Tampilkan postingan dengan label Religi-Hindu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Religi-Hindu. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 September 2011

Tabib Jivaka, Para Pelacur, Kathina dan Ayur-Veda!


Di Vesali, hiduplah seorang wanita penghibur bernama Ambapäli. Wanita ini begitu indah, enak dilihat mata, pandai menari, menyanyi dan mahir memetik kecapi. Ambapali menjadi minat terbesar masyarakat Vesali saat itu. Mereka yang rindu bersamanya, haruslah puas untuk merogoh kocek 50 kahapana/malamnya. Vesali menjadi semakin bersinar bersama kehadirannya. Sejumlah pedagang yang tergabung dalam serikat pedagang Rajagaha dan juga Dewan kota Rajagraha (Bihar, ± 100km dari Tenggara Patna) melakukan sebuah kunjungan bisnis ke Vesali. Mereka sangat terkesan dengan kesemarakan Vesali karena kehadiran Ambhapali sehingga mereka putuskan melakukan yang sama di kota mereka. Sekembalinya dari Vesali, mereka menghadap Raja Bimbisara dan membicarakan hal ini. Raja-pun menyetujuinya.

Kebudayaan India dijaman itu, mengenal 3 kelas wanita penghibur:
  1. Ganika dan/atau Sobhina ato nagarasobhini (misal: Gundik, Geisha, dll), merupakan kelas tinggi dan dihormati
  2. Vesiya/vestya [kata umum yang digunakan yang berarti pelacur]
  3. Rupajiva [lebih tinggi dari kumbadasis]
  4. Kumbadasis/Bandhaki (pelacur jalanan)
Tentu saja, kelompok bhandhaka mengalami lebih banyak rintangan. Di jaman dinasti Maurya (321 SM - 185 SM). Para Ganika berada di bawah kontrol Kementrian Prostitusi, Mereka dikenai pajak pendapatan dan merupakan milik negara. Para Ganika [hingga ke kumbadasis] diberikan perlindungan hukum oleh negara. Jika ada yang memaksa melakukan hubungan seksual pada ganika maka itu adalah pelanggaran hukum. Demikian pula sebaliknya, jika Ganika menolak melayani tamu raja/negara, maka, di samping terkena hukuman denda 5x penghasilan juga dihukum cambuk. Pasca dinasti Maurya, para wanita dengan berpendidikan tinggi dan serbabisa diijinkan memasuki dunia ini [Persepsi India di jaman itu tentang wanita penghibur lihat: di sini dan disini. Pandangan Buddhisme tentang wanita penghibur, salah satunya lihat: di sini]

Kisah Ambhapali, (Beliau kemudian menjadi Arahat)
Ediso ahu ayaṃ samussayo, Jajjaro bahu­duk­khā­namālayo; Sopalepapatito jarāgharo, sacca­vādi­vacanaṃ anaññathā
Demikianlah tubuh ini. dipenuhi keriput, sarang berbagai penyakit; rumah tua dengan dinding mengelupas, ucapan pembabar kebenaran tidaklah salah.


Di jaman Buddha Phussa, Buddha ke-21, Buddha di 91 Maha Kappa sebelum Buddha Gautama, ia terlahir dari keluarga ksatriya dan melakukan banyak kebajikan berdana yang menyebabkan ia kelak terlahir selalu cantik. [Ap.ii.613ff; ThigA.213f]

Di jaman Buddha Buddha Sikhī, Buddha ke-23, Buddha di 31 Maha Kappa sebelum Buddha Gautama, ia terlahir menjadi Bhikkuni. Ketika ia masih menjadi Samaneri (calon Bhikkhuni), Ia ikut bagian pada sebuah upacara penasbihan Bhikkhuni. Ketika ia hendak memberikan penghormatan di tempat suci, seorang Bhikkhuni arahat di depannya membuang ludah di halaman tempat suci tersebut dan tanpa mengetahui siapa yang meludah ia mencela, "pelacur macam mana yang meludah disini?"[ThigA.206-7]

Sebagai hasil dari pelecehannya pada Bhikhhuni arahat tersebut, Ia terlahir di neraka dan kemudian selama 10.000 kehidupan kemudian terlahir menjadi seorang pelacur.

Di jaman Buddha Kassapa Buddha ke-27, di Maha Kappa yang sama dengan Buddha Gautama, Ia terlahir dan menjadi Bhikkhuni.(Ap.ii.613ff; ThigA.213f)

Di jaman Buddha Gautama, di Maha Kappa ini, di suatu pagi, seorang tukang kebun dari Kerajaan Licchavi di Vaseli, menemukan seorang bayi perempuan terbaring di bawah pohon mangga dan memberikannya nama Ambapali, yang berasal dari kata amba (mangga) dan pali (garis atau batang). Kemudian Ambapali tumbuh dan berkembang menjadi seorang gadis yang cantik dan anggun. Banyak pangeran dari Licchavi ingin menikahinya. Mereka saling bertengkar ingin menjadikan Ambapali sebagai isteri. Untuk menyelesaikan pertengkaran tersebut, mereka berdiskusi dan sepakat memutuskan, “Biarlah Ambapali menjadi milik semua orang.” Dengan demikian, Ambapali menjadi wanita penghibur. Dengan sifatnya yang baik, dia melatih ketenangan dan kemuliaan. Ambapali sering memberikan dana dalam jumlah besar dalam setiap kegiatan amal. Walaupun Ambapali seorang wanita penghibur, namun dia terlihat seperti ratu yang tak bermahkota di Kerajaan Licchavi itu. Ketenaran Ambapali menyebar dan terdengar oleh raja Bimbisara dari Magadha. Kemudian Raja Bimbisara menemuinya, Beliau sangat terpesona akan kecantikannya. Terjalinlah hubungan diantara Raja Bimbisara dengan Ambapali, dari hubungan tersebut lahirlah seorang anak laki-laki bernama Vimala.

Di satu waktu ketika Buddha berkunjung ke Vesali, Vimala sangat terkesan pada beliau kemudian memutuskan menjadi Bhikkhu dan bernama Vimala Kondanna. Taklama setelah menjadi Bhikku, Vimala Kondanna mencapai tingkat kesucian Arahat. Pada masa vasa ke-45 atau terakhir dari Sang Buddha, setelah tinggal beberapa saat di desa Nàtika, beliau kemudian mengajak Ananda dan 500 Bhikkhu muda yang baru bergabung dengan sangha untuk menuju Vesali kemudian menetap di hutan mangga milik Ambapàli.

Ketika Ambapàli, mengetahui sang Bhagavà menetap di hutan mangga miliknya, dengan mengendarai kereta terbaiknya, Ia pergi dari vesali dan menuju hutan mangga miliknya. Setelah mengendarai kereta sejauh yang dapat dicapai kereta itu, ia turun dari keretanya dan mendekati Bhagavà berjalan kaki. Ia bersujud kepada Bhagavà dan duduk di tempat yang semestinya. Setelah Bhagavà membabarkan manfaat-manfaat ajaran, Ambapàli berkata kepada Bhagavà, “Yang Mulia, sudilah Bhagavà menerima persembahan makanan dariku besok, bersama dengan para bhikkhu.” Sang Bhagavà menerimanya dengan berdiam diri. Setelah mengetahui bahwa Bhagavà telah menerima undangannya, Ia bangkit dari duduknya, bersujud kepada Bhagavà dan pergi dari sana dengan penuh hormat.

Ketika itu para pangeran Licchavi dari Vesali mengetahui pula akan kehadiran Sang Buddha dan mereka lalu berkata: “Sang Bhagava, katanya telah tiba di Vesali dan tinggal di kebun Ambapali”. Mereka pun menyediakan sejumlah kereta yang indah dan setiap orang mengendarai sebuah kereta, keluar dari Vesali. Di antara orang-orang Licchavi itu ada beberapa yang berpakaian biru dengan hiasan-hiasan yang biru pula, sedangkan yang lainnya memakai pakaian kuning, merah dan putih. Demikianlah di tengah jalan kereta-kereta Ambapali berpapasan dengan kereta-kereta pemuda Licchavi itu. Kereta-kereta itu saling bergeseran antara poros dengan poros, roda dengan roda dan gandar dengan gandar. Oleh karena itu orang-orang Licchavi bertanya: “Mengapa kamu berkendaraan menentang kami Ambapali?” “O pangeranku! Itu karena aku baru saja mengundang Bhagavà beserta para bhikkhu untuk menerima persembahan makanan dariku besok.” “Sekarang, Ambapàli, berikanlah kepada kami (dengan menukar) dengan seratus ribu (kesempatan untuk mempersembahkan)makanan itu (kepada Bhagavà)!” “O pangeranku, bahkan jika kalian memberikan kepadaku Vesàli bersama seluruh wilayah jajahannya, aku tidak akan menyerahkan (kesempatan untuk mempersembahkan) makanan ini.” Mendengar kata-kata tegas dari Ambapàli itu, para pengaran Licchavi melambaikan tangannya penuh kekaguman, mereka berseru, “Oh teman, kita telah dikalahkan oleh perempuan itu! Kita telah dikalahkan oleh perempuan itu!”

Tetapi meski pun demikian mereka meneruskan perjalanan ke kebun mangga. Dari kejauhan Sang Bhagava melihat orang-orang Licchavi yang sedang mengendarai kereta mereka. Kemudian beliau berkata kepada para bhikkhu: “Siapa di antara para bhikkhu yang belum pernah melihat para dewa (surga) Tavatimsa? Sekarang kamu sekalian dapat melihat para Licchavi ini dan dapat memandangi mereka sebab mereka itu nampak seperti para dewa dari alam surga Tavatimsa.” [Kata-kata itu disampaikan Bhagava adalah untuk membangkitkan semangat dan juga kepentingan para bhikkhu muda tersebut agar lebih giat lagi berlatih seperti paparan khotbah-khotbah yang telah mereka terima selama ini, yaitu manfaat memberikan persembahan, dàna kathà, manfaat menjalani moralitas, sila kathà, yang dapat mengakibatkan terlahir di alam deva dan juga sagga kathà] seperti yang dilakukan kepada Bhikkhu Nanda dengan pancingan indriya namun juga ada alasan lainnya yaitu tentang ketidak kekalan, karena beberapa tahun kedepan para Licchavi itu akhirnya jugaakan mengalami kehancuran di tangan Raja Ajàtasattu. Saat itu banyak dari mereka akan memperoleh Pandangan Cerah dalam hal ketidakkekalan makhluk-makhluk hidup, yang menghasilkan Kearahattaan yang lengkap dengan Empat Pengetahuan Analitis].

Kemudian para pangeran Licchavi mengendarai kereta mereka sejauh yang dapat dicapai oleh kereta, kemudian mereka turun dari kereta dan berjalan kaki ke arah Bhagavà. Mereka bersujud kepada Bhagavà dan duduk di tempat yang semestinya. Setelah Bhagavà membabarkan manfaat-manfaat ajaran, para pangeran Licchavi berkata kepada Bhagavà, “Yang Mulia, sudilah Bhagavà bersama para bhikkhu menerima persembahan makanan dari kami besok.” Kemudian Bhagavà menjawab, “O Pangeran Licchavi, Aku sudah menerima persembahan makanan dari Ambapàli besok.” Selanjutnya para pangeran Licchavi, melambaikan tangan mereka (ungkapan kagum), berseru, “Oh teman, kita telah dikalahkan oleh perempuan itu! Kita telah dikalahkan oleh perempuan itu!”. Kemudian para pangeran Licchavi mengungkapkan penghargaan dan kegembiraan mereka atas khotbah yang dibabarkan oleh Bhagavà, mereka bangkit dari duduknya, bersujud kepada Bhagavà dan dengan hormat meninggalkan tempat itu.

Keesokan harinya, setelah Ambapali menyiapkan makanan terpilih, lunak dan keras, di tamannya, ia memberitahukan kepada Sang Bhagava: “Bhante, telah waktunya untuk makan, makanan telah siap.” Sang Bhagava mempersiapkan diri, sambil membawa patta dan jubah, pergi bersama para bhikkhu ke tempat Ambapali. Sang Bhagava duduk di tempat yang telah disediakan. Ambapali sendiri yang melayani Sang Bhagava dan para bhikkhu, menyuguhi mereka dengan makanan terpilih, lunak dan keras. Setelah selesai makan, Sang Bhagava meletakkan patta, Ambapali duduk di tempat yang lebih rendah dan menempatkan dirinya pada salah satu sisi, lalu berkata kepada Sang Bhagava: “Bhante, taman ini saya persembahkan kepada bhikkhu sangha yang dipimpin oleh Sang Bhagava”. Sang Bhagava menerima taman itu, kemudian beliau membabarkan dhamma kepada Ambapali, menyadarkan, menyenangkan dan menggembirakan hatinya. Sesudah itu Sang Bhagava bangkit dari duduknya dan meninggalkan tempat itu. (Bhesajjakkhandhaka dari Vinaya Mahà Vagga juga menyebutkan hal ini; tertulis ‘bahwa Ambapàli, mempersembahkan makanan kepada Bhagavà beserta para bhikkhu di rumah peristirahatannya di hutannya, dan mempersembahkan hutan mangga miliknya kepada Sangha yang dipimpin oleh Bhagavà’)

Pada suatu hari, Bhikkhu Vimana Kondanna, memberikan khotbah Dhamma. Setelah mendengar khotbah dari anaknya tersebut, Ambapali meninggalkan kehidupan duniawi, menjadi anggota Sangha Bhikkhuni. Beliau menggunakan tubuhnya sebagai obyek meditasi, merefleksikan sifat-sifat ketidakkekalan, dengan melatih meditasi dengan giat, Beliau akhirnya mencapai Tingkat Kesucian Arahat. Dalam Therighata, disaat Beliau tua, Beliau membandingkan kecantikannya dahulu dengan keadaan sekarang :

Rambutku hitam, bagai warna kumbang,
dengan ujung berikal
karena usia tua, kini bagai serat kayu rami
ucapan pembabar kebenaran tidaklah salah.

Ditutupi bunga, rambutku,
wangi bagai kotak parfum,
karena usia tua, kini baunya bagai bulu anjing
ucapan pembabar kebenaran tidaklah salah.

alisku nampak demikian indah,
bagai indahnya lukisan bulan sabit,
karena usia tua, kini tergantung ke bawah oleh kerutan.
ucapan pembabar kebenaran tidaklah salah.

Mataku berbinar, bercahaya bak permata,
Berwarna biru gelap berbentuk panjang,
karena usia tua, kini tak lagi tampak cantik
ucapan pembabar kebenaran tidaklah salah.

gigiku nampak demikian indah,
bagai warna kuncup tanaman muda.
karena usia tua, kini hancur menghitam.
ucapan pembabar kebenaran tidaklah salah.

kedua dadaku nampak demikian indah,
menggembung bundar, berdekatan, menjulang,
kini keduanya turun bagai kantung air kosong
ucapan pembabar kebenaran tidaklah salah.

tubuhku nampak demikian indah,
bagai lembaran emas yang digosok.
kini dipenuhi kerutan halus
ucapan pembabar kebenaran tidaklah salah.

kedua kakiku nampak demikian indah,
bagai dilingkupi kapas,
karena usia tua, kini menjadi retak berkeriput.
ucapan pembabar kebenaran tidaklah salah.

