Monday, September 10, 2007

PUJA TRISANDYA, KRAMANING SEMBAH, dan ME-SAIBAN

Oleh : Bhagawan Dwija

Om Swastyastu,
Menurut Lontar Niti Sastra Puja Trisandya dilaksanakan tiga kali sehari. Penganut Hindu Sekte Siwa Sidanta melakukan pemujaan Matahari (Surya) sebagai refleksi keagungan dan kemahakuasaan Hyang Widhi. Matahari sebagai sumber energi atau sumber kehidupan.

Pemujaan itu dimulai pagi-pagi menyongsong terbitnya matahari (sekitar jam 05.30), siang hari tepat jam 12.00 ketika Bumi berada dalam posisi yang menerima panas Matahari maksimum, dan sore hari ketika matahari menjelang "tenggelam" (sekitar jam 18.30).

Trisandya terdiri dari dua kata yaitu "Tri" artinya tiga, "Sandya" artinya sembahyang. Jadi Trisandya artinya sembahyang tiga kali sehari. Puja Trisandya diucapkan secara lengkap keenam baitnya, karena tiga bait pertama adalah puja-puji kepada Hyang Widhi, dan tiga bait terakhir adalah permohonan ampun dan kepasrahan kepada-Nya.

Bait pertama disebut Mantram Gayatri, dapat digunakan dalam waktu sempit/penting misalnya sebelum berangkat (starter) kendaraan, ketika akan menyeberang sungai, menjelang, dan setelah kelahiran bayi, mendoakan orang sakit agar lekas sembuh, dll.

Setelah mengucapkan Puja Trisandya, sembahyang Kramaning Sembah.

Maturan sehari-hari (pagi setelah masak) disebut me-saiban. Bantennya canang sari berisi semua jenis makanan yang dimasak hari itu.

Tempat-tempat maturan saiban diatur dalam Manawa Dharmasastra Tritiyo Dhyayah sloka ke - 68 :

Panca suna grhasthasya culli pesanyu paskarah, kandani coda kumbhasca badhyate yastu wahayan.

Artinya : Seorang kepala keluarga mempunyai lima macam tempat penyembelihan, yaitu tempat masak, batu pengasah, sapu, lesung dan alunya, tempayan tempat air dengan pemakaian mana ia diikat oleh belenggu dosa.

Maksudnya di lima tempat itu keluarga telah melakukan pembunuhan secara sengaja atau tidak sengaja terhadap mahluk-mahluk hidup yang dapat dilihat mata maupun tidak; karena Hindu mengenal kepercayaan Ahimsa maka pembunuhan itu adalah dosa.

Selanjutnya sloka ke - 69 :

Tasam kramena sarwasam niskrtyastham maharsibhih, panca kirpta mahayajnah pratyaham grhamedhinam
.

Artinya : Untuk menebus dosa yang ditimbulkan oleh pemakaian kelima alat itu para Maha Rsi telah menggariskan untuk para kepala keluarga agar setiap harinya melakukan Panca Yadnya.

Yang dimaksud Panca Yadnya setiap hari adalah mesaiban, selain kelima tempat itu sebagai perwujudan Bhuta Yadnya, juga ke Pelinggih Dewa-Dewi : Padmasari, Kemulan Rong 3, dll. sebagai Dewa Yadnya, Pelinggih Maha Rsi Mpu Kuturan : Manjangan Sluang, Taksu (Linggih Dewi Saraswati), dll. sebagai Rsi Yadnya, Pelinggih Hyang Kompiang sebagai Pitra Yadnya, dan setelah itu barulah segenap keluarga makan sebagai wujud Manusa Yadnya.

Pelinggih seperti : Pengerurah, Jero Gede, Sedahan Karang, dll. adalah pelinggih Bhatara Kala.

Pelinggih di Kamar Suci seperti Dewa Ayu Melanting, Pejenengan, dll. adalah simbol Dewa-Dewi, sedangkan pelangkiran di kamar tidur adalah pelinggih Kanda Pat (saudara di niskala).

Urut-urutan mesaiban, mulai dari pelinggih-pelinggih : Dewa, Rsi, Pitra, Manusa, dan Bhuta.

Mesaiban di masing-masing pelinggih/tempat pembunuhan seperti diuraikan di atas, dan sembahyang boleh dilakukan hanya di depan Piasan.

Mantram ketika maturan boleh dengan sesontengan bagi Walaka, namun bagi Ekajati dan Dwijati, minimal menggunakan Puja Tribhuwana.

