Rabu, 17 Februari 2021

Kitab Sārasamuccaya - Vararuci


ko addhā veda ka iha pra vocat kuta ājātā kuta iyaṃvisṛṣṭiḥ
(Siapa yang tahu, siapa di sini dapat menyatakan, darimana munculnya, darimana ciptaan ini?)
arvāgh devā asya visarjanenāthā ko veda yataābabhūva
(para dewa lebih belakangan dari penciptaan ini, lalu siapa tahu dari apa muncul?)
iyaṃ visṛṣṭiryata ābabhūva yadi vā dadhe yadi vā na
(Darimana asal ciptaan ini, ada yang menciptakan atau tidak?)
yo asyādhyakṣaḥ parame vyoman so aṅgha veda yadi vā naveda
(Dia penguasa di surga tertinggi, dia tahu, atau tidak tahu?)
[Rgveda 10.129.6-7 atau ini]

Sarasamuccaya, mungkin, satu-satunya kitab Hinduism yang menganggap kepercayaan terhadap keberadaan Tuhan bukanlah hal mendasar. Ini dipertegas sloka no.111[↓], tentang Nastika/orang yang tidak percaya, yang didefinisikan dalam batasan:
  1. Tidak percaya keberadaan alam lain dan
  2. Tidak percaya adanya buah dari perbuatan
Vararuci menyatakan pelaku perbuatan bajik tidak akan merugi, yang jika ternyata ada (alam lain dan buah dari perbuatan), maka walaupun tidak percaya, tidak akan jatuh ke neraka. [Bandingkan dengan Kalama Sutta]. Sementara Blaise Pascal, matematikawan Prancis abad 17, menyampaikan ide yang kelak dikenal sebagai Pascal's Wager (taruhan Pascal), objeknya adalah keberadaan Tuhan, yang jika ternyata ada (Tuhan), maka yang tidak percaya kehilangan segalanya ["Pensees", no.233]. Pascal hidup di abad yang lebih belakangan, tapi idenya ini malah masih primitif.

Dari seluruh sloka yang ada di kitab Sarasamuccaya, sangat sedikit menyebutkan nama dewa, di antaranya: Prajapati/Brahma (no.65, 298, 393, 444), Vaivasta/Yama (no.102, 395), Indra (no.229), Siwagni/Siwa sang Api (no.177, untuk Ista/kurban) dan mungkin Widhiwasa (no.409, 470 dan 498, Widhi = nasib/aturan, Wasa = Penguasa; Artinya: Penguasa nasib, namun dapat juga diartikan sebagai buah/hasil dari perbuatan). Keberadaan Wisnu beserta seluruh kloningnya, ABSEN TOTAL di kitab ini. Keberadaan para dewa bahkan: TIDAK BERFUNGSI untuk mendapatkan perolehan duniawi seperti harta, kerupawanan, pasangan dan kekuasaan duniawi; TIDAK BERGUNA untuk terlahir kembali di alam manusia dan surga (karena masih dapat terjatuh); dan TIDAK DIPERLUKAN untuk kebebasan/moksa di alam brahmaloka. Oleh karenanya, kitab Sarasamuccaya ini unik.

Prof. Dr. Raghu Vira dalam prakatanya menyatakan kitab Sarasamuccaya dan penulisnya (Vararuci), tidak dikenal di literatur India, ada dua nama tapi dalam konteks berbeda ["SARA-SAMUCCAYA", 1962], yaitu Vararuci, seorang ahli tata bahasa, yang biasanya dianggap identik dengan Katyayana (hal.335) seorang pujangga besar jaman kuno (hal.154) dan lainnya, seorang anggota navaratna (9 permata = ahli/pujangga besar) istana raja Vikramaditya (hal.335) [A Classical Dictionary of Hindu Mythology and Religion, Geography, History, and Literature, John Dowson M.R.A.S, 1888], karena disebutkan dalam Jyotirvidābharaṇa 22.10 (abad ke-11/12 M):
    Navaratnāni-dhanvantari kṣapaṇakāmarasinhaśaṅkurvētālabhaṭṭaghaṭakharparakālidāsā
    Khyātō varāhamihirō nr̥patē sabhāyāṁ ratnāni vai vararucirnava vikramasya.ᅠ22.10ᅠ॥
Di literatur India, dari 82 hal yang terkait kata Sarasamuccaya tidak satupun yang terkait Vararuci. Juga, dari 72 hal yang terkait Vararuci, entah sebagai pengarang ataupun bukan, tidak satupun yang terkait Sarasamuccaya, jadi Sarasamuccaya dengan Vararuci sebagai pengarangnya, tidak dikenal di literatur India, HANYA ADA DI INDONESIA.

Raghu menyatakan aksara kawi di Sarasamuccaya bernuansa abad ke-10 M, kitab ini merupakan Gita-nya Indonesia, berfungsi seperti Gita-nya India, keduanya merujuk Mahabharata, Jika Gita memuji Krsna dan lebih ke filosofis, maka Sarasamuccaya memuji Vyasa dan lebih kepada tuntunan sikap mental dan laku spiritual.

Sementara, Gita yang kita kenal saat ini terdiri dari 700 sloka, padahal Mahabharata 6.43 menyampaikan ada 745 sloka di BhagavadGita:
    "षट्शतानि (Ṣaṭśatāni/600) सविंशानि (savinśāni/tambah 20) श्लोकानां प्राह केशवः। (Ślōkānāṁ prāha kēśavaḥ/sloka dari Kesava) अर्जुनः (arjuna:) सप्तपञ्चाशत् (saptapanchaashat/57) सप्तषष्टिं (saptashashtin/67) तु संजयः (tu sanjayah/oleh Sanjaya) धृतराष्ट्रः (Dhr̥tarāṣṭraḥ) श्लोकमेकं (ślōkamēkaṁ/1 sloka) गीताया मानमुच्यते (gītāyā mānamucyatē/ukuran tentang gita)" [Mahabharata 6.43, Bhisma Parva, Ini 620+57+67+1 = 745]
Perbedaan jumlah sloka Gita (700 vs 745) merupakan bukti internal bahwa Mahabharata dibuat pada waktu yang berbeda-beda dan/atau Gita adalah tambahan belakangan yang tidak terkait Itihasa. (Lebih detailnya, lihat artikel ini).

Raghu menyusun bukunya dari naskah-naskah:
  1. Transkrip dari Universitas Leiden code 4471, hasil kompilasi Dr. H. H, Juynboll (1911. 497 sloka), berisi teks sanskrit dalam aksara Bali kuno/Kawi;
  2. Dari Musium Djakarta, Royal Batavia Society, no.661 (517 sloka), berisi teks sanksrit dalam aksara Bali kuno;
  3. Transkrip dari Leiden, code 4470 (1880 M, 448 sloka) oleh Brahmana Aryavamsa dari area Kavivisaya berisi teks sanskrit dalam aksara Bali kuno;
  4. Transrip dari Leiden code 4469 (1849 M, sloka lengkap), Sveccapura berisi teks sanskrit dalam aksara Bali kuno;
  5. Traskrip Musium Djakarta dengan aksara roman dari Royal Batavia Society, no. 574 dan 860, sedikit nilai informasi tekstualnya; dan
  6. Lontar aksara bali dengan 517 sloka
Menurut Raghu, dari 517 sloka Sarasamuccaya (tentunya hanya 511, di luar pengantar) jika dipadankan terhadap sloka Mahabharata versi edisi kritis (saat bukunya terbit belum kumplit) dan versi edisi Vulgate, 321-nya dari parva ke-3 (Aranya), ke-5 (Udyoga), ke-12 (Santi) dan ke-13 (Anusasana), juga parva ke-1 (Adi), ke-2 (Sabha) dan ke-6 (Bhisma), namun beberapanya tidak, karena terkait perang (misal Virata, dll).

Tapi, Mahabharata, untuk yang ada di India saja punya banyak versi, diantaranya (lihat ini):
  1. Versi edisi kritis/versi Puna, hasil kompilasi BORI (Bhandarkar Oriental Research Institute, mulai tahun 1917, selesai tahun 1966)
  2. Versi edisi Vulgate (edisi Kalkuta tahun 1836 dan edisi Bombay tahun 1877/1913) dari seorang yang hidup di akhir abad ke-17 bernama Nilakantha Chaturdhara, diterbikan oleh "Clay Sanskrit library". Mahabharata yang ditranlasi Kisari Mohan Ganguli berdasarkan versi Bombay dan yang ditranlasi M.N Dutt berdasarkan versi Kalkuta
  3. Versi edisi lainnya: Edisi Kumbhakonam, translasi dari tamil di tahun 1923; Edisi Grantha dan Telugu (Madras, tahun 1855), dan lainnya.
Pengerjaan Mahabharata versi edisi kritis mulai dari mengumpulkan sebanyak mungkin manuskrip area Kashmir sampai Kanyakumari, yang ditulis dalam ragam aksara wilayah, misal: Malayālam, Grantha, Nevāri, Devanāgarī, Bengalī, Śāradā, dan lainnya. Antar manuskrip ini, dinilai kesamaan dan bedanya untuk kisah di dalamnya, kemudian dikompilasi jadi satu. Versi ini BUKAN BERARTI lebih asli dari versi Vulgate atau lainnya, karena misalnya ada 2 kisah yang TIDAK ADA di versi edisi kritis (Gaṇeśa yang menjadi juru tulis atau yang lebih terkenal lagi Drupadi yang ditelanjangi dan ditolong Krisna). Juga, jikapun seluruh versi Mahabharata yang ditemukan di India ini digabungkan, BUKAN BERARTI telah terhimpun lengkap dan otentik seluruh kisah Mahabharata.

Raghu tampaknya tahu 2 versi ini tidak dapat mewakili keseluruhan Mahabharata, Ia katakan sloka sanskrit Sarasamuccaya bobotnya tak ternilai bagi versi edisi kritis, 196 sloka lainnya perlu upaya lanjutan untuk menelusurinya. Di tahun 1962 yang sama, telisik lanjutan 517 sloka terhadap naskah sanskrit India dilakukan Ludwik Sternbach, yang menyatakan: Dari 517 sloka, 326 dari Mahabharata, 60 dari Canakya, 33 dari pancatantra, 30 dari Garuda Purana, 20 dari Hitopadesa, 23 dari Manawa Dhamasastra, selebihnya dari Smrti (Vishnu, Narada, Gobhila, Atri, Vraddha-astapa, Casstha, Yajnavalkya) dan Purana lain (Skanda, Markandeya, Matsya, Padma, Vayu, Visnu, Bhagavata, Bhavisya, Visnudhraramotattara), juga dari naskah sanskrit lainnya ["SANSKRIT SUBHÏSITA SAMGRAHA-S IN OLD-JAVANESE AND TIBETAN", hal.117-125, untuk list padanan terhadap naskah sanskrit India: hal.138-149, ringkasnya: hal.119-120]. Ludwik menyampaikan ada 2 Sarasamuccaya (di catatan kaki hal.117, merujuk naskah kawi-nya R. Friedrich, ahli sanskrit dari Jerman, yang menggolongkan naskahnya sebagai kitab hukum), untuk Sarasamuccaya-nya Vararuci adalah Subhâçita-samgraha (kumpulan kotbah) yang Ludwik namakan sebagai sarasamuccaya-tutur.

Baik Raghu dan Ludwik tampaknya tahu bahwa Sarasamuccaya-nya Vararuci, TIDAK BERISI Gita-nya Krishna kepada Arjuna di tengah medan Kurukhsetra, ini mengindikasikan juga bahwa Gita memang sisipan belakangan sehingga Vararuci sendiri tidak mengenalnya.

Raghu menyatakan translasi Inggris buku-nya berdasarkan teks sanskrit-nya (dengan pengecualian pada 6 sloka pengantar, yang ditranslasikan dari teks kawi), oleh karena itu, artikel ini lebih berbau buku "Sārasamuccaya"-nya I Njoman Kadjeng, dkk edisi ke-2 tahun 1977, yang pada bagian pengantar telah menyebutkan salah satu sumber bukunya adalah juga naskah Dr Raghu Vira. Jadi, walaupun Kadjeng, dkk mencantumkan teks sankrit dan kawi, namun, yang ditranslasi adalah teks kawi-nya. Artikel ini mengutip sloka sanskrit dan kawi-nya Kadjeng, dkk, namun tranlasi Indonesianya adalah campuran keduanya.

Kitab Sarasamuccaya-nya Vararuci TIDAK PUNYA sub judul/bab untuk pengelompokan sloka, beberapa sistimatika pengelompokan sloka baru muncul belakangan saja, misalnya oleh Ludwik (hal.122) atau Kadjeng, dkk (di bagian akhir bukunya). Penomoran sloka artikel ini dari versi Kadjeng, dkk. Selamat membaca.

