Selasa, 03 Mei 2011

Bahkan Ular-pun Mampu Berbelas Kasih Pada Mangsanya..

DISCLAIMER:
Seluruh tulisan dalam blog ini adalah opini tandingan (counter-opinion), disusun berdasarkan metodologi studi kritis terhadap teks, sejarah, dan sains. Penulis menggunakan referensi primer dari berbagai literatur otoritatif untuk memberikan perspektif alternatif bagi pembaca. Gaya bahasa yang digunakan bersifat provokatif-intelektual guna memicu pemikiran kritis. Tidak ada maksud untuk melakukan penghinaan personal terhadap individu atau kelompok tertentu, melainkan murni bedah kritis terhadap gagasan dan doktrin. Untuk pembaca yang bermasalah secara emosional dan/atau nalar dalam membedakan antara MELECEHKAN VS MENYAMPAIKAN SESUAI RUJUKAN, maka SANGAT DISARANKAN untuk TIDAK MEMBACA. Untuk jenis pembaca lainnya, selamat membaca.

Dalam sutta dan kitab komentar Riwayat Hidup Buddha Gautama, anda akan temukan bagaimana Sidhartha Gautama kecil melindungi ular yg sedang di pukul kayu oleh seorang anak, menyelamatkan angsa yg di panah oleh Devadatta.

Panah yang menancap pada Angsa tersebut kemudian dilepaskan dan lukanya di obati. Ketika Pangeran Devadatta tiba, Ia menuntut agar unggas itu diserahkan kepadanya, namun Pangeran Siddhattha menolaknya. Akhirnya terjadilah perselisihan dan saling debat. Pangeran Devadatta bersikukuh bahwa angsa itu adalah miliknya karena ia yang memanahnya. Sedangkan Pangeran Siddhattha mengatakan bahwa Ia yang berhak atas angsa itu karena Ia telah menyelamatkan hidupnya, sedangkan si pemanah tidak berhak akan angsa yang masih hidup tersebut.

Akhirnya Pangeran Siddhattha mengusulkan agar permasalahan ini dibawa ke makamah para bijak untuk memperoleh jawaban atas siapa yang berhak atas angsa tersebut. Setelah diajukan ke makamah para bijak, akhirnya salah satu dari para bijak tersebut berseru,

"Semua makhluk patut menjadi milik mereka yang menyelamatkan atau menjaga hidup. Kehidupan tak pantas dimiliki oleh orang yang berusaha menghancurkannya. Angsa yang terluka ini masih hidup dan diselamatkan oleh Pangeran Siddhattha. Karenanya, angsa ini mesti dimiliki oleh penyelamatnya, yaitu Pangeran Siddhattha!"

Kemudian dalam perjalanannya mencari pencerahan, Ia bahkan berjalan sambil menggendong se ekor domba yg terluka hingga sampai di Rajagraha. Di kota itu pula, dengan gagah berani dan mengabaikan keselamatan dirinya sendiri, Ia menghentikan upacara besar kerajaan berupa persembahan korban binatang untuk para Deva yang di pimpin langsung oleh Raja Bimbisara. Melalui nasehatnya pada Raja, akhirnya sang raja berubah pikiran dan bahkan membuat maklumat bahwa sejak saat itu, di kerajaannya, dilarang untuk menumpahkan darah binatang-binatang baik untuk persembahan para Dewa maupun untuk dimakan dagingnya.

Pangeran Sidhartha juga mengetahui bahwa banyak gajah dan kuda dipelihara oleh kerajaan2 di seluruh Jambu Dwipa. Beliau juga mengetahui banyak binatang di pelihara para perumah tangga di seluruh India dan tentunya beliau juga mengetahui banyak pasar yang memperdagangkan binatang.

Walopun Pangeran Sidharta adalah penyayang mahluk hidup namun beliau bukanlah orang gila.

Beliau tidak serta merta melepaskan gajah2, kuda2 kerajaan agar hidup di hutan dengan bebas. Beliau juga tidak mengetuk pintu semua rumah agar melepaskan binatang2 peliharaan itu untuk dapat hidup bebas. Beliau juga tidak mengerahkan pasukan dan menghabiskan UANG KERAJAAN membeli kemudian melepaskan binatang2 itu.

Beliau tahu bahwa itu merupakan tindakan sia2.

Tindakan tersebut malah membahayakan kehidupan binatang2 karena binatang2 peliharaan instingnya menjadi tumpul dalam mencari makan, mereka semakin tidak mampu melindungi dirinya sendiri dari bahaya2 normal lainnya, bahkan perbuatan itu hanya akan memicu terjadinya PERDAGANGAN ulang mahluk hidup.

Kemudian setelah mencapai pencerahan, terdapat juga kisah dengan Raja pasenadi dari kosala yang semula berniat mengorbankan 500 Banteng, 500 anak sapi jantan, and 400 domba dalam satu upacara, kemudian dengan mengikuti saran Buddha binatang tsb di lepaskan.[Samyutta Nikaya 3.9.23 vol 1. p.74]

Kejadian yang hampir serupa seperti yang dialami Sidhartha kecil dapat ditemukan di Vinaya, yaitu seorang Bhikkhu yang melihat babi dalam perangkap seorang pemburu dan merasa kasihan melihat keadaannya, tanpa sepengetahuan si pemburu, Ia melepaskannya. [karuññena, Vin.III,62]

Contoh2 lainnya dapat ditemukan ketika Buddha menjawab Brahmana Ugatasarira yang berniat mengorbankan binatang [Lihat: Dictionary pali of proper name, G.P Malalasekera], juga ketika menjawab brahmana Ujjaya dan Udayi yang bertanya apakah Buddha mengajarkan bagaimana melakukan upacara pengorbanan binatang dan Buddha bilang, "Ngga, tuh.." [Ibid, hal.343, 376]

Dalam Nipata sutta, BRÂHMANADMAMMIKA SUTTA dikatakan, "Ternak adalah teman2 kita, seperti orang tua dan saudara kita, Kekuatan kita bergantung pada mereka. Meraka memberikan kita makanan, kekuatan, kesegaran dan juga kesenangan. Mengetahui ini, para Brahmana dahulu tidaklah membunuhi ternak". Jelas terlihat bahwa terdapat binatang-binatang tertentu yang dapat dipelihara.

Kemudian terdapat lima macam perdagangan/perniagaan yang harus di hindari di antaranya adalah berdagang mahluk hidup dan berdagang daging (atau segala sesuatu yang berasal dari penganiayaan mahluk-mahluk hidup) [Vanijja Sutta, AN 5.177 dan Mahāsatipaṭṭhāna Sutta DN 22]

Konsekuensi dari menghindari perdagangan mahkhluk hidup adalah tidak ikut membeli dan menumbuhkembangkan penangkapan binatang. Dalam Kandara sutta, dinyatakan penjagal, penangkap/pemasang perangkap dan pemburu merupakan para penganiaya mahluk lain. Dalam Jivaka sutta dinyatakan menyakiti mahluk hidup [di sutta dinyatakan mulai dengan kalimat, "ia yang membunuh makhluk hidup untuk Tathagata atau murid Tathagata"] menimbun banyak kamma buruk (apunna) dalam lima hal. Dua pertama adalah ketika berkata: 'Pergi dan tangkap seekor binatang' dan sementara binatang itu ditangkap, binatang ini menderita kesakitan dan tekanan batin.

Sehingga baik di sewaktu sebelum dan bahkan setelah mencapai pencerahannya, beliau konstan dan konsisten menyampaikan untuk tidak menyakiti mahluk hidup.

Kemudian,
Di jaman-jaman berikutnya, terdapat tradisi di PEMELIHARAAN BINATANG jaman raja ASOKA. Beliau melarang pembantaian utk upacara dan bahkan mendirikan rumahsakit untuk perawatan binatang. Raja Asoka juga dikenal sebagai Raja Pelindung Satwa

    Ketika belum ada isu binatang punah atau terancam punah, Raja Asoka di India sudah punya kebijakan sadar lingkungan.

    SEJAK berabad-abad silam, kesadaran atas lingkungan tumbuh di India. Catatan-catatan yang tertinggal dalam pilar-pilar dan batu besar di seluruh negeri mengungkap fatwa-fatwa Raja Asoka, yang begitu sering dipuji dalam legenda Budha, tentang perlindungan satwa.

    Meski ada beragam versi, para sejarawan umumnya menyebut Asoka lahir sekitar 304 SM. Sebagai putra raja, dia tumbuh sebagai anak yang gesit dan berani, jago berburu, serta pemimpin perang dan negarawan ulung. Dia memimpin beberapa resimen tentara Maurya dan berhasil memenangi sejumlah peperangan. Popularitasnya membuat saudara-saudaranya cemas; takut ayah mereka, Raja Bindusara, memilih Asoka sebagai penerusnya.

    Setelah Bindusara mangkat, dan perang suksesi, Asoka menjadi raja ketiga dinasti Maurya. Dia memiliki gelar Devanampiya Piyadasi yang berarti “Kekasih para dewa, dia yang memandang dengan cinta kasih.”

    Semasa kekuasaannya, dia menyatukan wilayah yang sangat luas di bawah kekaisarannya, melampaui batas-batas wilayah kedaulatan India saat ini. Dia dikenal sebagai pemimpin yang kejam dan haus darah. Pada 262 SM, delapan tahun setelah penobatannya, tentara Asoka menyerang dan menaklukkan Kalinga. Banyak nyawa melayang akibat perang.

    Suatu hari, usai perang, Asoka menjelajahi bekas palagan pasukannya. Dia melihat rumah-rumah yang hangus terbakar dan mayat-mayat bergelimpangan. Mereka yang masih hidup bergulingan di tanah. Hatinya hancur. “Perbuatan mengerikan apa yang kulakukan?“ ujarnya seperti dikutip Ariyakumara dalam Riwayat Hidup Raja Asoka.

    Sejak itu, dia bertekad tak akan lagi mengobarkan perang. Kebijakan untuk memperluas kerajaan dia hapus. Asoka pun mulai mendedikasikan sisa hidupnya untuk menerapkan prinsip-prinsip Buddha ke dalam administrasi kerajaan. Dia memainkan peranan penting untuk menyebarkan agama Budha, bahkan hingga ke luar negeri. Dia juga menerapkan prinsip-prinsip perlindungan lingkungan.

    “Negara memiliki tanggungjawab bukan hanya untuk melindungi tapi juga meningkatkan kesejahteraan rakyatnya dan satwa-satwa liar,” tulis Ven. S. Dhammika, bhiku asal Australia yang juga direktur spiritual dari Buddha Dhamma Mandala Society di Singapura, dalam “The Edicts of King Ashoka

    Apa yang dilakukan Asoka bukan sekadar kisah legenda, tapi diperkuat penemuan dan penerjemahan tulisan kuno pada pilar dan batu besar. Upaya itu sudah dimulai filolog James Prinsep pada 1837 atas tulisan kuno di pilar batu besar di Delhi. Dalam dekade berikutnya, lebih banyak titah sang raja ditemukan dengan penguraian yang lebih akurat. Titah-titah Asoka dapat ditemukan tersebar di lebih dari 30 tempat di seluruh India, Nepal, Pakistan, dan Afghanistan.

    Pada 256 SM, Raja Asoka mengeluarkan titah Tujuh Pilar, yang salah satunya menyatakan:

    “26 tahun setelah penobatan saya, berbagai hewan dinyatakan dilindungi –burung kakatua, mainas, angsa merah, itik liar, kelelawar, semut ratu, terrapins, ikan tak bertulang, ikan, kura-kura, landak, tupai, rusa, banteng, keledai liar, merpati liar, merpati piaraan, dan semua makhluk berkaki empat yang tak berguna dan tak bisa dimakan ...“

    “Kambing betina, biri-biri betina, dan babi betina yang masih bersama anaknya atau memberikan susu kepada anaknya juga dilindungi. Ayam jantan tak boleh dikebiri, sekam yang di dalamnya bersembunyi makhluk hidup tak boleh dibakar dan hutan tak boleh dibakar tanpa alasan ataupun untuk membunuh
    makhluk-makhluk….”

    Dalam A history of Indian Buddhism: from Śākyamuni to early Mahāyāna, Akira Hirakawa menulis, Asoka berulangkali mengatakan dalam titah-titahnya tentang pentingnya menghormati kehidupan tiap mahluk. Asoka mencontohkannya dengan perbuatan nyata, bukan sebatas menekankan kepada rakyatnya. Harapan Asoka, rakyatnya akan mengikutinya.

