak dan tidak 9 lainnya.
Berikut narasi konsili ke-2, dari Cullavagga, Khandaka 12 (juga dituliskan hampir serupa di kitab sejarah Srilanka: Dipavamsa dan Mahavamsa):
    100 tahun setelah Parinibananya Sang Buddha, Vajjiputtaka (para bhikkhu yang adalah orang-orang Vajji dari Vesālī) mengajarkan dan memperbolehkan praktik: garam disimpan dalam tanduk; masih makan setelah 2 jari; Menolak makan yang telah dipersembahkan, pergi ke lain tempat untuk makan yang belum diserahkan; uposatha terpisah dalam satu batas wilayah yang sama; Melakukan tindakan ketika Saṅgha yang tidak lengkap; Melakukan sesuatu berdasarkan kebiasaan; Minum susu yang hampir menjadi dadih; minum yang difermentasikan tetapi belum terfermentasi; menggunakan kain alas duduk tanpa ada batasan dan menerima emas dan perak

      Note:
      Dalam Cullavagga, Khandakka, Sanghabheda, terdapat 500 murid baru yang berasal dari para orang Vajji dari Vesali/Vajjiputtaka, yang kemudian bergabung dengan kelompok Sangha pimpinan Devadatta. Kokalika adalah murid kepala dari kelompok pria dan Tullananda adalah murid kepala dari kelompok bhikkhuni, masing-masing dari mereka ini membawa juga kelompoknya untuk bergabung. Tidak disebutkan apakah 500 Vajjiputtaka ini punya murid lagi atau tidak, mempunyai simpatisan pandangan atau tidak. Vinaya hanya menyebutkan, setelah sang Buddha mengutus Sariputta dan MahaMoggallana, 500 orang ini mencapai kesucian tertentu dan kembali. Sehingga ada saja kemungkinannya Vajjiputtaka dalam kisah 100 tahun kemudian ini merupakan ex sisa kelompok Devadatta

    Suatu ketika YM Yasa Kākaṇḍakā (Murid YM Ananda) sedang menetap di Vesālī dan pada hari Uposatha, para Vajjiputtaka, meletakan sebuah kendi perunggu berisi air ditengah-tengah para bhikkhu dan berkata kepada para umat awam Vesālī yang datang agar memberikan 1 Kahapana atau 1/2 Pada atau 1 Masaka untuk Sangha karena ada yang harus dilakukan Saṅgha sehubungan dengan barang kebutuhan.

      Note:
      Ananda lahir pada hari yang sama dengan Sidhartha Gautama dan wafat diusia 120 tahun [DhA ii.99] sehingga saat kejadian ini, YM Yasa telah memiliki > 60 tahun masa vassa/tahun menjalani kebhikkhuan
      Kahapana = koin uang jaman itu yang terbuat dari emas atau perak atau perunggu

    Mendengar itu, YM Yasa berkata kepada para umat awam agar tidak memberikannya, karena tidak diperbolehkan bagi para petapa, para bhikkhu putera Sakya tidak menyetujuinya, tidak menerima emas dan perak, tidak menggunakannya dan telah meninggalkannya, walaupun telah diberitahu demikian para umat awam Vesālī tetap memberikan koin uang. Sebelum malam berakhir, para bhikkhu membagi rata uang tersebut diantara mereka dan menyisihkan untuk porsi YM Yasa namun beliau berkata tidak memerlukannya dan tidak menyetujuinya.

    Para Vajjiputtaka berkata bahwa YM Yasa telah mencela dan menghina umat awam yang berkeyakinan dan berkepercayaan penuh oleh karenanya dikenakan tindakan resmi Patisaraniya-kamma (Seorang Bhikkhu secara terbuka harus memohon maaf pada umat awam atas tindakannya yang tidak pantas). Karena ada aturan bahwa Bhikkhu yang dihadapkan pada tindakan tersebut harus diberikan utusan pendamping, maka YM Yasa memintanya.

    Bersama Bhikkhu utusan pendampingnya, YM Yasa pergi ke Vesali dan dihadapan para umat awam Vesali, beliau berkata bahwa Vajjiputtaka katakan beliau telah mencela dan menghina umat awam yang berkeyakinan dan berkepercayaan penuh dengan menyampaikan apa yang bukan-dhamma sebagai bukan-dhamma, apa yang merupakan dhamma sebagai dhamma, apa yang bukan-disiplin sebagai bukan-disiplin dan apa yang merupakan disiplin sebagai disiplin yang dilanjutkan dengan penyampaian sabda sang Buddha, yaitu

    1. AN 4.50/Upakilesa bahwa emas dan perak MERUPAKAN NODA bagi petapa

    2. SN 42.10/Maniculaka Sutta bahwa samana/petapa TIDAK membolehkan, TIDAK menyetujui, telah melepaskan dan meninggalkan emas-perak, TIDAK ADA alasan untuk membenarkan emas dan perak

        Note:
        Di samping itu, Sang Buddha telah menetapkan Nissaggiya no.18 (juga no.19) (yang muncul sehubungan kasus bhikkhu Upananda yang menerima dan tidak meninggalkan kepingan uang kahapana) bahwa seorang bhikkhu yang menerima uang dengan tangannya sendiri atau membuat orang lain menerima uang untuknya, atau menyetujuinya diletakkan di dekatnya atau disimpan untuknya, dia telah melakukan pelanggaran

        Ia hanya dapat berkata, “Kami tidak menerima uang, kami hanya menerima keperluan bhikkhu yang diperbolehkan dan di saat yang tepat.”. Jika pendana bertanya apa yang seharusnya dia lakukan dengan uang tersebut setelah sang bhikkhu menolaknya, bhikkhu tersebut dapat menjelaskan peraturan Vinaya, tetapi dia tidak boleh memberitahu pendana apa yang harus dilakukannya dengan uang tersebut. Jika pendana bertanya apakah ada kappiya yang mengurus keperluannya, sang bhikkhu dapat memberitahukannya. Kemudian, pendana dapat memberikan uang tersebut kepada sang kappiya dan uang itu tetap milik si pendana bukan milik bhikkhu ataupun kapiyya. Jika kappiya itu tidak menyediakan kebutuhan bhikkhu, bhikkhu dapat memberitahu pendana tentang ini, tetapi dia tidak boleh memaksa kappiya untuk membelikan apa yang diinginkannya (atau hal lain selain tujuan itu). Jika bhikkhu tersebut melakukannya, Ia terkena Nissaggiya pacittiya/pelanggaran yang memerlukan pengakuan dan pelepasan benda yang diterimanya (Lihat juga Pacittiya no. 10)

        Kemudian,
        Jika mengutip MN 55/Jivaka sutta: “Yampi so Tathāgataṃ vā tathāgatasāvakaṃ vā akappiyena āsādeti, iminā pañcamena thānena bahuṃ apuññaṃ pasavati” (Ketika Ia memberikan dengan pengharapan sesuatu yang tidak diperbolehkan kepada Sang Tathāgata atau siswaNya,..Ia mendapatkan banyak keburukan). Walaupun sutta ini tentang memberikan daging yang berasal dari pembunuhan, namun ada poin yang berlaku umum yaitu memberikan sesuatu yang merupakan NODA/tidak patut, itu adalah perbuatan AKUSALA/tidak bermanfaat

    Mendengar itu, para umat awam Vesālī berkata bahwa YM Yasa adalah satu-satunya petapa, satu-satunya putera Sakya sedangkan Vajjiputtaka, semuanya bukan petapa, bukan para putera Sakya dan memohon agar YM Yasa berkenan menetap di Vesali agar berkesempatan melayaninya. Setelah YM Yasa meyakinkan para umat awam Vesālī, beliau bersama bhikhu yang menjadi utusan pendampingnya kembali ke vihara

    Para Vajjiputtaka kemudian bertanya kepada bhikkhu yang menjadi utusan pendamping apakah YM Yasa telah meminta maaf pada para umat awam Vesali. Bhikkhu itu menyatakan bahwa para umat awam sekarang malah menyatakan YM Yasa adalah petapa sedangkan mereka semua bukan.

    Para Vajjiputtaka berkata bahwa YM Yasa tidak ditunjuk mereka untuk memberikan Informasi kepada para perumah tangga, oleh karenanya mereka melakukan ukkhepanīyakamma (mengeluarkan seorang bhikkhu dari sangha) kepadaNya dan mereka berkumpul untuk tujuan melaksanakan tindakan tersebut.

      Note:
      Tindakan ini hanya bisa diambil dalam sangha yang lengkap (misal: Jumlah yang hadir lengkap tidak kurangnya, tidak kurang referensi, ada kehadiran para pihak, ada persetujuan kedua pihak, dll)

    YM Yasa kemudian mengirim utusan mengundang kehadiran bhikkhu sepuh di Pāvā dan wilayah selatan Avantī, untuk penyelesaian perkara (Adhikarana) sebelum apa yang bukan-dhamma bersinar dan apa yang merupakan dhamma tersembunyi, sebelum apa yang bukan-disiplin bersinar dan apa yang merupakan disiplin tersembunyi, sebelum mereka yang mengatakan apa yang bukan dhamma menjadi kuat dan mereka yang mengatakan dhamma menjadi lemah, sebelum mereka yang mengatakan apa yang bukan disiplin menjadi kuat dan mereka yang mengatakan disiplin menjadi lemah.

    Beliau kemudian mengunjungi Bhikkhu sepuh Sambhūta Sāṇavāsī (Murid YM Ananda. Sambutha sāṇavāsī = Sambhuta pemakai jubah dari sāṇa/rami kasar) yang menetap di lereng gunung Ahoganga dan menyampaikan 10 hal yang diajarkan oleh Vajjiputtaka.

      Note:
      Kunjungan YM Yasa kepada YM Sambhuta Sanavasin, menunjukan YM Yasa lebih junior

    Beliau sepakat bahwa ini memerlukan penyelesaian perkara dan demikian pula dengan 60 Bhikkhu sepuh dari Pava dan 88 Bhikkhu sepuh dari Avanti.

    Kemudian para Bhikkhu sepuh ini bermaksud mengunjungi Bhikkhu sepuh Revata (murid YM Ananda) yang menetap di Soreyya, seorang yang terpelajar, pewaris ajaran, ahli dalam Dhamma, vinaya dan kerangka ajaran, bijaksana, berpengalaman, cerdas; teliti, seksama, menyukai latihan. Mereka berpikir jika dapat memasukkan Yang Mulia Revata ke dalam kelompok, mereka menjadi lebih kuat sehubungan dengan penyelesaian perkara ini.

    Saat itu Bhikkhu sepuh Revata telah meninggalkan Soreyya dan menuju Saṃkassa dan ketika para bhikkhu sepuh tiba di Soreyya dan bertanya dimana YM Revata, mereka menjawab bahwa YM Revata telah menuju Saṃkassa.. Kaṇṇakujja.. Udumbara.. Aggaḷapura.. Kemudian para bhikkhu sepuh tiba di Aggalapura dan bertanya dimana YM Revata, mereka menjawab bahwa YM Revata telah menuju Sahajāti. Kemudian para bhikkhu sesepuh itu bertemu dengan Yang Mulia Revata di Sahajāti.

    Kemudian Bhikkhu Sepuh Sambhūta Sanavasin meminta kepada Bhikkhu sepuh Yasa, putera Kākaṇḍakā untuk mengajukan pertanyaan kepada Bhikkhu sepuh Revata mengenai 10 hal yang diajarkan oleh para Vajiputtaka apakah diperbolehkan atau tidak. Bhikkhu sepuh Yasa menghadap Bhikkhu sepuh Revata dan menanyakan 10 hal yang diajarkan Vajjputtaka dan Bhikkhu Sepuh Revata mengatakan bahwa 9 Hal yang diajarkan adalah tidak diperbolehkan, sedangkan mengajarkan melakukan praktek dengan alasan itu telah menjadi kebiasaan (atau biasa dilakukan) penahbis/upajjhāya atau guru/ācariya, kadang itu diperbolehkan dan kadang itu tidak diperbolehkan. Setelah mendapatkan jawaban ini Bhikkhu sepuh Yasa mengundang Bhikkhu sepuh Revata untuk hadir menyelesaikan perkara sehubungan dengan ini dan Bhikkhu Sepuh Revata menyanggupinya

    Di lain tempat, Bhikkhu sepuh Sāḷha, ketika sedang bermeditasi, suatu pemikiran muncul dalam pikirannnya mengenai siapa pembabar Dhamma apakah para Bhikkhu dari Timur atau dari Pava, setelah merenungkannya, beliau berkesimpulan bahwa para bhikkhu dari Timur BUKANLAH pembabar dhamma dan para bhikkhu dari Pāvā adalah pembabar dhamma. Seorang Deva dari alam murni Suddhavasa yang muncul di hadapannya mendukung kesimpulannya dan juga memohonnya untuk menegakkan Dhamma, beliau menjawab bahwa dulu maupun sekarang, beliau telah menegakkan Dhamma dan akan menyampaikan pandangannya saat beliau ditunjuk sehubungan dengan penyelesaian masalah.

    Para Vajjiputtaka mendengar bahwa Bhikkhu Yasa, putera Kākaṇḍakā, yang hendak menghadiri pernyelesaian perkara sedang membentuk kelompok dan telah memperoleh kelompok. Kemudian Para Vajjiputtaka berpikir untuk mengumpulkan kelompok agar menjadi lebih kuat sehubungan penyelesaian perkara dan bermasud untuk membujuk Bhikkhu sepuh Revata yang mereka juga kenal pula sebagai seorang terpelajar, pewaris ajaran, ahli dalam Dhamma, vinaya dan kerangka ajaran, bijaksana, berpengalaman, cerdas; teliti, seksama, menyukai latihan agar memihak mereka sehubungan dengan penyelesaian perkara.

    Untuk itu, kemudian Para Vajjiputtaka menuju Sahajati dengan membawa barang-barang kebutuhan para petapa yang berlimpah – mangkuk-mangkuk dan jubah-jubah dan helai-helai kain alas duduk dan kotak jarum dan sabuk pinggang dan saringan-saringan dan kendi-kendi air.

    Dengan barang-barang itu mereka mendatangi bhikkhu sepuh Revata dan memohon atas nama sangha agar beliau sudi menerima persembahan mereka, Namun, Bhikkhu sepuh Revata tidak ingin menerima itu karena telah memiliki cukup. Karena gagal, mereka kemudian pergi menghadap murid dari Bhikkhu sepuh Revata, yaitu Bhikkhu Uttara yang telah 20 tahun (20 masa vassa) menjadi bhikkhu agar sudi menerima persembahan mereka, namun Bhikkhu Uttara juga tidak ingin menerima itu karena telah memiliki cukup, mereka kemudian mendesaknya untuk menerima, karena didesak, bhikkhu Uttara akhirnya mengambil 1 jubah saja dan menanyakan keperluan mereka.

    Para Vajjiputtaka memohon pada Bhikkhu Uttara agar Bhikkhu sepuh Revata di tengah-tengah sangha mengatakan bahwa para bhikkhu dari Timur adalah pembabar-dhamma, para bhikkhu dari Pāvā adalah bukan pembabar-dhamma. Bhikkhu Uttara menyanggupi hal itu dan menyampaikan kepada Bhikkhu sepuh Revata. Setelah mendengar itu, Bhikkhu sepuh Revata berkata bahwa Bhikkhu Uttara sedang membujuknya melakukan yang bukan-dhamma dan mengusir Bhikkhu Uttara. Kemudian Bhikkhu Uttara menyampaikan kepada para Vajjiputaka bahwa gurunya telah mengusirnya karena menyetujui hal yang bukan Dhamma. Berkenaan dengan Bhikkhu Uttara, Para Vajjiputtaka kemudian memintanya menjadi pembimbing mereka (garunissayaṃ gaṇhāmā).

