Minggu, 15 Februari 2009

Cuma Kisah Biasa..Ngga Ada Yang Spesial..


Goin’ to Jakarta, again! Ah..kalimat ini sungguh menyebalkan bagiku sekarang!..namun, Kamis minggu lalu..toh, tetap juga kujalankan.

Padahal dulu, sewaktu lulus kuliah dari UniKa Parahyangan Bandung dengan IPK pas-pasan 2.4 saja, aku masih sangat PD dan selalu yakin bahwa pasti bekerja di kota yang paling ramah uang di Indonesia!

Aku adalah orang Bali, walaupun Bali adalah Pulau Internasional, namun tidak pernah ku hitung Bali sebagai kota ramah uang!..

Mengapa?

Saat itu dan ternyata hingga sekarang...rata-rata gaji untuk pegawai di Bali termasuk yang terkecil di Indonesia..

So, For me…the money friendliest city in Indonesia are…Jakarta, Bandung dan Surabaya.

Sewaktu memutuskan itu, Aku lupa satu hal, orang kaya ada dimana-mana begitu juga orang miskin!

Hidupku berjalan bersama 2 sahabatku yaitu kemudahan dan kesusahan.

Mereka senantiasa bersamaku. Abangnya sang Kemudahan sangat jarang melirik padaku, namun adiknya sang Kesusahan entah mengapa justru sangat rapat denganku. Keakraban itu terlihat jelas dalam fluktuasi hidupku, berkisar dari sangat susah, susah dan kadang-kadang hampir susah.

Ada grafik yang stabil, yaitu keuangan yang super pas-pasan…sehingga perlu modifikasi tambal sulam untuk mensiasati remah-remah sisa gaji bulanan yang telah tercabik-cabik hutang dan kerkoyak-koyak biaya hidup. Dari hasil itu, masihlah kubisa mempunyai rumah dan tanah..

Tidak terasa tiga belas tahun berlalu, Sebagai orang Bali, ternyata akupun terkena penyakit umum orang Bali, yaitu merasa belum lengkap selama belum pulang ke Bali…dan itu melanda padaku..padahal aku cuma numpang lahir di Bali..sisanya besar di Bandung dan tidak pernah lebih lama dari 1 bulan tinggal di Bali..berbahasa balipun aku tidak bisa malah lebih piawai berbahasa sunda. Pokoknya ada 1001 alasan, mengapa harus pulang ke Bali dan hanya 1 alasan mengapa tetap di Jakarta, yaitu Karir.

Dari semua hal-hal stabil dalam hidupku salah satunya adalah karir dan kestabilan itu benar2 sempurna tanpa cacat ku pertahankan! Upaya-upaya menapak karir, tentunya sudah lah kulakukan..Dari mulai bekerja rajin, melanjutkan sekolah lagi, bersiasat, menjilat, memberontak dll..Ahhh, pokoknya everything dah..and guess what..it's always been sam-o sam-o!! LoL!

Ternyata karir emang barang mewah dan langka bagiku. So, kalau dah juga 13 tahun stabil jadi staf..why not for the next 13 years, ngga bakalan masih staff juga, ya toh!

Wake up man!

Runtuh juga 1 alasan itu, Kemudian dari hasil rembukan bareng istri, maka sampailah kami pada satu kesimpulan, yaitu mesti ada team advance yang balik duluan ke Bali. Istri dan anak-anakku, akhirnya pulang duluan ke Bali..dan tinggal, lah aku di sini..sendiri.

Awalnya, kupikir, ‘Pindah kan lebih mudah..piece of a cake-lah!!’

Ternyata aku keliru!

Pokoknya..lagi, dengan segala daya upaya..aku harus pulang keBali! Selama waktu menunggu dan berupaya pindah, Harus kusiapkan modal untuk menetap di Bali, jadi rumah dan tanah ku pasangi plank ‘Di Jual’..sekali-kali ku iklankan di Poskota...

Berita baiknya, upaya pindah berhasil di dua tahun lebih kemudian!

Berita basinya, rumah dan tanah keukeuh aja ngga laku-laku! Bahkan hingga saat ini…

Yah..inilah Rumah itu...

Orang-orang bilang..coba pakai sarat..cari orang pintar…hehehehe..beberapa orang ‘pintar’ dari berbagai variasi kalangan agama telah ku datangi dan di coba..hasilnya..hahahahaha...ilmu mereka luntur dan kena batunya juga..di rumah dan tanah itu!

Di akhir periode, mereka selalu ujarkan dengan mantra yang sama, "Belum jodohnya, pak.." Yaa elahhh, untuk kalimat itu sih..ngga perlu pake "orang pintar" buat tahu, ya toh!

Kira-kira seperti itu deh posisiku, ketika hidup 2 tahunan berjauhan dengan keluarga..

Kamis itu, aku terbang ke Jakarta..kupasangi lagi plank di rumah itu, ku cat dan plitur lagi rumah..pokoknya kurapihkan lagi..biar kinclong.

Kali ini, untuk pertama kalinya dalam hidupku, selain rasa malas yang tetep setia mendampingiku, maka praktis Ku datang tanpa target yang berarti.

Dari rencana 3 hari, ternyata di hari kedua semua terselesaikan. Pokoknya dari acara membuat kunci duplikat, menitipkan kunci dan copy sertifikat, mencari tukang bangunan, memborongkan pekerjaan, menitip uang dan bantuan mengawasi, hingga masih ada waktu buat menjenguk seorang sahabat "oon" yang tengah menggeletak sakit jantung di RS Mitra Ramsey International di Jatinegara..

Sahabatku itu, adalah orang dengan cita-cita tinggi dan sangat fokus. Ya, pokoknya dia itu sangat fokus untuk menjadi orang kaya, gitu deh!..Untuk itu, segala macam upaya pun telah dilakukan dan tentu saja telah dilanggarnya pula..

Dari harapan yang tinggi melambung pada sekian banyak ragam proyek-proyeknya, ternyata semua berjalan curam di jalur jeratan hutang piutang yang membuatnya terkapar di ranjang rumah sakit.

Yup, just another sample dari nafsu keinginan yang tak kunjung terpuaskan..bermutasi dari satu bentuk ke bentuk lainnya di balutan nikmat dan susah. Walaupun tak juga pernah Ia promosikan dirinya tapi entah kenapa, justru kitalah yang bergegas mengejarnya bagaikan laron menubruk api yang berakhir dalam sebuah kesia-siaan di penghujung cerita.

Sabtu siang itu, sambil menunggu waktu ku berangkat pulang, terkenanglah Aku pada semua yang telah berlalu..

I'm leaving on a jet plane, I don't know when I'll be back again..