    Asoka mendirikan banyak hutan lindung dan suaka bagi satwa-satwa liar. Rumah sakit hewan didirikan. Selain itu, Asoka juga menghentikan kebiasaannya berburu hewan untuk kesenangan. Olahraga berburu menjadi aktivitas terlarang –waktu itu berburu merupakan hiburan favorit para pembesar. Berburu hanya diperbolehkan sebatas untuk makan. “Kekejaman terhadap hewan di ranah domestik maupun terhadap hewan liar juga dia larang,” tulis Dhammika.

    Di ranah domestik, Asoka secara bertahap menghentikan penyembelihan - penyembelihan hewan untuk masakan. Awalnya di dapur istananya ratusan ribu hewan disembelih setiap hari. Jumlahnya berkurang drastis dengan hanya tiga hewan yang boleh disembelih: dua burung merak dan seekor rusa. Pada akhirnya tak satu pun hewan yang jadi santapannya. Asoka menjadi seorang vegetarian.

    Pengaruhnya terasa hingga di luar wilayah kerajaan. Asoka mengirim beberapa misionaris, termasuk anaknya, Arahat Mahinda, ke Thailand dan Sri Lanka untuk mengajarkan Buddhisme. Di sesela berburu saat kedatangan di Sri Lanka pada 247 SM, “Arahat Mahinda menghentikan Raja Devanampiyatissa dari membunuh rusa dan mengatakan kepada raja bahwa setiap makhluk hidup memiliki hak yang sama untuk hidup," ujar Jawantha Jayewardene, konservasionis gajah dari Sri Lanka, sebagaimana dikutip situsweb Environmental History.

    Atas bujukan itu, Raja Devanampiyatissa menjadi Buddha dan menetapkan bahwa tak seorang pun boleh membunuh atau menyakiti makhluk hidup. “Dia memisahkan area luas di sekitar istananya sebagai tempat perlindungan flora dan fauna. Ini disebut Mahamevuna Uyana dan diyakini sebagai cagar alam yang pertama di dunia.”

    Arahat Mahinda dan utusan Asoka lainnya juga memperkenalkan perlindungan binatang sebagai fungsi sentral biara di mana pun mereka pergi. Biara-biara Buddha di Thailand dan Sri Lanka hingga hari ini sering berfungsi sebagai tempat perlindungan binatang –meski kemudian terdistorsi menjadi hanya mempertahankan gajah.

    Semua upaya itu Asoka lakukan untuk menebus dosa kepada makhluk-makhluk yang telah kehilangan nyawa selama dia memerintah dengan lalim. “Dia menganggap seluruh mahluk hidup adalah anaknya,” tulis Hirakawa.

    Pada 232 SM, di usia 72 tahun, Asoka meninggal dunia setelah 38 tahun memerintah. Sayangnya, butuh berabad-abad untuk menyingkap pengetahuan dan kearifannya soal lingkungan hidup. Kini, ketika bumi kian rusak, orang baru menaruh perhatian pada isu lingkungan. Memang tak ada kata terlambat. Dan mungkin apa yang dilakukan Asoka bisa ditiru: membuat kebijakan lingkungan berbasis spiritualitas. [MF MUKTHI, Selasa, 09 November 2010 - 14:56:24 WIB]
Di sutra mahayana abad ke-1 Masehi, Suvarnabhāsottama Sūtra (versi Chinese: Jin guang ming), terdapat kisah tentang seorang putera pedagang bernama Jalavàhana, yg dalam suatu perjalanan di musim panas tiba di sebuah hutan dan menemukan kolam ikan yang airnya menguap cepat sementara di sekelilingnya penuh dengan burung gagak, bangau, dan srigala yang menanti untuk memangsa mereka. Terdorong rasa belas kasihnya ia kemudian memotong dedaunan dan diletakan di kolam dengan harapan dapat mencegah penguapan. Namun cara ini kurang berhasil, kemudian ia menyusuri aliran sungai yang mengering yang seharusnya mengaliri kolam tersebut dan menemukan bahwa aliran tersebut terbelokan menuju sebuah lubang besar di dasar aliran, ketika ia tidak dapat menutupi lubang ini, ia kemudian menuju pada raja dan menceritakan kejadian ini untuk memohon bantuan berupa beberapa gajah. permohonan ini di kabulkan raja. Upaya keras dari Jalavāhana ini akhirnya berhasil mengisi kembali sungai tersebut dan menyelamatkan ikan.

Di sutra Mahayana, abad ke-5 M, Fanwang jing/Jala Brahma, tertulis, "Semua mahkhluk di 6 Alam kehidupan adalah para orang tuaku. Jika Aku mesti membunuh dan memakan mereka, itu sama saja dengan membunuh orang tuaku...Karena terlahir dari satu alam ke alam adalah hukum yg tak terelakan, kita seharusnya mengajarkan masyarakat untuk "melepaskan" mahkhluk hidup".

Buddhisme menyatakan bahwa kematian dalam keadaan/karena KETAKUTAN [bhaya], KESAKITAN dan KEMARAHAN berpotensi terlahir kebali di alam2 yang rendah. Tindakan membebaskan mereka dalam keadaan ketakutan dinamakan Abhaya dana

ruang lingkup Abhaya dana bukan cuma pada binatang namun mencakup semua mahkluk yang mungkin dapat dibebaskan dari bencana ketakutan misalnya: Gempa, Kebakaran, Tenggelam, Banjir [lihat foto disebelah: Kodok menunggangi Ular sewaktu banjir di Queensland, Brisbane..dan bahkan sang ular-pun mampu untuk ber-Abhaya dana], bahaya keselamatan dari musuh alaminya, dan juga bahaya2 lain yang bukan karena sebab normal [tua] atau juga dalam hal memberikan makanan pada mereka atau dapat dilakukan dengan menyumbang uang pada penangkaran/lembaga yg mengurus penyelamatan ekosistem atau dapat dilakukan dengan langkah yang paling sederhana yang mampu anda lakukan adalah berhentilah menangkap dan menumbuhkembangkan perdagangan! [setidaknya jika burung2 tidak ditangkapi dan di tembaki, wabah ulat tidak akan segalak ini menyerang lingkungan, bukan?!]

Contoh lainnya bentuk praktek Abhaya Dana misalkan melakukan donor darah, ginjal, mata, jantung dan organ tubuh lainnya atau dapat juga dalam bentuk sederhana misalnya melalui perenungan METTA [cinta kasih] yang dipancarkan dalam batin/pikiran kita ke segala arah untuk semua mahluk dengan harapan "semoga seluruh mahkluk hidup berbahagia" atau melakukan perbuatan berdana atas nama leluhur atau anda juga dapat memberikan pencerahan Dhamma agar terlepas manusia dapat melepas Kebencian, Keserakahan dan kebodohan [biasanya disingkat LDM], sehingga tidak ada lagi mahluk2 [terutama manusia] yang mati tersia-sia karena iri dengki, harta, perbedaan ajaran dan paham keagamaan.

Dalam perjalanan waktu,
praktek "melepaskan" binatang secara pribadi mengalami pergeseran menjadi pelepasan sejumlah besar binatang dihadapan umum dalam suatu upacara yang kemudian perlahan-lahan menjadi sebuah tradisi. Orang pertama di daratan china yang mengorganisir kegiatan ini adalah seorang Bhikkhu bernama Chih-I (538 M-597 M). Kemudian di jaman dinasti Tang, raja Suzong [711 M-762M], setelah pemberontakan An Lushan, Ia membangun 81 kolam ikan di seluruh kerajaannya.

Baru kemudian pada jaman dinasti Ming, seorang Bikkhu bernama ZHU HONG [1535–1615], berhasil menumbuhkembangkan tradisi pelepasan ikan secara reguler di masyarakat melalui sebidang tanah yg di bangun menjadi kolam cagar alam perlindungan untuk ikan. Tradisi ini kemudian menyatu sebagai bagian kehidupan "alim" di masyarakat dan membuat semakin banyak vihara menyediakan kolam-kolam pelepasan ikan dan kura-kura, kandang-kandang bagi burung-burung merpati dan padang-an bagi para kambing, sapi dan kuda.

Trend ini menyemarakkan pula bisnis penangkapan dan perdagangan binatang untuk konsumsi ritual "pelepasan". Tradisi membeli binatang yang "terancam" untuk kemudian dilepaskan, dalam tradisi China di kenal dengan istilah Fang sheng [Fang = melepaskan; sheng = mahluk]

Tradisi "membeli-untuk melepas" ini juga berkembang di aliran Buddhisme Tibet, sebagaimana di ajarkan oleh Zopa Rinphoce [lahir 1946], dalam bukunya Teachings from the Vajrasattva Retreat.

Sangat terlihat jelas bahwa Fang sheng TIDAKLAH SAMA dengan Abhaya Dana.

So,
Jika anda MEMBELI MAHLUK di PASAR kemudian melepaskannya dalam suatu upacara, besar potensinya mereka berada pada kondisi LEMAS sehingga perbuatan ini malah MEMBAHAYAKAN HIDUP mereka dan membuat mereka TERSIKSA..itu bukanlah tindakan MENYELAMATKAN namun MENYIKSA

Kemudian,
anda melepaskannya ke sungai namun tidak menghilangkan bahaya di tangkap, dipancing dan dimangsa..atau gara-gara dilepaskan malah menjadi "mahluk baru" yang membahayakan komunitas di ekosistem lain [contoh: melepaskan ular di area yang penuh beburungan] maka yang terjadi bukanlah MENYELAMATKAN.

Kemudian,
Anda juga malah ikut terlibat secara sengaja/tidak dalam menumbuhkembangkan praktek PENANGKAPAN dan PERDAGANGAN Mahluk hidup. Anda ikut BERTANGGUNG JAWAB terhadap BAHAYA yang menimpa binatang2 yang diketahui menjadi komoditas laris di "fang sheng"-kan atau di "sah sheng"-kan pada musimnya oleh sekelompok umat yang mempunyai pandangan "AJAIB" [note: Sah = bunuh]

Note:
Lihat cuplikan koran/artikel dari beberapa negara [Taiwan, Amerika, Singapura, dll], yang malah menyatakan Tradisi Fangsheng adalah bisnis keselamatan semu, menyakiti hewan & membahayakan ekosistem
    Fang sheng atau pelepasan makhluk hidup adalah perbuatan yang bajik. Tetapi sekarang esensi dari fang sheng sepertinya sudah bergeser. Fang sheng seharusnya menyelamatkan makhluk hidup yang sedang menderita menjadi tidak menderita, tetapi nyatanya kini tidak sedikit umat Buddha yang melakukan fang sheng dengan memesan hewan terlebih dahulu, sehingga menyebabkan banyaknya hewan yang ditangkap untuk diberikan kepada pelaksana fang sheng. Alih-alih membuat makhluk hidup menderita menjadi tidak menderita, yang terjadi malah makhluk hidup yang sedang hidup bebas sengaja ditangkap untuk dijual kepada pelaksana fang sheng.[..]
Dhamma musings:
    [..]Sadly, today ‘animal release’ practice frequently takes the form of a mere ritual more destructive to life than life-saving. In countries with significant Chinese communities a whole industry of capturing wild birds simply so they can be released has developed. The birds are taken from their natural environment, shipped to the cities and set free in the ‘concrete jungle’ where they often soon die. Temple ponds are commonly so crowded that the fish and tortoises lead diseased and miserable lives. According to environmentalists the two leading threats to the Asian Temple Turtle (Heosemys annandalii, so-called because it is favored by Chinese Buddhists for ‘release’) are the restaurant market and the temple trade. Several of the more progressive temples here in Singapore now try to educate the Buddhist public about the proper way to practice animal release or even prohibit the practice within their premises.
New York "The Sun":
    [..]In Asian countries with Buddhist populations, there has of late been a movement to stop the practice altogether.

    A resident monk at the Grace Gratitude Buddhist Temple, Ben Kong, said the Buddhists still practicing fangsheng in New York City were ignorant of the harm they cause to the local ecosystem and the turtles.

    "It's a sad situation," he said.

    He said his temple has been trying to educate some of the congregants. They even came up with a new word, "fangsi," which means "release of death."

    This practice, and the fact that other New Yorkers may be getting rid of pet turtles in Central Park, has led to a proliferation of red-eared sliders, according to Maria Hernandez, the gardener in charge of the pond.

    "They are basically a problem because there is so many of them," Mr. Hernandez said. "We try and discourage it because it is not a native species."

    The head of rehabilitation and education at the New York Turtle and Tortoise Society, Lorri Kramer, said she has long hoped to end the trouble with turtles in Chinatown by getting them banned from sale, but legislation hasn't made it through the Assembly.