      Note:
      Meminta seseorang dengan masa 20 tahun sebagai pembimbing, mengindikasikan masa vassa yang dimiliki para Vajjiputtaka adalah jauh di bawah 20 tahun

    Kemudian Saṅgha berkumpul untuk penyelesaian Perkara. Agar tidak terjadi para bhikkhu yang memulai pertama kali perkara akan membuka kembali untuk tindakan resmi lainnya lagi, maka YM Revata mengajak sangha untuk menyelesaikan perkara ini di mana perkara ini muncul dan mereka pun pergi ke Vesali

    YM Revata kemudian berkata pada YM Sambhuta bahwa Ia akan mengunjungi Bhikkhu sepuh Sabbakāmi (Murid YM Ananda), yang telah menjalani 120 tahun masa vassa kebhikkuan, bhikkhu dengan masa Vassa tertua di dunia saat itu dan meminta YM Sambhuta untuk mendatangi beliau juga dan menanyakan pendapat beliau mengenai 10 hal yang diajarkan para Vajjiputtaka

    YM Sambhūta Sanavasin sampai ketempat kediaman YM Sabbakāmin ketika beliau sedang berbincang-bincang dengan YM Revata dan kepada dua bhikkhu sepuh itu, YM Sambhūta Sanavasin bertanya mengenai 10 hal yang diajarkan para Vajjiputtaka dan apakah kesimpulan para beliau mengenai siapakah yang pembabar dhamma, apakah para bhikkhu dari Timur atau para bhikkhu dari Pāvā?”

    Kedua Sepuh itu berkata bahwa mereka telah menyimpulkan bahwa para bhikkhu dari Timur BUKANLAH pembabar dhamma dan para bhikkhu dari Pāvā adalah pembabar dhamma, namun demikian mereka tidak akan mengemukakan pandangan mereka hingga mereka ditunjuk sehubungan dengan penyelesaian perkara ini

    Kemudian Saṅgha berkumpul untuk penyelesaian perkara, setelah mengkonfrontasikan secara langsung KEDUA BELAH PIHAK (Para Vajjiputtaka vs YM Yasa) dihadapan sangha namun tidak mendapat hasil penyelesaian, YM Revata kemudian mengusulkan agar dilakukan penyelesaian permasalahan dengan menyerahkan keputusan kepada orang-orang yang dipilih dan disepakati para pihak, Sangha menyetujuinya dengan berdiam diri. YM Revata kemudian memilih 4 Bhikkhu dari Timur (YM Sabbakāmin; YM Sāḷha/murid YM Ananda; YM Khujjasobhita/murid YM Ananda dan YM Vāsabhagāmika/murid YM Anuruddha) dan 4 bhikkhu dari Barat (YM Revata; YM Sambhūta; YM Yasa (semuanya murid YM Ananda) dan YM Sumana/murid YM Anuruddha) dan memberitahukan Sangha mengenai komite yang dibentuknya. Sangha menyetujuinya dengan berdiam diri.

      Note:
      Bhikkhu Anuruddha adalah saudara terkecil dari Mahanama, wafat di area Vajji pada usia 115 tahun (DhA ii.413). Tidak diketahui umur awalnya, namun jika beliau ini wafat sebelum YM Ananda, maka masa Vassa YM Vasabhagamika dan YM Sumana, tampaknya jauh diatas 60 tahun
      Murid Sang Buddha lainnya, misalnya Upali (wafat 30 tahun setelah Sang Buddha Parinibbana), dilanjutkan dengan muridnya, Dasaka (50 tahun setelah Upali) dan dilanjutkan muridnya Sonaka (selama 44 tahun setelah Dasaka), maka ketika konsili ini berjalan, Sonaka baru memiliki 40 massa vassa [Mhv 5.104-153 dan Dipv 5.95-99]

    Sangha kemudian menunjuk Bhikkhu Ajita yang mempunyai 10 masa vassa sebagai pembaca Patimokha (aturan dan/atau disiplin) dan penentu tempat duduk bagi para Bhikkhu sepuh. Kemudian komite yang terdiri dari para bhikkhu sepuh ini pergi ke Vihara Vālika untuk menyelesaikan perkara.

    YM Revata kemudian memberitahu Sangha bahwa Ia akan menanyai YM Sabbakamim sehubungan dengan Vinaya/Patimokha. Sangha menyetujuinya dengan berdiam diri. YM Sabbakamin memberitahu sangha bahwa Ia akan menjawab pertanyaan yang diajukan YM Revata. Sangha menyetujuinya dengan berdiam diri. YM Revata kemudian menanyakan 10 hal yang diajarkan oleh para Vajjiputtaka kepada YM Sabbakamin dan jawaban beliau:

    1. Singilona Kappa menyimpan garam dalam tanduk dengan pikiran untuk ditambahkan pada makanan yang tidak/kurang garam. (Melanggar: Pācittiya ke-38: menyimpan makanan yang telah diserahkan lebih dari 1 hari. Versi Mahasanghika Praktimoksa: Pacattika ke-37)

      Ini dilarang di Sāvatthī, dalam Suttavibhaṅga masuk pelanggaran yang menuntut penebusan

    2. Dvangula Kappa: Masih makan saat bayangan yang terkena sinar matahari lewat tengah hari melebihi dua ruas jari (dvangula) (atau beranggapan boleh makan selama matahari yang melewati tengah hari tertutup awan). (Melanggar: Pācittiya ke-37: Makan di waktu yang salah (lewat tengah hari). Versi Mahasanghika Praktimoksa: Pacattika ke-36)

      Ini dilarang Di Rājagaha, dalam Suttavibhaṅga masuk pelanggaran yang menuntut penebusan

    3. Gāmantara Kappa: Telah selesai makan, menolak persembahan berikutnya tapi pergi ke lain tempat untuk makan yang belum dimakan dan/atau yang belum diserahkan kepadanya. (Melanggar: Pācittiya ke-35. Versi Mahasanghika Praktimoksa: Pacattika ke-33)

      Ini dilarang di Sāvatthī, dalam Suttavibhaṅga masuk pelanggaran yang menuntut penebusan

    4. Avāsa Kappa: Sekelompok Bhikkhu tinggal di batas area yang sama namun melakukan uposatha secara terpisah. (Pelanggaran Dukkaṭa: Maha Vagga 2,8,3. Versi Dharmagupta dan Mahisasaka ada padanannya: "Buddhist Sects in India". Nalinaksha Dutt, hal.18)

      Ini dilarang di Rājagaha, dalam apa yang berhubungan dengan Uposatha masuk pelanggaran perbuatan-salah karena di luar disiplin

    5. Anumati Kappa: Mengambil putusan terhadap bhikkhu tertentu ketika sangha tidak lengkap dengan pikiran, “Persetujuan akan didapatkan/dimintakan dari bhikkhu yang datang/tiba". (Pelanggaran Dukkaṭa: Mahavagga IX.3.5. Versi Mahisasaka ada padanannya)

      Ini dilarang dalam materi disiplin tentang hal-hal yang berhubungan dengan para bhikkhu Campa dan masuk pelanggaran perbuatan-salah karena di luar disiplin

    6. Ācīṇṇa Kappa: Melakukan praktek dengan alasan itu telah menjadi kebiasaan (atau biasa dilakukan) oleh penahbis/upajjhāya atau guru/ācariya. (Ini kadang-kadang diperbolehkan dan kadang-kadang tidak diperbolehkan: Lihat di: MahaVagga 1.25-35. Versi Mahisasaka ada padanannya)

    7. Amathita Kappa: Telah selesai makan, menolak persembahan berikutnya, namun minum susu apa pun yang tidak diserahkan yang telah melewati tahap sebagai susu namun belum menjadi dadih (disebut Yoghurt jika berbentuk pasta, dadih jika bertektur lebih padat. Proses fermentasi alami gula susu akan menghasilkan alkohol). (Melanggar: Pācittiya ke-35, juga Pacittiya ke-37, 39. Versi Mahasanghika Praktimoksa: Pacattika ke-36, 39)

      Ini dilarang di Sāvatthī, dalam Suttavibhaṅga masuk pelanggaran yang menuntut penebusan

    8. Jalogiṁ pātuṁ: Minum air tuak yang difermentasikan tetapi belum terfermentasi dan belum sampai pada tahap menjadi minuman keras. (Melanggar: Pācittiya ke-51 (Versi Mahasanghika Praktimoksa: Pacattika ke-76)

      Ini dilarang di Kosambi, dalam Suttavibhaṅga masuk pelanggaran yang menuntut penebusan

    9. Adasakaṁ nisīdanaṁ: Menggunakan kain alas duduk diluar batas yang dibolehkan. (Melanggar: Pācittiya ke-89: ukuran panjang: 2 sugata, lebar: 1.5 sugata dan tinggi: 1 sugata. Versi Mahasanghika Praktimoksa: Pacattika ke-86)

      Ini dilarang di Sāvatthī, dalam Suttavibhaṅga masuk pelanggaran yang menuntut penebusan

    10. Jātarūpa-rajataṁ: Menerima emas, perak dan koin/uang. (Melanggar: Nissaggiya Pācittiya ke-18/19. Versi Mahasanghika Praktimoksa: Nihsarghika Pacattika ke-18)

      Ini dilarang di Rājagaha, dalam Suttavibhaṅga masuk pelanggaran yang menuntut penebusan

    Kepada Sangha, Beliau sampaikan bahwa setelah diselidiki Sangha, 10 hal Ini adalah materi yang bertentangan dengan dhamma, bertentangan dengan disiplin, bukan instruksi Sang Guru. Pertanyaan resmi kemudian ditutup dan YM Sabbakamin juga menawarkan bahwa untuk meyakinkan para bhikkhu, agar menanyainya di tengah-tengah Saṅgha. YM Revatapun menanyai YM Sabbakāmin di tengah-tengah Saṅgha tentang 10 hal ini dan YM Sabbakāmin menjawabnya seperti di atas. 700 Bhikkhu hadir saat pembacaan disiplin
Setelah selesai konsili ke-2, kitab Buddhisme saat itu MASIH BUKAN Tipitaka/Tripitaka (3 keranjang) melainkan DvePitaka (2 keranjang), yaitu: Dhamma/sutta-sutta dan vinaya, sedangkan kitab Abhidhamma [sebanyak 7 kitab] MASIH BELUMLAH ADA.

Memperhatikan 10 pelanggaran di atas, Vinaya “mahasanghika” mempunyai kesamaan di 7 point sedang 3 point sisanya (no.4 – no.6) tidak ada:
    "agar Mahasanghika dapat bersepakat mengutuk point-poin ini, kita harus tunda pemakaian teks chinese, karena tidak ada lagi padanan sanskrit porsi skandhaka vinaya. Ada ringkasan Bhiksu-Prakirnaka (Yang adalah padanan Mahasanghika-lokottaravadin untuk vastu yang memuat skandhaka dari berbagai macam vinaya lainnya), namun itu sedikit membantu"["Mahasamghika Origins: The Beginnings of Buddhist Sectarianism", Janice J. Nattier dan Charles S. Prebish, hal.241-245].

    Perbish dan Nattier, tidak menuliskan detail padanannya, namun sudah berani menyimpulkan bahwa vinaya Pali dan vinaya Mahasanghika berkesesuaian penuh pada 10 point ini.
Catatan di Cullavagga (bagian dari kanon pali kelompok vinaya) berhenti sampai KONSILI ke-2. Tidak ada catatan lanjutan mengenai kejadian sesudahnya, misalnya apa yang kemudian dilakukan oleh VAJJIPUTTAKA, tentang Konsili ke-3 di jaman raja Asoka dan narasi di Cullavagga tentang konsili ke-1 dan ke-2, sama sekali tidak memuat kata “tipitaka”/Keranjang, hanya menuliskan dhamma, vinaya saja.

Kejadian lanjutan setelah berakhirnya konsili ke-2, tercantum dalam kitab sejarah Srilanka yaitu: Divapamsa dan Mahavamsa, juga ada di Kathāvatthu-aṭṭhakathā, Nidānakathā, karya Buddhaghosa (Abad ke-5) yang juga mengutip dari Dipavamsa:
    Konsili diadakan 100 tahun setelah Sang Buddha Parinibbana [Mhv 4.8; Dipv 4.47,48] diakhir tahun ke-10 jaman raja Kalasoka [Mhv 5.8]. Jumlah bhikkhu Vajjiputta yang menjalankan 10 hal adalah 10.000 [Mhv. 4.55, namun Dipv 5.18 menyatakan: 12.000 Vajiputtaka berkonsili dulu untuk menetapkan 10 aturan yang akan mereka gunakan di Vesali]. Total bhikkhu yang hadir di Konsili ke-2 pimpinan YM revata adalah 112.000 [Mhv 4.60, Divp 5.20], kemudian beliau memilih 700 bhikkhu yang semuanya adalah Arahat yang membunyai Abhinna [Mhv 4.61; Dipv 4.52, 5.28]. Konsili dilakukan di Valikarama selama 8 bulan di jaman Raja Kalasoka, mengulang kembali pembacaan Dhamma [Mhv 5.62-63. Dipv 4.29]. Kejadian ini disebut Konsili ke-2 [Mhv 4. 66; Dipv 4.29]

    Setelah berakhir konsili ke-2, 10.000 Vajjiputtaka yang dikeluarkan dari Sangha melakukan konsili sendiri. Jumlah yang besar ini menyebabkan ini disebut Mahasangikha/kumpulan dengan jumlah yang besar [Mhv 5.4; Di Dipv 5.31: Dinamakan Mahasanghiti/kumpulan dengan jumlah yang besar].

    Mahasanghika/Mahasanghiti kemudian juga menetap doktrin yang bertentangan; mengubah redaksi asli dan membuat redaksi lain; memindahkan sutta dari satu kumpulan ke kumpulan lain; mereka menghancurkan makna dan keyakinan; Di 5 koleksi dan di Vinaya, Biksu yang mengerti ataupun yang tidak tentang kotbah panjang ataupun kotbah tanpa penjelasan berupa makna literal ataupun tersirat menetapkan maksud yang salah sehubungan dengan kotbah-kotbah sang Buddha. Para biksu menghancurkan banyak makna, menolak kalimat-kalimat tunggal mendalam di sutta dan vinaya, membuat Sutta-sutta dan vinaya-vinaya lainnya, menolak teks berikut: Parivara yang merupakan abstrak dari isi, 6 bagian Abhidhamma, Patisambhida, Niddesa, dan beberapa bagian Jataka. Mereka membuat yang baru. Menjauhkan aturan asli tentang kata benda, jenis kelamin, komposisi, dan gaya ungkapan, mereka mengubah semua itu. [DipV 5.30-38]

      Note:
      Dipavamsa menyatakan “6 bagian” Abhidhamma DAN BUKAN 7 bagian, ini menunjukan, periode waktu ketika hal ini dicatatkan, adalah di SETELAH konsili ke-3 namun SEBELUM 1 bagian Abhidhamma lainnya rampung. Setelah 7 bagian rampung, MAHINDA membawanya ke Srilanka, seperti disebutkan Parivara Vinaya: MAHINDA (Murid Moggaliputta Tissa, pemimpin Konsili ke-3) pergi dari Jambudipa/India menuju Tambapanni/Pantai Utara Srilanka mengajarkan vinaya, 5 nikaya dan satta ceva pakaraṇe (7 kitab). Beberapa paragraph lanjutannya berisi tradisi urutan pengajar di Srilanka s.d Khema Thera yang mengajarkan tipetako/tipitaka. Sehingga disebut Tipitaka adalah setelah tambahan 7 kitab Abhidhamma

    Setelah konsili ke-2 berakhir, mulai abad ke-2 setelah wafatnya sang Buddha [Mhv 5.2-13 ; Dipv 5.39-51] terjadi perpecahan, dimulai dengan kemunculan mahasanghiti dan bertambah menjadi 18 sekte lebih:

    • 6 aliran yang berasal dari (2) Mahasanghika/Vajjiputtaka: (3) -> Ekavyoharika (4), Gokulika (5) -> [Pannatti (6), Bahulika/Bahussutiya (7) -> Cetiya (8)]

    • 12 aliran berasal dari (1) Theravada:

      • Mahimsasaka (9) -> [Sabbathivada (15) -> Kassapiya (17)] dan [Dhammaguttika (16) -> Samkantika (18) -> Suttavada (19]
      • Vajjiputta (10) -> Dhammuttariya (11), Bhaddayanika (12), Channagarika (13) dan Sammitiya (14)

