Minggu, 08 Februari 2009

Trunyan, Satu-satunya Desa Anti Gempa di Dunia?


Sabtu malam minggu, kira-kira jam 23 malam WITA, bosan sudah dengan surfing di Net dan memantau Face book, munculah iseng. Segera ku bangunkan anak-anak dan Istri,

"Mmmhhh…Mau ngga ke Danau Batur, Kintamani..Pagi-pagi, lihat matahari terbit di Danau, terus naik boat menuju Trunyan, lihat mayat-mayat yang tidak dikubur..tapi cuma di letakan di bawah pohon namun bau mayat sama sekali ngga tercium?"

Mendengar itu, kantuk mereka mendadak hilang, dengan cepat dan ramainya mereka berteriak, "Mau!..Mau!..Mau!" [Lho,Koq...malah jadi kaya iklan provide selular, ya..]

Malam itu juga kami, berkemas secepat kilat, mampir sebentar ke Circle K, beli rokok, air dan cemilan kemudian tancap gas menuju Trunyan.

Kira-kira jam 02.30 pagi, sampailah di pinggiran Danau Batur, kintamani, di tempat penyeberangan. Ya, tidak ada siapa-siapa…hujan lebat. Sesuai rencana awal, maka kami teruskan tidur di kendaraan hingga kabut pagi menyapa danau.

Pagi itu, masih tidur…pokoknya belum bangun..arwah belum ngumpul..belum sempat menghirup secangkir kopi dan sebatang rokok, datanglah seorang penduduk. Ia adalah penduduk asli Kintamani. Setelah berbasa-basi sejenak, Ia menawari boat untuk mencapai Trunyan ditambah satu lokasi lagi ke pemandian air panas setelahnya. Di counter, aku lihat tariff Boat Trunyan VV adalah Rp 385.000,- [kira-kira, untuk tujuh orang dan Rp 375.000 untuk 5 orang]. Penduduk asli kintamani ini menawarkan harga Rp 550.000 hingga semua urusan kami selesai. Ia akan menunggu. Tawar-menawar berakhir di angka Rp 500.000.

Kemudian ku pikir, "Ah, biarlah.."

Sambil menunggu tukang boat itu mengambil Solar..datanglah satu-dua pedagang asongan..mulai mengerubungi kami..menawarkan aneka macam hiasan mainan berikut segala daya upaya mereka, Merayu.

Begitu melihat mereka, Istriku segera memberikan ‘pengarahan’ singkat kepada ku, "Udah..jangan beli apa-apa…"

Kelihatannya Pengalaman, menunjukan khasiatnya.

Istriku, yang sebelumnya bersiap dengan pesan singkatnya, ketika melihat mereka datang, Eh...akhirnya malah luluh juga dalam serbuan itu. Ia akhirnya merogoh kocek, membeli sesuatu yang jelas-jelas tidak kami perlukan. Melihat reaksi postitive kami, Pedagang yang satunya lagi, malah mengambil ancang-ancang bersiap-siap berpartisipasi aktif hendak turut menguras kocek! Padahal saat itu masih pagi sekali…belum-lah jam 06.00!

"Buset!...", Pikir ku, tapi untunglah si bapak tukang boat itu segera datang dengan solarnya dan kami buru-buru ikut agar terlepas dari jeratan para pemangsa kocek itu!..Tapi mereka memang hebat, hingga boat itu lepas dari talinya, tidak kunjung berhenti kicauan mereka!

Aku sudah 3 x Ke Danau Batur. Untuk ke Trunyan, maka dengan sekarang adalah untuk yang kedua kalinya. Tidak ada yang nyaman dengan tingkah pola penduduk kintamani ini. Cara mereka menawarkan, dagangan, menawarkan perahu dan mengemis lebih mirip orang tuli. Dari semua bahasa yang mereka dapat dari para pengunjung, kelihatannya, hanya satu kata saja yang mereka tidak kenal, "Tidak!"

Dua puluh menit kemudian, Setelah melewati Desa adat Trunyan, sampailah kami di tempat yang terkenal di seluruh dunia, dimana mayat diletakan begitu saja di bawah pohon.Tempat itu bernama Sema [Kuburan] Wayah [tua]

Ada yang berubah sejak pertama kali aku datang kesana. Sekarang Tempat pemberhentiannya berubah agak kesebelah kiri. Tempat itu sekarang ada beberapa bangunan termasuk Toilet diantaranya. 20 meter agak kekanan ada lah Gapura masuk, ke Sema Wayah dan hari itu ada empat mayat.