Versi Kadjeng, dkk (Sloka 1-517) Versi Ludwik (Sloka 1-517)
Prakata (I-VI) [↓]

Penitisan dan Tujuan Hidup (1-11) [↓]
Keagungan Dharma (12-36) [↓]
Sumber Dharma (37-40) [↓]
Pelaksanaan Dharma (41-54) [↓]
Caturwarna (55-72) [↓]
Trikaya (Pikiran, ucapan, Perbuatan (73-78) [↓]
Manah/Pikiran (79-87) [↓]
Irsya/Irihati (88-91) [↓]
Ksama/Sabar (92-95) [↓]
Krodha/Kemarahan (96-109) [↓]
Nastika/Tidak Percaya (110-116) [↓]
Wak/Ucapan (117-127) [↓]
Satya/Kebenaran (128-135) [↓]
Ahimsa/Tidak menyakiti (136-148);
Astenya/Mencuri (149-152);
Pradara/Kejahatan Seks terhadap wanita (153-155);
Susila/Prilaku baik (156-167);
Dana-Punya/Persembahan/sedekah (168-226);
Anak-Ramarena-Guru (227-257);
Yama-Niyama/Moralitas dan prilaku: jangan - lakukan (258-260);
Artha/harta (261-271);
Sukha/Kebahagiaan (272-276);
Tirthayatra/ke tempat sakral (277-279);
Daridra/Miskin (280-299);
Sangsarga/Pergaulan (300-304);
Bergaul dengan orang bajik (305-321);
Bergaul dengan orang bejat (322-351);
Purwakarma/Perbuatan sebelumnya (352-364);
Mrtyu-tuha-pati/mati, tua, celaka berakibat mati (365-390);
Pitrayana-dewayana/jalan leluhur - jalan dewa (391-398);
Punggung/bodoh (399-404);
Penghilangan indriya (405-423);
Stri/wanita (424-442);
Raga-dwesa (birahi - benci) (443-447);
Tresna (cinta) (448-485);
Moksa/lenyap (486-511)
Pendahuluan (1-7);

Perilaku baik (dharma) (8-82);
Pikiran (manas) (83-96);
Daya tahan/Kesabaran (ksama); Kemarahan (krodha) (98-115);
Orang tidak percaya (nãstika) (116-122)
Ucapan (vakya) (123-132);
Kebenaran (satyam); Cara hidup, perilaku moral (silam) (133-174);
Persembahan/Sedekah (dana); Kekayaan ('dhana) (175-229);
Serba-Serbi (230-241);
Guru; Orang yang Tahu (vaidya) (242-244);
Orang tua (pitr, matr) (245-260);
Kekayaan (dhana) (267-297);
Kebajikan; Orang bajik; Prilaku benar (306-325);
Orang Bejat/Durjana (331-338);
Serba-Serbi (339-374);
Usia Tua; Takdir (375-394);
Kelahiran kembali (397-400);
Ketidaktahuan dan Pengetahuan (405-410);
Serba-Serbi (411-430);
Wanita (stri) (431-450);
Keserakahan (trsnã); Uang (453-477);
Keluarga (kutumba) (484-489);
Perpisahan; Kematian; Kedukaan (490-500);
Kejayaan dan kejatuhan (502-506);
Kesakitan Pikiran; Pengetahuan (507-517)















SARASAMUCCAYA
VARARUCI

(I) [Lihat: Raghu]
Kawi/Jawa Kuno: Om a-vighnam astu
Bhagawān Wararuci mupulakėn sāra-sāra Sang Hyang aṣtādac̣aparwā, gawe Bhagawān Byāsa, matangnyan panamaskāra sira i Bhagawān Byāsa lingnira:

(Om, semoga tiada rintangan
Bhagawan Vararuci menghimpun sari 18 kitab (= Mahabharata) karya Bhagawan Byasa, sebagai penghormatan pada beliau:)
    Note:
    Variasi arti Om kara (bentuk Om), diantaranya: "Brahman" lainnya: "pranava" (pra = sebelum, ana = tarikan nafas + va= mengalir/tiupan). A-vighnam = Tiada-rintangan, Astu = biarlah/semoga.
Sanskrit: yajne bahujanam paramabhyudaram yam dwipamadhye sutamatmabhavat, paracarat satyavati maharsin tasmai namojnanatamonudaya.
Kawi: hana sira maharsi, tan hana kapinggingnira, kinatwanganing triloka, rumantasaken peteng ning ajnananing sarwabhawa, anak sang satyawati patemwan lawan Bhagawan Paracara, prasuta ri tengahnikang Krsnadwipa, Bhagawan Byasa ngaranira, sira ta sembahen kamnan i ngulun mujarakena saraning gawenira aji
(Adalah seorang maharsi, tidak ada yang tidak diketahuinya, dihormati tiga dunia, penghalau kegelapan pikiran para mahluk, putra dewi Satyawati dari Bhagawan Parasara, lahir di tengah pulau Krisna, Bhagawan Byasa namanya, Kepadanya aku menghormat, sebelum menyampaikan sari sastra ilmuNya)

(II)
Sanskrit: yatha samudrotimahan yatha ca himawan girih, ubhau ratnanidhi khyatau tatha bharatamucyate
Kawi: nahan kottamanira, kadyangganing tasik lawan gunung Himawan, an kalyan mas manik sarwamulya, mangkana ta sakweh niking aji bharatakatha ginawenira, an tasakaning uttamarasa makadi rahasyajnana
(Bagaikan lautan luas dan gunung Himalaya yang berisi emas, permata yang serba mulya, demikianlah kisah Bharata, karya beliau, mematangkan rasa utama, rahasia batin yang dalam)

(III)
Sanskrit: Idam kavivarair nityamakhyanamupajivyate, udayaprepsubhir bhrtyairabhijata ivecvarah
Kawi: kuneng kottaman Sang Hyang bharatakatha, ri denyan sira nitya pinakopajiwana sang kawiwara, kadyanggan sang prabhu sujanman pinakopajiwaning wadwa angusir wibhawa
(Keutamaan kisah Bharata, menjadi sumber inspirasi para pujangga, bagai seorang raja berbudi luhur yang menjadi sumber perlindungan rakyat agar sejahtera)

(IV)
Sanskrit: Itihasottamadasmajjayante kavibuddhayah, pancabhya iva bhutebhyo lokassamvidhayas trayah
Kawi: apayapan iking aji bhakratakaatha sangkaning budhhi sang kawi, kadyangganing triloka an wijil sangke pancamahabhuta
(Kisah utama ini, lahir dari budi luhur sang pujangga, seperti tiga dunia yang berasal dari lima unsur utama)

(V)
Sanskrit: Anacrityaitadakhyanam katha bhuvi na vidyate, aharamanupacritya carisasyeva dharana
Kawi: tatan hana aji ring bhuwana, tan pakacraya iking byasawacana, kadyangganing carira tan hana ya tan pakacrayangahara
(Tak akan ada sastra di dunia ini, tanpa sokongan ajaran bhagawan Byasa, laksana tubuh yang tak akan ada jika tanpa sokongan makanan)

(VI)
Sanskrit:: Crutva tvidamupakhyanam cravyamanyanna rocate, pumskokilarutam crutva ruksa dhvamksasya vagiva
Kawi: lawan waneh kottamanira, yan hana sira telas rumengo rasaniking sang hyang aji, pisaningu juga sira ahyuna rumengwa kathantara, teka ring gita wenu winadi, kadyangganing wwang rumengo sucabdaning kuwong, huwus rumesep ri hati lengening swaranya, amangun harsaning citta, tan hana gantani kahyuna rumengwa resning cabdaning gagak
(Keutamaan lainnya, mereka yang telah mendengar indahnya ilmu ini, tak lagi ingin dengarkan lainnya, bahkan juga nyanyian, rebab, seruling, dan semacamnya, laksana mendengar indah suara kutilang yang meresap ke hati, membuat senang pikiran, tak tergantikan, apalagi kemudian mendengar suara gagak yang mengerikan)

Kawi: mangkana ling bhagawan wararuci panamaskara ring Bhagawan Byasa, neher umajaraken kottamaniking bharatakatha, iking inaranan sarasamuscaya, sara ngaraning wicesa, samuccaya papupulnya, nahan matangnyan Sarasamuscaya ngaraniking sang hyang aji, damel Bhagawan Wararuci, nihan piteket Bhagawan Waicampayana ing Maharaja Janamejaya, i kalanira cumaritaken ikang bharatakatha, yatiki witaning sarasamuscaya
(Demikianlah perkataan Bhagawan Wararuci menghormati Bhagawan Byasa, berlanjut mengutarakan sari kisah Bharata yang dinamakannya "Sarasamuccaya". sara adalah inti sari, samuccaya adalah himpunan. Demikian sarasamuccaya disebut sastra mulya, karya Bhagawan wararuci, Inilah petuah Bhagawan Waisampayana kepada Maharaja Janamejaya sewaktu menceritakan kisah Bharata. inilah muasalnya Sarasamuccaya) [↑]


(1) [Lihat: Raghu]
Sanskrit: dharme cārthe ca kāme ca mokṣe ca bhāratarṣabha, yadihāsti tadanyatra yannehāsti an tat kvacit
Kawi: Anakku kamung Janamejaya, salwirning warawarah, yāwat makapadārthang caturwarga, sāwataranya, sakopanyāsanya, hana juga ya ngke, sangkṣepanya, ikang hana ngke, ya ika hana ing len sangkeriki, ikang tan hana ngke, tan hana ika ring len sangkeriki.
(Ananda Janamejaya, Dharma/kebajikan, Artha/kekayaan, Kama/kesenangan dan Moksa/kebebasan (catur warga) baik sumber maupun uraian artinya, ada di sini, yang ada di sini, akan ada di sastra lain; yang tidak ada di sini, juga tidak ada di sastra lain).

(2)
Sanskrit: Mānuṣaḥ sarvabhūteṣu varttate vai śubhāśubhe, aśubheṣu samaviṣṭam śubhesvevāvakārayet
Kawi: ri sakwehning sarwa bhuta, iking janma wwang juga wӗnang gumawayaken ikang śubhāśubhakarma, kunӗng panӗntasakӗna ring śubhakarma juga ikangaśubhakarma phalaning dadi wwang
(Diantara semua mahluk, hanya manusia yang berbuat baik dan buruk, lebur keasikan berbuat buruk, dengan berbuat bajik, demikianlah guna/pahala menjadi manusia)

(3)
Sanskrit: upabhogaih parityaktam nātmānamavasādayet, cāṇḍālatvepi mānuṣyaṁ sarvvathā tāta durlabham
Kawi: matangnyan haywa juga wwang manastapa, an tan paribhawa, si dadi wwang ta pwa kagӧngakӗna ri ambӗk apayāpan paramadhurlabha iking si janmamānuṣa ngaranya, yadyapi caṇḍālayoni tuwi
(Oleh karenanya, jangan bersedih terlahir sebagai manusia, meskipun hina, hendaklah berbahagia, karena sungguh sulit terlahir sebagai manusia)

(4)
Sanskrit: iyam hi yonih prathamā yām prāpya jagatipate, ātmānam śakyate trātuṁ karmabhih śubhalakṣaṇaih
Kawi: apan iking dadi wwang, uttama juga ya, nimittaning mangkana, wӗnang ya tumulung awaknya sangkeng sangsāra, makasādhanang śubhakarma, hinganing kottamaning dadi wwang ika
(Terlahir sebagai manusia adalah yang utama, sebab dapat menolong diri sendiri dari keadaan sengsara dengan berbuat kebajikan, demikianlah keuntungannya menjadi manusia)

(5)
Sanskrit: ihaiva narakavyādheścikitsāṁ na karoti yaḥ, gatvā nirauṣadhaṁ sthānaṁ sarujaḥ kin kariṣyati
Kawi: hana pwa wwang tan gawayakӗn ikang śubhakarma, tambaning narakaloka kangkӗn lara, pӗjah pwa ya, wong alara mara ring deśa katunan tamba ta ngaranika, rūpa ning tan katӗmu ikang enak kolāhalanya
(Orang yang tidak mau berbuat bajik adalah penyakit, obatnya adalah di neraka, jika mati, sesungguhnya tidak ada kesenangan dalam kejahatan, hanya kegembiraan semu dalam perbuatannya)

(6)
Sanskrit: Sopanabhūtaṁ svargasya mānuṣyaṁ prāpya durlabham, tathātmānaṁ samādayād dhvamseta na punaryathā
Kawi: Paramarthanya, pӗngpӗngӗn ta pwa katӗmwanikang si dadi wwang, durlabha wi ya ta, sāksāt handaning mara ring swarga ika, sanimittaning tan tiba muwah ta pwa damӗlakӗna
(Pergunakanlah kesempatan sebaik-baiknya ketika telah terlahir sebagai manusia, kesempatan yang sungguh sulit didapat, tangga menuju surga, melakukan segalanya agar tidak jatuh lagi, itu hendaknya dilakukan)

(7)
Sanskrit: Karmabhūmiriya brahman phalabhūmirasau mata, iha yat kurute karma tat paratropabhujyate
Kawi: apan iking janma mangke, pagawayan śubhāśubhakarma juga ya, ikang ri pӗna pabhuktyan karmaphala ika, kalinganya, ikang śubhāsubhakarma mangke ri pӗna ika an kabukti phalanya, ri pӗgatni kabhuktyanya, mangjanma ta ya muwah, tūmūta wāsanāning karmaphala, wāsanā ngaraning sangkāra, turahning ambemātra, ya tinūtning paribhāsā, swargācyuta, narakācyuta, kunang ikang śubhāśubhakarma ri pӗna, tan paphala ika, matangnyan mangke juga pӗngpӧnga śubhāśubhakarma
(Terlahir menjadi manusia berbuat bajik dan buruk, apapun perbuatan baik atau buruk, akan berbuah; setelah buahnya habis akan terlahir lagi, bekas perbuatan mengikutinya, wasana disebut sangskara, bau dari bekas tersisa, mengikuti setelah dari surga maupun neraka, berbuat apapun di sana sebelumnya, tidaklah berpengaruh, perbuatan baik dan buruk saat inilah yang berpengaruh)

(8)
Sanskrit: mānuṣyam durlabhaṁ prāpya vidyullasitacañcalam, bhavakṣaye matih kāryā bhavopakaraṇeṣu ca
Kawi: iking tang janma wwang, kṣanikaswabhāwa ta ya, tan pahi lawan kӗḍapning kilat, durlabha towi, matangnyan pӧngakӗna ya ri kagawayaning dharmasādhana, sakaraṇanging manāṣanang sangsāra, swargaphala kunang
(Kelahiran sebagai manusia sangatlah pendek dan cepat, bagaikan kilat, sulit pula mendapatkannya. Oleh karenanya pergunakanlah sebaik-baiknya kesempatan ini, untuk menunaikan dharma, memutuskan sengsaranya penjelmaan, mendapatkan surga)

(9)
Sanskrit: Yo durlabhataram prapya manusyam lobhato narah, dharmavamanta kamatma bhavet sakalavancitah
Kawi: hana pwa tumemung dadi wwang, wimukha ring dharmasadhana, jenek ring arthakama arah, lobhambeknya, ya ika kabancana ngaranya
(Yang tidak melaksanakan dharma, hanya mengejar harta, memuaskan nafsu dan tamak, disebut tersesat sempurna)

(10)
Sanskrit: Manusyam mahadusprapyam tadidvilasitopamam, tallabdhya yadi samsarannapakramati vancitah
Kawi: Ikang manggih si dadi wwang, prasiddha wenang ring dharmasadhana, tatan entas sangke sangsara, kabancana ta ngaranika
(Yang menjelma jadi manusia, meski telah melaksanakan dharma, namun tidak menuntaskan samsara, juga disebut tersesat) [↑]

(11)
Sanskrit: Ūrddhvabāhurviraumyeṣa na ca kaścicchṛṇoti me, dharmādarthaśca kāmaśca sa kimarthaṁ na sevyate
Kawi: Nihan mata kami mangke, menawai, manguwuh, mapitutur, ling mami, ikang artha, kama, malamaken dharma juga ngulaha, haywa palangpang lawan dharma mangkana ling mami, ndatan juga angrengo ri haturnyan eweh sang makolah dharmasadhana, apa kunang hetunya
(Kami telah melambaikan tangan, memanggil, menasehati, dan mengingatkan bahwa dalam mencari artha/kekayaan dan kama/kesenangan agar berlandaskan dharma, jangan berlawanan, tapi tidak diindahkan, adalah sukar berprilaku sesuai dharma, apa sebabnya?)