    Disamping sekte-sekte di atas, di Jambudwipa (sebutan tentang India di jaman dulu) terdapat pula 6 sekte lainnya, yaitu: Hemavata, Rajagiriya, Siddhatthaka, Seliya I, Seliya II [Mhv 5.11-13; Divp 5.54] dan dan Vajiriya [Mhv 5.13] atau Apararajagirika [Dipv 5.54]. Untuk di Sri Lanka: Dhammaruci dan Segaliya [Mhv 5.13]. Dua sekte Srilanka ini tidak muncul di Dipavamsa, bisa jadi ketika jurnal ini dituliskan, sekte itu belum muncul

    Tradisi Utara juga memuat daftar sekte-sekte yang muncul setelah konsili ke-2, yaitu menurut versi Vasumitra = 21 Sekte, Bhavya 1 = 25 sekte, Bhavya 2 = 22 sekte dan Bhavya 3 = 18 sekte
Kemudian,
untuk kemunculan aliran Mahayana/kendaraan besar (merujuk pada maksud begitu banyaknya aliran yang bernaung di dalamnya), kitab "Tarkajvala” (pemikiran yang berkobar), karya Bavya (500 M – 578 M) dari aliran Madyamaka, Mahayana, menyampaikan seperti ini:
    “Para pengumpul ajaran Mahayana adalah para Bodhisatva seperti Samantha Bhadra, Manjushri, Vajrapani, Maitreya dan banyak lagi. Aliran hinayana tidak mengumpulkan itu karena mereka tidak mempelajari kitab Mahayana..Setelah Buddha Parinibbana, para pengikut aliran Hinayana, sangat melekat pada ajaran yang mereka terima. Tidak ada yang mengumpulkan ajaran Mahayana. Ajaran Mahayana tersimpan di alam Naga, kemudian Nagarjuna (150 M-250 M, Pendiri aliran Madyamaka) mengumpulkan ajaran Mahayana dari alam Naga dan menyebarkannya di alam Manusia. [“Jewelled Staircase”, Geshe Wangyal, hal. hal.47]
"Buddhism: The early Buddhist schools and doctrinal history; Theravāda doctrine"
Paul Williams, Vol 2, Hal.222
Gambar ini memuat tabulasi jumlah aturan di setiap topik dalam Patimokha di beberapa aliran. Selintas tabulasi ini tidak banyak berbeda dan tidak tampak signifikan berbeda.

Terdapat 20 alasan yang menjadi landasan penyebab perpecahan dalam sangha, yaitu ketika Bhikkhu (satu atau beberapa atau sangha) mengajarkan bhikkhu lainnya mengenai apa
  1. yang BUKAN dhamma sebagai dhamma
  2. yang dhamma sebagai BUKAN Dhamma
  3. yang BUKAN vinaya sebagai vinaya
  4. yang vinaya sebagai bukan vinaya
  5. yang TIDAK diucapkan, TIDAK disampaikan Sang Buddha sebagai ucapannya
  6. yang diucapkan, disampaikan Sang Buddha sebagai TIDAK ucapannya
  7. yang TIDAK dipraktekkan Sang Buddha sebagai yang dipraktekkannya
  8. dipraktekkan Sang Buddha sebagai TIDAK dipraktekkannya
  9. yang BUKAN ditetapkan sang buddha sebagai yang ditetapkan
  10. yang ditetapkan sang buddha sebagai BUKAN yang ditetapkannya [List 1-10 di AN 1.140-149, AN 10.37/38]
  11. yang BUKAN pelanggaran sebagai pelanggaran
  12. yang merupakan pelanggaran (āpatti) sebagai BUKAN pelanggaran (anāpatti āpatti)
  13. yang pelanggaran ringan (lāhuka āpatti) sebagai pelanggaran berat (gārukā)
  14. yang pelanggaran berat sebagai pelanggaran ringan
  15. yang pelanggaran besar (duṭṭhulla āpatti) sebagai BUKAN besar (aduṭṭhulla āpatti)
  16. yang BUKAN pelanggaran besar sebagai besar
  17. yang pelanggaran dapat ditebus (sâvesasa āpatti) sebagai pelanggaran yang tidak dapat ditebus (anavasesā āpatti)
  18. yang pelanggaran tidak dapat ditebus sebagai yang dapat ditebus
  19. pelanggaran yang dapat diperbaiki (sappaṭikamma āpatti) sebagai tidak dapat diperbaiki (appaṭikamma āpatti)
  20. yang pelanggaran tidak dapat diperbaiki sebagai yang dapat diperbaiki [List 11-20 di: AN AN 1.150-169, AN 10.43]

    note:
    Dalam Patimokha/Vinaya Bhikkhu ada pembagian pelanggaran:
    (1) Parajika/Kalah: bisa sukarela diakui tanpa kehadiran sangha atau terpaksa melalui kehadiran sangha yang hasilnya adalah lepas jubah, tidak dapat menjadi bhikkhu seumur hidupnya = 4 item;
    (2) saṅghādisesa/pelanggaran yang memerlukan kehadiran sangha dalam memutuskan yang hasilnya adalah bisa dikeluarkan ataupun tidak = 13 item;
    (3) thullaccaya/detail item hampir serupa dengan parajika dan Sanghadisesa namun hasilnya tidak persis sama/tidak sempurna terjadi dan TIDAK ADA satupun dalam 227 aturan kebhikkuan yang masuk kategori ini, sehingga membutuhkan kehadiran Sangha, sample: parajika: membunuh dan mati, thullaccaya: tidak mati. Sanghadisesa: melakukan martubasi dan ejakulasi, Thullaccaya: martubasi namun tidak ejakulasi
    (4) pācittiya/Pelanggaran ini membutuhkan penebusan dan/atau beserta melepas barang (Nissaggiya) = 92 item (penebusan) + 30 Item (penebusan+pelepasan barang);
    (5) pāṭidesanīya/yang harus disadari dan diakui kesalahannya;
    (6) dukkaṭa/tindakan salah;
    (7) dubbhāsita/ucapan salah

    Ada yang disebut latihan/Sekhiya = 75 item, Ada yang disebut penyelesaian masalah/Adikharana = 7 item

    Kategori Lahuka/ringan adalah no. 3 s.d 7. Garuka adalah no.1 dan 2. Pelanggaran besar adalah Parajika. Sappatikamma/yang dapat diperbaiki adalah no.2 s.d 7, yang tidak dapat diperbaiki adalah no.1
Cullavagga, Khandakha 7 menyatakan PERPECAHAN SANGHA adalah karena Bhikkhu:
    ..Jika, 4 orang di satu pihak dan 4 orang di pihak lain (total = 8) dan jika seorang yang ke-9 berkata dan membagikan kupon suara, dengan mengatakan: ‘Ini adalah aturan, ini adalah disiplin, ini adalah instruksi Sang Guru, ambillah (kupon suara) ini, setujuilah ini’ ini adalah perselisihan dalam Saṅgha yang juga merupakan perpecahan dalam Saṅgha. Perpecahan Saṅgha terjadi karena 9 orang atau lebih.

    Seorang bhikkhunī atau calon samaneri atau samaṇera atau samaṇerī atau umat awam pria atau umat awam wanita TIDAK MEMECAH BELAH Saṅgha bahkan jika ia melakukan tindakan memecah-belah. Hanya seorang bhikkhu, yang berasal dari komunitas yang sama, menetap di tempat yang sama, yang dapat memecah-belah Saṅgha
TIDAK SEMUA PERPECAHAN SANGHA adalah BURUK, misalnya dalam kasus dibawah ini.
    Seorang Bhikkhu yang menjelaskan:

    • apa yang bukan-dhamma sebagai dhamma dan/atau
    • apa yang dhamma sebagai bukan-dhamma … menjelaskan apa yang bukan pelanggaran berat sebagai pelanggaran berat

    jika ia memiliki pandangan bahwa dalam ini terdapat dhamma, jika ia memiliki pandangan bahwa dalam perpecahan terdapat dhamma namun tidak salah menyampaikan pendapat, tidak salah menyampaikan persetujuan, tidak salah menyampaikan kesenangan, tidak salah menyampaikan kehendak, ia berkata dan membagikan kupon suara, dengan mengatakan: ‘Ini adalah aturan, ini adalah disiplin, ini adalah instruksi Sang Guru, ambillah (kupon suara) ini, setujuilah ini’ – bahkan penyebab perpecahan dalam Saṅgha ini, TIDAK MENGALAMI kejatuhan, TIDAK MENUJU neraka, TIDAK MENETAP di sana selama satu kappa, dapat terselamatkan. [Cullavagga, Khandakha 7]
Sang Buddha menyatakan terdapat 4 KEUNTUNGAN yang menjadi MOTIF seorang bhikkhu melakukan perpecahan di dalam sangha dan bersenang dengan hal itu, sabda beliau ini sehubungan dengan Bāhiya, murid YM Anuruddha yang masih saja berniat menciptakan perpecahan di dalam sangha:
  • Seorang bhikkhu jahat tidak bermoral, berkarakter buruk, tidak murni, berperilaku mencurigakan, merahasiakan perbuatannya, bukan seorang petapa walaupun mengaku sebagai petapa, tidak hidup selibat walaupun mengaku hidup selibat, busuk dalam batinnya, jahat, rusak. Ia berpikir: ‘Jika para bhikkhu mengetahui bahwa aku adalah seorang yang tidak bermoral … rusak, dan mereka bersatu, maka mereka akan mengusirku, tetapi jika mereka terpecah dalam kelompok-kelompok maka mereka tidak akan mengusirku.’

  • seorang bhikkhu jahat berpandangan salah; ia menganut pandangan ekstrim. Ia berpikir: ‘Jika para bhikkhu mengetahui bahwa aku menganut pandangan salah, bahwa aku menganut pandangan ekstrim, dan mereka bersatu, maka mereka akan mengusirku, tetapi jika mereka terpecah dalam kelompok-kelompok maka mereka tidak akan mengusirku.’

  • seorang bhikkhu jahat berpenghidupan salah; ia mencari penghidupannya melalui penghidupan salah. Ia berpikir: ‘Jika para bhikkhu mengetahui bahwa aku berpenghidupan salah dan mencari penghidupanku melalui penghidupan salah, dan mereka bersatu, maka mereka akan mengusirku, tetapi jika mereka terpecah dalam kelompok-kelompok maka mereka tidak akan mengusirku.’

  • seorang bhikkhu menginginkan perolehan, kehormatan, dan penghargaan. Ia berpikir: ‘Jika para bhikkhu mengetahui bahwa aku menginginkan perolehan, kehormatan, dan penghargaan, dan mereka bersatu, maka mereka tidak akan menerima, menghormati, menghargai, dan memuliakanku; tetapi jika mereka terpecah dalam kelompok-kelompok maka mereka akan menerima, menghormati, menghargai, dan memuliakanku
Melihat ke-4 keuntungan ini, Ānanda, seorang bhikkhu jahat bersenang dalam perpecahan di dalam Saṅgha [AN 4.243/Sanghabhedaka sutta]

Konsili ke-3,
Penemuan arkeologi di beberapa inskripsi pilar Saranath-Kosambi-Sanchi jaman Asoka, menyampaikan pernah terjadi perpecahan dalam Sangha dan telah dibuat bersatu dijamannya ("Asoka", D.R. Bhandarkar,R. G. Bhandarkar, hal.91-94; Terjemahan Inskripsi dari "Sects & Sectarianism", Bhikkhu Sujato)
    Sangha bhikkhu dan bhikkhuni telah dibuat bersatu.
    Sepanjang anak-anak dan cucu-cucuku masih hidup, dan sepanjang matahari dan bulan masih bersinar, siapa pun bhikkhu atau bhikkhuni yang memecah belah Sangha akan memakai jubah putih dan tinggal di luar vihara
    Apakah keinginanku?
    Agar kesatuan Sangha akan bertahan lama.


    ’Raja Aśoka,
    Minor Pillar Edict, Sāñchī
Beberapa teks tradisi Utara menyatakan alasan perpecahan aliran diakibatkan oleh bhikkhu tertentu yang penyampai 5 teori tentang Arahat dan nama Bhikkhu yang dituduhkan ini adalah "Mahadeva", misal:
  • "San louen hiuan yi" karya Ki-tsang dari aliran Mahayana (berdasarkan karya Paramartha dari aliran mahayana), kitab komentar dari "Samayabhedo paracana cakra", Visumitra: Pemicu pecahnya Mahasamghika dan Sthaviriya adalah karena aktivitas dari Mahadeva yang menambahkan 5 point dan juga MEMASUKAN sutra MAHAYANA ke dalam TRIPITAKA

  • "Samayabhedo paracana cakra", Vasumitra, aliran Sarvastivada: Nama Bhikkhu yang menyampaikan 5 point: Mahadeva, yang menerima: Aliran Mahasanghika, yang menolak: aliran Stravira ["Mahasamghika Origins: The Beginnings of Buddhist Sectarianism", hal.247]

    Terdapat 3 terjemahan china untuk kitab ini, yaitu (i) 'Shi-pa' pu' lun, terjemahan entah oleh kumarajiva (401-413) atau Paramartha (546-569). (ii) Pu' chi-i-lun, Paramartha dan (iii) I-pu'-tsung-lun, Hiuen Tsang (662) [“Buddhist Sects in India”, Dutt, Introduction]

  • "Abhidharma mahavibhasa sastra", Katyāyāniputra, aliran Sarvastivada: Nama Bhikkhu yang menyampaikan 5 point: Mahadeva, yang menerima: Mahasanghika, yang menolak: Sarvastivadin ["Mahasamghika Origins: The Beginnings of Buddhist Sectarianism", hal.247]
Berikut ini adalah narasi versi Mahāvibhāṣā (Vasumitra, T 1545):
    Di masa lalu, tersebutlah seorang pedagang dari Mathura, yang beristri cantik dan mempunyai anak rupawan bernama Mahadeva. Ayahnya kemudian dalam waktu yang lama, pergi keluar daerah untuk berdagang. Mahadevapun beranjak dewasa. Ia kemudian melakukan inses dengan ibunya, Ketika tahu ayahnya akan datang, karena takut perbuatannya diketahui, Ia membuat rencana dangan Ibunya dan kemudian, Ia bunuh ayahnya. Perbuatannya perlahan terungkap hingga Ibu-Anak pindah ke Pāṭaliputta. Di sana Ia bertemu seorang Arahat, yang dulu, di daerah asalnya, Ia pernah berdana padanya, karena takut perbuatannya terungkap, Ia bunuh bhikkhu itu. Belakangan karena ibunya bersetubuh dengan lelaki lain, Ia bunuh ibunya.

    Hidupnya penuh keresahan, kemudian Ia mendengar bahwa ajaran Buddha mengajarkan Dhamma untuk melenyapkan kesalahan masa lalu. Ia kemudian pergi ke vihara Kukkuṭārāma dan saat itu, seorang bhikkhu yang sedang berlatih meditasi jalan sambil melantunkan syair, “Jika seseorang melakukan kesalahan berat, dengan melakukan kebajikan, Ia membuatnya berakhir, Orang ini menyinari dunia bagaikan bulan yang muncul dari awan”. Ia tertarik dan girang mendengar ini, maka Iapun memohon penahbisan dan Bhikkhu itu menahbiskannya tanpa melakukan pemeriksaan terlebih dahulu akan masa lalunya.