Mayat itu di letakan di dekat sebuah pohon besar, Pohon itu disebut Taru [pohon] Menyan [wangi], Pohon itu sudah berusia ratusan tahun. Pohon itulah yang menyerap bau dari proses pembusukan mayat.

Di kisahkan, bau harum taru menyan, memancing Ratu Gede Pancering Jagat mendatangi sumber bau. Di sekitar pohon-pohon hutan cemara Landung, beliau bertemu dengan Ida Ratu Ayu Dalem Pingit [Ratu Ayu Dalem Dasar]. Mereka kemudian menikah dan disaksikan oleh penduduk Desa Hutan Landung yang sedang berburu. Sebelum meresmikan pernikahan, Ratu Gede mengajak penduduk Desa Cemara Landung untuk membuat desa yang bernama Taru Menyan dan lama kelamaan terkenal menjadi Trunyan. Itulah asal kata Trunyan.

Trunyan merupakan satu dari tiga Suku Bali asli [Bali Aga], yaitu suku yang ada dibali sebelum Jaman Majapahit dan sebelum gelombang pengungsian warga kerajaan Majapahit terakhir yang menolak menjadi Muslim [hijrah ke Bali]. Dua suku Bali asli lainnya adalah Suku Tenganan di Karang Asem [Smarapura] dan Suku Yeh Tipat di Singaraja. Trunyan termasuk di lingkup Kabupaten Bangli.

Suku Trunyan, punya tiga cara unik menangani mayat, diupacarai yang setara dengan upacara ngaben di tempat lain:

  • Untuk yang meninggal adalah Bayi, maka mayatnya dikubur, lokasinya disebut Sema Muda, kira-kira 200 meter-an ke sebelah kanan lagi namun sebelum desa trunyan dari arah sekarang ini.
  • Untuk yang meninggal adalah orang yang kecelakaan, dibunuh atau bukan karena mati normal. Maka mereka anggap itu mempunyai kesalahan besar. Lokasi mereka di kubur [Sema bantas] adalah di perbatasan antara desa Trunyan dan Desa abang. Letaknya Jauh dari tempat kami sekarang.
  • Untuk yang mati normal, Mayat mereka diberi kain putih dan hanya diletakan dibawah Taru Menyan [Pohon wangi]. Maksudnya mati normal adalah tidak punya salah/kesalahan sesuatu, diluar kreteria di atas.

Mayat itu diletakan di atas tanah dengan lubang yang sangat dangkal [kira-kira 10 - 20 cm]. Tujuannya supaya tidak bergeser-geser [karena bidang tanah ditempat itu tidaklah dapat disebut datar]. Jumlah maksimum mayat yang diperkenankan ada di bawah pohon taru menyan adalah 11 mayat. Alasannya adalah mayat yang ke 12 dan seterusnya, akan berbau . Baunya tempo-tempo ada...tempo-tempo tidak.

Kalo menurut perkiraan saya, bisa jadi itu disebabkan keterbatasan bau yang dapat diserap oleh taru menyan tersebut, yaitu kurang lebih sekitar 11 x 60 kg [asumsi berat rata-rata mayat] = 660 kg. Sehingga untuk menyerap mayat berikutnya menjadi tidak maksimal.

Namun, Si tukang boat juga punya cerita lain.

Walaupun mayat itu mati normal sekalipun, namun jika tidak sepenuhnya bersih dalam artian bersih dari kesalahan, maka bau mayat akan tetap ada walaupun tempo-tempo ada dan tempo-tempo tidak. Bukan cuma itu, mayat yang ‘ada kesalahan’ itu, lebih cepat busuk dari mayat yang lain [rata-rata pembusukan normal adalah 2 bulanan].

Tukang boat itu, juga menambah ceritanya.

Pernah pada suatu ketika, seorang turis yang berasal dari US, mengambil kenang-kenangan berupa uang logam bolong [biasanya dipakai di proses penguburan di Bali], ia bawa ke US, di sana ia punya losmen dan losmennya itu konon tempo-tempo berbau mayat hingga akhirnya menjadi sepi. Singkat cerita, ia kembalikan lagi uang logam bolong itu ke tempat asalnya.