(12)
Sanskrit: kamarthau lipsamānastu dharmmamevāditaścaret, na hi dharmmādapetyārthah kāmo vāpi kadācana
Kawi: yan paramārthanya, yan arthakāma sādhyan, dharma juga lêkasakêna rumuhun, niyata katêmwaning arthakāma mêne tan paramārtha wi katêmwaning arthakāma deninganasar sakeng dharma
(Dalam mencari kekayaan dan kesenangan, hendaknya dahulukan dharma, maka niscaya kekayaan dan kesenangan akan mengikuti. Tidak akan berarti perolehan kekayaan dan kebenaran jika didapat dari melanggar dharma)

(13)
Sanskrit: dhārmmikam pūjayanti ca na dhanāḍyaṁ na kāminam, dhane sukhakalā kācid dharmme tu paramaṁ sukham
Kawi: kunang sang paṇḍita, sang dhārmika juga, inastutinira, inalӗmnira, an sira prasiddha anӗmu sukha, tan pangalӗm sugih, kamῑ, apan tan tuhu sukha, ri hananing ahangkārājñāna, ri sӗdӗngning dhanakāma wyawahāra
(Seorang bijaksana (arti pandita) yang mantap dalam Dharma, layak dipuji dan diberi penghormatan, karena telah mendapatkan kebahagiaan, beliau tidak menyanjung mereka yang sibuk dalam harta dan pemuasan nafsu, karena mereka ini tidaklah sungguh berbahagia, sebab pikirannya dalam ke-akuan (ahan+kara) haus pada kekayaan dan nafsu)

(14)
Sanskrit: Dharma eva plavo nānyah svargam samabhivāñchatam, sa ca naurpvaṇijasstatam jaladheh pāramicchetah
Kawi: Ikang dharma ngaranya, hênuning mara ring swarga ika, kadi gatining parahu, an hênuning baṇyaga nêntasing tasik
(Dharma adalah jalan menuju sorga. bagaikan perahu, bagi yang ingi menyebrangi lautan)

(15)
Sanskrit: Yatna kāmārthamokṣāṇām krtopi hi vipadyate, dharmmāya punararambhah saṇkalpopi na niṣphalah
Kawi: Ikang kayatnan ri kagawayaning kama, artha, mwang, moksa, dadi ika tan paphala, kunang ikang kayatnan ring dharmasādhana, niyata maphala ika, yadyapin angênangênan juga, maphala atika
(Usaha tekun dalam harta, kesenangan, ataupun moksa, kadang tidak berhasil. Namun usaha yang tekun dalam pelaksanaan dharma tersebut, niscaya berbuah walaupun baru dalam angan-angan)

(16)
Sanskrit: Yathādityah samudyan vai tamah sarvvam vyapohati, evam kalyāṇamātistam sarvvapāpam vyapohati
Kawi: Kadi krama sang hyang Āditya, an wijil, humilangkên pêtêngning rāt, mangkana tikang wwang mulahakêning dharma, an hilangakên salwiring pāpa
(Seperti halnya matahari muncul menghilangkan kegelapan dunia, demikian pula dengan melakukan dharma, untuk menghilangkan segala kejahatan)

(17)
Sanskrit: Yathā yathā hi puruṣah kalyāṇa ramate manah, tathā tathāsya siddhyanti sarvvārtha nātra samṣayah
Kawi: Salwiraning wwang kanistamadhyamottama tuwi, yāwat gawe hayu kajênêk ni hatinya niyata siddhaning sasinādhyana
(Setiap orang, baik golongan rendah, menengah atau tinggi, selama pikirannya berkembang menyenangi berbuat bajik, niscaya tercapailah segala yang diusahakannya)

(18)
Sanskrit: Dharmaḥ sadā hitaḥ pumsāṁ dharmaścaivāśrayah satam, dharmallokāstrayastāta pravṛttah sacarācarāh
Kawi: Mwang kottaman ikang dharma, prasiddha sangkaning hitāwasāna, irikang mulahakӗn ya, mwang pinakāśraya sang paṇḍita, sangksӗpanya, dharma mantasakӗnikang triloka
(Dharma adalah sumber kebahagiaan bagi yang melaksanakannya, pelindung bagi yang berpengetahuan, yang melebur dosa tiga dunia)

(19)
Sanskrit: yasya notkrāmati matirdharmamārgānuṣāriṇi, tamāhuh puṇyakārmaṇi na śocye mitrabāndhavaih
Kawi: hana pwa wwang tan linggar apagêh buddhinya, ar tutaken kadamelaning ya ikang wwang bhāgyamanta ling sang paṇḍita, tan kalarākêna dening kadang mitranya, yadyan mānāśakāna panapana mangatītajiwīta tuwī
(Orang yang tidak bimbang, teguh budinya dalam dhamma, itulah yang orang bijak katakan sebagai orang yang berbahagia, tidak menyebabkan kerabat dan keluarganya khawatir terhadapnya walaupun Ia hidup dari sedekah orang)

(20)
Sanskrit: yatheksuhetoriha secitam payah trenāni vallīrapi samprasincati, tatho naro dharmapatena sañcaran yaśamsi kāmāni vasūni cāśnute
Kawi: Kunang paramārthanya, kadyangganing wwai mangêna têbu, tan ikang têbu juga kānugrahan denika, milu tekaning tṛênalatādi, saparêk ikang têbu milu kānugrahan, mangkanang tang wwang makaprawrêtting dharma, artha, kāma, yaśa kasambi denika
(Seperti air yang menggenangi tebu, yang juga menggenangi rumput dan tanaman didekatnya, demikian lah orang yang menjalankan dharma, kekayaan, kesenangan, kemasyuran menghampirinya)

(21)
Sanskrit: surūpatāmātmagunam ca vistaram kulānvayam dravyasamred-dhisañcayam, naro hi sarvam labhate yathākṛetam sadāśubhenātmakṛtena karmanā
Kawi: Kunang ikang wwang gumawayikang śubhakarma, janmanyan sangkê rig swarga dêlāha, litu hayu maguṇa, sujanma, sugih, mawīrya, phalaning śubhakarmāwasāna tinêmunya
(Pelaku kebajikan akan terlahir di sorga, setelahnya, Ia terlahir rupawan, gunawan, muliawan, hartawan, dan berkuasa. buah baik yang berasal dari perbuatan baik)

(22)
Sanskrit: kāntāravanadurggesu kṛśchreṣvapatsu sambhrame, udyateṣu ca śastreṣu nāsti dharmmavatām bhayam
Kawi: Lawan tan waneh, ring hêlêt, ring alas, ring pringga, ring laya, salwiring duhkha hetu, ri paprangan kunêng, tar têka juga ikang bhaya, ri sang dharmika, apanikang śubhakarma rumakṣa ṣira
(Di manapun itu, baik di semak, hutan, jurang, di segala tempat berbahaya, bahkan di medan peperangan sekalipun, tidak mengkhawatirkan orang yang senantiasa dalam dharma, karena perbuatan baik melindunginya)

(23)
Sanskrit: manonukūlāh pramadā rūpavatyah svālaṅkṛtāh, vāsah prāsādapṛṣṭhe ca bhavanti śubhakarmmanām
Kawi: Lawan ta-waneh, ikang strῑratna anakӗbi rahayu, sangsangan ring sinaṇḍang, wruh ri sanginakana ring jalujalu, lawan umah rahayu, makādi prāsādapṛṣṭha, upalaksana ring bhogopabhoga, mwang anarghya wastrābharaṇādi, dṛbya sang punyakārῑ ika kabeh
(beristri cantik menawan dalam pakaian apapun dan pandai membahagiakan suami, dengan rumah bagai istana lengkap dengan kenyamanannya, aneka makanan enak, pakaian dan perhiasan mewah, semuanya dapat dimiliki pelaku kebajikan)

(24)
Sanskrit: nipānamiva maṇḍūkāh sarah purṇṇamivāndajāh, subhakarmmānamāyānti sahāyācca dhanāni ca
Kawi: Apan ikang balakośawāhana, tumêkākên awaknya ya ri sang puṇyakarma, kadi kramaning maṇḍūka, an parākena āwaknya ring sumur, mwang ikang manuk, an têkākêna awaknya ring talaga
(Bantuan dan keberuntungan menghampiri pelaku kebajikan, bagai katak yang mendekati sumur, bagai burung yang mendekati telaga)

(25)
Sanskrit: arjjayejnanamarthamcca vidvanamaravat sthitah, kecesviva grhitah san mrtyuna dharmmamacaret
Kawi: matangnya deyanila sang menget, apageh kadi tan keneng pati, lwiraniran pangarjana jhana, artha, kunang yan pangarjana dharma, kadi katona rumanggut mastakanira, ta pwa ikang mrtyu denira, ahosana palaywana juga sira
(Oleh karenanya, laku orang yang sadar, tenang bagai tak akan ada bahaya menimpa, saat mengejar ilmu dan harta duniawi, namun ketika mengejar dharma, bergegas seolah habis waktu karena kematian sedang menghampiri, meski sampai terengah, tetap dikerjarnya apa yang dicita-citakannya)

(26)
Sanskrit: mastakasthāyinam mṛtyum yadi paśyedayam janah, āhāropi na rucyeta kimutākṛtyakāritā
Kawi: Yan wruha ktikang wwang an nirantarānginte manunggang ri mastakanya ikang mrityu, yaya tan hyunanya mangana tuwi, ngūninguni magawayaning adharma
(Jika tahu kematian sedang mengintai, makan pun tak berselera, apalagi hendak berbuat adharma)

(27)
Sanskrit: yuvaiva dharmmamanvicched yuvā vittam yuvā srutam, tiryyagbhavati vai dharbha utpatan na ca viddyati
Kawi: matangnya deyaning wwang, pengponganikang kayowanan, panedeng ning awak, sadhanakena ri karjananing dharma, artha, jnana, kunang apan tan pada kacaktining atuha lawan rare, drstanta nahan yangalalang atuha, telas rumepa, marin alandep ika
(Seorang seyogyanya selagi muda, selagi badan sedang kuatnya, dipergunakan untuk mengejar dharma, kekayaan dan ilmu, karena usia tua tak setajam usia muda, bagai ilalang tua yang rebah dengan ujung yang tidak lagi tajam)

(28)
Sanskrit: purve vayasi yah cantah ya canta iti me matih, dhatusu ksiyamanesu camah kasya na vidyate
Kawi: lawan ta waneh, ikang upacaman, rare ktikang sinaggah upacama, apan jating upacama, yan katekan tuha, ri ksayaning dhatu ngke ring carira, nang wata, pitta clesma
(Di masa remaja/upacama kendalikan nafsu dan amarah, agar mendapat kewajaran di masa tua. karena ada perubahan hawa, empedu dan lendir, penyebab sesak, marah, mual yang terjadi dari masa muda ke masa tua)

(29)
Sanskrit: yuvatvapeksaya balo veddhatvapesaya yuva, mrtyorutsangamaruhya sthavira kimapeksate
Kawi: nihan parikramaning dadi, kayowanan, anggeh inantining kararayan, ikang karyowanan, si tuha anggeh inantinika, katemu pwa situha, haneng kisapwaning, mrtyu ta ngaranika, aparan tikang anggeh inantinya, nghing si pati juga, matangnyan usonakena kagawayaning dharmaprawrtti
(Sewaktu kecil menantikan usia remaja, sewaktu remaja menantikan usia dewasa, jika telah tua, dekat kematian, yang menanti hanya kematian. Oleh sebab itu, bergegaslah berbuat bajik yang menuntun ke surga)

(30)
Sanskrit: pura cariramantako bhinakti rogasarathih, prasahya jivitaksaye cubham mahat samaharet
Kawi: apan sang hyang mrtyu ngaranira, sarwa wyadhi pinakasarathinira, nimittaning hurip ksaya, ksaya pwang hurip, teka tang pati, matangnya haywa pramada, usonakena jugang cubhakarma, tumuntunakena kita ring paran
(Segala penyakit adalah kemudi kematian, mempersingkat usia, mendatangkan maut, kehidupan menjadi berantakan karena tidak dapat beraktifitas. Oleh karenanya, bergegaslah berbuat bajik, yang menuntun ke alam berikut)

(31)
Sanskrit: yuvaiva dharmmcilah syadanityam khalu jivitam, ko hi janati kadyadya mrtyusena patisyati
Kawi: matangnyan pengpongan wenangta, mangken rare ta pwa kitan lekasakena agawe dharmasadhana: apan anitya iking hurip, syapa kari wruha ti tekaning pati, syapa mangwrhuana ri tekaning patinya wih
(Pergunakan sebaiknya kesempatan dan kemampuan selagi muda, bergegaslah dalam dharma, sebab hidup itu tidak pasti, tiada yang tahu kapan tibanya pasukan kematian, yang datang tanpa pemberitahuan)

(32)
Sanskrit: a dhumagrannivarttante jnatayah saha bandhavih, yena taih saha genvyam tat karmma sukrtam kuru
Kawi: apanikang kadang warga rakwa, ring tunwan hingan ikan pangateraken, kunang ikang tumut, sahayanikang dadi hyang ring paran, gawenya cubhacubha juga, matangnya prihena tiking gawe hayu, sahayanta anuntunakena ri pona dlaha
(Ketika mati, kerabat menghantar sampai kremasi kemudian kembali, yang menemani mendiang hanya perbuatan baik-buruk semasa hidup; Oleh karenanya, lakukan perbuatan bajik, teman ke alam berikut)

(33)
Sanskrit: mrtam cariramutsrjya kastalostasamam janah, murhurttamuparudyatha tato yanti paranmukhah
Kawi: lawan tattwanikang kadang ngaranya ri patinta, kari tikang carira tanpamulya, makantang timpalakena, tan hana pahinya lawan wartta wingka, ya ta sinungkemaning kadangta, irikang sadhana, i wekasan lungha tika malakang, matangnya prihen tikang dharma sadhana, sahayanta tumekakena kita ring bhukti muktipada
(Kerabat menemani sebentar mayat tak berguna, setelah penghormatan, kremasi lalu pulang, tak beda dengan pecahan piring dan mangkok yang dibuang, Oleh karenanya lakukanlah dharma, teman dalam kebebasan dan kebahagian abadi)