Demikianlah tubuh ini,
dipenuhi keriput, sarang berbagai penyakit,
rumah tua dengan dinding yang mengelupas.
ucapan pembabar kebenaran tidaklah salah.
[Samagi-phala, Ambapali, Therigatha 13.1, RAPB buku ke-2, hal 2089-2092, Maha Parinibanna Sutta]

Sālavatī, Abhayarājakumāra, Jīvaka Komārabhacca
Saat itu di Rajagraha, hiduplah seorang perempuan bernama Sālavati yang amat cantik, menawan, enak dilihat mata dan memiliki semua kecantikan yang diperlukan seorang wanita. Dewan kota, kemudian menetapkan Sālavati sebagai wanita penghibur di Rajagaha. Sālavati dengan cepat mahir menari, menyanyi dan memetik kecapi. Ia segera menjadi minat terbesar masyarakat Rajagaha. Mereka yang merindukannya harus puas untuk merogoh kocek 100 kahapana/malamnya.
    Note:
    Pembayaran 100 Kahapana, kepada Sālavati adalah sebanding dengan 50 Kahapana kepada Ambhapali [Vinaya II 172, VA.1114].

    10 Kahapana/karshapana = 1 ons Emas/Perak (31 gram), sebagai perbandingan, DD Kosambi mengutip Arthasastra [Periode Chadragupta, 321 SM -297 SM] bahwa bayaran normal/tahun:

    1. Pendeta kepala, Permaisuri, Ibu suri, Putera Mahkota dan Kepala angkata bersenjata adalah 48,000 Kahapana/tahun (360 hari) = 133.3 kahapana/hari
    2. Penambang ahli/Insinyur/Mata2 dll 1,000 kahapana/tahun = 2.7 kahapana/hari
    3. Serdadu terlatih/akuntan 500 Kahapana/tahun
    4. Carpenters and Craftsmen 120 Kahapana/tahun
    5. Buruh biasa 60 Kahapana/tahun
    6. Kepala Arsitek dari Mahaseya di bayar 12,000/tahun atau 33 kahapana seharinya [Mahavansa-Chap XXX]
Pada suatu hari, Sālavati hamil. Ia kemudian berpikir, "Para lelaki, tidak menyukai wanita hamil, jika mereka mengetahui bahwa 'Salavati, si wanita penghibur ini hamil', maka semua penghormatan dan kekaguman orang padaku akan menurun. Apakah sekarang saatnya mereka tahu aku tengah kurang sehat badan?". Kemudian, iapun berpesan pada penjaga tempat tinggalnya, “Penjaga yang baik, Jangan biarkan siapapun masuk dan jika mereka bertanya tentang aku, katakanlah bahwa aku sedang sakit". Laki-laki penjaga pintu pun menjawab: "Baiklah, Nona". Akhirnya, Salavati, melahirkan seorang bayi lelaki. Ia kemudian meminta pelayan wanitanya untuk menaruh bayi lelakinya tersebut pada sebuah keranjang dan membuangnya ke tempat pembuangan sampah.

Di suatu Pagi, salah seorang anak raja Bimbisara, yaitu pangeran Abhaya, ketika itu tengah berjalan-jalan, Ia tertarik pada segerombolan orang yang mengerumuni sesuatu. Iapun menghampirinya dan melihat sebuah keranjang yang dikerumuni burung-burung gagak. Pangeran pun berkata pada mereka, "Tuan-tuan yang baik, apakah yang dikerumuni burung2 gagak itu?" "Seorang anak lelaki, tuan"? "Masih hidupkah dia, tuan-tuan?" "Masih hidup, tuan" “Jika demikian, tuan-tuan yang baik, bawalah bayi itu ke kediaman pangeran Abhaya, berikan pada ibu pengasuh dan katakan, "rawatlah dia". Karena mereka menyebutkan kata "Masih hidup", maka anak itu diberi nama, "Jīvaka" (berasal dari kata, "Jivati"); karena pangeran (kumara) yang merawatnya, maka diberi nama belakang Komārabhacca (di asuh oleh pangeran).

Pada jaman Buddha Padumuttara (Buddha ke-11, untuk list daftar nama Buddha lainnya lihat: di sini), bakal Jivaka ini, terlahir di sebuah keluarga kaya di Kota Hamsàvati. Ketika mendengarkan khotbah Buddha, Ia menyaksikan seorang siswa awam dinyatakan sebagai yang terbaik di antara mereka yang penuh pengabdian terhadap Buddha. Ia terkesan dan bercita-cita untuk mencapai posisi tersebut di masa depan. Setelah memberikan sebuah persembahan besar pada Buddha Padumuttara, ia mengungkapkan cita-citanya di hadapan Buddha dan Buddha meramalkan pencapaiannya. Setelah wafat, selama seratus ribu siklus dunia, Ia terlahir di alam dewa dan alam manusia. Di Jaman Buddha Gotama, ia terlahir kemballi dengan nama Jivaka.
    Ayah kandung Jivaka
    Vinaya, ii. 174: Nama belakang, Komarabhacca juga berarti "ahli ilmu bayi" (kaumarabhrtya); AA.i.398 f, DA.133: Ia dinamakan juga Komarabhanda; Di.vy.506B: KumBrabhüta. A.i.26 dan M.Sta.55: Pemimpin para Upasika yang sangat disukai orang. Di RAPB buku ke-3, hal. 2996 dan di komentar untuk Anguttara (i.216): Ayah biologis Jivaka adalah pangeran Abhaya. [juga Taiso Tripitaka (T. 1428 (851a22–23)]. Pangeran Abhaya adalah putra Raja Bimbisāra dan Padumavati, primadona Ujjeni, Pangeran Abhaya dahulunya adalah pengikut Nigantha Nataputta namun kemudian menjadi pengikut Sang Buddha setelah pembabaran Abhayarājakumāra Sutta, yaitu setelah Devadatta wafat di telan bumi dan Pangeran Abhaya, diminta gurunya, Nigaṇṭha Nātaputta, untuk berdebat dengan sang Buddha dengan menyiapkan pertanyaan "bertanduk ganda". Pangeran kemudian menjadi bhikku dan saat pembabaran Tālacchiggalūpama Sutta (mungkin juga sama dengan di S.v.455 dan M.iii.169), mencapai Sotapanna dan kemudian mencapai arahat (Thag.26; ThagA.i.83-4 juga di ThagA.39)

    Sebuah buku Tibet yang bersumber dari India, menyatakan Pangeran Abhaya dan Jivaka, keduanya adalah anak Raja Bimbisara:
    Raja Bimbisara pernah ke Vesali, Pada suatu kejadian berbahaya, Ia diberikan perlindungan di rumah seorang wanita penghibur dari Vesali yang bernama Amravali. Ia tinggal di rumah itu selama 7 hari. Ia menghabiskan waktunya dengan bersenang-senang dengan Amravali. Kejadian ini, membuat Amravali hamil dan kemudian melahirkan seorang Putera. Karena takut, puteranya dibunuh para pangeran Licciavi, kota Vesali, maka ia titipkan anaknya pada para pedagang yang hendak ke Rajagaha untuk dipertemukan dengan ayahnya, raja Bimbisara. Raja menamakan anak itu dengan nama Abhaya (tanpa takut).

    Suatu ketika, Raja berjalan-jalan diputaran Rajagaha, lewat di kediaman seorang pedagang yang amat kaya yang tengah bepergian untuk urusan bisnis. Sepeninggalan suaminya, Istri pedagang itu merasa kesepian. Ketika itu, raja Bimbisara lewat depan rumahnya dan ia undang sang raja masuk. Mereka kemudian bersenang-senang yang mengakibatkan Istri pedagang ini hamil. Suatu hari, suami wanita ini mengirim pesan bahwa urusannya telah selesai dan ia hendak pulang kerumah. Takut diketahui atas perbuatan yang telah dilakukannya, Ia kemudian bersiasat dengan cara meminta dicarikan suatu permata tertentu. Permintaan ini dikabulkan sang suami yang mengakibatkan kepulangannya tertunda lama. Beberapa bulan kemudian lahirlah seorang bayi lelaki. Bayi itu kemudian diletakan dalam satu keranjang, diselimuti dan diberikan tanda pengenal tertentu. Kemudian, Ia minta pembantunya mengirimkan anak itu ke istana Raja. Pembantunya melaksanakan perintah itu dan meletakan di depan pagar istana dengan memasangkan lampu-lampu di sekeliling keranjang.

    Raja dan pangeran Abhaya kebetulan ada di sekitar itu, mereka tertarik pada kerlipan lampu, Raja kemudian meminta untuk mencari tahu. Pangeran Abhaya kemudian menuju pagar istana, mengambil keranjang tersebut dan meletakannya di hadapan raja, ketika keranjang tersebut disingkap, isinya ternyata seorang bayi lelaki. Raja mengenali tanda pengenal itu dan kemudian bertanya, "Apakah bayi itu masih hidup?" "Masih Hidup, Yang mulia" Anak itu kemudian dinamakan Jivaka Komarabhanda [Tibetan Tales Derived from Indian Sources,F von Schiefner, hal.75-92]
Sirimā
Salavati, dikemudian hari juga melahirkan seorang bayi perempuan dan dinamakan Sirima [SNA.i.244f, 253f]. Ia merupakan adik bungsu Jivaka. Buddhaghosa memberikan keterangan mengapa Sirima tidak mengalami nasib di buang oleh ibunya seperti ini, "nagarasobhiniyo (kira) hi dhitaram patijagganti na puttam, dhitara hi tasam paveni ghatiyati (Wanita penghibur merawat putri dan bukan putera mereka karena anak perempuan mereka dapat mewarisi profesi mereka) [kitab komentar Silakkhandhavagga-abhinavatika: jaliyasuttavannana, Dvapabhajitavatthuvannana, no. 378]. Setelah Sàlavati, wafat, Sirima mewarisi pekerjaan ibunya dan diakui raja sebagai wanita penghibur kota Rajagaha. Mereka yang merindukan Sirima, harus merogoh kocek tidak kurang dari 1000 Kahapana/malamnya.

Pada suatu ketika, sorang wanita dari keluarga kaya raya bernama Uttara datang dan menyewa jasa pelayanan Sirima. Tugas yang harus diemabankan Sirima adalah menjadi istri pengganti dirinya selama 2 Minggu penuh!

Suami Uttara, tentunya bagai dapat durian runtuh, bukan?!

Bakal Uttara di jaman Buddha Padumuttara (Buddha ke-11), ia mendengarkan khotbah yang disampaikan oleh Buddha dan menyaksikan seorang siswi awam yang dinyatakan sebagai yang terbaik di antara mereka yang berdiam di dalam jhànà.Ia berkeinginan kuat untuk menjadi seperti siswa tersebut pada masa depan, dan setelah memberikan persembahan besar ia mengungkapkan cita-citanya. Buddha meramalkan bahwa cita-citanya akan tercapai.

Di jaman sang Buddha, Uttara terlahir sebagai putri dari Punna, seorang buruh tani yang bekerja pada pria kaya bernama Sumana di Rajagaha. Suatu hari, Punna dan istrinya berdana makanan kepada Sariputta Thera di saat beliau baru saja mencapai keadaan pencerapan mental yang dalam (nirodha samapatti). Sebagai akibat dari perbuatan baik itu mereka mendadak menjadi kaya. Punna menemukan emas di tanah yang ia bajak, dan secara resmi raja menyatakan Punna sebagai seorang bankir yang besar.

Pada suatu kesempatan, Punna sekeluarga berdana makanan kepada Sang Buddha dan para bhikkhu selama tujuh hari, dan pada hari ke tujuh, setelah mendengarkan khotbah Sang Buddha, mereka sekeluarga mencapai tingkat kesucian sotapatti.

Kemudian Uttara, putri Punna, menikah dengan anak dari Sumana. Keluarga Sumana bukan keluarga Buddhis, sehingga Uttara tidak merasa bahagia di rumah suaminya. Ia pun bercerita kepada ayahnya, Punna, "Ayah, mengapa ayah mengurung saya di kandang ini? Di sini saya tidak melihat para bhikkhu dan saya tidak memiliki kesempatan berdana kepada para bhikkhu."

Punna menjadi menyesal dan ia segera memberi uang sebesar 15.000 kepada Uttara. Setelah mendapat izin dari suaminya, Uttara menggunakan uangnya untuk menyewa seorang wanita untuk menggantikan dirinya memenuhi kebutuhan suaminya. Akhirnya ditetapkan bahwa Sirima, seorang pelacur yang sangat cantik dan terkenal, menggantikannya sebagai seorang istri selama 15 hari.

[Saat ini adalah tahun ke-17 Sang Buddha mencapai penerangan Sempurna dan beliau bervassa [musim hujan] di Vihara Veluvana dekat Rajagaha] Selama waktu itu, Uttara memberikan dana makanan kepada Sang Buddha dan para bhikkhu. Pada hari kelima belas saat ia sibuk menyiapkan makanan di dapur, suaminya melihat dari balik jendela kamar dan tersenyum seraya bergumam pada dirinya sendiri, "Betapa bodohnya ia. Dia tak tahu cara bersenang-senang. Dia selalu menyibukkan diri dengan upacara pemberian dana."

Sirima melihat suami Uttara tersenyum pada Uttara, ia menjadi sangat cemburu pada Uttara, ia lupa bahwa dirinya hanya sebagai istri pengganti yang dibayar. Menjadi tak terkendali, segera Sirima pegi ke dapur dan mengambil sesendok besar mentega panas dengan maksud mengguyurkannya di kepala Uttara. Uttara melihatnya datang, namun ia tidak memiliki maksud buruk pada Sirima. Ia menyadari, berkat Sirima lah ia dapat mendengarkan Dhamma, berdana makanan, dan berbuat kebaikan lainnya, sehingga ia merasa berterima kasih pada Sirima.

Tiba-tiba ia menyadari bahwa Sirima datang mendekat dan hendak menuangkan mentega panas ke arahnya, ia pun berseru, "Bila aku memiliki maksud buruk terhadap Sirima, biarlah mentega panas ini melukaiku, tapi bila aku tidak memiliki maksud buruk padanya, mentega panas ini tak akan melukaiku."