Populasi desa Trunyan, kira-kira 200 Kepala Keluarga, Mereka menganut perkawinan patrilineal. Mereka adalah para penduduk asli turun temurun, tidak ada pendatang. Maksudnya, apabila ada perempuan menikah dengan orang luar, maka ia tidak lagi tinggal di desa itu dan menjadi orang luar. Apabila yang lelaki menikah dengan orang luar dan bersedia mengikuti adat istiadat desa, maka ia dapat tingga di sana.

Di desa itu ada Pura besar yang bernama Pura Pancering Jagad, yang diartikan kurang lebih Pura Kancing Bumi. Pure pancering Jagad ini, diperkirakan dibangun di abad ke 9. Menurut riwayat, pada tahun Saka 813 [kira-kira 891 M], Raja Singhamandawa memberi ijin penduduk asli disana untuk mendirikan Pura Turun Hyang, tempat pemujaan Bhatara Da Tonta/Hyang Pancering Jagad. Pura ini bertingkat tujuh [meru tumpang tujuh]. Masyarakat Trunyan percaya pura ini adalah pura pertama yang dibangun di Pulau Dewata.

Mahluk suci yang berstana di situ bernama Ratu Pancering Jagad. Bentuk fisik duniawinya adalah batu yang tumbuh dari tanah [batu Megalitik]. Mengapa disebut tumbuh adalah karena batu itu makin besar dari pertama kali ada . Saat ini ada empat batu. Yang tertua sepanjang kurang lebih 12 Cm dan yang termuda 6 Cm. Letaknya yang 8 Cm paling kiri, kemudian berurutan yaitu 12 Cm, 10Cm dan 6 Cm. [tingginya itu adalah kira-kira dari penuturan..tapi ada yang mengatakan bahwa itu adalah Patung batu setinggi 4 Meteran. Menurut penduduk, itu merupakan suami istri dan dua anak...hehehe kaya KB aja]

Odalan [semacam Perayaan Ulang tahun] pura ini dilakukan setiap sasih kapat [Purnama penuh bulan ke empat penanggalan hindu] dan hanya bisa dilakukan bila musim panas tidak terlalu panjang, tidak ada orang meninggal dunia dan tidak ada yang melahirkan anak kembar buncing [kembar laki-laki dan perempuan]. Jadi, jelas tidak dilakukan tiap enam bulan seperti pura-pura lain diseluruh bali dan belum tentu terjadi tiap tahun.

Masyarakat Trunyan merayakannya dengan pementasan tarian sakral, Barong Berutuk dan tari Sanghyang Dedari. Barong [semacam tarian topeng] Berutuk dilakukan dari pagi hingga menjelang matahari terbenam itu, penduduk Trunyan beramai-ramai berusaha merobek busana [keraras kering] yang dikenakan para pemain. Para pemain Berutuk,terdiri dari lelaki semua, harus berjumlah ganjil, maksimum 21 orang, mereka membawa cambuk, berusaha mengusir siapa saja hendak menyobek busananya. Konon, sobekan daun keraras kering, dapat membuat Desa Trunyan yang kalau sedang lama tidak turun hujan, maka begitu upacara selesai, hujan-pun turun dengan deras

Akibat adanya Ratu Pancerin jagad, maka masyarakat Trunyan percaya bahwa desanya menjadi satu-satunya desa di dunia ini yang anti gempa. Menurut cerita si tukang boat, Beberapa waktu yang lalu ada gempa yang terjadi di Seririt, Singaraja yang juga dirasakan oeh penduduk kintamani, namun tidak dirasakan di trunyan. Tanda adanya gempa disekitarnya dapat dilihat penduduk Trunyan melalui pancaran mata air yang keluar tidak lurus keluarnya namun bergoyang2.

Yup, itulah dunia, banyak sekali keanehanya.

Desa itu disamping mempunyai Pura Utama juga ada Pura Pedadian [Kelompok/keluarga] berjumlah 12, sesuai dengan kelompok keluarga di Desa Trunyan.

Ya..Oke deh, kembali kecerita awal...ketika kami baru 5 menit-an di tempat mayat itu [Sema wayah], tiba-tiba datanglah sekelompok orang dengan boat. Tukang boat itu memberi tahu,

"Yang datang...penduduk asli trunyan, mereka mempunyai pekerjaan adat meminta-minta. Kalau tidak mau diganggu mari kita pergi."