(34)
Sanskrit: eko dharmmah param creyah ksamaika cantirucyate vidyaika parama tustirahisaika sukhavaha
Kawi: nghing dharma keta saksat hayu, saksat wibhawa ngaranya, nghing lebaning manah, kelanta ring panas tis, keta prasiddha tamba, prayaccitta, pamadem lara ngaranya, nghing samyagjnana tuturta, ajinta, wruh ta ring tattwa, paramartha inakambek ngaranya, nghing ahimsa si tanpamatimati, si tan hana kakrodha, byaktaning sukha ngaranya
(Hanya dharma yang merupakan kebenaran dan keutamaan, Ketenangan perasaan bertahan dari panas dan dingin adalah obat pelebur derita penghilangkan duka. Pengetahuan kewaspadaan (samyag-jnana) patut dicamkan, merupakan ilmu dan keyakinan akan keadaan hikiki sebagai tujuan utama kebahagiaan, ahimsa adalah tidak menyakiti tanpa dibutakan amarah, itulah sejatinya kebahagiaan )

(35)
Sanskrit: Ekam yadi bhavecchastram creyo nissamcayam bhavet’ bahutvadiha castranam guham creyah pravesitam
Kawi: Yan tunggala keta Sang Hyang Agama, tan sangcaya ngwang irikang sinanggah hayu, swargapawargaphala, akweh mara sira, kapwa dudu paksanira sowing-sowang-hetuning wulangun, tan anggah ring anggehakena, hana ring guhagahwara, sira sang hyang hayu
(Jika agama itu satu saja, tidak ada kesangsian kebenarannya untuk membawa kesurga atau moksa; akan tapi banyak, masing-masing caranya beda. Disebabkan kebingungan, maka yang tidak benar jadi dibenarkan, ada pula yang menyangka bahwa di dalam goa yang besarlah tempatnya kebenaran itu)

(36)
Sanskrit: ma tata vrddham paribhuh ciksasvagamayasva ca, aherira hi dharmasya suksma duranuga gatih
Kawi: matangnya bapa, haywa juga masampai ring wwang matuha, lot atanaminta winarah, ring kadi sira ta pwa kita, apanikang dharma ngaranya, pada lawan ula, ri kapwa tan kinaniccayan larinira, dadyan saka lor, dadyan saka kidul, marikang ula
(Jangan angkuh/mengabaikan yang tua, duduk mendekat mohonlah pengajaran, demikianlah hendaknya, sebab dharma jalan bagai ular, tidak diketahui datangnya, dapat dari Utara, dapat dari selatan) [↑]

(37)
Sanskrit: crutivedah samakhyato dhamacastram tu vai smrtih, te sarvathesvamimamsye tabhyam dharmo vinirbhrtah
Kawi: nyang ujarakena sakareng, cruti ngaranya sang hyang caturveda, sanghyang dharmacastra; smrti ngaranira, sang hyang cruti, lawan sang hyang smeti, sira juga pramanakena, tutakena warawarah nira, ring asing prayojana, yawat mangkana paripurna alep sang hyang dharmaprawrtti
(Sruti/didengar disebut 4 weda/4 pengetahuan, ajaran dharma disebut smrti/dingat, Sruti dan Smrti adalah pokok, ikuti ajarannya dalam setiap usaha, agar sempurna bertindak dalam Dharma)

(38)
Sanskrit: caturvarnyam tatha lokaccatvaraccacramah prthak, bhutam bhavyam bhavisyacca sarvam vedat prasidhyatti
Kawi: apan sang hyang weda ngaranira, sira sangkaning caturwarna, sira tumingkah utpattinya, teka ri acaranya, sowang-sowang, mangkanang rat, mangkanang caturacrama, caturacrama ngaran sang brahmacari, grhastha, wanaprastha, bhiksuka, wastu huwus dadi, wastu sedenghana, wastu yangken dadya kuneng, ika ta kabeh, sang hyang weda sangkanika
(Veda sumbernya 4 golongan (Brahmana,..., Sudra) dan masing masing tatacaranya, juga 4 alur kehidupan dunia (menuntut ilmu, berumah tangga, menjauhi duniawi, melepaskan duniawi) dan apapun itu yang telah, sedang dan akan terjadi, semuanya ada di Veda)

(39)
Sanskrit: itihasapuranabhyam vedam samupavrmhayet, bibhetyalpacrutadvedo mamayam pracarisyati
Kawi: ndan sang hyang weda, paripurnakena sira, makasadhana sang hyang itihasa, sanghyang purana, apan atakut, sang hyang weda ring akedik ajinya, ling nira, kamung hyang, hyawa tiki umara ri kami, ling nira mangkana rakwa atakut
(Veda agar dipelajari benar, beserta kisah kejadian dan cerita, sebab Veda takut pada yang sedikit pengetahuannya, janganlah datang padaku, demikian dikatakan)

(40)
Sanskrit: crutyuktah paramo dharmastatha smrtigato'parah, cistacarah parah proktastrayo dharmah sanatanah
Kawi: kunang kengetakena, sasing kajar de sang hyang cruti' dharma ngaranika, sakajar de sang hyang smrti kuneng' dharma ta ngaranika, cistacara kunang, acaranika sang cista, dhrma ta ngaranika, cista ngaran sang hyang satyawadi, sang apta, sang patirthan, sang panadahan upadeca sangksepa ika katiga dharma ngaranira
(Segala yang diajarkan di sruti disebut dharma, smrti pun disebut dharma, prilaku para cista juga disebut dharma. Ketiganya adalah dharma. Cista adalah orang benar, setia ucapan, dapat dipercaya, tempat menempa diri, pemberi ujaran/nasihat) [↑]

(41)
Sanskrit: na tata parasya sandadhyat pratikulam yadatmanah, esa samksepato dharma kamadanyat pravartate
Kawi: Kunang deyanta, hana ya prawrrti, kapuhara dening kaya, wak manah, ndatan panukhe ya ri kita, magawe duhkha puhara hrdroga, yatika tan ulahakenanta ring len, haywa tan harimbawa, ika gatinta mangkana, ya tika sangksepaning dharma ngaranya, wyartha kadamelaning dharma yan mangkana, lilantat gawayakena ya
(Perbuatan pikiran, perkataan, dan badan yang tidak menyenangkanmu, menimbulkan duka untukmu; maka perbuatan itu, jangan dilakukan kepada orang lain. ukur baju di badanmu, itu adalah Dharma, yang menyalahi dharma, jangan dilakukan)

(42)
Sanskrit: ye tu cistah suniyatah satyarjavaparayanah, dharmyam panthanamarudhastesam prttam samacara
Kawi: kunang sarwa daya, ika sang cista, sang apta, satyawadi, jit endri ya ta sira, satyalaris duga-duga, niyata pasandan dharma solah nira, prawrrtinira, yatika, tutakenanta, katutanika, yatika dharmaprawrrti ngaranya
(Adapun segala perbuatan orang benar adalah jujur, setia ucapan, telah mengalahkan nafsu, terkendali, pasti berlandaskan dharma, seperti inilah orang yang patut dituruti, jika telah menurutinya, itu disebut seperti dharma)

(43)
Sanskrit: sarvato bhramyamanasya dharmasya rathacakravat, vecvasutasyeva piturniccayo nopalabhyate
Kawi: kuneng sang hyang dharma, mahas midering sahana, ndatan hana umaku sira, tan hanenakunira, tan sapa juga si lawanikang nahan-nahan, tatan pahi lawan anak ring stri lanji, ikang tan kinawruhan bapanya, rupaning tan hana umaku yanak, tan hana inakunya bapa, ri wetnyan durlabha ikang wenang mulahakena dharma kalinganika
(Dharma menyelusup di segala arah, tidak memerlukan pengakuan dan diakui, tidak ada pengenalnya, panggilannya, kediamannya, sulit untuk mengtahuinya dan melaksanakannya, seperti anak pelacur, tidak tahu siapa bapaknya, akan sulit menemukan siapa bapaknya)

(44)
Sanskrit: cruyatam dharmasarvasvam crutva caivopadharyatam, atmanah pratikulani na paresam samacara
Kawi: matangnyan rengo sarwadaya, paramartha ning sinanggah dharma telas rinengonta cupwananta ta ri hati, ikang kadi ling ami nguni wih, sasing tan kahyun yawakta, yatika tanulahakenanta ring len
(Perhatikan perbuatan sendiri, agar tahu sejatinya dharma, setelah tahu berpeganglah, sebagaimana sudah disampaikan, apapun yang tidak disetujui diri sendiri, jangan lakukan ke orang lain)

(45)
Sanskrit: pulaka iva dhanyesu puttika iva paksisu, tadrcaste manusyesu yesam dharmo na karanam
Kawi: kunang ikang wwang pisaningun damelakenang dharmasadhana, apa-apaning pari, wukaning antiga padanika, rupaning hana tan papakena
(Orang yang tidak melakukan yang seperti dharma adalah bagai padi tak berbulir, seperti yang bersayap tapi bukan burung melainkan semut/bertelur tapi busuk, ada bentuknya tapi tidak berguna)

(46)
Sanskrit: Mritye janmanor’thaya jayante maranaya ca, na dharmatam na karmatham trnaniva prthagjanah
Kawi: Apan purih nikang prthagjana, tan dharma, tan kama, kasiddha denya, nghing matya donyan ahurip, doning patiya, nghing hanma muwah, ika tang prthagjana mangkana kramanya, tan hana patinya ide nika, taha pih, tan hana pahinya lawan dukut, ring kapwa pati doning janmanya, janma doning patinya
(kebanyakan orang tak paham hakikat dharma, tidak tahu mengendalikan nafsu, orang yang seperti itu dhidup bagaikan ilalang, mati untuk tumbuh lagi, tumbuh hanya untuk mati)

(47)
Sanskrit: ye tu dhammamasuyante buddhimohanvita janah, apatha gacchatam tesamanuyatapi pidyate
Kawi: mwang ikang wwang ninda ring dharmaprawrtti, dening punggungya, jenek ta ya ring adharmaprawrtti, ikang manutnut iriya tuwi, niyata pamangguhanya lara
(Orang berbuat menyimpang dari dharma adalah karena keangkuhannya sehingga tetap berbuat adharma, juga orang yang mengikuti prilakunya, niscaya kesedihan akan dialaminya/terlahir sebagai makhluk rendah, tidak mendapatkan kegembiraan)

(48)
Sanskrit: adharmarucayo mandastiryaggatiparayanah, krocchram yonimanuprapya na vidanti sukham janah
Kawi: kunang lwir nikang mudha, jenek ring adharma, annentasnya sakeng niraya, mangjanma ta ya tiryakprani, mesamahisadi, bwat ning janmanya jemah, mangjanma ta ya ring nica, kasakitan ta ya kinungcing lara prihatin, tan temung sukha
(Orang bodoh yang tetap berbuat adharma, setelah lepas dari neraka, menitis sebagai binatang, jika kemudian kelahiranya meningkat, menitis sebagai orang hina, sengsara, diombang-ambingkan kesedihan, jauh dari kesenangan)

(49)
Sanskrit: dhanasya yasya rajato bhayan na casti coratah mrtam, ca yanna muncati samarjayasva taddhanam
Kawi: matangnyan nihan juga ngulaha, hana ya mas tan kawenang rinampas, tan kawenang inahal, tumuti patinta, ikang mas mangkana kramanya, yatika prihen arjananta
(Oleh karenanya, usahakanlah memperoleh harta yang tak dapat dirampas atau dicuri dan yang dapat menemani hingga ke alam lain)

(50)
Sanskrit: dharmaçcennàvasideta kapàlenàpi jivatah, àdhyo smityavagantavyam dharma vittà hi sadhavah
Kawi: Yadyapin atyanta daridra keta ngwang, mahuripa ta dening tasyan, yan langgeng apageh ring dharmàprawrtti, hidepen ta sugih jugàwakta, apan anghing dharmaprawrtti, màs manik sang sàdhu ngaranira, yatika prihen arjanan, yatika ling mami màs manik tan kena ring corabhayàdi
(Biarpun miskin, hidup dari meminta tapi tetap yakin dan teguh menjalankan dharma, patut disebut orang kaya, karena dharma adalah hartanya orang benar, yang patut dicari, yang disebut harta yang tidak dapat dirampas atau dicuri)

(51)
Sanskrit: dharmamàçarato vrttiryadi nopagamisyati, na nama kin çilochàmbu çàkàdyapi vipatsyate
Kawi: Lawan ling mami, ika sang kewala tumungkulanang dharmaprawrtti, tàtan penemwa upajìwananira, apa matangnya tar polih angasag, gagan, wwai, lwirning sulabha takwanani harakanira
(Lagipula, Orang yang teguh melaksanakan dharma, tidak akan merasa hidupnya sulit, pasti dapat menghidupi dirinya, makanan, sayuran dan air, segalanya mudah baginya, seakan menghampirinya untuk dsantap)

(52)
Sanskrit: santi cakanyaranyesu nadyacca vimalodakah, candrah samanyadipo'yam vibhavaih kin prayojananm
Kawi: nihan kengeta, akweh mara samsam ring alas, mangkana ikang lwah ring alas nirmaladalem aho banunya, kunang suluhanta sang hyang nicakara, tatan padon karjananing wibhawa, sungyan kalaksepa
(Begitu banyak ada tumbuhan di hutan, yang daunnya dapat dimakan, begitupula sungai yang berair jernih, bulan sebagai penerangan, tidak ada gunanya membuang waktu mati-matian mencari kekayaan duniawi)

(53)
Sanskrit: vyaprtenapi hi svarthah kriyate cantare’ntare, medhri prste’pi hi bhramyan grasam grasam karoti gauh
Kawi: nihan tang ulaha, ri duweganyan harohara hosana ngwang, i kagawayaning dharmasadhana, sambina tikang artharjana riang antara sangka pisan, kadi kramaning lembu sedeng mesi hanungan walakangnya, mider ring sawah, sinambinya angjanggut dukut, saparek kaparah ri lakunya
(Meskipun sangat sibuk hingga terengah dalam melaksanakan dharma, barengi dengan mencari harta, seperti lembu dengan bajak dipunggung, berkeliling membajak sawah, dibarengi menarik rumput di dekatnya, karenanya menjadi senang)

(54)
Sanskrit: buddhena cantadantena nityamabhyutthitatmana, dharmasya gatiranvesya matsyasya gantirapsiviva
Kawi: lawan ta waneh, atyanta ring gahana keta sang hyang dharma ngaranira, paramasuksma, tan pahi lawan tapakning iwak ring wwai, ndan pinet juga sira de sang pandita kelan upacama pagwan, kotsahan
(Karena amat mulia dan rahasia dharma itu, tidaklah mudah menyelidikinya, bagai jejak ikan dalam air, walaupun demikian, Orang bijak dengan ketenangan, keterkendaliannya, dan keteguhannya akan terus diusahakannya) [↑]