Karena Uttara tidak memiliki maksud buruk terhadap Sirima, mentega panas yang dituang di kepalanya hanya terasa bagai air dingin. Sirima berpikir pasti mentega itu telah menjadi dingin saat dituangkan, maka ia bermaksud mengambil mentega panas yang lain. Saat hendak menuangkan mentega panas tersebut, pelayan-pelayan Uttara menyerang dan memukulnya keras-keras. Uttara menghentikan para pelayannya dan menyuruh mereka mengobati luka Sirima dengan balsam.

Akhirnya Sirima teringat akan kedudukannya yang sebenarnya, dan ia menyesal bahwa ia telah melakukan kesalahan terhadap Uttara, dan meminta Uttara mengampuninya. Uttara pun menjawab, "Aku memiliki seorang ayah. Aku harus bertanya kepadanya apakah aku harus menerima permintaan maafmu." Sirima berkata bahwa ia siap pergi memohon pengampunan pada Punna, ayah Uttara.

Uttara menjelaskan padanya, "Sirima, saat aku mengatakan ‘ayahku’, maksud saya bukan ayahku yang sebenarnya, yang membawaku pada rantai kelahiran kembali ini. Yang kumaksud ‘ayahku’ adalah Sang Buddha, yang telah menolongku memotong rantai kelahiran kembali, yang telah mengajariku Dhamma, Kebenaran Sejati."

Sirima pun memohon untuk bertemu dengan Sang Buddha. Sehingga pada hari berikutnya direncanakan Sirima akan menyerahkan dana makanan kepada Sang Buddha dan para bhikkhu.

Setelah bersantap, Sang Buddha diberitahu perihal Sirima dan Uttara. Kemudian Sirima mengakui bahwa ia telah berbuat kesalahan terhadap Uttara dan memohon Sang Buddha apakah ia dapat dimaafkan, karena jika tidak, Uttara tidak akan memaafkannya. Kemudian Sang Buddha bertanya kepada Uttara bagaimana perasaannya saat Sirima menyiramkan mentega panas ke arahnya.

Uttara pun menjawab, "Bhante, karena saya telah berhutang budi pada Sirima, saya tetap tidak naik darah, tidak memiliki maksud buruk padanya. Saya selalu memancarkan cinta saya kepadanya."

Lalu Sang Buddha berkata, "Bagus, bagus, Uttara ! Dengan tidak memiliki maksud jahat, kau telah mengatasi mereka yang berbuat kesalahan padamu. Dengan tidak melukai, kau dapat mengatasi mereka yang melukaimu. Dengan bermurah hati kau dapat mengatasi orang kikir, dengan berbicara benar kau dapat mengatasi mereka yang berbohong."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 223 berikut :

Kalahkan kemarahan dengan cinta kasih dan kalahkan kejahatan dengan kebajikan. Kalahkan kekikiran dengan kemurahan hati, dan kalahkan kebohongan dengan kejujuran.

Sirima dan lima ratus wanita mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma itu berakhir. Dalam komentar Vimānavatthu (pp.631ff; Vv.11f) and komentar Dhammapada (iii.302ff; iii.104) Selain Sirimā mencapai sotapanna, Uttara-pun menjadi Sakadāgāmī, Suaminya dan ayah mertuanya menjadi Sotapanna. Setelah wafat Uttara terlahir di surga Tavatimsa (tempatnya sakka) [Kisah Uttara, terdapat juga di RAPB buku ke-3, hal 3057 - 3061]

Setelah Sirima menjadi Sottapatti, Ia dan Uttara menjadi penderma utama di rajagaha. Seorang Bhikku muda sampai jatuh cinta tak bisa maka melihat sirima, berikut kisahnya:

Saat itu di Rajagaha tinggal seorang pelacur yang sangat cantik bernama Sirima. Setiap hari Sirima berdana makanan kepada delapan bhikkhu. Suatu ketika, salah seorang dari bhikkhu-bhikkhu itu mengatakan kepada bhikkhu-bhikkhu lain betapa cantiknya Sirima dan setiap hari ia mempersembahkan dana makanan kepada para bhikkhu.

Mendengar hal ini, seorang bhikkhu muda langsung jatuh cinta pada Sirima meskipun belum pernah melihat Sirima. Hari berikutnya bhikkhu muda itu bersama dengan para bhikkhu yang lain pergi ke rumah Sirima untuk menerima dana makanan, pada hari itu Sirima sedang sakit. Tetapi karena Sirima ingin berdana makanan maka ia menerima kehadiran para bhikkhu. Begitu bhikkhu muda tersebut melihat Sirima lalu bhikkhu muda berpikir,

"Meskipun ia sedang sakit, ia sangat cantik!"

Bhikkhu muda tersebut memiliki hawa nafsu yang kuat terhadapnya.

Larut malam itu, Sirima meninggal dunia.

Raja Bimbisara pergi menghadap Sang Buddha dan memberitahukan bahwa Sirima, saudara perempuan Jivaka, telah meninggal dunia. Sang Buddha menyuruh Raja Bimbisara membawa jenazah Sirima ke kuburan dan menyimpannya di sana selama 3 hari tanpa dikubur, tetapi hendaknya dilindungi dari burung gagak dan burung hering.

Raja melakukan perintah Sang Buddha. Pada hari ke empat jenazah Sirima yang cantik sudah tidak lagi cantik dan menarik. Jenazah itu mulai membengkak dan mengeluarkan cairan dari enam lubang.

Hari itu Sang Buddha bersama para bhikkhu pergi ke kuburan untuk melihat jenazah Sirima. Raja Bimbisara dan pengawal kerajaan juga pergi ke kuburan untuk melihat jenazah Sirima. Bhikkhu muda yang telah tergila-gila kepada Sirima tidak mengetahui bahwa Sirima telah meninggal dunia.

Ketika ia mengetahui perihal itu dari Sang Buddha dan para bhikkhu yang pergi melihat jenazah Sirima, maka iapun turut serta bersama mereka. Setelah mereka tiba di makam, Sang Buddha, para bhikkhu, raja, dan pengawalnya mengelilingi jenazah Sirima.

Kemudian Sang Buddha meminta kepada Raja Bimbisara untuk mengumumkan kepada penduduk yang hadir, siapa yang menginginkan tubuh Sirima satu malam boleh membayar 1.000 tail, akan tetapi tak seorang pun yang bersedia mengambilnya dengan membayar seharga 1.000 tail, atau 500, atau 250, ataupun cuma-cuma. Kemudian Sang Buddha berkata,

"Para bhikkhu, lihat Sirima! Ketika ia masih hidup, banyak sekali orang yang ingin membayar seribu tail untuk menghabiskan satu malam bersamanya, tetapi sekarang tak seorangpun yang ingin mengambil tubuhnya walaupun dengan cuma-cuma. Tubuh manusia sesungguhnya subyek dari kelapukan dan kehancuran."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 147 berikut :

Pandanglah tubuh yang indah ini, penuh luka, terdiri dari rangkaian tulang, berpenyakit serta memerlukan banyak perawatan. Ia tidak kekal serta tidak tetap keadaannya.

Bhikkhu muda itu mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma berakhir.

[Buddhagosha: Setelah wafat, Sirimā terlahir kembali di alam Yāma sebagai istri dari Suyāma. Sirima hadir mendengarkan kotbah itu di pemakamannya sendiri!. Pembabaran itu ada di Sutta Kāyavicchandanika:
    Selagi berjalan, berdiri; duduk maupun berbaring, siapa pun juga akan mengerutkan atau meregangkan tubuhnya. Demikianlah gerakan tubuh.

    Tubuh disatukan dengan tulang dan otot, direkat dengan kulit dan daging, sehingga sifatnya yang sejati tidak dipahami.

    Tubuh berisi usus di rongga perut, gumpalan hati di dalam perut, kandung kencing, jantung, paru-paru, ginjal dan limpa;

    Dengan lendir, air liur, keringat, getah bening, darah, cairan selaput, empedu dan lemak.

    Lewat sembilan aliran, kekotoran terus menerus mendesak keluar –dari mata keluar kotoran mata, dari telinga keluar kotoran telinga;

    Dari hidung keluar ingus; kadang-kadang tubuh mengeluarkan muntahan lewat mulut dan mengeluarkan cairan empedu serta lendir; dari tubuh keluar keringat dan kotoran.

    Rongga di kepala dipenuhi otak; tetapi orang tolol –karena ketidaktahuannya– menganggapnya sebagai benda yang bagus;

    Ketika tubuh terbaring mati –dalam keadaan bengkak dan pucat kebiru-biruan– lalu disingkirkan ke tanah pekuburan, tidak lagi ada sanak saudara yang menginginkannya.

    Anjing, serigala, cacing, gagak dan burung nasar, serta makhluk-makhluk lain memakan bangkainya.

    Di dunia ini, bhikkhu yang bijaksana, yang mendengarkan kata-kata Sang Buddha, akan memahami tubuh ini sepenuhnya serta melihatnya dengan pandangan benar.

    Dia membandingkan tubuhnya dengan mayat, dan karena berpikir bahwa tubuh ini sama seperti mayat dan mayat sama dengan tubuh ini, dia menghapus nafsu terhadap tubuhnya sendiri.

    Di dunia ini, bhikkhu yang bijaksana seperti itu, yang terbebas dari nafsu keinginan dan kemelekatan, akan mencapai keadaan Nibbana yang kekal, yang hening dan tanpa kematian.

    Tubuh ini bersifat tidak murni, berbau busuk dan penuh dengan berbagai kebusukan yang menetes di sana sini.

    Jika orang yang memiliki tubuh seperti ini menyombongkan dirinya sendiri dan merendahkan yang lain — hal itu semata-mata disebabkan karena kurangnya pandangan terang pada dirinya
    [Snp 1.11 Vijaya Sutta (nama lainnya)]
Ia mencapai Anagami setelahnya. di Vimānavatthu, Sirima terlahir di Nimmānarati, di ketika itu Sirima juga hadir dengan di kelilingi lima ratus putri-dewa dengan lima ratus kereta, Sirima tiba dalam bentuknya yang dapat dilihat, Ia kemudian di tanya oleh YM Vangisa asalnya dari mana dan bagaimana masa lalunya setelah dijawab, Ia kemudian menjalankan penghormatan pada Buddha dan kembali kembali alamnya. Sang Buddha kemudian memberikan kotbah lanjutan dan bhikku yg telah sotapanna itu akhirnya mencapai arahat di akhir kotbah namun di sini tidak dinyatakan Sirima mencapai Anagami]

[Dhammapada, RAPB buku ke-2 hal. 1583-1607, Pali canon, name: Sirima dan Vimanavatthu]

Kembali pada Jivaka

Ketika Jivaka berumur 16 tahun, Ia tahu bahwa Ia hanyalah seorang anak angkat dan kemudian bertanya pada Pangeran Abhaya, "Siapakah Ayah dan Ibuku, Ayahanda?". Pangeran menjawab, "Bahkan aku pun tak tahu siapa Ibumu, Jivaka yang baik, Namun aku adalah ayah yang merawatmu"

Muncul di pikiran Jivaka seperti ini, "Tanpa kepandaian, tidak mudah aku bergantung pada keluarga kerajaan ini. Haruskah, aku belajar kepandaian?. Aku hanyalah anak angkat. Tak selayaknya aku hanya menggantungkan hidupku pada keluarga ini. Aku ingin membalas budi beliau. Karenanya, aku harus belajar ilmu pengobatan agar segera bisa membalas budi". Pada suatu hari, dengan tanpa sepengetahuan Pangeran Abhaya, pergilah Jivaka ke Taxila.
    RAPB buku ke-3, hal 2996 dikatakan usianya saat belajar adalah 16 tahun, ia tidak melarikan diri namun dikirim oleh pangeran Abhaya. V A. II 14: Ia berpikir bahwa pengetahuan pengobatan barguna untuk masyarakat dan juga kesejahteraan mereka, dimana termasuk pengetahuan tentang Gajah, kuda dan cedera dan sakit yang terkait dengannya

    Taxila
    Terdapat 105 rujukan di Jataka tentang Taxila, sekarang di Pakistan, 35 km, barat laut Rawalpindi. Kota ini dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan tinggi bahkan universitas tertua di dunia. Mereka mempelajari Vedic, mantra, pengobatan, militer, hukum, musik, tari, drama, gulat pedang dll.

    Dari mulai jaman sebelum Sang Buddha s/d Abad 460-470, Taxila merupakan pusat study Veda [dan juga Buddhis]. Suku Huna (suku nomaden dari asia tengah) kemudian membumi hanguskan Vihara, Stupa dan sejarah Taxila pun berakhir.

    Tahun 1980, UNESCO menyatakan Taxila sebagai warisan dunia.[komik bodhi ke-4, "Pukkusati pelepas Takhta", hal.31-34, cetakan ke-1 April 2009, Ehipassiko Foundation]. Silakan lihat juga: raja Pukkusati [Bacaan lanjutan Taxila]
Pada masa itu, di Taxila hiduplah seorang ahli pengobatan yang sangat termasyur di dunia (kata pali: "Disāpāmokkha" artinya: Termasyur di dunia]. Jivaka berhasil menemui Tabib termashyur di dunia itu. Walaupun tanpa sponsor, Ia diterima untuk belajar disana. Jivaka kemudian belajar banyak di sana. Ia seorang yang cerdas, cepat dalam belajar dan apa yang telah dipelajarinya tidak lagi Ia lupakan.

    Menurut sumber Sanskrit-Tibet, Guru Disapamokkha yang mengajari Jivaka bernama Atreya [Stürner (2001)Nuad. Die traditionelle Thai Massage. München 2001., p. 26].

    Ilmu pengobatan di India menunjuk pada frase 'Tradisi Atreya' (Atreya-sampradaya). Ada ketika, semua ahli pengobatan dinamakan sebagai Atreya. Ahli bedah disebut Dhanvantaris. Dalam literatur India yang berhubungan dengan pengobatan, sekurangnya terdapat 3 nama Atreya:

    1. Atreya-Punarvasu. Arti Punarvasu adalah karena Ia dilahirkan di bulan Gemini. Atreya dikatakan sebagai manusia pertama yang diajari ilmu pengobatan oleh Deva Indra dan Asvin [Rg Veda I.139.9, Silakan dicheck, karena ternyata tidak ada hubungan langsung yang terlihat di link itu]
    2. Kresna-Atreya, berasal dari perguruan Kresna YajurVeda
    3. Bhikshu-Atreya

    Mereka ini kemungkinannya adalah orang yang berbeda.

    Versi lain adalah sebagai berikut: Sakkha/Indra -> Guru Disapamok -> Jivaka.
    Dikatakan ketika Sakka (Indra), Raja dewa Alam 33 Dewa, tengah mengobservasi dunia dan menyadari bahwa sekarang merupakan masa waktu bagi Jivaka yang dikehidupan lalunya pernah beraspirasi untuk menjadi tabib bagi Buddha. Sakka ingin memastikan bahwa Jivaka akan mendapatkan lebih dari sekedar pendidikan obat2an terbaik. Ia kemudian turut campur dengan merasuki badan guru disapamok dan mengajarkan ilmu pengetahuan deva tentang pengobatan.

