Minggu, 16 Maret 2008

"Seven Sleepers" tertidur 309 Tahun?


Dongeng tentang mereka yang tertidur tahunan lamanya dan terbangun, terdapat di berbagai kebudayaan:
    Di kalangan Hinduisme, misalnya tentang Kumbakarna, adiknya Rahvana, dalam epik Ramayana karya Valmiki: Rahvana mengeluarkan perintah kepada pasukannya: "Bangunkan Kumbakarna yang sedang tertidur nyenyak ... Ia telah tertidur selama 9, 7, 10 atau 8 bulan ..". Mendengar kata-kata Rahwana, para raksasa dengan cepat menuju gua yang indah, tempat kediaman Kumbhakarna dan membangunkannya [buku ke-6, Yuddha Kanda, sarga ke-60].

    Alasan mengapa Kumbakarna tertidur seperti itu, Valmiki sampaikan dalam 2 versi berbeda:

    Versi Ke-1,
    Yuddha Kanda, sarga ke-61: Wibisana menjawab Rama: "...Segera setelah kelahirannya, Kumbakarna menderita kelaparan, Ia melahap ribuan makhluk, orang-orang yang ketakutan mencari perlindungan kepada Indra, namun Indra dengan petirnya kewalahan menghadapi Kumbhakarna. Kemudian para Deva, petapa, dan raksasa menghadap Brahma, menceritakan bagaimana Ia melahap para makhluk, menyerang para deva, Jika terus melahap mahluk seperti ini, dunia akan menjadi sunyi. Mendengar kata-kata Indra, Brahma, kakek buyut seluruh dunia, memanggil para Raksasa, Kumbakarna juga bersama mereka dan Brahma mengutuknya: 'Kamu diciptakan Visravasa memusnahkan orang-orang, karenanya kamu akan tertidur dan tampak seperti mati sejak sekarang'. lalu Kumbakarna terjatuh di hadapan Rahwana. Rahwana berkata: 'O Brahma! Tidak adil jika kau mengutuk cucu buyutmu sendiri seperti ini. Dia tentu harus tertidur, namun tetapkanlah batasan waktu tidur dan bangunnya'. Mendengar ini, Brahma berkata: 'Dia tidur selama enam bulan dan bangun untuk satu hari'" [juga terjemahan Ralph. T.H Griffith, Buku ke-6, ch.61]

    Versi ke-2,
    buku ke-7, Uttara Kanda, Ch.9-10, hal.1584-1587: Untuk menenangkan kesedihan ibu mereka, yaitu Kaikasi, yang ingin mereka sangat kuat, Rahvana, Kumbakarna dan Wibisana pergi ke pertapaan Gokarna dan menjalani tapa sangat keras selama ribuan tahun. Kumbakarna bertapa selama 10 ribu tahun. Brahma yang terkesan atas keberhasilan tapa keras mereka, datang hendak memberikan anugrah, namun Para deva dalam satu kesatuan datang menghadap Brahma (versi lain: mereka menghadap Saraswati) bahwa Kumbakarna telah melahap para dewa dan lainnya, juga petapa dan manusia sewaktu belum mendapatkan anugerah apapun, jika Ia memperolehnya maka 3 dunia akan dilahapnya. Mereka memohon agar anugerah diganti dengan kebodohan. Dewi Saraswati berkata: '0 tuhan, aku hadir di sini'. Brahma berkata: '0 Vani! Jadilah dewi ucapan Raksasa terkemuka ini' Sarasawi masuk ke mulut Kumbhakarna (versi lain: Saraswati mengikat lidah Kumbakarna). Ketika Kumbakarna meminta anugerah 'Indrasasana' (tempat Indra), terucap 'Nidrasasana' (tempat untuk tidur), ketika meminta 'Nirdevatvam' (leyapnya para deva), terucap 'Nidravatvam' (tertidur), setelahnya Brahma berkata, 'Terjadilah demikian'. Kemudian Kumbakarna tersadar dan sedih, "Apa yang aku ucapkan tadi? Para deva telah memperdayaku' ["The Ramayana Utharakandam", Manmatha Nath Dutt. Juga lihat: Kumbhakarna: Did he suffer from the disorder of the hypothalamus?]

    Kumbakarna tertidur tidaklah bertahun-tahun, tapi dengan interval waktu selama 6 bulanan, terbangun 1 hari dan tertidur kembali. Ini berlangsung ribuan tahun, hingga Ia wafat dalam perang mempertahankan Alengka.

    Di kalangan Yunani, misalnya kisah yang disampaikan Theopompus [abad ke-4 SM] tentang Epimenides dari Cnossos [abad ke-6 SM] sewaktu masih anak-anak, diminta ayahnya mencari seekor domba terlantar, karena kepanasan dan lelah berjalan, Ia masuk ke sebuah gua dan tertidur, setelah bangun, pencarian Ia lanjutkan namun tidak menemukannya. Ia kemudian pergi ke sebuah pertanian dan menemukan semuanya telah berubah, pemiliknya sudah berganti. Dalam keadaan bingung, Ia kembali ke kota, masuk rumahnya sendiri dan ditanyai siapa dirinya, akhirnya Ia bertemu adik laki-lakinya, yang sekarang terlihat sangat tua yang berkata bahwa 57 tahun telah berlalu. Kejadian ini membuatnya terkenal di Yunani dan dipercayai sebagai favorit surga [Pliny/23-79 M, "Natural History", Ch.49, Pliny hanya menyebutkan panjang usianya; Diogenes Laertius/abad ke-3 M, "Lives of Eminent Philosophers", Bab 10 atau di sini].