(55)
Sanskrit: brahmanah ksatriyo vaicyastrayo varna dvijatayah, caturrtha ekajatiyah cudro nastika pancamah
Kawi: brahmana adining warna, tumut ksatriya, tumut waisya, ika sang warna tiga, kapwa dwijati sira, dwijati ngaraning ping rwa mangjanma, apan ri sedeng niran brahmacari gurukulawasi kinenan sira diksabratasangskara, kaping rwaning janma nira tika, ri huwus nira krtasangskara, nahan matangnyan kapwa dwijati sira katiga. kunang ikang cudra kapatning warna, ekajati sang kadi rasika, tan kadi kinenana bratasangskara, tatan brahmacari, mangkana kandanikang warna an pat, ya ika caturwarna ngarannya, tan hana kalimaning warna ngarannya
(Brahmana adalah golongan yang ke-1, lalu ksatria, dan wesya, ke-3nya disebut dwijati, karena melakukan upacara pelantikan/krtasangskara, maka disebut lahir 2x. Sudra yang ke-4 disebut ekajati, tidak ada kewajiban upacara/bratasangskara, tidak harus brahmacari/menuntu ilmu, inilah 4 warna/golongan, tidak ada warna ke-5)
    Note:
    kata nāstika = na/tidak + asti/ada + akhiran -ka, selain berarti "tidak ada" juga diartikan golongan "yang tidak percaya", Di sloka lain ada merujuk golongan nastika, jadi, bisa berarti pula: "nastika yang ke-5"
(56)
Sanskrit: adhiyita brahmano vai yajeta dadyadiyat tirthamukhyani caiva, adhyapayedyajayecchapi yajyan pratigrahan va vihitanupeyat
Kawi: nya dharma sang brahmana, mangajya, mayjna, maweha danapunya, magelema atirtha, amarahana, wikwaning yajna, mananggapa dana
(Dharmanya golongan brahmana adalah belajar veda, melakukan yajna/upacara kurban, bersedekah, pergi ke tempat-tempat suci, mengajar lainnya (dharma), memimpin yajna pihak lainnya dan menerima dana/persembahan)

(57)
Sanskrit: dharmasca satyam ca tapo damacca vimatsaritvam hristitiksanasuya, yajnacca danam ca dhrtih ksama ca mahavratani dvadaca vai brahmanasya
Kawi: nyang brata sang barahmana, rwa welas kwehnya, praktyeknaya, dharma, satya, tapa, dama, wimatsaritwa, hrih titiksa, anasuya, yajna, dana, dhrti, ksama, nahan pratyekanyan rwawelas, dharma, satya, pagwanya, tapa ngaranya carira sang cosana, kapanasaning carira, piharan, kurangana wisaya, dama ngaranya upacama dening tuturnya, wimatsaritwa ngarani haywa irsya, hrih ngaraning irang, wruha ring irang wih, titiksa ngaraning haywa gong krodha, anasuya ngaraning haywa dosagrahi, yajna magelem amuja, dana, maweha danapunya dhrti ngaraning maneb, ahning, ksama ngaraning kelan, nahan brata sang brahmana
(Kewajiban brahmana ada 12: Dharma/berpegang pada kebenaran, satya/dapat diandalkan, tapa/melakukan penyepian/pengendalian diri, dama/memberikan berkat/cinta kasih, wimatsaritwa/tidak mementingkan diri/tidak serakah, hrih/rendah hati/sopan, titiksa/tidak mudah marah, anasuya/tidak dengki, yajna/melakukan kurban, dana/bersedekah, dhrti/penyucian, ksma/mudah atau suka mengampuni)

(58)
Sanskrit: adhitya vedan parisamstirya cagninistva yajnaih palayitva prajacca, bhrtyan bhrtva jnatisambandhinacca danam dattva ksatriyah svargameti
Kawi: kuweng ulaha sang ksatriya, umajya sang hyang weda, nitya agnihotra, magawayang yajna, rumaksang rat, huninga ring wadwa, teka ring kula gotra, maweha dana, yapwan mangkana, swargapada antukanira delaha
(Kewajiban ksatria: belajar weda, mempersembahan kurban api, melakukan kurban, menjaga keamanan, mengenal bawahannya sampai sanak dan kerabat, memberikan sedekah, jika menjalankannya, menghantarkannya ke alam sorga)

(59)
Sanskrit: vaicyo’dhitya brahmanat ksatriyadva dhanaih kale sambivhajyacritamcca, tretapurvan dhumamaghraya punyam pretya svarge devasukha binukte
Kawi: nihan ulaha sang waicya, mangajya sira ri sang brahmana, ri sang ksatriya kuneng, mwang maweha dana ri tekaning danakala, ring cubhadiwasa, dumdumana nira ta sakwehning mamaracraya ri sira, mangelema amuja ring sang hyang tryagni ngaranira sang hyang apuy tiga, pratyekanira, ahawaniya, garbhaspatya, citagni, ahawanidha ngaranira apuy ning asuruhan, rumateng i pinangan, garbhaspatya ngaranira apuy ning winarang, apan agni saksika kramaning winarang i kalaning wiwaha, citagni ngaranira apuy ning manunu cawa, nahan ta sang hyang tryagni ngaranira, sira ta pujan de sang waiya, ulah nira ika mangkana, ya tumekaken sira ring swarga dlaha
(Kewajiban Wesya: belajar pada brahmana dan ksatria, memberikan sedekah pada waktunya, saat hari baik, kepada semua yang meminta bantuannya, saat mengadakan upacara triagni/3 api (ahawanidha/memasak, garhaspatya/perkawinan, citagni/kremasi), jika melakukannya, menghantarkanya ke alam surga)

(60)
Sanskrit: brahma ksatram vaicyavarnam ca cudra kramenaitan nyayatah pujyamanah, tustesvetesvavyatho dagdhapapastyaktva deham siddhimistamllabheta
Kawi: yapwan ulahing cudra, bhaktya sumewa ri sang brahmana, ri sang ksatriya, ring waisya, yathakrama juga, paritusta sang telun sinewakanya, hilang ta papanya, siddha sakaryanya
(Kewajiban sudra: setia mengabdi kepada 3 warna, melakukan tugas sebaik-baiknya, jika mereka puas pada pelayannya, dosa terhapus, berhasillah upaya-nya)

(61)
Sanskrit: raja bhirur bramanah sarvabhakso vaicyo'nihavan hinavarno'lasacca, vidvanacilo vrttahinah kulinah bhrasto brahmanah stri ca dusta
Kawi: hana pwe mangke kramanya, ratu wedi-wedi, brahmana sarwabhaksa, waicya nirutsaha ring krayawikrayadi karma, cudra alemeh sewaka ring sang triwarna, pandita duccila, sujanma anasar ring maryadanya, brahmana tan satya, stri dusta duccila
(jika ada penguasa yang pengecut, brahmana yang rakus makanan, Wesya yang tidak berniaga, sudra yang enggan mengabdi pada 3 warna, yang bijak menjadi bejat, yang kelahiran utama beprilaku rendah, brahmana tan satya/tak dapat dipercaya dan wanita menjadi nakal, bejat)

(62)
Sanskrit: ragi muktah pecamanah svahetormurkho vakta nrpahinam ca rastram, ete sarve cocyatam yanti rajan yaccamuktah snehaninah prajasu
Kawi: waneh, wanaparsthadi, sawakaning mataki-taki kamoksan tatan hilang raganya, masuruhan marphala ryawaknya, swartha kewala wih, inahaken patirthana, panemwana warawarah, ndan murkha, tan panolih sukhawasana, kadatwan tan paratu, grhastha tan masih ring anak, tan huninga ring rat kuneng, samangkana lwirning kawlas arep, niyata wi panemwanya hala
(Wanaprastha yang seharusnya menjauhi duniawi, tidak lenyap birahinya, masak hanya untuk dirinya, mencemarkan tempat sakral, tempat belajar dharma, bersikap angkara, menyepelekan hal yang membuat bahagia, kerajaan tanpa raja, bapak apatis terhadap anaknya dan keadaan masyarakat, ini mengundang petaka)

(63)
Sanskrit: arjavam canrcamsyam ca damaccendriyanigrahah, esa sadharano dharmaccaturpvarnye'bravinmanuh
Kawi: Nyang ulaha pasadharanan sang caturwarna, arjawa, si duga-duga bener, anrcansya, tan nrcansya,nrcansya ngaranign atmasukhapara, tan arimbawa ri laranign len, yawat mamuhara sukha ryawaknya, yatika nrcansya ngaranya, gatining tan mangkana, anrcansya ngaranika, dama, tumangguhana awaknya, indriyanigraha, humrta indriya, nahan tang prawrttti pat, pasadharanan sang caturwarna, ling batara manu
(Prilaku seharusnya 4 warna: arjawa/jujur, anrcangsya/tepasaliro/empati, dama/diri sendiri, dama/cinta kasih dapat mengendalikan diri, mengekang nafsu, prilaku ini yang harus dibiasakan 4 warna, demikian sabda Bhatara Manu)

(64)
Sanskrit: ahinsa satyavacanam sarvabhutesu sarjavam ksama, caivapramadacca, yasyaite sa sukham bhavet
Kawi: Nihan temen-temening yogya kawacakena, ahimsa satya si tan kira-kira kahalan ning sarwaprani, si klan, si tan paleh-paleh, sang makadrbya ika kaeh, sira pradisddha ning sukha ngaranira
(yang harus dikuasai: ahimsa/tidak menyakiti, satya/berkata benar, tidak beritikad buruk, tahan uji, tidak lengah, yang memiliki semuanya, sesungguhnya mendapat kebahagiaan)

(65)
Sanskrit: sarvam jihmama mrtyupadamarjavam brahmanah padam etavan jnanavisayah kin pralapah karisyate
Kawi: apan yawat si tan reju, sandanikang prawrtti, niyata mrtyupada ika, tan pangdadyaken kalepasan, kunang yan arjawa pagwan ikang prawrtti, niyata brahmapada ika, mukti phala wih, mangkana sarwadaya ning hidep, tan padon, ikang ujar adawa, ika ta pwa watwaning hidep
(jika dalam keseharian berprilaku tidak jujur, itu akan menuju pada kematian, tidak berakibat lepas dari ikatan duniawi. Jika arjawa/tulus, itu akan menuju brahmaloka, tempat kebebasan, demikian jalannya tidak berguna banyak bicara)

(66)
Sanskrit: anrcamsyam paro dharmah ksama ca paramam balam, atmajnanam param jnanam satyavratam param vratam
Kawi: kunang ikang si tan nrcansya, ya ika mukhya ning dharma, yapwan si klan, prasiddha ning kacaktinika, ika wruh ta amawawakta, mengeta ri sawawanya, nguniweh wruhta ring atmatattwa, ya ika paramartha rahasyajnana ngaranya, kunang wastu ning brata ngaranya, sisatya
(Tidak egois adalah dharma utama, tahan uji adalah kesaktian utama, pandai membawa diri, tidak melupakan sesama, apalagi percaya atma adalah pengetahuan utama, yang disebut brata/kehendak menjalankan dharma adalah satya/kebenaran/kesetiaan utama)

(67)
Sanskrit: kantakan kupamagnin ca varjayanti sada narah, tatha nrcamsakarmanam varjayanti narndhanam
Kawi: nihan halaning nrcansa, tan kinonengan juga yan hana ring rat, dening wwang adhama tuwi, tan kinahyunan ika, kadi kramanikang wwang suminggahi rwi, sumur mati, apuy kuneng, mangkana tikang sarwajanan tuminghalakenikang wwang nrcansa
(keburukan nrcangsa/egois adalah tidak disukai masyarakat, juga oleh orang yang papa/hina sekalipun, jika ingin bebas duri, sumur kering, atau api, tinggalkan orang yang egois)

(68)
Sanskrit: danaddamo vicisto hi danamunnatikaranam, data kupyati no dantastasmaddanat paro damah
Kawi: nihan kottamaning dama, dama ngaraning kopacaman, makahetu menget, wruhta mituturi manahta, yatika lewih sangkeng dana, ikang dana ngaranya, kirtti lawan uccapada, phalanika, ndan sor ika dening dama, apan ika sang data, dadi sira tan pakadrbyang dama, kataman krodhadi, kunang sang makadrbyang dama, niyatanya tan wipatha sira apan atutur, matangnyan lewih tang dama sangkeng dana
(Dama adalah ketenangan, sanggup menasehati diri, Dana membawa pahala, nama harum dan dihormati, tapi dana kalah dari dama, karena orang dapat dermawan tapi tidak punya dama, sehingga dipengaruhi kemarahan, tapi yang punya dama niscaya tidak tersesat karena senantiasa awas, karenanya dama lebih utama dari dana)

(69)
Sanskrit: nodakaklinnagatro hi snata ityabhidhiyate, sa snato yo dhamasnatah sa bahyabhyantaracucih
Kawi: lawan tan waneh, tan ikang ateles winasehan cariranya, ktikang madyus ngaranya, kunang ikang prasiddhadyus ngaranya, ika sang makadrbyang dama juga, sang sinanggah danta si tikadyus ling sang pandita, cuci ring wahyabhyantara
(Bukan karena basah dibasuh air disebut mandi, orang yang disebut mandi yang benar adalah yang memiliki dama/ketenangan yang juga disebut danta/bersih, demikianlah mandi menurut sang bijak, suci lahir batin)

(70)
Sanskrit: na hrsyati mahatyarthe vyasane ca na cocati, yo va parimitaprajnah sa danta iti kirttyate
Kawi: nihan ta laksananing danta, tar lenok, tan agirang yan anemu sukha, tan prihatin, an katekan, duhkha, enak ta wruh nira ring tattwa, wenang ta sira tumangguhi manah nira apan pakadrbyang dama, sira danta ngaranira
(Danta/orang yang punya dama: Ia tidak berdusta, tidak bergirang saat senang, bersedih saat susah, pikirannya terkendali, sanggup menasehati diri)

(71)
Sanskrit: indriyanyeva tat sarvam yat svarganarakavubhau, nigrhitanissrstani svargaya narakaya ca
Kawi: nyang pajara waneh, indriya ikang sinanggah swarganaraka kramanya, yan kawaca kahrtanya, ya ika saksat swarga ngaranya, yapwan tan kawaca kahrtanya saksat naraka ika
(Nafsu penyebab surga atau neraka, jika nafsu terkendali, akan menuju surga, jika tidak, akan menuju neraka)

(72)
Sanskrit: jivitam sadhuvrttam yogaksemam balam yacah, dharmamartham ca pusnati nrnamindriyanigrarah
Kawi: phalaning kahrtaning indriya, nihan, kadirghayusan, ulah rahayu, pagehning yoga, kacaktin, yaca, dharma, artha, yatika katemu ri kawacaning indriya
(hasil dari terkendalinya nafsu adalah umur panjang, prilaku baik, kuat pada yoga, kesaktian, kemasyuran, kebenaran, kekayaan) [↑]