    Namun Disapamok mengetahui bahwa pendidikan yang diberikannya dipengaruhi mahluk deva. Pengetahuan yang ia sampaikan jauh melebih dari apa yang ia sendiri tahu. Jivaka menyelesaikan pendidikan itu hanya 7 tahun yang seharusnya diselesaikan secara normal selama 11 tahun :)

    [Kecuali tidak ada di Canon Pali, maka kisah di atas ini ada di versi Sanskrit-Tibetan dan juga versi "Taiso Tripitaka" (abad ke-5 M, T.553 (898a05), T.1428 (851b01), yang memberikan identifikasi dalam bahasa china, "Atili Binjialuo", sebagai Atreya. Lihat: Zysk, "Asceticism and Healing", 55, menyebutkan bahwa nama guru Jivaka adalah Atreya]

    Versi canon pali hanya menyebutkan dengan sebutan Guru Disapamokha "Tabib termasyhur di dunia” [Horner, "Book of the Discipline", 4:381].

    Atreya, biasanya dianggap sebagai pengarang dari "CarakaSamhita", (Abad 3 SM) dan di kutip secara meluas di literatur Sanksrit lain hingga abad ke 4/5 Masehi [Detail: Dominik Wujastyk, "The Roots of Ayurveda" (London: Penguin, 2003), 3ff.; G. Jan Meulenbeld, "A History of Indian Medical Literature" (Groningen: Egbert Forsten, 1999–2001)].

    ["THE BUDDHIST MEDICINE KING, "Encyclopaedia of Indian medicine: historical perspective", Vol.1, Ramachandra S.K. Rao, hal 29-31, usamyanmar: Jivaka kaumara dan Relatives_and_Disciples_of_the_Buddha, no.34, Radhika Abeysekera]

    Kisah di bawah ini ada di versi Sanskrit-Tibet namun tidak ada di Canon Pali:
    Kemanapun Atreya pergi mengunjungi pasiennya, Ia membawa Jivaka bersamanya. Di suatu hari, Ia memberikan arahan resep obat. Jivaka menerima resep ini, ketika membacanya, Ia lihat ada yang kurang tepat pada resep tersebut dan dapat mengakibatkan sang pasien tewas. Sebuah pikiran muncul di dirinya, Kemudian Ia keluar dari rumah dan kembali tidak berapa lama kemudian. Ia katakan pada pasiennya bahwa ia tadi sudah bertemu lagi dengan gurunya dan menyarankan untuk mengganti resep tersebut dengan yang lainnya. Pasien tersebut dirawat dengan memakai resep ke-2 dan hasilnya membaik. Kapan waktu kemudian, Atreya mampir ke rumah sang pasien, menanyakan keadaannya dan di jawab bahwa ia telah membaik. Atreya menyarankan dirinya agar meneruskan obatnya. Pasien itu bertanya, "Memakai resep yang mana, guru? resep yang ke-1 atau yang ke-2?"
    Kebingunan dengan pertanyaan itu, atreya balik bertanya, "Apa yang aku resepkan sebelumnya dan apa yang aku resepkan kemudian?".
    "Engkau resepkan yang pertama ketika engkau ada di sini, dan yang kedua kau lakukan dengan memerintahkan pada muridmu, Jivaka".

    Atreya kemudian melihat kedua resep itu, memeriksanya dan menyadari bahwa Ia telah melakukan kekeliruan dan Jivaka telah memperbaiknya. Ia meminta sang pasien untuk melanjutkan apa yang telah diresepkan oleh jivaka. Atreya merasa senang pada Jivaka dan sejak itu, kemanapun atreya pergi, Ia mengajak jivaka.

    Para anak Brahmin lain menjadi iri karenanya. Mereka mendekati gurunya dan berkata, " Guru, anda merasa senang dengannya apakah karena ia merupakan anak raja dan memberikan limpahan perintah padanya namun tidak satupun pada kami"
    Guru mereka menjawab, "bukan karena itu, Jivaka mempunyai kecerdasan bagus dan Ia mampu memahami serta berintuisi atas apapun yang telah ku tunjukan padanya"
    "Bagaimana engkau bisa tahu, guru?"
    "Aku akan memberikan contoh pada kalian"

    Ia menuliskan beberapa barang, kemudian meminta para anak brahmin untuk ke pasar dan mencari tahu harganya masing-masing barang tersebut. Ia juga memanggil jivaka dan memberikan perintah yang sama yaitu pergi ke pasar untuk menanyakan harga, namun untuk 1 macam barang saja. Mereka semua melakukan tugasnya. Ketika di pasar, Jivaka berpikir, alangkah baiknya Ia mencari tau juga harga barang-barang lain, kalau-kalau ditanyakan gurunya.

    Ketika mereka semua telah pulang, Atreya bertanya pada para anak brahmin itu berbagai macam harga barang yang ia telah tuliskan pada mereka dan juga beberapa barang yang tidak ia tuliskan dan tidak ia perintahkan untuk mencari tahu. Para anak Brahmin itu tidak dapat menjawabnya. Namun ketika pertanyaan yang sama di tanyakan kepada Jivaka, Ia mampu menjawabnya.

    Atreya kemudian berkata pada para anak Brahmin itu, "Apakah engkau telah dengar, anak2 brahmin? Inilah yang saya katakan bahwa Jivaka mempunyai kecerdasan dan intuisi.."["Encyclopedia of Professional Education", Vol.7, B.R. Sinha, hal 7-8. dan Tibetan Tales Derived from Indian Sources,F von Schiefner, hal.93-95]
Di akhir tahun ke-7 masa belajarnya, Jivaka berpikir bahwa ia telah mempelajari semuanya dan belum terlihat kapan dapat dinyatakan tamat belajar. Ia Kemudian menghampiri gurunya dan berkata, "Saya belajar dan menguasai mata pelajaran dengan cepatnya serta tidak melupakan lagi, Kini sudah 7 tahun berlalu kapankah akhir dari pembelajaran ini dapat dinyatakan selesai, Guru?"

Gurunya berkata, "Jivaka yg baik, ambilah sebuah skop, jelajahi sekeliling Taxila sejauh 1 yojana, bawalah kemari yang engkau anggap tidak dapat dijadikan obat."

"Baiklah, guru".

Dengan membawa sekop, Jivaka komarabhacca menjelajah sekeliling taxila sejauh 1 Yojana, setelah lama berselang, Ia tidak menemukan sesuatupun yang tidak dapat dijadikan obat. Ia kemudian kembali dan berkata pada gurunya, "Guru, Sekeliling Taxilla sejauh 1 Yojana telah kujelajahi namun tidak berhasil kutemukan yang tidak dapat dijadikan obat"

Gurunya menjawab, "Engkau telah berhasil, Jivaka yang baik".

Kemudian gurunya memberikan alakadarnya sebagai bekal dalam perjalanan kembali. Jivaka menerima pemberian itu untuk kembali ke Rajagaha.
    AyurVeda BUKAN bagian dari AtharvaVeda atau Veda manapun
    Pengobatan India dinamakan Ayurveda, kata ini tidak ditemukan di Veda, Upanisad, epos Mahabharata & Ramayana maupun di Canon Pali[4]. Ayur Veda, berasal dari kata: Ayuh/Ayus -Umur / kehidupan / panjang umur dan kata: Veda - Pengetahuan. Jadi, Ayurvedic artinya adalah pengetahuan tentang kesehatan dan umur panjang. Masing-masing aliran spritual di India dalam banyak abad berkontribusi aktif memperkaya khazanah ayur vedic India.

    Tibet:
    Buddha kasyapha (budha ke-27 di kappa ini) -> Brahma -> Asvin -> Atreya -> Murid-muridnya termasuk Jivaka. [Tibetan Buddhist Medicine and Psychiatry: The diamond healing, Terry Clifford,hal 47-48].

    Hinduism:
    Brahma -> Prajapati (Daksa) -> Aswin -> Indra dan dari sini pecah dua:

    1. Garis Caraka samhita [Sutrasthana 1.2-40]: [Bradvadja ->] atreya punarvasu -> 6 muridnya (Agnivesa, Bheda/bhela, Jatukarna, Parasara, Harita, dan Ksarapani/Ksirapani)

      Atreya dikatakan murid lain dari Bharadvaja yg belajar dari Indra. [Caraka Samhita I.19-31]. Di Caraka samhita, tidak dijelaskan apakah Atreya mendapatkan langsung dari Indra atau via Bharadvaja, namun dinyatakan bahwa Indra mengajarkan pada:

      Beberapa Rsi: Diantaranya adalah Bharadvaja dan Atri, kemudian Atri mengajarkan pada anaknya yaitu Atreya [Astangahrdaya Samhita disusun Vagbhata, Abad ke-7 Masehi]

      Beberapa Rsi: diantaranya adalah Dhanvantari, Bharadvaja, Nimi, Kasyapa, dan Kasyapa. Mereka kemudian menunjuk Atreya punarvasu menjadi pemimpin mereka. mereka menghadap Indra dan di resitalkan pengetahuan yg diketahui sebagai Upaveda dari Atharvaveda. Kemudian mereka menyusunnya kepada dunia dan mengajarkan pada murid2 mereka termasuk diantranya adalah Agnivesa, Harita, Bheda, Mandavya, dan Susruta. [Astangasamgraha, di susun oleh Vagbhata (yang tua-an), Abad ke-7 Masehi, namun kitab ini dianggap lebih muda sedikit dari Astangahrdaya Samhita] [1]

      Bharadvaja dan Atreya adalah nama keluarga [panini, GANA-PATHA, 15,61 dan 62]

      Bhava-Prakasa, di tulis oleh Bhavamishra, thn 1596 Masehi, menyatakan Bharadvaja dan Atreya sama-sama belajar dari Indra [Cakrapanidatta (11 Masehi), komentator dari caraka samhita] dan juga dikatakan bahwa Bharadvaja murid dari Atreya.

    2. garis Susruta Samhita [Sutrasthana 1.1-21]: Divodasa Dhanvantari -> Sushtruta -> dan yang lainnya[1]

      Asvin mengajarkan ilmu pengobatan pada Khakshivan [RV.I.116.7]. Dhanvantari dikatakan anak dari Dirgatamas [Visnu Purana IV 8.2]. Konon, Rg Veda menyebutkan bahwa Khaksivan adalah salah satu anak Dirgatamas (yg berasal dari seorang budaknya Ratu Angga)[2], yang mengindikasikan adanya kesamaan individu antara Khakshivan dan Dhanvantari. Namun keterangan hubungan itu belum mampu saya temukan buktinya di Rg Veda. Kecuali jika diidentifikasi sama, maka walaupun berasal dari ayah yg sama namun bisa saja individu yang berbeda.

      Bhagavata purana 9.17.4-5: Divodasa adalah turunan dari Dhanvantari [Reinkarnasi Visnu/Vasudeva]. Dhanvantari dikenal juga sebagai tabib para deva. Jadi ternyata deva juga bisa sakit menurut mitos ini:). Tabib para Deva di Rig veda banyak misalnya Asvin [Rv.1.116-119], juga Rudra [RV.II.33.4. Rudra dikatakan sebagai Prototipe Siva di tradisibelakangan][3]

      Komentator Sushruta Samhita, yaitu Dalhana (abad ke 12 M,pengarang kitab pengobatan:Nibandha-Sangraha) menyatakan bahwa Ayurvedic merupakan bagian dari Atharvaveda, yaitu veda ke-4 yang ternyata baru ada di abad ke-4 Masehi. Proses Brahmanisasi ayurvedic dilakukan selama masa Gupta (4-7M), yaitu periode yang sama ketika Atharva veda pertama kali dikenal dan di ungkap serta dikaitkan paksa menjadi bagian dari 4 veda [+ Rg, Sama dan Yajur]. Juga periode yg sama dengan banyak purana2 utama di susun.[1]

    Bukti lain bahwa Ayurveda BUKAN bagian dari ATHARVA VEDA, dari buku "Studies in the medicine of ancient India: Part I. Osteology, Or The Bones of the Human Body", August Friedrich Rudolf Hoernle. Buku itu membahas tentang tulang dengan mengutip dari 4 kitab yaitu Caraka Samhita, Sustruta Samhita, Satapatha Brahmana dan Atharva Veda.

    Secara ringkas, Susruta mengatakan banyaknya tulang manusia itu adalah 300, sementara Caraka Samhita [CM] mengatakan 360. Hubungan antara ke-4 kitab tersebut adalah sebagai berikut:

    1. Susruta Samhita, menjelaskan perbedaan antara system Atreya-Caraka dan miliknya[5]. Ini mengindikasikan bahwa Sustruta Samhita LEBIH MUDA dari CARAKA SAMHITA.
    2. SATAPATHA brahmana [Khanda 10-12], mengenal doktrin SUSRUTA[6]. Ini mengindikasikan bahwa Satapahta Brahmana LEBIH MUDA dari SUSRUTHA SAMHITA.
    3. Atharvaveda, pd buku ke-10, sloka tentang "penciptaan manusia", familiar dengan system Atreya-Caraka dan Susruta[7]. Ini mengindikasikan bahwa Atharva Veda lebih Muda dari SUSRUTA SAMHITA
    4. Sang Buddha selalu mengatakan tevija [3 veda, Rg, Sama, Yajur]. Jadi jelas Atharveda MUNCUL SETELAH jaman Buddha Gautama [lihat di sini].

    Kronologisnya:

    AyurVeda -> Disapamokha/Jivaka -> Caraka -> Susruta -> Satapatha Brahmana/Atharveda.