    Kemudian tentang Aristeas dari Proconnesus (akhir abad ke-7 SM), Di sebuah toko pandai besi Ia terpeleset, jatuh dan mati. Setelah menutup toko, pandai besi ini kemudian mengabarkan ke para sanaknya, mereka datang berlarian dengan ratapan. Ketika toko dibuka, mereka tidak menemukan apapun, tidak ada yang mati atau manusia hidup, Aristeas muncul 7 tahun kemudian dan menulis epik puisi "The Arimaspea". Kemudian terjadi lagi yang ke-2xnya, Ia mati, menghilang dan muncul lagi 240 tahun kemudian pada jaman Herodotus, namun tidak ada yang mengenalnya lagi sehingga tidak ada yang percaya. [John Tzetzes/abad ke-12 M, "Buku Sejarah (CHILIADES)", bab 18]

    Juga, Aritotle/384 - 322 SM yang menyebutkan dibukunya tentang mereka yang tertidur dekat beberapa pahlawan di Sardinia (Sardinia ada di area yang sama dengan Ephesus, Turki), ketika bangun tidak mengetahui seberapa lama waktu berlalu ["Physics" 4.11, 218 b 23-26]. Aritotle tidak menyebutkan siapa pahlawan yang dimaksud atau merujuk pada kisah lampau yang mana. Para komentator tulisannya, menyampaikan dugaan, misalnya Tertulian (2 M): menyebutkan tentang inkubator/fanum di kuil/kuburan pahlawan Sardinia, yang bertuah untuk tidak mimpi apapun (De anima 49, 2), atau Philoponus (6 M): mereka yang pergi ini, orang yang sakit, tertidur selama 5 hari dekat para pahlawan dan sembuh ketika terbangun (Aristotelem Graeca XVII, hal.715 (Vitelli)), atau Simplicius (6 M): Para pahlawan ini adalah 9 anak lelaki Herakles/Herkules dari perkawinannya dengan para putrinya Thespios. Mereka wafat di Sardinia, mayat mereka tetap tidak rusak dan tampak seperti tidur (Aristotelem Graeca IX, hal.707–708 (Diels)) [Dari A note on Ancient Sardinian incubation].

    Di kalangan Yahudi, misalnya kitab Baruch (seketaris Jeremiah) memuat tentang Abimelek (Ebed-Melech/Abdul-Malik, budak Ethiophia milik Jeremiah) di menjelang kehancuran Yerusalem. Ia diminta Jeremiah mengambil beberapa keranjang buah ara di perkebunan Agrippa tepi jalan pegunungan, setelah mendapatkannya, Ia capek dan di bawah pohon, Ia tertidur 66 tahun. Di saat Abimelek tertidur, Jeremiah dibawa ke Babilon sebagai tawanan Raja Nebuchadnezzar. ["Paraleipomena Jeremiou", translasi oleh Robert Kraft dan Ann Elizabeth Purintun, 3.21, 5.1-29. Kitab ini dekat kaitannya dengan versi Suriah-nya Baruch (Syriac Apocalypse of Baruch). Kitab Baruch dianggap Pseudepigraph oleh seluruh gereja Kristen KECUALI oleh gereja ortodok Ethiopia]

    Tabari (sejarahwan dan ulama muslim, 839-923 M) memuat variasi lain, yang tertidur adalah Jeremiah bukan Abimelek: Riwayat Hisham b.Muhammad: "...Ketika kaum Israel tersebar, beberapa menetap di Hijaz, di Yathrib di Wadi al-Qura, dan diberbagai tempat. Menurut riwayat yang sampai ke kami, Tuhan mengilhami Jeremiah, "Aku akan bangun Yerusalem, Ia sampai di sana dan menemukannya dalam reruntuhan, Ia kemudian berkata pada dirinya sendiri, "Terpujilah Allah, ia memerintahkanku untuk membangun ini, tapi kapan Ia bangun ulang ini..Ia kemudian menundukan kepada dan jatuh tertidur..Ia tertidur selama 70 Tahun [Tabari, Vol IV, hal.45-46]

    Juga tentang Croni [Honi/Onias, versi Yerushalmi: cucu Onias; versi Babilon: Onias sendiri], Di menjelang kehancuran Yerusalem, Suatu ketika Ia pergi ke pegunungan yang banyak pohon carob/kacang polong, Ia kemudian duduk dan makan roti. (Versi T.Yerushalmi: menuju para pekerjanya, kemudian turun hujan dan berlindung ke sebuah gua), kemudian tertidur selama 70 tahun dan terbangun ketika Kuil Yerusalem dibangun kembali. [Penjelasan Mazmur 126.1: di Talmud Yerushalmi, Ta‘aniyot 3.9.16b (dari Rabbi Yudan Giria), di Talmud Bavli/Babilon, Ta‘anit 23a (dari Rabbi Yochanan) dan Midrash Tehillim 126.1-2. Lihat: S. Baring Gould: The seven sleepers].

    Kehancuran kuil Yerusalem terjadi 2x, yang pertama kali terjadi di jaman Raja Nebudkadnezar (abad ke-6 SM dan kehancuran kuil yang kedua kali dilakukan Titus pada tahun 70 M yang saat itu bertugass untuk memadamkan pemberontakan kaum Yahudi ke-1 (66-70 M).

    Sementara itu, Josephus (34-100 M), sejarahwan Yahudi, dalam Antiquities of the Jews, bab 14 memuat kisah Onias yang berbeda, TIDAK ADA tertera peristiwa Onias yang tertidur lama, juga, di bab-bab sebelumnya, Josephus sama sekali tidak memuat adanya orang yang tertidur lama. Oleh karenanya, dongeng tentang Abimelek/Ebed-Melech dan juga Onias BELUMLAH MUNCUL di jaman Josephus, ini baru dibuat setelah masanya, yaitu setelah pemberontakan Yahudi ke-2 di 132 M (Pemberontakan oleh Simeon bar Kosiba). [Lihat John Koch, Die Siebenschlafereigende, ihr Ursprung u. ihre Verbreitung (Leipzig, 1883), Hal. 24-40].