(73)
Sanskrit: manasa trividham caiva vaca caiva caturvinham kayena trividham capi dacakarma pathaccaret
Kawi: hana karmapatha ngaranya kahrtaning indriya, sapuluh kwehnya, ulahakena, kramanya, prawrttyaning manah sakareng, telu, kwehnya; ulahaning wak, pat, prawrttyaning kaya, telu, pinda sapuluh, prawrttyaning kaya, wak, manah kengeta
(karmapatha/pengendalian nafsu ada 10: 3 untuk pikiran, 4 untuk ucapan dan 3 untuk tindakan)

(74)
Sanskrit: anabhidhyam parasvesu sarvasatvesu carusam, karmanam palamastiti trividham manasa caret
Kawi: prawrttyaning manah rumuhun ajarakena, telu kwehnya, pratyekanya, si tan engin adengkya ri drbyaning len, si tan krodha, ring sarwa sattwa, si mamituhwa ri hana ning karmaphala, nahan tang tiga ulahaning manah, kahrtaning indriya ika
(pengendalian nafsu di pikiran: tidak mendengki/ingin milik orang lain, tidak berniat/beritikad buruk, berkeyakinan pada karmaphala)

(75)
Sanskrit: asatpralapam parusyam paicunyamanrtam tatha, catvari vaca rajendra na jalpennanucintayet
Kawi: nyang tanpa prawrttyaning wak, pat kwehnya, pratyekanya, ujar ahala, ujar aprgas, ujar picuna, ujar mithya, nahan tang pat singgahananing wak, tan ujarakena, tan angena-ngenan, kojaranya
(Pengendalian nafsu di ucapan: Gosip/ucapan jahat, ucapan kasar, memecah belah, ucapan tidak benar, harus disingkirkan, tidak dilakukan, tidak dipikirkan untuk diucapkan)

(76)
Sanskrit: pranatipatam stainyam ca paradaranathapi va, trini papani kayena sarvatah parivarjavet
Kawi: nihan yang tan ulahakena, syamatimati mangahalahal, si paradara, nahan tang telu tan ulahakena ring asing ring parihasa, ring apatkala, ri pangipyan tuwi singgahana jugeka
(Pengendalian nafsu dari tindakan: membunuh, mencuri, berhubungan seksual dengan pasangan orang lain, tidak dilakukan kepada siapapun, baik secara berolok, bersendagurau, dirundung malang, darurat, dalam khayalan, hendaknya itu dihindari)

(77)
Sanskrit: kayena manasa vaca yadabhiksnam nisevyate, tadevapaharatyenam tasmat kalyanamacaret
Kawi: apan ikang kinatahwan ikang wwang, kolahanya, kangenangenanya, kocapanya, ya juga bwat umalap ikang wwang, jenek katahwan irika wih, matangnyan ikang hayu atika ngabhyas an, ring kaya, wak, manah
(Orang dikenal karena kepribadiannya, yaitu pikirannya, ucapannya dan perbuatannya, karenanya biasakanlah bajik dalam perbuatan, ucapan dan pikiran)

(78)
Sanskrit: vaca karmanicitte ca durlabhah sagune janah, yasya tvevamvidhim karyam sa janah sarvadhurlabhah
Kawi: wuwusnyan durlabha ikang saguna, ring kaya, wak, manah, hana, pwa mangkana sira wekasning durlabha, tan mangkanya juga siran pinakeweh
(Walaupun berbuat bajik dalam tindakan, ucapan dan pikiran itu sulit, namun itu bukan rintangan) [↑]

(79)
Sanskrit: manasa nicayam krtva tato vaca vidhiyate, kriyate karmana paccat pradhanam vai manastatah
Kawi: kunang sangksepanya, manah nimittaning niccayajnana, dadi pwang niccayajnana, lumekas tang ujar, lumekass tang maprawrtti, matangnyan manah ngaranika pradhanan mangkana
(Pikiranlah yang menentukan, setelah diputuskan, diikuti tindakan ucapan atau badan, karenanya, pikiran adalah pelopor)

(80)
Sanskrit: mano hi mulam sarvesamindrayanam pravartate cubhacubhasvavasthasu karyam tat suvyavasthitam
Kawi: apang ikang manah ngaranya, ya ika witning indriya, maprawrtti ta ya ring cubhacubhakarma, matangnyan ikang manah juga prihen kahrtanya sakareng
(Pikiran adalah sumber nafsu, penggerak tindakan baik dan buruk, oleh karenanya, pikiranlah yang harus dikendalikan)

(81)
Sanskrit: duragam bahudhagami prarthanasamcayatmakam, manah sunityatam yasya sa sukhi pretya veha ca
Kawi: nihan ta kramaningkang manah, bhranta lungha swabhawanya, akweh inangenangenya, dadi prarthana, dadi sangcaya, pinakawaknya, hana pwa wwang’ikang wenang humrt manah, sira tika manggeh amanggih sukha, mangke ring paraloka waneh
(Pikiran tak berketentuan jalannya, cita-cita banyak, kadang ingin, kadang sangsi, jika dapat mengendalikannya pasti mendapatkan kebahagiaan baik di alam ini maupun alam selanjutnya)

(82)
Sanskrit: sarvam pacyati caksusman manoyuktena caksusa, manasi vyakule jate pacyannapi na pacyati
Kawi: lawan tattwaniking manah, nyang mata wuwusenta nang mulat ring sarwawastu, manah juga sahayaning matanikan wulat, kunang yang wyakula manahnya, tan ilu sumahayang mata, mulata towi irikang wastu, tan katon juga ya denika apan manah ikang wawarengo ngaranya, hinganyan pradhanang manah kalinganika
(Ketika pikiran menyertai mata, Mata melihat suatu, ketika pikiran bingung/kacau, meskipun mata terbuka, tidak terlihat sesuatu, pikiranlah pemegang peran utama)

(83)
Sanskrit: strainasyavacyadecasya klinnanadamvranasya ca, abbede pi manobbedajjanah prayena vancyate
Kawi: nihan mata kangetanta hana ya awayawaning stri, tan yogya wuwusen pradecanya, rinahasya wih, mwang hana ta kani ateies hanguruwak, ika tang rinahasyanyang stri, lawanikang kani, ndya pahinika, yan, ingetingeten, ndan kabancana juga wwang denika, sumanggah yaya dudu, makahetu, wikalpaning manah, hinganyan manah ikang pradhana nharanya
(bagian tubuh wanita yang sangat dirahasiakan dan luka basah berlubang dalam, pria yang pikirannya masih dalam kebingungan akan melihatnya berbeda, oleh sebab itu, pikiranlah pemegang peran utama) (Note: konteksnya tentang menjauhi keduniawian/wanaprasta)

(84)
Sanskrit: laletyudvijate loko vaktrasava iti apraha, pravancyate jananatma samjnacabdaih svayamkrtaih
Kawi: lawan waneh, hana ya mukhasawa ngaranya, madya, matahapan tutuk asilih, mangkana rakwa kramanikang sang kami mwang kamini, yan delon, tan hana bhedanya lawan ilu, ya mukhasawa, ndan yan ilu pangaraning wwang, elik ajejeb ya yapwan mukhasawa pargaranya harsa ya karin umancana awaknya, makasadhana ngaran karikang wwang, an mangkana, ikang ngaran gawenikang wwang ika hinganyan aglis ikang manah kalinganika
(Ketika disebut air liur, orang jijik, tapi ketika disebut mukhawasa (air liur saat berciuman), orang mendambakannya. mukhawasa tidak beda dengan air liur, orang menipu diri dengan istilah yang dibuatnya sendiri)

(85)
Sanskrit: abhinnesvapi karyesu bhidyate manasah kriya, anyethaiva stanam putraccintayatyanyatha patih
Kawi: tonen waneh, tunggala tuwi ikang wastu dudu juga agrahaning sawwang-sawwang irika, wyaktinya, nang susuning ibu, dudu aptinikang anak, an monenging ibu, lawan aptinikang bapa, hinganyan mana magawe bheda
(payudara ibu, sang ayah dan bayi sama-sama menghisapnya, barangnya sama, tanggapannya beda, pikiranlah yang membuat perbedaan)

(86)
Sanskrit: parivratkamukacunamekasyam pramadatanau, kunapah kamini bhaksyamiti tisro vikalpanah
Kawi: nyang drstanta waneh, nahan sang bhiksuka brata pariwrajaka, nahan yang kamuka, wwang gong raga sakta ring stri, nahan tang crgala, ika ta katiga, yata mulating stri, rahayu sasiki, kawapwa dudu aprinika katiga, wangke ling sang pariwrajaka, apan enget ring anityatattwa, ling nikang kamuka stri, teka sih iki, kunang ling nikang crgala, wastu surasa bhaksya iki, arah wetnyan wikalpaning manah tinut ning wastu bheda
(Seorang Bhikkhu, pria hidung belang dan srigala ketika melihat wanita cantik akan berbeda, bhikkhu melihatnya bagaikan mayat, pria hidung belang melihatnya sebagai hal yang menggairahkan, srigala melihatnya sebagai makanan lezat, disebabkan kebingungan, pikiran membuat tanggapan)

(87)
Sanskrit: bhavacuddhirmanusyasya vijneya sarvakarmasu, anyatha cumbhyate kanta bhavena duhitanyatha
Kawi: lawan waneh engeta juga kita an chuddhining manah nikang wwang tinutning prawrrtinya, ring asing wastu, wyaktinya, nahan yang bapa humareki strinya, muwah hinarekanya ta anaknya, ndan dudu juga aptinyan ikanareki ika kalih, aptinyan kapwa harsandelanya, hinganyan maneh karananing kriyabheda
(meski berlandaskan pada perasan senang yang sama, namun pikiran si ayah akan berbeda ketika mencium istri dan anaknya, pikiranlah penyebab terjadinya perbedaan motif) [↑]

(88)
Sanskrit: Abhidhyaluh parasvesu neha namutra nandati, tasmadabhidhya santyajya sarvadabhipsata sukham
Kawi: hana ta mangke kramanya, engin ring drbyaning len, madengki ing sukhanya, ikang wwang mangkana, yatika pisaningun, temwang sukha mangke, ring paraloka tuwi, matangnyan aryakena ika, sang mahyun langgeng anemwang sukha
(Yang bertabiat menginginkan milik orang lain, dengki/iri atas kebahagiaan orang lain, tidak akan berbahagia di alam ini maupun alam selanjutnya, oleh karenanya, yang ingin kebahagiaan sejati, tabiat seperti itu harus ditinggallkan)

(89)
Sanskrit: sada samahitam citta naro bhutesu dharayet, nabhidhyayenne aphrayennabaddham cintayedasat
Kawi: nyanyeki kadeyakenaning wwang ikang buddhi masih ring sawaprani, yatika pagehankena, haywa ta dengki, haywa ta engin, haywa ta humayamayam ikang wastu tan hana, wastu tan yukti kuneng, haywa ika inangenangen
(Oleh karenanya, berpikirlah bijak/tenang/buddhi kepada semua mahluk, jangan mendengki/iri, jangan menginginkan/merindukan yang tidak ada atau tidak benar, jangan pula memikirkannya)

(90)
Sanskrit: niyacchayaccha samyaccha cendriyani manastatha pratisedhyesvavadyesu durlabhesvahitesu ca
Kawi: Matangnyan hrten talyana, pagehakena ta pwa ikang pancendriya, lawan manah, haywa wineh mambahang hinilahila, wastu inupet, wastu durlabha, wastu tan panukhe ring awasana kuneng
(Oleh karenanya, 5 indriya dan pikiran harus dikendalikan, agar tidak berbuat tercela, berbuat yang tidak terjangkau, yang berakhir tidak menyenangkan)

(91)
Sanskrit: yasyerya paravittesu rupe virye kulanvaye, sukhasaubhagyasatkare tasya vyadhiranantagah
Kawi: Ikang wwang irsya ri padanya janma tumon masnya, rupanya, wiryanya, kasujanmanya, sukhanya kasubhaganya, kalemanya, ya ta amuhara irsya iriya, ikang wwang mangkana kramanya, yatika prasiddhaning sanngsara ngaranya, karaket laranya tan patamban
(Seorang yang iri pada sesamanya, mas/harta, kerupawanan, status kelahiran, kegembiraan, keberuntungan, kemapanan status orang lainnya, yang demikian ini kesengsaraaan pikirannya tak akan berakhir) [↑]

(92)
Sanskrit: ksamavatamayam lokah paralokah ksamavatam, iha sammanamrcchanti paratra ca cunam gatim
Kawi: nihan tang kengeta, iking sarwabhawa teka ring martyaloka' sang ksamawan makanu ika, ksamawan ngaranira, sang kelan upacama, ika ring paraloka tuwi, hanunira tika apayapan, mangke inastuti, pinuja kinatwangan, sira dening rat, ring paraloka, uccapada katemu denira
(Dunia ini milik orang terkendali/tahan uji/sabar/tenang pikirannya (ksamawan), alam berikutnya juga miliknya, di dunia, Ia dihormati, dipuji, di alam lain, kemuliaan didapatkannya)

(93)
Sanskrit: natah crimattara kincidanyat pathyatara tatha prabhavisnorytha tata ksama sarvatra sarpvada
Kawi: sangksepanya, ksama ikang paramarthaning pinakadrbya, pinaka mas manik nika sang wenang lumage caktining indriya, nora lumewihana halepnya; anghing ya wekasning pathya, pathya ngaraning pathadnapetah, tan panasar sangke marga yukti, manggeh sadhana asing parana, tan apilih ring kala
(pengendalian diri/tahan uji/ketenangan adalah kekayaan yang utama, emas permatanya orang yang mampu melawan nafsu, tidak ada yang lebih mulia darinya, jalan yang tidak dapat salah arah (pathya/paadanapeta) bagi yang menempuhnya)

(94)
Sanskrit: yadi na syurmanusyesu ksaminah prthivisamah, na syat sakhyam manusyanam krodhamulo hi vigraha
Kawi: apan yan tan hana sang ksamawan, sang ksamawan ngaranira, tan pahi lawan sang prthiwi, ring kapwa kelan, an mangkana, tan hana niyataning pamitran, krodhatmaka awaking sarwabhawa, kapwa ta tukar niyatanya
(Jika tidak ada orang seperti ibu bumi (pertiwi) yang sama-sama menahan dalam kesabaran diantara mereka, niscaya diantara mereka ini tidak ada persahabatan, amarah menyebabkan perselisihan/pertengkaran)