    Beberapa lainnya yang belum disebutkan di atas dan memperkaya sejarah panjang Ayur Vedic India diantaranya adalah:

    1. Rahvana, tokoh yang sering digambarkan keji dalam "epos" ramayana NAMUN TIDAKLAH BENAR!, Ia menghasilkan 7 Buku yang kemudian diterjemahkan ke bahasa sankskit, yaitu: Nadi Pariksha, Arka Prakashata, Uddisa Chiktsaya, Oddiya Chikitsa, Kumara Tantraya dan Vatina Prakaranaya [The Sri Lankan Ayurvedic Tradition, P.L.N. de Silva - Former Chairman, Sri Lanka Ayurvedic Drugs Corporation; SriLankan Ramayana issue, dan Ayurveda - Ayurveda: Ageless Remedies]
    2. Jainisme dengan tegas melarang penggunaan alkohol, madu dan daging. Sehingga eksplorasi herbal dan mineral di gunakan dalam pengobatan. Buku Jainism yang memuat itu diantaranya: Acarangasutra [Salah satu buku tertua Jainm, +/- abad ke-5 SM], Uttaradhyayana Sutra [Abad ke-3 SM], Sustra-krtanga, Kalyanakaraka [815-877 Masehi][8]
    ------
    Sumber:
    [1] Mythology and the brahmanization of Indian medicine: transforming heterodoxy into orthodoxy, Kenneth Zysk
    [2] Gods, sages and kings: Vedic secrets of ancient civilization, David Frawley, hal 336-337
    [3] Utk detail lainnya: di sini dan di sini
    [4] Encyclopaedia of Indian medicine: historical perspective, Vol.1, Ramachandra S.K. Rao, hal 29-31
    [5] Studies in the medicine of ancient India:, hal 70
    [6] Studies in the medicine of ancient India:, hal 107
    [7] Studies in the medicine of ancient India:, hal 111
    [8] Medicine in Buddhist and Jaina Traditions
Di tengah perjalanan, sesampainya di Saketa (dekat Faizabad, Uttar Paradsh), Jivaka telah kehabisan bekalnya. Ia kemudian berpikir, "Belantara jalanan ini memiliki sedikit air dan makanan, tidak mudah untuk meneruskan perjalanan tanpa perbekalan. Baiknya aku mencari perbekalan di kota ini agar dapat meneruskan perjalanan pulang"

Di Saketa ketika itu ada seorang istri Pedagang yang telah menderita sakit kepala selama 7 tahun. Telah banyak tabib terkenal seluruh dunia diundang datang untuk mengobati dirinya, telah menghabiskan banyak emas, mereka pergi begitu saja tanpa bisa menyembukannya. Ketika Jivaka memasuki Saketa, Ia bertanya pada masyarakat, "Adakah di sini yang sakit? dan kemana saya mesti datang?"

Penduduk menyampaikan bahwa seorang Istri pedagang telah menderita sakit kepala selama 7 tahun. Mereka menyarankannya untuk datang ke sana. Sesampainya di rumah pedagang tersebut, Ia meminta penjaga pintu untuk menyampaikan kepada nyonya rumah bahwa seorang tabib hendak menemuinya. Penjaga pintu itu kemudian menyampaikan pada nyonya rumah bahwa ada tabib yang hendak menemuinya.

Istri pedagang itu bertanya, "Bagaimana kelihatannya tabib itu, penjaga pintu?"

"Seorang yang masih Muda, Nyonya"

"Cukuplah, penjaga pintu, Apalagi yang dapat diperbuat oleh seorang tabib muda, ketika telah banyak tabib terkenal di dunia ini saja setelah menghabiskan banyak emas, namun tetap saja tidak mampu menyembuhkanku"

Kemudian penjaga pintu itu menemui Jivaka dan berkata, "Guru, Nyonya berkata seperti ini, 'Cukuplah, penjaga pintu, Apalagi yang dapat diperbuat oleh seorang tabib muda, ketika telah banyak tabib terkenal di dunia ini saja setelah menghabiskan banyak emas, namun tetap saja tidak mampu menyembuhkanku'"

Jivaka kemudian berkata, "Mohon pergi dan katakan pada Nyonyamu seperti ini, "Jangan berikan apapun dulu padaku, Ketika engkau telah sembuh, maka engkau boleh berikan apapun yang engkau ingin berikan'"

"Baiklah, guru," Dan penjaga itupun kembali menghadap nyonyanya dan menyampaikan kembali apa yang Jivaka katakan.

"Baguslah jika demikian, Penjaga, biarkan tabib itu masuk" kata nyonya rumah itu.

Penjaga mempersilakan Jivaka masuk dan menemui istri pedangang tersebut. Setelah memeriksa keadaannya, Ia sampaikan padanya bahwa ia memerlukan segenggenggam penuh ghee (keju). Ghee itu kemudian dipanaskannya dan diberi campuran berbagai ramuan obat. Ia meminta nyonya itu berbaring di kursi dipan dan menuangkan ghee campuran itu melalui hidungnya. Kemudian ghee itu mengalir masuk ke hidung dan keluar melalui mulut. [Pengobatan melalui hidung itu dinamakan nutthukamma. Kelak juga digunakan untuk para Bhikkhu [Vin. i.204, Cf.Vi*.iii.83 dan B.D.i.143, n.2]. Kemudian, sang nyonya rumah meminta pelayan wanitanya menampung keju cair yang telah dipakai mengobatinya tersebut dengan segumpal kapas. Melihat kelakuan si nyonya pedagang itu, Jīvaka berpikir, "Sunguh mengherankan! Betapa kikirnya nyonya rumah ini. Ghee bekas ini seharusnya di buang namun malah ditampung dengan kapas padahal banyak obat2an berhargaku juga tercampur di situ. Bagaimana nantinya ketika ia membayarku?".

Kemudian, nyonya rumah itu melihat perubahan muka Jivaka dan berkata, "Apa yang mengganggu pikiranmu, guru?"

Jivaka kemudian menyampaikan apa yang dipikirkannya tadi.

“Guru, kami para ibu rumah tangga harus tau cara berhemat, Ghee ini masih sangat baik untuk dipakai oleh para pelayan2 dan pekerja menggosok kaki mereka atau sebagai bahan buat lampu. Janganlah engkau khawatir, guru, bayaran padamu tidaklah kurang".

Jivaka berhasil menyembuhkan penyakit kepala yang telah 7 tahun di derita nyonya pedagang itu hanya dengan 1 kali pengobatan melalui hidung.

Istri pedagang itu kemudian memberikan 4 ribu [mungkin maksudnya dalam satuan kahapana] kepada Jivaka. Anak lelaki dan menantu perempuannya berpikir, "Ibuku/mertua sembuh", mereka masing-masing memberikan 4000. Tuan rumah, si Pedagang itu berpikir, "Istriku sembuh" Ia memberikan 4000 Kahapana, budak laki dan perempuan serta kereta kuda.

Jivaka kemudian berpamitan dan berangkat ke rajagaha. Sesampainya di Rajagaha, Ia menghadap Pangeran Abhaya dan berkata, "Mohon yang mulia berkenan menerima uang hasil kerja pertamaku sebesar 16.000 kahapana, sepasang budak dan kereta kuda yang kupersembahkan sebagai persembahan karena telah merawatku."

“Janganlah demikian, Jīvaka yang baik, biarlah itu tetap menjadi milikmu dan bangunlah tempat tinggal bagi dirimu di lingkungan istana ini”

"baiklah Ayahanda.” dan Jivakapun membangun tempat tinggalnya di lingkungan Istana.

Saat itu, Rāja Bimbisāra, menderita wasir (fistula) sehingga pakaian luarnya sering basah karena bercak darah. Para selir sering menjadikannya sebagai bahan olok-olok, “Wah sekarang Bagindapun mengalami datang bulan. kelak Baginda akan melahirkan bayi.”. Karena itu Raja menjadi malu dan berkeluh kesah pada pangeran Abhaya mengenai keadaan itu dan meminta ia mencarikan tabib untuk menyembuhkan penyakitnya

“Baginda, ada Jivaka kita, tabib muda yang bereputasi tinggi, biar Ia menghadap pada baginda"

"Baguslah jika demikian, suruh ia menghadapku"

Kemudian Pangeran Abhaya memerintahkan Jivaka menghadap Raja. Jivaka kemudian datang menghadap dengan obat yg diletakan di bawah kukunya dan berkata, "Yang mulia, mari kita lihat penyakitnya" dan kemudian dengan satu olesan salepnya ia sembuhkan penyakit wasir sang Raja. Setelah sembuh, Raja Seniya Bimbisara memberikan Jivaka 500 wanita yang didandani lengkap dengan segala perhiasannya, namun Jivaka menolaknya dan memohon raja menerimanya sebagai tabib Istana. Raja menerima permohonanannya dan meminta Jivaka untuk merawat Raja, permaisuri, selir dan Sangha dimana sang Buddha sebagai pemimpinnya.

Saat itu di Rajagaha ada seorang hartawan yang telah menderita sakit di kepalanya selama 7 tahun. telah banyak Tabib terkenal diundang untuk mengobati sakitnya, telah banyak emasnya habis, namun mereka pergi begitu saja tanpa bisa menyembukannya dan lebih jauh lagi mereka angkat tangan. Beberapa meramalkan bahwa umur sang hartawan ini tinggal 5 hari lagi, beberapa lagi meramalkan umurnya tinggal 7 hari lagi.

Para dewan kota berpikir seperti ini, "Hartawan ini sangat berarti bagi Raja dan Dewan kota, namun Ia telah di buat putus asa oleh para tabib itu, karena beberapa mengatakan umurnya tinggal 5 hari lagi, beberapa lainnya mengatakan bahwa umurnya tinggal 7 hari lagi. Sekarang, kerajaan kita telah punya tabib, Jivaka, yang muda dan bereputasi tinggi. Sebaiknya kita mohon, Jivaka untuk mengunjungi sang hartawan"

Mereka kemudian menghadap raja Bimbisara dan menceritakan hal tersebut, kemudian mereka memohon Raja agar dapat memerintahkan Jivaka datang ke rumah hartawan tersebut. Raja mengabulkan dan memerintahkan Jivaka ke tempat hartawan tersebut. Sesampainya Jivaka di rumah sang hartawan, ia berkata pada sang hartawan, "Jika aku berhasil menyembuhkanmu, apa yang akan engkau berikan sebagai pembayaran, tuan?"

"Seluruh hartaku akan menjadi milikmu dan aku akan menjadi budakmu, Guru"

"Sekarang, tuan, apakah engkau mampu berbaring miring pada satu sisi selama 7 bulan?"

"Dapat, guru"

"Sekarang, tuan, apakah engkau mampu berbaring miring di satu sisi lainnya selama 7 bulan?"

"Dapat, guru"

"Sekarang, tuan, apakah engkau mampu tidur bersandar punggung selama 7 bulan?"

"Dapat, guru"

Kemudian Jivaka meminta sang hartawan untuk berbaring di dipannya, Ia mengikat erat sang hartawan di dipannya, Ia kemudian membuat irisan untuk membuka kepala [vinametva, VI.117 menerangkan dengan vivaritva], membuka sambungan tempurung [subbini,cf Ja. Vi.339, Sibbni (jamak), craniotomy(?)], menarik keluar dua mahluk hidup [panaka], memperlihatkannya pada mereka dan berkata, "Anda lihat, tuan, dua mahluk hidup ini, yang satu kecil dan yang satunya lagi besar? Yang besaran inilah yang dilihat para tabib yang berkata, 'hartawan ini akan wafat pada hari ke-5, di hari ke-5 ia telah melumat habis otak sang hartawan, dan ketika otaknya telah rusak maka hartawan itu akan wafat. Itulah yang sebenarnya dilihat para tabib tersebut, Kemudian yang kecilan, itu yang dilihat oleh para tabib yang mengatakan yang berkata,'hartawan ini akan wafat pada hari ke-7, di hari ke-7 ia telah melumat habis otak sang hartawan, dan ketika otaknya telah rusak maka hartawan itu akan wafat. Itu yg sebenernya dilihat para tabib tersebut" Setelah itu, Ia menyambungkan lagi tempurung, menjahitnya dan kemudian membubuhkan salep.

Setelah tujuh hari berlalu, sang hartawan berkata pada Jivaka, "saya ngga mampu berbaring di satu sisi selama 7 bulan, Guru"

"Bukankah engkau mengatakan, 'saya mampu berbaring di satu sisi selama 7 bulanan?"

“Benar, Guru, tapi rasanya saya akan mati bila terus berbaring di satu sisi selama 7 bulanan” keluh hartawan lagi.

"Jika demikian, berbaringlah dengan punggungmu selama 7 bulan"

Kemudian, setelah tujuh hari berlalu lagi, sang hartawan berkata pada Jivaka, "saya ngga mampu berbaring dengan punggung selama 7 bulan, Guru"

"Bukankah engkau mengatakan, 'saya mampu berbaring dengan punggung selama 7 bulanan?"

“Benar, Guru, tapi rasanya saya akan mati bila terus berbaring dengan punggung selama 7 bulanan” keluh hartawan lagi.

"Jika aku tidak mengatakan demikian, maka engkau tidak akan berbaring selama ini, namun aku tau sebelumnya bahwa engkau akan telah menjadi sehat dalam 3 x 7 hari. bangunlah, tuan, engkau telah sembuh, bayarkan saja apa yang menjadi upahku"

"Semua hartaku menjadi milikmu, Guru. Dan aku menjadi budakmu"

"Jangan demikian, tuan, jangan berikan seluruh hartamu dan janganlah menjadi budakku, berikanlah 100 ribu kahapana pada raja dan 100 ribu padaku". Demikianlah sang hartawan yang telah sehat itu melakukan yang diminta.

Ketika itu, seorang anak hartawan dari benares [kasi], ketika bermain jungkir balik [mokkhacikaya kilantassa] isi perutnya terpelintir, sehingga ia tidak dapat mencerna makanan dan minuman dengan wajar atau buang air besar dengan teratur. Ini mengakibatkan ia menjadi kurus, menggenaskan, kulitnya buruk, menguning, urat-uratnya terlihat diseluruh tubuhnya. Sang Hartawan memikirkan keadaan anaknya dan berpikir sebaiknya Ia menemui Raja Bimbisara dan memohon agar Jivaka dapat datang ke rumahnya.

Ia kemudian menghadap raja Bimbisara dan menceritakan kesusahannya, memohon Raja agar dapat mengijinkan Jivaka datang ke rumahnya untuk memeriksa keadaan anaknya. Raja mengabulkan dan memerintahkan Jivaka ketempat hartawan tersebut.

Sesampainya Jivaka di rumah sang hartawan, Ia kemudian memeriksa keadaannya dan memutuskan akan melakukan operasi abdominal, Ia kemudian mengusir keluar orang-orang yang tidak berkepentingan, mengelilingi anak itu dengan tirai [Tirokarani, Vin II.152], mengikatnya di satu tonggak dan meminta istri dari anak muda itu agar berada di depannya. Ia kemudian membuat irisan untuk membuka perut [laparotomy(?)], menarik keluar isi perut yang terbelit-belit tersebut, memperlihatkan pada istri anak hartawan itu dan berkata, "lihat inilah yang menyebabkan penderitaannya yang menyebabkan dirinya tidak bisa mencerna makanan dan minuman serta tidak mampu buang air seperti seharusnya yang menyebabkan Ia menjadi kurus mengenaskan, warna kulitnya memburuk kekuning-kuningan dan urat nadinya terlihat di seluruh tubuh"

Setelah meluruskan kembali isiperut yang berbelit2 tersebut, mengembalikannya ketempatnya, menjahitnya dan memberikannya salep. Kemudian anak hartawan itupun menjadi makin membaik. Sang Hartawan kemudian berkata, "anakku telah sembuh" Ia memberikan Jivaka 16.000 Kahapana dan Jivakapun kembali ke Rajagaha.