Ketika sembahyang konsentrasi pikiran seperti arti kata-kata Puja Trisandya dan Kramaning Sembah sebagai berikut :


PUJA TRISANDYA

OM BUR BUWAH SWAH
Hyang Widhi yang berada di alam bumi, langit, dan sorga

TAT SAWITUR WARENYAM
Itulah Tuhan yang amat mulia

BARGO DEWASYA DIMAHI
Hamba pusatkan perhatian pada sinar-Mu yang cemerlang

DIYOYONAH PRACODAYAT
Semoga memberikan semangat pada pikiran hamba




OM NARAYANA EWEDAM
SARWAM

Semuanya adalah ciptaan-Mu

YAD BUTAM YACO BAWIYAM
Yang telah ada maupun yang akan ada

NISKALANGKO NIRANJANO NIRWIKALPO
Tuhan yang bebas dari noda, kotoran, dan perubahan (kekal abadi)

NIRAKYATAH SUDO
DEWO EKO

Tuhan yang Esa, suci, dan tak tergambarkan

NARAYANA NA DWITIO ASTI KASCIT
Tuhan tiada yang kedua atau yang lain




OM TWAM SIWAH TWAM MAHADEWAH
Engkaulah Siwa yang Pengasih, Mahadewa yang Agung

ISWARAH PARAMESWARAH
Iswara penguasa yang tertinggi

BRAHMA WISNUSCA RUDRASCA
Brahma pencipta, Wisnu pemelihara, Rudra pralina

PURUSAH PARIKIRTITAH
Sebagai jiwa alam semesta




OM PAPOHAM PAPA KARMAHAM
Tuhan, hamba ini papa, perbuatan hamba papa

PAPAATMA PAPASAMBAWAH
Jiwa hamba pun papa

TRAHI MAM PUNDARIKAKSA
Mohon Engkau melindungi hamba

SABAHYA BIANTARA SUCI
Agar hamba menjadi suci lahir batin




OM KSAMASWA MAM MAHADEWA
Tuhan, ampunilah hamba

SARWAPRANI HITANGKARA
Engkau yang membahagiakan semua mahluk

MAM MOCA SARWA PAPEBYAH
Ampunilah semua dosa hamba

PALAYASWA SADA SIWA
Lindungilah hamba, oh Tuhan




OM KSANTAWIYAH KAYIKO DOSAH
Tuhan, ampunilah dosa perbuatan hamba

KSANTAWYO WACIKO MAMA
Ampunilah dosa kata-kata hamba

KSANTAWYO MANASO DOSAH
Ampuni pula dosa pikiran hamba

TAT PRAMADAT KSAMASWA MAM
Semua kelalaian hamba itu, ampunilah

OM SANTI, SANTI, SANTI, OM
Semoga sejahtera, ya Tuhan



KRAMANING SEMBAH

OM ATMA TATTWATMA
SUDA MAM SWAHA
Tuhan, sucikanlah batin hamba


OM ADITISYA PARAMJOTI
Tuhan, bagai sinar surya yang maha hebat
RAKTA TEJA NAMO STUTE
Yang bersinar merah
SWETA PANGKAJA MADIASTA
Yang berada di tengah-tengah teratai putih
BASKARAYA NAMO STUTE
Hamba menyembah-Mu


OM NAMA DEWA ADISTANAYA
Tuhan yang bersemayam di tempat yang tinggi
SARWA WYAPI WAI SIWAYA
Engkau adalah Siwa yang berada di mana-mana
PADMASANA EKAPRATISTAYA
Yang bersemayan di atas bunga teratai
ARDANARESWARIYAI
NAMO NAMAH

Engkau juga Ardanareswari, hamba menyembah-Mu


OM ANUGRAHA MANOHARA
Engkau yang memikat pemberi anugerah
DEWA DATA NUGRAHAKA
Anugrah dari Tuhan
ARCANAM SARWA PUJANAM
Puja-puji semuanya
NAMAH SARWA NUGRAHAKA
Hamba menyembah-Mu pemberi anugerah


DEWA DEWI MAHASIDI
Tuhan yamg maha kuasa
YAJNANGA NIRMALATMAKA
Yang ber-yadnya dan maha suci
LAKSMI SIDISCA DIRGAYUH
Pemberi kebahagiaan, kesempurnaan, panjang umur
NIRWIGNA SUKA WERDISCA
Pemberi kebebasan, kegembiraan, dan kemajuan


OM DEWA SUKSMA
Tuhan, junjunganku
PARAMACINTYA YA NAMAH SWAHA
Yang tak terpikirkan, maha tinggi, dan gaib.


Ketika bersembahyang tidak meminta sesuatu kepada-Nya, selain mengucapkan doa-doa seperti tersebut di atas. Perhatikanlah makna Kekawin Arjuna Wiwaha sebagai berikut :

Hana mara janma tan papihutang brata yoga tapa samadi angetekul aminta wirya suka ning Widhi sahasaika, binalikaken purih nika lewih tinemuniya lara, sinakitaning rajah tamah inandehaning prihati
.

Artinya : Adalah orang yang tidak pernah melaksanakan brata tapa yoga samadi, dengan lancang ia memohon kesenangan kepada Widhi (dengan memaksa) maka ditolaklah harapannya itu sehingga akhirnya ia menemui penderitaan dan kesedihan, disakiti oleh sifat-sifat rajah (angkara murka/ambisius) dan tamah (malas dan loba), ditindih oleh rasa sakit hati.

Itu berarti pula bahwa Hyang Widhi mengasihi dan memberkati hamba-Nya yang melaksanakan brata tapa yogi samadi terus menerus tanpa mengharap pahala.


http://stitidharma.org/modules.php?name=Content&pa=showpage&pid=151
-----------@----------

0 KOMENTAR ANDA:

Post a Comment