(95)
Sanskrit: yah samutpatitam krodham, ksamayaiva nirasyati, yathoragastvacam jirnam sa vai purusa ucyate
Kawi: hana pwa sira wenang maninggalaken krodha, maka sadhnang ksama, kadi kramaning ulan tinggalaken limungsunganya, ri kapwa tan waluyakena muwah, ika sang mangkana sira itka mahabuddhi ngaranira, manggeh sinanggah wwang
(Seorang yang dapat membuang amarah melalui pengendalian dirinya, bagai ular yang membuang kulit lamanya, Ia disebut berbudi luhur, manusia sejati) [↑]

(96)
Sanskrit: na catravah ksayam yanti yavajjivamapi ghnatah, krodham niyantum yo veda tasya dvesta na vidyate
Kawi: Katuhwan, apan yadyapi wenanga ikang wwang ri musuhnya, ta kawadhan patyana catrunya, asing kakrodhanya, sadawani huripnya tah yang tutakena gelengnya tuwi, yaya juga tan hentya ni musuh nika, kuneng prasiddha ning tan pamusuh, sang wenang humrt krodhnira juga
(Bahkan jika seseorang begitu perkasanya, terus menerus dapat membunuhi musuhnya, maka seumur hidupnya, jika hanya mengumbar amarah, tidak akan habis musuh baru yang ditemukannya, tetapi orang yang tahu mengendalikan amarah, tidak lagi memiliki musuh tersisa)

(97)
Sanskrit: avyadhijam katukam cirsarogam yacomusam papaphalodayam ca, satam peyam yanna pibantyasanto manyun maharaja piba pracamya
Kawi: nyang sang kiriman, hana ya ininum sang pandita, mangdani panas amuhara nglu, tan lara iki, pih, mangilangaken yacapuhara papa tapwa ya, tan ininum iki dening samanyajana, sang uttamapurusa juga sira wenang minum, sira tuhun cakti kalinganya, krodha ika mangkana kramanya, yatika inumenta, kawacakenanta caktinya, rapwan temung kopacaman
(Bagi orang bijak, minuman keras merusak nama baik, mendatangkan petaka, itu sebabnya tidak diminum, kemarahan adalah sakit kepala hebat, bukan penyakit, merusak kemuliaan, kejahatan konsekuensinya, minumlah amarah dan kuasai, hanya orang mulia yang meminumnya)

(98)
Sanskrit: atmopamastu bhutesu yo bhavediha purusah, tyaktadando jitakrodhah sa pretya sukhamdhate
Kawi: apayapan ikang wwang upacama, tan pahi lawan-awaknya ta pwa ikang sarwabhawa lingya, arah harimbawa, tatan pangdanda, tan katanam krodha, ya ika wyaktining sarwasukha, apan mangken temung sukha, ring paraloka sukha tah tinemunya
(Seorang yang beranggapan bahwa sekalian mahluk tidak beda dengan dirinya, Ia menumbuhkan kesabaran, ketidakegoisan, menanggalkan amarah, itulah sumber kebahagiaan di dunia ini maupun alam berikutnya)

(99)
Sanskrit: jatavairastu puruso duhkham svapiti sarvada, anivrtena manasa sa sarpa iva vecmani
Kawi: kunang ikang wwang angegong tukar, sadakaladunkha ika saparanya, solahnya, ring paturwan tuwi, makanimitta tan anggeh ni hatinya, kadi, kramaning aturu ring umah mesi sarpa
(Seseorang yang gemar memusuhi dan bertengkar, senantiasa resah kemanapun perginya, bahkan ditempat tidurpun, gelisah seolah tidur dalam rumah yang berisi ular)

(100)
Sanskrit: aturasya kuto nidra trastasyamarsitasya ca, artham cintayato vapi kamayanasya va punah
Kawi: samangke tan enak turunya, pratyekanya, wwang alara, wwang atakut, wwang hana kagelengnya, wwang umangenangen sakaryanya, wwang saraga kunang
(Orang yang tidak enak tidur adalah orang yang sedang sakit, ketakutan, marah, khawatir uang/pekerjaannya, dan sedang dimabuk asmara)

(101)
Sanskrit: akrodhanah krodhanebhyo vicistastatha titiksuratitiksorvicistah, amanusebhyo manusacca pradhana vidvamstathaivavidusah pradhanah
Kawi: Sangksepanya, lwih ikang wwang mangawacakena krodha, sangke kinawacakening krodha, mon pakalwih juga anugrahana wiryadi tuwi, mangkana ikang kelan, lwih ika sangkeng tan kelan, yadyapin mangkana kalwihnya, mangkana manusajanma, lwih jugeka sangkeng tan manusa, mon lwih ring bhogopabhogadi, mangkana sang pandita, lwih sira sangkeng tapandita, yadyapin samrddhya ring dhanadhanyadi
(Yang berhasil mengendalikan amarah lebih mulia dari yang terbakar amarah, sekalipun kaya dan berkuasa, yang tahan uji/sabar lebih mulia dari yang tidak, sebesar apapun kekuasaannya, terlahir menjadi manusia, lebih utama daripada yang bukan walaupun kenikmatannya lebih, Seorang bijak lebih mulia dari yang tidak, biarpun melimpah hartanya)

(102)
Sanskrit: yat krodhano yajati yaddadati yadvva tapastapati yajjuhoti, vaivasvatastaddharatyasya sarvam vrtha cramo bhavati krodhanasya
Kawi: apan ikang wwang kakawaca dening krodhanya, salwirining pinujakenya, sawakaning pawehnya dana, salwirning tapanya, salwirning hinomakenya, ika ta kabeh bhatara yama sira umalap phalanika, tanpaphala iriya, twas nghel, matangnyat kawacakena tan krodha
(Persembahan/sedekah yang dilandasi amarah, tidak akan berbuah kecuali hanya kepayahannya, Vaivasta/Yama mengambil kesempatannya untuk bersenang dalam surga, karenanya, kuasailah kemarahan) (Note: Athavaveda 4.34, tentang Yama merampas kekuatan mereka yang beritikad buruk dalam mempersebahkan kurban)

(103)
Sanskrit: nityam krodhat tapo raksecchriyam raksecca matsarat, vidyam manavamanabhyamatmanam tu pramadatah
Kawi: nihan tang kayatnakena, ikang tapa raksan, makasadhana kapademaning krodha ika, kuneng hyang cri, pademning irsya pangraksa ri sira, kuneng sang hyang aji, pademning ahangkara mwang awamana pangraksa ri sira, yapwan karaksanyawakta, si tanpramada sadhana irika
(Ketenangan/Tapa dijaga dengan memunahkan amarah, kesejahteraan dijaga dengan melenyapkan kedengkian, hasil pembelajaran dijaga dari sanjungan dan kecongkakan, diri dijaga dengan kewaspadaan/mawas diri dari kelalaian)

(104)
Sanskrit: krodho waiwasyato mrtyustrsna vaitaranì nadì, vìdyà kàmadughà dhenuh sansoso nandanam wanma
Kawi: lawan ta waneh, iking krodha sinanggah mrtyu ngaranya, mangkana iking trsna, ya ika lwah waitarini ngaranya, atyanta bìbhatsa, durgama towi, atyanta ring tis, atyanta ring panas wwainya, iking trsna ta wastu ning waitarini ngaranya, kuneng sang hyang aji, sang hyang rahasyasyajnana, sira lembu mametwaken sakahyun; kunang ikang kasantosan, ya ika nandanawana ngaranya, taman ring indraloka, ikang nandanawana ngaranya, atyanta ring konangunang
(Amarah sama saja dengan kematian, tresna/melekati duniawi sama saja dengan mengarungi bahaya menyebrangi sungai waitarini (penuh hal menjijikan, panas dan dingin berarus deras) melintasi neraka, Pengetahuan bijak sama saja dengan memiliki lembu keramat/Kamadhenu yang dapat memberikan apapun, perasaan puas itu sama saja seperti sedang bersenang di taman nandana indraloka)

(105)
Sanskrit: kruddhah papani kurute kruddho hanyad gurunapi, kruddha parusaya vaca narah sadhunapi ksipet
Kawi: kunang ikang wwang kakawaca dening krodhanya, niyata gumawe ulah papa, makantang wenang amatyani guru, wenang ta ya tumiraskara sang sadhu, tumeke sira parusawacana
(Yang terbakar amarah, niscaya akan melakukan kejahatan bahkan sampai membunuh guru dan menusuk perasaan orang baik, yaitu menyerangnya dengan ucapan kasar)

(106)
Sanskrit: vacyavacyam prakupito na vijanati karhicit, nakaryamasti kruddhasya navacyam viyate kvacit
Kawi: lawan lwirning kakawaca dening krodha, tan wruh juga ya ri salah kenaning ujar, tatan wruh ya ring ulah larangan, lawan adharma, wenang umarjaraken ikang tan yukti wuwusakena
(Yang terbakar amarah, niscaya akan melewati batas perkataan dan perbuatan boleh dan tidak untuk diucapkan atau dilakukan)

(107)
Sanskrit: krodhah catruh carirastho manusyanam narottama, yah krodhalobhau tyajati sa loke pujyatamiyat
Kawi: paramarthanikang krodha ngaranya, musuh ngke ring carira juga ya, hana pwa sira tuminggalaken ikang krodha, sira ta kinatwangan, inalem, pinuja an haneng rat
(Amarah adalah musuh yang bersemayam dalam diri, yang dapat mengalahkan amarah patut disegani, dipuji dan dihormati dunia)

(108)
Sanskrit: devatasu vicesena rajasu brahmanesu ca, niyantavyo bhavet krodho balalviddhaturesu ca
Kawi: ring mangke tang krodha prihen temen kahrtanya lwirnya, ring dewata, ring sang prabhu, ring sang brahmana, ring rare kunang, ikang sedeng mundu, ring wwang atuha kuneng, irikang telas lilu, wwang alara kunang, i samangkana ikang krodha prihen temen kahrtanya
(Amarah harus dikendalikan, kepada dewa, raja, brahmana, anak-anak, orang yang sudah tua, dan sedang sakit. (Note: Kata "sedeng mundu", Kadjeng tranlasi menjadi "sedang hamil" tapi diakuinya itu arti perkiraannya karena tidak Ia temukan kata "mundu" di kamus var der tuuk dan joynboll. Pada translasi sanksritnya Raghu, arti semacam itu tidak ada)

(109)
Sanskrit: dharmarthahetoh ksamatastitiksoh cantiruttama, lokasangrahanartham vai sa tu dhairyena labhyate
Kawi: lawan waneh, ika sang kelan ring panastis, ring kasiddhaning dharma,artha,kelan ta sira ri halahayuning ujar, katemu ta padem ning krodha de nira, makanimitta kadhiranira, kakarsana ikang loka denira
(kemampuan menahan panas dan dingin (kemampuan membiarkannya berlalu) diperlukan untuk berhasil dalam dharma dan harta, meneguhkan pikiran dalam menahan ucapan baik dan buruk, ini akan melenyapkan amarah, damai adalah yang tertinggi, dikembangkan melalui kesabaran, karenanya, tertariklah perhatian masyarakat padanya) [↑]

(110)
Sanskrit: nastiyam vedanindham ca devatanam ca kutsanam dvesam dambham ca manam ca krodham taiksnyam ca varjayet
Kawi: nihan ta prakaraning aryakena, lwirnya, sitan pamituhu ri hana ning paraloka, lawan phalaning cubhacubhakarma, kanindan sang hyang weda, kanindaning dewata, irsya, si pujyan mawak, ai ahangkara, krodha, panasbhara, rengorengon, samangkanan aryakena, dohakena sangkeng manah
(Yang harus dibuang dari pikiran, juga prilaku yang harus ditinggalkan: tidak percaya/nastika akan: alam lain, buah perbuatan baik dan buruk; mencela Weda, menista/mengejek dewata, iri hati, senang memuji diri, berbuat seenaknya/egois/angkara, amarah, bengis, senang mendengar yang tidak patut didengar)

(111)
Sanskrit: sandigdhe'pi pare loke tyajyamevacubham buddhaih yadi nasti tatah kin syadasti cennastiko hatah
Kawi: yadyapin sangcaya ketang wwang ri hananing paraloka, mwang phalaning cubhacubhakarma, tathapin mangkana, aryakena juga ikang acubhakarma, ling sang hyang agama, singgahana ikang karma senuhutaken sang pandita, lenoka pwa rakwa sang pandita, adwa sang hyang agama, ri hananing swarganaraka, tanpaphala ikang cubhacubhakarma, tan hana tah kociwaning umituhu warah sang pandita, suminggahanang acubhaprawrtti ling sang hyang agama, apageh pwa sang hnyang agama, niyata maphala ning cubhacubhakarma, ndah hilang nastikawas, kakeleman ya ring niraya
(walaupun sangsi akan keberadaan dunia lain dan buah dari perbuatan baik dan buruk, namun janganlah berbuat buruk sebagaimana dinyatakan agama, jangan berbuat yang terlarang sebagaimana dinyatakan sang bijak, jikapun sang bijak itu bohong tidak dapat dipercaya, tidaklah agama bohong tentang keberadaan surga neraka dan buah dari perbuatan baik dan buruk, tidaklah rugi menaati ajaran sang bijak untuk tidak berbuat buruk, karena jika agama benar, nyata buah dari perbuatan baik dan buruk, maka nastika tentunya akan ke neraka)
    Note:
    Ludwik (no.118, hal.140) merujuk padanan sloka ini dengan narasi sanskrit di Indische sprüche. Sanskrit und deutsch, Böhtlingk, Otto von, 1815-1904; Blau, August, 1858, no.3298 (text sankrit dulu, kemudian tranlasi Jerman), tapi tidak sama sepenuhnya, "Die Weisen wissen von keiner anderen Welt, die man schon mit eigenen Augen gesehen hätte, aber dennoch soll der, dem es um sein Wohl zu thun ist, die Ueberlieferung nicht in den Wind schlagen und daran glauben" (Orang tidak tahu ada dunia lain dari pandanganya sendiri, biarpun demikian, yang peduli dengan kesejahteraannya, tidak mengabaikan tradisi dan mempercayainya)[↑]
(112)
Sanskrit: na drstapurvam pratyaksam paralokam vidurbuddhah, agamamstvanatikramya craddhatavyam vijanata
Kawi: tan pratyaksa keta pangawruh sang pandita ring hananing paraloka, swaganaraka, kuneng apan apageh sang hyang agama pinramanakenira, matangnyan pratyaksa lwirning wruh nira
(walaupun pengetahuan sang Bijak tidak dari melihat sendiri keberadaan dunia lain, namun karena teguhnya keyakinan pada agama, seakan pengetahuannya ini berasal dari penglihatan langsung)