      Note:
      Prosedur STANDAR penahbisan bhikkhu yang telah berjalan RATUSAN TAHUN sebelum konsili ke-3 (dan masih BERJALAN RATUSAN TAHUN kemudian) adalah:

      • Kehadiran MINIMUM 10 bhikkhu [dengan pengecualian di daerah yang kekurangan Bhikkhu, misalnya pada kasus YM Soma di Avanti boleh 4 bhikkhu + 1 Vinayadhara] dan harus mempunyai masa vassa MINIMUM 10 tahun, terpelajar dan Kompeten untuk menahbiskan
      • UPAJJHAYA HARUS menyelidiki calon Bhikkhu, yaitu: harus manusia, tidak pernah membunuh: Ibu, ayah, Arahat, melecehkan Bhikkhuni dan banyak lagi yang jika SALAH SATUNYA SAJA atau malah BEBERAPA dari hal itu dilakukan, maka jika Ia belum ditahbiskan maka ia TIDAK BOLEH ditahbiskan, jika IA SUDAH DITAHBISKAN, maka Ia HARUS DIKELUARKAN dari persekutuan.
      • Setelah ditahbiskan, Ia pun harus tinggal 5 tahun untuk mendapat bimbingan dari Upajjhaya/Achariyanya [Mahavagga, Khandaka ke-1, penahbisan]

      Jadi, bagaimana mungkin dari 10 Bhikkhu yang menahbiskan ini, TIDAK 1 PUN yang menanyakan pertanyaan standar berupa asal-usul calonnya?
      Sutra juga telah menghinformasikan bahwa di tempat lamanya perbuatan kejinya telah menyebar, maka BAGAIMANA MUNGKIN dari seluruh bhikkhu di Vihara itu TIDAK 1 PUN yang mendengar masa lalunya disebelum, disaat atau disesudah penahbisan bahkan hingga bertahun-tahun kemudian?

      Untuk itu, ada beberapa kemungkinan tentang ini:

      (1) Kisah ini bohong dan/atau
      (2) Mahadeva tidak pernah membunuh ayah, ibu, arahat tersebut dan/atau
      (3) Para bhikkhu di Vihara itu bukanlah bhikkhu karena TIDAK TAHU prosedur standar dalam menahbiskan dan/atau
      (4) Pengarang kisah ini memakai kacamata aturan vinaya alirannya sendiri sebagai dasar mengarang dan menganggap dimasa lalupun terjadi seperti itu..

    Karena cerdas, tak lama setelah penahbisan, Mahadeva HAFAL SELURUH TRIPITAKA juga trampil dalam berkata-kata, para penduduk Pataliputta menganggapnya pembimbing dan bahkan dianggap Arahat. Karenanya, Raja kerap mengundangnya ke istana untuk berdana dan memohon dhamma. Kemudian, Ia mengajarkan 5 hal kepada para muridnya:

    (1) Ketika Ia mimpi basah, Ia berkata itu terjadi karena gangguan mara yang iri dan bahwa arahat masih memiliki kotoran.
    (2) Arahat masih memiliki ketidaktahuan.
    (3) Arahat dan Pacekka Buddha masih memiliki keragu-raguan.
    (4) Karena muridnya melihat dirinya tidak ingat jalan ketika memasuki kota, Ia berkata Arahat masih belajar dari orang lain dan tidak dapat mengetahui dengan sendirinya.
    (5) Karena telah melakukan sejumlah besar kejahatan, ketika sendirian di tengah malam, kesalahan membebaninya yang membuatnya tertekan dan takut sehingga seringkali berteriak: “Oh (Aho), betapa menderitanya!”. Ketika ditanya muridnya, Ia berkata bahwa Jalan Mulia dapat dimunculkan dengan meneriakan “Aho betapa menderitanya”


      Note:
      Seluruh Bhikkhu, baik atau buruk, arahat atau bukan yang ditahbiskan sebelum konsili ke-3, TIDAKLAH MENGENAL Tripitaka. SEBELUM konsili ke-3, yang ada hanya Sutta dan Vinaya (dvepitaka/dua keranjang) namun SETELAH konsili ke-3, keranjang bertambah satu lagi dengan Abhidhamma sehingga disebut Ti-Pitaka/Tripitaka. Di Cullavagga, Vinaya dan di banyak sutta hanya menyebutkan kata Dhamma/sutta dan Vinaya (+ matika: ringkasan/topik sutta dan/atau patimokha/227 aturan, terkadang matika adalah sinonim dari patimokkha), TIDAK PERNAH menyatakan kata TIPITAKA,

      Jadi teks-teks yang berasal dari tradisi Utara maupun tradisi Selatan yang menggunakan kata TIPITAKA/TRIPITAKA dalam narasinya, maka ini dibuat paling cepat setelah berakhirnya KONSILI ke-3.

      Tanggapan Theravada untuk klaim pandangan tentang arahat ada di KathaVatthu, KV 2.1 s.d KV 2.6. Kathavatthu adalah 1 bagian/kitab Abhidhamma berupa detail point kontroversi saat pembersihan para bhikkhu berpandangan salah di MENJELANG Konsili ke-3.

      Di Katavatthu, terdapat 2 variasi klaim pandangan untuk topik kata "aho", yaitu: klaim saat memasuki jhana (KV 2.5) dan "aho betapa menderitanya" untuk klaim saat memasuki sang jalan (KV 2.6).

      Karena Mahadeva dikatakan HAFAL TRIPITAKA, maka 5 pandangan yang Ia sampaikan di kisah ini, bisa jadi bukanlah ide orsinilnya, namun berasal dari daftar yang telah ada,

    Kemudian, para bhikkhu sepuh di Vihara Kukkuṭārāma satu persatu wafat. Pada hari ke-15, tibalah waktu untuk Upasatha. Giliran Mahadeva untuk mengajarkan Sila. Ia kemudian mengajarkan pandangannya. Saat itu di sangha ada beberapa siswa yang sedang dalam latihan dan telah mahir yang sangat terpelajar, kokoh dalam sila dan seorang yang mencapai Jhana. Ketika mereka mendengar ajaran itu tanpa kecuali mereka waspada dan berkeberatan, mereka mengeritik bahwa hanya seorang bodoh yang membuat statement itu dengan berkata "Ini tidak ditemukan dalam TRIPITAKA" dan kemudian terjadi debat berkepanjangan yang memunculkan kelompok-kelompok hingga berita ini menyebar ke kota, sampai kementrian negara dan tidak kunjung berhenti, Raja mendengar tentang ini kemudian datang dan ikut mendengarkan perdebatan dan menjadi ragu mana yang Ia percayai. Ketika Raja bertanya bagaimana menyelesaikannya, Mahadeva berkata bahwa dalam vinaya dikatakan untuk menyelesaikan masalah, seharusnya bergantung pada apa yang dikatakan mayoritas.

    Raja memerintahkan kedua kelompok Sangha untuk berdiri terpisah. Kelompok yang tidak setuju adalah kelompok orang mulia, walau tua, jumlahnya sedikit sedangkan kelompok yang setuju adalah kelompok Mahadeva, muda, dan berjumlah banyak. Karenanya mereka Mayoritas. Yang lebih sedikit disebut Sthavira dan yang lebih banyak disebut Mahāsaṅghika, Para orang mulia kemudian meninggalkan vihara Kukkuṭārāma menuju Kashmir dan tinggal di sana. Raja kemudian membangun vihara di Kashmir..
    ["Sects and Sectarianism, Bab.5", Juga lihat di: di sini, di sini, di sini, di sini dan di sini]

      Note:
      Dari 7 cara penyelesaian perkaran (Adhikarana) di Vinaya, salah satunya melalui suara terbanyak/Yebhuyyasika (lihat di MN 104/samagama untuk aplikasinya) yaitu dengan metoda membisikan di telinga, secara rahasia atau terbuka. Apapun itu, SELALU:

      • TIDAK DIMUNGKINKAN adanya campur tangan umat awam dalam pelaksanaan urusan kebhikkuan dan TIDAK DIMUNGKINKAN menyerahkan keputusan penyelesaian perkara kepada umat awam. Penyelenggara kupon suara tetap HARUS Bhikkhu dengan 5 kualitas, yaitu: TIDAK memihak, TIDAK melalui kebencian, kebodohan, ketakutan dan tahu apa yang diambil/tidak. Bhikkhu itu harus diminta kesediannya terlebih dahulu dan kemudian Sangha pun harus diberitahu oleh seorang Bhikkhu lainnya yang berkompeten dan berpengalaman mengenai kesediannya
      • HARUS MEMENUHI 10 SYARAT SAH, diantaranya: JUMLAH Yang menganut dhamma HARUS lebih banyak dan/atau HARUS PASTI bahwa jika dilakukan maka SANGHA TIDAK AKAN TERPECAH atau TIDAK MUNGKIN TERPECAH dan harus diselenggarakan oleh SANGHA YANG LENGKAP bukan SANGHA YANG TIDAK LENGKAP

      Jadi bagaimana mungkin seorang ahli Tripitaka dan juga kumpulan para bhikkhu terpelajar paham dhamma dan vinaya yang ada dalam kisah ini TIDAK TAHU cara MENYELESAIKAN perkara yang NYATA-NYATA ada di 220 aturan+7 aturan penyelesaian masalah dan juga di MN 104/Samagama?
Menariknya,
teks-teks tradisi Utara sendiri, TIDAK KONSISTEN untuk menetapkan nama Mahadeva sebagai pihak yang bertanggung jawab. TERDAPAT BANYAK VARIASI NAMA LAINNYA yang terkait dengan 5 point tentang arahat, misalnya, Nāga (atau Mahāraṭṭha dalam terjemahan Paramārtha), Pratyantika, Bahuśruta, Mahābhadra dan Bhadra (yang kemudian 5 pandangan ini diadopsi oleh Nāga dan Sāramati/Sthiramati) [“Sects and Schims”, Bhikkhu sujato, Bab 4.1]. Mari kita ambil sebagai sample nama Bhadra dalam 2 teks tradisi Utara:
  • "Nikayabheda vibhanga vyakhyana" karya Bhavya, dari Aliran Sammitiya: Nama Bhikkhu yang menyampaikan 5 point: Bhadra
  • Dari Tarkajvala: “137 tahun setelah wafatnya Yang sempurna, Di masa Raja Nanda dan Mahāpadma diselenggarakan pertemuan para Arya di kota Pataliputra yaitu YM Mahakasyapa, Mahāloma (SPU tchen-po), Mahātyaga (gtang-ha tchen-po), Uttara (bla-ma) & (Di buku: ini dan ini ada tambahan nama YM Revata) lainnya. Ketika mereka berkumpul, Mara mengambil bentuk Biksu Badra memamerkan mukjizat menentang mereka dan menyampaikan 5 pandangan yang menyebabkan perpecahan dalam Sangha. Para Sthavira yang bernama Naga, Sthiramati dan Bahuśrutīya mengadopsi pandangan itu dan mengajarkannya (Di buku lainnya nama bahusrutiya/Bahusastra tidak ada dan kalimatnya menjadi: Para Sthavira yang bahusastra (sangat terpelajar) bernama Naga dan Sthiramati). Mereka katakan itu ajaran Buddha. Kemudian sangha terpecah menjadi dua aliran Sthavira dan Mahāsāṃghika. Selama 63 tahun terjadi pertengkaran.
Teks-teks dari tradisi Utara sendiri mengalami perpecahan ketika mencoba menyampaikan siapakah bhikkhu x, sang penyampai 5 point tentang arahat.

Moggaliputta vs Upagupta, Tradisi garis ajaran dan Konsili ke-3
  • Tradisi Utara [Divyavadana, Asokavadana, Abad ke-4 M]:
    Perpecahan Buddhisme
    Berikut narasi “Śāripūtraparipṛcchā sutra”, buatan anonim, abad ke-4 M, yang meminjam figure sang Buddha yang seolah meramalkan masa depan Buddisme:

      Setelah Aku memasuki Parinibbana, Mahākassapa..meneruskan kepada Ānanda. Ānanda -> Majjhantika -> Śāṇavāsin -> Upagupta.

        Note:
        NAMUN tradisi garis leluhur ajaran di teks-teks Sanskrit di tradisi Utara sendiri TIDAK KONSISTEN, walaupun sama-sama mulai dengan kalimat "100 tahun setelah Parinibbana sang Buddha", misalnya teks aliran Sarvastivadin:

        "mama varṣaśataparinirvṛtasya mādhyandino nāma bhikṣur bhaviṣyaty ānandasya bhikṣoḥ sārdhaṃvihārī..mādhyandino nāmnā ānandasya bhikṣoḥ sārdhaṃvihārī sa upaguptaṃ pravrājayiṣyati" [mūlasarvāstivāda vinaya, khandhaka, Bhaiṣajyavastu] atau di "A-yu-wang-Chuan"/Asokarajavadana, terjemahan SanghaBadra, 506 M menyatakan: Majjhantika/mādhyandina yang menahbiskan Upagupta ["Buddhist Sects in India", Dutt, hal.127].

        Di sini: Ananda -> Madhyandino -> Upagupta

        Sementara teks lainnya:
        "eṣa ānanda rurumuṇḍo nāma parvataḥ atra varṣaśataparinirvṛtasya tathāgatasya śāṇakavāsī nāma bhikṣurbhaviṣyati so ’tra rurumuṇḍaparvate vihāraṃ pratiṣṭhāpayiṣyati, upaguptaṃ ca pravrājayiṣyati" [Divyavadana no.26/pāṃśupradānāvadānam].

        Di sini: Ananda -> Sanakavasin -> Upagupta

        Sementara,
        Tradisi garis penahbis yang seharusnya adalah:
        Belatthasisa (dari kelompok Uruvela Kassapa) -> Ananda -> 6 Thera Konsili ke-2. Pembimbing/Achariya Ananda adalah Sang Buddha sedangkan upajjhayanya Ananda BUKANLAH Mahakassapa melainkan Belatthasisa.

        Jadi Ananda bukanlah penerus Mahakasyapa

      Setelah Upagupta terdapat raja Maurya Aśoka.. Cucunya bernama Puṣyamitra. Ia naik tahta...

        Note:
        Konon, Upagupta adalah kepala sangha di Mathura pada jaman Asoka. ["Buddhist Sects and Sectarianism", Bibhuti Baruah, hal.51] dan Konon dikatakan bahwa Ia adalah pendiri Sarvastivada ["Buddhism: A Modern Perspective", Charles Prebish, hal.42-43] serta konon juga, Asoka menjadi Buddhis adalah karena biksu Balapandita/Samudra dan kemudian biksu Upagupta menjadi gurunya.

        Semua legenda tentang Upagupta hanya ada dalam tradisi Utara dan berasal dari kitab-kitab yang muncul JAUH SETELAH konsili ke-3.

        Episode Upagupta VS Mara: Di konsili ke-3 atau Bukan?
        Kitab lokadipani/lokappannatti (karya Saddhammaghosa, abad ke-11 Masehi) yang beredar di Burma, Laos dan Thailand yang diterjemahkan oleh Phra Dhammadhiraja mahamuni (Abad ke-20) membuat legenda itu TERKAIT dengan pelaksanaan konsili ke-3 namun hasil penelitian John Strong menyatakan sebaliknya bahwa legenda itu TIDAK TERKAIT dengan konsili ke-3.

        Episode di legenda itu adalah tentang sebuah festival megah yang akan diselenggarakan Raja Asoka sehubungan dengan temuan relik-relik Buddha di dalam stupa-stupa yang dulu dibangun Raja Ajatasatru. Relik-relik itu dijaga sekawanan robot mekanik galak buatan Roma yang akan menyerang siapapun yang mencoba masuk. Oleh karenanya Raja Asoka harus menemukan mekanik ahli yang dapat melumpuhkannya dan untuk mengantisipasi gangguan Mara saat berlangsungnya festival relik, Raja Asoka memohon petunjuk sangha, kemudian seorang samanera sakti menganjurkan Raja agar meminta bantuan Kisanaga Upagupta ["The Legend and Cult of Upagupta: Sanskrit Buddhism in North India and Southeast Asia", John Strong, Ch 9. Lokapannati].

        Informasi dari John Strong dalam episode UPAGUPTA vs MARA di Lokapannatti ADALAH SELARAS dengan legenda-legenda lain tradisi Utara tentang Upagupta untuk episode yang sama.

        Dinasti Maurya atau Dinasti Shunga?
        Pusyamitra BUKAN cucu Asoka, Ia adalah senapati di jaman dinasti Maurya dan setelah membunuh raja terakhir dinasti Maurya-Asoka (Brihadratha), Ia menjadi raja dan mendirikan dinasti Shunga. Asoka memerintah 37 tahun dan 2 cucunya yang naik tahta adalah: Dasharatha (8 tahun) dan Samprati (9 tahun). Dinasti ini masih berlanjut hingga 4 raja lagi (35 tahun), hingga Pusyamitra menjadi raja mendirikan dinasti Shunga. Ia memerintah 36 tahun dan digantikan Agnimitra (8 tahun). Dari wafatnya Sang Buddha s.d Agnimitra menjadi raja adalah: 343 tahun (218 + 37 + 52 + 36).