Ketika itu Raja Pajjota dari Avanti dengan ibukotanya Ujjeni [Dha.i.192] menderita penyakit kuning [jaundice, Pandurogabhada Cf. Vin 1.206, Satu bhikku juga menderita penyakit ini, pengobatan berbeda dengan yang diresepkan pada Pajjota]. Telah banyak Tabib terkenal diundang untuk menyembuhkannya, telah banyak uang emas dihabiskan namun mereka pergi begitu saja tanpa bisa menyembuhkannya.

Kemudian raja Pajotta mengirim utusan kepada raja Seniya Bimbisara, yang berkata: "Saya mengidap semacam penyakit, alangkah baiknya bila yang mulia berkenan mengijinkan Jivaka memeriksaku" Raja kemudian memerintahkan Jivaka untuk ke Ujjeni (Madhya Paradesh) memeriksa penyakit raja Pajjota".

Jivaka mematuhinya dan pergi ke Ujjeni dan setelah memeriksa keadaanya ia berkata pada raja Pajjota, "Yang mulia, Aku akan memasakan ghee, dan yang mulia akan meminumnya"

"O, Tidak bisa, jivaka yang baik, lakukan apapun yang dapat menyembuhkanku namun jangan dengan ghee karena ghee menjijikkan bagiku dan membuatku mual"

Kemudian Jivaka berpikir, "Penyakit raja ini adalah jenis yang tidak mungkin disembuhkan tanpa ghee. Aku sebaiknya tetap memasak ghee yg diberikan ramuan untuk menyamarkan warna, bau dan rasanya"

Ia kemudian melakukan itu dan juga membubuhkan berbagai macam obat-obatan kedalamnya.

Kemudian Jivaka berpikir, "Ketika raja kemudian meminum dan mencernanya ini akan membuatnya mual, Ia akan marah besar [canda = bengis; kasar. Nama lengkap raja Avanti adalah CandaPajjota]. Ia akan membunuhku. Sebaiknya aku bersiap dengan mendapatkan ijin meninggalkan tempat dari raja."

Kemudian Ia menghadap raja dan berkata, "Yang mulia, kami para tabib di waktu-waktu seperti ini terkadang mesti mengumpulkan akar-akaran dan obat-obatan. Alangkah baiknya jika yang mulia dapat memerintahkan parapenjaga kuda dan juga pintu gerbang, "biarkan Jivaka pergi kemanapun dan kapanpun waktu yang ia inginkan untuk datang dan pergi"

Raja mengabulkan dan memerintahkan pada para penjaga kandang dan gerbang kota. Ketika itu raja Pajjota memiliki gajah betina bernama Bhaddavatika, yang dapat menempuh 50 Yojana dalam sehari.

Kemudian Jivaka memberikan ghee itu pada raja pajjota dan berkata, "ayo minumlah ramuan obat ini, yang mulia" Setelah itu, Jivaka bergegas ke kandang gajah dan secepatnya keluar dari kota bersama gajah betina Bhaddavatika.

Ketika raja Pajjota, meminum dan mencerna ghee itu ia kemudian menjadi mual. Raja kemudian berkata pada para pengawalnya, "Pengawal, Jivaka yang keji ini membuatku meminum ghee. Sekarang cepat cari, Jivaka"

"Yang mulia, Ia telah keluar kota dengan menunggangi gajah betina, Bhaddavatika"

Di samping Gajah, Raja pajjota juga mempunyai seorang budak bernama Kaka, yang dapat menempuh jarak 60 Yojana dalam sehari, Ia dikatakan merupakan hasil peranakan campuran dengan makhuk bukan manusia. Kaka, diperintahkan untuk membuat Jivaka kembali dengan mengatakan, "Raja memintamu kembali, Guru" dan berpesan padanya, "Kaka yang baik, para tabib ini penuh kelicikan, jadi jangan terima apapun darinya"

Kaka, kemudian memergoki Jivaka sedang sarapan di jalanan pada arah menuju Kosambi. Ia kemudian berkata, "Yang mulia raja memerintahkanmu kembali, Guru"

"Sabarlah sebentar, kaka yang baik, biarkan aku selesaikan sarapanku. Mari, kaka yang baik, kita sarapan bersama"

"Tidak, Guru, Aku telah dipesankan raja dengan berkata, "Kaka yang baik para tabib ini penuh kelicikan, jangan terima apapun darinya"

Ketika itu Jivaka telah melepaskan kotak obatnya, memakan emblica myrobalan [Phyllanthus emblica L.: buah persik, amalaka, kimalaka, kemloko] dan minum air. Kemudian Jivaka berkata pada Kaka, "Kemari, Kaka yang baik, makanlah buah amalaka ini dan minumlah air"

Kemudian kaka berpikir, "Ttabib ini makan buah amalaka dan minum air, seharusnya tidak ada bahaya apapun padaku". Iapun mau dan memakannya. Setelah makan setengah dari buah itu dan minum air, Ia merasakan yang tidak enak dan segara membuang apapun yang tengah dimakannya dan berkata pada Jivaka, "Apakah aku akan hidup, Guru?".

"Jangan takut, Kaka yang baik, engkau akan segera membaik, namun Raja pajjota bengis, Aku mungkin akan dibunuhnya, jadi aku tidak akan kembali" Setelah menyerahkan bhaddavatika kepada Kaka, ia kemudian menuju Rajagaha dan segera menemui raja menceritakan apa yang terjadi. Raja kemudian mengatakan, "Engkau berlaku tepat untuk tidak kembali, Jivaka yang baik, Raja itu bengis, Ia mungkin akan membunuhmu"

Raja Pajjota kemudian sembuh dari sakitnya, ia mengirim kurir kepada Jivaka, "Kemarilah Jivaka, aku akan memberimu hadiah"

"Tidak, tuanku, biarlah yang mulia mengingat tempatku saja"

Pajjota memiliki sepasang kain [Siveyyaka dussaywga] yang merupakan kain terbaik dari semua kain yang pernah ada dan memberikannya pada Jivaka. Jivaka kemudian berpikir tidak ada yang lebih tepat mendapatkan kain sebagus ini selain dari Sang Buddha dan juga Raja bimbisara.

Saat itu adalah tahun ke-20, setelah Buddha mencapai penerangan sempurna. Sang Bhagavà sedang menetap di vihàra gunung di lerang Bukit Gijjhakuta di dekat Ràjagaha. Ketika itu, beliau mengalami gangguan tubuh pada cairan dasar [sembelit kronis], Ia kemudian meminta kepada Ananda untuk mencarikan obat pencahar. Ananda kemudian pergi menemui Jivaka. Jivaka meminta Ananda untuk meminyaki tubuh Sang Buddha selama beberapa hari.

Setelah beberapa hari, Ananda bertanya apakah sudah saatnya untuk memberikan pencahar pada sang Buddha, Jivaka menjawab, "tidak tepat untuk memberikan pencahar pada beliau di kondisinya seperti ini".

Dalam perjalanan kembali, Jivaka bertanya banyak mengenai Buddha Gautama kepada Ananda. [Kalimat ini tidak ada di Maha Vagga]

Kemudian Ia membawakan 3 tangkai lotus yang telah campur dengan obat2an Ia mendekati sang Buddha dan meminta beliau untuk menghirup sebanyak 10x masing-masing. Setelah itu ia berpamitan, namun di tengah jalan terpikir dalam benaknya bahwa karena ada gangguan cairan tubuh dasar, maka hanya akan terjadi 29x pembersihan usus yg hebat, namun jika dilakukan ketika mandi, sang Buddha akan muntah 1x dan di ikuti buang air yang hebat sebanyak 29x. Untuk itu ia kembali. Sang Buddha mengetahui apa yang dipikirkannya, Ia meminta Ananda untuk menyiapkan air panas dan melakukan yang dipikirkan Jivaka. Jivaka datang dan mengemukakan hal tersebut dan terjadi seperti yang Jivaka pikirkan. Jivaka menyatakan agar Sang Buddha sebaiknya melakukan diet jus hingga kesehatan pulih kembali.

Kemudian kesehatan sang Buddhapun membaik.

Setelah itu Jivaka datang untuk mempersembahkan kain terbaik yang ia dapatkan dari Raja pajjota, Ia pun mengajukan permohonan pada sang buddha yaitu agar umat awam diperbolehkan mempersembahkan kain/jubah kepada Sangha. Buddha mengabulkannya. Kemudian dalam satu kotbah, Sang Buddha menyatakan membolehkan para Bhikkhu menerima jubah dari umat awam.

kabar ini menggembirakan penduduk Rajagaha, dalam 1 hari, ribuan jubah dihasilkan di Rajagaha dan dipersembahkan pada Sangha. Ketika penduduk negeri juga mendengar hal ini, maka seharinya ribuan jubah diproduksi dan dipersembahkan kepada Sangha.
    Jivaka merupakan umat awam pertama yang memberikan jubah pada sang Buddha ("The Buddhist Monastic Code II", Khandhaka). Bisa jadi, itu muasal dari kathina. Terdapat 2(dua) Sutta, "Jivaka Sutta" terkait Jivaka:

    Pertanyaan tentang makan daging, karena sebagai pengikut Jainism makan daging dan madu adalah terlarang (padahal apapun dapat digunakan sebagai obat), Sang Buddha menjelaskan makan daging tidak diperbolehkan dengan 3 alasan: jika melihat (Adittha) seseorang menyembelihnya, mendengar (Asuta) jeritannya ketika ia di bunuh sebagai konsumsinya, atau ada keraguan dalam pikirannya (Aparisamkita) bahwa makhluk hidup itu disembelih untuk dirinya. Sang Buddha menyatakan bahwa para Bhikku menerima dan makan makanan tanpa terikat, tanpa tergila-gila dan tanpa menyerah pada makanan itu, melihat bahaya di dalam makanan itu dan memahami jalan membebaskan diri dari makanan itu. Sang Buddha menyatakan bahwa nafsu, kebencian dan kebodohan apapun juga, dapat menimbulkan niat buruk. Siapapun yang menyembelih makhluk hidup untuk Sang Tathāgata atau siswaNya, menimbun banyak keburukan dalam lima kasus. (1) Ketika ia berkata: ‘Pergi dan tangkap makhluk hidup itu’. (2) Ketika makhluk hidup itu mengalami kesakitan dan kesedihan karena ditarik dengan leher tercekik. (3) Ketika ia berkata: ‘Pergi dan sembelilah makhluk hidup itu’. (4) Ketika makhluk hidup itu mengalami kesakitan dan kesedihan karena disembelih. (5 Ketika ia mempersembahkan makanan yang tidak diperbolehkan kepada Sang Tathāgata atau siswaNya, puas dengan jawaban ini, Jivaka kemudian berlindung kepada Sang Buddha (dan menjadi tabib bagi Sang Buddha dan sangha sepanjang hidupnya). [MN 55]

      Umat awam Buddhis disamping menghindari pembunuhan juga dilarang membunuh demi makanan, tapi tidak dilarang membeli daging dari binatang yang telah mati [Vin Mv Kh 6/i.237-38, dan I.B. Horner, Early Buddhism and the Taking of Life, pp.20-26]

    Sutta tentang: (a) Disebut umat awam, ketika telah berlindung pada Buddha, Dhamma dan Sangha.
    (b) Disebut pengikut yang baik ketika tidak menyakiti mahluk hidup, tidak mengambil yang tidak diberikan, menjaga indriya dari perbuatan salah, tidak menyatakan yang tidak benar dan tidak memasukan asupan yang menjadi dasar bagi kelengahan.
    (c) Disebut umat awam yang berlatih demi kesejahteraannya tetapi tidak demi kesejahteraan orang lain, ketika (1) sempurna dalam keyakinan, tapi tidak mendorong orang lain untuk menyempurnakan keyakinan. (2) sempurna dalam kebajikan tapi tidak mendorong... (3) Sempurna dalam kemurahan hati tapi tidak mendorong... (4) Terdapat keinginan menemui bhikkhu tapi tidak mendorong... (5) Terdapat keinginan mendengar Dhamma sejati tapi tidak mendorong... (6) Berkebiasaan mengingat Dhamma yang telah didengar tapi tidak mendorong... (7) Gemar menggali makna Dhamma yang telah didengar tapi tidak mendorong... (8) memahami Dhamma melakukan sesuai dhamma tapi tidak mendorong orang lain melakukan serupa.
    (d) Disebut umat awam berlatih demi kesejahteraannya dan juga demi kesejahteraan orang lain, ketika (1) sempurna dalam keyakinan, dan mendorong agar sempurna dalam keyakinan (2) sempurna dalam kebajikan dan mendorong... (3) Sempurna dalam kemurahan hati dan mendorong... (4) Terdapat keinginan menemui bhikkhu dan mendorong... (5) Terdapat keinginan mendengar Dhamma sejati dan mendorong... (6) Berkebiasaan mengingat Dhamma yang telah didengar dan mendorong... (7) Gemar menggali makna Dhamma yang telah didengar dan mendorong... (8) memahami Dhamma melakukan sesuai dhamma dan mendorong orang lain melakukan serupa [AN 8.26]. Kemungkinan di setelah pembabaran sutta ini, Jivaka memohon agar umat awam diperkenankan untuk menerima persembahan jubah.
Setelah mencapai Sotapanna Ia merasa bahwa jarak antara Jivaka tinggal dan vihara Veluvana (hutan bambu) terlalu jauh, sehingga ia mendirikan vihara di kebun mangganya (ambavana) dan menyerahkannya pada Sang Buddha dan sangha
    Umat awam jaman Buddha Gotama yang mendirikan dan menyumbang Vihara: (1) Jivaka (Ambavana); (2) Anathapindika (Jetavana, Sang Buddha menetap di sini 19 masa Vassa/hujan); (3) Ghosita (Ghositarama). 3 vihara ini terdapat jejak Arkeologis; (4) Raja Bimbisara (Veluvanarama, vihara pertama, Sang Buddha menetap di sini 6 Masa vassa); (5) Visakha (Pubbarama, Sang Buddha menetap di sini 6 masa vassa); (6) Ambaphali (Ambapalivana); (7) Nigrodha (Nigrodharama, Kapilavatthu); (8) Kukkuta (Kukkutarama); Pavarika (Pavarikambavana) dan Badarika (Badarikarama)
Terkait kejadian di Vihara hutan mangga:
Bendahara Kerajaan di Rajagaha mempunyai dua orang cucu laki-laki bernama Mahapanthaka dan Culapanthaka. Mahapanthaka, yang tertua, selalu menemani kakeknya mendengarkan khotbah Dhamma. Kemudian Mahapanthaka bergabung menjadi murid Sang Buddha. Ketika Culapanthaka berusia 18 tahun(Apadana i. 58f), Ia mengikuti jejak kakaknya menjadi bhikkhu pula. Saat itu, Mahapanthaka Thera telah menjadi seorang arahat ketika adiknya Culapanthaka masuk dalam pasamuan bhikkhu.