    Di kalangan Kristen, misalnya dongeng tentang 7 pemuda yang melarikan diri dari kelaliman raja [Dikyanus] hingga tiba di sebuah gua, tertidur dan terbangun di jaman raja Theodosius. Dongeng "Tujuh Orang Ephesus yang Tertidur" ("Seven Sleepers of Ephesus") beredar di sekitar akhir abad ke-5 M dan menyebar ke Asia Barat dan Eropa. Menurut Para ahli sejarah, dongeng ini, bermula dari tulisan Uskup Suriah Yakub dari Sarug [450-521 M, salah satu nama pemuda adalah: Iamlikha], juga dalam terjemahan Latin oleh Gregory dari Tours (sekitar 538-594), dalam "De Gloria Maryrum" yang dalam tulilsannya Gregory menyatakan "quam Syro quodam interpretante in Latinum transtulimus" tidak berarti terjadinya di Suriah, orang Suriah mentranlasikan untuk Gregery dari Latin; Penulis lainnya adalah Gerejawan, Paulus sang diakon (720-799 M) dalam "History of the Lombard"; Juga Biarawan Dominika abad ke-13, Jacobus de Voragine (James de Voragine/Iacopo da Varazze, 1230-1298), dalam "Golden Legend" (legenda Aurea, salah satu nama pemuda adalah: Iamblichus) dan juga dalam lukisan.

    Di legenda Suriah, beberapa pemuda Kristen lari menyelamatkan diri dari ancaman pembunuhan Kaisar Decius (Romawi) dan berlindung di gua daerah pegunungan. Para pengejar menemukan tempat persembunyian mereka dan menutup lubang gua. Setelah lama berselang, seorang dari mereka diutus keluar [Iamblichus dalam versi James de Voragine] dan ternyata waktu telah berlalu [versi Yakub dari sarug: 112/371/372 tahun; versi James de Voragine: 372 tahun].

    Penyebaran dongeng ini dikaitkan dengan Pendeta Stephen dari Ephesus (448-451). Ia menjadi uskup sementara setelah Bassianus, uskup sebelumnya, dijebloskan ke penjara (Stephen diduga terkait dengan insiden ini). Di konsili Chaledeon (451 M), Stephen (dan juga Bassianus) dipensiunkan, dianggap tidak layak menjadi uskup. Pada masa keuskupan Stephen, Ia gencar menghembuskan dongeng para pemuda yang tertidur (untuk pengalihan isu dari masalahnya), oleh karenanya, namanya kerap dianggap sebagai sumber pertama dongeng ini. Karena legimasinya buruk, nama Stephen tidak lagi muncul di versi-versi selanjutnya. Seiring dengan berkembangnya dongeng, dilakukanlah pekerjaan kontruksi Gereja di tempat itu. Wakil uskup Jerman, Theodosius, 518-530 M, dalam ‘De situ terrae sanctae’ mencatat adanya pekerjaan konstruksi di jaman kaisar Anastasius (491-518) dan belum selesai.

    Sejak 1894, tim expedisi arkeologi Austria, melakukan penggalian di Ephesus, Turki, di area bukit Pion (sekarang Panayir Dagi) dan telah menemukan banyak tempat bersejarah dari sebelum masehi hingga sesudahnya, pada area seputaran bukit terdapat beberapa gua, juga beberapa reruntuhan gereja kuno. Di salah satu dinding gereja yang ditemukan, terdapat ukiran tentang para pemuda yang tertidur sehingga salah satu dari gua tersebut kemudian diklaim sebagai tempat mereka tertidur. bukan cuma itu, juga sejumlah gua di Anatolia (seluas 756,000 km2) juga tidak luput di klaim (misal: Akhisar, Manisa, Sardes, Tarsus, dan Antakya atau juga di gunung Qasioun, di mana bahkan Madrasaah dibangun di atasnya). Klaim-klaim ini absurd, karena bahkan, nama gunung tempat gua berada pun masih kontroversi, dari 200an teks tentang dongeng tersebut (abad ke-9 sampai abad ke-13), ditemukan sejumah variasi nama gunung tempat gua berada, di teks Arab nama gunung adalah Bangilos, di teks Suriah adalah Onkilos atau Okhlon sedangkan di teksnya Gregorius dari Tour adalah Olympus atau Celion. Sangat diragukan nama seperti itu ada di Efesus, bahkan dengan analogi nama Coelius, satu dari 7 bukit Romawi, ini menjadi makin tidak mungkin, karena kata Celion (Latin: Coelion, Yunani: Koilion, koilos) artinya adalah gua.

    Kemudian, 7 orang Pemuda Ephesus dalam dongeng ini, dinyatakan sebagai santo/orang suci kalangan Kristen/Nasrani (juga Islam), yaitu di abad ke-9, oleh Óengus mac Óengobann, uskup Irlandia. Sementara di kalangan Katolik, pada jaman Kardinal Baronius/1596-1607 tidak dianggap santo, namun setelahnya, mungkin oleh Paus Urban VIII, dianggap sebagai santo. Nama-nama mereka adalah: Maximian, Malchus/Marcus, Martinian, Dionysius, Yohanes/John, Serapion dan Konstantin ["Buku Para Santo", Biara St. Augustine di Ramsgate, hal.242]; atau versi Symeon Metaphrastes/abad ke-10: Maximillian, Jamblichos, Martin, John, Dionysios, Exakostodianos dan Antoninos; atau versi Gregory dari Tours: Achillides, Diomedes, Diogenus, Probatus, Stephanus, Sambatus dan Quiriacus [Catholic Encyclopedia]; atau versi Michael orang Suriah/abad ke-12: Aikilos, Dionysius, Stephanus, Probatius, Sebastius dan Cyriacus [Chronique de Michel le Syrien, Vol.2, Buku ke-8, Ch 5, hal.21]; atau versi Koptik: Archelide, Diomede, Eugenio, Probazio, Sabazio, Stefano dan Ciriaco (Ignazio Guidi, "Testi orientali inediti soprai Sette dormienti di Efeso", 1885, hal.11)

    Di kalangan Islam, dongeng tentang para pemuda yang tertidur di gua menjadi bagian dari wahyu ALLAH SWT sehingga tercatat di Quran dalam surat golongan Al Makiyah (sebelum hijrah) yaitu Al-Kahfi/Gua 18.9-26 (Di bahas lebih detail di bagian bawah).

    Salah satu yang menarik dalam dongeng tentang orang-orang yang tertidur di kalangan Abrahamik ini adalah tentang nama, yaitu di kalangan Yahudi: Abimelech dan di kalangan Kristen: Iamlikha (Joseph dari Saruq) = Iamblichus (James de Voragine). Baik Abimelech dan Iamblichus (atau Iamlikha ataupun Malchus) ada kesamaan huruf (m-l-ch/k), sehingga tampaknya dongeng Abimalek-nya kalangan Yahudi setelah mengalami mutasi di kalangan Kristen/Nasrani, bermutasi lanjutan lagi dengan varian lainnya di kalangan Islam namun semuanya mempunyai nama dengan huruf M-L-K di dalamnya, yaitu Tamlikha atau Yamlikha (lihat bagian bawah)

    [Wikipedia: Seven Sleepers, Encyclopedia of Religion and Ethics, Bagian 21 Oleh James Hastings; "Pious Long-Sleepers in Greek, Jewish, and Christian Antiquity", oleh Pieter W. van der Horst; SLEEPING TOWARD CHRISTIANITY]
Karena Al Kahfi (18.9-26) diturunkan Allah melalui jibril kepada Nabi, maka ini menjadi menarik:
  • Mengapa kisah ini ada di Qur’an? (benarkah karena pertanyaan pendeta Yahudi)?
  • Seberapa cepat Nabi menjawab pertanyaan tersebut?
  • Apa arti dan maksud kata "raqim" (Betulkah sesuai dengan penjelasan di AQ yaitu berarti anjing/sejenis anjing?)
  • Berapa jumlah sebenarnya para pemuda yang tertidur di gua tersebut?
  • Benarkah mereka tertidur 300 tahun (Solar system) atau 309 tahun (lunar system)?


Mengapa kisah ini ada di Qur’an surat Al Kahfi 18.9-26?

Riwayat kemunculan surat karena ada pertanyaan yang diberikan Rahib Yahudi (bukan Nasrani):
    An-Nadhr bin Al-Harits..pernah pergi ke Al-Hirah dan di sana ia belajar cerita-cerita tentang raja-raja Persia, kisah-kisah tentang Rustum, dan Isfandiyar. Jika Rasulullah SAW duduk di satu tempat untuk mengajak kaumnya ingat kepada Allah, mengingatkan mereka tentang hukuman Allah yang diterima orang-orang sebelum mereka, dan beliau beranjak dari tempat tersebut, maka An-Nadhr bin Al-Harits duduk di tempat yang sama, kemudian berkata, 'Demi Allah, wahai orang-orang Quraisy, aku lebih bagus ucapannya daripada Muhammad. Sekarang kalian ke marilah, niscaya aku katakan kepada kalian perkataan yang jauh lebih bagus daripada perkataan Muhammad!' Kemudian An-Nadhr bin Al-Harits bercerita kepada mereka kisah-kisah tentang raja-raja Persia, Rustum, dan Isfandiyar. Ia berkata, 'Dengan apa Muhammad lebih bagus ucapannya daripada saya?' "

    Ibnu Hisyam berkata, "An-Nadhr bin Al-Harits inilah orang yang berkata, 'Aku akan menurunkan ayat seperti yang diturunkan Allah'."

    Ibnu Ishaq berkata, "Seperti disampaikan kepadaku bahwa Ibnu Abbas berkata, 'Al-Qur'an menurunkan 8 ayat tentang An-Nadhr bin Al-Harits. Yaitu firman Allah Ta'ala, 'Yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata, 'Itu adalah dongeng orang-orang yang dahulu.' (Al-Muthaffifin: 13). Dan semua ayat-ayat yang di dalamnya terdapat kata Al-Asaathir (dongeng orang-orang terdahulu) dalam Al-Qur'an'."

    Ibnu Ishaq berkata, "Usai An-Nadhr bin Al-Harits berkata seperti itu, orang-orang Quraisy mengirimkannya bersama Uqbah bin Abu Mu'aith kepada rahib-rahib Madinah. Orang-orang Quraisy berkata kepada keduannya, 'Bertanyalah kalian berdua kepada rahib-rahib Yahudi tentang Muhammad..'

    An-Nadhr bin Al-Harits dan Uqbah bin Abu Mu'aith berangkat ke Madinah. Tiba di sana, keduanya bertanya kepada rahib-rahib Yahudi tentang Muhammad SAW..Keduanya berkata kepada mereka, 'Sesungguhnya kalian mempunyai Kitab Taurat, dan kami datang kepada kalian untuk bertanya tentang sahabat kami'."

    Ibnu Ishaq berkata, "rahib-rahib Yahudi berkata kepada kedua utusan Quraisy, 'Tanyakan tiga hal kepada sahabatmu.. Jika ia mampu menjawab ketiga hal tersebut, ia seorang Nabi yang diutus. Jika ia tidak bisa menjawabnya, maka ia berkata bohong dan kalian bebas mengeluarkan pendapat kalian tentang dia. Tanyakan kepadanya perihal pemuda-pemuda yang meninggal pada periode pertama dan bagaimana informasi tentang mereka? Karena mereka mempunyai informasi yang menarik...'."

    Ibnu Ishaq berkata, "Kemudian An-Nadhr bin Al-Harits dan Uqbah bin Abu Mu'aith bin Abu Amr bin Umaiyyah bin Abdu Syams bin Abdu Manaf bin Qushai pulang ke Makkah. Ketika keduanya bertemu kembali dengan orang-orang Quraisy, keduanya berkata kepada mereka, 'Hai orang-orang Quraisy, sesungguhnya kami datang kepada kalian dengan membawa kata pamungkas persoalan kita dengan Muhammad. Rahib-rahib Yahudi menyuruh kita menanyakan tiga hal kepada Muhammad. Jika ia bisa menjawabnya, ia betul-betul seorang Nabi. Jika ia tidak bisa menjawabnya, ia berkata bohong dan kalian bebas mengeluarkan pendapat kalian terhadapnya.' [Sirat Nabawiyah Ibn Ishaq/Ibn Hisyam, Jilid 1, bab 56, hal.253-255]
Seberapa cepat Nabi menjawab pertanyaan tersebut?
    Untuk menjawab ketiga pertanyaan tersebut, Muhammad SAW mengatakan, "Aku akan memberikan jawabannya besok", namun ternyata beliau baru bisa menjawab setelah lebih dari 15 hari. [Sumber: Ibid, halaman 202 dan Tafsir Ibn Kathir utk surat 18:1-5]

    Kemudian mereka datang kepada Rasulullah SAW dan berkata kepada beliau, 'Hai Muhammad, terangkanlah kepada kami tentang anak-anak muda yang meninggal dunia pada periode pertama, karena mereka mempunyai kisah yang menarik..' Rasulullah SAW bersabda, "Semua pertanyaan kalian aku jawab besok pagi.' Beliau mengatakan begitu tanpa mengatakan insya Allah. Setelah itu, mereka berpaling dari hadapan Rasulullah SAW. Menurut banyak orang, selama 15 malam Rasulullah SAW tidak mendapatkan wahyu dan Malaikat Jibril tidak datang kepada beliau, hingga membuat gusar penduduk Makkah. Mereka berkata, 'Muhammad menjanjikan memberi jawaban atas pertanyaan kita besok pagi, dan waktu sudah berjalan 15 malam, namun ia tidak memberi jawaban atas pertanyaan kita.' Rasulullah SAW sedih sekali, karena wahyu terputus dari beliau. Beliau terpukul dengan komentar orang-orang Quraisy terhadap dirinya. (Sayangnya orang quraish itu tidak mengepung rumah Ar-Rahman di Yamamah, orang yang mereka curigai sebagai guru muhammad agar muhammad tidak mendatangi gurunya untuk mencari informasi) Kemudian Malaikat Jibril datang kepada beliau dari Allah Azza wa Jalla dengan membawa surat Al-Kahfi.." [Sirat Nabawiyah Ibn Ishaq/Ibn Hisyam, Jilid 1, bab 56, hal.256]
Konon ayat ini menyampaikan alasan mengapa Nabi SAW tidak dapat memberi jawaban esok harinya tapi baru terjadi dalam 15 hari kemudian:
    walaa taquulanna lisyay-in innii faa'ilun dzaalika ghadaan
    [18:23] Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: "Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi,
    illaa an yasyaa-a allaahu waudzkur rabbaka idzaa nasiita waqul 'asaa an yahdiyani rabbii li-aqraba min haadzaa rasyadaan
    [18:24] kecuali (dengan menyebut): "Insya Allah" (jika Allah berkehendak). Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: "Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini".
Di ayat ini, Nabi SAW diajari tatacara yang seharusnya dilakukan mahluk yang tidak sempurna dalam melakukan sesuatu, yaitu MEMOHON KEHENDAK YANG MAHA SEMPURNA AGAR BERKENAN, karena, tatacara inipun dilakukan Allah SWT, Ia perlu juga MEMOHON KEHENDAK YANG LEBIH SEMPURNA DARINYA AGAR BERKENAN:
    laqad shadaqa allaahu rasuulahu alrru/yaa bialhaqqi latadkhulunna almasjida alharaama in syaa-a allaahu aaminiina...
    [48:27] Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya, tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman...
Di ayat ini, Allah SWT telah memberi contoh dengan juga memohon kepada Tuhannya, meminta izin kepada Tuhannya, agar berkenan mengabulkan, karena, Allah SWT-pun, adalah juga tidak sempurna.

Dalam kasus pertanyaan kaum Quraish, karena toh, pada 15 malam kemudian, jawaban tetap diberikan, maka alasan keterlambatan yang disebutkan di AQ 18.23-24 adalah dalih mengada-ada, Karena jelas berkehendak untuk menjawab dan sudah menjawabnya, namun tidak mampu dilakukan besok, rupanya Allah butuh waktu lama untuk memberikan jawaban, Penolong Allah terlalu lambat dalam mencarikan jawabannya dan cilakanya lagi, jawaban yang diberikan-pun salah.
    Ibnu Ishaq berkata, "Kemudian Allah memberi jawaban atas pertanyaan mereka tentang anak-anak muda dengan berfirman, 'Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) raqim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan?' (Al-Kahfi: 9)..[Sirat Nabawiyah Ibn Ishaq/Ibn Hisyam, Jilid 1, bab 56, hal.258]
Jawaban Allah dengan membawakan kisah ini menjadi janggal dalam 2 hal, PERTAMA, Para Rabi Yahudi di jaman itu ketika merujuk pada kisah di kitab mereka, maka seharusnya, kisah yang dimaksud adalah tentang Onias dan Abimelek/Ebed-Melech, TIDAK PERNAH kalangan Yahudi di kitab mereka memuat para pemuda di Efesus, KEDUA, Allah SWT rupanya tidak tahu bahwa cerita para pemuda yang tertidur di gua itu, ternyata hanya dongeng buatan pendeta Nasrani belaka.


Apakah arti dan maksud kata "raqim" dalam surat Al Kahfi (18:9)
    am hasibta anna ash-haaba alkahfi waalrraqiimi kaanuu min aayaatinaa 'ajabaan
    [18:9] Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) raqim872 itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan?
    872Raqim: sebagian ahli tafsir mengartikan nama anjing dan sebagian yang lain mengartikan sebagai batu bertulisan/inkripsi
Beberapa arti kata raqim:
    Al Rakim adalah anjing [Brewer’s Dictionary dan Nuttall Encyclopædia]

    Warna dan nama anjing yang beragam:
    Tanwîr al-Miqbâs min Tafsîr Ibn ‘Abbâs untuk AQ 18.18: "(dan anjing mereka) Qatmir (merentangkan cakarnya) di pintu massuk gua"

    Ibn ‘Abbas: “bulu warna abu-abu muda”. Muqatil: “bulu warna kuning”. Imam al-Qurtubi:“bulu warna kekuningan, warna merahnya yang menonjol”. Al-Kalbi: “warna antara merah dan kuning”. Ibn ‘Abbas: “namanya Qitmir”. ‘Ali Karramallahu wajhah: “namanya Rayyan.” Imam al-Auza’ie: "namanya Yathur”. Al-Suddi:: “namanya Yur”. Ka’ab: “namanya Sahban.” (Tafsir al-Baghawi, 3/183-184). Imam al-Auza’ie: "namanya Musyir". Imam Sa’id al-Hmmal: "namanya Haran". Abdullah bin Salam: "namanya Basit". Ka’b al-Ahbar: "namanya Sahyan". Wahb: "namanya Naqiyya". (Hayat al-Hayawan al-Kubra, 2/389). Juga lihat: "AL-AFKAR #42: QITMIR".

    Yang menafsirkan kata Raqim = Inkrispi, bersandar pada kata "kitābun marqūmun" di AQ 83.9,20, di mana huruf "rā qāf mīm" juga ada di marqūmun, karena arti marqūmun adalah tertulis, maka raqim ditafsirkan sebagai inkripsi.

      Ibnu Hisyam berkata, "Ar-Raqiimu pada ayat di atas ialah kitab yang memuat kisah tentang mereka. Jamaknya ialah ar-ruqumu. Ru'bah bin Al-Ajjaj berkata, Tempat penyimpanan kitab yang memuat Bait di atas adalah penggalan dari syair-syair Ru'bah bin Al-Ajjaj" [Sirat Nabawiyah Ibn Ishaq/Ibn Hisyam, Jilid 1, bab 56, hal.258]

    [Jawaban Nabi kepada kaum Quraish SEHARUSNYA TIDAK ADA di kitab Para Rabi Yahudi jaman itu, karena, yang ada adalah kisah tentang Onias dan Abimelech/Ebed-Melech BUKAN kisah para pemuda Efesus/Tarsus]

    Tafsir Ibn Kathir AQ 18:9,
    Berkenaan dengan kata Ar-Raqim, Al-'Afi - Ibn Abbas: ini adalah lembah dekat Aylah. Ini juga dikatakan `Atiyah Al-`Awfi dan Qatadah. Ad-Dahhak: "Al-Kahfi adalah sebuah gua di lembah, dan Ar-Raqim adalah nama lembah'.' Mujahid: "Ar-Raqim merujuk pada bangunan-bangunan mereka''. Lainnya berkata ini mengacu pada lembah di mana gua mereka berada. Tentang Ar-Raqim,`Abdur-Razzaq - Ibn Abbas: "Ka'b dulu mengatakan bahwa itu adalah kota". 'Ibn Jurayj - Ibn Abbas: "Ar-Raqim adalah gunung tempat gua itu berada''. Sa'id bin Jubayr: "Ar-Raqim adalah loh batu tempat mereka menulis kisah orang-orang di Gua, kemudian mereka menempatkannya di pintu masuk Gua".
Melihat penjelasan ar-raqim dari para sahabat nabi yang berbeda-beda yang padahal bahasa Arab adalah bahasa asal mereka, bahasa keseharian mereka, maka tampak jelas bahwa mereka ini kebingungan sendiri. Anehnya Allah SWT tidak berupaya membuatnya menjadi jelas dan terang, bukankah Allah di Quran sudah menyatakan:
    "..(bi)lisaan(in/un) arabiyy(in/un) mubiin(in/un)" (..(dengan) bahasa arab yang JELAS/TERANG) [AQ 16.103, 26.195] juga di: "quraanan 'arabiyyan ghayra dhi iwajin.." (Quran dalam bahasa arab yang tidak bengkok (tidak belok-belok)..)" [AQ 39.28].

    Ibn Kathir dalam tafsirnya:
    "Maksudnya: `Quran ini yang kami turunkan padamu, Kami turunkan dalam kesempurnaan dan kefasihan bahasa arab, sehingga membuat JELAS, tidak ada ruang untuk alasan dan memberi BUKTI JELAS, menunjukan jalan lurus." [AQ 26.195]. Dan: "maksudnya: ini dalam dialek arab yang sederhana/jelas, tanpa kebengkokkan, penyimpangan atau kebingungan. Ini sederhana, bukti jelas. Allah telah membuatnya menjadi seperti ini dan telah diturunkan seperti ini" [AQ 39.28]
Jika toh tidak membuat lebih jelas, lantas apa gunanya kata tersebut disampaikan di Quran?


Berapa jumlah para pemuda yang tertidur di gua tersebut?
    sayaquuluuna tsalaatsatun raabi'uhum kalbuhum wayaquuluuna khamsatun saadisuhum kalbuhum rajman bialghaybi wayaquuluuna sab'atun watsaaminuhum kalbuhum qul rabbii a'lamu bi'iddatihim maa ya'lamuhum illaa qaliilun falaa tumaari fiihim illaa miraa-an zhaahiran walaa tastafti fiihim minhum ahadaan
    [18:22] Nanti (ada orang yang akan) mengatakan878 (jumlah mereka) adalah tiga orang yang keempat adalah anjingnya, dan (yang lain) mengatakan: "(jumlah mereka) adalah lima orang yang keenam adalah anjing nya", sebagai terkaan terhadap barang yang gaib; dan (yang lain lagi) mengatakan: "(jumlah mereka) tujuh orang, yang ke delapan adalah anjingnya". Katakanlah: "Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit". Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorangpun di antara mereka.
    878Yang dimaksud dengan "orang yang akan mengatakan" ini ialah orang-orang ahli kitab dan lain-lainnya pada zaman Nabi Muhammad s.a.w.
Alqur'an tidak tegas menyatakan jumlah pemudanya, namun Tafsir Ibn Kathir, untuk AQ 18:22, menyatakan jumlah pemuda, yaitu 7 Orang:
    (Tidak ada yang mengetahui kecuali sedikit orang) Qatadah - Ibn Abbas berkata: "Aku adalah salah satu dari yang sedikit yang dimaksud dalam ayat ini; mereka ada tujuh." (Ibn Jurayj - `Ata' Al-Khurasani - Ibn Abbas. Ibn Jarir mencatat Ibn `Abbas menyatakan itu dan Sahih)
Tabari, Vol.4, hal 155-156, mencatat variasi jumlah pemuda bukan cuma 7 orang, bahkan lebih:
    Riwayat Ibn Bashshar - `Abd al-Rahman - Isra'il - Simak - `Ikrimah - Ibn `Abbas: "Tidak seorangpun tahu kecuali segelintir dan Aku adalah yang segelintir itu. Mereka adalah 7
    Riwayat Bishr - Yazid - Said - Qatadah -Ibn `Abbas: Aku adalah yang segelintir yang Allah kecualikan, mereka adalah 7 dan anjing mereka adalah yang ke-8
    Riwayat`Abdallah b. Muhammad al-Zuhri - Sufyan - Mugatil: "seorang bernama Yamnikha"
    Riwayat Ibn Ishaq - Ibn Jumayd - Salamah: Namanya adalah Yamlikha. Ibn Ishaq kerap berkata: Jumah pemuda adalah 8, anjing mereka adalah yang ke-9
    Ibn Humayd - Salamah - Ibn Ishaq: Yang tertua Maksimilina; lainnya Mahsimilina; yang ke-3 Yamlikha; ke-4 Martus; ke-5 Kasutunas; ke-6 Birunas; ke-7 Rasmunas ke-8 Batunas; dan ke-9 Qalus
Beberapa nama di Tanwîr al-Miqbâs min Tafsîr Ibn ‘Abbâs AQ 18.19: "..Maxmillian..Yamblichus (Yamlikha)"

Variasi lain nama-nama mereka:
    Di lempeng marbel kuburan as-sabil al Mahmudi, di Jaffa, abad ke-19 ditemukan surat al Kahfi dan nama-nama mereka pemuda: Yemlihá (Yamlikha), Mesliná (Mathlină), Mekselina (Makthalina), Mernus (Marnush), Debernüs (Dabarnush), Sâzenūs (Shāzdhanush), Kefestatayūs (Kafastatayush) dan Kitmir (Qitmir) ["Corpus Inscriptionum Arabicarum Palaestinae, Volume Six: -J (1)-", Moshe Sharon, hal.74]. Versi lain: Tamlikha, Miksalmina, Mikhaslimina, Martelius, Casitius, Sidemius, seorang Gembala yang tidak disebutkan namanya dan seekor anjing berwarna hitam yang bisa bicara bernama Qithmir ["Qishasul Anbiya", kitab "Fadha 'ilul Khamsah Minas Shihahis Sittah", Murtadha Al Huseiniy Al Faruz Aabaad]
Jika memang jumlah dan nama dapat menimbulkan pertengkaran, mengapa Allah tidak disampaikan dengan jelas kepada para penanya yang telah sabar menunggu selama 15 hari?


Dimana dan dijaman apa mereka hidup?
Tafsir Jalalain untuk AQ 18.19 nama kota ketika mereka terbangun adalah Tarsus/Tarasūs atau Daqsus menurut tafsir Ibn kathir untuk AQ 18.21, sementara Tanwîr al-Miqbâs min Tafsîr Ibn ‘Abbâs AQ 18.19 nama kota adalah Ephesus (Afsus). Padahal jarak Ephesus dan Tarsus terpisah 900 KM jauhnya.

Tafsir Ibn Kathir, untuk surat AQ 18:21,
    [..]Mereka [penduduk] berkata pada nya [salah satu dari 7 pemuda] siapa dirinya dan darimana Ia dapat uang itu [krn uang itu kuno]. Apakah menemukan hartakarun? Ia kemudian berkata, "Saya berasal dari sini, Saya kemarin hidup di sini dan Desianus adalah Rajanya..

    Ketika sang pemuda menceritakan kisahnya, mereka – raja dan penduduk kota – pergi bersamanya kegua, disana dia berkata, “Biarkan aku masuk dulu dan memberitahukan pada sahabat-sahabatku.” Dikisahkan bahwa mereka tidak tahu bagaimana sang pemuda masuk kedalam gua, dan bahwa penduduk tidak tahu tentang cerita mereka. Dikisahkan juga bahwa mereka akhirnya masuk dalam gua dan melihat mereka dan sang raja menyambut dan merangkul mereka.

    Tampaknya sang raja adalah seorang muslim, dan namanya adalah Tedosis. Para pemuda sangat gembira bertemu sang raja dan berbicara dengannya, kemudian mereka mengucapkan selamat tinggal kepadanya dan tidur kembali, dan Allah membuat mereka kemudian meninggal
Apakah kaisar Teodosis seorang Muslim? dan adakah kaisar bernama Dikyanus?
    warabathnaa 'alaa quluubihim idz qaamuu faqaaluu rabbunaa rabbu alssamaawaati waal-ardhi lan nad'uwa min duunihi ilaahan laqad qulnaa idzan syathathaan
    [18:14] Dan Kami meneguhkan hati mereka diwaktu mereka berdiri875, lalu mereka pun berkata, "Tuhan kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran".
    875 Maksudnya: berdiri di hadapan raja Dikyanus (Decius) yang zalim dan menyombongkan diri.
Sepanjang sejarah kekaisaran Romawi TIDAK PERNAH ada kaisar bernama Dikyanus yang hidup di 112 M (lihat di: From Augustus to Constantine XI Palaeologus). Terdapat kaisar bernama Decius (249 – 251), Theodosius: (Agung/379 – 395 dan Muda/408 – 450M) [Catholic Encyclopedia]. Gaius Messius Quintus Traianus Decius (ca. 201- June 251), kaisar romawi (249 - 251), pada tahun terakhirnya, menjadi pemimpin bersama dengan anaknya, Herennius Etruscus, sampai mereka berdua terbunuh di perang Abrittus.[Wikipedia]

Tafsir Ibn Kathir menyatakan bahwa Raja Teodosis adalah seorang Muslim, namun faktanya TIDAK SATUPUN dari raja dengan nama Theodosis baik itu I s/d II yang memeluk agama Islam. Bahkan, Theodosius III-pun, masih bukan muslim walaupun menjadi kaisar ratusan tahun setelah wafatnya Muhammad (570an-632).


Benarkah mereka tidur 300 tahun (solar system) atau 309 tahun (lunar system)?

Quran surat Al-Kahfi 18:25, menyatakan dengan tegas mengenai kepastian lamanya tidur adalah 309 tahun:
    walabitsuu fii kahfihim tsalaatsa mi-atin siniina waizdaaduu tis'aan
    [18:25] Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi).
Dan AQ 18:26 menyatakan:
    quli allaahu a'lamu bimaa labitsuu lahu ghaybu alssamaawaati waal-ardhi abshir bihi wa-asmi' maaaa lahum min duunihi min waliyyin wal yusyriku fii hukmihi ahadaan
    [18:26] Katakanlah: "Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua); kepunyaan-Nya-lah semua yang tersembunyi di langit dan di bumi. Alangkah terang penglihatan-Nya dan alangkah tajam pendengaran-Nya; tak ada seorang pelindungpun bagi mereka selain dari pada-Nya; dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan".
Hal ini, bisa juga diartikan bahwa ayat 26 merupakan sebuah re-konfirmasi. Senada sebagaimana di sampaikan dalam Tafsir Ibn Katir, untuk ayat 18:25:
    Jika kamu ditanya tentang berapa lama mereka tidur, dan kamu tidak memiliki pengetahuan tentangnya dan tidak ada wahyu dari Tuhan, maka jangan katakan apapun. Lebih baik katakan (Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal)
Surat Al-Kahfi adalah golongan surat Al makiyyah [sebelum hijrah] oleh karenanya, perhitungan tanggal yang berlaku saat itu harusnya Samsyiah [berdasarkan matahari] bukan Qomariah [berdasarkan bulan]. Perhitungan Qomariyah baru mulai digunakan sejak turunnya surat golongan Madaniya (setelah hijrah) yaitu di At Taubah 9:36, 37 (tahun ke-9 setelah Hijrah).

Banyak tafsir menyatakan bahwa 300 tahun Syamsiah = 309 tahun Qomariah. Di Tafsir Ibn Katsir, para sahabat Nabi, Mujahid dan Mutarraf bin `Abdullah, juga menyatatakan demikian.

Pertama-tama,
Perhitungan selisih antara kalender Matahari dan Bulan, mengutip Kisah-Kisah Al-Qur`An 2, Shalah Al-Khalidy, dari Ahmad Adil Kamal di bukunya, "Jadawil Aat-Taqwim Al-Miilaadi Al Muqaabil, Li At Taqwim Al Hijri":
    1 hari syamsiyah lebih lama 3 menit 59 detik.
    1 hari bangsa arab = 1 hari terbenam s/d terbenam hari berikutnya.
    1 bulan qamariah = 29,530588.
    1 tahun qamariah = 354 hari, 8 jam, 48 menit, 36 detik
    1 tahun syamsiyah = 365, 6 jam, 9 menit, 9.5 detik.

    Imam Al-Alusi menyatakan perbedaan PER 1 tahun syamsiah VS qomariah adalah 10 hari, 21 jam, 1 menit. Kalau 100 tahun = 1087 hari, 13 jam, 4 menit ATAU SAMA DENGAN 3 tahun, 24 hari, 11 jam, 16 menit. Jadi jika 300 tahun adalah 9 tahun, 73 hari, 9 jam, 48 menit.
Perhitungan ini sudah menjelaskan bahwa TIDAK BENAR 300 tahun syamsiah adalah 309 tahun qomariah, karena masih harus ditambah 73 Hari lebih!

Pertanyaan terakhir: Benarkah mereka tidur selama 309 tahun?

Pemerintahan Romawi Masa Pemerintahan Tahun Lamanya Tidur
Awal Akhir Awal Akhir
Desius 249 251

Theodosius 1 (Yang Agung) 379 395 146 144
Theodosius 2 408 450 201 199
Theodosius 3 715 717 468 466

Tabel di atas sudah menyatakan bahwa TIDAK ADA satupun angka yang mendekati lamanya tidur sebesar 300 tahun atau 309 tahun.


Kesimpulan kisah Ashaabul Kahfi

Kisah orang-orang yang tertidur di gua yang tercantum di Al Kahfi (18:9-26), disamping hanya dongeng buatan belaka, juga tidak akurat dengan fakta sejarah.

Bagaimana menurut anda? (Lihat juga versi: vivaldi)