        Jadi kronologis kejadian perpecahan dalam sutra ini terjadi pada jaman raja ke-2 dinasti Shunga dan BUKAN di jaman Asoka.

      [berikutnya diceritakan kisah Puṣyamitra menghancurkan dan menindas Buddhisme, seperti yang diterjemahkan Lamotte, “History of Indian Buddhism”, hal.389-390. Yaitu 500 Arahat diperintahkan Sang Buddha untuk tidak memasuki Nibbana, tetapi berdiam di alam manusia untuk melindungi Dharma. Ketika Puṣyamitra hendak membakar teks Sutta-Vinaya, Maitreya menyelamatkannya dan menyembunyikannya di surga Tusita]

      Sifat raja berikutnya sangat baik. Boddhisattva Maitreya.. menciptakan 300 orang pemuda yang turun ke alam manusia untuk mencari jalan Buddha. Mengikuti ajaran Dhamma 500 Arahat, Para pria dan wanita di negeri raja ini berbondong-bondong memohon penahbisan. Demikianlah para bhikkhu dan bhikkhuni kembali ada dan berkembang. Para Arahat pergi ke alam surga dan membawa Sutta dan Vinaya kembali ke alam manusia

      Pada saat itu, ada seorang bhikkhu bernama “Bahuśruta”, memohon pendapat pada para arahat dan raja, bermaksud untuk membangun sebuah paviliun untuk Sutta-Vinaya-Ku, dengan membuat sebuah pusat pendidikan bagi mereka yang bermasalah


        Note:
        Dalam pandangan Mahayana, nibbana dan Parinibbana adalah semacam alam padahal dalam tradisi selatan, seorang disebut Arahat adalah karena Ia padam/Nibanna dan yang diajarkan sang Buddha adalah cara untuk mengakhiri dukkha/nibanna bukan mencapai alam nibanna.

        Maka bagaimana mungkin sang Buddha malah memberikan perintah mereka yang telah padam untuk tidak padam?

        Sutta-Sutta dan Vinaya hingga berakhirnya dinasti Shungga masih diturunkan secara oral dan BELUMLAH DITULISKAN, maka apa yang harus dibakar?

        Juga karena masih ada 500 Arahat, maka apa perlunya mengambil sutta dan vinaya di surga? Bukankah mereka ini juga dapat menahbikan dan mengajarkan pada 300 manusia ciptaan ini agar juga mencapai arahat?

      Pada saat itu ada seorang bhikkhu sepuh yang menginginkan kemashyuran, selalu ingin mempertahankan pandangannya sendiri. Ia mengubah, menambah dan memperluas Vinaya-ku, suatu yang dikembangkan Kassapa yang disebut “Mahāsaṅghikavinaya”. Ia mengambil dari luar dan mencampurkanya dengan yang ada, para pemula menjadi tertipu. Mereka membentuk kelompok berbeda, masing-masing membahas apa yang benar dan salah

      Pada saaat itu, ada seorang bhikkhu yang memohon putusan raja. Raja mengumpulkan dua kelompok itu, menyiapkan potongan kayu berwarna hitam dan putih untuk voting dan mengumumkan kepada mereka: ‘Jika kalian menyukai Vinaya lama, ambillah kayu hitam. Jika kalian menyukai Vinaya baru, ambillah kayu putih’. Yang mengambil kayu hitam berjumlah 10.000, hanya 100 yang mengambil kayu putih. Raja menganggap bahwa itu semuanya kata-kata Sang Buddha, tetapi karena berbeda dalam hal yang disenangi mereka seharusnya tidak berbagi tempat tinggal yang sama.

        Note:
        Selain membuat aturan baru mengajar agar tidak padam, Sutra ini juga membuat aturan vinaya baru yaitu: Penyelesaian masalah kebhikkhuan melalui Voting/Yebhuyyasika dapat dilakukan dengan campur tangan umat awam sebagai wasit pemutus padahal ini adalah kasus kebhikkhuan BUKAN kasus umat awam yang pura-pura menjadi Bhikkhu.

        Lucunya hasil campur tangan umat awam ini malah menghasilkan perpecahan dalam sangha. Dalam MN 104/Samagama, dicontohkan aplikasi pendapat mayoritas:

        "Dan bagaimanakah terjadinya pendapat mayoritas? Jika para bhikkhu itu tidak dapat menyelesaikan perkara itu di dalam tempat kediaman itu, maka mereka harus mendatangi tempat kediaman di mana terdapat lebih banyak bhikkhu. Di sana, mereka semuanya harus berkumpul bersama dalam kerukunan. Kemudian, setelah berkumpul, tuntunan Dhamma harus ditetapkan. Begitu tuntunan Dhamma telah ditetapkan, perkara itu harus diselesaikan sedemikian sesuai dengan tuntunan Dhamma itu. Demikianlah pendapat mayoritas. Dan demikianlah terjadinya penyelesaian perkara-perkara di sini dengan penghapusan perkara melalui pendapat mayoritas"

        Juga dalam Vinaya tradisi selatan ditegaskan bahwa penyelesaian perkara melalui suara mayoritas HANYA BOLEH digunakan jika tidak membuat perpecahan dalam sangha.

      Mayoritas yang melatih diri dengan (vinaya) lama karenanya disebut ‘Mahāsaṅghika’. Minoritas yang melatih diri dengan (Vinaya) baru adalah para Sesepuh, sehingga mereka disebut ‘Sthavira’. Juga, Sthavira dibentuk, aliran Sthavira

        Note:
        Kata "Sthavira" vs "Mahasanghika"
        Pemakaian kata “Sthavira/Thera (= tua/sepuh dalam masa vassa)” dan “Mahasanghika (= kelompok yang besar jumlahnya baik itu sepuh ataupun tidak)" hanyalah penamaan untuk membedakan dan tidak ada hubungannya dengan perbedaan pandangan-pandangan aliran. Di perkembangan selanjutnya, ini kemudian menjadi pembeda aliran, yaitu mereka yang belatih vinaya dan sutta dari konsili ke-1 dan 3 disebut aliran para sepuh atau Sthavira/TheraVada. Sementara yang bukan, yang jumlahnya memang lebih besar disebut aliran Mahayana.

      300 tahun setelah wafat-Ku, dari perselisihan ini muncul:

      • Sarvāstivāda dan Vātsīputrīya [Puggalavādin]
      • Dari Vātsīputrīya muncul aliran Dharmottarīya, aliran Bhadrayānika, aliran Saṁmitīya, dan aliran Ṣaṇṇagarika.
      • Dari aliran Sarvāstivādin memunculkan aliran Mahīśāsaka, Moggaliputtatissa [atau Moggali-upatissa; atau Moggala-upadeśa] memulai aliran Dharmaguptaka, aliran Suvarṣaka, dan aliran Sthavira. Lagi muncul aliran Kaśyapīya dan Sautrantika.

      Dalam 400 tahun muncul aliran Saṁkrāntika.

      Dari aliran Mahāsaṅghika, 200 tahun setelah Nibbana-Ku, karena pendapat lain muncul aliran Vyavahāra, Lokuttara, Kukkulika, Bahuśrutaka, dan Prajñaptivādin

        Note:
        Perpecahan Mahāsaṅghika yang dikatakan terjadi 200 tahun setelah wafatnya Sang Buddha ini membingungkan karena menempatkan Pusyamitra berada dikurun waktu 200 tahun setelah wafatnya sang Buddha!

      Dalam 300 tahun, karena perbedaan dalam pengajaran, dari 5 aliran ini muncul: aliran Mahādeva, aliran Caitaka, aliran Uttara [śaila]

      Demikianlah terdapat banyak [aliran] setelah suatu periode kemunduran yang panjang. Jika tidak seperti ini, akan terdapat hanya 5 aliran, yang masing-masing berkembang.

        Note:
        Sang Buddha yang membolehkan Buddhisme pecah menjadi 5 aliran untuk hidup rukun dalam perbedaan adalah membingungkan, karena TIDAK PERNAH sang Buddha menyetujui adanya SANGHABEDHA (perpecahan dalam sangha) dan menyatakan bahwa sangha harus tetap dalam satu kesatuan

      [Sumber: "Sects and Sectarianism", Bhikkhu Sujato, bab.4.3]

  • Tradisi Selatan [Dipavamsa/Abad ke-4 M; Mahavamsa dan Samantapasadika/bad ke-5 M]:
    Hubungan antara konsili ke-2 dan konsili ke-3
    Para Thera di konsili ke-2, melihat setelah berlalu 118 tahun, kekisruhan Buddhisme akan terjadi dan seorang anak dari keluarga Bramana Moggali (Mogaliputta) akan menyelesaikannya, maka Siggava dan Candavajji diinstruksikan untuk menemukan dan mendidik anak itu [Mhv 5.95-103].

    Tradisi jalur Vinaya di konsili ke-3:
    Upali (30 tahun) -> Dasaka (50 tahun) -> Sonaka (44 tahun) -> Siggava (55 tahun) dan CandaVajji -> Moggaliputta Tissa (68 Tahun) [Mhv 5.104-153 dan Dipv 5.95-99]

    Upali menahbiskan Dasaka. Upali wafat 30 tahun setelah sang Buddha wafat, yaitu di tahun ke-6 pemerintahan UdayaBhadda (Sang Buddha wafat di tahun ke-8 pemerintahan Ajjatasattu + 24 tahun lagi sebelum UdayaBhadda) [Dipavamsa 4.38].
    Saat masa vassa Dasaka 40 tahun [Dipv 5.78] (Upasampada Dasaka tahun ke-16 Vijaya (dari 37 tahun) + tahun ke-20 Pangluvasudeva, Dipv 4.41; 5.77-78), Ia menahbiskan Sonaka.
    Saat masa vassa Sonaka 40 tahun Ia menahbiskan Siggava dan Candavajji. Saat itu adalah 100 tahun Nibannanya Sang Buddha dan 10 tahun pemerintahan Kalasoka (Dipv 4.44-46; 5.78-80).

    Apakah Sonaka = Sambhuta Sanavasin?
    Ketika Sang Buddha telah wafat selama 100 tahun maka Ananda telah wafat selama 60 tahun, Sehingga ketika konsili ke-2 berjalan, Sambhuta Sanavasin sudah bervassa > dari 60 tahun, sementara Sonaka baru 40 tahun (Ia pertama kali bertemu Dasaka saat berusia 15 tahun). Jadi Sonaka TIDAK PERNAH bertemu Ananda dan SONAKA bukanlah Sambhuta.

    Karena 700 yang dipilih Revata di konsili ke-2 adalah Bhikkhu Arahat dan mereka menugaskan murid Sonaka yaitu Siggava dan Candavajji untuk kelak menerima dan mendidik Moggaliputta, Maka Sonaka jelas ikut terlibat dalam Konsili ke-2.

    Kemudian,
    Tradisi Selatan TIDAK MENYEBUTKAN adanya Upagupta di jaman Asoka atau lebih tepatnya TIDAK ADA Upagupta di Jaman Asoka [Buddhist Saints in India: A Study in Buddhist Values and Orientations, Reginald A. Ray, hal.119]. Oleh karenanya, TIDAK ADA PULA PERTEMUAN Upagupta dengan ASOKA dan TIDAK ADA PULA episode UPAGUPTA vs MARA.

    Asoka dan Konsili ke-3
    Mulai tahun ke-3 pemerintahan Asoka,
    Asoka menjadi Buddhis (berlindung pada Tiratana dan memohon sila) setelah bertemu dan mendengar dhamma dari samanera/Calon bhikkhu bernama Nigrodha (ponakannya, anak dari Sumana/Susima) [Mhv 5.72]. Sejak itu, setiap hari, Asoka berdana pada makin banyak Bhikkhu, hingga nantinya berjumlah puluhan ribu [Mhv 5.73], Ia bertemu Mogaliputta Tissa di VIhara dan menyatakan akan membangun 84.000 Vihara di kerajaannya [Mhv.5.78]

    Di tahun ke-4,
    Saudara tirinya (Tissa) dan mantunya (Agnibrahma) menjadi Bhikkhu. [Mhv 5.171]

    Di tahun ke-6,
    Pembangunan 84.000 Vihara dan Asokaarama, selesai dan pada hari ke-7 diadakan Festifal perayaan di seluruh tempat di mana Vihara-vihara itu dibangun. Di hari perayaan, namanya berubah dari Candasoka menjadi Dharmasoka [Mhv 5.176-189] juga 2 anaknya yaitu: Mahinda (20 tahun) menjadi Bhikkhu dan Sanghamitta (18 tahun) menjadi Bhikkhuni (mungkin setelah suaminya, Agnibrahma, menjadi Bhikkhu, Ia bersiap menjadi calon Bhikkhuni dengan melatih 6 sila selama 2 tahun, makanya di hari itu Ia bisa ditahbiskan). [Mhv 5.200-211; "Asoka", Mookerji Radhakumud, hal.110]. Ketika Mahinda ditahbiskan:

    (1) Moggaliputta Tissa sebagai Upajjhaya/gurunya,
    (2) Mahadeva sebagai penahbisnya dan
    (3) Majjhantika sebagai Kammavacanya (membacakan aturan-aturannya)

    Di tahun ke-8,
    Di satu waktu, di arama kerajaan, seorang Bhikkhu Arahat bernama Tissa kakinya digigit binatang beracun, Ia tidak ingin meminta obat ketika waktunya makan pagi, karenanya lukanye menjadi parah dan mengakibatkan kematian, Ia kemudian bersiap untuk Parinibbana dengan mengambil objek panas, tubuhnya melayang di udara, api keluar dari dalam tubuhnya membakar kulit dan dagingnya namun tidak tulangnya, Asoka mengetahui kejadian ini mengumpulkan relik tubuhnya untuk diberi penghormatan. dan kemudian memastikan tersedia juga cukup obat-obatan. Kemudian Adiknya yang juga Arahat (Sumitta) Parinibbananya bahkan dengan meditasi jalan. Karena ini, maka begitu banyaknya orang yang kemudian pindah doktrin keyakinan yang mengakibatnya sangat melimpahnya perolehan untuk Sangha [Mhv V.212-227]. Karena makin banyak yang pindah doktrin maka perolehan dan penghormatan yang diterima para petapa doktrin heresy menjadi jauh berkurang, Demi perolehan dan penghormatan, mereka berjubah kuning, menjadi bhikhhu penggelap, tinggal bersama para Bhikkhu di vihara-vihara seluruh negeri, menyampaikan doktrin-doktrin mereka sebagai ajaran Buddha dan mebawa tradisi mereka sebagaimana yang mereka inginkan [Mhv 5.228-230].

    Bhikkhu Moggaliputta Tisa, memperhatikan perkembangan ini, Ia kemudian menyerahkan kumpulan bhikkhu yang bersamanya kepada Mahinda, dan Ia menuju Ahoganga (area atas sungai Gangga, ini tidak sama dengan urumunda yang terletak di Mathura) menyepi 7 tahun lamanya. [Mhv 5.231-233]

    Karena begitu banyaknya para heresy dan kekisruhannya, para bhikkhu tak dapat mengendalikan mereka dengan aturan, akibatnya, para bikkhu seluruh negeri yang menjalankan vinaya tidak mau atau TIDAK DAPAT melakukan pemurnian diri (menyelanggarakan pembacaan Patimokha di hari Uposatha) bersama para biksu pencuri/penggelap ini.hal ini berlangsung 7 tahun lamanya. [Mhv 5.234]

      Note:
      Mengapa tidak bisa melakukan Uposatha bersama dengan para heresy?
      Karena saat Uposatha dibacakanlah Patimokha, jadi, jangankan sedang berada bersama para non bhikkhu ini, bahkan jika bersama kumpulan para bhikkhu yang di kumpulan itu ada bhikkhu yang tidak murni (melakukan pelanggaan) maka bhikkhu itu TIDAK BOLEH mendengarkan pembacaan Patimokha, karena di kumpulan itu banyak umat awam yang menyamar jadi bhikkhu, maka tidak bisa dilakukan pembacaan Patimokha. Berikut dari Cullavagga bab 9, tentang Penangguhan patimokha saat Uposatha:

      "Kemudian Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu sebagai berikut: “Sekarang, Aku, para bhikkhu, untuk seterusnya tidak akan melaksanakan Uposatha, Aku tidak akan membacakan Pātimokkha; sekarang kalian sendiri, para bhikkhu, yang harus melaksanakan Uposatha, harus membacakan Pātimokkha. Tidaklah mungkin, para bhikkhu, tidaklah selayaknya bahwa Sang Penemu-kebenaran harus melaksanakan Uposatha, harus membacakan Pāṭimokkha bersama dengan kelompok yang tidak sepenuhnya murni.