Pada masa Buddha Padumuttara (Buddha ke-11), Cūlapanthaka adalah seorang perumah tangga. Ketika itu, ia melihat seorang Bhikkhu dinobatkan sebagai yang terunggul dalam menciptakan bentuk atau adhiññhàna iddhi, adalah kekuatan tekad untuk memproyeksikan citra diri sendiri menjadi seratus atau seribu. Teraspirasi dengan kejadian itu ia berharap akan dapat seperti itu. Tetapi, karena pada kehidupannya yang lampau pada masa keberadaan Buddha Kassapa, Culapanthaka adalah juga seorang bhikkhu dan melaksanakan praktek odātakasina selama 20.000 tahun (AA.i.119) Ia ketika itu telah menggoda seorang bhikkhu yang sangat bodoh, maka dia dilahirkan sebagai orang dungu pada kehidupannya saat ini. Dia tidak mampu mengingat meskipun hanya satu syair dalam empat bulan. Mahapanthaka menjadi kecewa dengan adiknya dan menyuruhnya untuk meninggalkan vihara karena ia tidak ada gunanya berada dalam pasamuan bhikkhu.

Berkaitan dengan hal tersebut, pada suatu kesempatan, para bhikkhu bertanya kepada Sang Buddha, mengapa meskipun ia seorang arahat, mengusir adik laki-lakinya dari vihara. Mereka juga menambahkan, "Apakah para arahat masih kehilangan kesabarannya ? Apakah mereka masih mempunyai kekotoran batin seperti keinginan jahat dalam diri mereka ?"

Kepada mereka Sang Buddha menjawab, "Para bhikkhu! Para arahat tidak mempunyai keinginan jahat seperti nafsu dan kebencian dalam diri mereka. Murid-Ku Mahapanthaka melakukan hal seperti itu dengan pengertian demi keuntungan saudaranya dan bukan karena keinginan jahat.". Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 407 berikut :
Seseorang yang nafsunya, kebenciannya, kesombongannya dan kemunafikannya telah gugur, seperti biji lada yang jatuh dari ujung jarum, maka ia Kusebut seorang 'brahmana'

Suatu waktu, Jivaka datang ke vihara mengundang Sang Buddha dan para bhikkhu yang ada, untuk berkunjung makan siang di rumahnya. Mahapanthaka, yang diberi tugas untuk memberitahu para bhikkhu tentang undangan akan siang tersebut, mencoret Culapanthaka dari daftar undangan. Ketika Culapanthaka mengetahui hal itu dia merasa sangat kecewa dan memutuskan untuk kembali hidup sebagai seorang perumah tangga.

Mengetahui keinginan tersebut, Sang Buddha membawanya dan menyuruhnya duduk di depan Gandhakuti. Kemudian Beliau memberikan selembar kain bersih kepada Culapanthaka dan menyuruhnya untuk duduk menghadap ke timur dan menggosok-gosok kain itu. Pada waktu bersamaan dia harus mengulang kata "Rajoharanam", yang berarti "kotor". Sang Buddha kemudian pergi ke tempat kediaman Jivaka, menemani para bhikkhu.

Culapanthaka mulai menggosok selembar kain tersebut, sambil mengucapkan "Rajoharanam". Berulang kali kain itu digosok dan berulang kali pula kata-kata rajoharanam meluncur dari mulutnya. Berulang dan berulang kali. Karena terus menerus digosok, kain tersebut menjadi kotor. Melihat perubahan yang terjadi pada kain tersebut, Culapanthaka tercenung. Ia segera menyadari ketidakkekalan segala sesuatu yang berkondisi.

Dari rumah Jivaka, Sang Buddha dengan kekuatan supranaturalnya mengetahui kemajuan Culapanthaka. Beliau dengan kekuatan supranaturalnya menemui Culapanthaka, sehingga seolah-olah Beliau tampak duduk di depan Culapanthaka, dan berkata:

"Tidak hanya selembar kain yang dikotori oleh debu; dalam diri seseorang ada debu hawa nafsu (raga), debu keinginan jahat (dosa), dan debu ketidaktahuan (moha), seperti ketidaktahuan akan empat kesunyataan mulia. Hanya dengan menghapuskan hal-hal tersebut seseorang dapat mencapai tujuannya dan mencapai arahat."

Culapanthaka mendengarkan pesan tersebut dan meneruskan bermeditasi. Dalam waktu yang singkat mata batinnya tebuka dan ia mencapai tingkat kesucian arahat, bersamaan dengan memiliki ‘Pandangan Terang Analitis? Maka Culapanthaka tidak lagi menjadi orang dungu.

Di rumah Jivaka, para umat akan menuang air sebagai tanda telah melakukan perbuatan dana; tetapi Sang Buddha menutup mangkoknya dengan tangan dan berkata bahwa masih ada bhikkhu yang ada di vihara. Semuanya mengatakan bahwa tidak ada bhikkhu yang tertinggal. Sang Buddha menjawab bahwa masih ada satu orang bhikkhu yang tertinggal dan memerintahkan untuk menjemput Culapanthaka di vihara.

Ketika pembawa pesan dari rumah Jivaka tiba di vihara, dia menemukan tidak hanya satu orang, tetapi ada seribu orang bhikkhu yang serupa. Mereka semua diciptakan oleh Culapanthaka, yang sekarang telah memiliki kekuatan supranatural. Utusan tersebut kagum dan dia pulang kembali dan melaporkan hal ini kepada Jivaka.

Utusan itu kembali diutus ke vihara untuk kedua kalinya dan diperintahkan untuk mengatakan bahwa Sang Buddha mengundang bhikkhu yang bernama Culapanthaka. Tetapi ketika dia menyampaikan pesan tersebut, seribu suara menjawab, " Saya adalah Culapanthaka." Dengan bingung, dia kembali ke rumah Jivaka untuk kedua kalinya.

Untuk ketiga kalinya dia disuruh kembali ke vihara. Kali ini, dia diperintahkan untuk menarik bhikkhu yang dilihatnya pertama kali mengatakan bahwa dia adalah Culapanthaka. Dengan cepat dia memegangnya dan semua bhikkhu yang lain menghilang, dan Culapanthaka menemani utusan tersebut ke rumah Jivaka.

Cūlapanthaka adalah seorang yang mahir rūpajjhāna dan samādhi, sementara kakaknya seorang yang mahir arūpajjhāna dan vipassanā. Ketika menciptakan bentukan, para bhikkhu lain hanya mampu menghasilkan 2 atau 3 bentuk, namun Cūlapanthaka mampu membuat ribuan banyaknya dalam waktu yang sama dan juga tidak sama satu dengan yang lainnya serta prilakunya(ThagA.ii.490; PsA.276).

Setelah makan siang, seperti yang diperintahkan oleh Sang Buddha, Culapanthaka menyampaikan khotbah Dhamma, khotbah tentang keyakinan dan keberanian, mengaum bagaikan raungan seekor singa muda. Ketika masalah Culapanthaka dibicarakan di antara para bhikkhu, Sang Buddha berkata bahwa seseorang yang rajin dan tetap pada perjuangannya akan mencapai tingkat kesucian arahat.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 25 berikut ini :

Dengan usaha yang tekun, semangat, disiplin, dan pengendalian diri, hendaklah orang bijaksana membuat pulau bagi dirinya sendiri yang tidak dapat ditenggelamkan oleh banjir.

Di katakan (Vin.iv.54f) suatu ketika adalah gilirannya untuk mengajari para Bhikkhuni di Sāvatthi, para Bhikkhuni tidak berharap banyak atas ceramahnya karena ia selalu mengulang-ulang syair yang sama. Suatu hari, di akhir pengajaran yang diberikannya, Ia mendengar bisik-bisik mengenai itu dan dengan tanpa menunda waktu lagi ia perlihatkan kebolehannya yang telah melegenda itu. Para Bhikkhuni berubah menjadi sangat perhatiannya pada pembabarannya hingga lewat senja. Sang Buddha mendengar hal ini dan mengingatkan Cūlapanthaka agar tidak lagi mengajarkan para Bhikkhuni hingga lewat senja.

Kisah lain yang berhubungan dengan Jivaka adalah Jyotishka (Jotika), Kisah ini berada di kisaran waktu setelah Jivaka menjadi pengikut Buddha s/d Raja Bimbisara wafat [Di atas tahun ke-20 s/d tahun ke-38, Buddha Gautama mencapai penerangan sempurnanya].
    Seorang hartawan super kaya dari Rajagaha mempunyai istri yang tengah hamil. Kemudian, Kshapanaka [seorang dari aliran Titthiya] meramalkan bahwa anaknya adalah perempuan. Sang Buddha mengatakan bayinya adalah lelaki, akan bergabung dengan buddhisme, menjadi sangat termasyhur dan kemudian mencapai Arahat. Hartawan ini ternyata lebih condong pada kaum Titthiya, Ia membubuh istrinya dan membawanya ke kuburan untuk dikremasi. Ketika baru mulai di kremasi, sang Buddha kemudian meminta Jivaka untuk menuju ke api yang tengah membakar mayat tersebut dan menyelamatkan sang jabang bayi. Ternyata anak itu masihlah hidup!. Oleh karena sang ayah menolak mengakui anak itu, maka atas permintaan sang Buddha, anak itu kemudian di adopsi oleh raja Bimbisara. Sang Buddha memberikan nama anak itu Jyotishka, karena lolos dari api [Jyotis]. Di perjalanan waktu, anak tersebut di klaim oleh pihak keluarga ibunya dan dibesarkan menjadi seorang anak dan menjadi sangat kaya. Di kisahkan ketika Ajatasattu telah menjadi raja, Ia iri dengan kekayaan Jyotishka. Untuk menghindari bencana lebih lanjut Jyotishka kemudian menyumbangkan kekayaannya, menjadi Bhikkhu dan tak lama kemudian, Ia menjadi arahat
[Kisah di atas tidak ada di kanon pali namun ada di catatan perjalanan Yuan Chwang ke India [629 - 645 M],Thomas Watters, Vol.2, 1905, hal.163-164, untuk Jivaka di hal.151 atau juga artikel Jeevaka's surgical feats in Buddhist India, yang merujuk pada "Encyclopedia of Buddhism", II, plate XLI.].

Dalam versi Canon Pali, sama sekali tidak ada keterlibatan Jivaka.

Dalam versi Pali ini Jotika (bahasa Pali dari Jyotishka) juga merupakan anak seorang hartawan. Ketika dewasa, Jotika diberikan lahan untuk membangun rumahnya. Deva Sakka memberikan bantuan yang menyebabkan ia mempunyai kekayaan yang tidak pernah habis-habisnya dan juga tidak pula dapat di ambil secara menggelap tanpa se-izinnya.

Pada suatu ketika, Raja Bimbisara dan pangeran Ajatasattu datang berkunjung ke rumah Jotika, mereka sangat terpesona pada kekayaan dan rumahnya. Kekayaannya bahkan jauh melebih yang raja miliki. Saat itulah itikad jahat Ajatasattu muncul.

Ketika Ajatasattu menjadi Raja, Ia berusaha mencuri dan merampoknya rumah Jotika, namun tidak berhasil, Ia kemudian mencari Jotika hingga ke Vihara. Jotika tahu bahwa bencana akan menghampirinya. Setelah menjelaskan dengan mendemonstrasikan pada raja bahwa kekayaannya tidak akan bisa diambil tanpa izin dirinya. Maka, untuk menghindari bencana, Ia kemudian menjadi Bhikkhu. Segera setelah Ia menjadi Bhikkhu maka di saat itu pulalah seluruh kekayaannya lenyap menghilang [Kisah Jotika, "Riwayat Agung Para Buddha" (RAPB) buku ke-3, hal 3071-3090]

Di antara tahun ke-37 dan tahun ke-38 setelah Buddha mencapai penerangan sempurna, Devadatta di suatu kesempatan, mencoba untuk membunuh Sang Buddha dengan mendorong batu besar dari puncak bukit Gijjhakuta (Puncak Burung Nasar). Sewaktu batu itu bergulir turun, dua gundukan tanah muncul dengan sendirinya menahan laju batu itu dan sepotong kecil pecahannya, mengenai kaki Sang Bhagavā hingga berdarah (walau seorang Buddha tidak dapat dibunuh atau dilukai mahluk hidup manapun, terlukanya beliau akibat masaknya kamma lampau beliau, Tha Ap.292).

Para bhikkhu membawa Buddha ke vihàra di Taman Maddakucchi. Di sana Buddha mengungkapkan keinginan-Nya untuk pergi ke vihàra di hutan mangga Jivaka dan meminta para bhikkhu membawa Beliau ke sana. Para bhikkhu membawa Beliau ke sana sesuai instruksi-Nya.

Mendengar berita itu, Jivaka, si Tabib ahli mendatangi Buddha dan memberikan obat yang manjur untuk mengobati luka-Nya. Setelah membalut luka-Nya, ia memberitahu Buddha untuk tidak melepas perbannya hingga ia kembali dari kunjungannya ke pasien lainnya di kota. Setelah mengunjungi pasien lainnya dan melakukan apa yang perlu dilakukan atas pasiennya, Tabib tidak sempat kembali sebelum pintu gerbang kota ditutup.

Kemudian Tabib Jivaka berpikir, “Aku telah memberikan obat yang manjur kepada kaki Buddha dan membalut luka-Nya, memperlakukan-Nya seperti pasien biasa. Aku telah melakukan kesalahan besar. Sekarang waktunya untuk melepas perbannya. Jika perbannya tidak dilepas, Beliau akan menderita kesakitan sepanjang malam.” Dengan pikiran demikian, Jivaka menjadi sangat cemas. Pada waktu itu Buddha memanggil Ananda dan berkata, “Ananda, Tabib Jivaka kembali setelah gelap dan tidak sempat sampai di pintu gerbang kota sebelum ditutup. Ia merasa cemas karena sekarang adalah saatnya untuk melepas perban. Engkau lepaskanlah perban ini segera.” Yang Mulia Ananda melepas perban itu dan luka itu telah lenyap bagaikan kulit kayu yang dikelupas dari pohon.

Segera setelah pintu gerbang kota dibuka, Jivaka bergegas mendatangi Buddha bahkan sebelum fajar menyingsing dan menanyakan apakah Beliau menderita kesakitan. Buddha berkata, “Jivaka, Aku telah mengatasi semua rasa sakit sejak Aku mencapai Pencerahan Sempurna di bawah pohon Bodhi.” Dan kemudian Beliau mengucapkan syair berikut.

Gataddhino visokassa, vippamuttassa sabbadhi
Sabbagantha-pahinassa, parilàho na vijjati.

Orang yang telah menyelesaikan perjalanannya,
yang telah terbebas dari segala hal,
yang telah menghancurkan semua ikatan;
maka dalam dirinya tidak ada lagi demam nafsu.


