DISCLAIMER:
Seluruh tulisan dalam blog ini adalah opini tandingan (counter-opinion), disusun berdasarkan metodologi studi kritis terhadap teks, sejarah, dan sains. Penulis menggunakan referensi primer dari berbagai literatur otoritatif untuk memberikan perspektif alternatif bagi pembaca. Gaya bahasa yang digunakan bersifat provokatif-intelektual guna memicu pemikiran kritis. Tidak ada maksud untuk melakukan penghinaan personal terhadap individu atau kelompok tertentu, melainkan murni bedah kritis terhadap gagasan dan doktrin. Untuk pembaca yang bermasalah secara emosional dan/atau nalar dalam membedakan antara MELECEHKAN VS MENYAMPAIKAN SESUAI RUJUKAN, maka SANGAT DISARANKAN untuk TIDAK MEMBACA. Untuk jenis pembaca lainnya, selamat membaca.
Seluruh tulisan dalam blog ini adalah opini tandingan (counter-opinion), disusun berdasarkan metodologi studi kritis terhadap teks, sejarah, dan sains. Penulis menggunakan referensi primer dari berbagai literatur otoritatif untuk memberikan perspektif alternatif bagi pembaca. Gaya bahasa yang digunakan bersifat provokatif-intelektual guna memicu pemikiran kritis. Tidak ada maksud untuk melakukan penghinaan personal terhadap individu atau kelompok tertentu, melainkan murni bedah kritis terhadap gagasan dan doktrin. Untuk pembaca yang bermasalah secara emosional dan/atau nalar dalam membedakan antara MELECEHKAN VS MENYAMPAIKAN SESUAI RUJUKAN, maka SANGAT DISARANKAN untuk TIDAK MEMBACA. Untuk jenis pembaca lainnya, selamat membaca.
Ada seorang pemuda yang diminta belajar Islam, Ia bersedia dengan syarat dicarikan seorang ulama/ustadz yang sangat mumpuni agar dapat menjawab 3 pertanyaan yang selama ini mengganjal di hatinya dan akhirnya seorang Kyai besar berkenan datang untuk membimbingnya agar Ia dapat bertobat dan mendapatkan hidayahNya.Pemuda: “Anda siapa dan apakah bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan saya?“
Sang Kyai: “Saya hanya seorang hamba Allah yang mengharapkan ridhaNya dan dengan se-izin-Nya saya akan menjawab pertanyaan anda.“
Pemuda: “Anda yakin? karena sudah banyak orang yang berpikir dirinya mampu namun tidak dapat menjawab pertanyaan saya?"
Sang Kyai: “Demi keagungan dan segala hidayah dari Allah SWT sang pemilik Ilmu, saya akan mencoba sejauh kemampuan saya.“
Pemuda: "O, ya, karena jika terjawab, saya akan bersyahadat, maka bagaimana jika tidak terjawab? ...mmmhhh.....misalnya di 1 jam kemudian?"
Sang Kyai: "Atas seijin Allah SWT, untuk setiap pertanyaan yang tidak terjawab, maka silakan tampar saya, karena telah menyia-nyiakan hidup dalam Ilmu Subhanahu wa ta'ala“
Pemuda: “Baik, jadilah jika demikan", dan keduanya pun bersalaman.
Pemuda: "Pertanyaan ke-1, jika memang Allah itu Tuhan, kenapa banyak kesalahan dalam Qurannya?”
Sang Kyai: "............. " (1 jam berlalu).
Lalu pemuda itu pun menampar sang Kyai.Melihat sang Kyai limbung akibat tamparannya, Pemuda itu bertanya: "Anda baik-baik saja? apakah perlu istirahat atau diteruskan?"
Namun, demi dapat menobatkan Pemuda tersebut, Demi keagungan Allah SWT, sang Kyai menahannya dan berkata, "Saya baik-baik saja, silakan lanjutkanlah.."
Pemuda: "Pertanyaan ke-2, jika memang Quran itu sempurna, kenapa harus ada hadis. Apa Quran itu kurang lengkap?”
Sang Kyai: "............. " (1 jam berlalu).
Lalu pemuda itu pun menampar lagi sang Kyai.Karena Sang Kyai tampak semakin limbung akibat tamparannya, Pemuda itu bertanya prihatin: "Yakin anda baik-baik saja? Apakah masih perlu ini diteruskan?"
Namun, karena ingin dapat menobatkan Pemuda tersebut, Demi keagungan Allah SWT, sang Kyai tetap bertahan dari derita nestapanya dan berkata, "Silakan lanjutkan saja.."
Pemuda: "Pertanyaan terakhir, "Jika memang Quran itu sempurna, lalu apa arti Alif Lam Mim?”
Mendengar pertanyaan terakhirnya, Sang Kyai tertunduk lesu, namun kemudian Ia segera memeluk pemuda itu sambil berucap, “Laa illaaha, Laa illaaha, Laa illaaha.." ("Tiada Tuhan, Tiada Tuhan, Tiada Tuhan"), maka terhindarlah sang Kyai dari tamparan si Pemuda dan sejak itu, sang Kyai hidupnya menjadi tidak lagi sia-sia, Ia damai bersama keyakinan barunya.
[Digubah dari tulisan yang aslinya ditulis: Irsan Yanuar]