      Juga, para bhikkhu, Pātimokkha tidak boleh didengarkan oleh seseorang yang melakukan pelanggaran. Siapa pun yang mendengarkannya, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah, aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, untuk menangguhkan Pātimokkha bagi ia yang, setelah melakukan pelanggaran, mendengarkan Pātimokkha.

      Dan beginilah, para bhikkhu, penangguhan itu: Pada hari Uposatha, apakah tanggal empat belas atau lima belas, jika orang itu hadir maka hal ini harus diucapkan di tengah-tengah Saṅgha: ‘Yang Mulia, Mohon Saṅgha mendengarkan saya. orang itu melakukan pelanggaran; saya menangguhkan Pāṭimokkha baginya, Pātimokkha tidak boleh dibacakan jika ia hadir’ – (demikianlah) Pātimokkha ditangguhkan"

      Juga aturan mengenai alasan-alasan untuk menangguhkan pelaksanaan Uposatha lihat di Mahavagga, Khandhaka 2

      Theyyasaṃvāsako, bhikkhave, anupasampanno na upasampādetabbo, upasampanno nāsetabboti. Titthiyapakkantako, bhikkhave, anupasampanno na upasampādetabbo, upasampanno nāsetabbo (Para bhikkhu, Orang yang berada dipersekutuan dengan cara gelap tidak dengan penahbisan, tidak boleh ditahbiskan; jika ditahbiskan, ia harus dikeluarkan. Seorang yang pindah ke lain sekte tidak ditahbiskan, tidak boleh ditahbiskan; jika ditahbiskan, ia harus dikeluarkan) (Syarat ditahbiskan: Mahavagga, Theyyasaṃvāsakavatthu)
      mereka yang tanpa upajaya, grup sebagai upajaya, sangha sebagai upajaya, Theyyasamvasako sebagai upajaya dan Tittiyapkkhantako sebagai upajaya tidak boleh ditahbiskan, yang menahbiskan mereka melakukan pelanggaran perbuatan salah/dukkhata (Syarat Upasampada (tahbiskan): Mahavagga, Anupajjhāya-kādivatthu)
      Pacittiya no. 68/69: Tidak melakukan Uposatha Sanghakamma bersama: penggelap (theyya) atau mereka yang menyampaikan kotbah bertentangan dengan Dhamma Sang Buddha dan walaupun bhikkhu lain melarangnya berbuat demikian tetapi ia tetap tidak memperdulikannya

    Tahun ke-17,
    Ketika Raja Asoka tahu, beliau memerintahkan menterinya mendatangi para Bhikkhu agar melakukan pemurnian diri. Sang Menteri kemudian menemui Para Bhikkhu pemegang teguh vinaya menyampaikan pesan raja, namun mereka TETAP MENOLAK melakukan pemurnian diri bersama para bhikhu palsu. Jengkel dengan jawaban ini, Sang Menteri menghunus pedangnya dan memenggal kepala para Bhikkhu yang menolak beruposatha, satu demi satu, hingga kemudian Tissa, bergegas menghampirinya yang membuat Menteri ini tidak berani meneruskannya dan kembali pada raja memberikan laporan. Mengetahui ini, Asoka diliputi penyesalan dengan pikiran apakah dirinya ikut bertanggung jawab atau tidak atas hal ini [Mhv 5.235-244]

    Raja kemudian mengundang Moggaliputta Tissa untuk kembali dari gunung Ahoganga. Undangan raja 2x ditolaknya dan yang ke-3x, diterimanya, Ia menuju Pataliputra dengan perahu dan menetap 7 hari lamanya. Mogaliputta kemudian meminta Raja mengundang para bhikkhu di Asokarama Pataliputta dan duduk disebelah Moggaliputta Tisa, Pertanyaan diajukan Moggaliputta kepada mereka dan 60.000 yang teridentifikasi berpandangan salah, diusir raja dari kumpulan dan raja bertanya doktrin apa yang diajarkan Sang Buddha, Moggaliputta tissa mengatakan doktrin analisis dan logika. Setelah itu barulah Uposatha diselenggarakan.[Mhv 245-274]

      Note:
      Dalam kasus Devadatta dan kelompoknya, Sang Buddha TIDAK PERNAH menyatakan Devadatta dan kelompoknya TIDAK LAGI di persekutuan. Karena aturan itu, ditetapkan sang Buddha SETELAH KEMUNCULAN kasus Devadatta, oleh karenanya, seluruh bhikkhu yang ditahbiskan kelompok devadatta TETAP SAJA bhikku dan saat mereka kembali pada sangha pimpinan sang Buddha, mereka TIDAK PERLU ditahbisan ke-2 kalinya

      Pengujian pandangan akan menentukan jati diri mereka apakah mereka mengikuti tradisi yang disampaikan sang Buddha (konsili ke-1 dan 2) atau tidak, untuk itu ada 2 kategori kelompok umat awam yang menyamar sebagai bhikkhu di sangha saat itu, yaitu:

      • Garis tradisi leluhur Vajjiputtaka eks konsili ke-2 yang sejak konsili ke-2 tidak lagi tunduk pada aturan vinaya konsili ke-1 dan 2 sehingga mereka yang memisahkan diri ini dan turunan alirannya, BUKAN LAGI BHIKKHU sangha Sang Buddha, Walaupun mereka tetap berjubah dan/atau berjubah dengan penahbisan tradisi Vajjiputtaka grup dan kemudian apakah mereka tetap dengan pandangan dan tradisi kaumnya atau bahkan ikut tradisi dhamma sang buddha konsili ke-1 dan 2 NAMUN tidak ditahbihkan ulang, maka walaupun berjubah, bertindak seperti bhikkhu dan malah menggunakan aturan kebhikkhuan yang bahkan sama, mereka TETAP SAJA BUKAN bhikkhu

      • Yang berinisiatif sendiri untuk berjubah atau yang tidak ditahbiskan secara benar dengan aturan vinaya adalah bukan bhikkhu

      Kedua tipe di atas ini masuk kategori umat awam dan BUKAN BHIKKHU, oleh karenanya aturan vinaya untuk mengeluarkan mereka dari sangha tidak diperlukan. Mereka ini masuk kategori penipuan yang untung saja, mereka ini, tidak dipenjarakan Raja.

    Kemudian, Moggaliputtatissa, dari ribuan Bhikkhu yang telah dimurnikan ini, memilih 1000 Bhikkhu arahat untuk melakukan pertemuan. Inilah yang kemudian disebut sebagai KONSILI KE-3. Pertemuan ini diselenggarakan selama 9 bulan [Mhv 275-281] mengulang pembacaan Dhamma dan vinaya, membuat notulen konsili, menyusun ringkasan dhamma, analisis mendalam tentang berbagai topik dhamma, juga point-point kontroversi atas doktrin berbagai sekte dan sanggahannya sebanyak 7 bagian/kitab, yang disebut kitab Abhidhamma.

    Tahun ke-18/tahun ke-236 sejak parinibbananya sang Buddha,
    Moggaliputta Tisa, mengutus Mahinda (dan sanghamitta, beserta sejumlah bhikkhu dan bhikkhuni) untuk menyebarkan Buddhisme ke-Srilanka dan juga mengutus 8 lainnya (beserta sejumlah bhikkhu) ke beberapa negara sekitarnya [Mhv 12.1-8] yang diantaranya adalah Majjhantika yang diutus ke Gandhara dan Kashmir. Di Kashmir, Majjhantika menaklukan Naga dan menyebarkan Buddhism. Mathura terletak di Utara Kashmir.

      Note:
      Beberapa arti dan definisi dari Naga:

      • Nama suku yang tersebar di beberapa wilayah, missal: Kashmir, Assam, Sri Lanka, dll. (A Social History of India, S. N. Sadasivan, hal.327-329) atau kumpulan orang yang menyembah mahluk supranatural Naga ("RELIGION AND PHILOSOPHY", Dr. Sunil Chandra Ray)
      • orang yang memiliki kekuatan dan daya tahan luar biasa. Misal: Sang Buddha disebut: nāga karena kekuatan-Nya; singa (sīha) karena tanpa-ketakutan; berdarah murni (ājāniya) karena pemahaman-Nya akan apa yang telah Ia pelajari (byattaparicayaṭṭhena), atau karena Ia mengetahui apa yang benar dan apa yang salah; sapi pemimpin (nisabha) karena Ia tanpa tandingan; binatang pembawa beban (dhorayha) karena Ia membawa beban; jinak (danta) karena ia bebas dari perilaku menyimpang) [SN 1.38/Pecahan batu]. Para Bhikkhu arahat juga disebut Naga (SN 1.37)
      • Pemikiran dan tindakannya yang luar biasa (Udana 4.4 dan 4.5. SN 1.37, 38)
      • Karena UKURANNYA luar biasa (AN 6.43/Naga sutta)
      • Mahluk supranatural yang berbentuk kobra besar, kadang berkepalanya satu, kadang banyak. Beberapa berkemampuan berubah bentuk menjadi Manusia. [Mahavagga I.63].

    Majjhantika dan Upagupta
    Berkenaan mereka berdua, terdapat beberapa kesamaan yang ada antara tradisi Utara dan Selatan:

    • Majjhantika TIDAK DISEBUTKAN KEBERADAANYA di konsili ke-2.
    • Upagupta TIDAK DISEBUTKAN KEBERADAANNYA baik di Konsili ke-2 maupun di konsili ke-3
    • Kedua Tradisi sama-sama menyebutkan bahwa Majjhantika pergi ke Gandhara dan Kashmir, menaklukan Naga dan menyebarkan Buddhism di sana
    • Mathura terletak di Utara Kashmir

    Menurut Tradisi Selatan, di SEBELUM KONSILI ke-3, Aliran-aliran yang berpandangan salah, termasuk Sarvastivada, telah dibersihkan dan Kathavatthu memuat rincian pandangan ajaran aliran yang TELAH TERTOLAK ketika diuji melalui DHAMMA dan VINAYA dan bukan melalui voting, sehingga JIKA BENAR memang ada Upagupta dan JIKA BENAR Ia yang menciptakan aliran Sarvastivadin dan juga JIKA BENAR Ia adalah murid Majjhantika, maka benang merah yang MUNGKIN adalah ketika Majjhantika ke Kashmir dan karena Mathura ada di utara Kashmir, maka di situlah Upagupta menjadi murid Majjhantika, sehingga sangat mungkin bahwa legenda tentang Upagupta baru muncul di setelah berakhirnya konsili ke-3.

    Bukti keberadaan Moggaliputta Tissa
    Walaupun Moggaliputta Tissa TIDAK ADA di sebutkan dalam teks-teks tradisi Utara dan HANYA ADA di teks-teks tradisi selatan, namun NAMANYA dan kegiatannya ditemukan dalam penemuan arkeologi dari Inskripsi pada relik peti pada stupa no.2 di Sanchi dan Sonari tertulis: Sapurisasa Mogaliputasa (Orang suci Moggaliputta), juga untuk nama Majjhima, Kassapagotta dan Dundhubhisara (Yang dikirim ke Himalaya).
Sehingga diakhir konsili ke-3, yaitu ditahun ke-236 sejak parinibbananya sang Buddha, resmilah Buddhisme mempunyai Tipitaka/Tripitaka (3 keranjang), yaitu: Dhamma/sutta-sutta, Vinaya dan Abhidhamma.

Apakah Kitab Abhidhamma Sabda dari Sang Buddha?
Abhidhamma hanya terdapat di 2 aliran saja, yaitu: Theravāda (dalam bahasa Pali) dan Sarvāstivāda (Mahayana, hanya ada dalam bahasa Tionghoa, tidak ada dalam bahasa Prakrit dan Sanskrit). Walaupun sama-sama dikumpulkan menjadi 7 kitab namun penamaannya dan juga isinya berbeda. J. Takakusu menyatakan: “Membandingkan dua set Abhidhamma, sejauh yang bisa saya akses, saya tidak menemukan point apapun, baik dalam bentuk atau materi yang bisa membawa kita untuk berpikir bahwa keduanya sama..” ("The Abhidharma Literature, Pāli and Chinese", J. Takakusu, hal.160-162).

Kitab komentar menyatakan: Sang Buddha, di tahun ke-7 ke-Buddha-an, pergi ke Tavamtisa mengajarkan Abhidhamma kepada IbuNya (Nama devanya: Santusita, namun di Thag.vss.533f, ThagA.i.502, nama devanya: Māyādevaputta). Saat pembabaran itu, IbundaNya mencapai sotāpanna [Kitab komentar untuk: Jataka no.483 dan Dhammapada no. 181].

Kejadian ke Tavamtisa diawali peristiwa pertunjukan kesaktian dihadapan umat awam yang dilakukan YM Pindola Bhâradvadja pada hari ke-7, setelah 6 hari lamanya, 6 guru terkemuka [Purana Kassapa, Makkhali Gosala, Ajita Kesakambali, Pakudha Kaccayana, Sanjaya Belatthiputta, Nigantha-Nataputta] gagal memberi bukti kepada seorang pedagang kaya Rajagaha yang tidak percaya arahat sejati ada karena dibingungkan begitu banyaknya yang mengaku sebagai Arahat, untuk itu, Ia membuat mangkuk dari cendana dan menggantungkannya di atas rangkaian bambu setinggi 60 lengan dan mengumumkan, "Arahanta sejati boleh mengambil mangkuk ini dengan cara terbang ke angkasa".

Kejadian YM Pindola menghebohkan penduduk Rajagaha sehingga mereka mengekoriNya. Kegaduhan ini diketahui sang Buddha. YM Ananda menerangkan sebab terjadinya kegaduhan dan Sang Buddha menetapkan larangan, "Para bhikkhu…seorang bhikkhu tidak memperlihatkan kesaktiannya di hadapan umat awam; dan ini adalah pelanggaran, 'Dukkata âpatti'/Pelanggaran minor".

Pertunjukan kesaktian dari YM Pindola Bharadvaja, tercantum dalam vinaya: [Theravada Pali V.5.8; Dharmaguptaka ch 51 1916: 235-238 (96-99); Mahīśāsaka ch 26 1916: 238-243 (99-103); Sarvâstivāda ch 37 1916: 243-246 (103-105); Mūla,sarvâstivāda Divy 256.25-257.21], Kitab komentar: [AA 1:196-199; SA 393; DhA 14.2.2/3:199-201; ThaA 2:4-6; UA 252; J 4:263; SnA 570; ApA 197. S] dan hanya kitab komentar yang mencantumkan tahun kejadiannya, yaitu di tahun ke-6 masa Vassa .

Larangan tersebut menggembirakan para pengikut 6 Guru lainnya. Raja Bimbisara bertanya pada sang Buddha tentang pelarangan itu dan sang Buddha menyampaikan bahwa 4 bulan kemudian di Savatthi, beliau akan mempertunjukan keajaiban. [RAPB buku ke-1, hal 1187]. Jarak Rajagaha – Savatthi = 45 Yojana (504 km s.d 648 km).