    "It's actually very cruel to keep them alive, out of water," she said. "They are dehydrated. Their arms and legs are going to be aching the whole time."
Taiwan News dan Chinapost:
    In Taiwan, religious groups spend more than NT$200 million (US$6.19 million) annually to engage in "release of life" rituals, which they practice 750 times on average each year, according to the Environment and Animal Society of Taiwan (EAST) Friday.

    People usually practice "fangsheng, " or "release of life, " when they fall ill, have a miserable marriage or want to pray for wealth in their next life, the EAST said in a statement on a recent survey on the practice in Taiwan.

    Some Buddhism followers believe that setting animals free increases their own merit, which translates into a better rebirth.

    This has sparked a new profit-making business in the religious market in Taiwan, the EAST said.

    The business is supported by a complete demand and supply system that operates on the "symbiosis" between religious believers and hunters, breeders and vendors, it added. However, this business not only hurts the animals that are hunted or bred for sale to fangsheng adherents, but also causes damage to the ecological system, it added.[..]
Special Global Times, Mercy business:
    [..] Mercy release is gaining popularity among Buddhists and non-Buddhists who set animals free, but many fail to realize that although their intentions are good, they might be doing more harm than good.

    Some animals require special attention while in captivity and some are released into the wrong environment that could harm the local ecosystem, according to experts and animal protection activists.

    [..]Jingxue said they know people who see the practice as an excuse to make money. "We would warn our fellow Buddhists not to trust these people," she said.[..]

    Dozens, sometimes hundreds of people participate in mercy release at one time. Some release hundreds or tens of thousands of animals at one time.

    Worshippers at the Shengquan Temple in Beijing organized a mercy release on April 16 with over 80 participants who donated some 30,000 yuan to buy sparrows and mynah birds, both protected animals in China.

    [..]Zhang Chengshan, who sells aquatic animals at the Dongjiao market in Chaoyang district in Beijing, routinely accepts orders in advance for turtles or fish to release.

    ..Business was particularly good around the Tomb-Sweeping Day holiday this year and because some people want to save fishes that are pregnant in the spring. "They usually order thousands of kilos or tens of thousands yuan worth of animals," said Zhang.

    Yu Fengqin, a Buddhist who volunteers with a wildlife protection organization, has visited animal and pet markets all over the country. She saw birds tangled up in nets set by hunters in wetlands, and witnessed hunters waiting to capture animals just to sell to people who will release them back into the wild.

    On the same day, over 100 people joined the Fozixing group in Shenzhen to release 7,000 kilograms of fish they bought for 76,000 yuan.
    ...
    "We remain concerned that as long as the Buddhist followers continue to purchase animals, there remains an incentive to trap, capture, breed and trade animals for the purpose of mercy release," said Iris Ho, campaign manager Humane Society International (HSI), an animal protection group that works with Buddhist communities with this issue. Things go wrong with a variety of animals.

    In August, thousands of snakes came face to face with the public after being released near Changbai Mountain in Jilin Province, and many were killed by traffic.

    "Animals may not adapt to the new environment right away, and some non-local species may compete for limited resources with local species, disrupting the ecosystem," said Jia Chenxi, an ecology researcher with the Animal Research Institute at the China Academy of Sciences.
    ..
    Exotic species, such as red-eared turtles and bullfrogs, are even more dangerous as they prey on local species or spread diseases, experts warned.

    Red-eared turtles or Brazilian turtles, a non-native species to China, is one of the most invasive, dangerous exotic species. The US, South Korean, and Europe have banned the animal.
National Parks Board, Singapore: Be kind to animals, do not release them into the wild":
    [..]Ms Sharon Chan, Assistant Director at NParks, explains, "Most people do not realise that releasing animals means sending them to their deaths. One recent incident I encountered was the release of a few soft-shell terrapins. They were not equipped to survive in the wild, and died on that very day. Should these animals harbour viruses, they will contaminate the water and affect other native wildlife. We want to appeal to everyone to refrain from releasing your pets or animals into the wild."

    Mr Chan Chow Teing, PUB's Senior Deputy Director of Catchment and Waterways, adds, "As the fishes and animals may not be able to survive on their own, releasing them not only affects the ecosystem but also the reservoirs' water quality. Although treating the water for drinking water supply is not an issue, it is important to keep the waters clean for aesthetic and recreational reasons, so that everyone can continue to enjoy activities at our reservoirs and parks."
Channelnewsasia: "Public urged not to release animals into the wild on Vesak Day":
    SINGAPORE : The National Parks Board and national water agency PUB have appealed to the public not to release animals into nature reserves and reservoirs, as such acts may have adverse effects on the ecological balance of Singapore's nature reserves and parks.

    They will also affect the water quality of Singapore's reservoirs. The joint statement comes as Vesak Day approaches.

    It is a common practice in Singapore to release animals during Vesak Day, which falls on May 9.

    The President of the Buddhist Fellowship<, Angie Monksfield, said there is a difference between Buddhism and kindness towards animals.

    "Being kind to animals is one of the core practices in Buddhism," she said. "However, freeing animals into the wild, especially those that have been bred in captivity, is not necessarily a kind act as these animals would be easy prey for predators."

    The fellowship has taken efforts to remind the public against releasing the animals.

    The practice is growing so fast that hunters and sellers are getting into the habit of catching animals to sell to Buddhists. Some sellers put up signs saying "birds/fish for mercy release."
The star Online, "Don’t spur capture of wildlife":
    TRAFFIC South-East Asia would like to offer a word of caution to well-meaning people who plan to buy birds, frogs, fishes and turtles and release them into the wild as suggested in your article “Saving animals from the pot” (Star Metro, Oct 29).

    While the intention may be good, buying and releasing wildlife in this manner poses several serious problems. As a wildlife trade monitoring network, Traffic has documented sellers in many parts of South-East Asia antici­pating this act of kindness and stocking up extra animals solely for the purpose of selling them to those moved by the animal’s plight. This means more are caught from the wild than would be otherwise.

    Many of these animals are injured in the process of capture, and many more die in stores where they a re often kept in cramped and cruel conditions.

    Take the example of the munias, a group of bird species most commonly sold for release for religious reasons. In Traffic’s five-year survey of the Medan Bird Market – the point from which many of them are exported to Malaysia and Singapore – dealers reported that between 30% and 50% of these birds died in the first 24 hours between capture and sale.

    The birds are not sold as pets. The trade in these birds is fuelled solely by the practice of releasing them.

    Many of the species released are also not native to this country, and by releasing them we could be introducing potential alien invasive species into our environment that would compete with local wildlife and spread diseases with devastating effects on native species of frogs, fishes and turtles.

    Furthermore, many of the animals released are in poor health, largely due to the stress of capture, or are otherwise ill-equipped to survive in their new environment and die shortly after release.

    The problem of invasive alien species is a worldwide concern that impacts not just nature but also agriculture, fisheries and many other sectors of the economy, and costs governments millions to solve.

    Traffic truly appreciates the concerns of believers who want to alleviate the suffering of these captive animals, but perhaps a better way might be to boycott pet stores, restaurants and businesses that sell wild animals altogether. When there is no demand, there will no longer be any reason for them to continue taking these animals from the wild.
Wildsingapore: "Releasing Animals: Good or Bad?:
    In Singapore, many people release animals. Here are some facts about this practice.

    Many pet shop animals cannot survive in the wild. They no longer have the ability and instinct to find food and shelter, or to run away from predators.

    Many animals can only survive in special habitats, such as the rainforest, desert or mangrove swamp. Releasing an animal into the wrong habitata will cause it to suffer and then die.

    If we release a foreign animal, it may not survive in our country and climate. For example, a land tortoise from India can only survive well in a seasonal climate.

    If we release an animal from a foreign country, it may compete with our local wild animals for food, shelter, nesting areas and living space. These foreign animals may also eat the babies of local animals.

    Can we tell if an animal is sick or healthy? If a sick animal is released, it may infect wild animals which have no immunity against certain diseases.

    Infect animals may transmit diseases to humans.
    When everyone releases animals, the combined quantity will upset the natural balance. The areas of release will not be able to cope with the sudden increase of animals.

    We can stop these cruel situations
    Do not buy birds and other wild animals for releasing. Do not patronise these shops.
    Do not be directly responsible for the capture of wild animals to continue.

    Please do not release these animals:
    Red-eared terrapin and Chinese soft shell turtle. These turtles can grow large and are more aggressive. They will cause the decrease of Singapore's own rare turtles.
    Birds bought from bird shops. Most of the birds that are bought from bird shops get sick when they are captured and imprisoned in a crowded, unhygenic cage.
    Aquarium fish. Most of these fishes are forced to share crowded tanks in the fish shop. Diseases spread easily in such poor conditions.
    American bullfog. This aggressive, large frog eats up our smaller native frogs.
    Pet animals. It is extremely unkind to abandon your pet.

    The Law
    In Singapore, it is against the law to release any animal into our public parks, reservoirs, nature reserves and many other places.
    It is also against the law to catch wild animals. When we buy a wild animal from a shop, we are therefore involved in a crime.

    Wise actions
    Do your part to truly show compassion for animals
    Rescue and care for animals when needed. It can be a baby bird which has dropped out of its nest or a turtle found in the middle of a road; an injured animal or fishes trapped in a drying pond.
    Encourage others not to buy wild animals to keep as pets, for consuption or to release.
    Encourage pet owners to love and give proper care to their pet animals, and not to abandon them.
    Volunteer your help to organisations that care for animals.
    Make others aware about the importance of conserving nature and protecting our environment.
    Join an animal welfare group to help protect and improve conditions for all animals.
    Join a green group to protect our nature areas. These are homes to countless animals.

    Life is cheap: Demand=Supply
    When we buy animals to release, we are encouraging the shop-owner to catch even more animals from the wild to sell.
    For example, thousands of grass birds are captured from the wild for people to buy for release. Bird and pet shops sell these 'cheap' birds at a price of $1.50 or $2.
    Many of these birds die when they are caught, and during the journey to the shops.
    Since these are 'cheap' birds, they are treated like dirt. Crowded into dirty cages and standing in their own excrement, they are not given any proper care, food and fresh water.

    How can we help to protect and conserve endangered species?
    Do not buy and keep endangered species as pets or to eat.
    Do not buy any products made from endangered speices. For example, jewellery made from sea turtle shell, elephant ivory and fur of wilds animals.
    Do not buy 'medicines' made from endangered species. For example, tiger penis, dried seahorses, bear gall, rhinoceros horn, sea turtle meat, etc. Use herbal remedies instead.

    You CAN make a difference!
...dan banyak tulisan lain yang membuktikan bahwa praktek fangshen telah menumbuhkembangkan bisnis penangkapan mahluk hidup, membuat binatang itu tersiksa akibat proses PENANGKAPAN dan ketika mereka telah ditangkap dan bahkan setelah dilepaskanpun, bukan saja mereka MENDERITA karena capai, lemas, tak dapat makanan dan di buru serta malah membuat bahaya bagi binatang lainnya dengan penyebaran penyakit dan sebagai "spesies alien" yang memangsa mahluk lain di habitat baru dan menghancurkan ekosistem.

Masih kah anda membuta tuli?!

Selebihnya daripada itu, TIDAK juga akan anda temukan di Sutta2 Tipitaka, bahwa Sang BUDDHA menganjurkan umatnya untuk pergi ke pasar membelanjakan uang MEMBELI dan MELEPASKAN binatang-binatang ke alam bebas.

Semoga semua Mahkluk berbahagia.

Minggu, 03 April 2011

Suamiku, apakah Dhamma spiritual hanya milik kaum lelaki? Apakah perempuan juga dapat memahaminya?

DISCLAIMER:
Seluruh tulisan dalam blog ini adalah opini tandingan (counter-opinion), disusun berdasarkan metodologi studi kritis terhadap teks, sejarah, dan sains. Penulis menggunakan referensi primer dari berbagai literatur otoritatif untuk memberikan perspektif alternatif bagi pembaca. Gaya bahasa yang digunakan bersifat provokatif-intelektual guna memicu pemikiran kritis. Tidak ada maksud untuk melakukan penghinaan personal terhadap individu atau kelompok tertentu, melainkan murni bedah kritis terhadap gagasan dan doktrin. Untuk pembaca yang bermasalah secara emosional dan/atau nalar dalam membedakan antara MELECEHKAN VS MENYAMPAIKAN SESUAI RUJUKAN, maka SANGAT DISARANKAN untuk TIDAK MEMBACA. Untuk jenis pembaca lainnya, selamat membaca.