Benarlah, melihat kami hendak pergi, walaupun perahu itu sudah merapat namun mereka segera balik kembali. [Mungkin mereka pikir...Ah, ini sih turis kanker..kantong kering..sudah domestik..eh, orang bali pula, apes deh]

Kami kemudian meneruskan perjalanan ke suatu daerah yang bernama Toya Bungkah, sebuah daerah di area danau Kintamani, dengan mata air panas yang keluar dari tanah. Di tempat itu, ada 3 pemandian umum. Satu bertarif Dollar yang ada Bungalownya..dan tentu saja bukan kelas kocek kami.. yang kedua adalah baru dibangun 5 bulanan, kelas domestic Rp 25.000/orang dan yang ketiga Gratis. Saat itu masih jam 7 an, tempat mandi gratis itu sudah penuh penduduk asli yang mandi.

Hehehe…tebaklah dimana kami mandi.

Setelah puas mandi, kami kembali ketempat awal. Belum kami menjejakkan kaki, gelombang kedua pedagang asongan sudah mengerubungi kami. Kali ini ada produk baru yang mereka tawarkan,

"Kepang pak anaknya yang cantik-cantik itu di kepang, lima menit jadi..murah cuma 10.000..!"

[Sumpah, deh..mereka yang mengatakan anak-anak-ku yang cewek cantik-cantik..itu bukan karangan aku]

Dan itu diulang-ulanglah kalimat itu seperti iklan kampanye para caleg di TV. Pusinggggg sekali mendengar itu. Pokoknya kami di kawal kemana-mana, bahkan ke toilet sekalipun! Ketika masuk ke toilet, maka kicauan itupun berhenti!.

"Ahhhh, Akhirnya!!!", pikirku.

Begitu keluar kamar kecil..Busettt! Ternyata mereka masih ada! Ya, mereka setia menanti! Tanpa membuang waktu, bagaikan koor, kicauan para pedagang itu mulai lagi...makin bersemangat malah dan ada kalimat tambahan,

"Ayo pak, beli mainan ini, untuk penglaris, tadi ibu belinya kemahalan, beli ini juga, ini lebih murah…supaya ngga rugi"

Buset! Logika apa ini?

Kami buru-buru masuk kendaraan, tapi ketika hendak menutup pintu-pun, para pedagang gigih ini masih belum mau menyerah! Satu orang menahan pintu kendaraan dan mengeluarkan senjata pamungkasnya sambil mengeluarkan satu hiasan mainan,

"Lima ribu saja..penglaris pagi..supaya saya bisa makan"

Karena sebal, istriku akhirnya mengeluarkan uang untuk mengakhiri gangguan ini, namun ternyata, si pedagang malah tidak memberikan hiasan yang pertama kali ditunjukan tapi barang satunya lagi. Nah, mulailah drama menjengkelkan itu muncul. Istriku jelas tidak mau..serta mengembalikanya lagi.

Wah, ternyata pedagang itu malah marah-marah, "Yang bener dong, bu,…Pak, coba kasih tahu Istrinya ini".

Daripada ribet ngga karuan, kami kembalikan hiasan itu dan uang pun tidak kami ambil kembali…Pusinggg!

Perjalanan turun, kami mampir ke Tirta Empul, Tampak Siring, di Tempat itu ada 11 pancuran air yang berbeda, keluar dari tanah ke dalam satu kolam. Kami berendam lagi disitu…airnya dinginnnn deh!. Setelah puas berendam, Akhirnya kami pulang. Dan, seperti biasa….mereka tertidur sementara sang sopir, berjuang keras bertahan dari kantuk yang ganas…hingga akhirnya tiba di papan ketik ini.

Mengetik ini, tiba-tiba aku pikir, "Eh, koq bisa ya…dari tadi angka 11 muncul terus, berangkat jam 11, mayat jumlahnya 11, pancuran ada 11, pulangnya juga nyampe jam 11….Apa perlu aku pasangin nomor togel ngga, ya?"

Ya…Di bali, Togel marak…kelihatannya gubernur sekarang, Mangku Pastika, lupa ketika menjadi Kapolda Bali, Ia nyatakan perang terhadap Judi. Sekarang Ia Gubenur, Togel tumbuh subur di bawah kepemimpinan Beliau.

Yeah, That’s life..easy to forget

Arghhh! Tulisan ini terlalu panjang sudah! Sekarang aku butuh sebatang rokok dan secangkir Nescafe panas…masih terbayang dalam ingatanku sayup-sayup Bon Jovi mengalunkan Santa Fe..

"…I swear I'm gonna live forever Tell my maker he can wait…"