Kemudian di Savatthi,
Beberapa dari sangha Bhikkhu dan bikkhuni, diantaranya Samaneri Cirra yang berumur 7 tahun dan Bhikkhuni Uppavalavanna memohon ijin untuk menggantikan beliau menunjukan kesaktian, namun tidak diperkenankan. Sang Buddha kemudian mempertunjukan kesaktiannya dan setelah itu ke alam Tavatimsa. Salah satu dari 6 guru, yaitu Purana Kassapa, bunuh diri terjun ke sungai karena malu akan kegagalannya di Rajagaha.

Apa yang dapat kita gali dari informasi di atas?
Di atas disampaikan bahwa YM Ananda memberitahukan kehebohan yang terjadi di Rajagaha kepada Sang Buddha. Sutta menginformasikan bahwa YM Ananda menjadi Buddhopaṭṭhāka (pembantu tetap Sang Buddha) justru mulai di tahun ke-20: "Paṇṇavīsati-vassāni (Selama 25 tahun); bhagavantaṃ upaṭṭhahiṃ (menjadi pendamping Sang Bhagava); Mettena kāya.. vacī.. manokammena (dengan cinta kasih melalui perbuatan, perkataan dan pikiran), chāyāva anapāyinī (bagai bayangan yang tak lepas)" [Thag 17.3/Ananda]. Jadi seharusnya terjadi di atas tahun ke-20.

Di atas ada Samaneri dan Bhikkhuni. Ini seharusnya terjadi di atas tahun ke-20.

Sutta Di DN2/Sāmaññaphala Sutta:
Raja Ajjatasattu pernah berkonsultasi dan kemudian disarankan juga untuk berkonsultasi lagi dengan 6 guru terkemuka, yang salah satunya adalah Purana Kassapa.

Raja Bimbisara wafat ketika Sang Buddha berusia 72 tahun (Sang Buddha wafat di tahun ke-8 masa pemerintahan Ajjatasattu). Dalam waktu 4 bulan, setelah pertunjukan Pindola Bhavadraja, Raja Magadha telah berganti dari Bimbisara menjadi Ajjatasattu. Ketika Purana Kassapa bunuh diri ini terjadi beberapa bulan setelah Ajjatasattu menjadi Raja

Oleh karenanya, perjalanan ke Tavatimsa, yang konon untuk urusan mengajar Abhidhamma, seharusnya terjadi di tahun ke-37

Sementara itu,
hasil konsili ke-1 dan ke-2, sama sekali tidak memuat adanya Abhidhamma sebagai ajaran yang khusus terpisah (atau kelak sebagai 7 kitab yang menjadi 1/3 tipitaka) dan 7 kitab Abhidhamma baru ada di tahun ke-3 SM, setelah konsili ke-3.

Mereka yang Pro: bahwa "Abhidhamma merupakan sabda sang Buddha", memberikan bukti, misal [Juga ini atau ini]:
  1. Vinaya Pitaka, Mahâvibhanga, Dabbamalaputta Thera-vatthu, "...YE TE BHIKKHÛ ABHIDHAMMIKÂ TESAM EKAJJHAM SENÂSANAM PAÑÑÂPETI TE AÑÑAMAÑÑAM ABHIDHAMMAM SÂKACCHISANTÎTI..." -> Kalimat yang mengandung kata “Abhi” TIDAK ADA di mahavibhanga, namun ada kalimat yang MIRIP dengan itu, yaitu di Mahavibhanga dan cullavagga: "Ye te bhikkhū dhammakathikā tesaṃ ekajjhaṃ senāsanaṃ paññapeti – te aññamaññaṃ dhammaṃ sākacchissantīti" (Para bhikkhu ahli dhamma tergabungkan dalam satu kelompok mengatur tempat duduk dengan berpikir agar mereka dapat saling berbincang dhamma). Tampak jelas BUKAN "abhidhammika dan abhidhamma" namun "Dhammakathika dan dhamma"

  2. "..abhisamācārikāya sikkhāya sikkhāpetuṃ ādibrahmacariyikāya sikkhāya vinetuṃ abhidhamme vinetuṃ abhivinaye vinetuṃ.." (..membimbing latihan bentukan prilaku yang lebih dalam mendisiplinkan dengan latihan awal bentukan kehidupan suci mendisiplinkan dengan dhamma yang lebih dalam mendisiplinkan dengan disiplin yang lebih dalam) [Vinaya: Mahavagga Bodhikatha: Upasampādetabbapañcaka dan juga Parivara pali, bab 17:Upalipancaka]. Jika kata abhisamācārikāya dan abhivinaya di sini bukan sebagai ajaran/kitab tersendiri, maka begitu pula dengan abhidhamma.

  3. Vinaya Pitaka, Bhikkhuni Vibhanga, yaitu pada paragraph YANG BUKAN ucapan sang Buddha namun pada bagian bawah, yaitu bagian kalimat komentar kata-perkatanya atau penjelasan lanjutan kata-perkatanya:

    "Pañhaṃ puccheyyāti suttante okāsaṃ kārāpetvā vinayaṃ vā abhidhammaṃ vā pucchati, āpatti pācittiyassa. Vinaye okāsaṃ kārāpetvā suttantaṃ vā abhidhammaṃ vā pucchati, āpatti pācittiyassa. Abhidhamme okāsaṃ kārāpetvā suttantaṃ vā vinayaṃ vā pucchati, āpatti pācittiyassa" (Bertanya tentang Sutta tetapi malah berbalik bertanya Vinaya atau Abhidhamma; melanggar Pâcittiya. Bertanya tentang Vinaya tetapi malah berbalik bertanya Sutta atau Abhidhamma; melanggar Pâcittiya. Bertanya tentang Abhidhamma tetapi malah berbalik bertanya Sutta atau Vinaya; melangar Pâcittiya) [Pacittiya no.95]

    "Sabbasattuttamo sīho, piṭake tīṇi desayi; Suttantamabhidhammañca, vinayañca mahāguṇaṃ" (Yang terbaik dari segala mahluk, sang Singa, mengajarkan 3 pitaka: Suttanta, Abhidhamma, dan Vinaya—yang sangat berguna). [Vinaya: Parivara Pali, Samuṭṭhānasīsasaṅkhepa (ringkasan), bab ke-3]

    Thanissaro Bhikkhu:
    “Catatan Horner di Book of Disipline, kalimat komentar dalam aturan ini adalah 1 dari sedikit tempat di vinaya yang tampaknya merujuk pada abhidhamma sebagai sebuah teks (kitab) - ini mengindikasikan bahwa entah aturan atau kalimat komentarnya yang merupakan formulasi belakangan”.

    Tampaknya Horner benar, karena Parivara Vinaya, buku paling akhir yang muncul dalam Vinaya, sebagai penjelasan Vinaya, menyampaikan: MAHINDA (Murid Moggaliputta Tissa, pemimpin Konsili ke-3, abad ke-3 SM) dan beberapa bhikkhu lainnya (Iṭṭiya, Sambala, Bhaddanāma) pergi dari India menuju Srilanka mengajarkan: Vinaya, 5 nikaya dan “satta ceva pakaraṇe (7 kitab)”. Beberapa paragraph lanjutannya berisi tradisi urutan pengajar di Srilanka s.d Khema Thera yang mengajarkan tipetako/tipitaka (tiga keranjang). Kemudian pada bab ke-3nya (Samuṭṭhānasīsasaṅkhepa/ringkasan), kata satta ceva pakaraṇe (7 kitab) yang muncul di bab awal berubah menjadi kata “Abhidhamma”. Inilah Tipitaka yaitu setelah adanya tambahan 7 kitab Abhidhamma

  4. "Tena kho pana samayena sambahulā therā bhikkhū pacchābhattaṃ piṇḍapātapaṭikkantā maṇḍalamāḷe sannisinnā sannipatitā abhidhammakathaṃ kathenti. Tatra sudaṃ āyasmā citto hatthisāriputto therānaṃ bhikkhūnaṃ abhidhammakathaṃ kathentānaṃ antarantarā kathaṃ opāteti" (Pada saat itu, setelah makan dana makanan, sejumlah bhikkhu senior berkumpul duduk bersama di paviliun terlibat diskusi lebih dalam tentang Dhamma. Selagi para bhikkhu senior berdiskusi lebih dalam tentang Dhamma, YM Citta Hatthisāriputta berulang-ulang menyela pembicaraan mereka) [AN 6.60/Hatthisāriputta]. Maksud sutta ini BUKANLAH sedang mendiskusikan suatu ajaran khusus yang disebut dengan nama abhidhamma, namun mendiskusikan lebih dalam tentang Dhamma.

    Sample lain klaim:
    "..Idamassa javasmiṃ vadāmi. Abhidhamme kho pana abhivinaye pañhaṃ puṭṭho.." (..Ini, Aku katakan, adalah kecepatannya. Tetapi ketika ditanyai pertanyaan Dhamma yang lebih dalam dan disiplin yang lebih dalam..) [AN 3.141-142, AN 9.22]. Maksud sutta ini BUKANLAH bertanya tentang suatu ajaran khusus yang disebut abhidhamma dan abhivinaya, namun tentang pertanyaan yang lebih mendalam lagi mengenai dhamma dan vinaya.

    "..Puna caparaṃ, bhikkhave, bhikkhu dhammakāmo hoti piyasamudāhāro, abhidhamme abhivinaye uḷārapāmojjo.." (..Kemudian, Para Bhikkhu, seorang bhikkhu pencinta Dhamma dengan kata-taka yang menyenangkan sangat bergembira dengan dhamma yang lebih dalam dan disiplin yang lebih dalam..) [AN 10.17, 18, 50, 98; AN 11.14; DN 33, 34]. Maksud sutta ini BUKANLAH menggemari suatu ajaran khusus yang disebut abhidhamma dan abhivinaya, namun menggemari dhamma dan vinaya yang lebih mendalam lagi

    "Āraññikenāvuso, bhikkhunā abhidhamme abhivinaye yogo karaṇīyo. Santāvuso, āraññikaṃ bhikkhuṃ abhidhamme abhivinaye pañhaṃ pucchitāro. Sace, āvuso, āraññiko bhikkhu abhidhamme abhivinaye pañhaṃ puṭṭho na sampāyati, tassa bhavanti vattāro. ‘Kiṃ panimassāyasmato āraññikassa ekassāraññe serivihārena yo ayamāyasmā abhidhamme abhivinaye pañhaṃ puṭṭho na sampāyatī’ti—tassa bhavanti vattāro. Tasmā āraññikena bhikkhunā abhidhamme abhivinaye yogo karaṇīyo" (Seorang bhikkhu penghuni hutan harus menekuni Dhamma yang lebih dalam dan Disiplin yang lebih dalam. Ada di antara mereka yang mengajukan pertanyaan kepada bhikkhu penghuni hutan tentang Dhamma yang lebih dalam dan Disiplin yang lebih dalam. Jika, ketika ditanya demikian, ia tidak mampu menjawab, maka akan ada di antara mereka yang mengatakan tentangnya: ‘Apakah yang telah diperoleh Yang Mulia penghuni hutan ini dengan menetap sendirian di dalam hutan, melakukan apa yang ia sukai, karena ketika ditanya tentang Dhamma yang lebih dalam dan Disiplin yang lebih dalam ia tidak mampu menjawab?’ Karena akan ada di antara mereka yang mengatakan hal ini tentangnya, maka seorang bhikkhu penghuni hutan harus menekuni Dhamma yang lebih dalam dan Disiplin yang lebih dalam) [MN 69/Gullisani Sutta].

    Jika sutta-sutta di atas ini dianggap sebagai bukti adanya ajaran yang khusus diturunkan dengan nama abhidhamma, tentunya harus juga ada ajaran yang khusus diturunkan dengan nama abhivinaya, bukan?. Faktanya, tidak ada ajaran yang khusus diturunkan dengan nama abhivinaya, konsekuensinya, juga tidak ada ajaran yang khusus diturunkan dengan nama abhidhamma.

    Abhidhamma seperti apa yang sang Buddha maksudkan?
    ”…hal-hal ini yang telah Kuajarkan kepada kalian setelah mengetahuinya secara langsung, yaitu:

    • 4 landasan perhatian
    • 4 jenis usaha benar
    • 4 landasan kekuatan mental
    • 5 indria
    • 5 kekuatan
    • 7 faktor pencerahan
    • 8 jalan Mulia [Total sejumlah 37 item ini juga tercantum di DN 16/Mahaparinibanna sutta sebagai 37 hal sisi pencerahan/Sattatiṁsā Bodhipakkhiya dhammā]

    dalam hal-hal ini kalian semuanya harus berlatih dalam kerukunan, dengan saling menghargai, tanpa perselisihan. Tesañca vo, bhikkhave, samaggānaṃ sammodamānānaṃ avivadamānānaṃ sikkhataṃ siyaṃsu dve bhikkhū abhidhamme nānāvādā... (Sewaktu kalian berlatih dalam kerukunan, dengan saling menghargai, tanpa perselisihan, dua bhikkhu mungkin membuat pernyataan berbeda sehubungan dengan Dhamma yang lebih dalam…)” [MN 103/Kinti Sutta]

    Jadi, Abhidhamma yang asli, yang merupakan ajaran sang Buddha ternyata adalah 37 hal sisi pencerahan/Sattatiṁsā Bodhipakkhiya dhammā!

  5. "Kusalāhaṃ visuddhīsu, kathāvatthuvisāradā; Abhidhamma-nayaññū ca, vasippattāmhi sāsane" (Aku menguasai baik, kemahiran kathavatthu, metoda Abhidhamma, di sasana ini) [KN, Thi Apadana 18/Khemātherīapadāna]. J.S Walters dan B.M Barua: “..Apadana dibuat SETELAH jaman raja Asoka”. A.K Warder: “..Apadana dibuat paling awal pada abad ke-1 SM” ["Journal pali text society", Vol.20, hal.32]
Meminjam logika cara berpikir yang sama, apakah karena kata “asoka” muncul di sutta dan vinaya, maka raja Asoka telah ada di jaman Buddha? atau disebut keberadaannya oleh Sang Buddha? Tentu tidak, bukan?

Bantahan mereka yang kontra, misalnya dari I.B Horner: Kata "ABHIDHAMMA" muncul tidak lebih dari 10x, [3x di vinaya pitaka], Frase tersebut dimaksudkan dalam konteks materi dan cara, dan BUKAN dalam konteks kumpulan kitab, misalnya di vinaya terdapat kata sutta, gatha (syair) dan abhidhamma sekaligus:
    [Berkenaan dengan bhikkhu yang melakukan pelanggaran karena meremehkan pembelajaran vinaya:] "Anāpatti—na vivaṇṇetukāmo, ‘iṅgha tvaṃ suttantegāthāyoabhidhammaṃ vā pariyāpuṇassu, pacchā vinayaṃ pariyāpuṇissasī..’" (Bukanlah pelanggaran, jika, tidak dimaksudkan untuk merendahkan, dia berkata, ‘dengar, apakah Anda mahir sutta, syair (Gatha) atau dhamma yang lebih dalam dan setelahnya mahir disiplin..’) [vinaya, Vol. III p.42 atau Mahavagga, Pacittiyakanda, sahadhammikavagga untuk Pacittiya no.72]".
Keberadaan kata syair (gatha) di situ, merupakan bukti yang lebih dari cukup untuk menunjukan bahwa "abhidhamma" BUKANLAH ajaran yang terpisah sendiri, karena "gatha" tidak berarti gatha Pitaka maka "abhidhamma" tidaklah berarti Abhidhamma Pitaka.