Artikel ini berkenaan dengan pertanyaan seorang Istri, yaitu Dhammadinnà kepada suaminya, Visàkha. Suaminya merupakan 1 diantara 101 orang yang mencapai buah tingkat kesucian ke-1 (Sotapanna) saat Buddha Gautama di RajaGraha, secara bertahap Ia mencapai tingkat kesucian ke-2 (Sakadagami) dan tingkat kesucian ke-3 (Anagami). Setelah di tingkat kesucian ke-3, suaminya menjadi tidak tertarik pada kehidupan rumah tangga dan berusaha meninggalkan keduniawian. Rangkaian kejadian inilah yang memicu pertanyaan Dhammadinnà pada suaminya, "Suamiku, apakah Dhamma spiritual hanya milik kaum lelaki? Apakah perempuan juga dapat memahaminya?" dan jawaban pertanyaan di atas anda akan temukan di bawah ini.

Cita-cita masa lampau Dhammadinnà
Bakal Theri Dhammadinna terlahir dalam sebuah keluarga miskin berkasta rendah di Kota Hamsavati pada masa kehidupan Buddha Padumuttara [15 Buddha sebelum Buddha Gautama, Untuk Buddha-Buddha lainnya lihat di sini]. Ia adalah orang yang bijaksana dan bajik.

Suatu hari Yang Mulia Sujàta, sepupu dan juga Siswa Utama Buddha Padumuttara, baru saja bangun dari pencapaian Penghentian [nirodha samapatti]. Meditasi dalam keadaan Nirodha samapatti, lamanya dapat berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu tanpa makan dan minum sama sekali sehingga begitu bangun dari keadaan tersebut, fisik mereka melemah dan memerlukan sokongan kekuatan makanan. Penderma manapun [Manusia maupun bukan] yang dapat mempersembahkan dana pada saat itu, akan mendapat berkah yang besarnya tak terhingga dan berbuah dikehidupan saat ini atau berikutnya.

Yang Mulia Sujàta, kemudian keluar dari pondoknya untuk mengumpulkan dàna makanan [Pindapatta] dan ketika itu, beliau bertemu dengan Dhammadinnà yang tengah berjalan membawa kendi sebagai pembawa air. Dhammadinnà melihatnya, dengan tangannya sendiri Ia persembahkan kue yang merupakan bekalnya dan ia pun diliputi pikiran gembira terhadap perbuatan baik yang dilakukannya.

Sebagai penghargaan atas baktinya, dan ingin melimpahkan berkah atas kebajikannya, Yang Mulia Sujàta kemudian duduk dan memakan kue itu saat itu juga.

Rasa bakti perempuan pekerja itu rupanya tumbuh begitu cepat sehingga Iapun mengajak Yang Mulia Sujàta ke rumahnya untuk memberikan lagi tambahan makanan. Kemudian, dengan memotong rambutnya (yang indah) dan menjualnya dengan harga murah, ia membeli makanan untuk dipersembahkan kepada Yang Mulia Sujàta di rumahnya. Ketika majikannya mengetahui perbuatan mulia itu, ia begitu gembira sehingga ia menikahkannya dengan putranya dan ia menjadi menantu si orang kaya.

Suatu hari, menantu orang kaya itu berkunjung ke vihàra Buddha bersama ibu mertuanya. Ketika ia sedang mendengarkan khotbah Buddha, ia melihat Buddha menunjuk seorang bhikkhuni sebagai yang terbaik dalam hal menjelaskan Dhamma. Ia sangat berkeinginan untuk mencapai gelar yang sama pada masa depan. Ia memberikan persembahan besar kepada Buddha dan Saÿgha dan bercita-cita untuk mencapai posisi tersebut. Buddha Padumuttara meramalkan bahwa cita-citanya akan tercapai dalam masa ajaran Buddha Gotama.

Kehidupannya Sebagai Penjaga Harta Istana Menantu orang kaya itu melakukan banyak kebajikan seumur hidupnya dan setelah umur kehidupannya berakhir, ia meninggal dunia dan terlahir kembali di alam dewa. Selanjutnya ia mengembara hanya di alam manusia dan alam dewa. Sembilan puluh dua siklus dunia [Maha Kappa, hancur dan terbentuknya; mengembang dan mengekerutnya Alam Semesta] sebelum siklus dunia sekarang, ia terlahir kembali sebagai istri seorang kaya yang menjadi pejabat penjaga harta istana bagi tiga pangeran yang merupakan adik tiri Buddha Phussa [7 Buddha sebelum Buddha Gautama]. Ia sangat dermawan sehingga jika seseorang meminta satu, ia akan memberikan dua.

Kehidupannya Sebagai Salah Satu dari Tujuh Putri Raja Kiki
Istri orang kaya itu melakukan banyak kebajikan seumur hidupnya, setelah umur kehidupannya berakhir, ia meninggal dunia dan terlahir kembali di alam dewa. Pada masa Buddha Kassapa [Buddha sebelum Buddha Gautama], ia terlahir kembali sebagai Putri Sudhammà, putri keenam dari tujuh putri Raja Kiki dari Bàrànasi, seperti yang telah disebutkan Sebelumnya. Bersama saudari-saudarinya, ia tetap menjadi perawan, menjalani kehidupan suci seumur hidupnya selama dua puluh ribu tahun, dan menjadi salah satu penyumbang bersama saudari-saudarinya yang mempersembahkan sebuah kompleks vihàra besar kepada Sangha.

Kehidupan Dhammadinnà, di Jaman Buddha Gautama
Putri Sudhammà melakukan banyak kebajikan seumur hidupnya dan saat meninggal dunia, ia terlahir kembali di alam dewa. Dari sana, ia mengembara hanya di alam dewa dan alam manusia selama tahun-tahun yang tidak terhingga lamanya. Pada masa Buddha Gotama, ia terlahir kembali dalam sebuah keluarga kaya di Ràjagaha. Saat ia menginjak usia menikah, ia menikah dengan seorang kaya bernama Visàkha dan dikenal oleh orang-orang sebagai Dhammadinnà, istri si orang kaya.

Visàkha dan Dhammadinnà, sembilan puluh dua siklus dunia sebelumnya, juga merupakan pasangan kaya sebagai Penjaga Harta istana dan istrinya pada masa Buddha Phussa yang layak dicatat dalam perjalanan kebebasan mereka.

Visàkha si orang kaya adalah salah satu dari seratus satu siswa Buddha yang mencapa pengetahuan Pemenang Arus (Tingkat kesucian ke-1) pada hari Buddha tiba di Ràjagaha (pada hari purnamadi bulan Pyatho (Januari) tahun 103 Mahà Era). Ia adalah sahabat Raja Bimbisàra.

Setelah menjadi seorang Ariya sebagai Pemenang Arus, Visàkha pada kemudian hari mendengarkan khotbah Buddha dan mencapai Sakadàgàmi-Phala (Tingkat kesucian ke-2, Yang Sekali Kembali) dan kemudian ia mencapai Anàgàmi-Phala (Tingkat kesucian ke-3, Yang Tak Kembali; phala = buah).

Begitu ia menjadi seorang Yang Tak Kembali, penampilan dan sikapnya berubah secara drastis. Jika ia pulang ke rumah berharap untuk melihat istrinya, wajahnya penuh dengan senyuman, penampilannya tenang, air mukanya cerah dan pikirannya damai.

Istrinya, Dhammadinnà, seperti biasanya, melihat melalui jendela yang berhiaskan ukiran menunggu kepulangan suaminya. Ketika ia melihat penampilan tenang suaminya berjalan pulang, ia merasa aneh, "Apa yang terjadi?" ia berpikir.

Ia menuruni tangga dan merentangkan tangannya menyambut suaminya. Walaupun sudah menjadi kebiasaan untuk menggenggam tangan istrinya dan berjalan menaiki tangga (sambil berbincang-bincang), pada hari itu, ia menarik tangannya dan tidak merangkul istrinya.

"Mungkin aku akan mengetahuinya nanti di meja makan," pikir sang istri.

Tetapi saat makan pagi, sang suami tidak makan bersama istrinya, melainkan makan sendirian dan berdiam diri bagaikan seorang bhikkhu yang sedang bermeditasi.

"Mungkin aku akan mengetahuinya nanti malam," ia berpikir.

Tetapi malam harinya, Visàkha tidak memasuki kamar mereka. Melainkan menyiapkan sebuah kamar terpisah sebagai kamar tidurnya dan tidur sendirian. Sang istri mulai cemas, "Apakah suamiku berselingkuh? Atau apakah orang lain telah menyebabkan kesalahpahaman antara kami? Atau apakah ia melihat cacat dalam diriku?"

Spekulasi-spekulasi yang tidak berdasar ini menggerogoti batinnya. Setelah dua atau tiga hari ia tidak tahan lagi melihat sikap sang suami. Ia berdiri, dan dengan merangkapkan tangannya menghormati suaminya, ia menunggu reaksinya. Kemudian sang suami berkata:

"Mengapa engkau mendatangiku pada saat yang tidak tepat ini?"

"Saat yang tidak tepat, ya, suamiku. Tetapi engkau sudah berubah sekarang. Ada apa denganmu? Apakah ada perempuan lain selain diriku?"

"Tidak, Dhammadinnà, tidak ada perempuan lain."

"Kalau begitu, apakah seseorang telah mengadu-domba kita?"

"Tidak, tidak ada hal seperti itu."

"Kalau begitu, apakah engkau melihat cacat dalam diriku?"

"Tidak, Dhammadinnà, engkau tidak memiliki cacat apa pun."

"Kalau begitu, mengapa engkau menjauhiku seolah-olah kita adalah orang asing satu sama lain dan bukannya suami istri? Engkau tidak banyak berbicara denganku beberapa hari terakhir ini."

Ditanya demikian oleh istrinya, Visàkha merenungkan, "Dhamma spiritual adalah hal yang sangat mendalam, tidak mudah menjelaskannya seperti hal-hal duniawi. Kalau memungkinkan, lebih baik aku menyimpannya sendiri. Tetapi sekarang, jika aku tidak menjelaskan, Dhammadinnà pasti akan beranggapan keliru dan menjadi patah hati."

Dengan pikiran demikian, Visàkha berkata:
"Dhammadinnà, setelah aku mendengarkan khotbah Buddha, aku telah memahami Dhamma spiritual. Seseorang yang telah memahami spiritualitas akan melihat urusan duniawi menjadi tidak cocok baginya. Jika engkau mau, ada empat puluh crore harta yang diberikan oleh orangtuamu kepada kita, dan ada empat puluh crore lagi yang diberikan oleh orangtuaku kepada kita, harta kekayaan bernilai delapan puluh crore ini kuserahkan kepadamu, dan perlakukanlah aku seperti ibu atau kakakmu. Aku akan puas dengan cara apa pun engkau merawatku. Atau, engkau juga boleh, mengambil seluruh harta kekayaan itu dan pulang ke rumah orangtuamu. Jika engkau tidak dapat memberikan hatimu kepada laki-laki lain, aku akan merawatmu seperti adik atau anakku."

Mendengar kata-kata jujur suaminya itu, Dhammadinnà merasa puas.

Ia berpikir, "Tidak ada orang yang dapat mengatakan hal itu. Suamiku pasti sungguh telah memahami Dhamma spiritual. Tetapi, apakah spiritualitas hanya dapat dimiliki oleh para lelaki? Mungkinkah seorang perempuan dapat memahaminya?"

Dengan merenungkan demikian, ia bertanya kepada suaminya, "Suamiku, apakah Dhamma spiritual hanya milik kaum lelaki? Apakah perempuan juga dapat memahaminya?"

"Mengapa, Dhammadinnà, siapa pun, laki-laki atau perempuan, yang mempraktikkan Dhamma sesuai dengan ajaran dengan tekun dapat menjadi pewaris Buddha dalam hal Dhamma. Jika seseorang memiliki kondisi yang cukup, yaitu, jasa masa lampau, untuk mencapai Pengetahuan Jalan, Spiritualitas dapat dicapai."

"Kalau begitu, izinkahlah aku untuk menjadi seorang bhikkhuni."

"Baiklah, istriku, aku senang engkau bercita-cita untuk mencapai spiritualitas. Aku tidak menyarankannya kepadamu karena aku tidak mengetahui tanggapanmu."

Visàkha kemudian bergegas menghadap Raja Bimbisàra yang bertanya, "O orang kaya, apakah tujuanmu datang pada saat yang tidak tepat ini?"

"Tuanku," Visàkha berkata, "Dhammadinnà ingin menjadi seorang bhikkhuni."