(113)
Sanskrit: apramanyam ca vedanam castranam catilanghanam sarvatra canavasthanametannacanamatmanah
Kawi: lawan ta waneh yan tan pramanakena warah sang hyang weda, tan pituhun warah sang hyang dharmacastra kuneng, mwang tan tutakena paksa sang hyang agama, niyata hilang ning atma, punarbhawa waluywaluy ring sangsara
(Yang tidak meyakini Weda, tidak menaati dharmasastra, tidak menaati agama, setelah atma tidak ada, akan berulang kali terlahir di kesengsaraan)

(114)
Sanskrit: nastikam bhinnamaryadam kule vatamiva sthitam, vamatah kuru vicrabdham naram renumivoddhatam
Kawi: hana mara wwang nastika, tan pamituhu ri hananing cubhacabhakarmaphala, umambah ikang senuhutaken sang hyang agama, yadyapin asegeha ya ri kita tuwi, dohana juga ya, haywa kita tengeniriya, apan tan hana pahinya angin adres ri pinggiring lwah, rupaning basa manub anibakena, hanan kadi lebu melek rupaning niyata malit anamala
(Orang nastika tidak percaya buah perbuatan baik dan buruk, melanggar yang dilarang agama, meski Ia menyambut kita dengan baik, jauhilah, bahayanya seperti berada di tepian sungai saat angin berhembus kencang, singkirkanlah seperti membersihkan debu kotoran)

(115)
Sanskrit: ye nastika niskriyacca gurucastratilanghinah, vihinsaka duracaraste bhavanti gatayusah
Kawi: apan nkang wwang nastika, wwang niskriya kunang niskriya ngaraning wwang tan paniddhaken triwarga wwang tan pamisinggih rasa sang hyang agama, warawarah sang guru kuneng, wwang hingsaka prawrtti kuneng, wwang duracara kuneng, ika ta wwang mangkana kramanya, ya ika mati ngaranya
(Nastika tanpa menjalani (niskriya) triwarga (dharma, artha, kama), tidak menaati agama, juga nasihat sang biijak, akan menyakiti dan berprilaku buruk, anggaplah sebagai yang telah mati)

(116)
Sanskrit: aihalaukikamihante mamsaconitavarddhanah paralaukikakrtyesu prasupta brhcanastikah
Kawi: nihan ta kramanikang nastika, kewalawaknya juga iningunya, yatna ri wrddyaning rah dagingnya, sasing prawrtti maphala mangke linekasakenya, kunang ikang prawrrti maphala swargapawarga dlaha, aturu ya irika, tan wawa rengeh wih
(Nastika hanya peduli pada badan kasarnya, giat pada kesenangannya sendiri, berbuat yang menguntungknnya saat ini, segala perbuatan menuju kebebasan dan kebahagiaan akhir kelak, tidak dihiraukannya) [↑]

(117)
Sanskrit: dve karmani narah kurvaniha loke mahiyate, abruvan parusam kincidasato narthayamstathe
Kawi: kunang ling mami, rwa ikang nimittaning wwang inastuti lwinya, ikang pisaningu mujarakenang parusawacana ikang pisaningu kumira-kirang ulah tan yukti kunang, samangkana ikang wwang pinujin haneng rat
(Dua perbuatan yang terpuji, tidak berkata kasar, tidak memikirkan untuk melakukan perbuatan tidak layak)

(118)
Sanskrit: samyagalpam ca vaktavyamaviksiptena cetasa, vakprabandho hi samragadviragadva bhavedasan
Kawi: ika tang ujarakena, rahayu ta ya, haywa ta winistaraken haywa hyun-hyun kawarjana angucap, apan ikang ujar yan, jambat, hanang haras, hana ililik pinuharanya, tan rahayu ta ngaranika
(Ucapan yang patut adalah yang membawa kebaikan, tidak berkepanjangan agar dianggap pandai bicara, jika berkepanjangan, ada yang menyebabkan senang, ada yang menyebabkan kebencian, hal seperti ini tidaklah baik)

(119)
Sanskrit: abhyavahati kalyanam vividham vak subhasita, saiva durbhasita pumsamanarthayopapadyate
Kawi: apang ikang ujar yan rahayu, rahayu ta kojaranya, tan tunggal ikang sukha kapuhara denya, yadyapin rahayu towi, yan tan rahayu kojaranya, irikang umajarakenya tuwi, pwan pamuhara lara
(Ucapan dengan maksud baik yang diucapkan dengan baik, akan menimbulkan kegembiraan, jika diucapkan tidak dengan baik, bahkan kepada sipengucapnya pun akan menimbulkan ketidaksukaan)

(120)
Sanskrit: vaksayaka vadanannispatanti yairahatah cocati ratryahani, parasya va marmasu te patanti tasmadhiro navasrjet paresu
Kawi: ikang ujar ahala-tan pahi lawan hru, songkabnya sakatempuhan denya juga alara, resep ri hati, tatan keneng pangan turu ring rahina wengi ikang wwang denya, matangnyat tan inujaraken ika de sang dhira purus, sang ahning maneb manah nira
(Ucapan dengan maksud buruk, seperti melepaskan anak panah ke tubuh, menyakitkan, menyebabkan tidak enak makan dan tidur siang maupun malam, oleh sebab itu, tidak diucapkan oleh para budiman (dhira) yang bersih itikadnya)

(121)
Sanskrit: marmanyas thini hrdayam tathasun ghora vaco nirdahantiha pumsam, tasmadvacam rucatin tiksnarupam dharmaramo antyaco varjayettam
Kawi: nihan ta denyanglare, resep ring prana, susuk ring hati, tekeng tahulan, matangnyan aryakena ika de sang dharmika
(Cara menyakiti demikian meresap ke pikiran/prana, menembus perasaan hingga menulang sumsum, tidak dilakukan oleh pejalan dharma)

(122)
Sanskrit: samrohati canairviddham vanam paracuna hatam, vaca duruktam bibhatsam na samrohati tatksatam
Kawi: apang ikang alas, binabad pinaharadin, tumuwuh niyatanika purna muwah, kunang ikang manah linaraning ujar alarahala, tan tuwuh ika, kalinganya, tan panuwuhaken buddhing ujarahala
(Di hutan, walaupun pepohonannya ditebangi, akan rimbun kembali, tapi pikiran/perasaan yang terluka oleh ucapan buruk dan menyakitkan tidaklah kembali segar, ucapan kasar tidak akan mepertinggi budi)

(123)
Sanskrit: hinanganatiriktangan vidyahinan vigarthitan, rupadravinahinamcca sattvahnamcca naksipet
Kawi: nyang inilagaken, hana wwang wukara, kurang lwih awayawanya, tan wruh mangaji kunang, wwang durbhaga, durbala inupet kunang, wwang ahala, wwang tanpamas, wwang mudha, wwang wedi-wedi kunang, yatika tan tiraskaran tanuyan, pawak ning parusya angujar mangkana
(Jangan mencela orang yang: cacat tubuh, buta huruf, sedang dalam kesengsaraan, sedang sakit/kelahan, tertimpa bencana, miskin, bodoh dan penakut, Mencerca orang demikian adalah penghinaan)

(124)
Sanskrit: nakrocamicchenna mrsa vadecca na paicunyam janavadam na kuryat, satyavrato mitabhaso pramattastya vagdvaramupaiti guptim
Kawi: matangnyan mangke sang mahapandita, sang makabratang kasatyan, tan pangumanuman, tan pagawe pecunya, tan pangupat, nguniweh tan mrsawada, yatna juga sira amiheri ujarnira, rumaksa halaning len
(Orang bijak tidak akan: mencaci, memitnah, berdusta; Ia menjaga ucapannya, agar orang lain tidak terluka karenanya)

(125)
Sanskrit: pratyaksam gunavadi yah parokse tu vinindakah, sa manawah cvalloke nastalokaparayanah
Kawi: kunang ikang wwang mangke kramanya, yan ri harep yan pangalem, angupet yan ri wuri, ya ika crol ngaranyan haneng rat, duran temwang hayu ring ihatra paratra
(Memuji di depan tapi mencela di belakang, adalah orang yang tidak jujur di dunia, Ia jauh dari kebahagiaan baik di alam ini maupun alam selanjutnya)

(126)
Sanskrit: na vacyah parivado vai na crotavyah kadacana karnaun vapi pidhatavyau gantvyam va tato'nyatah
Kawi: matangnyat tan ujarakena juga kopetaning len, tan rengentukupanang talinga, mura kuneng
(janganlah mengulang atau mengucapkan umpatan, tutuplah telinga atau abaikan dengan menjauh)

(127)
Sanskrit: satyadharmacyutat pumsah kruddhadacivisadiva, nastiko' pyudvijeteha janah kin punarastikah
Kawi: ikang wwang nastika tuwi atakut juga ya ring wwang mithya, wwang gong krodha, katuhwan apa tan pahi mwang sarpa ikang wwang mangkana, kaywa ta winwus sang dhamika
(bahkan seorang nastika (yang tidak percaya) pun takut pada para pendusta dan pemarah, yang bagaikan bertemu ular) [↑]

(128)
Sanskrit: amrtam caiva mrtyuca dvayam dehe pratistitam, mrtyurapadyate mohat satyenapadyate'mrtam
Kawi: tan madoh marikang wisa, mwang amrta, ngke ring carira kahananya, kramanya, yan apunggung ikang wwang jenek ring adharma, wisa katemu denya, yapwan ateguh ring kasatyan, mapageh ring dharma, katemung amrta
(Racun dan air kehidupan/amrta ada di diri sendiri, yang bodoh condong ke adharma, racun yang didapat, yang kokoh berpegang pada dharma, amrta yang didapat)

(129)
Sanskrit: na yajna phaladanani niyamastarayanti hi, yatha satyam param loke purusam purusarabha
Kawi: nihan ta kottamaning kasatyan, nang yajna, nang dana, nang brata, kapwa wenang ika mengentasaken, sor tika dening kasatyan, ring kapwa angentasaken
(walaupun yajna/kurban, dana/persembahan, janji diri/brata dapat membebaskan, namun masih kalah utama dari satya/kebenaran dalam hal kesamaan membebaskan dari kehidupan di alam ini)

(130)
Sanskrit: brahmano va manusyanamadityo vapi tejasam, ciro va sarvagatranam dharmanam satya muttamam
Kawi: yan ring junama manusa, brahmana sira lwih, kunang yan ring teja, sang bhyang aditya sira lwih, yan ring awayawa, nang panipadadi, hulu ikang wicesa yapwan ring dharma, nghing kasatyan wicesa
(Di antara manusia, brahmanalah yang utama; di antara yang bersinar, matahari; di antara anggota tubuh, kepala; di antara dharma, satya/kebenaranlah yang utama)

(131)
Sanskrit: yah pararthe'paraharati svam vacam purusadhamah, atmartham kin na kuryat sa papanarakanibharyah
Kawi: hana tang wwang ujar makaphala laraning para, umakusara siddha ning karyaning kunang, ndan mithya ya, ikang wwang mangkan kramanya, tan atakut ring naraka ika, ta karin pagawayaken awaknya kapapan ngaranika, apan ikang para prasiddhaning mukti kapapanya, sangksepanika, tan ujarankenang ujar mangkana
(Orang yang ingkar janji, bukan saja mengakibatkan kepedihan atau petaka bagi orang lain karena kebohongannya, juga mencelakakan dirnya menuju kawah neraka, oleh karenanya, jangan dilakukan)

(132)
Sanskrit: satyam vacamahinsam ca vadedaparivadinim, kalyopetamaparusamanrcamsamapaicunam
Kawi: kuneng lwir ingujarakena nihan, satya ta ya, haywa ta ya makawak hingsa, haywa makawak upet, hitawansana ta ya, haywa ta parusya, haywa kasletan gleng, haywa nrcangsa, haywa pecunya, mangkana lwirining tan yogya ujarakena
(Ucapan yang patut adalah yang mengandung kebenaran, bermanfaat, bukan kebohongan, bukan ucapan kasar, bukan umpatan, tidak menusuk perasaan, tidak terpengaruh amarah, tidak mementingkan diri sendiri)

(133)
Sanskrit: drstanubhutamartham yah prsto na viniguhate, yathabhutapravaditvadityetat satyalaksanam
Kawi: nihan laksananing satya, hana ya tinanan tatan pawuni, majar ta ya, yathabhuta, torasi ikang sakawruhnya, prawrttinya ikang mangkana, yatika laksananing kasatyan
(Mereka yang menyukai kebenaran, tidak menyembunyikan apa yang ditanyakan, menjelaskan sesuai kejadian yang sebenarnya, jujur sebagaimana yang diketahuinya, demikianlah prilaku yang setia pada kebenaran (ksanyan/satya))

(134)
Sanskrit: na tathyavacanam satyam natathayavacana mrsa yad bhutahutamatyartham tat satyamitaramrsa
Kawi: kuneng paramarthanya nihan, tan ikang ujar adwa ktikang mithya ngaranya, tan ikang si tuhu satya ngaranya, kuneng prasiddhanya, mon mithya ikang ujar, teher mangede hita juga, magawe sukhawasana ring sarwabhawa, ya satya ngaranika, mon yathabhuta towi, yan tan pangede sukhawasana ring sarwabhawa, mithya ngaranika
(Bukan perkataan benar, disebut kebohongan; Tapi, perkataan benar bukan berarti kebenaran; Biarpun bohong perkataannya tapi menimbulkan kebaikan, mengakibatkan kegembiraan pada semua mahluk, itulah kebenaran; Meskipun sesuai dengan apa yang terjadi namun tidak mengakibatkan kegembiraan pada semua mahluk, itulah kebohongan)

(135)
Sanskrit: dharmaarthakamamoksanam pranah samsthitihetavah tan nighnata kin na hatam rasa bhutahitarha ca'
Kawi: matangnyan prihen tikang bhutahita, haywa tan masih rih sarwaprani, apan ikang prana ngaranya, ya ika nimittaning kapagehan ikang catur warga, nang dharma, artha, kama, moksa, hana pwa mangilangken prana, ndya ta tan hilang de nika, mangkana ikang rumaksa ring bhutahita, ya ta mamagehaken catur warga ngaranya, abhutahita ngaranikan tan karaksa denya
(Usahakanlah pada kesejahteraan mahluk, jangan tidak berbelas kasihlah kepada segala mahluk, karena keberlangsungannya menjamin tegaknya catur warga (dharma, artha, kama dan moksa); Jika hendak mencabut kehidupan mahluk, janganlah sampai memusnahkannya, demikianlah kesejahteraan mahluk dijaga, inilah yang disebut menegakan catur warga. A-bhuhita artinya tidak menghiraukan kesejahteraan/tidak menjaga keberlangsungannya hidup mahluk) [↑]

[..dan seterusnya...]