“Jivaka! Sama sekali tidak ada dukacita, tidak ada penderitaan (batin) dalam diri seorang Arahanta yang telah terbebas dari samsàra yang telah mencapai pantai seberang dari samsàra, yang bebas dari segala kesedihan, yang tidak memiliki kemelekatan terhadap apa pun termasuk badan jasmani, dan lain-lain, yang telah menghancurkan semua belenggu.”

Pada akhir khotbah itu, banyak makhluk-makhluk yang mencapai Buah Sotàpatti dan seterusnya.

Hasutan Devadatta kepada Ajàtasattu agar membunuh ayahnya, membuat Raja Bimbisara dibunuh Ajàtasattu dan menggantikan ayahnya menjadi raja Magadha, kemudian Ajàtasattu mendengar bahwa Devadatta ditelan bumi, Raja Ajàtasattu menjadi ketakutan dan tidak lagi tenang, kemudian ketika festival Kattikà pada malam purnama bulan Kattikà (November) berlangsung di Ràjagaha, Raja Ajàtasattu berkehendak untuk mengunjungi Samana dan bràhmana. Para menteri yang merupakan murid dari enam guru (Purana Kassapa, Makkhali Gosàla, Ajita Nàtaputta, Pakudha Kaccàyana, Sanjaya, dan Nigantha Nàtaputta), masing-masing memuji guru mereka dan mengajak raja untuk bertemu dengan guru mereka, namun Raja Ajàtasattu telah bertemu dengan guru-guru tersebut dan tidak terkesan. Selama itu Jīvaka Komārabaccha hanya duduk diam di dekat Raja Ajātasatttu. Raja berkata kepadanya: ‘Engkau, sahabat Jīvaka, mengapa engkau diam?’ ‘Baginda, ada Sang Bhagavā ini, Sang Arahant, Buddha yang telah mencapai penerangan sempurna sedang berdiam di hutan mangga milikku disertai oleh dua ratus lima puluh bhikkhu. Dan sehubungan dngan Sang Bhagavā Gotama ini, berita baik telah beredar bahwa: “Sang Bhagavā adalah seorang Arahant, Buddha yang telah mencapai penerangan sempurna, memiliki kebijaksanaan dan perilaku yang sempurna, telah menempuh Sang Jalan dengan sempurna, Pengenal seluruh alam, Penjinak manusia yang harus dijinakkan yang tiada bandingnya, Guru para dewa dan manusia, Yang Tercerahkan dan Yang Suci.” Sudilah Baginda mengunjungi Sang Bhagavā. Beliau akan memberikan kedamaian di hati Baginda.’ ‘Kalau begitu, Jīvaka, siapkan gajah tunggangan.’

‘Baik, Baginda’, Jīvaka berkata, dan ia menyiapkan lima ratus gajah betina, dan gajah jantan kerajaan untuk Sang Raja. Kemudian ia melaporkan: ‘Baginda, gajah –gajah tunggangan telah siap. Sekarang saatnya kita melakukan apa yang Baginda inginkan.’ Dan Raja Ajātasattu, setelah menempatkan istri-istrinya masing-masing di satu dari lima ratus gajah betina, ia menaiki gajah jantan kerajaan dan bergerak dalam barisan, disertai barisan pembawa obor, dari Rājagaha menuju hutan mangga Jīvaka.

Dan ketika Raja Ajātasattu mendekati hutan mangga ia merasa takut dan ngeri, dan bulu badannya berdiri. Dan karena merasa takut dan bulu badannya berdiri, Raja berkata kepada Jīvaka: ‘Sahabat Jīvaka, apakah engkau menipu aku? Apakah engkau membohongi aku? Engkau tidak membawaku kepada musuh, kan? Bagaimanakah ini, dari dua ratus lima puluh bhikkhu, tidak ada suara bersin, batuk atau teriakan yang terdengar?’

‘Jangan takut, Baginda, aku tidak menipu engkau, tidak membohongi engkau atau membawamu kepada musuh. Mendekatlah, Baginda, mendekatlah. Ada pelita yang menyala di paviliun bundar.’

Maka Raja Ajātasattu, menunggang gajahnya sejauh yang dimungkinkan tanah di sana, kemudian turun dari gajah dan melanjutkan dengan berjalan kaki menuju pintu paviliun bundar. Kemudian ia berkata: ‘Jīvaka, di manakah Sang Bhagavā?’ ‘Itu adalah Sang Bhagavā, Baginda. Itu adalah Sang Bhagavā yang sedang duduk bersandar di tiang tengah dengan para bhikkhu di hadapanNya.’

Kemudian Raja Ajātasattu mendatangi Sang Bhagavā dan berdiri di satu sisi; dan sambil berdiri di sana di satu sisi Sang Raja memperhatikan bagaimana para bhikkhu tetap diam bagaikan sebuah danau jernih, dan ia berseru: ‘Seandainya Pangeran Udāyabhadda memiliki ketenangan demikian seperti para bhikkhu ini!’

‘Apakah pikiranmu terarah pada putra tercintamu, Baginda?’ ‘Bhagavā, Pangeran Udàyabhadda sangat kusayangi. Andai saja ia memiliki ketenangan yang sama seperti para bhikkhu ini!’
    Seruannya itu adalah akibat kekhawatirannya terhadap putranya dan keinginannya atas ketenteraman pangeran. Karena ia berpikir, “Suatu hari akan tiba saatnya putraku, melihat diriku yang masih muda, menanyakan tentang kakeknya. Jika ia mengetahui bahwa kakeknya dibunuh oleh ayahnya, ia akan mengingatnya dan membunuhku untuk menjadi raja.”

    Terlepas dari kekhawatirannya terhadap putranya dan keinginannya untuk memberikan ketenteraman kepada putranya, raja memang ditakdirkan untuk dibunuh oleh putranya sendiri. Dalam silsilah Raja Ajàtasattu terdapat lima kasus pembunuhan terhadap ayah:

    (1) Pangeran Ajàtasattu membunuh ayahnya Raja Bimbisàra;
    (2) Pangeran Udaya membunuh ayahnya Raja Ajàtasattu;
    (3) Pangeran Mahàmuõóika membunuh ayahnya Raja Udaya;
    (4) Pangeran Anuruddha membunuh ayahnya Mahàmundika; dan
    (5) Pangeran Nàgadàsa membunuh ayahnya Raja Anuruddha.

    Kemudian para penduduk kerajaan itu sepakat untuk memutuskan hubungan dengan raja yang telah menodai silsilah mereka dan meninggalkan Raja Nàgadàsa.
Kemudian Raja Ajātasattu, setelah bersujud kepada Sang Bhagavā dan memberi hormat kepada para bhikkhu dengan merangkapkan kedua tangannya, duduk di satu sisi dan berkata: ‘Bhagavā, aku akan menanyakan sesuatu, jika Bhagavā berkenan menjawabku.’ ‘Tanyalah, Baginda, apapun yang engkau inginkan.’ Raja Ajātasattu kemudian bertanya terkait imbalan nyata apakah di sini dan saat ini sebagai buah dari kehidupan tanpa rumah?’. Kemudian Buddha bertanya apakah raja pernah mengajukan pertanyaan itu kepada bhikkhu atau brahmana lain. Raja Ajātasattu kemudian menjelaskan pertemuan dengan 6 guru lainnya dan merasa tidak puas dengan jawaban mereka. Setelah raja Ajātasattu memohon agar memberikan jawaban atats pertanyaannya. Sang Buddha kemudian membabarkan manfaat kebhikkhuan dalam kehidupan sekarang. Misalnya,
  1. Seorang budak akan dihormati oleh raja setelah ia ditahbiskan menjadi seorang bhikkhu,
  2. Seorang petani yang membayar pajak kepada raja akan dihormati oleh raja setelah ia menjadi bhikkhu.
  3. Untuk menjelaskan manfaat yang lebih tinggi dari kebhikkhuan, Buddha memberi contoh tentang seorang yang berasal dari kasta yang rendah ataupun tinggi yang mendengarkan ajaran-Nya, terdorong oleh keyakinan, ia menjadi bhikkhu dan melatih:

    (a) moralitas rendah,
    (b) moralitas menengah, dan
    (c) moralitas tinggi.

    Kemudian ia menjaga indrianya, mengembangkan perhatian, mudah puas, mematahkan rintangan, ia mencapai Jhàna Pertama,
  4. Jhàna Kedua,
  5. Jhàna Ketiga,
  6. Jhàna Keempat,
  7. - 14 kemudian ia mengembangkan lebih jauh lagi, ia mencapai Pengetahuan Pandangan Cerah (Vipassanà nàna), kekuatan batin (Manomayidhi nàna), kekuatan adialami (Iddhividha nàna), telinga dewa (Dibbasota nàna), pengetahuan penembusan atas pikiran makhluk lain (Cetopariya nàna), mengingat kehidupan masa lampau (Pubbenivàsànussati nàna), pengetahuan atas kematian dan kelahiran kembali makhluk-makhluk lain (Cutåpapàta nàna) dan pemadaman semua kotoran batin (âsavakkhaya nàna atau Arahatta-Magga nàna). Demikianlah seorang bhikkhu memperoleh manfaat dalam kehidupan sekarang dari kehidupan sucinya, delapan jenis kemajuan yang lebih tinggi, pengetahuan luar biasa hingga Kearahattaan. (Sàmanna-phala Sutta)
Raja Ajātasattu berseru: ‘Sungguh indah, Bhagavā, sungguh indah! Ini bagaikan seseorang menegakkan apa yang telah terbalik, atau menunjukkan jalan kepada seseorang yang tersesat, atau menyalakan pelita di dalam kegelapan, sehingga mereka yang memiliki mata dapat melihat. Demikian pula, Sang Bhagavā telah membabarkan Dhamma dalam berbagai cara. Dan aku, Bhagavā, berlindung kepada Sang Bhagavā, kepada Dhamma, dan kepada Sangha. Sudilah Bhagavā menerimaku sejak hari ini sebagai seorang siswa-awam hingga hidupku berakhir! Pelanggaran menguasaiku, Bhagavā, bodoh, salah dan jahatnya aku, demi mendapatkan takhta, aku membunuh ayahku, orang yang baik dan raja yang adil. Sudilah Bhagavā menerima pengakuan kejahatanku agar aku dapat mengendalikan diriku di masa depan!

‘Memang, Baginda, pelanggaran menguasai engkau ketika engkau membunuh ayahmu, seorang yang baik dan raja yang adil. Tetapi karena engkau telah menyadari pelanggaran itu dan mengakuinya dengan semestinya, maka kami menerimanya. Karena ia yang menyadari pelanggarannya dan mengakuinya dengan semestinya demi perbaikan di masa depan, akan tumbuh dalam disiplin Ariya.’

Kemudian Raja Ajātasattu berkata: “Bhagavā, ijinkan aku mohon diri sekarang. Aku sibuk dan banyak hal yang harus dilakukan. ‘Lakukanlah, Baginda, apa yang engkau anggap baik.’

Kemudian Raja Ajātasattu, senang dan gembira atas kata-kata ini, bangkit dari duduknya, memberi hormat kepada Sang Bhagavā, dan pergi dengan sisi kanannya menghadap Sang Bhagavā.

Segera setelah Raja pergi, Sang Bhagavā berkata: ‘Sang Raja telah hancur, takdirnya telah tertutup, para bhikkhu! Tetapi jika Sang Raja tidak membunuh ayahnya, seorang yang baik dan seorang raja yang adil, maka sewaktu ia duduk di sana, Mata-Dhamma yang murni tanpa noda pasti telah muncul dalam dirinya.’ [DN 2]. Tetapi karena ia bergaul dengan teman yang jahat, kesempatannya untuk mencapai Jalan menjadi rusak. Namun demikian, karena ia telah berlindung di dalam Tiga Permata dan karena perlindungannya yaitu tiga ajaran-Ku adalah yang tertinggi, ia dapat diumpamakan seperti seseorang yang divonis hukuman mati karena kasus pembunuhan tetapi dapat terhindar dari kematian karena mendapat dukungan dan dengan membayarkan segenggam bunga (sebagai denda ringan.) Meskipun ia seharusnya menderita di Neraka Avici karena kejahatan kejamnya membunuh ayah, ia hanya akan menderita di Neraka Lohakumbhi setelah meninggal dunia, karena ia memiliki pendukung di dalam ajaran-Ku. Ia akan terlahir kembali di neraka itu dan akan berada di sana selama tiga puluh ribu tahun kemudian keluar dan menetap di permukaan selama tiga puluh ribu tahun. Kemudian (setelah enam puluh ribu tahun) ia akan terbebas dari Lohakumbhi" [salah satu nama Neraka][RAPB buku ke-2 hal 1825-1857]

Demikianlah,
Dengan ketenarannya sebagai tabib, Jivaka sangat disibukkan oleh pekerjaannya, namun demikian, sesibuk apapun Jivaka, Ia tidaklah pernah mengabaikan "kewajibannya" pada Sangha. Banyak penderita penyakit tidak mampu membayar perawatan kesehatan yang dilakukan olehnya, mereka kemudian bergabung dengan sangha dengan tujuan agar dapat pengobatan gratis. Menemukan bahwa sangha kemudian digunakan sebagai sarana tersebut, Ia memohon Sang Buddha untuk menetapkan aturan bahwa laki-laki menderita penyakit tertentu tidak cocok untuk menjadi anggota sangha (Vin.i.71ff). Jivaka pula yang mengusulkan agar para bhikkhu diijinkan melakukan "olah raga" untuk kesehatan mereka:
    Pada saat itu di Vesālī sedang diadakan pengaturan iring-iringan persembahan makanan mewah. Para bhikkhu, setelah memakan makanan mewah menjadi sakit dengan tubuh penuh dengan cairan. Tabib Jīvaka Komārabaccha mengunjungi Vesālī..melihat para bhikkhu yang sakit dengan tubuh penuh dengan cairan;..ia mendekati Sang Bhagavā..berkata kepada Sang Bhagavā: "Saat ini, Bhagavā, para bhikkhu sakit dengan tubuh penuh dengan cairan. Baik sekali, Bhagavā, jika Bhagavā memperbolehkan suatu tempat untuk para bhikkhu berjalan mondar-mandir dan sebuah kamar mandi. Dengan demikian akan mengurangi penderitaan para bhikkhu"..Kemudian Sang Bhagavā..setelah membabarkan khotbah..berkata kepada para bhikkhu:"Aku mengizinkan, para bhikkhu, tempat untuk berjalan mondar-mandir, dan kamar mandi" [Cullavagga V/Khuddakavatthūni, Vin.ii.119)
Di suatu hari, ketika Buddha sedang berada di Vihàra Jetavana dan menganugerahkan gelar siswa awam terbaik, sang Bhagavà menyatakan: “Para bhikkhu, di antara para siswa awam-Ku yang penuh pengabdian, Jivaka, anak angkat Pangeran Abhaya adalah yang terbaik.”