"Apa yang harus kusediakan untuk Dhammadinnà?"

"Tuanku, aku hanya ingin memohon dua hal, tandu emas dan merapikan kota."

Raja menyanggupi dua permohonan itu.

Perayaan Besar Saat Dhammadinnà Menjadi Seorang Bhikkhuni
Visàkha memandikan Dhammadinnà dengan air harum, memakaikan pakaian indah dan menuntunnya naik ke dalam tandu. Kemudian, dengan dikelilingi oleh sanak saudaranya (dan sanak saudara suaminya), ia dibawa ke vihàra bhikkhuni melalui kota yang dihias dengan keharuman dupa dan bunga-bungaan.

Di vihàra bhikkhuni, Visàkha diminta oleh para bhikkhuni untuk mengizinkan istrinya Dhammadinnà untuk menjadi seorang bhikkhuni. "O orang kaya," mereka berkata, "maafkanlah jika ia pernah berbuat kesalahan sekali atau dua kali." (Mereka berpikir si orang kaya itu mengabaikan istrinya.)

"Yang Mulia," orang kaya itu menjawab, "Istriku tidak melakukan kesalahan apa pun, ia menjalani kehidupan suci atas kemauannya sendiri."

Selanjutnya, seorang bhikkhuni yang menguasai Vinaya (aturan para Bikkhu) memberikan instruksi kepada Dhammadinnà untuk merenungkan kejijikan dari badan jasmani yang dimulai dari kelompok lima unsur, yaitu, rambut, bulu badan, kuku, gigi, dan kulit. Kemudian ia mencukur rambut Dhammadinnà, memakaikan jubah.

Visàkha kemudian bersujud kepada Bhikkhuni Dhammadinnà dan berkata, "Yang Mulia, berbahagialah dalam kehidupan suci di dalam Dhamma. Buddha telah mengajarkan kepada kita Dhamma yang agung pada awal, pada pertengahan, dan pada akhir."

Kemudian Visàkha pulang ke rumahnya.

Sejak hari Dhammadinnà menjadi seorang bhikkhuni, ia menerima banyak penghormatan dan persembahan dari para penduduk. Melihat banyaknya pengunjung, ia hanya memiliki sedikit waktu untuk bermeditasi. (Hanya sampai di sini kisah Dhammadinnà yang dikutip dari Komentar Majjhima Nikàya, Mula Pannàsa, Culavedalla Sutta atau di sini)

Theri Dhammadinnà mempertimbangkan, "Visàkha telah mengakhiri dukkha bahkan selagi masih sebagai perumah tangga. Aku sebagai seorang bhikkhuni juga harus dapat mengakhiri dukkha."

Ia mendatangi penahbisnya dan berkata, "Yang Mulia, aku lelah hidup di tempat seperti ini yang penuh dengan lima kenikmatan indria, aku ingin pergi dan menetap di vihàra di sebuah desa kecil."

Si penahbis memahami bahwa keinginan Dhammadinnà tidak boleh diabaikan karena ia berasal dari keluarga mulia, dan karena itu ia membawanya ke sebuah vihàra di sebuah desa kecil.

Berkat latihan meditasi yang pernah ia lakukan dalam banyak kehidupan lampau dengan melihat menembus sifat dari fenomena berkondisi, Dhammadinnà tidak memerlukan waktu yang lama untuk mencapai Pandangan Cerah dan mencapai tingkat kesucian ke-4 [Tingkat Kesucian tertinggi, Araha) lengkap dengan Empat Pengetahuan Diskriminatif [patisambidha]. [Note: Bahkan suaminya-pun, belum mencapai tingkatan itu]

Kemudian setelah mengetahui pencapaiannya, ia mempertimbangkan di manakah tempat yang cocok baginya untuk menolong orang lain untuk mencapai Pencerahan. Di sana tidak ada banyak kesempatan karena desa itu hanyalah sebuah desa kecil sedangkan di Ràjagaha ia akan dapat membantu sanak saudaranya. Maka ia memutuskan untuk kembali ke Ràjagaha dan setelah memohon penahbisnya agar menyertainya, ia kembali ke Ràjagaha.

Pertanyaan-pertanyaan Visàkha Sehubungan Dengan Dhamma
Ketika Visàkha mengetahui bahwa Theri Dhammadinnà telah kembali ke Ràjagaha, ia ingin mengetahui mengapa, setelah pergi menetap di sebuah desa kecil, bhikkhuni tersebut kembali lagi begitu cepat.

Ia pergi menemuinya tetapi ia tidak ingin mengajukan pertanyaan langsung apakah dalam menjalani kehidupan suci ia merasa betah seperti di rumah sendiri. Sebaliknya, ia akan mengajukan pertanyaan yang mendalam sehubungan dengan lima kelompok kehidupan yang menjadi objek kemelekatan (tentang sakkàyadiññhi), dan akan menilai batinnya dari jawaban-jawabannya.

Maka setelah Visàkha bersujud, duduk di tempat yang semestinya, Visàkha mengajukan pertanyaan-pertanyaan ajaran sehubungan dengan lima kelompok kehidupan yang menjadi objek kemelekatan. (pertanyaan-pertanyaan dan jawaban ini dapat dibaca dari Mulapannàsa, 5-Culayamaka Vagga, 4-Culavedalla Sutta.)

Dhammadinnà menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh Visàkha dengan cepat bagaikan derap kaki kuda yang berlari dan dengan tepat bagaikan tangkai teratai yang dipotong dengan belati yang tajam. Visàkha mengetahui intelektualitas Dhammadinnà dan melanjutkan dari hal-hal yang berhubungan dengan (tiga) Pengetahuan Magga (jalan) yang lebih rendah yang telah ia pahami.

Kemudian ia melanjutkan dengan hal-hal yang berhubungan dengan Arahatta-Magga [yang ia sendiri belum mencapainya tetapi hanya berdasarkan pengetahuan yang berasal dari apa yang ia dengar. Dhammadinnà mengetahui bahwa Visàkha mampu mengajukan pertanyaan yang berhubungan dengan Anàgàmi-Phala, dan bahwa ia telah melampaui pengetahuannya saat ia menanyakan:

"Yang Mulia, apakah pendamping Nibbàna?"

Dhammadinnà berkata, "Teman Visàkha, pertanyaanmu telah berlebihan; tidaklah mungkin bagimu untuk mencapai batas pertanyaan itu. (Tidaklah mungkin baginya untuk mencapai batas pertanyaan itu karena ia menanyakan pendamping Nibbàna, sedangkan Nibbàna itu unik dan tidak memiliki pendamping.) Sesungguhnya, teman Visàkaha, praktik mulia kesucian terdiri dari Tiga Latihan yang mengarah menuju Nibbàna, memiliki tujuan tertinggi Nibbàna, dan berakhir pada Nibbàna. Teman Visàkha, engkau boleh menghadap Bhagavà dan meminta Beliau untuk menjelaskan hal ini. Dan ingatlah penjelasan Bhagavà itu."

Kemudian Visàkha menghadap Buddha dan menceritakan kepada Beliau semua yang telah dikatakan antara dirinya dengan Theri Dhammadinnà. Ketika Buddha mendengar seluruh pertanyaan dan jawaban yang terjadi antara Visàkha dan Dhammadinnà, Beliau berkata, "Bhikkhuni Dhammadinnà telah bebas dari segala bentuk kemelekatan baik terhadap kelompok-kelompok khandhà masa lampau, masa depan, atau masa sekarang."

Kemudian Buddha mengucapkan syair berikut:
"(Visàkha,) ia yang tidak melekat pada kelompok-kelompok kehidupan pada masa lampau, masa depan atau masa sekarang, telah bebas dari noda-noda moral dan dari kemelekatan, ia Kusebut bràhmana (yaitu, Arahanta)." (Dhammapada, Syair ke-421)

Pada akhir khotbah tersebut banyak pendengar yang mencapai Pencerahan dan Buahnya dalam berbagai tingkat.

Kemudian Buddha memuji Dhammadinnà dan berkata, "Visàkha, umat awam, Bhikkhuni Dhammadinnà seorang bijaksana, Bhikkhuni Dhammadinnà memiliki pengetahuan luas. Visàkha, engkau meminta jawaban dari-Ku atas pertanyaan-pertanyaan itu, Aku juga akan menjawabnya dengan cara yang sama seperti jawaban Bhikkhuni Dhammadinnà. Inilah jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu. Ingatlah jawaban yang diberikan oleh Dhammadinnà." (Peristiwa ini melatarbelakangi Dhammadinnà dinyatakan sebagai bhikkhuni terbaik dalam menjelaskan Dhamma.)

(Harus dimengerti bahwa khotbah yang dibabarkan oleh Dhammadinnà, ketika ditegaskan kembali oleh Buddha dalam kata-kata yang lebih jelas, menjadi khotbah Buddha sendiri. Seperti halnya pesan (yang ditulis oleh juru tulis) yang disahkan dan disegel dengan cap kerajaan, menjadi pesan raja. Khotbah-khotbah lainnya yang dibabarkan oleh para siswa lainnya yang telah disahkan oleh Buddha juga dianggap sebagai khotbah Buddha.)

Dhammadinnà, Menjadi bhikkhuni terbaik
Pada kemudian hari ketika Buddha berada di Vihàra Jetavana di Sàvatthi, dan menganugerahkan gelar bhikkhuni terbaik, Beliau menyatakan: "Para bhikkhu, di antara para bhikkhuni siswa-Ku yang terampil dalam membabarkan Dhamma, Bhikkhuni Dhammadinnà adalah yang terbaik."

Demikianlah kisah Theri Dhammadinnà.

[Di ubah seperlunya dari sumber asli: Riwayat Agung Para Buddha 3, Bab 50 Riwayat Para Bhikkhuni Arahanta, (5) Theri Dhammadinnà, hal. 2898–2907 dan di sini]

Senin, 28 Maret 2011

Betapa Marahnya AMITABHA BUDDHA...

DISCLAIMER:
Seluruh tulisan dalam blog ini adalah opini tandingan (counter-opinion), disusun berdasarkan metodologi studi kritis terhadap teks, sejarah, dan sains. Penulis menggunakan referensi primer dari berbagai literatur otoritatif untuk memberikan perspektif alternatif bagi pembaca. Gaya bahasa yang digunakan bersifat provokatif-intelektual guna memicu pemikiran kritis. Tidak ada maksud untuk melakukan penghinaan personal terhadap individu atau kelompok tertentu, melainkan murni bedah kritis terhadap gagasan dan doktrin. Untuk pembaca yang bermasalah secara emosional dan/atau nalar dalam membedakan antara MELECEHKAN VS MENYAMPAIKAN SESUAI RUJUKAN, maka SANGAT DISARANKAN untuk TIDAK MEMBACA. Untuk jenis pembaca lainnya, selamat membaca.

Tersebutlah seorang wanita yang berlatih mengagungkan lafal AMITABHA BUDDHA, Ia adalah seorang yg sangat rajin dan ulet dalam melafalkan "NAMO AMITABHA BUDDHA" dan dilakukannya sebanyak 3 x sehari.

Walaupun telah melakukan praktek ini selama 10 tahunan namun Ia masih suka berteriak dan memarahi orang lain sepanjang waktunya. Ia mulai berlatih dengan menghidupkan dupa harum dan membunyikan lonceng kecil.

Rekan lelakinya tahu akan hal ini dan ingin memberinya pelajaran. Tepat Ketika Ia mulai melakukan latihannya, Sang teman mengedor pintunya dan berseru, "Nona Nguyen, Nona Nguyen!".

Karena saat itu merupakan waktu latihannya, Ia merasa kesal, tetapi Ia berkata dalam hatinya, "Gw mesti berjuang melawan kemarahan Gw, jadi dia akan Gw cuekin aja" Dan ia melanjutkan: "NAMO AMITABHA BUDDHA, NAMO AMITABHA BUDDHA, NAMO AMITABHA BUDDHA,..."

Tetapi temannya terus berteriak memanggil namanya dan malah makin menggila.

Ia pun tetap berjuang melawan itu dan berpikir di hatinya apakah Ia perlu stop atau tidak dulu utk memberi tahu lelaki tersebut tentang apa yg dipikirannya, namun ia terus melafalkan, "NAMO AMITABHA BUDDHA, NAMO AMITABHA BUDDHA, NAMO AMITABHA BUDDHA..."

Lelaki di luar itu mendengarnya dan melanjutkan, "Nona Nguyen, Nona Nguyen..!".

Akhirnya Ia sudah tak tahan lagi, melompat, membanting pintu dan menuju pintu gerbang, berteriak, "Mengapa Lo mesti berbuat seperti ini? Lo kan tau, gw lagi zikir dan lo masih aja memanggil2 gw berulang-ulang!"

Lelaki itu tersenyum dan berkata, "Gw hanya manggil lo selama 10 MENITAN aja lo udah begitu marahnya. Sementara Lo, nyebut-nyebut Nama BUDDHA AMITABHA selama 10 TAHUNAN LEBIH..Coba Lo bayangkan betapa marahnya BELIAU sekarang!"

*) Terjemahan bebas dari Buku "Being Peace", Bag 4: Heart of Practice, karya Thitch Nhat Hahn, Hal 56-58.

Rabu, 16 Maret 2011

TNI..Masihkah kalian Netral?

DISCLAIMER:
Seluruh tulisan dalam blog ini adalah opini tandingan (counter-opinion), disusun berdasarkan metodologi studi kritis terhadap teks, sejarah, dan sains. Penulis menggunakan referensi primer dari berbagai literatur otoritatif untuk memberikan perspektif alternatif bagi pembaca. Gaya bahasa yang digunakan bersifat provokatif-intelektual guna memicu pemikiran kritis. Tidak ada maksud untuk melakukan penghinaan personal terhadap individu atau kelompok tertentu, melainkan murni bedah kritis terhadap gagasan dan doktrin. Untuk pembaca yang bermasalah secara emosional dan/atau nalar dalam membedakan antara MELECEHKAN VS MENYAMPAIKAN SESUAI RUJUKAN, maka SANGAT DISARANKAN untuk TIDAK MEMBACA. Untuk jenis pembaca lainnya, selamat membaca.

Mari kita simak cuplikan beberapa kutipan di bawah ini:
  • "Dengan dalih menjaga keamanan, TNI mendata dan menekan warga Ahmadiyah untuk beribadah di luar masjid mereka. Sementara Panglima Kodam III Siliwangi Moeldoko mengajak umat non Ahmadiyah untuk meduduki tempat ibadah milik Jemaat Ahmadiyah" [Sumber]

  • "Di Sadarsari, Majalengka, & Sukabumi, koramil meminta data keluarga & memaksa utk menghadiri penyuluhan & ikrar pertobatan..Tim menemukan sekitar 56 kasus intimidasi TNI thd anggota Ahmadiyah di Jabar & Lampung...Choirul Anam: TNI bersama kepolisian & aparatur negara jg memaksa utk menguasai masjid dgn menjadi imam salat Jumat..Tim menilai tindakan TNI melanggar UU No 34/2004 tentang TNI" [Sumber]

  • "di Jawa Barat ada SK Pembubaran Ahmadiyah. Kemudian di situ dikerahkan prajurit untuk mendatangi ke kampung mendata orang-orang Ahmadiyah dan itu menimbulkan ketakutan. Mereka lalu masuk menguasai masjid, lalu mengumpulkan orang-orang Ahmadiyah dan diperintahkan pertobatan..Operasi terencana yang diperintahkan langsung oleh Pangdam berdasarkan SK itu karena itu SK Gubernur dan perintah panglima..Hasanuddin juga membenarkan bahwa di daerahnya, Majalengka, hal itu benar-benar terjadi. Para prajurit berseragam mendatangi kampung-kampung dan menimbulkan keresahan dengan mengumpulkan jemaah Ahmadiyah dan memerintahkan mereka untuk bertobat dan mengganti iman mereka" [Sumber]

  • "Kita merindukan hubungan dan kerja sama yang lebih baik antara ulama dengan TNI, khususnya TNI AD. Apalagi, dalam kepengurusan MUI Pusat dan MUI Sumut pernah masuk di dalamnya anggota TNI" [Sumber]
Empat berita di atas menimbulkan pertanyaan bagi saya:
    Kenapa TNI ikutan?
    Apakah ini berhubungan dengan pembentukan MUI di jaman Soeharto dulu dimana TNI juga dilibatkan dalam MUI?
    Masihkah ada anggota TNI di kepengurusan MUI?
Pengurus MUI saat ini lihat di sini, 1 orang penasehat berpangkat terakhir LETJEN [Purn]..sayang saya ngga tau yang lainnya.

Sejarah MUI emang menunjukan pembentukan MUI pesertanya juga termasuk dari perwakilan ABRI:
    Saat pembentukan MUI pertama kalinya di tahun 1970, Hamka tidak setuju pelibatan sarjana sekuler dalam ijtihad kolektif! namun malah mengusulkan pada Presiden Soehario agar memilih seorang Mufti yang dapat memberikan nasihat kepada pemerintah dan umat Islam di Indonesia

    ...namun tidak jadi terwujud

    Pada tanggal 24 Mei 1974, lagi-lagi Soeharto menegaskan pentingnya sebuah majelis setelah menerima kunjungan dari Utusan Dewan Masjid Indonesia, tak lama berselang Menteri Dalam Negeri Letnan Jendral Amir Machmud menginstruksikan agar semua gubernur mulai mendirikan Majelis ulama di daerahnya masing-masing.

    Maka digelarlah sebuah konferensi Ulama nasional pada tanggal 21 s/d 27 Juli 1975. Pesertanya terdiri dari wakil majelis ulama daerah yang baru berdiri, pengurus pusat organisasi Islam, sejumlah ulama Independen dan serta wakil dari angkatan bersenjata Republik Indonesia (ABRI kini TNI), Dari pertemuan itu lahirlah sebuah deklarasi, limapuluh tiga orang peserta menandatanganinya, walhasil konferensi tersebut diakhiri dengan pengumuman berdirinya perkumpulan para ulama dengan sebutan MUI.

    Sayangnya tidak semua segmen masyarakat muslim setuju dengan perkumpulan ini, pada saat inagurasi MUI, ada protes dari sejumlah tokoh. Mereka yang tidak setuju umumnya khawatir akan terjadinya politisasi dalam tubuh MUI. MUI hanya menguntungkan salah satu kelompok dan merugikan kelompok lain, kata sebagian dari mereka. Sebagian yang lain bahkan lebih jauh menyebut MUI hanya menjadi alat negara.

    Jelas sekali bahkan MUI saja BUKAN merupakan pengejawantahan dari UIL AMRI yang dimasud di AQ 4:59 "ulil amri di antara kamu"!..

    karena TERBUKTI ada PROTES yang merasa tidak terwakilkan bahkan di awal PENDIRIANNYA!

    Terakhir,
    Saya kutipkan bagaimana MENSIKAPI tentang FATWA yang PENDAPAT ini JUSTRU BERASAL dari orang MUI kalangan AWAL sendiri:

      KH.Totoh Abdul Fatah (Ketua MUI Jawa Barat tahun 1998) mengatakan bahwa Fatwa MUI wajib diikuti. Ulama-ulama MUI adalah ulama senior yang memiliki Otoritas keagamaan, menurutnya semua umat Islam Indonesia harus mengikuti fatwa MUI.

      Berbeda dengan KH.Totoh Abdul Fatah, Ibrahim Hosen (yang saat ini menjabat ketua komisi Fatwa), meyakini bahwa tidak ada kewajiban untuk mengikuti mazhab hukum Islam atau Fatwa tertentu baik dari seorang Ulama maupun kelompok, masyarakat Islam bebas untuk mengambil Fatwa yang sesuai dengan mereka. Berdasarkan prinsip Al Maslahah al'Ammaah, Ibraim Hosen berpendirian bahwa setiap muslim memiliki hak untuk memilih dan menentukan fatwa mana yang terbaik. Sebab dengan begitu akan memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat muslim.

    Oleh sebab itu masalahnya bukanlah pada senioritas dalam otoritas agama melainkan hak individu dan kemanfaatan bagi masyarakat. Kini Masyarakat Muslim sudah dihadapkan pada pasar bebas hukum Islam (Free Market of Islamic Jurisprudence), Tak dapat dipungkiri dan dinafikan Seratus Persen Hak untuk memilih dan menentukan ada pada Mereka.

    [Kutipan di atas berasal dari sini]
Juga simak kisah tentang Yayasan amal bakti pancasila dalam petikan buku Lengser Keprabon, di mana sangat erat terlihat hubungan ABRI dan MUI.

Beberapa note PENTING:
    Masykuri Abdillah, Demokrasi di Persimpangan Makna, hlm. 47; bnd. Alwi Shihab, Membendung Arus, hlm. 181-2 dan hlm. 264, yang al mencatat pernyataan Hasan Basri, Ketua Umum MUI sekitar tahun 1990:

    "MUI (juga) berfungsi sebagai penjaga gawang untuk menjamin agar tidak ada undang-undang di negara ini yang bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam"
Tentang TNI berikut saya sampaikan:

Petikan sapta marga:
    Kami Patriot Indonesia, pendukung serta pembela Ideologi Negara yang bertanggung jawab dan tidak mengenal menyerah.
    Kami Kesatria Indonesia, yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta membela kejujuran, kebenaran dan keadilan.
Petikan jati diri TNI:
  1. Tentara Nasional, yaitu tentara kebangsaan Indonesia yang bertugas demi kepentingan negara di atas kepentingan daerah, suku, ras, dan golongan agama; dan
  2. Tentara Profesional, yaitu tentara yang terlatih, terdidik, diperlengkapi secara baik, tidak berpolitik praktis, tidak berbisnis, dan dijamin kesejahteraannya, serta mengikuti kebijakan politik negara yang menganut prinsip demokrasi, supremasi sipil, hak asasi manusia, ketentuan hukum nasional, dan hukum internasional yang telah diratifikasi.
Petikan sumpah prajurit:
    Bahwa saya akan setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
TNI..Masihkah kalian Netral?

Jumat, 04 Maret 2011

Catatan Akhir Tentang Ke-Islam-an Ahmadiyah Dan Sisanya Biarkan Takdir Yang Meneruskan..

DISCLAIMER:
Seluruh tulisan dalam blog ini adalah opini tandingan (counter-opinion), disusun berdasarkan metodologi studi kritis terhadap teks, sejarah, dan sains. Penulis menggunakan referensi primer dari berbagai literatur otoritatif untuk memberikan perspektif alternatif bagi pembaca. Gaya bahasa yang digunakan bersifat provokatif-intelektual guna memicu pemikiran kritis. Tidak ada maksud untuk melakukan penghinaan personal terhadap individu atau kelompok tertentu, melainkan murni bedah kritis terhadap gagasan dan doktrin. Untuk pembaca yang bermasalah secara emosional dan/atau nalar dalam membedakan antara MELECEHKAN VS MENYAMPAIKAN SESUAI RUJUKAN, maka SANGAT DISARANKAN untuk TIDAK MEMBACA. Untuk jenis pembaca lainnya, selamat membaca.

Tulisan ini adalah finalisasi dari keprihatinan pada penyelesaian dengan kekerasan dan fitnah yang melanda Ahmadiyah [lihat di sini]

Kenapa saya juga merasa BERHAK menulis tentang AHMADIYAH walaupun bukan seorang MUSLIM?
    Karena saya juga MEMBAYAR PAJAK!

    Sebagai non muslim saya jelas terganggu karena TOH uang pajak yang saya bayarkan dimakan oleh mereka yang pemerintahan dan di kementrian agama, diberbagai instansi termasuk digunakan untuk membangun MESJID, MUSHALA dilingkungan mereka dan juga menjadi fasilitas umum [listrik, air, jalan, dll] yang dipakai oleh mereka yang bersimaharajalela dan para korban.

    Jadi, jelas saya sama berhaknya menuntut ketenangan dan kedamaian yang sama, bukan?!
Untuk itu, berikut dibawah ini merupakan catatan akhir saya tentang aliran Islam Ahmadiyah, dimulai dengan ulasan ada/tidak NABI PENUTUP atau cuma nabi TANPA SYARIAH dan di akhiri dengan kompatibilitasnya terhadap rukun iman di Islam.

Paham ada/tidak nabi terakhir ya tergantung MAU MEGANG tafsir apa dari "Khatam al nabiyin" surah AQ 33:40 yang turun sehubungan gonjang gajing pernikahan Nabi dengan zainab [ex istri anak angkat Nabi, Zaid]

Argument hadis bagi mereka yang sepakat dengan arti KHATAM = PENUTUP, salah satunya dapat lihat di sini dan bagi mereka yang TIDAK SEPAKAT, saya mencoba menuliskannya dari yang saya mengerti:

Kurang lebih SETAHUN SETELAH turunnya AQ 33:40,
Nabi menggauli Maria Qibtiyah [seorang budak yang diberikan sebagai hadiah oleh penguasa Mesir, sepulangnya Hatib Abi Balta’ah dari al-Muqawqis, lihat di Sahih Bukhari 3.43.648; Muslim 2.3507; Tabari(VIII:100; IX:137, IX:147; Vol.8 p.66,131; Vol.39, p.194), Kitab al-Tabaqat al-Kabir", Hal 151; Martin Lings, Hal.439 – 440]. Dari Budak ini lahirlah seorang anak bernama Ibrahim. Ibrahim ternyata tidak berumur panjang dan wafat 18 BULAN KEMUDIAN [riwayat aisha, hadis muslim 20.3181]

Jadi selisih waktu antara turunya AQ 33:40 dan Wafatnya IBRAHIM adalah 3.5 tahunan.

Berkenaan dengan wafatnya Ibrahim terekam ucapan sebagai berikut:
    Narrated Isma'il:
    I asked Abi Aufa, "Did you see Ibrahim, the son of the Prophet ?" He said, "Yes, but he died in his early childhood. Had there been a Prophet after Muhammad then his son would have lived, but there is no Prophet after him." [Hadis Bukhari 8.73.214]

    Juga dari riwayat Ibnu Abbas:
    "Ketika Ibrahim ibnu Rasulullah s.a.w. wafat, beliau menyembahyangkan jenazahnya dan berkata, "Sesungguhnya di sorga ada yang menyusukannya, dan kalau usianya panjang, ia akan menjadi nabi yang benar." [Sunan Ibnu Majah, Abu Abdillah Alqazwaini, Darul Fikr, jld. II, hlm. 484, Hadits no. 1511].
Pertanyaannya:
Kenapa 3.5 tahunan setelah kejadian turunnya AQ 33.40, Isma'il dan Abi Aufa, SEBAGAI ORANG ARAB TOTOK, tidak tau bahwa kata "khatam" HARUS hanya berarti PENUTUP? dan malah masih menganggap akan ada nabi berikutnya [dalam konteks ini adalah ibrahmim]?

Imam mazhab Hanafi, yaitu Mulla Ali al-Qari menjelaskan:
    "Jika Ibrahim hidup dan menjadi Nabi, demikian pula Umar menjadi Nabi, maka mereka merupakan pengikut atau ummati Rasulullah s.a.w.. Seperti halnya Isa, Khidir, dan Ilyas 'alaihimus salaam. Hal itu tidak bertentangan dengan ayat Khaataman-Nabiyyiin. Sebab, ayat itu hanya berarti bahwa sekarang, sesudah Rasulullah s.a.w. tidak dapat lagi datang Nabi lain yang membatalkan Syari'at beliau s.a.w. dan bukan ummati beliau s.a.w." (Maudhu'aat Kabiir, hlm. 69).
Kemudian pada penggunaan kata "servant of Allah":
    When Ali said to Anas: "Why don't you stand up and testify what you heard from the Messenger of Allah on the day of Ghadir?" He answered, "O Amir al-Mumineen! I have grown old and do not remember." Thereupon Ali said: "May Allah mark you with a white spot (of leprosy; Alphosis) unconcealable with your turban, if you are intentionally withholding the truth." And before Anas got up from his place he bore a large white spot on his face, Thereafter Anas used to say, "I am under the curse of the righteous servant of Allah."

    Sunni references:

    1. al-Ma'arif, by Ibn Qutaybah, p14, in the account of Anas among disabled persons.
    2. Musnad Ahmad Ibn Hanbal, v1, p199, where he testifies to the above anecdote, as he says : "All stood up except three persons who came under the curse of Ali."
    3. Hilyatul Awliya', by Abu Nu'aym, v5, p27
Yang menarik dari peristiwa itu adalah...Hadis Muslim hanya mengambil riwayat dari Sa'd b. Abi Waqqas, yang hanya merupakan 1 (satu) diantara ratusan ribu orang yang menyaksikan peristiwa di Ghadir [ada yang menyatakan jumlah yang hadir saat itu adalah 120000], yang mengaku mengutip ucapan nabi spt ini,
    "You are in the same position with relation to me as Aaron- (Harun) was in relation to Moses but with (this explicit difference) that there is no prophet after me."
Ya, hanya sa'd dari 120000 orang yang di record muslim!.....dan 3 reference di atas mengungkapkan kesaktian ucapan dari "SERVANT of ALLAH!"

Kemudian,
Anda bisa lihat bagaimana AISAH sendiri BERKEBERATAN bila MUHAMMAD dinyatakan sebagai NABI PENUTUP:
    Aisyah mengatakan,
    "Katakanlah bahwa beliau (Rasulullah s.a.w.) adalah Khataman Nabiyyin, tetapi janganlah mengatakan tidak akan ada nabi lagi sesudah beliau" (Durr Mantsur oleh Hafizh Jalal-ud-Din ‘Abdur Rahman Sayuth dan situs ini).

    "Katakanlah, sesungguhnya ia [Muhammad] adalah khaatamul-anbiya', tetapi jangan sekali-kali kamu mengatakan laa nabiyya ba'dahu (tidak ada Nabi sesudahnya)" (Durrun Mantsur, jld. V, hlm. 204; Takmilah Majmaul Bihar, hlm. 5)
Kemudian,
berikut di bawah ini anda akan temukan 40 sample lebih kata "khatam" yang TIDAK BERARTI PENUTUP:
    Return-Path:
    Date: Mon, 12 Feb 2001 14:15:16 +0100
    From: "Ch. Muzafar Ah. Shiraz"
    X-Accept-Language: de,en
    Subject: KHatam, SEAL OR LAST?

    1. KHATAM-USH-SHU' ARAA (seal of poets) was used for the poet Abu Tamam. (Wafiyatul A'yan, vol. 1, p. 123, Cairo)
    2. KHATAM-USH-SHU' ARAA again, used for Abul Tayyeb. (Muqaddama Deewanul Mutanabbi, Egyptian p. 4)
    3. KHATAM-USH-SHU' ARAA again, used for Abul 'Ala Alme'ry. (ibid, p.4, footnote)
    4. KHATAM-USH-SHU' ARAA used for Shaikh Ali Huzain in India. (Hayati Sa'di, p. 117)
    5. KHATAM-USH-SHU' ARAA used for Habeeb Shairaazi in Iran. (Hayati Sa'di, p. 87) Note here that all five people have been given the above title. How could it be interpreted as "last". They did not come and go at the exact same time.
    6. KHATAM-AL-AULIYAA (seal of saints) for Hazrat Ali (May God be pleased with him). (Tafsir Safi, Chapter AlAhzab) Can no other person now attain wilaayat, if "seal" meant last?
    7. KHATAM-AL-AULIYAA used for Imam Shaf'ee. (Al Tuhfatus Sunniyya, p. 45)
    8. KHATAM-AL-AULIYAA used for Shaikh Ibnul 'Arabee. (Fatoohati Makkiyyah, on title page)
    9. KHATAM-AL-KARAAM (seal of remedies) used for camphor. (Sharah Deewanul Mutanabbee, p. 304) Has no medicine been found or used after camphor, if "seal" means "last"?
    10. KHATAM-AL-A' IMMAH (seal of religious leaders) used for Imam Muhammad 'Abdah of Egypt. (Tafseer Alfatehah, p. 148) Don't we have leaders today?
    11. KHATAM-ATUL- MUJAHIDEEN (seal of crusaders) for AlSayyad Ahmad Sanosi. (Akhbar AlJami'atul Islamiyyah, Palestine, 27 Muharram, 1352 A.H.)
    12. KHATAM-ATUL- ULAMAA-ALMUHAQQI QEEN (seal of research scholars) used for Ahmad Bin Idrees. (Al'Aqadun Nafees)
    13. KHATAM-ATUL- MUHAQQIQEEN (seal of researchers) for Abul Fazl Aloosi. (on the title page of the Commentary Roohul Ma'aanee)
    14. KHATAM-AL-MUHAQQIQE EN used for Shaikh AlAzhar Saleem Al Bashree. (Al Haraab, p. 372)
    15. KHATAM-ATUL- MUHAQQIQEEN used for Imam Siyotee. (Title page of Tafseerul Taqaan)
    16. KHATAM-AL-MUHADDITH EEN (seal of narrators) for Hazrat Shah Waliyyullah of Delhi. ('Ijaalah Naafi'ah, vol. 1)
    17. KHATAMAT-AL- HUFFAAZ (seal of custodians) for AlShaikh Shamsuddin. (AlTajreedul Sareeh Muqaddimah, p. 4) A "hafiz" is one who has memorised the full arabic text of the Holy Quran. Two of my cousins happen to belong to this category and more people will memorize it.
    18. KHATAM-AL-AULIA (seal of saints) used for the greatest saint. (Tazkiratul Auliyaa', p. 422)
    19. KHATAM-AL-AULIA used for a saint who completes stages of progress. (Fatoohul Ghaib, p. 43)
    20. KHATAM-ATUL- FUQAHAA (seal of jurists) used for Al Shaikh Najeet. (Akhbaar Siraatal Mustaqeem Yaafaa, 27 Rajab, 1354 A.H.)
    21. KHATAM-AL-MUFASSIRE EN (seal of commentators or exegetes) for Shaikh Rasheed Raza. (Al Jaami'atul Islamia, 9 Jamadiy thaani, 1354 A.H.)
    22. KHATAM-ATUL- FUQAHAA used for Shaikh Abdul Haque. (Tafseerul Akleel, title page)
    23. KHATAM-ATUL- MUHAQQIQEEN (seal of researchers) for Al Shaikh Muhammad Najeet. (Al Islam Asr Shi'baan, 1354 A.H.)
    24. KHATAM-AL-WALAAYAT (seal of sainthood) for best saint. (Muqaddimah Ibne Khuldoon, p. 271)
    25. KHATAM-AL-MUHADDITH EEN WAL MUFASSIREEN (seal of narrators and commentators) used for Shah 'Abdul 'Azeez. (Hadiyyatul Shi'ah, p. 4)
    26. KHATAM-AL-MAKHLOOQA AT AL-JISMAANIYYAH (seal of bodily creatures) used for the human being. (Tafseer Kabeer, vol. 2, p. 22, published in Egypt)
    27. KHATAM-ATUL- HUFFAAZ used for Shaikh Muhammad Abdullah. (Al Rasaail Naadirah, p. 30)
    28. KHATAM-ATUL- MUHAQQIQEEN used for Allaama Sa'duddeen Taftaazaani. (Shara' Hadeethul Arba'een, p. 1)
    29. KHATAM-ATUL- HUFFAAZ used for Ibn Hajrul 'Asqalaani. (Tabqaatul Madlaseen, title page)
    30. KHATAM-AL-MUFASSIRE EN (seal of commentators) used for Maulvi Muhammad Qaasim. (Israare Quraani, title page)
    31. KHATAM-AL-MUHADDITH EEN (seal of narrators) used for Imam Siyotee. (Hadiyyatul Shee'ah, p. 210)
    32. KHATAM-AL-HUKKAAM (seal of rulers) used for kings. (Hujjatul Islam, p. 35)
    33. KHATAM-AL-KAAMILEEN (seal of the perfect) used for the Holy Prophet (pbuh). (Hujjatul Islam, p. 35)
    34. KHATAM-AL-MARAATAB (seal of statuses) for status of humanity. ('Ilmul Kitaab, p. 140) We have the "highest, not "last" status.
    35. KHATAM-AL-KAMAALAAT (seal of miracles) for the Holy Prophet (pbuh). (ibid, p. 140)
    36. KHATAM-AL-ASFIYAA AL A'IMMAH (seal of mystics of the nation) for Jesus (peace be on him). (Baqiyyatul Mutaqaddimeen, p. 184)
    37. KHATAM-AL-AUSIYAA (seal of advisers) for Hazrat Ali (R.A.A.). (Minar Al Hudaa, p. 106)
    38. KHATAM-AL-MU' ALLIMEEN (seal of teachers/scholars) used for the Holy Prophet(pbuh) . (Alsiraatul Sawee by Allama Muhammad Sabtain Now, I am a teacher myself, and you know that I still exist, AFTER the Holy Prophet (pbuh), but I am nowhere close to being able to teach as PERFECTLY as he could or did. How then could he be "last" of teacher Seal means "best" here and not "last".
    39. KHATAM-AL-MUHADDITH EEN (seal of narrators) for Al Shaikhul Sadooq. (Kitaab Man Laa Yahdarahul Faqeeh)
    40. KHATAM-AL-MUHADDITH EEN used for Maulvi Anwar Shah of Kashmir. (Kitaab Raeesul Ahrar, p. 99)

Tentunya akan ada yang bertanya, "Koq ngga ada satupun contoh dari si GHULAM AHMAD yang juga menyatakan Khatam itu BUKAN berarti Penutup?"

Ya tentu saja tidak ada..karena ini adalah contoh-contoh kata "KHATAM" yang TIDAK MENDUKUNG bahwa KHATAM harus berarti PENUTUP!..artinya adalah Arti Khatam bukan cuma 1 (satu) saja, Bukan?!

Trus bagaimana PENDAPAT GHULAM AHMAD, apakah Muhammad itu Nabi penutup/tidak?

Salah satu pandangan bahwa MGA mengaku nabi, saya ambil dari tulisan Qosim Nursheha Dzulhadi ketika menanggapi Saiful Munjani di 12 hari kemudian, dengan tulisan seperti di bawah ini:
    Mereka (Ahmadiyah) mengaku-ngaku sebagai “Muslim”, tapi keyakinannya menyimpang jauh dari ajaran Islam, khususnya dalam masalah “kenabian” (al-nubuwwah). Di mana pada tahun 1902, Mirza Ghulam Ahmad (1835-1908) mengklaim dirinya sebagai nabi, dalam satu tulisannya, Tuhafat al-Nadwah, yang ditujukan kepada anggota komunitas Ulama di Lucknow, India.

    Selain dalam Tuhfat al-Nadwah, Mirza Ghulam Ahmad juga mengklaim dirinya disebut sebagai seorang “nabi” oleh Allah. Dia menyatakan, “Allah menyebutku sebagai seorang ‘nabi’ di bawah sinaran kenabian Muhammad (fayadh al-nubuwwah al-Muhammadiyyah). Dan Allah memberikan wahyu kepadaku. Maka, kenabianku adalah kenabiannya.” (Lihat, Mirza Ghulam Ahmad, al-Istitfta’ (Rabwah-Pakistan: Mathba’ah al-Nashrat, 1378 H), hlm. 16-17).
SEMENTARA ITU,
Ada record bahwa MGA tidak mengaku sebagai nabi, setidaknya 1 tahun sebelum wafatnya beliau di tahun 1907:
    "Suatu kebodohan yang lainnya adalah bahwa, untuk menghasut orang-orang yang bodoh mereka menyatakan bahwa saya mendakwakan diri sebagai Nabi. Ini adalah rekayasa yang sempurna dari pihak mereka." (Haqiqatul-Wahy,1907,halaman390).

    Dengan menyatakan 'Tidak ada nabi sesudahku ', Nabi Suci menutup pintu secara mutlak kepada sebarang nabi baru atau datang kembalinya sebarang nabi lama. (Ayyam as-Sulh, hal. 152, Ruhani Khaza'in, jilid 14, bal. 400).

    "Salah satu keberatan dari mereka yang mengatakan saya kafir adalah mereka berkata: Orang ini menyatakan diri kepada kenabian dan berkata saya adalah salah satu dari nabi-nabi.”

    “Jawabannya adalah bahwa kalian harus tahu, wahai, saudara, bahwa saya tidak mendakwakan diri kepada kenabian, ataupun saya telah berkata kepada mereka bahwa saya adalah seorang nabi. Tetapi mereka gegabah (terburu-buru) dan membuat suatu kesalahan dalam memahami kata-kata saya. … Itu tidak pantas bagi saya bahwa saya akan menyatakan diri kepada kenabian dan meninggalkan Islam dan menjadi seorang yang tak beriman… Bagaimana saya dapat menyatakan diri kepada kenabian sedangkan saya seorang Muslim?" (Hamamat al-Bushra, hal. 79, Ruhani Khaza'in, jilid 7, hal. 296-297).

    "Biarlah menjadi Jelas bagi mereka bahwa saya mengutuk orang yang mendakwakan diri kepada kenabian. Saya pegang bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Utusan-Nya, dan saya percaya pada selesainya (berakhirnya) kenabian pada Nabi Suci. Jadi, karena tidak ada pendakwaan kenabian dari pihak saya, hanya pada wali dan mujaddid..." (Majmu'a Ishtiharat, edisi lama, Jilid iii, hal. 224. edisi 1986, jilid 2, hal. 297-298).

    "Kujelaskan kepadanya [seorang penentang Maulvi] bahwa aku juga mengutuk orang yang mengaku sebagai nabi... yang diterima oleh para wali di bawah bayangan kenabian Nabi Suci Muhammad, karena ketaatan mereka yang sempurna kepadanya adalah wahy wilayat, bukan wahy nubuwwat. Terhadap inilah kami percaya.... Jadi, aku tidaklah mengaku sebagai nabi. Pengakuanku hanyalah atas wilayat [kewalian] dan kemujaddidiyya [sebagai seorang Mujaddid]." (Majmu'a Ishtiharat, vol. ii, hal. 297-298, Januari 1897).

    [Untuk lebih lanjutnya silakan baca di sini dan di sini]

Tentang apakah MUBHALA pernah dilakukan/tidak dengan TSANAULAH?

Silakan baca catatan saya di sini dan anda akan temukan jawabannya bahwa ternyata mubahala tersebut TIDAK PERNAH dilakukan dan bahkan di tulisan itu anda juga akan temukan bukti telak bahwa bahkan para ULAMA yang menuduh Ghulam Ahmad Kafirpun selama 12 tahun lebih hingga wafatnya Ghulam Ahmad, TIDAK PERNAH BERNYALI untuk mempertanggungjawabkan TUDUHAN KAFIR itu dihadapan ALLAH mereka sendiri dengan BERMUBAHALA

Tentang Klaim bahwa Tsanaullah yang bahkan hidup lama

Lha emang dia sendiri mengatakan PENDUSTA akan hidup lama ketika ia bersikeras menolak untuk melakukan MUHABALLA. Tsanaullah mengambil contoh MUSAILLAMAH vs MUHAMMAD. Di link catatan saya di atas, terdapat recordnya yaitu pada tanggal 26 April 1907, Ahli Hadis hal.5-6, TSANAULLAH menulis:
    “Tuan tidak minta izin terlebih dahulu kepada saya untuk menuliskan doa itu. Oleh sebab itu saya tidak mau menerima doa itu. Saya melawan tuan. Tetapi kalau saya mati apa faedahnya untuk orang lain? Rasul yang datang dari Allah senantiasa mau supaya orang lain jangan binasa. Apa sebab tuan mendoa untuk membinasakan saya? Allah SWT akan memberi umur panjang kepada orang dusta. Orang yang mufsid dan orang penipu dan orang yang melawan hukum Allah, supaya ia leluasa untuk berbuat jahat. Oleh sebab itu saya tidak mau menerima tulisan tuan itu, dan tidak bisa diterima oleh seorang yang berakal”
Tentang Tazkirah benarkah ini merupakan KITAB SUCI para AHMADIYA?

Di zaman Ghulam Ahmad masih hidup, beliau menulis catatan-catatan tentang kasyaf, ilham, wahyu dan mimpi-mimpi yang beliau akui berasal dari Allah Ta’ala dan di catat dibanyak buku, selebaran atau majalah-majalah.

27 tahun setelah wafatnya Ghulam Ahmad (jadi Ghulam Ahmad sendiri tidak mengetahui hal ini), yaitu di tahun 1935, catatan-catatan itu dikumpulkan, dihimpun, dan diberi nama ‘Tadzkirah’. Sebelum tahun 1935, Saat Ahmadiyah telah berdiri di dunia selama 46 tahun, kumpulan catatan itu belumlah mempunyai nama. Baru sejak di cetak untuk pertama kalinya di tahun 1953, nama Tadzkirah ada.

Karena itu, mengatakan bahwa Tadzkirah adalah kitab sucinya Ahmadiyah adalah perkataan yang sangat janggal dan hujatan palsu yang sangat keji [selanjutnya lihat di sini]

Tentang Syahadat, Shalat dan Adzan dari kaum Ahmadiyah, apakah berbeda?

Karena Ahmadiyah adalah Islam, maka kalimah Syahadat yang dikumandangkan setiap hari dari mesjid-mesjid Ahmadiyah di 189 negara ketika adzan untuk shalat lima waktu, adalah:

Asyhadu allailaaha illallahu Wa asyahadu anna muhamadarrasulullah”.

Demikian juga ketika seseorang baiat ke dalam ahmadiyah,maka ia wajib membaca dua kalimah syahadat tersebut. Dan kalimah syahadat itu adalah harga mati untuk seorang ahmadi muslim yang sejati. Berkenaan dengan Kalimah Syahadat ini, Pendiri Ahmadiyah HMGA a.s. menulis :
    “Inti dari kepercayaan kami adalah: Laa Ilaaha Illallahu, Muhammadur-Rasulullahu (Tak ada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah utusan Allah). Kepercayaan kami inilah yang menjadi pergantungan dalam hidup ini, dan yang padanya dengan rahmat dan karunia Allah, kami berpegang teguh sampai akhir hayat kami. (Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Izalah Auham, 1891: 137)
[terusannya lihat di sini ]

Bagaimana para Ahmadiyah melakukan Shalat 5 (lima) waktunya?
Silakan lihat di sini dan di sini.

Bagaimana bunyi Adzan dan waktu mereka shalat>
Silakan lihat di sini

Jadi, dilihat dari cara ber-SYAHADAT, SHALAT dan AZAN..ternyata SAMA AJA TUH!

Menurut RUKUN IMAN,
Maka kalangan ahmadiyah ternyata kompatible dengan aliran islam manapun :
  1. Beriman kepada ALLAH SWT
  2. Beriman kepada Malaikat-malaikat
  3. Beriman kepada Kitab-kitab [Al Quran]
  4. Beriman kepada Rasul-rasul [Isa, Muhammad SAW sebagai nabi terakhir yang membawa syariah]
  5. Beriman kepada Hari Kiamat
  6. Beriman kepada Qada dan Qadar

    Allah mengetahui apa-apa yang telah terjadi dan yang akan terjadi; menentukan dan menulisnya dalam lauhul mahfudz; dan bahwasanya segala sesuatu yang terjadi, baik maupun buruk, kafir, iman, ta'at, ma'shiyat, itu telah dikehendaki, ditentukan dan diciptakan-Nya ; dan bahwasanya Allah itu mencintai keta'atan dan membenci kemashiyatan, dengan murujuk kalimat ALLAH:

      "Dan kamu tidak bisa berkemauan seperti itu kecuali apabila Allah menghendakinya".(At-Takwir : 81:29)

    Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ketika turun ayat S.81:28, Abu Jahal berkata: "Kalau demikian, kitalah yang menentukan apakah mau lurus atau tidak." Maka Allah menurunkan ayat berikutnya (S.81:29) membantah anggapan itu, dan menegaskan bahwa Allah yang menentukannya. [Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Sulaiman bin Musa. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi Hatim dari Baqiyah bin 'Amr bin Muhammad dari Zaid bin Aslam yang bersumber dari Abi Hurairah. Diriwayatkan pula oleh Ibnul Mundzir dari Sulaiman bin al-Qasim bin Mukhaimarah.]

KESIMPULANNYA
Kompatibiltas Ahmadiyah dari sisi TUHAN, NABI, KITAB, SHALAT, SYAHADAT, AZAN adalah KONGRUEN 100%

...kaum AHMADIYAH tidak bisa dinyatakan BUKAN ISLAM

Dengan kondisi ini siapapun yang benar2 MENCARI KEBENARAN, tidak pernah boleh MENGKAFIRKAN sekelompok orang yang memenuhi rukun iman tsb.

PENUTUP
Sudah saatnya Penyelesaian persoalan Ahmadiyah dilakukan dengan MUBAHALA NASIONAL:
    ULAMA Pelarang AHMADIYAH (+FPI, Ormas Islam lainnya)

    VS

    |ULAMA AHMADIYA
Sehingga biarkan saja para PENTOLAN itu yang saling BERSUMPAH untuk di azab bagi yang dinyatakan keliru oleh Allah mereka sendiri..Sehingga azab dahsyat Allah tersebut dapat turun TEPAT SASARAN tanpa nyasar kemana-mana terutama pada yang tidak bersalah.
    Definisi Mubahala:
    Mubahalah adalah do’a dengan laknat atas yang berdusta di antara dua pihak (Fatwa: Asy-Syabakah Al-Islamiyah juz 8 halaman 85) atau

    Repulika: perang tanding melalui doa dengan membawa anak dan keluarga masing2 dengan tujuan memohon pertolongan Allah SWT agar orang yang berdusta dikutuk Tuhan dalam kehidupannya termasuk keluarganya di dunia dan akhirat.