Klaim bahwa Abhiddhama diturunkan via YM Sariputta
YM Sariputta disebut sang Buddha sebagai “Yang terunggul dalam intuisi kebijaksanaan”, di beberapa sutta, kita temukan beberapa diskusi logika analisis, misal di Mahaghosinga sutta [YM Moggalana dan YM Sariputta] juga Mahavedalla sutta [YM Kotthita dan YM Sariputta] mereka berdiskusi lebih dalam lagi tentang Dhamma. Pembicaraan Dhamma yang dalam lagi ini adalah bagian dari Dhamma itu sendiri.
    YM Sariputta:
    2 minggu setelah ditahbiskan, Aku memahami analisa: [atthapaṭisambhidā/pengertian secara luas dan mendalam; dhammapaṭisambhidā/hubungan kondisi dan sebab; niruttipaṭisambhidā/Tata bahasa asal usul interpretasi pengucapan dialek dan ekspresi; paṭibhānapaṭisambhidā/Penerangan, intelektual dan kefasihan penyampaian] dan dengan rincian ciri dan kekhasannya (sacchikatā odhiso byañjanaso) Itu saya nyatakan, terangkan, perlihatkan dan tunjukan dalam dalam berbagai cara (AN 4.173/Vibhatti sutta).
Pengakuan YM Sariputta ini adalah tentang apa yang dicapainya, tidak pernah disebutkan di manapun dalam sutta dan vinaya bahwa beliau mendapatkan suatu ajaran khusus yang disebut dengan nama Abhiddhama. Hanya kitab-kitab komentar buatan abad-abad belakanganlah yang memuat perluasan imaginasi bahwa Abhidhamma diturunkan via Sariputta yang dikaitkan dengan perjalanan fiksi sang Buddha ke Tavatimsa untuk mengajar Abhiddhama kepada IbuNya. Klaim kitab-kitab komentar ini, seharusnya mengundang beberapa pertanyaan lanjutan, misalnya
  • Mengapa IbuNya tidak ke alam manussa saja untuk mendapatkan pengajaran, karena toh, sutta dan vinaya juga menyampaikan bahwa para devapun kerap berkunjung ke alam manussa untuk mendengarkan dhamma Sang Buddha dan para Arahat lainnya?
  • Mengapa selama 3 bulan (90 hari) musim vassa alam manussa yang setara dengan 3.6 detik di Tavatimsa itu, Sang Buddha perlu turun (atau membuat proyeksi image-Nya) ke alam manussa untuk berpindapatta setiap harinya? Mengapa sang Buddha tidak kuat untuk tidak makan untuk sekedar hanya 3.6 detik saja? Atau mengapa para deva menjadi begitu pelitnya tidak menyuguhkan sesuatu jika memang waktunya pindapatta? Atau tidakkah nimittabuddha/bentukan Buddha palsu (untuk mengajar) membuat sang Buddha menjadi pelanggar sila ke-4, karena diriNya tidak menyampaikannya sendiri? Bagaimana mungkin kitab komentar (Dhammapada: Buddha vagga dan Abhidhamma: Ganthārambhakathā) sudah mengatakan ada 7 kitab (sattapakaraṇika, sattappakaraṇa = 7 kitab) Abhidhamma yang diajarkan Sang Buddha (dan Sariputta) padahal Kathāvatthu (salah satu dari 7 kitab) sendiri baru muncul di abad ke-3 SM, pasca perpecahan aliran?
[Lihat juga: "Abhidhamma Abhivinaya in the first two of the Pāli Canon", I.B. Horner, The Indian Historical Quarterly, Vol.17:3, Sep.1941 dan "What did the Buddha mean by the word 'abhidhamma'?", Bhikkhu Varado] [↑]

Mengenai Khuddaka Nikaya/KN,
Oliver Abeynayake menyatakan ini terbagi dalam dua strata:
  • (1) Sutta Nipata, (2) Itivuttaka, (3) Dhammapada, (4-5) Therigatha dan Theragatha, (6) Udana dan (7) Jataka -> pada strata awal
  • (8) Khuddakapatha, (9) Vimanavatthu, (10) Petavatthu, (11) Niddesa, (12) Patisambhida, (13) Apadana, (14) Buddhavamsa dan (15) Cariyapitaka -> pada strata belakangan ["A textual and Historical Analysis of the Khuddaka Nikaya", Oliver Abeynayake Ph.D,1984, hal.113]
Menurut J.S Walters dan B.M Barua: Cariyapitaka, Buddhavamsa dan Apadana dibuat SETELAH jaman raja asoka. Sementara A.K Warder: Patisambhidamagga dan Buddhavamsa dibuat paling awal pada akhir abad ke-2 SM dan Apadana dibuat paling awal pada abad ke-1 SM ["Journal pali text society", Vol.20, hal.32]. Menurut K.R Norman: Di Buddhavamsa 24.6 disebutkan Buddha Konagamana menyampaikan kotbah 7 buah kitab dan kitab komentar Buddhavamsa menyatakan 7 kitab yang dimaksudkan adalah kitab Abhidhamma, sehingga Buddhavamsa dibuat setelah konsili ke-3. ["A History of Indian Literature", K.R Norman, 1983, hal.97]. APADANA yang merupakan "komentar" Thera/Therigatha memuat 2 syair yang menyebutkan tentang kitab Kathavatthu Abhidhamma:
  • "Saṃkhittenapi desemi, vitthārena tathevahaṃ; Abhidhammanayaññūhaṃ, kathāvatthuvisuddhiyā; Sabbesaṃ viññāpetvāna, viharāmi anāsavo" (Belajar detail metoda Abhidhamma, menguasai kathavatthu, memahaminya semua, Aku bebas dari kebingungan) (Tha Apadana 7/Puṇ-ṇamantāṇiputtattheraapadāna) dan
  • "Kusalāhaṃ visuddhīsu, kathāvatthuvisāradā; Abhidhamma-nayaññū ca, vasippattāmhi sāsane" (Aku menguasai baik, kemahiran kathavatthu, metoda Abhidhamma, di sasana ini) (Thi Apadana 18/Khemātherīapadāna)
Paul William: Bechert menyatakan Buddhaapadāna baru dibuat pada abad ke-1 atau awal abad ke-2 M ["Mahayana Buddhism: The Doctrinal Foundations"]. K.R Norman: Bechert menyatakan Buddhaapadāna TIDAK ADA di versi ke-1 kitab Apadana dan baru muncul pada abad ke-1 atau ke-2 M bersamaan dengan sukhavativyuhanya kaum Mahayana. ["Journal pali text society" vol.20, hal.31]. Jadi Apadana baru ada jauh abad setelah konsili ke-3 dan terkena pengaruh Mahayana. Petavathu dan Vimanavathu, juga dibuat SETELAH abad 3 SM, sample:
    Rājā piṅgalako nāma,
    Suraṭṭhānaṃ adhipati ahu;
    Moriyānaṃ upaṭṭhānaṃ gantvā,
    Suraṭṭhaṃ punarāgamā. [Petavathu 4.3.1]
T. W. Rhys (Thomas William Rhys) Davids dalam "Dialogues of the Buddha" di bagian pembuka mengatakan: "[..]tentang raja Pingalaka. DHAMMAPALA (abad ke-6 M)....raja ini..hidup 200 tahun setelah Sang Buddha. Oleh karenanya, syair ini, juga cerita PETA VATTHU dan VIMANA VATTHU, selambat-lambatnya ada setelah Pingalaka. Dan tak ada alasan untuk percaya tahun komentator, meskipun jelas hanya angka bulat, sangat jauh salah. Buku-buku ini jelas, dari isinya, komposisinya adalah lebih belakangan dari semua 5 Nikaya. Kemudian, di hal 30-31, Mr Rhys sampaikan bahwa raja itu ada di 300 SM.
    Ahaṃ bhadante petomhi,
    duggato yamalokiko;
    Pāpakammaṃ karitvāna,
    petalokaṃ ito gato. [Petavatthu 4.8]
Sang Buddha di sutta-sutta awal tidak pernah menyatakan Alam Yama sebagai alam menderita [Lihat: MN.129/Balapandita-sutta, syair no.2 - 7 dan syair no.8 -17; MN 130/Devaduta-sutta, syair no.8 - 10 dan syair no.10 - 27]

Konsili ke-4,
Buddhisme di India mengalami kemerosotan tajam pasca runtuhnya dinasti Maurya oleh Pusyamitra (185-149 SM), pendiri dinasti Shunga (185 -75 SM):
  • Perpecahan di internal Buddhisme dan pengubahan kotbah ke dalam sanskrit (sebuah bahasa bagi kalangan eksklusif) menyumbang makin banyaknya doktrin membingungkan bagi pemeluknya, misalnya di Manjushri Mula Kalpa dan juga sejarahwan Taranatha dalam Rgya- gar-chhos-hbyung (Sejarah agama di India), tahun 1608, bab 10 yang menyatakan bahwa Panini, teman raja Nanda, mencapai Sravakabodhi dan ramalan Manjusri Mula Tantra bahwa Panini adalah Avalokitesvara [juga lihat: "Buddhist sects in India, Dutt, hal.7]

  • Kita mungkin bisa abaikan narasi Divyavadana dan Asokhavadana tentang kekejaman Pusyamitra terhadap Buddhism (yang juga dikutip sejarahwan Taranatha dan yang tercantum dalam Śāripūtraparipṛcchā sutra) yang beberapa pakar juga skeptis mengenai hal itu. Namun, penekanan panjang dinasti Buddhist Maurya terhadap Brahmanisme dan bagaimana Raja mendapatkan tahtanya, memberikan cukup alasan bagi raja untuk menekan bangkitnya dinasti sebelumnya. Sebagai reaksinya, para pendukung Buddhism menjadi lebih condong pada raja yang pro-Buddhis, misalnya pada Raja Bactria/Yunani Menander I/Milanda (165/155-130 SM), pemeluk Buddhism, yang menguasai India Utara. Awalnya memang tidak dengan kekerasan namun karena menjadi ancaman territorial, tindakan represif pada basis yang tidak pro kerajaan adalah wajar terjadi

    Arah politik raja berikut dari dinasti ini, tampaknya berubah, dengan mencoba meraih simpati melalui perbaikan beberapa situs Buddhis yang telah dirusak sebelumnya. [Juga lihat: "DECLINE AND FALL OF BUDDHISM, (A tragedy in Ancient India), Ch.2].
Di Srilanka,
ketika Vattagamani, baru 5 bulan menjadi raja, terjadilah 3 peristiwa yang membuatnya kehilangan tahta dan tinggal dalam pengungsian, yaitu pemberontakan Brahmana Tissa (Beminitiye), Pendudukan oleh 7 kelompok suku Tamil [Mhv 33.37-61] dan terjadinya bencana kelaparan besar selama 12 tahun. Setelah 14 tahun dan 7 bulan kemudian, Vattagamini berhasil bertahta kembali.
    Note:
    Ini terjadi di tahun ke-217, bulan ke-5 hari ke-10 setelah berdirinya Vihara Mahavira [Mhv 33.80-81] atau setelah tahun ke-453 dari Parinibananya sang Buddha (tahun ke-236 setelah parinibbananya sang Buddha, Mahinda sampai di Srilanka + 217 tahun) atau ± setelah tahun ke-476 dari ditahbiskannya Mahapajapati Gotami menjadi Bhikkhuni pertama (Tahun ke-453 + 23 tahun sebelum parinibanna sang Buddha) atau ± tahun 33 SM (Asoka wafat ± tahun 232 SM + 18 tahun (37 tahun masa pemerintahannya - tahun ke-19 Mahinda ke Srilanka) - 217 tahun)
Setelah berkuasa, Ia menghancurkan kuil Jainism dan mendirikan Vihara Abhayagiri[Mhv 33.80-82]. Di jaman Vattagamani, terdapat 3 bhikkhu berbeda yang bernama Mahatissa:
  • Mahatisa dari KupikkalaVihara, yang menolong raja dengan memberi makanan, saat mengungsi dan meminta pembantunya, umat awam bernama Tanasiva, untuk memberikan memberikan tempat tinggal dan makanan kepada Raja, namun kemudian raja membunuh Tanasiva yang membuat menterinya berniat meninggalkannya, Mahatissa ini membujuk mereka agar tetap bersama raja. Setelah AbhayagiriVihara selesai dibangun, Raja kemudian memberikan Vihara itu kepadanya [Mhv 33.50-51, 82]

  • Mahatissa dari KambugalakkaVihara, yang mencegah pemberontakan 7 menteri Vattagamani yang tidak suka kekejaman raja membunuh menteri Kapilsla yang sedang duduk setelah mengelap vihara dan tidak menjatuhkan diri ketika bertemu Raja. Ia memperbaiki hubungan mereka [Mhv 33.68-77]

  • Mahatissa dari Mahavihara yang melakukan hubungan yang tidak sepatutnya dengan umat awam (perempuan)/kulasamsattha, Ia kemudian dikeluarkan dari sangha (pabbājaniyakamma). Muridnya, Bahalamassu Tissa (Tissa si Janggut lebat), berkeberatan dengan temuan dan putusan ini dan berpihak pada gurunya dan menyebabkan Ia dikenakan ukkepaniya karena berpihak pada ketidakmurnian. Mereka, bersama dengan sekumpulan bhikkhu, memisahkan diri dari Mahavihara dan pergi ke Abhayagirivihara [Mhv 33.95-97]
Awalnya, Abhayagiri masih menjalankan aturan vinaya yang sama dengan sangha Theravada di Mahavira, namun setelah para petapa Dhammaruci (aliran Mahayana) dari Pallarārāma, India Selatan, yang mengikuti tradisi Vajjiputtaka (ex konsili ke-2) datang menetap di Abhayagiri. Bahalamassu Tissa kemudian menyebut dirinya sebagai Dhammaruci [Lihat: inkripsi Kalyani, Dhammaceti, Burma tahun 1476 M]

Inilah perpecahan pertama Buddhisme di Srilanka dan ini adalah seperti sabda Buddha tentang 20 landasan perpecahan sangha dan 4 MOTIF KEUNTUNGAN yang penyebabnya SELALU seorang bhikkhu, yang berasal dari komunitas yang sama, menetap di tempat yang sama

Penulisan TIPITAKA
Perang dan bencana kelaparan, membuat Tipitaka yang sejak jaman Mahinda diturunkan dengan cara dihafal/Mukhapathena, terancam punah akibat ribuan Bhikkhu wafat kelaparan atau mengungsi ke kawasan Malaya dan ke India. Dikatakan pula bahwa Mahāniddesa hanya dikenal oleh satu bhikkhu dan itupun oleh yang tidak bermoral. Setelah menemukan tempat yang jauh dari jangkauan raja Vattagamani, yang pro sekte Dhammaruci, maka sekitar 500 bhikkhu di bawah pimpinan Rakkhita Mahathera yang berpikiran, "Di masa depan, makhluk-mahluk yang lemah perhatian, kebijaksanaan dan konsentrasi, tidak akan dapat mengingat (teks kanonik) secara lisan" [lihat: "Sacred books of the Buddhists", Vol. 17, H. Frowde, Oxford University Press, 1952, hal.26 atau "The history of Buddha's religion" (sasanavamsa), Bimala Churn Law, Sri Satguru Publications, 1986, hal.26], menuliskan 3 Pitaka dan kitab komentar di atas daun Palem.

Pertemuan ini bertempat dan di bawah perlidungan kepala desa Alulena, Mawanella (± 61 km dari Aluvihara, Matale atau ± 140 km dari Anuradhapura) [lihat juga di Mhv 33.100-103. Dipv 20.19-21]

Sidang Agung ke-5 [1871 M] dan ke-6 [1954 M] terjadi jauh setelah 500 tahun sejak ditahbiskannya Bhikkhuni pertama
    Note:
    Tradisi Utara juga mempunyai konsili ke-4 yang diselenggarakan oleh aliran Sarvāstivāda pada jaman dinasti Khushan, Raja Kanishkha, 127 M - 151 M, Kashmir. Dikatakan 500 bhikkhu pimpinan Vasumitra berkumpul menuliskan kitab-kitab mereka termasuk 7 kitab Abhidhamma versi mereka ke bahasa sanskrit. Konsili ini tidak pernah ada di literatur Theravada.

    Selain Vasumitra di atas ini, terdapat juga 3 Vasumitra lain, yaitu:

    Vasumitra dari aliran Sautrantika school,
    Vasumitra yang muncul 1000 tahun setelah parinibbananya sang Buddha dan
    Vasumitra dari aliran Sarvastivada, yang mana Hiuen Tsang belajar doktrin Sarvastivada [“Buddhist Sects in India”, Dutt, Introduction] [(↑)]
Mau traktir Wirajhana, kopi? Kirim ke: Bank Mandiri, no. 116 000 1111 591


2 comments: