Thursday, August 7, 2008

Ketika Saat Ajal Menjemput!


Suatu saat seorang Thera bernama Tissa tinggal di Savatti. Pada suatu hari, ia menerima seperangkat jubah yang bagus dan merasa sangat senang. Ia bermaksud mengenakan jubah tersebut keesokan harinya. Tetapi pada malam hari ia meninggal dunia.

Karena melekat pada seperangkat jubah yang bagus itu, ia terlahir kembali sebagai seekor kutu yang tinggal di dalam lipatan jubah. Karena tidak ada orang yang mewarisi benda miliknya, diputuskan bahwa seperangkat jubah tersebut akan dibagi bersama oleh bhikkhu-bhikkhu yang lain.

Ketika para bhikkhu sedang bersiap untuk membagi jubah di antara mereka, si kutu sangat marah dan berteriak, "Mereka sedang merusak jubahku!" Teriakan ini didengar oleh Sang Buddha dengan kemampuan pendengaran luar biasa Beliau. Maka Beliau mengirim seseorang untuk menghentikan para bhikkhu, dan memberi petunjuk kepada mereka untuk menyelesaaikan masalah jubah itu setelah tujuh hari. Pada hari ke delapan, seperangkat jubah milik Tissa Thera itu dibagi oleh para bhikkhu.

Kemudian Sang Buddha ditanya oleh para bhikkhu, mengapa Beliau menyuruh mereka menunggu selama tujuh hari sebelum melakukan pembagian jubah Tissa Thera. Kepada mereka, Sang Buddha berkata,

"Murid-murid-Ku, pikiran Tissa melekat pada seperangkat jubah itu pada saat dia meninggal dunia, dan karenanya ia terlahir kembali sebagai seekor kutu yang tinggal dalam lipatan jubah tersebut. Ketika engkau semua bersiap untuk membagi jubah itu, Tissa, si kutu akan merasa sangat membencimu dan ia akan terlahir di alam neraka (niraya). Tetapi sekarang Tissa telah bertumimbal lahir di alam dewa Tusita, dan sebab itu, Aku memperbolehkan engkau mengambil jubah tersebut.”

"Sebenarnya, para bhikkhu, kemelekatan sangatlah berbahaya, seperti karat merusak besi di mana ia terbentuk, begitu pula kemelekatan menghancurkan seseorang dan mengirimnya ke alam neraka (Niraya). Seorang bhikkhu sebaiknya tidak terlalu menuruti kehendak atau melekat dalam pemakaian empat kebutuhan pokok."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 240 berikut :

Bagaikan karat yang timbul dari besi,

bila telah timbul akan menghancurkan besi itu sendiri,

begitu pula perbuatan-perbuatan sendiri yang buruk

akan menjerumuskan pelakunya

ke alam kehidupan yang menyedihkan.

[sumber: Kisah Tissa Terra, Dhammapada, Mala Vagga(Noda-noda)]


Kisah Tissa Thera di atas sungguh merupakan kisah yang mengesankan!

Aku menduga (mungkin lebih tepatnya menuduh!) bahwa Tissa Thera dahulunya bukanlah seorang yang kaya raya! Sebuah baju bagus tidak akan menggerakan seorang seperti Aburizal Bakrie ataupun seorang Bill Gate yang tajir abis itu!

Tidak hanya baju bagus, terkadang baju lama yang biasa-biasa pun dapat menimbulkan rasa sayang yang berlebihan ketika si pemakai merasa nyaman memakainya.

Kemelekatan dan perasaan sayang/menyukai yang berlebihan tidaklah mengenal si kaya atau miskin, berkuasa atau tidak. Buktinya, banyak anggota Dewan terhormat dan pejabat-pejabat negeri ini terkapar di bawah selangkang dan/atau suapan materi yang sebenarnya tidak mereka butuhkan.

Kemelekatan hanya mengenal nafsu keinginan sebagai satu-satunya sahabat karib. Waktu bukanlah sparing partner untuk uji konsistensi dan komitmen. Lamanya waktu untuk mempertahankan konsistensi dan komitmen adalah relative bagi setiap mahluk.

Saat belum menjadi seorang Bikkhu, Tissa Thera mungkin saja merasa bahwa kesempatannya untuk merubah keberuntungan dan kesejahteraan dalam hal materi adalah sangat kecil terjadi di kehidupannya itu. Saat Ia mengenal Buddha dan ajarannya, mungkin saja Ia melihat bahwa menjadi Bikkhu merupakan sesuatu peluang yang menguntungkan baginya.

Toh, selama ini Ia bukanlah seorang yang berpunya jadi apa lagi yang memberatkannya? Ia mungkin saja berharap bahwa tindakan menjadi Bikkhu paling tidak akan mengamankan posisinya kelak dikelahiran kembali, yaitu ketika gagal mencapai Nirwana maka kelahiran berikutnya tidak lebih buruk lagi daripada menjadi seorang Manusia

Namun kecerobohan pikiran sesaat menjelang ajal menjemput membuatnya malah lahir kembali sebagai seekor kutu!


Pertolongan sang Buddha-lah merupakan faktor terpenting yang menyebabkan si kutu tidak jadi masuk Neraka dan malah terlahir kembali di alam Tusita.

Di alam Tusita, panjangnya usia Dewa adalah 576 juta tahun manusia. Di mana 400 tahun manusia (360 hari) adalah setara dengan 1 hari di alam Dewa Tusita, dan Dewa-dewa itu hidup selama 4000 tahun di alam Tusita. [A.i.214; iv.261; A.i.213; iv.253]

Kita mungkin berkata bahwa 7 (tujuh) hari melakukan komitmen adalah sebentar apabila dibandingkan dengan seumur hidup kita (misal: tujuh puluh tahun) tapi bagi seekor kutu seperti pada kisah di atas, maka 7 (tujuh) hari sudah berarti seumur hidup!

Misalkan si kutu di atas mempunyai karma perbuatan yang mengakibatkan ia selalu terlahir kembali sebagai seekor kutu sebanyak 3600 kali maka itu adalah setara dengan Ia dilahirkan kembali sebagai manusia dengan cukup hanya 1 kali saja!

Nah, bandingkan dengan keuntungannya apabila dilahirkan menjadi Dewa alam Tusita! 7 (tujuh) hari bagi mahluk yang berusia 576 juta tahun adalah setara dengan ± 2800 tahun bagi manusia!

Tissa Thera yang akhirnya terlahir menjadi Dewa di alam Tusita setidaknya sudah ’menghemat’ 8.2 juta kali kelahirannya kembali sebagai manusia atau 29.6 milyar kali kelahirannya kembali lagi sebagai kutu!

Saat ini, Sang Buddha sudah tidak ada lagi di dunia, tidak ada lagi pertolongan yang didapat seperti pada kisah Tissa Thera di atas. Namun demikian ucapan sang Buddha masih terekam utuh sampai dengan saat ini. Jadi, kita tidaklah sepenuhnya ditinggalkan sendirian.

Tissa Thera yang sekarang ada di alam Tusita dan juga Kita masih punya kesempatan! Kita-lah yang dapat menolong diri kita sendiri dengan penuh kewaspadaan menjaga konsistensi pikiran dan perbuatan kita!.

Hitung-hitungan waktu ala ‘glodok’ tersebut di atas tidak menyatakan hal lain kecuali keuntungan waktu relative atas buah perbuatan kita sendiri.

Bukan lamanya waktu yang diperlukan namun waktu yang singkat yang diwaspadai.

Tidak ber-preferensi terhadap apapun untuk waktu sejenak dua jenak adalah suatu hal yang mudah, mempertahankan konsisten berprilaku untuk seumur hidup bukanlah hal yang mudah, namun mewaspadai gerak pikiran sungguhlah suatu hal yang sulit!

Ucapan Sang Buddha di kisah Tissa Thera di atas sudah menjelaskan satu petunjuk penting, yaitu pikiran yang melekat saat ajal menjemput!

Waspadalah! Waspadalah! Waspadalah! Waspadalah!


12 comments:

  1. manusia kafir sih begitu ajal tiba langsung masuk alam kubur untuk menerima siksa kubur, dan setelah kiamat bisa segera memasuki neraka. jangan mimpi ada reinkarnasi pula, haaaa haaa tak ada itu, jgn ngimpi, nikmati saja tuh neraka!

    ReplyDelete
  2. M oon,
    Katanya orang masuk surga/neraka dibukakan pintunya nanti setelah kiamat..

    Tapi ternyata..

    Ada dua bukti sahih yang menunjukan Surga/neraka udah berpenghuni sebelum kiamat!

    1. Pristiwa "ajaib" Isra Mi'raj, dikatakan nabi muu bertemu jiwa-jiwa yang ada di sebelah kiri dan kanan Nabi adam, yang kanan adalah penghuni surga dan yang kiri adalah penghuni neraka!

    2. Ibunda dan Ayahanda Nabi SAW di neraka:
    "Dari Anas, bahwa seorang laki-laki pernah bertanya, "Ya Rasulullah ! Di manakah tempat ayahku ?" Jawab Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, "Di Neraka!"

    Maka tatkala orang itu berpaling hendak pergi, beliau memanggilnya, lalu beliau bersabda, "Sesungguhnya bapakku dan bapakmu tempatnya di neraka" [Hadits shahih Riwayat Muslim juz I halaman 132 dan 133. Periksa kitab Qaa'idatun Jalilah At-Tawassul wal Wasilah, halaman 8 cetakan tahun 1977 Lahore-Pakistan, oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.]

    "Dari Abu Hurairah, ia berkata, "Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah ziarah ke kubur ibunya, lalu ia menangis yang menyebabkan orang-orang disekelilingnya (para shahabat) turut menangis.

    Lalu beliau bersabda, 'Aku meminta izin kepada Tuhanku supaya aku dibolehkan untuk memohonkan ampun baginya, tapi tidak diizinkan bagiku.

    Lalu aku meminta izin supaya aku dibolehkan menziarahi kuburnya, maka diizinkan bagiku. Oleh karena itu ziarahilah kubur-kubur itu, karena menziarahi kubur itu dapat mengingat mati" [Hadits shahih Riwayat Muslim (3/65), Abu Daud (no 3234), Nasa'i (2/72), Ibnu Majah (no. 1572), Baihaqi (4/76), Ahmad dan Thahawi (3/189), Periksalah kitab : Tafsir Ibnu Katsir jilid 2 halaman 393, 394 dan 395, Ahkamul Janaaiz halam 187, 188 masalah ke-121 oleh Muhaddits Syaikh Muhammadn Nashiruddin Al-Albani]

    "Dari Buraidah, ia berkata, "Kami pernah bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam suatu perjalanan/safar, lalu beliau turun bersama kami, sedangkan kami pada waktu itu mendekati seribu orang.

    Kemudian beliau shalat dua rakaat (mengimami kami), setelah selesai beliau menghadapkan wajahnya kepada kami sedangkan kedua matanya mengalir air mata.

    Lalu bangkitlah Umar bin Khaththab menghampirinya dan berkata. 'Ya Rasulullah, mengapakah engkau (menangis)?'

    Beliau menjawab, 'Sesungguhnya aku telah meminta kepada Tuhanku Azza wa Jalla untuk memohon ampunan bagi ibuku, akan tetapi Ia tidak memberiku izin kepadaku, maka dari itulah mengalir air mataku karena kasihan kepadanya yang ia termasuk (penghuni) neraka". [Hadits shahih Riwayat Ahmad, Ibnu Abi Syaibah, Hakim (1/376), Ibnu Hibban (no. 791), Baihaqi (4/76) dan Tirmidzi]

    mengapa bisa bertentangan semua dari yang diajarkan ya?

    3. Saat menjelang ajal, nabimu saja ngga yakin masuk surga:
    Narrated 'Aisha:
    I heard the Prophet and listened to him before his death while he was Lying supported on his back, and he was saying, "O Allah! Forgive me, and bestow Your Mercy on me, and let me meet the (highest) companions (of the Hereafter)." See the Qur'an (4.69) and See Hadith No. 719 [
    Volume 5, Book 59, Number 715]

    Padahal, Diriwayatkan oleh Abu Dharr :
    Nabi berkata, Jibril datang padaku dan memberi aku kabar baik bahwa siapa saja yang mati tanpa menyembah apapun selain Allah akan masuk surga. Aku bertanya (pada Jibril), "Walaupun dia mencuri, walaupun dia berzinah?" Dia menjawab, " (Ya), "Walaupun dia mencuri, dan walaupun dia berzinah." [Hadis Bukhari Vol 9, Book 93, Number 579]

    Jadi, M oon..
    Disamping ajaran kalian itu saling bertentangan dan ngga karuan-karuan..maka bagaimana mungkin mempercayai sebuah ajaran yang bahkan
    1. Tidak bisa di pake menyelamatkan IBU dan AYAHnya sendiri!

    2. sipembawa ajaranpun, Yaitu UTUSAN ALLAH yang PALING DISAYANG ALLAH yang jelas-jelas NGGA KAFIR, sampe ngga yakin bisa masuk surga dengan ajarannya sendiri?

    Lah selevel nabi aja ngga yakin dengan ajarannya..apa lagi yang bukan selevel itu

    ngeriiiiiii....deh.

    ReplyDelete
  3. Pak Wira, Apakah benar Bpk/Ibunya Nabi Muhammad sdh dipastikan di Neraka??? Terus kira2 itu di neraka kekal atau gak?

    Terus apa bener sih maunya Islam itu mau mengislamkan semua isi bumi ini? Lalu apakah itu perintah Allah atau cita2 nabi Muhamad saja?

    ReplyDelete
  4. mmg ngasal bacotz aja tuh, nabi itu manusia mulia, tentu saja orang tua nabi. manusia yg hiup di masa kekosongan antar masa kenabian, maka tidak bisa begtu saja disebut kafir dan lantas masuk neraka, hadist itu pun masih diragukan kesahihannya, dan hanya Allah lah yg paling tahu seseorang itu di neraka atau di surga, itu sepenuhnya keputusan dan hak mutlak Allah selaku Sang empunya surga dan neraka. Manusia hanya bisa menebak-nebak saja. Tak ada satupun manusia yang yakin ttg hal ini, sepenuhnya wewenang dan hak mutlak Allah.

    elu yg main asal sok tahu, justru mengira bakalan masuk surga, padahal sesungguhnya surganya itu adalah PALSU. haaa haa haaa haaa haa. bego dipiara, mau melawan kok Tuhan!

    ReplyDelete
  5. M oon:
    maka tidak bisa begtu saja disebut kafir dan lantas masuk neraka, hadist itu pun masih diragukan kesahihannya

    Saya:
    Hahahahahahahaha..jadi karena Ajarannya bertabrakan..lantas hadis itu tervonis palsu ya...hahahahaha

    Nabinya yang jelas2 ngaku UTUSAN ALLAH dan penyembah yang TAUHID aja masih bingung dirinya masuk surga/tidak..Mmmmhhh..yang jelas2 bukan nabi..apa lagi...

    ReplyDelete
  6. Keputusan siapa yang akan masuk neraka atau surga itu hak mutlak Allah. Tak seorangpun manusia, meski seorang nabi sekalipun yang tahu siapa-siapa yang pasti masuk surga atau neraka, nabi hanya diajarkan tentang ciri-ciri ahli surga atau ahli neraka itu yang bagaimana, sebagai pedoman bagi manusia untuk menghindari takdir akhir yang buruk, masuk neraka. Manusia dilarang sama sekali untuk sok tahu tentang takdir akhirnya, hanya Allah saja yang berhak tahu dan menentukannya. Itulah mengapa nabi tak berani mengatakan si A, si B, si C akan masuk surga, si X, si Z akan masuk neraka, karena tak seorang manusia, bahkan nabi sekalipun yang boleh sok tahu dengan takdir akhir seseorang.

    ReplyDelete
  7. ttg Reinkarnasi:

    Seluruh agama selain Islam adalah sempalan dari ajaran Islam yang telah diajarkan sejak manusia pertama hingga manusia terakhir, makanya banyak kemiripannya dengan agama Islam, tapi juga ada penyimpangan-penyimpangan atau distorsi dari ajaran Islam, seperti ttg reinkarnasi ini.

    Umumnya umat Hindu percaya apa yg dinamakan “Samsara”, yaitu perputaran kelahiran & kematian berulang kali, yg dikenal dg nama “Reinkarnasi”. Yaitu orang yang sudah mati rohnya akan berpindah pada sosok lain yang akan lahir kembali di dunia. Bila amalannya baik, maka ia akan terlahir kembali dg kehidupan yg lebih baik, tapi bila amalannya jelek ia akan terlahir kembali dg kehidupan yg buruk atau menjadi makhluk yg lebih rendah derajatnya. Begitulah terjadi berulang kali. Mereka mengatakan konsep Samsara inilah yg dapat menjawab mengapa ada orang yang lahir cacat dan miskin. Sebab untuk apa Tuhan menciptakan orang cacat dan orang miskin di dunia ini? Begitulah kepercayaan umum kebanyakan umat Hindu.
    Akan tetapi ternyata hal ini tidak terdapat dalam Weda. Yg disebutkan Weda hanya “Punarjanam” atau hidup berikutnya atau hidup lagi, tapi bukan perputaran hidup-mati. Para cendekiawan Hindu mengatakan bahwa tidak pernah ada konsep perpindahan roh / reinkarnasi dalam Weda.
    · Rigveda Bk. 10 Hymn 16 V. 4 – 5 berbicara mengenai kehidupan sesudah mati, bukan perputaran hidup-mati.
    · Dalam Weda juga terdapat konsep surga dan neraka yg mirip dg konsep dalam Islam. Surga digambarkan sbg tempat yg sangat indah, banyak mengalir sungai susu, buah2xan bermacam-macam, tempatnya indah, dll. Neraka juga digambarkan mrip dg konsep dalam Islam, dimana neraka digambarkan dg gambaran api, dimana di neraka orang akan mengalami penderitaan.

    ReplyDelete
  8. M oon katakan:
    Akan tetapi ternyata hal ini tidak terdapat dalam Weda. Yg disebutkan Weda hanya “Punarjanam” atau hidup berikutnya atau hidup lagi, tapi bukan perputaran hidup-mati. Para cendekiawan Hindu mengatakan bahwa tidak pernah ada konsep perpindahan roh / reinkarnasi dalam Weda.
    · Rigveda Bk. 10 Hymn 16 V. 4 – 5 berbicara mengenai kehidupan sesudah mati, bukan perputaran hidup-mati.

    Saya:
    wuiihhh keren ada cendekiawan hindu..btw yang mana ya..tolong dong di sebutkan nama..biar ngga asbun geto...seperti sebelum2nya

    sekalian gw buktikan asbunnya lo di terjemahan ini:
    RV 10.16.4-5

    Versi Ralph T.H. Griffith:
    4 Thy portion is the goat: with heat consume him: let thy fierce flame, thy glowing splendour, burn him
    With thine auspicious forms, o Jātavedas, bear this man to the region of the pious.
    5 Again, O Agni, to the Fathers send him who, offered in thee, goes with our oblations.
    Wearing new life let him increase his offspring: let him rejoin a body, Jātavedas.

    lantas mana maksudnya? hehehehe..ngaku2 dan mo nyama2in hindu..kesian amat si lo

    btw hindu itu jelas lho kalo mati bisa masuk surga saat mati, namun Islam? yang bener yang mana..apa nunggu kiamat dulu...ato udah bisa masuk surga? nah..makanya baca komentar2 saya di atas dan sebelumnya..supaya kamu ngga ngaco2 amat ya..

    kesian amat..

    ReplyDelete
  9. Siapa yg sudi agamanya disamain dg ajaran sesat kamu itu, jelas mansia mati nunggu dulu di alam kubur baru setelah kiamat bisa masuk surga/neraka. Makanya tak usah sok tahu thd agama orang lain, kamu dgn agamamu sendiri aja masih bingung kok sok tahu!

    nieh pelajari:
    ttg penolakan wedha thd reinkarnasi:
    http://www.sacred-texts.com/hin/rigveda/rv10129.htm
    4 Thereafter rose Desire in the beginning, Desire, the primal seed and germ of Spirit.
    Sages who searched with their heart's thought discovered the existent's kinship in the non-existent.
    5 Transversely was their severing line extended: what was above it then, and what below it?
    There were begetters, there were mighty forces, free action here and energy up yonder
    ttg kabah di wedha:
    http://www.sacred-texts.com/hin/rigveda/rv03029.htm
    4 In Iḷā's place (BAITULLAH) we set thee down, upon the central point of earth (MEKAH),
    That, Agni Jātavedas, thou mayst bear our offerings to the Gods.

    ReplyDelete
  10. M-OON,
    kamu katakan, "Siapa yg sudi agamanya disamain dg ajaran sesat kamu itu"

    Saya:
    lha kamu sendiri nyama2in tuh..hehehe ngga tau malu..katanya sempurna..koq BUTUH PERLINDUNGAN HINDU...HAHAHAHAHA

    Kemudian,
    kamu katakan Veda ngga ada reinkarnasi dengan merujuk RV 10.129.4-5.
    4 Thereafter rose Desire in the beginning, Desire, the primal seed and germ of Spirit.
    Sages who searched with their heart's thought discovered the existent's kinship in the non-existent.
    5 Transversely was their severing line extended: what was above it then, and what below it? There were begetters, there were mighty forces, free action here and energy up yonder

    mana ditulis PENOLAKAN thd reinkarnasi? kamu bisa baca inggris ngga sih?..

    hehehehehehe..

    kemudian kamu katakan kabah di wedha dengan merujuk
    http://www.sacred-texts.com/hin/rigveda/rv03029.htm

    Ternyata yang kamu rujuk ngga ada tuh pada tulisan ASLI oleh Ralph T.H. Griffith

    4 In Iḷā's place we set thee down, upon the central point of earth, That, Agni Jātavedas, thou mayst bear our offerings to the Gods.

    Malah terlihat sekali contekan kamu nambah2in..hahahaha

    kemudian di MAX MULLER:
    Ngga ada tuh ditulis MEKKAH dan BAITULLAH, malah MUller memberikan keterangan dengan pasnya spt ini:

    3. Place it 1 skilfully into her who lies extended 2. Having conceived she has quickly given birth to the manly one. He whose summit is red—bright is his splendour—the son of Ilâ has been born in the (due) way 3.

    4. In the place of Ilâ, on the navel of the earth we will lay thee down, Gâtavedas, that thou, O Agni, mayst carry the offerings (to the gods).

    note 3, nya tertulis:
    Prof. Pischel (Vedische Studien, I, 301) takes the genitive ílâyâh as dependent on vayúne: 'wurde der Sohn geboren am Orte (Wege) der Opferspende.' To me it seems unnatural not to connect ílâyâh with putráh, which words are connected also by the Sandhi (the Samhitâ text has ílâyâs putró, not ílâyâh putró).

    Ngga nyambung kemana2 dengan Baitullah dan Mekkah...

    Tau yang dimaksud dan arti dari Ila atau ilayah dengan sandi fonetisnya?

    arti ila/ilayah adalah aliran, bumi, kalimat, rahim [kandungan]..dan biasanya digunakan sebagai nama yang artinya bumi.

    jadi, kalo mo nyontek..pastikan sumbernya bukan dari pendapat orang ngga jelas model ZAKIR NAIK yang di fatwakan kafir oleh Darul Uloom Deoband yang notabene para ulama islam sendiri yang menfatwakan!

    Pastikan yang punya artikel yg kamu contek paham dikit aja mengenai bahasa..dan pastikan tanggapanmu nanti ngga ngasal lagi

    Sekarang gw makin heran ama lo, dari sekian banyak komentar2 lo..ternyata lo itu bahkan untuk Ngertiin Islam --> goblok, nyontek --> goblok...

    Lantas kebisaan lo itu apa sih?

    ReplyDelete
  11. lucu sekali cara pikir budha itu, mengira jin qarin sebagai roh manusia mati, lalau mengira bereinkarnasi. wk wk wk Kekafiran memang dekat dengan kebodohan. mengira dirinya tuhan. mengira tuhan tak ada, hanya karena menurut logika pikirannya yang sangat terbatas itu tuhan tak ada, dan hanya karena mereka tak mampu melihat tuhan padahal kemampuan manusia jelas terbatas, baik kemampuan fisik indra tubuhnya, hingga kemapuan logika berpikirnya yang sangat terbatas itu.

    No, reinkarnasi itu TAK ADA.

    Isra mijrad itu perjalanan nabi ke atas menghadap Allah dan melongok ke masa depan. Sehingga nabi bisa tahu akan seperti apa itu surga dan neraka kelak setelah kiamat.


    ReplyDelete
  12. orang kayak gini koq di ladenin, malah makin seneng...wong tujuannya udah beda.../saran: jgn pernah jwb apapun celotehan dia..., type org spti ini semakin diladenin semakin orgasme.>cuh

    ReplyDelete